Cerita ABG ke 14 PANL

----
“Acccch, begitu kiranya. Hmmmm, Bu Tek Seng Pay memang
harus menerima pembasalan atas semua yang mereka lakukan,
termasuk juga atas perlakuan dan pembunuhan yang mereka
lakukan atas Penghuni Lembah Cemara....” desis si Tangan Sakti,
Hoan Thian Kheng yang terlihat mengerti dengan alasan Cu Ying
Lun, tetapi juga geram dengan Bu Tek Seng Pay.
“Begitulah Gakhu, nach, sekarang marilah kuperkenalkan gakhu
dengan semua saudara seperguruanku yang kebetulan sudah
lengkap berada disini sejak beberapa hari yang lalu... mari gakhu”
berkata Cu Ying Lun sambil membuka jalan bagi Hoan Thian
Kheng untuk masuk kedalam Rumah Utama, dan tidak berapa
lama saudara seperguruannya ikut memapak dan menyambut
para tamu dan suasana berubah menjadi lebih ramai.
“Hahahahaha, luar biasa, sungguh keberuntungan besar bagi
Kangouw memperoleh bantuan yang sangat berharga dari para
2106
jago Lembah Cemara..... Locianpwee, perkenalkan lohu Tek Ui
Sinkay, yang saat ini diberi kepercayaan oleh kawan-kawan rimba
persilatan untuk menjadi Bengcu Tionggoan. Terutama untuk
melawan Bu Tek Seng Pay yang sedang mengganas terhadap
kawan-kawan kang ouw, bahkan juga sudah membunuh ratusan
pesilat Kangouw..... selamat bertemu Locianpwee...” sambut Tek
Ui Sinkay yang dengan cepat dan ramah menyambut dan
langsung berlaku dan bertindak sebagai Bengcu Tionggoan.
“Hahahahaha, Pangcu Kaypang yang terkenal dan kini menjadi
Bengcu Tionggoan ternyata adalah juga Suheng dari menantuku
ini,,,,, sungguh senang dapat bertemu langsung dan bercakapcakap
dengan Bengcu Tionggoan...... selamat bertemu, selamat
bertemu, sungguh kesempatan berharga bagi kami semua dari
Lembah Cemara. Akan menjadi perjalanan menarik dan bisa
menambah pengalaman buat cucu-cucuku bersanding dan
berjuang bersama seluruh pendekar di Tionggoan. Terima kasih
Tek Ui Bengcu...”
“Gakhu, Tek Ui Sinkay ini adalah Sam Suhengku, dan yang
menjadi Toa Suheng adalah Pek Ciu Ping, Jit Yang Sin Sian, mari
Toa Suheng.......” Cu Ying Lun sudah bertindak langsung sebagai
perantara untuk memperkenalkan rombongan dari Lembah
Cemara dan para saudara seperguruannya. Dan karena kedua
2107
rombongan memang terdiri dari banyak anggota, maka
perkenalan mereka berlangsung cukup lama dengan basa-basi
yang normal antar sesama insan persilatan. Tentu saja Cu Ying
Lun yang menjadi perantara dan menyambung-nyambungkan
percakapan agar pertemuan tersebut dapat berlangsung dengan
baik. Dan memang, dalam waktu singkat mereka kemudian
terlibat dalam percakapan serius.
Namun karena perjalanan yang cukup jauh, hanya Hoan Thian
Kheng dan kedua putranya, yakni putra sulung Hoan Thian Kong
dan adiknya Hoan Thian Bun yang menemani untuk bercakapcakap
lebih jauh. Selebihnya, kedua istrinya dan semua cucucucunya
sudah meminta untuk diantarkan beristirahat. Sementara
Cu Ying Lun mengajak Tek Ui Sinkay dan Pek Ciu Ping untuk
dapat menemaninya bercakap-cakap dengan ayah mertuanya itu.
“Sebenarnya Lembah Cemara tidak pernah berniat mencampuri
urusan Kangouw, karena itu pernikahanmu dengan Bwee ji juga
tidak mengundang orang-orang dari latar Kangouw. Tetapi
beberapa bulan lalu, Gakbomu merasa rindu untuk menemui
adikmu Hoan Li bersama keluarganya, terutama Gakbomu
kangen dengan cucu luar Cu Siauw Bwee. Perjalanan yang hanya
sehari itu, gakbomu minta ditemani Liang Ji sekeluarga bersama
anak tunggal mereka yang ingin berjalan-jalan menikmati
2108
pemandangan menuju Kota Sui Yang. Mana tahu sepulangnya
dari Kota Sui Yang mereka dihadang sekelompok orang yang
mengaku sebagai Utusan Pencabut Nyawa dan dipaksa ikut ke
Pek In San. Karena menolak, merekapun dikerubuti dan dengan
kejinya membantai gakbomu, Liang ji sekeluarga termasuk
cucuku yang baru berumur 10 tahun itu. Peristiwa ini membuat
semua keluarga kita di Lembah Cemara murka dan pada akhirnya
memutuskan turun ke dunia Kangouw untuk melakukan
pembalasan atas hutang berdarah itu. Dan karena menurut
letaknya Thian Cong San tidaklah begitu jauh dari Pek In San
sana, maka kami memutuskan untuk menemuimu terlebih dahulu
disini Lun ji, dan kelak kami akan menuju Pek In San guna
menagih hutang darah kami disana” demikian penjelasan Hoan
Thian Kheng, tokoh besar yang meski sudah terlihat amat tua
tetapi masih juga terlihat gagah dan tetap bersemangat.
“Acccch, maksud gakhu, gakbo dan adik Swi Liang sekeluarga
terbunuh dalam kejadian tersebut...? astaga, benar-benar
kejadian buruk bagi keluarga kita, dan Bwee moi malahan masih
belum diberitahu mengenai kejadian buruk yang sudah menimpa
keluarga kita ini......” keluh Cu Ying Lun yang kaget mendengar
kejadian maha buruk yang telah menimpa keluarga istrinya di
Lembah Cemara. Malahan sampai peristiwa buruk yang menelan
2109
korban beberapa orang sekaligus, termasuk ibu dan adik dari
istrinya itu.
“Begitulah Lun ji, kami memutuskan melakukan pembalasan dan
sebelumnya juga memang sengaja meluangkan waktu ke Thian
Cong San untuk memberitahumu dan juga untuk memberitahu
Bwee moi, istrimu sekalian” berkata Hoan Thian Kong, anak tertua
yang sekaligus menjadi Pemimpin Lembah Cemara saat ini
menggantikan ayahnya yang sudah semakin tua itu.
“Acccch, memang masuk di akal, tetapi, tahukah gakhu seberapa
besar kekuatan Bu Tek Seng Pay yang didukung oleh Utusan
Pencabut Nyawa di Pek In San? Mereka kini menggunakan
Markas di Pek In San, tempat yang dahulunya adalah markas dari
Pek Lian Pay.....”? tanya Cu Ying Lun ditengah-tengah kesedihan
yang amat mendera dan yang baru saja didengarnya itu.
“Sepanjang perjalanan kami menghindari bentrok dan pertemuan
dengan kaum pendekar, dan bahkan sering menyaru sebagai
pedagang hingga mencapai Thian Cong San sini. Sejujurnya kami
masih belum mengetahui dan belum memperoleh gambaran yang
jelas dan utuh kekuatan dari Utusan Pencabut Nyawa yang ganas
itu. Dan mengenai ech, siapa pula tokoh yang engkau maksudkan
sebagai Bu Tek Seng Pay itu Lun ji...? apakah mereka juga adalah
2110
sekomplotan ataukah kekuatan yang lain lagi...”? bertanya Hoan
Thian Kong karena ada yang baginya masih belum cukup jelas.
Sementara Cu Ying Lun kaget, karena keluarganya mau
menuntut balas tetapi sama sekali masih buta dengan kekuatan
lawan yang sedang mereka satroni itu. Mereka kurang paham jika
sedang berhadapan dengan kekuatan raksasa yang amat
mengerikan dan amat hebat itu.
“Accccchhh, menyerang kesana untuk saat ini adalah sama
dengan bunuh diri. Jika gakhu dan kong toako pernah mendengar
nama-nama seperti Mo Hwee Hud, maka dialah salah satu saja
pentolan dari Utusan Pencabut Nyawa. Adalah murid tertua tokoh
itu yang menjadi pemimpin Utusan Pencabut Nyawa, dan mereka
menjadi bagian penyerang dari kelompok lebih besar yang
menamakan diri mereka Bu Tek Seng Pay yang dipimpin Bu Tek
Seng Ong. Bahkan Mo Hwee Hud sendiripun masih tunduk
kepada tokoh yang amat misterius dan konon amatlah sakti
mengatasi tokoh sehebat Mo Hwee Hud sekalipun. Dan, anggota
mereka di Pek In San, diperkirakan ada sekitar 1000an jumlahnya
malahan mungkin lebih dari jumlah itu, maka jika kita berhadapan
dengan gabungan kekuatan yang sangat besar seperti itu,
kunjungan kita kesana sekarang ini akan sama dengan
mengantarkan nyawa secara cuma-cuma....” berkata Cu Ying Lun
2111
untuk menjelaskan kondisi yang mereka hadapi pada saat itu.
Pada dasarnya keluarga Lembah Cemara memang belum paham
dengan siapa mereka sedang berhadapan, dan untung tidak main
serang ke Pek In San. Sebab jika mereka langsung menerjang
kesana, maka kekuatan Lembah Cemara sama sekali tidak ada
apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan lawan yang sedang
bermarkas di Pek In San sana.
“Acccch, maksudmu Mo Hwee Hud si tua bangka itu juga berada
bersama dengan mereka dan menjadi bagian dari kekuatan lawan
di Pek In San...”? terdengar suara rada jerih dari Hoan Thian
Kheng. Jelas saja, meski Lembah Cemara cukup hebat dan
sangatlah terkenal meski tidak berurusan dengan dunia kangouw,
tetapi nama seorang Mo Hwee Hud tetap saja mereka kenal
dengan sangat baik. Nada suara Hoan Thian Kheng jelas
tergambar bahwa mereka juga tahu nama besar Mo Hwee Hud
itu. Dan karena itu, wajar jikalau nada suara Hoan Thian Kheng
terdengar agak jerih, meski jelas saja tidak takut menghadapinya,
apalagi karena urusan ini adalah urusan balas dendam.
“Benar gakhu, bahkan masih ada juga bersama mereka disana
sejumlah tokoh tua yang seangkatan dan sangat hebat, bahkan
juga ada yang setingkat Mo Hwee Hud kepandaian mereka. Yaaa,
memang amat banyak tokoh-tokoh tua yang entah kenapa pada
2112
bermunculan dan membantu Bu Tek Seng Pay itu. Maka, bisa kita
bayangkan betapa sangat berbahaya melawan mereka tanpa
persiapan yang cukup dan tanpa persatuan dengan dunia
Kangouw......” jawab Cu Ying Lun dan membuat Hoan Thian
Kheng dan kedua anaknya terdiam, sadar kebenaran atas
perkataan Cu Ying Lun yang diucapkan barusan.
Terdiamnya mereka membuat suasana sejenak agak hening,
tetapi hanya beberapa saat karena kemudian Tek Ui Sinkay
angkat bicara:
“Hoan Locianpwee,,,,, kehadiran kami disini, termasuk
kehadiranku sebagai Bengcu Tionggoan dewasa ini
menggantikan Hu Sin Kok Locianpwee, adalah dalam upaya
mengumpulkan kekuatan dunia Kangouw untuk menempur Pek
In San. Karena jika kita bekerja dengan terpisah dan dengan
kekuatan masing-masing, maka upaya mengalahkan Bu Tek
Seng Pay saat ini adalah mustahil alias sia-sia. Tapi, sebulan
kedepan, semua perguruan termasuk Siauw Lim Sie, Hoa San
Pay, Thian San Pay, Bu Tong Pay, Kaypang dan semua
perguruan silat terkemuka, akan mengirimkan utusan untuk
menggempur mereka. Korban yang jatuh karena pembantaian
mereka sudah tidak terhitung lagi jumlahnya, sudah terlampau
banyak. Karena itulah, kita mengumpulkan kekuatan untuk
2113
melawan dan menumpas kejahatan mereka. Jika Hoan
Locianpwee tidak berkeberatan, maka rombongan Lembah
Cemara dapat saja bergabung dengan para Pendekar Tionggoan
untuk melawan dan juga membasmi mereka sebulan kedepan......
sebagai Bengcu Tionggoan, Lohu mengundang Hoan
Locianpwee dan rombongan untuk ikut bergabung....” Tek Ui
Sinkay dengan cermat dan cerdik masuk berbicara. Dia sudah
bisa menangkap bahwa urusan Lembah Cemara adalah urusan
balas dendam, tetapi tanpa dukungan kekuatan yang cukup
hebat, urusan mereka justru bisa terbengkalai. Bahkan bisa
menjadi korban sia-sia melawan kehebatan lawan saat ini.
Ketiga orang itu, Hoan Thian Kheng dan kedua putranya tampak
saling pandang dan tidak terlihat merasa takut jeri lagi. Tetapi,
Hoan Thian Kong yang kemudian berkata dengan suara penuh
nada optimist:
“Kami Lembah Cemara tentu saja bersedia dan akan ikut
bergabung dengan semua kekuatan yang bertujuan sama. Tetapi,
ada permohonan kami, biarlah untuk Utusan Pencabut Nyawa,
tolong secara khusus serahkan kepada kami dari Lembah
Cemara untuk menumpas dan menghukum mereka.......
bagaimana kiranya Bengcu bisa memberi keadilan bagi kami
dengan pilihan ini....”?
2114
Tek Ui Sinkay merasa gembira, dan pengaturan siapa yang akan
melawan Utusan Pencabut Nyawa baginya tidak sukar
diputuskan. Karena berpikir demikian, maka diapun berkata
sambil tertawa:
“Hahahahaha, baik, kita putuskan demikian saja. Lembah Cemara
akan berhadapan langsung dengan Utusan pencabut Nyawa,
hanya akan kami tambahkan beberapa orang untuk menandingi
tokoh-tokoh mereka, tetapi itupun akan diketahui langsung oleh
cuwi sekalian. Bagaimana.... apakah bisa diterima...”?
“Baik, kami setuju jika demikian.....”
Percakapan merekapun terus berlangsung, bahkan semakin
ramai dengan beragam topik pembicaraan yang hangat tentang
dunia persilatan. Hoan Thian Khek semakin asyik ditemani putra
tertuanya bercakap dan bertukar pikiran hingga akhirnya
memasuki waktu untuk makan siang bersama-sama. Pada saat
itu, hanya Koay Ji yang tidak terlihat ada bersama mereka semua,
maklum Koay Ji sedang asyik dengan pekerjaan dan urusannya
yang lain.
Hanya saja, Hoan Bwee, istri Cu Ying Lun, ketika mendengar
ibunya meninggal, bahkan juga adik dan keponakannya, meski
2115
sudah bergabung kembali dengan ayah, kakak dan adiknya serta
juga dengan Cu Ying Lun suaminya, tetap bersedih hati.
Bagaimanapun, dia menghabiskan masa kecilnya di Lembah
Cemara dengan Ibunya dan semua kakak dan adik-adiknya,
maka dapat dipahami mengapa dia amat sedih dengan berita
duka itu. Meskipun demikian, dia mengeraskan hati untuk duduk
makan siang bersama seluruh keluarga ayahnya, tetapi rasa
sedihnya tetap saja sulit untuk dihilangkan. Tetap tergambar dari
seri wajah dan sinar matanya yang amat sedih dan masih sulit
menerima berita itu.
Dan kemana gerangan Koay Ji saat itu? Sangatlah mudah
ditebak, dia pasti kembali menggeluti hutan dimana terdapat
Barisan Pembingung Sukma yang maha hebat itu. Sejak
kedatangan keluarga Cu Ying Lun, Chit Suhengnya, dia seperti
beroleh kesempatan untuk menghilang dan sudah langsung
menuju Barisan yang semakin menarik perhatiannya itu. Barisan
itu bagai menyita perhatiannya dan semakin membuatnya ingin
memecahkan rahasia dan misteri dalamnya. Koay Ji paham
bahwa langkah pertama sudah dapat dia selami dengan baik, dan
mestinya langkah-langkah berikutnya akan dengan mudah dia
ketahui jika membutuhkan waktu lebih banyak dan lebih panjang.
2116
Itulah sebabnya dia tidak mau lagi membuang waktu dan
memanfaatkan waktu yang ada lebih baik.
Sebagaimana dugaannya, persiapan yang matang dan kesiapan
batin membuat serangan awal yang amat dahsyat berkurang
banyak. Ketika Koay Ji kembali masuk kedalam barisan, meski
kekuatan besar itu tetap menerpanya, tetapi dia tidak lagi
kehilangan kesadaran dan konsentrasi seperti pada
percobaannya yang pertama. Setelah masuk, kemudian dia
kembali mulai mengulang apa yang dia lakukan sehari
sebelumnya, yakni berlatih untuk menggali, mengenali, mengulas
dan menganalisis struktur Barisan Rahasia tersebut. Perlahanlahan
dia mulai mengenali bangun yang semakin dia yakini
bertumpu pada 6 titik dasar dengan satu titik atau satu sisi yang
menggantung bebas dan dapat bergerak kemana saja sesuai
dengan keinginannya. Setelah menyimpulkan dan mengujinya
sekali lagi, Koay Ji semakin teryakinkan dan bahkan sudah
menetapkan kesimpulannya.
Pengalaman dan pengetahuannya akan ilmu-ilmu sihir dan ilmu
hitam membuatnya lebih mudah untuk mengenali lebih jauh
kedalaman barisan itu. Selama tiga jam dia berkutat sampai
tengah hari, dia mampu mengenali kekokohan dasar barisan itu
yang menurut analisanya merupakan landasan utama. Landasan
2117
utama berarti dasar darimana bangun barisan itu dibentuk, dan
karena empat sisi, maka Barisan itu bisa mengecil dan membesar
dengan ukuran terbesar tergantung kekuatan empat dasar
pembentuknya. Tetapi, yang mengagetkannya adalah, keempat
dasar itu, keempat landasan utama bangun barisan itu, memiliki
keterkaitan dan ikatan yang agak luar biasa. Artinya, satu roboh,
maka barisan akan roboh, satu terluka, maka barisan akan bisa
terluka secara keseluruhan. Tetapi, jika keempat dasar itu saling
terikat, maka Barisan itu akan semakin memiliki bentuk yang amat
kuat dan amat kokoh, akan teramat susah untuk dikalahkan.
Apalagi dibuyarkan, karena ada “kekuatan aneh” yang sulit
dijelaskan, tetapi justru memiliki daya yang amat luar biasa. Koay
Ji sendiri sulit merumuskannya.
Selama 3 jam, Koay Ji dapat mengenali dasar dan landas bangun
Barisan tersebut, tetapi belum mampu menterjemahkannya untuk
Barisan yang akan dibentuk dan dilatih oleh ketujuh saudara
seperguruannya. Memang benar, mereka bertujuh sudah
memperoleh dasar-dasar Barisan Pembingung Sukma, tetapi
masih belum bisa melatih lebih jauh. Koay Ji tidak paham dan
tidak tahu mengapa mereka belum bisa maju lebih jauh dalam
berlatih. Padahal, karena dalam tulisan yang ditinggalkan Suhu
mereka, memang terdapat pesan – “tunggu Koay Ji mampu
2118
memecah Barisan itu, baru dapat melatihnya lebih jauh. Tanpa
mengetahui urusan tersebut, Koay Ji terus dan terus berusaha.
Sampai saat ini, untuk tahap awal, dia sudah mulai cukup
mengenali, cukup mengetahui dasar-dasarnya, sementara untuk
daya gerak, akan bisa dilatih menyusul kemudian.....”
Setelah 3 jam berlalu, Koay Ji beristirahat, dan dia tidak kesulitan
mendapatkan makanan karena dia sudah menyiapkannya. Atau
yang benar, dia sudah menemui “sahabat-sahabat” baiknya
dalam hutan, dan para sahabat itulah yang mencarikan dia
makanan pada saat dia istirahat. Dan, memang begitulah adanya.
Pada 3 jam setelah berlelah berlatih dan terus menerus mencari,
Koay Ji memutuskan untuk sejenak beristirahat. Dan pada saat
itu, dia sudah ditunggu oleh 5 ekor monyet besar yang
membawakannya makanan seperlunya. Sambil bercakap-cakap
dengan riang dalam bahasa monyet, Koay Ji makan buah-buahan
yang sudah disediakan baginya. Dan setelah sejam lebih
beristirahat, kembali dia memasuki Barisan itu dan berupaya lebih
jauh untuk mengenali.
Sekali ini dia berusaha untuk mengenali dan menganalisis 4 sisi
yang dia sudah identifikasi sebelumnya. Mencoba mengenali
karakternya lebih jauh dan lebih dalam, kemudian mengenali
kekuatannya, serta juga terus berusaha untuk mencari tahu
2119
bagaimana menyusunnya. Dan paling akhir, dia terkejut untuk
mengetahui apa gerangan yang menjadi pengikatnya sehingga
menjadi demikian kuatnya. Misteri yang masih sulit untuk
dipahaminya. Satu jam, dua jam, tiga jam bahkan hingga
mendekati matahari terbenam, Koay Ji masih tetap berkutat
dalam barisan itu dan belum mengetahui kekuatan apa yang
menjadi perekat 4 dasar yang berpasangan itu. Tapi jika dia
bertahan untuk terus mencari, itu sebenarnya karena dia menjadi
semakin jelas, semakin paham dengan 4 dasar utama Barisan.
Hanya satu bagian terakhir yang masih mengganjalnya.
Tapi Koay Ji menyudahi penyelidikannya karena tahu dan sadar,
pada jam seperti itu dia pastilah akan dicari oleh semua saudara
seperguruannya. Selain itu, bertahan sekian lama dalam Barisan,
cukup menguras energy dan staminanya, meski dia masih
mampu bertahan lebih jauh sebenarnya. Tetapi, dia sudah cukup
beroleh pemahaman yang dia rasa cukup penting dan akan
dianalisisnya lebih jauh pada lain kesempatan. Atau setelah
makan malam, dia memutuskan akan bisa mencerna dan
menganalisis lebih jauh guna beroleh pemahaman yang lebih
lengkap dan lebih mengena. Koay Ji cukup optimist.
Tetapi, ketika Koay Ji melangkahkan kakinya keluar dari Barisan
untuk menuju Rumah Utama, entah mengapa dia berpikir untuk
2120
beristirahat dan mengembalikan kebugarannya sejenak. Pikiran
itu langsung diikutinya dan memilih satu lokasi yang tidak
terlampau terekspose dan duduk disana sambil perlahan-lahan
berpikir dan menganalisa sambil samadhi. Keempat dasar
penopang barisan itu entah dengan cara bagaimana dapat
menyatu demikian erat dan kuatnya, padahal masing-masing pilar
dasar itu berpasangan. Padahal masing-masing pasangan
terlepas dan bebas, meskipun terlepas masing-masing tetapi
terlihat menyatu atau menjadi satu. Ibaratnya, menempel erat dan
susah dipisahkan tetapi tidak diikat oleh benda fisik, seperti terikat
begitu saja. Persoalannya adalah, apa yang menjadi pengikat
mereka sehingga terikat sedemikian erat dan nampak nyaris
mustahil dipecah?
Nach, dua basis atau dasar dari bangun barisan itu, berpasangpasangan
menjadi dua pasang, dan kedua pasang itu seperti
menjadi dua tetapi masih tetap empat. Artinya, mereka nempel
begitu saja dan menghadirkan paduan kekuatan yang luar biasa
dari keadaan mereka itu. Posisi dan kondisi yang aneh, tetapi
entah mengapa Koay Ji seperti mampu merasakan bahwa dia
agak dekat dengan suasana dan situasi seperti itu. Tetapi apa itu
gerangan, dia masih belum bisa merumuskannya dalam katakata.
Empat buah tetapi menjadi dua, apa yang bisa mengikat
2121
sehingga hal-hal yang berpasangan bisa dihitung dan terlihat
menjadi satu? Dan kejadian itu berlaku bagi dua pasang. Tetapi
apa yang merekat mereka?
Saat itu Koay Ji sudah merasa cukup dan merasa puas sendiri
dengan tahap apa yang dipahaminya saat itu. Dia menyimpan hal
yang lain untuk dibuka secara perlahan-lahan dan tidak ingin
terburu-buru serta tidak ingin juga terlampau lamban. Koay Ji
terbiasa dengan proses seperti itu sejak masih kecil, sejak dididik
oleh Suhu yang tak terlihat dan sejak dididik oleh Bu In Sinliong.
Pada masa kecilnya, Koay Ji sabar menghadapi penyakitnya dan
beroleh jawaban secara bertahap atau secara perlahan-lahan dan
berproses, tidak terburu-buru, tetapi pasti kemajuannya. Suhu
keduanya, juga sama saja. Harus menahan diri untuk mengajar
secara langsung, tetapi menitipkan teori-teori mujijat untuk dapat
dipelajari perlahan oleh Koay Ji, dan buktinya dia memang
mampu. Sama juga dengan Bu In Sinliong, yang membuka
perlahan-lahan potensinya dan kemudian masuk dalam proses
menemukan atau menciptakan sendiri ilmu silatnya.
“Cukup untuk hari ini.......” setelah memutuskan demikian, Koay Ji
kemudian berjalan pergi dan pada saatnya dia berkumpul
bersama di Rumah Utama yang semakin ramai saja dengan
kedatangan rombongan dari Lembah Cemara. Begitu Koay Ji
2122
memasuki ruangan makan yang kini ditata lebih besar dan lebih
luas lagi, dia rada kaget menemukan beberapa orang yang seusia
dirinya dan belum lagi dia kenal. Maklum, ketika rombongan itu
datang, Koay Ji sudah cepat menyelusup pergi guna urusan yang
membuatnya penasaran.... Barisan itu. Karena itu, wajar ketika
dia memasuki ruang makan yang sudah demikian ramai, dia
bertemu dengan beberapa anak muda yang menatapnya heran.
“Siauw sute, mari, engkau adalah orang terakhir yang sedang
kami tunggu-tunggu sejak tadi....” sambut Cu Ying Lun sambil
mengundang Koay Ji. Sontak beberapa mata anak muda
seusianya menatapnya dan merasa heran karena dari segi usia,
Koay Ji tidaklah terlampau banyak, masih amat mudah dan jauh
sekali jaraknya dengan sesama saudara seperguruannya.
Bahkan dibandingkan dengan Cu Ying Lun saja yang paling
muda, sudah berusia lebih dari 55 tahun dan merupakan murid
ketujuh. Sementara itu, Koay Ji justru kelihatannya berusia paling
banyak 20 atau 21 tahun, jauh jaraknya dengan Cu Ying Lun.
Bagaimana bisa jarak mereka demikian jauh antara mereka
berdua kakak beradik seperguruan itu? Sebuah pertanyaan yang
wajar tentu saja.
Tetapi pertanyaan itu tidak mereka ajukan keuar, hanya bertanya
dalam hati masing masing dan memperhatikan ketika Koay Ji
2123
melangkah masuk. Tatap mata dan sinar matanya bening, bagai
tatapan mata bayi yang tak bersalah, ciri orang yang seperti tidak
memiliki ilmu ataupun kesaktian. Jalannyapun seperti kurang
kokoh dan tidak mendatangkan kesan yang berlebihan, tidak
terkesan gagah perkasa. Tetapi, entah mengapa, dalam
kelemahan dan ketidak-gagahan Koay Ji yang seperti itu, salah
seorang cucu Hoan Thian Kheng, yakni cucu termudanya justru
terlihat merasa amat tertarik. Seperti ada sesuatu yang membuat
anak gadis itu merasa bahwa Koay Ji sebenarnya rada berbeda,
berbeda dengan orang-orang lain, tetapi dia tidak dapat
menemukan jawaban keanehan Koay Ji.
Adalah Kang Siauw Hong yang berusia 19 tahun yang tertarik dan
itu ditangkap dengan amat jelas oleh mata ahli, Oey Hong dan
Pek Bwe Li. Memang, sejak masuknya Koay Ji, Nona itu jelas
terlihat tertarik dengan tindak tanduk Koay Ji, entah dengan
alasan apa. Melihat itu, kedua suci Koay Ji diam-diam tersenyum
geli dalam hati, tapi pada saat itu, mereka juga dapat memergoki
bahwa cucu Hoan Thian Kheng lainnya seperti tidak memandang
siauw sute mereka. Bahkan seperti tidak menganggapnya
sebelah mata. “Hmmm, mereka belum tahu saja siapa siauw
sute....” diam-diam Oey Hwa dan Pek Bwe Li menjadi gusar
terhadap cucu-cucu Hoan Thian Kheng yang lain. Dans ecara
2124
otomatis menjadi simpati dan merasa suka dengan Nona yang
satu, Kang Siauw Hong.
Memang benar, masuknya Koay Ji tidak mendatangkan kesan
gagah dan hebat dimata Hoan Kun cucu lelaki tertua yang hadir
serta Hoan Siang In gadis manis yang berusia 23 tahun paling
banyak. Serta juga bagi sepasang gadis kembar yang sama
cantik menawan, Hoan Beng Lian dan Boan Beng In yang kini
berusia 20 tahun. Dari semua cucu Hoan Thian Kheng yang hadir,
yang berkepandaian paling tinggi memang Hoan Kun baru disusul
sepasang gadis kembar yang cantik jelita itu. Hoan Siang In
sendiri meski berbakat bagus, tetapi kurang memiliki keuletan dan
lebih senang diurusi pelayannya, terhitung agak manja dan tinggi
hati. Itulah yang menjadi gambaran keluarga Lembah Cemara
yang sebenarnya terkenal dan agak misterius karena jarang
bergaul keluar.
Sementara sang cucu luar, Kang Siauw Hong, nyaris tak ada yang
mengetahui sampai dimana kehebatannya dalam Ilmu Silat.
Gadis itu terlampau misterius dan hanya dekat dengan neneknya
saja serta adik lelakinya. Apalagi, karena meski perempuan, dia
terhitung senang dengan urusannya sendiri, senang berkelana
dan selalu seperti punya urusan sendiri yang tidak biasa. Dan
urusan-urusannya serba misterius, sera aneh, bahkan berlatih
2125
ilmu silatpun terkesan aneh dan berbeda dengan saudarasaudaranya
dari Lembah Cemara. Meski demikian, gadis ini
sangat cerdik, pintar dan sebetulnya amat berbakat dalam ilmu
silat. Ditambah lagi dengan kecerdasannya yang cukup menonjol,
maka lengkaplah potensinya. Hanya, diam dan sifat misteriusnya
yang membuat keadaannya tidak mudah ditangkap mata yang
kurang ahli. Tetapi Koay Ji sekali melihat langsung mengerti jika
malah gadis cantik itu memiliki simpanan Ilmu Silat yang lebih
hebat dari Hoan Kun kakaknya. Serta juga dibandingkan dengan
saudara-saudaranya yang lain. Apakah memang benar demikian
adanya? entahlah.
“Mari engkau berkenalan dengan gak hu dan rombongannya
siauw sute. Juga tentu dengan kakak dan adik dari sucimu ini, dan
mereka ini adalah keponakan suhengmu ini, mari, silahkan kalian
saling berkenalan.....” dengan dipandu dan diatur oleh Cu Ying
Lun, Koay Ji bekerkenalan dengan Hoan Kun yang terlihat sedikit
tinggi hati namun cukup gagah. Kemudian Hoan Siang In yang
juga sama tinggi hati, tetapi harus dia akui memang cantik jelita
dan sudah matang di usianya yang ke-23, dan terus dengan
sepasang hadis kembar yang sama-sama cantik dan cukup
ramah. Keduanya justru yang terkesan paling sportif menyambut
perkenalan dengannya, tidak memandang remeh dan senang
2126
tersenyum ramah dan meriah dimata dan sikap. Ketika mereka
saling berkenalan atau diperkenalkan, kedua gadis kembar itu
ternyatanya tidaklah sombong tetapi cukup ramah, malah berkata
dengan suara yang riang dan sangatlah lembut:
“Senang berkenalan denganmu Koay Ji,,,, tapi, sayangnya
namamu terlampau aneh, hikhikhi, semoga engkau senang
membawa kami berkenalan dengan Thian Cong San ini dan
menikmati keindahan alamnya.........”
“Terima kasih jiwi kouwnio, jika ada waktu, pasti akan kutemani
berjalan-jalan di sekitar Gunung Thian Cong San ini” sambut Koay
Ji tidak kalah ramahnya. Maklum, kini dia sudah lebih paham
karakter masing-masing orang dan bisa mengenali pandangan
orang-orang yang menjadi keluarga suhengnya itu.
Paling akhir dan paling ditunggu oleh Oey Hwa dan Pek Bwe Li
adalah perkenalan dengan si bungsu, Kang Siauw Hong, cucu
luar Hoan Thian Kheng. Dara cantik dan manis itu duduk didekat
Neneknya, Hua Hun, sementara sepasang gadis kembar disisinya
bersebelahan di sisi lainnya dengan nenek mereka Tio Cui In.
Yang hebat, gadis cantik termuda itu ternyata memiliki ketabahan
yang hebat dan tidak terlihat norak meski pancar matanya terlihat
bersimpati terhadap Koay Ji. Atau mungkinkah senang dengan
2127
kemisteriusan dan gaya yang sulit ditebak dari Koay Ji? Entahlah,
kedua suci Koay Ji ini yang pasti merasa cukup kagum ketika
Kang Siauw Hong menyambut perkenalan itu dengan senang
tidak senang, tidak senang tapi senang. Sungguh mampu
menjaga diri dan ketenangannya. Tidak berlebihan, tidak sangat
gembira tetapi juga tidak sangat terbawa oleh perasaan hatinya
sendiri. Hal yang mendatangkan rasa suka dan simpati dari Oey
Hwa dan Pek Bwe Li. “Sebuah awal yang cukup bagus” pikir
keduanya sambil saling tatap dan bahkan kemudian saling
tersenyum satu dengan lainnya.
“Senang sekali berkenalan dengan siauw sute dari pamanku,
engkau pasti memiliki kemampuan hebat, mungkin malah sudah
sehebat pamanku itu.....” puji Kang Siauw Hong sambil
menghormati Koay Ji yang juga sama ramah dan senangnya
dengan gaya gadis ini yang tidak berlebihan, terlihat cerdas dan
tahu sopan-santun. Pujian dan kata-katanya juga tidak
berlebihan. Perkenalan yang terkesan sederhana, tetapi
membawa kesan bagi masing-masing.
“Silahkan duduk siauw sute......” pada akhirnya Cu Ying Lun
mempersilahkan Koay Ji duduk, dan sesaat Koay Ji duduk dia
melanjutkan dengan kalimat yang membuat Koay Ji terkejut dan
kaget setengah mati,
2128
“Siauw suteku ini sebetulnya adalah salah satu orang yang malah
sudah berkali-kali menempur Mo Hwee Hud dan bahkan
mengundurkannya, sayang belum pernah bisa bertarung satu
lawan satu dalam waktu yang lama dan panjang......” kalimat Cu
Ying Lun ini menimbulkan tafsir yang berbeda diantara mereka
yang hadir pada waktu itu. Dan kekhawatiran Koay Ji segera
menjadi kenyataan ketika Hoan Thian Kong yang mulai
merespons dengan bertanya langsung:
“Bagaimana pertempuranmu melawannya Koay Ji? dengan siapa
engkau bertempur melawan gembong iblis yang sangat hebat
itu.....”? pertanyaan yang amat antusias sambil memandang Koay
Ji menunggu jawaban. Jelas, karena kini mereka sudah
menganggap musuh terkuat Lemah Cemara adalah Mo Hwee
Hud. Tanpa mereka sadar bahwa masih ada tokoh-tokoh lain
yang sama hebat, atau malah satu atau dua yang masih lebih
hebat lagi. Hanya, tentu saja Hoan Thian Kheng tidak paham dan
tidak tahu karena jarang bergaul keluar.
“Dia berkelahi melawan Mo Hwee Hud yang berpasangan dengan
Geberz seorang tokoh dari Persia dan seorang tokoh kuat lainnya.
Sayang mereka terlalu pengecut sehingga mengeroyok sute,
tetapi memang mesti demikian, karena jika memang tidak,
kemungkinan besar Mo Hwee Hud sudah terluka, sama seperti
2129
dua anak muridnya yang sudah dilukai dan dipunahkan
kepandaiannya oleh siauw sute kami ini beberapa bulan
sebelumnya......”
Koay Ji menjadi tambah kaget dan terkejut tetapi tidak bisa
berkata apa-apa. Karena memang kata-kata suhengnya benar
belaka dan adalah Tek Ui Sinkay yang dapat menjadi saksi
kejadian pada waktu itu. Tetapi, Koay Ji sendiri merasa enggan
untuk membesar-besarkan kejadian tersebut, karena orang luar
belum tentu memaklumi dan paham dengan kejadian sebenarnya.
Dan memang, hal itu segera menjadi kenyataan ketika Hoan Kun
yang jelas menjadi sangat penasaran ikut bergabung dalam
pembicaraan. Matanya jelas membayangkan kepenasarannya,
sulit buatnya paham dan mengerti kehebatan seorang Koay Ji
yang terlihat lemah dan seperti tidak punya kepnadaian apa-apa.
Tak lama diapun berkata atau lebih tepatnya juga ikut bertanya
dalam nada yang amat penasaran:
“Haaaa.....? sehebat itukah...? sungguh sulit dipercaya, apakah
ada orang lain yang ikut menyaksikan kejadian maha hebat
tersebut.....”? pertanyaan yang meragukan Koay Ji, tetapi tidak
ditanggapi oleh Koay Ji, hanya memandang sekilas dan berdiam
diri. Memang, berdiam diri adalah pilihan yang paling baik pada
saat seperti itu. Tetapi, ketika semua orang memandangnya, mau
2130
tidak mau dia harus angkat bicara meski awalnya dia bingung apa
yang sebaiknya dia katakan terhadap apa yang dia alami pada
waktu itu?
“Ach sudahlah saudara Hoan Kun, Chit Suheng terlampau
membesar-besarkan kisah tersebut, lagipula sudah lama terjadi
dan di tengah pertarungan massal. Lebih baik kita segera
makan.....” akhirnya dengan terpaksa Koay Ji yang menjadi risih
berkata dan menjelaskan seadanya dengan mengurangi efek
dramatis yang dimulai oleh suhengnya. Padahal mana dia tahu
atau paham, bahwa sebetulnya Cu Ying Lun, suhengnya dengan
secara sengaja melakukannya, meski untuk maksud yang tak
dapat dipahaminya saat itu.
Mana Koay Ji paham ataupun tahu jika Cu Ying Lun memang
melakukannya atau berbicara karena tidak rela dia, siauw sute
yang dia hormati dan kasihi itu dipandang remeh orang. Orangorang
dari keluarga istrinya pula, dari Lembah Cemara. Dan Tek
Ui Sinkay serta suhengnya yang lain, meski berdiam diri tetapi
pada setuju dengan tindakan Cu Ying Lun berbicara seperti itu.
Tetapi, adalah Pek Ciu Ping yang perasa yang kemudian berkata:
“Ayo, sudah waktunya kita makan malam.......” ajakan yang
memang tepat waktu, sambil mengalihkan perhatian orang dari al
2131
yang dapat merusak suasana. Sebagai seorang yang lebih tua,
dia mampu mengetahui apa yang terjadi dengan Tek Ui Sinkay
dan Cu Ying Lun. Hal yang justru dia lihat membuat Koay Ji
merasa tidak nyaman, karena sute termudanya itu justru merasa
kesal jika terus menerus menjadi pusat perhatian dan dipuji-puji.
Makan malam berlangsung seperti biasa, tetapi benak Koay Ji
dipenuhi urusan lain. Kepalanya masih terpaku dengan kejadian
dalam barisan dan dia mulai merasa bahwa dia mengetahui tetapi
tidak, atau tidak mengetahui tetapi juga mengetahui. Mengapa?
Entah, dia sendiri merasa masih harus terus mencari, mencari
dan terus mencoba memahami lebih dalam lagi. Beberapa kali
Siauw Hong dan Hoan Kun bertanya kepadanya, tapi jawabannya
pendek-pendek dan ini membuat Hoan Kun semakin merasa
kurang senang kepadanya. Hanya satu orang dari pihak Lembah
Cemara yang tetap saja mengaguminya, dia adalah Kang Siauw
Hong.
Setelah makan malam, saat tamu yang lain mulai mengundurkan
diri, Pek Ciu Ping kembali tenggelam dalam percakapan dengan
Cu Ying Lun, Tek Ui Sinkay dan Hoan Thian Kheng dan kedua
anaknya. Cu Ying Lun sempat menyadari bahwa Koay Ji mencari
jalan pergi dan memang saat itu awdalah waktu paling pas untuk
segera berjalan pergi. Tetapi Cu Ying Lun hanya membiarkan
2132
saja. Diapun maklum. Dan Koay Ji pun menyelinap, dan segera
bergegas menuju Barisan untuk kembali mencari tahu dan terus
mencari tahu. Dia hanya kurang waspada jika ada orang yang
mengikutinya, tapi karena dari jarak yang cukup jauh dari
posisinya, maka wajar dia tidak sadar dan tidak mengetahuinya.
Dia tidak menyadari jika Kang Siauw Hong yang terus
membuntutinya dan melihat dia menghilang masuk kedalam
Barisan dan kemudian mencelat mengejar dengan cepat.
Koay Ji baru saja mulai mencoba menganalisis dan mencaritahu
lebih jauh ketika dia merasa bahwa Barisan itu bergerak. “Ada
yang masuk, siapa gerangan...”? dia bertanya dalam hari, tetapi
ketika menyadari daya serang Barisan meningkat tajam, maka
tahulah dia bahwa bukan saudara seperguruannya yang masuk,
tetapi ada orang lain lagi, entah siapa. Setelah dua hari menekuni
dan mempelajari Barisan Pembingung Sukma, Koay Ji kini sudah
lebih paham dan mahir dengan tata letak dan sudut-sudut penting
dari barisan tersebut. Itulah sebabnya, dia bergerak untuk
mencari tahu dan tentu saja berusaha menemukan siapa
gerangan yang ikut masuk kedalam Barisan itu. Tetapi, setelah
sekian lama dia bergerak mencari, Barisan itu terasa bergerak
terus meski mulai melamban dan berkurang kekuatannya. Pada
2133
saat itulah dia melihat siapa gerangan yang mengikutinya masuk
dalam barisan. Nona KANG SIAUW HONG.
Tetapi Koay Ji harus bergerak cepat, karena pada saat itu Kang
Siauw Hong terlihat sudah mulai tidak tahan dan sebentar lagi
akan kehilangan kesadarannya. Koay Ji harus mencegahnya,
karena jika terjadi, bakalan repot menyembuhkan ataupun
mengembalikan kesadarannya. Maka sekali sentak, dia bergerak
cepat dan pada lain waktu, sudah memegang lengan Siauw Hong
sambil berbisik dan mengerahkan kekuatannya melalui lengan
yang dia genggam:
“Pusatkan kekuatan, pelihara kesadaran diri, dan cepat melawan
gambaran dan juga bayangan-bayangan semu yang mencoba
merusak kesadaranmu. Cepat sebelum engkau terlambat dan tak
mampu lagi.......”
Dan memang ternyata bahwa Kang Siauw Hong bukanlah gadis
biasa. Meski Koay Ji tahu dia belum sehebat Sie Lan In, tetapi
setidaknya gadis ini sudah berada ada setingkat dengan
kemampuan Kwan Kim Ceng. Meski memang benar masih belum
berada setingkat dengan kawan-kawannya yang lain seperti, Sie
Lan In, Khong Yan dan Tio Lian Cu. Selain itu, untuk kekuatan
iweekangnya atau setidaknya potensi kekuatan iweekangnya
2134
juga sangat hebat dan luar biasa. Tetapi, sayangnya masih belum
menyatu, berada jauh diatas Nyo Bwee, setingkat sedikit dibawah
Kim Ceng. Tetapi, jika dilatih secara sempurna, tidak akan kalah
dengan tingkat Sie Lan In dan kawan-kawannya yang lain, karena
itu ketika Koay Ji membantu dan membisikinya untuk menjaga
kesadaran, dengan sedikit bantuan belaka, Siauw Hong dapat
mulai menemukan dirinya sendiri. Mau tidak mau Koay Ji kagum
dan terkejut dengan kondisi dan keadaan Kang Siauw Hong ini.
Setelah melihat keadaan Kang Siauw Hong berangsur-angsur
mulai normal dan stabil, Koay Ji kemudian berbisik kepadanya
dan berkata dengan suara yang lembut dan terdengar jelas bagi
Nona itu:
“Kang Kouwnio, apakah engkau tahan bersamadhi didalam
ataukah harus segera kuantar keluar dari dalam Barisan ini.....”?
“Hmmm, apa yang engkau lakukan dalam barisan ini....”? tanya
Kang Siauw Hong tidak takut dan tidak menjawab pertanyaan
Koay Ji. “Aneh memang gadis ini, bukan menjawab pertanyaan
malah balik bertanya...” desis Koay Ji dalam hati, tetapi tetap saja
dia menjawab pertanyaan si gadis.
2135
“Aku sedang berlatih dalam Barisan ini dan mencoba terus
menerus meningkatkan kemampuanku, tetapi sayang terlampau
sulit melaju lebih jauh lagi. Tetapi tetap saja aku harus terus
berlatih dan berlatih........... nach, baiklah kuantarkan engkau
keluar dari Barisan ini sekarang.....” jawab Koay Ji sedikit
berbohong, maklum, dia masih belum mengenal gadis itu dengan
baik.
“Hmmm, jangan engkau salah, Barisan ini meskipun berhasil
mengejutkanku karena tidak siap dan memandang terlampau
remeh, tetapi kutahu jelas akan bangunan dasarnya. Dia
berdasarkan atas 6 titik atau 6 setengah titik, atau bisa juga 7 titik
sebagai elemen dasarnya. Tetapi, sangat banyak perubahannya,
efek serangannya membesar atau mengecil sesuai kemampuan
lawannya, baik perseorangan maupun sekelompok besar orang.
Tetapi, sayangnya aku masih belum tahu apa gerangan nama
Barisan yang sehebat ini.....” bisik Siauw Hong takjub.
“Aku sudah tahu semua itu Kang Kouwnio, tapi adalah lebih baik
sekarang engkau kuantarkan keluar dari dalam barisan ini.....”
berkata Koay Ji yang berkeras untuk mengantarkan Kang Siauw
Hong keluar barisan. Dia sebenarnya khawatir jikalau latihan dan
penelitiannya akan terganggu oleh gadis nekat ini.
2136
“Bolehkah aku melakukan samadhi dalam Barisan ini...”? terkejut
Koay ji mendengar permintaan Kang Siauw Hong
“Apakah engkau cukup tahan dan mampu menahan efeknya....”?
bertanya Koay Ji, kaget juga dengan kebandelan gadis itu.
“Tenang saja, aku masih cukup kuat.... kekuatan dan daya
tahanku menghadapi Barisan seperti ini pasti akan membuatmu
menjadi terkejut. Tetapi kuyakinkan, aku lebih dari tahan berada
dalam Barisan ini”
“Hmmm, Kang Kouwnio, engkau seperti tahu bahwa bisa saja
berlatih dalam barisan seperti ini, dan malah lebih aman.....”?
“Jelas aku tahu, karena engkau sedang melakukannya, dan
setelah lebih siap dan lebih aku memahami Barisan ini, maka
Barisan ini tidak akan menggangguku lebih jauh, dan akupun tidak
merasa terganggu lagi....”
“Tidak, sesungguhnya aku sedang menyelidiki Barisan ini lebih
jauh lagi, bukannya sekedar berlatih seperti yang kukatakan
barusan....”
“Sama saja bodoh.....”
2137
“Beda Kouwnio...”
“Sama saja......”
“Baiklah, terserah engkau Kang Kouwnio,,,,, nach, mari, engkau
boleh berlatih aku akan melakukan yang perlu kulakukan,
berjarah 50 meter dari sini kita memiliki tempat kosong yang
bermanfaat untuk berlatih. Mari,,,,,,” Koay Ji bergerak, dan dia
heran karena sekarang Kang Siauw Hong mengikutinya dengan
mudahnya. Sungguh berbeda dengan waktu gadis itu memasuki
Barisan, limbung, kebingungan dan kehilangan konsentrasinya.
Sekarang, dia terlihat santai dan mudah saja. Dan kini, mereka
sudah berada di tempat yag dia sebutkan tadi. Setelah meneliti
tempat itu dan dia rasa cocok bagi mereka berdua, diapun
berkata:
“Terserah engkau melakukan apa Nona Kang Siauw Hong, tapi
maaf, aku harus melakukan sesuatu hingga pagi harinya.....”
“Baik, aku akan mencoba berlatih dan saat yang tepat akan
beristirahat disini juga, tidak usah engkau pusingkan untuk
selanjutnya.....” berkata gadis itu dan kemudian benar tenggelam
dalam latihannya.
“Terserah engkau Nona.....”
2138
Koay Ji kemudian memulai kembali proses yang sudah 3 hari ini
dilakukannya. Tetapi, sesekali dia tergoda untuk melihat Nona
Kang, dan dia menjadi tentram karena ternyata gadis manis itu
benar mampu bertahan meski tadinya dengan cara yang agak
sulit. Melihat itu dia menarik nafas panjang dan kemudian
melanjutkan penyelidikannya. Satu dan dua jam berlalu, kini dia
mulai meneliti titik kelima dan keenam sekaligus setelah
memastikan pemahamannya atas titik dasar pertama hingga
keempat. Dasar yang pertama sampai keempat sebagaimana
dugaannya adalah landas pijak keseluruhan Barisan tersebut,
sementara dasar kelima adalah pengokohannya. Berbeda
dengan dua pasang (4 dasar berpasangan) yang seperti menjadi
satu dan “terikat” oleh kekuatan yang “mujijat”, susah terpisahkan,
terpisah tetapi nampak satu, maka yang kelima agak berbeda.
Posisinya nampak terlebih kokoh dan tidak banyak berubah dan
bergerak.
Posisi dasar yang keenam nyaris mirip dengan yang kelima,
hanya saja masih lebih dinamis, atau kadang jauh lebih dinamis.
Tetapi, malam ini, Koay Ji secara khusus memutuskan untuk
menghabiskan waktu mengamati dan menyelidiki dasar yang
kelima itu. Dia terlihat sangat kokoh, tetapi kekokohannya lama
kelamaan terlihat berfungsi untuk membuat dasar pertama
2139
sampai keempat yang berpasangan, terus terjaga. Atau, dia
seperti berfungsi untuk menjaga dan mengokohkan pasangan
dasar 1 dan 2 serta juga pasangan 3 dan 4. Dia tidak
melindunginya, tetapi ada bersama mereka dan memperkokoh
dasar itu sebagai bagian dari keseluruhan Barisan Pembingung
Sukma.
Bahkan Koay Ji menjadi agak heran, karena jika 4 dasar masih
bisa berubah-ubah posisi dan letaknya, sehingga membuat
bangun barisan bisa bergeser menyempit ataupun melebar, maka
posisi dasar yang kelima justru tetap. Jaraknya ke posisi dasar
baik 1, 2, 3 dan 4 selalu sama dekat atau sama panjang, sehingga
Koay Ji rada bingung mendefisinikasi posisi dasar kelima ini.
Tetapi, sudah pasti 4 dasar adalah bangun dasar dari bangunan
Barisan itu, tergantung letak dan posisi mereka untuk melebar
atau menyempit. Kemudian, dasar kelima boleh dikata adalah
tiang pancang yang memancangkan 4 dasar itu sehingga mampu
menjadi Barisan yang kokoh. Dia tidak pernah bergeser,
pergeserannya selalu membuat keseluruhan dasar bergeser juga
tetapi tetap pada posisinya masing-masing dan menjaga serta
merekat dasar 1-4 untuk menjadi dudukan atau landasan Barisan
yang kokoh. Penting mana 1-4 ataukah 5, menjadi pekerjaan
rumah yang masih belum dapat dipecahkan oleh Koay Ji, tetapi
2140
yang pasti dia sudah menemukan rahasia dasar nomor 1 hingga
nomor 5.
Sementara dasar ke-enam berbeda dengan dasar kelima, dia
termasuk merekat dasar 1-4 tetapi bergerak bebas dan terkadang
melindungi dasar 1-4 dan kadang menjauh dari dasar 1-4. Tetapi
yang pasti, dia lebih dinamis ketimbang dasar nomor 5, meskipun
tidak pernah dekat dengan dasar nomor 5, tetapi jelas dia
bergerak atas jarak tertentu. Perbandingan dasar 5 dan 6 cukup
jelas, jika dasar 5 statis posisi dan kedudukannya serta jaraknya
dari 1-4, maka dasar 6 justru bergerak dinamis. Penemuan ini
merupakan temuan utama Koay Ji selama beberapa jam, bahkan
dia memastikannya hingga menjelang tengah malam. Ketika dia
dapat menyelesaikan dan menemukan serta memahami dasar
yang ke 6, dia teringat kembali kepada Nona Kang Siauw Hong
dan sontak dia melirik tempat gadis manis itu berada. Tetapi,
alangkah kagetnya karena kini dia melihat gadis itu justru sedang
santai dan saat itu mengamatinya secara saksama. Dan ketika dia
melirik, Kang Siauw Hong berkata dengan nada suara senang:
“Bukan Barisan Empat Segi, Bukan Lima, Bukan Enam, Bukan
pula Tujuh, tetapi bisa Barisan 4 Segi, Bisa Lima, Bisa Enam dan
Bisa Tujuh. Sederhananya, ada 4 dasar utama, ada satu tiang
pancang, ada satu dasar dinamis dan ada satu yang bergerak
2141
bebas, bisa menempel dan jadi sama dengan pasangan 1,2 atau
bisa menempel dan jadi sama dengan pasangan 3,4, bisa
menempel dan memperkuat dasar lima, bisa bergerak bebas
bersama dasar enam. Hmmm, bangun barisanmu itu sudah dapat
kuselami, hanya saja, ini yang sangat hebat, intisari pembentuk
kekuatan sangat sulit kuselami. Penuh rahasia dan sepertinya
dibangun diatas kekuatan yang luar biasa, ada tetapi sulit dilihat,
dibilang tidak nyata, tetapi juga kita bisa melihat Barisan ini
sebagai wujud contohnya. Nach, kutunggu penjelasanmu Koay
Ji......” suara sang gadis sangat tenang, ringan dan lugas, namun
membuat Koay Ji tersentak kaget tak terkira dengan
penjelasannya.
Dia sudah 3 hari berturut-turut dan sudah menghabiskan waktu
mungkin sampai 20 jam totalnya, dan baru dapat memahami
bangun barisan itu. Bagaimana mungkin gadis itu hanya dalam
waktu 3 jam sudah menebak dengan sempurna apa yang dia
temukan dalam 20 jam terakhir? Siapa sebenarnya Kang Siauw
Hong ini? mengapa pula begitu cepat memahami Barisan
bentukan Suhunya meski baru kurang 3 jam mempelajarinya?
Sungguh pusing dan kaget Koay Ji. Tetapi, dia memutuskan
harus bersandiwara untuk tidak terlihat tolol.
2142
“Bagaimana bisa dalam waktu singkat engkau mampu menyelami
dan mempelajari Bangun Dasar Barisan ini....? siapa engkau
sebenarnya....”? tanya Koay Ji dengan nada suara menyelidik, tak
terhindarkan. Mau tidak mau dia curiga dengan niat si gadis yang
tepat dan cepat menyelami Barisan yang sedang dia selami dan
ingin dia urai rahasia dan kedalamannya
“Hikhikhik, Barisan seperti ini mah mudah saja kupelajari, segala
macam Barisan tidak akan mampu mengelabuiku. Sehebat
apapun pasti akan kuselidiki dan dapat kuuraikan. Karena sejak
berusia 7 tahun, Nenek sudah mengajariku segala macam dan
seluk-beluk Ilmu Tentang Barisan rahasia, bahkan dia orangtua
juga memiliki dan menyimpan sebuah Kitab Pusaka mengenai
dasar-dasar Ilmu Barisan. Malahan juga dia mampu mengetahui
dan mengurai Brisan yang memiliki kekuatan sihir maupun
dengan kekuatan pembingung manusia. Barisan ini jelas memiliki
efek pembingung dan ini tidak akan dapat dapat menipuku
sedikitpun. Artinya, engkau tidak bakalan menang jika melawanku
dalam pengetahuan akan Ilmu Tentang Barisan Rahasia, karena
Nenekpun sudah mengakui kehebatan dan pengetahuanku atas
Barisan, katanya aku sudah maju jauh.......”
“Accccchhhhh, benarkah demikian......? bagaimana
penjelasanmu terhadap Barisan Pembingung Sukma dan
2143
bagaimana khusus peran dasar keenam dan ketujuh dari barisan
ini.....”? tanya Koay Ji menguji, sekaligus ingin mengetahui
kebenaran atas temuannya sendiri. Sambil bertanya, diam-diam
Koay Ji harap-harap cemas, karena sesungguhnya dia menunggu
penjelasan si gadis yang bakalan membuatnya lebih mampu
memahami Barisan Suhunya. Tetapi, dia bertanya seakan sedang
menguji pengetahuan Kang Siauw Hong.... dia merasa sedikit
bersalah dalam hatinya, tetapi tak terhindarkan keinginannya
untuk menguji apakah yang sudah dia pahami itu benar atau
masih keliru.
“Hikhikhik Koay Ji koko, engkau mau mengujiku dengan apa yang
engkau bangun ini? Boleh-boleh saja kujelaskan kepadamu,
tetapi engkau harus memberiku hadiah, sejurus ditukar dengan
sejurus, satu ilmu ditukar dengan satu ilmu. Bagaimana, kau
berani melawanku dengan taruhan kecil seperti itu....”? tantang
Kang Siauw Hong dengan cerdik. Dan Koay Ji yang melihat
kesempatan terbuka untuk menyelami Barisan itu melihat
kesempatan yang lain, meski disangka dia sedang menguji si
gadis. “Mengapa tidak mengikuti permainan gadis cerdik pandai
ini....”? pikir Koay Ji tidak kalah cerdiknya. Meskipun, dilain sisi,
Kang Siauw Hong yang sama pandai dan cerdiknya juga sedang
2144
memikirkan hal yang kurang lebih sama dengan yang dipikirkan
Koay Ji saat itu.
“Baik, mari kita bermain-main jika memang demikian. Coba
engkau jelaskan maksud pertanyaanku dan fungsi setiap Dasar
Barisan ini, jika memang benar, maka akan kutukar bukan dengan
satu jurus, tetapi dengan 1 ilmu sekaligus. Bagaimana, kau berani
bertaruh denganku Nona Hong.....”? tantang Koay Ji ketika
melihat adanya kemungkinan beroleh penjelasan dari “ahlinya”.
Karena dia sudah percaya penuh bahwa memang gadis cantik
yang lucu dan cerdik itu memiliki pengetahuan lebih mengenai
barisan, khususnya Barisan rahasia.....
“Baik, siapa takut....? bersiap-siaplah engkau memberiku
pelajaran 1 buah Ilmu Silat, yang lengkap ya. Tapi, baiklah akan
kujelaskan terlebih dahulu mengenai Barisanmu itu. Begini,
Barisan itu terbentuk dari ide 4 buah dasar, dikokohkan oleh dasar
kelima, digerakkan dengan oleh dasar 6 dan disempurnakan oleh
dasar 7. Meski demikian, sudah jelas dasar utama adalah
pasangan dasar 1 dan 2 serta pasangan dasar 3 dan 4;
Kemudian, dasar barisan ini dipancangkan oleh dasar 5 yang
bergerak tetap pada pusat atau sumbu barisan; Sementara dasar
6 adalah fungsi untuk menyerang dan bertahan, sedangkan dasar
7 adalah dasar yang sangat dinamis dan sangat bebas bergerak.
2145
Ketika didesak bisa melindungi Dasar 1,2,3,4 dan 5, ketika
menyerang bisa menemani dasar 6 dan membantunya. Secara
sederhana, itulah prinsip barisan ciptaanmu itu, tetapi yang
membuat barisan ini menjadi mujijat dan amat berbahaya adalah
sumber kekuatan dan jenis pengaruh yang ditimbulkannya.
Mengenai hal yang satu ini, tergantung kepada selera dan
kemampuan pembentuk Barisan. Tetapi, jika kutelaah lebih jauh,
maka Barisan ini adalah barisan dengan kekuatan dan pengaruh
dari beraliran keagamaan, sehingga lebih berfungsi
menenggelamkan kesadaran lawan dan mampu membuatnya
kehilangan kemampuan melakukan perlawanan. Bagaimana “isi”
ini, kelihatannya tergantung pada penentuan pasangan 1 dan 2
serta 3 dan 4, sumbu utamanya di dasar 5, sementara kekuatan
bertahan dan menyerang ada di dasar 6 dan 7 dalam
menggerakkan kesatuan Barisan. Nach, apakah penjelasanku
keliru, hayo, engkau harus segera bersiap-siap mengajariku satu
buah ilmu, dan juga harus yang hebat dan dapat cepat
digunakan.......” berkata Siauw Hong sambil memperagakan
dengan kedua tangannya dan kemudian pada bagian paling akhir,
dia menegaskan kemenangannya karena penjelasannya
memang tepat.
2146
“Hmm engkau memang sudah hampir benar, tetapi engkau masih
lupa menjelaskan karakter dari dasar 1,2,3,4,5 yang merupakan
bagian terpentingnya......” kejar Koay Ji berkeras meski dia sendiri
kurang yakin, karena yang benar dia ingin beroleh penjelasan
lebih rinci justru dari gadis pintar itu. Khususnya mengenai
pemahaman atas dasar 1,2,3,4,5 yang menurutnya agak vital.
“Ach, pertanyaanmu terlampau sulit. Bangun Dasar dan Bangun
Utama Barisan sudah kupecahkan, tetapi bagian yang paling sulit
adalah menemukan paduan yang saling tergantung dan saling
percaya antara 1 dan 2 serta 3 dan 4. Jika kemampuan
menemukan paduan 4 dasar dalam 2 pasangan, maka kesulitan
pertama sudah dipecahkan. Persoalan selanjutnya, pada sumbu
utama di dasar kelima. Dia harus figur yang memiliki komitmen
yang kuat, orang yang memiliki wibawa, memiliki rasa
tanggungjawab yang tinggi dan dipercaya betul oleh 4 dasar yang
dipancangkannya. Dia juga adalah pemimpin yang didengarkan
meski tidak pernah sekalipun bersuara, cukup dengan gerak
tangan dan ilmunya, dia bisa memberitahu apa diinginkannya
untuk dilakukan kawan-kawannya. Bukankah itu yang ingin
engkau tahu? Tentang bagaimana Barisan ini menampilkan efek
mujijatnya, maka itu persoalan lain yang di luar pengetahuanku.
Biasanya adalah tokoh dengan kemampuan iweekang yang
2147
sempurna, ilmu sihir yang mujijat yang sanggup membentuk
Barisan dengan sendi khusus guna menampilkan efek yang
diinginkan. Tetapi, itu masih berada di luar batas pengetahuanku.
Nach apakah penjelasanku cukup....”? tanya si Gadis melihat
Koay Ji kini terpekur dan belum meresponsnya. Dia hanya tidak
sadar bahwa apa yang dijelaskannya justru adalah hal-hal yang
baru dipahami Koay Ji setelah dia menjelaskan secara panjang
lebar. Pada saat itu, Koay Ji terpekur dan sangat senang karena
dia telah menemukan rahasia barisan itu.
“Hei, Koay Ji, apakah engkau mendengarkan penjelasanku.....”?
bentak Siauw Hong kesal karena Koay Ji terus berdiam diri,
padahal dia sudah yakin bahwa dia menang dalam taruhan
mereka berdua.
“Ech, iya, ya, aku mendengarkan dengan sangat jelas dan
tentunya paham sekali Nona. Jangan engkau khawatir” jawab
Koay Ji yang sebenarnya sedang berusaha merangkai penjelasan
Kang Siauw Hong tadi kelabakan ditodong Siauw Hong. Tapi
yang pasti dia sepertinya sudah melihat adanya titik terang serta
terangkum semua dalam kepalanya, tetapi belum dapat
terumuskannya secara detail. Terutama karena interupsi suara
bentakan Siauw Hong.
2148
“Berarti aku menang, engkau tidak boleh berkilah, sudah amat
jelas apa yang sudah kuterangkan mengenai Barisan ini, tidak
mungkin keliru, mungkin ada salah-salah sedikit, tetapi aku yakin
seyakin-yakinnya, secara keseluruhannya memang seperti itulah,
tidak akan mungkin salah lagi......” desak Kang Siauw Hong dan
membuat Koay Ji mau tidak mau mengiyakan bahwa Kang Siauw
Hong benar. Membenarkan bahwa gadis itu menang taruhan.
“Ech, iya, iya, engkau menang Nona.....” jawab Koay Ji dengan
suara yang kurang yakin, tetapi jelas dia sedang senang.
Pengakuan Koay Ji itu sebetulnya malah dibarengi ucapan terima
kasih yang tidak dia ucapkan karena penjelasan Kang Siauw
Hong melengkapi dan membuat Koay Ji kini terbuka jauh lebih
terang pikirannya. Meskipun dia sudah mampu membangun
“Bentuk Barisan” di dalam kepalanya, tetapi penjelasan Siauw
Hong meneguhkan apa yang sudah dia temui dan pahami selama
berada dalam Barisan ini. Bahkan menjelaskan detail rahasia
yang tadinya masih membuatnya pusing, tetapi yang pada
sekarang ini, semuanya secara tiba-tiba menjadi terang dan
membuatnya sangat yakin dan akhirnya gembira.
“Horeee, sekarang engkau harus mengajari aku 1 buah Ilmu
Silat....... engkau sudah mengaku kalah taruhan, ayo....” kejar
2149
Siauw Hong. Mendengar tuntutannya, Koay Ji sempat bingung
sejenak, tetapi kemudian dia memperoleh akal. Diapun kemudian
berkata dengan suara seperti terpaksa meski dalam hati
berterima kasih kepada gadis yang ternyata ahli dan mahir
Barisan itu....”
“Yaaaaach, baiklah, karena engkau menebak dengan benar,
maka aku mestinya memberimu hadiah satu macam ilmu silat.
Engkau ingin Ilmu Silat yang bagaimana? Apakah yang khusus
untuk bertahan, ataupun untuk menyerang atau jenis yang mana
yang lebih engkau suka.....”? tanya Koay Ji memberi Kang Siauw
Hong pilihan atas Ilmu yang akan diwariskannya. Dan Kang Siauw
Hong tidak butuh berpikir lama untuk memberitahu jenis ilmu silat
apa yang menjadi pilihannya. Dalam nada suara riang gembira
diapun berkata kepada Koay Ji yang masih saja terheran-heran
menyaksikan gadis ini yang terlihat teramat gembira
“Ilmu menyerang, aku memilih ilmu untuk menyerang dan untuk
mengalahkan lawan lawanku. Tapi harus ilmu yang hebat loh ya”
pinta Siauw Hong dengan pandangan penuh harap dan membuat
Koay Ji tersenyum mau tidak mau.
“Hmmmm, baik, akan kuturunkan 3 buah jurus menyerang
kepadamu dan Ilmu ini kunamakan Ilmu Hian Bun Sam Ciang
2150
(Tiga Jurus Pukulan Maha sakti). Tetapi akan kuturunkan teori
dan penggunaannya dalam satu kali penjelasan dan satu kali
praktek penggunaannya. Dan kemudian engkau memiliki satu
kesempatan dalam bertanya untuk teorinya dan satu pertanyaan
untuk prakteknya. Apakah engkau sudah bersiap sekarang.....”?
tanya Koay Ji melirik kearah Kang Siauw Hong yang terlihat atau
nampak sangat serius dan juga antusias menyambut pelajaran
barunya atau pelajaran ilmu barunya.
“Sebentar....... nach, sekarang aku sudah siap.....” menjawab
Siauw Hong sambil bersiap dan berkonsentrasi mendengar
pengajaran teori dan praktek dari Koay Ji yang juga sudah bersiap
menurunkan ilmu itu.
“Nach, jurus pertama kunamakan jurus Hu Houw Tio Jang
(Harimau Mendekam Menghadap Matahari), sementara jurus
kedua kunamakan jurus Lok Yap Kui Ken (Daun jatuh kembali
keakar), dan jurus ketiga kunamakan jurus Boan Thian Kai Te
(Langit penuh tertutup tanah). Jurus pertama, kedua dan ketiga,
dapatlah kita mainkan secara terpisah dan masing-masing
dengan kehebatan jurus kedua yang semakin meningkat dan
akhirnya puncak kehebatannya di jurus ketiga. Lawan yang
setingkat kemampuannya denganmu atau bahkan sedikit
diatasmu, jika dicecar dengan Ilmu hebat ini, bisa kupastikan akan
2151
jatuh engkau kalahkan. Tetapi, hati-hati jangan sampai
membunuh lawanmu jika sampai menggunakan ilmu ini..... biarlah
engkau mainkan Ilmu ini jika keadaan memang sangat mendesak
dan memaksa lawanmu untuk mundur.........”
“Hmmmm, apakah benar-benar ketiga jurus yang engkau jelaskan
itu sedemikian hebatnya dan mampu mengalahkan lawan
hebat....”? tanya Kang Siauw Hong untuk meyakinkan dirinya
sendiri, tatap mukanya yang polos dan memandang penuh harap
kepada Koay Ji membuat si pemuda terharu
“Engkau dengarkan dahulu teorinya dan nanti akan kuajarkan
penggunaannya, tetapi masing-masing hanya dalam satu kali
penjelasan dan satu kali praktek. Mari kita mulai dari jurus
pertama......”
Dan kemudian Koay Ji benar menurunkan ketiga jurus tersebut,
menjelaskannya secara detail dan kemudian mempraktekkannya
langsung dihadapan gadis itu secara perlahan-lahan. Gerakangerakan
jurus tersebut rata-rata aneh karena merupakan salah
satu Ilmu perasan yang disusun Koay Ji berdasarkan pengalaman
tempurnya akhir-akhir ini. Meskipun ketiga jurus itu sebetulnya
bukanlah jurus biasa, melainkan merupakan jurus-jurus serangan
yang maha hebat dan maha dahsyat yang jika dilatih sempurna
2152
mendatangkan hasil yang hebat. Namun ketika selesai
menjelaskan dan mempraktekkannya, Kang Siauw Hong
terdengar bertanya dengan nada suara seperti rada ragu. Dia
masih belum teryakinkan bahwa jurus itu benar hebat dan benar
dahsyat:
“Tapi, Koay Ji toako, apakah engkau yakin bahwa Ilmu ini
memang benar-benar sangat hebat dan berbahaya bagi lawanlawanku.....”?
suaranya terdengar polos bukannya merasa tertipu
oleh Koay Ji.
Mendengar pertanyaan itu, Koay Ji segera berkata kepada Kang
Siauw Hong dalam nada suara keren dan berwibawa:
“Siauw Hong, apakah engkau mengira aku orang yang suka
menipu? Tetapi jika engkau butuh bukti, maka engkau kemarikan
lenganmu......... (sambil memegang lengan Siauw Hong yang
teruur kerarahnya, Koay Jipun mencoba untuk mengukur
kekuatan iweekang si gadis, dan diapun kaget karena hawa
iweekang Siauw Hong rada aneh dan sangat mencurigakannya.
Setelah melepas lengannya dia berusaha bersikap tenang dan
melanjutkan), hmmm, akan kugunakan tenaga iweekang sebesar
tenagamu dan menyerangmu dengan kecepatan yang sama
denganmu menggunakan Ilmu ini...... apakah engkau siap
2153
mencoba....”? tanya Koay Ji untuk meyakinkan Siauw Hong. Nona
pintar ini sontak menjadi gembira dan kemudian berkata dengan
suara riang:
“Baik, aku sudah siap Koay ji......” jawab si nona yang tiba-tiba
menjadi gembira karena dapat menjajalnya secara langsung
“Jurus pertama, jurus Hu Houw Tio Jang (Harimau Mendekam
Menghadap Matahari) bersiap menjaga 6 titik berbahaya di kaki,
pinggang dan perutmu, aku akan segera mencecarmu........”
seusai berkata demikian, Koay Ji menjatuhkan badannya
menempel bumi dan langsung melenting dengan 6 buah ancaman
yang susul menyusul. Siauw Hong dapat menyaksikan ancaman
tersebut, tetapi entah mengapa, ancaman keempat, kelima dan
keenam tak mampu dia hindari dan amat terpaksa menangkis
serangan tersebut. Dia kurang yakin mampu menangkis karena
menyadari cepat dan pesatnya serangan itu.
Tetapi dengan cepat Koay Ji lalu melejit kesamping dan tidak
menempur lengan tangkisan lawan, tetapi langsung melanjutkan
totokannya kelengan dan pinggang Siauw Hong. Dua serangan
berbahaya ini nyaris tak bisa ditangkis Siauw Hong dan terpaksa
dia menggunakan gerakan menyingkir pada serangan keenam.
Tetapi, itu dilakukannya dengan terburu-buru, jelas dia sudah
2154
kehilangan keseimbangan dan bakal terus dikejar serangan Koay
Ji yang pada saat itu sudah berteriak lagi mengganti jurus
serangan: Jurus kedua, jurus Lok Yap Kui Ken (Daun jatuh
kembali keakar). Sekali ini serangan Koay Ji mencecar Siauw
Hong pada bagian bawah, dan karena gerakannya sudah kacau,
tiba-tiba Siauw Hong merasakan kakinya tertotok dan
membuatnya tidak mampu bergerak lincah lagi...... pada saat
itulah Koay Ji berhenti menyerangnya. Dan sambil mendekati
Siauw Hong diapun berkata dengan suara penuh keyakinan:
“Aku menyerangmu dengan kecepatan dan kekuatan yang setara
kemampuanmu sekarang ini, tidaklah memanfaatkan kelebihan
iweekang dan ginkangku. Tetapi, hanya dalam dua jurus, engkau
sudah takluk....... tahukah engkau artinya Nona Siauw Hong....”?
tanya Koay Ji
“Kecepatanmu memang tidak istimewa, tetapi mengapa variasi
serangan kelima dan keenam bisa menghanguskan
konsentrasiku.....”? tanya Siauw Hong yang kini sudah takluk dan
benar-benar percaya dengan Ilmu Warisan Koay Ji. Sudah dia
saksikan dengan mata kepalanya sendiri, bahkan sudah
menghadapinya dan dia percaya bahwa Ilmu itu memang hebat.
Tetapi, dasar cerdik, dia masih memiliki pertanyaan yang lain lagi.
2155
“Itu karena konsentrasimu habis mengantisipasi 4 variasi
serangan awal, sekalian engkau sudah tergertak dengan
ancaman-ancaman tersebut. Jikapun seterusnya begitu, di jurus
kedua, engkau akan jatuh dengan cara yang sama, tetapi di jurus
ketiga, jatuhnya akan lebih membahayakan. Karena itu, usahakan
untuk menjaga iweekangmu agar tidak berlebihan, karena
bahayanya bagi lawan memang amat jelas dan bisa kurasakan.
Tetapi ingat, serangan ke lawan ketika bertarung diatur sesuai
dengan kemampuan tenaga lawan, karena itu harus amat berhatihati
karena jika tidak, kita dan khususnya engkau, akan dapat
membunuh lawan secara sangat mudah, dan ini tidaklah
baik.......”
“Baiklah, terima kasih Koay Ji, apakah engkau bisa
mengulanginya lagi....”? pinta si gadis minta dijelaskan lagi.
“Perjanjian kita masih segar tadi..... tentunya engkau sendiripun
masih ingat bukan”? Koay Ji mengingatkan si gadis
“Hikhikhik, jangan takut, aku sudah mengingatnya.......... bolehkah
engkau menilaiku jika kumainkan sekali lagi....”? tawar si gadis
yang membuat Koay Ji terbelalak tetapi mengiyakan saja
permintaannya
2156
“Boleh, engkau mainkan lagi sekali lagi......”
Dan bersilatlah si gadis dan memainkan ilmu tersebut dengan
cukup lancar dan hanya ada kekeliruan sedikit yang ditemukan
Koay Ji. Jelas Koay Ji kaget sekaligus sadar bahwa Siauw Hong
bukan gadis sembarangan. Hanya dalam beberapa kali
keterangan saja sudah dapat menguasai ilmu ciptaannya,
sungguh mau tidak mau membuat Koay Ji kaget dan terperangah.
“Hmmm, cara bernafasmu agak berbeda, dan keganasanmu
melebihiku, tetapi pada jurus ketiga, karena terlampau ganas,
sangat aganas malahan, sehingga jadi mudah untuk dapat
diantisipasi oleh lawan. Cobalah engkau berlatih menyimpan
tenaga dan kemudian mengakumulasinya pada jurus kedua
ataupun ketiga, hal ini menipu lawan dan membuatnya terlambat
mengantisipasi kehebatannya dan hasil akhirnya akan sangat
mengejutkannya.....”
“Ach, engkau benar, aku terlampau antusias dan inginnya
menghamburkannya sejak dari jurus pertama.... terima kasih
Koay Ji... aku kini mengerti, semakin hebat lawan kita, semakin
lama kita mesti memupuknya, atau baru jurus ketiga kita
melepaskan semua serangan itu sekaligus”
2157
Setelah akhirnya Kang Siauw Hong selesai berlatih dan semakin
sempurna hingga membuat Koay Ji kagum, tiba-tiba dia teringat
sesuatu. Kekuatan iweekang gadis ini kenapa demikian aneh,
kenapa....? ach, benar, dia harus bertanya. Bukan apa-apa,
iweekang sejenis itu sudah pernah dia lawan, dan lawannya duaduanya
sangat hebat luar biasa. Hanya, gadis ini, kelihatannya
memiliki kandungan kekuatan yang hebat, tetapi tidak terlatih
secara baik, atau masih belum mampu mengeluarkan inti
kehebatan iweekang yang dimilikinya. Koay Ji menjadi heran dan
sekaligus merasa curiga, jangan-jangan gadis ini justru berasal
dari keluarga perguruan Bu Tek Seng Pay? “astaga alangkah
cerobohnya aku ini jika memang demikian adanya....” desis Koay
Ji kaget setengah mati. Karena itu, diapun jadi memandang Siauw
Hong dan kemudian bertanya dengan nada suara yang amat
serius, meski saat itu Siauw Hong lebih sibuk berlatih,
“Kang Kouwnio, dari siapa engkau belajar ilmu iweekangmu
tadi.....”? tanya Koay Ji dengan sikap yang tiba-tiba berubah
menjadi sangat serius dan memandang wajah si gadis yang juga
kaget melihat perubahan sikap Koay Ji. Keduanya sudah sempat
bercengkerama dan saling bercanda, tetapi mengapa tiba-tiba
Koay Ji berubah menjadi amat serius dan aneh? Mau tidak mau
Siauw Hong keder juga, dia sadar bahwa dia menaruh hormat dan
2158
juga amat kagum kepada Koay Ji, karena itu dia tidak mau main
rahasia.
“Acccchhhh, ini,,,,, ini teramat rumit untuk dijelaskan.....” berkata
Kang Siauw Hong dalam nada suara yang kesulitan
menjelaskannya. Memang sulit menjawab karena ada berapa
rahasia yang tak terungkapkannya. Rahasia yang hanya dia
sendiri yang menyimpannya dan punya kaitan dengan jati dirinya.
“Kang Kouwnio, karena ilmu iweekang dalam dirimu itu adalah
milik Bu Tek Seng Ong, lawan utama yang akan kita kuhadapi
nanti di Pek In San. Dan dia membantai 200an lebih anak murid
Kaypang, serta ratusan pendekar dari berbagai perguruan lain di
Tionggoan ini..... dapatkah engkau memahami jika tiba-tiba aku
merasa ceroboh telah melatihmu dengan Ilmu Mujijat tadi.....”?
kejar Koay Ji yang membuat Kang Siauw Hong tersentak hebat
dan merasa semakin kesulitan untuk menjawab. “Waaaah gawat
kalau memang begitu” pikir si gadis gelisah. Diapun memandang
wajah Koay Ji dengan panik, dan menjawab segera;
“Accch, tapi aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Bu Tek
Seng Ong, tidak, bahkan mendengar namanyapun, baru
sekarang dari mulutmu. Tidak ada sama sekali hubunganku
dengan tokoh itu......” elak Kang Siauw Hong, semakin kesulitan
2159
memikirkan jawaban yang tepat tanpa mendatangkan rasa curiga
orang, terutama rasa curiga Koay Ji yang sudah punya kesan kuat
dalam dirinya. Tapi dia sadar jawabannya tadi justru menambah
rasa curiga Koay Ji.
“Baiklah, siapa yang mengajarimu ilmu iweekang itu.....”? tanya
Koay Ji lebih jauh untuk melacak siapa gerangan yang mengajari
Siauw Hong, mana tahu titik terang justru muncul dari jawaban
Siauw Hong nanti.
“Entahlah, aku tak kenal orang yang mewarisiku dengan
iweekang yang ada dalam diriku ini, Koay Ji........”? jawab Siauw
Hong kecut, karena memang dia tidak tahu nama pemberi hadiah
kitab itu.
“Kapan engkau mempelajarinya.....”? buru Koay Ji yang tetap
curiga dan malahan semakin curiga dengan kisah Siauw Hong
yang menurutnya mencurigakan dan rada banyak bolong yang
susah dijelaskan.
“Aku sama sekali tidak mempelajarinya, aku hanya diwarisi
tenaga iweekang itu oleh seorang tua yang sudah sekarat dan
kemudian memberiku sebuah sobekan kitab pusaka..... dan dia
menyuruhku untuk belajar dari sobekan itu, tetapi tidak kupahami
2160
karena sobekan kertas itu berbahasa asing yang tak bisa kubaca.
Hanya beberapa jam belaka dia mengajariku dan terus binasa
sendiri, tetapi rasanya cukup dan bisa kugunakan, meski begitubegitu
saja sampai sekarang. Tetapi orang tua yang tak kukenal
itu wanti-wanti berpesan, bahwa sekali orang tahu aku memiliki
sobekan itu, maka tidak akan aman hidupku lagi. Karena itu,
akupun tidak pernah memberitahu orang memiliki sobekan
itu.......” jelas Siauw Hong dengan usara lemah dan sendu karena
dia sadar Koay Ji akan sangat kesulitan untuk memahami
kisahnya, dan itu membuatnya merasa sangat sedih.
Tetapi, mendengar penjelasan itu, justru Koay Ji mejadi agak
lebih tenang meskipun belum seluruhnya membuatnya tentram.
Memang, kekuatan iweekang gadis itu masih jauh dibanding Bu
Tek Seng Ong dan orang tua yang dilawannya beberapa hari
yang silam. Tetapi, kekuatan dalam diri Siauw Hong, sangatlah
besar, tetapi belum tergali dan belum terlatih, entah sekuat apa,
dia sendiri belum mampu untuk mengetahuinya secara jelas.
Hanya, itupun tetap memngkhawatirkannya. Terutama karena
masih belum jelas bagaimana dan siapa yang menghadiahinya
kekuatan besar yang belum dia latih dan dipahaminya itu.
Berhubung dia sedang berhadapan dengan tokoh-tokoh dengan
kemampuan iweekang yang sejenis, namun jauh lebih hebat lagi,
2161
maka karena itu Koay Jipun tetap memutuskan untuk bertanya
lebih jauh dan mencari lebih terang:
“Siauw Hong, apakah engkau masih menyimpan sobekan yang
engkau ceritakan itu.....”? tanya Koay Ji berhati-hati sambil
menatap Kang Siauw Hong yang juga kini tiba-tiba menjadi agak
defensif serta ikut curiga dengan pertanyaan itu. Dan, itulah,
sekarang keduanya saling mencurigai.
“Masih, hmmmm, apakah engkau juga bakalan termasuk orangorang
yang sangat menginginkan benda seperti Koay Ji....”?
tanya Kang Siauw Hong yang juga berbalik curiga kepada niat
Koay Ji, terutama karena Koay Ji kini menanyakan benda yang
diwariskan dengan peringatan keras kepada gadis itu.
“Bisa dikatakan iya, tetapi bukan untuk menguasai ilmu itu Nona,
tetapi karena ada alasan lain lagi. Yakni alasan keamanan.....”
“Maksudmu? Apakah ditanganku menjadi tidak aman....”?
“Bukan begitu, tetapi mengamankan Ilmu Mujijat yang terkandung
dan tertulis dalam sobekan itu, karena aku tahu sobekan apa
itu.......”
2162
“Engkau berjanji tidak akan mengambilnya dan akan
mengembalikannya kepadaku setelah melihatnya....”? tanya
Siauw Hong polos, dan lagi pula dia merasa percuma
menyembunyikannya jika Koay Ji ingin melihatnya
“Apakah aku terlihat orang yang mengingini barang orang lain
dengan cara yang benar dan tidak baik....”?
“Baiklah, aku percaya kepadamu......” berkata Sauw Hong sambil
mengeluarkan sobekan beberapa halaman sebuah Kitab Pusaka.
Begitu disodorkan kepadanya tanpa ba bi bu oleh Kang Siauw
Hong, Koay Ji sejenak terpaku dan seperti kurang percaya. Dia
memandang Siauw Hong tepat dimatanya, dan disana dia
menemukan hal yang mengharukannya. Benar, gadis itu
mempercayainya, dan menyerahkan sobekan Kitab itu tanpa
berpikiran negatif. Maka perlahan dia mengangguk dan menerima
sobekan yang sudah kumal itu.
Sekali pandang dia mengenali bahwa bahan dan usianya, persis
sama dengan kitab yang dulu dibacanya. Sebagaimana Kitab
lengkap minus sobekan ini, yang dahulu dibaca Koay Ji, kertaskertas
ditangannya sekarang inipun sudah amat kumal dan harus
agak berhati-hati agar tidak sampai rusak dan sobek. Dan begitu
membuka bagian atasnya, tertulis dalam bahasa sansekerta yang
2163
dapat dia mengerti sebagai berikut: Bagian Pertama – Melatih
Semangat Untuk Mencapai Kesempurnaan. Bagian ini seperti
yang diduga Koay Ji memang benar adalah melatih Semangat
Mencapai Kesempurnaan dan memang benar, merupakan
rumusan Iweekang maha sakti yang diberi nama oleh Pat Bin Ling
Long sebagai Ilmu Hian Bun Kui Goan Kang Khi (Ilmu
Menghimpun Dan Menyatukan Hawa Murni). Maka setelah yakin
Koay Ji bertanya:
“Kang Kouwnio, sudah sejauh mana engkau memahami rumusan
iweekang yang dituliskan oleh sobekan Kitab ini.....”?
“Tak pernah kubaca, tidak kupahami bahasa yang digunakan oleh
sobekan itu. karena itu iweekangku masih yang diwariskan orang
tua yang namanya sajapun tak sempat dia tinggalkan......”
“Hmmm, baiklah kuberitahukan kepadamu, ini adalah teori
melatih iweekang yang dia titipkan kepadamu, nama ilmu untuk
berlatih iweekang itu adalah Ilmu Hian Bun Kui Goan Kang Khi
(Ilmu Menghimpun Dan Menyatukan Hawa Murni). Aku bisa
berbahasa dan membaca bahasa Sansekerta yang menjadi
bahasa asli dari Kitab Pusaka yang sudah terpisah menjadi dua
ini...... ach, tapi sungguh tak disangka-sangka......” kata-kata Koay
Ji terputus, karena tak mungkin dia menyebutkan sudah
2164
membaca bagian lain Kitab ini. Karena jika dia menyebutkannya,
sulit untuk nanti menjelaskan mengapa dia memiliki atau bahkan
menguasai Kitab itu, padahal isi Kitab itu selengkapnya yang dia
sendiri tidak tahu berada dimana sekarang, amat berbahaya. Dan
Kitab itu sendiri berbahaya jika berkeliaran di luar, karena jika
sampai ditangan orang jahat, efeknya berbahaya.
“Benar-benarkah engkau berkemampuan untuk bisa membaca isi
sobekan-sobekan kertas ini Koay Ji...”? bertanya Kang Siauw
Hong sambil menatap Koay Ji dengan sinar mata beningnya yang
terlihat amat jujur dimata Koay Ji. Mau tidak mau Koay Ji tergetar
dan harus menjawab, karena pertanyaan si gadis menuntut
jawabannya. Maka pada akhirnya, meskipun dengan berat hati,
tetapi memandang kepolosan gadis itu, Koay Ji menjawab juga
“Harus kukatakan memang iya, aku mampu membaca dan
menguraikan apa yang tertulis dalam sobekan kitab ini Siauw
Hong.....” berkata Koay Ji sambil juga mengembalikan sobekan
kertas tersebut kepada si Nona.
“Jika demikian, sobekan ini kuhadiahkan kepadamu, tetapi
sebagai gantinya engkau harus menjelaskan isinya kepadaku......
bagaimana, apakah engkau bersedia untuk menerimanya dan
menterjemahkannya untukku.....”? Kang Siauw Hong tiba-tiba
2165
menyodorkannya sobekan penting itu dengan usulan yang
tadinya menurut dia rada gila, tetapi Siauw Hong kelihatannya
memiliki perhitungan lain. Dia bisa melihat betapa Koay Ji
sangatlah tertarik dengan Kitab atau Sobekan yang dimilikinya itu.
Dan yang penting, dia percaya dengan nalurinya, bahwa Koay Ji
adalah orang yang bisa dia percaya. Dan lagi, bagi dirinya sendiri,
apa artinya memiliki sobekan itu tanpa mengetahui isinya dan
tanpa dapat melatihnya padahal dia sendiri sudah memiliki
dasarnya secara amat kuat....? sungguh pemikiran yang praktis
dari si gadis, sekaligus menggambarkan kepercayaannya yang
tinggi atas diri Koay Ji yang malah tercengang dengan idenya.
“Apakah engkau yakin bahwa aku akan mengajarkanmu secara
benar dan baik sesuai isi sobekan kitab ini....”? Koay Ji sendiri
merasa bodoh dengan pertanyaan yang baru saja dia lontarkan
“Apakah engkau berpikir akan melakukannya.....”? bukan
menjawab Siauw Hong malah balik bertanya kepadanya.
“Tidak, aku tidak memikirkannya, tetapi seharusnya engkau
menimbangnya secara lebih hati-hati, karena ilmu dalam kitab ini
benar-benar sangat hebat” jawab Koay Ji jujur dan berterus
terang
2166
“Tidak perlu, karena aku mempercayaimu, bahkan sejak awal
melihatmu....” tajam dan lugas jawaban Kang Siauw Hong dan
membuat Koay Ji terdiam. Mereka berdua sama-sama terdiam
untuk beberapa saat lamanya, sampai pada akhirnya Koay Ji
berkata dengan suara lembut,
“Baiklah, akupun mempercayaimu meski engkau teramat
misterius, bahkan lebih dari kakek, nenek dan para paman serta
kakak-kakakmu....” berkata Koay Ji dengan setengah
menggerutu, tetapi harus dia akui, dia mengagumi gadis cantik
yang serba pintar dan hebat Ilmu Barisan ini.
“Baiklah Koay Ji, jangan lupa, aku sudah menganggapmu seperti
kakakku sendiri, bahkan sudah setengah menjadi Suhuku dengan
Ilmu hebat yang tadi engkau ajarkan. Ajaran itu sudah kucatat
dikepalaku loh.......”
“Baguslah jika begitu......”
“Nach, ini sobekan kitabnya, engkau segera ajarkan kepadaku
isinya, paling tidak engkau bacakan terjemahannya dan aku akan
mulai melatihnya malam ini...” Siauw Hong menyodorkan kertaskertas
itu kepada Koay Ji yang malah menerimanya sambil
termangu-mangu. Betapa inginnya dia memiliki kertas ini dahulu,
2167
dan dalam cara yang amat aneh, kini berada dalam
genggamannya namun tidak mungkin dan tidak perlu lagi bagi dia
untuk melatihnya. Dahulu dia sangat antusias mencari guna
mempelajarinya, tetapi tidak pernah dapat menemukannya.
Sekarang, dia sudah tak mungkin mempelajarinya, tetapi justru
menemukannya.
“Kenapa, ada yang salah.....”? tanya Siauw Hong melihat Koay Ji
termenung ketika memegang sobekan kertas itu. Koay Ji
gelagapan, tetapi dengan tangkas diapun menjawab pertanyaan
Siauw Hong.
“Kang Kouwnio, tahukah engkau betapa inginku memperoleh
sobekan kitab ini tempo dulu...? aku mengetahui keberadaan
sobekan ini secara tidak sengaja, dan ingin melatihnya. Tapi
sayang tidak pernah dapat kutemukan. Tetapi tahu-tahu dia
muncul dengan sendirinya melalui dirimu. Dan aku sudah melatih
iweekang lain dan sudah pasti tidak bisa melatih ilmu ini, tetapi
memperolehnya tetap saja merupakan kesenangan tersendiri.
Bagaikan memuaskan dahaga masa lalu, meskipun tak lagi dapat
mempelajari isinya........” berkata Koay Ji sambil mengenang
masa kecilnya ketika menemukan, membaca dan melatih
sebagian dari isi kitab yang sobekannya kini berada ditangannya
saat itu.
2168
“Hmmmm, engkau boleh memilikinya selamanya setelah
menjelaskan isinya dan teorinya kepadaku......” berkata Siauw
Hong tegas
“Apakah engkau tidak khawatir aku keliru menterjemahkan dan
menjelaskannya kepadamu....”? tanya Koay ji, kembali terdengar
bodoh
“Engkau orang yang paling jujur yang mungkin dapat kutemukan,
jika orang lain tahu apa gernagan isi sobekan kitab yang ternyata
menurutmu amat mujijat ini, kutahu apa yang akan mereka
lakukan terhadapku.......”
“Baiklah, bagus jika engkau mempercayaiku..... kita mulai...”
begitu menerimanya Koay Ji langsung berinisiatif memulai
menjelaskannya. Dan Kang Siauw Hong juga langsung bersiap
untuk mendengar dan menyimak. Tetapi sebelum dimulai dengan
nada yang manja dan riang dia berkata,
‘Baik,,,,,, tapi sebentar, aku perlu berkonsentrasi mendengarkan
penjelasanmu” potong Siauw Hong yang membuat Koay Ji
tersenyum.
Dan tidak berapa lama kemudian Koay Ji menterjemahkan dan
bahkan di beberapa tempat menjelaskan terjemahan itu kepada
2169
Siauw Hong. Lebih satu jam Koay Ji membacakan terjemahannya
dan menjelaskan beberapa hal penting dalam melatih iweekang
yang disebut dalam sobekan itu sebagai Ilmu Hian Bun Kui Goan
Kang Khi (Ilmu Menghimpun Dan Menyatukan Hawa Murni).
Semakin lama semakin dia percaya, cara menghimpun hawa
memang jauh berbeda dengan kedua ilmu iweekangnya. Dan
karena itu, dia hanya sekedar tahu dan memahami sobekan itu
tetapi tidak mungkin mempelajarinya. Hanya, karena
kepinterannya dan juga karena daya hafalnya yang amat luar
biasa, semua isi sobekan itu sudah berpindah ke kepalanya.
Berikut semua penjelasan dan detail yang dia jelaskan tadi
kepada Kang Siauw Hong, cara melatih, cara pernafasan, semua
berpindah kedalam kepalanya, bahkan tanpa memiliki sobekan itu
sekalipun....
Sementara itu, selepas Koay Ji membacakan dan menjelaskan
cara melatih dan menghimpun hawa, Kang Siauw Hong dalam
waktu singkat tenggelam dalam upaya berlatih dan mendalami
apa yang baru saja dia dengarkan. Baik terjemahannya, maupun
penjelasan yang diberikan Koay Ji. Diapun tidak lagi
menghiraukan Koay Ji dan terlihat tenggelam dalam samadhinya
yang berbeda sedikit dengan bentuk dan formasi Koay Ji. Segera
Koay Ji sadar jika Siauw Hong sudah menemukan rahasia berlatih
2170
ilmunya dan sedang melatihnya langsung. Melihat keadaan si
gadis, Koay Ji memutuskan untuk sekali lagi melakukan
pendalaman atas Barisan sesuai dengan temuannya dan sesuai
dengan penjelasan Siauw Hong tadi.
Dan semakin lama dia merasa semakin aneh, karena apa yang
ingin dicarinya, dirasakannya seperti berada dalam dirinya atau
berada dalam isi kepalanya, bahkan terasa sangat dekat dengan
dirinya. Pokoknya dia tahu dan paham, tetapi belum dapat dia
jelaskan dengan kata-kata. Segala yang didalaminya, dicarinya,
serta juga dianalisisnya, entah mengapa berada dalam hidupnya,
berada dalam pemahaman dan pengetahuannya. Semakin lama
Koay Ji semakin yakin dengan kesimpulannya itu dan merasa
sudah semakin dekat. “Sejengkal lagi aku akan berhasil”, simpul
Koay Ji pada akhirnya.
Keduanya akhirnya tenggelam dalam samadhi masing-masing
dan berlatih dengan cara yang berbeda, sampai menjelang subuh
baru mereka berhenti. Adalah Siauw Hong yang tergugah terlebih
dahulu, kelihatannya ada sesuatu yang mengganjal dan masih
belum dipahaminya. Karena itu, diapun menggugah Koay Ji yang
juga cepat sadar kembali dan bertanya:
“Ada apa Kang Kouwnio......”? tanyanya heran
2171
“Mengapa kekuatanku mendadak naik berlipat kali padahal yang
aku tahu, tidak sehebat itu warisan iweekang yang dihadiahkan
Lopeh yang baik itu dahulunya. Selain itu, aku mengalami
kebuntuan untuk melatih lebih dalam dan lebih jauh lagi, seperti
ada yang menghalangiku untuk maju lebih jauh.......” tanyanya
dengan nada suara penasaran sekaligus gembira.
“Coba engkau pukul aku dengan segenap kekuatanmu sekarang,
jangan ragu dan jangan khawatir....” usul Koay Ji karena dia
maklum dengan apa yang terjadi atas diri Nona itu dan untuk
membuatnya jelas, maka dia harus mengetahui dan melihat
sendiri apa yang dia miliki.
“Memukulmu....? Aku aku tidak tega, engkau demikian baik dan
mempercayaiku, masak aku harus memukulmu.....”? ragu dan
gamang Siauw Hong ketika disuruh untuk memukul Koay Ji
“Engkau ingin tahu sampai dimana kekuatanmu? Aku dapat
menjelaskannya dengan menerima pukulanmu,,, tenang saja, aku
tidak akan kenapa-kenapa,.,,,,”? Koay Ji coba meyakinkan gadis
itu.
“Engkau yakin.....”?
“Yakin sekali....” angguk Koay Ji memastikan
2172
“Tapi, pukul dengan sepenuh kekuatanmu, jangan khawatir.....”
tambah Koay Ji agar Siauw Hong tidak ragu memukul
“Accchhhh, tapi baiklah.......”
Si Gadis mulai bersip-siap untuk memukul, tetapi beberapa saat
kemudian dia batal memukul, dan bahkan berkata yang membuat
Koay Ji merasa amat gemas dan sayang dengan kemanjaan dan
kepolosan gadis itu;
“Aku tidak tega dan kasihan kepadamu kalau sampai
terpukul........” berkata si Nona sambil memandang kasihan
kearah Koay ji
“Hhhhhhhh, pokoknya pukul saja, aku dapat memunahkannya
dengan amat mudah. Jangan engkau tidak perlu takut......”
“Engkau yakin sekali nampaknya.....”
“Kalau tidak yakin, tidak akan kusuruh engkau menyerangku.....”
“Baiklah, awas sekali ini aku akan memukul beneran loh.....”
“Baik, ayo segera pukul......”
2173
“Awas serangan...” dan memancarlah serangan dari jurus ketiga
yang tadi dilatihkan Koay Ji kepada gadis itu, jurus Boan Thian
Kai Te (Langit penuh tertutup tanah) jurus ketiga dari Ilmu Hian
Bun Sam Ciang. Bukan hanya Siauw Hong seorang, Koay Ji
sendiri menjadi kaget mengetahui betapa cepat si Nona
menguasai Ilmu Iweekang yang mendekam dalam dirinya sekian
puluh tahun. Hebat, karena dalam waktu singkat, dia mampu
membaurkan dan mengontrol tenaga dalam dirinya, meski
kelihatannya belum cukup sempurna.
Dengan tenang Koay Ji mengerahkan kekuatan iweekangnya,
mengisap dan terus menggiring tenaga itu, tetapi berkali-kali sulit
dilakukannya karena iweekang si Nona melonjak hebat. Terjadi
pergumulan tenaga keduanya, tetapi tingkat kemampuan Koay Ji
jelas masih jauh mengatasi. Karena itu, setelah beberapa saat
diapun menghempas tenaga si Nona sambil berteriak:
“Haiiiiittttttt................”
“Blaaaar.......”
Koay Ji menjaga tenaganya hingga Siauw Hong hanya terseret
kesamping tanpa terluka. Tetapi, Koay Ji benar-benar kaget,
karena dalam semalam kemajuan Siauw Hong sungguh
2174
menggetarkannya. Sudah nyaris sehebat Tio Lian Cu dan Khong
Yan di pertemuan terakhir mereka, sebelum Khong Yan dan Tio
Lian Cu berlatih sebulan di Benteng Keluarga Hu. Jelas saja Koay
Ji kaget dan terkejut bukan buatan. Maka diapun berkata dengan
suara senang:
“Maaf, maafkan aku Kang Kouwnio........”
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa, tetapi engkau memang sangat
hebat Koay Ji. Hanya, bagaimana penilaianmu sendiri atas
pencapaianku, dan apa yang masih menjadi masalahku hingga
belum bisa maju lebih jauh lagi....”? tanya si gadis penasaran yang
masih tetap penasaran.
“Kang Kouwnio, yang pertama, kekuatan iweekangmu bertambah
mungkin sampai berapa kali lipat dari kekuatanmu tadi. Dengan
cara luar biasa, engkau kini sudah melampaui kemampuan Hoan
Kun kakakmu itu, tetapi kusarankan, jangan terlalu menyolok dan
mempertontonkan iweekang dan ilmumu tadi. Karena banyak
orang akan salah sangka terhadap dirimu. Apalagi, aku tidak tahu
siapa yang menjadi Suhumu, orang tua yang memberimu hadiah
kekuatannya itu. Dan kedua, engkau tidak bisa maju lebih jauh
sebelum menguasai dan membaurkan kekuatan dalam dirimu
dengan organ-organ dalam tubuhmu. Maka, engkau
2175
membutuhkan waktu beberapa lama untuk melatih bagian-bagian
awal dari rumusan iweekang itu dan mencoba menguasai tenaga
tersebut secara lebih sempurna. Pada saat yang tepat, mungkin
setahun kedepan, engkau sudah akan meningkat dengan
latihanmu sendiri menyempurnakan apa yang engkau warisi dari
orang tua itu.......” tegas Koay Ji yang memang sudah cukup lama
dan matang mengolah ilmunya.
“Acccch, begitu rupanya........” terlihat Kang Siauw Hong
mengangguk paham dan sekaligus wajahnya berseri gembira
“Kang Kouwnio, engkau harus tekun melatihnya, sebab jika
bertemu orang seperti aku, maka tubuhmu bisa rusak berat
karena engkau belum menguasai iweekang dalam dirimu secara
sempurna. Jika sudah menguatkan tubuhmu dan menguasai
iweekang itu, engkau akan melesat lagi hingga sepuluh kali lipat
seperti malam ini. Hanya, setiap engkau berlatih, semakin engkau
menyempurnakan penguasaanmu atas iweekang mujijat dalam
dirimu. Semakin sering berlatih, semakin baik bagimu dan
semakin hebat dirimu. Tetapi, kusarankan, jangan engkau
bertempur dengan orang diatas kemampuanmu hingga sebulan
kedepan, sebab jika tidak, engkau bakalan mengalami jalan api
dan tersesat dalam latihan..... engkau paham dengan
penjelasanku ini....”? tegas Koay Ji dengan wajah keren dan
2176
penuh wibawa sampai membuat Siauw Hong terpesona. Tetapi
hanya sebentar, karena kemudian gadis itu tersenyum dan
berkata dengan nada suara menggoda,
“Siap Suhu,,,, mulai hari ini engkau kuanggap sebagai Suhu,,,,,”
kelakar Siauw Hong tetapi wajahnya terlihat serius
“Yang benar saja Kang Kouwnio, usia kita cuma beda setahun
saja. Engkau seperti membuatku puluhan tahun diatas usiamu,
tidak. Aku tidak mau dipanggil Suhu olehmu......” tolak Koay Ji
kesal.
“Hikhikhik, orang lain boleh meragukan dan memandang remeh
dirimu, tetapi sejak awal sudah kutahu bahwa engkau istimewa,
dan tebakanku tidaklah meleset, malah melampaui dugaanku
semula...... Tidak, engkau tetap akan kupanggil Suhu” si gadis
berkeras memanggil Koay Ji sebagai Suhu.
“Aku akan mendiamkanmu dan tidak akan membantumu lagi jika
engkau berkeras memanggilku Suhu......” ujar Koay Ji berubah
menjadi tegas dan serius dan Siauw Hong rada jeri kalau Koay Ji
bersikap begitu.
“Hikhikhik, jangan marah begitu, aku jadi takut kalau engkau
marah. Begini saja, bagaimana kalau engkau menjadi kakak
2177
bagiku? Maka aku akan memanggilmu dengan toako saja,
apakah engkau setuju Koay Ji......”? suara Kang Siauw Hong yang
memintanya menyetujui memanggilnya sebagai kakak
sebenarnya menggugah Koay Ji, maklum sampai sekarang dia
tidak memiliki seorangpun sanak keluarga, kecuali semua kakak
seperguruannya yang sama-sama mengasihinya. Permintaan
Siauw Hong pada dasarnya menyentuh perasaan terdalam Koay
ji pada saat itu. Dan hal itu membuatnya terharu dan terpaku
sebentar.
“Hei,,,, apakah engkau setuju...”? teriakan Kang Siauw Hong
mengejutkan Koay Ji yang sedang termenung itu
“Hmmmmmmm, aku menjadi kakakmu dan engkau menjadi
adikku.... tentu saja aku setuju, sangat setuju, asal engkau tidak
bandel dan dengar-dengaran denganku sebagai kakakmu, maka
aku setuju saja......” pada akhirnya Koay Ji menyetujui, selain itu
dia sendiri merasa gemas dan sayang, karena Siauw Hong pintar
dalam membuat suasana menjadi segar dan hidup.
“Benarkah.....? dengan engkau menjadi kakakku mana bisa tidak
kuhormati. Tapi, engkau juga memiliki kewajiban untuk
menjagaku sebagai adikmu, bukankah harus begitu.....” Siauw
Hong dengan polos berkata
2178
“Sudah tentu, aku harus menyayangimu dan melindungimu dari
siapapun yang akan mengganggumu tanpa engkau minta
sekalipun....” jawab Koay Ji yang kini membuat si gadis menjadi
sama terharu.
“Terima kasih banyak Koay Ji koko, aku memang memiliki
beberapa orang kakak dan seorang adik, tetapi nyaris tidak ada
yang menganggapku normal karena lebih sering membaca buku
dan berlatih seorang diri. Kecuali Nenekku dan adikku, nyaris
tidak ada yang dekat denganku, bahkan juga kedua orang tuaku
yang selalu saja mencela tindakanku........” suasana serentak
berubah menjadi agak sendu ketika Siauw Hong yang ceria
berubah menjadi sentimentil.
“Kalau begitu, mari, sekarang juga kita mengangkat saudara, aku
menjadi kakak dan engkau menjadi adik,,,,,,,”
Dengan bersumpah kepada langit dan bumi, merekapun sejak
saat itu bersepakat mengangkat persaudaraan. Koay Ji yang
menjadi kakak terlihat amat bangga dan gembira, sama halnya
dengan Siauw Hong. Dan sejak saat itu, tanpa banyak orang tahu,
keduanya semakin lama semakin dekat, saling menyayangi
layaknya kakak kepada adiknya. Dan Siauw Hong berkembang
menjadi semakin hebat, karena setiap malam berlatih bersama
2179
Koay Ji dalam Barisan. Dan diapun,Siauw Hong, membuka
semua rahasia barisan yang dia ketahui, sehingga singkat kata
mereka saling mendidik satu dengan yang lainnya.
Pagi harinya, Koay Ji terlihat sangat bersemangat ketika
bergabung dengan sesama saudara seperguruannya. Semua
saudara seperguruannya senang melihatnya, tetapi Oey Hwa dan
Pek Bwe Li yang lebih peka, menduga ada sesuatu yang telah
membuat adik mereka itu terlihat sangat bersemangat. Tetapi,
apakah itu? Mereka tidak bisa menebaknya. Merekapun kembali
berlatih dalam posisi 6 dasar dan 1 bebas “menggantung”. “Ach,
barisan itu.....” desis Koay Ji dan memandangi semua kakak
seperguruannya dalam formasi Barisan itu.
Dia memandang dan kagum dengan kepemimpinan Pek Ciu Ping
yang adalah Toa Suhengnya, dia benar-benar terlihat menjadi,
ech, benar, bukankah dia benar-benar menjadi pemimpin bagi
mereka semua? Koay Ji berpikir dengan kagum melihat posisi
Toa Suhengnya yang amat menonjol dan berwibawa. Meski dia
seringkali agak perasa, tetapi dia mampu memimpin semua adik
seperguruannya dengan tetap dihormati dan disayangi. “Dan,
ech, keempat saudara seperguruannya, yakni Ji Suheng, Su Suci,
Ngo Suheng, Liok Suci, bukankah mereka berempat... ach, benar
mereka adalah 2 pasangan dengan ikatan cinta kasih yang luar
2180
biasa. Dan, Aastaga bukankah Sam Suhengnya berada pada
posisi bebas dan bisa kemana saja, dan Chit Suheng, kemana
lagi jika bukan posisi .... ach, Insu benar-benar hebat, dia
menyusun Barisan berdasarkan karakter murid-muridnya...
pantas kurasa sangat dekat, sangat memahami, berada dikepala
namun susah untuk dirumuskan, rupanya jelas dan bisa
dirumuskan saat melihat posisi semua suheng dan suci saat
berada dalam Barisan..... accch, Insu.....”
Sungguh tak terduga sebelumnya oleh Koay Ji jika dia
menemukan rahasianya, mampu memaksa keluar apa yang
dalam pikirannya setelah melihat ketujuh suheng dan juga
sucinya dalam barisan. “Ach, luar biasa tidak salah lagi, begitu
rupanya Insu menyusun barisan ini...... pantas saja 4 dasar itu
bisa melekat demikian hebat, sulit dipahami, karena rupanya
dibangun atas dasar saling percaya dan saling cinta keempat
muridnya. Seorang Toa Suheng yang penyayang dan perasa
namun mengokohkan persaudaraan mereka, kemudian seorang
Chit Suheng yang juga membantu 5 dasar tadi dalam pertahanan
dan penyerangan. Serta seorang Sam Suheng yang bisa terbang
kemanapun karena diberi kebebasan oleh Suhu mereka.........
benar-benar luar biasa, Insu memang luar biasa.....” tetapi
meskipun berpikir demikian, sama sekali Koay Ji tidak heran
2181
dengan ketiadaan posisinya dalam Barisan itu. Padahal, dapat
saja dia bertanya-tanya, mengapa dia seperti tidak dianggap dan
tidak ada dalam formasi Barisan itu. Tak terduga dia bersuara
keras, bahkan nyaris terdengar bagaikan “teriakan” dan sontak
mengejutkan semua saudara seperguruannya yang sednag
serius berlatih:
“Toa Suheng, aku sudah menemukan Rahasia Barisan yang
hebat ini......” ucapnya antara sadar dan tidak sadar. Tetapi
teriakannya yang meski tidak terlampau kuat tetap saja dapat
terdengar jelas oleh nyaris semua suheng dan juga sucinya.
Karena teriakan itu jelas saja menggugah mereka dari latihan, dan
kini, benar saja dengan cepat mereka semua tersadar untuk
kemudian memandangi Koay Ji antara percaya dan tidak.
Bahkan, beberapa waktu kemudian, mereka semua sudah samasama
mengelilinginya untuk meminta penjelasan.
“Siauw sute, apa maksud perkataanmu barusan tadi...”? tanya
Pek Ciu Ping, sang toa suheng dengan nada suara tergetar
seakan tidak percaya. Karena dia memang memiliki keyakinan
bahwa Koay Ji pastilah akan menemukan rahasia Barisan yang
mujijat itu, dan besar kemungkinan pada saat itu, dia sudah
menemukan rahasianya. Suhunya sudah berkata demikian dan
memang pandangannya sendiripun seperti meneguhkan
2182
perkataan Suhunya yang terkesan menyanjung siauw sutenya itu.
Maka ketika dia mendengar Koay Ji berkata dengan suara lirih
tadi bahwa dia benar “sudah menemukan rahasia Barisan”, maka
Pek Ciu Ping sangat percaya. Dan kini dia ingin mendengarkan
penegasan Koay Ji secara langsung dan sekali lagi. Wajar dia
langsung bertanya untuk beroleh keyakinan, karena memang
moment itu sudah dia tunggu selama beberapa hari.
“Toa Suheng, para suheng dan juga suci, memang benar, sudah
bisa kupecahkan rahasia barisan itu. Dan hebatnya adalah,
rahasianya itu ternyata berada diantara kita semua, tepatnya
adalah gambaran mengenai kita semua sebagai sesama saudara
seperguruan. Dapatkah Toa Suheng mengingat kembali ketika
mendapat surat dan menjelaskan satu persatu keadaan kita
sesama saudara seperguruan ini? Nach, tepat berada berada
disanalah rahasia barisan itu. Atau dengan kata lain, Barisan itu
sebetulnya dibentuk oleh Suhu berdasarkan karakteristik masingmasing
kita sebagai muridnya......” demikan Koay Ji menjelaskan,
tetapi tetap saja belum dapat diselami secara menyeluruh oleh
semua saudara seperguruannya itu. Masih sulit untuk dapat
langsung dicerna, karena sudah jelas akan ada pertanyaan yang
selanjutnya, yakni bagaimana mungkin seperti itu?
2183
“Acccch, maksud siauw sute, Barisan itu adalah gambaran dari
kita semua sebagai murid-murid dari Insu? Bagaimana
penjelasan detailnya sute...”? kini yang bertanya adalah Tiat Kie
Bu. Dan terlihat Tek Ui Sinkay juga mengiyakan pertanyaan itu
karena ingin tahu lebih jelas apa yang baru saja dijelaskan oleh
Koay Ji. Pertanyaan itu, bahkan merupakan hal yang juga menjadi
pertanyaan mereka semua. Hanya saja, adalah Tiat Kie Bu yang
terlebih dahulu mengajukannya menjadi pertanyaan langsung
kepada Koay Ji.
“Jelasnya begini para Suheng dan Suci..... Barisan itu terbentuk
dari 6 Dasar atau Enam Elemen, dan satu elemen lepas tetapi
melengkapi kehebatannya itu. Begini penjelasan lengkapnya.
Dasar utama yang membuat Barisan ini mampu membesar dan
juga mampu mengecil adalah dua pasang murid Insu. Dimana
masing-masing pasangan yakni, posisi berpasangan SATU dan
DUA akan terdiri dari Ji Suheng dan Su Suci. Pasangan kedua
yang merupakan paduan antara TIGA dan EMPAT yang bakalan
berisikan pasangan Ngo Suheng dan Liok Suci. Dasar ini yang
memberi kekuatan mistis kepada Barisan karena mereka terikat
oleh kekuatan yang amat luar biasa dan sulit didefinikan.
Kekuatan itu adalah RASA CINTA, yang dalam surat Insu disebut
MESKIPUN MATI TAPI TETAP BERHARGA UNTUK
2184
DIPERJUANGKAN. Ikatan CINTA antara JI SUHENG dan SU
SUCI serta NGO SUHENG dan LIOK SUCI sebenarnya
merupakan intisari kekuatan BARISAN itu. Kekuatan itu kemudian
dipancangkan dan diteguhkan oleh KEPEMIMPINAN TOA
SUHENG yang sangat melindungi dan menyatukan kita semua.
Karena itu, elemen kelima menjadi SUMBU PUSAT dan
KONSTAN alias tidak bergerak kemana-mana tetapi berada
dimana-mana, dan dengan demikian terikatlah keutuhan seluruh
BARISAN ini dan berputar padanya sebagai SUMBU. Kemudian,
CHIT SUHENG akan menjadi pelindung atas SUMBU dan
EMPAT DASAR, sekaligus bagan awal penyerangan bagi pihak
yang akan mengganggu. Dan terakhir, kedudukan SAM SUHENG
sebagai penyerang amat menentukan, dia dapat berubah menjadi
atau seperti semua dasar dan sumbu, tetapi kekuatan utamanya
adalah dinamis dan lepas dalam menyerang. Jelas jika posisi
ketujuh mewakili keadaan Sam Suheng yang direstui berada di
luar tetapi tetap menjadi keluarga besar perguruan kita. Karena
itu, jika masih ada diantara kita yang meragukan pengenalan Insu
atas diri kita semua muridnya, maka kita sudah keliru sangka.....
demikian penjelasannya para suheng dan suci.....” Koay Ji
menutup penjelasannya dan membuat semua mereka termenung,
bahkan tenggelam dalam permenungan mereka masing-masing.
2185
Tetapi, mereka semua sama menyadari kebenaran atas ucapan
terakhir Koay Ji.
Memang benar, mereka tak bisa lagi meragukan pengenalan
SUHU mereka atas diri mereka masing-masing. Sang SUHU
menuangkan pengenalan atas murid-muridnya dan
mengabadikannya dalam sebuah BARISAN PEMBINGUNG
SUKMA, sebuah MAHA KARYA yang benar-benar luar biasa, sulit
mereka bayangkan sebelumnya. Bahkan Koay Ji sendiri sudah
paham sampai dimana kehebatan Barisan itu, sebuah tingkat
yang sulit untuk digambarkan dan didefinisikan. Sedang mereka
tenggelam dalam lamunan, tiba-tiba terdengar perintah:
“Ji Sute, masuk ke posisi 1, Su Sumoy masuk ke posisi 2, Ngo
Sute pegang posisi 3, Liok Sumoy pegang posisi 4, Lohu masuk
ke posisi 5, Chit Sute pegang posisi 6, Sam Suheng masuk ke
posisi bebas, mari kita lakukan.......” tidak salah lagi, suara itu
datang dari Pek Ciu Ping yang setelah menyadari kebenaran
uraian Koay Ji, langsung memutuskan untuk mencobanya.
Berturut-turut ketujuh saudara seperguruan itu memasuki posisi
yang disebutkan oleh Pek Ciu Ping tadi, dan dalam waktu
beberapa detik kemudian mereka sudah membentuk satu
Barisan. Posisi masing-masing persis seperti yang diucapkan dan
2186
juga ditentukan oleh pek Ciu Ping tadi. Setelah mereka dalam
posisinya masing-masing, tiba-tiba terdengar teriakan dari Pek
Ciu Ping:
“Roda Bumi Bergerak Menantang Langit.......” dan tiba-tiba
barisan itu bergerak dan Koay Ji sampai nyaris terpental ke
belakang dan konsentrasinya sedikit terganggu ketika mereka
mulai bergerak dengan kekuatan dan energi yang menghempas
keluar darinya sungguh amat luar biasa. Bukan hanya itu, mata
batinnya dapat merasakan kekuatan membadai yang bergerak
keluar dari barisan tersebut secara bergelombang dan susul
menyusul., Bisa dipastikan jika dia masuk kedalam, dalam
keadaan tidak siap,dia tahu keadaannya bakalan sangatlah
runyam. Maka dengan seksama kemudian Koay Ji mengikuti
semua perputaran dan gerakan Barisan itu sampai akhirnya Pek
Ciu Ping berteriak:
“Cukup...... kita istirahat.......”
Dan ketika mereka saling pandang berdelapan, termasuk Koay Ji,
wajah mereka terlihat bercahaya aneh. Tetapi, mengabaikannya,
Pek Ciu Ping berkata atau lebih tepatnya mengeluarkan perintah:
2187
“Kita kembali ke Gua Insu, Chit Sute, beri tahu ke Thian Cong Pay,
kita tidak akan ikut makan siang. Siauw sute, engkau bertugas
mengadakan makan siang bagi kita semua. Segera setelah
semua dikerjakan, kita bertemu dalam Gua Insu, sudah saatnya
surat terakhir Suhu kita buka....... ayo, kerjakan tugas kita masingmasing”
Pek Ciu Ping memberi perintah dengan suara amat
serius dan tak ada satupun dari mereka yang membantah, tetapi
langsung bergerak.
Kurang dari 5 menit Cu Ying Lun sudah balik kembali masuk
kedalam gua setelah menyampaikan pesan toa suhengnya.
Kemudian, Koay Ji juga sudah kembali dari dalam hutan,
memesan makanan khusus melalui “kawan-kawan” yang selalu
berada dalam hutan itu. Dan tak lama, mereka semua,
berdelapan, sudah mengambil posisi melingkar dalam Gua
Pertapaan bagian luar dari Bu In Sinliong dengan Pek Ciu Ping
mengambil posisi paling depan menghadapi semua sutenya.
Menunggu beberapa saat, memandangi semua sutenya, akhirnya
dia berkata:
“Para sute dan sumoy, menurut surat Insu kepada lohu, segera
setelah siauw sute membuka rahasia barisan, maka kita
melatihnya sekali dan dapat menyempurnakan kelak di kemudian
2188
hari. Kemudian kita berkumpul disini dan membuka surat Insu
yang terakhir. Sam Sute, ambilkan surat Insu yang terakhir.....”
“Baik toa suheng......” Tek Ui Sinkay segera berdiri dan kemudian
bergerak menuju dinding sebelah dalam, menekan sebuah tombol
dan merogoh kedalamnya. Dia kemudian balik ke posisi
pertemuan dan menyerahkan surat terkahir yang masih tertutup,
belum terbuka sama sekali.
“Baiklah, kita semua wajib memberi hormat kepada Insu sebelum
bisa membuka surat beliau yang terakhir....”
Dan dengan dipimpin oleh Pek Ciu Ping, merekapun memberi
hormat kearah dalam Gua Pertapaan secara bergantian sesuai
urutan mereka masuk perguruan, dimulai dari Pek Ciu Ping dan
terakhir Koay Ji. Setelah semua selesai memberi hormat, Pek Ciu
Ping kembali berkata:
“Siauw sute, apakah engkau heran mengapa engkau tidak berada
dalam Barisan Pembingung Sukma itu....”?
“Meskipun tecu heran, tetapi tak ada sekalipun rasa tidak enak
dengan persoalan itu Toa Suheng, karena tecu merasa pasti
bahwa Insu memiliki maksud dengan semua keputusan dan apa
2189
yang dia rancangkan....” jawab Koay Ji ringan dan sama sekali
tidak merasa dipinggirkan atau disepelekan.
“Hmmm, tepat seperti dugaan Insu...... memang benar Koay Ji,
Insu memberimu tugas lain yang bahkan mungkin lebih berat
dengan yang akan dihadapi oleh kami dalam Barisan
Pembingung Sukma. Tetapi lohu sendiri tidak paham apa itu.
Untuk mengetahuinya, maka kita mesti segera membaca wasiat
Insu yang terakhir yang akan menjelaskan tanggungjawab kita
semua......”
Dengan disaksikan semua saudara seperguruannya, Pek Ciu
Ping membuka surat terakhir yang ditinggalkan atau dikirimkan Bu
In Sinliong kepada murid-muridnya. Begitu terbuka, Pek Ciu Ping
langsung membacakannya:
Murid-muridku,
Ini merupakan surat terakhirku buat kalian semua, dan akan
kuawali dari sebuah kisah mengenai Tiga Maha Hebat Rimba
Persilatan Tionggoan pada lebih 60 tahun yang silam. Lebih 60
tahun silam, muncul 3 orang Maha Hebat yang memiliki
kepandaian luar biasa yang kebetulan masih seangkatan dengan
Suhumu ini dan juga Lam Hay Sinni. Bahkan menurut keterangan
2190
Sukong kalian, Bu Beng Hwesio (Rahib Tanpa Nama), dari kuil
Siauw Lim Sie, kepandaian mereka masih setingkat dan
setanding dengan kepandaian Suhumu dan sedikit di atas Lam
Hay Sinni.
Ketiganya tampil tidak begitu lama namun sungguh mengguncang
Rimba Persilatan Tionggoan dan mereka dikenal dengan nama
masing-masing pada waktu itu sebagai Ceng San Sinkay
(Pengemis Sakti Jubah Hijau) pada waktu itu berusia 41 tahun,
kemudian Soat San Giok Li (Dewi Kemala dari Gunung Salju)
Toan Swie Cie dari In Lam yang berusia 37 tahun, seorang
perempuan cantik jelita yang mencintai Ceng San Sinkay dan
terakhir Thian Cun Mok Pak (Malaikat Langit Gurun Utara)
Buyung Im Seng yang berusia 40 tahun. Ketiganya memiliki
hubungan cinta kasih yang ruwet dan saking ruwetnya sampai
mengaduk-aduk rimba persilatan dan mengacaukannya. Puncak
pengacauan mereka terjadi ketika Suhu kalian bersama Lam Hay
Sinni melakukan kunjungan ke Persia.
Siauw Lim Sie yang diaduk-aduk oleh Malaikat Langit yang
telengas dan amat licik, menugaskan Sukong kalian untuk
mengatasi Malaikat Langit. Terutama, karena tokoh licik itu
mencuri sebuah Kitab Pusaka dan juga membunuh beberapa
orang Pendeta di Kuil Siong San. Sukong kalian akhirnya turun
2191
tangan dan berhasil menemukan dan menghadapi ketiga tokoh itu
di daerah Go Bi San. Mereka bertiga ditemukan Sukong kalian
sedang bertemu di Bukit Selaksa Dewa (Ban Hud San), dan
karena menemukan mereka, Sukong kalian kemudian meminta
mereka untuk berhenti mengaduk-aduk Kangouw dan
mengembalikan pusaka-pusaka yang tercuri. Tetapi, jika tokoh
pertama Ceng San Sinkay sangat simpatik dan bersedia bekerja
sama, maka tokoh perempuannya angin-anginan. Sementara
tokoh ketiga, yakni si Malaikat Langit justru bersikap sangat licik
dan membawa maunya sendiri.
Singkat kisah, Sukong kalian menantang untuk menjatuhkan
Malaikat Langit sebelum jurus ke-seratus dan bersedia untuk
mengalahkan mereka masing-masing dalam pertarungan satu
lawan satu. Tetapi Si Malaikat Langit dalam kepercayaan diri yang
berlebihan malah menantang bertaruh Sukong kalian.
Taruhannya adalah, jika Sukong kalian sampai kalah, maka dia
harus berhenti mengejar dan pulang kembali ke Siauw Lim Sie.
Selain itu, dia tidak boleh lagi kembali mengganggu mereka
bertiga, khususnya Malaikat Langit. Lebiah dari itu, bahkan Kitab
Pusaka Siauw Lim Sie akan menjadi milik Malaikat Langit untuk
selama-lamanya. Tetapi jika Sukong kalian yang menang
pertempuran, atau jika mereka sampai terkalahkan, maka mereka
2192
harus bertapa di Ban Hud Teng itu selama 75 tahun dan dilarang
meninggalkan tempat itu. Kecuali terjadi sesuatu hal yang tidak
diingini dan sama sekali tidak terduga, seperti misalnya jika Gua
itu runtuh, ataupun karena sebab bencana alam lain yang tidak
dapat diperkirakan sebelumnya.
Sukong kalian ternyata dapat mengalahkan mereka sebelum 100
jurus dalam pertempuran satu demi satu melawan mereka
bertiga. Memang, khususnya Ceng San Sinkay, terhitung
memberi sedikit bantuan kepada Sukong kalian agar janji taruhan
dapatlah ditepati. Dan begitulah, mereka bertiga, dengan sedikit
bantuan Ceng San Sinkay yang gagah dapat ditaklukkan. Meski
sempat Malaikat Langit dan Dewi Kemala mengerubuti Sukong,
tetapi bantuan kecil Ceng San Sinkay yang tidak ikut mengeroyok
malahan diam-diam membantu Sukong, membuat mereka
akhirnya tetap kalah dan bersedia untuk dikurung di dalam Ban
Hud Teng selama 75 tahun dan dilarang keluar. Ceng San Sinkay
juga rela agar dirinya ikut dikurung dalam gua itu.
Sepuluh tahun kemudian, Sukong kalian menceritakan kisah ini
kepada Suhu kalian ini, ditambah dengan berita, bahwa sebelum
dihukum dan dikurung 75 tahun di Ban Hud Teng, Ceng San
Sinkay ternyata memiliki Guci Perak, Gin Cui Ouw. Khasiatnya
yang amat luar biasa adalah bisa mempertahankan fisik
2193
seseorang yang meminum air rendaman setahun dalam guci itu.
Berita ini mengagetkan Sukong kalian dan memerintahkan Suhu
kalian ini untuk bersiap. Dan sebelum Sukong kalian meninggal,
dia memanggil Suhu kalian dan menjelaskan terawangannya,
bahwa ketiga orang yang dikurungnya akan lepas sebelum 75
tahun masa penahanan atau kurungan mereka di Ban Hud Teng.
Kisah selengkapnya yang tertulis di atas, diceritakan sukong
kalian secara lengkap, serta bagaimana usulnya menghadapi
ketiga orang itu.
Sebetulnya, Suhu kalian menduga mereka tidak akan munculkan
diri lagi, tetapi saat-saat terakhir gangguan yang agak berbeda
mulai muncul dan semakin lama semakin kuat. Dan ketika
mencoba mengetahui soalnya, ternyata berkaitan dengan Gin Ciu
Ouw, dan sejak saat itu, 2 tahun lalu, suhu kalian mulai
mempersiapkan diri sebagaimana petunjuk sukong. Sayangnya,
waktu Suhu kalian ini tidak akan mencapai waktu kedatangan
mereka, karena sudah harus terlebih dahulu ajal. Maka untuk
melawan mereka suhu kalian pasrahkan kepada pertama,
Barisan Pembingung Sukma untuk mengurung serta
mengalahkan Malaikat Langit. Kedua, Lam Hay Sinni yang akan
kelak menghadapi Wanita Kemala, dan terakhir, Koay Ji harus
menghadapi Ceng San Sinkay.
2194
Perhitungan Suhu kalian, Lam Hay Sinni akan mampu menahan
imbang Wanita kemala yang hebat itu, terutama setelah Bibi Guru
kalian itu berhasil menemukan formula yang ampuh dan
dituntaskannya setahun terakhir. Koay Ji akan mampu menahan
imbang Ceng San Sinkay, bahkan mungkin menang, tetapi
sangatlah tergantung pada keluhuran budi Koay Ji. Barisan
Pembingung Sukma memiliki kemampuan paling besar untuk
menang, karena Barisan itu diciptakan secara khusus untuk
menghadapi tokoh gelap hati seperti Malaikat Langit.
Ketika membaca surat ini, kalian berjarak paling lama 1 tahun
menghadapi mereka bertiga, cukup waktu melatih Barisan itu
untuk ketujuh muridku. Mengapa, karena memang Barisan itu
sengaja diciptakan sesuai karakter kalian bertujuh. Setelah Koay
Ji menceritakan rahasia Barisan ini, tinggal melanjutkan
membaca petunjuk yang sudah ditinggalkan.
Murid-muridku, inilah surat terakhir Suhu kalian ini, jagalah
persaudaraan kalian semua berdelapan. Tidak lama lagi Suhu
kalian akan berjalan menuju penerangan abadi dan janganlah
ditangisi. Setelah pertemuan ini, jangan ada yang memasuki
Barisan kecuali Koay Ji, karena ada hal lain yang harus dia
pelajari mengenai Barisan Pembingung Sukma. Setelah besok
2195
malam, kalian kemudian bebas untuk berlatih dalam Barisan
hingga sempurna menjelang kedatangan mereka bertiga.
Nach, akhirnya, Selamat Tinggal murid-muridku, sungguh bangga
dapat mendidik dan memiliki kalian semua sebagai murid dan
sekaligus selaku anak-anakku. Karena kalian tidak pernah
berbuat yang mengecewakan Suhu kalian ini..... tetaplah seperti
itu sepanjang hayatmu....
Bu In Sin Liong
Tidak ada yang beranjak, tidak ada yang bersuara, kecuali
merenungkan apa yang tadi dibacakan Pek Ciu Ping sebagai
surat terakhir dan ternyata sekaligus surat perpisahan dari Suhu
mereka. Mereka sungguh terharu dan sampai tidak mampu
berkata apa-apa, bahkan Oey Hwa dan Pek Bwe Li terlihat
berlinang air mata tetapi takut untuk menangis dengan bersuara.
Bukan apa-apa, bukan tak bisa menangis, tetapi karena mereka
amat menyadari bahwa keadaan mereka sekarang karena didikan
dan asuhan sang Suhu. Padahal, mereka semuanya adalah anakanak
yang terlantar, kumpulan anak anak yang sama sekali tidak
punya rumah dan tidak punya sanak saudara satupun. Mereka
semua rata-rata adalah anak yatim piatu dan sama sekali tidak
2196
memiliki hubungan keluarga dengan orang lain, kecuali seorang
saja, yakni Siau Ji Po yang punya keluarga.
Maka, wajar jika mereka merasa kehilangan orang tua yang
sangat dihormati tetapi sulit untuk ditangisi karena melarang
mereka menangisinya. Ya, mereka semua menghormati dan
mengasihi Suhu mereka sama dengan orang tua sendiri yang
mereka tidak punyai lagi. Dan Suhu itu, orang tua itu, berpisahan
dengan mereka hanya melalui sebuah surat tanpa mereka bisa
melakukan apa-apa. Bahkan untuk mengatakan SELAMAT
BERPISAH sekalipun.
“Baiklah para sute dan sumoy, kita telah membaca surat
perpisahan Insu, sungguh menyedihkan memang, Tetapi, kita
semua patut berbangga karena melepaskan Insu, orang yang kita
kasihi dan sayangi dengan penuh kebanggaan sebagaimana Insu
menuliskannya untuk kita semua. Kita boleh beristirahat hari ini,
kecuali Siauw Sute, dan sejak besok kita berlatih untuk
menyempurnakan Barisan Pembingung Sukma. Barisan yang
melambangkan diri kita semua dan merangkum secara amat
indah siapa kita dan dibuat untuk kita oleh Insu.......”
Merekapun bubar dengan sendu dan terharu karena tahu Suhu
mereka sudah akan berpisah selamanya dari mereka semua.
2197
Tetapi, semangat mereka membuncah karena sadar mereka tidak
mengecewakan Suhu yang dihormati dan disayangi itu. Koay Ji
sendiri sama dengan yang lainnya beranjak dengan kepala
kosong, bahkan masih tetap kosong meskipun dia malam harinya
sudah berada dalam Barisan itu. Ketimbang menangisi keadaan
Suhunya Koay Ji memilih untuk keluar dari Gua yang semakin
murung suasananya dan menuju Barisan Pembingung Sukma.
Disana dia menyangka bisa lebih tenang dan tidak semurung dan
tidak semuram jika terus menerus berada dalam gua yang semua
orang sedang bersedih. Semua orang sedang sendu dan
merenung bebas.
Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, Koay Ji sudah
berada dalam Barisan sejak sebelum makan malam. Tetapi
meskipun dia benar bermuram durja, namun kewaspadaannya
masih tetap tinggi dan sudah memiliki daya membal terhadap
pengaruh pembingung sukma Barisan yang rahasianya sudah dia
pahami. Tetapi, setelah kurang dua jam dia hanya berdiam diri,
tiba-tiba di telinganya berdenging sebuah suara yang sudah amat
dia rindukan..... suara Suhunya.
“Acccch, Suhu......” desisnya, tetapi tanpa jawaban, dan ketika dia
menengok kiri dan kanan, tetap saja tidak ditemukannya
bayangan Suhunya yang tadi bersuara itu. Sampai akhirnya dia
2198
berpikir bahwa mungkin suara tadi adalah kebetulan dan karena
kangennya dia kepada Suhunya sampai dia berpikir seolah-olah
“sedang dan sudah mendengar” suara Suhunya yang sangat
dihormati itu. Hanya itu yang dipikirkan Koay Ji atas suara yang
dia dengar. Dia lanjut termenung.
Tetapi, setelah sepuluh menit dia kembali berdiam diri, suara itu
justru muncul di telinganya, bahkan sekali ini dengan instruksi:
“Berjalanlah 10 tindak kedepan, pancangkan satu dahan pohon
sebesar dua atau tiga jarimu dengan panjang yang sama dengan
lenganmu di sisi kiri. Kemudian berbelok kekiri dan berjalan lagi
sejauh 5 tindak, pancangkan lagi satu dahan ukuran yang sama
tetapi sekali ini di sisi sebelah kananmu. Kemudian berbelok
kekanan, berjalan lagi lima tindak dan pancangkan sebuah dahan
lagi di sebelah kiri dan berbelok kekiri sepanjang 10 tindak dan
pancangkan sebuah dahan lagi disana. Dahan terakhir. Lakukan
segera, maka tidak bakalan ada yang mampu menemukan kita
berada disitu, siapapun juga orangnya. Lakukan samadhi disitu,
dan bisa lebih luasa bagimu untuk berlatih......”
Sekarang Koay Ji sudah yakin bahwa itu adalah Suhunya, maka
tanpa diperintah untuk kedua kalinya, diapun melakukan apa yang
diperintahkan oleh Suhunya dan dalam waktu beberapa menit, dia
2199
sudah berada dalam suasana yang berbeda. Satu suasana yang
tenang, teduh, tiada satupun ancaman menggedor batinnya,
emosinya juga bebas, dan bahkan juga tidak ada suara-suara
yang mempengaruhi sukmanya. Benar kata Suhunya bahwa
disitu dia akan lebih tenang, maka tanpa ragu sedikitpun dia
segera melakukan samadhi. Sebentar saja dia sudah dalam
keheningan yang dalam, menyatu dengan suasana sekitarnya
dan bahkan lebih khusyuk dari hari biasanya.
Dan sebagaimana dugaannya, tidak berapa lama dia
mendengarkan suara Suhunya yang kembali menyapanya:
“Muridku, ada dua hal lagi yang perlu kutinggalkan kepada kalian
semua, yang pertama tentang “tanda kehadiranku” sebuah KIM
LIONG (NAGA EMAS) dan Gua Pertapaanku. Sejak hari ini,
Suhumu akan segera berpindah ke Siong San, karena memang
sesungguhnya itu bersesuaian dengan janji kepada sukongmu,
dahulu itu. Bahwa menjelang akhir hidup, Suhumu akan kembali
ke haribaan Siong San dan Siauw Lim Sie. Tetapi, sebelum
membicarakan urusan yang pertama, kita selesaikan urusan yang
lain terlebih dahulu........ dengarkan dan langsung kerjakan,
karena ini adalah pelajaran terakhir Suhumu......”
2200
Suara Bu In Sinliong kemudian perlahan sirap dan tidak ada
terdengar apa-apa lagi selama beberapa menit. Tetapi Koay Ji
terus menunggu karena dia tahu Suhunya memintanya demikian,
dan sebagaimana biasanya, dia mesti bersabar menunggu
karena biasanya Suhunya paham waktu yang tepat. Dan dia
benar:
“Pusatkan konsentrasimu, menyatulah dengan alam sekitarmu,
jangan takut untuk membiarkan ragamu tertinggal karena dia
aman disitu, lanjutkan dan jangan merasa takut ataupun khawatir,
Suhumu akan bersamamu selalu. Rasakan alam sekitarmu
merasuki sukmamu, bahkan bersatu dengan sukmamu, resapi
hembusan angin yang bertiup perlahan tetapi tidak
mempengaruhimu,,,,,,, satukan sukmamu dengan alam semesta
dan jangan engkau takut. Teruskan hingga engkau mampu
memandang dan melihat ragamu sendiri seperti sedang terpisah
secara perlahan-lahan,,,,,,, tetapi jangan terburu-buru, biarkan
mengalir seperti air, semua akan terjadi pada saat yang tepat. Jika
demikian maka semua akan berjalan dengan mulus”
Dengan mengikuti petunjuk Suhunya, Koay Ji kemudian
tenggelam dalam samadhi dan bahkan membiarkan sukmanya
melayang, melayang dan melayang. Tetapi, dia masih belum tahu
ujungnya dan sesekali merasa agak khawatir, merasa agak
2201
sedikit penasaran tetapi tidak menemukan jawabannya.. Sayang,
justru perasaan itu yang menahannya tetap dalam keadaan yang
diam tanpa kemajuan, tidak maju dan tidak mundur. Padahal
keberanian membiarkan sukmanya berbaur dengan alam, adalah
pintu masuk untuk apa yang sedang dimintakan suhunya pada
saat itu,,,,,, tetapi Koay Ji masih membutuhkan waktu untuk
melakukannya dan kelihatannya Suhunya terus menunggu
dengan sabar.
Ada kurang lebih satu jam Koay Ji berada dalam kebimbangan,
melepas semuanya atau menahan semuanya. Melepas
semuanya, berarti membaurkan sukmanya dengan alam semesta
dan seperti tidak terkait dengan raganya. Menahan semuanya
berarti tetap menahan jarak antara sukma dan raganya, sewaktuwaktu
dia dapat masuk kembali keraganya dan menjadi KOAY JI.
Bu In Sinliong membiarkan Koay Ji untuk “bertarung dalam
kesenyapannya”, membiarkan takdir Koay Ji diputuskan dan
ditentukannya. Mana yang akan menang, biarlah Koay Ji yang
memutuskan dan menentukannya, karena itu adalah takdirnya. Itu
adalah kehidupannya sendiri, maka jangan dituntun membuta,
biarkan dia menemukannya sendiri.
Pada saat itu Koay Ji sedang dalam pertimbangan apakah dia
akan melepaskan “pegangan” atau “kaitannya” dengan raganya
2202
dan membiarkan sukmanya melayang layang ataukah tetap
memegang kaitan dengan raganya. Suhunya tidak memberi
keterangan apa yang harus dia lakukan, meskipun tersirat dari
percakapan tadi apa yang diinginkan Suhunya. “Masak Suhu mau
mencelakakan aku......”? pertimbangan itu dan pertentangan tadi
mewarnai pertarungan dalam batinnya, dan membuatnya dalam
keadaan seperti itu dalam waktu yang cukup panjang. Dan
sepanjang itu, dia sama sekali tidak mendengarkan satupun suara
atau dialog dari Suhunya, sepertinya dia dibiarkan sendiri untuk
memutuskan.
“Apakah dilepaskan atau terus kugenggam.....? Suhunya sudah
menjamin raganya aman, tetapi siapa yang menjamin sukmanya
terbang kemana-mana dan tidak kembali ke raganya dengan
selamat?..... ach, Suhu tidak mungkin mencelakaiku dalam cara
begitu....” kalimat terakhir yang membuat Koay Ji untuk pada
akhirnya mengambil keputusan. Sesaat sebelum memutuskan dia
sengaja membiarkan agar semuanya terlepas, terbebas dan
mengalir seperti air. Mengalir kemanapun dia ingin dan mau.
Tidak disangka dan tidak dihitungnya lagi bahwa sudah sejam dia
berkutat dengan pilihan “lepas atau pegang/tahan”. Maka ketika
dia akhirnya membiarkan semuanya lepas dari ikatan dan
sukmanya menjadi bebas, itu adalah piihannya dan bukan
2203
instruksi gurunya. Tetapi, setelah dia melapas semuanya,
ternyata sukmanya tidak melayang bebas kemana-mana. Sugguh
Aneh......”
Dan setelah dia memutuskan dan melepas semuanya, setelah
sukmanya merasa bebas dan terlepas, terdengarlah kembali
suara Suhunya, tetapi sekali ini dalam bentuk yang dia kenal dan
kini berhadapan muka dengan muka dengannya. Koay Ji terkejut
dan segera menyapa sambil memberi hormat:
“Suhu,,,,,,,,,”
“Koay Ji, tata krama seperti itu ada dalam alam ragamu, alam fisik,
tapi kita sekarang sedang berhadapan dalam apa yang disebut
“komunikasi batin”, yang semua saudara seperguruanmu tidak
atau belum akan mampu melakukannya. Mungkin toa suhengmu
sebentar lagi akan mampu mencapai tahapan tersebut. Tetapi,
jangan membuang waktu, Suhumu masih ingin mengajarmu satu
hal lagi yang kelihatannya tahapan itu sudah dibukakan orang lain
pintu gerbangnya bagimu. Entah siapa yang mengajarimu untuk
menghadapi persoalan pribadimu dengan membuka gerbang hati
dan sukmamu agar mampu melihat bebas....”?
2204
Mendengar pertanyaan Suhunya, Koay Ji terdiam dan terkenang
dengan apa yang dia alami dengan seorang Pengemis Berjubah
Hijau....... yang hanya meninggalkan namanya, yakni LIE HU
SAN. Ach benar, memang dia, pasti..... dan tidak salah lagi.
Penjelasannya dan kemampuannya untuk keluar dari jeratan rasa
bersalah memang karena percakapan dengan Lie Hu San si
pengemis berusia pertengahan dalam cara yang menurutnya
sangat aneh. Awalnya dia yang menolong Lie Hu San dengan
mentraktir membelikan makanan baginya didalam sebuah
restoran. Tetapi tahu-tahu, mereka bertemu kembali dalam
keadaan aneh dimana Lie Hu San mengajarkannya sebuah
pelajaran batin tingkat tinggi, menyembuhkan rasa bersalahnya.
“Ach, tecu bertemu Pengemis Berjubah Hijau, berusia
pertengahan, mungkin awal 40an, dia meninggalkan nama LIE
HU SAN dan membantu tecu menemukan diri, kewaspadaan atas
keinginan pribadi dan menyembuhkan rasa bersalah yang tak
pada tempatnya. Jika ada yang memberiku pelajaran itu, hanya
dia yang mungkin dapat melakukannya Suhu.....”
“Hmmmm, ternyata dia malah sudah membantumu, achhhhh,
namanya adalah CENG SAN SINKAY (Pengemis Sakti Baju
Hijau) LIE HU SAN, salah seorang dari 3 Maha Hebat yang sangat
luar biasa. Sebenarnya, menurut Sukongmu, tokoh ini malahan
2205
lebih lihay dari kedua temannya, tetapi dia sangat misterius dan
sangatlah bijaksana. Dialah yang membantu Sukongmu
mengurung dia dan kedua sahabatnya yang memang sangat
berbahaya. Suatu saat, engkau perlu menyampaikan rasa terima
kasih sukongmu, suhumu dan juga dirimu untuk semua bantuan
yang sudah diberikannya kepada kita, termasuk bantuannya atas
dirimu. Dialah yang membuka tahapan komunikasi batin ini dalam
dirimu, dan suhumu hanya menuntunmu guna membuka
kemampuan ini..... untuk engkau ketahui, kita sekarang sedang
berbicara dengan kekuatan batin......”
“Accch, benarkah Suhu.......”? tanya Koay Ji sedikit kaget dan
sama sekali tidak mengira dia mampu melakukannya.
“Engkau dengarkan penjelasanku selanjutnya. Dan mari sambil
kita bergerak, meski akan terasa berat bagimu kelak. Ingat,
setelah percakapan kita ini, jangan sekali kali meninggalkan
Barisan ini sampai besok, setidaknya sampai sore hari, karena
akan berbahaya bagi iweekang dan sukmamu nantinya. Jika
hanya berkomunikasi biasa, setidaknya waktu pemulihannya
hanya sebentar, tetapi melayangkan sukmamu hingga ketempat
jauh, membutuhkan pemulihan yang tidak pendek, meskipun
akan semakin cepat sembuh seiring berjalannya sang waktu.
Semakin bertambahnya umurmu, maka bakalan semakin kokoh
2206
pula emosi dan batinmu, dan otomatis akan semakin cepat juga
pemulihanmu kelak. Dan, jangan pernah engkau meninggalkan
ragamu di tempat yang tidak aman, penuh gangguan, karena
sangat mungkin orang jahat membunuh ragamu dan sukmamu
akan tidak pernah kembali ke ragamu. Catat dan ingat satu hal
itu.....”
“Baik Suhu, tecu paham.....”
“Nach, engkau sudah mengerti dengan komunikasi batin, hal yang
akan membuatmu tambah matang, tambah tenang dan
memperkuat sisi mistis dari iweekangmu. Kelak kedepannya
engkau akan paham dengan sendirinya. Kekuatan batin tidaklah
untuk dilatih dan dipupuk, tetapi diolah dan dikelolah dari
pengalaman keseharian, samadhi yang kusyuk, pengambilan
keputusan yang tenang, sikap terhadap persoalan dan masalah
hidup, serta sikapmu terhadap sesama, terhadap alam, terhadap
hewan dan terhadap semuanya dalam alam semesta. Semakin
engkau sanggup menahan diri, memecahkan masalah dengan
tenang dan pertimbangan semua sisi, semakin positif sikapmu
terhadap sesama dan alam serta hewan binatang, semakin sisi
batinmu mengalami kemajuan dan peningkatan. Itulah prinsipnya
yang paling dasar dan juga paling utama......” Bu In Sinliong
2207
terlihat berdiam diri sejenak, tetapi tak lama karena segera
melanjutkan:
“Tahapan tadi, juga akan membuatmu mampu untuk melacak dan
bahkan menolak kekuatan hitam, kekuatan sihir dan malahan
dapat melihatnya sebagai mainan anak kecil belaka. Artinya,
melawan sihir sudah bukan sesuatu yang sulit lagi kelak. Harus
engkau catat, bukan persoalan sulit membuatmu mengantarkan
sukmamu ke tempat manapun, tetapi semakin jauh jaraknya
maka akan semakin besar resiko bagimu, karena
pemulihannyapun semakin lama. Hal itu terutama karena usiamu
dan karena kematangan emosi dan juga pikiranmu. Karena itu
janganlah mencoba menghubungi siapapun di tempat yang
teramat jauh, karena hanya akan membuatmu letih dan bahkan
mengurangi kemampuan iweekang dan tenaga batinmu. Dan
ingat, tidak semua orang bermampuan berkomunikasi dengan
cara ini, dan yang mampu pun, tidak semua senang diajak bicara
dengan cara begini...... nach, sekarang kita memasuki Gua
Pertapaan Suhumu.....”
Benar saja, dengan sukmanya, Koay Ji kemudian diantarkan
untuk memasuki Gua Pertapaan Suhunya. Tidak ada yang
berbeda drastis, masih tetap sama seperti ketika dia dulu
2208
meninggalkan gua itu, setahun lalu atau mungkin ebih. Tetapi, dia
tidak dapat menyentuh sesuatu apapun.
“Raga Suhumu berada di ruang samadhi, tetapi Benda
Peninggalan Suhumu akan engkau temukan beberapa hari
kedepan di meja ruang samadhi. Ruangan dan juga tempat ini
kutinggalkan untukmu, tetapi jika engkau tidak berkenan, engkau
boleh mewariskannya kepada Toa Suhengmu. Khususnya 3
ruangan pribadi suhumu ini, tempat-tempat lain masih banyak dan
boleh engkau beritahu saudaramu yang lain. Khusus tiga ruangan
ini, selain kalian berdua, jangan ada yang datang menempati
tempat Suhumu ini lagi..... engkau harus mengingat hal itu
Muridku, dan jangan sekali-kali kalian melanggarnya.....”
“Baik Suhu, tecu mengingat pesanmu itu......”
“Dan sekarang, mari, sudah saatnya kita kembali ke tempat
ragamu berada. Semua hal terakhir yang perlu kuberitahu sudah
kusampaikan kepadamu. Untuk kembali ke ragamu, bukanlah
masalah yang sulit sebenarnya, karena cukup hanya dengan
mengenangkan tempat itu dan biarkan sukmamu melayang
menuju tempat tersebut. Mari sekalian engkau
mencobanya.........”
2209
Dan benar memang, karena tidak berapa lama kemudian,
merekapun sudah tiba di tempat dimana Raga Koay Ji berada.
Tetapi, mereka masih lanjut bercakap-cakap, dan memang
melanjutkan beberapa percakapan antara mereka, Suhu dan
Murid. Masih banyak yang mereka percakapkan sampai pada
akhirnya, merekapun menutup komunikasi batin yang rada berat
itu. Bu In Sinliong berkata kepada Koay Ji dengan nada suara
berbeda:
“Muridku, semua sudah cukup. Semua yang perlu guna
kusampaikan sudah engkau dengarkan langsung. Terakhir,
memasuki kembali ragamu, ini juga bukan persoalan berat.
Karena cukup dengan mendekati ragamu dan mengembalikan
keinginan keinginan ragawi, dan engkau kembali ke tempatmu
sebagaimana biasanya. Tapi, sekali lagi ingat, jangan
melakukannya secara sembarangan. Kecuali bercakap untuk halhal
pendek dan penting, selebihnya hindari. Ingat bagaimana
memupuknya, tak perlu melatihnya, tetapi seringlah bersamadhi
dan memecahkan masalah secara adil dan untuk kepentingan
orang banyak. Orang lain melatih ilmu batin untuk tujuan berbeda,
dan mereka berubah menjadi manusia yang berbahaya dengan
memiliki ilmu hitam, tetapi engkau memiliki kemurnian hatimu dan
memiliki tandingan yang mumpuni atas ilmu hitam itu. Muridku,
2210
suatu waktu kelak, ketika engkau menemukan anggota
keluargamu, berbuatlah yang wajar dan sejauh ini, Sam
Suhengmu sudah kutetapkan menjadi walimu. Dia adalah orang
tua bagimu, hormatilah dia selalu, karena diapun menganggapmu
lebih dari sutenya, tetapi memperlakukanmu bagai anaknya
sendiri. Meski tak memiliki keluarga dekat, tetapi engkau memiliki
saudara seperguruan yang mengasihi seperti engkau adalah
anak ataupun adik mereka. Ini hal yang mesti engkau syukuri.....”
“Baik Suhu, tecu akan mengingat semua pesan dan pelajaran
dengan baik. Tecu bersumpah untuk tidak membawa hal yang
memalukan bagi perguruan dan bagi Suhu sendiri dan sesama
saudara seperguruan......”
“Baiklah, terima kasih muridku. Dan, Siauw Lim Sie adalah akar
kita, jangan pernah membiarkan Kuil itu dicemari orang lain.
Janganlah sampai dipermalukan pihak lain tanpa kita berbuat
apa-apa. Nach soal Siauw Lim Sie masih ingatkah engkau
dengan jurus pamungkas Tam Ci Sin Thong, Kim Kong Cie dan
Tay Lo Kim Kong Ciang yang pernah suhumu uraikan dahulu....”?
Apakah maksud Insu adalah jurus Liu Thian Jiu (Tangan Langit
Mengalir) dari Tam Ci Sin Thong, gerak Can Liong Chiu (Gerak
Menabas Naga) dari Tay Lo Kim Kong Ciang dan jurus Hud Kong
2211
Boh Ciau (Sinar Budha Memancar Luas) dari Kim Kong Cie yang
maha hebat dan dilarang oleh Insu untuk dipergunakan jika tidak
terkait dengan urusan Siauw Lim Sie? Jika ketiga jurus itu yang
dimaksudkan Insu, maka memang benar, ketiganya selalu
tergores dalam ingatan Tecu dan malah menjadi sumber inspirasi
yang tidak ada habisnya selama ini.....” jawab Koay Ji dengan
lancar atas pertanyaan Insunya.
“Dan ingatkah engkau tentang ulasan atas jurus Sam Liong Toh
Cu (3 Naga Berebut Mustika) jika seandainya ketiga jurus itu
dapat dipadukan dan dijadikan satu maha jurus yang luar
biasa....”?
“Tecu mengingatnya dengan jelas Insu.....”
“Nach, jika engkau merangkai ketiga jurus tadi dan kemudian
mampu memainkannya menjadi satu, bahkan juga menyelipkan
juga jurus Sam Liong Toh Cu, maka engkau sudah amat hebat.
Suhumu tidak akan menjelaskan dan mengajarimu, tetapi engkau
mesti mempelajarinya dan meyakinkannya. Meski demikian,
engkau belum akan dapat disebut hebat, karena sesungguhnya
ada yang perlu engkau lakukan sambil mengukur kepandaianmu.
Jurus keempat atau Sam Liong Toh Cu merupakan jurus paduan
ketiga jurus sebelumnya, tetapi jika engkau mampu merangkai
2212
jurus baru, jurus kelima dengan memanfaatkan keistimewaan
ketiga jurus awal, serta ditambah dengan kombinasi iweekang
pendorong yang berbeda-beda maka engkau lebih hebat lagi.
Sesungguhnya, jurus itu jika engkau temukan, akan memiliki
khasiat berbeda-beda sesuai dengan iweekang pendorongnya,
akan berbeda jika engkau menggunakan Pouw Tee Pwe Yap
Hian Kang dengan menggunakan Toa Pan Yo Hian Kang, juga
berbeda jika menggunakan ilmu gabungan. Dengan iweekang
Lam Hay Sinni Subomu, juga pasti berbeda khasiatnya. Hanya,
iweekang kita, berkhasiat penuh dalam hal “pengobatan” dan
“penyembuhan”, entah jika iweekang yang lain yang
mendorongnya.....” sampai disini penjelasan Bu In Sin Liong
terputus, jedah hingga beberapa saat baru kemudian dia
melanjutkan lagi,
“Muridku, tetapi Suhumu akan lebih bangga lagi, dan engkau
menjadi lebih hebat lagi jika berhasil menemukan jurus penangkal
atau jurus anti atas kombinasi ketiga jurus atau empat jurus
tersebut dengan variasi ilmu iweekang pendukungnya. Artinya,
engkau temukan jurus atau ilmu anti atas ciptaanmu sendiri itu,
karena dengan ide dan perspektif Pat Bin Lin Long yang engkau
pelajari, engkau mestinya mampu. Hal ini, sedang ada orang yang
melakukan, maka perlu engkau camkan, dua hal setelah
2213
menemukan jurus kelima adalah, cari penangkal jurus kelima
dengan khasanah ilmu lain yang engkau miliki. Dan terakhir, jurus
atau ilmu yang engkau ciptakan guna melawan ilmu atau jurus
yang juga pernah suhumu ciptakan, haruslah engkau juga
temukan penawarnya. Dan terakhir, muridku, temukan jurus itu
dalam khasannah ilmu-ilmu Suhumu ini, itulah penghormatanmu
atas semua ilmu Siauw Lim Sie dan Ilmu yang engkau terima dari
Suhumu. Jika engkau mampu menciptakan 3 jurus tersebut, maka
barulah engkau bisa disebut berhasil dengan semua potensi dan
temuanmu yang serba mujijat itu. Bahkan boleh dibilang, dengan
cara itu engkau akan dapat sedikit atau mungkin banyak,
menyelamatkan dunia persilatan dari badai dan prahara yang
bakalan timbul kelak....”
“Ach Insu, apakah......”
“Engkau pikirkanlah itu kelak muridku, karena sesungguhnya
engkau bisa, terutama karena engkau bebas serta memiliki
banyak pengetahuan tata gerak dan ilmu silat yang lain. Dan itu
semua bermanfaat amat besar bagi dirimu dan kelak juga bagi
banyak orang dan rimba persilatan Tionggoan. Tugas Suhumu ini,
adalah membuka pandanganmu seluasnya guna menciptakan
yang baru melalui semua potensi dan kemampuanmu yang
memang menjadi bakatmu.....”
2214
“Baik Insu, tecu akan mengingatnya dan mengusahakannya.....”
Koay Ji menjawab meski masih butuh mencerna banyak ucapan
dan pesan Suhunya itu.
“Ingatlah, setelah percakapan ini, maka Suhumu akan melakukan
perjalanan ke Siong San dan berada disana sampai ajal
menjemput. Umur Suhumu tidak akan sampai pada kedatangan
TIGA MAHA BESAR, jadi tidak perlu beritahu ini kepada siapapun
mengenai kepergian SUHUMU. Bahkan termasuk juga semua
saudara seperguruanmu. Biarlah mereka tahu dan menganggap
bahwa Suhumu sudah tutup mata........... nach, ingat dan coba
lakukan apa yang kupesankan khusus untuk jurus pamungkas
masing-masing Ilmu Pusaka Siauw Lim Sie, karena disana
banyak yang rahasia dan tersembunyi, namun perlu engkau
lakukan. SELAMAT TINGGAL”
Koay Ji tidak sempat lagi berkata apa-apa karena tiba-tiba
bayangan tubuh Suhunya menghilang begitu saja bagaikan asap.
Dan setelah Suhunya menarik diri dari komunikasi khusus
dengannya, Koay Ji pada akhirnya mencoba kembali masuk
keraganya dengan mengenangkan rasa letih dan lelah. Dan benar
saja, sebentar kemudian dia sudah berada di raganya sendiri dan
merasakan keletihan yang jauh berbeda dengan biasanya.
Menurut suhunya, adalah lebih baik buatnya untuk beristirahat
2215
terlebih dahulu, karena memang benar dia merasakan keletihan
yang amat sangat. Maka sebentar saja, diapun tenggelam dalam
tidur, lupa diri dan tidak tahu apa yang terjadi selama tidurnya.
Dia tidak tahu, bahwa sejak sore hari Kang Siauw Hong kalang
kabut mencarinya, bahkan dia juga memasuki Barisan
Pembingung Sukma dan mencarinya kesana kemari tetapi tetap
saja tidak menemukan siapapun. Kang Siauw Hong sudah
memeriksa semua sudut Barisan, tetapi tetap saja tidak
menemukan siapapun juga, tidak menemukan Koay Ji. Bertanya
kepada semua orang, tak satupun yang pernah melihat Koay Ji,
termasuk semua kakak seperguruannya. Bahkan ketika semua
kakak seperguruannya ikut mencari, mereka tidak menemukan
apa-apa dan tidak menemukan siapa-siapa. Karena itu,
merekapun membiarkannya, tetapi Kang Siauw Hong tetap
penasaran dan terus mencari. Dia memiliki keyakinan bahwa
Koay Ji berada dan bersembunyi dalam Barisan, tetapi dia
merasa heran karena merasa sudah mendatangi semua sisi
Barisan tapi tak menemukannya.
Kang Siauw Hong masih sibuk terus mencari hingga keesokan
harinya, tetapi saat itu muncul dua orang baru dan bertemu
dengannya. Keduanya adalah murid Jit Yang Sin Sian Pek Ciu
Ping, yakni Bun Siok Han dan Bun Kwa Siang, kedua pemuda
2216
gagah perkasa yang memasuki Thian Cong Pay setelah
melaksanakan tugas dari Suhu mereka. Seperti biasa, adalah Bun
Kwa Siang yang selalu dengar-dengaran dengan toakonya, Bun
Siok han. Dan saat mereka bertemu dengan Kang Siauw Hong
adalah ketika mereka berjalan memasuki Lembah menuju Rumah
Utama Thian Cong pay. Sang Gadis manis pada saat yang sama
sedang mengkal hatinya karena belum juga menemukan dimana
keberadaan Koay Ji. Wajar ketika bertemu dia sedang bermuram
durja.
“Selamat bertemu Kouwnio, kami dua bersaudara She Bun baru
tiba dan mencari Suhu kami disini, siapakah gerangan
Kouwnio.....”? dengan hormat dan sabar Bun Siok Han menyapa
Kang Siauw Hong. Apalagi Bun Siok Han menyadari bahwa
mereka berada di lokasi perguruan susiok mereka.
“Malas ach, kalian cari saja sendiri...” balas Siauw Hong sambil
berlalu dengan wajah ditekuk, kesal dan sedang tidak dalam
suasana hati yang gembira. Maklum, orang yang dia cari entah
berada dimana. Padahal, dia sudah mencari sekian lama, dan
tetap tidak menemukan Koay Ji. Keadaan dan sambutan yang
luar biasa dan amat tidak ramah itu membuat kedua pemuda itu
terperangah, tetapi tidak membuat mereka melakukan hal-hal
2217
yang tidak patut. Hanya terganggu saja dengan sikap dan
kelakuan tak bersahabat dari si gadis.
Melihat Kang Siauw Hong berlalu dengan wajah yang tidak enak
dipandang, kesal dan berwajah kelam mengundang kekisruhan
yang tidak disengaja. Adalah Bun Kwa Siang yang jadi bingung
kenapa mereka sampai dimaki, padahal tak ada hujan tak ada
panas. Dan dia berbisik kepada toakonya dengan suara lirih:
“Toako, sungguh sayang ya, cantik tapi seperti perempuan
gunung saja, sungguh tak punya dan tak mengenal sopan
santun....” sambil berbisik demikian dia menjejeri langkah Bun
Siok Han yang terus memasuki Lembah. Tetapi, celaka, ruparupanya
bisikannya itu terdengar oleh Kang Siauw Hong yang
sontak menjadi murka dan berbalik menghadapi kedua pemuda
yang belum jauh berlalu. Terdengar dia buka suara dalam nada
tak menyenangkan:
“Hei, kalian berdua pemuda buntung tak tahu diuntung, tak punya
mata dan sopan santun, apa yang kalian bisik-bisikkan tadi
mengenai diriku....? hayo, mengaku jika memang laki-laki
jantan....” lengkingnya dengan penuh emosi dan mengagetkan
Bun Siok Han maupun Bun Kwa Siang. Tapi si Dogol hanya
tersenyum dan tanpa takut sedikitpun dia berkata lagi:
2218
“Cantik tapi tidak punya sopan santun, persis perempuan
gunung......” Bun Siok Han menahan lengannya dengan maksud
agar diam dan tidak mencari persoalan dengan orang yang masih
asing itu. Tetapi, mana Kwa Siang paham dengan maksud Bun
Siok Han itu? Yang ada malah kalimatnya yang jujur dan
membuat Kang Siauw Hong tambah murka dan marah.
“Apa...? engkau memakiku sebagai perempuan gunung?
sungguh kurang ajar, kalian berdua perlu diberi hajaran keras....”
desis Kang Siauw Hong yang terlihat semakin tak mampu untuk
menahan emosinya lebih jauh lagi. Apalagi karena dia melihat
wajah dan ekspresi tak berdosa dari Bun Kwa Siang. Sungguh
mengesalkan dan membuat emosinya semakin tersulut. Sudah
demikian tega mengejeknya, tetapi wajahnya seperti wajah orang
tidak berdosa, padahal kata-katanya tadi sungguh amat
mengesalkan dan menyakitkan.
“Hehehehe, memang iya.......” belum lagi Bun Siok Han
mengajukan permohonan maaf, celaka si Dogol Kwa Siang lebih
dahulu dengan polos mengiyakan makian yang diulang oleh
Siauw Hong tadi.
“Bangsat, terima hajaranku......” sentak dan teriak Kang Siauw
Hong, marah dan murka serta langsung menyerang, serabutan
2219
dan asal saja, tetapi dalam keadaan marah, dia menyerang
dengan kekuatan yang cukup hebat.
Tanpa dapat menahan emosinya lagi Kang Siauw Hong
menerjang dan langsung menggunakan pukulan hebat memukul
Bun Kwa Siang yang paling dia murkai itu. Tetapi, Bun Kwa Siang
mana mau dipukul begitu saja oleh seorang gadis? Meski dia
enggan melawan ataupun memukul balik, tetapi diapun jelas
enggan untuk dipukul begitu saja oleh Kang Siauw Hong yang
sudah murka. Karena itu, diapun mengelak dengan gesit, meski
segera jelas jika dia belum segesit Siauw Hong. Melihat gerakan
lawan yang tidaklah cukup cepat menurutnya, Kang Siauw Hong
membuka serangan baru dan mengejar kemana Kwa Siang pergi
dengan ukulan-pukulan yang hebat. Kang Siauw Hong seperti
melupakan, bahwa pada saat itu kemajuan dan kemampuan
iweekangnya sudah cukup hebat. Maka, pada saat dia berhasil
memukul, dia menjadi sadar dan menyesal:
“Bukkkkkkk.....” luar biasa kuat pukulannya, tetapi Kwa Siang
hanya terdengar tertawa terkekeh-kekeh dan berkata:
“Kuat juga pukulan si perempuan gunung toako,,,, hebat,
hebat.....” sambil berkata demikian, tidak nampak sedikitpun
bahwa dia terluka, meski pukulan Siauw Hong tadi bukanlah
2220
pukulan dengan kekuatan ringan. Kang Siauw Hong sampai tidak
percaya dengan pandangannya. “Ataukah kepandaian pemuda
itu sama hebatnya dengan Koay Ji....? kenapa dia sampai tidak
terluka sama sekali...”? pikirnya ngeri. “Atau, bisa jadi kekuatan
pukulanku yang masih terbatas ...” terka dia lagi dan kemudian
merasa panas dan emosinya naik lagi dan langsung menyerang
dengan jurus jurus baru mengejar dan mencecar Kwa Siang.
Jelas dia mengerahkan kekuatan pukul yang lebih besar dan lebih
hebat lagi.
Dan Kang Siauw Hong menyerang dengan Ilmu-ilmu Lembah
Cemara, tetapi seperti juga tadi, dia dihadapi Bun Kwa Siang
dengan sangat baik. Berapa kali lagi terpukul, tetapi tetap saja
tidak ada efeknya, tidak terluka dan tidak terlihat kesakitan.
Seperti hanya mengusap-usap tempat yang terpukul dan tidak
membuatnya terlempar atau apalagi terluka berat. Dan,
tertawanya yang terkekeh kekeh membuat Siauw Hong
bertambah panas, bertambah emosi. Bertambah murka dan kini
mulai menyerang dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Siauw
Hong kini mulai tidak peduli apakah si Dogol terluka nantinya atau
tidak, hatinya sudah sangat terbakar oleh emosi, amarah dan juga
rasa penasaran.
“Awas engkau pemuda bodoh......”
2221
“Hehehehehe .....”
Serangan beruntun Siauw Hong disambut dengan ketawa yang
menyakitkan kuping dan hati Siauw Hong. Sayangnya dia tidak
mengenal Kwa Siang, jika kenal, dia mungkin tidak perlu
sepenasaran pada saat ini, dan tidak perlu menyerang sehebat itu
kepada Kwa Siang. Karena Kwa Siang entah mengapa memiliki
kekebalan yang amat hebat meski memiliki kemampuan
iweekang yang masih terbatas. Tetapi, soal Gwakang, sampai
Koay ji sendiri merasa kewalahan dan tidak mampu menembus
basis kekebalan Kwa Siang dengan ilmu pukulan. Apalagi
seorang Siauw Hong yang baru mulai menguasai iweekangnya?
Mestinya lebih tidak mampu lagi menembusi perisai kekebalan
mujijat Kwa Siang.
“Bukkk .... bukkkkk..... bukkkkkk”
Kembali tiga buah pukulan berat bersarang di tubuh Bun Kwa
Siang, tetapi tetap saja tidak mampu mengapa-apakannya. Benar
Kwa Siang terdorong mundur dan bahkan sampai terhuyunghuyung.
Tetapi, malah membuat Kang Siauw Hong justru tambah
panas karena yang terdengar adalah:
2222
“Hehehehehe, serang terus, serang dan terus pukul sekuatmu .....
ini seperti dielus elus saja, engkau harus lebih kuat lagi dalam
memukulku Nona, dan harus lebih bertenaga lagi, baru terasa”
Ketawa yang dirasa atau didengar menyindir dan mengejeknya itu
membuat dia makin panas dan sakit hati. Ketiga pukulan tadi yang
dilepas dengan kekuatan 7 bagian iweekangnya, tetapi Kwa
Siang tetap saja tertawa-tawa dan tidak nampak terluka, meski
tadi terdorong sampai dua langkah, bahkan sempat sampai
terhuyung huyung. Keadaan itu membuat Kang Siauw Hong jadi
tambah semangat memukul, menerjang dan terutama karena dia
senang saat melihat ternyata bisa juga si Dogol kena pukul dan
terdorong mundur.
“Kouwnio, sudahlah, cukup karena adik Kwa Siang tidak akan
terluka dengan malam Pukulan apapun, tadi hanya kan hanyalah
kesalah-pahaman belaka. Kami sedang mencari Susiok Cu Ying
Lun dan Suhu kami yang sudah berada disini....... sudahlah,
cukup sampai disini saja....”
Kaget juga Siauw Hong mendengar bahwa ternyata kedua
pemuda yang tadi dia hadapi dengan sinis, ternyata adalah
ponakan murid pamannya. “Waaaah sungguh bisa tambah
berabe urusan ini kalo begitu...” desisnya. Tetapi, amarahnya
2223
masih meluap, karena itu untuk mengurangi rasa penasarannya,
dia kemudian melepas dua pukulan terakhir yang benar saja, Bun
Kwa Siang membiarkannya:
“Dukkkk .... Dukkkkk”
Tetapi, seperti pukulan-pukulan sebelumnya, tetap saja tidak
membawa pengaruh sedikitpun bagi Kwa Siang. Tetapi, Siauw
Hong mulai bisa mengendalikan diri dan tidak mau terlibat urusan
yang tak jelas, apalagi karena kedua pemuda itu ternyata adalah
ponakan murid Pemilik Thian Cong Pay. “Bisa gawat...” pikirnya,
dan sesaat kemudian diapun menghentikan serangannya. Tetapi,
wajah dan sinar matanya masih menyala, tanda masih dikuasai
oleh amarah. Hanya karena terpaksa dia baru menahan diri dan
berbicara.
“Kouwnio, maafkan adikku Kwa Siang ini, dia memang tidak
pernah bergaul, tetapi hatinya sangat baik dan sangat polos. Dia
sudah kangen dengan sahabat baiknya, yakni Koay Ji yang
berjanji untuk bertemu di seikitar gunung Thian Cong San sini.
Selain itu, memang, Susiok bersama Suhu dan para Supek dan
bibi Guru sudah pada berkumpul semua di Thian Cong Pay sini.
Maka, sekali lagi, mohonlah maafkan kami berdua kakak-beradik
2224
jika memang sudah sempat membuat Kouwnio menjadi marah
dan terpaksa memukulnya......”
“Hehehehe, iya, benar toako, maaf, maaf Kouwnio....... aku salah,
aku salah, bukan begitu yang benar toako”?
Melihat keadaan dan gaya bicara Kwa Siang, semua amarah dan
kekesalan di wajah Kang Siauw Hong entah mengapa lenyap
seketika. Tidak salah lagi, pemuda yang dilawannya tadi memang
sepertinya rada “terganggu pikirannya” atau jikapun tidak, mental
atau emosinya sedikit agak kurang beres. Berkelahi dengan orang
seperti itu, menjadi bodoh dan sangat memalukan dirinya justru.
Karena sama saja dengan menganggap si dogol adalah waras.
Dan diapun menjadi malu sendiri. Apalagi ketika mendengar
bahwa si dogol adalah kawan akrab atau kawan baik toakonya,
Koay Ji. Tetapi, dasar cerdik dengan luwes diapun berkata:
“Namaku Kang Siauw Hong, dan siapa pula namamu...”?
tanyanya langsung kepada Bun Kwa Siang yang menatapnya
dengan pandangan ganjil, antara jahil, ataupun tidak punya
perasaan tertentu
“Hahahahaha, namamu sungguh sangat indah,,,,,,, aku, aku Bun
Kwa Siang, adik toakoku itu....” jawab Kwa Siang yang semakin
2225
meyakinkan Siauw Hong bahwa pemuda itu memang tidak waras
meski nampaknya baik-baik saja. Karena itu, kemarahan Siauw
Hong langsung turun drastis.
“Baiklah, senang berkenalan dengan kalian berdua. Tapi, echhhh,
kalian benarkah adalah sahabat baik Koay Ji.....”? tanya Siauw
Hong yang tiba-tiba bermaksud untuk berbaik-baik dengan kedua
pemuda ini.
“Koay Ji,,,,, mana dia....”? terdengar Kwa Siang menyela, tetapi
Bun Siok Han cepat menarik lengannya dan berkata:
“Yang benar Koay Ji adalah Susiok kami, tetapi karena umurnya
jauh dibawah kami, maka dia senang saja menganggap kami
sebagai sahabat.....” berkata Bun Siok Han dengan suara halus
tetapi jelas.
“Oooooh, baiklah, aku malah sedang mencari-cari dia itu, entah
ngumpet dimana dia sejak kemaren sore..... huhhhhh”
“Ohhhh, baiklah Kouwnio, kami akan mencari Suhu dan para
Susiok terlebih dahulu. Kami berdua mohon diri......”
“Baiklah....... akupun akan terus mencarinya......”
2226
“Ach, dia sudah menjadi baik toako dan cantik pula..... hahahaha”
desis Kwa Siang yang meski terdengar oleh Siauw Hong tetapi
kini dia tanggapi dengan senyum dan tidak lagi menjadi marah.
Kang Siauw Hong membiarkan mereka berdua dan tidak lama
kemudian Bun Siok Han dan Bun Kwa Siang kakak beradik
bertemu dengan Suhu dan para Susiok serta Bibi Guru mereka.
Dimana keduanya, tentu saja lewat Bun Siok Han sambil
melaporkan hasil kerja keduanya selama beberapa hari terakhir
ini. Kehadiran mereka berdua, Bun Siok Han dan juga Bun Kwa
Siang, membuat suasana di Thian Cong San menjadi semakin
ramai.
Sore hari menjelang malam, Koay Ji akhirnya sadar dan merasa
tubuhnya menjadi sangat segar. Bahkan semangatnya juga
terasa membuncah. Dia mengenangkan semua percakapan
dengan Suhunya dan berbahagia sekaligus bersedih. Bersedih
karena percakapan semalam adalah percakapan terakhirnya
bersama sang Suhu yang hari ini sudah berangkat menuju Siong
San. Tetapi dia menjadi gembira karena kembali memperoleh
Ilmu yang baru, sebuah ilmu kebatinan yang dia amat sukai,
karena bisa berbicara dengan orang lain dalam cara yang luar
biasa. Setelah dia sekali lagi mengembalikan kebugaran, diapun
2227
berjalan keluar dari Barisan itu, dan dia menemukan semua
saudara seperguruannya sedang berlatih.
Dan ada lagi sesuatu yang membuat Koay Ji merasa bahwa pagi
itu sangatlah indah, yakni karena dia menemukan dua bersaudara
Bun Siok Han dan Bun Kwa Siang. Dia bertemu mereka berdua
yang saat itu sedang berada di depan Gua tempat semua suheng
dan suci tinggal selama ini. Diapun sontak berjalan mendekati
mereka, tetapi adalah Bun Kwa Siang yang dengan cepat
menyadari kehadirannya dan kemudian menyambutnya dengan
suara gembira:
“Accccch, Koay Ji, ternyata benar engkau berada disini...... Suhu
mencarimu tadi, tapi kukatakan engkau sedang bersembunyi,
hahahahaha....” terdengar riang suara Kwa Siang menyambut
kedatangan Koay Ji
“Ach, engkau Kwa Siang, bagaimana kabarmu sekarang.....”?
“Baik... baik Koay Ji, dan bagaimana dengan engkau....”
“Akupun baik, selamat bertemu Bun Toako......”
“Ach, tidak berani Siauw Susiok, Suhu nanti memarahiku.....”
balas Bun Siok Han, dan tentunya dia memang berbeda dengan
2228
adiknya Bun Kwa Siang. Dia tidak berani untuk memanggil Koay
Ji dengan nama belaka, tetapi memanggilnya sebagai Siauw
Susiok. Kwa Siang memang lebih bebas, maklum.
“Hai, suasana pagi yang seindah dan secerah ini, bagaimana jika
kita berlatih saja dulu? Kwa Siang, apakah engkau masih berani
adu pukulan dan berlatih bersama seperti dulu ....”? ajak Koay Ji
yang segera disambut dengan tawa oleh Kwa Siang, dan diapun
menyambut dengan sangat antusias. Bun Kwa Siang memang
selalu ingin berlatih dengan Koay Ji, karena Koay Ji sering
membuat dia merasa bahwa pukulan lawan menyakitinya. Yang
lain, susah.
“Aha, bagus, aku sudah merindukan gebukanmu Koay Ji, mari,
mari kita adu pukulan biar tulang-tulangku ini bisa lebih
diregangkan. Dan engkau, twako, apakah engkau ingin ikut
bersama untuk kita berdua mengeroyok Koay ji, tanggung
hasilnya lebih baik dari maju sendiri, hahaha” dengan bebas dan
merdeka Kwa Siang menyatakan keinginannya, beda dengan Bun
Siok Han yang jelas ingin tetapi mengungkapkan dengan cara
yang malu-malu.
Bun Siok Han memang paling senang berlatih dengan Koay Ji,
karena paman guru yang paling kecil ini suka sekali memberi
2229
petunjuk. Dan setiap petunjuknya sangatlah bermanfaat bagi
perkembangan ilmunya. Karena itu, diapun mengiyakan dan tak
lama kemudian, mereka berdua, Bun Siok Han dan Bun Kwa
Siang sudah bersama mengerubuti Koay Ji.
Koay Ji yang sedang senang suasana hatinya meladeni
keroyokan itu dengan sekali-sekali seperti biasanya, memberi
petunjuk kepada Bun Siok Han. Tetapi menghadapi Bun Kwa
Siang dia masih tetap terkejut karena kekuatan gwakang mujijat
yang membuat pemuda dogol itu entah mengapa kebal.
Kekebalan yang tidak normal sebenarnya. Baik menghadapi
totokan ataupun juga serangan iweekang yang kuat, Bun Kwa
Siang tetap saja hebat. Memang ketika terkena pukulan Koay Ji
dia terlihat sedikit meringis kesakitan, tetapi sampai sebegitu saja,
karena dilain saat dia kembali sudah mengejar dan mencecar
Koay Ji dengan pukulan-pukulan dan terjangan yang membawa
hawa pukulan luar yang hebat. Dia jadi seperti tidak ada matinya,
dan kekebalannya benar-benar perlindungan yang mujijat
baginya. Lebih berbahaya lagi, karena pukulan-pukulan dengan
tenaga gwakangnya beratnya minta ampun, sulit mendapat
tandingan untuk dewasa ini. Sayangnya, dia lemah dalam
iweekang dan otomatis, juga kecepatannya tidak terlampau
istimewa.
2230
Yang paling beruntung adalah Bun Siok Han yang bertarung lepas
dan memperoleh petunjuk-petunjuk yang sangat berharga
baginya. Padahal, sejak Koay Ji pulang dari tempat Suhunya,
kemampuannya sendiri sudah meningkat hebat karena banyak
menerima petunjuk dari siauw susioknya ini. Seperti yang terjadi
sekarang, diapun adalah pihak yang paling banyak diuntungkan,
karena berkali-kali Koay Ji secara sengaja memberinya petunjuk
dalam beberapa jurus menyerang dan bertahan. Pada
prakteknya, pertarungan sekali inipun, meski tajuknya
mengeroyok, tetapi mereka tetap tidak dapat mendesak Koay Ji.
Malahan, beberapa kali dia didesak dan bahkan secara sengaja
kemueidan dilepaskan oleh Koay Ji, karena jika tidak, dia
terancam terluka. Maka adalah lebih tepat bagi Bun Siok Han
untuk disebut sedang berlatih bersama Koay Ji dan Kwa Siang.
Mereka bertarung atau tepatnya berlatih bersama dalam suasana
riang gembira, dimana Koay Ji tidak pelit membimbing Bun Siok
Han, dan juga tidak ragu memukul Bun Kwa Siang sekerasnya.
Tetapi, setelah sekian lama, akhirnya Koay Ji merasa cukup, dan
diapun berkata kepada kedua keponakan muridnya itu:
“Sudah cukup, sudah cukup.......”
2231
Dan ketika mereka akhirnya berhenti bertarung, Koay Ji
memandang Bun Siok Han dan kemudian berkata dengan serius:
“Engkau sudah maju cukup jauh Siok Han sutit, jika engkau terus
berlatih seperti sekarang, kemajuanmu pasti akan tidak terbatas.
Semoga semua petunjukku tadi dapat engkau pahami dengan
baik....”
“Terima kasih Susiok.....” jawab Bun Siok Han tulus, dia semakin
percaya dan takjub dengan kehebatan Susioknya, terutama
jugakebaikan dan ketulusannya yang tidak mempersoalkan apa
yang mereka alami dulu.
“Nach, aku ingin mengajak Bun Kwa Siang berjalan-jalan ke
hutan, apakah engkau ingin ikut serta Siok Han sutit...”? tanya
Koay Ji
“Silahkan siauw susiok, kebetulan saat ini semua petunjuk susiok
masih kuingat dengan jelas, jadi ingin kulanjutkan berlatih, jangan
sampai terlupakan dan aku pasti akan sangat menyesal kalau
terlupa...” berkata Bun Siok Han menolak ajakan Koay Ji, dan
memang alasannya sangat masuk di akal. Karena itu, Koay Ji
kemudian mengiyakan sambil tersenyum dan kemudian berkata
kembali kepada Bun Siok Han dengan suara senang:
2232
“Baiklah, biar hasilnya kutengok nanti, mudah-mudahan
kesempatan lain engkau boleh ikut serta. Nach, kami pergi dulu
Bun Sutit....” ajak Koay Ji yang langsung dengan gembira
disambuti oleh Kwa Siang
“Baik Susiok, pasti akan berlatih serius dan selalu menunggu
petunjuk untuk bisa maju lebih jauh lagi kelak.....” sahut Siok Han,
sementara Kwa Siang sudah dengan gembira mengikuti Koay Ji
berjalan pergi.
Koay Ji berjalan berdua dengan Bun Kwa Siang, pemuda polos
yang terlihat sangat gembira karena diajak berjalan bersama oleh
Koay Ji. Dan sebagaimana dugaan Koay Ji, memasuki Barisan
Rahasia sama sekali tidak membuat Bun Kwa Siang jadi takut dan
tidak ada pengaruhnya sama sekali. Hal ini semakin memperkuat
semua dugaannya, bahwa pengaruh terhebat dari Barisan itu
memang kepada mereka yang tegang dan tidak siap. Atau
terutama mereka yang memiliki maksud dan niat yang kurang baik
dan jahat. Karena itu, pengaruh terhadap Kwa Siang yang polos
atau tidak mengkhawatirkan banyak hal, justru menjadi sangat
minimal. Atau bahkan nyaris tidak berpengaruh sedikitpun. Bun
Kwa Siang tetap berlaku dan bertindak tanpa ada pengaruh apaapa
atas dirinya. Koay Ji sampai geleng-geleng kepala dengan
2233
temuannya tersebut dan bukan main kagumnya kepada Suhunya
yang menciptakan Barisan dengan kekuatan aneh seperti itu.
Koay Ji ternyata membawa Kwa Siang untuk menemui monyetmonyet
teman Koay Ji di Thian Cong San, dengan sebelumnya
melalui Barisan Pembingung Sukma. Koay Ji memahami bahwa
Bun Kwa Siang, sama seperti dirinya, kelihatannya memiliki
hubungan yang baik dengan monyet, dan bahkan mungkin juga
mampu berkomunikasi ataupun bercakap-cakap dengan mereka.
Dan memang, intuisinya itu ternyata benar dan terbukti kemudian.
Ketika kawan-kawan monyetnya pada datang dan
mengerumuninya, mereka tidak merasa risih dan curiga dengan
Kwa Siang. Bahkan gembira memperoleh teman baru yang juga
memahami mereka dan malah bisa juga berkomunikasi dengan
cara berbeda.
Karena beda dengan Koay Ji, Bun Kwa Siang berbicara atau
berkomunikasi dengan kawanan monyet dalam jenis bahasa yang
lain. Yang jelas, Kwa Siang dan para monyet mampu
berkomunikasi satu dengan yang lain. Lucu jadinya, karena jika
Koay Ji bercakap dengan bahasa monyet, dan gayanya lucu
karena beda dengan nada serta volume suara manusia, maka
Kwa Siang dengan bahasa-bahasa isyarat, atau dengan gerakgerak
tangan dan juga kepalanya. Tetapi yang pasti, diapun
2234
memiliki hubungan dan ikatan yang kuat dengan monyet-monyet,
sehingga mereka bisa menikmati siang itu dengan ramai dan
bahkan riang gembira. Mereka dilayani oleh sahabat-sahabat
monyet mereka bagai raja.
Tetapi setelah beberapa saat kemudian, Koay Ji mengajukan
sebuah permintaan kepada kawan-kawan monyetnya itu. Yakni
permintaan untuk sekiranya mereka semua dapat membantu
menemukan jalan ke balik tebing pintu masuk menuju Gua
Pertapaan Suhunya terdapat. Dan hal itu langsung saja
disanggupi kawan-kawannya dan meminta waktu beberapa hari
untuk memberitahu Koay Ji hasil penelitian dan pencarian
mereka. Sementara disisi lain, Kwa Siang terlihat bercengkerama
dengan monyet-monyet lain, dan dilihat dari sisi dirinya saat itu,
maka memang, dia lebih mampu berkomunikasi dengan monyet
ketimbang dengan manusia lainnya. Aneh, tetapi memang begitu
keadaannya.
Menjelang malam, Koay Ji kembali ke Thian Cong Pay, tetapi
setelah mengantarkan Kwa Siang, dia tidak ikut bergabung
makan malam dengan semua orang di Thian Cong Pay yang
semakin ramai itu. Sebaliknya, karena sudah merasa cukup ketika
bersama kawan-kawan monyetnya, diapun kembali memasuki
Barisan Pembingung Sukma untuk mempelajari jalur-jalur rahasia
2235
yang diturunkan Suhunya semalam sebelumnya. Seperti
misalnya, ruang khusus yang diciptakan dan membuatnya tidak
dapat ditemukan oleh Siauw Hong malam sebelumnya. Padahal,
Suhunya masih menyimpan empattitik dan tempat yang amat
rahasia lainnya dalam Barisan tersebut. Dan pada malam
kedatangannya ini, adalah tempat-tempat rahasia itulah yang
ingin ditemukan Koay Ji dan sekaligus dipelajarinya secara lebih
baik.
Benar saja, setelah 3 jam berusaha secara serius, dia sudah
berhasil mengetahui dan menemukan rahasia 3 ruang atau
sebenarnya titik rahasia dalam barisan itu. Ketiganya memang
sulit untuk ditemukan, membutuhkan kecermatan serta juga
kemampuan “membayangkan” untuk dapat menemukannya.
Selagi Koay Ji berusaha keras untuk menemukan sisa 2 titik atau
ruang rahasia yang lain, datanglah Kang Siauw Hong yang terusmenerus
mencarinya tanpa lelah. Begitu menemukan Koay Ji,
gadis cantik itu langsung menggerutu:
“Engkau curang toako, masakan engkau bersembunyi sepanjang
malam dan terus membiarkanku mencarimu kemana-mana...
benar-benar keterlaluan engkau ini, baru sehari jadi toako sudah
tega meninggalkan adikmu sampai kebingungan begini...” suara
dan nada bicara Kang Siauw Hong benar-benar terdengar kesal
2236
dan merajuk, hingga membuat Koay Ji menjadi kasihan. Apalagi
ketika melihat wajah gadis itu yang begitu kuyu dan bagai kurang
istirahat, atau seperti sedang merasa sangat tertekan. Karena itu,
Koay Ji kemudian menggapainya, memanggilnya mendekat dan
berkata kepadanya dalam nada suara yang halus dan
menyayang:
“Accchhhh, engkau toch sudah menemukan aku malam ini
adikku, masak wajahmu akan terus gelap seperti itu? Wajah
semasam itu membuatmu menjadi jelek. Dan kecantikanmu
berkurang drastis. Tapi, ngomong-ngomong, apakah engkau
sudah bisa dan sudah cukup sempurna mempelajari Ilmu Silat
yang kuajarkan kepadamu berapa waktu lalu itu......”?
“Jangankan sempurna, melatihnya lagipun sudah tidak mampu
kulakukan. Habis, engkau sebagai kakak sepertinya kurang
bertanggungjawab dan membiarkan aku sendirian mencarimu
terus menerus selama dua hari ini. Entah sembunyi dimana toako
selama ini.....” rajuk Siauw Hong
“Acccch, baiklah adikku, sekarang aku sudah berada disini. Nach,
siapa lagi yang akan berani mengganggumu, coba, siapa...”?
Koay Ji mencoba melucu dan inginnya membuat Siauw Hong
2237
tersenyum. Dan dia memang berhasil, terutama ketika Siauw
Hong kemudian bertanya:
“Tapi, tadi aku bertemu dua orang sahabatmu, seorang agak
dogol begitu, tetapi setelah bertarung sebentar, langsung aku
tahu kalau dia berhati amat baik dan juga sangat hebat...” tapi apa
benar mereka berdua temanmu toako...”? pertanyaan yang
langsung membuat Koay Ji paham jika Siauw Hong sudah
bertemu dengan dua sutitnya yang baru datang, Bun Siok Han
dan Bun Kwa Siang, dia jadi ingin tahu seperti apa jumpa mereka
tadi.
“Ach, Bun Siok Han dan Bun Kwa Siang, kedua sutitku, mereka
adalah murid dari toa suhengku atau murid keponakan toakomu
ini. Sebagai murid dari toa suhengku, tentu saja mereka
menghormatiku, tetapi karena umur kami memang berdekatan,
maka sering, terutama Kwa Siang, memanggilku dengan namaku
belaka. Tetapi, pada dasarnya, mereka berdua adalah orangorang
baik, dan orang-orang yang layak untuk engkau jadikan
sahabat.....”
“Aku ingin berteman baik dengan saudara Bun Kwa Siang, dia
sangat lucu juga terlihat sangat baik dan amat setia kawan. Lain
2238
kali engkau haru mintakan dia menjadi kawanku toako, harus bisa
ya....”?
“Pastilah bisa, apa yang mampu kulakukan, pasti akan kulakukan
untukmu adikku. Nach, sekarang, bagaimana dengan ilmu hebat
yang sudah kuturunkan kepadamu beberapa waktu yang lalu itu?
Serta juga bagaimana dengan latihan iweekangmu? Apakah
sudah mengalami kemajuan yang cukup memadai selama dua
hari terakhir ini.....”? tanya Koay Ji berubah serius.
“Rasanya kemajuan iweekangku tergantung latihan mengelolah
semangatku, dan itu soalnya, berhubung karena semangat
sedang kurang baik selama dua hari terkahir, maka latihanku
terhitung amburadul dan kurang mengalami kemajuan. Maafkan
aku koko..” Kang Siauw Hong menjawab dengan sangat jujur dan
polos, karena memang begitulah keadaannya dua hari terakhir.
“Acccch, sayang sekali. Padahal, sesungguhnya kekuatan dalam
tubuhmu sudah cukup untuk membuatmu sanggup menandingi
seorang tokoh sekelas Mo Hwee Hud. Sebetulnya menurut
penglihatanku, engkau bakalan butuh setahun untuk dapat
membaurkan iweekang itu kedalam tan tianmu sendiri dan
memeliharanya untuk memperkuat iweekangmu sendiri. Setelah
setahun, tanggung engkau mampu serta dapat mengimbangi Mo
2239
Hwee Hud. Mungkin bahkan bisa sampai mengalahkannya.
Tetapi syaratnya, engkau harus sangat tekun dan ulet jika ingin
mendapat hasil yang hebat dan besar, adikku...” nasehat Koay Ji
yang dengan penuh sayang memandang dan menasehati Siauw
Hong.
“Baiklah, malam ini kebetulan aku sedang sangat bersemangat
toako, bolehkah aku berlatih bersamamu disini....”? tanya dan
pinta si nakal, yang langsung diiyakan oleh Koay Ji setelah
melihat sinar mata adiknya yang memang sedang senang.
“Baiklah, tetapi jangan menggangguku, sebab ada beberapa hal
yang juga ingin kulakukan dan kudalami malam ini.....”
“Baik, siap toako, tetapi, menjelang pagi engkau harus melihatku
memainkan Ilmu warisanmu yang tiga jurus itu,,,,,,,,”
“Baik,,, begitu juga baik adikku....”
Dan keduanyapun segera tenggelam dalam aktifitas berbeda.
Jika Koay Ji saat itu melanjutkan pendalamannya atas rahasia
lain Barisan peninggalan suhunya, maka si gadis tenggelam
dalam melatih menyatukan semangat menampung hawa, dan
khususnya di bagian menguatkan organ-organ tubuhnya. Mereka
berdua terlihat sedang bekerja keras, dan keduanya memang
2240
sama-sama ulet dalam mengejar dan mengerjakan sesuatu.
Karena itu, tidak heran jika mereka melakukan pekerjaan itu
dalam posisi yang sama selama beberapa jam, bahkan sampai
menjelang subuh. Adalah Siauw Hong yang tergugah terlebih
dahulu karena dia mendengar ayam yang berkokok dari halaman
Thian Ciong Pay. Tanda bahwa hari akan mulai terang. Dan dia
ingat dengan melatih ilmu yang satunya.
Begitulah, menjelang pagi, mereka selesai berlatih dan Koay Ji
menyudahi latihan dengan adiknya Siauw Hong dan kemudian
berpisah karena dia harus menemui sesama saudara
seperguruannya. Dia memilih pagi itu untuk menyampaikan
bahwa Suhu mereka sudah meninggal, meski kabar itu hanya
setengah benar saja. Tapi, dia memang harus melakukannya
sebagaimana amanat dari Bu In Sinliong Suhunya itu. Dan pagi
ini dia merasa sudah tepat, sebab bila menunggu lebih lama
rasanya kurang layak dan pantas.
Sebagaimana bisa ditebak, mereka semua serentak terlihat
menjadi amat sedih, tetapi sekaligus tenang karena memang
mereka tahu, Bu In Sinliong, Suhu dan orang tua mereka sudah
berusia teramat lanjut. Sudah melampaui angka 100 tahun
usianya. Karenanya, meski bersedih dengan perpisahan itu, tetapi
mereka merasa menjadi jauh lebih tenang dan sekaligus berjanji
2241
untuk menuntaskan pesan-pesan terakhir sang Suhu. Malam itu
mereka memutuskan untuk tidak berlatih tetapi akan berada di
gua pertapaan untuk melakukan penghormatan terakhir kepada
Suhu mereka itu. Sementara upacara penghormatan terakhir,
mereka putuskan akan nanti dilakukan setelah pertarungan di Pek
In San.
Sementara itu, Koay Ji sendiri sudah memberitahu dan berpesan
kepada adiknya, Kang Siauw Hong bahwa malam itu dia tidak
akan kemana-mana, dia harus bersama semua saudara
seperguruannya. Bahwa dia dan semua saudara seperguruannya
sedang berhalangan dan diapun tidak akan berlatih karena ada
suasana duka bagi perguruan mereka, tanpa memberitahukan
secara detail suasana duka seperti apa. Kang Siauw Hong
maklum saja dan mereka berdua berjanji untuk berlatih kembali
keesokan harinya. Setelah memberitahu Siauw Hong, Koay Ji
kembali bergabung dengan semua saudara seperguruannya dan
berada serta bertahan dalam gua suhu mereka hingga malam.
Lewat tengah malam Koay Ji merasa agak kurang tenang dalam
gua tersebut dan akhirnya memutuskan keluar. Toch masa
kabung mereka sehari sudah melampaui batas, karena hari sudah
berganti. Berpikir demikian, Koay Ji kemudian memasuki Barisan
Pembingung Sukma dan semakin lama dia semakin mantap dan
2242
tahu untuk tidak menghentak Barisan itu ketika masuk
kedalamnya. Dengan tenang dan tanpa diburu-buru, Koay Ji
membentuk satu ruang rahasia dalam Barisan itu menurut yang
diajarkan Suhunya. Ruang yang dibentuknya itu adalah yang
paling rahasia dan baru mulai dipahaminya terakhir dalam
Barisan. Kenapa dia melatih dan membentuknya lagi? terutama
karena selain membuatnya lebih paham, juga dia dapat
mengontol seantero Barisan dari dalam ruang rahasia itu.
Masalahnya, dia baru dapat mengontrol setengah bagian dari
Barisan besar itu dan masih perlu lebih mendalami rahasiarahasia
yang ditinggalkan Suhunya. Tetapi, mengontrol
setengahnya saja sudah cukup hebat buatnya, karena itu dia
menjadi senang berada dalamnya. Tetapi, malam itu dia tidak
ingin mencari dan berlatih, hanya ingin menenangkan hatinya
karena dalam ruang itu, dia dapat melihat dunia luar berbeda
dengan ruang lainnya. Karena itu Koay Ji mulai bersiap untuk
mulai meregangkan tubuhnya dan memulai samadhinya lagi.
Tetapi, dia terkejut ketika dapat menangkap adanya dua orang
yang lain di sudut yang baru saja terbuka untuk dapat dikontrolnya
dengan leluasa. Lebih kaget lagi, karena keduanya adalah orang
yang dikenalnya, terutama sang gadis yang ternyata adalah Kang
Siauw Hong. Sekali ini, dia tidak datang sendirian, melainkan
2243
datang dengan neneknya, Nenek Hua Hun, istri dari penguasa
Lembah Cemara.
Tetapi, untuk apa dia berada dalam Barisan ini bersama
Neneknya Hua Hun? Dan aneh, mereka berdua terlihat sedang
berbisik-bisik, berdebat entah apa yang sedang mereka
perdebatkan. “Ada apa gerangan...”? Koay Ji merasa keheranan,
mengapa baru sekarang mereka berdua berada dalam Barisan?
Dan untuk apa pula mereka berada dalam Barisan dan berbicara
dengan cara dan gaya yang agak rahasia itu? Tetapi karena
memang bukan karakternya ngintip orang yang sedang bicara
secara rahasia, maka Koay Ji pun kemudian berdiam diri dan
akhirnya mulai melakukan samadhi. Tetapi, ketika dia memulai
samadhinya, ternyata dia justru sudah memiliki kemampuan yang
dapat mengontrol semua isi Barisan yang sudah dapat terbuka
lewat kemampuannya tadi.
Celakanya, di luar kemauannya, dia mampu mengetahui semua
yang sedang terjadi dalam Barisan pada saat itu. Termasuk
mendengar apa yang sedang dipercakapkan secara rahasia oleh
Kang Siauw Hong dan orang didepannya. Nenek Hua Hun, istri
penguasa Lembah Cemara. Meskipun sebenarnya, Koay Ji
sendiri baru menyadari bahwa untuk mengetahui aktifitas
seantero Barisan dan mengontrol semua sisi dari Barisan, hanya
2244
dapat dia lakukan melalui meditasi ataupun melalui samadhi. Satu
penemuan baru melengkapi apa yang sudah dia pahami dan
ketahui selama berapa hari terakhir ini. Jelas amat
menggembirakannya.
Tapi tunggu, ada yang mengejutkannya dan tidak diduganya
sama sekali. Karena dia kemudian ternyata dapat ikut mendengar
percakapan Siauw Hong dengan Neneknya Hua Hun. Dia menjadi
tidak enak sendiri dengan apa yang terjadi, tetapi dia sulit untuk
tidak mengikutinya kecuali melepas samadhinya. Dan memang
dia berniat untuk menyelesaikan samadhinya, kurang enak
mengintip pembicaraan orang. Dan orang itu adik angkatnya
sendiri. Tetapi, belum lagi sempat melepas kemampuannya
mengintip pembicaraan orang, tiba-tiba dia mendengar desisan
lirih Kang Siauw Hong. Sebuah nada bicara yang kurang puas,
tidak senang dan pastilah suasana hati sang adik gelisah, putus
asa dan tidak tenang. Dia mendengar suara lirih namun terdengar
amat jelas ditelinganya:
“Tidak Nenek, Hong Ji tidak akan mau untuk sampai mengkhianati
Thian Cong Pay, tidak akan mau sampai mengkhianati Koay Ji
toako. Karena dia sudah menjadi kakak angkatku dan kami sudah
angkat sumpah menjadi kakak dan adik bersama-sama, akan
saling menjaga dan saling menyayangi sebagai kakak dan adik.
2245
Tidak, tidak akan Hong Ji mengkhianatinya dengan cara seperti
itu......”
“Engkau tidak akan mengkhianatinya cucuku, engkau hanya
membalaskan dendam gwakongmu sendiri, itu saja yang engkau
tanamkan dalam hatimu dan selebihnya bukan lagi engkau yang
mengerjakannya.....” terdengar bujukan Hua Hun si Nenek yang
membuat Siauw Hong tersentak.
“Apa lagi namanya jika bukan pengkhianatan atas persaudaraan
Nek...? Koay Ji itu memperlakukan dan menganggapku seperti
adiknya sendiri, dia menyayangiku. Dan kecuali Nenek dan adik
Bun, tidak ada yang menyayangi dan menganggapku di Lembah
Cemara. Saat aku memiliki kakak sendiri, Nenek menyuruh Hong
Ji untuk memasukkan musuh dan memusnahkan Thian Cong Pay
demi dendam gwakongku? Dan yang anehnya bahkan
gwakongku itu justru tidak menaruh dendam dan tidaklah
memusuhi Thian Cong Pay. Nenek keliru, gwakong tidaklah
membenci Bu In Sinliong dan semua keturunannya. Apa yang
Nenek ingin lakukan sungguh amat tidak masuk diakalku, karena
itu Nek..... sekali lagi, tidak. Hong Ji tidak bersedia......” tolak
Siauw Hong dan ini membuat Koay Ji menjadi sangat penasaran.
“Astaga, Thian Cong Pay ternyata sudah kemasukan musuh,,,,,
sungguh celaka.....” desisnya dalam hati. Sungguh dia tidak
2246
menyangka, di luar dugaannya jika Siauw Hong dan Nenek Hua
Hun ternyata berasal dari pihak musuh.
“Hmmm, jadi engkau tidak mau membantu Nenekmu? Tidak mau
membantu leluhur perguruanmu? Tidak mau mendengar perintah
Nenekmu inin lagi??.... hmmm, bagus sekali perbuatanmu itu
Siauw Hong. Engkau bahkan lupa, bahwa jika bukan karena
Nenekmu ini, engkau tidak akan menjadi siapa-siapa..... dan
begitu bertemu Koay Ji selama beberapa hari, pemuda yang juga
setengah tak genah itu, engkau sekarang lebih memilihnya
ketimbang Nenekmu. Dan, ech, jangan-jangan malah engkau
jatuh cinta kepada pemuda tak genah itu ya...”? terdengar desis
tajam dan penuh tekanan dalam suara si Nenek, bahkan Koay Ji
sampai bergidik dan sedikit marah dengan nada dan tekanan
suara Nenek Hua Hun yang tidak pada tempatnya itu.
Tapi kejadian selanjutnya membuat Koay Ji semakin memahami
dan mengerti apa yang sedang terjadi antara nenek dan cucu
yang sepertinya berbeda perangai itu. Dan, dia semakin
menyayangi adik angkatnya yang memiliki budi dan perangai
yang baik, sesuai dengan pandangan dan pijakannya. Bahkan,
jelas sekali adiknya itu membela dia dan membela nama baiknya.
2247
“Nek, jangan menghina kakakku. Jika dia pemuda tidak genah,
maka pastilah akan kuketahui dari sinar matanya, tetapi dia tidak
pernah bersikap tidak sopan kepada Hong Ji. Dia sama sekali
tidak pernah mencari kesempatan dalam kesempitan. Dia
pemuda gagah yang sopan dan berkepandaian tinggi. Sangat
menghormatiku, juga menjagaku sebagai adiknya. Bahkan juga
layak jika Hong Ji jatuh cinta kepadanya, tapi tidak, dia jauh lebih
cocok menjadi kakakku, Hong ji menyayanginya sebagai kakak
dan tidak mengharap dia menjadi suamiku,,,,,,,,,”
Koay Ji mau tidak mau menjadi lebih sayang kepada adik
angkatnya yang malah rela melawan Neneknya sendiri untuk
melindunginya, menjaga nama baiknya. Sungguh dia menjadi
amat terharu. Rasa sayangnya kepada Hong Ji menjadi semakin
tebal karena apa yang dia dengar malam iyu.
“Baiklah, jika engkau tidak mau membantu Nenekmu, lebih baik
setelah semua ini engkau kembali ke Lembah Cemara saja.
Biarkan Nenekmu melakukan pekerjaan ini sendirian..... dasar
punya cucu tak tahu diuntung....” berkata demikian, dalam emosi
dan marahnya, Nenek Hua Hun kemudian berlalu, dan caranya
mengakali Barisan sungguh luar biasa. Benar kata Siauw Hong,
Nenek itu memang amat mahir dengan Ilmu Barisan. “Sungguh
2248
berbahaya.....” desis Koay Ji mengiringi langkah Nenek Hua Hun
yang berlalu dari dalam Barisan.
Koay Ji melihat keadaan Kang Siauw Hong yang galau dan
gelisah. Meski Gadis itu berusaha memusatkan perhatian dan
berlatih, tetapi nyaris tidak ada satupun yang dilakukannya
dengan cara yang baik. Untung saja Koay Ji tahu, bahwa
serangan ke Thian Cong San kelihatannya baru mulai dirancang
dan belum lagi dilakukan. Dia sama sekali tidak mau mendesak
dan memaksa Siauw Hong tetapi akan berusaha membuatnya
berbicara secara sukarela, tanpa tekanan. Dengan pikiran itu,
Koay Ji kemudian memusatkan perhatiannya dan menjelang
subuh dia kembali ke Gua, setelah melihat Kang Siauw Hong juga
sudah tidak berada dalam Barisan itu lagi, sudah keluar entah
kapan.
Setelah berlatih pagi itu dan Koay Ji melihat betapa Barisan
Pembingung Sukma yang dibentuk ketujuh saudara
seperguruannya mengalami kemajuan pesat. Sudah mampu
bergerak bersama, memainkan peranan masing-masing, dan
terpenting dia merasakan pengaruh mujijatnya bertambah kuat
dan kental. Bahkan ketika dia mencoba memasuki Barisan itu, dia
merasa gelombang serangannya mulai terasa membahayakan,
tetapi masih belum cukupkonsisten, alias masih timbul tenggelam.
2249
Setelah usai berlatih, merekapun semua sesama saudara
seperguruan berbincang bincang santai dan melepas lelah. Tapi
Koay Ji memulainya:
“Para suheng dan suci, terutama Chit Suheng, Thian Cong Pay
sudah kesusupan musuh tanpa kita sadari......”
“Siauw sute, apa maksudmu...”? Cu Ying Lun nampak penasaran
meski masih dapat menahan diri dan juga emosinya. Tetapi saat
itu, bukan hanya Cu Ying Lun, semua saudara seperguruannya,
terutama Tek Ui Sinkay sebagai Bengcu Tionggoan, kaget bukan
buatan dan memandang Koay Ji meminta penjelasan lebih rinci
dan jelas. Koay Ji tentu saja sangat maklum, termasuk
memaklumi reaksi dari Cu Ying Lun sebagai tuan rumah di Thian
Cong San, maupun reaksi Sam Suhengnya yang juga adalah
pemimpin melawan musuh.
“Chit suheng, salah satu atau dua dari rombongan Lembah
Cemara ternyata punya kaitan dengan musuh perguruan kita.
Siapa musuh perguruan itu, masih belum kupahami secara lebih
jelas, tetapi akan dapat kuketahui dalam waktu dekat. Yang pasti,
mereka menguasai Ilmu Barisan melampaui kita masing-masing,
dan akan menyerbu masuk beberapa waktu kedepan......”
2250
Semua kini terdiam. Pikiran mereka masing-masing menerawang,
termasuk Cu Ying Lun yang masih sangat penasaran karena juga
menyangkut dengan keluarganya, tepatnya keluarga istrinya,
keluarga dari Lembah Cemara. Terdengar dia kemudian bertanya
kembali dengan nada suara lebih serius:
“Siauw sute, bagaimana engkau mengetahui rahasia ini.....? dan
siapa gerangan dari Lembah Cemara yang terlibat...”?
”Chit Suheng, bolehkah tecu meminta agar ini menjadi rahasia
diantara kita sesama saudara seperguruan saja....? karena
sejauh ini baru satu atau dua orang yang bisa dan dapat
kuketahui, lainnya sama sekali belum.....”
“Tentu saja Siauw sute,,,,, kita mestilah menyelidiki urusan dan
ancaman terhadap perguruan Thian Cong Pay secara tuntas......”
jawab Cu Ying Lun yang sepakat dengan usulan Koay Ji
“Baiklah, apakah Chit Suheng mengenal secara dekat latar
belakang semua istri dari Hoan Thiang Kheng Locianpwee...?
maksudku semua ibu mertua Chit Suheng? karena semalam,
tengah malam lebih tepatnya lagi, Nenek Hua Hun berada dalam
barisan dan sedang membahas apa yang dia sebut “serangan
kedalam Thian Cong Pay dengan orang-orang yang masih belum
2251
jelas identittasnya, belum dikatakannya”. Dan bahwa rencana ini
adalah serangan balasan, balasan atas sesuatu yang terjadi pada
masa lampau dengan perguruan kita.......”
“Hua Hun Gakbo,,, hmm, sejujurnya sedikitpun aku tidak
mengetahui latar belakang dan darimana asalnya...... apakah
engkau tahu siauw sute...”? kaget Cu Ying Lun dan bertanya
kepada Koay Ji, tetapi dia tidak beroleh jawaban karena melihat
sinar mata Koay Ji juga sama penasarannya.
“Terus terang belum, tetapi dalam satu atau dua hari ini akan aku
tahu jelas, tetapi menjelang hari berbahaya itu, mohon Chit
suheng mengamankan keluarga lainnya dan juga anak murid
Thian Cong Pay. Dan Sam suheng mesti mengamankan dan
mengingatkan semua anggota Kaypang yang berada di luar
Markas Thian Cong Pay, maupun yang bersembunyi di dalam,
dan Toa suheng memimpin kita semua. Tempat ini mesti kita
amankan, karena jika serangan balas dendam, maka arahnya
akan kemari. Untuk selanjutnya biarlah kita bekerja seperti
biasanya, tetapi Toa Suheng harus memimpin kita sejak saat
sekarang.....”
Semua terdiam, dan memandang kearah Pek Ciu Ping yang
sedang berpikir keras. Dan sadar bahwa semua sute dan
2252
sumoynya sedang mengarahkan pandangan kepadanya dan
sedang menunggu perintahnya, maka diapun, Pek Ciu Ping
berkata dengan nada suara tenang:
“Memimpin kita semua sebagai Toa Suheng adalah kewajibanku,
tetapi memimpin kita dalam sebuah pertarungan yang butuh
strategi matang, kutunjuk Sam Sute. Dia yang jauh lebih mahir,
dan jelas jauh lebih berpengalaman dibanding lohu. Dan guna
menghadapi urusan ini, maka Sam Sute akan dan harus dibantu
oleh masing-masing Chit Sute dan juga engkau Siauw Sute.
Apalah Toa Suheng kalian ini yang hanya merupakan seorang
pertapa, tetapi kalian semua tahu dan paham, kecintaanku untuk
kalian semua. Karena itu, Sam Sute, engkau memimpin kita sejak
sekarang untuk tugas mengantisipasi serangan lawan kita......”
“Toa suheng, engkau yang.....” belum lagi selesai perkataan Tek
Ui Sinkay, sudah langsung dipotong Pek Ciu Ping,
“Sam sute, engkau sudah mendengar dengan jelas apa yang baru
saja kuputuskan dan wajib kita semua taati...”?
“Acccch, baiklah toa suheng....” Tek Ui Sinkay pada akhirnya
menyetujui, maklumlah dia dengan perangai sang toa suheng.
Meski sangat mencintai mereka, tetapi sang Toa Suheng sangat
2253
tegas jika berkaitan dengan kepentingan mereka bersama, dan
keputusannya sudah disampaikan.
“Sudah tentu engkau jauh lebih pantas, sebab jika tidak,
bagaimana engkau menjadi Bengcu Tionggoan...? apakah
engkau sangka kita tidak bangga dan senang dengan pilihan
kawan-kawan dunia persilatan itu Sam Sute....”? berkata Pek Ciu
Ping sambil tersenyum bangga yang dia tujukan langsung kepada
Tek Ui Sinkay. Dan mau tidak mau Tek Ui Sinkay mengiyakan
dengan penuh hormat memandang Suhengnya itu. Memang
benar perkataan toa suhengnya, bahwa capaiannya sebagai
Bengcu dari Tionggoan adalah jabatan bergengsi, tentu semua
saudara seperguruannya bangga. Dan memimpin Tionggoan dia
bisa, masak memimpin sesama saudara seperguruan
menghadapi ancaman dia tidak sanggup?
“Terima kasih atas kepercayaan dan cinta kasih toa suheng....”
“Nach, kalian bertiga segeralah membagi tugas dan malam nanti
beritahukan kepada kami berlima di tempat ini seperti apa yang
harus kami persiapkan dan harus kami lakukan. Berhubung lawan
sudah mengintai, maka kami berlima akan terus menjaga Goa
Insu ini. Siauw sute, mengenai kedua muridku engkau pimpin
untuk ikut tugas menjaga perguruan kita, apa yang perlu mereka
2254
kerjakan, engkau yang putuskan, dan bicarakan dengan Sam
Suhengmu.....” tegas Pek Ciu Ping.
“Baik toa suheng, siauwte siap segera melaksanakan perintah.....”
jawab Koay Ji yang menjadi sangat gembira karena Bun Kwa
Siang akan ikut dirinya. Dia memang selalu takjub dengan
sutitnya itu, kekebalan alami yang sangat luar biasa dan masih
sulit ditaklukkannya dengan ilmu silat.
“Nach, silahkan Sam Sute......” sodor Pek Ciu Ping memimpin
mereka selanjutnya untuk melawan para penyerang.
“Baiklah, jiwi suheng, jiwi sumoy dan para sute, hari ini Cu sute
akan secara diam diam mengamati keadaan Thian Cong San, dan
secara khusus juga akan segera mengamankan persembunyian
semua anggota Thian Cong Pay dan keluarganya. Kemudian,
lohu akan menghubungi semua pasukan Kaypang yang
menyebar di Thian Cong San, termasuk pasukan pendam
Kaypang, sekaligus untuk melakukan penjagaan. Dan Siauw sute,
tugasmu dalam dua hari ini wajib mengidentifikasi dan
memberitahukan kepada kita semua, siapa gerangan lawan yang
akan menyusup masuk kedalam melalui Lembah Cemara. Dan
semua yang tersisa, Toa Suheng, Ji Suheng, Ngo sute dan jiwi
sumoy, semua akan bertugas mengamankan gua rahasia Insu ini.
2255
Nach...... apakah sudah cukup jelas bagi kita semua apa yang
menjadi kewajiban kita masing-masing saat ini....”?
Semua mengangguk, dan memang, Tek Ui Sinkay menunjukkan
kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin organisasi,
berbeda dengan Pek Ciu Ping yang wibawa dan kasihnya,
menjadi pemimpin bagi sesama saudara seperguruannya. Dan
saat itu juga semua mulai bekerja sesuai pembagian tugas yang
tadi ditegaskan Tek Ui Sinkay dalam memimpin mereka melawan
penyerang.
Cu Ying Lun dan Tek Ui Sinkay menjalankan tugas mereka
dengan cepat, karena malam itu juga semua dilaporkan sudah
diantisipasi. Tetapi Koay Ji masih belum melakukan tugasnya
dengan baik, meskipun Cu Ying Lun melaporkan adanya hal hal
mencurigakan dari Nenek Hua Hun. Sepanjang hari Koay Ji
bermain dan berlatih bersama Siauw Hong, Bun Siok Han dan
Bun Kwa Siang. Meski Siauw Hong agak terlihat gelisah, tetapi
bersama Koay Ji dan Kwa Siang membuatnya merasa sangat
senang dan juga gembira.
Keesokan harinya keadaan seperti berlangsung secara normal,
Cu Ying Lun dan Tek Ui Sinkay berkerja keras menjaga
keamanan dan memastikan kondisi dalam Thian Cong Pay tetap
2256
kondusif. Sampai sore hingga malam belum ada laporan dari
Koay Ji, tetapi yang mengagetkan muncul dari anggota Kaypang
yang bertugas memantau Gunung Thian Cong San.
“Pagi hingga siang hari muncul beberapa tokoh hebat dari Pek In
San, nama mereka akan disusulkan, tetapi belum sampai ke
Thian Cong Pay sampai malam hari. Maka, kesiagaan harus kita
tingkatkan, kelihatannya Nenek Hua Hun justru punya atau
memiiki hubungan entah apa dan bagaimana dengan pihak Bu
Tek Seng Pay di Pek In San.....” demikian Tek Ui Sinkay
membuka pertemuan dan rada tegang karena ternyata mereka
justru menghadapi lawan dari Pek In San. Memang mereka belum
tahu bagaimana hubungannya dengan Nenek Hua Hun.
“Apakah engkau sudah yakin sam suheng...”? tanya Koay Ji
serius karena kaget dengan laporan yang disampaikan
suhengnya itu.
“Belum, tetapi harus kita buktikan sesegera mungkin.....” jawab
Tek Ui Sinkay sambil memandangnya, juga sama seriusnya. Dan
keduanya segera merasa bahwa saat itu mereka sedang
berhadapan dengan sebuah urusan yang amat serius, dan mesti
segera diketahui apa gerangan masalah itu.
2257
“Jika memang mereka muncul di Thian Cong San, maka itu bukan
karena sebuah kebetulan. Persoalan menjadi tambah runyam,
karena itu, maka malam ini juga harus kuketahui apa dan siapa
tokoh yang bermain dari dalam. Para suheng dan suci, ijinkan sute
kalian bekerja untuk memastikannya malam ini juga, karena
sudah kupikirkan cara untuk meyakinkan siapa-siapa mereka
didalam dan diluar....” Koay Ji berkata dalam nada serius.
“Apa yang akan engkau lakukan sute...”? Cu Ying Lun terlihat
khawatir karena belum tahu apa yang akan dilakukan Koay Ji.
Jangan-jangan dia akan langsung menuju dan menemui Nenek
Hua Hun
“Chit Suheng, tenang saja, ada cara yang sangat ampuh dan akan
kulakukan malam ini juga tanpa mengganggu rombongan
Lembah Cemara dan keluarga Chit suheng. Percayalah, akan
kulakukan sebaik-baiknya.....” Koay Ji paham kegelisahan Chit
Suhengnya itu, maka dia menenangkannya.
“Bagus, tetapi kapan kami mengetahui hasilnya sute...”? tanya
Tek Ui Sinkay yang mulai merasa gelisah dengan penyusupan itu.
“Malam ini juga kita semua akan mengetahuinya, beri waktu
sampai tengah malam nanti. Jikapun lewat dan meleset, tidak
2258
akan sampai pagi hari nanti....” tegas Koay Ji dengan penuh
keyakinan dan memuaskan saudara seperguruannya yang pada
mulai tegang sejak beberapa hari terakhir.
“Baiklah.... silahkan sute....” Tek Ui Sinkay akhirnya mengijinkan,
dia percaya akan apa yang akan dikerjakan siauw sutenya itu.
Sejak dahulu memang dia sangat yakin dan mempercayai siauw
sutenya yang semujijat suhunya sendiri.
Apa yang akan dilakukan Koay Ji? Tidak ada yang istimewa,
karena dia melakukan hal rutin, bertemu dan berlatih dengan
Siauw Hong dalam barisan. Tetapi, malam ini dia memutuskan
akan memancing Siauw Hong untuk berbicara, berhubung musuh
musuh tangguh mulai menyatroni Thian Cong San. Apa dan
bagaimana kisah dan cerita Siauw Hong dengan Nenek Hua Hun,
mau tidak mau mesti dia ketahui untuk menentukan tingkat
bahaya atas serbuan musuh.
Sesuai dugaannya, tidak berapa lama Kang Siauw Hong
munculkan dirinya dan langsung menyapa dengan gaya seperti
biasa:
“Toako, engkau terlihat amat serius sampai datang terlebih
dahulu.....hikhikhik” beda dengan hari sebelumnya yang rada
2259
gelisah, Kang Siauw Hong hari ini justru terlihat berbeda, seperti
sedang gembira. Entah hal apa yang membuatnya lebih gembira
dan tidak lagi nampak tertekan.
“Hmmmm, sebenarnya karena ada satu hal yang ingin
kutanyakan kepadamu Hong moy, hal yang mengherankan
karena engkau kurang mempercayaiku sebagai kakak bagimu....”
Koay Ji sudah langsung mulai memancing Siauw Hong berbicara.
Dan benar saja, dia melihat Siauw Hong terkejut, tetapi dengan
cepat tersenyum kembali dan kemudian menghampirinya dan
berkata:
“Waaaah, toako sekarang sudah pandai ngambek ya.... hikhikhik,
aneh, biasanya engkau rada kurang pedulian, mengapa tiba-tiba
malam ini berubah menjadi begitu penuh perhatian.....? hmmm,
ada apakah gerangan? apakah karena ada sesuatu yang perlu
bantuan adikmu yang pintar, cantik dan baik hati ini...”? tanya
Siauw Hong dengan sedikit genit namun manjanya terhadap Koay
Ji sangatlah kentara. Hal yang membuat Koay Ji tersenyum.
Tetapi, dia mau tidak mau harus masuk lebih jauh guna beroleh
informasi penting:
“Hmmmm, apakah engkau kira toakomu ini tidak memperhatikan
jika dua hari yang terakhir ini engkau selalu terlihat gelisah?
2260
Berlatih tetapi pikiran entah menerawang dimana? Kemajuan
dalam latihan iweekang yang amat sangat lamban alias tidak ada
kemajuan sedikitpun.....? nachh, apakah ada sesuatu yang
mengganggu dan membuatmu gelisah adikku....”? bujuk Koay Ji.
Dia berharap untuk mendapatkan sedikit informasi tentang siapa
gadis ini dan siapa neneknya, sebab dengan begitu urusan yang
dihadapi bisa terang.
Tetapi pada saat itu, meski lewat lirikan matanya, Koay Ji dapat
melihat jika Siauw Hong menjadi lebih gelisah lagi jika
dibandingkan hari-hari sebelumnya. Terutama setelah
mendengar pertanyaannya tadi. Dan, tiba-tiba Koay Ji sadar akan
satu hal penting. Bahwa sangat mungkin sebagaimana dia bisa
mengintip pertemuan nenek dan cucunya berapa waktu lalu, dan
sekarang ini juga mungkin ada yang sedang mengintip dia dan
Siauw Hong.......
“Mari, kita pergi ke suatu tempat.....” sebelum Kang Siauw Hong
sempat berbicara, Koay Ji sudah memegang lengannya dan
kemudian membawanya pergi. Setelah lenggang-lenggok berapa
langkah, menandai 5,6 titik dengan batang pohon serta ranting
yang dapat Koay Ji temukan, maka tibalah mereka di sebuah
tempat. Sebuah ruang rahasia yang sulit ditemukan orang luar.
Ruang Rahasia ini adalah ruangan ketiga yang hanya dia yang
2261
tahu sesuai petunjuk suhunya berapa waktu lalu. Bahkan Siauw
Hong sendiri kagum dengan temuan ini.....
“Toako,,,,, bagaimana engkau membentuk ruang rahasia seperti
ini....”? tanya Siauw Hong kaget ketika Koay Ji membawanya
masuk kesebuah ruangan yang dia belum tahu dan belum mampu
menemukannya. Sebagai seorang yang paham Barisan,
penemuan ini tentunya sangat mengagetkannya. Tapi, saat itu
Koay Ji sedang tak butuh menjelaskan soal itu.
“Nanti suatu saat kita pelajari bersama...... tetapi, saat ini, toako
ingin tahu apa yang menyebabkan engkau gelisah 2 hari terakhir
ini......”? Koay Ji kembali bertanya, satu pertanyaan yang
menyulitkan Siauw Hong dan membuatnya kembali terdiam. Sulit
untuk berbicara dan membuka rahasianya.
‘Achhhhhh, bukan sesuatu yang penting sebenarnya toako, hanya
pertikaian kecil dengan keluargaku, dengan Nenekku
terutama......”, elak Kang Siauw Hong cerdik, tapi jelas tidak
mampu membuat Koay Ji mundur untuk tidak mendesak lebih
jauh. Karena sesungguhnya dia paham soal kegelisahan Siauw
Hong itu, hanya masih belum cukup detail belaka.
2262
“Hmmm, baiklah, meskipun agak sulit kumengerti. Karena jika
betul hanyalah sebuah pertengkaran kecil, tetapi mengapa
sampai membuatmu sedemikian gelisahnya? amat sulit dipahami,
tapi, yaa jika engkau memang tidaklah bersedia membaginya
dengan toakomu ini, tidak apalah adikku. Aku tidak akan
mendesakmu lagi....” sesal Koay Ji yang langsung membuat Kang
Siauw Hong terlihat panik, tetapi untuk tidak menekan Kang
Siauw Hong lebih jauh, dia tidak memandang seri wajah Siauw
Hong saat itu. Hal yang justru membuat Kang Siauw Hong justru
semakin salah tingkah, susah memutuskan yang terbaik.
“Accch, bukan begitu toako, hanya saja, hal ini memang agak sulit
untuk kuceritakan. Mohon dimaafkan...tapi.... tapi.....” bisiknya
dengan suara lelah. Bingung, sedih, kaget dan tak tahu mau
berbuat bagaimana.
Koay Ji tetap berdiam diri dan bersikap agak lepas, siap menerima
penjelasan dan siap jika tidak diberitahu. Tidak sangat menuntut,
tetapi juga tidak membiarkan Siauw Hong mendiamkan dan tidak
memberitahunya. Menuntut sebagai bentuk perhatian kakak
kepada adik, mendiamkannya karena percaya bahwa Siauw
Hong mampu untuk memilih apa yang perlu dia lakukan.
2263
“Hmmm, baiklah terserah engkau adikku, jika memang
memberitahuku membuatmu merasa tidak enak, lebih baik
jangan..... yang penting engkau selalu merasa baik dan tidak usah
terlampau gelisah seperti itu.... toch toakomu tidak tahu dan tidak
akan tahu apakah engkau berdusta atau tidak.....” hebat kata-kata
bersayap dari Koay Ji ini. Merasa menerima dan biasa saja jika
diberitahu, dan merasa bahwa yang lebih penting adalah
perasaan dan rasa aman Siauw Hong.
Kata-kata Koay Ji menambah rasa gelisah dalam hati Siauw
Hong. Jika Koay Ji mendesaknya, tidak mungkin dia tidak salah
tingkah, tetapi karena dia tidak didesak dan ditekan, tetapi
menyerahkan pertimbangannya pada dirinya sendiri, malah
membuat Siauw Hong merasa semakin kesulitan. Semakin
gelisah memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan. Apalagi,
karena Nenek Hua Hun tadi sudah sempat membisikinya, bahwa
sebentar lagi persiapan akan tuntas dan dalam waktu dekat akan
segera penyusup masuk menyerang. Apa yang harus dia
lakukan.....? sungguh bingung dan sungguh runyam keadaannya.
“Baiklah, jika engkau keberatan mengatakannya, lebih baik kita
berlatih saja. Dan karena dalam waktu dekat kita akan mengalami
keadaan yang amat tidak aman, maka ingin kuturunkan satu buah
ilmu lain kepadamu. Ilmu ini adalah salah satu ilmu langkah mujijat
2264
dan sekaligus melatih ginkang untuk bergerak cepat dan taktis.
Sengaja kuturunkan kepadamu sebagai adikku satu-satunya,
karena tidak bisa setiap saat aku mengawasimu, ada saat engkau
harus berusaha menjaga dirimu sendiri. Dan jika engkau celaka,
maka sebagai toakomu, aku akan merasa sangat berdosa
sepanjang hidupku kelak......” berkata Koay Ji dan bangkit berdiri,
bersiap untuk memberi latihan dan petunjuk kepada Siauw Hong.
Tetapi, mendengar perhatian dan kecintaan Koay Ji kepadanya,
Kang Siauw Hong yang pada dasarnya adalah gadis manis
penyendiri dan jarang dikasihi orang lain setulus Koay Ji, justru
bukannya senang, malahan menangis. Menangis sedih dan
bukannya menangis gembira. Dia berada di persimpangan antara
membela Nenek Hua Hun yang banyak berjasa kepadanya
ataukah membela Koay Ji yang begitu tulus dalam menyayang
dan mengasihinya. Sungguh pilihan yang tidak mudah untuk dia
putuskan pada saat itu. Dia mesti membuat pilihan, sudah pasti,
tetapi pilihan apa itu, dia maish tetap bimbang.
Menjadi sangat sulit, karena keputusannya bakalan merusak
perasaan pihak yang lain kepadanya. Salah satu pasti akan
merasa terkhianati. Jikapun tidak, dia sendiri yang akan merasa
terhukum sepanjang hidupnya. Tetapi, Siauw Hong semakin hari
menjadi semakin yakin dengan pilihannya. Dia merasa Neneknya,
2265
Hua Hun seperti sedang memanfaatkan dirinya, menyusup ke
Lembah Cemara, mendekati pihak toakonya, Koay Ji dan kelak
menyusupkan penjahat untuk memberantas pihak Thian Cong
Pay. Celakanya, dia menyaksikan sendiri bagaimana gagahnya
dan betapa persaudaraan antara mereka sesama saudara
seperguruan menyelinap masuk ke sanubarinya. Dan harus
diakui, diapun juga merindukan persaudaraan seperti itu, serba
tulus dan saling menguatkan. Dia menyaksikan pihak Thian Cong
San yang gagah perwira, juga Lembah Cemara, sementara pihak
Neneknya adalah manusia manusia tengil yang tidak
bertanggungjawab.
“Siapa yang harus kupilih....”? desisnya dalam hati, sementara
Koay Ji terperangah ketika melihat Kang Siauw Hong justru
menangis sedih. Meski dia dapat merasakan kesulitan Siauw
Hong, tetapi karena diapun sedang dalam tugas yang maha
penting, maka mau tidak mau dia harus terus bersandiwara.
Hanya, perlakuannya kepada Kang Siauw Hong memang tulus,
karena dia memang sudah menyayangi gadis itu sebagaimana
seorang kakak kepada adik perempuannya. Maka, diapun tentu
saja tidak ingin gadis manis itu melakukan sebuah tindakan
durhaka yang bakalan amat merusak pribadinya dan masa
depannya nanti.
2266
“Sudahlah moi-moi, kakakmu ini tidaklah akan mendesakmu. Jika
memang engkau tidak bisa membicarakannya dan tidak mau
berlatih, biarlah kita beristirahat disini sejenak dan kemudian kita
boleh beristirahat saja......” bisiknya sambil merangkul kepala
Siauw Hong penuh kasih sayang. Dan perlakuan penuh kasih ini,
justru semakin memukul perasaan Siauw Hong yang memang
merindukan seorang kakak menjadi sandaran hidupnya yang
penuh derita selama ini.
“Huhuhuhu, toako,,,,, bukannya adikmu ini tidak ingin bicara,
tetapi... huhuhuh, jika bicara, teramat sulit untuk dapat dipahami
orang. Dan bahkan mungkin, toako akan meninggalkan aku
karena merasa jijik dan tidak suka,,,, huhuhuhuh.....” tangis Siauw
Hong pada akhirnya tumpah juga, karena perasaan yang ditahantahannya
sudah melampaui batas daya tahan emosinya.
“Acccchhh, adikku, apakah engkau kira setelah toakomu ini
bersumpah, maka toako tidak akan menaati sumpah itu? Engkau
sudah menjadi adikku, apapun yang kelak terjadi, maka itu akan
menjadi tanggungjawabku. Dan apapun yang terjadi dengan
dirimu pada masa lampau, maka biarlah itu menjadi masa lalumu,
dan tidak akan ada alasan toakomu ini untuk merasa jijik dan
kemudian kelak meninggalkanmu. Tidak mungkin seperti itu....”
2267
bujuk Koay Ji sambil terus memeluk kepala adiknya itu dengan
penuh kasih.
“Huhuhuhu, engkau, engkau tidak tahu toako, jika adikmu ini
adalah keturunan orang yang dianggap penjahat besar......
adikmu ini adalah cucu luar dari seorang tokoh bernama Pek Kut
Lojin, Hua Bong...... huhuhu, apakah engkau tidak merasa jijik dan
mulai menyesal menjadi kakakku... huhuhuhu” dengan terbatabata,
diselingi dengan tangis dan air matanya, Siauw Hong
menjelaskan siapa dirinya. Tetapi, dia menjadi kaget karena
mendapati Koay Ji yang biasa saja, tidak terasa menjadi kaget
dan melepaskan rangkulan serta pelukan penuh kasihnya itu.
Bahkan sampai lama, tidak terdengar Koay Ji berkata apa-apa,
tetapi tetap memeluknya dengan kasih, hal yang dapat dirasakan
olehnya bukan secara fisik, tetapi dalam naluri dan hatinya. Koay
Ji memang memutuskan untuk memberi keyakinan kepada Siauw
Hong, bahwa dia dikasihinya sebagai adiknya. Dan pilihan Koay
Ji bukan karena kecerdasan otaknya, tetapi karena memang dia
memiliki rasa sayang sebagai seorang kakak terhadap adik yang
lama tidak dimilikinya.
Cukup lama mereka tenggelam dalam diam sementara Siauw
Hong terus terisak dalam kesedihannya. Dan setelah sekian lama,
karena Koay Ji tidaklah bersuara sampai beberapa lama, pada
2268
akhirnya adalah Kang Siauw Hong yang masih terus menangis,
dan dengan nada mengenaskan berkata lagi dalam tangisnya
yang sulit untuk berhenti itu:
“Huhuhu, toako, apakah engkau benar-benar tidak merasa jijik
kepadaku yang kau kira baik-baik saja ini....? mengapa engkau
diam saja? Apakah memang aku sama sekali memang tidak
berhak menjadi adikmu yang engkau sayangi itu? atau menjadi
orang baik-baik? huhuhuhu...”
“Tidak, tidak Siauw Hong, tidak. Engkau tetap saja Kang Siauw
Hong atau apapun namamu, engkau tetaplah adikku yang
kusayangi. Aku tidak memiliki seorangpun keluarga, tidak punya
ayah, tidak punya ibu, adik dan kakak. Mereka semua entah
dimana, yang kutahu yang seperti itu tidak kupunya dan kumiliki,
atau tidak kutahu mereka ada atau tiada. Memilikimu sebagai adik
angkatku adalah karunia terbesar bagiku selama beberapa tahun
usia hidupku. Menjadi cucu seorang kakek seperti Pek Kut Lojin
bukanlah pilihanmu, sejauh engkau tetap berjalan dijalan yang
benar dan berlaku adil bagi sesama..... banyak orang yang
mengaku pendekar tetapi juga berlalu khianat. Maka engkau
mesti berusaha berbeda dengan leluhurmu itu, harus berusaha
dengan keras”
2269
“Huhuhuhu, engkau, engkau tidak tahu kisah sesungguhnya dari
gwakong, toako. Tidak ada orang yang tahu. Selain diriku dan
Nenek Hua Hun, tak ada yang tahu, kecuali mungkin seorang lagi,
yaitu Suhumu Bu In Sinliong. Tapi Nenek Hua Hun berusaha
menutupinya. Huhuhuhu, toako, Gwakong tidaklah sejahat yang
dikenal semua orang..... dia menjalani hidup sebagai penjahat
karena desakan dan tekanan suhunya. Dia berbuat begitu untuk
melindungi kedua sutenya yang masih amat muda, dan juga
melindungi anak-anak dan juga cucunya, dia terpaksa hidup
sebagai durjana besar, meski dia lakukan dengan berurai air mata
darah. Bu In Sinliong sebenarnya membebaskan totokan dan
racun dalam tubuh Gwakong ketika mereka akhirnya bertemu,
tetapi disiarkan secara berbeda ke rimba persilatan oleh Suhu dari
Gwakong yang amat jahat itu..... huhuhuhu, kasihan gwakongku
itu. Mengetahui Bu In Sinliong berhasil menyembuhkan Gwakong,
suhu gwakong justru menghadiahkan sebuah pukulan hebat yang
malah bakalan membuat seluruh iweekang Gwakong merembes
hingga habis dan musnah..... huhuhuhuhuh, dan dalam keadaan
itulah Gwakong menemuiku untuk menceritakan sejarah hidupnya
yang mengenaskan dan juga mewarisiku seluruh tenaga
iweekangnya serta juga kitab pusaka itu. Yang jahat sebenarnya
adalah Suhunya itu, tokoh kejam yang sangat berbahaya, tetapi
sayang dia terlampau hebat dan terlampau misterius. Bahkan, dia
2270
masih memiliki lagi kedua saudara seperguruannya yang juga
amat hebat minta ampun itu...... huhuhu, mereka, mereka ingin
menyerbu Thian Cong Pay toako, mereka ingin menghabisi
Lembah ini....... huhuhuhu”
“Terima kasih adikku,, terima kasih karena engkau mempercayai
kakakmu ini. Tetapi, Percayalah, sebagaimana Suhuku dahulu
sudah membantu Gwakongmu itu, begitu juga aku muridnya akan
berusaha membantumu menegakkan keadilan bagimu.
Sesungguhnya, ada bagian yang sudah kakakmu ini ketahui
cukup jelas, tetapi tanpa engkau menyebutkannya kepadaku,
maka semua akan menjadi sia-sia. Toakomu ini tahu bahwa
engkau juga mengasihiku sebagai kakakmu, maka tidak ada
alasan untuk tidak menjagamu dengan taruhan apapun,,,,,
hidupmu selanjutnya akan kuatur dan kujaga sebaik yang
kumampu, itu adalah sumpahku untuk langit dan bumi, dan
engkau sudah mengetahuinya......” berkata Koay Ji pada
akhirnya, menegaskan dan menguatkan Kang Siauw Hong.
Sampai berapa lama mereka berdua masih terus saling rangkul
dengan penuh kasih, sampai akhirnya Koay Ji berkata dengan
suara lembut dan membangunkan Siauw Hong:
“Adikku, tetapi sudah waktunya engkau untuk bangkit. Engkau
boleh menceritakan apa yang akan mereka lakukan nanti, tetapi
2271
malam ini engkau harus menguasai sebuah Ilmu Perguruan
Gwakongmu sendiri, yang kuyakin, tokoh-tokoh perguruan
Gwakongmu tidak menguasai sebaik yang kukuasai. Karena itu,
sekarang engkau bangunlah, jadilah adik Koay Ji yang baik, dan
harus belajar menjaga dirimu sendiri karena kita akan melampaui
banyak pertempuran berbahaya.
Mendengar suara Koay Ji yang penuh semangat dan juga
tantangan Koay Ji baginya untuk bangkit, Kang Siauw Hong
merasa tertantang dan semangatnya juga bangun kembali.
Karena itu, diapun mengangguk dan kemudian mencoba untuk
berdiri, bahkan sebentar saja dia sudah berkata:
“Baiklah toako, akupun tentunya tidak ingin untuk
mempermalukan engkau yang menjadi kakakku. Tapi, terus
terang saja, ilmu apa gerangan yang akan engkau latihkan
kepadaku itu....”? tanya Kang Siauw Hong dengan senyum yang
sudah kembali menghias dan menggantung dibibirnya. Betapa
cepat dia bisa bangkit dan memacu semangatnya, hal yang
membuat Koay Ji menjadi senang dan menjadi bertambahtambah
semangatnya.
“Malam ini akan kuturunkan rahasia besar dua Ilmu Mujijat yang
juga berasal dari perguruan Gwakongm sendiri, kedua ilmu
2272
tersebut yakni Ginkang Cian Liong Seng Thian (Naga naik
kelangit) dan juga Ilmu Langkah Thian Liong Pat Pian (Naga
Langit Berubah Delapan Kali). Kedua ilmu ini harus engkau kuasai
malam ini juga, harus melatihnya lebih sempurna, meski untuk
dapat menyempurnakannya dapatlah dilakukan lain kali saja.
Sedangkan khusus untuk Ilmu yang terakhir itu, haruslah engkau
kuasai malam ini juga dengan petunjuk-petunjukku secara
langsung. Jangankan Nenekmu ataupun Penguasa Lembah
Cemara, bahkan tokoh-tokoh kelas utamapun belum akan mampu
menangkapmu jika engkau sudah mampu menguasai intisari ilmu
mujijat itu. Dan supaya engkau tahu, meskipun ilmu itu berasal
dari peguruan gwakongmu, tetapi sudah berbeda amat jauh.
Karena sudah kakakmu ini sisipkan banyak sekali jurus-jurus dan
gerakan-gerakan baru yang justru membuatnya jauh berbeda
namun jauh lebih lengkap lagi. Jika kelak dibandingkan dengan
gwakongmu dan saudara seperguruannya yang lain, mereka
merasa bakal amat pangling dan kesulitan untuk menghadapinya
secara langsung. Nach, engkau segera bersiaplah, berlatih
secara sungguh-sungguh....”
Selanjutnya selama satu jam bahkan lebih, Koay Ji menurunkan
teori dan sekaligus juga penjelasan detail bagaimana melatih
kedua ilmu itu dengan cara yang benar dan baik. Tetapi, secara
2273
khusus dia menjelaskan lebih lengkap Ilmu mujijat yang kedua,
dan khusus untuk malam ini dia mengajarkan bagian
pertahanannya. Setelah merasa sudah cukup, Koay Ji kemudian
berkata kepada Nona Kang Siauw Hong, yang sudah menjadi
adik angkatnya itu:
“Sekarang engkau boleh berlatih di tempat ini sendirian, yakinlah
tidak bakalan ada seorangpun yang akan dapat datang serta
menemukanmu disini. Toakomu harus mengantisipasi semua
keadaan dan akan kembali lagi setelah satu atau dua jam nanti
dan memeriksa kemajuanmu. Dan pada saat itu, engkau sudah
harus mampu memainkan Ilmu kedua bagian pertahanan secara
lebih baik meski masih belumlah sempurna. Ingat baik-baik teori
dan penjelasan toako tadi, kuncinya berada disana, baik untuk
teori maupun untuk melatihnya. Menjelang subuh kelak, toakomu
nanti akan melakukan sesuatu yang penting untuk kemajuanmu
nanti.... tetapi sekarang, nach, engkau mulailah adikku....”
“Baik toako.....” jawab Kang Siauw Hong penuh semangat dan
sebentar saja sudah bergerak untuk melatih ilmu ajaran Koay Ji.
Koay Ji mengamati sekilas saja adiknya berlatih, dan dia gembira
karena memang adiknya itu amat cerdas dan sangat berbakat.
Meski masih terlihat canggung dan tentu saja terdapat banyak
2274
kekeliruan, tetapi perlahan-lahan sambil mengingat tapi terus
bergerak, diapun memperoleh kemajuan yang cukup pesat. Mau
tidak mau Koay Ji tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala
menyaksikan Nona manis itu bergerak dan terus berlatih. Tetapi
setelah beberapa saat, diapun memutuskan pergi terutama
setelah yakin Siauw Hong akan dapat berlatih sendiri dan nanti
dapat diluruskannya jika keliru. Untuk saat itu, dia harus segera
menemui saudara-saudara seperguruannya sesuai janjinya:
Waktunya sangat tepat, karena semua saudaranya sudah terlihat
gelisah menunggu kedatangannya. Karena itu, begitu dia masuk,
semua memandang kepadanya dan kemudian terdengar Tek Ui
Sinkay berkata:
“Masuklah sute, kami semua menunggumu dengan nyaris tak
sabar...hahaha” masih sempat dia berkelakar, tetapi dia tahu
bahwa adik seperguruannya itu pastilah berhasil dengan misinya.
Hal itu dapat dilihat dari sinar mata siauw sutenya yang nampak
berkilat dan gembira emosinya;
Dan baru saja Koay Ji duduk bersila, dia sudah langsung diminta
berbicara oleh Tek Ui Sinkay yang sebelumnya melayangkan
senyum kearahnya terlebih dahulu sambil kemudian berkata
dengan suara tegas:
2275
“Para suheng, sumoy dan sute, lohu sudah tahu dia pasti akan
membawa hasilnya. Karena itu, sebaiknya langsung saja kita
dengarkan apa yang sudah dia peroleh dan ketahui, kita bersama
mendengar terlebih dahulu. Nach, siauw sute, bagaimana laporan
dari yang engkau tahu itu...”?
Setelah menarik nafas sejenak, Koay Jipun kemudian
menceritakan atau lebih tepat melaporkan apa yang berhasil dia
ketahui:
“Para suheng dan suci, kita sedang berhadapan dengan
Perguruan Pek Kut Lojin, tetapi dengan kisah lain yang kita belum
tahu. Bahkan mungkin kita akan terkejut jika mendengar dan
mengetahui hal-hal tersembunyi yang selama ini masih gelap dan
misterius. Suhu hanya sekilas berkata tempo hari, bahwa dibalik
Pek Kut Lojin ada kekuatan yang lebih besar, sangat besar
malahan. Dan karenanya janganlah kita percaya dengan apa
yang ada di permukaan belaka. Dan memang benar, karena Pek
Kut Lojin ternyata adalah orang teraniaya, yang melakukan
kejahatan karena tekanan Suhunya dan untuk melindungi adik
seperguruan beserta semua anak serta cucunya. Dia dalam
totokan dan pengaruh racun Suhunya dan mau tidak mau berbuat
kejahatan dan menjadi musuh utama rimba persilatan Tionggoan.
Dan, yang amatlah aneh, ternyata Suhu kita bukanlah
2276
mengalahkan dan menotoknya untuk memunahkan kepandaian
ilmu silatnya. Sebaliknya, Insu membebaskannya dari totokan
suhunya dan memunahkan racun yang dimasukkan kedalam
tubuhnya oleh gurunya sendiri dan yang memaksanya untuk
berbuat kejahatan. Sayangnya, belakangan suhunya tahu apa
yang Insu lakukan dan memunahkan kepandaian Pek Kut Lojin.
Disaat terakhirnya, dia menemui cucunya dan menyerahkan kitab
pusaka, juga menyerahkan iweekang perguruan dan mentransfer
semua iweekang miliknya itu kepada cucu perempuannya.
Cucunya itu berada bersama kita di Thian Cong Pay ini, dialah
yang mengetahui kisah ini dan membawa TANDA PENGENAL
INSU bagi kita semua, sebuah miniatur Sin Liong yang terbuat
dari batu pualam kehijauan. Tanda yang sama yang ditinggalkan
Suhu sebagai gantinya bagi kita semua, tetapi yang mesti kuambil
beberapa waktu kedepan, sesuai waktu yang ditetapkan Insu.
Nach, yang bekerja untuk menyusupkan musuh ke dalam Thian
Cong Pay kita adalah adik dari gwakongnya, Pek Kut Lojin, yang
bernama Nenek Hua Hun, istri Hoan Thian Kheng yang
identitasnya bahkan tidak diketahui mertua Chit Suheng kita.
Beberapa hari lalu tecu secara tidak sengaja mendengarkan
perdebatan antara Nenek dan cucunya, ya, cucu Pek Kut Lojin
adalah Kang Siauw Hong. Sang Nenek memaksa Siauw Hong
membuka rahasia Barisan dan menyelundupkan tokoh-tokoh dari
2277
Pek In San, tetapi Siauw Hong menolak mati-matian. Pada
akhirnya, adalah Hua Hun sendiri yang akan membuka pintu
Barisan, dan akan dilakukan dua hari kedepan. Itu sebabnya ada
laporan penyusupan tokoh-tokoh Pek In San, karena memang
mereka, para pentolan Bu Tek Seng Pay adalah keluarga
Perguruan Pek Kut Lojin, dan tecu sudah pernah bertempur
dengannya, jadi bisa memastikannya. Mungkin sekali Bu Tek
Seng Ong adalah Suhu Pek Kut Lojin..... maka, mau tidak mau,
kita semua harus berhati-hati......”
Semua tersentak mendengarkan kisah dan informasi dari Koay Ji.
Terutama Tek Ui Sinkay yang mengetahui kisah yang berbeda
tenang Pek Kut Lojin. Tetapi, kisah Koay Ji barusan sangat masuk
akal, selain itu, Suhu mereka sendiripun memang tidak pernah
bercerita hal yang negatif mengenai Pek Kut Lojin. Meskipun sang
Suhu turun tangan, tetapi sama sekali dia tidak menceritakan hal
yang negatif soal Pek Kut Lojin. Mungkinkah karena sebab yang
baru saja dikisahkan Koay Ji? Entah, Tek Ui Sinkay sulit
menyimpulkannya.
Tetapi, yang berbahaya bukan kisah tentang Pek Kut Lojin,
melainkan kisah lain yang ada hubungan dan kini sedang
mengancam Thian Cong Pay karena alasan yang lain.
Pembalasan. Dan jelas mereka harus sangat siap dengan
2278
kemungkinan penyusupan dan menyerang mereka langsung di
tempat mereka tinggal. Apalagi, karena musuh sudah berada di
pintu gerbang, sewaktu-waktu dapat segera masuk dan
menyerang mereka di Thian Cong Pay. Itu yang menjadi beban
pikiran Tek Ui Sinkay pada saat Koay Ji selesai memberikan
laporan.
Dan mereka semua tentu saja, dalam pimpinan Tek Ui Sinkay
perlu merancang strategi yang tepat. Tentunya strategi mengenai
bagaimana menyambut musuh, bagaimana mengamankan
mereka-mereka yang amat perlu diamankan di Thian Cong Pay,
dan bagaimana melawan musuh-musuh hebat itu. Beum lagi
menjaga Gua pertapaan Insu mereka, karena bisa dipastikan
musuh akan berusaha mencari hingga ke Gua pertapaan itu.
“Gakhu tidak mungkin percaya begitu saja dengan apa yang akan
kuceritakan, selain itu, keadaannya justru bisa sangat berbahaya
dan kemungkinan akan dapat diserang lebih dahulu. Oleh karena
itu, lebih baik kita tidak usah melibatkan Gakhu sejak awal, akan
tetapi membiarkannya mengetahui secara langsung apa yang
dilakukan oleh Nenek Hua Hun. Sekaligus pada saatnya dia akan
paham, apa dan siapa latar belakang dari istrinya itu, yang jika
tidak keliru menduga, kelihatannya memang menggunakan
Lembah Cemara untuk tempatnya bersembunyi.......” Cu Ying Lun
2279
menganalisis dan mengemukakan pendapat pribadinya.
Betapapun dia masih belum mengetahui posisi dan keberpihakan
mertuanya bersama seluruh rombongannya, dan karena itu dia
membiarkan mertuanya untuk tidak terlibat dulu. Meski, dia juga
menyiapkan penjagaan atas kemungkinan buruk tiba-tiba mereka
justru menusuk dari dalam.
“Benar, lebih baik mertuamu jangan dilibatkan dulu sute, karena
sejujurnya kitapun masih belum tahu dan yakin ada dimana dan
bagaimana keberpihakannya pada saat seperti sekarang ini....”
Tiat Kie Bu berkata dan langsung setuju dengan usulan yang
dilemparkan Cu Ying Lun.
“”Hmmmm, boleh saja begitu, tetapi artinya, kitapun wajib
mengantisipasi jangan sampai Lembah Cemara tiba-tiba ikutikutan
memukul kita dari dalam, meskipun kemungkinan itu kecil,
tetapi tetap saja memungkinkan. Karena itu, kita harus betul-betul
sangat siap, siap menyambut musuh dari luar, dan siap
menghadapi mereka yang sudah berada di dalam....” berkata Tek
Ui Sinkay sambil menatap Cu Ying Lun yang mengangguk
dengan pasti.
“Justru karena itu, semua harus kita pertimbangkan dan mesti kita
hitung secara rapih, jangan sampai kita terkejut dan tak mampu
2280
mengantisipasi keadaan pada saat yang berbahaya ...””””” tambah
Tiat Kie Bu
“Besok bersama Su Suci kami akan berada di Thian Cong Pay,
mana tahu ada hal hal penting lainnya yang kami temukan....” tibatiba
terdengar Oey Hwa ikut bicara dan melibatkan nama Pek Bwe
Li, tentunya setelah keduanya saling tatap dan saling
menganggukkan kepala. Nama terkahir terlihat menganggukanggukkan
kepalanya menyetujui ucapan Oey Hwa
“Begitu juga bagus sumoy, setidaknya mengawasi keadaan Thian
Cong Pay besok hari. Jika bisa, periksa kembali semua rumah di
kisaran Thian Cong Pay, tetapi untuk itu, bawalah bersama kalian
berdua kedua sutit kita itu. Adalah lebih baik mereka yang
langsung melakukan pemeriksaan setiap rumah yang berada di
Thian Cong Pay ini....” berkata Tek Ui Sinkay
“Hmmmm, benar sekali, bawalah serta kedua anak muridku jiwi
sumoy, mereka akan membantu dengan senang hati....” Pek Ciu
Ping bicara untuk menyetujui usul agar kedua muridnya
dilibatkan.
“Baiklah, para suheng dan suci, tecu akan kembali untuk
mengetahui hal-hal lain yang penting menjelang kedatangan
2281
musuh....” tiba-tiba Koay Ji menyela dan semua suheng dan
sucinya mengangguk.
“Siauw sute,,,,, apakah engkau amat yakin dan percaya bahwa
Nona Kang Siauw Hong baik-baik saja dan berada di pihak kita
dalam persoalan saat ini...”? tanya Pek Bwe Li kepada Koay Ji
“Su suci, masih ada beberapa informasi penting yang dia ketahui,
semoga dugaanku bahwa dia bersama kita tidak meleset, tetapi
jika meleset, sudah ada strategi untuk menanganinya secara lebih
baik.....” jawab Koay Ji sambil kemudian minta diri dari semua
suheng dan sucinya.
Sebagaimana janjinya, setelah bertemu saudara-saudara
sepergurunnya dan juga mempercakapkan persoalan yang rada
berbahaya terkait penyusupan ke Thian Cong Pay, Koay Ji
kembali menemui Siauw Hong. Sesuai dugaannya, tidaklah amat
sulit bagi Siauw Hong untuk memahami rahasia langkah mujijat,
terutama karena dia memang sudah membuka kunci rahasianya.
Dia mengamati sejenak dari luar, dan menemukan betapa Kang
Siauw Hong sudah bergerak dengan benar, nyaris lebih dari
setengahnya dan sudah cukup memadai.
2282
Ketika dia munculkan dirinya kembali untuk menjumpai Kang
Siauw Hong yang sedang asyik berlatih, waktu sudah
menunjukkan lewat tengah malam. Tetapi yang hebat dan tidak
membuatnya kaget, ternyata gadis itu sudah terlihat mampu dan
dapat memainkan Ilmu Langkah Ajaibnya dengan baik. Hanya
tinggal melatihnya agar dapat memainkannya secara lebih lepas,
lebih baik dan bisa mengurangi kekeliruan dan kesalahan yang
tidak perlu. Dan untuk itu, Koay Ji tentu saja akan kembali
membantunya untuk bisa memperbaiki beberapa kesalahan dan
kekeliruan agar Kang Siauw Hong dapat segera
menyempurnakannya dan bahkan kemudian melanjutkan
latihannya dengan lebih baik lagi. Yang pasti Koay Ji nampak
senang dengan kemajuan Siauw Hong.
Demikianlah sampai pagi hari, mereka masih saja terus berlatih
dengan Kang Siauw Hong berusaha terus menyempurnakan
kedua ilmu gerak yang diturunkan oleh Koay Ji. Terutama Ilmu
langkah Thian Liong Pat Pian yang juga sangat disukai oleh
Siauw Hong. Dan Koay Ji membantu dengan penjelasan dan
contoh-contoh dari pinggir lapangan dimana Siauw Hong berlatih.
Meskipun khusus untuk ilmu Ginkang Cian Liong Seng Thian
(Naga naik kelangit) dia masih terhitung mentah, namun sudah
2283
cukup memadai untuk latihan Ilmu Langkah Thian Liong Pat Pian
(Naga Langit Berubah Delapan Kali).
“Untuk saat ini, dia sudah terlihat cukup mantap dan juga sudah
cukup aman bagi Siauw Hong bertarung melawan lawan-lawan
tangguh, mungkin cukuplah malam ini buat dia berlatih, kelak bisa
dilanjutkan”, demikian pikir Koay Ji untuk kemajuan Kang Siauw
Hong. Koay Ji berpikir demikian karena melihat kesalahan Siauw
Hong semakin sedikit, dan kemajuannya sudah memadai. Tetapi,
dia tetap optimis karena Siauw Hong cukup cerdik dan memang
pintar sehingga latihan-latihan selanjutnya pasti mengalami
kemajuan yang lebih hebat lagi.
Setelah beristirahat sejenak dan melepas Siauw Hong, Koay Ji
kemudian kembali bertemu dengan saudara seperguruannya, dan
berlatih bersama dengan Siok Han dan Kwa Siang. Beberapa hari
terakhir Bun Siok Han mengalami kemajuan yang luar biasa,
sementara Kwa Siang mulai memiliki kegesitan tersendiri setelah
ikut berlatih ilmu ginkang dari Koay Ji. Khusus Kwa Siang, Koay
Ji memang memikirkan amat lama dan dalam, bagaimana
meningkatkan kegesitannya sehingga mampu menyerang lawan
lebih hebat. Dan demikianlah pagi itu mereka menemukan seri
kegembiraan yang sama, baik Koay Ji dengan semua saudara
seperguruannya maupun dengan kedua sutitnya. Tetapi, kabar
2284
baru segera muncul dan membuat Koay Ji sedikit merasa bingung
dan sedikit gembira.
Hari itu muncul Nona Tio Lian Cu dan Kong Yan, mereka berdua
sedang mencari sang tabib muda bernama Bu San. Tetapi
bersama mereka, muncul juga rombongan Khong Sim Kaypang
yang sangat mengejutkan dan mengagetkan Tek Ui Sinkay, meski
yang juga sangat menggembirakannya. Tentu saja dia tahu
rahasia tentang Khong Sim Kaypang dan hubungan mereka
dengan Kaypang. Karena tahu, maka Tek Ui Sinkay merasa kaget
dan sekaligus gembira. Dia paham kehebatan Khong Sim
Kaypang, kemisteriusan mereka, tetapi juga kehebatan dan
komitmen mereka dalam membantu kaum pengemis. Tentu saja
termasuk dalam membantu Kaypang. Karena bisa dipastikan,
setiap Kaypang mengalami bencana besar, Khong Sim Kaypang
pasti akan munculkan diri membela.
“Siauw sute, ayolah kita harus segera temui mereka......” ajak Tek
Ui Sinkay begitu diberitahu berita akan kedatangan atau tepatnya
ijin untuk masuk atas kedatangan tokoh-tokoh yang tadi sudah
diberitahukan nama mereka itu. Padahal, yang mesti
mengeluarkan ijin sebenarnya adalah Cu Ying Lun yang menjadi
pangcu Thian Cong Pay pada saat itu. Tentu saja Tek Ui Sinkay
paham, dan dia sudah saling pandang dengan Cu Ying Lun yang
2285
jelas senang karena cucunya sudah pulang. Melirik Koay Ji,
mereka terlihat bingung.
“Marilah Sam Suheng, kita menerima dan menjemput mereka,
lagipula ada cucu luarku yang bersama mereka.....” Cu Ying Lun
sadar dan sudah diberitahu Tek Ui Sinkay mengenai organisasi
rahasia kaum pengemis yang kabarnya sangat hebat itu. Dia lebih
semangat lagi karena mendengar cucu luar yang amat
dibanggakannya itu juga sudah tiba dan akan memasuki Thian
Cong Pay sebentar lagi. Tetapi, ketika keduanya mulai melangkah
pergi, mereka kaget karena tidak terlihat siauw sute mereka ikut
bersama mereka untuk menjemput orang. Otomatis Tek Ui Sinkay
berbalik dan memandangnya:
“Siauw sute, engkau kenapa,,,,,,,”? tanyanya heran, terlebih
melihat seri wajah sute termuda mereka yang kebingungan
“Mereka, mereka mencari Bu San, bukan mencariku jiwi
suheng....” jawab Koay Ji yang terlihat kebingungan itu. Dan
mendengar itu, Tek Ui Sinkay dan Cu Ying Lun menjadi
tersenyum dan merasa geli.
“Accccch, itulah karena engkau terlampau sering bermain
rahasia-rahasiaan segala. Sudahlah, itu hal mudah, nanti
2286
suhengmu yang mengaturnya, ayooo....”, ajak Tek Ui Sinkay yang
maklum dengan kesulitan Koay Ji dan juga kasihan melihat wajah
Siauw Sutenya yang demikian bingung.
Karena Sam Suhengnya sudah menjamin, maka Koay Ji dengan
masih bingung pada akhirnya memutuskan ikut. Bun Kwa Siang
juga segera memilih untuk ikut bersamanya, sedang Bun Siok
Han sedang menekuni petunjuk-petunjuk Koay Ji barusan dan
tidak ingin konsentrasinya buyar. Maklum, baru saja dia
memperoleh banyak sekali petunjuk baru yang membuatnya
sangat kesengsem dan karena itu menolak untuk ikut serta.
“Siapapun yang akan masuk, sudah diperintahkan meminta ijin
kita, karena itu kita perlu bergegas jangan sampai mereka merasa
diremehkan karena terlampau lama menunggu kita,,,,,” berkata
Cu Ying Lun dan kemudian mengajak kedua saudara
seperguruannya mengerahkan ginkang untuk dapat lebih cepat
mencapai lembah pintu masuk ke Thian Cong Pay.
Tidak berapa lama ketiganya sudah berpacu dengan kecepatan
menggunakan ilmu ginkang Liap In Sut dan melesat kedepan
dengan kecepatan tinggi. Sementara Bun Kwa Siang dengan
terpaksa harus dibantu oleh Koay Ji dengan jalan memegang
lengannya agar bisa melesat dengan sama cepatnya dan tidaklah
2287
tertinggal jauh di belakang. Dan tidak berapa lama kemudian,
merekapun sudah berada di pintu masuk lembah, dan benar
disana sudah menunggu beberapa orang. Mungkin ada 12an
orang menunggu disana, dan mereka terlihat menunggu dengan
sabar dan tidak terlihat gelisah.
“Lohu Tek Ui Sinkay selaku pejabat Pangcu Kaypang dan
sekaligus selaku Bengcu Tionggoan mengucapkan selamat
datang kepada saudara-saudara Khong Sim Kaypang, saudara
tua, serta sahabat sejati kami yang selalu melindungi Kaypang
kami.........” terdengar ucapan selamat datang dan sekaligus
perkenalan Tek Ui Sinkay begitu melihat orang-orang di pintu
masuk Lembah dan segera mampu dan bisa mengenali seragam
Khong Sim Kaypang. Karena itu, tak menunggu lama, dia sudah
menyapa dan memperkenalkan diri sekaligus menunjukkan
pengetahuannya atas keadaan dan siapa Khong Sim Kaypang itu.
“Hahahahaha, nama besar Tek Ui Sinkay terdengar mentereng
untuk saat ini, kami Tiang Seng Lojin mewakili rombongan Khong
Sim Kaypang menyampaikan salam hormat dan selamat
berjumpa.....” terdengar dan terlihat tokoh tertua rombongan itu,
dikenal dengan nama Tiang Seng Lojin sudah menyahut dan
memperkenalkan diri. Sementara orang-orang di belakangnya
2288
sama berdiri dan menyambut Tek Ui Sinkay yang berjalan
mendekati rombongan mereka.
“Acccch, kami dari Kaypang sungguh sangat terhormat
mendapatkan kunjungan dan juga simpati dari saudara tua Khong
Sim Kaypang, mari-mari saudara-saudara, dan ach, Tio
Ciangbudjin selamat bertemu kembali.......” sambut Tek Ui Sinkay
ketika melihat Tio Lian Cu berada bersama rombongan itu.
Bahkan berdiri di barisan terdepan bersama dengan Tiang Seng
Lojin, Khong Yan dan kedua Pengemis gagah perkasa lainnya.
Kelihatannya mereka memang melakukan perjalanan bersama
selama beberapa hari ini.
“Selamat berjumpa Bengcu,,, Cu Pangcu dan saudara....”, sahut
Tio Lian Cu sambil memberikan penghormatan begitu bertemu
Tek Ui Sinkay, tetapi belum begitu kenal dengan Koay Ji, beda
dengan Khong Yan yang sejak tadi memandangi Koay Ji seperti
kenal dan seperti tidak.
“Gwakong, Tek Ui Supek yang budiman, selamat bertemu
kembali.....” Khong Yan sudah memberi hormat kepada kedua
tokoh tua itu, yang salah satunya memang adalah kakek luarnya
sendiri. Dan kemudian diapun melirik Koay Ji yang juga sedang
memandangnya dengan sinar mata aneh pada saat bersamaan.
2289
Keduanya saling pandang dan kemudian sama-sama tersenyum,
dan adalah Khong Yan yang kemudian menyapa terlebih dahulu
dengan berkata ragu:
“Koay Ji suheng, apakah benar....”? tegur dan sapanya dengan
penuh persahabatan tetapi juga dengan rasa hormat.
“Hahahaha, Khong Yan, engkau berusia beberapa bulan lebih tua
daripadaku, tetapi Suhu sungguh sangat usil membuatku yang
lebih muda tetapi justru yang menjadi suhengmu.......” sambut
Koay Ji yang membuat Khong Yan menjadi gembira dan
kemudian keduanya berpelukan. Tetapi pada saat itu, Koay Ji
yang merasa gembira bertemu Khong Yan menyaksikan paras
muka Tio Lian Cu yang juga terasa cukup dikenalnya, meski
sudah banyak berubah. Tapi jelas dia masih ingat. Jelas karena
dikepalanya ada bayangan seorang gadis cilik pemberani yang
datang bersama dengan Thian Hoat Tosu yang lihay itu.
“Dan tentunya engkau gadis kecil yang nakal itu berapa tahun
silam berkunjung ke Gua pertapaan Suhu, Tio Lian Cu kouwnio,
benar bukan.....? bagaimana kabarmu sekarang Nona Tio”?
sambut Koay Ji sambil tetap merangkul Khong Yan yang juga
adalah sahabat masa kecilnya itu.
2290
“Benarkah engkau Koay Ji.....? mengapa engkau sudah begitu
berubah dan nyaris tak kukenali lagi....”? bertanya Tio Lian Cu
agak ragu. Jelas bayangan Koay Ji ada di benaknya, tetapi sudah
berubah cukup besar dan membuatnya kesulitan untuk dapat
mencocokkannya dengan bayangan yang pernah bertemu
dengannya pada masa kanak-kanaknya dahulu. Itulah yang
membuat dia sejenak kebingungan saat melihat keadaan Koay Ji.
“Tentu saja Tio Kouwnio, umur kita sudah bertambah nyaris 10
tahun, tentu saja kita mengalami banyak perubahan ...” sambut
Koay Ji secara santai namun mampu guna menjawab pernyataan
Tio Lian Cu yang kaget dengan beberapa perubahan di wajah
Koay Ji saat ini.
Sementara itu, Tek Ui Sinkay sudah terlibat percakapan serius
dengan pihak Khong Sim Kaypang, sudah berkenalan dengan
dua tokoh Khong Sim Kaypang lainnya, yakni Tui Hong Khek
Sinkay dan Kim Jie Sinkay, dan bahkan juga dengan Barisan
Pengejar Anjing yang hebat mujijat dari Khong Sim Kaypang.
Sebuah pertemuan yang cukup seru dan mengharukan, terlebih
mengingat pembantaian 200an anggota Kaypang yang amat
memurkakan pihak Khong Sim Kaypang. Pertemuan mereka
cepat menjadi akrab dengan materi yang sama.
2291
Tetapi tidak berapa lama kemudian, Cu Ying Lun berinisiatif
mengundang semua pihak untuk memasuki Thian Cong Pay:
“Cuwi sekalian, sahabat-sahabat dari Khong Sim Kaypang, Tio
Ciangbudjin, mari kita bercakap-cakap lebih enak dalam Thian
Cong Pay kami. Biarkan kami menjamu cuwi sekalian sambil
bercakap-cakap bebas dan kemudian bisa beristirahat dan
melanjutkan percakapan malam nanti,,,,, mari, selaku Pangcu
Thian Cong Pay, lohu mengundang saudara-saudara sekalian.....”
suara Cu Ying Lun terdengar akrab dan menyambut para
tamunya dengan senang hati.
Sambil berjalan, dengan dikawal Bun Kwa Siang, Koay Ji dihujani
pertanyaan baik oleh Khong Yan maupun juga oleh Tio Lian Cu.
Bahkan terdengar Tio Lian Cu yang merasa penasaran bertanya
kepada langsung kepada Koay Ji tentang sesatu yang
membawanya ke Thian Cong Pay:
“Koay Ji, kenalkah engkau dengan tabib muda Bu San yang
datang kemari bersama dengan Sam Suhengmu beberapa waktu
yang sudah lewat..? benar-benarkah dia mampu dan memiliki
kemampuan sebagai tabib meski masih amat muda tetapi sudah
amat hebat dan mujijat itu.....”?
2292
“Benar, tetapi dia sedang ada pekerjaan yang lain di sebuah
tempat terpisah. Tetapi, kemungkinan besar malam ini kita bisa
mengundangnya datang, tenang saja akan kuundang dia kemari
untuk bertemu kalian berdua. Tapi, apa gerangan yang bisa dia
lakukan untuk kalian berdua saat ini”? jawab Koay Ji menjawab
hanya setengah bagian pertanyaan Tio Lian Cu
“Ach, baguslah jika memang demikian.. tetapi, apa benar dia
mampu mengobati kami yang sedang keracunan” terdengar Tio
Lian Cu menjawab dan menjadi tenang mendengar Bu San juga
berada di Thian Cong Pay.
“Apakah engkau juga mencari Bu San itu Khong sute....”? tanya
Koay Ji kepada Khong Yan yang berjalan disampingnya, tetapi
masih belum nejawab pertanyaan Tio Lian Cu mengenai
kehebatan Bu San
“Benar suheng, kenal baikkah engkau dengannya...”? jawab
Khong Yan atas Koay Ji yang bertanya tentang keperluannya.
Padahal, Khong Yan sendiri juga ingin tahu jawaban atas
pertanyaan Tio Lian Cu.
“Boleh dibilang begitu.... kenal, dan memang kemampuannya
dalam hal pengobatan boleh dibilang sangat hebat dan handal,
2293
tidak ada jenis racun yang memusingkan bagi dia. Sejauh ini dia
memang hebat” jawab Koay Ji yang membuat Khong Yan dan To
Lian Cu terlihat menarik nafas panjang.
“Baguslah jika demikian...... tetapi Suheng, tentang titipanmu
melalui Thian Liong Koay Hiap, apakah memang benar bahwa”
“Memang benar Khong sute, apakah engkau sudah
menguasainya dengan baik dan sempurna sekarang ini....”?
“Syukurlah memang begitu, Suheng dan terima kasih banyak atas
semua bantuan suheng untuk kemajuanku ini.....”
“Malam ini dia akan mengunjungi kalian di rumah istirahat di Thian
Cong Pay, tanggung kalian nanti puas bertemu dan bercakap
dengannya....” berkata Koay Ji merancang waktu dan pertemuan
dengan Khong Yan dan Tio Lian Cu malam nanti. Sambil dalam
hati dia tersenyum geli. Dia membayangkan bagaimana
mengerjai kedua tokoh muda yang menjadi sahabatnya saat ini.
Tetapi Tio Lian Cu justru merasa sangat aneh. Dia melihat ada
beberapa hal yang rada aneh dari Koay Ji dan beberapa itu
membuat keduanya, Koay Ji dan Bu San terasa rada-rada mirip.
Yang terutama adalah pandang mata Koay Ji yang terlihat sama
bening dengan tatap mata dari Bu San. Ini yang paling menonjol
2294
dan sulit untuk dapat dibedakan. Tatap mata keduanya sama
bening dan bagai tatap mata bayi yang masih tak punya dosa itu,
bening. Jika Bu San tidak memiliki kesaktian, maka tatap matanya
wajar, tetapi Koay Ji, sejak berapa tahun lalu dia tahu sudah
memiliki kemampuan silat yang amat hebat. Apalagi karena
menurut suhunya, Thian Hoat Tosu, bahwa suhu Koay Ji, Bu In
Sinliong dikenal sebagai tokoh nomor satu di Tionggoan saat itu.
Bahkan masih berada di atas tingkatan suhunya sendiri. Jadi,
wajar jika Koay Ji memiliki kepandaian silat dan kesaktian yang
memang hebat. Tapi Bu San? Sama sekali tidak mampu bersilat.
Meski dia juga tidak yakin-yakin amat dengan ketidakmampuan
Bu San itu.
Tetapi, jelas Tio Lian Cu tidak dapat mengatakan apa-apa, dan
hanya beberapa hal kecil yang mereka percakapkan sepanjang
jalan. Lagipula, disitu masih ada Khong Yan dan juga masih ada
Bun Kwa Siang yang selalu mengawal dan mengekor kemanapun
Koay Ji pergi dan melangkah. Boleh dibilang, Koay Ji memiliki
sejenis bayangan dalam diri Kwa Siang. Kemanapun Koay Ji
pergi, Kwa Siang dengan amat setia mengekor dan mengikuti.
Tetapi, Koay Ji juga terlihat sangat menghargai dan sangat
menyayangi Kwa Siang.
2295
“Khong Sute, engkau menempati rumah yang mana? Ibu dan
saudara-saudaramu yang lain tinggal di tempat yang aman dan
dirahasiakan. Terutama karena bakalan banyak tamu dan
kemungkinan bisa ada yang menyusup dan menyerang kemari.
Itu sebabnya keluarga Cu Pangcu tinggal di tempat rahasia.
Kurasa engkau tidak perlu bersembunyi dan bisa menemaniku
untuk menjaga wilayah Thian Cong Pay ini. Bagaimana....? dan
engkau Tio Kouwnio, rumah untuk istirahatmu berada di sebelah
rumah istirahat Khong sute dan juga dekat dengan sahabatsahabat
yang berasal dari Lembah Cemara. Keluarga dari Nenek
Khong sute, mereka juga sudah berada disini sejak minggu yang
lalu.....”
“Hari-hari begini Thian Cong San nampaknya demikian ramai,
terlampau ramai malahan....” keluh Khong Yan
“Hahahaha, engkau harus mulai menyesuaikan dengan keadaan
dan status dari gwakongmu yang adalah sute dari Bengcu
Tionggoan Khong sute..... bisa jadi dan sangat mungkin kedepan
akan semakin ramai disini...” jawab Koay Ji yang membuat Khong
Yan menjadi gelisah. Dia lebih menyenangi Thian Cong San yang
senyap dan sepi, tidak ramai seperti saat itu.
2296
“Nach Tio Kouwnio dan engkau Khong Sute, kalian boleh
beristirahat terlebih dahulu dan membersihkan diri, kutunggu di
Rumah Utama untuk bercakap-cakap lebih jauh. Karena kita
sedang menghadapi persoalan, tetapi sebentar akan
kuberitahukan kepada kalian berdua,,,,,,”
“Baiklah,,,,,” sama-sama Khong Yan dan Tio Lian Cu menjawab
dan beberapa saat kemudian keduanya berpisah menuju dua
rumah yang berdekatan, disana mereka akan beristirahat dan
tinggal selama beberapa hari kedepan.
Sebetulnya Koay Ji ingin menanyakan keberadaan Sie Lan In,
tetapi entah mengapa mulutnya terkunci untuk menanyakan kabar
Nona yang satu itu. Tetapi dia berniat untuk menanyakannya
langsung kepada Khong Yan nanti saat mereka tinggal berdua
bercakap-cakap. Toch waktu masih ada, demikian pikiran Koay Ji
dan terus berjalan menuju ke rumah utama Thian Cong Pay yang
sudah berubah fungsi menjadi tempat pertemuan.
Pertemuan pada siang itu dibagi dua karena ruangan pertemuan
memang terbatas. Tetapi Cu Ying Lun dengan ditemani Tek Ui
Sinkay menjamu sahabat-sahabat Khong Sim Kaypang bersama
Tio Lian Cu dan Khong Yan, serta tentu saja juga hadir Koay Ji.
Pertemuan kedua terjadi di ruangan berbeda diantara keluarga
2297
Lembah Cemara, namun bergabung dengan mereka Oey Hwa
dan Pek Bwe Li yang mencoba membangun komunikasi dengan
Tio Cui In dan Hua Hun. Tetapi, jika Nenek Tio Cui In lebih luwes,
maka Nenek Hua Hun lebih misterius dan terkesan tidak mau
banyak bercakap. Nenek Hua Hun itu entah mengapa seperti
kehilangan kegembiraan dan terlihat bingung.
Berbeda lagi dengan Kang Siauw Hong cucunya yang malah
sangat membantu dan banyak bercengkerama dengan Oey Hwa
dan Pek Bwe Li. Bertiga mereka terlihat akrab dan banyak materi
percakapan mereka yang membuat mereka terlihat agak akrab
satu dengan yang lainnya. Tanpa disadari oleh Siauw Hong, Pek
Bwe Li dan Oey Hwa banyak terlihat saling lirik satu dengan yang
lain, dan beberapa saat mereka berdua terlihat tersenyum satu
dengan yang lain. Tentu saja, mereka berdua memang memiliki
missi khusus bertemu dengan Siauw Hong, meski sebenarnya hal
itu tidaklah perlu-perlu amat.
Sementara itu, di pertemuan lain, perkembangan siang itu cukup
mendatangkan banyak kesan, baik bagi Khong Yan dan Tio Lian
Cu, maupun Tek Ui Sinkay dan Cu Ying Lun yang bersama Khong
Sim Kaypang menjadi semakin optimis. Mereka memang sedang
menghadapi dua soal besar; terutama bagi Tek Ui Sinkay dan
juga Cu Ying Lun. Tetapi kedua soal itu menjadi bertambah ringan
2298
dengan kemunculan Khong Sim Kaypang dengan kekuatan
mereka yang cukup besar dan hebat, pasti akan menjadi
kekuatan hebat bagi serangan ke Pek In San. Pertemuan
sepanjang siang benar-benar membawa optimisme bagi banyak
orang.
Sementara itu seusai pertemuan dan hari terus merambat
berubah menjadi gelap dan malam, Sebagaimana yang dijanjikan
oleh Koay Ji, malam harinya Bu San munculkan diri dengan
diantar langsung oleh Tek Ui Sinkay. Sementara Koay Ji menurut
penuturan Tek Ui Sinkay, sedang ditugaskannya untuk
mengamati keadaan di luar lembah karena ada kabar bahwa
pihak musuh berusaha untuk menyusup. Waktunya sedang
diselidiki oleh Koay Ji yang sudah berangkat bertugas menjelang
hari menjadi gelap.
“Accch, kami bisa membantu Koay Ji suheng sebenarnya
Locianpwee,,,” berkata Khong Yan yang menyesal karena Koay
Ji tidak mengajak mereka berdua dengan Tio Lian Cu, tetapi
mereka sadar bahwa lebih penting mereka berobat pada saat itu
ketimbang melakukan perondaan dan penjagaan.
“Tidak mengapa Khong Sicu, toch setelah sehat kembali kalian
berdua masih bisa bergabung bersamanya nanti, nach, biarlah Bu
2299
San kutinggalkan untuk mengobati kalian berdua. Jika tidak keliru,
pengobatannya tidak akan berlangsung lama, jadi, cobalah
memulihkan diri secepatnya.....”
“Baiklah, terima kasih Locianpwee......” Khong Yan berkata
sebelum Tek Ui Sinkay meninggalkan mereka untuk diobati.
“Bagaimana keadaan kalian Tio Kouwnio dan Khong Sicu..?
kudengar kalian berdua keracunan, apa memang benar demikian
keadaannya”?, terdengar Bu San bertanya dan kini perlahanlahan
masuk kedalam ruangan dengan langkah yang memang
seperti biasanya, terlihat tak bertenaga. Khong Yan dan Tio Lian
Cu memandang kearahnya dan tersenyum penuh persahabatan,
kecuali Tio Lian Cu yang terbersit rasa ingin tahunya yang besar.
“Saudara Bu San, senang sekali bertemu denganmu kembali,
bagaimana kabarmu sejak ikut dengan Bengcu Tionggoan Tek Ui
Pangcu...”? tanya Tio Lian Cu gembira melihat kedatangan Bu
San yang memang rada-rada aneh dan misterius itu. Aneh karena
memiliki ilmu tabib yang amat hebat mandraguna, juga
menguasai teori ilmu silat lihay yang amat hebat dalam dirinya,
tetapi tidak memiliki ilmu silat sedikitpun. Benar-benar aneh dan
membingungkan. Hal yang membuat Tio Lian Cu tertarik untuk
2300
menyelidikinya, tetapi masih saja belum sanggup dan mampu
melakukannya. Malam ini, justru dia diobati Bu San.
“Terima kasih banyak Tio Kouwnio, kabarku baik-baik saja, tetapi
akhir-akhir ini sedang bekerja keras untuk dapat meramu sebuah
pil mujijat untuk keperluan nanti. Yakni keperluan untuk melawan
para durjana dan para penjahat kejam, begitu menurut penuturan
dari Tek Ui Pangcu, Bengcu Tionggoan. Karena itu, hari-hariku
selama disini sungguh sangat membosankan.... untung udara dan
pemandangannya memang amat indah untuk dinikmati, dan
selain itu, dapat membantu para pendekar sungguh membuatku
merasa sangat senang.....”
“Baguslah jika memang demikian, lain kali kuajak menikmati
bagian lain yang jauh lebih indah lagi Bu San.....”
“Hahahaha, terima kasih Khong Sicu,,,,, bagaimana, apakah aku
sudah bisa untuk memeriksa keadaan kalian saat ini....”? tanya
Bu San kemudian sambil memandang Khong Yan dan juga Tio
Lian Cu
“Mari, engkau boleh memeriksaku terlebih dahulu.....” Khong Yan
menyediakan diri untuk diperiksa terlebih dahulu. Dan untuk itu
Khong Yan segera bersiap dan juga memberi sela dan ruang bagi
2301
Bu San untuk mendekatinya dan sekaligus memulai pemeriksaan
atas keadaan dirinya.
Dan ternyata tidak lama Koay Ji memeriksa Khong Yan, karena
hanya beberapa menit belaka, dia sudah berkata:
“Racun yang hebat, tetapi saat ini belum bereaksi. Menunggu
racun ini bereaksi, maka mencari obatnya sudah sangat
terlambat. Tetapi, untungnya kalian sudah memakan pil mujijat
yang akan bisa menahan racun itu untuk tidak bekerja sampai tiga
bulan kedepan. Dan untungnya lagi, racun itu tidak melukai jalan
pernafasanmu sehingga tidak mengganggu iweekangmu.....
nach, Khong Sicu, sudah kusediakan obat mujarabnya, hanya
dengan beberapa tetes air obat ini, tanggung racun maut itu akan
bisa ditawarkan. Tetapi, karena pengobatan dengan air mujijat ini,
maka amat kusarankan agar engkau langsung beristirahat,
karena bisa dipastikan hal ini jauh berkhasiat baik baik penawar
racunnya maupun bagi iweekangmu. Racun tersebut akan
mengalir menjadi kotoran selepas tengah malam, kotoran kalian
nanti akan berwarna hitam pekat, itulah tanda racunnya sudah
ditawarkan......”
Setelah berkata demikian, Koay Ji kemdian menuangkan dua
sampai tiga tetes air dari sebuah botol kecil yang dibawahnya,
2302
dituangkan kedalam wadah kecil dan kemudian diminumkan
kepada Khong Yan. Dan setelah itu, Bu San berkata kepada
Khong Yan dengan suara halusnya:
“Tunggu sekitar setengah jam, jalankan pernafasan baru
kemudian memulai untuk segera beristirahat. Dan kemudian,
tunggu hingga lepas tengah malam barulah kalian boleh
beraktifitas, boleh melatih pernafasan dan iweekang, bahkan juga
boleh bertempur......” tegas Bu San kemudian.
Setelah itu diapun melakukan proses yang sama dengan Tio Lian
Cu, dan memang ternyata keduanya kemasukan racun yang
sama. Dan karena itu, prosesnyapun sama belaka. Tidak lama,
Tio Lian Cu sudah berangkat ke kamarnya dan sudah langsung
beristirahat sebagaimana permintaan dan perintah Bu San
sebagai tabib mereka pada malam itu. Sepeninggal Tio Lian Cu,
Bu San mendekati Khong Yan dan kemudian bertanya:
“Kupikir Nona Sie bersama-sama dengan kalian....? kenapa dia
tidak terlihat datang bersama ke Thian Cong San...”? tanya Bu
San sambil pura-pura menata serta juga mengatur posisi dan cara
berbaring Khong Yan. Samar saja dan tidak ada yang menyolok
dan berubah dari Bu San ketika bertanya.
2303
“Hmmmmm, Sie Suci memutuskan untuk mengintip pek In San
dari udara, dia punya kendaraan untuk melakukannya......” jawab
Khong Yan ringan dan sama sekali tidak menaruh rasa curiga
dengan pertanyaan Koay Ji
“Ha,,,, maksud Khong Sicu dia sudah pergi sendirian menuju ke
Pek In San dengan menggunakan kendaraan burungnya...”? Bu
San yang kaget setengah mati tanpa sadar membuka rahasia
kecilnya. Khong Yan berpikir, “darimana dia tahu Sie Suci memiliki
seekor burung....”? tetapi karena lelah dan akan segera
beristirahat Khong Yang tidak menanyakannya lebih jauh.
Sebaliknya dia hanya mengangguk dan berkata, menjawab
pertanyaan Bu San:
“Iya, benar demikian,,,,,,,,”
“Hmmm, baiklah, beristirahatlah Khong Sicu, kita akan bertemu
berapa hari kedepan karena Tek Ui Locianpwee memberiku tugas
yang lain......”
Turun dari kamar istirahat Khong Yan, perasaan Bu San atau
Koay Ji terlihat agak bergejolak. Bukan apa-apa, dia tahu benar
kekuatan Pek In San, dan kini, justru gadis atau wanita pujaannya
menuju kesana seorang diri. “Celaka,,,, meski punya burung
2304
besar tetapi tetap saja keadaannya sangat berbahaya....”
desisnya menjadi gelisah. Tetapi, pada saat yang sama, dia justru
sedang membantu kedua suheng, yakni Tek Ui Sinkay dan Cu
Ying Lun untuk menahan para penyusup yang akan segera
menyerang. “Sungguh berabe”, desisnya karena tak dapat
meninggalkan Thian Cong Pay saat itu juga.
Dia memutuskan untuk bergegas balik menuju ke Gua Suhunya
ketika dia bertemu dengan Siauw Hong yang terlihat agak gelisah.
Melihat wajah gadis itu, dia sadar sesuatu akan segera terjadi:
“Ada apa.... ech Kouwnio”? nyaris saja, lupa bahwa dia masih
berdandan sebagai Bu San, bukan sebagai Koay Ji.
“Ech, siapa engkau.....”? Kang Siauw Hong kaget dan terkejut
karena dia merasa belum mengenal Bu San sama sekali.
“Ech, Kouwnio, aku Bu San, tabib di Thian Cong Pay ini. Baru saja
mengobati Khong Yan Sicu dan sahabatnya, sekarang sedang
berusaha mencari sahabat baikku Koay Ji, tetapi masih belum
juga dapat kutemukan pemuda itu, entah kemana dia pergi dan
bersembunyi.....” pancing Bu San
“Acccch, engkau juga sahabat toakoku itu,,,,,? Baguslah, jika
bertemu dengannya beritahu bahwa Kang Siauw Hong adiknya
2305
sedang mencarinya. Ada kabar yang amat sangat penting untuk
segera dapat dia ketahui saat ini.....” berkata Siauw Hong dengan
rona kegelisahan yang membayang dari wajahnya. Koay Ji
merasa bahwa mungkin saatnya sudah tiba, dan intuisinya juga
mengatakan hal yang sama. Maka dengan cepat dia berkata lagi
kepada Siauw Hong;
“Tadi sebelum berpisah, Koay Ji berkata akan menuju Barisan,
atau seperti itu yang dia katakan, entah dimana Barisan itu dan
entah apa maksudnya mengatakan hal tersebut,,,,,,,,” Bu San
sedikit berbohong, tapi dia memang bermaksud menggiring Kang
Siauw Hong kesana.
“Kapan engkau bertemu dengannya terkahir kali.....”? tanya
Siauw Hong kaget dan langsung bertanya dengan antusias
“Kurang lebih setengah jam lalu,,,,,” jawab Bu San dengan roman
sedikit meringis karena kesakitan dengan tekanan lengan Siauw
Hong.
“Ooooohh, baiklah Bu San, aku akan mencarinya.... maaf untuk
yang tadi” Siauw Hong akhirnya melepaskan pegangannya dan
terus pergi
“Baik, hati-hati kouwnio......”
2306
Meski sedikit merasa aneh dan ada banyak bagian mirip antara
Bu San dan Koay Ji, tetapi Siauw Hong yang sedang tegang dan
gelisah tidak memperhatikannya sama sekali. Karena dia ingin
untuk dapat cepat bertemu dengan Koay Ji. Hal ini karena
keadaan yang sudah agak berbahaya saat itu, sesuatu akan
segera terjadi. Maka diapun segera menuju ke Barisan itu dan
langsung memasukinya. Sementara itu, Bu San, setelah merasa
keadaan sudah aman, dia segera melepaskan samarannya dan
kemudian menyusul Kang Siauw Hong kedalam Barisan
Pembingung Sukma. Masuk sebagai Koay Ji.
Tidak lama kemudian dia menemukan Siauw Hong dalam ruang
rahasia ketiga yang sudah dia bukakan rahasianya untuk Siauw
Hong. Dan dia langsung menyapa serta menegur gadis itu:
“Bu San tadi berkata bahwa engkau mencariku dan perlu segera
bertemu, ada apa gerangan adikku yang manis,,,,”?
“Mereka akan menyusup masuk menjelang pagi, sasarannya
adalah Tek Ui Sinkay dan Cu Ying Lun bersama saudara
seperguruanmu. Menjelang pagi, mereka akan langsung pergi
lagi.....”
2307
“Hmmm, tahukah engkau siapa yang akan datang,,,,”? tanya
Koay Ji dengan suara tenang dan terlihat tidak panik, hal yang
luput dari pandangan Siauw Hong yang sedang khawatir dan
tegang
“Konon ada Paman Guru dari gwakong yang tentu saja
berkepandaian amat hebat, kemudian ada juga adik seperguruan
gwakong dan seorang tokoh lainnya yang tidak sehebat dua
orang pertama tadi,,,,,” berkata Kang Siauw Hong dengan nada
masih tegang. Tetapi segera jelas bagi Koay Ji bahwa Kang
Siauw Hong sedang bicara apa yang dia memang tahu.
“Hmmmm, baiklah, biarlah toakomu yang akan menyambut
kedatangan mereka dan mengusir mereka pergi,,,” berkata Koay
Ji sambil menarik nafas panjang. Betapapun dia menghargai
upaya Siauw Hong yang berusaha memberitahunya apa yang
bisa dan dapat dia ketahui sejauh ini.
“Tapi toako,,,,,,” perkataan Siauw Hong menggantung, tetapi
Koay Ji tahu apa serta paham apa yang akan dia katakan. Karena
itu dengan penuh pengertian dan juga dengan perasaan maklum
dia berkata dengan suara lembut, guna menenangkan dan juga
menetramkan Siauw Hong.
2308
“Engkau sebaiknya tenang saja adikku, akan ada orang yang
langsung mengurus mereka tanpa ada yang mencurigaimu nanti”
“Apakah engkau yakin toako,,,,”? tanya Siauw Hong yang
bagaimanapun juga masih tetap ragu dan khawatir
“Tenang saja, Nenek Hua Hun tidak akan menduganya....” Koay
Ji menegaskan dan memandang Siauw Hong untuk
meyakinkannya.
“Baiklah, kuserahkan kepadamu saja toako....”
“Baiklah, nach, lebih baik engkau pulang dan beristirahat. Toako
akan bekerja untuk menyambut musuh besok pagi....”
“Baiklah toako,,,,”
Selepas berpisah dengan Siauw Hong, Koay Ji segera bertemu
dan juga mengatur strategi bersama dengan Tek Ui Sinkay dan
Cu Ying Lun. Bahkan beberapa saat kemudian mereka bertemu
dan melibatkan Tiang Seng Lojin dan Kim Jie Sinkay dari Khong
Sim Kaypang. Tetapi sebelumnya Koay Ji sudah menyaru
menjadi TANG HOK dengan sepengetahuan Tek Ui Sinkay dan
Cu Ying Lun. Karena menurut Siauw Hong para penyusup hanya
berjumlah beberapa orang, maka merekapun memilih untuk tidak
2309
melibatkan jumlah yang banyak. Bahkan perjumpaan dengan
para penyusup akan diatur tidak di mulut Lembah yang akan
dijaga oleh Koay Ji, tetapi akan memergoki mereka di dalam
perkampungan dan perumahan Thoan Cong Pay. Semua itu
diatur Koay Ji untuk menyelamatkan Siauw Hong agar tidak
sampai dicurigai oleh Nenek Hua Hun.
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita ABG ke 14 PANL ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments