Cerita Romantis ABG PANL 6

Cerita Romantis ABG PANL 6----

Perlahan-lahan alunan suara teriakan Koay Ji menjadi semakin
dominan dan mendesak suara lawannya. Hal itu juga terlihat dari
semakin jarangnya Utusan Pencabut Nyawa menyerang Lo Han
Tin, jikapun mereka dapat menyerang, hanya dalam dua atau tiga
jurus belaka. Setelah itu, mereka kembali diserang sampai 10
jurus, dan biasanya setiap putaran mereka dicecar dan diserang
itu, ada sekitar 2 atau 3 anggota Utusan Pencabut Nyawa yang
jatuh terpukul. Posisi yang sudah terdesak itu tentunya disadari
dan diketahui oleh si pendatang misterius yang membantu
dengan suara mujijatnya namun ditandingi Koay Ji tersebut.
Dalam keadaan yang sudah runyam itu, beberapa saat kemudian
577
alunan suara mujijat berhenti, namun seiring dengan itu
terdengarlah bentakan dengan suara menggelegar:
“Tahan ………”
Sedetik kemudian, di halaman Kuil Siauw Lim Sie sudah
bertambah dengan seseorang yang misterius. Dandanannya
persis dan serupa dengan Utusan Pencabut Nyawa dan juga si
Kerudung Merah. hanya saja, dia mengenakan kerudung
berwarna lain, yakni berwarna UNGU. Dan begitu muculkan diri
pandangan matanya langsung mengarah ketubuh si Kerudung
Merah. Dan melihat keadaannya, sinar mata dan tindakannya
berubah menjadi sangat serius. Bahkan diapun berkata dengan
suara berat dan terasa hawa amarah yang tak tertahan:
“Engkau memunahkan kepandaian Ngo sute (Adik perguruan
Kelima) …..”?
Wajahnya menoleh kearah Koay Ji dengan mata nyalang dan
jelas menyambar dahsyat seakan ingin menghanguskan tubuh
Koay Ji dengan pandangan mata marah membara itu. Terasa
betul hawa mematikan memancar dari tubuhnya, bahkan sinar
matanya memancar bukan hanya membara dan penuh dendam,
578
bahkan menyiratkan hawa mujijat yang pekat. Tetapi dengan
tenang Koay Ji menjawab:
“Benar, memang aku yang memunahkan kepandaian manusia
yang sangat licik dan berbahaya itu. Apakah engkau keberatan
dan ingin melakukan pembalasan? Sudah sangat tepat jika
engkau datang menagihnya langsung kepadaku dan bukan
kepada orang lain. Itupun jika engkau memiliki kemampuan untuk
melakukan upaya pembalasan itu, sebab jika tidak, engkaupun
tidak akan dapat berlalu dari tempat ini dalam keadaan selamat
…….”
“Hmmmmm, sayang aku terlambat beberapa waktu lamanya.
Sungguh tidak kusangka jika keterlambatanku mengorbankan
Ngo Sute ……. Apa boleh buat, sebagai kakak seperguruannya
aku harus menagih hutang atas rekening yang engkau timpakan
ke pihak perguruanku ….. dan, bukankah engkau yang
menamakan dirinya Thian Liong Koay Hiap dan terus menerus
menentang dan menjatuhkan banyak korban di pihak Utusan
Pencabut Nyawa kami …….”?
Hebat …… orang yang mengaku Kakak Seperguruan (Suheng)
dari si Kerudung Merah jadi kagum juga. Dia melihat betapa
sangat tenang, penuh percaya diri dan tidak takut Koay Ji dalam
579
memandangnya. Karena itu, dia sendiri menjadi kaget dan
berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Pengalamannya
menunjukkan, menghadapi tokoh yang sangat tenang dan penuh
percaya diri, berarti menghadapi tokoh yang hebat dan memiliki
kemampuan yang sangat tinggi. Sekuat tenaga dia memadamkan
keangkuhan serta kesombongnnya dan mulai menjadi lebih awas
dengan suasana sekelilingnya. Sekejab dia sadar, posisinya
sangat sulit karena selain Bu Sin Hwesio kini sudah dikuasai
kembali oleh pihak Siauw Lim Sie, jumlah dan kekuatan pihaknya
jelas sudah kalah jauh. Dengan jumlah Utusan Pencabut Nyawa
yang kini tinggal setengahnya dan hanya berdua dengan Kakek
Siu Pi Cong, jelas mereka bukan lawan pihak Kuil Siauw Lim Sie.
Jangankan Kuil Siauw Lim Sie, melawan Thian Liong Koay Hiap
saja mereka seperti akan kesulitan, apalagi masih ada Nona Sie
Lan In yang sekejab ditaksirnya memiliki kepandaian yang
bukannya rendah.
“Hahahaha, baiklah, engkau bersiaplah orang aneh, aku akan
segera menagih hutang perguruanku dan aku tidak akan mainmain
……”
“Hoat Bun Siansu, siagakan semua angkatan HOAT, ada musuhmusuh
hebat dan bahkan mungkin sehebat atau lebih hebat dari
orang yang mengaku Suheng dari si Kerudung Merah sedang
580
berada di sekitar Kuil Siauw Lim Sie ini. Segera lindungi Bu Sin
Hwesio, beliau sudah kutotok dengan totokan khas dan istimewa,
hanya aku yang akan dapat melepaskannya nanti. Jika memang
bisa, mintalah Nona itu ikut membantu, karena jika Kakek Siu Pi
Cong itu sampai ikut membantu menerjang kita, maka keadaan
sangat berbahaya ……..”
Sambil bertanya jawab dengan lawannya yang baru, Koay Ji
masih sempat memberi peringatan kepada Hoat Bun Siansu.
Bukan apa-apa, secara tiba-tiba sementara Koay Ji berkata-kata
dan saling intimidasi dengan Suheng si Kerudung Merah; dia
merasa sesuatu yang hebat, tidak kurang dari lawan yang berada
didepannya seperti berada di sekitar Kuil Siauw Lim Sie. Tidak
salah lagi, pihak lawan masih menyimpan seorang atau bahkan
mubngkin lebih musuh yang hebat. Dan karena itu dia
mengingatkan Hoat Bun Siansu untuk sebaiknya berhati-hati dan
bersiaga. Sekaligus juga memberi saran jika memang bisa, agar
Nona Sie diajak untuk ikut membantu, tanda bahwa keadaan
memang sangat berbahaya.
Saran Koay Ji memang didengar dan diikuti oleh Hoat Bun
Siansu. Diapun segera memanggil Hoat Kek Hwesio bersama
seluruh sutenya dari Angkatan HOAT untuk secara bersama
melindungi Bu Sin Hwesio, toa supek mereka. Pada saat itu,
581
jumlah Utusan Pencabut Nyawa yang berada dalam kurungan
Barisan Lo Han Tin tinggal separoh jumlahnya dan merekapun
tidak lagi mampu berbuat banyak. Kepungan hebat Barisan Lo
Han Tin membuat mereka semakin tak berdaya dan tinggal
berusaha untuk menjaga diri masing-masing. Bahkan ketika Hoat
Kek Hwesio beranjak pergi menjaga Bu Sin Hwesio, Barisan Lo
Han Tin tidak kehilangan kekuatannya dan terus mendesak para
Utusan Pencabut Nyawa tersebut.
Sementara itu, sebuah sergapan pukulan dari si Kerudung Ungu
sudah mengarah kepada Koay Ji dan kekuatan pukulan itu
bahkan tidak kalah dengan pukulan Siu Pi Cong. Atau bahkan
mungkin masih berada sedikit di atasnya. Tentu saja Koay Ji tidak
mau berayal, dengan cepat gerak mujijatnya yang sudah menyatu
dengan tubuh dan semangatnya sudah menggerakkan kakinya.
Entah bagaimana, si Kerudung Ungu tak sanggup untuk
mengikutinya, tahu-tahu Koay Ji sudah berada di samping
kanannya bahkan sekejap kemudian sudah berada di sebelah
kanannya. Dan ketika si Kerudung Ungu berusaha terus
mengejarnya, sebuah serangan jari Koay Ji dengan serta merta
memunahkannya. Keadaan ini membuat si Kerudung Ungu
segera mengerti jika sudah bertemu lawan yang setimpal dan
berat. Tetapi tentu saja dia tidaklah dengan mudah menyerah.
582
Bahkan dengan cepat dia sudah kembali menerjang dan kini
meningkatkan kekuatan iweekangnya untuk mendesak Koay Ji,
jika dapat, dalam sekali serang dia ingin segera mencelakai jiwa
Koay Ji.
Tetapi sayangnya, Koay Ji yang beroleh pengalaman tempur luar
biasa banyaknya sepanjang hari ini, sudah mengalami kemajuan
yang luar biasa pesatnya. Bahkan jadi semakin sempurna dengan
mengalami serangan dan terjangan si Kerudung Ungu. Hal yang
membuatnya mulai menjadi semakin yakin dengan cara menakar
kekuatannya dalam memukul ataupun menangkis. Siu Pi Cong
dan Sie Lan In tidak pernah menduga bahwa mereka terhitung
banyak berjasa bagi Koay Ji, karena ketika melawan mereka
berdua, justru adalah momentum yang sangat membantu Koay Ji
dalam upaya lebih mendalami, memahami dan menyempurnakan
kekuatan ilmu pukulannya. Memahami langkah-langkah
mujijatnya serta memahami sampai dimana kekuatan
iweekangnya dapat dipergunakan. Bahkan lebih dari itu, diapun
mencoba ilmu-ilmu lainnya termasuk ginkang, iweekang, ilmu
menotok dan dia menemukan betapa semua ilmu yang dapat
digunakan memiliki manfaat yang tidak kecil. Apalagi, yang paling
menggembirakan bagi Koay Ji adalah, semua gerakan yang
diprediksikannya mengikuti kitab mujijat yang dikuasainya secara
583
sempurna sekarang ini, ternyata tidak meleset. Dia semakin yakin
dan percaya dengan pengetahuan gerakan manusia itu.
Pengetahuannya yang terakhir justru semakin mantap dan
matang dengan tarungnya melawan si Kerudung Ungu. Entah
mengapa dia dapat membaca arah serangan serta perubahanperubahan
yang sangat cepat oleh lawannya yang hebat itu. Dan
dengan mudah dia bergerak memunahkan serangan lawan
bahkan sekali-sekali dia mendesak serta lebih dahulu menyerang
untuk mengantisipasi serangan hebat lawan. Semakin lama Koay
Ji semakin asyik sendiri, dan justru semakin menikmati
pertarungan itu. Dia kelihatannya seperti terdesak dan lebih
banyak menghindar atau memotong semua alur serangan lawan.
Tetapi si Kerudung Ungu kaget bukan main karena Koay Ji
ternyata tidak dapat diapa-apakannya, karena semua
serangannya dapat dielakkan dengan mudah. Bahkan ketika
diapun merancang serangan maut, masih dapat dengan mudah
diantisipasi dan dipunahkan Koay Ji, bahkan sesekali dilontarkan
atau dibelokkan angin serangan dan kekuatan pukulannya. Luar
biasa.
Seandainya si Kerudung Ungu tahu bahwa dia seperti sedang
melatih Koay Ji menjadi semakin hebat dan istimewa, maka dia
tidak akan serampangan mengeluarkan gaya dan jurus-jurus
584
mujijat. Karena dengan cara tersebut, dia seperti memberi
kesempatan istimewa kepada Koay Ji untuk berlatih dan semakin
menyempurnakan kemampuan dalam bertempur. Adalah Kakek
Siu Pi Cong yang pada akhirnya sadar dengan apa yang
sebenarnya sedang terjadi. Setelah mengamati sekian lama
berlangsungnya pertarungan anata Kerudung Ungu dan Koay Ji,
dia menjadi sangat curiga dan mulai mengamati keadaan Koay Ji.
Dia melihat bagaimana Koay Ji banyak sekali mengalami
kemajuan ketika melawannya dan jelas dapat melihat bagaimana
Koay Ji terus dan terus mengamati, menganalisis dan kemudian
memukul, menyempurnakan gerakannya sendiri. Dan sadarlah
dia apa yang sedang terjadi. Kagetlah dia. Maka dengan suara
dalam diapun berkata:
“Kerudung Ungu, lawanmu sedang berlatih dan mengamati jurus
serta ilmumu, dia sungguh-sungguh manusia aneh dan mujijat,
lebih baik engkau berhati-hatilah. Karena semakin lama dia
semakin hebat dan semakin lihay ……..”
Kalimat Siu Pi Cong ini bukan hanya membuat Kerudung Ungu
kaget setengah mati, tetapi juga membuat Sie Lan In menjadi
sadar sepenuhnya. Kalimat itu membuat Nona Lan In mengerti
mengapa seperti ada jeda ketika Koay Ji bertahan dan
menyerang hebat meski sebenarnya dapat mendesaknya lebih
585
jauh. Melihat dan mengamati lebih jauh lagi, dia sadar bahwa
memang benar, Koay Ji terlihat seperti sedang melatih diri sendiri
dalam pertempuran yang sesungguhnya. Hoat Bun Siansu
sebagai seorang tokoh besar dari Siauw Lim Sie, juga dapat
melihat kejanggalan itu. Memang, semua tertutupi karena Koay Ji
memiliki kemampuan gerak yang mujijat dan tak tertandingi.
Selain tentu saja kekuatan iweekang yang juga luar biasa
kuatnya. Dan paling akhir Kerudung Ungu juga dapat menyadari
keanehan Koay Ji sekaligus kemujijatannya, dia jadi tersadarkan
atas semua kecurigaannya selama pertarungan ini. Dan diamdiam
dia ngeri dengan kemampuan dan kepandaian Koay Ji yang
sebenarnya tidaklah banyak menyerang, namun tidak mampu
didesak dan dipojokkannya. Bagaimana jika kemudian dia
diserang habis-habisan olehnya?
Menyadari kehebatan lawannya dan menyaksikan Utusan
Pencabut Nyawa sudah setengahnya lebih jatuh terpukul dalam
kurungan barisan lawan, Kerudung Ungu tiba-tiba memekik keras.
Pekikan tersebut memberinya kekuatan ekstra, tetapi
kelihatannya makna pekikan itu bukan sekedar memberinya
semangat. Karena tiba-tiba mengalun sebuah suara yang bahkan
lebih hebat pengaruh mujijatnya dibandingkan si Kerudung Ungu.
Dan akibatnya hebat dan luar biasa, karena meski sudah nyaris
586
tinggal sepertiga yang bertahan, tetapi Barisan Utusan Pencabut
Nyawa terlihat mampu bergerak lebih bersemangat sementara Lo
Han Tin gerakannya seperti macet. Dan sebentar saja ada 10
orang Pendeta Siauw Lim Sie terlontar ke belakang dan terpukul
binasa. Entah bagaimana para Utusan Pencabut Nyawa
bertambah hebat dan jadi beringas, gerakan-gerakan mereka jadi
jauh lebih berbahaya dan lebih mematikan.
Koay Ji tahu apa yang sedang terjadi. Lawan yang dipantaunya
tadi sudah membantu dari kejauhan dengan kekuatan sihir yang
dilontarkan melalui suara dan mempengaruhi semangat Barisan
Lo Han Tin yang menjadi “loyo”. Tetapi, bagi lawan mereka, yakni
Barisan Utusan Pencabut Nyawa, justru menjadi sumber
semangat dan menjadi lebih beringas. Untunglah keadaan itu
memang sudah diantisipasi oleh Hoat Bun Siansu dan Hoat Kek
Hwesio. Mereka sudah cukup awas dan mengerti harus
bagaimana berlaku setelah diperingatkan Koay Ji tadi. Di tengah
ancaman bahaya karena kembali 5 orang Pendeta Siauw Lim Sie
terpukul binasa oleh lawan mereka, tiba-tiba terdengar seruan
keras dari Hoat Bun Siansu:
“See thian Hud co (Buddha suci dari langit barat) ….”
587
Dan bersamaan dengan seruan keras itu, kurang lebih 15
Pendeta Siauw Lim Sie ikut memasuki Barisan dan terus
menambal kekosongan akibat serangan sihir lawan. Dan
kemudian, sesaat setelah masuknya ke 15 pendeta yang
menambal lowong Barisan Lo Han Tin tersebut, tiba-tiba
terdengar kembali bentakan dari dalam barisan ketika Hoat Ho
Hwesio dan Hoat Leng Hwesio datang memimpin 2 pintu utama
barisan Lo Han Tin untuk menghadapi lawan mereka yang jadi
semakin ganas dan semakin mematikan itu. Bentakan tersebut
terdengar nyaring:
“AMITABHA ……..”
Dan bersamaan dengan seruan itu, Barisan Lo Han Tin segera
membentuk barisan dan tameng para Pendeta yang dalam sikap
menyembah dan mengalunkan suara Budha. Dengan cara
tersebut Barisan Lo Han Tin membentuk tameng mujijat dan luar
biasa yang sekarang susah ditembus suara sihir dari jauh itu.
Cara tersebut membuat suara mujijat dari luar jadi tidak
berpengaruh dan kembali mengurung 40 hingga 50an Utusan
Pencabut Nyawa dalam barisan. Posisi tersebut lebih sebagai
pertarungan sihir dengan Barisan Lo Han Tin menyatukan
kekuatan dan semangat dan kemudian mengusir perbawa mujijat
yang menyerang dari luar. Beberapa saat kemudian, ada satu
588
lapisan depan Barisan yang bergerak menyerang Utusan
Pencabut Nyawa dan tidak dalam pengaruh sihir lawan yang
terbentur tembok Barisan Lo Han Tin. Tetapi, karena jumlah
mereka terbatas, mereka tak mampu memukul balik dan
menyerang serta melukai Utusan pencabut Nyawa. Karena itu,
pertarungan dalam barisan jadi semakin seru dan semakin
berimbang keadaannya.
Sementara itu, Koay Ji yang bertarung dengan Kerudung Ungu
sudah mulai berusaha mendesak dan menerjang Kerudung Ungu
dengan sengit. Setelah melihat keadaan yang berbahaya dan
masih tetap diamnya Sie Lan in, membuat Koay Ji berpikir untuk
menyelesaikan pertarungannya secepat yang dia mampu guna
membantu pihak Siauw Lim Sie. Karena itu, dia mulai
menggunakan bagian menyerang dari Thian Liong Pat Pian dan
berusaha mencecar Kerudung Ungu dengan serangan-serangan
maut dari Ilmu Mengekang Naga dikombinasikan dengan Ilmu
Pukulan Sam Im Ciu. Bukan main terkejutnya Kerudung Ungu
begitu menyadari bahwa Koay Ji ternyata membekal ilmu yang
hebat dan sungguh dengan susah payah harus diantisipasinya.
Keadaan tersebut membuatnya terdesak hebat dan mundurmundur
kebelakang. Bahkan, sekali waktu dia terpaksa harus
menangkis pukulan Koay Ji:
589
“Bresssss ……..”
Dan akibatnya dia terlontar ke belakang hingga 4,5 langkah …….
namun bersamaan dengan mundurnya Kerudung Ungu, tiba-tiba
dia kembali berteriak. Hebatnya, berapa detik kemudian terdengar
kembali lengkingan suara yang malah masih lebih hebat lagi
ketimbang lengkingan suara Kerudung Ungu dan Kerudung
Merah. Lengkingan suara yang sekali ini lebih hebat, nampaknya
ditujukan terutama kepada Koay Ji yang benar benar tersentak
kaget dan sedikit tergoyahkan dengan serangan lengkingan suara
itu. Dia sampai terdiam sekejap meskipun dengan cepat
kemudian berusaha menguasai dirinya sendiri, tetapi jelas dia
harus berkonsentrasi untuk menghadapi serangan suara yang
demikian hebat dan sangat membahayakan itu. Melihat Koay Ji
tergoyahkan oleh lengkingan suara yang barusan melengking
keras berwibawa itu, si Kerudung Ungu segera bergerak cepat
dan membentak hebat memasuki Barisan Lo Han Tin. Barisan itu
memang sempat goyah beberapa saat, tetapi dengan cepat
berusaha untuk kembali membentuk tembok pertahanan karena
menghadapi dua gelombang suara mujijat yang sangat
berbahaya dan mujijat itu. Keadaan kembali genting dengan
keadaan Koay Ji yang harus melawan kombinasi dua serangan
dengan suara mujijat dari kejauhan.
590
Waktu sepersekian detik memberi saat yang tepat bagi Utusan
Pencabut Nyawa untuk keluar dari Barisan Lo Han Tin, apalagi
karena secara bersamaan Kerudung Ungu juga membentak
memperkuat serangan suara khusus kearah Barisan Lo Han Tin.
Sekejap saja puluhan orang Utusan Pencabut Nyawa terbebas
dan keluar dari kurungan Barisan Lo Han Tin. Mereka kemudian
bergegas melesat pergi kearah luar darimana datangnya suara
yang dengan kuat menyerang beberapa orang yang mengurung
mereka itu. Pada saat sebelum Barisan Lo Han Tin terbentuk
kembali, Sie Lan In akhirnya bergerak mencegat Kerudung Ungu
yang terlihat berusaha untuk menyerang Barisan Lo Han Tin yang
sedikit goyah itu. Sementara di pihak lain, Kakek Siu Pi Cong
berkelabat pergi sambil membawa pergi tubuh Kerudung Merah
yang sudah tak berdaya. Di sisi lain Hoat Bun Siansu bersama
beberapa Hwesio angkatan Hoat lainnya, tetap disiplin tidak
berani beranjak meninggalkan tubuh Bu Sin Hwesio yang masih
tertotok itu. Mereka berjaga jangan sampai terjadi sesuatu atas
tokoh Siauw Lim Sie itu.
Serangan Sie Lan In yang demikian hebat kearah si kerudung
Ungu, memberi peluang bagi Barisan Lo Han Tin terbentuk
kembali, meski beberapa Pendeta Siauw Lim Sie sempat kembali
menjadi korban. Tidak kurang dari 7 Pendeta Siauw Lim Sie
591
kembali menjadi korban ketika Kerudung Ungu menerjang saat
mereka tersentak oleh serangan suara yang demikian kuat dan
berwibawa tadi. Apalagi saat bersamaan, para Utusan Pencabut
Nyawa juga membuka jalan darah untuk mencari jalan selamat
sekaligus melarikan diri. Maka ketika akhirnya barisan itu pulih
kembali, sudah ada 10 jurus lebih si Kerudung Ungu bentrok
dengan Sie Lan In. Tetapi, jelas sekali si Kerudung Ungu tidak lagi
serius dalam melakukan perlawanan dan mencari jalan untuk
mencelat pergi. Dan kesempatan itu datang ketika alunan suara
mujijat itu kembali menyambar dan merubah sasaran dari Koay Ji
kearah Nona Sie Lan In dan Barisan Lo Han Tin. Untung saja
Koay Ji saat itu sudah kembali dapat mengendalikan diri. Karena
itu, mendengar arah sasaran bergeser dan melihat posisi Sie Lan
In sedikit terguncang, dia segera bersiul untuk melawan serangan
mujijat suara dari luar Kuil Siauw Lim Sie. Pada saat itulah si
Kerudung Ungu mencelat pergi.
Masih beberapa detik tarung suara antara Koay Ji melawan
pendatang misterius yang menyergap dari luar Kuil Siauw Lim
Sie. Beberapa saat kemudian suara itu sirap dan tidak lagi
terdengar. Nona Sie Lan In yang tergetar dan murka dengan
bokongan lawan tiba-tiba mencelat pergi, penasaran dengan
lawan-lawan yang menyerang Kuil Siauw Lim Sie barusan.
592
Termasuk membokong dengan serangan irama suara. Tetapi,
begitu Sie Lan In mencelat pergi, sesuatu yang yang aneh kembali
terjadi tanpa diduga-duga. Melihat Sie Lan In mencelat pergi
menyusul lawan yang mengundurkan diri, Koay Ji sebenarnya
ingin mencegah. Tetapi, mengingat si Nona yang sangat galak
terhadap dirinya, akhirnya dia membiarkan saja Nona itu mencelat
pergi. Koay Ji kemudian mencelat kearah dimana tubuh Bu Sin
Hwesio tergeletak dalam kurungan penjagaan Hoat Bun Siansu
dan para tokoh angkatan HOAT lainnya yang tersisa saat itu.
Maksudnya ingin melihat dan menengok keadaan tokoh tua itu.
Tetapi, bukan main kagetnya Koay Ji ketika dia mencelat dengan
maksud memeriksa keadaan Bu Sin Hwesio, entah darimana dan
bagaimana datangnya, disamping tubuh Bu Sin Hwesio yang
tergeletak, sudah berdiri 2 orang Pendeta Siauw Lim Sie yang
terlihat sama tua dan sama sepuhnya dengan Bu Sin Hwesio.
Yang hebat adalah, bahkan para tokoh angkatan HOAT termasuk
Hoat Bun Siansu, kurang menyadari jika sudah ada 2 tokoh tua
lainnya yang berada di tengah penjagaan mereka itu. Kedua
pendeta tua itu berdiri di samping kiri dan kanan tubuh Bu Sin
Hwesio yang meringkuk karena tertotok oleh totokan mujijat Koay
Ji tadi. Dan begitu Hoat Bun Siansu melirik dan melihat
593
keberadaan mereka, betapa terkejutnya dia dan segera memberi
hormat dengan takzim sambil berkata:
“Amitabha ….. Hoat Bun menjumpai Jiwi Susiok ……….”
Bersamaan dengan itu, para tokoh angkatan HOAT pada
berdatangan dan mendekati kedua tokoh tua itu sambil memberi
hormat dengan sangat takzimnya dan memanggil JIWI SUSIOK.
Itu artinya, kedua tokoh tua itu adalah tokoh-tokoh tua seangkatan
dengan BU SIN HWESIO yang masih tersisa dan masih hidup
serta bertapa di kuil Siauw Lim Sie. Keduanya memandang Hoat
Bun Siansu dan kemudian berkata dengan suara yang sangat lirih
namun jelas di telinga:
“Amitabha …… engkau membiarkan saja orang ini mengacau di
Kuil Siauw Lim Sie dan bahkan sampai puluhan anak murid kita
terbunuh …….”?
“Amitabha …. Mohon maaf Jiwi Susiok, tapi ……..”
“Bahkan engkau membiarkan Toa Suheng dalam keadaan seperti
ini …..”? berkata Pendeta Tua yang satunya lagi sambil menunjuk
keadaan Bu Sin Hwesio yang saat itu memang sangat
mengenaskan.
594
“Amitabha ….. Jiwi Susiok, Kuil Siauw Lim Sie sedang
menghadapi bencana besar. Bukan hanya banyak anak murid kita
yang terbunuh, bahkan CIangbudjin Siauw Lim Sie angkatan
sekarang belum ketahuan nasibnya ……. dan tiba-tiba muncul
Toa Supek dengan kehilangan semangat dan dikuasai orang
………”
“Hmmmmm, siapa yang begitu berani membuat Toa Suheng
tertotok seperti ini ….”?
Pertanyaan ini membuat Hoat Bun Siansu kesulitan, tetapi
matanya jelas melirik kearah Koay Ji yang berdiri tidak jauh dari
tempat mereka bercakap-cakap.
“Hmmmm, dan masih kalian biarkan orang yang menotok Toa
Suheng berdiri bebas di halaman Kuil Siauw Lim Sie …..”?
“Amitabaha ………. Jiwi Susiok, tetapi sesungguhnya dia sedang
berusaha keras untuk menolong Kuil Siauw Lim Sie. Sebab jika
tidak dengan bantuannya, maka keadaan Kuil kita mungkin sudah
…….”
“Amitabha …….. Sutit, sebagai pejabat Kuil Siauw Lim Sie engkau
terlampau lembek. Kiu Sute, engkau beri pelajaran kepada orang
595
muda yang demikian berani menotok Toa Suheng seperti ini
……..”
Begitu kalimat atau perintah itu dikeluarkan tiba-tiba Pendeta Tua
di sebelah kanan mengibaskan lengannya dan sebuah pukulan
yang tak membawa kesiuran angin dengan cepat mengarah Koay
Ji. Sementara itu, Koay Ji bukan tidak paham apa yang sedang
dihadapinya. Hanya saja dia paham jika dua tokoh besar
dihadapannya adalah justru para sesepuh Kuil Siauw Lim Sie
yang masih hidup. Semestinya, begitu menurut pikirannya, dia
memberi hormat dan tunduk kepada kedua Pendeta tua yang
sudah nampak teramat sepuh dan tua seperti gurunya sendiri.
Sinar mata kedua pendeta tua yang berkilat sangat tajam itu
membuat dia tergetar juga. Tetapi begitu, mendengar percakapan
mereka, dan bahkan perintah menyerang dirinya turun, ego
seorang muda seusia Koay Ji otomatis naik. Dengan tidak berpikir
panjang lagti diapun mengerahkan kekuatannya dan menangkis
serangan yang diarahkan kepadanya oleh Pendeta tua yang lebih
pendek dibandingkan pendeta tua yang memberi perintah
menyerang tadi. Dengan berani dia menangkis pukulan itu:
“Bukkkkkkk …….”
“Eiiitttttt ……”
596
Tidak terdengar suara benturan keras. Tetapi, tubuh Pendeta tua
itu bergoyang-goyang sebagaimana juga Koay Ji yang tubuhnya
bergoyang dan harus mengerahkan tenaga untuk menahan agar
tidak terdorong mundur. Sementara Pendeta tua yang menyerang
tadi, harus mengerahkan kekuatan agar tidak tertarik maju akibat
kuatnya daya hisap dan daya lekat yang menyertai tenaga
tangkisan Koay Ji tadi.
“Amitabha ……. sungguh luar biasa ,……. “ terdengar desis
Pendeta tua Siauw Lim Sie yang kaget tak terkira karena
tangkisan Koay Ji ternyata mampu mengggoyahkannya dan
membuatnya sangat terkejut. Bukan hanya dia, Pendeta tua
satunya lagi yang lebih tinggi posturnya dan kelihatannya berusia
lebih tinggi dari pendeta tua yang menyerang Koay Ji, juga terlihat
ikut mengernyitkan keningnya dan kaget melihat perlawanan
Koay Ji yang menggetarkan itu. Perhatiannya tertarik dan
membiarkan sutenya untuk terus bergerak menyerang Koay Ji.
Tanpa kenggerakkan kakinya dan meluncur begitu saja di atas
tanah, pendeta yang tadi menyerang Koay Ji, sudah kembali
menyerang dengan posisi yang membuat mata semua orang
terbelalak kaget dan kagum. Betapa tidak, Pendeta tua itu sama
sekali tidak melangkahkan kakinya, tetapi dalam posisi tetap
berdiri tegak, dia mampu meluncur kearah Koay Ji dan kembali
597
mengibaskan lengannya. Bukan hanya itu, kedua lengannya
bergerak perlahan dan akibatnya Koay Ji merasakan tekanan luar
biasa yang menekan dan terus menerus mendesaknya dari
semua sudut. Mau tidak mau dia harus ikut mengerahkan
kekuatan tenaganya sampai 5 bagian. Dan saking besar dan
kuatnya desakan lawan, tanpa terasa Koay Ji telah mengerahkan
kekuatan Toa Pan Yo Hiankang untuk menandingi tekanan hebat
itu. Dan akibatnya luar biasa meski tak teridentifikasi orang-orang
lain kecuali mereka berdua dan pendeta tua satunya yang ikut
menyaksikan pertarungan beda generasi itu.
Koay Ji yang merasa kesulitan dan kerepotan mau tidak mau
bergerak dengan Ilmu Kan Goan Cit Shin Kong (ilmu tenaga sinar
jari sakti) sambil mengimbanginya juga dengan Ilmu Mengekang
Naga. Bahkan tanpa disadari Koay Ji dia melepas salah satu jurus
rahasia dari Kan Goan Cit Shin Kong, yakni jurus Sin liong huan
hay(naga sakti menggulung samudra), untuk menawarkan
serangan lawan. Sementara gerakan kaki tanpa disadarinya
bergerak dengan Thian Liong Pat Pian dan sesekali dengan Liap
In Sut (Ginkang Mengejar Awan). Tetapi dengan pilihan ilmu dan
jurus itu, dapatlah dia mengimbangi dan membuat serangan
Pendeta Tua itu menemui sasaran kosong dan dapat dipunahkan.
Bukan hanya itu, sekejap kemudian pendeta tua itu melayang
598
kesisi suhengnya dan keduanya nampak saling pandang dalam
kebingungan, dan akhirnya berkata dengan suara lirih dan
bernada serius:
“Amitabha …. anak Muda, katakana terus terang, ada hubungan
apa engkau gerangan dengan Ji Suheng Bu In Hwesio ….”?
Mendengar pertanyaan Pendeta tua itu Koay Ji mengernyitkan
keningnya. Dia sendiri memiliki banyak hal yang membuatnya
bertanya-tanya dan keheranan. Yang dia tahu suhunya bernama
Bu In Sin Liong dan bukannya Bu In Hwesio atau Bu In Siansu.
Suhunya seorang pertapa dan bukan Hwesio. Tetapi,
kelihatannya Suhunya memang sepertinya benar berasal dari Kuil
Siauw Lim Sie. Tetapi, masalahnya adalah, mengapa suhunya
bukan seorang Hwesio? Tetapi, di pihak lain, mengapa pula
Suhunya tegas memesan dan mewanti-wantinya untuk
membantu Kuil Siauw Lim Sie dan bahkan terus mengutamakan
kebesaran nama Siauw Lim Sie? Pertanyaan-pertanyaan ini
berputar-putar di kepala Koay Ji dan akhirnya membuatnya tidak
dengan segera menjawab pertanyaan Pendeta tua itu.
“Amitabha …. Anak muda ….. apa engkau mendengar
pertanyaanku …..? bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan
Bu In Hwesio ……..”?
599
“Maaf ….. maaf …….. siauwte tidak mengenal Bu In Hwesio …”
tanpa sadar Koay Ji sudah memposisikan diri lebih rendah dari
kedua pendeta tua berwibawa dihadapannya entah karena apa.
Tetapi jawabannya membuat kedua Pendeta tua itu saling
pandang dengan keheranan. Entah apa sebabnya.
“Amitabha …… Sute, engkau serang dia dengan Tam Ci Sin
Thong dan Tay Lo Kim Kong Sin Ciang ………”
Begitu kalimat itu selesai, Pendeta yang tadi mencecar Koay Ji
kembali menyerang dengan kedua ilmu pusaka Siauw Lim Sie
yang dahsyat bukan main. Dimainkan oleh seorang ahli, bahkan
sepuh dalam Ilmu mujijat Siauw Lim Sie, otomatis perbawa dan
pengaruhnya sangat luar biasa. Tetapi, hebatnya adalah, Koay Ji
dapat dengan manis dan seperti sudah mengenal ilmu itu
sehingga selalu mampu melepaskan diri dari serangan-serangan
si pendeta tua yang luar biasa hebat itu. Sengatan dan letikan
totokan yang mematikan serta serbuan serangan dengan jurusjurus
berisikan tenaga yang mujijat membuat arena pertarungan
mereka menjadi sangat mendebarkan. Tetapi, segera si pendeta
tua satunya lagi mengangguk dan menjadi semakin paham
melihat gerakan-gerakan Koay Ji yang sangat ringan, selalu tepat
mengambil posisi dan mudah memunahkan serangan-serangan
yang berbahaya. Bukan hanya itu, Koay Ji malahan sesekali
600
dapat mengantisipasi dan menotok ke lengan lawannya sehingga
jurus maut selanjutnya dapat dipunahkan.
Meski selalu dalam posisi diserang, bukanlah berarti Koay Ji
dalam keadaan terdesak. Tetapi, posisinya juga tidak dapat
dikatakan mendesak lawan. Selama sepuluh jurus selanjutnya,
tanpa disadari Koay Ji, dia sudah mengerahkan tenaga yang
sangat besar untuk mengimbangi tekanan pukulan si Pendeta tua.
Dia kurang menyadari jika dari tubuhnya mengalir terus dan
semakin lama semakin menguat daya hisap yang mujijat dan
membuat si Pendeta tua bertanya-tanya. “Ilmu mujijat apa
gerangan yang dilatih dan didalami Koay Ji ….. mengapa sehebat
ini …..”? desis si pendeta dalam hati. Tapi, kematangan,
kesempurnaan tenaga dalam dan juga penguasaan ilmu-ilmu
tingkat tinggi Siauw Lim Sie tidaklah membuat si Pendeta Tua
keteteran. Dia sebaliknya mampu terus bertahan dan menyerang
Koay Ji. Kembali sepuluh jurus berlalu tanpa ada seorangpun
diantara keduanya yang bisa saling mendesak. Tetapi, keduanya
mengerti jika pengerahan kekuatan iweekang sudah dalam
tingkat yang sangat tinggi dan sekali melakukan kesalahan akan
berakibat sangat fatal.
Koay Ji sendiri sudah mengerahkan, bukan dalam bentuk latihan
tetapi dalam bentuk pertempuran langsung, Ilmu-ilmu andalan
601
perguruannya. Bahkan pengetahuannya atas pergerakan
manusia juga mengalami peningkatan dan digunakannya untuk
memahami gerakan-gerakan mujijat Pendeta Siauw Lim Sie yang
hebat ini. Meski ilmu-ilmunya yang mujijat dikerahkan, tetapi
wajah si Kakek tetap teduh dan serius, sesekali kaget dan terkejut.
Tetapi selalu dapat mengimbanginya dan gerakan-gerakannya
jauh lebih sederhana namun sangat effektif dalam bertahan dan
efisien dalam menyerang. Beda dengan Koay Ji yang masih
banyak “bunga-bunga” dan gerakan variasi yang memang indah
dipandang tetapi kadang tidak bermanfaat, hanya enak
dipandang. Itulah salah satu perbedaan mendasar dari yang
namanya PENGALAMAN. Tetapi, sejauh 50 jurus Koay Ji tidak
pernah dapat didesak lawannya, dan ini membuat kedua Pendeta
tua itu tersentak hebat dan semakin kagum dengan Koay Ji.
Tanpa terasa keduanya bertarung hingga jurus ke seratus bahkan
kini sudah menanjak melampaui jurus keseratus tanpa ada tandatanda
salah seorang diantaranya terdesak. Padahal, Tam Ci Sin
Thong sudah habis dikerahkan dan Tay Lo Kim Kong Sin Ciang
yang hebat mujijat juga sudah dikerahkan. Tetapi, karena pada
dasarnya Koay Ji juga dapat memainkan ilmu itu, dengan cepat
dia dapat beradaptasi melawannya dengan ilmu-ilmu yang lain.
Dia masih ingat dengan jelas pesan Suhunya sebelum berkelana
602
agar tidak sembarangan menggunakan kedua ilmu mujijat dari
Siauw Lim Sie itu. Tapi, saat melawan kedua ilmu itu, dia
menemukan kenyataan betapa Pendeta tua yang memainkan
ilmu itu sungguh hebat dan luar biasa penguasaannya. Cepat dan
lamban, namun tepat dan bermanfaat. Baik dalam menyerang,
memunahkan serangan lawan maupun mengntisipasi serangan
lawan, mengejar musuh, menotok, semua dilakukan dengan
tenaga yang tepat dan gerakan sederhana yang langsung ke
pokok serangan ataupun pokok pertahanan. Koay Ji seperti
sedang diajari, tanpa si Pendeta tua sendiri bermaksud
melakukannya bagi Koay Ji.
Memasuki jurus ke-150, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang
yang sangat luar biasa. Suara ketawa yang sudah bisa dipastikan
dilepas dengan ilmu Sai Cu Ho Kang namun dengan nada
gembira. Bahkan beberapa saat kemudian sosok tubuh yang
berpakaian Pendeta Siauw Lim Sie, kepala tetap gundul namun
pakaian pendetanyanya sudah rada mesum, juga tubuhnya
seperti jarang dibersihkan, memasuki arena.
“Hehehehehehe, Jiwi sute ……. Rupanya kalian berdua belum
mampu duduk diam menikmati ketenangan di rumah Budha ……..
hehehehehehe …….”
603
Si pendatang itu entah bagaimana tahu-tahu sudah berada di
samping arena Koay Ji yang dicecar si Pendeta tua itu. Tetapi,
Pendeta tua satunya yang tidak ikut menyerang Koay Ji
terperanjat menyaksikan kedatangan si Mesum yang dalam waktu
singkat dan entah bergerak bagaimana, tahu-tahu sudah berada
di hadapannya, dipisahkan oleh arena pertarungan Koay Ji dan
adik seperguruannya. Pertarungan itu sendiri semakin seru dan
semakin memakan tenaga dan konsentrasi yang luar biasa,
karena itu Koay Ji dan penyerangnya tak bisa membagi perhatian.
Tetapi, lain lagi dengan Pendeta tua yang menonton dari samping
arena, dia memandang si pendatang mesum berpakaian pendeta
secara seksama. Dan tiba-tiba dia berkata dengan suara dan bibir
gemetaran tanda gejolak perasaan yang ditahan-tahan:
“AMitabha ….. Sam Suheng …. apakah, apakah engkau yang
datang …..”?
“Hahahaha “IN” terbang pergi dan menghilang bagai awan tertiup
angin; “SIN” bagai bersembunyi setelah pergi bertugas; “KEK”
berkelana lupa pulang mencari IN dan SIN. Hahahahahaha, tak
disangka setelah lebih 30 tahun semua boleh bersua kembali
disini, di Kuil Siauw Lim Sie ……….”
604
Kata-kata dan kalimat si Pendeta Mesum terdengar seperti puisi,
tetapi seperti menjadi jawaban bagi pertanyaan Pendeta Tua tadi.
Karena itu, dengan perlahan namun pasti diapun bergerak
mendekati si pendeta mesum dan perlahan dengan penuh haru
diapun berseru dan berkata:
“Amitabha …….. Sam Suheng, terimalah salam hormat pinto
……..”
“Hahahahaha ......... Chit Sute, engkau lihatlah bagaimana
muridnya Ji Suheng ternyata sudah mampu mengimbangi Kiu
Sute ….. dan untung saja, bagaimanapun juga Ji Suheng kita itu
masih tetap mengingat dan menganggap bahwa Siong San
adalah juga rumahnya ……. Hahahahaha”
“Amitabha …… Sam Suheng ….. maksudmu, dia memang benar
muridnya Ji Suheng yang sudah lama menghilang itu …..”?
“Sute, jika bukan Ji Suheng, habis menurutmu siapa lagi yang
mampu mencetak dan melatih tokoh muda sehebat dia itu …..”?
Mendengar kalimat yang balik bertanya tetapi menegaskan
dugaannya, terhenyak dan kaget Pendeta tua itu. Segera dia
berpaling ke arena adik seperguruannya yang terus bertarung
melawan Koay Ji dan kemudian berkata:
605
“Amitabha ……….. Kiu Sute ….. sudahlah, kita diantara orang
sendiri …….”
Mendengar kalimat itu, baik Koay Ji maupun di Pendeta yang
dipanggil “Kiu Sute” itu terkejut tetapi masing-masing sudah
paham apa yang sedang terjadi. Pada saat itu kebetulan
keduanya baru saja adu pukulan dan pada kesempatan itu Koay
Ji melenting menjauh. Dan setelah itu dia menghadapi Hoat Bun
Siansu sambil memberi hormat, padahal pada saat itu semua
HWESIO angkatan HOAT dan bahkan seluruh anak murid Siauw
Lim Sie sedang memandang tegang adegan yang sedang
berlangsung. Mereka semua tidak bergerak memandang takjub
tampilnya kedua Tianglo mereka yang sudah puluhan tahun tidak
muncul. Lebih kaget lagi ketika kedua Tioanglo itu menyebut SAM
SUHENG kepada Pendeta Mesum yang baru datang. Dan itu
berarti ada 3 sesepuh Siauw Lim Sie dari angkatan di atas HOAT
yang sekarang berada di hadapan mereka. Bagaimana tidak
semua anak murid Siauw Lim Sie tercengang dan takjub dengan
kenyataan yang tersaji dihadapan mereka?
Sementara itu setelah melihat keadaan Siauw Lim Sie yang sudah
dapat ditangani dengan baik Koay Ji bermaksud untuk segera
mengundurkan diri. Segera dia berjalan menghadap si Pendeta
Mesum dan kemudian memberi hormat dan salam:
606
“Siauwte menjumpai Locianpwee, terima kasih atas pertolongan
dan semua bantuan locianpwee. Karena keadaan sudah dapat
diatasi, perkenankan siauwte mengundurkan diri dari Kuil Siauw
Lim Sie ………” begitu berkata demikian, Koay Ji juga memberi
salam dan hormat kepada kedua Pendeta Siauw Lim Sie lainnya
dan kemudian dengan cepat mencelat menjauh. Tetapi, belum
lagi dia bberanjak pergi, dengan tenang dan sedikit tawa, si
Pendeta Mesum sudah berkata:
“Koay Ji ……. kembali engkau, sebelum kuijinkan berlalu, jangan
harap engkau dapat pergi dengan demikian mudah dari rumah
perguruan leluhurmu …….”
Koay Ji tersentak kaget. Langkahnya terhenti seketika. Karena
hanya beberapa orang yang memanggil dirinya dengan panggilan
KOAY JI. Hanya Suhunya, Ang Sinshe dan Suhunya yang lain
yang tak pernah dilihat wajahnya secara jelas. Kemudian, Thian
Cong Pangcu yang juga menjadi Suhengnya serta sudah tentu,
juga Pengemis Tongkat Kuning, Suhengnya yang lain. Selebihnya
tidak ada yang tahu namanya dan juga tak tahu nama
panggilannya itu, hanya orang-orang terbatas itu. Karena itulah,
diapun berpaling dan memandang si Pendeta Mesum dengan
wajah yang kaget tak terkira. “Darimana dia tahu kalau namaku
607
yang sebenarnya adalah KOAY JI”? desisnya dalam hati dan
terpancar dari sinar matanya yang penuh tanda tanya.
“Hahahahahahahaha, Koay Ji, engkau sedang berhadapan
dengan 3 orang Susiokmu. Meski suhumu tidak pernah
menjelaskan kepadamu, tetapi ketahuilah, orang yang selama ini
menjadi Gurumu dan engkau kenal dengan nama Bu In Sin Liong,
adalah tokoh SIAUW LIM SIE yang dahulunya bernama Bu In
Hwesio. Orang yang menjadi Sam Suheng kami bertiga, karena
itu jika engkau tetap berlaku kurang sopan, hati-hati, jangan
sampai Sam Susiokmu ini pergi memarahi suhumu di Thian Cong
San karena ketidak becusan dan ketidakhormatanmu terhadap
angkatan tuamu ………”
Suara si Pendea Mesum sekali ini terdengar penuh wibawa, tidak
main-main dan jelas sedang berbicara dalam wibawa orang
dengan angkatan yang lebih tua ke angkatan yang lebih muda.
Dan Koay Ji bukan orang bodoh untuk tidak memahaminya.
“Accchhhhh, maafkan tecu locianpwee …. benarkah, benarkah
memang demikian kisah sesungguhnya dari Suhu …..”?
608
“Hmmmmm, sebelum engkau memanggilku dan mengakuiku
sebagai SUSIOKMU, tidak akan engkau peroleh jawaban yang
sebenarnya ……”
Koay Ji jelas tahu maksud Pendeta Mesum itu, tetapi fakta sudah
semakin jelas jika memang tokoh itu adalah angkatan tuanya.
Toch bukan dia yang membuka diri sebagai murid Bu In Sin Liong
atau Bu In Hwesio sehingga dia terbebas dari sumpah dan janji
kepada suhunya untuk tidak membeberkan rahasia
keberadaannya kepada siapapun. Jika para susioknya mengenali
jejak suhunya melaluinya, toch tetap bukan kesalahan dan
kekeliruannya karena dia tidak pernah mengatakan dan tidak
pernah membuka rahasia tentang gurunya itu.
“Baiklah ….. para Susiok, mohon dimaafkan tecu yang bodoh ini
……..” sambil berkata demikian dengan tidak malu-malu lagi Koay
Ji kemudian berlutut kearah 3 Pendeta tua yang diyakininya
memang merupakan saudara seperguruan Suhunya itu. Pada
saat itu, kedua Pendeta Tua yang sebelumnya bentrok
dengannya kini memandangnya dengan tatapan penuh
kekaguman. Sekaligus menyiratkan banyak sekali pertanyaan
yang ingin mereka ajukan kepada Koay Ji.
609
“Hahahahahaha, anak baik, anak baik ……... Tidak perlu engkau
jelaskan keberadaan Suhumu yang memang sok misterius itu,
nanti sebentar akan kujelaskan kepada kedua Susiokmu yang
sudah bau tanah ini. Tetapi, ingat pesanku ini …….. berhatihatilah
engkau terhadap terhadap MO HWEE HUD (Budha Api
Iblis), karena salah seorang murid kesayangan tokoh itu sudah
engkau punahkan kepandaiannya. Ingat baik-baik, murid utama
Iblis itu sudah nyaris sehebat Suhunya sendiri. Dan hari ini engkau
sudah menyinggung kehormatan perguruan mereka, kedepan
berhati-hatilah. Bisa dipastikan murid utamanya akan mencarimu,
bahkan bukan tidak mungkin tokoh Iblis itu yang akan turun
tangan sendiri kelak. Nach, sekarang engkau pergilah, jangan
sampai Nona cantik murid Lam Hay Sinni itu kenapa kenapa
karena mengejar siluman-sliuman itu. Tetapi, ingat, adalah
tugasmu untuk datang menyembuhkan Toa Supekmu, tidak ada
yang dapat melakukannya di Siauw Lim Sie sekarang ini ……”
“Sam Susiok …… ada yang akan menyembuhkan Toa Supek,
orang itu berada di kuil Siauw Lim Sie sekarang ini ……”
“Yaaaaaa sudahlah, aku tahu maksudmu …. cepatlah pergi ……”
“Baik, sutit mohon diri …….”
610
===============
Kurang lebih sebulan ….. !!! Kuil Siauw Lim Sie sudah normal
kembali. Kejadian dimana mereka dalam cengkeraman yang
sangat berbahaya oleh Utusan Pencabut Nyawa dan tampilnya
CIANGBUDJIN BONEKA yang sampai membuat kedua Tianglo
mereka yang berusia 80tahunan munculkan diri, sudah berlalu.
Dan hari itu, dari gerbang kuil itu terlihat ada 3 orang yang keluar
dari gerbang dan diiringi atau tepatnya diantarkan langsung oleh
Hoat Bun Siansu yang kini secara resmi sudah menjadi
Ciangbudjin Siauw Lim Sie. Ketiga orang itu adalah Nona Sie Lan
In, murid kesayangan Lam Hay Sinni namun jarang orang yang
mengenalinya sebagai pewaris tokoh dewa itu. Kemudian yang
kedua adalah murid Bu Kek Hwesio, si Pendeta Gelandangan
yang kini sudah kembali menetap di Kuil Siauw Lim Sie setelah
memperoleh jejak Bu In Hwesio atau Bu In Sin Liong. Nama
muridnya adalah Kwan Kim Ceng dan sudah berusia sekitar 27
atau 28 tahun, tubuhnya tinggi gagah, dan jalannya tegap seperti
jalannya seorang pahlawan. Tetapi karena dilatih di tempat
terpencil oleh Suhunya, maka meski berkepandaian sangat tinggi
tetapi Kwan Kim Ceng cenderung kurang pergaulan dan
nampaknya sangat pendiam. Namun, pengalamannya di dunia
Kang Ouw terhitung banyak, meski dia masih tidak dikenal karena
611
memang berkelana dengan tidak boleh meninggalkan jejaknya
sebagai murid Siauw Lim Sie.
Orang yang ketiga adalah seorang pemuda yang juga tinggi dan
gagah namun tidak setinggi Kwan Kim Ceng. Bahkan, dari
langkahnya terlihat jika anak muda yang seperti masih belum
menginjak usia 20 tahunan itu seperti tidak memiliki kemampuan
Ilmu Silat. Tetapi, pemuda itu memiliki sinar mata yang bening dan
polos, namun lebih banyak bicara dibandingkan Kwan Kim Ceng
dan senang sekali melakukan perjalanan dengan menikmati
pemandangan yang indah. Berbeda dengan Kwan Kim Ceng
yang pendiam namun memiliki banyak pengalaman, maka
pemuda ini memiliki banyak pengetahuan namun kurang
pengalaman dan seperti tidak memiliki kesaktian. Pemuda inilah
yang memasuki Kuil Siauw Lim Sie bersama dengan Kakek Siu
Pi Cong dan cucunya. Tapi, jangan salah, pemuda yang kelihatan
tidak tahu utara dan selatan dunia persilatan adalah tabib yang
luar biasa hebatnya.
Dialah yang menyembuhkan Bu Sin Hwesio dari kehilangan
ingatan. Tetapi, karena sudah lebih 20 tahunan kehilangan
ingatan dan apalagi mendengar bahwa dia sempat dijadikan
CIANGBUDJIN BONEKA, membuat tokoh ini memutuskan untuk
menutup diri. Sejak disembuhkan, seminggu lamanya tokoh itu
612
jadi lebih banyak berdiam diri. Selain itu tidaklah banyak yang
dapat diingatnya selama 20 tahun terakhir. Dan karena itu,
Pendeta itu, Bu Sin Hwesio akhirnya mohon ijin kepada
Ciangbudjin Siauw Lim Sie untuk menutup diri dan bertapa.
Namun sebelum menutup diri, dia sempat berbicara seharian
dengan Koay Ji dan Bu Kek Hwesio. Sejak saat itu Bu Sin Hwesio
yang menghilang selama lebih 20 tahun kembali menghilang,
namun sekali ini bukannya menghilang kemana, melainkan
menutup diri di Kuil Siauw Lim Sie.
Tidak ada seorangpun yang mampu menyembuhkan Bu Sin
Hwesio, namun oleh Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap, pemuda
ini ditunjuk memiliki kemampuan istimewa dalam hal pengobatan.
Tidak heran, karena sesungguhnya, pemuda itu adalah wujud asli
dari Koay Ji yang lebih memilih tampil sebagai manusia berusia
pertengahan dalam topeng kulit jika sedang beraksi. Tetapi, Koay
Ji sangat kebingungan, karena entah bagaimana paman gurunya
si Pendeta Mesum Bu Kek Hwesio mengetahui samaran dirinya.
Untung saja paman guru itu tidak memberitahu dan tidak
membuka rahasianya sehingga tak ada seorangpun yang tahu di
Kuil Siauw Lim Sie jika Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap berada
di Kuil Siauw Lim Sie dan menjadi Pemuda dengan nama Bu San.
Dia dengan sengaja memilih she BU untuk samarannya, dan
613
karena tidak punya ide sama sekali, akhirnya diapun
menggunakan kata SAN (Gunung) sebagai namanya. Dan satusatunya
yang tahu jati dirinya di Kuil Siauw Lim Sie adalah Bu Kek
Hwesio seorang. Belakangan Bu Sin Hwesio juga tahu.
Selama 3 minggu mengobati Bu Sin Hwesio, hampir setiap malam
Koay Ji bertemu dan berdiskusi dengan Bu Sin Hwesio dan Bu
Kek Hwesio. Awal-awalnya hanya berbicara seputar masalah
Suhunya, tetapi belakangan mereka banyak mendiskusikan ilmu
silat. Bahkan seminggu terakhir, Koay Ji berdiskusi berempat
dengan Bu Kong Hwesio dan Bu Hong Hwesio tentang Ilmu Silat.
Sedangkan Bu In Hwesio atau Bu In Sin Liong suhunya sendiri
kagum dengan kemujijatan Koay Ji, apalagi dengan ketiga
Susioknya itu. Mereka benar-benar kagum dan merasa kaget
dengan kemampuan Koay Ji dalam menganalisis, memberi
masukan dan juga menutup kekurangan-kekurangan gerakan
dan jurus serangan mereka semua. Pada dasarnya, Koay Ji
menggunakan dasar-dasar Ilmu perguruannya, Siauw Lim Sie,
tetapi karena menambah dengan pengetahuan dasar dan
kecenderungan pergerakan manusia, maka dia memiliki
perspektif lebih luas ketimbang ketiga paman gurunya.
Bisa dimaklumi jika ketika berada di Kuil Siauw Lim Sie, Koay Ji
justru semakin matang, semakin maju ilmunya. Bukan hanya itu,
614
kekuatan iweekangnya semakin matang dan semakin melebur.
Boleh dibilang kemajuannya selama sebulan berada di Kuil Siauw
Lim Sie sungguh luar biasa pesatnya. Dia kini dibawah bimbingan
Bu Kek Hwesio menjadi lebih sadar dengan kemampuan
mengisapnya, lebih paham dengan iweekang dan kekuatan
tenaga dalamnya. Dan karena itu boleh dibilang kedatangan Koay
Ji ke Kuil Siauw Lim Sie adalah ibarat mematangkan dirinya.
Karena melawan Barisan Lo Han Tin, Sie Lan In, Siu Pi Cong dan
si Kerudung Ungu dan terakhir kedua Paman Gurunya, membuat
matanya terbuka lebih lebar. Membuat banyak simpul yang belum
dipahaminya akhirnya dapat dimengertinya secara lebih baik
hingga pada akhirnya membuat dirinya paham penuh atas
kemampuan dirinya sendiri. Kemajuan serta kemujijatan Koay Ji
membuat Bu Kek Hwesio dan kedua sutenya terheran-heran dan
pusing memikirkan sampai dimana kelak Koay Ji akan maju
dalam ilmu silatnya itu. Berbareng dengan itu, selain sering
berlatih dan bertukar pikiran, bukan sekali tokoh tua itu
menasehati Koay Ji agar menjaga tingkahnya dan menjaga agar
terus menjadi orang yang tahu diri. Pengalaman selama beberapa
minggu dengan Koay Ji membuat bu Kek Hesio mengasihi Koay
Ji bagai muridnya sendiri.
615
Sementara itu, Sie Lan In sendiri disisi lain, meski tidak berlatih
dengan Koay Ji yang memang menyimpan diri dan identitasnya,
juga mengalami kemajuan lain yang tidak kalah hebatnya. Berada
di Kuil Siauw Lim Sie dan bertemu Bu Kek Hwesio, Bu Kong
Hwesio dan tokoh-tokoh sepuh Siauw Lim Sie dimanfaatkannya
untuk menimba pelajaran dan pengalaman yang tidak sedikit.
Bahkan Bu Kek Hwesio tidak pelit untuk membantu si Nona untuk
melatih lebih dalam ilmu iweekangnya hingga mengalami
kemajuan yang tidak sedikit. Tetapi yang membuat si Nona betah
di Kuil Siauw Lim Sie adalah karena keberadaan Bu San. Dia
sungguh kagum dengan si pemuda yang sopan, meski tidak
memiliki ilmu Silat tetapi memiliki Ilmu Pengobatan yang sungguh
dalam dan luar biasa.
Awalnya, tak ada sama sekali perhatian dan ketertarikannya
terhadap Bu San. Pemuda lemah yang tidak mengerti Ilmu Silat,
meski secara fisik terlihat tinggi dan cukup gagah. Tetapi,
menyaksikannya mampu mengobati Bu Sin Hwesio, mengerti tata
letak jalan darah, dan bahkan membantunya memahami
beberapa rahasia tubuh manusia dan ilmu totok, membuat
matanya terbuka. “Sayang dia tak paham ilmu silat”, desisnya
dalam hati. Bukan sekali dua kali dia meminta Bu Kek Hwesio
melatih Bu San, tetapi jawabannya adalah senyum dan lirikan
616
aneh dari si Pendeta Mesum yang kini sudah jauh lebih rapih,
bersih dan sangat terurus. Kata-kata dan kalimat-kalimat Bu San
yang terpelajar dan berisi semakin lama semakin menarik buat
Sie Lan In, dan karena itu diapun akhirnya memutuskan untuk
berjalan bersama Bu San untuk turun gunung. Dan ketika mereka
akhirnya memutuskan turun gunung, Hoat Bun Siansu ikut
menugaskan salah seorang murid Siauw Lim Sie, yakni Kwan Kim
Ceng untuk mengawal Bu San. Kwan Kim Ceng adalah murid
bungsu dari Bu Kek Hwesio dan baru beberapa hari terakhir
menyusul suhunya ke Kuil Siauw Lim Sie. Ada dua maksud Bu
Kek Hwesio mengusulkan murid bungsunya untuk turun gunung;
Pertama, karena konon saat itu Dunia Persilatan sedang tegang
dengan kejadian-kejadian aneh yang semakin lama semakin
sering dan mulai meresahkan.
Alasan yang kedua adalah karena Bu San, yang diketahui
memiliki ilmu pertabiban yang ulung, juga diminta untuk
mengunjungi Kota Han Im. Karena ada seorang tokoh Pendekar
Siauw Lim Sie non Pendeta yang sedang terluka berat disana dan
butuh perawatan. Padahal, tokoh tersebut adalah tokoh yang
sering dan banyak membantu Kuil Siauw Lim Sie serta memiliki
Perusahaan Ekspedisi yang cukup maju. Tokoh itu sudah cukup
lama menderita sakit dan masih belum dapat disembuhkan,
617
sehingga kedatangan Koay Ji diharapkan dapat menyembuhkan
tokoh tersebut. Maklum, selain sebagai murid Siauw Lim Sie,
tokoh itu sangat dikenal sebagai penyumbang bagi Kuil Siauw Lim
Sie dan juga dermawan bagi masyarakat sekitarnya. Juga
sekaligus adalah tokoh Kang Ouw yang cukup disegani kawan,
apalagi karena latar belakangnya yang punya hubungan dengan
Siauw Lim Sie. Dan alasan lain yang juga sangat penting adalah,
tokoh itu justru masih seangkatan dengan Ciangbudjin Siauw Lim
Sie dewasa ini, yakni Hoat Bun Siansu.
Tak terasa ketiga orang muda itu sudah akan memasuki sebuah
kota kecil bernama Pa Koan setelah 2 hari berjalan. Jika dalam
keadaan normal, mereka yang memiliki Ilmu Silat tinggi dapat
mencapainya dalam waktu kurang dari seharian, tetapi karena Bu
San yang tidak memiliki kemampuan ginkang, maka mereka
menempuhnya nyaris 2 hari. Pa Koan sesungguhnya adalah kota
kecil. Namun demikian, karena merupakan kota terakhir menuju
Kuil Siauw Lim Sie, maka kota tersebut terhitung cukup ramai.
Hari sudah menjelang siang ketika Bu San, Sie Lan In dan Kwan
Kim Ceng tiba di simpang tiga. Jalan menuju ke kota lain berbelok
kekanan, sementara lurus, berjarak kurang dari 500 meter sudah
memasuki kota Pa Koan. Tetapi, di pojok persimpangan tersebut
618
ada sebuah rumah makan sederhana yang diwaktu siang hari
sangatlah ramai dikunjungi orang. Termasuk para pelancong.
Restoran tersebut bernama Soe San Tjun. Tidaklah besar
bangunannya, tetapi yang menarik adalah, di bawah banyak
pohon rindang ditempatkan beberapa meja dengan tempat duduk
sederhana. Artinya, halaman terbuka menjadi bagian dari
restoran dan hanya ditempatkan tempat duduk seadanya untuk
menyiasatinya, termasuk meja yang juga meja sederhana.
Herannya, jauh lebih banyak pengunjung yang memilih untuk
duduk dan makan dibawah pohon rindang ketimbang memesan
tempat makan di dalam bangunan yang tidak cukup besar itu.
Adalah Sie Lan In yang memilihkan sebuah meja makan yang
masih belum ditempati orang tepat di bawah sebatang pohon
yang cukup rindang. Tempat pilihan merekapun masih sepi dan
belum cukup banyak orang yang berdatangan untuk makan di
resto alam terbuka tersebut. Tetapi, menjelang makanan
dihidangkan, tempat duduk kosong di sekitar mereka sudah
menjadi penuh terisi. Dan sebagian besar adalah tokoh persilatan
seperti mereka.
Yang membuat Resto itu menjadi nyaman adalah, meskipun di
tempat terbuka tetapi sama sekali tidak ada kaum pengemis yang
merangsek masuk. Jikapun ada, mereka berada di luaran dan
619
dijalanan, dan kelihatannya paham jika masuk ke restoran mereka
akan mendatangkan rasa kurang nyaman bagi pengungjung.
Karena itu, meski tempat terbuka, resto itu justru mendatangkan
rasa nyaman serta rasa lega dan membuat para pengunjung
dapat menikmati makanannya dengan tenang. Bukannya tidak
ada kaum pengemis disitu, sebaliknya cukup banyak terlihat
diluaran. Namun sepertinya pemilik resto sudah memiliki
kesepakatan dengan kaum pengemis sehingga tidak ada yang
masuk dan meminta-minta di restoran itu. Atau entah bagaimana
pengaturan pemilik restoran sehingga terlihat apik dan rapih serta
tenang.
“Sie Kouwnio ……. meski di tempat terbuka tetapi restoran ini
nampaknya justru sangat tenang, nyaman dan bersih ………”
berkata Bu San sambil memandang wajah Sie Lan In yang jelita
itu. Wajah Bu San terlihat kemerahan seperti orang yang
kelelahan habis melakukan perjalanan panjang dan melelahkan.
“Hmmmm, setidaknya kita dapat beristirahat disini sebelum
memasuki kota Pa Koan. Kabarnya makanan disini digemari
banyak orang San te…” Bukan Sie Lan In yang menjawab tetapi
Kwan Kim Ceng.
“Benar demikian Ceng ko ….”? kejar Bu San
620
“Menurut kabar memang demikian, buktinya restoran ini selalu
penuh pada jam-jam tertentu seperti sekarang ini ……”
Pada saat itu, sekitar meja makan mereka memang sudah nyaris
tidak ada lagi yang kosong, hampir semua sudah terisi.
Sementara Bu San dan Kim Ceng bercakap-cakap Sie Lan In
terlihat memandangi sekeliling mereka dengan pandang mata
serius. Hal yang kemudian memancing rasa ingin tahu Bu San
dan kemudian berbisik:
“Sie Kouwnio, apa yang sedang engkau cari …..”?
Mengetahui jika gelagatnya memancing perhatian orang, Sie Lan
In menjadi sadar dan kemudian perlahan memandang Bu San
dan menjawab:
“Entahlah Bu San, senang saja karena dapat duduk di restoran
seperti ini dan berada di udara terbuka. Hanya saja, lama
kelamaan menjadi terlalu ramai …….”
Memang demikianlah keadaannya. Ketika makanan akhirnya
tersaji, masih terus berdatangan tamu yang ingin bersantap. Dan
pada akhirnya, saat mereka mulai makan, nyaris tidak ada lagi
meja dan kursi yang kosong. Sampai makanan tersaji dan mulai
menyantap makanan restoran tersebut, tidak terjadi hal-hal yang
621
tidak mereka inginkan. Bahkan, beberapa saat kemudian mereka
justru mendengarkan percakapan yang cukup menarik perhatian.
Sebuah kabar terakhir meski dalam bentuk desas-desus dari
Rimba Persilatan Tionggoan yang sedang memanas,
dipercakapkan orang-orang yang mejanya terpisah tidak jauh dari
mereka.
“Ssssshh, kabarnya pergerakan terakhir sudah semakin berani.
Mereka bahkan berani meluruk dan menyerang ke Kuil Siauw Lim
Sie …. tetapi, setelah sangat yakin akan berhasil mencaplok
Siauw Lim Sie, justru mereka terpukul kalah total disana. Menurut
kabar, sudah muncul seorang tokoh baru yang sangat misterius
dan hebat, namanya disebutkan Thian Liong Koay Hiap. Tokoh itu
yang membantu Siauw Lim Sie dengan memukul kalah gerakan
mereka para Utusan Pencabut Nyawa itu. Selain itu, juga ikut
muncul disana Pendekar Jelita Long Li Hu Tiap (Kupu-Kupu di
Tengah ombak), Sie Lan In dari Lam Hay. Mereka berhasil
memukul kalah secara telak para Utusan Pencabut Nyawa,
bahkan konon kabarnya salah seorang pemimpin serta lebih
separoh Utusan Pencabut Nyawa hancur di tangan kedua tokoh
hebat itu. Kabarnya mereka semua kembali bergerak secara
sembunyi dan target mereka akan berubah ……. entah apa yang
akan mereka lakukan kemudian ……”
622
Sesungguhnya percakapan yang dilakukan berada beberapa
meter dari meja Koay Ji dan Sie Lan In. Apalagi, meja orang-orang
yang bercakap itu agak ke pojok dan terdiri dari 5 orang
berdandan sebagai pendekar kelana. Tetapi, telinga tajam
keduanya, Sie Lan In dan Koay Ji, mampu menangkap
percakapan yang dilakukan dengan suara lirih dan takut terdengar
orang lain itu;
“Tetapi, lebih dua minggu setelah mereka kalah telak, konon
Murid utama Mo Hwe Hud sang diraja Iblis itu munculkan diri dan
ingin membalaskan kekalahan salah seorang adik
seperguruannya. Malahan kemana-mana dia menantangnantang
agar Thian Liong Koay Hiap tampilkan diri untuk
menghadapinya. Tetapi hingga sekarang ini, Pendekar Aneh itu
sendiripun seperti lenyap ditelan bumi dan tidak ketahuan kemana
perginya ….. Dan anehnya pula, aktifitas Utusan Pencabut Nyawa
yang belakangan banyak mengacau itu entah mengapa selama
sebulan terakhir ini setelah kekalahan di Siauw Lim Sie seperti
tenggelam …..”
Orang yang berbicara terakhir berbicara lebih lirih, tanda
kemampuannya lebih hebat dari lawan bicara sebelumnya. Dan
dia duduk sambil membelakangi Bu San dan Sie Lan In yang
sambil makan terus mengikuti percakapan mereka. Nampaknya,
623
meski terlihat lebih berat, Kwan Kim Ceng juga sedng mengikuti
percakapan tersebut. Hanya Bu San alias Koay Ji yang kelihatan
seperti tidak perduli, padahal sebenarnya juga mengikuti secara
jelas arah dan topik percakapan di meja seberang mereka itu.
Adalah karena dia dalam samaran sebagai pemuda yang tak
pandai bersilat maka dia akhirnya harus berlaku atau bertindak
hati-hati seakan orang yang memang tidak paham ilmu silat.
Mengikuti percakapan orang-orang itu jelas membuat baik Sie
Lan In maupun Koay Ji terkejut karena mereka ternyata sudah
dihitung dan dipercakapkan orang. Terlebih bagi Koay Ji,
mendengar namanya disebut dan ditantang orang membuat dia
tersentak dan kaget bukan main. Tetapi, sekali lagi dia harus
berlaku seakan-akan tidak paham sama sekali dan tidak
mendengar serta otomatis tidak tahu apa yang sedang
diperbincangkan di meja tersebut.
“Padahal selentingan kabar beberapa bulan lalu sebelum
kekalahan mereka di Siauw Lim Sie, mereka konon sudah bersiap
untuk selanjutnya merecoki dan kemudian juga menguasai
Kaypang. Tetapi konon karena keburu Hu Pangcu Tek Ui Sinkay
mencium upaya pembusukan dari dalam Kaypang, maka pada
akhirnya mereka membatalkan atau menunda rencana mereka di
Kaypang itu. Hanya, konon setelah murid utama Mo Hwee Hud
624
berkoar-koar menantang Thian Liong Koay Hiap, rencana
menaklukkan Kaypang kelihatannya dimulai kembali. Informasi
rahasia yang kami dengar mereka akan bergerak di Kaypang
selepas mengganggu perayaan Ulang Tahun Hu Sin Kok berapa
bulan kedepan …….”
“Hmmmm, sejak lama kehadiran Tek Ui Sinkay memang selalu
merepotkan Utusan Pencabut Nyawa. Tidak heran jika Kaypang
akan mereka sasar nanti ……”
Mendengar kalimat terakhir, Bu San tiba-tiba sedikit tersedak,
namun dengan cepat mengendalikan diri. Tetapi, Sie Lan In dan
Kwan Kim Ceng memandanganya dengan pandangan berbeda
dan tatapan aneh.
“Ada apa denganmu saudara Bu San …….”? tanya Sie Lan In
dengan pandangan penuh selidik dan penuh perhatian.
Sementara Kwan Kim Ceng memandangnya dengan tatapan
yang aneh.
“Tidak apa, tidak apa apa Nona Sie …….. hanya makanannya
terasa sedikit pedas buatku ….” Jawab Bu San cerdik meski tidak
menghilangkan rasa aneh dalam hati Kwan Kim Ceng dan
mungkin juga Sie Lan In.
625
“Dengan perayaan Ulang Tahun Hu Pocu yang tinggal 3 bulan
kedepan, rasanya akan banyak keramaian yang bakalan terjadi.
Baik sebelum perayaan ulang tahun tersebut dan terutama
rasanya pada saat perayaannya itu sendiri. Hal ini dapatlah
dipastikan, terutama dengan tantangan terbuka terhadap Thian
Liong Koay Hiap …….”
“Benar sekali, kelihatannya keramaian akan terjadi di Ulang
Tahun Hu Pocu. Bahkan lebih dari itu, dengan ketidaksiapan
akibat adanya masalah-masalah besar secara kedalam bagi
Perguruan-Perguruan Besar, maka sesungguhnya memancing
gerakan Utusan Pencabut Nyawa untuk segera mulai mengadukaduk
dunia persilatan. Bahkan, bukannya tidak mungkin mereka
akan ikut “mengacau” persis di ulang tahun Hu Pocu sebelum
memutuskan menyerang Kaypang …..”
Jelas saja Koay Ji atau Bu San tersentak mendengar disebutnya
nama Tek Ui Sinkay. Maklum tokoh yang menjadi Hu Pangcu
Kaypang itu adalah orang yang sangat dekat dan sangat
dihormatinya selain suhunya. Bukan hanya karena dia memang
adalah Sam Suhengnya sendiri, tapi karena tokoh itulah yang
berjasa besar atas perjalanan hidupnya hingga dapat menjadi
murid terakhir dari Suhunya. Karena itu, berita yang menyangkut
serta bahkan membahayakan seorang Tek Ui Sinkay, pastilah
626
membuat Koay Ji kaget. Bukan hanya kaget, tetapi kelak akan
berupaya sekerasnya memberikan bantuan serta menunjukkan
keperduliannya.
Percakapan 4 orang itu terus berlangsung, tetapi kadar
informasinya terus berkurang. Koay Ji bisa melihat jika Nona Sie
Lan In dan Kwan Kim Ceng mulai santai kembali, tetapi itu tidak
berlangsung lama. Karena tiba-tiba, seorang dari 4 orang yang
tadinya tidak pernah memberikan komentar dan pendapatnya
berbisik dengan suara lirih. Dan bisikannya teramat lirih jauh
berbeda dengan 3 orang kawannya yang percakapan dan dialog
mereka mudah disadap. Tokoh keempat ini nampaknya memiliki
kelebihan jika dibandingkan dengan teman-temannya yang lain:
“Jangan berisik ……. sebentar lagi sahabat-sahabat kita yang
lainnya tiba …….”
Dan benar saja, tidak lebih dari semenit, terlihat dua orang
mendatangi meja makan mereka dan kemudian langsung duduk
bergabung. Dan Koay Ji menjadi sangat kaget dan terperanjat
melihat salah seorang dari kedua pendatang baru yang justru
amat dikenalnya itu. Dia bukan lain adalah Kakek Ong, tokoh yang
sempat ditolongnya sebulan yang lalu karena terluka dalam
kejaran Utusan Pencabut Nyawa. Dan tokoh ini yang tadinya
627
memegang tanda pengenal Ciangbudjin Siauw Lim Sie yang
terluka dan akhirnya ditolongnya namun tertap saja tidak
terselamatkan. Bagaimana bisa Kakek Ong muncul disitu? Dan
dimana pula cucunya He ji yang lucu dan baik itu? Koay Ji menjadi
sangat tertarik dengan perkembangan terakhir. Tak sengaja dia
menjadi tegang dan memancing perhatian Nona Sie Lan In:
“Bu San, ada apa dengan dirimu? Mengapa engkau menjadi
demikian tegang melihat kedatangan dua orang baru itu ….”?
“Acccchhhh, tidak, tidak Sie Kouwnio, kukira tadinya aku
mengenal salah seorang dari mereka yang baru datang, setelah
kuteliti ternyata tidak. Kelihatannya hanya mirip belaka …….” Dan
sambil berkata demikian Koay Ji kembali melanjutkan makannya
dan berlagak tidak mendengar dan mencari tahu apa yang terjadi
di meja sebelah. Sie Lan In mau tidak mau percaya saja. Berapa
kali dia curiga dengan polah Koay Ji atau Bu San yang meski
memang jelas tidak menguasai Ilmu Silat kecuali teorinya dan
memang tak memiliki tenaga iweekang, tetapi menunjukkan
gelagat yang aneh dan misterius. Hal yang beberapa kali
disesalkan nona itu. “Seandainya dia memilki Ilmu Silat atau mau
beratih Ilmu Silat ………”
628
Kedatangan kedua tokoh baru itu sesungguhnya tidak menarik
perhatian. Toch karena sebagian besar orang yang singgah dan
makan di resto tersebut adalah pelancong atau tokoh persilatan.
Kedatangan mereka dengan demikian tidak menarik perhatian
orang, tetapi memancing rasa ingin tahu Sie Lan In, Kwan Kim
Ceng dan tentu saja Bu San yang berada dekat mereka.
“Selamat datang Lamkiong Locianpwee, Tan Locianpwee …..
silahkan, silahkan duduk” sambut si tokoh misterius yang cukup
mengejutkan Bu San karena ternyata selama duduk dan berdiam
diri tadi, tokoh itu menyembunyikan diri. Ternyata dia adalah tokoh
hebat yang tidak mau menonjolkan diri.
Karena tidak mau menonjolkan diri mereka, maka Kakek Ong
bersama sahabatnya sudah langsung mengambil tempat duduk.
Begitu duduk, Kakek Ong langsung berkata dengan nada suara
serius:
“Jika Pak Thian Ciang Seng (Malaikat Pukulan Langit Utara) Hoa
Kiam Cu sampai datang menyusul ke daerah Siong San ini,
mestinya ada kabar menarik dan penting untuk disampaikan
……”? berkata Kakek Ong dengan nada suara serius, tetapi
sangat lirih dan pasti tidak terdengar telinga orang biasa. Bahkan,
sudah menggunakan ilmu mendengar jarak jauhpun belum tentu
629
dapat mendengarkan percakapan Kakek Ong. Dan barulah Koay
Ji sadar jika Kakek Ong lebih banyak berpura-pura ketika terluka
dan mendapatkan pertolongannya dahulu itu. Dari nada
suaranya, jelas Kakek Ong adalah tokoh hebat dan bukannya
tokoh kelas satu belaka …..
“Hmmmm, siapa yang berani meragukan Siau-Yau-Soan-Hong
Khek (jago angin puyuh yang suka bebas) Lamkiong Giok?
Apalagi jika bertugas bersama dengan seorang Cian Seng Khi Si
(sastrawan aneh seribu bintang) Tan Tiong ….? Acccch, Jiwi
Locianpwee akan terlalu sungkan jika demikian …….…….”
Terdengar tokoh yang dipanggil Pak Thian Ciang Seng (Malaikat
Pukulan Langit Utara) Hoa Kiam Cu membantah dan menyebut
serta memuji kehebatan kedua pendatang.
Kalimat itu membuat Koay Ji akhirnya mengerti jika ternyata tokoh
yang ditolongnya dahulu itu bernama Siau Yau Soan Hong Khek,
Lamkiong Giok. Dan dia datang dengan Sastrawan Aneh Seribu
Bintang Tan Tiong. Sayangnya Koay Ji masih belum cukup punya
banyak pengalaman di dunia persilatan, sebab jika tahu, maka dia
akan kaget karena kedua tokoh itu adalah tokoh besar dewasa ini.
Ketika melirik Kwan Kim Ceng, Koay Ji kaget melihat pemuda itu
tersentak mengetahui bahwa yang datang adalah Lamkiong Giok
dan Tan Tiong. Siapa mereka gerangan? Mengapa sampai
630
seorang Kwan Kim Ceng sampai terkejut sedemikian rupa? Koay
Ji menduga jika keduanya pasti adalah tokoh terkenal dunia
persilatan. Karena itu dia mencatat nama mereka berdua dalam
hatinya. Termasuk orang yang menunggu mereka dan tadi
disebut nama dan julukannya sebafgai Malaikat Pukulan Sakti
Langit Utara.
Kedatangan kedua orang yang langsung duduk dan bercakapcakap
membuat wajah Kim Ceng menjadi mengkerut.
Kelihatannya dia tetap berusaha mengikuti percakapan mereka,
sementara sama seperti Koay ji, Nona Sie Lan In tetap sambil
menikmati makanan dan terus mendengarkan percakapan orang.
Menjadi lebih sulit dibandingkan sebelumnya, karena kedua
pendatang berbicara jauh lebih lirih dan kelihatannya sengaja
tidak diperdengarkan kepada orang lain.
“Hoa lote ….. sesungguhnya Utusan Pencabut Nyawa benarbenar
dikalahkan secara telak oleh seorang tokoh yang masih
sangat baru. Bahkan salah seorang pemimpin utama Utusan
Pencabut Nyawa di kalahkannya dan dipunahkan ilmunya.
Sejujurnya, akupun baru melihat, mengenal dan bertemu dengan
tokoh itu dalam perjalanan menuju ke Siauw Lim Sie. Tetapi,
belakangan, begitu tahu siapa Suhunya, akupun segera maklum
…….. tokoh yang mengaku bernama Thian Liong Koay Hiap itu
631
masih terhitung sebagai anak murid Bu Te Hwesio. Salah seorang
Tokoh Dewa. Setidaknya begitu menurut pengakuan Locianpwee
lihay itu sendiri kepadaku ………”
Sekali ini adalah Sie Lan In yang bereaksi seperti jemu
mendengar nama Thian Liong Koay Hiap. Entah mengapa,
pertemuan di Siauw Lim Sie tidak membuat Nona Sie jadi punya
pandangan yang baik terhadap Thian Liong Koay Hiap. Tokoh
yang tidak dapat dikalahkannya meski juga tidak dapat
mengalahkannya. Tetapi, posisi itu membuat Sie Lan In seperti
selalu sentiment dan tidak senang mendengar nama itu disebut.
Apalagi jika disebut dengan penuh nada kagum ….. untungnya
Sie Lan In cepat dapat menahan dirinya, karena mereka sedang
di depan banyak orang. Dan sekaligus dia mencatat jika ternyata
Thian Liong Koay Hiap adalah murid Bu Te Hwesio … pantas saja
dia lihay, pikir Nona Sie Lan In maklum.
Sementara itu, Koay Ji kaget sendiri. Benarkah Bu te Hwesio,
seorang tokoh yang juga dikagumi Suhunya mengakui dirinya
sebagai muridnya? “Achhh, ada-ada saja, kapan aku bertemu
dengan tokoh dewa itu ….”? gumamnya dalam hati. Tapi
anehnya, hati kecilnya seperti mengiyakan bahwa dia adalah
murid dari Bu Te Hwesio. Entah kenapa dan sangat sulit untuk
dijelaskannya.
632
“Sedemikian hebatnya orang itu? Sungguh sangat disayangkan,
karena lohu sangat sangat terlambat datang ke Siong San
sehingga tidak memiliki kesempatan untuk ikut menyaksikan
pertarungan yang hebat itu ……..” keluh kawan seperjalanan
Kakek Ong atau tepatnya Lamkiong Giok.
“Tan hengte, sesungguhnya aku sendiripun tidak menyaksikan
secara langsung pertarungan yang konon maha hebat itu. Hanya
sempat mengikuti dari kejauhan karena menurut Bu Te Hwesio,
seorang diri saja dan dengan dibantu Nona Sie Lan In, murid
kesayangan Lam Hay Sinni, seorang tokoh dewa lainnya, mereka
sudah cukup dan akan mampu untuk menanggulangi masalah
Kuil Siauw Lim Sie. Dan benar saja, mereka berdua memang
mampu memukul mundur dan kemudian mengusir para penjahat
itu dari Kuil Siauw Lim Sie. Jika tidak, akan sangat sulit
membayangkan nasib Siauw Lim Sie yang dikuasai seorang
Ciangbudjin Boneka yang sudah menghilang puluhan tahun dan
kehilangan ingatan itu …….”
“Bukan hanya itu Lamkiong Locianpwee, menurut penuturan
Utusan Pencabut Nyawa yang menarik diri dari Siauw Lim Sie
beberapa hari silam, Thian Liong Koay Hiap itu bahkan mampu
melewati Barisan Lo Han Tin. Bertarung dengan sobat tua kita dari
Lautan Timur, Siu Pi Cong dan bahkan tidak kalah diserang murid
633
Lam Hay Sinni. Kemudian, juga dikerubuti para pemimpin Utusan
Pencabut Nyawa dan terakhir juga sempat bertarung dengan
salah seorang Tianglo Siauw Lim Sie tanpa terkalahkan. Dan,
menurut analisis mereka, Ilmu Thian Liong Koay Hiap tidak
semuanya mirip dan berasal dari Bu Te Hwesio. Ada beberapa
unsur ilmu Siauw Lim Sie, tetapi cukup banyak gerakan dan
ilmunya yang sangat aneh, mujijat dan entah darimana asalnya.
Ini membuat mereka sangat penasaran ……” terdengar tokoh
Utara, Malaikat Pukulan Langit Utara bersuara
Diam-diam Koay Ji bangga mendengar pergunjingan mengenai
dirinya. Sementara itu, rasa kesal Nona Sie Lan In meski sudah
terkontrol tetapi tetap saja wajahnya terlihat keruh dan tanda tidak
senang. Diam-diam Koay Ji juga bingung, dimana dia membuat si
gadis cantik nan ayu ini marah dan tidak senang dengan
samarannya sebagai Thian Liong Koay Hiap? Sungguh
membingungkan. Sementara itu, Malaikat Pukulan Langit Utara
sudah melanjutkan kembali:
“Celakanya, konon salah seorang murid Mo Hwee Hud terluka
dan dipunahkan ilmunya oleh tokoh aneh itu. Dan belakangan,
murid kepala Mo Hwee Hud, To Seng Cu (Tunggal di Atas Tanah)
Tam Peng Khek yang sudah terkenal kesombongan dan
kekejamannya sedang mencari dan menantang-nantang Thian
634
Liong Koay Hiap itu. Bukan hanya itu, bahkan istrinya yang hebat
itupun, Tok sim Siancu (dewi berhati racun) Gi Ci Hoa ikut juga
munculkan diri. Jika mereka berdua melibatkan diri, maka
pertarungan antar Perguruan dari masing-masing tokoh Dewa
akan sulit dihindari. Kelihatannya, kejadian ini akan menambah
kisruh dan kelamnya Tionggoan …….”
Kaget juga Koay Ji mendengar bahwa kini dia dicari-cari oleh
murid kepala Mo Hwee Hud (Budha Api Iblis). Tetapi, tak
sedikitpun dia jeri dan apalagi takut. Setelah melalui dan
mengalami pertarungan hebat bulan lalu, kemudian beberapa hari
terakhir berlatih dengan para Susioknya, Koay Ji semakin percaya
diri.
“Jika murid kepala Mo Hwee Hud sampai munculkan diri,
kemungkinan besar mereka akan mendukung gerakan Utusan
Pencabut Nyawa. Karena menurut Bu Te Hwesio, para pemimpin
Utusan Pencabut Nyawa adalah murid-murid dari Mo Hwee Hud.
Dan itu sebab mengapa Bu Te Hwesio tidak murka dengan tangan
keras yang diturunkan muridnya si pendekar Aneh itu. Tetapi,
persoalan lebih jauh adalah, nampaknya persoalan Utusan
Pencabut Nyawa yang sekarang mengganas, ada kaitannya
dengan masalah lama di dunia Kang Ouw. Lohu pikir, sebentar
lagi kita akan membuktikan dugaan ini ……. sayang sekali
635
sahabat kita dari Timur lebih memilih bergabung dengan lawan
yang mengacau Kang Ouw, entah apa yang menjadi alasannya,
sungguh sangat mengejutkan …” Lamkiong Giok kembali
berbicara dengan nada menyesal, karena rupanya mereka masih
ada hubungan persahabatan dengan Kakek Siu Pi Cong.
“Sudahlah ……. Lebih baik kita segera kembali dan melaporkan
kejadian di Siauw Lim Sie secara lengkap kepada Hu Pocu. Kita
sudah beroleh banyak sekali keterangan dan informasi mengenai
Utusan Pencabut Nyawa. Bahkan juga dapat mengetahui jika
akan ada bentrokan hebat antara tokoh-tokoh Dewa, selain juga
tanda-tanda bahwa Kaypang akan diserang. Jika benar perkiraan
Hu Pocu, maka kekacauan akan segera meledak dalam waktu
dekat ………..” terdengar akhirnya Tan Tiong mengusulkan
“Begitu juga baik ….. dengan begitu kita dapat segera
mempersiapkan diri menyambut Perayaan Ulang Tahun Hu Pocu
…” tambah Hoa Kim Cu, dan seterusnya percakapan jadi hambar
dan tidak lagi diikuti Sie Lan In, Kwan Kim Ceng dan Koay Ji.
Bahkan beberapa saat kemudian merekapun meninggalkan
restoran tersebut.
Tetapi dalam perjalanan memasuki kota, Kwan Kim Ceng berkata:
636
“Sie Kouwnio, San te, jika mendengar percakapan tokoh-tokoh
tadi, kita beristirahat cukup sehari saja di kota ini, dan besoknya
kita perlu memburu waktu ke menuju Kota Han Im. Perjalanan
seperti sekarang akan membutuhkan waktu sebulan lebih, dan
kita tidak akan dapat pergi ke Benteng Keluarga Hu kelak. Karena
itu, kuusulkan besok kita memacu waktu dengan menyewa kuda
menuju kota Han Im. Dengan demikian, kita dapat mencapai Kota
Han Im dalam waktu kurang lebih seminggu …… bagaimana
menurutmu Nona …..”?
Sie Lan In menatap bingung sejenak kearah Koay Ji. Dia seperti
ragu apakah Koay Ji mampu menunggang kuda ataukah tidak …..
apalagi, karena perjalanan akan dilakukan dengan lebih cepat
dan menggunakan atau menunggang seekor kuda. Tetapi, Koay
Ji yang dipandang, dengan ringan berkata:
“Jangan khawatir Sie Kouwnio, jika hanya menunggang kuda
rasanya masih dapat kulakukan dengan baik …….”
“Begitu juga baik …… tetapi, setelah dari Kota Han Im, tepat
sebulan kedepan, harus kupenuhi pertemuan dengan dua orang
kawan yang lain. Untungnya dari Kota Han Im tidaklah begitu jauh
……” berkata Sie Lan In dengan lega. Apalagi, dia sendiri
memang harus memburu waktu untuk memenuhi janji Subonya
637
dalam sebuah pertemuan di kawasan Cui Lok San, cukup sehari
berkuda dari kota Han Im.
“Jika memang demikian, aku akan mencari penyewaan kuda
setelah kita mendapat tempat beristirahat nanti ……” Kwan Kim
Ceng gembira karena memang tugasnya turun gunung memang
selain menuju kota Han Im, juga ditugaskan untuk mengamati
perkembangan rimba persilatan. Terutama karena menurut
Suhunya, kelihatannya persoalan di Siauw Lim Sie banyak
berhubungan dengan kemelut rimba persilatan yang rasanya
akan segera meletus.
Ketika memasuki kota, mereka rada terkejut karena banyak orang
berebutan menuju ke satu arah yang sama. Sepertinya ada
pertunjukkan. Tetapi ketiganya tidaklah begitu tertarik menuju
keramaian tersebut. Apalagi karena mereka memang sedang
berusaha menemukan tempat menginap berhubung hari mulai
semakin sore. Tetapi, ada saja kejadian yang mengusili mereka.
Sedang mereka berusaha menghindari keramaian tersebut, tibatiba
mata Koay Ji yang tajam melihat sebuah tangan yang
bergerak cepat menggerayangi Kwan Kim Ceng. Tidak terasa
mencurigakan bagi Pemuda Siauw Lim Sie itu karena memang
pada saat itu banyak sekali orang yang berjalan ke satu arah dan
638
berdesakan di jalanan. Koay Ji sadar bahwa tangan itu adalah
tangan jahil, apalagi dia melihat tangan itu mengambil sesuatu
dari kantong Kwan Kim Ceng. Dengan cepat dia bergerak
menangkap tangan itu, tetapi pada saat bersamaan dia ingat
kalau dia sedang menyaru menjadi pemuda BU SAN yang tidak
pandai Ilmu Silat. Karena itu, bersamaan dengan lengannya yang
bergerak cepat, diapun membanting diri kedepan mengikuti arah
bergeraknya si copet bertangan lihay itu:
“Aduuuuuhhhhhhh ……..” rintihnya sambil tubuhnya terseret ke
depan. Kejadian yang cepat itu memancing reaksi yang tidak
kalah cepatnya dari Kim Ceng dan Lan In yang kaget dengan
sebab berbeda. Lan In kaget dengan jatuh atau terseretnya Koay
Ji kedepan, sementara Kim Ceng sadar sesuatu raib dari
kantongnya. Karena itu, jika Lan In menangkap lengan Koay Ji
yang sudah nyaris terjerembab dan berkutetan dengan lengan si
pencopet yang masih dipegangnya erat, maka Kim Ceng,
langsung menotok lengan si tukang copet yang ketahuan oleh
Koay Ji.
Tetapi, rupanya si tukang copet datang dengan beberapa
kawannya sebagai sebuah komplotan. Melihat kawan mereka
ketahuan dan bahkan diserang oleh Kwan Kim Ceng, dan target
mereka melakukan perlawanan, tiba-tiba mereka ikut menyerang.
639
Mengeroyok langsung. Ada 4 orang termasuk si tukang copet
yang menjadi komplotan mereka itu. Tetapi, sayang sekali,
kepandaian mereka terlampau jauh jika dibandingkan dengan Sie
Lan In dan Kwan Kim Ceng. Dengan gerakan-gerakan sederhana
saja keduanya, yakni Sie Lan In dan Kwan Kim Ceng melontarkan
mereka ke belakang. sementara Kwan Kim Ceng sekaligus
merebut kembali barang yang dicopet dan menyimpannya
kembali dengan segera. Sie Lan In, sambil bergerak memukul,
juga dengan cepat menarik tubuh Koay Ji hingga berdiri dengan
sempurna. Nona Lan In langsung bertanya kepadanya:
“Bu San, engkau tidak apa-apa ….”? tanyanya khawatir, meski
dengan tanda tanya mengapa si anak muda yang tak berilmu
dapat melihat gerakan si tukang copet yang sangat cepat,
sementara Kim Ceng tidak menyadarinya?
“Syukurlah engkau cepat menolongku Sie Kouwnio ……… tidak
apa-apa, aku baik baik saja ……” dengan sengaja Koay Ji
membuat wajahnya memerah seperti mengalami kejutan atau
terkejut setengah mati dengan kejadian barusan.
“San te, terima kasih karena engkau melihat gerakan tangan si
pencopet …. Jadinya barangku dan bekal kita tidak tercuri orang
……” Kim Ceng berkata sambil lengannya bergerak kembali dan
640
memukul keempat orang yang kembali datang mengerubutinya.
Dan bertepatan dengan kalimatnya selesai, terdengar suara
gedebukan ketika keempat kawanan copet itu kembali terbanting
ke belakang dan sekali ini dengan hadiah pukulan yang lebih
berat dan keras.
“Angin keras ……. lari …….”
Melihat lawan terlampau hebat dan kuat, termasuk bahkan gadis
cantik yang tadinya ingin mereka godai, akhirnya keempat
pemuda itu mengambil langkah seribu dengan hadiah gepokan
dari Kim Ceng dan Lan In.
Tidak sulit menemukan penginapan di Kota Pa Kou. Karena
posisinya yang dekat ke Kuil Siauw Lim Sie yang sangat terkenal
dan termasyur, membuat Kota Pa Kou ditata sebagai kota untuk
persinggahan. Karena itu, banyak penginapan yang kemudian
dibangun dan bermunculan disana. Mulai dari penginapan
dengan fasilitas yang cukup seadanya sampai ke fasilitas yang
cukup mewah untuk ukuran kota kecil Pa kou. Kwan Kim Ceng
memilihkan sebuah hotel yang cukup bagus fasilitasnya sebagai
tempat mereka menginap selama semalam. Karena keesokan
harinya mereka berencana untuk melanjutkan perjalanan
menggunakan kuda.
641
“Bu San …… apakah engkau kelelahan …..”? bertanya Lan In
setelah Kwan Kim Ceng minta ijin pergi keluar untuk mencari
tempat menyewa ataupun membeli kuda buat perjalanan
keesokan harinya.
“Tentu saja tidak Nona Sie ……. ada apakah gerangan ……”?
tanya Koay Ji keheranan dengan teguran dan sapaan Sie Lan In
saat mereka berjalan menuju kamar hotel yang disewa untuk
semalam itu
“Maukah engkau bercakap-cakap sejenak sambil kita menikmati
suasana kota Pa Kou ini sebelum beristirahat ……”?
“Baik, baik Nona Sie, dengan senang hati …..”
“Kalau demikian, biarlah kita membersihkan badan sebentar
terlebih dahulu sebelum nanti bertemu di resto hotel ……”
“Begitu juga baik Nona Sie ……”
Dan tidak sampai sejam kemudian keduanya sudah berada di
teras hotel yang sekalian difungsikan sebagai tempat menikmati
kota Pa Kou menjelang senja. Pertunjukan yang membuat banyak
orang berlalu lalang tadi kelihatannya sudah dimulai dan kota Pa
Kou sudah jauh lebih lengang meski hari belum lagi gelap.
642
Sesungguhnya, sebagai kota di pegunungan, hawa sore hari di
kota Pa Kou sudah cukup dingin, apalagi di sore hari menjelang
malam. Penduduk kota sudah mulai beristirahat dan yang masih
lalu lalang biasanya adalah para pelancong yang sedang mencari
tempat menginap. Atau mereka yang memiliki kegiatan di malam
hari, entah apa. Sebentar, ketika pertunjukan bubar, tentu jalanan
akan kembali ramai oleh mereka yang pulang ke rumah masingmasing.
Karena itu, pemandangan dari hotel tempat menginap
Lan In dan Koay Ji menjadi tidak terganggu oleh suara lalu lalang
manusia dan bahkan dapat menangkap suasana dan nuansa
senja hari yang cukup lengang. Kebetulan resto di lantai 2 tempat
keduanya menikmati senja berada dalam posisi yang cukup
strategis guna mengamati banyak sudut kota Pa Kou sehingga
mendatangkan rasa senang bagi keduanya …..
“Bu San …… mengapa engkau tidak mempelajari Ilmu Silat
padahal engkau memiliki bakat yang bahkan sangat hebat dan
sudah menguasai jalan darah di tubuh manusia”? tiba-tiba Lan In
memecah keheningan dengan sebuah pertanyaan. Tepatnya
pertanyaan yang sebetulnya mengekspressikan rasa
penasarannya atas diri Koay Ji yang menurutnya sangat aneh.
“Sie Kouwnio … ketika berada di pegunungan Thian Cong, aku
tinggal dan dibesarkan oleh seorang Tabib, namanya Ang Sinshe.
643
Orangnya sangat baik dan mengajarkanku banyak hal, terutama
mengajarku secara teliti dalam ilmu pengobatan dan juga tata
letak jalan darah manusia serta fungsinya masing-masing. Ini
yang sejak awal menyita perhatian dan membuatku sangat suka
mempelajarinya …….” jawab Koay Ji dengan tidak berbohong,
meski sebenarnya tidak seluruhnya sesuai dengan kisah
sebenarnya. Karena sesungguhnya pada akhir-akhirnya Ang
Sinshe yang jadi kebingungan, siapa suhu siapa murid dalam hal
pengobatan jadi tidak jelas. Terutama setelah Koay Ji dapat
menguasai buku mujijat secara sempurna.
“Ach sayang sekali …. bukankah itu sama dengan setengah jalan
mempelajari Ilmu Silat? Aku yakin jika engkau ingin, dengan
mudah engkau dapat mempelajari Ilmu Silat” berkata Sie Lan In
sambil melanjutkan pertanyaannya, masih belum paham atau
yang tepat penasaran dengan keadaan Koay Ji
“Nona Sie, sesungguhnya akupun mempelajari banyak sekali
teori ilmu silat melalui sebuah kitab dalam bahasa Thian Tok dan
bahasa kuno lainnya. Karena selain belajar ilmu pengobatan,
akupun cukup tekun mempelajari sastra dan huruf-huruf kuno.
Tetapi yang terutama adalah, karena tiada orang yang
membimbingku untuk mempelajarinya. Sehingga semua teori ilmu
silat tersebut hanya tetap tinggal teori yang melekat dalam
644
ingatanku, dan masih belum pernah aku berlatih secara serius
semua ilmu silat yang yang ada dalam ingatanku tersebut ....”
Koay Ji kembali menjawab, namun sekali ini perkataannya
sebagian besar tidaklah sesuai kenyataan. Malahan, sejak masa
kecil dia sudah belajar dan bahkan mencipta sebuah ilmu.
“Engkau menguasai banyak teori ilmu silat? benarkah begitu ,,,”?
Kejar Nona Sie Lan In dengan sangat antusias dan membuat
Koay Ji terkejut karena sadar jika dirinya sudah salah menjawab
pertanyaan Nona Sie.
“Semua hanya kudapat dari membaca dan mengingat kitab
belaka Nona ……” kilahnya untuk mengurangi antusiasme Nona
In
“Accchhhh, tahukah engkau teori ilmu silat mana itu ……”?
“Sama sekali tidak ada namanya, karena Kitab tua itu sudah
sangat kuno dan lapuk. Bahkan pembungkusnya sudah tidak ada
dan sebagian isinya juga sudah diambil orang, disobek begitu
saja. Tetapi isinya justru menuliskan banyak hal mengenai ilmu
silat, jurus-jurusnya, menerangkannya secara baik serta juga
menjelaskan cara untuk menilai, menganalisis atau bahkan
sekaligus menggunakannya ..” Koay Ji yang sudah terlanjur salah
645
di awal percakapan tadi, perlahan seperti membuka rahasia
dirinya meski tetap membuat Nona Sie Lan In bingung. Namun
sesungguhnya semakin curiga dengan jati diri dan keberadaan
Koay Ji.
“Masak engkau tidak pernah mempelajarinya Bu San …..”? tanya
Lan In nyaris tidak percaya dan jelas tambah curiga
“Memang tidak atau tegasnya belum, karena memang tidak
pernah tertarik sebelumnya Nona. Tetapi aku dapat mengingat
dan mampu mendalami bagian tentang cara untuk menganalisis
dan cara menilai sebuah ilmu atau jurus serangan maupun
pertahanan. Seorang Pendeta yang sudah sangat tua dan sepuh
pernah lama berdiskusi denganku di dalam hutan di gunung Thian
Cong San. Ketika aku sedang mencari daun obat, dia melihat dan
memanggilku untuk sekedar bercakap-cakap. Ternyata dia
sedang terluka yang cukup parah, pada akhirnya akupun
berusaha membantunya merawat bahkan sampai dia sembuh
kembali. Belakangan dia menawariku bantuan untuk mempelajari
teori-teori silatku, tetapi sayang waktunya hanya setahun.
Padahal, menurutnya, aku butuh waktu minimal 10 tahun baru
berhasil. Akhirnya akupun menolak dan akhirnya beliau kemudian
lebih banyak membantuku untuk memahami dan mendalami
bacaan dan pengetahuanku atas kitab mujijat itu. Dia sebetulnya
646
sempat berkeras melatihku selama beberapa minggu awal, tetapi
aku lebih memilih medalami Ilmu pengobatanku. Sampai akhirnya
dia menyerah dan pergi meninggalkaku …..”
Sie Lan In kaget dan bertanya dengan suara antusias:
“Engkau mengenal Pendeta itu ……”?
“Sama sekali tidak. Beliaupun tidak meninggalkan namanya,
karena menurutnya TIDAK PERLU, dan kalau jodoh pasti akan
bertemu kembali. Tetapi, Pendeta itu sudah sangat tua dan sepuh
kelihatannya ……”
“Berapa lama kalian berdua berdiskusi ….”?
“Pendeta itu tinggal disana hampir setahun atau mungkin lebih.
Masih lama dia berada disana meski sebenarnya sudah sembuh,
tetapi karena senang berdiskusi denganku dalam ilmu silat, maka
dia bertahan sampai setahun bercakap-cakap denganku …..”
“Sayang sungguh sayang, karena engkau sesungguhnya menyianyiakan
pengetahuan dan juga bakatmu dalam Ilmu Silat Bu San
…..”
“Aku lebih memilih Ilmu Pengobatan Nona ……”
647
Sie Lan In terlihat gemes dan geregetan dengan jawaban Koay Ji.
Maklum, dia menilai dirinya dari sudut ilmu yang dikuasainya dan
tidak melihat dari sisi yang berbeda. Karena itu dia berkali-kali
gemas sendiri. Meski sebenarnya, jika nona itu tahu cerita
sesungguhnya, dia akan kaget sendiri.
“Acccch sudahlah Bu San ….. sayang memang engkau memilih
tidak mendalami Ilmu Silatmu itu ……. tetapi, ilmu apa
sesungguhnya yang engkau baca dalam kitab Kuno yang engkau
ceritakan itu …..”? Lan In bertanya sambil lalu
“Sayang sekali pembungkusnya dan berapa halaman sudah
disobek orang. Tetapi, kata Pendeta Tua itu, kitab itu mencakup
banyak sekali ulasan tentang ilmu tinggi baik di Tionggoan, Thian
Tok maupun Persia dan berapa tempat lain ……”
“Haaaaa, benarkah demikian adanya …..”?
“Menurut Pendeta tua itu memang demikian nona ..” karena
tanggung sudah berbohong Koay Ji sudah susah untuk mundur
lagi. Dia kurang tahu bahwa keadaan ini akan memancing minat
besar mereka yang belajar ilmu silat. Untung yang terpancing
adalah Nona Sie Lan In yang masih punya harkat dan martabat
648
sebagai pendekar, coba jika yang mendengar adalah mereka
yang maniak ilmu silat?
“Apakah engkau mampu menganalisa satu ilmu pukulanku jika
kutunjukkan kepadamu Bu San ….”? awalnya Sie Lan In hanya
bergurau, tetapi alangkah kagetnya dia ketika Bu San
mengiyakan dan berkata:
“Jika Nona Sie berkenan, aku akan mencobanya sebisaku.
Tetapi, tolong jangan Nona menertawakan kebisaanku itu …….”
Sie Lan In nyaris tak bisa berkata apa-apa. Tetapi karena dia yang
memulai, maka dia mau tidak mau harus mencoba
mempertunjukkan salah satu ilmu pukulan kepada Koay Ji terlebih
dahulu sebelum menilai lebih jauh.
“Baiklah …… engkau perhatikan gerakan tanganku ini …….”
Dengan tetap duduk di kursi, Sie Lan In kemudian menggerakkan
kedua lengannya dengan kecepatan tinggi dan percaya, bahwa
Koay Ji tak akan sanggup mengikuti semua gerakan tangannya.
Dia memainkan dua jurus lengan kosong, yakni Jurus Bwee Swat
Tiauw Goat (Kembang bwee mekar menghadapi rembulan)
dilanjutkan dengan gerakan 'Coa Ong Sim Hiat' (Ular mencari
liang). Gerakan cepat itu semua ditujukan ke jalan darah di
649
pundak dan kepala lawan. Dan kemudian dengan tehnik yang
cukup sulit dan rumit menyerang dan menyudutkan lawan. Sie
Lan In percaya Koay Ji akan kebingungan. Tapi, begitu selesai
dia memainkan kedua jurus itu, dia kaget mendengar kalimat
Koay Ji:
“Jika kedua jurus itu tidak ditopang dengan kecepatan dalam
mengelabui mata lawan, dan juga tidak disertai dengan
pergerakan hawa murni yang tepat ke ujung jemari, kemudian
disertai gerak lenggokan kepala untuk memanipulasi mata lawan,
pada dasarnya kedua ilmu itu tak akan ada gunanya sama sekali
……”
“Apa ….. tak ada gunanya sama sekali”?
“Melawan musuh yang jauh lebih lemah pasti akan terasa dan
terlihat indah, tetapi melawan musuh yang setingkat dibawah
Nona, pasti tidak akan ada gunanya. Jurus itu tepat untuk
menakut-nakuti orang yang baru belajar Ilmu Silat, tetapi
menghadapi tokoh yang setanding atau bahkan sedikit saja
dibawah kemampuan nona, maka akan menjadi tidak ada
gunanya …….”
650
Sie Lan In gemas namun tak berdaya karena penjelasan Koay Ji
sangat tepat. Akibatnya tanpa disadarinya, Sie Lan In sendiri yang
justru terpancing. Maka dengan cepat dia kembali menggerakkan
lagi kedua tangannya, sekali ini dalam jurus 'Thian lie pian in'
(Bidadari menari di awan). Kedua lengannya bergerak cepat,
lemas namun penuh tenaga untuk mencecar masih, bagian atas
tubuh lawan. Sekilas tidak ada jalan keluarnya, apalagi ketika
sedetik kemudian gerakannya berubah menjadi jurus 'Thian lie
kay tay' (Bidadari meloloskan sabuk). Kedua lengannya secara
berganti-ganti mencecar lengan serta bagian tengah tubuh lawan
untuk memojokkannya agar perlawannya terhenti. Tetapi, kembali
Lan In terperangah ketika dengan cepat Koay Ji berkata dengan
suara jelas:
“Mudah …. sangat mudah, cukup dengan dua jurus mudah dan
sederhana, yakni 'Hui Niauw Cut Lim' (Burung terbang keluar
hutan) dan tanpa pengerahan tenaga yang besar, dilanjutkan
dengan gerak tipu Tiat-ie-koan-jit ('Baju besi menutup matahari)
maka serangan Nona musnah. Bahkan jika dilanjutkan dengan
menggerakkan kaki kearah timur dengan jurus serangan dasar
sederhana ok miao pok cie' (Kucing galak menubruk tikus),
sebaliknya kedua jalan darah di lengan Nona dalam ancaman
balik musuh. Sebaiknya tipu Tiat Ie Koan jit diganti segera dengan
651
jurus 'Hay-tee-lo-got' (Di dasar laut meraup rembulan), sehingga
kembali lawan yang terserang. Semua jurus dan gerakan diatas
tidak membutuhkan kekuatan besar dan belum membutuhkan
daya gerak secepat kilat, tetapi efektif memunahkan serangan
Nona ……”
Jawaban Koay Ji yang kembali sangat tepat dan akurat membuat
Nona Sie Lan In menjadi semakin sengit. Dia lupa kalau Koay Ji
atau Bu San yang berada di depannya adalah Tabib, dan
bukannya seorang jago silat. Setelah dua jurus serangannya
secara telak dan mudah saja dipunahkan oleh Koay Ji, dia
kemudian memilih sebuah jurus serangan yang lebih berbahaya
serta sangat khas perguruannya. Ajaran langsung dari Subonya,
Lam Hay Sinni.
“Aku menyerang kembali, melanjutkan jurus Hay Tee Lo got, kini
menggunakan jurus serangan Ciau Yun Sih Hoan (Gumpalan
Awan Berputar Balik). Hati-hati, jurus ini menggunakan kekuatan
4 bagian dan mengurung jalan keluarmu, jaga semua bagian
tubuh bagian atas dan pundakmu .....”
”Nona .... jurus itu memiliki kekurangan pada pengerahan hawa
murni untuk menerobos baris pertahanan lawan yang
menggunakan jurus Sia Hong Sih Ih (Gerimis Di Saat Angin
652
Berhembus). Bahkan, engkau akan terancam kehilangan waktu
sepersekian detik jika saja lawan menggunakan tendangan
melingkar untuk mengantisipasi jalan pergimu untuk menghindari
serangan lawan tersebut. Mau tidak mau, lenganmu pasti akan
berbenturan dengan kaki lawan dan engkau akan kekurangan
tenaga untuk menahan tendangan maut yang berbahaya itu.
Tetapi, ada jalan lainnya, engkau boleh mundur sampai 3
langkah, tetapi akibatnya Nona kehilangan tempo untuk
menyerang dan berbalik didesak lawan ......”
Sampai disini Lan In berhenti dan memandang wajah Koay Ji
secara seksama dengan maksud menyelidik. Tetapi, anehnya dia
hanya melihat wajah polos Koay Ji yang tetap bersinar seperti
mata bayi, mata orang yang sama sekali tak mengerti ilmu
iweekang. ”Ataukah sudah malah sudah setarap kemampuSubo
.....? ach, tapi mana mungkin begitu ......? Tetapi semua jurus
yang disebutkannya secara telak dapat membuatku tersudutkan.
Mana bisa demikian .....”?. meski dalam hati berpikir demikian,
tetapi di mulut dia bertanya heran:
”Bu San ...... benarkah engau tidak pernah belajar Ilmu Silat ......”?
tanyanya sengit dan dengan mata menyelidik. Koay Ji cukup
sadar bahwa keadaannya saat itu, dapat saja melahirkan salah
653
paham yang sangat parah dan berlarut-larut. Karena itu dia
berpikir cepat dan mencari jawaban yang pas
”Nona, sudah kukatakan, aku belajar Ilmu Pertabiban dan hanya
menguasai banyak teori ilmu silat dari sebuah Kitab Kuno, dan
dilanjutkan dengan diskusi rutin selama satu tahun dengan
seorang Pendeta tua. Tetapi, sejujurnya, teori-teori itu jadi
melekat dalam benarkku gara-gara pertarunganku dengan
Pendeta Tua itu secara lisan .......”
Sie Lan In menarik nafas panjang. Entah penasaran entah
bingung dan perasaan lain yang membuatnya kebingungan.
Tetapi, tiba-tiba dia berkata kembali:
”Bu San, apakah engkau dapat menilai kepandaianku dalam satu
ilmu secara lengkap jika kumainkan ilmu itu dihadapanmu .....”?
Koay Ji paham jika Sie Lan In sedang penasaran dan
kebingungan dengan bekal dan kemampuannya yang dia
tunjukkan. Tetapi, karena sudah tanggung, maka diapun pada
akhirnya menggguk dan berkata kalem:
”Silahkan Nona Sie, mudah-mudahan aku mampu melakukannya
....”
654
Secara jelas dan cepat Sie Lan In kemudian menyebutkan
rangkain 9 jurus Ilmu Thian Li Kun Hwat (Ilmu Pukulan Bidadari),
satu Ilmu yang sebetulnya sudah dikuasainya dengan baik dan
sempurna. Karena itu, dia dapat dengan mudah menyebutkan
secara sangat detail. Tetapi, setelah menjelaskan semua jurus
dari ilmu tersebut, dia kembali kaget dan bingung dengan
penjelasan Koay Ji:
”Nona Sie, sayang aku tak dapat melihat bagaimana Nona
memainkan Ilmu Silat yang sangat hebat itu. Intisarinya ada
dalam kecepatan, kelemasan dan bagaimana menata arus
iweekang yang tepat guna mendorong gerakan-gerakan tangan
yang gemulai dalam tata tarian yang memiliki efek serangan
berbahaya. Semakin cepat dan semakin gemulai, semakin
berbahaya ilmu tersebut. Tetapi, jika inti bahaya serangan itu
terletak pada kecepatan dan kelemasan organ tubuh, maka efek
dan bahayanya bagi lawan lebih terletak pada kemampuan untuk
mengolah hawa murni ”IM”. Semakin mampu Nona menguasai
dan mengaturnya, semakin berbahaya efek ilmu itu bagi lawan.
Pada tingkat tertingginya, maka semua gerakan gemulai memiliki
efek berbahaya bagi organ tubuh lawan, karena mampu
menyelewengkan atau bahkan membalik kekuatan lawan untuk
menyerang tubuh lawan sendiri .......”
655
”Bu San ...... engkau ..... engkau seperti bukan manusia ......”
sambil berkata demikian Sie Lan In yang mengalami kekagetan
luar biasa segera berdiri dan kemudian berjalan menuju kamarnya
tanpa berkata apa-apa lagi. Pada saat Koay Ji ingin mengejarnya,
dia mendengar suara sapaan Kim Ceng:
”Bu San hengte ....... engkau belum beristirahat ....”?
”Accchhhhh, Kim Ceng toako, engkau sudah kembali .....?
bagaimana, apakah tersedia kuda buat perjalanan kita besok ....”?
”Syukurlah, ada peternakan kuda disini dan memiliki cabang di
Kota Han Im. Sehingga kita tidak perlu membeli kuda, tetapi dapat
menyewa saja dan kelak dapat dikembalikan di kota Han Im
begitu kita tiba disana ......”
”Acccch, jika demikian kita akan menunggang kuda dalam
perjalanan besok hari .....”? tanya Koay Ji pura-pura girang,
padahal tepatnya untuk menutupi kegalauannya karena
ditinggalkan Nona Sie Lan In begitu saja. Dia jadi heran dan
bingung karena si nona cantik itu pergi begitu saja dengan rupa
seperti marah tetapi bukan marah, atau kesal tapi bukan kesal.
Entahlah .....
656
”Baiklah, mari kita beristirahat di kamar saja, sekalian boleh
sambil berbicara apa yang sebaiknya kita lakukan kedepan .......”
Sampai esok harinya Koay Ji tidak lagi bertemu dengan Sie Lan
In tetapi menghabiskan waktu dengan Kwan Kim Ceng. Ternyata
meski terlihat pendiam tetapi Kwan Kim Ceng adalah sahabat
yang hangat dan mampu membuat Koay Ji seperti memiliki
seorang kakak. Terlebih karena Kim Ceng banyak menasehatinya
bagaimana berkelana dalam dunia persilatan, bagaimana berlaku
dan bersahabat, serta tata krama yang lebih bebas ketimbang
dalam pergaulan di kota. Selain itu, Kim Ceng juga mengisahkan
keadaan rimba persilatan terkini, termasuk menjelaskan tokohtokoh
terkenal. Juga kisah mengenai Perguruan-perguruan besar
dan terutama di Tionggoan, sampai ke tokoh-tokoh utama
masing-masing perguruan dewasa ini. Pendeknya, dalam
semalam, banyak hal baru yang diperoleh Koay Ji dari
percakapannya dengan Kwan Kim Ceng. Hal yang akhirnya
membuatnya sangat mengindahkan dan menghormati Kim Ceng
yang bahkan dianggapnya sebagai kakak sendiri.
Keesokan harinya Sie Lan In berlaku seperti tidak terjadi apa-apa
sebelumnya. Ketika makan pagi, tak sedikitpun dia menyinggung
persoalan kemarin ketika berdiskusi soal ilmu silat dengan Bu
San. Bahkan ketika ditinggal sejenak oleh Kwan Kim Ceng untuk
657
mengurus kuda yang akan mereka pergunakan melakukan
perjalanan, tetap saja Nona Sie Lan In tidak menyinggungnya
sama sekali. Dan untuk tidak membuat suasana hati Nona manis
itu kembali berubah seperti kemaren sore, Koay Ji juga sama
sekali tidak menyinggung-nyinggung lagi masalah tersebut.
Sebaliknya, Koay Ji banyak bertanya soal perjalanan mereka
nanti dan urusan yang hendak dikerjakan oleh Nona Sie di dekat
Kota Han Im:
”Apakah urusan Sie Kouwnio kelak adalah urusan perguruan dan
tidak dapat kami temani menuju kesana ......”? tanyanya perlahan
”Benar sekali Bu San ....... sayang sekali, perjanjiannya hanya
menyangkut kami bertiga dan tidak boleh ada pihak luar yang ikut
campur ......”
”Accccch, sayang sekali jika memang demikian ... tapi, apakah
kita masih akan bertemu lagi setelah urusanmu beres Nona .....”?
”Mungkin kita harus berpisah sebentar Bu San ...... aku harus
melaporkannya kepada Subo, tetapi pasti kita akan bertemu
kembali, tidak akan lama .....”
Percakapan mereka terhenti ketika Kwan Kim Ceng kembali dan
meminta mereka berdua untuk bersiap melanjutkan perjalanan.
658
Dan tidak lama kemudian keluar dari Kota Pa Koan tiga orang
muda degan laju perjalanan yang tidak menyolok, tidaklah
bergegas. Mudah ditebak mereka bertiga adalah Sie Lan In yang
kini berdandan seperti seorang Pria namun tetap dalam balutan
pakaian dominan berwarna biru; kemudian Kwan Kim Ceng yang
selalu berjalan tertinggal di belakang; dan terakhir Koay Ji yang
berjalan sambil menikmati pemandangan sekelilingnya. Benar
saja, meski tidak sangat cepat dan tidak memaksakan lari kuda
yang pesat, tetapi perjalanan mereka lebih menyingkat waktu
perjalanan.
Bahkan selama 3 hari berjalan, mereka sama sekali tidak
beristirahat di dalam kota dengan membayar atau menyewa hotel.
Mereka selalu memilih beristirahat di dalam hutan. Hal ini ada
kisahnya, diawali dari hari pertama mereka beristirahat dalam
hutan. Pada saat itu Nona Sie kembali menyinggung kemahiran
Koay Ji dalam menganalisis Ilmu Silatnya. Meski mendiamkannya
selama ini, ternyata Sie Lan In tetap penasaran, namun sekaligus
juga kagum karena Koay Ji yang tak mampu bersilat tetapi
menguasai teori ilmu silat yang cukup banyak dan harus diakuinya
cukup dalam. Bahkan dia merasa sangat penasaran dengan
kemampuan Koay Ji. Selama dua hari terakhir dia menganalisis
dengan sangat penasaran kata-kata dan penjelasan Koay Ji. Dan
659
dia sungguh kaget, karena ternyata penjelasan Koay Ji memang
sangat masuk diakal. Sangat tepat dab akurat. Bahkan, dia
menemukan kenyataan yang mengagetkan, yakni penjelasan
Koay Ji membuat penguasaan ilmu yang sudah ditunjukkannya
kepada Koay Ji, justru menjadi semakin sempurna. Karena itu,
ketika mereka memutuskan beristirahat dalam sebuah hutan, dan
kebetulan menemukan sebuah pohon yang sangat besar dan juga
rindang, maka terbukalah kesempatan baik bagi Sie Lan In.
Kesempatan untuk kembali menguji dan membuktikan
pegetahuan dan koleksi teori silat Koay Ji yang membuatnya
sangat penasaran.
”Koay Ji, masih ingatkah engkau dengan petunjuk dan
penjelasanmu mengenai ilmuku yang bernama Thian Li Kun Hwat
...”?
”Acccch, sudahlah Nona Sie ....... aku jadi malu .......”
”Bukan .... justru sebaliknya Bu San .... penjelasanmu sangat
masuk diakal. Bahkan setelah kulatih lagi mengikuti semua
penjelasan dan petunjukmu, ternyata kemajuannya sangat
mengagetkan, sungguh hebat .......”
660
”Apa yang sedang kalian percakapkan ......? ada apa Nona Sie
.....”? Kwan Kim Ceng yang kurang paham dengan apa yang
dipercakapkan Koay Ji dan Sie Lan In bertanya dalam nada suara
penasaran.
”Kim Ceng toako, meski Bu San tidak mampu bersilat, tetapi dia
ternyata menyimpan banyak sekali teori ilmu silat dan mampu
menganalisis Ilmu Silat yang kumainkan. Salah satunya adalah
menilai Ilmuku Thian Li Kun Hoat ........”
”Astaga .....benar demikian San te .......”?
”Acccchhhh, Nona Sie membutku menjadi malu hati toako ......
tidak, aku tidak memiliki kemampuan sehebat penjelasan Nona
Sie ......”
”Achhh, aku tidak mengatakan bahwa engkau memiliki Ilmu Silat
tinggi Bu San, hanya menegaskan bahwa engkau memiliki
pengetahuan teori-teori Ilmu Silat yang cukup banyak dan
bervariasi. Bahkan engkau membantuku lebih maju selangkah
.....”
Koay Ji jadi malu hati dan karena itu dia sampai tak sanggup
mengatakan satu halpun. Sementara Kim Ceng memandangnya
661
dengan heran dan kurang percaya dengan apa yang dijelaskan
Sie Lan In barusan.
”Nona ..... benarkah demikian .......”? Kim Ceng jadi kaget dan
semakin tertarik, pada dasarnya diapun mencurigai keberadaan
Koay Ji.
”Apakah engkau ingin mencobanya Kim Ceng ......”?
”Hmmmmm, menarik jika memang bisa dicoba .......”
”Bu San, bisakah engkau melihat lebih jelas jika kumainkan
secara lengkap Ilmu Thian Li Kun Hoat dan melihat apa sajakah
gerangan yang sudah berubah dan semakin disempurnakan di
beberapa bagiannya ......”?
”Acccchhhh, engkau terlampau memandang tinggi diriku Nona
Sie ......” Koay Ji jadi menyesal sudah membuka peluang hal ini
terjadi. Dia tidak menyangka bahwa dirinya akan terus dikejar dan
dicecar Sie Lan In dalam soal teori ilmu silat.
”Hmmmm, apa engkau tidak suka Bu San ......”?
”Bukan begitu, aku ..... aku ..... aku hanya merasa tidak memiliki
kemampuan setinggi yang Nona katakan tadi itu .....”
662
”Baiklah, kita bisa mencobanya. Kan nanti Kwan Kim Ceng toako
akan bisa menilainya sendiri. Yang penting engkau melakukan
tepat seperti kemarin memberikan penjelasan terhadap titik-titik
kelemahan dari jurus-jurus serta juga ilmu-ilmu yang akan
kumainkan dan juga dimainkan Kim ceng toako ..... bagaimana
......”?
Koay Ji terlihat termenung antara setuju atau tidak. Tetapi melihat
Sie Lan In mendesak sedemikian rupa dan Kwan Kim Ceng yang
sudah sangat penasaran, akhirnya diapun mengangguk dan
kemudian berkata dengan suara rendah:
”Baiklah .......... jika demikian, biar kupertontonkan kebodohanku
ini. Tapi tolong kalian berdua janganlah menertawakan
kebodohanku .....”
Mendengar Koay Ji pada akhirnya mengatakan persetujuannya,
Nona Sie Lan In kemudian berpaling kearah Kwan Kim Ceng dan
kemudian berkata perlahan-lahan namun sangat terang dan jelas:
”Toako, engkau perlu membuat api itu menyala lebih terang lagi,
agar Bu San dapat mengikuti gerakanku dengan lebih cermat
......”
663
Kim Ceng memandang Koay Ji yang akhirnya mengngguk tanda
menyetujui apa yang dikatakan Lan In barusan.
”Baik ......... tunggu sebentar .......”
Dengan gerak cepat Kim Ceng mengumpulkan kayu bakar dan
bahan-bahan kering lain yang dapat membuat nyala api lebih
besar dan membuat cahaya yang dihasilkannya juga lebih terang.
Dan sebentar kemudian benar saja, nyala api menjadi semakin
terang benderang dan karena itu, diapun akhirnya menoleh
kepada Sie Lan In dan Koay Ji berdua sambil berkata:
”Rasanya sudah cukup ...... engkau boleh mulai Nona Sie .....”
Sie Lan In melirik kearah Koay Ji dan kemudian berkata dengan
suara serius, berbeda dengan hari sebelumnya yang semula
hanya bercanda dan cenderung ingin mencoba kebisaan Koay Ji
belaka:
”Bu San, aku akan kembali memainkan Thian Li Kun Hoat ...........
cobalah sekali lagi engkau melihat dan menganalisanya .....”
Meski sudah lebih meyakini kemampuan Bu San yang sungguh
diluar dugaannya, tapi sesungguhnya Sie Lan In masih sangat
penasaran. Karena itu, selesai berkata-kata dia langsung
664
memainkan Thian Li Kun Hoat (Ilmu Bidadari Langit) dengan
cepat namun gemulai bagai seorang bidadari yang sedang turun
ke bumi dan menari dengan begitu indahnya. Tetapi, jangan
salah, ini merupakan tarian membawa maut dan sangatlah
berbahaya. Karena sesekali gerakan-gerakan indah itu secara
tiba tiba mengeluarkan desiran angin yang yang keras dan tajam.
Dalam waktu yang tidak terlampau lama Sie Lan In
menyelesaikan semua rangkaian jurus Ilmu Silatnya dan yang
terus dipelototi secara serius oleh Koay Ji. Terlihat jelas jika
sesekali alis mata Koay Ji mengernyit tanda ada sesuatu yang
cukup mengganggu penglihatannya. Dan begitu Nona Sie Lan In
selesai bersilat, Nona itupun langsung melirik Koay Ji yang
sedang memandangnya dengan tatap mata serius. Ketiganya
kemudian terdiam, tetai tatap wajah Sie Lan In dan Kwan Kim
Ceng semua tertuju kewajah Koay Ji.
”Hmmmmm, kena engkau sekali ini .......” begitu mungkin pikiran
Sie Lan In, karena dia tadi bersilat dengan kecepatan tinggi,
kekuatan yang sesuai takaran dan juga sesuai dengan yang
diingatkan dan disarankan oleh Koay Ji berapa hari silam. Tetapi,
diapun sebenarnya secara sengaja ingin menguji apakah benar
Koay Ji mampu melakukan ”telaahnya” secara baik sebagaimana
665
yang dilakukan berapa hari sebelumnya itu. Atau, jangan-jangan
yang kemaren itu hanya kebetulan?
Tetapi, Lan In jadi terkejut bukan main ketika Koay Ji berbalik
memandang kearah Kim Ceng dan kemudian berkata singkat
sambil kembali duduk di tempatnya mengaso tadi, di bawah
pohon yang paling besar dan rindang:
”Toako, sebaiknya api itu dikecilkan saja kembali .......”
”Haa ..... apa maksudmu Bu San ....”? Kwan Kim Ceng tersentak
kaget dan kemudian bertanya penuh keheranan. Sama dengan
Sie Lan In yang juga tersentak kaget dengan perkataan Koay Ji
barusan.
”Nona Sie Lan In sebenarnya kurang percaya dan kurang puas
kepadaku, karena itu dia bukannya memainkan Thian Li Kun Hoat
menurut deretan jurus yang disebutkannya berapa hari lalu,
melainkan secara sengaja sudah merubah beberapa gerakan dan
jurus sehingga menjadi banyolan, namun yang terlihat seakan
serius ......”
Bukan main kagetnya Nona Lan In. Maksudnya dengan telak
tertebak oleh Koay Ji. Karena memang benar, tadi dia dengan
sengaja merubah berapa gerakan, terutama di jurus ketiga,
666
kelima dan juga jurus ketujuh. Gerakan-gerakan yang bukan
hanya kosong, tetapi boleh dibilang merupakan lelucon yang tidak
lucu. Dan jika digunakan dalam pertarungan sesungguhnya,
dengan mudah akan ditaklukkan dapat orang. Dan Koay Ji
dengan telak mengetahuinya dan menuduhnya tidak serius dan
sedang main-main. Sontak Lan In memandang Koay Ji dan
kemudian dengan suara lembut dan dalam nada serius pada
akhirnya berkata:
”Acccccch, engkaupun bahkan mengetahuinya Bu San ....?
Acccch, engkau maafkan Encimu ini Bu San ..... sesungguhnya
aku belum terlampau yakin jika engkau akan bermampuan dalam
mengikuti semua gerakanku dengan begitu baiknya. Terlebih
karena pergerakanku sangat cepat dan akan sangat sulit diikuti
pandang mata orang biasa .... tapi, sekali lagi engkau maafkan
aku ....” sambil berkata demikian Sie Lan In mendekati Koay Ji
yang duduk ngambek.
Tapi, begitu mendengar permintaan maaf yang tulus dari Lan In,
Koay Ji jadi tak tega dan kekesalannya dengan demikian cepat
mencair. Apalagi karena sekali ini Sie Lan In, kini membahasakan
dirinya sendiri sebagai ENCI (usianya memang lebih besar sekitar
setahun). Karenanya diapun menyambut Sie Lan In, berdiri dan
kemudian berkata dengan suara normal kembali:
667
”Sudahlah Enci Sie ....... sebetulnya, bergerak cepatpun masih
tetap dapat kutangkap semua gerakanmu. Pendeta Tua itu
setelah tak bisa memaksaku berlatih Ikmu Silat, akhirnya
memaksaku untuh melatih Ilmu bersamadhi. Dan dia memang
benar, karena samadhi itu sangat penting dan membantu
menyehatkan tubuh serta menghangatkan badan dikala
menghadapi hawa dingin. Katanya penting untuk memahami lebih
cermat tulisan-tulisan dalam Kitab Kuno itu. Jika memang engkau
mau, enci boleh mengulang kembali, terutama di jurus ketiga,
kelima dan ketujuh yang bukan hanya tidak benar, tetapi bahkan
boleh dibilang gerakan ”bunuh diri” .......”
”Hikhikhik, baru sekarang encimu percaya kalau engkau memang
mampu dan memiliki kemampuan yang aneh dan mujijat Bu San.
Baiklah, aku akan bersilat kembali. Engkau perhatikan baik-baik
dan harus dengan teliti”
Sehabis berkata demikian dengan cepat, jauh berbeda dengan
tadi, Lan In bersilat dengan kecepatan yang luar biasa. Tetapi
beberapa saat kemudian terlihat seperti lagi menari, tetapi
gerakan-gerakan indah itu menyimpan maut, terutama karena
tenaga dan kecepatan Lan In yang luar biasa. Sebentar saja,
lengkap sudah 9 jurus dimainkan Lan In, dan diapun menghadap
Koay Ji dengan senyum dikulum:
668
”Bagaimana menurutmu adik Bu San .....”?
”Enci ...... dalam tingkatan yang sudah seperti ini, menurutku
kecepatan akan bukan lagi kerangka utama Thian Li Kun Hoat.
Sebab meski akan mampu menipu pandangan banyak orang,
tetapi apabila melawan tokoh yang memiliki kepandaian setingkat,
maka dengan cepat dia akan melihat banyak cela untuk bisa
melakukan perlawanan yang tepat. Jika kecepatan itu diganti
dengan tipuan-tipuan lewat gerakan-gerakan menari dan setiap
gerakan lengan membawa kekuatan yang cukup, maka Ilmu ini
akan jadi jauh lebih berbahaya. Sebagai contoh dalam gerakan di
jurus ketiga. Yakni rangkaian tipu Giok-li-to-sou (gadis perawan
memegang jarum) yang kemudian dilanjutkan dengan tipuan Giok
li cuan soh (gadis suci memasukkan jarum). Gerak yang diambil
dari jenis tarian gadis perawan ini sekilas bukanlah tipu serangan
berbahaya. Tetapi, coba enci ikut menggerakkan kaki selangkah
kekanan dan kemudian dilanjutkan dengan tipu kedua sambil
menyisipkan gerakan Hua liong-tiam-cing (melukis naga menulis
mata). Kutanggung tokoh yang lebih hebat dari encipun akan
terkejut dan kehilangan tempo menghadapi kejutan seperti itu
…… demikian juga pada jurus ke enam, jika enci dapat lebih
bersabar dan memancing lawan untuk memasuki tarian yang
penuh gerak tipu berbahaya itu, dan juga memadukan tiga
669
gerakan tipuan seperti di jurus ketiga, maka Ilmu ini akan memiliki
setidaknya 2 jebakan mematikan yang sangat sulit diantisipasi
lawan”, demikian Koay Ji mengulas Ilmu yang baru saja
dipertontonkan kepadanya itu.
“Apakah maksudmu seperti ini Adikku Ji …..”?
Sambil berkata Lan In kembali bersilat di jurus ketiga, tidak
secepat tadi, tetapi indah sekaligus berbahaya. Selipan yang
diusulkan Koay Ji tadi dengan sangat cepat dapat ditangkap
saripatinya oleh Lan In dan memainkannya menjadi tarian
mematikan yang indah dipandang tetapi banyak jebakan
mautnya. Demikian juga perubahan pada jurus keenam, ketika
dimainkan Lan In, justru terlihat seperti tidak punya efek apa-apa,
malah mengurangi kecepatannya tetapi menambah kegemulaian
dan juga keindahannya. Tetapi, adalah Sie Lan In yang dapat
cepat menyadari apa maksud dari selipan Koay Ji ini. Bukan
hanya membuat lawan mati langkah, tetapi bahkan jika berupaya
ngotot, justru akan membuat lawan kehabisan jalan keluar dan
terperangkap oleh jurus itu. Bukan main herannya Lan In. Diapun
berhenti bergerak dan kemudian menatap mata Koay Ji sambil
berkata:
670
“Luar biasa ……. engkau seperti bukan Tabib muda, tetapi lebih
terlihat juga sebagai seniman silat muda adikku. Jujur, Enci sulit
memahami keadaanmu ini …..”
“Sebentar enci …….. sebentar …….” Sambil berkata demikian,
terlihat Koay Ji seperti sedang berpikir. Bahkan kedua lengannya
seperti bergerak-gerak sendiri karena mata dan pandangannya
tetap menerawang. Lan In tidak mengganggunya tetap
membiarkan Koay Ji dalam keadaan seperti itu. Sementara itu,
Kwan Kim Ceng mendekati Sie Lan In dan kemudian berbisikbisik
lirih dengan Nona itu. Kelihatan dia kaget bukan main
mendengar penjelasan Sie Lan In dan kini matanya terus
memandang Koay Ji dengan pandang mata keheranan. Bahkan
takjub.
“Dapat …… dapat enci …… hahahahaha” terdengar suara
kegirangan Koay Ji dan Lan In otomatis berpaling sambil
memandang Koay Ji tidak mengerti.
“Apa maksudmu adikku …..”? tanyanya penasaran
“Enci …. bukankah Ilmu ini berdasarkan tenaga “IM” dan sering
berusaha memunahkan serangan lawan dengan mengutamakan
KELEMBUTAN dan KELUWESAN? Biasanya Ilmu seperti ini
671
dipandang kurang berbahaya. Padahal, justru letak kehebatannya
ada di tipuan-tipuan maut yang dengan cepat dapat merontokkan
kegarangan ilmu yang cepat dan kuat. Aku tiba-tiba teringat
dengan tarian Persia dan gerakan bantingan bangsa Mongol ……
jika inti sari gerakan mereka diringkas dalam serial Gerakan
Thian-li-hui-ko (perempuan langit menangkis tombak), Cuan-imteh
gwat (menembusi awan memetik rembulan) dan kemudian
ditutup dengan gerakan terakhir, yakni It Huan Bu Tok
(menyeberang dengan perahu layar), maka enci dapat membuat
sebuah jurus pamungkas yang bakalan sangat berbahaya dan
sangat sulit untuk ditangkis orang. Syaratnya adalah, mengurangi
kecepatan, melawan ilmu keras langsung di sumbernya dan
pengerahan hawa IM yang lebih besar dari dibagian awal. Begini,
Kira-kira tenaga IM sebesar 7 bagian, dibuat menjadi luwes dan
lemas, dan mengaliri sepasang lengan enci dengan kekuatan
menghisap dan kemudian berubah mengggiring sehingga lawan
kehilangan landas pijakan dan mudah ditaklukkan ……..”
“Bu San adikku, apa …. apa maksudmu ……”?
“Aku hanya memikirkan untuk membantu menyusun sebuah
rangkaian gerak yang kutiru dari tari perempuan Persia dan ilmu
gulatnya kawan-kawan Mongol Enci Sie yang baik …….
rangkaian gerak aneh mereka, dapat menjadi jurus pamungkas
672
Ilmu Thian Li Kun Hoat. Dengan kekuatan IM yang enci miliki
sekarang, akan membuat ilmu itu menjadi 10 kali lebih berbahaya
……”
Mendengar penjelasan Koay Ji, tanpa sadar Sie Lan In merenung
dan merancang rangkaian gerakan yang disebutkan Koay Ji
urutannya tadi didalam kepalanya. Setelah merenung selama
kurang lebih 5 menit, wajahnya menjadi cerah tetapi sekaligus
tambah bingung. Diapun berkata:
“Bu San .. sesungguhnya, engkau belajar dari Kitab Pusaka atau
karena engkau adalah Pendekar berilmu tinggi …..”?
“Enci, engkau cobalah. Kitab Pusaka yang tanpa pembungkusnya
lagi itu mengajarkan banyak sekali pemahaman atas gerak
manusia, baik dasar gerakan di Thian Tok, di Persia, di Mongol
dan bahkan banyak dasar gerak manusia lainnya dari beragam
tempat. Termasuk di luar perbatasan, di laut selatan dan semua
tempat yang sulit. Sayang bagian terakhir Kitab Mujijat itu sudah
hilang. Coba jika tidak, mungkin aku sudah menjadi Pendekar
Besar sekarang ini ……..”
“Baik, akan kucoba ….” Sie Lan In berkata antara percaa atau
tidak dengan penjelasan Koay Ji, tapi yakin dengan rangkaian
673
yang diusulkan Koay Ji.
Sie Lan In kembali bersilat dari awal hingga memasuki jurus yang
kesembilan, dan kemudian memasukkan gerakan selipan yang
diajarkan Koay Ji. Akibatnya dia merasa lebih ringan, tetapi dia
sadar bahwa serangannya jadi lebih berbahaya dan bisa berarti
maut bagi lawan jika dia menginginkannya. Untungnya, dia sudah
mampu tiba di tahap menggerakkan hawa murni dan pukulan
sesuai keinginan hatinya. Dan pada bagian terakhir, setelah jurus
kesembilan, dia kemudian mencoba bergerak menurut pejelasan
dan urutan yang disebutkan Koay Ji untuk menjadi rangkaian
terakhir sekaligus Jurus Pamungkas Ilmu Thian Li Kun Hoat.
Gerakannya jadi lambat, perlahan, tetapi anehnya, gerakan
tangannya seperti mengikuti saja, karena memang berasal dari
rangkaian jurus terakhir Ilmu itu. Dan secara perlahan dia
bergerak menurut tiga gerakan yang disatukan, dan pada
akhirnya dia kemudian menutup Ilmu itu dalam diam dan seperti
sedang mengatur nafasnya ……..
“Engkau belum mampu mengatur aliran hawa IM dalam takaran 7
bagian di penghujung Ilmu itu Enci …… jika engkau mampu
mengerahkan hawa IM sepenuhnya di lengan, maka
kehebatannya akan berlipat ganda ……”
674
Sie Lan In beberapa saat kemudian sadar dan tentu saja
mendengar apa yang Koay Ji katakan dan jelaskan untuknya.
Sama seperti Kwan Kim Ceng yang juga ikut mendengarkan apa
yang dijelaskan Koay Ji.
“Engkau benar sekali adikku, tetapi landas gerakan di jurus
terakhir memiliki tata gerak berbeda dengan aliran tata gerak
perguruanku. Karena itu, aku membutuhkan latihan beberapa
waktu untuk menyesuaikan ……”
“Tidak harus seperti itu Enci …… cobalah sekali lagi, atur Hawa
IM dari TAN TIAN dan kemudian hantarkan terpusat di bagian
tengah sebelum memecahnya dalam gerakan pertama. Pada
gerak kedua, terpusat di lengan kanan atau kiri dan kemudian
kembali di pecah ke kedua lengan untuk menutupnya ….
Pergerakan “NAGA” dalam diri kita, jika mengikuti alur gerak
lengan, justru mencapai puncak kekuatan pada gerak yang paling
akhir. Puncak kehebatannya ditentukan disana …… engkau
cobalah sekali lagi ….”
Sie Lan In kurang paham, jika Koay Ji sebenarnya menuntunnya
untuk lebih sempurna menggiring kekuatan HAWA IM melalui
gerakan-gerakan yang sesuai guna mewadahi pergerakan Hawa
itu. Bahkan, secara terperinci, Koay Ji kemudian menuntunnya
675
untuk menggiring hawa itu melalui jalan darah penting di bagian
dada …… dan beberapa saat kemudian, Sie Lan In selesai dan
wajahnya jauh lebih cerah ……
“Adikku …. siapa sebenarnya engkau ……? Mengapa kekuatan
iweekang perguruanku seperti bertambah satu kali lipat hanya
dengan mengikuti giringan hawa mengikuti alur gerakan yang
engkau atur itu ……”?
“Hahahaha, kionghi jika demikian enci …… aku hanya merancang
dan menyebutkan jalannya, yang melakukan latihan dan
memperoleh pencapaian kan enci sendiri. Luar biasa, sekali lagi
kuucapkan selamat …….”
Mana Koay Ji paham, jika dia sebenarnya sedang mengatur jalan
bagi Sie Lan In untuk dapat secara sempurna memahami dan
menguasai Ilmu Pamungkas perguruannya? Tetapi begitulah
kisahnya. Bahkan Kwan Kim Ceng sendiripun menjadi tertarik dan
ikut “berlatih” dalam arahan Koay Ji. Dia memilih salah satu Ilmu
Perguruannya untuk dinilai dan disempurnakan Koay Ji, dan lebih
mudah bagi Koay Ji karena mereka pada dasarnya melatih dasar
iweekang yang sama. Sementara Lan In berlatih sendiri untuk
menyempurnakan latihannya. Baru tengah malam mereka
beristirahat, tetapi paginya sebelum melakukan perjalanan,
676
mereka kembali berlatih. Begitulah selama hampir seminggu
mereka terus berlatih dan tidak lagi beristirahat di hotel, tetapi
secara sengaja memilih berlatih dalam hutan. Sampai mereka
kemudian tiba di Kota Han Im.
Tetapi, perjalanan seminggu lamanya, pada akhirnya membuat
kedekatan antara mereka bertiga menjadi demikian erat. Sie Lan
In dan juga Kwan Kim Ceng mengalami peningkatan Ilmu Silat
yang luar biasa dan terasa ganjil bagi mereka. Sampai-sampai
mereka mencecar Koay Ji, tentang siapa dia yang sebenarnya,
serta siapa pula Pendeta Tua yang dimaksud Koay Ji, dan
mengapa dia sendiri tidak belajar Ilmu Silat. Tetapi, sampai
seminggu mereka berjalan dan berlatih serta memperoleh
kemajuan bagai belajar selama 2-3 tahun, tetap saja Koay Ji
seperti sebelum mereka melakukan perjalanan bersama. Tetap
menjadi Tabib bagi mereka dan pada malam hari menjadi sumber
Ilmu dan Jurus baru yang membuat mereka mampu meningkat
secara hebat selama dalam perjalanan bersama.
Seminggu mereka dalam perjalanan membuat Koay Ji mampu
menilai sampai dimana kemampuan masing-masing. Apalagi
karena setiap hari, ada dua kali mereka berlatih bersama, malam
dan pagi harinya. Selama itu, Koay Ji dapat mengetahui jika
tingkat kepandaian Sie Lan In sudah sedemikian tingginya,
677
bahkan masih di atas kemampuan Kwan Kim Ceng yang
menguasai Ilmu-Ilmu Siauw Lim Sie melalui Bu Kek Hwesio.
Kesitimewaan Sie Lan In adalah gerak cepatnya, iweekangnya
yang luar biasa. Bahkan Koay Ji sendiri takluk dengan Ilmu
Ginkang yang membuat Gadis Cantik molek itu dijuluki Long Li Hu
Tiap (kupu-kupu di tengah ombak). Bahkan diapun kaget karena
kekuatan Hawa Im yang dimiliki gadis itu bukanlah main-main,
iweekang murni yang terkumpul dalam tubuh gadis itu sungguh
hebat. Itulah sebabnya latihan ilmu silat tidak lagi mempengaruhi
bentuk tubuhnya menjadi seperti laki-laki, ataupun kulit tebal di
lengan dan kaki, tetapi menjadi kembali seperti gadis biasa
lainnya.
Yang mereka berdua, Sie Lan In dan Kwan Kim Ceng tetap tidak
tahu adalah bahwa Koay Ji sendiri sebenarnya mengalami
kemajuan yang bukannya tidak sedikit. Dalam hal pemahaman
dan pengetahuannya atas gerakan-gerakan dasar manusia
semakin lama menjadi semakin sempurna. Dan hal ini secara
otomatis membuatnya jadi jauh lebih sempurna dan lebih matang
lagi dalam hal bagaimana menghadapi sebuah pertempuran.
Selebihnya, kekuatan iweekangnya juga terus-menerus
bertambah kuat dan sempurna karena setiap kali beristirahat di
alam terbuka, maka semalaman dia melakukan samadhi tanpa
678
harus takut ketahuan kedua kawannya. Karena Sie Lan In dan
Kwan Kim Ceng sudah paham belaka bahwa Koay Ji memahami
dan berlatih ilmu pernafasan yang dimaksudkan untuk
membuatnya mampu menahan hawa dingin dan cukup
beristirahat setelah samadhi.
================
Gin Houw Piaukiok adalah salah satu Piauwkiok yang sangat
terkenal dan teramat jarang ada yang berani membegalnya.
Bukan apa-apa, karena ada nama besar dibalik perusahaan
eskpedisi ini, nama besar itu adalah SIAUW LIM SIE. Meski
sebenarnya bukanlah usaha langsung dari Kuil Siauw Lim Sie,
tetapi Piauwkiok ini didirikan oleh Pat Pie Gin Houw (Harimau
Perak Lengan Delapan) Nyo To yang merupakan tokoh dunia
persilatan yang sangat harum namanya. Nyo To adalah tokoh
Siauw Lim Sie yang masih seangkatan dengan Ciangbudjin Siauw
Lim Sie angkatan HOAT. Namun Nyo To merupakan murid Siauw
Lim Sie non Pendeta (murid preman, murid yang bukan pendeta),
maka tetap saja namanya sangat harum dan diperhitungkan.
Apalagi, karena kepandaian silatnya sendiri tidaklah lemah
sebagai anak murid Kuil Siauw Lim Sie.
679
Tetapi, ada keistimewaan Nyo To yang baru berkembang sejak
usianya yang ke 35. Yakni dia menemukan bakat berdagang yang
justru lebih hebat dari kemampuannya dalam ilmu silat. Ketika
memulai usaha sebagai Pemimpin Perusahaan Ekspedisi, dia
menemukan kenyataan betapa MEREK Siauw Lim Sie sangat
membantu dan membuat banyak penjahat takut membegalnya.
Usaha inipun berkembang pesat dan bahkan menjadi salah satu
yang terbesar di daerah selatan dan selalu menjadi rujukan untuk
mengirimkan barang. Dalam waktu 10 tahun, usaha Eskpedisinya
segera diikuti dengan usaha-usaha lain di kota Han Im dan di
usianya yang ke-55, dia telah menjadi seorang terkaya di kota itu.
Bersahabat dengan semua pemimpin kota Han Im dan jadi
penguasa banyak kegiatan bisnis disana.
Keberhasilan usahanya membuat Nyo To tidak melupakan Kuil
Siauw Lim Sie darimana dia berlatih dan menjadi anak murid.
Sejak keberhasilan usahanya, dia sudah selama 20 tahun terakhir
terus menerus menjadi penyumbang yang sangat royal dan loyal
ke Kuil Siauw Lim Sie. Setiap anak murid Siauw Lim Sie yang
melewati kota Han Im pasti akan menuju rumah Hartawan Nyo To
yang sangat terkenal di kota itu. Dan sudah bisa dipastikan
bakalan diterima dengan tangan terbuka. Bukan hanya tokoh
Siauw Lim Sie, bahkan para pendekar Kang Ouw yang kebetulan
680
melewati kota Han Im, pasti akan menyempatkan diri untuk
menemuinya dan berbincang-bincang suasana dunia Kang Ouw.
Maklum, karena sesungguhnya Nyo To sendiri adalah bagian dari
kaum pendekar sebelum memulai usaha bisninya. Kebiasaannya
ini membuat Nyo To sangat dihargai oleh tokoh-tokoh Rimba
Persilatan dan selalu dilindungi kaum pendekar kemanapun
barang antarannya ditujukan. Tidak heran jika usaha
ekspedisinya berkembang sangat pesat. Boleh dibilang, selain
Siauw Lim Sie, banyak tokoh dunia persilatan yang dengan rela
hati akan membantu dan melindungi perjalanan piauwkiok ini.
Dan memang, perusahaan ekspedisi Inilah yang merupakan
usaha yang terhitung paling berhasil dari seluruh usaha Nyo To.
Di kota Han Im, Nyo To memiliki beberapa rumah. Sudah tentu
salah satunya adalah kantor perusahaan Ekspedisi yang kini
dipimpin oleh salah seorang anaknya yang bernama Nyo Kun,
anak sulungnya. Meski berlatih Ilmu Silat, tetapi Nyo Kun kurang
berbakat sehingga dia akhirnya mewarisi dan memimpin
perusahaan ekspedisi, khusus di kantornya. Karena untuk
mengawal antaran penting, adalah murid-murid utama Nyo To
yang melaksanakannya. Nyo Kun lebih mewarisi jiwa dagang dan
bisnis ayahnya dan bukannya bakat Ilmu silat. Ditangannya
perusahaan ekspedisi berkembang pesat dan menjadi semakin
681
besar, semakin menggurita di Han Im. Dan bahkan kini sudah
memiliki cabang dan jaringan di nyaris semua Kota Besar di
Tionggoan.
Justru adalah putri Nyo Kun yang bernama Nyo Bwee yang
mewarisi bakat ilmu silat kakeknya. Pada usianya yang ke-20,
gadis manis ini malahan sudah jauh melampaui kemampuan
ayahnya. Bahkan menurut kakeknya, cucu perempuannya yang
hebat dan cantik jelita ini sudah sanggup mengejar dan menyamai
kemampuannya ketika akan memulai bisnisnya pada usia ke-35.
Selain kantor ekspedisi dimana Nyo Kun tinggal, sebuah rumah
besar di sudut timur kota dan dekat dengan perkantoran
pemerintah, berdiri sebuah rumah besar, megah dan khas
bangunan petinggi atau bangsawan. Di rumah besar itulah Nyo
To tinggal bersama istrinya dan anak keduanya yang bernama
Nyo Keng. Anak kedua inilah yang membantu Nyo To
menjalankan bisnis lainnya, membuka tokoh pakaian yang
sampai berjumlah 3 buah di kota Han Im dan mengurus tokoh
lainnya di kota terdekat. Selain juga membuka beberapa usaha
lain terkait dengan keperluan dan kebutuhan kantor pemerintahan
di kota Han Im. Pada dasarnya masih tetap Nyo To yang
menjalankan usaha itu, dan adalah putra keduanya ini yang
682
membantu segala keperluan dalam usaha menjalankannya
sehari-hari.
Selain rumah besar dalam kota Han Im, di dalam hutan sebelah
barat kota, dimana ada telaga kecil yang mengalir memasuki kota
Han Im, Nyo To juga memiliki rumah peristirahatan yang cantik
dan memiliki pemandangan yang sangat indah. Di luar jam-jam
sibuk berbisnis atau ketika menerima tamu-tamu dunia persilatan,
lebih sering Nyo To menggunakan pesanggrahan Keluarga Nyo
itu. Karena selain memiliki sampai 10 buah kamar cantik dan asri,
juga terdapat ruangan-ruangan khusus keluarga disana dan
dijaga oleh murid-murid terpercaya Nyo To sendiri. Pendeknya
Nyo To adalah tokoh terpandang dan juga memang memiliki
sumber kekayaan yang tidak sedikit dari lini usahanya yang
beragam dan bahkan menyebar ke banyak kota lain di Tionggoan.
Selain itu, memang Nyo To juga memiliki nama besar dan nama
baik di kalangan dunia persilatan. Nama Pat Pie Gin Houw
(Harimau Perak Lengan Sembilan) adalah nama julukan yang
punya merek di dunia Kang Ouw.
Koay Ji memasuki kota dengan gaya “kampungannya”. Maklum,
ini adalah kota yang jauh lebih besar daripada Pa Kou, dan inilah
kota terbesar pertama yang dimasukinya. Karena memasuki kota
di siang hari, maka mereka menemukan suasana kota yang
683
sedang ramai-ramainya orang berlalu lalang, baik yang untuk
berbelanja maupun untuk kepentingan-kepentingan lain. Mata
Koay Ji sedikit terbelalak ketika memandangi kemeriahan serta
bangunan-bangunan yang jauh lebih rapih, indah dan yang jelas,
besar-besar. Belum lagi toko toko yang berjualan dengan barangbarang
yang cukup banyak serta terutama tokoh pakaian yang
menjual demikian banyak pakaian pakaian yang terlihat indah dari
luar.
Tetapi untuk tidak terlampau “kampungan”, Koay Ji hanya sampai
pada melirik, tidaklah sampai bertanya ini dan itu. Tetapi senyum
dan tatap matanya menunjukkan perasaan senang dan gembira
dengan semua yang disaksikannya. Kwan Kim Ceng dan Sie Lan
In juga terlihat bersikap sama, terutama Kim Ceng. Sampai
mereka lupa bahwa semestinya mereka harus segera turun dari
kuda begitu memasuki kota yang cukup ramai. Adalah Lan In yang
menyadarinya dan yang pertama turun dari kuda tunggangannya
sambil berkata kepada Kwan Kim Ceng:
“Toako, kita sudah berada di kota Han Im, terlampau banyak
manusia dan tidak sopan jika kita memasuki kota yang sedang
ramai dengan berkuda …….”
684
Kwan Kim Ceng langsung ikut meloncat turun dari kudanya
karena langsung tahu diri sudah berkata kepada Koay Ji:
“Adik Bu San, turunlah ,,,,,, aku akan mencari cabang persewaan
kuda di kota ini untuk mengembalikan kuda sewaan kita …….”
Baru setelah Kwan Kim Ceng berkata demikian, Koay Ji kemudian
bersedia turun dari kuda tunggangannya. Karena sesungguhnya
dia tadi merasa sangat gagah saat sedang berkuda memasuki
keramaian kota. Menjadi pusat perhatian karena kudanya
memang gagah besar, meski dia heran karena banyak yang justru
memandang dengan pandangan aneh. Memandangnya aneh
karena tidak biasa dan tidak sopan berkuda di keramaian, di
dalam kota pula. Tetapi, karena perkataan Kwan Kim Ceng,
diapun akhirnya dengan rela hati meloncat turun dari kuda dengan
hati-hati dan kemudian menyerahkan kuda kepada Kim Ceng.
“Lebih baik kita singgah sebentar untuk makan siang sekedarnya
sebelum berusaha mencari rumah Nyo To suheng …..” tawar Kim
Ceng dan kebetulan mereka berada di depan sebuah rumah
makan yang cukup besar tetapi masih sepi. Maklum, karena jam
makan siang masih ada satu atau dua jam lagi. Karena itu wajar
jika rumah makan itu masih cukup sepi dan belum ramai.
685
“Baik, rumah makannya cukup bersih, kita makan siang disini saja
…..” Lan In berkata sambil mendahului memasuki restoran
tersebut. Langsung mendapat tempat duduk di pojok dan
memesan makanan. Tetapi, setelahnya Kim Ceng mohon diri
untuk mencari tempat penyewaan kuda. Dia bertanya kepada
pelayan dan kemudian beranjak pergi dengan membawa ketiga
kuda sewaan mereka. Sementara itu, meski masih sepi, tetapi
sesungguhnya ada beberapa meja yang sudah digunakan
beberapa orang untuk makan. Untungnya penampilan Bu San
dan Lan In yang dalam dandanan ringkas mirip laki-laki, tidaklah
menarik banyak perhatian. Maklum, Bu San lebih terlihat bagai
anak sekolahan yang sedang “kaget masuk kota”, sementara Lan
In seperti laki-laki bukan, perempuanpun bukan. Jadilah mereka
berdua dengan santai menikmati makanan dan nyaris selesai
ketika akhirnya Kim Ceng bergabung untuk makan.
“Ternyata pemilik penyewaan kuda di Han Im adalah Nyo Suheng
……” bisik Kim Ceng begitu duduk dan mulai menikmati makan
siangnya.
“Accchhhh, yang benar toako …..”? Tanya Koay Ji heran
“Engkau akan kaget kalau tahu jika Nyo Suheng ternyata adalah
salah satu tokoh yang paling kaya di kota ini Bu San …… tetapi,
686
sepertinya sedang ada masalah dengan Nyo Suheng. Dapat
kurasakan dari para pekerja di penyewaan kuda yang pada takut
untuk berbicara lebih banyak denganku ……” tegas Kim Ceng
“Jelas saja toako, bukankah Nyo lopeh memang sedang sakit …”?
Lan In ikut berbicara dengan suara lirih, takut didengar orang.
“Hmmmm, tapi itu tidaklah berarti pekerjanya takut membicarakan
masalah beliau Sie Kouwnio …..” jawab Kim Ceng setelah berpikir
sejenak
“Jadi, menurut Toako kita harus bagaimana ……”? tanya Koay Ji
cepat
“Sebaiknya kita mencari penginapan terlebih dahulu baru
kemudian mengunjungi Nyo Suheng di rumah kediamannya,”
jawab Kwan Kim Ceng sambil terus makan dan terus dipandangi
Koay Ji.
“Bukankah menurut toako suhengmu itu memiliki banyak sekali
rumah dan bahkan juga pesanggrahan yang indah di kota ini
…..”? kejar Lan In yang seperti kurang puas untuk menginap di
hotel kota Han Im
687
“Jika semua urusan sudah beres, kita pasti akan menginap di
Pesanggrahan itu Sie Kouwnio, tetapi saat ini ada hal yang
menurutku rada mencurigakan ….”
“Mencurigakan bagaimana toako ….”? kejar Sie Lan In penasaran
“Aku tak dapat menjawabnya disini …… jika engkau perhatikan
Nona Sie, ada berapa pandang mata mencurigakan kearah kita.
Bukan tidak mungkin pihak lawan sedang mengincar kita …….
pertama soal para pekerja di pengawasan yang tak mau bicara
soal Nyo suheng, kedua – aku dikuntit sejak dari penyewaan
kuda, ketiga, sejak aku masuk, pembicaraan kita seperti sedang
disadap orang …” Kim Ceng berbicara kepada Sie Lan In melalui
ilmu menyampaikan suara dari jarak jauh.
“Baiklah jika demikian, aku ikut saja keputusanmu toako ……”
Begitu keluar dari restoran, ketiganya langsung sadar jika ada
yang mengikuti dan terus mengikuti mereka sampai memasuki
penginapan. Berbeda dengan di kota Pa Kou, di kota Han Im
penginapannya lebih rapih dan lebih bersih lagi. Bahkan Kim
Ceng sengaja mencari hotel yang lebih bagus dibandingkan
dengan hotel yang mereka sewa di kota Pa Kou sebelumnya.
Setelah memasuki penginapan, barulah para pengintai yang terus
688
menerus mengikuti mereka melepaskan mereka dan menghilang
di tengah keramaian kota. Tetapi mereka bertiga berkumpul
kembali di sebuah kamar besar yang sengaja disewa untuk
tempat menginap sekaligus tempat mereka berunding bertiga.
Disitulah mereka berunding untuk memikirkan strategi
menghadapi dan mengunjungi Nyo To yang sedang sakit dan
sepertinya sedang menghadapi persoalan. Entah apa.
Kurang lebih 3 jam kemudian, menjelang sore, terlihat tiga orang
muda yang berjalan perlahan mendekati sebuah gedung yang
sangat besar di sebelah timur kota. Di Kota Han Im, gedung
tersebut terbilang megah dan berada di daerah elite. Bukan hanya
itu, gedung itu kelihatannya dijaga oleh sejumlah penjaga yang
dengan sigap akan langsung menanyai siapapun yang akan
masuk secara teliti. Dan memang, tak lama kemudian mereka
bertiga yakni Kwan Kim Ceng, Sie Lan In dan juga Bu San, sudah
ditanyai di gerbang masuk ke gedung besar nan megah itu.
Padahal mereka sedang mengagumi kemegahan gedung itu
waktu ditanyai:
“Nyo Wangwe sedang sakit dan sedang beristirahat ……..”
“Sampaikan saja bahwa utusan dari Kuil Siauw Lim Sie yang
membawa serta tabib untuk pengobatan Nyo wangwe sudah tiba
689
……..” berkata Kim Ceng dengan nada yang sopan dan mengikuti
tata karma.
Mendengar disebutnya Kuil Siauw Lim Sie, para penjaga sontak
terdiam dan terus memandangi mereka bertiga secara seksama.
Kemudian salah seorang dari mereka, berjalan masuk sebentar
dan tak lama keluarlah orang yang nampaknya adalah kepala dari
para penjaga itu. Berwajah tegap serta berbadan tinggi besar,
petugas yang terlihat memelihara kumis lebat itu berusaha keras
untuk menggagah-gagahkan dirinya. Begitu melihat 3 tamu orang
muda dan bukannya BHIKSU, pandang amatanya berubah sinis
dan menjadi tidak bersahabat:
“Benarkah kalian bertiga berasal dari Kuil Siauw Lim Sie ……”?
pertanyaan dan gaya yang sangat nyelekit dan membayangkan
senyum yang sinis dan sombong, segera membuat Koay Ji dan
Sie Lan In menjadi jemu. Apalagi Lan In yang terbiasa dihormati
orang karena kedudukan tinggi Subonya.
“Benar …… dapatkah disampaikan kepada Nyo Suheng, siauwte
Kwa Kim Ceng dari Siong San berkenan untuk berkunjung atas
perintah Ciangbudjin ……”
690
Mendengar kata-kata Kwan Kim Ceng yang sopan dan
menghormat serta apalagi juga membawa-bawa nama
Ciangbudjin Siauw Lim Sie, membuat si penjaga langsung mati
gaya sejenak. Tetapi, mungkin dia ragu dengan penampilan
ketiga orang muda yang tidak terlihat sebagai orang yang berilmu
tinggi. Apalagi, mereka bukanlah BHIKSU, padahal yang terkenal
dari Siauw Lim Sie adalah pesilat yang adalah sekaligus Bhiksu
di kuil Siauw Lim Sie.
“Nyo Suheng ……. Apa maksudmu Nyo Wangwe adalah
suhengmu ……”?
“Benar sekali … bisakah diberitahu kepada Nyo Suheng
kedatanganku mewakili Kuil Siauw Lim Sie dari Siong San …..”?
“Toako, penjaga-penjaga ini kepandaiannya tidaklah seberapa,
tetapi hawa sihir cukup pekat di rumah Nyo Suhengmu …… kita
mesti hati-hati …..” terdengar suara Lan In disampaikan dengan
lirih, melalui ilmu menyampaikan suara.
“Baiklah ….. semoga kalian benar-benar berasal dari Siong San
……. A Bun, beritahu kedalam ada tamu dari Kuil Siauw Lim Sie”
terdengar perintah si tinggi besar berkumis menyuruh anak
buahnya melapor kedalam.
691
Tetapi, setelah ditunggu cukup lama, tak ada satupun berita dari
dalam. Padahal sudah sekitar 15 menit waktu berlalu, tetapi tetap
belum juga ada gerakan dari dalam. Apakah mereka diterima
masuk ataukah tidak. Tetapi, bagamanapun Kim ceng, Lan In dan
Koay Ji cukup tahu diri untuk tidak menerobos masuk kedalam.
Tetapi, semakin lama mereka semakin kehilangan kesabaran.
Dan dipuncaknya, Nona Sie Lan In akhirnya bersiap untuk
bertindak. Terutama dipicu oleh pongahnya si penjaga tinggi
besar yang tidak memandang sebelah mata terhadap kedatangan
mereka. Untung saja, sedetik sebelum Sie Lan In bertindak
karena kekesalannya, tiba-tiba terdengar langkah kaki dari balik
tembok penjagaan. Beberapa saat kemudian, seseorang nampak
keluar dari balik tembok dan si penjaga dengan cepat memberi
salam dan hormat:
“Tuan Muda Nyo ………”
“Hmmmm, siapakah gerangan yang datang mewakili Kuil Siauw
Lim Sie mau bertemu dengan ayahku ….”? sambil berkata
demikian orang yang baru datang, berpakaian indah dan
berwibawa itu mengedarkan pandangan mata dan kemudian
berhenti di atas wajah Kwan Kim Ceng:
692
“Kwan Kim Ceng mewakili Ciangbudjin Siauw Lim Sie datang
berkunjung sekaligus guna menengok keadaan Nyo Suheng
…….”
Mendengar kalimat Kim Ceng yang mewakili Ciangbudjin Siauw
Lim Sie, wajah orang yang baru dari dalam segera berkata:
“Oooooh, perkenalkan namaku Nyo Keng …… mohon dimaafkan,
karena ayah sedang sakit dan sulit menerima tamu. Tetapi, jika
membutuhkan bantuan … maka ….”
“Nyo Lopeh ….. kami tidak membutuhkan bantuan apa-apa ….
Kami diutus untuk dapat membantu menyembuhkan ayahmu.
Tetapi jika engkau tidak berkenan, mohon maaf karena kami akan
segera berlalu ……” Sie Lan In yang sudah mengkal dan kesal
sejak awal menjadi panas dan langsung memotong percakapan
Nyo Keng. Bukan main malu dan bahkan marahnya Nyo Keng
dengan kalimat yang tajam serta menusuk dari anak muda di
depannya itu. Belum lagi dia berkata, Sie Lan In sudah
melanjutkan kata-kata dan semburannya yang menusuk itu:
“Kami sudah mendengar nama besar Nyo Wangwe, Pat Pie Gin
Houw, hebat, ramah dan selalu bertangan terbuka. Heran jika
ternyata kenyataannya sungguh berbeda, karena bahkan
693
mewakili Rumah Perguruannya, kami masih tidak dianggap.
Sudahlah, toako kita kembali saja ke hotel, apa mereka kira kita
akan menginap gratis di rumah besar mereka yang terhormat ini
……”? selesai berkata demikian Sie Lan In segera berbalik dan
mulai berjalan pergi dengan menahan kesal yang teramat sangat.
Tetapi Bu San dan Kwan Kim Ceng masih sempat mendengar
keluhan lirih Nyo Keng tepat ketika mereka mulai melangkahkan
kaki:
“Maafkan ….. maafkan, demi keselamatan ayahku …..”
Malamnya ………….
Koay Ji yakin sekali jika Kim Ceng dan Lan In pergi menyatroni
rumah besar Nyo Wangwe. Keduanya tidak berada di kamar, dan
di luar juga tidak ditemukannya. Karena berpikir begitu, maka
tidak berapa lama kemudian diapun berganti rupa dan kini
menjadi sesosok yang lain lagi. Dia tidak mengenakan kedok
wajah Thian Liong Koay Hiap, tetapi menggunakan kedok karet
lainnya dan kini berubah menjadi tokoh berusia 30 tahunan.
Berbeda dengan kedok Thian Liong Koay Hiap yang berusia 50
tahunan, sekali ini dia lebih memilih kedok yang rada muda yang
sengaja buat menghindari bentrok dengan Lan In.
694
Sebetulnya Koay Ji ingin menyelidiki keberadaan dan kesehatan
Nyo To, tetapi disana sudah pasti ada Sie Lan In. Adalah lebih
baik dia memilih target yang lain dan berbeda agar bisa
mengetahui secara lebih lengkap. Selain itu, Koay Ji memiliki
maksud yang lain, sesuatu yang mengganjal selama beberapa
hari terakhir yang tak dapat dikerjakannya dalam samaran
sebagai Bu San. Karena itu, Koay Ji memutuskan untuk
mengerjakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang memang sudah
dipersiapkannya. Dan begitu tiba di tengah kota “sesuatu” itupun
dilepaskannya dalam jumlah yang sudah disiapkan sejak dari
hotel. Apakah itu?
Dan setelah menyebarkannya diapun menuju ke arah yang lain,
sekali ini bukannya pergi ke rumah Nyo To, Pat Pie Gin Houw,
tetapi menuju ke kantor ekspedisi dimana anak sulungnya Nyo
Kun berada. Tak berapa lama karena sudah mengetahui letaknya
berdasarkan keterangan penjaga hotel, Koay Ji sudah melihat
gedung tersebut dari kejauhan. Memang tidak sebesar dan
semegah rumah tinggal Nyo To, tetapi kalau dibandingkan
dengan gedung lain disekitarnya, tetap saja cukup besar dan
megah. Dan meski sudah malam, Koay Ji dapat melihat tetap ada
kegiatan mengangkut barang di belakang gedung. Sementara di
bagian tengah yang menjadi tempat tinggal, terlihat tidak ada lagi
695
aktifitas. Maklum, hari sudah jauh malam dan penghuninya,
keluarga Nyo Kun, pastilah sudah beristirahat. Tetapi, kesanalah
Koay Ji menuju.
Tanpa kesulitan berarti Koay Ji dalam dandanan yang berbeda
memasuki rumah itu dengan mencungkil jendela rumah.
Sesungguhnya Koay Ji kurang paham seperti apa Nyo Kun dan
keluarganya. Yang dia tahu, Nyo Kun adalah pemimpin Ekspedisi
Gin Houw dan hanya memiliki seorang putri serta tinggal di kantor
utama Gin Houw Piauwkiok bersama dengan keluarganya. Dia
bermaksud untuk berbicara dengan tokoh itu berhubung banyak
kecurigaannya dengan perasaan aneh mendekati gedung Nyo To
dan ucapan lirih Nyo Keng tadi sore. Mesti ada sesuatu yang aneh
…….
Tetapi, karena terlampau banyak berpikir, Koay Ji menjadi alpa.
Dalam kebutaannya tentang penghuni rumah dia kurang paham
jika terdapat tokoh hebat dalam rumah tersebut. Terbukti, tiba-tiba
dia mendengar suara mendesir yang sedang mengarah ke
tubuhnya. Dilanjutkan dengan suara seorang gadis bernada
marah:
“Sungguh berani engkau menyelinap ke rumah orang tengah
malam begini …. pencuri dari mana engkau gerangan …”?
696
Tetapi bukan perkara sulit bagi Koay Ji untuk menghindari
serangan berbahaya dari gadis itu. Dan sekali lihat, dia tahu jika
si nona menyerang dengan dasar ilmu Siauw Lim Pay,
menggunakan salah satu jurus Lo Han Kun Hoat. Cukup cepat,
tenaga dalam juga lumayan namun variasi dan kedalaman masih
kurang. Perlahan saja Koay Ji menggerakkan badannya hingga
serangan si Nona luput, bahkan dengan satu gerakan kaki, dia
berhasil bukan hanya menghindar, tetapi bahkan membuat si
Nona dalam keadaan runyam. Kakinya terkena sentuhan kaki
Koay Ji hingga terhuyung ke depan. Tetapi untung saja Koay Ji
tidak bermaksud buruk, malah dia berkata:
“Nona, maafkan, namaku Tang Hok …….. aku bukan pencuri,
tetapi sedang menyelidiki keadaan Nyo To Suheng ….. bukankah
engkau keluarga dekatnya ….”?
Si Nona langsung tahu jika lawannya bukan manusia biasa.
Tetapi, dalam penasaran dia menjawab sekaligus bertanya:
“Aku cucunya …… tetapi darimana aku tahu jika engkau bukan
musuh ….”?
“Nona, jika aku mau, dalam satu gebrakan tadi engkau sudah
celaka. Tetapi, karena melihat engkau memainkan Ilmu Lo Han
697
Kun Hoat, maka kutahu pasti engkau murid keluaran dari Nyo
Suheng. Perlu engkau ketahui Siauw Lim Sie sudah mengirim
tabib dewa ke rumah Nyo Locianpwee tadi siang, tetapi sudah
ditolak. Hanya saja, Nyo Keng sempat mengeluh lirih, keluhan
yang menandakan sedang terjadi sesuatu terhadap Nyo
Locianpwee ……. karena itu malam ini kami menyelidiki Ekspedisi
dan juga gedung tempat tinggal nyo Locianpwee ……”
“Apakah engkau berasal dari Siauw Lim Sie …..”? kejar si Nona
“Nona, Bu Kek Hwesio adalah salah seorang Suhuku …..” Koay
Ji berdusta, tetapi apa boleh buat. Toch maksudnya baik, lagipula
dia yakin Bu Kek Hwesio tidak akan murka dengan kalimatnya
barusan itu.
“Acchhhh, jika demikian engkau masih saudara seperguruan ayah
……”
“Tepatnya Nyo To adalah salah seorang suhengku, kami berdua
adalah murid bukan Pendeta dari Siuw Lim Sie ……”
“Accccch, jika demikian engkau adalah Susiokku sendiri …..”?
“Sebenarnyalah demikian Nona ….. tapi, ech, siapa namamu
Nona ….”?
698
“Namaku Nyo Bwee ….. mohon maaf, bagaimanapun aku masih
belum mengetahui identitasmu yang sebenarnya. Karena itu,
untuk keselamatan kelurgaku, agak kesulitan untuk percaya
begitu saja omonganmu …..”
“Seharusnyalah demikian Nona ….. tapi ….. ech …” belum lagi
Koay Ji menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba dalam kecepatan
tinggi Nyo Bwee kembali menyerangnya secara hebat. Dari jarak
dekat dan dengan kecepatan luar biasa. Tetapi Koay Ji tidak
kaget dan bergerak sembarangan, justru dia membiarkan
terjangan Nyo Bwee menghajar dadanya, tetapi bukannya Koay
Ji yang terkejut, adalah Nyo Bwee yang kaget. Karena meski
lengannya tepat memukul Koay Ji, tetapi kekuatannya lenyap
bagai begitu saja bagai ditelan samudera. Sedetik kemudian, dari
dada itu keluar tenaga yang sangat hebat mendorong tubuhnya
ke belakang diiringi gumaman Koay Ji:
“Accchhhhh, gadis Nakal …… engkau masih belum
mempercayaiku rupanya …”?
“Hmmmmm, keluargaku sudah mengalami penderitaan selama 2
bulan terakhir. Kalau aku dapat mudah percaya kepada orang
semua asing begitu saja, bagaimana kelak keluargaku dapat
699
dipertahankan ….”? berkata Nyo Bwee dengan suara terkejut
bukan main dengan kehebatan Koay Ji.
“Bagus …… bagus, sungguh sangat bersemangat. Tidak
memalukan jika Nyo Suheng memiliki cucu yang hebat seperti
engkau Nona …..”
“Terima kasih atas pujianmu, tetapi tetap saja kong-kong susah
disembuhkan. Apakah engkau yakin beliau dapat diselamatkan
……”?
“Dugaanku bukan penyakitnya yang berbahaya ……..”
“Engkau tahu …? Darimana engkau tahu seperti itu …..”?
“Hadangan memasuki rumah Nyo Suheng dan desisan pamanmu
membuatku percaya jada sesuatu yang sedang terjadi diluar
kehendak dan kemampuan Nyo Suheng ..”
“Hmmmm, engkau menduga dengan tepat Susiok …..” kalimat ini
menandakan bahwa Nyo Bwee mulai mengakui Koay Ji sebagai
Susioknya, dan Koay Ji memahaminya. Dia tahu Nyo Bwee sudah
mulai mempercayainya.
700
“Baiklah Nona, bisakah engkau menceritakannya kepadaku
sehingga dapat mengatur rencana yang tepat menghadapi musuh
…..”?
“Susiok beruntung, malam ini mereka semua berkumpul di rumah
kong-kong gara-gara kunjungan tokoh Siauw Lim Sie tadi sore.
Jika mereka berada disini, sulit untuk Susiok dengan mudah
memasuki rumah. Tetapi, kisahnya dimulai dua bulan lalu, ketika
kong kong menerima seorang pegawai baru. Pegawai itu ternyata
memiliki kemampuan sihir yang luar biasa, juga kemampuan Ilmu
Silat yang melebihi kong-kong. Dalam waktu dua minggu dia
menyihir kakek dan menyandera ayah dan ibuku. Sebetulnya
kongkong bukannya sakit, tetapi diracun dan disihir oleh penyihir
laknat itu. Sementara Ayah dan Ibu disandera mereka dan entah
kemana mereka disekap. Semua keuntungan usaha kongkong
termasuk usaha ekspedisi ini selama 2 bulan diangkut entah
kemana, bukan hanya itu, benda-benda berharga di rumah
kongkong, semua diangkut dan dibawah entah kemana oleh
komplotan itu …..”
“Hmmmmm, sudah kuduga …….” desis Koay Ji marah
mendengar cerita Nyo Bwee yang berkisah dengan kilatan
amarah membayang dimatanya.
701
“Susiok ….. maukah, maukah engkau membantu kong kong dan
menemukan ayah dan ibuku yang mereka sekap ….”?
“Sudah tentu Nona ……. tetapi, engkau harus menemui ketiga
orang utusan Siauw Lim Sie yang menginap di kota Han Im ini.
Temui mereka dan katakan engkau sudah bertemu Susiokmu ini
…. untuk sementara aku akan bekerja menggelap dan membantu
mereka dari balik kegelapan ….”
“Tetapi jika aku keluar dari rumah ini, maka ayah dan ibuku akan
mereka bunuh Susiok, tidak mungkin aku keluar menemui mereka
……”
“Accccch, sungguh repot jika memang demikian … ada berapa
banyak komplotan yang bekerjasama dengan mereka para
penyihir itu ….”?
“Ada 2 tokoh utama, dan mereka berdua inilah yang paling lihay.
Selain mereka berdua, juga ada 10 orang lainnya yang membantu
di ekspedisi ini, kalau di rumah kongkong, aku kurang tahu jelas
Susiok …..”
“Baiklah, sudah cukup jika demikian ….. besok aku akan
menemuimu untuk menyusun rencana membebaskan Nyo
Suheng dan orang tuamu …..”
702
“Susiok ……”
“Ada apa lagi …..”
“Tolong selamatkan kong kong dan orang tuaku …. kumohon ….”
rengek Nyo Bwee yang kini sudah sepenuhnya percaya kepada
Koay Ji
“Pasti … Sudah pasti akan kulakukan. Jangan khawatir. Tetapi,
menurut dugaanmu dan sepengetahuanmu, dimana kira-kira
mereka menyekap dan menyimpan kedua orang tuamu ……..”?
bertanya Koay Ji sambil memandang Nyo Bwee yang manis itu.
“Terima kasih Susiok, menurut dugaanku, sangat mungkin
mereka menyekap kedua orang tuaku di pesangrahan keluarga
Nyo, di hutan sebelah barat kota Han Im. Kelihatannya, mereka
menggunakan tempat itu sebagai markas besar, karena semua
penjaga yang ditempatkan kong-kong disana sudah dibunuh …..”
“Baiklah, besok akan kuselidiki tempat itu ……”
Keesokan harinya, kota Han Im digemparkan oleh ditemukannya
sejumlah surat yang ditujukan khusus kepada To Seng Cu
(Tunggal di Atas Tanah) Tam Peng Khek. Isinya adalah, “THIAN
LIONG KOAY HIAP akan mencarimu untuk memberi pelajaran
703
atas kesombonganmu …….” tertanda Koay Hiap. Sontak Kota
Han Im bergolak dan jadi riuh, terutama kelompok yang
menguasai Nyo To dan keluarganya. Apakah benar ada
hubungannya antara THIAN LIONG KOAY HIAP dengan utusan
Siauw Lim Sie yang sehari sebelumnya mengunjungi gedung Nyo
To dan semalam malahan sangat berani menyatroni kembali
gedung besar itu ….”?
Tetapi sebenarnya, bukan hanya komplotan penyihir itu yang
kalang kabut. Nona Sie Lan In yang mendengar kabar itu kalang
kabut dan marah-marah sendiri ketika sedang membicarakan
masalah itu di kamar hotel, bertiga dengan Kwan Kim Ceng dan
Bu San. Dia jadi kurang konsentrasi mendengar Thian Liong Koay
Hiap juga berada di Kota Han Im dan sudah mengeluarkan
ancaman akan mencari To Seng Cu, Tam Peng Khek yang
merupakan murid kepala Mo Hwee Hud yang sangat ditakuti itu:
“Hmmmmm, jika memang dia berada disini, akan kucari mahluk
sombong itu. Apakah dia pikir nama THIAN LIONG KOAY HIAP
akan membuat semua orang gemetar? Awas kau, malam nanti
aku akan memburumu ……” berkata Sie Lan In dengan suara
gemas, sementara Koay Ji memandanginya dengan sinar mata
yang susah untuk ditafsirkan. Dia heran, apa yang membuat Sie
704
Lan In yang cantik dan manis itu begitu membenci dan penasaran
untuk mengalahkan Thian Liong Koay Hiap itu.
Koay Ji masih kurang paham, sulit bagi orang yang selama ini
yakin dengan dirinya sendiri, merasa sudah sangat jagoan dan
bertemu tokoh lain yang ternyata tidak kalah hebat atau malah
melebihi diri sendiri. Thian Liong Koay Hiap yang dianggap Sie
Lan In bukan siapa-siapa, entah bagaimana sudah mengguncang
egonya ketika melihat atau menyaksikan langsung kehebatannya.
Apalagi ketika bertarung, dia yang adalah murid kesayangan
tokoh Dewa yang dimalui seluruh rimba persilatan Tionggoan,
ternyata tak mampu mengalahkan tokoh itu, meski juga dia tidak
terkalahkan. Inilah sebab utama kegemasan dan kemarahan Sie
Lan In. Apalagi, karena menurutnya, hanya para murid turunan
Tokoh Dewa lainnya yang mampu menandinginya, setidaknya
demikian dalam anggapannya. Sekarang, muncul tokoh aneh
yang demikian hebat Ilmu Silatnya, mampu melewati Lo Han Tin
yang legendaris dari Siauw Lim Sie, mampu melawannya dan
tidak kalah. Bahkan, konon juga tidak kalah melawan TIANGLO
Siauw Lim Sie yang sudah berusia sangat tinggi. Benar-benar
sangat ingin Sie Lan In mencari serta mengalahkan tokoh aneh
yang misterius itu.
705
“Jika aku tidak salah, hari ini semua komplotan yang menguasai
Nyo Locianpwee pasti sedang berkumpul di Gedung Nyo
Locianpwee. Kemunculan tokoh itu di Siauw Lim Sie dan ikut
membantu pihak Siauw Lim Sie, pasti akan mereka anggap
sebagai ancaman atas usaha mereka di kota Han Im ini. Dan bisa
dipastikan, mereka akan meminta bantuan dari komplotan mereka
terdekat. Maka, sebelum pihak mereka menguat dengan bala
bantuan, sekarang adalah saat yang sangat tepat bagi kita untuk
datang dan langsung menyerang mereka di gedung Nyo
Locianpwee ….”
Sie Lan In dan Kwan Kim Ceng saling pandang dengan
kebingungan. Tetapi, ucapan dan saran Bu San sungguh masuk
di akal. Sejenak mereka berdua saling pandang. Mereka memang
sering memandang dan memperlakukan Bu San atau Koay Ji
sebagai orang yang tak paham ilmu silat. Tetapi dalam banyak
hal, keduanya merasa sangat aneh dan penasaran, dan harus
mengakui akan ketajaman otak dan pengetahuan yang luas dari
Koay Ji yang sungguh-sungguh mereka kagumi.
“Engkau benar Bu San ………. pilihan itu sungguh tepat. Saat ini
memang waktu yang tepat untuk mengejutkan mereka … meski
mereka sudah siap, tetapi memberi mereka kejutan tentunya tak
pernah mereka sangka ……..”
706
“Tetapi jangan lupa mengamankan terlebih dahulu Nyo
Locianpwee ….. sebab jika tidak lawan akan menggunakan
keselamatan Nyo Locianpwee untuk mengancam kalian. Untuk
satu hal ini, adalah Nona Sie yang wajib melakukannya …….”
“Baik ….. aku akan siap ….. tapi, ech, engkau ternyata sangat
pandai mengatur siasat dan strategi Bu San …. sungguh hebat
….”
“Tapi aku tak sanggup mengerjakannya sendiri Enci Sie yang baik
……”
“Sudahlah, kita tetapkan siang ini kami berdua akan menyerang
mereka. Engkau harus bersiap sendiri menuju gedung itu kelak
dan mengobati Nyo Suheng, Bu San ….”
“berapa lama waktu kalian menaklukkan mereka ….”?
“Hmmmmm, Kurang lebih satu hingga dua jam kedepan, engkau
dapat menuju ke gedung keluarga Nyo dan kita bertemu disana
…..”
“Baiklah, sejam kedepan aku akan menuju gedung keluarga Nyo
…..”
707
Tidak lama setelah Sie Lan In dan Kwan Kim Ceng berangkat,
Koay Ji dengan cepat kembali berganti peran. Dia kembali
mengenakan topeng karetnya dan berdandan sebagai Tang Hok,
pemuda berusia 30 tahunan, berwajah bulat lebar dan berambut
lebat namun tidak terawat. Dan setelah merasa samarannya itu
sudah sempurna, diapun melesat pergi. Tujuannya …..
pesanggrahan keluarga Nyo yang terletak di hutan sebelah barat
kota Han Im, dekat dengan telaga kecil yang mengalir memasuki
kota. Seluk beluknya sudah dia kenali dari penuturan Nyo Bwee,
bahkan termasuk ruangan rahasia bawah tanah yang sebetulnya
hanya diketahui oleh keluarga Nyo. Bahkan anak buah terpercaya
Nyo To sekalipun tidak mengetahui keberadaan ruangan bawah
tanah yang sangat dirahasiakan itu.
“Benar-benar Nyo Lopeh memiliki kekayaan yang luar biasa.
Pesanggrahan ini sungguh sangat strategis letaknya, lebih dari itu
pemandangannya memang sangat menawan. Jika bisa tinggal
dan menginap disini untuk beberapa waktu lamanya, tentunya
akan sangat menyenangkan …… Dan Nona Sie Lan In pasti akan
sangat senang menginap di tempat seperti ini ……” desis Koay Ji
dalam hati. “Hah, mengapa harus terkenang dengan Nona Sie
……”? Koay Ji jadi malu sendiri dengan pikirannya. Dia memang
708
pada dasarnya mengagumi dan menyenangi kecantikan Nona Sie
Lan In, tetapi baru sampai disitu. Entah kedepan ……
Bergerak dengan cepat Koay Ji semakin mendekati
pesanggrahan keluarga Nyo dari arah sungai. Dan sampai sejauh
itu dia tidak menemukan halangan sedikitpun. Tetapi begitu
bergerak mendekati pesanggrahan keluarga Nyo, barulah dia
melihat betapa ketatnya penjagaan di seputar pesanggrahan
tersebut. Para penjaga seperti sedang bersiap menunggunya,
nyaris disemua sudut Pesanggrahan terlihat adanya penjagaan
yang snagat ketat. “Bagaimana mungkin melewati semua penjaga
yang berada nyaris di semua sudut Pesanggrahan …..”? Koay Ji
jadi bingung sejenak. “Padahal waktuku kurang lebih sejam,
sangat terbatas untuk dapat menemukan kedua orang tua nona
Nyo Bwee ….. itupun jika benar mereka disekap disini. Jika tidak,
bukankah akan berabe?. Tetapi, penjagaan sebanyak ini memang
mungkin diperuntukkan guna menjaga para sandera …” gumam
Koay Ji dalam hati dan menjadi senang karena analisisnya sangat
mungkin benar.
“Buat apa menumpuk banyak orang disini ……”? tiba-tiba
terdengar suara bercakap tak jauh dari Koay Ji, percakapan
antara para penjaga
709
“Sebenarnya hanya untuk berjaga-jaga berhubung seluruh
pemimpin kita berkumpul di gedung Nyo Wangwe. Entah
mengapa kita harus berjaga secara sangat ketat di tempat ini ….”
terdengar kembali suara penjaga yang satunya lagi, sepasang
penjaga yang sedang melakukan perondaan keliling
Pesanggrahan
“Buat apa berjaga-jaga seketat ini jika tidak ada yang
disembunyikan di tempat ini ….”? Demikian Koay Ji berpikir
secara lebih cermat. “Apa mungkin mereka memang benar
disembunyikan di ruang bawah tanah yang memiliki terowongan
yang tembus ke sungai ini …..”? analisisnya lebih jauh
Tetapi, sedang Koay Ji memikirkan strategi seperti itu, tiba-tiba
matanya menangkap gerakan dua orang dengan rupa yang sudah
sangat dikenalnya. Mereka, para mahluk berkerudung hitam.
Tidak salah lagi, mereka adalah Utusan Pencabut Nyawa yang
entah mengapa sekarang berada di kota Han Im. Dan rupanya
mereka bersembunyi di kota ini. Ada dua orang Utusan Pencabut
Nyawa yang bergerak cepat menyelinap kembali memasuki
kamar tempat beristirahat. Bukan tidak mungkin Pesanggrahan ini
menjadi tempat mereka sembunyi atau disembunyikan …..
710
“Yang enak mereka itu, kerjanya bersembunyi terus menerus,
entah apa maksud mereka berada dan bersembunyi di
pesanggrahan ini …..”
“Hussssh, jaga bicaramu. Mereka memang pasukan khusus, tidak
boleh tercium jejak mereka oleh lawan. Tugas kita yang utama
adalah mengawasi pesanggrahan ini agar tidak didatangi orang
luar ……..”
Sudah cukup kiranya. Kini Koay tahu bahawa pesanggrahan
keluarga Nyo, sudah menjadi basis dan tempat bersembunyi
Utusan Pencabut Nyawa. “Apakah mereka sisa pasukan yang
menyerbu Kuil Siauw lim Sie …..”? Koay Ji berpikir namun tak
beroleh jawaban atas pertanyaannya tersebut. Penemuan itu
mencengangkan sekaligus menggembirakan Koay Ji. Tetapi,
mengingat waktunya yang sangat terbatas, pada akhirnya Koay Ji
memutuskan untuk segera mencari jalan masuk rahasia yang
menurut Nyo Bwee tembus hingga ke tepian sungai. Ada
beberapa pertimbangn keputusannya itu, karena jika pasukan
Utusan Pencabut Nyawa itu berasal dari sisa pasukan yang
menyerang Kuil Siauw Lim Sie, maka akan makan waktu panjang
untuk melumpuhkan 40 hingga 50 orang pasukan nekat dan
berani mati itu. Selain itu, ada berapa tokoh hebat yang menyertai
Utusan Pencabut Nyawa. Kemana mereka?
711
Karenanya, dengan hati-hati Koay Ji akhirnya kembali ke tepian
sungai dan mencoba mencari kira-kira tepi sungai mana yang
memiliki akses terowongan. “Mestinya ada tebing atau gundukan
tanah yang menuju ke bagian tanah yang lebih tinggi” pikirnya
sambil berkonsentrasi. Tapi celakanya, waktu berlalu belum juga
Koay Ji menemukan dimana akses menuju terowongan bawah
tanah tersebut.
“Dekat dengan dermaga tempat perahu kecil dapat ditambatkan
…..” demikian Koay Ji kembali mengingat-ingat dan kemudian
berjalan menuju dermaga kecil yang dimaksud. Jaraknya ada 200
meteran dari pesanggrahan yang berada di tanah yang lebih
tinggi hingga pandangan dari atas dapat menjangkau keseluruhan
sungai. Dan untuk itu, Koay Ji harus bertindak agak berhati-hati
jangan sampai ketahuan pihak penjaga. Akan sangat repot jika
ketahuan dan dikeroyok Utusan Pencabut Nyawa yang jumlahnya
cukup besar itu. Meski demikian, setelah sekian lama meneliti
secara cermat, Koay Ji akhirnya menemukan sesuatu di dekat
dermaga kecil itu. Ada sebuah jalan setapak yang kelihatannya
sangat jarang dilalui orang. Jelas sangat sulit dilihat dari jauh,
karena memang bekas jalannya nyaris tidak Nampak lagi. Dan
Koay Ji menduga dan berpikir bahwa memang benar, sepertinya
di tempat itulah terdapatnya akses terowongan bawah tanah
712
menuju Pesanggrahan. Menemukan jalan itu membuatnya
gembira dan melanjutkan upaya pencariannya.
Tetapi, belum lagi dia bergerak meneliti tempat tersebut,
telinganya menangkap suara yang sangat lirih berbisik langsung
di telinganya:
“Tinggalkan tempat itu, para sandera mudah untuk dibebaskan.
Jauh lebih penting untuk segera pegi guna membantu temantemanmu
di Gedung Nyo Wangwe. Keadaan mereka disana akan
sangat berbahaya jika semakin lama engkau berada disini, karena
banyak jago lawan berkumpul disana …..”
Bukan main terkejutnya Koay Ji. Ternyata gerak-geriknya ada
yang mengamati. Dan sudah pasti, orang yang mengamati
pekerjaannya secara rahasia bukanlah tokoh biasa semata.
Karena dewasa ini sangat sedikit tokoh yang dapat menguntit
Koay Ji tanpa ketahuan olehnya. “Siapa dia yang sebenarnya?
apakah dia mengenaliku …..”?. Tetapi tidak ada jawaban atas
tanya Koay Ji dalam hatinya itu. Setelah beberapa saat, dia sadar
dan tersentak:
“Benar, jika mereka sisa pasukan dari Kuil Siauw Lim Sie, maka
setidaknya ada Kakek Siu Pi Cong yang sangat berbahaya.
713
Belum lagi tokoh pemimpin seperti Kerudung Ungu dan kawankawannya
yang menyerang dengan kekuatan suara yang mujijat
di kuil Siauw Lim Sie ……” demikian terlintas di benak Koay Ji.
Dan berpikir demikian, tanpa banyak bicara diapun kemudian
mencelat pergi dengan kecepatan yang sulit diikuti pandangan
mata biasa. Tetapi, masih sempat terdengar suara lirih di
telinganya yang dapat dengan jelas didengarnya: “Jangan engkau
lupakan, lebioh baik engkau menolong terlebih dahulu Nyo To dan
istrinya karena mumpung mereka sedang sibuk menghadapi
kedua kawanmu itu …”
Mari kita ikuti perjalanan Sie Lan In dan Kwan Kim Ceng menuju
ke gedung Nyo Wangwe. Dalam waktu singkat mereka tiba
disana, dan berusaha menyelusup masuk ke gedung yang sangat
besar dan megah itu. Dari luar terlihat lengang dan seperti tidak
ada aktifitas. Tetapi, keduanya yakin, di dalam gedung pasti ada
banyak kesibukan. Dan memang ternyata, begitu mereka berdua
memasuki area gedung tersebut dan baru saja melompat untuk
membuka salah sebuah jendela di sisi barat gedung, tiba-tiba
terdengar dengusan dingin menyambut keduanya:
“Huh ……….”
714
Sie Lan In berpandangan dengan Kwan Kim Ceng. Keduanya
tidak terlihat kaget, sudah cukup siap. Dan Lan In kemudian
berbisik:
“Kedatangan kita sudah konangan …….” dan bisikan itu langsung
dijawab dengan anggukan kepala Kwan Kim Ceng. Dan saat itu,
suara dengusan itu sudah berlalu, tetapi segera terdengar suara
yang cukup lirih di telinga mereka:
“Benar, kedatangan kalian sudah kami tunggu …… apakah tidak
lebih baik bagi kalian untuk memilih melalui jalan resmi saja? kami
akan siap menunggu kedatangan kalian berdua dengan baik-baik
… jangan takut ……”
“Mari, apa boleh buat …….”
Nona Sie Lan In yang memang pemberani meski seorang dara
muda, berkata kepada Kim Ceng sambil kemudian meloncat ke
bawah dan mencari jalan menuju halaman depan yang sungguh
besar dan membentang luas. Di belakangnya menyusul datang
Kwan Kim Ceng, dan perlahan mereka berjalan menuju halaman
depan. Dan benar saja, begitu melangkah memasuki area
halaman tersebut, mereka sudah dinantikan oleh sekelompok
orang yang mereka tidak kenal. Kecuali satu orang yang sudah
715
pernah bertemu sekali dengan Sie Lan In di Kuil Siauw Lim Sie.
Dia adalah Kakek Siu Pi Cong, si tokoh sakti yang berasal dari
Lautan timur. Melihat keberadaan Kakek Siu Pi Cong di tempat
itu, Siu Lan In menjadi tersentak dan segera sadar bahwa
keadaan tidak sesederhana yang mereka duga semula. Karena
itulah Nona Siu Lan In berbisik lirih kepada Kwan Kim Ceng:
“Kelihatannya di antara mereka terdapat juga gerombolan yang
sama yang mencoba untuk merebut dan membokong Kuil Siauw
Lim Sie dengan cara mereka yang licik dan curang ….. kita mesti
berhati-hati”
“Baik Nona …..”
“Sayang kalian hanya berdua, kemana pemuda satunya lagi?
Ach, tapi jangan kalian khawatir, karena sesungguhnya sebentar
lagi ada orang yang akan menggelandangnya datang kemari dan
bergabung bersama kalian berdua. Sayang sekali, padahal aku
menunggu kedatangan si sombong Thian Liong Koay Hiap, huh,
akan kubuat orang itu mati tidak mau hidup tidak mau ……..”
Seorang yang berperawakan tinggi besar, namun tidak setinggi si
Kakek dari Lautan Timur berkata dengan suara takabur.
Sementara Sie Lan In terkejut karena mereka ternyata sudah
716
dalam pengintaian komplotan yang bercokol dan merebut kendali
dari Nyo To. Kelihatannya mereka sudah menguasai baik kantor
ekspedisi Gin Houw maupun juga Gedung megah kediaman
tokoh Siauw Lim Sie itu. Mendengar bahwa Koay Ji akan
digelandang ke tempat itu, bukan main murkanya Sie Lan In, dia
saling pandang dengan mata menyala dengan Kwan Kim Ceng.
Tapi untungnya Kwan Kim Ceng yang lebih tenang dan lebih
berpengalaman di dunia kang ouw dengan cara yang meyakinkan
sudah mengingatkan:
“Nona, belum tentu mereka mampu mengapa-apakan Bu San,
selain itu, bukan tidak mungkin orang itu hanya berusaha
memancing emosi dan kepanikan kita. Engkau tenangkan dirimu
….. biar kuhadapi mereka ……” sambil berkata demikian dan
dengan mimic tetap tenang Kim Ceng melangkah maju sambil
berkata:
“Siapa kalian …… mengapa demikian kotor pekerjaan kalian?
Menyerbu Siauw Lim Sie dan menyihir Nyo Suheng ……”?
“Hahahahaha, anak muda, tentu saja lohu punya banyak alasan
untuk melakukannya. Selain Ong Suheng yang juga adalah kakak
kembarku sendiri Lan Tjhong Siang-Sat (Sepasang Bintang
djahat dari Lan Tjhong San) OUW CING, terpukul mundur dan
717
kalah di Kuil Siauw Lim Sie bahkan dipunahkan kepandaiannya,
maka posisi Nyo To di sisi lain yang begitu kaya raya tentu saja
penting buat kami …….”
“Hmmmmm, ternyata perampok-perampok murahan. Kupikir
adalah tokoh-tokoh rimba persilatan yang gagah …..”
menggumam Kwan Kim Ceng dengan nada dan kalimat yang
sungguh menyakitkan hati lawan
“Kurang ajar, apakah kau pikir nama seorang Lan Tjhong Siang-
Sat (Sepasang Binatang Jahat) Lan Tjhong San, Ouw Cih, dapat
engkau hina sedemikian rendah dan murahnya …….”? terdengar
tokoh yang ternyata bernama Ouw Cih dan menurut
pengakuannya merupakan saudara kembar tokoh yang
dipunahkan ilmunya oleh Koay Ji di Siauw Lim Sie, membentak
marah.
“Engkau sendiri yang mengatakan bahwa harta kekayaan Nyo
Suheng menarik untuk kalian dan komplotanmu. Teramat mudah
diduga, engkau bersama dengan semua rombonganmu tidak lain
dan tidak bukan adalah perampok-perampok murahan. Orang
orang yang terlalu malas bekerja dan menunggu merampok hasil
kerja orang yang sudah mengupayakannya dan bekerja keras
selama puluhan tahun dengan susah payah …… engkau
718
tanyakan kepada orang-orang, apa nama jenis orang seperti
engkau jika bukan perampok murahan …..” luar biasa makian
Kwan Kim Ceng yang diutarakan dengan tenang itu.
“Kurang ajar, engkau memang harus diberi pelajaran ………”
sambil berkata demikian Ouw Cih, demikian menurut pengakuan
tokoh itu, sudah bergerak melayang sambil mengirim pukulan
kearah Kim Ceng. Tetapi, Kwan Kim Ceng bukan tokoh
sembarang tokoh. Dia adalah didikan si Bhiksu Gembel, Bu Kek
Hwesio, salah satu tokoh hebat dari angkatan BU yang cemerlang
namun bernasib naas di lingkungan Kuil Siauw Lim Sie. Apalagi,
Kwan Kim Ceng yang merupakan murid bungsunya ini, memang
sengaja dipersiapkannya secara khusus untuk mewarisi
kepandaian Bhiksu itu guna membantu membesarkan nama
Siauw Lim Sie. Bisa ditebak, kepandaian Kwan Kim Ceng tentu
saja bukanlah mudah untuk ditaklukkan seorang seperti Ouw Cih.
Bu Kek Hwesio ketika mendalami Ih Kin Keng, belakangan
mampu mengumpulkan dan melatih salah satu Iweekang mujijat
khas aliran Budha, yakni Ilmu Boan-yok-sin-kang. Iweekang ini
punya kemujijatan yang mampu melawan tokoh yang memiliki
iweekang lebih tinggi dengan memantulkannya atau dengan
menggiringnya kesamping. Tapi memang masih sedikit dibawah
keampuhan Toa Pan Yo Hiankang yang dilatih dan dikuasai oleh
719
Bu In Hwesio atau Bu In Sin Liong. Bu In Hwesio memang
dianggap sebagai tokoh paling cemerlang di angkatan BU
mereka, dan ini diakui oleh semua Hwesio angkatan BU. Tetapi
hubungan mereka bertiga kakak dan adik seperguruan, BU SIN
HWESIO, BU IN HWESIO dan BU KEK HWESIO memang sangat
erat dan sangatlah dekat. Sudah barang tentu kesaktian Bu Kek
Hwesio bukanlah kesaktian pada umumnya, tetapi juga beroleh
imbas dari kemampuan Bu In Hwesio sebelum mengundurkan diri
dari Siauw Lim Sie. Dan Ilmu hebat Bu Kek Hwesio yang khas ini
sudah diturunkan kepada muridnya, Kwan Kim Ceng. Mudah
diduga, murid bungsu ini sudah dididik cukup lama dan sudah
memiliki kemampuan tinggi.
Melihat serangan lawan yang sangat buas dan telengas, dengan
tidak berayal Kwan Kim Ceng menggeser kaki kanannya
kesamping dan kemudian memainkan Ilmu andalannya, Tat Mo
Kun Hoat. Ilmu ini adalah salah satu dari 72 Ilmu Mujijat dalam
khasanah Ilmu Silat keluaran Kuil Siauw Lim Sie. Dan Ilmu
tersebut, hanya dilatih oleh tokoh-tokoh yang dianggap memiliki
bakat dan kemampuan yang memadai dan mencukupi guna
melatih dan menguasai Ilmu tersebut. Kwan Kim Ceng sudah
memilikinya, dan berarti memiliki kemampuan dan bakat yang
memadai. Dan Kim Ceng kini memainkan Ilmu itu dengan manis,
720
dalam pengerahan iweekang perguruannya, diapun mendorong
pukulan lawan dengan tidak khawatir.
“Dessssssss ………. Duaaaaaaaarrrrrrrr ….”
Dua kali terjadi benturan hebat antara keduanya, dan akibatnya
Kwan Kim Ceng sampai sedikit doyong ke belakang. Sementara
Ouw Cih sudah kembali memutar tubuh dan langsung melayang
kembali mencecar Kim Ceng dengan jurus-jurus serangan yang
semuanya telengas dan sesuai namanya: Binatang Jahat. Kim
Ceng yang tadi sedikit doyong memang merasa heran, tetapi
meski iweekangnya tipis dibawah lawan, namun dia tidak khawatir
dan takut. Karena ciri khas iweekang yang dilatihnya justru
memadai untuk melawan tokoh sekelas Ouw Cih. Iweekang yang
dilatihnya tidaklah khawatir meski iweekang lawan masih berada
diatasnya.
Sekali ini, tendangan khas yang meniru gerakan memutar seekor
kera mendera dan langsung mengancam Kim Ceng, tetapi
dengan cerdik dia melangkah maju dan bukan mundur sehingga
tendangan itu kehilangan sasaran. Bahkan sebaliknya, kini Kim
Ceng yang berbalik mengancam Ouw Cih dengan menggunakan
totokan jari tunggal yang sangat berbahaya. Jika sampai
terserempet saja totokan tersebut, maka bahaya bagi Ouw Cih.
721
Sudah tentu sekaliber Ouw Cih sangat paham dengan bahaya
yang dia hadapi itu. Namun dengan cerdik dia berputar kembali
dengan ringannya dan seketika lengan kanannya menyambut
pukulan Kim Ceng:
“Dukkkkkkk ………”
Kembali terjadi adu pukulan, tetapi kedudukan Kim Ceng yang
lebih baik membuatnya tidak goyah oleh benturan itu. Sementara
Ouw Cih, menemukan betapa lawan yang masih muda itu
ternyata sanggup menandinginya, sudah menjadi murka dan naik
darah. Sambil melayang ke belakang, dia terus bersalto dan
kembali melayang maju menyerang kearah Kim Ceng dengan
bentuk lengannya seperti cakar harimau (Houw Jiang).
Kelihatannya sekali ini dia sudah mengerahkan kekuatannya
sehingga cakar tersebut terlihat berwarna merah membara dan
mengalirkan hawa panas membara, sungguh berbahaya. Tetapi
dengan tenang dan sabar Kwan Kim Ceng menyambutnya dan
sudah mengisi lengannya dengan ilmu mujijat Siauw Lim Sie, Tan
Ci Sin Thong. Sementara langkah kakinya masih tetap kokoh dan
tangguh dengan mengikuti skema ilmu mujijat Tat Mo Kun Hoat.
Pada saat itu, Kim Ceng gembira bukan main menemukan
kenyataan, betapa Ilmu Tat Mo Kun Hoatnya sudah maju jauh
722
dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Ternyata setelah berlatih
serta juga diberi “petunjuk” oleh Koay Ji, dia merasa semakin
mantap dan kini menggunakan Ilmu tersebut melawan Ouw Cih
yang sudah cukup kawakan. Ouw Cih adalah murid keenam dari
Mo Hwee Hud atau sute Ouw Cing yang sekaligus adalah kakak
kembarnya dan juga kakak seperguruannya. Kekalahan yang
telak dan mengenaskan Ouw Cing telah membutakan matanya
dan mendatangkan dendam. Dia murka bukan buatan mendengar
bahwa Thian Liong Koay Hiap, tokoh yang mencelakai kakaknya
bahkan sudah munculkan diri di Kota Han Im. Bahkan
meninggalkan pesan dalam bentuk tantangan atau tepatnya
ancaman, bahwa tokoh aneh nan sakti itu akan mencari dan
malahan akan memburu toa suhengnya. Betapa murka dan
marahnya Ouw Cih bisa dibayangkan. Dan kini, amarah dan
murkanya ditujukan kepada Kwan Kim Ceng yang sedang
bertarung dengannya.
Sebetulnya Ouw Cih merasa sedikit seram mendengar bahwa
mudah saja kakaknya jatuh di tangan Thian Liong Koay Hiap.
Apalagi, menurut penuturan Kakek Siu Pi Cong, bahkan ketika
menghadapi gabungan serangan ilmu sihir dari Sam Suheng
serta Su Suhengnya, tokoh aneh itu bahkan masih mampu
bertahan kokoh. Bahkan ketika Sam Suhengnya bertarung ketat
723
dengan tokoh itu, juga ternyata tidak sanggup mengapa-apakan
Thian Liong Koay Hiap. Tetapi, dendamnya telah membutakan
pertimbangan akal sehatnya. Dia tetap bertekad untuk
menghadapi dan membalas dendam dengan mengalahkan dan
jika bisa mencincang habis musuh itu dan melaporkan kepada
kakaknya yang sudah tak berdaya itu.
Pukulan-pukulan berbahaya Ouw Cih dengan cepat mengurung
sekujur tubuh lawan dengan kekuatan yang menekan dan
menyesakkan dada. Tetapi, berkali-kali dengan sangat bagus dan
tepat lawannya Kwan Kim Ceng memunahkan melalui cara-cara
sederhana. Bahkan semakin lama Kim Ceng melawan dengan
Tat Mo Kun Hoat, makin dia menyadari betapa Ilmu tersebut jika
dimainkan sebagaimana ajaran Koay Ji, akan membuatnya
semakin kokoh dalam bertahan dan tajam dalam menyerang.
Kenyataan ini membuat semangatnya tumbuh dan mampu
melakukan perlawanan secara ketat dan tidak membuatnya
terdesak.
Kwan Kim Ceng bagaimanapun memiliki bekal Ilmu Silat yang
kokoh dan murni dari alirang Siauw Lim Sie. Sementara lawannya
berasal dari aliran Budha Sesat asal Thian Tok. Latar yang
bertolak belakang ini sering berbenturan secara sengaja maupun
tak sengaja, dan perbedaan usia menunjukkan ketangkasan dan
724
kemurnian iweekang masih memihak Kim Ceng, tapi pengalaman
dan variasi serta kekuatan iweekang masih lebih kuat Ouw Cih.
Karena selisih yang sangat sedikit ini, pertarungan keduanya
menjadi seru dan apalagi keduanya sengaja melepas Ilmu-Ilmu
dahsyat dari masing-masing perguruan setahap demi setahap.
Dan keduanya lama kelamaan sama-sama sadar, bahwa mereka
sudah bertemu lawan yang hebat dan yang mampu memaksa
mereka masing-masing untuk mengeluarkan kemampuan terbaik
jika tidak ingin nanti dikalahkan musuh secara sangat
menyedihkan.
Ouw Cih semakin lama semakin kaget karena ternyata lawan
mudanya mampu untuk mengimbanginya, bahkan sesekali
mendesaknya secara hebat. Meski memang dia juga sesekali
dapat mendesak Kwan kim Ceng, tetapi kombinasi Ilmu Mujijat
Siauw Lim Sie yang dipergunakan Kwan Kim Ceng sungguh
mengejutkannya. Merepotkannya. Baik dengan totokan sakti Tan
Ci Sin Thong maupun dengan Ilmu Tat Mo Kun Hoat yang sering
dipergunakan ganti berganti; dan apalagi dorongan iweekang
Boan-yok-sin-kang, menyanggupkan Kwan Kim Ceng menahan
serangannya dan juga bahkan sesekali mampu mendesak Ouw
Cih secara hebat. Keadaan ini membuat Ouw Cih menjadi
725
semakin gusar, emosinya meningkat bukan kepalang. Hal ini
membuatnya murkan dan akhirnya diapun membentak:
“Jaga seranganku, anak muda! “ Ouw Cih kemudian bergerak
dengan jurus Coa ong sim hiat (Ular mencari liang) di tangan
kanan dan dikombinasikan dengan jurus Ya Poa Hong Yen
(Menghalau Tawon di tengah malam) di tangan kiri. Kedua ilmu
murni peninggalan nenek moyang perguruannya dengan baik
sekali diperagakan oleh Ouw Cih. Gerakan tangan kanannya
mengeluarkan suara berciutan dalam gaya lemas kepala seekor
ular, sedangkan tangan kirinya membentuk lingkaran besar-kecil
seolah tidak mengeluarkan tenaga, kosong. Tapi jangan dipikir
tangan kiri itu lebih ringan dari tangan kanan, sebab justru tangan
kiri inilah yang amat berbahaya. Ouw Cih adalah salah satu tokoh
di perguruannya yang bisa memainkan kedua jurus ini dalam saat
yang bersamaan. Kelihaiannya tidak dapat diragukan lagi. Dan
jelas, jika Kwan Kim Ceng lalai dan alpa, maka ganjarannya
adalah bencana.
Kwan Kim Ceng sangat sadar bahwa dirinya sedang dikepung
oleh dua jurus hebat yang juga memiliki sifat berbeda namun
dikombinasikan menjadi sangat ampuh. Karena salah satu jurus
serangan bersifat menghancurkan dari luar atau secara fisik,
sedang yang lainnya lagi justru bersifat halus namun meremukkan
726
dari dalam. Kehebatannya sungguh bukan buatan, bahkan yang
menyaksikanpun sampai menarik nafas panjang. Sementara
serangan Ouw Cih terus menerus dan membahana, dengan
bergerak cepat dan bertubi-tubi terus mencecar dan memburu
pergerakan Kwan Kim Ceng. Dengan menyasarkan seranganserangannya
ke banyak jalan darah dan bagian bagian yang
justru terpenting di tubuh Kim Ceng. Akibatnya, Kwan kim Ceng
kebingungan sejenak dan terpanah oleh serangan membahana
yang sangat luar biasa ini. Tapi meskipun demikian, hal itu hanya
dalam tempo sejenak, karena Kwan Kim Ceng kemudian mulai
bereaksi dengan jurus baru dan memang ditujukan untuk
mengatasi serangan Ouw Cih, dan sekaligus melancarkan
serangan balasan. Ketenangannya dalam melihat serta
menganalisis serangan lawan boleh dipuji.
Kali ini Kim Ceng bergerak seperti orang memuja dan
menghormati Budha, sambil tangannya bergoyang dan kemudian
membentuk posisi melipat dan menyembah dengan lengan
didepan dada. Begitu lambat, lembut namun kokoh dan nampak
tidak memiliki rasa khawatir lagi dengan serangan bertubi-tubi dari
Ouw Cih. Dan kemudian, sambil bergerak lambat diapun
kemudian memutar kedua lengannya sambil berseru keras:
AMITABHA ........ Dalam gerakan seperti itu, dia kemudian
727
menggerakkan lengannya untuk menyambut serangan Ouw Cih
dan kemudian terdengar suara keras dan menggelegar, “blaar!”.
Suara yang yang sungguh memekakan telinga. Dan akibatnya,
tuubuh keduanya terdorong ke belakang dalam posisi dan
keadaan yang berbeda. Ouw Cih terdorong hampir tujuh kaki dari
tempat pertempuran, sementara Kwan Kim Ceng terdorong ke
belakang sampai 3,4 langkah tetapi sambil posisinya tetap kokoh
dan tegak dan posisi menyembah ala Budha tetap
dipertahankannya. Memang dia mundur, tetapi tepatnya bergeser
karena posisi menyembah Budhanya tetap terjaga dan terlihat
agung.
“Hmmmmmm, Telapak Tangan Budha Tioggoan …….” terdengar
Ouw Cih mendesis, dan desisan yang sama terdengar dari Kakek
Siu Pi Cong dan tokoh lainnya yang juga berdiri berjejer dengan
kakek dari lautan timur itu. Mereka kaget dan juga terkejut
menyaksikan Ilmu tersebut muncul dihadapan mereka dan
dimainkan secara baik oleh Kwan Kim Ceng yang masih muda.
Dalam waktu singkat kedua orang yang melakukan pertarungan
hebat itu terpisah dan keduanya saling mengagumi karena lawan
memang hebat. Kepandaian mereka kira kira setanding, tetapi
pengalaman dan kedalaman serta kemurnian Ilmu Silat jelas saja
berbeda. Tetapi perbedaan itu cukup menentukan. Kekokohan
728
dan kemurnian Ilmu Silat Kwan Kim Ceng banyak membantunya
untuk menandingi lawan yang jauh lebih punya pengalaman dan
kedalaman memahami ilmunya.
Menghadapi Kwan Kim Ceng yang ternyata mampu
menandinginya, tiba-tiba Ouw Cih kembali menggerakkan kedua
tangannya dan sebentar saja kedua lengan itu berubah menjadi
bara yang semakin menyeramkan. Kelihatan pada saat
bersamaan Ouw Cih mengerahkan kekuatan iweekang yang
semakin dalam dan besar. Dan semakin lama kedua lengannya
terlihat semakin membara dan semakin panas sehingga nampak
menyeramkan bagi mata banyak orang:
“Ilmu Ang Yang Ciang (pukulan api membara) ….. acccchhhhhhh”
terdengar desis kakek Siu Pi Cong sementara kawan
disebelahnya hanya mengangguk-angguk saja tanpa emosi dan
tanpa mengatakan satu hal apapun.
Melihat keadaan lawannya, Kwan Kim Ceng sangat percaya,
bahwa lawannya sedang mempersiapkan salah satu Ilmu
andalannya. Meskipun demikian dia tidak menjadi kecil hati,
bahkanpun ketika dia melihat lengan lawan berubah menjadi
merah membara tetap saja sedikitpun dia tidak mengeluh ataupun
merasa khawatir. Dia menyerahkan diri sepenuhnya pada
729
kekuatan dan kemampuannya. Dan dia memiliki keyakinan atas
kemampuan dirinya sendiri.
“Awas serangan!” tiba-tiba terdengar bentakan Ouw Cih ketika dia
mulai membuka serangannya. Belum lagi serangannya tiba,
Kwan Kim Ceng merasakan betapa panas hawa sekelilingnya,
tetapi untung saja diapun telah mengerahkan iweekang andalan
Suhunya, Boan yok Sinkang. Terdengar suara bergulung-gulung
mengarah ke sekujur tubuh Kwan Kim Ceng. Tidak usah
dikatakan apa yang bakalan terjadi jika sampai tubuhnya
tersentuh serangan lengan lawan itu. Karena mudah ditebak,
tamatlah riwayat Kim Ceng. Bukan apa-apa, bagian-bagian tubuh
yang disasar secara langsung adalah justru bagian paling lemah
dan sulit dilindungi dengan hawa iweekang sekaluipun. Dan
kekuatan lawan jelas-jelas adalah kekuatan iweekang yang
diiringi dengan sengatan hawa panas yang sangat panas dan
sangat menusuk. Tersentuh saja bsa dipastikan akan celaka
apalagi, jika sampai terpukul. Dan sudah tentu Kwan Kim Ceng
tidak akan semudah itu menyerah menghadapi lawannya.
Tanpa berayal Kwan Kim Ceng segera merangkap sepasang
lengannya di depan dada, dan kemudian berposisi seperti Bhiksu
Menyembah Budha, kembali dari mulutnya terdengar bentakan
halus namun berwibawa; Amitabha …….
730
Dan tiba-tiba kedua lengannya bergerak tidak mencecar dan
menangkis pukulan lawan, tetapi mencecar bagian bawah tubuh
Ouw Cih. Kedua belah tangannya dengan cepat
bersilat, dengan tangan kanan memainkan jurus Ci Kou Thian
Bun (menyembah-pintu langit) sementara lengan kirinya
memainkan jurus Siang Hok Liang Gi (bangau dewa mementang
sayap). Kekuatan pukulan Ang Yang Ciang yang sangat
berbahaya dan membara itu segera lenyap ketika pijakan
kokohnya diserang habis oleh Kim Ceng. Secara otomatis pijakan
kuda-kuda kokoh yang jadi goyah itu, terang saja membuat
dorongan iweekangnya menjadi berkurang banyak. Semakin
lama menjadi semakin jelas bahwa Ouw Cih menjadi sangat
keripuhan menghadapi serangan berbahaya yang dilakukan
secara terus menerus oleh Kim Ceng. Apalagi dengan dorongan
kekuatan iweekang yang seakan menjadi tandingan hawa
panasnya itu. Gerak langkah yang merancang serangan
iweekang panas kocar-kacir, dan otomatis dia tidak memiliki
cukup waktu dan tenaga melepas pukulan andalannya. Karena
itu, dia kembali jadi dalam posisi yang didesak lawan.
Posisi Ouw Cih yang semakin lama menjadi semakin runyam jelas
terlihat oleh kawan-kawannya dan jika dibiarkan akan jatuh di
731
tangan musuh. Keadaan ini membuat orang yang berdiri
disamping Kakek Siu Pi Cong berbisik lirih:
“Siu Pi Cong, engkau tangkap segera yang perempuan, aku aku
akan membantu Sute untuk menangkap yang laki-laki itu …….”
Setelah berkata demikian, orang itu kemudian melayang kearah
arena pertarungan. Kebetulan saat itu keadaan Ouw Cih memang
sedang terdesak hebat. Sebetulnya bukan karena kelemahan
ilmu Ouw Cih secara telak, tetapi karena kelemahannya dapat
dilihat Kim Ceng dan membuat dia nyaris dijatuhkan. Bukan
karena kalah hebat, tetapi karena terlampau percaya diri hingga
dia kurang mengantisipasi dengan ilmu lain untuk menghadapi
Kim Ceng. Akibatnya dia nyaris kalah telak jika saja kawannya
tidak datang membantu. Untung, sekali lagi untung bagi Ouw Cih,
kawannya masuk di saat yang sangat tepat. Dan gerakan kawan
Ouw Cih justru lebih ringan dan lebih lincah dibandingkan Ouw
Cih, dan juga kecepatannya masih jauh melebihi.
“Sute ….. engkau mengawasi keadaan, biar kutaklukkan pemuda
ini ……”
“Terima kasih Su Suheng …….”
732
Sebenarnya Ouw Cih masih penasaran, tetapi memang benar, dia
harus menggantikan suhengnya untuk mengamati keadaan.
Karena mereka sedang bersiaga menghadapi banyak
kemungkinan terkait dengan pencaplokan mereka terhadap harta
dan posisi penting Nyo To yang kaya raya di kota Han Im.
Tetapi masuknya kawan Ouw Cih yang sebenarnya adalah
suhengnya, pada saat bersamaan diiringi oleh melayangnya dua
tubuh pada saat yang nyaris bersamaan. Dengan segera arena
pertarungan berubah menjadi dua. Karena pada saat Sian Hong
Kek (si angin puyuh) Lim Kek Ciang atau Suheng Keempat dari
Ouw Cih menyerbu masuk ke arena, juga ada tokoh lain yang
melakukan hal yang sama. Adalah Nona Sie Lan In juga menjadi
murka melihat Kim Ceng diserang lawan secara licik dan curang,
tanpa menunggu lebih lama lagi, diapun dengan gemas melayang
memasuki arena sambil berteriak keras:
“Hmmmm, main keroyok, sungguh memalukan …….”
Tetapi, sesosok tubuh juga ikut melayang memapaknya. Kakek
Siu Pi Cong. Dan ketika keduanya saling bentur, keduanya sadar
sudah bertemu lawan hebat. Keduanya saling pandang ketika
akhirnya berhadapan untuk pertama kalinya. Sebenarnya Kakek
Siu Pi Cong agak enggan menghadapi Sie Lan In. Ada dua
733
alasannya. Pertama, lawannya masih sangat muda dan dia jelas
enggan menghadapi lawan seperti itu, masih muda dan
perempuan pula. Karena kalah atau menang tetap saja dia malu.
Memang akan dianggap orang sebagai tindakan menganiaya
orang yang lebih muda. Apalagi kalau kalah?, jelas reputasinya
akan rusak;
Alasan kedua, dia sangat menghormati dan tahu belaka sampai
dimana kemampuan tokoh Dewa dari Laut Selatan yang bernama
Lam Hay Sinni. Tokoh yang juga menjadi Subo dari gadis muda
yang menjadi lawannya ini. Dia harus mengakui, kemampuannya
masih belum cukup memadai untuk menandingi atau melawan
Rahib Perempuan dari Laut Selatan itu. Tetapi, mengapa dia pada
akhirnya turun gelanggang dan harus melawan Sie Lan In, gadis
murid Rahib Perempuan Laut Selatan itu? Hanya kakek itu yang
tahu dan paham alasan yang sebenarnya.
Segera keduanya terlibat dalam pertarungan yang cukup seru.
Tetapi, Sie Lan In sadar jika kakek itu enggan bertarung matimatian
dengan dirinya. Dalam kagetnya dia coba mencecar
dengan serangan-serangan berbahaya, tetapi kakek itu
melawannya dengan setengah hati. Bahkan dia cenderung
terdesak karena bagaimanapun tingkat ilmu Sie Lan In saat ini,
sebenarnya sudah tidak berada dibawah kemampuannya.
734
Melawan dengans etengah hati, sama saja dengan menyerah
kalah. Hanya sekali-sekali dia menyerang dan itupun hanya untuk
mengurangi desakan La In. Apalagi, karena Lan In memiliki
kecepatan bergerak yang luar biasa cepatnya. Dan ini yang
membuat Kakek Siu Pi Cong jadi kewalahan meladeni Lan In.
Untung saja, Sie Lan In sendiri memang membagi perhatian
terhadap keselamatan Kwan Kim Ceng. Hal yang membuat
mereka berdua menjadi dalam posisi seimbang.
Sementara itu yang seru dan mati-matian adalah pertarungan
antara Kwan Kim Ceng melawan Lim Kek Ciang. Sejatinya
kepandaian Lim Kek Ciang berada setingkat diatas sutenya, tetapi
menghadapi Kim Ceng dia tetap saja agak kesulitan dan susah
untuk menang dan mengalahkan lawannya. Meski tingkat
kemampuan Kwan Kim Ceng masih sedikit tipis dibawah
kemampuannya, tetapi untuk mengalahkan anak muda itu bukan
pekerjaan yang cukup mudah. Karena Kwan Kim Ceng mewarisi
ilmu-ilmu pemunah perguruan mereka dari Thian Tok, ilmu-ilmu
Mo Hwee Hud. Ilmu-ilmu murni dari Siauw Lim Sie merupakan
tandingan atas ilmu perguruan mereka yang menyimpang dan
menjadi sesat di tangan maha guru mereka, yakni Mo Hwee Huda
tau si Iblis Api Sesat. Karena itu, bukanlah pekerjaan mudah bagi
Lim Kek Ciang untuk mendesak dan memojokkan Kim Ceng yang
735
menggunakan ilmu-ilmu silat mujijat dari Siauw Lim Sie. Meski
sesekali menang angin, tetapi dengan cepat Kwan Kim Ceng
mengembalikan posisinya, dan kembali mereka bertarung ketat.
Lim Keng Cu kembali menyerang dengan ilmu perguruannya
yang boleh dikata sudah masak dan cukup sempurna. Jelas
serangannya tidak bisa dibandingkan dengan adik
seperguruannya sendiri, Ouw Cih. Sekali ini dia sudah
mempergunakan Ilmu Lak hap im hwee (Enam Gabungan Api
Iblis) dan didukung oleh tenaga iweekang Mo Hwe Bu Kek khi
Kang (Tenaga Dalam Api Iblis). Dalam tenaga iweekang, satusatunya
yang mampu mendekati Mo Hwee Hud Suhu atau guru
besar mereka dalam Ilmu Mo Hwe Bu Kek Khi Kang adalah Toa
Suheng mereka, yakni To Seng Cu (Tunggal di Atas Tanah) Tam
Peng Khek. Jika Mo Hwee Hud sudah menguasainya secara
sempurna, maka Murid Kepalanya sudah menguasai hingga
tingkat ke-12 atau tingkat terakhir. Bahkan semua adik
seperguruannya menduga jika To Seng Cu sudah menguasai
secara sempurna Ilmu Iweekang mujijat gubahan Mo Hwee Hud
itu. Tetapi, entahlah karena tak ada yang pernah bertanya secara
jelas.
Lim Keng Cu sudah menguasai ilmu mujijat perguruannya hingga
tingkat ke 8, unggul setingkat di atas adik seperguruannya yang
736
kelima dan keenam Ouw Cih dan Ouw Cing yang berada di tingkat
ke 7. Lim Keng Cu sudah menggerakkan kekuatan sinkangnya
yang mujijat, dan sambil melompat tinggi, tiba-tiba tubuhnya
meluncur cepat menyerang orang Kim Ceng. Jurus-jurus
simpanan dari Siauw Lim Sie mau tidak mau dikeluarkan semua
oleh Kim Ceng dan dilepaskan dengan sinkang yang tidak
tanggung-tanggung lagi sekali ini. Terutama karena dia merasa
kemampuan Lim keng Cu masih mengatasi Ouw Cih lawan
sebelumnya. Terlebih akhirnya Lim Keng Cu sendiri telah
mengambil keputusan untuk segera mengalahkan dan jika bisa
membinasakan Kwan Kim Ceng untuk membalas sakit hati
sutenya. Sekaligus untuk dapat dengan sesegera mungkin
menyelesaikan ancaman atas usaha mereka di Han Im yang
banyak membantu secara logistik maupun pendanaan gerakan
mereka.
Sukar untuk dilukiskan jalan pertarungan ini dengan kata-kata,
karena masing-masing mempergunakan sinkang yang dasyat dan
sekaligus gingkang yang sudah mencapai tingkat yang sangat
tinggi. Meski sedikit di bawah kemampuan Lim Keng Cu, tetapi
tetap saja serangan-serangan dan tangkisan Kwan Kim Ceng
membuat lawannya kaget dan terkejut. Bahkan semakin lama
kedua orang hebat ini mulai memperdengarkan suara mencicit737
cicit dari penggunaan jurus-jurus serangan atau pertahanan
mereka, bagaikan suara tikus tercepit dan makin lama makin
tajam. Sementara itu sebagian besar orang yang melihat
pertempuran itu menjadi menggigil, puyeng, bahkan para penjaga
yang tadinya berjumlah cukup banyak itu, sudah mundur menjauh
karena puyeng melihat tarung yang luar biasa ini.
“Jurus Hong Bwee Liu Yan (kobaran api menimbulkan asap) ….”
terdengar seruan Lim Keng Cu yang melepaskan pukulan dengan
sambaran hawa panas membakar, namun disertai dengan angin
dingin yang sangat menusuk. Luar biasa, tetapi begitulah yang
sekarang dihadapi dan dirasakan oleh Kwan Kim Ceng. Lengan
Lim Keng Cu membentuk sembilan lingkaran yang mengeluarkan
hawa panas menderu menyambar ke segenap penjuru mata
angin. Dan ini adalah salah satu jurus mujijat perguruan yang
sangat diandalkan oleh Lim Keng Cu. Karena saat itu pengerahan
kekuatan iweekang sudah mencapai 7 bagian, dan dia sudah
menciptakan angina dan hawa panas yang sangat panas
membara.
Tetapi Kwan Kim Ceng yang sudah menguasai Ilmu Mujijat
Telapak Tangan Budha dengan cepat dan sigap mengerahkan
seluruh kekuatan iweekangnya. Sekali ini dia sudah mengerahkan
738
kekuatan hingga mencapai 8 bagian dan dengan tetap tenang dia
menggerakkan kedua telapak tangannya.
“Hud To Seng Thian (Buddha suci naik sorga)”, terdengar teriakan
balasannya dan bersamaan dengan itu 15 gerakan beruntun
dengan kekuatan luar biasa mengarah dari tempat lebih tinggi ke
Lim Keng Cu. Semua orang terbelalak menyaksikan kecepatan
serangan ini, sama kagumnya dengan melihat bagaimana Lim
Keng Cu tadi melepas serangan dan kini dipapaki secara berani
dan tenang saja oleh Kwan Kim Ceng. Sungguh pertarungan
dahsyat dan luar biasa. Pada saat itu, tubuhnya Kwan Kim Ceng
seakan-akan berubah menjadi PATUNG BUDHA dengan gerak
yang matang, mantap dan kokoh dan dikelilingi oleh cahaya
keputihan yang dibentur berkali-kali oleh cahaya merah membara
yang dilepaskan oleh Lim Keng Cu. Kekuatan hawa pukulan Lim
Keng Cu tak pernah pudar, selalu menjilat seiring dengan
kecepatan pukulan lengannya dan terus mendesak posisi Kwan
Kim Ceng. Tetapi, posisi dan pertahanan Kim Ceng sungguh patut
dipuji, meski merasa kepanasan dan kedinginan oleh hawa
serangan lawan, tetapi Kim Ceng mampu menghalaunya dan
tetap berkonsentrasi melakukan pertarungan yang maha dahsyat
itu.
739
“Sungguh sangat dasyat …....... hampir-hampir tidak ada peluang
untuk mematahkan serangan ini dan kemudian balas
mendesaknya!” demikian desis Kim Ceng dalam hati, meski masi
tetap memiliki keyakinan dengan Ilmu Mujijatnya, Telapak Tangan
Budha. Dan untuk menghadapi bahaya karena serangan hawa
panas yang terus-menerus mencecarnya dengan hebat, maka
Kwan Kim Ceng kembali berseru untuk menukar gerak dan jurus
serangan:
”Hud Co Huan Hay (Budha Suci Menggulung Samudera)”
bentaknya sambil terus menggerakkan kedua tangannya seperti
sedang menggulung sesuatu dilengannya. Tetapi setelah itu,
diapun mendorong kedepan dan hebat, tenaga menggulungnya
bagaikan menerpa serangan bara membara, menggulungnya dan
kemudian malahan mendorong menyerang Lim Keng Cu yang
terkejut dengan jurus lawan yang cepat berubah namun telak
mengantisipasi bahaya akibat serangannya sebelumnya. Tetapi
dia tidak kalut dan takut, karena dengan cepat dia bergerak dan
memainkan ilmu yang tepat, yakni jurus Hay sim an liu (aliran
maut ditengah samudra). Akibatnya, kedua tokoh itu saling libas
dan semakin tenggelam dalam libasan ilmu masing-masing yang
tidak menyediakan jalan mundur kecuali adu kekuatan.
740
Hal yang berbeda terjadi antara Kakek Siu Pi Cong dengan Sie
Lan In. Karena Kakek Siu Pi Cong rada enggan menghadapi
lawan mudanya, maka pertarungan mereka kurang dahsyat
dibandingkan Lim Keng Cu melawan Kwan Kim Ceng. Selain itu,
mereka berdua juga sering memberi perhatian kepada
pertarungan dahsyat yang memancing rasa kagum keduanya
terhadap Kim Ceng dan Lim Keng Cu. Apalagi kedua orang yang
bertarung dahsyat itu semakin meningkatkan kemampuan ilmu
mereka masing-masing. Kwan Kim Ceng yang mengandalkan
kemurnian ilmu silat dan juga kekokohan iweekangnya,
sebetulnya tipis dibawah kemampuan Lim Keng Cu. Tetapi, tetap
saja Lim Keng Cu kesulitan untuk membobol pertahanan hebat
yang memang dibentuk dan disiapkan Kim Ceng.
Pada akhirnya Lim Keng Cu memutuskan menggunakan Ilmu Mo
Hwee Koay Kong (Api Iblis Memancarkan Sinar Siluman). Sebuah
Ilmu Silat khas yang memanfaatkan Ilmu Sihir sehingga berhawa
aneh dan mempengaruhi perasaan serta semangat lawan. Kedua
lengannya bergerak sementara langkah kakinya juga aneh,
bersilang serta membingungkan pandangan Kwan Kim Ceng.
Beberapa saat kemudian terdengar desis suara Lim Keng Cu
dalam nada yang sangat berwibawa dan membuat Kim Ceng
sedikit goyah dan terpengaruh. Sesungguhnya gerakan jurus ini
741
tidak lebih berbahaya dibandingkan dengan jurus ilmu yang
sebelumnya, tetapi perasaan dan semangat Kim Ceng entah
bagaimana guncang dengan suara lawan:
“Jurus Thian Lung Hwe Yun (Langit Menurunkan Awan Api) …”
Bersamaan dengan suara tersebut, kembali hawa panas
menerjang Kwan Kim Ceng sementara Lim Keng Cu meninju dan
menerobos garis pertahanannya sehingga Kim Ceng harus
tergopoh mundur ke belakang. Tetapi, posisinya dengan demikian
menjadi cepat melorot dan semakin terdesak. Apalagi, rangkaian
jurus Thian Lung Hwe Yun dari Lim Keng Cu masih tetap
mengejarnya dan tidak melepaskannya begitu saja. Langkah kaki
Lim keng Cu terus melaju kedepan dan mengiringi langkah dan
jalan mundur Kwan Kim Ceng. Sementara kedua lengannya
terus-menerus mencecar dan mencari atau menyasar tempattempat
berbahaya di tubuh Kim Ceng. Sungguh rikuh Kim Ceng
jadinya, karena selain pukulan tersebut berbahaya, hawa
panasnya juga cukup mampu membuatnya kerepotan dan panas
kegerahan. Ketika akhirnya dia nekat, maka diapun membentur
sampai tiga kali lengan lawan karena jalan mundurnya sama
sekali telah tertutup oleh lingkaran ancaman pukulan lawan:
“Duk …. duk ….. duk …..”
742
Sekali ini Kim Ceng terdorong mundur sampai lima langkah ke
belakang dan nafasnya memburu. Meski tidak terluka, tetapi dia
tahu bahwa daya tahan dan khikangnya sudah mulai mampu
ditembusi oleh pukulan lawan, terutama hawa panasnya. Dan
belum lagi Kwan Kim Ceng mampu bernafas dengan lega, tibatiba
terdengar desisan lain, sebuah jurs baru yang dilepaskan
lawannya:
“Jurus Toh Hong Pang Hwe (Membalikkan Angin Membantu Api
…”
Dan bersamaan dengan itu, sambil masih belum tertata kembali
kekokohan kedudukan dan posisinya, Kim Ceng kembali
terserang suara mujijat yang justru mengacaukan konsentrasi dan
semangatnya. Tetapi, patut dipuji reaksi dan bagaimana cara
seorang Kim Ceng menghadapi situasi yang sangat berbahaya
itu. Dia secara refleks bergerak dengan jurus Toh Lang Cih Thian
(Ombak Menyapu Langit) dan disambung dengan jurus Hwe Ouw
Siang Hui (Sepasang Burung Gagak Api Berterbangan). Dengan
kedua jurus pertahanan itu, Kim Ceng dapat menjaga dirinya
untuk meski terus terusan terserang tetapi tidaklah sampai
terkena. Hanya saja, betapapun juga dia tidak lagi mampu untuk
membalas menyerang. Kondisi seperti ini sama saja dengan
menunggu gebukan lawan, karena dia harus pontang panting
743
kesana dan kemari untuk sekedar menghindari terjangan lawan.
Baik bergerak kekanan ataupun kekiri, terus meloncat ke
belakang sementara lawan mengurungnya dengan sejumlah
pukulan dan ancaman yang membahayakan kedudukannya.
Apalagi, tiba-tiba dia kembali terdorong akibat seruan keras
lawan, yaitu ketika Lim Keng Cu menyerangnya kembali dengan
suara mujijat:
“Jurus Yok-siu si-huan (seperti kosong bagaikan khayal) …”
Sebetulnya jurus-jurus serangan Lim Keng Cu tidaklah sangat
berbahaya dan cukup mudah untuk dihadapinya. Tetapi,
konsentrasi yang kacau akibat serangan-serangan suara mujijat
membuat, Kwan Kim Ceng goyah dan kehilangan pegangan serta
pada ujung ujungnya kembali membuatnya pontang-panting
menyelamatkan diri. Ketika terakhir kembali dia goyah, serentetan
serangan sepasang lengan Lim Keng Cu yang penuh hawa
sinking panas nan berbahaya kembali mencecar Kwan Kim Ceng.
Dia main mundur belaka dan kehilangan sama sekali daya dan
juga kesempatan untuk melakukan perlawanan dan posisinya
sudah sangat berbahaya. Karena sewaktu-waktu dia bakal
terkena pukulan lawan. Dan benar saja, ketika terus-menerus
mundur dan menghindar dari pukulan lawan, toch sekali waktu
744
sebuah pukulan lawan akhirnya menyerempet pundaknya dan
akibatnya tanpa tertahan tubuh Kwan Kim Ceng terlontar ke
belakang. Dan dari mulutnya terlihat darah menetes. Meskipun
tidak secara telak terpukul tetapi jelas dia sudah terluka.
“Hahahahahahaha, sudah saatnya engkau menyerah anak muda
… dan bagaimanapun juga engkau harus kutangkap …….”
Tetapi meski didesak dan terpukul, bagaimanapun Kwan Kim
Ceng adalah murid pilih tanding dari Perguruan Siauw Lim Sie
yang punya nama besar. Dia sudah mulai sadar bahwa ada
pengaruh yang tidak sehat yang membuatnya cepat sekali
kehilangan konsentrasi. Karena itu diapun berbisik lirih:
“Engkau curang ….. menyerang dengan ilmu sihir ……”
“Hahahahahah, curang katamu ….? Anak Muda, apak engkau
pikir ilmu sihir bukanlah ilmu kepandaian dan didapat dengan
mudah …..? bersiaplah, aku harus menuntaskan pertarungan ini
dengan menangkapmu …..”
“Hong-lui-kiau-ki (angin geledek saling berhantam) ….”
Kembali Lim Keng Cu membentak sekaligus membuka serangan
baru. Kwan Kim Ceng sadar, bentakan ini yang menjadi biang
745
kekalahannya. Tetapi, meski begitu, tetap saja dia goyah dan
kehilangan waktu sepersekian detik untuk dapat menghadapi
lawannya. Karena itu, dengan gopoh dia meladeni lawan yang
terus menyerangnya dengan serangan-serangan yang tajam dan
berbahaya. Kwan Kim Ceng sadar, bahwa justru bentakan ini
yang menjadi biang kekalahannya tadi. Tetapi, meski begitu, tetap
saja dia terpengaruh dan goyak. Tetapi, meski terdesak,
kesadaran itu membuatnya mulai memikirkan perlawanan dengan
cara berbeda. Tetapi, dia masih harus meledeni serangan lawan
dan dengan tergesa-gesa dia menangkis serangan lawan yang
terus menyerangnya dengan serangan-serangan yang cukup
membahayakannya.
Sesungguhnya, jika pertarungan itu terus dilanjutkan, tidak akan
lama lagi Kwan Kim Ceng bakalan terpukul roboh. Keadaannya
sudah sangat menyedihkan dan tak mampu memberikan
perlawanan lebih jauh lagi. Tetapi untungnya, sekali ini dia
mendapatkan pertolongan. Tepat pada waktunya. Karena ketika
dia kerepotan dan terus menerus harus menghindar, tiba-tiba
telinganya mendengar bisikan yang nyaris persis dengan
bagaimana cara Bu San memberinya petunjuk. Suara itu lirih
namun jelas di telinganya. Dan yang terpenting, suara itu
746
menembus pengaruh sihir yang membuatnya kehilangan
pegangan dan konsentrasi:
“Bergerak ke pintu barat, mendorong pintu ke selatan, berputar
sambil memetik bintang dan selanjutnya serangan dengan
menggunakan jurus ke-8 Telapak Tangan Budha, Jurus Lo Han
Tek Seng (Arhat Memetik Bintang ….”
Tanpa banyak bertanya dan karena menganggap Bu San sedang
membantunya, maka secara membuta Kim Ceng bergerak. Dia
melompat ke pintu barat dan kemudian mendorong lawan dari
penjuru selatan dan kemudian melompat sambil memukul kepala
lawan, dan selanjutnya begitu turun ke bumi, dia
mengembangkan pukulan Telapak Tangan Budha sambil berseru
dengan suara nyaris dan bahkan keras karena melepas rasa
kepenasaran dan rasa kesalnya:
”Jurus Lo-han Tek Seng (Arhad Memetik Bintang) ...”
Bukan main kagetnya Lim Keng Cu ketika lawan yang sebetulnya
sudah sangat dekat untuk dapat dikuasainya, secara tiba-tiba
mendorong pukulannya dari arah barat. Kemudian bahkan
melompat menutup serangannya di selatan dan kemudian
bersalto menyerang kepalanya. Bukan hanya itu, sekejap
747
kemudian diiringi bentakan keras, dia kembali diserang oleh
telapak tangan lawan yang kini sudah bangkit semangat dan
kekuatannya. Dalam waktu tidak lama, kini dia yang jadi tersudut
dan dicecar habis oleh lawannya yang tadinya tinggal tunggu
waktu kena gebuk. Maka diapun sadar bahwa lawan menemukan
kembali kesadaran dan semangatnya, dengan kekuatan penuh
dia menangkis dan mendorong telapak tangan lawannya sambil
berteriak:
”Jurus Tiang Hong Koan Jit (Pelangi Menembus Matahari) ....”
Tetapi sekali ini tidak ada pengaruhnya bagi Kwan Kim Ceng,
karena sedetik kemudian suara aneh kembali terdengar di telinga
Kim Ceng:
”Memburu kelinci ke gua timur, dan menghentak lawan dengan
jurus Toh Kua Kim Ceng (Lonceng Emas Bergantung) ...”
Dengan membuta Kim Ceng bergerak ke timur dan kemudian dari
sana dia kembali menggempur kedudukan Lim Keng Cu dengan
bentakan keras diiringi dengan pukulan pukulan telapak tangan
yang membawa suara keras. Dalam waktu singkat, Lim Keng Cu
kembali tersentak karena kini, justru dia yang dalam posisi
748
tersudutkan, apalagi ketika telinga Kim Ceng mendengar bisikan
baru:
”Segera dengan cepat berputar setengah lingkaran ke kiri,
gunakan atau mobinasikan dengan jari tunggal Tan Ci Sin Thong
sambil menotok lengan lawan. Selanjutnya terus menyerang
langsung dan disambung dengan gerakan maut dalam jurus Kimsoh-
poh-liong (tali emas mengikat naga) …”
Sebagaimana sebelumnya, Kwan Kim Ceng menurutinya tanpa
bertanya dan tanpa berpikir lagi. Gerakan dan pilihan-pilihan
jurusnya mengandalkan anjuran dari suara yang membantunya.
Langsung saja gerakannya mengikuti petunjuk-petunjuk itu. Dia
menggunakan totokan jari tunggal menyambut serangan
berbahaya Lim Keng Cu dan ketika lawan menarik pukulannya
dengan cepat dia mencecar lawan dengan jurus yang disarankan
suara itu. Jurus tali emas mengekang naga. Dan dalam 4,5
gerakan ke depan tiba-tiba terdengar suara:
“Bukkkkkkk ……..”
Dengan telak pukulan Kwan Kim Ceng memasuki perut lawan
yang tak terjaga, dan sontak tubuh Lim Keng Cu terdorong sampai
6,7 langkah ke belakang. Dan seperti tadi Kwan Kim Ceng
749
mulutnya meneteskan darah, demikian juga kini Lim Keng Cu
sama dengan yang dialami Kim Ceng terluka akibat tersambar
pukulan lawan. Dan dengan demikian, kedudukan kini berubah
menjadi satu sama alias seri. Karena masing-masing sudah dapat
memukul lawan dan membuat lawan terluka, meski terluka ringan.
Namun Kwan Kim Ceng menjadi sangat girang dan secara
otomatis semangatnya membuncah oleh kemampuannya
memasukkan satu pukulan bersih. Pukulan bersih yang membuat
lawannya terlontar kebelakang dan terluka. Dibiarkannya Lim
Keng Cu kembali tegak berdiri dan dipandanginya dengan tatap
mata berwibawa.
“Hahahahaha hebat, engkau dapat melawan jebakan sihir Ilmu
Mo Hwee Koay Kong (Api Iblis Memancarkan Sinar Siluman) dari
perguruanku. Engkau pantas menerima pukulan selanjutnya, Mo
Hwe Tok (Racun Api lblis). Aku memperingatkanmu anak muda,
Ilmu ini memiliki pengaruh sihir dan racun yang sangat berbahaya
…. Tetapi jika engkau merasa tak mampu, kupersilahkan untuk
meninggalkan tempat ini dan jangan lagi pernah mengganggu
kami disini …….”
“Hahahahahaha, belum tentu jika Ilmu Mujijat Mo Hwee Tok yang
engkau bangga-banggakan akan memiliki kemampuan
menembus Telapak Tangan Budha. Karena jjika anak muda ini
750
sudah menguasainya hingga tingkat ke-sembilan atau jika dia
sudah menguasai Ban Hud Ciang salah satu Ilmu mujijat Siauw
Lim Sie, maka engkau tak akan mampu mengganggunya lagi …..
jika engkau ingin mencobanya, boleh dengan melawanku.
Bukankah kalian sedang mencari-cariku untuk
mempersembahkanku kepada Toa Suheng kalian …….”?
Betapa terkejutnya baik Lim Keng Cu dan terutama Kwan Kim
Ceng, karena tiba-tiba disampingnya sudah berdiri seorang tokoh
yang selama sebulan terakhir menjadi buah bibir Kang Ouw.
Dialah Thian Liong Koay Hiap. Tokoh aneh yang entah
bagaimana caranya sudah berdiri mendampingi Kwan Kim Ceng,
atau bahkan persis disamping Kim Ceng dan bahkan kemudian
lengannya memberikan sebuah pil berwarna hijau sambil berkata
dengan lirih:
“Anak muda, makanlah pil ini, sebentar saja engkau pulih
sebagaimana sediakala, biarkan manusia ini menjadi bagianku
……”
Dengan segera dan tanpa ragu Kwan Kim Ceng menerima pil itu
dan memakannya. Apalagi karena sudah yakin, suara yang
membisikinya tadi persis sama dengan suara bisikan tokoh yang
mengaku Thian Liong Koay Hiap dan barusan menghadiahinya
751
sebuah pil. Dan benar saja, tak berapa lama setelah menelan pil
yang baunya namun terasa sangat pahit di mulutnya, dia
merasakan halangan dalam tubuhnya perlahan-lahan menjadi
ringan. Bahkan kemudian rasa sakit yang tadi dirasakannya,
perlahan lahan hilang entah kemana.
“Terima kasih Koay Hiap …..”
Sementara itu pertarungan antara Kakek Siu Pi Cong dengan Sie
Lan In otomatis berhenti. Tetapi yang runyam adalah Nona Sie
Lan In. Dia sangat gregetan dengan Thian Liong Koay Hiap, tetapi
repotnya tokoh itu kini berdiri di pihak mereka dan malah baru saja
membantu Kim Ceng. Tetapi, rasa penasarannya tidak hilang
begitu saja, karena dengan ketus dia berkata:
“Hmmmm, urusan kita kelak harus dibereskan …….”
“Hahahaha, baik nona, lohu siap menantikannya ……”
Sementara itu, setelah beberapa detik Lim Keng Cu akhirnya
mampu juga menguasai dirinya sendiri dari kekagetan yang
menderanya dengan kemunculan Koay Ji. Terutama karena
kemunculan Thian Liong Koay Hiap yang sangat cepat dan butuh
berapa detik lamanya baru dapat disadarinya keberadaannya di
752
arena. Setelah menenangkan diri, diapun bertanya dengan suara
angker:
“Jadi engkau yang mengaku bernama Thian Liong Koay Hiap itu
….”?
“Kenapa, apakah engkau juga ingin menantangku seperti Toa
Suhengmu …..? hahaha, sampaikan kepadanya, aku sendiri akan
memburunya setelah dia menantang-nantang kekiri dan kekanan.
Jangan takut, aku pasti akan menjumpainya ……”
“Apakah engkau pikir hanya Toa Suheng yang sanggup
menaklukkanmu dan menduga tidak ada orang lain yang mampu
….”?
“Hohoho, pasti banyak. Tetapi yang jelas bukan dirimu …….”
Jawab Koay Ji ringan dan membuat dada Lim Keng Cu seperti
mau meledak. Tetapi, berbeda dengan tokoh lain yang
menyimpan dendam terhadap Koay Ji, melihat kemunculan Koay
Ji yang sudah mengakui bahwa memang dirinya adalah Thian
Liong Koay Hiap, maka dengan mata nyalang dia maju dua dan
tiga langkah sambil bertanya. Suaranya keras menggelegar dan
membuat banyak orang tersentak:
753
“Jadi ….. jadi engkau Thian Liong Koay Hiap yang mencelakai
saudaraku itu”?
“Hmmmm, siapa engkau? aku memang Thian Liong Koay Hiap
….” jawab Koay Ji dengan suara datar dan nyaris tanpa emosi
“Bangsat, biar kubalaskan dendam saudaraku ……”
“Siapa nama saudaramu itu …..”?
“Lan Tjhong Siang-Sat (Sepasang Bintang djahat dari Lan Tjhong
San) Ouw Cing, saudara kembarku yang menjadi Kerudung
Merah …….”
“Ooooohhhhh, jadi engkau saudara manusia sombong nan ganas
itu. Apakah engkau sama ganasnya dengan saudaramu …..?
kupastikan iya, karena engkau nampaknya yang memimpin
perampokan atas keluarga Nyo disini …….. majulah, biar kubuat
engkau menjadi sama dengan saudaramu ……”
Ouw Cih tidak mampu menahan amarahnya lagi. Tanpa
memperdulikan segala apa lagi, tiba-tiba dia maju menyerang
tanpa diduga sama sekali oleh suhengnya yang berdiri
didepannya. Dengan kedua tangannya terbuka, dia menyerang
dengan didahului oleh angin serangan yang sungguh panas luar
754
biasa. Tetapi dengan cepat dan tepat, Koay Ji menangkis
serangan itu. Bahkan kemudian, dia menggerakkan lengannya
sedemikian kuat hingga Ouw Cih dengan mudah terdorong dan
terlempar ke belakang meski sama sekali tidak terluka. Atau
belum terluka.
“Memandang kerugian keluarga Ouw kalian itu, maka hari ini
engkau kuampuni. Tetapi, jika engkau masih terus mengganas,
maka pertemuan berikut engkau akan kehilangan kepandaian
sebagaimana saudaramu yang pongah itu …..” berkata Koay Ji
dengan suara seram dan sangat berwibawa setelah mementalkan
Ouw Cih ke belakang hanya dengan satu kibasan lengannya
belaka. Sebuah pameran kepandaian yang luar biasa dan
membuat semua orang terbelalak kaget sekaligus kagum,
terutama Kakek Siu Pi Cong dan Lim Keng Cu.
“Astaga …… aku terlampau memandang rendah dirinya.
Kelihatannya bahkan Toa Suheng akan kesulitan juga
menghadapinya ……… siapa gerangan manusia hebat yang
demikian sombong ini ……”? rutuknya dalam hati.
Belum lagi Lim Keng Cu mengambil keputusan apa yang
sebaiknya dia lakukan dalam menghadapi kemunculan Thian
755
Liong Koay Hiap yang demikian hebat dan sakti itu, tiba-tiba dari
dalam rumah terdengar teriakan seorang gadis:
“Kurang ajar …… dia …… dia …… dia membawa pergi Nyo
Wangwe ……. Engkau sembunyikan dimana dia, hayo jawab
……..”
Semua memandang gadis yang baru saja keluar dari gedung Nyo
Wangwe. Seorang gadis yang begitu cantik dan mungil namun
berbeda tampilan dengan para gadis dari Tionggoan. Memang
kulitnya lebih gelap namun tidak sampai disebut hitam, rambutnya
hitam legam dan terurai kebawah, hanya cara berpakaiannya
sudah mengikuti gaya dan cara pakaian para gadis Tionggoan.
Siapakah dia …….?
“Haaaaa, siauw sumoy, apa …. apa maksudmu …..”? terlihat Lim
Keng Cu terkejut dan kaget dengan kedatangan gadis itu, apalagi
terutama dengan kata-kata yang baru saja diucapkan si gadis
manis barusan …..
“Accccchhhh, Su Suheng, dia …. dia juga pandai sihir, dia
menguasaiku dan kemudian membawa pergi Nyo Wangwe ……..
Nyo Wangwe sudah tidak berada di ruangan, aku baru saja
terkena sihirnya dan …… dan ……. Selanjutnya aku tidak tahu
756
apa yang terjadi”, gagap si gadis sambil menunjuk-nunjuk Thian
liong Koay Hiap dengan mimik gemas tapi wajahnyapun cantik
menggemaskan.
Kalimatnya tidak mampu diselesaikan karena Lim Keng Cu kini
memandang Koay Ji dengan pandangan marah. Tepatnya murka
……:
“Mengapa engkau begitu usil mencampuri urusan kami ……”?
“Menyihir Nyo Wangwe, menempati gedungnya, mencaplok
piauwkioknya dan mencuri semua hartanya dan
memanfaatkannya untuk mendanai gerakan busuk kalian.
Hahaha, apa engkau kira lohu akan mendiamkannya begitu saja
……”?
“Apa ….. darimana, darimana engkau tahu …….”?
“Hmmmmm, darimana aku tahu? Yaaaaaaaaa, tentu saja dari
utusan Pencabut Nyawa di Pesanggrahan keluarga Nyo. Kalian
semua mahluk-mahluk buas yang tidak tahu malu. Senang
merampok dan menyusahkan banyak orang. Dan engkau, Siu Pi
Cong, kasihan cucumu yang cantik dan cerdas itu, bahkan kawankawanmu
dari Utara, Barat dan Selatan menyesalkan
kelakuanmu yang tidak genah ikut-ikutan dengan gerakan
757
mengganggu ketentraman Kang Ouw. Kuperingatkan engkau, jika
tidak dengan segera menyesal dan memilih langkahmu, jangan
salahkan jika aku bertindak keras kepadamu. Dan kalian semua,
setelah bertemu kembali denganku maka sebagian besar dari
kalian akan menjadi orang-orang bercacat seperti saudarasaudara
pencoleng kalian yang dahulu itu …..…… dan kelak,
siapa yang selamat dari kalian, sampaikan kepada Toa Suheng
kalian yang sombong itu, aku akan datang sendiri kelak dan
mencarinya untuk memberinya pelajaran agar tahu diri di
Tionggoan ……”
Hebat kata-kata Koay Ji. Sampai kakek Siu Pi Cong sendiripun
terlihat goyah. Kaget dan wajahnya berubah memerah. Tapi,
kelihatannya memang dia memiliki kesulitannya sendiri yang sulit
untuk dikatakannya. Tetapi di pihak lain, Lim Keng Cu dan Ouw
Cih serta gadis manis yang baru saja keluar dan menjerit
memberitahu hilangnya Nyo Wangwe, terlihat terkejut dan
sebentar saja menjadi marah dengan kata-kata tajam menyengat
dari Koay Ji.
“Hmmmmm, engkau terlampau sombong Koay Hiap, apakah
engkau kira kami bertiga kakak beradik seperguruan akan
membiarkan engkau bergerak dan menindas kami seenak hatimu
758
itu …… hahahahaha, engkau hadapi kami bertiga terlebih dahulu.
Baru setelah itu engkau boleh banyak mulut ……”
“Jangankan kamu bertiga, bahkan toa suhengmu sekalipun,
bersama semua komplotan busuk yang tidak tahu malu itu akan
menerima hukuman masing-masing, biar tidak mengganas lagi di
Tionggoan ……”
“Hahahahahaha, apa yang engkau andalkan untuk menghadapi
kami bertiga atau bahkan berempat dengan Siu Pi Cong …..”?
“He mahluk sombong, urusan kita ditunda dulu, tetapi akupun
masih memiliki tugas untuk memberi mereka pelajaran atas
tindakan busuk mereka di Han Im ini …..” tiba-tiba Sie Lan In
majukan diri tidak mau kalah dengan Thian Liong Koay Hiap. Koay
Ji memandangnya sejenak dan kemudian berkata:
“Baik Nona ….. engkau hadapi Kakek dari Timur itu, dia yang
terhebat dari mereka berempat ……. biar aku bersama Kwan Kim
Ceng menghadapi sisanya …..” sengaja Koay Ji menyebut Siu Pi
Cong yang terhebat untuk mengangkat hati dan harga diri Sie Lan
In. Tetapi Nona itu memang sentiment sekali dengannya dan
terdengar dia berkata dengan suara ketus:
759
“Baik, akan kuhadapi dia ….. tapi kelak urusan kita harus
dibereskan, jangan engkau melarikan diri dan bersembunyi ……”
“Hahahahaha baik, baik Nona, meskipun sebenarnya aku tidaklah
pernah melarikan diri, atau bersembunyi, karena aku bahkan tidak
pernah pergi jauh-jauh darimu. Selalu dekat-dekat saja ….. tapi
sudahlah, sekarang kita tumbangkan dulu kesombongan mereka,
komplotan tak tahu diri ini …….” Setelah berkata demikian, Koay
Ji atau Thian Liong Koay Hiap memandang kearah Kim Ceng dan
melihat keadaannya sudah pulih kembali, diapun berkata:
“Engkaupun boleh ikut ambil bagian menumpas penjahatpenjahat
serta perampok tak tahu malu ini. Tolong awasi gadis
manis ini, Lohu sungguh risih harus menjatuhkan dan melukainya
……. Engkau yang pantas menghadapinya”
Meski sebenarnya Kim Ceng sama risihnya, tetapi sulit untuknya
mengatakan “tidak” setelah tahu ternyata adalah Thian Liong
Koay Hiap ini ternyata yang tadi sudah membantunya. Karena itu
mau tidak mau akhirnya diapun dengan amat berat hati
mengiyakan sambil berkata singkat:
“Baik Koay Hiap …….”
760
Mendengar kesanggupan Kim Ceng, Koay Ji kemudian
menghadapi Lim Keng Cu, Ouw Cih dan si gadis sumoy terkecil
dari Lim Keng Cu. Dengan suara tajam dan keras, dia kemudian
berkata kepada mereka:
“Apakah kalian mau meninggalkan tempat ini dengan baik-baik
atau harus menunggu kugebah pergi seperti anjing kudisan ….”?
Hebat akibat kata-kata Koay Ji itu. Sampai Lim Keng Cu yang
lebih strategis berpikir dan bertindaknya tak sanggup
mengendalikan diri lagi dan akhirnya membiarkan ketika Ouw Cih
akhirnya mendahului menyerang Koay Ji dengan menggunakan
ilmu andalan perguruan mereka, yakni ilmu Ang Yang Ciang
(pukulan api membara). Lengannya sudah merah membara
karena memang mengerahkan kekuatan iweekang sepenuhnya
karena sadar sedang menghadapi lawan hebat. Melihat Ouw Cih
sudah memulai pertarungan, mau tidak mau Lim Keng Cu juga
ikut menyerang, dan sekali memulai dia sudah menyerang
dengan Ilmu Lak hap im hwee (enam gabungan api dingin). Dan
seperti Ouw Cih, dia juga sudah mengerahkan tenaga Mo Hwe Bu
Kek khi Kang (Tenaga Dalam Api Iblis) hingga tujuh bagian
kekuatan iweekangnya.
761
Dalam waktu singkat Koay Ji sudah dikerubuti dua orang
berkemampuan hebat dan mencecarnya dengan pukulanpukulan
hebat ke sekujur tubuhnya. Bahkan, udara sekeliling
tubuhnya sudah panas membara melebihi panas api. Tetapi, tidak
terlihat Koay Ji merasa kepanasan dan tidak terlihat dia kerepotan
karena dia mampu bergerak gerak dengan Ilmu gerak Thian Liong
Pat Pian secara leluasa. Semua serangan kedua lawannya yang
hebat itu lewat dan berhembus begitu saja tanpa dapat mengapaapakannya.
Dia seperti dapat menebak kemana arah serangan
Lim Keng Cu maupun Ouw Cih dan dengan mudah menangkis,
mengelak atau bahkan memotong serangan tersebut. Akibatnya,
tidak ada satupun jurus serangan mereka yang membahayakan
Koay Ji, termasuk hawa panas yang kelihatannya tidak
mempengaruhi daya gerak ataupun konsentrasi kesadarannya.
Sementara itu, Kakek Siu Pi Cong sudah kembali saling serang
dengan Sie Lan In, tetapi sama seperti tarung sebelumnya,
keduanya terlihat tidak serius bertarung dan lebih banyak melirik
pertarungan di dekat mereka berdua. Sementara gadis cantik adik
seperguruan termuda Lim Keng Cu tadi, juga sudah bertarung
dan kini dilawan oleh Kwan Kim Ceng. Yang hebat ialah, diapun
ternyata berkepandaian tinggi dan mampu mengimbangi Kwan
Kim Ceng dan tidak terlihat terdesak atau kewalahan. Meski Kim
762
Ceng memang tidak serius menghadapinya, tetapi gadis itupun
kelihatannya lebih sering melirik kedua suhengnya yang sedang
mengerubuti Koay Ji. Berkali-kali dia mencoba ikut menyeberang
guna membantu kedua suhengnya, tetapi selalu dihalangi oleh
Kwan Kim Ceng.
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : ali afif ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis ABG PANL 6 ini diposting oleh ali afif pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments