PENDEKAR ANEH NAGA LANGIT (THIAN LIONG KOAY HIAP) 1 Karya Marshall

PENDEKAR ANEH NAGA LANGIT (THIAN LIONG KOAY HIAP) 1 Karya Marshall
baca juga
-=-
Sekelompok manusia
berpakaian Imam
terlihat berlari-lari.
Tetapi, jangan salah, mereka bukan sedang memburu seseorang
atau memburu binatang, melainkan mereka memang sedang
bergegas. Hanya, yang aneh adalah, dari rombongan berjumlah
lebih kurang 20 orang itu, ada 7 diantara mereka yang memanggul
karung goni yang agak menggelembung. Entah apa gerangan
isinya. Dan keanehan kedua, mereka bergegas-gegas dan terus
berlari meski hari masih terang, baru sedikit bergeser dari tengah
hari dan matahari masih sangat menyengat.
Sudah cukup lama mereka berlari dan kini mereka memasuki
daerah yang mulai mendaki dan kelihatannya segera akan
memasuki sebuah hutan yang cukup lebat. Terlihat seorang Imam
berusia pertengahan dan sepertinya menjadi pemimpin,
mengarahkan rombongan itu untuk segera menuju hutan
tersebut. Tetapi, justru sesaat sebelum memasuki hutan, mereka
2
dihadang oleh seorang yang terlihat sangat dekil dengan rambut
panjang terurai, dan tubuh yang seperti disanggah sebuah
tongkat. Yang aneh, jika tubuh dan fisik manusia itu terlihat dekil
dan tak terawat, maka tongkatnya justru terlihat berbeda.
Tongkat tersebut berwarna kuning dan nampak terawat dengan
baik. Ruas-ruas tongkat itu seperti menunjukkan jika tongkat itu
sepertinya adalah sebuah tongkat bamboo. Panjangnya semeter
belaka, mungkin lebih, tetapi tidak sangat panjang. Tetapi, warna
kulitnya mengkilat dan menyinarkan warna yang cukup menyolok
mata. Dan, dengan tongkat berwarna kuning, sejenis tongkat
bamboo kuning itulah si manusia dekil, pengemis berusia
pertengahan, paling banyak berusia 50 tahun namun dengan
postur dan wajah serta pakaian tak terurus, menghadang
rombongan pendeta yang berjumlah cukup banyak itu.
Nampaknya, manusia yang nampak bagai pengemis itu memang
sengaja menunggu rombongan imam yang berjumlah banyak itu.
Segera nyata dengan kalimatnya begitu para Imam itu terhenti
dihadapannya secara serentak bagai dikomando saja:
“Hmmmmm, dimana-mana, kalian kaum beribadat Pek Lian Pay
selalu bikin onar. Dan sekali ini, kembali kalian melakukan
keonaran dengan menculik anak-anak tak berdosa. Sungguhsungguh
kalian ini manusia beribadat tetapi berkelakuan layaknya
3
penjahat, sungguh memalukan dan sangat disayangkan. Hari ini,
jika lohu gagal dan tidak mampu memberi kalian pelajaran hingga
kapok dan tobat, maka akan percuma belaka lohu hidup sebagai
pendekar …….”
Sementara itu, rombongan Imam yang ternyata adalah kelompok
dari Pek Lian Pay (Agama Teratai Putih) dan bermarkas di Pek In
San (Gunung Awan Putih) yang akan segera mereka daki saat itu,
terlihat sangat kaget dan ketakutan bertemu dengan si Pengemis.
Bahkan, dengan menahan dongkol dan sedapat mungkin terlihat
tidak marah, pemimpin mereka berkata dengan suara yang
dengan sengaja dilembut-lembutkan:
“Sin-kay, kami toch tidak melanggar aturan kaum Kay Pang
kalian, untuk apa hari siang begini Sin kay yang terhormat sampai
menghadang perjalanan pulang menuju kuil kami di puncak Pek
In San ini ……”?
“Hahahahahaha, kalian memang tidak melanggar aturan Kay
pang, tetapi melanggar kebenaran dan keadilan. Untuk apa kalian
menculik ketujuh anak kecil itu ha? Untuk menjadi korban
kesekian latihan ilmu hitam Kauwcu kalian yang tersesat itu …..?
Dan itu kalian sebut tidak melanggar aturan kami …”?
4
“Tek Ui Sin Kay …...…. engkau sungguh menghina dan selalu
mau ikut campur urusan kami Pek Lian Pay. Kami sedang mencari
calon murid baru yang berbakat untuk menjadi penerus Kauwcu
kami di Pek Lian Pay. Dan kami toch tidak pernah mengganggu
urusan kalian dari kaum kay pang, untuk apa engkau
menghadang dan memfitnah kami segala …..”?
Si penghadang yang ternyata adalah salah satu tokoh terkenal
asal Kay Pang, yakni tokoh yang dikenal dengan nama Tek Ui Sin
Kay atau Pengemis Sakti Tongkat Kuning, terlihat tidak takut
sama sekali. Bahkan dia berkata dengan suara keras:
“Kaypang akan memecatku jika aku tidak menghalangi perbuatan
khianat kalian. Siapa tidak tahu jika Kauwcu kalian sedang
berusaha menyempurnakan Pek Tok Ciang Lek (Tenaga Dalam
Tinju Racun Putih) yang sangat berbahaya dan mujijat itu? Dan
bukankah untuk itu Kauwcu kalian membutuhkan bantuan sari
bocah berusia dibawah 10 tahun? Kalian tidak dapat mengelabui
lohu hei imam-imam palsu ….”
Bukan main terkejut dan khawatirnya si Imam pemimpin
rombongan Pek Lian Pay mengetahui rahasia penculikan mereka
ternyata sudah diketahui tokoh Kaypang ini. Tetapi, mereka
semua sadar, untuk menandingi Pengemis sakti ini adalah
5
mustahil. Pengemis Sakti ini terlampau hebat bagi mereka, hanya
tokoh-tokoh puncak Pek Lian Pay mereka sajalah yang mungkin
akan mampu menandingi, itupun sekedar menandingi, pengemis
sakti yang merupakan pentolan Kaypang ini. Karena itu, dengan
cara selunak mungkin Imam pemimpin itupun berkata:
“Tek Ui Sinkay, kami Pek Lian Pay toch tidak pernah menyalahi
kalian kaum pengemis, mengapa engkau coba mengganggu
rombongan kami ini ….”?
“Siapapun yang bertindak durhaka dan mencederai keadilan,
adalah lawan kami kaum pengemis. Apalagi kalian yang menculik
anak-anak untuk dikorbankan …… sungguh memuakkan dan
menjemukan……”
Tegas dan sangat menghina kalimat-kalimat Tek Ui Sinkay. Dan
belakangan membuat para Imam Pek Lian Pay murka. Kalimat
terakhir si Pengemis segera diikuti dengan siutan kencang si
Pemimpin itu, sepertinya sebuah isyarat rahasia dan kemudian
diikuti dengan perintahnya:
“Serang bersama, yang lain lanjutkan perjalanan ……”
Sambil berkata demikian, si Imam pemimpin sudah memberi
isyarat agar bebawahannya segera menyerang Tek Ui Sin Kay.
6
Sementara itu, 7 Imam lain yang menggotong karung goni yang
ternyata berisi anak kecil hasil culikan mereka, bergerak
menyamping untuk melanjutkan perjalanan. Ada sekitar 5 imam
yang berusaha menahan dan menyerang Tek Ui Sin Kay
sementara 8 orang lain berjaga-jaga. Jelas mereka sedang
bersiasat untuk mengakali si Pengemis sakti yang berkeras untuk
merebut karung goni berisi anak-anak hasil culikan itu. Tepat
ketika pertempuran dimulai, mereka yang membawa karung goni
akan segera masuk hutan dan langsung menuju markas …….
Dalam pikiran mereka, menempur si pengemis sambil menunggu
bala bantuan yang sudah dikirimkan dalam isyarat khusus tadi
akan mengundang tokoh Pek Lian Pay turun membantu mereka.
Tetapi, sayang sekali, si Pengemis Sakti yang dapat menduga
strategi dan siasat kaum Pek Lian Pay ini, sudah bergerak dengan
cepat. Hanya nampak berkelabatan sinar kuning di udara, dan tak
lama kemudian, sudah bergelimpangan kelima imam Pek Lian
Pay, tertotok roboh dan mengeluh seperti kehabisan tenaga.
Bukan cuma itu, sedetik kemudian, sinar kuning tadi kembali
berkelabat, dan tak lama kemudian kembali bertambah 5 orang
lainnya yang menggeletak tak berdaya. Pada saat itulah ketujuh
penggotong karung goni mulai bergerak menuju hutan. Tetapi,
kecepatan Tek Ui Sinkay sungguh luar biasa, dalam waktu
7
sekejap, dia bergerak kearah 7 orang itu bersamaan dengan
jemarinya melontarkan sesuatu ke arah para penggotong karung
goni itu. Hasilnya segera terlihat.
Ketujuh orang itu terkapar segera tanpa daya, masing-masing
tertotok dan sebagaimana kawan-kawan mereka yang lain, tak
satupun yang mengeluarkan darah. Mereka semua tertotok roboh
di tanah tanpa berdaya. Dalam keadaan seperti itu, si Imam yang
menjadi pemimpin para Imam Pek Lian Pay itu menjadi terkejut
meski tidak kaget dengan fakta dihadapannya. Dia tahu dan
paham benar siapa Tek ui Sinkay, tetapi bahwa dalam waktu
kurang dari 15 detik sekitar 17 orang Pek Lian Pay jatuh di tangan
si pengemis membuatnya tertegun. Sesungguhnya melampaui
dugaan dan kekhawatirannya. Ancaman kegagalan misinya
sudah berada di depan mata. Karena itu, diapun akhirnya berkata
nyaris pasrah:
“Sinkay, sungguh-sungguh engkau bertambah hebat. Berita
diluaran memang tidak keliru. Pinto Bu Sin Hwesio bagaimanapun
tetap harus melaksanakan perintah Kauwcu, karena itu mohon
maaf, jika harus menyalahimu sekali ini …..”
Setelah berkata demikian, Bu Sin Hwesio segera menerjang Tek
Ui Sinkay. Sebetulnya, dia paham betul dan bahkan mengagumi
8
nama besar Pengemis Sakti yang namanya menjulang di dunia
persilatan Tionggoan. Tetapi, senang atau tidak, dia harus
melaksanakan perintah Kauwcunya …….
Dengan sebat dia menyerang si Pengemis, tetapi sampai tiga kali
dia menyerang, tak satupun pukulan beratnya mengenai si
Pengemis Sakti. Bahkan dengan gerakan sederhana, si pengemis
Sakti menghindar dan tiba-tiba dia mendengar suara jatuhnya
benda berat. Ketika mengerling, dia melihat kedua kawan
Imamnya yang terakhir, juga sudah terkapar di tanah tak
bergerak. Hal ini membuat Bu Sin Hwesio meradang, diapun
memperhebat serangannya, tapi apa lacur, dengan
menggerakkan sebelah lengan saja, diapun terlempar ke
belakang hampir 3 meteran. Bahkan, beberapa saat kemudian dia
tidak ingat apa-apa lagi, alias pingsan.
Sementara itu, si Pengemis Sakti setelah menjatuhkan semua
Imam Pek Lian Pay penculik anak, segera mendekati ketujuh
Imam penggotong karung goni yang sudah tertotok tak berdaya.
Dengan cepat dia membuka ketujuh karung tersebut, tetapi
celaka, ternyata 4 dari tujuh anak dalam karung goni tersebut
sudah terlebih dahulu tewas. Entah apa penyebabnya. Tersisa 3
orang anak yang masih bernafas, dua orang anak berusia 8
tahunan dan seorang lagi paling banyak berusia 5 tahunan namun
9
wajahnya terlihat kotor berlumpur. Mungkin karena sedang
bermain lumpur ketika diculik atau entah karena sebab apa
keadaannya demikian. Anak itu juga sedang pingsan, atau
tepatnya tertotok pingsan, sedang kedua anak lainnya yang 2-3
tahun lebih tua terlihat senang ketika akhirnya mereka dikeluarkan
dari karung goni pengap itu. Keduanya terlihat senang meski
masih tetap ketakutan, tetapi sekali pandang, si Pengemis Sakti
kagum, karena keduanya nampak cerdik dan tak salah lagi,
berbakat bagus berlatih ilmu silat. Sungguh senang Tek Ui Sinkay
melihat ketiga anak kecil yang hebat-hebat dan berbakat baik itu.
Setelah beberapa detik terbebaskan, sosok kedua anak itu
semakin jelas dimata si Pengemis Sakti. Kedua anak yang hebat,
bahkan anak yang pertama dengan tidak berlama-lama sudah
bersegera memberi hormat kepada si Pengemis Sakti dan
selanjutnya berkata dengan suara rendah:
“Paman pengemis, terima kasih banyak atas bantuan paman ……
“ suaranya rendah namun terlihat kilatan matanya yang cerdik dan
pintar dan ada sinar ketulusan disana. Berbeda dengan anak
yang satu lagi, yang juga sama datang mengucapkan terima
kasih, namun sayangnya sikapnya ogah-ogahan dan sinar
matanya terlihat liar dan licik. Sampai-sampai si Pengemis Sakti
terkejut, karena masih kecilpun sinar liciknya sudah tercermin,
10
apalagi jika sudah dewasa kelak? Kelihatannya karena melihat
keadaan dirinya yang dekil, kumuh dan jorok maka si anak
tersebut jadi ogah memberi ucapan terima kasihnya. Jadinya
hanya karena ikut-ikutan ke temannya yang satu sajalah yang
membuatnya datang menemui si Pengemis Sakti. Tapi, terhadap
anak yang satunya lagi, si Pengemis Sakti benar-benar berkesan
baik dan senang. Selain tidak jijik terhadapnya, diapun dengan
ramah dan rendah hati mendatanginya dan mengucapkan terima
kasih.
“Ayo kita harus segera menyingkir, kawan-kawan Pendetapendeta
jahat itu akan segera dengan cepat menyusul kemari.
Dan jika demikian, maka ancaman bagi kalian bertiga masih akan
tetap ada …….. ayo ……”
Diapun segera memimpin ketiga anak itu berjalan pergi dengan
memondong anak ketiga yang masih tetap pingsan. Sengaja
Pengemis Sakti tidak menyadarkannya karena melihat si anak
yang masih terlampau kecil, berusia 5 tahunan dengan lumpur di
sekujur tubuh dan keadaan sebenarnya sama sekali tak terlihat
dan terlacak mata. Ajakan si pengemis sakti memang ampuh.
Mendengar bahwa ketiganya masih mungkin dikejar kawanan
penculik, membuat kedua anak itu jadi tanpa diperintah mengikuti
Pengemis Sakti. Beberapa kali ketika mereka kelelahan, segera
11
diingatkan si Pengemis bahaya para penculik menyusul mereka,
maka merekapun kembali melangkah.
Syukurlah, si pengemis sengaja mengambil jalur perjalanan yang
tidak biasa. Dia bukannya menjauh tetapi justru dengan berani
berjalan memasuki hutan yang akan dimasuki para penculik
tadinya. Dan dari jalur tak biasa itu, dia kemudian membelok
secara melengkung menuju kearah selatan. Itulah sebabnya,
meski berjalan lambat, tetapi jejak mereka terhitung sulit terlacak
kawanan Imam Pek Lian Pay yang datang belakangan. Setelah
berjalan seharian lamanya, menjelang malam baru mereka
beristirahat sambil bersiaga dengan si pengemis menyediakan
makan bagi anak-anak itu. Dan besoknya, kembali mereka
melanjutkan perjalanan dan demikian seterusnya sampai hari
ketiga. Mereka sudah berada di luar jangkauan para Imam di Pek
In San, dan kini mulai memasuki gunung yang lain, meski masih
di hutan belantara yang sesungguhnya Pengemis Sakti itupun
kurang paham dimana mereka berada. Tetapi dia terus berjalan
guna menghindari pengejaran Imam Pek Lian Pay. Jalan-jalan
yang dipilih boleh dibilang belum tersentuh manusia.
Bukannya takut, tetapi melindungi 3 orang bocah kecil, bukanlah
pekerjaan gampang. Bahkan, hingga saat itu si Pengemis yang
memang kurang “tahu” kebersihan, masih belum memandikan si
12
anak ketiga, dan hanya menyediakan mereka bertiga makanan
hutan selama 3 hari terakhir. Bukan hanya itu, diapun jarang
berbicara kepada anak-anak itu, kecuali berhenti istirahat, ketika
mau makan dan menyuruh mereka istirahat. Selebihnya, nama,
asal dan identitas lain anak-anak itu, si pengemi terus bungkam.
Yang dia pentingkan adalah keselamatan mereka, soal siapa
anak-anak itu, si Pengemis nampak tidak terlampau
memperdulikannya. Dan ketika akhirnya mereka akan beristirahat
siang di hari keempat, merekapun menemukan sebuah tempat
yang cukup menarik untuk tempat istirahat mereka.
Sebuah tempat di ketinggian, yang dapat melihat pemandangan
ke bawah dan membuat si Pengemis tahu dan sadar dimana
mereka berada saat itu. “Hmmmm, tampaknya sudah berada di
wilayah Kota Peng Ciang di bawah sana, mestinya Gunung di
sebelah utara sana adalah Gunung Thian Cong San. Mencapai
tempat itu, berarti selesailah tugasku, semoga mereka bertiga ini
dapat bergabung di perguruanku …” gumam si pengemis dalam
hatinya. Dan baru saat itulah si Pengemis teringat agar supaya
ketiga anak yang dibawahnya dapat segera mandi dan
membersihkan diri. Bahkan selanjutnya, dia mulai berkeinginan
untuk menanyai ketiga anak yang dibawanya itu. Tetapi,
sebelumnya, dia menyuruh mereka bertiga untuk mandi, karena
13
di sebelah timur tempat mereka berhenti ada sebuah sungai yang
mengalir ke bawah kearah kota Peng Ciang. Senang ketiga anak
itu ketika disuruh mandi, dan kedua anak yang lebih tua dengan
cepat bergerak menuju ke sungai mendahului.
Tapi, apa lacur, belum lagi mereka bertiga sampai ke pinggir
sungai, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang menahan langkah
ketiga anak itu.
“Dari mana datangnya anak-anak kecil ini ……….? Dan ….. hei,
luar biasa, mereka benar-benar anak-anak yang berbakat sangat
bagus ……….” suara itu terdengar pekak dan keras, terutama
bagi anak-anak kecil itu. Tetapi, Pengemis Sakti yang
mendengarnya terkejut setengah mati. Dia segera sadar, ada
orang berkepandaian hebat disekitar tempat yang disangkanya
aman dan indah itu. Jelas bukan tokoh Pek Lian Pay, justru lebih
hebat dan lebih lihay dibandingkan pendeta-pendeta Pek Lian
Pay yang khianat dan tersesat itu.
“Astaga, tokoh darimana mereka ini …….”? Tanyanya dalam hati
sambil perlahan-lahan mendekati ketiga anak yang
diselamatkannya itu. Dan lebih terkejut lagi ketiga dia pada
akhirnya melihat persis di tepi sungai namun di tempat yang agak
tinggi, nampak duduk bersila tiga tokoh yang sudah sangat tua.
14
Mungkin bahkan lebih tua dari suhunya sendiri yang sudah
berusia 75 tahun saat ini. Dia dapat mengenali dua dari tiga tokoh
tua tersebut, dan yang mengejutkannya adalah, mereka adalah
tokoh-tokoh yang nyaris jadi dongeng dunia persilatan. Tokohtokoh
berkepandaian hebat dan sudah jadi kisah dongeng dunia
persilatan karena kehebatan ilmu silat mereka serta sudah nyaris
tidak pernah mereka berkecimpung di dunia kang ouw.
Mereka yang duduk di ketinggian itu adalah Mo Hwe Hud (Budha
Api Iblis), si tokoh tua bekas Pendeta Budha yang berlatih Ilmu
aliran Budha dari India namun menyimpang. Dia belakangan
mampu menyempurnakan ilmu Budha Api Iblis, Ilmu andalannya
yang sangat luar biasa dan memapu membuatnya malang
melintang baik di India hingga ke Tionggoan. Tiada yang tahu
persis asal usulnya dari mana, apakah dari India ataukah
Tionggoan atau bahkan dari luar perbatasan. Yang pasti, dia fasih
berbahasa India, Tionggoan dan bahkan beberapa bahasa di
daerah Barat lainnya. Kemampuan ilmunya yang legendaris
membuat tokoh tua ini begitu dimalui dan diindahkan di Tionggoan
dan menempati tingkat tertinggi bersama 4 orang lainnya;
Tokoh kedua yang duduk di ketinggian itu adalah Bu Te Hwesio,
yang sama dengan Mo Hwee Hud, nama aslinya juga tidak
ketahuan lagi. Mereka berdua berusia nyaris sama, sudah nyaris
15
mendekati 90 tahunan dan sejak puluhan tahun terakhir, selalu
“saling ganjal dan saling melibas”. Terutama bagi Bu Te Hwesio
yang memang memperoleh tugas khusus untuk mengekang Mo
Hwee Hud sejak kedatangan Mo Hwee Hud di Tionggoan yang
banyak berbuat celaka. Padahal tokoh itu selalu menyertakan
symbol Budha baik di nama julukan maupun ilmunya. Karena itu,
sejak dahulu, keduanya selalu bertanding dan memang
berkepandaian setanding. Hanya saja, kalau Mo Hwee hud
bertubuh tinggi dan besar, maka Bu Te Hwesio sebaliknya
bertubuh ringkih dan cenderung kurus dan lebih pendek
dibandingkan lawannya.
Tokoh terakhir adalah Bu Eng Ho Khouw Kiat atau si Rase Tanpa
Bayangan. Yang hebat adalah, dunia persilatan tidak tahu persis,
apalah tokoh ini laki-laki atau perempuan. Tapi, si Pengemis Sakti
jadi tahu jika tokoh itu ternyata adalah seorang perempuan tua,
sama rentanya dengan kedua kawannya yang duduk membentuk
segi tiga di tempat mereka berada. Tokoh ini terkenal susah
dilacak karena memang kemampuan ginkang atau ilmu peringan
tubuhnya yang luar biasa. Tokoh yang terkenal angin-anginan ini
tidak dapat dianggap kaum putih tapi juga bukan kaum hitam. Dia
cenderung membawa adatnya sendiri, kadang melawan kaum
putih, kadang melawan kaum hitam. Tapi, dia tidak dimusuhi
16
kaum putih karena memang tidak pernah melakukan kejahatan di
daerah Tionggoan, bahkan namanya harum dan dihormati.
Ketiga tokoh yang ditemukan Pengemis Sakti ini adalah 3 tokoh
dongeng yang kabar keberadaan mereka sudah 20 atau mungkin
30 tahun terakhir tidak didengarkan lagi. Mereka masih hidup atau
sudah meninggal, tak ada yang dapat mengatakannya secara
jelas dan pasti. Tapi, melihat mereka bertiga dengan ciri khas
mereka, membuat Pengemis Sakti Tongkat Kuning senang
sekaligus berdebar-debar. Dia sadar bahwa saat itu dia bertemu
dengan 3 tokoh dongeng yang dalam ilmu dan kemampuan silat
yang setara dengan Suhunya sendiri. “Hanya Suhu yang akan
mampu menandingi tokoh-tokoh ini …..” desisnya dalam hati.
Artinya, si pengemis tak memiliki keyakinan untuk menandingi
tokoh-tokoh hebat yang ditemuinya secara tidak sengaja itu.
Sementara itu, ketiga anak yang tadinya sudah siap untuk mandi
di sungai, tertahan langkah mereka oleh suara memekakkan yang
dilepas Mo Hwee Hud. Si tokoh tinggi besar dan berdandan
layaknya Pendeta Budha. Otomatis mereka memalingkan wajah
dan dengan heran melihat ketiga tokoh besar itu sedang
mengawasi mereka bertiga dengan wajah keheranan. Yang
berada terdekat dengan ketiga tokoh itu, adalah si anak kecil yang
pandang matanya menyiratkan kenakalan dan kelicikan. Dan dia
17
sudah memandang ketiga tokoh tua itu dengan matanya yang
cerdik. Pandang mata dan gerak-geriknya memang menarik hati.
Mo Hwee Hud sudah langsung terpancing minat dan perhatiannya
melihat gerak-gerik si anak yang dianggapnya sesuai dan cocok
dengan selera bertingkahnya yang memang aneh.
“Hahahahahaha, luar biasa ……. luar biasa ……. hari ini secara
kebetulan kutemukan calon pewaris kemampuanku …….
Hahahahahaha ……. anak baik, kemari engkau …” sambil
berkata demikian, lengannya terulur ke depan dan hebat …….. di
luar nalar dan kemampuan si anak, tubuhnya melayang terbang
kearah Mo Hwee Hud. Tiada yang bergerak, baik si Pengemis
maupun Bu Te Hwesio maupun si Nenek Bu Eng Ho Khouw Kiat.
Mereka hanya memandang belaka kelakuan si Budha Api Iblis
tanpa mengatakan sesuatu apapun. Sementara itu si Budha Api
Iblis saat itu sudah bertanya kembali kepada si anak yang
ditariknya tadi:
“Siapa namamu Nak …….”? Maksudnya ingin berbicara dengan
suara lembut, tetapi suaranya tetap saja pekak dan menyakitkan
telinga yang mendengar. Tapi, anak yang diambilnya memang
cerdik dan tabah, bukannya menjawab dia malahan memandangi
si kakek dan malah balik bertanya:
18
“Dan siapa pula engkau kek ……”?
“Hahahahahaha, luar biasa. Bukannya menjawab pertanyaanku
malah engkau balik bertanya …… hehehehe, baiklah anakku,
namaku adalah Mo Hwee Hud, ada jutaan anak yang
menginginkan aku menjadi guru mereka. Nach, sekarang,
sebutkan siapa namamu bocah bagus ……..”
“Namaku Cie Tong Peng kakek ……….”
“Bagus, bagus …….. maukah engkau menjadi muridku ……”?
“Tapi, dimana engkau tinggal kek …..”?
Kembali Mo Hwee Hud garuk-garuk kepala yang tak ada
rambutnya. Mungkin kesal, dia berkata dengan suara keras:
“Aku bertanya, engkau mau menjadi muridku tidak …….”?
“Mau kek, tapi dimana tempat tinggalmu ……”?
“Cukup, kita bicarakan yang lainnya menyusul. Engkau duduk
disana sebentar ..”
Cie Tong Peng dilontarkan ke tempat yang lebih tinggi lagi dari
posisi ketiga tokoh hebat itu. Tapi tidak sedikitpun dia mengeluh,
19
sebaliknya, di tempat itu dia melirik keadaan di bawah dan kini dia
melihat betapa anak kedua, temannya yang sama-sama terculik,
kini dengan cara yang sama, sudah berada bersama si Nenek
Rase Terbang. Dan berapa saat kemudian, setelah mengalami
proses yang sama, anak itupun terbang menyusulnya di tempat
ketinggian. Dan di bawah sana, tinggal si anak ketiga, masih
terlampau kecil dan terlihat kumuh dan kotor. Maklum, selama tiga
hari di bawah pelarian, dia belum sekalipun membersihkan diri
juga tidak dibersihkan si pengemis.
Tapi, setelah selama 3 hari penuh mengemong dan membopong
si anak, Pengemis sakti sudah merasa memiliki ikatan batin
dengannya. Karena itu, tanpa diperintah dia sudah mendekati si
anak berwajah kotor itu dan melindunginya. Tetapi, tindakannya
itu tak terlepas dari pengamatan ketiga tokoh tua yang mengawasi
dari tempat yang lebih tinggi. Ketika pada akhirnya tinggal anak
itu yang tersisa dan kini dibawah penjagaan si pengemis, terlihat
mereka bertiga tersentak kaget dan heran. Baik Bu Te Hwesio,
Mo Hwee Hud maupun si Rase Terbang menatap si anak dengan
penuh perhatian. Memang benar wajahnya belepotan bekas
lumpur dan sulit melihat secara jelas parasnya yang masih bocah
itu, tetapi yang tak dapat tersembunyikan adalah bentuk tubuh
dan gerak gerik si bocah. Dan ini seperti menarik perhatian ketiga
20
tokoh tua yang kelihatannya sama memahami bakat dan potensi
si bocah.
Tiba-tiba si pengemis sakti mendengar suara yang memasuki
telinganya bagaikan suara nyamuk namun jelas terdengar
baginya:
“Tunggu apa lagi, bawa anak itu segera, suatu saat jika berjodoh
Lolap akan berusaha keras untuk menemukannya …… cepatlah,
tak sanggup lolap jika harus menandingi kedua tokoh hebat ini jika
mereka memiliki keinginan yang sama”
Menanti suara itu sirap, Tek Ui Sin Kay segera bergerak.
Sebelumnya dia masih sempat berkata:
“Salam hormat kepada para cianpwee yang mulia, tecu bersama
cucuku harus segera berlalu. Mohon maaf ……”
Dan kemudian tanpa berkata satu apapun juga, si Pengemis Sakti
segera memeluk anak itu dan kemudian meloncat pergi dengan
segenap kecepatannya …….
“Echhhhh, perlahan ….”
“Awas ……..”
21
“Sudahlah …… amitabha budha ……”
Secara bersamaan terdengar seruan yang berasal dari mulut
ketiga orang hebat dan aneh itu. Dan akibatnya, Pengemis Sakti
merasakan selarik pukulan hebat menerpanya dari arah
belakang. Tetapi pada saat bersamaan, dia mendengar suara
seperti nyamuk tadi dan sesuatu memasuki saku bajunya:
“Cepat berlalu, dua butir pil mustika kuhadiahkan kepadamu dan
kepada bocah itu. Segera telan obat itu dan juga kepada bocah
itu. Pukulan dan racun mereka semoga dapat ditahan …….
semoga engkau selamat, terserah kepada takdir ….”
Mendengar bisikan itu, si Pengemis yang merasa serangan hawa
dingin dan panas menyerangnya tiba-tiba dari dua totokan yang
diterimanya, segera memasukkan kemulut dan menelan sebutir
obat yang tadi dikirim masuk ke sakunya. Dan sebutir lagi
dipaksanya masuk ke bibir si bocah, semua dilakukannya sambil
terus berlari tanpa memperlambat langkahnya. Dan benar saja,
tak lama kemudian hawa dingin dan panas yang menyerangnya
perlahan membuyar, tapi sama sekali tidak lenyap dengan
sendirinya. Tapi dengan kekuatannya yang tidak lemah, dia
menahan semuanya dan terus, terus dan terus berlari.
22
Sementara itu, di pinggiran sungai tadi, ketiga tokoh aneh masih
tetap duduk di tempat masing-masing. Tetapi, tiba-tiba si Nenek
mencela:
“Hmmmmm, jangan engkau kira aku tak tahu kalau engkau diamdiam
membantu si pengemis itu ketika berlalu tadi. Tapi, totokan
dan pukulan jarak jauh kami rasanya cukup mampu membuat
mereka menghadap giam lo ong segera ……..”
“Bahkan obat mujijatmu itu akan terbuang percuma …..
hahahahaha”
“Amitabha ………. biarlah takdir yang menentukannya ……”
“Benar, tetapi sayang sekali …….. anak kecil tadi sesungguhnya
berbakat tidak kurang atau bahkan mungkin lebih dibandingkan
kedua anak di atas. Tapi sudahlah, aku sudah menemukan
pewarisku ……. pertemuan ini biarlah kita akhiri ……” sambil
berkata demikian si Rase Terbang tiba-tiba berkelabat pergi dan
tak lama kemudian sambil membopong seorang anak diapun
berkelabat pergi.
Sepeninggal si Nenek tua itu, kini tinggalah dua orang kakek
aneh, Mo Hwee Hud dan Bu Te Hwesio yang saling berhadapan.
Mo Hwee Hud berkata:
23
“Rasanya tak ada lagi urusan yang dapat kukerjakan disini,
terbukti, kita berdua, masing masing tak ada yang mampu
mengalahkan Rase tua yang semakin cepat saja gerakannya itu.
Karenanya, jika engkau setuju, biarlah kita bertemu kembali 10
tahun ke depan di tempat yang sama ……….. bagaimana”?
“Baiklah, jika kesenanganmu sudah terbang pergi, baiklah kita
temukan kesenangan itu pada 10 tahun mendatang ………”
Beberapa saat kemudian, Mo Hwee Hud juga menyusul pergi
bersama anak yang tadi mengaku bernama Cie Tong Peng.
Sementara si nenek pergi bersama anak yang lain, yang bernama
Kat Thian Ho. Seberlalunya mereka berdua, Bu Te Hwesio yang
seluruh rambutnya sudah memutih, terlihat merenung sejenak.
Dan tak lama kemudian diapun berkata kepada dirinya sendiri:
“Achhhhhh, dia masih belum berjodoh denganku sekarang ini …..
Amitabha ...” berbeda dengan kedua tokoh tua tadi yang segera
berlalu, Bu Te Hwesio masih bersamadhi sampai beberapa
lamanya, dan menjelang gelap baru dia berlalu. Dengan berjalan
kaki, perlahan saja, tetapi anehnya, dalam waktu singkat dia
sudah berada jauh didepan sana. Tetap sambil berjalan perlahan
……
24
====================
Gunung Thian Cong San … di gunung ini berdiam seorang tokoh
hebat yang tidak mau menonjolkan diri. Bahkan sangat sedikit ada
insan persilatan yang mengenalnya karena memang tokoh ini
nyaris tidak pernah campur tangan di tengah gaduhnya rimba
persilatan. Tapi tokoh-tokoh hebat mengenalinya sebagai Bu In
Sin Liong (Naga Sakti Tanpa Bayangan) atau Bu In Hwesio atau
Bu In Siansu. Bu In Hwesio dan belakangan menjadi Bu In Siansu
adalah nama ketika tokoh itu menjadi salah satu murid utama
Siauw Lim Sie. Ciangbundjin Siauw Lim Sie saat ini masih
terhitung cucu murid Bu In Hwesio. Kegagalan menjalankan tugas
menemukan sebuah Kitab Pusaka Siauw Lim Sie yang tercuri
membuat nama Siauw Lim Sie tercoreng, dan Bu In Hwesio yang
gagal bertugas, memilih menanggalkan posisinya sebagai Calon
Ciangbundjin dan kemudian berkelana. Sejak itu, dia tidak pernah
kembali ke Siauw Lim Sie dan belakangan namanya menjadi Bu
In Siansu.
Hanya segelintir orang yang mengenalinya, mungkin 2-3 orang
belaka. Dan hanya mereka yang tahu kemampuan dan kehebatan
ilmu silat Bu In Siansu yang kemudian mereka panggil Bu In Sin
Liong. Tetapi, ke-7 murid Bu In Sin Liong adalah tokoh-tokoh yang
sangat cemerlang di rimba persilatan. Bukan hanya karena
25
mereka tampil sebagai tokoh-tokoh pembela kebenaran, tetapi
karena mereka semua memiliki kemampuan ilmu Silat yang
jarang dijumpai di rimba persilatan. Salah satu yang terkenal
adalah Tek Ui Sinkay yang memilih bergabung dengan Kaypang
dan menjadi salah satu pemimpin yang sangat dihormati di
kalangan Kaypang. Kemampuannya konon setara dengan
Kaypang Pangcu saat ini, atau bahkan mungkin lebih. Dan
bahkan Pangcu Kaypang sendiri diketahui sangat hormat dan
mengindahkan Tek Ui Sinkay ini.
Tetapi, meski murid-murid Bu In Sin Liong berkelana di Rimba
Persilatan, tak ada seorangpun yang memberitahu nama
perguruan mereka. Baru pada sekitar 10 tahun terakhir muncul
nama perguruan Thian Cong Pay, mengambil nama gunung
dimana Perguruan itu berada. Dan yang menjadi pemimpinnya
adalah murid terakhir Bu In Sin Liong yang bernama Hoan Thian-
Ciu (Tangan Membalik Langit) Cu Ying Lun. Kisah berdirinya
Thian Cong Pay adalah dari kenyataan betapa warisan ilmu Bu In
Sin Liong ternyata terpecah-pecah ke beberapa perguruan: Ada
yang bergabung ke Kaypang, ada yang bergabung dengan Kun
Lun Pay dan sisanya berdiri sendiri. Adalah Cu Ying Lun yang
berinisiatif mendirikan Thian Cong Pay, tentu saja atas
persetujuan dari semua suhengnya.
26
Tapi meskipun demikian, sejak didirikannya Thian Cong Pay, Bu
In Sin Liong yang telah lama mengundurkan diri, memilih bertapa
dan tidak pernah lagi menunjukkan dirinya kepada siapapun.
Termasuk kepada nyaris semua murid-muridnya. Tetapi, dia tidak
menyatakan penolakan atas inisiatif Cu Ying Lun. Sejak
pengunduran dirinya, tempat dimana Bu In Sin Liong bertapa
sangat dirahasiakan, dan hanya murid-muridnya saja yang tahu
dia berada dimana. Di luar mereka, tak ada lagi yang tahu,
siapapun. Murid yang mengirimkan makananpun tidak tahu jika
yang dilayaninya adalah Suhu dari pangcu mereka. Yang pasti,
tempat itu menjadi tempat terlarang bagi semua murid Thian Cong
Pay yang juga berjumlah tidaklah banyak. Sampai saat itu, muridmurid
Thian Cong Pay hanya berjumlah lebih kurang 60 orang dan
berasal dari sekitar gunung Thian Cong Pay.
Pada siang itu, Cu Ying Lun, sang Pangcu, sedang berkenan
melatih 5 orang murid utamanya. Kelima orang inilah yang
kemudian bertindak sebagai pelatih bagi seluruh anak murid
Thian Cong Pay lainnya yang berjumlah 50 orang lebih. Selama
10 tahun terakhir, Thian Cong Pay tumbuh menjadi perguruan
yang punya nama lumayan bagus di dunia persilatan. Terutama
karena memang ditunjang nama besar 7 saudara seperguruan,
selain karena Cu Ying Lun sendiri memang memiliki ilmu silat
27
yang sangat lihay. Mungkin tidak kalah dibandingkan dengan toa
suhengnya yang sudah lama merantau dan angkat nama lebih
dahulu.
Bangunan-bangunan Thian Cong Pay sendiri sudah berjumlah
beberapa buah, dan sanak keluarga para anggotanya bertempat
di bagian belakang sebelah kanan dari markas Thian Cong Pay.
Ada 5 bangunan utama Thian Cong Pay, satu adalah markas
besar, satu difungsikan sebagai ruang khusus menampung tamu.
Ada satu lagi ruangan khusus berlatih silat, dan dua bangunan
besar lainnya sebagai tempat tinggal para murid yang memilih
tinggal di markas Thian Cong Pay. Ada beberapa ruangan atau
bangunan yang lebih kecil lagi dengan fungsi-fungsi khusus.
Tetapi nyaris semua aktifitas Thian Cong Pay ada di ruangan
utama, karena juga disana Pangcu tinggal dan semua pusaka
serta lambang perguruan berada.
Pagi itu, Cu Ying Lun sedang bertindak memberi pengajaran dan
pelatihan kepada 5 orang murid kepalanya. Dan sekali pandang
saja, dapat diketahui jika 5 murid kepala sang Pangcu memang
sudah memiliki kemampuan yang tidak rendah. Pukulan yang
menderu, langkah yang ringan dan gesit, kekokohan bhesi (kudakuda)
serta tenaga dalam yang cukup mahir. Diam-diam Cu Ying
Lun mengagumi kemajuan murid-muridnya yang rata-rata berusia
28
sudah di atas 30 tahunan dan sudah belajar sekitar 10 tahunan
darinya. Kekaguman yang wajar, karena perguruan berusia muda
ini sudah berhasil menanam pengaruhnya yang sangat kuat di
sekitar Thian Cong San. Nyaris tiada lagi penjahat yang berani
beroperasi di sekitar gunung Thian Cong San, dan membuat para
penduduk dengan sukacita hidup bersama dengn perguruan yang
memberi mereka rasa aman.
Sedang Cu Yung Lin sibuk menilik murid-muridnya, tiba-tiba
sesosok tubuh menyelinap dan masuk ke tempat latihannya
dengan sangat cepat. Dan ketika akhirnya berada di lokasi itu, dia
hanya sempat bersuara:
“Sute ……. aku ….. aku”
Dan setelah itu, orang yang datang itupun tersungkur dengan
wajah keruh. Tetapi melihat kedatangan orang yang
memanggilnya sute itu, Cu Yung Lin tersentak kaget. Karena
sudah barang tentu dia mengenali siapa tokoh yang menyelinap
masuk dan kemudian menyapanya. Karena itu, diapun berseru:
“Sam suheng, mengapa ….”?
Kagetnya bukan terkira ketika dia mendapati Sam Suhengnya
yang adalah Tek Ui Sinkay ternyata terluka hebat. Dan di
29
pondongannya, ada satu bocah berusia sekitar 5 tahun yang juga
sedang dalam keadaan mengenaskan. Kotor tak terawat, penuh
lumpur dan bau yang menyengat dari tubuhnya.
Ying Lun tak dapat berkata dan bertanya karena menemukan
Sam Suhengnya menderita luka dalam cukup parah. Beracun
pula. Kesadaran sudah hilang dan iweekangnya sulit disatukan.
Untungnya, keadaan tubuh suhengnya yang lain baik-baik saja
dan iweekangnya belum membuyar dan tidaklah punah. Tapi,
kondisi suhengnya jelas sangat berbahaya. “Astaga, hanya Suhu
yang mampu menangani suheng ..” desis Ying Lun yang
kemudian bekerja cepat, menotok sana dan sini untuk kemudian
mendapati, ada satu kekuatan lain yang membuat suhengnya
dapat terus bertahan dengan keadaannya itu. Melihat kenyataan
itu, Ling Yun akhirnya pasrah dan segera membuat keputusan
cepat.
“Panggil Ang Tiang Ceng Sinshe ….”
Beberapa muridnya dengan cepat berlalu dan dalam waktu yang
tidak cukup lama sudah kembali datang dengan seorang tua
berwajah cerah yang dengan cepat menemui Cu Yung Lin:
30
“Pangcu, ada perintah apakah gerangan ……”? tapi, matanya
cepat melirik dan melihat Tek Ui Sinkay yang rebah tak berdaya
“Ang Sinshe, anak ini kuserahkan kepadamu merawatnya.
Kelihatannya dia terluka, tetapi kuyakin Ang Sinshe akan dapat
menanganinya …….. aku harus segera menangani suhengku ini,
keadaannya sangat berbahaya …”
“Baik, baik Pangcu ……… lohu akan menangani anak ini ……”
segera berkata Ang Sinshe dan dan tak lama kemudian diapun
sibuk menguruti dan memeriksa keadaan si bocah cilik itu.
“Astaga pangcu, kelihatannya anak ini sudah 3 hari lebih tidak
makan dan minum. Kondisi fisiknya sungguh menyedihkan …….”
“Benar Ang Sinshe, sam suheng ini kelihatannya berlari terus
selama 3 hari untuk dapat mencapai Gunung kita ini.
Sebelumnya, kelihatannya Sam Suheng bertempur dan
menderita lukanya ini ……… tapi, entah mengapa daya tahan
mereka cukup tangguh dan fisik mereka tak terganggu ……”
“Benar pangcu, kelihatannya ada sebuah pil mujijat yang mereka
telan. Dan ini sangat menguntungkan kondisi tubuh mereka ……”
31
“Baiklah Ang Sinshe, aku akan mencoba menangani sam suheng,
bocah itu kutitipkan kepadamu. Biarlah engkau yang memelihara
dan mengurusnya untuk sementara. Entah apa maksud suheng
membawanya kemari ……”
Kembali Ang Sinshe yang sudah tua renta itu bekerja. Tapi kini,
setelah memeriksa sekali lagi, dia terdiam. Dan kembali kedua
tangannya bekerja, mengusap sekujur tubuh dan kemudian
terdiam kembali. Sampai akhirnya diapun terlihat keheranan dan
kemudian berkata atau menggumam:
“Pantas ……. Pantas …….”
Sejak ditangani Cu Ling Yun, Tek Ui Sinkay menghilang, tetapi Cu
Ling Yun sendiri tetap mengerjakan pekerjaan seperti biasa.
Bahkan dia pernah mengunjungi Ang Sinshe menanyakan
keadaan si bocah. Tetapi, melihat keadaan si bocah, Ling Yun
tidak berkesan apapun. Karena si bocah wajahnya sudah
cenderung keunguan dan entah bagaimana keadaan tubuhnya
menjadi kurang wajar. Lengan kirinya kadang lebih pendek dari
lengan kanannya, tetapi sebulan kedepan, bisa berubah
sebaliknya. Dan yang aneh, ketika menangani di bulan-bulan
awal, Ang Sinshe menemukan kenyataan betapa kondisi tubuh si
bocah sangat panas menyengat, tetapi si bocah justru merasa
32
kedinginan dan menggigil sepanjang malam. Kejadian seperti itu
berlangsung semalaman penuh, dan keesokan paginya Ang
Sinshe kaget karena keadaannya sudah normal kembali. Seperti
tidak ada kejadian berbahaya yang terjadi, meski perubahan fisik
si bocah telrihat.
Selain itu, yang membuat Ang Sinshe terharu adalah, si bocah
kelihatannya tidak dapat mengingat lagi siapa dirinya. Ketika
ditanya siapa namanya, si bocah tak dapat menjawab dan hanya
memandang Ang Sinshe dengan wajah bingung. Sadarlah Ang
Sinshe jika ingatan anak itupun kelihatannya agak terkendala.
Tetapi, tidak berarti si bocah menjadi hilang ingatan atau gila.
Anak itu tetap normal dalam kesakitannya itu. Dan karena itu,
sejak saat itu, Ang Sinshe memanggilnya dengan sebutan Koay ji
(Anak yang aneh), dan lama kelamaan, itulah nama panggilan si
bocah. Apalagi, karena si bocah sendiri seperti merasa senang
dengan panggilan itu.
“Apa gerangan yang terjadi dengan anak ini …” pikir Ang Sinshe
kebingungan. Menganalisis semua yang dialami Koay jie. Karena
meski dia sudah mampu menemukan sumber penyakit si bocah,
yakni dua buah sumber tenaga berlawanan yang entah
bagaimana masuk ke tubuh bocah itu, tetapi macam-macam obat
33
yang dimasukkannya lenyap tanpa sedikitpun khasiat. Dan
keadaan itu berlangsung terus menerus sampai selama setahun.
Tak terasa setahunpun berlalu. Selama waktu itu Tek Ui Sinkay,
si pengemis sakti tetap tak pernah menampakkan batang
hidungnya lagi. Sementara anak yang dibawahnya dan kemudian
diasuh dan diobati oleh Ang Sinshe keadaannya tetap sama.
Betapapun Ang Sinshe berusaha menangani dan mengobati si
bocah, dia tak mampu menghindarkan perubahan warna wajah si
bocah yang kini berubah menjadi keunguan. Racun yang
menyusup masuk ke tubuh si bocah, memang tidak merengut
nyawanya, tetapi dapat tertahan oleh pil mujijat yang ditelannya.
Selain itu, si bocah terus saja sebulan sekali merasa kepanasan
dan kedinginan secara bersamaan. Dia merasa sangat
kedinginan tetapi lengan dan kakinya justru panas membara …….
Atau sebulan berikutnya, dia merasa sangat kepanasan tetapi
lengan dan kakinya justru dingin bagaikan es di puncak gunung
tinggi.
Memasuki tahun kedua, keadaan si bocah mulai memburuk. Jika
sebelumnya panas dan dingin hanya berlangsung selama
semalam, kini menjadi sehari dan semalam penuh. Si bocah
merintih-rintih jika masa itu datang. Tetapi Ang Sinshe tetap tak
mampu berbuat apa-apa. Dan dengan terpaksa membiarkan
34
Koay jie menderita selama masa mengamuknya penyakit itu.
Tetapi semakin lama dia semakin menyayangi anak itu, bahkan
mulai mengajar anak itu mengenali huruf-huruf. Dan dia kembali
menemukan sesuatu yang hebat dan luar biasa, yakni pelajaran
sesulit apapun itu dapat dilahap dengan sangat mudah oleh si
bocah. Setahun saja, dia mulai menemukan kesenangan baru
dalam membaca, membaca dan terus membaca. Apalagi ketika
pelajaran sastra juga mulai diberikan Ang Sinshe yang ternyata
juga menguasai sastra secara sangat baik. Maka ditemukanlah
kesenangan baru oleh si bocah yang dipanggil Koay ji itu.
Bukan cuma itu, dan ini yang membuat Ang Sinshe terkejut. Si
bocah dapat belajar dan mengingat dalam waktu sangat cepat
dan singkat. Diajari huruf sansekerta dan aksara India, dia dapat
dengan cepat mengingat dan menghafalkannya. Sampai Ang
Sinshe geleng-geleng kepala tak mengerti. Semakin kaget,
karena kemudian, seluruh buku milik Ang Sinshe sekarang mulai
dilahap oleh si bocah perlahan-lahan. Hanya beberapa buku yang
sangat rahasia dan pribadi saja yang tak diijinkannya dibaca oleh
si bocah. Tetapi, selama dua tahun bersama dengan si bocah,
semakin terasa betapa Ang Sinshe mengasihi dan menyayang
bocah malang itu. Penyakitnya boleh bertambah parah, tetapi
semangat belajar tulisan-tulisan kuno sekalipun, dengan cepat
35
ditelan dan dilahapnya. Tak ada lagi buku Ang Sinshe yang tidak
dibacanya, termasuk buku-buku rahasia pengobatan yang
anehnya juga dilahap begitu saja oleh si bocah.
Ang Sinshe yang semakin mengasihi si bocah, terus berusaha
dan mencoba mencari rahasia penyembuhannya. Suatu saat dia
mencoba beberapa formula dan pil mujijat miliknya yang diracik
langsung secara seksama. Tetapi, anehnya, semua pil mujijat itu
masuk tanpa pengaruh berarti. Bahkan ketika usia si bocah mulai
sudah masuk tahun ketujuh, penderitaannya justru menjadi
semakin panjang. Bukan hanya memanjang menjadi 2 hari 2
malam penderitaannya, bahkan bersamaan radius satu meter dari
tubuh si bocah, terasa panas dan sangat menyengat. Dan
kemudian berubah menjadi dingin yang sangat membekukan.
Tetapi meskipun demikian, si bocah tetap saja menggigil
kedinginan saat hawa tubuhnya memancarkan panas. Dan
merasa kepanasan ketika tubuhnya memancarkan dingin yang
membekukan. Hal ini membuat Ang Sinshe kebingungan dan tak
tahu lagi harus berbuat apa.
Bersamaan dengan itu, tak ada lagi bacaan yang tersedia yang
belum dibaca si bocah. Semua buku di ruangan Ang Sinshe ludes
dibaca dan dipahaminya. Bahkan, ketika Ang Sinshe menguji
pengetahuan pengobatan secara teori dengan si bocah, Ang
36
Sinshe geleng-geleng kepala, karena isi bukunya sudah
berpindah ke kepala si bocah. Jika dia sendiri masih harus
membuka buku untuk memahami beberapa detail, sebaliknya
bagi si bocah, dia mampu menyebutkannya secara tepat tanpa
salah sedikitpun. “Dia ini sesungguhnya adalah bocah ajaib, tapi
apa sesungguhnya yang terjadi dengan dirinya ini”? desis Ang
Sinshe tak berdaya.
Meski keadaan fisiknya agak berubah “aneh”, kaki kiri dan tangan
kiri sedikit lebih pendek disbanding kaki dan tangan kanan, tetapi
si bocah tetap saja bersemangat. Setelah bacaannya habis,
diapun mulai tak betah berada dalam ruangan. Awalnya dia
berjalan-jalan biasa saja melihat-lihat keadaan sekitarnya, tetapi
lama-kelamaan menjadi bosan sendiri. Tetapi, ketika suatu saat
dia memergoki Cu Ling Yun memberikan latihan kepada 5 murid
kepalanya, sejak saat itu Koay jie mulai merasa tertarik untuk
berlatih ilmu silat. Kebetulan mulai saat itu, Koay ji juga kehilangan
hak sebagai bocah dan mulai diminta Cu Ling Yun untuk ikut
bekerja.
Jadilah sejak berusia 7 tahun Koay Jie yang kadang terlihat
tangkas dan kadang terlihat loyo, mulai bertugas menyediakan
atau tepatnya mengantarkan makanan kepada khusus 5 murid
kepala dan Cu Ling Yun sekeluarga sendiri. Pada waktu itu, Cu
37
Ling Yun sendiri sudah berusia 49 tahunan dan sebentar lagi
menjadi 50 tahunan. Dia memiliki seorang istri dan 3 orang anak:
Cu Yu Hwi adalah anak gadisnya yang kini berusia 25 tahun dan
sudah bersuami. Justru Cu Yu Hwi ini yang menjadi tokoh
terhebat kedua setelah Cu Ling Yun, karena sempat merasakan
didikan sucouwnya sendiri. Anak kedua adalah Cu Yu Tek yang
sudah berusia 20 tahun dan sedang gagah-gagahnya, juga
sedang sangat giat memperdalam ilmunya. Dan ketiga adalah Cu
Yu Liong, putra bungsu yang sudah berusia 14 tahun, sudah
menjelang remaja.
Sebagai pelayan di rumah Pangcu, Koay jie memperoleh akses
memasuki rumah atau ruangan besar atau ruangan utama.
Karena Cu Ling Yun sang pangcu hanya sesekali melatih murid
kepalanya, maka yang sering disaksikan Koay ji justru adalah Cu
Yu Hwi yang memilih mengajar anak-anak. Ada sekitar 8 anak
yang dididik oleh Yu Hwi, dan mereka rata-rata adalah putra atau
putri dari para murid Thian Cong Pay. Begitupun, karena gerakan
mereka rata-rata adalah gerakan dasar, maka perlahan namun
pasti justru Koay ji mencontoh dan meniru gerakan-gerakan
mereka. Tetapi, dengan segera dia menjadi bosan. Karena
penjelasan atas posisi bhesi dan kuda-kuda sudah sering
diuraikan Yu Hwi, sehingga mudah saja Koay ji melatih dirinya.
38
Tanpa diketahui siapapun, Koay jie sering melatih dalam
kamarnya sesuai dengan petunjuk-petunjuk Yu Hwi. Pendeknya,
jika penyakitnya tidak kambuh, maka Koay ji akan berlatih,
berlatih dan berlatih. Apalagi karena buku-buku yang tersedia
sudah habis dipindahkannya ke isi kepalanya. Tetapi, dia akan
berlatih keras jika baru saja menyadap latihan 5 murid kepala
yang langsung dipimpin oleh Cu Ling Yun.
Tak disadari siapapun, termasuk disadari Koay ji sendiri, jika
kemajuannya justru jauh melampaui murid-murid Yu Hwi yang
rata-rata berusia 10 tahunan itu. Dia sudah mampu memainkan
beberapa jurus andalan secara sepotong-sepotong yang
dilatihkan Cu Ling Yun kepada murid-murid kepalanya. Untuk ilmu
dasar Thian Cong Pay, yakni ilmu silat tinju Cap pwee Lo Han
Cong dan pukulan Sun Cim Tui Couw (Dengan Tangan
Mendorong Perahu), sudah dikuasainya dengan baik. Hanya
kurang di tenaga pukulan belaka. Bahkan, sebagian dari ilmu
andalan Thian Cong Pay, yakni Sin Sian Siang jiauw Ciang-hoat'
atau 'Ilmu pukulan Sepasang Cakar Dewa Sakti' dan Liu Su Kian
Hoat – Ilmu Silat Pohon Liu dapat dikuasainya sebagian
besarnya. Padahal dia hanya meniru-niru dan mendasarkan atas
penjelasan sepotong yang dicuri dengarnya dari Yu hwi dan dari
Cu Ling Yun.
39
Kemampuannya itu rasanya akan terus berkembang seandainya
dia tidak ketahuan memiliki ilmu-ilmu tersebut.
Sebagaimana diketahui, Koay jie, demikian bocah itu dikenal,
sama sekali bukanlah murid perguruan Thian Cong Pay. Dia
hanyalah bocah temuan Sam Suheng dari Pangcu Cu Ling Yun
dan kemudian dimintakan Ang Sinshe untuk dipelihara. Apalagi,
karena latar belakang dan jati diri Koay ji memang tak ada
seorangpun yang tahu. Jangankan mereka, bahkan Ang Sinshe
sendiripun tidak tahu. Dan anak itu, juga tidak tahu nama dan
jatidirinya. Karena itu, bocah itu akhirnya dititipkan kepada Ang
Sinshe dan menjadi anak peliharaannya dan dibesarkan di Thian
Cong Pay.
Sore itu, Koay ji dimintai pertolongan Ang Sinshe untuk
mengambilkan sejenis daun obat yang tumbuh di hutan belakang
markas Thian Cong Pay. Dekat kehutan bagian belakang
memang terdapat kebun obat yang dikelolah Ang Sinshe dan
akhir-akhir ini dengan bantuan Koay ji. Namun sebelum mencapai
kebun obat tersebut, ada jarak sekitar 100 meter lebih dimana
area itu sering menjadi tempat bermain anak-anak. Kebetulan
sore hari itu ada kurang lebih 5 anak-anak yang sedang bermainmain,
bersama mereka terlihat anak Cu Yu Hwi yang sudah
berusia 6 tahun bernama Khong Yan. Meski cucu Pangcu, tetapi
40
anak ini terhitung tahu diri dan sangat berpengertian. Ketika Koay
jie lewat, anak-anak mengerjainya dan berteriak:
“Anak aneh pendek sebelah …….”
Dan adalah khong Yan yang membela dan menyabar-nyabarkan
Koay ji. Bahkan diapun sempat berkata:
“Sudahlah Koay ji, lanjutkan tugasmu, jangan hiraukan mereka
…..”
Tetapi empat orang anak lainnya terus menerus berteriak-teriak
dengan kenakalan khas anak-anak untuk mengerjai Koay ji. Koay
ji yang berkesan baik dengan Khong Yan hanya mengangguk
kepada anak itu dan kemudian bergegas menuju ke kebun obat.
Cepat-cepat mengambil obat yang dimaksud dan kemudian
pulang kembali untuk menemui Ang Sinshe. Tetapi, apa lacur, di
tengah jalan dia bukan hanya diteriaki, tapi juga dihadang
jalannya oleh 4 anak kecil lainnya. Bukan berteriak-teriak
menghina tapi kini menghadang jalan pulangnya itu. Bahkan
mereka berempat meski coba dihalangi Khong Yan, terus
menerus berusaha menjangkau dan menyentuh tubuh Koay ji.
Memang bukan untuk memukul, tetapi untuk mengejek dan
41
mempermainkan anak aneh itu yang mendatangkan rasa ingin
tahu mereka.
Koay ji yang terbiasa sendiri dan tanpa kawan, memang terkesan
kaku. Tapi, dia tahu jika saat itu sedang dikerjai dan dihinakan 4
anak yang rata-rata lebih besar tubuhnya daripada tubuh sendiri.
Karena itu, diapun berkata:
“Para kakak yang baik, ijinkan aku lewat …….”
“Hohoho, akhirnya bicara juga si anak aneh … boleh, lewatlah,
tapi sambil merangkak ya lewatnya …..” sahut si anak yang paling
besar
Pecah tawa kawan-kawannya yang lain mendengar perintah itu.
Tapi Koay ji tetap tenang dan tidak mengatakan satu katapun.
Hanya, dia tidak bergerak untuk mengikuti perintah merangkak si
anak terbesar itu.
“merangkak, merangkak, ayo merangkak …..”
Tiga anak yang lain berteriak-teriak memberinya semangat untuk
merangkak. Tapi, Koay ji yang masih kecil tidak merasa tertekan
dan tetap berusaha mencari jalan maju. Tapi karena selalu
dihalangi si anak yang besar, Koay ji kemudian berkata:
42
“Benarkah engkau tidak akan membiarkanku lewat …..”?
“Merangkak ……” kata si anak dengan gusar
Koay jie mamandang anak tersebut. Dan dalam herannya, si anak
yang besar itu menjadi kecut hatinya akibat tajamnya pandang
mata Koay ji. Tapi dia tetap tidak beranjak dan menghalangi
jalannya Koay ji. Ketika Koay ji melangkah, kembali tubuhnya
bergerak menghalangi. Dan pada saat itu, Koay ji memutuskan
mencari jalan bagi dirinya dengan berusaha menyingkirkan si
anak besar. Dengan gerakan dasar dalam ilmu yang cukup
dikuasainya gerakan-dasarnya yaitu Sun Cim Tui Couw (Dengan
Tangan Mendorong Perahu), dia memegang lengan si anak
dengan cepat. Dan kemudian, tiba-tiba dia melangkah ke samping
dengan gerakan cepat dan menyentak si anak hingga tersungkur
ke depan. Meski kalah tenaga, tetapi posisi dan pemanfaatan
tenaga lawan boleh dibilang sangat tepat ……..
“Ha ….. bukankah itu Sun Cim Tui Couw (Dengan Lengan
Mendorong Perahu), ilmu dasar Thian Cong Pay …? desis Kong
Yan terkejut.
Tidak habis keterkejutannya ketika tiba-tiba ketiga anak lain
menyerang tetapi tak satupun yang mampu mengenai tubuh Koay
43
ji. Hal ini sungguh membuat semua anak-anak itu termasuk
Khong Yan kaget setengah mati. Mereka menyangka Koay ji akan
dengan mudah mereka jatuhkan dan permainkan. Tetapi kini,
mereka melihat betapa dalam ilmu dasar Thian Cong Pay, mereka
ternyata kalah gesit dan semua serangan mereka mudah dibaca
oleh si anak aneh itu. Mereka masih terkejut ketika tiba-tiba
lengan kecil Koay ji menyelinap dan kemudian menampar dua kali
wajah si anak yang paling besar. Dan kemudian, Koay ji
melangkah pergi dengan cepat diiringi keheranan anak-anak itu
yang taka da habisnya.
Sudah barang tentu tidak diberitahu Koay ji pertarungannya tadi
kepada Ang Sinshe. Tetapi malamnya, muncul Cu Yu Hwi
menjumpai Ang Sinshe serta sekaligus juga Koay jie. Tentunya
Ang Sinshe menyambut hormat:
“Mari, mari masuk. Mohon maaf jika ruanganku tak teratur karena
terus mengerjakan meramu obat-obatan Khong hujin ….”
“Ang Sinshe, ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepada Koay ji,
tetapi engkau sebaiknya ikut mendengarkan percakapanku
dengan anak itu …..”
“Ach, adakah sesuatu yang buruk dilakukan anak itu …..”?
44
“Entahlah Ang Sinshe, tetapi kita lihat nanti sajalah”
Setelah berkata begitu, Cu Yu Hwi kemudian melihat masuknya
Koay ji, sianak kurus agak penyakitan namun yang matanya
bersinar tajam.
“Koay ji ………. Bagaimana keadaanmu …..”? Tanya Yu Hwi
Koay ji yang kaget melihat kehadiran Cu Yu Hwi sudah dengan
cepat berkata dengan menjawab pertanyaan itu:
“Baik-baik ……. baik-baik saja, dan KOay ji mengucapkan banyak
terima kasih atas perhatian Khong Hujin malam hari ini …..”
jawaban yang sederhana, polos, santun namun sekaligus tegas.
“Koay ji … jawablah dengan sejujur-jujurnya, darimana gerangan
engkau mempelajari semua ilmu-ilmu dasar yang engkau
gunakan tadi siang dalam perjalanan kembali dari kebun obat itu
…..”?
Koay ji kaget, tetapi tidak menjadi gugup. Justru yang gugup
adalah Ang Sinshe mendengar Koay Ji mampu bersilat.
“Maafkan aku Khong hujin, aku melihat-lihat dan mendengar
belaka penjelasan Kong hujin jika memberi latihan kepada
45
mereka …….” berkata Koay Ji dengan wajahnya yang polos dan
nada tidak bersalah.
“Apa ….? Benarkah engkau hanya menyadap ketika sekilas
melihat mereka berlatih dan kemampuanmu kini bahkan
melampaui mereka semua ….”?
Dengan wajah polos tanpa rasa bersalah Koay ji menjawab:
“Memang begitu Khong hujin ……… setelah pulang ke kamar, aku
berlatih menurut penjelasan Khong hujin itu ……”
Benar-benar pusing dan bingung Khong hujin mendengar
jawaban Koay ji. Apalagi dia melihat kalau Koay ji memang tidak
berbohong dan berbicara apa adanya. Untuk memastikan
jawaban Koay ji, Khong Hujin kembali bertanya:
“Berapa banyak ilmu dan jurus yang engkau sadap Koay ji …”?
“Khong hujin, aku mampu memainkan ilmu silat tinju Cap pwee Lo
Han Cong dan pukulan Sun Cim Tui Couw (Dengan Tangan
Mendorong Perahu). Kalau ilmu Sin Sian Siang jiauw Ciang-hoat'
atau 'Ilmu pukulan Sepasang Cakar Dewa Sakti' dan Liu Su Kian
Hoat – Ilmu Silat Pohon Liu, hanya bisa kumainkan sebagiannya
saja, tapi masih belum dapat kumainkan selengkapnya ……”?
46
“Apa …? Engkau juga menyadap ajaran Ayah …..”?
“Hanya mendengar-dengar saja Khong hujin dan sesekali melihat
mereka berlatih silat. Aku hanya mencoba-coba meniru dan
mengingat penjelasan Khong hujin dan Cu Pangcu belaka ……
tak ada yang lain …..”
Koay ji kembali berkata tanpa memperhatikan betapa wajah
Khong hujin itu berubah ubah dari keheranan, terkejut dan
ekspresi wajah nyaris tidak percaya. Sebetulnya, Cu Yu Hwi atau
Khong Hujin ingin memarahi Koay ji atas peristiwa sore tadi, tapi
mendengar pengakuan polos Koay ji yang sangat
mengagetkannya, dia jadi lupa untuk marah-marah.Sebaliknya,
dia justru kaget. Karena, sudah 2 tahun lebih anak-anak
didikannya berlatih, tetapi belum mereka cukup baik memainkan
ilmu-ilmu dasar perguruannya. Sebaliknya, anak aneh ini, hanya
menyadap, tetapi mampu memainkan ilmu-ilmu perguruannya
dengan kemampuan dan kegesitan yang lebih baik. Dalam kaget
diapun berkata kepada Koay ji:
“Anak, dapatkah engkau memperlihatkan hasil latihanmu
kepadaku …..”?
47
“Tentu saja, kalau memang Khong hujin dapat memberi petunjuk,
pasti ilmu-ilmu itu akan semakin baik kumemainkannya ……”
jawab si bocah tetap polos. Dan jawaban yang membuat Cu Yu
Hwi semakin terkejut dan semakin susah percaya.
“Marilah, kita pergi keluar, meski dengan penerangan minimal,
aku dapat menilik kebisaan atau kemampuanmu memainkan
ilmu-ilmu itu Koay ji …. marilah ….”
“Baik hujin ……”
Koay ji kemudian mengikuti Cu Yu Hwi keluar dan diikuti Ang
Sinshe dengan rasa was-was. “Apa gerangan yang sudah
dilakukan bocah ini ….” Bisik Ang Sinshe dengan rasa was was
yang tak tersembunyikan.
“Nach, Koay ji, silahkan engkau memainkan semua ilmu yang
sudah berhasil engkau sadap itu ……” kata Khong Hujin dengan
nada suara yang susah ditafsir. Antara kesal, marah, kagum, tak
percaya ….. dan entah apa lagi.
“Baik hujin …….” Koay ji menjawab cepat dan kemudian
melompat ke arena meski dengan pencahayaan yang minimal.
48
Dengan cepat, mantap dan tanpa kesalahan Koay ji bersilat
dalam ilmu-ilmu dasar Thian Cong Pay. Dan mata serta perasaan
Khong Hujin benar-benar terbelalak dengan fakta yang sulit
diterimanya. Bagaimana bisa Koay ji yang tak pernah mendapat
petunjuk langsung dan baru belajar beberapa minggu justru
memiliki gerakan-gerakan yang jauh lebih mantap dan sempurna
dibandingkan semua anak didiknya? Inilah keheranan Khong
hujin yang susah didapatkannya jawabannya.
“Bagaimana Hujin …..”? Tanya Koai ji setelah selesai memainkan
dua buah ilmu dasar Thian Cong Pay tanpa celah, kecuali
tenaganya yang nyaris tidak ada. Tapi kegesitan dan gerakangerakannya
boleh dibilang sangat baik. “Benar-benarkah tak ada
orang yang membimbing anak ini ….”?
“Besok akan kujelaskan Koay ji, baiknya engkau bersama Ang
Sinshe beristirahat dahulu” ujar Khong hujin sambil kemudian
berlalu dengan cepat.
Keesokan paginya, ketika Koay Ji baru saja bangun dan mencari
sarapan paginya, Ang Sinshe mendekatinya dan kemudian
dengan suara perlahan dan rasa kasih yang tak tersembunyikan
dia berkata:
49
“Setelah makan siang nanti, Cu Pangcu memanggil kita …. ada
yang ingin disampaikan Pangcu kepada kita …………..”
“Baiklah Sinshe ……”
“Oh ya ……. daun obat jenis yang kemarin masih kurang 5 buah
Koay ji. Engkau tolong kembali ke kebun obat dan ambilkan 5
daun tambahan buat meracik obat …”
“Baik Sinshe, sekarang juga Koay ji akan pergi memangambilnya
…..”
“Jangan, engkau basuh wajahmu dulu dan kemudian makan pagi.
Setelah itu baru engkau menuju kebun obat itu …..”
“Baiklah jika begitu sinshe ……”
Beberapa saat kemudian, Koay Ji sudah sudah kembali berjalan
pulang dengan kelima daun obat di tangannya. Tetapi, jika
kemaren dia dihadang 5 orang anak kecil, kali ini dia dihadang 3
orang dewasa yang menjadi murid utama Cu Pangcu. Dan lagi,
dari cara berlatih merekalah Koay ji belajar, menyadap, mencuri
dengar hingga kemudian melatihnya sendiri di kamarnya. Tetapi
sebagai anak yang masih polos, Koay ji terus berjalan dan
kemudian menyapa orang-orang itu:
50
“Para paman yang baik, selamat pagi semuanya. Ijinkan Koay ji
lewat ….” sapanya dengan gaya khas seorang bocah yang masih
polos.
Ketiga orang murid kepala Cu Pangcu itu terlihat salah tingkah
menghadapi sang bocah yang menyapa mereka dengan bebas.
Tapi, adalah salah seorang yang paling besar dari mereka yang
mengeraskan hati dan berkata:
“Hmmmm, engkau rupanya si anak aneh yang menjerembabkan
anakku meski konon tidak pernah belajar silat tetapi mampu
memainkan semua Ilmu Dasar Perguruan. Mari bocah, engkau
tunjukkan kemampuanmu kepadaku …….”
Koay ji meski masih bocah kecil tetapi sesungguhnya memiliki
kecerdikan yang cukup mengagumkan. Apalagi, deritanya selama
2-3 tahun terakhir dengan hanya ditemani Ang Sinshe
membuatnya menjadi jauh lebih dewasa dan memandang rasa
sakit dan derita dengan cara yang berbeda. Dia tahu tidak akan
menang melawan orang-orang dewasa itu, tetapi diapun
memandang rasa sakit sebagaimana rasa-rasa lainnya. Tidak
terlalu menakutkannya.
51
“Apakah para paman benar ingin memaksa Koay ji berkelahi
sebagaimana anak-anak yang kemaren itu? Harap para paman
mengerti, rasa sakit adalah biasa bagi Koay ji, tetapi
mempermainkan Koay ji bukan perbuatan orang gagah ………”
hebat kata-kata anak kecil ini. Kata-kata yang membuat orangorang
dewasa itu sampai terperangah dan tidak tahu harus
berkata apa lagi. Sayangnya, seorang dari mereka yang
nampaknya ayah dari anak yang dijerembabkan kemaren merasa
tetap sakit hati dengan Koay ji yang terlihat penyakitan ini.
“Setidaknya engkau pertunjukkan bagaimana menjatuhkan
lawan-lawanmu yang lebih besar kemaren itu bocah ……..”
“Koay ji hanya akan bertarung untuk membela diri, bukan untuk
gagah-gagahan ….” kembali ringan jawaban anak itu.
“Jika begitu, engkau harus berusaha membela dirimu bocah. Aku
hanya akan membuat engkau sama dengan yang engkau lakukan
kepada teman-temanmu kemaren itu …..”
“Sadarkah paman bahwa paman akan menganiaya seorang anak
kecil ….”?
Ketiga orang itu terdiam dengan kata-kata tajam Koay ji. Dan
kesempatan itu segera digunakan Koay ji untuk berlalu. Dan
52
ketiga orang murid Cu Pangcu akhirnya hanya dapat menatapnya
berlalu tanpa bisa mengapa-apakannya.
Seminggu berlalu dengan cepatnya. Hari-hari Koay ji tidak ada
yang berubah. Dia tetap bekerja mengantarkan makanan dan
minuman ke rumah Cu Pangcu dan ke gedung utama, dan
selebihnya berlatih silat dan membaca apa saja yang dapat
dibacanya. Tidak ada sesuatu yang luar biasa. Sampai kembali
dia harus berhadapan dengan keempat anak lawannya yang kali
ini menghadangnya tanpa kehadiran Khong Yan.
“He anak yang aneh, sekali ini jika tanpa merangkak engkau tidak
akan mampu kembali ke rumah Ang Sinshe ……”
Entah mengapa ke-empat anak itu menjadi lebih berani setelah
minggu sebelumnya dikalahkan oleh Koay ji. Sekali ini, mereka
bahkan lebih kurang ajar dengan menambah syaratnya, yakni
sambil merangkak harus menggonggong seperti seekor anjing.
Meski begitu, Koay ji tidak cepat menjadi marah karena mengerti
anak-anak itu hanya ingin menuntut balas atas kekalahan mereka
sebelumnya.
“Ayo, merangkak cepat …….” bentak si anak terbesar.
“Bagaimana kalau Koay ji tidak mau ….”?
53
“Kami akan memaksamu untuk mau ………” bentak si anak besar
kembali dengan suara yang semakin mengancam.
Tetapi, semakin dibentak, si kecil Koay ji semakin terlihat tenang
dan mengawasi keempat anak yang secara fisik dan umur
memang berada di atasnya. Hanya, fakta itu tidak membuatnya
takut. Bahkan dengan suara sedikit menggoda diapun berkata:
“Kalau begitu, paksalah Koay ji melakukannya …….”
Mendengar tantangan itu, keempat anak yang menghadangnya
nampak kaget dan tidak menduga. Tapi tak lama, karena si anak
terbesar yang bertindak memimpin sudah memberi komando:
“Ayo kita paksa dia …….”
Serentak mereka kembali mengerubuti Koay ji untuk
menangkapnya dan memaksanya merangkak. Tetapi, seperti
juga kejadian minggu lalu, mereka tidak mampu melakukan
keinginan mereka. Karena Koay ji yang lebih kecil bergerak lebih
gesit meski kekuatan pukulannya kurang. Bahkan meski
dikerubuti berempat, dengan sebat dia bersilat dan memaksa
keempat anak lawannya yang lebih besar kerepotan. Beberapa
kali dia dapat memukul mereka, menghempaskan seorang ke
tanah dan terakhir memukul si anak terbesar yang memimpin
54
hingga jidatnya berdarah. Baru setelah itu, dia kembali berjalan
pergi sambil melenggang tanpa menoleh ke belakang lagi.
Kejadian yang kedua kalinya ini bukan hanya mengagetkan
keempat anak itu, tetapi juga mengagetkan Cu Yu Hwi dan
sekaligus juga Cu Pangcu. Diluar dugaan Koay ji yang masih
bocah itu, sebetulnya, keempat anak yang mengeroyoknya sudah
dibekali dengan jurus ampuh untuk menaklukkan dirinya langsung
oleh Cu Yu Hwi. Tapi apa lacur, keempatnya kembali dikalahkan
secara memalukan oleh Koay ji. Meskipun jarak kemampuan
mereka menyempit.
Mengapa demikian? Terutama karena Koay ji memang
melakukan evaluasi sendiri atas pertarungan pertama mereka.
Luar biasa aneh dan ajaib memang. Pergulatan Koay ji dengan
rasa sakitnya, menghadirkan beragam cara dan dayanya untuk
mengatasi rasa sakit itu. Beragam cara dia coba, meski terus dan
terus gagal tetapi dia tidaklah merasa putus asa, tetapi terus
mencari daya dan upaya. Apalagi, karena semakin panjang rasa
sakitnya dan semakin meningkat rasa sakit itu. Tetapi begitupun,
dia terus mencari dan mencoba sebagaimana juga Ang Sinshe
terus memberitahu dan membahas keadaan tubuhnya dengan
anak itu. Tak diduga Ang Sinshe, caranya melibatkan Koay ji
justru membantu si anak menjadi lebih ulet dan terus berusaha.
55
Dengan latihan silatnya, begitu juga yang dialami Koay ji.
Pertempuran pertama dengan keempat anak itu membuatnya
melakukan analisa sendiri pada malam harinya. Setelah itu, dia
melatih diri berdasarkan dugaan dan analisanya. Dan ternyata,
meskipun sudah dilatih seminggu oleh Cu Yu Hwi, tetap saja Koay
ji memperoleh kemenangan. Berhasil mengalahkan dan
menghajar keempat anak yang bertubuh lebih besar darinya dan
yang berusaha untuk menekan dan mempermalukannya.
Di luar tahu Koay ji, malam harinya, Cu Yu Hwi kembali berdiskusi
dengan Cu Pangcu ayahnya dan membahas kejadian aneh
tersebut. Tetapi, memang hebat dan luas sekali pandangan Cu
Pangcu, awalnya dia bertanya:
“Hwi ji, apakah engkau dapat merasakan jika kemajuan keempat
muridmu terlihat setelah seminggu ini engkau menggodok mereka
secara khusus ….”?
“Ayah, sejujurnya iya. Mereka maju lebih jauh dan lebih
bersemangat. Semangat untuk mengalahkan Koay ji membuat
mereka belajar melampaui takaran biasa dan sangat focus
mendengarkan pengajaranku ……..”
56
“Dan apakah engkau sudah mulai memahami dan mengerti
dimanakah rahasia anak yang aneh itu …..”?
“Sama sekali belum. Masak hanya dengan menyadap dan
mencuri dengar dia mampu memiliki tingkat yang melebihi semua
muridku ayah ……”?
“Sangat mungkin. Terutama jika anak itu memiliki kecerdasan dan
keuletan yang luar biasa anakku. Jangan engkau
meremehkannya. Kelihatannya, setelah kuselidiki selama
seminggu ini, anak aneh itu melakukan penelaahan sendiri dan
kemajuannya, tidak kalah dengan murid-muridmu. Cobalah
engkau lakukan sampau beberapa minggu ke depan, kutanggung
mereka semua akan mengalami peningkatan kemampuan secara
drastis. Bahkan engkau dapat melibatkan Yan ji sekalian ……..”
“Akan kucoba ayah …….”
Dan begitulah kejadian selanjutnya. Sampai 7 minggu berturut,
Koay ji selalu diganggu dan selalu bertempur dengan keempat
anak itu. Jika ada bedanya, maka beda itu adalah pada minggu
ketiga dan seterusnya, yakni selalu hadir mengawasi dan meneliti
sambil belajar Khong Yan yang adalah putra sulung Cu Yu Hwi.
Hebatnya, hingga minggu ketujuh, Koay ji selalu unggul atas
57
keempat lawan-lawannya itu. Meskipun pada dasarnya, keempat
anak itu maju sangat jauh karena selalu dididik keras oleh subo
mereka. Tapi, tetap saja Koay ji mampu terus menaklukkan
mereka dan sepertinya pengetahuan dan latihannya juga
bertambah hebat.
Apa yang sebetulnya terjadi? Mengapa Koay ji selalu dapat
menang meskipun keempat lawannya mendapat penilikan hebat
subo mereka?
Adalah pada pertarungan ketiga ketika Koay ji mampu kembali
menang tetapi dengan susah payah dan pulang ke tempat Ang
Sinshe dengan wajah bengap dan tubuh banyak yang membiru.
Ang Sinshe yang mengasihi anak itu sudah seperti anaknya
sendiri akhirnya dapat tahu apa sebabnya dan dengan
keahliannya dia memulihkan Koay ji dalam 2, 3 hari kemudian.
Tetapi pada hari keempat, ketika Koay ji memasuki kamarnya dia
melihat ada sebuah kertas dengan tulisan yang luar biasa;
Sebuah kertas yang berisi jurus-jurus silat untuk melawan
keempat lawan kecilnya. Hebatnya, jurus dan petunjuk itu tetap
bertumpu pada 2 ilmu dasar yang sudah dikuasainya.
Pada minggu keenam dan ketujuh, bahkan dia diberi petunjuk
untuk menggunakan ilmu-ilmu yang sering dilatih murid kepala Cu
58
Pangcu. Dan karena itulah maka sesudah pertarungan minggu
ketujuh, giliran Cu Pangcu yang menjadi penasaran. Betapa tidak,
ternyata Koay ji mampu memainkan beberapa jurus dari ilmu Sin
Sian Siang jiauw Ciang-hoat. Fakta ini mengejutkannya dan
sudah tentu anaknya. Tetapi, sekaligus dia menjadi sangat
penasaran, bagaimana bisa anak itu mampu melatih dan bahkan
juga mengoptimalkan penggunaan Ilmu Sin Sian Siang Jiauw
CIang Hoat secara tepat dan effektif. Dan karena itu, sejak minggu
ketujuh dan seterusnya, adalah Cu Pangcu sendiri yang
menurunkan ilmu-ilmunya untuk digunakan oleh keempat anak
yang mengeroyok Koay ji. Tetapi, begitupun, sampai minggu ke
sepuluh, tetap saja keempat anak itu tidak mampu mengalahkan
Koay ji. Luar biasa. Cu Pangcu dan anaknya Cu Yu Hwi sampai
geleng kepala melihat kemajuan Koay ji yang dalam pengamatan
dan intipan mereka, justru belajar sendiri setiap malamnya.
Bahkan kini, Koay ji sudah mampu menggunakan kedua ilmu Sin
Sian Siang jiauw Ciang-hoat' (Ilmu pukulan Sepasang Cakar
Dewa Sakti) dan juga Ilmu Liu Su Kian Hoat – Ilmu Silat Pohon
Liu. Entah bagaimana, kini Koay ji sudah dapat memainkan kedua
ilmu itu secara sangat baik, tanpa kekeliruan secara teori. Hanya
memang, soal tenaganya saja yang masih sangat kurang atau
bahkan tidak terpupuk. Tetapi, mengingat semua anak-anak itu
59
belum ada yang mampu memahami ilmu iweekang, maka itu
kelebihan Koay ji dapatlah dimaklumi belaka. Jelas dalam
keuletan dan kecerdikan, dia berada dan diatas rata-rata anak
murid Cu Yu Hwi.
Pada akhirnya, sampai usia ketujuh, justru Koay ji sudah memiliki
dan menguasai setidaknya 4 ilmu yang dapat dimainkannya
secara sangat baik. Bukan itu saja, setelah berkelahi atau pibu
berulang kali selama lebih 10 kali atau lebih 10 minggu, maka
Koay ji kini mulai dihormati dan dihargai keempat anak itu. Bahkan
Khong Yan sekarang sudah bersahabat baik dengannya dan
sering kali berlatih bersamanya. Dari situlah baru Khong Yan, Cu
Yu Hwi dan Cu Pangcu mulai mengenali dan mengetahui rahasia
keanehan dan kemujijatan bocah yang mereka anggap remeh
selama ini.
Satu-satunya rahasia yang tidak diketahui Cu Pangcu dan
anaknya Cu Yu Hwi adalah, petunjuk-petunjuk yang diperoleh
Koay ji melalui sehelai kertas. Dan itu yang justru membuatnya
mampu berlatih secara lengkap ilmu-ilmu Thian Cong Pay,
bahkan dalam beberapa hal, Koay ji menggunakannya dengan
variasi dan tambahan yang membuat ilmu aslinya menjadi lebih
baik. Hal ini tidak pernah dapat dipahami dan dimengerti oleh Cu
Pangcu, dan karenanya dia menganggap Koay ji benar-benar
60
mahluk aneh dan ajaib. Bocah aneh yang memiliki kemampuan
aneh. Apalagi setelah mendengar kata kata Ang Sinshe mengenai
kepintaran Koay Ji.
Keadaan Koay Ji yang demikian, anehnya dan sempitnya
pandangan Cu Yu Hwi, ialah keengganan dia untuk menarik Koay
ji menjadi muridnya dan berlatih dengan anak-anak didiknya.
Meskipun telah dibujuk dan diminta anaknya, Khong Yan, tetapi
entah mengapa Yu Hwi memutuskan tidak mau melatih atau
mengajak Koay ji ikut berlatih bersama dibawah tilikannya. Dan
hal itu juga menguntungkan Koay ji, karena setelah dia mulai
akrab dengan anak-anak murid Yu Hwi, suatu malam dia kembali
didatangi manusia aneh yang meninggalkannya sehelai kertas.
Hanya saja, bedanya adalah, bukan hanya sehelai kertas yang
kali ini ditinggalkan di atas meja tempat istirahatnya. Tapi juga
sebuah kitab tipis yang usianya sudah sangat tua.
Melihat ada sebuah Kitab yang dapat dibaca, betapa senang hati
Koay ji. Tidak harus menunggu lama, diapun segera memegang
Kitab itu, tetapi tiba-tiba sehelai kertas jatuh dan menarik
perhatiannya. Dengan segera Koay ji kemudian mengambil helai
kertas yang jatuh itu dan membacanya:
Koay Ji,
61
Kitab Pusaka ini namanya kitab Pou Tee Pwe Yap sian Keng. Dan
Kitab ini akan kupinjamkan setiap malam hingga engkau mengerti
dan memahaminya. Tetapi, mulai malam ini, engkau berlatih
menurut petunjuk Kitab ini, aku akan membantumu jika kurang
mengerti. Jangan memaksa diri berlatih jika tidak paham …..
Tak ada petunjuk lain, dan hanya itu yang tertulis di atas kertas.
Dan sebagaimana biasa, setelah membacanya Koay Ji meremas
dan menghancurkan kertas tersebut dan membuangnya.
Selanjutnya, Koay Ji kemudian naik ke pembaringan dan
membuka kitab yang sangat tipis itu, tapi astaga, ternyata
menggunakan aksara sansekerta. Untung saja dia sudah dapat
membaca dan memahami aksara tersebut, dan bahkan
membuatnya girang sekali menemukan jenis aksara asing yang
syukur memang sudah dipelajarinya itu. Karenanya dengan
bernafsu, diapun melanjutkan untuk membaca.
Begitu membaca halaman pertama, Koay Ji langsung tersentak
kaget. Bukan apa-apa, karena ternyata Kitab itu adalah petunjuk
untuk melakukan meditasi, dan karena sangat awam dengan
meditasi, maka dia kebingungan. Tetapi, suara yang malammalam
sebelumnya datang membantu, kembali muncul di
telinganya:
62
“Terhitung malam ini, engkau harus berlatih meditasi dan
mengkonsentrasikan pikiran, kemauan, hawa dan semangatmu.
Hanya ini satu-satunya cara agar penyakitmu tidak tambah parah
dan meluas, semakin panjang dan semakin merusak tubuhmu.
Karena itu, duduklah sesuai petunjuk kitab itu, pusatkan pikiran,
kemauan, semangatmu, dan ikutilah jalan pernafasanmu hingga
engkau tenggelam dalam samadhi …… ingat, jangan memecah
konsentrasi, tetapi biarkan pikiran, semangat dan kemauanmu
mengikuti aliran nafasmu sehingga engkau beroleh keheningan
yang dalam ……….”
Setelah membaca sekali lagi pengantar Kitab itu dan berdasarkan
petunjuk suara rahasia itu, maka mulailah Koay Ji berlatih.
Sebagaimana tuntutan Kitab Pusaka, maka Koay Ji harus
bertelanjang bulat dan kemudian bersamadhi di atas ranjangnya.
Sungguh sulit, karena memang belum terbiasa, maka dibutuhkan
waktu yang sangat panjang bagi bocah Koay Ji untuk dapat
mengikuti instruksi Kitab dan Suara yang disampaikan padanya
itu. Mendekati tengah malam, barulah anak itu benar-benar
mengerti dan akhirnya tenggelam dalam samadhinya.
Dan ketika keesokan harinya dia sadar, Koay Ji kaget dan senang
bukan main karena tubuhnya terasa jauh lebih segar
dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kakinya terasa lebih ringan
63
melangkah dan semangatnya sungguh membuncah. Luar biasa.
Tetapi dia sama sekali tidak paham jika itu adalah hasil siulian dan
samadhi yang dilakukannya semalam. Ketika dia mencoba
berlatih, dengan sangat mudah dia memainkan 4 ilmu
“andalannya” dan dia mampu melakukannya lebih lancar dan
sambung-menyambung tanpa hentinya.
Dan demikianlah seterusnya Koay Ji berlatih, berlatih dan berlatih.
Hanya sebulan dia berlatih siulan dan mengkonsentrasikan
pikiran dan kemauannya, dia berubah menjadi bertambah segar
dan kuat. Sejak saat itu, tanpa diminta lagi, Koay Ji menjadi
sangat keranjingan berlatih samadhi, tetapi itu dilakukannya
setelah berlatih 4 ilmu yang sudah dikuasainya secara baik. Dan
sejak saat itu, sepanjang siang hari Koay Ji bekerja dan bermain
bersama teman-temannya, sore hari dia berlatih bersama Khong
Yan, dan malam hari dia menemani Ang Sinshe. Ang Sinshe tidak
lagi membutuhkan kitabnya, karena lebih cepat baginya bertanya
kepada Koay Ji daripada sibuk membuka kitabnya. Tanpa
disadari Ang Sinshe dan Koay Ji, ketrampilan menjadi tabib mulai
tertularkan dan seorang calon tabib sakti yang baru sedang
diproses.
Setelah sebulan berlatih siulan dan samadhi, kini percayalah
Koay Ji jika menjalankan samadhi menurut petunjuk kitab pusaka
64
itu sangatlah membantunya, sangat-sangat bermanfaat bagi
tubuh ringkihnya. Mana Koay Ji tahu dan paham jika Kitab Pusaka
itu adalah salah satu Kitab Pusaka Mujijat yang jadi impian semua
pendekar di Tionggoan. Dan seluruh isi Kitab Pusaka yang mujijat
itu, kini sudah berpindah semuanya ke isi kepalanya. Dan kini,
memasuki bulan kedua, Koay Ji mulai disuruh melatih ilmu
samadhi pada tahapan kedua, yakni “Menyerap Energy dan
Menghimpun Tenaga”. Pada permulaan berlatih tahap kedua ini,
orang yang menuntunnya berlatih datang dan mengingatkan serta
mengajar Koay ji secara langsung:
“Anakku, pelajaran memusatkan keinginan, konsentrasi dan
memulihkan diri sudah engkau pahami secara baik. Mulai malam
ini, engkau akan berlatih tahapan kedua dari Kitab Pusaka yang
sudah engkau hafalkan itu. Pada tahap ini, selama setahun ini
engkau sebaiknya berlatih di kamarmu dan pada tahun
selanjutnya, engkau mencari tempat yang tepat. Lebih baik lagi
dilakukan di alam terbuka namun dengan tingkat keamanan yang
terjamin. Karena mulai tahapan ini, engkau harus menyerap
energy sekelilingmu dan engkau endapkan untuk kemudian
engkau rubah menjadi kekuatan dan energy dalam dirimu. Tetapi,
engkau catat baik-baik, aku melarangmu dengan keras untuk
memasuki tahapan selanjutnya tanpa petunjukku. Karena
65
tubuhmu pada dasarnya penuh dengan hawa kekuatan liar yang
engkau dapatkan ketika dilarikan Sinkay dari Pek In San. Tenaga
liar itu sudah bertumbuh secara sangat dahsyat karena dikekang
oleh pil mujijat hadiah seorang tokoh mujijat jaman sekarang. Jika
engkau memaksakan diri berlatih tahap ketiga, keempat dan
kelima, maka hawa itu akan pecah dan meledak dan membuat
tubuhmu kebanjiran hawa yang tak sanggup ditampung oleh
tubuhmu yang rentan ini …….. karena itu, bocah, ingat baik-baik
pesanku ini. Setahun kedepan, aku akan kembali lagi kemari
untuk melihat kemajuanmu nanti. Mengenai penyakitmu, setelah
berlatih lengkap Kitab ini dan dibantu seorang hebat lainnya,
maka penyakit itu akan sembuh dengan sendirinya. Haaaaaai,
bocah, jika engkau mampu melewati semua ini, maka bencana
akan berubah menjadi pahala besar bagi dirimu dan masa
depanmu. Maka, teruslah berlatih, jangan pernah bosan, karena
kesempatan satu-satunya bagimu adalah dengan berlatih melalui
kitab pusaka ini dan dengan kekuatan sakti itu ….”
Meskipun suka berimprovisasi dan senang menciptakan sesuatu
yang baru, tetapi Koay Ji benar-benar taat akan pesan orang yang
sudah dia anggap SUHU itu. Karena itu, dengan taat dia terus
berlatih “Menyerap Hawa dan Energi” setiap malam, dan dia tidak
pernah alpa dan absen berlatih. Bukan hanya taat berlatih, tetapi
66
justru boleh dibilang keranjingan berlatih, apalagi karena
tubuhnya semakin ringan dan masa penderitaan ketika serangan
sakitnya datang, tidak lagi bertambah panjang. Meskipun, tenaga
yang bergelora dalam tubuhnya dapat dirasakannya semakin
membesar ……..
Meskipun demikian, dalam kesehariannya, kehebatan Koay Jie
justru semakin terasa dan bahkan menjadi semankin nyata
terasa. Terutama, karena persahabatannya yang tulus dengan
Khong Yan membuat Koay Ji bukan saja memperoleh banyak hal
yang baru, Ilmu baru tetapi juga berkreasi dengan mencipta jurusjurus
baru. Mengapa seorang bocah Koay Ji mampu dan bisa
mencipta jurus-jurus baru? Ini ada kisahnya yang lain lagi. Kisah
aneh yang tidak disangka-sangkah, bahkan oleh Cu Pangcu
sendiripun yang secara tak sengaja menciptakan tokoh aneh ini:
Suatu pagi, selesai berlatih, kurang lebih sebulan dua bulan usai
berlatih tahapan kedua, Cu Pangcu memanggil Koay Ji:
“Pangcu, Koay Ji datang menghadap ……” dengan hormat yang
tidak dibuat-buat Koay Ji menghadap dan memberi salam kepada
Cu Ying Lun, Pangcu Thian Cong Pay yang ditemuinya di ruangan
Pangcu yang luas dan besar. Koay Ji yang polos sampai sempat
ternganga dan tercengang melihat begitu banyak macam senjata,
67
mulai dari pedang, tombak, ruyung, golok yang bertebaran dan
tertata secara rapih.
“Hmmmm, Koay Ji, bagaimana perkembangan kesehatanmu
sekarang ini …..”? tanya Cu Pangcu yang memang sangat tertarik
dan mulai merasa sayang dengan kemujijatan yang ditunjukkan
bocah ini.
“Setiap bulan serangan itu masih suka datang Pangcu, tetapi
syukurlah, sampai sekarang Koay Ji masih tetap sanggup
menahannya, dan mestinya harus tetap sanggup sampai
seterusnya …….”
“Engkau masih merasa kepanasan dan kedinginan secara
bersamaan? bagaimana caramu menahannya Koay Ji ….”?
Meski masih bocah, tetapi Koay Ji sangat memegang perjanjian
dan mematuhi apa yang dipesankan SUHU yang tak pernah
dilihatnya. Tentu saja dia tidak ingin memberitahu Cu Pangcu
“Saking panas dan saking dinginnya, Koay Ji memilih berserah
kepada Thian saja Pangcu, karena kalau rasa sakit itu datang,
maka tidak ada cara lain untuk mengurangi atau meniadakannya.
Setelah berapa tahun mengalaminya, Koay Ji akhirnya sadar, biar
kehendak Thian saja yang jadi Pangcu ……”
68
Luar biasa, Cu Ying Lun sampai terpana dengan kata-kata
seorang bocah berusia 8 tahun. Ditempah selama 2-3 tahun
dalam penderitaan, tidak mengenali lagi jati dirinya, tidak tahu
asal usulnya, siapa orang tuanya, tetapi pada akhirnya mencoba
menerima kenyataan itu dengan tabah.
“Ach, sungguh aku kasihan kepadamu Koay Ji. Tetapi, jika ada
sesuatu yang engkau perlukan, engkau boleh datang menemuiku
…..”
“Terima kasih atas kebaikan Pangcu …….”
“Nach, aku membutuhkan pertolonganmu Koay Ji. Perpustakaan
Suhu dan yang menjadi kumpulan pusaka Perguruan Thian Cong
Pay sangat membutuhkan orang untuk selalu membersihkannya.
Jika engkau tidak merasa kelelahan, maka aku akan memintamu
setiap seminggu tiga atau empat hari engkau datang
membersihkan ruangan perpustakaan itu. Karena Empeh Gan
yang biasa melakukan tugas itu, baru beberapa hari lalu terserang
penyakit dan hingga sekarang masih belum bisa pulih kembali
keadaan fisiknya …… nach, aku ingin mengetahui apakah engkau
bersedia membantu Empeh Gan, Koay Ji …..”?
69
Mendengar kata “Perpustakaan”, minat dan perhatian Koay Ji
sudah langsung sangat-sangat tertarik. Maklum, sebelum berlatih
samadhi, maka membaca adalah pekerjaan yang paling
disukainya. Sekarang, selain membaca dia memiliki hobby baru,
yakni berlatih samadhi.Tetapi, yang hebat adalah, penderitaan
yang berkepanjangan telah mengolah seorang bocah Koay Ji
untuk tidak secara sembarangan dalam menunjukkan ekspressi
dan keinginan hatinya. Karena itu, sambil berusaha keras dalam
menahan keinginannya, dimana hatinya justru berdebar-debar
senang dan antusias, diapun berkata dengan cepat:
“Jika memang diperintahkan Pangcu, maka Koay Ji akan selalu
siap untuk melakukannya dengan sepenuh hati …..”
“Hmmmm, baiklah. Tetapi, ingat, jangan sampai ada dan tidak
boleh ada satupun buku yang berjumlah lebih dari seratusan itu
yang berpindah tempat atau apalagi hilang dari tempatnya.
Bahkan engkau sendiripun dilarang untuk membawa keluar dan
membaca kitab disana, kecuali jika engkau membuka dan
membacanya ketika membersihkannya dari debu. Engkau harus
mengingat peraturan ini Koay Ji, sebab jika tidak, maka aku harus
menghukummu ……”
70
“Pasti pesan dan larangan Pangcu akan Koay ji ingat dan
laksanakan …..”
“Baiklah bocah baik, engkau boleh mulai melakukannya hari ini
…….”
“Baik Pangcu ….. terima kasih atas kepercayaannya …… tapi
…….”
“Ada yang belum jelas Koay Ji ……”?
“Jam berapakah gerangan Koay Ji harus memulai pekerjaan ini
Pangcu …..”?
“Sebaiknya setelah engkau mengantarkan minuman pagi dan
berakhir sebelum makan siang, atau terserah engkaulah ……”
“Baik Pangcu …… enggg ……” nampak si bocak agak ragu-ragu
bertanya
“Ada lagi yang ingin engkau tanyakan ……”?
“Apakah …… apakah …….. Koay Ji dapat membaca-baca jika
sudah senggang di perpustakaan nenati, pangcu ….”?
71
“Hahahahahah, jika memang engkau senang, asal pekerjaanmu
sudah selesai, engkau boleh membaca disana Koay Ji, tetapi,
ingat, tidak boleh sampai lewat tengah hari …”
“Baiklah ….. baiklah pangcu, terima kasih banyak ….”
Perpustakaan milik Suhu dari Cu Pangcu ………… tentu
koleksinya banyak. “Ada seratusan, atau lebih malah, lumayan
banyak” pikir si bocah dengan sangat tertarik. Dan, dibawalah dia
memasuki ruangan yang tidak terlampau besar di samping
ruangan Pangcu. Mungkin luasnya hanyalah 3 kali 6 meter dan
semua sisinya terdapat buku-buku yang diatur dan ditata secara
sangat baik dan rapih.
Karena tugasnya adalah untuk membersihkan ruangan
perpustakaan, maka Koay Ji kemudian memilih membersihkan
buku-buku itu dari debu terlebih dahulu. Jenisnya bermacammacam,
tetapi paling banyak buku dan ulasan tentang agama
Budha. Bukunya besar-besar dan tebal-tebal. Saking banyaknya,
Koay Ji bingung memilih buku apa gerangan yang ingin dibacanya
saat itu. Setelah buku-buku keagamaan, kemudian terdapat juga
beberapa buku mengenai sastra, kisah-kisah kepahlawanan
masa lalu dan sejumlah kumpulan puisi dari dinasti-dinasti masa
silam. Kemudian, di rak buku yang lain, ada juga kumpulan buku72
buku mengenai kumpulan pengetahuan umum dan rak terakhir
adalah kumpulan buku-buku yang beragam macam. Tetapi,
bahasanya juga bermacam-macam, sebagian besar memakai
berbahasa Tionggoan, ada juga beberapa yang berbahasa
Sansekerta. Hanya dua bahasa itu yang dikenali Koay Ji,
selebihnya dia tak mampu mengenali bahasa-bahasa yang
digunakan, ada 3,4 buku. Selanjutnya ada sekitar 12 buku yang
semuanya berada di rak kategori campuran tersebut. Tetapi, tidak
ada sama sekali rak buku tentang ilmu silat disitu, dan ini
mengejutkan sekaligus membuat Koay Ji kecewa. Tetapi, bahwa
kegemarannya membaca menemukan saluran berupa buku,
maka semua yang dapat dia baca, mulai disantapnya sejak saat
itu.
Memang dmeikian adanya, dengan mendapatkan kesempatan
membaca demikian banyak buku, sudah merupakan kerjaan yang
sangat menyenangkan Koay Ji. Karena itu, bukannya 3-4 kali
seminggu, malah seminggu Koay Ji bisa berada di perpustakaan
5-6 kali seminggu, tetapi semua setelah dia melakukan tugasnya.
Cu Pangcu heran dan menggeleng-gelengkan kepala, tetapi tidak
keberatan dan malah sangat senang karena peprustakaan
menjadi sangat bersih. Dia belakangan tahu dan pernah
mengintip, dan menyaksikan si bocah aneh sedang dengan
73
lahapnya membaca buku-buku puisi dan kisah kepahlawanan
masa lalu. Di lain hari, dia melihat si bocah membaca kitab-kitab
keagamaan dan dilain waktu membaca buku mengenai
pengetahuan umum. “Benar benar bocah yang sangat aneh” pikir
sang Pangcu.
Selama 3 minggu berturut-turut, sudah cukup banyak buku yang
tuntas dibaca Koay Ji. Bukan sedikit info dan pengetahuan baru
yang dimilikinya. Sampai-sampai Khong Yan protes karena
waktunya berkurang untuk bermain, berlatih dan bertukar pikiran
dengan Koay Ji si bocah yang mengherankan dan semakin
banyak serta luas pengetahuannya itu. Tetapi, ketika mereka
bertemu, Koay Ji mampu kembali memberikan masukanmasukan
untuk latihannya dan membuat Khong Yan tidak jadi
ngambek dan marah. Usia mereka berdua memang sepantaran,
karena itu, keduanya merasa lebih cocok satu dengan yang lain.
Memasuki bulan ketiga bekerja di perpustakaan, Koay Ji kembali
bertugas sepertia biasanya membersihkan peprustakaan dan
buku-buku koleksi Suhu dari Cu Pangcu. Setelah selesai dengan
tugas membersihkan ruangan itu, iseng-sieng Koay Ji kemudian
mendatangi rak buku yang berisi buku-buku dalam beragam
bahasa. Sebuah buku berbahasa sansekerta yang sudah
lumayan tua dan sudah sangat kumal menarik perhatiannya dan
74
kemudian diambilnya secara sangat berhati-hati. Sampulnya tidak
ada yang menarik, hanya gambar samar sebuah gunung dengan
detail yang kabur dan tidak jelas. Jeleknya lagi, tidak ada tulisan
sama sekali di sampul buku tersebut. Karenanya, Koay Ji ogahogahan
dan tidak berminat untuk membacanya lebih jauh. Apalagi
berbahasa sansekerta. Maka perlahan-lahan diapun
mengembalikan buku berbahasa sansekerta itu ke raknya.
Tetapi, entah bagaimana, tiba-tiba muncul keinginannya untuk
membuka satu atau dua halaman buku tersebut. Maka diambilnya
kembali buku itu dan kemudian membukanya perlahan-lahan. Di
halaman satu hanya ada tulisan singkat, nampaknya nama dari
penulis buku, tertulis dalam bahasa Sansekerta: Pat-Bin-Ling-
Long (delapan wajah serba cerdik). Nama ini menarik perhatian
Koay Ji, karenanya dia melanjutkan ke halaman selanjutnya dan
disana tertulis: “Pendalaman Pat Bin Ling Long atas ilmu-ilmu
filasafat dan keagamaan di Thian Tok, Tionggoan, Persia dan
Tibet ….”. Dan ini membuat Koay Ji menjadi sedikit lebih tertarik,
karena buku-buku keagamaan Budha yang tebal-tebal sudah
habis dilahapnya. Memang, sedikitpun dia kurang paham, tetapi
entah mengapa, matanya mampu melahap, karena memang
kegemarannya melihat susunan-susunan huruf yang berbaris
rapih itu.
75
Seperti hari-hari sebelumnya, Koay Ji yang memang begitu gemar
membaca, kali inipun dibiarkan saja oleh Cu Pangcu. Apalagi,
karena kegemarannya itu menurut Cu Pangcu memang positif.
Selain itu, dia sudah yakin sekali jika tidak ada lagi buku berarti
dan penting di perpustakaan itu, hanya buku-buku yang tak
bermanfaat untuk latihan silat. Karena buku-buku rahasia
Suhunya sudah disimpan di tempat khusus dan tidak dapat
ditemukan siapapun. Tak pernah disangkanya jika masih ada satu
buku kumal yang tidak menarik perhatian yang justru harganya
tidak dapat ditakar. Mungkin karena ditulis dalam bahasa
sansekerta sehingga tidak menyolok dan luput dari
pengetahuannya. Dan mungkin juga, karena adalah jodoh Koay
Ji untuk membaca dan menguasai pengetahuan dan ilmu dalam
buku itu.
Bacaan selanjutnya membuat Koay Ji berdebar-debar: “Puluhan
tahun mengembara ke Tionggoan, Tibet dan Persia, beragam
ilmu yang ditemukan, tetapi sayang, tidak pernah berjodoh dan
sanggup melatih Pouw Tee Pwe Yap Sian Kang dari Thian Tok
atau di Tionggoan disebut orang TOA PAN YO HIAN KONG
(Tenaga Dalam Mujijat). Ilmu kalangan Budha ini sangat mujijat
tetapi berjodoh dengan manusia tertentu saja. Tetapi, untuk
mencapai tingkat yang sederajat dengan Ilmu Mujijat itu, maka
76
sengaja kuciptakan jalan yang lain, dan Kitab ini adalah jalan yang
lain itu 5 JALAN RAHASIA setelah meneliti filasafat dan agamaagama
di tiga tempat itu ...........”
Bukan main kagetnya Koay Ji. Dia sudah mulai belajar Pouw Te
Pwe Yap Sian Kang sebuah kitab berbahasa Sansekerta yang
justru disebutkan kitab aneh di tangannya ini. Jika ada tandingan
ilmu itu, maka Kitab ini menjadi petunjuk kesana. Bagaimana
Koay Ji si bocah kecil tidak terkejut? Maka diapun mencari posisi
baca yang nyaman serta menyenangkannya dan melanjutkan
membaca di halaman selanjutnya, nampaknya adalah sejenis
Daftar Isi Kitab tersebut: ”Bagian Pertama – Melatih Semangat
Mencapai Kesempurnaan; Bagian Kedua – Mengenali Rahasia
Jalan Darah Manusia; Bagian Ketiga – Rahasia Gerakan
Manusia; Bagian Keempat – Rahasia Ilmu Sihir dan Ilmu Hitam;
Bagian Kelima – Rahasia Delapan Wajah ......”
Tetapi, alangkah sangat kecewanya Koay Ji ketika ternyata
Bagian Pertama, Melatih Semangat Mencapai Kesempurnaan
sudah tidak berada di tempatnya lagi. Entah mengapa bagian
tersebut justru sudah tidak berada di tempatnya dan ada bekas
sobekan yang artinya, secara paksa memang sudah dilepaskan
dari tempatnya. Ketika memeriksa bagian selanjutnya, kecuali
bagian pertama yang sudah dicopot paksa, maka selebihnya
77
tetap lengkap. Tetapi, judul RAHASIA MENCAPAI
KESEMPURNAAN memang menggodanya, sayangnya bagian
tersebut justru sudah copot dan entah berada di tangan siapa.
Kekecewaan Koay Ji nyaris membuatnya membatalkan membaca
dan mempelajari Kitab Pusaka tersebut.
Tapi, ketika dia membaca Bagian Kedua, Rahasia Jalan Darah
Manusia, dia kembali tertarik karena pengetahuan barunya
membuat dia menjadi semakin jauh lebih lengkap dan semakin
lebih paham dengan buku bacaan yang dibacanya dari Ang
Sinshe. Bukan hanya itu, bagian terakhir dari bagian kedua, justru
mengajarkan ilmu totok berdasarkan info rahasia jalan darah
manusia tersebut. Ilmu totok itu kelak ketika Koay Ji
menguasainya secara sempurna dinamakannya Ci Liong Ciu hoat
atau "Ilmu Mengekang Naga”. Padahal, dalam Kitab Pusaka aneh
itu, sama sekali tidak ada nama atas ilmu totok yang luar biasa
itu. Karena penjelasannya menggelikan bagi Koay Ji si bocah,
yakni membuat orang tertawa seharian, membuat seseorang
kehilangan tenaga murni, membuat seseorang diam bagai
patung, dan seterusnya. Tetapi, alangkah kagetnya Koay Ji ketika
membaca, bahwa untuk menguasai ilmu totok itu, dia butuh
tenaga dalam, dan justru takaran tenaga dalam diatur secara
detail dalam buku itu. Ada beragam jenis totokan, puluhan bahkan
78
jumlahnya, dan takaran tenaga, bagaimana menotok, jalan darah
mana yang ditotok, kombinasi jalan darah mana yang ditotok
bersamaan, diajarkan secara detai. Karena belum memiliki
iweekang, maka Koay Ji secara cerdik menghafalkan dan
menanamkannya dalam ingatannya, sehingga setiap
membutuhkannya dia mampu menghadirkannya kembali.
Begitulah, selama seminggu berturut-turut, Koay Ji belajar dan
memahamkan isi kitab tersebut dengan sangat tekunnya. Sampai
suatu hari, ketika dia sedang mendalami dan menghafalkan
Bagian Keempat, Rahasia Ilmu Sihir dan Ilmu Hitam, tiba-tiba
pintu terbuka dan Cu Pangcu memasuki Ruang Perpustakaan itu.
Cu Pangcu tidak terkejut melihat si bocah aneh duduk dilantai
dengan wajah melotot, tetapi ketika dilihatnya buku yang dibaca
berbahasa Sansekerta yang tidak dipahaminya, diapun bertanya:
”Apakah engkau tertarik dengan buku itu Koay Ji .........”?
”Ech, ach ..... iya ...... iya Pangcu ...... buku ini sungguh menarik
hati .....” ujar Koay Ji dengan gugup. Untungnya Cu Pangcu tidak
mempersoalkan itu. Dalam pikiran Cu Pangcu, kegugupan Koay
Ji adalah karena ketahuan membaca sambil duduk di lantai.
Padahal, hal itu sudah lama diketahui Cu Pangcu yang senang
saja dengan keadaan itu, karena perpustakaan itu sekarang jauh
79
lebih bersih dan rapih ketimbang masih ditangani petugas
sebelumnya yang masih sakit.
”Memangnya buku apa yang engkau senangi itu Koay Ji .....”?
”Buku mengenai cerita-cerita pahlawan Pangcu ......” suara Koay
Ji bergetar karena dia memang tidak terbiasa berbohong.
”Ochhhh, baguslah jika memang demikian. Jika engkau mau,
engkau boleh memiliki kitab itu, engkau boleh membawanya
pulang dan membacanya di rumah” kalimat Cu Pangcu yang
demikian dermawan ini membuat Koay Ji terperanjat. Tapi
dengan cepat dia tahu diri dan kemudian berkata:
”terima kasih, terima kasih banyak Pangcu ......”
Dan begitulah, ketika minta diri sore harinya, diapun meminta ijin
untuk membawa kitab itu dan akan membacanya di rumah. Cu
Pangcu memeriksa kitab itu sejenak, tetapi melihat bahasanya
adalah bahasa asing, maka diapun mengijinkan Koay Ji
membawanya pulang. Untung Cu Pangcu memang sedikit ”malas
baca”, dia tidak mengetahui isi kitab itu, juga tidak memeriksanya
lebih jauh. Karena itu, dengan enteng, dalam gaya memberi
”kado” bagi kerajinan Koay Ji dalam membersihkan ruangan,
diapun berkata ringan:
80
”Bawalah ke kamarmu untuk membacanya jika engkau mau ....”
Dan ini membuat Koay Ji dengan leluasa setelah setiap hari
membaca dan mendalami buku itu. Tidak heran sebulan berikut
Koay Ji sudah memahami seluruhnya, sudah menghafalkannya
dan mencatatnya di kepalanya. Dia sudah menguasai bagian
kedua dan mengenali semua jalan darah manusia dan mengerti
rahasia ilmu totok yang diberinya nama khusus karena memang
belum ada namanya. Pelajaran ini berhasil cepat dikuasainya
karena memang dia sudah memiliki dasar selama bekerja
bersama dengan Ang Sinshe dan bahkan sudah menguasai
dalam kepalanya isi kitab pertabiban milik Ang Sinshe. Karena itu,
dengan tambahan praktek, maka Koay Ji bakalan menjadi
seorang tabib yang lebih mumpuni ketimbang pengasuh yang
sangat mengasihinya seperti anak sendiri itu. Tanpa disadari Cu
Pangcu, dia memberi kesempatan si anak ajaib untuk
berkembang menjadi tabib yang sangat hebat. Sesuatu yang
semakin menambah kemisteriusan dan keanehan si bocah.
Bagian ketiga mengenai Rahasia Gerakan Manusia adalah
bagian yang lebih rumit, lebih detail. Meski sudah menghafal dan
menyimpannya dalam kepala, tetapi banyak hal yang masih
belum dimengerti oleh Koay Ji. Terutama karena pengetahuan itu
memuat kecenderungan bergerak, bersilat, menghindar,
81
memukul dan meloncat dalam atau dari beberapa Negara
berbeda. Kecenderungan tersebut yang coba ditelaah secara
detail oleh Pat Bin Ling Long guna mencari polanya, dan ini yang
sulit untuk dapat dipahami dengan segera oleh Koay Ji. Tetapi,
Ilmu ciptaan Pat Bin Ling Long berdasarkan pola gerakan
tersebut, justru dengan cepat dikuasai dan dapat segera
dipraktekkan oleh Koay Ji. Meski demikian, ada dua ilmu gerakan
yang diciptakan Pat Bin Ling Long dengan masih tanpa nama, dan
dengan senang hati Koay Ji memberi nama sesuai dengan
seleranya sendiri. Ilmu langkah yang sangat digemarinya
dinamainya Ilmu Langkah Thian Liong Pat Pian- atau "Naga langit
Berubah Delapan Kali" sedangkan, ilmu ginkang dinamakannya
Cian Liong Seng Thian" atau, "Naga Lompat Naik Kelangit.
Secara teori, ilmu ginkang sudah dikuasainya tetapi masih belum
dapat dilatih dan digunakannya karena membutuhkan daya dan
kekuatan iweekang. Padahal, untuk saat itu, kekuatan
iweekangnya masih sangat dasar dan bahkan masih dilarang
SUHUnya untuk dilatih. Tetapi, ilmu langkah Naga Langit Berubah
Delapan Kali, justru dengan senang dipahamkannya dan
dimainkannya sampai sangat hafal dengan rincian perubahan
yang memang dijelaskan tegas dalam kitab aneh dan mujijat itu.
82
Bagian mengenai Ilmu Sihir dan Ilmu Hitam masih belum
dipahaminya, meski rahasia dan kuncinya sudah disimpannya di
kepala. Tetapi memasuki Bagian Kelima, kembali Koay Ji
menemukan keasyikan sendiri. Ini adalah yang salah satu yang
paling disukai dan digemari oleh Koay Ji. Dengan cepat dia
menguasai trik merubah wajah, meski dia belum mampu
mewujudkannya karena membutuhkan karet khusus dan bahan
lain yang butuh waktu mengumpulkannya. Tetapi satu hal yang
pasti, perlahan namun pasti Koay Ji mulai mengumpulkan
perlahan-lahan bahannya dan memang dia berkeinginan keras
mewujudkannya. Genap empat bulan, dia menamatkan
menghafal dan memahamkan Kitab Mujijat itu, bahkan
mematrikannya dalam kepala. Yang hebat dan kemudian banyak
membantu Khong Yan adalah, pemahamannya atas ilmu langkah
dan pemahamannya atas kecenderungan pergerakan manusia
yang menuntunya memahami ilmu silat secara lebih
komprehensif. Karena dengan pengetahuannya atas
kecenderungan manusia bergerak, pola-pola gerakan dan
alternatif gerakan manusia, maka dia mempraktekkannya kepada
Khong Yan.
Setelah sekitar 4 bulan membaca dan melatih diri sesuai dengan
Kitab Aneh itu, akhirnya Koay Ji merasa sudah cukup memahami
83
dan menghafalkannya. Karena itu, diapun akhirnya
mengembalikan kitab kumal itu ke perpustakaan yang tentu saja
atas sepengetahuan Koay Ji. Selama 4-6 bulan terakhir, sungguh
banyak pengalaman dan banyak ilmu yang dipahamkan si bocah
aneh. Ilmu-ilmu mujijat yang tidak disadari Koay Ji dan sangat
diidamkan banyak tokoh silat kelas atas di Tionggoan. Tetapi,
anak yang polos itu, tidak tahu dan tidak mengerti arti dari
pemahaman dan hafalannya atas buku kumal berbahasa
sansekerta tersebut. Entahlah jika Suhu dari Cu Pangcu
menguasai atau mengerti dengan isi buku tersebut.
Di usianya yang memasuki 8 tahunan, Koay Ji sudah memiliki
landasan pemahaman atas gerakan manusia. Baik gerakan kaki
maupun gerakan tangan. Bahkan si bocah aneh itu dapat
merangkai sendiri kemungkinan kemana gerak kaki atau tangan
manusia dan merumuskannya menjadi jurus baru. Suatu saat,
keduanya, Khong Yan dan juga Koay Ji sedang bermain-main
sambil bertukar ilmu silat di dekat kebun obat milik Ang Sinshe.
Tengah keduanya asyik bermain sambil berlatih ilmu silat, tibatiba
keduanya mendengar pekikan seekor induk anak ayam yang
berkaok-kaok sambil mencakar-cakar kedepan. Rupanya, induk
ayam tersebut sedang menakut-nakuti seekor ular yang mencoba
memangsa salah satu anak ayam.
84
Sontak Khong Yan dan Koay Ji menengok dan melihat
pertempuran ganjil dan aneh tersebut. Induk ayam yang terus
berkaok-kaok dan melompat-lompat menghindar dan menyerang
si ular hitam kehijauan yang panjangnya sekitar semeter dan
besarnya setengah lengan orang dewasa. Keduanya, Khong Yan
maupun Koay Ji melihat dan mengamati proses pertarungan
tersebut sampai akhirnya si ular berlalu setelah lelah dan gagal
bertarung dengan induk anak ayam selama hampir 15 menit.
Setelah si ular berlalu, Khong Yan kaget melihat Koay Ji yang
masih terus termenung dan sepertinya sangat asyik dengan
renungannya. Khong Yan membiarkannya sampai kemudian
Koay Ji yang sadar sendiri sambil berteriak kegirangan:
”Khong Yan, kita bisa meniru pertempuran ayam dan ular dan
menciptakan jurus-jurus baru ......” jerit Koay Ji kegirangan.
”Koay Ji, apa .... apa maksudmu ....”?
”Khong Yan, tidakkah engkau melihat bagaimana induk ayam itu
secara hebat bertarung untuk melindungi anak anaknya tadi? Dia
bertarung dengan berusaha menyembunyikan anak-anaknya di
belakangnya dan berkelahi melawan ular itu tadi. Kita mestinya
dapat meniru pertarungan mereka ........”
85
Kaget Khong Yan, tetapi dia tidak tahu apa dan bagaimana
menciptakan apa yang dimaksud oleh Koay ji. Dia tidak tahu jika
jalan pikiran Koay Ji memang sedang dipenuhi oleh ”rahasia
gerakan manusia” yang dipelajarinya dari Kitab Mujijat. Karena
itu, Khong Yan memandangi saja ketika Koay Ji merangkai
gerakan pertarungan tadi dalam jurus-jurus yang kemudian
terbentuk menjadi sebuah ilmu. Gerakan-gerakannya bukan
hanya mengambil patokan gerakan paruh dan cakar ayam, tetapi
juga gerakan seekor ular yang kemudian ditambahi Koay Ji
dengan gerakan rahasia yang sudah dipahaminya dan
dikuasainya. Kurang lebih dua jam kemudian bekerja, mengolah,
menambahan dan menggabungkan, akhirnya Koay Ji lengkap
merangkai 7 jurus berdasarkan gerak tarung ayam dan ular.
”Khong Yan, kita namakan apa ilmu ini ......”? tanya si bocah aneh
setelah selesai mempraktekkan dan memperlihatkan 7 jurus itu
kepada Khong Yan. Khong Yan selain kaget dan takjub dengan
karya Koay Ji, juga tertarik melihat gerak-gerik jurus yang
lumayan hebat dimatanya, bahkan lebih indah dari ilmu-ilmu yang
dipelajarinya dari orang tuanya. Karena itu, dia berkata:
”Koay Ji, ajari aku dulu ilmu tersebut .....”
”Baik, mari kuajarkan .....”
86
Maka kedua anak itupun kembali berlatih sampai satu jam
kedepan hingga akhirnya Khong Yan paham dan mulai mengerti
dan menguasai ilmu tersebut.
”Nama apa yang tepat Khong Yan .....”?
”Sebentar .......” bisik Khong Yan dan bertingkah bagai orang
dewasa yang sedang berpikir keras mencari jawaban atas satu
persoalan.
”Bagaimana kalau Ilmu Ayam Mencakar Ular ....”? tawar Koay Ji
”Kurang gagah nama itu ......” kritik Khong Yan
”Habis, nama apa sebaiknya ....”?
”Bagaimana kalau kita namakan Pukulan Cakar Ayam Sakti .....”?
tawar Khong Yan setelah berpikir beberapa lama. Aneh melihat
kedua anak kecil membahas dan berdiskusi soal jurus dan ilmu
silat, tetapi begitulah keadaan mereka berdua pada saat diskusi
ilmu baru itu.
”Hmmm, boleh juga ...... karena kan si ular akhirnya melarikan diri.
Boleh, kita namakan seperti itu saja, Pukulan Cakar Ayam Sakti
.....”
87
Keduanya bermain dan berlatih sampai sore hari sampai benarbenar
sempurna mereka melatih ilmu baru yang terdiri dari 7 buah
jurus tersebut. Menjelang malam, baru mereka pulang untuk
beristirahat. Kegembiraan mereka berubah menjadi kekhawatiran
dan kehebohan ketika keesokan harinya Cu Yu Hwi dan Cu
Pangcu memanggil mereka berdua. Bukan apa-apa, Cu Pangcu
ketika melihat gaya dan gerakan ilmu ciptaan kedua anak itu
tertegun dan kaget setengah mati. Memang, Ilmu tersebut
tidaklah dapat disebut sakti dan hebat bukan main, tetapi
mengingat yang menciptakan adalah 2 orang anak berusia 8
tahunan, membuatnya kaget tak terkira. Bagaimana mungkin
mereka mampu melakukannya?
”Koay Ji, lohu sudah mendengar semua dari Yan ji bahwa kalian
berdua kemaren menyaksikan pertarungan hebat antara seekor
ayam melawan seekor ular. Dan setelah pertarungan itu selesai,
kalian berdua tetapi lebih banyak engkau, kemudian merangkai
jurus-jurus serangan dan sekaligus jurus-jurus menghindar
dengan dasar pertarungan ayam dan ular itu. Apakah memang
benar-benar demikian kisah yang sesungguhnya terjadi Koay Ji
.......”?
Koay Ji yang masih kecil dan polos dengan wajah kanakkanaknya
mengangguk dan berkata dengan cepat:
88
”Benar Pangcu .... apakah, ada yang salah dengan yang kami
lakukan ...”?
Jawaban yang membuat Cu Pangcu terkejut. Bukan hanya dia,
bahkan putrinya Yu Hwi juga terkejut setengah mati.
”Bagaimana caranya engkau dan Khong Yan merangkai jurusjurus
silat itu ...”? kembali Cu Pangcu bertanya penuh keheranan
”Sederhana saja Pangcu ....... kami mengingat-ingat gerakan
ayam dan ular dan meniru gerakan mereka dan mencampurnya
dengan gerakan-gerakan ilmu silat dasar dan gerakan dasar
Thian Cong Pay. Begitu saja Pangcu ......”
”Tapi, coba engkau mainkan kembali jurus kelima, keenam dan
ketujuh .... aku akan menunjukkan beberapa hal yang aneh .....”
”Baik Pangcu ......”
Dengan menggagah-gagahkan dirinya Koay Ji melangkah maju
dan kemudian bergerak atau bersilat sesuai dengan ilmu
ciptaannya kemaren. Sebetul-betulnya, adalah dia sendiri yang
menciptakannya dan hanya beberapa gerakan belaka yang
berasal dari Khong Yan. Tetapi, tetap dia memaksa Khong Yan
mengakui bahwa ilmu itu adalah ciptaan mereka berdua.
89
Dan Cu Pangcu serta Cu Yu Hwi melihat betapa memang gerakan
Koay Ji masih lebih gesit dibandingkan Khong Yan, tetapi sayang
sekali tidak cukup bertenaga dan masih lemah. Memasuki jurus
kelima, keenam dan ketujuh, semakin jelas jika Koay Ji mampu
melakukannya secara lebih baik dan sempurna dibandingkan
Khong Yan. Setelah usai, barulah Koay Ji berkata:
”Sudah selesai Pangcu ..... adakah sesuatu yang keliru atau sesat
disana ....”?
”Bukan keliru atau sesat Koay Ji, tetapi jurus keenam terutama,
dan juga jurus ketujuh ada beberapa gerakan yang masih asing
bagiku. Entah bagaimana engkau mampu merangkai dan
menemukannya ....”?
”Pangcu, di jurus keenam, aku mengingat gerakan aneh dari
induk ayam ketika melihat akhirnya si ular melarikan diri.
Bukannya mengejar, induk ayam itu justru berbalik dan menjagai
anak-anaknya ........ sementara di jurus ketujuh, ilham itu datang
dari cara induk ayam melindungi anak-anaknya dengan
menempatkan semua anaknya dibawah atau dibalik kedua
sayapnya sambil berjongkok .......”
90
Penjelasan yang terasa aneh tetapi ada sisi masuk akalnya
membuat Cu Pangcu tak dapat lagi bersuara. Tentu saja Koay ji
tidak membuka rahasia bahwa gerakan itu sebenarnya berasal
dari Persia dan memang kurang umum dilakukan di Tionggoan.
Kebetulan, Koay Ji melihat persamaannya dengan gerakangerakan
aneh dan tak lazim dari si induk ayam kemaren. Jawaban
telak yang susah diragukan itu membuat Pangcu dan anaknya
terdiam.
Sejak saat itu Khong Yan semakin rajin berlatih dan bermain
dengan Koay Ji, bahkan tanpa disadari Khong Yan, dia mulai
menerima dasar-dasar gerak Thian Liong Pat Pian yang sudah
dikuasai Koay Ji. Tetapi, karena cerdik dan tidak mau ketahuan
Pangcu dan anaknya, maka Koay Ji bersikap hati-hati. Apalagi dia
tahu dan sadar bahwa tindak tanduknya sekarang, sepertinya
sedang diawasi secara sangat ketat oleh Cu Pangcu atau juga
istrinya dan anaknya Yu Hwi. Koay Ji memang masih kanakkanak,
tetapi kesendirian dan penderitaannya membuatnya lebih
tabah dan lebih dewasa dari umur semestinya. Ini yang
membuatnya lebih berhati-hati.
Tetapi selain Cu Pangcu, Ang Sinshe juga merasa heran.
Beberapa petunjuk dan saran Koay Ji sungguh-sungguh
membuatnya keheranan karena beberapa penyakit dan formula
91
obat yang dulunya susah dia pecahkan, kini dapat dipecahkannya
dengan sangat mudahnya. Saran-saran terkait aliran darah dan
jalan darah manusia menjadi semakin lengkap dikuasainya dan
diapun mengembangkan ilmu pengobatannya dengan makin
maju dan semakin baik. Dan semau itu, harus diakuinya,
dipelajarinya atau tepatnya diketahuinya berkat petunjuk-petunjuk
yang dikemukakan Koay Ji dalam kepolosan seorang anak kecil.
Bukan cuma itu, setelah ketahuan Pangcu, sekarang ini Koay Ji
jadi tidak terlalu sering berlatih Ilmu Silat dan kini Koay Ji lebih
mendalami ilmu pertabiban. Kini bahkan dia sudah mau turun ikut
membantu meracik obat, memeriksa pasien dan kemudian
menulis resep obat.
Memang, tidak selalu, hanya sesekali Koay Ji memberinya
nasehat atau masukan, tapi nasehat dan masukan itu berharga
sama besar dengan nasehat seorang ahli atau seorang guru.
Karena nasehat itu justru mengenai jalan darah, karakternya dan
pengaruhnya bagi kesehatan. Ang Sinshe cepat memahaminya
dan menjadi sangat heran. Tetapi, sejauh itu dia tidak
menemukan ada yang ganjil dari Koay Ji. Satu yang dia tahu dan
sudah yakin benar, Koay Ji ini memang anak yang pintar luar
biasa dan kepintarannya membuat dia terlihat aneh. Seperti
memberi dia masukan dan saran dalam hal pengobatan,
92
termasuk pengobatan menggunakan jarum. Di bidang ini, dia
boleh dibilang maju sangat jauh karena saran-saran serta
masukan yang diperolehnya dari Koay ji. Dia bingung jadinya,
siapa murid dan siapa guru antara mereka berdua dalam hal
pengobatan. Yang pasti, mereka berdua semakin maju ilmu
pengobatannya.
Setahun kembali berlalu. Kini Koay Ji memasuki usia kesembilan.
Latihan samadhi dilakukan tak putus-putusnya dan kini
dia mampu melakukan sepanjang malam tanpa henti. Koay Ji
tidak sadar jika tubuhnya kini sudah normal, meski masih
membiru, tetapi keseimbangan tinggi dan panjang kaki dan
tangan sebelah kiri dan kanan, tidak lagi seperti dulu. Sejak 6
bulan terakhir, dia tidak lagi mengalami kondisi dimana tangan
dan kaki sebelah kiri lebih panjang dari yang sebelah kanan setiap
kali dia mengalami serangan panas dan dingin tersebut.
Serangan itu sendiri masih tetap rajin datang setiap menjelang
akhir bulan, tetapi tidak lagi menjadi lebih anjang lebih dari sehari
semalam. Hanya, memang rasa panas dan rasa dingin terasa
semakin jauh jangkauannya, setelah lewat setahun rasa panas
atau dingin yang terpancar bahkan sudah sampai menjangkau 2,5
meter.
93
Jika dia mengalami serangan, maka kamar tempat tidurnya
dikosongkan dan dia diposisikan di tengah ruangan. Tapi toch,
tetap saja keesokan harinya, ruangannya itu penuh dengan
bongkahan es, atau dinding ruangan gosong terbakar. Begitulah
keadaan Koay Ji setelah kembali lewat setahun. Bahkan waktu
setahun lewat tanpa dia sadari lagi. Yang dia tahu, tiba-tiba di
mejanya ketika malam sudah ada lagi sehelai lembar kertas.
Dengan tulisan diatasnya tentu saja.
Koay Ji
Aku sudah mengikuti dan mendengar pengalamanmu selama
hampir setahun ini. Sudah tiba saatnya engkau melatih siulian di
luar ruangan. Karena itu, mulai besok malam, engkau harus
melakukan samadhi di luar ruangan dan menjelang pagi engkau
kembali ke rumah. Tetapi ingat, jangan sekali-sekali
meninggalkan jejakmu ..... tempatmu nanti sudah kusiapkan di
luar sana ......
Benar saja, keesokan harinya, setelah menyelesaikan seluruh
pekerjaannya, Koay Ji minta diri untuk istirahat. Bukannya
beristirahat, anak itu justru keluar lewat jendela dan dalam
tuntutan suara yang dianggap SUHUNYA dan terus melangkah
kearah hutan. Sesungguhnya, area hutan di balik Kebun Obat
94
Ang Sinshe adalah daerah terlarang bagi seluruh penghuni Thian
Cong Pay, terutama yang daerah sebelah kanan. Tapi, justru
kesana Koay Ji diarahkan. Dan benar saja, berjalan kurang lebih
seratus meter kedalam hutan, dia menemukan sebuah tempat
yang cukup terlindung, sejenis goa tetapi bukan gua. Hanya
cekukan alam yang agak kedalam dan buntu. Tempat itu
kemudian tertutup oleh daun-daun yang cukup lebat dan
tersembunyilah Koay Ji dari pandangan siapapun.
”Koay Ji, tahapan kedua ini adalah tahapan untuk memperkuat
tubuhmu. Jika engkau alpa, maka bencana menantimu. Jika
engkau sanggup dan berusaha keras, maka penyakit rasa panas
dan dingin dalam tubuhmu, akan dapat berubah menjadi kekuatan
yang maha hebat. Karena itu, selama beberapa bulan kedepan,
dan bahkan sebisa yang engkau mampu, berusahalah untuk
menyerap energy dari luar dan perkuat tubuhmu. Engkau boleh
mengikuti cara yang pertama di tahun pertama, semua energy
yang engkau serap, usahakan untuk engkau sebarkan dan
resapkan ke setiap sendi organ tubuh bagian dalam. Selain itu,
mulai besok, Ang Sinshe akan menyiapkan ramuan khusus yang
harus engkau minum setiap pagi. Terakhir, mengenai kitab
pusaka yang engkau latih itu, selain ilmu langkah dan rahasia
gerakan manusia, jangan dulu engkau latihkan. Engkau boleh
95
mengendapkannya, kelak engkau dapat melatihnya menjadi ilmu
mujijat ketika engkau sudah mampu menguasai iweekang yang
memadai untuk menggerakkannya ........ sekali lagi, ingat, engkau
harus selalu bersemadhi di tempat ini dan menyerap energy dari
luar untuk memperkuat tubuhmu. Aku akan meninggalkanmu
selama setahun, dan kelak akan menemuimu lagi. Catat sekali
lagi, jangan mencoba melatih yang lainnya ....”
Dan suara itupun sirap, tetapi Koay Ji yakin dia masih berada
bersama ”Suhunya” itu. Dan keyakinannya benar ketika
pikirannya bercabang, dia ditegur dan diingatkan oleh suara
tersebut. Karena itu, diapun akhirnya tenggelam dalam samadhi
dan samar samar antara sadar dan tidak sadar, dia memperoleh
bimbingan khusus bagaimana menyerap energy dari luar,
bagaimana membarukan kedalam tubuhnya dan kemudian
memperkuat organ-organ dalam tubuhnya. Dan sampai pagi Koay
Ji masih belum paham sepenuhnya. Seminggu setelah itu, baru
dia lancar dan mampu melakukan sendiri tanpa bantuan ”Suhu”
tersebut.
Yang tidak dan kurang diketahui Koay Ji adalah, pertarungan dua
kekuatan dahsyat dalam tubuhnya, sebenarnya berarti maut bagi
siapapun. Tetapi, dengan obat MUJIJAT dari Bu Te Hwesio, dia
masih terus dapat bertahan, tetapi kedua kekuatan mujijat yang
96
mengeram dalam tubuhnya juga semakin bertambah dahsyat.
Pertumbuhannya boleh dibilang berlipat-lipat karena obat mujijat
yang diberikan Bu Te Hwesio. Dan adalah bantuan obat2an
mujijat dari Ang Sinshe yang membuatnya mampu terus bertahan
meski pengaruh dan kekuatan kedua tenaga dahsyat dalam
tubuhnya bertambah hebat dari waktu kewaktu. Dan sekarang,
selain dengan obat-obatan mujijat, diapun sudah harus mulai
membantu pengobatan dari dalam tubuhnya. Dan itu jalan satusatunya
sesuai dengan petunjuk Suhu tersembunyi yang belum
pernah dikenalnya. Itu juga sebabnya Koay Ji mulai berusaha
sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain. Penderitaannya
membuatnya mulai mencari jalan sendiri agar penyakitnya dapat
diredakan dan dapat tumbuh kembali secara normal.
Semakin menyadari keadaan tubuhnya, semakin Koay Ji
bertekun berlatih siulian, ilmu silat dan ilmu pertabiban. Kini,
selain siulian malam hari, berlatih bersama Khong Yan, belajar
ilmu pertabiban dari Ang Sinshe dan membersihkan perpustakaan
dan membaca buku, tak ada lagi kegiatan lain Koay Ji. Buku-buku
di perpustakaan sudah makin banyak yang disantapnya, tinggal
beberapa buku belaka yang tidak dibaca anak itu. Buku yang
dipinjamkan Cu Pangcu dan berisi pelajaran rahasia dalam
bahasa Sansekerta, juga sudah dikembalikannya ke
97
perpustakaan dengan memberitahu kepada Cu Pangcu.
Sementara persahabatannya dengan Khong Yan justru semakin
kental. Suatu saat Koay Ji memutuskan menurunkan Ilmu
Langkah Thian Liong pat pian- atau "Naga langit berubah delapan
kali secara lengkap. Tetapi, sebelumnya, mereka bersepakat
untuk satu hal penting:
“Khong Yan …….. aku menguasai sebuah ilmu langkah yang
sangat aneh, petunjuk seorang yang belum pernah bertemu
denganku. Aku ingin menurunkannya kepadamu, tapi terlebih
dahulu, kuminta engkau agar bersedia untuk terus merahasiakan
jejak darimana ilmu itu berasal sampai kapanpun …”
“Apakah ilmu itu hebat Koay Ji …..”? Tanya Khong Yan penasaran
“Kurasa sangat hebat, semua Ilmu silat yang kulihat dimainkan
Kakekmu dan Ibumu masih belum akan mampu mengejarnya jika
dilakukan dan dikuasai secara sempurna. Percayalah Khong Yan
….”
“Masakan sehebat itu Koay ji ….”? Antara percaya dan tidak
percaya Khong Yan, tetapi pengalamannya dengan Koay ji
membuktikan jika perkataan Koay Ji tidak ada yang asalan dan
tidak terbukti benar.
98
“Aku sangat yakin Khong Yan ….. engkau boleh mengejarku
dengan semua ilmu yang engkau kuasai dan aku hanya akan
melangkah sesuai ilmu tersebut …….”
”Baik, mari kita berlatih ......”
Keduanyapun segera bersilat dengan Khong Yan mencecar Koay
Ji. Tetapi, benar saja, dengan ringan, cepat dan sebat, Koay Ji
menghindar, melompat dan bergerak sehingga semua serangan
Khong Yan menjadi sia-sia. Sampai 5 ilmu digunakan Khong Yan
tetapi tetap saja dia tidak berhasil menyentuh dan menyudutkan
Koay Ji. Dan setelah merasa lelah, diapun akhirnya berhenti dan
memandang heran Koay Ji yang tidak terlihat keletihan
sedikitpun. Diapun sangat kaget dan heran, benarkah ilmu
langkah Koay ji sehebat itu?
”Aku tidak menggunakan banyak tenaga Khong Yan, beda
denganmu yang harus banyak mengerahkan tenaga. Ilmu
langkah ini adalah bagian pertahanan dan menggunakannya tidak
butuh banyak tenaga. Turut pengamatanku, jika aku terus
melangkah seperti ini menghadapi ilmu-ilmu yang kusaksikan,
maka serangan kong-kong dan ibumupun tidak akan mampu
memerangkapku. Tapi, itu dugaanku belaka, buktinya terus
terang belum dapat kuberikan ......”
99
”Ach, jika sehebat itu, engkau ajari aku Koay Ji .....”
”Khong Yan ..... aku memang akan mengajarimu untuk bagian
pertahanan ini. Bahkan, aku harap engkau mau menurunkannya
kepada teman-teman kita lainnya. Karena mempelajarinya bukan
sesuatu yang mudah, maka biarlah untuk tahap awal ini engkau
mempelajari bagian pertahanannya dulu. Tapi ingat, engkau
harus berjanji tidak akan menggunakannya jika sangat terpaksa
.....”
”Baiklah, aku akan mengikuti permintaanmu Koay ji .....”
Begitulah, sejak saat itu Koay Ji mengajar dan melatih Khong Yan
dengan ilmu langkah mujijatnya. Koay Ji sendiri tak pernah
menyangka jika ilmu tersebut adalah satu ilmu yang sangat
mujijat. Melulu ilmu langkah itu saja, sudah luar biasa hebatnya,
apalagi jika kelak dikombinasikan untuk menyerang. Bahkan
Khong Yan juga tidak pernah menduga jika dia sedang melatih
sebuah ilmu yang kelak akan mengangkat namanya sangat
harum di dunia persilatan. Berbeda dengan Koay Ji, Khong Yan
membutuhkan waktu 2 bulan baru dapat menguasai bagian
pertahanan dan menghindarkan diri. Setelah mempelajari teori
selama 2 bulan, pada waktu-waktu sesudahnya, barulah Khong
Yan mulai melatih gerakan-gerakannya. Dan memang ajaib,
100
meski teorinya dia tahu, tetapi butuh waktu sampai 6 bulan baru
mulai menampakkan hasilnya. Hasil terbesarnya adalah, gerak
dan langkah kaki Khong Yang menjadi jauh lebih sebat, gesit dan
sangat ringan.
Tak disadari kedua bocah itu jika ilmu langkah itu juga adalah ilmu
ginkang yang sanggup membuat mereka bergerak lebih cepat
dan lebih gesit. Tetapi, sebegitu jauh kedua anak itu tetap mampu
menyimpan rahasia dengan erat dan ketat. Tak ada seorangpun
yang tahu apa yang mereka kerjakan dan latihkan, juga Cu
Pangcu dan Cu Yu Hwi ibu Khong Yan tidak pernah curiga. Yang
mereka senang adalah, berlatih bersama Koay Ji membuat Khong
Yan maju pesat, lebih gesit, lebih cepat dan lebih variatif dalam
mendalami ilmu dan jurus perguruan mereka. Yang mereka tidak
sangka, kedua bocah itu sudah sedang melatih salah satu ilmu
mujijat yang bahkan belum pernah muncul di rimba persilatan
Tionggoan. Sebuah ilmu yang mereka berduapun belum pernah
bermimpi dapat menguasainya.
Sementara itu, Ang Sinshepun mengalami kekagetan ketika
melihat kenyataan yang mengejutkan, betapa Koay Ji ternyata
semakin menyusulnya dalam ilmu pertabiban. Pengetahuan Koay
Ji yang lebih lengkap dan luas dalam hal jalan darah dan
peredaran darah manusia, membuatnya mampu menilik
101
kesehatan seseorang dan belajar darinya bagaimana menakar
obat. Bukannya marah dan tersaingi, Ang Sinshe justru semakin
tertantang untuk belajar dan juga mengajar si bocah aneh itu.
Keduanya jadi rajin bekerjasama meracik obat, mendalami jalan
darah, dan bagaimana menyempurnakan pengobatan dengan
tusuk jarum. Dalam hal ini, Koay Ji masih belum memiliki cukup
keberanian untuk mencoba. Karena dibutuhkan konsentrasi,
semangat serta juga ketelitian tingkat tinggi untuk berhasil.
Yang tak diduga Koay Ji adalah, proses itu membuatnya semakin
jauh dan semakin dalam memahami Ci Liong Ciu hoat atau "Ilmu
Mengekang Naga” (Ilmu Totok mujijat). Semakin detail dia
mengenali tubuh manusia, semakin paham dia bagaimana cara
menghentikan darah sementara, permanen, bagaimana
peredaran hawa dalam tubuh serta bagaimana bahkan
mematikan manusia dengan mengetuk ataupun menotok jalan
darahnya. Dasar ilmu Ci Liong Ciu Hoat sudah semakin dalam
dikuasai dan dipahaminya dan membuatnya mengerti istilahistilah
yang digunakan Pat Bin Ling Long. Sayang, dia masih
memiliki kekurangan, yakni tenaga yang masih belum terpupuk,
sehingga dia masih belum mampu mencapai apa yang diinginkan
sang pencipta ilmu. Takaran tenaga dan mengatur tenaga dalam
ilmu tersebut belum dapat dipraktekkan Koay Ji dan karena itu,
102
dia hanya mengingat-ingat dan memahaminya untuk kelak dilatih
lebih jauh lagi.
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan PENDEKAR ANEH NAGA LANGIT (THIAN LIONG KOAY HIAP) 1 Karya Marshall ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments