Cerita Asyik PANL 9

----
Segera setelah melihat jatuhnya Suma Cong Beng yang pingsan
dan mulutnya sampai mengeluarkan darah, maka dengan penuh
murka, dia segera meninggalkan Ilya dan kini mengejar Yu Lian
yang juga tertegun dengan hasil pukulannya itu. Pada saat itu, Yu
Lian kebetulan berada di dekat Koay Ji yang sedang “adu kesima”
alias sama-sama diam dan siap menyerang dengan kerudung
hitam lainnya. Tetapi, begitu merasakan betapa kekuatan pukulan
yang mengarah ke Yu Lian sangatlah hebat dan besar, Koay Ji
paham bahwa keselamatan Yu Lian terancam. Padahal pada saat
itu, baik Ilya maupun Yu Kong nyaris tidak mungkin untuk mampu
menjangkau dan memberinya pertolongan. Tetapi, amat celaka
karena dia sendiripun masih harus amat waspada menghadapi
serangan hebat yang siap dilontarkan oleh kerudung hitam yang
satunya lagi yang juga bersiap menggempurnya.
Dalam waktu sepersekian detik, Koay Ji akhirnya memutuskan.
Dengan sigap dan dengan tenang, dia bergerak kearah Yu Lian,
bersikap melindunginya sambil berbisik dengan suara amat
serius:
1171
“Jangan menyerang, gunakan iweekangmu untuk sekedar
melindungi dirimu sendiri, dan jangan sekali sekali berpikir untuk
membantuku melawan mereka...... aku akan mampu melawan
mereka .....”
Dan untungnya Yu Lian tidak banyak bacot melihat betapa hebat
dan mengerikannya serangan lawan yang tengah mengarah
dirinya. Karena itu, diapun mengangguk dan memang saat itu dia
sudah percaya penuh kepada Koay Ji yang baru menolongnya
dari bahaya maut. Maka, dengan tenang kini Koay Ji
mengerahkan kekuatannya sampai lebih dari 7 bagian dan
kemudian secara langsung menghadapi serangan si Kerudung
Hitam yang mengancam Yu Lian. Tetapi, sungguh repot baginya
karena pada saat yang nyaris bersamaan, Kerudung Hitam yang
satu lagi ikut menyerang langsung mengarah ke Koay Ji, hingga
kini dia menghadapi dua tokoh Kerudung Hitam yang
menyerangnya secara bersamaan.
Tentu saja dengan membawa angin pukulan mereka berdua yang
amat kuat dan hebat luar biasa. Koay Ji sendiripun sebetulnya
tidak terlampau yakin dengan kemampuan diri sendiri saat itu.
Karena jika dia menggunakan ilmu langkah mujijatnya Thian
Liong Pat Pian, maka berarti sama saja dia akan membiarkan Yu
Lian terkena dampak langsung serangan dua orang yang maha
1172
hebat itu. Maka, satu-satunya cara adalah kembali menggunakan
iweekang istimewa warisan dua guru besarnya meski dengan
percaya diri yang agak minimal. Tapi, apa boleh buat, saat itu, dia
tidak memiliki banyak pilihan lain lagi, kecuali meninggalkan Yu
Lian menjadi sasaran empuk kedua lawan berat yang
mencecarnya. Tentu saja sikap ksatria seorang Koay Ji tidak akan
membuatnya melahirkan keputusan pengecut seperti itu. Sudah
pasti dia akan melindungi Yu Lian dan melawan kedua
penyerangnya meskipun dia tahu bahwa itu berarti maut dan
bahaya bagi dirinya sendiri.
Dengan tenang karena merasa tak ada pilihan lain, Koay Ji terlihat
kemudian memapak serangan Kerudung Hitam yang mengarah
ke Yu Lian terlebih dahulu dan kemudian kedua lengannya
nampak bergetar agak keras karena daya serang dan kekuatan
iweekang lawan yang memang kuatnya bukan buatan. Tetapi,
dengan cerdik Koay Ji melangkah satu kaki kekanan seperti
membuang beban dan kemudian memutari tubuh Yu Lian untuk
kemudian kini menggiring kekuatan dahsyat Kerudung Hitam
pertama menyambut kekuatan serangan Kerudung Hitam yang
satunya lagi. Kedua lengannya terlihat bergetar keras, tetapi
untungnya karena berbeda sepersekian detik, kedua serangan itu
1173
masih dapat dihadapinya. Berbeda jika mereka menyerang
secara bersamaan dan tiba ketubuhnya secara bersamaan:
“Blaaaaaaarrrrrrr ......”
Dentuman keras terjadi diiringi dengan gerakan kaki melingkar
Koay Ji yang membawa serta tubuh Yu Lian menyelinap dari
benturan kekuatan kedua Kerudung Hitam yang sangat hebat dan
luar biasa dahsyat itu. Dengan cara berputar, Koay Ji
memunahkan sisa kekuatan kedua lawannya yang berbenturan
dan berpencar kemana-mana itu. Meski kedua Kerudung Hitam
tidak terluka, tetapi keduanya kaget bukan main karena merasa
dipermainkan oleh Koay Ji. Merasa dipermainkan, karena mereka
berdua tahu betul bahwa Koay Ji mampu dan berkemampuan
membuat tenaga mereka saling bentur dengan amat hebatnya.
Dan baru saja mereka berdua secara cerdik dibenturkan oleh
Koay Ji dan mendatangkan kekagetan yang luar biasa dan
ujungnya membuat mereka semakin murka. Untung saja
keduanya mampu mengurangi kekuatan yang dikerahkan hingga
tidak membuat keduanya sama-sama terluka, tetapi, bagi tokoh
sekelas mereka, tentu saja sangat memalukan dan membuat
mereka menjadi kaget dan ngeri karena lawan mereka
sesungguhnya jauh lebih muda. Keadaan tersebut tentu saja
1174
sama saja dengan sebuah “kekalahan” mengingat tingkat dan
kedudukan keduanya, dan tentu saja adalah aib.
“Binatang ...... sambut lagi .......” terdengar erangan si Kerudung
Hitam terdekat dari posisi Koay Ji yang disusul serangan
Kerudung Hitam yang tak dapat diidentifikasi lagi oleh Koay Ji.
Cepat dia mendorong tubuh Yu Lian dan berbisik:
“Menjauh, keadaan sungguh menjadi jauh lebih berbahaya ......”
Tanpa diperintah lebih jauh, Yu Lian melangkah ke belakang dan
kini berada dekat dengan Ilya yang memandang arena dengan
mata terbelalak kagum. Tidak disangka jika ada orang yang
mampu menghadapi lawan beratnya tadi dan malah masih juga
ditambah kawannya yang sama hebat dan sama kuatnya. Artinya,
lawannya tadi plus satu orang lagi dengan kekuatan sama
hebatnya. Dapat dibayangkan kekuatan kedua lawan hebat yang
bergabung atau menggabungkan diri menyerang Koay Ji itu.
Tetapi, itulah, saking kagumnya, dia sampai lupa untuk memberi
bantuan kepada Koay Ji yang kembali harus berhadapan dengan
kedua lawannya yang kuat dan hebat luar biasa. Mengingat
pengalaman sebelumnya, kali ini mereka menyerang dengan
tempo dan waktu yang sama. Apa gerangan yang dapat dilakukan
Koay Ji?
1175
Tidak kecewa dia menjadi murid dua tokoh dewa dengan
kecerdasan yang luar biasa dan masih dianugrahi sebuah buku
mujijat mengenai gerakan manusia. Dengan cepat dia
menggerakkan kedua lengannya, ditangkap dan “diolahnya”
tenaga serangan lawan pertama dan kemudian digunakannya
ilmu langkah mujijatnya untuk menghindari serangan lawan
pertama. Kemudian, pada saat bersamaan, dilontarkannya
kekuatan tenaga lawan yang digiring dan diolahnya untuk
menyerang lawan kedua. Tetapi, pada saat setelah melepas
serangan, dia kembali harus segera melawan serangan lawan
pertama yang menyerangnya dengan kekuatan lebih besar lagi.
Apa boleh buat, dengan langkah mujijat, dia menghadapi lawan
pertama, dan tak berapa detik, lawan keduapun kembali
mengepung dan menyerangnya.
Sontak Koay Ji segera merasa kerepotan, karena bagaimanapun
himpitan gabungan kekuatan keduanya sungguh sangat kuat dan
sulit untuk dilawan dengan iweekang khusus yang dimilikinya
sekalipun. Untung saja, dia masih memiliki ketrampilan langkah
mujijat dan pukulan yang memelesetkan serangan iweekang
lawannya. Ini yang sangat membantunya, dengan kedua ilmu ini
dia mampu bertahan sampai dua puluh jurus tanpa dapat didesak
habis oleh kedua lawannya. Tetapi, jelas dia terdesak hebat dan
1176
dalam posisi yang sangat berbahaya serta terus seperti itu sampai
10 jurus kembali berlalu. Sementara kedua manusia berkerudung
hitam terasa semakin berat dan kuat menekan dan mereka mulai
paham bagaimana sebaiknya menghadapi manusia dengan
kemampuan mujijat seperti Koay Ji saat itu.
Tetapi meskipun demikian, mereka tetap sulit untuk mendesak
Koay Ji sampai sama sekali kehilangan posisi untuk melawan.
Sampai dua puluh jurus kembali berlalu, dengan mengandalkan
kedua ilmu mujijatnya, Koay Ji masih mampu bertahan meski
hanya bisa sesekali mengirimkan serangan balasan. Selewat
jurus ke-lima puluh, kedua lawannya yang sakti mandraguna
mulai dapat lebih menebak arah dan gerakan Koay Ji, meski
belum mampu memojokkan lawan. Sampai akhirnya, tibalah saat
yang sangat kritis dan berbahaya, posisi dimana Koay Ji mau
tidak mau harus berbenturan dengan kedua lawannya karena
posisinya sudah amat sangat kejepit.
Dia terjebak pada posisi yang mau tidak mau harus menerima
pukulan kedua lawannya setelah salah seorang Manusia
Kerudung Hitam membiarkan bahu kirinya terkena pukulan Koay
Ji. Tetapi, setelah menerima pukulan itu dan hanya sedikit
meringis karena terserempet angin pukulan Koay Ji, tiba-tiba
dengan cepat dia menggeliat dan berbalik menyerang dan
1177
mengancam balik Koay Ji. Repotnya lagi, pada saat yang
bersamaan, Kerudung Hitam satunya lagi sudah menyiapkan
serangan mematikan dengan sepasang lengannya memercikkan
cahaya berapi yang terlihat sangat panas dan sudah tentu penuh
dengan tenaga iweekang mujijat. “Celaka .....” desis Koay Ji
dalam hati karena merasa tidak akan sanggup menerima
kombinasi kekuatan dua lawan yang masing-masing masih
setingkat dengan kemampuannya.
Tetapi, betapapun Koay Ji tidak menjadi panik. Meski sadar dia
akan kalah kuat, dia merasa malu jika harus menyerah dan pada
saat kejepit justru dia merasa pasrah dan mencoba melawan
kekuatan membahana lawan dengan kemampuan yang tersedia
dalam dirinya sendiri. Ketika dia akhirnya pasrah dan melawan
dengan kekuatan yang ada, disaat-saat yang teramat berbahaya
bagi Koay Ji, tiba-tiba terdengar seruan memuji nama Budha yang
melantun sangat dekat dengan arena:
“Amitabha ........ apakah engkau sudah tidak punya malu
menyerang orang yang jauh lebih muda?....... siancay, siancay”
Bersamaan dengan suara mengalun lembut itu, tiba-tiba dalam
arena sudah bertambah dengan munculnya seorang Bhiksu
Budha yang berperawakan jauh berbeda dengan kedua kerudung
1178
hitam. Bhiksu itu terlihat sederhana, cenderung kecil dibanding
kedua manusia kerudung hitam dan tubuhnya terlihat kurus.
Tetapi, ketika dia mengayunkan lengannya untuk melawan
seorang dari kerudung hitam yang memercikkan cahaya berpijar
panas di lengannya, serangan si kerudung hitam itu berhasil
dengan tepat ditangkis dan juga dipunahkan. Sementara itu,
setelah seorang lawan dapat dihadapi si pendatang baru,
serangan kerudung hitam yang satu lagi dengan mudah kini dapat
dinetralisasi oleh Koay Ji. Sungguh-sungguh Koay Ji bersyukur
dan pada akhirnya menjadi bernafas lega dengan kedatangan
Bhiksu kecil kurus itu diwaktu yang sangat tepat. Menjadi lebih
senang ketika dia mendengar suara lembut yang sudah amat dia
kenal sejak masa kecilnya. Suara yang disampaikan dengan ilmu
menyampaikan suara dari jarak jauh dan hanya dapat
didengarnya seorang:
“Muridku, engkau sungguh kelewat berani dan ceroboh, tidak
tahukah engkau jika saat ini sedang menghadapi dua tokoh
puncak Tionggoan yang sangat hebat dan mujijat serta malah
sudah nyaris setingkat dengan kedua suhumu?...... untung
kedatanganku tidaklah terlambat ..... tapi sudahah, bergegas, kita
harus bergerak sangat cepat karena bantuan mereka beberapa
saat lagi akan segera tiba disini. Kawan-kawan mereka juga
1179
memiliki kepandaian yang sangat tinggi, keadaan bakalan
menjadi sangat gawat dan sangat berbahaya bagi kawankawanmu
itu ......”
Maka tahulah Koay Ji jika yang datang adalah Bu Te Hwesio,
salah seorang Suhunya yang baru hari itu dipandanginya dengan
jelas dan berhadapan langsung. Karena itu dengan wajah yang
penuh rasa hormat dan juga rasa terima kasih tak terhingga,
diapun berkata kepada Bu Te Hwesio dengan ilmu yang sama:
“Baik Suhu, terima kasih .......”
Setelah berkata demikian, diapun mengirim suara kepada Yu Lian
memberitahu bahwa mereka harus segera pergi karena bantuan
pihak lawan segera akan tiba. Mendengar perkataan yang segera
disampaikan Yu Lian kepada Ilya, maka mereka berdua segera
bertindak cepat. Yu Lian datang membantu Yu Kong yang
bertarung imbang dengan Ketua Tiang Pek San, dan Ilya
membantu Koay Ji menghadapi salah seorang Manusia Berjubah
dan Berkerudung Hitam, sementara Bu Te Hwesio menghadapi
Manusia Berkerudung Hitam yang lainnya lagi. Bantuan Ilya ini
sontak membuat posisi lawan menjadi timpang dan malahan kini
terancam bahaya maut, dan jelas lawan-lawan mereka yakni
kedua Manusia Berkerudung dan Ma Hiong sadar dengan
1180
keadaan yang sangat berbahaya bagi pihak merekaitu. Tapi,
mereka masih masih berharap segera datang dan tiba bantuan
pihak mereka, kawan-kawan mereka yang lain, hanya sayang,
saat itu masih belum ada tanda-tanda tibanya bantuan.
Sementara itu, posisi mereka, terutama Ma Hiong sudah dalam
keadaan terdesak hebat.
“Kita pergi .........” bentak salah seorang Manusia Berkerudung
yang meninggalkan arena dan dilepaskan oleh Ilya serta Koay Ji,
menyusul kemudian Ma Hiong yang terdesak juga ikut melayang
pergi. Sementara Kerudung Hitam lainnya masih berada di arena,
tetapi pertarungan sudah berakhir karena mereka hanya sekedar
saling adu pandang kini: yaitu si Bhiksu kurus dan si Kerudung
Hitam satunya lagi.
“Tang Hok..... pergilah ....... bawa serta teman-temanmu, sahabat
lamaku Mo Hwee Hud kelihatannya masih ingin berbincangbincang
lebih jauh denganku beberapa saat kedepan......”
terdengar suara dari Bu Te Hwesio yang ikut membantu Koay Ji
dalam mempertahankan samarannya saat itu. Dan mendengar
bahwa lawannya tadi salah seorang adalah Mo Hwee Hud, bukan
main kagetnya Koay Ji.
1181
“Baik, terima kasih Locianpwee ......”, Koay Ji yang cepat tanggap
menjawab sesuai dengan irama bicara Suhunya, tetap
menyimpan hubungan mereka berdua sebagai Suhu dan Murid
Setelah memberi isyarat mata kepada Yu Lian, maka merekapun
segera berlalu dan meninggalkan Mo Hwee Hud dan Bu Te
Hwesio di arena tersebut. Jelas Koay Ji tidak tahu lagi apa yang
terjadi dan apa yang dipercakapkan Suhunya dengan tokoh hebat
yang sebetulnya sudah dikenalnya sejak masa kecilnya itu.
Tetapi, sampai saat dia melayang pergi, masih belum hilang rasa
kagetnya jika dia baru saja bertarung melawan Mo Hwee Hud
yang sangat menakutkan itu. Dia sendiripun nyaris tidak yakin
dengan apa yang baru saja dilaluinya.
“Tang Koh hengte.......... terima kasih karena engkau
menyelamatkan nyawaku, bahkan menyelamatkan kami kakak
beradik dan sahabat kami dari Persia, Ilya ..... terima kasih, terima
kasih.....” berkata Yu Lian setelah mereka akhirnya dapat berlalu
dari arena pertarungan dan merasa sudah cukup aman dari
ancaman lawan.
“Accchhhh, Yu Kouwnio, sebetulnya cayhe sendiripun sedang
berusaha menyelidiki kawanan penjahat itu dan apa rencana jahat
mereka. Oh ya, siang harinya cayhe juga bertemu dengan Mo Pit
1182
Siu (Orang Tua Lengan Iblis) Sin Bu dan juga Jiat Pit Hun (Sukma
cacad lengan) Lu Kun Tek. Tetapi keduanya kutemukan berada
dalam kota dan berjalan bersama dengan kawan-kawan mereka
yang rata-rata tidak lohu kenal dan baru kulihat tadi siang ......”
“Accchhhh benarkah demikian ......” desis Yu Lian tertahan dan
bahkan Yu Kong juga ikut memandangnya mendengar info
tersbeut...
“Ach tidak benar, tidak benar adikku ..... engkau perkenalkan kami
terlebih dahulu dengan locianpwee yang sangat hebat ini .....”
potong Yu Kong yang terlihat sangat ingin berkenalan dengan
Koay Ji
“Accchh, sampai lupa .... baiklah toako.... biar kuperkenalkan.
Saudara Tang Hok, perkenalkan ini kakak tertuaku, Yu Kong ......”
“Senang berkenalan denganmu saudara Yu Kong .....”
“Terima kasih atas pertolongan Tang Hok tayhiap.... kami kakak
beradik sangat gembira berkenalan dengan tokoh sehebat
saudara Tang Hok .....”
“Dan ini adalah seorang tokoh hebat asal Persia dan datang
dengan missi khusus di Tionggoan, namanya adalah Ilya ......”
1183
“Terima kasih atas pertolongan Tang Hok tayhiap.....” berkata Ilya
dengan logat yang sangat aneh dan asing, tetapi masih dapat
dimengerti oleh Koay Ji ...”
“Acccchhh, janganlah memanggilku Tayhiap, lebih baik kita
bercakap-cakap sebagai sesama sahabat dunia persilatan.
Tetapi, senang dapat berkenalan dengan tokoh hebat yang
berasal dari Persia ......”
Setelah basa-basi perkenalan antara mereka semua, pada
akhirnya Yu Lian tidak tahan dan akhirnya akhirnya bertanya:
“Saudara Tang Hok, apa sebenarnya maksudmu mengintip
pertemuan mereka? Mana tahu ada yang dapat kami bantu ....”?
“Accchhhh, jika dikatakan, cayhepun malu, karena sesungguhnya
ingin mengetahui apa isi peti yang mereka perlakukan dengan
sangat rahasia tersebut .....”
“Mudah saja Tang Hok, kami dapat memberitahumu .....” adalah
Yu Kong yang menjawab dan kemudian melanjutkan;
“Peti itu berisi rampokan harta benda dari beberapa kota, tetapi
selain itu, setengahnya sebetulnya berisi bahan-bahan beracun
yang sangat berbahaya dan sangat-sangat mematikan..... bahan
1184
racun tersebut sebetulnya berasal dari daerah Biauw Kang.
Kelihatannya mereka akan menggunakannya dalam waktu dekat
ini, jika menilik persiapan mereka malam ini .....”
“Hmmmmm, cayhe tahu jika demikian, menurut sahabat tuaku
Thian Liong Koay Hiap, mereka mungkin akan
mempergunakannya di acara perayaan 75 tahun Hu Pocu dalam
waktu dekat..... ach, sungguh berbahaya ....” berkata Koay Ji
dengan suara yang amat prihatin dan menghawatirkan seluruh
pendekar yang kini sudah berkumpul untuk merayakan pesta Hu
Pocu. Membayangkan mereka semua mati diracun lawan
sungguh membuat Koay Ji merasa khawatir dan memutar
otaknya untuk menghadapi serangan gelap semacam ini .....
“Accchhh, jadi engkau memiliki hubungan dengan Thian Liong
Koay Hiap ...” tanya Yu Lian dengan suara antusias
“Boleh dibilang Koay Hiap masih merupakan angkatan lebih tua
dan menjadi Suhengku, jelas saja cayhe mengenalnya.......”
terang Tang Hok sedikit berdusta
“Acccchhh, begitu rupanya. Kalian berdua kakak beradik
seperguruan sungguh sudah banyak membantuku ....” berkata Yu
Lian penuh rasa terima kasih.
1185
“Jika akan digunakan ke sekumpulan besar manusia, maka
benar-benar akan sangat berbahaya, karena racun ini adalah
jenis yang mematikan dalam waktu beberapa menit belaka dan
apabila dicampurkan kemakanan ataupun minuman, sama sekali
akan tidak mengeluarkan bau yang menyengat hingga sangat
susah untuk dapat diidentifikasi dan diketahui.....” berkata Ilya
dengan suara perlahan mengalihakan percakapan khusus Yu
Lian dan Tang Hok atau Koay Ji.
“Ilya hengte, apakah itu bahan racun untuk mengolah racun Ular
Mahkota Daun ...?” bertanya Koay Ji dengan suara tercekat.
“Tepat sekali saudara Tang Hok..... racun Ular Mahkota Daun jika
dicampurkan dengan bisa serangga dari daerah Biauw akan
menghasilkan racun berbahaya yang sulit ditebak dan diduga.
Karena racun ular akan mencairkan serangga itu dan kemudian
akan berubah sama saja dengan air biasa, namun sangat
mematikan. Racun Ular Mahkota Daun belaka sudah berbahaya,
apalagi jika dicampurkan dengan serangga khas daerah Biauw,
kemampuan membunuhnya luar biasa hebat .......” jelas Ilya yang
langsung membuat Koay Ji terdiam dan khawatir . Jelas saja dia
menjadi khawatir karena melihat langsung betapa berbahaya dan
betapa mematikannya racun yang dijelaskan oleh Ilya tersebut.
1186
“Ilya hengte, tahukah engkau obat penawar racun berbahaya
tersebut ...” tanya Koay Ji dengan suara bergetar.
“Lawan dari racun maut tersebut sudah pasti ada, tetapi
membutuhkan seorang “tabib” untuk meraciknya. Jika kita
menemukan seorang tabib yang tepat, maka tidak akan sulit untuk
menawarkan racun tersebut ......” berkata Ilya dengan penuh rasa
percaya diri sambil memandang Koay Ji
“Jika demikian mudah ....... seorang kawan mudaku bernama Bu
San akan dengan mudah membantu kita jika demikian.
Kupastikan tidak ada tabib yang akan melebihi dia untuk urusan
sekarang ini ......”
“Tapi, dimana tabib muda itu? Waktu terus berlalu dan kita harus
segera meraciknya dalam tempo singkat...” tanya Ilya
“Sebutkan saja tempatnya, maka dia akan menemuimu besok
pagi-pagi benar” jawab Koay Ji cepat dan tegas
“Baiklah ...... dia boleh menemui kami besok pagi di hutan sebelah
utara gerbang kota. Kami akan menunggu si tabib disana”
1187
“Baiklah, kita tetapkan saja demikian ......” setelah kalimat tersebut
selesai diucapkan bayangan Koay Ji lenyap dari pandangan
ketiga orang itu.
“Luar biasa ....... anak muda itu sepertinya setingkat dengan
Panglima Liga Pahlawan Bangsa Persia dan tidak akan butuh
waktu lama untuk mencapai tingkatan Maha Guru Liga Pahlawan
Bangsa Persia......” terdengar gumaman Ilya yang terdengar jelas
baik oleh Yu Lian maupun Yu Kong.
“Ha ......? anak muda ..... apa maksudmu saudara Ilya ....”? Yu
Lian bertanya dengan nada penuh pertanyaan dan penasaran.
“Bukankah usianya bahkan masih beberapa tahun dibawahku tapi
jelas tidak muda lagi....”? Yu Kong bertanya dengan nada yang
sama penasaran.
“Hahahahaha, sahabat-sahabatku, dalam Ilmu Silat Tang Hok
yang tadi boleh jadi jauh diatas tingkatku, tetapi dalam ilmu
menyamar, tanggung aku masih mampu menyamai dan
menandinginya. Bahkan di seantero Persia, orang-orang masih
akan menunduk malu menghadapiku untuk urusan penyamaran
......”
1188
“Jadi ..... dia itu, Tang Hok tadi itu ......”? tanya Yu Lian sampai
gugup dan tidak mampu melanjutkan kalimatnya itu.
“Usianya paling banyak 20 tahunan Nona Yu Lian ....... tidak akan
salah lagi, jikapun meleset, pasti hanya setahun atau dua tahun
belaka. Engkau boleh yakin dengan apa yang kusampaikan sekali
ini Nona......” Ilya berkata sambil berlalu dengan diikuti Yu Kong
dan kemudian juga Yu Lian yang masih sangat takjub dengan
Tang Hok yang mengaku sute Thian Liong Koay Hiap yang
ternyata menurut Ilya bahkan masih lebih muda usia
dibandingkan mereka bertiga. Sungguh sulit dipercaya.
Sementara itu, karena terburu waktu, Koay Ji sudah dalam
kecepatan tinggi kembali ke rumah tempat dia menginap.
Maklum, besok dia harus setelah meracik obat dipagi hari, dan
selanjutnya dia berencana untuk pindah ke dalam Benteng
Keluarga Hu dan akan beroperasi langsung dari dalam Benteng
setelah mengetahui rencana keji nan maut lawan mereka. Tetapi,
betapa terkejutnya Koay Ji ketika memasuki kamarnya, ternyata
seseorang sudah berada dalam kamarnya tersebut. Dan
orangnya bukanlah Kwan Kim Ceng ataupun Nyo Bwee, bahkan
bukan pula Nadine, tetapi orang lain yang sangat dihormatinya.
Bu Te Hwesio .......
“Accchhhhh, Suhu .......” Koay Ji memburu kedepan dan langsung
1189
bersujud memberi hormat kepada orang tua yang duduk bersila
dalam kamarnya yang sangat luas itu sambil memandanginya
penuh senyum.
“Koay Ji ...... Koay Ji ...... engkau sungguh tidak memalukan kami
kami yang berlelah mendidik dan melatihmu sampai sebesar ini
......” ujar Bhiksu tua renta itu sambil mengelus kepala Koay Ji
“Acccchhh, tetapi nyawa tecu semata-mata dipertahankan karena
jasa dan upaya Suhu sejak berapa tahun silam ......”
“Benar muridku, tetapi perjuanganmu untuk mempertahankan
nyawamu, penderitaan serta kesulitan yang engkau lewati telah
mendidik dan melatihmu menjadi jauh lebih dewasa dibanding
umurmu yang sebenarnya. Untungnya engkau mewarisi
kegagahan guru-gurumu, sam suhengmu serta juga Ang Sinshe
yang mendidik dan melatih emosi serta karaktermu sejak masa
sulitmu itu .......”
“Accch, Suhu, tetapi dimana gerangan Ang Sinshe yang budiman
itu dewasa ini.....? Koay Ji sungguh sangat merindukannya dan
belum mengucapkan terima kasih atas didikannya” bertanya dan
berkata Koay Ji dengan penasaran dan penuh rindu.
1190
“Setelah selesai mendidikmu, orang tua aneh itupun
meninggalkan gunung Thian Cong San dan sekarang entah
berada dimana. Tetapi, sudah pasti dia selalu mendoakan dan
selalu akan berusaha membantumu dimanapun dia berada ......”
“Achhhhh, tecu berhutang banyak kepada dia orang tua ......”
keluh Koay Ji terkenang kebaikan dan kehangatan Ang Sinshe
dalam mendidik dan menyayanginya seperti anaknya sendiri.
Padahal, justru masa-masa dia bersama Ang Sinshe adalah masa
yang paling kritis dan masa yang snagat menentukan sampai dia
mampu berdiri di atas kakinya sendiri saat ini.
“Syukurlah, engkau harus menanamkannya dalam hatimu. Selain
Sam suhengmu, maka Ang Sinshe adalah orang lain yang layak
engkau anggap keluarga, karena dia juga menganggapmu seperti
anaknya sendiri .....”
“Tentu saja Suhu .....”
“Apakah engkau tahu bahwa Khong Yan sudah kuangkat menjadi
adik seperguruanmu sendiri Koay Ji ...”? bertanya sang Suhu
“Tecu sudah bertemu dengan Khong Sute, Suhu ..... beberapa
hari yang lalu...”
1191
“Dan sudah engkau turunkan Ilmu Langkah Mujijat itu seutuhnya
.... benarkah begitu muridku ....”? kejar Bu Te Hwesio
“Benar Suhu, bagaimanapun Khong Sute adalah kawan terdekat
semasa kecil Tecu, dan Khong Sute juga berjiwa pahlawan
sebagaimana leluhurnya, serta memperlakukan tecu seperti
sahabat dan saudaranya sendiri.....”
“Engkau benar muridku. Hadiahmu kepadanya bagaikan memberi
seekor harimau dewasa sepasang sayap untuk terbang ..... dia
tidak henti melatihnya selama beberapa hari ini.... dan dia begitu
mengidolakan suhengnya yang ironisnya sudah membantu dia
melatih ilmu mujijat tersebut ......”
“Maafkan tecu jika bertindak keliru Suhu .....”
“Sama sekali tidak muridku ..... hal ini justru sangat
menggembirakanku, karena engkau sama sekali tidak rakus dan
tidak menjadi ambisius dalam menjadi yang terhebat. Sungguh
engkau amat layak menjadi muridku dan juga murid Bu In Hengte
...... tetapi, meski demikian, setelah melihatmu menghadapi kedua
momok tua yang sangat berbahaya dari Tionggoan, serta
kemungkinan lawan-lawan yang akan kalian hadapi dan sudah
menampilkan diri mereka serta yang lain sebentar lagi menyusul,
1192
maka Suhumu merasa perlu memberitahumu beberapa hal
malam ini .....”
“Acccchhhh, apakah maksud Suhu ...... ada banyak tokoh-tokoh
hebat seperti lawan tecu beberapa saat tadi .....”?
“Benar sekali muridku ..... kedua lawanmu tadi adalah tokoh-tokoh
sekelas dan malah seangkatan dengan Suhumu. Mereka berdua
adalah Mo Hwee Hud, lawan abadi suhumu ini, tokoh yang
setanding dengan 3 Dewa Tionggoan dan masuk dalam 5 tokoh
puncak Tionggoan bersama suhumu ini, Than Hoat Tosu, Lam
Hay Sinni, dan juga Bu Eng Ho Khouw Kiat (Rase Tanpa
Bayangan). Sedangkan, tokoh satunya yang jadi lawanmu tadi,
adalah tokoh mujijat Hoa San Pay bernama Liok Kong Dji yang
masih setanding dengan suhengnya Thian Hoat Tosu. Dengan
demikian, engkau baru saja melewati pertarungan mati hidup
yang amat berbahaya namun syukur dapat engkau lewati dengan
cerdik dan penuh keberuntungan ......”
“Acccchhh, tetapi tecu masih belum percaya jika tadi sudah
berkelahi melawan Mo Hwee Hud yang maha hebat itu......”?
berkata Koay Ji seperti gumaman dan seperti pertanyaan. Hal
yang sesungguhnya masih tak dapat diterimanya dengan akal
sehatnya. Bagaimana mungkin? Bukanlah apa-apa, karena
1193
memang sejak kecil Koay Ji dihantui kenangan oleh kehebatan
dan keganasan Mo Hwee Hud dan membuat Koay Ji selalu
ketakutan jika mengenang dan mengingat tokoh tinggi besar yang
sangat berangasan itu. Dalam benaknya, tokoh itu adalah wujud
kekuatan berbahaya dan ganas namun tidaklah terlawan.
Lagipula, tokoh itu juga yang sebenarnya memberi dia hadiah
pukulan hebat yang nyaris mengambil nyawanya di masa kecilnya
dahulu itu. Wajar jika Koay Ji mengingat dan mengenang tokoh
tersebut dengan penuh rasa takut, dan rasa itu tersembunyi di
alam bawah sadarnya. Ech, tahu-tahu dia sudah berhadapan
dengan tokoh itu, bahkan berdua dengan lawan hebat lainnya dan
dia tidaklah kalah, tidak terbunuh olehnya. Tanpa disadari Koay
Ji, satu beban berat yang mengendap di alam bawah sadarnya
terangkat dan terobati dengan sendirinya. Sekali lagi tanpa dia
sadari sebelumnya.
“Benar, engkau sudah menghadapinya dan dapat selamat tanpa
terluka sedikitpun. Meski kuakui engkau sedikit ceroboh. Tetapi
patut dipuji kecerdasanmu dan juga pengambilan keputusan
disaat kritis, hal yang sungguh membuat suhumu ini bangga.
Tetapi, saat ini, malam ini sampai pagi, bahkan di saat
selanjutnya, engkau sudah harus berkonsentrasi untuk melatih
penggabungan dua sinkang mujijat yang sekarang bersarang
1194
hebat dalam tubuhmu. Kekuatan iweekangmu sudah memadai
untuk membaurkannya dan sudah lebih dari cukup untuk
mencapai titik yang belum dapat kedua suhumu bayangkan
sebelumnya. Karena itu, lupakan variasi ilmu lainnya dan
kegemaranmu menciptakan ilmu silat dan jurus-jurus baru,
pusatkan pikiranmu untuk membaurkan dan mencapai titik mujijat
yang lebih sempurna dalam tingkatan Kim Kong Pu Huay Che Sen
(Ilmu Badan/Baju Emas Yang Tidak Bisa Rusak). Tingkatan itu
sejatinya sudah engkau capai, tetapi masih belum engkau dalami
dan sempurnakan. Memperdalam tingkatan itu akan dapat
dilakukan dengan cepat jika engkau mampu menyempurnakan
gabungan kedua iweekang mujijat dalam tubuhmu saat ini. Dalam
hal itu, engkau akan lebih sempurna malahan jika dibandingkan
kedua Suhumu yang sudah tua dimakan usia ini. Dan perlu
suhumu tegaskan, formula dan temuan yang suhumu sampaikan
saat ini, adalah hasil diskusi dengan Bu In Hengte beberapa bulan
silam setelah engkau turun gunung. Dia menyampaikan pesan itu
karena persoalan kedepan yang dahulu membutuhkan campur
tangannya, menurutnya, kini sudah menjadi tanggungjawabmu
dan bukan lagi tanggungjawabnya. Lebih dari itu, engkau dan
semua suhengmu sudah dilarang untuk mengganggunya lagi
untuk urusan apapun, termasuk urusan perguruan......”
1195
“Baik Suhu, tecu paham ..... Sam Suheng juga sudah menerima
surat dari Suhu yang menjelaskan prihal tersebut. Termasuk
menugaskan Sam Suheng untuk menilik dan mengawasiku
sekaligus menuntun langkahku agar menggantikan Suhu dalam
urusan perguruan dan juga urusan pertikaian di Tionggoan kali ini
......”
“Syukurlah jika engkau paham muridku. Karena beratnya
persoalan kali ini, bahkan masih melebihi persoalan ketika
suhumu dan para tokoh Dewa Tionggoan menghadapi Pek Kut
Lodjin dan kawan-kawannya dahulu. Selain Mo Hwee Hud dan
Liok Kong Djie, kelihatannya Sam Boa Niocu dan anak-anak
muridnya juga akan turut terlibat dalam pertikaian hebat ini. Bukan
apa-apa, tokoh wanita ini pasti akan mencari anak murid
keturunan kakek gurumu, Suhu dari Bu In Hengte dan Lam Hay
Sinni yang dahulu menghukum Sam Boa Niocu. Kepandaiannya
dalam Ilmu Silat tidak berada di bawah Mo Hwee Hud, tetapi
kepandaian beracunnya sungguh sulit dicari tandingannya. Belum
lagi dengan ilmu hitamnya yang sangat mengerikan itu. Selain
mereka, masih ada lagi seorang paman guru Pek Kut Lodjin yang
dikurung di Persia dan entah bagaimana tiba-tiba dikabarkan
sudah memasuki daerah Tionggoan. Kepandaiannya pada masa
lalu, setanding dengan Pek Kut Lodjin, entah sampai dimana
1196
kemampuannya sekarang ini. Selain keempat tokoh hebat ini,
yang paling misterius justru adalah tokoh utama yang bermain
secara sangat misterius dibalik layar, dan dialah yang mendirikan
Bu Tek Seng Pay. Apakah benar dia adalah sute dari mendiang
Pek Kut Lodjin? entahlah, belum ada yang dapat membuktikan
hal ini. Bahkan jejaknya selain di Kaypang, terhitung masih sangat
misterius dan sulit ditebak......”
“Suhu, jika demikian, bukankah kekuatan mereka sungguh sangat
menggetarkan ....? Bagaimana mungkin tecu mampu
menghadapi semua persoalan ini ....”? tanya Koay Ji yang jadi
bingung dengan semua penjelasan Bu Te Hwesio.
“Muridku, Suhumu ini, Thian Hoat Tosu dan Lam Hay Sinni sudah
pasti tidak akan tinggal diam. Selain itu, tokoh-tokoh terpendam
Hong Lui Bun, Liga Pahlawan Bangsa Persia yang mengirim Ilya
dan kelihatannya dengan temannya yang lain, dan tokoh-tokoh
hebat Tionggoan yang lainnya, pasti akan bangkit untuk ikut
menanggulangi hal ini. Hanya, untuk menanggulangi semua
persoalan ini, maka sebagaimana Suhumu Bu In Sin Liong dahulu
ketika mengalahkan Pek Kut Lodjin, maka engkau harus terlebih
dahulu mencapai tingkat kemampuan suhumu itu. Hal ini akan
sangat penting dan berguna untuk dapat membangkitkan rasa
1197
percaya diri kaum pendekar dalam menghadapi badai yang
sangat berbahaya ini ......”
“Aaaacccch Suhu, jika memang demikian serius adanya, tecu
pasti akan mulai kembali melatih gabungan tenaga yang Suhu
maksudkan ...” akhirnya Koay Ji menyatakan kesanggupannya
secara tidak langsung.
“Selain itu, sutemu Khong Yan, sucimu Sie Lan In, tingkat
kemampuan mereka saat muncul kembali pasti sudah melonjak
lebih jauh dan engkau akan dapat meminta mereka membantu
usahamu. Setelah menguasai Thian Liong Pat Pian, Yan Ji sudah
melonjak jauh kepandaiannya dan beberapa ilmu simpanan
suhumu yang terakhir sudah kuturunkan kepadanya. Engkau
tidak lagi membutuhkan ilmu-ilmu tersebut pada dewasa ini.
Kupastikan Sie Lan In juga akan mengalami hal yang sama ketika
menemui Lam Hay Sinni di Laut Selatan, sementara Ciangbudjin
Hoa San Pay yang baru juga sudah menemukan kepingan ilmu
mujijat mereka yang sudah lama hilang. Betapapun, peluang kita
menghadapi badai ini cukup besar. Tetapi, menurut pengamatan
Bu In Hengte, persoalan utamanya hanya akan dapat diatasi
dengan tingkatan teratas yang harus engkau tuntaskan ketika
badai ini pada akhirnya berkecamuk dan menghebat. Inilah yang
1198
suhumu ingin sampaikan kepadamu muridku, karenanya ingat
dan camkan baik-baik pesan-pesan tersebut.....”
“Terima kasih Suhu, pesan itu pasti akan tecu catat baik-baik.
Demi kedua Suhu, maka tecu pasti akan berusaha mati-matian
untuk mencapai tingkat memadai yang Suhu sudah amanatkan
tadi ......”
“Bagus ..... bagus ....... memang harus demikian. Satu hal lagi,
sebaiknya engkau tetap pertahankan penyamaranpenyamaranmu
saat ini, karena semakin banyak tokoh hebat
yang mampu mengguncang mereka, maka pihak lawan akan
berpikir seribu kali untuk bertindak cepat. Tegasnya, hal itu akan
amat mengganggu pihak lawan untuk bertindak lebih brutal lagi
karena merasa ada beberapa tokoh hebat di luar sana yang perlu
dihadapi secara serius..... Engkau kelak dapat mengaturnya dan
bersiasat secara lebih baik dibandingkan suhumu”
“Tapi Suhu, untuk menghadapi urusan di acara Hu Pocu nanti,
bolehkah Khong Sute membantuku dengan tetap mengenalku
sebagai Koay Hiap saja .....? ada banyak urusan yang
membutuhkan bantuannya .....”
1199
“Hmmmm, sebetulnya dia masih sedang berlatih. Tapi, bagus
juga biar engkau ikut membantunya nanti. Besok Yan ji akan
menemuimu ..... dan sekarang, marilah suhumu mengutarakan
hal penting untuk engkau perhatikan dalam latihanmu kedepan”
Setelah itu, Bu Te Hwesio masih bercakap-cakap dan
meninggalkan pesan kepada Koay Ji. Pada satu jam terakhir,
tokoh dewa itu menurunkan petunjuk-petunjuk yang merupakan
hasil rembug bersama dirinya dengan Bu In Sin Liong lewat
percakapkan beberapa bulan silam setelah Koay Ji turun gunung.
Setelah semua itu, barulah Bu Te Hwesio berlalu sambil
meninggalkan pesan:
“Dengan alasan apapun, kecuali engkau dan Khong Yan,
janganlah sekali-sekali membocorkan jejak dan keberadaanku.
Thian Hoat Tosu kemungkinan besar juga akan hadir, tetapi Lam
Hay Sinni nyaris tak terasa niatnya untuk datang menemui kami
sekalipun. Kelihatannya dia sudah akan memilih jalan yang sama
dengan Bu In suhumu itu, menyepi di sisa hidupnya. Nach,
muridku, sekali lagi, engkau dilarang memberitahu siapapun
kehadiranku dan jejakku, dan jika memang tidak sangat
mendesak, janganlah mengakui engkau adalah murid kami
berdua. Pesan suhumu, Bu In, jangan sekali-sekali engkau
melanggarnya, karena dia sudah memadamkan semua niat
1200
duniawinya setelah berhasil mendidikmu. Karena itu, sejak saat
ini, adalah engkau sendiri yang kelak harus mewakilinya dalam
menyelesaikan semua urusan yang diharapkan banyak orang
darinya untuk turun tangan menyelesaikannya .... ingat semua itu
muridku.....” Bu Te Hwesio terlihat berwajah tegas dan amat
berwibawa ketika meninggalkan pesan-pesan tersebut kepada
Koay Ji.
Dan sepeninggal Bu Te Hwesio, Koay Ji kemudian memutuskan
beristirahat setelah mencerna pesan-pesan terakhir, khususnya
petunjuk bersama kedua suhunya, Bu Te Hwesio dan Bu In Sin
Liong yang kelihatannya memang sengaja untuk membantunya.
Diam-diam dia sungguh bersyukur dan berterima kasih dengan
kedua suhunya itu dan berjanji untuk melaksanakan semua pesan
dan tugas yang kini diembannya atas nama kedua Suhunya
tersebut.
Puncak perayaan Ulang Tahun ke-75 Poen Loet Kiam-kek (Jago
Pedang Pengejar Guntur) Hu Sin Kok, Pocu Benteng Keluarga Hu
akhirnya tiba. Tidak banyak yang tahu dan merasakan
ketegangan yang merayap mencapai klimaks hingga mendekati
hari perayaan. Hanya tokoh-tokoh utama dari Perguruan ternama
serta lingkaran dekat Hu Pocu yang sering melaksanakan
pertemuan rahasia yang tahu apa yang sedang terjadi. Dalam
1201
masa ketegangan yang memuncak itu, tidak sedikit yang telah
menjadi korban sebelum perayaan pada acara puncak, yang
dalam hitungan Tek Ui Sinkay, Pangcu Kaypang, untuk anggota
Kaypang sendiri mencapai 30an anggota. Belum tamu-tamu yang
dicegat lawan, ada yang dibunuh dan ada yang dicederai secara
hebat, jumlahnyapun lumayan banyak, bisa mencapai angka
50an orang. Sementara menurut laporan Koay Ji yang kembali
tampil dalam samaran sebagai Thian Liong Koay Hiap,
sekurangnya sudah 40an lawan dapat dipunahkan
kepandaiannya selama beberapa hari terakhir.
Alhasil, ketegangan yang tercipta perlahan-lahan mendaki
klimaks sampai saat saat pelaksanaan acaranya. Meskipun
sudah malang melintang dan menjadi Bengcu untuk sekian waktu
lamanya, tetapi Hu Sin Kok bagaimanapun merasakan
ketegangan yang luar biasa. Tetapi, sayangnya dia harus
meladeni banyak tamu dan tidak dapat ikut berkonsentrasi
menghadapi ancaman lawan yang sudah banyak makan korban
di pihaknya. Demikian juga Tek Ui Sinkay, Kaypang Pangcu, dan
para tokoh pendekar yang sering berkumpul. Mereka semua
diliputi ketegangan. Apalagi karena Tek Ui Sinkay rajin
menginformasikan perkembangan di luar yang disampaikan oleh
Koay Ji baik melalui surat maupun ketika Koay Ji datang sendiri.
1202
Tetapi, puncak perayaan sejak pagi hingga menjelang sore hari
dimana acara akan segera ditutup, ternyata tidak ada kejadian
diluar dugaan. Semua berlangsung aman dan tidak sedikitpun
adanya gangguan sampai kemudian muncul seseorang di pinggir
panggung kehormatan dan membisikkan sesuatu ke telinga Tek
Ui Sinkay. Orang tersebut tidak lama disana karena kemudian
segera menyelinap pergi ke belakang panggung. Disusul
kemudian oleh Tek Ui Sinkay yang terlihat seperti memberi tanda
kearah panggung. Dan isyaratnya dapat ditangkap dengan jelas
oleh Hu Sin Kok yang paras, gerak tubuhnya dan kalimatnya tetap
tidak berubah meski dia tahu bahwa sesuatu sedang dan akan
segera terjadi. Dia sendiri kurang tahu bagaimana akan
terjadinya, tetapi menimbang banyaknya tokoh yang hadir disitu,
tidaklah mungkin dia mengorbankan nama besar yang dipelihara
selama puluhan takut dengan bersifat takut dan pengecut. Tidak,
sama sekali tidak. Semua itu tidak ada dalam kamus seorang
Bengcu besar bernama Hu Sin Kok.
Perjamuan sudah akan usai, semua upacara penghormatan,
pemberian kado, kata kata pujian dan penghormatan dari para
sahabat, bahkan jamuan massal yang diikuti oleh ratusan tamu
baik undangan maupun simpatisan sudah berlangsung.
Hakekatnya, acara tersebut tinggal ditutup oleh Hu Sin Kok
1203
menjelang sore hari. Tetapi, karena suasana memang amat ramai
dan meriah, masih tetap saja ada yang datang untuk memberinya
kado, meski jamuan makan sudah lama lewat. Saat itupun, tinggal
acara acara hiburan yang sengaja disediakan oleh pihak Benteng
Keluarga Hu dan menjelang bubaran acara dan hajatan besar Hu
Sin Kok. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara melengking
tinggi di angkasa. Meski demikian, tidak terasa ada maksud
menyerang orang banyak di alunan suara tersebut, tetapi
kelihatannya hanya semacam tanda dan isyarat yang dengan
sengaja disuarakan melalui upaya memamerkan tenaga yang luar
biasa hebatnya itu.
Dan tidak harus menunggu teramat lama, karena kemudian
bersamaan dengan mulai hilangnya suara tersebut, terdengar
ucapan yang didorong kekuatan luar biasa hebat dan besarnya.
Dan terpenting, juga sangat berwibawa:
“Bu Tek Seng Ong berkenan mengunjungi Benteng Keluarga HU
untuk ikut memberi ucapan selamat dan penghormatan.....”
Bersamaan dengan itu, terlihat 5 sosok tubuh mendekati dari arah
sungai dengan kecepatan yang luar biasa. Dan begitu mendekati
keramaian, merekapun menahan langkah dan selanjutnya
berjalan perlahan-lahan penuh gaya. Keadaan yang secara
1204
otomatis membuat kerumunan orang menyibak dengan
sendirinya. Pemandangannya cukup hebat, karena orang-orang
yang tersibak ke kiri dan kanan seperti menciptakan jalanan
khusus bagi kelima orang yang berdandanan aneh tersebut.
Kecuali orang yang berjalan paling depan, keempat kawannya
berjalan dengan tidak dapat dikenali orang karena masing masing
mengenakan jubah dan penutup kepala yang menutupi sekujur
kepala dan wajah. Meskipun bentuk dan warna kerudung penutup
kepala mereka berbeda satu dengan yang lainnya. Hanya daerah
mata belaka yang sama sekali tidak tertutup oleh kerudung
tersebut, sehingga mendatangkan rasa seram dan rasa misterius
yang cukup kental bagi banyak orang.
Tetapi yang menarik, di depan berjalan seorang Perempuan
setengah umur, mungkin sudah sekitar 50an tahun atau bahkan
lebih. Tetapi, begitupun masih terlihat dalam diri perempuan itu
sisa sisa kecantikannya. Dan yang juga mempesona adalah
pakaiannya yang yang merah cemerlang, tidak terdapat banyak
hiasan, cukup sederhana, tetapi tetap saja terasa indah dan
gemilang. Hal lain yang menonjol adalah rasa percaya dirinya
yang tentu didorong oleh kecerdasan dan kepintaran yang tak
tersembunyikan dari senyum dan juga tatap matanya. Perempuan
itu, sebagaimana 4 orang yang berjalan di belakangnya sama
1205
sekali tidak menoleh kekiri ataupun kekanan, tetapi langsung
berjalan dan kini mulai memasuki daerah tamu kehormatan.
Anehnya, tidak ada seorangpun yang berdiri menyambut mereka,
tetapi kedatangan mereka membuat suasana menjadi senyap dan
ketegangan perlahan-lahan menyeruak. Maklum, dua kubu yang
saling berlawanan untuk pertama kalinya bertemu secara terbuka.
Tak ada orang yang dapat menebak apa yang akan terjadi
gerangan.
Sementara itu, di panggung kehormatan tempat dimana
beradanya Hu Sin Kok dan semua anggota keluarganya, terlihat
Hu Sin Kok perlahan-lahan berdiri dan kemudian menghadap ke
arah datangnya kelima pendatang baru yang misterius itu.
Sementara semua tokoh atau hadirin yang memang sebagian
besarnya adalah tokoh Kang Ouw, merasa kaget dan terkejut
dengan strategi “mengejutkan” lawan yang dimainkan Bu Tek
Seng Ong. Tetapi anehnya, korban-korban Bu Tek Seng Pay
yang sudah cukup banyak, termasuk terutama Kaypang yang
Pangcu sebelumnya dibunuh Be Tek Seng Ong terlihat diam-diam
saja. Bahkan Tek Ui Sinkay yang biasanya sangat berang dengan
mereka, terlihat adem-adem saja dan tidak ada sedikitpun
gerakan yang dilakukannya. Termasuk ketika kelima tokoh Bu
Tek Seng Pay lewat tidak jauh dari hadapannya dan kini berdiri
1206
menghadap panggung yang tingginya hanya sekitar 30 cm
dibangun diatas permukaan tanah.
“Hmmmmm, selamat datang ..... selamat datang, meskipun
sesungguhnya lohu tidak ingat apakah pernah mengirimkan kartu
undangan kepada Bu Tek Seng Pay....” Hu Sin Kok membuka
percakapan dengan sopan-santun khas dunia persilatan.
“Datang memberi hormat dan salam kepada salah satu tokoh
hebat dunia persilatan Tionggoan rasanya tidaklah membutuhkan
kartu undangan. Selain itu, setahuku banyak orang disini yang
hadir tanpa undangan ......” terdengar kalimat jawaban yang tepat
dan amat diplomatis dari si perempuan berbaju merah dengan
senyum dikulum, yang juga ternyata bertindak sebagai juru
bicara.
“Hahahahaha, luar biasa ...... jika lohu tidak salah, saat ini lohu
sedang menghadapi Dewi Alehai. Tapi, entah bagaimana,
ternyata juga sudah tunduk dan mengabdikan diri kepada Bu Tek
Seng Pay........ bukankah tebakan lohu tidak keliru...”? bukannya
meladeni sindiran si pendatang, Hu Sin Kok justru “menabrak” sisi
lain dari sang perempuan cantik yang ternyata juga adalah tokoh
bernama besar.
1207
“Hu Pocu sekali ini engkau kurang tepat menyebutkannya. Karena
jujur, kedatanganku kemari selain untuk memberi salam
penghormatan dan ucapan selamat, tetapi sekaligus juga
mewakili Bu Tek Seng Pay. Karena selain saat ini menjadi juru
bicara rombongan, lebih dari sekedar mengabdi menurut
perkataanmu, sebetulnya juga Hu Pocu sedang berbicara dengan
seorang Hu Paycu Bagian Dalam dari Bu Tek Seng Pay yang
besar nan megah itu.......”
“Hahahahaha, sungguh menarik ..... sungguh menarik. Jika
memang benar Dewi Alehai bergabung dengan Bu Tek Seng Pay,
maka tentunya tawaran dan cita-cita serta kekuatan Bu tek Seng
Pay benar-benar meningkat hebat........”
“Dan akan menjadi lebih kuat lagi jika seandainya Hu Pocu
bersedia untuk menyatakan tidak akan memimpin perlawanan
terhadap Bu Tek Seng Pay. Mumpung hari ini adalah hari baik
dan ulang tahun Hu Pocu ....”?
“Accccchhhh, sungguh-sungguh permintaan yang memikat.
Sayangnya, meskipun lohu bersedia tidak memimpin, tetap saja
orang-orang gagah akan berjuang mengenyahkan Bu Tek Seng
Pay........ karena itu, lohu lebih memilih bergabung dengan orang
orang gagah itu. Jauh lebih terhormat. Di hari baikku ini, ingin
1208
kunasehati Dewi dan kawan kawanmu, agar berhentilah
mengaduk-aduk Tionggoan......”
Luar biasa, dalam beberapa lontaran kalimat awal, sebuah
“pertarungan” nan hebat sudah langsung tersaji. Meski hanya
pertarungan mental melalui ungkapan ungkapan terselubung
antara Hu Sin Kok dengan Dewi Alehai. Tokoh perempuan yang
dikenal merupakan peranakan Mongol dan diakui serta diketahui
memiliki kesaktian yang hebat. Hal lain yang menarik darinya
adalah kemampuannya dalam menyusun siasat dan strategi
dalam menghadapi persoalan besar dan menentukan.
“Sangat disayangkan ...... sangat disayangkan .....” berkata Dewi
Alehai dengan mulut yang tetap tersenyum manis. Tidak terlihat
ada nada kemarahan disana ....... tetapi, matanya berkilat-kilat
cerdik.
“Sebetulnya lohu sendiri punya pikiran yang sama...... sayang
sekali” berkata Hu Sin kok dengan nada serius, namun tidak
melanjutkannya, alias menggantung kalimat lanjutannya dan
menunggu lawan.
“Hihihi, tidak usah engkau lanjutkan, aku sangat mengerti apa
yang engkau maksudkan Hu Pocu .....” potong Dewi Alehai
1209
“Hahahahaha, lohu paham, bahwa kalimat yang belum lohu
sampaikan sudah pasti ada dalam jangkauan perkiraanmu ......”
“Benar Hu Pocu, tidak perlu membujukku, karena engkau pasti
sangat mengerti dan paham bahwa itu pasti sia-sia.......”
“Itulah sebabnya lohu akhirnya tidak melanjutkannya ....”
“Begitu memang jauh lebih baik.......”
“Dan tentunya kedatangan rombonganmu kesini dengan
membawa Bu Tek Seng Ong yang kuyakin adalah Bu Tek Sen
Ong gadungan, bukan sekedar untuk memberi lohu ucapan
selamat bukan ......”?
“Hmmmmm, Hu Pocu terlampau berterus terang. Tetapi, kuyakin,
semua tokoh Bu Tek Seng Pay yang berada dalam radius 1000
meter dari tempatmu, pasti akan mentaati jika Bu tek Seng Ong
ini mengeluarkan perintah.......”
“Begitu rupanya........ hmmmm, kelihatannya lohu wajib untuk
bersiap dan menjaga diri jika memang begitu keadaannya ...”
“Kupastikan seperti itu Hu Pocu .......”
1210
“Hahahahaha, baiklah jika demikian. Tapi, terus terang saja, lohu
sudah sangat siap dan engkaupun pasti tahu soal itu. Karena itu,
marilah, lohu sudah siap jika memang ingin mengucapkan
selamat untuk hari bahagia lohu hari ini....”
“Tentu saja ...... ucapan selamat kami akan disampaikan langsung
oleh Bu Tek Seng Ong yang juga adalah Paycu Bu Tek Seng Pay.
Tetapi, kesempatan ini, perkenankan kami peringatkan sekali lagi,
barang siapa yang tetap berkeras dan tidak menghadap ke Bu
Tek Seng Pay, maka waktu-waktu kebebasan hidup bagi mereka
kami berikan sampai hari ini berakhir. Selebihnya, sudah banyak
yang menjadi contoh.....” berkata Dewi Alehai dengan senyum
yang tetap tersungging di bibir .....
“Acccch, tidak perlu engkau mengancam-ancam orang disini
Dewi, karena jumlah Utusan Pencabut Nyawa yang
kepandaiannya dipunahkan, ditanggung tidak lebih sedikit dari
korban mereka. Kutegaskan, segera setelah hari ini, bentrokan
langsung kelihatannya akan segera pecah. Jangan khawatir,
kamipun akan segera mencari cara dan daya untuk segera dapat
memusnahkan markas kalian saat ini.......” seperti Dewi Alehai,
Hu Sin Kok sang jago tua, juga sama menunjukkan wajah ramah
ketika menjawab tantangan dan ancaman yang dilontarkan oleh
Dewi Alehai barusan.
1211
Banyak orang mau tidak mau mengagumi kedua tokoh yang
saling puji, saling pancing dan saling ancam tanpa wajah mereka
berubah sedikitpun juga. Kedua jago yang merupakan perancang
strategi dari kedua belah pihak yang saling bermusuhan itu,
sebetulnya sudah saling hantam dengan gaya dan cara lunak.
Meski begitu, wajah mereka sungguh ramai dengan senyuman.
“Bukankah engkaupun tahu kalau itu adalah mimpi disiang bolong
Hu Pocu ....”? ejek Dewi Alehai dengan suara aleman
“Hmmmmm, engkau mengira daratan Tionggoan sama dengan
gurun pasir Mongolia? Jika begitu engkau salah besar Dewi
Alehai ......... sangat keliru .....”
“Contoh yang paling segera dapat dilihat banyak orang .....”
sambil berkata demikian dengan langkah gemulai Dewi Alehai
melangkah kesamping dan membiarkan Bu Tek Seng Ong kini
berhadapan langsung dengan Hu Sin Kok.
Semua orang sebetulnya sudah bisa menebak apa yang akan
dilakukan oleh sang Raja Iblis itu, tetapi entah mengapa tak ada
seorangpun yang bergerak mencegah. Padahal, semua juga
paham, tingkat kemampuan Hu Pocu sebetulnya masih terpaut
jauh jika dibandingkan dengan Bu Tek Seng Ong, karena
1212
kemampuannya hanya setara Pangcu Kaypang yang terbunuh
dengan mudah oleh Bu Tek Seng beberapa waktu lalu. Lalu, apa
andalan Hu Pocu jika demikian?
Tapi, tak ada yang sempat mencegah karena Bu Tek Seng Ong
yang menyeramkan dengan Jubah Besar menyelimuti tubuhnya
dan dengan tutup kepala berbentuk kepala MALAIKAT yang
sedang menyeringai sudah bergerak. Dia tidak menyerang sama
sekali, hanya membentuk lengannya sebagaimana orang
memberi hormat dan tak lama kemudian diapun berkata dengan
suara serak yang sulit ditebak:
“Banyak selamat Hu Pocu, semoga panjang umur dan dapat
meihat gelagat, sebelum ditelan bencana besar.........”
Setelah membungkuk sejenak memberi hormat lawan, Bu Tek
Seng On terlihat sedikit bergoyang pundaknya. Teramat sedikit
orang yang memperhatikannya, tingkatan Dewi Alehai dapat
melihatnya, Tek Ui Sinkay dan dua tiga tokoh besar lainnya, juga
dapat melhat hal yang tidak menyolok itu. Kelihatannya ada
sesuatu yang tidak beres. Dan, beberapa saat kemudian,
terdengar Bu Tek Seng Ong yang tinggi besar itu sudah
mendengus dan berkata:
1213
“Urusan selesai, kita pergi .........”
Sekali ini, berbeda dengan kedatangan mereka yang penuh gaya,
perginya terasa rada tergesa-gesa. Mereka melayang pergi dan
tidak lagi peduli dengan gaya nan elegan seperti ketika datang
dan menikmati menyibaknya orang banyak untuk mereka berlalu
menuju tempat acara. Kali ini, mereka pergi layaknya terbang dan
menyisakan satu pemandangan yang mencengangkan bagi
kebanyakan orang berilmu cetek. Maklum, pameran kepandaian
ginkang mereka memang terasa dan terlihat sangat luar biasa dan
membuat banyak orang bertepuk tangan. Bertepuk tangan untuk
pameran ilmu ginkang Bu Tek Seng Ong dan kawanannya,
namun lebih meriah lagi karena ternyata Hu Pocu masih segar
bugar dan tidak dapat diapa-apakan lawan. Hu Pocu terlihat
tersenyum ramai sambil mengantarkan kepergian tamunya.
Sesaat kemudian suara yang mujijat mengalun di angkasa:
“Bu Tek Seng Ong, hari ini engkau menerima pelajaran, dan
semoga engkau belajar dengan benar dan lebih tahu diri .....” dan
suara itupun mengaung seperti pameran sebagaimana suara
mujijat sewaktu Bu tek Seng Ong tiba tadi.
Apa gerangan yang terjadi .........? banyak orang heran, tetapi
hanya ada 4,5 orang yang tahu belaka apa yang baru saja terjadi.
1214
Orang pertama yang tahu, sudah tentu adalah Hu Sin Kok.
Sementara orang kedua yang tahu adalah Tek Ui Sinkay, dan
masih ada satu atau dua tokoh lainnya yang juga tahu jelas.
Selebihnya, meski dalam hati curiga tetapi mereka bertanyatanya,
sedemikian hebatkah Hu Pocu sekarang ini sehingga
mampu melawan Bu Tek Seng Ong? Atau, Bu Tek Seng Ong
yang mungkin hanya nama dan kesan yang besar, tetapi aslinya
biasa saja.
Orang lain yang tahu karena memang berperan besar adalah
KOAY JI. Karena dia yang mengusulkan untuk memakai cara ini
guna menggertak lawan dan memukul mereka dalam
kesombongan yang berlebih. Sebetulnya, apa yang terjadi,
berbeda dengan apa yang dipikirkan dan disiasatkan oleh Koay
Ji. Ketika bercakap bertiga dengan Hu Sin Kok, Tek Ui Sinkay
dalam jatidirinya sebagai Thian Liong Koay Hiap setelah selesai
meracik obat penawar Racun Ular Mahkota Daun. Dalam
percakapan tersebut dia mengusulkan beberapa hal penting:
“Hu Pocu, pihak lawan sudah pasti sedang mengincar pertemuan
ini, dan rencana utama mereka adalah menggunakan racun yang
sangat mematikan. Tetapi, untuk hal ini, sahabat muda lohu, Bu
San, sudah meracik obat penawarnya, namun karena daya kerja
racun sangat cepat, maka butuh kecepatan untuk mengobati.
1215
Tapi, lebih baik lagi jika kita dapat mengantisipasi apa yang akan
dikerjakan lawan dan langsung dapat memotong rencana mereka
di tengah jalan. Untuk maksud ini, lohu akan bekerja dengan
murid-murid 3 Dewa, dan juga akan meminta kesediaan kawankawan
dari Persia dan tokoh misterius lainnya untuk ikut bekerja
sama. Tetapi, ada satu hal lainnya yang penting dan dibisikkan
tokoh Dewa Bu Te Hwesio untuk dilakukan, dan lohu jadi berpikir
melakukannya kali ini. Usulnya adalah, agar kita menambah daya
kekuatan kita secara moril, meski sebenarnya sifatnya rada semu
belaka. Misalnya, malam ini lohu akan keluar dan menyaru
sebagai orang lain dan melukai beberapa tokoh di pihak lawan.
Tetapi, selain itu ada satu hal yang tiba tiba lohu pikirkan, yakni
khusus pada acara puncak perayaan besok ........”
“Apa yang engkau pikirkan dan antisipasi untuk besok Koay Hiap
.....”? bertanya Hu Pocu dengan suara tenang, meski dia senang
karena beroleh bantuan Koay Ji yang dia dapat rasakan
kecerdasannya tidak dibawahnya. Hanya kurang matang dan
kurang pengalaman belaka jika dibanding dirinya.
“Hu Pocu, apakah ada larangan bagi tamu untuk memberi salam
dan hormat ...”? tanya Koay Ji dengan nada menghormat
“Sudah tentu tidak sopan jika lohu menolaknya .,......”
1216
“Jika dugaanku tidak keliru, Bu Tek Seng Pay akan menggunakan
hari besok untuk unjuk kekuatan dan merontokkan nyali
perlawanan kita. Karena itu, selain menjaga serangan curang
mereka ketika menggunakan racun, kita juga harus waspada
jangan sampai mereka berlaku curang terhadap keluarga Hu
Pocu ......”
“Atau bahkan langsung menyerang lohu ..... bukankah itu
maksudmu Koay Hiap ..? tegas Hu Pocu dengan tidak malu-malu
sambil memandang Koay Ji dengan senyum tersungging
dibibirnya itu.
“Itu adalah salah satu kemungkinannya Hu Pocu ......”
“Hmmmmm, menurutku bukan kemungkinan lagi, tetapi nyaris
yakin. Jika mereka gagal dengan racun, mereka pasti akan
datang menemuiku. Bukan dengan maksud untuk terutama
membunuhku, atau sekedar memberiku ucapan selamat
memang, tetapi untuk mempermalukan lohu agar dirasa tidak
layak memimpin perjuangan melawan mereka kelak .....” tegas Hu
Sin Kok
“Hahahahaha,,,,,, engkau belum kehilangan semangat dan
kepandaianmu yang paling kukagumi itu Hu Pocu ......” potong
1217
Tek Ui Sinkay yang disambut dengan senyum di bibir jago tua
yang cerdik pandai itu.
“Pangcu,,,,,,, harus kuakui, Thian Liong Koay Hiap ini bakalan
menjadi Pemimpin yang akan menggantikan lohu kelak .... tidak
dapat kusangsikan lagi .....”
“Accchhhhh, Hu Pocu terlampau memuji ......”
“Tapi, apa siasatmu untuk menghadapi mereka ....”? tanya Hu Sin
Kok dengan nada puas menghadapi pembicaraan mereka itu
“Mohon maaf jika siasatku mungkin akan membuat Hu Pocu
tersinggung ....”
“Koay Hiap ...... sudah puluhan tahun lohu berkelana, kadang
untuk urusan yang lebih besar, nama dan gengsi kita harus tidak
menguasai pola pikir dan penetapan strategi yang akan kita
gunakan nanti ......” tegas Hu Sin Kok
“Baiklah ...... lohu berpikir, rencana kejutan mereka kita rubah
menjadi kejutan dari kita untuk mereka. Dengan begitu, tanggung
mereka akan berpikir panjang sebelum melawan kita secara
terbuka .....”
1218
“Hmmm, bagaimana caranya ....”? kejar Hu Sin Kok
“Biarkan lohu menjaga Hu Pocu selama acara berlangsung,
mereka tidak akan pernah menduga kita menyiapkan banyak hal
hingga ke titik sasaran utama mereka. Dan yang mengejutkan
adalah, Hu Pocu memberikan gambaran kesiapan kita melawan
mereka dalam semua segi, baik strategi, racun hingga
kepandaian silat”
“Hahahahaha, luar biasa. Engkau ingin menggunakan lohu untuk
menggertak mereka. Sungguh menarik, sungguh menarik .......”
Dan kisah itu yang kemudian terjadi. Hanya, memang agak sedikit
di luar dugaan dan skenario Koay Ji dan Hu Sin Kok jika yang
datang ternyata adalah langsung Bu Tek Seng Ong. Bukan hanya
Koay Ji, Hu Sin Kok sendiripun tercengang menghadapi tokoh
luar biasa yang kini datang langsung dan berhadapan muka
dengan dirinya. Meskipun terkejut, Hu Pocu sendiri merasa kaget,
karena entah bagaimana, rasa seram yang dirasakannya seperti
saat menghadapi Pek Kut Lodjin dahulu justru tidak muncul ke
permukaan. Meski merasa heran, tetapi untuk hal satu itu, dia
sepertinya mampu menjawabnya sendiri: “mungkin karena usiaku
sudah jauh lebih banyak hingga sulit digoyahkan perasaan seperti
itu .....”. Atau juga “mungkin Bu Tek Seng Ong sekali ini masih
1219
belum sehebat suhengnya atau belum sehebat Pek kut Lodjin”.
Jawaban sebenarnya masih enggan ditelaah Hu Sin Kok.
Sementara itu, Koay Ji sendiri, ketika menghadapi kemunculan
Bu Tek Seng Ong, juga terkejut setengah mati dan tidak menduga
sampai sejauh itu kehadiran lawan utama ini. Namun ketika Bu
Tek Seng Ong “mencobai” Hu Sin Kok melalui serangan tenaga
dalam, Koay Ji tidak berayal dan mendorongkan lengannya
menggunakan iweekang hasil tenaga gabungan yang dilatihnya
beberapa hari terakhir. Bukan apa-apa, Suhunya mewanti wanti
dirinya, bahwa dengan kekuatan itulah dia akan dapat
menetralisasi dan melawan kekuatan pukulan lawannya. Karena
konon, lawannya ini adalah sute dari musuh lama taklukkan
suhunya yang bertapa di Thian Cong San itu. Maka, gabungan
kekuatan itulah yang kelak akan digunakannya, terutama ketika
bertemu lawan terberat yang akan dihadapinya kelak.
Dan, benturan antara kekuatan iweekang Bu Tek Seng Ong
melawan Koay Ji yang disalurkan melalui Hu Sin Kok berakhir
sangat luar biasa. Mengagetkan tiga pihak yang secara langsung
terlibat dalam bentrokan hebat tersebut dan juga menghentak
banyak sekali orang secara tidak langsung. Mereka adalah pihak
Bu Tek Seng Pay, utamanya Dewi Alehai yang kaget bukan main
melihat hasil bentrokan Bu tek Seng Ong dengan Hu Sin Kok.
1220
Sementara ketiga kawannya yang berkerudung terlihat tawar saja
sikap dan sambutan mereka, tidak terkejut, tidak goyah dan tetap
diam ditempat dengan sikap mereka yang sangat misterius.
Sementara pihak para pendekar, kecuali Tek Ui Sinkay Pangcu
Kaypang, terlihat kaget karena Hu Sin kok yang mereka tahu tidak
seberapa lihay, kini sekarang entah bagaimana mampu
menandingi momok terhebat yang sedang mengancam rimba
persilatan Tionggoan.
Serangan tenaga dalam Bu Tek Seng Ong sesungguhnya
bukanlah serangan ringan dan biasa saja. Meski belum
bermaksud membunuh Hu Sin Kok, tetapi setidaknya akan
melukai dan mempermalukan Hu Pocu yang juga adalah Bengcu
Tionggoan. Jadi, serangan yang terlihat biasa saja, sebetulnya
berisi kekuatan tenaga dalam yang amat kuat dan berat. Koay Ji
sampai terkejut karena cepat sekali menjadi sadar bahwa
kekuatan lawan ternyata memang sangat hebat dan sama sekali
tidak berada di sebelah bawah kemampuannya. Yang
membuatnya lebih terkejut lagi, karena ternyata tenaga terjangan
lawan memiliki keunikan dan kehebatan yang tak kalah mujijat
dan tak kalah aneh dibandingkan iweekangnya sendiri. Serta juga
amat alot dan sulit untuk dibelit ataupun digiring. Kekuatan hebat
lawan itu memiliki ciri khas dalam kemampuan berkelit dari belitan
1221
maupun juga dari giringan tenaga dalam Koay Ji. Dan karena itu,
untuk beberapa saat, mereka kemudian seperti main “kucingkucingan”
dengan semua upaya menggiring ataupun
mementalkan tenaga tersebut. Koay Ji sadar, sekali dia melepas
atau membiarkan tenaga itu lolos, maka akan celakalah kondisi
dan keadaan Hu Pocu.
Setelah sekian lama berkutat saling membelit dan berkelit,
menggiring dan berkelit licin, maka perlahan namun pasti,
keduanya sampai pada kondisi untuk apa boleh buat, mau tidak
mau harus membenturkan tenaga pukulan. Keadaan itu disadari
oleh Koay Ji yang pada akhirnya memutuskan untuk melakukan
adu kekuatan, ketimbang arus pukulan lawan lolos dan melukai
Hu Pocu. Dan pada saat dan ketika benturan itu tak terelakkan
lagi dan memang akhirnya terjadi, keduanya kaget bukan main.
Koay Ji sendiri sampai tertegun karena harus dikatakan bahwa
kekuatan mereka relatif berimbang ataupun selisihnya teramat
tipis dan tak akan mampu ditentukan siapa yang lebih kuat dan
siapa yang akan kalah. Hanya, keuntungan bagi pihak Koay Ji
adalah, karena saat itu, Hu Sin Kok juga membantu dengan
iweekangnya ketika proses benturan kekuatan akhirnya terjadi.
Keuntungan inilah yang membuat pundak Bu Tek Seng Ong
terlihat sedikit bergetar, dan hal itu yang juga sekaligus ikut
1222
mengguncang kesombongan mereka saat mendatangi Lembah
Benteng Keluarga Hu tadinya.
Sepeninggal Bu Tek Seng Ong, Koay Ji terlihat masih terus saja
termenung sendiri. Beberapa saat dia jadi terdiam seperti
memikirkan demikian banyak persoalan, sampai kemudian pada
akhirnya Khong Yan memecahkan keheningan sambil
memandang dan bertanya kepadanya:
“Koay Hiap ..... bagaimana .....”?
Koay Ji tersadar dari lamunannya dan melihat dihadapannya kini
berdiri 3 orang muda hebat yang bekerja sama dengannya
beberapa waktu terakhir ini. Khong Yan sutenya yang masih
belum tahu siapa dia sebenarnya, Tio Lian Cu yang adalah
Ciangbudjin Hoa San Pay berusia sangat muda, dan juga Nona
Sie Lan In. Begitu melihat Nona Sie Lan In juga akhirnya sudah
berada di tempat itu, sejenak matanya berbinar senang. Tetapi
hanya sejenak karena sebentar kemudian menjadi seperti biasa
kembali, terlebih melihat sinar mata Sie Lan In yang masih tetap
dingin meski tidak lagi menantang-nantang dirinya.
Keberadaan Koay Ji selama acara di belakang panggung
memang hanya beberapa orang belaka yang tahu. Tentu saja
1223
yang pertama adalah Hu Sin Kok atau Hu Pocu atau Hu Bengcu.
Orang kedua adalah Sam Suhengnya Tek Ui Sinkay yang ikut
dalam memutuskan strategi tersebut. Dan tentunya Tio Lian Cu,
Khong Yan dan terakhir Sie Lan In yang adalah bagian utama dari
strategi tersebut setelah semalam semua bekerja keras
menghalau musuh. Dengan Tio Lian Cu, Khong Yan dan Sie Lan
In ini, Thian Liong Koay Hiap terutama bekerja keras untuk
mengantisipasi serangan beracun dari luar dan sekaligus
melindungi tokoh-tokoh di dalam Benteng Keluarga Hu. Hanya,
bagaimana kisah sampai mereka bertemu dan bekerja sama,
baiklah kita balik ke belakang;
Sesuai perjanjian dengan Ilya, Yu Kong dan Yu Lian, Bu San
keesokan hari setelah dia ditemui suhunya Bu Te Hwesio, menuju
ke tempat perjanjian pertemuan. Dan memang tidak kesulitan dia
menemukan tempat yang dijanjikan, di hutan sebelah utara
gerbang kota. Begitu keluar dari gerbang kota sebelah utara, dia
langsung menemukan hutan yang pepohonannya tidak begitu
besar dan jarang-jarang jarak satu dengan pohon yang lainnya.
Dan setelah mencari dengan berjalan kaki sebagai “orang biasa”
dan tentu harus dibuatnya seperti meletihkan dan melelahkannya,
pada akhirnya Bu San menemukan ketiga orang yang tentu saja
sudah dia kenal dengan baik itu.
1224
“Cayhe Bu San diminta oleh Thian Liong Koay Hiap Locianpwee
dan toako Tang Hok untuk datang menemui tiga orang pendekar
hebat di hutan gerbang utara kota. Apakah cayhe sedang
berhadapan dengan Ilya Taihiap dan juga kawan-kawannya,
tokoh silat yang maha hebat itu .....”? bertanya Bu San dengan
suara jernih dan lagak seorang yang tidak tahu ilmu silat sama
sekali.
Mata tajam dan pengalaman seorang Ilya dengan cepat
menangkap keanehan dalam diri seorang BU SAN. Tetapi tentu
saja dia tidak ingin dan tidaklah dapat membongkar penyamaran
seorang yang dia tahu pasti punya maksud khusus dengan semua
samarannya tersebut. Apalagi, selain itu, Ilya sendiripun masih
belum yakin dengan dugaannya bahwa kemungkinan BU SAN
yang menyamar dan bertindak sebagai Thian Liong Koay Hiap.
Karena memang bukti yang dimiikinya untuk mendukung dugaan
yang tiba-tiba muncul dalam benaknya itu, masih teramat minim
untuk saat itu.
“Hmmmmm, Bu San hengte, apakah engkau tahu apa yang akan
dikerjakan ketika engkau menerima pesan dan perintah Thian
Lion Koay Hiap untuk menemui kami di tempat seperti ini.....”?
bertanya Ilya untuk menutupi kecurigaan dan kekagetannya tadi.
Betapa tidak kaget, pandang mata Bu San, sepanjang yang dia
1225
tahu, adalah sangat mirip dengan pandang mata seorang bayi
yang masih amat polos dan mata orang tak berdosa. Tetapi
jikapun bukan, maka sinar mata seperti itu adalah milik seseorang
yang sudah mencapai puncak latihan iweekang. “Mana bisa
begitu? Ini jelas mustahil .....”? pikirnya.
“Menurut Tang Hok dan juga Thian Liong Koay Hiap Locianpwee,
cayhe diharuskan untuk dapat ikut membantu meracik sejenis
obat anti racun. Obat itu diuntukkan melawan Racun Ular
Mahkota Daun yang sangat mematikan......”
“Apakah engkau tahu caranya meracik obat anti racun
tersbeut....”? tanya Ilya dengan nada dan suara yang masih
sangat penasaran.
“Jika bahan utamanya tersedia, maka proses racikannya terserah
bahan tersebut. Di daerah Tionggoan hanya ada dua macam
benda yang bisa menawarkan racun maut tersebut. Cara pertama
yakni dengan mendapatkan Soat Lian yang berusia minimal 250
tahun, atau pilihan kedua adalah menemukan Naga Saldju
Bertanduk. Tetapi, menemukan kedua benda pusaka yang sangat
langka tersebut susahnya minta ampun. Selain kedua benda
pusaka itu, maka di daerah Himalaya, khususnya yang berada di
daerah Thian Tok, terdapat sejenis getah yang hanya tumbuh
1226
disana namun mampu menawarkan racun Ular Mahkota Daun.
Tetapi, di daerah Persia, juga terdapat sebuah pusaka yang
memiliki tuah dan juga kemampuan untuk menawarkan racun
panas yang mematikan tersebut. Jika cayhe tidak keliru, air yang
berasal dari sebuah tempat yang dalam bahasa kami disebut Si
Sim Leng Cuan (Sumber Air Pencuci Jiwa), asal belum lewat
setahun diambil dari sumbernya, memiliki kemampuan untuk
menawarkan racun jahat itu .......”
“Bu San, pertanyaan lohu adalah, apakah engkau benar-benar
memiliki kemampuan untuk meracik obat dari air pusaka tersebut
jika bahannya saat ini kumiliki...”? sekali lagi dengan tegas Ilya
bertanya
“Jika memang benar Ilya Tayhiap memiliki air mujijat tersebut,
maka percayalah, cayhe memiliki kemampuan untuk membuat
dan meracik obat dengan bantuan daun obat sederhana yang
sudah kumiliki. Bahkan dengan khasiat air mujijat itu, meracik
obatnya tidaklah makan waktu lama,,,,,,”
“Haaaaaa, masih ada campurannya lagi .....”?
“Karena sesungguhnya, air tersebut sangat mujijat untuk
pengobatan. Daya mujijat dalam satu tetes air saja, dapat kurubah
1227
menjadi lebih dari 50 butir obat anti racun panas. Tetapi, memang
tentu saja masih tergantung dari kualitas daun obat yang menjadi
bahan campuran dalam membuat obatnya. Syukurlah, cayhe
memiliki hobby untuk mengumpulkan daun obat bermut ......”
jawab Bu San
“Hmmmmm, kelihatannya engkau memang mengenal air mujijat
itu .... hebat, hebat. Padahal, kelihatannya engkau sama sekali
masih belum pernah berkelana hingga ke daerah kami di Persia
sana ......”
“Cayhe membacanya dalam sebuah buku pengobatan yang
sudah sangat tua dan kuno Ilya Tayhiap.....”
“Hmm, baiklah, akan kuberikan 10 tetes air mujijat itu kepadamu.
Berapa lama waktu yang engkau butuhkan untuk membuat
obatnya ......”?
“Daun obat-obatan sudah kubawa dan sudah kusiapkan
secukupnya, rasanya dalam waktu sekitar 2 atau sampai 3 jam
kedepan, sudah dapat kuhasilkan ratusan butir obat pemunah
racun jahat itu......”
“Baiklah, jika memang demikian cepatlah engkau mengolahnya
....”
1228
“Baik Ilya Tayhiap ....”
Tidak lama kemudian Bu San meminta diri untuk menyiapkan
tempat khusus untuk meracik obat dari bahan mujijat milik Ilya.
Peralatan meracik obat sesungguhnya dia memiliki secara
lengkap, demikian juga daun2 obat yang cukup banyak dia miliki
hasil memetik di banyak tempat. Tetapi dia membutuhkan air
bersih dan tempat yang leluasa serta pas untuk meracik obat yang
cukup banyak jumlahnya itu. Jika semuanya siap, barulah dia
akan meminta 10 tetes air mujijat itu dari Ilya dan meracik
obatnya. Dan sepeninggal Bu San yang membutuhkan air bersih
serta menyiapkan proses meracik obat:
“Anak itu sungguh amat mencurigakan ........ percaya dirinya
begitu menonjol, tapi dari tampilan dan gaya berjalannya, dia
seperti orang yang tak memiliki kemampuan silat. Hmmm, siapa
dia gerangan dan mengapa demikian aneh dan misterius....”?
gumam Ilya yang jelas terdengar oleh Yu Lian dan juga Yu Kong
dan membuat kedua orang itu terkejut.
“Tapi, Ilya hengte, jelas-jelas Bu San itu persis seperti orang yang
tak memiliki kemampuan bersilat sama sekali. Coba perhatikan
dan lihat bagaimana caranya berjalan, bagaimana bisa disebut
mencurigakan segala ....”? cela Yu Lian atas gumaman Ilya tadi.
1229
“Hmmmm, Nona Yu yang baik, sesungguhnya aku mencurigainya
sebagai samaran Tang Hok dan mungkin juga Thian Liong Koay
Hiap..... tapi, aku masih tidak yakin-yakin amat, atau tepatnya
belum punya cukup bukti dan karena itu sama sekali masih belum
memiliki keyakinan atas dugaanku itu.....” berkata Ilya yang
membuat Yu Lian menjadi kaget tak terkira. “Benarkah dia yang
menjadi tokoh hebat dan mujijat itu......?, masih begitu muda dan
seperti orang lemah, tetapi jika memang benar dia, kesaktiannya
sungguh hebat” desisnya dalam hati.
“Achhhh, sulit dipercaya...” kali ini Yu Lian yang goyah
keyakinannya, sangat kentara dari nada suara yang berubah
“Accchhh, akupun sulit meyakini jika dia adalah sosok asli
saudara Tang Hok, dan apalagi Thian Liong Koay Hiap yang
dahsyat itu Ilya hengte .....”
“Kita masih sama kurang yakin..... tapi, mari kuberitahu
kecurigaanku. Apakah kalian berdua memperhatikan sinar
matanya tadi .....”? bertanya Ilya dengan suara serius sambil
memandangi Yu Lian dan Yu Kong bergantian
1230
“Hmmmmm, apanya yang aneh ....”? desis Yu Lian masih belum
bergeser dari rasa tak percayanya BU SAN adalah Tang Hok,
apalagi Thian Liong Koay Hiap.
“Matanya memang bersinar aneh ...... seperti .... mata siapa ya
....”? Yu Kong juga dibuat jadi berpikir keras
“Seperti sinar mata bayi ....... bukankah aku benar ...”? kejar Ilya
“Ya benar, sinar mata bayi .... tapi, dia kan .....” ragu Yu Kong
melanjutkan
“Itulah maksudku ...... apakah saudara Yu Kong sudah paham
....”? kejar Ilya dan membuat Yu Kong kini menganggukanggukkan
kepalanya.
“Acccchhhhh ... begitu rupanya, aku jadi paham ....” berkata Yu
Lian yang kini jadi mengerti dengan maksud dan kecurigaan Ilya
“Kalian berdua pasti pernah mendengar penjelasan Suhu kalian,
bahwa manusia yang sudah mampu mencapai tingkat tertinggi
berlatih ilmu tenaga dalam, maka matanya berubah sinarnya
menjadi seperti tatapan sinar mata bayi. Polos, alami dan jujur
penuh rasa tak bersalah ...... nach, bukankah seperti itu tadi tatap
mata Bu San itu .....? salahkah jika aku mencurigainya sebagai
1231
Tang Hok yang menurut Yu Kouwnio selihay Thian Liong Koay
Hiap itu.....”?
Kali ini Yu Lian dan Yu Kong mengangguk-angguk tanda mengerti
dan memaklumi kecurigaan Ilya yang memang beralasan itu. Dan
mereka bertiga masih terus dalam diskusi dan perdebatan
mengenai siapa sebenarnya Bu San itu sampai akhirnya
orangnya atau Bu San sendiri mulai terdengar langkahnya
mendekat. Artinya, Bu San yang mereka percakapkan itu sudah
siap meracik obat.
Dan lebih kurang 3 (tiga) jam sebagaimana yang Bu San katakan
sebeumnya, diapun akhirnya sanggup menyelesaikan upayanya
membuat dan meracik obat pemunah. Tetapi pekerjaan itu dapat
dilakukannya sesuai dengan waktu yang sudah dia tentukan
berkat bantuan dari Yu Lian. Bahkan sesekali baik Yu Kong
maupun juga Ilya, datang ikut membantu. Dan setelah pada
akhirnya semua proses untuk meracik dan membuat obat
pemunah racun selesai, Bu San kemudian berkata kepada ketiga
orang itu:
“Obat ini sangat ampuh untuk melawan semua jenis racun panas,
meskipun kurang begitu ampuh jika melawan racun dingin. Tetapi
meskipun demikian, cukup dapat menghambat daya kerja racun
1232
dingin berkat khasiat daun-daun obat yang menjadi bahan
pembuatan obatnya. Hanya saja, karena dibuat agak terburuburu,
maka setelah paling lama 2 bulan kedepan, maka
khasiatnya akan mulai berkurang hingga habis sama sekali
setelah 4 bulan. Jika waktu cukup kelak, cayhe akan mencoba
untuk dapat memperbaiki obat ini menjadi sejenis pil yang dapat
bertahan dan awet disimpan bahkan sampai bertahun-tahun
sekalipun. Meskipun tersimpan demikian lama, tetapi khasiatnya
tidak berkurang, justru bisa bertambah karena campuran daun
obat dan daya sembuh air mujijat akan menyatu perlahan-lahan.
Karena itu, untuk saat ini, biarlah cuwi sekalian membekal
masing-masing 50 butir obat dan sisanya akan kubawa kepada
Koay Hiap dan toako Tang Hok untuk persiapannya menghadapi
lawan...... terima kasih Ilya tayhiap, terima kasih Yu Kong tayhiap
dan terutama engkau Yu kouwnio .....”
Setelah berkata demikian, Koay Ji kemudian membagi-bagikan
ketiga kantong yang sudah dia siapkan sebelumnya. Dan setelah
itu, diapun minta diri dari ketiga tokoh hebat yang baru ditemuinya
hari itu, namun pergaulan selama beberapa jam sudah
membuatnya merasa akrab dengan ketiganya. Koay Ji masih
belum paham jika Ilya sudah mulai mencium jatidirinya yang
sebenarnya dan melepasnya pergi dengan mata penuh tanda
1233
tanya, sementara Yu Lian kedepannya memandang serta juga
memperlakukan Koay Hiap seperti memperlakukan Bu San. Saat
ini, dengan tanpa disadarinya, Bu San sepertinya melangkah
pergi dengan sekaligus membawa pergi sebagian dari isi hatinya
..........
Bu San bukannya tidak mengerti, melainkan dia cukup cerdik
serta mulai menyadari bahwa Ilya sudah mulai mencium
penyamarannya. Bahkan saat itu, sangat mungkin dia diikuti
orang sejak meninggalkan tempat dimana dia menempa dan
meracik obat bersama Ilya, Yu Lian dan juga Yu Kong. Karena itu,
dia berjalan seperti biasa hingga memasuki kota dan tak lama
kemudian dia berbaur dengan orang banyak yang berlalu lalang.
Dalam satu kesempatan diapun menghilang dari kerumunan
banyak orang dan tak lama kemudian sosok tubuh Thian Liong
Koay Hiap sudah berkelabat pergi. Pertama-tama dia kembali ke
rumah penginapan dan kemudian meninggalkan sebuah surat
kepada Kwan Kim Ceng yang ditandatangani oleh Thian Liong
Koay Hiap dan tidak berapa lama Koay Ji sudah berhadapan
dengan Pangcu Kaypang Tek Ui Sinkay sebagai Thian Liong
Koay Hiap.
“Sam Suheng, keadaan di luaran sangat berbahaya, bukan hanya
bagi anggota Kaypang, bahkan juga bagi tokoh-tokoh silat yang
1234
lebih tinggi kemampuannya. Adalah baik memberi perintah agar
anggota Kaypang cukup mengamati dari balik kegelapan, karena
dari pihak lawan sudah muncul tokoh-tokoh maut sekelas Mo
Hwee Hud dan bahkan juga Liok Kong Djie. Sutemu ini bahkan
sudah sempat menghadapi keroyokan mereka berdua dan hanya
karena beruntung dapat lolos dari mereka. Selain itu, mereka juga
sedang merencanakan menggunakan racun maut untuk
membasmi kawanan pendekar di perayaan ulang tahun Hu
Pocu...... sutemu betul-betul membutuhkan bantuan saat ini tanpa
harus membuat Hu Pocu khawatir dengan perayaannya nanti.....”
“Ha ..... sute? Maksudmu Mo Hwee Hud dan malah bangkotan tua
Liok Kong Dji juga sudah turun gelanggang? Bagaimana pula
caramu menghindari keroyokan dua tokoh sehebat mereka ...”?
Tek Ui Sinkay betul-betul tidak mengerti dan sulit untuk
mempercayai pendengarannya kali ini
“Benar demikian sam suheng. Hanya, untungnya kita memiliki
tujuan yang sama dengan tokoh-tokoh Hong Lui Bun yang
mengejar Buncu mereka yang menghianati perguruan dan juga
tokoh Persia yang mengejar tahanan misterius mereka hingga ke
Tionggoan sini....” tegas Koay Ji dengan tidak menjawab
langsung pertanyaan terakhir suhengnya yang terheran-heran itu.
1235
“Tapi sute ..... bagaimana bisa engkau menghadapi kedua
bangkotan yang lihay luar biasa itu ...”? kejar Tek Ui Sinkay
penasaran
“Suheng ..... sesungguhnya sutemu hanya dapat menahan
mereka sampai 50 jurus, dan akhirnya dapat selamat lepas dari
keroyokan mereka karena bantuan seorang tokoh tua yang
enggan disebutkan namanya. Dialah yang pada akhirnya
menangkis pukulan maut Mo Hwee Hud.......” desis Koay Ji
akhirnya karena sulit menghindari kejaran pertanyaan suhengnya
“Achhhh, jika demikian suhu benar. Sekarang suhengmu tak ragu
lagi dengan pesan suhu, bahwa kedepan tugas-tugasnya harus
sudah berpindah menjadi beban dan tanggungjawabmu....” desis
Tek Ui Sinkay masih takjub dengan cerita Koay Ji dalam
menghadapi dua momok luar biasa itu
“Suheng.... untuk saat ini dalam menghadapi ancaman terhadap
Hu Bengcu, aku sangat membutuhkan bantuan tenaga. Karena
sejauh ini baru Khong Yan, cucu Chit suheng yang juga murid Bu
Te Hwesio yang bisa dan bahkan sudah bergabung. Jika suheng
bisa membantu, mohonlah kiranya meminta Ciangbudjin Hoa San
Pay Tio Lian Cu untuk ikut membantu sutemu dan kami akan
bekerja malam ini mengantisipasi serangan beracun lawan...”
1236
“Dan menurutmu suhengmu apa tidak dapat membantu ....”?
“Suheng, adalah mustahil meminta Hu Bengcu untuk berjaga dan
memimpin segala persiapan melawan penyusup disaat-saat
sekarang. Adalah Sam Suheng yang harus berjaga di dalam
Benteng Keluarga Hu sebagai gantinya, sebab sangat besar
kemungkinan mereka sudah menyusupkan orang kedalam
Benteng. Dan untuk itu, sam suheng harus membekal obat ini
......” ujar Koay Ji sambil menyerahkan 50 butir obat anti racun
Ular Mahkota Daun.
“Sute, apa maksudmu .....”?
“Suheng, mereka berencana meracuni ratusan tokoh di acara ini,
dan sutemu sudah meracik obat antinya dengan bantuan tetesan
cairan Si Sim Leng Cuan (Sumber Air Pencuci Jiwa) hadiah dari
kawan Liga Pahlawan Bangsa Persia. Sutemu tanggung racun itu
tidak akan membawa bencana kematian, tetapi korbannya harus
memakan obat ini kurang dari 5 menit setelah terkena racunnya,
jika tidak dalam waktu yang tidak lama mereka akan berubah
menjadi cairan kehijauan .... tetapi untuk dapat melakukannya,
kubekali suheng dengan obat anti racun yang kuracik secara
khusus dengan bahan-bahan obat-abatanku. Kutanggung selama
1237
sebulan lebih, Suheng akan kebal terhadap racun apapun, kecuali
ilmu pukulan beracun”
“Hmmmm, rupanya itu rencana besar mereka. Jika demikian,
baiklah, suheng akan meminta Tio Ciangbudjin untuk
membantumu, tetapi untuk bergerak cepat, mari kita temui Hu
Bengcu agar diapun paham dan siaga....”
“Baik Suheng, tetapi sebelum kita pergi menemuinya, ada
sesuatu yang lain yang sutemu ingin berikan kepada suheng.
Berhubung sam suheng memimpin Kaypang dan juga sekarang
menjadi salah satu target utama para penjahat itu, maka biarlah
suheng tidak melihat dari sisi lain tentang catatanku ini. Dahulu,
ketika masih kecil, sutemu pernah menemukan sebuah kitab yang
berisi langkah-langkah mujijat naga sakti, nach kuhadiahkan
catatanku ini kepada suheng karena dapat mudah dilatih dan
sangat bermanfaat....” Koay Ji berkata sambil memberikan
sebuah catatan yang sebetulnya disusunnya sendiri atas
pemahaman dan pengembangannya selama ini. Tetapi karena
terburu-buru, baru bagian pertahanan yang dicatatnya ...
“Sute .... apa maksudmu ...”? bertanya Tek Ui Sinkay kaget
1238
“Sam Suheng, sebetulnya hanya dengan ilmu mujijat ini sajalah
sutemu selamat dari serbuan Mo Hwee Hud dan Liok Kong Djie
berdua. Jika nyawa sutemu ini tidak engkau selamatkan dahulu,
toch tidak akan bertemu dengan ilmu mujijat ini....” Koay Ji
menyerahkan catatan itu dengan sedikit mendesak. Dan
mendengar ucapan Koay Ji, Tek Ui Sinkay mau tidak mau jadi
ingin tahu, apalagi karena betapapun dia juga adalah seorang
jago silat.
“Marilah kita pergi menemui Hu Pocu, Suheng ....” Koay Ji segera
beranjak berdiri takut suhengnya tiba-tiba berubah pikiran
“Baiklah .... dan terima kasih sute .....” pada akhirnya Tek Ui
Sinkay menerima kitab atau tepatnya catatan ilmu silat itu dan
kemudian keduanya beranjak menemui Hu Bengcu atau Hu Sin
Kok, Pocu Benteng Keluarga Hu. Kelak, dengan ilmu ini Tek Ui
Sinkay justru semakin harum namanya dan menanamkan
pengaruh yang sangat besar di lingkungan Partai Pengemis,
Kaypang.
Pertemuan Hu Bengcu dengan Koay Ji dan Tek Ui Sinkay sudah
dikisahkan didepan dan usai pertemuan itu, Koay Ji kemudian
dipertemukan dengan Tio Lian Cu. Tetapi ketika akan bertemu Tio
Lian Cu dia sudah mengajak Khong Yan untuk menemani dan ikut
1239
bersamanya. Yang luar biasa adalah, Tio Lian Cu demikian
mudah dan cepat dalam menyatakan kesiapan untuk ikut
bergabung. Mungkin karena melihat saat itu rekannya, Khong Yan
atau Ji Suhengnya (dalam hubungan bertiga dengan Sie Lan In,
murid-murid 3 Dewa) sudah menyatakan kesiapan membantu
Koay Ji. Selain juga penjelasan Tek Ui Sinkay yang memang
sangat dekat dan amat sangat dihormati di lingkungan Hoa San
Pay. Selain itu, bagi Tio Lian Cu, perguruan tokoh tua di Thian
Cong San, mendapat tempat istimewa. Itulah sebabnya Tio Lian
Cu dengan cepat menyatakan kesiapannya untuk ikut membantu
Koay Ji, atau tepatnya Thian Liong Koay Hiap.
Namun karena panggilan tugas yang berbeda, Tek Ui Sinkay tidak
banyak bicara dengan Koay Ji, Khong Yan dan Lian Cu. Hanya
sebentar dia ikut berbaur dan berbicara, setelah itu, utusan Hu
Pocu datang memanggilnya untuk membahas soal lain. Dan
artinya dia membiarkan Koay Ji bertiga untuk bercakap-cakap
tentang apa yang akan dan harus mereka kerjakan sejak malam
itu hingga pada puncak acara perayaan ulang tahun Hu Bengcu.
“Tio Ciangbudjin, Khong Siauwhiap, ringkasnya kita sedang
menghadapi kekuatan yang sangat besar. Jangan kaget Tio
Ciangbudjin jika kukatakan kemaren lohu sudah berhadapan
dengan Liok Kong Dji bekas tokoh Hoa San Pay dan juga Mo
1240
Hwee Hud. Dan hanya karena bantuan Bu Te Hwesio, suhu
Khong siauwhiap baru lohu dapat lepas dari keroyokan kedua
tokoh besar itu ......”
“Apa ? Liok Kong Djie sudah ikut turun tangan .... hmmmm,
sungguh memalukan. Biarlah pihak Hoa San Pay kami yang
mengurusnya”, desis Tio Lian Cu kaget. Karena menurut berita
dari seorang murid Liok Kong Dji, tokoh tua bekas anggota Hoa
San Pay yang sakti itu tidak ingin melibatkan diri dan sudah cukup
lama menyepi. Ada apa gerangan?
Tetapi Khong Yan lain lagi responsnya:
“Accchhhh, tapi menurut Suhu, locianpwee dapat menahan
mereka berdua sampai lebih dari 50 jurus ..... sungguh luar biasa
....” potong Khong Yan kagum, karena dia tahu suhengnya punya
hubungan khusus dengan Thian Liong Koay Hiap. Terlebih,
Suhunya berpesan agar membantu pekerjaan tokoh aneh itu
tanpa banyak bertanya lagi. Klop dengan cerita Koay Ji dalam
samaran Thian Liong Koay Hiap barusan, dan tanpa sadar Khong
Yan memuji. Pujian yang membuat Tio Lian Cu sampai
mengerutkan kening membayangkan sampai dimana kehebatan
tokoh aneh yang meminta bantuannya dan Khong Yan ini. Dia
1241
mengamati tokoh aneh itu, tetapi tidak menemukan sesuatu yang
mencurigakan.
“Sudahlah Khong siauwhiap, engkau terlampau memujiku
......bukan hanya kedua tokoh itu yang berbahaya, beberapa
murid Mo Hwee Hud, tokoh-tokoh hebat dari Bu Tek Seng Pay
yang berjumlah nyaris sepuluh orang kini muncul dekat Benteng
Keluarga Hu. Dan paling akhir, hal yang membuat lohu bentrok
dengan mereka, adalah karena memergoki rencana mereka
meracuni tokoh-tokoh di Benteng Keluarga Hu dengan racun yang
sangat mematikan. Racun Ular Mahkota Daun yang sudah diolah
secara khusus menjadi racun yang sangat mematikan dalam
waktu selambatnya 10 menit sejak manusia terkena racun
tersebut. Badan manusia yang teracuni akan segera mencair
dalam waktu singkat......... dapat kalian bayangkan betapa
ganasnya racun tersebut. Tetapi, bekerjasama dengan tokoh
Persia, lohu sudah menemukan obat pemunahnya yang sekarang
berada di tangan mereka, tokoh Persia dan Hong Lui Bun serta
sebagian besar di tangan lohu. Masih ada lebih kurang 300 butir
obat yang lohu simpan, dan kalian masing-masing boleh
membekal 75 butir untuk berjaga agar jika ada yang terkena,
dapat cepat dipulihkan. Tetapi, selain itu, lohu juga meracik 10 pel
penolak racun panas itu buat kita yang bekerja untuk
1242
mengantisipasi serangan racun tersebut. Pel ini (sambil
mengeluarkan dua buah pel anti racun), akan membuat kalian
berdua tahan dan kebal terhadap segala racun panas sampai
sebulan kedepan. Nach ..... terlebih dahulu, kalian berdua
makanlah dahulu pil anti racun ini, setelahnya kita akan
membicarakan apa yang sebaiknya kita kerjakan dan lakukan
dalam sisa waktu yang sempit ini .....”
Khong Yan yang sudah percaya penuh kepada Koay Ji atau Thian
Liong Koay Hiap langsung mengambil pil tersebut dan
memakannya, sementara Tio Lian Cu sempat ragu sejenak.
Tetapi melihat Khong Yan sudah memakan pil tersebut, dengan
sikap ogah-ogahan dia akhirnya juga ikut memakan pil yang
disodorkan Koay Ji tersebut. Dan baru setelahnya kembali Koay
Ji berkata:
“Tek Ui Pangcu saat ini sudah bergerak bersama Hu Pocu di
dalam Benteng dengan mengawasi seluruh pekerja dapur dan
tamu-tamu yang menginap. Adalah tugas kita untuk
mengantisipasi jalan masuk lawan yang akan berusaha masuk
melalui jalan atau jalur manapun. Jika memperhatikan posisi
Benteng Keluarga Hu, maka jalur utara dan barat merupakan jalur
masuk utama, disana penjagaan terlampau berat untuk diterobos.
Perintah untuk menutup pintu masuk itu sudah diturunkan berlaku
1243
untuk siapapun juga, dilarang masuk tanpa ijin langsung dari Hu
Pocu atau Tek Ui Pangcu. Jalur sungai hingga timur yang agak
menjauh adalah jalur yang mungkin diterobos musuh selain jalur
selatan yang adalah hutan yang cukup lebat. Jalur timur sudah
diduduki kawan-kawan Hong Lui Bun dan Liga Pahlawan Bangsa
Persia yang juga berkepentingan melawan Bu tek Seng Pay.
Maka menjadi tugas kita untuk menduduki posisi selatan
setidaknya sampai besok hari ......”
“Sebentar Locianpwee .......” Tio Lian Cu akhirnya angkat bicara
“Ada apa Tio Ciangbudjin .....”?
“Engkau mengatakan jalur utama sangat ketat penjagaannya,
tetapi apakah cukup kuat untuk menahan penyusupan lawan
berkepandaian tinggi ...? kemudian, untuk jalur sungai dan timur,
apakah kawan-kawan Persia Locianpwee dan tokoh Hong Lui
Bun disana dapat dipercaya? bukankah Hong Lui Bun bersekutu
dengan Bu Tek Seng Pay untuk menguasai Tionggoan ....”? Tio
Lian Cu memberondong Koay Ji dengan sejumlah pertanyaan
yang masuk akal. Tetapi Koay Ji sudah siap amat untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
1244
“Tio Ciangbudjin, untuk jalur utama, selain Kwan siauwhiap dari
Siauw Lim Sie, juga masih ada tokoh To Pa Thian Pak Bu Bin An
dan See Bun Sin Kiam Jiu Lim Ki Cing. Selain itu, pasukan
pendam dan 7 Jago Kaypang juga berjaga disana dan sewaktuwaktu
dibantu tokoh-tokoh Siauw Lim Sie. Sepengetahuan Hu
Bengcu, kawan-kawan dari Hoa San Pay berjaga di dalam
Benteng karena masih dianggap sebagai keluarga dari Hu
Bengcu ...... menurut Lohu, posisi dan kekuatan mereka sudah
cukup memadai untuk tidak membiarkan lolosnya penyelusup.
Selain itu, obat racun ganas juga sudah lohu siapkan dan titipkan
buat mereka ......” berkata Thian Liong Koay Hiap dan sempat
berhenti beberapa saat sebelum kemudian melanjutkan lagi
penjelasan dan keterangannya:
“Mengenai tokoh Persia bernama Ilya, dia adalah utusan Liga
Pahlawan Bangsa Persia yang memasuki Tionggoan untuk
memburu seorang tawanan kelas kakap yang entah bagaimana
menurut Bu Te Hwesio masih memiliki hubungan perguruan
dengan Pek Kut Lodjin. Tokoh itu bahkan setanding dengan 3
Dewa Tionggoan, dan karena itu tokoh-tokoh Liga Pahlawan
Persia diutus untuk membawa kembali tokoh itu pulang ke Persia.
Sementara untuk Hong Lui Bun, dewasa ini sedang terjadi konflik
yang sangat tajam dalam perkumpulan yang amat misterius
1245
tersebut. Buncu yang berpihak kepada Bu Tek Seng Pay,
dipandang sudah melanggar larangan bergenerasi-generasi di
Hong Lui Bun. Terutama ketika secara sengaja membuat
keputusan untuk menerjunkan diri ke Rimba Persilatan Tionggoan
dengan membela Bu Tek Seng Pay. Beberapa tokoh utama
mereka yang sudah menyepi, akhirnya mendidik beberapa orang
generasi penerus Hong Lui Bun yang kemudian sekarang sedang
ditugaskan mengejar pemimpin atau Buncu Hong Lui Bun yang
mengotori nama perguruan misterius itu... beberapa hari lalu,
kebetulan Lohu menolong mereka lepas dari bahaya dan pada
akhirnya saling mengikat hubungan baik terutama dalam
melawan Bu Tek Seng Pay yang didukung Buncu khianat
mereka..... Lohu cukup yakin bahwa mereka adalah kawan yang
tepat menghadapi ancaman Bu tek Seng Pay nanti Tio
Ciangbudjin”
“Begitu hebatkah tokoh Persia yang sedang diburu itu ....”? tanya
Tio Lian Cu lebih jauh dan menjadi lebih penasaran
“Jika tokoh tersebut sampai dapat mengguncang tokoh sebesar
Bu Te Hwesio, mestinya dia bukan tokoh sembarangan.
Sejujurnya, Lohu sendiri tidak mengenal dan tidak tahu sedikitpun
nama tokoh itu .....” tegas Koay Ji
1246
“Hmmmmm, Ji Suheng, bagaimana menurutmu .... apakah
engkau mengenal dan tahu siapa tokoh itu .....”? tanya Tio Lian
Cu kepada Khong Yan
“Sumoy, semalam ketika Suhu menemuiku, dia terlihat amat
terguncang. Hanya beberapa hal yang dilakukannya, tapi
semuanya sangat penting. Yang pertama dia memintaku
menemui dan membantu Thian Liong Koay Hiap tanpa perlu
bertanya apapun dan siapa dia. Tapi, yang kutahu, Locianpwee
ini ada hubungannya dengan Suhengku Koay Ji. Kemudian, suhu
memintaku berkonsentrasi melatih kembali iweekang perguruan,
namun ketika siuman kembali Suhu sudah tidak ada dan entah
kemana perginya. Hanya sebuah surat yang memberitahuku
bahwa dia butuh waktu setahun untuk kelak dapat menemuiku
kembali .......”
“Accchhhhhh, mengapa begitu mirip .......”? desis Tio Lian Cu
“Kuduga Thian Hoat Locianpwee juga sudah melakukan hal yang
sama terhadap dirimu Tio Ciangbudjin .... maaf jika Lohu keliru
.....” tebak Koay Ji
“Engkau tidak salah Locianpwee .....”
1247
“Dan saat ini kalian berdua merasakan gelora yang luar biasa dan
tubuh terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Apakah dugaanku
benar ....”? tanya Koay Ji kepada Tio Lian Cu dan Khong Yan
Secara bersamaan Khong Yan dan Tio Lian Cu menganggup dan
keduanya saling pandang curiga. Mengapa Koay Ji sampai tahu?
Itu yang pasti terkandung dari tatap mata keduanya pada saat itu.
Dan Koay Ji paham maksudnya.
“Tidak usah curiga kepadaku, sesungguhnya aku paham apa
yang telah mereka berdua lakukan kepada kalian murid mereka
masing-masing......” Koay Ji berkata sambil memandang mata
Khong Yan dan Tio Lian Cu
“Benar-benarkah engkau tahu apa yang sesungguhnya sudah
dilakukan Suhu kami yang sebenarnya....”? kejar Tio Lian Cu
“Tentu saja aku tahu. Lam Hay Sinni, Thian Hoat Tosu dan Bu Te
Hwesio bertiga pernah menyelidiki dan kemudian menciptakan
sejenis Ilmu mujijat yang sedikit “bertentangan” dengan kodrat.
Ilmu tersebut bersumber dari Ih Kin Keng, tetapi bercampur
dengan mistik Thian Tok yang dibawa Bu Te Hwesio. Belakangan
mereka berhasil menciptakan Ilmu Thian Kong Kie Kong (Tenaga
Dalam Ajaib) yang dapat membuat seorang tokoh yang sudah
1248
mencapai tingkat tertentu melonjak kekuatan iweekangnya.
Tetapi, untuk dapat melakukan atau menerapkan ilmu itu, mereka
akan kehilangan iweekang sampai 10 tahun hasil latihan, dan
akan butuh waktu setahun untuk mereka dapat mengumpulkan
iweekang yang hilang itu. Dugaanku, mengetahui baik Bu Te
Hwesio maupun Liok Kong Dji sudah turun gunung dan kemudian
terutama munculnya tokoh Persia yang masih misterius itu,
membuat Bu Te Hwesio pada akhirnya mengambil keputusan
menerapkan ilmu itu kepada muridnya Khong Yan. Dan hal ini
kuduga juga sudah beliau sampaikan kepada Thian Hoat Tosu
yang juga kemudian mengambil keputusan yang kurang lebih
sama. Jika dugaan lohu tidak keliru, mereka berdua baru akan
muncul kembali setahun kedepan..... apakah bukan demikian
kejadian yang sebenarnya ....”?
Mendengar penjelasan Koay Ji bukan main terkejutnya Khong
Yan dan Tio Lian Cu. Awalnya mereka saling pandang dan
kemudian saling menganggukkan kepala, tapi setelahnya mereka
berdua memandang Koay Ji dengan sinar mata menyiratkan rasa
penasaran yang tak tertutupi.
“Bagaimana engkau tahu sebegitu jelasnya ..... apakah, apakah
engkau .... ach, tapi tentu saja bukan .....” desis Khong Yang yang
benar-benar bingung.
1249
“Locianpwe, tapi ada satu lagi pesan Suhu sebelum beliau
mengundurkan diri, dan ini ditekankannya untuk dilakukan
secepatnya .....” Tio Lian Cu yang kini sudah benar-benar takluk
ikutan bicara lebih terbuka
“Apakah lohu boleh tahu Tio Kouwnio ....”?
“Suhu berpesan untuk secepatnya menemui murid bungsu Bu In
Sin Liong, yang juga adalah sahabat sejak masa kecilku. Menurut
Suhu, dewasa ini dialah satu satunya orang yang akan dapat
membantu dan juga mempercepat pemahaman dan penguasaan
kami atas iweekang yang akan terus bertumbuh secara melimpah
dalam waktu-waktu kedepan .......”
“Hal itu memang akan sudah pasti akan sangat menyusahkan dia,
Koay Ji itu. Tapi dapat kupastikan bahwa dia juga tidak akan
berkeberatan jika kuputuskan untuk melakukan pekerjaan itu bagi
kalian berdua sekarang ini. Tapi, untuk sementara karena kita
sedang menghadapi urusan rumit dan juga supaya kalian berdua
dapat lebih tenang selama dua hingga tiga bulan kedepan, biarlah
lohu membantu kalian berdua pada saat ini......”
1250
“Haaaaa, locianpwee, benarkah engkau dapat membantu
kami....”? Khong Yan yang bertanya dengan nada kaget dan
terkejut
“Apakah engkau lupa bahwa lohu memiliki hubungan dekat
dengan suhengmu? dan masalah ilmu mujijat itu, diapun tahu dan
pernah kami berdua berdiskusi dan berlatih bersama mencari
jalan pemecahan. Hal itu kami lakukan ketika bertemu dan pada
akhirnya berdiskusi cukup panjang mengenai ilmu silat......” jawab
Koay Ji ringan dan membuat Tio Lian Cu kembali ikut nimbrung
bicara
“Haaaa, jadi locianpwee juga mengenal Koay Ji ....”?
“Tentu saja, karena kami berdua mewarisi ilmu yang sama dari
Kitab Mujijat yang sama dan membuat kami menjadi amat dekat.
Boleh dibilang dia masih terhitung suteku dalam ilmu ilmu mujijat
tersebut .....”
“Dimanakah sekarang Suhengku itu locianpwee ...”? kejar Khong
Yan
“Dia masih sedang menyempurnakan penguasaanya atas satu
ilmu mujijat, dan setelah tamat menguasainya dengan sempurna,
1251
dia akan segera turun gunung. Untuk saat ini dia sama sekali tidak
mau diganggu .....”
Kini Khong Yan dan juga Tio Lian Cu dibuat benar-benar takluk,
meskipun masih tersimpan banyak pertanyaan dibenak mereka.
Tetapi mereka tidak dapat merenung dan menganalisis lebih jauh
karena Koay Ji kembali berkata:
“Mari kita mulai dengan tahap awal menyerap tenaga besar dalam
diri kalian. Dalam waktu sebulan ditanggung kalian akan merasa
baikan dan meningkatkan ilmu yang sudah kalian miliki saat
ini......... mulailah berkonsentrasi dan lohu akan membimbing
kalian secara bersamaan. Ingat, lupakan dulu apa yang sedang
kita hadapi saat ini, kita akan pikirkan setelah proses awal ini usai
......”
“Baik locianpwee ......”
Koay Ji membiming mereka dengan menggunakan rumusanrumusan
kombinasi kedua iweekang mujijatnya, Toa Pan Yo Hian
Kang dan Pouw Tee Pwe Yap Sian Sinkang. Itulah sebabnya
kadang Khong Yan tahu kadang tidak tahu, tetapi dengan
mengikuti petunjuk Koay Ji, setelah setengah jam lebih, keduanya
dapat menguasai lonjakan tenaga dalam secara tiba-tiba itu.
1252
Setengah jam berikutnya, merekapun menata kembali iweekang
dalam tantian, dan kemudian menyudahi samadi dan latihan
sesuai petunjuk Koay Ji. Setelah keduanya sadar kembali:
“Bagaimana ...... apakah ada hasilnya .....”? tanya Koay Ji
Khong Yan mengangguk-angguk dan kemudian bertanya:
“Rasanya seperti ada unsur-unsur Pouw Tee Pwe Yap Sian
Sinkang kouwkoat dalam petunjuk petunjuk locianpwee tadi .....”
katanya dengan sedikit ragu
“Teori iweekang Budha memang banyak yang mirip Khong
siauwhiap, dan lagi, itu bersumber dari pendalaman atas Ih Kin
Keng, jadi wajar jika terasa unsur-unsur yang sama dan mirip ......”
penjelasan ini membuat Khong Yan gagap dan tak dapat berpikir
lebih jauh untuk bertanya. Sementara itu, Tio Lian Cu tak dapat
menangkap ketidakwajaran penjelasan Koay Ji karena dia
memang berlatih iweekang alirang tersendiri, milik Hoa San Pay.
“Marilah ..... sudah saatnya kita menduduki posisi rawan di
sebelah selatan” Koay Ji mengajak dan dengan segera diikuti Tio
Lian Cu dan Khong Yan. Baru saja berapa tindak mereka berlari,
Tio Lian Cu sudah mendesis:
1253
“Astaga, benar-benar kemajuanku sungguh luar biasa .....”
“Berlatih sebulan penuh lagi, maka engkau akan lebih terkejut lagi
Nona ......”
Takluk sudah Tio Lian Cu, dan kini diapun berkelabat tanpa ragu
untuk membantu Koay Ji bersama dengan Khong Yan. Sekali ini
dia benar-benar takluk bukan hanya karena “diminta” Tek Ui
Sinkay, tetapi karena melihat dan mengalami sendiri secara
langsung bagaimana hebatnya Thian Liong Koay Hiap. Dan tidak
butuh waktu lama mereka sudah berada di tempat yang dituju.
Kedatangan mereka langsung disambut Kim Shia (Sesat
Bercahaya Emas) Sam Kun yang bertugas di garis penjagaan
daerah selatan. Bersama Sam Kun yang sudah tua namun masih
sangat semangat, juga ikut berjaga lebih kurang 100 orang tokoh
Kaypang dan anak murid Benteng Keluarga Hu. Sebagai yang
dituakan, Sam Kun yang ditunjuk atau lebih tepatnya menawarkan
diri menjaga garis pertahanan tersebut.
“Thian Liong Koay Hiap ....... achhhh, engkau datang juga ....”
“Bagaimana keadaannya Locianpwee .......”?
“Sampai sejauh ini, tidak ada sedikitpun tanda-tanda kedatangan
musuh. Bahkan orang-orang kita yang berada jauh di dalam hutan
1254
tidak sedikitpun mengirimkan tanda adanya kedatangan musuh
......”
“Jika lohu jadi mereka, bukan jam-jam seperti ini akan
memutuskan untuk melintas melalui jalur ini. Apa locianpwee
sependapat ....”?
“Engkau benar Koay Hiap ....... harus menunggu sampai yang
menjaga tempat ini kehilangan kewaspadaan, setidaknya selewat
tengah malam ......”
“Atau, mengacau disini untuk mengurangi penjagaan di titik yang
lain ...... sebagai orang yang memahami racun, maka waktu yang
paling tepat bekerja adalah saat sebelum tengah malam ....”
“Hmmmmm, itu artinya, masih sejam atau dua jam mereka akan
memulainya ... lohu memilih pilihan kedua jika demikian .....”
“Tepat locianpwee ..... racun yang mereka gunakan adalah racun
panas. Mohon ijin sebentar locianpwee .... Khong Yan, Tio
Ciangbudjin, bisakah mengirim kabar ke gerbang utama bahwa
konsentrasi kita ada di selatan dan tepian sungai. Lohu akan
menemui kawan-kawan Persia dan Hong Lui Bun ......”
1255
“Baik, kami segera berangkat....” Tio Lian Cu mengambil inisiatif
dan tak lama sudah langsung bergerak diikuti Khong Yang.
“Locianpwee, lohu akan menemui kawan-kawan di tepi sungai ....”
“Baik Koay Hiap ......”
“Locianpwee benar sekali, mereka akan mengganggu kita disini
agar lebih santai memasuki lewat jalur sungai. Lohu harus
mengingatkan kawan-kawan disana ...”
Setelah berkata demikian, Koay Ji berkelabat menghilang.
Dibanding Khong Yan dan Tio Lian Cu, jarak ke tujuannya jauh
lebih singkat, karena itu tak lama kemudian dia sudah berada di
tepi sungai. Tetapi dia menjadi amat heran, karena dia bertemu
bukan hanya dengan Ilya, Yu Lian dan Yu Kong, tetapi sudah
bertambah dengan beberapa orang lain lagi yang belum
dikenalnya sama sekali. Tapi, adalah Yu Lian yang
menyambutnya bersama Yu Kong, baru kemudian orang orang
yang lain menyusul menemuinya kemudian:
“Koay Hiap ...... kawan-kawan dari Persia sudah datang lengkap.
Bahkan Panglima Agung juga sudah tiba, lengkap dengan 15
anggota pasukan istimewa yang adalah pelindung sang Panglima
.......”
1256
“Acccccch, lohu sudah bertindak kurang hormat .... maafkan,
maafkan ....” Koay Ji cepat tanggap dan mendahului memberi
hormat dan salam.
Terlihat Ilya yang bertugas sebagai “penterjemah” sedang
berbicara dengan tokoh Persia berbadan lebih pendek dan sedikit
lebih kurus dibandingkan tubuhnya sendiri. Tetapi meskipun
demikian, pakaiannya justru masih lebih megah dan kelihatannya
kedudukannya masih lebih tinggi dan lebih di atas dari ilya sendiri.
Selain itu, seorang lagi yang nampaknya tokoh perempuan juga
datang dengan balutan jubah yang cukup menetereng. Beberapa
saat kemudian Ilya berkata:
“Thian Liong Koay Hiap selemat bertemu dan berkenalan, lohu
Ilya dan mari kuperkenalkan dua orang tokoh utama Liga
Pahlawan Bangsa Persia yang baru saja bergabung; Yang
pertama adalah Shoroushi, seorang Panglima Perempuan
Bangsa Persia dan yang juga adalah Pendeta Agama Soroaster
Persia. Selain seorang Pendeta, beliau juga adalah seorang
petarung yang luar biasa dan memiliki kemampuan Ilmu Sihir dan
melawan racun, saat ini beliau menjadi Wakil Panglima Agung
Liga Pahlawan. Dan tokoh yang kedua, adalah Panglima Agung
kami, Panglima Arcia, beliau adalah Panglima Agung dan
sekaligus Pemimpin Tertinggi Liga Pahlawan Bangsa Persia.
1257
Adalah beliau yang menerima tugas secara langsung dari Spenta
Armaity, tokoh spiritual sekaligus tokoh tertinggi di Persia, yang
hanya setingkat di bawah Raja Persia. Mereka bergabung siang
tadi bersama 15 anggota pasukan Pelindung Pangima. Panglima
kami menyampaikan terima kasih dan salam perkenalan, beliau
memandang tinggi dan mengagumi kepandaian Thian Liong Koay
Hiap yang dahsyat......”
“Acccchhhhh, selamat berjumpa dan berkenalan ...... senang
sekali dapat berjumpa dengan tokoh-tokoh hebat dari Persia ......”
“Koay Hiap, 40 tahun silam, ada seorang tokoh Tionggoan
diundang ke Persia dan memenuhi undangan tersebut. Tokoh
tersebut sangat istimewa dan masih terus dikenang Liga
Pahlawan, bahkan ada namanya ditinggal disana. Dan, hebat,
hari ini, Panglima kami Arcia menyampaikan pesan bahwa, orang
pertama di Tionggoan yang berkenalan dengannya, sebagaimana
pesan Spenta Armaity, hendaknya diundang secara khusus untuk
kiranya dapat mengunjungi Markas Liga Pahlawan di Persia. Dan
ternyata, adalah Koay Hiap tokoh pertama itu, karenanya
Panglima berharap kiranya Koay Hiap bersedia menerima
undangan kehormatan dari Liga Pahlawan Bangsa Persia ini. Dan
undangan ini adalah untuk pertama kali setelah 40 tahun yang
sudah lalu .....” Ilya sendiri kelihatannya terhenyak dan kaget
1258
dengan apa yang disampaikan Panglima Agung Arcia, dan ini
terlihat jelas dari bahasa tubuhnya ketika menyampaikan
undangan khusus itu kepada Koay Ji.
“Accchhhhhh, apa maksud Pangima Agung Arcia, gerangan .....”
tanya Koay Ji amat bingung dan sulit untuk mengerti. Ilya
langsung menjawabnya tanpa bertanya dulu kepada Panglima
Agung Arcia
“Dalam tradisi Liga Pahlawan Persia, undangan yang
disampaikan oleh Imam Agung Persia Spenta Armaity adalah
amanat dan datang dari ilham mujijat. Dia bahkan sudah tahu
sebelum Pangima Agung bertemu denganmu Koay Hiap, atau
dengan kata lain, Imam Agung sudah mengetahui jauh hari
pertemuan hari ini ....” sambil berkata demikian, Ilya sendiri
membenarkan dugaan dan pengetahuannya tentang Koay Ji yang
dia tahu memiliki kemampuan luar biasa sejak awalnya.
“Acchhhh, luar biasa...... luar biasa.....” sekali ini Koay Ji benarbenar
kagum dengan Spenta Armaity, Imam Agung yang mujijat
asal Persia itu.
“Bagaimana Koay Hiap .......”?
1259
“Mendapat undangan dari tokoh semujijat itu adalah sebuah
keberuntungan bagi lohu, karena itu baiklah, setelah semua
selesai urusan dengan kaum khianat di Tionggoan dapat kuatasi
dan kutangani, lohu akan bersedia untuk mengunjungi Markas
Liga Pahlawan di Persia ......”
“Bagus ....... Panglima Agung Arcia sungguh berterima kasih
kepadamu Koay Hiap. Nach, berita apa gerangan yang engkau
bawa ......”?
“Sebentar lagi lohu harus kembali ke garis selatan, tetapi lohu
ingin mengingatkan, sebelum tengah malam kelihatannya mereka
akan menggunakan jalur ini. Karena itu, kesiapan disini sungguh
sangat dibutuhkan .......” setelah berkata demikian, Ilya nampak
bercakap dengan Panglima Arcia, cukup lama. Dan gaya
bicaranya, cukup bagi Koay Ji untuk menyadari betapa hebat
Panglima itu ....... mungkin bahkan tidak berada di bawah
kemampuannya sendiri. Wibawa dan kepercayaan diri serta sinar
mata yang istimewa meyakinkan Koay Ji atas dugaannya
terhadap kemampuan tokoh Persia yang hebat itu.
“Koay Ji, Panglima Arcia mengatakan, seorang tokoh Iblis akan
muncul di selatan, sudah dapat beliau tangkap getarannya.
Tetapi, sayangnya tokoh yang harus kami hadapi dan tangkap,
1260
masih diselubungi kekuatan batin dan sihir yang amat luar biasa.
Jadinya kami masih tetap kesulitan ........ Mengenai jalur masuk
ini, boleh engkau tenang saja, kemampuan racunku dan terutama
Wakil Panglima Shouroushi, masih lebih dari cukup untuk
menghadapi permainan racun mereka. Kecuali tokoh mengerikan
Sam Boa dari Biauw Kang, maka kami berdua masih belum takut
untuk menghadapi tokoh beracun dari mereka .......”
“Waaaaaah, Wakil Panglima juga mahir dengan racun? Sungguh
menyenangkan. Tokoh-tokoh Persia memang hebat-hebat ....”
Koay Ji berdesis kagum, dan disana, Shouroushi memadangnya
sambil tersenyum misterius.
“Baiklah, jika demikian aku akan kembali ke pintu masuk jalur
selatan, kelihatannya waktunya sudah hampir tiba .......” Koay Ji
segera minta ijin untuk berlalu, setelah memberi salam buat
semua, diapun akhirnya segera berjalan pergi. Namun belum
jauh, terdengar Ilya berkata;
“Koay Hiap, mereka bahkan sudah sedang siap-siap untuk
menyerang penjagaan di selatan, sebaiknya engkau
bergegas......”
1261
Dan memang benar, segera setelah melihat kedatangan Koay Ji
yang tergesa karena bisikan Panglima Agung Arcia melalui Ilya,
Sam Kun sudah segera berbisik kepadanya dengan nada amat
waspada:
“Koay Hiap, lohu sudah mendapatkan isyarat itu beberapa menit
lalu. Tetapi, sayang isyarat itu terlampau cepat dan singkat,
sepertinya jejak mereka para pengintai kita dalam hutan, sudah
tercium dan ketahuan pihak lawan. Lohu rasa mereka akan
segera munculkan diri ....”
“Baiklah...... kita akan berhadapan dengan kekuatan yang sangat
besar, apakah Locianpwee sudah menelan pil anti racun itu ....”?
“Sudah sejak menjejakkan kaki di tempat ini sore tadi Koay Hiap.
Jika demikian, saatnya isyarat itu kulepaskan....”
Tetapi, baru saja Sam Kun akan memberi isyarat dan perintah
untuk bersiap kepada semua “penjaga” di garis masuk hutan
sebelah selatan, dari arah utara terdengar siulan isyarat yang
membuatnya terhenyak:
“Kelihatannya mereka sudah juga bersiap untuk masuk dan
menyerang pintu masuk utama di utara Koay Hiap ....”
1262
“Benar, untunglah ada Khong Yan dan Nona Tio Lian Cu disana,
posisi kita disana menjadi cukup kuat Locianpwee ...” Koay Ji
berkata sambil terlihat berpikir keras. Tetapi tidak lama dia dalam
posisi seperti itu, karena tak lama kemudian dengan cepat dia
berkata:
“Locianpwee, mereka sudah berada di sekitar sini, sudah teramat
dekat dan Lohu sudah dapat menangkap dan merasakan
keberadaan mereka, amat dekat. Saatnya tiba, sebaiknya
segeralah memerintahkan agar semuan kawan-kawan kita disini
waspada dan berhati-hatilah dengan racun mematikan pihak
lawan. Jika pintu utara sudah diserang, rasanya sebentar lagi jalur
Selatan juga akan segera diserang untuk membuat kita
kebingungan, dan saat itulah pembawa “racun” akan memasuki
jalur tepi sungai. Sungguh cerdik .....”
“Benar Thian Liong Koay Hiap..... sungguh dugaan dan perkiraan
yang sangat tepat” setelah berkata demikian Sam Kun segera
memberi isyarat dan serentak sekitar seratusan atau mungkin
lebih tokoh Kaypang dan juga Pasukan Khusus Benteng Keluarga
Hu segera bersiaga.
“Hahahahahaha...... Thian Liong Koay Hiap si bocah usil, sekali
ini tidak akan ada Bu Te Hwesio yang akan menolongmu ......”
1263
Tiba-tiba terlihat 4 sosok tubuh munculkan diri, dan di belakang
mereka terlihat masih ada beberapa orang lain lagi. Tapi
nampaknya jumlah mereka tidaklah terlampau banyak. Saat Koay
Ji masih sedang memperhatikan mereka secara lebih cermat dan
teliti, terdengar Sam Kun telah melontarkan isyarat yang diikuti
dengan tawa oleh Suma Cong Beng;
“Hahahahaha, tidak akan ada bantuan buat kalian, karena semua
titik masuk sudah kami kepung. Untung saja peristiwa malam ini
masih merupakan peringatan, hingga tidak semua kalian harus
masuk liang kubur .....”
Koay Ji kini sudah memperhatikan keempat pendatang. Ada dua
orang tokoh tinggi besar yang masih menggunakan jubah hitam
kelam, tetapi gerak-gerik mereka sudah dia kenal. Tidak salah
lagi, jika suhunya Bu Te Hwesio tidak keliru menyebut, maka
kedua orang itu mestinya adalah Liok Kong Dji dan tokoh besar
lainnya yang hidup dalam alam bawah sadarnya. Mo Hwee Hud
yang menyeramkan dan selalu datang mengganggunya dalam
tidur dan menghadirkan “mimpi seram” setelah apa yang
dilakukan tokoh itu atas dirinya pada masa kecilnya. Suma Cong
Beng juga sudah dikenalnya beberapa waktu lalu, tokoh itu
memiliki kemampuan dalam menandingi seorang Yu Kong, dan
jelas bukanlah tokoh kacangan. Tapi, siapa tokoh yang satu lagi?
1264
sesosok perempuan tua yang berdiri disamping tokoh tinggi besar
berjubah dan berpenutup kepala itu?
“Acccchhhhh, benar sekali, sekali ini Bu Te Hwesio memang tidak
akan munculkan diri. Hanya, dia amat menyayangkan, dua tokoh
besar Rimba Persilatan Tionggoan sudah dengan rela menjadi
“anjing pesuruh” orang lain, dan malam-malam begini masih juga
menghadirkan ketidaknyamanan bagi orang tua lainnya yang
sedang merancang peringatan ulang tahunnya besok.......
sungguh sedih lohu sebagai orang lebih muda memikirkan betapa
buruknya kelakuan tokoh-tokoh yang mestinya dihormati orang.
Yang sayangnya malam ini terlihat lebih seperti sampahnya rimba
persilatan Tionggoan...” luar biasa, bahkan Sam Kun sendiripun
merasa perkataan Koay Ji sepertinya sangat kelewatan. Sam Kun
akan lebih kaget jika tahu kalau yang datang adalah Mo Hwee
Hud .......
“Apakah tua bangka Bu Te itu yang mengajarmu orang muda
tajam mulut ...”? Mo Hwee Hud jelas saja jadi emosi
“Mo Hwee Hud, tidak butuh ajaran locianpwee itu untuk
menghadapimu seperti malam ini. Toch engkau tahu sendiri,
setelah bersama Liok Kong Dji mengerubutiku berapa hari silam,
1265
masih pantaskah engkau menjadi tokoh yang dihormati dan
punya kehormatan? Lohu sungguh sangat meragukannya ....”
Barulah kini Sam Kun kaget setengah mati mendengar perkataan
Koay Ji. Semakin takjub dia dengan Thian Liong Koay Hiap yang
kini tak dapat lagi dia perkirakan sampai dimana kemampuannya.
Dikeroyok Mo Hwee Hud dan Liok Kong Djie tapi masih tetap
segar bugar? dan kini bahkan menantang Mo Hwee Hud yang
terlihat juga sedikit jeri dan memberi muka kepadanya. Hal ini
karenanya jadi semakin menaikkan merek Thian Liong Koay Hiap
dimata seorang tokoh tua bernama Sam Kun. “Sampai dimana
dan siapa gerangan tokoh bergelar Thian Liong Koay Hiap ini
sampai Mo Hwee Hud sekalipun terlihat rada jeri
menghadapinya? Demikian desis Sam Kun dalam hati.
“Hahahaha, meski kami dilarang melakukan pembataian di
tempat ini, tetapi khusus Thian Liong Koay Hiap kami akan
membuka pantangan tersebut. Setelah apa yang engkau lakukan
terhadap murid-muridku, maka pertarungan kita adalah persoalan
antar perguruan. Niocu, mari kita selesaikan urusan murid-murid
kita dengan tokoh usilan yang selalu mengganggu pekerjaan
murid-muridku, bahkan dengan kejam sudah memunahkan ilmu
seorang murid kita......” Mo Hwee Hud segera melirik
kesampingnya dan Nenek yang berdiri disampingnya terlihat
1266
sudah mengangguk angguk tanda setuju namun juga seperti
terlihat enggan. Meski begitu tetap saja mengikuti apa yang
dikatakan Mo Hwee Hud.
“Achhhh, akan sayang jika engkau maju menghadapiku hanya
dengan seorang Nenek-Nenek Mo Hwee Hud, hahahahaha,
bukankah jauh lebih baik jika engkau maju sekalian dengan Lio
Kong Dji ....”?
“Hehehehe, Thian Liong Koay Hiap, lohu beritahukan kepadamu,
inilah istriku, Sam Boa Niocu yang datang kemari untuk
menuntutmu atas perbuatanmu terhadap murid muridku, terhadap
perguruanku. Bahkan engkau masih menawan murid perempuan
kami, Nadine, sampai sekarang ......”
Perkataan Mo Hwee Hud mengejutkan beberapa orang yang
berada di sekitar lokasi tersebut. Terlebih Sam Kun yang jelas
mengenal nama SAM BOA NIOCU, tokoh hebat mujijat dan amat
beracun dari daerah Biauw Kang. Yang lebih mengejutkan lagi
adalah, ternyata tokoh yang sudah menghilang puluhan tahun
yang lalu itu adalah istri dari Mo Hwee Hud. “Jika seperti ini, badai
sekali ini mestilah jauh lebih mengerikan dibanding badai ciptaan
Pek Kut Lodjin dahulu itu”, demikian desis Sam Kun dalam hati
dan mulai ngeri sendiri.
1267
“Mo Hwee Hud, mengenai Nadine, adalah pilihannya untuk ikut
rombongan Pemuda Siauw Lim Sie itu, totokanku sendiri sudah
kulepaskan. Dan, mengenai istrimu, acchh kuucapkan selamat
bertemu setelah puluhan tahun dia dikurung oleh totokan Pendeta
Tua dari Siauw Lim Sie itu ........”
“Apa katamu ....”? sekali ini terdengar jeritan ngeri dan sangat pilu
serta penuh dendam dari Sam Boa Niocu yang tadinya terus
menerus berdiam diri. Sementara itu, Mo Hwee Hud juga terlihat
sangat kaget setengah ketika mendengar ocehan Thian Liong
Koay Hiap tersebut.
“Thian Liong Koay Hiap, katakan kepadaku, sebenarnya siapa
engkau? Bagaimana engkau tahu urusan yang hanya diketahui
dan disumpahkan Hwesio tua itu kepada kami berdua bahwa
urusan tersebut hanya diketahui dirinya sendiri dan kedua murid
istimewanya..? Jika engkau tidak memberitahu kami, maka
dengan terpaksa kami akan memaki dan menyumpahi Hwesio tua
itu yang ternyata tidak memegang kata kata dan sumpahnya
kepada kami berdua. Katakan, jika engkau bukan murid atau cucu
muridnya, maka jelas tokoh itu adalah sampah belaka ....”
Mendengar perkataan dan tuntutan Mo Hwee Hud, Thian Liong
Koay Hiap terkejut. Dia memang tidak diberitahu Suhunya
1268
mengenai sumpah kakek gurunya ketika harus dengan terpaksa
menghukum Sam Boa Niocu yang terlampau ganas dan teramat
gemar membunuh orang. Kegemarannya membunuh dilakukan
baik dengan ilmu silatnya yang memang tinggi nan mujijat
maupun dengan ilmu hitamnya yang jahat dan terlebih
percobaan-percobaan ilmu racunnya. Pada saat Koay Ji tengah
kebingungan karena merasa sudah menyalahi kakek gurunya
sendiri itu, tiba-tiba terdengar suara di telinganya:
“Anak muda, sudah terlanjur, engkau harus mengakui kalau
engkau masih murid keturunan Kakek gurumu.......”
Jelas suara itu disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara
dari jarak jauh. Tokoh sekelas Mo Hwee Hud mestinya punya
kemampuan melacak, tetapi ilmu yang masuk itu, kelihatannya
masih lebih tinggi dengan ilmu menyampaikan suara jarak jauh
yang biasa. Mendengar anjuran itu, Koay Ji entah mengapa
merasa amat dan tumbuh lagi kepercayaan dirinya. Maka diapun
berkata:
“Karena yang menghukumnya adalah Kakek Guruku .....” desis
Koay Ji, namun jelas terdengar Mo Hwee Hud, Sam Boa Niocu
dan juga Sam Kun.
1269
“Katakan siapa Suhumu ..... apakah Bu In Hwesio ataukah Lam
Hay Sinni ...”? suara Mo Hwee Hud terdengar menyeramkan,
tetapi di telinga Sam Kun menjadi lebih menghentakkan begitu
mengetahui sekelumit rahasia Koay Ji.
“Bangsat kalian semua, rasakan pembalasanku......” terdengar
lengkingan keras dan mengerikan dari Sam Boa Niocu yang
sudah tidak dapat menahan dirinya. Belum lagi pukulannya
datang menerpa tiba, Koay Ji sudah dapat merasakan betapa
kuat dan hebatnya pukulan tersebut, dan bersamaan dengan itu,
telinganya kembali mendengar suara yang disampaikan dari jauh
itu:
“Awas pukulan beracunnya .....”
Untuk soal racun Koay Ji tidak merasa takut, kerana dia merasa
sudah membekal pengetahuan untuk mengenali, menghadapi
dan malah memunahkan racun. Karena itu, menghadapi Sam Boa
Niocu dia sama sekali tidak merasa takut dan dengan berani dia
mengerahkan kekuatan iweekangnya Pouw Tee Pwe Yap Sian
Sinkang dan juga Toa Pan Yo HIankang. Meski baru melatih
beberapa saat belakangan, tetapi kemajuannya sudah cukup
berarti dan sudah mampu meningkatkan ilmu kekebalannya serta
juga kekuatan iweekang dalam tubuhnya sendiri.
1270
“Bresssss ................. cuuusssssss ...”
Benturan terjadi, tetapi Koay Ji tidak guncang sedikitpun,
meskipun dia tahu dalam serangan lawan juga menyusup alur
serangan racun yang punah dengan sendirinya. Kekuatan
iweekangnya memang sudah membuatnya mampu memasuki
tingkatan Kim Kong Pu Huay Che Sen (Ilmu Badan/Baju Emas
Yang Tidak Bisa Rusak). Satu tingkatan yang tidak takut dengan
senjata tajam dan juga racun sekalipun, dan ini yang
menimbulkan rasa percaya diri yang semakin tebal dalam diri
Koay Ji. Tapi sebaliknya bagi Sam Boa Niocu dan Mo Hwee Hud.
Sam Boa Niocu menjadi kalap dan marah bukan main, sementara
Mo Hwee Hud merinding, karena melihat Koay Ji sepertinya
sudah setingkat lagi menapak maju.
“Awas kau ......”
Apa boleh buat, melihat Sam Boa Niocu sudah maju, Mo Hwee
Hud mau tidak mau kemudian ikut mengiringi istrinya itu dan
mengepung Koay Ji. Betapa sangat kagetnya Koay Ji karena
kembali harus melayani keroyokan dua manusia hebat luar biasa.
Memang, dari segi kepandaian Sam Boa Niocu terasa setingkat
dengan Liok Kong Dji, tetapi dengan kepandaian beracunnya,
Sam Boa Niocu masih sedikit lebih berbahaya dan bahkan lebih
1271
mematikan. Apalagi, dia langsung bertarung dengan kekuatan
tertinggi, motivasi yang sangat kuat dan dengan keinginan besar
untuk menjatuhkan dan jika mungkin membunuh Koay Ji yang
sudah dia anggap sebagai musuh bebuyutannya. Jika hanya
urusan murid-murid suaminya, maka masih bisa dia menahan diri,
tetapi karena berhubungan dengan 40 tahun dia kehilangan
kebebasannya, membuatnya sangat emosional dan sudah tidak
dapat menahan diri lagi. Lagipula, pada dasarnya Nenek ini
memang adalah manusia yang sangat mudah terbakar emosinya.
Mo Hwee Hud di sisi lainnya bertarung secara amat taktis dan
cerdik. Dia tahu, kekuatan iweekang Koay Ji amat mujijat dan sulit
jika dia harus adu kekuatan tenaga iweekang. Tetapi, jika Koay Ji
berniat adu kekuatan dengan Sam Boa Niocu, maka dengan
berani dan cepat diapun ikut menyerang sepenuh tenaganya dan
mencari waktu bersamaan dengan tibanya ilmu pukulan Sam Boa
Niocu. Keadaan ini yang membuat Koay Ji menjadi lebih berhati
hati dan pada akhirnya, selain memainkan Ginkang Liap In Sut
dan juga Ilmu angkah Thian Liong Pat Pian, diapun akhirnya kini
memutuskan mulai balas menyerang dengan ilmu mujijat lainnya,
Ilmu Ci Liong Ciu Hoat (Ilmu Mengekang Naga). Ilmu ini sejatinya
adalah ilmu totokan yang kini, jika dimainkan Koay Ji, tidak lagi
mengeluarkan desir angin mendesis tajam yang sangat
1272
menyeramkan. Tetapi, bagi tokoh-tokoh puncak sekelas Mo Hwee
Hud, tentunya amat paham bahwa ilmu seperti itu justru sudah
jauh lebih berbahaya dan jauh lebih mematikan, karena memang
dmeikian sifat ilmu mujijat seperti ini.
Dalam sekejap, dua puluh jurus berlalu dan Koay Ji meski sedikit
terdesak, tetapi keadaannya masih jauh lebih baik dibandingkan
ketika dia seorang diri menghadapi keroyokan Liok Kong Djie dan
Mo Hwee Hud berdua berapa hari lalu. Kini, dengan memainkan
Ilmu Totok mujijatnya, Koay Ji mampu memutus serangan Sam
Boa Niocu, terutama saat baru akan dilontarkan. Dengan
demikian, Koay Ji lebih banyak berhadapan secara langsung
dengan salah satu dari Sam Boa Niocu atau Mo Hwee Hud, tetapi
lebih sering dengan Mo Hwee Hud. Karena racun dan keganasan
Sam Boa Niocu disatu sisi, dan fakta bahwa dia seorang nenek
tua dan pernah dipenjara kakek gurunya, semua itu membuat
Koay Ji menjadi sedikit lebih berbelas kasihan. Maka, ketimbang
emutuskan adu pukulan langsung dengan Nenek itu, Koay Ji lebih
memilih untuk menotok dari jauh, memunahkannya dan kemudian
menghadapi Mo Hwee Hud secara berdepan.
Tetapi Mo Hwee Hud yang cukup cerdik lama kelamaan tahu
strategi Koay Ji, hanya saja amat sulit untuk mengingatkan
istrinya yang sedang diamuk dendam dan benci tersebut. Selain
1273
itu, diapun merasa ngeri dengan ilmu totok yang gerakannya
serba aneh dan mendatangkan hawa seram dalam hatinya. Maka
dalam 50 jurus, tidak ada keuntungan yang mereka peroleh selain
lebih banyak menyerang namun belum sekalipun mendatangkan
bahaya yang berarti bagi keselamatan Koay Ji. Pada saat itu,
nampak Suma Cong Beng yang tidak kurang cerdiknya sudah
mendekati Liok Kong Dji dan kemudian terlihat dia berbisik-bisik
kepada suhunya itu. Entah apa yang dibisikkannya kepada tokoh
tua yang hebat itu, yang pasti, beberapa saat kemudian, tokoh tua
itu terlihat melangkah setindak demi setindak kedepan dan
kemudian berkata dengan suara keras:
“Mo Hwee Hud..... apa boleh buat, kita harus cepat menaklukkan
orang ini....” sambil berkata demikian Liok Kong Djie segera
memukul dengan kekuatan yang sangat besar dan luar biasa
hebatnya. Persis ketika pada saat yang bersamaan Mo Hwee Hud
juga menyerang untuk mengiringi lontaran pukulan yang
dilepaskan istrinya Sam Boa Niocu. Melihat keadaan itu bukan
main terkejutnya Sam Kun, diapun berniat untuk bergerak, tetapi
segera menahan langkahnya karena saat itu dia mendengar
suara orang berbicara di telinganya:
“Tahan, jangan ikut masuk, dia tidak akan kenapa-kenapa, sebab
jika maju, maka nyawamu justru menjadi taruhannya, dan akan
1274
mengganggu konsentrasi anak muda itu.....” suara itu menahan
langkah kaki Sam Kun dan dengan tegang menyaksikan
bagaimana kini Koay Ji harus menghadapi serbuan bertiga Sam
Boa Niocu, Mo Hwee Hud dan sekaligus Liok Kong Dji. Yang pasti
Sam Kun merasa kurang yakin dan percaya bahwa Koay Ji atau
Thian Liong Koay Hiap akan mampu mengalahkan serangan
ketiga manusia maut itu.
Sementara itu, Koay Ji tidak menduga jika Liok Kong Dji akan
memanfaatkan posisi yang berbahaya itu dan ikut masuk
menyerang. Untungnya dia tidak menjadi gugup, tetapi justru
dengan cepat dia mengerahkan segenap kekuatannya dan
memainkan ilmu menyerang, menggiring dan melontarkan secara
sekaligus alias bersamaan. Untuk yang pertama dia dengan
berani menangkis secara kekerasan ilmu pukulan Mo Hwee Hud,
tetapi karena pada saat yang bersamaan ada dua pukulan yang
mengarah dirinya, maka dia memilih pukulan Sam Boa Niocu
untuk digiringnya. Sam Boa Niocu belum memiliki pengalaman
dalam menghadapi Koay Ji, berbeda halnya dengan Mo Hwee
Hud dan juga Liok Kong Dji yang sudah merasakan hebatnya
Koay Ji. Otomatis, Sam Boa Niocu kurang paham jika tenaganya
yang bergetar dan tergiring kesamping bakalan akan dibenturkan
dengan kekuatan pukulan Liok Kong Dji. Meski sudah pernah
1275
mengalami, tetapi Liok Kong Dji sendiripun tidak mimpi jika Koay
Ji berkemampuan melakukannya lagi dan dia tak punya waktu lagi
untuk menarik tenaga pukulannya yang sudah terlontar. Karena
itu, ketimbang celaka, akhirnya diapun mengerahkan tenaga
dalamnya untuk melanjutkan pukulan maut yang tadinya memukul
Koay Ji.
“Duaaaaaaaarrrrrrr ......”
Tetapi, yang sangat berbahaya, pada saat tersebut, dalam waktu
sepersekian detik, Mo Hwee Hud kembali melontarkan serangan
tenaga dalamnya pada saat benturan kekuatan yang diatur Koay
Ji terjadi. Pukulan Mo Hwee Hud mengarah ke Koay Ji yang
sedang terlontar ke belakang, sama seperti Sam Boa Niocu dan
Liok Kong Dji yang sama terlontar ke belakang akibat
dibenturkannya kekuatan mereka secara demikian hebatnya oleh
Koay Ji. Sayang, mereka berdua tidak mampu menahan lagi
besarnya kekuatan iweekang yang digunakan, dan ini membuat
mereka mau tidak mau harus adu kekuatan. Dan karena kekuatan
mereka memang berimbang, mau tidak mau posisi dan kekuatan
mereka tergedor cukup keras, meski belum terluka parah, tetapi
cukup membuat semangat mereka kuncup sebentar. Mereka
masing-masing terdorong sampai lima langkah ke belakang baru
dapat berdiri kembali dengan tegak.
1276
Yang repot dan berbahaya adalah keadaan Koay Ji. Menyadari
pukulan Mo Hwee Hud mengarah tubuhnya, maka Koay Ji yang
dalam posisi yang sangat kurang baik, mau tidak mau harus
menangkis pukulan tersebut. Tetapi karena cerdik, dia sama
sekali tidak menggunakan strategi keras melawan keras, tetapi
menggunakan ilmu menggiring dan melontarkan kekuatan
pukulan Mo Hwee Hud. Tidak kemana-mana, tetapi memilih
melontarkannya kearah Suma Cong Beng yang berdiri beberapa
meter belaka disebelah kanan dari arena tarung mereka. Sayang,
kekuatannya akibat membenturkan tenaga Sam Boa Niocu dan
Liok Kong Djie berkurang cukup banyak. Karenanya, meski
berhasil tetapi dia merasakan mulutnya menjadi asin, tanda
bahwa dia sendiripun tergetar setelah menggiring dan sekalian
melontarkan kekuatan Mo Hwee Hud kearah Suma Cong Beng.
Menyadari posisi yang berbahaya, Koay Ji cepat kembali bersiaga
dan kini bersiap dengan Thian Liong Pat Pian. Tetapi celaka, dia
merasa kepalanya mulai pusing, tetapi sekuat tenaga dia
menahan langkahnya dan dengan kemauan keras dia tetap
berdiri tegak dan siap kembali menghadapi ketiga lawannya yang
kini sudah bersiap kembali menyerangnya. Namun karena
mereka semua sama-sama menghadapi guncangan yang hebat
hingga memukul kesombongan mereka, maka Koay Ji yang
1277
sebenarnya sudah kepayahan tidak dengan cepat mereka tahu
dan sadari. Pada saat mereka kembali akan adu pukulan,
terutama Mo Hwee Hud yang masih bugar akan memukul, tibatiba:
“Amitabha Budha...... Mo Hwee Hud, apakah engkau masih juga
belum sadar bahwa lawanmu tetap sanggup meladeni kalian
bertiga ....”?
Suara itu entah berasal dari mana, tetapi yang pasti menahan
langkah dan pukulan Mo Hwee Hud. Sesaat kemudian diapun
memandang ke atas dan berkata dengan suara tidak segarang
tadi:
“Silahkan jika memang Sinni berkenan berkunjung kemari .......”
“Amitabha Budha...... baiklah, hitung-hitung menemui beberapa
sahabat setelah teramat lama tidak bertemu...”
Sesaat kemudian, di arena sudah bertambah dengan dua orang
lain lagi. Tetapi usia dan tampilan kedua pendatang baru terlihat
sangat kontras. Kedua pendatang itu adalah perempuan, dimana
yang seorang adalah Pendeta Wanita yang sudah amat tua,
namun wajahnya terlihat bercahaya dan terasa sangat sabar serta
membawa senjata hudtim. Sementara yang seorang lagi adalah
1278
seorang gadis yang masih amat muda, berwajah cantik jelita dan
mengenakan pakaian berwarna putih hingga membuatnya
tambah gemilang berada di tengah arena.
“Lam Hay Sinni, apakah engkau datang untuk membantu
keponakan muridmu untuk menghadapi kami semua .....”?
“Amitabha Budha ..... Mohon maaf, jika kedatangan Loni
mengganggu cuwi sekalian. Tetapi, mohon apa yang sudah
terjadi disini, cukuplah sampai disini. Bagaimanapun juga, anak
ini tidaklah menanggung dosa apapun atas apa yang dilakukan
Suhu kepadamu Niocu.... Tetapi, jika memang engkau
membutuhkan permintaan maaf kami, maka biarlah Loni mohon
maaf atas semua penderitaan yang engkau alami dalam waktu
yang sangat panjang itu ... siancay .... siancay ......”
“Hmmmmmm, baiklah. Urusan masih belum selesai, suamiku, kita
pergi ....” Entah mengapa Sam Boa Niocu kehilangan
kegarangannya dan tiba-tiba berkata kepada suaminya untuk
meninggalkan arena.
“Amitabha Budha.... sampai kapan engkau baru dapat
menghapus dendam dalam hatimu Niocu? Semua akan meracuni
dirimu sendiri, siancay .....”
1279
“Sinni...... senang bertemu kembali, sayang kedepannya kita akan
berdiri dengan posisi berhadapan, mohon pamit .....”
Setelah mengucapkan kata-kata demikian, berlalulah
keempatnya. Dan benar saja, sekejap kemudian, terdapat banyak
gerakan dari balik hutan tanda bahwa kawanan mereka cukup
banyak mengepung tempat tersebut. Dan setelah beberapa saat
suasana menjadi lebih tenang dan aman, tiba-tiba:
“Subo .....” terdengar desisan Koay Ji dan disusul dengan cepat
dia jatuh terduduk serta berusaha untuk menghimpun kembali
kekuatannya. Namun entah kenapa dia seperti kesulitan
melakukannya, wajahnya terasa mulai kaku dan terasa dingin
serta kekuatan terasa membuyar perlahan-lahan.
Lam Hay Sinni memandang sekilas keadaan Koay Ji, kemudian
diapun memandang Sam Kun dan berkata dengan suara ramah:
“Amitabha Budha, selamat berjumpa lagi Sam Kun hengte.
Tetapi, melihat keadaan muridku ini, bolehkah semua sahabat
membubarkan diri disini dan memberi waktu kami untuk
bercakap-cakap ....”?
“Baiklah Sinni, selamat berjumpa dan semoga Thian Liong Koay
Hiap dapat sehat kembali dengan segera dan dalam waktu yang
1280
tidak akan lama......” setelah berkata demikian Sam Kun
kemudian berlalu dengan pikiran mumet dan sangat takjub
dengan apa yang baru saja dia lihat dan alami.
“Jangan terlampau khawatir, dalam waktu 3,4 jam kedepan Thian
Liong Koay Hiap akan menemui kalian semua di dalam Benteng
...”, dan setelah berkata mengiringi kepergian Sam Kun, Lam Hay
Sinni berkata kepada muridnya:
“Amitabha ..... In Jie, kita pergi, keadaannya berbahaya jika
dibiarkan .....”
Sebentar kemudian tempat itupun kembali tenang. Angin malam
masih terus dan terus berhembus membawa rasa dingin
menusuk, tetapi rasa dingin buat siapa jika tak lagi ada
seorangpun juga di tempat tersebut?
Sejam atau nyaris dua jam sudah berlalu, dan di sebuah tempat
jauh di ketinggian tetapi di tempat yang sangat tersembunyi dan
agak hangat terlihat tiga orang dalam posisi yang berbeda. Tidak
salah, mereka adalah Lam Hay Sinni, salah seorang dari 3 Dewa
Tionggoan yang tinggal di Laut Selatan, kemudian yang seorang
lagi adalah Thian Liong Koay Hiap dalam sikap samadhi dan
terakhir adalah si dara cantik Sie Lan In, murid Lam Hay Sinni.
1281
Dibandingkan dengan beberapa bulan silam, keadaan Sie Lan In
terlihat sudah sangat jauh berbeda. Memang dia masih tetap
cantik jelita, tetapi sinar matanya menjadi lebih berwibawa dan
kepercayaan dirinya sudah terlihat jauh lebih tebal.
“Subo, jadi dia adalah murid Suhu ....”?
“Ya, dan dia adalah sutemu ...”
“Tetapi, subo, bagaimana mungkin ....”?
“Mungkin saja...... kenapa tidak? Suatu hal perlu engkau ingat
muridku, justru adalah sutemu ini yang akan berjasa
mempertemukan dan mengatur jodohmu dengan pria impianmu
itu. Karena itu, rubahlah perlakuanmu atas sutemu ini, jika tidak
engkau akan kecewa sendiri kelak ....” Lam Hay Sinni berkata
dengan nada penuh kasih sayang kepada muridnya Sie Lan In.
“Tapi ..... tapi dia Subo .....” Sie Lan In terlihat tidak atau kurang
puas dengan apa yang dikatakan Subonya tadi
“Belajarlah lebih banyak menggunakan “hati” dan bukan hanya
“mata” dan “otak” belaka muridku ..... ini yang menghambatmu
mencapai puncak permainan Ilmu Pusaka kita ....” ringan saja
Lam Hay Sinni berkata
1282
“Baik Subo ....” Lan In berkata, tetapi masih cukup jelas bahwa dia
masih belum menerima sepenuhnya apa yang dikatakan Lam Hay
Sinni. Percakapan mereka jadi terhenti ketika tiba-tiba Koay Ji
mulai siuman, dan tak berapa lama kemudian, diapun benarbenar
sadar kembali dan segera memberi hormat kepada Lam
Hay Sinni sambil berkata:
“Subo, tecu menghaturkan salam dan hormat kepada engkau
orang tua budiman yang telah menyembuhkan dan membantu
tecu .....”
“Subo .....? maksudmu ...”? tanya Lam Hay Sinni dengan suara
dan wajah yang serius dan meski wajahnya tetap ramah. Koay Ji
menjadi kaget, tetapi dia jelas sekali menerima pesan khusus dari
Suhunya untuk bagaimana menyapa jika kelak suatu ketika bisa
bersua dengan Lam Hay Sinni.
“Subo ..... sebelum tecu meninggalkan gunung, Suhu dengan
jelas memberi pesan dan mewanti-wanti bahwa jika tecu bertemu
Lam Hay Sinni kelak, maka tecu harus dan wajib menyapa dan
menghormatnya dan memanggilnya SUBO. Bertemu dengannya
sama seperti bertemu Suhu sendiri. Tecu hanya diperintah untuk
wajib melakukannya dan sama sekali tidak boleh bertanya
1283
mengapa dan apa sebabnya harus berlaku hormat dan
memanggil Subo......”
Kata-kata Koay Ji membuat sinar mata Lam Hay Sinni melunak
dan sepertinya jadi paham apa yang sudah dan telah terjadi.
Karena itu, diam-diam diapun menarik nafas panjang dan
kemudian mendesis nyaris tak tersdengar:
“Acccchhhhh seandainya dia dahulu...... Amitabha Budha,
siancaayyy” itu saja desisannya dan seterusnya tidak lagi
terdengar sedikitpun suara selama beberapa menit. Koay Ji masih
tetap berlutut dan tidak berani berdiri di hadapan Lam Hay Sinni
dan diapun membiarkan tokoh wanita tua yang hebat mujijat itu
tenggelam dalam renungan dan kenangannya. Dan setelah
beberapa menit lewat, akhirnya Lam Hay Sinni menemukan
dirinya kembali dan melihat keadaan Koay Ji, diapun terharu dan
kemudian berkata:
“Baiklah, engkau berdiri muridku ..... urusanku dengan Suhumu
sudah lama berlalu. Tetapi, syukurlah dia sudah mengetahui
dimana letak kekeliruannya meskipun hal itu tidaklah dapat
merubah dan memperbaiki apa yang sudah terjadi di masa lalu.
Tetapi, kini, biarkanlah semua kenangan itu berlalu dan menjadi
masa lalu Suhu dan Subomu ini. Setelah hari ini, tugas-tugas
1284
Suhu dan Subomu harus kalian berdua lanjutkan, karena ini
adalah saat terakhir Subo kalian berdua berkeliaran di dunia
persilatan. Hanya, pesanku kalian berdua harus berhati-hati
dengan Sam Boa Niocu, terutama menghadapi ilmu hitam dan
juga ilmu beracunnya. Engkau nyaris menjadi korban ilmu
beracunnya yang keluar dari ilmu pukulannya, untung saja tingkat
Kim Kong Pu Huay Che Sen (Ilmu Badan/Baju Emas Yang Tidak
Bisa Rusak) sudah meningkat cukup hebat. Kalian berdua
tingkatkan kemampuan kekuatan batin untuk menghadapi lawanlawan
yang amat berbahaya itu. Dan, ketika kelak, engkau (sambil
memandang Koay Ji), ketika memenuhi undangan untuk
mengunjungi Persia, harus dan wajib membawa Sucimu ini untuk
ikut serta. Sebab, ada aturan engkau dapat membawa serta
seorang sahabat terdekatmu ketika memasuki Persia, dan
dahulu, Suhumu juga membawa Subomu ini untuk ikut serta
menemaninya. Ingat pesanku ini ..... dan selanjutnya, biarlah Hek
Tiauw dan Pek Tiauw akan ikut bersamamu In Jie. Kelak kalian
berdua tinggal kuberi ijin satu kesempatan lagi saja untuk
berkunjung ke tempatku di Laut Selatan. In Jie, Toa Sucimu, jika
dia masih hidup, dia wajib mewarisi Laut Selatan dan tugas
sebagai Lam Hay Sinni. Saat menemuinya kelak engkau harus
menyerahkan Pek Tiauw untuk membawanya kepadaku sebelum
1285
menutup diri selama-lamanya ......” demikian Lam Hay Sinni
menutup pesan-pesannya kepada Sie Lan In dan Koay Ji.
“Subo ..... apakah, seperti Bu te Hwesio dan Thian Hoat Tosu ....
engkau ....” Koay Ji tidak melanjutkan kalimatnya.
“Muridku, dua bulan lalu kepada Sucimu sudah kulakukan seperti
yang mereka lakukan beberapa hari yang lalu kepada muridmurid
mereka. Hanya saja, mereka berdua rada malas
memperdalam ilmu yang sudah kuturunkan kepada Sucimu itu
sehingga mereka gagal menemukan cara untuk tidak kehilangan
kekuatan yang cukup banyak setelah menerapkannya kepada
murid-murid mereka. Selain itu, untuk Thian Hoat Tosu, dia
memiliki aliran iweekang yang sangat berbeda dengan Bu Te
Hwesio dan juga aliran Budha kita yang berakar dari Ih Kin keng.
Bu Te Hwesio bisa kembali setelah paling lama setahun menutup
diri, tetapi Thian Hoat Tosu akan kembali lebih dari setahun...”
“Acccch, tecu mengerti Subo ......”
“Baik, kalian berdua ingat pesanku itu. Kepadamu Thian Liong
Koay Hiap, ingat pesanku, khususnya terhadap Sucimu engkau
harus selalu menghormatinya. Loni tahu jelas siapa engkau....
selebihnya, biarlah takdir kalian masing-masing yang akan
1286
menemukan jalannya sendiri demi kebaikan semua ...... nach,
Loni berangkat” belum lagi berangkat itu selesai diucapkan, Lam
Hay Sinni sudah tidak berada di tempat dan sudah pergi jauh.
“Subo .....” terdengar suara Sie Lan In sedikit terisak dan masih
sayup-sayup ada suara yang datang ke telinga mereka:
“In Jie, ingat lagi pesanku, kurangi sikap cengengmu itu, antarkan
Subomu dengan senyum dan bahagiamu..... yakinlah, suatu saat
engkau akan mensyukuri karena Subomu telah mengatur
semuanya yang baik untukmu”
Dan setelahnya, Koay Ji masih mendengar desis suara Lam Hay
Sinni di telinganya, amat jelas dan jernih:
“Koay Ji, Bu Te Hwesio sudah menceritakan segalanya tentang
dirimu, tetapi soal maksudmu tetap menggunakan samaran Thian
Liong Koay Hiap, jangan sampai merusak dan membuat kisruh
hubunganmu dengan Sucimu. Suhumu dan Subomu sudah
memberikan restu untuk kalian berdua, bahkanpun Bu Te Hwesio,
tetapi awas jangan sampai meniru kisah Suhu dan Subomu .....”
kagetlah Koay Ji, karena ternyata Lam Hay Sinni sudah tahu siapa
dirinya. Pantas dia selalu menekankan posisi Koay Ji sebagai
1287
Sute dari Sie Lan In. Berpikir demikian, akhirnya Koay Ji berpaling
ke arah Lan In dan berkata:
“Sie Lan In Suci, kita harus cepat menuju ke tepi sungai......
karena pembawa racun akan masuk dengan melalui jalur tepi
sungai tersebut, dan berpotensi membunuh ratusan tokoh
persilatan .....”
Sie Lan In tiba-tiba sadar bahwa disitu ada seorangKoay Ji dalam
samaran Thian Liong Koay Hiap. Dia sebenarnya heran,
mengapa Koay Ji mandah saja dan dengan amat ringan
memanggilnya SUCI, padahal usianya masih jauh lebih banyak di
atas usianya sendiri. Tetapi, wajar karena dipanggil SUCI, diapun
jadi berlagak sebagai orang yang dituakan, atau yang tingkatnya
masih lebih di atas. Otomatis haruslah dihormati Koay Hiap yang
berusia diatasnya itu.
“Hmmmm, jangan dikira setelah perintah SUBO, maka
tantanganku kepadamu akan kuhapuskan. Suatu saat aku akan
menantangmu berpibu sekali lagi ....”
“Baik Suci, aku menuruti semua keinginan Suci belaka .....”
“Baiklah, mari kita menuju tepi sungai itu ......”
1288
Mari kita menuju ke bagian lain yang tidak kurang seru dan
menariknya dengan apa yang sedang dan sudah berlangsung.
Khususnya di pintu gerbang utama, beberapa saat sebelum Tio
Lian Cu dan Khong Yan akan meminta diri untuk kembali
bergabung dengan Thian Liong Koay Hiap. Pada saat itu, tiba-tiba
terdengar suara atau isyarat yang dikirim oleh pasukan pendam
Kaypang yang bertugas menjadi mata-mata dan penyampai
berita. Tetapi, baru saja isyarat itu dikeluarkan, tokoh-tokoh lawan
sudah berdiri dan berada di pintu gerbang, berdiri dengan
gagahnya serta dalam sikap yang sangat menantang.
Ada dua orang yang berdiri paling depan, mereka sudah dikenali
sebagai Mo Pit Siu (Orang Tua Lengan Iblis) Sin Bu dan juga Jiat
Pit Hun (Sukma Cacad Lengan) Lu Kun Tek. Keduanya adalah
jago-jago andalan dari Perguruan Misterius Hong Lui Bun yang
ikut mendukung dan bergabung dengan Bu Tek Seng Pay. Dan
juga di belakang mereka berdiri dua orang tokoh yang masih
belum dikenal banyak orang, seorang yang sudah amat tua dan
seorang lagi yang berumur 60 tahunan. Jika ada yang dapat
mengenali, maka keadaan disana pasti akan menjadi amat geger
dan mengejutkan. Karena keduanya sebetulnya adalah tokohtokoh
hebat yang sangat menggetarkan meski belum begitu
dikenal banyak orang di Tionggoan. Si orang tua yang berdiripun
1289
terlihat sudah sangat susah adalah GEBERZ (tokoh Persia), yang
merupakan buronan Liga Pahlawan Bangsa Persia. Sementara
disampingnya adalah tokoh puncak Hong Lui Bun, yang juga
adalah Buncu Hong Lui Bun bernama Hong Lui Koay Kiat
(Pendekar Aneh dari Hong Lui Bun) Si Tiok Gi. Inilah tokoh besar
Hong Lui Bun yang sedang diburu oleh Yu Kong maupun Yu Lian.
Beberapa saat kemudian muncul beberapa orang, tidak banyak,
paling 10-15 orang dalam dandanan Utusan Pencabut Nyawa.
Ujung tombak sekaligus orang-orang yang melakukan tugas
pembunuhan dan perampokan serta menyerbu banyak sekali
perguruan silat di Tionggoan untuk ditaklukkan. Menilik
jumlahnya, kelihatannya mereka seperti hanya ingin “pamer” dan
“menggertak”. Dan segera jelas ketika pada akhirnya terdengar
suara dari Lu Kun Tek, tokoh Hong Lui Bun atau tepatnya Hu
Buncu yang bertindak sebagai juru bicara:
“Selamat malam cuwi sekalian, kami hanya sekedar datang
karena sangat ingin memastikan bahwa memang benar
penjagaan di Benteng Keluarga Hu sudahlah cukup ketat. Kami
semua sangat berharap agar semoga keadaan seperti ini berlaku
sampai besok hari kelak ....... hahahahahaha”
1290
Tidak ada gerakan apapun dari dalam gerbang masuk. Terlihat
To Pa Thian Pak Bu Bin An dan See Bun Sin Kiam Jiu Lim Ki Cing
tetap tenang, meskipun melihat ada tokoh sekelas Geberz dan Si
Tiok Gi membuat mereka berdebar juga. Tokoh-tokoh yang sudah
mencapai tingkat tertinggi seperti mereka, memang akan dengan
mudah mengidentifikasi kehadiran seorang tokoh hebat dan
mujijat lainnya. Dan keduanya dapat merasakannya, dan
keduanya percaya bahwa Geberz dan Si Tiok Gi mestilah
pemimpin sesungguhnya dari rombongan kecil yang sedang
pamer di hadapan mereka. Pada saat itu, Khong Yan dan Tio Lian
Cu sesungguhnya sudah akan minta diri tetapi masih bercakapcakap
dengan Kwan Kim Ceng dan kedua kawannya yang
“sangat tampan”. Tetapi melihat betapa sombong dan pongahnya
Lu Kun Tek dalam menyindir dan mempermainkan para penjaga
di gerbang utama, sudah membuat Tio Lian Cu dan juga Khong
Yang serta Kwan Lim Ceng menjadi mengernyitkan kening tanda
tak senang.
“Anjing kudisan dari mana gerangan yang datang menyalak di
depan pintu rumah orang tengah malam seperti ini .....”? tanpa
dapat dicegah, Tio Lian Cu sudah lebih dahulu menyahut sebelum
Lim Ki Cing dan Bu Bin An lebih dahulu menyahuti olokan lawan
yang kelewatan. Dan akibatnya, terlihat Lu Kun Tek menjadi
1291
bagaikan anjing yang kebakaran jenggot dengan sahutan Tio Lian
Cu yang memang sangat tajam dan menusuk hati itu.
“Siapa yang begitu berani menghina orang disana? Kenapa tidak
berani keluar untuk menerima hukuman tuanmu ini ......”?
“Waaaaaah semakin galak anjing kudisan itu menyalak....”
tambah Tio Lian Cu yang kemudian melirik Khong Yan dan Kwan
Kim Ceng dan ketiganya terlihat saling mengangguk. Tidak
berapa lama kemudian, mereka bertiga dengan diiringi oleh Bu
Bin An dan Lim Ki Cing sudah berdiri berhadapan dengan
keempat pendatang. Sementara di pintu gerbang tampak dua
orang lain lagi tiba disana dan bercakap-cakap dengan para
petugas di gerbang itu. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Tek
Ui Sinkay, Pangcu Kaypang dan dengan ditemani oleh seorang
tokoh lain yang juga tidak asing lagi. Ya, dia ditemani oleh
Sutenya yang bernama HoanThian-Ciu (Tangan Membalik Langit)
Cu Ying Lun, murid ketujuh Bu In Sinliong. Cu Ying Lun ini adalah
Pangcu Thian Cong Pay dan masih merupakan kakek luar dari
Khong Yan yang sudah turun gelanggang untuk mendampingi Tio
Lian Cu hingga tidak sempat bertemu kakeknya itu terlebih awal.
Keduanya kemudian menuju ke tempat pengintaian, tempat yang
lebih tinggi dan dapat melihat langsung ke arena dimana kini Tio
1292
Lian Cu, Khong Yan dan Kwan Kim Ceng sedang menghadapi
lawan mereka. Mereka ditemani dua tokoh tua Bu Bin An dan Lim
Ki Cing hingga membuat Tek Ui Sinkay dan Cu Ying Lun menjadi
sedikit lebih tenang melihat mereka. Selain itu, tak lama
kemudian, terlihat dua orang pemuda lainnya ikut bergabung,
teman-teman Kim Ceng.
Sementara itu, begitu melihat yang menghinanya ternyata adalah
seorang gadis remaja yang masih sangat muda dan amat cantik
itu, Lu Kun Tek menjadi jengah sendiri. Posisinya runyam, mau
maju untuk menghukum rada malu, tidak maju menghukum juga
malu karena sudah mengeluarkan kata-kata yang rada takabur.
Melihat keadaannya, Tio Lian Cu kemudian berkata:
“Katanya mau menghukum, kenapa sekarang menjadi begitu
ketakutan? Rupanya hanya mulut anjing kudisan itu saja yang
besar, hatinya kecil dan sudah ketakutan terlebih dahulu .....
sayang sekali .....”
Kalimat Tio Lian Cu ini ibarat api yang dengan cepat menyambar
bertemu jerami kering. Lu Kun Tek yang tadinya masih risih dan
malu untuk maju menghadapi Tio Lian Cu yang masih terlampau
muda menjadi lawannya, kini menyalak dengan murka dan maju
menyerang:
1293
“Bangsat, mulutmu sungguh sangat menghina ......”
Tetapi sayang sekali, lawannya yang memang masih muda dan
seorang nona pula, adalah tunas terbaik Hoa San Pay pada masa
itu. Bahkan sudah menerima tempaan dari tokoh yang paling
mujijat di Tionggoan, Bu In Sinliong. Karena itu, dengan sangat
mudah dia bergerak menghindar dan terjangan Lu Kun Tek sudah
jatuh di tempat kosong. Sementara Tio Lian Cu jadi kaget dan
terkesima karena menduga sebelumnya jika sekali pukul dia
sudah akan meraih kemenangan. Apa lacur, dia tambah hangus
dan murka melihat di sebelah kanan Tio Lian Cu tersenyum
menghina dan memandang dengan mata binalnya kearah dirinya:
“Ayo, lebih cepat lagi larinya anjing kudisan .....”
Tek Ui Sinkay dan Cu Ying Lun memandang dan mengerti jika
tingkat Tio Lian Cu masih mengatasi lawannya. Bahkan ketika
sekali lagi Tio Lian Cu mengelak mereka saling pandang dan
mendesis:
“Liap In Sut ...... siapa yang mendidiknya dengan ilmu itu ....”?
Sementara itu Tio Lian Cu sudah bergerak cepat dan kini mulai
balas memukul. Dan segera Lu Kun Tek sadar bahwa lawan
mudanya itu bukanlah lawan ringan, karena baik kecepatan
1294
maupun kekuatannya masih berada di atas tingkatnya. Kagetlah
dia dan kini mulai panik mencari jalan untuk menyelamatkan
dirinya dari gencarnya pukulan dan cecaran Tio Lian Cu yang
semakin berat.
Hong Lui Buncu tahu jika keadaan anak buahnya sudah runyam.
Tetapi untuk dia turun tangan tentu sangat memalukan. Karena
itu, diapun terlihat berbisik kepada tokoh tua disampingnya, dan
tak berapa lama kemudian, Geberz, demikian nama tokoh tua
asal Persia itu terlihat bergerak. Tapi setiap detail gerakannya
diawasi oleh Khong Yan dengan amat teliti. Maka ketika akhirnya
dia bergerak mencecar Tio Lian Cu dengan cepat Khong Yan
memapaknya:
“Duaaaaarrrrrrrrr ......”
Luar biasa. Khong Yan sendiri kaget tak terkira ketika
tangkisannya bertemu dengan kekuatan pukulan lawan yang luar
biasa kuatnya, bahkan dia tahu masih berada di atas kekuatannya
sendiri. Dia terdorong mundur sampai 1 langkah ke belakang.
“Mungkin masih setingkat Suhu .....” desisnya dalam hati. Tetapi,
sama sekali tidak membuatnya takut ataupun kecil hati,
sebaliknya membuatnya menjadi semakin bersemangat dan
dengan cepat sudah memulihkan posisinya dan kini sudah
1295
langsung berhadapan dengan Geberz. Sementara Cu Ying Lun
kakek luarnya terlihat kaget, namun ditenangkan oleh Tek Ui
Sinkay suhengnya. Dan benar saja, keduanya kemudian
menyaksikan betapa Khong Yan bertarung dengan gagah berani
meski lawan masih lebih kuat darinya.
Gerakan-gerakan kakinya kini sudah dengan cepat dikenali Tek
Ui Sinkay yang terlihat manggut manggut dan berkata kepada
sutenya:
“Tenang Chit Sute, cucu luarmu tidak akan kalah dalam 100 jurus
sekalipun. Engkau perhatikan bagaimana gerakan-gerakan yang
diturunkan Siauw Sute kepada cucu luarmu itu ...... bagaimana,
hebat tidak ...”?
“Apa ...? Koay Ji maksudmu .....”?
“Benar sute..... anak itu memang sangat misterius sute, tetapi
jelas sangat mencintai orang orang yang dahulu membantu dan
membesarkan dirinya. Lihatlah bagaimana cucu luarmu itu
bergerak dengan warisan ilmunya, Thian Liong Pat Pian yang
Suhu kita sekalipun tidak menguasainya ......”
Dan memang saat itu, dengan cepat, cermat dan semakin
menikmati menggunakan ilmu langkah itu, Khong Yan
1296
menghindar dan kadang memukul sehingga membuat Geberz
terlihat bingung. Tetapi, karena langkah mujijat itu terkesan
urakan, Geberz merasa Khong Yan seperti mempermainkannya
dan akibatnya diapun semakin lama semakin murka. Seranganserangan
hebatnya meluncur dengan cepat dan dengan kekuatan
yang luar biasa. Tetapi, dengan kombinasi Ilmu Thian Liong Pat
Pian dan Iweekang perguruannya Pouw Tee Pwe Yap Sian
Sinkang Khong Yang meladeni tanpa terlampau membahayakan
posisinya.
“Accchhhh Chit Sute, lihatlah kemampuannya itu, cucumu itu
bahkan kelihatannya sudah sedikit melampaui tingkat kepandaian
kita sekarang ini.... sungguh luar biasa. Benar kata orang bijak,
ombak di belakang selalu mendorong ombak didepannya,
sungguh hebat, sungguh luar biasa ....”
“Accccch, jika cucuku saja sudah sehebat ini, bagaimana dengan
Siauw Sute kita itu Sam Suheng .....”? bertanya Cu Ying Lun
penasaran.
“Sejujurnya, dia terlampau misterius sute. Menurut surat wasiat
Suhu yang sudah engkau kirimkan itu, sejak saat ini hingga
kedepannya semua urusan Suhu harus dia yang mewakilinya.
Jika Suhu kita sampai begitu yakin dengan dirinya, engkau dapat
1297
bayangkan sendiri sampai dimana kiranya kemampuannya untuk
saat ini. Baiklah, sudah saatnya kita munculkan diri.....”
Sementara Khong Yan dengan penuh konsentrasi, sepenuh
kekuatannya melawan Geberz, Tio Lian Cu sudah nyaris selesai
menaklukkan lawannya yang sombong itu. Sementara Hong Lui
Buncu yang tadinya ingn maju, mengurungkan niatnya ketika
melihat munculnya Tek Ui Sinkay dan Cu Ying Lun yang dari
gerakan mereka dapat ditebaknya bahwa kemampuan mereka
sangatlah tinggi. Karena itu, dia akhirnya pada akhirnya
mengurungkan niatnya membantu wakilnya dan sebagai gantinya
dia membentak dengan suara keras:
“Berhenti ........”
Bentakannya bersamaan dengan bentakan Tio Lian Cu yang
dengan nyaring dan terdengar semua orang:
“Kena ....... dukkkkkk”
Dan akibatnya Lu Kun Tek terlontar ke belakang namun
kelihatannya tidak terluka parah. Tetapi, keadaan itu jelas
memukul kesombongan lawan dan membuat Hong Lui Buncu
terdiam sesaat, ingin marah susah, ingin membalas repot.
Sialnya, ketika melihat arena tersisa, meski Khong Yan terdesak,
1298
tetapi posisinya tidak pernah benar benar terancam. Dan
meloloskan diri serta bahkan memukul yang kadang membuat
Geberz kerepotan. Sadarlah dia, bahwa percuma melanjutkan
gangguan mereka malam itu. Selain itu, tugas mereka memecah
konsentrasi penjagaan lawan relatif sudah dilaksanakan dengan
baik.
“Geberz ..... kita pergi, missi sudah selesai ..... lawan terlampau
banyak” bentaknya dalam bahasa yang tidak dimengerti semua
orang, kecuali dirinya dengan Geberz. Dan tak berapa lama
diapun berlalu dan sengaja dibiarkan Tek Ui Sinkay dan Cu Ying
Lun serta Bu Bin An, Lim Ki Cing berdua.
Melihat kawannya sudah pergi, Geberz segera mencecar Khong
Yan dengan ilmu pukulan yang lebih berat. Tetapi, tetap saja
susah mengenai anak muda itu yang dengan gesit dan liat
bergerak disaat dan waktu yang tepat sehingga membuatnya tak
mampu terjangkau pukulan. Pada akhirnya Geberz melepas
pukulan tenaga dalam yang meluncur dengan kuat hingga tak ada
waktu bagi Khong Yan selain adu pukulan. Tetapi percaya diri
dengan iweekang perguruan, dengan berani Khong Yan
menyambut pukulan tersebut:
“Duaaaaarrrrrrr .......”
1299
Khong Yan memang terdorong hingga dua langkah ke belakang,
tetapi terlihat tidak sedikitpun terlihat terluka. Sementara Geberz
sudah meloncat menjauh mengejar kawan-kawan
seperjalanannya yang sudah terlebih dahulu merat.
“Sungguh hebat, sungguh hebat .....” terdengar Khong Yan
mendesis dan didekati Tio Lian Cu yang bertanya:
“Ji Suheng, apakah engkau baik-baik saja .....”? sambil
memandangi sinar mata Khong Yan, dan segera dia gembira
karena Khong Yan memang terlihat baik-baik saja dan sama
sekali tidak terluka.
“Tidak mengapa Sam Sumoy ..... meskipun dia lebih kuat, tetapi
masih belum dapat mengapa-apakan diriku. Tetapi, tingkat
kemampuannya memang luar biasa, nyaris sehebat dan sekuat
Suhu .....”
“Benar sekali Ji Suheng ...... kelihatannya dia salah satu tokoh
asing yang datang untuk membantu para penjahat.
“Yan Jie, apakah engkau baik-baik saja .....” Cu Ying Lun segera
mendekat dan jelas khawatir dengan keadaan cucunya itu
1300
“Accchhhh kong-kong, Yan Jie baik-baik saja. Bagaimana
keadaan ayah dan ibu, apa mereka juga ikut datang....”?
“Mereka memutuskan menjaga perguruan kita Yan Jie ...... mari,
engkau tentu sudah mengenal Sam Suhengku, Pangcu Kaypang
yang gagah perkasa itu ....”
“Sudah tentu kenal kong-kong .......” sambil berkata demikian
Khong Yan kembali memberi salam dan hormat kepada Pangcu
Kaypang tersebut.
Setelah saling berkenalan dan memberi hormat dan bercakapcakap
beberapa saat lamanya, tiba-tiba Tio Lian Cu teringat
dengan perjanjian mereka dengan Thian Liong Koay Hiap. Diapun
berkata:
“Ji suheng, kita harus membantu Koay Hiap di selatan .......”
suaranya jelas dan terdengar semua orang disitu.
“Accchh, benar Sam Sumoy .... kong-kong, locianpwee semua,
kami mohon diri sejenak, masih ada yang harus dikerjakan .....”
Tetapi belum lagi mereka berdua melayang pergi, terdengarlah
Tek Ui Sinkay yang berkata untuk menginformasikan kejadian
yang baru saja di sampaikan kepadanya beberapa saat lalu
1301
sebelum memutuskan memperkuat dan meninjau keadaan di
sekitar pintu utama Benteng:
“Kalian berdua lebih tidak usah lagi mencarinya, Koay Hiap baru
saja terluka karena di keroyok bertiga tokoh-tokoh hebat lawan,
masing-masing Mo Hwee Hud, Liok Kong Dji dan Sam Boa Niocu.
Tetapi, untungnya dia hanya menderita luka ringan, bahkan
menurut penyampaian Lam Hay Sinni yang membawanya pergi
untuk diobati, dalam jangka waktu 3,4 jam kedepan Koay Hiap
akan menemui kita di dalam Benteng Keluarga Hu ......”
“Apa? Thian Liong Koay Hiap sampai terluka...”? desis Khong Yan
kaget dan seperti antara percaya dan tidak percaya.
“Yan Ji, untuk dewasa ini kita akan mustahil dapat menemukan
seseorang yang akan tidak terluka jika menghadapi sekaligus tiga
tokoh sekelas Mo Hwee Hud, Sam Boa Niocu istrinya dan Liok
Kong Djie. Seorang saja dari mereka bertiga sudah amat sulit
dicarikan tandingannya, apalagi mereka bertiga turun bersama
mengeroyok Thian Liong Koay Hiap ...... tetapi itupun jika
memang benar menurut Sam Kun, dia hanya terluka ringan
belaka. Dan Lam Hay Sinni juga menitipkan pesan yang sama,
bahwa 3-4 jam kedepan, Koay Hiap akan menemui kita di dalam
1302
Benteng.....” berkata Cu Ying Lun menjawab kegelisahan
cucunya.
Padahal, yang gelisah bukan hanya Khong Yan seorang, tetapi
juga Tio Lian Cu, Tek Ui Sinkay dan semua yang hadir saat itu.
Mereka jelas bergelisah karena saat itu, bukan rahasia lagi jika
Koay Hiap adalah tokoh yang paling depan berhadapan langsung
dengan lawan, dan itu sebabnya berita mengenai keadaan Thian
Liong Koay Hiap begitu penting bagi mereka. Mereka semua
paham belaka apa artinya jika benar berhadapan sekaligus
dengan Mo Hwee Hud, Liok Kong Djie dan Sam Boa Niocu. Salah
seorang dari ketiganya saja sudah demikian hebat, sudah
setingkat Bu Te Hwesio, dan sekarang, Koay Hiap seorang diri
menghadapi ketiganya sekaligus. Bagaimana mereka akan
mudah percaya bahwa Thian Liong Koay Hiap memang benar
keadaannya baik-baik saja. Jangan-jangan malah kondisi tokoh
itu sangat mengkhawatirkan......???
Tetapi, menjelang subuh, sebagaimana pesan Lam Hay Sinni,
benar saja Koay Ji kembali munculkan dirinya kembali sebagai
Thian Liong Koay Hiap. Bahkan sekali ini munculkan dirinya
kembali bersama dengan Sie Lan In yang disambut sangat
gembira oleh semua orang, tentunya termasuk Khong Yan dan
Tio Lian Cu yang juga gembira meihat kedatangan Sie Lan In.
1303
“Koay Hiap..... Suci, senang kalian berdua akhirnya tiba.
Bagaimana sebetulnya yang benar, bukankah menurut pesan
Lam Hay Sinni locianpwee engkau terluka Koay Hiap....”?
bertanya Tio Lian Cu, pertanyaan yang juga sebenarnya menjadi
pertanyaan semua orang saat itu.
“Cuwi sekalian..... berkat bantuan Lam Hay Sinni Subo, lohu bisa
cepat sehat kembali setelah benturan dengan pihak lawan berapa
jam yang lalu. Tetapi, mohon maaf, ada kebutuhan mendesak
yang memaksa lohu saat ini untuk harus segera bertemu sebentar
dengan kawan-kawan dari Persia. Hal ini sangat mendesak dan
penting untuk memastikan apakah racun maut itu akhirnya dapat
diantisipasi serta dapat dimusnahkan ataukah sebaliknya kita
harus bekerja keras sepanjang hari nanti. Karena itu, maaf.....”
setelah berkata begitu, Koay Ji memandang Tek Ui Sinkay dan
Cu Ying Lun yang juga hadir disitu dan kedua orang itu terlihat
mengangguk tanda menyetujui perkataan Koay Ji.
“Kami ikut ....” berkata Tio Lian Cu yang diikuti oleh Khong Yan,
dan berangkatlah keempat anak muda itu untuk menemui Ilya, Yu
Kong dan juga Yu Lian. Tidak lama waktu yang mereka butuhkan
untuk menemukan arena pertarungan tadi. Tetapi ketika tiba
disana, mereka tidak dapat menemukan kelima tokoh utama yang
mereka cari itu. Hanya saja, jelas telah terjadi pertarungan hebat
1304
di sekitar tempat tersebut, dan selain itu juga ada tanda-tanda
yang sepertinya sengaja ditinggalkan untuk mereka temukan. Dan
dengan mengikuti tanda-tanda tersebut serta memperhatikan
petunjuk-petunjuk disana, merekapun dapat menemukan sebuah
tempat yang tidak terletak jauh dari tepi sungai. Berada tepat di
tengah hutan, mereka menemukan sebuah tenda yang sangat
mewah meski tidak berukuran sangat besar namun jelas
merupakan tempat mewah di tengah hutan.
Belum cukup? tenda besar nan mewah itu terlihat berada dalam
perlindungan ketat di sekelilingnya oleh sejumlah manusia yang
bertindak serta juga berpakaian seperti pengawal. Memandang
serta memperhatikan mereka semua segera membuat Koay Ji
berkesimpulan bahwa mereka itulah Pasukan Pengawal Istimewa
dari tokoh besar asal Persia yang sudah dikenalnya. Sikap
mereka, kedisiplinan serta kewaspadaan yang luar biasa mereka
tunjukkan, maka mudah menebak siapa mereka dan seperti apa
status dan pekerjaan mereka
Maka menjadi tidak heranlah Koay Ji ketika kedatangannya
bersama sahabat sahabatnya sudah mereka antisipasi dan sudah
mereka tunggu-tunggu. Segera terbukti ketika mereka baru saja
tiba, semua pengawal terlihat berdiam diri dan hanya memberi
isyarat bagi Koay Ji dan kawan-kawannya untuk menuju tenda
1305
yang paling besar. Ada 3 tenda yang berdiri berdampingan itu,
dengan tenda terbesar berada atau terletak dibagian tengah.
Penerangan di tenda bagian tengah masih terlihat, sementara
kedua tenda pengapitnya sudah terlihat gelap gulita. Mungkin
penghuninya sudah terbaring dan beristirahat karena memang
waktunya lebih dari tepat untuk tidur. Menjelang pagi hari. Ada
beberapa saat Koay Ji memandang ke arah Tenda Besar, sampai
kemudian terdengar suara Ilya:
“Selamat datang Thian Liong Koay Hiap, kami sudah beberapa
saat berada disini dan sedang menantikan kedatangan anda
bersama dengan dengan teman-teman Pendekar Muda
Tionggoan yang hebat-hebat ...... mari ....”
Mendnegar undangn itu, tanpa sungkan-sungkan lagi, Koay Ji
kemudian melangkah menuju tenda yang agak besar itu. Tentu
saja dengan diikuti oleh Sie Lan In, Tio Lian Cu dan Khong Yan
yang melangkah tepat di belakangnya. Meski sebuah tenda, tetapi
hebatnya, sepuluh sampai lima-belas orang masih dapat
ditampung dan lebih dari cukup untuk bercakap-cakap di
dalamnya. Lebih hebatnya lagi, masih tersedia ruang untuk
sebuah meja berkaki pendek dimana makanan dan buah-buahan
sudah tersedia di atasnya. Siap untuk dinikmati. Hal yang mau
tidak mau membuat Koay Ji dan kawan-kawannya menjadi kagum
1306
dan memuji apa yang tersaji dan berada tepat di hadapan mereka
semua:
“Terima kasih atas jamuan Panglima Arcia serta juga kawankawan
Liga Pahlawan Bangsa Persia. Sungguh luar biasa, tempat
yang teramat sangat istimewa di tengah hutan lebat yang tak
bertuan. Siapapun akan sulit menduga....” puji Koay Ji terhadap
tempat istimewa Panglima Arcia.
“Panglima Arcia berterima kasih atas pujian Koay Hiap, tetapi,
silahkan duduk lebih dahulu biar kita bercakap-cakap dengan
tenang dan nyaman ...” sambut Ilya dengan sopan dan manis budi
setelah sebelumnya bercakap sejenak untuk menterjemahkan
kalimat-kalimat tersebut kepada Panglima Arcia.
“Baik, terima kasih banyak Panglima Arcia, kami sepertinya cukup
merepotkan saat ini. Karena itu, sekali lagi, mohon maaf dan
banyak terima kasih.......” Koay Ji kemudian memilih tempat
duduk yang disediakan buat mereka dan diikuti Sie Lan In di
sebelahnya disusul Tio Lian Cu dan terakhir adalah Khong Yan.
Mereka berhadapan dengan Panglima Arcia yang di samping
kirinya duduk dengan wibawa namun menyiratkan kecerdikan
adalah Shoroashi, sementara yang berada tepat disebelah
kanannya adalah Ilya. Sementara berhadapan dengan tokoh1307
tokoh Persia itu pada sudut yang lainnya, duduk secara
berdampingan Yu Kong dan Yu Lian. Kedua kakak beradik asal
Hong Lui Bun.
“Koay Hiap, bagaimana perkembangan selanjutnya dan apa yang
mestinya kami lakukan di tengah kejadian seperti malam ini..”?
tanya Ilya, kembali menterjemahkan kata-kata dan kalimat
Panglima Arcia.
“Kawanan penjahat sekali ini ternyata benar-benar datang dengan
kekuatan terhebat yang mereka punyai. Bahkan seorang tokoh
yang amat hebat, konon kawannya menyebut atau memanggil
namanya “GEBERZ” ketika berkelabat mundur dan pergi, ikut
menyerang pintu masuk utama. Entah darimana datangnya, tetapi
menurut kawan-kawan muda ini, kehebatannya sungguh tak
terukur. Sementara cayhe sendiri sampai terluka ketika
menghadapi gempuran mereka di hutan selatan karena tokohtokoh
utama mereka, selain Geberz, ternyata ikut meluruk ke
hutan selatan. Mengenai tokoh hebat bernama GEBERZ itu,
cayhe pikir, kemungkinan besar adalah tokoh berasal dari
Persia......”
“Apakah benar-benar Gebersz sendiri pada akhirnya munculkan
dirinya? Bagaimana ciri-ciri dan potongan tubuh tokoh yang
1308
dipanggil Gebersz itu ....”? tanya Ilya tanpa menunggu Panglima
Arcia bertanya. Hanya, setelah bertanya, diapun menjelaskan
pertanyaan dan juga perkataan Koay Ji kepada Panglima Arcia
yang menjadi sama terkejut mendengar kabar itu. Koay Ji melirik
Khong Yan dan kemudian mengangguk memberi tanda agar
pemuda itu menjelaskan dan menjawab pertanyaan barusan yang
dilontarkan oleh Ilya:
“Tokoh hebat itu disebut Gebersz oleh kawannya sebelum
mereka berkelabat pergi. Potongan tubuhnya tinggi besar,
matanya berkilat aneh dan berbeda dengan sorot mata rata-rata
kami di Tionggoan ini. Rambutnya juga mirip dengan rambut
kawan-kawan dari Liga Pahlawan Persia, berbeda dengan jenis
rambut kami di Tionggoan. Kepandaiannya, terus terang saja,
masih belum dapat kutandingi, untungnya kami masih dapat
meloloskan dari pertarungan hebat melawan dirinya tadi” jawab
Khong Yan tanpa melebihkan ataupun mengurangi.
“Hmmmm, jika memang demikian ptongannya, maka tak
kuragukan jika itu adalah Geberz. Kelihatannya dugaan bahwa
ada tokoh lain yang datang dan mendampingi Gebersz serta
bahkan bekerjasama dengannya semakin tidak terbantahkan.
Karena pengintaian kami menggunakan ilmu khas Persia selama
ini, bahkan hingga sedekat sekarang ini, masih tetap tidak mampu
1309
untuk menembus tirai yang sepertinya selalu melingkupinya atau
melindunginya. Sungguh susah masuk diakal kami, dalam jarak
yang sedekat ini, kami masih saja tak dapat melacak dimana dia
berada. Karena itu, tebakan dan dugaan kami, dia berada
bersama seorang berkepandaian ilmu sihir yang hebat dan kuat,
mungkin sekuat Panglima Arcia atau bahkan lebih......” jawab
Ilyas menganalisis kehadiran dan kemunculan Gebersz.
“Accchhhhh, menurut lohu bukan lagi kemungkinan, tetapi
memang seperti itulah adanya. Karena selama ini, lohu hampir
selalu bertemu dengan tokoh mereka yang memiliki kepandaian
Ilmu Sihir dan Ilmu Mujijat yang hebat luar biasa. Karena itu, jika
memang akhirnya kita dapat mengetahui dan mengenali Gebersz,
kami akan selalu berusaha untuk memberitahu dan
menginformasikan keberadaanya kepada Panglima Arcia. Mohon
maaf, karena keadaan di dua posisi tadi, serta repotnya meladeni
tokoh-tokoh hebat mereka, sampai kami alpa menginformasikan
tokoh itu, bahkan terlambat menemui kawan-kawan semua
disini.....”? berkata Thian Liong Koay Hiap sedikit terlihat
menyesal terkait urusan Gebersz.
“Koay Hiap, sejak awal menerima penugasan, kami sudah
diberitahu secara jelas bahwa urusan Gebersz di Tionggoan ini
bakalan menjadi urusan yang sangat rumit dan membahayakan.
1310
Gebersz akan melibatkan diri dengan jago-jago dari berbagai
daerah asing dan bahwa kami juga diharuskan bertemu dan
berkawan dengan jago-jago di Tionggoan. Menurut Guru Agung,
kami terutama harus bersahabat dengan jago pertama yang kami
jumpai, karena menghadapi Gebersz sendirian nyaris mustahil.
Bukan karena kami kalah hebat dengan Gebersz, tetapi karena
Gebersz bernaung dan bersekutu dengan kawan-kawannya dan
membentuk kekuatan yang nyaris sulit ditandingi jika kami
menghadapi mereka sendirian. Karena itu, kami sama sekali tidak
menyalahkan Koay Hiap dan kami menunggu kabar bagaimana
cara kita sebaiknya menghadapi komplotan berbahaya itu....”
berkata Ilya, sekali ini bertindak menterjemahkan kata-kata
Panglima Arcia.
“Baiklah..... sebelum membicarakan rencana kedepan lebih jauh,
bagaimana dengan racun maut dan berbahaya itu? Apakah
akhirnya dapat dilumpuhkan...”? bertanya Koay Ji yang memang
amat peduli dan sangat khawatir menghadapi ancaman racun
maut dan amat berbahaya itu.
“Koay Hiap, kamipun mohon maaf. Memang benar, racun lawan
sudah dapat kita lumpuhkan, tetapi korban di pihak kita juga
tidaklah sedikit. Hal ini dikarenakan ternyata ada dua tokoh
beracun yang sangat hebat berdiri di pihak lawan, dimana salah
1311
seorangnya bermain dibalik kegelapan. Kemungkinan ada
puluhan korban yang jatuh di tepi sungai sana dan hanya sedikit
dari mereka yang dapat kami selamatkan dengan obat
pemunahnya. Bahkan Pasukan Pelindung Panglima juga sempat
terluka amat parah, tetapi untungnya dapat kami selamatkan tepat
pada waktunya. Kabar baiknya adalah, racun maut dan
berbahaya mereka, dalam jumlah yang amat besar sudah
terpakai semua, dan menilik jumlah yang mereka miliki, semua
racun panas berbahaya itu sudah terpakai dan tak akan
membahayakan acara Hu Pocu nantinya.......” berkata Ilya,
sekaligus juga melaporkan apa yang terjadi di pinggir sungai tadi.
“Selain itu, benar perkataan Koay Hiap, kawanan pembawa racun
itu bukan hanya si jago racun dan pembawa racunnya, tetapi juga
dilindungi beberapa jago yang punya kepandaian yang sangat
hebat. Itu pula sebabnya korban di pihak kawan-kawan Kaypang
dan Benteng keluarga Hu cukup banyak, karena kami
menemukan lawan yang bertarung dengan kemampuan hebat.
Bahkan mereka tidak segan-segan untuk mengeroyok kami dan
terutama mengerubuti Panglima Arcia untuk saling bantu
membantu. Itulah sebabnya kami memiliki kesempatan yang amat
sedikit dan amat sempit untuk membantu mereka yang sempat
terkena serangan beracun lawan itu. Selain itu, rata rata lawan
1312
yang mengerubuti kami memiliki kepandaian yang bahkan tidak
berada jauh di bawah kemampuan kami masing-masing.
Sungguh luar biasa.....” berkata Ilya melaporkan pertarungan di
tepi sungai, dan Koay Ji bisa membayangkan betapa serunya
pertempuran tersebut.
“Panglima Arcia, kawan-kawan sekalian, kelihatannya meskipun
belum segenap kekuatan Bu Tek Seng Pay dikerahkan, tetapi
sebagian besar sudah munculkan diri di Beng Keluarga Hu.
Dugaan lohu sejak awal, mereka memang bertujuan utama untuk
sekedar unjuk kekuatan dan menakut0nakuti segenap perguruan
silat di Tionggoan. Tetapi, apa yang akan terjadi setelah besok,
akan sangat menentukan apakah mereka akan memutuskan
menyerang, atau masih menahan diri menantikan saat yang tepat
tiba. Karena itu, pekerjaan paling berat sudah kita kerjakan malam
ini, bahkan sampai merepotkan Panglima Arcia sendiri untuk
turun tangan dalam pertempuran. Tetapi, pertarungan yang
sebenarnya akan dimulai setelah besok hari, setelah mereka
mengukur kekuatan kita, kekuatan Tionggoan dan kekuatan baru
yang mereka temukan malam ini. Mau tidak mau, mereka harus
dan akan mengukur kemampuan mereka kembali dengan
munculnya kekuatan Liga Pahlawan Persia dan kawan-kawan
dari Hong Lui Bun. Kemungkinan, menurut dugaanku, mereka
1313
menunggu sampai besok untuk memutuskannya. Karena itu, lohu
mengusulkan apa yang akan kita kerjakan bersama nanti,
sebaiknya kita putuskan setelah besok hari.....” saran Koay Ji atau
Thian Liong Koay Hiap.
Setelah beberapa saat merenungkan apa yang disampaikan oleh
Thian Liong Koay Hiap, tidak berapa lama kemudian terdengar
analisa dan jawaban yang diberikan dari pihak Liga Pahlawan
persia. Tetapi, sekali ini bukan lagi oleh Panglima Arcia secara
langsung, tetapi oleh kawannya yang lainnya lagi, seorang tokoh
Perempuan Persia bernama Shouroushi, dan langsung
diterjemahkan sebagaimana biasanya oleh Ilya tentu saja;
“Koay Hiap, jika aku tidak keliru, engkau seperti sudah
memikirkan bukan hanya apa yang akan dan sedang terjadi pada
hari-hari terakhir ini, tetapi bahkan hal-hal yang akan terjadi
dikemudian hari. Jika memang benar bahwa kekuatan mereka
belum sepenuhnya munculkan diri dan baru berupa “pertunjukan
kekuatan”, maka lawan kita benar-benar sangat hebat dan sangat
mengerikan. Mereka semua yang datang semalam sudah teramat
hebat, meski rata-rata masih belum sanggup menandingi
kemampuan Panglima Agung. Tetapi, menurut Panglima sendiri,
Koay Hiap berada tidak dibawah kemampuannya, namun
semalam engkau sampai terluka meskipun memang dikerubuti
1314
sampai 3 tokoh lawan. Itu berarti, kekuatan mereka memang tak
dapat kita abaikan apalagi kita remehkan. Maka jika memutuskan
menunggu mereka untuk melakukan analisa dan menyusun
kekuatan yang baru, maka akan semakin sulit kita menandingi
mereka.....”
Koay Ji terlihat merenung sejenak, tetapi kemudian setelah
menarik nafas panjang diapun berkata dengan suara perlahan:
“Sesungguhnya lohu masih penasaran dan masih menunggu
“seseorang”. Jika Bu Tek Seng Pay mengirim begitu banyak tokoh
hebat mereka, maka bisa dipastikan, masih ada seorang tokoh
terhebat mereka yang akan muncul pada hari perayaannya. Tidak
salah lagi, besok adalah hari kemunculannya, atau tepatnya hari
ini, dan lohu rasa tidak bakal salah lagi. Karena itu, untuk
memperoleh gambaran menyeluruh apa yang sebaiknya kita
lakukan kelak, sebaiknya kita bersabar dan menunggu setelah
hari ini berlalu......”
“Hmmm, engkau benar Koay Hiap. Bagaimana kuusulkan jika kita
bertemu kembali 2 atau 3 hari kedepan karena ada hal yang perlu
kami selesaikan dalam satu atau dua hari ini. Pada saatnya
kamipun siap .....”
1315
“Baik, kita tetapkan saja demikian, bagaimana kalau bertemu
malam hari di tempat ini saja....” usul Koay Ji
“Baik, tetapi jika ada perubahan akan kami sampai secepatnya....”
================
“Cuwi sekalian... terima kasih atas kehadiran dan ucapan selamat
yang disampaikan dari semua penjuru. Tetapi, Lohu harus
mengatakan sesuatu untuk perayaan yang demikian meriah
sambil ikut mengucapkan terima kasih kepada cuwi sekalian.
Yang pertama, perayaan ini adalah yang perayaan yang paling
meriah, karena bahkan musuh nomor 1 Kang Ouw sekalipun,
yakni Bu Tek Seng Ong datang mengucapkan selamat. Perayaan
ini oleh Bu Tek Seng Pay yang dipimpin Bu Tek Seng Ong, telah
dimanfaatkan untuk pamer dan unjuk kekuatan sambil
mengancam kita semua. Jika cuwi sekalian menyaksikan acara
yang meriah ini, maka sebetulnya semua boleh berlangsung
setelah semua musuh yang mencoba menyusup dan meracuni
cuwi sekalian dipukul mundur di hutan selatan, tepi sungai dan di
pintu masuk. Bahkan, tokoh-tokoh utama Bu Tek Seng Pay
berhasil digebah mundur setelah ingin pamer dan ingin melukaiku
serta banyak tokoh di Benteng Keluarga Hu kami ini. Bukan
karena lohu menjadi semakin hebat dan dapat menandingi Bu tek
1316
Seng Ong, tetapi karena semua rencana melawan para penjahat
itu disusun dan dilaksanakan oleh Thian Liong Koay Hiap
bersama Tek Ui Sinkay. Bahkan tokoh yang membantu Lohu
untuk memukul mundur Bu Tek Seng Ong tadi adalah Thian Liong
Koay Hiap sendiri. Lohu sengaja menyampaikan ucapan terima
kasih dan pengumuman ini, karena merasa jika pengganti Lohu
dalam diri Thian Liong Koay Hiap dan Tek Ui Sinkay sudah dapat
maju menggantikan generasi tua. Ucapan terima kasih ini,
sekaligus juga untuk meyakinkan kita semua bahwa Bu Tek Seng
Pay dan Bu Tek Seng Ong bukanlah tokoh yang tidak dapat kita
kalahkan. Sahabat mudaku Tek Ui Pangcu dan Thian Liong Koay
Hiap sudah menunjukkan bahwa melawan mereka bukan sesuatu
yang tidak mungkin kita kerjakan. Sebagaimana jabatan
BENGCU hanya disematkan kepada Lohu, maka selanjutnya lohu
menyematkan jabatan BENGCU ini kepada Pangcu Kaypang,
Tek Ui Sinkay. Karena itu, sambil menutup pertemuan ini,
mengucapkan terima kasih kepada cuwi sekalian, lohu juga ingin
mengingatkan agar kita semua bersatu untuk melawan para
penjahat itu. Hanya dengan bersatu maka kita mampu melakukan
perlawanan, bahkan menumpas kawanan penjahat yang
mengganas itu. Selanjutnya Lohu bertugas hanya untuk sekedar
membantu Tek Ui Pangcu dan Thian Liong Koay Hiap. Terima
kasih atas kunjungan dan ucapan cuwi sekalian. Pertemuan hari
1317
ini lohu tutup dengan penuh sukacita ..... semoga selamat tiba di
tempat masing-masing ......”
Bukan main terkejutnya Tek Ui Sinkay, Pangcu Kaypang
menerima penyematan yang tidak diskenariokan dan juga
tidaklah dibicarakan dengannya sebelumnya. Bahkan tanpa
menanyakan kesediaannya sebelumnya. Lebih terkejut lagi Koay
Ji mendengarkan apa yang disampaikan Hu Sin Kok ketika
menutup Pesta Perayaan Ulang Tahunnya yang berlangsung
sangat meriah itu. Tetapi keduanya tidak bisa berkata apa-apa,
tidak bisa menyatakan persetujuan ataupun penolakan karena
memang adalah hak dan sepantasnya Hu Sin Kok berbicara
menutup pesta dan acaranya yang meriah itu. Dan tidak pada
tempatnya mereka menyela, karena acara itu milik Hu Pocu.
Sepertinya Hu Sin Kok memang sengaja memilih hari tersebut
untuk menyampaikan pikiran, pendapat dan pilihannya pribadi
untuk masa depan Kang Ouw, dan dia melakukannya dengan
sangat baik. Karena itu, nama Tek Ui Sinkay dan Kaypang justru
menjadi semakin berkibar karena menjadi pemimpin Rimba
Persilatan melawan Bu Tek Seng Pay.
Sementara Thian Liong Koay Hiap atau Koay Ji sendiri menjadi
kelabakan ketika menerima penugasan langsung dengan
didengar semua orang. Peristiwa yang pada akhirnya membuat
1318
nama THIAN LIONG KOAY HIAP menjadi semakin dan sangat
terkenal. Sekaligus, membebani Koay Ji untuk mengerjakan
banyak hal penting dan berkaitan dengan nasib dan keselamatan
banyak orang, untungnya dikerjakan dengan Sam Suhengnya,
Tek Ui Sinkay.
Pertemuan itu sendiri belum langsung bubar. Karena untuk
membicarakan hal-hal penting lainnya pada malam hari, Hu Sin
Kok mengundang tokoh-tokoh utama untuk jamuan terakhir. Bisa
dipastikan Hu Sin Kok ingin membicarakan hal-hal yang sudah
disampaikannya dengan gaya dan cara mengejutkan pada
penutupan upacara hari ulang tahunnya. Betapapun,
keputusannya memang sangat mengejutkan meskipun banyak
yang bisa menerima pernyataannya tersebut. Terutama
mengingat bahwa Hu Sin Kok memang sudah cukup tua untuk
menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang pemimpin seperti
sebelumnya. Meski ketokohan dan kecerdasannya amat
dibutuhkan, tetapi dukungan fisik tentunya tidak lagi seperti masamasa
keemasan tokoh tersebut sebelumnya. Jadi, bisa diterima
akal.
Tetapi pada saat bersamaan Koay Ji yang mendengar ucapan Hu
Sin Kok selain menjadi kaget, juga merasa risih dengan kawan1319
kawannya: Sie Lan In, Khong Yan dan Tio Lian Cu yang langsung
memberinya selamat:
“Waaaaaah, selamat Koay Hiap, sungguh sebuah pengangkatan
yang sempurna”, Khong Yan berbicara secara jujur sebetulnya.
Hal yang juga diiyakan oleh Tio Lian Cu sambil tersenyum senang
menatapnya, tetapi yang oleh Sie Lan In ditanggapi dengan dingin
belaka.
“Hmmmmm, tidak sepantasnya begini ......” dengus Koay Ji yang
kemudian berjalan menjauhi belakang panggung dan tak lama
kemudian berkelabat pergi. Awalnya Tio Lian Cu dan Khong Yan
menduga bahwa Koay Ji akan berlalu dan kembali dalam waktu
tidak akan lama. Tetapi, dugaan mereka berdua keliru. Adalah
Nona Sie Lan In yang dapat menduga dan menebak dengan tepat
ketika beberapa saat mereka menunggu dia berkata:
“Hmmmm, dia tidak akan kembali dalam waktu singkat. Karena
sesungguhnya Thian Liong Koay Hiap sendiri sangatlah sadar
bahwa dia masih belum cukup mampu mengemban tugas berat
itu ......”
“Toa Suci, tetapi, kehebatannya ....” potong Tio Lian Cu
1320
“Bukan itu Sam Sumoy, bukan kehebatan dan kepandaiannya
yang mujijat itu, tetapi karena ada hal-hal lain yang sengaja
disembunyikannya. Tetapi, bagaimanapun kita mesti
membantunya kelak......” ujar Lan In berteka-teki, tetapi karena
sikap dan perbawanya yang serius, Khong Yan dan Tio Lian Cu
tidak bertanya lebih jauh lagi. Meski sebetulnya banyak tanya di
kepala mereka saat itu.
Sementara itu, tidak berapa lama setelah upacara penutupan
pesta dan kurang lebih sejam atau dua jam sebelum jamuan
malam Hu Sin Kok sebelum perpisahan, Tek Ui Sinkay baru saja
memasuki kamarnya;
“Sam Suheng .......” teguran lemah itu sudah dengan tepat ditebak
oleh Tek Ui Sinkay. Siapa lagi jika bukan Siauw Sutenya. Thina
Liong Koay Hiap alias Koay Ji yang datang berkunjung? tetapi,
dia menjadi kaget karena sang sute termuda tidak lagi dalam
dandanan sebagai Thian Liong Koay Hiap tetapi dalam tampilan
sebagai Bu San yang meski berbeda tetapi lebih mirip dengan
Koay Ji yang sebenarnya bagi mereka yang sudah mengenalnya
secara dekat.
“Lohu tahu engkau akan menemuiku disini siauw sute .....
hmmmmm, memang apa yang disampaikan Hu Pocu tadi
1321
terlampau gegabah. Jangankan engkau siauw sute, bahkan
suhengmu sendiri juga terkejut dengan penyampaiannya yang
terlampau tergesa itu. Tetapi, sangat tidak mungkin kita dapat
menyela pembicaraannya di acara yang memang kelihatannya
dipersiapkannya secara khusus tersebut. Karena itu, malam nanti,
kita harus bertanya apa yang dimaksudkan Hu Pocu dengan
menyebutkan nama suhengmu serta juga nama samaranmu pada
kalimat ataupun kata-kata penutupnya tadi. Semoga semua akan
lebih jelas sebelum kita semua meninggalkan Benteng Keluarga
Hu.....”
“Sam Suheng....... engkau tahu jika Thian Liong Koay Hiap adalah
samaranku, dan amat tidak mungkin menerima usulan Hu Pocu
untuk menjadi Thian Liong Koay Hiap selamanya...” protes Koay
Ji
“Sebentar, sabar Sute ...... apa sebenarnya kesulitanmu sehingga
sulit untuk tampil sebagai dirimu sendiri, entah sebagai Bu San
ataupun sebagai Koay Ji seperti yang dikenal Khong Yan sutemu
dan Chit Suhengmu itu...”? berkata Tek Ui Sinkay untuk
menyabarkan Koay Ji yang terlihat sedikit panik
“Acccchhhhh maafkan sutemu ini.... maafkan. Sebetulnya.....
sebetulnya....” Koay Ji sendiri kebingungan menjelaskan apa
1322
alasannya untuk menanggalkan samarannya sebagai Thian Liong
Koay Hiap.
“Apakah sebetulnya karena engkau main-main saja Sute ....”?
tanya Tek Ui Sinikay sambil tersenyum simpul membayangkan
kebenaran dugaannya. Diapun maklum menilik usia sutenya yang
masih amat muda itu.
“Sebenarnya memang begitu Suheng..... aku hanya senang saja
memakai topeng buatanku sendiri yang berjumlah 5 buah, dan
yang paling kusenangi adalah topeng yang dikenal sebagai Thian
Liong Koay Hiap dan juga topeng sebagai seorang pemuda
bernama Tang Hok. Tetapi, sebetulnya ada alasan yang lain
mengapa sulit untukku terus menerus tampil sebagai Bu San....
ini karena .... karena ....” tetap saja Koay Ji sulit menjelaskannya.
Terbata-bata kalimatnya.
“Karena apa Sute ......” desak Tek Ui Sinkay
“Acccchhh, ceritanya panjang suheng.....”
“Sepanjang apapun lohu akan menunggu engkau
menceritakannya sute...” kejar Tek Ui Sinkay tambah geli melihat
sutenya sedikit gelisah.
1323
“Yang sebenarnya suheng, samaranku sebagai Thian LiongKoay
Hiap adalah untuk menyembunyikan identitas dari seorang kakek
dan cucunya yang membawa berita kematian Ciangbudjin Siauw
Lim Sie menuju kuil Siong San. Tetapi, celakanya, waktu di Siong
San, sebagai Bu San hubunganku dengan Non Sie Lan In, murid
dari Subo Lam Hay Sinni sangatlah baik. Tetapi, sebagai Thian
Liong Koay Hiap justru sebaliknya, Nona itu selalu cari perkara
untuk menantangku melakukan pibu. Jadi rada sulit untuk
menjelaskan samaranku kepadanya.....”
“Accchhhhh, begitu rupanya kisah dan kesulitanmu Sute....
bolehkah Suhengmu ini menebak kejadian lainnya.....”? tanya Tek
Ui Sinkay sambil tersenyum, sekali ini senyumnya terlihat geli dan
memahami perasaan Koay Ji
“Silahkan Sam suheng......”
“Sebagai Bu San engkau kelihatannya mencintai gadis cantik
murid Lam Hay Sinni itu bukan....? sayangnya sebagai Thian
Liong Koay Hiap kalian seperti ada ganjalan berat jika bukannya
bermusuhan. Apakah memang demikian adanya.....”? tuduh Tek
Ui Sinkay sambil tersenyum menggoda adik seperguruannya itu.
Wajah Koay Ji sontak berubah menjadi merah padam.
1324
“Ech, achhh, Sam Suheng.... sebenarnya..... bukan
begitu......tapi.....” Koay Ji jadi gelagapan ketika “ditembak” terus
terang oleh suhengnya
“Ech,..... ach,,.... ech.... ach apaan, seorang laki-laki harus berani
berterus terang. Apalagi terhadap suhengmu yang menjadi wali
dan mewakili Suhu sebagai orang tua bagimu, masak engkau
bersikap seperti itu sute.....”? tegur Tek Ui Sinkay keren, padahal
hatinya geli bukan main, berbareng kasihan melihat sute kecilnya
itu sesaat tercenung, gelagapan. Tetapi yang kemudian terlihat
hebatnya adalah, setelah ditegur olehnya, dengan cepat Koay Ji
menemukan dirinya, berubah menjadi amat tenang dan malah
dengan cepat menjawabnya penuh ketegasan.
‘Engkau benar Sam suheng, aku memang menyukainya....” tegas
suara Koay Ji yang membuat suhengnya tertegun dan bangga
sekaligus. Dia bisa melihat jelas sekaligus merasakan apa yang
bergejolak dalam batin sutenya, tetapi setelah dia diingatkan,
dapat menentukan sikap dengan tegas.
“Menyukai atau mencintainya.....”? kejar Tek Ui Sinkay, ingin
menegaskan meski sudah dapat menyimpulkannya sendiri.
“Terus terang dua-duanya Suheng ......”
1325
“Bagus, begitu baru sikap seorang jantan sejati. Setidaknya
suheng kini percaya dan paham mengapa engkau begitu
kerepotan untuk selalu berganti rupa dari Bu San menjadi Tian
Liong Koay Hiap dan cenderung jarang menampilkan Koay Ji.
Baiklah, untuk urusan itu dapatlah dipahami seutuhnya, tetapi
untuk menolak permintaan Hu Pocu sama sekali tidak tepat. Jika
engkau tampil sebagai Thian Liong Koay Hiap, maka wibawa dan
kata katamu akan dengan mudah diterima banyak orang, tetapi
sebagai Bu San atau Koay Ji, akan kerepotan orang untuk
mempercayaimu. Karena itu, biarlah engkau untuk sementara
tetap sebagai Thian Liong Koay Hiap, karena dalam samaranmu
itu, Suhengmu akan sangat butuh bantuan mengerjakan banyak
hal kedepan menggantikan Hu Sin Kok. Tetapi, untuk selanjutnya,
Chit Sute juga harus segera mengetahui samaranmu itu,
meskipun hanya kami berdua yang akan mengenali dirimu
seutuhnya. Jika ada yang lain lagi, itu bukanlah dari suhengmu
ini, tetapi mungkin kelalaianmu......”
“Baiklah, jika Sam Suheng memerintahkan demikian, maka aku
akan menurutinya. Hanya, Sam Suheng hendaknya membantuku,
karena pada pertemuan sebelum perpisahan nanti sutemu
enggan untuk datang. Malam ini hingga besok hari, Thian Liong
Koay Hiap akan memilih beristirahat dan Bu San yang akan
1326
menampilkan dirinya. Tolong Suheng sampaikan kepada ketiga
temanku itu, Khong Yan, Sie Lan In dan Tio Lian Cu bahwa besok
mereka akan kutemui, tapi malam ini sutemu ingin beristirahat.
Selain, terus terang saja ada persoalan lainnya yang ingin
kuanalisa lebih dalam lagi.....”
“Hmmmm, apakah masalah itu sangat penting sute....”? tanya Tek
Ui Sinkay dengan wajah yang berubah menjadi amat serius.
“Ada hal mencurigakan dari Bu Tek Seng Ong yang sutemu
hadapi tadi Suheng, sepertinya ada sesuatu yang dapat kukenali
tetapi sepertinya juga tidak. Terasa aneh, asing dan hebat luar
biasa meski seperti ada bagian dari kenanganku ataupun bagian
dari ingatanku yang dekat dengan gerak-gerik tokoh itu.
Karenanya, malam ini sutemu ingin menganalisa lebih dalam......”
“Hmmmm, baiklah jika demikian..... besok biar kita lanjutkan
lagi....” Tek Ui Sinkay dapat menangkap nuansa amat serius
dibalik kata-kata adik seperguruan termuda itu. Karenanya,
diapun mengijinkan Koay Ji ataupun Thian Liong Koay Hiap untuk
absen dan tidak menghadiri jamuan perpisahan yang
diselenggarakan khusus untuk mereka oleh Hu Sin Kok.
1327
Ketika Koay Ji menyebutkan apa yang membuatnya penasaran
kepada suhengnya, hal itu memang benar dan tidaklah mengadaada.
Meksi memang tidak semuanya. Kepenasarannya sudah
diawali sejak pertemuannya dengan Lam Hay Sinni. Dia
menemukan kenyataan betapa Lam Hay Sinni mengalami hal
yang berbeda dengan Bu Te Hwesio suhunya dan juga Thian
Hoat Tosu. Dia, Lam Hay Sinni, ternyata tidaklah mesti
beristirahat panjang untuk pulih kembali seperti kedua tokoh
Dewa lainnya. Dan Lam Hay Sinni seperti sedang menunjukkan
sesuatu kepadanya dengan jalan dan cara yang terselubung dan
misterius. Bahwa meski telah menjalankan Ilmu Mujijat atau Ilmu
Thian Kong Kie Kong (Tenaga Dalam Ajaib) yang mestinya
membuatnya kehilangan banyak tenaga, tetapi ternyata bagi Lam
Hay Sinni tidaklah demikian. Sebaliknya Koay Ji melihat betapa
Lam Hay Sinni, subonya itu, justru meningkat kemampuannya
melebihi kemampuan Suhunya Bu Te Hwesio dan Thian Hoat
Tosu berdua. Ada apa gerangan dengan imu khusus tersebut?
Ilmu yang konon dapat merangsang bergolaknya tenaga dalam
seseorang (dari aliran lurus) dan kemudian bahkan
menampungnya untuk kemudian dapat memperkuat iweekang
sendiri. Sungguh satu rumusan dan teori baru yang sangat
mencengangkan dan membuat Koay Ji tertarik dengan amat
sangat. Bahkan rasa penasarannya cenderung memikatnya untuk
1328
mempelajari dan menjajaki serta mencari tahu apa dan
bagaimana.
Hal kedua yang menghadirkan kepenasarannya adalah
munculnya 3 orang tokoh hebat setingkat 3 Dewa Tionggoan; Mo
Hwee Hud, Sam Boa Niocu dan Liok Kong Dji yang kekuatan
mereka jelas-jelas setara dan seimbang dengannya dalam hal
kekuatan iweekang. Ini yang membuatnya menjadi sangat
penasaran dan ingat dengan rumusan Ilmu Thian Kong Kie Kong,
dan karena itu dia memilih untuk melakukan samadhi malam itu.
Karena dia merasa menemukan banyak pilihan, banyak rumusan
dan banyak sekali jalan yang perlu untuk diluruskannya agar
bermanfaat dan bukannya hilang dan kemudian berlalu tanpa
jejak. Untuk hal ini, kepenasarannya dengan Ilmu Thian Kong Kie
Kong, di benak Koay Ji juga jadi dipenuhi dengan gerakangerakan
mujijat yang dikumpulkannya, terutama sejak mengamati
pertarungan Sie Lan In melawan Tio Lian Cu serta pertempuran
hebat lainnya selama beberapa hari terakhir. Terutama
pertarungan yang terakhir saat dia melawan ketiga tokoh sepuh
yangt hebat, Sam Boa Niocu, Mo Hwee Hud dan juga Liok Kong
Djie. Semua itu bermuara dalam benaknya ditambah dengan
rumusan dan penjelasan singkat Lam Hay Sinni.
1329
Dan hal ketiga adalah pelajaran gabungan yang diturunkan Bu Te
Hwesio sebelum menghilang, yang juga sudah mulai didalaminya
dan membuatnya mampu menanjak menandingi kekuatan Mo
Hwee Hud. Meski baru sekali dua kali melatih dirinya, tapi Koay Ji
merasakan betul betapa dia mengalami kemajuan yang hebat dan
luar biasa. Padahal, menurut Bu Te Hwesio, kemajuan pada
awalnya memang pesat, tapi perlahan akan berlangsung secara
alamiah dan menyesuaikan dengan bakat, ketekunan dan
keuletan orang yang melatihnya. Koay Ji menyadari jika dia
memang baru di tahap awal, tetapi itupun sudah amat
menggembirakannya karena beroleh hasil yang diluar
dugaannya.
Sementara hal terakhir ialah kekagetannya jika ternyata Bu Tek
Seng Ong benar benar adalah tokoh yang sakti dan hebat serta
masih belum dapat dikalahkannya. Bahkan dia seperti kalah tipis,
kalah pengalaman meski saat itu dia mengandalkan gabungan
kedua iweekang mujijatnya. Begitupun, Koay Ji hanya mampu
membuat keadaan mereka berdua seimbang dan tak mampu
untuk saling mendesak ataupun saling menundukkan lawan.
Terasa sekali, iweekang lawannya sangat alot dan amat licin
sehingga tak mampu dikuasainya sebagaimana iweekang lawanlawan
hebat lainnya. Memang iweekang lawan masih sama kuat
1330
dengannya, seperti juga lawan-lawan beratnya selama ini, seperti
ketiga tokoh tua yang menyerangnya di hutan selatan. Tetapi,
meski sama kuat dengan ketiga tokoh itu, tetapi iweekang lawan
punya keistimewaan sebagaimana dirinya yang juga memiliki
keistimewaan, meski amat berbeda. Jika iweekangnya memiliki
kemampuan untuk menyedot, menggiring, membalikkan dan
melontarkan ataupun membalikkan serangan iweekang
lawannya, maka iweekang lawan juga memiliki keistimewaannya
sendiri. Sangat alot dan licin, lemas dan dapat kuat, sangat kuat
malahan, serta mampu main petak umpet dan bahkan saling libas
dengan iweekangnya.
Masih ada hal lain yang juga dipikirkan Koay Ji, meskipun jika
dibanding dengan kepenasarannya atas tiga hal di atas, terasa
berbeda urgensinya. Pertemuannya dengan kakak beradik Yu
Lian dan Yu Kong dari Hong Lui Bun; pertemuan dengan Ilya dan
undangan Panglima Arcia menuju Persia; urusannya dengan Sie
Lan In sebagaimana amanat Lam Hay Sinni. Tetapi tiga hal di atas
sungguh amat menyita perhatian dan sangat menguras
pikirannya untuk dianaisis dan dicerna lebih jauh. Maka, setelah
Tek Ui Sinkay pergi meninggalkan kamarnya, Koay Ji tidak lama
kemudian sudah tenggelam dalam samadhinya. Dengan
mengumpulkan semangat, kekuatan batinnya dan kemudian
1331
secara perlahan-lahan menyusun ingatan dan kenangannya,
dikelolah dan ditanamkan dalam ingatan serta mencari simpulsimpul
pemahaman yang lebih jelas.
Setelah satu jam, Koay Ji sudah tidak ingat diri lagi. Tenggelam
dalam pendalaman atas hal-hal yang masih belum dimengertinya,
mencoba mencari jalinannya dan terakhir tanpa disadarinya,
diapun mulai melanjutkan latihan sesuai petunjuk Bu Te Hwesio.
Dengan keadaannya sekarang, yakni berlatih dalam posisi
samadhi, kemajuan yang dialaminya sungguh-sungguh
menakjubkan meski tanpa disadari Koay Ji saat itu. Hal ini
dikarenakan pengalaman terakhir serta pertarungan yang
dihadapinya berapa waktu terakhir sungguh menguras tenaga
dan juga iweekang dan tertanam di alam bawah sadarnya.
Bahkan selain berlatih warisan itu, Koay Ji perlahan menerawang
Ilmu Thian Kong Kie Kong yang amat mujijat itu. Tetapi, jika dia
berkembang dan kemudian menemukan jalan lapang dalam
latihan gabungan iweekangnya, maka dalam lImu Thian Kong Kie
Kong dia seperti berjalan di tempat. Dia tidak ada mengalami
kemajuan yang cukup berarti. Jalan di tempat dan seperti tak
mendatangkan hal yang bermakna.
Ketika menjelang subuh, dia justru tertarik dan mendalami ilmu
lawan yang mujijat dan membuatnya bingung. Perlahan namun
1332
pasti, dia menemukan cara dan unsur yang semakin lama
semakin terasa mirip dan juga ada dalam Ilmu Thian Liong Pat
Pian. Dalam keuletan, kelemasan dan kemampuan guna berkelit
dan gerak-gerik misterius serta sulit terantisipasi lawan, sungguh
terdapat kemiripan dengan ciri Iweekang Bu Tek Seng Ong. Hal
ini pada awalnya membuatnya sangat kagum meksipun terbersit
kecurigaan dan keheranan yang dalam. Bukannya ingin meniru
iweekang mujijat lawannya itu, tetapi keadaan itu memang amat
menarik dan membuat Koay Ji tertantang untuk memahami dan
menemukan cara mengatasi kehebatannya. Ini yang menantang
dan membuat Koay Ji yang memang bandel, cerdas dan ulet
menjadi benar-benar kesengsem dna bahkan akhirnya
membuatnya tenggelam dalam pendalaman dan pencarian
hingga pagi hari. Tanpa lelah dan tanpa henti dia menganalisa,
memeriksa dan membandingkan dengan khasana
pengetahuannya yang memang sudah amat luas itu.
Tetapi lama-kelamaan, Koay Ji menjadi semakin curiga dan
semakin tertarik. Karena semakin dia membayangkan, semakin
mendalami, semakin dia menemukan betapa banyak ciri yang
mirip antara Iweekang Bu Tek Seng Ong dengan karakter Ilmu
Thian Liong Pat Pian. Meski yang satu adalah ILMU GERAK
sedangkan satunya lagi adalah Ilmu Iweekang. Tetapi, semakin
1333
dipikirkan, semakin didalami, semakin Koay Ji menemukan
banyaknya kesamaan, bahkan Koay Ji seperti menemukan
“keliaran” dan kemisteriusan serta kemujijatan Ilmu Geraknya
dalam efek dan perbawa dari Ilmu Iweekang. Sampai akhirnya
diapun menyimpulkan sendiri dengan masih penuh tanda tanya:
“Kemungkinan itulah lembaran yang dicopot orang dari “Kitab
Mujijat” milikku yang dihadiahkan oleh Chit Suheng”, pikirnya
pada akhirnya. “Accchhhh, tak salah lagi, itulah latihan kouwkoat
dan petunjuk Ilmu Iweekang yang sudah hilang dicopot orang dari
Kitab Mujijat itu” simpulnya pada akhirnya.
Koay Ji memang tidak mungkin melatih Ilmu Iweekang yang
kouwkoatnya tidak dia miliki itu. Bahkan jika dia milikipun, tetap
saja dia tidak akan sanggup untuk melatih iweekang yang
dasarnya berbeda jauh dengan dasar iweekangnya. Dan sudah
tentu dia mengerti, bahwa aliran iweekang perguruannya
berdasarkan Ih Kin Keng yang amat mujijat itu. Berbeda dengan
aliran iweekang lawan yang lebih mengutamakan “semangat” dan
pengolahan “hawa” jalur lain. Tetapi, pemahaman Koay Ji sedikit
banyak membantunya untuk lebih memahami tata gerak lawan,
memahami gelagat dan kehebatan iweekang lawan. Dan
sekaligus mulai mengerti bahwa untuk dapat mengalahkan atau
menaklukkan lawan, hanya dapat dia lakukan dengan memahami
1334
secara sempurna aliran iweekangnya sendiri. Itulah sebabnya,
ketika memasuki pagi hari, dia memutuskan untuk tetap terus
berlatih dan tetap menutup diri melanjutkan latihannya. Dan sekali
ini, dia memantapkan hati dan konsentrasinya untuk berlatih
menurut petunjuk terakhir Bu Te Hwesio.
Ketika Tek Ui Sinkay memasuki kamar dan sampai akan
meninggalkan kembali kamar itu pagi harinya, dia masih tetap
menemukan Koay Ji yang dalam posisi samadhi. Bahkan dia bisa
merasakan betapa seriusnya dan betapa sang sute tenggelam
dalam samadhi dalam posisi berlatih itu. Sebagai seorang tokoh
silat yang berkepandaian hebat, Tek Ui Pangcu tentu maklum apa
yang sedang terjadi dan karenanya dia memandang Koay Ji
sambil menarik nafas panjang. Pandangan yang tertuju kearah
Koai Ji, tidak salah lagi adalah pandangan sayang yang tak
tersembunyikan. Ya, Koay Ji memang tidak dan bukan sekedar
siauw sute baginya, lebih dari itu, dia menyelamatkan nyawa Koay
Ji dari ancaman dua manusia gaib Tionggoan yang sangat
berbahaya dimasa kecilnya. Bahkan kemudian menerima mandat
dan amanat gurunya untuk menilik, bertindak dan menjadi wakil
Suhunya sendiri menghadapi Koay Ji dan juga menjadi wali dan
orang tua bagi siauw sutenya itu. Dengan sejarah panjang
hubungannya dengan Koay Ji, wajar jika Kakek sakti, Pangcu
1335
Kaypang itu menaruh rasa sayang dan kasih yang besar. Apalagi,
karena dia adalah satu dari hanya berapa gelintir manusia yang
tahu rahasia besar dari sang sute. Sute yang sudah menanam
pengaruh luar biasa bagi rimba persilatan Tionggoan dengan
menjadi seorang THIAN LIONG KOAY HIAP.
Memang, waktu itu Koay Ji sedang dalam masa-masa yang paling
menentukan atas pemahamannya terhadap ilmu gabungan kedua
suhunya. Hal yang sedang dalam proses pemahaman dan
dilatihkannya langsung sejak menjelang dini hari. Karena itu,
hingga pagi hari, Koay Ji masih tetap tenggelam dalam latihannya
dan belum terlihat tanda-tanda akan menyelesaikan latihannya
melalui samadhi itu. Dan tentu saja Tek Ui Sinkay paham dengan
keadaan seperti itu, keadaan yang tidak boleh dia ganggu. Karena
diapun dalam posisi dan pemahaman seperti keadaan Koay Ji
saat itu, akan bertindak serta berlaku sama. Yaitu akan tetap
melanjutkan latihan sampai memperoleh atau mencapai tahapan
yang sudah ditetapkannya atau tahapan yang diharapkannya
dapat dicapai dan diperoleh melalui latihan yang tekun itu. Tek Ui
Sinkay sekali lagi memandangi Koay Ji dengan pandangan penuh
kasih dan penuh kekaguman, baru kemudian memutuskan keluar
dan menemui kawan-kawannya.
1336
Siang harinya, tepat di waktu makan siang, baru Koay Ji
menyelesaikan latihan melalui samadhinya. Menjelang tengah
hari, Tek Ui Sinkay memang sudah berniat dan memutuskan
untuk menggugah Koay Ji dari samadhinya, meski sebenarnya
sudah beberapa saat sebelum Tek Ui Pangcu dan Cu Pangcu
(Thian Cong Pay) masuk, Koay Ji sudah “siuman”.
“Siauw Sute,,,,, sudah saatnya kita menemui teman-teman untuk
membicarakan apa yang akan dikerjakan kedepan...”
“Ach, terima kasih Sam Suheng, Chit Suheng. Aku sudah siap,
tetapi untuk saat ini adalah lebih baik tampil bukan sebagai Thian
Liong Koay Hiap, tetapi menjadi Bu San kembali. Karena Bu San
sudah lama tidak munculkan diri....”
“Baik, terserah engkau saja siauw sute....” jawab Tek Ui Sinkay,
Pangcu Kaypang, sambil tersenyum maklum
Belum lagi mereka melangkah keluar, Kwan Kim Ceng dengan
ditemani Nona Nyo Bwee serta Nona Nadine yang kini samasama
sudah kembali menjadi “nona”, datang menjemput dan
sekaligus memani Koay Ji menuju ruang makan. Merekapun
sudah merasa rindu untuk bertemu dan bercakap dengan Koay
Ji.
1337
“Ayolah San te, sudah terlampau lama engkau beristirahat setelah
bekerja keras untuk membuat pil anti racun itu .....” sapa Kwan
Kim Ceng dengan diiringi Nadine dan Nyo Bwee. Khusus nona
yang terakhir terlihat tersipu malu dan sinar matanya menyiratkan
kerinduan seorang gadis.
“Benar San koko, Bwee moi sudah tidak sabar untuk bertemu .....
hikhikhik” Nadine menambahi sambil melirik Nyo Bwee.
“Maksudnya untuk melanjutkan menimba latihan ilmu silat, San
Te....” Kim Ceng menjadi tak tega meihat keponakan muridnya itu
menjadi salah tingkah dengan wajah memerah meskipun mulut
tersenyum malu-malu mau. Tetapi Tek Ui Pangcu yang sudah
cukup banyak usianya, seperti juga Cu Pangcu, cukup maklum
dengan adegan yang tersaji dihadapan mereka berdua. Tidak
mungkin salah, Nyo Bwee sang cucu hartawan Nyo, kelihatannya
jatuh hati kepada adik seperguruan mereka yang memang masih
muda namun yang memiliki kesaktian yang luar biasa itu. Tetapi,
sekali pandang mereka langsung maklum bahwa Koay Ji
kelihatannya tidak menaruh perasaan yang sama terhadap si
gadis. Tanpa terasa keduanya menjadi bersimpati kepada Nona
Nyo Bwee, meskipun mereka berdua tahu bahwa tidak akan
dapat mereka berbuat apa-apa untuk membantunya.
1338
“Acchhhhh, cinta akan selalu memakan korban kapanpun dan
dimanapun...”desis Tek Ui Pangcu dalam hati. Tetapi dimulut dia
berkata:
“Ayo anak-anak, kita sudah ditunggu ......”
Jika malam sebelumnya Hu Sin Kok menjamu seluruh tokoh
utama termasuk Khong Yan dan Sie Lan In dari kalangan muda,
maka siang hari ini Hu Sin Kok secara khusus mengundang Bu
San. Meski dia masih belum mengetahui identitas Bu San yang
sebenarnya, tetapi Tek Ui Pangcu sudah memberitahu siapa yang
meracik obat pemunah racun yang banyak menyelamatkan
anggota Benteng Keluarga Hu dan anggota Kaypang yang
bertugas malam sebelumnya. Dan karena Bu San memang lebih
banyak beristirahat setelah bekerja keras, seperti informasi Tek
Ui Sinkay, maka hari itu dipilih untuk secara khusus
menyampaikan rasa terima kasihnya kepada si anak muda.
“Hahahahahaha, semuda ini engkau sudah memiliki kemampuan
mujijat dalam ilmu pengobatan. Lohu sungguh kagum anak
muda....” puji Hu Sin Kok begitu semua sudah mengambil tempat
duduk, termasuk Kim Ceng, Nyo Bwee dan Nadine yang memang
datang bersama Bu San.
1339
“Accchhhh, locianpwee terlampau memuji......” Koay Ji berkata
dengan suara rendah dan merasa malu dengan pujian tokoh
sebesar Hu Sin Kok.
“Hahahahaha, lebih 50 tahun lohu berkelana dan mengenal
banyak tabib mujijat. Tentunya lohu dapat menyimpulkan
kemampuan dan kesanggupanmu sampai di tingkat mana anak
muda, karenanya jika lohu memuji, berarti memang engkau punya
kemampuan yang hebat anak muda.....” Hu Sin Kok berkata
sambil mengelus janggutnya dan memasang wajah sangat serius.
“Memang benar San Ji,,,,,,,, tidak banyak kami mengenal tabib
yang memiliki ilmu meracik obat seperti yang engkau lakukan.
Karenanya engkau tidak perlu terlampau merendahkan dirimu
sendiri.....” berkata Tek Ui Pangcu menguatkan pujian yang
dikemukakan Hu Sin Kok sebelumnya.
“Acchhh, boanpwe malu sendiri jadinya. Toch juga hanya sekedar
meracik dan membuat obat pemunah racun kebisaan
boanpwee....”
“Ach bohong, dia bahkan mampu meningkatkan kepandaian kami
bertiga meskipun dia sendiri tidak dapat bersilat Locianpwee....”
dengan maksud mengangkat serta memujikan nama BU SAN,
1340
Nyo Bwee membuka salah satu rahasia penting Bu San dan
membuat Koay Ji menjadi serba salah. Dan benar saja, bukan
hanya Hu Sin Kok, bahkanpun Tek Ui Pangcu dan Hu Pangcu,
kedua suhengnya memandang Bu San dengan tatapan tidak
mengerti.
“Haaaaa, benarkah memang demikian San Ji....”? bertanya Tek
Ui Pangcu, berpura-pura sebetulnya, tetapi juga kaget karena
keadaan pada waktu itu, sangat mungkin bisa membuka rahasia
Bu San sebagai Koay Ji dan sebagai Thian Liong Koay Hiap. Tek
Ui Pangcu sendiri bahkanpun tahu, bahwa Koay Ji masih
menyimpan banyak rahasia besar lainnya.
“Accccch, Nona Bwee terlampau melebih-lebihkan Pangcu,
hanya ingatan-ingatan yang berguna buat mereka belaka. Tidak
ada yang luar biasa...” jawab Koay Ji yang ingin menegur Nyo
Bwee tetapi akhir-akhirnya menjadi tidak tega. Keadaan menjadi
makin rumit ketika Nyo Bwee kembali nyeletuk;
“Kenyataannya, kepandaian kami bertiga menanjak cukup
hebat.... termasuk Susiok Kim Kwan Ceng” Nyo Bwee entah
mengapa justru merasa semakin senang karena dengan demikian
Bu San semakin dianggap penting. Melihat orang yang dicintai
1341
menjadi penting dan dihormati orang, mendatangkan perasaan
ikut bangga bagi pihak yang sedang mencintai.
Yang terjadi kemudian adalah sebuah kerumitan. Kerumitan yang
lahir dari upaya kecil untuk mengangkat “harga” seorang yang
dikasihi dan dicintai, dimata banyak tokoh persilatan lainnya.
Sudah jelas, kepandaian seorang Kwan Kim Ceng, tentu saja
bukan kepandaian seorang tokoh kelas rendahan. Bukan
kepandaian kacangan dan seperti kebanyakan tokoh persilatan
yang tak berisi tapi banyak gaya dan banyak mulutnya. Sebagai
murid seorang tokoh sakti dari pintu perguruan ternama, Siauw
Lim Sie, bahkan murid dari salah satu sesepuh mereka yang
berkepandaian mujijat, tentu saja kepandaian seorang Kwan Kim
Ceng bukanlah kepandaian biasa. Dan terdengar aneh dan
janggal jika dengan Ilmu setinggi Kwan Kim Ceng itupun, toch
tetap saja masih “berguru” dan mendapat petunjuk-petunjuk Bu
San. Ini tentu saja bukanlah fakta biasa, tetapi fakta yang
sangatlah luar biasa, aneh dan sulit untuk dipercaya. Maka
sekarang, bukan hanya seorang Hu Sin Kok, tapi bahkan Tek Ui
Pangcu dan Cu Pangcu sendiri menjadi ikut-ikutan kaget
setengah mati. Dan jadi lebih kaget lagi ketika terdengar Nadine,
seorang murid wanita Mo Hwee Hud yang sudah menyeberang
1342
ke pihak mereka, juga sampai ikut-ikutan menguatkan kata-kata
Nyo Bwee sebelumnya:
“Memang benar demikian, kami bertiga, termasuk Kwan koko
memang mengalami kemajuan yang tidak sedikit selama
beberapa minggu terakhir menerima dan juga mendapatkan
petunjuk-petunjuk untuk berlatih dan memperdalam Ilmu Silat dari
Bu San....” celutuknya dengan kata-kata polos dan tak dibuatbuat.
Tetapi, jika Tek Ui Pangcu merasa curiga dan kaget, apalagi
seorang Hu Sin Kok yang terkenal sangat awas, teliti dan cerdas
itu.
“Accchhhhh, kepandaian Kwan Kim Ceng sebagai tokoh muda
Siauw Lim Sie sudah kita ketahui, juga Nona Nadine memiliki
kepandaian yang terhitung jago kelas utama dewasa ini. Nyo
Wangwe meski seorang hartawan, tetapi juga anak murid Siauw
Lim Sie, cucunya tentu saja bukanlah tokoh sembarangan. Mana
bisa seorang pemuda seperti Bu san meningkatkan kemampuan
kalian jika kepandaiannya sendiri masih berada dibawah kalian,
atau malah tidak mampu bersilat......”? sejatinya pertanyaan Hu
Sin Kok diajukan kepada Kwan Kim Ceng, Nadine dan Nyo Bwee.
Tetapi baik Cu Pangcu, Tek Ui Pangcu dan juga Koay Ji paham
belaka kemana arah pertanyaan itu yang sesungguhnya. Meski
begitu, yang membuat Tek Ui Pangcu dan Cu Pangcu sangat
1343
kagum adalah ketika mereka melihat Bu San yang tetap tenang
dan tidak menjadi gelisah sedikitpun. Hanya saja belum lagi Bu
San bereaksi dan menjawab, justru terdengar Kwan Kim Ceng
berkata:
“Accchhhh, terus terang jika harus dikatakan memang teramat
aneh Hu Locianpwee. Meski adik Bu San ini tidak mampu bersilat,
tidak memiliki kekuatan iweekang dan hanya berlatih ilmu
pernafasan, tetapi adik dia ini memiliki wawasan dan teori ilmu
silat yang sungguh luas dan sungguh kaya serta mujijat.
Bahkanpun menguasai tata letak dan cara beroperasinya jalan
darah serta arus dan aliran iweekang, sehingga juga memiliki
pemahaman yang detail mengenai upaya dan cara untuk
merangsang peningkatan iweekang kami bertiga. Hal itu terutama
dia lakukan melalui tata gerak dan menata lagi penataan
pernafasan yang diselaraskan dengan ilmu silat, lewat latihan
yang tekun dan tepat. Tapi memang, yaaaa begitulah, dia sendiri
sayangnya tidak memiliki kemampuan untuk bersilat.....”
Penjelasan Kim Ceng memang jujur dan seperti yang dijelaskan
Bu San kepada mereka selama ini. Tetapi, bagi seorang yang
secerdik dan secerdas Hu Sin Kok, penjelasan tersebut terlampau
sumir dan terlampau banyak lubang kelemahannya. Tek Ui
Sinkay dan Cu Pangcu melihat reaksi Hu Sin Kok yang justru
1344
menjadi tenang tetapi matanya jelas bersinar terang dan senang.
Tahulah mereka, terutama Tek Ui Sinkay, bahwa tokoh tua yang
cerdik itu pasti sudah paham dan tahu jelas keadaan seorang
Koay Ji. Dan merekapun jelas amat paham bahwa tokoh tua itu
tidak akan berhenti untuk mencari tahu dengan cara dan
strateginya yang biasanya ampuh dan tokcer. Celakanya, mereka
lebih sering tidak mampu mengikuti cara dan jalan sang tokoh tua
itu ketika mencari jawaban atas ketidaktahuan yang membuatnya
penasaran. Hal ini dikarenakan, selalu saja ada cara dan ada
strateginya yang tidak biasa dan sulit mereka tebak sebelumnya.
Strategi dan cara yang sering tidak terlintas dibenak mereka,
tetapi ampuh dalam mencari tahu dan mencari paham atas
sesuatu yang terlihat sulit untuk dipahami. Keduanya kaget,
kecuali Bu San yang tenang saja ketika mendengar tokoh itu
berkata:
“Sudahlah...... di atas semuanya, secara khusus atas nama
Benteng Keluarga Hu bahkan juga atas nama seluruh rimba
persilatan Tionggoan, lohu mengucapkan banyak terima kasih
atas jerih payah dan bantuan besar dari engkau Bu San......” Hu
Sin Kok berkata dengan nada serius dan tetap ramah sambil
memandang Bu San sebagai orang yang memiliki banyak
kebisaan. Koay Ji jadi merasa sedikit bangga dengan ucapan
1345
tersebut, tetapi juga sadar bahwa persoalan dengan Hu Sin Kok
masih belum selesai dan akan ada ekornya nanti dibelakang. Jika
Bu San sudah mengantisipasinya, adalah Tek Ui Pangcu dan Cu
Pangcu, kedua suhengnya yang sebaliknya menjadi amat heran.
Mengapa Hu Sin Kok tidak terlihat mencecar dan mengejar Bu
San untuk penjelasan yang lebih tegas?
“Baiklah...... mari, sudah waktunya kita makan siang......” Hu Sin
Kok membuyarkan beragam analisa dan tanda tanya di benak
banyak orang saat itu. Tetapi, waktunya saat itu memang benar,
sudah saatnya makan siang.
Makan siang berlangsung secara lebih santai dengan
percakapan-percakapan yang cenderung ringan. Tidak nampak
sedikitpun dari kata-kata dan gerak tubuhnya jika Hu Sin Kok
masih akan mengejar rahasia Bu San. Entah mengapa.
Sementara Bu San sendiri sudah bertingkah kembali seperti
biasa, seorang pemuda yang polos namun cerdas dan terihat
tidak punya kemampuan ilmu silat sama sekali. Diam-diam Tek Ui
Sinkay mengagumi kedua orang itu, seorang tua dan yang
seorang lagi masih sangat muda, namun mereka keduanya
memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Tetapi Tek Ui Sinkay sangat
paham, jika dengan caranya sendiri Hu Sin Kok akan terus
bertanya dan terus mencari tahu. Jika saat itu dia seperti sedang
1346
tidak perduli, itu menunjukkan hal sebaliknya. Bahwa Hu Sin Kok
yang paham dengan situasi tidak akan mengejar informasi itu,
tetapi setelahnya, dia pasti sudah punya strategi yang saat itu
sedang dirancangnya. Entah apa dan entah bagaimana.
“Anak muda, lohu ingin menghadiahkan sesuatu kepadamu
sebuah barang sebagai kenang-kenangan dan sekaligus
ungkapan terima kasih dari kami keluarga. Bisakah menemuiku di
kamar baca setelah jamuan ini bubar, atau yaaaa, mungkin agak
sore juga tidak mengapa....”? benar saja, dugaan Tek Ui Sinkay
memang amat tepat dan tidak salah. Tetapi anehnya, dia tidak
melihat sedikitpun rasa panik dari sinar mata Koay Ji, sebaliknya,
mata sutenya itu justru berbinar-binar gembira dan berlagak
seperti sedang penasaran karena akan mendapatkan hadiah dari
Hu Sin Kok atau Hu Bengcu. Melihat semua itu, seorang Tek Ui
Sinkay, Pangcu Kaypang justru menjadi pusing sendiri
memikirkannya.
“Kionghi San ji, engkau memperoleh perkenan dihati Hu bengcu.
Adalah baik jika engkau mengucapkan terima kasih terlebih
dahulu kepada Hu Bengcu yang murah hati dan budiman......” Tek
Ui Pangcu mengingatkan sambil melirik dan tersenyum kepada
Bu San dan juga Cu Ying Lun atau Cu Pangcu, adik
seperguruannya ketujuh yang saat itu sedang memandangnya.
1347
“Terima kasih atas perhatian dan kasih Hu locianpwee, boanpwe
benar-benar merasa tersanjung meski merasa tidak semestinya
memperoleh hadiah khusus dari keluarga Hu locianpwee.
Sesungguhnya boanpwe melakukannya karena memang itulah
satu-satunya kebisaanku....” sambil berkata Koay Ji mengulapkan
tangan memberi hormat kepada jago tua itu.
Dan menjelang pertemuan mereka akan bubar, Kwan Kim Ceng
memutuskan untuk memanfaatkannya dengan berpamitan
kepada Hu Sin Kok dan juga Tek Ui Pangcu secara langsung,
mumpung ada kesempatan;
“Hu locianpwe, terima kasih atas jamuan makan siangnya. Mohon
dimaafkan, besok pagi kami harus segera berpamitan, karena
boanpwe harus mengantarkan pulang cucu dari Nyo Suheng ini,
Nona Nyo Bwee......”
“Acchhhh, jadi kalianpun akan segera berpamitan..... baiklah,
baiklah Kwan siauhiap. Mohon engkau sampaikan salam serta
hormat lohu kepada Suhumu yang budiman itu, dan tentu juga
kepada Nyo wangwe, semoga dia segera pulih kembali seperti
sedia kala. Katakan, jika ada yang beiau butuhkan sekedar
bantuan dariku, jangan segan-segan untuk memberitahu. Dan
engkau, Nyo kouwnio, engkau sampaikan juga kepada kakekmu
1348
itu, bahwa kapan-kapan lohu akan datang menyambanginya di
pesanggrahan keluarga Nyo yang luar biasa indahnya itu. Tetapi,
kalau waktu itu datang, maka lohu pasti akan berada disana tanpa
memberitahukan kepadanya terlebih dahulu, biar menjadi kejutan
buatnya....”
“Terima kasih Hu locianpwee, pesan itu pasti akan siauwte
sampaikan kepada kong-kong. Bisa kupastikan, Kong-kong pasti
akan sangat senang menyambut kunjungan dan kedatangan Hu
locianpwee......”
“Hahahahahaha, baiklah, baiklah anak-naka...... hati-hati dalam
perjalanan kalian nantinya. Dan, engkau Bu San, jangan lupa,
lohu akan menunggumu di kamar baca nanti. Tek Ui Pangcu dan
Cu Pangcu, jika memang berkenan dan punya waktu yang
memadai dan cukup, maka jiwi berdua juga boleh datang
menemani Bu San untuk menemuiku nanti di kamar bacaku.....”
“Baik, dengan senang hati Hu locianpwee, boanpwe pasti akan
datang bersama Tek Ui Pangcu dan juga Cu Pangcu......” ujar Bu
San sambil melirik sambil tersenyum kepada kedua kakak
seperguruannya itu.
1349
Poen Loet Kiam-kek (Jago Pedang Pengejar Guntur) Hu Sin Kok
atau Hu Pocu, adalah pemilik Benteng Keluarga Hu di Telaga Kun
Beng Ouw dekat Kota Ya In, atau juga terkenal sebagai BENGCU
Rimba Persilatan Tionggoan. Pada saat itu dia terlihat sedang
duduk dan seperti berpikir keras, kadang dia berdiri dan berjalan
mondar-mandir, dan kadang dia kembali duduk untuk berpikir dan
termenung. Jelas dia sedang berpikir keras dan sepertinya
sedang dalam upaya memecahkan sebuah persoalan yang
menyita seluruh perhatian dan konsentrasinya. Dalam keadaan
seperti itulah tiba-tiba pintu kamar bacanya diketuk orang dari
luar, tanda bahwa ada orang meminta masuk untuk bertemu. Hu
Sin Kok nampak menarik nafas panjang, sepertinya dia tahu ada
orang yang akan mencari dan meminta bertemu dengannya.
Jelas memang, karena justru dialah yang tadi meminta orang
tersebut untuk datang menemuinya. Mereka yang datang tidak
lain dan tidak bukan adalah BU SAN, pemuda yang menyita
perhatian dan kepenasaran sang Bengcu dan yang datang
dengan ditemani oleh Tek Ui Pangcu dan juga Cu Pangcu;
“Mari..... mari masuk, lohu memang sudah menunggu....” dengan
ramah Hu Sin Kok menyambut mereka bertiga dan
mempersilahkan mereka duduk.
1350
Benar, ruangan itu memang disebut sebagai Kamar Baca. Tetapi,
sesungguhnya, kamar khusus Hu Sin Kok ini merupakan ruangan
yang menyimpan banyak rahasia dan juga banyak koleksi-koleksi
pribadi miliknya. Dan sebetulnya tidak layak disebut kamar,
karena luas dan besarnya, meski tak seluas Ruang Pertemuan,
tetapi jauh lebih besar dari sekedar kamar biasa. Ukuran dan
besarnya bisa 5 atau 6 kali lipat dari kamar biasa, dan saking
besarnya, tersedia cukup banyak kursi, jejeran buku bacaan dan
senjata-senjata yang tergantung di dinding. Sementara itu, juga
terlihat adanya rak khusus yang terisi hadiah-hadiah dan
penghargaan orang kepada Hu Bengcu – juga ada sebuah meja
yang cukup besar dan dikelilingi beberapa kursi. Semua tertata
rapih, menggambarkan ketelitian dan kecerdasan seorang Hu Sin
Kok. Kelihatannya, jika memang dibutuhkan, kamar baca tersebut
bahkan bisa berubah menjadi ruang pertemuan mini yang akan
mampu menampung sekitar 10 orang di dalamnya. Begitu masuk,
Koay Ji kagum dengan kamar tersebut, termasuk juga koleksi
senjata dan sejumlah tanda mata yang kelihatannya memang
disengaja ditaruh dan disimpan di ruang atau kamar baca sang
Bengcu.
“Terima kasih atas undangan khusus Hu Locianpwee,,,,,, Kamar
Baca ini benar benar luar biasa, sungguh menginspirasi
1351
boanpwee untuk membangun kamar yang sama kelak di
kemudian hari......” desis Bu San setelah dipersilahkan duduk oleh
Hu Sin Kok, dan kini mereka duduk mengitari meja yang terlihat
cukup antik dan terbuat dari bahan kayu yang cukup keras namun
warnanya berkilat.
“Baiklah, tetapi sebelum melanjutkan, apakah benar dugaan lohu
bahwa saat inipun lohu bahkan sedang tidak berhadapan dengan
jatidiri sesungguhnya dari engkau anak muda? Yang bahkan
dalam dugaan lohu lebih jauh, samaran Thian Liong Koay Hiap
juga adalah hasil kerjamu. Apa dugaan lohu benar anak
muda......”? sapa Hu Sin Kok dengan wajah yang ramah,
sementara Tek Ui Pangcu dan Cu Pangcu yang memang sudah
tahu rahasia Bu San terhentak dan kaget setengah mati. Betapa
Hu Sin Kok bisa langsung buka rahasia dan menodong Koay Ji
sebelum mereka semua merasa cukup nyaman erada di kamar
baca itu. Tetapi, sekali lagi Tek Ui Pangcu kaget melihat reaksi Bu
San yang tidak terkejut, tidak kaget dan tetap tenang seperti
semula. Bahkan, memandang tanpa memberi jawaban kepada
Hu Sin Kok, seperti mengiyakan tetapi seperti juga tidak
mengiyakan. Mereka berdua malahan terlihat saling pandang dan
seperti saling menjajaki kedalaman hati dan kedalaman atas
pengetahuan masing-masing.
1352
Dan mereka berdua terus sambil pandang selama beberapa saat
lamanya. Sinar mata Hu Sin Kok yang berwibawa dan sinar mata
Koay Ji atau Bu San yang tetap seperti ketika baru masuk tadi.
Tetapi, beberapa saat kemudian, terlihat keduanya saling
tersenyum dan tidak ada satupun kata-kata yang terucapkan. Tek
Ui Pangcu dan Cu Pangcu maklum, bahwa kedua tokoh itu
sedang adu kecerdikan dan membutuhkan daya yang lain dan
berbeda sama sekali untuk melakukannya. Dan ketika akhirnya
kedua orang itu duduk dengan nyaman, terdengar akhirnya Hu
Sin Kok kembali buka suara:
“Acchhhh, benar, memang kadang-kadang kita tidak perlu harus
“tahu” semuanya, cukup jika kita sudah “paham” sebagian
besarnya dan tidak perlu tahu semuanya. Baiklah, silahkan
menikmati dan santai saja dengan pertemuan ini anak muda,
pertemuan kita dan komunikasi kita barusan membuatku semakin
yakin dan percaya jika kata-kataku di penutupan perayaan Ulang
Tahunku, sama sekali tidak keliru. Hanya saja, yang membuatku
sangat kaget dan sangat menghentak pemikiran ialah, ternyata
penopang Tionggoan kedepan adalah seorang anak muda, atau
seorang yang masih sangat muda. Acch, sudahlah, tua atau muda
tidak lagi penting memang, karena yang jauh lebih penting adalah
1353
bagaimana kita menghadapi bahaya yang berada di depan
mata.....”
Tek Ui Sinkay dan Cu Yung Lin atau Cu Pangcu tidak tahu apa
yang dipercakapkan Bu San dengan Hu Sin Kok. Keduanya
hanya saling bertatap wajah dan Hu Sin Kok sudah membuat
kesimpulan yang sama sekali tidak keliru. Koay Ji tidak terlihat
berkata satu kalimatpun, namun keduanya seperti sudah saling
memahami. Yang dapat mereka sadari adalah, bahwa komunikasi
“senyap” tanpa kata-kata tadi telah melahirkan kesepahaman
antara Hu Sin Kok dan Bu San. Meski tidak disampaikan keluar
dalam kata-kata ataupun kalimat, tetapi sikap dan percakapan
mereka selanjutnya memperkokoh kesimpulan mereka itu. Dan
kesimpulan mereka berdua memang sama sekali tidak keliru.
“Terima kasih atas kepercayaan dan penghargaan Hu
Locianpwee, sesungguhnya boanpwee masih belum seperti apa
yang dibayangkan oleh Hu Locianpwee. Karena tanpa seorang
Kaypang Pangcu dan seorang Thian Cong Pangcu, sebenarnya
tidak akan pernah ada boanpwee. Tidak akan pernah boanpwee
berdiri berhadapan dengan Hu locianpwee yang terhormat dan
luar biasa pada saat ini. Karena itu, penghargaan dari Hu
Locianpwee, boanpwee anggap sudah terlampau berlebihan,
berhubung masih teramat banyak orang yang sudah mengerjakan
1354
hal-hal besar lainnya.....” desis Bu San dengan serba sedikit
membuka jati dirinya sendiri, tetapi juga tidak menyingkap
terlampau banyak sisi lain serta keberadaannya yang memang
penuh misteri bagi banyak pihak itu.
Hu Sin Kok, Bengcu tua yang cerdik itu terlihat berubah menjadi
lebih serius. Dia memandangi Tek Ui Pangcu dan Cu Pangcu
bergantian dan kemudian memandang Bu San. Sontak suasana
kembali berubah menjadi amat serius, meski bukanlah suasana
yang resmi dan menegangkan. Suasana tersebut lebih dimana
sedang terjadu “adu kecerdikan” antara Bu San dan Hu Sin Kok,
dua orang yang sama-sama cerdas dan cerdik meski usia mereka
berbeda cukup jauh. Ditengah arena adu cerdik itu, Tek Ui Sinkay
dan Cu Yung Lin, hanya bisa memandangi keduanya dengan
perasaan kebat-kebit. Untungnya Hu Sin Kok sejauh ini tidak
menempatkan keduanya dalam posisi sulit dengan bertanya atau
menanyai mereka tentang Bu San dan jati dirinya itu.
“Hmmmmm, anak muda, justru dengan makan siang tadi dan
percakapan barusan, barulah lohu percaya dan meyakini tentang
beberapa hal yang dapat disimpulkan dalam satu perkataan
belaka.....” Hu Sin Kok berkata dengan suara berat dan serius
setelah berpikir keras selama beberapa saat.
1355
“Hu Locianpwee apakah juga sekaligus memiikirkan bahwa
perkataan sederhana itu benar boanwee pahami ataukah
tidak....”?
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Asyik PANL 9 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments