Cerita Dewasa Terpopuler PANL 3

Cerita Dewasa Terpopuler PANL 3

------
“Siapa dia sebenarnya …”?
Tapi pertanyaan itu tak dapat dijawabnya. Karena posisi dan
kondisinya semakin sulit dan selalu saja tersudut dibawah
ancaman serangan lawan. Ilmu pukulan lawan sungguh bervariasi
dan angin pukulannya menggiriskan hati. Iweekangnya masih
setingkat lebih, hanya kemurnian ilmu Ying Lin saja yang
membuatnya memperkokoh pertahanan. Tetapi, jelas Ying Lun
kehilangan kesempatan menyerang dan memenangkan
pertempuran. Keadaan mereka berdua dalam bahaya, sebab jika
dia jatuh, dipastikan Koay ji juga dapat mudah ditangkap. Tapi
tidak menyesal Ying Lin menjadi Pangcu Thian Con Pay, karena
dalam keadaan kepepet, dia tidak menjadi panik, tetapi bahkan
151
berkonsentrasi untuk menghadapi lawannya. Dia seperti tahu,
keadaan Thian Cong Pay tergantung perlawanannya. Karena itu,
dengan segala kemampuannya dia bersilat dan kini
menitikberatkan di sector pertahanan.
Karena itu, pertarungan mereka menjadi semakin seru. Terlebih
karena Ying Lun pada saat itu dengan cerdik sudah menutup diri
dengan ilmu khas perguruannya, ilmu Pwee Pu Kan San atau
delapan langkah mengejar jangkrik. Ilmu ini memang adalah ilmu
khas bertahan sambil mengintai kelemahan dan kelengahan
lawan untuk melakukan serangan balik yang menentukan. Tapi,
sayang sekali, lawannya juga ternyata seorang yang cerdas,
hingga meski terus menyerang, tetapi diapun hati-hati dan terus
menjaga agar tidak meninggalkan lobang sedikitpun bagi Ying
Lun untuk menyerang balik. Akibatnya, pertempuran seperti
menjadi berat sebelah,karena Cu Pangcu lebih banyak bertahan
dan terus mengintai.
“Hmmmm, buang-buang waktu …… awas ….”
Terdengar si penyusup mendengus dan kelihatannya dia
memutuskan untuk menggunakan ilmu andalannya. Benar saja,
tak lama kemudian gerakan-gerakan tubuh si penyerang berubah,
patah-patah dan banyak mencari tumpuan di tanah, termasuk
152
tangannya, tetapi badannya melengkung. Nampaknya, ini yang
disebut dengan Ilmu Pukulan Ti Tu Ciang hoat (llmu pukulan labalaba),
dan akibatnya luar biasa. Radius 3 meter dari area
pertarungan mereka tiba-tiba dipengaruhi oleh kekuatan mujijat
yang sangat pekat. Dan ini berpengaruh kepada si bocah Koay Ji.
Gerakan menjadi oleng dan diapun harus meloncat jauh
menghindari efek dari hawa mujijat Ti Tu Ciang Hoat (Ilmu Labalaba)
yang berbahaya itu.
Akibat dari pengaruh pukulan mujijat tadi, dalam waktu yang tidak
lama, formasi ilmu langkah Koay Ji menjadi kocar-kacir, dan
keadaannya menjadi sangat berbahaya. Tetapi sama saja
keadaannya dengan Ying Lun, yang karena kurang antisipasi atas
perubahan ilmu lawan, keadaannya menjadi sangat berbahaya.
Merubah ilmu sudah terlambat karena dia sudah dalam area yang
pas dan menguntungkan lawan untuk melibasnya dengan ilmu
mujijat itu. Kemanapun Cu Ying Lun bergerak, dia sulit
melepaskan diri dari jaring kekuatan iweekang mujijat lawan yang
menutup semua langkah mundurnya. Dan, nyaris bersamaan
keadaan Koay Ji dan Ying Lun, sudah pasti beberapa saat lagi
akan jatuh.
“Hmmm, terimalah ini ……..” dengus si penyusup sambil
menggerakkan tangannya dan serangkai sinar hijau kecoklatan
153
meluncur cepat kearah Ying Lun. Apa boleh buat, dengan
mengerahkan seluruh kemampuan iweekangnya, pada akhirnya
Ying Lun menyambut serangan berbahaya itu meski dia
kehilangan pegangan menghadapi alur sinar pukulan mujijat itu
…”
“Siauw sute, awas, mundur …..” terdengar suara yang sangat
berwibawa dan bersamaan dengan itu, serangkai sinar kuning
berkelabat menyambut serangan pukulan berwarna hijau
kecoklatan tadi.
“Praaaaaakkkkkkkkkkkkkkk …….”
Benturan pukulan mujijat terjadi, dan Ying Lun yang dalam posisi
diam sempat kecipratan sejenis cairan yang mengenai lengannya.
Luar biasa, lengannya langsung terasa sakit dan tidak punya rasa,
dan sadarlah dia, pukulan lawan beracun. Tetapi, belum lagi dia
berbuat apa-apa, tiba-tiba terdengar suara yang sangat
dikenalnya dan sangat lembut memasuki telinganya:
“Telan pil ini dan segera kerahkan tenagamu mengobati diri
selewat peminuman teh pasti sembuh. Jangan khawatirkan anak
ini, karena dia kubawa serta. Selebihnya, engkau bertanya
kepada Sam Suhengmu ….”
154
Bukan main gembiranya Ying Lun, mulutnya bergumam:
“Suhu ……”
Serentak dengan itu, cepat-cepat dia bersamadhi dan benar saja,
rasa sakit di lengannya berangsur menghilang. Dan begitu dia
sadarkan diri, dia menemukan Tek Ui Sinkay menungguinya
sambil tersenyum ……..
“Bagaimana keadaanmu Siauw sute …….”?
Sambil berdiri, Ying Lun berkata gembira:
“Terima kasih atas bantuan Sam Suheng …….. ech, engkau
sudah pulih kembali seperti sedia kala suheng ….”?
“Atas perhatian dan kasih siauw suten lohu sudah sehat kembali.
Adalah budi Insu (Guru yang mulia) yang mulia sehingga
suhengmu ini masih bisa sembuh kembali. Tapi, itu juga atas
bantuanmu siauw sute”
“Accch, baguslah jika memang demikian. Tapi, kemana mereka
…..”? Tanya Ying Lun kebingungan karena tidak melihat musuhmusuhnya.
155
“Mereka sudah kugebah pergi sute ……. dan, siapa bocah yang
memiliki gerakan mujijat tadi itu sute ….”?
“Echhh, syukurlah suheng jika mereka sudah pergi. Siapa lagi?
dialah bocah yang Sam suheng bawa kemari 3 tahun silam, dia
benar-benar penuh keanehan yang sulit kukatakan. Tapi, kemana
dia itu …..”?
“Achhhhhhh jodoh dan takdir memang susah dilawan ……..”
“Apa maksud Sam Suheng ….”?
“Selama beberapa bulan terakhir Suhu selalu mengeluh,
nampaknya dia masih dibebani sesuatu. Dan menurut dia orang
tua, dalam waktu dekat dia akan paham dan tahu apa bebannya
itu …….. dan sekarang aku tahu, nampaknya Suhu masih harus
mendidik bocah aneh itu. Bahkan tadi, suhu masih sempat
memberiku bisikan, bahwa bocah itu kelak adalah murid
penutupnya, dan 10 tahun kedepan aku diminta menjemput anak
itu kemari …….”
“Achhhhh, akhirnya akupun memiliki seorang sute jika demikian
….. hahahaha” Cu Ying Lun tertawa gembira.
“Bagaimana lukamu sute ….”? Tanya Tek Ui Sinkay akhirnya
156
“Sudah tidak kenapa-kenapa suheng….. cuma, ach, kita harus
bergegas, ada berapa penyusup lain di Thian Cong Pay ……”
Tetapi ketika sampai di Thian Cong Pay, Cu Ying Lun dan Tek Ui
Sinkay tidak lagi menemukan adanya musuh disana. Semua
sudah normal kembali, hanya ada satu orang musuh yang
terbunuh oleh Cu Yu Liong, satu lagi ditemukan tertotok di ruang
perpustakaan, tapi tak lama kemudian bunuh diri dengan menelan
racun, dan dua lagi melarikan diri. Kedua orang yang terbunuh,
ternyata tidak dikenali dan tidak ada tanda tanda khusus dibadan
mereka.
“Benar-benar aneh …….” Desis Tek Ui Sinkay
“Benarkah tak ada yang dapat kita kenali dari mereka Suheng
…..”?
“Selain Ilmu Mujijat Ti Tu Ciang hoat (llmu pukulan laba-laba) yang
menjadi andalan para Pendekar di Kwan Gwa dan sama
ampuhnya dengan Kap Mo Kang, maka tak ada informasi lainnya
lagi. Satu hal yang pasti, kawanan penyusup ini memiliki agenda
yang susah dilacak. Tapi, untuk apa mereka mencari jejak tempat
Suhu menyembunyikan dirinya? Ini yang sulit kita tebak ……”
157
“Suheng ……” terdengar suara Cu Ying Lun yang agak bergetar
……
Melihat keadaan sutenya itu, Tek Ui Sinkay merasa ada sesuatu
yang kurang beres. Entah apa, dia belum dapat menebak, apalagi
selama sekian tahun dia diperam oleh suhunya. Karena itu dia
menoleh dan bertanya:
“Apakah ada kejadian lain Sute ….”?
“Suheng, dalam waktu 6,7 bulan belakangan ini, Ji Suheng, Su
Suci dan Liok suheng semua kena serangan gelap musuh.
Untung saja mereka semua tidak ada yang binasa dan karena
berita terakhir kuterima kemaren siang, maka malamnya
persiapan langsung kugelar. Jika tidak, sulit kubayangkan akhir
dari serangan mereka ini …..”
“Ach, jika demikian, target utama mereka benar-benar adalah
rumah perguruan kita. Tepatnya mengarah ke Suhu. Dan jika
memang betul demikian, maka tidak salah lagi, kejadian ini mesti
ada kaitannya yang sangat kuat dengan peristiwa berdarah 20
tahun silam ……” gumam Tek Ui Sinkay
“Akupun mulai berpikir kesana Suheng …..”
158
“Jika memang demikian, kita harus mengirimkan kabar kepada
semua saudara seperguruan kita agar lebih berhati-hati ….”
“Betul sekali suheng ….”
Tengah kedua kakak-adik seperguruan itu asyik bertukar pikiran,
tiba-tiba Yu Hwi, Yu Tek dan Yu Liong datang bergabung.
Nampaknya luka di lengan Yu Liong sudah dirawat dan tidak lagi
berhalangan.
“Menjumpai Sam Supek ……” terdengar spontan suara ketiga
kakak beradik itu begitu melihat Tek Ui Sinkay. Maklum, diantara
semua saudara seperguruan ayah mereka, adalah Pengeis Sakti
ini yang paling sering datang berkunjung. Wajar jika ketiga anak
Ying Lun sangat mengenali Sam Supek mereka itu ………..
“Sudahlah, sudahlah …… kalian anak-anak benar-benar
memperlihatkan keperwiraan dalam mengatasi masalah di Thian
Cong Pay kita ……”
“Berkat berkah Sam Supek ……” jawab Yu Hwi merendah
“Baiklah, Hwi Ji, bagaimana, berapa jumlah semua korban di anak
murid kita …..”?
159
“Ada tiga orang meninggal, dua orang murid thia terluka dan 5
orang lainnya juga terluka namun bukan luka yang terlampau
berat ……. hanya ……” Yu Hwi tidak melanjutkan kalimatnya
tetapi memandangi Yu Tek dan Yu Liong adik-adiknya.
“Bagaimana, ada lagi kejadian lain ….”? tanya Ying Lun terkejut
“Sebenarnya bukan ayah, hanya …… Yan ji itu ……. Entah
bagaimana dia …. Dia …”
“Apa …? Ada apa dengan Khong Yan cucuku ….”? Cu Pangcu
terkejut mendengar nama Khong Yan dibawa-bawa, maklum
Khong Yan adalah cucu satu-satunya pada saat itu. Dia baru
punya seorang cucu dari anaknya Yu Hwi, sementara Yu Tek baru
menikah 2 tahun silam dan belum berputra, Yu Liong malah belum
lagi menikah, jadi pantas jika kekhawatirannya berlebihan …….
“Tenang ayah …… bukan musibah, sesuatu yang membuat kami
sangat terkejut. Kami, berdua dengan Yu Tek langsung
menyaksikannya ……”
“Memangnya ada apa yang aneh dengannya …..”?
“Ayah, Khong Yan mampu melawan seorang penyusup yang
kesaktiannya setara dengan Yu Hwi cici dan tidak terluka
160
sedikitpun meski melawannya nyaris lebih dari 30 jurus ……. dia
sungguh sangat aneh ayah …..”
“Apa ….? Mana ada kejadian seperti itu ……”? terkejut Cu Pangcu
“Memang begitu kejadiannya ayah ….. akupun tidak mengerti
mengapa” Yu Hwi menimpali keterkejutan ayahnya.
“Mana bisa ….? Ach, coba kalian panggil cucuku itu ……”
“Ayah, biarkan saja …… dia sudah tertidur sejak beberapa saat
lalu”
“Tapi, apa dia menjelaskan mengapa dia bisa seperti itu …..”?
“Itulah ayah, Khong Yan sama sekali tidak mau buka mulut ……”
“Sudahlah sute, rasanya akupun dapat mengerti keterkejutan
para Sutit (Keponakan murid), kemungkinan besar sumbernya
adalah Koay Ji si bocah aneh itu. Bukankah engkaupun
menyaksikan anak seumuran 8-9 tahun seperti dia tadi dapat
menghadapi seorang penjahat yang kepandaiannya bahkan
nyaris menyamaimu ….”?
161
“Ach …… benar sekali. Pasti ada kaitannya dengan bocah aneh
itu, tidak salah lagi. Apalagi, karena Yan Ji sangat sering bermain
dan berlatih dengan anak itu …..”
“Kalau begitu tidak salah lagi. Tidak perlu kita persoalkan, anak
itu sekarang sudah dalam penilikan Suhu …… dan dia orang tua
tidak ingin diganggu selama 10 tahun ini. Dia menjanjikan
menemui kita 10 tahun kedepan …….”
“Baguslah, jika Suhu sudah turun tangan kita tidak perlu
memikirkannya lagi. Masalah Yan ji, anggaplah adalah
keberuntungannya saja ……”
Percakapan malam itu berakhir. Tetapi, betapa kagetnya Cu
Pangcu dan Tek Ui Sinkay ketika keesokan harinya mereka
menyaksikan Ilmu Langkah yang dimainkan Khong Yan ternyata
sangat aneh dan sangat mujijat. Bahkan ketika Cu Pangcu turun
tangan mengejar cucunya, tetap saja dia butuh waktu sangat lama
baru mampu menciduk cucunya yang bergerak tangkas dan
dengan skema yang luar biasa. Sejak saat itulah, Thian Cong Pay
menjadikan Ilmu Langkah Thian Liong pat pian- atau "Naga langit
Berubah Delapan Kali, menjadi salah satu Ilmu Andalan mereka.
Bahkan Tek Ui Sinkay sendiripun sampai tertarik melatih Ilmu
Langkah Mujijat tersebut.
162
“Sute ……. Lohu akan tinggal selama beberapa minggu di sini.
Suhu sempat menitipkan beberapa pesan dan juga memintaku
untuk menurunkan ilmu yang diciptakan dia orang tua selama
beberapa tahun terakhir ini. Hanya, menurut dia orang tua,
engkau karena sudah memilih menjadi Pangcu Thian Cong Pay,
maka wajib untuk melatih dan memperkuat Iweekangmu lebih
tinggi lagi. Aku akan menurunkan simhoat iweekang perguruan
kita yang diturunkan Suhu dan jika engkau gagal melatihnya
dalam dua tahun ini, maka Suhu memintamu untuk membubarkan
Thian Cong Pay. Karena engkau akan menjadi target terbuka
untuk diserang banyak orang, apalagi karena ada beberapa pihak
yang tahu Suhu berada disekitar sini …… kuharap engkau
mencatat pesan Suhu ini ……”
“Sam Suheng, perintah Suhu tentu saja tidak akan kulanggar. Jika
setelah 2 tahun aku gagal memperoleh hasil sebagaimana
harapan Suhu, mana bisa aku memilih untuk terus
mempermalukan namanya? Aku setuju Suheng …..”
“Baguslah … selama disini, aku akan menurunkan ilmu-ilmu yang
diminta Suhu menjadi ciri khas perguruan kita. Jika berhasil,
engkau diperkenankan menempatkan wajah Suhu sebagai
couwsu Thian Cong Pay, tetapi jika tidak, lupakan mimpimu
dengan Thian Cong Pay ini ………”
163
“Baik Suheng, aku sudah siap ……”
Baiklah, biar kutuntaskan mengirim kabar ke semua Suheng dan
Sute agar mereka bersiap-siap, sekaligus mengirim kabar ke
Kaypang biar mereka tidak terlampau khawatir dengan
keadaanku. Setelah itu kita akan langsung memulai …..
===============
Bu In Sin Liong atau dahulunya adalah Bu In Hwesio, adalah
seorang calon utama Ciangbudjin Siauw Lim Sie yang kemudian
secara hormat memilih mengundurkan diri sebagai calon
Ciangbudjin setelah gagal mengemban tugas dari Kuil itu. Bu In
Hwesio memilih untuk mengembara dan justru dalam
pengembaraannya itu yang membuatnya mampu
menyempurnakan ilmu-ilmu yang dimilikinya. Persoalan kedalam
Siauw Lim Sie membuat tokoh ini memilih untuk menyucikan diri
dan kemudian menyingkir dari Siauw Lim Sie serta mengangkat
beberapa murid. Belakangan dia menyebut dirinya sebagai Bu In
Siansu. Namun, nama ketokohan dan kehebatannya membuat
nama Bu In Sin Liong sering disematkan orang kepadanya,
terutama setelah dia menundukkan dan memunahkan seluruh
kepandaian Pek Kut Lodjin. Tokoh yang membuat nyaris seluruh
164
insan rimba persilatan Tionggoan bergelora dalam teror dan badai
pembunuhan yang memakan korban yang sangat banyak.
Bu In Hwesio sebetulnya adalah salah satu tunas cemerlang yang
dimiliki oleh Siauw Lim Sie selama 200 tahun terakhir. Tetapi
sayang, pertikaian didalam Siauw Lim Sie akhirnya membuat dia
terbuang dan tokoh hebat itu akhirnya menemukan dirinya
berkembang di luar Kuil Siauw Lim Sie. Pengembaraannya ke
Tibet dan Thian Tok membuatnya mampu menyempurnakan
ilmunya, menembus pemahaman atas Ilmu Mujijat Ih Kin Keng
dan Tay Lo Kim Kong Sinkang. Dua ilmu iweekang pusaka Siauw
Lim Sie dan belakangan dia mampu mencapai tingkat Kim Kong
Pu Hay Che Sen (Ilmu Badan/Baju Emas Yang Tidak Bisa Rusak)
dan bahkan mampu menembus pemahaman Sinkang Mujijat
bernama Toa Pan Yo Hian Kong (Ilmu Tenaga Dalam Mujijat).
Sebetulnya, dia mampu menembus itu melalui proses yang tidak
biasa dan sangat kebetulan setelah melalui pibu dengan Bhiksu
Budha dari India yang sudah berusia sangat lanjut, lebih 100
tahun.
Sepulang dari India dan sudah berusia di atas 50 tahun, barulah
Bu In Siansu, demikian dia kemudian menamai dirinya, menerima
murid dan mulai menetap di Thian Cong San. Tetapi, tak
seorangpun muridnya yang berani menyebut nama Bu In Siansu
165
sebagai SUHU, karena mereka dipesan untuk tidak mengakui
dirinya sebagai SUHU di hadapan orang banyak. Karena itu,
sangat terbatas orang yang tahu dan mengenali Bu in Siansu,
apalagi latar belakangnya sebagai Bu In Hwesio pada puluhan
tahun silam. Dan puncak kehebatannya diketahui hanya oleh
terbatas manusia, tidak lebih dari 5 orang. Dan itupun setelah dia
akhirnya secara terpaksa turun tangan untuk membantu
menaklukkan Pek Kut Lodjin dan memutuskan memunahkan
semua ilmu Pek Kut Lodjin secara permanen. Tokoh istimewa ini
terkejut menemukan dan melihat betapa hawa Iblis yang sangat
pekat bersemayam dalam tubuh yang sangat hebat dan dengan
kecerdasan yang luar biasa. Dengan penuh keterpaksaan dia
memunahkan seluruh ilmu silat Pek Kut Lodjin dan berkelabat
pergi, belakangan dia mendengar tokoh itu akhirnya bunuh diri
setelah sadar seluruh ilmunya lenyap.
Itulah penampilannya yang terakhir di dunia persilatan. Dan sejak
itu, Bu In Siansu atau kemudian dinamai orang Bu In Sin Liong,
menarik diri dan tidak pernah lagi terdengar kabarnya di dunia
persilatan. Apalagi karena murid-muridnya tidak pernah
menyebutkan namanya sebagai SUHU mereka. Begitulah latar
belakang tokoh yang bertapa di Thian Cong San dan yang secara
166
mujijat menyelamatkan Koay Ji dan kemudian membawanya
masuk kedalam Gua pertapaannya.
Koay Ji terkejut setengah mati ketika dia sadarkan diri berada
dihadapan seorang yang asing dan sama sekali belum
dikenalnya. Orang itu terlihat sudah sangat tua, semua rambut
kepala dan jenggotnya berwarna putih dan jubbah yang
dikenakannya, juga semuanya putih semerlang. Tetapi, Koay Ji
yang sudah belajar sopan-santun dan tetap polos sebagaimana
biasanya, dengan cepat berusaha bangkit dan kemudian memberi
hormat secara wajar dan kemudian berkata:
“Terima kasih atas pertolongan locianpwee kepada Koay Ji ……”
Kakek tua itu tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Hanya
terus menerus memandangi Koay Ji sambil sesekali menarik
nafas panjang, sampai anak itu merasa risih dan tak tahan diapun
berkata:
“Locianpwee, adakah yang aneh? Mengapa locianpwee
memandangi Koay Ji terus menerus dan tidak mengatakan satu
katapun …..”?
Tetapi kakek itu sama sekali tidak mengatakan apapun juga, tetap
saja seperti posisinya semula dan pandangan matanya terus
167
menatap Koay Ji. Lama-lama Koay Ji menjadi bingung, tetapi
dasar anak-anak, dengan santai dia malah kemudian berusaha
melakukan samadhi. Dan benar saja, sebentar kemudian dia
tenggelam dalam samadhi dan tidak menggubris orang tua yang
terus menerus memandanginya seakan tiada ingin berhenti
menatapnya. Entah sampai kapan dia seperti itu, tetapi begitu dia
sadar, hari sudah mulai gelap. Artinya, dia tenggelam dalam
samadhinya sejak pagi hari hingga malam harinya, kira-kira
seharian, atau ada lebih dari 12 jam dia dalam posisi seperti itu.
Dan begitu dia sadar, tubuhnya terasa sangat segar ………
Dan begitu dia sadar, kembali matanya bertemu dengan mata si
orang tua yang seperti tadi terus menatapnya tanpa mengatakan
satu kalimatpun. Hanya, kali ini, tatap matanya bersinar senang
dan kagum. Bahkan, beberapa saat kemudian dia berkata:
“Bocah yang aneh, ech, engkau menyebut dirimu Koay Ji ya
………. sungguh aneh. Engkau mestilah memiliki alasan yang
juga pasti tidak kalah anehnya. Tetapi, sesungguhnya semua itu
tidaklah terlampau penting. Ngomong-ngomong, bagaimana
gerangan rasanya mengandung dan menyimpan tenaga sebesar
dan sehebat itu dalam tubuhmu yang sebetulnya lemah itu …”?
168
Koay Ji kaget setengah mati, sadarlah dia jika sedang
berhadapan dengan manusia yang mujijat. Hanya memandang
sudah paham jika tubuhnya dalam keadaan “mengandung” hawa
yang demikian banyak dan sungguh sangat berat ditanggungnya
selama beberapa tahun ini.
“Tecu tak tahu locianpwee, tahu-tahu saja tubuhku sudah penuh
hawa, dan sebulan sekali dia akan menyiksaku sampai mau mati
rasanya ……”
“Apakah engkau tidak memiliki keinginan untuk mengeluarkan
hawa itu dari dalam tubuhmu …..”? tanya si orang tua
”Sudah pasti locianpwee, cuma, sayang Koay Ji tidak punya
kemampuan itu. Apakah locianpwee bersedia membantuku ….”?
“Mana yang engkau inginkan? memelihara dan mengendapkan
hawa itu dalam tubuhmu atau mengeluarkannya agar engkau
merasa enakan dan menjadi seperti semula sebagaimana haw
aitu tidak berada dalam tubuhmu ….”?
“Mana saja yang terbaik menurut locianpwee ……. pendeknya,
jika Koay Ji dapat menemukan cara terbaik mengurangi rasa sakit
itu, pasti sudah kutempuh jalan itu. Jika membuang hawa itu akan
menjadi lebih baik, maka mestinya itulah yang terbaik buat Koay
169
Ji. Sayang belum kutemukan caraya, padahal sudah banyak buku
kupelajari, sudah banyak hari mengamati Ang Sinshe mengobati
orang. Tapi, mengobati diri sendiri, sayang sekali Koay ji masih
belum mampu ……”
“Maukah engkau kuajari mengobati dirimu sendiri …..”?
“Benarkah engkau bersedia mengajarku locianpwee …”? tanya
Koay Ji antusias
“Jika engkau bersedia mengikuti pelajaranku, engkau pasti akan
sembuh …..”
“Ach, tapi engkau sudah sangat tua locianpwee, Koay Ji khawatir
engkau akan kelelahan dan malahan jatuh sakit locianpwe ….”
“Jangan khawatir, engkau semestinya khawatir dengan kemauan
dan kemampuan belajarmu, aku tidak akan apa-apa bocah kecil
……”
“Benarkah locianpwee ….”?
“Jangan takut, aku tidak akan apa-apa” sahut si Kakek sambil
menahan tawa dan merasa lucu dengan percakapannya bersama
Koay Ji ini ……
170
“Kalau memang begitu, Koay Ji harus mengucapkan terima kasih
terlebih dahulu locianpwee, karena persoalan berhasil ataupun
gagal, biarlah takdir belaka yang akan menentukan kelak …..”
Luar biasa kata-kata bocah aneh ini, sampai Kakek tua yang
duduk didepannya terhenyak kaget, tersenyum dan merasa
sangat tertarik dengan kata-katanya yang beda sekali dengan
anak-anak seusianya pada umumnya.
“Tetapi, ada syarat yang harus engkau ikuti jika memang ingin
kusembuhkan. Apakah engkau sanggup mengikuti syaratku itu
…..”?
“Apapun syaratmu locianpwee, aku yakin tidak akan
merugikanku. Kalau engkau bersedia menyembuhkanku, sudah
pasti aku akan mengikutinya …..”
“Syaratnya tidak berat. Yang pertama, engkau tidak boleh
mengeluh, tidak boleh mendebat caraku dan harus selalu
mengerjakan apa yang kuperintahkan. Tidak boleh lebih dan juga
tidak boleh kurang. Bagaimana, apakah engkau bersedia …..”?
“Mudah sekali kedengarannya locianpwee, karena pasti akan
kutepati …… kapan engkau mau mulai menyembuhkanku
locianpwee ….”?
171
“Malam ini juga …..”
“Malam ini ……”?
“Iya, apa engkau sanggup ….”?
Setelah berpikir sejenak, diapun berkata mantap:
“Baik, Koay Ji sanggup locianpwee …….”
“Yakin tidak akan mengeluh …..”?
“Kalau Koay Ji sudah yakin akan memulai, pasti tidak akan
mengeluh locianpwee. Sakitpun akan sanggup Koay Ji tanggung
… ”
“Baiklah, bagus jika demikian. Karena proses itu memang harus
dimulai ketika perutmu dalam keadaan kosong ….. jadi, dimulai
malam ini sudah sangat tepat ……”
“Koay Ji mengerti locianpwee ……”
“Bagus …… nach anak baik, mulailah dengan kembali dengan
melakukan samadhi. Jangan khawatir, semua yang akan engkau
lakukan akan kuberitahu perlahan-lahan, tetapi ingat, jangan
melawan, menambahi atau mengurangi yang kusampaikan.
172
Karena akibatnya bukan merugikan aku orang tua, tetapi akan
sangat merugikan dirimu sendiri. Ingin kuingatkan kepadamu,
kekuatan dalam tubuhmu itu, karena sudah engkau simpan dan
kandung selama lebih 3 tahun dan kemudian di bendung dan
dibatasi oleh obat mujijzat yang luar biasa, membuat kekuatan itu
sudah ratusan atau bahkan mungkin ribuan kali lebih kuat dari
awalnya ……. terus terang, sedikit manusia yang akan mampu
membendung kekuatan itu. Tapi, karena itu jugalah maka sekalikali
jangan mencoba untuk melenceng sedikitpun dari yang akan
kuperintahkan. Nach, sekarang engkau mulailah ……..”
Mendengar peringatan itu, Koay Ji merinding dan selama proses
penyembuhan dia benar-benar taat akan petunjuk dari orang tua
yang dihadapannya. Tidak lama kemudian, diapun sudah
tenggelam dalam samadhinya, tetapi sesaat setelah dia masuk
dalam keadaan “hampa”, tiba-tiba entah bagaimana wajah dan
suara kakek itu muncul dan seakan berbicara berhadapan
dengannya:
“Mari anak baik, mulailah dengan belajar mencairkan dan
meresapkan hawa dalam tubuhmu, lakukan itu perlahan-lahan,
dan jangan berhenti serta berganti cara sebelum kuperintahkan.
Tubuhmu perlu lebih dikuatkan sambil belajar bagaimana
mengendalikan hawa dan kelak mengumpulkan, menyebarkan
173
dan menggiringnya. Yaaaaa, betul anak baik ….. sekarang
engkau menggiring hawa itu ke titik-titik peredaran darah fital,
jangan merusak konsentrasi dan lakukan secara perlahan ….”
Tak terasa sudah 2 hari 2 malam lewat ……… dan setelahnya
baru orang tua itu membangunkan Koay Ji dan berkata:
“Tubuhmu butuh istirahat. Karena itu, sehari ini engkau
beristirahat dan makanlah buah-buahan yang tersedia di luar
sana. Tetapi, ingat, engkau masih kularang keluar dan berkeliaran
diluar gua ini ….. tubuhmu teramat rentan dan berbahaya saat ini.
Ingat pesanku ini dan jangan membantahnya …….”
Demikianlah selama seharian penuh hingga malam, Koay Ji tidak
berani kemana-mana. Makanan yang disiapkan tidak dia ketahui
sama sekali darimana dan siapa yang menyiapkannya. Yang dia
tahu, saat dia butuh, sudah tersedia disana. Selebihnya dia
mencari kesibukan tetapi dengan tidak menghabiskan kekuatan
fisiknya. Dan setelah selesai, kembali dia memulai proses itu
bersama si kakek aneh yang tidak pernah menanyakan namanya
dan juga tidak pernah memperkenalkan dirinya. Proses tersebut
terus berlangsung sampai akhirnya genap 3 bulan, baru
locianpwee itu mengajaknya bicara secara terbuka:
174
“Bagaimana perasaanmu sekarang bocah aneh …… apa yang
engkau rasakan dibandingkan dengan tubuhmu yang dhaulu itu
……”?
“Tubuhku merasa semakin segar locianpwee, tetapi, mengapa
serangan yang datang setiap bulan itu sekarang nyaris tidak
terasa lagi ……”?
“Apa maksudmu anak baik ….”?
“Setiap bulan, biasanya menjelang akhir bulan, hawa dalam
tubuhku akan bergolak hebat, dan terakhir sampai radius 3-4
meter akan gosong seperti dipanggang api atau dingin melebihi
saldju, bahkan membentuk balok-balok es. Demikian bergantian
setiap bulan, bulan sekarang panas, bulan berikut dingin …….”
“Hahahahahah, selama 3 bulan ini engkau sudah mempelajari
bagaimana caranya menyerap hawa yang berlebih itu dari
kekangan obat mujijat. Engkau masih harus terus melakukannya
selama bertahun-tahun, baru setelah memasuki umur ke-12
tahun, akan kuajari bagaimana mengendalikan hawa yang
engkau serap sambil memperkuat tubuhmu. Saat ini, organ-organ
tubuhmu sudah cukup kuat untuk menerap dan menerima hawa
berlebihan itu secara perlahan-lahan. Kelak, engkau juga akan
175
mempelajari bagaimana menggiring hawa itu sehingga semua
jalan darah yang berkaitan dengan alur perjalanan hawa itu, akan
dapat ditembus. Jika itu terjadi, maka seluruh hawa dalam
tubuhmu itu dapat engkau kumpulkan dan kemudian dapat
engkau kendalikan sekehendak hatimu. Selama 3 bulan kedepan
dan bahkan seterusnya proses itu akan berulang tetapi aka nada
beberapa pelajaran tambahan. Sampai saat yang kutentukan,
engkau masih kularang untuk bergerak dan berlatih ilmu silat
apapun. Engkau paham bocah ….”?
“Koay Ji paham locianpwee ……..”
“Baiklah, engkau boleh beristirahat selama beberapa hari ini,
kuijinkan bermain-main di luar gua kita, tetapi, ingat, jangan dulu
berlatih ilmu silat. Karena hawa dalam tubuhmu belum dapat
diserap dan dirubah menjadi kekuatan iweekang ……..
bergeraklah secara wajar, berlari juga bisa, tetapi jangan
mencoba bergerak dengan mengerahkan hawa dalam tubuhmu
itu ………”
“Koay Ji mengerti locianpwee …..”
Demikianlah, selama 3 hari berturut-turut Koay Ji melemaskan
otot-otot tubuhnya yang selama beberapa bulan terakhir selalu
176
dalam diam dan samadhi panjang. Selewat 3 hari istirahat, maka
proses selanjutnya kembali berlangsung. Hanya, beda dengan
proses awal yang sebenarnya lebih ke bagaimana penilikan orang
tua itu akan kekuatan dalam tubuh Koay Ji, maka proses kedua
adalah mengajar Koay Ji bagaimana menjinakkan hawa yang
sudah diserap dalam tubuhnya sedikit demi sedikit. Dan karena
hawa yang diserab semakin membesar dan sisa dalam tubuh
yang dikekang juga masih teramat besar, maka kakek itu jadi
bekerja keras. Dia mesti mengajarnya untuk menyerab dan
kemudian bagaimana mengolah dan mengumpulkan tenaga yang
diserab kedalam tan-tian. Bahkan, diluar dugaannya, juga sudah
dapat memasuki tahap untuk menembusi semua jalan darah fital
yang membantu Koay Ji untuk menembus halangan-halangan
penting dalam berlatih silat dan terutama berlatih iweekang. Yang
tidak disadari oleh Koay Ji adalah, pada saat itu dia sudah
menguasai hawa atau iweekang yang luar biasa besarnya dan
semakin hari semakin bertambah kuat ….. kondisi aneh yang
sampai Kakek aneh yang melatihnya geleng-geleng kepala
sambil bergumam:
“Takdir dan jodoh ….. ach, Budha maha pengasih ……”
Demikianlah seterusnya sejak saat itu Koay Ji tinggal bersama
kakek yang tidak dikenal dan diketahuinya itu. Tidak diketahuinya
177
jika kakek itu adalah tokoh mujijat yang dimalui seluruh insan
persilatan Tionggoan namun yang lebih suka bersembunyi dan
bekerja dari balik kegelapan. Tokoh itulah yang mendidiknya dan
menggemblengnya hingga penyakitnya hilang alias sembuh sama
sekali setelah dua tahun dia berlatih. Tetapi, Kakek yang
belakangan dia panggil SUHU, belum memberitahunya jika dalam
tubuhnya sudah mengeram kekuatan yang luar biasa besarnya.
Tetapi, kakek itu ingin agar Koay Ji mampu mengendalikan dan
menyatu dengan kekuatan hebat itu, caranya adalah dengan
melatih sendiri iweekangnya dengan simhoatnya yang mujijat,
dan kelak perlahan-lahan dia akan melatih sendiri bagaimana
menyatukan semua kekuatan tersebut dan mengendalikannya
sesuka hati.
================
Hari itu, perguruan Hoa San Pay sedang meriah-meriahnya.
Boleh dibilang, setelah peristiwa Pek Kut Bun, nama besar Hoa
San Pay terhitung berkibar megah di angkasa. Meskipun anak
murid Hoa San Pay paling banyak berjumlah 400an orang di
Gunung Hoa San, tetapi ditambah dengan murid-murid yang
mengembara dan membaktikan Ilmu Silat Partai itu, jumlahnya
bisa mencapai angka 500an. Terhitung cukup besar dan cukup
banyak sebenarnya jumlah anak murid perguruan Hoa San Pay.
178
Saat ini, Ciangbudjin Hoa San Pay dijabat oleh seorang Pendeta
Agama To bernama Kheng Seng Taysu yang sudah berusia
cukup lanjut. Usianya sudah menginjak angka 76 tahun dan
semakin malas mengurus banyak persoalan perguruan dan lebih
banyak bertapa untuk menyucikan diri. Urusan-urusan perguruan
dewasa ini banyak dikerjakan oleh Wakil Ciangbudjin yang juga
adalah salah seorang Sutenya bernama In Tiong Han berjuluk
Gan Tiong Ciang (Telapak Tangan di Tengah Karang) yang sudah
berusia 72 tahun. Sebetulnya, tokoh inipun sudah cukup tua,
tetapi murid-murid keduanya terhitung murid-murid pilihan.
Setidaknya, terhitung nama-nama Bok Hong Ek, Hoa Le, Tam
Liong dan bahkan Kho Sian Lian istri dari Siauw Pocu keluarga
Hu dan berjuluk Hoa San Sianli. Belum lagi murid Wakil
Ciangbundjin yang juga cukup hebat, yakni Ciok Ciam Liong dan
Lim Tiauw Kie yang juga ikut membangun perguruan Hoa San
Pay. Tokoh-tokoh itu, bersama dengan para sute Ciangbudjin
lainnya, yakni Le Goan Kay, Tan Goan Keng dan Suma Cong
Beng adalah pilar-pilar Hoa San Pay dewasa ini.
Selebihnya, banyak murid-murid tokoh Hoa San Pay ini yang
mengembara di dunia persilatan, selain yang mengurus
Piauwkiok (Perusahaan Expedisi) yang menjadi salah satu
sumber pendanaan perguruan Hoa San Pay. Perusahaan
179
Expedisi ini dikuasai dan dijalankan oleh para murid dari Le Goan
Kay, Tan Goan Keng dan Suma Cong Beng, masing-masing
adalah sute dari Ciangbudjin. Tetapi, pemimpin utama piauwkiok
adalah 2 tokoh Hoa San Pay yang tidak kalah hebat dengan para
pemimpin Hoa San di Gunung Hoa San sendiri. Mengandalkan
nama besar Hoa San Pay, maka perusahaan ekspedisi mereka
menjadi sangat laris dan mendapat kepercayaan besar bukan
hanya dari kalangan rimba persilatan, tetapi juga bahkan oleh
pihak kerajaan. Menjadi wajar jika mengingat betapa mentereng
dan menjulangnya nama Hoa San Pay selama kurang lebih 20
tahun terakhir ini. Siapa pula penjahat yang berani membegal
barang kawalan piauwkiok yang di dukung secara penuh oleh
perguruan ternama sebesar Hoa San Pay? bukankah cari mati
namanya?
Tetapi, hari itu, rupanya sedang ada pesta dan kemeriahan di
Gunung Hoa San. Ada apa gerangan? Karena hampir semua
tokoh utama Hoa San Pay diwajibkan berada di Gunung Hoa San.
Apa pasal? Ternyata karena Ciangbudjin merasa saatnya sudah
tiba untuk mewariskan tongkat estafet kepemimpinan Partai Hoa
San Pay, maka diapun berinisiatif memanggil seluruh tokoh-tokoh
utama Hoa San Pay. Baik yang berada di perguruan, maupun
yang biasanya mengembara membaktikan ilmu kepandaiannya.
180
Berita itu sudah diumumkan jauh-jauh hari, itulah sebabnya maka
tokoh-tokoh yang berkepentingan semua sudah berada di
Gunung Hoa San. Termasuk salah satu tokoh terkenal Hoa San
Pay, yakni Hoa San Sian Li Kho Sian Lian yang datang dengan
ditemani suaminya yang tidak kalah tenarnya, yakni Siauw Pocu
Benteng Keluarga Hu, Pat Ciu Thian-cun (Malaikat Tangan
Delapan) Hu Sin Tiong yang nampak semakin matang diusianya
yang ke 45. Tokoh ini memang terhitung menikah rada terlambat.
Acara besar yang akan dilakukan Hoa San Pay adalah, seleksi
dan kemudian pengumuman resmi dari Ciangbudjin tentang siapa
yang akan dipersiapkan untuk menjadi Ciangbudjin Hoa San Pay
berikutnya. Acara ini adalah acara khusus dan tertutup bagi orang
luar yang tidak punya kaitan apa-apa dengan Hoa San Pay. Dan
hari itu adalah hari terakhir persiapan sehingga otomatis semua
tokoh utama Hoa San Pay sudah berdatangan dan siap mengikuti
pengumuman Ciangbudjin. Tetapi, malam sebelum acara
tersebut dibuka, nampak sebuah perundingan serius sedang
berlangsung diantara para sesepuh dan pemimpin Hoa San Pay
dengan langsung dipimpin oleh Kheng Seng Thaysu, sang
Ciangbudjin. Tokoh yang sudah terlihat begitu sepuh dan lanjut
usia ini, memang sudah lebih senang menyepi, karena itu dia ingin
segera menyerahkan tanggungjawab kepada tokoh Hoa San Pay
181
yang lebih muda darinya dan bahkan saudara seperguruan
lainnya;
“Para sute sekalian, Toa Suheng kita sudah menyatakan
mendukung semua hasil perundingan kita pada malam hari ini,
dan selain itu toa suheng menyatakan tidak akan hadir dalam
semua acara kita ini. Sesepuh kita, kedua Susiok, juga sudah
terlampau enggan untuk sekedar beringsut keluar dari tempat
pertapaannya, apalagi dengan Thian Hoat Sucouw, kabarnya
malah sudah tak kedengaran sejak pinto menjabat sebagai
Ciangbudjin. Jikapun ada yang sesekali bertemu dengannya,
hanya seorang Toa Suheng belaka. Karena itu, apapun hasil
perundingan kita malam ini, dengan kehadiran Su Sute sebagai
Wakil Ciangbudjin, kemudian Sam Sute dan Liok Sute sebagai
Pejabat Bagian Hukum dan terakhir Chit sute sebagai Pelindung
Pusaka Perguruan, maka hasilnya kunyatakan mengikat.
Sebelum kita menilik generasi sesudah kita, maka ingin
kutegaskan kepada para Sute ……. sebagaimana aturan yang
ditetapkan leluhur Partai kita, maka Ciangbudjin memiliki
kewenangan untuk menetapkan calon penggantinya. Memang,
terdapat peraturan, bahwa Ciangbudjin dapat saja meminta
pertimbangan para sesepuh Partai, tetapi setelah Toa Suheng
dan kedua Susiok menyatakan tidak akan ikut campur, maka
182
sebetulnya pinto dapat saja menentukan sendiri siapa calon
pewaris Ciangbudjin Hoa San Pay …… Hanya, pinto memutuskan
untuk terlebih dahulu mendengarkan pendapat para sute demi
kemajuan Partai kita kedepan. Nach, karena itulah maka pinto
ingin mendengarkan masukan-masukan ataupun pemikiran para
Sute sekalian … silahkan ……. sebaiknya dimulai dari engkau
Sute …” menutup pengantarnya, Kheng Seng Thaysu melirik
Wakil Ciangbudjin, In Tiong Han untuk meminta pandangannya
mengawali pandangan sute mereka yang lainnya.
“Ciangbudjin Suheng ……” terdengar In Tiong Han Gan Tiong
Ciang, tokoh yang juga sudah nyaris sama sepuhnya karena
sudah berusia 72 tahun ….
“Menurut pandangan lohu, calon-calon pewaris Ciangbudjin Hoa
San Pay kedepan, sebaiknya kita serahkan ke generasi yang
lebih muda. Lebih bertenaga dan lebih memiliki semangat
dibandingkan kita sekalian. Sesungguhnya, lohu sendiri sudah
merasa cukup berbakti sebagai Wakil Ciangbudjin mendampingi
Ciangbudjin Suheng. Rasanya, kebijaksanaan Ciangbudjin
Suheng sudah cukup teruji dan tidak mungkin akan memilih
secara keliru dan dengan tanpa mempertimbangkan semua
aspek aspek penting dari perguruan kita …….. karena itu, lohu
183
serahkan kepada kebijaksanaan Ciangbudjin Suheng
menentukannya ……”
“Hmmmmm, pinto menilik dan mempetimbangkan masukanmu
sute ….. dan bagaimana menurutmu Sute ….”? Kheng Seng
Thaysu kini melirik Le Goan Kay, adik seperguruan yang sudah
berusia 71 tahun juga dan sekarang menjabat sebagai Bagian
Hukum Hoa San Pay dan terlihat masih energik meskipun usianya
sebenarnya sudah tidak muda lagi, hanya berjarak beberapa
tahun dari kedua suhengnya itu.
“Ciangbudjin Suheng ….. terima kasih karena memberi kami
kesempatan kepadaku guna menyampaikan masukan dan pikiran
untuk calon pengganti Ciangbudjin Hoa San Pay kita ……
sebetulnya, hal ini menyalahi aturan kita Hoa San Pay, karena
memang Ciangbudjin Suheng semestinya langsung saja
menetapkan dan memutuskan siapa-siapa sajakah yang
dicalonkan sebagai pengganti Ciangbudjin Hoa San Pay. Tetapi,
kami memang selalu dilibatkan Ciangbudjin Suheng sejak dahulu,
dan karena itu, meski mungkin bukan menjadi pilihan Ciangbudjin
Suheng, maka perkenankan lohu mengemukakan pandangan
lohu; Pertama, apakah calon pengganti itu akan diambil masih
dari generasi kita ataukah generasi di bawah kita. Jika masih dari
generasi kita, maka lohu sendiri sudah merasa terlampau tua
184
untuk menjabatnya, dan karena itu lebih mendorong Suma Cong
Beng Sute untuk menjadi pejabat Ciangbudjin berikutnya. Tetapi,
jika Ciangbudjin Suheng berkeinginan untuk menetapkan
pengganti yang lebih muda, maka lohu mengusulkan Bok Hong
Ek Sutit, Hoa Le Sutit, Ciok Ciam Liong Sutit, Ouw Sam Ciu Sutit
atau Thio Kan Thong Sutit. Sebetulnya dari kalangan generasi
tersebut, yang mewarisi kebijaksanaan Ciangbudjin Suheng
adalah Bok Sutit, sementara dalam hal ilmu silat, tinggi rendahnya
sangat sulit untuk diukur. Rasanya, itu saja yang dapat lohu
sampaikan …….”
“Hmmmm, terima kasih Sute …… masukanmu sungguh-sungguh
baik dan tentu saja pinto akan memperhatikannya secara
seksama. Soal siapa dan dari generasi mana, bairlah kita
menimbangnya secara lebih teliti dengan mempertimbangkan apa
dan bagaimana tantangan mereka kedepan ……. Dan bagaimana
dengan engkau Sute”? kali ini Kheng Seng menoleh menatap Tan
Goan Keng yang sudah berusia 70 tahun, dalam tugas yang sama
dengan Le Goan Kay.
“Terima kasih Ciangbudjin Suheng ……. usia lohu rasanya juga
sudah cukup usur untuk menjadi Ciangbudjin, karena itu,
sebaiknya Ciangbudjin Suheng saja yang menentukan
berdasarkan aturan Partai kita. Selebihnya, ide dan pikiranku
185
sangat mirip dengan apa yang baru saja disampaikan oleh
suheng terdahulu ………… artinya, itu juga menjadi masukan dan
usulan lohu ….”
“Baik, baik ………. Pinto mendengarkan (sambil mengelus-elus
janggutnya yang putih dan kemudian berpaling kepada Suma
Cong Beng) …. dan engkau sute ……”? Kheng Seng meminta
Suma Ciong Beng untuk menyatakan pendapatnya seperti juga
suhengnya yang sudah memberikan masukan
“Ciangbudjin Suheng, semua sutemu serahkan kepadamu,
jikapun Ciangbudjin Suheng merasa sutemu masih cukup mampu
dan memiliki kebisaan untuk menjabat sebagai Ciangbudjin, maka
sutemu siap melaksanakan tugas memimpin Perguruan Hoa San
Pay kita ini. Tetapi, tentunya semua harus terpulang kepada
kebijaksanaan serta pertimbangan Ciangbudjin Suheng sendiri
…. kami semua siap mentaatinya …..”
“Baiklah para sute …… sebelumnya, ijinkan pinto menyatakan
beberapa hal yang akan menjadi pertimbangan untuk
memutuskan dan mengumumkan besok; Pertama, Pinto
mendapat banyak sekali informasi sejak 5 tahun sebelumnya
tentang pergerakan baru kaum penjahat. Kebetulan waktunya
nyaris bersamaan dengan peristiwa penyusupan yang
186
direncanakan sejak lama di Hoa San Pay kita. Selain itu, ada
beberapa gerakan lain yang sangat mencurigakan, berupa
pencaplokan beberapa perguruan kecil. Ketika kita melakukan
penyelidikan, tokoh-tokoh pencaplok itu buru-buru menghilang.
Dan masih banyak penyelidikan lain yang mendatangkan rasa
curiga kemungkinan kembalinya para pembuat onar itu seperti 25
tahun silam ……. Ketika bertemu 5 tahun silam di Benteng
keluarga Hu, banyak yang meramal dan mendapat firasat bahwa
para penjahat itu akan kembali beraksi …… dan firasatku juga
menyatakan demikian. Harus kalian catat, jika itu terjadi, maka
Hoa San Pay akan menjadi salah satu sasaran utama mereka
para penjahat itu. Itu pinto yakin benar ……… Dan itu sebabnya
berkali-kali pinto meminta para sute mendidik para murid dengan
keras dan disiplin. Dan karena itu pula, selama 5 tahun terakhir,
pinto mendidik murid-murid pinto dengan penuh kesungguhan.
Tahun-tahun kedepan, kita akan memasuki kesiagaan penuh,
firasat pinto semakin menguat setelah lima tahun terakhir ini
mereka justru tidak bergerak sama sekali. Karena itu pula, maka
Pinto memutuskan, generasi kita lebih baik berkonsentrasi untuk
melatih anak murid kita masing-masing dan memberi kesempatan
kepada generasi murid-murid kita untuk memimpin Hoa San Pay.
Masa depan Hoa San Pay akan sangat tergantung kerja kita
dalam mempersiapkan anak murid Hoa san Pay untuk mampu
187
dan sanggup sebagaimana 25 tahun silam menahan dan turut
juga menumbangkan para penjahat Pek Kut Bun. Selain tentu
kecerdasan para pemimpin Hoa San Pay kita kedepan dalam
menggalang persatuan dengan para pendekar dan perguruan lain
di Tionggoan …….”
“Ciangbudjin Suheng, apakah dengan demikian engkau ingin
mengatakan kepada kami semua bahwa Ciangbudjin Suheng
sesungguhnya sudah memiliki calon yang tetap dan akan engkau
ajukan sebagai penggantimu kelak ….”? bertanya Wakil
Ciangbudjin In Tiong Han sambil manggut-manggut, sementara
wajah Suma Ciong Beng di sisi lainnya terlihat sedikit berubah
meski hanya sangat sekilas. Nyaris tidak ada yang menangkap
perubahan sekilas tersebut
“Omitohud ….. bicara sejujurnya, pinto akan mengajukan 5 calon
besok dan kemudian selama setahun kita akan melihat
perkembangan mereka berlima. Perkembangan yang paling
pesat dalam Ilmu Silat dan dalam kematangan mengambil
keputusan, akan pinto tetapkan sebagai Ciangbudjin generasi
mendatang ……”
“Cukup bijaksana ……… dengan demikian kita berlima memiliki
kesempatan yang cukup untuk menilik para calon Ciangbudjin
188
…..” ujar Wakil Ciangbudjin In Tiong Han menimpali simpulan
Kheng Seng Thaysu
“Memang itulah maksud pinto yang terutama ……. Sehingga
tanggungjawab untuk mempersiapkan bukan hanya di tangan
Pinto seorang, tetapi menjadi tanggungjawab kita berlima secara
bersama-sama”
“Lohu sangat setuju dengan usulan Ciangbudjin Suheng,
kelihatannya jalan itu memang yang terbaik untuk Hoa San Pay
kita dalam mengantisipasi persoalan-persoalan yang sangat
mungkin muncul kedepan ….” Kakek Tan Goan keng.
“Baiklah, jika memang para sute setuju, maka Pinto menetapkan
sekalian mengusulkan nama-nama Bok Hong Ek, Hoa Le, Tam
Liong, Ciok Ciam Liong sutit, Cia Nam Sutit, Ouw Sam Ciu Sutit,
Ong Wu Lan dan Thio Kan Thong Sutit. Besok kita menetapkan
mereka menjadi Calon Ciangbudjin dan kemudian kita menguji
mereka hingga tersisa 5 nama belaka. Kelima orang inilah yang
kemudian kita persiapkan bersama dan pada tahun mendatang,
kita memutuskan sekaligus menetapkan yang terbaik menjadi
Ciangbudjin Hoa San Pay. Untuk kita perhatikan, sesuai
peraturan perguruan, maka yang akan kita nilai besok bukan
hanya ilmu silat, tetapi berkaitan dengan penguasaan atas aturan
189
dan hukum Hoa San Pay, ketepatan dan kematangan
memutuskan, serta pemahaman penting lainnya mengenai Hoa
San Pay …..”
“Baik, lohu setuju ……”
“Apakah dapat kita tetapkan demikian para sute ….”?
Semua nampak mengangguk, kecuali Suma Ciong Beng yang
terlihat menjadi kurang bersemangat lagi. Tetapi, tidak ada
penolakan darinya. Dan pertemuan malam itupun kemudian
ditutup menunggu dibukanya acara besar Hoa San Pay besok
harinya. Tetapi Kheng Seng Thaysu masih belum dapat tidur,
karena dia sudah ditunggu dua orang muridnya yang sangat
dikasihinya: Hoa San Sian Li Kho Sian Lian, yang juga adalah istri
tokoh Benteng Keluarga Hu dan kini menjadi seorang pendekar
Kenamaan dan ditemani oleh murid bungsunya Tio Lian Cu.
Kelihatannya ada masalah penting yang ingin disampaikan
muridnya Kho Sian Lian dan karena itu sengaja menunggunya
untuk berbicara secara khusus ……
Sementara itu, begitu Sucinya sudah bertemu dan akan berbicara
dengan Suhunya yang terlihat semakin tua, Tio Lian Cu berkata:
190
“Suci, harap engkau jangan mengajak Ciangbudjin Suhu
berbicara sampai terlampau lama, Suhu sudah harus cepat
beristirahat …….”
“Waaaaah siauw sumoy, engkau bahkan lebih pelit memberiku
waktu ketimbang ciangbudjin suhu sendiri ……..”
Melihat kedua murid perempuannya saling menggoda dan
berdebat, Kheng Seng Thaysu tersenyum gembira. Tapi,
memang begitulah kehidupannya akhir-akhir ini. Dia tahu, murid
bungsunya ini memang sangat menghormati dan mencintainya
seperti orang tua sendiri. Maklum, adalah dia sendiri yang
menyelamatkan Tio Lian Cu dari sergapan penjahat ketika anak
itu masih berusia 2 tahun dan kemudian memelihara dan
mengasihi anak itu seperti anaknya sendiri. Nama Tio Lian Cu
untungnya terdapat dalam sebuah mainan anak-anak yang
dipegang bayi usia 2 tahun waktu itu, sementara siapa keluarga
dan orangtuanya, tidak pernah Kheng Seng Thaysu dapat
menemukan dan mencarinya. Jadilah dia membesarkan anak
kecil itu yang kini sudah berusia 12 tahun. Jangan dikira dia
seorang perempuan dan berusia kecil, karena 10 tahun ini, Kheng
Seng Thaysu langsung yang mendidik dan melatih bocah
perempuan yang sangat cerdas dan pintar bergaul itu. Bahkan,
191
Toa Suhengnya yang malah masih melebihi kesaktiannya, tidak
segan ikut membantu melatih bocah perempuan itu.
“Ciangbudjin Suhu, ayah mertua Hu Sin Kok menyampaikan
salam dan sekaligus pesan khusus yang beliau orang tua, minta
disampaikan langsung kepada Ciangbudjin Suhu dan konon tidak
perlu mendapat jawaban …..”
“Terima kasih muridku ……… pesan apakah gerangan itu …..”?
“Seorang tokoh Hong Lui Bun menampakkan diri di daerah Barat
di Provinsi Ceng Hai dan konon sempat mempertontonkan Ilmu
Ceng Hwee Ciang – Ilmu Api Hijau yang sangat mujijat dan
beracun. Hanya itu pesan ayah mertua …….”
Terlihat wajah Ciangbudjin Hoa San Pay berubah hebat
mendengar pesan tersebut. Tetapi, karena dia tidak harus
menjawab, maka dia hanya mengelus-elus jenggotnya dan
beberapa detik kemudian wajahnya kembali normal. Dan diapun
berkata:
“Baiklah muridku, kita akan mempercakapkannya kelak,
sebaiknya kita segera beristirahat sekarang. Dan ingat, jangan
pernah engkau singgung-singgung lagi apa yang engkau
sampaikan tadi, juga jangan kepada siapapun tokoh Hoa San
192
Pay. Biarlah kita mempersiapkan diri lebih baik …… nach,
beristirahatlah muridku …..”
“Baik Suhu …….. Lian ji mohon diri …..”
=================
Sesuai harinya, Hoa San Pay terlihat begitu meriah, mendandani
setiap sudut dengan warna-warni yang membuat Markas Hoa San
Pay terasa lebih hidup. Dan semaraknya semakin terasa karena
sejak selesai sarapan pagi, sampai selesai makan siang yang
dilewati dan dilakukan bersama, banyak sekali acara hiburan
dilakukan. Bahkan selepas makan siang, ada atraksi adu silat dan
pertunjukan kemajuan ilmu Hoa San Pay di panggung yang sudah
disediakan. Kemeriahan yang tentu saja teramat jarang
ditampilkan di puncak sunyi Gunung Hoa San. Kini, semua
kebisaan dan semua kehebatan Hoa San Pay ditampilkan,
termasuk menampilkan para murid pengembara yang ikut
membawa nama harum Hoa San Pay. Pendeknya, hari itu
memang hari yang ditunggu-tunggu dan membuat semua mahluk
di Hoa San Pay larut dalam suasana yang sangat
menggembirakan.
193
Apalagi karena semua pesta dan kemeriahan berlangsung secara
wajar dan tentunya menambah semarak serta sukacita seluruh
warga Hoa San Pay, dan wajah-wajah penuh kepuasan terlihat di
muka semua tokoh Hoa San Pay. Hanya saja, jika ada yang
kurang, adalah Ciangbudjin Hoa San Pay yang hanya
mempertunjukkan dirinya pada pembukaan acara, dan kemudian
mengundurkan diri. Mungkin karena usia tuanya. Tetapi, acara
tentu saja tetap berlangsung seru dan ramai, karena hanya
Ciangbudjin yang mundur beristirahat dengan ditemani kedua
muridnya Kho Sian Lian dan Tio Lian Cu. Selebihnya tetap
bergembira bersama menikmati hari bahagia yang mampu
mempertemukan nyaris semua tokoh Hoa San Pay, baik yang di
gunung maupun mereka yang berkelana dan mengelolah
piauwkiok.
Setelah semua kegirangan dilalui, Ciangbudjin Ho San Pay,
Kheng Seng Thaysu kembali diundang untuk segera memasuki
arena penuh sukaria itu. Menjelang sore hari, setelah selesai
pertunjukan silat dari para piauwkiok dan pendekar pengelana
asal Hoa San Pay berakhir, akhirnya acara pengumuman akan
segera dilakukan. Itulah sebabnya Ciangbudjin kini kembali
memasuki panggung acara yang ditata dan diatur menjadi begitu
semarak menambah keceriaan warga Hoa San Pay. Dan tidak
194
menunggu lama, Ciangbudjin itu kemudian nampak sudah berdiri
dan kini berjalan menuju ke tempat yang khusus disediakan
baginya untuk tampil dan berbicara kepada semua warga
perguruan.
Sepanjang perjalanannya menuju ke podium, tak henti-henti
terdengar pujian dan teriakan anak murid Hoa San Pay mengiringi
perjalanannya yang sebenarnya sangat singkat dan pendek ke
podium. Bahkan, ketika sudah berada di podium sekalipun,
teriakan nama Kheng Seng Thaysu masih belum reda. Hari ini
memang benar-benar menjadi harinya Hoa San Pay, sampaisampai
Ciangbudjin tua Kheng Seng Thaysu terharu dan ikut
bergembira bersama seluruh anak muridnya. Tak pelak, diapun
mengedarkan pandangannya ke segenap sisi dan sudut yang
nyaris semua terisi oleh anak murid Hoa San Pay dari berbagai
kalangan dan berbagai tingkatan. Baik yang berdiri jauh dari
podium di lapangan yng terbuka, maupun yang bersandar di
bangunan-bangunan sekitar lapangan, ataupun juga yang duduk
di podium kehormatan, semua terlihat bersuka-cita dan mengeluelukan
kebesaran Hoa San Pai dan Ciangbudjin itu. Bagaimana
dia tidak terharu ….?
Wajar saja, karena Ciangbudjin ini memang adalah tokoh yang
TEGAS, tetapi sekaligus sangat MENGASIHI anak muridnya dan
195
seluruh warga HOA SAN PAI. Tokoh yang dapat menghukum
secara adil tetapi yang juga memberi penghargaan yang layak
kepada mereka yang berprestasi. Bahkan juga, tokoh besar itu
dapat ikut sedih dan ikut merasakan kesedihan anak muridnya;
Sekaligus dilain waktu dia juga mampu dan dapat membaur
dengan tertawa bersama-sama dengan anak-anak muridnya yang
sedang bersukacita. Prestasinya selama memimpin Hoa San Pay
melampaui masa krisisnya juga sangat layak dicatat dan
dibanggakan, karena Gunung Hoa San semasa lebih 20 tahun
masa menjadi Ciangbudjin, semakin bertambah sejahtera dan
bahkan sampai mampu membangun banyak sekali bangunan
baru bagi kepentingan Perguruan Hoa San Pay. Hubungan
dengan perguruan-perguruan utama di Tionggoan terjalin sangat
baik, demikian juga hubungan dengan sesama insan rimba
persilatan juga sangat baik dan nama Hoa San Pay sekarang ini
sangatlah diperhitungkan kawan maupun lawan-lawan mereka.
Selain itu, nama besar Hoa San Pay juga sedang berkibar dan
berada dipuncak masa kegemilangannya. Mereka begitu ditakuti
lawan dan disegani kawan. Kemampuan Ilmu Silat Ciangbudjin
mungkin bukan yang paling hebat dan paling sakti sendiri di rimba
persilatan Tionggoan, tetapi pasti adalah salah satu yang hebat
dan diperhitungkan orang banyak. Apalagi, dewasa ini, pendekar
196
pengelana Hoa San Pay, melaporkan betapa mereka dipandang
tinggi dan dihargai semakin tinggi saja dewasa ini. Dan semua
terjadi pada masa Kheng Seng Thaysu menjadi Ciangbudjin Hoa
San Pay, seiring dengan pertumbuhan pesat setelah peristiwa
berdarah 25 tahun silam. Tetapi, ketika kini sang Ciangbudjin
memandang ke segenap pelosok Hoa San Pay, membuat
Ciangbudjin tua itu semakin mantap dan yakin, bahwa saatnya
telah tiba, saat untuk segera mewariskan pucuk pimpinan Hoa
San Pay. Dia sudah melaksanakan semua tugasnya secara baik
dan paripurna, dan masa istirahatnya sudah menanti. Tetapi,
selain itu justru karena pertumbuhan yang pesat dan “sesuatu”
yang terjadi malam tadi maka dia tergetar sekaligus juga
tersentuh oleh keharuan akan sambutan murid-murid Hoa San
Pay. Karena itu, menindas rasa haru dan kebanggaan pribadi,
tokoh tua itu kemudian mengeraskan hatinya dan mulai berbicara:
“Saudara sekalian, anak-anak murid Hoa San Pay, baik kalian
yang tinggal dan membangun Hoa San Pay di gunung Hoa San,
maupun yang membangun nama besar Hoa San di luar sana ……
kalian semua, kita semua, yang bersusah payah membangun
kebesaran Hoa San Pay …….. hari ini, Pinto ucapkan terima kasih
atas semua ketekunan, kerja-keras, upaya panjang menjaga
persaudaraan dan terus membangun nama besar Hoa San Pay
197
kita. Pinto, selaku Ciangbundjin Generasi ke11, merasa sungguh
bersuka cita karena Hoa San Pay boleh semakin dihotmati orang
dewasa ini. Tidak ada lagi sesuatu yang lebih menggembirakan
selain menyaksikan kemajuan dan kebesaran Hoa San Pay di
tangan kalian semua, ditangan kita semua. Baik kalian yang
berkarya di luar Gunung Hoa San dan mengharumkan nama
perguruan kita, maupun yang menjaga nama dan kehormatan
perguruan di Gunung Hoa san. Jika nama Hoa San Pay kini begitu
dihargakan banyak, maka itu adalah kerja keras kalian semua,
kerja keras kita semua. Kita semua sudah bekerja keras dalam
membangun rasa percaya diri dan kebanggaan kita semua.
Tetapi, setelah semua prestasi itu, pinto ingin mengingatkan kita
semua, bahwa ketika kita lengah di puncak, maka angin yang
bertiup semakin tinggi dan kencang, siap untuk meruntuhkan
kebanggaan semu kita itu. Catat hal itu. Siauw Lim Sie, Bu Tong
Pay, Partai Persilatan yang pernah sangat dimalui semua insan
persilatan, pernah mengalami apa yang Pinto katakan …….
Berada di puncak untuk sekian lama dan kemudian terhempas
ketika kurang siap dengan bencana. Maka, Pinto ingatkan kalian
semua, jangan terus berbangga diri dan menganggap capaian
sekarang sebagai sesuatu yang sudah selesai dan membuat kita
alpa dan lengah. Prestasi kita hari-hari sebelumnya, selayaknya
memicu semangat juang kita untuk berani berbuat lebih baik lagi
198
kedepan, dan Pinto yakin generasi yang baru akan siap
melakukannya ………”
Pidato Kheng Seng Thaysu terhenti sejenak, dan tidak ada
seorangpun yang ribut dan bersuara saking terpesona dan
terbawa oleh alur berbicara Kheng Seng Thaysu yang memang
penuh rasa haru pada saat itu. Semua benar-benar ingin
mendengarkan apa-apa yang akan terus disampaikan oleh
Ciangbudjin tua yang memang begitu dihormati dan disayangi
semua anak murid Hoa San Pay. Dan apa yang disampaikan
tokoh itu memang diresapi dan dimaknai semua anak murid Hoa
San Pay. Dan mereka masih menunggu apa selanjutnya yang
akan disampaikan Ciangbudjin mereka itu, sesuatu atau
penyampaian yang merupakan pamungkas acara pada hari itu;
“Tetapi, Pinto sudah menjadi semakin tua dan semakin ingin
menghabiskan banyak waktu sebagaimana yang dilakukan Toa
Suheng selama ini. Oleh karena itu, Pinto ingin mengumumkan
sesuatu yang penting pada hari ini ……. Menghindari pertarungan
kosong antara para murid utama Hoa San Pay, maka Pinto,
semasa masih menjabat mengumumkan, bahwa pada 1 tahun
kedepan, akan mengangkat dan mewariskan JABATAN
CIANGBUDJIN HOA SAN PAY kepada ANGKATAN LEBIH
MUDA dengan aturan Perguruan sebagai berikut: Setahun ini,
199
para calon Ciangbudjin harus mampu menunjukkan kemampuan
mereka dalam Ilmu Silat Hoa San Pay, kemampuan menangani
MASALAH dan kematangan dalam mengambil keputusan.
Setahun kedepan, sebagai Ciangbudjin Angkatan ke-11, Pinto
akan menetapkan pengganti pinto untuk menjadi Ciangbudjin Hoa
San Pay angkatan ke-12. Dan, hari ini, Pinto putuskan akan
mengumumkan nama-nama calon Ciangbudjin HOA SAN PAY
Angkatan ke-12 dengan catatan, kemajuan dan kematangan
mereka akan Pinto pantau dan putuskan selama SETAHUN ini
…….. nach, nama-nama yang Pinto sebutkan, agar maju ke
depan dan menghadap para tokoh Hoa San Pay dan juga seluruh
anak murid Hoa San Pay. Mereka-mereka adalah,
……………………”
Kheng Seng Thaysu berhenti sejenak, sementara suasanapun
menjadi sangat tegang menunggu pengumuman Kheng Seng
Thaysu. Bahkan semua tokoh utama yang hadir, yakni Wakil
Ciangbudjin dan ketiga Sute Kheng Seng Thaysu juga terlihat
agak goyah dan tegang. Termasuk dua tokoh hebat Hoa San Pay
yang mengembara dan juga nampak hadir dan berada di
panggung kehormatan, yakni Pok Thian Tiauw (Rajawali
Menerbangi Langit) Gouw Beng dan Siauw Pek Liong Kiang Cong
Yauw. Keduanya ikut terhanyut dan merasakan ketegangan
200
dalam menunggu atau mendengarkan kalimat selanjutnya dari
Kheng Seng Thaysu yang sedang tertahan;
Setelah terdiam beberapa saat, tiba-tiba terdengar suara Kheng
Seng Thaysu dengan lebih keras dan berpengaruh:
“Hoa Le …….”
Begitu mendengar namanya disebut, Hoa Le, seorang tokoh
hebat dan salah seorang anak murid Ciangbudjin dan yang sudah
berumur 51 tahun, terlihat mencelat naik panggung dan kemudian
langsung berlutut dan berkata penuh hormat:
“Terima kasih atas kepercayaan Ciangbudjin Suhu ……”
Setelah itu, kembali terdengar suara Kheng Seng Thaysu yang
berturut-turut memanggil nama-nama, Tam Liong, Ciok Ciam
Liong, Cia Nam, Ouw Sam Ciu, Ong Wu Lan dan Thia Kan Thong.
Nama-nama tersebut adalah anak murid dari kelima tokoh utama
Hoa San Pay dewasa ini dan memang adalah tokoh-tokoh yang
selalu mengurus urusan Perguruan, baik di Hoa San maupun di
rimba persilatan. Sehingga nama-nama mereka bukanlah namanama
yang asing. Nama-nama yang memang dianggap patut
menjadi Ciangbudjin.
201
Berturut-turut nama-nama tersebut datang dan berlutut kepada
Kheng Seng Thaysu hingga mereka kemudian berjejer
menghadap para tokoh besar Hoa San Pay dan setelah itu, Kheng
Seng Thaysu berkata:
“Murid-muridku, kalian semua kutetapkan menjadi Calon
Ciangbudjin Angkatan ke-12, tetapi ketetapan mengenai yang
menjadi CIANGBUDJIN ANGKATAN KE-12 akan Pinto umumkan
dan tetapkan langsung pada 1 tahun mendatang di hari dan waktu
yang sama. Oleh karena itu, maka kalian semua, diharapkan
melatih diri dan mematangkan kemampuan masing-masing agar
pada saatnya, siap mengemban amanat Perguruan dan
melanjutkan usaha dan perjuangan kita …..”
Begitu mengumumkan hal tersebut, barulah terdengar tepuk
tangan dan sambutan hangat semua anak murid Hoa San Pay.
Tetapi, jika diikuti, sambutan tersebut tidak semeriah dan tidak
seramai beberapa waktu sebelumnya. Seperti ada rasa terpaksa
untuk bertepuk tangan menyambut pengumuman Ciangbudjin
Hoa San Pay, bahkan rasa penasaranpun nampak di wajah Wakil
Ciangbudjin Hoa San Pay dan dua tokoh preman Hoa San Pay.
Juga di wajah dua sute lainnya dari Kheng Seng Thaysu. Tetapi,
meski tahu ketidakpuasan itu dan paham apa sebabnya, Kheng
202
Seng Thaysu tidak bergeming, bahkan kemudian melanjutkan
dengan berkata:
“Demikianlah pengumuman Pinto pada hari berbahagia semua
tokoh dan murid Hoa San Pay ini ini. Pinto memahami, ada rasa
penasaran menyangkut murid Pinto, tetapi karena satu dan lain
sebab, murid utama Pinto, Bok Hong Ek, harus menghadap
dinding hukuman selama SATU TAHUN. Dan nasibnya akan
Pinto tentukan pada satu tahun mendatang setelah menunaikan
hukumannya ……… demikian pengumuman Pinto dan Selamat
bagi kita semua ……. Omithoud …”
Setelah mengucapkan satu kalimat singkat di akhir pidatonya,
semua terdiam dan banyak yang tidak paham. Karena itu, sekali
lagi dengan terpaksa semua bertepuk tangan dan mengakhiri
acara dengan menyaksikan pertunjukan kemampuan para Calon
Ciangbudjin ….. dan malam harinya, dilanjutkan dengan Pesta
bersama sebagai penghujung acara besar Hoa San Pay
…………..
Dalam perjalanan seturun dari panggung kehormatan, Wakil
Ciangbudjin, dalam rasa penasarannya sempat bercakap dan
berbisik kepada Ciangbudjin:
203
“Ciangbudjin Suheng, mengapa Bok Sutit mendapat perlakuan
seperti itu …..”?
Wajah Kheng Seng Thaysu terlihat misterius, tetapi tetap dengan
tenang dia menjawab pertanyaan sutenya itu:
“Sam sute …… ada beberapa hal yang belum dapat pinto
sebutkan, tetapi engkau sabarlah. Hal ini pinto lakukan atas
permintaan sesepuh kita. Tolong engkau berusaha merahasiakan
hal ini, belum dapat pinto jelaskan seutuhnya …..”
Mendengar perkataan itu, apalagi diutarakan dengan Ilmu
Menyampaikan Suara, membuat Gan Tiong Ciang In Tiong Han
terkejut. Dia mengenal dan paham sekali integritas dan
pengabdian Ciangbudjin yang adalah suhengnya ini, dan dia juga
sangat mengerti, dalam beberapa hal Suhengnya ini bertindak
agak rahasia, tetapi tetap untuk kepentingan Hoa San Pay. “Hal
apa yang sangat mendesak sampai suheng memutuskan secara
demikian aneh ….”? Ini yang terus menggelayuti pemikiran sang
Wakil Ciangbudjin. Tetapi, bukan hanya dia yang penasaran,
kedua tokoh preman Hoa San Pay juga mendatanginya dengan
pertanyaan yang sama, tetapi memperoleh juga jawaban yang
sama.
204
Malam semakin larut, para murid Hoa San Pay masih berpesta.
Ada yang senang dan ada yang kurang gembira, bahkan yang
kurang puas dan kurang gembira jauh lebih banyak. Bukan apa,
karena sesungguhnya, Bok Hong Ek yang sangat setia dan mirip
suhunya begitu menyayangi murid-murid Hoa San Pay,
difavoritkan banyak tokoh untuk menjadi Ciangbudjin Angkatan
berikutnya. Karena ketenangan, ketegasan dan kelembutannya
dalam memperlakukan seluruh anak murid Hoa San Pay.
Memang, ada juga yang kurang senang dengannya, tetapi hampir
seluruh anak murid Hoa San Pay menghormati dan mengasihi
Bok Hong Ek sebagaimana mereka menghormati suhunya yang
sama berwibawa dan murah hatinya dengan tokoh itu.
Sementara itu, di ruangan Ciangbudjin Hoa San Pay, Kheng Seng
Thaysu, Nampak sedang berlutut 3 orang. Mereka terdiam,
berbeda dengan suasana di luar yang terlihat menggembirakan
dan penuh sukacita;
“Hong Ek, pinto pahami suasana hatimu, dan sengaja Pinto tidak
atau memutuskan untuk belum memberitahumu sebelumnya. Hal
ini karena ada persoalan penting yang kelak akan engkau pahami
dengan sendirinya. Engkau boleh tidak merasa puas dengan
suhumu ini apalagi terhitung sejak besok hari, engkau
kuperintahkan untuk berada di ruangan rahasia menjalani
205
“hukuman” bersama dengan siauw sumoymu. Jangan bertanya
apa-apa kepadaku, karena kalian berdua akan mengerti dengan
sendirinya tanpa perlu bertanya. Dan engkau Sian Lian, engkau
boleh mengisahkan kejadian di Hoa San kepada mertuamu, dia
pasti mengerti dengan semua apa yang kulakukan. Demi
kejayaan Hoa San Pay, tahan semua pertanyaan kalian, dan ikuti
semua yang terjadi dengan hati terbuka, jangan kehilangan
kewaspadaanmu, juga jangan menghilangkan semua jiwa dan
semangat mengabdi kepada banyak orang. Niscaya Hoa San Pay
akan terus jaya ………. Setelah malam ini, Pinto juga akan
menutup diri selama beberapa bulan, tidak perlu menemui Pinto
lagi …, nach, kalian semua boleh beristirahat. Lakukan sesuai
dengan perintahku kepada kalian semua, meski terlihat dan
terasa pahit saat ini … ”
“Ciangbudjin Suhu …….. tecu …. tecu …..”
“Hong Ek dan engkau Lian Cu, kalian berdua sangat paham dan
memahami Pinto sebagaimana Pinto memahami kalian berdua.
Tidak perlu bertanya malam ini, besok kalian berdua akan
mengerti dengan sendirinya …….”
Bok Hong Ek, Tio Lian Cu dan Kho Sian Lian akhirnya hanya bisa
saling pandang tidak mengerti, dan karena Suhu mereka sudah
206
berkata akan beristirahat, maka merekapun akhirnya melangkah
keluar setelah memberi hormat kepada sang Suhu. Banyak hal
yang mereka kurang atau tidak pahami, tetapi mereka diminta
bersabar dan akan mengerti sendiri kelak. Sungguh misterius.
Dan begitulah, keesokan harinya, Ciangbudjin Hoa San Pay,
Kheng Seng Thaysu memerintahkan Bok Hong Ek untuk menutup
diri di belakang gunung. Namanya saja menutup diri atau
menjalani HUKUMAN, tetapi, siapa yang tahu kejadian
sesungguhnya? Bahkan Bok Hong Ek sendiri juga bingung.
Nampaknya, hanya Kheng Seng Thaysu, Ciangbudjin Hoa San
Pay yang mengerti dan tahu apa arti dari tindakan m isterius dan
janggal bagi banyak orang di Hoa San Pay saat itu. Adalah
Ciangbudjin, Kheng Seng Thaysu sendiri yang menghantarkan
Bok Hong Ek menuju ke ruangan rahasia itu dengan ditemani oleh
Tio Lian Cu, murid bungsunya. Gadis kecil yang sangat cerdas ini
sudah menangkap ada sesuatu yang sangat misterius dan
membuat Suhunya memutuskan sesuatu yang tidak biasa. Atau
diluar kebiasaan yang senantiasa bijaksana dalam memutuskan.
Mengingat karena Bok Hong Ek sudah dianggapnya sebagai
AYAH sendiri karena memang yang selalu mengurus dan
melatihnya sejak masa kecilnya, maka gadis kecil itu meminta ijin
207
untuk menemani Suhunya mengantarkan Bok Hong Ek ke
ruangan terlarang Hoa San Pay itu.
Tetapi, anehnya, sejak saat itu bukan hanya Bok Hong Ek yang
menghilang, tetapi Tio Lian Cu juga ikut menghilang. Tetapi,
kepada anak murid Hoa San Pay, Kheng Seng Thaysu, Hoa San
Ciangbudjin hanya menegaskan bahwa Tio Lian Cu sudah
berangkat dan mengikuti Sucinya, Kho Sian Lian dan suaminya
untuk mengembara. Dan untuk keperluan itu, Kho Sian Lian dan
suaminya, sengaja berangkat di waktu malam dan tidak banyak
orang yang tahu keberangkatan mereka kembali ke Benteng
Keluarga Hu. Dan sejak saat itu, Tio Lian Cu menghilang, Bok
Hong Ek, melakukan samadhi sebagaimana pemberitahuan
Suhunya. Apakah semua selesai? Akankah jalan yang ditempuh
Kheng Seng Thaysu sesuai dengan kebutuhan diambilnya
tindakan itu? Entahlah, karena waktu jugalah yang akan
menjawab dan membuktikan ketepatan diambilnya tindakan
rahasia tersebut.
=====================
“Lapor Bengcu …… setelah melakukan penyelidikan mendalam,
nampaknya gerakan-gerakan berapa tahun silam kembali
senyap. Seluruh kekuatan Kaypang sudah dikerahkan untuk
208
menyelidiki jejak-jejak yang mencurigakan, tetapi hingga
sekarang tidak ada yang mencurigakan. Kecuali, munculnya jago
dari Hong Lui Bun, yang sempat menampakkan diri di daerah
provinsi Ceng Hay. Berbeda dengan 20 tahun silam ketika mereka
hanya menghadirkan anak murid dan pasukan pendam belaka,
tetapi yang tampil pada 3 bulan berselang adalah salah seorang
tokoh besar mereka. Karena bukan saja dia mampu mengalahkan
keroyokan 20 orang anggota Kaypang dibantu sejumlah pendekar
pedang Hoa San Pay, tetapi diapun sempat berkata sombong:
“Bahkan Ciangbudjin Siauw Lim Sie sekalipun lohu tidak takut
…..”. Itulah kejadian yang cukup menarik akhir-akhir ini, selain itu
rasanya tiada lagi ……”
“Sinkay ….. Tiong ji menemukan beberapa tokoh yang sudah
lama bersembunyi dan mengundurkan diri sedang bepergian ke
daerah Barat. Entah magnet apa yang membuat mereka pada
turun gunung. Perjalanannya selama 6 bulan, hanya sempat
menemukan fakta itu, lainnya senyap. Itupun tanpa mengetahui
maksud mereka untuk turun gunung lagi. Tetapi, sejujurnya,
kesenyapan ini sangat sangat menggangguku dan membuat
firasatku mengatakan sesuatu yang tidak enak …… aku tahu
betul, mereka sepertinya sedang merancang pembalasan, hanya,
entah darimana dan kapan mereka akan memulainya ……”
209
“Hu Bengcu, sejujurnya, Kaypang Pangcu sendiri memang
memiliki firasat yang sama. Bahkan toa suheng yang sudah lama
menyendiri, juga merasakan adanya pergerakan yang terencana
namun bergerak secara menggelap. Menurut perhitungan toa
suheng, gerakan ini akan memulai penyerangan mereka
selambatnya 3,4 tahun kedepan. Tetapi, mereka tidak akan berani
langsung membentur Benteng Keluarga Hu yang menjadi pusat
pergerakan pendekar Tionggoan ……. karena itu, toa suheng
memintaku untuk memperingatkan perguruan-perguruan Go Bie
Pay, Kun Lun Pay, Hoa San Pay dan Thian San Pay …… rasanya
dari sana mereka akan memulai setelah menelan beberapa
perguruan kecil sebelumnya ……”
“Hahahahaha, Sinkay, jika pendapatku memang benar sama
dengan tokoh sebesar dan sehebat toa suhengmu si Jit yang sian
ang (dewa sakti Jit yang) Pek Ciu-ping, berarti lohu sudah layak
diperhitungkan. Tetapi, tetaplah meminta bantuan dan dukungan
toa suhengmu itu. Semakin lama dia semakin menuruti jejak
suhunya ……. Hahahahaha. Tapi, memang benar, kita harus
meminta agar perguruan-perguruan itu lebih waspada ……. Tiong
ji sudah kuminta untuk membantuku di sini agar pada waktunya
kita siap nanti ……”
210
“Betul sekali Hu Bengcu …” tokoh yang ternyata adalah Tek Ui
Sinkay, Hu Pangcu Kaypang itupun mengangguk-angguk. Entah
mengapa, tokoh ini sudah berada kembali di Benteng Keluarga
Hu, padahal terakhir dia munculkan diri di Thian Cong San
menemui sute termudanya disana.
Memang, salah satu tokoh yang sering berkunjung dan berdiskusi
dengan Hu Sin Kok yang sejak 5 tahun lalu diminta menjadi
Bengcu Tionggoan karena adanya gerakan-gerakan tersembunyi
dan dikhawatirkan memicu tragedy berdarah seperti 25 tahun
silam, adalah Tek Ui Sinkay yang juga adalah Hu Pangcu
Kaypang ini. Karena untuk urusan penting tersebut, dia mendapat
perintah langsung dari Pagcu Kaypang untuk mengerahkan anak
buah Kaypang guna menelisik adanya kegiatan-kegiatan
tersembunyi. Tetapi, setelah guncangan 5 tahun silam, ternyata
hingga saat sekarang, tidak ada lagi gerakan-gerakan yang
mencoba untuk meningkatkan ketegangan di Tionggoan. Tetapi,
yang pasti, Hu Sin Kok sama dengan Tek Ui Sinkay, memiliki
keyakinan kawanan perusuh seperti sedang bermain dibalik
kegelapan. Repotnya, setelah gerakan 5 tahun silam, tidak ada
lagi gerakan mereka yang terlacak setelah itu. Seperti tenggelam
begitu saja …..
211
“Sinkay …… selain masalah-masalah di atas, kelihatannya Hoa
San Pay sendiri sedang mengalami persoalan internal. Tiong ji
dan Lian ji baru saja kembali dari Gunung Hoa San dan
memberitahuku prihal tindak-tanduk Ciangbudjin Hoa San Pay
yang cukup aneh dan misterius. Bukannya menunjuk Bok Hong
Ek sebagai pewaris Ciagbudjin, tetapi bahkan menunjuk 6 murid
angkatan dibawahnya sebagai calon pewaris dan menghukum
Bok Hong Ek untuk menghadap dinding hukuman selama setahun
penuh. Tetapi, menurut Lian ji, Bok Hong Ek murid utamanya tidak
melakukan kesalahan apapun. Dan seiring dengan dihukumnya
Hong Ek, ternyata ikut menghilang adalah murid bungsunya ……..
tetapi, menantuku diminta untuk selalu mengakui bahwa murid
bungsunya itu ikut menantuku dan tinggal sementara di
Bentengku. Permainan apa yang sedang dilakukan Kheng
Ciangbudjin? Dan mengapa pula dia memberitahuku melalui
menantuku bahwa harus mengutarakan kepadaku dan lohu akan
mengerti dengan sendirinya? Masalah ini benar-benar
menggangguku dan belum dapat kusimpulkan sendiri apa yang
sedang terjadi …..”?
Nampak Tek Ui Sinkay terdiam mendengarkan penjelasan Hu Sin
Kok, Tionggoan Bengcu yang dipercaya untuk melakuykan
perlawanan terhadap para perusuh. Jabatan Bengcu sendiri
212
sebetulnya hanya “nama atau jabatan” biasa belaka, sehubungan
terjadinya gejolak beberapa tahun silam. Dan meksi tidak punya
kewenangan berlebih, tetapi Hu Sin Kok yang memimpin para
pendekar 25 tahun lalu, dipercaya mampu mengemban missi
yang sama setelah gangguan 5 tahun silam. Dan terutama karena
banyak yang meramalkan akan terjadinya gejolak yang baru
dalam waktu beberapa tahun kedepan. Maka, dipilihlah Hu Sin
Kok kembali.
“Bengcu ….. apakah engkau merasakan adanya pesan
terselubung …”?
“Tepat Sinkay ……”
“Dimana Kheng Ciangbudjin menyampaikan kepada Kho toanio
…”?
“Menurut menantuku, di kamar rahasia Ciangbudjin …….”
“Kapan kejadiannya Bengcu …..”?
“Kurang lebih 3 bulan silam …… atau bahkan lebih ……”
“Hmmmmmm …….” Tek Ui Sinkay nampak berpikir keras, dan
tiba-tiba dia memandang Hu Sin Kok yang pada saat yang sama,
213
juga sedang memandangnya. Diapun bergumam namun dapat
dimengerti Hu Sin Kok:
“Engkau menduga hal yang sama …..”? tanyanya tegang
“Tidak salah ……” Hu Sin Kok mengangguk lemah
“Jika demikian, Hoa San Pay sedang tertimpa bencana ……..”?
“Jika dugaanku tidak salah, sudah jatuh korban …..” desis Hu Sin
Kok
“Apa saran Bengcu ….”?
“Tidak banyak yang mampu bergerak cepat Sinkay …….”
“Baiklah, lohu akan mencoba membantu ….”
“Ingat, lakukan secara diam-diam untuk tidak mengganggu
kebanggaan Hoa San Pay. Dan jika Sinkay berkenan, Lian ji akan
turun membantu …..”
“Pengetahuan Kho Toanio akan sangat membantu, tetapi
dugaanku, dia sengaja disuruh pulang untuk menjaga
keselamatannya …..”
214
“Aku tahu, tetapi pengetahuannya tentang Hoa San sangat
dibutuhkan, karena itu, kutitipkan dia kepada pihak Kaypang dan
bergerak secara menggelap…..”
“Baik Hu Bengcu, begitupun baik, lohu setuju ……”
Dugaan Tek Ui Sinkay dan Hu Sin Kok memang jitu. Memang
benar, pada saat itu di Hoa San Pay sebuah kisah kelam sedang
dimulai. Diawali dengan ditemukannya salah seorang calon
Ciangbudjin Hoa San Pay yang ditetapkan Kheng Seng Thaysu
bernama Ouw Sam Ciu, tewas terbunuh dalam kamarnya sendiri.
Jelas jika tokoh ini dibunuh tanpa perlawanan, karena tidak ada
satupun benda atau barang yang tercuri selain keadaan
kamarnya tetap rapih.
Hari sudah melewati tengah hari dan Wakil Ciangbudjin Gan
Tiong Ciang In Tiong Han sedang memerlukan kehadiran Ouw
Sam Ciu yang kebetulan menjadi murid kepala dari Le Goan Kay
sutenya untuk mendiskusikan sesuatu hal penting mengenai
urusan Hoa San Pay. Tetapi, setelah dicari kemanapun, tetap tak
seorang murid yang mampu menemukannya. Sampai akhirnya
seorang pelayan melaporkan bahwa sejak pagi kamar Ouw Sam
Ciu tertutup sehingga ia tidak dapat mengantarkan makanan pagi
untuknya. Informasi itu akhirnya menghantarkan para murid Wakil
215
Ciangbudjin In Tiong Han mendobrak pintu kamar Ouw Sam Ciu
yang masih terkunci. Dan akhirnya menemukan Ouw Sam Ciu
yang sudah tewas dengan keadaan tubuh yang cukup
mendatangkan rasa curiga;
Adalah Wakil Ciangbudjin Gan Tiong Ciang In Tiong Han yang
pertama kali melakukan pemeriksaan atas keadaan tubuh Ouw
Sam Ciu, murid kepala dari sutenya itu. Dan dengan segera dia
menemukan beberapa hal yang mencurigakan. Bahkan kemudian
sampai pada satu kesimpulan:
“Hmmmm, bukankah ini jenis pukulan Hong Lui Ciang (Pukulan
Angin Guntur) yang menggemparkan itu ….? Astaga, apakah
memang benar-benar merekapun sudah menyerang sampai ke
Hoa San Pay kami ini ….”? Gumam Wakil Ciangbudjin In Tiong
Han terkejut setengah mati.
“Suhu, apa maksudmu…..”? tanya Ciok Ciam Liong, salah
seorang murid In Tiong Han yang ikut mendampingi sang Suhu
untuk memeriksa laporan kematian salah seorang calon
Ciangbudjin Hoa San Pay.
Belum lagi In Tiong Han memberikan jawaban atas pertanyaan
muridnya itu, tiba-tiba melesat masuk ke dalam ruangan itu Le
216
Goan Kay. Dan begitu melihat didalamnya sudah ada In Tiong
Han, sam suhengnya, diapun kemudian bertanya dengan nada
suara penuh kekhawatiran dan rasa penasaran:
“Sam Suheng, bagaimana keadaan muridku …..”?
“Sute, engkau boleh memeriksanya sendiri, hanya, menurut
pemeriksaanku Ouw Sutit sepertinya tewas terserang Pukulan
Mujijat Hong Lui Ciang yang biasa dipergunakan tokoh-tokoh dari
Hong Lui Bun itu ….”
Mendengar jawaban In Tiong Han, Le Goan Kay terkejut dan
dengan cepat berjongkok untuk melakukan pemeriksaan. Dan
sebentar saja diapun menarik nafas panjang dan menjadi sama
tegangnya dengan In Tiong Han;
“Sam Suheng …. apakah artinya Hoa San Pay kita ….”?
“Betul …. Mari, lebih baik kita membicarakannya di luar saja”
tukas In Tiong Han singkat dan tegas dan kemudian dengan cepat
mendahului melangkah keluar ruangan menuju tempat
pertemuan.
Tidak berapa lama kemudian, menyusul datang Tan Goan Keng
dan Suma Cong Beng sehingga tokoh-tokoh utama Hoa San
217
Paypun lengkaplah, kecuali Kheng Seng Thaysu, sang
Ciangbudjin Hoa San Pay. Melihat wajah guram Wakil
Ciangbudjin In Tiong Han, kedua tokoh yang baru datang terdiam
dan merekapun mengikuti saja kemana In Tiong Han dan Le Goan
Kay menuju. Dan tak lama kemudian mereka tiba di ruangan
dimana mereka biasanya mengadakan rapat atau bertukar pikiran
antara sesama tokoh utama Hoa San Pay.
Begitu mereka semua menempati posisi masing-masing dengan
mengitari sebuah mejah besar di tengah-tengah mereka
berempat, Wakil Ciangbudjin In Tiong Han sudah berkata dengan
mimik dan suara sangat serius:
“Bagaimanapun juga, hari ini juga kita harus segera memanggil
Ciangbudjin Suheng. Bukan semata karena terbunuhnya salah
seorang murid kita yang menjadi salah satu calon ciangbudjin,
tetapi karena keadaan akan segera menjadi lebih buruk. Karena
kelihatannya penyusup dan si pembunuh Ouw Sutit berasal dari
musuh lama kita rimba persilatan Tionggoan. Dikhawatirkan, apa
yang selama ini kita antisipasi akan segera menjadi kenyataan,
dan kita perlu lebih siap ……”
“Sebentar Sam Suheng, dapatkah engkau memberitahukan kami
apa yang sebenarnya terjadi dengan Ouw Sutit ….”? tanya Tan
218
Goan Keng yang belum mengetahui secara lengkap apa yang
sebenarnya terjadi.
“Para sute, jika temuan lohu tidak keliru, maka Hoa San Pay kita,
saat ini sudah sedang berhadapan dengan jago dari Perguruan
Hong Lui Bun yang misterius. Karena berdasarkan pengamatan
lohu, jika tidak keliru, maka Ouw Sutit tewas karena Ilmu Pukulan
Hong Lui Ciang, salah satu ilmu andalan yang sangat hebat dan
penuh rahasia dari Hong Lui Bun ……”
“Astaga, benarkah demikian ….”? Kejar Tan Goan Keng
“Berdasarkan pengamatanku, maka memang memang begitu
keadaannya” tegas Wakil Ciangbudjin In Tiong Han
Sementara itu, Le Goan Kay terlihat masih belum dapat berkatakata,
karena sesungguhnya dia masih sangat sedih oleh kematian
murid kepalanya yang memang sangat diandalkannya selama ini.
“Sudah hampir 3 (tiga) bulan ini Ciangbudjin Suheng menutup
dirinya, rasanya sudah dapat kita meminta beliau untuk
menyelesaikan samadhinya kemudian memeriksa dan
menetapkan langkah persiapan kita …..” berkata In Tiong Han
219
“Apakah tidak sangat terburu-buru Suheng …..? Ciangbudjin
Suheng menetapkan waktu 3 bulan untuk tidak mengganggunya,
masih ada 3,4 hari lagi sebelum genap 3 bulan dia menutup diri
….” terdengar suara Suma Cong Beng mengingatkan pesan
Kheng Seng Thaysu sebelum menutup diri
“Justru karena tinggal sedikit hari dan kita sedang menghadapi
peristiwa besar maka perlu membangunkan Suheng …..”
“Lohu hanya berpikir, kita mestinya bisa mengerjakan sebelum
Ciangbudjin Suheng selesai dengan samadhinya. Memang
benar, urusan ini sangat menegangkan …… tapi, bagaimanapun
terserah Sam Suheng sajalah …..”
“Baiklah, dengarkan semua para sute …. Sesungguhnya
Ciangbudjin Suheng sedang menunggu gerakan lawan setelah 5
tahun lebih mereka berdiam diri. Ciangbudjin Suheng sudah
meramalkan kelak kawanan penjahat itu akan bergerak kembali
dan karena itu beliau sudah sangat siap mengantisipasi gerakan
tersebut. Kita harus memancing lawan untuk bergerak secara
berterang sambil memperkuat benteng Hoa San Pay kita ini.
Karenanya, mlam ini juga kita mempersiapkan diri kita semua,
setelah menemui Ciangbudjin Suheng, sore atau malam kita akan
bertemu untuk menetapkan langkah kita bersama …….”
220
“Sam Suheng ……. apakah engkau tidak engkau tidak curiga
serta menduga sekiranya ada orang dalam, seseorang atau
beberapa orang dalam Hoa San kita ini yang ikut membantu orang
luar dalam melakukan pembokongan ini …..”?
Mendengar pertanyaan Tan Goan Keng ini, Wakil Ciangbudin In
Tiong Han terpekur sejenak. “Pertanyaan yang sangat masuk di
akal”, desis Wakil Ciangbudjin itu, karenanya dia kemudian
berkata dengan suara perlahan:
“Setelah pengalaman 5 tahun silam, dan informasi dari berbagai
perguruan lainnya, maka bisa dipastikan apa yang engkau
tanyakan memang sangat tepat. Pasti ada orang dalam yang
membantu, tetapi siapa dia orangnya, kita masih belum
mendapatkan sedikitpun gambaran …..”
“Sam Suheng, kemungkinan besar muridku terbunuh karena dia
pernah membuntuti seorang murid Hoa San Pay yang
menurutnya sangat lihay dan bergerak dimalam hari secara
rahasia. Sayangnya, dia sama sekali tidak dapat mengenali anak
murid kita yang gerakannya sangat mencurigakan itu, dan sial
baginya, karena hari ini justru dia yang malah terbunuh ……”
221
“Sute, mengapa informasi ini tidak engkau sampaikan kepadaku?
dan apakah maksudmu, ada anak murid Hoa San Pay kita yang
ikut bergerak dalam serangan menggelap ini …”?
“Suheng, aku memang harus minta maaf, karena informasi
muridku ini sangat terbatas maka belum dapat kupastikan
kebenarannya. Tetapi, sejujurnya, menurut informasi muridku itu
yang kemudian kutafsirkan lebih jauh, adalah orang dalam sendiri
yang membunuh muridku, hanya, sayang lohu masih belum tahu
siapa gerangan orang itu. Hal ini terutama karena orang yang
dibuntutinya juga sempat melihat bagaimana muridku itu
memergokinya ……”
“Accchhhhh, jika memang demikian, dapat dipastikan penyusup 5
tahun lalu, mestinya memiliki teman-teman yang terus berada dan
hidup bersama kita semua di Hoa San Pay ini. Jika memang
demikian, maka Hoa San Pay kita, harus menjadi jauh lebih
berhati-hati lagi kedepannya, karena lawan kita itu justru berada
di tempat gelap dan rahasia dan dapat dengan bebas mengerjai
kita yang berada di tempat yang lebih terang. Jelas mereka selalu
mengintai untuk bekerja …”
“Benar, dan sesungguhnya, tokoh yang dapat menyusup masuk
dan membunuh muridku di Hoa San Pay ini hanya dapat dihitung
222
dengan jari belaka. Kecuali, ada diantara beberapa orang murid
yang dengan sengaja menutupi kemampuan mereka yang
sebenarnya …..”
“Benar, untuk tingkat kemampuan Ouw Sutit dewasa ini, hanya
kita berempat atau berlima dengan Ciangbudjin Suheng yang
mampu memasuki kamarnya tanpa dia mengetahui atau
menyadari kehadiran kita ……. Siapa lagi gerangan anak murid
kita yang mampu melakukannya ….”?
“Ini yang perlu kita selidiki ………”
Demikianlah, hingga bubar, keempat saudara seperguruan yang
menjadi pilar utama Hoa San Pay itu tidak memperoleh petunjuk
sedikitpun tentang siapa gerangan yang melakukan serangan
menggelap itu. Tetapi, celaka, karena menjelang malam, sebelum
In Tiong Han menyadarkan suhengnya, salah seorang murid Tan
Goan Keng, yakni Ong Wu Lan kembali ditemukan tewas
terbunuh. Ciri-ciri kematiannya persis sama seperti kematian Ouw
Sam Ciu, dan jelas terlihat jika Ong Wu Lan terbokong secara
menyedihkan. Terlihat dia tidak bersiap sedia dan tidak ada
bentuk perlawanan sama sekali, bahkan matanya masih
terbelalak bagai orang tak percaya dengan apa yang dia alami
sesaat sebelum dia menghembuskan nafasnya.
223
Hoa San Pay semakin gelisah, Wakil Ciangbudjin In Tiong Han
yang tadinya merasa panik, mulai muncul semangat
kepahlawanannya. Dengan cepat dia mengatur pertemuan
dengan ketiga sutenya dan kemudian membagi-bagi tugas antara
mereka berempat, bahkan mengatur penjagaan dan ronda
dengan jumlah murid yang lebih dilipatgandakan. Maka, pintu
masuk dan keluar, serta pintu-pintu yang dirahasiakan, termasuk
sudut-sudut yang mungkin dimasuki orang, dijaga secara sangat
ketat. Jika bisa, keadaan penjagaan pada waktu itu, anginpun
tidak akan dibiarkan masuk atau memasuki area Hoa San Pay.
Malam itu juga, sesuai kesepakatan keempat kakak beradik
seperguruan Hoa San Pay itu, maka Wakil Ciangbudjin Gan Tiong
Ciang In Tiong Han sudah memasuki ruangan samadhi Kheng
Seng Thaysu. Dia kaget dan terkejut, karena ternyata sudah
beberapa hari sebelumnya Ciangbudjin Suheng itu
menyelesaikan samadhinya. Begitu masuk, terdengar suara
Kheng Seng Thaysu:
“Sam Sute, engkau tutup pintu masuknya dan jangan biarkan ada
yang mendengarkan percakapan kita malam hari ini ……”
“Ciangbudjin Suheng …… engkau sudah ……”?
224
“Syukurlah Sam Sute, Budha masih memberkahiku sehingga
dapat menyelesaikan samadhiku lebih cepat beberapa hari. Tidak
usah engkau menjelaskan semuanya, lebih baik kita bercakapcakap
hal lain, karena semua kejadian di perguruan sudah Pinto
ketahui secara sangat jelas. Bahkan, Pinto dapat mengetahui
sesuatu lebih jelas dari yang sam sute ketahui …..”
“Ach, maksud Ciangbudjin Suheng ….”?
“Tahukah engkau dengan ilmu apakah kedua sutit terpukul mati
….”?
“Apakah bukan Hong Lui Ciang dari Hong Lui Bun yang serba
rahasia itu …..”?
“Sama sekali bukan sute …….. karena justru medreka terbunuh
masih masih dengan ilmu Hoa San Pay kita sendiri”
“Maksud Ciangbudjin Suheng …..”?
“Maksudku sederhana sam sute, pembunuh misterius itu adalah
anak murid Hoa San Pay sendiri, yang hebatnya ternyata sudah
mampu menguasai ilmu rahasia Hoa San Pay yang bagi
kebanyakan kita, dianggap sudah hilang …..”
225
“Dapatkah Ciangbudjin suheng menjelaskannya lebih terang …”?
“Sam sute, pernahkah engkau mendengar ilmu pukulan Jit gwat it
sian kun (pukulan matahari dan rembulan satu garis) ….”?
“Tentu saja Suheng ……”?
“Dan bagaimana dengan 'Thian-lo Sin-kuay-hoat' atau 'Ilmu silat
tongkat sakti jatuh dari langit serta ilmu sakti Tiang-kun Sip-toan
kim …”?
“Tentang Ilmu Thian Lo Sin Kuay Hoat tentu saja masih kukenal
suheng, tetapi Ilmu Sakti Tiang Kun Sip Toan Kim masih belum
pernah kudengar …..”
“Itulah soalnya Sute …….. tapi, begini, biar kujelaskan satu demi
satu. Ilmu Pukulan Jit Gwat It Sian Kun adalah Ilmu Pusaka Hoa
San Pay ciptaan Ciangbudjin Hoa San Pay generasi ke-7. Meski
pada masanya Hoa San Pay masih tergolong Perguruan kelas
menengah, tetapi dia sendiri terhitung tokoh cemerlang rimba
persilatan dan sangat diindahkan oleh Ciangbudjin Siauw Lim Sie
dan juga Ciangbudjin Bu Tong Pay sebagai perguruan utama dan
paling hebat pada masa itu. Bahkan, mereka bertiga bertarung
seimbang dan membuat Hoa San Pay mulai diperhitungkan orang
……. Seterusnya, menurut Suhu, leluhur kita itu pada masa
226
tuanya maju pesat dan meninggalkan Ciangbudjin Siauw Lim Sie
dan Bu Tong Pay. Di masa tuanya, dia menciptakan Ilmu Pukulan
Jit Gwan It Sian Kun, sebuah ilmu pukulan mujijat yang baru saja
dipakai membunuh kedua orang keponakan murid. Tetapi,
setelah itu, cosu kita itu menghilang dan entah kemana perginya
……..”
“Ciangbudjin Suheng, maksudmu …. Itu bukan Hong Lui Ciang
…”?
“Sama sekali bukan …… berapa jam terakhir ini Pinto berusaha
mencari penjelasan yang masuk akal bagaimana bisa ada
seorang tokoh Hoa San Pay yang memiliki kemampuan
menggunakan Ilmu Pukulan tersebut sementara Pinto baru
mampu menyempurnakannya beberapa waktu terakhir ini ……..
sungguh sangat membingungkan ……. dan yang kedua, Sam
Sute, tanda-tanda korban pukulan Jit Gwan It Sian Kun, nyaris
serupa dengan Hong Lui Ciang. Tetapi, bedanya, dalam keadaan
sempurna, ilmu Hong Lui Ciang dan Jit Gwan It Sian Kun
meninggalkan jejak yang sedikit berbeda tetapi sulit dibedakan
dengan mata telanjang. Ilmu Hong Lui Ciang akan memukul
hancur seluruh perkakas dalam tubuh manusia, tetapi Jit Gwan It
Sian Kun hanya memukul dengan menggetarkan dan
menggoyahkan jantung manusia hingga tewas. Jika engkau
227
memeriksa lebih teliti, maka engkau akan paham, bahwa pemukul
Jit Gwan It Sian Kun yang membunuh kedua Sutit, dan hebatnya,
dia sudah menguasai ilmu itu setingkat di atas Pinto sendiri. Dan
untuk saat ini, hanya ada 2 orang yang kukenal namun tidak
mungkin membunuh kedua sutit, yang menguasai Ilmu Pusaka
itu, yakni Toa Suheng kita sendiri dan sudah tentu Thian Hiat
Tosu, tokoh ajaib Hoa San Pay kita ……”
“Bagaimana dengan kedua Susiok …..”?
“Selama beberapa hari terakhir, Pinto mengamati kedua susiok
kita, dan sama sekali tidak ada jejak dan aktifitas dari mereka
berdua. Karena itu, satu-satunya kecurigaanku adalah Liok Kong
Djie atau murid keturunannya. Tokoh ini adalah calon Ciangbudjin
Angkatan Ke-9 yang sudah diusir oleh Couwsu karena kedapatan
memperkosa dan membunuh seorang anak murid Hoa San Pay.
Menurut penjelasan Suhu, Liok Kong Djie ini sangat cerdas dan
berbakat luar biasa, dan bahkan sudah menerima banyak warisan
Ilmu Hoa San Pay yang mujijat, tetapi kemudian ilmu-ilmunya
dimusnahkan dan setelah itu tokoh itu diusir dari Hoa San Pay
dan kemudian menghilang. Jika dihitung-hitung, usianya jika
masih hidup pada saat ini, maka ada sekitar 98-100 tahunan,
tetapi jelas bukan dia orang tua yang melakukan pembunuhan di
Hoa San Pay kita ini. Yang paling mungkin melakukannya adalah
228
murid atau cucu murid atau keturunannya yang ingin menuntut
balas. Siapapun dia, yang dapat kupastikan adalah, pembunuh
menggelap itu menggunakan Ilmu Pusaka Hoa San Pay kita
……..”
“Apakah Lion Kong Dji yang diusir oleh Couwsu kita itu benarbenar
sangat hebat Ciangbudjin Suheng …..”?
“Sute, menurut Toa Suheng kita, bakat Liok Kong Djie sama
cemerlangnya dengan Thian Hoat Tosu, dan mereka memang
merupakan tokoh-tokoh mujijat Hoa San Pay kita. Hanya, sayang
sekali, meski sudah mendapatkan kouwkoat ilmu mujijat Hoa San
Pay, Liok Kong Djie kemudian berubah khianat. Dan mulai
ketahuan belang yang sesungguhnya. Ada salah satu
keistimewaan tokoh Liok Kong Dji ini, yaitu sebuah
kemampuannya dalam membaca sekali dan dan langsung ingat
……. Keistimewaan ini yang membuat para tokoh kita pada masa
lampau selalu was-was dengan pembalasan dendam Liok Kong
Djie. Bisa dipastikan dia akan menurunkan Ilmu-ilmu yang tercatat
dalam ingatannya kepada orang lain, dan entah apa yang dapat
dilakukan oleh murid keturunannya kelak. Dan, adalah karena
kewelas-asihan Thian Hoat Tosu pada waktu itu, maka Liok Kong
Dji kemudian memilih mengundurkan diri dan menghilang dari
dunia persilatan. Tetapi, siapa tahu kemana dia pergi ? Sejak saat
229
itu, taka da seorangpun yang mendengarkan kabar
keberadaannya hingga sekarang ini …..”
“Tapi, untuk apa dia orang membunuh dan, melakukan membalas
dendam kepada Hoa San Pay Ciangbudjin Suheng…..”?
“Yang kukhawatirkan bukanlah pembalasan dendam kepada Hoa
San Pay, Sute, tetapi kepada murid-murid keturunan kita, karena
meskipun Liok Kong Dji sangat sesat, tetapi dia masih sangat
hormat kepada Suhunya dan Thian Hoat Tosu. Selain itu, dia
sendiri sebetulnya sangat fanatic untuk memajukan Hoa San Pay
kita. Hanya, dia sangat mendendam kepada garis keturunan
Ciangbudjin Angkatan ke-9,10,11 yang mewarisi jabatan yang
mestinya berasal dari garis Suhunya Liok Kong Dji. Tetapi, Suhu
Liok Kong Dji memilih mengundurkan diri setelah kasus Liok Kong
Djie. Itulah persoalan masa lalu Hoa San Pay sute …….
Persoalan lain yang kita hadapi adalah, selain masalah
munculnya Jit Gwan It Sian Kun, adalah persoalan PENYUSUP
yang masih belum tuntas. Maka, setelah malam ini, kabarkan
bahwa Pinto masih bersamadhi dan belum selesai, baru akan
tuntas berapa hari kedepan. Tugasmu adalah, mengawasi
seluruh anak murid kita dan tugaskan Tan Goan Keng dan Suma
Cong Beng mengawasi perondaan dan Le Goan Kay mengawasi
230
seluruh ruangan rahasia kita. Pinto sendiri akan bergerak dari
balik kegelapan ………”
“Begitupun baik Suheng …..”
“Satu hal lagi, satukan seluruh anak murid di bawah generasi kita,
nampaknya sasaran pembunuhan adalah mereka ……. tetapi,
untuk tidak menghadirkan kegelisahan, jangan beritahu mereka
persoalan ini. Biarlah untuk saat ini hanya Toa Suheng, Pinto dan
engkau Sute yang mengetahui secara jelas persoalan ini … “
“Baik Suheng, tapi apakah toa suheng baik keadaannya ”?
“Sudah tentu Sute, dia bahkan sedang berusaha keras mendidik
calon Ciangbudjin generasi selanjutnya di tempatnya yang
terlarang itu …..”
“Sampaikan salamku kepada Toa Suheng, semoga dia orang
baik-baik saja dan upayanya berhasil dengan baik ……”
“Pasti kusampaikan sute …….”
“Baiklah, sutemu mohon diri Ciangbudjin Suheng …..”
231
Belum lagi In Tiong Han melangkah keluar dari tempat suhengnya
itu, tiba-tiba langkah kakinya tertahan dan terdengar sebuah
suara:
“Sam sute ……”
Suara itu mengaung dan mengambang, tanda yang
mengeluarkan suaranya adalah tokoh yang hebat luar biasa. Dan
suara itu, sudah lama tak didengarkan lagi oleh In Tiong Han. Tak
salah, suara itu sangat akrab dengannya tahun-tahun silam,
karena suara itu adalah suara TOA SUHENGNYA yang biasanya
melatih mereka dalam Ilmu Silat mewakili Suhu mereka yang
sudah sangat tua:
“Toa suheng, engkaukah itu …….”?
Beberapa detik yang tak terikuti mata, di samping Kheng Seng
Thaysu sudah duduk seorang tua lainnya dengan rambut dan
jenggot yang semua sudah berubah memutih. Tetapi wajah dan
matanya menyinarkan pandang mata yang teduh dan lembut.
Seperti juga sinar mata Kheng Seng Thaysu yang selalu teduh
dan menyejukkan hati semua sutenya dalam melewati 25 tahun
penuh gejolak di Hoa San Pay. Melihat kehadirannya, dengan
penuh haru In Tiong Han yang sudah 10 tahun lebih tidak
232
menjumpai toa suhengnya ini mendekat sambil berlutut dan
memberi hormat:
“Menemui toa suheng ……”
“Sudahlah Sam Sute, hidup kita sebetulnya sudah ada di
penghujungnya, untuk apa engkau berlaku seperti anak kecil lagi
……”?
“Ach, betapapun sudah 10 tahun terakhir aku tak menjumpaimu
toa suheng, wajar jika akupun merasa sangat terharu ……..”
“Sudahlah, ada beberapa hal yang ingin kusampaikan kepada
kalian berdua. Waktuku tidak akan panjang untuk bercakapcakap,
dan kemudian, biarlah kalian berdua nanti yang
mendiskusikannya dengan para sute yang lainnya …….”
“Toa suheng, adakah engkau melihat sesuatu yang lain …..”?
“Ciangbudjin Sute …….. engkau menebak tepat …..”
“Amitabha …….”
“Jiwi Sute ……. harus kukatakan, Liok Kong Djie memang
seorang yang sangat cerdas dan berbakat luar biasa.
Sesungguhnya, jika tidak berjiwa sesat, dia adalah tokoh hebat
233
luar biasa bagi Hoa San Pay. Sayang, dia memiliki jiwa yang
sesat. Tetapi, meskipun demikian, Liok Kong Djie adalah tokoh
yang sangat fanatik dan menjunjung tinggi perguruan kita Hoa
San Pay. Karena itu, tidak sampai hati dia orang tua menyuruh
murid pewarisnya untuk membumihanguskan Hoa San Pay.
Selain itu, tokoh yang mewakilinya untuk merebut Hoa San Pay
beberapa puluh tahun silam, boleh dikata tidak nempil kecerdasan
dan kemampuan ilmu silatnya. Padahal, lohu bersama Thian Hoat
Supek sudah meramalkan bahwa Liok Kong Djie pasti sudah
menciptakan beberapa Ilmu Silat hebat selama dalam
persembunyiannya. Thian Hoat Supek sudah memulai upaya
antisipasinya atas kekisruhan kelak, dan ……. Jiwi sute, dengan
menyesal harus kukatakan, kelihatannya utusan Liok Kong Djie
akan bersekutu dengan perusuh lama di Hoa San Pay. Mereka
sepertinya sudah menyusun siasat jangka panjang dan
menantikan kelengahan kita Hoa San Pay untuk turun tangan.
Hanya karena lohu dan Thian Hoat Supek maka mereka masih
belum berani turun tangan, jika tidak, maka sudah jauh-jauh hari
mereka bertindak. Akhir-akhir ini, lohu menemukan kenyataan
yang mengkhawatirkan …….. kelihatannya mereka sudah sangat
siap untuk bertindak. Mereka mengundang tokoh-tokoh hebat
yang untuk melawannya akan sangat membutuhkan
pengorbanan besar. Sayang sekali, Thian Hoat Supek sudah
234
kembali menghilang setelah menemukan pewarisnya …… dan
Supek belum sempat melihat pergerakan terakhir persekutuan
yang sangat mengancam Hoa San Pay kita. Karena itu, jiwi Sute
……. tetap bekerja sebagaimana mestinya, meski belum akan
turun tangan, tetapi mereka pasti akan bertindak dalam setahun
dua tahun nanti. Keadaan jiwi susiok yang bertapa, juga tak dapat
kita pastikan ………. Oh ya, Ciangbudjin Sute, anak muridmu
hanya mampu menerima 2 ilmu pusaka kita, ilmu mujijat kita yang
terakhir tak akan mampu dikuasainya secara sempurna.
Dipaksakapun tidak akan bermanfaat baginya …….. mudahmudahan
Thian Hoat Supek yang berhasil dengan murid
pewarisnya …”
“Amitabha …… toa suheng, apakah dalam pengamatanmu
mereka memang sudah bersiap untuk bertindak ….”?
“Tidak salah lagi …… tokoh-tokoh yang memasuki Hoa San Pay
beberapa waktu belakangan ini, sungguh bukan tokoh
sembarangan, bahkan tidak disebelah bawah kemampuan jiwi
sute …..”
“Toa Suheng, apakah kita hanya akan berdiam diri belaka dan
menanti mereka untuk memulai penyerangan dan tindakan
235
menggempur yang kelak akan menimbulkan begitu banyak
korban di anak murid kita ….”?
“Sam sute, sejujurnya, belum kutemukan jalan terbaik. Dalam soal
siasat dan mengatur perguruan, adalah tugas jiwi sute, dalam
tugas menjaga dan melatih tunas masa depan Hoa San Pay
adalah tugasku …..”
“Apakah ada tokoh yang dapat melampaui toa suheng ……”?
kejar In Tiong Han
“Acccchhhh sute, engkau terlampau mendewakan toa suhengmu
ini. Ingat, di atas langit masih ada langit ……..”
“Bukan begitu toa suheng, untuk mengetahui kekuatan lawan
belaka …..”
“Sungguh tak dapat kusimpulkan sam sute …… tetapi yang
menggelisahkan adalah, tokoh pengkhianat dari Hoa San Pay
sesungguhnya memiliki Ilmu kepandaian yang sangat mengerikan
…… entah apakah dapat kumengalahkannya …? Yang pasti, dia
sendiripun masih ragu apakah akan mampu mengalahkanku ….”
“Toa suheng ……..? Benarkah …..”?
236
“Jiwi sute, kalian berdua tidak dapat membayangkan apa yang
dapat dilakukan Liok Kong Djie itu ……. Dia sungguh-sungguh
manusia mujijat ……”
“Amitabha ……. tetapi, apakah Toa Suheng sudah bisa menebak
siapa tokoh pengkhianat itu dari kalangan kita ….”?
“Ciangbudjin Sute, kemampuannya sungguh luar biasa, mungkin
tidak berada dibawah kemampuan toa suhengmu ini.
Kelihatannya, hanya Supek seorang yang akan mampu
menjinakkannya. Keberadaan tokoh itu baru kutemukan
seminggu terakhir, tetapi dia sangat mengenal seluk-beluk Hoa
San Pay dan selalu bergerak dari dalam Markas kita dan bukan
menyusup dari luar …….”
“Nampaknya justru tokoh inilah yang turun tangan membunuh
kedua Sutit kita itu …..” berkata In Tiong Han
“Amitabha …… Kelihatannya memang demikian sam sute ……”
“Jiwi sute …..……. Setelah melatih dan menembus beberapa
jalan darah Bok Sutit, rasanya mengurangi banyak kekuatanku.
Karena itu, lohu akan menutup diri selama kurang lebih setahun
bersama Bok Sutit yang akan terus berlatih, pada saat penobatan
Ciangbudjin baru, rasanya lohu sudah tidak berhalangan lagi.
237
Biarlah pada tahun mendatang, kita berusaha memancing mereka
untuk bertindak. Tetapi bagaimana kelak memancing mereka
bertindak, jiwi sute silahkan mengaturnya. Jangan lupa, jiwi sute
juga harus berlatih mempersiapkan diri, karena persoalan serius
yang dihadapi perguruan, maka biarlah ilmu pukulan Jit gwat it
sian kun (pukulan matahari dan rembulan satu garis) kalian
pelajari bersama. Tetapi, latihlah Ilmu tersebut secara rahasia,
biarlah lohu yang bertanggungjawab kepada leluhur kita. Untuk
keselamatan Hoa San Pay, sebaiknya percakapan ini jangan
melebar ke siapapun, bahkan juga termasuk ke ketiga sute yang
lainnya. Bukan apa-apa, untuk menjaga agar kita tidak
kecolongan musuh …….”
“Amitabha ….. baik toa suheng ……”
“Berkenaan dengan si penyusup yang menguasai Ilmu Pusaka
Ciangbudjin Hoa San Pay, lebih baik jangan jiwi sute
menempurnya. Setelah dari sini, sebarkan informasi jika lohu dan
Supek sudah kembali berada di sini, nanti malam sekilas lohu
akan tampilkan diri dan berbicara di kamar Ciangbudjin.
Setelahnya, jangan lagi mengganggu lohu untuk melakukan
penyembuhan ………. selebihnya, silahkan Jiwi Sute bertindak
menurut keadaan ……..”
238
==================
Strategi petak umpet yang dimainkan Ciangbudjin Hoa San Pay
dengan toa suhengnya, Boh-Hun-Jiu (si tangan pembelah langit),
Bun Thian Pah, nampaknya berhasil baik. Setelah makan korban
2 orang generasi penerus Ciangbudjin Hoa San Pay terbunuh,
maka tampil Bun Thian Pah yang meski sudah tua, berusia sekitar
80 tahunan namun masih sangat digdaya dan ditakuti di Hoa San
Pay. Kemampuannya bahkan disebutkan masih jauh mengatasi
Kheng Seng Thaysu yang menjadi sutenya sekaligus adalah
Ciangbudjin Hoa San Pay. Apalagi, dihembuskannya kabar
bahwa sudah hadir kembali tokoh DEWA adal Hoa San Pay, yakni
Thian Hoat Tosu yang sudah lama melegenda. Ini membuat si
pembunuh gelap menjadi sangat berhati-hati dan benar saja, dia
berdiam diri dan tidak berani membuat ulah lagi. Dan selama lebih
8 bulan keadaan di Hoa San Pay menjadi relatif lebih tenang.
Tenang-tenang tegang …. !!!
Tetapi, 2 bulan menjelang penetapan Ciangbudjin yang baru,
mungkin menunggu kelengahan pihak Hoa San Pay, tiba-tiba
ditemukan lagi dua orang calon Ciangbudjin Hoa San Pay tewas
terbunuh dengan cara dan ilmu yang sama dengan dua orang
terdahulu. Sekali ini yang terbunuh adalah Thio Kan Thong dan
Hoa Le, masing-masing adalah murid dari Le Goan Kay dan
239
Ciangbudjin Kheng Seng Thaysu. Tetapi pada saat bersamaan,
baik Ciok Ciam Liong maupun Cia Nam, kedua calon Ciangbudjin
Hoa San Pay tersisa, ditemukan terluka dengan cara berbeda.
Tetapi, keduanya jelas terluka oleh Ilmu Pukulan yang mirip, mirip
dengan Ilmu Pukulan yang menewaskan 4 orang calon
Ciangbudjin Hoa San Pay lainnya.
Sontak Hoa San Pay geger. Bukan apa-apa, selain semua calon
Ciangbudjin diserang dan nyaris binasa, justru bertepatan dengan
semakin dekatnya waktu dimana Calon Ciangbudjin akan
ditetapkan menjadi Ciangbudjin Hoa San Pay. Tetapi, yang lebih
menggegerkan lagi adalah pernyataan Ciangbudjin Hoa San Pay
setelah dia ikut mendatangi dan memeriksa keempat korban, dua
meninggal dan dua terluka. Keesokan harinya, Kheng
Ciangbudjin mengeluarkan pengumuman:
“Karena keadaan mendesak Hoa San Pay, maka selaku
Ciangbudjin Hoa San Pay angkatan ke-11, Pinto mengumumkan,
pengumuman dan penetapan Ciangbudjin Hoa San Pay angkatan
ke-12 akan dilakukan sesuai waktu. Dan siapa yang akan menjadi
Ciangbudjin Angkatan Ke-12 adalah sesuai keputusan penuh
Pinto sendiri ….. hal ini guna menghindari pembantaian terhadap
para calon Ciangbudjin Hoa San Pay. Pengumuman tersebut
akan langsung diikuti dengan Penetapan Ciangbudjin Hoa San
240
Pay Angkatan ke-12 ……… demikian pengumuman Pinto,
seterusnya sejak hari ini, Pinto akan berkonsentrasi menemukan
Pembunuh gelap itu. Supaya semua dapat menenangkan diri,
karena Pinto sudah dapat menebak lebih dari separoh siapa yang
bermain gila dalam Perguruan Hoa San Pay kita sekarang
ini…….”
Setelah pengumuman yang mengagetkan itu, semua anak murid
Hoa San Pay, terlebih keempat sutenya terkejut setengah mati.
Termasuk Wakil Ciangbudjin In Tiong Han yang selalu menjadi
teman bicara Kheng Seng Thaysu, juga kaget setengah mati
dengan pengumuman tersebut. Tidak menunggu sampai
terlampau lama, Wakil Ciangbudjin In Tiong Han sudah langsung
mendekati Ciangbudjin, menjejeri langkahnya dan kemudian
berkata sambil bertanya:
“Ciangbudjin Suheng ……… apakah ………”?
“Tidak perlu dilanjutkan Sute …….. semua urusan ini akan
langsung Pinto tanggung sendiri saja, tetapi yang jelas, jangan
ada anak murid Hoa San Pay kita lagi yang akan dikorbankan atau
dibunuh ……”
241
“Ciangbudjin Suheng, tetapi bukankah engkau sudah
mengumumkan calon-calon Ciangbudjin setahun silam ….?” kejar
Suma Cong Beng yang sama kagetnya dengan Wakil Ciangbudjin
In Tiong Han.
“Benar jiwi Sute ….. tetapi setelah jatuh korban, maka biarlah
Pinto yang menjadi sasaran berikutnya dan bukan lagi murid kita
…….. Pinto memilih pilihan itu sambil berupaya menemukan
siapa sebenarnya pengkhianat itu …..” terasa benar tekanan
besar ketika menggunakan kata “PENGKHIANAT” dalam nada
suara Ciangbudjin Kheng Seng Thaysu.
Setelahnya, In Tiong Han, Suma Cong Beng dan saudara
seperguruan mereka lainnya memandangi kepergian Ciangbudjin
mereka dengan pandangan heran dan penuh tanda tanya. Tapi,
memang benar, setelah kepastian siapa Ciangbudjin tergantung
kepada Kheng Seng Thaysu seorang, maka, target kedepan jelas
beralih dari para Calon Ciangbudjin yang tertinggal dua orang lagi
langsung ke Ciangbudjin Kheng Seng Thaysu sendiri. Sungguh
pilihan yang cerdik dari sang Ciangbudjin dan membuat si
pembunuh menjadi kebingungan. Apakah harus menghabisi 2
calon yang lain atau langsung saja menyerang Ciangbudjin ……
242
Tetapi, kalimat terakhir Ciangbudjin Kheng Seng Thaysu yang
mengatakan dengan tegas dan penuh kepastian bahwa “lebih dari
separoh” dia sudah dapat menebak siapa sebetulnya tokoh yang
“bermain gila”, membuat banyak orang terkejut setengah mati.
Termasuk Wakil Ciangbudjin In Tiong Han yang membuatnya
malam-malam datang berkunjung kepada sang Ciangbudjin dan
kemudian keduanya terlibat dalam sebuah diskusi panjang-lebar;
“Ciangbudjin Suheng ……. Benar-benarkah engkau sudah dapat
menebak siapa sebenarnya tokoh dalam Hoa San Pay kita ini
yang selama ini bermain gila dan main bunuh di Hoa San Pay
……”?
“Benar Sam Sute ……… bahkan, bukan tidak mungkin diapun
akan datang dan berusaha menyadap percakapan kita. Jika Pinto
menyebutkan namanya, maka besar kemungkinan dia akan turun
tangan terhadap kita berdua. Tidak menunggu sampai besok,
bahkan mungkin mala mini juga …….”
“Ha …..? Apa benar demikian Suheng ……”?
“Tepat sekali ……. karena itu, Pinto tidak akan menyebutkan satu
namapun. Tetapi, pada pertemuan besar Hoa San Pay dua bulan
243
mendatang, nama tersebut pasti akan kusebutkan untuk diketahui
bersama …….”
Tetapi, sambil berkata demikian Wakil Ciangbudjin In Tiong Han
mendengar suara desiran yang sangat halus dan dia segera
paham bahwa Ciangbudjin Suhengnya ingin mereka berbicara
secara tertutup:
“Orangnya justru sangat dekat dengan kita semua, karenanya,
hampir semua Sutit yang terbunuh rata-rata mata mereka
terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang mereka hadapi.
Pembunuhnya adalah salah satu dari kita ……… dan Pinto akan
membuatnya munculkan dirinya sendiri ……”
Tetapi, kalimat itu ditutupi In Tiong Han secara cerdik dengan
berkata melalui suaranya yang dibuat sedikit keras:
“Achhhh, sungguh cerdik Ciangbudjin Suheng, tetapi, siapa
sebetulnya tokoh yang Ciangbudjin Suheng maksudkan ataupun
curigai sebagai si pengkhianat dari dalam Hoa San Pay itu …..”?
Dibaliknya dia berbisik:
“Suheng, siapa gerangan yang engkau curigai …..”?
244
Dan Kheng Seng Thaysu kembali berkata dengan suara normal:
“Sepenuhnya belum dapat kutebak, dan sejujurnya belum dapat
kukatakan sudah mengetahuinya seratus persen, tetapi ada
beberapa petunjuk yang mengarah ke orang dalam dan yang juga
kita kenal bersama secara dekat ……. dalam waktu dekat akan
Pinto buka kedoknya. Pinto yakin pilihan strategi ini akan berhasil
mengundang orang itu untuk munculkan dirinya ..”
Tetapi, seiring dengan itu ia membisikkan kalimat:
“Cobalah engkau periksa sekali lagi keadaan kedua Sutit yang
terluka, dan lakukan secara wajar. Jangan dengan tindakan
seakan ingin menyelidik …… engkau akan mulai paham meski
serba sedikit …….”
“Ach, itu artinya Suheng belum yakin benar ……”
“Memang belum …….” sambil berkata demikian diapun berbisik
lirih:
“Lebih baik engkau segera bergerak, tetapi, ingat, hati-hati. Toa
Suheng kelihatannya sudah menemukan kesehatannya kembali,
sebentar lagi kita akan menyiapkan kejutan kepada para
pengkhianat itu …..”
245
“Baiklah, biarlah lain waktu jika memang petunjuknya sudah jauh
lebih matang kita diskusikan lagi Ciangbudjin Suheng …”
Tetapi, sesuatu yang mengagetkan terjadi pada malam harinya.
Dan ini yang justru tidak diduga dan disangka oleh Kheng Seng
Thaysu;
Ciok Ciam Liong, Murid Kepala Wakil Ciangbudjin In Tiong Han
yang siang sebelumnya terluka cukup berat karena serangan si
pembunuh gelap, terlihat meminta ijin untuk menemui Kheng
Seng Thaysu, Ciangbudjin Hoa San Pay. Entah apa maksud dari
kunjungan Ciok Ciam Liong itu;
“Tecu mohon menghadap Ciangbudjin Supek …….”
“Baik, masuklah Ciok Sutit, apakah kesehatanmu setelah terluka
tadi benar sudah tidak berhalangan lagi ….”?
Ciok Ciam Liong kemudian melangkah masuk dan terus berjalan
mendekati tempat dimana Kheng Seng Thaysu duduk. Dan
sangat kebetulan ketika menerimanya, Ciangbudjin Kheng Seng
Thaysu sedang berada di ruangan dimana tadi siang dia bercakap
dengan In Tiong Han. Dalam jarak kurang lebih 2-3 meter diapun
berlutut dan memberi hormat sambil berkata:
246
“Syukurlah atas perhatian dan pertolongan Ciangbudjin Supek,
kesehatan tecu sudah semakin membaik dan terasa sudah tiada
halangan lagi ……”
“Baiklah, sudahlah, Ciok Sutit ……… silahkan engkau duduk
……”
Begitu bangkit berdiri, Ciok Ciam Liong nampak melangkah satu
langkah kedepan dalam sikap yang sangat wajar. Tetapi, tiba-tiba
dengan kecepatan yang tak terduga, bahkan dengan kecepatan
yang tak terbayangkan oleh Kheng Seng Thaysu, dia sudah
menerjang dengan pukulan yang tidak asing lagi bagi Kheng Seng
Thaysu. Dan ini yang membuatnya tidak cepat-cepat bereaksi,
hanya sempat menggumam lirih:
“Accchhhhh ilmu pukulan Jit gwat it sian kun …”?
Setelah itu, dengan segenap kekuatan dia berusaha mengurangi
efek berbahaya dari serangan keponakan murid yang sangat
cepat dan berbahaya itu. Berusaha sekuat apapun dia hanya
mampu mengurangi efeknya, tetapi tidak mampu menanggulangi
bagian terbesar serangan itu …….. dengan segera tubuhnya
terjengkang ke belakang dan tepat terduduk di kursi Ciangbudjin
dalam ruangan itu, wajahnya memucat, tapi tidak nampak setetes
darahpun mengucur dari bibirnya. Sekuat tenaga Kheng Seng
247
Thaysu coba menghimpun tenaganya, tetapi dia tidak berhasil
sepenuhnya. Tidak salah, bencana sudah tiba;
“Hmmmmm Ciangbudjin Supek, engkau sudah terluka, tetapi
lukamu tidak parah. Hanya, engkau tidak akan dapat
mengerahkan kekuatan iweekangmu lagi untuk waktu yang lama
karena luka itu, jadi, percuma engkau mengerahkan kekuatan
iweekangmu. Aku ingin bercakap-cakap denganmu sekarang ini
Ciangbudjin Supek, dan jika keinginanku tidak engkau kabulkan,
maka seluruh anak murid Hoa San Pay akan kami bantai sampai
habis …..”
Terlihat Kheng Seng Thaysu menarik nafas panjang. Benar saja,
dengan tidak berusaha mengumpulkan tenaga dalamnya, dia
tidak merasa kesakitan. Karena itu, diapun pasrah dan bahkan,
sekarang, hebatnya dia bercakap-cakap biasa dengan
keponakan murid yang baru saja membokongnya:
“Hmmmmm, kelihatannya engkau dan kawan-kawanmu sudah
sangat lama mempersiapkan kejadian ini tentunya …..”
“Benar sekali Supek ……. karena itu, engkau mesti membantuku
menyelesaikan missiku yan sudah teramat lama kami persiapkan
248
bersama beberapa temanku, yakni menjadi Ciangbudjin Hoa San
Pay Angkatan ke-12 ….”
“Engkau yakin kelihatannya yakin benar jika Pinto akan
menjadikanmu Ciangbudjin Hoa San Pay angkatan ke-12 Ciok
Sutit……”?
“Sejujurnya aku merasa sangat pasti Supek, sebab taruhannya
adalah nyawa seluruh anak murid Hoa San Pay ……”
“Acccchhh, engkau bahkan lebih sadis dari Liok Kong Djie yang
sudah berulangkali mencoba dan menemui kegagalan ……”
“Belajar dari kegagalannya, maka kami bertindak jauh lebih hatihati
…..”
“Baiklah …… apa gerangan kehendakmu? Apakah Suhumu tahu
jika engkau akan membokongku malam ini …..”?
“Setelah mengetahui semua percakapan rahasiamu bersama
dengan suhu siang tadi, maka sebelum bertindak atasmu, terlebih
dahulu Suhu sudah kami amankan. Tetapi, dia masih kami
butuhkan …..”
249
Kheng Seng Thaysu menarik nafas panjang. Dia bersyukur
karena Sam Sutenya ternyata bukan bagian dari persekongkolan
yang tumbuh di perguruannya selama banyak tahun terakhir ini
……
“Tetapi, tidak mungkin engkau bergerak sendiri bukan ……selain
itu, tidak mungkin engkau belajar langsung ilmu pukulan Jit Gwat
It Sian Kun (pukulan matahari dan rembulan satu garis) dari Liok
kong Djie …..”?
“Hmmmm, Ciangbudjin, biar engkau tidak merasa penasaran,
kami beberapa orang sudah lama direkrut Suhu Suma Ciong
Beng untuk mempelajari Ilmu Pusaka Hoa San Pay itu. Bahkan
Ilmu Pusaka 'Thian-lo Sin-kuay-hoat' atau 'Ilmu silat tongkat sakti
jatuh dari langit, juga sudah kami kuasai dengan sangat baiknya.
Sayang, engkau terlampau pelit untuk mewariskan Hoa San Pay
kepadaku atau Cia Nam Sute, karena itu, terpaksa kami bekerja
seperti ini, sebab jika menunggu terlebih lama lagi, kami khawatir
akan berantakan ………”
“Ach, amitabha, ternyata memang benar Suma Sute yang
merancang semuanya. Hal ini sebenarnya sudah dalam dugaan
Pinto, dan pengumuman tadi siang sebetulnya untuk
250
mengundangnya segera bertindak, tak Pinto sangka, justru murid
kepercayaan Sam Sute yang membokongku ……”
“Benar Supek …….. dan kami bertiga termasuk Lu Tiang Sek
bahkan bekerja sama dengan para penyusup yang memang ingin
menggunakan Hoa San Pay untuk menggempur Tionggoan.
Bahkan, setelah malam ini, kami akan mulai bekerjasama dengan
para penyusup itu, karena sasaran sesungguhnya adalah
Tionggoan. Tapi sasaran utama kami, adalah Hoa San Pay ….
Hitung-hitung saling membantu agar cita-cita masing-masing
dapat tercapai …..”
“Amitabha ….. siapa kalian sesungguhnya ….”?
“Selain Suhu Suma Cong Suhu, tiada seorangpun dari kami yang
memiliki hubungan dengan Liok Kong Djie, tetapi kami semua
memiliki cita-cita tinggi baik di Hoa San Pay maupun juga di
Tionggoan. Kami yakin Hoa San Pay akan semakin terpandang
dan menjadi perguruan utama di Tionggoan kelak …….. nach,
sudah cukup kita bercakap-cakap Supek. Bagaimana, apakah
engkau bersedia mengumumkan salah seorang dari kami, entah
aku atau Cia Nam untuk menjadi Ciangbudjin Hoa San Pay
Angkatan ke-12 ataukah Supek ingin kami membunuh beberapa
251
puluh murid Hoa San Pay terlebih dahulu sebelum
menyetujuinya..?
“Ciok Sutit, apakah engkau mengira Pinto adalah manusia yang
takut mati …..? Usia seperti pinto sudah tidak menginginkan
banyak hal lagi dan kematian adalah soal atau perkara waktu
belaka ……”
“Baiklah, jika memang demikian, akan kuserukan tanda yang
akan menggerakkan kelompok kami untuk mulai membunuh Suhu
dan kedua Susiok lainnya, baru setelah itu kamipun akan
memperkosa dan kemudian membunuh muridmu yang masih
cantik jelita itu, Kho Sian Lian dan Tek Ui Sinkay, Hu Pangcu
Kaypang yang kami jebak dan tangkap kemudian kami sekap
beberapa waktu lalu ……. Bagaimana Ciangbudjin …..? jika
engkau memang berkeras dan memilih untuk tetap dalam
keputusanmu tadi, maka dengan senang hati aku akan
mengeluarkan perintah tadi”?
“Amitabha …… sungguh licik perbuatan kalian ……. Pinto tidak
menyangka kalian begitu khianat memperlakukan Hoa San Pay”
“Kami justru berpikir untuk semakin memajukan Hoa San Pay
Supek …… meski kami belum cukup banyak dari segi jumlah,
252
tetapi kekuatan kami dengan 30an lebih orang sudah cukup
memadai untuk membumihanguskan Hoa San Pay. Membunuh
seluruh murid Hoa San Pay juga bukan perkara sulit untuk kami
lakukan. Tapi, sekarang terserah pilihan Ciangbudjin …..” tekan
Ciok CIam Liong dingin. Suaranya benar-benar dingin namun
mendatangkan teror yang luar biasa bagi Ciangbudjin tua yang
kini terkapar tak berdaya dihadapannya itu.
Perkataan terakhir Ciok Ciam Liong menyadarkan Kheng Seng
Thaysu jika bencana benar-benar sudah datang bagi Hoa San
Pay. Hanya, masakan dia bersedia untuk mengorbankan 400an
nyawa anak murid Hoa San Pay? Lagipula, jika dia berkeras
bukankah korbannya akan semakin banyak dan meluas?
Bukankah jika bersedia menahan derita dan hinaan dengan
menahan waktu lebih panjang pertolongan bagi Hoa San Pay bisa
saja datang? Bukankah masih ada Toa Suhengnya dan juga
Thian Hoat Tosu yang dapat memperbaiki keadaan buruk ini
…….? Hanya saja, dia harus menetapkan seorang Ciangbudjin
Hoa San Pay yang baru ….. ini yang sungguh-sungguh
memberatkannya ……
“Bagaimana, apakah engkau tidak bersedia melakukannya …..”?
253
“Apa yang akan engkau lakukan jika Pinto tidak merestui
permintaanmu ….”?
“Sudah kukatakan tadi, akan kubunuh semua tokoh Hoa San Pay
saat ini, termasuk murid cantikmu dan Hu Pangcu Kaypang saat
ini ……. Setelah itu, aku akan segera mengangkat diriku menjadi
Ciangbudjin dan membunuh semua mereka yang tidak menuruti
kehendakku dan tindakanku ………”
“Bagaimana pula jika Pinto memutuskan untuk memilihmu dan
menyerahkan jabatan Ciangbudjin kepadamu? Jaminan apa yang
akan engkau berikan bagi Pinto dan anak murid Hia San Pay
lainnya ….”?
“Aku akan sangat berterima kasih kepada Ciangbudjin dan hanya
akan mengurung semua Susiok dalam penjara yang sama
dengan Ciangbudjin, muridmu dan Tek Ui Sinkay juga akan
kupenjarakan bersamamu dan semua susiok yang lain ….. tetapi,
engkau harus menunjukkan dimana Gua tempat samadhi toa
supek ………. Itu saja perjanjiannya, selebihnya tidak lagi dapat
kami jaminkan ……”
“Bagaimana pinto tahu bahwa engkau akan membebaskan
muridku dan hanya akan memenjarakan semua para sute …..?
254
dan apa jaminanmu bahwa engkau tidak akan membunuh anak
murid Hoa San Pay”?
“Malam ini juga seluruh susiok akan kutaklukkan dan kemudian
kuberi minum puyer penghilang tenaga sehingga mereka tak
berdaya dan kelak bersama Ciangbudjin kumasukkan dalam
tahanan khusus. Bagaimanapun kami masih berterima kasih
kepada Ciangbudjin dan para suhu dan susiok, karena itu kami
hanya akan menahan kalian semua orang tua yang tidak lagi
punya semangat ……… Semua murid Hoa San Pay yang turut
perintah kami, tidak akan kami apa-apakan, tetapi yang menolak,
maaf, kami terpaksa membunuh mereka. Selain itu, engkau
beritahukan kepadaku terlebih dahulu dimana kami dapat
menemukan Toa Supek …”
Begitulah keadaan Kheng Seng Thaysu yang dalam keadaan
terluka dan terhina, dengan terpaksa harus menelan semua
hinaan itu. Dia berharap toa suhengnya akan dapat menolong,
dan dia tahu benar jika ruangan rahasia tempat toa suhengnya
bertapa sangat nyelimet keadaannya. Bahkan hanya dia, Lian Cu
dan toa suhengnya yang paham dengan jalan-jalan rahasia
didalamnya, karena itu dia memutuskan memberitahu gua rahasia
tersebut. Dan benar saja, ketika Ciok Ciam Liong mencari toa
suhengnya, dia tidak bertemu siapa-siapa dalam gua itu, bahkan
255
jalan-jalan rahasia dalam gua tersebut tak dapat diketahui oleh
Ciok Ciam Liong. Karenanya, malam itu juga akhirnya Ciok Ciam
Liong mengeluarkan keputusannya terhadap para susioknya dan
juga Kheng Seng Thaysu …….
“Jika Ciangbudjin setuju, maka malam ini juga semua susiok dan
juga suhu akan kumasukkan kedalam gua rahasia tersebut,
termasuk juga sumoy Kho Sian Lian dan Tek Ui Pangcu dan
Ciangbudjin akan menyusul menemani mereka setelah
pengukuhanku sebagai Ciangbudjin Hoa San Pay ……”
Demikianlah beberapa hari kemudian terjadi perubahan di Hoa
San Pay, Ciangbudjin baru yakni Ciok Ciam Liong menggantikan
Kheng Seng Thaysu. Tetapi anehnya, tidak ada satupun generasi
ataupu angkatan Kheng Seng Thaysu kecuali Suma Cong Beng
yang hadir dalam pelantikan Ciangbudjin baru tersebut. Dan sejak
saat itu, Kheng Seng Thaysu mengundurkan diri dan tidak pernah
lagi munculkan diri, begitu juga ketiga sute lainnya. Bahkan tidak
ada anak murid Hoa San Pay yang tahu berada dimana mereka
gerangan. Dan Hoa San Pay dalam waktu 6 bulan mengalami
gejolak dan perubahan drastis, dimana tak satupun anak
muridnya diijinkan turun gunung dan semua urusan keluar kini
ditangani oleh Ciangbudjin Ciok Ciam Liong dan dikendalikan
bersama Suma Cong Beng dan Cia Nam.
256
Tetapi, Kho Sian Lian dan Tek Ui Sinkay tidak ikut disekap
bersama Kheng Seng Thaysu dan semua adik seperguruannya
kecuali Suma Cong Beng, karena mereka berdua entah
bagaimana menghilang dari sekapan Ciok Ciam Liong dan
begundalnya. Maka, dari mereka berdualah meski dengan info
terbatas yang membuat kejadian dan peristiwa di Hoa San Pay
mulai menyebar dan akhirnya mengguncang rimba persilatan
Tionggoan. Tentu setelah Kho Sian Lian dan Tek Ui Sinkay
mengisahkan semua yang mereka alami di gunung Hoa San.
==============
“Acccccchhhhhhh, biar bagaimanapun harus segera diputuskan
…….. dia, bocah itu sudah berumur 14 tahunan. Waktunya sudah
tiba, lagipula semuanya sudah siap. Tapi, jika dia tersesat kelak,
siapa lagikah gerangan yang mampu dan sanggup untuk dapat
mengendalikannya? Padahal bakatnya demikian menonjol,
kecerdasannya juga di atas rata-rata …… bukankah sama saja
lohu mendidik dan kemudian menghadirkan badai yang lebih
besar dan bahkan melebihi teror Pek Kut Lodjin jika memang anak
ini benar-benar tersesat nantinya ……..?”
Kakek yang sekujur tubuhnya mengenakan warna jubah
pertapaan putih dan saat itu memang rambut dan jenggotnya juga
257
sudah pada memutih semuanya, terlihat berkali-kali menarik
nafas panjang. Seperti ada persoalan besar yang sedang
ditimbang-timbangnya untuk diselesaikan. Dan inilah tokoh yang
dikenal orang sebagai Bu In Hwesio atau kemudian menjadi Bu In
Siansu dan belakangan menjadi Bu In Sin Liong. Seorang tokoh
besar yang tidak pernah ingin menonjolkan dirinya tetapi yang
dianggap sebagai dewa utama rimba persilatan Tionggoan.
Kebanyakan orang memang hanya menempatkannya sebagai
tokoh yang sejajar dengan 5 Dewa, tetapi, tokoh-tokoh 5 Dewa
sendiri sebenarnya tidak pernah dapat bertemu dan adu kesaktian
dengannya. Jika ditantang dia selalu mengelak atau menghindar
dan menganggap adu kesaktian sebagai permainan anak-anak
belaka. Karena sikapnya dan kemisteriusannya ini, maka dari 3
Dewa, masing-masing Bu Te Hwesio, Thian Hoat Tosu dan Lam
Hay Sinni memandangnya begitu tinggi. Merekalah sebenarnya
yang tahu persis sampai dimana kehebatan tokoh yang gagal jadi
Ciangbudjin Siauw Lim Sie ini.
Sekali dia akhirnya turun tangan, yakni ketika Thian Hoat Tosu,
Lam Hay Sinni dan Bu Te Hwesio secara bersamaan mendatangi
pertapaannya dan memintanya untuk ikut turun tangan membantu
mengatasi kebuasan Pek Kut Bun. Meski awalnya menolak, tapi
Bu In Siansu akhirnya memutuskan untuk turun gunung tetapi dia
258
tetap saja bertindak sembunyi-sembunyi dan mendatangi Pek Kut
Lodjin pada episode puncak pertempuran antara tokoh-tokoh
hitam melawan para pendekar yang didukung 3 Dewa.
Ketidakhadiran Pek Kut Lodjin di pertarungan dahsyat itu akhirnya
yang menentukan kekalahan para penjahat. Baru belakangan
para pendekar menemukan Pek Kut Lodjin yang ilmunya sudah
dimusnahkan orang. Maka ketika kepadanya dituntut untuk
mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, Pek Kut Lodjin
akhirnya memilih membunuh dirinya sendiri dengan menggigit
putus lidahnya. Tetapi dia sempat mengutuki satu nama: Bu In
Siansu.
Hanya Bu Te Hwesio, Thian Hoat Tosu dan Lam Hay Sinni yang
tahu apa arti nama itu ketika disebutkan, karena mereka bertiga
yang mengundangnya untuk turun gunung. Ternyata, benar tokoh
itu sudah turun tangan dan berhasil menundukkan Pek Kut Lodjin
dengan memusnahkan kepandaian iblis mengerikan itu. Kendati,
mereka sendiri sadar bahwa kepandaian Pek Kut Lodjin bukanlah
main-main, masih setaraf atau seimbang dengan dengan
kepandaian mereka sendiri. Kawan-kawan Pek Kut Lodjin,
momok-momok yang mengerikan, ada 5,6 tokoh yang
kepandaian mereka tipis saja dibawah kemampuan 3 Dewa dan
sampai membuat Barisan Lo Han Tin dan Barisan Tujuh Pedang
259
Sakti Bu Tong Pay turun tangan bersama tokoh sepuh mereka.
Setaker kekuatan rimba persilata Tionggoan itulah yang turun
tangan dan membuat teror Pek Kut Bun dapat dipadamkan.
Tetapi, korbannya luar biasa besar dan banyak.
Tokoh misterius itu yang kini sedang gelisah. Dia harus segera
memutuskan sesuatu. Memutuskan apakah menyempurnakan
Koay Ji si bocah aneh yang berbakat mujijat itu atau tidak.
Apalagi, karena kekuatan yang mengeram dalam tubuh bocah itu
semakin lama semakin tersedot habis dan berubah menjadi
kekuatan dahsyat dalam tubuh anak itu selama lima tahun terakhir
ini. Boleh dibilang, kekuatan Koay Ji bertumbuh berapa kali lipat
dibanding manusia biasa. Karena, selain dia menyerap kekuatan
luar biasa yang tumbuh dalam tubuhnya dan sekaligus memecah
khasiat obat mujijat yang ditelannya, diapun juga berlatih
menghimpun hawa murninya sendiri dengan tuntunan Bu In Sin
Liong. Dan, hanya simhoat rahasia bernama Toa Pan Yo Hian
Kang yang mujijat dapat membantu anak itu melalui semua
tahapan selama 5 tahun ini yang sangat menguras tenaga mereka
berdua.
“Memasuki tahap terakhir Toa Pan Yo Hian Kang, berarti bahwa
dalam usia yang masih sangat muda, sekitar 19 atau 20 tahun,
dan anak itu sudah memiliki tingkatan setinggi kemampuanku
260
pada 20 tahun silam …….. bukankah ini terlampau berlebihan …?
Bisik Bu In Sin Liong yang nampak bercakap-cakap dengan
dirinya sendiri. Tetapi, untuk menghentikannya sekarang, juga
sama tanggungnya, karena dia akan selalu terkekang antara
mampu dan tidak mampu menyalurkan kekuatan dahsyatnya
tersebut. Padahal, semua jalan darah fital dalam dirinya sudah
ditembusi oleh hawa tersebut ……….. ach, sungguh-sungguh
berabe ……”
Luar biasa, ternyata seorang bocah yang dipanggil Koay Ji sudah
mampu menembusi semua jalan darah fital dalam tubuhnya,
sehingga belajar silat dan menghimpun tenaga baginya, adalah
kerja yang mudah dan gampang. Padahal, usianya baru 14
tahunan belum melampaui angka 15 tahun. Inilah dilema Bu In
Sin Liong, tokoh besar yang selama 5 tahun terakhir mendidik dan
membimbing si bocah aneh yang sudah tumbuh menjadi remaja
dengan tubuh yang nyaris sempurna. Tubuhnya terhitung tinggi
besar dibandingkan anak seusianya dan karena penderitaan
panjang selama masa kanak-kanaknya, wajahnya meski terlihat
masih bocah, tetapi pikiran dan tingkahnya sudah mirip orang
dewasa. Dan satu hal lagi, sampai saat itu, dia tidak ingat dan
tidak tahu jati diri sesungguhnya dan bahkan juga namanya
sendiri. Dia selalu menyebut dirinya Koay Ji sebagaimana dahulu
261
Ang Sinshe sering memanggil kepadanya. Dan sampai sekarang
bahkan Suhunya juga memanggilnya dengan nama itu.
Pertanyaan dan debat dalam diri tokoh Bu In Sin Liong memang
sudah berlangsung setahun terkahir ini. Tetapi, setelah tak ada
lagi yang dapat diajarkannya selama bulan-bulan terakhir, dia
sudah mesti memutuskan, melanjutkan atau cukup. Dan hari itu,
dia sudah harus memutuskannya. Tidak ada kelainan sama sekali
dalam tingkah si bocah aneh. Seperti dahulu, sangat wajar, polos,
jujur dan begitu menghormati kakek sakti itu. “Sayang,
identitasnya sama sekali gelap …… ini membahayakan …..”
desisnya dalam hati. Tetapi, desisannya itu disanggahnya sendiri:
“Tapi, jika memang begitu, mengapa takdir mengantarnya datang
ketempatku? Dan mengapa pula tak ada tanda-tanda kesesatan
dalam tindak-tanduk dan juga cara berpikir bocah itu? Bukankah
aku akan menyia-nyiakan bakat besarnya yang belum pernah
kutemukan sepanjang hidupku …….”?
Sampai akhirnya matahari sudah akan terbenam, pada akhirnya
Bu In Sin Liong bergumam …. tanda dia telah memutuskan:
262
“Jika memang dia tersesat, biarlah takdir yang kelak
menghukumnya ……. Semoga Thian tidak murka dengan
keputusanku …..”
Sementara Koay Ji si bocah aneh, pada saat suhunya sedang
bersamadhi, memilih untuk bermain-main di luar gua. Gua pilihan
suhunya memang unik, setelah menembus perut gunung sejauh
beberapa ratus meter, ujung gua akan tembus ke lembah di balik
gunung-gunungan dan ada kurang lebih 200-300 meter dataran
yang pepohonannya tumbuh jarang. Setelah itu, daratan akan
menukik tajam membentuk jurang yang tak terukur dalamnya,
tetapi di samping kiri dan kanan jurang itu, membentuk panorama
alam yang terjal, terdapat pepohonan yang sangat lebat di
sebelah kanan. Pepohonan itu bahkan berbaris dan tumbuh
memanjang dan bahkan menukik keatas menuju puncak gunung
Thian Cong San. Sementara ke sebelah kiri, lebih berupa tebingtebing
cadas yang sangat berbahaya dan teramat sulit untuk
didatangi manusia. Tetapi, di daerah itulah akhir-akhir ini Koay Ji
bermain-main.
Pada tahun-tahun awal masa berlatihnya, satu-satunya teman
bermain Koay Ji adalah seekor monyet besar peliharaan Suhunya
yang juga berwarna putih. Binatang inilah yang suka mencarikan
mereka berdua makanan. Monyet ini jangan dikira hanya binatang
263
biasa, karena dia adalah monyet mustika yang memiliki
kepandaian setingkat jago-jago kelas satu dan memiliki tenaga
gwakang alami yang sangat tinggi. Dari tokoh monyet putih inilah
Koay Ji belajar bahasa monyet dan mampu berkomunikasi secara
baik dengan monyet-monyet di hutan. Tidak heran jika kemudian
Koay Ji menjadi sangat paham bahasa monyet dan menjadi
sahabat nyaris seluruh monyet yang mendiami dataran seluas
300 meteran itu.
Bukan hanya itu, kepandaian mengobati yang dipelajari Koay Ji
selama ini, justru membuatnya memperoleh keuntungan yang
tidak sedikit. Di tahun ketiga masa belajarnya, kebetulan Suhunya
sedang bersamadhi dan dia sedang bermain-main dengan si
Monyet Putih, tiba-tiba datang belasan monyet yang dari
suaranya sedang menjerit-jerit dan mengirimkan sinyal sesuatu
yang tidak baik sedang terjadi. Melihat suara mereka, si monyet
putih yang dituakan dan didewakan semua monyet di hutan itu
menjerit dan berkata kepada Koay Ji:
“Ada serangan …….”
Tidak lama keduanya berkelabat mengejar monyet-monyet yang
tadi datang mengabari mereka berdua. Saat itu kepandaian
ginkang Koay Ji sudah lumayan tinggi dan mampu mengimbangi
264
daya lari si monyet putih. Benar saja, tidak lama mereka tiba di
tempat dimana sedang terjadi perkelahian antara beberapa
monyet sedang mengerubuti seekor harimau belang yang cukup
besar dan buas. Terlihat sudah ada 5 monyet yang terluka,
sementara di dekat si harimau juga ada seekor monyet kecil,
tepatnya bayi monyet yang ternyata sudah jatuh ditangan si
harimau. Semua monyet yang berada disana bercuit-cuit dan
memberi semangat kelima monyer besar yang sedang
mengerubuti sang harimau, tetapi mereka selalu takut mendekati.
Melihat perkelahian yang sudah makan korban masyarakatnya
itu, si monyet putih dengan geram meloncat sambil berteriak
keras. Teriakannya itu membuat semua monyet yang tadi
mengerubuti sang harimau meloncat mundur dengan masih
menahan amarah karena belum berhasil memukul kalah sang
harimau. Sementara itu, tarung antara harimau besar dengan si
monyet putih langsung berlangsung seru, dan kali ini sang
harimau tidak dapat seenaknya seperti sebelumnya. Sekali dia
menerima kibasan lengan monyet putih dan dia terlempar
kesakitan. Sontak dia sadar, lawannya bukanlah ayam sayur dan
mesti dilawan dengan penuh kekuatan.
Sementara itu, Koay Ji sudah pula mendekati arena, bukan hanya
itu, ketika pertarungan terjadi, dengan cepat dia meloncat
265
mendekati si bayi monyet dan kemudian menggaitnya dan
membawanya pergi ke tempat yang aman. Kasihan, si bayi
monyet nampak ketakutan dan sedikit terluka di kedua lengannya,
namun tidak terlampau berbahaya. Dengan keahlian
pengobatannya, diapun mengobati si bayi monyet, bahkan
kemudian mengobati semua monyet yang terluka dalam
pertempuran. Sementara si monyet putih masih terus bertarung
dan selalu berada di atas angin, sudah terhitung 3 kali dia
memukul sang harimau hingga terlontar kesakitan. Harimau itu
bukannya takut malahan menjadi bertambah murka, tetapi juga
mulai cemas karena lawannya lebih kuat dan lebih tangkas,
semua pukulannya menyakitkan. Karena itu, perjuangan sang
harimau jadi liar dan tidak lagi mengandalkan tarung normal tetapi
berusaha sedapat mungkin menerkam si monyet putih. Tetapi,
beberapa kali, kembali si harimau terlontar terkena pukulan si
monyet putih sampai akhirnya dia sadar kalau monyet putih besar
itu bukan lawannya. Pada akhirnya, dengan kepala sedikit pening,
harimau itu akhirnya melarikan diri …..
Tepat ketika pertarungan selesai, Koay Ji juga selesai mengobati
semua monyet yang terluka. Saat dia usai, dia melihat adegan
yang menggelikan ketika si Monyet Putih dengan lengan
terangkat mencuit-cuit dan menyatakan dirinya sebagai
266
pemenang dan diikuti dengan cuitan kegirangan seluruh warga
monyet yang jumlahnya mungkin ribuan dan memenuhi
pepohonan disana. Beberapa saat kemudian, beberapa monyet
besar menyadari kehadiran Koay Ji dan tahu dialah yang
mengobati mereka yang terluka. Karena itu, Koay Ji kemudian
juga di salami dan disoraki, dan sejak hari itu, warga monyet
disana memandang Monyet Putih dan Koay Ji sebagai pemimpin
besar mereka. Bahkan, luka apapun yang diderita warga monyet
itu, semua akan meminta pertolongan kepada Koay Ji, dan
semakin akrablah hubungan antar mahluk itu. Monyet putih juga
semakin senang dan sayang dengan kehadiran Koay Ji, tak ada
urusan Koay Ji yang tidak melaluinya saat itu.
Sejak kejadian itu, jadilah semua buah-buahan istimewa yang
dipetik para monyet, mendahulukan Monyet Putih dan Koay Ji.
Jika keduanya sudah memilih, maka yang tersisa akan dibagikan
kepada mereka yang dianggap berjasa. Sebagaimana hari itu,
Koay Ji dan Monyet Putih menerima kedatangan 3 monye besar
yang membawa serta sebutir buah berwarna merah pekat. Tetapi,
seiring dengan itu, ketiga monyet itu merintih-rintih kesakitan,
sepertinya sedang terluka cukup berat. Dengan segera Koay Ji
memeriksa keadaan mereka dan betapa terkejutnya dia ketika
menemukan kenyataan betapa mereka bertiga, monyet itu,
267
ternyata terluka oleh serangan seekor ular beracun. Ketika
ditanyai, ketiga monyet itu dengan merintih lemah menceritakan
bahwa mereka memetik sebutir buah merah pekat yang ternyata
dijaga seekor ular besar yang berwarna putih namun dengan
kepala berwarna kehijaun. Nampaknya penjaga buah itu.
Ketiganya berhasil memetik sebutir saja buah dari pohon itu tetapi
ketiganya terluka oleh gigitan si ular penjaga pohon.
Mendengar ceritanya, Koay Ji dengan cepat menyimpulkan dan
berkata kepada si Monyet Putih, “Ular Beracun Naga Saldju
Bermahkota Daun ……. dalam waktu 2 jam dari sekarang,
mereka bertiga akan tewas dalam keadaan mengerikan. Obat
pemunah hanya ada di liur ular tersebut, harus cepat engkau
bekerja karena mengalahkan ular itu sangat berat ……. engkau
tunggulah kutahan racun mereka dan kita pergi mencari ular itu
guna mengalahkannya …..”
Tetapi si Monyet Putih dengan cepat berkata kepadanya:
“Engkau obati mereka dan menyusulku nanti …….”
Tanpa menunggu persetujuan Koay Ji, monyet putih sudah berlari
pergi mengikuti arah yang ditunjukkan salah satu dari ketiga
monyet itu. Sementara itu, Koay Ji sendiri mau tidak mau harus
268
mengerahkan kemampuan mengobati yang dimilikinya dan
berusaha membendung racun untuk tidak cepat mengalir. Dan
beberapa saat kemudian, diapun berkata kepada ketiga monyet
itu ……
“Nach, sudah selesai, tetapi sebaiknya kalian bertiga beristirahat
disini dan biarkan aku pergi membantu Kakak Monyet Putih untuk
merebut obat dari si ular itu ,,,,,,,”
Tepat pada waktu itulah terdengar suara seseorang:
“Tahan Koay Ji ……….. sudah terlambat, kemungkinan Kakak
Monyet Putihmu juga sudah ikut terluka. Engkau menjaga mereka
disini, biarlah Suhumu yang menyusul kakakmu itu ……. ular itu
dengan bisa dan kecekatannya masih 10 kali lebih hebat
dibandingkan Harimau yang kalian kalahkan dulu …… karena itu,
berjagalah disini dan segera buatkan tungku pemanas dan
siapkan air mendidih untuk kebutuhan obat. Kita harus bergegas
karena khasiat liur ular itu hanya tahan selama 15 menit belaka.
Jika berhasil, kita mendapatkan berkah yang tidak sedikit …..”
“Baik Suhu ……”
Tak lama kemudian tubuh orang tua itu entah bagaimana sudah
lenyap dari pandangan Koay Ji dan bocah ajaib itupun kemudian
269
menyalakan api dan terus memasak air sebagaimana pesan
suhunya tadi. Kurang lebih setengah jam kemudian, datanglah
suhunya pulang dengan membawa 2 tubuh yang nampak tak
berdaya, satu adalah tubuh Monyet Putih yang terlihat terluka
cukup parah dan satunya lagi adalah bangkai ular besar yang
sebesar paha Suhunya di bagian kepala dan lebih besar lagi di
bagian perutnya dan panjangnya kurang lebih 3 meter. Ular itu
sesungguhnya sangat indah dipandang, sekujur tubuhnya putih
mulus seperti tak bersisik berbeda dengan ular-ular lainnya,
sementara kepala dan mahkotanya berwarna hijau daun. Begitu
Suhunya tiba, langsung bangkai ular dihempaskannya ke tanah
dan kemudian meletakkan tubuh Monyet Putih ke dekat Koay Ji
sambil berkata:
“Dia terluka parah dan keracunan …… engkau tangani dan
kuatkan tubuh bagian dalamnya sementara liur ular itu akan
kutuangkan ke air mendidih itu …”
Koay Ji langsung mengerjakan perintah Suhunya, dan alangkah
terkejutnya ketika mengetahui lewat pemeriksaan kalau beberapa
tulang iga atau rusuk, bahkan kaki dan lengan kanan Monyet
Putih itu patah-patah dan membuatnya kehilangan kesadaran
saking sulitnya menahan rasa sakitnya. Koay Ji jadi terharu dan
ikut merasa sedih melihat keadaan Monyet Putih yang sangat
270
mengasihinya. Bukan hanya Koay Ji, rimba yang biasanya
banyak monyet bermain-main langsung terasa senyap, dan
ternyata banyak monyet yang dengan tegang dan trenyuh
menyaksikan Monyet Putih itu dalam keadaan tak berdaya.
“Untung lohu cepat datang, dia keracunan dan karenanya kalah
bertarung. Bahkan nyaris menjadi santapan ular raksasa itu.
Mestinya, tanpa racun ular besar itu, kakakmu itu sebenarnya
mampu bertahan dan bahkan mampu mengalahkan si ular
beracun yang bertubuh sangat indah itu ………”
Dalam waktu setengah jam, obat sudah selesai diseduh dan
dimasak Suhunya, tetapi Koay Ji sendiri belum selesai dalam
menangani dan membenahi keadaan tubuh si Monyet Putih yang
memang terluka hebat. Bahkan masih berlangsung sampai
hampir satu jam baru dia akan selesai menangani tubuh Monyet
Putih. Dia harus meluruskan dan kemudian menyambung tulangtulang
yang patah tak beraturan, selain juga harus melokalisasi
racun dalam tubuh monyet putih dan ini yang makan waktu
panjang. Sesudah dia menyelesaikan pemeriksaan dan
penyambungan tulang dan melihat bahwa proses penyembuhan
itu berjalan baik, dia kemudian berpaling dan berkata kepada
Suhunya yang sedang memandangnya takjub:
271
“Suhu, tolong berilah para monyet-monyet itu obat anti racun,
karena keadaan mereka tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi
…….. setelah selesai menangani luka-luka dan menyambung
tulang kakak monyet putih, tecu akan segera menengok kembali
keadaan mereka bertiga …….”
Di luar takjubnya dan kagumnya sang Suhu melihat kecekatan
muridnya, tanpa berkata apa-apa dan membiarkan muridnya
melanjutkan pekerjaannya, Bu In Sin Liong kemudian
meminumkan obat anti racun seduhannya kepada monyetmonyet
yang terluka. Tidak lama setelah makan obat anti racun,
ketiga monyet itu mulai berhenti merintih-rintih, rasa sakit
nampaknya mulai berkurang dan wajah mereka tidak lagi terlihat
merana dan kesakitan. Hal itu menyenangkan hati si orang tua
dan kemudian dia kembali menengok keadaan monyet
peliharaannya yang sedang ditangani muridnya yang ajaib itu
……. “Satu lagi kebisaan anak itu yang luar biasa” pikir si orang
tua penuh kekaguman. “Tetapi, kesetia kawananannya dan rasa
ibanya kepada kaum monyet, mestinya menjadi dasar kuatnya
watak anak itu” timbang-timbang Bu In Sin Liong lagi. Dan
memang, keputusan membentuk dan melatih hingga tuntas Koay
Ji sudah diputuskan kakek tua itu.
272
Hampir sejam kembali berlalu baru akhirnya terdengar suara
Koay Ji yang bergumam dan jelas sangat keletihan:
“Acccchhhhh, akhirnya selesai juga …… Suhu ……”
“Kenapa muridku …….”
“Racun sudah kutahan ditempat yang aman dan luka-luka patah
tulang sudah dapat tersambung lagi dengan benar. Suhu sudah
bisa memberikan obat itu untuk kemudian diminumkan kepada
Kakak monyet …….”
Tak berapa lama, proses pengobatanpun tuntas. Tetapi, Monyet
Putih, karena keadaan dan usia serta kesehatannya,
membutuhkan waktu lama untuk pulih sebagaimana biasanya.
Dan selama masa penyembuhan Monyet Putih itu, adalah Koay
Ji yang diperlakukan dan dianggap menjadi raja dan panglima
yang ditinggikan para monyet yang anehnya semakin banyak
datang dan menundukkan diri kepada Monyet Putih dan juga
Koay Ji.
“Muridku, berikan kepada suhu buah merah pekat itu …………
kita sungguh beruntung karena dapat memilikinya. Dapat
kutuntaskan proses membuat pil mujijat sebagaimana pil yang
ditelankan Bu Te Hwesio kemulutmu dan ke mulut Sam
273
Suhengmu tempo hari itu ….. selain itu, engkau beruntung karena
kulit ular mujijat ini sehalus sutra tetapi tahan atau bahkan mampu
membal serta membalikkan tenaga serangan senjata tajam.
Mudah-mudahan suhumu dapat membentuknya menjadi sejenis
pakaian anti senjata tajam atau bahkan tahan terhadap racunracun
jahat lainnya ……..”
“Tapi, apakah buah ini tak dapat dimakan Suhu …..”?
“Khasiatnya hilang jika dimakan dan rasanya juga kecut dan tidak
begitu enak dilidah. Suhumu akan memulai membuat pil itu hari
ini, tetapi engkau pergilah dan petik lagi beberapa buah lainnya
yang berwarna hijau didekat pohon buah merah. Buah pohon itu
baru memiliki khasiat penolak racun jenis serangga dan ular,
tetapi terhadap racun yang bukan berasal dari khewan, dia tidak
berkhasiat. Engkau boleh makan sebutir dan bawakan berapa
butir buah hijau yang lainnya kemari, karena buah-buahan itu
akan segera kugunakan membuat jenis obat dan pil mujijat yang
suhumu sebutkan tadi itu. Kita sungguh beruntung hari ini ……”
“Baik Suhu ……”
Berlalunya hari itu, ditandai dengan panggilan Bu In Sin Liong
pada malam harinya kepada Koay Ji untuk menghadap;
274
“Koay Ji … terhitung mulai besok, sudah saatnya engkau melatih
diri dalam latihan yang lebih jauh lagi. Jika selama lima tahun
pertama engkau khusus belajar melalui simhoat tenaga iweekang,
itu disebabkan, berbeda dengan manusia kebanyakan, dalam
tubuhmu mengeram hawa kekuatan yang semakin lama semakin
membesar. Dan pertumbuhannya selama beberapa waktu
terakhir sudah menemui titik normal karena khasiat pil mujijat
yang engkau makan sudah berhasil membaur dengan darahmu.
Karena itu, pertumbuhan kekuatan iweekangmu, kini tergantung
kepada latihan menurut simhoat yang kuajarkan, selain masih
bisa terus berupaya menyerap sisa kekuatan yang masih cukup
besar dalam tubuhmu. Suhumu menemukan adanya keanehan
yang bisa sangat membahayakan, yakni paduan hawa dalam
tubuhmu dengan obat mujijat itu mampu membangkitkan daya
lekat dan daya hisap kekuatan lawan yang terlampau mujijat.
Semakin kuat engkau melatih iweekangmu, semakin kuat daya
serap dan daya hisapnya …… nampaknya, Bu Te Hwesio sendiri
tidaklah pernah menyangka jika hasil karyanya akan sehebat dan
semujijat ini. Untungnya latihanmu selama 5 tahun terakhir sudah
mampu memperkuat tantianmu dan sudah memadai untuk
menampung kekuatan yang sangat besar itu, sekaligus juga
sudah memadai untuk menampung kekuatan yang maha hebat
……. Maka, selanjutnya, sudah tiba saatnya engkau berlatih ilmu275
ilmu gerakan yang mewadahi penyaluran iweekang dalam
tubuhmu menjadi kekuatan menyerang, mengelak ataupun
menangkis dan sekaligus mengembalikan serangan lawan.
Selama beberapa tahun kedepan, engkau akan berlatih ilmu-ilmu
gerak itu, dari suhumu sendiri hanya akan mewariskan beberapa
ilmu belaka karena dengan kemampuan iweekangmu nanti, maka
kelak, engkau tidak begitu membutuhkan senjata untuk mmebela
diri ……”
“Suhu ……. Benar-benarkah Koay Ji sudah lulus untuk melatih
ilmu-ilmu dan jurus-jurus serangan mulai besok ….”?
“Benar muridku ……. engkau sudah bisa memulainya. Dengan
ketekunan serta juga bakatmu, terlebih dengan kekuatan yang
luar biasa dalam tubuhmu, maka tidak akan butuh waktu lama
bagimu untuk menamatkan ilmu-ilmu itu. Yang perlu engkau
perhatikan adalah, pengetahuan mengenai jalan darah manusia
dan kemampuan untuk mengatur, mengerahkan dan menakar
kekuatan iweekang yang dapat engkau salurkan melalui jurusjurus
serangan dan jurus-jurus ilmu silatmu kelak …….. jika itu
sudah dapat engkau kuasai, maka tidak akan sulit engkau
memahami setiap ilmu yang kelak kuajarkan kepadamu mulai
besok …..”
276
“Suhu …….” kelihatannya Koay Ji ingin mengatakan sesuatu
tetapi seperti tidak jadi. Tetapi, seorang yang sangat awas
semisal Bu In Sin Liong sudah tentu dapat melihat gejala yang
muncul dalam diri Koay Ji
“Hmmmm, muridku, katakana sajalah apa yang ingin engkau
kemukakan …..”
“Suhu, sesungguhnya tecu pernah membaca pelajaran mengenai
jalan darah manusia dan bagaimana memanfaatkan jalan darah
tersebut, terutama sangat bermanfaat untuk ilmu pertabiban.
Tetapi, semakin lama, tecu semakin memahami jika sebetulnya
ilmu dan pengetahuan mengenai jalan darah tersebut, juga
memiliki hubungan yang erat dengan tata gerak dan ilmu gerak
manusia. Karena itu, tecu pernah mencatat dan mengingat
sejumlah teori mengenai mengendalikan jalan darah manusia dan
juga mengendalikan manusia itu sendiri ……”
“Koay Ji, maksudmu engkau pernah belajar atau membaca dari
sebuah buku …..”? kejar Bu In Sin Liong terkejut
“Su Pangcu pernah meminta tecu menjadi petugas kebersihan
perpustakaan suhu selama setahun lebih dan tecu pernah
277
membaca dari sebuah kitab pusaka yang dipinjamkannya untuk
tecu baca di kamar tempat tinggal Ang Sinshe ……”
“Apakah engkau paham dan tahu nama kitab itu Koay ji ….”?
“Kitab itu tidak ada judulnya, hanya menjelaskan bahwa
penulisnya adalah Pat Bin Ling Long (Delapan Wajah Serba
Cerdik), dan dalam penjelasannya karena beliau tidaklah
berjodoh dengan Pou Tee Pwe Yap Sian Sinkang dari Thian Tok
ataupun Toa Pan Yo Hian Kang dari Tionggoan, maka dia berlatih
ilmu yang lain dan menuliskan ilmu dan cara lain yang disebutnya
5 JALAN RAHASIA, dan dia menyebut Kitab Itu dengan nama
Kitab 5 Jalan Rahasia …..……..”
“Hahahahahaha, dan engkau dalam usiamu yang masih snagat
muda ini sudah membacanya sampai habis muridku ….”?
“Benar Suhu, sudah kuhafal semua, bahkan tecu pernah
mengajarkan pengetahuan jalan darah kepada Ang Sinshe
sehingga ilmu tabibnya semakin maju ……”
“Ada lagikah selain itu yang engkau pelajari ……”?
“Suhu …… ach, ini ……. Itu ……”
278
“Katakan sajalah, Suhumu tidak akan marah Koay Ji ……”
“Suhu …… kitab itu memuat banyak ilmu, salah satunya adalah
“mengolah semangat menuju kesempurnaan”, sebagai imbangan
Pou Tee Pwe Yap Siankang dan Toa Pan Yo Hiankang, tetapi
sayangnya bagian itu sudah dicopot orang. Karenanya, tecu tidak
dapat mengingat dan mencatat bagian tersebut. Bagian kedua
memuat Rahasia Jalan Darah Manusia, sedangkan Bagian ketiga
mengenai Rahasia Asal Gerakan Manusia, Bagian Keempat
mengenai Rahasia Ilmu Sihir dan Ilmu Hitam dan terakhir Rahasia
Delapan Wajah …….. semua sudah tecu hafalkan dan bahkan
bagian kedua dan ketiga sudah tecu dalami cukup lama, termasuk
ilmu langkah ajaib yang entah apa namanya. Locianpwee Pat Bin
Ling Long tidak memberinya nama ……”
“Apa maksudmu dengan sudah mendalaminya cukup lama
muridku ….”?
“Bagian mengenai RAHASIA JALAN DARAH sudah tecu pelajari
dengan seksama dan bahkan mempraktekkan dalam ilmu
pengobatan bersama Ang Sinshe. Sementara untuk bagian
ketiga, pernah tecu ajarkan kepada Khong Yan dan kemudian
kami berdua pergunakan bersama Khong Yan untuk menciptakan
sejenis ilmu sederhana buat anak-anak setelah menyaksikan
279
pertempuran seru antara seekor induk anak ayam melawan
seekor ular yang berniat memangsa salah satu anak dari si induk
ayam. Tecu bersama Khong Yan bersama-sama mengamati dan
kemudian coba-coba menyusunnya menjadi gerakan ilmu silat
..……..”
Mimpipun Bu In Sin Liong tidak membayangkan akan beroleh
murid semujijat Koay Ji. Tokoh aneh itu sampai bergidik
membayangkan jika tokoh sehebat Koay Ji ini benar sampai
tersesat. Dalam hati dia takjub bukan main, tetapi dia ingin melihat
lebih jauh, karena itu diapun berkata:
“Cobalah engkau tunjukkan kepada Suhumu, ilmu silat hasil
ciptaanmu dengan Yan ji itu muridku …”
“Ach, tecu malu memperlihatkan kejelekan tecu, Suhu ……”
“Tidak mengapa, Suhu hanya ingin melihat kehebatan Rahasia
Gerakan Manusia yang sudah engkau pahamkan itu ,,,,,,,”
“Ach, benar-benarkah Suhu ingin melihatnya ….”? Tanya Koay Ji
malu-malu dalam kepolosan seorang anak kecil
“Tentu saja, tetapi engkau tenang-tenang saja muridku yang baik
karena Suhumu ini pasti tidak akan mencelamu ……”
280
“Baik Suhu …… tecu akan memperlihatkannya ……”
“Tidak usah menggunakan tenaga, ingat Koay Ji ……”
“Baik Suhu ……”
Maka bersilatlah Koay Ji dengan ilmu ciptaannya sendiri, tentu
saja sudah jauh lebih matang dibandingkan 5 tahun lalu. Karena
dalam perjalanan 5 tahun terakhir, hanya 4 ilmu dasar Thian Cong
Pay dan Ilmu itu belaka yang diingat dan sesekali dilatihnya
dengan tidak mengerahkan tenaga iweekang …….. wajar jika dia
mengingat dan sudah mematrikannya dalam ingatannya
…………. dan setelah 7 jurus dipamerkannya, dia berhenti dan
memandang suhunya dengan pandangan harap-harap cemas.
Menjadi lebih cemas karena melihat suhunya duduk termenung
menyaksikannya dalam memamerkan ilmu ciptaannya dan dia
sungguh tak tahu isi pikiran suhunya ….. Sampai akhirnya
terdengar suhunya berkata:
“Koay Ji, berapa usiamu ketika menciptakan ilmu itu …..”?
“Kurang 5 tahun dari sekarang ini Suhu ………..…… apakah,
apakah ilmu itu terlampau memalukan dan banyak titik lemahnya
Suhu ……”? tanya Koay Ji dengan malu-malu sambil memandang
wajah gurunya
281
Mana Koay Ji tahu jika duduk termenungnya sang suhu karena
terpesona dan kaget dengan ilmu “sederhana” yang
diciptakannya dimasa masih bocah itu. “Usia sembilan dan Koay
Ji sudah mampu menciptakannya? Sungguh sulit dipercaya ….”
Desisnya dalam hati, benar nyaris tak percaya.
“Koay Ji, engkau bakalan menjadi “seorang seniman ilmu silat”
pada masamu kelak, bahkan kemungkinan besar akan melebihi
capaian Suhumu ini ……… dalam usia kanak-kanak, usia 9 tahun
engkau mampu menciptakan ilmu baru sungguh jauh diluar
dugaan dan nalar banyak orang. Bahkan sejujurnya, juga berada
di luar sangkaan dan dugaan suhumu ini …….”
Sesungguhnya pujian Bu In Sin Liong ini bukanlah pujian kosong.
Dia memang terpukau dan kaget setengah mati melihat
bagaimana seorang bocah berusia 9 tahun, hanya dengan
mencuri lihat dan berlatih dari sebuah kitab tak bernama, tetapi
mampu mencipta sebuah ilmu. Memang benar, diciptakan setelah
menyaksikan pertempuran seekor ayam dan seekor ular, tetapi
tetap saja merupakan sebuah kemustahilan. Tapi, repotnya dia
menyaksikan sendiri. Siapa yang dapat percaya dengan fakta itu
…….? Bahkan tokoh semujijat Bu In Sin Liong sendiripun masih
belum percaya dengan kenyataan itu, bagaimana orang lain kelak
…..?
282
“Ach, Suhu, tecu menjadi malu ……….. karena sesungguhnya
tecu masih harus belajar banyak dari Suhu …”
“Koay Ji, sesungguhnya memang fakta itu sangat mengejutkan.
Tetapi, agar engkau pahami, Kitab itu memang ciptaan seorang
mujijat pada 250 tahun silam, seorang tokoh silat yang sangat
berbakat dan menuliskan pemahamannya atas ilmu2 yang dia
temukan dan ciptakan. Dia sangat terobsesi untuk mengejar
ketinggalannya dari Ilmu-Ilmu Budha, dan kelihatannya dia
menemukan jalannya yang berbeda dengan ilmu-ilmu hitam.
Untungnya engkau tidak berlatih simhoatnya, sebab jika
demikian, maka engkau tidak akan bisa berlatih lebih jauh sebagai
muridku ……. tetapi, bagian-bagian lain, tetap saja bermanfaat
untuk engkau pelajari, kecuali Ilmu Sihir dan Ilmu Hitam, masih
belum waktunya engkau mempelajari ilmu kebatinan yang
teramat berat seperti itu. Engkau boleh mempelajarinya setelah
menyelesaikan atau menamatkan pelajaran dari Suhumu ini ……
ingat itu ….. sekali lagi, kularang engkau mempelajari Ilmu Sihir
saat ini, karena waktumu belum tiba ……”
Ketika menyebutkan larangannya, wajah dan mata Bu In Sin
Liong bercahaya sangat tajam menusuk dan membuat Koay Ji
tersentak dan diapun sadar jika gurunya sama sekali tidak mainmain
dengan kalimatnya itu …..
283
“tecu akan menaati pesan dan larangan Suhu ……”
“Bagus jika demikian ………”
Dan keduanya kemudian terdiam sejenak. Koay Ji yang sangat
antusias karena akan segera belajar ilmu-ilmu baru dan Bu In Sin
Liong yang masih kaget karena kejutan baru yang ditemukannya
dalam diri muridnya. Setelah terdiam beberapa saat, Bu In Sin
Liong kemudian berkata lagi;
“Malam ini, engkau boleh segera beristirahat, karena besok
Suhumu akan memulai latihan yang berbeda …… Tapi, sebelum
kita memulai proses besok hari Koay Ji, Suhumu meminta satu
hal untuk engkau lakukan, apakah engkau bersedia”?
“Hal apa gerangan itu Suhu …..”?
“Sesungguhnya memang terlambat, tetapi karena besok engkau
akan segera memulai pelajaran yang baru dna berbahaya kelak,
maka Suhumu memintamu untuk angkat sumpah. Bahwa,
pertama, engkau dilarang mengatakan kepada siapapun siapa
Suhumu, kecuali jika ornag menebak tepat siapa diriku; kedua,
engkau kuharuskan bersumpah akan mempergunakan Ilmu
kepandaianmu untuk kepentingan orang banyak dan bukan untuk
melakukan kejahatan ………… dan jika melanggar, maka engkau
284
rela kehilangan seluruh kepandaianmu dan dikutuk langit dan
bumi …..”
Bergidik Koay Ji mendengar isi sumpahnya nanti, tetapi, Koay Ji
menganggap apa yang diminta Suhunya memang normal dan
wajar. Karena itu dia segera bergerak dan kemudian mengangkat
sumpah:
“Tecu, Koay Ji, dengan disaksikan langit dan bumi bersumpah
tidak akan sembarangan menyebutkan nama Suhu Bu In Sin
Liong kepada siapapun, dan bersumpah akan menggunakan
seluruh kepandaian Tecu untuk kebaikan dan keadilan bagi
seluruh umat manusia. Dan jika tecu, Koay Ji melanggar, maka
biarlah langit dan bumi mengutuk tecu dan seluruh keturunan tecu
kelak ………”
“Baik, sudah cukup Koay Ji, ingat baik-baik sumpahmu itu dan
catatkan dalam hatimu serta tepatilah ketika kelak engkau
berkelana ……”
“Tecu akan mengingatnya baik-baik Suhu ……”
“Sekarang, engkau sudah boleh beristirahat …..”
“Baik, selamat malam Suhu ……”
285
Demikianlah keesokan harinya Bu In Sin Liong mulai melatih Koay
Ji dengan ilmu-ilmu andalannya. Hal ini ditempuhnya karena
melihat dasar-dasar ilmu silat dan gerakan silat Koay Ji dengan
ditunjang iweekangnya sudah memadai melatih ilmu-ilmu yang
lebih berat. Hebatnya dan ini sudah diduga sang Suhu, Koay Ji
melahap semua dengan sangat mudah dan cepat. Dalam waktu
singkat, Koay Ji mampu melahap ilmu-ilmu andalan Bu In Sin
Liong, yakni Ilmu Ginkang Liap In Sut (Ginkang Mengejar Awan)
sebuah ginkang super mujijat dan Ilmu Pukulan Sian In Sin Ciang
(Lengan Sakti Bayangan Dewa) serta ilmu tinju Sam Im Ciang
(Tiga Ilmu Pukulan Rahasia). Ilmu-ilmu tersebut adalah ciri khas
Perguruan Bu In Sin Liong yang sudah digubahnya dari Ilmu-ilmu
Siauw Lim Sie namun dengan kedalaman yang lebih, karena
merupakan hasil pencernaan dan pendalaman Bu In Sin Liong
sendiri. Tetapi, keuletan Koay Ji boleh dipuji. Atau, mungkin juga
karena masa kecilnya yang keras, penuh rasa sakit dan derita,
membuat anak itu benar-benar mampu mengerjakan dan melatih
diri melampaui anak-anak lain seusianya.
Setelah mendapat ijin berlatih ilmu silat, maka pada malam
harinya, Koay Ji masih lanjut dengan melatih ilmu-ilmu yang
sudah dikuasainya sebelumnya. Terutama yang paling dia sukai
dan difacoritkannya adalah Ilmu Langkah Thian Liong Pat Pian
286
atau Naga langit berubah delapan kali. Selama 6 bulan dia juga
mendalami ilmu langkah ini selain juga ilmu Ci Liong Ciu Hoat
(Ilmu Mengekang Naga – ilmu totok) maupun Ginkang Cian Liong
Seng Thian (Naga Naik ke Langit). Tetapi, ilmu-ilmu tersebut lebih
didalaminya dan menjadi lebih maju karena dia mulai memahami
bagaimana mengerahkan tenaga secara terukur dan juga tenaga
iweekangnya sendiri sudah termasuk lihay luar biasa. Dari
semuanya, adalah Ilmu Langkah Naga Langit yang paling
disukainya dan boleh dibilang sudah dikuasainya secara
sempura. Dan tanpa disadari Suhu dan Murid, kemajuan Koay Ji
melonjak berlipat-lipat karena sekarang kemampuannya menjadi
lengkap dalam menakar kekuatan tenaga dan bagaimana
menggunakan tenaga dalamnya yang berlimpah ……..
Sampailah suatu saat, setelah nyaris 7 tahun berlatih dengan
Suhunya, seseorang datang mengunjunginya secara tidak
disangka-sangka. Itulah untuk pertama kalinya Koay Ji bersama
Suhunya kedatangan tamu yang belum dikenalnya. Dan tokoh
yang datang sudah sama tua dan sama rentanya dengan
Suhunya. Tokoh yang tahu-tahu saja sudah berdiri
dibelakangnya, di ujung kanan dataran sepanjang 300 meter
dengan berujung jurang. Orang tua dengan jubah pertapaan yang
287
mirip dengan Suhunya itu tersenyum senyum memandangnya
dan mengejutkan Koay Ji ketika berkata :
“Omitohud ………. anak yang aneh …….. selamat siang anak
yang baik. Kemana gerangan Suhumu itu …….. katakan Thian
Hoat Tosu ingin menjumpainya ….”
Tidak perlu lagi sebenarnya Koay Ji memanggil Suhunya, karena
suara Thian Hoat Tosu, si tua renta yang mujijat itu sudah pasti
terdengar hingga ke telinga Bu In Sin Liong. Tetapi, meski
demikian, Thian Hoat Tosu masih nampak suka berlama-lama
dengan Koay Ji, apalagi karena kelihatannya sebelum
memperlihatkan diri, dia sudah sempat mengamati latihan Koay Ji
yang hari itu berlatih dengan hanya ditemani si Monyet Putih yang
kondisinya sudah pulih kembali. Kedatangan Thian Hoat Tosu
tidak membuat Monyet Putih murka, mungkin karena tahu tokoh
itu sakti mandraguna dan seperti saling kenal dengan majikan
tuanya. Karena itu, si Monyet Putih, seperti layaknya manusia,
malah datang dan memberi hormat sambil bercuit-cuit di hadapan
Thian Hoat Tosu si tua renta itu.
“Amitabha …….. angin apa gerangan yang membawa Thian Hoat
Tosu sampai menyambangi dan mengunjungi Thian Cong San
288
…..”? terdengar suara yang mengalun di udara namun sedap
masuk ke telinga yang mendengarkannya.
“Hahahaha, Bu In Sin Liong …… bagaimana ceritanya engkau
menemukan seorang bocah sehebat muridmu ini ….”?
“Amitabha …………. Adalah takdir yang membawa dan
mempertemukan bocah itu denganku, jika dibicarakan terlampau
sulit untuk diterima akal. Karena dia menjadi muridku setelah
selama 4 tahun menjadi pelayan di rumah murid bungsuku dan
menjadi pembantu tabib Thian Cong Pay. Tapi, begitulah takdir,
jika memang berjodoh tidak akan lari kemana-mana ….”
“Astaga, jika demikian, justru dia yang berlari datang untuk
menemui takdirnya ….. tapi, Sin Liong, mata tuaku menangkap
sejumlah getaran yang sangat luar biasa dalam diri bocah aneh
itu. Dan, jika dia sudah lama berada disini, mustahil engkau tidak
menyadari keadaan tersebut ……”?
“Sesungguhnya, karena urusan itulah lohu tidak pernah
beristirahat selama 7 tahun terkahir ini. Terlampau banyak
kemujijatan dan keanehan yang mengiringi bocah aneh itu, halhal
yang nyaris membuatku membatalkan niat untuk
menggemblengnya …..”
289
“Syukurlah jika demikian, karena mata tuaku tidak melihat ada
bibit orang jahat dan naluri licik dalam dirinya. Engkau beruntung
memperoleh murid sehebat itu ……”
Percakapan kedua tokoh tua yang terakhir dilakukan dalam ilmu
menyampaikan suara dari jarak ratusan lie, dan tak seorangpun
yang mampu menangkap percakapan mereka berdua itu. Apalagi
cuma Koay Ji, dan ech, ternyata saat itu Koay Ji sudah sedang
berhadapan dengan seorang nona cilik. Paling banyak nona cilik
itu berusia 13 tahun, kanak-kanaknya masih sangat terasa. Dan
dia sedang berhadapan dan entah membahas apa dengan Koay
Ji yang tentunya bertindak sebagai tuan rumah ….
Beberapa saat kemudian, kedua tokoh tua yang sedang
berbincang-bincang itu sudah tidak kelihatan lagi, nampaknya
sudah masuk kedalam gua tempat tinggal Bu In Sin Liong. Mereka
meninggalkan Koay Ji dan Tio Lian Cu, nama murid Thian Hoat
Tosu, untuk bercakap-cakap dan berkenalan di luar.
Sesungguhnya Koay Ji sudah merasakan getaran hebat dan
mengetahui kedatangan Thian Hoat Tosu. Tapi dia sadar kakek
itu kelihatannya sahabat Suhunya dan tentunya bukan orang yang
lemah hati dan gemar melukai orang dari balik kegelapan. Karena
itu dia segera berbalik dan memandang untuk kemudian memberi
290
hormat kepada Thian Hoat Tosu. Dia belakangan melihat di
belakang si Kakek, bediri seorang nona cilik yang sedang
memandangnya dengan mata yang jernih. Gadis itu
sesungguhnya memang menarik, matanya bersinar-sinar tanda
cerdik luar biasa dan penampilannya sama sederhana dengan
suhunya, Thian Hoat Tosu.
Seperginya Thian Hoat Tosu dan Bu In Sin Liong, Koay Ji yang
bertindak sebagai tuan rumah dengan senang dan ramah
menyambut Tio Lian Cu, dan berkata:
“Selamat datang di tempat kami yang sederhana ini ………
namaku Koay Ji, siapakah namamu nona ….”?
Koay Ji adalah anak yang jarang bergaul secara umum, karena
pergaulannya paling banyak dengan Khong Yan di perguruan
Thian Cong Pay. Tetapi, meskipun sangat terbatas, dia masih
ingat dan tahu cara bertutur sapa dan menyambut tamu. Itulah
sebabnya, tidak kaku dia menyambut Tio Lian Cu yang berdiri
tidak jauh dari tempatrnya berdiri saat itu …….
“Koay Ji ……. masak itu menjadi namamu ….. ini baru benarbenar
aneh ….” Berkata si gadis cilik dengan lagak orang dewasa,
291
tetapi Koay Ji yang kenyang dihina dan diperlakukan tidak layak
semasa kecilnya tidak menjadi kecil hati …….
“Memang itulah namaku nona, sejak kecil aku tidak mengetahui
namaku yang sebenarnya, bahkan juga tidak mengenal siapa
ayah dan bundaku. Aku hanya mengenal Ang Sinshe yang
terlampau baik kepadaku, Khong Yan sahabatku yang tidak
pernah mengejekku dan kemudian Suhuku yang mendidik dan
mengajarku selama tujuh tahun terakhir ini, selebihnya, terus
terang aku tidak mengetahui apa-apa lagi. Beruntung engkau
banyak berkelana dengan Suhumu nona ……” Koay Ji berkata
dengan wajar dan wajah sedikit berduka, baru kali ini dia sadar
dia tidak memiliki keluarga dan entah berada dimana ayah
bundanya ……
“Achhhhh maafkan aku jika begitu Koay Ji …… aku sudah
membuatmu bersedih. Mari, kita berteman, namaku Tio Lian Cu
……… dan sudahlah, tidak perlu perduli siapa yang lebih tua dan
siapa yang lebih muda ….. bagaimana kalau kita bermain-main
….”? Tio Lian Cu yang sadar sudah menyebabkan datangnya
duka dalam hati Koay Ji cepat berubah haluan, kini meminta
bersahabat dengan si bocah aneh.
292
“Ach, terima kasih Nona Tio Lian Cu, setidaknya bertambah lagi
seorang yang kukenal dan menjadi sahabatku ……” ujar Koay Ji
tulus, dan memang bocah aneh itu merasa senang kembali
memperoleh seorang kenalan.
Sedang mereka berdua bercakap-cakap dan dengan cepat
menjadi akrab karena Tio Lian Cu yang memag supel dan suka
bergaul, tiba-tiba datang 2 ekor monyet besar dan bercuit-cuit di
depan Koay Ji. Tio Lian Cu terkejut dan hendak menyerang
mereka, tetapi belum lagi dia menyerang, lengannya tiba-tiba ada
yang memegang dari belakang …… Monyet Putih
memandangnya dengan pandang mata menegur, dan dengan
cepat Koay Ji berkata:
“Sabar Nona, sahabat-sahabatku ingin melaporkan sesuatu
……..”
Dan Monyet Putih itupun mengangguk dan sinar matanya mulai
bersahabat dengan Tio Lian Cu yang batal menyerang sepasang
monyet yang baru datang itu;
“Apa …..? mereka sahabat-sahabatmu ……”?
Koay Ji mengangguk sambil berkata:
293
“Benar Nona, jika engkau mau, mereka juga akan dapat
menganggapmu sebagai sahabat, mereka sesungguhnya sangat
baik ……. Sebentar Nona ….”
Ternyata kedua monyet yang adalah suami istri itu datang
memberitahu sekaligus meminta pertolongan Koay Ji karena anak
mereka butuh perawatan. Nampaknya terjadi perkelahian antar
anak-anak monyet yang sedang nakal-nakalnya, dan mendengar
laporan itu Koay Ji tersenyum dan kemudian menyatakan
kesediaannya. Kedua monyet besar itu Nampak menundukkan
kepala dan mencium tangan Koay ji sebagai tanda terima
kasihnya. Setelahnya Koay Ji memandang si Monyet Putih dan
berbicara sejenak dalam bahasa yang tak dipahami Tio Lian Cu,
dan nampak Monyet Putih itu mengangguk-angguk serta bahkan
mendorong tubuh Koay Ji untuk segera pergi menolong anak kera
yang terluka itu ……
“Nona, ijinkan aku pergi sebentar mengobati beberapa ekor
monyet yang terluka. Jika engkau suka, engkau boleh mengikuti
aku, jangan takut, mereka tidak akan mengapa apakanmu dan
akan menganggapmu teman mereka ……”
Mendengar Koay Ji akan pergi mengobati seekor monyet,
awalnya Tio Lian Cu ngeri dan tidak suka, tetapi bahwa dia akan
294
dianggap sahabat ratusan atau mungkin ribuan monnyet,
membuat Tio Lian Cu akhirnya mengiayakan dan berangkat
bersama. Kurang dari 10 menit, mereka sudah berada di rimba
lebat yang semua pepohonannya digelayuti oleh monyet-monyet
besar dan kecil. Nampak mereka kegirangan melihat kedatangan
Koay Ji, dan bercuit-cuit mengutarakan rasa senang mereka.
Tetapi merekapun terkejut karena adanya orang yang lain, Tio
Lian Cu. Koay Ji dan Lian Cu akhirnya tiba di bawah sebatang
pohon yang besarnya luar biasa, mungkin sebesar gabungan
lingkaran tangan 5 atau 6 orang dewasa, dan disana, dua ekor
monyet besar yang mendatangi Koay Ji sedang menunggui anak
mereka yang sedang terluka.
Begitu Koay Ji tiba, kedua monyet itu terlihat menguik-nguik dan
berbicara kepada Koay Ji. Tio Lian Cu menganggap mereka
sedang melapor dan memberitahu keadaan anak mereka dan
membuatnya takjub dengan kemampuan Koay Ji yang aneh
seaneh namanya sendiri. “Astaga, anak ini benar-benar aneh,
sama anehnya dengan namanya sendiri” berkata Lian Cu dalam
hatinya dan terus mengikuti percakapan Koay Ji dengan induk
monyet yang terluka itu ……. Tidak lama kemudian, Tio Lian Cu
melihat Koay Ji bergerak cepat, memeriksa tubuh monyet yang
295
terluka dan jari-jemarinya bergerak cermat dalam memeriksa
keadaan si anak monyet.
“Hanya luka biasa ……….” gumam Koay Ji tidak lama setelah dia
menyelesaikan pemeriksaannya atas tubuh monyet yang
terbaring itu.
Dan gumamannya itu disampaikan kepada kedua monyet yang
menjadi induk anak monyet yang sedang terluka itu. “Lain kali,
ajar agar dia jangan terlalu ganas kepada sesama monyet, jika
tidak, dia akan sering terluka seperti ini …..” tegur Koay Ji yang
diyakan dan dianggukkan dengan penuh hormat oleh kedua
monyet itu .
“Siapa orang aneh ini sampai monyetpun taat kepadanya ….”
makin pusing Tio Lian Cu memikirkan keanehan Koay Ji ini ….
Sementara itu, Koay ji terlihat tertarik atas percakapannya dengan
kedua induk monyet yang percakapannya kira-kira seperti ini;
“Mereka berebut untuk memasuki sebuah gua di atas tebing sana,
mereka berebut dapat duluan disana guna mempersembahukan
temuan mereka kepada Monyet Putih dan tuan penolong ……..”
demikian informasi kedua monyet besar itu yang disampaikan
dalam bahasa khas mereka kepada Koay Ji
296
“Apa …..? mereka berebut masuk kedalam gua …….? dimana
mereka menemukan gua itu? coba tunjukkan kepadaku …..
“Dimana letak gua tempat kalian berkelahi itu …..”? tanya induk
monyet yang masih gemas kepada anaknya yang sudah selesai
diobati Koay Ji itu
Anak monyet itu menjawab sambil menunjuk-nunjuk kearah
puncak yang dipenuhi pepohonan besar dan lebat luar biasa.
Koay Ji segera berkata kepada anak monyet itu;
“Antarkan aku kesana …….”
“Baik …..”
Setelah bersepakat dengan induk kera yang baru diobatinya dan
juga mendapat arah yang benar, Koay Ji berkata kepada Tio Lian
Cu;
“Anak monyet ini berkelahi memperebutkan akses masuk ke gua
yang mereka temukan beberapa hari lalu. Mereka berebut masuk
karena ingin duluan menemukan sesuatu yang ingin mereka
persembahkan kepadaku, apapun yang mereka temukan
nantinya. Tetapi, mereka semua akhirnya terluka dalam
pertempuran itu …….. dan sekarang, katanya Gua itu sudah ada
297
yang khusus menjaga ….. apakah Nona ingin ikut aku menengok
keadaan gua itu …..”?
Tio Lian Cu yang semakin lama semakin kaget dengan
banyaknya keanehan dalam diri Koay Ji dengan segera
mengiyakan tanpa mengatakan apa-apa. Maka berangkatlah
mereka menuju Gua itu yang ternyata harus dicapai dengan
susah payah, terutama bagi Tio Lian Cu. Berbeda dengan Koay
Ji, gaya dan cara manjat pohon sudah lama belajar dari monyet
putih dan kawanan monyet itu, karenanya lebih mudah baginya.
Untung saja Tio Lian Cu memiliki ilmu ginkang yang tidak rendah,
karenanya mereka dapat terus maju meski dengan susah payah.
Merekapun akhirnya tiba di gua yang dimaksud setelah berjuang
lebih kurang 60 menit alias nyaris sejam. Padahal, jaraknya
tidaklah terlampau jauh dari gua pertapaan Bu In Sin Liong, hanya
karena harus bergelayutan di pepohonan karena memang medan
tujuan mereka agak miring dan nyaris tegak lurus ketika
mendekati gua itu.
Monyet yang tadi terluka namun sudah diobati kemudian
menunjuk-nunjuk ke atas, ada kurang lebih 30 meter dengan
medan agak terjal dalam kemiringan kira-kira 70 derajat menuju
goa itu. Disana ada sebatang pohon yang menjulur keluar dan
duduklah seekor monyet besar lainnya dalam posisi berjaga ……
298
tetapi, begitu melihat dibawah sudah datang Koay Ji, monyet itu
terlihat sangat gembira. Gembira bagai menemukan sahabat
sejatinya. Dan memang, Koay Ji mengenal monyet besar itu
sebagai monyet yang diselamatkannya dari perkelahian dengan
harimau pada berapa tahun silam. Sejak saat itu, seiring
berangkat besarnya monyet itu, sering dia datang dan belajar dari
Monyet Putih dan Koay Ji, itu sebabnya Monyet itupun ditakuti dan
dihormati oleh seluruh monyet yang berada di rimba itu. Dia
sepertinya dianggap dan diposisikan sebagai wakil dari Koay Ji
dan Monyet Putih …….
“Engkau juga disana …..”? sapa Koay Ji kepada sahabatnya itu
“Menjaga agar jangan ada sembarang monyet yang datang dan
berkelahi …. Mari tuanku, kita bisa memeriksa gua ini bersamasama
…..” panggil si monyet mengajak Koay Ji naik memeriksa
gua
“Mari Nona ….. kita sama-sama memeriksa ……”
“Baik …….. aku ikut ….”
Dengan beberapa loncatan, Koay Ji dan Tio Lian Cu sudah
berada di mulut gua yang dijaga monyet besar tadi. Begitu Koay
299
Ji tiba, monyet itupun menguik-nguik senang dan mencium
tangan Koay Ji, tetapi memandang aneh dan asing Tio Lian Cu.
“Dia teman baik kita …. beri salam kepadanya …..”
Dan benar saja, monyet itu kemudian menghormati Tio Lian Cu
dengan gaya yang aneh, khas binatang hutan ……..
“Mari, kita boleh masuk dan memeriksanya …….”
Ketika melakukan pemeriksaan, bukan main terkejutnya Koay Ji
dan Tio Lian Cu, karena gua itu seperti benar pernah ditinggali
orang, tetapi sudah pasti lama tidak ada yang mengurusi lagi.
Karena didalamnya jelas ada bebatuan dalam bentuk-bentuk
meja dan juga tempat duduk. Kemudian ada juga ruang istirahat
sejenis kamar, tetapi kamar itu kosong alias tidak ada isinya,
jikapun ada benda yang mereka temukan, itu hanyalah bendabenda
sejenis perkakas dapur yang sudah rada jauh tertinggal
jaman. Panjang kedalam gua itupun hanya kira-kira 10-15 meter
belaka, dan selebihnya buntu.
Setelah melakukan pemeriksaan dan tidak menemukan satu jenis
bendapun, Koay Ji memandang Tio Lian Cu yang anehnya masih
memandangi sekitar kamar dan ruang tamu tadi. Bahkan
beberapa kali Nona cilik itu memegangi dinding gua dan terus
300
berjalan meneliti hingga ke ruas menuju keluar. Sekali-sekali dia
mengetukkan lengannya, dan kemudian kembali lagi masuk
kedalam. Ketika Koay Ji akan memanggil Tio Lian Cu keluar, pada
saat yang sama nona itu memandangnya dan kemudian berkata
dengan suara penuh kepastian:
“Dibalik dinding ini pasti ada ruangan lainnya ………….” cetusnya
penuh keyakinan..
“Engkau yakin Nona …..”?
“Sangat yakin ………. sebentar, aku akan mencoba menggedor
dinding ruangan ini” sambil berkata demikian Tio Lian Cu mundur
sedikit ke belakang dan kemudian memasang kuda-kuda dan
meluncurlah segulung angin serangan mengarah dinding yang
dicurigainya itu …..
“Bummmmmmm ……”
Hanya terjadi guncangan kecil, selebihnya dinding itu tidak retak
sedikitpun. Hanya debu yang bertebaran akibat terjadi guncangan
oleh pukulan Tio Lian Cu …… melihat itu, gadis itu diam-diam
bergumam:
301
“Nampaknya kita harus memanggil Suhu untuk menggedor
dinding ini ……. Aku curiga dibalik dinding ini ada ruangan rahasia
……. Tapi, tuunggu aku masih akan tetap mencobanya sekali
lagi”
Dan kembali si nona bersiap, sekali ini dengan segenap kekuatan
dia memukul kembali dinding gua yang dicurigainya itu. Tetapi,
tetap saja hasilnya nihil, dinding itu tetap tidak bergerak dan tidak
ada tanda akan bobol.
“Nona, sebentar, biarkan aku mencoba …….” Akhirnya Koay Ji
menawarkan diri
“Apa ….. engkau ……? Ach, mari, mari, engkau tentunya boleh
mencobanya Koay Ji. Silahkan mencobanya …..” awalnya Tio
Lian Cu memandang remeh. Bukan apa-apa, meski Suhunya
sering memuji kehebatan Bu In Sin Liong, tetapi dia tidak pernah
mendengar orang-orang persilatan memuji kehebatan nama
tokoh itu, maka jelas dia ragu. Ragu akan kehebatan tokoh itu,
dan tentu meragukan muridnya. Dan mendengar murid tokoh
yang diragukan kebesarannya itu hendak mencoba, dalam hati
dia berpikir “aku saja murid tokoh dewa Suhu tidak mampu,
apalagi engkau ….”? pikirnya sengit, tetapi tetap dia memberi
ruang bagi Koay Ji untuk mencoba.
302
Berbeda dengan Tio Lian Cu yang harus pasang kuda-kuda, Koay
Ji dengan gaya dan cara seenaknya memukul dinding itu. Dan
tidak ada angin serangan sedikitpun juga, dan ini membuat Tio
Lian Cu mencibir dalam hati …… “tol ….”, tetapi belum lagi kata
“TOLOL” itu selesai diucapkan dalam hatinya, tiba-tiba dia
mendengar suara berderak derak dan dinding itu perlahan-lahan
terdorong oleh satu kekuatan dahsyat yang tidak nampak oleh
mata manusia ……… dan
“Buuuuuuuuuuummmmmmmmmm …..”
Dinding itupun berlobang besar, dan seiring dengan itu terdengar
teriakan dan pujian dari monyet besar yang datang bersama
mereka ………. Tio Lian Cu terbelalak, sukar dia mempercayai
pandang matanya. Dia sudah mencoba mengerahkan dengan
setaker kekuatannya mencoba menjebol dinding itu, tetapi
bergerakpun dinding itu tidak. Sebaliknya, bocah aneh itu, dengan
gaya seenaknya dan memukul seperti tak ada tenaganya, tapi
justru mampu membobol dinding gua itu hingga bolong sebesar
tubuh anak manusia ….. sulit dipercaya, dan mulailah dia percaya
dengan kisah gurunya mengenai tokoh sakti yang dikunjunginya
bersama suhunya ini.
303
“Mari Nona …….” dengan lagak biasa saja Koay Ji mengundang
Tio Lian Cu masuk setelah dia mendahului masuk bersama
monyet kawannya. Tio Lian Cu yang masih belum percaya
dengan pandangannya, ternganga dan mau tidak mau secara
tulus dia berkata kepada Koay Ji:
“Koay Ji, engkau sungguh hebat …..”
“Achhh, biasa saja Nona, Suhu sering sekali memintaku berlatih
dengan memukul gundukan-gundukan batu …”
Dan keduanyapun berjalan masuk lebih jauh kedalam. Setelah 5
meter berjalan masuk, merekapun menemukan sudut yang
merupakan ujung dari ruangan bercabang dari gua yang mereka
masuki. Dan, keduanya tertegun ketika melihat dan menemukan
adanya kerangka manusia dengan sebatang pedang seperti
dengan sengaja diarahkan ke sudut tertentu dalam posisi dan
awal gerakan yang agak aneh.
Jika sebelumnya Koay Ji mempertunjukkan keanehannya, maka
sekali ini adalah Tio Lian Cu yang mempertunjukkan kecerdikan
dan kemampuannya yang juga tidak kalah hebatnya. Berbeda
dengan Koay Ji yang kegirangan, Tio Lian Cu tidak terpengaruh
304
oleh rasa girang berlebihan dan memilih mengamati secara teliti
posisi kerangka itu. Dan tiba-tiba dia berseru …….:
“Astaga ……..”
Mendengar teriakan Tio Lian Cu itu, Koay Ji terkejut dan segera
berpaling kearah si Nona cilik dan bertanya:
“Nona, ada apakah ….. engkau menemukan sesuatu …..”?
“Bukankah ….. bukankah …. posisi itu …. ach, tetapi engkau
sudah pasti kurang paham dengan itu Koay Ji ….”
“Nona, apa maksudmu ……”? Tanya Koay Ji semakin penasaran
dan menuntut jawaban atas pertanyaannya itu
Tio Lian Cu mengerti, tidak mungkin dia berlaku licik dengan
kawannya yang begitu polos dan mempercayainya itu ……
perlahan-lahan dia berpaling memandang Koay Ji dan berkata
dengan suara perlahan:
“Koay Ji ……. aku ingin mengatakan secara jujur kepadamu,
posisi bersilat kerangka itu merupakan salah satu posisi kunci dari
gaya Hoa San Pay kami …. Suhu kelihatannya akan sangat
305
senang dengan penemuan ini. Bolehkah kerangka ini kita biarkan
terlebih dahulu sampai aku mencoba memahami seutuhnya …..?
“Ach…… benar-benarkah itu posisi khusus gaya ilmu Hoa San
Pay kalian ….”?
“Sejujurnya aku belum pasti benar, tetapi aku memiliki keyakinan
sedikit banyak seperti itulah Koay Ji ……”
“Ach, jika demikian, engkau yang berhak untuk memeriksa lebih
jauh nona …. Biarlah aku dan monyetku ini keluar sebentar dan
menunggumu selesai ….”
“Koay Ji …” bentak Tio Lian Cu murka ….
“Ada apa Nona ….”? kaget Koay Ji
“Apa engkau kira kami manusia Hoa San Pay begitu kemaruk
pusaka dan tidak tahu rasa setia kawan ……”?
“Apa maksudmu nona …… aku kurang mengerti ……”
Tio LIan Cu sadar, kawan mudanya ini adalah manusia polos yang
tidak punya pamrih dalam menolong, dan juga tidak punya sifatsifat
iri dan licik sebagaimana insan dunia persilatan lainnya.
Diapun menyesal sudah membentaknya …….
306
“Koay Ji, kita bersama mencari dan menemukan, benar atau tidak
posisi itu adalah posisi Ilmu Mujijat Hoa San Pay adalah masalah
lain, tetapi kita tetap harus terus mengerjakan dan menemukan
yang lainnya bersama-sama, engkau tidak boleh meninggalkan
aku sendirian ….”
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Terpopuler PANL 3 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments