Cerita Dewasa Gadis Sampul Maut Tamat Lansung

Cerita Dewasa Gadis Sampul Maut Tamat Lansung
baca juga

======


1
SAMPUL MAUT WEN WU Gunung Tay-piet-san terletak di tapal batas propinsi-propinsi An-hui, Ouw-lam dan Ho-pak. Gunung itu menjadi terkenal karena lembah Yu-leng-kok nya yang seram dan ajaib. Pada waktu badai mengamuk di malam hari, di dalam lembah tersebut seringkali tertampak sinar dari lampion (lentera kertas) merah, dan para penduduk di dekat lembah itu tak dapat menjelaskan siapakah pemilik lampion merah itu. Lebih ajaib lagi di dalam lembah itu seringkali dijumpai kerangka-kerangka manusia! Oleh karena itu Lembah Yu-leng-kok sangat ditakuti oleh para penduduk dan pemburu. Di suatu pinggir jalan kecil yang menuju ke lembah itu dan tidak jauh dari lembah tersebut berdiri satu rumah gubuk yang dibuat dari bambu, dan penghuninya adalah seorang kakek penjual arak yang sudah berusia tujuhpuluh tahun lebih, buta mata kirinya dan pincang sebelah kaki kirinya. Disamping menjual arak dan barang hidangan lain, iapun menyediakan tempat untuk orang bermalam. Diceritakan bahwa pada suatu waktu di dalam lembah itu telah terjadi peristiwa yang seram dan ganjil dua malam berturut-turut. Setelah lewat tengah malam terlihat beberapa orang menenteng
2
lampion, satu setelah yang lain, berjalan masuk ke dalam lembah tersebut dan tidak tampak mereka keluar lagi! Si kakek yang melihatnya telah menghitung dan ternyata telah ada tujuh orang yang membawa lampion masuk ke dalam itu. Pada esok harinya para pemotong kayu dan pemburu menceritakan bahwa mereka telah menjumpai tujuh mayat manusia tanpa kepala di luar lembah Yu-leng-kok itu. Dan pada hari keduanya dijumpai lagi empat mayat manusia juga tanpa kepala! Pada malam ketiga karena rasa ingin tahunya, si kakek telah sengaja tidak tidur, ia memperhatikan dari rumah gubuknya segala sesuatu yang terjadi di lembah itu. Setelah lewat tengah malam, tiba-tiba ia melihat satu bayangan hitam mendatangi dari sebelah tenggara. Bayangan itu rupanya juga menenteng satu lampion yang berbentuk pesegi dan tengah berjalan masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok! Ketika ia sedang mencurahkan perhatiannya kepada bayangan itu, ia ditegur oleh seorang tamu yang telah bermalam di rumah gubuknya sejak kemarin malam. „Ada apa lagi, kakek Ouw?” tegur, tamu yang masih muda itu. Si kakek berbalik, dan sambil bersenyum ia menjawab. „Eh Tuan Hing, kau belum tidur? Aku ini Ouw Lo Si telah membuka warung arak di sini selama lima tahun. Selama lima tahun. ini, pada tiap-tiap tanggal sepuluh sampai tanggal limabelas bulan tujuh, aku senantiasa menemui mayat kawan-kawan dari dunia Kang-ouw. Tahun ini rupanya lebih aneh lagi.
3
Hari ini baru saja tanggal duabelas bulan tujuh, akan tetapi yang menenteng lampion berbentuk delapan pesegi dan masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok itu sudah ada duabelas orang! Tuan Hing, aku melihat tuan bermuram durja saja selama sehari semalam ini, dan bersikap gelisah sekali. Apakah kedatangan Tuan ke sini juga ingin menyelidiki lembah Yu-leng-kok yang ajaib itu?” Tamu yang muda itu berusia lebih kurang sembilanbelas tahun, berparas tampan dan tegap pengawakannya. Tetapi ketika itu ia bermuram dan tampaknya iapun memperhatikan juga segala sesuatu yang terjadi di lembah Yu-leng-kok di depannya itu. Iapun telah melihat bayangan hitam yang sedang menenteng lampion dan berjalan masuk ke dalam lembah itu. Pertanyaan si kakek hanya membikin ia menarik napas. Lalu sambil mengerutkan keningnya ia berkata. „Kakek Ouw, tak perlu kita memperbincangkan soal itu. Ayo, keluarkan lagi dendeng daging sapi dan sebotol arak. Aku mengundang kau minum!” Si kakek melihat lagi ke arah lembah dan kini terlihat olehnya cahaya dari dua lampion bergerak menuju ke lembah itu. Ia menggeram. „Ditambah dengan dua itu sudah menjadi limabelas! Memang betul, lebih baik kita minum arak dari pada menghiraukan itu! Mereka yang menenteng lampion-lampion itu semuanya orang-orang bodoh! Mereka tak datang ke warungku untuk minum arak dulu. Besok pasti mereka sudah menjadi mayat!” Lalu ia mengambil dendeng sapi serta sebotol arak dan duduk menyertai pemuda itu.
4
„Tuan Hing, kau telah menghamburkan banyak uang membeli arak dan hidanganku. Nah, dendeng daging sapi dan sebotol arak ini aku yang menyuguhkan,” kata si kakek sambil tertawa lebar. Pemuda itu bersenyum, ia mengeluarkan dari sakunya sepotong mas yang beratnya sepuluh tail (kira-kira empatratus gram). Sambil menatap si kakek ia berkata. „Kakek Ouw, kau telah menebak jitu. Selambat-lambatnya tanggal limabelas bulan tujuh ini, akupun ingin masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok itu. Dan akupun tidak dapat mengetahui bagaimana nasibku nanti. Mungkin juga nasibku akan serupa dengan nasib mereka yang harus mati kemudian tulang-tulangku berserakan di kaki gunung Tay-piet-san ini! Sepotong mas ini aku berikan dengan rela kepada kakek Ouw, agar kakek Ouw dapat pindah dan mencari penghidupan di kota, dan tak usah tinggal berdiam di tempat yang terpencil ini.” Si kakek menatap potongan mas yang berkilap-kilap itu, lalu ia tampaknya kaget sekali waktu melihat cincin besi di telunjuk tangan kanan pemuda itu. Sambil menerima potongan mas itu ia berkata. „Tuan Hing baik sekali, terima kasih untuk pemberian ini. Tetapi mengapa kau ingin masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok yang berbahaya itu?” Si pemuda tertawa getir, tetapi tak menyahut. „Tuan Hing, cincin besi itu bagus sekali. Dimanakah kau membelinya?” tanya si kakek sambil menunjuk ke jari telunjuk kanan si pemuda.
5
Si pemuda sambil memandang ke arah lembah lalu menyahut. „Cincin ini adalah cincin pusaka!!” Setelah minum secangkir arak si kakek berkata lagi sambil tertawa. „Tuan Hing, meskipun usiamu masih muda, tetapi aku rasa kau telah lama berkecimpungan di kalangan Kang-ouw, dan aku yakin kau sebetulnya bukan dari keluarga Hing!” Si pemuda menundukkan kepalanya dan tidak menyahut. „Aku Ouw Lo Si telah mengalami segala sesuatu di kalangan Kang-ouw. Mataku yang kiri ini telah dibikin buta oleh musuh-musuhku. Setelah kaki kiriku dibikin pincang, aku baru mengundurkan diri dari kalangan Kang-ouw. Betul ilmu silatku tidak lihay, tetapi pengalamanku banyak sekali. Cincin besi di telunjuk tangan kananmu itu, jika aku tidak salah lihat, adalah senjata ampuh dari Wei Tan Wi Tay-hiap yang terkenal sebagai Hu-hoan-tie-kiam Ceng-tiong-cou, Cincin terbang pedang ajaib yang menggetarkan daerah tengah. Setelah melihat cincin itu aku segera dapat mengambil kesimpulan bahwa kau pastilah bukan dari keluarga Hing!” Mendengar ucapan itu si pemuda terkejut. Ia segera berdiri tegak, tetapi pelahan-lahan lalu duduk kembali seolah-olah mengingat sesuatu, dan sambil menghela napas ia menyahut. „Kakek Ouw telah menebak jitu. Aku tak dapat menutup rahasia lagi. Memang sebenarnya aku ini putera tunggal Wei Tan Wi, namaku Wei Beng Yan. Sebelum ayahku menutup mata, beliau telah mewariskan cincin baja ini......”
6
„Kapan Wei Tay-hiap meninggal dunia??” Ouw Lo Si mendahului menanya si pemuda dengan gugup dan matanya yang tinggal sebelah terbelalak. Ditanya demikian Wei Beng Yan tak lagi dapat menahan air matanya dan menyahut dengan suara dalam. „Tiga bulan berselang!” Ouw Lo Si menatap wajah si pemuda dengan tajam, seolah-olah tidak percaya akan kata-kata pemuda itu, sesaat lamanya baru ia berkata lagi. „Mendengar nada Wei Lotee, aku yakin bahwa Wei Tay-hiap tidak mati dengan wajar......” Dengan suara gusar Wei Beng Yan menyahut. „Ya! Kematiannya membuat aku sangat penasaran!” Ouw Lo Si menanya lagi. „Siapakah musuhnya yang demikian lihay? Dengan ilmu silatnya yang maha tinggi itu, aku yakin tidak sembarang orang dapat mengalahkannya apalagi membunuhnya......” Wei Beng Yan menyahut. „Tentu saja musuh-musuh ayahku bukan jago-jago silat kemarin dulu. Mereka adalah Eu-yong Lo-koay (iblis gila) dari pegunungan Kun-lun dan Soat-hay-siang-hiong (dua iblis yang haus darah) dari pegunungan Pek-thian yang telah bergabung dan menghantam ayah. Dengan pedang Ku-tie-kiam, ayah dapat menerobos keluar dari kepungan jahanam itu, tetapi karena beliau terkena racun Hian-peng-tok-bong dari senjata Soat-
7
hay-siang-hiong, maka beliau akhirnya tak dapat menahan racun tersebut yang membakar jantungnya!” „Eu-yong Lo-koay dari pegunungan Kun-lun dan Soat-hay-siang-hiong dari pegunungan Pek-thian adalah jago-jago silat yang sangat keji di kalangan Kang-ouw!” berkata Ouw Lo Si dengan beringas. „Jago-jago silat yang kepalang tanggung kepandaiannya sudah menjadi makanan yang empuk bagi mereka. Apakah Wei Lootee datang ke sini ingin menjumpai penghuni lembah Yu-leng-kok itu?” Wei Beng Yan berpikir sejenak sebelum menyahut. „Betul. Aku mohon Locianpwee dapat memberikan keterangan-keterangan dan petunjuk-petunjuk kepadaku.” Setelah minum dua cangkir arak si kakek berkata. „Karena Wei Lotee berlaku terus terang, maka akupun harus berterus terang pula. Setelah tinggal berdiam di sini sambil menjual arak dan hidangan selama lima tahun, aku yakin aku mengetahui juga tabiat penghuni lembah itu. Justru cincin baja di jari telunjuk tangan kanan Lotee itulah erat sekali hubungannya dengan penghuni lembah Yu-leng-kok! Tetapi selama sepuluh tahun ini, karena suatu urusan yang menyayatkan hatinya, maka penghuni lembah itu telah berubah menjadi seorang yang aneh wataknya. Aku khawatir tanpa mananyakan riwayat cincin baja itu, kau pasti menjadi korban dari Thay-yang-sin-jiauw (cakaran sakti) penghuni itu!” Wei Beng Yan mengkerutkan keningnya dan menanya lagi. „Apakah aku harus masuk ke dalam lembah itu dengan menenteng
8
lampion juga pada tanggal sepuluh sampai tanggal limabelas bulan tujuh nanti?” Ouw Lo Si mengangguk. „Betul. Kau harus masuk dengan menenteng lampion pada waktu tersebut. Tetapi...... selama beberapa tahun ini, orang-orang yang masuk ke dalam lembah itu, meskipun mereka masuk dengan menenteng lampion, namun tidak urung mereka tokh telah menjadi mayat-mayat juga! Mereka seolah-olah menenteng lampion maut!” „Lampion yang bagaimana bentuknya yang aku harus bawa.....?” menanya Wei Beng Yan. Sambil mengangguk-angguk si kakek berkata. „Aku bukan saja mengetahui lampion yang bagaimana bentuk dan warnanya yang disukai oleh penghuni lembah itu, tetapi akupun dapat membuat lampion yang pasti disukai olehnya! Maukan aku membuatkan satu untukmu?” Wei Beng Yan girang bukan main mendengar si kakek mengajukan pertolongan, ia berdiri tegak, mengangkat kedua tangannya memberi hormat dan berkata. „Terima kasih atas kerelaan hati Locianpwee.” Si kakek meneruskan. „Aku ini seorang dagang dan seorang pedagang tentu selalu mengharapkan keuntungan bukan? Aku......” „Sebutkanlah upah yang Locianpwee minta, jika aku dapat membalas dendam ayahku yang telah dibunuh, aku berjanji akan
9
memenuhi segala permintaanmu!” kata Wei Beng Yan dengan bernapsu tanpa menunggu kata-kata si kakek selanjutnya. Sambil bersenyum Ouw Lo Si berkata dengan tenang. „Jika lotee ingin juga masuk ke dalam lembah itu, aku akan berikan petunjuk-petunjuk dan aku hanya minta kau berijanji melaksanakan pesanku. Akan kuberikan kepadamu tiga sampul surat. Setelah kau, atas petunjuk-petunjukku, berhasil masuk dan belajar ilmu sakti dari orang aneh penghuni lembah Yu-leng-kok itu dan setelah mahir tentu akan dapat dengan mudah saja melaksanakan maksud membalas dendam ayahmu, dan setiap kali kau berhasil membunuh mati Eu-yong Lo-koay dari pegunungan Kun-lun dan kedua iblis Soat-hay-siang-hiong dari pegunungan Pek-thian, kau harus buka satu sampul suratku, dan laksanakan segala sesuatu yang tertera di dalam surat itu. Sanggupkah kau terima syarat-syaratku ini?” „Aku harus melaksanakan itu setelah aku berhasil membunuh mati musuh-musuh ayahku,” pikir Wei Beng Yan, „itu tak sukar dilaksanakan,” maka ia mengangguk menyatakan setujunya. Setelah memperoleh kesanggupan si pemuda, Ouw Lo Si bersenyum lagi. Lalu ia mengajak Wei Beng Yan masuk tidur. Pada keesokan harinya, di luar lembah orang menjumpai lagi lima mayat-mayat! Setelah bersantap, Ouw Lo Si mulai membuat lampion yang sangat sederhana berwarna merah. Wei Beng Yan juga telah menghitung bahwa pada malam-malam tanggal sepuluh, sebelas, dan duabelas, tiga malam berturut-turut di bulan tujuh itu, orang-orang
10
yang masuk ke dalam lembah itu telah menenteng lampion-lampion yang bercorak ragam, tetapi mereka semua yang berjumlah enambelas orang telah menjadi mayat-mayat. Lalu ia menanya. „Ouw Locianpwee, apakah kau yakin betul bahwa penghuni lembah Yu-leng-kok itu menyukai lampion yang sederhana ini?” Ouw Lo Si mengangguk, sambil bersenyum ia lalu menyahut. „Jangan khawatir, kau pasti berhasil masuk ke dalam lembah dalam keadaan hidup! Kau harus masuk ke dalam lembah itu ketika hujan rintik-rintik, dan sambil menenteng lampion merah yang sederhana ini, pelahan-lahan berjalan masuk ke dalam lembah. Lagi pula kau harus menyanyi suatu lagu yang sedih agar tak membikin penghuni lembah itu menjadi uring-uringan. Dengan mempersembahkan cincin baja itu kepadanya, aku yakin penghuni itu akan rela mengajari kau ilmu silatnya yang maha tinggi!” Setelah lampion merah itu selesai dibuat, si kakek sambil bersenyum menulis dua huruf „Cap Ni” Sepuluh Tahun di atas kertas lampion itu. Wie Beng Yan sudah tidak meragu-ragukan lagi ketulusan hati si kakek untuk menolong dirinya, tetapi ia masih tetap khawatir jika nanti pada malam tanggal duabelas, empatbelas dan limabelas tidak turun hujan! Itu berarti ia harus menanti lagi sampai lain tahun
11
bulan tujuh untuk melaksanakan maksudnya mencari ilmu sakti dari penghuni lembah yang aneh itu. Ouw Lo Si yang berpengalaman rupanya dapat membaca isi hati Wei Beng Yan. Maka ia tertawa gelak-gelak seraya berkata. „Wei Lotee tak usah menjadi gelisah. Pepatah kuno menyatakan bahwa orang yang tinggal di dekat pegunungan mengetahui sifat burung-burung dan orang yang tinggal di dekat sungai mengetahut sifat ikan-ikan. Aku telah tinggal di pegunungan Tay-piet-san ini banyak tahun. maka dengan sendirinya aku dapat mengetahui perubahan cuaca di daerah sekitar sini. Kemarin lohor aku lihat pelangi di sebelah barat daya, dan aku berani memastikan bahwa malam ini akan turun hujan......” Ucapan yang penuh keyakinan itu telah menenangkan hati Wei Beng Yan. Lalu Ouw Lo Si masuk ke dalam kamarnya untuk menulis tiga pucuk surat yang kemudian ditutup baik-baik di dalam tiga sampul. Angin barat meniup sepoi-sepoi, dan setelah mendekati tengah malam, betul saja hujan turun rintik-rintik. Hati Wei Beng Yan berdebar-debar menyaksikan keadaan yang tepat benar sebagaimana telah dikatakan oleh si kakek pincang itu. Tiba-tiba Ouw Lo Si menanya sambil bersenyum. „Wei Lotee, pedang Ku-tie-kiam ayahmu mengapa tidak kau bawa......?” Pertanyaan itu membikin Wei Beng Yan menjadi merah mukanya, „Aku datang kesini dengan maksud masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok mencari ilmu. Aku tak mengetahui bagaimana nasibku
12
nanti. Oleh karena itu aku telah menitipkan pedang itu kepada seorang kawan karibku,” katanya dengan gugup. Ouw Lo Si mengangguk. Lalu menanti sampai waktu lewat tengah malam. Ia menulis nomor urut di atas ketiga sampul suratnya sebelum diserahkan kepada Wei Beng Yan seraya barkata. „Wei Lotee, di kalangan Kang-ouw, ‘janji’ seseorang adalah ‘benda’ yang sangat berharga. Aku dapat melihat bahwa kau adalah seorang muda yang berbakat baik sekali. Jika kau berhasil diterima oleh penghuni lembah itu, maka dengan ketekunan, keuletan dan perhatian penuh, dalam jangka waktu lebih kurang dua tahun, kau pasti berhasil mempelajari ilmu silatnya yang maha tinggi. Kemudian kaudapat membalas dendam ayahmu. Tetapi aku minta kau jangan lupakan janjimu kepadaku tentang tiga pucuk surat ini. Tiap-tiap kau berhasil membunuh Eu-yong Lo-koay dan kedua iblis Soat-hay-siang-hiong dari pegunungan Pek-thian......” „Aku harus buka satu sampul suratmu dan laksanakan segala sesuatu yang tertera di dalam surat itu!” Wei Beng Yan meneruskan kata-kata Ouw Lo Si yang belum habis diucapkan itu. „Bagus!” Ouw Lo Si memuji. „Tidak kecewa Wei Tan Wi Tay-hiap mempunyai seorang putera sebagaimu......!” Dengan ikhmat dan tenang Wei Beng Yan, menyahut. „Lo-cianpwee telah menolong banyak kepadaku. Budi yang hesar itu tak dapat kulupakan, dan aku bukan seorang laki-laki jika aku mengingkari janjiku!”
13
Sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya Ouw Lo Si berkata. „Itulah yang aku harapkan. Aku lihat sudah masuk empat orang yang menenteng lampion ke dalam lembah itu. Di waktu hujan turun rintik-rintik ini adalah kesempatan terbaik untuk kau masuk ke dalam lembah. Aku mendoakan agar Lotee dapat masuk dan keluar dari lembah Yu-leng-kok itu dengan selamat dan tidak kurang sesuatu apapun! Nah, terimalah lampion ini dan sampai kita bertemu lagi dua tahun yang akan datang......!” Wei Beng Yan menerima lampion yang disodorkan si kakek lalu dia memberi hormat kepadanya dan berjalan keluar dari rumah gubuk itu menuju ke mulut lembah Yu-leng-kok. Ketika hampir tiba di pinggir lembah itu, ia membaui darah yang amis sekali dari empat mayat manusia yang pada menit-menit yang lalu masih merupakan manusia segar bugar! Ia mengkirik melihat mayat-mayat itu, namun dengan keteguhan hati ia berjalan terus. Iapun tak lupakan pesan si kakek pincang untuk bernyanyi sedih ketika mulai memasuki lembah maut itu. „Di dalam dunia yang besar dan luas ini, Nasib manusia bersaling ganti, Suka-ria atau duka cita, Tak dapat diminta menurut kehendak kita!” Demikian ia bernyanyi terus menerus tanpa mengetahui jika Ouw Lo Si mengikutinya dari belakang. Si kakek juga melihat empat mayat-mayat di pinggir lembah itu, dan dengan gesit ia lari kembali ke rumah gubuknya. ◄Y►
14
Setelah minum secangkir arak, Ouw Lo Si melihat ke arah lembah Yu-leng-kok lagi dan masih dapat melihat cahaya dari lampion merah yang ditenteng Wei Beng Yan dalam suasana yang gelap itu. „Baru kali ini aku dapat manyaksikan cahaya dari lampion merah tergantung di......” kata Ouw Lo Si kepada dirinya sendiri, tetapi belum lagi selesai ia mengeluarkan isi hatinya, dengan tiba-tiba ia menggeram dan keremuk cangkir arak di dalam tangannya, lalu dengan ilmu To-sai-ban-thian-sing (Menyebar bintang di angkasa) ia menyambit pecahan cangkir arak keluar jendela sambil membentak dengan gusar. „Siapa yang begitu kurang ajar mengganggu aku di malam buta begini?!” Bentakan itu dijawab dengan suara tertawa, dan sekejap kemudian, dari jendela yang terbuka meloncat masuk cepat laksana kilat, seorang yang berpengawakan kurus, berusia lebih kurang limapuluh tahun dan bersenjata sepasang gaitan baja. Setelah berada di dalam, sambil mengangkat kedua tangannya memberikan hormat, orang itu berkata. „Ouw Si-ko! Meskipun sudah lewat sepuluh tahun, akan tetapi ternyata ilmu To-sai-ban-thian-sing mu itu masih tetap lihay seperti waktu-waktu yang lampau! Jika aku tidak waspada, akupun takkan luput dilukai oleh pecahan cangkir arak yang kau sambitkan tadi!” Ouw Lo Si segera mengenali bahwa orang itu adalah kawan akrabnya yang bernama Khouw Kong Hu dengan julukan Sin-kou-tie-ciang (Gaitan ajaib tinju baja).
15
„Khouw Hiantee, angin apakah yang telah meniup kau ke sini?” tanyanya sambil tertawa berkakakan. Dengan nada yang ikhmat Khouw Kong Hu menanya. „Ouw Si-ko, apakah kau telah mengetahui bahwa Tong-coan-sam-ok (Jahanam-jahanam dari daerah timur) telah memperoleh mustika milik Thian-hiang-sian-cu dan segera mereka akan datang dan masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok?” Si kakek dengan tenang-tenang saja menyahut. „Tong-coan-sam-ok telah memperoleh mustika milik Thian-hiang-sian-cu dengan susah payah. Tetapi Khouw Hiantee, kau dapat melihat dengan mata sendiri bahwa mereka telah datang sedikit terlambat! Lembah Yu-leng-kok sudah tertutup. Jika jahanam-jahanam itu masih juga berani masuk ke dalam lembah itu, aku yakin bahwa mereka kelak akan menjadi mayat-mayat tanpa kepala!” Setelah berhenti sejenak lalu meneruskan. „Khouw Hiantee, aku telah dapat suatu akal untuk membasmi jahanam itu yang aku sangat benci. Meskipun mereka telah berhasil memperoleh mustika milik Thian-hiang-sian-cu dan telah datang dari tempat yang jauh, namun mereka semua akan mati konyol dibunuh oleh Thay-yang-sin-jiauw (Cakaran sakti}.” Lalu sambil mengajak Khouw Kong Hu ia loncat keluar untuk pergi ke mulut lembah Yu-leng-kok. Khouw Kong Hu tidak mengerti maksud Ouw Lo Si tetapi mengikuti juga jejak si kakek. Ketika sudah tiba dekat Lembah, si kakek berbisik di telinganya. „Khouw Hiantee, kita harus masuk ke dalam lembah itu dengan waspada. Jika kita sudah berada di mulut
16
lembah, maka kau harus menggunakan ilmu Bo-hong-yan-bie-tin (Jarum terbang) untuk memadamkan lilin dari lampion merah yang terlihat tergantung itu!” sambil menunjuk lampion yang tergantung di dalam lembah. Khouw Kong Hu sudah mengetahui arti daripada lampion yang tergantung itu. Artinya lembah itu sudah tertutup, dan barang siapa berani masuk tentu akan dibunuh oleh penghuni lembah itu! Ouw Lo Si telah menyuruh adik angkatnya memadamkan lilin dari lampion yang tergantung itu dengan maksud membiarkan ketiga jahanam-jahanam Tong-coan-sam-ok masuk ke dalam lembah tanpa mengetahui bahwa lembah itu telah tertutup, dan akhirnya akan dibunuh mati oleh penghuni lembah itu, meskipun mereka telah datang untuk menyerahkan mustika milik Thian-hiang-sian-cu, yang sangat dicintai oleh si penghuni lembah! Khouw Kong Hu mengangguk dan mengeluarkan tiga batang jarum dari sakunya, lalu dengan ilmu Bo-hong-yan-bie-tin ia melontarkan jarum-jarum tersebut ke arah lampion yang terlihat tergantung, dan secepat kilat lilin lampion tersebut padam diterjang senjata ampuh si gaitan ajaib tinju baja! Tak lama kemudian terlihat di jalan pegunungan yang menuju ke lembah itu, cahaya dari tiga lampion merah yang bergerak-gerak. Khouw Kong Hu dan Ouw Lo Si lekas-lekas meloncat ke atas satu pohon besar dan berdiri di atas satu dahan untuk bersembunyi sambil menantikan terjadinya sesuatu yang seram! Tiga orang yang mendatangi itu sangat pesat larinya, dan sekejapan saja sudah tiba di pinggir lembah. Mereka adalah ketiga
17
jahanam Tong-coan-sam-ok yang berpengawakan kurus dan menenteng lampion-lampion merah. Satu persatu mereka masuk ke dalam lembah, dan sejenak kemudian dari dalam lembah terdengar jeritan yang memiluhkan hati, dan kemudian terlihat tiga bayangan hitam terlempar keluar dari dalam lembah itu! Tiga bayangan hitam yang terlempar itu adalah bangkai-bangkai manusia yang sudah tercakar tak keruan rupanya! Khouw Kong Hu ingin segera meloncat turun dari pohon, tetapi ditahan oleh Ouw Lo Si. Betul saja dari dalam lembah meloncat keluar satu bayangan hitam yang menenteng lampion merah. Bayangan hitam itu berlari-lari mengitari mayat-mayat tadi lalu lari masuk ke dalam lembah lagi! Setelah lewat kira-kira lima menit, Ouw Lo Si meloncat turun dari pohon, lalu menghampiri mayat-mayat ketiga jahanam-jahanam itu, dan setelah menggeledah ia dapati satu selubung kuningan dan satu kotak kecil dari batu giok dari tubuh mayat-mayat itu. Ketika itu sudah jam lima pagi, dan hujan pun sudah berhenti. Setelah suasana mulai menjadi terang, maka di pinggir jurang yang merupakan pintu masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok yang sempit itu terlihat delapan huruf yang digores oleh seorang yang pasti memiliki ilmu silat yang sakti sekali. Adapun delapan huruf itu berbunyi. „Lembah ini sudah tertutup. Barang siapa lancang masuk, tentu mati!”
18
„Setelah melihat delapan huruf tersebut, Ouw Lo Si bersenyum, lalu mengajak Khouw Kong Hu kembali ke rumah gubuknya. „Ouw Si-ko,” kata si saudara angkat sambil menyertai kakak angkatnya berjalan pulang. „Aku tidak heran jika kau sangat gembira meskipun kau tidak tidur semalam suntuk. Tanpa turun tangan, kau telah berhasil membunuh mati ketiga jahanam Tong-coan-sam-ok yang kau sangat benci, dan sekaligus kau telah memperoleh mustika milik Thian-hiang-sian-cu......” Ouw Lo Si hanya bersenyum, dan setelah mereka tiba kembali di rumah gubuk, segera menyiapkan minuman dan hidangan untuk kawan akrabnya itu. Sambil makan dan minum Ouw Lo Si lalu mulai percakapannya. „Khouw Hiantee, kau telah tebak jitu kegembiraanku. Tetapi aku menjadi gembira bukan karena hasil yang kau telah sebutkan tadi. Masih ada dua urusan yang membikin aku sangat gembira. Apakah kau dapat menebak?” Khouw Kong Hu berusaha memikir dan menebak, tetapi akhirnya ia menggeleng-geleng kepala seraya menyahut. „Ouw Si-ko terkenal sebagai Tie-san-sai-cu-kat (Ahli nujum dengan kipas baja). Urusan yang menggembirakan aku tak dapat menebaknya!” „Urusan pertama kau dapat tebak dengan mudah. Aku tinggal berdiam di pegunungan ini sudah hampir sepuluh tahun, kini aku telah menjumpai kawan akrabku, bukankah itu menggembirakan?” kata si kakek.
19
„Urusan kedua agak rumit. Hiantee mungkin masih ingat akan mataku yang kiri dan betis kiriku yang telah menjadi cacat ini.” Khouw Kong Hu minum habis secangkir arak, lalu menatap Ouw Lo Si dan mengenangkan peristiwa-peristiwa yang lampau ketika si kakek itu menggetarkan dunia Kang-ouw. „Ouw Si-ko,” katanya, „Kita berkawan sangat akrabnya. Peristiwa-peristiwa yang lampau tak mudah aku lupakan. Mata kirimu telah dibikin buta oleh ketiga jahanam Tong-coan-sam-ok, yang menyambit dengan abu kapur ke arah kedua matamu! Betis kirimu telah dibikin cacad oleh Hu-hoan-tie-kiam Ceng-tiong-cou (Cincin terbang pedang ajaib yang menggetarkan daerah tengah) Wei Tan Wi dengan pedang Ku-tie-kiam nya!” Mengingat peristiwa-peristiwa yang lampau itu, Ouw Lo Si merasa masgul. Ia menarik napas panjang menyatakan kekecewaannya. „Khouw Hiantee,” kata si kakek „Apakah kau dapat mengetahui mengapa di mulut lembah Yu-leng-kok telah digantungkan lampion merah?” Khouw Kong Hu mengangguk. „Soal ini aku juga telah mengetahui,” kata Khouw Kong Hu. „Penghuni lembah Yu-leng-kok itu sangat ganjil wataknya. Semenjak istrinya, Thian-hiang-sian-cu yang sangat ia sayang jatuh sakit pada tanggal sepuluh bulan tujuh sepuluh tahun yang lalu, dan meninggal dunia setelah menderita sakit hanya selama enam hari, ia telah menjadi demikian sedihnya sehingga ia tak ingin hidup lagi!”
20
Khouw Kong Hu berhenti sejenak untuk mengeringkan isi cangkirnya, setelah itu ia melanjutkan lagi. „Tetapi berhubung ilmu silatnya yang sakti belum dapat ia wariskan kepada orang lain, maka ia telah tinggal terpencil di dalam lembah itu sambil menanti-nanti orang yang dapat ia wariskan ilmunya itu. Sekarang terlihat tergantung satu lampion merah, bukankah tanda itu menyatakan bahwa dia telah menjumpai seorang murid?” Ouw Lo Si mendengari penuturan itu sambil mengangguk-angguk „Hiantee telah menuturkan dengan betul,” kata si kakek. „Dan....., setelah usaha tersebut selesai dilaksanakan, iapun akan menyusul istri kesayangannya di alam baka!” Khouw Kong Hu menyengir mendengar kata-kata itu, yang dianggapnya bodoh. „Bodoh! Mengapa orang yang hidup harus mengikuti jejak orang yang sudah mati!” katanya. Tampak si kakek pun turut tersenyum menyaksikan saudara angkatnya itu, yang tidak mengenal urusan asmara. „Apakah kau tahu bahwa murid yang telah dijumpainya itu adalah orang yang aku telah berikan petunjuk-petunjuk cara masuknya ke dalam lembah?” kata si kakek. „Dan orang itu adalah putera satu-satunya Wei Tan Wi, orang yang telah membikin cacad betis kiriku!”
21
Khouw Kong Hu terperanjat mendengar penjelasan itu. „Aku tak dapat mengerti akan tindakan Si-ko itu. Ketika jahanam Teng-coan-sam-ok yang telah membikin buta mata kirimu telah mati konyol di luar lembah Yu-leng-kok karena tipu muslihatmu. Tetapi kau telah membantu puteranya orang yang membikin kakimu pincang sebelah, agar pemuda itu dapat menjadi ahli waris ilmu silat yang sakti! Sebetulnya, bagaimana maksudmu?” tanya Khouw Kong Hu dengan heran. Dengan nada yang agak keras Ouw Lo Si menyahut. „Ketiga jahanam Tong-coan-sam-ok adalah jago-jago silat yang jahat dan busuk,” kata si kakek sambil mementang matanya yang tinggal sebelah. „Mereka telah mati konyol dan akupun merasa puas! Tetapi Wei Tan Wi Tay-hiap yang telah binasa dibokong oleh Eu-yong Lo-koay dan kedua iblis Soat-hay-siang-hiong adalah seorang jago silat yang luhur. Aku tak dapat membalas dendam terhadap puteranya. Aku hanya dapat membikin pembalasan dengan cara yang lain, yalah yang lebih bijaksana!” Lalu ia menceritakan peristiwa tiga pucuk surat yang diberikan kepada Wei Beng Yan sebelum pemuda itu masuk ke dalam lembah. Khouw Kong Hu menjadi ternganga setelah mendengar bisikan si kakek.
22
„Jika aku tidak membunuh putera Wei Tan Wi, aku senantiasa merasa kecewa melihat betis kiriku yang pincang ini,” Ouw Lo Si melanjutkan. „Tetapi jika aku membunuhnya juga, aku pasti akan dicaci maki oleh orang-orang di kalangan Kang-ouw. Maka aku telah mengambil keputusan dan bertekad membantu putera musuhku agar dia dapat mempelajari ilmu silat dan dapat membalas dendam ayahnya dengan syarat. Setiap kali ia berhasil membunuh musuh-musuh ayahnya yaitu Eu-yong lo-koay dan kedua iblis Soat-hay-siang-hiong, dia harus membuka satu sampul suratku,” berkata sampai di sini Ouw Lo Si berhenti untuk memperhatikan sikap Khouw Kong Hu yang tengah tersenyum simpul mengetahui siasat si kakek yang penuh dengan akal bulus itu. „Setelah Wei Beng Yan berhasil membunuh mati jahanam-jahanam itu, akupun turut berjasa dalam dunia Kang-ouw, karena dengan rencanaku, ketiga iblis yang kejam dan jahat itu habis terbasmi. Disamping itu, akupun dapat memulihkan namaku yang tercemar karena telah dipencundangi oleh Wei Tan Wi. Coba pikir, apakah itu bukan suatu rencana yang baik sekali?” tanya si kakek sambil tertawa lebar. Khouw Kong Hu menunjukan ibu jarinya sambil memuji. „Ouw Si-ko, julukan Tie-san-sai-cu-kat tidaklah kecewa orang telah berikan kepadamu!” „Tetapi apakah senjatamu Cit-kauw-tie-san, masih tetap ampuh seperti sediakala?” tanyanya lagi.
23
Ouw Lo Si masih terus tertawa gelak-gelak. Dari saku dibalik jubahnya ia keluarkan satu kipas baja yang dapat dilipat. Lalu ia berkata dengan bangga. „Aku telah dipecundangi Wei Tan Wi dengan pedang Ku-tie-kiam nya dan dianiaya oleh ketiga iblis Tong-coan-sam-ok, tetapi...... semenjak itu aku jadi tambah giat berlatih, dengan senjata Cit-kauw-tie-san ini aku yakin dapat menggempur jago silat yang manapun!” “Akupun yakin bahwa Ouw Si-ko takkan merasa puas jika tidak memulihkan nama. Maka aku ingin memberitahukan satu rahasia dari kalangan Bu-lim kepada Si-ko,” kata Khouw Kong Hu dengan wajah sungguh-sungguh. „O...... Khouw Hiantee datang ke sini dengan suatu maksud.......” kata si kakek. „Mengapa tidak segera menyatakan maksud itu?” Khouw Kong Hu menggeleng-gelengkan kepalanya. „Ouw Si-ko jangan terburu napsu!” katanya. „Rahasia ini berkenaan dengan mustika Thian-hiang-sian-cu, Cu-gan-tan (Pil remaja) dan Tok-beng-oey-hong (Tawon merenggut jiwa) telah diperoleh Tong-coan-sam-ok dan kini berada di tanganmu. Tetapi Ciam-hua-giok-siu (Sarung tangan sakti merenggut jiwa) berada di tangan Kong-ya Coat, si dewa sakti!” Bukan main terkejutnya Ouw Lo Si mendengar berita itu, sehingga ia berseru.
24
„Hai! Tanpa Ciam-hua-giok-siu, Kong-ya Coat sudah merupakan satu lawan yang berat. Apalagi dengan senjata yang ampuh itu......, hai......” Khouw Kong Hu tampaknya putus asa mendengar ucapan kakak angkatnya itu. „Kong-ya Coat itu sangat congkak dan tamak sifatnya, dan ingin memiliki semua mustika milik Thian-hiang-sian-cu! Ia telah mengundang Tong-coan-sam-ok untuk datang ke tempatnya pada pertengahan musim gugur untuk turut serta dalam pertemuan para jago silat, dan kemudian bermaksud merebut mustika Cu-gan-tan dan Tok-beng-oey-hong sehingga ia dapat memiliki ketiga mustika itu dan menjagoi di kalangan Kang-ouw!” Ouw Lo Si menjadi heran mendengar keterangan itu. „Tetapi mengapa Tong-coan-sam-ok membawa kedua mustika Thian-hiang-sian-cu itu ke lembah Yu-leng-kok di pegunungan Tay-piet-san ini?” tanya si kakek. „Itu mudah dimengerti,” sahut Kouw Kong Hu. „Tong-coan-sam-ok yakin betul bahwa mereka tak dapat melawan Kong-ya Coat. Jika menolak undangan tersebut, mereka tentu diejek oleh jago-jago silat lain. Lagipula hilangnya mustika Thian-hiang-sian-cu pasti takkan ditinggal diam begitu saja oleh penghuni lembah Yu-leng-kok itu,” sambil menunjuk ke arah lembah. Ouw Lo Si yang mendengari dengan penuh perhatian mendongak sambil manggut-manggut.
25
„Dari pada dihajar, ketiga jahanam itu telah mengambil keputusan untuk mengembalikan kedua mustika itu kepada si penghuni lembah,” kata lagi Khouw Kong Hu. „Mungkin saja mereka dapat pertolongan dari jasa mereka itu!” „Jadi kedatangan Khouw Hiantee ke tempatku ini dengan maksud mengajak aku pergi ke tempat Kong-ya Coat untuk mengadu silat melawan para jago silat yang telah diundangnya itu?” si kakek menanya lagi. Khouw Kong Hu mengangguk, dan berkata lebih lanjut. „Setelah kita tiba di tempat itu, kita dapat mengumumkan bahwa ketiga jahanam Tong-coan-sam-ok telah binasa di tangan penghuni lembah Yu-leng-kok, dan mustika Cu-gan-tan dan Tok-beng-oey-hong telah dikembalikan kepada pemilik asalnya. Dengan demikian para jago silat akan memperhatikan mustika Ciam-hua-giok-siu yang berada dalam tangan Kong-ya Coat!” Ouw Lo Si tampaknya sangat tertarik oleh keterangan-keterangan Khow Kong Hu. „Nanti dalam suasana yang pasti akan panas itu, kita berdua dapat mencari kesempatan untuk merebut mustika itu. Lagi pula lampion merah yang tergantung di mulut lembah telah menyatakan bahwa penghuninya takkan keluar lagi dari lembah itu. Jika ke tiga mustika itu sudah berada dalam tangan kita, Si-ko dapat menjagoi lagi di kalangan Bu-lim!” DUA
26
Ouw Lo Si, si ahli nujum kipas baja, betul-betul terbujuk oleh kata-kata Khouw Kong Hu itu. Tiba-tiba ia mengeluarkan kipas bajanya dan secepat kilat menyerang udara kosong! Setelah itu ia tertawa gelak-gelak seraya berkata. „Baik! Aku akan turut melaksanakan rencana Hiantee untuk pergi ke tempat Kong-ya Coat!” Khouw Kong Hu menjadi girang sekali. Lalu terdengar si kakek berkata lagi. „Hm......, Wei Tan Wi sudah mati. Penghuni lembah Yu-leng-kok takkan keluar lagi dari lembahnya, maka jago-jago silat yang dapat mengimbangi ilmu silatku hanya ketinggalan lima orang saja. Yalah Kong-ya Coat, si dewa sakti, Eu-yong Lo-koay Si Iblis jahat, Kedua jahanam Soat-hay-siang-hiong, iblis-iblis yang haus darah. Dan Ceng Sim Lo-ni, si rahib wanita dari pegunungan Go-bi-san yang sudah lama tidak keluar dari tempat pertapaannya!” Khouw Kong Hu tampaknya tidak sependapat dengan saudara angkatnya itu. „Si-ko, rupanya kau tidak mengikuti perkembangan di kalangan Kang-ouw!” kata si gaitan baja tinju besi. „Si-ko telah tinggal terpencil di pegunungan ini selama hampir sepuluh tahun lamanya, sehingga kau tidak mengetahui bahwa di kalangan Kang-ouw telah muncul beberapa jago-jago silat yang tak dapat diremehkan!
27
Misalnya Kim Lam It Hong, Sai Pak Song Liong dan Ciu Kai Si Lam.... mereka semua memiliki ilmu silat yang sangat tinggi......” Khouw Kong Hu menjadi agak menyesal setelah mengucapkan kata-katanya itu, karena ia mengetahui watak Ouw Lo Si agak congkak dan khawatir kata-katanya itu menyinggung si kakek, maka lekas-lekas ia menambahkan, „Namun aku yakin Ouw Si-ko dapat melawan mereka semua dengan kipas bajamu itu, ......! Ha, ha, ha!” Tertawanyanya itu disertai juga oleh Ouw Lo Si yang sudah bertekad menutup warung araknya, mengakhiri penghidupannya sebagai seorang pertapaan di pegunungan Tay-piet-san yang terpencil dan kembali berkecimpungan lagi di daerah TAK BERTUAN Rimba persilatan! Mereka meninggalkan pegunungan itu untuk langsung menuju ke tempat Kong-ya Coat, yang terletak di kaki gunung Hoa-san di propinsi An-hui. ◄Y► Pertemuan para jago silat yang diselenggarakan oleh Kong-ya Coat pada pertengahan musim gugur masih satu bulan lagi. Setelah berunding, mereka akhirnya mengambil keputusan untuk pergi ke kota Bo-pao di sebelah selatan propinsi Ho-peh, untuk mencari seorang kawan karib mereka, dan mengajaknya bersama-sama pergi menghadiri pertemuan adu silat tersebut.
28
Baru saja tiba di kota Bo-pao, mereka telah disambut olah suatu kejadian yang aneh. Meskipun sudah bulan tujuh, namun keadaan di daerah sekitar kota Bo-pao yang terletak di sebelah selatan sungai Tiang-kang itu, masih seperti di musim panas saja tampaknya. „Khouw Hiantee,” kata Ouw Lo Si, ketika mereka berada di suatu warung arak di luar kota Bo-pao. „Perhatikan tempat ini. Apakah kau dapat melihat suatu yang agak luar biasa?” Khouw Kong Hu menoleh ke kanan dan ke kiri sambil memperhatikan. „Menurut pandanganku,” sahutnya, „warung arak ini hampir mirip dengan warung kepunyaan Ouw Si-ko yang terletak dekat lembah Yu-leng-kok!” Ouw Lo Si tampaknya mendongkol dan sambil menggeleng-geleng kepalanya ia berkata lagi. „Hiantee kurang memperhatikan! Di kalangan Kang-ouw segala sesuatu harus diperhatikan dengan seksama. Aku yakin telah datang banyak jago-jago silat di daerah sekitar kota Bo-pao ini. Warung arak yang terpencil ini telah menyuguhknn makanan yang lezat, ini berarti bahwa dalam beberapa hari ini, ke warung arak ini telah datang banyak tamu-tamu?” Khouw Kong Hu sambil bersenyum berkata.
29
„Tidak salah jika Si-ko dapat julukan Cu-kat (seorang Nabi yang berpandangan luas)!” Si kakek tampaknya puas mendapat pujian itu. „Aku belum dapat mengatakan dengan pasti,” kata Ouw Lo Si. „Coba dengar suara ringkikan kuda di pekarangan belakang warung ini. Apakah warung yang terpencil ini dapat menyediakan tempat untuk orang memelihara kuda?” Khouw Kong Hu memasang kedua kupingnya mendengari dangan penuh perhatian, „Betul! Akupun dapat mendengar ringkikkan kuda itu,” sahutnya. „Perhatikan lagi meja di sebelah kiri itu,” kata Ouw Lo Si sambil menunjuk ke arah meja tersebut. „Dan lihat bekas bacokan di atas meja. Meja itu penuh dengan minyak dan lemak, tetapi tak ada minyak atau lemak dibekas bacokan itu. Ini suatu bukti yang terang bahwa bacokan tersebut dilakukan belum lama berselang. Lagi pula bekas bacokan tersebut dapat membuktikan bahwa senjata yang dipergunakan untuk membacok bukan senjata biasa!” Khouw Kong Hu menjadi terbengong mendengar keterangan itu, dan dengan kaget ia menanya. „Apakah Ouw Si-ko menganggap banyak jago-jago silat telah datang dan telah terjadi perkelahian hebat di warung arak ini?” Ouw Lo Si memperhatikan keadaan di sekitarnya, lalu ia berkata.
30
„Itu aku tak dapat memastikan, tetapi sudah terang bahwa banyak jago-jago silat telah datang ke sini. Di daerah ini selainnya saudara angkat kita, Kiu It, yang dihormati karena ilmu silatnya, siapakah lagi yang memiliki ilmu silat terlebih lihay?” Khouw Kong Hu berpikir sejenak, kemudian berkata. „Tujuhbelas tahun yang lalu Kiu Ji-ko dengan ilmu silat tinju Hui-ing-cit-cap-ji-sut-bo-ti-shin-ciang (Ilmu silat burung garuda merenggut maut dengan tujuhpuluh dua perubahan) dan senjatanya yang hebat dan cengkeraman Hui-ing-shin-jiauw (Cengkeraman burung garuda) telah mengusir tujuh jahanam dari daerah Ho-peh, aku tak pernah mendengar jago silat lain dapat melawan Kiu Ji-ko!” „Hm......” si kakek menggeram, „jika demikian, para jago silat datang ke sini dengan dua maksud. Mencari Kiu Ji-tee dan memohon bantuannya, atau mencari kepadanya dengan maksud membikin perhitungan dan membalas dendam! Ini sukar ditebak......” Setelah itu tampak si kakek menundukkan kepalanya dan mengenangkan sesuatu. Lalu ia herpaling lagi kepada Khouw Kong Hu seraya berkata. „Semenjak kaki kiriku dibikin cacad dekat telaga Tong-teng dan mata kiriku menjadi picek di pegunungan Go-bi-san, aku selalu menjadi lebih waspada. Sebetulnya tempat kediaman Kiu Ji-tee sudah tidak jauh lagi dari sini. Ayo! kita lekas-lekas menjumpainya untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya pada dewasa ini......”
31
„Akupun sudah ingin mengajak Si-ko lekas-lekas mencari Ji-ko,” kata Khouw Kong Hu, „mungkin kita masih keburu menikmati hidangan lezat dan arak yang harum......” Setelah membayar, maka mereka segera berangkat menuju ke tempat saudara mereka itu. Perjalanan itu harus melalui lembah-lembah yang sempit, semak belukar yang lebat dan mendaki beberapa jurang yang curam. Kiu Ji-ko menamakan tempatnya Hui-ing-san-cong (Tempat garuda bernaung). Dulunya tempat itu adalah markasnya tujuh iblis propinsi Ho-peh yang banyak dosanya. Mereka sengaja mendirikan markas di sini agar sukar dicari. Namun, Kiu Ji-ko berhasil mencarinya dan membasmi mereka semua! Sekarang kita sudah tiba di tempat belukar ini, apakah Ouw Si-ko mengetahui di mana letak pintu masuknya?” tanya Khouw Kong Hu. Ouw Lo Si mendongak dan memandang jurang curam di hadapannya. Tanah di atas jurang itu rata dan banyak pohon tumbuh dengan lebatnya. Sejenak kemudian terdengar si kakek berkata. „Pada limabelas tahun yang lalu, pada bulan tujuh Kiu Ji-tee merayakan hari ulang tahun kesatu puteri kesayangannya, dan ia telah mengundang banyak tamu ke pesta tersebut. Akupun telah datang. Aku sudah lanjut usia, namun otakku masih sehat, dan aku
32
masih ingat jalan ke Hui-ing-san-cong. Tu! Sisi gunung itu adalah pintu masuknya!” Secepat kilat dengan ilmu It-hok-cong-thian (Bangau sakti menerjang ke angkasa) ia telah meloncat ke atas birai yang lebih kurang tiga meter tingginya. Bukan main kagumnya Khouw Kong Hu menyaksikan si kakek pincang yang seolah-olah terbang ke atas. „Ouw Si-ko! Hebat betul loncatanmu itu!” serunya memuji. Lalu iapun meloncat dengan gesitnya ke atas birai itu! „Loncatan Hiantee lebih lihay dari pada loncatanku!” kata si kakek, „seolah-olah Hiantee melakukannya tanpa mengeluarkan tenaga......” Khouw Kong Hu bersenyum girang mendengar pujian itu. Setelah mendaki lereng gunung, akhirnya mereka tiba di atas jurang yang tanahnya agak rata. Tidak berapa jauh di hadapan mereka, tampak satu goa gunung yang tingginya kira-kira satu meter dan lebarnya kira-kira tiga meter. Mulut goa itu gelap sekali dan mungkin juga menjadi sarangnya binatang-binatang, ular-ular atau serangga yang berbahaya.
33
„Jika aku belum pernah datang ke sini, akupun takkan mengetahui bahwa goa ini adalah pintu masuk ke tempat Kiu Ji-tee. Ayo ikuti aku yang memimpin jalan,” seru si kakek. Dari saku jubahnya ia mengambil dua batang lilin, yang segera disulutnya dan memberikan satu kepada kawannya sebelum mereka berjalan masuk ke dalam goa yang gelap itu. Baru saja si kakek melangkah beberapa tindak, tiba-tiba ia merandek dan berbisik. „Apakah itu??” Kira-kira sepuluh meter jauhnya di hadapan mereka, tampak empat lanpion yang besar yang sudah rusak, bergelantungan di udara. Si kakek meloncat dan menyambret ke atas sambil mengambil satu. Kertas dari pada lampion itu masih bagus warnanya, rupanya lampion-lampion tersebut belum lama digantung di atas goa itu. Setelah meneliti si kakek memberikan pendapatnya. „Menurut hematku, lampion-lampion ini baru digantung pada dua hari berselang. Tetapi heran keadaannya sudah rusak. Aku kira lampion-lampion ini telah dirusak oleh...... hembusan angin tenaga dalam yang dahsyat! Aku yakin di Hui-ing-san-cong pun sudah terjadi suatu perubahan. Kita harus berhati-hati!” Ia lemparkan lampion itu dan berjalan maju dengan lilin di tangan.
34
Dengan cahaya lilin yang remang-remang itu mereka dapat melihat lagi lampion-lampion yang tergantung di atas, yang juga sudah dirusak. „Melihat keadaannya akupun yakin sudah terjadi perubahan di sini. Lebih baik kita keluarkan senjata untuk menjaga diri,” kata Khouw Kong Hu sambil mengeluarkan sepasang gaitan bajanya dan pegang senjata tersebut di satu tangan, dengan tangan yang lainnya memegang lilin. Mereka berjalan maju dengan hati-hati sekali dan tiap-tiap jarak lima meter, mereka menyaksikan lampion-lampion yang telah dirusak! „Ketika aku datang ke sini limabelas tahun yang lalu, aku tidak melihat lampion-lampion merah serupa ini,” kata Khouw Kong Hu. „Tetapi hari ini tanggal berapa dan bulan apa?” tanya si kakek. „Betul, hari ini adalah tanggal sembilan bulan tujuh,” sahut Khouw Kong Hu. „Tetapi hari lahir puteri kesayangan Kiu Ji-ko adalah tanggal tujuh. Lampion-lampion tersebut tentunya di pasang pada dua hari berselang.” Tetapi dengan tiba-tiba Ouw Lo Si membentak memperingati Khouw Kong Hu. „Awas angin hebat!” Khouw Kong Hu segera mengegos untuk mengelakkan hembusan angin sebelum mengawasi keadaan di depannya.
35
Di bawah cahaya lilin di kedua pinggir tembok goa tersebut tampak berdiri tegak dan berbaris orang-orang yang mengenakan pakaian serba hitam! Khouw Kong Hu yang berangasan segera membentak. „Yang berdiri di depan, kawan atau lawan?! Namun kita mohon memberitahukan bahwa si kipas baja Ouw Lo Si dan si gaetan ajaib Khouw Kong Hu telah datang untuk menjumpai pemimpin Hui-ing-san-cong, Kiu It!” Seruan itu tidak mempengaruhi kedua baris orang-orang yang tetap berdiri tegak di kedua pinggir tembok goa itu, tetapi gema dari seruan Khouw Kong Hu terus mendengung. „Hui-ing-san-cong, Kiu It...... Hui-ing-san-cong, Kiu It......” Senjata di tangannya sudah siap sedia, maka jika orang-orang yang berpakaian serba hitam itu bergerak, Khouw Kong Hu akan segera menyerang lebih dahulu. „Hei! Kamu kawan atau lawan?! Jika tak menjawab, aku terpaksa harus menggunakan kekerasan!” Khouw Kong Hu membentak lagi. „Hm......” kata si kakek sambil bersenyum getir. „Kau tak dapat memaksa mereka bicara......” „Mengapa? Apakah mereka bisu sehingga tak dapat menyahut??” tanya Khouw Kong Hu dengan heran.
36
„Mereka memang bisu dan tak dapat menyahut...... karena mereka telah jadi mayat......!” si kakek menegaskan. Dan tanpa menghiraukan lagi kawannya, ia sudah meloncat ke depan orang-orang yang berpakaian serba hitam itu. Khouw Kong Hu tidak mau ketinggalan, iapun meloncat dengan gesitnya. Tetapi setelah berada dekat sekali dengan orang-orang yang tengah berdiri dengan tegak itu, meskipun sudah lama berkecimpungan di kalangan Bu-lim dan juga melihat pembunuhan banyak kali, namun pada waktu itu mereka bergidik ngeri melihat orang-orang itu, karena mereka semua telah lama menjadi mayat! Tiap-tiap orang itu terpantek di tembok goa dengan sebilah pisau pendek menusuk tenggorokan masing-masing! Darahnya telah menjadi kental, biji mata mayat-mayat itu melotot keluar dengan mulut terbuka, seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa mereka mati dibunuh secara kejam sekali! Yang lebih ganjil lagi yalah keempatbelas orang itu telah binasa dalam keadaan hampir serupa, seolah-olah mereka mati serentak tanpa kesempatan untuk melawan ataupun berontak! Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu berdiri terpesona menyaksikan nasib orang-orang itu.
37
Lalu si kakek cabut satu pisau dari tenggorokan seorang korban, dan dengan cepat Khouw Kong Hu menahan mayat itu dengan gaitan bajanya untuk diletakkan di atas tanah. „Hm!” si kakek menggeram. „Coan-yo-shin-ji (Belati menembusi tenggorokan)! Apakah mungkin semua ini adalah perbuatan Yo Tie Ko si lengan delapan??” Khouw Kong Hu terkejut mendengar ucapan itu, dan melihat pisau belati yang dipegang oleh si kakek. Ia mengenali bahwa pisau belati itu betul saja senjata Coan-yo-shin-ji milik Yo Tie Ko. „Aku tidak nyana ia begitu keji dan tidak sungkan melakukan kekejaman ini meskipun ia sudah mengenal Kiu Ji-ko berpuluh-puluh tahun lamanya!” kata Khouw Kong Hu. Ouw Lo Si menancapkan pisau belati itu di tembok goa dengan mengebatkan tangannya. „Aku kenal nama Yo Tie Ko, si lengan delapan, tetapi aku tak kenal orangnya dan belum pernah berhubungan dengannya. Akupun telah mengetahui senjata rahasianya, Coan-yo-shin-ji yang lihay, yang ia dapat lontarkan dengan kedua tangannya pesat sekali seolah-olah ia mempunyai delapan lengan......” kata Ouw Lo Si dengan nada agak gusar, lalu ia melanjutkan. „Coba lihat pisau belati yang aku tancapkan tadi. Daun pisaunya hanya masuk limabelas sentimeter, tetapi pisau yang nancap melalui tenggorokan keenambelas korban ini telah nancap sampai ke gagangnya! Bayangkanlah, betapa hebat ilmu si lengan delapan itu!”
38
Khouw Kong Hu mengerutkan keningnya sejenak, lalu ia lari menuju ke ujung goa gunung itu. Tampak olehnya pohon-pohon Liu tumbuh di suatu taman bunga, rumput tebal di tanah serta pohon-pohon bunga dari berbagai-bagai macam. Iapun menghadapi tembok jurang yang tebing dengan beberapa panjang di atasnya. Ouw Lo Si senantiasa mengikutinya dari belakang. Ketika mendaki jurang yang tebing itu, mereka melihat sebuah rumah yang dikurung oleh tembok. Itulah Hui-ing-san-cong, tempat tinggal Kiu It, yang pada saat itu menyiarkan bau amis darah yang menusuk hidung! Ketika itu sudah senja, dan sinar matahari masih memancarkan cahaya merah kekuning-kuningan sehingga membuat keadaan di sekitar tempat itu menjadi tambah seram kelihatannya! Di depan rumah itu, di atas tanah yang penuh dengan batu gunung tampak empat huruf yang besar yang berbunyi. „Kematian bagi orang yang menipu!” Lalu Khouw Kong Hu memanggil-manggil dengan suara keras. „Kiu Ji-ko! Kiu Ji-ko!”
39
Setelah itu seperti seekor harimau gila ia berlari ke kiri dan ke kanan di dalam pekarangan luar rumah itu sambil terus memanggil-manggil. Ouw Lo Si berdiri terpaku mengawasi gerak-gerik adik angkatnya itu. „Apakah masih ada orang yang tinggal di dalam rumah itu?” ia menanya dirinya sendiri. Dan alangkah terkejutnya ketika ia mengalihkan pandangannya ke arah batu-batu gunung yang berserakkan di tanah. Sambil mencurahkan perhatiannya ia meneliti dengan tajam. Diantara batu-batu gunung itu terlihat kepala manusia! Khouw Kong Hu pun telah dapat melihat dan segera menghampirkan ke arah tergeletaknya kepala manusia itu, dan dengan tiba-tiba terdengar ia berseru keras. „Kiu Ji-ko...... Kiu Ji-ko......! Masakan Ji-ko menemui ajalmu demikian menyedihkan......???!” Sambil berlutut di hadapan kepala manusia itu, yang ternyata benar kepala Kiu It yang sudah terpisah dari badannya, Khouw Kong Hu berkata kepada Ouw Lo Si. „Si-ko, kita telah mengangkat saudara dengan Kiu Ji-ko, dan dendam ini kitalah yang harus membalasnya!” Ouw Lo Si menyahut sambil menggertak gigi.
40
„Ilmu silat Kiu Ji-tee lihay sekali, dan semua anggota keluarganya juga pandai silat. Masakan Yo Tie ko, si Lengan delapan, demikian lihaynya, sehingga ia dapat membunuh sepuluh orang sekaligus?!” Tetapi baru saja si kakek selesai berkata, terdengar Khouw Kong Hu berseru kaget. „Pembunuhan ini bukan dilakukan oleh Yo Tie ko! Orang-orang yang telah dibunuhpun bukan keluarga Kiu Ji-ko saja!” Dengan mata terbelalak, Ouw Lo Si menanya. „Apa kata Hiantee? Aku tak mengerti......” Sambil menunjuk ke arah satu kepala manusia lain, Khouw Kong Hu menyahut. „Kepala itu di sebelah kepala Kiu Ji-ko adalah kepalanya Yo Tie ko, si Lengan delapan! Dan itu kepalanya Bee Cu Peng, si Pedang terbang. Hai....., Bee Cu Peng yang sudah lanyut usianya dan putih rambutnya! Nah! itu kepalanya Tong To Tit, si Kepala berandal dari propinsi Hok-kian. Ciam Bun, si Bangau terbang, dan dua saudara Ciok, yang bersenjata sepasang golok. Mereka lahir pada waktu yang hampir sama, dan mati pada waktu yang sama. Tu disana adalah kepalanya Pang Thian Kie, si Macan belang......, dia..., dia......” Tiap-tiap Khouw Kong Hu menunjuk satu kepala manusia, ia menarik napas, dan kali ini ia berkata agak keras.
41
„Bekas bacokan di warung arak dibuat oleh Pang Thian Kie karena aku mengenali senjatanya. Ai...... nasib manusia siapapun tak dapat meramalkan. Setengah tahun yang lalu aku masih menjumpainya naik perahu pesiar di telaga Tong-teng bersama-sama kedua saudara Ciok. Tetapi kini...... mereka hanya ketinggalan kepalanya saja!” Selama itu Ouw Lo Si hanya menggeleng-geleng kepala sambil menarik napas. Lalu ia menghampiri Khouw Kong Hu dan berkata. „Semua jago-jago silat ini, meskipun aku tidak kenal, namun mereka adalah orang-orang yang telah membikin nama di kalangan Bu-lim. Aku sungguh tak mengerti mengapa di kalangan Bu-lim masih ada orang yang demikian kejamnya. Mereka dibunuh sekaligus. Apakah maksud si pembunuh kejam itu? Tadinya aku kira dia itu Yo Tie ko adanya...... tetapi sekarang, akupun tak dapat memecahkan kejadian yang aneh ini. Sayang...... sayang kita datang agak terlambat, sekarang sukar bagi kita mencari pembunuh saudara Kiu itu!” Gedung itu masih terhias dengan lampion-lampion yang beraneka warna, akan tetapi dengan kepala manusia berserakan dan bau darah yang memuakkan sekali, mereka menjadi bergidik dan emoh tinggal lama-lama di situ. Kiu It, si garuda sakti, telah membikin namanya tenar karena ilmu silatnya yang hebat.
42
Tetapi ia harus menemui ajalnya dengan menyedihkan sekali, yalah di waktu ia merayakan hari ulang tahun puteri kesayangannya, dan semua anggota keluarganya berikut kawan-kawan dan tamu-tamunya yang datang merayakan telah dibunuh. Suasana pelahan-lahan sudah mulai menjadi gelap. Gedung, yang mungkin ramai dalam suasana perayaan beberapa hari berselang, kini menjadi sunyi senyap, dan seram karena sudah terjadi jagal dengan kepala-kepala manusia berserakan dan bau darah yang amis sekali! TIGA Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu berdiri berpandangan tanpa bicara. Biarpun pintar dan beraninya mereka, tetapi di tengah-tengah keadaan yang membikin bulu roma berdiri itu, mereka tak dapat berbuat sesuatu apapun. Entah berapa lama mereka berdiri terpaku di situ, dan suasana sudah menjadi tambah gelap. Akhirnya, terdengar Ouw Lo Si berkata. „Kiu Ji-tee telah binasa dalam keadaan yang menyedihkan sekali! Dan membikin pembalasan adalah kewajiban kita sebagai saudara-saudara angkatnya. Sekarang marilah kita kubur dulu mayatnya, dengan layak, agar tidak diganggu oleh binatang-binatang.......”
43
Tetapi baru saja selesai kata-kata itu diucapkan, tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara orang mengejek. Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu jadi merandek. Lalu terdengar lagi suara yang diucapkan dengan tegas dan keras. „Manusia kejam? Perbuatan yang keji sekali!” Suara itu rupanya datang dari luar tembok, dan setelah ucapan itu berhenti, terlihat kembang api berhamburan seperti air hujan tumpah dari langit, disertai dengan hembusan angin keras datang mendampar mereka! Secepat kilat Ouw Lo Si kebut kipas bajanya melindungi dirinya dan tinju kanannya menonjok keluar. Khouw Kong Hu juga mengayun kedua tinjunya seolah-olah menyerang kembang api yang datang mendampar itu. Bukan main hebatnya jotosan-jotosan dan kebutan kipas baja itu dan seketika itu juga tampak beberapa puluh kembang api terdorong mundur jauh ke belakang! Tanpa menanti datangnya musuh, si kakek segera membentak. „Kawan! Berhenti dulu!” Dan dengan satu loncatan, tubuhnya sudah melayang keluar tembok untuk mengejar serta menghajar musuh gelap itu dengan kipas bajanya.
44
Tetapi pada saat yang bersamaan tampak meloncat masuk satu bayangan seraya membentak. „Siapa yang dapat lolos dari sini?!” Bentakan itu disertai dengan serangan dua tinju. Tinju kiri bayangan itu menyodok perut Ouw Lo Si dan tiba-tiba kedua jotosan itu segera berubah mencengkeram pergelangan tangan kanan dan menotok jalan darah di dekat jantung si kakek! Sungguh hebat gerakan bayangan itu, karena menyerang sambil meloncat tak dapat dilakukan oleh sembarang jago silat. Si kakek yang dapat melihat bahaya maut, secepat kilat menyapu serangan-serangan tersebut dengan kipas bajanya sekuat tenaga. Demikianlah pertarungan tiga jurus itu dengan sekejapan saja telah selesai, tetapi setelah kedua pihak menginjak tanah lagi, dengan hampir barbareng mereka masing-masing berseru. „Kau......?!” Khouw Kong Hu memperoleh kesempatan untuk melihat bahwa musuh yang telah menyerang itu panjang rambutnya, berpakaian jubah kuning dan berpengawakan kurus kering. Saking kagetnya tanpa terasa ia berseru. „Eu-yong Lo-koay!!”
45
Dalam suasana yang agak gelap, jago silat dari pegunungan Kun-lun yang terkenal kejam dan jahat itu tiba-tiba tertawa berkakakan dan berkata. „Ohoo......! Aku kira kau ini siapa! Tidak dinyana aku menggempur Ouw Lo Si, si ahli nujum kipas baja! Sudah hampir duapuluh tahun kita tak berjumpa, apakah kau baik-baik saja? Aku merasa sangat gembira dapat menguji ilmu silatmu...... Ha ha ha!” Tetapi setelah itu sikapnya tiba-tiba berubah beringas dan berkata. „Selain kau Ouw Lo Si, aku yakin jago silat lain tak dapat melakukan pembunuhan demikian kejamnya!” Ouw Lo Si baru saja pulih semangatnya setelah mengetahui ia telah bertarung melawan Eu-yong Lo-koay, dan ketika mendengar tuduhan itu ia menjadi gusar dan balas membentak. „Selain aku, Ouw Lo Si, masih ada satu orang yang demikian kejamnya!” „Ha, ha, ha! Betul! Betul, selain Ouw Lo Si, masih ada aku, Eu-yong Lo-koay yang tidak kalah kejamnya!” sahut Eu-yong Lo-koay dengan tertawa dibikin-bikin, sehingga menimbulkan perasaan cemas Khouw Kong Hu yang sudah siap saja memberi bantuan kepada kakak angkatnya. Dengan nada mengejak, si kakek berkata lagi. „Perbuatan yang kejam dan keji itu, hanya aku atau kau saja yang dapat melakukannya!”
46
Eu-yong Lo-koay menatap si kakek, lalu ia berkata sungguh-sungguh. „Aku tak mengetahui siapa pembunuh Kiu It! Percayalah bukan aku yang melakukan perbuatan kejam itu! Aku dan saudara angkatmu tak manyimpan dendam, hanya...... tersiar kabar di kalangan Kang-ouw bahwa kau, Ouw Lo Si, telah memiliki mustika Ciam-hua-giok-siu! Jika betul demikian, aku minta pinjam benda ajaib itu, dan aku segera akan berlalu dari sini. Aku berjanji akan mengembalikannya setelah lewat satu tahun. Jika tidak......” „Jika tidak bagaimana?!” Ouw Lo Si mendahului menanya dengan gusar. „Jika tidak...... kita terpaksa harus melanjutkan pertarungan yang tidak terjadi pada duapuluh tahun yang lampau!” kata Eu-yong Lo-koay. Ouw Lo Si merasa heran mengapa Eu-yong Lo-koay yang jarang keluar dari tempat pertapaannya telah datang juga ke tempat Kiu It itu. „Apakah dia yang telah melakukan pembunuhan?” ia menduga-duga di dalam hati. „O...... kau datang ke sini dengan maksud mengambil Ciam-hua-giok-siu?” akhirnya ia menanya. Eu-yong Lo-koay tertawa gelak-gelak dan menyahut. „Betul!”
47
„Benda yang kau ingini itu memang ada, tetapi kau telah datang ke tempat yang salah,” kata Ouw Lo Si. „Kau mengaku bahwa kau tidak melakukan pembunuhan ini, dan mengingat kedudukanmu, aku percaya. Tetapi Ciam-hua-giok-siu berada di kampung Tan-kwi-san-cong di pegunungan Hoa-san. Kau barusan bilang ingin menguji ilmu silatku, aku Ouw L.o Si akan memenuhi permintaanmu itu sekarang!” Eu-yong Lo-koay masih terus tertawa dan berkata lagi. „Benda itu bagus sekali! Dan aku tidak pergi ke tempat yang keliru. Hanya kau yang bicara salah!” „Apakah perkataanku salah?” tanya Ouw Lo Si. „Di kalangan Kang-ouw, semua orang berkata bahwa Ciam-hua-giok-siu telah diperoleh Kong-ya Coat yang, telah mengundang para jago silat untuk mengadu ilmu silat di tempatnya nanti pada pertengahan musim gugur. Ha, ha, ha, sungguh lucu sekali, dikatakan bahwa Kong-ya Coat akan menghadiahkan Ciam-hua-giok-siu kepada pemenang dari pada pertemuan yang ia selenggarakan itu. Tetapi beberapa orang telah juga mengetahui bahwa Kong-ya Coat telah tertipu......” Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu, menjadi terperanjat mendengar keterangan itu. „Apakah Kong-ya Coat tertipu oleh Kiu It?” tanya si kakek. Eu-yong Lo-koay tampaknya mendongkol sekali.
48
„Kiu It dapat menipu Kong-ya Coat, tetapi dia tak dapat menipu aku! Hanya sayang aku telah datang terlambat. Sekarang aku mengerti.” „Akupun sudah mengerti!” kata Ouw Lo Si. „Kau mengerti apa?” tanya Eu-yong Lo-koay dengan heran. „Aku mengerti bahwa pembunuhan yang kejam ini bukan dilakukan olehku, maupun olehmu......” kata Ouw Lo Si, lalu dengan beringas dan nada yang keras ia berseru. „Kejam! Betul-betul kejam! Jika Kiu It bersalah atau berdosa, mengapa semua anggota keluarganya dibunuh juga? Dan mengapa kawan-kawan dan tamu-tamunya, juga dibunuh?! Kiu Ji-tee! Kiu Ji-tee! Jika kelak aku tidak membikin pembalasan, aku ini sesungguhnya bukan satu laki-laki!” Setelah keadaan agak reda, Eu-yong Lo-koay lalu menanya. „Siapakah pembunuhnya? Masakan Kong-ya Coat??” „Tidak salah! pembunuh yang maha kejam itu yalah Kong-ya Coat yang selalu sesumbar, menjalankan kebajikan!” sahut si kakek. Dan sambil menunjuk kepada huruf-huruf yang berbunyi. „Kematian bagi orang yang menipu!” Ouw Lo Si melanjutkan. „Kong-ya Coat selalu sesumbar ia tak ingin menjagoi di kalangan Bu-lim dan tak ingin mencari keuntungan
49
untuk diri sendiri. Tetapi semua jago-jago silat di seluruh negeri telah mengetahui bahwa daerah di kedua pinggir sungai Tiang-kang ini adalah di bawah kekuasaannya orang-orang Kong-ya Coat yang bermarkas di Tan-kwi-san-cong di pegunungan Hoa-san. Setelah mengetahui bahwa ia telah tertipu, ia segera datang ke Hui-ing-san-cong ini dan membikin perhitungan. Dan sebelum berlalu ia menulis huruf-huruf tersebut dengan darah manusia untuk mengunjuk gigi!” Eu-yong Lo-koay mendengari sambil manggut-manggut „Betul! Tidak percuma kau dijuluki Sai-cu-kat!” katanya. „Pemandanganmu tidak di bawah Cu-kat Kong Beng dahulu. Mungkin benar apa katamu bahwa Ciam-hua-giok-siu kini berada di tangan Kong-ya Coat. Jika demikian pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee pada pertengahan musim gugur, akupun ingin turut hadir!” Perkataan tersebut diakhiri dengan kebutan lengan baju jubah kuningnya, dalam sekejapan saja ia telah meloncat melalui tembok dan pergi entah ke mana! Setelah Eu-yong Lo-koay pergi, si kakek meraba-raba dua mustika yang ia simpan baik-baik dalam saku di dada jubahnya. Lalu ia berkata kepada Khouw Kong Hu yang masih belum sadar akan kejadian-kejadian yang ganjil lagi kejam di sekitarnya itu. „Ciam-hua-giok-siu telah tersembunyi banyak tahun. Bagaimana dapat diperoleh Kong-ya Coat? Dan ada hubungan apakah benda
50
itu dengan Kiu Ji-tee? Apakah Khouw Hiantee dapat memberi keterangan kepadaku?” Khouw Kong Hu menundukkan kepalanya, berpikir sebentar lalu menyahut. „Semenjak Thian-hiang-sian-cu meninggal dunia, soal tiga mustika itu tidak lagi diketahui orang. Hanya tersiar kabar Cu-gan-tan dan Tok-beng-oey-hong berada di tangan ketiga jahanam Tong-coan-sam-ok. Cara diperolehnya benda-benda tersebut tiada seorangpun yang mengetahui. Namun cara Kong-ya Coat memperoleh Ciam-hua-giok-siu, hampir tiap-tiap orang di kalangan Bu-lim telah mengetahuinya. Sebetulnya sarung tangan ajaib itu tersembunyi dalam tangan Cia It Hok, si pedang sakti, yang sekarang jarang muncul di kalangan Bu-lim.” „Setelah memperoleh mustika itu, tentu Cia It Hok tidak sesumbar. Bagaimana Kong-ya Coa dapat mengetahuinya?” tanya Ouw Lo Si. Mendengar pertanyaan itu Khouw Kong Hu bersenyum, lalu menjelaskan bahwa partai Tiang-pek-kiam yang dipimpin oleh Cia It Hok kini pamornya sudah mulai turun. Dahulu partai itu tergolong sebagai salah satu kesembilan partai silat yang sangat dimalui. Partai yang dulunya tenar itu tahun yang lalu telah menghadapi tiga soal yang sulit. Cia It Hok sebagai pemimpin partai tersetut tak dapat memecahkan soal-soal itu, dan dengan terpaksa ia harus meminta pertolongan orang lain.
51
Maka diumumkan agar diketahui oleh semua partai silat atau jago-jago silat bahwa barang siapa yang dapat membantu partai Tiang-pek-kiam mengatasi ketiga kesulitan tersebut, akan diberi hadiah mustika Ciam-hua-giok-siu. Cia It Hok tidak menjelaskan apa ketiga soal yang sulit itu, namun daya tarik Ciam-hua-giok-siu terlampau kuat, sehingga telah membuat banyak sekali orang-orang di kalangan Bu-lim pergi menawarkan pertolongan mereka kepada partai itu. „Dan ketika banyak jago-jago silat datang ke partai Tiang-pek-kiam, Cia It Hok mengumumkan bahwa kesulitan-kesulitan partaynya telah dapat pertolongan Kong-ya Coat yang telah berhasil membereskan kesulitan-kesulitan itu, dengan demikian mustika itu telah jatuh ke dalam tangan si orang she Kong-ya yang segera membawa hadiahnya itu ke pegunungan Hoa-san,” kata Ouw Lo Si. Khouw Kong Hu lalu mengerutkan keningnya seraya menanya. „Setelah Kong-ya Coat memiliki mustika itu, ia merencanakan segala sesuatu untuk menyelenggarakan pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee. Soal ini ada hubungannya apa dengan Kiu Ji-ko?? Ouw Lo Si berpikir sejenak. Tiba-tiba ia mengangkat kedua alisnya dan berkata.
52
„Bukankah Cia It Hok mempunyai sutee (saudara seperguruan) dan terkenal sebagai si garuda putih yang bernama Pek Tiong Thian?” Seperti orang yang baru sadar, Khouw Kong Hu menyahut. „Betul! pada limabelas tahun yang lalu Pek Tiong Thian telah dibikin pincang oleh ketiga saudara dari partai Kong-tong-sa-kiam, dan setelah kejadian itu, namanya pelahan-lahan lenyap dari kalangan Kang-ouw, namun aku yakin ia belum meninggal dan kini tinggal bernaung di bawah perlindungan saudara seperguruannya Cia It Hok. Akupun yakin ia mengetahui seluk beluknya Ciam-hua-giok-siu.” „Dan Pek Tiong Thian sebelum dia menjadi cacad, sangat erat hubungannya dengan Kiu Ji-tee,” kata Ouw Lo Si. “Lagi pula di kalangan Kang-ouw mereka berdua terkenal sebagai sepasang garuda dari utara dan selatan. Mungkin Kiu Ji-tee mengetahui kesulitan partai Tiang-pek-kiam dari Pek Tiong Thian karena ia sendiri tak dapat membantu maka ia minta bantuan Kong-ya Coat, yang mau juga datang membantu karena mengingat hadiahnya saja. Setelah itu mungkin timbul salah mengerti, Kong-ya Coat jadi gusar karena merasa tertipu......” Si kakek menarik napas, lalu meratap. „Kiu Ji-tee...... Kiu Ji-tee..... jika kau ingin sekali mustika itu, mengapa tidak berunding dulu dengan aku? Sekarang kau sudah menjadi mayat dan tak dapat berunding lagi......”
53
Cara si kakek menarik kesimpulan dari peristiwa-peristiwa yang telah lampau sangat dikagumi oleh saudaranya itu, memuji. „Ouw Si-ko, kau betul-betul Cu-kat Kong Beng, Akupun kira peristiwa ini demikian jalannya, hanya......” „Hanya apa, Khouw Hiantee?” tanya Ouw Lo Si. „Hanya tidak terduga jalannya peristiwa begitu rumit dan akibatnya menyedihkan sekali. Disamping Eu-yong Lo-koay, aku yakin masih banyak jago-jago silat yang akan datang ke tempat Kong-ya Coat untuk memperebutkan Ciam-hua-giak-siu. Maka kitapun tak mudah memperolehnya!” kata Khouw Kong Hu. Si kakek tampak bersenyum dan menghibur saudaranya, „Hiantee, kau salah dalam hal ini,” katanya „Tugas kita sekarang yalah mengubur Kiu Ji-tee dulu dengan layak, lalu kita harus pergi ke pegunungan Hoa-san sebelum pertengahan bulan depan. Asal tidak terbit perubahan, maka Ciam-hua-giok-siu sudah berada di dalam kantong kita dalam waktu satu bulan ini!” Khouw Kong Hu menjadi terbengong menyaksikan sikap kakak angkatnya itu. Soal yang rumit serta sulit itu telah dianggapnya remeh sekali, seolah-olah usaha merebut Ciam-hua-giok-siu nanti di pegunungan Hoa-san sangat mudahnya! Setelah mayat Kiu It itu dikubur, pada esok harinya di waktu fajar, mereka memperhatikan bahwa di antara kepala-kepala dari mayat-
54
mayat itu tidak satupun dapat dikenali sebagai puteri kesayangan Kiu It. Tetapi mereka tak terlalu menghiraukan akan hal ini. ◄Y► Satu bulan lewat dengan pesatnya, tatkala itu Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu sudah berada di atas suatu perahu menuju ke tempat Kong-ya Coat. Di atas dek di haluan perahu, terdengar Ouw Lo Si berkata kepada saudaranya. „Pada waktu matahari baru terbit pemandangan di kedua tepi sungai ini lebih permai kelihatannya. Hiantee untuk sementara ini kau tak usah memikiri sesuatu, kau harus membuka kedua matamu menikmati pemandangan yang indah ini!” Selama satu bulan itu Khouw Kong Hu! Senantiasa memikiri kawan-kawannya yang telah mati dibunuh di tempat kediaman Kiu It, dan ia menjadi gelisah menghadapi pertemuan yang diselenggarakan oleh Kong-ya Coat Tetapi waktu mengingat si kakek sudah membikin persiapan untuk menghadapi segala sesuatu, maka ia sebagai saudara angkatnya harus juga ikut semua dengan hati tabah. Mendengar permintaan si kakek, mau tak mau ia harus menghampiri dan turut menikmati pemandangan di sekitar sungai itu yang memang indah dan permai.
55
Si kakek bersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Khouw Kong Hu. „Sebetulnya pegunungan Hoa-san ini tidak terkenal,” katanya. „Tetapi semenjak pelajar Li Pek membuat sajak memuji-muji, maka Hoa-san menjadi termasyur. Selama sepuluh tahun ini aku telah tinggal terpencil di pegunungan Tay-piet-san. dan banyak waktu aku lewatkan dengan membaca buku-buku sastra dan syair-syair kuno, dan banyak pula petunjuk-petunjuk yang aku peroleh dari buku-buku itu. Tetapi aku ini adalah seorang dari dunia Kang-ouw dan aku yakin akupun harus mati sebagai seorang Kang-ouw juga!” Khouw Kong Hu menjadi bermuram durja tatkala mendengar ucapan terakhir itu, karena kata-kata Ouw Lo Si itu seolah-olah menentukan juga nasibnya sendiri sebagai orang yang berkecimpungan di dunia Kang-ouw. Ouw Lo Si tertawa geli menyaksikan sikap saudaranya itu. „Hiantee, jangan khawatir, kita masih akan lama hidup di dunia ini!” katanya. „Dan selama kita masih hidup, yang terpenting yalah kita harus melaksanakan idam-idaman kita. Jika mungkin harus dapat membuat sesuatu yang dapat kita wariskan......, bukankah pepatah kuno mengatakan. „Macan mati meninggalkan kulit, manusia mati meninggalkan nama?” Tetapi Khouw Kong Hu masih tetap membisu.
56
Tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi dari kejauhan. „Secangkir arak ini tak dapat ditolak, Karena hari ini adalah hari libur, Jika merasa penghidupan akan menjadi rusak, Mungkin secangkir arak ini dapat menghibur......” Ouw Lo Si merandek mendengar nyanyian itu, dan menatap Khouw Kong Hu. Di hadapannya berlayar satu perahu nelayan, di atas perahu itu tampak satu orang duduk di haluan perahu sambil minum arak dan memegangi satu guci. Meskipun kedua perahu tersebut terpisah agak jauh, namun Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu dapat melihat tegas bahwa yang tengah duduk di haluan perahu itu adalah seorang Tojin (pendeta). Tidak lama kemudian, tampak satu perahu lain yang bertiang layar dua, yang agaknya tengah mengejar perahu si tojin, dan ketika perahu tersebut sudah berendeng dengan perahu nelayan, tampak seorang laki-laki yang mengenakan pakaian berwarna ungu meloncat ke atas perahu nelayan itu. Setelah berada di atas perahu yang dikejarnya, orang itu segera menghampiri si tojin dan membungkukkan tubuhnya menghaturkan hormat. Karena jaraknya cukup dekat maka Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu dapat mendengar si tojin yang mendahului berkata sambil tertawa.
57
„Sun ji-ya, kau salah. Aku hanya sedang menikmati pemandangan di sepanjang sungai ini. Jago-jago silat yang kamu nantikan berada di atas perahu di depan kita......” Orang yang berpakaian ungu itu mengalihkan pandangannya dan menatap Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu, dan kemudian terdengar ia berseru. „Ouw Locianpwee! Khouw Tay-hiap!” Segera ia meloncat dengan gesit ke perahunya sendiri, dan segera mengejar perahu si kakek. „Kedua Locianpwee mungkin masih ingat kepadaku,” katanya nyaring. Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu merasa heran bahwa orang itu yang berpengawakan tinggi besar, hidung dan mulutnya lebar, besar kedua matanya, mengenal dan bersikap sangat hormat terhadap mereka. „Aku Sun Ceng menghaturkan hormat dan selamat datang serta menyambut kedatangan kedua Locianpwee,” kata lagi orang itu. Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu membalas memberikan hormat, tetapi masih juga tidak ingat akan orang itu. Sun Ceng dapat melihat keraguan kedua tamunya itu, maka ia lekas berkata.
58
„Beberapa belas tahun berselang, aku mengikuti guruku pergi ke Gak-yo, dan pernah menjumpai kedua Locianpwee. Hari ini aku merasa beruntung sekali dapat menjumpai lagi!” Ouw Lo Si terharu dan mulai ingat akan peristiwa di Gak-yo itu. „Apakah gurumu bukan Yen Tay-hiap?” tanyanya. „Sudah lama kita tak bertemu, apakah beliau baik-baik saja?” Sun Ceng menundukkan kepalanya, dan menyahut dengan suara sedih. „Guruku sudah tujuh tahun meninggal dunia!” Ouw Lo Si menjadi terkejut. „Aku ini sudah sepuluh tahun tidak berkelana di kalangan Kang-ouw, maka aku tidak mengetahui jika Yen Tay-hiap telah meninggal dunia. Ketika di Gak-yo, kau masih kecil, tetapi sekarang kau sudah menjadi besar dan gagah lagi!” Khouw Kong Hu juga mulai ingat akan peristiwa di Gak-yo dan ia mengetahui bahwa Sun Ceng ini adalah murid satu-satunya yang dapat mewariskan ilmu silat Yen Tay-hiap. Dari percakapan mereka yang dilanjutkan kemudian, diketahui bahwa setelah Yen Tay-hiap meninggal dunia, Sun Ceng telah diterima oleh Kong-ya Coat sebagai muridnya, dan pada waktu itu ia ditugaskan untuk menyambut para tamu yang akan menghadiri pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee.
59
Khouw Kong Hu dan Ouw Lo Si memang sedang menuju ke pertemuan tersebut, maka mereka telah menerima tawaran Sun Ceng untuk naik ke perahunya yang bertiang layar dua itu. Dari Sun Ceng mereka mengetahui bahwa Tojin yang doyan arak itu, yang baru saja berjumpa, bernama Si Lam, si pemabok. Kong-ya Coat telah menyiapkan tempat-tempat untuk menyambut para tamu berkenaan dengan pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee nya. Siapa saja yang telah mencatat nama di tempat tersebut tentu akan disambut dengan selayaknya. Si pemabok Si Lam, meskipun tidak mencatat nama, namun ia kebetulan tiba di tempat pencatatan itu. Sun Ceng yang ketika itu kebetulan ditugasi menerima tamu, dan melihat bahwa Si Lam itu juga seorang jago silat, telah mengundangnya. Undangan itu tidak ditolak oleh si pemabok, ia masuk dan dijamu dengan hidangan yang lezat dan arak yang telah disimpan lama, sehingga mabok dan tertidur di tempat tersebut. Dan sikap demikian dianggap biasa oleh Sun Ceng. Tetapi pada esok harinya Si Lam telah berlalu tanpa pamit lagi, maka Sun Ceng yang merasa heran telah mengejarnya di sungai itu, sebagaimana telah dituturkan di atas, di mana si pemabok telah menjumpai Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu yang sedang menuju ke tempat pertemuan.
60
Perahu yang bertiang layar dua itu meluncur pesat sekali, sesaat kemudian tibalah mereka di satu pinggiran. Sun Ceng dengan hormat menyilahkan kedua tamunya turun untuk kemudian dipimpinnya mendaki perjalanan pegunungan yang menuju ke markas Kong-ya Coat. Sam-kiat-sian-seng (si dewa sakti) Kong-ya Coat adalah seorang terpelajar berbareng menjadi seorang ahli pedang yang lihay di ibu kota Kauw-seng semasa mudanya. Kemudian ia membangun markas besarnya di puncak Pit-ka-hong di pegunungan Hoa-san, yang diberi nama Tan-kwi-san-cong. Dengan Sun Ceng sebagai pemimpin jalan, maka perjalanan itu dapat ditempuh dengan lancar. Sun Ceng yang melihat si kakek Ouw dapat meneruskan perjalanan di pegunungan itu dengan mudah meskipun kakinya pincang sebelah, merasa kagum sekali akan ilmu meringankan tubuh kakek itu. Setelah menempuh banyak jalan-jalan yang sempit, jurang dan tebing yang melalui lobang-lobang yang dalam, akhirnya tibalah mereka di puncak Pit-ka-hong. Dari jauh sudah terlihat punjung-punjung dan bangunan-bangunan yang indah di atas tanah datar puncak tersebut. Dan itulah Tan-kwi-san-cong, markas besar Kong-ya Coat.
61
Melihat bangunan-bangunan yang indah dengan pemandangan yang permai sebagai latar belakangnya, Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu menjadi kagum sekali akan ketekunan dan perhatian Kong-ya Coat membangun markasnya itu. Ketika hampir tiba di depan markas tersebut, mereka melihat beberapa puluh batu gunung yang besar-besar berserakan. Dan batu-batu terebut merupakan jebakan-jebakan bagi orang-orang yang hendak masuk tanpa idzin. Betul saja ketika sudah dekat pintu masuk, terdengar Sun Ceng berseru. „Aku Sun Ceng melaporkan kepada pemimpin markas muda, bahwa Ouw Locianpwee dan Khouw Tay-hiap sudah tiba!” Sejenak kemudian terdengar dari dalam gedung itu, suara gembreng berbunyi gaduh sekali. Sambil bersenyum Sun Ceng berkata kepada kedua tamunya. „Pemimpin markas kita akan segera keluar menyambut kedua Locianpwee!” Belum selesai pemberitahuannya, ketika terdengar suara orang tertawa berkakakan dari dalam gedung itu. Lalu pintu tembok yang melingkari bangunan-bangunan itu terbuka, dan seorang yang berperawakan kurus jangkung, berparas pucat pasi, berjenggot panjang dan berjubah kain sutra yang indah berjalan pelahan-lahan melalui batu-batu gunung yang besar-besar dan berserakan di depan markas itu.
62
„Ouw Tay-hiap,” kata orang itu. „Sudah lama kita tidak berjumpa di kalangan Kang-ouw, selama sepuluh tahun ini tay-hiap tentu sudah menikmati penghidupan yang tenang. Aku Kong-ya Coat merasa beruntung sekali memperoleh kesempatan menjumpaimu lagi!” Sambutan yang diucapkan dengan suara yang nyaring dan susunan kata-kata yang rapi itu membikin Ouw Lo Si, si ahli nujum kipas baja, terperanjat. „Aku Ouw Lo Si telah bersembunyi karena banyak dosaku!” kata si kakek. „Aku tak dapat dipersamakan dengan saudara Kong-ya yang sangat beruntung dapat tinggal di-istana serupa ini, dan menikmati penghidupan dengan tenang!” Setelah membungkukkan tubuhnya memberi hormat, lalu Kong-ya Coat mempersilahkan kedua tamunya masuk ke dalam markasnya yang kokoh dan indah itu. Meskipun ruangan depan itu besar sekali, tetapi perabotannya seperti kursi, meja dan sebagainya sangat terbatas. Suasana di dalam ruangan itu seperti suasana di dalam suatu hall saja tampaknya! Ouw Lo Si mengenal Kong-ya Coat cukup lama, tetapi markas besarnya, Tan-kwi-san-cong, adalah untuk pertama kali inilah dikunjunginya, dan kekagumannya tak terhingga setelah menyaksikan kemegahan tempat tersebut! EMPAT
63
Tanpa ditanya Kong-ya Coat sudah mulai menjelaskan dan berbareng mengajukan pertanyaan. „Pertemuan Tan-kwi-piauw-song-gwat-ta-hwee masih ada delapan hari lagi dilangsungkannya. Kedua saudara sudah datang lebih dulu dari yang lain-lain, apakah ada urusan yang harus kita rundingkan dulu?” „Ada!” suhut Khouw Kong Hu yang berwatak berangasan. „Ha, ha, ha!” tertawa Kong-ya Coat. „Aku kira kedua saudara ini datang ke sini, jika bukannya ingin turut serta dalam pertemuan mengadu silat, tentu karena tertarik oleh Ciam-hua-giok-siu!” Ouw Lo Si bersenyum getir dan menyahut. „Aku sudah lama mendengar tentang Ciam-hua-giok-siu. Oleh karena tertarik dengan mustika yang dikatakan sangat mujizat maka kita telah datang ke sini lebih dulu dari yang lain-lain.” Ia berhenti sejenak untuk kemudian melanjutkan dengan nada lemah lembut. „Apakah saudara Kong-ya tidak berkeberatan untuk memperlihatkan mustika itu kepada kita berdua?” „Ha, ha, ha!” Kong-ya Coat tertawa lagi. „Jika orang lain yang mengajukan permintaan demikian, aku harus berpikir-pikir dulu, tetapi sekarang Ouw Tay-hiap yang minta...... Ha, ha, ha! ......Tentu, tentu boleh......”
64
Lalu ia menoleh ke belakang, menepuk kedua tangannya seraya berkata dengan keras. „Lekas-lekas beritahukan pemimpin markas muda untuk lekas-lekas keluarkan Ciam-hua-giok-siu!” Perintah itu segera dilaksanakan oleh seorang muridnya. Sejenak komudian, dari belakang ruangan itu berjalan keluar seorang pemuda yang berpakaian sutra halus. berparas putih bersih, kedua alisnya hitam dan tebal, matanya bersinar tajam, dan kedua tangannya memegang satu kotak yang dibuat dari batu giok, lebih kurang duapuluh lima sentimeter pesegi. Khouw Kong Hu segera dapat mengenali bahwa pemuda itu adalah jago silat yang belum lama membikin nama di kalangan Kang-ouw, putera angkat Kong-ya Coat yang bernama Kong-ya Kim alias si burung walet perak penghalau roh! Begitu berdiri di hadapan kedua tamu ayah angkatnya, Kong-ya Kim segera membungkukkan tubuhnya menghaturkan hormat. Lalu Kong-ya Coat berkata. „Banyak orang di kalangan Kang-ouw telah mengetahui kemujizatan Ciam-hua-giok-siu, Ouw Tay-hiap yang terkenal sekali di kalangan tersebut tentu juga sudah mengetahuinya!” Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu menatap kotak itu dengan hati berdebar-debar.
65
Jika kita memiliki suatu mustika yang dapat menghalau air dan api, memunahkan racun binatang, ular atau serangga yang berbisa dan mengelakan senjata rahasia, maka kita dapat manjagoi di kalangan Bu-lim!” kata Ouw Lo Si. Sambil mengelus-elus jenggotnya yang panjang, Kong-ya Coat berkata. „Tay-hiap betul berpengetahuan luas!” Lalu ia mengambil kotak batu giok itu dari tangan Kong-ya Kim, yang segera berlalu dari ruangan itu. Dengan tenang Kong-ya Coat membuka kotak itu, dan mengulur tangannya yang lain untuk merogoh ke dalam kotak itu. Sejenak kemudian tangannya yang dipakai merogoh itu telah memegang satu sarung tangan yang putihnya laksana batu pualam. Adapun jempol dan telunjuk sarung tangan itu membengkok, sedangkan keempat jari yang lain lurus. Bagus sekali sarung tangan itu, entah dari bahan apa dibuatnya. Itulah Ciam-hua-giok-siu yang dibuat rebutan oleh orang-orang di kalangan Bu-lim! Pada saat yang sama Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu dapat mengendus suatu harum yang ganjil, yang keluar dari kotak itu!
66
Berselang beberapa saat lamanya, tampak Kong-ya Kim masuk lagi ke ruangan itu sambil membawa satu kantong yang dibuat dari pada kulit macan tutul dan di belakangnya tampak empat orang laki-laki yang berpengawakan tegap dan berpakaian serba hitam. Kedua pengikut itu menggotong satu anglo dengan api yang menyala-nyala dan kedua yang lain membawa satu tahang air bening. Anglo dan tahang air tersebut diletakkan di tengah-tengah ruangan. „Saudara Ouw dan saudara Khouw yang terhormat,” kata Kong-ya Coat sambil bersenyum, „Saksikanlah kemujizatan Ciam-hua-giok-siu ini!” Lalu dengan sarung tangan ajaib itu di tangannya, ia bertindak pelahan-lahan menghampiri anglo yang apinya berkobar dan menjilat-jilat. Yang aneh yalah, tiap-tiap tindak ia mendekati anglo itu, api dalam anglo agaknya berkurang berkobar dan panasnya! Ketika ia melonjorkan sarung tangan itu ke atas anglo tersebut, maka api yang sedang menyala-nyala itu terpisah menjadi dua bagian, seolah-olah sebilah pisau tajam membelah agar-agar saja tampaknya dan sejenak kemudian api itupun padam sama sekali! Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu jadi terpesona menyaksikan adegan yang hebat itu. Kong-ya Coat tampak sudah berjalan lagi, kali ini ia menghampiri tahang air.
67
Air di dalam tahang tampak tenang-tenang saja, tetapi setelah Kong-ya Coat menyemplungkan sarung tangannya ke dalam tahang air yang tadinya tenang itu menjadi bergolak-golak untuk kemudian meluap dari tahang, namun tangan atau pakaian Kong-ya Coat tidak basah atau terkena setetes airpun! “Mujizat! Mujizat sekali!” teriak si kakek. „Selama hidupku belum pernah aku menyaksikan benda mujizat serupa itu!” Kong-ya Coat tampak puas sekali, ia lalu berkata dengan tenang. „Memadamkan api dan menghalau air adalah hasil yang menakjubkan, namun di samping itu semua Ciam-hua-giok-siu masih memiliki sifat kemujizatan lain! Yalah merampas senjata rahasia yang biasa atau yang sangat beracun sama mudahnya seperti kita membalikan telapak tangan!” Dan sambil menoleh kepada Kong-ya Kim ia berkata lagi. „Kim-ji, Ouw Locianpwee, si kipas baja, dan Khouw Locianpwee, si gaetan baja, adalah ahli-ahli melepaskan senjata-senjata rahasia. Misalnya ilmu To-sai-ban-thian-sing (Menyebar bintang di angkasa) dari Ouw Locianpwee dan senjata rahasia Bo-hong-yan-bie-tin (Jarum sakti) dari Khouw Locianpwee. Ilmu-ilmu tersebut telah menggetarkan kalangan Kang-ouw pada waktu-waktu yang lampau. Kau dapat mempertunjukkan semua senjata rahasiamu, lalu minta kedua Locianpwee ini memberikan petunjuk-petunjuk yang berharga kepadamu......” Setelah berkata demikian, Kong-ya Coat lalu memegang Ciam-hua-giok-siu di depan dadanya,
68
Kong-ya Kim membungkukkan tubuhnya memberi hormat sambil berkata. „Kedua Loijianpwee yang terhormat, harap Locianpwee suka memberi petunjuk-petunjuk, aku akan segera mempertunjukkan kepandaian melontarkan senjata rahasiaku yang tidak seberapa ini!” Setelah itu, dari kantong kulit macan tutul ia mengambil sesuatu dan secepat kilat tampak kembang api seperti bintang-bintang menyemprot keluar dari telapak tangannya. Lontaran ini disertai dengan gerak-gerik kedua tangan dan langkah ke kiri dan ke kanan. Bintang-bintang perak itu menyerang seluruh tubuh Kong-ya Coat, yang tampak hanya berdiri tenang-tenang bahkan sambil bersenyum, dan semua bintang-bintang perak itu tertarik ke arah telapak sarung tangan ajaibnya, setelah itu dengan satu kebatan saja semua senjata rahasia yang dilontarkan oleh Kong-ya Kim jatuh berarakan di lantai. Cara Kong-ya Kim melepaskan senjata-senjata rahasia cepat dan dahsyat sekali tetapi sarung tangan ajaib itu dapat menarik semua senjata-senjata itu dengan lebih cepat lagi! Bukan main terperanjatnya Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu setelah menyaksikan kemujizatan itu! Kong-ya Coat menaruh kembali sarung tangan ajaibnya ke dalam kotak.
69
„Ciam-hua-giok-siu adalah mustika yang sukar diperoleh,” katanya. „Tetapi siapa saja yang dapat menjagoi di pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee nanti, akan kupersembahkan Ciam-hua-giok-siu sebagai hadiah!” „Perbuatan demikian harus dipuji,” kata Ouw Lo Si. „Tetapi...... bukankah mustika itu telah kau peroleh dengan susah payah dan mungkin juga setelah membunuh banyak jiwa?! Jika kau rela menghadiahkan mustika itu kepada pemenang dari pertemuan adu silat yang kau selenggarakan itu, aku betul-betul tidak dapat mengerti sikapmu ini!” „Akupun tak dapat mengerti ucapanmu itu!” kata Kong-ya Coat dengan gusar. Khouw Kong Hu yang berangasan tiba-tiba berdiri tegak dari tempat duduknya dan membentak. „Maksud kedatanganku di sini bukan untuk menghadiri pertemuan adu silat seperti mungkin yang kau duga! Dan juga bukan untuk merebut Ciam-hua-giok-siu! Kita telah datang untuk menanyakan tentang dibunuhnya saudara angkat kita, Kiu It beserta keluarga dan beberapa puluh jiwa lain di tempat kediamannya, Hui-ing-san-cong!!” Kong-ya Coat jadi merandek mendengar kata-kata itu, yang seolah-olah menuduhnya telah melakukan pembunuhan. „Kouw Tay-hiap! Kau telah datang dari tempat yang jauh, dan aku telah menyambut dengan hormat. Tetapi jika Khouw Tay-hiap menyebut-nyebut urusan yang aku sendiri tidak mengetahui sama
70
sekali, dan seolah-olah menuduh aku yang melakukan pembunuhan itu, aku terpaksa harus mengusirmu keluar dari sini!” bentaknya dengan gusar. Belum lagi Khouw Kong Hu menyahut, Kong-ya Coat telah berkata lagi. „Aku Kong-ya Coat sudah beberapa bulan TIDAK keluar dari Tan-kwi-san-cong ku ini, dan aku tak mengetahui sama sekali tentang pembunuhan di markasnya saudara Kiu It. Maka jika Khouw Tay-hiap tanpa menyelidiki terlebih dulu dan tanpa bukti-bukti yang nyata menuduh aku, akupun minta penjelasan!” „Aku Khouw Kong Hu takkan menuduh orang dengan membabi-buta!” bentak si gaitan baja. „Sebagai seorang kesatria, kau harus mengakui perbuatanmu itu. Kau tak dapat menyangkal begitu saja!” „Hah! Menyangkal?!! Perbuatanku?!!” tanya Kong-ya Coat dengan gugup. „Khouw Tay-hiap! Aku minta penjelasan, atau kau takkan keluar dari ruang ini dalam keadaan hidup!” Dengan sikap siap sedia dan geregetan, Khouw Kong Hu ingin menuturkan pembunuhan di tempat Kiu It, tetapi Ouw Lo Si meredakan suasana dengan berkata. „Banyak orang telah mengetahui bahwa Kong-ya Tay-hiap tidak pernah berbuat keji semenjak berkecimpungan di kalangan rimba persilatan. Tetapi hari ini aku sungguh merasa kecewa sekali karena mengira Kiu It telah menipumu berkenan dengan Ciam-
71
hua-giok-siu, kau telah membunuhnya beserta semua anggota keluarganya! „Kau juga telah membunuh Yo Tie ko, Tong To Tit, Ciam Bun, dan Lo-san Song Kiam. Mereka itu tak ada sangkut-pautnya dengan Ciam-hua-giok-siu, tetapi kau telah juga membunuh mati mereka! Apakah kau tidak takut jika kawan-kawan atau saudara-saudaranya nanti datang untuk membikin pembalasan terhadapmu?! Kong-ya Coat! Kau mungkin kuat dan berpengaruh sekali, tetapi aku yakin kau tak dapat melawan banyak orang!” Tetapi Kong-ya Coat mendengari tuduhan-tuduhan itu dengan agak tenang, bahkan kemudian sambil bersenyum ia menyahut. „Kedua Tay-hiap kira aku ini telah tertipu oleh Kiu It sehingga aku membunuhnya dan semua anggota keluarganya? Mengingat akan tali persahabatan kita di kalangan Rimba persilatan dan agar tidak menerbitkan salah paham di antara kita, aku mohon kedua Tay-hiap bersabar sedikit untuk mendengari penjelasanku. „Aku sudah berusia limapuluh tahun lebih, dan selama jangka waktu yang agak lama itu, aku yakin aku pernah juga menolong orang. Aku belum pernah menipu orang, tetapi jika orang ingin juga menipu aku, akupun takkan tinggal diam perbuatannya itu!” berbareng dengan selesainya kata-katanya itu ia menabas udara kosong dengan telapak tangannya menunjukan rasa gusarnya. „Mustika yang aku bawa dari pegunungan Tiang-pek-san adalah Ciam-hua-giok-siu yang tulen!” ia melanjutkan. “Tetapi yang dibawa oleh Kiu It ke tempatnya adalah mustika yang palsu! Tentang membantu partai silat Cia It Hok, aku mengetahui bahwa
72
Kiu It memang bermaksud menipu aku, tetapi aku tak menghiraukan itu. Barusan kedua Tay-hiap mengatakan bahwa Kiu It telah mati terbunuh. Aku merasa sangat sedih hati mendengar berita itu. „Percayalah pembunuhan tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Aku mengira orang yang membunuh itu menganggap bahwa Kiu It betul-betul telah memiliki Ciam-hua-giok-siu, dan orang itu telah pergi ke tempatnya dengan maksud merampas mustika itu. Akupun yakin orang itulah si pembunuh saudara angkat kalian! „Di kalangan Rimba persilatan, ia dapat melakukan pembunuhan sekejam itu terbatas sekali jumlahnya. Jika kedua Tayhiap berhasrat membikin pembalasan atas kematian Kiu It, maka kalian harus menyelidiki dengan teliti dan cermat. Tadi kalian telah menuduh serta mencaci maki aku habis-habisan tanpa mempunyai bukti-bukti yang kuat. Tetapi karena yakin kalian salah paham, akupun tidak mengambil pusing. Hanya sayang sekali kalian telah bertindak terlampau ceroboh......” Peringatan itu merupakan juga suatu ejekan pedas terhadap Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu, namun penjelasan itu telah membuat mereka jadi sadar, bingung dan tak lagi berani menebak-nebak sembarangan siapa adanya pembunuh Kiu It itu! Untuk sementara waktu suasana di ruangan itu menjadi sunyi senyap, hanya terdengar suara orang bernapas saja.
73
Kong-ya Coat segera mengambil tempat duduk setelah memberi penjelasannya, sambil mengawasi kedua tamunya. Tiba-tiba terdengar Ouw Lo Si tertawa berkakakan dan berkata. „Orang-orang di kalangan Rimba persilatan telah menyatakan bahwa Kong-ya Tay-hiap sangat bijaksana, dan sekarang terbukti memang demikian! Kiu It hanya seorang jago silat dan aku yakin dia tak dapat menipu orang apalagi Kong-ya Tay-hiap yang cerdik pandai! Aku minta maaf atas kecerobohanku tadi. Namun aku masih juga belum dapat memecahkan teka-teki pembunuhan besar-besaran itu.” Kong-ya Coat bersenyum lebar mendengar ucapan itu, „Kedua Tay-hiap telah datang dari tempat yang jauh,” katanya. „Aku harus menjamu kalian,” sambil meneriakkan orang-orangnya menyiapkan hidangan dan arak. „Barusan Kong-ya Tay-hiap telah menceritakan peristiwa partai Tiang-pek-kiam,” kata Ouw Lo Si, „dan cara bagaimana pemimpin partai tersebut memperoleh mustika mujizat itu? Apakah kita dapat mengetahui seluk beluknya?” Sambil bersenyum dan mempersilahkan tamu-tamunya makan dan minum, Kong-ya Coat berkata. „Cerita ini agak panjang, tetapi jika kalian ingin mengetahui aku rela menceritakan segala sesuatu. Sebagaimana kalian telah mengetahui, partai silat Tiang-pek-kiam dulunya tergolong sebagai salah satu partai silat yang sangat dimalui. Namun dalam beberapa
74
tahun ini, partai itu telah mengalami kemerosotan hebat sekali dan aku rasa kalianpun tentu sudah mengetahui juga akan hal ini bukan?” Dengan hampir berbareng Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu mengangguk. Maka mulailah Kong-ya Coat dengan kisahnya. Semasa mudanya Kong-ya Coat tak pernah mempunyai hubungan dengan partai Tiang-pek-kiam. Baru pada tahun yang lalu Kiu It datang ke tempatnya dan memberitahukan bahwa partai Tiang-pek-kiam tengah menghadapi krisis dan memintanya datang membantu. Semula Kong-ya Coat menolak permintaan itu, karena sungkan mencampuri urusan orang lain, tetapi Kiu It memberitahukan bahwa partai Tiang-pek-kiam akan memberikan hadiah yang tak ternilai harganya, yalah Ciam-hua-giok-siu kepada siapa saja yang dapat membantu mengatasi kesulitan partai tersabut. Setelah mempertimbangkan masak-masak, Kong-ya Coat jadi sangat tertarik oleh benda ajaib yang akan diberikan sebagai hadiah itu. Maka segera ia menanyakan kesulitan-kesulitan partai itu. Dari Kiu It ia mengetahui bahwa kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh partai silat itu rumit sekali. Kesulitan kesatu.
75
Saudara seperguruan Cia It Hok, Pek Tiong Thian, telah bermusuhan dengan ketiga jago silat pedang dari partay Kong-tong-sa-kiam, dan ketika Pek Tiong Thian bertarung melawan ketiga jago silat pedang itu, ia telah terluka di kakinya, tetapi Kim Cin Hu, salah satu ketiga jago silat pedang itu, juga kena jotosannya. Mula-mula jotosan tersebut tidak mengakibatkan apa-apa. Tetapi kemudian setelah Kim Cin Hu menikah dan istrinya melahirkan anak, luka bekas jotosan Pek Tiong Thian itu merupakan luka di dalam tubuh yang tak dapat disembuhkan lagi! Oleh karena itu, partai silat Kong-tong-sa-kiam ingin membalas dendam dan segera mengumpulkan orang-orangnya dan menantang partai silat Tiang-pek-kiam bertarung pada tanggal satu bulan tiga! Kesulitan kedua. Belum selang beberapa lama ini partai silat Ang-si-pang yang senantiasa bermusuhan terhadap partai Tiang-pek-kiam, setelah mengetahui kemerosotan partai lawannya lalu mendesak supaya partai tersebut pindah dari pegunungan Tiang-pek dalam jangka waktu dua bulan, dan jika tidak mereka akan disapu bersih oleh partai silat Ang-si-pang! Kesulitan ketiga. Kuil Cit-po-si di pegunungan Ngo-tay-san telah kehilangan suatu mustika, dan pencurinya telah meninggalkan sajak yang berbunyi. Angin meniup LAMA (Tiang) sekali, Ombak PUTIH (Pek) bergolak-golak dan menari,
76
Yang MENGAMBIL mustika ini. Telah MELARIKAN DIRI! (Ki) Pemimpin kuil Cit-po-si itu, Bak Kiam Taysu, telah memetik tiap-tiap huruf kepala dari sajak dan menggabungkannya menjadi satu. TIANG PEK MENGAMBIL DAN MELARIKAN DIRI!!! Bak Kiam Taysu mengambil kesimpulan bahwa partai Tiang-pek-kiam lah yang mencuri mustika itu! Maka ia menulis surat kepada partai itu, menuntut agar mustika tersebut dikembalikan dalam jangka waktu satu bulan. Demikianlah tiga soal yang sulit sekaligus telah menimpa partai Tiang-pek-kiam, dan Cia It Hok tidak berdaya! Kiu It yang mengetahui kesulitan-kesulitan itu tetapi karena tak mampu membantu, ia lalu minta bantuan Kong-ya Coat dengan maksud memancing di air keruh! Disamping itu karena ia mengetahui bahwa Kong-ya Coat mengenal baik partai Ang-si-pang dan juga Bak Kiam Taysu dari Ngo-tay-san, maka menurut anggapannya si orang she Kong-ya itulah orang yang paling tepat untuk diminta pertolongannya. Maka setelah meninggalkan pesan kepada orang-orangnya, berangkatlah Kong-ya Coat bersama-sama Kiu It, putera angkatnya Kong-ya Kim dan dua orang muridnya ke pegunungan Tiang-pek.
77
Pada pertengahan bulan dua itu suasana sebelah selatan sungai Tiang-kang sudah menunjukkan musim semi, tetapi di sebelah utara masih terlihat salju menutupi jalan. Kong-ya Coat tampaknya sedih melihat keadaan alam yang tidak adil itu, tetapi tidak demikian halnya dengan Kiu It, yang ingin lekas-lekas sampai di pegunungan tersebut. Mereka semua memiliki ilmu silat yang tinggi, maka betapapun sukarnya perjalanan itu dapat mereka tempuh dalam waktu yang singkat sekali, dan mungkin juga kedatangan mereka yang cepat itu telah berhasil menolong partai yang tengah ditimpa bahaya keruntuhan itu. Ketika hampir tiba di markas besar partai itu, yang terletak di¬ lereng pegunungan Tiang-pek yang bernama Leng-tiang-koan, mereka dibikin kaget oleh jeritan yang menyayatkan hati! Kong-ya Coat mendongak dan menatap keadaan sekitar pegunungan itu. „Kiu Tay-hiap! Mungkin telah terjadi sesuatu yang tidak beres!” kata Kong-ya Coat sambil menyuruh putera angkatnya memimpin dua orang muridnya masuk ke markas itu dari pintu belakang ia sendiri bersama-sama Kiu It segera memburu ke muka. Cahaya lampu masih bersinar dari Leng-tiang-koan, tetapi suara jeritan sudah tidak terdengar lagi. Kiu It jadi tidak sabaran dan berseru keras.
78
„Hei kalian yang berada di Leng-tiang-koan, Sam-kiat-sian-seng dari Tan-kwi-san-cong sudah berada di sini!” Lalu dari dalam markas itu tampak loncat keluar seorang yang berjubah warna abu-abu dan bersenjata pedang panjang sambil berseru. „Kong-ya dan Kiu Tay-hiap berada dimana? Kong-tong-sa-kiam ingin membunuh pemimpin. kami, Cia It Hok!” Tatkala itu betul saja keadaan di partai Tiang-pek-kiam sudah kacau tiga orang murid dari empat yang dapat diandeli sudah terluka. Yang berlari dan berseru tadi adalah seorang murid partai Tiang-pek-kiam yang telah dilukai oleh Tong Peng, seorang jago silat sewaan yang istimewa diundang oleh partai Kong-tong-sa-kiam! Cia It Hok melihat murid kesayangannya dibunuh mati, dan penolong yang diharap-harap belum juga tiba, maka ia terpaksa melawan dengan nekad, dan ketika ia melawan Kim Cin Jie, salah satu dari pemimpin partai Kong-tong-sa-kiam, ia merasa bahwa ia masih dapat bertahan. Dalam kegelisahannya, ia menjadi sangat gembira ketika mendengar seruan Kiu It, dan segera meloncat menghampiri Kong-ya Coat seraya berkata. „Aku girang sekali Kong-ya Tay-hiap telah tiba!” Sementara itu pertempuran pun dengan tiba-tiba jadi terhenti.
79
Kong-ya Coat memperhatikan bahwa di pekarangan depan Leng-liang-koan telah ditancapkan banyak obor, beberapa Tojin (pendeta) berdiri di sebelah kanan, dan di bawah atap gedung tampak duduk di atas bangku panjang, empat jago silat yang berusia lebih kurang setengah abad. Kong-ya Coat segera yakin bahwa mereka itu adalah tampuk pimpinan dari partai Kong-tong-sam-kiam yang telah datang hendak membikin perhitungan terhadap partai Tiang-pek-kiam. Karena belum pernah ada hubungan dengan partai itu, maka sambil mengangkat kedua tangannya Kong-ya Coat memberi hormat seraya berkata dengan nada keras. „Aku Kong-ya Coat malam ini......” Belum selesai ucapannya itu ketika Kim Cin Jie, salah satu pemimpin partai Kong-tong-sam-kiam mengejek. „Sam-kiat-sian-seng sudah terkenal di kolong langit, dan kita juga sangat menghormatinya!” Betul nada ucapan itu sangat hormat, namun Kong-ya Coat harus menghadapi musuh-musuh partai Tiang-pek-kiam itu. Dengan sikap yang tenang ia menyahut. „Aku Kong-ya Coat hanya seorang Bu-beng-siauw-cu (orang yang tak terkenal) dan tak dapat dipersamakan dengan para Tay-hiap dari partai Kong-tong-sam-kiam!” Ketika itu sambil menatap Kim Cin Jie, Kiu It berkata.
80
„Kong-ya Tay-hiap, yang bicara itu adalah Kim Cin Jie tay-hiap, si tujuh keistimewaan!” Kiu It sengaja menyebut ‘si tujuh keistimewaan’ itu keras-keras untuk membangkitkan amarah Kong-ya Coat, tetapi ia menjadi kecele, karena ternyata si dewa sakti tak dapat ‘dibakar’! Tampak ia berdiri tenang sambil menatap Kim Cin Jie yang terdengar berkata. „Betul aku mempunyai julukan tujuh keistimewaan, namun aku tak dapat melawan Kong-ya Tay-hiap yang memiliki ilmu silat maha tinggi......” LIMA Kong-ya Coat masih berdiri tenang, hanya matanya menatap tajam bakal lawannya itu. Kemudian terdengar Kim Cin Jie berkata lagi. „Apakah Kong-ya Tay-hiap datang ke sini pada malam ini dengan maksud pesiar atau ingin membantu partai Tiang-pek-kiam?!” „Akupun ingin bertanya, apakah Kim Tay-hiap beramai-ramai datang ke sini pada malam ini dengan maksud pesiar atau memang sengaja ingin mencari musuh?!” kata si dewa sakti sambil mengelus-elus jenggotnya. Kim Cin Jie tercengang melihat ketabahan lawannya itu, namun ia tertawa gelak-gelak seraya menyahut.
81
„Pertanyaan jitu! Pertanyaan jitu! Tetapi Kong-ya Tay-hiap tak usah menanya mengapa aku Kim bersaudara telah datang ke sini, karena tentu kau telah mengetahui bahwa kita datang untuk membalas dendam. Membalas dendam adik kita yang tewas! Apakah langkah kita ini salah?!” Dalam Rimba persilatan, budi dan dendam jelas sekali perbedaannya. Yang pertama harus dibalas, sedangkan yang kedua harus dibikin perhitungan! Pertanyaan Kim Cin Jien sangat jitu, namun Kong-ya Coat yang telah mengetahui jelas duduknya perkara menyahut. „Aku betul-betul seperti kodok di dalam sumur, tidak mengetahui bahwa adikmu telah tewas. Aku mohon menanya. Cara bagaimanakah tewasnya adikmu di tangan Cia Tay-hiap? Menurut pengetahuanku, selama sepuluh tahun belakangan ini dia belum pernah menginjak daerahmu, malah sebaliknya kalian ketiga saudara dari partai Kong-tong-sa-kiam yang sering mundar mandir di daerah pertengahan, bahkan di daerah pegunungan Tiang-pek-san ini. Apa maksudnya ini?!” Kim Cin Jie menjadi gusar ditanya begitu, sambil menahan amarahnya ia menyahut. „Adikku bukan tewas di tangan Cia It Hok, tetapi dia mati akibat totokan Pek Tiong Thian yang menjadi saudara angkatnya orang she Cia itu! Kita mengetahui bahwa Pek Tiong Thian bersembunyi di sini, jika kita datang ke sini untuk membikin perhitungan, apakah tindakan kita ini harus disesalkan dan salah?!”
82
„Hm...... tidak mungkin!” kata Kong-ya Coat. „Menurut pengetahuanku, Pek Tiong Thian telah lumpuh kedua kakinya dan telah menjadi orang cacad, sedangkan ketiga sandara Kim terkenal lihay ilmu silatnya. Jika kau bilang adikmu tewas di tangan Pek Tiong Thian, aku betul-betul tak dapat mengerti kata-katamu itu!” Bukan main gusarnya Kim Cin Jie, tampaknya ia sudah hilang sabar. „Aku sudah lama menaruh hormat kepadamu yang senantiasa bertindak bijaksana. Tetapi sekarang kau telah mempermainkan aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang ganjil. Apa maksudmu?!!” bentaknya. „Hah......! Aku mempermainkanmu?” Kong-ya Coat balik menanya. „Dengan cara apakah aku mempermainkanmu? Aku hanya ajukan pertanyaan-pertanyaan yang berdasarkan kenyataan atau kejadian!” Kim Cin Jie yang memang kurang pandai bicara itu jadi menggigil dadanya saking gusar. „Adikku telah ditotok oleh Pek Tiong Thian banyak tahun yang lalu, dan luka di dalam tubuhnya itu tak dapat disembuhkan sehingga ia meninggal dunia. Sekarang kita datang ke sini dengan maksud mengambil batok kepala orang she Pek itu, agar dapat aku taruh kepalanya di depan kuburan adikku. Dan siapapun tak dapat merintangi tindakan kita ini!”
83
Demikianlah tanya jawab itu berlangsung dengan sengit, sehingga orang lain tak berkesempatan bicara. Ketika itu empat orang yang duduk di bangku panjang, di bawah atap rumah, sudah siap sedia untuk menyerang Kong-ya Coat. Suasana yang semula gaduh dengan perdebatan itu menjadi sunyi dan tegang! Angin sepoi-sepoi meniup api obor yang menerangi tempat itu, dan tampak tiap-tiap orang yang berada di situ bersikap waspada sambil bersiap-siap menghadapi segala sesuatu! Tetapi si dewa sakti Kong-ya Coat tetap mengelus-elus jenggotnya dan dengan sikap serta nada yang tenang berkata. „Kim Tayhiap, kau sudah lama berkecimpungan di kalangan Rimba persilatan, mengapa kau bicara demikian kasarnya?” Kim Cin Jie menghunus pedangnya dan membentak. „Apa yang aku katakan tadi bukan isapan jempol! Apakah aku telah bicara salah?!” „Aku yakin, kau seperti juga aku, telah bertempur melawan musuh beratus kali! Kita tidak mengetahui apakah di dalam tubuh kita ada luka-luka, dan jika ada kitapun tak dapat mengetahui luka-luka itu siapa yang buat!” si Dewa sakti memberi pembelaan kepada saudara seperguruan Cia It Hok, Pek Tiong Thian. „Tetapi dalam hal ini aku mengetahui bahwa luka adikku itu akibat totokan Pek Tiong Thian!” sahut Kim Cin Jie. „Aku sudah periksa dan yakin. Kita takkan bertindak jika tidak mengetahui betul!”
84
„Dengan cara apakah Kim Tay-hiap menentukan bahwa luka tersebut dibuat oleh Pek Tiong Thian?” Kong-ya Coat menekani terus lawannya. Perdebatan yang makin lama makin sengit itu agaknya akan habis sampai di situ, karena tampak Kim Cin Jie sudah tak lagi dapat menahan amarahnya, sambil mengacung-acungkan pedangnya ia membentak. „Hei, Kong-ya Tay-hiap, aku sudah banyak mengalah, jika kau tetap ingin turut campur dalam urusan ini, aku terpaksa......” Belum selesai bentakan itu diucapkan, seketika dari samping berkelebat satu bayangan yang segera mencekal pergelangan tangan Kim Cin Jie, yang sudah siap menyerang, seraya berkata. „Twako! Tahan dulu. Tidak salahnya jika kita menjelaskan dan membuktikan bahwa luka adik kita dibuat oleh Pek Tiong Thian. Dengan demikian kita dapat membuktikan bahwa kita bertindak berdasarkan bukti-bukti yang nyata!” Lalu sambil menghadap kepada Kong-ya Coat orang itu berkata lagi. „Kong-ya Tayhiap, aku Kim Cin Lam akan menjelaskan bahwa adikku mati karena totokan Pek Tiong Thian!” Kemudian dengan nada yang agak keras agar dapat didengar jelas, Kim Cin Lam mulai.
85
„Delapan tahun yang lalu, adikku telah memberi kesempatan untuk Pek Tiong Thian membebaskan diri dari pedangnya, tetapi di waktu adikku kurang waspada, ia telah menotok jalan darah di bagian ginjalnya. Oleh karena itu adikku terpaksa menabas urat kedua kakinya. Betul ketika itu adikku tidak merasai akibat totokan maut itu, namun akhirnya ternyata adikku tewas juga karenanya! Aku yakin betul, karena luka itu adalah akibat daripada totokan Soat-leng-ciang (totokan ajaib) dari partai silat Tiang-pek-kiam!” Kong-ya Coat mengangguk-angguk seolah-olah setuju dan sependapat dengan Kim Cin Lam, kemudian ia berkata. „Aku jarang keluar, dari itu aku tak mengetahui kematian adik kalian. Aku menyatakan turut duka cita......” Kedua saudara Kim yang meskipun sudah banyak pengalamannya, tak dapat mentafsirkan tipu muslihat lawannya yang licin itu. „Delapan tahun yang lalu!” kata si dewa sakti. „Sebetulnya luka yang terjadi pada delapan tahun berselang tak mungkin mengakibatkan matinya seseorang! Maka mau tak mau aku terpaksa harus turut campur dalam urusan ini!” Kim Cin Lam yang senantiasa bersikap sabar selama pertengkaran tadi berlangsung, kini diapun tak lagi dapat menahan kesabarannya, sambil tertawa berkakakan ia berseru. „Di kalangan Kang-ouw, yang ilmu silatnya tinggi, dialah yang kuat! Dan omongannya selalu dibenarkan. Kau mengapa bicara panjang
86
lebar, jika berhasrat menggempur kita, kau boleh segera mulai, kita sudah siap!” „Aku sebetulnya tidak ingin melihat pengucuran darah,” sahut Kong-ya Coat dengan tenang, „maka aku akan berusaha membujuk kalian agar pertarungan atau saling bunuh ini dapat dielakkan. Tetapi kini ternyata usahaku ini hampa saja! Aku telah berlatih beberapa jurus ilmu silat, jika kedua saudara Kim dan ketiga kawan-kawan kalian itu dapat melayani jurus-jurusku, aku segera angkat kaki dari sini!” „Ha, ha, ha!” Kim Cin Lam tertawa, „kita sudah lama mendengar nama Sam-kiat-sian-seng yang sangat tenar itu. Jika kau dapat mengajari kita jurus-jurus meringankan tubuh, mengerahkan tenaga dalam dan ilmu silat pedang, maka kitapun takkan tinggal lama-lama di sini!” Pada saat itu Kim Cin Jie sudah mulai melangkah mundur satu tumbak. Tampak Cia It Hok menghampiri Kong-ya Coat dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat. Kiu It pun menghampiri dan berbisik di telinganya Kong-ya Coat. „Kong-ya Tay-hiap, jatuh bangunnya partai silat Tiang-pek-kiam ini terletak dalam tangan Tay-hiap......” Kong-ya Coat bersenyum dan menyahut dengan suara rendah. „Jangan khawatir! Kiu Tay-hiap harus menaruh kepercayaan kepadaku......”
87
Lalu sambil mengepal keras tinjunya ia berseru. „Aku Kong-ya Coat akan segera mulai mempertunjukkan ilmu silatku!” Belum lagi suaranya lenyap segera tampak tubuhnya mencelat ke udara untuk kemudian turun di dalam ruangan depan gedung dengan ilmu Giok-li-tok-so (Gadis cantik melemparkan anak torak). Orang-orang yang berada di situ jadi terperanjat menyaksikan gerak-gerik secepat kilat itu! Selagi orang-orang terbengong, Kong-ya Coat sudah keluar dari gedung itu sambil memegang empat lilin yang menyala, dengan satu teriakan „Hai!” ia melempar empat lilin-lilin itu ke atas atap gedung. Keempat lilin tersebut tertancap tegak dan berbaris di atas atap gedung itu. Lawan maupun kawan setelah menyaksikan kelihayan ilmu silat Kong-ya Coat itu, menjadi kagum tak terhingga. Belum habis keheranan mereka ketika Kong-ya Coat mengebatkan lengan jubahnya dan hembusan angin lengan jubahnya itu telah meniup padam tiga lilin. Kini hanya tertinggal satu lilin saja yang masih menyala. Kemudian dengan tiba-tiba Kong-ya Coat menjotos dengan tinju kirinya. “Bek!” lilin kedua menyala lagi, setelah itu berturut-turut ia telah menjotos dua kali lagi dan keempat lilin tampak menyala lagi seperti semula. Demikianlah dengan mempergunakan api lilin yang
88
masih menyala itu Kong-ya Coat telah berhasil membuat api lilin meloncat dan menyulut lilin-lilin yang lain! Pertunjukan itu belum habis sampai di situ. Cepat sekali ia telah mengambil pedang dari tangan Cia It Hok dan meloncat melalui lilin-lilin yang menyala di atas atap gedung untuk turun lagi di tanah dengan tak menerbitkan suara apapun, disertai dengan jatuhnya empat lilin-lilin yang menyala itu, yang kini telah terpotong menjadi 4 X 7 = 28 potongan! Entah bagaimana ia menabasnya hanya terlihat ia loncat dan keempat lilin itu telah menjadi potong-potongan! Kiu It yang terkenal karena ilmu silat pedangnya pun terpesona menyaksikan ilmu silat Kong-ya Coat itu. Ternyata Kong-ya Coat tidak berhenti hingga di situ. Ia menjumput duapuluh delapan potongan-potongan lilin tadi, lalu melemparkannya di pekarangan. „Sst......! sst.....!” Tampak lilin-lilin itu tetap menyala dan menyala dan menancap di tanah merupakan satu lingkaran! Dalam hal ini Kong-ya Coat bukan saja telah mampertunjukkan tiga rupa ilmu silat, yalah ilmu meringankan tubuh, mengerahkan tenaga dalam dan ilmu silat pedang, tetapi iapun telah mempertunjukkan juga ilmu melontarkan senjata rahasia! Kim Cin Jie dan Kim Cin Lam, begitu juga tiga jago-jago silat yang mereka ajak datang, setelah melihat kelihayan itu, segera mengangkat kaki keluar dari pekarangan tanpa menggerutu atau mengucapkan apapun!
89
Sejenak kemudian terdengar sayup-sayup Kim Cin Lam berseru. „Ilmu silat Kong-ya Tay-hiap memang tiada taranya......” „Kita masih dapat berjumpa lagi,” sahut Kong-ya Coat, „Karena jika kalian tak berhalangan, aku ingin mengundang kalian ke tempatku, Tan-kwi-san-cong......” Di jalan pegunungan yang gelap gulita itu tidak terdengar suara sahutan, hanya terdengar tindakan kaki rombongan Kim bersaudara yang meninggalkan tempat tersebut dengan tergesa-gesa. Kong-ya Coat telah berhasil membereskan pertikaian itu bahkan tanpa pengucuran darah setetespun! Cia It Hok, yang tidak kawin seumur hidupnya, pemimpin partai Tiang-pek-kiam, merasa malu tak dapat memecahkan soalnya sendiri, maka setelah musuh-musuhnya berlalu ia segera menghampiri penolongnya itu, memberikan hormatnya dan berkata. „Kong-ya Tay-hiap telah datang pada waktu yang tepat, dan bukan saja telah menolong jiwa Sutee ku, Pek Tiong Thian, tetapi juga beberapa puluh jiwa orang-orang dari partai kami, Tiang-pek-kiam. Budi yang maha besar ini, aku takkan lupakan!” Kong-ya Coat merasa jengah menerima pujian itu, tetapi Kiu It tertawa sambil berkata. „Mereka dari Kong-tong-sa-kiam sebetulnya berjanji datang pada tanggal satu bulan tiga, tetapi mereka telah datang setengah bulan
90
lebih cepat. Aku yakin mereka khawatir Cia Heng mendatangi pembantu-pembantu!” „Akupun takkan lupakan Kiu Heng yang sudah sangat perlu datang dan menolong kawan di dalam susah!” kata lagi Cia It Hok. Baru saja ia berkata begitu, tiba-tiba ia dibikin kaget oleh suara di atas atap gedung. „Siapa?!” tegurnya. Kong-ya Coat menyahut sambil bersenyum. „Itulah murid-muridku yang sedang menjaga-jaga di atas atap gedung ini.” Betul saja sejenak kemudian dari atas atap gedung loncat turun Kong-ya Kim dan dua orang murid dari Tan-kwi-san-cong. Setelah mereka berkumpul lagi, Kiu It lalu berkata. „Orang-orang dari Kong-tong-sa-kiam sudah pergi, dan musuh-musuh dari dua tempat lain adalah berkawan sangat akrab dengan Kong-ya Tay-hiap. Kini aku kira bahaya bagi partai Tiang-pek-kiam sudah lewat. Saudara Cia sekarang tentunya harus menjamu Kong-ya Tay-hiap bukan......? Ha, ha, ha!” Demikianlah Kong-ya Coat telah mengisahkan kepergiannya ke tempat Cia It Hok untuk menolong partai Tiang-pek-kiam dari keruntuhan. Kemudian sambil menjamu kedua tamunya ia meneruskan.
91
„Perlu kiranya aku jelaskan kepada Tay-hiap bahwa kedua Kim bersaudara dari partai Kong-tong-sa-kiam telah memegang janji, dan dapat dikatakan mereka adalah jago-jago silat yang luhur juga wataknya. Tetapi tidak demikian dengan Cia It Hok dan Pek Tiong Thian, aku lihat mereka berwatak palsu! Sebab musabab perselisihan Pek Tiong Thian dengan partai Kong-tong-sa-kiam sampai sekarang aku masih belum mengetahui jelas, dan aku merasa sedikit menyesal telah menolong partai tersebut, meskipun Cia It Hok telah memberikan Ciam-hua-giok-siu kepadaku sebagai hadiah!” Ouw Lo Si yang mendengari dengan penuh perhatian kisah Kong-ya Coat itu, berkata dalam hatinya. Hm! Berlagak menyesal! Yang kau pentingkan yalah memperoleh Ciam-hua-giok-siu! Tetapi sambil bersenyum ia lalu berkata. „Menurut pandanganku, hanya Kong-ya Tay-hiap seorang saja yang dapat menolong partai silat Tiang-pek-kiam dan mengusir orang-orang dari partai Kong-tong-sa-kiam yang congkak itu dengan mudah!” Kong-ya Coat bersenyum dipuji demikian. Setelah menghirup araknya ia lalu melanjutkan kisahnya. Maka perjamuan disediakan, dan setelah selesai bersantap, Cia It Hok mengambil dari dalam kamarnya sebuah kotak yang tersulam indah. Dengan kedua tangannya ia mempersembahkan kotak itu seraya berkata.
92
„Dari tempat yang jauh Kong-ya Tay-hiap telah datang untuk menolong kita semua dari kemusnahan. Perbuatan yang luhur itu pasti akan dipuji oleh orang-orang dari kalangan Rimba persilatan. Seperti telah kujanjikan, aku akan memberikan Ciam-hua-giok-siu sebagai hadiah kepada orang yang dapat menolong kesulitan-kesulitan partaiku. Tetapi ketika aku memperoleh mustika ini, aku memperoleh tiga benda dua yang palsu dan satu yang tulen, dan ditaruh di dalam kotak yang indah bentuknya. Aku yang bodoh tak dapat membedakan yang tulen dari yang palsu! Oleh karena itu, aku mohon Kong-ya Tay-hiap memilih sendiri satu, dan setelah ketiga kesulitan partai kita di atasi tay-hiap dapat mengambilnya semua......” Kong-ya Coat bersenyum dan yakin bahwa Cia It Hok khawatir sebelum ketiga kesulitan partainya itu di atasi, ia sudah berlalu. Iapun memperhatikan perubahan wajah Kiu It yang mendadak itu. Lalu ia berkata dengan tenang. „Aku datang ke sini dengan perjanjian yang layaknya dibuat di kalangan Rimba persilatan untuk membantu partai Tiang-pek-kiam. Cara Cia Tay-hiap membalas budi yang tidak berarti ini, aku tentu pasrahkan kepada Cia Tay-hiap!” Meskipun perkataannya itu demikian merendah dan manisnya, tetapi dalam hati Kong-ya Coat berkata. Jangan coba menipu aku......! Pada malam itu mereka menginap di tempat partai Tiang-pek-kiam, tetapi Kong-ya Coat dan Kiu It diberi kamar-kamar yang terpisah. Sebelum masuk tidur Kong-ya Coat berkata kepada Kiu It.
93
„Kali ini dengan mengeluarkan sedikit tenaga aku berhasil memperoleh Ciam-hua-giok-siu. Aku mengetahui bahwa Cia Tay-hiap sangat murah hati. Jasa Kiu Tay-hiap pun aku tak bisa lupakan, karena Kiu Tay-hiap telah memberitahukan juga semua ini kepada aku meskipun kau harus menempuh perjalanan yang jauh. Jika Kiu Tay-hiap ada sesuatu yang aku dapat menolong, sebutkanlah dan jangan sungkan-sungkan......!” Tampak Kiu It menjadi girang sekali mendengar tawaran itu, „Sebetulnya...... aku memang ingin meminta sesuatu dari Kong-ya Tay-hiap......” katanya sambil menyengir paksaan. „Sebutkanlah, jika aku dapat menolong, aku pasti akan menolong!” kata Kong-ya Coat. „Permintaanku ini jika diajukan kepada orang lain mungkin tak layak,” kata Kiu It. „Tetapi diajukan kepada Kong-ya Tay-hiap yang luhur dan budiman, aku yakin tidak janggal! Cia Tay-hiap telah menaruh tiga Ciam-hua-giok-siu, dua yang palsu dan satu lagi yang tulen. Orang lain tak dapat melihat perbedaannya, tetapi bagi Kong-ya Tay-hiap aku yakin tentu tidak sukar untuk memilih satu yang tulen!” ia berhenti sejenak dan berpikir, lalu sambil bersenyum ia melanjutkan. „Aku minta setelah terlebih dulu Kong-ya Tay-hiap memilih satu, yang dua lagi harap Tay-hiap suka berikan kepadaku sebagai kenang-kenangan.”
94
Kong-ya Coat terperanjat mendengar permintaan itu, karena ia sudah merasa bahwa dengan permintaannya itu, Kiu It bermaksud menipunya! Namun ia tetap bersikap tenang bahkan sambil tertawa ia menyahut. „Kiu Tay-hiap telah berusaha menolong partai Tiang-pek-kiam dari kemusnahan, jasa itu besar sekali, seratus kali lebih besar dari pada jasaku sendiri! Misalnya Cia Tay-hiap menghadiahkan Kiu Tayhiap Ciam-hua-giok-siu, akupun anggap itu pantas dan wajar. Tetapi atas permintaan Kiu Tay-hiap agar aku mengambil satu lebih dulu, aku merasa lebih baik jika Kiu Tay-hiap saja yang berbuat demikian terlebih dulu!” Kiu It berlagak menolak, padahal itulah yang ditunggu-tunggu olehnya. „Selama hidupku,” Kong-ya Coat mendesak, „apa yang aku telah ucapkan, aku takkan menarik kembali. Aku harap Kiu Tay-hiap tidak menolak permintaanku ini!” Lalu dengan berlagak ngantuk Kong-ya Coat meneruskan. „Kita telah menempuh perjalanan satu hari penuh dan aku merasa letih sekali, harap Kiu Tay-hiap suka memaafkan, aku harus pergi tidur......” „Silahkan!” kata Kiu It dengan wajah gembira. „Aku mengucap banyak-banyak terima kasih atas kerelaan Kong-ya Tay-hiap!” lalu ia pun berlalu untuk beristirahat.
95
Demikianlah penuturan Kong-ya Coat kepada Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu, bagaimana ia ingin ditipu oleh Kiu It. Setelah minum satu cangkir arak lagi, ia berkata seolah-olah berada seorang diri saja di ruangan itu. „Hm! Kiu It menganggap aku sebagai anak kecil yang dapat ia permainkan dengan mudah. Ia sudah sengaja membuat dua lagi Ciam-hua-giok-siu yang ditaruhnya di dalam kotak. Akupun sengaja menyuruh dia mengambil satu terlebih dulu, dan ia tentu akan mengambil yang tulen, meninggalkan dua yang palsu untuk aku. Tetapi......” „Kiu It tidak dapat menipu Kong-ya Tay-hiap bukan?” Ouw Lo Si meneruskan kata-kata Kong-ya Coat itu. „Ha, ha, ha!” Kong-ya Coat tertawa keras, „ketika aku menyuruhnya mengambil satu lebih dulu, akupun sudah memasang perangkap. Aku memperhatikan tiap-tiap geraknya, tampak ia keluar dari kamarnya untuk kemudian balik kembali dengan wajah gembira sekali. Kemudian tampak ia keluar lagi melalui jendela, aku tetap menguntit tanpa diketahui olehnya......” Kemudian Kong-ya Coat masih dapat melihat Kiu It meloncat ke atas atap rumah, dari atas ia meloncat lagi melalui tembok yang melingkari pekarangan depan rumah itu. Kong-ya Coat tetap membayangi dengan cermat. Dengan ilmu meringankan tubuh yang mahir tampak Kiu It berhati-hati ke suatu rumah gubuk kecil yang terletak tidak jauh dari jalan
96
yang gelap di situ, lalu terdengar ia mengetok pintu rumah tersebut, dan tak lama kemudian terdengar suara dari dalam rumah. „Siapa?” Sebelum menyahut Kiu It menoleh ke kanan ke kiri khawatir ada yang menguntitnya. „Aku Kiu It!” sahutnya dengan suara rendah. Pintu tampak terbuka, dan ia segera masuk ke dalam rumah gubuk itu. Tempat itu telah ditelantarkan, rumput liar tumbuh di sana-sini dan keadaan di sekitarnya gelap serta menjijikan. Kong-ya Coat menjadi heran, siapakah gerangan yang tinggal dalam rumah reyot itu? Dari belakang satu pohon besar, tidak jauh dari rumah itu, Kong-ya Coat dapat melihat melalui jendela yang kebetulan terbuka. Tampak Kiu It sedang menghadapi seorang laki-laki yang terbaring di tempat tidur. Disamping tempat tidur itu tampak sepasang tongkat ketiak. Kong-ya Coat jadi terkejut sekali tatkala dapat mengenali wajah orang yang sedang rebah itu, karena dia itu bukan lain daripada Pek Tiong Thian, si garuda putih yang pernah menggemparkan dunia Kang-ouw! Agar dapat melihat lebih jelas, Kong-ya Coat segera mencelat ke atas sebuah dahan satu pohon yang lebat daunnya, tak lama kemudian ia mendengar orang di dalam kamar itu berkata.
97
„Kiu Heng, apakah kau yakin tiada orang yang menguntitmu datang di sini?” „Harap Pek Heng tidak menjadi khawatir, urusan itu aku tentu dapat melaksanakan dengan baik.” „Hai......, Kiu Heng jika kau terpaksa berbaring di tempat tidur ini, dan harus senantiasa dibantu dalam segala hal, kau juga tentu akan menjadi mudah gelisah seperti aku!” „Pek Heng, aku yakin kedua kakimu itu masih dapat disembuhkan!” Pek Tiong Thian menarik napas lagi, lalu ia menatap Kiu It seraya berkata. „Urusan kemarin malam aku sudah mengetahui. Tetapi apakah Kiu Heng sudah ajukan usul kepada Kong-ya Coat agar dia menyerahkan hadiah itu setelah dia sendiri lebih dulu memilih satu hadiah?” „Urusan itu telah berjalan dengan lancar dan baik. Kong-ya Coat bukan saja setuju akan usul-usul yang kuajukan, bahkan dia rela memberikan kepadaku satu Ciam-hua-giok-siu!” Pek Tiong Thian pun tampaknya gembira sekali dengan jawaban itu. „Bagus, bagus! Jika tidak, mungkin jiwaku tak dapat dipertahankan lagi! Di bawah tempat tidurku ini aku telah siapkan kotak berikut Ciam-hua-giok-siu yang palsu. Kau dapat segera membawa dan menukarnya dengan yang tulen. Kemudian......”
98
„Tak usah aku berbuat demikian,” Kiu It memotong perkataan Pek Tiong Thian sambil menggoyang-goyangkan tangan kanannya, „kita telah menjadi beruntung sekali, dan tak usah menukar-nukar lagi. Kong-ya Coat sangat bermurah hati, dan dia telah minta aku mengambil satu lebih dulu sebagai hadiahku. Dan jika ia pulang ketempatnya lalu mengetahui bahwa yang dibawanya pulang itu adalah Ciam-hua-giok-siu yang palsu, paling banyak ia akan menarik napas mengeluh!” ia berhenti sejenak untuk menuang arak, setelah diminumnya ia lalu melanjutkan. „Aku yakin Kong-ya Coat takkan menyalahkan kau dari partai Tiang-pek-kiam ataupun aku, lagipula ia takkan menarik kembali apa yang telah dikatakannya itu. Jika aku telah mengambil Ciam-hua-giok-siu yang tulen, itulah salahnya sendiri, yang telah menyuruh aku memilih satu lebih dulu, dan pasti ia malu untuk meminta kembali di kemudian hari. Tipu muslihat yang kau telah rencanakan itu betul-betul hebat!” Mereka jadi tertawa terbahak-bahak karena girangnya. „Misalnya dikemudian hari Kong-ya Coat berhasrat minta juga yang tulen,” Kiu It melanjutkan, „mustika itu telah tidak di tanganku lagi! Pek Heng, bagaimana pendapatmu tentang rencanaku ini?” „Aku telah menjadi seorang cacad selama delapan tahun, makan di sini, tidur di sini, aku sebetulnya hanya menanti mati! Tetapi jika aku masih panjang umur dan dapat membalas dendam, itu semua aku pasrahkan kepada Kiu Heng!” „Pek Heng, kita berkawan sudah puluhan tahun lamanya, urusan kau seperti juga urusanku sendiri. Setelah Ciam-hua-giok-siu
99
berada dalam tanganku, aku akan segera pergi ke goa Long-ya untuk mencari orang sakti yang kau bilang, dan dengan mustika itu, aku akan minta obat yang mustajab untuk menyembuhkan kedua betismu yang cacad itu!” „Jika aku dapat menggunakan lagi kedua betisku ini, aku rela berbuat segala apa untuk membalas budi Kiu Heng itu, dan akan kuberikan kepada Kiu Heng sebagian benda yang mujizat!” Kiu It tertawa, lalu menceritakan kejadian kemarin malam ketika Kong-tong-sa-kiam datang untuk membalas dendam. Setelah mendengar sampai di situ, Kong-ya Coat segera lari kembali ke gedung Leng-tiang-koan, dan merubah pita sutera yang mengikat ketiga kotak Ciam-hua-giok-siu sebelum ia pergi tidur. Kejadian tersebut lewat dengan tenang saja, karena Kiu It dan Pek Tiong Thian tidak sadar bahwa mereka telah ‘diingusi’ oleh Kong-ya Coat, mereka telah memperoleh mustika yang palsu! Kong-ya Coat harus tinggal lagi beberapa waktu lamanya untuk menanti kedatangan dua musuh lain dari partai Tiang-pek-kiam. Dan...... belum lewat sepuluh hari musuh kedua partai itu telah datang. Adapun pemimpin rombongan itu adalah seorang anak piatu yang justru pernah ditolong oleh Kong-ya Coat di propinsi Ki-rin dahulu. Bahkan namanya Ji Hee adalah Kong-ya Coat sendiri yang telah memberikannya. Maka begitu Ji Hee melihat Kong-ya Coat, ia segera angkat kaki dari markas partai Tiang-pek-kiam tanpa menimbulkan sesuatu
100
kerusuhan. Bahkan Jie Hee mohon sungguh-sungguh agar Kong-ya Coat menginap di markasnya sendiri, setelah membereskan uruan partai itu. ENAM Kong-ya Coat masih harus menunggu lagi datangnya pihak kuil Cit-po-sie dari pegunungan Ngo-tay-san yang dikepalai oleh Bak Kiam Taysu. Seperti halnya dengan partai Ang-si-pang, Bak Kiam Taysu pun meninggalkan markas partai Tiang-pek-kiam tanpa berkelahi karena Kong-ya Coat telah herhasil meyakinkan pemimpin kuil tersebut yang ia kenal baik, bahwa pihak kuil Cit-po-sie telah salah paham atau salah menterjemahkan jejak yang tertera di tembok kuil Cit-po-sie itu. Demikianlah Kong-ya Coat telah menceritakan kepada Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu. Ouw Lo Si menatap Khouw Kong Hu, kemudian ia menoleh kepada Kong-ya Coat seraya bertanya. „Kong-ya Tay-hiap, apakah dua mustika yang lainnya bukan Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan adanya?” „Betul! Kedua mustika itu sangat mujizat, maka Bak Kiam Taysu telah perlu datang dari tempat yang jauh untuk mencari pencurinya. Sebelum berlalu dari markas partai Tiang-pek-kiam, Bak Kiam Taysu pernah berkata bahwa jika ia berhasil membekuk pencuri
101
mustikanya, ia akan menyeret pencuri itu kehadapan Cia It Hok untuk menebus kesalahan terkanya!” „Pencuri itu mungkin tak dapat dibekuk,” kata Ouw Lo Si dalam hati. Tapi setelah itu ia menoleh kepada Kong-ya Coat dan berkata. „Aku sudah lama dengar tentang kelihayan Bak Kiam Taysu. Meskipun pencuri itu mempunyai tiga kepala dan enam tangan sekalipun, niscaya ia takkan luput dari bekukan orang suci itu!” „Aku pun berpendapat demikian,” kata Kong-ya Coat. „aku mendoakan agar Bak Kiam Taysu berhasil membekuk pencuri itu.......” „Kong-ya Tay-hiap waktu kau meninggalkan markas partai Tiang-pek-kiam, apakah ada sesuatu yang mencurigakan?” tanya Khouw Kong Hu. Kong-ya Coat bersenyum sambil mengurut-urut jenggotnya. „Ada baiknya jika Khouw Tay-hiap mengambil kesimpulan sendiri dari cerita yang akan kututurkan di bawah ini,” sahutnya. „Pada keesokan harinya, karena ketiga kesulitan dari partai Tiang-pek-kiam sudah beres, maka aku lalu minta diri. Cia It Hok mengadakan pesta makan-makan untuk menghormati aku. Akupun merasa yakin bahwa Cia It Hok tidak bermaksud menipu.
102
Kiu It segera mengambil satu Ciam-hua-giok-siu dari kotak sutera tersulam, tentu setelah itu ia terus pergi mencari orang tua yang sakti di goa Long-ya, melihat sikapnya yang tergesa-gesa itu, akupun menjadi geli di dalam hati!” Berkata sampai di situ, dengan tiba-tiba Kong-ya Coat menepuk kedua tangannya seraya berseru. „Kematian bagi yang menipu! Apakah pembunuhan yang kejam di markas Kiu It itu dilakukan oleh orang tua yang sakti dari goa Long-ya itu?” „Tidak salah lagi!” kata Ouw Lo Si. „Mungkin karena merasa bahwa obatnya yang mustajab telah ditukar dengan Ciam-hua-giok-siu yang palsu maka orang sakti itu merasa telah ditipu oleh Kiu It, lalu......” „Ia membunuh Kiu Ji-ko dan menulis „Kematian bagi yang menipu!” kata Khouw Kong Hu. Tetapi siapakah orang sakti dari goa Long-ya di daerah Sit-mi itu?” tanya Ouw Lo Si. „Aku belum pernah dengar namanya.” „Di waktu aku masih muda,” kata Kong-ya Coat, „aku pernah berkelana ke mana-mana, namun goa Long-ya di daerah Sit-mi ini aku tidak mengetahui dimana letaknya. Jika kedua Tay-hiap ingin membalas dendam Kiu Tay-hiap, jalannya tidak sukar!” „Ya!” sahut Ouw Lo Si. „Kita hanya perlu menanyakan Pek Tiong Thian di mana letak goa Long-ya itu!” „Cocok. Dialah alamat yang paling tepat!” kata Kong-ya Coat.
103
Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu bermalam di tempat si Dewa sakti malam itu. Esok harinya, dengan alasan bahwa mereka ingin pergi ke pegunungan Tiang-pek-kiam, mereka ingin segera berlalu dari Tan-kwi-san-cong, tetapi Kong-ya Coat mendesak agar mereka dapat menunggu sampai hari berlangsungnya pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee yang sudah hampir tiba. Demikianlah mereka jadi menginap lagi. Beberapa hari telah lewat, dan ke Tan-kwi-san-cong itu berturut-turut telah datang banyak jago-jago silat dari kalangan Kang-ouw, dan Kong-ya Coat menyambut mereka semua dengan seksama dan ramah-tamah. Selama berdiam di situ, Ouw Lo Si dapat melihat atau sedikitnya mengerti watak tuan rumahnya, dan ia menjadi lebih heran tentang diselenggarakannya pertemuan tersebut. Jika Kong-ya Coat betul-betul ingin memberikan Ciam-hua-giok-siu sebagai hadiah kepada pemenang dari pertandingan ilmu silat itu, ia sungguh tidak dapat mengerti tindakan tuan rumahnya itu. Dan jika Kong-ya Coat sengaja mengumpulkan para jago silat untuk kemudian dibunuh, perbuatan itu tak perlu baginya, karena ilmu silatnya sangat lihay, maka ia mampu mencari dan membunuh mereka di tempatnya masing-masing! Tetapi jika Kong-ya Coat ingin memikat pencuri benda ajaib Tong-beng-oey-hong dan pil mujizat Cu-gan-tan, itupun tidak masuk diakal, karena pencuri itu pasti akan datang tanpa membawa kedua mustikanya yang ajaib itu!
104
Demikianlah Ouw Lo Si berusaha menebak maksud daripada pertemuan adu ilmu silat itu. Dan dia hanya dapat menanti saja tanggal mainnya. Pada tanggal empatbelas bulan delapan di Tan-kwi-san-cong telah berkumpul banyak jago-jago silat. Selama itu Ouw Lo Si memperhatikan bahwa Kong-ya Coat seolah-olah sedang menantikan kedatangannya satu orang tertentu. Siapakah gerangan orang yang ditunggu-tunggu itu......?? Ouw Lo Si tak dapat menebak, dan untuk menanyakan ia merasa sungkan! Pada bulan delapan menurut perhitungan Imlek itu, pohon-pohon Tan-kwi sudah berbuah dengan suburnya di pegunungan Hoa-san. Tatkala itu adalah tanggal empatbelas, di bawah sebuah pohon Tan-kwi tampak Ouw Lo Si tengah berdiri sambil menikmati malam bulan purnama. Ia mengharap malam yang terang benderang itu lekas-lekas berlalu, karena segala keraguannya mungkin akan lenyap dan kesempatan untuk ia berlalu segera akan datang. Tetapi apa yang kemudian terjadi? Sungguh di luar dugaamnya bahwa dia akan meninggalkan tempat itu dengan perasaan takut yang hebat serta penasaran! Kejadian tersebut secara sepintas lalu dapat dituturkan sebagai berikut. Pada waktu itu, yang datang hadir di pertemuan adu silat Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee sudah berjumlah kira-kira
105
tujuhpuluh orang lebih, dan mereka semua adalah tokoh-tokoh yang terkenal dalam dunia Kang-ouw. Antara yang hadir tampak pemimpin partai silat dari ibu kota Lee Beng Yan, jago silat pedang dari propinsi Hok-kian Lim Ceng Yao, si Raja naga dari telaga Tong-teng Siauw Cu Gie, si burung elang dari propinsi San-tung Song Thian Hui dan banyak yang lain-lainnya lagi. Yang ganjil yalah semua tokoh-tokoh persilatan tersebut, sekembalinya dari pertemuan itu, bukan saja telah menjadi pecundang, malah mereka tampaknya tak ingin, atau merasa takut untuk merebut kembali nama serta kedudukan mereka sebagai tokoh-tokoh persilatan yang tenar di kalangan Kang-ouw! Lebih heran lagi, setelah kembali dari pertemuan itu, mereka tak berani menceritakan jalannya pertemuan tersebut. Jika ada yang menanyakan, mereka hanya dapat menghela napas panjang sambil bersenyum getir. Bahkan ada diantara mereka bersembunyi untuk mengelakkan pertanyaan-pertanyaan! Ada beberapa orang yang karena rasa penasarannya, telah pergi ke pegunungan Hoa-san, untuk menanyakan langsung kepada Kong-ya Coat, tetapi setibanya di sana, mereka telah dinasehatkan oleh murid-murid Kong-ya Coat untuk pulang saja, karena katanya, pemimpin mereka menolak untuk menerima tamu atau siapapun! Sang waktu memang ganjil, lambat sekali bagi orang yang sedang menunggu, tetapi pesat laksana angin bagi orang yang sedang berpesta.
106
Pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee yang telah membawa malapetaka itu, dengan pesat pula telah berlalu dua tahun. Dan selama dua tahun itu, gelombang di kalangan Kang-ouw telah mengamuk entah betapa dahsyatnya! Peristiwa-peristiwa yang penting antaranya adalah. Sai-pak-siang-liong (dua naga dari daerah utara) telah berkelana dan mengganas ke daerah timur. Sepasang pedang Kim-si-liong-sat-kiam telah menyapu delapan markas partai silat Tai-hu. Si Ahli nujum kipas baja Ouw Lo Si yang pernah menggetarkan Rimba persilatan, setelah mata kirinya dan kaki kirinya di bikin cacad, ia telah bersembunyi di suatu daerah dekat lembah Yu-leng-kok, tetapi kemudian didapat kabar bahwa dia telah kembali berkecimpungan di kalangan Kang-ouw. Ketiga mustika milik Thian-hiang-sian-cu telah muncul lagi dan membuat heboh kalangan Rimba persilatan, tetapi tiada seorang pun mengetahui siapa pemiliknya sekarang! Pintu untuk masuk ke lembah Yu-leng-kok telah tertutup, karena penghuninya telah menjumpai seorang yang akan diwariskan ilmu silatnya yang maha tinggi. Si pemabok Si Lam telah keluar dari partai silat Kiong-ka-pang dan telah memperoleh ilmu dari pendeta sakti Sam Cong Tojin. Tetapi tabiat dan sifatnya tak berubah yalah dia masih berkelana dan
107
minum arak sesukanya, dan sewaktu-waktu dilihat orang di kalangan Bu-lim! Disamping itu semua, yang terhebat dan mysterius adalah pembunuhan kejam ditempatmja Kiu It -- Hui-ing-san-cong. Tiada seorang pun yang mengetahui siapa pembunuhnya dan dengan maksud apakah si pembunuh telah melakukan perbuatan yang kejam itu?? Semua peristiwa-peristiwa itu telah menjadi buah pembicaraan orang, namun pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee yang diselenggarakan oleh Kong-ya Coat tetap menarik sekali perhatian orang banyak. Dan seperti telah disebutkan di atas, akibat daripada pertemuan adu silat tersebut telah membuat semua tokoh-tokoh persilatan yang ikut serta, mengalami suatu ancaman hebat!! Demikianlah peristiwa-peristiwa penting yang telah terjadi selama dua tahun itu. ◄Y► Untuk menyingkap tabir rahasia semua ini, marilah kita ikuti ketua partai silat Tong-teng yang bernama Siauw Cu Gie, si Raja naga dari telaga Tong-teng, yang hendak mengadakan pemilihan seorang ketua untuk memimpin semua jago-jago silat yang hidup di daerah perairan. Pertengahan bulan delapan sudah tiba lagi, dan pemandangan di atas maupun di sekitar telaga Tong-teng yang biasanya ramai
108
dengan perahu-perahu pelancong yang simpang siur, kini suasana di sekitar telaga tersebut telah menjadi sunyi-senyap, gawat! Nyanyian para nelayan yang biasanya berkumandang dan merayu-rayu kini tidak terdengar lagi. Hanya suara kodok-kodok atau tonggeret-tonggeret sajalah yang terdengar saling sahut, yang telah membuat suasana di situ bertambah tegang! Di bawah sinar bulan purnama yang terang benderang itu, di suatu tempat yang luas, tampak sejumlah perahu yang besar atau yang kecil, lebih banyak dari pada biasanya, tengah mengambang di atas permukaan air telaga itu. Dari suatu pantai kemudian tampak sebuah perahu nelayan kecil meluncur dengan tenang sekali. Seorang nelayan yang bertudung lebar sedang duduk di buritan sambil mengayuh perahu itu. Di hadapannya tampak seorang pemuda yang berhalis tebal, bersorot mata tajam, berparas tampan serta berpakaian baju hijau sedang berdiri di haluan perahu seraya bernyanyi dengan nada yang rendah dan sedih. „Bulan purnama kapan keluarnya? Bersinar di langit sangat megahnya, Berapa luas adanya langit? Adalah suatu pertanyaan yang sangat sulit. Aku ingin pulang mengikuti angin, Namun khawatir suasana menjadi dingin. Bersikap sabar menanti kesempatan, Mungkin maksud hatiku akan kesampaian!”
109
Setelah si pemuda selesai bernyanyi, maka dari itu pantai tampak sebuah perahu yang besar meluncur di atas telaga mengejar perahu nelayan si pemuda yang kecil, yang lalu berhenti untuk menanti kedatangannya perahu yang besar itu. Di atas perahu itu tampak dua orang laki-laki yang berpengawakan besar dan mengenakan pakaian serba hitam tengah berdiri tegak di haluan perahu. Ketika perahu itu sudah berada beberapa belas tombak lagi dari perahu nelayan, terdengar si pemuda bernyanyi lagi. „Bulan yang bundar dan besar di langit, Dapat berubah bentuknya. Meskipun banyak rintangan dan soalnya sulit, Aku harap dapat lekas mengatasinya!” Kedua perahu sudah berada dekat sekali satu sama lain, seorang yang berpakaian serba hitam, itu segera membentak. „Hei bung! Di sini bukan tempat untuk orang bernyanyi-nyanyi! Lebih baik kau lekas pulang!” Tetapi si pemuda terus memandang bulan dan tak menghiraukan sama sekali bentakan itu. „Hei bung! Apakah kau tidak mengerti teguranku? Apakah kau sengaja ingin mengantarkan jiwamu?!” kata lagi orang yang berpakaian serba hitam dengan gusar. Si pemuda jadi mendongkol mendengar kata-kata yang kasar itu dan berbalik menanya dengan sikap yang tenang.
110
„Hei bung! Kan menegur siapa?” Si baju hitam menjadi makin gusar, dan membentak lagi. „Jika bukan menegurmu siapa lagi?!” Tetapi setelah memperhatikan bahwa pemuda itu bukan orang yang ia dapat perlakukan sesukanya saja, dengan nada yang agak sabar ia lalu berkata. „Malam ini adalah malam yang baik sekali. Kau seharusnya bersenang-senang. Mengapa justru kau datang ke sini mencari penyakit?! Aku menasihatkan agar kau lekas-lekas pulang!” Si pemuda menoleh kepada tukang perahu diburitan seraya berkata . „Ayoh, kita menuju kesana!” Sambil menunjuk ke suatu arah. „Hei bung! Jangan kesitu! Aku nasihatkan agar kau lekas-lekas pulang......” „Telaga Tong-teng yang luas ini adalah untuk orang pesiar di atas perahu pada malam bulan purnama ini menikmati keindahan alam. Jika aku dilarang berbuat begitu, aku betul-betul menjadi heran! Hei bung! Aku ingin menanya, mengapa aku dilarang pesiar di telaga ini? Apakah kau ingin mengangkangi telaga yang indah ini......?!” „Pui Lo-ji! Jangan hiraukan pertanyaan itu. Coba kau tengok siapa yang lagi mendatangi! Celaka! Kita telah membiarkan orang pesiar di atas telaga pada malam ini!” kata orang yang kedua.
111
Betul saja pada waktu itu tengah mendatangi sebuah kapal dengan tiga tiang layar dengan pesat sekali. Kedua orang yang berpakaian serba hitam nampaknya gemetaran, seolah-olah menantikan hukuman akibat kelalaian mereka itu! Di bawah sinar bulan purnama, si pemuda dapat juga melihat bahwa kapal yang sedang mendatangi itu dicat merah muda, bahkan ketiga layarnya juga dicat merah muda. Yang lebih aneh lagi orang yalah yang mengemudikan kapal itu adalah seorang gadis yang cantik jelita dengan berpakaian serba merah muda. Di atas dek haluan kapal itu tampak duduk seorang gadis yang luar biasa cantiknya. Yang juga berpakaian serba merah muda! Kapal itu dicat merah muda, anak buah dan pemimpinnya adalah gadis-gadis yang mengenakan pakaian merah muda, dan ‘teng’ di atas kapal itu juga berwarna merah muda, maka di atas telaga yang sunyi dan luas itu, di bawah sinar bulan purnama, terwujudlah suatu pemandangan yang seolah-olah keadaan di dalam dunia impian! Begitu kapal tersebut berendeng dengan perahu yang besar, maka kedua orang yang berpakaian serba hitam itu berseru. „Jie siocia! Apakah kau baik-baik saja?” Sambil membungkukkan tubuh mereka memberi hormat. Gadis yang duduk di haluan kapal menyahut. “Hm!” Lalu memutar kedua matanya yang bundar dan bening ke atas tubuh si pemuda yang mengenakan baju hijau.
112
„Siapa orang itu?!” tanyanya kepada si baju hitam. „Apakah kamu tidak memberitahukan kepadanya bahwa malam ini telaga Tong-teng menjadi daerah yang terlarang untuk umum?!” „Aku telah memberitahukannya,” sahut si baju hitam. „Tetapi ia bilang telaga yang luas ini adalah terbuka untuk orang menikmati keindahan alam! Jika Jie siocia tidak pernah menasehatkan agar jangan turun tangan sebelum membikin persiapan, akupun pasti sudah menghajar dia itu!” Si gadis hanya menggeram. „Hm!” Lalu ia mengawasi si pemuda yang tetap berdiri tegak mendengari percakapan mereka tadi, dan sama sekali ia tidak menunjukkan sikap ketakutan atau khawatir. „Kau ini siapa dan datang ke sini hendak berbuat apa?” tanya si gadis. „Pada malam pertengahan bulan delapan ini, adalah waktu yang baik untuk pesiar di atas telaga, mendayung perahu sambil menik¬mati suasana yang indah permai, dan itulah maksud kedatanganku di sini......” „Telaga Tong-teng pada malam ini memang sebetulnya baik sekali dinikmati. Tetapi telaga ini telah menjadi daerah yang terlarang untuk umum malam ini. Jika kau tidak mengetahuinya, kitapun tak dapat mempersalahkanmu......!” „Mengapa daerah telaga ini menjadi terlarang pada malam ini? Aku mohon siocia sudi memberi penjelasan kepadaku!”
113
„Jika kau bukan dari kalangan Kang-ouw, meskipun aku menjelaskan kepadamu, kau takkan mengerti!” „Tetapi...... jika siocia tidak berkeberatan, tolonglah jelaskan juga kepadaku......” „Baiklah! Agar kau tidak jadi penasaran, aku akan mencoba menjelaskan dengan singkat! Malam ini banyak jago-jago silat telah berkumpul di telaga ini. Kita telah melarang orang pesiar di atas telaga, itu bukan berarti kita ingin mengangkangi telaga ini, tetapi kita ingin mencegah agar orang-orang yang telah pesiar di sini, karena tidak mengetahui, diserang oleh senjata jago-jago silat yang akan bertarung nanti!” Kedua orang yang berpakaian serba hitam merasa heran atas sikap gadis itu, karena mereka sudah dapat menentukan bahwa pemuda itu akan pasti didamprat atau mungkin diserang oleh siocia mereka yang terkenal ketus itu! Tetapi kenyataan...... Si pemuda bersenyum dan berkata lagi. „Betul! Senjata tajam tiada matanya dan dapat melukai sembarang orang! Tetapi...... jika orang berani datang ke sini untuk pesiar, maka iapun harus berani dan rela menerima resiko dari segala kecelakaan! Aku sebetulnya seorang yang gemar belajar sastra, yah, boleh dikatakan ‘kutu buku’, tetapi aku selalu mengagumi jago-jago silat dari kalangan Kang-ouw!”
114
Si gadis jadi bersenyum manis mendengar penjelasan itu, ia mengawasi si pemuda sambil membereskan rambutnya yang terurai tertiup angin. Sejenak kemudian terdengar si pemuda menanya lagi. „Aku ada satu permintaan, apakah siocia dapat mengabulkan?” „Apakah kau ingin menonton keramaian?” „Tepat! Siocia telah menebak jitu. Aku yang selalu menjunjung tinggi jago-jago silat yang luhur, tetapi belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri mereka itu bertarung! Jika siocia memperkenankan aku menyaksikan mereka malam ini, aku sungguh merasa beruntung sekali!” Si gadis bangun dari kursinya lalu berjalan memutari dek kapal sambil berpikir. „Jika kau hanya ingin melihat keramaian dan duduk di pinggiran sambil menonton, sebetulnya tidak menjadi halangan......” sahutnya. Lalu ia menatap si pemuda dan berkata lagi. „Ya! Tidak menjadi halangan sama sekali!” Salah seorang yang berpakaian serba-hitam tadi, setelah melihat si pemuda masih berdiri diam saja, menegur. „Hei bung! Jie siocia sudah mengabulkan permintaanmu! Mengapa kau diam saja seperti orang gelo dan tidak lekas-lekas menghaturkan terima kasih?!
115
Tetapi yang ditegur tetap berdiri tegak, seolah-olah tidak mendengar tegurannya, bahkan sambil menoleh ke buritan perahu ia berkata kepada tukang perahu yang bertudung lebar. „Hei Pak! Rupanya malam ini kita beruntung sekali. Ayo ikut kapal Jie siocia untuk menonton keramaian!” Si baju hitam menjadi mendongkol terhadap si pemuda karena ia tidak dipandang mata, namun ia tak berani berbuat apa-apa! Ia hanya merasa heran melihat Jie siocia mereka yang lain dari pada biasanya! Biasanya gadis itu sangat berangasan dan ketus karena selalu dimanjakan oleh kakak laki-lakinya, Siauw Cu Gie yang bernama julukan si Raja naga dari lima telaga. Si baju hitam lalu membungkukkan badannya dan berkata. „Jie siocia, jika tiada suruhan, aku akan segera kembali ke tempat penjagaan!” Si gadis kebat tangannya sebagai tanda memperkenankan orangnya itu berlalu. Kemudian tanpa menoleh kepada si pemuda ia berkata. „Jika kau ingin menonton keramaian dengan jelas, lebih baik kau pindah saja ke atas kapalku......” Meskipun si gadis mengundang dengan suara yang agak rendah, tetapi undangan lisan itu tokh dapat juga didengar terang oleh si pemuda yang segera menyahut. „Terima kasih banyak siocia! Aku akan segera datang!”
116
Tukang perahu lalu merendengi perahunya dengan kapal sungai itu. Empat gadis yang cantik jelita berdiri berbaris di atas geladak kapal sambil bersenyum mendengari percakapan antara Ji siocia mereka dengan si pemuda. Keempat gadis itu lalu menurunkan sebuah tangga tali agar si pemuda dapat naik ke kapal. „Kau jangan banyak bicara,” kata Jie siocia sambil menyilahkan tamunya duduk di atas kursi yang tertutup dengan kain sutera merah muda. „Dan jangan bertindak sembarangan. Jika kau duduk diam di kursi ini, aku jamin keselamatan dirimu!” Si pemuda hanya bersenyum dan mengangguk, lalu duduk di atas kursi yang berada di samping kursi si siocia. Maka kapal sungai itupun lalu berlayar lagi ke jurusan lain. Selama itu suasana di atas telaga masih sunyi senyap. Tetapi kemudian dengan tiba-tiba terdengar terompet berbunyi panjang dan lama, memecahkan suasana yang hening itu. Berhentinya suara terompet dibarengi dengan terlihatnya cahaya lampu dan obor yang sinarnya membikin sebagian telaga menjadi terang benderang. Lalu menjadi sepi lagi. Baru saja si pemuda ingin menanya si gadis dimana pertemuan akan diselenggarakan, segera tampak beberapa puluh lampu dan obor menerangi telaga. Suara terompet terdengar lagi. Dari sebelah timur, sebelah selatan dan sebelah utara terlihat barisan-barisan kapal sungai yang bertiang layar tiga meluncur dengan tenang sekali. Barisan kapal sungai dari sebelah timur
117
terdiri dari tujuh buah kapal, dan di atas tiang layar tengah dari kapal terdepan berkibar-kibar dengan megahnya bendera kuning yang bertulisan, „SIAUW dari telaga Tong-teng.” Barisan kapal sungai dari sebelah barat juga terdiri dari tujuh buah kapal dengan kain layar putih, dan di atas tiap-tiap kain layar tersebut tampak gambar seekor naga biru tengah mengunjuk giginya yang tajam dan membuka kukunya seolah-olah hendak menerkam mangsanya! Orang-orang di kalangan Bu-lim pasti mengenali bahwa barisan itu adalah dari Liong Cin Thian, si Naga biru dari partai silat Tai-hu! Barisan kapal sungai dari sebelah selatan terdiri dari banyak buah kapal-kapal dengan lambang dari berbagai-bagai corak dan warna. Di atas kain layar masing-masing, ada yang menggambarkan dua tulang lengan tersilang dengan kepala tengkorak manusia, dan ada juga yang menggantungkan pita-pita panjang yang beraneka warna dan lain sebagainya. Barisan kapal-kapal sungai dari sebelah utara terdiri dari lima buah yang luar biasa, karena ke lima buah kapal itu diikat menjadi satu erat-erat dengan rantai besi yang besar dan kuat, di atas geladak kapal tersebut ditutupi oleh papan kayu sehingga merupakan lapangan yang luas sekali. Tampak enambelas orang yang tinggi besar dan mengenakan pakaian serba hitam terbagi berdiri dengan tegak di empat sudut geladak tersebut. Empat barisan kapal-kapal sungai tersebut dengan berbareng meluncur menuju ke tengah-tengah telaga.
118
Jie siocia mengebat lengan bajunya, maka kapalnya itu lalu dikemudikan ke barisan kapal di sebelah timur, diikuti oleh perahu nelayan si pemuda. Tidak lama kemudian empat barisan tersebut sudah bertemu di tengah-tengah telaga. Tiba-tiba terdengar bunyi terompet yang memekakkan telinga. Di atas geladak kapal terdepan dari barisan kapal di sebelah timur, tampak duduk seorang yang berpakaian jubah kuning, para mukanya putih, tetapi berewokan. Kedua matanya bersinar tajam dan sangat mulia kelihatannya. Di belakangnya berdiri dua baris orang-orangnya yang berpengawakan kuat tegap. Pemimpin itu adalah Siauw Cu Gie. Di atas geladak kapal terdepan dari barisan di sebelah barat, tampak duduk seorang pemuda yang mengenakan pakaian kulit pelindung tubuh berwarna biru. Kedua matanya yang besar senantiasa melirik ke kanan dan ke kiri. Tetapi di atas geladak kapal terdepan dari barisan di sebelah selatan tampak semua orang duduk diam seolah-olah menanti sesuatu yang gawat! Pada saat itu pula suasana di atas telaga menjadi sunyi-senyap! Si pemuda baju hijau duduk diam dan merasa kagum menyaksikan semua persiapan tersebut, tetapi tampaknya ia tak merasa takut sedikitpun.
119
Sesaat kemudian dari belakang barisan kapal-kapal di sebelah timur tampak kembang api meluncur ke atas dan terdengar suara peletikan lelatu api, dan suasana di situ menjadi menakjubkan sekali dengan memantulnya bayangan kapal-kapal di permukaan air telaga itu. Si gadis bersenyum dan berkata kepada si pemuda. „Jago-jago silat yang biasa hidup di perairan telah berkumpul pada malam ini. Mungkin kau tidak menduga bahwa pada malam ini kau dapat melihat mereka semua!” Si pemuda bersenyum, sambil menghela napas ia lalu berkata dengan nada yang agak sedih. „Nasib manusia sukar diramalkan, dan kejadian-kejadian di dunia yang luas ini tidak mungkin diduga!” „Apakah kau tengah mengalami sesuatu yang menyedihkan?” „Banyak soal-soal rumit di dunia ini, dan umur kita tidak panjang. Jika urusanku diperbandingkan dengan soal-soal di atas, agaknya tidak ada artinya lagi!” „Apa kau......” Ucapan itu belum selesai ketika terdengar suatu pengumuman yang diucapkan dengan keras dan jelas. „Kalian telah datang di sini dari tempat-tempat yang jauh. Jika aku tidak melayani sebagaimana mestinya, aku minta maaf, tetapi aku
120
yakin bahwa kalian sebagai jago-jago silat takkan menghiraukan soal yang sekecil itu! -- Pada kesempatan yang baik ini, aku minta kalian dapat mengikuti acara yang telah ditetapkan untuk membereskan soal-soal kita sendiri yang mencari hidup di perairan, karena soal-soal itu belum dapat dibereskan selama beberapa ratus tahun ini!” Pengumuman itu disambut dengan suara gegap gembira oleh para hadirin, „Siapakah yang telah mengumumkan pembukaan itu?” tanya si pemuda kepada si gadis. „Dan soal apakah yang belum dibereskan selama beberapa ratus tahun itu?” „Dia itu adalah Siauw Cu Gie, kakak laki-lakiku!” „O......” Kemudian terdengar lagi suara pengumuman. „Dalam beberapa ratus tahun ini, pengaruh jago-jago silat di perairan tidak sebesar pengaruh jago-jago silat di daratan. Kenyataan ini tidak dapat disangkal oleh siapapun! Jika kita meneliti sebab-musababnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kita terlalu tercerai-berai, malah kadang kala kitapun saling cakar antara kita sendiri! Setelah mempertimbangkan bolak-balik, aku jadi bertekad mencari seorang pemimpin untuk memimpin kita semua, karena dengan jalan ini kita pasti menjadi kuat dan dapat menangkis segala serangan dari manapun datangnya! Kita takkan mengalami lagi apa yang disebut peristiwa Pan-yo, yang sangat memalukan serta menyedihkan itu!”
121
„Apa itu peristiwa Pan-yo?” tanya si pemuda. „Betul-betul kau ini ‘kutu buku’, sehingga peristiwa yang sangat menggemparkan itu kau tidak perhatikan sama sekali!” „Jie siocia, aku yang hidup di darat mana bisa mengetahui peristiwa yang terjadi di perairan?” Si gadis makin menaruh simpati terhadap pemuda itu yang di samping tampan sopan santun juga kata-katanya sering penuh dengan humor! „Pada pertemuan orang-orang dari kalangan Bu-lim di masa lampau telah dikeluarkan suatu peraturan, yalah, para jago-jago silat yang hidup di daratan dilarang untuk menerobos masuk ke daerah perairan, begitupun sebaliknya para jago-jago silat di perairan dilarang menerobos masuk ke daerah daratan,” sahut si gadis. „Tetapi pada dua tahun yang lampau, orang-orang dari Pek-bee-cit-hiong dari pegunungan Pek-bee telah merampok para saudagar di telaga Pan-yo. Jago-jago silat di telaga tersebut berusaha menolong, tetapi mereka telah digempur oleh orang-orang dari pegunungan Pek-bee itu, dengan alasan bahwa para jago silat di telaga Pan-yo lah yang hendak merampok saudagar-saudagar itu! Coba pikir, apakah itu bukan suatu peristiwa yang sangat memalukan bagi kita yang hidup di daerah perairan?” Si pemuda mengangguk-angguk sambil bersenyum getir. Kemudian terdengar lagi suara pengumuman. „Aku merasa girang bahwa usulku dapat diterima oleh kalian. Namun...... aku tidak ingin merebut kedudukan pemimpin yang aku
122
maksudkan itu......! Aku telah mengundang kalian ke sini untuk menetapkan langkah yang kita harus ambil karena mau tak mau kita harus melawan dengan kekerasan karena pula, lain jalan tidak ada!” Berbareng dengan selesainya amanat itu terdengarlah tepukan tangan yang riuh rendah menyatakan setuju akan usul si Raja naga dari lima telaga, yang tengah berdiri di haluan kapalnya menantikan berhentinya suara sambutan yang hangat itu. Adapun syarat-syarat yang dibutuhkan untuk dapat menjadi ketua dari seluruh partai-partai silat perairan itu adalah. Harus memiliki ilmu silat yang maha tinggi, dan agar pemilihan itu dapat dilakukan seadil-adilnya telah ditetapkan bahwa tiap-tiap partai silat, yang banyak maupun yang sedikit anggota-anggotanya, dapat mengajukan lima orang wakil untuk bertarung di atas Lui-tay terapung, yalah di atas ke lima buah kapal yang diikat erat-erat, yang berada di barisan kapal di sebelah utara itu. Tiap-tiap pemenang memperoleh satu bendera sebagai angka untuk partai silatnya, dan partai silat yang berhasil memperoleh sepuluh bendera paling dulu, maka pemimpin partai tersebut dengan mutlak telah terpilih menjadi pemimpin dari seluruh partai-partai silat perairan itu, dengan perjanjian bahwa jika kemudian hari ada yang membangkang akan perintah-perintah pemimpin tersebut, maka mereka itu akan ditumpas oleh seluruh partai yang berada di bawah kekuasaan pemimpin partai itu. „Sebetulnya syarat-syarat ini telah diumumkan beberapa waktu yang lalu, dan aku yakin kalian telah maklum.” Siauw Cu Gie
123
melanjutkan amanatnya. „Tetapi demi kelancaran pertemuan ini, aku telah mengumumkannya sekali lagi! -- Maka untuk tidak membuang-buang waktu, aku persilahkan masing-masing partai mengajukan lima orang wakil untuk maju ke atas geladak kapal gabungan yang merupakan Lui-tay kita!” Setelah selesai memberikan amanat, ia mengebat lengan bajunya, dan dengan tiba-tiba tampak kembang api meluncur lagi ke angkasa. Sebagaimana telah dituturkan di atas, masing-masing partai yang hadir di situ telah diberitahukan maksud dari pada pertemuan itu, maka sudah tentu masing-masing partai telah membikin persiapan dengan tekun. Mereka ingin partai merekalah yang terpilih menjadi tampuk pimpinan dari semua partai-partai tersebut, karena di kalangan Kang-ouw, nama dan kedudukan yang tinggi adalah yang lebih diutamakan dari pada harta benda yang berlimpah-limpah atau jiwa sekalipun! Sejenak kemudian, dari salah satu barisan kapal sungai di sebelah selatan meluncur sebuah perahu kecil, di atas haluan perahu itu, berdiri dengan tegak seorang yang berperawakan jangkung, bermuka kuning dan kedua matanya besar sekali. Ia mengangkat kedua tangannya yang dirapatkan sebagai tanda pemberian hormat kepada para hadirin seraya berkata. „Batu harus dibelah untuk mengetahui mutunya. Aku Kim Khin sudah mengetahui bahwa ilmu silatku masih rendah, namun...... aku mohon diperkenankan untuk mempertunjukkan juga ilmu silatku!”
124
Setelah berkata demikian. ia lalu mendayung perahunya menuju ke Lui-tay. Kemudian tampak sebuah perahu lain yang didayung langsung ke Lui-tay. Dengan satu loncatan yang lincah orang yang berada di atas perahu itu sudah berada di atas Lui-tay seraya berkata. „Aku Kang Tek Jin mohon diperkenankan untuk mempertunjukkan kepandaianku!” Setelah memberi hormat kepada Kim Khin, Kong Tek Jin lalu mencabut seutas rantai baja, yang panjangnya kira-kira dua meter dan berujung sebilah pisau yang tajam. Kim Khin pun segera mengeluarkan sepasang goloknya, lalu sambil bersenyum ia berkata. „Aku harap saudara tidak mentertawakan jika aku membuat kesalahan!” „Akupun harap saudara akan berbuat serupa!” Setelah itu, secepat kilat ia telah menyerang Kim Khin dengan menyambitkan rantainya ke arah dada lawannya. Kim Khin melangkah mundur satu tindak sambil mengegos ujung pisau, lalu dengan tidak kalah cepatnya ia meloncat dan menotok ketiak lawannya yang tengah mengangkat tangan menyambitkan rantai!
125
Demikianlah pertarungan untuk memilih seorang pemimpin telah dimulai. Sebentar-sebentar terdenger suara „Crek! Tang!” karena beradunya kedua senjata jago-jago silat yang tengah bertarung itu. Serangan-serangan Kang Tek Jin dilancarkan laksana badai mengamuk, tetapi Kim Khin dengan kelincahan dan ilmu meringankan tubuh yang baik telah berhasil mendekati lawannya sambil mencari kesempatan menusukan atau membabatkan goloknya! „Menurut pandanganku,” si gadis memberikan pendapatnya kepada si pemuda. „Kim Khin, si ikan mas dari partai Ngo-heng-pang di tepi sungai Oey-ho, akan menang!” Baru saja si gadis selesai mengucapkan kata-katanya itu tampak kedua golok Kim Khin terpentang, lalu menjepit rantai lawannya, yang kemudian diteruskan dengan kebutan Pek-hong-ciu-san (Angin utara meniup gunung). Maka terdengarlah satu suara „Treng!” yang keras, tampak rantai baja Kang Tek Jin terlepas dari tangannya dan jatuh di geladak Lui-tay! „Aku Kang Tek Jin mengaku kalah!” katanya dengan paras jengah. „Siocia, betul-betul tajam pandanganmu!” si pemuda baju hijau memuji si gadis. „Jika kau mengerti silat, kaupun dapat meramalkan siapa-siapa yang akan menang atau kalah dalam suatu pertarungan!” sahut yang dipuji.
126
Si pemuda hanya bersenyum dan menoleh ke arah barisan kapal sungai yang tiang layarnya digantungi pita dari berbagai-bagai warna, dan ia dapat melihat satu bendera merah telah dikibarkan pada tiang layar yang terdepan, kapal partai Ngo-heng-pang. Setelah empatbelas pertarungan atau aduan silat selesai, maka Kong Sun Sen dari partai silat Hong-tok dan Ji-tay dari partai silat Kao-yu masing-masing telah memperoleh satu bendera merah. Duabelas bendera merah lainnya telah direbut oleh jago-jago silat dari partai Tong-teng, Tai-hu dan tiga partai di daerah sepanjang sungai Oey-ho. Adapun partai silat Tong-teng yang dipimpin oleh Siauw Cu Gie, telah memperoleh empat bendera merah, partai silat Tai-hu yang dipimpin oleh Liong Cin Thian juga telah memperoleh empat bendera merah, dan tiga partai silat di daerah lembah sungai Oey-ho yang menggabungkan diri menjadi satu, telah juga memperoleh empat bendera merah! Jika partai silat Tong-teng dan partai silat Tai-hu mempunyai banyak jago silat yang lihay, itu tidak mengherankan, tetapi jika partai-partai silat di lembah sungai Oey-ho yang menggabungkan diri dan memakai nama Ngo-heng-pang juga berhasil memperoleh empat bendera merah -- sama banyaknya seperti jumlah bendera merah yang telah diperoleh oleh kedua partai silat tersebut di atas, ini betul-betul di luar dugaan banyak orang yang hadir! TUJUH Demikianlah tiga partai silat telah memperoleh bendera-bendera merah sama banyaknya. Sebetulnya partai silat Tong-teng berada
127
di dalam kedudukan yang lebih unggul, karena Siauw Cu Gie hanya baru mengirim dua orang wakilnya, dan kedua orang itu telah berhasil memenangkan empat pertandingan! Partai-partai sikat Kao-yu dan Hong-tok setelah mengetahui bahwa mereka tak dapat melawan jago-jago dari partai-partai lainnya, maka merekapun telah berhenti turut serta, dan lebih suka jadi penonton saja! Partai silat Ngo-heng-pang dari daerah lembah sungai Oey-ho, meskipun telah berhasil memperoleh empat bendera merah, tetapi mereka telah kehilangan empat orang jago-jago silatnya karena terluka. Sedangkan Kim Khin, yang paling jempol ilmu silatnya juga sudah dirobohkan oleh Nio Ce It dari partai silat Tai-hu. Mengingat itu semua, partai inipun telah bertekad takkan mengikuti lagi pertarungan itu. Dengan demikian, maka pertarungan akan dilangsungkan oleh partai-partai, dari Tong-teng dan Tai-hu saja. Pada saat itu seorang dari partai Tai-hu baru saja berhasil merobohkan Yap Teng dari partai Tong-teng, dengan jurus Liong-sang-hong-bu (Naga melonjak cenderawasih menari-nari), sehingga Yap Teng terpental keluar dari Lui-tay dan tergelincir ke dalam telaga. Perlu kiranya dijelaskan di sini bahwa Yap Teng adalah seorang jago yang telah berturut-turut memenangkan tiga pertempuran. Di kalangan Bu-lim ia terkenal sebagai Hay-tee-lo-gwat (Iblis menyerok bulan dari dasar laut). Jika sampai ia dapat dikalahkan, dapat diukur betapa lihay ilmu silat orang yang telah
128
merobohkannya itu! Namun Siauw Cu Gie tetap bersikap tenang, rupanya ia sudah mempunyai rencana, dan merasa yakin betul bahwa partai silatnya akan menggondol piala kemenangan pada akhirnya! Tidak demikian halnya dengan si gadis, adik Siauw Cu Gie. Ia menjadi agak gelisah menyaksikan kekalahan Yap Teng itu. Pertarungan makin lama makin menjadi seru dan hebat karena saat yang menentukan makin mendekati. Enam pertarungan telah selesai, dan kedua partai silat tersebut tetap membagi bendera-bendera dengan jumlah yang sama!! Liong Cin Thian, pemimpin partai silat Tai-hu mulai menunjukkan kegelisahannya ketika dari barisan Tong-teng meluncur sebuah perahu kecil yang ditumpangi oleh Ku Pak Su, si naga kecil murid kesayangan Siauw Cu Gie. Ketika perahu itu sudah dekat Lui-tay, dengan jurus Ceng-teng-tiam-cui (Capung menyentuh air). Ssssst! Ku Pak Su sudah mencelat seperti kilat cepatnya menuju ke atas Lui-tay! „Luar biasa!” terdengur pujian dari beberapa penonton dalam suasana yang sangat tegang itu! Thio Beng, seorang jago silat dari partai Tai-hu, yang telah diakui memiliki kepandaian tertinggi di antara rekan-rekannya, menjadi cemas menyaksikan ilmu Ku Pak Su yang dahsyat itu, karena kali ini dialah yang harus naik ke atas Lui-tay untuk mempertahankan nama baik partainya.
129
Sebagai kepala dari salah satu cabang partai Tai-hu, ia harus memberikan bukti bahwa ia juga memiliki kepandaian yang tidak boleh dipandang ringan. Maka dengan tekad berusaha mempertahankan nama serta kedudukannya, dengan sikap yang agak gelisah, iapun lalu mendayung perahunya menuju ke Lui-tay, kemudian dengan jurus Han-san-sin-tit (jangkrik muda meloncat di rumput), tampak ia menotok pinggir perahu dengan ujung jari kakinya dan sejenak kemudian ia sudah berdiri berhadapan dengan Ku Pak Su. Mereka akan bertarung tanpa mempergunakan senjata, tampak si naga kecil sudah mulai menyerang dengan jurus Ciok-po-thian-kheng (Menghancurkan batu mengejutkan lawan). Ia memekik seperti burung hantu sambil mencelat di udara dan melepaskan tendangan ke arah dada lawannya! Thio Beng dengan cepat melangkah ke samping mengelakkan tendangan maut itu. Egosannya yang dilakukan dengan cepat dan tenang itu telah memperoleh tampik sorak dari para hadirin. Tiba-tiba ia berbalik dan menerkam Ku Pak Su yang baru saja tiba di atas geladak, dengan jurus Beng-houw-kim-to (Harimau ganas menerkam kelinci). Tidak percuma Ku Pak Su menjadi murid kesayangan Siauw Cu Gie, dengan jurus Ouw-bong-sim-ciu (Lindung hitam menyelam ke dalam air), entah dengan cara apa ia melejit, hanya tampak Thio Beng terhuyung-huyung menerkam angin! Justru pada waktu lawannya terhuyung itulah, ia mengirim tinju bajanya ke atas punggung yang tidak terlindung itu!
130
Thio Beng jadi terkejut bukan main berbareng merasakan hembusan angin tinju yang menerjang dari arah belakang, maka dengan tergesah-gesah pula ia membuang dirinya ke depan, menukik dan bergulingan di geladak Lui-tay, karena dengan jalan itu sajalah ia dapat menghindarkan bahaya maut! Setelah dapat berdiri lagi, Thio Beng dengan wajah merah padam telah mendahului menyerang dengan jurus Tok-coa-touw-tok (Ular berbisa menyemburkan racun). menotok dada lawannya. Ku Pak Su mengegos sambil menepuk tangan lawannya yang hendak menotok itu, dan dengan tinju yang lain ia menyerang lambung Thio Beng. Thio Beng mundur secepat kilat, tetapi Ku Pak Su tidak memberikan ketika kepadanya, ia menggeser dan menghujani jotosan dengan jurus Kong-ciang-sang-kong (Dua palu baja menghujani tembok). Thio Beng terdesak dan tak berdaya sehingga akhirnya ia kecebur ke dalam telaga! Melihat kekalahan orangnya, Liong Cin Thian tak dapat menahan napsunya lagi dan membentak. „Ilmu silat Ku Tay-hiap betul lihay! Apakah aku Liong Cin Thian boleh menguji ilmu melontarkan senjata rahasianya?” Lalu ia meloncat turun ke dalam sebuah perahu kecil dan dengan cepat perahu itu di dayungnya ke Lui-tay. Ku Pak Su yakin bahwa Liong Cin Thian sebagai ketua dari partai silat Tai-hu pasti berkepandaian tinggi, maka ia jadi bersikap
131
sangat waspada, apalagi setelah mendengar ia ingin diuji kepandaian melepaskan senjata rahasianya. „Ku Tay-hiap!” kata Liong Cin Thian setelah berhadapan dengan lawannya itu. „Seperti telah kukatakan tadi bahwa aku hendak menguji ilmu melepaskan senjata rahasiamu. Perlu kiranya aku jelaskan di sini bahwa ilmu melepaskan senjata rahasia memerlukan juga mata yang tajam!” Ucapan tersebut sebetulnya suatu sindiran untuk menyerang urat syaraf dan berbareng mengejek Ku Pak Su, karena bila Ku Pak Su menjadi gusar ia akan bertarung dengan hati yang tidak tenteram. Dan betul saja setelah mendengar sindiran itu, yang seolah-olah menganggapnya bermata lamur, ia menjadi gusar dan membisu menahan amarahnya. „Aku tentu tidak mempunyai kepandaian apa-apa, terutama kepandaian bicara untuk mengimbangi kelihayan bicara Locianpwee!” sahutnya. „Maka dengan ini aku mohon mengundurkan diri dari Lui-tay ini!” Ia membungkukkan tubuhnya menghaturkan hormat, lalu turun ke dalam perahu dan kembali ke barisannya! Perbuatan tersebut sungguh di luar dugaan Liong Cin Thian, dan mungkin juga di luar dugaan orang banyak. Mereka jadi saling menatap wajah masing-masing sambil bertanya. „mengapa Ku Pak Su mengaku kalah sebelum bertempur?” „Dia seorang Siauw-cut (orang tak ternama) yang bernyali tikus!” Demikianlah ada sebagian orang yang seenaknya saja telah
132
melontarkan ejekannya. Tetapi ada juga sebagian orang yang malah memuji di dalam hati dan mengatakan bahwa sikap Ku Pak Su itu sangat bijaksana. Bahkan ada jago silat yang merasa kasihan terhadap Liong Cin Thian yang telah ditinggalkan mentah-mentah, seolah-olah lawannya itu segan meladeni orang yang kurang sehat otaknya!! Meskipun Liong Cin Thian pernah memimpin orang-orangnya berkelana ke utara dan selatan, tetapi ia masih merupakan seorang pemimpin yang kurang pandai mengendalikan sikap dan kewibawaannya sendiri, ia tertawa berkakakan dan berkata dengan suara yang keras sekali. „Kedua mata Ku Tay-hiap ternyata memang kurang tajam, dan sikapnya pun kurang tenang! Tetapi aku harus mengakui bahwa sangat cerdik. Ia mengetahui bahwa ia bukan tandinganku yang sepadan, dan telah menarik diri dari pertarungan ini. Jika banyak jago-jago muda lainnya sepintar Ku Tay-hiap, bukankah mereka akan lebih selamat? Ha, ha, ha!!” Kata-kata itu bukan saja telah mengejek Ku Pak Su, tetapi juga semua anggota dari partai Tong-teng, terhitung pemimpinnya sekali, Siauw Cu Gie! Sebagai pemimpin dari partai yang boleh dikatakan terbesar, Siauw Cu Gie masih dapat mengendalikan hawa amarahnya, tetapi baru saja ia ingin menjawab, tiba-tiba dari tempat yang tidak jauh dari kapal sungainya terdengar suara tertawanya seorang wanita. Ia menoleh ke belakang dan tersenyum setelah mengenali bahwa orang yang tertawa itu adalah adik perempuannya, Siauw
133
Bie alias Jie siocia, yang cerdik luar biasa dan selalu dimanjakannya itu. Kemudian sambil tertawa manis Siauw Bie menyahut. „Pemimpin Liong betul-betul pandai bicara. Jika kepandaian bicara orang-orang di kalangan Bu-lim setaraf dengan kepandaian pemimpin Liong itu, sungguh sangat disayangkan bahwa ilmu silat akan musnah dari muka bumi ini, karena tiada lagi orang yang ingin mempelajarinya!” Di bawah sinar lampu dan obor Liong Cin Thian dapat melihat seorang gadis yang mengenakan pakaian serba merah muda, yang cantik luar biasa tengah mentertawakan dirinya. Ia menjadi serba salah dan tak dapat berkata-kata untuk sementara waktu. Sahutan yang tajam itu telah menggores sanubarinya, dan ia menjadi masgul ketika mengetahui harus berhadapan dengan seorang gadis! Dalam suasana yang mendadak sunyi itu, terdengar Siauw Bie berkata lagi. „Jika pemimpin Liong lebih pintar bicara daripada bertempur, akupun tak dapat mengadu lidah terhadapnya. Tetapi jika Pemimpin Liong lebih pintar bertarung daripada bicara, aku minta kerelaan hatinya untuk mengajarkanku satu-dua jurus ilmu silat!” Perkataan itu semata-mata adalah suatu tantangan. Mengingat kedudukannya sebagai seorang pemimpin dari satu partai silat yang besar, Liong Cin Thian harus menerima tantangan itu. Hanya jika ia menang dalam pertempuran itu, ia menang melawan
134
seorang gadis, tetapi sebaliknya jika dia yang dirobohkan oleh gadis itu dimanakah ia harus menaruh mukanya?! Liong Cin Thian jadi ber¬diri menjublek sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal! Sejenak kemudian tampak Siauw Bie berjalan ke depan haluan kapal sungainya agar ia dapat dilihat tegas oleh para hadirin dan berkata lagi. „Aku tidak dapat memaksa jika pemimpin Liong tidak bersedia melawan aku, karena mungkin aku tidak terhitung sebagai seorang jago silat yang terkenal sebagai pemimpin Liong, si Naga biru!” Ejekan yang bertubi-tubi datangnya itu telah membikin si pemuda baju hijau yang mendampingi Siauw Bie jadi tertawa terpingkal-pingkal meskipun tampaknya ia berusaha keras menahan rasa gelinya itu. Melihat demikian, Liong Cin Thian yang berada dalam kedudukan serba-sulit itu menjadi gusar bukan main. „Hei monyet! apa yang kau tertawakan?!” bentaknya dengan mata melotot. Si pemuda belum dapat menahan tertawanya, dengan sikap acuh tak acuh ia tertawa terus. „Apakah orang tak diperbolehkan tertawa di sini?” tanya Siauw Bie. „Lagipula jika kau mampu membikin seekor monyet tertawa, sesungguhnya kau ini seorang badut terbesar!”
135
Liong Cin Thian jadi berjingkrak karena gusarnya dikatakan sebagai seorang badut, tetapi terhadap seorang gadis cantik sebagai Siauw Bie, ia seolah-olah kehilangan pegangan dan tiap-tiap jawaban Siauw Bie hanya menjerumusnya lebih dalam saja ke jurang lelucon! Ia menundukan kepala untuk berpikir dan mempertimbangkan langkah yang harus diambil. Lalu bagaikan orang sinting ia tertawa gelak-gelak dan berkata. „Aku menanya pemuda itu, tetapi siocia yang menyahut. Sekarang aku ingin menanya, siocia dan dia itu ada hubungan apa, sehingga kau mengeloninya mati-matian?!” Ditanya demikian, dengan tiba-tiba paras Siauw Bie menjadi merah, tetapi tidak salah jika gadis itu terkenal cerdik, karena tanpa menjadi bingung terdengar ia menyahut. „Orang yang pertama-tama bicara denganmu adalah aku, mengapa kau menanyakan dia yang tidak ada hubungannnya samasekali? Apa barang kali kau memang sudah linglung?!” Liong Cin Thian menjadi hijau mukanya serta gemetaran seluruh tubuhnya karena terlampau menahan gusar. Pertama ia dikatakan sebagai seorang badut, kini ia dianggap sudah linglung! ◄Y► Ketika tanya jawab itu berlangsung dengan sengitnya, sekonyong-konyong terdengar seruan kaget dari beberapa hadirin, dan seketika itu juga tampak sebuah kapal sungai dengan tiang layar hitam dan kain layar putih tengah mendatangi ke arah Lui-tay. Di atas lajar yang putih itu tertulis tiga huruf,
136
Soat-hay-tu! Di bawah sinar bulan dan bintang-bintang, bukan saja tiga huruf yang tertulis di atas layar itu terlihat sangat jelas, bahkan seorang yang kurus jangkung, berambut panjang yang menutupi kedua bahunya, mengikat kepalanya dengan sehelai kain, dan mengenakan jubah serba putih juga tampak berdiri tegak di haluan kapal sungai itu. Ketika sudah mendekati kapal sungai Siauw Cu Gie, manusia ganjil itu menanya dengan suara keras. „Pemimpin Siauw! Kau sudah mengundang seluruh jago silat perairan, mengapa aku tidak turut diundang? Apakah barangkali kau sudah lupa kepadaku?!” Baru saja selesai mengucapkan kata-katanya itu, tampak tubuhnya yang kurus jangkung laksana sebatang bambu itu berdiri tegak, kedua lututnya membengkok sejenak, dan dengan satu loncatan, secepat kilat ia sudah berada di atas Lui-tay! Manusia ganjil itu bukan saja pakaiannya sembarangan, bahkan wajahnya pun jelek sekali. Kedua tulang pipinya menonjol keluar, hidungnya melengkung seperti patok burung betet, mulutnya monyong seperti mulut ikan hiu, tubuhnya kurus jangkung seperti sebatang bambu dan suara tertawanya nyaring seperti kuntilanak! Para hadirin adalah jago-jago silat yang banyak berkelana dan lama berkecimpungan di kalangan Kang-ouw, namun delapanpuluh persen dari mereka tidak mengenal siapa manusia
137
ganjil itu. Hanya si pemuda baju hijau terperanjat ketika melihat tiga huruf Soat-hay-tu, yang tertera di atas layar! Liong Cin Thian yang sedang gusar, juga telah terperanjat dengan tibanya si jangkung itu. „Hari ini adalah hari pertemuan para jago silat perairan,” bentaknya. „Saudara datang di sini atas undangan siapa?? Mengapa naik ke Lui-tay ini tanpa permisi dulu? Apakah kau menganggap kita semua patung-patung batu?!” Si jangkung mengawasi Liong Cin Thian dengan tajam, sambil tertawa berkikikan, lalu ia menyahut. „Jadi kau menganggap aku ini bukan seorang jago silat perairan, dan tak berhak turut serta dalam pertemuan ini?!” Liong Cin Thian yang berwatak berangasan dan sedang mendongkol telah ‘dikocok’ pulang pergi oleh Siauw Bie, menjadi kalap. „Aku sudah lama berkecimpungan di kalangan Kang-ouw dan mengenal banyak jago-jago silat perairan, tetapi aku tidak mengenal orang yang berparas seburuk kau ini!” bentaknya seraya melangkah maju beberapa tindak. „Jika kau tidak menganggap aku ini sebagai jago silat, yah......! Aku tidak berkeberatan sedikitpun. Tetapi...... aku sudah berada di atas Lui-tay ini, apa yang hendak kau perbuat terhadapku?!”
138
„Kau harus lekas-lekas enyah dari sini, dan jika kau masih ingin membangkang......” Belum lagi selesai mengucapkan bentakannya itu, Liong Cin Thian sudah tidak lagi dapat menahan hawa amarahnya, dan dengan dua jari tangan kanannya ia menyerang dengan maksud menotok dada si jangkung! Totokan itu kelihatannya tidak luar biasa, tetapi sebetulnya mengandung banyak perubahan dan tipu-tipu yang membingungkan bagi orang yang diserangnya. Orang yang mengenal Liong Cin Thian, terutama orang-orang dari partai silat Tai-hu, sudah mengetahui kelihayan totokan tersebut, dan mereka menduga bahwa si jangkung itu pasti menjadi korban. Tetapi...... yang diserang tetap tertawa, seolah-olah tak membikin persiapan untuk menerima serangan lawannya itu. Ia hanya membengkokkan tubuhnya ke belakang ketika kedua jari tangan Liong Cin Thian yang hendak menotok dadanya itu sudah dekat sekali! Liong Cin Thian yang sudah yakin betul bahwa totokan mautnya itu takkan gagal telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, malah karena napsunya ia telah menjadi lalai untuk membikin perubahan dan menyerang bagian lain dari lawannya, jika serangannya yang pertama itu tidak membawa hasil. Ia jadi terkesiap ketika merasakan telinganya ditiup oleh lawannya, maka dengan jurus Kim-li-to-cwan-po (Ikan hiu menembusi gelombang), ia meloncat ke belakang satu tombak dengan hati berdebar-debar!
139
Si jangkung gembira sekali telah dapat mempermainkan lawannya itu, lalu sambil nyengir ia berkata. „Kau telah berbuat curang! Kau sama sekali tidak memberikan ketika untuk aku bersiap-siap, tetapi dengan tiba-tiba kau telah menyerang!” „Sekarang kau sudah siap, maka mulailah!!” Bentakan yang keras itu disertai dengan satu loncatan untuk menerkam si jangkung. Tampak kedua tinju Liong Cin Thian melancarkan pukulan-pukulan dengan jurus-jurus Ban-li-hui-hong (Pelangi membentang di seluruh angkasa) dan Ouw-hong-cui-hong (Tawon mengamuk menyengat beruang), ke atas kepala dan pundak si jangkung! Bukan main pesatnya hujan tinju itu, yang telah dilancarkan dengan maksud mengunjuk kewibawaan dan mencuci malu! Tetapi...... hujan tinju secepat kilat itu hanya ditangkis oleh si jangkung dengan menyalibkan kedua lengan di atas kepalanya, dan pukulan-pukulan maut Liong Cin Thian itu seolah-olah ditumbukkan ke atas batu gunung yang besar! Kemudian dengan jurus Nu-long-pa-san (Gelombang raksasa menggempur gunung), si jangkung menolak ke depan dengan lengannya yang disalibkan tadi, dan dengan satu jeritan yang membikin bulu roma berdiri, ia mencelat ke belakang melalui kepala lawannya!
140
„Hei kerbau gila!” bentaknya. „Serangan yang dilakukan dengan jurus Ouw-hong-cui-hong itu boleh juga...... hanya sayang sebelum tinju dilancarkan kau sudah terlampau banyak mengeluarkan tenaga. Jika kau menyerang musuh begitu caranya, mana kau dapat menang?! Menurut pandanganku, kau harus belajar silat lagi dua tahun! -- Ya! dua tahun lagi lamanya. Hee, hee, hee!” Sebetulnya para hadirin sudah tidak senang melihat wajah si jangkung yang jelek, yang telah datang di situ tanpa diundang itu. Tetapi setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri cara ia melayani Liong Cin Thian seperti kucing mempermainkan seekor tikus, perasaan jemu dan masgul mereka segera berubah menjadi perasaan kagum! Siauw Bie yang kini tengah duduk di samping si pemuda baju hijau, ingin menanyakan kalau si pemuda kenal manusia ganjil itu, tetapi ketika melihat sikap si pemuda tidak setenang semula, ia membatalkan maksudnya. Dan pada saat itu pula di atas Lui-tay telah terjadi suatu pertempuran yang dahsyat sekali. Di bawah sinar bulan yang terang benderang, ditambah dengan sinar lampu dan obor, tampak si jangkung berlari dan berloncat-loncat dengan gesit sekali mengurung Liong Cin Thian yang jadi sibuk menangkis atau mengegosi tiap-tiap serangan lawannya yang aneh itu. Pertempuran baru saja berjalan lebih kurang tigapuluh jurus, Liong Cin Thian sudah tampak terdesak. Ia yang berwatak berangasan tengah memberi perlawanan dengan sikap kurang waspada serta
141
hati kurang tenang, maka ia telah melanggar sila-sila pokok atau pantangan-pantangan utama dalam ilmu silat! Ilmu silat yang maha tinggi, gerak-gerik yang lincah laksana seekor kera, cara menangkis sesuatu serangan yang sulit yang dipamerkan oleh si jangkung, telah membikin para hadirin menjadi kagum tak terhingga. Siauw Cu Gie yang tadinya ingin bertarung dan mengalahkan Liong Cin Thian, kini jadi berbalik mengharap agar Liong Cin Thian berhasil mengalahkan si jangkung itu! Ia hanya dapat mengharap, tetapi kenyataan tidak dapat dipungkir! Semua hadirin telah dapat melihat bahwa Liong Cin Thian merupakan lawan yang empuk bagi si jangkung. Liong Cin Thian pun menyadari hal ini, namun demi nama baik partainya, ia mela¬wan terus dan bertekad memberikan apa saja yang dimilikinya untuk merobohkan lawannya itu! Tiba-tiba terdengar satu jeritan yang amat nyaring, dan tampak Liong Cin Thian melonjak ke atas, lalu dari atas dengan kedua lengannya terpental lebar, ia menukik dan menerkam dahsyat sekali! Itulah jurus Yun-liong-sin-jiauw (Cakaran maut naga sakti), yang tidak dapat dipersamakan dengan jurus-jurus lainnya. Si jangkung mengawasi lawannya yang sudah terapung di udara itu, ia menanti sebentar lalu sambil mengebatkan lengan jubahnya tampak tubuhnya yang kurus itu menerjang ke atas, dan pada saat kedua lawan itu saling lewat melewati itulah, tiba-tiba terdengar satu jeritan seram dan tampak tubuh Liong Cin Thian terkulai serta
142
terlempar ke permukaan geladak Lui-tay, untuk kemudian terjerumus masuk ke dalam telaga! Terpecahlah suasana yang hening dan tegang itu oleh suara gemuruh para hadirin yang jadi terperanjat bukan main menyaksikan adegan yang ganas itu. Orang-orang dari partai silat Tai-hu segera menceburkan diri mereka ke dalam telaga untuk menolong ketua partai tersebut, tetapi setelah sekian lamanya mereka mencari, tubuh atau mayat Liong Cin Thian tidak berhasil diketemukan!! Setelah menyapukan matanya ke seluruh anggota-anggota partai silat Tai-hu, si jangkung lalu menoleh kepada Siauw Cu Gie dan berkata dengan suara yang lantang. „Pemimpin Siauw! Pertemuan kali ini telah dihadiri oleh semua jago-jago silat dari daerah dekat telaga dekat sungai atau dekat sungai kecil. Akupun telah mengetahui bahwa yang ilmu silatnya tertinggi akan dipilih menjadi pemimpin. Aku sebetulnya tidak bermaksud dipilih, namun aku ingin juga coba-coba! Karena jika aku tidak mencoba, mungkin aku takkan enak tidur dan makan!” Ia berhenti sejenak untuk melihat reaksi para hadirin atas ucapannya itu, lalu sambil tertawa ia melanjutkan. „Partai silat Kao-yu, Hong-tok, Tong-teng, Tai-hu, yang dari daerah lembah sungai Tiang-kang dan sungai Oey-ho telah hadir di sini, ditambah dengan aku dari partai soat-hay maka bolehlah dikatakan bahwa pertemuan ini betul-betul telah komplit dihadiri oleh semua partai-partai silat perairan! Hai! Alangkah baiknya jika kita berhasil memilih seorang pemimpin sekarang ini!”
143
Setelah berkata demikian ia terus tertawa berkikikan seolah-olah tiada manusia lain di sekitarnya. „Saudara datang dari partai Soat-hay, apakah saudara ini murid Soat-hay Song Gie Locianpwee?” tanya Siauw Cu Gie dengan heran. „Betul! Sungguh luas pengetahuan pemimpin Siauw. Aku bernama To Leng dan Soat-hay Song Gie Locianpwee adalah guruku!” Ketika mengetahui si jangkung bernama To Leng semua hadirin menjadi terkejut. Karena dia itulah yang bernama julukan Bo-song-pek-hi, Cui-hun-siau-bin (Si baju putih menghalau roh)! „Kalian telah menetapkan sendiri syarat dan caranya untuk memilih pemimpin,” kata To Leng. „Dan syarat serta cara pemilihan itu aku tentu harus menyetujui! -- Tadi aku telah bertarung satu kali dan seperti kalian telah saksikan bahwa aku yang menang. Sekarang aku sudah siap untuk bertarung lagi melawan siapa saja!” Para jago silat yang telah dipecundangi tentu tidak akan berani maju lagi, sedangkan yang belum dikalahkan merasa gentar untuk berhadapan dengan To Leng yang telah dengan mudah melemparkan Liong Cin Thian ke dalam telaga! Siauw Cu Gie menundukkan kepalanya berpikir keras dan mempertimbangkan tantangan itu. Sebetulnya maksud dari pada pertemuan tersebut adalah untuk mempersatukan jago-jago silat perairan di bawah satu pimpinan, dan siapapun tak dapat menyangkal manfaat atau faedahnya jika perhimpunan itu telah terwujud.
144
Orang yang mencetuskan gagasan yang revolusioner itu adalah si Raja naga dari lima telaga sendiri, yang pun diam-diam berhasrat besar untuk terpilih menjadi pemimpin yang dimaksud itu. Ia tengah menilai apakah To Leng itu dapat ia robohkan. Tetapi sebelum herhasil mengambil keputusan, Siauw Bie sudah menantang bakal lawannya itu. „Hei kau si jangkung jelek! Menurut pendapatmu Soat-hay dapat digolongkan sebagai daerah perairan. Jika demikian, ikan kayu juga dapat digolongkan sebagai ikan tulen! Hah! Aku menasehatkan agar kau pergi sekolah dulu, dan baru datang lagi setelah ikan kayu betul-betul boleh digolongkan sebagai ikan tulen!” „Aku kira pada dewasa ini, pria dan wanita sama derajatnya. Karena wanita atau pria adalah manusia juga dan tak boleh dibeda-bedakan! Bagaimana pendapat siocia?” tanya To Leng sambil nyengir dan menantikan jawaban Siauw Bie. Tetapi si gadis tidak menyawab, maka ia meneruskan. „Maksud dari pada ucapan tadi yalah, jika siocia ingin maju bertarung melawan aku, aku merasa girang sekali, tetapi itu tak usah aku sebut-sebut lagi. Sekarang mari kita kembali kepada pertanyaanmu tadi. apakah Soat-hay boleh digolongkan sebagai daerah perairan? -- Soat-hay adalah lautan es. Jika air sungai Oey-ho telah membeku dan menjadi es, apakah sungai tersebut masih tetap diakui sebagai sungai?!”
145
Semua hadirin merasa tertarik sekali dengan pertanyaan-pertanyaan yang aneh itu, mereka hanya cemas si gadis akan menjadi ‘makanan empuk’ bagi si jangkung itu. Sejenak kemudian mereka telah dibikin terkejut oleh munculnya sebuah bola kayu yang bergaris lintang lebih kurang dua meter dan dicat sangat indah dengan lima warna yang menyolok. Benda itu tengah meluncur di permukaan air telaga sambil terputar-putar pelahan. Debat antara Siauw Bie dan To Leng jadi berhenti dengan tiba-tiba. Para hadirin mengalihkan perhatian mereka ke benda yang berbentuk aneh itu. Mereka saling bertanya-tanya dari manakah datangnya bola kayu itu? Apakah maksud dan gunanya? Sejenak kemudian, setelah datang lebih dekat, tampak benda bundar itu terbuka bagian atasnya, lalu dari dalam keluar seorang yang badannya gemuk seperti seekor babi, rambutnya terurai, mukanya brewokan dan mengenakan baju yang banyak warnanya! Begitu keluar dari dalam bola itu, orang itu segera mendongak ke atas dan menyemburkan napasnya keluar dari mulut. Setelah itu, tampak tubuhnya yang gemuk itu berputar dan menggulung seperti asap, lalu membal ke atas dengan lincahnya, dalam beberapa saat saja ia sudah berada di atas Lui-tay. Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan tertawa cekikikan. „Siapakah yang dipanggil si Raja naga dari lima telaga?” tanyanya dengan nada suara seorang wanita. „Lekas minta maaf kepadaku, jika tidak aku akan meniup semua kapal-kapal layar ini ke lautan utara! -- Camkanlah bahwa aku ini bernama Tong-kwee-sin-hi!”
146
Pertemuan itu yang semula berjalan dengan lancar dan hampir berakhir, telah terganggu dengan datangnya To Leng. Itulah saja sudah membikin Siauw Cu Gie pusing kepala. Sekarang muncul lagi makhluk yang ajaib ini, yang telah datang dan mengancam tanpa alasan! „Aku Siauw Cu Gie, yang terkenal sebagai si Raja naga dari lima telaga!” sahut ketua partai Tong-teng, ia sengaja memperkenalkan nama julukannya sekali saking gusarnya. „Aku telah berbuat apakah yang kiranya menyinggung perasaanmu sehingga aku perlu minta maaf? -- Aku menuntut penjelasan!” „Oooo......! Tidak kunyana nama julukan setenar itu dimiliki oleh orang semacam kau ini! Kau telah mengundang semua jago-jago silat perairan, mengapa kau tidak mengundang aku dari dasar sebuah sumur?! Apakah di dasar sumur tidak ada air, sehingga aku Ceng-tai-leng-wa (si kodok sakti dari dalam sumur) tidak terhitung sebagai jago silat perairan?!” Jawaban yang tidak keruan itu, yang diucapkan dengan nada suara seorang wanita, telah membikin semua orang tak dapat menahan tertawanya. Tetapi tidak demikian halnya dengan Siauw Cu Gie, penyelenggara pertemuan itu, ia menjadi tambah pusing. Betapa tidak, pertama To Leng datang dan mengaku berasal dari Lautan es, kini lagi makhluk ganjil yang mengaku telah datang dari dasar sebuah sumur! „Bukankah yang dapat hidup di dasar sumur hanya ikan-ikan saja?” ia bertanya di dalam hati.
147
Selagi ia berpikir mencari jalan keluar dari kebingungannya, tiba-tiba dari kejauhan tampak dua buah perahu, satu besar dan yang satunya lagi kecil, yang terpisah kira-kira beberapa puluh meter saja, seolah-olah segan melalui perahu besar yang tengah meluncur pesat sekali. Ketika perahu itu sudah datang dekat, tampak seorang kakek yang berambut putih seluruhnya, mengenakan jubah kain kasar dan bertudung lebar, tengah berdiri tegak di haluan dengan sikap yang garang sekali. Kemudian secepat kilat ia telah meloncat ke atas dan tanpa menunggu sampai ditanya, ia segera berkata. „Aku minta maaf, aku minta maaf! Pertemuan yang diselenggarakan oleh pemimpin Siauw tadinya tidak kuketahui, maka aku jadi terlambat datang, aku minta maaf kepada kalian yang telah menunggu lama! Aku bernama Tang Ceng Hong, sudah lama tinggal di tepi anak sungai dan kawan-kawan memanggilku Hua-kee-yun-hiap (Pertapa dari desa Hua-kee). Aku mengetahui bahwa pertemuan ini adalah untuk jago-jago silat perairan, dan karena aku dapat digolongkan sebagai satu di antara mereka, maka akupun datang untuk turut serta. Tentang apakah aku dapat dipilih sebagai pemimpin atau tidak, aku sungguh tak berani tekebur!” Perahu kecilpun sudah mendekat. Orang yang mendayung rupanya bukan orang yang biasa mencari penghidupan di perairan, ini dapat dilihat jelas dari caranya dia mendayung, sehingga perahunya kelihatan seolah-olah orang yang mabok arak sedang
148
berjalan! Tetapi cara dia meloncat dari perahunya ke atas Lui-tay, sungguh sangat mengagumkan! Iapun tidak menunggu sampai ditanya. Setelah berada di atas Lui-tay, sambil mengangguk-angguk terhadap para hadirin, ia tertawa dan berkata. „Telaga, lautan, sungai, kali, anak kali. bahkan sumur...... semuanya tergolong sebagai daerah perairan. Aku ini Hee-tok-cui-kee (Jago silat dari rawa), juga tergolong sebagai satu di antara mereka itu, oleh karena itu aku terpaksa harus hadir. Jika aku telah terlambat datang, aku mohon kalian memberi maaf kepadaku.....!” Dua manusia ganjil telah hadir pula di situ. Yang satu mengaku telah datang dari Hua-tee (sungai bunga) dan yang satunya lagi mengaku telah datang dari Hee-tok (jambangan kecil) tetapi di manakah Hee-tok itu?! Hee-tok-cui-kee rupanya yakin akan keraguan orang-orang yang hadir, maka dengan suara lantang ia segera berkata. „Para hadirin yang terhormat, mungkin ada yang ingin menanyakan di mana letaknya Hee-tok itu? -- Memang tiada seorang pun yang tahu, karena Hee-tok berada di badanku ini!” sambil menunjuk jubah di bagian dadanya. Penjelasan itu sangat membingungkan, orang-orang sudah mengetahui bahwa.
149
1) sumur, 2) rawa, 3) telaga, 4) kali, 5) anak kali, 6) Sungai dan 7) lautan, tergolong sebagai daerah perairan. Apakah ada daerah perairan yang kedelapan??! Nio Ce It yang berangasan dari partai Tai-hu menanya. „Aku tidak mengerti jika Hee-tok, yang menurut penjelasanmu berada ditubuhmu itu, tergolong sebagai daerah perairan juga! Jangan kira di sini tidak ada orang-orang gagah untuk memelintir batang lehermu, sehingga kau berani berlaku kurang ajar dan mempermainkan kita!” Hee-tok-cui-kee tertawa terpingkal-pingkal ditegur demikian, lalu sambil menunjuk ke arah Tong-kwee-sin-hi, ia menyahut. „Saudara itu mengaku bahwa dia datang dari dasar sumur, namun pengetahuannya ternyata lebih luas dari padamu! Hee-tok, meskipun daerah perairan kecil tetapi manfaatnya besar sekali!” Setelah berkata demikian, ia mengeluarkan dari dalam jubahnya, sebuah kotak berukuran 15 cm x 9 cm, yang ternyata sebuah bakhi (batu alas untuk membuat tinta Tionghoa). Di tempat yang cegelok di ujung bakhi itu tampak air bak yang hitam dan kental. Karena kotak itu baik dibuatnya, maka air bak di dalam bakhi tersebut tidak mengetel keluar. Tetapi setelah bakhi itu dipegang terbalik dan air yang hitam dan kental itu masih tidak tumpah ke bawah, para hadirin jadi terperanjat sekali dan yakin bahwa Hee-tok-cui-kee ini bukan orang sembarangan, karena dengan tenaga dalamnya yang sakti,
150
ia telah berhasil menahan air bak itu sehingga tidak jatuh ke bawah! „Hai kalian, dengarlah!” kata Hee-tok-cui-kee. „Air hitam ini tidak banyak, namun air ini takkan menjadi kering di musim kemarau, atau beku di musim dingin. Dengan air bak ini aku dapat menyapu laskar musuh. Bukankah dengan demikian aku juga dapat digolongkan sebagai jago silat perairan?” Penjelasan yang mirip seperti penjelasan dari seorang yang miring otaknya itu membikin para hadirin heran dan geli bukan main. Siauw Cu Gie pun menjadi terpaksa nyengir dan berkata. „Saudara telah memberikan penjelasan yang bagus sekali. Tetapi untuk terpilih menjadi pemimpin yang kita maksudkan itu, tiap-tiap partai silat harus mengajukan lima orang wakil untuk bertempur di atas Lui-tay. Saudara datang hanya seorang diri saja, bukankah itu sangat merugikan pihakmn sendiri?” „Tetapi yang diutamakan adalah kemenangan, bukan jumlah orang, bukankah begitu......?” tanya Hee-tok-cui-kee sambil tertawa. Siauw Cu Gie menjadi bungkam mendengar jawaban itu, yang seolah-olah menganggap semua orang dan dirinya sendiri akan dikalahkan dengan mudah. Ketika itu, di atas Lui-tay sudah berdiri To Leng (si jangkung), Tong-kwee-sin-hi (si kodok). Tang Ceng Hong (si pertapa tua) dan Hee-tok-cui-kee (si jago silat dari rawa), yang semuanya pasti memiliki kepandaian yang tinggi.
151
„Aku yakin betul bahwa mereka berempat tidak saling mengenal satu sama lain,” pikir Siauw Cu Gie sambil mengawasi ke atas Lui-tay. „Jika mereka saling tempur, bukankah ini suatu ketika yang baik untuk mereka saling bunuh?” Maka lekas-lekas ia menyahut. „Betul, betul! Yang diutamakan adalah kemenangan, bukan jumlah orang! Sekarang kita dapat melangsungkan usaha pemilihan kita ini. Tadi saudara To Leng telah mengalahkan Liong Cin Thian, maka aku minta kepada saudara-saudara yang baru datang, agar satu per satu maju menurut urutan untuk bertempur melawan pemenang tadi!” Usul itu segera dimengerti oleh orang banyak, karena Soat-hay-hua-kee, Ceng-tai dan Hee-tok...... itu semua tidak dapat digolongkan sebagai daerah perairan. Jika sampai salah satu dari antara mereka terpilih menjadi pemimpin, maka akibatnya tak dapat digambarkan lagi! Orang-orang dari partai Tai-hu, Oey-ho dan Kao-yu semua menyetujui usul Siauw Cu Gie agar pengacau-pengacau itu bertarung lebih dulu, dengan harapan mereka saling bunuh antara mereka sendiri! Kemudian terdengar Siauw Cu Gie bersiul nyaring dan tampak seorang memberikan kepadanya satu bendera merah. „Barusan saudara To Leng telah memenangkan satu pertempuran,” katanya setelah menerima bendera itu. „Maka bendera merah ini menjadi miliknya!”
152
Lalu seperti orang memegang pena di tangan kanan, dengan ibu jari dan dua jari lainnya menjepit gagang bendera itu, ia menyambit ke arah layar kapal sungai To Leng. Maka meluncurlah bendera merah itu di udara untuk kemudian dengan cepat sekali telah nancap di atas layar hitam yang dimaksud. Jarak dari kapal sungai Siauw Cu Gie ke kapal sungai To Leng terpisah kira-kira tigapuluh meter jauhnya, namun sambitan itu jitu sekali sehingga menimbulkan perasaan kagum para hadirin, berikut keempat manusia-manusia ganjil yang berada di atas Lui-tay sekalipun! DELAPAN „Terima kasih atas tanda kemenangan itu!” sahut To Leng. „Aku sudah memperoleh satu angka kemenangan..... sekarang apakah saudara Tong-kwee-sin-hi sudah siap untuk melawan aku?” Tong-kwee-sin-hi yang ditantang secara terbuka segera melangkah mundur satu tindak sambil tertawa berkikikan, lalu ia berdiri jejak siap sedia untuk bertempur. „Saudara To, kau dapat segera mulai aku sudah siap!” sahutnya pendek. Suasana sudah mulai menjadi tegang lagi. Semua partai silat yang diundang merasa girang bahwa tipu muslihat yang dilancarkan Siauw Cu Gie agaknya akan berhasil dan mereka ingin sekali menyaksikan ilmu-ilmu silat manusia-manusia ganjil itu yang tentunya hebat sekali. Melihat bakal lawannya itu bertubuh buntek dan bulat seperti seekor kodok dan mendengar suaranya yang seperti suara
153
seorang wanita, To Leng merasa geli sekali, tetapi ia tak berani berlaku lengah. Sambil menahan napasnya sejenak dan mengeluarkan suatu siulan yang panjang serta nyaring, ia mengambil ancang-ancang untuk menyerang lawannya. Tong-kwee-sin-hi mundur lagi satu langkah seraya menggeram dan tampak gerakannya itu lamban sekali. Gerak gerik yang lamban itu telah diperhatikan oleh para penonton, dan mereka merasa heran, karena di waktu meloncat dari bola kayu di permukaan air telaga ke Lui-tay, si kodok ini telah melakukan loncatan yang luar biasa lincahnya. Dalam suasana yang tegang itu, tiba-tiba terdengar suara siulan jung tidak kalah nyaring dan panjangnya dengan siulan To Leng tadi. Siauw Cu Gie terkejut dan mengepal-ngepal tinjunya yang sudah basah dengan keringat kegelisahan. Ia tak menduga sama sekali bahwa pertemuan itu akan dikacau demikian rupa oleh manusia-manusia aneh itu. Siulan itu terdengar lagi, kemudian dari kejauhan tampak seorang yang mengenakan baju hijau, menutupi mukanya dengan kain hijau yang jarang sehingga tak dapat dilihat bentuk wajahnya dan berperawakan sedang, tengah mendatangi. Yang aneh ialah dia dapat berlari-lari di atas air telaga sama pesat serta lincahnya seperti orang lain berlari di atas tanah! Belum lagi hilang perasaan heran para hadirin, tampak orang itu telah melakukan satu loncatan yang indah sekali, sesaat kemudian ia sudah derada di atas Lui-tay.
154
„Menakjubkan, mempesonakan sekali!” seru para hadirin yang menyaksikan gerak-gerik orang yang baru datang itu, mereka merasa beruntung sekali telah dapat melihat dengan mata kepala sendiri ilmu meringankan tubuh yang dipamerkan oleh orang itu, yalah jurus Tui-hong-hoa-tian (Mengejar angin memburu kilat), yang hanya pernah mereka dengar. „Betu-betul lucu, betul-betul lucu!” kata tamu yang baru datang itu. Sebagai ketua pertemuan, Siauw Cu Gie harus melayani dengan cermat semua orang yang hadir di situ, maka ia lalu berkata. „Saudara datang dari mana? Dan apakah yang telah membuat saudara merasa lucu.....?” Baru saja selesai Siauw Cu Gie menanya, dengan tiba-tiba si tamu baju hijau berbalik dan menghadap kepadanya sambil menatap tajam. Dari balik kain hijau yang jarang yang menutupi muka tamu itu, tampak dua titik sinar terang yang menyala-nyala! Siauw Cu Gie boleh dikatakan telah mengalami segala sesuatu semenjak ia berkecimpungan di kalang Kang-ouw. Pertempuran dahsyat, pembunuhan kejam, pembokongan keji, peracunan dan sebagainya. Tetapi baru kali ini ia menjadi gemetar ketakutan hanya ditatap oleh tamu yang ganjil itu! „Hei kau!” bentak si tamu baju hijau. „Tentulah kau orangnya yang telah menyelenggarakan pertemuan ini...... bukankah?!” „Betul...... betul!” sahut Siauw Cu Gie gugup. “......aku... Siauw......”
155
Tetapi si tamu baju hijau tidak menunggu lagi hingga si Raja naga dari lima telaga menyebutkan namanya, ia tertawa keras laksana guntur sehingga sahutan si Raja naga dari lima telaga tak terdengar karena ‘ditelan’ suara tertawanya yang seram! Para hadirin menjadi cemas menyaksikan sikap si tamu baju hijau yang tak mengenal aturan itu. Bahkan Siauw Cu Gie yang terkenal tabah dan gagah juga telah merasa gentar dan tak berani menatap lagi wajah yang ditutupi kain itu! Tetapi siauw Bie menjadi gusar menyaksikan kakak laki-lakinya dihina demikian kasarnya. Ia berdiri dan ingin membentak, namun si tamu baju hijau rupanya tidak sudi memberikan kesempatan untuk orang lain berbicara, setelah tertawa berkakakan, ia berkata lagi. „Aku ingin menanya! Darimanakah datangnya air di dunia ini?!” Pertanyaan yang sederhana tetapi aneh itu membikin semua orang tercengang. „Siapakah dia ini?” pikir Siauw Cu Gie. „Namun darimanakah datangnya air dunia ini?!” Tiada seorangpun dapat menjawab pertanyaan itu. Suasana tambah sunyi, hanya terdengar suara ejekan yang diucapkan dengan suara rendah oleh si tamu baju hijau. Tiba-tiba terdengar Siauw Bie menyahut dengan suara yang lantang.
156
„Saudara telah ajukan suatu pertanyaan yang baik sekali! Bagiku pertanyaan itu tidak sukar. Air di dunia ini...... yang di dalam sungai, di dalam kali, di dalam lautan, di dalam telaga, di dalam rawa, bahkan yang di dalam sumur dan lain sebagainya......, semuanya berasal dari air hujan yang jatuh dari langit!” Jawaban yang tepat itu membikin semua orang jadi ternganga. „Adikku telah menyawab betul,” kata Siauw Cu Gie setelah dapat mengumpulkan lagi semangatnya. “tetapi mengapa saudara menanya demikian?” „Hee, hee, hee! Jika kau telah mengetahui bahwa air di dunia ini semuanya datang dari atas, mengapa kau masih ingin membentuk suatu gabungan dan memilih seorang ketua untuk memimpin semua partai-partai silat perairan?” „Apa salahnya jika kita ingin berbuat demikian?” „Kau adalah orang yang mencetuskan gagasan itu, mengapa kau tidak mengundang aku, aku yang juga tergolong sebagai jago silat perairan?” „Siapakah gerangan nama saudara yang mulia dan dimanakah saudara bertempat tinggal jika aku boleh bertanya?” „Aku tinggal di atas puncak pegunungan Kun-lun-san, dan oleh karena tiap-tiap hari di atas puncak itu turun hujan, maka bolehlah dikatakan bahwa akupun tergolong sebagai jago silat perairan! Aku harus turut serta dalam pertemuan ini!”
157
Jawaban si tamu baju hijau telah membikin Siauw Cu Gie tak dapat tertawa bahkan menangis pun sukar baginya! Benar, saja, seperti telah ia duga, seorang yang terlebih ganjil telah datang untuk mengacau. „Karena dia selalu kehujanan di atas puncak pegunungan Kun-lun-san,” kata Siauw Cu Gie di dalam hati. “Maka iapun ingin tergolong sebagai seorang jago silat perairan! Bukankah ini suatu lelucon yang besar?!” „Hee, hee, hee!” tamu itu tertawa lagi, „Aku bernama Thian-ji-sang-jin (Orang sakti yang selalu kehujanan), dan aku bertapa di atas puncak Thian-ji-hong!” „Apakah orang yang mandi tiap-tiap hari harus dianggap sebagai penduduk daerah perairan juga?” tanya Siauw Bie saking mendongkolnya. Thian-hi-sang-jin berbalik dan menatap si gadis seraya membentak. „Hei kau......” „Cianpwee! Nanti dulu......!” kata Siauw Cu Gie sambil mencegah adiknya berlaku kasar terhadap tamunya itu ia telah membahasakan si tamu baju hijau dengan sebutan Cianpwee atau paman. „Karena Cianpwee telah datang di sini dan mengaku tergolong sebagai jago silat perairan juga, maka kitapun tak dapat menolak. Tentu Cianpwee telah mengetahui bahwa untuk terpilih menjadi seorang pemimpin, Cianpwee harus bertarung melawan
158
jago-jago silat lainnya dan membuktikan bahwa Cianpwee memiliki kepandaian lebih tinggi dari kita semua!” Thian-ji-sang-jin tertawa gelak-gelak dan melirik tajam ke arah To Leng, Tong-kwee-sin-hi, Tang Ceng Hong dan Hee-tok-cui-kee. „Sudah tentu aku rela bertempur melawan siapapun!” sahutnya pendek. Ketika itu ia tengah berdiri di tengah-tengah Lui-tay, setelah memberikan jawabannya itu, tampak tubuhnya segera bergerak. Semua orang hanya melihat tubuhnya seolah-olah menjadi gumpalan asap hijau, yang bergerak berputar-putar dari tengah ke sepanjang empat pinggiran Lui-tay dengan pesat sekali, sesaat kemudian terdengar suara „Blung! Bluung!” empat kali berturut-turut! Selama kejadian itu berlangsung, semua orang hanya melihat bergeraknya suatu benda hijau yang mengurung ke empat manusia ganjil tadi. Setelah beberapa saat saja di atas Lui-tay hanya tampak Thian-ji-sang-jin seorang. Sedang To Leng, Tong-kwee-sin-hi, Tan Ceng Hong dan Hee-tok-cui-kee, sudah terapung-apung di atas permukaan air telaga! Mereka semua setelah menaiki perahu masing-masing, segera meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sesuatu apapun! Siauw Cu Gie menghela napas panjang dan berpikir. Keempat manusia ganjil itu memiliki kepandaian yang lihay terutama To Leng yang telah menggemparkan dunia Kang-ouw. Tetapi mereka telah dibikin keok dalam satu gebrakan saja, tanpa dapat kesempatan untuk melakukan perlawanan sama sekali.
159
Bagaimana nasib kita jika ia akhirnya terpilih menjadi pemimpin kita? „Aku sudah mengetahui,” kata Thian-ji-sang-jin,” bahwa menurut peraturan yang telah ditetapkan, barang siapa telah memenangkan sepuluh pertarungan akan diberi sepuluh angka dan dengan mutlak terpilih menjadi pemimpin. Tadi aku telah memperoleh empat angka, dan aku yakin bahwa aku akan berhasil memperoleh enam angka lagi terlebih dulu daripada kalian!” Sebelum ke lima manusia ganjil hadir di situ, Siauw Cu Gie sudah merasa yakin betul bahwa partainya akan menggondol piala kemenangan. Kini dengan munculnya Thian-ji-sang-jin di situ ia menjadi gelisah dan tak mempunyai pegangan lagi. Apakah adik perempuannya Siauw Bie atau dia sendiri dapat merobohkan Thian-ji-sang-jin? Ia berbalik dan melihat ke arah Siauw Bie yang tengah berdiri dengan tenang dan tetap beriang gembira. Lalu terdengar Siauw Bie berkata. „Jago-jago silat di kolong langit banyak jumlahnya dan tiap-tiap jago silat ingin merebut kedudukan serta nama harum. Apakah kau kira, setelah memperoleh empat angka, kau tentu akan memperoleh lagi enam angka dengan sama mudahnya?” „Siocia tentu dari partai silat Tong-teng, bukankah? Apakah kau tertidur waktu aku bertempur tadi sehingga kau berani pentang bacot demikian besar?” „Aku Siauw Bie, adik perempuan Siauw Cu Gie dari partai silat Tong-teng! Dan aku tidak tertidur waktu kau bertempur barusan,
160
aku telah melihat dengan jelas tiap gerakanmu. Apakah kau menantang aku bertempur......? Hei bung! Jangan kau menghina kepada kaum hawa, karena belum tentu kau dapat mengalahkanku!” Thian-ji-sang-jin kelihatannya gusar sekali diejek oleh gadis itu, dengan tiba-tiba ia mengebat lengan bajunya dan memukul ke arah air telaga, dan dengan tiba-tiba pula tampak air di sekitar Liu-tay terdampar keras, lalu melonjak ke atas untuk kemudian jatuh kembali seperti turunnya air hujan dari langit! Ilmu tenaga dalam yang demikian dahsyatnya itu membikin semua orang menahan napas. „Celaka!” pikir Siauw Cu Gie. „Adikku pasti menjadi lawan yang ringan bagi dia itu!” Siauw Bie pun terkejut melihat ilmu tenaga dalam yang luar biasa itu, tetapi ia tetap bersikap tenang. Baru saja ia ingin meloncat ke atas Lui-tay, ketika si pemuda baju hijau yang berada di sampingnya menahan. „Siauw siocia, kau seorang gadis yang cantik jelita dengan kulit putih seperti batu pualam. Janganlah pergi ke Lui-tay dan bertarung melawan dia yang lihay itu, aku merasa sayang jika sampai kulit tubuhmu itu dilukai olehnya......” Beberapa ratus pasang mata senantiasa mengikuti tiap gerak gerik Siauw Bie yang telah menyatakan ingin melawan Thian-ji-sang-jin. Gadis-gadis cantik, pelayan-pelayan Siauw Bie berbisik-bisik berdoa agar datang atau terjadi suatu kemujizatan yang dapat
161
mencegah gadis majikan mereka itu pergi ke Lui-tay, karena mereka khawatir air telaga kelak dibikin noda oleh merahnya darah gadis itu! „Kau diundang untuk menonton bukan? Dari itu kau harus duduk diam dan menonton saja!” „Siauw siocia, perkenankanlah aku yang pergi ke atas Lui-tay untuk bicara dengan dia, aku harap dapat membujuknya agar dia jangan bertarung melawan Siauw-siocia.” Melihat cara dan sikapnya, orang akan mengambil kesimpulan bahwa pemuda itu seolah-olah tidak mengerti peraturan Bu-lim. Ketika itu ia sedang berhadapan dekat sekali dengan si gadis, maka empat mata beradu sehingga dua jantung remaja jadi berdebar-debar. Wajah Siauw Bie berubah merah ditatap demikian, ia lekas-lekas tundukkan kepalanya dan berpikir. „Ai! Aneh betul, dia ini. Ia tak gentar sedikitpun menyaksikan pertempuran yang dahsyat!” „Baiklah!” akhirnya si gadis menyahut. „Mungkin dia akan mendengar dan menuruti nasehatmu!” Siauw Cu Gie tidak mengerti akan tindakan adiknya itu, yang telah meluluskan permintaan si pemuda, meskipun ia mengetahui resiko besar yang harus dipikul oleh Siauw Bie yang seharusnya pergi ke Lui-tay dan bertempur melawan Thian-ji-sang-jin. Tetapi ia sendiri harus mentaati peraturan Bu-lim, ia ingin Siauw Bie yang pergi ke Lui-tay!
162
„Dik, kau harus mempertimbangkan perbuatanmu itu!” tegurnya, „kau sudah menantang, maka kaulah yang harus bertempur!” „Koko,” sahut Siauw Bie yang sudah menaruh simpati kepada si pemuda yang berada di sampingnya itu. „Dia telah dengan baik hati ingin membantu kita, masakah harus kita tolak?” „Betul, betul, Siocia berpikiran luas!” kata si pemuda, lalu ia berjalan di atas geladak haluan kapal sungai itu dengan kedua tangannya digendong di belakang untuk turun ke dalam perahu lalu pergi ke Lui-tay. Tetapi tiba-tiba tampak ia tergelincir dan jatuh ke bawah! Meskipun suasana pada saat itu sangat tegang, tetapi semua orang tertawa geli melihat lagak pemuda yang canggung itu! Jarak dari atas haluan kapal sungai ke permukaan air telaga kira-kira empat mater jauhnya. Suara tertawa belum lenyap, dan ketika tubuh si pemuda hampir menyentuh permukaan air telaga, sekonyong-konyong tampak dia meronta dan lekas-lekas berbalik untuk kemudian berdiri tegak di atas permukaan air! Suara gelak tertawa dengan tiba-tiba jadi terhenti. Barusan setelah menyaksikan Thian-ji-sang-jin dapat berlari-lari di atas permukaan air, mereka sudah sangat terpesona menyaksikan ilmu yang luar biasa itu. Tetapi Thian-ji-sang-jin melakukan itu sambil berlari-lari dengan mempergunakan ilmu Leng-po-hui-pu (Langkah sakti menginjak ombak), yang terhitung sebagai ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Sedangkan si pemuda dapat berdiri tegak di atas air telaga! Ilmu apakah yang telah dipergunakan oleh pemuda itu??
163
Pemuda itu sama sekali tidak mirip orang yang mengerti ilmu silat. Gerak-geriknya lemah-lembut, air mukanya putih bersih, nada suaranya mendebarkan hati yang mendengarnya dan sikapnya sopan santun. Dengan sifat-sifat yang tersebut di atas ditambah dengan kepandaiannya yang mengagumkan itu, ia telah berhasil merebut simpati para hadirin. Siauw Bie yang pintar dan cerdik, baru saja mengenal pemuda itu beberapa jam yang lalu, namun ia sudah dapat menduga bahwa pemuda itu mengerti ilmu silat, hanya ia tidak mengetahui jika pemuda itu memiliki ilmu yang demikian saktinya! Keadaan di sekitar telaga itu sunyi senyap, semua perhatian dicurahkan kepada pemuda itu. Thian-ji-sang-jin yang tadinya congkak bukan main, kini jadi berdiri terpekur dengan mulut ternganga! Kemudian, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dengan ilmu meringankan tubuh yang sakti, si pemuda lalu berjalan di atas permukaan air menuju ke Lui-tay sambil bernyanyi. „Rumput hijau menutupi lembah, Sinar matahari menerangi dunia, Aku akan menyesal jika tak menunaikan sumpah. Untuk membalas dendam ibu dan ayah!” Dan ketika hampir tiba di Lui-tay, sambil mengangkat kedua tangan ke atas, tampak tubuhnya mencelat seperti seekor rajawali menerjang ke angkasa, sesaat kemudian ia sudah berdiri berhadapan dengan Thian-ji-sang-jin.
164
Tak dapat disangkal lagi bahwa Thian-ji-sang-jin adalah seorang yang berkepandaian sangat tinggi. Karena ia menyelubungi mukanya dengan kain jarang yang hijau, maka orang tak dapat melihat mukanya dan mengenal dia itu sebenarnya siapa, menurut pengakuannya sendiri bahwa dia adalah Thian-ji-sang-jin dari pegunungan Kun-lun-san. Ia telah bertapa di tempat yang terpencil dan telah berlatih silat beberapa puluh tahun lamanya untuk menyempurnakan ilmu meringankan tubuh yang telah ia pamerkan tadi, yalah ilmu Leng-po-hui-pu. Mungkin juga ilmu tersebut hanya ia saja yang dapat lancarkannya. Tetapi setelah melihat pemuda yang usianya baru kira-kira duapuluh tahun dapat mempertunjukkan ilmu meringankan tubuh yang jauh lebih hebat daripada ilmunya sendiri, ia menjadi cemas sekali! Menurut pendapatnya ilmu meringankan tubuh yang lebih lihay daripada ilmu Leng-po-hui-pu nya, baru dapat dimiliki oleh seseorang setelah berlatih dengan tekun serta ulet selama empatpuluh tahun. Tetapi ternyata pemuda itu baru berusia paling banyak duapuluh tahun..... ia betul-betul tidak mengerti! Ia terkenang akan suatu urusan pada masa yang lampau. Tiga benda mujizat yang diwariskan oleh Thian-hiang-sian-cu. Ketiga benda mujizat itu telah menjadi teka-teki di kalangan Bu-lim selama dua tahun yang terakhir. Siapakah pemilik ketiga benda mujizat tersebut??
165
Pemuda itu memiliki ilmu silat yang harus dipelajari selama paling sedikit empatpuluh tahun. Apakah ia telah makan pil Cu-gan-tan? Sehingga ia tetap muda belia! Tersiar kabar bahwa orang hanya memerlukan makan tiga butir Cu-gan-tan, maka orang itu akan selalu muda! Jika pemuda itu telah beruntung memperoleh pil mujizat itu, siapakah dia itu sebenarnya? Apakah ia juga mengetahui di mana tersimpannya kedua benda mujizat yang lainnya? Demikianlah tanya jawab yang berlangsung di dalam hati Thian-ji-sang-jin. Kini ia menjadi cemas menghadapi si pemuda, ia sudah siap menyerang dan membunuh lawannya itu. Si pemuda mengangkat kedua tangannya menghaturkan hormat. Tetapi gerak itu disalah artikan oleh Thian-ji-sang.jin yang mengira si pemuda melancarkan suatu serangan, maka lekas-lekas ia melangkah mundur beberapa tombak jauhnya. Si pemuda hanya bersenyum melihat kegelisahan lawannya, lalu dengan tenang ia berkata. „Saudara telah mengatakan bahwa saudara datang dari atas puncak Thian-ji-hong di pegunungan Kun-lun-san. Aku yakin tiada satu orangpun di sini yang mengenal dimana letaknya puncak tersebut yang pasti merupakan suatu sorga di dunia ini!!” Perkataan itu diucapkan dengan lantang sekali dan telah membuka mata para hadirin bahwa mereka tengah menghadapi suatu iblis telengas!
166
„Tetapi......” terdengar si pemuda melanjutkan kata-katanya. „Tetapi mengapa saudara berlaku begitu tolol untuk datang di sini dan bermaksud dipilih menjadi pemimpin para jago silat perairan? ─ Misalnya saudara bukan dari Thian-ji-hong, itu akan lain soalnya!” Siauw Cu Gie yang merasa telah ‘mendapat angin’ lalu nambahkan. „Rupanya saudara datang ke sini dengan nama palsu dan telah memberikan keterangan-keterangan palsu pula!” ia tidak lagi membahasakan Thian-ji-sang-jin dengan Cianpwee! Pemimpin partai silat Kao-yu pun turut berkata. „Aku yakin saudara datang ke sini dengan maksud yang keji.! Jika perlu, kita semua akan mengempurmu!” Thian-ji-sang-jin tidak memprotes tuduhan-tuduhan itu, ia berbalik dan menatap si pemuda. „Aku juga ingin mengetahui saudara sebetulnya siapa?” tanyanya. Dengan pertanyaan itu jelaslah terbukti bahwa Thian-ji-sang-jin bukan seperti apa yang telah ia terangkan tentang dirinya. Dalam dunia Kang-ouw tiap-tiap perbuatan yang nyeleweng di suatu pertemuan harus diberi hukuman yang setimpal. Maka Siauw Cu Gie segera memberi isyarat kepada orang-orangnya dan dalam sekejapan saja, empatpuluh perahu telah datang mengurung Lui-tay itu!
167
Si pemuda bersikap tenang sekali, seolah-olah tidak menghiraukan segala kejadian di sekitarnya. Ia hanya menjawab pertanyaan lawan. „Aku ini adalah seorang yang bebas berkelana ke mana-mana. Aku tidak mempunyai nama dan tidak punya tempat tinggal yang tetap. Saudara, jika kau sudi mendengar nasehatku, lebih baik kau segera tinggalkan tempat ini dan kita dapat tetap menjadi sahabat! Jika tidak...... akupun tidak bisa memaksa bukan?” Si pemuda telah mengusir Thian-ji-sang-jin dengan cara yang lunak, tetapi cara itu tidak dapat diterima oleh orang yang bersangkutan. „Kau berani mengusir aku dari telaga Tong-teng ini?” bentaknya gusar. „Aku ingin melihat apakah benar kau mampu berbuat demikian?!” “Jika kau masih juga ingin membangkang, aku terpaksa......” Belum lagi selesai ucapan pemuda itu, sekonyong-konyong Thian-jisang-jin yang sudah tidak dapat menahan amarahnya, telah menyerang dengan kedua tinjunya. Tetapi aneh Thian-ji-sang-jin tidak menyerang langsung kepada si pemuda, ia menyerang ke arah telaga dan hembusan angin serangan kedua tinjunya itu membikin air di sekitar Lui-tay bergolak dahsyat dan melonjak ke atas lalu tumpah di atas lantai Lui-tay berbareng menyerang si pemuda!
168
Tiba-tiba tampak air yang tengah menggulung-gulung itu terdampar oleh suatu tenaga ajaib dan berbalik menyerang Thian-ji-sang-jin! Thian-ji-san-jin mengegos ke samping sambil menyerang ke arah telaga dan hembusan angin tinju yang dikerahkan dengan tenaga dalam itu, lagi-lagi membikin air telaga melonjak lalu menyerang si pemuda. Namun seperti terjadi tadi, air tersebut terdampar balik untuk menggempur si penyerang! Si pemuda pun tidak bersedia diserang terus menerus, ia bergerak sambil melancarkan serangan dengan jurus Cin-thian-cian-jin-sin-lit (Tenaga sakti menggetarkan bumi). „Celaka!” kata Thian-ji-sang-jin di dalam hati sambil mengegos dari hembusan angin tinju lawannya. Tadinya, Thian-ji-sang-jin sudah merasa yakin betul bahwa ia dapat mempecundangi semua jago-jago silat yang hadir di situ, tetapi setelah menyaksikan ilmu meringankan tubuh dan sekarang jurus Cin-thian-cian-jin-sin-lit yang baru dilancarkan oleh si pemuda, ia merasa jalan yang terbaik untuk dirinya yalah, kabur! „Hei! Aku tidak menduga bahwa jurus Tenaga sakti menggetarkan bumi, yang pernah menggetarkan dunia Kang-ouw di jaman lampau dapat aku saksikan lagi hari ini!” katanya sambil mundur beberapa langkah. „Kau sebetulnya siapa? Pernah apakah kau dengan orang yang dapat melancarkan jurus yang terkenal itu?” Si pemuda yang senantiasa bersikap tenang dan acuh tak acuh, menjadi gusar tatkala ditanya demikian.
169
„Bagus jika kau masih dapat mengenal jurusku itu. Sekarang perkenalkanlah dirimu, karena akupun sependapat dengan pemimpin Siauw bahwa kau telah memberikan keterangan palsu kepada kita!” Para hadirin mengikuti jalannya pertempuran dengan hati berdebar-debar, mereka telah menyaksikan pertempuran dua jurus yang betul-betul mempesonakan mereka. „Orang yang mengetahui jurus Cin-thian-cian-jin-sin-lit tidak banyak jumlahnya,” pikir Thian-ji-sang-jin. Tetapi karena didesak ia lalu menyahut. „Apakah kau kenal Ouw Lo Si, si Ahli nujum kipas baja?” Ditanya demikian si pemuda jadi berpikir. „Mungkin aku kenal siapa sebetulnya dia ini. Orang yang dapat menahan atau mengegosi jurusku tadi hanya tiga orang saja, yalah Ouw Lo Si, tetapi dia ini pasti bukan kakek itu, dan dua orang lainnya adalah orang-orang yang membunuh ayahku!” „Kaki yang pincang mungkin dapat disembuhkan oleh seorang tabib yang pandai,” sahutnya, „tetapi tiada satupun tabib yang dapat menyembuhkan mata yang picek!” „Darimana kau kenal si pincang itu?” „Itu bukan urusanmu!” „Tetapi aku harus mengetahui!”.
170
„Jika aku tidak bersedia memberitahukan bagaimana?!” „Kau harus menanggung sendiri akibat daripada keangkuhanmu itu!” „Ha, ha, ha! Akibat diripada keangkuhanku! Sebetulnya kau harus mengatakan akibat daripada ketololanmu sendiri!” Tiba-tiba Thian-ji-sang-jin maju dua langkah sambil mengirim satu jotosan dan segera tampak benda-benda kecil yang berkilau-kilau menyemprot dari tinjunya yang menyerang kepala si pemuda! „Celaka!” teriak Siauw Bie. „Iblis itu menggunakan senjata rahasia, mungkin juga racun hebat!” „Aai!” teriak para hadirin. „Itulah senjata beracun Hian-peng-tok-bong Suto Eng Lok!” Perlu dijelaskan di sini bahwa kedua iblis Soat-hay-siang-hiong (yang pernah menggabungkan diri dengan Eu-yong Lo-koay dan membunuh Wei Tan Wi) -- yang tua bernama Suto Eng Lok, dan yang lebih muda bernama Hua Ceng Kin. Mereka memiliki kepandaian sangat tinggi, tetapi berwatak sangat kejam, ganas serta keji. Banyak korban telah mereka ganyang dan banyak pula bencana yang mereka terbitkan, namun mereka masih mujur belum menjumpai lawan yang setimpal sehingga mereka jadi besar kepala dan mengganas terus! Tatkala mengetahui bahwa Suto Eng Lok telah muncul di daerahnya itu, sekonyong-konyong Siauw Cu Gie jadi gemetar dan merasakan kedua lututnya lemas!
171
Untuk sesaat lamanya si pemuda pun agaknya terkejut mendengar nama Suto Eng Lok disebut-sebut. Benda-benda kecil itu meluncur pesat sekali. Para hadirin menahan napas menantikan akibatnya, tetapi si pemuda tampak tenang-tenang saja bahkan sambil mengulur tangannya ia lalu meraup benda-benda kecil yang berbahaya itu lalu melemparkan ke dalam telaga! Serangan Suto Eng Lok yang menyamar sebagai Thian-ji-sang-jin telah digagalkan oleh si pemuda dengan mempergunakan sarung tangan yang putih laksana salju. Para hadirin menjadi terperanjat melihat sarung tangan tersebut dan berbareng girang melihat si pemuda berhasil memunahkan senjata yang sangat beracun iblis itu yang telah sengaja datang dari pegunungan Pek-thian hanya untuk mengacau-balaukan pertemuan itu! Siauw Cu Gie menjadi heran sarung tangan itu berada di tangan si pemuda baju hijau. „Tidak salah lagi, itulah Ciam-hua-giok-siu yang dapat menghalau api dan memunahkan senjata beracun!” katanya di dalam hati. Waktu Kong-ya Coat mengadakan pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-in-hwee, dua tahun yang lalu, Siauw Cu Gie pun turut serta, tetapi kesudahan daripada pertemuan itu ia tidak mengetahui sama sekali. Pertemuan telah menjadi suatu teka teki atau suatu tanda tanya yang besar di kalangan Bu-lim. Tiada satu orangpun yang mengetahui siapakah yang telah beruntung memperoleh Ciam-hua-giok-siu pada waktu itu? Tetapi...... sekarang sarung tangan ajaib itu berada di tangan seorang pemuda tampan yang gerak-geriknya sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia itu mengerti ilmu silat!
172
Dalam suasana yang gaduh itu, tampak Suto Eng Lok berdiri menjublek dengan muka pucat saking terkejutnya menyaksikan senjata rahasianya yang sangat diandalkannya itu dapat dipunahkan demikian mudah. „Aku tidak menduga,” katanya. „bahwa pusaka Thian-hiang-sian-cu telah jatuh ke dalam tanganmu!” Setelah berkata begitu, seperti seekor kucing hutan yang terdesak, ia meloncat menerkam lawannya yang masih sangat muda itu, dengan lima jari tangannya kuku yang tajam seperti pisau baja. Si pemuda sudah siap ketika lima jari si iblis hampir merampas Ciam-hua-giok-siu yang berada di tangan kanannya, dengan tiba-tiba ia menggentak tangannya itu ke atas! Suto Eng Lok lekas-lekas menarik kembali cengkeraman lima jarinya dan sebagai gantinya ia mengirim tinju kirinya ke arah dada si pemuda dengan jurus Tui-san-to-hay (Mendorong gunung menterbalikkan lautan)! Si pemuda melangkah mundur satu tindak mengelakan jotosan maut itu seraya menggait serta membuka kain hijau yang menyelubungi muka lawannya dengan cakaran sarung tangan ajaibnya..... dan apa yang terlihat......?! Dua baris alis yang tebal dan hitam, muka yang panjang dan tidak normal yang seperti muka kuda dengan kedua mata yang juling. Ia terkejut bukan main, karena itulah ciri-ciri yang dimiliki oleh musuh-musuh besarnya, yang pernah didengarnya dari mendiang ayahnya.
173
„Jahanam!” bentaknya. „Tidak diduga bahwa aku tak usah pergi ke pegunungan Pek-thian untuk mencabut nyawa iblismu!” “Hah! Jangan bergirang dulu, kau telah kena tinju Hian-peng-sin-ciang ku atau Tinju maut! Kau pasti akan merasai akibatnya kelak!” Ucapan itu membikin Siauw Bie terkejut, meskipun si pemuda tidak menderita apapun setelah menerima serangan maut itu, namun ia khawatir si pemuda dilukai juga oleh hembusan angin tinju jurus Tinju maut yang termashur itu! Hatinya berdebar-debar memikiri keselamatan si pemuda. Di kalangan Bu-lim telah lama tersiar kabar bahwa barang siapa terkena hembusan angin Tinju Maut tersebut hanya dapat bertahan hidup sampai duabelas jam saja! Kemudian tampak si pemuda mengeluarkan dari dalam sakunya sebuah cincin seraya berkata. „Hei jahanam! Apakah kau masih mengenali benda pusaka ini?” „Hah! Apakah kau......” „Betul! Memang aku! Saatnya sudah tiba untuk kau bersenang-senang di...... neraka!” Lalu dari tangan kirinya si pemuda mengacungkan sebilah pedang baja yang tua sekali yang berwarna hitam. Suto Eng Lok meloncat ke belakang tanpa menunggu diserang dan berkata.
174
“Hei anak kemarin dulu! Lihat siapa yang berada di belakangmu kini!” „Soat-hay-siang-hiong selalu berada berdua,” pikir si pemuda. „Apakah iblis yang lebih muda sudah berada di belakangku!” Ia berbalik dengan cepat atas peringatan lawannya itu dan menyabetkan Ciam-hua-giok-siu berbareng menusuk dengan pedangnya ke depan! Segera terdengar suara tertawa yang ganjil dan tampak seorang wanita yang terurai rambutnya tengah memegang sebatang toya yang telah dipergunakannya untuk menangkis sabetan si pemuda tadi. „Hei kamu yang tak mengenal malu!” bentak Siauw Bie seraya menghampiri ke Lui-tay dengan perahu kecil. „Masa dua orang mengerubuti seorang?!” Tetapi dengan tiba-tiba sebelum Siauw Bie tiba di Lui-tay, awan hitam menggulung dan menutupi awan. Dan dengan tiba-tiba pula lampu-lampu dan obor-obor menjadi padam seketika, sehingga keadaan di telaga menjadi gelap gulita! Kejadian tersebut sungguh aneh sekali. Jika awan hitam menutupi bulan, itu wajar dan tidak mengherankan. Tetapi jika lampu-lampu dan obor-obor mendadak padam, itu sungguh suatu kemujizatan yang belum pernah terjadi! Orang-orang yang memegang lampu dan obor hanya merasakan suatu hembusan angin santar, setelah itu keadaan di sekitar telaga menjadi gelap gulita!
175
Suasana menjadi gaduh dan kacau, terdengar Siauw Cu Gie berteriak-teriak memerintahkan orang-orangnya memasang lampu-lampu dan obor-obor lagi Beberapa menit telah lewat cepat sekali, kegaduhan mulai lenyap ketika lampu-lampu dan obor-obor sudah dipasang lagi, awan hitampun sudah berlalu dan suasana sudah pulih seperti sediakala. Tetapi...... apakah yang telah terjadi selama dalam keadaan gelap gulita itu?? Lui-tay yang dibuat dengan mengikat erat-erat lima buah kapal sungai telah lenyap entah ke mana! Di tempat bekas Lui-tay tadi terapung tampak beberapa papan serta balok mengambang. Dan tidak tampak si pemuda, Siauw Bie dan kedua iblis Soat-hay-siang-hiong berada di situ! Dengan melihat papan-papan dan balok-balok yang mengambang di sekitar tempat bekas Lui-tay tadi terapung, dapat diambil kesimpulan bahwa Lui-tay yang kokoh kuat itu telah dirombak orang! Yang membikin semua orang tidak mengerti yalah usaha perombakan itu telah dilakukan demikian cepatnya! Siauw Cu Gie menggeleng-geleng kepalanya memikiri kejadian tersebut, karena dialah orangnya yang telah mengawasi pekerjaan pembuatan Lui-tay terapung itu, mana dapat ia percaya perombakan itu dapat dilakukan dalam jangka waktu yang demikian singkatnya. Ia menjadi tambah gelisah ketika mengingat adik perempuannya, Siauw Bie telah menghilang tanpa meninggalkan bekas!
176
„Lekas siapkan limapuluh perahu dan kerahkan seratus orang untuk menyelam! Cari adik perempuanku dan jangan berhenti mencari sebelum kalian berhasil!” serunya dengan wajah putus asa. Perintah itu segera ditaati oleh orang-orang dari partai Tong-teng yang sangat berdisiplin. Limapuluh perahu kecil dan seratus ahli menyelam segera siap melakukan tugas masing-masing. Mereka mencari...... mencari..... dan mencari sehingga keesokan paginya, tetapi mereka tidak berhasil menemukan apa yang mereka cari itu! Mereka mencari juga di daratan sekitar telaga Tong-teng yang sangat luas, di suatu tepi telaga mereka hanya menjumpai Hee-tok-cui-kee yang sedang tidur tertiarap dengan nyenyaknya. Ketika Siauw Cu Gie diberitahukan hal ini, ia hanya dapat menghela napas panjang menyatakan kekecewaan atas kegagalan usahanya menyelenggarakan pertemuan tersebut. Sungguh sayang maksudnya yang mulia itu telah menarik banyak orang yang terkenal jahat dan kejam di kalangan Kang-ouw. Ketika mengingat si pemuda baju hijau, ia tampaknya kagum sekali. „Tetapi,” katanya kepada dirinya sendiri, „Darimana ia memperoleh sarung tangan ajaib itu? Apakah dia yang telah berhasil merebut pusaka itu dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Kong-ya Coat dua tahun yang lalu?”
177
Peristiwa seram dan berbelit-belit itu, sekejappun tak dapat dilupakan oleh para jago silat yang telah turut serta dalam pertemuan di telaga Tong-teng itu. SEMBILAN Beberapa hari kemudian setelah terjadinya peristiwa di atas, ketika matahari baru muncul di sebelah timur dan memancarkan sinarnya kepermukaan bumi ini, di telaga Tong-teng yang luas itu tampak sebuah kapal sungai yang besar. Seorang yang mengenakan pakaian indah dan berusia setengah abad, tengah duduk di buritan kapal sambil menundukkan kepalanya. Dialah Siauw Cu Gie, si Raja naga dari lima telaga, yang bermaksud melaksanakan suatu perjalanan jauh. Karena kehilangan adik perempuannya dan setelah menunggu lama tidak juga dapat berita tentang adiknya itu, ia jadi terkenang akan peristiwa di pertemuan yang diselenggarakan oleh Kong-ya Coat. Justru perjalanannya itu adalah untuk menanyakan si orang she Kong-ya tentang kesudahannya pertemuan itu. „Meskipun bagaimana aku akan berusaha mengorek keterangan dari Kong-ya Coat,” terdengar ia berkata kepada dirinya sendiri. „Karena adikku sendiri tidak percaya jika aku, sebagai orang yang turut serta dalam pertemuan itu, tidak mengetahui apa yang telah terjadi dalam pertemuan itu!” Demikianlah Siauw Cu Gie telah mengambil keputusan sambil berdiri di atas haluan kapal sungainya dan menggendong kedua tangannya ke belakang.
178
Bagaimana mungkin sebagai orang yang telah turut serta dalam pertemuan Kong-ya Coat, Siauw Cu Gie tidak mengetahui apa yang terjadi dalam pertemuan itu?? Marilah kita ikuti pengalamannya, yang akan diceritakan di bawah ini. Hari itu adalah tanggal limabelas bulan delapan -- pertengahan musim gugur. Orang-orang yang diundang dari berbagai tempat telah datang ke Tan-kwi-san-cong -- markas Kong-ya Coat di pegunungan Hoa-san, sehingga suasana di tempat tersebut jadi Ramai sekali. Bahkan Ouw Lo Si, si Ahli nujum kipas baja pun sudah berada di situ. Dari luar, mereka semua tampak lemah lembut, tetapi masing-masing telah datang di situ dengan suatu maksud yang hina dan keji! Dan untuk menjagoi dalam pertemuan adu silat itu tidaklah mudah, karena tiap-tiap orang harus bertempur melawan saingan-saingan yang berkaliber berat! Namun daya tarik Ciam-hua-giok-siu sangat besar, meskipun mengetahui Resiko akan kehilangan nama serta kedudukan di kalangan Kang-ouw besar sekali, sedangkan harapan untuk dapat merebut pusaka tersebut sangat kecil, tetapi tokh tidak kurang dari pada beberapa ratus orang telah rela hadir di situ! Mereka hanya merasa heran mengapa Kong-ya Coat mau memusingkan diri menyelenggarakan pertemuan itu dan rela
179
melepaskan sarung tangan ajaib itu? Apakah Kong-ya Coat mempunyai maksud lain? Tamu-tamu yang telah datang ditampung di Ruangan besar yang khusus untuk menerima para tamu. Pertemuan akan dimulai pada waktu bulan purnama mulai naik di sebelah timur kaki langit – yalah kira-kira pada jam delapan malam. Tempatnya di atas lapangan rumput yang luas, yang dilingkari oleh pohon-pohon Tan-kwi. Lentera-lentera kertas yang beraneka warna menghias pohon-pohon tersebut dan memeriahkan suasana pertemuan itu. Karena masih jauh malam, maka Siauw Cu Gie lalu keluar dari Ruangan tamu dan berjalan-jalan seorang diri di pegunungan Hoa-san. Pemandangan ketika itu sangat indah, karena asyiknya, Siauw Cu Gie telah berjalan turun dari Pit-ka-hong dan tak terasa lagi ia sudah berjalan di lereng gunung jauh dari Tan-kwi-san-cong. Matahari yang sedang terbenam memancarkan sinar merah kemerahan ke seluruh angkasa raya dan beberapa gumpalan awan hitam melayang-layang tertiup angin senja. Karena suasana makin lama makin gelap, maka Siauw Cu Gie lekas-lekas berbalik dan mulai mendaki lereng gunung untuk balik ke puncak Pit-ka-hong. Baru saja ia bertindak beberapa langkah, ketika dengan tiba-tiba mendengar suara orang bersenandung, suara itu keluar dari hutan pohon-pohon yang berdekatan.
180
„Awan hitam terapung-apung di langit, Angin gunung meniup santar dan gaduh, Jika saudara menghadapi soal yang sulit, Tindakan apakah yang akan ditempuh? Hujan lebat turun deras ke bumi, Membasahi permukaan dunia yang luas, Hutang benda mudah dihadapi, Hutang budi sukar dibalas!” Siauw Cu Gie bukan saja seorang jago silat tetapi ternyata ia juga seorang terpelajar tinggi tentang sastra kuno, ia mendengari dengan penuh perhatian dan menanti sampai nyanyian itu selesai seluruhnya. Lalu ia menoleh ke arah celah pohon-pohon yang gelap dan berkata. „Kawan dari manakah yang bernyanyi di tempat yang terpencil ini? Apakah aku, Siauw Cu Gie, dapat belajar kenal?” Tidak ada suara jawaban apapun dari dalam hutan itu, hanya terdengar berkereseknya ranting-ranting pohon yang menunjukkan bahwa orang yang ditanya itu terkejut dan berusaha lari menjauhkan diri. „Hei kawan! Apakah kau tidak ingin berkenalan dengan aku?” Siauw Cu Gie menanya lagi sambil loncat masuk ke dalam hutan dan mengejar ke arah suara berkereseknya ranting pohon tadi.
181
Keadaan di dalam hutan itu sunyi dan gelap, ia tidak melihat ada orang di situ. Ia jadi merandek ketika dengan samar-samar dapat melihat di batang dua pohon cemara tertera tanda telapak tangan manusia! Tiba-tiba suara berkeresek ranting pohon terdengar lagi, ia menengadah dan dapat melihat satu bayangan berkelebat melarikan diri! „Kawan berhenti dulu!” ia berseru dengan hati berdebar-debar. Bayangan itu melayang dan turun di luar hutan. „Kawan tunggu sebentar, aku ingin sekali berkenalan denganmu!” Siauw Cu Gie berkata lagi sambil mengejar. Bayangan itu lari terus dan agaknya bukan ingin menggelakkan diri dari kejaran si Raja naga dari lima telaga, tetapi untuk suatu maksud tertentu! Siauw Cu Gie jadi penasaran dan mempercepat larinya. Ia berhasil mendekati bayangan itu dan berkata sambil tertawa. „Kawan! Aku telah beberapa kali memanggil, mengapa tidak.......” Belum lagi selesai kata-kata itu diucapkan, ketika dengan tiba-tiba bayangan itu berbalik dan menerkam! Di suasana senja itu Siauw Cu Gie tidak dapat melihat tegas wajah orang itu, meskipun ia hanya terpisah lebih kurang delapan meter saja jauhnya. Ia hanya melihat orang itu tiba-tiba berbalik dan mendorong kedua tinjunya. Seketika itu juga ia merasakan suatu hembusan angin santer mendampar tubuhnya sehingga terdorong
182
ke belakang dan jatuh terlentang! Meskipun ia berusaha menangkis hembusan angin itu dengan kedua tinjunya, namun ternyata tangkisan yang dikerahkan dengan tenaga dalam itu tiada artinya sedikitpun! „Aai!” pikirnya. „hebat betul tenaga dalam orang itu! Jika aku tidak keburu menangkis, mungkin tulang di dalam tubuhku akan remuk!” Orang itu lari terus lalu membelok di suatu batu gunung yang besar. Siauw Cu Gie tidak berani mengejar lebih jauh, ia berbangkit dan mengawasi gerak-gerik orang itu dari kejauhan. Tiba-tiba tampak orang itu melonjak ke atas batu gunung yang besar tadi, lalu dengan kuku jarinya yang runcing ia menggores batu tersebut. Tangan yang tengah menggores itu berwarna merah, kuku kelima jari tangan itu kira-kira sepuluh centimeter panjangnya dan runcing sekali. Bentuk keseluruhan tangan itu mirip benar dengan bekas tanda telapak tangan yang tertera di atas batang dua pohon cemara di dalam hutan. „Sret! Sret! Sret!” Begitulah terdengar orang itu menggores-gores batu gunung! Tetapi berbareng dengan terdengarnya suara „Sret!” yang keempat kali, Siauw Cu Gie menjadi terkejut sekali, karena dengan tiba-tiba sebuah batu kecil pecahan batu gunung yang digores itu telah meluncur ke arah jalan darah di pundaknya!
183
Baru saja ia berbangkit dari damparan angin tinju orang itu dan pulih semangatnya, lagi-lagi ia telah diserang! Dan serangan batu kecil itu demikian pesatnya sehingga ia tidak keburu mengelak, ia hanya merasa dengan tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi panas sekali! Siauw Cu Gie mengetahui bahwa ilmu silat orang itu lihay sekali -- jauh lebih lihay daripada ilmu silatnya sendiri, tetapi ia tak pernah menduga bahwa ia dapat ditotok demikian mudah dan cepatnya oleh sambitan batu sekecil itu! „Apakah aku akan mati konyol di lereng pegunungan Hoa-san ini?” tanyanya yang sudah rebah terlentang dekat batu gunung. Orang itu tampaknya yakin betul bahwa totokannya itu akan mengambil korban, karena ia sama sekali tidak pergi memeriksa akibat dari perbuatannya itu, malah secepat kilat ia meloncat turun dari atas batu gunung dan meninggalkan tempat itu! Tidaklah cuma-cuma Siauw Cu Gie memperoleh nama julukan si Raja naga dari lima telaga, karena di samping memiliki ilmu silat yang tinggi, iapun mengerti juga cara untuk membebaskan diri dari totokan maut tadi. Sambil menahan napas dan memejamkan matanya, ia mengerahkan tenaga dalamnya dengan maksud mempercepat peredaran darah di seluruh tubuhnya. Namun jalan darahnya yang tersumbat oleh totokan tadi baru bebas setelah ia berusaha keras menolong jiwanya selama dua jam! Setelah dapat berdiri lagi, dengan tindakan terhuyung ia mengamati batu gunung bekas orang yang menotoknya tadi berdiri. Di situ tampak empat lobang bekas congkelan jari orang itu,
184
dan dengan tiba-tiba bulu romanya berdiri tegak ketika menggambarkan nasibnya barusan, jika orang itu menotok jantungnya! Karena betapapun lihaynya seseorang, jika jantungnya kena ditotok, orang itu pasti tak dapat ditolong oleh orang sakti manapun! Rembulan yang besar dan bundar sudah berada di tengah-tengah langit ketika ia herhasil memunahkan totokan maut itu dan memulihkan tenaga serta semangatnya. Ia masih terpisah jauh sekali dari Tan-kwi-san-cong. „Mungkin aku akan terlambat tiba di tempat pertemuan,” pikirnya. Maka dengan susah payah lekas-lekas menuju ke markas Kong-ya Coat dengan perasaan gelisah. Benar saja, kegelisahannya itu beralasan! Ketika tiba di Tan-kwi-san-cong, Siauw Cu Gie dibikin tercengang oleh pemandangan yang dilihatnya! Lentera-lentera kertas yang tergantung di ranting-ranting pohon Tan-kwi sudah dirusak orang. Meja yang berbentuk delapan persegi yang diletakkan di tengah-tengah lapangan rumput telah bolong bagian tengahnya, seolah-olah terpukul oleh palu yang berat sekali! Semua orang yang berada di situ tengah berdiri tegak dengan mata tidak berkesip! Diantara mereka itu tampak Ouw Lo Si, si Ahli nujum kipas baja, yang pun tengah berdiri terlongong-longong sambil memegangi obor yang hampir padam apinya! Mereka semua lebih mirip patung-patung batu dari pada orang yang berkepandaian tinggi!
185
Siauw Cu Gie mengetahui bahwa suatu bencana besar telah menimpa pertemuan itu, tetapi bencana apakah? Ia sendiri berdiri terpaku menyaksikan akibat bencana itu! Obor kecil di tangan Ouw Lo Si akhirnya padam juga. Maka hanya sinar rembulan sajalah yang masih menerangi lapangan rumput, lentera-lentera kertas yang sudah rusak dan wajah para jago silat yang pucat pasi! Suasana di sekitarnya sepi, sepi sekali, sepi seperti juga dunia ini telah berhenti berputar dan mati...... Orang pertama yang memecahkan kesunyian itu adalah ketua pertemuan itu sendiri, Kong-ya Coat. „Ciam-hua-giok-siu sudah lenyap! Maka pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee inipun berakhirlah sudah! Para tamu yang terhormat diminta kembali ke kamar masing-masing untuk bermalam. Besok pagi aku akan mengantar kalian meninggalkan tempat yang telah membikin kalian penasaran ini!” Siauw Cu Gie jadi makin bingung, karena hanya dia sendirilah yang tidak mengetahui apa yang telah terjadi di pertemuan itu. Tiba-tiba ia dibikin terkejut oleh suara nyanyian yang pernah didengarnya di hutan. Suara itu hanya terdengar sayup-sayup dan agaknya datang dari tempat yang jauh, namun ia bergidik dan lekas-lekas berjalan ke ruang tamu. Ia menghampiri Kong-ya Coat dan berniat menanyakan apa yang telah terjadi, tetapi baru saja ia bertindak, Kong-ya Coat sudah berbalik dan berjalan dengan cepat ke tempat kediamannya. Semua orang juga berturut-turut
186
meninggalkan ruangan itu dengan tergesa-gesa, sehingga akhirnya tertinggal dia seorang! Keesokan harinya Siauw Cu Gie bangun terlambat, semua tamu-tamu lain telah meninggalkan Tan-kwi-san-cong sejak pagi-pagi sekali. Ia ingin minta diri sebelum berlalu, tetapi Kong-ya Coat tidak keluar menjumpainya dengan alasan sakit! Demikianlah peristiwa yang telah terjadi di Tan-kwi-san-cong pada dua tahun yang lampau, sehingga Siauw Cu Gie tidak mengetahui apa yang telah terjadi di pertemuan yang diselenggarakan oleh Kong-ya Coat itu, meskipun ia telah turut serta dalam pertemuan tersebut! ◄Y► Siauw Cu Gie berdiri di atas geladak haluan kapal sungainya sampai matahari hampir berada di tengah angkasa sambil mengenangkan peristiwa itu. „Aku harus menemui Kong-ya Coat,” pikirnya. „Karena pertemuan di telaga Tong-teng juga telah menjadi berantakan, serupa benar dengan pertemuan yang diselenggarakan olehnya itu. Apakah kedua peristiwa ini ada hubungannya satu sama lain? Lagi pula aku harus mencari adikku, aku yakin Kong-ya Coat dapat membantu aku memecahkan teka-teki ini!” Kapal sungainya berlayar dengan laju di sepanjang sungai Tiang-kang, setelah lewat empat hari, pegunungan Hoa-san sudah mulai kelihatan.
187
Penyair Li Pek yang termashur pernah menulis sajak tentang sungai yang panjang itu. „Sepanjang sungai yang panjangnya tigaribu lie (1=lie kira-kira setengah kilometer) ini, dari hulu menjulur sampai ke muara, banyak pemandangan indah yang dapat dinikmati!” Namun pemandangan yang memang indah itu, tidak dihiraukan sama sekali oleh Siauw Cu Gie yang sedang kalut pikirannya. Berselang beberapa saat lamanya, dari kejauhan tampak sebuah perahu kecil meluncur dan mengejar kapal sungai Siauw Cu Gie. Di atas perahu kecil itu tampak seorang Tojin (pendeta) yang tengah duduk di haluan perahu sambil memegangi satu guci arak. Perahu Tojin itu berlayar pesat sekali, dalam waktu yang pendek saja perahunya sudah melewati kapal sungai Siauw Cu Gie. Si Tojin menoleh ke belakang seraya bernyanyi. „Dengan dua tinju yang kuat, kita dapat berkuasa. Namun lambat-laun, kita pun akan menderita. Karena Tuhan berkuasa, dan manusia hanya dapat berusaha, Maka sungguh bodoh, jika kita senantiasa bergelisah!”
188
Mendengar sjair yang bagus itu orang dapat mengambil kesimpulan bahwa Tojin itu adalah seorang yang selalu beriang gembira dan nyanyiannya itu merayu sekali. Siauw Cu Gie bersenyum mendengar nyanyian itu dan memerintahkan anak buahnya untuk mengejar perahu si Tojin yang telah meninggalkan kapal sungainya sejauh lebih kurang empatpuluh meter. Ketika baru saja beberapa menit saling kejar mengejar itu berlangsung, tiba-tiba di bagian depan tampak sebuah kapal sungai lain, yang meluncur cepat sekali ke arah perahu si Tojin. Di atas kapal itu berdiri seorang yang mengenakan baju ungu, setelah berada cukup dekat terdengar ia berkata. „Kong-ya Tay-hiap masih belum bersedia menerima tamu! Si Locianpwee diminta dengan hormat agar kembali saja dari tempat ini!” Nama depan yang disebut orang itu membikin Siauw Cu Gie mengingat sesuatu. „Ai! Aku hampir lupa. Tojin itu adalah si pemabok Si Lam. Ia ingin menjumpai Kong-ya Coat dengan maksud apa?” pikirnya. Ketika itu kapal sungainya pun sudah mendekati perahu Si Lam Tojin. „Sun Jie-ya, jangan khawatir,” kata si pemabok sambil tertawa. „Aku ini hanya memperhatikan arak, lain tidak. Jika tiap-tiap hari aku dapat arak, aku sudah merasa puas sekali. Persetan dengan ketiga benda ajaib Thian-hiang-sian-cu! Aku datang di sini bukan ingin menjumpai Kong-ya Tay-hiap, kau salah duga! Ha, ha, ha!”
189
Setelah berkata ia menoleh ke belakang, seolah-olah jawabannya itu dimaksudkan juga untuk Siauw Cu Gie. Kini ketiga kendaraan air itu sudah berendengan. Siauw Cu Gie mengenali bahwa orang yang mengenakan baju ungu itu adalah Sun Ceng, yang pada dua tahun yang lampau ditugaskan menyambut para tamu ke pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song.gwat-ta-hwee. „Saudara Sun! Apakah Kong-ya Tay-hiap berada di Tan-kwi-san-cong?” tanyanya. Sun Ceng yang sedang sibuk melayani Si Lam Tojin bicara jadi terkejut mendengar suara teguran itu, ia menoleh dan membungkukkan tubuhnya setelah mengenali, seraya berkata. „Siauw Tay-hiap pun sudah datang di sini? -- Tetapi sayang sekali guruku belum bersedia menerima tamu!” Siauw Cu Gie jadi melotot mendengar jawaban itu, karena ia sudah mengambil ketetapan, walaupun bagaimana ia harus menjumpai Kong-ya Coat! Maka jawaban tersebut tak dapat diterimanya begitu saja. „Kong-ya Tay-hiap mungkin sungkan menerima tamu lain, tetapi pasti ia sudi menerima aku, Siauw Cu Gie!” katanya dengan suara keras. „Tetapi...... tetapi...... Kong-ya Tay-hiap bilang bahwa dia takkan menerima siapapun!”
190
„Ha, ha, ha! Tidak sekalipun orang yang akan memberitahukan kepadanya tentang Ciam-hua-giok-siu?!” „Harap Siauw Tay-hiap sudi memberi maaf kepadaku, aku hanya mentaati perintah guruku!” „Saudara Sun! Apakah Kong-ya Tay-hiap sudi menerima aku atau tidak, itu tidak penting dan bukan urusanmu! Tugasmu sekarang yalah pergi melaporkan bahwa aku, Siauw Cu Gie dari telaga Tong-teng, telah datang untuk menemui Kong-ya Tay-hiap, dan tak bisa kau banyak rewel lagi!” „Tetapi......” „Masih bilang ‘tetapi’. Ha, ha, ha!” „Tetapi Kong-ya Tay-hiap telah bilang siapa saja yang berani mengajak tamu menemui dia, akan dihukum mati! Maka aku harap Siauw Tay-hiap tidak terlalu mendesak. „Jika kau takut menanggung segala akibat kedatanganku di sana, aku akan menjumpainya sendiri!” „Jika demikian halnya...... adalah kewajibanku untuk mencegah dan menahan!!” „Cobalah! Cobalah tahan aku!” Dengan cepat Sun Ceng telah menerkam, tetapi ia menjadi kaget dan penasaran sekali, karena ia telah menerkam angin berbareng merasakan tengkuknya ditepuk orang! Ia lekas-lekas berbalik dan
191
hendak menyerang lagi, tetapi Siauw Cu Gie telah mengirim jotosan ke arah dadanya. Sodokan itu ditangkis dengan lengan kiri dan tampak jelas sekali bahwa Sun Ceng bukan tandingan Siauw Cu Gie yang sepadan, karena tangkisannya itu membikin dia sendiri terpental ke belakang dan ketika Siauw Cu Gie mengirim tinju kiri ke atas pundaknya, tanpa ampun lagi ia jadi terlempar dan jatuh di atas geladak kapalnya! Demikian sengit perasaan Siauw Cu Gie sehingga ia ingin menerkam lawannya itu, tetapi tiba-tiba ia terhuyung karena terdampar oleh suatu hembusan angin pukulan yang entah dari mana datangnya! Melihat lawannya terhuyung-huyung, Sun Ceng lekas-lekas berbangkit dan menoleh ke arah dalam kapal sungainya. „Hei orang yang berada di dalam kapal!” bentak Siauw Cu Gie. „Mengapa begitu lancang mencegah aku pergi menjumpai Kong-ya Tayhiap?” „Saudara Siauw!” terdengar sahutan dari dalam. „Saudara telah datang dari tempat yang jauh, aku sebetulnya harus keluar menyambut. Tetapi sayang sekali aku sudah mengambil keputusan untuk tidak menjumpai siapapun juga! Oleh karena itu, aku minta agar saudara Siauw pulang saja......” Suara itu tidak salah lagi adalah suara Kong-ya Coat! SEPULUH
192
„Kong-ya Tay-hiap!” kata Siauw Cu Gie. „Aku datang untuk memberitahukan tentang Ciam-hua-giok-siu kepadamu!” Ucapan itu tidak lantas dijawab, rupanya Kong-ya Coat tengah mempertimbangkan. Beberapa saat kemudian terdengar ia menyahut. „Aku sudah tidak lagi mau memusingkan urusan Bu-lim, saudara Siauw tidak perlu banyak bicara!” Siauw Cu Gie jadi heran dengan sikap Kong-ya Coat itu yang mendadak berubah demikian kasarnya, disamping itu ia tidak dapat menerima alasan yang demikian sederhananya. Tiba-tiba ia mencelat melalui kepala Sun Ceng dan menerobos masuk ke dalam kapal. Ia menyingkap kere bambu yang menutupi satu ruangan kecil di dalam kapal itu dan alangkah terkejutnya ketika melihat wajah maupun bentuk tubuh Kong-ya Coat yang sudah banyak berubah, meskipun di saat itu Kong-ya Coat mengenakan jubah dari kain yang tebal dan membungkus kepalanya dengan kain sutera biru. Wajahnya pucat pasi, kedua matanya tidak lagi bersinar sebagaimana biasa. Dia kelihatannya jauh lebih tua dari pada umurnya yang sejati! Di belakang kursi di mana ia duduk, tampak seorang yang ganjil rupa dan bentuknya, yang mengenakan jubah kuning, bertubuh jangkung kurus dengan rambut yang panjang menutupi kedua bahunya, mukanya beringas dan sinar matanya yang tajam senantiasa di arahkan kepada Siauw Cu Gie! Untuk beberapa saat lamanya Siauw Cu Gie jadi terbengong, melihat keadaan Kong-ya Coat yang tidak keruan dan orang ganjil
193
yang sedang berdiri di belakangnya itu. Ia jadi terkejut bukan main ketika melihat bahwa orang ganjil itu memegang satu gaitan baja yang ditempelkan di leher Kong-ya Coat. „Tidak heran jika Kong-ya Coat bersikap demikian kasarnya terhadapku tadi!” pikir Siauw Cu Gie. „Karena jika ia membangkang terhadap perintah orang ganjil itu, gaitan baja itu akan pasti membikin batok kepalanya tergelincir meninggalkan lehernya!” Siauw Cu Gie tidak mengerti mengapa Kong-ya Coat yang berkepandaian sangat tinggi itu dapat dibikin tidak berkutik demikian mudahnya. Iapun segera mengeluarkan senjata yang agak aneh kelihatannya, karena senjata itu terdiri dari sembilan potong baja -- empat potong panjang dan lima potong lainnya pendek-pendek -- tersambung menjadi satu dengan rantai baja. Panjang keseluruhannya kira-kira tujuh kaki (lebih kurang dua meter), di kedua ujung rantai tersebut terdapat potongan baja yang tajam sekali. Senjata itulah yang bernama Kauw-ciat-kun, yang telah membikin Siauw Cu Gie terkenal sebagai si Raja naga dari lima telaga, yang dapat dipergunakan sebagai pecut, tali lasso, pentungan, pedang, belati dan lain sebagainya. Tanpa banyak bicara pula Siauw Cu Gie secepat kilat telah menyerang orang itu dengan maksud menusuk jalan darah di bagian leher! „Hee, hee, hee!” orang itu tertawa sambil mengulur tangannya untuk merampas ujung rantai yang tajam itu, yang telah dilancarkan dengan jurus Sam-kuk-hoan-ciu (Tiga totokan maut).
194
Siauw Cu Gie kaget sekali melihat senjatanya yang sangat diandalkan dan selalu berhasil mengambil korban itu, berani ‘dijumput’ oleh orang itu. Jurus silat yang diperlihatkan oleh lawannya membikin ia teringat akan satu iblis yang ilmu silatnya hebat sekali, dan tanpa terasa ia berseru. „Eu-yong Lo-koay......!” „Hee, hee, hee! Kau masih kenal kepadaku? Aku merasa girang dan bangga sekali!” „Kenapa dia berada di sini?” tanya Siauw Cu Gie di dalam hati. „Aku datang untuk memberitahukan Kong-ya Coat tentang Ciam-hua-giok-siu dan menanyakan apa yang telah terjadi di pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee. Iblis ini tidak boleh turut campur urusanku itu!” Ia segera hendak berlalu dari ruangan itu, ketika Eu-yong Lo-koay berkata. „Duduk dulu saudara Siauw! Mengapa ingin lekas-lekas berlalu setelah kau berhasil menjumpai saudara Kong-ya!” „Jika aku sekarang berlalu bagaimana?” „Kau akan menjumpai ajalmu di telaga Tong-teng!” „Apa perlunya kau menahan aku, aku yang tidak berurusan denganmu?” „Hee, hee, hee! Mungkin kau sudah linglung saudara Siauw! Bukankah barusan kau sendiri yang mengatakan bahwa kau ingin memberitahukan saudara Kong-ya tentang Ciam-hua-giok-siu?”
195
„Apakah dengan kata-kataku itu aku harus berurusan denganmu?” „Betul! Seperti dapat kau lihat sekarang ini bahwa saudara Kong-ya telah menjadi orang tawananku, maka jika kau ingin memberikan keterangan kepada saudara Kong-ya, pertama-tama kau harus memberikan keterangan itu kepadaku!” Siauw Cu Gie tidak dapat berbuat lain dari pada menuruti perintah Eu-yong Lo-koay. Ia jadi teringat akan pembunuhan besar-besaran di markas Kiu It, yang menurut kabar menyatakan bahwa Eu-yong Lo-koay pun turut campur tangan dalam pembunuhan itu. “Mungkin iblis ini akan menunaikan ancamannya jika aku membangkang perintahnya itu!” pikirnya. Maka ia segera selipkan kembali senjata Kauw-ciat-kun pinggangnya, lalu mengambil tempat duduk yang terpisah kira-kira empat meter dari Eu-yong Lo-koay. „Saudara Kong-ya,” kata si iblis. „Kita telah bicara sampai dimana tadi?” Kong-ya Coat agaknya penasaran sekali, tetapi di bawah ancaman gaitan Kauw-tok-kou yang jika menggores kulit lehernya sedikit saja, maka dalam jangka waktu tiga jam, jika tidak makan daun obat Cian-soat-som, ia pasti akan menjadi mayat! „Kita tengah membicarakan soal pertemuan yang aku telah selenggarakan,” sahutnya. „Hee, hee, hee! Betul! Teruskanlah kisah itu!”
196
„Ketika bulan purnama bersembul di angkasa tinggi, para jago silat sudah berkumpul di sekitar lapangan rumput, tetapi tidak nampak Ngo-ouw-liong-ong (si Raja naga dari lima telaga) Siauw Cu Gie berada di situ!” Eu-yong Lo-koay menoleh kepada Siauw Cu Gie dan bersenyum. „Saudara Siauw, apakah betul pada waktu itu kau tidak berada di tempat pertemuan?” tanyanya. „...................” „Saudara Kong-ya, persilahkan kau lanjutkan kisah yang sangat menarik itu!” „Ketika itu tiada satu orangpun mengusulkan untuk menantikan saudara Siauw, maka aku segera keluarkan Ciam-hua-giok-siu dan taruh benda itu di atas meja delapan persegi yang diletakkan di tengah-tengah lapangan rumput. Tetapi para hadirin terus menerus memuji-muji kelihayan sarung tangan ajaib itu, maka selama lebih kurang satu jam tiada satupun jago silat yang tampil ke muka untuk mulai mengadu ilmu silat!” „Apakah para jago silat ingin menahan harga?” tanya Eu-yong Lo-koay. „Tidak!” „Apakah mereka merasa takut?”
197
„Betul! Mereka telah dapat menduga bahwa sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi dalam pertemuan itu! Jika kau berada di situ pada waktu itu, aku yakin kau pun pasti tidak dapat tampil ke muka untuk mulai mengadu silat!” „Ha, ha, ha! Aku tidak berani mulai? Apakah kau baru mengenal aku? Dengan senjata Kauw-tok-kou ini, aku pasti dapat mengalahkan semua jago-jago silat yang hadir di lapangan rumput itu dan merebut Ciam-hua-giok-siu!” „Hm! Aku betul-betul merasa ragu jika pada waktu itu kau dapat merebut benda mujizat itu!” „Hah! Apakah dalam pertemuan itu di samping kau sendiri masih jago silat lain yang terlatih lihay?” „Betul! Jika kau pun hadir pada waktu itu, belum tentu kau dapat mengalahkan semua orang yang hadir, tetapi sekalipun kau berhasil mengalahkan mereka semua, kau pun pasti tidak dapat merebut Ciam-hua-giok-siu!” „O...... kalau begitu kau menyelenggarakan pertemuan itu hanya untuk menipu dan mempermainkan orang-orang gagah yang telah kau undang itu, kau mempunyai maksud tertentu maksud yang keji!” Tiba-tiba dari luar ruangan kapal sungai itu terdengar orang ketiga turut berkata. „Apakah yang tengah dirundingkan dengan demikian gaduh? Aku ingin mendengar juga!”
198
„Apakah itu bukan suara seorang Tojin yang terkenal sebagai si pemabuk?” tanya Eu-yong Lo-koay. „Betul,” sahut orang itu sambil menyingkap kere bambu dan melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Kong-ya Coat dan dua tamunya mengawasi orang yang baru datang itu, yang menyebarkan bau arak. .„Aha!” seru orang itu yang ternyata memang Si Lam Tojin adanya, “Eu-yong Lo-koay yang termashur dari pegunungan Kun-lun-san kiranya sudah mengganti pekerjaan sebagai pembegal?” „Hei pemabuk yang tidak tahu diri! Jangan sembarangan kau menfitnah orang!” „Menurut pahamku, tiap-tiap pembegal mengancam dengan senjata ditempelkan di leher korbannya, tepat sebagaimana tengah kau lakukan sekarang! Bukankah perbuatanmu itu serupa benar dengan perbuatan satu pembegal ulung?” “Aku telah minta saudara Kong-ya menceritakan peristiwa di pertemuannya pada tahun yang lampau, tetapi dia menolak, maka aku terpaksa mengancamnya dengan cara ini!” „Akupun ingin mengetahui kesudahan pertemuan itu! Karena...... meskipun aku turut serta dalam pertemuan itu, aku tidak mengetahui apa yang telah terjadi!” „Kau tentunya telah minum terlalu banyak arak sehingga menjadi mabuk dan tidak mengetahui apa yang terjadi?”
199
“Ya! -- Tetapi ayolah simpan senjatamu itu, aku tidak sudi melihat kau mengancam korbanmu terus menerus!” “Oho! Tanpa senjata ini berada dekat leher saudara Kong-ya kau tidak akan mendengar kisah pertemuan itu.” „Hari ini ada arak, hari ini kita minum sampai mabuk! Persetan dengan hari esok!” Setelah berkata begitu, Si Lam Tojin lalu mengangkat guci arak dan menenggak isinya, tetapi dengan tiba-tiba ia menyemprotkan arak yang berada di mulutnya ke arah muka Eu-yong Lo-koay. Eu-yong Lo-koay mundur dua langkah sambil menyerang dengan tinjunya dan terdengarlah suatu ledakan hebat akibat daripada pertemuan kedua serangan tenaga dalam itu, dan tampak arak itu terdampar kembali dan muncrat di ruangan dalam kapal itu. Dengan serangannya Si Lam Tojin hendak membebaskan Kong-ya Coat berbareng membikin buta kedua mata Eu-yong Lo-koay. Dua orang yang berkepandaian tinggi telah bertemu, yang satu ingin membasmi seorang iblis, sedangkan yang lainnya memang terkenal kejam dan keji! Dengan mundurnya Eu-yong Lo-koay menggelakkan serangan Si Lam Tojin, maka terbebaslah Kong-ya Coat dari ancaman iblis dari pegunungan Kun-lun-san itu. Mengapa Kong-ya Coat dapat demikian mudah dibikin tidak berkutik oleh Eu-yong Lo-koay?
200
Eu-yong Lo-koay yang keranjingan ketiga mustika Thian-hiang-sian-cu, telah dengar bahwa Ciam-hua-giok-siu berada di tangan Kong-ya Coat. Maka dengan tekad bulat merampas mustika itu ia telah berangkat dari pegunungan Kun-lun-san dengan perahu. Pada suatu hari ketika perahunya hampir tiba di tempat Kong-ya Coat, ia telah menjumpai sebuah kapal sungai yang menarik perhatiannya, maka dengan ilmu Ceng-teng-tok-cui (Capung menotok air), ia telah berhasil naik ke atas buritan kapal itu tanpa menarik perhatian orang. Kebetulan sekali di atas kapal itu ia telah mendengar orang menarik napas di dalam kamar, ia terkejut dan akhirnya bergirang ketika mengenali bahwa suara itu adalah helaan napas Kong-ya Coat yang memang sedang ia cari. Dengan tindakan enteng ia segera menghampiri pintu kamar tersebut, lalu sambil menghunus gaitan beracunnya dengan tiba-tiba ia menolak daun pintu yang ternyata tidak dikunci. Di dalam Kong-ya Coat yang sedang rebahan jadi terkejut bukan main dan segera hendak berbangkit, tetapi Eu-yong Lo-koay sudah berada di belakang sambil mengancam lehernya dengan gaitan beracun Kauw-tok-kou! Sebetulnya, Eu-yong Lo-koay sudah datang di tempat Kong-ya Coat beberapa waktu yang lalu, bahkan ia telah datang sehingga tujuh kali berturut-turut, tetapi ia tidak menjumpai orang yang dicarinya itu. Karena semenjak kegagalannya menyelenggarakan pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee, Kong-ya Coat menjadi masgul sekali senantiasa didatangi banyak orang yang ingin menanyakan kesudahan pertemuan itu, maka ia telah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan tempat
201
kediamannya, dan hidup lebih tenteram di dalam sebuah kapal sungai. Oleh karena itu tidak heran Eu-yong Lo-koay selalu gagal menjumpainya. Tetapi dengan sangat kebetulan si iblis dari pegunungan Kun-lun-san telah membuka rahasianya! “Hei Lo-koay! Jika kau menganggap di dalam kamar kapal sungaiku ini tidak cukup luas tempatnya, bagaimana jika kita keluar dan bertarung di atas geladak?” tanya Kong-ya Coat. „Silahkan!” sahut Eu-yong Lo-koay sambil mendahului melangkah keluar dari ruangan itu. Kong-ya Coat sudah siap dengan pedangnya, setelah berada di atas geladak, ia segera putar-putar pedang itu sehingga seluruh tubuhnya diselubungi oleh sinar pedang yang berkilau-kilau. „Ai! llmu silat pedang yang dahsyat sekali!” Eu-yong Lo-koay diam-diam memuji dalam hati, tetapi tanpa banyak bicara lagi ia segera menyerang dengan gaitan bajanya! Kedua orang ini adalah jago-jago silat berkaliber berat, maka begitu mereka bergebrak segera tampak keluar biasaan ilmu silat masing-masing, sinar pedang dan gaitan berseliweran hebat sekali! Setelah pertempuran berlangsung lebih kurang sepuluh jurus lamanya, tiba-tiba tampak kedua orang itu mundur beberapa langkah! Kong-ya Coat telah melancarkan jurus Tai-soat-hun-hui (Salju turun berhamburan), yalah jurus yang ia telah pertunjukkan di pegunungan Tiang-pek-san dengan membabat empat lilin menjadi
202
4 x 7 atau sama dengan duapuluh delapan potong. Tetapi ia tidak berhasil melukai lawannya! Sedangkan Eu-yong Lo-koay telah melawan jurus yang dahsyat itu dengan melancarkan jurus Thian-yao-tee-tong (Menggoyahkan langit menggoncangkan bumi), tetapi iapun tidak berhasil melepaskan pedang yang dipegang oleh lawannya! Selama pertempuran sepuluh jurus itu berlangsung, Siauw Cu Gie dan Si Lam Tojin jadi terpaku menyaksikan jurus-jurus yang dilancarkan oleh kedua orang itu. Mendesingnya senjata-senjata itu yang diiringi oleh suara ‘Ting Tang Ting Tang’ dan beradunya senjata-senjata tersebut telah menciptakan suatu irama musik yang pasti tidak merdu bagi telinga! Untuk sekian lamanya kedua orang yang sedang bertempur itu mengawasi masing-masing harus waspada dan pandai mencari kesempatan terbaik untuk melancarkan suatu pukulan yang menentukan! „Hei saudara Kong-ya! Semua ini adalah salahmu sendiri!” tiba-tiba terdengar Si Lam Tojin berkata dengan suara lantang. „Kesalahanku? Mengapa Tay-su mengatakan demikian?” „Tadi gaitan beracun mengancam lehermu, aku telah membantu sehingga kau terbebas dari ancaman tersebut! Tetapi.... maksud daripada perbuatanku tadi adalah agar kau dapat lebih leluasa menceritakan kesudahan pertemuan yang kau selenggarakan dua tahun yang lalu dan aku tidak bermaksud agar kamu berdua bertempur di atas geladak ini. Jika maksudku tidak kau hiraukan,
203
maka aku terpaksa harus minta saudara Eu-yong menempelkan lagi gaitan beracunnya di lehermu!” „Hei pemabuk! Kehadiranmu di sini telah membikin saudara Kong-ya berhenti bercerita. Umpama tadi kau mendengarkan saja dari luar, bukankah kisah itu telah selesai diceritakan?!” kata Eu-yong Lo-koay. „Hei iblis! Jika kau tidak senang dengan kehadiranku di sini, akupun sudah siap melayanimu!” „Saudara-saudara sabar dulu!” kata Kong-ya Coat. „Jika kalian ingin juga mendengar kisah itu, aku akan menceritakan! Tetapi sebelumnya aku berpesan wanti-wanti agar setelah mengetahui kisah itu kalian tidak menyesali aku......” „Lanjutkanlah kisahmu itu,” sahut Si Lam Tojin. „Dan setelah kau selesai menceritakan, “Kau dapat menyerang lagi saudara Eu-yong, aku tentu akan memuji yang menang! Ha, ha, ha!” Meskipun si pemabuk bertepuk-tepuk tangan dan tertawa, tetapi sebetulnya ia sedang bermain sandiwara. Karena Kong-ya Coat maupun Eu-yong Lo-koay adalah saingan-saingan beratnya di kalangan Bu-lim maka dengan ucapannya itu ia bermaksud mengadu dombakan kedua orang itu dengan harapan kedua orang itu saling bunuh. Kong-ya Coat dan Eu-yong Lo-koay pun telah mengetahui akan akal bulus si pemabuk, tetapi mereka tak dapat berbuat lain dari pada bertempur dan berusaha mengalahkan lawan.
204
Setelah semua pihak setuju, maka ketiga orang itu lalu mengambil tempat duduk untuk mendengari kisah Kong-ya Coat lebih lanjut. Lalu dengan wajah yang seram Kong-ya Coat melanjutkan seperti dikisahkan di bawah ini. Pada waktu melihat tiada satu orangpun bersedia tampil ke muka untuk mulai bertarung, Kong-ya Coat lalu berkata. „Ciam-hua-giok-siu adalah benda mujizat Thian-hiang-sian-cu almarhum, isteri kesayangan Yu Leng yang kini tinggal di lembah Yu-leng-kok di pegunungan Tay-piet-san. Aku telah memperoleh benda mujizat itu dari partai Tiang-pek-kiam, tetapi setelah mempertimbangkan dalam-dalam, aku berpendapat bahwa benda itu harus dan pantas dimiliki oleh seorang yang betul-betul sakti kepandaiannya. Untuk mewujudkan cita-citaku itu, maka aku telah mengundang kalian ke tempatku ini. Tetapi kalian rupanya saling mengalah sehingga maksud semula daripada pertemuan ini sukar terpenuhi..... maka aku ter......” Penjelasan itu belum selesai, ketika tiba-tiba terdengar suara meraung. „Ooooooogh.....! Ooooooohhhh .....!” Sekejapan saja suara yang menegakkan bulu roma itu sudah dekat sekali terdengarnya. Berbareng dengan terdengarnya suara itu, segumulan awan hitam di langit yang tinggi, mendadak menutupi bulan. Sejenak kemudian tampak sesosok bayangan hitam berlari-lari mengitari lapangan rumput di mana para jago silat berkumpul.
205
Dan aneh sekali semua lampu yang menerangi lapangan tersebut menjadi padam dengan mendadak! Siauw Cu Gie bergidik mendengar penjelasan itu, karena mengingat suara yang dilukiskan oleh Kong-ya Coat itu sama benar dengan suara yang didengarnya di lereng gunung Hoa-san, ketika ia berjalan-jalan di pegunungan tersebut dua tahun yang lalu! Kong-ya Coat menatap ketiga tamunya dengan tajam. Kemudia ia melanjutkan. Setelah lampu-lampu padam, bayangan itu tertawa berkakakan seperti orang yang kurang waras ingatannya. Lalu tampak ia menghampiri meja dimana Ciam-hua-giok-siu diletakkan. Dalam suasana yang remang-remang masih dapat dilihat bahwa orang itu bertubuh kurus jangkung, rambutnya panjang menutupi bahunya dan jari-jari kedua tangannya panjang sekali. Dengan tiba-tiba tampak ia menjambret Ciam-hua-giok-siu berbareng dengan itu tampak tiga atau empat bayangan lain menerkam orang itu. Tetapi dengan tiba-tiba pula tampak ketiga bayangan itu terpental balik sejauh empat meter! „Aku kira yang menerkam hanya tiga orang,” kata Si Lam Tojin. „Karena mereka itu adalah tiga saudara Tie, jago-jago silat kenamaan dari daerah sebelah selatan sungai Tiang-kang! Mereka semua tewas setelah kembali dari pertemuan itu. Kemungkinan besar bahwa mereka telah kena serangan tenaga sakti Lui-ka-kong-kie (Tenaga sakti) orang itu!”
206
„Betul! Itulah ketiga saudara Tie yang telah menerkam, mereka semua tewas setelah kembali dari Tan-kwi-san-cong! Mereka mengira dengan ilmu silat tangan kosong yang disebut Thian-tee-jin (Menggempur langit, bumi dan manusia), mereka pasti berhasil merebut Ciam-hua-giok-siu dari tangan orang itu, tetapi ternyata......” „Saudara Kong-ya, siapakah gerangan orang yang memiliki ilmu Lui-ka-kong-kie itu?” tanya Eu-yong Lo-koay. „Lui-ka-kong-kie bukan saja telah menewaskan ketiga saudara Tie,” kata Kong-ya Coat tanpa menghiraukan pertanyaan Eu-yong Lo-koay. „Tetapi kita semua pun merasakan hembusan angin pukulan yang dahsyat itu, meskipun kita telah berpegangan kepada meja atau kursi, tidak urung kita semua terdorong ke belakang dan jatuh di tanah!” „Ai!” seru Si Lam Tojin, „ilmu silat yang begitu tidak ada taranya di dunia!” „Orang itu tentunya suami Thian-hiang-sian-cu, bukankah?” tanya Siauw Cu Gie. „Betul! Dialah Yu Leng dari lembah Yu-leng-kok!” sahut Kong-ya Coat. „Tetapi mengapa dia yang sudah lama bertapa dalam lembah, tiba-tiba muncul di Tan-kwi-san-cong?” Setelah menyatakan keheranannya Kong-ya Coat lalu melanjutkan. Dengan suara lantang orang itu berkata seram.
207
„Ciam-hua-giok-siu adalah mustika warisan. Apakah kalian kira mustika ini dapat dibuat perebutan?” „Aku tidak bermaksud merebut mustika itu,” sahut Kong-ya Coat. „Sekarang Tay-hiap sudah datang, aku rela mengembalikannya.” „Masih ada dua mustika lagi, Cu-gan-tan dan Tok-beng-oey-hong, dimana mustika-mustika itu sekarang?” tanya Yu Leng. Meskipun suasana agak gelap, namun semua orang bergidik melihat sinar mata Yu Leng yang seolah-olah menyala! Mereka berdiri ketakutan dan tidak berani menyahut. Tiba-tiba tampak Yu Leng mengangkat tangannya, sejenak kemudian terdengar satu suara yang keras sekali dan meja di mana Ciam-hua-giok-siu tadi diletakkan telah bolong di bagian tengahnya! „Hari ini!” tiba-tiba Yu Leng berkata dengan suara keras, „hari ini aku baru memperoleh kembali satu, di antara tiga mustika isteriku, oleh karena kedua mustika yang lainnya tidak berada di sini, maka aku akan meninggalkan tempat ini tanpa mengganggu kalian pula. Tetapi......, barang siapa berani menceritakan atau mendengar apa yang yang telah terjadi di tempat ini...... akan mati dari cakaran Tay-yang-sin-jiauw ku!” Bercerita sampai di sini, Kong-ya Coat berhenti dan bersenyum seram kepada ketiga tamunya itu. Eu-yong Lo-koay, Si Lam Tojin dan Siauw Cu Gie, meskipun mereka bertiga berkepandaian tinggi, tetapi setelah ‘mendengar’ kisah Kong-ya Coat yang seram itu, mereka jadi bergidik memikiri nasib mereka, karena mereka tidak menduga sama sekali bahwa
208
hanya dengan mendengari kisah pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-tee, mereka kini sudah menjadi musuh-musuh besar Yu Leng! Bagaimana dengan nasib Kong-ya Coat sendiri yang telah dipaksa untuk menceritakan kisahnya itu? „Setelah Yu Leng mengancam,” katanya lagi. „Dengan satu gerak yang mempesonakan sekali ia telah menghilang entah ke mana!” „Kalau saja aku tidak datang ke sini......” kata Siauw Cu Gie sambil bersenyum getir. „Saudara Siauw!!” kata Kong-ya Coat. „Aku telah berpesan wanti-wanti barusan......” „Kita akan menanggung sendiri akibat itu......” sahut Eu-yong Lo-koay. „Aku sudah melanggar perintahnya, maka kita berempat kini bernasib serupa, yalah akan mati dari cakaran Tay-yang-sin-jiauw!” „Saudara Kong-ya, mungkin ada kesalahan paham dalam soal ini!” „Kesalahan paham?! -- Kesalahan paham apakah? Aku persilahkan saudara Siauw menjelaskan!! „Aku telah mendengar kabar bahwa semenjak isteri yang sangat dicintainya meninggal dunia, Yu Leng lalu hidup terpencil di pegunungan Tay-piet-san. Jika ia pada suatu hari berhasil
209
mewariskan ilmu silatnya yang maha tinggi itu, ia akan menyusul isterinya di alam baka. Ia telah berjanji takkan keluar lagi dari lembah Yu-leng-kok. Jika kau katakan ia telah datang di Tan-kwi-san-cong, aku betul-betul tidak mengerti......” „Jadi saudara Siauw menganggap orang yang datang itu bukan Yu Leng sendiri?” „Ya!” „Tetapi siapakah di kolong langit ini yang memiliki ilmu Tay-yang-sin-jiauw?” Pertanyaan itu membikin Siauw Cu Gie membungkam. Apalagi waktu mengingat akan peristiwa totokan di pundaknya oleh sambitan batu pada dua tahun yang lalu, tangan yang merah, telapak tangan yang tertera di atas batang pohon cemara, ia jadi bergidik. „Aku tidak tahu!” sahutnya pendek. Kong-ya Coat tertawa melihat ketiga pendengarnya menjadi pucat seolah-olah dikejar hantu jahat „Hei Lo-koay!” katanya sambil mengejek. „Apakah kau masih ingin merebut Ciam-hua-giok-siu?” Eu-yong Lo-koay hanya menundukan kepalanya dan menggeram. „Hm......!”
210
„Saudara Siauw, bukankah kau ingin menceritakan tentang Ciam-hua-giok-siu?” tanya Kong-ya Coat. „Ya,” sahut Si Lam Tojin. „akupun ingin mendengar cerita itu.” „Kesudahan dari pertemuan yang aku selenggarakan itu,” sahut Siauw Cu Gie. „Sama benar dengan kesudahan dari pertemuan di Tan-kwi-san-cong!” „Bagaimana? Aku tidak mengerti!” kata Kong-ya Coat. „Awan hitam tiba-tiba menggulung dan menutupi Rembulan!” sahut Siauw Cu Gie. „Dan dengan tiba-tiba pula lampu-lampu dan obor-obor padam!” „Apakah kau mendengar ada orang mengatakan sesuatu?” tanya Kong-ya Coat. “Tidak! Tetapi sebelum itu, aku dibikin terkejut oleh munculnya seorang pemuda yang membawa-bawa Ciam-hua-giok-siu!” kata lagi Siauw Cu Gie. „Tentu pemuda itu murid Yu Leng,” Si Lam Tojin ikut bicara. „Jika Yu Leng telah mewariskan ilmunya yang maha tinggi itu,” kata Kong-ya Coat. „Dia tentu sudah membunuh diri dan aku yang telah melanggar perintahnya, tak usah khawatirkan lagi Tay-yang-sin-jiauw!”
211
„Jika Yu Leng telah membunuh diri, siapakah yang mampu memadamkan semua lampu dan obor demikian cepatnya!” tanya Eu-yong Lo-koay. „Apa boleh buat!” kata Siauw Cu Gie. „Aku tidak ingin memusingkan apakah Yu Leng masih hidup atau sudah mati! Yang penting yalah cara bagaimana aku dapat menghindarkan diri dari cakaran Tay-yang-sin-jiauw!” Setelah berkata begitu ia segera berbangkit dan meninggalkan kapal sungai itu tanpa menoleh lagi kepada Kong-ya Coat. Eu-yong Lo-koay juga sudah tawar perasaannya dan tak lagi ingin melanjutkan pertempurannya melawan Kong-ya Coat, tanpa pamit lagi iapun berlalu dengan tergesa-gesa! Hanya si pemabuk yang kelihatannya agak tenang dan masih dapat tertawa gelak-gelak. „Mati atau hidup itu semua berada di tangan Tuhan. Aku hanya khawatir tak dapat minum arak! Jika kita menderita dan tak dapat bertahan. Janganlah bermuram durja, tetapi bersorak!” Demikianlah Si Lam Tojin bernyanyi, lalu dengan satu gerakan lincah ia berloncat dari kapal sungai itu ke dalam perahunya yang kemudian di dayungnya dengan tenang pula! SEBELAS
212
Waktu pesat sekali jalannya, tanpa terasa musim dingin telah datang lagi. Di atas sungai Tiang-kang, yang letaknya dekat daerah kota Bu-ouw, di propinsi Kang-su, tampak sebuah perahu tengah berlayar dengan tenang. Di dalam perahu tampak duduk dua orang, yang satu seorang laki-laki yang berperawakan tegap dan berusia kira-kira setengah abad. Sedangkan orang yang kedua adalah seorang kakek yang matanya picak satu dan kakinya pincang sebelah. Laki-laki yang berperawakan tegap lalu berkata setelah menarik napas panjang. „Ouw Si-ko, selama dua tahun ini kita telah lari ke timur, ngiprit ke barat menyembunyikan diri dari kejaran yang tak kunjung datang, boleh dikatakan tiada satu tempatpun yang kita tidak jelajahi, dan selama jangka waktu itu kita tidak mendengar berita tentang munculnya Yu Leng di kalangan Kang-ouw!” „Hiantee,” sahut si Ahli nujum kipas baja. „Yu Leng sedang mencari Cu-gan-tan dan Tok-beng-oey-hong, dia tidak mengetahui bahwa kedua mustika itu berada di dalam tanganku! Ha, ha, ha!” Setelah tertawa berkakakan, sekonyong-konyong ia berhenti dengan rupa kaget sambil menyapukan matanya yang tinggal sebelah itu ke kanan dan ke kiri. „Ha, ha, ha!” kata Khouw Kong Hu, „kita berada di atas perahu, masa takut ada yang dengar kata-kata Ouw Si-ko itu?”
213
„Memang Hiantee, jika kau membawa-bawa barang yang berharga apalagi barang-barang berharga itu kau peroleh secara tidak halal kau tentu akan menjadi gelisah!” „Ouw Si-ko, siapa namanya si pemuda yang pernah kau tolong masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok?” „Ai! Akupun baru ingat kepada pemuda itu, dia bernama Wei Beng Yan. Menurut perhitunganku, Yu Leng telah mewariskan ilmu silatnya kepada pemuda itu dan telah membunuh dirinya sendiri, tetapi...... katanya ia sudah muncul lagi di kalangan Kang-ouw!” „Aku selalu berada di samping Ouw Si-ko selama dua tahun ini, mengapa aku tidak mengetahui bahwa Yu Leng telah muncul lagi di kalangan Kang-ouw?” „Apakah kau masih ingat pada setengah bulan yang lalu, ketika kita berada di telaga Kao-yu, beberapa nelayan telah menceritakan tentang pertemuan di telaga Tong-teng?” „Aku masih ingat.” “Kesudahan daripada pertemuan tersebut, seperti Hiantee telah dengar sendiri, adalah sama misteriusnya seperti pertemuan yang diadakan oleh Kong-ya Coat!” „Apakah menurut hemat Ouw Si-ko orang yang memadamkan lampu-lampu dan obor-obor bahkan merombak Lui-tay, adalah Yu Leng juga?”
214
„Menurut pendapatku memang demikian, tetapi masih ada soal yang ganjil berkenaan dengan sepak terjangnya sehingga aku tak berani mengatakan dengan pasti.” „Rupanya peristiwa itu telah membikin si Ahli nujum kipas baja menjadi pusing juga, ya? Ha, ha, ha!” „Betapa tidak! Dua tahun yang lalu Yu Leng telah merebut Ciam-hua-giok-siu, mengapa sekarang mustika itu berada di tangan si pemuda baju hijau? Dan..... siapakah gerangan pemuda itu?” „Pemuda itu tentu saja putera Wei Tan Wi, siapa lagi?” „Baik! pemuda itu Wei Beng Yan. Tetapi setelah Yu Leng mewariskan ilmu silatnya, mengapa dia sendiri tidak membunuh diri? Dan mengapa ketika Wei Beng Yan ingin menempur kedua iblis Soat-hay-siang-hiong tiba-tiba suasana jadi gelap dan mereka yang sudah bersiap-siap bertempur akhirnya lenyap tanpa bekas?!” „. . . . . . . . . . .??” Tak lama kemudian perahu mereka sudah tiba di kota Bu-ouw, sebuah kota besar yang terletak di sebelah selatan sungai Tiang-kang. Setelah mendarat mereka segera menuju ke suatu gedung yang besar dan indah, yang tiang-tiangnya terukir seekor naga besar. Pekarangan depan gedung tersebut sangat kotor, pintu-pintu dan jendela-jendela penuh dengan debu dan tertutup rapat. Rupanya gedung itu sudah lama diterbengkalaikan.
215
Setelah meneliti gedung itu sekian lamanya, terdengar Khouw Kong Hu berkata dengan suara rendah. „Ouw Si-ko, kota ini rupanya pusat perdagangan yang ramai sekali, jika kita terus menerus mundar-mandir di depan gedung ini, mungkin kita akan dicurigai ingin berbuat sesuatu yang tidak baik......” “Jangan gelisah Khouw Hiantee, aku datang ke sini tentu dengan rencana yang cermat, dan aku berani memastikan bahwa nanti malam gedung ini kita dapat menyaksikan suatu pertunjukan. Maka sebelum masuk, kita harus menyelidiki betul keadaan di sekitarnya!” Setelah itu Ouw Lo Si segera mengajak Khouw Kong Hu menuju ke suatu rumah penginapan. Begitu melangkah masuk, mereka jadi terperanjat, karena berpapasan dengan seorang gadis yang cantik jelita, muda belia yang mengenakan pakaian merah muda. „Apakah gadis cantik berbaju merah muda, yang barusan saja keluar, ingin menyewa kamar di sini?” tanya Ouw Lo Si kepada pengurus hotel. Si pengurus hotel menoleh dan sambil bersenyum ia menyahut. “Ya, bukan saja ia berparas cantik, tetapi iapun sangat murah hati telah sudi membayar terlebih dulu uang sewa kamarnya,” sambil menunjukkan sepotong mas murni di tangannya dan meneruskan. „Tetapi aneh, setelah ia melemparkan sepotong mas ini, tanpa menunggu aku menjawab ia segera berjalan keluar.”
216
Ouw Lo Si bukan tertarik oleh kecantikan wanita itu, tetapi pakaiannya yang merah mudalah yang telah membikin ia terperanjat, karena dari cerita yang didengarnya tentang pertemuan di telaga Tong-teng, orang yang menceritakan telah berulang-ulang menyebut, gadis yang mengenakan pakaian merah muda, kapal sungai merah muda yang digantungi lentera kertas merah muda juga. „Apakah mungkin gadis inilah yang dimaksud oleh orang itu?” tanyanya di dalam hati. „Kita berdua pun ingin menyewa kamar,” kata Khouw Kong Hu. „Baiklah,” kata si pengurus hotel. „Hei Lo-sam, tujukki kedua Locianpwee ini kamar yang di samping pekarangan tengah!” Setelah berada di dalam kamar Ouw Lo Si segera menutup pintu. Tiba-tiba mereka mendengar suara si pengurus hotel di luar. „Kamar di sebelah dua tamu kita ini adalah untuk seorang gadis, dan kau harus melayaninya dengan baik!” „Ah!” kata Ouw Lo Si dengan suara rendah. „Kebetulan sekali kita dapat kamar ini!” „Agar kita dapat mendengar gerak gerik gadis baju merah muda, bukankah?” tanya Khouw Kong Hu. „Betul!” sahut Ouw Lo Si sambil bersenyum girang. „Ouw Si-ko, kau tiba-tiba jadi gembira sekali tampaknya?”
217
„Apakah kau ketahui siapa pemilik rumah gedung besar yang kita selidiki tadi?” „Tidak. Mengapa memang?” „Rumah gedung itu milik ketiga saudara Tie yang telah ditewaskan oleh serangan Lui-ka-kong-kie Yu Leng!” „O........!” „Apakah kau masih ingat apa yang dikatakan oleh ketiga saudara Tie itu, setelah mereka dilukai oleh Yu Leng?” „Ya! Saudara Tie yang paling tua menantang kepada Yu Leng. Nanti sesudah lewat dua tahun lima bulan, apakah kau berani datang ke kota Bu-ouw?” „Betul! Dan mereka pun mengetahui bahwa mereka bakal mati!” „Jika demikian, mengapa mereka masih menantang Yu Leng?” „Aku mengenal ketiga saudara Tie cukup lama, dan aku mengetahui juga bahwa pada tiap-tiap tiga tahun sekali Ceng Sim Lo-ni turun dari Go-bi-san untuk menjenguk ketiga saudara Tie, entahlah ada hubungan apa antara si biarawati dengan ketiga saudara Tie itu.” „Jika begitu, ketiga saudara Tie tentu bermaksud agar Ceng Sim Lo-ni membalaskan kematian mereka itu.”
218
„Aku kira begitu, menurut perhitunganku, malam ini tepat dua tahun lima bulan semenjak ketiga saudara Tie digempur oleh Yu Leng!” „Apakah Yu Leng akan memenuhi janjinya? Apakah Yu Leng mengetahui bahwa ia akan berjumpa dengan Ceng Sim Lo-ni di sini?” „Entahlah. Yang pasti yalah Ceng Sim Lo-ni akan berkunjung ke sini.” „Tetapi kini kau telah salah bertindak Ouw Si-ko!” „Salah bertindak?” „Bukankah jika Yu Leng muncul di sini berarti kita mengantarkan jiwa kita secara tolol?!” „Hiantee jangan keliru, dahulu kita lari sini lari sana menyembunyikan diri karena takut...... takut mustika yang berada di dalam tanganku diketahui oleh Yu Leng. Tetapi setelah Ciam-hua-giok-siu muncul lagi di kalangan Kang-ouw, kita tidak usah bersembunyi lagi!” „Meskipun demikian, ada baiknya jika Yu Leng tidak melihat kita!” Ouw Lo Si menggeleng-geleng kepalanya dengan paras mendongkol. „Khouw Hiantee,” katanya, „apakah kau lupa akan janji kita untuk membalas dendam Kiu Ji-tee?! Mungkin juga yang melakukan
219
pembunuhan itu erat sekali hubungannya dengan tindak tanduk Yu Leng ini!” Khouw Kong Hu menjadi merah mukanya mendengar kata-kata Ouw Lo Si yang agak keras itu. „Kita belum mengetahui musuh Kiu Ji-tee, namun aku yakin bahwa musuhnya itu lihay sekali, mungkin kita berdua tidak sanggup melawannya, tetapi tiada salahnya jika kita mengetahui betul musuh itu sebelum kita coba membikin pembalasan,” kata Ouw Lo Si. Setelah itu ia tepuk dadanya seraya berkata lagi. „Kita telah memiliki kedua mustika Thian-hiang-sian-cu dan dengan Tok-beng-oey-hong kita akan menuntut balas!” „Tetapi, apakah Ouw Si-ko mengetahui caranya menggunakan benda mujizat itu?” tanya Khouw Kong Hu. „Cu-gan-tan tidak penting bagi kita, karena kita sudah tua, tetapi bagaimanakah menggunakan Tok-beng-oey-hong, yang dikatakan belum pernah gagal mengambil korban?” „Justru itulah maksud kedatangan kita di sini,” kata Ouw Lo Si. „Jika perhitunganku tidak salah, aku mengharap dapat mengetahui cara menggunakannya benda mujizat itu dari Yu Leng!” Berkata sampai di situ tiba-tiba si kakek merandek dan mengeluarkan suara. „Ssst......!”
220
Kemudian terdengar suara orang bicara di luar kamar. “Inilah kamar siocia, aku harap siocia menyukai hotelku yang sederhana ini!” „Terima kasih!” sahut yang diajak bicara. Ouw Lo Si menghampiri tembok kamar sambil mengangkat tangan kanannya, lalu dengan mengerahkan tenaga ke ujung jari tengahnya, ia menusuk tembok kamar itu dan ‘Cep!’ jari tengahnya itu menembusi tembok tanpa orang yang berada di sebelah menyadari! Itulah ilmu Kim-kang-cit (Jari tangan baja), yang hanya dimiliki oleh beberapa gelintir jago-jago silat saja, karena sukarnya untuk dipelajari, dan tusukan dengan jari tangan yang digerakkan dengan lambat itu dapat menembusi baja.......! Sejenak kemudian Ouw l.o Si mencabut jari tengahnya itu dengan tenang sekali, dan tampaklah satu lobang di tembok yang memisahkan kamarnya dengan kamar si gadis baju merah muda itu! DUABELAS Bila ada lobang kecil di tembok kamar di suatu rumah penginapan, biasanya lobang kecil demikian dianggap biasa dan takkan diperhatikan. Dengan melalui lobang kecil itulah Ouw Lo Si dapat mengintip ke dalam kamar di sebelah.
221
Ia melihat gadis yang mengenakan baju merah muda masuk ke dalam kamar, lalu mengeluarkan sehelai bendera merah, di atas permukaan bendera tersebut tertera tiga huruf . „Tong-teng Siauw (Keluarga Siauw dari telaga Tong-teng)!” Ouw Lo Si mendekati mulutnya dekat telinga Khouw Kong Hu dan berbisik. „Hiantee, geser meja itu dan letakkan secangkir teh di atasnya.” Khouw Kong Hu tidak mengerti maksud si kakek, tetapi ia jalankan juga perintahnya itu. Ouw Lo Si lalu mengintip lagi, sesaat kemudian, tanpa mengalihkan matanya dari lobang di tembok, ia menyelupkan jari telunjuknya ke dalam secangkir teh yang berada di atas meja, dan menulis di atas papan meja memberitahukan apa yang telah terjadi di kamar yang sedang diintipnya itu! „Si gadis adalah adik perempuan Siauw Cu Gie! Kita dapat menyaksikan sandiwara.” Demikian si kakek telah menulis. Tetapi kemudian ia jadi merandek ketika melihat bibir si gadis bergerak-gerak, seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang. Ia tidak dapat mendengar percakapannya itu. „Apakah dikamarnya itu sudah ada orang?” demikian pikirnya. „Jika betul...... celaka duabelas, tentu pembicaraanku tadi telah dapat didengar oleh orang itu......!”
222
Ia mengintip terus, tetapi karena lobang di tembok itu kecil sekali, maka ia hanya dapat melihat si gadis yang kini sedang bersenyum manis sambil berbicara dan bergerak-gerak. „Tidak salah lagi ia tengah berbicara dengan seseorang!” kata si kakek didalam hatinya. Saking penasarannya, ia lalu menempelkan telinganya ke lobang itu dan dapat mendengar. „Apakah kau sudah lama tiba di kota ini? Kota Bu-ouw ini betul-betul ramai. Coba lihat bendera ini, aku telah menyuruh orang menyulam huruf-huruf di atasnya.” Tiba-tiba si kakek berbalik sambil menarik tangan Khouw Kong Hu ke suatu tempat yang agak jauh dari lobang di tembok itu. „Celaka!” bisiknya, „kita harus lekas-lekas berlalu dari sini!” „Si-ko! Apa yang kau telah lihat?!” „Barusan aku tidak memeriksa lagi kalau-kalau di sebelah ada orang. Jika percakapan kita tadi didengar olehnya, kita pasti akan dikejar oleh semua orang untuk merebut kedua mustika yang kini berada di tanganku. Aku tidak takut dikejar, tetapi lebih baik kita berjaga-jaga......!” Si kakek segera melangkah untuk meninggalkan kamarnya itu, tetapi ketika tiba di pintu kamar ia merandek. Lalu sambil mengertak gigi ia berkata dengan nada yang rendah sekali. „Hiantee, jika percakapan kita tadi telah didengar oleh orang yang berada di kamar sebelah, mungkin sekarang kitapun tak dapat
223
melarikan diri lagi! Aku kira dia tidak mendengar. Lebih baik kita jangan melepaskan kesempatan yang baik ini untuk mencari tahu, cara menggunakan Tok-beng-oey-hong!” Setelah ia telah mengeluarlan senjatanya, yalah Cit-kauw-tie-san (Kipas baja dengan tujuh keajaiban), yang telah menggemparkan dunia Kang-ouw beberapa puluh tahun yang silam! Khouw Kong Hu pun menghunus gaitan bajanya yang bergagang panjang, dan ujungnya merupakan sebilah arit yang tajam sekali. „Hiantee, kau jaga pintu dan jangan kau bersangsi untuk segera turun tangan bila ada yang bergerak mencurigakan!” pesan si kakek. Khouw Kong Hu mengangguk sambil mengawasi ke arah pintu. Lalu si kakek pergi mengintip lagi. Ia melihat bahwa gadis itu masih terus berbicara, tetapi ia tetap tidak melihat orang yang sedang berbicara dengan gadis itu. Ia melihat si gadis mengulur tangannya untuk menerima sesuatu dari orang yang tidak kelihatan itu. Si kakek mencurahkan seluruh perhatiannya, meskipun ia seorang yang cerdik dan cerdas serta banyak pengalamannya, tetapi ketika dapat mengenali barang yang baru saja diterima oleh gadis itu, tiba-tiba dan tanpa terasa ia jadi berseru kaget. „Astaga......!” Dan suaranya itu telah mengejutkan si gadis!
224
Gesit seperti monyet si kakek melompat mundur ke belakang beberapa langkah sambil mengeluarkan suara. „Phiss......!” kepada Khouw Kong Hu. Setelah itu, cepat bukan main si kakek telah mencelat melalui jendela untuk keluar ke pekarangan hotel, diikuti oleh Khouw Kong Hu. Lala terdengar pintu kamar mereka terbuka oleh suatu dorongan keras, dan terdengar seorang laki-laki berbicara. „Hm! Bie moay, tadi kau bilang di kamar ini ada orang. Coba lihat, kamar ini kosong!” „Aku yakin betul tidak salah dengar,” sahut si gadis. „Orang itu pasti dari kalangan Kang-ouw, karena ia dapat bersembunyi demikian cepatnya!” „Apakah dia mengintai-intai Ciam-hua-giok-siu? Betul-betul dia itu seorang yang bodoh menghendaki benda yang sukar diperoleh!” Memang waktu mengintip tadi Ouw Lo Si telah melihat sarung tangan ajaib itu, namun ia bukan terkejut disebabkan telah melihat benda itu, ia terkejut karena telah melihat beberapa benda yang justru melekat di telapak tangan sarung tangan tersebut, yalah tiga buah jarum Yan-bie-tin -- jarum beracun yang ampuh kepunyaan saudara angkatnya, Khouw Kong Hu!
225
Sambil sembunyi di bawah jendela Ouw Lo Si dapat mengenal suara orang laki-laki itu, yalah suara seorang pemuda yang pernah ia tolong dua tahun lebih yang lalu, Wei Beng Yan! „Hiantee,” katanya-berbisik. „Simpan senjatamu dan janganlah bertindak tanpa dapat petunjuk dari aku!” Khouw Kong Hu menjadi heran, tetapi ia menuruti saja apa yang diperintahkan oleh si kakek. „Ikuti aku!” berbisik lagi si kakek sambil merangkak untuk menjauhkan diri dari jendela kamar hotel. Setelah cukup jauh, si kakek lalu berdiri dan berjalan menghampiri jendela kamarnya tadi, diikuti oleh Khouw Kong Hu! „Aai, Wei Lotee!” serunya sambil berdiri di depan jendela kamarnya tadi. „Semenjak kita berpisah di pegunungan Tay-piet-san dua tahun yang lalu, apakah kau baik-baik saja?” Kedua muda mudi itu menoleh ketika mendengar teguran itu. Dan ternyata betul saja si pemuda yang berbaju hijau itu Wei Beng Yan adanya! Melihat si kakek penolong itu, si pemuda menjadi girang sekali. „O...... kiranya Ouw Locianpwee!” katanya. Si kakek menyikut pelahan ke belakang, sikutnya itu tepat mengenai bahu Khouw Kong Hu, sebagai peringatan agar saudara angkatnya itu tidak bertindak sembarangan!
226
„Wei lotee,” kata lagi si kakek, „sudah dua tahun lebih kita tidak berjumpa, aku telah menjadi tambah tua dan reyot, tetapi agaknya kau jadi semakin gagah dan tampan lagi! Apakah maksudmu sudah tercapai?” Khouw Kong Hu tiba-tiba jadi pucat wajahnya ketika dapat melihat ketiga jarum Yan-bie-tin nya masih melekat di telapak tangan Ciam-hua-giok-siu yang sedang dipegang oleh Wei Beng Yan, tetapi pada saat itu ia terpaksa harus bersandiwara dan memaksakan diri untuk bersenyum seolah-olah sedang menjumpai seorang kawan lama! „Terima kasih Ouw Locianpwee, aku baik-baik saja!” sahut Wei Beng Yan. „tetapi...... aku merasa sangat menyesal belum dapat menunaikan tugas suciku itu!” „Tidak usah gelisah Wei Lotee,” kata si kakek, „lambat atau cepat pasti kau berhasil membalas sakit hati mu itu! -- Wei Lotee, aku ingin memperkenalkanmu kepada saudara angkatku ini, ia bernama Yo Go!” Khouw Kong Hu makin heran mendengar si kakek memperkenalkan namanya sebagai Yo Go. tetapi ia lekas-lekas menyahut. „Wei Lotee, aku telah mendengar banyak tentang kau dari kakak angkatku ini......” „Aku merasa girang sekali dapat berkenalan dengan Locianpwee,” sahut Wei Beng Yan sambil memberi hormat. „Aku kira siapa yang berada di dalam kamar ini......”
227
„Kita menyewa, kamar ini karena ada urusan dagang......” kata si kakek, „barusan kita keluar untuk melihat apakah orang yang kita nantikan itu sudah datang......” „Ouw Locianpwee, nasib manusia tidak dapat ditentukan oleh siapapun,” kata Wei Beng Yan. „betul kita dapat berusaha sekeras mungkin, namun Tuhanlah yang berkuasa! Budi Ouw Locianpwee aku takkan lupakan.” „Apakah yang berada di tangan Lotee itu benda yang terkenal sebagai Ciauw-hua-giok-siu?” „Betul!” „Bolehkah aku melihatnya......?” „Dengan segala senang hati! Ha, ha, ha!” Ouw Lo Si mengulur tangannya untuk menerima mustika yang disodorkan itu. Ia meneliti dengan hati berdebar-debar. „Jika aku dapat merebut mustika ini,” kata si kakek di dalam hati. „Aku akan merajai dunia Kang-ouw! Kedua muda mudi ini betul muda usia, tetapi mereka tidak dapat dipandang remeh, terutama si pemuda yang telah mewarisi ilmu Tay-yang-sin-jiauw!” „Tiga jarum yang melekat di telapak tangan ini apakah artinya?” akhirnya si kakek berlagak menanya.
228
„Ouw Locianpwee mungkin telah mengetahui bahwa jarum ini adalah jarum beracun Yan-bie-tin, milik Khouw Kong Hu, si gaitan baja tinju besi!” „O........” sahut si kakek sambil berlagak kaget. „Khouw Kong Hu adalah nama yang aku pernah dengar...... apakah Wei Lotee mempunyai urusan dengan dia?” „Betul aku tidak mengetahui bagaimana bentuk serta rupa Khouw Kong Hu ini, tetapi aku harus mengambil nyawanya!” Khouw Kong Hu jadi terpaku dengan mulut menganga dan kedua mata melotot mendengar Wei Beng Yan harus membunuh orang yang bernama Khouw Kong Hu, dirinya sendiri! „Tetapi mengapa Wei Lotee harus membunuh si gaitan baja tinju besi?” tanya Ouw Lo Si. „Menurut pengetahuanku, Khouw Kong Hu adalah jago silat yang selalu berbuat kebaikan di kalangan Kang-ouw. Apakah barangkali ia telah berbuat sesuatu yang hina terhadap Wei Lotee?” „Akupun telah menyelidiki, dari banyak kawan aku mendapat kesan bahwa Khouw Kong Hu pantas mendapat gelar Tay-hiap (pendekar)!” „Tentu Wei Lotee merasa sungkan untuk membunuh seorang Tay-hiap, bukankah?” „Tetapi aku tidak dapat membangkang terhadap perintah guruku, Ai! Suhu, suhu! Dia melarang aku membunuh Soat-hay-siang-
229
hiong, tetapi mengapa justru menyuruh aku membunuh seorang Tay-hiap......?” „Dari manakah Wei Lotee dapati ketiga jarum itu?” tanya lagi Ouw Lo Si. „Dua tahun lebih yang lalu, ketika aku memasuki lembah Yu-leng-kok di waktu hujan rintik-rintik aku telah menjumpai suhu,” We Beng Yan menyahut. „Suhu lalu menyalakan tiga lentera kertas dan menggantungnya di pintu lembah tersebut sebagai tanda bahwa lembah tersebut sudah tertutup dan siapapun di larang masuk. Tetapi tiba-tiba ketiga lentera kertas itu menjadi padam diterjang ketiga jarum Yan-bie-tin “Jarum Yan-bie-tin pasti tidak bisa gagal memadamkan lentera-lentera itu,” kata Ouw Lo Si dan tanpa merasa ia melirik ke arah Khouw Kong Hu yang sudah khawatir sekali Rahasianya terbongkar. “Tetapi mengapa Yu Leng yang berjiwa besar memerintahkan Wei Lotee membunuh Khow Kong Hu yang hanya memadamkan lilin lentera? Bukankah itu hanya soal kecil saja?” „Akupun tidak mengerti tindakan Suhu ini!” sahut Wei Beng Yan. „Yan koko,” kata Siauw Bie dengan suara menghibur. „Sudahlah, kita masih ada urusan lain yang harus dibereskan!” „O......,” kata Ouw Lo Si, “Wei Lotee sedang tidak sempat, kita minta maaf telah mengganggu......”
230
„Ouw dan Yo Locianpwee,” kata Wei Beng Yan sambil membungkukkan tubuhnya, „Kita baru saja berjumpa tetapi sudah harus berpisah lagi!” „Lain waktu, kita masih dapat berkumpul lagi,” sahut Ouw Lo Si, „maka uruslah urusan Wei Lotee itu baik-baik!” Setelah memberi hormatnya kedua muda mudi itu segera meninggalkan Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu. Si kakek pun lalu mengajak saudara angkatnya untuk menuju ke sebuah rumah makan. „Hiantee,” kata si kakek sambil makan. „setelah mendengar keterangan Wei Beng Yan aku jadi yakin bahwa kecurigaanku berdasar yalah orang yang telah memadamkan lampu di pertemuan Tan-kwi-san-cong dan di telaga Tong-teng, bukan Yu Leng!” Khouw Kong Hu yang baru saja reda ketegangan jiwanya hanya mengangguk. „Mengapa Si-ko bisa berkesimpulan demikian?” tanyanya. „Kesatu,”‘ si kakek melanjutkan. „Yu Leng telah mewariskan ilmu silatnya kepada Wei Beng Yan tetapi ia tidak membunuh diri. Kedua, Yu Leng yang berjiwa besar tidak mungkin ingin mengambil pusing soal ketiga jarum Yan-bie-tin mu!” „Aku kira Si-ko telah berkesimpulan keliru tentang Yu Leng. Sebelum lembah Yu-leng-kok tertutup, banyak orang telah menjadi
231
korban keganasan, rupanya Yu Leng tidak pandang bulu, barang siapa yang menimbulkan amarahnya, ia bunuh!” „Kita akan membuktikan pendapatku itu nanti malam di gedung saudara Tie!” Setelah selesai makan minum hari sudah menjadi magrib, maka mereka lekas-lekas membayar untuk segera menuju ke rumah keluarga Tie. Dari kejauhan rumah gedung tersebut kelihatannya gelap dan seram sekali. Mereka berjalan ke belakang rumah gedung itu. Lalu dengan ilmu meringankan tubuh, mereka meloncat ke atas tembok yang mengelilingi rumah besar itu. Baru saja mereka berada di atas tembok, tiba-tiba lentera-lentera kertas merah yang tergantung di atas kong-liong ruangan belakang menyala. Mereka lekas-lekas menjatuhkan diri di atas tembok lalu sambil bertiarap mereka menyelidiki keadaan. dalam ruangan belakang rumah gedung itu. Ruangan belakang itu besar dan cahaya merah yang dipancarkan oleh lentera-lentera kertas membikin mereka teringat akan peristiwa di tempat pembunuhan Kiu It! Sekejap kemudian lentera kertas yang berada di ruangan dalam menyala dan berbareng dengan menyalanya lentera itu, tiba-tiba terdengar suara meraung -- serupa yang Ouw Lo Si biasa dengar dari lembah Yu-leng-kok, ketika kakek itu menyembunyikan diri di kaki pegunungan Tay-piet-san. Mereka berusaha meneliti siapa yang telah meraung itu, tetapi karena sinar ketujuh lentera kertas merah tersebut, yang
232
tergoyang-goyang tertiup angin malam, tidak demikian kuat sinarnya sehingga keadaan ruangan itu agak gelap, dan mereka tidak dapat melihat. Suara meraung itu makin lama makin nyaring terdengarnya, lalu dari ruangan dalam berkelebat bayangan orang! Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu terus tertiarap dan tidak berani bergerak, khawatir pengintaian mereka dipergoki. Sejenak kemudian mereka melihat sesosok bayangan mencelat melalui tembok yang mengelilingi Rumah itu. Mereka dapat melihat dengan samar-samar, seorang yang berambut panjang, berperawakan kurus jangkung melayang melewati tembok yang menjulur ke arah mereka sedang tertiarap. Mereka terperanjat menyaksikan ilmu meringankan tubuh orang itu yang demikian hebatnya, berbareng dengan itu mereka dapat mendengar suara ‘Ting!’ yang agak aneh. Setelah orang itu berlalu, Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu memberanikan diri turun dari tembok dan menghampiri ruangan belakang untuk bersembunyi di bawah jendela. Ouw Lo Si coba melongok ke dalam, ia dapat melihat Wei Beng Yan dan Siauw Bie sedang duduk dan bercakap-cakap. ◄Y► „Bie moay,” terdengar Wei Beng Yan berkata kepada Siauw Bie. . „Suhu baru saja keluar, rupanya ia sedang menantikan kedatangan seseorang, entahlah siapa.” „Yan Koko, apakah kau merasa kecewa terhadap Suhumu?”
233
Wei Beng Yan tidak menyahut, rupanya pertanyaan gadis itu membikin ia sedih. „Apakah kau tidak merasa puas dengan tindak tanduk Suhumu?” tanya lagi si gadis. „Bie moay, lebih baik kita tidak memperbincangkan lagi soal itu......” Dengan jawaban itu, Siauw Bie segera mengetahui bahwa Wei Beng Yan merasa kecewa terhadap Yu Leng. Lalu sambil memegang tangan pemuda itu ia menghibur. „Yan Koko, kita datang dari tempat yang berlainan, namun nasib telah membikin kita saling mengenal. Ketika di telaga Tong-teng kau pernah berkata bahwa umur manusia tidak panjang tetapi jika dalam jangka usia kita yang pendek itu, kita mempunyai kawan yang mengenal isi hati kita, kita harus merasa beruntung, bukankah?” „Betul! Jika aku mempunyai kawan serupa itu, matipun aku merasa puas......” „Bukankah aku, kawanmu yang demikian? Mengapa kau masih merasa ragu untuk memberitahukan isi hatimu kepadaku?” „Bie moay! Di sini bukan tempat yang baik untuk menuang isi hati kita masing-masing! Aku akan memberitahukan kepadamu jika ada kesempatan terluang.” „Percayalah, bahwa aku rela mengikutimu, atau dengan lain kata-kata aku rela sehidup semati bersama-samamu! Kau telah
234
beruntung dapat mewarisi ilmu silat Yu Leng, bolehkah aku mengetahui kisahmu sewaktu masih berada di dalam lembah yang seram itu?” Wei Beng Yan yang sudah ditembusi panah asmara menarik napas panjang, ia mendongak menatap lentera-lentera kertas dan mulai dengan kisahnya. „Lebih dari dua tahun yang lalu, aku telah bertekad membunuh kedua iblis Soat-hay-siang-hiong dan Eu-yong Lo-koay yang telah membunuh ayahku, tetapi ketiga musuhku itu demikian hebat ilmu silatnya sehingga aku harus pergi ke lembah Yu-leng-kok untuk menambah kepandaianku. Setelah tiba di depan lembah, aku harus menunggu sampai tiga hari, dan selama tiga hari itu, tiap-tiap hari aku melihat mayat manusia dilemparkan keluar dari mulut lembah itu sehingga aku menjadi cemas sekali dan khawatir aku akan gagal dalam usahaku menuntut balas, tetapi bintang penolongku ternyata tidak berada di tempat yang jauh, dia yalah Ouw Locianpwee yang rumahnya aku tumpangi selama tiga hari itu.....” „Ada hubungan apakah antara kau dan si orang she Ouw itu?” tanya Siauw Bie. „Hanya sebagai seorang sahabat......” „Yan koko, kau harus berhati-hati terhadap si orang she Ouw ini, menurut pandanganku dia itu sangat cerdik, mungkin ada apa-apa di balik ketulusan hatinya itu......” „Aku kira tidak..... tetapi biarlah aku melanjutkan kisahku ini.”
235
„Lanjutkanlah, aku tidak pernah mencegah!” „Setelah aku terima lentera kertas dari tangan Ouw Locianpwee, aku lalu berjalan memasuki mulut lembah di bawah hujan rintik-rintik. Tempat yang dipilih oleh Suhu betul-betul luar biasa sekali, seram dan gelap lagi! Tengah aku berjalan dengan perasaan takut, tiba-tiba aku dikejutkan olah suara helaan napas. Hatiku berdebar keras, karena helaan napas itu dekat sekali terdengarnya. Aku berhenti dan berdiri terpaku, tetapi demi tekadku menuntut balas, aku memberanikan diri untuk berjalan lagi, dan dengan tiba-tiba pula aku mendengar orang bernyanyi sedih. „Dunia yang besar dan luas ini, masih dapat dicari tapal batasnya Tetapi peristiwa yang menyedihkan hati, Hanya terlupa pada akhirnya nyawa!” „Syair yang bagus sekali!” Siauw Bie memuji. „Sungguh aneh,” Wei Beng Yan melanjutkan. „Sungguh aneh suara nyanyian itu terdengarnya datang dari tempat yang jauh, seolah-olah berkumandang dari sebuah rumah kosong, padahal aku yakin benar, tarikan napas dan nyanyian itu adalah perbuatan orang yang sama!” „Apakah orang yang bernyanyi itu Yu Leng Suhumu?” tanya Siauw Bie. „Betul! Lalu tanpa menghiraukan itu semua aku berjalan terus sambil menenteng lentera merah yang sudah basah kuyup kertasnya terkena air hujan, tetapi apinya sendiri tidak padam. Aku
236
jalan lagi dan tatkala sudah bertindak beberapa puluh langkah, samar-samar aku dapat melihat sesosok tubuh yang kurus tengah berdiri beberapa puluh meter saja di hadapanku. Aku jadi kaget bukan main, tetapi beruntung aku masih dapat menguasai diri untuk lekas-lekas berlutut sambil berkata. „Teecu bernama Wei Beng Yan. Kedatangan Teecu di sini yalah untuk memohon kepada Locianpwee agar teecu diterima sebagai murid......” „Siapa nama ayahmu?” tanya Yu Leng. „.Ayah Teecu bernama Wei Tan Wi,” sahut Wei Beng Yan. „Wei Tan Wi! Hm......” Setelah itu lama juga Yu Leng tidak berkata-kata, kemudian setelah meneliti Wei Beng Yan dengan tajam ia berkata lagi. „Siapa yang telah memberikan petunjuk-petunjuk untuk kau masuk kemari?” „Teecu datang di sini dengan tekad diterima menjadi murid Locianpwee untuk menuntut balas dendam ayah Teecu yang telah dibunuh oleh kedua iblis Soat-hay-siang-hiong dan Eu-yong Lo-koay. Teecu tidak pernah diberikan petunjuk oleh siapapun......” Wei Beng Yan menjusta. „Kau mengatakan Wei Tan Wi telah dibunuh orang?” „Betul!”
237
Yu Leng menarik napas sambil menyalakan tiga lentera kertas merah, yang kemudian digantungnya di mulut lembah. „Baiklah......” katanya. Tetapi ketiga lentera kertas merah itu tiba-tiba menjadi padam. „Kurang ajar!” bentak Yu Leng dengan gusar. „Kau tunggu di sini, aku harus memberi hukuman kepada jahanam yang telah berlaku kurang ajar ini!” Setelah berkata demikian, Yu Leng segera meloncat dan mengejar keluar lembah, sesaat kemudian Wei Beng Yan mendengar jeritan-jeritan yang memilukan hati! Selama itu Wei Beng Yan tidak berani bergerak, ia tetap berlutut sambil memegangi lentera buatan Ouw Lo Si. Beberapa saat kemudian satu bayangan hitam telah kembali dan melewati kepalanya, lalu dari tempat yang agak jauh ia mendengar Yu Leng berkata. „Kau harus berjalan terus, jangan biluk ke kanan atau ke kiri, nanti kau akan menjumpai aku di suatu tempat tertentu. Jagalah agar lentera yang kau bawa itu tidak padam apinya!” Wei Beng Yan yang sudah ketakutan bukan main, menjadi girang tatkala mendengar perintah itu, ia segera berbangkit dan berjalan memasuki lembah itu. Setelah berjalan lebih kurang setengah jam, ia tiba di suatu batu gunung yang besar sekali, di atas batu itu tampak seorang sedang duduk bersila. Wei Beng Yan menatap orang itu yang ternyata Yu Leng adanya.
238
„Aku telah tinggal lama sekali di dalam lembah ini,” kata Yu Leng, „sehingga aku tidak mengetahui apa yang telah terjadi di luar. Kau mengaku sebagai putera Wei Tan Wi, untuk membuktikan ini kau harus sanggup memperlihatkan sesuatu kepadaku!” „Ayah telah dikerubuti oleh Soat-hay-siang-hiong dan Eu-yong Lo-koay, sehingga tewas terkena racun Hian-peng-tok-bong, sebelum meninggal dunia ayah telah memberikan cincin baja ini kepadaku,” sahut Wei Beng Yan sambil melepaskan cincin baja yang berada di jarinya. „Demikianlah nasib seorang Tay-hiap!” kata Yu Leng. Setelah itu ia mengangkat sebelah tangannya untuk mengebat dari bawah ke atas akibat dari pada kebatan lengan bajunya itu telah menarik tubuh Wei Beng Yan yang sedang berlutut beberapa puluh meter jauhnya, kehadapannya! „Ai!” Wei Beng Yan berseru kaget di dalam hatinya. „Dia telah mengangkat dan menarik tubuhku tanpa menyentuh anggota badanku, jika aku berhasil mewarisi ilmu silatnya, aku pasti dapat membalas dendam dengan mudah!” „Coba aku lihat cincin itu!” kata lagi Yu Leng. Masih dalam keadaan berlutut Wei Beng Yan lalu menyerahkan cincin yang diminta itu, ia berada dekat sekali sehingga ia dapat melihat muka Yu Leng yang pucat, rambutnya panjang menutupi pundaknya, perawakannya jangkung kurus, tetapi kedua matanya bersinar tajam sekali.
239
„Setelah isteriku meninggal dunia,” Yu Leng berkata sambil memeriksa cincin baja itu. „Aku lalu bertapa di lembah ini, ayahmu adalah kawan akrabku, sayang sekali ia harus mati lebih dulu...... tetapi kita semua juga harus mati bukan......?” Mendengar ayahnya dikatakan ‘harus mati lebih dulu’ Wei Beng Yan merasa pilu sekali, ia hanya menundukkan kepalanya. „Melihat usiamu yang masih muda,” kata lagi Yu Leng, „aku yakin kau hanya mengenal aku sebagai Yu Leng yang bertapa di dalam lembah Yu-leng-kok ini, siapa namaku yang asli dan siapa sebenarnya aku ini, kau tentu tidak mengetahui!” Wei Beng Yan menjadi heran mendengar suara Yu Leng yang lemah lembut itu, ia tidak menduga sama sekali bahwa orang yang sering melemparkan mayat-mayat keluar dari lembah Yu-leng-kok itu halus sekali tutur katanya. „Semenjak aku berdiam di sini,” Yu Leng melanjutkan. „tidak ada orang yang berani menyebut namaku yang sejati. Kau telah aku terima menjadi muridku dan menurut aturan yang lazim berlaku, kau harus mengetahui namaku, tetapi namaku sudah mati. Ya, sudah mati dan terkubur bersama-sama jenazah isteriku selama sepuluh tahun yang lalu! Kau panggil saja aku Suhu dan tak usah kau bersusah payah mencari tahu tentang riwayat pertualanganku di kalangan Bu-lim!” Wei Beng Yan hanya mengangguk ia mulai mengenal sifat dan tabiat gurunya yang aneh itu. Yu Leng bersenyum getir dan berkata lagi.
240
„Ilmu silat ayahmu berbeda sekali dari ilmu silat yang bakal kau pelajari, tetapi segala ilmu silat boleh dikatakan dasarnya serupa. Setelah aku mengajari ilmu Tay-yang-sin-kong (Tenaga sakti) dan Tay-yang-sin-jiauw, ditambah dengan kecerdasanmu dan ilmu silat yang kau telah warisi dari ayahmu, maka kau sudah memiliki ilmu silat yang sukar dicari tandingannya di kalangan Bu-lim. Dengan kemahiranmu nanti, soal membalas dendam adalah soal yang remeh sekali!” Mendengar penjelasan itu Wei Beng Yan jadi girang sekali, ia menjura menghaturkan hormat dan terima kasihnya yang tinggi. Sekonyong-konyong Yu Leng berdiri lalu sambil mengangkat tinjunya ia bergerak dan menyerang udara kosong, berbareng dengan meluncurnya tinju yang besar dan bulat itu, terdengarlah suara. „Braakk.....!” Wei Beng Yan menjadi terkesiap melihat akibat dari pada pukulan Yu Leng itu, pohon besar yang tadi berdiri dengan teguhnya telah tumbang terpukul oleh hembusan angin tinju itu! „Suhu,” kata Wei Beng Yan, “apakah itu akibat daripada tenaga sakti ilmu Tay-yang-sin-kong?” „Ya!” sahut Yu Leng sambil mengangguk dan bersenyum. „Suatu tenaga dalam yang dahsyat sekali!” Wei Beng Yan tanpa terasa berkata.
241
„Aku bertapa di dalam lembah ini sudah sepuluh tahun lamanya, selama jangka waktu itu aku senantiasa berlatih, sehingga ilmu silatku selalu menampakkan kemajuan-kemajuan. Sebetulnya, segala benda manusia atau binatang dapat aku musnahkan dengan Tay-yang-sin-kong, bila sasaran itu berada tidak melampaui jarak lima meter! Kau harus pelajari ilmu ini dan dalam waktu dua tahun yang mendatang ini kau harus sudah dapat memusnahkan segala sesuatu dalam jarak sasaran dua setengah meter! Dan kau tentu sudah mengetahui bahwa setelah aku mewariskan ilmu-ilmu tersebut, atau setelah lewat dua tahun, aku harus menyusul isteriku di dunia baka!” Mendengar ucapan itu dan melihat kuku yang panjang dan runcing menghiasi jari tangan gurunya, Wei Beng Yan bergidik. „Suhu seorang yang berkepandaian sangat tinggi,” pikirnya. ,,Mengapa dia harus membunuh diri? Untuk apakah manusia hidup di dunia? Apakah hanya untuk menanti mati??” „Sepuluh tahun yang lalu, sambil membawa jenazah isteriku aku datang di lembah ini, dan di bawah batu gunung inilah aku telah mengubur isteriku itu. Aku akan menyusulnya di alam baka, tetapi sebelum itu aku harus memperoleh kembali ketiga mustika isteriku, yang sekarang entah berada di mana.” „To-ji (murid) tidak berani minta banyak. To-ji sangat berterima kasih telah diterima sebagai murid!” „Orang hidup hanya menanti mati, dan kita harus mati dengan perasaan puas......!”
242
Ucapan Yu Leng itu sangat disetujui oleh Wei Beng Yan, ia tidak takut mati asal saja tekadnya menuntut balas terpenuhi. „Aku akan mulai menurunkan kepandaianku setelah lewat lima hari, selama waktu itu kau diperbolehkan bergerak ke mana saja kecuali meninggalkan lembah ini.” „Baik Suhu, To-ji akan menanti kedatangan Suhu di atas batu gunung ini.” Pada malam itu mereka tidur bersama-sama, tetapi keesokan hatinya Wei Beng Yan tidak melihat Suhunya berada di situ. Tepat pada hari keenam, Yu Leng tiba-tiba telah muncul lalu sambil bersenyum ia mengajak Wei Beng Yan ke suatu tempat yang rupanya sering dipergunakan Yu Leng untuk berlatih ilmu silat. Maka mulai hari itu dan selanjutnya Yu Leng telah memberi pelajaran ilmu silat dengan sabar serta seksama sehingga dalam waktu dua tahun itu Wei Beng Yan telah berhasil mewarisi jurus-jurus aneh dari ilmu Tay-yang-sin-kong dan Tay-yang-sin-jiauw. TIGABELAS Demikianlah dua tahun telah lewat, dan bulan tujuh sudah tiba lagi. Selama berada di dalam lembah Yu-leng-kok, Wei Beng Yan sering melihat gurunya menggantung lentera-lentera kertas merah di dekat batu gunung yang besar itu sambil menarik napas dan mengucurkan air mata, ia segera mengetahui bahwa saat untuk gurunya membunuh diri sudah hampir tiba!
243
Tanggal sebelas lewat, tanggal duabelas, tigabelas dan empatbelas...... selama empat hari empat malam itu gurunya tak pernah berlalu dari batu gunung. Dan akhirnya tanggal limabelas tiba, gumpalan awan hitam terapung-apung di angkasa raya, angin dingin meniup santar dan hujanpun lalu turun rintik-rintik. Suasana di waktu itu serupa benar dengan suasana pada malam pertengahan bulan tujuh dua tahun yang lalu ketika ia berjalan masuk ke dalam lembah itu atas petunjuk-petunjuk si kakek pincang Ouw Lo Si. Tiba-tiba Yu Leng menangis sedih, demikian terharunya Wei Beng Yan sehingga ia tidak dapat menahan perasaannya yang bergolak dan akhirnya iapun menangis tersedu-sedu! „Beng Yan! Kau telah mewarisi ilmu silatku, jika kau terus berlatih dengan rajin dan tekun, maka dalam jangka waktu lebih kurang duapuluh tahun, kau pasti akan menjadi terlebih lihay daripadaku.” „Suhu! Janganlah kita perbincangkan lagi soal ilmu silat! Subo (isteri guru) telah meninggal dunia, aku yakin rohnya telah bersemayam di tempat yang layak, mengapa Suhu masih saja bersedih hati?” „Kau masih muda dan belum mengetahui apa artinya cinta bagi penghidupan! Semenjak Subo mu meninggal dunia watakku berubah banyak sekali. Aku telah membunuh banyak orang yang masuk ke dalam lembah ini disebabkan mereka telah membawa lentera kertas yang bentuk maupun warnanya aku tidak sukai!”
244
„Mengapa Suhu hanya menyukai lentera kertas seperti yang pernah To-ji bawa ke sini dua tahun yang lalu?” „Aku sangat menyintai isteriku, bentuk serta warna lentera kertas yang kau bawa dulu adalah kesukaannya. Cintaku demikian besar terhadap Subo mu itu, sehingga aku menjadi gusar jika melihat lentera kertas yang tidak serupa dengan kesukaannya itu....” Wei Beng Yan tidak menanyakan lagi, ia hanya merasa heran mengapa Ouw Lo Si mengetahui rahasia lentera kertas ini? Ketika mengingat si kakek, ia meraba-raba ketiga sampul surat yang telah diberikan oleh kakek itu, tiga sampul yang akan merupakan TIGA SAMPUL MAUT bagi dirinya sendiri!! Sekonyong-konyong Yu Leng berkata lagi dengan suara keras. „Beng Yan! Kau harus tinggalkan aku jauh-jauh. Jika kau masih suka tinggal di sini, aku melarang kau datang lagi sebelum tengah malam, di waktu itu yang harus kau perbuat yalah tancap dua batang kayu di depan batu gunung ini!” „Suhu! Subo pasti tidak menyetujui tindakan Suhu ini,” sahut Wei Beng Yan yang mengetahui bahwa gurunya ingin membunuh diri. „Suhu dapat memerintahkan apa saja, tetapi kali ini To-ji harus membangkang, To-ji tidak ingin meninggalkan Suhu sendirian di sini!” Yu Leng bersenyum puas melihat kebaktian muridnya, lalu sambil merogoh sakunya ia berkata lagi.
245
„Ketiga jarum Yan-bie-tin ini harus DIKEMBALIKAN kepada pemiliknya, yang terkenal di kalangan Kang-ouw sebagai si gaetan baja tinju besi!” Setelah berkata demikian, ia lalu mengulur tangannya untuk menyerahkan ketiga jarum tersebut. Tetapi ketika Wei Beng Yan pun mengulurkan tangannya untuk menerima jarum-jarum itu, tiba-tiba Yu Leng membentak. „Enyahlah dari hadapanku!” Berbareng dengan berakhirnya bentakan itu, dengan tiba-tiba tubuh Wei Beng Yan jadi terpental ke belakang, ia berusaha menahan agar tidak jatuh tetapi suatu tenaga yang dahsyat sekali telah memaksanya bergulingan di tanah! „Akan kusergap dia!” pikirnya selagi bergulingan di tanah. Maka begitu lekas dapat berdiri lagi, Wei Beng Yan segera menerkam gesit seperti harimau, ke arah tadi Yu Leng sedang duduk bersila, ia telah menubruk tempat kosong, Yu Leng sudah tidak berada di situ lagi! „Suhu! S u h u......!” ia berteriak kalap. Tidak terdengar suara sahutan. Ia berusaha mencari, tetapi setelah hampir seluruh pelosok lembah itu ia putari, Yu Leng tetap tidak kelihatan! Maka dengan tindakan lesu ia berjalan balik ke arah batu gunung, tatkala itu hari sudah menjelang tengah malam.
246
Wei Beng Yan berjalan sambil menundukkan kepala, ketika hampir tiba di batu gunung ia menjadi terperanjat sekali -- di atas batu gunung itu tampak Yu Leng tengah berdiri sambil mendongak ke langit, yang aneh kini Yu Leng menutupi mukanya dengan selembar kain! Dengan satu loncatan ia sudah berada di depan batu besar itu. „Suhu! Apakah yang telah terjadi?” tanyanya. „Aku telah berputar-putar mencari.” „Mulai hari ini kau tidak usah usil-usil urusanku lagi, sekarang pergilah!” „Suhu......!” „Pergi!” Wei Beng Yan menjadi heran sekali, mengapa sikap dan nada gurunya mendadak berubah demikian kasarnya. Ia sebagai seorang murid tidak berani membangkang, setelah diusir ia segera bertindak untuk meninggalkan gurunya meskipun hatinya merasa bingung akan perintah gurunya itu. Ia berjalan sambil sebentar-sebentar menoleh ke belakang, ketika sudah berada beberapa ratus meter dekat mulut lembah, tiba-tiba ia mendengar gurunya memanggil. „Beng Yan!!” Wei Beng Yan memutar tubuhnya dengan mata terbelalak, ia betul-betul menjadi bingung bukan main, apakah Yu Leng memanggilnya agar ia kembali?
247
„Beng Yan!! Apakah kau tidak mendengar suaraku?” „Ya Suhu! To-ji mendengar suara panggilan Suhu!” seru Wei Beng Yan dengan hati berdebar-debar „Kalau begitu kau kemarilah!” Wei Beng Yan lekas-lekas bertindak untuk menghadap gurunya. Setelah berada dekat batu gunung lagi, Yu Leng lalu berkata. „Apakah kau ketahui ini benda apa?” sambil mengeluarkan satu barang dari dalam bajunya. Wei Beng Yan terkejut melihat benda itu, yalah sarung tangan Ciam-hua-giok-siu. Ia mengetahui sebelum masuk ke dalam lembah bahwa Suhunya memiliki tiga benda pusaka, tetapi benda pusaka itu telah dicuri orang, entah siapa. Yu Leng sendiri telah mengatakan bahwa ia ingin mencari ketiga pusaka itu sebelum mati, kenapa sekarang sarung tangan itu berada di tangannya? Apakah selagi ia memutari lembah, Yu Leng telah berhasil mendapatkan kembali pusaka itu? „Tidak mungkin!” pikirnya. „Apakah itu bukan sarung tangan Ciam-hua-giok-siu?” tanyanya kepada Yu Leng. „Betul!” sahut Yu Leng sambil melemparkan benda itu kepada Wei Beng Yan. „Terimalah pusaka itu sebagai tanda mata dariku!” Wei Beng Yan meneliti benda itu sesaat lamanya.
248
„Apakah dengan pemberian tanda mata ini, Suhu......” „Tidak! aku tidak jadi membunuh diri! Aku telah mengambil keputusan baru, yalah hidup lagi sepuluh tahun untuk membereskan suatu urusan yang belum aku selesaikan. Kau telah mahir melancarkan, meskipun belum begitu sempurna, ilmu-ilmuku yang sakti, aku hanya khawatir......” „Apakah yang Suhu khawatirkan?” „Pepatah kuno mengatakan. Orang dapat menggambar seekor macan dengan kulitnya yang loreng, tetapi tiada satu orangpun mampu melukis tulangnya sekali! Atau dengan lain perkataan, kita dapat mengenal orang, tetapi kita tak dapat mengenal isi hatinya!” „Apakah Suhu khawatir akan kepatuhanku terhadap Suhu?” „Tidak! Aku cukup mengenal keluhuran hatimu, tetapi meskipun demikian, dalam jangka waktu sepuluh tahun ini kau dapat berubah pikiran serta pendapat, mungkin juga kau akan membenci aku! Maka untuk mencegah kejadian itu, aku kira mulai hari ini sebaiknya kita putuskan saja hubungan kita sehagai guru dan murid!” Jika pada waktu itu guntur meledak tepat di sisi telinganya, mungkin Wei Beng Yan tidak demikian kaget seperti ia mendengar ucapan Yu Leng itu. Apakah ia telah mengucapkan sesuatu yang menyinggung perasaan gurunya? Yu Leng memang seorang yang angkuh tetapi selama telah tinggal bersama-sama lebih dari dua tahun, ia telah dapat menyesuaikan diri dengan keangkuhannya itu.
249
„Suhu! Mengapakah Suhu berpikiran demikian?” „. . . . . . . . .” „Jika Suhu masih tidak percaya akan kepatuhanku itu, To-ji bersedia bersumpah untuk mendengar segala perintah suhu!” „Kau dapat melanggar sumpahmu sendiri!” „Biarlah langit menjadi saksi bahwa jika To-ji melanggar sumpah, To-ji akan tidak diberkahi dalam usaha To-ji membalas dendam!” „Ha, ha, ha! Jika kau berani bersumpah demikian, mau tak mau aku harus percaya bahwa hubungan kita tetap masih ada dan tak akan retak kelak!” Wei Beng Yan berlutut untuk memberi hormat, tetapi Yu Leng mengebat lengan bajunya sambil berkata. „Jangan berlutut! Sekarang telah tiba saatnya untuk kau pergi dan membereskan urusanmu sendiri, kesempatan untuk kita berjumpa lagi di kemudian hari masih banyak!” Wei Beng Yan telah tinggal bersama gurunya selama dua tahun dan ternyata gurunya itu seorang yang cukup lemah lembut meskipun wataknya angkuh, ia telah manganggap gurunya itu sebagai ayahnya sendiri, maka ketika diperintahkan untuk pergi, ia merasa berat sekali untuk mengangkat kaki dari lembah itu, tetapi ia tidak berani membangkang, bukankah ia baru saja bersumpah untuk mendengar segala perintah gurunya? Berpikir sampai di situ
250
ia segera memberi hormat, lalu bertindak pelahan-lahan keluar dari dalam lembah Yu-leng-kok. EMPATBELAS Wei Beng Yan berkelana kebanyak tempat untuk mencari ketiga musuh ayahnya, tetapi ia tidak berhasil, maka ia lalu menuju ke rumah seorang sahabat ayahnya yang bernama Gan Leng Hong, pada siapa ia telah menitipkan pedang ayahnya dua tahun yang lalu. Ia menjadi terkejut sekali ketika mendapat kenyataan bahwa Gan Leng Hong kini sudah bukan lagi seorang jago silat yang disegani. Gan Leng Hong telah menjadi seorang cacad...... kedua matanya sudah buta! „Gan Supee, apa yang telah terjadi atas dirimu?” tanya Wei Beng Yan. Gan Leng Hong bersenyum getir dan tidak menyahut. „Gan Supee, siapakah yang telah menganiayamu?” „Ai! Aku tidak nyana kedua jahanam itu ingin juga mencelakai aku!” kata Gan Leng Hong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, „Ilmu silat yang telah aku pelajari dengan susah payah telab dibikin musnah oleh kedua iblis itu!” „Siapakah kedua iblis itu?” „Lebih baik kau tidak mengetahui siapa iblis itu, jika kau berhasil membalas dendam ayahmu aku sudah merasa puas!”
251
„Tetapi aku tidak akan merasa puas jika tidak mengetahui siapa musuh-musuh Gan Supee yang kejam itu!” „Terimalah pedang Ku-tie-kiam ayahmu ini, seperti telah aku katakan tadi, jika kau berhasil membunuh ketiga musuh ayahmu, aku sudah merasa puas!” „Aku tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum Gan Supee memberitahukan siapa yang telah menganiaya Gan Supee!” „Beng Yan, apakah gunanya kau mendesak demikian rupa? Apakah kau kira kedua mataku ini akan dapat melihat lagi jika aku memberitahukan juga siapa musuh-musuhku itu?” „Mata yang sudah dirusak tidak akan dapat melihat lagi. tetapi orang yang membutakan mata itu harus menerima hukuman! Maka tolonglah Gan Supee beritahukan siapa musuh-musuh Gan Supee itu dan apa sebabnya jahanam-jahanam itu berbuat demikian kejam terhadap Gan Supee?” Gan Leng Hong menundukkan kepalanya berpikir, ia merasa kewalahan juga didesak terus. „Baiklah jika kau ingin juga mengetahui,” sahutnya. „Kedua iblis yang telah menganiayaku adalah orang yang telah menewaskan ayahmu!” „Hah! Soat-hay-siang-hiong......?”
252
„Betul! Soat-hay-siang-hiong! Ha, ha, ha! Kedua mataku dibikin buta, ilmu silatku musnah karena urat di punggungku telah diputuskan! Ha, ha, ha.......” Wei Beng Yan menjadi terharu sekali melihat keadaan Gan Leng Hong yang sudah seperti orang gila itu. „Tetapi mengapa mereka harus menganiaya Gan Supee?” tanyanya „Karena aku adalah sahabat terkarib ayahmu, karena khawatir aku membikin pembalasan, mereka telah menganiaya aku dengan mempergunakan racun sehingga aku pingsan dan di waktu inilah...... aku masih dapat merasakan suatu besetan kulit di punggungku setelah itu aku tidak dapat berdiri lagi...... tidak bisa berdiri lagi! Ha, ha, ha.......” Suaranya yang seram itu mendadak berhenti, Wei Beng Yan menghampiri sambil memanggil-manggil Supeenya, tetapi yang dipanggil telah menjadi mayat! Baru saja keluar dari lembah Yu-leng-kok, Wei Beng Yan telah ketemui kekejaman kedua iblis musuh besarnya itu, sehingga napsunya membalas dendam semakin berkobar. Setelah mengubur jenazah Gan Leng Hong ia segera menuju ke pegunungan Kun-lun-san untuk mencari musuhnya itu, tetapi ia tidak berhasil menemui kedua iblis itu. Maka pada malam tanggal limabelas bulan delapan menurut hitungan Im-lek, karena tertarik oleh keindahan sang puteri malam, maka ia telah pergi pesiar dengan perahu di atas telaga tong-teng, sehingga di luar dugaan sama sekali di situ ia bertemu dengan Siauw Bie. Dan ketika ia
253
hampir berhasil membalas dendam ayahnya, yaitu ketika bertempur dengan kedua iblis Soat-hay-siang-hiong, mendadak suasana di seluruh telaga menjadi gelap gulita! Tatkala itu Siauw Bie juga sudah berada di atas Lui-tay dengan maksud membantu Wei Beng Yan menggempur kedua iblis itu, tetapi ketika suasana menjadi gelap, ia jadi gugup. Dalam kegelapan ia memanggil Wei Beng Yan. „Hei! Kau berada dimana?!” Siauw Bie terpaksa memanggil Wei Beng Yan dengan ‘Hei’, karena waktu itu ia belum mengetahui nama si pemuda. Ia terkejut bukan main ketika merasa lengannya dipegang orang, ia meronta dan berusaha membebaskan tangannya itu sambil melepaskan satu jotosan dengan tangannya yang bebas, jotosannya itu ditangkis dan ia menjadi kaget berbareng girang ketika mendengar. „Siauw siocia, jangan menyerang! Akulah yang memegang tanganmu!” Itulah suara Wei Beng Yan, pemuda pujaan hatinya! Sejenak kemudian ia mendengar lain orang membentak. „Hei, kamu berdua! Mengapa masih berlaku sungkan? Ayoh ikut aku!” Siauw Bie menjadi bingung mendengar ucapan orang yang ia tak kenal itu, tetapi terdengar Wei Beng Yan, berkata. „Suhu! Kedua orang itu adalah musuh-musuh besarku yang.......”
254
„Cukup!” orang itu memotong. „Kedua orang itu tidak boleh kau lukai! Mereka adalah kawan-kawan karibku!” sahut Yu Leng. Wei Beng Yan betul-betul tidak percaya jika Yu Leng bisa memerintahkan demikian, apakah dia ini Yu Leng? Demikianlah ia menanya dirinya sendiri, tetapi ketika mengingat hanya gurunya saja seorang yang dapat memadamkan semua lampu dan obor demikian cepatnya, rasa ragu dan curiganya mendadak lenyap. „Beng Yan! Kau harus, lekas-lekas berlalu dari sini! Ayoh ikut aku!” kata lagi Yu Leng. „Baik Suhu!” sahut Wei Beng Yan sambil melepaskan tangan Siauw Bie dan mengikuti Yu Leng. „Kau mau ke mana?” tanya Siauw Bie. „Entahlah......!” „Aku ikut! Jangan tinggalkan aku!” „Siauw siocia, aku......” „Beng Yan, ajaklah siocia itu bersamamu!” kata Yu Leng. Bukan main girangnya Wei Beng Yan mendengar perintah itu, ia sambar tangan Siauw Bie lalu sambil memeluk gadis itu ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya Gak-hie-to-cui (Buaya hitam menyeberangi sungai), untuk menyeberang ke tepi telaga dalam suasana gelap gulita.
255
Setelah tiba di sana, mereka tidak melihat Yu Leng, sejenak kemudian awan hitam membuyar, bulan purnama bersembul kembali, dua pasang mata bertemu dan mendebarkan kedua insan. Meskipun kedua pasang bibir tertutup rapat tetapi, mereka tokh mengerti apa yang terkandung dalam lubuk hati mereka masing-masing! „Tadinya aku mengira kau seorang pelajar yang mengerti juga sedikit ilmu silat, setelah melihat kau bertempur...... Ai......” kata Siauw Bie sambil bersenyum manis. „Siauw siocia terlalu memuji!” „Apakah kau orang yang telah beruntung mewarisi ilmu silat Yu Leng, orang sakti dari lembah Yu-leng-kok?” Wei Beng Yan bersenyum dan mengangguk. „Tetapi mengapa Yu Leng tidak membunuh diri setelah mewariskan ilmunya?” Wei Beng Yan menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang. „Kisahnya agak panjang,” sahutnya, „aku tidak dapat menjelaskan di sini.” Setelah itu ia lalu berjalan mundar-mandir di tepi telaga itu sambil menggendong kedua tangannya di belakang.
256
„Ayahku telah tewas dianiaya orang,” katanya lagi, „mengapa guruku justru melarang aku membunuh orang yang telah membunuh ayahku itu? Ai......” Tidak lama kemudian tampak sebuah perahu mendatangi, ketika sudah menepi kedua muda mudi itu dapat mengenali bahwa orang yang berada di atas perahu adalah Yu Leng sendiri. „Suhu!” Wei Beng Yan memanggil sambil menghampiri. Siauw Bie yang pernah mendengar bahwa Yu Leng itu adalah seorang jago silat yang luar biasa lihaynya, segera memberi hormat seraya berkata. „Aku Siauw Bie merasa heruntung sekali dapat menjumpai Locianpwee!” sambil coba melihat wajah Yu Leng yang ditutupi oleh selembar kain itu, ia menjadi bergidik ketika dapat melihat sepasang mata yang bersinar terang. „Beng Yan,” kata Yu Leng, „katakanlah jika kau merasa tidak puas terhadapku!” „To-ji hanya merasa heran Suhu tidak memperkenankan To-ji membunuh Soat-hay-siang-hiong!” „Jika kau masih menganggap aku sebagai gurumu, kau harus mentaati segala perintahku, apakah kau sudah mulai membangkang?” Wei Beng Yan jadi sangat putus asa sekali.
257
„Apa gunanya aku meyakinkan ilmu yang dahsyat,” katanya di dalam hati, „jika aku dilarang membunuh musuh-musuh besarku?” Yu Leng menatap tajam ke arah Siauw Bie, lalu ia berkata. „Jadi kalian berdua tidak ingin berpisah? -- Baiklah kalian harus menanti kedatanganku di rumah gedung keluarga Tie di kota Bu-ouw pada hari lusa.” Setelah selesai bicara, dengan satu loncatan yang lincah bukan main ia telah berlalu dari situ. Suasana di telaga sudah terang lagi, dari kejauhan tampak orang-orang yang barada di atas perahu atau kapal sungai, semua tengah sibuk, itulah orang-orang Siauw Cu Gie! „Siauw siocia,” kata Wei Beng Yan, „untuk tidak membikin kakak laki-lakimu sibuk tidak keruan, aku kira ada baiknya kau balik saja kesana!” Dengan tiba-tiba wajah Siauw Bie berubah jadi cemberut masam, lalu ia menyahut dengan sikap gusar yang dibikin-bikin. „Barusan kau sendiri yang memperkenankan aku mengikutimu, sekarang sekonyong-konyong kau berubah pikiran!” Wei Beng Yan bersenyum. „Baiklah, mari kita berangkat ke kota Bo-ouw!” sahutnya.
258
Dari telaga tong-teng mereka langsung menuju ke kota tujuan mereka dan tiba di sana lebih cepat daripada Yu Leng, yang tiba di situ pada malam harinya. Demikianlah Wei Beng Yan telah bercerita tanpa mengetahui bahwa Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu telah mendengar ceritanya itu. „Ouw Si-ko,” Khouw Kong Hu berbisik, „apakah kisah Wei Beng Yan itu dapat dipercaya?” „Orang yang telah ditembusi panah asmara, tidak mungkin berdusta terhadap kekasihnya!” sahut Ouw Lo Si dengan suara rendah, „Tetapi kita harus senantiasa berusaha, agar kita tidak bentrok dengannya. Karena kini ia betul-betul seorang pemuda yang dahsyat sekali!” Tetapi suara yang rendah itu ternyata dapat juga didengar oleh Wei Beng Yan, yang segera terdengar menegur. „Apakah Suhu sudah kembali?” „Ai...... coba lihat, betapa hebat indera pendengarannya!” Ouw Lo Si berbisik dengan suara yang hampir tidak terdengar. Khouw Kong Hu yang sudah sangat gelisah, ingin segera meloncat keluar dari tempat sembunyi, bagus saja Ouw Lo Si keburu menahan jika tidak ia tentu sudah dapat dilihat oleh Wei Beng Yan yang ketika itu sudah berdiri dekat jendela. Kalau saja Wei Beng Yan melongok ke bawah, maka terpergoklah perbuatan Ouw Lo Si
259
dan Khouw Kong Hu yang telah mencuri mendengar percakapan orang itu. Justru pada saat yang gawat itu, tiba-tiba terdengar suara. „Tok! Tok! Tok!” yang nyaring sekali. Suara itu adalah suara orang mengetok kayu sebagaimana lazimnya dilakukan oleh penjual bakmi atau bakso, yang dibarengi dengan suara orang menyebut. „O-mi-to-hud!” Dan tiba-tiba tampak sesosok bayangan mencelat cepat laksana kilat melewati tembok yang mengelilingi rumah gedung itu. Sekejapan saja bayangan itu telah masuk ke dalam ruangan besar di mana Wei Beng Yan dan Siauw Bie berada. Ilmu meringankan tubuh yang telah diperlihatkan oleh bayangan itu telah mempesonakan Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu. Empat pasang mata yang di dalam maupun yang di luar ruangan dengan tertib mengikuti gerak-gerik bayangan yang baru datang itu, mereka dapat melihat seorang Nikouw yang sudah berusia lanjut, mengenakan jubah warna abu-abu, tengah berdiri mengawasi Wei Beng Yan dan Siauw Bie bergantian. Tangan kirinya memegang kayu tok-tokan yang mengkilat, sedang tangan kanannya memegang sepotong kayu yang diberi lobang panjang di tengah-tengahnya. Wei Beng Yan mengkerutkan keningnya sejenak, kemudian sambil bersenyum ia berkata.
260
„Apakah Suthay (panggilan kepada seorang rahib wanita) mencari seseorang?” „Siapakah sebenarnya Sicu (saudara) ini? Mengapa berada di sini?” Nikouw itu balik bertanya dengan tidak kalah herannya. Wei Beng Yan menjadi bingung ditanya demikian, karena ia datang di situ atas perintah gurunya tanpa diberitahukan apa sebabnya. Kemudian Si Nikouw mengangkat kepalanya dan memperhatikan ke tujuh lentera kertas merah yang tergantung di situ. „Hm! Ji Cu Lok pun berada di sini?” kata si Nikouw. „mengapa aku tidak melihat dia?” Pertanyaan itu membikin Wei Beng Yan menjadi tambah bingung. „Siapa itu yang dipanggil Ji Cu Lok?” pikirnya. Ouw Lo Si yang masih bersembunyi di luar jendela pun menjadi terkejut mendengar nama itu disebut-sebut! Siapakah sebenarnya Ji Cu Lok itu? Beberapa puluh tahun yang lalu Ji Cu Lok dan isterinya Goei Su Nio pernah menggetarkan kalangan Bu-lim dan tiada seorangpun mampu menggempur mereka. Mereka adalah Yu Leng dan isterinya, Thian-hiang-sian-cu! Dan si Nikouw adalah Ceng-sim Lo-ni yang bertapa di pegunungan Go-bi-san, mungkin kedatangannya di situ adalah atas permintaan
261
ke tiga saudara Tie, agar si Nikouw membalaskan sakit hati mereka terhadap Yu Leng! „Sicu, mengapa kau diam saja, apakah Ji Cu Lok tidak ada di sini?” Ceng Sim Lo-ni menanya lagi. Baru saja si Nikouw bertanya, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa berkakakan, bersamaan dengan itu seorang yang menutupi mukanya dengan selembar kain hitam sudah menerjang masuk ke dalam ruangan itu dengan gerakan yang lincah bukan main! „Siapa kau!” tanya Ceng Sim Lo-ni, ketika melihat orang itu tengah menatapnya dengan angkuh. „Barusan kau menanyakan aku setelah melihat ketujuh lentera kertas merah tergantung di sini,” sahut orang itu, yang bukan lain daripada Yu Leng. „Mengapa setelah aku datang kau masih menanyakan aku siapa?” Setelah sadar dari perasaan heran tentang sikap Yu Leng itu, si Nikouw lalu berkata. „Ji Cu Lok, lama juga aku tidak menjumpaimu, apakah kau sekarang menjadi takut wajahmu dilihat orang?” „Tidak perlu kau mengetahui maksudku, kau juga tidak perlu mengajukan pertanyaan yang tolol itu!”
262
„Semenjak isterimu meninggal dunia, kau telah berubah banyak sekali! Bagaimana dengan usulku agar kau menjadi seorang paderi daripada membunuh diri mengikuti isterimu itu?” „Apakah kau kira otakku sudah miring sehingga aku menuruti saja usulmu yang memang sinting itu! Menjadi paderi, ha, ha, ha!” Ceng Sim Lo-ni jadi terperanjat dikatakan sebagai seorang sinting, tetapi ia sebagai seorang yang selalu menyebar kebaikan kepada semua orang dan berjiwa besar tidak ingin menggubris ejekan itu lalu ia berseru keras sambil menoleh ke lain jurusan. „Hei! Apakah pemilik rumah ini tidak ada di rumah?” Tentu saja panggilannya itu tidak ada sahutan, lalu ia menoleh ke arah Yu Leng dan berkata. „Ji Cu Lok, apakah kau ketahui ke mana perginya ke tiga saudara Tie?” ,,Ha, ha, ha......” „Mengapa kau tertawa?” „Karena ke tiga saudara Tie telah pergi jauh. Ya, jauh sekali!” Ceng Sim Lo-ni menjadi heran, karena ke tiga saudara Tie selalu menantikan kedatangannya yang tiga tahun sekali itu. “Aku menanyakan apakah kau ketahui ke mana mereka telah pergi?”
263
„Tentu saja aku mengetahui. Mereka sudah pergi ke akhirat dan tengah menantikan kedatanganmu di sana!” „Mengapa mereka tewas? Siapa yang telah membunuh mereka?” „Hm! Nikouw sinting! Jangan kau berlagak tidak tahu! Bukankah ketiga saudara bedebah itu telah pergi ke markas Kong-ya Coat untuk merebut Ciam-hua-giok-siu dua tahun lebih yang lalu? Mereka ingin merampas benda pusaka isteriku maka aku telah memberi sedikit pelajaran kepada mereka! Kau masih berlagak menanya-nanya, bukankah kedatanganmu di sini untuk membalaskan sakit hati mereka?” Ejekan itu telah didengar juga oleh Wei Beng Yan, Siauw Bie dan Ouw Lo Si bersama Khouw Kong Hu yang tengah bersembunyi di luar jendela, Wei Beng Yan menjadi gelisah ketika mengetahui sikap gurunya demikian rendahnya karena iapun mengetahui bahwa Ceng Sim Lo-ni adalah seorang biarawati yang selalu melakukan kebajikan, yang dulunya pernah juga berkecimpungan di kalangan Kang¬ouw dan terkenal sebagai Jin Sim Li-hiap (pendekar wanita yang baik hati). „Apakah guruku sebagai seorang jago silat dari golongan durhaka?” tanyanya di dalam hati. Ceng Sim Lo-ni tampaknya berusaha keras mengendalikan kemarahannya, ia mengetok kayu tok-tokannya tiga kali. Suara ketokannya itu luar biasa nyaringnya, sehingga mendenging-denging di tiap kuping orang yang berada di situ.
264
„Ji Cu Lok,” katanya sungguh-sungguh, ,,jika kau betul-betul memandang kepadaku, tidak seharusnya kau berbuat demikian kejam kepada ketiga keponakanku itu!” Yu Leng bersikap congkak sekali. „Aku bukan saja sudah bersikap kejam terhadap kemanakan bedebahmu itu,” sahutnya, „yang ingin merebut benda pusaka isteriku, tetapi aku akan bertindak kejam pula terhadapmu yang ingin turut campur urusan orang lain!” Dengan tiba-tiba tampak tubuh Ceng Sim Lo-ni menggigil saking marahnya, tetapi ia masih tetap berusaha menahan amarahnya itu. „Ha, ha, ha! Aku sudah lama mengetahui bahwa kau -- Ceng Sim Lo-ni, memiliki ilmu Cap-sa-ciang-bu-ciang (ilmu silat tinju yang dapat menaklukkan setan), dan kayu tok-tokan itu adalah senjatamu yang ampuh. Disamping itu kau masih mempunyai suatu ilmu menotok jalan darah yang disebut Im-yang-peng-si-tiam-hiat-go-hoat (ilmu menotok jalan darah dengan tenaga dalam maupun luar dengan mempergunakan kelima jari tangan yang dapat diubah-ubah), tidak ada taranya di kolong langit!” „Mengapa kau menyebut-nyebut itu semua?” „Karena aku ingin sekali mencoba kesemua ilmumu itu, ayoh keluarkan semua kepandaianmu untuk dinilai dengan ilmuku sendiri!” limaBeLAs
265
Bukan main marahnya Ceng Sim Lo-ni ditantang demikian kasarnya. Sambil melangkah mundur satu tindak ia menyahut. „Ilmu-ilmu yang telah kau sebutkan di atas tidak dapat diperbandingkan dengan ilmumu sendiri Thay-yang-sin-jiauw! Tetapi...... aku tidak gentar bertempur denganmu!” „Hm! Untuk bertempur denganmu aku tidak perlu turun tangan sendiri. -- Beng Yan!” Wei Beng Yan jadi kaget sekali mendadak mendengar namanya dipanggil oleh Yu Leng, tetapi ia lekas-lekas menyahut. „Suhu, To-ji berada di sini........” Yu Leng menoleh kepada muridnya dan berkata. „Kau telah berhasil mewarisi ilmu silatku, aku belum merasa puas sebelum melihat dengan mata kepala sendiri, kau mempergunakan ilmu-ilmu tersebut. Sekarang Ceng Sim Lo-ni, yang menurut hematku, merupakan lawanmu yang sepadan, berada di sini, maka kesempatan yang terbaik ini tidak boleh dilewatkan begitu saja! -- Pergunakanlah ilmu Thay-yang-sin-jiauw terhadap Nikouw ini!” Untuk ketiga kalinya Wei Beng Yan jadi terkejut tatkala mendengar perintah gurunya yang betul-betul aneh itu. Pertama ia diperintah membunuh si pemilik jarum Yan-bie-tin, kedua ia diperintah jangan membunuh Soat-hay-siang-hiong, musuh besarnya. Dan sekarang ia diperintahkan menggempur seorang biarawati yang selalu menjalankan kebajikan kepada semua orang!
266
Ia tentu saja segan melawan, karena mengetahui bahwa ilmu Thay-yang-sin-jiauw dahsyat sekali, barang siapa kena diserang oleh jurus cakaran maut itu, pasti tewas! Atau jika si korban masih beruntung tidak mati seketika, maka setelah lewat tujuh hari tujuh malam, korban itu pasti mati! Wei Beng Yan telah dilatih dan digembleng oleh ayahnya almarhum Wei Tan Wi, agar ia menjadi seorang yang luhur serta budiman, maka waktu mendengar gurunya memerintahnya melakukan perbuatan yang durhaka itu, ia sudah berniat melanggar sumpahnya sendiri. Membangkang! „Suhu,” katanya, „aku.......” „Kau mengapa? Apakah kau merasa gentar terhadap Nikouw ini?” „Suhu! Aku tidak dapat menuruti perintah Suhu itu! Mengapa kita harus bermusuhan terhadap seorang suci seperti Ceng Sim Lo-ni ini?” „Ngaco! Apakah kau sudah lupa akan sumpahmu? “ Wei Beng Yan merasa seolah-olah sebilah pisau yang tajam sekali membeset dadanya. Lalu sambil menatap gurunya ia menyahut. „Suhu! Aku pandang Suhu sebagai ayahku sendiri, mengapa......” „Berhenti! Jika kau takut aku akan turun tangan sendiri!” Wei Beng Yan menginsyafi bahwa semenjak gurunya tidak jadi membunuh diri, watak serta tabiat gurunya itu telah berubah
267
banyak sekali. Iapun mengetahui bahwa jika Yu Leng sendiri yang turun tangan, maka dapat dipastikan di muka bahwa Ceng Sim Lo-ni akan hancur lebur diganyang Thay-yang-sin-jiauw! Bukankah jika ia sendiri yang bertempur, ia dapat mencegah agar biarawati itu tidak tewas? Bahkan ia dapat membikin Ceng Sim Lo-ni tidak menderita luka apapun! Oleh karena itu ia lekas-lekas menyahut. „Baiklah! Aku akan menuruti perintah Suhu itu!” „Bagus! Tetapi pertama-tama kau harus mempergunalan pedang Ku-tie-kiam mu dahulu,” kata Yu Leng sambil memperhatikan gerak-gerik muridnya itu. “Baru kau pergunakan jurus Thay-yang-sin-jiauw jika kau merasa kewalahan!” Wei Beng Yan perlahan-lahan menghunus pedang pusaka ayahnya, tidak lama kemudian tampak ujung pedangnya tergetar dan berputar beberapa lingkaran, dengan gerak-gerakan itu ia sudah siap melancarkan serangan-serangan yang cepat serta dahsyat! Setelah melihat Wei Beng Yan merasa sungkan menempurnya, Ceng Sim Lo-ni jadi sangat bersimpati terhadap pemuda yang sudah berada di hadapannya itu. Iapun mengetahui bahwa pemuda itu memiliki ilmu silat yang lihay sekali, tetapi jika pemuda itu harus bertempur mempergunakan pedang, ia merasa yakin betul bahwa pemuda itu bukan tandingnya yang setimpal! Iapun merasa sungkan melukakan pemuda itu.
268
„Ji Cu Lok!” katanya, „mengapa kau menganggap aku demikian rendahnya? Mengapa kau tidak turun tangan sendiri? Apakah kau merasa takut?!” Yu Leng kelihatannya hanya menyengir dan tidak menyahut. Wei Beng Yan yang telah mempunyai suatu maksud lekas melancarkan serangan dengan jurus-jurus yang telah dapat dipelajarinya dari mendiang ayahnya. Ia khawatir tantangan biarawati itu betul-betul membikin Yu Leng gusar dan turun tangan sendiri! Segera tampak sinar pedang menyambar-nyambar laksana kilat, yang sebentar-sebentar lewat di atas kepala Ceng Sim Lo-ni! Serangan-serangan itu membikin Ceng Sim Lo-ni teringat akan Wei Tan Wi yang pernah menggemparkan kalangan kang-ouw. Ia dapat mengenali jurus-jurus yang dilancarkan oleh Wei Beng Yan itu, yalah jurus Liu-seng-kiam-hoat (Bintang sapu mencari mangsa). Ia merasa kagum sekali, karena pemuda itu dapat melancarkan jurus lebih dahsyat lagi daripada yang pernah dilancarkan oleh Wei Tan Wi dahulu! Lalu iapun mulai membuka serangan, digentak tok-tokan kayunya ke atas dan tampak kayu itu menyebarkan sinar yang berkilau-kilau laksana kilat! Setelah bertarung dua jurus, tiba-tiba terdengar Ceng Sim Lo-ni berseru.
269
„Berhenti! Anak muda, kau pernah apa dengan Wei Tan Wi tay-hiap?” Bukan main terharunya Wei Beng Yan mendengar nama ayahnya disebut, lalu sambil melangkah mundur dan menurunkan ujung pedangnya ke bawah ia menyahut. „Beliau adalah ayahku!” „O...... Aku telah dengar bahwa ayahmu telah dianiaya oleh Soat-hay-siang-hiong dan Eu-yong Lo-koay! Tetapi dengan ilmu silatmu yang lihay itu, aku merasa yakin kau dapat membalas dendam dengan mudah!” Ucapan itu membikin Wei Beng Yan penasaran sekali, karena ia teringat akan peristiwa di telaga Tong-teng, ketika kesempatan untuk membunuh musuh-musuh besarnya sudah di depan mata ia dicegah oleh Yu Leng. „Tetapi aku belum dapat melaksanakan maksudku itu,” sahutnya sedih. „Ai! Kau tidak boleh menunda-nunda lagi maksudmu itu!” „Beng Yan!” Yu Leng membentak gusar melihat tingkah laku muridnya itu. „Kau boleh bawa Ciam-hua-giok-siu dan ajak Siauw Bie berlalu dari sini! Tetapi awas! Di lain waktu kita berjumpa lagi, kita akan berhadapan sebagai musuh!” Wei Beng Yan agaknya menjadi gusar juga mendengar kata-kata gurunya yang kasar itu, kalau saja ia mengetahui watak dan tabiat
270
Yu Leng akan berubah demikian rupa, ia tentu akan berpikir seribu kali sebelum mengucapkan sumpahnya. Tetapi, waktu mengingat gurunya telah dengan susah payah dan rela mengajarinya ilmu Thay-yang-sin-jiauw dan Thay-yang-sin-kang, hatinya yang luhur menjadi lunak lagi! „Suhu! Aku akan menurut perintahmu!” sahutnya serba salah. „Apa benar kau masih patuh kepada perintahku!” „ Y...... a......” „Serang si Nikouw bedebah itu!” Dengan terpaksa Wei Beng Yan mengangkat pedangnya dan menyerang dengan jurus Seng-wa-thian-kong (Bintang sapu terbang di angkasa), pedangnya menyabet ke arah lambung Nikouw itu. Ceng Sim Lo-ni hanya menangkis dengan pukulan kayu tok-tokannya sambil meloncat mundur beberapa langkah. „T i n g!!” terdengar beradunya kedua senjata itu. Wei Beng Yan segera meloncat mundur; lalu maju lagi sambil mengirim tusukan tiga kali berturut-turut. Tampak pedangnya menyodok secepat kilat, seolah-olah ular kobra menyambar mangsanya, itulah jurus yang disebut Gan-keng-coa-pun-tok (Ular kobra menyemburkan bisa).
271
„Ai! Dahsyat dan bagus sekali jurus itu!” seru Ceng Sim Lo-ni, sambil mengegos dari tusukan yang bertubi-tubi itu. Lalu ia mulai lagi dengan serangannya. Ia bergerak maju sambil memukul kepala Wei Beng Yan dengan jurus Sam-hud-sin-thian (Tiga dewa terbang ke langit). Ujung daripada pukulan kayunya itu berwarna ungu dan selebihnya berwarna hijau. Jurus yang telah dilancarkannya itu menyambar laksana kilat dan memancarkan warna yang menyilaukan mata sehingga lawannya menjadi kelabakan karena tidak mengetahui dari mana datangnya serangan. Wei Beng Yan agaknya sudah mulai terdesak, tampak ia mengegos dan meloncat ke samping. Justru pada saat itu, terdengar Yu Leng membentak. „Beng Yan! Lancarkan Thay-yang-sin-jiauw!” Dengan tiba-tiba Wei Beng Yan mencelat mundur lagi ke belakang ketika mendengar perintah gurunya itu, ia merasa sangat serba salah, memang dalam pertempuran itu ia sudah sangat terdesak dan jika bertempur tentu ia pasti akan dipecundangi oleh biarawati itu yang ilmu silatnya mungkin setaraf dengan gurunya, tetapi ia merasa kejam sekali jika harus melancarkan ilmu Thay-yang-sin-jiauw. Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu juga menjadi berdebar-debar mendengar disebutnya nama Thay-yang-sin-jiauw yang senantiasa tidak pernah gagal membawa maut kepada lawan!
272
„Ouw Si-ko,” Khouw Kong Hu berbisik, „rupanya malam ini kita tak akan memperoleh keterangan yang penting apapun. Jika kita masih terus berada di sini, aku khawatir kita akan terjebak......” „Sst! Tunggu sampai si pemuda melancarkan ilmu Thay-yang-sin-jiauw!” „Tidak mungkin si pemuda melancarkan ilmu yang dahsyat itu......” „Hiantee berpendapat serupa dengan aku, tetapi Wei Beng Yan telah didesak oleh Yu Leng!” Tiba-tiba tampak Yu Leng mengangkat tangannya lalu dengan tiba-tiba pula ia menggeprak meja kecil yang berada dekat tembok sehingga meja itu hancur berantakan! „Hei murid murtad!” bentaknya mengguntur. „apakah barangkali kau sudah lupa akan ilmu-ilmu yang telah kau pelajari dariku?” Wajah Wei Beng Yan menjadi merah padam dimaki sebagai murid murtad, ia melirik ke arah gurunya dan dapat melihat kedua mata Yu Leng seolah-olah menyala saking gusarnya. „Suhu....... aku tidak dapat....... aku betul-betul tidak dapat melancarkah Thay-yang-sin-jiauw!” sahutnya. Yu Leng tertawa berkakakan seperti orang tidak waras, sehingga seluruh ruangan rumah gedung itu jadi tergetar oleh suara tertawanya yang bergema tak henti-hentinya! Suara tertawa belum berhenti ketika tampak Yu Leng meloncat ke arah Siauw Bie dan meletakkan sebelah tangannya di atas pundak nona itu.
273
Siauw Bie yang dari tadi tidak berkata-kata dan sedang asyik menonton pertempuran, jadi terkejut sekali waktu pundaknya kena dijambret, karena tangan Yu Leng telah menekan berat sekali, ia merasa seolah-olah sekarung beras menindih tubuhnya! Ia berusaha melepaskan dirinya, tetapi betapapun kerasnya ia meronta, tangan yang berwarna merah itu tetap melekat. Dengan tiba-tiba keringat dingin mengucur deras membasahi tubuhnya yang padat serta langsing itu! „Apakah akibatnya jika Yu Leng menumpahkan kegusarannya atas diriku?” pikirnya cemas. „Suhu! Siauw Bie tidak bersalah!” teriak Wei Beng Yan dengan suara gemetar. „Mengapa Suhu ingin menyiksa seorang gadis?” „Ha, ha, ha! Aku hanya sekedar ingin memberi contoh bagaimana harus melancarkan Thay-yang-sin-jiauw!” Kata-kata yang dingin itu membikin tubuh Wei Beng Yan menggigil, ia sudah jatuh hati terhadap gadis itu, jika Yu Leng betul-betul membuktikan ancamannya itu...... Ouw Lo Si pun menjadi terkejut sekali melihat ancaman yang keji itu. Ji Cu Lok yang dulunya seorang jago silat yang tangguh, memang kadang-kadang melakukan juga perbuatan yang tidak pantas. Tetapi perbuatan yang sekarang hendak dilakukannya terhadap Siauw Bie, betul-betul merupakan suatu perbuatan yang paling kotor, sehingga membikin ia, Ouw Lo Si, bekas perampok yang sangat ditakuti dan pernah menyaksikan banyak perbuatan-perbuatan keji dan kejam, tidak dapat mengerti akan niat yang gila itu!
274
„Sekarang!” bentak Yu Leng kepada muridnya, „aku bersedia memberi dua pilihan kepadamu. Pilihlah satu di antara kedua wanita itu, yang muda atau yang sudah hampir masuk lobang kubur, yang harus pergi dari dunia ini?!” Pada saat yang gawat itu terdengar Ceng Sim Lo-ni berkata. „Aku mengetahui bahwa Thay-yang-sin-jiauw hebat sekali, tetapi mengapa kau ingin mencelakai seorang gadis yang tidak bersalah, bahkan ia mungkin tidak mengetahui sama sekali apa yang menjadi persoalan? Mengapa kau tidak mencoba ilmu yang dahsyat itu terhadap aku?” „Beng Yan!” Yu Leng membentak lagi, “aku menanti jawabanmu!” Wei Beng Yan berbalik dan menghadap kepada Ceng Sim Lo-ni yang tengah menjaga dadanya dengan kayu tok-tokannya. „Suthay, aku terpaksa......” katanya. „Aku mengetahui hatimu yang luhur sungkan melanggar sumpah,” kata Ceng Sim Lo-ni. „Aku harap Suthay dapat mengerti, aku...... terpaksa!” sahut Wei Beng Yan. „Pendekar muda! Aku mengerti...... ayohlah lancarkan Thay-yang-sin-jiauw!” Wei Beng Yan masuki lagi pedang Ku-tie-kiam nya, lalu pelahan-lahan ia mengangkat sebelah tangannya yang sudah mengepal
275
keras, sehingga merata dengan dada, tiba-tiba tangan itu menjurus ke depan lalu pelahan-lahan kelima jari yang menegang itu bergerak terbuka dan memancarkan cahaya ajaib yang menyilaukan mata! Ketika Wei Beng Yan bertindak maju dengan ke lima jarinya yang sudah mengembang itu, Ouw Lo Si yang kebetulan sedang melongok ke dalam, jadi kaget bukan main, karena ia tidak dapat melihat apapun, kecuali cahaya yang sangat menyilaukan mata! Makin lama makin dekat Wei Beng Yan menghampiri Ceng Sim Lo-ni. Tampak sinar mata Yu Leng yang menyala-nyala senantiasa mengikuti tiap gerakan muridnya itu. Tidak lama kemudian terdengar Wei Beng Yan berseru. „Suthay! Berhati-hatilah...... serangan akan segera datang!” Ceng Sim Lo-ni memejamkan matanya sambil mulutnya berkemak-kemik memanjatkan doa agar Wei Beng Yan tidak menanggung dosa Yu Leng yang keji serta kejam itu! Kayu tok-tokan di tangan kirinya disodokkan keluar dan hembusan angin yang hebat sekali menerjang ke depan! Justru pada saat itulah, Wei Beng Yan mengangkat tangannya, yang seperti gaetan baja itu, untuk mencengkram batok kepala si Nikouw! Dan terdengarlah suara keras laksana guntur meledak yang menggoncangkan seluruh ruangan dan mengejutkan semua orang yang berada di situ, bahkan Yu Leng sendiri tampaknya terkejut bukan main, seolah-olah ia tidak menyangka Thay-yang-sin-jiauw dapat menerbitkan suara yang demikian dahsyatnya!
276
Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu yang sedang mengalihkan pandangan mereka karena silau menjadi demikian kagetnya sehingga mereka lekas-lekas bertiarap di atas tanah! Kedua orang yang tengah bertempur itu saling bentur, lalu terpisah lagi, tiba-tiba tampak satu sinar ungu melonjak ke atas, menembusi atap rumah dan melayang ke udara bebas, berbareng dengan itu tampak sesosok tubuh manusia terlempar keluar dari ruangan itu dan mendampar tembok yang mengelilingi pekarangan gedung itu sehingga toblos! Dari puing-puing yang berserakan di situ, tampak Ceng Sim Lo-ni merayap bangun dengan susah payah, mukanya pucat dan tubuhnya menggigil keras, kayu alat mengetok di tangan kirinya sudah patah, sedangkan sepotong kayu yang berada di tangan kanannya sudah lenyap entah ke mana! Sejenak kemudian ia berkata dengan suara parau. „Ji Cu Lok! Thay-yang-sin-jiauw betul-betul dahsyat, aku mengaku kalah! Sampai kita jumpa lagi...... “ Setelah itu ia berbalik dan berjalan dengan langkah berat serta limbung! „Nikouw sinting! Kau akan mampus dalam waktu tujuh hari tujuh malam!” Yu Leng berteriak kalap bahna girang. Tetapi rupanya ia tidak mau bertindak kepalang tanggung, karena setelah berteriak, tampak tubuhnya sudah mencelat mengejar biarawati itu.
277
Wei Beng Yan tidak menghiraukan gurunya mengejar Ceng Sim Lo-ni, ia hanya berkata dengan suara putus asa. „Aku tidak menduga bahwa ilmu yang telah aku yakinkan dengan susah payah telah dipergunakan secara tidak layak, sedangkan musuh-musuh besarku masih bergentayangan dengan bebas di kalangan Bu-lim! Untuk apakah sebetulnya ilmu-ilmu yang dahsyat ini?!” Setelah berkata begitu, mendadak ia mengangkat tangan yang jari-jarinya masih mengembang dan menyerang ke arah tembok dekat pintu dan „B r a k k!!” Tembok rumah gedung itu roboh diterjang hembusan angin tinjunya! „Ai! Yan koko, kau telah merusak rumah gedung orang!” kata Siauw Bie sambil memegang tangan Wei Beng Yan dengan erat. „Bie moay, kau telah menyaksikan sendiri aku telah melukakan seorang biarawati yang tidak berdosa!” „Tetapi kau tidak boleh terlalu mempersalahkan dirimu sendiri! Bukankah jika kau tidak turun tangan, Ceng Sim Lo-ni pun tidak akan luput dari serangan gurumu?” Wei Beng Yan hanya menghela napas dan tidak menyahut. Mendengar sampai di situ, Ouw Lo Si segera berbisik kepada Khouw Kong Hu. „Kita pergi sekarang!”
278
„Pergi ke mana?” „Mengejar ORANG yang mengejar Ceng Sim Lo-ni!” „Orang yang menutupi mukanya dengan kain hitam?!!” „Ya!” Khouw Kong Hu merasa heran sekali mengapa Ouw Lo Si tidak menyebut Yu Leng saja daripada mengatakan ‘orang yang mengejar’ Ceng Sim Lo-ni?? Tetapi ia tidak menanya apapun kepada saudara angkatnya itu. „Mari!” sahutnya sambil mendahului merangkak menjauhkan diri dari bawah jendela. Setelah berada di luar rumah gedung itu, mereka segera mengejar ke arah jalan yang ditempuh Ceng Sim Lo-ni dan Yu Leng tadi. Sambil berlari-lari Ouw Lo Si berkata. „Hiantee, apakah tadi kau melihat Yu Leng menggeprak meja?” „Ya, mengapa memang?” „Dua tahun yang lalu Yu Leng pun menggeprak meja di markas Kong-ya Coat! Dengan melihat akibat daripada pukulan itu, kita dapat meraba betapa hebat ilmu Thay-yang-sin-jiauw Yu Leng itu! Kehebatan itu telah membikin aku menarik kesimpulan. apakah Yu Leng pun ikut campur dalam pembunuhan besar-besaran di markas Kiu It?!”
279
„Mengapa Si-ko dapat menarik kesimpulan begitu?” „Untuk menjawab pertanyaan Hiantee itu, aku masih memerlukan beberapa bukti! Tunggulah sampai kita telah mengejar Ceng Sim Lo-ni!” Mereka berlari terus untuk kemudian menikung ke arah jalan di tepi sungai, dalam sekejapan saja mereka telah menempuh jarak sepuluh lie lebih. Di bawah sinar bulan yang cukup terang, tampak air sungai bergelombang kecil tertiup angin malam yang dingin. Tiba-tiba mereka melihat dua bayangan tidak beberapa jauh di depan mereka, satu di depan, sedang yang satunya lagi di belakang, saling berusaha mempercepat langkah mereka masing-masing. Itulah bayangan Ceng Sim Lo-ni dan Yu Leng! „Ayoh! Kita harus berlari lebih cepat, rupanya si Nikouw akan segera dapat dikejar oleh ORANG itu!” kata Ouw Lo Si. Lagi-lagi Khouw Kong Hu telah dibikin heran oleh kata-kata saudara angkatnya yang terakhir. ORANG itu! Tetapi ia masih tidak menanyakan, ia hanya mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk mempercepat langkahnya. Tidak lama kemudian mereka tiba di suatu hutan pohon bambu yang terletak tidak jauh dari tepi sungai itu. Tiba-tiba mereka mendengar Ceng Sim Lo-ni berkata. „Ji Cu Lok! Apakah betul-betul kau ingin membunuh aku?”
280
Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu cepat-cepat mencari tempat yang agak gelap, lalu mereka mengintip.melalui celah-celah pohon bambu, dan dapat melihat si Nikouw menjaga dadanya dengan lengan kirinya, lengan kanannya tampak terkulai ke bawah. Rupanya serangan Wei Beng Yan bukan saja telah melemparkan tubuhnya keluar dari gedung ke tiga saudara Tie, tetapi Thay-yang-sin-jiauw juga telah melukai serta melumpuhkan sebelah lengan Nikouw yang malang itu! Tampak Yu Leng tengah berdiri dengan sikap yang angkuh sekali beberapa meter di depan Nikouw itu. Setelah tertawa berkakakan seram terdengar ia berkata. „Kau sebagai orang yang sudah lama berkecimpungan di kalangan rimba persilatan, seharusnya sudah mengetahui bahwa Thay-yang-sin-jiauw hebat sekali!” „Aku hanya mengetahui bahwa jika seorang jago silat memiliki ilmu yang begitu sakti,” sahut si Nikouw, „ilmu tersebut harus dipergunakan untuk membasmi iblis-iblis serta jahanam-jahanam. Aku tidak menduga bahwa kau telah memaksa muridmu yang luhur itu menyerang aku! Aku telah mempasrahkan jiwaku kepada Tuhan, aku tidak akan menyesal meskipun aku harus mati sekarang. Aku hanya merasa kasihan terhadapmu, kau yang akan terkutuk sehingga akhir jaman!” „Ha, ha, ha! Aku tidak memerlukan nasehat ataupun khotbah! Tetapi oleh karena kau telah memberikan juga nasehat serta khotbahmu itu, maka sebagai tanda terima kasihku, kauterimalah ini........”
281
Setelah selesai bicara, Yu Leng dengan sekonyong-konyong telah menyerang Ceng Sim Lo-ni dengan jotoson-jotosan maut! Ternyata Ceng Sim Lo-ni masih dapat melawan, meskipun tangan kanannya sudah lumpuh dan hanya mempergunakan sebelah lengan kirinya saja. Maka pertarungan tanpa senjata sudah lantas berlangsung lagi. Sepuluh jurus telah lewat dan makin lama makin jelas kelihatan bahwa si Nikouw sudah tidak dapat mengimbangi lagi serangan-serangan Yu Leng yang ganas itu. Si Gaitan baja tinju besi Khouw Kong Hu yang berwatak kesatria tak dapat membiarkan saja si biarawati didesak demikian kerasnya, berkali-kali ia ingin menyerbu keluar dan membantu, tetapi ditahan oleh Ouw Lo Si. Tiga jurus lagi telah lewat, dan tiba-tiba terdengar suara. „P a n g!!” tampak tubuh si biarawati terpental ke belakang beberapa langkah sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya! Yu Leng tertawa berkakakan, tampaknya ia girang sekali melihat cairan yang merah itu yang keluar dari mulut lawannya mendadak suara tertawanya berhenti dan tampak ia bergerak untuk menerkam sambil mengangkat kedua tangannya yang berwarna merah. Pada saat yang menentukan itu Ceng Sim Lo-ni mengerahkan tenaganya, dan dengan satu enjotan tenaga terakhir ia meloncat dan masuk ke dalam sungai! Disebabkan rasa takutnya yang demikian besar, sehingga waktu meloncat Ceng Sim Lo-ni tidak memperhatikan lagi keadaan
282
sungai, ia baru terkejut ketika merasa tubuhnya ditangkap orang yang segera membawanya kembali ke atas darat. Setibanya di atas dan dapat mengenali orang itupun menjadi kaget. „Ah.....! Ceng Sim Suthay?! Siapa yang telah menganiaya Suthay demikian kejamnya?!” Di bawah sinar bulan tampak kedua orang itu bertubuh tinggi besar, berusia lebih kurang empatpuluh tahun. Ceng Sim Lo-ni menghela napas dan berkata dengan lemah. „Kalian berdua jangan turut campur urusanku! Ayoh lekas-lekas pergi!” Kedua orang itu bersenyum, salah seorang lalu berkata. „Suthay telah terluka parah, aku tidak dapat membiarkan begitu saja. Siapakah yang telah menganiaya Suthay?” Tetapi tiba-tiba kedua orang itu dapat melihat satu bayangan hitam berpeta di atas tanah, dengan hati berdebar-debar mereka lekas-lekas menoleh ke arah orang yang tengah berdiri beberapa tindak saja di depan mereka, lalu sambil menghunus pedang, mereka maju setindak dan berkata. „Kita Cit-kiat-kiam (si ahli pedang dengan tujuh keistimewaan) dan Cit-siu-kiam (si ahli pedang dengan tujuh keahlian). Perkenalkanlah nama saudara!”
283
Ternyata kedua orang itu adalah Kim Cin Jie dan Kim Cin Lam dari partai Kong-tong yang termashur! Setelah mengalami kegagalan dalam usaha mereka menuntut balas terhadap Pek Tiong Thian yang telah membunuh saudara mereka yang tertua, kedua saudara Kim ini lalu kembali ke pegunungan Kong-tong dengan tekad memperdalam ilmu silat pedang mereka. Dengan tekun dan rajin mereka menyelidiki segala sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan ilmu silat pedang partai Kong-tong, dan akhirnya di atas puncak Lek-kie-hong mereka beruntung menemukan satu batu gunung yang besar, yang terukir dengan penjelasan-penjelasan ilmu silat pedang Ciok Cui Eng, pemimpin pertama partai Kong-tong. Ilmu silat pedang yang disusun oleh pemimpin itu adalah yang terkenal sebagai Thian-seng-kiam-hoat, tetapi Ciok Cui Eng sendiri telah menghilang entah ke mana, sehingga hanya beberapa muridnya saja yang mengenal ilmu tersebut. Bukan main girangnya kedua saudara Kim itu, mereka segera mengambil ketetapan untuk tinggal terpencil di atas puncak Lek-kie-hong dan mempelajari ilmu pedang yang memang mereka sedang cari itu. Maka setelah lewat dua tahun, kemahiran mereka melancarkan jurus-jurus Thian-seng-kiam-hoat sudah tidak lagi dapat diragukan kelihayannya! Setelah itu mereka lalu pergi ke Tan-kwi-san-cong untuk mencari Kong-ya Coat yang pernah mempecundangi mereka di markas partai Thian-pek-kiam, tetapi mereka tidak berhasil menjumpai Kong-ya Coat di sana, maka mereka lalu menyewa perahu untuk
284
menikmati malam terang bulan di atas sungai. Mereka jadi terkejut sekali ketika melihat satu bayangan dengan tiba-tiba menerkam dari atas, mereka segera menangkap bayangan itu yang disangka mereka orang yang ingin membunuh diri, dan mereka jadi tambah terkejut ketika mengetahui bahwa bayangan itu adalah Ceng Sim Lo-ni yang sudah terluka parah. Yu Leng pun tampaknya kaget bukan main ketika dapat mengenali siapa kedua orang itu, tetapi setelah itu ia segera tertawa berkakakan. „Hei! Siapa saudara?!” bentak Kim Cin Lam. Tetapi sebelum Yu Leng menyahut si Nikouw sudah mendahului. „Dia adalah yang dulunya termashur sebagai Ji Cu Lok alias Naga Sakti, yang gemar sekali kepada lentera-lentera kertas merah dan tinggal di lembah Yu-leng-kok!” Mendengar penjelasan itu kedua saudara Kim segera menyadi pucat mukanya, karena mereka percaya bahwa Ceng Sim Lo-ni seorang yang jujur dan tidak mungkin memberikan keterangan palsu. „Nikouw gadungan itu telah memperkenalkan siapa aku ini!” kata Yu Leng dengan sikap yang mengejek. „Nah, sekarang kalian mau apa?!” Kedua saudara Kim tidak menyahut, mereka hanya saling pandang. Sebetulnya mereka ingin menjadi terkenal dengan ilmu yang baru saja mereka pelajari itu, yalah ilmu silat pedang Thian-
285
seng-kiam-hoat, tetapi apa celaka mereka telah menjumpai Ji Cu Lok yang terkenal ilmu Thay-yang-sin-jiauw nya! Mereka menjadi jerih, sehingga tanpa terasa mereka sudah melangkah mundur beberapa langkah sambil berkata. „Kita tidak mengetahui bahwa kita sedang berhadapan dengan Ji tay-hiap, harap Tayhiap suka memaafkan......” „Ha, ha, ha! Jika kalian tidak puas akan perbuatanku terhadap Nikouw gadungan itu, aku persilahkan kalian membikin perhitungan!” „Kita tidak dapat mengenali karena Ji tayhiap menutupi muka, jika kita telah berbuat sesuatu yang kurang sopan, harap Tay-hiap sudi memberi maaf......” Setelah berkata begitu, mereka segera masuki lagi pedang mereka ke dalam serangkanya dan ingin berlalu. „Apakah begitu saja kalian hendak menyudahi persoalan ini?” tanya Yu Leng, „Tanpa meninggalkan sesuatu sebagai kenang-kenangan!” „Ji tay-hiap ingin kita meninggalkan barang apa sebagai kenang-kenangan?” „Kedua pasang kaki kalian! Ha, ha, ha!!” Kedua saudara Kim tidak pernah bermusuhan terhadap Yu Leng, menganggap bahwa Yu Leng tengah berguyon dengan kata-katanya itu, maka Kim Cin Jie lalu menyahut.
286
“Aku tidak menyangka jika Ji tay-hiap seorang yang suka berkelakar, ha, ha......” „Buntungi kedua pasang kaki kalian!” Yu Leng membentak lagi deugan suara mengguntur. Mendengar suara Yu Leng yang sungguh-sungguh itu, kedua saudara Kim jadi saling lirik. „Bukankah barusan kita telah mohon maaf sebelum berlalu,” sahut Kim Cin Lam, „aku harap Tay-hiap tidak terlalu mendesak!” „Jika aku mau mendesak, juga kalian mau apa?” „Ji tay-hiap! Kita dari partai Kong-tong tidak pernah bermusuhan terhadapmu, mengapa tay-hiap minta barang yang bukan-bukan?!” kata Kim Cin Lam dengan agak gusar. „Tidak pernah bermusuhan terhadapku? Ha, ha, ha! Kalian telah ikut campur urusanku terhadap Nikouw gadungan ini, bukankah dengan demikian kalian telah bersikap bermusuhan terhadapku! Untuk dosa itu, aku bersedia memberi dua pilihan, buntungi sendiri kedua pasang kaki kalian itu, atau aku akan turun tangan sendiri!” Dari merasa jerih, kedua saudara Kim menjadi gusar dan nekad, lalu sambil menghunus pedang lagi, Kim Cin Jie balas membentak. „Jika demikian, kita lebih suka memilih aturan kita sendiri!” Baru saja kata-kata itu selesai diucap, Yu Leng sudah menerkam ke arah kedua lawannya itu.
287
Kim Cin Jie dan Kim Cin Lam yang sudah siap segera menangkis terkaman itu dengan pedang mereka. Yu Leng yang kejam dun licik ternyata tidak menerkam dengan tangan kosong, ia telah menerkam dengan dua potong senjata rahasia di tangannya yang segera dilontarkan ke arah kedua saudara Kim dengan cepat sekali. enamBeLAs Kedua saudara Kim melihat datangnya kedua benda berkilat itu menerjang ke arah mereka, tanpa banyak pikir lagi mereka menangkis dan menjadi kaget sekali merasakan tubuh mereka mendadak jadi panas setelah menangkis benda itu berbareng dengan itu terdengar suara. „T i n g!!” yang nyaring sekali, dan tampak Yu Leng secepat kilat sudah berada dekat mereka sambil mengulur tangannya untuk menotok pundak Kim Cin Lam dan Kim Cin Jie! Senjata rahasia itu telah dipergunakan Yu Leng untuk menangkis serangan pedang, dan begitu lekas sudah melontarkan senjatanya itu, secepat kilat ia menyerang lawannya! Kim Cin Lam dan Kim Cin Jie merasa bahwa pedang mereka seolah-olah digempur oleh suatu tenaga yang gaib sekali, ketika melihat Yu Leng mendekati, mereka lekas-lekas memutar pedang mereka dengan jurus Thian-ji-ie-hua (Hujan lebat menyiram bumi).
288
Yu Leng menjadi cemas melihat terkamannya yang pertama itu meleset. Ia meraung keras dan meloncat ke kiri, ke kanan mencari lowongan untuk menerkam dan menotok lawannya lagi. Tiba-tiba tampak ia dengan nekad meloncat dan menerobos masuk di antara kedua saudara itu dengan tangan kanannya menotok jalan darah di pundak Kim Cin Jie dan kaki kirinya menendang ke arah lambung Kim Cin Lam! Dua serangan yang pesat itu -- satu ke atas dan satu lagi kebawah -- yang telah dilancarkan dengan jurus-jurus yang luar biasa anehnya, telah membikin Kim Cin Jie sibuk sekali, ia hanya dapat menangkis berbareng menabas lengan Yu Leng dengan pedangnya. Tetapi tangan Yu Leng telah lebih cepat lagi menemui sasarannya dan....... „P a n g!!” Pedang yang telah menabas angin itu digeprak jatuh! Pada waktu yang bersamaan Kim Cin Lam telah menabas kaki kiri Yu Leng yang hendak menendang lambungnya. Tabasan itu adalah salah satu jurus dari ilmu silat pedang Thian-seng-kiam-hoat yang khas dari partai Kong-tong! Yu Leng pada waktu itu tengah berdiri atas satu kaki, karena ia tidak keburu menarik kembali tendangan maut kaki kirinya, dan agaknya tidak keburu menarik kakinya itu! Dan betul saja, tabasan pedang yang dilancarkan secepat kilat itu telah berhasil menggores betis Yu Leng, tetapi untuk kagetnya pihak yang menyerang, ujung pedang itu seolah-olah telah menggores baja!
289
Pedang Kim Cin Lam maupun pedang Kim Cin Jie, meskipun tidak setajam senjata yang dapat memotong logam, namun dapat memotong kulit kerbau yang tebal dan pasti dapat memotong kulit manusia yang tidak setebal kulit kerbau! Tetapi ternyata tabasan yang dikerahkan dengan sekuat tenaga itu tidak berhasil melukai betis Yu Leng sedikitpun! Kim Cin Lam jadi melongo melihat kenyataan yang betul-betul tidak masuk diakalnya itu, dan justru pada waktu ia terlongong-longong itulah tendangan Yu Leng mendarat tepat di lambungnya! Tampak Kim Cin Lam terpental ke belakang sambil menekan perutnya, sejenak kemudian ia roboh terlentang di tanah! Yu Leng merampas pedang lawannya yang sudah tidak berdaya itu untuk menempur Kim Cin Jie, yang tadi digeprak tangannya, dan terdengarlah suara dahsyat dari beradunya kedua senjata orang-orang yang sedang berbaku hantam itu, sebentar-sebentar tampak lelatu api herhamburan dan menyilaukan mata. Tetapi ketika pada suatu waktu senjata mereka beradu lagi, pedang Kim Cin Jie patah! Sebetulnya pedang yang dipergunakan oleh kedua orang itu, sama mutu serta kekuatannya, tetapi Yu Leng telah menyerang dengan tenaga dalam yang ajaib dan berhasil mematahkan pedang lawannya, sehingga Kim Cin Jie jadi terperanjat tercampur cemas justru pada saat itulah, Yu Leng yang pandai mempergunakan kesempatan terlowong telah menusuk langsung ke tenggorokan lawan.
290
Kim Cin Jie tidak berdaya mengegosi tusukan itu, ia hanya merasa suatu barang dingin lagi tajam menjurus ke dalam tenggorokannya dan roboh tanpa mengeluarkan suara apapun! Kim Cin Lam yang sudah terluka parah masih dapat melihat cara bagaimana kakaknya telah tewas di tangan Yu Leng sehingga dalam kesedihan dan sakarat maut, ia muntahkan darah dari mulutnya dan setelah menjerit seram iapun menyusul kakaknya di alam baka! Begitulah nasib ketiga saudara Kim dari partai Kong-tong. Yang tertua telah tewas di tangan Pek Tiong Thian, sedangkan Kim Cin Jie dan Kim Cin Lam yang telah mewarisi ilmu silat pedang Thian-seng-kiam-hoat yang termashur dan berhasrat menjagoi lagi di kalangan Kang-ouw, tidak terduga harus mati di tepi sungai Tiang-kang dalam tangan Ji Cu Lok alias Yu Leng! Yu Leng lalu menyeret kedua mayat itu ke dekat sungai. Lalu ia menghampiri Ceng Sim Lo-ni. Muka biarawati itu pucat sekali dan kedua matanya terbelalak ke langit, karena ia sudah menjadi mayat. Dengan satu tendangan, Yu Leng mendepak mayat itu ke dalam sungai, sehingga air sungai itu menjadi merah dinodai darah! Semua kejadian di tepi sungai Tiang-kang itu telah disaksikan oleh Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu yang bersembunyi di hutan pohon bambu. Mereka jadi bergidik mengingat keganasan Yu Leng, yang telah dengan mudah saja membunuh ketiga orang itu.
291
Tiba-tiba mereka mendengar Yu Leng meraung dan tertawa berkakakan seperti orang yang kerasukan setan sambil berkata dengan suara keras. „Tidak diduga bahwa dendamku yang sepuluh tahun lebih lamanya dapat kubalas di sini sekaligus!” Kemudian setelah tertawa berkakakan lagi sekian lamanya, tampak Yu Leng mengacungkan pedang rampasannya dan menatap pedang itu, lalu perlahan-lahan kepalanya dialihkan ke arah kedua mayat saudara Kim, dan dengan tiba-tiba ia mendongak ke langit sambil melepaskan suara tertawanya yang mengguntur. Setelah itu ia membungkukkan tubuhnya dan mendadak ia menusuk serta mendodet perut kedua mayat itu. Tusukan atau dodetan pedang itu dilakukan demikian ganasnya, sehingga tampak orang yang.melakukan perbuatan itu, betul-betul sudah lupa kepada dirinya sendiri! Setelah itu ia berjalan mengitari mayat-mayat itu yang sudah tidak keruan macam dan meraung sambil mematahkan pedang rampasannya yang lalu dilemparkan ke tanah, dan sesaat kemudian ia memutar tubuhnya dan meninggalkan tempat itu! Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu menunggu sampai Yu Leng sudah lari jauh, baru mereka dapat bernapas lega. „Ai......! Kejam!” kata Khouw Kong Hu sambil menggeleng-geleng kepalanya melihat kekejaman semacam tadi. „Aku hampir tidak dapat melihat kekejaman Yu Leng itu!”
292
„Akupun tidak menyangka jika Ji Cu Lok demikian ganasnya!” sahut Ouw Lo Si. „Kita telah melihat bagaimana Ceng Sim Lo-ni dan kedua saudara Kim dibunuh dengan kejam sekali, dan selama itu kita berdua hanya menonton! Bukankah sikap kita itu memalukan sekali?!” „Hiantee, kita terpaksa harus bersikap demikian demi keselamatan kita sendiri serta untuk mengungkap tabir suatu rahasia besar di kalangan Bu-lim!” „Rahasia apa?!” „Rahasia orang edan yang barusan lari pergi itu!” „Apakah Ouw Si-ko merasa curiga terhadap Yu Leng? Bahwa dia itu bukan Ji Cu Lok yang tulen, suami Thian-hiang-sian-cu?!” „Ya! Tetapi untuk sementara waktu aku belum dapat memastikan seratus persen!” „Ouw Si-ko! Makin lama tindakan Ouw Si-ko makin tambah gegabah saja! Bukankah untuk menyelidiki kecurigaan Ouw Si-ko itu kita harus berjudi dengan nyawa kita?!” „Hiantee, jangan kau gelisah! Si-ko mu ini setelah matanya picak sebelah dan kakinya pincang satu, menjadi lebih hati-hati lagi dalam segala urusan. Jangan gelisah tidak keruan, aku akan mengatur sedemikian rupa sehingga usaha kita ini tidak membahayakan sama sekali!”
293
„Dengan dasar apa Ouw Si-ko mencurigakan keaslian Yu Leng?” Ouw Lo Si jadi tertawa ditanya demikian, lalu sambil bersenyum ia balik bertanya. „Hm! Aku ingin menanya sekarang. Sepuluh tahun yang lalu, Ji Cu Lok, si Naga Sakti berada dimana?” „Semua orang mengetahui bahwa sepuluh tahun yang lalu Ji Cu Lok tinggal di dalam lembah Yu-leng-kok di pegunungan Tay-piet-san!” „Cocok! Tetapi barusan, seperti hiantee dapat lihat sendiri, bahwa sebelum Yu Leng berlalu, ia menuding mayat-mayat kedua saudara Kim sambil berkata bahwa ia tidak menduga bahwa dendamnya dari sepuluh tahun yang lalu dapat ia balas sekaligus sekarang! Coba pikir, siapakah yang bernyali demikian besar untuk bermusuhan terhadap Ji Cu Lok? -- Jika umpama kata ada juga orang, yang karena satu atau lain hal, jadi bermusuhan terhadap Ji Cu Lok, apakah orang itu masih dapat hidup sampai sepuluh tahun lamanya?!” Khouw Kong Hu manggut-manggut sambil matanya berkesip-kesip mendengar keterangan itu. „Kedua,” Ouw Lo Si melanjutkan, „ketika berada di dalam ruangan rumah gedung ke tiga saudara Tie di kota Bo-ouw, Yu Leng, atau siapa saja orang itu sebenarnya, telah menyuruh Wei Beng Yan melancarkan Thay-yang-sin-jiauw untuk menggempur Ceng Sim Lo-ni, oleh karena ia sudah mengetahui bahwa biarawati itu sangat
294
lihay, dan hanya dengan Thay-yang-sin-jiauw sajalah Nikouw itu dapat dikalahkan!” „Jika Yu Leng menyuruh Wei Beng Yan bertempur dengan biarawati itu, menurut hematku, itu wajar dan tidak mengherankan, karena si pemuda adalah muridnya!” kata Khouw Kong Hu. „Apakah kau tidak dapat melihat bahwa Yu Leng tidak pernah menggunakan ilmu yang dahsyat itu, ketika bertempur melawan kedua saudara Kim? Ia hanya menerkam dan berusaha menotok jalan darah lawannya. Berdasarkan kenyataan-kenyataan ini, aku jadi condong kepada kesimpulan bahwa Yu Leng tidak mengerti sama sekali apa itu Thay-yang-sin-jiauw!!” „Hah...... mengapa aku tidak berpikir sampai ke situ?” Ouw Lo Si berhenti sebentar, kelihatannya ia sedang berusaha mengingat-ingat segala sesuatu sambil mendongak dan menyapukan matanya yang tinggal satu itu ke kanan dan ke kiri, kemudian berkata lagi. „Ceng Sim Lo-ni seharusnya sudah mati ketika diserang oleh Thay-yang-sin-jiauw, tetapi kenyataan membuktikan bahwa ia hanya terluka parah dan baru mati setelah diganyang Yu Leng. Mengingat bahwa ilmu yang dahsyat itu BELUM atau TIDAK pernah gagal mengambil korban setelah dilancarkan, dengan demikian berani aku katakan bahwa Wei Beng Yan belum dapat melancarkan jurus itu dengan tenaga serta kemahiran seratus persen penuh? Tetapi akibatnya?
295
Hanya melihat cahaya yang dipancarkan oleh tangan yang sudah siap menyerang itu, mata kita bisa menjadi buta! Hembusan anginnya dapat merobohkan tembok! Dan cakarannya membakar nyawa! Jika ilmu-ilmu.yang kita miliki diperbandingkah dengan ilmu itu, rasanya percuma saja kita telah bersusah payah!” „Huh! Aku tidak setuju dengan kata-kata Si-ko yang terakhir itu! Apakah tanpa mempelajari ilmu silat Si-ko bisa jadi terkenal sebagai si Ahli nujum kipas baja?!” „Dan menjadi pincang serta picek sebelah mataku...... Ha, ha, ha! Hiantee, sudahlah, tidak usah kita bertengkar......” Khouw Kong Hu ternyata telah kena di ‘set’ satu nol oleh saudara angkatnya yang memang lincah lidah serta otaknya itu. „Ya, sudahlah, tidak usah kita perbincangkan itu! Mari kita lanjutkan percakapan kita tadi......” sahutnya. Ouw Lo Si menjadi geli sekali melihat sikap saudara angkatnya ini, lalu ia berkata. „Ayohlah Hiantee mulai dengan pertanyaan-pertanyaan Hiantee! Aku senantiasa bersedia menjawab!” „Jika orang itu bukan Yu Leng, siapakah dia yang memiliki ilmu silat demikian lihay?” tanya Khouw Kong Hu.
296
„Inilah justru yang aku sedang berusaha mengetahui. Siapakah telah menyamar sebagai Yu Leng? Ilmu silatnya demikian lihay dan menurut penglihatanku, kepandaiannya hampir setaraf dengan Yu Leng yang asli! Mengapa pedang Kim Cin Jie tidak mempan menabas betis orang itu? Apakah dia juga memiliki ilmu membikin tubuh menjadi kebal terhadap segala senjata tajam? Hm, Betul-betul aneh! Ayoh, kita lihat pedang yang sudah dipatahkan!” Tanpa menanti lagi Ouw Lo Si sudah bertindak keluar dari pohon bambu untuk menuju ke pinggir sungai. Tetapi baru saja mereka tiba di dekat mayat-mayat Kim Cin Jie dan Kim Cin Lam, dan hendak memungut pedang yang sudah patah itu, mereka jadi terperanjat berbareng merasa sedih sekali! „Kiu Ji-tee!” Ouw Lo Si berseru terharu. Ketika itu, di tepi sungai Tiang-kang yang panjang itu, tidak tampak manusia lain kecuali Ouw Lo Si, Khouw Kong Hu dan ke dua mayat saudara Kim, mengapa si kakek pincang menyebut-nyebut nama Kiu It? Karena di dekat mayat kedua saudara Kim, di atas permukaan tanah yang agak basah, tampak empat huruf besar yang berbunyi. „Kematian bagi orang yang menganiaya!!” Gaya tulisan keempat huruf tersebut serupa benar dengan gaya tulisan yang juga tertera di atas permukaan tanah dekat batu gunung di tempat Kiu It dua tahun yang lalu. Hanya arti daripada tulisan itu berlainan sedikit.
297
„Kematian bagi orang yang menipu!!” Semenjak Kiu It dibunuh orang, Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu senantiasa mencari jejak si pembunuh saudara angkat mereka itu, namun usaha mereka selama dua tahun itu tidak memberikan petunjuk-petunjuk atau bukti-bukti yang meyakinkan. Mereka telah menyelidiki Soat-hay-siang-hiong, Eu-yong Lo-koay, Kong-ya Coat dan banyak lagi orang-orang dari kalangan rimba persilatan, tetapi ternyata mereka itu semua bukan si pembunuh Kiu It. Mereka pun sudah bersumpah untuk terus menyelidiki selama mereka masih hidup, dan sungguh di luar dugaan mereka bahwa mereka akhirnya menemui juga petunjuk tentang si pembunuh yang justru mereka sedang cari itu, di tepi sungai Tiang-kang! „Ouw Si-ko!” tiba-tiba terdengar Khouw Kong Hu berseru sambil memukul tanah dengan gaitan bajanya. „Jika sekarang kita tidak mengejar jahanam itu di kota Bo-ouw, kapan lagi kita akan menemui kesempatan sebaik ini?” „Hiantee! Dalam urusan ini kita harus bertindak hati-hati. Bukankah kau sendiri telah menasehatkan aku bahwa untuk menyelidiki Yu Leng kita berarti harus berjudi dengan nyawa kita?! Jangan keburu napsu, atau kitapun akan mengalami nasib serupa!” „Aku senantiasa bertindak menuruti Ouw Si-ko, tetapi kali ini, aku tidak dapat bersabar lagi!”
298
Setelah berkata demikian Khouw Kong Hu betul-betul telah meloncat meninggalkan saudara angkatnya, untuk mengejar Yu Leng di kota Bo-ouw. Si kakek menjadi kaget sekali melihat kenekatan saudaranya itu, dengan gerak yang gesit sekali ia menerkam Khouw Kong Hu yang sudah berlari cepat, sehingga mereka jadi bergumulan di tanah. „Hiantee!!” si kakek membentak, „jika kau sekarang pergi ke kota Bo-ouw, kau hanya mengantarkan jiwamu saja!” „Tetapi musuh kita sudah terang, yalah orang yang menutupi mukanya dengan selembar kain hitam! Jika kita tidak mengejarnya sekarang mungkin kita tidak akan menjumpainya lagi!” Ouw Lo Si menggeleng-geleng kepalanya dan menyahut. „Misalnya kau berhasil mengejar orang itu di kota Bo-ouw, apakah kau dapat melawannya?!” Khouw Kong Hu agaknya menjadi lunak juga mendengar keterangan itu. „Dan...... jika sampai kita berdua mati di kota Bo-ouw, siapakah yang akan membalaskan dendam Kiu Ji-tee itu?” Ouw Lo Si berkata lagi. „Apakah kita harus melepaskan musuh kita itu begitu saja?”
299
„Hiantee, kita bertiga telah bersama-sama bersumpah untuk sehidup semati. Tekadku untuk membalas dendam tidak lebih kecil daripada tekadmu! Jika kita bertindak semberono, pasti kita menjumpai kegagalan. Aku sudah merencanakan Tiga jalan untuk membalas dendam ini!” „Tiga jalan?” „Ya!” sahut Ouw Lo Si sambil menaruh sebelah tangannya di atas pundak Khouw Kong Hu, “mari Hiantee, kita balik lagi ke tepi sungai!” Di sana Ouw Lo Si memeriksa lagi dengan teliti empat huruf-huruf itu, lalu ia memungut pedang yang sudah patah, setelah ditelitinya sesaat, dilontarkannya pedang buntung itu yang lalu nancap dalam di batang pohon. „Ouw Si-ko. jelaskanlah ketiga rencanamu itu!” kata Khouw Kong Hu tidak sabaran. Ouw Lo Si berbalik dan kebetulan dapat melihat cahaya terang seperti bintang yang bersudut tujuh, cahaya itu bergerak cepat menuju ke arah dimana mereka sedang berdiri! „Hiantee!” bisiknya dengan paras terkejut, „ada orang mendatangi ke sini!” sambil membetot tangan Khouw Kong Hu untuk meninggalkan tempat itu. Dalam waktu sekejapan saja mereka sudah berada lagi di dalam hutan pohon bambu tadi. Cahaya terang yang seperti bintang itu makin mendekat, dan ternyata cahaya itu bukan lain daripada cahaya lentera kertas
300
merah yang ditenteng oleh orang yang tengah berlari-lari ke tepi sungai. Jantung mereka jadi berdebar keras, ketika melihat orang itu menghampiri ke arah mereka sedang bersembunyi. Tiba-tiba Khouw Kong Hu jadi terbetalak, tangannya meraba gaitan bajanya ketika dapat mengenali orang itu. Tetapi tiba-tiba ada tangan yang menekap mulutnya dan menahan tangannya yang sudah siap menghunus senjatanya, bersamaan dengan itu terdengar suara bisikan. „Diam! Jangan bikin gagal rencanaku!” Itulah suara Ouw Lo Si yang juga sudah dapat mengenali orang itu, yalah yang bukan lain daripada Yu Leng sendiri! Tampak Yu Leng menggantung satu lenteranya di ranting pohon bambu, lalu ia berjalan ke tepi sungai dan mengitari kedua mayat saudara Kim sambil tertawa berkakakan dan membungkukkan tubuhnya untuk memungut pedang yang sudah patah. „Celaka!” kata Ouw Lo Si di dalam hati, ,,Jika Yu Leng mengetahui patahan pedang yang sebelah lagi telah kulontarkan ke pohon, pasti ia akan merasa curiga dan mengetahui bahwa telah ada orang yang datang di tempat ini! Ia tentu akan mencari orang yang usil itu dan......” Maka setelah berpikir demikian, segera mengeluarkan kipas bajanya, dan memberi isyarat kepada Khouw Kong Hu agar saudara angkatnya itupun menghunus gaitan baja serta mengeluarkan jarum Yan-bie-tin nya!
301
Tetapi Yu Leng ternyata tidak menyadari hal itu, ia hanya berjongkok dan menggores-gores tanah dengan pedang buntung itu, lalu setelah memandangi goresan-goresan itu, ia mengkeremus lentera yang sedang ditentengnya sambil tertawa seperti orang gila dan meninggalkan lagi tempat itu. „Dengan bukti-bukti ini, sudah dapat dipastikan bahwa yang melakukan pembunuhan di tempat Kiu Ji-ko adalah Yu Leng!” kata Khouw Kong Hu, setelah Yu Leng pergi. „Ya! Sudah dapat dipastikan dialah si pembunuh yang kejam itu!” sahut si kakek. „Tadi si-ko mengatakan, untuk menutut balas kau mempunyai tiga rencana, rencana apakah itu?” „Aku pernah mengatakan bahwa ketika iblis Tong-coan-sam-ok pernah mencuri tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan dari kuil Cit-po-sie di atas puncak Beng-keng-ya, yang letaknya di pegunungan Ngo-thay-san. Kuil itu dipimpin oleh Bak Kiam Taysu yang sangat lihay ilmu silatnya. Rencanaku yang kesatu yalah kita harus pergi ke pegunungan itu dan menanyakan Bak Kiam Taysu, karena sebagai orang yang pernah menyimpan benda-benda mujizat itu, aku yakin Bak Kiam Taysu mengetahui cara menggunakannya kedua benda mujizat itu.” „Tetapi perbuatan kita itu akan mengakibatkan kecurigaan pemimpin kuil itu. Dengan demikian kita hanya mendapat tambahan satu musuh lagi saja!”
302
Ouw Lo Si manggut-manggut menyetujui pikiran saudara angkatnya seraya berkata. „Betul! Aku sependapat dengan Hiantee!” „Dan rencana kedua bagaimana?” Khouw Kong Hu menanya lagi. „Rencana kedua masih samar-samar! Kita harus pergi ke goa Long-ya untuk menemukan orang sakti yang pernah disebut-sebut oleh Kiu Ji-tee kepada Pek Tiong Thian. Aku rela memberikan kepadanya kedua benda mujizat yang kini berada di tanganku, asal saja iapun rela membantu kita membalaskan dendam Kiu Ji-tee!” „Tetapi dimanakah letaknya goa Long-ya di daerah Bi-keng itu?” „Kita harus menanyakan kepada Pek Tiong Thian! Aku hanya khawatir orang sakti itu sendiri tidak sudi membantu kita!” Khouw Kong Hu menghela napas panjang seraya menanya. „Bagaimana rencana Si-ko yang ketiga? “ Ouw Lo Si bersenyum getir, lalu sambil menggeleng-geleng kepalanya ia menyahut. „Inilah yang tersukar, karena kita harus berusaha membikin Wei Beng Yan percaya bahwa Yu Leng yang sekarang bukan gurunya yang asli!” „Mengapa Si-ko dapat berpikir sampai di situ?”
303
„Karena aku sudah mempunyai rencana satu lagi! -- Menurut penglihatanku, begitu bertemu dengan Ceng Sim Lo-ni, Yu Leng sudah tidak berani turun tangan sendiri untuk menggempur biarawati itu. Betul ia memiliki kepandaian sangat tinggi, tetapi untuk melawan Ceng Sim Lo-ni, ia harus berpikir-pikir dulu! Aku juga yakin bahwa Yu Leng sangat iri hati terhadap Wei Beng Yan yang telah berhasil mewarisi ilmu Thay-yang-sin-jiauw dan Thay-yang-sin-kang, maka jika kita dapat meyakinkan Wei Beng Yan bahwa Yu Leng yang sekarang bukan gurunya, kita tentu dapat membujuknya untuk membunuh musuh Kiu Ji-tee itu!” „Bagus, bagus!” kata Khouw Kong Hu sambil tertawa girang. „tetapi bagaimana kita harus meyakinkan Wei Beng Yan agar ia mau juga percaya bahwa Yu Leng bukan gurunya?” „Soal ini aku terpaksa harus minta Hiantee sendiri yang melaksanakannya!” „Aku???!” Ouw Lo Si mengangguk-sambil bersenyum. „Ya! Kaulah yang akan melaksanakan siasat ini!” Setelah berkata begitu, lalu Ouw Lo Si berbisik di telinga Khouw Kong Hu...... „Apakah aku dapat mengandal kepada Hiantee dalam hal ini?” tanya si kakek.
304
„Si-ko tak usah khawatir. Si Gaitan baja tinju besi akan melaksanakan siasatmu yang licin itu!” sahut Khouw Kong Hu tegas. Lalu sambil menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka segera meninggalkan tepi sungai yang sunyi dan seram itu untuk menuju ke kota Bo-ouw. Keesokan harinya, mayat-mayat kedua saudara Kim telah diketemui orang, dan dengan cepat tersiarlah kabar di kalangan Bu-lim bahwa pembunuhan itu erat sekali hubungannya dengan pembunuhan di Hui-ing-san-cong, markas Kiu It dua tahun yang lampau! Hanya semua orang bertanya-tanya siapakah si pembunuh yang kejam itu? Petunjuk-petunjuk yang dapat dikenal adalah lentera kertas merah telah dirusak, di permukaan tanah tertera beberapa tulisan, sehingga hampir semua orang menduga bahwa peristiwa-peristiwa yang sangat ganjil itu ada juga hubungannya dengan Yu Leng dari lembah Yu-leng-kok! Harus diketahui bahwa kedua saudara Kim dari partai Kong-tong, Kiu It, si garuda terbang dan Yo Tie ko si lengan delapan, semasa hidupnya, terkenal sebagai tokoh-tokoh yang sangat disegani di kalangan Kang-ouw. Pembunuhan tersebut telah membikin orang-orang dari kalangan tersebut merasa benci berbareng gentar terhadap Yu Leng! Terutama Eu-yong Lo-koay, Siauw Cu Gie dan Si Lam Tojin yang pernah mendengar kisah di pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-ta-hwee dari mulut Kong-ya Coat!
305
Demikianlah ancaman-ancaman Yu Leng telah berkecamuk dan merupakan teka-teki dalam dunia rimba persilatan. Mereka semua bertanya-tanya, apakah betul orang yang telah melakukan pembunuhan keji di tepi sungai Tiang-kang itu Yu Leng palsu? Jika ‘ya’. Mengapa Yu Leng asli tinggal diam saja terhadap perbuatan-perbuatan orang itu yang mencemarkan nama harumnya??! Pertanyaan-pertanyaan itu tinggal tetap suatu pertanyaan yang tidak terjawabkan! ◄Y► Pada suatu hari Yu Leng memerintahkan Wei Beng Yan pergi mencari semacam buah yang kulitnya berwarna kuning, tanpa memberitahukan apa nama buah tersebut dan apa gunanya. Yu Leng hanya mengatakan buah tersebut terdapat di daerah pegunungan Oey-san. Wei Beng Yan pun tidak menanyakan apa khasiatnya buah tersebut, ia hanya menuruti saja perintah gurunya itu. Ketika ia bersama-sama Siauw Bie tiba di pegunungan itu, ia menjadi sedih sekali mendapat kabar bahwa Ceng Sim Lo-ni telah meninggal dunia. Tanpa terasa tangannya telah menyentuh ketiga sampul surat Ouw Lo Si, yang baru boleh dibukanya setelah ia berhasil membunuh salah satu musuh besarnya! „Mungkin sampul nomor satu dapat aku buka setelah membunuh Eu-yong Lo-koay, tetapi kapan aku dapat membunuh kedua iblis
306
Soat-hay-siang-hiong!” pikirnya cemas. Ia menghela napas panjang, lalu berkata kepada Siauw Bie. „Bie moay, orang hidup hanya untuk menderita! Aku tidak lagi dapat berbuat menurut kehendak hatiku, tugasku untuk menuntut balas belum dapat dilaksanakan, sebenarnya untuk apakah ilmu-ilmu yang sekarang aku miliki ini?” „Yan koko,” sahut Siauw Bie, „aku mengetahui bahwa kau selalu memikiri nasibmu yang malang, kau merasa cemas belum dapat menuntut balas karena gurumu melarang kau membunuh Soat-hay-siang-hiong. Tetapi bukankah gurumu akan membunuh diri sepuluh tahun lagi? Jangka waktu sepuluh tahun akan lewat dengan pesat, setelah itu kau dapat bertindak menurut kehendak hatimu! Kau harus bersabar!” „Bie moay, soalnya bukan terbatas kepada pembalasan dendam ayahku saja, aku khawatir selama sepuluh tahun ini aku akan diperintahkan lagi melakukan perbuatan yang kejam dan keji. Misalnya membunuh Ceng Sim Lo-ni, bukankah itu suatu perbuatan yang terkutuk! Aku betul-betul tidak dapat mengerti akan perubahan-perubahan watak guruku itu!” „Yan koko, kau telah menerima budi gurumu, dan kau terpaksa harus mentaati segala perintahnya. Bukankah ia telah memberikan sarung tangan ajaib sebagai tanda cintanya kepadamu? Hanya tabiatnya kini memang agak ganjil!” Wei Beng Yan tidak menyahut, ia hanya menatap lereng gunung entah memikiri apa.
307
„Yan koko, kita harus memberi maaf kepada tindak-tanduknya itu,” Siauw Bie berkata pula, „misalnya salah satu dari kita yang sudah saling mencinta harus meninggal dunia, bukankah yang masih hidup akan mengalami goncangan jiwa yang hebat? Begitu pun dengan gurumu, ia telah kehilangan isterinya yang tercinta, sehingga tidak heran jika kini otaknya jadi terganggu sedikit dan tindak tanduknya seperti orang gila!” „Bie moay,” sahut Wei Beng Yan sambil memegang tangan Siauw Bie, „janganlah menyebut-nyebut salah satu dari kita akan meninggal dunia, karena aku tidak dapat hidup tanpa kau berada di dampingku! Aku hanya merasa cemas memikiri cara memecahkan persoalanku yang betul-betul rumit.” Wei Beng Yan yang telah digembleng oleh ayahnya agar kelak menjadi seorang yang kesatria, merasa muak sekali dengan perbuatan Yu Leng itu. Kekejaman Yu Leng terhadap Ceng Sim Lo-ni telah menggores dalam sekali di hatinya yang luhur itu. Setelah itu mereka lalu berjalan untuk mencari buah yang berkulit kuning. Pemandangan di pegunungan itu indah permai dengan rumput hijau, bunga beraneka warna yang harum semerbak dan pohon-pohon yang tumbuh dengan subur di sekitarnya. Tiap-tiap bidang tanah merupakan tempat untuk orang beristirahat dengan tenang. Setelah berjalan setengah harian, mereka merasa letih dan ingin beristirahat sebentar. Tetapi tiba-tiba mereka dibikin terkejut oleh suara “Cit!” Dan tampak dari semak belukar seekor kelinci melarikan diri. Pada waktu yang bersamaan terdengar bentakan.
308
„Hei binatang! Kau hendak lari ke mana?” Setelah mengeluarkan suara “Cit!” sekali lagi, kelinci itu jadi terguling dan mati seketika! Wei Beng Yan dan Siauw Bie yang merasa kasihan, segera menghampiri binatang itu, ternyata di atas punggung kelinci itu telah tertancap sebatang jarum. Setelah meneliti jarum itu Siauw Bie menjadi kaget dan herseru. „Yan koko! Coba kau lihat benda yang nancap di punggung kelinci ini!” „Yan-bie-tin!” Wei Beng Yan berseru kaget ketika dapat mengenali senjata rahasia itu. Sejenak kemudian dari semak belukar berlari keluar seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar. Orang itu pun agaknya terkejut ketika dapat melihat mereka berdua. Wei Beng Yan menatap orang itu dan segera mengenali sebagai orang yang telah diperkenalkan kepadanya oleh si kakek pincang Ouw Lo Si, Yo Go! „E! Yo Locianpwee! Mengapa Locianpwee pun berada di sini?” tanyanya heran. „Aku kira siapa, tidak tahunya Wei siohiap dan Siauw Sio-cia?” kata orang itu yang ternyata bukan lain daripada Khouw Kong Hu. „Apakah yang membunuh kelinci itu senjata rahasia Lo-cianpwee?” tanya Wei Beng Yan.
309
„Betul Wei siohiap!” „Apakah senjata ini yang terkenal sebagai Yan-bie-tin?” „Senjata rahasia ini bernama Bo-hong-yan-bie-tin! Tetapi jika menghadapi Wei siohiap, aku kira senjata itu tidak berarti apa-apa!” „Apakah Lo-cianpwee bernama Khouw Kong Hu, yang terkenal sebagai si Gaitan baja tinju besi?” „Betul! Tetapi......” „Apakah Lo-cianpwee yang memadamkan tiga lentera kertas merah dalam Lembah Yu-leng-kok dua tahun yang lalu?!” Khouw Kong Hu menjadi bingung juga tampaknya, menghadapi serentetan pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi itu. „Aku tidak menduga Wei siohiap mengetahui juga peristiwa itu,” sahutnya sambil bersenyum. „Betul! Dua tahun yang lalu aku pernah memadamkan tiga lentera kertas dengan jarum Yan-bie-tin ku itu!” Tiba-tiba Wei Beng Yan menatap Khouw Kong Hu, tetapi sejenak kemudian sambil menggeleng-geleng kepalanya ia berkata. „Apakah Khouw Tay-hiap mengetahui bahwa perbuatan Tay-hiap itu dapat menyebabkan kematian bagi tay-hiap?” „Hah! Perbuatanku itu dapat membahayakan diriku sendiri?”
310
„Ya!” „Mengapa memang? Apa salahnya jika aku perbuat demikian?” „Aku tidak mengetahui apa salahnya! Hanya guruku Yu Leng, telah berpesan agar aku mengambil jiwa pemilik ketiga jarum tersebut!” „Jika begitu, aku sebagai orang yang hendak dicabut nyawanya, harus melawan! Meskipun aku sudah mengetahui bahwa aku bukan tandingan Wei siohiap!” sahut Khouw Kong Hu sambil melangkah mundur dan menghunus gaitan bajanya. Beberapa waktu yang lalu, Wei Beng Yan pernah menyelidiki bahwa Khouw Kong Hu adalah seorang jago silat yang budiman. Semenjak waktu itu ia sebetulnya sudah tidak lagi mau menuruti saja perintah gurunya untuk membunuh si Gaitan baja. Kini ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Khouw Kong Hu adalah seorang yang berterus terang, polos dan berani, sehingga ia menjadi bingung. Kehadiran Khouw Kong Hu di situ sebetulnya bukan semata-mata kebetulan saja, itulah siasat Ouw Lo Si yang telah dirancangkan pada setengah bulan yang lalu ketika mereka berada di tepi sungai Tiang-kang. Siasat itu sangat berbahaya, sebab jika begitu berhadapan Wei Beng Yan menuruti saja perintah Yu Leng itu, maka Khouw Kong Hu sudah pasti tewas diterjang Thay-yang-sin-jiauw!
311
Tetapi Ouw Lo Si yang berpengalaman sudah yakin betul bahwa Wei Beng Yan adalah seorang yang berjiwa besar dan pasti sungkan melakukan perintah gurunya yang gila itu, maka ia sudah mempertaruhkan jiwa Khouw Kong Hu untuk menjalankan siasatnya itu dengan perasaan lega. „Khouw Tay-hiap,” kata Wei Beng Yan, „aku harap Tay-hiap pergi saja dari sini!” Khouw Kong Hu menatap Wei Beng Yan, lalu sambil bersandiwara ia menyahut. „Wei siohiap, aku berterima kasih atas kemurahan hatimu itu, tetapi aku sungguh tidak mengerti mengapa gurumu sekarang demikian telengas wataknya?” Itulah ucapan yang telah diatur dengan cermat oleh Ouw Lo Si si ahli nujum yang licik, untuk menyerang hati nurani Wei Beng Yan yang luhur. Karena ucapan itu telah membikin kekejaman serta kekejian Yu Leng lebih menonjol lagi. Khouw Kong Hu sudah melihat bahwa siasat saudara angkatnya sudah mulai berhasil, tetapi ia masih belum mau meninggalkan tempat itu. „Jika Yu Leng mengetahui bahwa Wei siohiap membangkang akan perintahnya, apakah ia tidak akan menjadi gusar?” katanya. „Khouw Tay-hiap pergilah dan jangan terlalu mendesak aku!” sahut Wei Beng Yan.
312
„Aku bukan ingin mendesak, aku hanya merasa heran mengapa Yu Leng kini jadi berubah demikian ganas wataknya?” „Aku tidak tahu!’ „Mengapa Wei siohiap sungkan membunuh aku?” „Karena dia merasa perintah gurunya itu tidak adil dan kejam!” sahut Siauw Bie yang senantiasa berada di samping Wei Beng Yan. „Ee! Siauw Siocia kiranya mengetahui juga alasannya?” kata Khouw Kong Hu „Sudahlah, Khouw Tay-hiap jangan terlalu, menekan kepada Yan koko!” tujuhBeLAs Khouw Kong Hu berlagak tidak mengerti kata-kata Siauw Bie itu. „Wei siohiap telah berhasil mewarisi kepandaian Yu Leng,” katanya, „sebagai ahli warisnya kau tentu harus disayang oleh gurumu itu, tetapi mengapa dia justru menjerumuskan Wei siohiap ke jurang dosa?” Wei Beng Yan dan Siauw Bie tidak menyahut. „Yu Leng sendiri telah membunuh Kiu It beserta keluarganya, setelah itu ia membunuh kedua saudara Kim yang terkenal budiman dan yang paling ganjil yalah, Yu Leng telah mengganyang
313
Ceng Sim Lo-ni, biarawati yang suci! Sekarang dia memerintahkan kepada Wei siohiap untuk membunuh aku! Apakah kesalahanku? Apakah oleh karena aku telah memadamkan lentera kertas merah, lalu aku harus dibunuh?” „Cukup!” teriak Wei Beng Yan. „Khouw Tay-hiap jangan sebut-sebut lagi soal itu!” Setelah berdiam sejenak ia berkata lagi. „Tadi Khouw Tay-hiap mengatakan guruku melakukan pembunuhan atas diri Kiu Locianpwee, apakah dugaan Tay-hiap itu tidak keliru?” „Aku telah menyelidiki dengan seksama, dan ternyata memang guru Siohiap itulah yang telah membunuh saudara angkatku, Kiu It!” „Tidak mungkin!” Khouw Kong Hu menjadi terperanjat mendengar demikian. „Tidak mungkin??!!” tanyanya heran. „Karena semenjak aku masuk ke dalam lembah dua tahun yang lalu, Suhu belum pernah meninggalkan lembah Yu-leng-kok!” Khouw Kong Hu tidak menduga bahwa kedatangannya di situ memberikan kepadanya suatu keterangan yang sangat penuh arti itu di dalam usahanya mencari jejak pembunuh Kiu It.
314
Ouw Lo Si yang sembunyi di semak belukar tidak jauh dari tempat itu, juga telah mendengar semua percakapan mereka, terutama keterangan terakhir Wei Beng Yan yang sangat menarik sekali. Keterangan itu cocok benar dengan perhitungan serta pertimbangannya! Siapakah pembunuh Kiu It? Tidak ada yang mengetahui karena semua orang yang berada di tempat itu telah mati dibunuh! Hanya anak perempuan Kiu It yang sudah berusia sembilanbelas tahun tidak dapat diketemukan mayatnya, apakah anak perempuan itupun masih hidup? Jika “ya”! Di mana ia sekarang? Ouw Lo Si yakin bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh Yu Leng, karena menurut pahamnya, Yu Leng sajalah yang kiranya mampu melakukan pembunuhan itu, mengingat ilmunya yang sangat tinggi. Tetapi ia belum memperoleh bukti-bukti yang nyata! Di waktu pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee, di markas Kong-ya Coat, yang telah membunuh ke tiga saudara Tie adalah Yu Leng. Jika Wei Beng Yan mengatakan selama dua tahun gurunya tidak pernah keluar dari lembah Yu-leng-kok, maka siapakah yang telah datang di markas Kong-ya Coat ketika itu, yang telah mengaku sebagai suami Thian-hiang-sian-cu??? Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, Ouw Lo Si jadi berkesimpulan bahwa kunci daripada soal yang rumit itu adalah.
315
Apakah keterangan-keterangan Wei Beng Yan tadi itu tulen, bukan dusta? Jika Wei Beng Yan tidak berdusta, maka Yu Leng yang sekarang berbuat sewenang-wenang adalah Yu Leng palsu! Tetapi jika keterangan Wei Beng Yan itu palsu, maka segala sesuatu harus diselidiki lagi dari pangkalnya!! Berpikir sampai di situ, Ouw Lo Si tidak lagi dapat menahan untuk tidak ikut bicara, ia segera keluar dari tempat sembunyinya seraya berkata. „Wei siohiap! Jika Suhumu tidak pernah meninggalkan lembah Yu-leng-kok, dari manakah ia memperoleh Ciam-hua-giok-siu?” Wei Beng Yan dan Siauw Bie menjadi terkejut sekali tatkala melihat si kakek pincang tiba-tiba muncul di situ. Wei Beng Yan sendiri tidak mengetahui riwayat petualangan kakek pincang yang pernah menolongnya itu, baru belakangan ia mengetahui bahwa si kakek adalah yang dulunya terkenal sebagai si Ahli nujum kipas baja! „Ouw Locianpwee! Aku sungguh tidak menduga bahwa kau adalah yang terkenal sebagai Tie-san-sai-cu-kat!” katanya sambil memberi hormat. „Wei siohiap, kau sangat rendah hati? Aku sudah berusia lanjut, dan tidak terlalu memikiri julukan yang jelek itu!” Setelah itu Ouw Lo Si lalu menghampiri si pemuda dan berkata lagi.
316
„Wei siohiap, pada dewasa ini di kalangan Bu-lim telah terbit suatu rahasia yang besar serta penting, apakah kau mengetahui hal ini?” „Tidak! Rahasia besar dan penting apakah?” „Justru orang yang memegang kunci untuk membuka tabir rahasia ini, adalah Wei siohiap sendiri!” „Aku?!” „Ya! Tetapi coba kau ceritakan dulu, darimana gurumu memperoleh sarung tangan ajaib itu?” „Sangat menyesal sekali aku tidak dapat menjawab pertanyaan Ouw Locianpwee itu, karena aku tidak mengetahui dari mana Suhu memperoleh benda pusaka itu.” „Aku percaya keterangan Wei siohiap itu, tetapi apakah Siohiap bersedia menjawab dengan sejujurnya pertanyaan-pertanyaan yang aku akan tanyakan selanjutnya?” „Tentu! Mengapa tidak!” „Baiklah kalau begitu! Nah! Berada dimanakah gurumu sekarang ini?” „Kita berpisah di kota Bo-ouw setelah Suhu memerintahkan kita berdua mencari semacam buah di pegunungan Oey-san ini, aku tidak tahu dia berada dimana sekarang.”
317
Dengan demikian Ouw Lo Si mengetahui bahwa Yu Leng tidak berada di situ, maka dengan perasaan lega ia berkata lagi. „Agar Wei siohiap dan Siauw Siocia dapat mengetahui rahasia besar yang tadi telah aku katakan, dengarlah baik-baik keteranganku ini.” Maka setelah berkata begitu Ouw Lo Si lain bercerita dari awal sehingga akhir tentang apa saja yang telah terjadi di markas Kong-ya Coat. „O......” Siauw Bie berseru kaget setelah mendengar kisah itu seluruhnya. „Kakakku Siauw Cu Gie juga telah turut dalam pertemuan itu, tetapi ia sungkan menceritakan apa yang telah terjadi di sana!” Siauw Bie tidak mengetahui bahwa Siauw Cu Gie sesungguhnya tidak mengetahui apa yang telah terjadi, karena tatkala pertemuan berlangsung ia sedang rebah di suatu lereng gunung sambil mengerahkan tenaganya untuk membebaskan diri dari totokan seseorang yang berkulit tangan merah! „Betul, semua orang yang hadir di situ telah diancam agar jangan menceritakan apa yang mereka telah lihat!” kata Ouw Lo Si. ,,Siapa yang telah mengancam, sehingga semua orang menuruti saja ancamannya itu?” tanya Wei Beng Yan. „Yu Leng! Guru Wei siohiap!” „Ha, ha, ha! Guruku?!”
318
„Mengapa Wei siohiap tertawa?” tanya Ouw Lo Si heran. „Ketika pertemuan itu berlangsung dua tahun yang lalu,” sahut Wei Beng Yan, „guruku tengah mengawasi rembulan sambil menangis sedih di dalam lembah Yu-leng-kok! Bila Ouw Tay-hiap mengatakan guruku telah hadir di sana, bukankah itu suatu omong kosong besar?” „Tetapi orang itu sendirilah yang telah mengaku bahwa dia adalah suami Thian-hiang-sian-cu!” „Tidak mungkin! Aku belum pernah mendengar ada orang yang mampu hadir di dua tempat yang berlainan dalam waktu yang bersamaan!” Ouw Lo Si segera dapat melihat bahwa Wei Beng Yan sudah sangat tertarik oleh kisahnya itu, maka dengan bernapsu ia berkata lagi. „Wei siohiap, dulu gurumu terkenal sebagai si Naga Sakti Ji Cu Lok, dia tidak pernah mengingkari janji, kesatria dan sakti. Ia pernah berjanji bahwa jika ia sudah mewariskan ilmu silatnya kepada seseorang, ia akan membunuh diri menyusul isterinya di alam baka. Tetapi sekarang ternyata ia telah mengingkari janjinya itu! Malah ia telah mengganas dengan membunuh-bunuhi orang yang tidak bermusuhan terhadapnya!” Wei Beng Yan menundukkan kepalanya bingung.
319
„Aku harus menyelidiki benar tidaknya hal ini,” katanya, „guruku berjanji menjumpai aku di atas puncak Ci-sin-hong satu bulan lagi, pada waktu itulah aku akan menanyakannya tentang hal ini!” „Wei siohiap,” kata Ouw Lo Si, „jika Yu Leng betul bukan gurumu yang asli, berhati-hatilah terhadap dia itu, karena dapat dipastikan bahwa ilmu silatnya lihay sekali. Nah, sampai di sini sajalah. Aku selalu berdoa agar kau berhasil dalam usahamu menuntut balas!” sambil memberi hormat kepada Wei Beng Yan. „Terima kasih, akupun tidak akan lupa kepada ketiga sampul surat Ouw Tay-hiap!” kata Wei Beng Yan sambil membalas memberi hormat. Setelah Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu berlalu, Siauw Bie lalu berkata. „Yan koko, apakah kau percaya omongan si kakek tadi?” „Aku harus percaya, meskipun aku tidak dapat percaya seluruhnya!” „Aku tidak percaya sama sekali obrolan kakek pincang itu!” „Tetapi Bie moay, apa yang telah dituturkannya itu telah banyak bukti kebenarannya!” „Yan koko, kau seorang yang jujur serta luhur, sehingga kau menganggap semua orang sama jujur serta luhurnya seperti kau! Padahal kau tidak mengetahui bahwa si Ahli nujum kipas baja itu
320
di kalangan rimba persilatan terkenal sebagai seorang jago silat yang licik!” „Bie moay, Ouw Tay-hiap telah berlaku baik terhadapku, ia tentu tidak mau melihat aku dipermainkan oleh satu penipu!” „Jadi kau percaya kepada si pincang itu dan mencurigai keaslian gurumu sendiri?” „Aku tidak dapat melupakan budi guruku, tetapi mengapa dia kini demikian berubah? Mengapa......?! Sebetulnya Siauw Bie pun percaya omongan Ouw Lo Si, meskipun tidak seluruhnya. Tetapi karena khawatir Wei Beng Yan nanti bentrok dengan Yu Leng, maka ia telah menganjurkan agar si pemuda tidak mempercayai keterangan si kakek. „Ouw Tay-hiap telah membantu banyak sehingga aku berhasil masuk dan keluar lagi dari lembah Yu-leng-kok dalam keadaan hidup. Ia adalah seorang sahabat kita!” kata Wei Beng Yan. „Meskipun demikian, Yan koko harus berhati-hati menghadapi segala sesuatu demi keselamatan kita berdua.....” „Jangan gelisah, aku akan bertindak demikian rupa sehingga keretakan antara guru dan murid tidak terjadi!” Kemudian karena cuaca sudah mulai gelap, dan merasa letih sekali, mereka lalu mencari tempat yang agak tinggi untuk beristirahat dan melewati sang malam di situ.
321
◄Y► Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu setelah berlalu dari pegunungan Oey-san itu, segera melanjutkan perjalanan mereka ke kota Ceng-yo. „Ouw Si-ko,” kata Khouw Kong Hu sambil berlari di samping si kakek pincang, „aku betul-betul mengagumi otakmu yang lihay itu. Yu Leng mungkin akan mati tanpa kita turun tangan sendiri!” Tetapi Ouw Lo Si tidak menjadi girang dengan pujian itu, ia menghela napas dan berkata. „Hiantee, mungkin siasatku itu tidak akan berhasil seluruhnya!” „Mengapa tidak?” „Aku telah memperhatikan wajah Siauw Bie bahwa ia tidak percaya akan omonganku, aku khawatir ia membujuk Wei Beng Yan sehingga siasatku itu kandas sama sekali!” „Jika sampai kejadian demikian bagaimana?” „Kita tidak akan menunggu sampai kejadian demikian! Kita harus bertindak menurut rencanaku yang kesatu atau yang kedua, yalah pergi ke kuil Cit-po-sie dan menanyakan Bak Kiam Taysu cara menggunakan Tok-beng-oey-hong! Lalu, jika tidak berhasil mendapat keterangan, kita akan mencari Pek Tiong Thian untuk menanyakan dimana letaknya goa Long-ya!”
322
Setelah itu, meskipun merasa khawatir nanti Bak Kiam Taysu jadi curiga dan menuduh mereka telah mencuri kedua benda mukjizat itu, Khouw Kong Hu menurut juga kehendak saudara angkatnya itu. Delapan hari mereka telah mengadakan perjalanan tanpa menjumpai rintangan, maka pada hari kesepuluh mereka sudah melewati tapal batas propinsi Ho-peh, lalu mereka mengambil jalan ke jurusan barat untuk menuju ke pegunungan Ngo-tay-san yang terletak di propinsi San-si. Malam harinya, ketika mereka sudah berada di tepi hutan yang lebat dengan pohon-pohon yang besar dan rindang, tiba-tiba mereka melihat beberapa puluh cahaya lampu merah. „Apa itu?” tanya Khouw Kong Hu sambil menunjuk ke arah cahaya itu. Ouw Lo Si menegasi keadaan hutan pohon cemara, dari mana cahaya merah tadi memancarkan sinarnya, tiba-tiba parasnya berubah kaget dan berseru. „Lentera kertas merah!” „Apakah......?” „Sstt! Jangan bicara terlalu keras, ikutilah jejakku!” sahut Ouw Lo Si sambil berjalan ke arah cahaya tadi. Di hadapan mereka hanya tampak satu jalan yang sempit dan agaknya jarang ditempuh orang. Akhirnya setelah dengan susah-
323
payah dan berjalanan lebih kurang satu lie, mereka melihat satu batu gunung yang besar menghadang di pinggir jalan gunung yang sempit itu. Mereka jadi terkejut sekali waktu dapat melihat delapan huruf tertulis di atas batu gunung itu! Adapun huruf-huruf yang tertera di situ adalah; „Jalan ini sudah tertutup! Yang lancang masuk. MATI!” Lagi-lagi Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu jadi terbengong mengawasi huruf-huruf itu, yang juga bergaya tulisan sama benar dengan tulisan yang mereka lihat di markas Kiu It dan di tepi sungai Tiang-kang! Meskipun si kakek terkenal cerdik sekali, namun dalam keadaan demikian ia tampaknya mati akal. „Apakah Yu Leng pun sudah berada di sini?!” tanyanya di dalam hati, „Jika dia betul-betul sudah datang dia tentu ingin menjumpai Bak Kiam Taysu untuk menuntut Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan, kedua benda mujizat isterinya!” „Si-ko,” Khouw Kong Hu berbisik, “si penghuni lembah Yu-leng-kok pun sudah berada di sini rupanya!” Ouw Lo Si menatap saudara angkatnya dan menyahut dengan suara rendah. „Dia tentu datang untuk menuntut kedua mustika isterinya dari Bak Kiam Taysu. Kita justru datang untuk menanyakan cara
324
menggunakannya Tok-beng-oey-hong yang kini berada di dalam kantongku!” Setelah berpikir dan mempertimbangkan masak-masak, si kakek lalu berkata lagi. „Hiantee, kita harus meneruskan perjalanan kita ini, kita harus masuk ke dalam kuil Cit......” „Tang!! Tang!! Tang!!” Demikianlah suara genta yang gaduh dan gencar itu telah memotong ucapan si kakek, suara itu adalah suatu pemberitahuan tentang datangnya bahaya, yang terdengar datang dari atas puncak Beng-keng-ya di mana kuil Cit-po-sie terletak! Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu segera mengetahui di kuil tersebut telah terbit peristiwa yang gawat! Tatkala itu suasana di sekitar jalan gunung sudah menjadi gelap sekali, ditambah dengan terdengarnya suara genta yang gaduh itu, maka suasana yang memang sudah gelap itu menjadi kian menyeramkan saja! „Hiantee,” kata Ouw Lo Si dengan suara rendah, „tadi kita melihat lentera kertas merah, sekarang terdengar suara tanda bahaya aku merasa pasti Yu Leng sudah mengamuk di dalam kuil Cit-po-sie! Menurut pendapatku, ini justru saat yang paling baik untuk kita bersembunyi di sekitar kuil agar dapat melihat segala sesuatu, mungkin saja kita akan mendapat keterangan yang kita perlukan?
325
Tetapi maksud kita ini mungkin akan membawa malapetaka kepada kita sendiri! Bagaimana pendapatmu?” „Aku selalu menurut saja pendapat Si-ko!” „Baiklah, kita harus lebih berhati-hati lagi, karena di sini lebih berbahaya daripada di gedung ke tiga saudara Tie!” Setelah itu si kakek segera meloncat mendahului saudara angkatnya, kemudian setelah melalui beberapa tikungan, mereka sudah tiba di bawah kaki jurang yang curam. Itulah jurang Beng-keng-ya. Mereka menoleh ke atas, dan melihat sinar lampu yang bercahaya terang berbareng dan mendengar lagi suara genta yang gaduh sekali. Di suatu bagian jurang itu ia melihat tangga tali, yang aneh yalah di tiap dua meter sepanjang tangga tali itu telah digantungi lentera kertas merah, yang menerangi jurang tersebut. Tanpa ragu lagi si kakek telah meloncat dan menyambret tangga tali itu, lalu lincah seperti seekor kera ia sudah mulai mendaki ke atas diikuti oleh Khouw Kong Hu yang pun sudah berhasil menyambret tangga tali itu. Ketika sudah berada di tengah-tengah, tanpa disengaja Ouw Lo Si telah keliru menginjak anak tangga, sebelah kakinya yang pincang terjeblos dan membikin tangga itu tergoncang keras dan membentur jurang itu sendiri, sehingga salah satu lentera kertas
326
tergencat pecah dan apinya berkobar lalu menyambar bagian atas tangga tali yang sedang mereka injak itu. Perlu dijelaskan di sini bahwa tangga itu memang sengaja dipasang di situ untuk dipergunakan sebagai pintu keluar atau masuk ke kuil Cit-po-sie, dan baru ditukar setiap lima tahun sekali, maka api dengan mudah saja menjalar di atas tali yang sudah kering itu. Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu. jadi kelabakan, meskipun mereka pandai menggunakan ilmu meringankan tubuh, tetapi jika tangga terbakar putus, mereka pasti mati terbanting dari tempat setinggi itu! Khouw Kong Hu yang berada di bawah saudara angkatnya, segera mengerahkan tenaga dalamnya dan tiba-tiba tampak tubuhnya melonjak ke atas untuk menyambret tali di sebelah atasan tangan Ouw Lo Si, yang juga segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk melonjak dan menjambret kedua kaki Khouw Kong Hu. Berbareng dengan itu, tangga yang barusan mereka injak itu putus dan jatuh ke bawah sambil terbakar terus! „Aii,” seru Ouw Lo Si, „baiknya Hiantee bertindak cepat jika tidak......” Lalu sambil menahan desiran angin santar yang mendampar tubuh, mereka mengerahkan seluruh tenaga dan cepat sekali mereka sudah tiba di atas jurang.
327
Kemudian tanpa berkata-kata Ouw Lo Si segera menyelidiki lebih jauh keadaan di sekitar tempat itu, sebelum menghampiri kuil yang terletak tidak jauh dari tempat di mana mereka kini tengah berdiri. Genta di dalam kuil masih berbunyi dengan gencar sekali, seolah-olah suara isak tangis minta tolong yang menyayatkan hati. Di suatu tempat tampak sebuah patung dewa yang sudah roboh, dan dapat dilihat dengan jelas bahwa patung itu telah dirobohkan oleh suatu pukulan tenaga dalam yang dahsyat sekali! Lama juga mereka meneliti keadaan sekitar tembok kelenteng itu dalam suasana yang gelap dan gaduh oleh suara genta. Setelah merasa cukup aman, mereka lalu menghampiri pintu kuil, setibanya di sana mereka dapat melihat sehelai papan mereka yang bertulisan. Cit-po-sie. Pintu kuil yang besar dan kokoh tertutup rapat. Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu jadi berdiri menjublek ketika mengingat bahwa mereka kini tak dapat mundur lagi. Bukankah bagian bawah tangga tali yang tadi mereka gunakan sudah terbakar putus dan jatuh ke bawah jurang? Jika Yu Leng pada saat itu mendadak muncul dan mengetahui maksud kedatangan mereka di situ, tentu mereka akan menjadi mangsanya yang empuk tanpa dapat melarikan diri!
328
Ouw Lo Si segera mengerahkan seluruh tenaga dalamnya dan tiba-tiba dengan tinjunya ia memukul tembok di dekat pintu itu. Pukulannya itu demikian cepat dan keras, sehingga tembok itu toblos, dan satu lobang besar lebih kurang tigapuluh centimeter tampak di tembok yang melingkari kuil itu! Ouw Lo Si yang cerdik tidak memukul pintu kuil, karena ia merasa yakin akan membikin orang-orang yang berada di dalam kuil menjadi kaget jika daun pintu yang besar itu berhasil ia gempur roboh dengan tinjunya, suara ambruknya papan jati yang besar itu pasti akan menerbitkan kegaduhan lebih hebat dari pada robohnya batu-batu bata dari tembok yang barusan ia gempur itu, sehingga perbuatannya itu kepergok. delapanBeLAs Dengan hati-hati sekali, Ouw Lo Si lalu menengok melalui lobang itu, jantungnya berdebar keras, karena ia telah membayangkan bahwa ia akan melihat banyak mayat di pekarangan kuil tersebut. Tetapi dugaannya itu ternyata tidak benar, keadaan di dalam pekarangan kuil yang luas itu sepi, tidak tampak seorang manusia pun, lampu-lampu di dalam kuil masih menyala terang benderang, di tengah-tengah ruangan, di atas meja yang tinggi tampak tiga patung Hud-co (Dewa), tengah berdiri dengan sikap yang angker sekali! „Hiantee,” Ouw Lo Si berbisik, „Cit-po-sie telah diserang!” „Tetapi kita tidak melihat mayat-mayat!” sahut Khouw Kong Hu.
329
„Ayoh kita masuk ke dalam kuil!” Ouw Lo Si yang selalu bertindak dengan hati-hati tidak menyahut. Ia hanya mencabut pohon kecil untuk dibuat tedeng agar kehadiran mereka di situ tidak mudah dilihat orang. Kemudian tampak pintu ruangan dalam kuil mendadak terjeblak, seolah-olah diterjang angin santar, diikuti dengan keluarnya banyak pendeta yang berbaris dalam dua barisan, jumlah mereka lebih kurang duapuluh orang, mereka rata-rata berusia setengah abad, mengenakan jubah warna abu-abu dan berwajah kecut masam! Mereka berbaris rapih sekali menuju ke ruang depan, untuk kemudian duduk bersila di hadapan meja sembahyang. Sejenak kemudian tampak seorang pendeta yang berusia sudah lanjut berjalan menuju ke meja sembahyang dan herdiri di hadapan pendeta-pendeta tadi sambil mengepal kedua tinjunya dan berkata. „Kita telah memperoleh kabar bahwa seorang tamu telah datang ke kuil kita ini, tetapi mengapa dia belum mengunjukkan dirinya?” „Hiantee,” kata Ouw Lo Si dengan suara rendah, „pendeta itu adalah Bak Kiam Taysu!” Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu mengira Yu Leng dan Bak Kiam Taysu, telah bertempur di dalam kuil Cit-po-sie, tetapi setelah mendengar ucapan pendeta itu, mereka segera mengetahui bahwa meskipun Yu Leng sudah berada di dalam kuil, namun ia
330
belum memperlihatkan dirinya, dan pertempuran hebat belum terjadi! Setelah lewat lagi beberapa saat lamanya, mereka menjadi heran melihat Yu Leng belum juga muncul di situ, dan akhirnya mereka jadi khawatir kalau-kalau gerak gerik mereka telah diketahui oleh Yu Leng yang entah dimana bersembunyinya! „Hei kau yang sudah datang di kuil ini,” terdengar Bak Kiam Taysu berkata, „Mengapa masih juga bersembunyi! Apakah kau ini dari golongan bajingan atau pencoleng sehingga takut memperlihatkan dirimu?” Baru saja selesai ucapan itu, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa berkakakan yang datangnya dari ruangan dalam kuil! Bak Kiam Taysu dengan kaget menoleh ke arah suara tertawa tadi, ia jadi terkejut ketika melihat orang yang tertawa tadi. Disalah satu dari empat tiang kayu yang besar sekali, yang menahan atap ruangan tengah kuil itu, tampak seorang yang tengah menjepitkan kedua kakinya di atas tiang itu. Orang itu mengenakan pakaian warna abu-abu, tiang-tiang tersebut juga dicat abu-abu sehingga dalam suasana malam ia sukar dilihat. Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu juga terkejut mendengar suara tertawa orang itu, karena dia itu bukan lain daripada Yu Leng yang menutupi wajahnya dengan selembar kain hitam.
331
Sambil tertawa berkakakan Yu Leng melompat turun dengan lincah sekali, sejenak kemudian ia sudah berdiri beberapa puluh tombak saja di hadapan Bak Kiam Taysu. „Kita dapat mendengar tentang kedatangan seorang tamu yang bernama Yu Leng ke kuil kita ini!” kata Bak Kiam Taysu sambil membelalakkan matanya. „Tetapi sepanjang pengetahuanku Yu Leng belum pernah menutupi wajahnya, dan bersikap demikian konyol dengan merusak patung dewa kita!” „Aku datang di sini dengan maksud menanyakan Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan!” sahut Yu Leng sambil tertawa mengejek. Bak Kiam Taysu heran mendengar Yu Leng ingin menanyakan kedua benda mujizat yang telah dicuri orang itu. „Apakah kau tidak mengetahui bahwa pusaka isterimu itu telah dicuri orang dari dalam kuilku ini?!” tanyanya. „Hm! Memang cerdik sekali siasatmu itu, tetapi jangan coba menipu aku!” „Aku tidak pernah bermaksud menipu!” „Mengapa kau menyiarkan kabar bohong!” „Kabar bohong tentang apa?!” „Tentang tercurinya kedua benda pusaka isteriku dari kuilmu ini!” „Jadi kau tidak percaya bahwa kedua benda itu telah dicuri orang?”
332
„Ha, ha, ha,! Tentu..... tentu aku tidak percaya!” Bak Kam Taysu menjadi gusar sekali mendengar ucapan yang sangat mengejek itu, tetapi ia berusaha menahan hawa amarahnya dan berkata dengan tenang. „Kuil Cit-po-sie telah kehilangan kedua benda mujizat itu, dan kehilangan itu telah mencemarkan nama baik kita! Apakah kau kira kita demikian gegabahnya menyiarkan kabar bohong yang justru merugikan kita sendiri!” „Untuk membuktikan kebenaran kata-katamu itu, aku terpaksa harus menggeledah tempat menyimpan benda-benda berharga kuil ini!” Bak Kiam Taysu jadi berjingkrak mendengar permintaan yang melampaui batas itu. „Kau sudah gila barangkali!” bentaknya gusar, „kuil Cit-po-sie senantiasa berbuat kebaikan, dan tidak memperkenankan sembarang orang datang, apalagi untuk menggeledah!” „Hei hwesio! Apakah kau tidak kenal aku ini siapa? Aku sudah datang dan aku tidak suka dilarang untuk berbuat kehendak hatiku!” „Namamu sudah terkenal di kalangan Bu-lim dan mungkin aku bukan tandinganmu! Tetapi aku tidak bersedia dihina orang! Aku melarangmu atau siapapun untuk bertindak sewenang-wenang di daerah kekuasaanku ini!”
333
„Hei hwesio! Apakah kau tidak sayang kuilmu yang sudah seratus tahun usianya ini?” Bak Kiam Taysu memejamkan kedua matanya seraya mendoa, „O-mi-to-hud!...... O-mi-to-hud!” Setelah itu ia membuka lagi matanya dan berkata. „Aku tetap melarang segala penggeledahan!” Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu menyaksikan pemandangan itu dengan hati berdebar-debar, mereka yakin bahwa pertarungan antara Bak Kiam Taysu dan Yu Leng tidak dapat dielakkan lagi. Mereka merasa sangat menyesal tidak dapat membantu, mengingat kepandaian mereka masih sangat ‘terbatas’ terhadap si penghuni lembah yang sangat lihay itu. Mereka hanya dapat menonton seperti apa yang mereka pernah lakukan ketika berada di dekat gedung ke tiga keluarga Tie. „Mungkin kita akan menyaksikan pembunuhan kejam lagi!” Ouw Lo Si berbisik kepada saudara angkatnya. Tetapi tiba-tiba terdengar tindakan kaki yang enteng sekali, yang datangnya tepat dari belakang mereka. Belum lagi keburu berbalik, mereka sudah mendengar suara orang menegur. „Kedua tay-hiap sudah datang ke kuil Cit-po-sie ini, tetapi mengapa masih berdiam di luar?”
334
Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu yang tengah mengalami ketegangan jiwa, mendadak berbalik dan melepaskan jotosan keras ke arah orang yang menegur tadi! Dan terdengarlah suara. „Phess......” Mereka jadi terperanjat ketika merasa seolah-olah telah menjotos segumpalan kapas yang empuk sekali! Orang yang diserangpun agaknya kaget sekali dengan serangan yang tiba-tiba itu, sehingga ia tidak keburu berkelit, maka lekas ia mengerahkan ilmu tenaga dalamnya untuk menerima serangan tinju kedua orang itu! Ouw Lo Si dan Kouw Kong Hu segera dapat melihat dengan samar-samar, seorang pendeta yang sudah lanjut usianya, bertubuh tinggi besar, mukanya merah dan mengenakan jubah warna abu-abu, tengah berdiri tepat di belakang mereka sambil bersenyum simpul! Ouw Lo Si jadi tidak mengerti jotosannya yang barusan dilancarkan, yang sanggup menghancurkan batu, telah kandas di perut pendeta itu, tanpa membikin si pendeta sendiri tergoyah atau menderita luka! Iapun melihat satu wajah yang angker serta gagah, yang menunjukkan watak yang luhur, penuh kasih sayang dan jiwa yang besar! „Di dalam kuil sudah datang seorang tamu,” kata pendeta tua itu dengan tenang sekali, „jika kedua tay-hiap juga turut masuk, maka kita dapat berkumpul bersama-sama!”
335
Lalu ia mempersilahkan Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu mengikutinya masuk ke dalam. Entah mengapa, ucapan yang ramah itu telah membikin Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu menurut saja mengikuti pendeta itu. Setibanya di dalam, tampak Bak Kiam Taysu dan Yu Leng sudah berdiri berhadap-hadapan, dan saling mengawasi tajam. Suasana sudah genting sekali! Namun, begitu si pendeta tua bertindak masuk bersama-sama Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu ketegangan menjadi agak reda juga, sejenak kemudian terdengar Bak Kiam Taysu berkata. “Susiok (paman guru)! Mengapa kaupun turut datang?” „Aku telah mendengar suara genta, dan diberitahukan juga tentang kedatangan Ji Cu Lok, si Naga Sakti!” sahut si pendeta tua. „Aku mempunyai hubungan sangat baik dengan tamu kita ini, maka aku ingin mengetahui juga urusan apakah yang begitu penting sehingga telah memaksa dia berkunjung ke kuil kita ini?” Setelah berkata begitu, si pendeta lalu bertindak lagi dengan sikap ramah-tamah dan tenang seperti orang yang ingin menyambut kedatangan seorang kawan lama! „Ah! Kalau begitu dia ini susiok Bak Kiam Taysu?” pikir Ouw Lo Si, „mungkin juga kedua pendeta ini dapat mengimbangi Thay-yang-sin-jiauw!”
336
Kemudian tampak si pendeta kebut lengan bajunya sebagai isyarat agar Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu berdiri di pinggir tembok dekat tiang besar, lalu ia menghampiri Yu Leng dan berkata. „Ji Cu Lok, limapuluh tahun yang lalu kita pernah bertemu dan berhubungan baik. Semenjak itu kita tidak pernah berjumpa lagi, apakah kau masih ingat namaku?” Yu Leng tidak menyahut. „Meskipun aku telah menyimpan diri di atas jurang Beng-keng-ya yang terpencil ini,” kata lagi si pendeta tua, „namun aku senantiasa mengikuti perkembangan di kalangan Bu-lim dengan seksama. Aku mengetahui juga bahwa semenjak isterimu meninggal dunia kau -- Ji Cu Lok tidak ingin hidup lagi. Tetapi sekarang ternyata kau masih juga bergentayangan dan mengingkari janjimu sendiri dengan berkedok sehelai kain hitam!” „Ha, ha, ha! Aku datang di sini dengan maksud mengambil kedua benda pusaka isteriku yang tidak ada gunanya bagi kalian. Jika kalian tidak sudi mengembalikan, akupun tidak dapat banyak bicara!” „Sudah berpuluh-puluh tahun aku tidak pernah bermusuhan kepada siapapun, sekarang akupun tidak sudi bermusuhan terhadap Ji Cu Lok!” „Kalau begitu, mengapa kau masih ingin mengangkangi kedua benda pusaka itu?” „Kita tidak pernah bermaksud demikian!”
337
„Kembalikanlah, sekarang!” „Ji Cu Lok! Bukankah tadi Bak Kiam telah mengatakan bahwa kedua benda itu telah dicuri orang?!” „Ternyata kau sama gilanya seperti si Bak Kiam itu! Apakah kau ingin aku mempercayai keteranganmu itu!” „Kenyataannya memang demikian!” Setelah mendengar keterangan itu, sambil tertawa Yu Leng lalu bergerak-gerak dengan aneh, dan dengan tiba-tiba ia mengirim jotosannya menyerang Bak Kiam Taysu. Jotosan itu dahsyat sekali dan pasti dapat merobohkan tembok, tetapi itu bukan jurus Thay-yang-sin-jiauw! Bak Kiam Taysu sudah siap, dengan gesit ia melompat mundur satu meter mengelakkan jotosan maut itu, dan setelah itu ia pun balas menyerang dengan mengirim tinjunya ke arah dada lawan. Tetapi untuk kagetnya semua orang, dengan tiba-tiba tampak Bak Kiam Taysu terdampar mundur beberapa langkah ke belakang dengan paras kaget dan pucat! Si pendeta tua jadi kaget sekali melihat kenyataan demikian. „Hei Ji Cu Lok!” katanya. „kau tidak pernah belajar ilmu silat tenaga luar, apakah ilmu silat yang kau lancarkan tadi, ilmu silatmu yang baru??”
338
Ouw Lo Si yang ingin membalas dendam terhadap Yu Leng, dengan berani lalu berkata. „Taysu! Meskipun ia mengaku bahwa dia suami Thian-hiang-sian-cu, tetapi sebenarnya dia bukan Ji Cu Lok!” Si pendeta menjadi heran sekali mendengar keterangan itu. „Kalau begitu, siapakah dia ini sebenarnya?” tanyanya. „Aku..... aku tidak tahu.......” „Hei pendeta!” kata Yu Leng sambil tertawa. „Apakah kau percaya omongan si pincang itu?” „Aku percaya atau tidak itu terserah kepadaku sendiri!” sahut si pendeta, „Sekarang aku hanya minta kau enyah dari sini!” „Jika Yu Leng tidak diberi hajaran di sini,” pikir Ouw Lo Si, „Maka kesempatan sebaik ini sukar didapat lagi, lagi pula aku takkan luput dikejar-kejar olehnya!” Setelah itu ia lalu berkata lagi. „Taysu! Dia pasti bukan Yu Leng asli! Jangan lepaskan dia begitu saja!” „Ji Cu Lok! Aku minta kau enyah dari sini!” „Aku akan berlalu dari sini,” kata Yu Leng, lalu sambil menunjuk Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu ia melanjutkan, „Setelah melihat mayat kedua jahanam itu!”
339
„Hei anjing!” bentak Khouw Kong Hu yang sudah tidak dapat menahan sabar. Bentakan itu dibarengi dengan meluncurnya tiga batang jarum Yan-bie-tin ke arah Yu Leng yang sangat ia benci. Tetapi dengan tiba-tiba saja jarum yang ampuh itu berserakkan di lantai kuil digeprak lengan jubah si pendeta tua! Justru pada saat itu, Yu Leng yang licik dan kejam meloncat secepat kilat menerkam si pendeta tua, yang mendadak mundur mengelakan terkaman lawannya sambil berseru kaget. „Ciam-hua-giok-siu!” Ouw Lo Si tidak menunggu lagi, dengan kipas bajanya ia menyerang Yu Leng dengan jurus Ceng-hong-ci-lay (Angin topan menyapu dorna), dengan maksud menotok jalan darah di bagian lambung dan jidat musuhnya! Khouw Kong Hu pun sudah menyerang dengan gaitan bajanya, bersamaan dengan itu Bak Kiam Taysu juga sudah menerjang, hanya sikapnya menyerang agak ganjil, kedua tinjunya dipasang di depan dada, lalu ia menerjang tepat seperti seekor banteng menubruk mangsanya! Ketiga orang yang terkenal lihay ilmu silatnya telah menyerang, dan dapat digambarkan betapa hebat serangan serentak mereka itu! Tetapi Yu Leng dengan mudah saja sudah mencelat di udara untuk turun di belakang Bak Kiam Taysu, sambil mencakar dengan sarung tangan ajaibnya!
340
„Awas!” seru Ouw Lo Si yang melihat serangan itu. Bak Kiam Taysu yang sedang menunduk tidak keburu mengelak, meskipun ia sudah memutar tubuhnya sedikit, tetapi cakaran Yu Leng kena juga menjambret bahunya sehingga ia terhuyung dengan tindakan berat! Serangan Yu Leng yang aneh itu ternyata belum mau sudah sampai di situ, setelah melukai Bak Kiam Taysu, sarung tangan mautnya telah sekaligus menyapu Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu! Si kakek yang lebih tinggi sedikit kepandaiannya, dengan susah payah dapat juga mengelakkan diri, tetapi tiba-tiba terdengar Khouw Kong Hu menjerit dan tubuhnya terlempar menubruk tembok kelenteng! Setelah itu, Yu Leng lalu menyerang si pendeta tua, yang masih belum mau melawan, hanya terdengar ia berseru. „O-mi-to-hud!” Sambil mengebat langan bajunya menangkis serangan lawannya itu. „Hei pendeta!” Yu Leng membentak, „Apakah kau takut melawan aku?” „Aku minta kau dengan hormat meninggalkan kelentengku ini!” kata si pendeta tenang. „Aku akan membikin kau mau juga melawan aku! Lihatlah!”
341
Setelah berkata begitu, Yu Leng segera meloncat ke arah ke duapuluh pendeta yang sedang berdiri menonton pertarungan itu. Tampak ia mengangkat tangannya dan menyerang! Dalam waktu yang singkat saja ke duapuluh orang itu sudah roboh menjadi mayat! Tetapi si pendeta tua masih tidak mengubris perbuatan Yu Leng yang gila itu, sehingga Ouw Lo Si agak mendongkol. „Jika Taysu masih tidak mau turun tangan, “ katanya, „semua orang di dalam kuil ini akan binasa!” Si pendeta masih berdiri tenang, hanya matanya mengawasi Yu Leng, seolah-olah ia ingin mengintip hati Yu Leng, kawannya dulu, yang kini sudah berubah banyak sekali. „Apakah gunanya ilmu silat yang lihay dan memelihara rohani berpuluh-puluh tahun!” Ouw Lo Si berkata lagi, „jika Tay-su masih tidak mau turun tangan, Cit-po-sie yang telah Taysu bina dengan susah payah ini akan musnah!” Tiba-tiba si pendeta menoleh ke arah si kakek pincang dan berkata. „Tay-hiap, aku minta kau berlalu saja dari sini!” Ouw Lo Si jadi girang sekali, ia menduga si pendeta akan melawan juga akhirnya. Ia merasa pasti Yu Leng akan hancur, meskipun si pendeta sendiri tidak akan luput daripada ancaman cakaran sarung tangan ajaib itu. Maka lekas-lekas ia menyeret Khouw Kong Hu yang terluka parah dan membujuk Bak Kiam Taysu, yang juga
342
sudah menderita luka cukup parah, ke suatu sudut ruangan yang besar itu. „Hai pendeta bangkotan!” kata Yu Leng sambil tertawa mengejek. „Kau sudah berusia sangat lanjut dan mungkin kau sudah lebih dari seratus tahun mengecap kesenangan di dunia ini, maka tibalah waktunya kini untuk kau naik ke sorga!” „Kau dapat membunuh aku, tetapi aku yakin kaupun takkan hidup lama!” sahut si pendeta tua. Yu Leng tertawa berkakakan, tetapi tiba-tiba ia mengangkat sarung tangannya dan menerjang si pendeta tua yang pada waktu itu hanya terpisah kira-kira empat meter. Loncatan dan serangan Yu Leng itu meskipun hebat dan ganas, tetapi tanpa sarung tangan ajaib di tangannya, terjangan itu tidak akan berarti sama sekali bagi si pendeta tua yang memang sangat tangguh itu. Ouw Lo Si yang menyaksikan gerak serta gaya loncatan itu, tiba-tiba jadi terkejut sekali, ia mendadak jadi teringat akan suatu peristiwa, yalah peristiwa yang pernah terjadi di tempat Kong-ya Coat yang pernah memperlihatkan kelihayan sarung tangan tersebut, maka ia merasa pasti serangan Yu Leng akan berhasil memusnahkan tenaga dalam si pendeta tua itu. Jika kekhawatirannya betul-betul terjadi, maka iapun hanya menanti giliran untuk dibunuh oleh Yu Leng yang telengas itu.
343
Si pendeta tua tiba-tiba melangkah mundur beberapa langkah, tampak tubuh Yu Leng terapung di udara sejenak, ketika turun ternyata ia telah menyerang tempat kosong! „Hei!” si pendeta berseru kaget, „apakah benar-benar kau ingin membunuh aku?” Yu Leng tertawa berkakakan, kemudian ia membentak karena merasa heran serangannya tadi tidak membawa hasil. „Siapa kau sebenarnya?” tanyanya. „Aku sudah tua dan linglung, sehingga aku sendiri lupa siapa namaku!” sahut si pendeta yang diam-diam merasa kaget mengetahui Yu Leng tidak kenal kepadanya. „Kau sudah mau mati berani mengejek aku begitu!” „Tidak salah jika kau dikatakan menyamar sebagai Ji Cu Lok! Kau telah berhasil meniru nada suara, gerak gerik dan bentuk tubuhmu kebetulan sekali mirip Ji Cu Lok, tetapi kau tidak mampu meniru satu hal yang membuat aku dapat mengenali bahwa kau bukan Ji Cu Lok!” Ucapan itu membikin Yu Leng terkejut sekali, matanya yang menyala-nyala menatap si pendeta tua untuk kemudian disapukan ke arah Ouw Lo Si, Khouw Kong Hu dan Bak Kiam Taysu „Hiantee,” bisik Ouw Lo Si dalam suasana yang tegang itu, „bagaimana luka di dalam tubuhmu, apakah kau dapat menggerakkan tubuhmu untuk melarikan diri?”
344
„Aku...... aku kira tidak......” sahut Khouw Kong Hu sambil meringis menahan sakit. Ouw Lo Si menghela napas mendengar jawaban yang mengecilkan hatinya itu, iapun dapat melihat bahwa Bak Kiam Taysu juga sudah terluka parah dalam pertempuran satu gebrakan saja tadi. „Pendeta tua!” terdengar Yu Leng membentak lagi, „Matamu lihay, tetapi belum begitu lihay untuk mengenali bahwa aku sebetulnya Ji Cu Lok yang asli!” „Hei anjing!” bentak Khouw Kong Hu yang sudah menganggap jiwanya tidak dapat tertolong lagi, „Jika kau betul Ji Cu Lok, lucutilah topengmu itu!” „Akupun ingin melihat wajah Ji Cu Lok yang telah menghilang lama sekali,” kata si pendeta tua. „Aku hanya dapat mengatakan bahwa aku Ji Cu Lok, mau percaya atau tidak itu terserah!” sahut Yu Leng. „Caramu yang congkak itu memang mirip Ji Cu Lok, tetapi ada satu yang kau tidak dapat menirunya!” kata si pendeta tua. „Aku tidak perlu meniru-niru!” „Mungkin kau tidak mengetahui bahwa Ji Cu Lok seorang yang berterus terang, dia tidak pernah menutup mukanya dengan kain hitam seperti seorang perampok pengecut!” kata si pendeta tua sambil mengebat lengan bajunya ke arah muka Yu Leng.
345
Hembusan angin kebatan lengan baju itu dahsyat sekali, dan...... berhasil menyingkap kain hitam yang menutupi muka Yu Leng yang lekas-lekas menjaga mukanya dengan sarung tangan ajaib. Sewaktu kain hitam tersingkap ke atas Ouw Lo Si dapat melihat dengan samar-samar sesuatu yang luar biasa, yalah muka yang mirip dengan muka kuda dan pucat pasi. „Aku merasa pernah melihat muka yang menjijikan itu!” katanya dalam hati. „Pendeta jahanam!” Yu Leng membentak lagi, „aku bersedia mengampuni selembar jiwamu jika kau mengabulkan pemintaanku!” Dangan tiba-tiba saja, si pendeta yang dari tadi berwajah masam, jadi tertawa berkakakan mendengar ucapan itu. „Mati atau hidup, bagiku tidak ada bedanya!” sahutnya, tetapi aku ingin juga mendengar permintaanmu itu, katakanlah!” „Aku akan berlalu dari sini, jika kau mengembalikan kedua benda pusaka isteriku, Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan!” „Kau mungkin tidak mengerti ucapan Bak Kiam, baiklah aku yang mengulangi, ke dua benda pusaka telah dicuri orang!” „Jika begitu aku terpaksa harus memusnahkan kelenteng ini!” „Pengacau! Bandit!” si pendeta berseru kalap.
346
Kata-kata yang kasar itu sebetulnya tidak atau belum pernah dipergunakan oleh si pendeta tua itu, kalau sampai ia mengucapkan juga kata-kata yang kasar itu, dapat dibayangkan betapa gusar dia itu. „Jika kedua benda pusaka itu masih ada di sini,” kata lagi si pendeta tua, „aku sudah dari tadi mempergunakan atas dirimu!” Mendengar begitu, Yu Leng jadi berpikir sebentar, kemudian sambil menuding si pendeta ia berkata lagi. „Siapa pencurinya?” „Tong-coan-sam-ok!” „Ha, ha, ha! Apakah kau menganggap aku seorang bocah ingusan yang percaya saja keteranganmu itu? Tong-coan-sam-ok mana mampu berbuat demikian!” Tiba-tiba tampak si pendeta tua melangkah maju, dan agaknya ia sudah ingin menyerang Yu Leng ketika terdengar Khouw Kong Hu berkata. „Taysu! Bagaimana mempergunakan Tok-beng-oey-hong?” Pertanyaan itu bukan saja memhuat Ouw Lo Si terkejut tetapi Yu Leng pun mendadak merandek. „Hai bajingan!” bentaknya, „kalian agaknya sangat tertarik kepada benda pusaka isteriku itu, apakah kalian yang telah mencurinya?”
347
„Celaka!” pikir Ouw Lo Si, tetapi lekas-lekas ia menyahut. „Jika kedua benda pusaka itu berada di tanganku, kau takkan dapat bertindak sewenang-wenang di markas Kiu It!” „Aku bertindak sewenang-wenang di markas Kiu It?” „Bukan saja itu, kaupun telah membunuh Ceng Sim Lo-ni dan kedua Saudara Kim di tepi sungai Tiang-kang!” „Bajingan! Jangan kau sembarang menuduh orang!” „Apakah kau masih ingat dengan tulisan yang tergores di tanah. Kematian bagi yang menganiaya?!” „Kematian akan menimpa atas dirimu, jika kau tidak mengembalikan kedua benda pusaka isteriku itu!” „Mengapa kau jadi berbalik menuntut dari kita?” „Karena kau sudah bersekongkol dengan pendeta bangkotan itu!” „Hee, hee, hee! Betul-betul lucu kau ini, karena merasa tidak sanggup melawan Taysu itu, kau jadi mengalihkan perhatianmu kepadaku!” Baru saja selesai ucapan Ouw Lo Si itu Yu Leng sudah meloncat ke arah si pendeta tua sambil mengayunkan tangannya yang memegang sarung tangan ajaib.
348
Si pendeta tidak jadi gugup menghadapi serangan itu dengan tenang-tenang saja tampak ia mengangkat tangannya untuk menyodok dada lawannya. Yu Leng menangkis serangan yang mengandung tenaga tidak kurang daripada limaratus kati itu, dan dengan tiba-tiba saja ruangan di situ menjadi tergoncang, seolah-olah gempa bumi sedang mengamuk. Semua alat perabotan di dalam ruangan, berikut tiga patung Hud-co jadi tergoyah untuk kemudian roboh! Bahkan Ouw Lo Si, Khouw Kong Hu dan Bak Kiam Taysu tidak dapat berdiri tegak, mayat-mayat ke duapuluh pendeta yang tewas ditampar Yu Leng tadi, bergerak-gerak seolah-olah mereka mulai hidup kembali! Si pendeta tua yang melihat serangannya tidak membawa hasil, segera merubah taktik berkelahinya. Mendadak tampak ia membentang kedua lengannya ke atas dan ke bawah, silih berganti tangannya yang kiri dan kanan yang sebentar-sebentar menyodok atau mencengkeram, tetapi Yu Leng dengan lincah dapat mengelakkan serangan-serangan itu. Justru pada saat kedua lengan si pendeta dirapatkan kembali itulah, ia menyerang dada si pendeta dengan sarung tangannya. Si pendeta rupanya sudah mengetahui akan datangnya serangan. Ia lekas-lekas melancarkan jurus Thian-tee-hap-it (Langit dan bumi bersatu padu), untuk menjepit sodokan maut itu. Jepitan itu hebat sekali, seolah-olah sepasang cing-kong kepiting raksasa saja tampaknya, namun dalam waktu yang pendek jepitan
349
itu berubah lagi, terbentang lebar untuk kemudian menerjang sambil mendobrak jenggot dan menggebuk pinggang Yu Leng!! „Ai!” Yu Leng berseru kaget sambil menyerang dengan jurus Sian-jin-cit-to (Dewa menunjukkan jalan), tetapi ternyata jurusnya itu tidak berhasil mengenakan si pendeta tua, bahkan jika ia tidak lekas-lekas mundur, janggut dan pinggangnya pasti hancur meskipun si pendeta sendiri tidak akan luput dari kematian! Diam-diam Yu Leng bergidik berbareng memuji lawannya yang tidak salah telah disohori kelihayan ilmu silatnya. sembilanBeLAs Setelah lompat mundur dan semangatnya pulih kembali, Yu Leng dengan cepat sudah menyerang lagi, tinju kirinya meluncur untuk menyerang dada lawannya, dan waktu si pendeta mengelak sekonyong-konyong ia mengepret dengan Ciam-hua-giok-siu. Si pendeta melompat mundur ke belakang sambil mengangkat tangan untuk melindungi mukanya, namun tiba-tiba ia terhuyung dan tubuhnya mendampar tiang kelenteng. Belum lagi ia keburu memperbaiki posisinya, sekonyong-konyong sarung tangan ajaib telah mencengkeram tenggorokannya. „Jahanam......” si pendeta menggeram, lalu tubuhnya yang tinggi besar itu roboh terbanting di lantai! „Ha, ha, ha! Sekarang tiba giliranmu, bangsat!” bentak Yu Leng sambil menoleh ke arah Ouw Lo Si.
350
Ouw Lo Si sebetulnya sudah ingin berlalu dari situ, ketika pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya, tetapi ia tidak tega meninggalkan saudara angkatnya yang sudah terluka parah. „Hei pincang!” Yu Leng membentak lagi, „Ayoh, keluarkan kedua benda pusaka isteriku!” „Mengapa kau tidak segera mengambil sendiri, jika kau sudah merasa yakin aku yang memegang kedua benda pusaka itu?” tanya Ouw Lo Si dengan berani. Aku akan mengambil setelah kau menjadi mayat! Tetapi...... agar kau tidak jadi setan penasaran, aku ingin menjelaskan mengapa kau harus mati!” „Aku tidak mengerti!” tanya Ouw Lo Si yang sudah mengetahui bahwa Yu Leng suka dipuji-puji. Maksud daripada pertanyaan itu hanya untuk mengulur waktu saja, sambil memikiri jalan keluar dari kematian yang sudah di ambang pintu itu. „Mula-mula aku tidak percaya bahwa Tong-coan-sam-ok dapat mencuri kedua benda pusaka itu, tetapi kini aku percaya,” sahut Yu Leng. „Mengapa kau masih mencurigai aku?” „Ha, ha, ha! Pincang, aku mengetahui siapa kau sebenarnya, kau sudah lama tinggal di dekat lembah Yu-leng-kok, kau pun tentu mengetahui bahwa Tong-coan-sam-ok ingin mengembalikan kedua benda pusaka isteriku dengan maksud menjilat, tetapi aku
351
tidak menjumpai kedua benda itu di tubuh mereka, tentu kau yang telah mengambilnya!” „Untuk menjilat siapa?” „Aku! Yu Leng.......” „Hee, hee, hee! Untuk menjilat Yu Leng alias Ju Cu Lok, bukan kau!” Meskipun berkata demikian sebetulnya Ouw Lo Si merasa heran juga Yu Leng mengetahui semua itu. Ia tidak rela menyerahkan kedua benda yang kini berada disakunya, ia bertekad memiliki kedua benda yang mujijat itu. Tetapi waktu melihat bahwa Yu Leng yang kini mengancamnya memiliki kepandaian demikian dahsyatnya, ia merasa ragu juga untuk menuduh Yu Leng ini Ji Cu Lok yang palsu! „Jadi kau berkesimpulan bahwa aku mengambil kedua benda itu, lalu pergi ke dalam lembah dan menyerahkan kedua benda itu kepadamu?” tanyanya untuk memancing keterangan. „Seharusnya memang demikian, tetapi kau yang tamak tidak berbuat begitu, aku tidak pernah menjumpaimu di dalam lembah?” Ouw Lo Si menjadi bingung mendengar keterangan itu. „Mengapa dia mengetahui semua ini,” pikirnya. „Apakah dia betul Ji Cu Lok yang asli?”
352
Ketika itu Khouw Kong Hu sudah dapat memulihkan kembali tenaganya, ia berbangkit dan dengan satu kedipan mata ia memberi isyarat kepada saudara angkatnya untuk menyerang Yu Leng. Melihat isyarat itu tanpa ragu-ragu lagi Ouw Lo Si segera menerjang dengan kipas bajanya dibarengi dengan kerkelebatnya gaitan baja Khouw Kong Hu. Yu Leng menjadi gusar sekali melihat kedua orang itu masih berani menyerangnya, ia mengegos sambil balas menyerang dengan ke dua jari tangannya, sehingga Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu yang memang bukan tandingannya roboh tertotok dadanya. Setelah itu, Yu Leng lalu menghampiri kedua lawannya yang sudah tidak berdaya, kemudian tangannya merogo saku, dan menggeledah seluruh tubuh Khouw Kong Hu. tetapi ia tidak dapati apa pun kecuali beberapa jarum Yan-bie-tin. „Aha! Jarum Yan-bie-tin!” katanya dengan suara mengejek. „Anjing! Jika kau ingin membunuh, bunuhlah!” bentak Khouw Kong Hu. „Ha, ha, ha! tidak usah kau khawatir, pintu akhirat sudah terbentang lebar menantikan kedatanganmu!” kata Yu Leng sambil memukul punggung Khouw Kong Hu yang jadi tersungkur di lantai. Yu Leng lalu berjongkok dan membuka kedua sepatu Khouw Kong Hu. „Jika aku tidak berhasil mencari di dalam kedua sepatumu ini,” katanya, „aku akan memeriksa di dalam batok kepalamu!”
353
Dengan tiba-tiba saja keringat dingin Ouw Lo Si mengucur deras, karena ia memang menyembunyikan kedua benda pusaka Thian-hiang-sian-cu itu di dalam sepatunya! Yu Leng memeriksa terus, ia bahkan membeset kulit sol sepatu Khouw Kong Hu. „Ha, ha, ha!” Khouw Kong Hu mengejek, „kau betul-betul seekor anjing gelandangan sehingga sepatuku kau serbu juga. Ha, ha, ha!” Ejekan itu membikin Yu Leng murka sekali, ia menepuk punggung Khouw Kong Hu dan membebaskan totokannya sendiri. „Hei anjing!” bentak Yu Leng setelah melihat Khoaw Kong Hu dapat berdiri. „Kau dijuluki si Gaitan baja tinju besi, jika kau dapat lari, kau aku bebaskan!” Mengapa Yu Leng memerintahkan Khouw Kong Hu melarikan diri?! Bukankah ia dapat dengan mudah saja membunuh selagi korbannya tidak berdaya?! Itulah kebiasaan Yu Leng yang kejam serta keji, ia selalu ingin mempermainkan korbannya, seperti kucing mempermainkan tikus sebelum kucing itu sendiri membunuh sang tikus! „Hanya seorang pengecut yang melarikan diri!”sahut Khouw Kong Hu dengan berani. „Nah! Kau jagalah seranganku ini!” kata Yu Leng sambil mengebat sarung tangan ajaibnya.
354
Khouw Kong Hu melompat ke samping, tetapi hembusan angin sarung tangan itu demikian dahsyatnya, sehingga ia roboh terbanting di lantai setelah tubuhnya yang tinggi besar itu terapung di udara. Ia sudah nekad sekali, begitu mencapai lantai, meskipun masih merasa pusing, sambil bergulingan ia melepaskan satu tendangan ke arah kaki Yu Leng. Apa yang terjadi kemudian? Begitu kaki Khouw Kong Hu beradu, ia merasa tulang kakinya itu retak, patah! Ouw Lo Si terkejut sekali, karena ia mengetahui bahwa tendangan saudara angkatnya itu dapat menendang mati seekor kerbau namun sekarang ternyata kaki saudara angkatnya sendiri yang patah. Karena rasa herannya, ia lalu memperhatikan. Ilmu silat Yu Leng tidak dapat diragukan lagi memang sangat lihay, tetapi tiap-tiap kali Yu Leng meloncat ia selalu mendengar suara logam berbunyi! Mendadak ia jadi teringat akan peristiwa di tepi sungai Tiang-kang bahwa kaki Yu Leng tidak mempan digores oleh pedang kedua sandara Kim. „Apakah dia ini demikian sakti, sehingga kakinya berubah menjadi semacam logam!” pikirnya dalam hati, tetapi ketika ia mengingat bahwa yang mengetahui kebiasaannya menyimpan barang-barang berharga di sepatu hanya Khouw Kong Hu, dan Kiu It saja, ia menjadi kaget sekali.
355
Kiu It sudah lama mati, dan Pek Tiong Thian yang selalu erat hubungannya dengan Kiu It, telah terluka urat kedua kakinya sehingga ia menjadi lumpuh dan tidak muncul lagi di kalangan Bulim. Tidak dapat diragukan lagi bahwa Kiu It juga pernah memberitahukan segala rahasia kepada Pek Tiong Thian, termasuk kebiasaannya menyimpan barang berharga di dalam sepatu. „Apakah dia ini Pek Tiong Thian?” pikir Ouw Lo Si. Baru saja berpikir begitu, Yu Leng sudah membentak lagi. „Sekarang tiba gilirannya si pincang!” „Hei jahanam!” Ouw Lo Si balas membentak. „Apakah kau pun bersedia bertempur dengan aku sekali lagi?” Yu Leng merandek mendengar ucapan itu. „Tentu!” sahutnya. „Bebaskanlah totokanmu di tubuhku ini!” Tanpa menunggu lagi Yu Leng segera menepuk punggung Ouw Lo Si yang segera bergerak dan menyerang dengan dua jari tangannya ke arah kain penutup muka Yu Leng dan ia berhasil! Ouw Lo Si jadi berdiri menjublek sambil memegangi kain hitam yang berhasil dijambretnya tadi, dihadapannya tampak satu wajah
356
yang pucat seperti mayat, dengan hidung bengkok seperti patok burung garuda, dan kedua mata bersinar seperti burung kokok beluk. „Pek Tiong Thian!” seru Khouw Kong Hu karena kagetnya. Memang orang itu ternyata bukan Yu Leng alias Ji Cu Lok, dia itu bukan lain daripada adik seperguruan Cia It Hok, Pek Tiong Thian! „Jahanam!” Khouw Kong Hu membentak „Tidak heran jika kedua saudara Kim dari partai Kong-tong telah kau bunuh dengan kejam!” „Ketiga saudara Kim dan Kiu It sudah berada di akherat, mereka tengah menantikan kedatangan kalian berdua di sana!” kata Pek Tiong Thian sambil tertawa seram. Disebutnya nama Kiu It membuat Khouw Kong Hu dan Ouw Lo Si murka sekali, namun mereka merasa jeri dan tidak berdaya menghadapi musuh Kiu It itu. Si Ahli nujum kipas baja harus menggunakan otaknya untuk lolos dari iblis itu. „Jika kenalan lama saling bertemu,” katanya kemudian, „seharusnya mereka beriang hati. Sebagai seorang sahabat, sebelum kau membunuh kita berdua, aku hanya minta kau menjelaskan sesuatu. „Pincang! tidak percuma kau diberi nama julukan si Ahli nujum kipas baja, kau barusan telah mengingusi aku sehingga topengku terbuka. bagus, bagus! Atas kelicikanmu itu, aku akan memberikan ketika untuk kau menanyakan sesuatu.”
357
„Si-ko!” kata Khouw Kong Hu, „Apa gunanya kita banyak cing-cong kepada bajingan ini?” „Sabar Hiantee,” sahut Ouw Lo Si tenang, „kita memang akan mati tetapi kita harus mati secara tidak penasaran! Aku hanya ingin saudara Pek menjelaskan sesuatu.” Melihat wajah Ouw Lo Si yang bergerak-gerak tidak wajar itu, Khouw Kong Hu segera mengetahui bahwa saudara angkatnya itu ingin melaksanakan suatu tipu muslihat. Sepanjang pengetahuannya, saudara angkatnya itu sangat cerdik, mungkin lebih cerdik daripada musuh besar yang mereka tengah hadapi itu. „Bagaimanakah Ouw Si-ko ingin meloloskan diri?” tanyanya dalam hati. ‘“Bukankah disamping ilmunya lihay, si bangsat she Pek ini memiliki Ciam-hua-giok-siu?” Namun, si kakek pincang masih bersikap tenang luar biasa, sejenak kemudian terdengar berkata. „Saudara Pek, setelah Kiu It berpisah dengan kita, ia lalu bergabung dengan kau, dan di kalangan Bu-lim kalian berdua terkenal sebagai “Sepasang Garuda”, tetapi mengapa kau begitu tega membunuh kawanmu yang terakrab itu? Bahkan kau membunuh juga orang-orang yang datang untuk memberi hormat kepada puterinya yang sedang merayakan hari ulang tahun!”
358
„Pertanyaan yang telah kuduga!” sahut Pek Tiong Thian sambil bersenyum getir, “Kiu It telah menghianati aku di waktu aku sangat perlu dengan pertolongannya!” „Mengapa kau menuduh Kiu It sebagai pengkhianat?” „Apakah kau mengetahui bahwa beberapa tahun yang lalu, tiga partai silat telah bergabung untuk menggempur partai Tiang-pek?” Ouw Lo Si mengangguk. „Ketika itu, karena aku masih lumpuh dan harus berjalan dengan bantuan tongkat ketiak. Aku tinggal di suatu rumah gubuk yang terpencil sedikit jauh dari markas partaiku. Pada suatu hari karena merasa sangat putus asa, aku telah menghajar satu batu gunung sehingga batu tersebut terpental, ternyata di bawah batu itu terdapat sebuah kitab yang berjudul Jit-gwat-po-lek (Kitab catatan ilmu sakti)!” „Kitab itu adalah ciptaan Tiang-pek Sang-jin, guru besar partai Tiang-pek, yang sudah lenyap selama seratus delapanpuluh tahun lebih!” kata Ouw Lo Si dengan paras kaget. “Tidak heran kau dengan mudah saja dapat menyamar sebagai Ji Cu Lok!” „Hm! sebetulnya ilmu Thay-yang-sin-jiauw pun berasal dari kitab itu, tetapi ternyata Ji Cu Lok telah lebih dulu menyobek lembaran-lembaran catatan ilmu yang dahsyat itu!” kata Pek Tiong Thian penasaran. „Namun, aku merasa yakin betul bahwa apa yang aku telah pelajari dari kitab itu pasti dapat mengimbangi keampuhan Thay-yang-sin-jiauw!”
359
„Ada hubungan apa antara kitab itu dengan Kiu It, sehingga kau mengatakan kawan karibmu itu mengkhianatimu?” „Meskipun aku telah berhasil mempelajari isi kitab Jit-gwat-po-lek, tetapi aku tidak dapat mempergunakan ilmu-ilmu yang dahsyat itu, karena kedua kakiku masih lumpuh. Aku mengetahui bahwa di suatu puncak pegunungan Kun-lun-san, di daerah Long-ya, ada seorang sakti yang dapat membuat obat yang disebut Cai-cau-leng-cou dan katanya obat itu dapat menyembuhkan kedua kakiku. Aku telah meminta pertolongan Kiu It untuk menukar Ciam-hua-giok-siu dengan obat itu, tetapi ia telah berkhianat dan memberikan benda pusaka itu kepada Kong-ya Coat!” Mendengar penuturan itu, Ouw Lo Si segera mengetahui bahwa Kiu It telah dibunuh karena dianggap telah mengkhianati Pek Tiong Thian. Tidak terduga karena telah diingusi oleh Kong-ya Coat, orang she Kiu itu harus memikul segala akibat ketololannya! „Kiu Ji-tee!” Ouw Lo Si berseru dalam hati, „kau berkawan sembarangan saja sehingga seorang jahanam kau anggap sebagai nabi!” Setelah itu ia mengawasi Pek Tiong Thian dan berkata. „Hei orang she Pek! sebenarnya yang harus kau bunuh bukan Kiu It!” „Siapa lagi kalau bukan dia?” „Kong-ya Coat!”
360
„Mengapa kau dapat mengatakan demikian?” „Karena Kiu It telah ditipu oleh orang she Kong-ya yang licik itu!” Pek Tiong Thian jadi menjublek sejenak, namun setelah berpikir sebentar ia lalu berkata lagi. „Aku tidak mengerti!” „Ketika Kong-ya Coat mengetahui bahwa kau telah bersekongkol dengan Kiu It, ia lalu menukar tanda-tanda yang melekat di ketiga kotak sehingga ia berhasil membawa lari Ciam-hua-giok-siu yang tulen!” Pek Tiong Thian terkejut juga mendengar keterangan itu, tetapi ia tiba-tiba tertawa berkakakan dan berkata lagi. „Hai pincang! Kau memang terkenal cerdik tetapi aku tak dapat kau tipu!” „Meski kau percaya pun, Kiu It tidak akan hidup lagi! Tetapi kau sekarang sudah tidak lumpuh, apakah kau sendiri telah berhasil memperoleh obat dari orang sakti yang kau maksud itu? “ „Ha, ha, ha.! Tidak! Aku tidak pernah bertemu dengan orang sakti itu!” „Tetapi mengapa.......?” „Aku telah membuntungkan kedua betisku dan...... aku sekarang berbetis besi!”
361
Ouw Lo Si maupun Khouw Kong Hu jadi terbelalak mendengar keterangan itu. „Pantas salah satu dari kedua saudara Kim tidak berhasil menggores betismu!” pikir Khouw Kong Hu. „Hei pincang!” Pek Tiong Thian membentak lagi, „sekarang sudah tiba giliranmu untuk digeledah!” „Apakah betul, kau sebagai seorang yang memiliki kepandaian demikian tinggi masih mau memeriksa sepatuku juga?” tanya Ouw Lo Si dengan paras tidak berubah. „Jika perlu, isi perutmu pun aku akan geledah!” „Yah, jika demikian, periksalah!” Ouw Lo Si berlagak menantang dengan hati berdebar-debar. „Tetapi ingat, namamu sebagai seorang yang berkepandaian tinggi akan tercemar, bahwa kau, Pek Tiong Thian yang memiliki kepandaian setaraf dengan Yu Leng, masih sudi menggeledah sepatuku!” Pek Tiong Thian jadi ragu-ragu juga mendengar ucapan si kakek pincang yang lihay itu, karena memang memeriksa sepatu seseorang adalah suatu perbuatan yang dipandang hina oleh orang-orang yang berkecimpungan di kalangan Kang-ouw! „Disamping resiko itu,” Ouw Lo Si melanjutkan, „kau tidak akan menemui apapun dalam sepatuku. Kecuali...... hee, hee, hee, kecuali hawa ‘harum semerbak’ kakiku yang pincang!”
362
„Jadi memang benar kau yang telah mengambil kedua benda itu?” tanya Pek Tiong Thian yang sudah mulai terkena siasat si kakek pincang. „Ya!” „Dimana kau sembunyikan kedua pusaka isteriku itu?” „Di suatu tempat yang tenteram dan aman, di mulut lembah Yu-leng-kok!” sahut Ouw Lo Si mendusta. Dengan jawaban ini si kakek pincang telah mempunyai suatu rencana untuk meloloskan diri dari cengkeraman Pek Tiong Thian. „Baiklah, jika kau bersedia menghantar aku ke tempat itu, aku akan membebaskan jiwamu berdua. Bagaimana?” „Aku akan menghantar kau kesana!” sahut Ouw Lo Si sambil melirik kepada saudara angkatnya. „Tetapi, jika kau sudah memperoleh kedua benda itu, kau jangan coba-coba menahan aku lagi karena aku sudah siap sedia menghadapi kemungkinan itu!” Si kakek berkata begitu hanya untuk menggertak sambel saja, karena menurut pengalamannya, bahwa betapapun jahat serta kejamnya seseorang, dia pasti mempunyai kelemahan, yalah takut mati!! „Apakah, kita berangkat sekarang?” „Hee, hee, hee! Rupanya kau sudah sangat keranjingan kepada kedua benda pusaka itu! Apa kau kira aku dapat bergerak dalam keadaan ditotok begini?”
363
Tanpa menunggu lagi, Pek Tiong Thian segera menepuk pinggang si kakek pincang, yang segera dapat berjalan untuk menghampiri Khouw Kong Hu sambil berkata. „Hiantee, apakah kau dapat berjalan?” Ouw Lo Si mengatakan itu sambil memberi isyarat dengan gerak gerik tangannya. Melihat isyarat itu, Khouw Kong Hu segera mengetahui bahwa saudara angkatnya tidak menghendaki ia mengikut, tetapi ketika mengingat lukanya, ia berpendapat lebih baik lekas-lekas berlalu saja dari kuil Cit-po-sie itu. Di samping itu ia tidak mau saudara angkatnya menghadapi bahaya seorang diri saja, jika mesti mati, ia lebih suka mati bersama-sama. „Tentu saja aku dapat berjalan!” sahutnya sambil menahan sakit. „Kalau begitu, ayolah kita berangkat sekarang!” kata Ouw Lo Si. „Tidak!” bentak Pek Tiong Thian yang jadi merasa curiga dirinya akan ditipu oleh kedua lawannya itu, „lebih baik dia yang sudah terluka parah tinggal di sini saja!” Ouw Lo Si memang tidak menghendaki saudara angkatnya itu turut serta, ia telah berdusta kepada Pek Tiong Thian dengan mengatakan bahwa kedua benda pusaka Thian-hiang-sian-cu berada di dekat mulut lembah Yu-leng-kok, dengan perhitungan bahwa dalam perjalanan ke lembah yang seribu lie lebih jauhnya itu, ia mungkin dapat kesempatan untuk meloloskan diri. Jika
364
Khouw Kong Hu yang terluka ikut serta, bukankah ia jadi tidak dapat bergerak lebih leluasa? Maka ia merasa girang sekali mendengar ucapan Pek Thong Thian itu. Tetapi Khouw Kong Hu yang kurang cerdik jadi gusar. „Hei Ji Cu Lok gadungan!” bentaknya, „apakah kau tidak takut akan pembalasanku di kemudian hari?” Pek Tiong Thian mengetahui bahwa Khouw Kong Hu terkenal sebagai si Tinju besi gaitan baja, ditambah dengan senjata Yan-bie-tin nya, dia itu sangat ditakuti oleh banyak orang di kalangan Kang-ouw, tetapi dia yang telah memiliki ilmu-ilmu dahsyat dari kitab Jit-gwat-po-lek, memandang remeh akan kepandaian orang yang berkaliber seperti Khouw Kong Hu itu. „Ha, ha, ha! Membikin pembalasan? Ha, ha, ha!” katanya sambil mengejek. „Sembuhkan saja tulang kakimu yang patah itu!” „Hiantee, kau tunggu saja di sini. Aku akan lekas kembali!” kata Ouw Lo Si sambil berjalan diikuti oleh Pek Tiong Thian. Ketika sudah tiba di dekat tangga tali untuk turun dari jurang Beng-keng-ya, Pek Tiong Thian segera memeriksa keadaan di sekitarnya, kemudian ia berkata. „Hei pincang! Apakah perlu aku gendong kau untuk turun dari jurang ini?” „Kau betul-betul sangat memandang rendah kepadaku! Aku dapat turun sendiri! Ayohlah!”
365
„Ha, ha, ha! Jika kau telah menghantar aku ke tempat sembunyinya kedua benda pusaka isteriku, kau mau matipun aku tidak keheratan, tetapi jangan sekarang, jangan sekarang. Ha, ha, ha!” Pek Tiong Thian lalu mencari jalan lain. Jalan itu juga sangat curam serta berliku-liku, namun lebih mudah ditempuhnya. Setelah lewat dua jam, barulah mereka tiba di kaki gunung untuk segera meneruskan perjalanan mereka ke lembah Yu-leng-kok. Pada hari keenam berkat ilmu meringankan tubuh jung baik, mereka sudah tiba di luar lembah yang dimaksud itu. Warung arak di mana Ouw Lo Si telah tinggal terpencil banyak tahun masih berdiri. Mereka segera menghampiri warung itu, sebelum masuk Pek Tiong Thian tiba-tiba berkata. „Pincang! ajalmu sudah hampir tiba, hati-hati jika kau mendusta!” Ouw Lo Si jadi berdebar-debar mendengar ancaman itu, karena memang kedua benda pusaka yang diingini Yu Leng tetiron itu berada dalam sepatunya! Namun ia masih dapat bersikap tenang, bahkan sambil bersenyum ia berkata. „O..... suasana di sini membuat aku teringat akan peristiwa-peristiwa yang lalu! Aku sudah tinggal di sini sepuluh tahun lebih sambil membuka warung arak, justru dalam warung inilah aku telah menyimpan kedua benda pusaka Thian-hiang-sian-cu! Mari. kita masuk!” duapuLuh
366
Ouw Lo Si membuka pintu bekas warung araknya, mereka melangkah masuk dan dapat menyaksikan keadaan di dalam warung itu agak kacau, selain itu mereka dapat melihat juga satu orang sedang tidur nyenyak di pinggir satu meja. Begitu mendengar kedatangan Ouw Lo Si dan Pek Tiong Thian, orang itu jadi tersadar, dan sekonyong-konyong ia lalu menyanyi. „Arak yang harum tersedia di dalam guci. Dan hanya diminum untuk melupakan kepedihan hati, Pakaian dan tubuh yang kotor dapat dicuci, Namun perbuatan yang terkutuk dibawa mati!” Setelah bernyanyi, orang itu lalu berkata. „Ouw Lo Si, arak yang kau simpan disini betul sangat lezat rasanya?!” Sambil memegang guci arak orang itu berbangkit dan berkata lagi. „O.... kau datang ke sini sambil mengajak lain orang, siapa dia itu?” Ouw Lo Si mengawasi orang itu yang sudah setengah mabuk, yang mengenakan pakaian compang-camping, yang bukan lain dari pada Si Lam Tojin si pemabuk dari partai Kiong-ka-pang! „Si Lam,” kata Ouw Lo Si. „Jika kau suka minum arak, kau dipersilahkan minum sekenyangnya. Mari aku perkenalkan kepada seorang sahabat!”
367
Dengan satu lirikan tajam Si Lam Tojin sudah dapat mengenali orang yang dikatakan seorang sahabat itu. Kemudian sambil bersenyum dingin ia berkata. „Meskipun aku seorang miskin, tetapi aku tidak sembarangan berkawan. Aku tidak sudi diperkenalkan kepada orang yang tidak jujur!” Ucapan itu sangat menyinggung perasaan Pek Tiong Thian yang sudah tidak memakai kain hitam untuk menutupi mukanya. Si Lam Tojin sudah mengetahui bahwa Pek Tiong Thian dulunya adalah seorang yang jahat, kejam serta licik, tetapi ia tidak mengetahui bahwa Pek Tiong Thian telah berubah demikian liciknya sehingga ia berhasil menyamar sebagai Ji Cu Lok. Mendengar jawaban si pemabuk itu, segera terlintas suatu muslihat di otak Ouw Lo Si yang cerdik itu. „Inilah ketika yang baik untuk aku meloloskan diri!” pikirnya kemudian sambil nyengir penuh arti ia berkata. „Si Lam, kau mungkin sudah mengenal siapa kawanku ini, tetapi mungkin kau tidak mengetahui dia sekarang sudah......” Belum lagi selesai kata-kata itu, Ouw Lo Si tiba-tiba jadi merandek ketika merasa tulang punggungnya tersentuh oleh jari tangan Pek Tiong Thian. Ia sebetulnya ingin membongkar rahasia penyamaran Pek Tiong Thian. Jika ia meneruskan mungkin jari yang sudah mengancam itu akan menewaskan jiwanya!
368
Maka lekas-lekas ia mengalihkan ucapannya itu. „Si Lam, apakah kau berada sendirian saja dalam warungku ini?” Si Lam bukan seorang anak kecil, persambungan kata-kata yang tidak berjuntrungan dan perubahan wajah Ouw Lo Si yang mendadak itu, telah membuatnya menduga bahwa tentu ada apa-apa yang kurang beres dengan kedua orang yang baru datang itu. Tetapi dengan wajah dan sikap seolah-olah ia tidak mengetahui hal itu ia menyahut. „Aku sedang menantikan beberapa orang sahabatku di sini!” „Bagus!” seru Ouw Lo Si dalam hati, „Lebih banyak orang yang datang lebih besar lagi kesempatanku untuk meloloskan diri!” Setelah menoleh kepada Pek Tiong Thian ia lalu berkata kepada si pemabuk. „Siapakah gerangan yang kau nantikan itu?” Acuh tak acuh Si Lam menenggak araknya dari dalam guci, kemudian menghela napas dan berkata. „Semua orang yang bakal datang di sini, aku rasa tidak asing lagi bagimu!” „Bolehkah aku mengetahui?” Ouw Lo Si mendesak.
369
„O...... tentu saja, tentu saja boleh! Mereka adalah Kong-ya Coat alias si Dewa sakti, Siauw Cu Gie alias si Raja naga dari lima telaga, Liong Kie Thian alias si Naga sakti dan isterinya, Leng Cui alias si Burung cenderawasih dari propinsi Kwi-ciu! Coba bayangkan betapa ramainya jika mereka semua sudah berkumpul di sini!” Ouw Lo Si girang bukan main mendengar disebutnya nama-nama itu, karena orang-orang yang bakal datang itu adalah jago-jago silat kelas wahid, yang tidak dapat diragukan lagi akan keistimewaan ilmu mereka masing-masing! Dengan hati berdebar-debar ia lalu menanya lagi. „Apa maksud kedatangan mereka di sini?” „Masuk kedalam lembah Yu-leng-kok dan membikin penyelidikan!” „Penyelidikan?! Bukankah lembah itu sudah tertutup? Dan barang siapa yang berani masuk akan dibunuh?!” Belum lagi Si Lam Tojin menjawab pertanyaan itu, ketika terdengar bunyinya senjata dikeluarkan dari serangkanya dibarengi dengan suara bentakan. „Yang takut mati tidak dipaksa untuk masuk ke dalam lembah!” Ouw Lo Si dan Pek Tiong Thian berbalik dan dapat melihat seorang yang berusia setengah abad bertubuh tegap dan berwajah tampan, sudah berdiri di dalam warung arak itu sambil memegang sebilah pedang di tangan kanannya.
370
Di sampingnya tampak seorang wanita yang herusia kira-kira tigapuluh tahun dan berparas cantik. Mereka yang sudah lama berkecimpungan di kalangan Kang-ouw pasti sudah mengenal siapa mereka itu. Mereka adalah Liong Kie Thian dan isterinya dari propinsi Kwi-ciu! Melihat kedatangan kedua orang itu Ouw Lo Si segera berbisik, seolah-olah ia bertindak untuk kebaikan Pek Tiong Thian yang ingin ia jerumuskan itu! „Saudara Pek, lebih baik kita menunggu dulu sebelum mengambil kedua benda pusaka Thian-hiang-sian-cu itu, bagaimana kau pikir?” „Betul!’“ sahut Pek Tiong Thian dengan suara rendah, „kita akan menanti kedatangan mereka semua, setelah itu aku akan membasminya!” Ouw Lo Si merasa lega mendengar jawaban itu, karena jika Pek Tiong Thian mendesaknya untuk mengambil juga benda pusaka yang dimaksud itu, siasatnya tentu akan kandas! „Saudara Pek,” bisiknya lagi, “angkatlah ancaman jari tanganmu di punggungku, atau mereka akan merasa curiga......” Ucapan yang beralasan itu dituruti saja oleh Pek Tiong Thian, maka Ouw Lo Si lalu berjalan untuk mencari tempat duduk, diikuti oleh Pek Tiong Thian sendiri.
371
Si Lam Tojin yang sudah mengetahui bahwa Ouw Lo Si berada di bawah pengawasan Pek Tiong Thian yang ia tidak sukai itu, segera menanya kepada Liong Kie Thian. „Apakah kau tidak menjumpai Kong-ya Coat dan Siauw Cu Gie di jalan?” Liong Kie Thian menghampiri meja, setelah meletakkan pedangnya di atas meja itu ia menyahut. „Tidak, aku kira mereka sudah tiba di sini.” Apakah sebenarnya yang hendak diselidiki oleh Si Lam Tojin, Kong-ya Coat, Liong Kie Thian beserta isteri dan Siauw Cu Gie? Maksud kedatangan ke lima tokoh persilatan itu bukan lain daripada untuk menyelidiki Yu Leng! Yu Leng yang dulunya terkenal sebagai seorang gagah yang belum pernah mengingkari janji, apa lagi sumpahnya! Bukankah Yu Leng telah bersumpah untuk membunuh diri setelah berhasil mewariskan ilmunya yang dahsyat? Mengapa sekarang dia bukan saja telah menginjak-injak sumpahnya sendiri, bahkan perbuatan-perbuatannya jadi seperti seorang yang otaknya miring! Perbuatan-perbuatan yang gila inilah yang telah membangkitkan rasa curiga ke lima tokoh persilatan yang telah disebutkan di atas, tentang keaslian Yu Leng alias Ji Cu Lok, sehingga mereka
372
bergabung untuk membikin penyelidikan ke dalam lembah Yu-leng-kok. Kemudian terdengar Si Lam Tojin berkata. „Saudara Liong apakah dalam perjalananmu ke sini kau tidak melihat bekas-bekas keganasan Yu Leng?” „Tidak,” sahut Liong Kie Thian. „Ketika aku lewat di pegunungan Ngo-tay-san beberapa hari yang lalu, di kaki jurang Beng-keng-ya aku telah melihat banyak lentera-lentera merah. Mungkin sekali Yu Leng telah berkunjung ke kuil Cit-po-sie di atas jurang itu!” „Betul!” terdengar suara orang dari luar warung arak, „si pemabuk telah menduga tepat Bak Kiam Taysu pun sudah tewas!” Berbareng dengan itu, tampak seorang yang bertubuh kurus jangkung, berjenggot panjang, sudah masuk ke dalam warung arak itu. Orang itu bukan lain dari pada Kong-ya Coat dari Tan-kwi-san-cong. „Saudara Kong-ya,” kata Si Lam Tojin dengan paras kaget, „dari mana kau ketahui bahwa Bak Kiam Taysu telah tewas?” Kong-ya Coat terkejut dapat melihat Ouw Lo Si dan Pek Tiong Thian juga berada dalam warung arak itu, tetapi ia segera menyahut.
373
„Rupanya ada orang yang naik ke atas jurang Beng-keng-ya dan masuk ke dalam kuil Cit-po-sie, aku tidak dapat naik dari tangga tali, karena tangga itu telah terbakar putus. Aku naik dengan mengambil jalan lain dan jadi terkejut sekali ketika melihat Bak Kiam Taysu dan beberapa puluh pendeta sudah menjadi mayat!” Dengan tiba-tiba saja wajah Ouw Lo Si berubah mendengar keterangan itu, ia merasa sangat khawatir akan keselamatan Khouw Kong Hu. „Kong-ya tay-hiap,” katanya gelisah. „di samping Bak Kiam Taysu dan muridnya, apakah kau melihat juga mayat orang lain?” Kong-ya Coat berpikir sejenak, kemudian ia menyahut. „Ada!” „Mayat siapakah itu?” Ouw Lo Si menanya lagi dengan cepat. „Seorang pendeta tua! Aku tidak kenal siapa pendeta yang sudah sangat tua itu.” Barulah mereda ketegangan paras Ouw Lo Si ketika mendengar jawaban itu, ia merasa yakin Khouw Kong Hu sudah dapat berlalu dari kuil Cit-po-sie. Kong-ya Coat lalu berjalan menghampiri satu kursi yang berada di hadapan Pek Tiong Thian. „Saudara Pek,” katanya sambil menatap beringas, “kaupun berada di sini?”
374
„E...... kau masih ingat kepadaku?” sahut Pek Tiong Thian. Kong-ya Coat tidak mengetahui bahwa ilmu silat Pek Tiong Thian kini sudah banyak lebih lihay daripada beberapa tahun yang lalu. Dengan nada mengejek ia berkata lagi. „Saudara Pek, kau sudah lama tinggal di pegunungan Tiang-pek-san, apakah maksud kedatanganmu di sini?” „Urusan pribadiku tidak perlu orang lain usil-usil!” sahut Pek Tiong Thian dengan angkuh, „apakah betul kau dan kawanmu itu menyelidiki tentang keaslian Yu Leng!“ „Ya, apakah kau pun ingin turut serta?” „Orang dapat menggunakan nama Yu Leng, tetapi apakah orang dapat memalsukan ilma silatnya? Ha, ha, ha, aku kira kalian semua akan menjadi mayat di dalam lembah keramat itu!” Liong Kie Thian jadi mendongkol mendengar jawaban itu, yang seolah-olah mengecilkan semangat mereka berlima. „Kong-ya tay-hiap,” katanya sambil mengawasi Pek Tiong Thian „apa gunanya kau bicara dengan orang yang pernah dibikin lumpuh kakinya? Dulu, jika dia tidak meminta ampun sambil berlutut, mungkin dia sudah tiada lagi di dunia ini!! Tidak perlu kita memandang orang semacam dia itu!” „Liong Kie Thian!” bentak Pek Tiong Thian yang merasa sangat tersinggung karena peristiwa kakinya dibikin lumpuh di sebut-
375
sebut. „Isterimu, Leng Cui sangat cantik, apakah kau ingin dia menjadi janda?” Bukan main gusarnya Liong Kie Thian, ia mengambil pedangnya yang tergeletak di atas meja, kemudian setelah menyuruh Kong-ya Coat mundur ia berjalan menghampiri Pek Tiong Thian. Si Lam Tojin menepuk meja dan berkata sambil tertawa. „Ouw Lo Si,” katanya. „Aku telah mengatakan tadi bahwa warung arakmu ini akan menjadi ramai! Sekarang sudah mulai terbukti!” Pek Tiong Thian berbangkit dari tempat duduknya, lalu sambil menepuk pundak Ouw Lo Si ia berkata. „Tunggu sebentar di sini, dan jangan coba lari!” Setelah itu ia lalu menatap Liong Kie Thian dan berkata. „Kau keliru jika merasa dapat mengalahkan orang lumpuh!” „Ha, ha, ha! Aku justru ingin memberikan ketika kepadamu untuk menyerangku tiga kali. Ayohlah hunus senjatamu, aku tidak akan balas menyerang!” Pek Tiong Thian tertawa berkakakan sambil mengambil tempat duduk lagi. „Aku akan melawanmu sambil duduk,” katanya congkak, „Jika dalam tiga jurus aku tidak mampu mengambil jiwamu, kau panggil saja aku anjing!”
376
Semua orang yang berada di situ menjadi terkejut melihat kesombongan orang she Pek itu, kecuali Ouw Lo Si yang sudah mengetahui tentang Ji Cu Lok gadungan itu. „Si Naga sakti menjadi mayat dalam tiga jurus?! tanya Si Lam Tojin sambil membelalakan matanya. „Pek Tiong Thian! Kau betul-betul terlalu sombong!” Liong Kie Thian tidak lagi dapat menahan hawa amarahnya. Seperti seekor harimau terluka ia meloncat dan menusuk dada Pek Tiong Thian yang baru saja duduk dengan jurus Kiun-liong-hie-cui (Seratus naga bermain di air). Pek Tiong Thian tidak gentar, ia tetap duduk dengan sikap yang tenang sekali sambil menanti serangan itu. Tetapi tiba-tiba saja Liong Kie Thian sendiri yang jadi terhuyung sambil melepaskan pedangnya! Mengapa dapat kejadian demikian? Harus diketahui bahwa jurus Kian-liong-hie-cui sangat menakjubkan. Tampak pedang Liong Kie Thian berputar-putar sambil mengeluarkan sinar yang menyilaukan mata, dan dengan tiba-tiba ujung pedang yang tengah mendesing-desing itu menusuk ke arah dada! Tetapi satu sentilan dengan jari tengah tangan kiri Pek Tiong Thian yang dilancarkan secepat kilat dan pada saat yang tepat pula, telah mengelakkan tusukan maut itu. Liong Kie Thian terjerumus ke depan, dan pada saat itu pula ia merasa pundaknya digedor keras sehingga ia terhuyung ke samping. Tanpa terasa lagi ia sudah
377
melepaskan pedangnya karena merasa tangan kanannya menjadi lumpuh dan kepalanya pusing . Ia lekas-lekas berbalik dan dengan tangan kirinya menyerang ke arah pinggang lawannya! Pek Tiong Thian dengan tenang sekali mengulur tangannya untuk menjambret tinju yang tengah meluncur ke arah pinggangnya itu. Mendadak terdengar Liong Kie Thian menjerit seram, karena tangannya patah-patah! Hanya dalam dua jurus saja, orang-orang yang menonton segera dapat melihat bahwa Pek Tiong Thian betul-betul telah membuktikan kata-katanya tadi! Leng Cui tidak dapat melihat suaminya dianiaya demikian rupa, sambil berseru keras ia menyerang dengan sepasang goloknya. Pek Tiong Thian tiba-tiba melepaskan pegangannya dan mendorong tubuh Liong Kie Thian ke arah turunnya sepasang golok, sehingga Leng Cui terkejut dan tidak keburu menarik pulang goloknya itu yang tanpa dapat ditahan lagi sudah membela pundak suaminya sendiri! „A a a h h......!” Liong Kie Thian menjerit seram, darah segera mengucur membasahi tubuhnya. „Ha, ha, ha! Burung cenderawasih dari propinsi Kwi-ciu dan si Naga sakti sebetulnya merupakan pasangan yang sempurna!” kata Pek Tiong Thian, „Sebelum aku mengirim kalian ke neraka, mengapa tidak berpelukan dulu di sini?! Ha, ha, ha!”
378
Setelah itu cepat laksana kilat ia telah mengambil pedang Liong Kie Thian yang kemudian dipatahkan dan dilontarkan ke arah sepasang suami isteri itu. Pada saat itu, Leng Cui yang gelisah karena goloknya sudah melukai pundak suaminya sendiri, dan Liong Kie Thian yang sudah pusing kepalanya dan lumpuh tangan kanannya, tak dapat melihat sambitan maut itu. Kedua potong pedang yang sudah patah itu tepat nancap ditenggorokan kedua orang suami isteri itu, yang lalu roboh tidak berkutik lagi! Lagi-lagi Yu Leng gadungan telah mengambil dua korban jiwa, dalam pertempuran hanya dua atau tiga jurus itu! duapuLuh satu Melihat cara Pek Tiong Thian melontarkan pedang yang telah dipatahkannya itu, Kong-ya Coat yang pernah mendengar keterangan Ouw Lo Si tentang pembunuhan di tempat Kiu It, segera dapat memastikan bahwa Pek Tiong Thian adalah Yu Leng atau Ji Cu Lok gadungan! „Ah!!” serunya, „kalau begitu kau?” „Ha, ha, ha! Memang aku!” kata Pek Tiong Thian. Pada saat itu Siauw Cu Gie juga sudah tiba Ia terperanjat melihat mayat Liong Kie Thian dan isterinya yang menggeletak di lantai berlumuran darah. Ia meneliti keadaan di situ dan ketika dapat melihat sinar mata Pek Tiong Thian, jantungnya berhenti berdenyut, karena sinar mata yang kejam itu tidak asing lagi
379
baginya. Ia jadi teringat akan peristiwa di dekat markas Kong-ya Coat ketika ia sedang berjalan-jalan dan menjumpai orang yang menutupi mukanya dengan selembar kain hitam, yang telah menotoknya dengan sentilan batu kecil! „Kau!!” serunya dengan suara menggetar. „Ha, ha, ha! Kalian telah mengenali aku,” kata Pek Tiong Thian, „maka kalian tidak usah pergi ke dalam lembah Yu-leng-kok lagi!” „Jahanam!” kata Kong-ya Coat sambil mundur beberapa langkah. „Aku tidak menduga jika ilmu silatmu kini sudah banyak maju! Dimanakah Ji Cu Lok sekarang?” „Ha, ha, ha! Ji Cu Lok sudah berada di akhirat!” „Apakah dia mati di tanganmu?” „Ji Cu Lok mati di tanganku! Dan kalianpun akan mati, karena ingin membongkar rahasia Ji Cu Lok!” Setelah menyaksikan Liong Kie Thian dan Leng Cui dibunuh, Si Lam Tojin dan Kong-ya Coat sudah bersiap sedia untuk menggempur Yu Leng gadungan itu, dan semangat mereka jadi bertambah ketika melihat Siauw Cu Gie pun sudah tiba di situ. Mereka hanya merasa sangsi, apakah mereka dapat mengalahkan Pek Tiong Thian yang kini berilmu demikian dahsyatnya. Selagi memikiri siasat untuk mengeroyok, Pek Tiong Thian sudah mengangkat meja untuk kemudian dilemparkan ke arah mereka sambil sekaligus menerkam!
380
Terkaman yang dilakukan sambil menggerak-gerakkan kedua tangan itu adalah jurus yang Pek Tiong Thian dapat pelajari dari kitab Jit-gwat-po-lek ketika ia bersembunyi di dekat markas partai Tiang-pek. Sebelum ia meloncat menerkam, hembusan angin yang diterbitkan oleh gerak itu saja sudah membuat Siauw Cu Gie terpental keluar dari dalam warung arak! Pek Tiong Thian mengejar dan berhasil menghajar pundak lawannya, kesempatan yang baik itu telah dipergunakan oleh Kong-ya Coat untuk menotok jalan darah di punggung Pek Tiong Thian, dibarengi dengan meluncurnya tinju Si Lam Tojin yang mengarah batang leher. Tetapi dengan satu gaya yang menakjubkan sekali, Pek Tiong Thian telah mengegosi kedua serangan yang tidak kelihatan itu. Dalam sekejapan saja mereka kini sudah berada di luar warung arak. Pek Tiong Thian jadi kaget sekali ketika melihat Ouw Lo Si tidak kelihatan mata hidungnya. „Pincang!” serunya seram, „ke manapun kau akan mabur, kau takkan luput dari tanganku! Awas!” Setelah itu ia lalu mengeluarkan sarung tangan ajaibnya dan menyerang Siauw Cu Gie. Siauw Cu Gie yang telah terkena hembusan angin pukulan tadi mengegos, meloncat dan berbareng berusaha menangkis, tetapi entah bagaimana, serangan yang tadinya diarahkan ke dada itu, sekonyong-konyong berubah jadi suatu cengkeraman yang menyerang muka.
381
„Aduh!” Hanya suara itu saja yang masih dapat keluar dari mulut Siauw Cu Gie, setelah itu kepalanya terkulai dan roboh di tanah tidak berkutik lagi, karena Ciam-hua-giok-siu telah menghancurkan batok kepalanya! Melihat kejadian yang mengkirikkan bulu roma itu, Kong-ya Coat dan Si Lam Tojin tidak berhenti menyerang. Bahkan mereka agaknya menjadi tambah sengit. Kong-ya Coat tiba-tiba berseru. „Ai!” Tampak pedangnya berputar sejenak, untuk kemudian meluncur ke arah pinggang Pek Tiong Thian. Bersamaan dengan itu, guci arak Si Lam yang dipergunakan sebagai senjata, juga berputar-putar kian kemari untuk akhirnya menumbuk kepala Yu Leng gadungan. Serangan serentak kedua jago silat kelas wahid itu, yang seolah-olah gelombang raksasa mendampar bibir pantai sambil menerbitkan suara angin menderu itu, ternyata tidak berhasil mengenai sasarannya! Tampak Pek Tiong Thian meloncat ke samping seraya membungkukkan tubuhnya untuk mengelakan tusukan pedang, kemudian sambil tertawa berkakakan seram, ia lagi-lagi meloncat dan berhasil mengelakan tumbukan guci arak, tetapi setelah itu,
382
seperti seekor macan tutul ia berbalik dan mencengkeram tangan yang memegang pedang. Gerak berbalik dan mencengkeram pedang lawan, dilakukan dengan aneh sekali. Misalnya jurus itu dilancarkan oleh orang lain maka sudah dapat dipastikan bahwa tangan orang itu akan tertabas putus. Betapa tidak, karena Kong-ya Coat adalah seorang ahli pedang yang begitu jauh belum pernah menjumpai seseorang yang dapat mengimbangi keahliannya mempergunakan senjata tersebut. Melesetnya tusukan itu telah membuat Kong-ya Coat menjadi kehilangan akan kepercayaan atas dirinya sendiri! Begitupun telah terjadi dengan Pek Tiong Thian, ia juga merasakan suatu perasaan yang boleh dikatakan sama! Karena semenjak keluar dan tempat bersembunyinya, jurus mencengkeramnya itu belum pernah gagal mengambil korban, misalnya waktu melawan Bak Kiam Taysu dan Susiok pendeta itu sendiri, dan Siauw Cu Gie, ketiga lawannya itu telah ditewaskan oleh jurus maut yang dahsyat itu! „Hei Dewa sakti!” bentak Pek Tiong Thian, „tidak kunyana ilmu silatmu telah menampakkan banyak kemajuan!” Baru saja selesai mengatakan begitu, tiba-tiba ia merasa suatu hembusan angin di atas kepalanya dan melihat juga berkelebatnya pedang ke arah betisnya. Lekas-lekas ia menangkis ke atas, sehingga Si Lam Tojin yang menyerang dengan guci arak terdampar mundur beberapa langkah ke belakang, tetapi Pek Tiong Thian tidak menghiraukan sama sekali akan tusukan pedang
383
ke arah betisnya, karena ia menganggap si penyerang akan terkejut sendiri melihat tusukannya tidak membawa akibat yang mengerikan. Ternyata Pek Tiong Thian salah hitung! Begitu mengetahui tusukannya tidak membuat Pek Tiong Thian menjerit kesakitan, Kong-ya Coat tidak menunggu sedetikpun, ia segara merubah jurusnya dengan apa yang dinamakan Hek-liong-cui-cu (Naga hitam mengejar mustika), cepat laksana kilat pedangnya telah meluncur untuk menusuk ke arah pinggang! Serangan yang cepat itu betul-betul di luar dugaan Pek Tiong Thian yang baru saja memukul Si Lam Tojin, sehingga ia tidak mempunyai kesempatan apa-apa lagi untuk mengelak, ia hanya merasa ujung pedang lawannya menyelusup dalam ke dalam ginjalnya! Mungkin jika Pek Tiong Thian menyaksikan cara bagaimana Kong-ya Coat telah pertunjukkan kemahirannya mempermainkan pedang di markas partai Tiang-pek dulu, ia tentu akan membereskan si ahli pedang she Kong-ya ini terlebih dulu daripada si pemabuk yang bersenjata guci arak! „Kong-ya Coat!” serunya menggetar, „baik sekali gerakanmu barusan!” Bukan main terkejutnya Kong-ya Coat melihat lawannya tidak tewas terkena tusukan pedangnya, karena ia telah mengeluarkan apa saja yang dimilikinya untuk membasmi jahanam itu, namun ternyata si jahanam sangat kuat, sehingga tidak menjadi lumpuh
384
meskipun telah ditusuk pinggangnya, suatu anggota tubuh yang cukup mematikan. Pek Tiong Thian pelahan-lahan mengeluarkan Ciam-hua-giok-siu sambil memperlihatkan senyum iblisnya. „Si Lam!” Kong-ya Coat berseru nyaring sambil melangkah mundur. „kau gempur jahanam ini dari belakang!” Setelah itu tampak ia meloncat dan menusuk sehebat-hebatnya ke arah jantung Pek Tiong Thian tanpa menghiraukan Ciam-hua-giok-siu yang menerjang kepalanya! Serangan yang nekad itu belum pernah dilakukan oleh Kong-ya Coat, karena biasanya dengan jurus Naga hitam mengejar mustika saja, ia sudah dapat merobohkan lawan. Disamping itu Kong-ya Coat sudah mampunyai suatu firasat bahwa ia bakal mati di tangan jahanam she Pek itu, maka sebelum ditewaskan, ia bertekad memberikan “hadiah” dengan tusukannya ke arah jantung itu. Mandadak terdengar Pek Tiong Thian maupun Kong-ya Coat menjerit seram! Pek Tiong Thian terdorong mundur sambil menutupi dadanya yang sudah mengeluarkan darah! Sedangkan Kong-ya Coat terjerumus ke depan dengan batok kepala hancur, otaknya berserakan di tanah tercampur dengan darah yang merah segar!
385
Maksud Kong-ya Coat untuk mati bersama-sama tidak terkabulkan! Ia pernah menjagoi di kalangan Bu-lim sehingga berhasil merebut Ciam-hua-giok-siu, tetapi sungguh di luar dugaan semua orang bahwa ia harus mati dicakar oleh sarung tangan ajaib itu sendiri! Pek Tiong Thian berdiri terpaku sambil mengawasi Kong-ya Coat yang roboh tengkurap tepat di depan kedua kakinya. Ia baru terkejut ketika mendengar Si Lam Tojin berkata dengan suara parau. „Jahanam! Ajalmu sudah tiba!” sambil menumbuk kepala lawannya dengan guci arak. Pek Tiong Thian yang selalu memandang rendah kepandaian siapapun, acuh tak acuh bertindak ke depan, dan guci arak lewat di belakang kepalanya. „Hai pemabuk!” bentaknya gusar, „apakah kau kira aku telah terluka parah? Kau keliru, ha, ha, ha! Kau keliru!” „Kau masih harus melakukan satu pertempuran lagi!! Bersiaplah!” Mendadak kedua mata Pek Tiong Thian menyala ditantang secara demikian angkuhnya. Kedua tangannya bergerak untuk menotok dada dan menepuk pinggangnya sendiri untuk sekedar menahan mengucurnya darah dari kedua luka tusukan pedang Kong-ya Coat, lalu ia melangkah maju dan membentak.
386
„Anjing! Aku ingin melihat sampai dimana kelihayanmu itu,” Si Lam Tojin mengangkat guci araknya sambil berkata. „Hari ini ada arak, Maka hari ini aku mabuk, Aku beriang-gembira, Dan persetan dengan hari esok!” Setelah itu ia lalu menuang arak dari dalam guci ke mulutnya. Justru pada saat ia mendongak itu Pek Tiong Thian telah menerkam! Si Lam Tojin memang sengaja bersikap begitu untuk mengejek Pek Tiong Thian, dan ketika merasa lawannya sudah menerkam, lekas-lekas ia menyemburkan arak yang sudah berada di dalam mulutnya, sambil berseru. „Awas! Arak beracun!” Pek Tiong Thian dapat melihat semburan arak, ia menarik napas dalam-dalam untuk kemudian meniup dengan penuh tenaga dan berhasil membuyarkan serangan arak itu tetapi tiba-tiba ia meringis sambil menekap dadanya yang masih mengeluarkan darah. „Jika si pincang masih berada di sini, celakalah aku sekarang!” pikirnya. Apa yang dikhawatirkan oleh Pek Tiong Thian itu tidak mungkin terwujutkan, karena Ouw Lo Si yang tidak menduga pertarungan akan berkesudahan demikian rupa, telah melarikan diri demi kepentingan dirinya sendiri.
387
Sungguh sayang Ouw Lo Si telah bertindak terburu napsu, kalau saja ia menunggu beberapa saat lagi, maka sakit hati Kiu It sekeluarga pasti dapat ia balaskan di depan warung araknya itu. Betapapun dahsyatnya tenaga dalam Pek Tiong Thian, tetapi oleh karena bekas tusukan pedang Kong-ya Coat di dua bagian tubuhnya telah mengeluarkan banyak darah, maka ia menjadi letih juga. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan, ia lekas-lekas mengerahkan seluruh tenaganya untuk disalurkan ke satu bagian tertentu saja, yalah tangan kanannya yang memegang Ciam-hua-giok-siu, ia berdiri tegak sambil menanti serangan selanjutnya. Si Lam Tojin yang tidak mengetahui hal ini, hanya dapat melihat bahwa sekujur tubuh lawannya sudah basah dengan darah, ia merasa yakin lawannya itu telah terluka parah dan hanya menanti mati. Ia melangkah mundur untuk kemudian melancarkan suatu pukulan yang menentukan, tetapi........ tiba-tiba ia tergelincir dan roboh tertelentang, meskipun ia masih sempat juga melontarkan guci arak ke arah lawannya. Kesempatan yang baik itu, telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Pek Tiong Thian. Setelah sarung tangannya menghajar guci arak, ia langsung menerkam sambil mencakar dada Si Lam Tojin yang sudah terlentang di tanah. Pada saat yang gawat itu, tampak Si Lam Tojin menggerakkan tubuhnya untuk duduk dengan nekad melepaskan tinjunya dan......
388
„Kraakkkk!!!” Tinju Si Lam Tojin hancur bertabrakan dengan Ciam-hua-giok-siu yang tanpa berhenti pula telah menghajar dadanya! „Ha, ha, haaaaa......” Pek Tiong Thian tertawa berkakakan kalap karena merasa terharu akan kemenangannya yang terakhir! Namun setelah itu ia tersungkur ke depan dengan tindakan terhuyung sambil menekap dadanya, lalu pelahan-lahan ia bertekuk lutut dan roboh di tanah! Ia merasa bangga sekali telah berhasil sekaligus menewaskan ke lima lawannya yang mempunyai kedudukan kelas tertinggi di kalangan Bu-lim, ia hanya merasa kecewa lembaran-lembaran yang berisikan ilmu Thay-yang-sin-jiauw dalam kitab Jit-gwat-po-lek telah dirampas oleh Ji Cu Lok, kalau tidak, mungkin Kong-ya Coat tidak akan mampu melukainya. Setelah beristirahat entah berapa lama, tiba-tiba tampak ia berbangkit dan membeset pakaian Kong-ya Coat untuk membalut lukanya, kemudian dengan tindakan limbung ia berjalan meninggalkan tempat itu untuk menuju ke pegunungan Oey-san, memenuhi janjinya kepada Wei Beng Yan yang sedang mencari buah yang berwarna kuning. Marilah kita tengok Wei Beng Yan dan Siauw Bie di pegunungan Oey-san di sebelah selatan propinsi An-hwei.
389
Pemandangan di sekitar pegunungan tersebut sangat indah, dihiasi dengan pohon-pohon cemara, dan puncak-puncak yang senantiasa diliputi oleh awan. Rembulan bersinar terang di angkasa raya. Di bawah sebuah pohon cemara di atas puncak Ci-sin-hong, tampak seorang pemuda dan pemudi tengah duduk berdampingan di atas satu batu gunung yang besar. Si pemuda dengan paras gelisah mendongak ke atas sambil memeluk dengkulnya, sedangkan si pemudi tengah menundukkan kepalanya dan termenung. Sejenak kemudian terdengar suara si pemuda yang bukan lain daripada Wei Beng Yan. „Bie moay, setengah bulan lagi guruku akan datang di sini, sedangkan kita belum berhasil menemukan buah yang herwarna kuning. Aku khawatir dia akan marah nanti.” Siauw Bie mengangkat kepalanya dan menyahut sambil bersenyum manis. „Yan koko, jangan gelisah tidak keruan, dalam waktu setengah bulan ini aku yakin kita akan berhasil mencari buah tersebut.” Wei Beng Yan berbangkit sambil mengusap-usap pedang pusaka ayahnya yang tergantung pada tali pinggangnya. Kemudian cepat bukan main ia menghunus pedang itu dan menghajar batu gunung yang berada di hadapannya.
390
„Jika aku tidak berhasil membalas dendam, aku tidak ingin hidup lagi dalam dunia ini!” bentaknya keras. „Pedang ini belum dinodai darah musuh-musuh ayahku, mengapa aku harus menahan malu dan ingin hidup terus?” Suara keluhan itu bergema ke seluruh pegunungan itu. Siauw Bie lekas-lekas berbangkit dan menghampiri kekasihnya sambil menghibur. „Yan koko, kau selalu memikiri urusan membalas dendam, sehingga kau selalu bermuram durja saja dibuatnya.” Siauw Bie melangkah maju lagi, kemudian sambil menaruh tangannya di pundak Wei Beng Yan, ia melanjutkan, „Yan koko, kita masih muda, kesempatan untuk menunaikan sumpah itu masih banyak. Kau berteriak-teriak di malam hari begini, bukankah suaramu yang keras itu akan mengejutkan orang?” „Setelah aku mempertimbangkan dengan teliti, mau tak mau kini harus percaya juga peringatan kakek Ouw. Aku telah membahayakan diri dengan masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok, tetapi..... setelah aku berhasil memperoleh ilmu-ilmu yang dahsyat DIA melarang aku membunuh kedua jahanam Soat-hay-siang-hiong! Orang yang sekarang menutupi mukanya dan melarang aku menuntut balas mungkin bukan guruku, Ji Cu Lok!” duapuLuh dua
391
Paras Siauw Bie yang manis menggiurkan tiba-tiba berubah jadi gelisah tatkala mendengar ucapan itu. Menurut kehendaknya, tidak perduli apakah Yu Leng palsu atau tulen, yang penting yalah Yu Leng dan Wei Beng Yan jangan sampai bertarung! Baru saja ia ingin menghibur, tiba-tiba terdengar suara orang mengulangi kata-kata Wei Beng Yan tadi. „Pedang belum dinodai darah musuh, mengapa ingin hidup menahan malu......?” „Yan koko, apakah itu gema suaramu?” „Tidak mungkin!” sahut Wei Beng Yan kaget. „Aku mengucapkan kata-kata itu sudah agak lama.” Setelah celingukan kanan kiri, ia lalu berseru. „Hei! Siapa yang telah mengulangi ucapanku tadi?” Tetapi yang terdengar hanya gema suara teriakannya sendiri setelah itu suasana menjadi sunyi. Baru saja Wei Beng Yan ingin berteriak lagi, ketika terdengar suara seruling mengalun tinggi membawakan suatu irama yang sedih serta menyayatkan hati, sehingga Wei Beng Yan jadi teringat akan sumpahnya yang belum terlaksanakan. Mendadak ia memukul dadanya sendiri bahna kecewa. „Bie moay! Ayoh kita cari orang yang berseruling itu!”
392
„Yan koko, jangan......!” „Bie moay, bukankah kau pernah bilang bahwa kau takkan mau berpisah dari aku? Ayohlah......” „Ya! Bukankah jika kau tidak pergi berarti aku senantiasa berada didampingnya?!” „Bie moay, lebih banyak kita mengenal orang di kalangan Bulim, lebih baik lagi untuk kita sendiri...... ayohlah ikut aku.” „Tidak! Aku tidak mau mengenal orang itu! Yang pasti takkan membawa kebaikan......” „Mengapa kau berprasangka demikian?” „Ai! Itulah suara seorang wanita! Apa faedahnya berkenalan dengan seorang wanita?” „Ha......! Kau rupanya sudah mulai cemburu ya? Tetapi percayalah, aku hanya seorang tawananmu...... seorang tawanan asmara!” Siauw Bie girang bukan main mendengar pernyataan yang memang ia tunggu-tunggu itu, karena begitu jauh Wei Beng Yan belum pernah menumpahkan isi hatinya, meskipun gerak-geriknya tidak dapat diragukan lagi bahwa pemuda itu sangat mencintai dirinya. Sekonyong-konyong ia berbalik dan melarikan diri. Wei Beng Yan mengejar dan berhasil menangkap serta memeluk tubuh Siauw Bie yang tiba-tiba merasa seolah-olah suatu aliran listrik mengalir ke seluruh jantungnya!
393
„Bie moay, jika kau tidak memperdulikan aku, siapakah yang akan berbuat demikian?” Siauw Bie bersenyum sambil mendongak, kemudian pelahan-lahan meletakan kepalanya di dada Wei Beng Yan, dada yang tergetar keras seperti bedug dipalu tatkala malam takbiran! Suara alunan seruling yang menyayatkan hati terdengar lagi, membuat kedua muda mudi itu tersadar dari impian mesra. „Bie moay, ayohlah kita tengok orang yang berseruling itu!” „Ayohlah.....” Siauw Bie akhirnya meluluskan juga. Mereka lalu mendengarkan lagi dengan teliti suara seruling itu, yang rupanya bergema dari puncak gunung di seberang. Wei Beng Yan menarik tangan Siauw Bie untuk turun dari puncak Ci-sin-hong, kemudian sambil mendengarkan lagi ia berteriak dengan suara yang lantang. „Siapakah gerangan yang berseruling di malam terang bulan yang indah ini?” Suara seruling mendadak mereda sejenak, tetapi tidak lama kemudian mengalun lagi. Wei Beng Yan agaknya mendongkol tegurannya tidak dihiraukan, segera ia mengajak Siauw Bie mengejar ke arah suara itu, setelah membelok di suatu lereng gunung, di atas tanah yang rata di kaki sebuah puncak, tampak tiga rumah gubuk yang dilingkar oleh
394
pagar bambu. Sinar pelita yang berkelap kelip menerangi ruangan dalam rumah-rumah gubuk itu. „Heran,” kata Wei Beng Yan dengan suara rendah, „di tempat yang terpencil ini masih ada manusia yang tinggal.” „Maaf jika aku tidak dapat menyambut sebagaimana mestinya!” terdengar lagi suara dari rumah gubuk itu. „Yan Koko, itulah suara yang telah mengulangi ucapanmu tadi,” bisik Siauw Bie sambil mengikuti Wei Beng Yan yang sudah berjalan menghampiri gubuk itu. „Jika kedua Siohiap sudi berkunjung ke dalam gubukku ini, silahkan masuk,” suara itu mengundang. Wei Beng Yan segera mendorong pintu dan melangkah ke dalam, tiba-tiba ia menjadi terkejut ketika melihat sesuatu dalam rumah itu. „Yan koko. mengapa kau?” tanya Siauw Bie. Wei Beng Yan tidak menyahut, ia berdiri terpaku mengawasi dua patung sebesar dan setinggi manusia biasa, yang dibuat dari tanah liat. Wajah kedua patung itu bukan saja mirip benar dengan wajah manusia hidup, bahkan pakaian yang dikenakannya pun agaknya sering diganti. Sebuah patung merupakan seorang laki-laki yang berusia setengah abad, sedangkan patung yang satunya lagi, adalah patung seorang wanita yang juga menunjukkan usia setengah abad.
395
Kedua patung tersebut berdiri berhadap-hadapan di satu sisi ruangan seolah-olah sedang pandang memandang dengan rasa penuh kasih sayang. „Bie moay,” bisik Wei Beng Yan, „apakah kau ketahui patung siapa ini?” „Tidak,” „Patung yang pria, adalah patung guruku, Ji Cu Lok!” „Ji Cu Lok?! Yu Leng?!” Siauw Bie menanya dengan suara rendah. „Kalian tidak usah khawatir, kedua patung itu aku sendiri yang buat!” kata suara dari dalam, yang agaknya sudah menduga akan keheranan kedua tamunya. „Aku merasa kagum sekali akan kemahiran Siocia membuat kedua patung ini, yang demikian hidup tampaknya!” Wei Beng Yan memuji sambil melangkah masuk. Di dalam tampak seorang gadis tengah duduk bersila di atas tapang. Paras muka dan bentuk tubuhnya membuat Siauw Bie terperanjat, karena penghuni rumah itu betul-betul seorang wanita muda cantik serta menggiurkan sekali. Wei Beng Yan pun tidak kalah terperanjatnya, tetapi ketika dapat firasat Siauw Bie senantiasa menatapnya, ia lekas-lekas berkata. „Aku Wei Beng Yan,” sambil membungkukkan tubuhnya, lalu ia menunjuk kepada Siauw Bie dan melanjutkan.
396
„Dan siocia ini bernama Siauw Bie. Aku harap kunjungan kita yang tiba-tiba ini tidak mengganggu siocia.” „Tidak sama sekali,” sahut si gadis sambil bersenyum lembut. „tetapi untuk menyambut kedua Siohiap pada malam yang sejuk ini, aku hanya dapat menyuguhkan air teh hangat saja, karena aku tidak mempunyai arak.” Wei Beng Yan masih terpesona melihat kecantikan gadis itu, yang menurut taksirannya baru berusia kira-kira sembilanbelas tahun. Di bawah sinar lampu pelita yang cukup terang, tampak gadis itu mengenakan pakaian serba putih dengan tali pinggang berwarna perak. Rambutnya yang tebal hitam diikat dengan pita hijau, parasnya putih segar. Kecantikan, kesederhanaan serta keluwesannya telah membuat Wei Beng Yan seolah-olah melihat seorang puteri dari kahyangan! Siauw Bie juga seorang gadis cantik jelita, dan jika ingin diperbandingkan bolehlah dikatakan bahwa kecantikan kedua gadis itu semua sama dengan setali tiga uang! Hanya kecantikan Siauw Bie agak kurang menonjol. Pada detik itu juga rasa cemburu Siauw Bie sudah mulai berkembang. Sebelumnya ia memang selalu merasa khawatir dan sungkan mengikuti Wei Beng Yan mencari orang yang meniup seruling, maka begitu melihat si penghuni rumah gubuk itu merupakan saingan berat baginya, suatu rasa khawatir akan kehilangan kekasihnya segera terbayang dalam otaknya.
397
Wei Beng Yan bukan seorang pemuda hidung belang, tetapi manusia atau pria manakah yang demikian santri sehingga tidak tergiur atau sedikitnya merasa tertarik tatkala melihat seorang gadis cantik?! Wei Beng Yan masih terpesona memandangi gadis yang berada di hadapannya itu, wajahnya jadi memerah ketika mendengar teguran. „Yan koko, mengapa kau tidak menanyakan nama siocia itu?” „Kita telah...... memperkenalkan diri, siapakah nama siocia jika aku boleh menanya?” katanya tersipu-sipu. Gadis itu rupanya sudah dapat melihat perasaan cemburu Siauw Bie, tetapi sambil bersenyum ia lalu menyahut. „Aku bernama To Siok Keng.” Setelah itu ia melonjorkan kedua kakinya untuk turun dari tapang sambil menyilahkan kedua tamunya duduk. Semua perabotan dalam rumah gubuk itu terbuat daripada bambu yang sederhana, tampak sebuah seruling yang berwarna hitam mengkilap tergantung di dinding. „Kedua Siohiap rupanya tengah menikmati suasana sunyi tenteram di malam terang bulan ini,” To Siok Keng berkata lagi setelah mereka bertiga sudah mengambil tempat duduk. „Bolehkah aku mengetahui kalian dari partai mana?”
398
Siauw Bie yang selalu dimanjakan oleh kakaknya, Siauw Cu Gie, merasa tersinggung mendengar pertanyaan itu, meskipun To Siok Keng tidak bermaksud lain daripada ingin mengetahui. Tetapi memang menurut peraturan yang lazimnya berlaku di kalangan Bu-lim, pertanyaannya yang paling belakang merupakan suatu tantangan untuk mengadu silat. Wei Beng Yan yang dapat melihat perubahan paras Siauw Bie. Lekas-lekas berkata untuk membelokkan pertanyaan To Siok Keng. „Siocia,” katanya sambil melirik Siauw Bie untuk kemudian menatap si gadis she To. „ada hubungan apakah antara siocia dengan kedua orang yang patungnya kini berdiri di depan?” „O...... aku membuat kedua patung itu untuk menunjukkan rasa hormatku terhadap kedua orang itu. Apakah Wei siohiap juga mengenal wajah patung-patung itu??” kata To Siok Keng. Wei Beng Yan menanya dengan maksud mengorek keterangan sebanyak-banyaknya tentang patung yang merupakan gurunya -- Yu Leng yang sudah mulai ia curigakan keasliannya, tetapi mendengar pertanyaan gadis itu yang diucapkan dengan nada lemah lembut itu terpaksa menjawab pertanyaan itu, meskipun pertanyaannya sendiri belum dijawab. „Wajah patung yang pria mirip betul dengan wajah Ji Cu Lok Tay-hiap,” sahutnya „tetapi siapakah patung yang satunya lagi?” „Bila Wei siohiap menjumpai Ji tay-hiap dan dimana?”
399
Baru saja Wei Beng Yan ingin menjawab, Siauw Bie sudah mendahului berkata dengan paras masam. „To siocia, rupanya kau dilahirkan untuk menjadi seorang hakim, sehingga Yan koko ku menjadi gugup menghadapi pertanyaan-pertanyaanmu yang tidak keruan juntrungannya itu!” Paras To Siok Keng menjadi merah sekali ditegur demikian pedas, tetapi ia tidak menjadi gusar. „Siauw siocia,” katanya sambil tetap bersenyum, „maksud dari pada pertanyaanku tadi yalah, jika Wei siohiap mengenal Ji tay-hiap sebelum dia itu tinggal di dalam lembah, Wei siohiap pasti mengenal juga wajah patung yang wanita. Aku tidak mempunyai lain maksud!” „Hm! Tidak mempunyai maksud lain!” Siauw Bie berkata sambil menyindir. „To siocia,” Wei Beng Yan menyelakkan kata-katanya untuk mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan, „aku adalah murid Ji tay-hiap!” Wajah To Siok Keng yang senantiasa berseri-seri tadi, berubah sedih setelah mengetahui bahwa Wei Beng Yan adalah ahliwaris Yu Leng. „Tentu Ji tay-hiap telah membunuh diri......” katanya parau.
400
„Ada hubungan apakah gadis ini dengan guruku,” tanya Wei Beng Yan dalam hati setelah melihat kesedihan gadis itu, „apakah gadis ini masih pernah kemenakan dengan guruku atau......” Wei Beng Yan menjadi bingung, pertama gadis itu telah membuat patung gurunya, kemudian menjadi sedih dengan keyakinan gurunya telah membunuh diri. Untuk membongkar teka-teki ini ia sengaja berkata. „Guruku belum membunuh diri, dia bilang masih ingin hidup sepuluh tahun lagi!” To Siok Keng jadi terbelalak mendengar keterangan itu. „Belum membunuh diri?” tanyanya heran. „Belum!” „Tetapi......” „Tetapi mengapa?” Siauw Bie mendahului menanya. „Bie moay, tenang sedikit!” „Apakah aku masih kurang tenang?” „Bie moay, dalam hal ini bukan To siocia saja yang menjadi ragu-ragu mungkin perasaan yang sama meliputi semua orang yang mendengar keteranganku itu.”
401
„Wei siohiap, aku bukan meragukan keteranganmu, tetapi aku merasa heran mengapa Ji tay-hiap mengingkari sumpahnya sendiri?” Tergerak hati Wei Beng Yan mengetahui gadis itupun merasa heran akan batalnya Yu Leng membunuh diri. Tiba-tiba saja peringatan Ouw Lo Si bergema dalam telinganya. „Wei siohiap, jika Yu Leng betul-betul bukan gurumu yang asli, berhati-hatilah terhadap dia itu, karena dapat dipastikan bahwa ilmu silatnya lihay sekali.......” „To siocia,” ia lalu berkata. “Ada hubungan apakah antara guruku dengan kau sendiri?” „Patung yang kau tidak kenal itu, adalah patung guruku! Subo-mu!” „Thian-hiang sian-cu?!” „Betul!” „Kita telah lama berkecimpungan dalam dunia Kang-ouw,” kata Siauw Bie, „tetapi kita belum pernah mendengar Thian-hiang-sian-cu mempunyai seorang ahliwaris! Sekarang kau mengaku sebagai muridnya, kau yang tinggal terpencil di daerah pegunungan Oey¬san ini. Gegabah benar kau menggertak-gertak orang!” „Siauw siocia, apakah kau mengira aku berdusta?” kata To Siok Keng dengan suara lemah lembut, namun Wei Beng Yan segera dapat melihat bahwa gadis itu merasa sangat tersinggung dengan ucapan Siauw Bie yang ketus itu.
402
Wei Beng Yan jadi serba salah, ia mengetahui bahwa Siauw Bie sangat cemburu, dan jika To Siok Keng yang tadinya tenang telah tersinggung, bukankah suasana kelak akan menjadi gawat? Ia memutar otaknya untuk mencari jalan keluar, tetapi tiba-tiba Siauw Bie memukul meja dan membentak. „Mengapa kau jadi demikian kolokan?” „Bie moay, tenang sedikit. Kita datang di sini sebagai tamu, dan sebagai tamu kita harus......” „Yan koko! Jika dia sebagai nona rumah bersikap kasar, apakah kita sebagai tamu yang harus dihormati dilarang bersikap sama?!” „Bie......” belum lagi Wei Beng Yan menyelesaikan ucapannya itu ketika...... „Siauw siocia, jika aku telah bersikap kasar, aku yang rendah minta diberi maaf. Karena aku tidak pernah bermaksud demikian, aku selalu menganggapmu sebagai seorang sahabat!” „Seorang sahabat yang akan kau gait kakinya dari belakang!” Ucapan tanpa tedeng aling-aling itu membuat Wei Beng Yan merasa malu sekali, ia berbangkit dengan maksud mengajak Siauw Bie berlalu dari situ, tetapi lagi-lagi Siauw Bie yang sudah sangat cemburu itu berkata.
403
„Jika kau benar-benar murid Thian-hiang-sian-cu, ilmu silatmu tentu lihay, tetapi aku masih ingin juga belajar kenal dengan ilmu silatmu itu!” „Bie moay, kita sebagai tamu, jika merasa tidak cocok dengan keadaan di sini, harus lekas-lekas berlalu, mengapa sebaliknya kau mencari setori?” „Wei siohiap memang benar, suasana di sini sudah terlampau panas, sehingga kita tidak lagi dapat pasang omong dengan gembira!” „Kau mengusir aku?” „Bie moay. To siocia tidak pernah mengusir kita,” kata Wei Beng Yan sambil menarik tangan Siauw Bie dan berjalan keluar. Di depan pintu, To Siok Keng mengangguk sambil bersenyum kepada Wei Beng Yan sebagai tanda perpisahan. Tetapi senyum selamat jalan itu dapat dilihat dan disalah artikan oleh Siauw Bie yang sudah dicengkeram rasa cemburu, sehingga tanpa dapat ditahan lagi amarahnya meluap dan meledak. „Perempuan tidak tahu malu, apa yang kau tertawakan?” „Selamat tinggal Siauw siocia, aku senantiasa mengharap kita dapat jadi sahabat di kemudian hari!” „Pfui! Aku merasa jijik bersahabat dangan wanita murah sebagaimu! Aku tidak mau berlalu sebelum menjajal ilmu silatmu!”
404
„To siocia, sampai jumpa lagi!” kata Wei Beng Yan sambil mengajak Siauw Bie berlalu. Tetapi tiba-tiba Siauw Bie meronta dan berhasil melepaskan pegangan tangan Wei Beng Yan. Kemudian gesit seperti seekor rusa ia menyerang To Siok Keng dengan jurus Sin-liong-pa-bie (Naga sakti menggoyang ekornya). To Siok Keng terkejut sekali melihat ketelengasan gadis berangasan itu, dengan gaya yang mempesonakan ia menyelinap ke samping dan...... „Brakkk!!” Dinding pintu rumah gubuknya hancur berantakan diterjang serangan tinju Siauw Bie yang menyerang sekuat tenaganya! “Bie moay! Kau telah merusak rumah orang!” kata Wei Beng Yan sambil lagi-lagi menarik tangan kekasihnya, tetapi Siauw Bie menggetak sambil membentak. „Yan koko! Apakah kau tidak senang dengan perbuatanku ini?!” Wei Beng Yan menghela napas panjang, kemudian ia merangkap kedua tinjunya memberi hormat kepada To Siok Keng, seraya berkata. „Aku sangat menyesal sekali, aku......” „Wei siohiap tidak usah minta maaf, aku mengerti......” To Siok Keng memotong sambil bersenyum.
405
„Hei perempuan tidak tahu malu, jika kau benar-benar pandai silat, seranglah aku! Ayolah serang!” „Siauw siocia, aku tidak ingin bermusuhan denganmu,” sahut To Siok Keng sambil membalikkan tubuh dan berjalan masuk. Perasaan Siauw Bie yang telah ditunggangi oleh cemburu hebat, tidak dapat dikendalikan lagi, begitu melihat To Siok Keng berbalik, ia melangkah maju dan mengirim jotosan ke punggung lawannya dengan jurus Sin-liong-kian-su (Naga sakti mengincar mangsanya). Mendadak tampak To Siok Keng melangkah ke samping, dan serangan Siauw Bie yang sangat berbahaya dan diandalkan itu telah menyerang tempat kosong. Namun Siauw Bie lekas-lekas berbalik dan secepat kilat telah menyerang dada lawannya yang masih juga tidak ingin balas menyerang. Siauw Bie menjadi girang sekali melihat lawannya tidak berusaha mengelak atau menangkis, dan ketika tinjunya sudah hampir mengenai sasaran, tiba-tiba ia menjadi terkejut lengannya telah didorong ke samping oleh Wei Beng Yan sambil mengeluarkan bentakan. „Bie moay, berhenti!” Siauw Bie melihat bahwa To Siok Keng hanya terhuyung sedikit, lalu berdiri jejak lagi dengan wajah pucat. Ia merasa heran sekali hembusan angin serangannya yang dahsyat itu, meskipun telah diselewengkan oleh dorongan Wei Beng Yan, tidak berhasil melukai dada lawannya. Karena menurut perhitungannya dada
406
adalah bagian yang paling lemah dari tubuh manusia terutama bagi seorang wanita. Wei Beng Yan kaget sekali menyaksikan keluhuran serta kebesaran jiwa si gadis she To, yang meskipun telah diejek, ditantang dan akhirnya diserang pergi datang, bahkan hembusan angin serangan Siauw Bie barusan telah melukainya, ia masih tidak mau melawan. Siauw Bie merasa penasaran sekali menyaksikan Wei Beng Yan memihak kepada lawannya itu, maka begitu melihat satu lowongan ia sudah menyerang lagi dengan jurus Siang-liong-cian-cu (Sepasang naga merebutkan mustika) ke arah pelipis lawannya. Tetapi lagi-lagi Wei Beng Yan telah menyampok serangannya itu, sehingga ia sendiri yang terjerumus ke samping! „Bie moay! Mengapa kau jadi seperti orang kalap!” tanya Wei Beng Yan, setelah itu ia menoleh kepada To Siok Keng dan melanjutkan. „To siocia, aku menghaturkan beribu-ribu maaf, apakah kau terluka parah?” „Tidak, aku tidak terluka parah,” sahut To Siok Keng. „terima kasih atas perlindunganmu tadi!” „Hm! Terima kasih!” Siauw Bie mengejek sambil maju satu langkah dan melanjutkan. „Yan Koko, aku minta kau minggir!”
407
„Bie moay! Apakah kau bermaksud membunuh orang yang tidak bersalah?” tanya Wei Beng Yan agak gusar. „Ya! Sedikitnya aku ingin mengajar adat kepada perempuan tidak tahu malu ini!” „To siocia adalah murid Thian-hiang-sian-cu, maka dengan sendirinya ia jadi pernah Sumoay (saudara seperguruan) denganku.” „O...... dia jadinya masih pernah Sumoay denganmu?” „Ya! Kau sudah memukul dan melukainya, apakah, itu masih belum cukup? Ayohlah minta maaf. Nanti jika guruku datang kita akan dimaki!” „Kalau begitu mengapa kau tidak saling berpelukan?! Bukankah pertemuan, yang tidak disangka-sangka antara Suheng dan Sumoay ini sangat mengesankan?! -- Kau memerintahkan aku minta maaf? Pfui! Tunggu saja sampai matahari terbit di sebelah barat!” Setelah berkata demikian Siauw Bie segera meloncat meninggalkan Wei Beng Yan dan To Siok Keng. Wei Beng Yan merasa malu sekali melihat tingkah laku kekasihnya yang kurang ajar itu. „To siocia,” katanya, „aku akan menyeret gadis itu untuk minta maaf kepadamu!”
408
„Tidak usah Wei siohiap memaksanya, aku malah ingin minta agar kau yang minta maaf kepada kekasihmu itu! Wei siohiap, kau kejarlah padanya!” „Baiklah jika demikian. Sampai kita jumpa lagi!” kata Wei Beng Yan sambil mengejar ke arah larinya Siauw Bie. Siauw Bie berlari terus tanpa tujuan di semak belukar yang penuh dengan batu-batu gunung, goa-goa dan pengkolan-pengkolan dalam suasana gelap di malam hari. duapuLuh tiga Wei Beng Yan menyusul dari belakang, namun ia tidak berhasil menjumpai kekasihnya itu. Ia mencari terus dan akhirnya sampai di kaki suatu jurang yang curam, tanpa banyak pikir lagi ia segera meloncat ke atas jurang itu dengan ilmu pik-houw-pa-ciong (Cecak merayap di atas tembok), dan dalam waktu yang pandek saja ia sudah berada di atas jurang itu sambil mengawasi keadaan di sekitarnya, „Bie moay! Bie moay!” serunya keras. Seruan itu diulangi berturut-turut hingga delapan kali, namun yang terdengar hanya gema suaranya sendiri saja. „Anjing! Apakah kau sudah bosan hidup berteriak-teriak tidak keruan di tengah malam buta?!” Demikianlah terdengar suara bentakan seseorang yang entah dari mana datangnya.
409
Wei Beng Yan terkejut sekali, ia meneliti untuk melihat orang yang membentak tadi. „Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu,” katanya. „Aku sedang mencari seorang sahabat yang tersesat di pegunungan ini.” „Ha, ha, ha.! Memang pandai sekali kau mementang bacot!” kata lagi suara itu. Wei Beng Yan mandongkol sekali lagi-lagi dimaki demikian kasar. Suara itu rupanya datang dari atas jurang di hadapannya, yang kira-kira enam atau tujuh meter tiggginya. Ia segera meloncat dan setelah tiba di atas, ia mendadak ingat bahwa ia sedang mencari kekasihnya. „Mencari Siauw Bie adalah lebih penting daripada meladeni orang yang usil mulut ini.” pikirnya. Baru ia ingin meloncat turun lagi. ketika terdengar suara peringatan. „Jaga baik-baik jalan darahmu.......” Secepat kilat karena kagetnya, Wei Beng Yan berbalik dan mengembangkan kedua lengannya untuk menjaga serta berbareng menyerang ke depan, tetapi ternyata ia hanya menyerang angin! „Ha, ha, ha! Wei Tan Wi!” terdengar suara orang yang belum menampakkan diri, „bukankah kau mempunyai nama julukan Hui-hoan-tie-kiam-ceng-tiong-cou? Mengapa kau tidak balas menyerang?!”
410
Selesainya ucapan itu dibarengi dengan suara beradunya tinju dengan sesuatu yang keras. Wei Beng Yan jadi heran sekali mendengar nama ayahnya yang sudah meninggal dunia disebut-sebut seolah-olah ayahnya itu masih hidup! „Siapakah gerangan orang ini?” tanyanya dalam hati yang sudah mulai melupakan tugasnya mencari Siauw Bie. „Hei Wei Tan Wi!” bentak lagi suara orang itu, „dengan jurus ini kau pasti binasa!” Suara itu diteruskan dengan suara pukulan-pukulan dan tertawa berkakakan, kemudian dilanjutkan dengan suara bentakan lagi. „Wei Tan Wi! Sekarang kau rasailah hajaranku!” Wei Beng Yan jadi gusar mendengar ayahnya yang sudah berada di alam baka masih mau diejek. „Hei kau yang memaki ayahku! Perlihatkanlah dirimu!” bentaknya. „Ha, ha, ha! Sungguh besar nyalimu berani mengganggu aku!” orang itu balas membentak. „Siapa kau?!” „Aku putera tunggal Wei Tan Wi!” „Ha, ha, ha! Ha, ha, ha!” „Hei! Apa yang demikian lucu?”
411
„Aku telah mendengar bahwa Wei Tan Wi sudah mati, dan aku mendengar juga bahwa dia mempunyai seorang anak laki-laki......” „Akulah anak laki-lakinya itu!” „Ha, ha, ha.......” Berbareng dengan terdengarnya suara tertawa itu, tampak satu batu gunung yang besar di hadapan Wei Beng Yan melonjak dan terdorong ke samping sambil menerbitkan suara gaduh! „Tentu orang yang memaki ayahku tadilah yang menggerakkan batu gunung itu,” pikir Wei Beng Yan. „mungkin ia ingin memamerkan tenaga dalamnya!” Dari tempat dimana batu gunung itu melonjak ke atas tampak satu lobang yang merupakan sebuah goa. Sejenak kemudian dari dalam goa itu terdengar lagi suara orang itu. „Bocah kemarin dulu! Mengapa kau tidak segera masuk?” Wei Beng Yan ragu-ragu untuk memenuhi undangan itu, karena dari ucapan orang itu, ia dapat menduga bahwa orang yang berada goa itu pasti bukan kawan ayahnya, dan merasa ragu kalau-kalau goa itu merupakan perangkap. „Ha, ha, ha! Ternyata putera Wei Tan Wi seorang yang bernyali kecil!” suara dari dalam goa mengejek. Sambil mengerutkan dahinya, Wei Beng Yan mendengari suara itu, ia merasa suara orang itu tidak asing baginya.
412
„Siapakah sebenarnya orang ini?” pikirnya. „Rasanya aku pernah mendengar logat suaranya itu.” Setelah berpikir sekian lama, ia lalu bertekad menerima undangan orang itu. Ia membetulkan tali pinggangnya dan bertindak masuk ke mulut goa yang gelap sambil berkata dengan suara yang lantang. „Hei kau! Aku Wei Beng Yan ingin menengok cecongormu!” Ia berjalan dengan langkah yang enteng sekali dengan maksud dapat segera mengelakkan tiap serangan gelap yang mungkin dilancarkan oleh orang yang belum memperlihatkan diri itu. Ketika sudah melewati beberapa puluh meter, tiba-tiba hidungnya dapat mengendus bau harum semerbak yang ganjil, ia merandek sambil menahan napasnya. „Di tempat terpencil semacam ini, ada goa yang harum semerbak,” pikirnya kaget, „dan biasanya tempat yang harum di tempat terpencil, adalah tempat-tempat keramat atau tempat bersemayamnya setan-setan!” Tetapi ketika mengingat orang yang berada dalam goa memaki-maki ayahnya, dengan tiba-tiba saja napsu membalas dendamnya jadi berkobar, dan tanpa menghiraukan bau harum semerbak yang disangkanya hawa racun itu, ia menjotos ke depan beberapa puluh kali sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyumbat lobang hidung, mulut, dan semua pori-porinya agar hawa racun tidak dapat menerobos ke dalam tubuhnya.
413
Lalu dengan penuh kewaspadaan, ia berjalan lagi tanpa menjumpai rintangan apapun. Ketika sudah mencapai kira-kira tigapuluh meter, dalam goa itu, ia berhenti dan berkata dengan suara keras. „Hei kau! Aku sudah masuk ke dalam goamu ini, mengapa kau sendiri yang takut menjumpai aku! Ayohlah perlihatkan dirimu!” Ketika membentak tadi, Wei Beng Yan harus membuka mulutnya, dan pada waktu mulutnya terbuka itulah, hawa yang harum semerbak lagi-lagi telah merangsang paru-parunya. Ia jadi kelabakan karena rasa khawatirnya bahwa hawa yang disedotnya itu beracun! „Hee, hee, hee! Jangan khawatir aku nanti membokongmu di dalam lorong goa yang gelap atau melepaskan hawa beracun! Jalanlah lagi sedikit, kau akan melihat rumah tinggalku!” terdengar suara dari dalam lorong, yang agaknya dekat sekali. „Suaranya! Aku rasa pernah mendengar suara itu,” pikir Wei Beng Yan. „Tetapi aku harus senantiasa bersiap sedia serta waspada! Ia lalu bertindak lagi, tatkala sudah maju sepuluh meter. Ia kini berada di luar goa, tampak di hadapannya, di bawah sinar rembulan dan bintang-bintang, satu lembah gunung yang agak rata. Satu sungai kecil mengalir melalui lembah itu. Di kedua tepi sungai kecil itu, tampak pohon-pohon bunga yang beraneka warna tumbuh dengan suburnya. Harum semerbak bunga-bunga itulah yang tertiup angin ke lorong goa, yang telah merangsang hidungnya hebat sekali.
414
Melihat keindahan pemandangan di situ, yang bermandikan sinar si puteri malam, Wei Beng Yan untuk sementara waktu jadi lupa akan segala kesulitannya. „Apakah ini betul-betul tempatnya setan-setan?” pikirnya. Ia memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu, kedua matanya tiba-tiba ditujukan ke ujung lembah, dimana tampak beberapa rumah gubuk yang berukuran mungil-mungil. Di depan salah satu gubuk itu, tampak seorang kakek yang bertubuh kurus jangkung sedang memukuli satu patung batu. Si kakek agaknya tidak menghiraukan kedatangan Wei Beng Yan, ia tetap memukuli patung batunya. Wei Beng Yan menghampiri sambil melancarkan ilmu Leng-po-hui-pu untuk berjalan di atas permukaan sungai bunga yang harum semerbak itu dan jadi terkejut ketika dapat melihat di bagian dada patung batu itu tertulis tiga huruf . ,,Wei Tan Wi” „Hei apa maksudmu memukuli patung yang kau mungkin menganggap sebagai ayahku itu?” Si kakek tiba-tiba berbalik dan mereka jadi berdiri berhadapan kedua pasang mata saling menatap tajam. Sejenak kemudian terdengar Wei Beng Yan berseru kaget. „Kau!?”
415
Si kakek pun agaknya tercengang ketika dapat mengenali putera Wei Tan Wi itu. Karena mereka sudah pernah berjumpah ketika dilangsungkannya pertandingan untuk memilih seorang pemimpin partai silat perairan di atas telaga Tong-teng. Kakek itu bukan lain daripada Tang Ceng Hong yang mengaku sebagai pertapa dari sungai bunga. Si kakek hanya mengetahui bahwa Wei Beng Yan adalah si pemuda baju hijau yang berada di atas kapal bersama-sama Siauw Bie. Kedatangan Tang Ceng Hong di pertemuan di atas telaga Tong-teng dulu, sebetulnya hanya bermaksud untuk mengacau saja, tetapi ia telah dirobohkan oleh Thian-ji-san-jin alias Suto Eng Lok. Ketika dilemparkan ke dalam telaga, ia dapat melihat Suto Eng Lok sedang beriempur dengan si pemuda baju hijau (Wei Beng Yan) yang akhirnya dapat mengalahkan Suto Eng Lok. „O...... jika tidak salah kau ini yang mengaku sebagai Hua-kee-yun-hiap, bukankah?” tanya Wei Beng Yan. „ Betul!” sahut Tang Ceng Hong tenang. „Mengapa kau membenci ayahku?” „Hm! Mengapa aku membenci Wei Tan Wi? Ayahmu telah menewaskan semua anggota keluarga serta keenampuluh orang muridku! Itulah mengapa!” „Aku tidak mengerti!”
416
„Hee, hee, hee! Wei Tan Wi sudah berada di akhirat, dosa-dosanya itu kaulah yang harus menanggung!” Mendengar tuduhan yang diucapkan dengan gusar itu, Wei Beng Yan dengan cepat meloncat mundur jauh ke belakang, khawatir si kakek menyerang. Ia tidak percaya tuduhan kakek itu, yang seolah-olah menganggap ayahnya sebagai seorang yang telengas, sedangkan ia mengetahui betul bahwa ayahnya seorang pendekar yang luhur dan budiman. „Tang Tay-hiap,” katanya. „mungkin kau keliru menuduh. Ayahku tidak pernah bersikap begitu kejam sebagaimana kau duga......” Belum lagi selesai ucapan itu, Tang Ceng Hong sudah menyerang dada Wei Beng Yan sambil membentak. „Kau selalu mengeloni ayahmu, hari ini kau......” Baru berkata hingga di situ, tampak Tang Ceng Hong yang sedang menyerang, terdorong mundur ke belakang dengan langkah limbung. „Tang Tay-hiap!” seru Wei Beng Yan setelah barusan berhasil mengelakkan serangan dan mendorong pundak kakek itu. „Aku tidak ingin bermusuhan dengan Tay-hiap!” Tang Ceng Hong sebagai seorang yang cukup tenar namanya di kalangan Kang-ouw, jadi gusar bukan main kena “dicolong”
417
demikian mudahnya. Sambil membelalakkan matanya ia membentak lagi. „Sungguh gesit gerakanmu tadi! Aku mengetahui bahwa kau telah mengalahkan Suto Eng Lok, tetapi aku tidak gentar menghadapi putera musuh besarku!” Wei Beng Yan bersenyum mendengar kata-kata yang paling belakang itu, ia mengetahui bahwa Tang Ceng Hong telah salah paham mengenai si pembunuh keluarga serta murid-muridnya itu. „Tang Tay-hiap,” katanya tenang, „aku yang muda minta maaf! Aku tidak mengatakan bahwa Tang Tay-hiap telah menuduh orang sembarangan, maksudku yalah mungkin Tang Tay-hiap keliru dalam hal ini!” „Aku keliru?!” sahut Tang Ceng Hong sambil merogo ke dalam sakunya, sejenak kemudian tangannya itu telah memegang secarik kain sutera yang dilontarkan ke arah Wei Beng Yan, sambil melanjutkan ucapannya. „Apakah tanda tulisan dengan darah itu bukan lambang daripada ayahmu itu?” Wei Beng Yan menangkap secarik kain sutera yang dilontarkan itu yang bertulisan beberapa huruf yang berbunyi, „Dosa tidak dapat diampuni!” Di sudut kain sutera itu tertera gambar sebilah pedang dan cincin. Lambang pribadi ayahnya.
418
„Hah?!” serunya tercengang. Karena gaya tulisan itu bukan milik ayahnya. Itu adalah gaya tulisan gurunya, Yu Leng. Ia dapat mengenali, karena Yu Leng atau Pek Tiong Thian pernah memberikannya beberapa surat petunjuk agar ia bersama Siauw Bie pergi mencari di mana letaknya pegunungan Oey-san untuk mencari buah yang berkulit kuning. Pada detik itu juga Wei Beng Yan sudah dapat membuktikan bahwa ayahnya tidak pernah menginjakkan kakinya di tempat Tang Ceng Hong. Ia mengenal baik watak ayahnya, yang jika ingin bertarung melawan musuh, selalu memberitahukan lebih dulu, agar musuhnya itu bersiap sedia dan menghadapinya secara berterang. Memang di kalangan Kang-ouw, Wei Tan Wi terkenal sebagai seorang pendekar sejati yang tidak pernah membokong, mempergunakan siasat-siasat keji atau meninggalkan tanda apapun sebagaimana tertera di kain sutera itu. „Tang Tay-hiap,” kata Wei Beng Yan akhirnya. „Kapankah terjadinya peristiwa ini?” „Pertengahan bulan delapan, sembilan tahun yang lalu!” „Bulan delapan...... sembilan tahun yang lalu......” kata Wei Beng Yan sambil berpikir. „Hah! Tatkala itu ayah dan aku sedang berada di atas telaga Tong-teng menikmati malam bulan purnama!”
419
„Kau masih menyangkal, setelah melihat bukti yang tidak dapat diragukan lagi itu?” „Hanya Tang Tay-hiap saja yang mengatakan, tidak dapat diragukan lagi!” „Apa artinya pedang dan cincin di atas kain sutera itu?” „Tang Tay-hiap, sebelum aku menjawab, apakah kau bersedia menerangkan cara bagaimana kau menjumpai kain sutera ini?” „Beginilah caranya!” sahut Tang Ceng Hong sambil melepaskan tinjunya ke arah dada Wei Beng Yan. „Tang Tay-hiap!” bentak Wei Beng Yan sambil menahan kepalan Tang Ceng Hong dengan telapak tangannya, „kau akan menyesal jika menolak permintaanku tadi!” Tang Ceng Hong terkejut sekali serangannya itu ditahan tanpa membuat si penahan sendiri terpental ke belakang. „Ai!” serunya dalam hati, „jika ia balas menyerang, bukankah aku yang akan mendapat susah?” Setelah itu ia lalu berkata. „Apa yang kau kehendaki?” sambil menarik pulang tinjunya „Cara bagaimana kau menjumpai kain sutera ini? Apakah kau melihat ayahku melakukan pembunuhan kejam itu?”
420
Tang Ceng Hong mengenangkan peristiwa sembilan tahun yang lampau itu. Tatkala itu ia baru kembali dari perjalanan jauh dan merindukan sekali keluarga serta murid-muridnya. Tetapi begitu tiba di depan pintu rumahnya, ia menjadi terkejut melihat darah cerecetan di sana sini dan tiada satupun orang yang masih hidup. Di atas meja, ia menemui secarik kain sutera yang kini dipegang oleh Wei Beng Yan, ia segera menganggap bahwa yang membunuh keluarga serta murid-muridnya itu adalah Wei Tan Wi. Tetapi karena merasa yakin ia tidak mampu menggempur musuh besarnya itu, ia lalu pergi ke pegunungan Oey-san dengan maksud memperdalam ilmunya. Dan begitu merasa kepandaiannya sudah cukup, ia memperoleh kabar bahwa musuh besarnya (Wei Tan Wi), sudah dibunuh oleh Soat-hay-siang-hiong dan Eu-yong Lo-koay. Oleh karena rasa kecewanya itulah, ia telah membuat sebuah patung, yang meskipun tidak mirip sama sekali dengan potongan serta wajah musuhnya, tetapi oleh karena dapat melihat tiga huruf yang digores oleh dia sendiri di atas dada patung itu, rasa kepuasan hatinya terkabulkan juga tiap-tiap kali ia menyerang patung itu. Kali ini, setelah mendengar keterangan Wei Beng Yan bahwa Wei Tan Wi tidak pernah membokong atau meninggalkan tanda apapun di tempat musuh, dan setelah menyerang pemuda itu tanpa si pemuda sendiri balas menyerang, pada hal kemungkinan untuk si pemuda membunuh dirinya terbuka selebar-lebarnya, ia menjadi sadar bahwa ia mungkin telah diperalat oleh orang yang mengandung dendam terhadap Wei Tan Wi.
421
„Wei siaohiap,” katanya, „dapatkah kau memberi keterangan sesuatu mengenai peristiwa ini?” „Aku merasa girang sekali tay-hiap memajukan permintaan itu!” „Siapakah yang demikian keji ingin menjebloskan aku?” „Aku mengetahui siapa orang itu!” „Siapa?!” kata Tang Ceng Hong sambil meloncat ke depan mendekati Wei Beng Yan. Desakan itu membikin Wei Beng Yan gugup. „Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya dalam hati. Untuk sementara waktu ia jadi bingung, karena belum dapat memastikan bahwa gurunya itu adalah Yu Leng palsu, tetapi ia merasa yakin betul bahwa tulisan yang tertera di atas kain sutera itu pasti tulisan gurunya, Yu Leng. „Wei siaohiap,” Tang Ceng Hong berkata lagi, „apakah kau sungkan memberitahukan siapa orang itu!” „Tay-hiap, aku bukan sungkan memberitahukan, tetapi karena sesuatu hal, aku belum dapat menyebut nama orang itu!” „Mengapa?” „Mengapa? Itu juga aku belum dapat menjelaskan sekarang!”
422
„Jika aku percaya kepadamu, lalu bagaimana?” „Aku berjanji akan membantu tay-hiap membunuh jahanam itu! Tay-hiap telah menahan sabar selama sembilan tahun dan aku percaya bahwa tay-hiap pasti dapat menahan sabar sedikit waktu lagi!” duapuLuh empat Wei Beng Yan berkata begitu, karena mengingat bahwa setengah bulan lagi ia akan menjumpai gurunya di atas puncak Ci-sin-hong. Ia merasa gelisah juga, karena jika gurunya itu Yu Leng yang tulen, ia pasti tidak akan berhasil memenuhi janjinya terhadap Tang Ceng Hong itu, sebab Yu Leng yang tulen lebih unggul dalam segala hal! Tetapi jika ternyata Yu Leng palsu, gurunya yang palsu inipun bukan main lihay kepandaiannya hingga dapat menyingkirkan gurunya yang tulen. Mengetahui Wei Beng Yan ingin membantunya. Tang Ceng Hong segera berubah sikap terhadap pemuda itu. „Wei siohiap masih muda sekali ketika ayahmu tewas, dari siapakah kau memperloleh pelajaran silat?” tanyanya. „Ji Cu Lok!” „Yu Leng?!” „Betul.”
423
Tang Ceng Hong tertawa berkakakan mendengar itu, lalu sambil tertawa terus ia berkata . „Tidak heran kau telah mempermainkan aku demikian mudah barusan! Tetapi..... mengapa kau berada di pegunungan Oey-san ini?” „Aku tengah menjalankan perintah guruku untuk mencari semacam buah yang berkulit kuning, yang katanya terdapat di pegunungan ini.” „Kapan Ji Cu Lok memerintahkan Wei siohiap?” „Beberapa hari yang lalu.” Tang Ceng Hong tetkejut mendengar jawaban itu, kemudian sambil mengerutkan dahinya ia berkata lagi. „Apakah Ji Cu Lok belum membunuh diri?” „Belum!” „Baik Apakah Ji Cu Lok telah berubah menjadi seorang pelawak besar?” kata Tang Ceng Hong sambil menggaruk-garuk kepalanya. „Tetapi apakah Wei siohiap mengetahui nama buah yang berkulit kuning itu?” Wei Beng Yan tidak mengetahui nama buah itu, ia lalu melukiskan dengan gerak tangan bentuk buah yang hendak dicarinya, yang membuat Tang Ceng Hong heran sekali.
424
„Wei siohiap, “ katanya, „mungkin kau keliru mendengar pesan gurumu.” „Guruku telah berulang kali memesan, dan aku merasa yakin aku tidak keliru!” „Ini betul-betul mengherankan!” „Buah apakah yang sebetulnya dimaksud oleh guruku itu?” „Buah itu bernama Cian-jin-huang.” „Apa khasiatnya?” „Mengerikan!” Wei Beng Yan kaget sekali. „Mengerikan? Apakah buah itu beracun?!” tanyanya lagi. „Betul, sangat beracun! Dengan satu buah saja orang dapat membasmi seribu jiwa! Beberapa waktu yang lalu, di tepi sungai ini memang tumbuh pohon buah itu, karena khawatir buahnya dipetik orang yang tidak bertanggung jawab, aku lalu menebangnya. Sekarang mungkin pohon buah itu sudah tiada lagi di dunia ini!” Wei Beng Yan jadi terbengong mendengar keterangan itu, karena seperti telah dikatakan oleh Tang Ceng Hong bahwa buah yang sedang dicarinya itu mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini maka ia sudah mau ambil keputusan untuk pergi mencari Siauw Bie lagi, ketika......
425
„Apakah si Tang tua ada di rumah? Mengapa batu-batu penutup goa sudah terangkat?” Demikianlah terdengar suara seseorang dari luar lembah, yang membikin Tang Ceng Hong jadi mendadak pucat. „Tang Tay-hiap,” kata Wei Beng Yan. „siapakah yang memanggil-manggil itu?” „Wei siohiap,” sahut Tang Ceng Hong gugup, „marilah ikut aku keluar dari jalan lain dan jangan menjumpai..... orang itu.......” Wei Beng Yan jadi bingung sekali melihat gerak gerik Tang Ceng Hong yang tiba-tiba berubah jadi gelisah. „Mengapa?” tanyanya, „bukankah sahabat Tang Tay-hiap berarti sahabatku juga?” „Tidak...... ee...... maksudku.......” Belum lagi selesai Tang Ceng Hong memberikan jawaban ketika orang yang berseru barusan sudah berada di dalam goa. Jubahnya kuning, berparas pucat pasi, rambutnya panjang serta tubuhnya kurus kering. Setelah mengawasi Wei Beng Yan dengan sikap yang congkak, orang itu segera menghampiri. Meskipun keadaan di situ agak gelap, tetapi karena orang itu sudah berada dekat sekali, maka Wei Beng Yan segera dapat melihat bahwa wajah orang itu kejam sekali, dan oleh karena ditatap terus menerus, diluar kehendaknya sendiri sekonyong-konyong ia jadi panas dan menanya.
426
„Tay-hiap! Mengapa kau agaknya tidak senang melihat kehadiranku di sini?” Orang itu tiba-tiba berhenti bertindak karena terperanjat ditegur demikian tegasnya oleh seorang muda yang dianggapnya masih bau pupuk. Setelah menatap Wei Beng Yan sejenak, orang itu lalu berkata kepada Tang Ceng Hong. „Tang tua! Mengapa kau tidak memperkenalkan siapa sebenarnya aku ini?” „Ada...... ada baiknya..... jika kau sendiri yang mengatakan.....” sahut Tang Ceng Hong terputus-putus. „E...... mengapa kau mendadak jadi menggigil? Apa kau merasa takut untuk memperkenalkan aku kepada bocah ini?” „Tay-hiap!” kata Wei Beng Yan yang sudah merasa mendongkol dirinya disebut bocah, „jika kau merasa sungkan memperkenalkan dirimu, aku.......” „Ha, ha, ha! Aku tidak merasa berkeberatan!” sahut orang itu sambil mengejek. “Aku adalah yang terkenal dengan nama julukan si sapujagat, atau Eu-yong Lo-koay dari Kun-lun-san!” Kedua mata Wei Beng Yan tiba-tiba jadi terbelalak, untuk kemudian dipejamkan keras-keras menahan suatu golakan jiwa yang melonjak-lonjak di dalam jantungnya. „Hei bocah!” kata lagi Eu-yong Lo-koay. „Siapa kau?”
427
Setelah dapat menguasai lagi perasaannya, Wei Beng Yan dengan tenang mencabut pedang pusaka ayahnya dan berkata. „Apakah kau masih ingat kepada pemilik pedang ini?” „Pedang apakah itu?” „Jika kau tidak mengetahui pemilik pedang ini, kau pasti mengetahui cincin ini!” kata Wei Beng Yan sambil melucuti cincin peninggalan ayahnya untuk kemudian diangsurkan ke depan hidung Eu-yong Lo-koay. „Ha, ha, ha! Aku kenal, aku kenal...... ada hubungan apa antara kau dan si pemilik kedua barang itu?” „Aku putera tunggal pemilik kedua benda ini!” Eu-yong Lo-koay tertawa berkakakan mendengar jawaban itu, ia memandang sangat rendah kepada pemuda yang sedang berdiri dihadapannya itu. „Jadi kau bermaksud membalas dendam?” tanyanya sambil mengejek, „aku khawatir kau akan menyusul ayahmu di akhirat!” Wei Beng Yan berusaha keras menekan perasaannya yang sudah meluap-luap, karena mengetahui dalam keadaan gusar yang melampaui batas, betapa lihay kepandaiannya pun, dia pasti dengan mudah saja dikalahkan oleh musuh besarnya yang di samping berilmu tinggi, berwatak sangat licik itu. Sesaat kemudian ia berkata lagi dengan tenang. „Memang aku bermaksud menuntut balas! Hunuslah senjatamu!”
428
„Ha, ha, ha! Untuk melawan seorang bocah ingusan seperti kau, aku tidak memerlukan senjata. Kau mulailah dengan jurus-jurus si jahanam Wei Tan Wi!” Wei Beng Yan tidak merasa sungkan lagi, begitu mendengar musuh besarnya tidak sudi mengeluarkan senjatanya, ia segera menyerang. Pedang Ku-tie-kiam berputar-putar dengan gerakan yang aneh dan lincah kemudian sambil berseru seram Wei Beng Yan menusuki ke arah dada Eu-yong Lo-koay dengan jurus Sam-seng-poa-gwat (Tiga bintang mengurung rembulan). Sungguh di luar taksiran Eu-yong Lo-koay bahwa lawannya yang masih muda belia itu dapat menyerangnya dengan jurus lihay yang kerap dilancarkan oleh Wei Tan Wi dulu, tidak nampak perubahan dalam jurus itu, hanya si pemuda dapat bergerak terlebih gesit daripada ayahnya. Dengan demikian Eu-yong Lo-koay tidak lagi berani berlaku lengah, lekas-lekas ia meloncat ke samping dan...... „Brett!!” lengan jubahnya tertusuk bolong. „Ai!” serunya dalam hati, „aku tidak sangka......” Belum lagi keburu balas menyerang ketika tampak pedang lawannya sudah menyerang lagi dengan jurus Ouw-liong-tok-cut (Naga hitam menyemburkan bisa). Dengan tersipu-sipu ia menginjak tanah dengan kedua kakinya, gerak itu ternyata memungkinkannya meloncat melalui kepala lawan untuk kemudian menyerang dari belakang.
429
Wei Beng Yan terkejut sekali telah menyerang tempat kosong, berbareng dengan itu ia merasa suatu angin serangan meluncur ke arah punggungnya, untuk mengangkat pedang dan menyabet ke belakang tidak lagi mungkin, maka terpaksa ia gerakkan tangan kirinya yang terlebih bebas dan menggeprak....... „T a k k k!!” dua tenaga yang telah terlatih baik betul telah bertemu, tampak Wei Beng Yan terjerumus ke depan, kuda-kudanya tergoyah. Sedangkan Eu-yong Lo-koay jadi berseru sambil berusaha menahan terjangan tenaga gebrakan lawannya, namun tidak urung iapun terdorong mundur tiga langkah. „Ai!” pikirnya cemas, „tidak kusangka bocah masih ingusan ini memiliki tenaga dalam yang demikian sempurna. Bukankah Siauw Cu Gie pun kelabakan diterjang hembusan angin seranganku, Hui-liong-sin-jiauw (Cakaran naga sakti) itu?” Wei Beng Yan yang sudah dapat menguasai keseimbangannya lagi, segera memindahkan pedang ke tangan kirinya, lalu tampak ia mengangkat tangan kanannya dengan suatu gerakan tertentu serta teratur. Tampak tinjunya yang sudah mulai meninggi itu mengeluarkan sinar merah yang menyilaukan mata. Dalam suasana sunyi dan genting itu terdengar suara berkerekek tulang-tulangnya yang seolah-olah robohnya suatu rumah gubuk. Itulah ilmu Thay-yang-sin-jiauw!
430
Eu-yong Lo-koay yang baru saja pulih semangatnya, terkesiap bukan main melihat cara serta sikap menyerang lawannya itu, sambil mundur beberapa langkah ia berkata. „Apakah..... itu Thay-yang-sin-jiauw........?” „Bagus! Jika kau masih dapat mengenali jurusku ini!” sahut Wei Beng Yan ketus, „hari ini Thay-yang-sin-jiauw akan menyingkirkan satu iblis.” Berbareng dengan berakhirnya ancaman itu, tampak tangan Wei Beng Yan yang sudah berjari tegang mendadak meluncur turun ke depan dengan pesat sekali. Dari pengalaman yang didengarnya di kalangan Bulim, Eu-yong Lo-koay sudah mengetahui bahwa Thay-yang-sin-jiauw adalah suatu ilmu yang dahsyat luar biasa, yang begitu jauh belum pernah dapat dielakkan oleh siapapun. Ia juga mengetahui bahwa ilmunya sendiri tidak mungkin dapat mengimbangi ilmu tersebut, tetapi oleh karena mengingat Wei Beng Yan belum berpengalaman, maka ia bermaksud melawan juga serangan lawannya itu. „Siapa tahu aku mampu merobohkan pemuda ini......” demikian pikirnya sambil menggerakkan tangan kirinya menangkis dan....... „Krakk!!” Lengannya yang dibuat menangkis itu patah di beberapa bagian. Ia merasa seluruh tubuhnya terbakar dan sakit tidak terhingga, seolah-olah ia telah disengat oleh ribuan tawon hutan.
431
Tang Ceng Hong jadi terpesona menyaksikan adegan yang mengerikan itu. Iapun mengetahui bahwa Thay-yang-sin-jiauw adalah suatu ilmu yang luar biasa, barusan ia telah melihat cara bagaimana ilmu itu telah dilancarkan, yang telah dengan satu gebrakan saja menghajar Eu-yong Lo-koay babak belur. Eu-yong Lo-koay yang sangat ditakuti oleh banyak orang-orang selama beberapa puluh tahun terakhir ini. Seharusnya Eu-yong Lo-koay sudah tewas berani menangkis serangan Wei Beng Yan, tetapi oleh karena masih kurang pengalaman dan kemahiran atas Thay-yang-sin-jiauw si pemuda maka Eu-yong Lo-koay hanya menderita patah tulang dan merasakan suatu terjangan hawa panas yang tidak terkendalikan. Wei Beng Yan yang baru untuk pertama kalinya mempergunakan ilmunya itu, tidak mau membuang-buang waktu lagi, ia segera mengangkat lagi tangannya dan membentak. „Jahanam! Hari ini juga kau harus membayar hutang kepada ayahku!” Lalu secepat kilat ia telah mengirim lagi cakarannya, yang ternyata terlebih dahsyat daripada serangannya yang pertama. Cakaran pertama hanya mengeluarkan hawa panas dan hembusan angin menderu-deru, sedangkan cakaran yang kedua ini mengeluarkan sinar yang berpijar menyilaukan mata serta goncangan yang menggoyahkan keadaan sekitar dalam goa Tang Ceng Hong itu. Eu-yong Lo-koay mengetahui bahwa gapura akhirat sudah terbentang lebar untuk menyambut kedatangannya. Ia menganggap bahwa kematian yang pasti akan datang itu
432
disebabkan Tang Ceng Hong sudah bersahabat dengan pemuda itu, maka hatinya yang keji tidak rela untuk mati seorang diri saja. Selagi Wei Beng Yan mengangkat tangannya, entah dengan gerakan apa, sekonyong-konyong tampak ia menerkam Tang Ceng Hong yang sedang menonton pertempuran, untuk kemudian mempergunakan tubuh kawannya itu sebagai perisai terhadap serangan Wei Beng Yan. Tang Ceng Hong meronta, menyerang, namun satu totokan di dekat dadanya membikin ia tidak berdaya. Wei Beng Yan terkejut sekali, ia lekas-lekas merubah serangannya menjadi suatu tepukan di punggung Tang Ceng Hong yang jadi terbebas lagi dari totokan. Baru saja Wei Beng Yan ingin melanjutkan serangannya tadi, mendadak Tang Ceng Hong telah menerjang sambil melancarkan satu tendangan ke arah kawannya yang dulu selalu dipuja-puja itu. Eu-yong Lo-koay sudah mengenal Tang Ceng Hong cukup lama, maka dengan sendirinya ia mengetahui sampai dimana tingkat kepandaian kawannya itu, tanpa menghiraukan tangan kirinya yang sudah patah, ia menangkis dengan lengan kanannya dan berhasil membikin Tang Ceng Hong terpental beberapa meter ke belakang. „Jahanam!” bentak Wei Beng Yan, „akulah yang ingin berurusan denganmu, bukan Tang Tay-hiap.”
433
Eu-yong Lo-koay tidak menyahut, sambil terbungkuk menahan rasa sakit di lengan kirinya ia mengawasi .pemuda itu dengan sorotan mata penuh napsu membunuh. „Wei siohiap,” bisik Tang Ceng Hong, „awas, jangan sampai tertipu oleh jahanam yang penuh dengan akal bulus keji ini, dia pasti sedang merencanakan sesuatu yang......” Belum lagi selesai peringatan itu diucapkan, ketika tiba-tiba tampak Eu-yong Lo-koay mengerahkan seluruh tenaganya yang terakhir dan sambil memekik seperti burung setan, tangan kanannya yang masih sehat diangkatnya ke atas dan meluncurlah benda-benda kecil yang berkilau-kilau seperti bintang di langit ke arah kedua lawannya itu. Tang Ceng Hong berseru tertahan karena kaget, sedangkan Wei Beng Yan tidak bergerak dari tempat berdirinya, tiba-tiba tampak lengan kanannya terangkat naik dan dengan gerakan yang aneh sekali, ia mengebut ke arah benda-benda yang sedang meluncur itu. Dan terdengarlah suatu ledakan yang memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu tampak Eu-yong Lo-koay terdorong mundur sambil meringis menahan hawa panas akibat serangan Thay-yang-sin-jiauw. Wajahnya yang memang sangat seram itu, pelahan-lahan berubah hijau, dan setelah memuntahkan darah dari mulutnya ia roboh tidak berkutik lagi. Wei Beng Yan menghampiri untuk memeriksa mayat musuh besarnya itu, ia mendapat kepastian bahwa Eu-yong Lo-koay sudah betul-betul tidak bernyawa, dua daripada ke sepuluh paku
434
maut Song-bun-teng, yang dilontarkannya tadi ternyata telah menancap di lambungnya. „Ha, ha, ha!” demikianlah ia tertawa berkakakan seram, sehingga Tang Ceng Hong bergidik. “Ayah! Aku telah berhasil menewaskan salah satu musuh ayah! Tugasku belum selesai aku...... aku......” Tang Ceng Hong jadi terharu menyaksikan sikap pemuda itu, yang tadinya dianggap sebagai putera musuh besarnya, Wei Tan Wi, yang telah difitnah orang. Mengapa Tang Ceng Hong jadi mengenal dan bersahabat dengan Eu-yong Lo-koay? Marilah kita tengok sebentar kepada kejadian-kejadian yang telah lalu. Oleh karena menganggap yang melakukan pembunuhan terhadap anggota-anggota keluarga serta murid-muridnya adalah Wei Tan Wi, maka Tang Ceng Hong lalu pergi ke pegunungan Oey-san untuk memperdalam ilmu silatnya. Namun ia menjadi kecewa sekali ketika mengetahui bahwa Wei Tan Wi telah dibunuh oleh kedua jahanam Soat-hay-siang-hiong dan Eu-yong Lo-koay. Setelah dipikirnya bolak-balik, ia malah jadi, merasa berterima kasih terhadap ke tiga orang yang menurut anggapannya telah membantu usahanya membalas dendam. Semenjak waktu itulah ia memuja dan bersahabat kepada ketiga iblis itu. Di pihak Eu-yong Lo-koay, persahabatan itu merupakan suatu keuntungan besar, karena Tang Ceng Hong dapat memberikannya banyak bantuan dalam usahanya mengumpulkan
435
racun. Karena disamping ilmu silatnya lihay, Tang Ceng Hong pun menanam banyak macam tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga yang justru mengandung racun yang dimaksud oleh Eu-yong Lo-koay itu. Wei Beng Yan berdiri termenung, mengenangkan kembali peristiwa-peristiwa di telaga Tong-teng, ketika ia memperoleh kesempatan untuk membunuh kedua jahanam Soat-hay-siang-hiang, tetapi telah dicegah oleh ‘gurunya’ dengan alasan bahwa kedua musuh besarnya itu adalah sahabat lama ‘gurunya’. „Wei siohiap,” kata Tang Ceng Hong, „semoga kau berhasil menunaikan tugasmu itu.” „Terima kasih Tang Tay-hiap,” sahut Wei Beng Yan. „Oleh karena aku harus memenuhi janjiku kepada Suhu, aku mohon diri saja sekarang,” sambil memberi hormat dan berjalan keluar lorong goa itu! Tang Ceng Hong mengantarkan sampai di luar dan berkata. „Wei siohiap, kawan-kawanku banyak sekali, tetapi yang berumur sebaya dan selihaymu hanya kau seorang saja, aku merasa sangat beruntung dapat mengenalmu.” duapuLuh lima Setelah memberi hormat lagi, Wei Beng Yan lalu meninggalkan mulut goa itu, ia merasa beruntung sekali telah berhasil membunuh salah satu musuh ayahnya, dan tanpa terasa tangannya meraba ketiga sampul surat.
436
„Ouw Lo Si!” bisiknya kaget. „Aku sudah boleh membuka salah satu sampul ini.” Ia lalu memilih sampul yang bernomor urut SATU. setelah disobeknya sampul itu, ia menjadi heran dapat mengendus suatu bau harum yang ganjil. „Akh! Mungkin ini adalah bau harum bunga di tempat pertapaan Tang Ceng Hong,” pikirnya. Ia membuka terus dan membaca surat itu, yang berbunyi. „Selamat! Kau telah berhasil membasmi satu musuh. Dengan membasmi jahanam, kau sudah membalas budi.” Demikianlah bunyi surat Ouw Lo Si yang pertama, yang membikin Wei Beng Yan tertawa terpingkal-pingkal. Setelah membaca lagi, ia lalu membuang Surat kakek itu dan melanjutkan perjalanannya untuk mencari Siauw Bie. Tanpa terasa ia sudah berjalan ke arah tempat tinggal To Siok Keng. Bukan main terkejutnya ketika dapat melihat bahwa rumah gubuk gadis itu sudah musnah menjadi abu. „To Siok Keng adalah murid Thian-hiang-sian-cu, pikirnya sambil mengawasi abu rumah itu yang berhamburan tertiup angin malam, „siapakah yang begitu berani membakar rumahnya?” Karena rasa khawatirnya atas keselamatan gadis she To itu, dengan suara lantang ia lalu memanggil. „To siocia....... To siocia!”
437
Tidak terdengar suara sahutan, suasana tetap sunyi senyap. Ia memanggil lagi dan lagi. Sejenak kemudian terdengar suara tertawa seorang wanita yang datang dari arah belakangnya. Ia berbalik dan dapat melihat seorang wanita muda sedang berdiri di bawah sinar bulan tidak beberapa jauh dari tempatnya berdiri. „Bie moay!” serunya kaget. Memang wanita itu itu bukan lain dari pada Siauw Bie yang sedang dicarinya hingga ia berjumpa dengan Tang Ceng Hong di lembah Hua-kee dan berhasil membunuh Eu-yong Lo-koay. „Bie moay, aku sudah mencari ke mana-mana, tetapi akhirnya aku menjumpaimu juga di sini!” katanya lagi sambil menghampiri gadis itu. „Puih! Bukankah kau sedang mencari si gadis she To?!!” sahut Siauw Bie gusar. „dan setelah melihat aku, kau lalu bilang sedang mencari aku. Aku bukan anak kecil lagi sehingga dengan mudah saja dapat kau abui!” „Bie moay, aku melihat gubuk To siocia sudah terbakar habis. Terus terang saja, oleh karena merasa gadis itu itu mungkin telah dilukai orang, maka aku lalu memanggil namanya. Percayalah aku..... aku........ sebenarnya sedang mencari kau.” „O...... kau merasa sangat khawatir terhadap gadis itu? Mengapa kau masih meladeni aku? Ayohlah cari terus padanya......” „Bie moay! Aku sesungguhnya sedang mencarimu,” kata Wei Beng Yan sambil mengawasi pergelangan tangan Siauw Bie yang sudah
438
dibalut. Ia baru ingin menanyakan tetapi Siauw Bie sudah berkata lagi. „Apakah benar kau sedang mencari aku?” „Mengapa kau masih selalu menyangsikan? Bie moay aku......” Siauw Bie tidak lagi dapat menahan rasa hatinya, ia menubruk dan merangkul Wei Beng Yan sambil berkata. „Yan koko, aku telah melakukan sesuatu yang mungkin kurang baik......” „Apa yang telah kau lakukan?” „Akulah yang telah membakar ke tiga rumah gubuk itu.” „Kau?!” tanya Wei Beng Yan seraya melepaskan rangkulan Siauw Bie. „Betul!” „Ai! Kau telah mengundang bahaya.” „Bahaya? Kau tidak perlu menakut-nakuti aku, aku melakukan itu semua dengan pikiran yang sadar,” sahut Siauw Bie yang sudah mulai marah lagi. „To siocia adalah seorang yang lihay kepandaiannya, aku kira dia takkan tinggal diam melihat perbuatanmu ini, kau telah menciptakan satu musuh yang berbahaya!”
439
„Hii, hii, hii! Dia memang tidak akan mendiamkan perbuatanku ini jika...... aku tadi tidak membakarnya hidup-hidup......” „Kau telah membunuh gadis itu?!” „Ya! Dia telah mematahkan pergelangan tanganku. Sebagai pembalasan aku telah menyambitnya dengan jarum beracun sehingga ia tidak dapat bergerak, lalu aku membakar rumahnya!” sahut Siauw Bie sambil bersenyum puas. „Kau sudah gila!” bentak Wei Beng Yan yang gusar mengetahui perbuatan Siauw Bie segila itu, „membakar orang dan rumahnya sekali, orang yang tidak bersalah apa-apa!” Siauw Bie kaget juga melihat kegusaran pemuda itu, tetapi karena ia sudah biasa dimanjakan dan menjadi kepala besar, ia merasa sungkan untuk menerima kesalahannya itu, ia bahkan menjadi marah ketika mengetahui Wei Beng Yan mengeloni si gadis she To. „Aku tidak merasa menyesal atas perbuatanku itu!” katanya ketus. „Jika kau tidak senang melihat itu semua, kau bebas untuk bertindak menurut kehendak hatimu!” „Bie moay, apakah kau selalu menuruti saja napsumu yang kurang baik itu?” „Hm! Semenjak kita pertama kali tiba di rumah gubuk itu, aku sudah mengetahui bahwa kau sangat tertarik kepada gadis cendil itu! Tidak heran jika kau sekarang menyesali perbuatanku!”
440
Wei Beng Yan memang tertarik oleh sifat serta sikap To Siok Keng yang perihatin, ramah tutur kata dan halus budi pekertinya, tetapi hatinya yang sudah direnggut Siauw Bie, tidak gampang-gampang dapat dicuri oleh kecantikan To Siok Keng. Namun setelah melihat bukti keganasan Siauw Bie, dengan tiba-tiba saja rasa cintanya berbalik menjadi suatu rasa benci yang hebat! Ia menghormati keluhuran dan kebajikan, sebaliknya sangat membenci dan selalu mengutuk kejahatan, kepalsuan atau kekejaman yang berbentuk apapun! Setelah mengawasi Siauw Bie sejenak, ia lalu menghampiri sisa-sisa rumah yang sudah terbakar. „Apakah kau ingin menghidupkan kembali mayat gadis itu?” tanya Siauw Bie mengejek. „Aku akan mencari mayatnya untuk dikubur sebagai mana layaknya, semoga perbuatanku ini akan menebus dosa-dosamu.” „Hii, hii, hii! Aku tidak sangka persahabatan kita hanya kuat menahan sampai di sini saja!” „Aku selalu berdoa agar kau kelak menjumpai seseorang yang berwatak tidak seburuk watakku.” „Jadi kau mengusir aku?!” „Ya! Jika dalam beberapa detik ini kau masih tidak pergi, aku terpaksa harus memberi sedikit pengajaran kepadamu.” Hampir-hampir saja Siauw Bie tidak percaya bahwa orang yang mengatakan demikian itu adalah Wei Beng Yan, kekasihnya. Dan
441
untuk tidak merendahkan dirinya sendiri, meskipun merasa berat meninggalkan pemuda itu, ia lalu berjalan pergi. Perasaan cemburu telah membikin ia menjadi kejam dan buta terhadap segala peringatan. Jika pada waktu itu ia dapat menyesal akan perbuatannya, mungkin Wei Beng Yan dapat mengampuni dan mereka masih tetap sebagai kekasih. Tetapi sebagaimana pepatah telah mengatakan. „Pakaian dapat ditukar, watak manusia berakar!” Siauw Bie melarikan diri dengan harapan dikejar oleh Wei Beng Yan, tetapi ternyata ia keliru! Wei Beng Yan tidak mengejar, bahkan menoleh pun tidak. Tampak si pemuda mencongkel-congkel puing dan berusaha mencari mayat si gadis she To. Ketika itu keadaan sudah hampir mendekati fajar, dalam suasana yang makin mendingin itu, terdengar Wei Beng Yan berseru. „To siocia, kau begitu suci! Kau tinggal dengan tenang dan tenteram di tempat yang terpencil ini...... tetapi aku telah membawa malapetaka!” Meskipun Wei Beng Yan berkenalan dengan To Siok Keng belum lama, namun sikap dan watak gadis itu telah meninggalkan kesan yang mendalam dalam lubuk hatinya. Seruannya itu seolah-olah diucapkannya untuk seorang kawan karib atau orang yang sangat dicintainya. „Wei siaohiap......”
442
Demikianlah terdengar suara empuk serta merdu memanggil nama Wei Beng Yan yang sekonyong-konyong jadi bercekat. „Wei siohiap, akulah yang bersalah! Karena aku seorang, kalian berdua jadi retak!” Wei Beng Yan perlahan-lahan berbalik dan...... „Apakah kedua mataku ini tengah menipu?!” pikirnya sambil mengucek-ucek matanya untuk kemudian mengawasi lagi ke arah semak belukar, tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang gadis sedang berdiri sambil bersenyum simpul. Gadis itu mengenakan pakaian serba putih, parasnya putih dengan kedua baris alis yang hitam, senyumnya segar serta manis, seolah-olah sinar surya di pagi hari yang mengusir sisa-sisa kabut malam yang dingin! Dialah bukan lain daripada gadis yang baru saja disanjung-sanjung, To Siok Keng! Melihat sikap Wei Beng Yan yang seperti orang baru sadar dari mimpinya, To Siok Keng tertawa sambil menghampiri dan berkata. „Wei siohiap, apakah kau kira aku ini rokh jahat yang gentayangan di pagi buta?” „Katanya..... siocia..... telah terbakar hidup-hidup......” sahut Wei Beng Yan gugup.
443
„Punggungku telah terkena senjata rahasia beracun Siauw siocia, tetapi aku masih dapat melarikan diri ketika melihat atap rumahku yang terbakar........” „Mengapa siocia dapat dilukai oleh gadis picik itu?” Ya, mengapa To Siok Keng jadi dilukai oleh Siauw Bie? Marilah kita menoleh sebentar kepada peristiwa yang baru saja terjadi. Sebelum masuk ke dalam goa Tang Ceng Hong, Wei Beng Yan mengejar Siauw Bie yang melarikan diri dengan tekad kembali lagi dan membunuh To Siok Keng. Ia bersembunyi di balik batu besar. Begitu melihat Wei Beng Yan meloncat ke atas jurang, ia lalu menyelinap dan lari balik ke rumah si gadis she To. Setibanya di depan rumah gubuk, ia melihat To Siok Keng sedang duduk bersila sambil memegangi serulingnya. Tanpa pikir panjang lagi ia menerobos masuk seraya membentak. „Hei gadis cendil! Aku sudah kembali!” To Siok Keng kaget sekali, tetapi meskipun demikian ia tidak menjadi gusar dikatakan sebagai gadis cendil. „Memukul anjing kita harus memandang majikannya!” demikian pikirnya. Ia menganggap Siauw Bie sebagai anjing peliharaan Wei Beng Yan! Ia telah dilukai oleh Siauw Bie, tetapi ia tidak ingin balas menyerang. Justru sikapnya yang menyerah inilah telah disalah artikan oleh Siauw Bie yang menganggapnya takut. „Apakah Siauw siocia datang seorang diri saja?” tanyanya.
444
„Tentu saja! Apakah kau kira Wei Beng Yan turut datang juga untuk melindungimu?” jawab Siauw Bie tegas. „Kau telah datang kembali tentu dengan maksud menyerang aku,” kata To Siok Keng sambil meletakkan serulingnya di atas meja, „dan mungkin kau sudah jadi demikian cemburu sehingga bermaksud membunuh aku!” „Ya, aku datang dengan maksud seperti telah kau katakan barusan, tetapi...... untuk itu aku tidak usah tergesa-gesa!” „Mengapa kau masih bersikap lamban? Ayohlah serang!” Siauw Bie demikian gusarnya sehingga baru saja To Siok Keng selesai mengatakan kata-katanya itu, ia sudah meloncat. Terkamannya dilancarkan dengan jurus Siang-liong-to-thian (Sepasang naga mengamuk di angkasa), yang seolah-olah dapat menggempur gunung..... maka tidak heran jika hembusan anginnya saja sudah cukup untuk membikin seluruh gubuk itu tergoyah!” To Siok Keng tidak mengegos atau bergerak dari tempat duduknya, hanya tampak ia mengebut lengan bajunya sambil memejamkan kedua matanya! Siauw Bie jadi girang bukan main, sambil menambah tenaga kepada serangannya itu ia menyodok terus dan pada saat kedua tangannya hampir mengenai sasaran, tiba-tiba tampak kedua mata To Siok Keng terbuka lebar dan balas menyodok ke atas dengan dua jari tangannya dengan jurus Sin-kang-cit (Sodokan atau totokan jari maut).
445
Meskipun Siauw Bie berkepandaian sama dengan kakaknya, Siauw Cu Gie, yang terkenal sebagai si Raja naga dari lima telaga tetapi menghadapi serangan itu ia jadi terkejut bukan main. Ia mengetahui bahwa Sin-kang-cit senantiasa membawa maut kepada apa saja dalam jarak satu meter! Untuk membela dirinya yang kini berada hanya setengah meter saja dari lawannya, Siauw Bie terpaksa membuang dirinya ke samping dan roboh di lantai. Ia merasa malu sekali, tetapi dengan jalan itu sajalah ia dapat mengelakkan serangan To Siok Keng yang cerdik itu. „Siauw siocia,” kata To Siok Keng yang tidak menyerang terus lawannya yang sedang bergulingan di lantai. „Ilmu silatmu lihay sekali, tetapi pernah apakah kau dengan Siauw Pek Lam Tay-hiap?” „Bagaimana kau mengenal ayahku?” tanya Siauw Bie terperanjat mendengar lawannya mengetahui nama ayahnya almarhum. „Aku tidak menduga Siauw Tay-hiap, ayahmu, telah berhasil menurunkan ilmunya yang dahsyat itu!” „Jangan kau menganggap bahwa oleh karena mengenal nama ayahku, aku lalu tidak menyerangmu lagi! Kau jagalah!” Berbareng dengan selesainya ucapan itu, Siauw Bie yang sudah berdiri lagi, telah menyerang pula.
446
„Ai, Siauw siocia! Kau betul-betul tidak berbudi!” seru To Siok Keng sambil mengegos, „Aku sudah berkali-kali mengalah, jika kau mendesak terus aku terpaksa.......” „Kau terpaksa?! Cobalah kau paksakan dirimu untuk mengelak dari seranganku ini!” ejek Siauw Bie sambil menyerang lagi. To Siok Keng betul-betul melawan, ia menangkis dan...... „Aaah......!” Teriak Siauw Bie sambil terhuyung ke belakang untuk kemudian roboh lagi di lantai. Ternyata tenaga dalam To Siok Keng jauh lebih mahir daripada gadis she Siauw yang congkak ini. Tetapi sebagai seorang yang sudah dicengkeram setan cemburu, Siauw Bie tidak sudi mengalah begitu saja, dengan tiba-tiba ia melentik dari lantai sambil mengayun tangannya melontarkan senjata rahasia yang beracun ke arah lawan atau saingannya itu. „Siauw siocia!” seru To Siok Keng terkejut, „mengapa kau berlaku demikian kejam?” Sambil mengegos ke samping dan memutar tubuhnya. Dua batang jarum dapat dielakkan, tetapi tiga yang lain cepat luar biasa telah menancap di punggungnya. Sambil menahan sakit ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan agar jarum-jarum itu tidak menusuk sampai ke urat besar di punggungnya. „Hei wanita cendil!” bentak Siauw Bie, ,,lebih banyak kau berbicara, makin cepat lagi kau pergi ke akhirat!”
447
To Siok Keng tidak menyahut, tampak mukanya pucat sekali, ia mengetahui betul akan kebenaran kata-kata lawannya itu. Tetapi...... entah disebabkan oleh rasa apa yang mungkin sedang berkecamuk hebat di dalam hatinya, Siauw Bie sekonyong-konyong telah menyerang lagi dengan tangan kirinya dan..... „T r a k k......!” terdengar suara beradunya sesuatu. Tampak Siauw Bie tiba-tiba melangkah mundur ke belakang dengan tindakan berat, lengan kirinya terkulai. Sambil terbungkuk-bungkuk tangannya yang kanan menahan pundak kirinya yang agak menurun ke bawah, karena pergelangan tangan kirinya sudah patah digebrak seruling To Siok Keng. Kalau saja To Siok Keng ingin merenggut nyawa lawannya, ia dengan mudah saja dapat melaksanakan maksudnya itu, tetapi ia yang berjiwa besar tidak sampai hati melakukan itu. „Siauw siocia,” katanya tenang. „kita tidak mempunyai dendam apapun, bahkan kita baru saja berkenalan, maka setelah kau melukakan aku dengan senjata rahasiamu, dan aku terpaksa melukakan pergelangan tanganmu untuk sekedar menahan seranganmu barusan, aku kira kau sudah puas dan sudi meninggalkan aku sendiri di sini......” Siauw Bie yang sudah mengetahui bahwa kepandaiannya memang masih berada di bawah lawannya itu berkata.
448
„Baiklah! Kali ini aku mengalah.......” katanya sambil berbalik dan meninggalkan gubuk itu. Tetapi setibanya di luar, sekonyong-konyong pikirannya berubah lagi. „To Siok Keng!” serunya, „pergelangan tangan kiriku telah patah, tetapi apakah kau berani menandingku di luar?!” To Siok Keng tidak ingin meladeni tantangan lawannya itu, ia tetap duduk bersila sambil mengawasi gerak gerik Siauw Bie dari dalam rumah gubuknya. „To Siok Keng!” Siauw Bie berteriak lagi, „aku menanti jawabmu!” To Siok Keng tetap tidak memberikan reaksi apa-apa. „Apakah kau tahu bahwa aku dapat memaksa kau keluar?” „Tidak ada apapun yang dapat memaksa aku! Kau pergilah!” akhirnya To Siok Keng menyahut juga. „Tidak sekalipun api?!” „...................???!” Siauw Bie jadi gusar sekali, ia berjalan meninggalkan gubuk itu untuk mencari kayu kering dan bahan yang mudah terbakar lainnya. Kemudian ia balik lagi dan mengancam. „To Siok Keng! Aku akan menghitung hingga angka tiga, jika pada waktu itu kau masih tidak menghiraukan tantanganku, aku akan menyulut bahan pembakar yang sudah tersedia ini! — Satu! Dua!
449
Ho...... ho.... kau ternyata lebih suka diambus daripada menjumpai aku!” Setelah itu Siauw Bie betul-betul membuat api dengan menggosok-gosokkan dua batang kayu, yang secara lambat sekali kemudian jadi api dan membakar rumah saingannya itu. Api segera menyala untuk kemudian berkobar membakar bagian atas rumah gubuk yang sangat sederhana itu, temboknya dibangun daripada tanah liat, sedangkan pintu, tiang, kaso serta jendelanya dibuat daripada bambu, maka dalam waktu yang singkat saja, ketiga rumah gubuk itu telah menjadi abu. „Itulah bagian wanita cendil!” Siauw Bie berseru gembira, „wanita cendil yang berani main-main terhadap Ji siocia dari telaga Tong-teng!” Setelah mengawasi lagi sekian lamanya, meskipun merasa heran, juga tidak melihat To Siok Keng melarikan diri keluar rumah gubuk itu, ia lalu meninggalkan tempat itu untuk mencari Wei Beng Yan. „Siauw siocia tidak mengetahui bahwa aku masih dapat melarikan diri dari pintu belakang,” To Siok Keng melanjutkan ucapannya kepada Wei Beng Yan. „Sehingga ia menganggap aku sudah terbakar hidup-hidup!” Tiba-tiba wajah Wei Beng Yan jadi merah, ketika mengingat ia telah menyatakan rasa belasungkawanya atas dugaannya bahwa To Siok Keng telah meninggal dunia, namun ketika empat mata muda mudi itu bertemu, kedua belah pihak mendadak merasakan sesuatu, sesuatu yang aneh dalam hati masing-masing.
450
„To siocia,” Wei Beng Yan akhirnya berkata, „coba aku lihat punggungmu.” „Wei siohiap, kau kejarlah Siauw siocia dan minta maaf kepadanya. Aku dapat mengurus diriku sendiri.” „Minta maaf?! Aku harus minta maaf?” „Ya! Kau harus minta maaf, kerena kaulah yang telah memarahi gadis itu! Mungkin ia sekarang masih bersedih hati.” „O.... To siocia juga telah mendengar percakapan kita tadi?” „Betul, tetapi bukan maksudku untuk mencuri dengar percakapan kalian itu, aku memang sedari tadi sedang bersembunyi di semak belukar ini dan tidak berani banyak bergerak.” „To siocia telah mendengar percakapan kita tadi, pihak mana yang bersalah tentu kau dapat menimbang-nimbang sendiri. Mengapa aku yang harus meminta maaf?” To Siok Keng tiba-tiba meringis menahan sakit di punggungnya. „Wei siohiap...... kau......” katanya terputus-putus. „To siocia! Punggungmu harus segera diobati atau......” To Siok Keng jadi serba salah, ia mengetahui untuk mencabut jarum-jarum di punggungnya ia memerlukan bantuan seseorang, dan seseorang itu hanya si pemuda saja yang sedang berdiri dihadapannya. Ia merasa malu untuk minta pertolongan Wei Beng
451
Yan, karena untuk mencabut ketiga jarum beracun di punggungnya itu, ia terpaksa harus membuka pakaian lalu...... kutangnya. „Aku..... aku telah mengerahkan tenaga dalamku, sehingga racun ke tiga senjata rahasia ini tidak mungkin merembes masuk ke pembuluh-pembuluh darahku..... aku kira jarum-jarum itu kini sudah tidak berbahaya lagi.......” sahutnya gugup. „To siocia, aku tidak mengandung maksud lain daripada ingin menolongmu..... aku......” „Bukan......, bukan itu yang aku khawatirkan......” „O..... ho..... ho... ya..... memang mau tak mau kau harus membuka pakaianmu,” kata Wei Beng Yan, „tetapi demi jiwamu, kau harus......” „Baiklah......” sahut To Siok Keng dengan paras memerah. Ia segera memulai membuka bajunya, lalu kutangnya dan lekas-lekas menutupi buah dadanya. Selagi si gadis melakukan itu semua, Wei Beng Yan berbalik ke suatu arah yang bertentangan, namun hatinya tidak urung berdebar keras. „Wei siohiap.......” kata To Siok Keng, „aku sudah....... siap.....” Wei Beng Yan pelahan-lahan berbalik, dan di bawah sinar bintang-bintang subuh yang suram, ia dapat melihat kulit yang putih laksana salju. Meskipun ia tidak bermaksud melakukan sesuatu yang kurang sopan terhadap gadis itu tetapi sebagai seorang
452
jejaka yang penuh semangat, ia mau tak mau harus merasakan juga suatu golakan ganjil dalam dadanya. Lekas-lekas ia mengangkat kedua tangan sambil mengerahkan tenaga dalamnya ke kesepuluh jari tangannya, dengan cepat sekali telah menjepit ujung jarum yang menonjol keluar di punggung gadis itu. Kemudian dengan ilmu tay-yang-cip-cui (Matahari menghisap air)....... „S s s t.......” salah satu dari ketiga jarum beracun itu telah tercabut! Demikianlah, satu setelah yang lain, ketiga jarum beracun Siauw Bie, berturut-turut dengan cepat telah dipindahkan ke tanah dari punggung To Siok Keng. „To siocia, jangan kaget akan tindakanku yang selanjutnya......” Wei Beng Yan memperingati gadis itu sambil menempelkan mulutnya dan menyedot di bekas lobang-lobang ke tiga jarum itu. Sejenak kemudian tampak ia membuang ludahnya yang berwarna merah kehitam-hitaman. Lalu telapak tangannya mengusap serta mengurut-urut punggung gadis itu agar darahnya dapat mengalir sebagaimana biasa lagi. „Pengobatan sudah selesai!” kata Wei Beng Yan dengan perasaan lega. „Terima kasih Wei siohiap,” kata To Siok Keng sambil mengenakan kembali pakaiannya.
453
„To siocia, rasanya agak janggal jika aku memanggil kau siocia, dan kau memanggil aku Siohiap.” „Ya, apakah kau mempunyai usul yang lebih baik?” „Secara tidak langsung kita adalah murid-murid dari satu perguruan, bagaimana jika aku memanggil kau sumoay (adik seperguruan) dan kau memanggil aku Suko (kakak seperguruan)?” „Suko..... sumoaymu setuju.......” Wei Beng Yan tampaknya girang sekali dipanggil Suko, ia bersenyum lebar sambil mengawasi To Siok Keng. „Suko,” kata To Siok Keng, „aku sebetulnya ingin menanyakan sesuatu, tetapi keburu terbit peristiwa yang tidak enak......” „Apa yang ingin kau tanyakan?” „Suko mengatakan bahwa Ji Locianpwee telah keluar dari lembah Yu-leng-kok, aku sungguh tidak mengerti mengapa dia tidak memenuhi sumpahnya?” „Soal itulah yang justru membikin aku selalu gelisah. Tetapi cobalah perinci kisahku yang akan kuceritakan lagi......” Maka berceritalah Wei Beng Yan semenjak ia diterima menjadi murid oleh Ji Cu Lok di dalam lembah Yu-leng-kok. Bagaimana setelah berhasil mewarisi ilmu-ilmu yang dahsyat, ia lalu disuruh pergi, dan tathala kembali lagi, ia menjumpai gurunya sudah menutupi mukanya dengan selembar kain hitam. Bagaimana ia
454
menyaksikan dengan mata kepala sendiri, gurunya melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk. Ketika Wei Beng Yan selesai dengan kisahnya, suasana fajar sudah berlalu, matahari mulai memancarkan sinarnya di angkasa dan semangat To Siok Keng pun agaknya sudah pulih kembali. „Menurut penuturan suko,” kata To Siok Keng, „tindak tanduk Ji Cu Lok itu memang sangat mencurigakan dan terkutuk. Aku khawatir dia akan menyuruh Suko melakukan lagi perbuatan-perbuatan yang tidak pantas!” „Setengah bulan lagi aku akan menjumpai guruku itu di puncak Ci-sin-hong, apakah sumoay ingin juga bertemu dengan guruku itu?” „Aku ingin turut serta, aku ingin melihat suami guruku itu!” „Sumoay, sebagai murid Thian-hiang-sian-cu, kau tentu mengetahui watak gurumu itu. Apakah iapun suka menutupi mukanya dengan selembar kain hitam?” „Aku..... aku tidak..... tahu........” Bukan main terperanjat Wei Beng Yan mendengar sumoynya tidak mengetahui watak gurunya. „Bahkan aku belum pernah bertemu dengan Thian-hiang-sian-cu!” To Siok Keng berkata lagi. „Belum pernah bertemu?! Bagaimana mungkin kau sebagai murid belum pernah bertemu dengan gurumu itu?”
455
To Siok Keng bersenyum getir, kedua matanya yang sayu memandang jauh ke depan. „Memang,” katanya, „itu semua memerlukan penjelasan......” „Sumoay, jika penjelasan itu akan membikin kau sedih, lebih baik kau jangan menutur!” Wei Beng Yan memotong ketika melihat betapa muram wajah gadis itu selagi mengucapkan kata-katanya itu. „Meskipun pengalaman-pengalaman yang akan aku tuturkan sangat menyayatkan hati, tetapi suko harus mengetahui siapa aku ini sebenarnya dan mengapa aku tinggal terpencil dalam hutan belukar ini?” Wei Beng Yan hanya menatap To Siok Keng dan tidak mengatakan sesuatu. „Dua tahun yang lalu,” demikianlah To Siok Keng mulai dengan kisahnya yang seram dan sedih. „Tepatnya pada tanggal tujuh bulan tujuh, ketika itu aku tengah merayakan hari ulang tahunku yang ke enambelas. Para tamu, dan handai taulan ayahku sudah datang sedari siang-siang hari. Mereka belum mempunyai kesempatan untuk memberi selamat padaku, karena aku sedang sibuk sekali membantu kedua kakak perempuanku di dapur. Ketika malam hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba......” Malam hari yang ditunggu-tunggu oleh To Siok Keng tiba, tampak ia mengenakan pakaian, sepatu, saputangan, yah, boleh dikatakan segala sesuatu yang dikenakannya serba baru. Kemudian satu
456
demi satu tamu-tamu serta handai taulan ayahnya memberi selamat panjang umur. To Siok Keng girang sekali, begitupun ayah, ibu serta kedua kakak perempuannya. Untuk memeriahkan suasana pesta ulang tahun itu, beberapa orang sahabat ayah To Siok Keng lalu mengadakan pertunjukan ilmu silat yang kemudian diseling dengan pertunjukan sulap dan lelucon yang jenaka, tetapi suasana yang penuh dengan tepukan tangan dan sorak sorai itu tiba-tiba diganggu oleh suara meraung yang seperti meraungnya seekor naga terluka. Lampu-lampu dan obor-obor yang menerangi ruangan di mana orang banyak sedang berkumpul dan berpesta pora dengan tiba-tiba pula menjadi padam, berbareng dengan itu suatu hembusan angin santer mendampar dengan dahsyat sekali. Tanpa dapat ditahan lagi To Siok Keng jadi terpental dan kepalanya terbentur tiang besar yang menunjang rumahnya itu, sehingga ia tidak sadarkan diri. Entah berapa lama ia berada dalam keadaan pingsan, tetapi ketika siuman kembali, ia dapatkan tubuhnya sedang menggeletak ditumpukkan daun-daun kering. Ia berbangkit dan meneliti keadaan di situ dan menjadi terkejut sekali ketika dapat melihat pengasuh perempuannya yang sudah berusia agak lanjut juga kerada di situ, tampak sebilah pisau pendek telah menancap di punggungnya. Melihat itu semua, To Siok Keng segera mengetahui bahwa pengasuhnya telah menggendongnya sampai di situ dalam keadaan lupa parah. Ia menangis terus menerus sehingga akhirnya suaranya hilang sama sekali. Oleh karena merasa sangat
457
berhutang budi kepada pengasuhnya yang telah mengorbankan jiwanya itu, maka ia lalu mencari tempat yang cukup baik untuk mengubur jenazah pengasuhnya dengan seksama Di bawah satu pohon yang rindang, To Siok Keng menggali tanah dengan mempergunakan pisau yang tadi menancap di punggung pengasuhnya. Ketika sedang menggali tiba-tiba ujung pisaunya menyentuh sesuatu benda keras, yang ternyata bukan lain daripada sebuah kotak empat persegi terbuat daripada besi yang sudah berkarat. Oleh karena perasaan sedihnya, ia tidak menghiraukan kotak besi itu, tetapi setelah selesai mengubur jenazah pengasuhnya, lagi-lagi kotak itu menampakkan diri, seolah-olah sengaja mengambil tempat di sebelah atas gundukan tanah itu. Acuh tak acuh ia memungut kotak itu, kemudian entah mengapa, dengan tiba-tiba ia melontarkan kotak itu ke arah batang pohon, sehingga kotak yang sudah berkarat itu pecah berantakan. Apa yang kemudian terlihat? Sebuah kitab! Sebuah kitab yang terbungkus oleh kain sutera putih! Dengan hati berdebar-debar To Siok Keng menghampiri untuk kemudian memungut kitab itu, yang ternyata berisikan catatan ilmu-ilmu yang belum pernah didengar dari ayahnya, apalagi melihat seseorang melancarkan jurus-jurus yang aneh itu.
458
Di bagian depan kitab itu tertera sebuah lukisan yang agak kasar tetapi jelas sekali, lukisan itu merupakan sepasang suami-isteri, yang ternyata bukan lain daripada penulis kitab tersebut, Gui Su Nio, alias Thian-hiang-sian-cu dan suaminya, Ji Cin Lok, alias Yu Leng dari lembah Yu-leng-kok. „Kisah aneh yang sukar dipercaya orang!” kata Wei Beng Yan yang telah mendengari dengan penuh perhatian. „Dan berdasarkan petunjuk-petunjuk dari kitab itu,” kata To Siok Keng, „di bawah penerangan obor aku tiap malam meyakinkan jurus-jurus yang tertera dalam kitab itu, karena pada siangnya aku harus secara bersembunyi menjauhkan diri dari si jahanam yang telah membunuh seluruh anggora keluargaku, sehingga akhirnya aku tiba di pegunungan ini.” „Hai....... sungguh luar biasa pengalaman sumoay itu!” kata Wei Beng Yan. „Sebagai tanda terima kasihku, aku lalu membuat ke dua patung.........” „Siapakah sebenarnya sumoay sendiri?” „Aku Kiu Su Yin, puteri Kiu It! Orang satu-satunya yang dapat lolos dari cengkeraman maut!” „Jadi To Siok Keng adalah nama sumoay yang palsu?” „Betul. Aku menukar she dan namaku untuk sekedar mengelakkan diri dari si jahanam. To aku ambil dari she pengasuhku yang setia,
459
sedangkan Siok Keng adalah ilhamku sendiri, mengingat nama itu cukup enak didengarnya.” „Sumoay, ternyata nasib kita sama buruknya.” duapuLuh enam Demikianlah sejak saat itu Wei Beng Yan dan To Siok Keng selalu berada bersama-sama, mereka berkelana di daerah pegunungan Oey-san itu sambil merundingkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh dari guru mereka masing-masing, dan mereka menarik kesimpulan bahwa ilmu Thian-hiang-sian-cu dapat dipergunakan secara bergabung dengan ilmu Ji Cu Lok, mereka berlatih bersama untuk kemudian melanjutkan perjalanan mereka menuju ke puncak Ci-sin-hong. Selama berkelana di pegunungan Oey-san, Wei Beng Yan dan To Siok Keng belum pernah menjumpai Siauw Bie, tetapi sebaliknya si gadis she Siauw telah melihat mereka dari kejauhan sehingga tiga kali. Hebat betul rasa cemburu Siauw Bie ketika menyaksikan pergaulan Wei Beng Yan dan To Siok Keng yang demikian akrabnya, sehingga akhirnya rasa cemburunya itu berubah menjadi perasaan benci dan dendam yang dalam sekali. Ia mengetahui tidak dapat melawan gadis yang menjadi saingannya itu, yang ternyata tidak tewas meskipun telah terkena jarum beracunnya, dan ia bertekad untuk menganiaya dengan jalan lain.......
460
„Sumoay, “ kata Wei Beng Yan, „hari untuk kita bertemu dengan guruku hanya tinggal satu hari saja...... aku.......” „Suko!” seru To Siok Keng kaget melihat muka Wei Beng Yan tiba-tiba jadi pucat dan berdirinya agak limbung. „Apakah kau merasa kurang sehat badan?” „Tidak..... aku hanya...... merasa sedikit pusing kepala......” Malam harinya, karena merasa khawatir diganggu oleh binatang buas mereka lalu meloncat ke atas suatu dahan pohon yang besar dan beristirahat di situ. Sang fajar datang dan mengambil alih tugas sang malam. Hati Wei Beng Yan berdebar-debar tatkala mengingat bahwa hari itulah yang akan menentukan siapa itu Yu Leng sebenarnya? Tetapi tiba-tiba suatu rasa sakit merangsang kepalanya sehingga ia berseru. „Haii.............” To Siok Keng yang juga baru tersadar merasa kaget sekali mendengar suara keluhan itu. Ia melihat muka Wei Beng Yan pucat sekali, kedua tangannya sedang memegangi dan memijat-mijat tempilingannya. „Suko, kau kenapa?!” tanyanya cemas. „O....., aku barusan merasa kepalaku sakit sekali.......”
461
„Sejak kemarin aku sudah melihat bahwa kau tengah menderita sakit.” „Aku sudah merasa sehat sekarang. Ayohlah kita turun,” kata Wei Beng Yan sambil meloncat dari dahan pohon itu, yang kira-kira lima meter tingginya. Semalam, dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh Wei Beng Yan dengan mudah saja dapat mencapai dahan pohon itu, dan untuk meloncat turun tentu saja ia harus mengerahkan tenaga dalam untuk sedikit menahan berat badannya, tetapi....... ternyata ia tidak lagi dapat melancarkan ilmu tersebut, tubuhnya meluncur cepat ke bawah tanpa dapat dikuasai dan membentur tanah dengan keras. Ia menjadi terlebih kaget ketika dapat kenyataan bahwa tulang betisnya yang kiri telah patah. To Siok Keng yang dapat melihat kecelakaan itu menjadi heran sekali, lekas-lekas ia meloncat turun untuk memeriksa luka yang diderita oleh Wei Beng Yan sambil menanya dengan paras khawatir. „Suko, apakah kau menderita sakit?” Sambil meringis menahan sakit Wei Beng Yan berusaha berbangkit, tetapi ia tidak berhasil. „Aku merasa heran sekali,” katanya. „Semalam aku dapat tidur dengan nyenyak dan tidak mengalami sesuatu yang luar biasa, tetapi barusan aku tidak dapat mengerahkan tenaga dalamku lagi, .........aduh! Rasanya tulang betisku telah patah!”
462
„Patah?!” tanya To Siok Keng. „Patah!” „Bagaimana mungkin seseorang yang berkepandaian seperti suko jadi patah tulang betisnya hanya meloncat dari tempat tidak beberapa tinggi itu?” „Akupun tidak mengerti mengapa dengan tiba-tiba saja tenagaku lenyap!” „Setengah bulan yang lalu,” kata To Siok Keng setelah berpikir sejenak, „Suko telah melancarkan Thay-yang-sin-jiauw dua kali berturut-turut, apakah mungkin itu sebabnya?” „Tidak mungkin!” Wei Beng Yan menolak pendapat gadis itu. „Menurut guruku, jika Thay-yang-sin-jiauw sering dilancarkan, tenaga serta kemahiranku malah akan bertambah!” „Mungkin Suko telah salah makan? Sesuatu yang beracun maksudku.” „Selama setengah bulan ini aku selalu berada di dampingmu aku hanya makan apa yang kau makan!” Apa yang sebetulnya telah terjadi atas diri Wei Beng Yan?! Itulah akibat daripada ke TIGA SAMPUL MAUT yang telah diberikan oleh si kakek bermata satu Ouw Lo Si, yang selalu bermulut manis seperti madu, tetapi hatinya berbulu seperti hati srigala.
463
Ouw Lo Si yang telah dibikin pincang sebelah kakinya oleh Wei Tan Wi, ayah Wei Beng Yan, ternyata belum merasa puas sebelum membalas sakit hati kepada putera musuhnya, Wei Beng Yan! Sebetulnya ia sudah ingin membunuh Wei Beng Yan, yaitu sebelum pemuda itu masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok, tetapi karena khawatir dicemooh oleh sahabat-sahabatnya di kalangan Bulim, bahwa ia menganiaya seorang pemuda yang masih belum berkepandaian cukup, maka diputarlah otaknya. Demikian keras otaknya bekerja sehingga akhirnya ia menemukan juga suatu tipu muslihat yang betul-betul di luar dugaan siapapun, yalah dengan memberi bantuan kepada putera musuhnya itu, sehingga pemuda itu berhasil memiliki ilmu yang dahsyat, dengan perjanjian bahwa tiap-tiap kali pemuda itu berhasil membunuh Soat-hay-siang-hiong atau Eu-yong Lo-koay yang kebetulan menjadi musuhnya juga, si pemuda harus membuka sampul suratnya yang bernomor satu, dan ternyata sampul itu telah diisikan racun Poa-gwat-tan — semacam bubuk racun yang dibuat daripada serangga berbisa yang terdapat di daerah propinsi Sin-kiang. Racun itu berbau harum semerbak tetapi melumpuhkan bagian-bagian dalam tubuh orang yang mengendusnya. Itulah sebabnya mengapa Wei Beng Yan dengan tiba-tiba saja kehilangan seluruh tenaga dalamnya! Ia telah terkena racun Poa-gwat-tan ketika membuka sampulnya yang pertama, yang baru merangsang setelah lewat jangka waktu dua minggu.
464
Dengan tenaganya yang sudah banyak berkurang dan tulang betisnya patah, Wei Beng Yan mungkin tidak lagi dapat pergi ke puncak Ci-sin-hong untuk menjumpai gurunya. ◄Y► Selagi To Siok Keng merawat luka Wei Beng Yan itu, ternyata Siauw Bie telah tiba di atas puncak yang dimaksud di atas, menantikan kedatangan Yu Leng. Perasaan benci Siauw Bie terhadap bekas kekasihnya dan To Siok Keng makin hari makin mendalam saja tampaknya, ia bermaksud menghilangkan kedua orang muda itu dengan memberitahukan kepada Yu Leng bahwa Wei Beng Yan telah mencurigakan keaslian gurunya itu. Lama juga ia menunggu di situ, tetapi ia tidak melihat Yu Leng atau Wei Beng Yan mendatangi. Perasaannya sudah mulai jadi gelisah, ketika...... „Mengapa kau berada sendirian saja di sini? Ke mana Beng Yan?” Demikianlah teguran yang membikin Siauw Bie bergidik, ia lekas-lekas berbalik dan dapat melihat Yu Leng yang sudah menutupi mukanya lagi, sedang berdiri dengan angkuhnya. „Locianpwee,” katanya, „aku harap kau tidak menyebut Wei Beng Yan lagi!” „Jangan menyebut namanya lagi? mengapa?” „Aku telah menasihatkan padanya, tetapi ia tidak menggubris nasihatku itu. Ia bilang Locianpwee bukan gurunya yang tulen!”
465
Sekonyong-konyong Yu Leng atau Pek Tiong Thian melangkah mundur mendengar keterangan itu. Siauw Bie pun terperanjat melihat reaksi Yu Leng itu, karena ia belum mengetahui bahwa Yu Leng adalah Pek Tiong Thian. „Ha......” pikirnya, „kalau begitu benar dugaan si kakek pincang itu! Inilah ketika yang terbaik untuk mengadu-dombakan Wei Beng Yan dan To Siok Keng dengan Yu Leng gadungan ini.” „Apakah kaupun menganggap aku menyamar sebagai Yu Leng?” tiba-tiba Pek Tiong Thian menanya. Siauw Bie jadi kelabakan ditanya begitu, lama juga ia berpikir untuk kemudian menyahut. „Karena soal mencurigakan Locianpwee inilah aku jadi bertengkar dengan Beng Yan, dia kini sudah berkenalan dengan seorang gadis yang mengaku sebagai murid Thian-hiang-sian-cu!” „Hm! Siapa nama gadis itu? „To Siok Keng!” „Aku tidak mengenal nama itu! Sekarang mereka berada di mana?” „Sudah hampir setengah bulan aku tidak melihat mereka, tetapi aku yakin mereka masih berada di daerah pegunungan ini.” „Bagaimana pendapatmu? Apakah mereka akan datang juga di sini?”
466
„Ya! Aku kira mereka pasti akan datang di sini.” „Baiklah, aku akan menunggu kedatangan mereka!” kata Pek Tiong Thian sambil mengambil tempat duduk. Dengan hati berdebar-debar Siauw Bie pun turut mengambil tempat duduk. Sambil menanti kedatangan Wei Beng Yan dan To Siok Keng di puncak Ci-sin-hong itu, marilah kita mengungkap rahasia Yu Leng gadungan ini atau Pek Tiong Thian yang telah begitu berhasil menjalankan perannya sebagai Ji Cu Lok asli. Tetapi bagaimanakah Ji Cu Lok asli itu sampai dapat disingkirkan?! Seperti telah diceritakan di bagian yang terdahulu bahwa Pek Tiong Thian telah banyak mempelajari ilmu-ilmu dari kitab Jit-gwat-po-lek, tetapi sayang lembaran-lembaran yang memberi petunjuk tentang ilmu Thay-yang-sin-jiauw dan Thay-yang-sin-kang, yang menurut desas desus di kalangan Bu-lim, telah diambil oleh Ji Cu Lok! Justru bagian itulah yang terpenting, maka ia telah bertekad untuk berkunjung ke lembah Yu-leng-kok untuk mencuri catatan kedua ilmu yang dahsyat itu. Dengan ilmunya yang tinggi Pek Tiong Thian dengan mudah saja dapat menyelundup ke dalam lembah itu. Hari itu adalah tanggal limabelas bulan tujuh -- tepat dua tahun Wei Beng Yan menjadi murid Ji Cu Lok. Pek Tiong Thian tiba di dalam lembah itu, ketika Ji Cu Lok tengah menatap bulan purnama di langit sambil sebentar-sebentar
467
menyebut nama isterinya, sehingga ia tidak mengetahui bahwa Pek Tiong Thian senantiasa mengawasi tiap gerak geriknya. Tiba-tiba Ji Cu Lok menghunus pedangnya, lalu sambil mengacungkan senjatanya itu ke atas, ia memanggil-manggil lagi nama isterinya. Setelah itu cepat luar hiasa pedangnya berkelebat dan memotong urat nadinya sendiri. „Su Nio........ aku segera menyusul......” Setelah itu tampak tubuhnya menukik dari atas batu besar untuk kemudian terbanting di tanah, Yu Leng alias Ji Cu Lok, telah meninggal dunia! Pek Tiong Thian tidak menduga jika ia datang tepat pada waktu Yu Leng harus membunuh diri memenuhi sumpahnya terhadap isteri kesayangannya, Gui Su Nio. Begitu melihat Yu Leng roboh Pek Tiong Thian segera meloncat menghampiri sambil menusuk dengan senjata beracun Hian-peng-tok-bong ke arah jantung Yu Leng. Hian-peng-tok-bong yang pernah dipergunakan oleh Soat-hay-siang-hiong untuk menusuk jantung Wei Tan Wi, yang kini dipinjam oleh Pek Tiong Thian untuk menusuk jantung Ji Cu Lok. Perlu dijelaskan di sini bahwa Soat-hay-siang-hiong adalah sahabat-sahabat karib Pek Tiong Thian, dan itulah sebabnya mengapa orang she Pek itu melarang Wei Beng Yan membunuh kedua iblis itu. Setelah melihat bahwa Ji Cu Lok betul-betul sudah tidak berkutik lagi, Pek Tiong Thian lalu menggeledah segala sesuatu dengan
468
maksud menemukan catatan ilmu Thay-yang-sin-jiauw, tetapi tiba-tiba terdengar tindakan kaki seseorang mendatangi ke arahnya. Ia mengetahui bahwa yang sedang mendatangi itu pasti murid Ji Cu Lok. Oleh karena tidak keburu melarikan diri lagi, maka lekas-lekas ia mengenakan selembar kain hitam di mukanya dan bermaksud menyamar sebagai Yu Leng dan meminjam kepandaian Wei Beng Yan untuk mengganyang orang-orang yang tidak disukainya. Demikianlah Pek Tiong Thian telah berhasil mengelabui mata orang banyak tetapi tokh akhirnya rahasia itu terbongkar juga oleh si kakek pincang Ouw Lo Si. duapuLuh tujuh Selagi ia duduk menantikan kedatangan ‘murid-muridnya’ itu, tiba-tiba Siauw Bie berseru . „Locianpwee! Beng Yan sedang mendatangi!” Dari kejauhan tampak To Siok Keng sedang memondong Wei Beng Yan mendaki puncak Ci-sin-hong. Melihat keadaan ‘muridnya’, Pek Tiong Thian terkejut sekali. „Beng Yan!” serunya. „mengapa kau terpincang-pincang?” „Aku jatuh dari pohon, tulang betisku patah!” sahut Wei Beng Yan. Dari terkejut Pek Tiong Thian jadi girang, karena meskipun telah memiliki banyak ilmu-ilmu aneh dari kitab Jit-gwat-po-lek, tetapi ia masih merasa gentar untuk menempur Wei Beng Yan yang memiliki ilmu Thay-yang-sin-jiauw dan Thay-yang-sin-kang. Sambil
469
duduk di atas batu gunung ia mengawasi To Siok Keng yang sedang membantu pemuda itu. „Beng Yan, siapa siocia itu?” tanyanya lagi. To Siok Keng juga sudah memperhatikan sikap Yu Leng gadungan itu, dan ia merasa heran Ji Cu Lok yang berkepandaian demikian tinggi sekarang menutupi mukanya dengan selembar kain hitam. „Aku To Siok Keng,” sahutnya. Pek Tiong Thian tertawa berkakakan dan menanya lagi kepada Wei Beng Yan. „Apakah kau sudah dapat cari buah yang berkulit kuning?” Ketika itu Wei Beng Yan dan To Siok Keng sudah berada cukup dekat, mereka jadi terkejut sekali melihat Siauw Bie tengah duduk di atas satu batu gunung dengan sikap acuh tak acuh. Setelah melirik To Siok Keng, Wei Beng Yan lalu menyahut. „Aku sudah berusaha mencari, menurut keterangan-keterangan buah itu sangat beracun, sebetulnya untuk apakah buah itu?” Jawaban yang mengandung unsur-unsur tidak percaya itu membikin Pek Tiong Than marah sekali. „Aku telah memerintahkan kau mencari buah itu,” katanya, „tentu ada gunanya, apa gunanya kau mengajukan banyak pertanyaan?”
470
Wei Beng Yan tidak menyahut mendengar teguran yang keras itu, ia hanya menatap selembar kain hitam yang menempel di muka Pek Tiong Thian itu. „Dari Siauw Bie aku telah mendapat keterangan bahwa kau telah terkena bujukan Ouw Lo Si, betulkah?” Pek Tiong Thian menanya lagi. „Bujukan?” Wei Beng Yan berlagak tidak tahu sambil menoleh ke arah Siauw Bie. „Ya! Bujukan agar kau mencurigai keaslianku sebagai Ji Cu Lok!” kata Pek Tiong Thian tegas. Wei Beng Yan belum menyahut, ketika Pek Tiong Thian sudah menegur lagi. „Mengapa kau sekarang jadi demikian kurang ajar?!” „Karena peringatan si kakek pincang sangat beralasan!” sahut Wei Beng Yan dengan berani. „Apakah kau berani menanggalkan topengmu itu?!” „Ha, ha, ha! Inilah yang dikatakan menolong anjing terjepit harus berani menerima gigitan anjing itu sendiri! Dua tahun yang lalu, kau masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok, dan mulai saat itu aku telah dengan tekun mewariskan ilmu-ilmuku kepadamu, tetapi sekarang.......”
471
Wei Beng Yan tidak merasa takut sedikitpun, ia mengetahui bahwa betis kirinya sudah patah, tetapi karena mengingat ia berada di pihak yang benar, ia bertekad membela keadilan. „Ketahuilah! Bahwa aku dapat melenyapkan kau dari dunia ini hanya dengan satu pukulan saja.........” Pek Tiong Thian mengancam. „Aku masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok dengan satu maksud,” Wei Beng Yan berkata dengan gusar, „maksud yang diperkuat dengan sumpah! Yalah, setelah aku berhasil memiliki ilmu-ilmu yang sakti, aku akan menuntut balas, dan jika setelah itu aku masih hidup, aku bermaksud berbuat kebaikan terhadap banyak orang!” Pek Tiong Thian jadi melongo mendengar jawaban yang tegas serta ketus itu. „Tetapi......” Wei Beng Yan melanjutkan. „tetapi sampai saat ini aku belum juga berhasil....... malah sebaliknya aku telah diperintahkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang terkutuk!” Pek Tiong Thian jadi gugup dihujani kata-kata yang betul-betul kena sasarannya itu. Namun sebagai seorang yang berwatak kejam dan ingin menjagoi di dunia persilatan, ia tidak bersedia menerima saja ucapan ‘muridnya’ itu. Karena kewalahan ia lalu berkata. „Bukankah kau telah bersumpah untuk mentaati segala perintahku?”
472
„Ya! Tetapi aku tidak bersedia menjalani perintahmu yang terkutuk!” „Terkutuk?! Apa yang kau maksud dengan yang terkutuk?” „Membunuh Khouw Kong Hu, Ceng Sim Lo-ni dan...... jangan menyentuh setengah lembar bulu Soat-hay-siang-hiong!” „Jadi sekarang kau ingin membangkang?!” „Suhu mencegah aku membunuh Soat-hay-siang-hiong yang senantiasa mengganas kalangan Bulim, lalu memerintahkan aku mencari buah Cian-jin-huang yang sangat beracun, dengan buah ini tentu Suhu ingin membunuh orang baik-baik dan...... jika aku tidak bersedia menjalankan perintah itu, aku kira aku tidak dapat dikatakan membangkang!” Dengan tiba-tiba saja tampak Pek Tiong Thian berdiri untuk kemudian menghampiri ‘muridnya’ itu. Ia mengetahui bahwa betis kiri Wei Beng Yan sudah patah, dengan demikian meskipun ‘muridnya’ itu dapat melancarkan Thay-yang-sin-jiauw pun, ia yakin benar masih dapat melawan jurus yang dahsyat itu. „Aku terpaksa harus menyingkirkan muridku sendiri!” katanya sambil terus menghampiri. Betis Wei Beng Yan yang patah sudah diobati oleh To Siok Keng, tetapi agar dapat bergerak dengan leluasa lagi ia masih harus menunggu beberapa waktu lamanya. Ketika itu untuk berjalan ia masih harus dibantu oleh To Siok Keng.
473
Pek Tiong Thian berhenti bertindak kira-kira lima meter di hadapan sepasang muda mudi itu. „Kau telah memiliki ilmu-ilmu yang dahsyat,” katanya lantang, „sehingga kau menganggap dapat melawan aku! Ayohlah unjuk kepandaianmu, aku mau lihat!” Wei Beng Yan tidak bergerak, ia terus menatap gerak gerik Pek Tiong Thian dengan mata seolah-olah menyala karena gusarnya. Suasana jadi tegang sekali, satu pertarungan hebat agaknya sudah tidak dapat dicegah lagi. Tiba-tiba terdengar suara To Siok Keng memecahkan keheningan itu. „Apakah perselisihan ini harus dipecahkan melalui satu pertempuran?” Siauw Bie yang dari semula tidak berkata-kata, sudah merasa girang sekali melihat Pek Tiong Thian ingin menghajar bekas kekasihnya, tetapi begitu melihat To Siok Keng menghalang-halangi pertempuran itu, ia jadi mendongkol bukan main. „Hei cendil?” bentaknya, „apa perlunya kau mencampuri urusan guru dan murid ini?” „Hii, hii, hii! Siapa bilang urusan ini adalah urusan guru dan murid?” To Siok Keng balik menanya. „Apakah kau tidak mengetahui bahwa Ji locianpwee adalah guru Wei Beng Yan?” Siauw Bie menanya lagi.
474
„Betul! Ji Cu Lok adalah guru suko ku ini,” sahut To Siok Keng, kemudian sambil menunjuk ke arah Pek Tiong Thian. Ia melanjutkan. „Tetapi aku tidak merasa yakin jika Locianpwee ini bernama Ji Cu Lok!” „Siapa gerangan Locianpwee ini jika begitu?” Siauw Bie sengaja menanya untuk memanaskan suasana agar pertempuran antara Yu Leng gadungan dengan Wei Beng Yan dapat segera dimulai, karena rasa cemburunya, ia sudah ingin lekas-lekas melihat Wei Beng Yan menjadi mayat dihajar ‘gurunya’ itu. „Aku tidak tahu!” sahut To Siok Keng. „Yang pasti yalah Locianpwee ini BUKAN Ji Cu Lok!” „Dapatkah kau membuktikan ucapanmu itu?!” tanya Pek Tiong Thian dengan sikap mengancam. „Bukan aku yang harus membuktikan, tetapi Locianpwee sendirilah!” „Aku?!” „Dengan membuka selembar kain hitam yang menutupi mukamu!” Pek Tiong Thian tertawa berkakakan mendengar kata-kata yang cerdik itu, sambil menatap To Siok Keng, tangan kanannya pelahan-lahan bergerak ke dalam bajunya, sejenak kemudian ia sudah memegang Ciam-hua-giok-siu.
475
„Sumoay!” seru Wei Beng Yan terkesiap melihat Pek Tiong Thian bersikap ingin menyerang dengan sarung tangan ajaib itu. „Suko, dapatkah kau berdiri tanpa bantuanku?” tanya To Siok Keng. „Apakah kau ingin melawan orang yang bertopeng itu?” tanya Wei Beng Yan cemas, karena ia mengetanui betapa hebat sarung tangan ajaib itu. „Ya!” sahut To Siok Keng tegas. „Ha, ha, ha! Sekalipun tulang belulangmu terbuat daripada baja,” Pek Tiong Thian mengejek, „kau akan hancur lebur!” „Adakah kau tahu bahwa aku adalah murid satu-satunya Thian-hiang-sian-cu? “ tanya To Siok Keng. „Ha, ha, ha! Aku tidak perduli!” kata Pek Tiong Thian sambil mengangkat tangannya yang memegang Ciam-hua-giok-siu. „Aku akan segera menyerang!” „Apakah kau mengetahui bahwa aku memiliki ilmu yang khusus diciptakan untuk mengimbangi kedahsyatan sarung tangan guruku itu?” To Siok Keng berkata lagi, „Yang disebut Ciam-hua-hut-soat-siu-hoat?!” Kaget juga Pek Tiong Thian mengetahui masih ada suatu ilmu yang dapat mengimbangi terjangan Ciam-hua-giok-siu. Pelahan-lahan tampak tangannya yang sudah terangkat itu bergerak menurun. Tetapi justru pada saat yang bersamaan, secepat kilat
476
To Siok Keng sudah meloncat sambil menyodok muka Pek Tiong Thian dengan jari tengah tangan kanannya! Sungguh di luar dugaan Pek Tiong Thian bahwa gadis yang lemah lembut tampaknya itu berani menyerangnya, iapun tidak menduga jika gadis itu dapat bergerak demikian pesatnya, karena menurut pendapatnya, orang yang memiliki ilmu Thay-yang-sin-jiauw sajalah yang harus ia segani, selain itu ia menganggap semua orang remeh, mudah ditewaskan! Lekas-lekas in mengangkat Ciam-hua-giok-siu dengan maksud menangkis untuk kemudian menghajar muka gadis itu, tetapi tepat pada waktu ia mengangkat tangannya itulah, ia mengendus suatu bau harum yang tajam sekali, yang seolah-olah menyelusup dan menusuk otaknya! Pada saat ia terkejut, sekonyong-konyong suatu hembusan angin yang keluar dari sodokan jari To Siok Keng telah menyingkap untuk kemudian melucuti sama sekali kain hitam yang menutupi mukanya! Wei Beng Yan dan Siauw Bie yang pun tidak menyangka To Siok Keng berani menyerang Pek Tiong Thian, mereka terkejut sekali ketika dapat melihat wajah pucat seperti mayat di balik kain yang sudah tergeletak di tanah itu. Pek Tiong Thian tiba-tiba jadi kalap, ia meraung seram sambil dengan beringas menyerang dada To Siok Keng dengan Ciam-hua-giok-siu. Tetapi...... tidak percuma To Siok Keng menjadi murid Thian-hiang-sian-cu, meskipun hanya melalui kitab pendekar wanita yang lihay itu. Serangan Pek Tiong Thian yang cepat serta
477
dahsyat itu dapat diegosinya dengan satu gerakan yang manis sekali, sehingga Yu Leng gadungan itu terjerumus sambil ternganga karena kagetnya! To Siok Keng ternyata tidak berhenti hingga di situ, selesai lawannya bingung, sekonyong-konyong ia mengebut lengan baju dan bergerak ke samping sambil menyerang tempilingan Pek Tiong Thian dengan kedua jarinya yang dilancarkan dengan ilmu Sin-kang-cit! Pek Tiong Thian lekas-lekas mengangkat tangan kirinya sambil membarengi menyerang dengan tangan kanannya yang memegang Ciam-hua-giok-siu, tetapi lagi-lagi ia telah menyerang angin! „Aku telah mengatakan tadi,” kata To Siok Keng, “bahwa ilmu guruku yang bernama Ciam-hua-hut-soat-siu-hoat dapat mengimbangi kedahsyatan Ciam-hua-giok-siu!” „Jahanam!” bentak Wei Beng Yan, „sungguh besar nyalimu berani menyamar sebagai guruku!” „Ha, ha, ha! Kau sudah mengetahui aku siapa, mengapa kau tidak menyerang?” tanya Pek Tiong Thian. To Siok Keng mengetahui bahwa setelah diberi obat menurut resep Thian-hiang-sian- cu, tulang betis Wei Beng Yan sudah mulai agak sembuh, tetapi ia merasa pemuda itu masih lemah untuk melancarkan Thay-yang-sin-jiauw.
478
„Suko,” katanya. „Biarlah aku yang yang memberi hajaran kepada jahanam ini!” Tetapi Wei Beng Yan sudah tidak lagi dapat menahan kegusarannya, rasa gusarnya makin berkobar ketika mengingat si jahanam yang kini sedang berdiri di hadapannyalah yang telah mencegahnya membunuh kedua musuh besarnya, Soat-hay-siang-hiong! Ia tidak akan merasa puas sebelum membunuh Yu Leng gadungan ini dengan tangannya sendiri. Tampak tubuhnya bergemetar karena menahan hawa amarahnya yang kemudian meledak seperti gunung merapi! „Jahanam! Betisku belum sembuh betul, tetapi kau pasti tewas hari ini!” Wei Beng Yan membarengi ucapannya itu dengan mengangkat tangan kanannya, pelahan-lahan tinjunya berubah untuk kemudian mempijarkan sinar merah yang menyilaukan mata, tetapi tiba-tiba wajahnya sendiri berubah, karena ia merasa tenaganya sudah banyak berkurang, dengan demikian ia tidak lagi dapat melancarkan Thay-yang-sin-jiauw menurut kehendak hatinya! „Celaka!” pikirnya cemas, „apakah sebelum aku berhasil membunuh kedua musuh besar ayahku, aku harus mati bersama-sama jahanam ini?” Pek Tiong Thian yang tidak mengetahui hal ini, tiba-tiba mundur beberapa langkah ke belakang, ia mengetahui bahwa dirinya akan diserang dengan Thay-yang-sin-jiauw, belum lagi keburu ia
479
mengambil keputusan melawan atau melarikan diri, mendadak terdengar....... „Bung!!!” Wei Beng Yan telah melepaskan serangannya! Apa yang terjadi kemudian?! Tampak Pek Thong Thian terhuyung ke belakang diterjang hembusan angin serangan yang dahsyat itu, ia merasa sekujur tubuhnya jadi panas sekali, tetapi...... ternyata ia tidak roboh ataupun terluka! Ia berusaha menahan hawa panas yang seolah-olah ribuan semut sedang gerayangan di seluruh tubuhnya, sambil mengawasi Wei Beng Yan. Ia melihat bahwa pemuda itu agaknya sedang berusaha menahan suatu perasaan juga, butiran-butiran peluh mengucur deras dari jidatnya, berbareng dengan itu, ia merasa pengaruh rasa panas sudah mulai menghilang dari tubuhnya, maka ia segera berkesimpulan bahwa tenaga Thay-yang-sin-jiauw yang diterimanya sekarang jauh di bawah nilai tenaga serangan Thay-yang-sin-jiauw yang dilancarkan dulu, yalah ketika si pemuda menggempur Ceng Sim Lo-ni di kota Bo-ouw! Dengan tiba-tiba saja Pek Thong Thian memperlihatkan senyum iblisnya, ia merasa yakin betul dengan ilmu-ilmu yang diperolehnya dari kitab Jit-gwat-po-lek, ia akan mampu menewaskan murid Ji Cu Lok ini!
480
Meskipun merasa kecewa sekali melihat serangannya tidak membawa hasil yang diharapkan, Wei Beng Yan tidak pernah putus asa. Begitu melihat Pek Tiong Thian mengangkat Ciam-hua-giok-siu, iapun mengangkat tangannya, dan...... „Darr!!!” Dua tenaga raksasa telah berjumpa di tengah udara bebas sambil menerbitkan suara yang seperti meledaknya guntur. Dan lagi-lagi tampak Pek Tiong Thian terhuyung ke belakang, ia terkejut sekali merasa seolah-olah sedang berada di dalam kamar dapur yang apinya berkobar-kobar membakar tubuhnya. Barulah ia insyaf betapa dahsyat Thay-yang-sin-jiauw itu, meskipun yang melancarkan ilmu itu sedang menderita luka cukup parah. Lekas-lekas ia memutar Ciam-hua-giok-siu untuk menghalau pengaruh tenaga gaib ilmu yang betul-betul dahsyat itu, sambil menotol tanah dengan kedua kaki palsunya dan meloncat jauh ke belakang, dan selagi ia mencelat ke udara, tampak batu dan rumput-rumput kering berterbangan terbawa hembusan angin yang panas itu! Ternyata Wei Beng Yan pun tidak kalah terkejutnya iapun merasa serangannya barusan telah tertahan oleh suatu tenaga yang hebat luar biasa, karena itu adalah tenaga serangan Ciam-hua-giok-siu, yang membuatnya terpaksa melangkah mundur untuk kemudian bersiap siaga lagi dan oleh karena mundurnya itulah, ia merasa betisnya sakit sekali, keringat dingin segera membasahi seluruh tubuhnya!
481
Setelah meloncat mundur, Pek Tiong Thian tidak lagi merasa tubuhnya seperti dibakar, ia merasa girang sekali. „Apakah Ciam-hua-giok-siu dapat menahan serangan Thay-yang-sin-jiauw?” pikirnya. Sudah lama ia merasa ragu-ragu untuk menggempur Wei Beng Yan, karena merasa gentar terhadap ilmu pemuda itu. Meskipun Ciam-hua-giok-siu dapat menghalau api dan air, bahkan segala serangan senjata rahasia, namun untuk menguji Thay-yang-sin-jiauw ia merasa ragu-ragu! Tetapi sekarang ternyata sarung tangan ajaib dapat mengimbangi dan menghalau hawa panas yang membakar itu! „Hei bocah!” serunya girang. „Apakah begitu saja kelihayan Thay-yang-sin-jiauw? Ha, ha, ha!” Sayang, sungguh sayang sekali Wei Beng Yan sudah terkena racun Poa-gwat-an, itu saja sudah merupakan suatu kecelakaan hebat, ditambah dengan jatuhnya dari atas pohon dan betisnya patah, maka boleh dikatakan ia telah menyerang tadi hanya mempergunakan sisa-sisa tenaga yang masih ada saja, tetapi meskipun demikian, kalau saja pemuda itu dapat menyerang hanya sekali saja lagi, maka dapatlah dipastikan bahwa Pek Tiong Tian akan tewas di atas puncak Ci-sin-hong itu! Pek Tiong Thian tidak mengetahui bahwa meskipun serangan Wei Beng Yan tadi tidak merobohkannya (berkat ilmu tenaga dalamnya yang hebat), tetapi bagian dalam tubuhnya yang telah menerima hawa panas Thay-yang-sin-jiauw tanpa disadari telah terluka.
482
To Siok Keng merasa terharu sekali melihat keadaan Wei Beng Yan yang sudah betul-betul payah itu. Iapun mengetahui bahwa Pek Tiong Thian telah terluka bagian dalam tubuhnya, tetapi luka itu mungkin baru membawa akibat yang parah setelah melalui waktu yang agak lama, mengingat ilmu tenaga dalam si orang she Pek yang demikian hebatnya. Karena rasa cintanya terhadap pemuda itu, entah bagaimana, di dalam otaknya tiba-tiba terlintas suatu akal bulus yang baik sekali, maka ia lekas-lekas berkata. „Suko, kau belum sembuh betul, biarlah aku saja yang melawan jahanam ini dengan..... Tok-beng-oey-hong...... Bercekat hati Pek Tiong Thian mendengar nama senjata rahasia yang disebut oleh gadis itu, senjata rahasia yang memang sedang diidam-idamkannya, meskipun ia belum mengetahui apa sebenarnya Tok-beng-oey-hong itu! Ia hanya mengetahui bahwa di antara ketiga benda pusaka itu, Tok-beng-oey-hong lah yang terdahsyat! „Kau ingin melawan aku dengan Tok-beng-oey-hong?” tanyanya bernapsu. „Betul.” „Darimana kau peroleh senjata rahasia itu?” „Dari guruku, Thian-hiang-sian-cu!” Pek Tiong Thian jadi berdiri menjublek, ia mengetahui bahwa Tok-beng-oey-hong terkenal di kalangan Bu-lim karena Thian-hiang-
483
sian-cu pernah mempergunakan senjata rahasia itu satu kali di atas pegunungan Liok-pan-san dahulu. Pada waktu itu lebih dari duapuluh orang-orang jahat, terutama ke tujuh orang dari daerah Biauw-cian, telah datang ke pegunungan Liok-pan-san dengan maksud mengerubuti Thian-hiang-sian-cu. Yang aneh yalah, tiada satu orangpun yang mengetahui jalannya pertempuran itu, orang-orang hanya mengetahui bahwa Thian-hiang-sian-cu telah keluar sebagai pemenang, semua musuhnya telah tewas! Dua hari kemudian, setelah pertempuran itu terjadi, Tiong Sin, pemimpin partai di daerah Biauw-ciang, tampak berada di atas pegunungan itu. Orang-orang yang berkecimpungan di dunia Kang-ouw pasti mengetahui bahwa Tiong Sin adalah seorang berkepandaian tinggi sekali, namun hatinya jahat serta kejam. Ia terkenal suka membasmi lawan-lawannya dengan senjata beracun atau serangan yang sangat berbisa. Kedatangan Tiong Sin di atas pegunungan Liok-pan-san itu sudah dapat diduga, yalah untuk membikin pembalasan terhadap Thian-hiang-sian-cu. Lalu datanglah orang-orang ke atas pegunungan tersebut untuk menyaksikan suatu pertarungan hidup mati, tetapi orang-orang ini menjadi kecewa ketika Thian-hiang-sian-cu memperingati agar mereka menonton dari kaki gunung itu saja, meskipun demikian
484
mereka menunggu juga hasil pertarungan itu dengan hati berdebar-debar. Tidak lama kemudian, tampak Tiong Sin sambil terhuyung-huyung berjalan turun dari puncak tersebut mukanya pucat sekali. „Tok-beng-oey-hong!” tiba-tiba terdengar Tiong Sin berseru keras dan setelah memuntahkan darah, ia lalu tersungkur ke depan tidak berkutik lagi! Melihat kematian Tiong Sin yang sangat mengerikan itu, orang-orang yang menunggu di kaki puncak itu mengambil kesimpulan bahwa Tiong Sin, maupun ke duapuluh lebih orang yang telah mengerubuti Thian-hiang-sian-cu telah menjadi korban Tok-beng-oey-hong! Cara bagaimana Thian-hiang-sian-cu menghadapi lawan-lawannya itu, tiada satu orangpun yang mengetahui, dan semenjak itulah Tok-beng-oey-hong jadi sangat terkenal serta disegani! duapuLuh delapan Orang-orang yang berhubungan baik dengan Thian-hiang-sian-cu pernah melihat benda pusaka itu, tetapi mereka tidak mengetahui apa sebenarnya benda itu, yang menurut penglihatan hanya merupakan satu selubung terbuat daripada kuningan yang berkilau-kilau! Pek Tiong Thian pun telah mendengar cerita itu, sehingga begitu mengetahui To Siok Keng ingin menggempurnya dengan senjata
485
yang ampuh itu, tiba-tiba menjadi gentar. Tetapi untuk menggertak lawannya ia lalu berkata. „Apakah kau tidak mengetahui bahwa Ciam-hua-giok-siu dapat memunahkan senjata gurumu?” To Siok Keng lalu merogo sakunya, sejenak kemudian ia sudah memegang selubung kuningan yang kira-kira limabelas sentimeter panjangnya. Ia menatap Siauw Bie sejenak dan berkata . „Siauw siocia, tenaga Tok-beng-oey-hong hebat sekali, aku khawatir kau akan turut terluka oleh serangan senjata rahasia yang dahsyat ini! Untuk keselamatan dirimu sendiri, aku minta kau saja turun dari puncak ini!” Siauw Bie belum pernah mendengar tentang kelihayan senjata rahasia itu, ia merasa sungkan untuk mempercayai saja keterangan saingannya itu, tetapi walaupun demikian ia tokh melangkah mundur beberapa tindak. „Baiklah!” kata lagi To Siok Keng, „jika kau bersedia mati bersama-sama jahanam ini, hanya...... ingat aku tidak pernah ingin melakukan sesuatu yang kurang baik terhadapmu, meskipun kau pernah menganiaya aku!” Mendengar ucapan To Siok Keng yang sungguh-sungguh itu, Siauw Bie jadi percaya juga, maka Lekas-lekas ia berbalik dan turun dari puncak itu. Pek Thong Thian merasa cemas sekali melihat Siauw Bie melarikan diri, karena iapun merasa takut diserang oleh Tok-beng-
486
oey-hong, tetapi hatinya yang congkak tidak memperkenankannya untuk mengangkat kaki dari situ. „Hei jahanam, perkenalkanlah namamu!” bentak To Siok Keng. „Tok-beng-oey-hong tidak pernah mengambil nyawa kurcaci!” Tiba-tiba Pek Thong Thian agaknya terkejut ketika mengingat sesuatu. „Bukankah si pincang mengatakan Tok-beng-oey-hong berada di dekat mulut lembah Yu-leng-kok?” demikian pikirnya, „mengapa benda itu kini berada di dalam tangan gadis ini? Si pincang ingin menipu atau gadis ini memang seorang penipu ulung?!” „Hei jahanam! Aku minta kau perkenalkan namamu!” To Siok Keng membentak lagi. „Ha, ha, ha! Aku Pek Tiong Thian si Garuda Putih!” „Apa pesanmu sebelum kau meninggal dunia?” Pek Tiong Thian gusar sekali mendengar ejekan itu, namun karena telah terpengaruh oleh berita kelihayan Tok-beng-oey-hong, dan merasa tidak ungkulan melayani senjata rahasia yang terkenal sangat ampuh itu, ia tidak dapat menyahut, kalau saja tidak demikian, niscaya pertemuan itu akan berkesudahan berlain sekali. „Ayohlah katakan!” To Siok Keng berkata, „aku tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggu lama?!”
487
Karena didesak terus, dari merasa gentar Pek Tiong Thian menjadi marah untuk kemudian menjadi kalap. „Aku makan kau!!” bentaknya sambil menampar muka To Siok Keng dengan Ciam-hua-giok-siu. To Siok Keng meloncat tinggi ke atas, kemudian ia memekik sambil melontarkan selubung kuningan ke arah muka lawannya. Pek Tiong Thian jadi terkesiap, secepat kilat ia menggeser sebelah kakinya, lalu dengan tidak kalah cepatnya ia menggeprak selubung kuningan itu dengan sarung tangan ajaib dan...... „Bushh!!” selubung kuningan itu terpisah menjadi dua bagian, dengan tiba-tiba saja tampak asap hitam mengebul membuat pemandangan di sekitar tempat itu jadi gelap! Pek Tiong Thian kelabakan, ia mengegos, berkelit dan meloncat sambil tidak henti-hentinya menyerang dengan Ciam-hua-giok-siu kalang kabut! Ia tidak melihat apapun di depan, bersamaan dengan itu suatu bau harum yang ganjil merangsang hidung yang membuat jantungnya goncang! Ia mengamuk terus dan akhirnya berhasil membuyarkan kabut asap hitam itu, tetapi...... ternyata ia kini berada seorang diri saja di situ, To Siok Keng dan Wei Beng Yan entah sudah kabur ke mana! Ia telah berubah demikian beringasnya, namun ketika dapat melihat selubung kuningan yang sudah patah dua itu, lagi-lagi hatinya jadi bercekat.
488
„Apakah di dalam selubung itu masih terdapat sesuatu yang membahayakan jiwa?” pikirnya. Sejenak kemudian, karena rasa ingin tahunya, ia lalu menghampiri benda itu dengan sikap waspada sekali. Apa yang dilihatnya? Tok-beng-oey-hong palsu! Apa yang dilihatnya hanya selubung kuningan kosong dengan bekas-bekas sisa semacam bubuk racun, hampir serupa dengan bubuk racun yang dipergunakan oleh Ouw Lo Si untuk mencelakai Wei Beng Yan, yalah yang berbau harum semerbak. Tetapi Racun To Siok Keng tidak membahayakan jiwa, racun itu hanya sekedar untuk menyerang urat syaraf lawannya. „Bangsat! Aku telah diselomoti......!” Memang Pek Tiong Thian telah diingusin oleh puteri Kiu It yang cerdik itu. Selagi tadi kelabakan mengira telah diserang oleh Tok-beng-oey-hong, To Siok Keng dengan lincah sekali telah mengajak Wei Beng Yan meninggalkan puncak itu dan bersembunyi di semak belukar. Karena meskipun telah mewarisi ilmu Thian-hiang-sian-cu, tetapi jika begitu jauh Pek Tiong Thian masih mempergunakan Ciam-hua-giok-siu sebagai senjata, ia merasa kewalahan juga. Mereka berlari terus, setelah melalui beberapa belokan, mereka lalu tiba di suatu tempat yang penuh dengan batu-batu gunung yang besar-besar.
489
„Su-ko,” kata To Siok Keng sambil menahan langkahnya, „betismu belum baik betul, aku kira ada baiknya jika kita bersembunyi saja dalam goa ini.” „Baiklah,” sahut Wei Beng Yan. „tetapi dimanakah goa yang kau maksud itu?” „Di sana!” kata To Siok Keng sambil mengajak Wei Beng Yan berjalan lagi. Kira-kira sepuluh meter dari tempat mereka tadi berhenti, tampak satu batu yang setelah digeser merupakan suatu goa. „Dari mana kau ketahui di situ ada goa?” tanya Wei Beng Yan. „Masakan aku tidak mengetahui keadaan tempat yang masih termasuk lingkungan daerahku ini,” sahut To Siok Keng, „Ayohlah masuk!” Setelah mereka berada di dalam, si gadis lalu menutupi lagi mulut goa, sehingga sukar bagi seseorang untuk mengetahui tempat persembunyian mereka itu. „Su-moay,” tiba-tiba Wei Beng Yan berkata dengan wajah memerah, karena merasa canggung mengetahui tubuhnya berada berdempetan dengan tubuh To Siok Keng, karena goa atau tempat yang lebih mirip lobang kecil itu sempit sekali. „Apakah tidak ada lain tempat yang lebih luas untuk tempat kita bersembunyi?” „Tidak,” sahut To Siok Keng, „tetapi, biarlah aku menjaga di luar goa saja.......”
490
„Aku berkeberatan.....” „Jika..... demikian.... kita harus tetap bersembunyi dengan cara ini.....” „Ya...... keselamatan kita bersama adalah yang terpenting......” To Siok Keng perlahan-lahan mengangkat kepalanya dan denyutan jantungnya jadi berdebar-debar ketika sinar matanya bertemu dengan sinar mata Wei Beng Yan yang sedang berpegangan pada pundaknya. Sebelum bertemu dengan puteri Kiu It itu, Wei Beng Yan telah jatuh cinta kepada Siauw Bie yang kemudian ternyata bukan saja telah cemburu tidak keruan, juga berwatak congkak serta kejam. Justru sifat-sifat jelek yang telah disebutkan itulah yang telah memindahkan cinta pemuda itu kepada si gadis she To, yang bukan saja lemah lembut tetapi telah berhasil menolong jiwa si pemuda dari serangan Ciam-hua-giok-siu Yu Leng gadungan. Dan dilihat dari sikap To Siok Keng tatkala itu, dapatlah ditafsirkan bahwa cinta Wei Beng Yan telah mendapat sambutan yang sehangat-hangatnya dari pihak si gadis! Meskipun mereka tidak mengatakan sesuatu, namun mereka dapat ‘mendengar’ apa yang dikatakan oleh sorotan mata mereka masing-masing! Selagi berada dalam keadaan yang mesra itu, tiba-tiba terdengar suara tertawa Pek Tiong Thian. „Su-ko, si jahanam sedang mendatangi!” bisik To Siok Keng
491
„Aku kira ia tidak akan berhasil menemukan tempat bersembunyi kita ini,” sahut Wei Beng Yan. Betul saja suara tertawa itu makin lama makin menjauh sehingga akhirnya tidak terdengar lagi, dan sebagai ganti suara tertawa itu kini terdengar suara tindakan kaki yang agaknya berhenti tidak jauh di depan mulut goa itu. To Siok Keng lalu mengintip melalui satu lobang kecil. „Siapa?” tanya Wei Beng Yan berbisik. „Siauw siocia!” „Ha? Siauw Bie?” „Dia agaknya juga sedang mencari tempat berlindung, bagaimana jika kita ajak ia berlindung di sini?” Wei Beng Yan berpikir sejenak dan menyahut. „Baiklah!” Mendengar persetujuan itu, To Siok Keng segera memanggil. „Siauw siocia!” Bukan main kaget Siauw Bie mendengar namanya dipanggil orang, ia memang sedang melarikan diri dari kejaran Pek Tiong Thian. „Siapa?!” tanyanya sambil meneliti keadaan di sekitarnya.
492
Dibalik satu batu besar ia melihat To Siok Keng melambai-lambaikan tangannya seraya berkata dengan suara rendah. „Lekas sembunyi di sini!” Sekonyong-konyong saja Siauw Bie jadi gusar melihat saingannya itu. „Wanita liar!” bentaknya sambil melotot beringas, „mengapa, kau tidak berpeluk-pelukkan terus dalam lobang sesempit itu? Apakah kau ingin membanggakan bahwa kau telah berhasil merebut si pemuda she Wei dari tanganku?” Wei Beng Yan jadi serba salah mendengar caci maki itu, ia lekas-lekas keluar dan turut berkata. „Bie moay, To siocia dan aku dengan setulus hati ingin membantu, tetapi mengapa kau.....” „Puih! Membantu?!” Siauw Bie memotong gusar. „Ketahuilah bahwa aku merasa jemu melihat wajahmu maupun paras si wanita cendil itu!” Wei Beng Yan betul-betul putus asa melihat sikap Siauw Bie yang sudah seperti orang kurang waras pikirannya itu. „Yah, jika kau mengatakan demikian,” sahutnya, „akupun tidak dapat berbuat apa-apa......” Siauw Bie mengawasi sebentar, setelah itu ia meludah dan meninggalkan tempat itu.
493
To Siok Keng lekas-lekas mengajak Wei Beng Yan masuk lagi sambil menutupi mulut goa itu, dengan batu besar. Karena rasa cemburunya yang sudah meluap-luap, Siauw Bie berlari-lari ke dalam hutan tanpa menghiraukan segala sesuatu yang berada di samping atau di belakangnya. Ia baru terkejut ketika merasakan suatu cengkeraman menjambret pundak kirinya, hingga ia tidak lagi dapat bergerak! „Sia..... siapa kau?!” tanyanya cemas sambil terus meronta-ronta nekad, tetapi cengkeraman itu tidak mau terlepas. „Anjing betina kecil,” kata orang itu, „kau ingin mengetahui aku ini siapa?” Mendengar suara orang itu, mendadak Siauw Bie jadi menggigil ketakutan, karena ia sudah dapat mengenali bahwa suara yang pecah seperti kecer itu adalah suara Yu Leng gadungan alias Pek Tiong Thian! „Aku..... aku mengetahui siapa..... sebenarnya lo-cianpwee.....” sahutnya terputus-putus. „Tetapi........” Pek Tiong Thian yang sedang gusar telah diingusi oleh To Siok Keng, sebetulnya ingin melampiaskan amarahnya itu kepada Siauw Bie, tetapi ketika mendengar kata ‘tetapi’ , ia berusaha menahan perasaannya itu dan menanya. „Tetapi apa?!”
494
„Meskipun aku telah melarikan diri, tetapi aku kira...... sekarang aku dapat membantu Locianpwee......” jawab Siauw Bie. Percakapan itu dilakukan di tempat yang tidak beberapa jauh dari goa yang dipakai bersembunyi oleh Wei Beng Yan dan To Siok Keng, hingga ucapan-ucapan dapat didengar dengan jelas sekali oleh ke dua muda-mudi itu. „Su-ko......” bisik To Siok Keng, „lebih baik kita lekas-lekas keluar dari tempat persembunyian kita ini...... aku khawatir Siauw siocia membongkar rahasia kita!” „Sshh......!” sahut Wei Beng Yan sambil menggeser mendekati mulut goa, „kita harus berlaku tenang......” Kecemasan To Siok Keng memang sangat beralasan, bukankah jika Siauw Bie, yang karena ingin terhindar dari maut itu membeber rahasia tempat persembunyian mereka di dalam goa itu kepada Pek Tiong Thian, mereka pasti akan diganyang hancur? „Kau ingin membantu aku?” terdengar Pek Tiong Thian menanya Siauw Bie dengan suara mengejek. „Tetapi sayang sekali aku tidak lagi dapat percaya kau! Aku bahkan tidak percaya kepada semua keluarga Siauw!” „Mengapa Locianpwee beranggapan demikian?” tanya Siauw Bie yang sudah mulai agak tenang. „Kau dan kakakmu, Siauw Cu Gie adalah sama! Yalah bangsat-bangsat besar! Ha, ha, ha!”
495
„Apakah kakakku pernah menipu Locianpwee?” „Ha, ha, ha! Aku telah pergi ke pegunungan Tay-piet-san, dan di luar lembah Yu-leng-kok aku telah dikerubuti oleh lima orang!” „Apa hubungannya peristiwa itu dengan kakakku?” „Karena salah satu daripada ke lima bangsat itu adalah kakakmu, Siauw Cu Gie, yang telah aku utus ke akherat! Hee, hee, hee!” Siauw Bie jadi terbengong mendengar kakaknya telah dibunuh oleh Pek Tiong Thian. Kakaknya, yang semenjak ibu dan ayahnya meninggal dunia, telah memelihara serta mendidiknya dengan penuh kasih sayang. „Kau telah membunuh kakakku?” serunya lantang. „Betul! Dan kaupun akan mati sekarang!” sahut Pek Tiong Thian sambil mengejek terus. Siauw Bie yang semula ingin memberitahukan tentang tempat bersembunyi Wei Beng Yan dan To Siok Keng, tiba-tiba jadi beringas ketika mengetahui bahwa Siauw Cu Gie, orang satu-satunya yang sangat dicintai itu telah dibunuh dan diejek-ejek. „Jahanam!” bentaknya sambil tiba-tiba meronta dan berhasil melepaskan diri, setelah itu dengan sepenuh tenaga ia menyerang Pek Tiong Thian.
496
Serangan yang dahsyat serta mendadak itu ternyata menemui juga sasarannya. Pek Tiong Thian yang sedang tertawa berkakakan sekonyong-konyong terpental mundur terpukul dadanya. Ia tidak pernah menyangka Siauw Bie yang cantik menggairahkan itu memiliki ilmu lebih lihay daripada kakaknya sendiri. Terjangan tinju gadis itu membuatnya seolah-olah dihajar oleh palu baja! Kalau saja ia tidak keburu melancarkan seluruh tenaganya menahan damparan serangan itu, pasti ia sudah roboh tidak berdaya! Siauw Bie yang sudah nekad lagi-lagi menyerang dan menghujani jotosan-jotosan sambil sebentar-sebentar berusaha menotok jalan-jalan darah yang mematikan. Pek Tiong Thian berkelit, meloncat dan berusaha mendekati tanpa menghiraukan rasa sangat sakit di dadanya. Suatu ketika ia berhasil mencengkeram lagi pundak Siauw Bie dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menyerang ke arah dada, hingga gadis itu menjerit seram, tubuhnya terdorong mundur untuk kemudian terjerumus ke dalam jurang! Pek Tiong Thian yang telah mengerakkan seluruh tenaganya pun tiba-tiba terhuyung dan roboh di tanah akibat serangan Siauw Bie di dadanya tadi! Semua kejadian itu dapat didengar jelas sekali oleh Wei Beng Yan dan To Siok Keng. Mereka bergidik mendengar jeritan Siauw Bie barusan.
497
„Sumoay,” bisik Wei Beng Yan, „kita harus membantu Siauw siocia......” „Luka-lukamu belum sembuh seluruhnya, sedangkan aku belum tentu dapat mengalahkan si jahanam she Pek itu,” sahut To Siok Keng cemas, „jalan satu-satunya untuk mengalahkan dia itu, adalah dengan menyeruduknya dan mati bersama-samanya!” Wei Beng Yan mengawasi paras gadis yang cerdik itu, ia harus mengakui bahwa tenaganya sudah banyak berkurang, lagipula, dengan tulang betisnya yang masih belum sembuh seluruhnya, mana bisa ia melancarkan Thay-yang-sin-jiauw secara sempurna? „Kita harus bersabar,” bisik lagi To Siok Keng sambil menghampiri batu penutup goa dan mengintip keluar, ternyata Pek Tiong Thian sudah tidak lagi berada di situ! Setelah menunggu lagi beberapa lamanya, suasana sudah mulai menjadi gelap, kecuali suara serangga-serangga dan desiran-desiran angin senja pegunungan Oey-san, suasana di sekitarnya sunyi senyap. Mereka belum berani keluar dari tempat persembunyian itu. Mereka bertekad bermalam di situ meskipun harus menderita kelaparan dan kehausan sangat semalam suntuk! „Sumoay,” kata Wei Beng Yan tatkata fajar sudah menyingsing, „harap saja si jahanam sudah berlalu dari daerah pegunungan Oey-san ini.”
498
„Aku yakin jahanam itu tidak demikian mudah ingin meninggalkan daerah ini,” sahut To Siok Keng. „Tetapi kita tidak dapat terus menerus berdiam secara ini.....” „Bagaimana kesehatanmu?” „Aku merasa tenaga serta semangatku telah pulih, hanya tulang betisku masih memerlukan sedikit waktu lagi untuk menjadi sembuh seluruhnya......” „Kita akan naik ke atas puncak Cie-sin-hong, dapatkah kau lakukan itu?” „Mengapa justru naik ke atas, bukankah kita harus mencari jalan keluar?” To Siok Keng bersenyum manis dan menyahut. „Si jahanam tentu sedang menunggu di kaki puncak, maka untuk menghindarkan diri dari cengkeramannya kita justru harus mengambil jalan naik ke atas!!” „Bagus!” seru Wei Beng Yan, „Ayohlah kita berangkat sekarang!” Perlahan-lahan To Siok Keng mengerahkan tenaganya, kemudian dengan satu gentakan mendadak ia membetot batu besar yang menutupi mulut goa. Setelah meneliti keadaan di luar tetap aman, ia lalu memberi isyarat kepada Wei Beng Yan untuk lekas-lekas keluar dan mengikutinya mendaki puncak itu.
499
Dengan napas tersengal-sengal akhirnya kedua muda mudi itu berhasil mencapai puncak Cit-sie-hong. Suasana di tempat yang tinggi itu tenteram sekali. Justru ketenteraman itulah yang memaksa mereka untuk tidak berbicara dengan suara keras, karena khawatir kehadiran mereka di situ diketahui oleh Pek Tiong Thian. Sambil melepaskan lelahnya di atas rumput, Wei Beng Yan merasa cemas sekali telah gagal membunuh Pek Tiong Thian ilmu Thay-yang-sin-jiauw. „Setelah tenagaku pulih seluruhnya, dapatkah aku menewaskan jahanam she Pek itu?” demikian pikirnya. „Suko,” kata To Siok Keng yang dapat melihat gelisahan Wei Beng Yan itu, „apa yang tengah kau pikirkan? Bukankah sekarang kau sudah bebas untuk membunuh musuh-musuh besar ayahmu?” „Yu Leng, guruku sudah meninggal dunia,” sahut Wei Beng Yan, „dan orang yang menyamar sebagai guruku pun telah terbuka kedoknya, tetapi...... bagaimana aku tiba-tiba jadi kehilangan tenaga dalamku? Apa yang menyebabkan itu semua?” Betapapun cerdiknya To Siok Keng, ia tidak mungkin dapat menuduh bahwa Ouw Lo Si lah yang telah menyebabkan malapetaka itu, karena dari pengakuan si pemuda sendiri, ia dapat mengambil kesimpulan bahwa tanpa kakek pincang itu Wei Beng Yan mungkin sudah menjadi korban cakaran Thay-yang-sin-jiauw!
500
„Suko,” akhirnya ia berkata. „meskipun tenagamu sudah banyak berkurang, tetapi aku yakin kau masih dapat menggempur Soat-hay-siang-hiong! Percayalah!” „Mungkin kedua musuh ayahku itu masih dapat aku tewaskan. Aku hanya khawatir terhadap Pek Tiong Thian yang telah membuktikan bahwa ia dapat menahan cakaran Thay-yang-sin-jiauw!” „Tetapi aku meragukan jika iapun mampu menahan Tok-beng-oey-hong!” „Tetapi...... aku kira tidak mudah untuk memperoleh benda itu......” „Kita akan mencari betapapun sukarnya! Yang harus kita kerjakan sekarang yalah mencari makanan dan air......” kata To Siok Keng sambil berbangkit dan mengajak Wei Beng Yan pergi ke tempat yang banyak pohon-pohon besar. DuapuLuh Sembilan Mereka masuk ke semak-semak dan untuk kegirangan mereka, belum lagi lama mencari, tiba-tiba tiga ekor kelinci meloncat. Secepat kilat To Siok Keng menubruk dan berhasil menangkap dua ekor, tetapi ia sendiri terjerumus ke dalam suatu lobang kecil yang tergenang air! „Sumoay!” seru Wei Beng Yan terkejut sambil menghampiri dan melihat To Siok Keng sedang menikmati air yang menggenangi lobang itu.
501
„Suko,” kata To Siok Keng, „peganglah dua ekor kelinci ini, aku akan mengambilkan air untukmu!” Wei Beng Yan lekas-lekas bertiarap dan memegang kedua kelinci yang diangsurkan To Siok Keng lalu mengambil air dengan kedua telapak tangannya untuk kemudian dituang ke dalam mulut si pemuda. Setelah mereka puas menikmati mata air itu, To Siok Keng segera meloncat dan dalam pakaiannya yang basah kuyup itu potongan tubuhnya yang menggiurkan jantung tampak jelas sekali...... Wei Beng Yan lekas-lekas membuka bajunya sendiri dan berkata. „Sumoay, kerudungilah tubuhmu dengan bajuku ini.......” To Siok Keng sambil bersenyum menerima saja tawaran itu. „Terima kasih, Suko! Tetapi, dapatkah kau membuat api?” „Aku harus berusaha atau mati kelaparan!” sahut Wei Beng Yan yang segera berlalu untuk mencari kayu-kayu kering. Kemudian dengan menggosok-gosokkan satu kayu dengan kayu yang lain, ia berhasil membuat api unggun untuk memanggang kedua ekor kelinci itu. Tidak lama kemudian mereka sudah dengan lahap sekali menikmati daging binatang yang terkenal lezat serta halus itu. „Daerah di sekitar puncak ini luas sekali, dan jika kita turun dari satu jalan yang terdapat di sini, aku kira kita takkan menjumpai Pek
502
Tiong Thian,” kata Wei Beng Yan sambil mengunyah daging kelinci panggang. „Baiklah,” sahut To Siok Keng. „kita akan turun setelah makan.” „Sumoay, aku mendengar bahwa Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan masih tersimpan dalam kuil Cit-po-sie di atas puncak Beng-keng-ya yang letaknya di daerah pegunungan Ngo-tay-san......” „Mengapa Suko mengatakan sukar untuk memperoleh benda itu?” „Aku merasa sangsi jika pemimpin kuil itu sudi menyerahkan Tok-beng-oey-hong kepada kita.......?” „Kita coba saja.......” Begitulah, setelah menghabiskan kedua ekor daging kelinci itu To Siok Keng lalu mengembalikan baju Wei Beng Yan, karena bajunya sendiri sudah hampir kering lagi. Mereka lalu turun dari puncak itu, dengan perut sudah diisi, dalam waktu yang singkat saja mereka sudah tiba di bawah untuk terus melanjutkan perjalanan ke pegunungan Ngo-tay-san, tanpa diketahui oleh Pek Tiong Thian yang masih menunggu di suatu tempat yang bertentangan! Setelah menempuh jarak kira-kira seratus lie, Wei Beng Yan dan To Siok Keng terkejut sekali tatkala mendengar berita bahwa pemimpin kuil Cit-po-sie, Bak Kiam Taysu telah ditewaskan oleh seseorang yang menopengi mukanya dengan selembar kain hitam.
503
„Menopengi mukanya?!” tanya Wei Beng Yan kaget. „Mungkinkah orang itu......” „Orang itu pasti guru gadunganmu, Pek Tiong Thian!” sahut To Siok Keng tegas. „Seperti telah kita lihat, si jahanam belum memiliki benda itu. Dengan demikian Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan masih berada di dalam kuil Cit-po-sie! Ayohlah kita lekas-lekas kesana!” Demikianlah mereka meneruskan lagi perjalanan mereka. Sepuluh hari telah lewat, dan mereka sudah berada di suatu desa yang terletak tidak beberapa jauh dari lereng gunung Ngo-tay-san. Makin hari makin akrab saja pergaulan mereka, tetapi setiap mereka bermalam di suatu rumah penginapan, mereka selalu menyewa dua kamar sebelah menyebelah, begitupun malam itu, Wei Beng Yan tidur sendiri dalam kamarnya. Di tengah malam yang sunyi dan dingin, tiba-tiba Wei Beng Yan terjaga dari tidurnya. Peluh membasahi sekujur badannya, tetapi ia merasa mendadak tenaga serta semangatnya pulih kembali. Yang paling menggirangkan yalah, ia tidak lagi merasa apapun ketika membanting-banting kedua kakinya, tulang betisnya yang patah sudah sembuh! Karena rasa girangnya yang meluap-luap itulah ia jadi tidak bisa tidur lagi, tetapi mendadak ia merandek dapat mendengar sesuatu yang agak ganjil di atas kamarnya. Lekas-lekas ia meniup lilin dan menengadah sambil mendengari lagi.
504
„Apakah kau merasa yakin memang dia itu yang kita sedang cari?” Demikian terdengar seseorang berbisik. Bercekat hati Wei Beng Yan ketika mendengar suara yang parau serta sember itu. Ia berusaha mengingat-ingat dan tiba-tiba telapak tangannya jadi berkeringat, „Soat-hay-siang-hiong!” serunya tertahan. Lekas-lekas ia mengintip melalui celah-celah jendela dan dapat melihat bayangan dua orang yang baru saja meloncat turun dari atas atap dan tengah menghampiri kamar di seberang kamarnya sendiri. Betul saja kedua orang itu adalah kedua jahanam Soat-hay-siang-hiong yang bernama Suto Eng Lok dan Hua Ceng Kin. „Tadi aku dapat melihat dengan terang dan aku tidak melihat keliru!” sahut si nenek she Hua. „Jika betul dia ini si Gaitan baja tinju besi, aku betul-betul tidak mengerti!” kata Suto Eng Lok, „bukankah ia selalu menyertai si pincang!” „Mungkin mereka sudah bertempur dengan Pek Tiong Thian di kuil Cit-po-sie. Dari pemilik rumah penginapan ini aku dapat keterangan bahwa di waktu ia datang di sini, ia sudah terluka parah, ketika diserang demam katanya ia sering mengaco dan sebentar-sebentar menyebut Tok-beng-oey-hong! Apakah kemujizatan benda itu?”
505
„Aku tidak ingin mengetahui kemujizatan benda itu, aku hanya ingin menewaskannya malam ini!” Setelah berkata begitu, mereka lalu mengintip ke dalam kamar. Dari percakapan mereka itu, Wei Beng Yan segera mengetahui bahwa orang yang ingin dibunuh oleh kedua jahanam itu adalah Khouw Kong Hu, yang diketahuinya sebagai seorang pendekar luhur dan telah melakukan banyak kebaikan di kalangan Bulim. „Aku harus mencegah perbuatan kedua jahanam itu,” pikirnya, „di samping itu, inilah kesempatan yang terbaik untuk aku membalas dendam ayahku terhadap kedua musuh besarku ini!” Perlahan-lahan ia membuka pintu kamarnya, dan begitu berada di luar, ia segera mengangkat tangan kanannya yang berjari seperti cakar burung garuda dan...... „B u n g !!” Suto Eng Lok terpental sambil melepaskan jeritan seram, seluruh tubuhnya sudah terbakar oleh Thay-yang-sin-jiauw! Hua Ceng Kin yang sangat cerdik dan licik masih keburu meloncat, hingga belum lagi Wei Beng Yan keburu melancarkan ilmunya yang dahsyat itu, ia sudah melarikan diri dan menghilang di tengah kegelapan malam...... „Suko, ada apa?” tanya To Siok Keng yang sudah bangun mendengar suara jeritan Suto Eng Lok tadi. „Siapakah orang yang kau tewaskan itu?”
506
„Suto Eng Lok!” sahut Wei Beng Yan bangga, „salah satu musuh besar ayahku, Soat-hay-siang-hiong.” „Kau sudah dapat melancarkan Thay-yang-sin-jiauw?” „Sudah!” To Siok Keng merasa girang sekali mendengar jawaban itu. „Tetapi kita harus lekas-lekas berlalu dari sini!” „Mengapa?” Kita tidak boleh menarik perhatian orang banyak atau rencana kita akan gagal!” „Mengapa kedua iblis ini berada di sini?” „Mereka ingin membunuh Khouw Tay-hiap yang sedang menderita luka parah dalam kamar ini,” sahut Wei Beng Yan sambil menghampiri pintu kamar. „Mari kita tengok padanya sebelum kita berangkat.” Baru saja Wei Beng Yan selesai berkata demikian, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan Khouw Kong Hu sudah berada di hadapan mereka. „Wei siohiap,” kata si orang she Khouw, mendadak mukanya yang memang sudah pucat jadi bertambah pucat saja ketika melihat mayat Suto Eng Lok, „apakah kau yang telah membunuh jahanam itu?”
507
Wei Beng Yan mengangguk dan berkata. „Betul! Kedua jahanam itu ingin membunuh Khouw Tay-hiap dan aku kebetulan dapat melihat mereka.......” Khouw Kong Hu jadi terpaku sambil mengawasi mayat Suto Eng Lok. „Khouw Tay-hiap,” kata lagi Wei Beng Yan, „ayohlah kita lekas-lekas berlalu dari sini agar tidak menarik perhatian orang!” „Marilah!” sahut Khouw Kong Hu. Wei Beng Yan segera mengangkat mayat Suto Eng Lok dan mendahului berlari keluar rumah penginapan itu diikuti oleh To Siok Keng dan Khouw Kong Hu. Setelah mengubur mayat Suto Eng Lok di suatu tempat yang terpencil, mereka lalu menjauhkan diri ke arah suatu hutan belukar. Tidak lama kemudian, mereka sudah berada di suatu kuil tua yang terbengkalaikan dan hampir ambruk. Di dalam kuil itulah mereka beristirahat sambil menantikan datangnya fajar. „Khouw Tay-hiap,” kata Wei Beng Yan. „Siapa yang telah melukaimu? Katanya kau sering mengaco dalam tidurmu......” „Siapa yang mengatakan demikian?” tanya Khouw Kong Hu terperanjat. „Si iblis wanita, Hua Ceng Kin!”
508
„Apakah si iblis wanita itu juga yang telah menggempur Tay-hiap?” tanya To Siok Keng. Khouw Kong Hu tidak lantas menyahut, ia berpikir sebentar dan ketika mengingat bahwa tidak ada salahnya untuk memberitahukan tentang peristiwa yang pernah terjadi di kuil Cit-po-sie, ia lalu bercerita. Bagaimana Pek Tiong Thian yang telah menyamar sebagai Yu Leng ingin merebut Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan dari tangan Bak Kiam Taysu. Bagaimana ia sendiri telah dilukai oleh Ji Cu Lok gadungan yang telah ditipu oleh Ouw Lo Si dan dibawa ke suatu tempat di dekat mulut lembah Yu-leng-kok. „Kita justru sedang menuju ke kuil tersebut,” kata Wei Beng Yan setelah mendengar seluruh kisah itu. „Apakah kiranya Tok-beng-oey-hong masih berada dalam kuil itu?” „Siohiap ingin mengambil benda mujizat itu?” tanya Khouw Kong Hu heran. „Untuk apakah?” „Untuk membunuh Pek Tiong Thian!” „Membunuh si jahanam she Pek dengan Tok-beng-oey-hong?! Bukankah siohiap memiliki ilmu yang dahsyat?” „Tenaga dalamku baru saja pulih kembali, sedangkan tulang betisku baru saja sembuh, kalau tidak pasti Pek Tiong Thian telah tewas dikeremus Thay-yang-sin-jiauw.”
509
„Apa yang telah terjadi dengan tenaga dalam siohiap? Mengapa tulang betismu?” „Aku sendiri tidak mengetahui mengapa tiba-tiba aku jadi kehilangan tenaga dalamku, sehingga waktu aku meloncat turun dari suatu tempat yang tidak beberapa tinggi, tulang betisku patah!” Khouw Kong Hu jadi terbengong, karena ia adalah orang satu-satunya yang mengetahui mengapa pemuda itu tiba-tiba kehilangan tenaga serta semangatnya. Ia jadi serba salah, apakah ia harus memberitahukan siasat busuk Ouw Lo Si? Jika ‘ya’, ia menghianati saudara angkatnya! Jika ‘tidak’, si pemuda yang berwatak luhur, yang baru saja kemarin malam menolong jiwanya dari cengkeraman Soat-hay-siang-hiong, pasti akan mengalami lagi penderitaan yang terlebih hebat dari serangan racun yang berada dalam sampul nomor satu itu! Lama juga mereka bertiga tidak berbicara. Tetapi tiba-tiba Wei Beng Yan merogoh sakunya dan mengeluarkan satu sampul surat seraya kerkata. „Sebelum aku masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok, kakek Ouw pernah memberikan aku tiga sampul surat dengan pesan agar aku baru membuka ketiga sampul itu setelah berhasil membunuh musuh-musuh ayahku. Aku telah membuka sampul nomor satu ketika membunuh Eu-yong Lo-koay, dan aku kira sudah tiba saat untuk membuka sampul yang kedua ini, setelah aku kemarin membunuh Su-to Eng Lok!”
510
Butiran-butiran peluh dingin menghias dahi Khouw Kong Hu, tubuhnya agak bergemetar. Ia bergidik ketika membayangi betapa para luka yang akan dialami oleh pemuda itu kelak. Ia merasa yakin betul jika Wei Beng Yan membuka sampul yang kedua itu, setelah lewat delapan hari, tenaga dalam pemuda itu akan menghilang lagi dan......, jika sampul yang ketiga, yang berisikan racun terhebat dibuka, pembuluh-pembuluh darah Wei Beng Yan akan putus seluruhnya dan ia akan tewas karena kehabisan tenaga! Menurut aturan yang lazimnya berlaku, Khouw Kong Hu sebagai saudara angkat Ouw Lo Si yang telah bersumpah untuk sehidup semati dengannya, harus menganggap Wei Beng Yan sebagai musuhnya juga, tetapi Khouw Kong Hu tidak bisa menuruti saja aturan itu. Ia tidak tega melihat Wei Beng Yan mati meleras! Maka ketika melihat Wei Beng Yan sudah ingin membuka sampulnya yang kedua itu, lekas-lekas ia berkata untuk mencegah. „Wei siohiap!” katanya. Wei Beng Yan menoleh ke arah Khouw Kong Hu sambil menunda sampul itu. Ia merasa agak heran melihat sikap Khouw Kong Hu yang tidak sewajar tadi itu. „Ada apa tay-hiap memanggil aku?” tanyanya. „Wei siohiap, aku...... aku.....” „Kau mengapa Tay-hiap?”
511
„Hua Ceng Kin belum jauh melarikan diri dari desa ini, mengapa kita tidak mengejarnya?” sahut Khouw Kong Hu gugup. Ucapan yang dikeluarkan bernada dengan penuh keragu-raguan itu membuat To Siok Keng melirik. Semenjak melihat butiran-butiran peluh di dahi si orang she Khouw tadi, ia memang sudah merasa curiga. Maka dengan ucapan yang hati-hati sekali ia lalu berkata. „Khouw Tay-hiap, mengapa kau tiba-tiba jadi demikian gelisah?” Khouw Kong Hu tidak bisa menyahut, ia tampaknya gugup sekali. „Bolehkah aku mengajukan suatu pertanyaan yang mungkin tidak enak didengar oleh Tay-hiap?” tanya lagi To Siok Keng. „Pertanyaan apakah yang mungkin tidak enak?” tanya Wei Beng Yan heran. „Aku tidak berkeberatan untuk mendengar pertanyaanmu itu,” sahut Khouw Kong Hu. „Wei Koko telah memberitahukan padaku bahwa kau adalah seorang yang berbudi luhur dan kesatria, tetapi mengapa kau sekarang agaknya ragu-ragu? Kau agaknya menyembunyikan sesuatu dari kita,” kata To Siok Keng tanpa tedeng aling-aling. „Aai! Mata To siocia tajam sekali!” kata Khouw Kong Hu sungguh-sungguh sambil menoleh ke arah Wei Beng Yan dan melanjutkan.
512
„Wei siohiap, jika aku harus, menceritakan satu persatu, aku akan dicap sebagai penghianat, aku memang ingin meminta dengan sangat agar kau TIDAK membuka sampul surat yang kedua itu!” „Mengapa?!” tanya Wei Beng Yan. „Aku tidak dapat memberitahukan mengapa, tetapi jika kau dapat menyanggupi permintaanku itu, aku sangat herterima kasih!” „Apakah surat di dalam sampul ini akan memerintahkan aku untuk melakukan suatu perbuatan yang terkutuk?” „Aku tidak tahu apa yang tertera dalam surat itu, aku hanya minta kau tidak MEMBUKA sampul pemberian Ouw Lo Si!” „Tetapi mengapa?!” „Ya, mengapa Khouw Tay-hiap? Akupun ingin mengetahui!” To Siok Keng ikut mendesak. Khouw Kong Su menundukkan kepalanya dan tidak lantas menyahut. „Khouw Tay-hiap,” kata Wei Beng Yan, „Ouw Locianpwee adalah seorang sahabatku yang merupakan juga saudara sekandungku, apakah aku harus membangkang terhadap permintaannya agar aku membuka satu dari ke tiga sampul ini setelah aku berhasil membunuh seorang musuh ayahku?”
513
„Wei siohiap, jika Ouw Si-ko berada di sini dan mengetahui bahwa kau telah menolong aku, dia pasti akan mengambil kembali kedua sampul itu!” „Tetapi, mengapa?” „Karena kau telah diberikannya TIGA SAMPUL MAUT!” Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba Khouw Kong Hu menjerit seram dan roboh! Cepat luar biasa Wei Beng Yan meloncat keluar kuil dan masih dapat melihat satu bayangan berkelebat dengan gerakan yang pesat, yang dalam beberapa detik saja telah meninggalkannya jauh sekali! Ia mengejar, namun setelah mengejar kira-kira satu lie jauhnya, di suatu pengkolan bayangan itu menghilang. Ia mengejar lagi tetapi bayangan itu sudah entah ke mana larinya, maka dengan perasaan kecewa ia lalu berlari balik. Setibanya di kuil yang hampir runtuh tadi, ia melihat paras To Siok Keng sudah berubah sedangkan Khouw Kong Hu menggeletak di tanah. „Sumoay, bagaimana keadaan Khouw Tay-hiap?” tanyanya cemas. „Ia sudah tewas!” sahut si gadis sedih. „Mati?!”
514
„Ya! Ia tewas diserang oleh senjata rahasia! Apakah kau mengenal siapa orang yang telah menyerangnya tadi?” „Tidak! Ilmu meringankan tubuhnya lihay sekali sehingga aku kehilangan jejaknya di tempat yang agak gelap......” To Siok Keng mencabut satu benda yang menancap di punggung Khouw Kong Hu sedalam sepuluh sentimeter. „Benda inilah yang telah membunuh Khouw Tay-hiap!” katanya sambil mengangsurkan sebuah jarum yang sudah agak berkarat. „Jahanam!” bentak Wei Beng Yan setelah mengenali jarum itu. „Suko kenalkah orang yang telah menyerang itu?” „Orang yang keji itu adalah Hua Ceng Kin, salah satu dari kedua Soat-hay-siang-hiong!” „Bagaimana kau mengetahui hal itu?” „Benda yang kau pegang itu adalah senjata rahasia yang terkenal dengan nama Hian-peng-tok-bong, yang telah merenggut jiwa ayahku!” „Belum tentu!” „Mengapa belum tentu?!” „Suko, kau adalah seorang yang jujur, dan selalu mengurus segala sesuatu dengan ketulusan hati. Tetapi kenyataan membuktikan
515
bahwa kebanyakan orang berhati palsu -- terlalu mementingkan diri sendiri!” „Lalu?” „Apakah tidak mungkin karena khawatir rahasianya terbongkar, Ouw Locianpwee lalu mempergunakan senjata rahasia ini untuk membunuh Khouw Tay-hiap?” Wei Beng Yan bersenyum mendengar kesimpulan yang agaknya masuk diakal juga itu. „Sumoay,” katanya, „pendapatmu itu beralasan, tetapi jika kau mengatakan bahwa Ouw Lo Si bermaksud menganiaya aku, aku tidak dapat percaya......” „Mengapa tidak?” „Karena untuk membunuh aku, Ouw Locianpwee hanya perlu memberikan aku petunjuk-petunjuk keliru dan memberikan aku satu lentera kertas yang bentuknya tidak disukai oleh guruku Ji Cu Lok dan aku sudah mati dua tahun lebih yang lalu!” To Siok Keng jadi bungkam mendengar keterangan itu. Sejenak kemudian parasnya tiba-tiba berubah kaget. „Suko!” serunya, „apakah kau tahu siapakah yang telah membunuh seluruh keluargaku?” „Tidak!” sahut Wei Beng Yan terkejut melihat paras gadis itu yang tiba-tiba jadi beringas. „Mengapa kau menanyakan demikian?”
516
„Karena aku sudah mengetahui!” „Siapa?!” „Yu Leng gadungan, Pek Tiong Thian!” „Siapa yang mengatakan demikian?” To Siok Keng atau Kiu Su Yin, puteri Kiu It, menunjuk ke arah mayat Khouw Kong Hu dan berkata. „Dialah yang telah memberitahukan!” „.......................????!” „Sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir,” To Siok Keng melanjutkan, „Khouw Tay-hiap dengan nada suara yang menyayatkan sekali telah meratap......” „Apa ratapnya?” tanya Wei Beng Yan bernapsu. „Ouw Si-ko!” To Siok Keng mengulangi kata-kata Khouw Kong Hu tadi, „Jika si jahanam Pek Tiong Thian tidak dibasmi, arwah Ku It sekeluarga akan penasaran sekali..... aai! Kiu Jiko.......” Wei Beng Yan menggertak giginya mengetahui Pek Tiong Thian juga telah membunuh seluruh keluarga Sumoaynya. „Didengar dari panggilannya Kiu Ji-ko,” katanya sengit, „Khouw Tay-hiap dan Ouw Locianpwee adalah saudara-saudara angkat ayahmu!”
517
„Maka dengan itu pula kau harus mendengar peringatan Khouw Tay-hiap untuk tidak membuka sampul surat pemberian si kakek Ouw itu!” To Siok Keng menekankan permintaan Khouw Kong Hu. „Sumoay, mengapa kau begitu keras kepala? Masakan dalam sampul yang setipis ini tersimpan senjata rahasia untuk menganiayaku.......?” „Tetapi apa salahnya jika kau memperhatikan peringatan Khouw Tay-hiap?” „Baiklah.....” sahut Wei Beng Yan kewalahan. Dengan jawaban itu, ia bermaksud membuka juga sampul surat itu jika To Siok Keng tidak berada di dekatnya, karena di samping ingin mengetahui isi surat, ia tidak mau melanggar janjinya terhadap si kakek pincang. Ia masuki lagi suratnya itu dan segera menggali sebuah lobang untuk mengubur jenazah Khouw Kong Hu. Baru saja selesai melakukan itu semua, tiba-tiba hujan turun yang seolah-olah ingin turut mengunjuk rasa belasungkawanya atas tewasnya Khouw Kong Hu. Terpaksa mereka harus menunggu berhentinya hujan di dalam kuil bobrok itu. „Sumoay,” kata Wei Beng Yan, „Sebelum kita lanjutkan perjalanan kita ke kuil Cit-po-sie, bagaimana jika kita mengejar Hua Ceng Kin dulu?”
518
„Ya, nenek itu dululah yang harus kita gempur!” sahut To Siok Keng. Setelah menunggu lagi sekian lamanya, barulah hujan mereda, mereka segera mengejar ke arah larinya Hua Ceng Kin tadi. Mereka tidak menjumpai siapapun sepanjang jarak duapuluh lie, hanya di permukaan tanah yang agak basah karena air hujan tampak jejak-jejak kaki. Di antara satu jejak dan jejak kaki yang lain jaraknya kira-kira hampir dua meter. Yang aneh yalah, di samping bekas jejak-jejak kaki itu terlihat juga tanda bekas sodokan, kayu atau tongkat. „Suko,” kata To Siok Keng sambil menghentikan larinya, „Apakah Hua Ceng Kin memakai tongkat?” „Betul!” sahut Wei Beng Yan sambil menunjuk ke arah jejak-jejak kaki di tanah itu. „Aku baru ingat memang si nenek jahanam selalu. membawa tongkat. Melihat jejak kakinya yang masih segar ini, aku yakin kita masih keburu mengejarnya sekarang!” To Siok Keng mengawasi permukaan tanah dan meneliti dengan cermat. „Sumoay, ayolah!” kata Wei Beng Yan sambil membetot tangan gadis itu. „Nanti dulu!” To Siok Keng mencegah. „Hua Ceng Kin terkenal sebagai iblis keji, ia sudah memperhitungkan bahwa ia akan kita kejar, maka ia telah meninggalkan tanda-tanda bekas kaki dan
519
ujung tongkatnya ini. ia sengaja menunjukkan kepada kita ke mana ia telah melarikan diri!” „Apakah kau menganggap jahanam itu tengah memasang perangkap?” „Itu sudah jelas, jika kita mengejar terus, di suatu tempat kita akan dibokong dan dibinasakan dalam perangkapnya!” „Tetapi inilah kesempatan terbaik untuk membalas dendam ayahku.....” „Kita harus mengejar! Aku hanya memperingatkan agar kita berlaku hati-hati! Ayohlah!” Mereka segera mengikuti jejak kaki itu, setelah berlari kira-kira satu lie, dari kejauhan tampak sebuah rumah gedung besar yang dilingkari oleh tembok setinggi hampir dua meter. Gedung itu terletak di tempat yang terpencil sekali dan agaknya sudah ditelantarkan, yang ganjil yalah, bekas-bekas telapak kaki justru menuju ke arah rumah gedung itu. Wei Beng Yan yakin bahwa tenaga dalamnya sudah pulih kembali, dengan demikian ia dapat melancarkan Thay-yang-sin-jiauw dengan sempurna, maka dengan berani ia lalu mengajak To Siok Keng menghampiri pintu gedung tersebut yang tertutup rapat. Dengan cermat mereka memeriksa keadaan di sekitarnya.
520
„Apakah di dalam gedung sudah menunggu orang-orang lihay undangan Hua Ceng Kin?” tanya To Siok Keng perlahan. „Kita lihat saja!” sahut Wei Beng Yan sambil tiba-tiba mengetuk kedua belah daun pintu rumah itu. Tetapi setelah beberapa kali mengetuk dan memanggil-manggil, dari dalam tidak terdengar suara sahutan apapun. To Siok Keng memutar gagang pintu dan ternyata pintu itu tidak dikunci. Segala sesuatu yang berada di dalam pun agaknya sudah ditelantarkan. Mereka segera melangkah masuk dan melihat semua jendela dan pintu depan gedung itu juga tertutup rapat. „Hei,”seru Wei Beng Yan lantang, „apakah tidak ada orang-orang dalam gedung ini?” Dan ketika masih tidak mendengar suara sahutan, ia segera mengangkat tangannya dan menyerang ke arah pintu......, tiba-tiba saja kedua daun pintu itu roboh sambil menerbitkan suara gaduh. Namun masih tidak tampak ada orang keluar dari rumah itu. Dengan hati-hati sekali mereka lalu menghampiri untuk melongok ke dalam, keadaan di situ ternyata teratur rapih dan lantainya berkilat dan tidak terdapat abu sedikitpun. Suatu bukti bahwa rumah gedung itu ada penghuninya! „Heran!” kata Wei Beng Yan. „ke mana perginya penghuni rumah ini?”
521
Perlahan-lahan mereka bertindak masuk ke dalam ruangan depan rumah itu, di ke dua tembok yang kiri dan kanan dalam ruangan itu terdapat pintu. „Sumoay,” bisik Wei Beng Yan. „kau masuk dari pintu yang sebelah kiri sedangkan akan masuk dari pintu yang di sebelah kanan, beri isyarat jika kau melihat ada orang di sana!” „Suko, gedung besar ini merupakan teka-teki, mungkin suatu jebakan, kita harus menyelidiki dan menggempur musuh bersama-sama. Mengapa kau justru mengambil siasat ini?” „Karena aku khawatir si jahanam dapat melarikan diri dari pintu yang di sebelah kiri itu.......” To Siok Keng yang mengira Wei Beng Yan ingin mengurung musuh, menuruti saja permintaan itu. Ia tidak mengetahui bahwa pemuda itu mempunyai suatu maksud tertentu, yalah untuk sementara berada sendirian dan membuka sampul pemberian Ouw Lo Si yang kedua! Maka begitu melihat Wei Beng Yan sudah berjalan ke arah pintu di sebelah kanan, iapun segera menghampiri pintu yang di sebelah kiri. TigapuLuh Dengan satu dorongan enteng saja Wei Beng Yan berhasil membuka pintu itu yang ternyata tidak dikunci. Ia segera masuk ke dalam ruangan samping, dari situ ia melihat serambi yang panjang sekali, yang menjurus ke bagian belakang rumah gedung itu.
522
Keadaan tetap sunyi senyap, tidak tampak satu orang pun. Ia bersenyum girang dan mengeluarkan sampul Ouw Lo Si yang kedua tetapi baru saja ingin membeset sampul itu, sekonyong-konyong ia dibikin kaget oleh berkelebatnya satu bayangan di ujung serambi yang panjang itu. „Hei berhenti sebentar!” bentaknya sambil memasukkan kembali sampul suratnya dan mengejar orang itu yang mendadak membuka pintu dan menghilang di ujung serambi. Ia mengejar terus dan tiba di suatu taman bunga, dari situ ia dapat melihat satu ruangan besar yang bagian tengah-tengahnya digantungi selembar papan merek. „Ruangan untuk berlatih silat.” Justru ke ruangan itulah orang yang dikejarnya tadi menghilang. Ia menunggu sambil meneliti ke seluruh ruangan itu. Tiba-tiba tampak orang itu berlari mendatangi ke arahnya! Orang yang mengejar orang itu ternyata To Siok Keng. Orang itu agaknya menjadi nekad ketika mengetahui ia tidak lagi dapat melarikan diri. Ia mencabut goloknya dan menyerang To Siok Keng. „Hei, siapa kau?” tanya Wei Beng Yan gusar. Orang itu tidak manghiraukan, ia menyerang terus, sehingga To Siok Keng jadi sibuk mengegosi bacokan-bacokan golok yang ganas itu. Ternyata orang itu bukan tandingan si gadis she To, karena baru saja pertarungan berlangsung beberapa jurus, ia mendadak terhuyung terpukul kepalanya, dan ketika To Siok Keng
523
meloncat ke depan dengan jurus Si-yun-kiauw-peng (Awan gelap meliputi angkasa), goloknya yang besar itu dapat direbut oleh gadis itu. Wei Beng Yan kagum sekali melihat kelincahan sumoaynya itu. „Hebat!” serunya tanpa terasa. Serentak dengan itu, terdengar suara tertawa berkakakan yang menegakkan bulu roma, dan sekejap saja tiga orang yang rata-rata sudah berusia limapuluh tahun sudah berada dalam ruangan untuk berlatih silat itu. Wei Beng Yan mengawasi ketiga orang yang baru datang itu, yang sudah berjalan menghampiri secara berdampingan. Yang di tengah berkulit muka kuning, kedua matanya bersinar tajam dan mengenakan pakaian yang indah sekali. Dengan tubuhnya yang tinggi besar serta tegap, ia tampaknya gagah sekali. Yang di sebelah kiri berwajah tampan, juga bertubuh tinggi besar dan bersenjata sebilah pedang hitam yang panjangnya satu meter lebih. Yang disebelah kanan bertubuh pendek tetapi kuat tegap seperti seorang jago yudo. Dari cahaya wajahnya, orang dapat segera melihat bahwa ia memiliki ilmu tenaga dalam yang lihay sekali. Wei Beng Yan belum pernah melihat ke tiga orang itu, begitu pun To Siok Keng, tetapi dari wajah-wajah yang telah dilihat itu mereka
524
segera dapat mengambil kesimpulan bahwa ketiga orang itu bukanlah orang-orang yang jahat. Begitu berada cukup dekat, tanpa mengatakan apapun orang yang berada di sebelah kiri tiba-tiba meloncat dan menyabetkan pedangnya ke arah Wei Beng Yan. Dengan serentak Wei Beng Yan dan To Siok Keng meloncat mundur mengelakkan sabetan pedang yang dahsyat itu. „Tay-hiap!” seru Wei Beng Yan sambil menghunus pedangnya sendiri, „kedatangan kita di sini yalah untuk menjumpai tuan rumah di sini.” Orang itu agaknya kagum sekali melihat gerakan kedua muda mudi itu, tetapi dengan gusar ia membentak. „Apakah untuk menjumpai tuan rumah, kalian harus mendobrak pintu rumah ini?!” Baru saja Wei Beng Yan ingin menjelaskan mengapa ia mendohrak pintu rumah itu, sekonyong-konyong orang itu telah menyerang lagi. Maka terpaksa ia menangkis..... „T i n g.........!!” Kedua pedang itu beradu di udara dan menggetarkan yang menyerang maupun yang diserang! „Hei,” bentak orang itu, „Pedang apakah yang kau pergunakan itu?”
525
„Tentu saja pedang Ku-tie-kiam,” sahut Wei Beng Yan, „pernahkah kau melihat lain pedang, yang berwarna seperti pedang ini?” „Ku-tie-kiam?! Apakah kau memperoleh pedang itu dari Soat-hay-siang-hiong?” „Dari Wei Tan Wi!” „..................???!!” „Yang telah dibunuh secara keji oleh Soat-hay-siang-hiong. Justru kedatanganku di sini yalah untuk membekuk jahanam itu!” „Ada hubungan apa Wei Tan Wi dengan kau sendiri?” „Beliau ayahku!” „Aai! Tidak kunyana Wei tay-hiap mempunyai seorang putera segagahmu ini!” „Kau kenal ayahku?” „Kita bukan saja kenal, tetapi ayahmu adalah saudara angkat kita yang keempat!” Terkejut sekali Wei Beng Yan mengetahui bahwa ketiga orang itu adalah susiok-susioknya. Ia mengawasi orang yang barusan bertempur dengannya, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke orang yang di tengah dan yang di kanan.
526
„Anak muda,” kata orang yang tadi sambil menyimpan pedang. „siapakah namamu?” „Aku...... aku Wei Beng Yan....... bolehkah aku mengetahui nama susiok......?” sahutnya agak gugup. „Aku bernama, Lim Ceng Yao, Ji-susiokmu! Marilah kuperkenalkan. -- Yang berdiri di tengah ini adalah Toa-susiokmu yang bernama Lee Beng Yan, pemimpin partai di ibu kota, yang bernama julukan Hian-hok-lay-ji, si Orang sakti yang berbudi luhur! Dan..... yang di sebelah kanan ini adalah Sam-susiokmu, Song Thian Hui yang bernama julukan Kim-gan-sin-tiauw, si Rajawali sakti bermata mas!” Wei Beng Yan membungkukkan tubuhnya kepada kedua orang yang telah diperkenalkan Lim Ceng Yao tadi, kemudian ia berkata. „Dan apakah nama julukan Lim susiok sendiri?” Lim Ceng Yao bersenyum ditanya demikian. Sebelum ia menjawab, Song Thian Hui sudah mendahului berkata. „Dia adalah seorang ahli pedang dari propinsi Hok-kian yang bernama julukan Bun-tiong-it-kiam, si Ahli pedang dari propinsi Hok-kian!” „Ha, ha, ha!” Lim Ceng Yao tertawa berkakakan girang, „Tetapi siapakah siocia ini?” „O...... ia sumoay ku.....”
527
„Aku To Siok Keng merasa beruntung sekali dapat berkenalan dengan ketiga Locianpwee!” To Siok Keng mendahului memperkenalkan dirinya. „O..... kalian adalah saudara-saudara seperguruan?” kata Lee Beng Yan sambil tertawa, „Aku kira kalian.....” Merah paras To Siok Keng mendengar ucapan yang sudah dapat menduga artinya itu. Ia menundukkan kepala dan tidak mengatakan sesuatu. Melihat demikian, Wei Beng Yan lekas-lekas berkata. „Mengapa ke tiga susiok berada di sini?” „Gedung ini adalah rumahku sendiri,” kata Lee Beng Yan, „yang berbareng dipergunakan juga sebagai markas besar partaiku. Kita bertiga merasa menyesal sekali sudah memperlakukan kalian dengan kasar tadi.......” Wei Beng Yan bersenyum dan menyahut. „Itu salahku sendiri yang telah lancang masuk di sini, tetapi mengapa kedatanganku di sini agaknya sudah ditunggu-tunggu oleh ketiga susiok?” „Aku telah berdiam dengan tenteram di sini, tetapi entah mengapa, pada kira-kira satu bulan yang lalu Soat-hay-siang-hiong telah menyuruh orang membawa surat kepadaku yang memberitahukan bahwa pada hari ini mereka akan datang untuk membikin perhitungan dengan partaiku!” demikian Lee Beng Yan menjelaskan.
528
To Siok Keng mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mendengar terus. „Karena khawatir aku tidak sanggup melawan kedua iblis itu,” Lee Beng Yan melanjutkan, „maka aku telah mengundang Lim dan Song kedua saudara angkatku ini untuk membantuku membasmi jahanam-jahanam itu. Kita telah membikin persiapan seperlunya untuk menyambut kedatangan mereka, tetapi ternyata yang datang adalah kau dan To siocia! Ha, ha, ha!” Keterangan itu membuat Wei Beng Yan maupun To Siok Keng berpendapat bahwa Hua Ceng Kin memang sengaja meninggalkan jejak-jejak kakinya di tanah dengan maksud mengadu dombakan mereka dengan Lee Beng Yan, Song Thian Hui dan Lim Ceng Yao. Perangkap yang telah direncanakan dengan sempurna itu, hampir saja berhasil jika Lim Ceng Yao sendiri tidak mengenali pedang pusaka Ku-tie-kiam milik Wei Tan Wi. „Lee susiok,” kata Wei Beng Yan, „ke mana anggota-anggota partaimu? Mengapa gedung ini demikian sepinya?” „Aku sudah mengetahui kelihayan Soat-hay-siang-hiong,” sahut Lee Beng Yan, „maka setelah kedua saudara angkatku ini datang, aku segera membubarkan orang-orangku demi keselamatan mereka, karena kita bertiga telah bertekad untuk bertarung sampai mati untuk membasmi kedua jahanam itu!” Wei Beng Yan terharu sekali mengetahui ketiga susioknya itu rela berkorhan demi kepentingan orang banyak.
529
„Beng Yan,” kata Lim Ceng Yao. „Kau tadi mengatakan ingin membekuk ke dua jahanam yang telah mengancam kita itu, mengapa kau dan To siocia justru datang di sini?” „Karena kita telah mengikuti jejak kaki Hua Ceng Kin yang agaknya masuk ke dalam gedung ini!” sahut Wei Beng Yan. „Si nenek sudah datang di sini? Apakah nenek itu datang seorang diri saja?” „Soat-hay-siang-hiong kini tinggal seorang saja, karena Suto Eng Lok telah aku tewaskan!” „Bagus! Jika hanya tinggal Hua Ceng Kin, aku merasa yakin kita bertiga masih dapat melayaninya!” „Mungkin juga si nenek jahanam itu kini tengah bersembunyi dalam gedungku ini!” kata Lee Beng Yan, „Ayohlah kita cari!” Demikianlah, mereka segera berpencar untuk mencari si nenek jahanam itu. Entah berapa lama mereka berlima menjelajahi seluruh ruangan gedung yang besar itu, tetapi ketika mereka berkumpul lagi di tengah hari, Hua Ceng Kin tidak berhasil mereka temukan. Mereka lalu duduk mengitari satu meja bundar untuk memperbincang hal itu lebih lanjut. „Beng Yan,” kata Lim Ceng Yao, „sebetulnya hendak ke manakah kau bersama To siocia?”
530
„Kita sedang dalam perjalanan menuju ke kuil Cit-po-sie,” sahut Wei Beng Yan. „Apa maksud kunjungan kalian ke kuil yang katanya sudah dihancur leburkan oleh Pek Tiong Thian?” „Susiok sudah ketahui hal itu?” „Ya berita itu sudah tersiar luas!” „Apakah kepergian kalian ke pegunungan Ngo-tay-san itu hanya untuk sekedar melihat akibat perbuatan si orang she Pek yang katanya telah menyamar sebagai Ji Cu Lok?” tanya Song Thian Hui „Bukan!” sahut Wei Beng Yan, „Kunjungan kita ke kuil itu untuk mencari benda mujizat Tok-beng-oey-hong!” „Mencari Tok-beng-oey-hong?” tanya Lim Ceng Yao. „Untuk apakah?” „Untuk membunuh Pek Tiong Thian!” „Apakah kau ingin membalaskan dendam Bak Kiam Taysu?” „Ya! Tetapi di samping itu semua, untuk mencuci nama guruku yang telah dinodai oleh si orang she Pek itu!” kata Wei Beng Yan. Dan agar ketiga susioknya itu mengetahui dosa-dosa Pek Tiong Thian, ia lalu menceritakan bagaimana Pek Tiong Thian telah menyamar sebagai Ji Cu Lok, gurunya, untuk kemudian
531
melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk. Bagaimana ia telah diperintahkan membunuh Ceng Sim Lo-ni tetapi dilarang membunuh Soat-hay-siang-hiong yang justru menjadi musuh-musuh besar ayahnya. To Siok Keng tidak berdiam saja, iapun bantu memberikan keterangan bagaimana ketika Wei Beng Yan sudah bertekad membunuh guru gadungannya itu, tiba-tiba si pemuda kehilangan tenaga dalam sehingga tidak mampu melancarkan Thay-yang-sin-jiauw dengan sempurna, ia lalu menutup keterangannya dengan menanyakan. „Sebagai orang-orang yang sudah berpengalaman, apakah ketiga Locianpwee mengetahui mengapa tenaga Suko ku bisa dengan tiba-tiba menghilang dari tubuhnya?” Pertanyaan itu membuat Lee Beng Yan dan Song Thian Hui menggeleng-gelengkan kepala mereka, tetapi Lim Ceng Yao, si Ahli pedang dari propinsi Hok-kian berpikir dan berusaha memecahkan teka-teki yang telah dialami oleh si pemuda she Wei itu. Setelah agak lama berpikir, baru ia berkata. „Aku mengetahui ada serupa bubuk racun yang dapat membuat seseorang kehilangan tenaga serta semangatnya setelah mengendus racun tersebut, dan keadaan Beng Yan agaknya mirip benar dengan gejala-gejala orang yang telah terkena racun itu!” „Suko,” kata To Siok Keng, „Mungkinkah Siauw siocia yang memberikan kau racun itu?”
532
„Tidak mungkin! Jika aku diracuni tentu aku sudah lama meninggal dunia. Mungkin aku kehilangan tenaga dalamku karena lain sebab,” si pemuda menolak pendapat itu. Demikianlah mereka menebak-nebak, tetapi meski bagaimanapun Wei Beng Yan tetap tidak merasa yakin jika ia telah terkena racun. Malam harinya, setelah bersantap, Lee Beng Yan dan To Siok Keng, mereka langsung ke masing-masing kamarnya untuk beristirahat. Kesempatan yang baik itulah telah dipergunakan oleh Wei Beng Yan untuk membuka sampul surat Ouw Lo Si. Sambil bersenyum lebar ia mengawasi sampul yang sedang dipegangnya itu, tiba-tiba..... „Breet!” Serentak dengan itu, bau harum semerbak yang ganjil dan tajam sekali merangsang hidungnya, tanpa menghiraukan itu semua ia lalu membaca isi surat itu, yang berbunyi. „Selamat! Lagi sekali aku menghaturkan selamat!” demikian kata pembukaan surat itu, ia bersenyum dan melanjutkan membaca. „Dua orang musuhmu telah tewas! Dan aku yakin dalam waktu singkat kaupun akan berhasil membunuh yang masih ketinggalan itu!
533
Bila semua musuh-musuhmu telah kau basmi habis, dan pembalasan dendam ayahmu sudah terlaksana, aku minta kau tidak lupa untuk membuka sampul surat nomor tiga! Tetapi justru musuhmu yang paling belakang inilah yang harus kau hadapi dengan hati-hati sekali, karena dialah seorang yang betul-betul keji, licik dan licin seperti belut, yang pernah diketahui oleh orang-orang yang berkecimpung di kalangan Bu-lim! Sekali lagi selamat! Tertinggal hormatku Si pincang Ouw Lo Si Demikianlah bunyi surat yang kedua, yang hampir serupa dengan isi surat yang pertama. Dengan itu pula ia telah mengendus lagi semacam racun yang kekuatannya lebih hebat. Setelah merobek-robek surat surat itu, ia lalu merebahkan dirinya sambil mengenang peristiwa-peristiwa yang lalu. Esok harinya, ia tidak merasakan akibat buruk apapun, begitu juga setelah hari yang kelima lewat, bahkan ia masih bisa mengikuti latihan berlima dengan ketiga susioknya dan To Siok Keng. Ketika sedang bersantap tengah hari, Song Thian Hui yang merasa kagum melihat kegesitan To Siok Keng tadi lalu menanya. „To siocia, mengapa sebagai sumoay Beng Yan, ilmu silatmu agaknya berlainan?”
534
„Aku bukan murid Ji Cu Lok Tay-hiap!” sahut To Siok Keng. „Bukankah kau sumoaynya?” „Aku murid Thian-hiang-sian-cu Gui Su Nio, isteri Ji Cu Lok Tay-hiap,” To Siok Keng menjelaskan, „maka aku dengan sendirinya aku jadi pernah sumoay dengan Wei Koko......” „O...... To siocia murid Thian-hiang-sian-cu?’ seru Lim Ceng Yao, „bolehkah aku mengetahui siapa ayah siocia?” „Ayah sumoayku adalah Kiu It!” „Kiu It yang telah dibunuh sacara misterius bersama seluruh keluarganya?” tanya Lee Beng Yan terkejut. „Betul!” sahut To Siok Keng gemas. „Tetapi mengapa ber-she To?” „Untuk menghindarkan cengkeraman Pek Tiong Thian?” kata lagi To Siok Keng. Dan waktu melihat Lee Beng Yan, Song Thian Hui dan Lim Ceng Yao agaknya tidak mengerti dengan pengakuannya itu, ia lalu menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang telah terjadi atas seluruh keluarga dulu, sehingga ketiga susiok Wei Beng Yan tiba-tiba jadi beringas. „Kejam!” seru mereka hampir serentak.
535
„Dan aku merasa khawatir jika Hua Ceng Kin nanti membantu Pek Tiong Thian untuk menggempur kita di sini, itulah berbahaya sekali!” kata si gadis. „Ya, akupun mengetahuinya bahwa Pek Tiong Thian adalah sahabat karib si nenek iblis itu,” kata Lim Ceng Yao. „Beng Yan,” kau pernah bertarung dengan si jahanam she Pek, bagaimana pendapatmu, apakah kita berlima masih dapat melawan jika ia betul-betul datang membantu Hua Ceng Kin?” tanya Thian Hui. „Aku harus mengakui kepandaian kedua jahanam itu sangat lihay,” sahut Wei Beng Yan, „tetapi bukankah kepandaian mereka yang harus kita segani, tetapi senjata-senjata merekalah. Yalah senjata rahasia Hian-peng-tok-bong Hua Ceng Kin dan Ciam-hua-giok-siu Pek Tiong Thian!” „Mendengar kenyataan-kenyataan itu aku merasa tidak enak telah mengundang kalian datang di tempatku ini,” kata Lee Beng Yan sedih. „Lee Heng, kau kira kita ini orang macam apa?” tanya Lim Ceng Yao agak mendongkol. „Untuk membalas kebenaran, kita tidak takut mati, apalagi orang yang sedang terancam sekarang ini adalah kau sendiri, saudara angkat kita yang tertua!” „Aku sudah berusia lebih dari setengah abad, dan aku kira tidak lama lagi aku akan meninggal dunia,” kata Song Thian Hui, „Di masa muda, aku telah belajar silat dengan giat serta tekun dan setelah memiliki hasil daripada jerih payahku itu, aku lalu berkelana
536
dan bolehlah dikatakan aku telah menjelajahi seluruh pelosok dunia persilatan.” Semua orang jadi terbengong mendengar kata-kata yang diucapkan sungguh-sungguh itu. „Sewaktu-waktu aku merasa terhibur juga jika mengenang peristiwa-peristiwa yang telah lampau itu,” Song Thian Hui melanjutkan, „karena aku yakin telah banyak berbuat kebaikan-kebaikan, maka jika sekarang aku memperoleh kesempatan untuk mengulangi perbuatan-perbuatanku dulu itu. Apalagi terhadap kau, Toa-suhengku, apakah aku harus lari tunggang langgang karena mengetahui lawan atau mungkin lawan-lawan yang akan itu dari kaliber berat?!?” Lee Beng Yan jadi berlinang air mata karena terharu mendengar kesetiaan saudara angkatnya yang ketiga itu. „Baiklah......” katanya parau, „Tetapi bagaimana kita harus menghadapi mereka itu, maksudku, apakah kita berlima sekalian mengerubuti?” „Jika Hua Ceng Kin betul-betul mengajak Pek Tiong Thian,” kata To Siok Keng, „bagaimana jika diatur begini saja. Lim Locianpwee harus bertarung melawan Hua Ceng Kin, sedangkan kita berempat akan menghadapi si jahanam she Pek?” „Bagus! Siasat yang baik sekali!” seru Lim Ceng Yao. Begitulah setelah siasat pertahanan itu disetujui oleh semua orang, mereka lalu menantikan kedatangan musuh mereka itu.
537
Tigapuluh Satu Sambil menantikan, berturut-turut lima hari mereka berlatih di ruangan yang khusus disediakan untuk berlatih silat. Pada pagi hari yang keenam, seperti biasa semua orang sudah berkumpul di ruangan berlatih kecuali Wei Beng Yan. Mereka menantikan dan mengira si pemuda she Wei terlambat bangun, maka setelah sekian lamanya menunggu dan pemuda itu masih juga belum muncul, To Siok Keng segera berkata. „Lee Locianpwee, biarlah aku pergi menengok di kamarnya.” Baru saja selesai kata-kata itu diucapkan, ketika mendadak tampak Wei Beng Yan dengan tindakan agak limbung, mukanya pucat pasi. „Suko!” seru To Siok Keng, „Mengapa kau? Apakah kau sakit?” Wei Beng Yan memaksakan diri untuk bersenyum dan berkata. „Pagi ini aku merasa lelah sekali, lagi-lagi tenagaku agaknya sudah menghilang......” „Dapatkah kau melancarkan Thay-yang-sin-jiauw seperti waktu kau membunuh Suto Eng Lok?” „Aku....... aku rasa tidak.....” „Heran!” kata Lim Ceng Yao. „Gejala-gejala yang kau alami itu membuktikan bahwa kau telah terkena semacam bubuk racun
538
tepat seperti yang telah aku ceritakan beberapa hari yang lalu! Aai...... heran.” „Lim Tay-hiap,” kata To Siok Keng sambil mengawasi si pemuda she Wei, „apakah kau yakin bahwa bubuk racun yang kau ceritakan itu tidak lantas menewaskan orang yang mengendusnya?” „Aku yakin!” sahut Lim Ceng Yao tegas, „bubuk racun itu hebat sekali, tetapi cara bekerjanya betul-betul sangat ganjil, yalah perlahan-lahan merusak pembuluh-pembuluh darah orang yang mengendusnya untuk kemudian menyeret orang itu ke liang kubur!” To Siok Keng tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan berkata lagi. „Suko, akuilah bahwa kau sudah membuka SAMPUL KEDUA pemberian Ouw Lo Si!” „Tidak..... aku...... aku belum......” „Jika belum, dapatkah kau membuktikan kata-katamu itu?” „Sumoay, apakah kau tidak percaya?” „Aku tidak percaya sebelum melihat sampul itu! Ayohlah perlihatkan!” „Tidak dapat aku.......”
539
Belum lagi Wei Beng Yan selesai dengan kata-katanya itu, ketika tampak To Siok Keng dengan gerakan yang lincah sekali meloncat dan berhasil menotok dada pemuda itu, sehingga ia roboh di lantai tidak berdaya! Secepat kilat To Siok Keng merogoh ke saku pemuda itu, sejenak kemudian tangannya sudah memegang satu sampul yang terterakan NOMOR TIGA di sudut sampul itu! „Mana sampul NOMOR DUA?” tanyanya ketus. Wei Beng Yan memejamkan matanya dan tidak menyahut. „Suko, aku tanyakan mana sampul yang bernomor dua?” Si pemuda she Wei masih tidak menyahut. To Siok Keng mengawasi sampul yang sedang dipegangnya itu sambil berlinang air mata. „Aku kira kau sudi mendengar nasehatku,” keluhnya parau. „Aku merasa heran kau tidak mau mengindahkan omonganku!” „Aku tidak mau mengingkari janjiku terhadap Ouw locianpwee!” tiba-tiba Wei Beng Yan berkata agak sengit. „Hah! Tidak ingin mengingkari janji? Meskipun kau mengetahui akibatnya akan membuat kau mati karena kekurangan tenaga?!”
540
„Aku tidak yakin jika Ouw Locianpwee telah menaburkan racun dalam sampul itu! Bagaimana mungkin orang semacam dia melakukan perbuatan sekeji itu!” „Baik! Dalam beberapa detik ini, aku mengharap dapat meyakinkan bahwa kau sangat keliru dalam hal ini!” Setelah berkata demikian, To Siok Keng segera melemparkan sampul ketiga itu ke lantai. Ia lalu menghunus pedang Ku-tie-kiam si pemuda dan berkata. „Lim Locianpwee, sudikah kau menolong aku?” „Tentu!” sahut Lim Ceng Yao, „Apa yang harus aku lakukan?” „Hunus pedang Locianpwee dan bantu aku membuka sampul ini!” Lim Ceng Yao menghunus pedangnya dan menekankan ujung pedangnya itu ke sudut sampul. Dengan satu goresan saja To Siok Keng berhasil membeset untuk kemudian dengan hati-hati sekali mengeluarkan surat yang berada dalam sampul itu. Tampak asap putih yang tipis sekali mengebul. Sejenak kemudian terenduslah suatu bau harum yang sangat merangsang hidung. Lim Ceng Yao yang lebih luas pengetahuannya tentang racun tiba-tiba berseru lantang. „Mundur!”
541
Serentak dengan itu ia sendiri meloncat dan menyambar tubuh Wei Beng Yan yang tergeletak di lantai. Karena kaget, Lee Beng Yan, Song Thian Hui dan To Siok Keng pun meloncat. Tiba-tiba Lim Ceng Yao menyerang dengan kedua tinjunya dan hembusan angin dari serangannya yang dahsyat itu menyapu asap putih yang menyiarkan bau harum, sehingga gagallah rencana Ouw Lo Si yang bermaksud membunuh si pemuda she Wei dengan racunnya yang terhebat itu! Ketika sudah menunggu lama juga, agar asap yang berbahaya itu lenyap di udara, To Siok Keng lalu menghampiri. Kemudian dengan mempergunakan ujung pedangnya, ia dapat membaca tulisan yang tertera di atas kertas itu. Setelah membaca, mendadak tampak parasnya berubah. Ia menepuk pundak Wei Beng Yan untuk membebaskan totokan yang menyumbat jalan darah pemuda itu. Wei Beng Yan perlahan-lahan berbangkit dan serta merta ia menuding To Siok Keng seraya membentak. „Sumoay! Caramu merampas surat di dalam sakuku sangat kasar, liar! Mungkin kau tidak mengetahui bahwa membaca surat seseorang tanpa memperoleh ijin dari orang itu sendiri adalah kurang ajar?”
542
„Aku merasa lebih baik bersikap kurang ajar daripada membiarkan kau mati penasaran!” sahut To Siok Keng sambil bersenyum getir. „Bacalah surat SAHABAT mu yang pincang itu!” „Apa yang telah ditulisnya dalam surat itu?” „Kau baca saja sendiri!” Wei Beng Yan segera menerima pedangnya yang diangsurkan oleh gadis itu kemudian sambil merekan surat itu dengan ujung pedang ia membaca. Ternyata isi surat itu berlainan sekali dengan surat yang pertama dan kedua, yang boleh dikatakan hanya untuk menyampaikan selamat saja. „Wei siohiap yang terhormat.” Demikianlah permulaan kata-kata isi surat yang ketiga. Dengan hati-hati sekali Wei Beng Yan melanjutkan membaca. „Waktu kau membaca suratku yang pertama, kau telah mengendus serupa racun, dan aku kira racun yang pertama itu hanya bisa melumpuhkan kau untuk sementara waktu saja, mengingat tenaga dalammu yang sudah sempurna betul. Dan ketika kau membuka lagi sampulku yang kedua, maka tenaga dalammu sudah menghilang lagi kira-kira satu-pertiga bagian dan kau akan menderita suatu kelemasan yang agak lama, tetapi jika keadaan demikian didiamkan terus menerus, kau pasti akan tewas! Kau harus lekas-lekas diobati oleh semacam obat yang aku sendiri tidak mengetahui apa namanya!”
543
Baru saja membaca hingga di sini, tubuh Wei Beng Yan sudah menggigil hebat! Ia melirik ke arah To Siok Keng dengan perasaan jengah telah mencaci maki gadis ia barusan. „Jahanam!”--.geramnya seram sambil melanjutkan membaca lagi „Kau tentu ingin mengetahui mengapa aku ingin membunuh kau bukan? O...... kisahnya panjang dan bertele-tele lagi, tetapi agar kau tidak mati secara penasaran aku akan coba menerangkan juga di sini. Pertama-tama aku ingin kau mengetahui bahwa kakiku yang pincang ini adalah akibat dari pada kelihayan permainan pedang ayahmu, Wei Tan Wi! Maka meskipun ayahmu sudah mati dikerubuti oleh Soat-hay-siang-hiong, tetapi sebelum aku membunuh kau atau sedikitnya melukai sehingga kau cacad, aku belum merasa puas! Kau telah mengendus racunku yang terakhir dan terhebat, maka kau sudah merupakan mayat hidup kini, karena sepanjang pengetahuanku, tiada lagi obat yang bagaimana mujarab pun dapat menolong kau menghindarkan SAMPUL MAUT yang sudah mencengkeram jantungmu dan mencengkeram ginjalmu! Tertinggal Salamku, Si pincang Ouw Lo Si. Bergolak amarah si pemuda setelah membaca isi surat itu, betapa tidak, jika seseorang yang senantiasa dianggapnya sebagai seorang penolong yang luhur, ternyata adalah seorang musuhnya
544
yang berada di dalam selimut. Bagus saja To Siok Keng keburu bertindak cepat, jika tidak bukankah ia sudah mati sebelum berhasil membunuh musuh besar ayahnya yang ketiga? „Sumoay,” katanya perlahan, „aku mohon maaf sebesar-besarnya atas sikapku yang kasar tadi!” To Siok Keng menundukkan kepala dan tidak menyahut. „To siocia,” Lim Ceng Yao turut bicara. „apakah kau tidak sudi memaafkan suko mu itu?” To Siok Keng mengangkat kepalanya dan menatap si pemuda. „Aku tidak pernah merasa gusar,” sahutnya, „Bahaya yang suko derita sudah demikian hebatnya, aku hanya memikiri bagaimana menyembuhkan luka-luka yang telah terkena racun itu?” Wei Beng Yan menarik napas panjang. Ia merasa sangat menyesal telah mengabaikan peringatan Khouw Kong Hu. „Aai! Memang aku sangat ceroboh,” keluhnya. „Jika sekarang Pek Tiong Thian datang maka kita semua pasti akan dihancur leburkan!” „Beng Yan, kau tidak usah terlalu memikiri jahanam itu,” kata Lim Ceng Yao. „Mungkin jahanam itu takkan datang sama sekali!” „Aku malah mengharap agar ia datang,” kata Song Thian Hui gemas.
545
„Mengapa kau mengharap demikian?” tanya Lim Ceng Yao. „Karena lebih baik kita menghadapinya sekarang daripada menanti-nantikannya dengan perasaan gelisah. Lagipula kita tokh pada suatu hari akan menjumpainya juga, maka daripada digempur seorang diri, aku kira lebih baik kita mengerubutinya sekarang!” Pada saat itu To Siok Keng sedang memikiri tentang jalan untuk mengobati Wei Beng Yan. Untuk menggempur Pek Tiong Thian, menurut pendapatnya, ia hanya memerlukan Tok-beng-oey-hong, tetapi berada dimanakah benda itu? Menurut dugaan Wei Beng Yan benda mujizat itu berada di kuil Cit-po-sie yang berada jauh di pegunungan Ngo-tay-san. „Lim Locianpwee,” katanya, „Dapatkah kau mengusulkan suatu obat yang mungkin dapat menyembuhkan luka-luka suko ku?” Lim Ceng Yao nampak muram sekali ditanya demikian. „Dari siapa kau mengetahui bahwa luka Beng Yan masih dapat disembuhkan?” tanyanya cemas karena mengetahui beberapa bagian jalan darah penting pemuda itu telah tersumbat atau membeku karena telah mengendus racun Ouw Lo Si yang hebat itu. „Di dalam suratnya Ouw Lo Si menegaskan bahwa Wei Koko baru akan mati setelah mengendus sampul yang ketiga,” sahut si gadis, „maka aku kira racun yang telah disedotnya itu masih dapat dipunahkan.”
546
„Mungkinkah Cu-gan-tan dapat menyembuhkan luka-luka Beng Yan itu?” tanya Song Thian Hui. „Hui-tee,” Lee Beng Yan ikut bicara, „Cu-gan-tan hanya mampu membikin orang tetap tinggal muda! Aku belum pernah mendengar pil mujizat itu dapat menyembuhkan orang yang terkena racun!” Ketika mereka sedang sibuk memikiri hal yang pelik itu, tiba-tiba terdengar...... „Lee tai-hiap! Ada orang menggantung lentera-lentera kertas merah di depan pintu markas kita!” Sejenak kemudian orang yang berteriak tadi sudah masuk ke dalam ruangan untuk berlatih silat itu. Ia ternyata salah satu orang anggota partai Lee Beng Yan yang tidak sudi meninggalkan pemimpinnya. „Bagaimana bentuk lentera kertas itu?” tanya Wei Beng Yan kaget. Dengan muka pucat dan napas termengih-mengih orang itu memberi hormat dan berkata. „Lentera kertas biasa, hanya di bagian tengah masing-masing lentera kertas itu terdapat satu huruf PEK!” Mendengar laporan itu, tiba-tiba Lim Ceng Yao tertawa berkakakan. „Kita telah menduga bahwa jahanam itu bakal datang,” katanya, „dan sekarang ternyata ia betul-betul sudah datang! Ha, ha, ha!”
547
Lim Ceng Yao adalah seorang jago silat pedang yang tiada taranya di propinsi Hok-kian. Maka ia telah memperoleh gelar sebagai Jago silat pedang nomor wahid dari propinsi Hok-kian atau Bun-tiong-it-kiam, dan adalah seorang yang telah banyak melakukan perbuatan-perbuatan luhur. Ketika tadi mendengar bahwa ada orang menggantung lentera kertas merah di depan gedung markas partai saudara angkatnya itu, untuk beberapa saat lamanya ia terpesona. Kemudian ia mendadak sadar dan mengetahui bahwa musuh yang sangat disegani mereka itu akan datang, maka seperti orang kalap ia tertawa berkakakan, karena menurut pendapatnya kesempatan untuk membasmi jahanam yang terakhir yang masih mengancam kalangan Bu-lim telah tiba saatnya. Mungkin ia dan kawan-kawan itu tidak berhasil membasmi musuh yang terkenal luar biasa kepandaiannya itu, namun ia lebih condong mencoba kekuatannya sendiri dari pada meninggalkan tempat itu dan selamat! Lee Beng Yan dan Song Thian Hui tidak mengatakan sesuatu. Mereka tengah memikirkan siasat yang terbaik untuk menghadapi lawan-lawan mereka itu. Tetapi Wei Beng Yan yang sudah kehilangan lagi tenaga dalamnya menjadi gelisah sekali. Ia merasa menyesal sudah tidak mendengar nasehat To Siok Keng. Jika Pek Tiong Thian datang pada waktu itu juga, maka ia seolah-olah hanya menantikan kedatangan seorang algojo untuk memenggal kepalanya! Orang yang bersikap paling tenang adalah si gadis she To, maka meskipun berada dalam suasana segawat itu, ia masih dapat
548
mencetuskan siasat-siasat dalam otaknya, tetapi ia agaknya belum mau mengeluarkan akal apa, yang telah dipikirnya itu. „Dengan menggantungi lentera-lentera merah,” kata Wei Beng Yan. „tentu si jahanam bermaksud menggertak kita dulu, sebelum kita sendiri digempurnya!’ „Betul!” sahut To Siok Keng, „marilah kita tengok lentera-lenteranya itu, untuk kemudian membikin persiapan!” Saran itu diterima baik oleh Lee Beng Yan yang sudah mendahului berjalan keluar diikuti oleh ke empat kawannya. Di luar tampak ke lima anggota setia Lee Beng Yan sudah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan, tetapi Lee Beng Yan yang tidak mau mereka itu terembet-rembet segera berkata. „Untuk banyak tahun kalian telah mengikuti aku dengan setia sekali, dan meskipun kalian sudah mengetahui bahwa musuh akan segera datang untuk menggempur kita, kalian masih tidak sudi meninggalkan aku! Aku bukan mengecilkan semangat kita sendiri, tetapi memang sudah jelas bahwa mungkin kita tidak sanggup menghadapi lawan kita ini!” Ia berhenti sejenak dan meneliti ke lima orangnya itu. Ketika tidak mendengar reaksi mereka, ia lalu melanjutkan. „Aku merasa sungkan jika kalian harus mati di sini, maka aku minta dengan sangat agar kalian segera meninggalkan gedung markas ini!”
549
Ke lima orang itu terperanjat sekali mendengar pesan pemimpin besar mereka itu. Menginsafi kemuliaan pemimpin mereka yang selalu memegang teguh disiplin, maka begitu mendengar perintah itu meskipun merasa berat untuk pergi, mereka harus mengangkat kaki juga. Kecuali seorang kakek yang sudah berambut putih seluruhnya, bagaimana pun didesak, ia tetap tidak mau meninggalkan majikannya. Lee Beng Yan menghampiri kakek itu dan berkata. „Lo Hok, kau sudah mengikuti aku selama tigapuluh tahun, maka kau mengetahui bahwa aku ini tidak takut mati. Tetapi musuh yang kita akan hadapi kali ini lain dari yang lain, aku tidak sudi melihat kau menyertai aku mati di sini......” Si kakek yang dipanggil Lo Hok menatap pemimpinnya sejenak kemudian ia menyahut. „Cong Piauw-tauw (Pemimpin besar), aku sudah berusia tujuhpuluh enam tahun, aku tidak mempunyai sanak keluarga, ke mana harus aku pergi!! Aku hanya minta Cong Piauw-tauw mengingat jasa-jasaku dulu dan tidak mendesak aku meninggalkan gedung ini!” „Kau dapat berlalu dari sini dan menyelamatkan diri, bukankah itu lebih baik?” „Aku lebih suka mati di sini!” „Kau akan mati secara sia-sia......”
550
„Tidak! aku telah mengabdi pada partai selama tigapuluh tahun dan inilah kesempatan terbaik untuk aku menyumbangkan dharma baktiku!” Lee Beng Yan tidak lagi dapat mendesak kakek itu dan ketika mengingat bahwa ia memang memerlukan seorang pelayan untuk mengurus keperluan-keperluan tamu-tamu atau kawan-kawannya, ia akhirnya meluluskan juga permintaan kakek yang setia itu. Ia lalu mengajak rombongannya untuk memeriksa lentera kertas yang katanya sudah digantung di gedung itu. Rumah gedung yang dibangun oleh Lee Beng Yan itu sangat indah serta megah. Ia telah menghamburkan banyak waktu dan uang, karena segala sesuatu adalah bahan yang terpilih. Di atas pintu depan yang besar dan dicat dengan warna merah digantungi dua lentera kertas yang besar. Tiap-tiap lentera bertuliskan huruf Lee, tetapi kini lentera itu telah dilemparkan ke tanah dan sebagai gantinya telah digantungkan empat lentera yang masing-masing bertuliskan huruf PEK dan CAP JIT yang berarti sepuluh hari! Tergetar hati Wei Beng Yan ketika dapat mengenali ke empat lentera kertas itu, yang berbentuk sama benar dengan lentera-lentera kertas merah yang dapat dilihatnya ketika ia masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok dulu. Ia mengetahui bahwa lentera-lentera kertas merah itu adalah sebagai pertanda bahwa si penghuni rumah yang telah digantungi lentera-lentera itu, akan
551
digempur habis oleh si jahanam yang pernah menyamar sebagai Ji Cu Lok! Sambil terbengong mengawasi lentera-lentera itu, ia jadi terkenang akan peristiwa-peristiwa sebelum dan sesudah ia diterima sebagai murid oleh Yu Leng. Ia merasa kecewa sekali setelah mempelajari dengan susah payah, ternyata Thay-yang-sin-jiauw kini tidak lagi dapat ia lancarkan! „Apakah kalian mengetahui apa arti huruf SEPULUH HARI itu?” tanya To Siok Keng. „Itu berarti dalam waktu sepuluh hari Pek Tiong Thian akan datang di sini!” kata Wei Beng Yan gemas. „Tetapi......” kata Lim Ceng Yao, „Pek Tiong Thian yang telah melakukan banyak pembunuhan-pembunuhan keji mungkin akan datang sebelumnya jangka waktu yang ditetapkan olehnya itu tiba! Mungkin ia akan datang pada hari keempat atau kedelapan dan mungkin hari ini......” To Siok Keng bersenyum. Ia harus mengakui memang Pek Tiong Thian bukan saja seorang yang kejam tetapi jahanam itupun berwatak licik. „Aku mempunyai satu usul untuk mengimbangi kelicikannya itu!” katanya. „Usul apakah?” tanya Lim Ceng Yao.
552
„To siocia, katakanlah usulmu itu,” kata Song Thian Hui, „mungkin pendapatmu dapat membantu banyak.” „Beberapa hari berselang kita masih belum dapat memastikan bahwa Pek Tiong Thian akan membantu Hua Ceng Kin,” To Siok Keng mengutarakan usulnya. „Lalu,” kata Lim Ceng Yao. „Sekarang ternyata setelah si nenek mengetahui bahwa Wei Koko dan aku bermaksud membantu Lee Locianpwee, ia betul-betul telah memohon bantuan Pek Tiong Thian dan itu berarti kita kini hanya menanti datangnya kematian......” kata To Siok Keng tenang. „Apakah kau mengusulkan agar kita melarikan diri?” tanya Lim Ceng Yao. „Betul!”sahut si gadis. Hening sesaat. Tetapi mendadak terdengar Lee Beng Yan, Song Thian Hui dan Lim Ceng Yao tertawa berkakakan. Mereka agaknya tidak dapat menerima usul yang sehat itu? „Mengapa ke tiga Locianpwee tertawa?” tanya To Siok Keng heran. „Sumoay, jika ke tiga susiokku menerima usulmu itu,” kata Wei Beng Yan, „Itu berarti kita melarikan diri hanya karena desakan ke empat lentera kertas merah itu!”
553
„Apa salahnya dengan itu?” tanya To Siok Keng agak mendongkol. „Apa salahnya?! Mana dapat kita melarikan diri hanya karena diusir oleh lentera?” kata Lim Ceng Yao yang pun sudah agak gusar. „Mengapa To siocia berpikiran demikian pendek?” To Siok Keng bersenyum getir. „Jika kita lari sekarang, kita seolah-olah diusir oleh lentera-lentera kertas,” sahutnya. „Tetapi kita lari untuk menanti suatu kesempatan baik untuk mengganyang jahanam ita. Apa gunanya kita menantikan kedatangannya sedangkan kita sudah mengetahui bahwa kita, memang tidak sanggup melawannya? Bukankah itu suatu pikiran yang tolol?” Ketiga susiok si pemuda she Wei jadi menjublek mendengar ucapan yang sangat beralasan itu. „Kita sudah terdesak, maka kita harus berusaha.” To Siok Keng melanjutkan. „kita harus menggempur Pek Tiong Thian dengan siasat.” Tetapi usul itu tidak ada gunanya terhadap ke tiga susiok si pemuda she Wei. Karena mereka terlalu kukuh dan lebih rela mati daripada dibuat ejekan bahwa mereka telah melarikan diri karena diancam oleh lentera-lentera. Watak itu agaknya juga dimiliki oleh Wei Beng Yan sendiri yang menganggap nama seseorang adalah lebih penting daripada segala apapun!
554
Wei Beng Yan mengawasi To Siok Keng dengan perasan yang sukar dilukiskan. Rasa sangat menyesal sudah tidak mendengar nasehat gadis itu berkecamuk dalam otaknya. „Suko, mengapa kau tampaknya demikian gelisah?” tanya To Siok Keng. „Aku khawatir kau akan meninggalkan aku di sini......” sahut Wei Beng Yan. „Wei Koko, aku hanya memberikan saran, jika kau dan ke tiga susiokmu tidak dapat menerima saranku itu, masakan aku harus meninggalkan kau di sini. Kepandaian Pek Tiong Thian dan Hua Ceng Kin lihay sekali, tetapi menurut pendapatku bukankah kepandaian kedua jahanam itu sendiri yang harus ditakuti!” „Jika demikian, apanya yang sangat disegani orang banyak?” tanya Song Thian Hui. „Senjata-senjata mereka! Ciam-hua-giok-siu dan Hian-peng-tok-bong!” sahut To Siok Keng. „Karena tanpa senjata-senjata yang ampuh itu, aku yakin kita masih dapat melawan mereka!” „Tetapi bukankah beberapa hari yang lalu kalian mengatakan ingin mencari Tok-beng-oey-hong di kuil Cit-po-sie untuk membunuh Pek Tiong Thian?” tanya Lim Ceng Yao. „Betul!” sahut To Siok Keng, „dan aku merasa yakin jika kita memberitahukan maksud kita mencari benda mujizat itu, Bak Kiam Taysu pasti akan membantu usaha kita itu.........”
555
„Tetapi sayang Bak Kiam Taysu sendiri telah meninggal dunia! Dan katanya benda mujizat ini bersama-sama Cu-gan-tan telah dicuri orang!” „Siapa yang mencuri?” „Entahlah, Bak Kiam Taysu sendiripun tidak mengetahui..... dan justru itulah yang telah membikin Yu Leng gadungan mengamuk dan membunuh pendeta itu........” To Siok Keng berpikir sejenak. Kemudian sambil bersenyum ia berkata. „Lee Locianpwee, bolehkah aku pergi dari sini untuk beberapa hari lamanya?” „To siocia ingin pergi ke mana?” Lee Beng Yan balik menanya. „Apakah siocia ingin mencari bantuan?” tanya Lim Ceng Yao. „Aku takkan merembet-rembet lain orang!” sahut si gadis, „Pek Tiong Thian telah berjanji akan datang dalam waktu sepuluh hari dan iapun mengetahui bahwa kita takkan lari karena gertakannya itu. Maka aku bermaksud pergi dan kembali dalam waktu yang telah dijanjikan oleh jahanam itu!” „Sumoay, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Wei Beng Yan. „Suko, aku berlalu dari sini bukan karena takut mati, aku berjanji dalam waktu sembilan hari sudah kembali lagi di sini!”
556
„Aku tidak pernah mengatakan kau ingin melarikan diri, aku hanya ingin mengetahui ke mana kau ingin pergi?” “Berani kau berjanji tidak mencegah jika aku memberitahukan?” Wei Beng Yan mengawasi gadis itu dengan tajam sekali, perlahan-lahan ia kemudian mengangguk. „Aku ingin pergi ke kuil Cit-po-sie!” „Untuk?” „Untuk mencari Tok-beng-oey-hong!” „Aai! Apakah kau tengah bermimpi? Kau tidak mengetahui di mana letak kuil tersebut, lagipula apakah kau tidak mendengar barusan Ji susiokku mengatakan bahwa Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan telah dicuri orang?!” „Akupun berpendapat percuma saja To siocia pergi ke kuil tersebut!” kata Song Thian Hui. „Tidak mungkin kedua benda mujizat itu telah dicuri orang!” sahut si gadis. „Dapat kau membuktikan ucapanmu itu?” tanya Lee Beng Yan, „Aku akan mencoba meyakinkan Lee Locianpwee!” sahut To Siok Keng tenang, „menurut, aku tandaskan MENURUT orang bahwa kedua benda mujizat itu telah dicuri orang. Tetapi selama beberapa tahun ini, semenjak tersiarnya kabar itu, siapakah yang pernah
557
melihat benda-benda itu? Dan aku merasa ragu jika ada orang yang ingin mencuri kedua benda itu sekedar untuk kenang-kenangan, mengingat usaha pencurian itu harus dilakukan dengan menjudikan nyawa seseorang!” Ke tiga susiok si pemuda she Wei jadi saling pandang mendengar penjelasan itu. „Apakah Bak Kiam Taysu telah berdusta?”tanya Lim Ceng Yao. „Aku tidak berani mengatakan bahwa Bak Kiam Taysu telah berdusta, tetapi aku yakin betul kedua benda mujizat itu masih berada dalam kuil Cit-po-sie!” Tigapuluh Dua Memang pertanyaan Lim Ceng Yao ini beralasan, karena beberapa tahun yang lalu, pemimpin kuil Cit-po-sie, Bak Kiam Taysu pernah berkunjung ke markas partai Tiang-pek-san untuk mencari kedua benda itu yang dikatakannya telah dicuri orang. Tetapi karena kebijaksanaan Kong-ya Coat, Bak Kiam Taysu dapat diyakinkan dan pertarungan antara partai Cia It Hok dengan partai Siauw-lim itu dapat dihindarkan. Kabar itu telah tersiar dan diketahui oleh hampir semua partai-partai dan tokoh-tokoh silat kenamaan, tetapi yang aneh yalah Tok-beng-oey-hong atau Cu-gan-tan tidak pernah muncul di dunia persilatan.
558
Kemudian banyak orang mencurigakan bahwa Bak Kiam Taysu sengaja menyiarkan kabar bahwa kedua benda itu telah tercuri orang agar ia dapat menyimpan kedua benda mujizat itu dengan tenteram tanpa khawatir orang-orang lihay yang tamak lagi-lagi menyatroni kuilnya! Kemungkinan ini memang ada. Tetapi jika maksud To Siok Keng tadi dapat persetujuan, sudah tentu Wei Beng Yan harus menyertainya, karena pemuda itu mengetahui betul dimana letak kuil yang dimaksud itu. „Jadi siocia tetap bertekad herkunjung ke pegunungan Ngo-tay-san?” tanya Lim Ceng Yao. To Siok Keng mengangguk, „Usaha pembasmian Pek Tiong Thian ini, bukan saja untuk menyelamatkan kita dan kalangan Bulim,” katanya sengit, „tetapi juga untuk membalaskan sakit hati ayah serta seluruh keluargaku serentak!” „Kalau begitu aku akan menyertaimu!” kata Wei Beng Yan. Lalu ia menoleh kepada ketiga susioknya dan melanjutkan. „Tetapi dapatkah ke tiga susiok menyetujui kepergianku ini?” Ketiga orang yang ditanya itu dengan serentak mengangguk, karena mereka menginsyafi tanpa Tok-beng-oey-hong, Pek Tiong Thian sukar dilawan. Bukan main girang si gadis, ia segera memberi hormat seraya berkata.
559
„Ketiga Locianpwee tidak usah khawatir, sebelum ke dua jahanam itu datang di sini, kita pasti sudah kembali!” Setelah berkata begitu, ia segera berbalik dan mengajak Wei Beng Yan berlalu. Setibanya di luar, untuk beberapa saat lamanya, mereka mengawasi ke empat lentera kertas yang bertulisan SEPULUH HARI. „Sumoay,” kata Wei Beng Yan cemas, „dapatkah kita kembali dalam waktu sesingkat seperti telah dijanjikan oleh si jahanam? Yalah sembilan hari?” „Kita harus berusaha sedapat mungkin agar tidak melampaui batas waktu itu!” sahut si gadis. „Ayolah kita berangkat sekarang!” Wei Beng Yan menoleh ke belakang dan masih melihat ketiga susioknya sedang berdiri mengawasinya dari kejauhan, ia memberi hormat lagi dan segera mengikuti To Siok Keng yang sudah berjalan lebih dulu. ◄Y► Setelah muda mudi itu tidak kelihatan lagi, terdengar Lim Ceng Yao, berkata. „Kini kita hanya bertiga dalam gedung ini.” Song Thian Hui bersenyum dan berkata.
560
„Aku kira kita berlima atau bertiga itu sama saja!” „Kita bertiga sudah lama mengangkat saudara,” kata Lee Beng Yan, „dan aku merasa kalian memang bersungguh hati ingin membantu aku, tetapi tidak demikian dengan To Siok Keng, aku kira ia akan mendesak Wei Beng Yan agar tidak kembali!” „Ya, ia barusan bahkan mendesak dengan segala alasan!” sahut Lim Ceng Yao. Song Thian Hui tertawa. „Kita tidak usah memikiri mereka,” katanya, „bukankah aku sudah mengatakan bahwa kita berlima atau bertiga itu sama saja?” Begitulah mereka masuk lagi ke dalam ruangan untuk berlatih silat dan mengadakan latihan bersama. Tengah mereka berlatih sambil memperbincangkan siasat-siasat menghadapi musuh-musuh mereka pada keesokan harinya, tiba-tiba Lo Hok masuk, ke dalam ruangan itu seraya berkata. „Cong Piauw-tauw! Di luar telah digantungi lagi empat lentera kertas merah!” Tanpa menunggu lagi Lim Ceng Yao segera meloncat dan memburu keluar, dan betul saja, di dekat ke empat lentera yang telah digantung di situ kemarin, tampak empat lentera tambahan. Lentera-lentera itu selain bertulisan huruf PEK, juga tertera tulisan. „SEMBILAN HARI.”
561
„Hm! Rupanya bangsat itu takut kita lupa menghitung hari sehingga ia merasa perlu untuk memperingatkan kita bahwa jangka waktu kedatangannya di sini tinggal sembilan hari!” kata Lee Beng Yan sengit. „Aku mengetahui watak si jahanam she Pek, di samping berangasan ia sangat kejam dan keji,” kata Lim Ceng Yao, „Ia tentu belum berada di sekitar tempat ini karena aku meragukan jika ia bisa bersikap sabar untuk tiap-tiap hari menggantungi empat lentera di sini!” „Dia tentu memerintahkan seseorang untuk melakukan tugas ini,” kata Song Thian Hui. „Ya, Hua Ceng Kin!” sahut Song Thian Hui. „Jadi kalian menganggap Pek Tiong Thian masih berada jauh dari tempat ini?” tanya Lee Beng Yan. „Itulah maksudku!” sahut Lim Ceng Yao. Lee Beng Yan bersenyum lebar dan berkata, „Jika Pek Tiong Thian belum datang di sini, mengapa kita sekarang tidak menggempur si nenek terlebih dulu?” „Betul!” Song Thian Hui menyetujui saran itu. „Malam ini Hua Ceng Kin tentu akan datang lagi untuk menggantung lagi empat lentera-lentera yang bertulisan
562
DELAPAN HARI di sini, dan itulah kesempatan terbaik bagi kita menyergap serta mengerubutinya!” kata Lee Beng Yan. Song Than Hui dan Lim Ceng Yao menyetujui, maka mereka segera masuk untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk membokong si nenek she Hua itu. Malam harinya, mereka mencari tempat yang baik untuk bersembunyi sambil menantikan datangnya lawan mereka. Suasana gelap, tidak tampak bintang atau rembulan di langit, kesunyian malam yang dingin itu kadang kala hanya dipecahkan oleh desiran-desiran angin atau jeritan-jeritan burung hantu yang menambah ketegangan bagi ketiga orang yang sedang menantikan korbannya. Mereka bertiga sengaja mengenakan pakaian serba hitam dan menentukan isyarat-isyarat yang hanya diketahui oleh mereka saja. Suasana gelap sekali sehingga sukar bagi mereka sendiri untuk melihat benda atau orang yang berada dalam jarak duapuluh meter. Belum beberapa lama setelah lewat tengah malam, tiba-tiba mereka mendengar suara derap kaki yang ditindakkan enteng sekali, sayup-sayup derap kaki yang empuk serta pesat itu membuktikan bahwa orang yang sedang mendatangi adalah seorang yang sudah mahir betul ilmu meringankan tubuhnya.
563
Mereka menahan napas sambil memperhatikan terus. Tidak lama kemudian satu bayangan mencelat ke udara dan dengan gaya yang menakjubkan sekali melayang melalui tembok yang melingkari rumah gedung itu, ternyata orang itu menenteng empat tentera kertas merah yang bertulisan DELAPAN HARI! Lee Beng Yan memberi isyarat agar kedua kawannya tidak bertindak sembrono. „Kita tunggu saja, setelah dia datang dekat sekali baru kita sergap......” bisiknya. Sambil berindap-indap orang itu yang belum dapat dikenali wajahnya menghampiri terus. Tiba-tiba ia berhenti sebentar dan celingukan ke kanan ke kiri, ketika merasa tidak mendengar atau melihat sesuatu yang mencurigakan, ia lalu melanjutkan tindakannya. Lee Beng Yan, Song Thian Hui ataupun Lim Ceng Yao, ketiga orang ini sudah memiliki nama tenar dan disegani di kalangan Bu-lim, namun pada saat segawat serta setegang itu, mereka harus mengakui bahwa jantung mereka masing-masing berdebar keras! Betapa tidak, orang yang sedang mendatangi dengan langkah-langkah lincah serta sudah diperhitungkan masak-masak itu ternyata membawa sebatang tongkat di samping menenteng empat lentera kertas merah! Meskipun demikian, mereka bertiga belum dapat memastikan bahwa orang itu adalah si nenek Hua Ceng Kin. Karena orang itu
564
menenteng ke empat lentera kertas demikian rupa sehingga wajahnya tetap tidak kelihatan! Setelah orang itu berada cukup dekat dan sudah siap menggantung keempat lentera yang dibawanya itu, tiba-tiba...... „Terkam!!” Lee Beng Yan berseru lantang agar kedua kawannya mengikuti jejaknya menerkam dengan serentak. Begitu mendengar komando itu, Lim Ceng Yao dan Song Thian Hui segera meloncat keluar dari tempat persembunyian mereka dan berusaha menghadang orang itu. „Yaa.....!” Pekik orang itu sambil mengelakkan terkaman Lee Beng Yan, setelah itu sambil tetap memegangi keempat lentera kertas, ia meloncat dan menyabetkan tongkatnya ke arah Lim Ceng Yao dan Song Thian Hui. Suara serabutan terdengar, abu berterbangan menyuramkan keadaan yang memang gelap itu. Cahaya satu-satunya yang tidak begitu terang adalah cahaya yang dipancarkan oleh keempat lentera kertas merah yang ditenteng orang itu. Lim Ceng Yao menghunus pedangnya dan menusuk ke arah dada orang itu, tetapi lagi-lagi dengan gerakan yang lincah sekali orang itu berhasil mengelakkan serangan itu.
565
Song Thian Hui jadi penasaran sekali, iapun meloncat dan menerkam orang itu tetapi ia menjadi terkejut sekali tidak dapat melihat lawannya, karena dengan satu tiupan saja, orang itu berhasil memadamkan keempat lenteranya, sehingga dengan tiba-tiba saja keadaan di situ jadi gelap gulita. Dengan satu pekikan yang seram sekali orang itu meninggalkan ketiga lawannya dalam keadaan terbengong. „Lo Hok!” seru Lee Beng Yan, nyalakan penerangan!” Dalam kegelapan tampak Lo Hok berlari-lari dari dalam. Sejenak kemudian ia telah menyalakan lentera. Setelah memeriksa lari sekitar pekarangan itu, Lee Beng Yan dengan masgul lalu mengajak kedua kawannya masuk ke dalam. „Malam ini kita bertiga kurang cepat sehingga musuh kita dapat meloloskan diri!” keluhnya. „Dengan kegagalan kita ini, aku khawatir Hua Ceng Kin tidak lagi berani datang pada malam berikutnya......” kata Lim Ceng Yao. „Lim Heng, apakah kau menganggap orang tadi adalah Hua Ceng Kin?” tanya Song Thian Hui. „Orang tadi pasti Hua Ceng Kin!” „Bagaimana kau mengetahui, bukankah kita tidak bisa melihat wajahnya?”
566
„Disamping gerakannya gesit luar bjasa, orang tadi pun membawa tongkat -- suatu bukti nyata ia adalah Hua Ceng Kin!” „O.... ya, aku lupa pada kenyataan itu!” „Tetapi tidak ada salahnya jika besok malam kita mencoba menghadangnya lagi.” „Dan kali ini kita harus bersembunyi di tiga tempat. Si Jahanam tidak boleh lolos!” Lee Beng Yan segera memanggil Lo Hok, setelah mengisikki beberapa ucapan di dekat telinga pesuruh itu, ia lalu mengajak Lim Ceng Yao dan Song Thian Hui beristirahat. Tetapi apa yang terjadi pada saat ketiga orang itu melepaskan lelahnya? Di depan pintu rumah gedung itu keesokan harinya telah diketemukan secarik kertas yang penuh dengan coretan-coretan tidak keruan. Tampak empat lentera kertas merah yang kemarin malam ditenteng oleh Hua Ceng Kin sudah tergantung dipayon gedung besar itu! „DELAPAN HARI.” Demikianlah dua perkataan yang tertulis di keempat lentera itu! Lee Beng Yan jadi gusar sekali, ia segera melepaskan secarik kertas yang melekat di daun pintu dan membaca isinya.
567
„Aku yang bernama Hua Ceng Kin mengaturkan ‘selamat’ kalian bertiga telah gagal menjebak aku! Tetapi sayang aku tokh akhirnya berhasil juga menggantung keempat lentera kertas ini! Dan agar kalian bertiga dapat bersiap siaga menyambut kedatanganku pada malam yang ketiga ini, aku tidak berkeberatan untuk memberitahukan bahwa aku PASTI datang lagi pada waktu yang sama seperti telah aku datang malam yang kemarin! Sekian saja, sampai jumpa lagi nanti malam!” „Betul-betul kurang ajar si iblis wanita ini!” teriak Lee Beng Yan. „Tetapi malam ini jangan harap kau dapat lolos!” Tengah hari tiba yang kemudian diganti dengan datangnya lohor, tidak lama kemudian kegelapan malampun sudah membungkus suasana di situ. Lee Beng Yan dan kedua kawannya tidak lagi mengenakan pakaian serba hitam, bahkan lampu dinyalakan seluruhnya hingga keadaan di seluruh pekarangan gedung itu jadi terang benderang! Mereka lalu mengambil tempat duduk tepat di tengah pintu, di suatu bagian tertentu dan tidak kelihatan, Lo Hok sudah bersiap-siap dengan panah dan busurnya. Detik-detik dirasakan lewat lambat sekali, sebentar-sebentar Lim Ceng Yao yang agaknya sudah hilang sabar, berdiri dan meronda
568
tempat di sekitar pekarangan, namun tidak tampak tanda-tanda si nenek jahanam akan segera muncul di situ. Hingga menjelang tengah malam, mereka masih belum juga melihat atau mendengar sesuatu yang mencurigakan. Beberapa saat telah lewat lagi dan tiba-tiba terdengar suara tertawa cekikikan seperti suara tertawa kuntilanak, itulah suara tertawa Hua Ceng Kin yang sangat tidak enak bagi pendengaran siapapun. Ketiga orang itu segera mengerahkan tenaga dalam mereka dan ketika mendengar suara tertawa itu makin lama makin menjauh, mereka segera mengejar ke arah datang suara tertawa tadi. Tetapi setelah berlari-lari hampir satu lie, dan masih tidak melihat orang yang tertawa seperti kuntilanak tadi, mereka segera mengetahui bahwa mereka telah lagi-lagi tertipu! „Kita telah dipancing hingga ke tempat ini, maka dengan mudah saja Hua Ceng Kin akan menggantung lentera kertas merahnya!” keluh Song Thian Hui. „Ayohlah kita lekas kembali!” kata Lim Ceng Yao sambil mendahului meloncat balik diikuti oleh Lee Beng Yan dan Song Thian Hui. Mereka jadi gemas sekali ketika tiba di depan gedung Lee Beng Yan, karena di depan tiang pintu telah tergantung lentera kertas yang bertulisan. „TUJUH HARI.”
569
„Kita telah dipermainkan oleh jahanam itu!” seru Lee Beng Yan sambil membanting kakinya. „Apa mau dikata?” sahut Song Thian Hui, „kita bertiga telah ditipu mentah-mentah, kita hanya dapat menjaga lagi pada esok malam.” Tigapuluh Tiga Demikianlah mereka menantikan lagi kedatangan Hua Ceng Kin pada malam berikutnya, tetapi mereka senantiasa dapat diingusi oleh si jahanam perempuan itu. ◄Y► Sementara menantikan datangnya hari yang kesepuluh, marilah kita tengok To Siok Keng dan Wei Beng Yan yang tengah menuju ke pegunungan Ngo-tay-san. Pada suatu senja kala mereka sudah tiba di kaki gunung tersebut. Mereka tidak menginap di rumah penginapan, tetapi tidur di dalam hutan di bawah kaki gunung itu. „Suko,” kata To Siok Keng dengan paras gelisah, „apa anggapan ketika susiokmu dengan kepergian kita ini?” Wei Beng Yan yang tidak secerdik To Siok Keng selalu mengukur orang lain seperti mengukur dirinya sendiri. „Aku tak dapat membaca isi hati mereka, tetapi aku kira mereka setuju kita pergi mencari benda mujizat Tok-beng-oey-hong,” sahutnya.
570
„Aku kira mereka menganggap kita tak akan datang kembali?” „Tidak bisa jadi!” „Kau mungkin tidak melihat wajah mereka, tetapi aku masih sempat melihatnya. Mereka mencurigai kepergian kita ini!” „Tetapi kita tokh tidak bermaksud demikian!” To Siok Keng berlagak bersikap hianat dengan mengusulkan. „Ini adalah kesempatan yang baik untuk kita menyelamatkan diri. Kita sudah tiada di dalam gedung itu, dan kita dapat menjauhkan diri dari Pek Tiong Thian!” Wei Beng Yan terkejut mendengar usul itu, dan ia tak mau percaya jika kupingnya mendengar ucapan begitu dari To Siok Keng. Dengan kedua mata melotot ia berkata. „Sumoay, apakah kau sedang bersenda-gurau! Misalnya kita gagal mencari Tok-beng oey-hong, kita sudah berjanji akan kembali, maka kita harus kembali. Tidak pantas jika kita mengingkari janji kita sendiri!” To Siok Keng tertawa dan menyahut. „Suko, aku hanya berlagak saja. Aku tidak mengusulkan itu dengan sungguh-sungguh!” „Aku menyesal sekali sudah tidak mendengari nasehatmu sehingga aku menjadi seorang yang tak berguna kini. Namun,
571
meskipun aku harus menghadapi maut, aku tak akan mengingkari janji. Berhasil atau tidaknya kita peroleh Tok-beng-oey-hong kita harus kembali sebelum Pek Tiong Thian datang ke markas Lee susiok!” „Aku hanya berdoa agar kita berhasil memperoleh Tok-beng-oey-hong!” Demikianlah mereka bercakap-cakap sambil meneruskan perjalanan. Pada tengah hari mereka sudah tiba di kaki satu jurang yang sangat tebing dan curam. Wei Beng Yan segera mengenali bahwa jurang itu adalah jurang Beng-keng-ya. Mereka menjadi cemas ketika melihat tangga tali untuk naik atau turun ke atas dari jurang itu sudah putus. Dilihat dari keadaan, mungkin juga satu orang pun tidak ada dalam kuil Cit-po-sie itu, sebab tangga tali yang putus itu tidak diganti. Untuk turun dari atas ke bawah, orang masih dapat melakukannya, tetapi untuk naik ke atas, rupanya sukar sekali! „Sumoay,” kata Wei Beng Yan, „apakah kita harus naik juga ke atas puncak itu?” „Mengapa tidak?” „Tangga tali sudah diputus orang, bagaimana kita akan naik?” To Siok Keng mengawasi jurang itu dengan teliti, lalu berkata.
572
„Jika orang-orang dari kuil Cit-po-sie bisa naik dan turun, mengapa kita tidak bisa?” „Tangga tali itu sudah putus, tetapi tidak diganti. Itu dapat membuktikan bahwa kuil Cit-po-sie sudah tiada penghuninya!” „Apakah orang harus turun atau naik dengan mengandeli tangga tali itu saja?” Wei Beng Yan tak dapat menyahut. To Siok Keng melanjutkan omongannya. „Orang yang pertama naik ke atas jurang ini tentu tidak naik dengan perantaraan tangga tali, bukan?” Tetapi bagaimana kita dapat naik ke atas? Jurang ini tebing sekali.” „Tenagamu sudah banyak berkurang. Kau dapat mengorek lubang di permukaan jurang ini dengan ujung pedangmu, lalu lubang-lubang itu dapat digunakan sebagai anak tangga untuk naik ke atas!” „Sumoay! Jurang ini tinggi sekali. Jika aku harus naik dengan mengorek-ngorek lubang dengan ujung pedangku, sampai kapan baru kita sampai ke atas!” „Jika kau ulet, selonjor besi dapat kau gosok sehingga menjadi sebatang jarum!”
573
Wei Beng Yan segera mengerti maksud To Siok Keng, yang selalu menganjurkannya agar jangan putus asa. Ia segera mecabut pedangnya dan mulai mencongkel lubang untuk dibuat tangga mendaki jurang yang tebing itu. Setelah mencongkel beberapa lubang, Wei Beng Yan segera mendaki dengan pelahan dan hati-hati sekali, diikuti oleh To Siok Keng. Pekerjaan itu memerlukan kesabaran, ketekunan dan keuletan, mungkin juga mereka akan mengambil waktu sampai tiga hari untuk tiba di atas jurang. Apakah mereka akan berhasil mendaki jurang itu? Karena itu berarti berada di permukaan jurang selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum? Tetapi mereka sudah bertekad mendaki jurang itu dengan harapan berhasil mencari Tok-beng-oey-hong di kuil Cit-po-sie, mereka maju terus! Ketika sudah mendaki jurang itu selama setengah hari, Wei Beng Yan berkata kepada To Siok Keng yang berada di bawah kakinya. „Sumoay, apakah kau merasa takut?” „Ya! aku merasa takut!” sahut To Siok Keng. „Sumoay, apa yang kau takuti? Misalnya kita jatuh dan mati bersama di sini, aku kira sama saja seperti kita akan tewas di gedungnya Lee Susiok! Pek Tiong Thian pasti datang ke sana, dan tanpa Tok-beng-oey-hong kita tak dapat melawan dia!”
574
„Suko, sekarang giliranku untuk mencongkel lubang. Berikanlah pedang itu kepadaku!” Dari atas Wei Beng Yan memberikan pedangnya kepada To Siok Keng yang segera menusukkan ujung pedang itu ke dalam permukaan jurang, dan ujung kakinya menendang lubang, sehingga tubuhnya melonjak ke atas melewati Wei Beng Yan dan secepat kilat menusukkan ujung pedangnya ke permukaan jurang lagi. Demikianlah mereka mencongkel lubang di permukaan jurang itu dan mendaki jurang tersebut dengan ulet dan tekun. Mereka kehujanan pada malam harinya, maka pada keesokan harinya mereka sudah menjadi sangat letih. Angin gunung meniup keras dan tiupan itu hanya tambah mengganggu usaha mereka saja. Mereka sudah melupakan bahaya, dan bertekad akan mendaki terus pantang mundur walaupun apa yang akan terjadi. Waktu mereka tiba di birai jurang lalu duduk untuk beristirahat di atas birai itu. Namun mereka tak berani beristirahat terlalu lama, sebab sang waktu mendesak terus. Sinar matahari menjemur kering pakaian mereka yang basah dan mengangatkan tubuh, tetapi tak dapat mengangkat perasaan lapar mereka. Pada hari kedua, mereka merasa lebih letih lagi. Tapi mereka tidak putus asa, mereka mendaki terus, hanya kini tampak mereka mencongkel lebih lambat. Pada tengah malamnya turun hujan besar lagi sehingga permukaan jurang itu jadi makin licin. Mereka terpaksa berhenti sambil menempelkan tubuh di permukaan jurang
575
itu. Kaki tangan mereka menjadi kaku karena kedinginan. Jika lengah, maka mereka pasti tergelincir dan jatuh terhampar di bawah! Tiba-tiba Wei Beng Yan melantun. „Angin utara meniup keras Hujan lebat turun bebas, Jika kita harus tewas, Kita tewas menunaikan tugas!” Suaranya bergema di pegunungan itu, dan mereka selalu insaf akan kedudukan mereka yang sangat berbahaya. Setelah hujan berhenti, mereka meneruskan mencongkel lubang dan terus mendaki jurang! Pada pagi hari yang ketiga, mereka sudah hampir tiba di atas jurang. Mereka menjadi pening ketika menoleh ke bawah! „Sumoay, jika kita berhasil mendaki jurang ini, aku yakin kitapun akan berhasil mencari Tok-beng-oey-hong dan membasmi Pek Tiong Thian!” kata Wei Beng Yan. To Siok Keng bersenyum dengan perasaan terhibur, karena ia telah melihat bahwa Wei Beng Yan sudah mulai memperoleh kembali kepercayaan atas dirinya sendiri. Mereka mendaki terus dengan susah payah, dan empat meter lagi mereka akan segera tiba di atas jurang. Tiba-tiba Wei Beng Yan, merasa pusing dan kedua matanya gelap!
576
To Siok Keng juga melihat bahwa muka pemuda itu mendadak menjadi pucat. „Suko!” serunya „Kau mengapa? Kau berhenti dulu, biar aku yang mendaki terus lalu menarik kau ke atas dengan tali!” Wei Beng Yan memejamkan kedua matanya dan tidak menyahut. To Siok Keng menjadi gelisah. Ia berada di sebelah atas. Apakah ia harus turun memegangi Wei Beng Yan, apakah ia harus terus mendaki ke atas jurang, lalu mencari tali mengangkat Wei Beng Yan? Wei Beng Yan membuka kedua matanya dan berusaha mendaki jurang itu lagi. Tetapi...... ia seolah-olah kehilangan tenaga dan tak dapat memegang sesuatu di permukaan jurang itu. Ia kejengkang ke belakang dan jatuh ke bawah! Bukan main kaget To Siok Keng melihat kejadian itu. Ia pejamkan kedua matanya dan menjerit. Justru pada saat Wei Beng Yan terjengkang ke belakang, satu tali lasso berhasil menjirat tubuhnya, dan ia terangkat ke atas jurang! Kejadian yang mujizat itu tak dapat dipercaya oleh To Siok Keng. Apakah ia sedang bermimpi? Ia lekas mendaki lagi, dan segera tiba di atas jurang di mana ia lihat Wei Beng Yan yang masih belum sadar, telah diletakan di atas tanah dan tali lasso masih menjirat tubuhnya.
577
To Siok Keng mencari penolong Sukonya, tetapi ia tak melihat orang di sekitar tempat itu. Lalu ia buka tali lasso yang menjirat tubuh Wei Beng Yan, mengurut beberapa urat nadinya dan sejenak kemudian, Wei Beng Yan sudah sadar lagi. „Suko, kita sudah tiba di atas jurang!” seru si gadis girang. „Sumoay, apakah kau yang telah menolong aku?” tanya Wei Beng Yan. To Siok Keng menggeleng-geleng kepalanya seraya menyahut. „Bukan!” Wei Beng Yan bangun dan menanya lagi. „Jika bukan kau, siapakah yang telah menolong aku?” „Akupun tidak tahu, aku hanya melihat tali lasso menjirat tubuhmu dan kau terangkat ke atas jurang! Aku kira aku sedang bermimpi menyaksikan kejadian yang mujizat itu!” „Hm! Penolongku tentu masih berada di atas jurang ini,” kata Wei Beng Yan „Ayoh, kita cari. Aku ingin menghaturkan terima kasih kepadanya!” Baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba tampak, entah dari mana datangnya, seorang yang sudah sangat lanjut usianya sudah berdiri di hadapan mereka. Rambut, alis, jenggot dan kumis kakek itu sudah putih semua, tetapi kedua matanya masih bersinar sekali dan mengenakan jubah putih, sebelah tangannya memegang satu tongkat kayu dari dahan pohon.
578
Melihat orang itu, Wei Beng Yan dan To Siok Keng terkejut sekali, tetapi mereka segera insyaf bahwa tentu orang inilah yang telah menolong Wei Beng Yan barusan, maka mereka segera berlutut. Kakek itu segera mengebut lengan bajunya dan Wei Beng Yan maupun To Siok Keng, yang sudah hampir berlutut mendadak terangkat naik sehingga mereka jadi berdiri lagi! Wei Beng Yan terhuyung ke samping, dan jika tidak keburu ditahan oleh To Siok Keng, ia pasti sudah roboh terkena dorongan tenaga kebutan lengan baju yang ternyata hebat sekali itu. „Seumur hidupku, aku tidak pernah menolong ataupun menganiaya orang!” kata kakek itu ketus. “Kalian tidak usah menghaturkan terima kasih!” Wei Beng Yan lekas-lekas mengangkat kedua tangannya memberi hormat seraya berkata. „Locianpwee, jika aku tidak ditolong barusan, maka pasti sudah menjadi mayat!” Kakek itu agaknya berpikir, lama juga baru ia menyahut. „Kau telah menolong dirimu sendiri!” „Bukankah Locianpwee yang telah menjirat aku dengan tali lasso barusan?” „Aku telah mengatakan tadi bahwa seumur hidup aku tidak pernah menolong atau menganiaya orang! Tapi setelah menyaksikan kau bertekad dan bergiat mendaki jurang yang tebing dan berbahaya
579
ini, aku terpaksa harus mengulurkan tangan menolongmu ketika kau pingsan dan tidak berdaya mengendalikan dirimu lagi! Kaulah yang menjadi sebab sehingga aku terpaksa menolong juga.” Sahutan kakek itu betul-betul sangat ganjil. Itu berarti bahwa Wei Beng Yan sajalah yang pernah menerima pertolongan kakek sakti itu. Setelah rasa bingungnya agak reda, To Siok Keng lalu berkata. „Locianpwee, bolehkah aku yang rendah mengetahui nama besar Locianpwee?” „He, hee, hee! Menyesal sekali aku tidak mempunyai nama,” sahut kakek itu. „Aku sekarang sudah hampir masuk ke liang kubur sehingga tidak perlu lagi aku memusingkan otak untuk memilih-milih nama!” ia berhenti sejenak untuk mengawasi Wei Beng Yan dan To Siok Keng. Kemudian ia melanjutkan. „Kalian berdua sudah tidak menghiraukan bahaya, apa maksud kalian mendaki jurang ini?” To Siok Keng menoleh ke arah Wei Beng Yan untuk kemudian mengalihkan lagi pandangannya ke arah si kakek seraya berkata. „Kisahnya panjang sekali!” Si kakek bersenyum dan berkata. „Meskipun demikian aku mau juga mengetahui kisah yang panjang itu!”
580
To Siok Keng tidak lantas menyahut, parasnya yang sangat letih ternyata dapat dilihat oleh kakek yang bermata sangat tajam itu. „Marilah kita mencari barang makanan dulu, baru kemudian kalian menceritakan kisah yang panjang itu, karena kalau aku mendesak agar kau menceritakan sekarang juga pasti kau akan semaput!” „Kita telah berada di atas jurang itu selama dua hari, aku merasa sangat lapar!” sahut Wei Beng Yan. Si kakek tertawa berkakakan dan berkata. „Baiklah, aku saja yang menceritakan tentang diriku terlebih dulu. Aku datang dari Sit-bie-keng dengan maksud menjumpai pendeta tua yang tinggal dalam kuil Cit-po-sie ini. Tetapi...... sayang si pendeta tua ternyata telah meninggal dunia. Ayohlah kita mencari makanan dulu, baru kemudian kita bicara lagi!” To Siok Keng terperanjat sekali mendengar nama tempat asal kakek itu, karena ia agaknya pernah mendengar nama tempat itu. „Ayohlah, nona kecil!” kata lagi si kakek, „kaulah yang harus pergi mencari makanan, kawanmu ini sudah kehabisan tenaga!” To Siok Keng lekas-lekas berlari ke arah kuil untuk mencari apa saja yang masih dapat dimakan. Seperginya gadis itu, si kakek lalu mengawasi wajah Wei Beng Yan dan berkata.
581
„Dasar dan pengawakanmu bagus sekali untuk mejadi seorang jago silat kelas utama!” „Aku telah dianiaya orang sehingga tenagaku hilang sama sekali!” sahut Wei Beng Yan cemas. „Jangan khawatir, nak! Aku rasa aku masih mungkin menolongmu!” Wei Beng Yan jadi berlinang air mata karena girangnya. Tetapi girangnya dilenyapkan dengan ucapan orang sakti itu yang menjelaskan caranya memulihkan tenaga dan semangatnya. „Tenaga dan semangatmu sudah berkurang lebih dari separuh! Sekarang aku harus membebaskan jalan-jalan darahmu yang tersumbat oleh racun agar darah itu dapat menyembuhkan luka-luka di dalam tubuhmu! Maka setelah lewat tujuh hari, luka-luka di dalam tubuhmu itu akan sembuh. Seterusnya, tiap-tiap lewat tujuh hari, tenaga dan semangatmu pulih sepuluh persen, dan setelah lewat tujuhpuluh hari, kau akan menjadi sembuh dan sehat sebagaimana sediakala!” Mendengar penjelasan itu, Wei Beng Yan menjadi kecewa lagi, dan ia menanya. „Locianpwee, apakah kau tak dapat memulihkan tenaga dan semangatku dalam jangka waktu tujuh hari?” Orang sakti itu menggeleng-geleng kepala seraya menyahut.
582
„Di waktu aku belajar silat, mungkin ayahmu belum terlahir. Selama seratus tahun lebih aku belum pernah mengetahui cara memulihkan tenaga dan semangat dalam jangka waktu tujuh hari!” Wei Beng Yan menarik napas dan ia merasa kecewa sekali yang ia tak akan dapat berbuat apa-apa untuk menggempur Pek Tiong Thian jika tenaga dan semangatnya tidak pulih. Si kakek bersenyum dan berkata pula. „Aku tadi bilang bahwa selama seratus tahun lebih aku belum pernah mengetahui cara memulihkan tenaga dan semangat dalam jangka waktu tujuh hari, itu adalah sekedar untuk menguji dan mengetahui maksudmu yang ingin lekas-lekas sembuh!” Wei Beng Yan meringis sambil menatap kakek itu. „Sebetulnya aku pernah juga mempelajari ilmu memulihkan tenaga yang terkena racun dalam jangka waktu satu minggu seperti yang kau telah katakan tadi,” kata lagi si kakek, „tetapi...... akibat dari pada pengobatan ini sangat tidak enak, menyakitkan sekali! Sekujur tubuhmu akan merasakan suatu yang betul-betul sangat tidak tertahankan, selama tenaga pijatanku belum berhasil mengusir atau memunahkan semua racun-racun di tubuhmu itu......” Wei Beng Yan yang sudah bersumpah untuk membalas dendam, meski dengan cara bagaimanapun, segera berlulut di hadapan kakek itu seraya berkata. „Locianpwe, aku bersedia menerima semua akibat itu!”
583
Si kakek menatap wajah Wei Beng Yan sambil bersenyum, tapi mendadak wajahnya berubah jadi sungguh-sungguh dan berkata. „Mengingat tugasmu belum terlaksanakan, dan orang yang ingin kau basmi itu adalah satu jahanam keji, maka aku akan mencoba menolongmu!” Setelah berkata begitu, si kakek segera menghampiri untuk kemudian mengurut seluruh tubuh pemuda she Wei itu. Selang beberapa saat, betul saja, Wei Beng Yan jadi meringis-ringis, wajahnya yang pucat berubah merah lalu dengan tiba-tiba pula berubah jadi pucat lagi. Tubuhnya mengeluarkan keringat dan menggigil keras seperti orang yang menderita demam hebat! Tatkala si kakek selesai dengan cara pengobatannya yang ganjil itu, mendadak Wei Beng Yan memekik seperti orang yang kehilangan ingatannya sambil melonjak ke atas untuk kemudian terbanting di tanah tidak sadarkan diri! To Siok Keng yang tidak berhasil menemukan barang makanan dari dalam kuil Cit-po-sie sudah berada di situ lagi, ia terkejut bukan main melihat keadaan Wei Beng Yan itu. Ia mengulur tangannya untuk menolong, tapi begitu tangannya bersentuhan dengan tubuh pemuda itu, mendadak berseru. „Aai!” Karena tubuh pemuda itu dirasakannya seperti membara, panas sekali! Ia mengawasi kakek itu seolah-olah ingin menanya apa yang telah terjadi dengan Suko nya itu.
584
„Jangan khawatir nak,” kata .si kakek tenang. „kawanmu sedang melalui saat gawat. Sedikit waktu kemudian dia pasti akan sembuh!” Tubuh Wei Beng Yan perlahan-lahan berhenti menggigil, hawa panas yang keluar dari tubuhnya pun sedikit-sedikit mereda. Ia membuka matanya dan melihat To Siok Keng dan kakek itu tengah berduduk mengawasinya. „Suko,” kata To Siok Keng. „bagaimana rasanya sekarang?” Sambil meringis-ringis Wei Beng Yan lalu berkata. „Rasanya...... tenagaku sudah hilang sama sekali!” „Menghilangnya tenagamu itu hanya bersifat sementara saja!” kata si kakek, „Kau harus berusaha menenangkan pikiranmu. Aku berani memastikan dalam duabelas jam saja kesehatan serta tenagamu sudah kembali lagi.” Ia merogoh sakunya seraya melanjutkan. „Karena kau tidak berhasil menemukan makanan maka makanlah barang kering ini!” Sambil berkata demikian, si kakek mengangsurkan tangannya yang memegang satu bungkusan kecil, yang setelah dibuka oleh To Siok Keng ternyata berisikan barang makanan kering yang berupa buah-buahan.
585
Tanpa sungkan-sungkan lagi Wei Beng Yan dan To Siok Keng segera menghabisi isi bungkusan itu. „Locianpwee,” kata To Siok Keng setelah selesai makan. „Aku sudah tidak berhasil menemukan Tok-beng-oey-hong dalam kuil Cit-po-sie, apakah lo-cianpwee sudi menolong kita membasmi si jahanam Pek Tiong Thian?” „Mengapa kalian jadi bermusuhan dengan orang itu?” tanya si kakek. Wei Beng Yan lalu menceritakan segala malapetaka yang telah menimpa dirinya, bagaimana Pek Tiong Thian telah menyamar sebagai Ji Cu Lok dan mengacau balaukan kalangan Bu-lim. Ia menceritakan juga tentang Ouw Lo Si yang telah dengan keji sekali memberikan padanya TIGA SAMPUL MAUT! Kakek itu tiba-tiba jadi gemas setelah mendengar kisah itu. „Jahanam itu harus dibasmi!” geramnya. „Jika Locianpwe tidak membantu kita, kalangan Bu-lim pasti hancur lebur diacak-acak oleh jahanam itu!” seru To Siok Keng. Kakek itu menghela napas panjang. „Aai itulah takdir yang tidak bisa ditentang oleh siapapun!” keluhnya.
586
Setelah berkata demikian, si kakek segera menotok ujung tongkatnya, bersamaan dengan itu, tampak tubuhnya mencetat ke atas untuk kemudian berlari meninggalkan kedua muda-mudi itu. „Locianpwee!” seru Wei Beng Yan. „Tunggu sebentar, aku masih ingin minta petunjuk-petunjuk!” Si kakek tidak menghiraukan panggilan itu, ia meloncat dan menghilang ke bawah jurang yang curam. „Ai! Sayang sekali!” kata To Siok Keng, „Orang sakti itu pasti mampu menggempur Pek Tiong Thian!” „Kita akan mencari di tempat tinggalnya!” „Ia hanya mengatakan tempat tinggalnya di Sit-bie-keng, tahukah kau dimana letak tempat itu?” Dengan perasaan gelisah Wei Beng Yan lalu memejamkan matanya untuk beristirahat sebentar. Setelah lewat setengah jam, ia merasa perlahan-lahan tenaganya sudah mulai kembali lagi, maka pada keesokan harinya ia segera mengajak To Siok Keng, meninggalkan jurang itu. Ketika mereka tiba di Rumah Lee Beng Yan, di depan rumah itu mereka melihat lentera kertas merah yang bertulisan. „SATU HARI.” Itu berarti mereka sudah kembali tepat pada waktunya, yalah hari yang kesepuluh.
587
Tigapuluh Empat Mereka segera masuk ke rumah gedung itu, dan ketika tiba di luar ruangan untuk berlatih silat, Lim Ceng Yao dan Song Thian Hui yang kebetulan berada di situ jadi kaget sekali. Lee Beng Yan berjalan menghampiri dari lain ruangan seraya berkata. „Lim-heng dan Song-heng tentu sekarang baru percaya omonganku bahwa kedua muda-mudi ini akan kembali, bukan?” „Aku minta maaf kepada Beng Yan dan To siocia atas tafsiranku yang tidak baik itu!” kata Lim Ceng Yao jengah. „Bagaimana hasilnya?” tanya Lee Beng Yan, „Apakah kalian sudah berhasil menemui Tok-beng-oey-hong?” Dengan nada yang kecewa To Siok Keng menyahut. „Menyesal sekali kita gagal memperoleh benda itu!” „Tanpa Tok-beng-oey-hong, kita hanya menunggu waktunya untuk mati di sini!” ◄Y► Belum selesai ucapan itu, ketika terdengar suara orang tertawa dari luar seraya mengejek. „Betul! Kalian sudah mengetahui bahwa kalian hanya menunggu waktunya untuk mati! Ha, ha, ha!”
588
Mereka terkejut, dan menoleh kejurusan suara ejekan itu. Mereka mengawasi dengan mata terbetalak seorang nenek yang mukanya sangat jelek dan kejam berjalan dengan berlagak sekali. Nenek itu bersenjata satu toya kayu, dan di belakangnya tampak seorang berjalan dengan gagah dengan wajah seperti burung elang dengan kedua mata yang bersinar! Kedua orang itu telah mendobrak pintu tembok di depan, dan berjalan masuk menghampiri mereka di ruangan untuk berlatih silat. Nenek itu adalah Hua Ceng Kin, si jahanam tuaan dari Soat-hay-siang-hiong, dan si muka burung elang adalah Pek Tiong Thian binatang buas dalam bentuk manusia! Lee Beng Yan, Lim Ceng Yao, Song Thian Hui, Wei Beng Yan dan To Siok Keng melangkah mundur ketika kedua jahanam itu datang menghampiri. Setelah Pek Tiong Thian masuk ke dalam ruangan untuk berlatih silat, ia mengawasi musuhnya dengan sikap yang mengejek, dan ia kelihatan gembira sekali setelah melihat Wei Beng Yan dan To Siok Keng juga berada di situ. Ia lalu berkata dengan lantang dan congkak. „Aku tidak menduga aku juga dapat menjumpai kedua anak anjing ini! Apakah kedua anak anjing ini sudah mengetahui bahwa aku akan datang ke sini? Ha, ha, ha!” Wei Beng Yan gelisah memikiri tenaga dan semangatnya yang masih belum pulih dan ia tak dapat menggempur iblis itu dengan ilmu Thay-yang-sin-jiauw.
589
Hanya To Siok Keng yang agak tenang, dan ia berbisik. „Kita akan bertempur dengan rencana yang sudah kita tetapkan. Lim Tay-hiap, musuh Suko ku Hua Ceng Kin, adalah makanan Tay-hiap!” Mereka sudah mengetahui bahwa jika mereka tidak bertempur dengan sekuat tenaga, mereka pasti tewas. Maka setelah mendengar bisikan To Siok Keng, dengan pedang terhunus Lim Ceng Yao meloncat dan menusuk pundak Hua Ceng Kin dengan jurus Liu-seng-pun-gwat (Bintang sapu mengejar bulan)! Hua Ceng Kin telah berhasil mengajak Pek Tiong Thian menggempur musuh-musuhnya dengan omongan bahwa Wei Beng Yan dan To Siok Keng sedang bersembunyi di markas Lee Beng Yan. Dan setelah Pek Tiong Thian melawan Wei Beng Yan di atas puncak Cie-sin-hong, jahanam itu sudah mulai mengetahui bahwa ilmu Wei Beng Yan dapat dilawan dengan Ciam-hua-giok-siu. Hanya ia masih belum dapat memastikan sampai di mana kelihayan Thay-yang-sin-jiauw yang sebenarnya. Hua Ceng Kin merasa tenang melawan semua musuh-musuh yang ia hadapi, karena yakin bahwa musuh-musuhnya itu kelak akan dilalap oleh Pek Tiong Thian. Ketika ujung pedang Lim Ceng Yao hampir menusuk pundaknya, dengan melangkah mundur satu tindak ia tangkis tusukan pedang itu. Sebetulnya Lim Ceng Yao telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menusuk musuhnya itu, karena ia yakin bahwa tusukannya
590
itu pasti tidak gagal! Setelah tusukannya ditangkis, ia menarik pedangnya dan secepat kilat membacok ke kepala Hua Ceng Kin! Iblis wanita itu betul-betul lihay, ia mengegos ke samping sambil menyapu betis Lim Ceng Yao dengan toya kayunya. Bukan main gemas si orang she Lim, bukan saja serangannya itu tidak mengenai sasarannya, bahkan ia menjadi sibuk meloncat untuk menghindari sapuan toya kayu lawannya itu. Hua Ceng Kin segera mengetahui bahwa lawannya itu gesit sekali. Ia lekas-lekas menyerang untuk mengetahui betapa kuat pertahanan lawannya itu dengan lagi-lagi menyapu ke arah badan bawah tubuh Lim Ceng Yao yang tampak mengapung ke atas untuk kemudian melayang jauh ke belakang. Hua Ceng Kin merasa heran juga melihat lawannya itu tidak balas menusuk dengan pedangnya, padahal kesempatan untuk melakukan itu terbuka lebar sekali. Ia tidak mengetahui bahwa Lim Ceng Yao yang sudak kawakan merasa khawatir terjebak jika menusuk iblis yang keji itu. Selagi si iblis wanita bingung itulah, Lim Ceng Yao memutar pedangnya secepat kilat sehingga hembusan angin pedang mendesing dan sinar yang menyilaukan mata berpantulan. Hua Ceng Kin dengan berani melangkah maju dan menangkis toyanya...... „Ting!”
591
Pedang Lim Ceng Yao terpukul tetapi...... dari bawah pedang itu berputar untuk kemudian menyodok ke arah dada. Hua Ceng Kin menjerit bahwa kagetnya, lekas-lekas ia meloncat mundur untuk mengelakkan tusukan itu, namun ujung pedang sudah bergerak lebih cepat lagi, dadanya tergores dan mengeluarkan darah banyak sekali. Lim Ceng Yao yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu segera meloncat sambil mengemplang dengan pedangnya, tetapi tiba-tiba tampak ia terhuyung ke samping dan roboh! „Jahanam!” bentak Lee Beng Yan sengit, „kau sudah membokong kawanku!” „Ha, ha, ha! Aku membokong? Aku hanya sekedar membantu kawanku yang sudah tergores dadanya!” sahut Pek Tiong Thian yang sementara pertarungan tadi berlangsung belum mau bertempur melawan musuh-musuhnya. Setelah berkata demikian ia lalu melangkah mundur khawatir diserang oleh Wei Beng Yan. Ia telah diserang oleh Thay-yang-sin-jiauw di atas puncak Cie-sin-hong, tetapi ia berhasil mengelakkan serangan yang terkenal itu berkat bantuan Ciam-hua-giok-siu. Dengan demikian, dia adalah orang satu-satunya yang tidak tewas terkena serangan ilmu tersebut. Ia lalu mengeluarkan sarung mujizatnya dan mengejek. „Hm! Rupanya kalian berempat ingin mengerubuti aku seorang, ya?”
592
Lee Beng Yan jadi gelisah sekali melihat Lim Ceng Yao sudah dilukai oleh Pek Tiong Thian. „Dapatkah Song Thian Hui, To Siok Keng dan aku sendirian lawan jahanam she Pek ini?” tanyanya dalam hati, „Wei Beng Yan kini masih merupakan “kartu mati”!” Belum lagi ia mengambil keputusan, tampak Hua Ceng Kin sudah berdiri di samping kawannya. Wei Beng Yan menatap Pek Tiong Thian. Ia merasa gelisah sekali, tetapi ia harus bersikap tenang, agar musuhnya tidak mengetahui bahwa tenaga dan semangatnya sudah banyak berkurang sehingga ia belum bisa melancarkan Thay-yang-sin-jiauw. Dengan nada yang mengejek, Pek Tiong Thian berkata. „Empat jago silat nomor wahid bertarung melawan aku seorang! Apa kata orang di kalangan Bu-lim nanti jika mereka mengetahui hal ini? Aku tak gentar melawan kalian semua! Ayoh! Kalian boleh menyerang!” Ia berjalan maju dua langkah. Wei Beng Yan juga berjalan maju dua langkah dan berkata. „Hei, Pek Tiong Thian! Kau salah! ‘Mengapa kita berempat menggempur kau seorang? Aku sendiri cukup untuk mengkeremusmu!”
593
Lee Beng Yan dan kawan-kawannya tidak mengerti maksudnya Wei Beng Yan, tetapi tidak demikian dengan To Siok Keng, ia sudah mengetahui siasatnya, maka lekas-lekas ia berkata dengan suara yang lantang. „Betul! Tay-yang-sin-jauw dapat menghajar jahanam yang pernah menyamar sebagai Yu Leng! Suko, biarlah jahanam itu merasai Thay-yang-sin-jiauw!” Dengan tak terasa Pek Tiong Thian mundur lagi dua langkah mendengar anjuran gadis cerdik itu kepada saudara seperguruannya. Wei Beng Yan membentak lagi. „Hei! Jahanam she Pek! Sebetulnya kau harus diganyang dengan Thay-yang-sin-jiauw jika melihat perbuatanmu yang sangat terkutuk! Namun sebelum guruku meninggal dunia, ia pernah memperingatkan aku untuk mengampuni orang jika perlu. Tetapi Hua Ceng Kin itu tak dapat aku ampuni. Aku ingin membunuh jahanam itu, dan aku dapat mengampuni jika kau berjanji merubah sepak terjangmu dan menjadi orang yang baik!” „Kau dapat mengancam aku, tetapi aku tak gentar,” sahut Pek Tiong Thian. „Aku datang ke sini dengan maksud mengirim kalian ke neraka! Kau boleh melancarkan Thay-yang-sin-jiauw. Aku tak gentar!” Ia mengatakan itu karena yakin bahwa ia dapat melawan Wei Beng Yan dengan sarung tangan mujizat Ciam-hua-giok-siu. Di atas puncak Cie-sin-hong sarung tangan itu telah melindunginya dari
594
Thay-yang-sin-jiauw. Ketika itu ia tidak binasa karena Wei Beng Yan tak dapat mengerahkan tenaga dalamnya seratus persen. „Sekarang juga kau akan kugempur dengan ilmu yang dahsyat itu!” kata Wei Beng Yan sambil mengangkat lengan kanannya! Lengan yang diangkat itu sudah mencekal pedang pusaka ayahnya. Tiba-tiba ia meloncat ke depan dan menusuk. Pek Tiong Thian yang selalu mengawasi gerak-gerik Wei Beng Yan, dan mengira ia akan diserang dengan Thay-yang-sin-jiauw, dapat mengegosi tusukan maut itu dengan mengebat Ciam-hua-giok-siu. Pada waktu itu juga ia sudah dapat melihat bahwa tenaga yang dikerahkan oleh itu pemuda sangat lemah, seolah-olah dilancarkan oleh satu anak kecil! „Apakah ia sudah tak mampu melancarkan Thay-yang-sin-jiauw?” pikirnya. Tusukan tadi sudah diperhitungkan dengan masak-masak agar dapat menusuk mati Pek Tiong Thian dalam satu gerak saja! Tetapi Pek Tiong Thian yang sudah mempelajari dan berlatih ilmu silat dari kitab Jit-gwat-po-lek, betul-betul sangat tangkas. Ciam-hua-giok-siu dikebat, dan pedang pusaka Wei Beng Yan terpental ke samping! Meski Wei Beng Yan menusuknya dalam keadaan sehat wal’afiat sekalipun, Ciam-hua-giok-siu pasti dapat menghindarkan segala
595
serangan-serangannya itu kecuali serangan-serangan Thay-yang-sin-jiauw dan Tok-beng-oey-hong! Thay-yang-sin-jiauw tak dapat dilancarkan dengan tenaga dalam yang lemah, dan Tok-beng-oey-hong-pun tidak dimiliki! Keadaan pihak Lee Beng Yan betul-betul gawat! Dengan terpentalnya pedang pusaka itu maka dada Wei Beng Yan merupakan sasaran yang mudah diserang karena kedua tangan atau lengannya terbentang lebar-lebar. Satu tinju segera dikirim oleh Pek Tiong Thian dengan tenaga dalam hebat dan secepat kilat, untuk menonjok dada pemuda she Wei itu. To Siok Keng yang mengawasi dengan cermat serangan Wei Beng Yan tadi, dan melihat juga tusukan maut itu ditangkis, segera mendorong Wei Beng Yan ke pinggir dan berhasil menghindarkan Wei Beng Yan dari jotosan mautnya Pek Tiong Thian. Tetapi tidak urung hembusan angin dari jotosan maut itu telah mengenakan juga pundak kirinya Wei Beng Yan. Dan setelah ia didorong ke samping, dengan wajah pucat ia lekas-lekas mengerahkan tenaga dalamnya sambil menahan sakit. Pek Tiong Thian gagal membunuh dengan jotosannya, dan ia ingat akan pertarungan di atas puncak Cie-sin-hong ketika To Siok Keng telah menipu dia dengan Tok-beng-oey-hong yang palsu, sehingga mereka berhasil melarikan diri. Ia menjadi murka sekali. Ia kebat Ciam-hua-giok-siu.
596
Tetapi Wei Beng Yan sudah meloncat ke belakang dan menjotos punggungnya. Dengan cepat Pek Tiong Thian berbalik dan berhasil mencekal tinjunya Wei Beng Yan, dengan demikian ia gagal menghajar To Siok Keng dengan Ciam-hua-giok-siu! Wei Beng Yan merasa seolah-olah tangan dan kelima jarinya dikeramas hancur. Ketika ia merasa cemas sekali, tiba-tiba tampak Pek Tiong Thian mendorongnya sehingga ia roboh tertelentang!” Itulah ilmu apa yang disebut Sit-gu-ciong-sin (Badak menyeruduk gunung). Sementara itu. Song Thian Hui sudah melawan Hua Ceng Kin yang sudah berhasil mengemplang Lee Beng Yan dengan toya kayunya. „Suko, seru To Siok Keng sambil menghampiri Wei Beng Yan yang masih menggeletak di lantai. „Kau harus melarikan diri sekarang!” „Tidak!” sahut si pemuda she Wei gemas. „Semangat serta tenagamu belum pulih semua, dan kau kini sudah dilukai lagi. Bukankah jika kau mati sekarang, dendam ayahmu bakal tidak terbalaskan?” Wei Beng Yan mengerti akan maksud To Siok Keng itu. Karena untuk membunuh Pek Tiong Thian yang berkepandaian tinggi sekali, hanya benda mujizat Tok-beng-oey-hong dan ilmu Thay-yang-sin-jiauw saja yang masih mampu melaksanakan tugas itu.
597
Ia juga menginsafi akan maksud gadis itu yang sudah bertekad mengorbankan jiwanya untuk melawan si jahanam she Pek, agar ia dapat kesempatan untuk melarikan diri. Tapi justru pengorbanan inilah yang membuat hatinya berat meninggalkan tempat itu, karena sejak gadis itu nyaris dibakar oleh Siauw Bie di pegunungan Oey-san, ia sudah jatuh cinta kepada gadis she To itu. Kini ia didesak untuk melarikan diri dan membiarkan kekasihnya diganyang oleh jahanam itu...... Ia lebih suka dibunuh dan mati bersama-sama gadis itu! „Suko,” kata lagi To Siok Keng, „Ayohlah lekas tinggalkan tempat ini!” „Tidak! Aku ingin mati bersama-samamu di sini!” sahut Wei Beng Yan. Sementara itu, Lee Beng Yan sudah menyerang Pek Tiong Thian dengan rantai besi yang panjangnya kira-kira satu meter setengah dan dapat menyabet musuh dengan hebat. Rantai besi yang diputar-putar itu mendesing dan mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata. Lee Beng Yan sangat dimalui di kalangan kang-ouw, karena dengan senjatanya yang ampuh itu ia pernah berkali-kali membasmi musuh yang jauh lebih besar jumlahnya, dan ia telah terkenal sebagai seorang yang luhur serta budiman.
598
Kini ia berhasil menahan Pek Tiong Thian menyergap Wei Beng Yan yang barusan dibikin tidak berdaya. Pek Tiong Thian yang telah memiliki kepandaian demikian hebat, menganggap Lee Beng Yan sebagai seorang lawan yang tidak ada artinya sama sekali. Hanya dengan meloncat ke kanan dan ke kiri saja, ia sudah bisa menghindarkan sabetan-sabetan rantai besi lawannya itu. Karena sudah ingin lekas-lekas membunuh Wei Beng Yan, Pek Tiong Thian lalu mendesak Lee Beng Yan dengan jotosan-jotosan yang dikerahkan dalam jurus Pau-hong-to-hay atau Angin taufan menggolakkan lautan. Selagi melayani Pek Tiong Thian, Lee Beng Yan dapat mendengar permintaan To Siok Keng agar Wei Beng Yan lekas-lekas meninggalkan tempat itu, dan penolakan si pemuda she Wei membikin hatinya cemas sekali. „To siocia!” serunya lantang sambil menyabetkan rantai besinya, „Kau harus membawa Wei Beng Yan berlalu dari sini. Biarlah kita bertiga yang mati di tangan jahanam ini!” „Ha, ha, ha! Gampang saja kau mementang bacot!” ejek Pek Tiong Thian. Selesainya kata-kata itu, tampak tubuh Pek Tiong Thian mencelat ke atas untuk menghadang jalan keluar dari tempat itu. Song Thian Hui yang sedang melawan Hua Ceng Kin, tiba-tiba melepaskan lawannya untuk membantu dan menghajar kepada
599
Pek Tiong Thian yang baru saja menginjakkan kakinya di atas lantai lagi. Tetapi mendadak si orang she Song menjerit seram dengan wajah bermandikan darah. Setelah terhuyung sejenak ia roboh untuk tidak bangun lagi. Melihat keadan yang sudah betul-betul membahayakan sekali itu, To Siok Keng segera membetot tangan Wei Beng Yan dan melarikan diri. Pek Tiong Thian jadi gusar sekali, baru ia ingin mengejar tiba-tiba Lee Beng Yan menghadang di hadapannya, maka terpaksa ia harus melayani lawannya itu. Baru saja tiba di luar pintu ruangan untuk berlatih silat itu, To Siok Keng dan Wei Beng Yan dikejutkan oleh suara seseorang yang melengking tinggi. “Hee, hee, hee! Kalian ingin melarikan diri ke mana?” To Siok Keng segera mengenali suara orang yang mengejar mereka itu, ialah Hua Ceng Kin. Ia tidak menoleh ataupun menghentikan langkahnya. Perlahan-lahan dan sambil berlari terus ia menghunus pedang Wei Beng Yan yang sedang diajak melarikan diri. Ketika pedang sudah berada di tangannya, tiba-tiba ia berhenti dan secepat kilat berbalik sambil menusuk ke arah jantung lawan. Iblis Hua Ceng Kin itu hanya mengetahui bahwa Wei Beng Yan terluka parah, tetapi tidak mengetahui kelihayan To Siok Keng. Ia
600
hanya melihat bahwa gadis itu masih muda dan belum pernah menyaksikan bagaimana gadis itu dapat menyelomoti Pek Tiong Thian! Ia mengejar dengan tekad membunuh muda-mudi itu, maka ia tidak menduga sedikitpun jika tiba-tiba ia ditusuk oleh gadis itu. Perlu diketahui bahwa tusukan yang secepat kilat itu dilakukan dengan jurus Tok-coa-pun-si (Ular berbisa menyemburkan maut), dan tak pernah gagal membunuh korbannya! Si iblis Hua Ceng Kin tak diberikan kesempatan untuk mempertunjukkan kelihayannya. Mendadak terdengar ia menjerit. „Aduh!” darah yang hangat muncrat keluar, dan ia jatuh tersungkur di tanah dengan mata terbelalak ke atas! Tiga musuh ayahnya Wei Beng Yan – Eu-yong Lo-koay, dikeremus Thay-yang-sin-jiauw Wei Beng Yan di tempat bertapa Tang Ceng Hong, Suto Eng Lok juga dikeremus ilmu yang sama di suatu rumah penginapan, dan Hua Ceng Kin ditusuk jantungnya dengan pedang pusaka Wei Tan Wi. Wei Beng Yan terhibur dengan terbunuhnya ke tiga musuh ayahnya itu, karena itu berarti ia telah menunaikan sumpahnya. Tetapi jiwanya sendiri sekarang terancam oleh Pek Tiong Thian, satu binatang dalam bentuk manusia yang seribu kali lebih kejam dari pada ke tiga musuh ayahnya atau manusia manapun! To Siok Keng mencabut pedangnya keluar dari jantung iblis wanita itu, dan menabas putus kepalanya. Lalu ia betot lagi Wei Beng Yan
601
dan meneruskan larinya keluar dari pintu tembok. Ketika itu mereka terkejut mendengar jeritan Lee Beng Yan yang mengerikan sekali. To Siok Keng maupun Wei Beng Yan mengetahui bahwa Lee Beng Yan juga tewas dibunuh oleh Pek Tiong Thian dalam usahanya menahan jahanam itu mengejar mereka! Hanya Lim Ceng Yao yang sudah dapat memulihkan lagi tenaganya yang masih dapat bertahan melawan Pek Tiong Thian. Tapi berapa lamakah dapat si orang she Lim bertahan terus? Lim Ceng Yao sudah mengetahui bahwa ia akan mati dalam tangan jahanam itu, maka untuk membantu Wei Beng Yan dan To Siok Keng melarikan diri, ia lalu dengan nekad menubruk dan berhasil memeluk lawannya sehingga Pek Tiong Thian jadi kelabakan. Kesempatan yang baik itu telah dipergunakan oleh kedua muda mudi untuk mempercepat langkah mereka. Tapi...... Wei Beng Yan yang sudah dilemparkan oleh Pek Tiong Thian tadi tidak bisa berlari cepat-cepat, maka terpaksa To Siok Keng harus menggunakan siasat seperti telah digunakan mereka di pegunungan Oey-san, yalah dengan jalan menyembunyikan diri. Sambil celingukan, To Siok Keng berhenti di suatu tempat, ia lalu melemparkan Pedang Wei Beng Yan ke arah timur dan lekas-lekas mengajak si pemuda berlari ke arah barat. Mereka sudah melarikan diri cukup jauh, ketika terdengar suara jeritan Lim Ceng Yao yang menyayatkan hati.
602
„Suko,” kata To Siok Keng, „Lim Tay-hiap sudah dibunuh oleh si jahanam!” „Ya......” sahut Wei Beng Yan sedih. „Dapatkah kau mempercepat langkahmu?” „Aku akan...... berusaha.....” Begitulah mereka segera melarikan diri lagi. Di suatu tempat To Siok Keng kebetulan melihat sebuah sumur tua, maka lekas-lekas ia mengajak Wei Beng Yan menghampiri sumur tersebut. Ia melongok ke dalam sumur itu dan menjadi girang bukan main. Wei Beng Yan pun turut melongok ke dalam sumur tua itu. „Suko,” kata To Siok Keng. „Kita terpaksa harus bersembunyi dalam sumur ini. Dapatkah kau menyelam dalam air?” Wei Beng Yan mengangguk. To Siok Keng segera mendahului turun ke mulut sumur itu yang kebetulan airnya hanya sedalam satu meter lebih saja. Dengan susah payah akhirnya Wei Beng Yan pun bisa juga turun ke dalam sumur itu. Demikianlah mereka bersembunyi dalam sumur sambil mendengari segala sesuatu yang terjadi di atas mereka.
603
Tidak lama kemudian, mereka mendengar suara bentakan seram. „Anjing!” Begitulah terdengar Pek Tiong Thian berteriak-teriak kalap, yang kemudian dilanjutkan dengan ucapan-ucapan seperti berikut. „Kalian tidak akan terlolos dari tanganku hari ini!” Setelah itu terdengar derap kaki tembaga jahanam itu yang menerbitkan suara berisik sekali. To Siok Keng dan Wei Beng Yan jadi bercekat mendengar derap kaki itu yang makin lama makin mendekati ke arah mereka tengah bersembunyi. Lekas-lekas mereka memasukkan tubuh mereka ke dalam air sumur dan menantikan segala sesuatu yang mungkin terjadi atas diri mereka. Pek Tiong Thian menghampiri sumur dan melongok ke dalam dan tiba-tiba terdengar ia tertawa berkakakan seram seraya berkata. „Mereka tentu tidak akan turun ke dalam sumur ini! Ha, ha, ha!” Setelah menantikan beberapa saat lamanya, ia lalu berjalan meninggalkan sumur itu, untuk mencari di tempat lain. Wei Beng Yan dan To Siok Keng menahan napas agar dapat tetap tinggal hidup dalam air itu. Mereka dapat bertahan cukup lama berkat ilmu tenaga dalam mereka yang sudah sempurna betul.
604
Setelah merasa agak aman, mereka lalu menonjolkan kepala mereka sambil mengawasi ke atas mulut sumur. Mereka tidak mendengar suara apapun, kecuali suara embusan angin yang meniup daun-daun pohon. „Sumoay,” bisik Wei Beng Yan. „Apakah si jahanam sudah berlalu dari tempat ini?” „Entahlah...... kita tunggu saja beberapa saat lagi......” sahut To Siok Keng. Hari itu adalah hari yang kedua sejak Wei Beng Yan diobati oleh kakek sakti dari Sit-bie-keng. Khasiat dari pada pijatan-pijatan kakek itu sudah mulai dirasakan oleh pemuda itu. Ia merasa kelemasannya sudah mulai meninggalkan tubuhnya, dan tenaganya pun agaknya sudah mulai pulih kembali. Setelah seperempat jam lewat lagi, To Siok Keng segera merambat-rambat dinding sumur itu dan ketika ia menggerakkan kedua kakinya, tubuhnya sudah mulai mendaki sumur itu, diikuti Wei Beng Yan yang ternyata sudah dapat mengikuti jejaknya itu. Mereka merasa girang sekali, karena setibanya di atas, mereka tidak melihat siapa pun. „Sumoay,” kata Wei Beng Yan sambil bersenyum, „lagi-lagi kau sudah menolong jiwaku, aku......”
605
„Sudahlah...... kita sekarang harus berusaha melarikan diri lagi,” sahut To Siok Keng. „Jangan sebut-sebut lagi tentang tolong menolong ini!” Wajah Wei Beng Yan jadi merah mendengar kata-kata gadis itu, yang sudah menganggap dirinya sebagai orang sendiri. „Ke manakah kiranya si jahanam sudah melarikan diri?” tanyanya. „Menurut pendapatku Pek Tiong Thian tentu sudah berlalu dari gedung Lee tay-hiap.” „Ingin ke manakah kita sekarang?” „Aku akan balik kembali ke gedung Lee tay-hiap dan jika tempat itu aman untuk sementara waktu kita akan bersembunyi di sana.” Setelah berkata begitu, To Siok Keng segera melarikan diri ke arah gedung yang dimaksud. Setibanya di depan gedung itu, si gadis she To melihat tembok di luar sudah roboh. Di suatu bagian tampak mayat Hua Ceng Kin masih menggeletak tanpa kepala. Di luar ruangan untuk berlatih silat tampak mayat Song Thian Hui, mayat Lim Ceng Yao yang sudah sukar dikenali karena kepalanya telah hancur dikeremus oleh Ciam-hua-giok-siu. Mayat Lee Beng Yan tampak tertiarap di lantai seperti orang yang sedang tidur nyenyak. Di sana sini darah berhamburan dan menyiarkan bau yang memuakkan sekali.
606
To Siok Keng lalu berjalan masuk ke arah lebih dalam. Segala sesuatu yang terdapat di situ hancur berantakan tidak keruan, pemandangan itu semua adalah pekerjaan sarung tangan mujizat Ciam-hua-giok-siu. Ia menjadi tambah terkejut, ketika melihat Lo Hok yang tidak bersalah sedikitpun dalam urusan itu, sudah dibunuh mati juga! Karena sangat terharu melihat itu semua, ia lalu berbalik dan lekas-lekas keluar dari rumah gedung itu lagi. „Bagaimana?” tanya Wei Beng Yan. „Apakah kau melihat suatu tempat untuk kita menyembunyikan diri?” „Tidak bisa kita menyembunyikan diri di sana,” sahut To Siok Keng. „Apa yang telah terjadi dengan ke tiga Susiok ku?” „Mereka telah ditewaskan! Tidak ada satu orang pun yang masih hidup dalam gedung itu!” „Aai! Mereka telah berkorban untuk kita! Sampai kapan baru dapat dendam ini dibalas?” To Siok Keng bersenyum getir dan menghibur. „Nasi sudah menjadi bubur. Tak usah kita bicarakan lagi! Sekarang kita harus melihat ke depan, dan berusaha mencari jalan menyelamatkan diri agar......” Belum selesai ucapan itu ketika mereka mendengar derap kaki orang yang berlari-lari mendatangi.
607
To Siok Keng maupun Wei Beng Yan terkejut. „Kita tak dapat melarikan diri lagi! Kita akan terbunuh juga!” pikir mereka berdua. ◄Y► Pesat sekali orang yang berlari-lari itu, yang dalam sekejap saja sudah berada di hadapan mereka! Siapakah gerangan yang baru datang itu? Dia ternyata bukan Pek Tiong Thian! Dia itu adalah si kakek pincang Ouw Lo Si, si Ahli nujum kipas baja! Semula Wei Beng Yan tampaknya tidak percaya akan apa yang dilihatnya itu. Tapi sejenak kemudian mendadak wajahnya berubah jadi beringas ketika mengingat bahwa si pincang inilah yang telah meracuni sehingga ia kehilangan tenaga dalamnya. Dan si pincang inilah yang menjadi sebab utama sehingga Lee Beng Yan, Song Thian Hui, Lim Ceng Yao ke tiga susioknya dan Lo Hok, si pelayan setia, kehilangan jiwanya masing-masing! Tigapuluh Lima Pada saat itu Wei Beng Yan hanya bisa merasa gusar bukan main tanpa dapat memberikan ganjaran setimpal kepala kakek yang licik itu, karena pada saat itu tenaga dalamnya belum pulih seluruhnya.
608
„Sumoay.......” bisiknya kepada To Siok Keng. „Kakek inilah yang bernama Ouw Lo Si, orang yang telah memberikan aku ke TIGA SAMPUL MAUT!” To Siok Keng, mengawasi Ouw Lo Si dari atas hingga ke bawah, kemudian sambil berbisik ia menanya. „Apa yang dikehendaki olehnya kini??” Wei Beng Yan tidak menjawab pertanyaan gadis itu, ia sebaliknya jadi melotot dan membentak. „Hei, anjing pincang! Sungguh tidak dinyana watakmu lebih mirip watak binatang dari pada watak manusia!” Ouw Lo Si melangkah mundur bahna kagetnya mendengar bentakan yang keras itu. Ia segera mengetahui bahwa pemuda itu tentu telah membuka ketiga sampul suratnya. Ia merasa heran sekali, mengapa setelah membaca suratnya yang ketiga, pemuda itu masih segar bugar. Tapi sebagaimana layaknya orang yang bersalah, orang itu pasti berhati kecil, begitulah sama halnya dengan si kakek pincang itu. „Wei siohiap!” katanya merendah, „kaupun berada di sini? Siapakah siocia ini?” Wei Beng Yan tidak menyahut, kedua matanya bersinar karena gusarnya.
609
Ouw Lo Si jadi menggigil ditatap demikian, dengan suara terputus-putus ia berkata lagi. „Apakah...... siohiap sudah mengetahui...... siapa...... siapa yang telah menyamar sebagai gurumu? Jika..... jika belum, aku dapat menjelaskan dan memberikan bukti-bukti......” To Siok Keng segera memberi isyarat agar Wei Beng Yan tidak bertindak sembarangan, dan karena anjuran itulah, Wei Beng Yan jadi merasa kasihan juga pada kakek pincang itu. „Aku sudah tahu siapa jahanam yang telah menyamar sebagai guruku itu!” sahutnya ketus. „Pembunuhan besar-besaran atas seluruh keluarga siocia inipun adalah perbuatan jahanam she Pek itu juga!” Ouw Lo Si terkejut sekali mendengar keterangan itu. Tiba-tiba saja ia jadi teringat akan Kiu It, saudara angkatnya, yang telah dibunuh bersama seluruh keluarganya. „Siapakah sebetulnya siocia ini?” tanyanya sambil mengawasi To Siok Keng dengan matanya yang tinggal sebelah itu. „Siocia ini adalah puteri Kiu It Locianpwee yang bernama Kiu Su Yin!” sahut Wei Beng Yan. Sebelah mata Ouw Lo Si yang sedang mengawasi To Siok Keng tiba-tiba terbelalak, mukanya mendadak jadi tampak terharu sekali, kemudian dengan suara tergetar ia berkata.
610
„Hai! Tidak...... tidak kusangka aku masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan puteri saudara angkatku, Kiu It!” To Siok Keng pun merasa terharu sekali mengetahui si kakek pincang adalah saudara angkat ayahnya almarhum. Ia hanya tidak mengerti mengapa Ouw Lo Si bersikap demikian keji memberikan racun kepada Wei Beng Yan. Dengan wajah masih sedih, Ouw Lo Si menoleh kepada Wei Beng Yan dan berkata lagi. „Wei siohiap, jika kau sudah mengetahui bahwa Pek Tiong Thian telah menyamar sebagai gurumu, mengapa kau tidak membunuh jahanam itu dengan ilmu Thay-yang-sin-jiauw?” Wei Beng Yan tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena ia sudah gemas sekali melihat wajah Ouw Lo Si yang telah membuatnya tidak berdaya melancarkan ilmunya yang dahsyat itu. To Siok Keng yang pun merasa jengkel dengan kakek itu, lekas-lekas berkata sambil menyindir. „Ouw Locianpwee, sebetulnya aku harus memanggilmu susiok bukankah?” „Ya......” sahut Ouw Lo Si. „Baiklah, mulai saat ini aku akan memanggilmu susiok! Susiok ingin mengetahui mengapa suko ku belum menggempur Pek Tiong Thian?”
611
„Ya.......” „Karena suko ku telah dianiaya secara licin sekali oleh seseorang sehingga ia kehilangan tenaganya dan tidak mampu melancarkan ilmu Thay-yang-sin-jiauw!” „O......” „Dan Pek Tiong Thian tadi sudah datang di markas Lee Beng Yan Locianpwee. Setelah bertempur mati-matian, akhirnya Lee locianpwee bersama-sama Lim Ceng Yao dan Song Thian Hui Locianpwee telah dibunuh oleh jahanam itu!” To Siok Keng berhenti sejenak dan mengawasi Ouw Lo Si yang sedang berdiri terpaku. „Bahkan suko ku juga sudah dilukai oleh jahanam itu!” To Siok Keng melanjutkan. „Aai! Karena orang yang keji itu menganiaya suko ku, Pek Tiong Thian jadi hidup terus dan bertindak sewenang-wenang di kalangan Kang-ouw!” Bukan main terharu hati Ouw Lo Si mendengar sindiran tajam itu. Dan pada saat itu juga ia sudah merasa menyesal sekali atas perbuatan yang memang sangat keji itu. To Siok Keng dapat membaca pikiran kakek itu, dan ia sengaja bertanya. „Susiok, mengapa kau jadi demikian muram? Apakah kau juga takut dibunuh oleh Pek Tiong Thian? Bukankah orang yang menganiaya suko ku itu harus diganyang terlebih dulu?”
612
Dari nada suara gadis itu Ouw Lo Si sudah dapat menduga bahwa kedua pemuda dan pemudi itu sudah mengetahui bahwa dialah, yang telah menaruhkan racun dan menganiaya Wei Beng Yan. Pada saat yang gawat itu dengan nada yang menyesal ia menanya. „Kalian sudah mengetahui siapa yang......” Tiba-tiba mereka semua dibikin terkejut oleh suara orang yang mengejek. „Ha! Tiga anjing sudah berkumpul di sini!” Mereka terpaku mendengar suara ejekan itu, karena suara itu adalah suara yang tidak asing lagi bagi mereka. Lekas-lekas mereka menoleh ke arah suara itu, dan melihat Pek Tiong Thian meloncat turun dari satu dahan pohon yang besar tidak beberapa jauh dari sumur itu! To Siok Keng mulai berkata dengan beringas kepada Ouw Lo Si. „Karena kau, kita sekarang semua akan mati konyol! Dan karena kau Khouw Tay-hiap, saudara angkatmu juga telah tewas dibunuh oleh Hua Ceng Kin! Kouw Tay-hiap tak akan terbunuh jika Suko ku dapat melancarkan Thay-yang-sin-jiauw untuk membunuh iblis wanita Hua Ceng Kin itu!” Ouw Lo Si makin menjadi menyesal mendengar tewasnya Khouw Kong Hu juga sebab akibat perbuatannya yang keji!
613
Ia tiba-tiba memukul kepalanya sendiri seraya berkata. „Ai! Aku ini menganiaya Wei siohiap hanya untuk menganiaya aku sendiri dan membunuh saudara angkatku! Tetapi Wei siohiap masih dapat ditolong. Aku membawa obat yang mujarab untuk melenyapkan racun itu. Dan setelah makan obatku ini, setelah lewat 4 x 4 = 16 hari ia dapat memulihkan seluruh tenaga dan semangatnya!” To Siok Keng menyahut. „Suko ku telah ditolong oleh si orang sakti dari Sit-bie-keng. Aku kira dia tak lagi memerlukan obatmu itu! Setelah lewat tujuh hari, Suko ku sudah pasti dapat memulihkan tenaga dan semangatnya lagi! Tetapi.......” „Apa katamu? Orang sakti dari Sit-bie-keng?” tanya Ouw Lo Si. Ketika itu Pek Tiong Thian sudah menghampiri dan berada hanya beberapa meter saja dari mereka, maka iapun dapat mendengar pertanyaan Ouw Lo Si yang menanya dengan suara yang agak keras itu. Pek Tiong Thian juga terperanjat mendengar orang sakti dari Sit-bie-keng disebut-sebut oleh Ouw Lo Si, karena dengan obat dari orang sakti itu, ia yakin ia dapat mengobati kedua betisnya dan ia tak memerlukan lagi betis dan kaki palsu yang dibuat dari logam! Iapun menanya meskipun tidak diajak bercakap-cakap.
614
„Apa kau bilang? Orang sakti dari Sit-bie-keng?!” lalu ia tertawa gelak-gelak. Ouw Lo Si yang sudah menyesal akan perbuatannya terhadap Wei Beng Yan, sekarang menjadi beringas menghadapi Pek Tiong Thian yang telah membunuh mati dua saudara angkatnya, Kiu It dan Khouw Kong Hu, meskipun pembunuhan terhadap Khouw Kong Hu tidak langsung dilakukan olehnya. Dengan gusar ia membentak. ,,Hei! Bangsat she Pek! Apa yang kau tertawai?!” Pek Tiong Thian sambil terus tertawa menyahut. „Kalian bertiga sudah pasti akan mati di tanganku! Tetapi kalian masih saja bermimpi! Bukankah itu lucu?” „Kaulah yang bermimpi!” bentak Wei Beng Yan. Sebetulnya mereka bertiga itu sudah tiada harapan lagi, sembarang waktu Pek Tiong Thian dapat turun tangan membunuh mereka. Pek Tiong Thian sudah yakin bahwa mereka bertiga tak dapat meloloskan diri lagi, dan ia dapat membunuh mereka menurut kehendak dan dengan caranya sendiri. Ia tak perlu terburu napsu. Maka ia berkata. „Orang sakti dari Sit-bie-keng itu tidak mau turut campur urusan orang lain. Pendirian hidupnya aku sudah mengetahui ia tidak sudi menolong ataupun menganiaya orang. Jika dibilang ia telah
615
menolong kalian bukankah kalian ini sedang bermimpi? Ha! Ha! Ha!” „Jahanam!” bentak To Siok Keng, “Masih ingatkah kau akan Kiu It?” „Kiu It!” Pek Tiong Thian balik menanya. „Pernah apa kau dengan si orang she Kiu itu?” „Beliau adalah ayahku!” Pek Tiong Thian mengawasi sejenak, sesaat kemudiaa ia tertawa berkakak seram seraya berkata. „Dulu kau dapat lolos dari tanganku, tapi kini akhirnya tokh kita berjumpa lagi! Kau tadi mengatakan bahwa anjing kecil kawanmu ini telah ditolong oleh si kakek dari Sit-bie-keng?” „Betul!” Pek Tiong Thian yang berwatak kejam, dan setelah kedua betisnya menjadi lumpuh terpaksa harus bersembunyi di suatu rumah gubuk kecil dekat markas partai Tiang-pek di pegunungan Tiang-pek-san. Karena kedua kakinya telah dibikin cacad, wataknya yang kejam jadi terlebih kejam lagi. Ia bertekad membasmi semua orang pandai di kalangan Bu-lim dengan cara yang kejam serta keji. Pembunuhan-pembunuhan yang telah dilakukannya terhadap Kiu It dan sanak keluarga, kedua saudara Kim, Pendeta wanita Ceng
616
Sim Lo-ni, ke tiga saudara Tie, Bak Kiam Taysu serta paman guru dan murid-murid pendeta itu, Kong-ya Coat, Liong Kie Thian, Leng Cui, Siauw Cu Gie, Siauw Bie dan paling akhir ia membunuh Lim Ceng Yao, Song Thian Hui dan Lee Beng Yan adalah suatu bukti yang tidak dapat diragukan lagi akan kekejamannya yang betul-betul melampau batas prikemanusiaan! Kini untuk membunuh To Siok Keng, Wei Beng Yan dan Ouw Lo Si yang pernah menipunya mentah-mentah, ia akan membunuhnya dengan cara yang terlebih kejam lagi. Ia akan mempermainkan mereka bertiga seperti seekor kucing mempermainkan seekor tikus sebelum si kucing sendiri membunuh tikus-tikus itu. Ia melangkah maju beberapa langkah, dengan tiba-tiba saja ia menjotos ke arah pundak gadis itu. To Siok Keng sudah siap, begitu melihat lawannya menyerang ia segera menangkis sambil meloncat ke samping. Baru ia ingin balas menyerang ketika tampak Ouw Lo Si menggeprak kipas bajanya ke arah punggung Pek Tiong Thian. Ia ingin menyiksa mereka sehebat-hebatnya sebelum ia membasmi ketiga orang itu dengan sarung tangan mujizatnya Ciam-hua-giok-siu! Hembusan angin kipas baja Ouw Lo Si, telah terasa olehnya, maka lekas-lekas ia mengegos untuk kemudian berbalik sambil melepaskan tinjunya dengan jurus Yan-hui-ceng-mia atau Angin topan menghalau asap dan abu, sehingga Ouw Lo Si terpental
617
beberapa meter jauhnya! Serentak dengan itu, ia lagi-lagi menyerang si gadis. Tetapi tidak percuma To Siok Keng menjadi murid Thian-hiang-sian-cu, isteri kesayangan Yu Leng, yang semasa hidupnya telah mencatat ilmu-ilmunya untuk kemudian dijadikan sejilid kitab yang berjudul Kok-cit-po-lek. Dengan menggunakan salah satu jurus yang tercatat dalam kitab pusaka itulah, si gadis she To, dengan mudah saja mengelakkan serangan lawannya itu. Meskipun penasaran melihat serangan yang secepat kilat itu dapat dielakkan, Pek Tiong Thian tidak lantas menyerang lagi. Ia mengawasi gadis itu dengan beringas seraya berkata. „Kau mengaku sebagai murid Thian-hiang-sian-cu, apakah jurus yang tadi kau pelajari dari gurumu itu?” „Tentu saja! Apakah kau kira aku barusan kebetulan saja dapat mengelakkan seranganmu tadi?” sahut To Siok Keng sambil mengejek. „Aku belum pernah mendengar Thian-hiang-sian-cu mempunyai murid, pengakuanmu tadi tentu untuk menggertak-gertak saja, betul tidak?” „Kau percaya atau tidak itu terserah!” Pek Tiong Thian mendadak memekik tinggi sambil menyerang dengan jurus Tie-ciang-pa-ciong atau palu besi menumbuk tembok.
618
To Siok Keng meloncat mundur mengelakkan serangan itu, tetapi belum lagi ke dua kakinya berdiri jejak, ketika serangan, yang kedua sudah menerjang lagi. Lekas-lekas ia meloncat ke samping, namun tiba-tiba ia merasa pundak kirinya jadi panas seolah-olah peredaran darahnya di bagian itu terhenti. „Celaka!” katanya dalam hati. Lekas-lekas ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan totokan yang menyumbat jalan darahnya itu, tetapi untuk sementara waktu lengan kirinya menjadi lumpuh! Pertarungan itu baru saja berlangsung tiga jurus, tetapi ternyata si gadis she To tidak sanggup melayani lawannya, yang dengan lincah sekali telah berhasil mencengkeram batang lehernya! Wei Beng Yan menjadi cemas melihat kesudahan itu. „Hei, jahanam she Pek!” bentaknya gusar, „lepaskan gadis itu!” Pek Tiong Thian tertawa berkakakan mengguntur. „Anjing kecil! Apa tebusannya jika aku melepaskan gadis ini?” tanyanya seram. Untuk menolong To Siok Keng yang telah banyak kali menolong jiwanya, Wei Beng Yan rela mengorbankan apa saja bahkan jiwanya sendiri. „Apa yang kau kehendaki sebagai tebusan?” tanyanya tegas.
619
Sementara itu, Ouw Lo Si yang sudah dilemparkan tadi, merasa pusingnya sudah mulai menghilang, pandangannya pun sudah mulai terang kembali, tetapi ia masih terus mengerahkan tenaga dalamnya. „Dapatkah kau memenuhi syarat tebusanku?” tanya Pek Tiong Thian yang sudah merasa yakin betul ke tiga orang itu akan ditelannya mentah-mentah. „Katakanlah! Dan lepaskanlah dulu gadis itu!” bentak Wei Beng Yan. „Ha, ha, ha! Jika kau betul-betul seorang laki-laki. Setelah mendengar syaratku, kau tentu tidak sudi menawar-nawar lagi bukan?” Tanpa pikir panjang lagi, Wei Beng Yan segera menyanggupi dengan menganggukkan kepalanya. „Tentu!” sahutnya. „Aku pasti akan melaksanakan syaratmu itu! Ayohlah lepaskan gadis itu!” „Suko, jangan gegabah!” seru To Siok Keng. „Dia mungkin akan meminta yang bukan-bukan!” „Ya......” Ouw Lo Si turut bicara. „Jangan Wei siohiap kena dicurangi oleh jahanam she Pek yang telah membunuh kawan akrabnya sendiri, Kiu It!” Pek Tiong Thian melirik ke arah si kakek pincang tetapi ia lalu berkata lagi kepada Wei Beng Yan.
620
„Dengarlah baik-baik syaratku ini! Aku akan melepaskan gadis itu dan kau harus mengorek kedua biji matamu!” „Suko, jangan!” seru To Siok Keng terkejut mendengar permintaan Pek Tiong Thian yang kejam itu. Ouw Lo Si yang sudah merasa tobat meloncat dan menyergap Wei Beng Yan yang ternyata tidak menghiraukan permintaan To Siok Keng. Si pemuda she Wei sudah siap untuk mengorek kedua biji matanya. „Wei siohiap,” seru Ouw Lo Si sambil memeluk tubuh Wei Beng Yan. „Kau seorang yang luhur, tetapi apakah kau mengetahui watak jahanam ini? Jangan kau kena tipunya, dia pasti akan mengingkari janjinya sendiri!” Pek Tiong Thian memperlihatkan senyum iblisnya seraya berkata. „Ayohlah, laksanakan syaratku tadi! Koreklah kedua biji matamu atau gadis ini akan mati dalam cengkeramanku!” „Jangan lakukan permintaan jahanam itu!” bisik Ouw Lo Si. „Setelah kau menjadi buta, To siocia juga akan dibunuh oleh jahanam itu. Percayalah padaku, Wei siohiap!” Wei Beng Yan melepaskan tangan Ouw Lo Si yang memeluk tubuhnya seraya berkata kepada Pek Tiong Thian. „Jika kau melepaskan gadis itu sekarang, aku akan mengorek dua biji mataku!”
621
„Hei, pincang! Kau mau turut campur juga dalam urusanku ini?” tanya Pek Tiong Thian beringas. „Hee, hee, hee! Aku, si pincang tidak takut mati lagi sekarang!” sahut Ouw Lo Si tenang, „aku sudah mengetahui siapa kau, kau binatang alas!” „Kau pernah menipu aku dulu, kali ini kau tidak akan dapat lolos lagi dari tanganku,” bentak Pek Tiong Thian, „Kiu It pernah menipu aku, dan dia sudah menerima ganjarannya! Sekarang adalah giliranmu untuk menyusul kawanmu itu ke neraka! Tetapi sebelum kau mati, kau akan merasakan suatu siksaan hebat!” Ouw Lo Si merasa seolah-olah hatinya disayat mendengar disebutnya nama Kiu It. Ia bermaksud membalas dendam terhadap Wei Tan Wi yang telah membikin sebelah kakinya pincang dengan memberikan racun kepada putera orang she Wei itu. Tetapi sekarang ternyata perbuatannya yang keji itu telah membuat Wei Beng Yan jadi kehilangan tenaga dalamnya dan tidak mampu melancarkan ilmu Thay-yang-sin-jiauw. Ia kini tengah menderita tekanan batin yang hebat sekali atas perbuatannya dulu itu, dan ia bertekad melawan Pek Tiong Thian hingga titik darahnya yang terakhir untuk menebus dosa-dosanya itu. Ia terkenal sebagai si Ahli nujum yang otaknya penuh dengan tipu-tipu muslihat, karena mengetahui bahwa untuk bertempur dengan Pek Tiong Thian, ia pasti akan kalah, maka ia bermaksud mempergunakan keahliannya sebagai ahli nujum untuk membela
622
Wei Beng Yan dan To Siok Keng tanpa menghiraukan jiwanya sendiri! „Aku memang ingin pergi ke neraka!” katanya, „mungkin di sana keadaannya akan terlebih ramai lagi daripada di dunia ini. Di sana aku akan menjumpai saudara-saudara angkatku Kiu It dan Khouw Kong Hu. Jika kau ingin menyiksa aku sebelum aku mati, aku yakin namaku di neraka akan jadi tambah terkenal saja! Ha, ha, ha!” „Hei, Pek Tiong Thian!” bentak To Siok Keng yang masih dicengkeram batang lehernya. „Jika kau ingin membunuh aku, ayohlah bunuh! Mengapa kau menggertak-gertak orang tidak karuan?” „Sabar anjing betina! Kalian bertiga, akan mati secara bergilir, yalah satu setelah yang lain, aku tidak takut kalian dapat melarikan diri, maka mengapa aku harus tergesa-gesa?” „Mengapa kau masih mencengkeram aku jika kau tidak takut kita nanti melarikan diri?” tanya lagi To Siok Keng. Pek Tiong Thian yang congkak mendadak merasa jengah mendengar ucapan yang beralasan itu, lekas-lekas ia mendorong sambil melepaskan cengkeramnya sehingga si gadis she To terjerumus dan hampir roboh. „Aku lepaskan kau sekarang!” katanya. „Aku tadinya mengira kau sebagai murid Thian-hiang-sian-cu memiliki ilmu yang lihay sekali, tetapi kenyataannya, baru tiga jurus kau sudah aku kalahkan! Ha, ha, ha!”
623
Begitu dibebaskan, To Siok Keng segera berdiri di samping Wei Beng Yan sambil mengawasi gerak gerik Pek Tiong Thian. Ouw Lo Si meremas-remas kipas bajanya dan sudah siap menyerang pada tiap saat. „Hai, anjing betina!” bentak Pek Tiong Thian. „Kau tadi mengatakan bahwa si anjing she Wei telah ditolong oleh orang sakti dari Sit-bie-keng?” „Aku tidak berdusta!” sahut To Siok Keng. Pek Tiong Thian menatap gadis itu. Ia mendadak teringat akan ucapan Kiu It dulu, ketika ia masih rebah dalam gubuk dengan kaki yang sudah lumpuh. „Pek heng, kita berkawan sudah puluhan tahun lamanya, urusan kau seperti juga urusanku sendiri. Setelah Ciam-hua-giok-siu berada dalam tanganku, aku akan segera pergi ke goa Long-ya untuk mencari orang sakti yang kau bilang, dan dengan mustika itu, aku akan minta obat yang mustajab untuk menyembuhkan kedua betismu yang cacad itu!” Demikianlah, suara Kiu It yang tetap dibunuhnya, mendengung dalam telinganya. „Apa yang kalian berikan kepada orang sakti itu sehingga ia mau menolong juga?” tanyanya.
624
„Apakah kau kira semua orang berwatak sepertimu? Tidak semua orang mengharapkan hadiah-hadiah jika menolong!” ejek To Siok Keng. „Kau tidak memberikan apapun kepada orang itu?” „Tidak! Mengapa kau menganggap demikian rendah kepada orang sakti itu?” „Tidak bisa! Tidak bisa jadi!” „Kau tidak percaya??” „Tidak! Orang itu pasti bukan dari Sit-bie-keng!” „Beranikah kau bertaruh? Aku berani memastikan bahwa orang itu datang dari Sit-bie-keng!” „Ha, ha, ha! Kalian sudah hampir masuk liang kubur, apa gunanya kita bertaruh?” To Siok Keng jadi melotot melihat kecongkakan Pek Tiong Thian itu. „Aku mengajak kau bertaruh justru untuk membikin kau yang akan masuk ke dalam lubang kubur!” bentaknya, „Ayohlah katakan, beranikah kau bertaruh?” Pek Tiong Thian menggertak giginya. „Bagaimana ingin kau bertaruh?” tanya sengit.
625
„Kau tidak percaya bahwa orang sakti dari Sit-bie-keng sudi menolong orang, tapi ternyata orang sakti itu telah menolong suko ku.” „Lalu bagaimana?” „Kita akan bertaruh dengan cara ini. Kau harus memberikan cukup waktu kepada Suko ku, yalah kira-kira satu minggu dan setelah lewat jangka waktu itu, kau pasti mati digempur oleh Thay-yang-sin-jiauw! Jika perlu kita pun akan memanggil orang sakti itu untuk datang di sini dan menjumpaimu!” Tigapuluh Enam Pek Tiong Thian tertawa berkakakan, „Hei. anjing betina!” katanya mengejek. „Harus aku akui bahwa kau memang sangat pintar, tetapi jangan kau menganggap aku sebagai orang yang tolol! Mungkin setelah lewat satu minggu, anjing laki-laki akan menghilang dari dunia persilatan!” „Suko ku adalah seorang yang luhur, dia pasti tidak berani mengingkari janjinya!” sahut To Siok Keng. „Tetapi, mengapa harus menunggu hingga satu minggu? Bukankah dia sekarang dapat menyerang aku dengan ilmu yang disanjung-sanjung itu?” To Siok Keng berpikir sebentar. Ia tidak berani memberitahukan hal yang sebenarnya telah terjadi atas diri Wei Beng Yan, karena ia khawatir Pek Tiong Thian akan segera menggempur mereka jika
626
jahanam itu mengetahui bahwa suko nya kini sudah kehilangan tenaga dalamnya. „Aku belum dapat memberitahukan itu......,” sahutnya. „Sudahlah, jika kau tidak mau memberitahukan! Tetapi, bukankah anjing kecil itu pernah menggempur aku dengan Thay-yang-sin-jiauw di puncak Cie-sin-hong? Coba kau lihat, aku masih segar bugar, ilmu yang disanjung-sanjung itu ternyata tidak mampu membuktikan kelihayannya atas diriku!” „Beranikah kau menerima tantanganku tadi?” „Tentu saja aku berani! Di kolong langit ini tidak ada suatu ilmu atau seorang pun yang mampu menewaskan aku! Ketahuilah, aku adalah si jago sapu jagad yang tidak mungkin dipecundangi oleh siapapun!” „Pegang janjimu, jahanam! Satu minggu lagi kita akan berjumpa lagi di tempat dan pada jam yang sama pula!” „Ha, ha, ha! Aku pasti akan datang di sini, tetapi jika kalian sendiri tidak muncul nanti, ke langitpun kalian melarikan diri aku akan mengejarnya!” Setelah berkata demikian, Pek Tiong Thian betul-betul membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi. „Susiok,” kata To Siok Keng kepada Ouw Lo Si, „Jika kau mempunyai lain urusan, pergilah bereskan urusan itu dan biarlah kita berdua saja yang menghadapi si jahanam she Pek itu!”
627
„Anak mengapa kau berkata demikian?” sahut Ouw Lo Si, „Apakah kau menganggap aku akan melarikan diri begitu saja? Aku kini sudah merasa menyesal sekali atas perbuatanku meracuni Wei siohiap. Aku kini bertekad membantu kalian meskipun aku mengetahui bahwa si jahanam she Pek itu sangat lihay!” Wei Beng Yan yang semula sudah merasa sengit sekali kepada kakek pincang itu, jadi berbalik merasa kasihan melihat ketobatan Ouw Lo Si itu. „Ouw Locianpwee,” katanya, „Biarlah yang sudah tinggal sudah. Mengapa perbuatan itu harus disesalkan terus menerus?” „Wei siohiap, apakah kaupun tidak sudi menerima aku sebagai kawan?” tanya Ouw Lo-si. „Apakah aku tidak berhak membantu kalian membasmi seorang jahanam?” „Tapi......” „Wei siohiap! Aku minta dengan sangat agar kau tidak menganggap aku sebagai musuh ayahmu. Aku telah memberikan kau racun dan kini aku mengharap membantumu dengan segenap jiwa ragaku!” To Siok Keng terharu sekali melihat sikap Ouw Lo Si itu, maka lekas-lekas ia berkata kepada Wei Beng Yan. „Suko, berilah kesempatan agar Ouw locianpwee dapat merasakan ketenteraman jiwa, lagi pula dengan membantu kita ia pun dapat membalaskan sakit hati saudara angkatnya, Khouw Kong Hu dan Kiu It, ayahku!”
628
Sebagai seorang yang berhati luhur, Wei Beng Yan tidak bisa merasa dendam terus menerus kepada seseorang yang telah mengakui akan kesalahan atau dosanya. Meskipun si kakek pincang pernah bermaksud mengambil jiwanya dengan menjerumuskannya dengan mengendus racun yang sifatnya sangat keji. „Baiklah,” sahutnya, „Kita akan menggempur si jahanam she Pek bersama-sama!” Ouw Lo Si tertawa terkekeh girang seraya berkata. „Untuk menantikan kedatangan si jahanam, aku mengusulkan kita mengambil saja rumah gedung Lee tay-hiap sebagai tempat beristirahat.” „Begitupun baik,” sahut To Siok Keng, „kita memang harus mengubur ketiga susiok suko ku di sana!” Begitulah mereka lalu menuju ke gedung yang dimaksud itu. Setibanya di sana, rasa menyesal Ouw Lo Si meracuni Wei Beng Yan jadi bertambah-tambah saja. „Jika aku tidak berbuat sekeji apa yang telah aku perbuat,” katanya dalam hati, „mungkin Khouw Kong Hu, Lim Ceng Yao, Lee Beng Yan, Song Thian Hui dan seorang pelayan setia mereka ini tidak akan menemukan ajalnya demikian menyedihkan. Bahkan Pek Tiong Thian mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini.....”
629
Setelah itu, ia lalu membantu muda mudi itu mengubur jenazah-jenazah ke empat orang dan memisahkan mayat Hua Ceng Kin yang sudah tidak berkepala di suatu tempat. „Ouw Locianpwee,” kata Wei Beng Yan, „Apa yang ingin kau lakukan terhadap mayat jahanam itu?” Ouw Lo Si bersenyum getir. „Aku akan menggantungnya,” sahutnya sambil menatap mayatnya Hua Ceng Kin. „Untuk kemudian memuaskan arwah Khouw Kong Hu di alam baka!” „Apakah perbuatan itu tidak terlalu kejam, biadab?” „Wei siohiap, jika semua orang di dunia ini berpikiran sepertimu, kalangan Kang-ouw niscaya akan aman tenteram! Jahanam she Hua ini adalah salah seorang yang membunuh ayahmu, di samping itu, iapun telah membunuh Khouw Kong Hu dan entah siapa lagi. Dia harus menerima hukuman-hukuman meskipun telah menjadi mayat!” Wei Beng Yan menoleh kepada To Siok Keng seolah-olah ingin menanyakan apakah gadis itu setuju akan perbuatan kakek pincang itu. „Biarlah Ouw Locianpwee berbuat apa saja terhadap mayat itu,” kata To Siok Keng. „Aku tidak merasa keberatan.......” Begitulah, setelah melihat Wei Beng Yan tidak mengatakan apa-apa, Ouw Lo Si segera menggantung mayat Hua Ceng Kin di atas
630
sebuah pohon. Ia lalu mencari minyak di dalam gedung Lee Beng Yan, tidak lama kemudian, suatu adegan seram terjadi, mayat Hua Ceng Kin yang digantung terbalik, yang sudah tidak berkepala lagi, terbakar sambil mengeluarkan suara yang memilukan hati! Wei Beng Yan lekas-lekas mengajak To Siok Keng masuk ke dalam gedung, karena ia tidak tahan melihat dan membaui apa yang tengah dilakukan oleh Ouw Lo Si itu. Setelah menunggu lama juga dalam gedung itu, baru tampak Ouw Lo Si berjalan masuk dengan wajah putus asa sekali. Begitu berada di hadapan kedua muda mudi itu, ia lalu berkata. „Wei siohiap, kau telah diobati oleh orang sakti dari Sit-bi-keng, dan aku kira tidak jeleknya jika akupun membantu kau memulihkan tenaga dalammu dengan memberikan kau obat pemunah racun buatan aku sendiri.....” Wei Beng Yan dan To Siok Keng tidak menyahut. Mereka merasa agak sangsi akan kemustajaban obat yang dimaksud oleh kakek pincang itu. „Aku mengetahui obatku itu baru bisa menyembuhkanmu dalam waktu 14 hari, dan pijatan orang sakti dari Sit-bie-keng bisa memulihkan semangatmu dalam waktu 7 hari, tapi...... jika kedua pengobatan itu dipadu menjadi satu, bukankah akan jadi terlebih baik lagi?” kata Ouw Lo Si lagi. Wei Beng Yan bersenyum seraya menyahut.
631
„Apakah obat Ouw Locianpwee itu tidak akan mengganggu pijatan orang sakti dari Sit-bie-keng?” Ouw Lo Si agaknya merasa tersinggung juga mendengar ucapan itu, tapi iapun bersenyum dan berkata lagi. „Aku bukan seorang ahli pengobatan atau sin-she, tapi apa yang aku ketahui bahwa pijatan tidak ada sangkut pautnya dengan obat buatanku itu.......” To Siok Keng mengedipkan matanya kepada Wei Beng Yan sebagai isyarat agar pemuda itu mau juga menerima obat kakek pincang itu. „Susiok,” katanya, „suko ku bukan mencurigakan ketulusan hatimu, yah, jika kau menganggap obat buatanmu itu tidak akan mengganggu, aku kira memang tidak salahnya jika kau berikan saja obat itu......” Wajah Ouw Lo Si berubah gembira, ia merogo sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisikan beberapa butir pil yang berwarna hijau. „Aku menamakan obatku ini pil Nagasari,” katanya. „Pil tidak tampak luar biasa, namun khasiatnya terhadap racun tidak dapat diragukan lagi!” Ia menyodorkan dua butir pil kepada Wei Beng Yan seraya melanjutkan.
632
„Wei siohiap, kau telanlah pil ini, dan jangan sangsi akan kelurusan hatiku!” Wei Beng Yan menerima pil itu yang segera dan tanpa sangsi lagi, dimasukkan ke dalam mulutnya. Dalam tanya jawab selanjutnya, Ouw Lo Si berkesempatan juga menanyakan bagaimana To Siok Keng bisa meloloskan diri dari keganasan ketika seluruh anggota keluarganya dibunuh habis oleh Pek Tiong Thian. „Aku bahkan merasa heran sekali kau bisa jadi murid satu-satunya Thian-hiang-sian-cu!” kata si kakek pincang akhirnya. „Mungkin Tuhan masih belum mau menerima aku dalam usiaku yang semuda ini!” sahut To Siok Keng. „Dan oleh karena itu pula aku jadi beruntung menemui kitab catatan ilmu-ilmu Thian-hiang-sian-cu, sehingga aku diakui sebagai murid Gui Su Nio!” Ouw Lo Si mengangguk-anggukkan kepalanya dan merasa terharu sekali akan nasib gadis itu. „Ouw Locianpwee.” kata Wei Beng Yan, „tadi si jahanam mengatakan kau pernah menipunya, soal apakah itu?” Ouw Lo Si melirik tajam ditanyakan demikian. Ia merasa agak ragu-ragu untuk memberitahukan maksud yang sesungguhnya daripada kunjungannya ke kuil Cit-po-sie, yalah untuk menanyakan kepada Bak Kiam Taysu bagaimana menggunakan Tok-beng-oey-hong!
633
Ia bermaksud tidak memberitahukan bahwa Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan, pada saat itu juga berada dalam sepatunya. „Pek Tiong Thian pernah menanyakan padaku tentang Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan, dan aku dengan sembarangan saja menggatakan bahwa kedua benda mujizat itu disembunyikan di dekat mulut lembah Yu-leng kok.......” sahut Ouw Lo Si berdusta, „mungkin jahanam itu telah pergi ke lembah itu dan tidak berhasil menemukan apa yang memang sedang dicari-carinya itu, sehingga ia menganggap aku telah menipunya!” To Siok Keng mengerutkan keningnya, begitupun Wei Beng Yan mendengar disebutnya kedua benda mujizat yang juga sedang mereka cari-cari itu. „Dari siapa Susiok mengetahui Tok-beng-oey-hong disembunyikan di depan mulut lembah Yu-leng-kok?” tanya To Siok Keng heran. „O...... aku hanya menebak-nebak saja secara sembarangan...... mengapa kalian pun agaknya keranjingan pada benda itu?” „Susiok, aku khawatir jika dalam waktu satu minggu ini suko ku tidak berhasil memulihkan tenaganya. Bagaimana jika tenaganya baru kembali seluruhnya setelah waktu yang telah dijanjikan kepada Pek Tiong Thian lewat? Bukankah itu berarti kita semua akan mati konyol di sini?” „Tapi, apa hubungannya itu semua dengan Tok-beng-oey-hong?”
634
„Karena jika benda mujizat itu berada dalam tanganku, meskipun suko ku tidak berhasil memulihkan tenaganya dalam satu minggu, Pek Tiong Thian pasti tewas!” „Maksudmu, kau mengetahui cara menggunakan benda mujizat itu?” „Betul!” „Bisakah kau melukiskan bentuk benda itu?” „Benda itu merupakan selubung kuningan!” „Tahukah kan cara menggunakan benda itu?” „Susiok, aku adalah murid Thian-hiang-sian-cu melalui kitab Kok-cit-po-lek, bukan saja aku telah mewarisi ilmu-ilmu guruku, tapi aku mengetahui juga cara menggunakan senjata rahasianya! Mengapa susiok menanyakan demikian?” „Aku...... aku harap dapat memberitahukan dimana tersimpannya benda mujizat itu. Aku...... aku pun khawatir jika tenaga dalam Wei siohiap gagal pulih kembali dalam waktu tujuh hari yang akan datang ini......” Sementara ketiga orang itu sedang bercakap-cakap, di luar gedung itu tampak seorang tengah berdiri di dekat jendela sambil memasang kupingnya. Dialah Pek Tiong Thian yang ternyata tidak segera berlalu dari tempat itu. Matanya mendadak melotot ketika mendengar Tok-
635
beng-oey-hong disebut-sebut, ia belum mau berlalu dan mendengari terus, namun tidak terdengar ketiga orang itu bercakap-cakap lagi. Karena Wei Beng Yan, To Siok Keng dan Ouw Lo Si sudah mengundurkan diri untuk beristirahat. Begitulah karena kecewanya ia lalu berjalan pergi. Di dalam kamarnya, Ouw Lo Si merebahkan diri sambil otaknya bekerja keras. Setelah meneliti seluruh ruangan kamarnya dan tidak melihat ada sesuatu yang mencurigakan, ia lalu mengeluarkan Tok-beng-oey-hong dari dalam sepatunya. Dengan hati-hati sekali ia lalu memeriksa benda yang senantiasa dibuat perebutan oleh orang-orang di kalangan Kang-ouw itu. „Betulkah benda ini demikian dahsyatnya sehingga mampu menewaskan orang yang berkepandaian seperti Pek Tiong Thian?” tanyanya dalam hati. „Apakah aku akan menyerahkan benda ini kepada puteri Kiu It, agar dia dapat membantu Wei Beng Yan menggempur si jahanam itu?” Demikianlah, pikirannya bekerja terus. Untuk menyerahkan selubung kuningan yang tampaknya biasa saja itu, ia merasa sayang juga, mengingat untuk memiliki benda itu, ia hampir saja kehilangan jiwanya sendiri di dekat mulut lembah Yu-leng-kok. Jika ia tidak menyerah, apakah Wei Beng Yan dapat melancarkan lagi ilmu Thay-yang-sin-jiauw dalam waktu satu minggu itu? Satu hari, dua hari, empat hari dan lima hari lewat tanpa terasa. Namun Ouw Lo Si belum juga berhasil mengambil keputusan.
636
Pada hari yang kelima itulah, ia dapat melihat Wei Beng Yan dan To Siok Keng mengadakan latihan hersama. Si pemuda menggerakkan kaki dan kedua tinju sambil meloncat-loncat mengelakkan serangan si gadis, dan apa yang dilihatnya itu membuat hatinya jadi cemas. Karena ternyata Wei Beng Yan tampaknya belum mampu melancarkan tenaga dalamnya dengan sempurna! „Terpaksa!” katanya dalam hati, „aku terpaksa harus menyerahkan juga Tok-beng-oey-hong kepada To Siok Keng. Jika tidak pasti kedua muda mudi itu termasuk aku sendiri pasti akan tewas diganyang oleh Pek Tiong Thian!” Ia mengawasi dari kejauhan dan menunggu dengan sabar selesainya latihan bersama itu. Tapi, mendadak terdengar Wei Beng Yan memanggilnya. „Ouw Locianpwee, marilah kita berlatih bersama!” serunya, „mungkin besok aku sudah bisa melancarkan lagi ilmu Thay-yang-sin-jiauw!” Ouw Lo Si berjalan menghampiri dan berkata. „Wei siohiap, aku bukan ingin mengecilkan hatimu, tapi, dari apa yang telah aku lihat tadi, aku merasa tenagamu belum bisa pulih seluruhnya pada esok hari!” Wei Beng Yan maupun To Siok Keng jadi melongo mendengar pendapat kakek pincang itu.
637
„Untuk mengetahui, apakah pendapat itu keliru, sudikah kau mencoba tenagamu kepada pohon itu?” tanya lagi Ouw Lo Si sambil menunjuk ke arah sebuah pohon yang tidak terlalu besar dahannya. „Ya...... itulah jalan yang terbaik untuk mengetahui apakah tenagamu sudah kembali lagi......” sahut To Siok Keng. „Ayohlah, gempur pohon itu!” Dengan hati berdebar-debar Wei Beng Yan berjalan menghampiri pohon yang ditunjuk oleh Ouw Lo Si tadi, ia baru berhenti berjalan ketika sudah berada kira-kira lima meter di hadapan pohon itu. „Jangan ragu-ragu, Wei siauhiap, seranglah!” seru Ouw Lo Si. Wei Beng Yan mendadak jadi agak sengit mendengar anjuran yang seolah-olah suatu ejekan itu. Ia mengangkat sebelah tangannya sambil perlahan-lahan mengerahkan tenaganya. Tiba-tiba ia memekik lantang dan......” „Brrr.......” Apa yang terjadi? Pohon yang diterjang hembusan angin Thay-yang-sin-jiauw itu hanya tergoncang dan tidak tumbang sebagaimana lazimnya pernah terjadi dulu ketika si pemuda she Wei belum mengendus racun Poa-gwat-tan! Wei Beng Yan memejamkan kedua matanya karena ia merasa kecewa sekali.
638
Ouw Lo Si segera mengeluarkan dari sepatunya sebuah selubung kuningan seraya berkata kepada To Siok Keng. „Anak Keng, apakah benda ini yang dipanggil Tok-beng-oey-hong?” Mata si gadis jadi terbelalak mengawasi benda yang terletak di atas telapak tangan kakek pincang itu. „Dari mana susiok memperoleh benda itu?” tanyanya sambil mengulur tangannya dan mengambil selubung kuningan itu untuk diteliti dengan cermat. „Aku memperoleh benda itu dari ketiga jahanam Tong-coan-sam-ok!” sahut Ouw Lo Si. „Tulenkah benda itu?” „Tulen!” Baru saja selesai sahutan gadis itu, ketika tiba-tiba terdngar suara orang tertawa berkakakan seram, bersamaan dengan itu tampak Pek Tiong Thian sudah berdiri di hadapan ketiga lawannya itu. Ternyata ia sudah tidak sabaran dan telah datang satu hari terlebih cepat! „Hei, jahanam!” bentak Ouw Lo Si, „mengapa kau sudah datang hari ini? Bukankah kau sudah berjanji untuk datang pada hari yang ketujuh?”
639
„Aku datang kapan saja aku kehendaki! Ha, ha, ha!” sahut Pek Tiong Thian. Lalu ia melanjutkan kepada Wei Beng Yan. „Hei, anjing! Mana itu orang sakti dari Sit-bie-keng?” „Hei, jahanam!” bentak To Siok Keng. „Tahukah kau benda apa yang berada dalam tanganku ini?” „Ha, ha, ha! Kau pernah mengingusi aku di atas puncak Cie-sin-hong, dan kali ini kau akan mampus!” seru Pek Tiong Thian sambil mengeluarkan Ciam-hua-giok-siu dari balik bajunya. Sementara itu, Wei Beng Yan diam-diam sudah mengerahkan tenaganya. Sebagai isyarat agar To Siok Keng menyerang berbareng ia segera berkata. „Hei, jahanam! Hari ini kau akan mati oleh Thay-yang-sin-jiauw!” Berbareng dengan berakhirnya kata-kata itu, tampak tangan kanannya diangkat ke atas. Tiba-tiba kelima jarinya membentang dan...... „Sssaaatt!!” Serunya lantang sambil menyerang ke arah dadanya lawannya. Pek Tiong Thian tidak menjadi kaget mendengar seruan yang seram itu, tetapi tampak ia terdorong mundur ke belakang sehingga tidak dapat melancarkan serangan dengan tangan yang memegang sarung tangan ajaib itu.
640
Justru pada saat ia mundur itulah, To Siok Keng dengan cepat sekali telah meloncat sambil melontarkan selubung kuningan ke arah kepala jahanam itu. Pek Tiong Thian yang menganggap bahwa si gadis tengah menjalankan tipu muslihat seperti di puncak Cie-sin-hong, acuh tak acuh menggeprak benda yang sedang meluncur di sebelah atas kepalanya itu. „Cring!!” Demikianlah terdengar suara yang nyaring sekali. Serentak dengan itu terdengar suara jeritan seram, tampak tubuh Pek Tiong Thian terhuyung untuk kemudian roboh di tanah! Sekujur tubuhnya telah tertancap dengan jarum halus yang sangat beracun, jarum Tok-beng-oey-hong! Demikianlah, dengan matinya Pek Tiong Thian ini, Ouw Lo Si lalu berpamitan untuk balik lagi ke tempatnya semula, yalah dengan menjadi si penjual arak di kaki gunung dekat lembah Yu-leng-kok. Dan setelah semangat serta tenaga Wei Beng Yan pulih seluruhnya, iapun mengajak To Siok Keng berangkat ke pegunungan Oey-san, dimana mereka menetap sebagai suami isteri yang rukun. T A M A T
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Gadis Sampul Maut Tamat Lansung ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 07 Mei 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments