Cerita Top PANL 10

----

ya, tapi karena Tek Ui Sinkay dan Cu Yung
Lin berdua berada disini bersama kita, maka mereka bersua pasti
sangat ingin untuk mengetahui apa sebetulnya kalimat sederhana
itu....” tegas Hu Sin Kok sambil memandang kedua kakak
seperguruan Koay Ji itu.
“Sayangnya keduanya sudah mengetahui kalimat sederhana itu
Hu Locianpwee, jadi tidak bermakna banyak jika locianpwee
mengatakannya.....”
“Acccchhhhh, bolak-balik seperti ini ternyata Hu Bengcu hanya
ingin mengetahui siapa sesungguhnya anak muda bernama Bu
San ini.....”? akhirnya, bertanya juga Tek Ui Sinkay karena rasa
penasaran dan baru menangkap apa inti percakapan Hu Sin Kok
1356
dan Bu San sejauh itu. Cu Pangcu nampak manggut-manggut
tanda setuju dengan perkataan Sam Suhengnya.
“Sesungguhnya masih ada yang perlu kuketahui lebih jelas Tek
Ui Pangcu, tetapi karena pengakuan bahwa ternyata anak muda
ini memiliki kedekatan dengan jiwi pangcu, maka kecurigaan lohu
sudah langsung hilang dengan sendirinya. Meskipun sebetulnya
masih belum jelas benar dengan latar belakang dan jati dirinya
yang amat luar biasa itu...... mohon maaf anak muda, tetapi lohu
sudah berhadapan dengan kelicikan dan kehebatan Pek Kut
Lodjin sejak puluhan tahun silam. Dan korban manusia waktu itu
sungguh teramat banyak dan amat sulit lohu ungkapkan
kesedihan dan keprihatinan saat itu. Karena itu, sungguh tidak
ingin kita semua kecolongan oleh orang yang masih belum cukup
jelas keadaannya, tetapi kini lohu sudah percaya sepenuhnya.....”
“Syukurlah jika demikian Hu Locianpwee......” Koay Ji menjawab
dan berkomentar singkat dan padat dengan tidak sedikitpun
terlihat bahwa dia tersinggung ataupun marah dengan cara dan
bicara Hu Sin Kok.
“Anak muda, dengan demikian kelihatannya kita berdua sepakat
bahwa Thian Liong Koay Hiap tetap harus ada dan akan bekerja
1357
membantu Tek Ui Sinkay sebagaimana pengumuman lohu
kemaren...”
“Memang benar-benar tidak ada yang akan dapat kita
sembunyikan dari hadapan seorang Hu Locianpwee....” Koay Ji
tersenyum dan kagum karena samarannya ternyata dapat ditebak
jitu oleh Hu Sin Kok yang memang pintar itu.
“Bukan semata karena kepintaranku Anak muda, tetapi karena
engkau sepertinya meninggalkan cukup banyak jejak yang mudah
dicium orang. Jika mereka-mereka yang masih muda dapat
berpikir lebih teliti dan cermat dengan menggunakan otak dan
pengamatannya secara baik, maka tidak akan kesulitan melihat
apa yang dapat kusimpulkan tadi itu.....”
“Apakah karena baik Koay Hiap maupun Bu San selalu
menggunakan tokoh yang sama untuk mendekati Hu
Locianpwee....”?
“Benar, salah satunya memang masalah tersebut..... hal lainnya
adalah, jika Thian Liong Koay Hiap munculkan dirinya, maka Bu
San pasti hilang dan ataupun sedang bersembunyi disuatu
tempat. Belakangan, melihat keadaan dirimu dan mengingat
betapa hebat dan saktinya seorang Thian Liong Koay Hiap, maka
1358
Lohu akhirnya bisa menebak dengan tepat. Bahwa jika Koay Hiap
hadir, Bu San bukannya bersembunyi, tetapi karena memang dia
“tidak ada”. Sesungguhnya jika ada orang yang
memperhatikannya dengan teliti, maka mudah untuk mengetahui
hal tersebut......” berkata Hu Sin Kok sambil mengelus jenggot
putihnya. Jelas nada bangga terdengar dari suaranya.
“Hmmmm, benar kata Tek Ui Pangcu, bahwa menemukan tokoh
sehebat dan sama cerdas dengan Hu Locianpwee sesungguhnya
amat sulit.....” puji Koay Ji yang kagum dengan kecerdasan tokoh
tua itu.
“Tidak sulit, karena Lohu amat paham jika tokoh yang akan
mampu menggantikan tempatku suatu saat nanti sudah ada.
Bahkan, menurut Lohu, tokoh itu akan mampu memadukan
kecerdasan Lohu dengan kesaktian 3 Dewa Tionggoan sekaligus.
Dan jelas kenyataan ini merupakan berkah yang sungguhsungguh
tak terhingga bagi rimba persilatan Tionggoan......”
“Locianpwee, pujian terakhir sungguh sulit untuk Boanpwee
terima.....” Bu San jadi tersipu dengan sanjungan Hu Sin Kok.
“Pergantian generasi pasti akan terjadi, itu adalah kemauan alam
anak muda dan tak dapat kita hindari. Hanya ada satu hal lagi
1359
yang belum lohu pahami, jika engkau berkenan anak muda, juga
Tek Ui Pangcu jika berkenan, lohu ingin mengenali jati dirimu yang
sesungguhnya. Tapi, sekali lagi, itupun jika engkau memang
berkenan memberitahuku anak muda.....” meski Koay Ji selalu
berusaha untuk merendah, tetapi Hu Sin Kok selalu mengangkat
dan memandangnya sangat tinggi dan sikap serta kata-katanya
terdengar mengindahkan Bu San. Bahkan kedua suhengnya
sekalipun kaget dengan penilaian dan penghargaan yang tinggi
Hu Sin Kok kepada adik seperguruan termuda mereka itu.
“Sayang sekali Locianpwee, sesungguhnya boanpwee sendiri
tidak tahu nama asliku sejak ditemukan Sam Suhengku lebih 10
tahun silam. Juga sejak tinggal di rumah Chit Suheng, semua
upaya dan pengobatan untuk menggali kembali ingatan dan
kenanganku, sama sekali tidak membawa hasil yang
menggembirakan. Dan karena itu namaku sendiri tak kuketahui
sampai sekarang ini. Mohon pengertian Locianpwe karena seperti
itulah keadaan Boanpwee...”
“Suheng.....? ach, jika demikian......”? kata-kata Hu Sin Kok
terhenti sambil melihat dan memandang Tek Ui Sinkay dan Cu
Yung Lin yang kedua-duanya mengangguk membenarkan
dugaan dan kesimpulan Hu Sin Kok.
1360
“Astaga ...... pantaslah engkau begitu dekat dengan kedua
suhengmu ini anak muda dan pantaslah engkau demikian
lihaynya. Benar, tidak akan ada lagi tokoh yang mampu untuk
mendidikmu hingga mencapai tingkatan seperti sekarang ini
selain dia, orang tua yang sangat mujijat dan sekaligus misterius
itu......” desis Hu Sin Kok kini menjadi paham sepenuhnya dengan
keadaan Bu San, anak muda misterius yang begitu hebat, cerdas
dan pandai seperti dirinya. Dan masih ditambah dengan kesaktian
yang amat luar biasa. Jika Bu In Sinliong adalah Suhunya, mana
bisa Hu Sin Kok meragukan dan mempertanyakannya lagi?
“Hu Locianpwee, boanpwee ada satu permintaan yang ingin
diajukan.....” berkata Koay Ji sambil memandang Hu Sin Kok yang
masih terlihat belum pulih kembali dari keterkejutannya dan
ketersentakkannya begitu dia mengetahui siapa Suhu Koay Ji
atau Bu San yang sebenarnya...
“Katakanlah anak muda....” Hu Sin Kok berkata dan menjadi
tenang kembali setelah berdiam diri selama beberapa saat.
“Mohon jati diriku ini, Bu San dan Thian Liong Koay Hiap, hanya
diketahui oleh Locianpwe dan juga dengan Jiwi suhengku. Karena
ada alasan yang sungguh masih tak dapat kukatakan atau
kukemukakan untuk saat ini, mohon maaf.....”
1361
“Hmmmmm, baiklah. Engkau boleh memegang kata-kataku Anak
muda... terpenting buat Lohu, engkau bersedia dan siap
membantu Sam Suhengmu untuk memimpin perlawanan rimba
persilatan Tionggoan menghadapi Bu tek Seng Pay...”
“Baik, boanpwee pasti menerimanya. Pertemuan malam nanti,
Boanpwee akan hadir sebagai Thian Liong Koay Hiap.....”
“Bagus jika memang demikian....”
Percakapan keempat tokoh itu berangsung cukup lama. Sore hari
baru terlihat Bu San meninggalkan Kamar Baca itu bersama Tek
Ui Sinkay dan Cu Yung Lin. Tetapi malamnya, bukan Bu San yang
menampilkan diri melainkan Thian Liong Koay Hiap dan
membicarakan banyak hal, terutama strategi melawan dan
membasmi Bu Tek Seng Pay. Sebagaimana strategi yang
dibicarakan siang harinya di kamar baca Hu Sin Kok, itulah yang
akhirnya dibahas dan diputuskan. Yakni dalam rangka melawan
teror Bu Tek Seng Pay, maka di bawah pimpinan Tek Ui Sinkay
dibantu Thian Liong Koay Hiap, serangan balik akan dilakukan.
Ditetapkan 3 bulan kedepan serangan langsung ke markas Pek
Lian Pay di Pegunungan Pek In San akan dilakukan bersama
seluruh perguruan dan pendekar Tionggoan.
1362
Tetapi, untuk melakukan serangan tersebut, berhubung
banyaknya tokoh-tokoh hebat di pihak lawan, maka dibutuhkan
perjalanan cepat untuk mengundang tokoh tokoh lihay Tionggoan.
Karena itu surat undangan segera disebar secepatnya agar
perguruan silat lain dapat ikut bergabung dengan waktu yang
tepat. Sebulan sebelum penyerangan dilakukan dengan sasaran
utama di Pek In San, maka seluruh pendekar akan berkumpul di
pegunungan dekat Pek In San untuk menyusun strategi serangan.
Disana kelak akan menunggu Tek Ui Sinkay dan rombongan
utama penyerang yang berada disana sebelum waktunya. Semua
yang ingin bergabung diundang secara rahasia untuk berkumpul
di tempat yang akan diberitahukan menyusul, saat waktu
penyerangan sudah ditetapkan dan ditentukan. Dan seluruh
operasi tersebut akan langsung mulai dikerjakan sejak malam itu
juga, bahkan pembagian tugas sudah langsung dilakukan malam
itu.
Rombongan utama akan dipimpin oleh Tek Ui Sinkay dan akan
didampingi oleh Cu Yung Lin adik seperguruannya dan juga para
Pahlawan Utama Kay Pang. Di rombongan ini kelak akan
bergabung Kwan Kim Ceng setelah mengantar pulang nona Nyo
Bwee kembali ke rumahnya atau kembali ke kakeknya. Bahkan
Siauw Lim Sie juga menyertakan satu barisan Lo Han Kun,
1363
bhiksu-bhiksu lapis kedua dari barisan andalan Siauw Lim Sie
akan ikut dalam mengawal Pangcu Kaypang. Yang juga masuk
dalam rombongan ini adalah sejumlah tokoh dari Hoa San Pay
meski nama-namanya belum ditetapkan Tio Lian Cu yang hadir
sebagai Ciangbudjin Hoa San Pay. Dan kelak, sebulan kedepan,
Hu Sin Kok dan Kim Shia, saudara angkatnya, akan bergabung
dengan rombongan utama ini menuju ke pangkalan yang akan
diberitahukan menyusul kemudian.
Rombongan kedua atau tepatnya gugus tugas kedua adalah
semua murid atau anggota Kaypang dan beberapa tokoh yang
ikut membantu. Tugas utama mereka adalah membawa dan
mengantarkan surat khusus dari Bengcu Tionggoan yang sudah
ditandatangani oleh Tek Ui Sinkay selaku Bengcu baru dan sudha
disetujuai semua, ke semua perguruan silat di daerah Tionggoan.
Surat tersebut berisi alasan dan ajakan bergabung melawan Bu
Tek Seng Pay agar perkumpulan itu tidak lagi mengganggu dan
membantai perguruan-perguruan lain yang tidak bersedia datang
dan menakluk ke Pek In San. Ada beberapa tokoh dari Kun Lun
Pay, Bu Tong Pay dan juga anggota Benteng Keluarga Hu ikut
serta dalam mengirimkan surat khusus Bengcu untuk semua
kaum persilatan Tionggoan. Khususnya perguruan perguruan
silat yang terancam oleh Bu Tek Seng Pay.
1364
Gugus tugas ketiga adalah para pengintai yang lagi-lagi diisi
banyak oleh anggota Kaypang. Hanya, sekali ini, mereka secara
khusus akan diorganisasikan oleh Cu Ying Lun dan konon ada
seorang atau dua orang tokoh besar lainnya yang memiliki
hubungan dekat dengan Cu Ying Lun dan Tek Ui Sinkay. Tetapi,
pelaksana nanti di lapangan dipercayakan kepada Bok Hong Ek
dari Hoa San Pay yang akan terjun bersama anggota Kaypang
terlatih. Merekalah yang akan secara khusus memantau dan
mengintai apa yang akan dan sedang dikerjakan oleh pihak Bu
Tek Seng Pay. Hal penting lainnya nanti akan segera ditetapkan
cara untuk berkomunikasi dan keamanannya dengan sandi
khusus dan bahasa isyarat antar para “mata-mata” dan pemimpin
mereka di pusat. Berkomunikasi dengan Tek Ui Sinkay serta
dengan lingkaran utamanya, juga akan diatur kemudian.
Gugus tugas terakhir adalah sekelompok orang yang bekerja
untuk meminta serta mengundang tokoh-tokoh Tionggoan yang
sudah menyepi untuk ikut turun gunung. Kelompok keempat ini
dipimpin oleh To Pa Thian Pak (Penguasa Tunggal Langit Utara)
Bu Bin An dan See Bun Sin-Kiam-jiu (Tangan Pedang Sakti Dari
Pintu Barat) Lim Ki Cing. Selain mereka berdua, ditetapkan juga
Tio Lian Cu, Khong Yan dan Sie Lan In. Ketiga tokoh muda itu
menerima tugas khusus untuk melacak dan mengundang tokoh1365
tokoh pendekar asal Tionggoan untuk bergabung. Sebenarnya
sasaran menetapkan mereka adalah para SUHU ketiga tokoh
muda itu agar ikut campur tangan. Dan selain mereka, Thian
Liong Koay Hiap, juga bertugas menjaga hubungan dengan pihak
Hong Lui Bun dan Liga Pahlawan Persia untuk saling mendukung
dan bekerjasama. Secara khusus Thian Liong Koay Hiap
diberikan kebebasan untuk bergerak dan bertugas bersama
gugus tugas lainnya.
Setelah penetapan tugas yang menjadi keputusan Rapat
Bersama malam hari, esoknya sudah langsung bergerak. Diawali
dengan berpamitannya Kwan Kim Ceng yang pergi bersama
Nadine dan Nyo Bwee, tetapi tanpa Bu San yang diminta oleh Tek
Ui Sinkay untuk menemaninya. Meski berat hati dan terlihat
enggan pulang karena tak ditemani Bu San, tetapi akhirnya Nyo
Bwee mau juga setelah Bu San terlebih dahulu berpesan:
“Pada saatnya kelak kita akan berjumpa Nyo kouwnio, tetapi
tugasku bersama Tek Ui Sinkay teramat banyak........”
“Baiklah Bu San....... ingat janjimu untuk menemuiku kelak ya....”
akhirnya Nyo Bwee mau juga diajak pulang oleh Kim Ceng.
1366
Menyusul kemudian perguruan-perguruan seperti Hoa San Pay,
Kun Lun Pay, Siauw Lim Sie, Kaypang, Go Bie Pay, Cin Ling Pay
serta perguruan lainnya, pamitan untuk pulang dan sekaligus
bersiap-siap untuk melakukan serangan balik. Bahkan tokohtokoh
tua seperti To Pa Thian Pak (Penguasa Tunggal Langit
Utara) Bu Bin An dan See Bun Sin-Kiam-jiu (Tangan Pedang Sakti
Dari Pintu Barat) Lim Ki Cing, juga ikut berpamitan dan langsung
bertugas. Hari itu Benteng Keluarga Hu langsung sepi dan normal
kembai seperti sebulan sebelumnya. Yang masih tinggal hanya
tokoh-tokoh utama saja, Tek Ui Sinkay, Cu Yung Lin, Bu San, Tio
Lian Cu, Khong Yan dan juga Sie Lan In. Tetapi, merekapun
hanya akan menetap sehari lebih lama karena masih ada yang
harus mereka percakapkan dan putuskan sebelum pada akhirnya
berpisah untuk tugas masing-masing.
Masih ada yang ingin dilakukan Koay Ji di Benteng Keluarga Hu.
Hal yang pertama sudah langsung dilakukannya hari itu juga
ketika Kwan Kim Ceng pamitan bersama Nadine dan Nyo Bwee.
Sementara Tio Lian Cu sibuk mengurus kepulangan anggota dari
Hoa San Pay dan Khong Yan juga dipanggil kakeknya Cu Yung
Lin, Koay Ji yang dalam tampilan Bu San menemui Sie Lan In.
Meski mereka berada di lokasi yang sama, beberapa kali
bertemu, tetapi keduanya jarang bercakap. Sie Lan In berbeda
1367
jauh dengan Nona Nyo Bwee. Nyo Bwee yang belum sanggup
menyimpan perasaannya, berbeda dengan Sie Lan In yang sudah
lebih mampu menahan diri meski sudah sangat ingin untuk
bercakap-cakap dengan Bu San.
Mudah ditebak, melihat kedatangan Bu San ketempatnya yang
kebetulan mulai sepi karena sudah banyak yang berpamitan,
amat menggembirakannya. Nampak benar dari binar matanya
yang bercahaya gemilang dan sampai membuat Koay Ji sendiri
terpesona. Tetapi, untung dapat segera ditutupinya dengan
berkata:
“Enci Sie,,,,, engkau kelihatan seperti sangat gembira hari ini....
bagaimana, apakah engkau dapat menikmati suasana di seputar
Telaga Kun Beng Ouw..”?
“Ecccchh, engkau Adik Bu San..... darimana saja? Engkau terlihat
terlampau banyak urusan disini. Tapi, ngomong-ngomong,
apakah engkau juga akan tinggal lebih lama di sini....”? bertanya
Sie Lan In dengan nada penuh rasa ingin tahu
“Iya benar Enci, Tek Ui Pangcu memberiku banyak urusan dan
juga memintaku untuk tinggal sehari lebih lama sebelum nanti
pamitan untuk melanjutkan perjalanan. Bagaimana dengan
1368
engkau Enci, apa juga masih belum akan pergi....”? tanya Bu San
yang entah mengapa, kini suara dan suasana hatinya lebih susah
diatur. Entah mengapa dia berubah menjadi rada gugup dan
menjadi rada sulit baginya untuk mengendalikan “kegugupannya”
itu.
“Masih belum...... hmmmm seandainya bukan perintah Subo,
mestinya aku sudah meninggalkan tempat ini secepatnya...”
perkataan Sie Lan In ini semakin menambah rasa gugup dan
bingung dipihak Koay Ji
“Ach, ech, apa ... apa maksudmu Enci Sie.....”? kaget juga Koay
Ji mendengar Nona Sie Lan In berkeras untuk segera pergi
“Achhh, tidak, tidak apa-apa Adik Bu San....” Sie Lan In menjadi
sadar kembali, jika bukan saatnya melampiaskan unek-uneknya
terhadap Thian Liong Koay Hiap, justru kepada Bu San yang
berada dihadapannya dan menjadi gugup karenanya. Untung saja
Sie Lan In cepat sadar kembali ketika melihat Bu San yang
bingung dan gugup karena kata-katanya. Untuk merubah
suasana akibat keteledorannya itu, Sie Lan In dengan cepat
kembali berkata dengan suara yang berubah menjadi lebih riang:
1369
“Tapi, sudahlah ..... biarkan sajalah. Toch pesan Subo hanya
untuk membantu dia itu, Thian Liong Koay Hiap yang
menggemaskan dan sok hebat itu. Suatu saat aku benar-benar
ingin bertanding melawan orang sombong itu adik Bu San, dan
engkau harus membantuku.....” gemas Sie Lan In yang akhirnya
bisa melepas unek-uneknya dan merubah suasana percakapan
dengan lebih melibatkan Bu San dipihaknya itu. Padahal, karena
omongannya, Bu San sendiripun gelagapan, tetapi dengan cepat
menemukan kata-kata yang dapat diungkapkan:
“Tapi, sangat mungkin sekarang ini enci Sie sudah dapat
menandinginya. Karena kulihat dari sinar mata dan gerakan enci,
kemajuan pesat dalam kecepatan dan juga iweekang cukup
menonjol. Apa enci berlatih keras selama berada di Laut Selatan
belakangan ini.....”? bertanya Bu San pada akhirnya dengan
menemukan cela membuka percakapan lain. Dan benar saja, ini
justru membuat keadaan mereka berdua menjadi lebih lepas.
“Apakah engkau melihat dan merasakannya adik Bu San?
Menurut Subo, memang kepandaianku meningkat sangat pesat
selama sebulan terakhir ini. Tetapi, apakah sudah cukup untuk
dapat mengalahkan seorang Thian Liong Koay Hiap, enci sendiri
sebetulnya masih belum cukup teryakinkan....” sekali ini Sie Lan
In tidak mengumbar kesombongannya, karena sesungguhnya dia
1370
melihat sendiri bagaimana hebatnya Tian Liong Koay Hiap itu.
Dan tanpa dia sadari, tempaan terakhir subonya, Lam Hay Sinni,
bukan hanya membuatnya dapat meningkat pesat, tetapi juga
ternyata membuatnya lebih “tahu diri”. Sie Lan In menjadi lebih
matang dan lebih bisa melihat lawan dan juga kemampuan diri
sendiri.
“Enci, sesungguhnya agak susah buat menilainya secara akurat,
tetapi, bagaimana kalau kita berjalan ke tepi sungai dan melihat
bagaimana kemajuan enci selama sebulan berlatih di Laut
Selatan.....”? kelihatannya Koay Ji memang seperti sedang
mengajak “kencan”, tetapi tidak akan dia seberani itu jika tidak
memiliki alasan lain. Sementara bagi Sie Lan In, ajakan itu
dianggapnya lebih dari sekedar ingin berlatih, angannya sudah
jauh melambung, lebih dari sekedar ajakan jalan-jalan. Lonjakan
perasaan yang luar biasa menyenangkannya, karena dia
menganggap Bu San saat itu sudah lebih berani melangkah lebih
jauh. Lucu memang, tetapi begitulah rasa jika sedang
mempermaikan umat manusia.
Memang sepanjang perjalanan menuju tepi sungai, Koay Ji atau
Bu San tidak ada sedikitpun menyinggung soal “rasa”, tetapi tetap
saja terasa manis dihati Sie Lan In. Sementara hal yang sama
juga dialami Koay Ji, meskipun sebetunya dia memiliki maksud
1371
lain mengajak Nona Sie itu berjalan-jalan. Hal itu tidak disadari
Sie Lan In. Dan tetap tidak sadar ketika Bu San memintanya untuk
berlatih, karena terakhir kali mereka bercakap-cakap secara
begini dekat, adalah ketika mereka akan berpisah dan Bu San
memberinya banyak petunjuk untuk meningkatkan
kemampuannya. Hal yang belakangan mengagetkan sang Subo
karena petunjuk-petunjuk Bu San pada akhirnya juga membuat
sang Subo mendapat inspirasi baru.
Tetapi, betapa kagetnya Koay Ji ketika menyaksikan
perkembangan dan kemajuan Sie Lan In yang sungguh jauh
diluar sangkaannya semula. Karena dengan kemajuan terkini,
dengan mengandalkan kecepatan dan kekuatan iweekang yang
sudah melonjak sangat jauh, Koay Ji sudah dapat mengukur
bahwa nona pujaannya ini tidak akan kalah melawan Mo Hwee
Hud. Memang benar, masih tetap kalah kuat, tetapi jelas
iweekangnya sudah dilatih nyaris mendekati kemampuan si Dewa
Iblis Api yang sangat menyeramkan itu. Jika kemudian
dikombinasikan dengan ginkang atau kecepatannya yang
semakin sulit ditandinginya itu, maka bisa ditebak hasilnya. Diamdiam
Koay Ji menarik nafas panjang dan menggumam dalam
hatinya:
1372
“Benar-benar Subo seperti juga Suhu, manusia-manusia berbakat
aneh yang akan sulit ditemukan di dunia persilatan.....” gumam
Koay Ji dalam hati. Dan ketika makin luwes dan makin manis
gerakan dan lontaran kekuatan Sie Lan In, Koay Ji berturut turut
tertegun: “Luar biasa, ini rupanya Hut Men Sian Thian Khi Kang
(Tenaga Dalam Mujijat), iweekang cabang dari Ih Kin Keng,
benar-benar mujijat. Dan gerak ginkang itu mestilah Ilmu Ginkang
Sian-Ing Tun-Sin-Hoat (ilmu bayangan dewa menghilang), konon
menjagoi bersama ginkang si Rase Aneh itu. Hmm, aku berani
bertaruh, tidak akan mudah Mo Hwee Hud mengalahkannya jika
kelak mereka bertemu dan bertempur satu lawan satu....”
Koay Ji terus mengikuti dan memandang semua gerakan Sie Lan
In sampai pada akhirnya Nona Sie menyelesaikan
“pertunjukkannya”. Dia masih terdiam dan berpikir ketika Sie Lan
In menegurnya:
“Adik Bu San, bagaimana menurut pengamatanmu .....”? tanya
sang dara penuh rasa gembira dan rasa mesra sekaligus.
Pertanyaan itu membangunkan Koay Ji dari lamunan dan dari
hitungan-hitungan yang sedang dilakukannya dalam khayal dan
dalam ingatannya. Diapun tersentak dan sontak menjawab:
1373
“Enci..... sejujurnya kemajuanmu sungguh luar biasa, menurutku
tingkatanmu saat ini sudah jauh melampaui kemampuanmu
sebelum pulang berlatih ke Laut Selatan. Iweekangmu berjalan
amat lancar dan nyaris tak habis mengalir, makin lama makin
lemas menjebak, padahal kekuatan pukulnya justru semakin
mematikan dan makin membahayakan. Gerakan ginkangmu
untuk saat ini memang masih belum kutahu kalau ada yang
berkemampuan menandingi ataupun menyamaimu. Pendeknya,
kemajuanmu sungguh sangat mengejutkan..... sungguh-sungguh
Subomu adalah mahluk luar biasa dan kelihatannya tanpa tanding
untuk saat ini.....”
Bukan main senangnya Sie Lan In. Jika bukan Bu San yang
mengatakannya, dia mungkin masih akan ragu dan meragukan
kemajuannya sendiri selama ini, tetapi dia tahu betul kemampuan
Bu San dalam bidang yang aneh ini. Dalam hal menilai dan
menakar kemampuan seseorang, Bu San sudah membuktikan
kepadanya dan kepada kawan-kawan mereka yang lain. Tetapi
meski sangat senang, dia masih cukup tahu diri dan berkata:
“Subo memang salah satu yang terhebat dewasa ini adik Bu San,
tetapi menurut Subo sendiri, masih ada seorang tokoh hebat lain
yang sangat dikagumi Subo. Bahkan Subo sendiri mengakui
bahwa dia orang tua tidak pernah mampu untuk menakar dan
1374
mengetahui hingga dimana kemampuan tokoh hebat mujijat itu.
Sayang sekali menurut Subo, aku jelas sudah tidak mungkin
untuk dapat bertemu atau menemui tokoh itu, meskipun menurut
Subo dia masih hidup dan bahwa kami sebetulnya masih memiliki
hubungan.....” Sie Lan In berkata sambil memandang Koay Ji
penuh perasaan.
“Sungguh tak bisa kubayangkan sampai dimana kemampuan
orang itu jika memang begitu Enci. Tetapi, menurutku sendiri,
kemampuan Enci sekarang ini memang sudah melaju teramat
jauh, sungguh jauh dari bayanganku semula. Baik dukungan
tenaga, maupun pergerakan enci sungguh-sungguh sulit untuk
menemukan cela lagi. Mungkin yang masih kurang tinggal
kematangan dan pengalaman belaka, dan karena itu, akan amat
sulit untuk menemukan tandingan..... kionghi enci, sungguh satu
pencapaian yang amat luar biasa......”
“Bagaimana menurut pengamatanmu jika dibandingkan dengan
Thian Liong Koay Hiap itu adik Bu San? Apakah encimu sudah
memiliki kesanggupan menaklukkan ataupun mengalahkannya
jika bertarung kelak...”? bertanya Sie Lan In dalam keraguan,
karena dia sendiri sudah menyaksikan betapa misteriusnya tokoh
itu dan dia sadar, seperti sebelum berlatih kembali di Laut Selatan,
jaraknya dengan tokoh itu, sepertinya masih sama belaka.
1375
Jikapun terlihat menyempit, tetapi masih belum mencukupi untuk
dapat menaklukannya. Entah apakah Thian Liong Koay Hiap yang
juga meningkat kemampuannya ataukah karena selama ini dia
begitu hebat dan ketat dalam menyembunyikan kepandaiannya
yang sejati...? entahlah, Sie Lan In tetap belum mampu
menemukan jawabannya.
“Secara detail aku tak akan dapat menjawabnya Enci, karena
tidak dapat menelaah kemampuannya secara langsung. Tetapi,
menurut penilaianku berdasarkan kisah orang lain dan juga
penilaian Tek Ui Sinkay, maka enci tidak jauh terpisah dari tingkat
dan kemampuan orang itu sekarang ini.....”
“Hmmmm, sesungguhnya aku memang sangat penasaran
dengan tokoh itu adik Bu San. Sangat ingin untuk secara tuntas
adu kepandaian dengannya dan menentukan siapa lebih hebat
dan tangguh. Tetapi susahnya, Subo justru memerintahkanku
untuk membantu tokoh itu, dan engkau tahu Bu San, jika Subo
memberi perintah, sungguh pantang untuk kulanggar....”
“Memang adalah jauh lebih baik jika kita dapat membangun
hubungan yang lebih akrab dengan tokoh itu enci, bakalan jauh
lebih banyak manfaatnya. Terlebih setelah dia, dengan dibantu
enci bertiga, sudah mampu menawarkan ancaman maut atas
1376
acara peringatan ulang tahun Hu Bengcu barusan. Orang banyak
amat berharap kepada tokoh itu bersama enci bertiga sebagai
keturunan 3 Dewa Tionggoan untuk dapat mengatasi bencana
rimba persilatan Tionggoan yang berada di depan mata kita
dewasa ini.....”
Sie Lan In nampak berpikir sebentar, menarik nafas panjang dan
pada akhirnya kemudian berkata dengan suara lemah:
“Meskipun aku kurang menyukai ide itu, tetapi kelihatannya untuk
saat ini memang jalan itu yang harus ditempuh....”
“Kadang kita harus berjalan di tempat dan dengan cara yang
justru sangat tidak kita inginkan enci, bukankah demikian.....? tapi,
ketimbang membicarakan hal-hal yang berat, bukankah ada
baiknya kita menggunakan perahu di tepi sungai itu enci...”?
“Hihihihi, ternyata engkau memang sedang ingin menghibur
hatiku yang gundah dengan menyeberangi sungai ini adik Bu San
.... ayo....”
Semakin lama semakin cair percakapan dan senda gurau
diantara kedua anak muda itu. Tetapi, benar-benarkah Bu San
sekedar mengajak Sie Lan In bersantai dengan mempergunakan
1377
perahu di telaga Kun Beng Ouw yang kebetulan sedang tenang
dan tidak banyak arusnya?
“Enci......” bisik Bu San sambil matanya memperhatikan sekeliling
“Ada apa adik Bu San.....”? jawab Sie Lan In senang dan
memandang Bu San dalam tatap mata penuh kasih, dan Bu San
terpaksa mengalihkan pandangan ke aliran air yang sejak tadi
diperhatikannya dengan seksama.
“Apakah engkau perhatikan aliran air di sungai ini Enci...”?
pertanyaan Bu San meski terdengar aneh tetapi memaksa Sie
Lan In memalingkan mata dan memperhatikan aliran sungai yang
agak tenang saat itu.
“Tentu saja..... adakah yang aneh dengan sungai itu Adik Bu
San...”?
“Permukaan sungai ini terlihat tenang dan air mengalir dengan
tenang, kita dapat berperahu dan menikmati segarnya alam di
tengah sungai ini. Tapi, tahukah enci apa yang terjadi di
kedalaman sungai ini....”?
Pertanyaan Bu San membuat Sie Lan In tersentak, dan kini dia
sadar bahwa Bu San tidak tanpa maksud mengajaknya berperahu
1378
menyeberangi sungai dan bahkan juga menikmati keindahan
alam dari tengah sungai. Tetapi, apa yang ingin disampaikan Bu
San pada saat itu...? ini menyentak Sie Lan In dan dia mulai
bersikap lebih serius meski keadaan itu tidak mengganggu
perasaan dan suasana hatinya. Dia tetap saja senang karena
berada berduaan dengan Bu San.
“Adik Bu San, engkau ingin mengatakan sesuatu yang
penting....”? tanya Sie Lan In dengan nada suara berubah lebih
serius
“Permukaan sungai memperlihatkan aliran air yang begitu tenang
dan sekaligus mendatangkan perasaan nyaman dan tenang bagi
kita. Tetapi, jauh di kedalaman dua atau tiga atau empat meter,
air bergelora dan sanggup menelan kita yang saat ini berperahu
dengan nyaman dan tentram. Aliran sungai ini sungguh
merupakan perumpamaan yang tepat bagi kekuatan hebat dari
Ilmu Iweekang Hut Men Sian Thian Khi Kang (Tenaga Dalam
Mujijat). Tetapi, sekaligus adalah gambaran yang menarik untuk
bisa membuat aliran tenaga dalam Enci bisa terus mengalir lepas
dan tenang bagai air permukaan sungai. Mengalir terus, mengalir
terus dan tidak putus putusnya, menjebak mereka yang tidak
mengerti, karena di kedalamannya, justru adalah gelora yang
sangat mematikan.....”
1379
Penjelasan dan perumpamaan Bu San ini membuat Sie Lan In
tersentak kaget. Bukan kaget dan kemudian marah karena
suasana hatinya yang sedang santai sudah ditarik kembali ke
suasana yang serius, tetapi karena Bu San ternyata terus
memperhatikan kemajuannya dan terus berusaha mencari
formula baru. Dia tidak marah, sebaliknya berubah penasaran:
“Apakah engkau menemukan sesuatu yang ingin engkau
kemukakan atau bahkan ajarkan kepada encimu ini Bu San.....”?
“Bukan mengajarkan Enci, tetapi membuka kemungkinan baru
karena tiba-tiba aku memikirkan dua hal. Pertama, engkau
bersama teman-temanmu akan berhadapan dan bertanggung
jawab atas teror Bu Tek Seng Pay serta harus menanggulangi dan
menaklukkan mereka. Yang kedua, kehebatan Thian Liong Koay
Hiap ketika berhadapan dengan Mo Hwee Hud dan Liok Kong
Djie. Meski kusaksikan dari balik persembunyian dengan bantuan
Tek Ui Sinkay, memang menonjol dan sangatlah hebat. Mo Hwee
Hud dan Liok Kong Djie, kedua orang tua itu, kehebatan iweekang
mereka hanya dapat dilawan dengan cara lembut ataupun
dengan cara yang tenang menghanyutkan. Cara pertama
ditunjukkan tokoh hebat bernama Thian Liong Koay Hiap itu, yang
jelas memiliki kemampuan untuk mengatur serta mengendalikan
kekerasan Mo Hwee Hud dengan memanfaatkan “kelembutan”,
1380
dan kemudian perlahan mengatur dan menaklukkannya. Tetapi,
ada cara yang lain untuk dapat melawan kedua tokoh tua yang
sangat hebat dan sakti itu. Nach, cara kedua itu adalah dengan
iweekang Enci tadi, yakni memanfaatkan kelemasan,
membuatnya “berenang” dalam perasaan aman, tetapi sewaktuwaktu
amukan arus air yang mematikan dapat membuat mereka
tenggeam dalam kekalahan. Syaratnya adalah, kekuatan dan
aliran iweekang yang tidak putus-putusnya dan tetap terus
dengan kesabaran saling serang, saling belit dan terus berkutat
dengan kekuatannya untuk kemudian mengamuk secara tiba-tiba.
Cara kedua ini sudah akan nyaris mampu dilakukan enci, tetapi
masih membutuhkan kematangan.......”
Sie Lan In kaget, karena sebetulnya dalam perumpamaan yang
berbeda, Subonya mengajar dan menanamkan kehebatan dan
keunggulan iweekang perguruannya. Karena itu diapun berkata:
“Bu San, Subo mengajarku melakukannya dalam waktu yang
lama.....”
“Benar sekali Enci, tetapi aku terutama bukannya sedang
memikirkan penjelasanku di atas yang memang menjadi kekuatan
utama iweekang perguruanmu. Melainkan berusaha untuk
menambah kekuatan serta kekuatan “mengamuknya” iweekang
1381
itu dibawah permukaan air yang tenang. Jika amukan itu sama
ganasnya dengan setidaknya kehebatan Mo Hwee Hud misalnya,
maka satu keuntungan yang enci dapatkan hanyalah efek kejut
dan mendatangkan keuntungan waktu atau tempo belaka. Tetapi,
jika ada kombinasi lainnya, maka bukan hanya efek kejut yang
didapat, tetapi juga peluang untuk mengahadiahkan kekalahan
bagi musuh seperti Mo Hwee Hud itu......”
“Haaaaa, engkau sampai berpikir sejauh itu Bu San....? dan
apakah engkau sudah menemukan formula yang dapat kita
terapkan itu...”? tanya Sie Lan In menjadi amat senang dan
sekaligus antusias. Berbeda dengan kejadian beberapa waktu
lalu saat dia masih meragukan Bu San, sekali ini dia sudah
percaya penuh dengan daya analisa dan kemampuan mujijat Bu
San. Karena itu, wajar jika dia menjadi antusias dengan
terbukanya kemungkinan yang diuraikan Bu San tersebut.
“Enci, aku sedang berpikir dengan mengingat kembali formulaformula
yang pernah kubaca dan kuhafalkan itu. Akan tetapi,
sebelum enci melakukan perjalanan besok hari, akan kupastikan
formula itu sudah ada rumusannya, sehingga enci dapat kelak
melatihnya sendirian. Tek Ui Sinkay sudah memintaku secara
pribadi untuk menyertainya dalam perjalanan besok pagi-pagi
1382
benar, karena itu sebelum besok pasti akan kuberitahukan
kepada enci.....”
“Accchhhh, jadi engkau.......” Sie Lan In terlihat kecewa, tetapi dia
menjadi senang manakala melihat Bu San sendiripun tidak
gembira harus berpisah dengannya.
“Enci, akupun tidak begitu senang, tetapi ada pekerjaan yang
harus enci kerjakan, sementara Tek Ui Sinkay benar, bahwa ada
banyak hal yang akan kukerjakan saat menyertainya dalam
perjalanan kelak.....”
Tanpa sadar keduanya saling pandang, dan tanpa malu atau
entah tak disengaja Sie Lan In berkata atau tepatnya bertanya:
“Tetapi, kapan kita akan bertemu kembali Bu San....”?
“Enci, secepatnya kita akan bertemu, akupun akan merindukan
pertemuan kita itu, dan jika bisa, secepatnya sebelum menuju Pek
In San.......”
“Baiklah adik Bu San, segera setelah perjalananku selesai, akan
kususul ke daerah Pek In San untuk bergabung kelak.....”
“Baik enci.....”
1383
Dan keduanyapun tenggelam dalam manisnya cinta meski tidak
banyak lagi kata kata dan kalimat yang terucap. Yang pasti, telaga
Kun Beng Ouw sudah menjadi saksi sepasang muda-mudi itu
merasakan manisnya cinta dan bagaimana semangat yang
memuncak, gairah yang liar dalam menyongsong masa depan.
Tetapi, tetap saja mereka tidak dapat menghabiskan waktu di
telaga penuh kenangan itu.
Bu San atau sekali ini sebagai Thian Liong Koay Hiap melakukan
hal yang sama terhadap Khong Yan dan Tio Lian Cu. Bedanya
Khong Yan dan Tio Lian Cu masih butuh waktu sebulan untuk
mencapai tingkatan seperti Sie Lan In yang mendahului mereka
berdua ketika pulang ke Laut Selatan. Meski demikian, setelah
sebulan, dengan Ilmu Thian Liong Pat Pian yang sudah lengkap
dikuasai Khong Yan; dan Tio Lian Cu yang sudah mematangkan
ilmu pusaka Hoa San Pay, Koay Ji yakin ketika mereka tampil
kembali, keduanya sudah mampu mengejar tingkat Sie Lan In.
Dan Koay Ji yakin, mereka tidak akan kalah melawan Mo Hwee
Hud sekalipun. Atas saran dan usul Koay Ji, Khong Yan dan Tio
Lian Cu tinggal dan berlatih secara rahasia di tempat rahasia Hu
Sin Kok.
Hari sudah tepat tengah hari, tetapi cuaca masih terasa kurang
bersahabat. Meski hujan memang sudah berhenti sejam
1384
sebelumnya, tetapi matahari tetap saja belum munculkan diri.
Sepertinya masih sedang malas atau enggan untuk menerangi
bumi kembali. Angin bertiup cukup kencang dan karenanya cuaca
terasa sangat dingin dan menggigit. Karena itu, manusia yang lalu
lalang di kota Liang Ping tidak seperti biasanya. Normalnya kota
tersebut ramai oleh pengunjung dari berbagai arah, berhubung
Kota Liang Ping adalah kota terdekat dari Kota Ciang Peng yang
lebih ramai dan lebih besar. Kota Ciang Peng sendiri adalah Kota
Perdagangan dan merupakan salah satu alur perdagangan
penting yang sering didatangi oleh banyak saudagar dan juga
pelancong dari berbagai penjuru. Jika kota Liang Ping berada
sedikit di ketinggian dan karenanya cuacanya lebih sejuk dan
dingin, maka kota Ciang Peng berada di lembah dan dibelah oleh
sungai besar yang biasanya juga adalah jalur perdagangan
penting.
Meski udara agak dingin karena tanpa matahari serta membuat
banyak orang lebih senang bermalas-malas di warung kopi dan
restauran, tetapi saat itu terlihat ada dua ekor kuda memasuki
Kota Liang Ping dari arah utara. Mereka berdua nampaknya
melakukan perjalanan ke arah selatan, namun lebih memilih
melakukan perjalanan dengan menunggang kuda. Sekali
pandang orang langsung tahu dan paham jika mereka adalah
1385
para pendekar pengelana. Begitu masuk ke kota, terdengar salah
seorang berkata dengan sebuah usul kepada kawannya, samasama
pendatang yang berkuda dan sedang memasuki kota Liang
Ping;
“Jika Sie Kouwnio sepakat, lohu usulkan sebaiknya kita makan
siang terlebih dahulu dan kemudian beristirahat sejenak. Baru
setelah itu kita boleh berpisah dengan tujuan masing-masing
sebagaimana kesepakatan kita. Lohu akan bertugas untuk
memasuki Kota Ciang Peng yang masih terpisahkan oleh jarak
setengah hari berkuda dari kota ini. Sedangkan Nona harus
melewati gunung ini dan menjumpai Ci Yan (Walet Ungu) Pek
Bwe Li di Gunung Ciauw San. Tempatnya seperti itu menurut
informasi yang disampaikan kepada lohu......”
“Baik, terserah engkau saja......” jawab kawan seperjalanannya
yang ternyata adalah seorang perempuan dan yang masih
berusia muda. Sementara yang berbicara tadi adalah seorang
berumur pertengahan, mungkin 45 atau kurang dari 50an, dan
mereka melakukan perjalanan bersama sejauh ini.
Dan tidak lama kemudian, keduanya memasuki kota dan mencari
restoran yang layak untuk mereka bersantap siang. Dilihat dari
keadaan mereka berdua, maka bisa dipastikan, mereka sudah
1386
melakukan perjalanan yang cukup jauh dan seperti kurang
beristirahat. Jelas terlihat dari keadaan dan kondisi kuda mereka.
Kedua ekor kuda tunggangan mereka nampak sekali amat letih
dan amat membutuhkan istirahat yang memadai. Itulah sebabnya,
setelah si pendatang laki-laki menemukan restoran, diapun
kemudian berbicara sebentar dengan pelayan dari restauran yang
terlihat cukup besar dan megah itu. Dan apa yang dia lakukan dan
tanyakan, bukan lain adalah menitipkan kuda dan sekaligus
mengurus kuda-kuda mereka berdua yang sudah terlihat letih dan
lelah.
Dan tidak lama kemudian, lelaki berumur pertengahan itupun
sudah kembali kekursi dan meja yang dia pesan bersama dengan
teman seperjalanannya yang adalah seorang gadis muda. Siapa
mereka gerangan? Bukan lain Thian Liong Koay Hiap yang
sedang dalam perjalanan dengan Nona Sie Lan In. Tetapi
bagaimana pula caranya mereka berdua bisa bersama dalam
satu perjalanan yang saat itu malahan sudah makan waktu dua
hari perjalanan. Jika mengingat mereka berdua, khususnya bagi
Sie Lan In yang sellau merasa sengit dan merasa penasaran
untuk mengadu ilmu dengan Thian Liong Koay Hiap, maka
perjalanan mereka memang terasa ganjil dan rada aneh.
1387
Setelah Bu San (atau Thian Liong Koay Hiap) menyelesaikan
semua urusannya, diapun diajak pergi oleh Tek Ui Sinkay dalam
satu perjalanan rahasia. Meskipun sebenarnya kepergian
seorang Bu San adalah “permainan” yang sudah diatur dengan
Tek Ui Sinkay dan juga Cu Yung Lin. Karena tidak berapa lama,
terlihat Thian Liong Koay Hiap bersama dengan Nona Sie Lan In
juga keuar dari Benteng Keluarga Hu untuk melakukan perjalanan
ke selatan. Karena malam sebelumnya, sudah diputuskan bahwa
Thian Liong Koay Hiap dan Sie Lan In akan melakukan perjalanan
ke Gunung Ciauw San dan ke Kota Ciang Peng dalam misi
khusus. Keduanya diminta dengan sangat oleh Tek Ui Sinkay
untuk datang berkunjung ke beberapa tokoh penting dan hebat
guna membantu pergerakan dalam menyerang Bu Tek Seng Pay
tiga bulan kedepan.
Siapa-siapa gerangan tokoh yang akan mereka datangi dan
kunjungi? Nama tokoh tokoh yang akan mereka datangi, langsung
diperoleh dari Tek Ui Sinkay, Pangcu Kaypang yang sekaligus
saat itu menjadi Bengcu Tionggoan. Tokoh-tokoh yang harus
mereka temui adalah pertama, Jit Yang Sin Sian (Dewa Sakti Jit
Yang) Pek Ciu Ping, seorang tokoh berusia 65 atau 66 tahun dan
hidup sebagai seorang pertapa. Kemudian tokoh kedua adalah
seorang petani bernama Cing San Khek (Jago Berbaju Hijau) Tiat
1388
Kie Bu yang sudah berusia 62 tahunan. Tokoh ketiga adalah
seorang wanita yang bernama Ci Yan (Walet Ungu) Pek Bwe Li
berusia 59 atau 60 tahunan dan tinggal di Gunung Ciauw San.
Menurut Tek Ui Sinkay, untuk berhasil dibujuk, maka tokoh
perempuan ini mesti didekati dengan mengetahui nama aslinya,
karena Pek Bwe Li sendiri sudah menjadi seorang Nikouw. Tokoh
keempat adalah Pouw Ci Sui Beng (Jari Sakti Penghancur
Nyawa) Siau Ji Po yang sudah berusia 60 tahunan dan menikah
dengan tokoh kelima bernama Lam San Hong Ie (Bulu Hong
Berbaju Biru) Oey Hwa berusia 50 tahun.
Tokoh kedua dan ketiga tinggal di sekitar Gunung Ciauw San,
tetapi tidaklah tinggal sama-sama melainkan terpisah. Tokoh
kedua adalah seorang petani yang gemar mengakrabi tanamantanaman
yang ditanam dan diurusnya sendiri dari hari ke hari.
Saking telatennya bertani, tokoh ini lebih banyak menghabiskan
waktu dengan tanamannya dan selalu mencari usaha dan cara
untuk membuat tanaman dan usaha pertaniannya lebih
bervariasi. Serta tentu saja tumbuh dengan subur. Saat ini,
halaman rumahnya dipenuhi dengan beragam macam tanaman.
Terutama tanaman yang dapat menjadi bumbu masak dan juga
buah-buahan yang dapat dimakannya. Halaman rumah
tinggalnya yang sederhana membentang cuku luas dan bahkan
1389
sudah menyambung ke hutan samping rumahnya. Dan
bentangan luas itupun sudah diolahnya menjadi lahan pertanian.
Dan dari hasil bertani serta berkebun di halaman rumah serta
lahan bertani yang luas itulah tokoh kedua ini banyak
menghabiskan waktunya. Tetapi, jangan salah, benar dia seorang
petani, tetapi sekaligus dia adalah tokoh persilatan yang memiliki
nama besar dan diindahkan banyak orang karena kesaktiannya
yang hebat.
Sementara tokoh ketiga, tinggal lebih di ketinggian Gunung Ciauw
San, terpisah tidak terlampau jauh dari si petani yang bercocok
tanam dan bertani di lembah barat Gunung Ciauw San. Meski
tidak di puncak gunung Ciauw San, tetapi tempat tinggal tokoh
ketiga Pek Bwe Li, berada di sisi utara gunung dan disana dia
sudah lama membangun sebuah biara khusus bagi wanita. Biara
itu diberi nama Kwan Im Bio atau Kuil Dewi Kwan Im dan kepala
kuilnya adalah Ci Yan (Walet Ungu) Pek Bwe Li dengan nama
Budha Pek Sim Nikouw. Pek Sim Nikouw atau nama aslinya Pek
Bwe Li, juga merupakan tokoh hebat rimba persilatan sebelum 8
tahun yang lalu menjadi pemeluk agama Budha. Dan pada
akhirnya dia memutuskan untuk mulai menerima dan mendidik
murid-muridnya 5 tahun terakhir, khususnya gadis-gadis muda
yang dia selamatkan dari perkosaan ataupun yang ditinggal
1390
suaminya. Sebagian adalah gadis-gadis yang terlantar, ada juga
yang bekas pelacur, dan rata-rata memang tidak lagi memiliki
tempat tinggal.
Tokoh keempat dan kelima tinggal di Kota Ciang Peng dan
menjadi hartawan di kota tersebut. Menurut Tek Ui Pangcu,
adalah Oey Hwa yang memiliki jiwa berdagang yang kuat dan
mengelolah usaha suami-istri dengan dua orang anak itu.
Sementara sang suami, meski membantu usaha istrinya, tetapi
tetap seorang gagah yang cukup terkenal dan memiliki kesaktian
hebat. Meski melakukan usaha dagang, bukan berarti Oey Hwa
adalah seorang wanita biasa. Tidak, diapun merupakan tokoh
dunia persilatan yang tidak jauh selisihnya dari tingkatan sang
suami. Mereka tinggal di Kota Ciang Peng saat itu, dan sudah
menerima 7 orang murid termasuk dua orang anak mereka.
Adalah Siau Ji Po yang bertugas turun tangan melatih muridmuridnya
dan juga anak mereka, sementara sang istri sibuk
mengurus usaha mereka. Karena itu, kepandaian sang suami
bukannya menurun, sebaliknya semakin hebat dari waktu ke
waktu. Hanya sayang, karena urusan berdagang, mereka tidaklah
sering berkelana ataupun tidak banyak terlibat urusan dunia Kang
Ouw. Terutama sang istri Oey Hwa yang menjalankan usaha
tersebut dengan sangat tekunnya.
1391
Semua tokoh yang harus ditemui tersebut diupayakan untuk
dapat diajak bergabung guna berjuang bersama dengan para
pendekar. Meski Tek Ui Sinkay tidaklah menegaskan dan tidak
memastikan kelima orang itu akan bersedia ikut dalam
pergerakan, tetapi dia amat yakin ada dari mereka yang akan
bergabung. Dan untuk tugas itu, dia secara khusus memilih Koay
Ji dan juga Sie Lan In. Mereka berdua yang bertugas
menghubungi tokoh-tokoh tersebut karena alasan yang cukup
masuk diakal. Koay Ji dan Sie Lan In sudah menerima penjelasan
siapa sajakah mereka semua, dan bagaimana mereka nanti akan
bersikap dan menemui tokoh-tokoh itu. Yang sudah jelas, mereka
semua memiliki hubungan yang dekat dengan Koay Ji khususnya,
meskipun tidak pernah atau tepatnya belum pernah berjumpa
dengan mereka semua. Karena pada dasarnya mereka berlima
adalah suheng dan suci dari Koay Ji sendiri, alias murid-murid dari
Bu In Sinliong. Dan jika demikian, maka berarti sedikit banyak juga
ada hubungan dengan Nona Sie Lan In.
Tentu saja Koay Ji menyelesaikan terlebih dahulu semua
pekerjaannya di Benteng Keluarga Hu, termasuk menitipkan
pesan kepada Khong Yan dan Tio Lian Cu. Dan yang tidak kalah
penting adalah mengatur strategi bersama Liga Pahlawan Bangsa
Persia. Sekaligus juga dengan kakak beradik dari perguruan
1392
rahasia yang sedang dalam masalah kedalam perguruan mereka,
yakni Hong Lui Bun. Karena harus bertugas ke daerah selatan,
maka mereka bersepakat untuk bertemu kelak dekat Gunung Pek
In San pada 2 bulan kedepan. Dan untuk sementara mereka
berpisah karena Koay Ji harus melaksanan tugas khusus. Yakni
menghubungi kakak-kakak seperguruannya atas permintaan
khusus dari Tek Ui Sinkay yang kini menjadi Pemimpin Rimba
Persilatan Tionggoan.
“Sie Kouwnio, menurut Tek Ui Pangcu bahwa jarak dari sini
menuju ke Kota Ciang Peng masih ada nyaris sehari dengan
berkuda. Sementara kita sekarang berada dekat dengan Gunung
Ciauw San dan berjarak kurang dari setengah hari ke Kwan Im
Bio tempat tinggal. Jika Sie Kouwnio setuju, kita akan berpisah di
kota ini untuk kemudian melakukan kerja ini secara terpisah
sehingga bisa menghemat waktu. Dan kita bisa mengatur waktu
untuk kelak bertemu kembali di kota ini pada 3 atau 4 hari
kedepan. Seterusnya kita kemudian melanjutkan perjalanan untuk
mengunjungi Jit Yang Sin Sian (Dewa Sakti Jit Yang) Pek Ciu Ping
locianpwee di Liong Tam Houw Siat (Gua Naga dan Sarang
Harimau) daerah Gunung Kiu Boa San Propinsi Ouw Pak. Jika
semua berjalan sesuai rencana, maka tugas kita selesai dalam 3
minggu kedepan, bagaimana menurut pandangan Sie
1393
Kouwnio....”? berkata Thian Liong Koay Hiap, mengusulkan
pengaturan waktu mereka agar cepat menyelesaikan tugas yang
mereka emban saat itu.
Mendengar usulan Koay Ji terlihat Nona Sie Lan In berpikir.
Sesungguhnya, dua hari melakukan perjalanan dengan Thian
Liong Koay Hiap dia merasa betapa tokoh pertengahan umur itu
terlampau banyak mengalah dan juga membantunya. Meski
sesekali dia bersikap terlampau judes dan malah kaku, tetapi
Thian Liong Koay Hiap menghadapinya dengan penuh kesabaran
dan sangat dewasa. Karena itu, mau tidak mau rasa sebal dan
rasa penasaran Sie Lan In terhadap tokoh itu perlahan mulai
berkurang. Tetapi, kepenasarannya untuk mengalahkan Thian
Liong Koay Hiap suatu hari kelak, masih tetap tidak berkurang,
dan itu yang menahan mereka untuk menjadi sedikit lebih akrab
satu dengan yang lain. Akrab dalam arti bahwa setidaknya
mereka mulai bisa saling berkomunikasi dengan lebih baik.
“Bolehkah kita bertemu nanti pada hari kelima saja nanti Koay
Hiap...? sungguh sayang jikalau pemandangan Gunung Ciauw
San yang samat indah kulewatkan begitu saja. Setelah hari
kelima, kita boleh berjumpa kembali di tempat ini dan kemudian
melanjutkan perjalanan menuju Ouw Pak....” usul Sie Lan In yang
1394
lebih sebagai “keputusan” daripada usul. Karena dia amat yakin
jika Thian Liong Koay Hiap akan menyetujui usulannya.
“Baiklah Sie Kouwnio, jika memang demikian, setelah makan
siang ini kita boleh berpisah. Lima hari kedepan kita berjumpa
kembali di reatoran ini. Dengan begitu, Lohu akan langsung
melanjutkan perjalanan menuju ke kota Ciang Peng sore ini juga”,
dan memang benar dugaan Sie Lan In. Perkataannya tadi yang
disampaikan sebagai USUL, diikuti dan diiyakan oleh Thian Liong
Koay Hiap tanpa banyak bertanya. Dan kalimat Koay Hiap itu
diiyakan Sie Lan In sambil tersenyum karena memang sudah
menduganya.
Dan waktu sejak makan siang sampai selesai, rupanya membawa
perubahan cuaca yang cukup berarti. Meski angin masih bertiup
dan cukup dingin, tetapi matahari mulai mengintip meski belum
cerah betul. Pada saat itulah kemudian Sie Lan In berkata kepada
Thian Liong Koay Hiap dengan nada suara gembira:
“Thian Liong Koay Hiap,,,,,,,, jika memang kita sudah setuju
dengan pengaturan waktunya, maka ijinkan aku jalan terlebih
dahulu biar cukup panjang waktuku untuk menikmati Gunung
Ciauw San......”
1395
“Baik.... baik Sie Kouwnio, biar kuminta pelayan mengambilkan
kuda milik Kouwnio untuk melanjutkan perjalanan. Rasanya waktu
istirahat 2 jam sudah cukup mereka ikut mengmbalikan
kebugaran...” berkata Koay Ji sambil berdiri untuk mengambilkan
kuda tunggangan Sie Lan In.
“Koay Hiap, sekali ini aku tidak akan menggunakan kuda
tunggangan itu. Karena aku memiliki “kendaraan” lain yang malah
bisa membawaku lebih cepat ketimbang menunggang kuda.....
lagipula, biarkan kudaku disimpan dan dipelihara sementara oleh
pelayan disini. Sekaligus kudaku dapat beristirahat lebih lama dan
kembali bugar kelak. Tolong sekalian bayarkan biaya buat mereka
memelihara serta menjaga kudaku sementara melakukan
perjalanan ke Gunung Ciauw San berapa hari kedepan...” berkata
Sie Lan In yang kemudian langsung berjalan keluar dengan
diiringi tatap mata Koay Ji.
“Baik, selamat jalan Sie Kouwnio, sampai berjumpa kembali di
tempat ini pada lima hari kedepan...” Koay Ji berkata demikian
dan membiarkan Sie Lan In pergi. Karena dia percaya dan tahu,
bahwa benar dengan “kendaraan” sendiri yang Sie Lan In tadi
katakan, akan lebih cepat mencapai tempat tujuan di Gunung
Ciauw San. “dia pasti menggunakan burung besarnya itu”, desis
1396
Koay Ji dalam hati, teringat burung besar milik Lam Hay Sinni
yang dilihatnya dahulu.
Menunggu beberapa lama setelah Sie Lan In berlalu, Koay Ji
kemudian memandang sekeliling dan mendapat ide melakukan
sesuatu. Dan tak lama kemudian, kurang lebih setengah jam, dia
sudah duduk bersama dengan 5 orang pengemis anggota
Kaypang. Sebagai seorang SESEPUH atau TIANGLO bagi
Kaypang dan malahan memegang Kimpay Pangcu Kaypang,
otomatis kelima orang pengemis itu terlihat sangat hormat kepada
Koay Ji. Mereka menyapanya sambil menyembah:
“Menjumpai Kaypang Tianglo .......”
“Hmmmm, sudahlah, mari kalian duduk saja biar lebih enak kita
berbicara dan bertukar informasi. Apakah kalian tahu, atau
melihat serta mendengar akan adanya pergerakan Bu Tek Seng
Pay di kota ini....”? bertanya Koay Ji
“Lapor Tianglo..... beberapa hari lalu, semua orang yang bekerja
untuk Bu Tek Seng Pay terlihat pergi meninggalkan kota dan
sampai sekarang masih belum kembali lago. Bahkan markas
rahasia mereka di dalam kota sudah dikosongkan dan tidak ada
orang lagi yang menempati. Kemana mereka pergi dan alasan
1397
mereka pergi, sungguh sungguh belum dapat kami sirapi dan
masih belum tahu. Hanya, konon banyak rombongan anggota
perguruan baru itu pada menuju ke markas Pek Lian Kau.
Demikian laporan yang kami dapatkan Tianglo....”
“Hmmmm, aneh juga jika mereka buru-buru meninggalkan kota
ini, padahal tidak ada ancaman langsung kepada mereka.
Ataukah mereka memutuskan untuk mempekuat markas utama
mereka yang terleatk di markas Pek Lian Pay...”? berkata Koay Ji
sambil mengerutkan kening kurang mengerti.
“Dugaan kami memang seperti itu Tianglo, karena sama dengan
informasi yang kami peroleh dari berapa kota dan cabang
Kaypang lain, terutama kota-kota yang terpisah agak jauh dari
Pek Lian Pay, rata-rata mereka meninggalkan pos rahasia
mereka dan mengosongkannya. Dan sehari kemudian,
rombongan yang menuju ke Pek In San bertambah banyak.....”
“Hmmmmm, jika memang demikian, kirimkan kabar kepada Tek
Ui Pangcu dan beritahukan perkembangan di beberapa kota
mengenai gerakan Bu tek Seng Pay. Katakan bahwa lohu sudah
sampai di kota ini dan sedang mengurus urusan yang terkait
dengan perlawanan terhadap Bu Tek Seng Pay ....”
1398
“Baik Tianglo, segera kami laksanakan.....”
“Bagus...... selain itu, apakah ada berita penting lainnya di kota
ini...”? tanya Koay Ji yang sebenarnya sudah siap untuk
berangkat menuju Kota Ciang Peng.
“Tidak ada yang terlampau penting Tianglo, kecuali pertemuan 3
perguruan silat yang diadakan sore hingga malam nanti di
Perguruan Hek It Kau yang terletak di luar kota bagian selatan.
Pertemuan itu diikuti Ang Liong Pang dan juga Ceng Liong Pang,
kemungkinan membicarakan undangan Tek Ui Bengcu untuk
bergabung melawan Bu Tek Seng Pay. Selain itu, menurut
laporan anak buah Kaypang, terlihat adanya 4 orang utusan dari
Siau Wangwe dari Kota Ciang Peng yang kemungkinan akan
mengunjungi pertemuan tersebut....”
“Apa .....? maksud kalian akan ada utusan atau murid Siau Ji Po
locianpwee yang akan menghadiri acara di Markas Hek It Kau...”?
“Itu hanyalah dugaan kami belaka Tianglo, karena sampai
sekarang kami belum bisa memastikan apakah untuk maksud itu
mereka datang atau untuk urusan usaha dan bisnis Toko
Keluarga Oey.....”
1399
“Accccch, terima kasih atas berita ini. Tapi, tinggal dimanakah
gerangan utusan dari Siauw Wangwe di kota ini...”?
“Menurut informasi yang kami miliki, sejak tiba pagi tadi, mereka
semua menginap dan membuka kamar di hotel paling besar dan
mahal di kota ini Tianglo, Hotel Lian In dan menggunakan berapa
kamar disana.....”
“Baik...... kalau demikian, lohu akan menginap disana dan
menunda keberangkatan ke Kota Ciang Peng sampai besok hari.
Jika ada urusan lain nanti akan lohu panggil, dan jika
membutuhkan sesuatu, kalian boleh menemui atau mengirim
pesan dan lohu akan menemui kalian nantinya....”
“Baik Tianglo, mohon pamit jika demikian....”
Koay Ji tidak heran jika anak murid Kaypang tidak mengetahui
hubungan antara Pangcu mereka, Tek Ui Sinkay dengan Siau Ji
Po. Nama Siau Ji Po jarang dikenal orang. Di kota dia lebih
dikenal sebagai Siau Wangwe dan di dunia Kang Ouw namanya
adalah Siau Ji Po. Tetapi, hubungan sesama perguruan antara
mereka, di kalangan Kaypang sangat sedikit yang tahu dan
menyadarinya. Karena sebagai sesama perguruan, ke-tujuh
murid Bu In Sinliong ini memang jarang memberitahu dan
1400
memperkenalkan diri kepada dunia luar. Apalagi, karena mereka
semua memang dilarang keras untuk menyebut nama Suhu
mereka, nama Bu In Sinliong di luaran. Dan acara sesama
keluarga perguruan, juga nyaris tidak pernah dilakukan antara
mereka sesama saudara seperguruan. Hanya tokoh-tokoh
penting saja yang tahu hubungan perguruan antara Siauw Ji Po
dengan Tek Ui Sinkay, Pangcu Kaypang yang gagah itu.
Tidak berapa lama Koay Ji sudah terlihat di Hotel Lian In, hotel
termewah dan paling mahal di kota Liang Ping. Dia tahu Su
Suhengnya, Siau Ji Po, memang seorang kaya dan memiliki basis
usaha di Kota Ciang Peng. Karena itu, dia menduga, para
muridnya tentu menginap di kamar yang mahal di Hotel Lian In,
dan tebakannya memang tepat. Hanya saja, dia tidak dapat
menyewa kamar sejenis, karena kamar kelas mewah tersebut,
semua sudah habis terpakai atau disewa untuk hari itu. Tetapi
buat Koay Ji sendiri, kamar jenis apapun sama saja, yang penting
dia dapat mengikuti dan jika dapat berkenalan dan bercakapcakap
dengan keponakan muridnya yang rata-rata bahkan
berusia lebih tua dari dirinya itu.
Tetapi, baru saja dia mau memasuki kamar, dia justru bersua
dengan orang-orang yang digambarkan anggota Kaypang
sebagai murid dari Siau Wangwe. Bahkan dari percakapan
1401
sesama mereka, dia jadi tahu apa acara mereka dan keempat
orang itu akan menuju kemana.
“Toa suheng, menurut jadwal, acara di Markas Hek It Kau baru
akan dibuka selepas makan siang. Karena itu, rasanya mereka
sudah memulai pertemuan itu pada saat ini, meski mungkin baru
saja dimulai.....”
“Benar Phang sumoy, tetapi kedatangan kita kesana bukan untuk
berpesta atau untuk menghadiri maupun bertamu di pertemuan
antar mereka itu. Jadi, kita tidak terikat waktu sebetulnya.. mohon
diingat, sedapat mungkin kita harus berusaha untuk menghindari
bentrokan dengan kawan-kawan dari Kota ini. Jika tidak, kita
bakalan membuat suhu marah”
“Tapi, menilik waktunya, jika bisa sekarang kita sudah dapat
bergegas menuju kesana, setidaknya melihat apa yang akan
mereka lakukan. Dan selanjutnya, kita tinggal menyesuaikan
kapan kita melaksanakan tugas khusus itu.....”
“Sabar, sabar istriku, kita dapat hadir disana tanpa harus terburuburu.
Kita memiliki cukup banyak waktu, jangan khawatir.
Lagipula, toch mereka tidak akan mungkin melakukan pertemuan
sampai tengah malam nanti. Kita memiliki cukup banyak waktu
1402
sambil mempercakapkan strategi apa yang sebaiknya kita
lakukan disana berhubung mereka kedatangan banyak tamu....”
berkata Siau Hok Ho menyabarkan istrinya yang serba tidak
sabaran itu.
“Accchhhh, pokoknya kita paksa saja atau ganti dengan cara yang
lain. Sudah terlampau lama mereka melalaikan kewajiban mereka
terhadap kita, sudah lelah kita bolak-balik kemari dan selalu
diabaikan atau tidak dapat mereka menyelesaikan kewajiban.....”
terdengar suara si perempuan tadi yang memang terdengar agak
galak dan bahkan kesan tinggi hati yang sangat kental. Sorang
Koay Ji sendiripun menjadi sebal mendengar nada dan gaya
bicaranya.
Setelah tahu kemana arah tujuan mereka, Koay Ji kemudian
bergegas ke kamarnya dan tak lama dia sudah kembali keluar.
Tetapi kini, dia berusaha menjaga jarak agar tak terpantau dan
tak terlihat oleh keempat orang murid kakak seperguruannya yang
keempat, Siau Ji Po. Dia menjaga jarak yang cukup aman untuk
diperhatikan keempat orang itu yang percakapan mereka
selanjutnya mengatur strategi untuk mendatangi markas Hek It
Kau. Tetapi, tidak lama kemudian mereka sudah berdiri dan
kelihatannya sudah memutuskan untuk pergi ke pertemuan di
markas Hek It Kau. Dan secara otomatis Koay Ji juga bersiap dan
1403
melangkah mengikuti keempat orang itu dari jarak yang cukup
jauh dan aman.
Hek It Kau (Aliran Baju Hitam) ...... sebuah perkumpulan silat kecil
yang meski tercatat tetapi sangat mungkin tidak punya nama di
Rimba Persilatan Tionggoan. Anggotanya tidak banyak, hanya
sekitar 60an orang dan memiliki ciri khas pakaian berwarna hitam
untuk semua anggotanya, termasuk pemimpin tertingginya.
Setiap orang yang bertugas untuk dan atas nama perkumpulan
diwajibkan mengenakan baju ataupun jubah berwarna hitam
gelap. Entah nama yang menyesuaikan, apakah warna yang
menyesuaikan dengan perkumpulan yang dibentuk, ataukah
sebaiknya. Yang jelas, perkumpulan yang saat ini diketuai oleh
Hek Eng Jiau Jiu (si Cakar Elang Hitam) Cou Kiong, memang
dekat dan erat dengan warna hitam. Dan sejak awal hingga masih
tetap berkiprah di Tionggoan, sudah seperti itu perguruan kecil
yang berada di luar kota Liang Ping ini. Berwarna serba pekat dan
hitam, dan memang simbol dan lambang mereka juga berwarna
hitam.
Tetapi, ada satu hal yang juga menjadi ciri khas lain dan tidak
banyak diketahui orang, bahkan juga tidak diketahui banyak tokoh
Rimba Persilatan di Tionggoan. Hek It Kau (Aliran Baju Hitam)
adalah sebuah perguruan yang mendidik anggotanya untuk lebih
1404
banyak “berkelana” dan mencari serta memburu benda-benda
berharga. Setelah menemukan benda-benda berharga ataupun
pusaka yang langka, maka mereka kemudian menjual temuan
mereka itu ke pembeli tertinggi. Karena itu, meski beranggota
lebih 60 orang, tetapi di hari biasa, hanya ada paling banyak 20
orang anggota yang bertugas di markas utama Hek It Kau.
Mereka yang bertugas ke luar, para anggota Hek It Kau itu akan
dibagi dalam 4 kelompok dan kemudian bertugas keluar untuk
melakukan pencarian. Mereka terbiasa mendatangi tempattempat
misterius dan terpencil, termasuk mencari dan memasuki
gua-gua yang terpencil, memasuki terowongan yang asing,
bahkan sampai juga menyelam ke dasar sungai, pendeknya
mendatangi tempat-tempat yang masih asing dan perawan.
Pendeknya mendatangi tempat-tempat yang diduga dan disangka
menyimpan rahasia yang memiliki harga mahal dimata orang.
Benda-benda mujijat dan langka itu, sudah jelas berada di tempat
tempat tersembunyi.
Selama beberapa tahun terakhir, bukan sedikit benda mahal yang
mereka temukan dan kemudian diperdagangkan dengan tidak
menggunakan nama perguruan. Ketika menjual, Hek It Kau tidak
menyertakan merek perguruannya, tetapi melakukan pendekatan
pribadi dan memanfaatkan relasi yang cukup luas. Pekerjaan
1405
seperti ini memang akan sangat sangat berbahaya jika mereka
menemukan benda yang berharga atau mustika dengan nilai jual
atau nilai kemujijatan yang sangat tinggi. Menyadari akan bahaya
seperti itu, Hek It Kau (Aliran Baju Hitam) selalu “bermain” aman
dan menggunakan “jalur perdagangan alternatif” yang sedapat
mungkin tidak melibatkan nama perguruan. Tetapi meskipun
demikian, tetap saja ada satu atau dua orang yang tahu dengan
pekerjaan perguruan ini, terutama dengan seringnya mereka
mengutus orang untuk bepergian dalam waktu yang lumayan
lama. Dan pekerjaan mereka itu, sudah barang tentu ada sekali
atau mungkin lebih dua kali mereka menemukan benda-benda
mujijat, termasuk catatan rahasia ilmu silat yang tersimpan secara
rahasia dan misterius.
Satu-satunya tokoh yang dikenal dari perguruan ini di Rimba
Persilatan sejak 15 tahun terakhir adalah Kaucu mereka yang
bernama Hek Eng Jiau Jiu (si Cakar Elang Hitam) Cou Kiong.
Kaucu yang sudah berusia sekitar 58 tahun ini adalah orang
gagah meskipun nyaris tidak ada yang mengetahui sampai
dimana tingkat kepandaiannya. Karena jarang atau nyaris tidak
terlihat dia mengadu ilmu ataupun bertempur dengan orang lain,
termasuk jarang menunjukkan kemampuannya kepada anak
muridnya. Mewarisi perguruan dari ayahnya, Kaucu gagah ini
1406
justru memiliki hobby yang sangat bersesuaian dengan ciri khas
perguruan. Kegemaran dalam menjelajah daerah asing dan
tempat-tempat misterius serta belum terjamah manusia, seperti
bersesuaian dengan perkumpulannya. Tidak jarang Kaucu Hek It
Kau turun memimpin satu rombongan murid perguruannya untuk
menjelajah dan memasuki daerah yang masih asing.
Markas Hek It Kau yang terletak di luar kota Liang Ping sebelah
selatan, berdiri cukup megah meskipun tidaklah amat besar.
Hanya ada sebuah bangunan cukup besar dan selebihnya rumahrumah
yang diperuntukkan untuk anggotanya yang memang tidak
terlampau banyak. Bahkan, beberapa anggota perguruan, adalah
para pemuda atau pria yang tinggal di Kota Liang Ping dan hanya
akan berada di Markas Hek It Kau jika berlatih atau jika ada tugas.
Karena ciri mereka yang unik, Hek It Kau nyaris tidak punya
musuh, baik di Kota Liang Ping maupun di Rimba Persilatan
Tionggoan. Prinsip mereka yang senang berbisnis meski secara
“gelap”, membuat mereka mementingkan relasi dan berkawan
dengan sebanyak mungkin perguruan dan tokoh lain di
Tionggoan. Karena itu pula maka, di Kota Liang Ping ini Hek It
Kau memiliki relasi dan kenalan di banyak lapisan. Apalagi
dengan sesama perguruan silat yang hanya berjumlah 3
perguruan.
1407
Siang itu, ada kurang lebih 50an orang yang sedang mengadakan
pertemuan dan di bagian depan sebagai pemimpin pertemuan
nampak ada 3 orang yang bertindak sebagai pemimpin. Mereka
beraada di depan dan memimpin jalannya pertemuan sementara
di samping mereka terlihat ada 3 orang lain yang duduk dan
gayanya agak berwibawa. Kelihatannya, pertemuan 3 perguruan
ini dipimpin oleh 3 orang mewakili 3 perguruan, tetapi semua
Ketua atau Pangcu dari perguruan duduk di depan untuk
menghormati mereka yang berembuk. Setelah meja pimpinan,
ada ruang yang cukup besar, beberapa meter, kira-kira 5-6 meter,
duduklah perwakilan dari 3 perguruan yang terkelompok menjadi
tiga, dan masing-masing duduk perwakilan perguruan sebanyak
10 orang. Baru di barisan paling belakang, terlihat ada kurang
lebih 15 orang tamu yang kelihatannya sebagian besar berasal
dari Kaypang. Jelas dari baju yang mereka kenakan.
Pertemuan itu kelihatannya baru saja akan dimulai karena Kaucu
Hek It Kau, Hek Eng Jiau Jiu (si Cakar Elang Hitam) Cou Kiong
baru saja menyampaikan ucapan selamat datang. Dan wakil-wakil
dari ketiga perguruan baru saja ditunjuk untuk memimpin atau
mengarahkan pertemuan agar menemukan jalan keluar yang
tepat dan baik menghadapi situasi yang tidak mengenakkan. Apa
yang sedang mereka hadapi? Wakil dari Ang Liong Pang
1408
(Perkumpulan Naga Merah) bernama Bu Seng Kok secara
ringkas namun jelas menjelaskannya:
“Cuwi sekalian, waktu-waktu belakangan ini agak meresahkan
dan sekaligus juga membahayakan kita sekalian. Ancaman dan
terror dari Bu Tek Seng Pay tidaklah kosong dan asal mengancam
belaka. Karena bahkan Perayaan Ulang Tahun Hu Bengcu
sekalipun, secara berani mereka teror dan ganggu habis-habisan.
Memang mereka dapat dipukul mundur, bahkan kemudian juga
dipukul mundur dan akhirnya meninggalkan kota ini. Tapi,
ancaman mereka belum dicabut bagi perguruan silat manapun,
bagi yang menolak untuk menakluk akan dibumihanguskan.
Berapa hari alu, tiba-tiba secara mengejutkan terjadi pergantian
Bengcu, dimana sang Kaypang Bengcu, Tek Ui Sinkay ditunjuk
menggantikan Hu Sin Kok. Menyusul kemudian keluarlah surat
undangan bagi seluruh perguruan silat untuk bersatu membasmi
Bu Tek Seng Pay. Nach, maksud bertemu kita semua pada hari
ini, adalah untuk membahas dan memutuskan apa yang akan
menjadi keputusan kita bersama sehubungan dengan sudah
tibanya surat undangan tersebut” demikian kata-kata pembukaan
Bu Seng Kok mengawali pertemuan antar 3 perguruan plus
Kaypang di Kota Liang Ping ini.
1409
Pertemuan itu berlangsung cukup seru namun pada akhirnya,
mempertimbangkan banyak hal, termasuk mendengarkan
keterangan kaum Kaypang, pada akhirnya keputusan dibuat.
Bahwa, ketiga perguruan tidak mungkin menakluk dan kemudian
bergabung dan tunduk kepada pihak Bu tek Seng Pay. Dan
karena itu, pihak ketiga perguruan akan mengirim wakil, masingmasing
10 orang untuk melawan Bu Tek Seng Pay di Pek In San.
Namun, demikian karena menimbang hal-hal lain terkait
keselamatan ketiga perkumpulan kecil itu, maka mereka tidak
akan menonjolkan nama dan simbol perguruan. Pada akhirnya,
keputusan itu diambil melalui mufakat dan disetujui bersama.
Bahkan keputusan pada saat itu, juga termasuk tanggal
rombongan dari Liang Ping akan memulai perjalanan menuju
markas para pendekar. Setelah keputusan diambil, waktu sudah
menunjukkan hampir malam, berarti pertemuan mereka makan
waktu nyaris 4 (empat) jam sejak pembukaan acara pertemuan
yang berlangsung lancar tersebut.
Tibalah waktunya penutupan yang mendengarkan penegasan
dari 3 Ketua dari masing-masing perguruan. Bahasa dan
semangat mereka sama, meski memang perguruan mereka kecil
dan jarang diperhitungkan, namun tetap merasa bagian dari
Rimba Persilatan Tionggoan. Selesai sambutan dari Ketua Ang
1410
Liong Pang dan Ceng Liong Pang, paling akhir adalah
kesempatan dari Hek It Kau untuk sambil sambutan atas hasil
kesepakatan ketiga perguruan, tetapi juga sekaligus menutup
pertemuan tersebut. Maka dengan gagah, Hek Eng Jiau Jiu (si
Cakar Elang Hitam) Cou Kiong, Kaucu dari Hek It Kau yang sudah
berusia 58 tahun itu bangkit dari tempat duduknya dan melangkah
ke depan seluruh hadirin. Meluncurlah kalimat kalimat penuh
semangat yang menggelorakan hasrat serjuang semua orang,
sampai kemudian menutup pertemuan itu.
Begitu sambutan penutupannya selesai dan tuntas yang
menandai pertemuan itu selesai dan ditutup, tinggal menunggu
jamuan makan malam, tiba-tiba terdengar seruan dari luar
ruangan:
“Hek Eng Jiau Jiu (si Cakar Elang Hitam) Cou Kiong, tahan
sebentar....” bersamaan dengan seruan tersebut, melayang
masuk 4 bayangan dengan gaya yang indah, ringan dan
mendatangkan rasa kagum semua yang hadir saat itu. Keempat
orang itu melangkah ke depan dengan gagah berani meskipun
tidak memberi hormat dan seperti tidak menghiraukan kehadiran
banyak orang lain dalam ruangan tersebut. Apalagi tingkah si
perempuan satu-satunya. Matanya terlihat tajam dan membara,
serta tidak sedikitpun melirik kekiri maupun kekanan. Matanya
1411
sejak masuk khusus tertuju dan menatap tajam kearah Hek Eng
Jiau Jiu, Cou kiong yang sudah berada kembali di kursinya tapi
belum lagi sempat duduk. Dia tetap berdiri karena ada bentakan
dari luar yang jelas jelas menyebut nama dan julukannya. Tapi,
begitu melihat siapa yang datang, sejenak wajahnya berubah,
tetapi tidaklah lama, karena beberapa saat kemudian terlihat dia
menarik nafas panjang dan kemudian meluncur dari mulutnya
kata-kata sebagai berikut:
“Hmmmm, utusan Toko Keluarga Oey dari Kota Cing Peng...”
serunya dengan suara tertahan dan jelas kaget, tidak menyangka.
“Hmmmmm, syukur engkau masih mengenali kami Kaucu...”
terdengar suara yang sinis dan rada merendahkan dari si
perempuan yang bernama Phang Cen Loan. Dia adalah istri dari
putra sulung Siau Ji Po dan Oey Hwa yang bernama Siau Hok Ho.
Karena posisi itu yang kemudian membuat si Nyonya menjadi
tinggi hati dan besar kepala. Apalagi, karena memang, Phang
Cen Loan ini dahulunya adalah murid dari Siau Ji Po, dan juga
adalah salah satu yang memang cemerlang hingga akhirnya
diambil menjadi istri dari putra sulung sang Suhu.
Seruan sindiran dari Phang Cen Loan tidak membuat Hek It
Kaucu menjadi panik, melainkan beberapa saat kemudian harga
1412
dirinya pulih dan diapun berkata dengan suara tawar dan sedikit
kurang senang:
“Hmmmm, apakah utusan Toko Keluarga Oey sama sekali tidak
bisa menunggu beberapa saat saja lagi sebelum para tamu
Perkumpulan kami selesai berpesta dan kemudian pulang ke
tempat mereka masing-masing.....”? sebuah teguran yang tepat,
pada tempatnya dan memukul balik sindiran Phang Toania tadi.
Sindiran dari Hek It Kaucu tadi jelas-jelas dirasakan oeh Phang
Cen Loan dan teman-temannya yang baru tiba tadi.....
“Mohon dimaafkan Hek It Kaucu, tetapi karena sudah
berlangsung lebih dari setahun dan teramat sulit bagi kami untuk
selalu datang bolak-balik menuntut penyelesaian atas urusan
antara kita. Karena itu, maka kamipun memutuskan untuk
memohon perkenan engkau, Hek It Kaucu untuk dapat segera
menyelesaikan hutang kepada Toko Keluarga Oey kami. Ini
adalah kedatangan kami yang kesepuluh dalam setahun ini, dan
selalu Kaucu tidak berada di tempat. Lagipula, toch acara malam
ini sudah ditutup, dan kini menjadi kesempatan buat Hek It Kaucu
untuk menyelesaikan semua urusan dan hutang-hutangmu
kepada pihak kami......” terdengar kini yang berbicara bukan lagi
Phang Cen Loan yang ketus dan tinggi hati, tetapi suara yang
1413
lebih sabar meski tetap dalam tuntutan semua kepada pihak Hek
It Kau. Suara murid tertua, Kam Song Si.
Melihat kini yang berbicara adalah Kam Song Si, orang tertua dan
kelihatannya menjadi pemimpin dari keempat orang itu, Hek It
Kau sedikit turun rasa tidak suka dan rasa marahnya. Kam Song
Si berbicara dengan agak sabar meski tetap dalam tuntutannya
kepada Hek It Kau. Dihadapi dengan tetap sopan membuat Hek
It Kaucu juga menjadi turun tensi emosinya.
“Hmmmm, Kam Song Si, tetapi setidaknya pihakmu memberi lohu
muka dihadapan kawan-kawan dari Kota Liang Ping ini....”
berkata Hek It Kau dengan nada suara masih protes meski
kemarahannya sedikit surut. Suaranya juga sudah turun volume
dan kandungan emosinya.
“Hek It Kaucu, sebagaimana janjimu lebih setahun yang lalu
bahwa engkau akan mengembalikan hutang-hutang kepada kami
tidak lebih dari setahun masa peminjaman. Tetapi, setahun lebih
sudah berlalu. Dan, bukan main sulitnya kami menemukan dan
memintamu untuk bertemu dan menyelesaikan sejak tahun
kemaren. Karena itu pula maka kami akhirnya memilih malam ini
untuk berbicara, dan kawan-kawan dari Kota Liang Ping harap
maklum bahwa ini adalah urusan dengan kisah yang panjang.
1414
Dan apa boleh buat, kami terpaksa bertindak sedikit kurang
sopan.....” Kam Song Si berkata dengan suara gagah dan tidak
terkesan menyudutkan orang-orang lain yang hadir.
Kata-kata dan kalimat Kam Song Si sudah menegaskan posisi
kedatangan mereka saat itu, yakni berhadapan dan langsung
menuntut Hek It Kau. Sementara Hek It Kau, berkata atau tidak,
terlihat ingin memanfaatkan “keramaian” pertemuan saat itu
sebagai alasan untuk tidak meladeni rombongan dari Toko
Keluarga Oey tersebut. Tetapi, seperti apakah nantinya mereka
menyelesaikannya? Masih harus ditunggu lebih jauh kedepan
karena pihak Toko Keluarga Oey kelihatannya menuntut dengan
sangat dan seperti sudah kehabisan kesabaran.
“Kam Song Si, bukankah kalian bisa melihat jika saat ini Lohu
masih sedang bertindak sebagai tuan rumah bagi pertemuan tiga
Perguruan di Kota Liang Ping? Bisakah kalian menunggu sampai
acara ini selesai....”? entah mengapa Hek It Kau sangat
mengindahkan tamu-tamu yang sebetulnya sudah
mempermalukan pihak dari Hek It Kau dengan kedatangan
mereka itu.
“Hek It Kaucu, bukankah engkau baru saja menutup pertemuan
tersebut? Justru kami sengaja menunggu saat engkau menutup
1415
pertemuan dan baru kami datang untuk menuntut
pertanggungjawabanmu yang terus menghindari kami selama
lebih dari setahun ini. Kami sudah lebih dari sabar menghadapi
dan bolak-balik kemari dan akhirnya menemukan saat yang tepat
pada hari ini. Sesungguhnya kami tidak melihat ada jalan lain
lagi....”
“Kam Song Si hengte, engkau berilah kesempatan Hek It Kaucu
untuk meladeni urusan kalian setelah kami pada meninggalkan
ruangan ini....” tiba-tiba berdiri Ho Lang, Pangcu dari Ang Liong
Pang. Pangcu Ang Liong Pang ini adalah salah satu dari Sam
Seng Liang Ping (3 Malaikat dari Liang Ping) yang terdiri dari Ho
Lang, yang tertua dan kemudian kedua adiknya Ho Kun dan Ho
Bun. Mereka bertiga berturut-turut berusia 57, 55 dan 50 tahun,
dan sudah memimpin Ang Liong Pang selama lebih dari 10 tahun
terakhir.
“Hmmmm, sebaiknya pihak luar jangan ikut campur. Kami hanya
menuntut apa yang menjadi hak kami dari pihak Hek It Kau.....”
terdengar teguran dingin dan suara yang menyebalkan itu adalah
suara seorang perempuan. Siapa lagi jika bukan Phang Cen Loan
yang kembali bersuara?
1416
“Hmmmmm, wanita liar darimana yang demikian tengil dan tidak
tahu aturan...”? mendengar Ho Lang yang menjadi Ang Liong
Pangcu ditegur dengan pedas oleh seorang perempuan yang
masih jauh lebih muda, membuat Ho Bun, adik bungsu Pangcu
Ang Liong Pang menjadi murka. Ho Bun sendiri memang dikenal
pendek sumbu, alias orang yang mudah marah, gampang tersulut
emosi dan meledak ledak. Emosinya sudah tinggi sejak
kedatangan keempat Utusan Keluarga Oey dari Cing Peng, tetapi
masih menahan diri karena ini urusan tuan rumah. Tetapi,
mendengar kakak tertuanya ditegur dan seperti dipermalukan
Phang Cen Loan, meledaklah kemarahannya dan sukar dia
mengendalikan dirinya lagi.
Mendengar suara dari deretan peserta atau anggota dari ketiga
perguruan yang sedang berkumpul, Phang Cen Loan mengira
yang menegurnya adalah anggota biasa dari ketiga perkumpulan
itu. Matanya sudah berubah kembali membara setelah sempat
ditenangkan suaminya. Dan karena itu, dengan suara menghina
dan amat memandang rendah, dia melihat Ho Bun yang sudah
berdiri di sayap kiri, sambil kemudian berkata dengan tajamnya:
“Mereka yang tidak paham dengan persoalannya lebih baik diam
dan jangan coba menggonggong mengganggu pekerjaan
kami.....”
1417
Luar biasa hinaan Phan Ceng Loan terhadap seorang tokoh Ang
Liong Pang. Dan lebih luar biasa lagi, karena umur tokoh itu,
bahkan masih lebih tua lebih dua puluh tahun dibandingkan
dirinya. Mana dapat seorang Ho Bun menahan kemarahan yang
demikian hebat? Bahkan sampai seorang Ho Lang sendiri, sang
Pangcu Ang Liong Pang, ikut-ikutan membara matanya dengan
kalimat kurang ajar yang dikeluarkan oleh Phang Cen Loan tadi.
Dan Kam Song Si dengan cepat menyadari jika adik
seperguruannya sudah berbuat dan berkata teramat lancang
pada saat itu dan bakalan mengganggu upaya mereka saat itu.
Tapi, baru saja dia mau bertindak, Ho Bun sudah menggeram
dengan amat murka sambil kemudian melangkah maju dan
menuding-nuding wajah Phan Cen Loan. Tak berapa lama
kemudian diapun memaki dengan suara kasar dan keras;
“Hmmmm, sungguh anjing betina tidak tahu aturan. Kalian boleh
saja hebat, kaya dan tidak memandang mata kepada kami di Kota
Liang Ping ini. Tetapi tetap saja kalian tidak berhak memaki-maki
dan merendahkan kami di Kota kami ini. Benar kalian berurusan
dengan Hek It Kau, tetapi tidak berarti kalian bisa seenaknya
datang dan merusak suasana pertemuan tiga perguruan kami di
kota Liang Ping ini. Sekarang, apa maumu....?”
1418
Luar biasa, makian Ho Bun ini tidak kalah kasar dengan makian
Phan Cen Loan sebelumnya. Tapi, mau dikata apa? Adalah
Phang Cen Loan yang justru memulai semuanya, dan dia jugalah
yang telah memicu keadaan yang membuat Ho Bun dan hampir
semua tokoh yang ada dalam ruangan itu menjadi marah dan
murka kepadanya. Bahkan perlahan namun pasti, suasana sudah
mulai berubah menjadi pertikaian keempat orang itu melawan
seisi ruangan yang merupakan tokoh-tokoh silat dari Kota Liang
Ping. Kam Song Si, orang tertua diantara keempat tokoh yang
datang menagih ke Hek It Kau itu cukup maklum. Karena itu, dia
berkata kembali untuk menenangkan sumoynya;
“Phang Sumoy ..... sabarlah” bagaimanapun Kam Song Si
memang harus mencoba untuk meredakan kemarahan Phang
Cen Loan setelah melihat keadaan berubah cepat menjadi tak
menguntungkan bagi misi mereka. Jika dia membiarkan Phang
Cen Loan terus berulah, niscaya kerepotan yang ditemui.
“Maaf Toa Suheng, aku muak melihat Hek It Kau yang menclamencle
dan terus mendustai kita. Sudah lebih setahun Toa
Suheng. Dan kerugian toko kita bukannya sedikit selama setahun
belakangan ini, dan kini mereka memakai anjing-anjing penjaga
untuk melawan kita. Hmmm, apa si anjing buduk pendek itu
mengira aku akan ketakutan untuk menghadapinya.....”?
1419
Bukannya membuat suasana menjadi dingin, teguran Kam Song
Si justru dijawab dengan kata-kata Phang Cen Loan yang
semakin memanaskan suasana. Bahkan sudah berubah menjadi
tantangan terbuka terhadap Ho Bun yang tentu saja jadi emosi
dan langsung menerima tantangan itu.
“Hohoho, jangan dikira kami akan membiarkan hinaan terhadap
kawan-kawan di Kota Liang Ping ini tanpa memberi pelajar
kepadamu Nona.....” mari kita selesaikan dengan pukulan, dan
kemarilah, biar lohu memberi pelajaran kepada mulut dan juga
bibirmu itu biar lebih sopan dalam berkata-kata.
Melihat kawannya sudah maju, Hek It Kaucu menjadi tidak enak
hati, meskipun juga menjadi sedikit senang karena beroleh
bantuan yang tidak sedikit. Dia masih coba untuk mendinginkan
suasana dengan berkata:
“Ho Bun lote, cobalah menahan diri, dan biarkan lohu mencoba
untuk menjernihkan persoalan ini dengan pihak mereka....”
dengan suara halus Hek it Kaucu mencoba membujuk
sahabatnya dari Ang Liong Pang itu.
“Hek It Kaucu, anjing betina itu menggonggong terlalu
menyakitkan. Mulutnya terlalu tajam dan menghina kita, bukan
1420
hanya menghina Hek It Kau kalian, tetapi juga menghina kita
semua. Karenanya mundurlah, biarkan kucoba menutup mulut
anjing betina jalang itu.....” luar biasa makian balasan dari Ho Bun,
makian yang membuat keadaan jadi tak bisa dikendalikan lagi.
Apalagi karena semua peserta pertemuan, juga sudah sama
murka terhadap Phan Cen Loan yang bukan hanya sombong dan
tinggi hati, tetapi juga sangat menghina itu. Sementara, kata kata
Ho Bun yang terakhir, juga sama dengan minyak yang disiramkan
kearah sumber api yang siap menyala. Dan meledak jugalah......
“Kurang ajar, terimalah pukulanku......” Phang Cen Loan yang
akhirnya memulai perkelahian karena tidak dapat menahan lagi
kemarahan dalam hatinya. Begitu menyerang, dia langsung
menggunakan Ilmu dan Gerakan-gerakan hebat dari pintu
perguruan Siauw Lim Sie, namun gerakan-gerakan itu sudah
disamarkan. Phang Cen Loan menyerang dengan Ilmu Pukulan
Sam In Ciang (Tiga Tinju Rahasia), salah satu ilmu andalan Bu In
Sinliong. Sejatinya adalah ilmu Silat Siauw Lim Sie, namun sudah
digubah dan dirubah sedemikian rupa oleh Bu In Sinliong
sehingga menjadi berbeda. Tetapi, kehebatannya bahkan
meningkat lebih hebat dan lebih memiliki daya pukul dan daya
terjang dibandingkan dengan rangkaian ilmu yang sejenis di pintu
perguruan Siauw Lim Sie.
1421
Apalah artinya seorang Ho Bun menghadapi Phang Cen Loan?
Dalam 5 dan 6 jurus belaka, Ho Bun sudah terdesak hebat dan
keadaannya jadi sangat mengenaskan. Sewaktu-waktu dia dapat
terkena pukulan lawan, tetapi Phang Cen Loan seperti sedang
mempermainkan dia dan membuatnya pontang-panting
berkelabat kekiri atau kekanan tetapi tidak mampu lepas dari
belitan serangan lawan. Apalagi, karena kekuatan iweekangnya,
juga masih tidak mampu memadai melawan Phang Cen Loan
yang meski jauh lebih muda, tetapi lebih terlatih. Akhirnya, semua
dapatlah menyaksikan bahwa Ho Bun memang masih bukan
tandingan dari Phan Cen Loan dan membuat semua kaget.
Seorang tokoh dari Ang Liong Pang tidak dapat menandingi
seorang perempuan dari Toko Keluarga Oey?
Tidak lama kemudian Phang Cen Loan sudah dikerubuti dua
orang, karena Ho Kun, kakak Ho Bun sudah turun tangan
membantu adiknya. Mereka berdua, kakak dan adik
sesungguhnya adalah pemimpin-pemimpin tertinggi Ang Liong
Pang yang Pangcunya adalah kakak tertua mereka Ho Lang.
Tetapi, sudah maju berduapun, tetap saja keduanya terdesak dan
tak mampu banyak berbuat selain berkelabat menghindar kekiri,
kekanan, kebelakang. Phang Cen Loan masih tidak kesulitan
melawan dan mempermainkan keduanya, bahkan sesekali
1422
terdengar suara ketawa sinisnya. Keadaan yang tentu membuat
hampir semua orang dalam ruangan itu tertegun tetapi tetap
mendukung kedua kakak beradik Ho Kun untuk terus mengejar
dan menghajar Phang Cen Loan yang ceriwis dan sombong itu.
Tiba-tiba Phang Cen Loan kembali bersuara:
“Awas, jaga pipi kiri kalian berdua.......” terdengar teriakan dalam
nada suara yang menyakitkan hati dari Phang Cen Loan. Dan
benar saja, dalam beberapa langkah kemudian terdengar suara
yang keras memenuhi ruangan tersebut ....”Plok......Plok”, pipi kiri
Ho Bun dan Ho Kun sudah kena ditampar oleh lengan mungil
Phang Cen Loan. Akibatnya mereka berdua terdorong ke
belakang dengan pipi memerah bekas tamparan tangan Phan
Cen Loan. Tetapi, bukan pipi itu yang terasa sakit, tetapi hati dan
gengsi yang rasanya jauh lebih sakit. Karena begitu mudahnya
mereka jatuh dan dikalahkan seorang perempuan yang berusia
muda. Usia perempuan itu terpaut sekitar 20 tahunan dibawah
mereka berdua. Hati siapa yang tidak malu, penasaran dan sakit
oleh kenyataan itu? Tetapi sakit hati dan kepenasaran mereka
masih belum berakhir sama sekali. Karena tak lama kemudian,
kembali terdengar suara menyakitkan dari Phang Cen Loan:
“Ayo....... maju lagi jika memang masih ingin beroleh gebukan....”
setelah berhasil menampai pipi kiri Ho Bun dan Ho Kun, Phang
1423
Cen Loan menjadi semakin garang, sombong dan tinggi hati.
Seakan dialah ratu dalam ruangan pertemuan Hek It Kau tersebut
dan semakin pongah tingkahnya.
“Gggggrrrrrrrr, aku akan adu jiwa denganmu.....” terdengar Ho
Bun menggeram marah dan kembali menyerang dengan gaya
dan cara yang tidak beraturan. Atau lebih tepatnya, nampaknya
dia kini menyerang dengan gaya dan cara yang kalap. Tidak
perduli kalah atau menang yang penting dapat memukul Phang
Cen Loan. Melihat Ho Bun maju, mau tidak mau Ho Kun juga
bergerak maju, dan pada saat itu, Ho Lang, sang kakak tertua juga
jadi ikut maju melihat kedua adiknya ditundukkan secara
memalukan oleh Phang Cen Loan. Majunya Ho Lang sedikit
membantu Ho Bun dan Ho Kun, karena Ho Lang ternyata memiliki
kepandaian yang lebih memadai dibandingkan kedua adiknya.
Dia dengan cepat dan tepat menahan pukulan berbahaya Phang
Cen Loan yang nyaris melukai Ho Kun. Tepat ketika adik
keduanya itu mendorong Ho Bun dan memasang badan sendiri
menahan pukulan Phang Cen Loan. Cepat dan tepat Ho Lang
menangkis lengan Phang Cen Loan dan membuat lengannya
tergetar tanda masih bahwa dia sendiripun masih tetap kalah
kuat. Tetapi meskipun begitu, tujuannya tercapai, yakni agar Ho
Bun dan Ho Kun selamat dari pukulan lawan.
1424
Melihat Ho Lang sudah maju, pada akhirnya, mau tidak mau Hek
It Kau turun tangan dan kemudian berkata dengan suara keras:
“Baiklah, jika memang kalian berempat, wakil dari Toko Keluarga
Oey, tidak lagi mau memberi muka kepada kami di Kota Liang
Ping ini, boleh kalian katakan, apa yang ingin dan hendak kalian
lakukan....”?
“Cou toako, setelah pertempuran tadi, urusan mereka berempat
sudah bukan hanya urusan Hek It Kau sendirian lagi. Benar,
pertemuan sudah ditutup, tetapi dengan semua warga persilatan
di Kota Liang Ping masih berada dalam ruangan, maka berarti
ruangan ini masih milik warga persilatan Liang Ping. Nona, entah
siapa namamu, tetapi apa yang engkau lakukan, caramu
melakukan dan tingkah lakumu sungguh sangatlah tidak pantas.
Engkau mungkin ingin mempermalukan Hek It Kau, tetapi apa
yang engkau lakukan dan pilihan waktumu, telah membuat semua
warga persilatan di Kota ini menjadi sangat tersinggung. Apalagi
dengan kepongahan dan kesombonganmu yang tidak sedikitpun
bersedia memberi muka kepada kami kaum persilatan di Liang
Ping ini. Kemanapun, kami akan meminta keadilan atas apa yang
kalian lakukan pada hari ini, termasuk mengadu ke Bengcu yang
baru, Pangcu Kaipang, Tek Ui Sinkay. Karena itu, mewakili Ang
Liong Pang, Hek It Kau dan Ceng Liong Pang, lohu menuntut
1425
kalian berempat untuk minta maaf karena sudah mengganggu
pertemuan kami. Dan setelah semua itu, engkau khususnya
Nona, kesombonganmu dan kelancanganmu tadi perlu
membuatmu secara khusus minta maaf kepada kami semua yang
hadir di tempat ini......”
Berbeda dengan Ho Bun dan bahkan Ho Kun, kata-kata dan
kalimat Ho Lang jauh lebih teratur, jauh lebih sopan dan memiliki
landasan dan kaidah yang masuk akal bagi semua orang. Kam
Song Si tiba-tiba sadar, bahwa memang benar, mereka sudah
masuk dan kecebur dalam situasi sulit yang diakibatkan oleh
kecerobohan dan keangkuhan satu orang saja. Phang Cen Loan.
Tetapi, saat itu keadaan sudah demikian terlanjur dan sudah
teramat sulit bagi mereka untuk mundur, atau apalagi minta maaf
dan mengaku salah. Dia, Kam Song Si, mungkin saja minta maaf
atas kekeliruan mereka, tetapi dia sungguh tidak yakin jika adik
seperguruannya yang juga adalah menantu Suhunya akan
bersedia melakukannya. Dan kelemahan lain dari Kam Song Si
adalah kelambanannya atau sangat kurnag gesit dan cepat dalam
mengambil keputusan di saat genting. Dan itu terjadi lagi, karena
belum lagi dia mewakili para sutenya bicara, tiba-tiba terdengar:
“Hmmmmm, memangnya kami harus takut jika harus berhadapan
dengan kalian semua yang membela tuan rumah yang berlaku
1426
salah kepada kami....? apalagi dengan membawa-bawa nama
Bengcu Tionggoan, sungguh memalukan. Tetapi, jika memang
kalian lakukan, mengadu kepada Bengcu Tionggoan, maka aku,
Phang Cen Loan akan mempertanggungjawablannya. Aku
bersedia menghadapi dan menjawab alasan kami...” bukannya
minta maaf, justru Phang Cen Loan tambah memancing amarah
dan murka semua orang dalam ruangan tersebut, terutama pihak
ketiga perguruan yang kini sudah tidak dapat lagi menahan emosi
mereka. Sebagian besar dari mereka, kini berdiri dan sinar mata
mereka jelas-jelas menjadi tajam dan mengancam untuk maju
mengeroyok.
“Hmmmm, mau melakukan pengeroyokan.....? boleh, silahkan
jika memang kalian semua berani melakukannya.....”
“Sumoy, diam engkau........” tak tahan Kam Song Si membentak
Phang Cen Loan setelah melihat bagaimana reaksi dari semua
orang dalam ruangan tersebut. Apalagi sudah membawa-bawa
nama Tek Ui Sinkay. Beda dengan yang lain, Kam Song Si sedikit
tahu hubungan Suhunya dengan Kaypang Pangcu, meski
jelasnya dia tidaklah paham. Memang dia tidak takut menghadapi
keroyokan mereka semua, tetapi tentu saja dia harus menghitung
akibatnya bagi Suhunya. Tetapi, lain lagi dengan Phang Cen Loan
1427
yang ditegur oleh Kam Song Si. Bukannya dia diam, sebaliknya
malah menengus:
“Hmmmm, Toa Suheng, apakah engkau takut menghadapi semua
keroco-keroco tak tahu diri dan tak tahu diuntung ini......”?
Mendegar itu, Kam Song Si menarik nafas panjang sambil
memandang sumoynya dengan pandangan kesal. Apa boleh
buat, dia tak mungkin lagi menarik semua kata kata sumoynya,
karena semua orang mendengarkan perkataannya. Dan memang
benar, Ho Lang, Cou Kiong dan Pek Hoat (Si Rambut Putih) Wie
Lin Sui (Pangcu dari Ceng Liong Pang) sudah saling pandang
satu dengan lainnya. Dan merekapun saling menganggukkan
kepala tanda saling mengerti apa yang akan mereka lakukan
menghadapi situasi yang tertera dihadapan mereka bertiga.
Biasanya, adalah Wie Lin Sui yang menjadi jurus bicara bagi
mereka bertiga, karena dia memang tokoh yang berusia paling
banyak, 61 tahun. Selain itu, Wie Lin Sui ini memang tokoh yang
memiliki kepandaian paling tinggi diantara mereka bertiga, paling
bijaksana dan sering menjadi tempat bertanya bagi ketiga
perguruan di Kota Liang Ping ini. Tokoh ini biasanya enggan
campur tangan untuk urusan yang tiada sangkut pautnya dengan
dirinya ataupun dengan Ceng Liong Pang.
1428
Dan kini, akhirnya tokoh tua itu berdiri dan kemudian memandang
Kam Song Si berempat. Melihat tokoh itu sudah berdiri, maka Hek
It Kaucu dan juga Ho Lang, Ang Liong Pangcu, ikutan berdiri dan
mengapit Wie Lin Sui yang sesuai julukannya memang seluruh
rambutnya sudah berwarna putih. Entah semuanya merupakan
uban, atau karena sebab lain rambutnya memutih. Wie Lin Sui
berdiri, kemudian menatap Kam Song Si berempat dan akhirnya
berkata:
“Kalian berempat mestinya adalah murid dari seorang tokoh yang
lohu kenal, karena gerakan Siau Toanio tadi adalah salah satu
ilmu andalannya, Sam Im Ciang. Tapi, lohu sungguh heran, tokoh
yang lohu kenal itu beradat dan berperangai Pendekar, senang
bersahabat dan memang memiliki kepandaian tinggi. Sungguh
jauh beda dengan murid perempuannya yang berangasan,
sombong dan tinggi hati. Apakah lohu keliru dengan kata-kata
itu.....”?
Kam Song Si terkejut begitu tahu ada seorang tokoh yang
mengenal Suhunya. Kata-katanya tadi benar-benar sebuah
peringatan, tetapi peringatan itu justru semakin membuat dia
terdiam bingung mau mengatakan apa. Karena itu, kembali
Phang Cen Loan yang mengambil kendali, secara keliru.
1429
“Jika engkau mengenal Suhu, berarti engkau harus duduk diam
dan membiarkan kami menyelesaikan urusan hutang dengan
pihak Hek It Kau......”
“Sungguh bernyali...... sayang sekai Nona, kata-katamu tadi
sudah melukai para pendekar di Kota Liang Ping, dan lohu adalah
salah satu yang tersinggung dengan kata-kata dan sikap
sombongmu itu. Jika kalian lebih sabar sedikit dan turun tangan
setelah kami berlalu, maka benar itu adalah urusan antara Hek It
Kau dengan Toko Keluarga Oey. Tapi, sayang, kalian ceroboh
turun tangan ketika kami masih berada di ruangan ini bersama
semua anggota Hek It Kau...... sungguh perbuatan ceroboh dan
mempermalukan nama Suhumu yang sangat besar dan mulia
Nyonya” semakin jelas dan tegas teguran dari tokoh bernama Wie
Lin Sui ini. Tapi, entah mengapa, apakah karena memang
karakternya, atau ada sebab lainnya, Phang Cen Loan seperti
tidak punya liangsim dan terus saja menyudutkan orang. Teguran
serta peringatan tokoh setua Wie Lin Sui diabaikan, dan sebagai
gantinya diapun berkata dengan nada merendahkan dan
menyakitkan:
“Sudahlah orang tua, sudah cukup hormat kami dengan tidak
melibatkan pihak lain. Karena ini murni urusan kami dengan pihak
Hek It Kau..... tetapi jika ada pihak lain yang ingin membantu,
1430
maka kami semua akan siap menghadapi......” luar biasa,
sungguh sombong dan membuat Wie Lin Siu akhirnya kehabisan
kesabarannya. Keningnya berkerut dan dengan nada terpaksa
diapun berkata;
“Sungguh menyesal sobat She Siau itu memiliki murid sedemikian
tidak punya sopan santun, sungguh berbeda jauh dengan
Suhunya........”
“Hek It Kaucu, jangan berlindung dibalik ketiak orang lain. Majulah
dan selesaikan urusan dengan pihak kami.....” tajam dan
sombong suara Phang Cen Loan sampai Wie Lin Sui sendiripun
jadi gemetar saking murkanya.
“Nona, sebagai orang tertua dari 3 perguruan kota Liang Ping,
maka lohu tegaskan masalah kalian sudah menjadi masalah
kami. Hek It Kau tidak akan turun tangan tanpa perintah dan
persetujuanku....” berkata Wie Lin Sui dengan suara keras, tegas
dan tidak ada yang kini berani membantah keputusannya. Bahkan
Hek It Kau dan Ho Lang sendiripun tidak berani.
“Menghadapi Bu Tek Seng Pay sekalipun, meski kami bagaikan
kunang-kunang hendak menyerbu matahari, kami masih tetap
1431
memiliki kegagahan. Apalagi hanya menghadapi bocah kecil,
nakal dan sombong seperti dirimu.....”
“Aha..... jika memang demikian, bocah kecil dan nakal itu
sekarang menantangmu. Majulah dan biar Nyonya besarmu
menunjukkan bagaimana sebaiknya tindakan dan tingkah
seorang pendekar.....”
Seseorang dari pihak Ceng Liong Pay tiba-tiba maju menyerang
Phang Cen Loan, tetapi belum lagi dia menyerang lebih jauh dan
mendekati posisi Phang Cen Loan, Wie Lin Sui sudah
membentak:
“Tahan.... kalian jelas-jelas masih bukan tandingan perempuan
sombong itu. Bahkan Lohu sendiri mungkin masih belum menjadi
tandingannya. Karena itu, kalian semua mundurlah. Biarkan lohu
berusaha untuk mencoba menegakkan harga diri kita di Kota
Liang Ping ini.......” berkata begitu, tokoh tertua tiga perguruan
kota Liang Ping ini kemudian majukan dirinya dan kini sudah
langsung berhadap-hadapan dengan Phang Cen Loan.
Sementara Kam Song Si masih terlihat ragu dan bingung apa
yang sebaiknya dilakukannya. Tapi Phang Cen Loan sudah
dengan sombong dan pongahnya maju dan berkata:
1432
“Baik, engkau majulah Ceng Liong Pangcu, mari kutunjukkan
bagaimana kehebatan kami dari Kota Cing Peng. Dan mudahmudahan
saja engkau akan dapat bertahan sampai 20 jurus
menghadapiku”
Wie Lin Sui tahu jika Phang Cen Loan tidak berkata sesumbar,
dia tahu betul hebatnya Pendekar She Siau yang sangat jarang
munculkan diri itu. Muridnya tentu hebat dan dia tahu kesempatan
menangnya teramat kecil. Bahkan untuk sekedar menahan
seimbangpun tetaplah amat sulit. Tetapi, kegagahannya
mendorong dia maju dan mempertahankan kebanggaan dan
harga diri sebagai seorang pendekar yang rumah dan pertemuan
mereka diganggu pendatang dari luar. Dia sadar akan kalah,
tetapi tetap saja dia berkehendak maju menghadapi Phang Cen
Loan. Bagaimanapun juga, dia adalah tokoh tertua yang
dipercaya menjadi pemimpin tiga perguruan kecil di kota itu.
“Kuberi waktu 3 jurus untuk menyerangku tanpa membalas
Pangcu.....” semakin menjadi-jadi kesombongan Phang Cen Loan
dan semakin kebat-kebit perasaan Kam Song Si dan bahkan
suami Phang Cen Loan yang juga adalah anak sulung Pendekar
She Siau dari Kota Cing Peng itu.
1433
Dan benar saja, begitu Wie Lin Sui menyerang dengan jurus atau
gerakan Coa Ong Sim Hiat (Raja Ular mencari liang) dalam ilmu
yang kelihatannya berasal dari Bu Tong Pay, Phang Cen Loan
bergerak cepat menghindar tanpa membalas. Bukan hanya tiga
jurus, bahkan sampai 5 jurus dan dengan gerakan yang sangat
jelas mempermainkan dan memandang enteng lawannya. Tetap
saja Phang Cen Loan sulit dijangkau lawannya, apalagi karena
dia bergerak dengan ginkang Liap In Sut (Ginkang Mengejar
Awan) yang jelas saja membuatnya lebih sulit lagi digapai lawan.
Karena itu, lima jurus berlalu tanpa ada ancaman berarti terhadap
Phang Cen Loan. Semua jurus serangan dalam Ilmu asal Bu Tong
Pay, Bu Tong Kun Hoat, selalu dihadapinya dengan mudah dan
dielakkan dengan manis. Wie Lin Sui paham bahwa dirinya masih
belum merupakan lawan setimpal dari si perempuan sombong itu,
tetapi tetap saja dia menyerang dan mencoba menyudutkan
lawan.
Setelah 15 jurus berlalu, tiba-tiba Phang Cen Loan berseru
dengan suara keras agar di dengar semua orang dalam ruangan
itu:
“Awas pangcu, engkau harus bersiap sedia, karena dalam 5 (lima)
jurus kedepan engkau akan kujatuhkan.....”
1434
Dan setelah berseru demikian Phang Cen Loan bergera cepat
dalam gerakan Giok li Touw Kang (Wanita elok menyeberang
sungai), sebuah gerakan cepat dan manis dari ilmu ginkang Liap
In Sut milik perguruannya. Dan dengan segera disusul lagi
dengan gerakan Bwee Swat Tiauw Goat (Kembang Bwee Mekar
Menghadapi Rembulan). Gerakan pertama membuat Wie Lin Sui
kehilangan jejak lawan yang bergerak sangat cepat dan pesat,
tetapi gerakan kedua adalah salah satu jurus pukulan Sam In
Ciang. Jelas saja kombinasi gerakan ini sulit untuk dihadapi dan
dielakkan oleh seorang Wie Lin Sui, bahkanpun oleh para
pendekar kelas satu di Tionggoan. Itulah sebabnya Wie Lin Sui
menjadi gugup dan akhirnya pasrah menghadapi pukulan lawan:
“Dukkkkkkkkk...... adduuhhhhhh.......”
Bukannya tubuh Wie Lin Sui yang terpukul ke belakang melainkan
Phang Cen Loan yang begitu memukul lawan justru terdorong
sampai 5 langkah ke belakang. Kaget dia dengan kenyataan itu,
karena lawan sudah pasti dapat dia taklukkan dengan pukulan
terakhirnya. Tetapi, siapa sangka, justru tenaga pukulannya
membalik dan membuatnya terdorong ke belakang. Untung
tenaga iweekang yang digunakannya masih dapat diukur dan
dikuasainya sehingga hanya menghasilkan kekagetan dan tidak
sampai melukai dirinya sendiri. Tetapi, ada bagian lain yang justru
1435
terluka sangat parah. Yaitu egonya, kesombongan dan arogansi
yang sejak tadi membuat banyak orang menjadi muak
kepadanya.
“Kurang ajar, siapa yang main gila.....”? serunya penasaran
namun tidak panjang dan lama, karena matanya cepat
menangkap di belakang tubuh Wie Lin Sui sudah berdiri seorang
tua lainnya dalam sikap gagah. Menjadi semakin marah dan juga
membara karena pada saat itu terdengar tepuk tangan meriah
dari semua orang dalam ruangan itu menyaksikan si sombong
terontar ke belakang. Akhirnya ada juga tawa senang pihak tiga
perguruan Kota Liang Ping.
“Hahahaha, sungguh aneh dan sungguh lucu, mengapa dari
seorang yang berwatak Pendekar dan mengutamakan
kegagahan seperti SIAU JI PO dapat muncul seorang dengan
watak begitu rendah dan sombong seperti dirimu......”?
“Siapa engkau....? mengapa engkau mengganggu kesenangan
Nyonya besarmu ini? apa engkau kira nyonyamu tak akan dapat
menggebukmu pergi....”? geram Phang Cen Loan begitu tahu
seorang setengah tua sudah berdiri di belakang Wie Lin Siu dan
membantunya.
1436
“Siapa lohu tidaklah penting-penting amat. Yang penting adalah,
lohu teramat sangat tidak senang melihat betapa Sam In Ciang
dan Liap In Sut yang mentah dan kosong telah digunakan seorang
berwatak rendah dan sombong. Kedua ilmu hebat itu, adalah
ciptaan seorang pertapa berbudi dan diperuntukkan bukan untuk
menghina dan mempermalukan orang lain.....” jawab si manusia
pertengahan umur yang bukan lain Thian Liong Koay Hiap
adanya.
“Hmmmm, syukur engkau mengetahui Liap In Sut dan Sam In
Ciang, jadi sudah bisa engkau mundur sebelum pukulanku
menyasar ke tubuhmu......” bukannya sadar menghadapi lawan
berat, Phang Cen Loan justru semakin menjadi-jadi dan semakin
terasa ngawur, termasuk di telinga saudara seperguruannya yang
lain.
“Hahahahaha, sungguh lucu, sungguh lucu. Ech, benar-benar
aneh. Bagaimana bisa seorang gagah seperti Siau Ji Po dapat
mendidik seorang murid dengan watak seburuk ini....? lucunya
lagi, sudah berani bertingkah dengan ilmu dan jurus-jurus yang
masih amat mentah......”
Mendengar kata-kata yang demikian aneh dari Thian Liong Koay
Hiap, Kam Song Si dan kedua sutenya yang lain mulai merasa
1437
kurang enak. Jelas si pendatang baru ini mengenal Suhu mereka
dan bahkan secara tepat menyebut nama ilmu andalan yang tadi
dimainkan Phang Cen Loan, saudara seperguruan mereka itu.
Tapi, sekali lagi, kelambanan dan ketidak gesitan Kam Song Si
dan Siau Hu Hok membuat kejadian lebih lanjut menjadi mungkin
untuk terjadi. Kejadian yang sangat tidak enak bagi mereka
berempat, terutama Phang Cen Loan.
“Engkau rasakan Sam In Ciang yang mentah ini....” terdengar jerit
marah dari Phang Cen Loan yang kini mencecar Thian Liong Koay
Hiap.
Tetapi dengan sangat mudah dan santai saja Thian Liong Koay
Hiap bergerak, dan bahkan sambil menyebutkan dan
menganalisis kelemahan dan kekurangan jurus yang dimainkan
Phang Cen Loan:
“Gerak 'Bu Eng Bu Seng' (Tiada Bayangan Tiada Suara), jurus
hebat dari Liap In Sut tapi terlampau lamban sedangkan gerakan
kaki kurang mantap dan tenaga tidak memadai, dan akibatnya
tipu Tiat Ie Koan Jit (Baju Besi Menutup Matahari) jadi kurang
maksimal. Tidak berguna. Nach, benar, engkau melanjutkan
dengan tipu Hek Houw Lok Sia (Harimau Hitam Ketawa). Ach, tapi
sungguh amat disayangkan lenganmu kurang panjang terulur dan
1438
gerakan kakimu kurang lincah. Aaaachhhh, sayang karena
kembali seranganmu bagaikan harimau ompong dan seperti kuku
harimau tua yang sudah rapuh. Masih tidak dapat mendatangkan
bahaya bagi lawan yang paham......” sambil mengelak dengan
gesit dan mujijat, Koay Ji menyebutkan nama-nama jurus yang
digunakan Phang Cen Loan dan bahkan menyebutkan
kelemahan dari jurus-jurus yang justru digunakan lawan
menyerangnya. Keadaan itu membuat Phang Cen Loan semakin
marah dan tiba tiba dia membentak hebat dan menyerang dengan
lebih lagi:
“Rasakan seranganku orang usil......”
Tetapi, seperti juga yang sebelumnya, dengan sangat ringan dan
amat mudah Koay Ji mengelak dan terus menyebutkan nama
jurus, dan bahkan menyebutkan semua kekurangan dan
kelemahan permainan Phang Cen Loan;
“Ach gerakan Thian Lie Pian In (Bidadari Menari di Awan) yang
sungguh payah, iweekangmu pasti belum terlatih dengan
memadai dan karena itu, pengerahan hawa ketika melompat
masih belum mampu mendorong tubuh lebih gesit bergerak. Dan
jurus Hay Tee Lo Got (Di Dasar Laut Meraup Rembulan) juga
sungguh tanggung, kurang memberi tekanan dan tidak
1439
membahayakan. Echhh, sayang, engkau keliru, mestinya
dilanjutkan dengan jurus Pa Ong Gie Kah' (Couw Pa Ong
meloloskan jubahnya). Hmmm, sekarang lohu yakin benar-benar
yakin, engkau sesungguhnya termasuk murid yang malas belajar,
hingga kecepatan dan kekuatanmu masih terlampau cetek. Masih
susah diandalkan.....”
Sambil bergerak Koay Ji selalu menyebut ilmu dan jurus yang
dimainkan oleh Phang Cen Loan, bahkan lengkap dengan
kekurangannya. Akibatnya, mereka terlihat seperti sedang
berlatih dengan Phang Cen Loan setelah menyerang sampai lima
jurus akhirnya terhuyung-huyung mundur tanpa diserang oleh
Koay Ji dengan satu jurus serangan sekalipun. Aneh memang.
“Ach, engkau mau main-main dengan Ilmu Pukulan Sian In Sin
Ciang (Lengan Sakti Bayangan Dewa) rupanya, bagus, bagus.
Accch, tapi Jurus Ki Hwe Siauw Hian (Angkat obor membakar
langit), yang jelek, pernafasanmu kurang tepat sehingga tenaga
dorongan juga tidak maksimal. Sekali ini tepat, engkau
melanjutkan dengan tipu Hay Tee Tam Cu (Mencari mutiara di
bawah laut), tapi ach sayang keliru, mestinya gunakan Gerakan
Yan Cu Tui In (Burung wallet mengejar mega) dan kombinasikan
dengan Gerakan Kim So Heng Kong (Rantai Emas Melintangi
Sungai). Karena itu, mudah saja aku memotongmu dan
1440
mendorongmu sehingga kembali terlontar ke belakang.......
sayang, engkau masih mentah tapi sudah amat berani congkak di
luaran.....”
Kalimat terakhir Koay Ji diakhiri dengan dorongan ringan dengan
membenturkan tubuh kanannya ke lengan kiri Phang Cen Loan.
Dan akibatnya, Pohang Cen Loan terlontar kembali ke samping
dan butuh 5-6 langkah baru dapat kembali tegak dan kini mulai
ngeri menghadapi Koay Ji. Bukan apa-apa, entah mengapa tokoh
itu tahu dan paham dengan semua jurusnya dan bahkan tahu apa
kekurangan semua jurus yang digunakannya itu.
“Siapa engkau .....”? jeritnya antara bentakan ataupun geraman
dahsyat seekor harimau betina yang siap kembali menyerbu. Jika
dia kembali menyerbu, pasti akan menyerbu dengan kalap.
“Orang yang tahu dan paham bahwa Kakek Gurumu menciptakan
ilmu itu untuk maksud mulia, tetapi engkau yang masih mentah,
justru menggunakannya untuk menghina sesama kaum
persilatan. Tetapi, boleh engkau memanggilku sebagai Thian
Liong Koay Hiap jika engkau mau.....”
“Thian Liong Koay Hiap.......”
1441
Terdengar bisik-bisik terkejut diantara hadirin, kecuali rombongan
Kaypang yang sudah tahu dan mengenal terlebih dahulu. Yang
jelas, semua orang, termasuk Hek It Kaucu, Angliong Pangcu dan
Ceng Liong Pangcu terkejut dan sudah mendengar nama besar
Thian Liong Koay Hiap yang sedang berkibar megah di angkasa
raya. Nama yang disebutkan orang dengan penuh kekaguman
dan mendatangtkan rasa ngeri dan seram bagi kawanan penjahat
karena tangannya yang meski tidak gemar membunuh, tetapi
kejam memunahkan kepandaian orang jahat.
“Hmmm, mentang-mentang punya nama besar meski masih baru,
jadi engkau kini besar kepala dan sombong. Apa engkau kira aku
takut melawanmu, mari kita lihat bagaimana seranganmu, apakah
sama hebat dengan namamu yang melambung tinggi itu atau
hanya nama kosong belaka......”? tahu lawan sangat hebat,
membuat Phang Cen Loan kini mulai khawatir, tetapi
kemarahannya menahan dirinya untuk menyerah begitu saja.
“Hmmmm, Phang Cen Loan........ engkau sungguh menjemukan
dan seperti orang yang tidak belajar sopan santun. Jika tidak
memandang muka Suhumu, maka semua kepandaianmu akan
lohu punahkan. Tapi, baik, lohu akan menggunakan dua jurus dari
Ilmu Pukulan Sian In Sin Ciang (Lengan Sakti Bayangan Dewa)
yang engkau gunakan tadi. Yakni Jurus Ki Hwe Siauw Hian
1442
(Angkat obor membakar langit) dan juga tipu Hay Tee Tam Cu
(Mencari mutiara di bawah laut). Hati-hati jaga baik-baik pundak
kananmu pada jurus pertama dan jaga baik-baik kaki kirimu pada
jurus kedua. Nach, bersiaplah, lohu akan bergerak dengan Liap
In Sut...... apa engkau sudah cukup siap menerima
seranganku....”?
“Aku sudah siap, silahkan menyerang. Jika aku kalah dalam dua
jurus tersebut, maka aku akan melakukan apapun yang engkau
minta......”
“Hahahahaha, baiklah, akan kubuat lebih muda dan adil Phang
Cen Loan. Engkau cukup berkonsentrasi untuk menjaga pundak
kananmu, karena sejurus sudah cukup untuk mengalahkanmu.
Dan ingat dengan kata-katamu barusan......”
“Baik, tapi bagaimana jika engkau yang kalah orang aneh.....”?
tantang Phang Cen Loan penuh percaya diri.
“Hahahahaha, sama, engkau boleh melakukan apa saja atas
diriku....” jawab Koay Ji sama tekeburnya dengan Phang Cen
Loan.
“Baik, silahkan mulai ....” tantang Phang Cen Loan penuh percaya
diri. “Jika hanya satu jurus, masak aku tidak mampu
1443
menerimanya”, demikian kira-kira Phang Cen Loan berpikir
menghadapi Koay Ji.
“Awas pundakmu.....”
Dan benar saja, sesuai perkataannya tadi, Thian Liong Koay
Hoap menggunakan Jurus Ki Hwe Siauw Hian (Angkat obor
membakar langit). Tidak berbeda dari Phang Cen Loan dalam
kecepatan dan kekuatan pukulan, hanya yang berbeda adalah
ketepatan dan akibatnya. Lengan kanan Koay Ji bergerak pesat
ke atas dan kemudian dengan cepat meluncur kepundak kanan
Phang Cen Loan, dan, kena. Gerakan Koay Ji tidak berbeda
dengan gerakan Phang Cen Loan, tetapi sistim pengerahan
tenaga yang melandasi gerak lengan dan kaki jauh berbeda.
Karena itu, ketika Koay Ji menyerang pundak kanan Phang Cen
Loan, tidak ada cara baginya untuk menangkis meskipun dengan
mata kepala sendiri dia melihat bagaimana serangan Koay Ji
menuju sasarannya. Sayang sekali, dalam waktu sepersekian
detik belaka, Phang Cen Loan sudah tertotok roboh dan kalah
telak.
“Hmmmmm, ilmu siluman....” desis Phang Cen Loan tidak paham
dan tahu cara bagaimana Koay Ji menjatuhkannya.
1444
Mendengar desisan lawan, Koay Ji kemudian berkata sambil
mengibaskan lengan membebaskan Phang Cen Loan yang
barusan tertotok kalah itu:
“Hahahahaha, bagaimana ilmu perguruanmu sendiri dapat
engkau katakan sebagai ilmu siluman? Apakah Siau Ji Po benarbenar
tidak menjelaskan bagaimana menggunakan jurus itu
dengan dorongan hawa dalam tubuh sehingga kekuatannya
melonjak 10 kali lipat lebih hebat....”?
“Mana ada jurus dengan pengaturan begitu.....”? masih saja
Phang Cen Loan berkeras, karena meski dia tahu itu jurus dari
Ilmu Perguruannya, tetapi dia jelas tidak paham bagaimana
seorang Thian Liong Koay Hiap menggunakannya dan akibatnya
belum pernah disangkanya semua?
“Sudahlah, jika memang engkau tidak paham bisa kumengerti.
Adalah Suhumu yang mestinya paham jelas tentang ilmu dan
jurus itu. Bagaimanapun engkau sudah kalah dan wajib mentaati
perjanjian kita tadi. Jangan setelah membekal tekebur dan
kesombongan, engkau juga membekal sifat buruk lainnya, yaitu
tidak berani dan tidak tahu menerima kekalahan.....”
1445
“Tidak, aku belum tunduk sepenuhnya. Engkau menggunakan
ilmu siluman, tidak dapat dihitung kalah karenanya......”
“Ilmu siluman ...... waaaaah, engkau selain sombong dan tinggi
hati, tetapi ternyata juga licik. Tapi biar engkau puas, nach, biar
engkau mencoba sekali lagi. Lohu akan menggunakan Gerakan
Kim So Heng Kong (Rantai Emas Melintangi Sungai), dalam satu
jurus perguruanmu itu, jagalah daerah paha kananmu karena
disana letak serangan nanti. Engkau boleh bersiap sekarang....”
berkata Koay Ji dengan sikap jemu dengan kebebalan Phang Cen
Loan. Kini, Koay Ji sudah bersikap dan memutuskan apa yang
akan dilakukannya.
“Baik, silahkan engkau menyerang sekarang.....” tantang Phang
Cen Loan setelah siap menerima serangan Koay Ji.
“Awas serangan......”
Dengan cepat Koay Ji menerjang kedepan dan mengancam
sekujur tubuh Phang Cen Loan dengan beragam pukulan
bayangan. Tetapi, sebagaimana perkataannya tadi, Phang Cen
Loan menganggap sepi semua serangan Koay Ji dan konsentrasi
penuh menjaga daerah paha kanannya. Dan beberapa sata
kemudian, sekitar 3,4 detik berlalu, tiba-tiba Koay Ji mencelat
1446
mundur ke belakang dan berdiri sambil memandang tajam kearah
Phang Cen Loan. Sampai saat itu Nyonya sombong itu tidak
merasakan apa-apa, dan karena Koay Ji sudah melompat ke
belakang dan dia tidak merasa ada sesuatu yang aneh, dia
kemudian berkata:
“Apakah engkau akhirnya menyerah Thian Liong Koay Hiap....”?
tanya Phang Cen Loan dengan bangga dan senang. Tetapi,
dalam herannya, dia melihat Koay Ji tenang saja menatapnya,
bahkan seperti ada nada “kasihan” dalam tatap matanya. Phang
Cen Loan semakin heran karena ketika melirik ketiga suhengnya,
termasuk suaminya sendiri, mereka semua memandangnya
dengan perasaan menyesal dan kasihan. “Ada apa gerangan....
ada yang aneh....”? pikirnya bingung.
“Sudahlah, jika engkau masih tetap tidak mau mengaku kalah,
tidak apalah. Yang penting ketiga suhengmu dapat melihat
dengan jelas jika engkau sudah kalah dalam pertarungan tadi.
Jika engkau menarik perkataanmu tadi, juga bukan masalah yang
terlampau besar bagi diriku......”
“Heeeee, engkau tidak mau mengaku kalah.....”? teriak Phang
Cen Loan gusar dan membuat orang-orang tersneyum-senyum
mengejeknya.
1447
“Jika engkau tetap merasa menang, ya apa boleh buat, engkau
boleh merasa menang. Tetapi, tetap saja engkau harus minta
maaf dan bahkan minta ampun kepada Wie Lin Sui, tokoh tertua
yang sudah engkau permainkan tadi kewibawaan dan
kepemimpinannya di Kota ini......” berkata Koay Ji dengan wajah
keren, dan sekali ini membuat Phang Cen Loan berpikir berapa
kali sebelum meledek ataupun menghina tokoh yang dia sudah
rasakan memang hebat itu.
“Tapi..... tapi, aku kan tidak kalah......” desis Phang Cen Loan.
Tetapi, hatinya jadi mencelos begitu dia mencoba bergerak,
ternyata dia tidak mampu lagi sekedar mengerahkan
iweekangnya, bahkan untuk menggerakkan kakinyapun teramat
sukar dirasakannya. Baru dia kaget. Tambah kaget ketika dia
mendengar:
“Tidak sumoy, engkau sudah kalah. Kalah telak oleh Thian Liong
Koay Hiap dengan gaya sederhana, Gerakan Kim So Heng Kong
(Rantai Emas Melintangi Sungai). Jika engkau menengok
sebentar ke bagian kaki kananmu, sedikit di atas tempurung
kakimu, maka engkau akan tahu bahwa engkau sudah kalah
sumoy.....” desis Kam Song Si dengan suara perlahan.
1448
Dan ketika Phang Cen Loan melihat ke tempat yang disebutkan
Kam Song Si tadi, wajahnya memucat, karena ada bekas tusukan
jari yang tertera disana. Kain celananya jelas-jelas bolong
bagaikan terkena sesuatu yang sangat tajam dan terlihat lubang
di tiga tempat berbeda namun sangat berdekatan. Sadarlah dia
akhirnya, bahwa memang benar dia sudah dikalahkan dengan
cara yang sangat mengenaskan. Kekalahan yang amat
memalukan dan membuatnya mematung dan tak sanggup
berkata-kata apa-apa lagi. Pada akhirnya Siau Hok Ho mendekati
istrinya itu dan kemudian merangkulnya sambil kemudian berkata:
“Jika tidak terpaksa, kami tidak akan berlaku atau melakukan
seperti yang terjadi pada hari ini. Sesuatu yang juga bertentangan
dengan keinginan kami...”
“Anak muda, engkau boleh mengatakan kesulitanmu, jika
memang bisa membantu, maka lohu pasti akan membantu.
Tetapi, bagaimanapun juga, apa yang dilakukan istrimu tetap
sesuatu yang tidak dapat kubenarkan, dan karena itu, dia tetap
harus meminta maaf kepada 3 perguruan di Kota ini.....” setelah
Siau Hok Ho berbicara dan ditegaskan oleh Thian Liong Koay
Hiap, baru kemudian smeua orang yang hadir paham, bahwa
benar Thian Liong Koay Hiap sudah menang. Meskipun mereka
tak mampu mengikuti bagaimana cara menangnya. Yang penting
1449
adalah kemenangan. Dan karena itu, meledaklah kegembiraan
mereka dan semua bertepuk tangan memuji nama Thian Liong
Koay Hiap.
Setelah itu, semua mata kembali memandang kearah Phang Cen
Loan. Orang ini yang memang teramat sangat dibenci karena tadi
amat sombong, tinggi hati dan memaksakan kehendak serta
kemauannya atas semua orang dalam ruangan itu. Bahkan
menghina para pemimpin perguruan di Liang Ping ini. Maka,
perlahan-lahan Phang Cen Loan memandang berkeliling dan
sepertinya tahu bahwa dia adalah orang yang saat itu sangat
dibenci. Tidak dia tidak memperdulikannya. Dan, meski tadi sudah
kalah bertaruh, tetapi tidak atau belum terlihat ada niat dalam
gerak-geriknya untuk mohon maaf atas semua yang telah
dilakukannya tadi. Terutama dengan menghina serta juga
menantang-nantang dengan tidak hormat semua perguruan yang
berada di Kota Liang Ping ini.
“Bagaimana, apakah engkau tetap tidak akan meminta maaf atas
segala hal yang telah engkau lakukan tadi......”? Koay Ji
mengingatkan pertaruhan mereka tadi yang sudah
dimenangkannya dengan telak. Tetapi, tiba-tiba terdengar suara
orang yang berkata, terdengar dari luar tetapi tak lama kemudian
sudah berada dalam ruangan dengan gerakan yang gesit serta
1450
sangat ringan. Sudah dapat dipastikan, jika si pendatang baru itu
bukanlah orang sembarangan. Bukan sekelas Phang Cen Loan,
karena terbukti dari gerakan dan kecepatannya. Begitu datang,
diapun langsung bersuara membela Phang Cen Loan:
“Phang sumoy tidak perlu minta, biarlah aku yang meminta maaf,
karena semua kulakukan untuk kepentingan perguruan......”
“Dan siapa pula engkau anak muda? Apa maksud perkataanmu
barusan yang katamu bisa membebaskan sumoymu dari
keharusan untuk mengajukan permintaan maaf terhadap semua
orang yang hadir di tempat ini...”? bertanya Koay Ji melihat
masuknya seorang pemuda gagah, berusia lebih 30 tahunan.
“Boanpwe bernama Bun Siok Han dan adalah tanggungjawabku
atas semua yang terjadi di tempat ini. Jika memang Phang sumoy
mengakibatkan ada yang terluka ataupun tersinggung, maka
biarlah aku yang meminta maaf atas nama sumoyku itu. Adalah
karena kebutuhan perguruanku maka dengan alasan apa boleh
buat, tetap saja yang belum dituntaskan sumoy akan kubuat
menjadi tuntas. Dan untuk itu, secara pribadi, aku minta maaf
kepada semua orang......”
1451
Mendengar yang datang adalah Bun Siok Han yang justru sedang
dicarinya atas permintaan Sam Suhengnya, Koay Ji menjadi
sangat gembira. Menurut info Sam Suhengnya, Bun Siok Han ini
adalah murid kepala atau murid tertua dari Toa Suhengnya. Dan
masih menurut Tek Ui Pangcu atau sam suhengnya, Bun Siok
Han ini adalah murid paling lihay kepandaiannya dari angkatan
dibawahnya. Dia sendiri tinggal bersama suhunya dan hanya
sesekali berkelana jika ada sesuatu yang amat penting dan perlu
dilakukan. Tetapi, apa maksud kedatangan keponakan muridnya
ini? dan mengapa pula dia mengaku bertanggungjawab atas
perbuatan Phang Cen Loan yang mengacau pertemuan pesilat di
Kota Liang Ping ini?
“Hmmmm, jadi engkau inilah muridnya Jit Yang Sin Sian (Dewa
Sakti Jit Yang) Pek Ciu Ping. Seorang tokoh muda yang kudengar
gagah perkasa dan karena itu lohu rada kurang yakin jika benar
engkau yang menjadi dalang dari keributan di tempat ini. Hmm,
engkau ceritakanlah biar menjadi jelas bagi lohu, sesungguhnya
apa yang terjadi di tempat ini dan apa peranmu anak muda.....”?
kejar Koay Ji yang senang melihat murid toa suheng yang satu ini
benar-benar gagah dan berisi. Tapi, juga kaget karena anak muda
itu mengaku sebagai dalang dari keributan di rumah perguruan
Hek It Kau ini. Sementara itu, seluruh orang yang dalam ruangan
1452
jadi kaget mengetahui bahwa anak muda yang baru datang
adalah murid seorang jago lihay yang namanya sangat terkenal.
“Locianpwee, jika engkau berkenan, tolong bebaskan terlebih
dahulu totokan atas Phang Sumoy, baru setelah itu, boanpwee
berjanji akan menjelaskan semua kepada engkau orang tua.
Apapun yang ingin locianpwee ketahui......” kata-kata Bun Siok
Han sangat halus dan menghormat, jauh berbeda dengan Phang
Cen Loan yang kasar, tinggi hati dan tidak memandang
seorangpun juga diantara semua yang hadir dalam pertemuan 3
perguruan itu. Karena itu, Bun Siok Han memperoleh kredit yang
cukup positif dimata semua orang, bahkan juga termasuk di mata
Thian Liong Koay Hiap. “Anak ini memang benar sopan dan jauh
lebih menyenangkan dibandingkan murid wanita Su Suheng
itu.....” desis Koay Ji dalam hati, sambil diam-diam memuji
keponakan muridnya itu.
“Hmmm, baiklah, totokan boleh dilepaskan, tetapi sampai
bertemu dengan Suhunya, lohu belum akan melepaskan
hukuman lain. Hitung-hitung atas kesombongan dan
kepongahannya yang tidak memandang mata perguruan silat
lain.......” sambil berkata demikian Koay Ji mengebaskan
lengannya, dan sekejap Phang Cen Loan dapat bergerak kembali.
Tetapi, ketika dia ingin mengerahkan tenaga iweekang untuk
1453
menyerang kembali, dia menjadi lemas dan sedih karena
sekarang dia tidak dapat mengerahkan kekuatan iweekangnya
lagi.
“Untuk sementara kekuatan iweekangmu kukekang. Ini bertujuan
agar engkau tidak membuat keonaran lebih jauh lagi.....” tegur
Koay Ji yang membuat Phang Cen Loan melengos antara sedih,
marah dan sejumlah perasaan lain yang sulit untuk dapat dia
ungkapkan saat itu.
“Baik, terima kasih Locianpwee. Dapatkah Locianpwee yang
budiman melepaskan kekangan atas iweekangnya setelah
boanpwee menjelaskan semua latar belakang kejadian di tempat
ini...”? tawar Bun Siok Han sebelum bercerita.
“Anak muda, sudah lohu katakan, kekangan itu akan lohu
lepaskan setelah bertemu dengan Suhunya. Setelah dari tempat
ini, Lohu akan menemui Suhunya berhubung sudah agak lama
kami tidak bertemu.....”
Mendengar Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap akan pergi
menemui Suhu mereka, kini bukan hanya Phang Cen Loan, tetapi
semua saudara seperguruannya, bahkan juga Bun Siok Han
terlihat kaget bukan main. Hal ini membuat Koay Ji heran dan jadi
1454
maklum, besar kemungkinan kejadian di Kota Liang Ping ini di luar
pengetahuan dari Siau Ji Po, Su Suhengnya itu. “Ada apa
sebenarnya”? desisnya dalam hati bertanya-tanya dan makin
penasaran.
“Locianpwee, apakah, apakah jika boanpwee dapat mengimbangi
atau mengalahkan locianpwee, maka Locianpwee dapat cukup
mengetahui kejadian sampai disini saja dan tidak perlu bertemu
dengan Siau Susiok.....”? berkata Bun Siok Han dengan nada
hati-hati namun tetap sopan. Tetapi, “tantangan” yang Koay Ji
tahu sangat terpaksa dilontarkan Bun Siok Han itu, pastilah
dikeluarkan dalam keadaan yang sangat terpaksa. “Kelihatannya
mereka ingin menutup kejadian disini sampai disini dan tidak
sampai di telinga Siau Ji Po dan tentunya juga Jit Yang Sin Sian
(Dewa Sakti Jit Yang) Pek Ciu Ping. “Hmmmm, semakin
mencurigakan” kembali Koay Ji bertanya-tanya dan menimbang
dalam hati apa yang sebaiknya dia lakukan.
Orang-orang mendengar bahwa ternyata para “perusuh” adalah
murid dari Siau Ji Po yang adalah sute dari Jit Yang Sin Sian yang
kenamaan itu menjadi paham. Kini mereka tidak merasa
penasaran lagi, karena memang mereka tahu dan kenal dengan
Jit Yang Sin Sian dan kebesaran namanya. Di lain pihak, kaum
Kaypang kini mulai mengerti, bahwa mereka berada di pihak yang
1455
sulit. Karena pembuat rusuh ternyata adalah keponakan murid
Pangcu mereka sendiri. Sungguh situasi yang sangat runyam
mereka hadapi kini.
“Dan jika engkau kalah, berarti engkau harus membuka semua
penyebab kalian melakukan kerusuhan di tempat ini.
Bagaimana.....”? pada akhirnya Koay Ji ambil keputusan apa
yang akan dilakukannya.
“Baik, boanpwee bersedia. Tetapi, Locianpwee harus berjanji
untuk menutupi kisah yang kuceritakan jika seandainya
boanpwee bercerita kelak..... bisakah demikian locianpwee...”?
kembali Bun Siok Han menawar dan membuat Koay Ji semakin
tergelitik untuk mengetahui lebih jauh.
“Baiklah...... mengingat usiamu dan kegagahanmu, maka lohu
akan mengalah dan memberimu kesempatan menyerang lohu
selama 10 jurus. Manfaatkan kesempatan tersebut, karena dalam
10 jurus berikutnya, maka lohu akan mengalahkanmu dengan dua
ilmu belaka, Sam In Ciang dan Ilmu Sian In Sin Ciang. Jika
melampaui 10 jurus, maka boleh dihitung engkau yang menang
anak muda......” berkata Koay Ji untuk membesarkan hati
lawannya, meski Bun Siok Han justru tersinggung ketika
mendengar dia diberikan banyak kemurahan oleh lawannya.
1456
“Hmmmm, engkau terlampau memandang rendah kami
Locianpwee, tetapi terserah engkau sajalah. Yang pasti
Boanpwee akan bertarung mencari kemenangan, berapa
juruspun yang kugunakan nanti......”
“Baik, engkau majulah anak muda......”
Bukan main terkejutnya Koay Ji ketika Bun Siok Han menyerang,
karena dia dapat merasakan jika kehebatannya berkali-kali lipat
dibandingkan dengan Phang Cen Loan. Baik iweekangnya,
kegesitannya dan sudah tentu keuletan dan semangat bertarung
yang amat kuat dan hebat. Bahkan Koay Ji segera merasa jika
keponakan muridnya ini tidak akan kalah dibandingkan dengan
Kwan Kim Ceng, dan tinggal sedikit jaraknya dibanding dengan
Cu Pangcu dan Tek Ui Pangcu. “Luar biasa ...” desis Koay Ji
dalam hati dan akhirnya bergerak dengan menggunakan
kecepatan dalam ilmu yang lain, Thian Liong Pat Pian. Dengan
ilmu itu, Koay Ji bergerak aneh dan misterius, namun semua
serangan Bun Siok Han mandeg dan menjadi tidak berarti sama
sekali.
Dan sesuai dengan janjinya, selama sepuluh jurus Koay Ji
membiarkan Bun Siok Han terus menerus menyerangnya dan
tidak membalas sedikitpun. Tetapi meski demikian, dia sama
1457
sekali tidak kerepotan karena memang jauh lebih memahami dan
mendalami semua ilmu dan jurus yang dilontarkan oleh Bun Siok
Han. Tetapi yang pasti, perkelahian mereka lebih hebat
dibandingkan ketika Koay Ji sebagai Thian Liong Koay Hiap
menghadapi dan kemudian menghukum si sombong Phang Cen
Loan tadi. Hanya dalam sejurus dan dua jurus belaka Phang Cen
Loan sudah kalah dan tertotok. Tetapi sekali ini, perlawanan Bun
Siok Han membuat Koay Ji merasa bangga dengan kepandaian
keponakan muridnya ini.
“Engkau cukup hebat Anak muda, tetapi setelah 10 jurus berlalu,
kini engkau harus bertahan agar tidak jatuh dalam hitungan 10
jurus seranganku. Nach, engkau boleh bersiap, lohu akan
menyerang dengtan menggunakan dua ilmu perguruanmu untuk
menjatuhkanmu dalam 10 jurus saja. Nach, sekarang
bersiaplah..... dalam sepuluh jurus kedepan lohu akan menotok
pangkal lenganmu dan sekaligus melumpuhkan perlawanannmu.
Dan ini adalah jurus pertama, jurus Ki Eng Pok Tou (Burung Elang
Lapar Menyambar Kelinci), hati hati dengan daerah kepala dan
lehermu anak muda....” sambil menyerang Koay Ji menyebutkan
nama jurus dan daerah atau target yang akan diserangnya. Dan
memang dia melakukan persis seperti yang dikatakannya, tetapi
meski demikian, Bun Siok Han tetap kaget bukan main karena
1458
kekuatan pukulan, ketepatan dan tenaga yang digunakan Koay Ji.
Benar benar tepat dan tidak dilebih-lebihkan meski lebih dari
cukup mendesaknya, dan hal itu terasa benar olehnya secara
langsung. Meski hanya memanfaatkan momentum dan tidak
dengan kekuatan besar, tetapi dia terdesak tak mampu balas
menyerang.
“Awas Anak muda, jurus berikutnya adalah Beng Hou Cut Tong
(Macan Liar Keluar dari Gua) dan akan disusul dengan jurus To
Tha Kim Ciong (Memukul Jatuh Lonceng Emas). Hati-hati dengan
serangan dari depan dan akan segera disusul dengan cecaran di
daerah punggung dan pinggangmu.....”
Hebatnya, meskipun telah menyebutkan jurus serangan dan
daerah yang akan diserang, tetapi tetap saja Bun Siok Han
merasa kerepotan menghadapi serangan Koay Ji. Bukan hanya
cepat, tetapi tenaga yang tepat dan momentum yang tercipta
benar-benar membuat Bun Siok Han kerepotan. Untungnya Koay
Ji tidak berniat mengambil keuntungan dari kerepotan Bun Siok
Han dan terus memberitahukan serangannya dan jurus yang dia
gunakan sampai akhirnya memasuki jurus ke sepuluh. Tanpa
terasa semua penonton menjadi tegang dan kagum luar biasa
terhadap Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap. Sementara 4
saudara seperguruan Bun Siok han juga nampak kaget dan takjub
1459
dengan permainan Thian Liong Koay Hiap. Tidak salah, jurusjurus
serangan Koay Hiap itu memang adalah jurus-jurus dari Ilmu
peguruan mereka. Tetapi, mengapa Koay Ji atau Koay Hiap
mampu atau sanggup memainkannya lebih hebat dari mereka
semua?
“Awas anak muda, jurus ke sepuluh, tipu Ngo Seng Boan Goat
(Lima bintang mengurung rembulan) engkau harus menjaga
kedua lenganmu jangan sampai kena totokanku. Awas .........
kena......”
“Tukkkkk.......”
Benar saja, tepat jurus ke sepuluh Thian Liong Koay Hiap
menyerang, entah kenapa Bun Siok Han seperti kehilangan
langkah dan arah. Meski berusaha keras dia untuk memainkan
Liap In Sut pada tingkat tertingginya, tetapi tetap saja dia tak
mampu merubah posisi mundurnya. Sebetulnya serangan Koay
Ji tidaklah amat berbahaya, tetapi akumulasi posisinya yang
terjepit sejak jurus ke-enam, membuat dia pada gerakan terakhir,
sama dengan “menyodorkan” pangkal lengannya ke jemari Koay
Ji. Dan, totokan Koay Ji dengan telak menyentuh pangkal lengan
Bun Siok Han sampai lengan itupun tergantung lemas tanda tidak
ada lagi alirang hawa iweekang ke lengan itu. Bun Siok Han sudah
1460
kalah. Para penonton tidak sadar berteriak-teriak kegirangan
sambil berseru:
“Hidup Thian Liong Koay Hiap .....”
“Locianpwee, boanpwee mengaku kalah. Sungguh-sungguh
mengaku kalah. Tetapi, bolehkah boanpwee mengtahui siapa
sesungguhnya Locianpwee ini? Dan mengapa locianpwee begitu
mengetahui, mengenal serta bahkan mampu mempergunakan
banyak ilmu-ilmu perguruan kami dengan begitu
sempurnanya....”? bertanya Bun Siok Han setelah diawali
pengakuan tulus bahwa dia kalah dan sama sekali tidak menaruh
rasa penasaran dengan kekalahannya. Memang dia bertanya,
tetapi tidak mengurangi pengakuan atas kekalahan yang baru
dialaminya melawan Thian Liong Koay Hiap tadi. Sekaligus
mengutarakan kepenasarannya karena dia dikalahkan dengan
ilmu-ilmu perguruannya sendiri.
“Kita akan mempercakapkannya kelak, tetapi tidak disini dan juga
tidak pada saat ini. Untuk sekarang ini, karena semua kerumitan
sudah dapat diatasi dengan baik, maka pertama-tama, engkau
Phang Cen Loan, engkau harus meminta maaf atas semua yang
tindakan dan kata-kata yang engkau keluarkan dan tindakan yang
kau lakukan tadi. Minta maaf karena sudah menghina ketiga
1461
perguruan di Kota Liang Ping ini, khususnya kepada ketiga
Pangcu dari tiga perguruan tersebut. Nach, Engkau boleh lakukan
sekarang....”
“Engkau memang sudah mengalahkanku, kuakui itu, tetapi tetap
engkau masih belum berhak untuk mengatur apa yang
seharusnya kulakukan dan apa yang tidak boleh kulakukan.....”
berkata Phang Cen Loan dengan tetap mengeraskan hatinya.
Nadanya tetap ketus dan susah untuk ditundukkan dengan katakata.
Dia masih tetap berkeras untuk tidak meminta maaf atas apa
yang dikatakan dan dilakukannya beberapa saat yang baru saja
lewat itu.
“Phang Cen Loan, terus terang lohu tidak akan meminta dengan
mengancam atas kekangan iweekangmu yang lohu lakukan.
Tetapi meminta dan mengusulkan pilihan dengan
mengatasnamakan tata krama Rimba Persilatan dan sopansantun
Rimba Persilatan Tionggoan. Sebab jika engkau berkeras
untuk tidak melakukannya, maka lohu akan datang menemui
Suhu dan Subomu. Dan akan langsung untuk meminta mereka
berdua untuk meminta maaf terhadap para tokoh persilatan di
Kota Liang Ping ini. Engkau boleh pikirkan mana yang lebih
baik....”
1462
Kata-kata dan kalimat Koay Ji ini langsung mengena dan
membuat wajah Phang Cen Loan memucat. Bahkan ketiga
saudara seperguruannya, termasuk suaminya, juga terlihat
gelisah bukan main. Mereka jadi salah tingkah dan memandangi
Phang Cen Loan untuk melihat apa yang akan dikatakannya dan
dilakukannya. Tetapi, Phang Cen Loan sendiri sedang sama
galau, gelisah dan keki dengan mereka bertiga. Sampai akhirnya,
adalah Bun Siok Han yang kembali mencoba untuk menawar
karena melihat Phang Cen Loan dan ketiga saudara
seperguruannya pada terdiam gelisah dan tidak tahu mau berbuat
apa:
“Locianpwee, bukankah boanpwee sudah menyanggupi untuk
meminta maaf atas nama Phang Sumoy berhubung boanpwee
yang memang menjadi biang atau dalang dari kerusuhan
disini.....”?
“Anak muda, yang berbuat bukan engkau, meski mungkin saja
benar behwa engkau memang terlibat dalam kisruh ini sejak dari
awalnya. Sayangnya, semua orang yang berada di tempat ini,
menjadi saksi dan mengalaminya secara langsung. Menurut
kepantasan dan tata krama Rimba Persilatan Tionggoan, maka
siapa yang berani berbuat, siapa yang begitu gegabah dan
sombong serta menghina pihak ataupun orang lain, atau malah
1463
perguruan lain, maka dia yang harus bertanggungjawab dan
memohon maaf atas semua yang dilakukannya......”
“Engkau tidak berhak mengancam mengadukanku kepada Suhu.
Lagipula, belum tentu Suhu mengenal engkau....” ketus jawaban
Pohang Cen Loan. Masih juga tetap keras kepala dan tidak minta
maaf. Koay Ji untungnya masih sadar bahwa Phang Cen Loan ini
adalah keponakan muridnya, jika tidak, mungkin sudah
dihadiahkannya hukuman yang lebih menyakitkan sejak tadi.
Sekali ini dia mengeluarkan Kimpay dari Pangcu Kaypang,
mengangkatnya tinggi-tinggi dan berkata:
“Baiklah Phang Cen Loan, pada hari ini, selaku Tianglo Kaypang,
dimana Kaypang Pangcu Tek Ui Sinkay adalah Bengcu
Tionggoan, maka Lohu, Thian Liong Koay Hiap memutuskan
turun tangan dan bertugas untuk menegakkan aturan Rimba
Persilatan. Sekarang juga engkau boleh memilih Nyonya. Apakah
akan memaksaku menuju Kota Cing Peng guna meminta
pertanggungjawaban secara langsung kepada Suhu dan
Subomu, ataukah engkau sendiri yang akan menyelesaikannya
dengan pihak-pihak yang engkau sakiti disini.....”
Bersamaan dengan itu, secara khusus kepada 5 orang
keponakan muridnya, Koay Ji mengirimkan suara dengan Ilmu
1464
Menyampaikan Suara dari jarak jauh: “Bengcu Tionggoan saat ini,
dijabat oleh Tek Ui Sinkay yang adalah Sam Suheng dari Suhu
dan Subo kalian Siau Ji Po Tayhiap dan Oey Hwa Lihiap dari Kota
Cing Peng. Mudah-mudahan kalian semua sudah
mengetahuinya, atau jika belum, segera pulang dan beritahukan
Suhu kalian jika Lohu akan datang....”
Kata-kata Thian Liong Koay Hiap barusan bagaikan guntur di
siang hari. Terutama bagi kelima keponakan murid Koay Ji yang
mendengar bisikannya barusan. Wajah Phang Cen Loan kini
benar-benar berubah memucat, dan memandang Thian Liong
Koay Hiap dengan pandangan aneh. Kini mereka mulai sadar dan
paham meski masih samar dan sebenarnya keliru sangka,
mengapa Thian Liong Koay Hiap begitu mengenal ilmu-ilmu
mereka. Meskipun dugaan mereka masih keliru memang, karena
bukannya dari Tek Ui Sinkay Koay Ji yang menyaru Thian Liong
Koay Hiap belajar ilmu2 mereka. Tetapi karena Koay Ji atau Thian
Liong Koay Hiap adalah murid penutup dari kakek guru mereka.
Dengan kata lain, Koay Ji atau yang menyaru sebagai Koay Hiap
itu, justru masih merupakan paman guru kelima orang yang
sekarang berdiri serba salah itu.
“Hek It Kaucu, Ang Liong Pangcu, Ceng Liong Pangcu, dan
semua tokoh serta anggota 3 (tiga) perguruan Kota Liang Ping,
1465
tecu, Bun Siok Han atas nama kami belrima, dengan penuh
kerendahan meminta maaf atas semua keributan yang kami
timbulkan disini. Tecu sesungguhnya yang menjadi dalang dari
keributan disini dan tecu sadar perbuatan kami benar-benar keliru
dan salah. Karena itu, tecu merasa berdosa dan siap menerima
hukuman atas apa yang sudah kami lakukan secara tidak layak di
tempat yang terhormat ini. Buat cuwi sekalian yang merasa
terhina, sekali lagi, tecu mohon maaf......”
Kata-kata dan permohonan maaf Bun Siok Han memang tulus.
Dan dia melakukan serta mengucapkannya dengan sangat baik
serta bisa diterima semua orang, khususnya dari 3 perguruan itu.
Tetapi, sayangnya, sekali lagi sayang, bukan dia orang yang
diharapkan meminta maaf ataupun mohon maaf atas semua
perkataan menghina dan merendahkan tadi. Karena bukan Bun
Siok Han yang menghina dan merendahkan para pendekar Kota
Liang Ping. Adalah Phang Cen Loan yang membuat banyak orang
merasa kesal, terhina dan sangat murka. Dan dialah yang diminta
dan dituntut untuk meminta maaf.
“Lohu masih tetap menunggu pernyataan dari Phang Cen Loan.
Tetapi baik sekali engkau sudah memberi contoh buatnya Anak
muda. Dengan demikian diapun tidak akan kesulitan dalam
menirukan perbuatanmu dan menunjukkan penyesalan secara
1466
bersungguh-sungguh, serta yang penting tidak mengulanginya
lagi......”
Semua mata kini memandang Phang Cen Loan. Wajahnya kini
sudah berubah menjadi tidak segarang dan sesombong tadi lagi.
Bahkan kini terlihat menjadi sangat mengenaskan. Dan pada saat
itu, terlihat suaminya, Siau Hok Ho yang juga adalah putra sulung
Suhu dan Subonya, sedang berbisik bisik di telinganya. Keduanya
terlihat saling pandang dan berkata-kata antara mereka berdua
sampai pada akhirnya Phang Cen Loan berkata dengan berat
hati:
“Cuwi sekalian, khususnya Ang Liong Pangcu, Hek It Kaucu, dan
juga Ceng Liong Pangcu, bersama seluruh tokoh dan anggota 3
(tiga) perguruan di Kota Liang Ping ini, saya, Phang Cen Loan
dengan penuh kerendahan hati meminta maaf atas semua
keributan disini. Sesungguhnya kami melakukannya karena
memang sedang berusaha mati-matian untuk mengupayakan
kesembuhan putra tunggal kami. Namun tanpa sadar justru sudah
menerbitkan keonaran yang cukup besar di Kota Liang Ping ini.
Sesungguhnya kami semua, termasuk cayhe sendiri amat sadar
jika perbuatan disini adalah keliru dan salah. Buat cuwi sekalian
yang merasa terhina, mohon maaf sekali lagi.......”
1467
Mendengar permohonan maaf Phang Cen Loan yang pada
pertengahan kalimatnya disampaikan dengan nada sedikit
terisak, mau tidak mau Koay Ji tersentuh dan juga terharu. Apalagi
mendengar bahwa tindakannya ternyat ada hubungannya dengan
anak tunggalnya yang sedang sakit. Hal yang membuat Koay Ji
menjadi sadar jika kemungkinannya ada sebab lain dibalik
kejadian tidak menyenangkan di Markas Hek It Kau ini. Dan
kejadian itu kelihatannya berkaitan dengan mengapa sampai para
keponakan muridnya berlaku begitu gegabah disitu. Tetapi
bagaimanapun, dia perlu mengatakan sesuatu untuk saat itu:
“Baiklah,,,, pihak Phang Cen Loan sudah mengemukakan
permohonan maafnya dan sudah cuwi sekalian dengarkan. Dan
engkau, Phang Cen Loan, untuk anakmu yang sakit lohu pasti
bersedia mengobatinya. Jika Thian berkehendak, maka mudahlah
untuk lohu menyembuhkannya. Cuwi sekalian, warga 3 perguruan
Kota Liang Ping, khususnya Hek It Kaucu, Ang Liong Pangcu dan
Ceng Liong Pangcu, terima kasih atas kesediaan bergabung
kelak ke Pek In San. Pada saatnya kita akan berjumpa disana.
Saat ini, setelah semua urusan sudah dapat diselesaikan dengan
baik, maka lohu mohon diri dari sini, dan silahkan, selamat
berpesta dan menikmati jamuan makan malam dari Hek It
Kaucu.......”
1468
Setelah memberi hormat dan menyapa seluruh pemimpin 3
perguruan Kota Liang Ping, Koay Ji berpaling kearah 5
keponakan muridnya dan berkata:
“Kalian berlima, mari ikut lohu. Kita selesaikan hal-hal yang perlu
diselesaikan, dan lohu perlu mendengar keadaan anak dari
Phang Cen Loan.... mari....” Setelah berkata demikian, Koay Ji
menunggu kelima ponakan muridnya berpamitan dan seusainya
merekapun berangkat pergi mengikuti di belakang Koay Ji.
Mendengar bahwa Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap akan
berdaya upaya untuk menyembuhkan anak mereka, Phang Cen
Loan berubah menjadi jinak. Meskipun, masih tetap dia belum
percaya sepenuhnya kepada Koay Ji. Namun, mendengar ada
sedikit peluang bagi anaknya, dengan cepat dia berubah menjadi
lebih baik dan lebih menurut. Merekapun berjalan pergi mengikuti
di belakang Koay Ji yang tak berapa lama bertemu dengan
beberapa anggota Kaypang dan terlihat bercakap cakap sebentar
dan menunjuk-nunjuk ke sebuah tempat.
“Baik, lohu akan menggunakan tempat itu. Lohu tidak ingin ada
seorangpun yang mendengar dan mendekati tempat itu, karena
itu panggil kawan-kawanmu dan berjaga di sekitarnya. Saat ini
1469
Lohu sedang ada urusan yang sangat penting dan harus segera
diselesaikan...”
“Baik, siap Tianglo .....”
Dan tak berapa lama kemudian, mengikuti petunjuk para
pengemis itu, Koay Ji menuju kearah timur dan akhirnya
menemukan sebuah rumah yang sudah berada dekat dengan
pinggiran kota. Rumah tersebut cukup besar tetapi sudah tak
terurus dan karenanya digunakan oleh kaum pengemis menjadi
salah satu markas tak resmi mereka di Kota Liang Ping. Meski
kondisi fisiknya sudah tak terurus dilihat dari luar, tetapi rupanya,
bagian dalamnya karena sering digunakan oleh kelompok
Kaypang, jadi sedikit terurus. Apalagi bagian ruang depannya.
Ruangan itu mungkin adalah area paling bersih dari rumah
markas Kaypang di sebelah timur kota itu.
“Nach, baiklah, disini kita aman. Anak muda, engkau mulailah
bercerita. Dan kalian, khususnya engkau Phang Cen Loan,
sebagaimana janji lohu, urusan kesembuhan anakmu akan
menjadi urusan lohu nanti. Tetapi, biar bagaimanapun kita harus
mulai menyelesaikan urusan yang dihadapi satu demi satu. Harus
dimulai dari engkau yang berhutang kisah dan alasan
menghadirkan kekisruhan di markas Hek It Kau anak muda.....”
1470
Koay Ji berkata sambil berpaling dan memandang Bun Siok Han
yang menyatakan menjadi dalang kekisruhan. Dan mendengar
perkataan Koay Ji, Bun Siok Han yang kelihatannya sudah sangat
siap, dengan tegas dan tanpa putus putus berkata dan
menjelaskan:
“Baiklah,,,,, sebelumnya boanpwee mengucapkan terima kasih
karena membantu kami menghindari kekisruhan yang lebih parah.
Meskipun urusan dan alasan sampai kami nekat melakukan
tindakan tidak terpuji itu kemungkinan tidak akan dapat kami
selesaikan alias sudah gagal, setidaknya sampai saat ini.
Padahal, kami semua pada dasarnya amat membutuhkannyai.
Tetapi, bagaimanapun.....”
“Langsung saja anak muda, kita lihat nanti apa yang gagal dan
apa yang berhasil dari semua yang sudah terjadi....”
“Baik locianpwee..... sesungguhnya mereka semua, saudara
seperguruanku tidak akan nekat melakukan kerusuhan tadi jika
bukan tanpa alasan. Tetapi, penyebabnya juga tidak jauh-jauh
dari hutang Hek It Kau kepada toko dan usaha Ngo Susiok di Kota
Cing Peng. Kurang lebih dua tahun lalu, ketika Hek It Kau
terancam bangkrut dan sudah nyaris menutup pintu perguruan
mereka, susiok dengan amat rela hati memberikan pinjaman
1471
kepada Hek It Kau. Dan mereka kemudian berjanji bahwa dalam
waktu 6 (enam) bulan kelak, hutang tersebut akan dikembalikan.
Dan syukur bagi mereka, Hek It Kau, karena dengan modal baru
dari toko Ngo Susiok, mereka berhasil bangkit kembali dan
bahkan menjadi semakin makmur dan jaya. Tetapi, sayangnya,
sudah lebih setahun mereka mangkrak dan tidak pernah terlihat
berusaha untuk melunasi hutang yang membuat mereka bangkit
kembali. Mereka, saudara seperguruanku sudah hampir sepuluh
kali bolak-balik menagih hutang itu, tetapi tetap saja gagal.
Sampai akhirnya, Suhu menderita penyakit yang sudah 3 bulan
terakhir ini tidak dapat beliau sembuhkan. Juga tak dapat
disembuhkan oleh tabib-tabib yang didatangkan, termasuk yang
dikirimkan oleh Ngo Susiok. Padahal, menurut Suhu, dia orang
tua harus memenuhi undangan terakhir yang akan datang dalam
waktu dekat atas nama Kakek Guru..... karena....”
“Apa...? maksudmu Suhe...... ech Jit yang Sin sian (Dewa Sakti
Jit Yang) Pek Ciu Ping sedang sakit? apa parah luka beliau...”?
nyaris saja Koay Ji membuka samaran dan jati dirinya, untung dia
cepat sadar.
“Benar Locianpwee, sudah berapa bulan terakhir Suhu tidak
dapat lagi bangun dari pembaringannya. Tetapi, yang
membuatnya sangat kecewa dan mempersiapkan boanpwe
1472
adalah, karena pertemuan terakhir sesama saudara seperguruan
yang konon atas prakarsa langsung dari sukong. Pertemuan itu
dalam perhitungan dan peneerawangan beliau, akan
dilaksanakan dalam waktu sebulan atau dua bulan kedepan. Itu
sebabnya boanpwee datang mengunjungi Ngo Susiok di Cing
Peng setelah sebelumnya berkunjung ke sekitar Gunung Ciauw
San. Tahu-tahu, putra tunggal Phang sumoy ternyata juga sedang
sakit dan hingga sekarang belum ketahuan penyakit dan obatnya.
Kurang lebih setahun atau dua tahun silam, Suhu pernah
bercerita tentang sebuah benda mujijat yang dapat menjadi ada
obat dengan kemampuan dapat menyembuhkan banyak
penyakit, termasuk juga menyembuhkan penyakit-penyakit yang
amat susah untuk diobati. Benda mujijat itu adalah Gin Ciu Ouw
atau Guci Arak Perak sekepalan tangan manusia dewasa, yang
sayangnya sudah menghilang sejak lebih 60 tahun silam. Konon
menurut kisah Suhu, air apapun yang dimasak atau direndam
lebih semalam di guci pusaka itu, dapat menyebuhkan banyak
penyakit parah. Amat kebetulan, menurut informasi yang kami
dapatkan sebulan terakhir, Hek It Kau nampaknya menemukan
sebuah benda pusaka berbentuk guci kecil pada dua bulan silam.
Tetapi, sepertinya Hek It Kaucu masih tidak tahu dan mengerti
dengan khasiat dari guci pusaka tersebut. Atau, bisa jadi memang
bukan Gin Ciu Ouw. Itu sebabnya kami berlima bersekongkol
1473
untuk meminta ganti hutang Hek It Kau dengan guci tersebut,
tetapi sayang Locianpwee sudah membuat kami gagal......”
mendengar keterangan Bun Siok Han, Koay Ji tersentak kaget.
Sangat kaget malahan.
Karena dia sendiri sesungguhnya, sudah pernah membaca kisah
tentang Gin Ciu Ouw dalam sebuah kitab kuno di Thian Cong San.
Tetapi, dikisahkan, Guci Perak itu lebih sebagai LEGENDA, dan
selama seratus tahun terakhir tak ada seorangpun yang
dilaporkan memiliki ataupun melihat benda pusaka itu. Lebih dari
itu, Koay Ji juga membaca dan menjadi tahu bagaimana cara
membuktikan dan membuat Guci Pusaka itu, jika memang Guci
yang dimaksud adalah Gin Ciu Ouw, mengeluarkan
kemujijatannya. Bukan hanya menjadi bahan obat-obatan,
khususnya obat karena sakit akibat pukulan iweekang dan bukan
obat untyuk sakit biasa seperti demam, batuk dan sejenisnya.
Selain itu, minum dari guci tersebut dengan tidak terputus selama
setahun atau bahkan lebih, akan membuat orang atau manusia
menjadi awet muda dan berusia panjang.
“Hmmmm, lohu mengerti sekarang. Satu yang lohu sesalkan dan
pastilah juga akan disesalkan Suhumu anak muda, dan juga
disesalkan susiokmu Siau Ji Po, yakni keputusan kalian yang
kurang bijaksana. Meskipun tujuan kalian memang baik bagi
1474
perguruan, bagi suhu dan anak, tetapi cara yang kalian tempuh
sungguh keliru dan mendatangkan rasa sesal. Kalian tidak
menimbang nama besar perguruan, padahal kalian memiliki
seorang Susiok yang sangat pandai dalam hal pengobatan. Jika
kalian meminta kepada Sam Susiok, Tek Ui Sinkay, maka pasti
dia akan mengutus Siauw Susiok kalian yang masih amat muda.
Karena susiok kalian yang masih muda itu, Koay Ji, adalah tabib
hebat dan pasti bersedia untuk datang mengobati suhumu dan
juga cucu dari Siau Ji Po. Tetapi, tidak apalah, lohu akan
mewakilinya untuk memeriksa, karena lama bergaul dengan
siauw susiok kalian, maka kami berdua sering saling belajar dan
melatih ilmu dan bahkan juga termasuk ilmu pengobatan. Jika
memang hanya itu masalahnya, maka tidak akan terlampau sulit
untuk dapat menyelesaikannya. Biarlah besok kita melakukan
perjalanan ke Kota Cing Peng, karena lohu harus menyampaikan
sebuah surat kepada Siau Ji Po, dan juga setelah itu
menyampaikan surat kepada Suhumu anak muda......”
“Tapi, apakah Siau Susiok kami, echhh, namanya aneh, Koay Ji,
benar-benar akan mampu menyembuhkan anakku
Locianpwee....”? terdengar Siau Hok Ho bertanya dengan nada
penuh harapan. Kabar bahwa mereka memiliki Siauw Susiok
yang hebat dalam pertabiban mendatangkan harapan baru bagi
1475
suami istri itu. Saat suaminya bertanya, jelas sekali terlihat betapa
Phang Cen Loan juga menyiratkan rasa penasaran yang sama
terhadap kemungkinan pengobatan sang Siauw Susiok. Padahal,
siauw susiok itu, sedang berada bersama mereka.
“Mungkin tidak mesti menunggu Koay Ji, susiok kalian, lohu akan
mencoba untuk mengobatinya sesampainya di Kota Cing Peng
nanti. Jika lohu gagal, baru akan kupanggil Koay Ji untuk datang
mengobati anak keponakan muridnya. Dia pasti bersedia untuk
mengobati anak kalian itu nanti, apalagi karena memang hatinya
baik dan penuh welas asih itu.....”
“Acchhh, terima kasih jika demikian susiok......”
“Selain itu, kita tidak boleh berharap terlampau banyak kepada
Guci Pusaka yang disebutkan tadi. Memang benar, ada benda
mestika bernama Gin Ciu Ouw yang memiliki khasiat luar biasa.
Tetapi khasiatnya terutama mengobati penyakit yang disebabkan
oleh luka tenaga dalam, racun tertentu tetapi tidak semua racun,
sementara penyakit lain, Guci itu belum tentu punya khasiat
menyembuhkan. Selain itu, belum tentu guci yang ditemukan
pihak Hek It Kau adalah guci wasiat tersebut. Karena itu, baiklah
besok pagi kalian semua lebih dahulu pulang kembali ke kota Cing
Peng, lohu akan menyusul dalam waktu dekat karena memang
1476
harus bertemu dengan suhu kalian. Bahkan juga nanti menemui
Suhumu anak muda, karena memang benar, panggilan perguruan
sedang menunggu mereka semua. Dan justru lohu yang
menerima dan mendapat tugas dari Tek Ui Sinkay, Pangcu
Kaypang dan juga Bengcu Rima Persilatan Tionggoan untuk
menyampaikan undangan antara sesama seperguruan itu.....”
Setelah menyelesaikan percakapan bersama kelima keponakan
muridnya, tanpa mereka tahu siapa sebenarnya Thian Liong Koay
Hiap, Koay Ji kemudian membantu memperkenalkan mereka
dengan anak murid Kaypang. Betapa gembiranya masing masing
setelah tahu bahwa mereka ternyata masih memiliki hubungan
yang rada dekat. Karena bagaimanapun Tek Ui Sinkay, Pangcu
Kaypang, adalah saudara seperguruan dari suhu kelima orang itu.
Malam itu, berkuranglah rasa marah dan kesal Koay Ji terhadap
Phang Cen Loan yang berubah menjadi jauh lebih jinak setelah
percakapan di markas Kaypang.
Dan benar juga, besoknya, kelima keponakan muridnya sudah
langsung melakukan perjalanan bersama, pulang kembali menuju
ke kota Cing Peng. Bun Siok Han memutuskan untuk kembali
bersama ke Kota Cing Peng, sementara Koay Ji akan menyusul
kemudian. Dia memutuskan menyusul karena merasa ada hal
yang ingin dikerjakannya terlebih dahulu. Yakni, Koay Ji ingin
1477
menemui Hek It Kaucu untuk memastikan satu urusan lain yang
tiba-tiba mengusik ketentraman hatinya. Dan itu langsung
dilakukan besok paginya:
“Selamat pagi Hek It Kaucu, mohon waktumu sebentar untuk
sebuah urusan yang harus kupastikan kebenarannya....” Koay Ji
yang memang ternyata kembali ke markas Hek It Kau dan menjadi
tamu Hek It Kaucu di pagi hari.
“Acchhhh, sebuah kehormatan besar menjadi tuan rumah bagi
Thian Liong Koay Hiap, seorang pendekar yang namanya tibatiba
menjulang tinggi ke angkasa. Amat kebetulan karena lohu
belum sempat menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan
Koay Hiap semalam...... karena itu, terimalah ucapan terima
kasihku secara khusus atas nama Hek It Kau dan juga atas nama
3 perguruan silat di Kota Liang Ping ini....” sambil berkata
demikian, Hek It Kau membungkuk dan memberi hormat dan
ucapan terima kasih kepada Koay Ji. Sebuah ucapan terima kasih
yang tulus dan Koay Ji bisa merasakannya.
“Sudahlah, tidak usah terlampau berlebihan Hek It Kaucu. Lohu
datang kemari untuk mempercakapkan beberapa persoalan, jika
Kaucu tidak keberatan dan cukup punya waktu tentu saja.....”
berkata Koay Ji
1478
“Sudah tentu punya waktu, tetapi, bagaimana jika kita bercakapcakap
sambil menikmati teh di pagi ini Koay Hiap....”? undang Hek
It Kau, karena memang adalah waktu yang tepat pada pagi hari
untuk minum teh.
“Dengan senang hati Kaucu......”
Tidak berapa lama Hek It Kaucu memberi perintah kepada
bawahannya dan teh panaspun terhidangkan menemani
percakapan mereka di pagi itu. Apa sebenarnya yang ingin
disampaikan Koay Ji.....?
“Kaucu, ada dua hal yang ingin kubicarakan dan kusampaikan.
Yang pertama, ucapan terima kasih kepada Kaucu dan juga 2
perguruan silat lainnya yang sedia untuk berjuang bersama
kawan-kawan perguruan silat lainnya. Atas nama Tek Ui Pangcu,
lohu mengucapkan terima kasih atas kesediaan dan semangat
Kaucu dan kawan-kawan di Liang Ping ini......”
“Accchhhh, sudah sepantasnya sebagai sesama insan persilatan
Koay Hiap. Kami di sini rata-rata bersyukur karena bukan hanya
boleh bertemu dan bertatap muka dengan Koay Hiap, tetapi
bahkan sudah menerima bantuan dari Koay Hiap. Sungguh
berkah yang tak terhingga bagi kami.....”
1479
“Syukurlah semua boleh berakhir dengan kekeliruan yang tidak
bertambah parah. Setidaknya, ketika ketiga perguruan bergabung
ke Pek In San kelak, tidak dengan membawa ganjalan dari sini.
Kapan kiranya rombongan dari Kota Liang Ping akan melakukan
perjalanan bertemu rombongan pendekar lainnya....”?
“Kami merencanakan untuk berangkat sebulan kedepan Koay
Hiap. Apakah ada petunjuk lain buat kami....”?
“Jika memang Kaucu tiba lebih dahulu disana, temui dan
kemudian sampaikan juga pesanku kepada Tek Ui Kaucu,
Bengcu kita dan juga semua sahabat-sahabat pendekar yang
sudah berkumpul disana. Kepada Tek Ui Pangcu, kabarkan juga
bahwa kita sudah bertemu disini dan bahwa lohu masih
melanjutkan perjalanan untuk tugas yang lain lagi. Pada saatnya
pasti lohu akan datang untuk bergabung dengan rombongan
pendekar dan selanjutnya bersama-sama membasmi Bu Tek
Seng Pay....” tegas Koay Ji.
“Baik Koay Hiap, hal itu pasti akan kulakukan...” ujar Hek It Kaucu
sambil mengambil gelas teh dan meminumnya. Sementara Koay
Ji terlihat sedikit berat memasuki percakapan pada topik yang
kedua. Tetapi, karena memang dia merasa amat penting, maka
1480
diapun mau tidak mau harus membuka percakapan seputar soal
tersebut. Karena itu, diapun membuka percakapan soal tersebut:
“Kaucu, persoalan kedua yang ingin lohu kemukakan adalah
persoalan yang dapat dilihat sepele, tetapi juga dapat dipandang
sangat penting. Tetapi, untuk sekarang ini terus terang saja lohu
belum dapat memastikannya......” berkata Koay Ji dengan
sengaja menggantung maksudnya di ujung kalimatnya itu. Tapi,
benar saja, kata-kata tersbeut memanding Hek It Kaucyang yang
menjadi penasaran dan bertanya untuk mencari tahu apa maksud
dari kalimat “menggatung” Koay Ji tadi. Kalimat pada kata-kata
terakhir Koay Ji.
“Soal apa gerangan Koay Hiap....”? Hek It Kaucu bertanya sambil
melepaskan kembali gelas berisi teh yang diminumnya.
“Soal tersebut berkaitan sangat erat dengan maksud utama
kedatangan murid-murid Siau Ji Po ke markas Hek It Kau....”
“Acccchhh, masalah itu? Hmmmm, jika Koay Hiap juga sampai
memberi perhatian atas soal tersebut, maka, kami sebetulnya
sudah akan membayar beberapa waktu yang lalu, tetapi
sayang......”
1481
“Bukan persoalan itu yang penting Kaucu,,,,,,, ada soal lain yang
justru penting atau sangat penting namun belum dapat
kupastikan.....” kata-kata Koay Ji ini membuat Hek It Kaucu
menjadi penasaran.
“Acccch, jika bukan soal hutang kami, masalah apa gerangan
Koay Hiap”? Hek It Kaucu mau tidak mau bertambah penasaran.
“Hmmmm, kuharap Kaucu tidak kecil hati jika kusampaikan,
karena lohu sendiripun jadi berkepentingan untuk memeriksa
persoalan ini.....”
“Lohu sendiri menjadi bingung jika demikian, bolehkah Koay Hiap
menjelaskan lebih terang dan jelas buat lohu....”?
“Begini Kaucu, benarkah waktu-waktu belakangan ini Kaucu atau
anak buah Hek It Kau menemukan sebuah Guci kecil yang
berwarna keperak-perakan....”? Koay Ji bertanya sambil menatap
wajah dan mata Hek It Kaucu dengan tatap mata serius. Tidak
terlihat sedikitpun adanya perubahan di seri wajahnya itu, tetap
tenang dan bahkan tidak terlihat terkejut dengan pertanyaan Koay
Ji barusan. Kelihatannya Hek It Kaucu seperti tidak terlampau
memberi perhatian terhadap benda yang ditanyakan Koay Ji. Atau
memang tidak tahu benda itu apa selain sebuah guci.
1482
“Accccchhh, kiranya soal pekerjaan kami Koay Hiap. Iya, memang
benar, Hek It Kau memiliki spesialisasi dan keahlian yang terus
kami kembangkan dari waktu ke waktu hingga saat ini. Yakni,
mencari, mengejar benda-benda purbakala dan benda pusaka
dan kemudian kami pedagangkan dengan pihak yang memiliki
selera dalam mengoleksi benda-benda antik tersebut. Entah jika
ada anak buah kami yang benar menemukan benda tersebut......
apakah mendesak sekali buat Koay Hiap saat ini untuk
mengetahui tentang Guci Perak tersebut......”? tegas Hek It Kaucu
dan balik bertanya kepada Koay Ji. Koay Ji yakin dengan seri
wajah Hek It Kau jika Kaucu itu sama sekali tidak berdusta.
“Jika Kaucu berkenan, lohu ingin tahu lebih jelas seputar benda
tersebut. Entah Kaucu bersedia membantu lohu.....”?
“Hmmmm, tentu saja. Jika Koay Hiap memang memerlukannya,
baiklah lohu coba menanyakannya kepada murid kepala yang
menemukannya pada beberapa minggu yang lalu, masih belum
terlampau lama...., sebentar Koay Hiap....” sambil berkata
demikian, Kaucu Hek It Kau memanggil keluar penjaga ruangan
pribadinya dan memberi perintah untuk memanggil seseorang,
kelihatannya murid kepala yang disebutkannnya barusan yang
dipanggilnya untuk menghadap.
1483
Butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya murid kepala Hek It
Kaucu yang bernama Li Hi Ko. Begitu masuk, tokoh yang
bertubuh gempal dan sudah berusia 42 tahunan segera memberi
hormat kepada Hek It Kaucu dan juga kepada Koay Ji yang
dikenalnya semalam;
“Menjumpai Kaucu dan Koay Hiap Locianpwee.......”
“Bangun dan duduklah Li Hi Ko...... ada sesuatu urusan yang ingin
ditanyakan oleh penolong kita, Thian Liong Koay Hiap.....”
“Accchh, seandainya dapat membantu, pasti menyenangkan
untuk membantu dan menyumbang sedikit tenaga buat Koay Hiap
Locianpwee...” berkata Li Hi Ko dengan kekaguman yang tak
tersembunyiakan kepada Koay Ji, tentu saja dalam wujudnya
sebagai Thian Liong Koay Hiap.
“Hmmmm, lohu berterima kasih sekali seandainya Li-heng dapat
membantu dengan informasi mengenai sebuah benda yang
konon beberapa waktu lalu ditemukan. Benda tersebut adalah
sebuah guci yang berwarna perak. Benarkah Li heng baru baru
ini menemukan sebuah benda seperti itu....” bertanya Koay Ji
dengan nada biasa saja dan tidak sangat antusias sehingga
1484
membuat orang menjadi tidak tegang dan malah menjadi rileks
sehingga tidak menduga yang bukan-bukan.
“Acccch, akhirnya ada juga yang bertanya dan tertarik dengan
Guci Perak kecil itu. Locianpwee, selama berburu di Go Bi San
(Gunung Go Bi), sampai bulan lalu, kami sampai Ban Hud Teng
(Bukit Selaksa Budha). Pada hari-hari terakhir, kami sempat
menyusuri sebuah bukit sebelah utara yang baru saja mengalami
longsor yang parah. Hujan dan angin yang sangat besar membuat
sebuah bukit sampai longsor, bahkan tebingnya sampai terbelah
dan runtuh ke jurang. Sungguh mengerikan. Tetapi hasil dari
menjelajah daerah longsor itu, hanyalah sebuah Guci Perak yang
sampai saat ini tidak ada orang berminat membelinya. Koay Hiap
Locianpwee jadinya adalah satu satunya orang yang
menanyakannya sampai sekarang ini, padahal sudah lewat
sebulan lebih sejak kami menemukannya. Karena tidak ada
gunanya, maka pada akhirnya Suhu menyerahkannya kepadaku
dan sekarang kusimpan di dalam kamarku. Apakah Koay Hiap
ingin melihatnya.....”? berkata atau tepatnya melaporkan Li Hi Ko
sesuai pertanyaan yang diajukan Koay Ji tadi. Dan tentu saja
Koay Ji ingin melihatnya.
1485
“Jika Li heng dan Kaucu tidak keberatan, maka lohu ingin
melihanya...” berkata Koay Ji dengan nada suara tenang dan
tidak mendesak.
“Baiklah, sebentar kuambilkan Koay Hiap Locianpwee.....” setelah
berkata demikian, Li Hi Ko keluar dari ruangan itu dan tidak
berapa lama, tidak sampai sepuluh menit sudah kembali dengan
membekal sebuah guci perak di tangannya. Dan begitu sampai,
langsung dia menunjukkannya dan berkata:
“Benda inilah yang kami temukan di Go Bi San. Dan sampai
sekarang, tidak ada satupun orang yang tertarik membelinya,
bahkan menyimpannyapun nyaris tidak ada yang berminat....”
berkata Li Hi Ko sambil menyerahkan Guci Perak itu kepada Koay
Ji yang langsung menerimanya dan berkata:
“Hmmmm, guci sebesar kepalan manusia ini sebetulnya cukup
unik karena ukuran dan ukirannya jelas berbeda dengan guci
norma yang lain. Murid kepala Jit Yang Sin Sian (Dewa Sakti Jit
Yangg) mencari guci ini entah dengan maksud apa. Justru karena
itulah dia bekerjasama dengan saudara seperguruannya untuk
meminjam benda ini. Tetapi, menurutnya, dia sendiripun tidak
tahu sebetulnya latar belakang guci itu, hanya Suhunya yang
minta dicarikan suatu saat nanti tanpa batas waktu. Tetapi, juga
1486
tidak menjelaskan untuk apa mencari benda ini. Apakah Li heng
tidak menemui benda lain selain Guci Perak ini di lokasi
penemuannya.....”?
“Sama sekali tidak Locianpwee,,,,, nyaris tidak ada yang istimewa
dan menarik dan karena itu, kami semua cenderung
mengabaikannya. Benda ini ditemukan diantara lumpur akibat
guguran tanah di salah satu tebing terjal Ban Hud Teng (Bukit
Selaksa Budha). Dan sampai saat ini, tidak terlihat ada sesuatu
yang antik dan unik selain ukurannya yang memang lebih kecil
dan layak menjadi hiasan.....” berkata Li Hi Ko menjelaskan apa
yang dia ketahui.
“Hmmmm, lohupun bingung. Tetapi, untuk mengatasi
kebingungan itu, apakah lohu boleh meminjam sebentar Guci
Perak ini dan menunjukkannya kepada Jit Yang Sin Sian. Kelak,
pada saat bertemu kembali di Pek In San, Guci Perak ini akan
nanti kukembalikan langsung kepada Hek It Kaucu. Bagaimana
menurut pikiran Li Heng dan terutama engkau Kaucu.....”? Koay
Ji tidak berpikiran apapun mengenai Guci Perak dan murni hanya
ingin memperlihatkannya kepada toa suhengnya belaka. Karena
itu, dia memakai kata “meminjam”.
1487
“Accccchhhhh, sudahlah Locianpwee, benda unik itu, Guci Perak
itu, biarlah lohu hadiahkan kepada Thian Liong Koay Hiap. Kelak,
di Pek In San, Locianpwee tidak perlu mengmbalikannya kepada
lohu..... Li Hi Ko pasti setuju dan malah sangat senang dengan
menghadiahkan Guci itu kepada Locianpwee....” maksud hati
untuk meminjam, ecchhhh, tahu-tahu guci perak itu justru
dihadiahkan kepadanya. Meski pengetahuan tentang guci itu,
hanya samar di kepalanya.
“Accchhhh, bukan maksud lohu meminta,,, bukan begitu, maafkan
lohu. Sebenarnya lohu hanya ingin melihat dan menyimpan
bentuk dan ciri khasnya. Memilikinya sama sekali bukanlah niat
lohu .......”
“Sudahlah Thian Liong Koay Hiap Locianpwee, lohu justru dengan
sangat rela hati menghadiahkan dan menyerahkannya untuk
Koay Hiap miliki. Tidak perlu kelak dikembalikan lagi, anggaplah
menjadi hadiah pertemuan dan hadiah atas bantuan locianpwee
yang sangat berarti..... jika locianpwee enggan menerimanya,
justru kami yang akan menjadi kecil hati.....” Hek It Kaucu tetap
mendesak dan memaksa Koay Ji menerima guci perak yang
terlihat agak unik dan antik itu.
1488
“Accchhhhm, bukan maksud lohu..... bukan maksud lohu,,,,, tapi,
aaaiii, baiklah, biarlah saat ini Guci Perak ini untuk sementara
kusimpan. Kelak, kita lihat saja nanti di kemudian hari.....” Koay Ji
pada akhirnya menerimanya dan kemudian menyimpan Guci
Perak itu dikantongannya. Dia tidak sadar jika Guci Perak itu
memiliki sejarah lebih dari yang pernah dibacanya, bahkan akan
menghadirkan kehebohan yang lebih menggegerkan lagi di
Tionggoan.
“Hek It Kaucu, sampai lohu selesai menyelidiki Guci Perak ini,
siapapun dia orangnya atau pihak dari manapun kelak yang
bertanya tentang keberadaan Guci ini, maka terangkan dengan
segera dan sejelasnya bahwa Guci Perak ini sedang berada di
tangan lohu......”
“Baiklah, lohu senang dan bersyukur karena dapat memberi tanda
mata dan hadiah yang Locianpwee senangi......” berkata Hek It
Kaucu
“Cayhe juga merasa gembira dapat memberikan tanda mata dan
kenang-kenangan kepada Koay Hiap, sungguh peristiwa luar
biasa yang akan cayhe selalu kenang sepanjang hidupku.....” Li
Hi Kok juga menjelaskan perasaan hatinya yang dapat memberi
sesuatu kepada Thian Liong Koay Hiap.
1489
Koay Ji merasa berterima kasih dengan kedua orang itu, tetapi
entah mengapa dia merasa sangat was-was dengan keselamatan
mereka. Tetapi, sampai semua hal berkaitan dengan Guci Perak
itu selesai, Koay Ji merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya,
untuk mengurangi perasaan was-was dan rasa tidak enak dengan
kedua orang yang rela memberinya secara cuma-cuma Guci
Perak itu, Koay Ji kemudian memikirkan sesuatu dan berkata:
“Hek It Kaucu, mengenai hutang kalian kepada pihak Siau Ji Po
serta Toko Keluarga Oey, sudah lohu selesaikan. Dan mereka
tidak akan pernah datang meminta dan menuntutnya lebih jauh
lagi, hanya tidak perlu dan tidak usah bertanya ataupun mencari
tahu lebih jauh mengenai pelunasan hutang tersebut. Tetapi,
kelak lohu akan jelaskan mengapa......”
“Accchhhh, banyak terima kasih Thian Liong Koay Hiap.
Sebetulnya hutang tersebut sudah akan kami bayarkan, tetapi
masih belum sempat kami kirimkan berhubung persiapan acara
pada hari ini.......” berkata Hek It Kaucu dengan perasaan sedikit
menyesal atas keterlambatan pembayaran hutangnya.
“Sudahlah, lohu sudah menyelesaikan semua itu dengan pihak
Toko Keluarga Oey, bahkan hari inipun lohu akan menemui Siau
Ji Po. Kelak, dia Pek In San, lohu akan mempertemukan Kaucu
1490
dengan Siau Ji Po.... jangan khawatir. Kita semua berharap tidak
ada masalah dan ketidaknyamanan karena persitiwa itu”
Hari itu juga, Koay Ji berangkat menuju Kota Cing Peng setelah
menerima Guci Perak, menyimpannya dan kemudian mengambil
kudanya dan bergegas menuju ke Kota Cing Peng. Menemui Siau
Ji Po, kakak seperguruannya yang keempat. Tetapi,
kedatangannya terlambat lebih dua jam dibandingkan dengan
kepulangan Phang Cen Loan dan saudara seperguruan lainnya
termasuk suaminya. Kedatangan Koay Ji bertepatan dengan
berakhirnya pertemuan di rumah tinggal Siau Ji Po. Sepertinya
Kam Song Si dan ketiga sutenya ditambah dengan Bun Siok Han
melaporkan apa yang terjadi di Kota Liang Ping. Meski tentu saja
dengan versi mereka dan tidak melaporkan bentrokan dan insiden
yang terjadi disana. Wajar saja, mereka tidak akan mungkin
menceritakan versi aslinya, bahkanpun Bun Siok Han yang ikut
datang menemui Susiok dan Sukouwnya itu.
Untuk itu, Phang Cen Loan dengan terpaksa harus mengarang
cerita terkait dengan keadaannya yang terluka. Dia melaporkan
ada seorang tokoh bernama Thian Liong Koay Hiap yang
menghalangi mereka menuntut pembayaran atas hutang Hek It
Kau dan bahkan melukainya. Hal yang membuat panas bukan
hanya Oey Hwa, tetapi juga Siau Ji Po yang biasanya lebih sabar
1491
dan lebih teliti. Tetapi, entah mengapa, sekali ini mereka tidak
merasakan adanya kelemahan atas cerita Phang Cen Loan.
Mereka langsung tersinggung. Meski memang, Guru mana yang
tidak tersinggung jika anak muridnya dilukai tokoh lain?
Sementara Bun Siok Han yang melihat Oey Hwa sudah menjadi
murka, segera berkata:
“Susiok, Sukouw, meski demikian, tokoh bernama Thian Liong
Koay Hiap berjanji akan datang menemui Susiok dan Sukouw.
Anehnya, dia mampu bersilat dengan menggunakan jurus-jurus
dan ilmu perguruan kita dengan kemampuan penguasaan yang
sangat hebat. Dan selain itu, tokoh itu juga berjanji akan berusaha
untuk menyembuhkan ponakanku yang sedang sakit itu.......
bahkan, hari ini, dia akan menyusul datang untuk keperluan
itu.....”
“Hmmmm, bagus jika memang dia datang, ingin kulihat
bagaimana bentuk manusia lancang dan berani mati menghukum
muridku......” berkata Oey Hwa yang membuat Bun Siok Han
terdiam dan tidak berani bicara lagi. Sementara Siau Ji Po sendiri
terlihat juga agak tersinggung namun tidak sampai mengeluarkan
kata-kata atau kalimat yang mengeskpresikan perasaannya itu.
Tokoh ini hanya menarik nafas panjang, terutama setelah tahu
1492
bahwa dia tidak mampu menyembuhkan muridnya yang juga
adalah menantunya.
Dan begitu pertemuan mereka bubar, belum lagi mereka keluar
dari ruangan tempat mereka berbincang-bincang, tiba-tiba
seorang pelayan rumah datang dan mohon bertemu dengan Siau
Ji Po:
“Loya..... ada seorang tamu yang mengaku bernama Thian Liong
Koay Hiap mohon untuk bertemua. Dia menunggu petunjuk loya,
apakah akan diundang masuk, atau harus dijelaskan ba......”
“Ijinkan dia masuk, antarkan langsung kesana.....” Oey Hwa yang
menjawab sambil menunjuk Lian Bu Thia (ruangan berlatih silat)
yang terletak berdampingan dengan tempat pertemuan mereka.
Pelayan itu langsung pergi dan tidak lama kemudian membawa
masuk Koay Ji dalam samaran sebagai Thian Liong Koay Hiap.
Hanya, Koay Ji menjadi heran karena dia ternyata dibawa masuk
ke ruangan berlatih silat dan bukannya ruangan tamu. “Ada apa
gerangan....”? desis Koay Ji dalam hati, heran dan bertanya-tanya
kurang mengerti. Tetapi, dengan diantarkan memasuki Lian Bu
Thia, tanda bahwa akan ada “pertarungan”, entah sebagai
perkenalan, ataupun ujian. Koay Ji bertanya-tanya dalam hati.
1493
“Lohu, Thian Liong Koay Hiap mohon bertemu dengan Siau Ji Po
dan Oey Hwa, jika tidak keliru, tentu saudara berdua adalah tokoh
yang hendak lohu temui sesuai dengan perintah dari Tek Ui
Pangcu.......” Koay Ji berkata dengan suara sopan sambil
menatap Siau Ji Po dan Oey Hwa, kedua kakak seperguruannya
yang baru sekali itu dia temui. Tetapi, alangkah kaget Koai Ji
ketika Oey Hwa justru berkata dengan suara yang terkesan dingin
dan agak marah:
“Hmmmm, jadi engkau yang demikian tega melukai dan kemudian
membuat muridku sampai bercacat seperti ini. Bagaimana bisa
engkau beraninya menghadapi dan menganiaya seorang muda
Thian Liong Koay Hiap.....? hmmmm, tokoh baru rimba persilatan
kelihatannya. Nach, engkau jelaskan, siapa gerangan engkau,
dan mengapa engkau begitu lancang untuk mengurusi pintu
perguruan ornag lain? Bahkan konon mengalahkan muridku dan
keponakan muridku dengan ilmu perguruan kami...”? tajam suara
Oey Hwa, wajar Koay Ji terkejut dengan sambutan yang kurang
ramah itu.
“Maafkan... maafkan, tetapi sebelumnya terimalah salam
hormatku, Thian Liong Koay Hiap. Datang kemari sebagai utusan
Tek Ui Sinkay, Pangcu Kaypang, Bengcu Rimba Persilatan
Tionggoan yang baru untuk menemui Siau Ji Po Tayhiap dan Oey
1494
Hwa Lihiap di Kota Cing Peng......” sambil berkata demikian Koay
Ji memberi salam dan bahkan lebih menghormat lagi
dibandingkan sebelumnya. Bukan karena takut kepada ancaman
Oey Hwa, tetapi karena memang saat itu dia melakukannya
secara takzim kepada kedua orang Kakak Seperguruannya yang
baru saat itu dapat dia temui. Itupun dia temui dalam samaran
sebagai orang lain, sebagai Thian Liong Koay Hiap, dan terlibat
dalam keadaan yang kurnag mengenakkan.
Kata-kata Koay Ji sudah langsung membuat wajah Siau Ji Po
berubah menjadi agak heran, apalagi mendengar Sam
Suhengnya itu sudah menjadi BENGCU Tionggoan. Dan tokoh
yang berada dan bertamu kepadanya hari ini, justru adalah utusan
sang Suheng. Karena itu, jelas nilai KOAY JI atau THIAN LIONG
KOAY HIAP tidaklah main-main. Sebagai utusan suhengnya saja
sudah penting, apalagi justru datang dalam status UTUSAN
BENGCU. Tentu saja dia, Siau Ji Po, tahu keseriusan dan
perjuangan Suhengnya yang memang amat teguh dalam prinsip
dan benar-benar teguh mengikuti garis yang ditegaskan oleh
Suhu mereka, Bu In Sinliong. Oey Hwa sendiripun melengak,
tetapi hanya sekejap. Sebelum suaminya berkata-kata, dia sudah
lebih dahulu berbicara:
1495
“Hmmmmm, utusan Sam Suheng rupanya....... baiklah, salam dan
hormatmu serta salam titipan Sam Suheng kami terima. Tetapi,
meski demikian tetap saja engkau berhutang penjelasan kepada
kami, mengapa begitu lancang melukai anak murid kami, Phang
Cen Loan, dan bahkan juga ponakan murid kami Bun Siok Hun.
Konon engkau menggunakan ilmu perguruan kami, Sam In Ciang
dan Sian In Sin Ciang dalam mengalahkan mereka berdua. Apa
memang benar begitu kejadiannya di Kota Liang Ping, Thian
Liong Koay Hiap ....”? bertanya Oey Hwa, meski nada tajam dan
marahnya berkurang, tetapi masih tetap belum ramah.
“Memang begitu Oey Lihiap, mohon maaf jika sudah melukai
muridmu, tetapi lohu dapat mengembalikannya seperti sedia kala.
Lagipula, lohu melakukannya untuk alasan yang tepat, dan bukan
untuk gagah-gagahan. Mengenai mengalahkan mereka dengan
Ilmu Perguruan Oey Lihiap dan Siau Tayhiap, lohu akan dapat
menjelaskannya, tetapi tidak menjelaskannya dihadapan para
murid Siau Tayhiap dan Oey Lihiap. Mohon dimengerti......”
“Koay Hiap, atau entah siapa engkau sebenarnya, urusan kami
berdua dengan Sam Suheng kami boleh ditunda sebentar. Kami
pasti akan mengindahkannya. Tetapi, urusan dengan murid kami
dan ponakan murid kami yang engkau kalahkan dengan ilmu
perguruan kami sendiri, biar kita bicarakan terlebih dahulu.
1496
Engkau siapa sebenarnya dan mengapa mampu memainkan Ilmu
Sam In Ciang dan Sian In Sin Ciang? yang padahalnya, ilmu
tersebut hanya diajarkan secara rahasia kepada kami, 7 orang
saudara seperguruan dan diturunkan resmi kepada murid-murid
penerus kami masing-masing....? apakah mungkin engkau adalah
murid salah seorang suheng kami atau siapa sebenarnya engkau
ini....”? tanya Oey Hwa yang sudah kembali berubah menjadi
sengit.
“Oey Lihiap,,,,, untuk saat ini lohu hanya dapat mengatakan
bahwa lohu memiliki hubungan yang cukup erat baik dengan Oey
Lihiap dan Siau Tayhiap. Mengenai diri lohu sejelasnya, meski
nanti belum atau tidak akan semuanya, tetapi akan lohu jelaskan.
Hanya saja, lohu hanya akan menjelaskannya dalam pertemuan
bertiga kepada Oey Lihiap dan Siau Tayhiap.....”
“Hmmmm, apakah Sam Suheng sudah menerima murid yang lain
dan baru sekali ini datang bertemu kami....? ataukah, achhh, tidak
mungkin Ji Suheng atau Liok Suci yang mendidikmu, atau Cu Siau
sute..... baiklah, engkau boleh menjelaskannya nanti. Tetapi,
engkau sudah tahu jika mereka ini ada hubungan perguruan
dengan dirimu, mengapa engkau sampai melukai mereka....”?
bertanya Oey Hwa dengan nada suara penasaran yang belum
habis. Dan ini menyulitkan Koay Ji, karena dia harus menjelaskan
1497
dengan tidak memberitahu latar perbuatan yang kurang baik dari
para keponakan muridnya. Sudah cukup dia menghukum dan
membuat missi mereka gagal, jika harus membuat mereka
terhukum oleh Guru mereka, bukankah ini akan sangat rumit...?
“Oey Lihiap, lohu sudah menjelaskan, bahwa sebagai utusan Tek
Ui Bengcu, dengan berat hati lohu harus mencampuri urusan
yang melibatkan perguruan silat ataupun tokoh silat yang sedang
dalam masalah dan pertikaian. Lohu memutuskan untuk
membantu Hek It Kau dan setelah itu akan datang menemui Oey
Lihiap dan Siau Tayhiap untuk menjelaskan dan sekaligus
meminta maaf. Begitu cara kerja yang diminta Tek Ui Bengcu
kepada lohu......” kata-kata Koay Ji membuat Bun Siok Han
menjadi kagum. Juga membuat Phang Cen Loan menjadi tidak
enak hati meski masih kesal. Cara Koay Ji memancing sikap
perwira dalam hati Siok Han, tetapi dia kesulitan mengucapkan
apa yang berada di kepalanya karena situasi cepat berubah
dengan munculnya Koay Ji berhadapan langsung dengan kedua
adik seperguruan dari suhunya yang budiman.
“Hmmmm, memakai nama Sam Suheng tidak berarti memutus
dan menghapuskan kesombonganmu dalam mencampuri urusan
perguruan kami. Permintaan maafmu kami boleh terima, tetapi
melukai dan memutus aliran tenaga iweekang murid kami
1498
sungguh sulit kami terima, siapapun dirimu.....” berkata Oey Hwa
dengan suara tegas dan Siau Ji Po terlihat manggut-manggut.
“Oey Lihiap..... dalam berkelana Lohu hanya mengutamakan dan
menegaskan pentingnya menjunjung tinggi kegagahan dan
bersikap adil. Semua apa yang lohu lakukan, sama sekali tidak
bertentangan dengan liangsim, seturut dengan amanat Tek Ui
Bengcu dan juga seturut dengan pesan Suhu...... hanya itu yang
lohu ingin tegaskan, selain meminta maaf kepada Oey Lihiap dan
Siau Tayhiap....” Koay Ji tetap dalam sikapnya dan merasa pantas
menghukum Phang Cen Loan, meski dia mengakui dan mohon
maaf dengan sikapnya itu. Tetapi bukan berarti mengakui bahwa
tindakannya itu keliru,
“Thian Liong Koayhiap, engkau meminta maaf tetapi tidak berani
mengakui jika engkau bersalah. Siapapun engkau, apapun
hubunganmu dengan Sam Suheng, tetapi tindakan menghukum
muridku sungguh tidak dapat kami terima. Apa boleh buat,
menggunakan cara rimba persilatan, maka kami akan melakukan
hal yang sama kepadamu, membalas hukuman dan
penghinaanmu dengan cara yang sama dengan yang engkau
lakukan terhadap murid kami. Terserah kepadamu, apakah
engkau akan mengadakan perlawanan atau menerima hukuman
kami suami-istri sebagai balasan atas keteledoran dan
1499
kecerobohanmu mencampuri urusan rumah perguruan orang
lain.....” tegas Oey Hwa berbicara, maklum bagaimanapun Phang
Cen Loan adalah menantu mereka, ibu dari cucu pertama
mereka. Dan susahnya, cucu tunggal saat itu, juga sedang sakit.
Ini membuat banyak pertimbangan lain tidak dapat dengan jernih
dicerna baik oleh Oey Hwa maupun suaminya Siau Ji Po yang
sebetulnya adalah dua pendekar berkemampuan tinggi.
“Sayang sekali Oey Lihiap, apa yang lohu kerjakan dan lakukan
sudah seturut dengan liangsim dan tugas yang sedang lohu
emban. Karena itu, jika ada yang menyalahkan lohu dan akan
menghukumku untuk tindakan benar yang kulakukan, sudah pasti
tidak akan dapat lohu terima dengan baik.....” Koay Ji bersikap
jantan, bukannya menantang tetapi menegaskan bahwa sikap
dan perbuatannya sudah benar. Sudah sesuai dengan norma
yang berlaku.
Tetapi baik Oey Hwa maupun Siau Ji Po menjadi tidak senang.
Mereka sebenarnya sudah menganggap Koay Ji atau Thian Liong
Koay Hiap, adalah murid salah seorang saudara seperguruan
mereka. Tetapi, sikap Koay Ji yang bertahan tidak bersalah dalam
menghukum Phang Cen Loan, membuat keduanya menjadi amat
tidak suka dan mengesampingkan pertimbangan lain. Kondisi ini,
ditambah dengan keadaan keluarga yang sedang “stress” dengan
1500
cucu pertama yang tak kunjung sembuh. Belum lagi masih
ditambah dengan berita bahwa Toa Suheng yang sangat mereka
hormati juga sedang sakit parah, membuat keduanya menjadi
amat sensitif. Gampang jadi tersinggung dan cepat mengambil
keputusan tanpa meneliti kejadian sebenarnya secara lebih teliti
dan cermat.
“Baik, jika memang begitu, kita selesaikan dengan cara orang
Rimba Persilatan” sambil berkata demikian Oey Hwa sudah
menyerang, dan begitu turun menyerang langsung dengan
menggunakan Sam In Ciang. Gerakannya jelas saja jauh lebih
cepat dan tangkas dibandingkan dengan Phang Cen Loan dan
tidaklah gampang bagi Koay Ji untuk menaklukkannya. Bukan
tidak bisa, tetapi dia merasa tidak pantas untuk mengalahkan Ngo
Sucinya itu dengan cara yang tidak layak. Akan lebih hebat lagi
akibatnya jika dia sampai melakukannya, karena bahkan Sam
Suhengnyapun pasti akan menyalahkannya.
Karena berpikir demikian, maka Koay Ji akhirnya mengalah
dengan bergerak pesat serta lincah dalam Liap In Sut. Dan
dengan lincah, kokoh dan gesit dia bergerak menghindar dan
sesekali menghalau serangan Sucinya itu menggunakan ilmu
yang lain, ilmunya sendiri Ci Liong Ciu Hoat (Ilmu Mengekang
Naga). Ilmu totok mujijat yang dipelajari dan dikembangkannya
1501
dari Kitab milik Pat Bin Ling Long, dan itu sebabnya Oey Hwa
sama sekali tidak mengenali ilmunya itu. Tetapi, gerakan-gerakan
Liap In Sut jelas sangat dikenalnya meskipun dia merasa jika
Koay Ji seperti memiliki gaya dan ciri yang khas.
Yang sangat mengagetkan bagi Oey Hwa dan juga Siau Ji Po
adalah, gerakan, kematangan, variasi serta juga ketenangan
Koay Ji yang sungguh sangatlah mengagumkan. Bahkan Siau Ji
Po sudah langsung paham jika istrinya tidak akan mampu
mengapa-apakan Koay Ji dalam waktu yang akan amat panjang.
Untunglah, tidak nampak gerak-gerik Koay Ji yang bertujuan
melukai atau mempermalukan Oey Hwa. Karena itu Siau Ji Po
tidak menjadi tegang tetapi mengamati pertarungan dengan jauh
lebih lega, karena lebih terlihat sebagai latih-tanding antar
saudara seperguruan. Dan karena itu jugalah, maka diapun mulai
menaruh rasa simpati dan hormat terhadap Koay Ji.
Hanya, makin lama semakin Siau Ji Po kebingungan. Karena dia
sungguh tidak mampu mengukur sampai dimana gerangan
kemampuan Koay Ji sampai saat itu. Karena meskipun saat itu
Oey Hwa sudah menyerang dan mempergunakan jurus-jurus
ampuh dan berbahaya dari Sam In Ciang dan bahkan juga Sian
In Sin Ciang, tidak ada sedikitpun hasilnya. Tetap saja dengan
amat mudahnya seorang Koay Ji menghadapinya, memunahkan
1502
serangan atau menghindarinya sehingga Oey Hwa tidak
mendapatkan apa-apa dari serangannya itu. Padahal seranganserangan
beruntun yang dilakukannya sudah menggunakan
jurus-jurus yang mematikan dan amat berbahaya dari ilmu
perguruan mereka. Dengan cepat, ringan dan penuh perhitungan
Koay Ji menghadapinya dan Siau Ji Po melihat dengan jelas jika
Koay Ji tidak merasa kerepotan sedikitpun untuk menghadapi
istrinya.
Semakin Oey Hwa bergerak cepat dan semakin meningkatkan
kekuatan iweekang untuk menekan Koay Ji, semakin Koay Ji
gesit, cepat dan kuat. Apalagi, Koay Ji sengaja menggunakan
iweekang Bu Te Hwesio untuk menandingi iweekang Oey Hwa.
Dan sesekali dia menggunakan totokan dari kitab mujijat yang
memusingkan Oey Hwa karena selalu memunahkan serangannya
di tengah jalan. Dengan jalan itu, baik Siau Ji Po maupun Oey
Hwa kesulitan untuk menentukan dari aliran mana gerangan Koay
Ji. Yang jelas, mereka melihat dan merasa betapa unsur ilmu dan
varian jurus yang dikerahkan Koay Ji sangat dekat dengan
perguruan mereka. Liap In Sut jelas adalah landas gerakan Koay
Ji, ilmu pukulan Sam Im Ciang sesekali dipergunakannya.
Kekuatan iweekangnya amat aneh, namun jelas berdasarkan
1503
iweekang aliran Budha. Jadi, siapa gerangan Thian Liong Koay
Hiap ini...”
“Awas ..... hati-hati engkau, jagalah Ilmu Pa Hiat Sin Kong (Ilmu
Sakti Menotok Jalan Darah) ini” desis Oey Hwa sambil
mengerahkan kekuatan iweekang menotok dan mendesak Koay
Ji. Bahkan pada saat bersamaan karena saking penasaran, Oey
Hwa juga mengkombinasikannya dengan Thian Lion Cap Jit Suk
(17 langkah gerakan Naga Langit). Kombinasi kedua ilmu ini
terbilang hebat dan sangatlah berbahaya. Tetapi, karena Koay Ji
memahami dengan sangat, maka semua jurus serangan Oey
Hwa dengan amat mudah dia halau, dielakkan ataupun
dipunahkan sebelum menyerangnya secara langsung. Dengan
demikian, keduanya jadi lebih sering adu cerdik dan mencari cela,
karena Oey Hwa dan Siau Ji Po melihat jika Koay Ji juga mengerti
dengan kedua ilmu tersebut. Terbukti karena sesekali Koay Ji
tepat mengantisipasi dan kedua lengannya secara cepat mampu
menghalau totokan jemari sakti Oey Hwa.
“Awas ......” sambil berteriak Oey Hwa menyerang dengan jurus
Tok Hong Keng Thian (Puncak Tunggal Mengejutkan Langit),
jemari pada kedua tangannya terlihat bergerak menyerang bagian
kepala dan leher Koay Ji. Belum lagi Koay Ji bergerak
mengantisipasi dengan jurus Giok Hong Can Pheng (Burung
1504
Phoenix Mengembangkan Sayap), Oey Hwa sudah menyusulkan
dengan satu pukulan baru dari Hud Bun Kim Kong Tay Yok Ciang
(Ilmu Pukulan Sakti Arahat Emas). Sebuah ilmu selingan khas Bu
In Sinliong yang merupakan kembangan dari Ilmu-Ilmu asli
berasal Kuil Siauw Lim Sie. Tetapi dengan gerakan ringan saja
dalam jurus Nuh Hou Eng Cit (Harimau Marah Meloncat), Koay Ji
dapat mengantisipasi dan memunahkan serangan berantai dan
hebat tersebut. Masih tetap Oey Hwa susah untuk menekan dan
mendesak Koay Ji.
“Haiiiittttt.......” sebuah jurus It Ci Keng Thian (Satu Kali Tunjuk
Mengejutkan Langit) dikerahkan dengan mengarah 5 jalan darah
sekaligus. Tetapi dengan cerdik Koay Ji bergerak dalam jurus
Siang Hong Cak Yun (Dua Puncak Menembus Awan).
Gerakannya ini merupakan salto dua kali dan mumbul keangkasa
guna membuat serangan Oey Hwa menjadi kurang bermanfaat
karena dia kehilangan jejak musuhnya. Tidak mau kalah pamor,
kembali Oey Hwa menukar jurus sesuai dengan kondisi lawan,
yakni dengan jurus Sam Hoan Toh Goat (Tiga Lingkaran
Mengelilingi Bulan). Sebetulnya merupakan serangan berantai
bergelombang tiga, atau ada tiga gelombang serangan yang bisa
sangat merepotkan karena datangnya susul menyusul. Tahu
kehebatan serangan lawan, Koay Ji mengembangkan jurus Giok
1505
Thou Yang Yok (Kelinci Giok Menyebarkan Obat), sebuah
langkah untuk menghindar secara pas dan tepat.
Tepat ketika Koay Ji pada langkah ketiga menghindarkan diri,
diapun mengibaskan lengannya dalam ilmu Hong In Pat Jiauw
(Ilmu Delapan Cengkeraman Angin dan Mega) yang merupakan
hadiah Thian Hoat Tosu. Dan kibasan yang penuh dengan
desiran angin itu dengan amat mudahnya membuat semua
serangan Oey Hwa menjadi mubasir. Bahkan akibat susulan yang
kurang diperhitungkan Koay Ji adalah sucinya itu sampai harus
membuang setengah langkah hanya untuk memunahkan
dorongan angin kibasan lengannya itu. Tetapi, pada saat itu,
belum lagi Oey Hwa sempat maju dan mencecar Koay Ji dengan
serangan-serangan dalam jurus baru, terdengar suara Siau Ji Po:
“Mundur istriku, diapun bisa memainkan Ilmu Kepandaian Tian
Hoat Tosu. Kini beri kesempatan dan giliran buatku.......” sambil
berkata demikian, Siau Ji Po sudah melayangkan sebuah pukulan
keras dengan kekuatan iweekang yang membuat Koay Ji sampai
terkesiap. “Hmmmm, dia bahkan tidak kalah dengan kekuatan
Sam Suheng....” desisnya dalam hati dan kemudian dengan sigap
bergerak kembali dalam ginkang Liap In Sut. Tapi, Siau Ji Po
sudah menghitungnya, karena itulah, dengan cepat kedua
lengannya kembali bergerak cepat dan dalam kagetnya Koay Ji
1506
sadar.... “aaachhh Tie Liong Ciu (Ilmu Sakti Tangan Mengekang
Naga), rupanya Siau Suheng sudah mampu menguasai secara
sempurna ilmu peninggalan Suhu yang terakhir. Bahkan
tingkatnya tidak kurang hebat dengan permainan Sam Suheng
sendiri...... “ desis Koay Ji dalam hatinya dengan penuh perasaan
kagum. Kagum dengan Ngo Suhengnya itu.
Sebagaimana Oey Hwa dan memang sudah diduganya sejak
awal, Siau Ji Po tahu bahwa majunya dia sendiripun belum tentu
akan mengekang ataupun mengalahkan Koay Ji. Karena paham
dengan hal itu, maka dia menyerang dengan kekuatan yang tidak
tanggung, jauh lebih serius dan lebih kuat dibandingkan dengan
istrinya, Oey Hwa tadi. Tetapi, sebagaimana dugaannya, meski
sudah menggunakan ilmu yang dititipkan terakhir buat mereka
sesama saudara perguruan oleh suhu mereka, tetap saja tidak
mempan mendesak dan mengalahkan Koay Ji. Bahkan dengan
heran dia menyadari, jika Koay Ji masih belum melawannya
dengan kekuatan sesungguhnya dan saat itu sedang berusaha
menjaga gengsi dan kebesaran namanya. Karena itu, Koay Ji
tidak terasa seperti sedang menyerang dan mengalahkannya.
Sebaliknya, justru terasa banyak mengalah dan memberi muka
mereka berdua suami-istri yang kebetulan bertarung dihadapan
anak murid mereka sendiri.
1507
Siau Ji Po sadar, jika mereka terlampau mendesak, bukan tidak
mungkin mereka akan semakin kehilangan muka dan gengsi. Dia
sudah mencoba dengan jurus jurus hebat yang dilatihnya selama
dua tahun terakhir, dan merasa sudah menguasai ilmu-ilmu
terakhir peninggalan guru mereka tersebut. Tetapi, tetap saja
Koay Ji mampu dengan gesit dan halus menghindar dengan tidak
berusaha mengalahkan mereka. Siau Ji Po yang memang
berwatak gagah dan lebih sabar, sudah merasa cukup dan yakin
bahwa Koay Ji lebih banyak mengalah dan tidak mau membuat
mereka malu dihadapan anak murid sendiri. Dan benar saja,
setelah bertarung sampai 25 jurus lebih, Siau Ji Po merasa sudah
lebih dari cukup, dan karena itu diapun berkata dengan suara
halus:
“Sudah cukup anak muda...... meski lohu belum mampu
mengetahui detail siapa Suhumu, tetapi lohu bisa memastikan
bahwa engkau tidak memiliki niat buruk. Kami menerima
kunjunganmu Koay Hiap......”
“Suamiku,,,,,, “ jerit Oey Hwa diiringi pandangan tidak mengerti
dari Phang Cen Loan dan Kam Song Si serta berapa saudara
seperguruan mereka. Hanya Bun Siok Han yang merasa rada
senang dengan keputusan Sam Susioknya yang dia anggap
1508
sudah cukup tepat dengan situasi tersebut. Lagipula, Bun Siok
Han sudah menanam rasa kagum dan simpati kepada Koay Ji.
“Istriku,,,,, kita akan bicara bertiga...... Thian Liong Koay Hiap,
lohu percaya engkau adalah utusan Sam Suheng. Karena itu,
mari lohu mengundangmu berbicara bertiga bersama istriku......
dan kalian, tunggu kami bertiga disini. Siok Han, engkau temani
Kam suhengmu untuk memastikan perintahku ini.......” Siau Ji Po
berkata dengan suara tegas. Dan Oey Hwa paham, suara dan
keputusan Siau Ji Po dalam nada seperti ini bersifat TIDAK
BOLEH DIBANTAH, karena menyangkut urusan yang amat
serius. Sama dengan suaranya soal usaha dan bisnis mereka
yang tidak bisa dibantah jika dia sudah bersuara dan mengambil
keputusan. Menyadari hal tersebut, Oey Hwa terdiam dan
memandang suaminya dengan sinar mata penasaran, tapi tetap
saja menuruti dan mengikuti kemauan suaminya.
Siau Ji Po memimpin Koay Ji berjalan di depan dengan direndengi
Oey Hwa, istrinya dan memasuki ruangan yang tadinya menjadi
tempat mereka bercakap-cakap dengan empat orang anak murid
mereka ditambah dengan Bun Siok Han, ponakan murid. Setelah
tiba di dalam ruangan, Siau Ji Po sendiri yang menutup pintunya
dan kemudian mempersilahkan Koay Ji duduk dengan suara
1509
tenang dan penuh percaya diri. Tidak terlihat kegelisahannya. Tak
berapa lama:
“Thian Liong Koay Hiap, silahkan engkau menunjukkan surat dari
Sam Suheng dan sekaligus memperkenalkan dirimu.
Permainanmu dalam Ilmu Tie Liong Ciu (Ilmu Sakti Tangan
Mengekang Naga) masih setingkat di atas kemampuan Sam
Suheng dan karena itu, engkau bukanlah anak muridnya. Bukan
juga anak murid Ji Suheng dan apalagi Toa Suheng. Seingatku
menurut Sam Suheng, Suhu menerima murid penutup, tetapi
murid penutup itu masih berusia sangat muda dan memasuki usia
ke-20 pada tahun ini. Karena itu, Thian Liong Koay Hiap, siapakah
engkau yang sesungguhnya....”? suara dan kalimat suaminya ini
menyadarkan Oey Hwa bahwa ada sesuatu yang lebih serius.
Sementara Koay Ji dengan cepat menyadari bahwa dia tidak
boleh main-main menghadapi kedua kakak seperguruannya ini.
Karena berpikiran demikian, maka dengan cepat Koay Ji berutut
di hadapan keduanya sambil berkata dengan suara penuh haru:
“Ngo Suheng, Liok Suci, tecu Koay Ji murid penutup Insu Bu In
Sinliong yang untuk kepentingan Sam Suheng sebagai Bengcu
Rimba Persilatan Tionggoan yang baru, terpaksa harus terus
melanjutkan penyamaran sebagai Thian Liong Koay Hiap.
Maafkan jika siauwte sudah mengagetkan dan mendatangkan
1510
perasaan kurang enak di hati Ngo Suheng dan Liok Suci. Karena
sesungguhnya belum setahun ini siauwte merantau setelah
dilepas Suhu untuk mengembara dan diminta membantu
perjuangan Sam Suheng....” sambil berlutut, Koay Ji kemudian
berusaha untuk melepas penyamarannya sebagai Thian Liong
Koay Hiap dan tidak berapa lama kemudian dihadapan Siau Ji Po
dan Oey Hwa, sudah muncul seorang anak muda berusia 20
tahunan dalam ujud asli sebagai Koay Ji. Dan betapa kagetnya
Siau Ji Po melihat dan menyadari jika anak muda yang memberi
hormat kepadanya dalam potongan seperti Koay Ji. Seperti tidak
berkepandaian tetapi dia sendiri sudah mencoba tadi, dan anak
itu tidak dapat dikalahkannya.
Melihat perubahan wujud Thian Liong Koay Hiap menjadi anak
muda gagah berusia 20 tahunan yang demikian menghormat
mereka berdua, dengan cepat Oey Hwa tersentuh hatinya dan
langsung jatuh sayang kepada Koay Ji. Belum lagi Siau Ji Po
bersuara, Oey Hwa sudah langsung mendekati Koay Ji dan
kemudian memegang lengannya serta mengajaknya berdiri.
Dipandanginya roman wajah Koay Ji dengan teliti dan tidak
berapa lama kemudian, diapun tertawa dan berkata:
“Hikhikhikhik, Suhu benar-benar kelewatan sekali ini. Masakan
beliau menerima murid bungsu yang lebih pantas menjadi anak
1511
kita suamiku.....? dan lihat, siapa yang akan menduga jika Thian
Liong Koay Hiap yang engkau puja-puji itu justru adalah siauw
sutemu sendiri.....? hikhikhik, sungguh-sungguh Suhu membuat
kita semua kaget setengah mati. Tapi, siauw sute, terus terang
sucimu ini sangat gembira memiliki sute termuda seperti engkau,
meskipun engkau cukup nakal mempermainkan kami berdua
ini......”
Bukan main terharunya Koay Ji, bahkan untuk sesaat dia nyaris
menangis dan sedikit air matanya sempat tumpah mendapatkan
perhatian dan kasih sayang untuk pertama kalinya dari seorang
wanita yang layak menjadi ibunya. Apalagi, karena selain
memegang lengannya, mengangkatnya berdiri, menatapi dan
melihatnya dengan penuh takjub, dan kemudian Liok Sucinya itu
merangkul dia dengan rasa sayang yang tidak tersembunyikan.
Belum pernah Koay Ji diperlakukan sedemikian mesra oleh
seorang wanita seusia layaknya ibunya, dan sekali ini,
memperoleh kasih sayang sedemikian dari sucinya, bukan main
terharunya Koay Ji. Dan Siau Ji Po sungguh teliti memperhatikan
keadaan dan gelagat Koay Ji, sempat sekilas melihat air mata
Siauw Sutenya menetes meski hanya sedikit. Dia heran sejenak,
tetapi mengingat kisah Sam Suhengnya mengenai keadaan Koay
1512
Ji, diam-diam diapun menarik nafas panjang dan kemudian
berkata:
“Koay Ji, Sam Suheng pernah menceritakan mengenai
keadaanmu. Jangan engkau khawatir, engkau boleh
menganggap kami berdua, suheng dan sucimu sebagai pengganti
orang tuamu. Sebagaimana Sam Suheng menganggapmu bukan
sekedar adik seperguruan yang paling kecil, tetapi bahkan putra
angkatnya sendiri. Engkau boleh menganggap dan bahkan
memiliki kami sebagai keluargamu sendiri, ayolah, mari kita
bercakap-cakap...” Oey Hwa tiba-tiba sadar dengan kata-kata
suaminya, bahwa adik seperguruan mereka yang paling kecil ini
adalah manusia yang tidak memiliki keluarga, orang tua dan
bahkan namanya sendiri. Karena itu, sekali lagi dia menatap
wajah siauw sutenya itu dan melihat sinar mata bahagia dan
senang disana, meski jejak air mata sudah tidak terlihat lagi
disana. Semakin bertambah sayanglah Oey Hwa dengan adik
bungsunya itu.
“Benar sekali Siauw sute,,,,,,,, kami adalah suheng dan sucimu,
tetapi juga adalah keluargamu sendiri sekaligus. Karena itu,
ayolah engkau ceritakan dan sampaikan apa yang mesti engkau
sampaikan kepada kami.......” lembut sekali nada suara Oey Hwa
sekarang. Dan memang dengan perbedaan usia mereka yang
1513
begitu jauh, membuat Oey Hwa dapat memperlakukan Koay Ji
yang haus kasih sayang secara naluriah bagaikan ibu kepada
anaknya.
“Terima kasih Liok Suci,,,,,,, siauw sutemu memang tidak pernah
tahu dan mengenal keluarga selain Sam Suheng dan Suhu
sendiri. Itulah sebabnya mengetahui Suci begitu lembut
menyayang seperti sekarang, rasa-rasanya seperti memiliki
seorang ibu yang sebenarnya......” berkata Koay Ji dengan
perasaan hati dan emosi yang seperti diaduk-aduk, tetapi saat itu
dia merasa bahagia dan seperti memiliki keluarga sendiri. Hal
yang memang sangat dirindukannya di alam bawah sadarnya. Hal
yang dengan mudah dilihat dan dimaklumi Siau Ji Po dan Oey
Hwa.
“Baiklah siauw sute..... adalah bagus jika engkau bisa
menganggap kami sebagai keluargamu. Nach, apa yang
selanjutnya ingin engkau sampaikan kepada kami berdua dalam
hubungan dengan Sam Suheng.....”? Siau Ji Po mengembalikan
suasana menjadi serius setelah memberi kesempatan kepada
Koay Ji untuk menata kembali emosi dan perasaannya. Dan Siau
Ji Po kembali menjadi kagum karena sute termudanya itu dapat
dengan cepat menekan perasaannya dan kembali konsentrasi
dalam percakapan yang serius.
1514
“Suheng, Suci..... selain diminta memperkenalkan diri ke Suheng
dan Suci, juga kelak siauwte harus berangkat ke Gunung Ciauw
San. Dan selain itu, siauwte juga membawa pesan tertulis dari
Sam Suheng sendiri. Konon menurut Sam Suheng, ada juga
pesan terakhir peninggalan suhu yang terdapat dalam suratnya,
tetapi sutemu ini dilarang untuk mengetahui dan membacanya
sampai saat yang sudah ditentukan oleh Suhu sendiri......”
“Hmmmm, seserius itu....? tapi tidak sering Sam Suheng
bertindak seperti ini. Karena itu, dugaanku persoalan ini adalah
persoalan yang sangat berat dan karena itu jugalah dia sampai
mengutusmu menemui semua saudara seperguruan. Baiklah
Sute, mana surat yang ingin engkau sampaikan itu.....”
Koay Ji kemudian mengeluarkan surat yang dituliskan oleh Tek Ui
Pangcu yang konon dalamnya ada salinan surat yang
disampaikan oleh Suhu mereka secara langsung. Entah
bagaimana Tek Ui Pangcu mengerjakannya, Koay Ji sama sekali
tidak ikut campur, tidak paham kapan suhengnya itu menuliskan
surat itu. Dan satu hal lagi, karena dia memang dilarang keras
oleh Tek Ui Sinkay mengetahui isi surat Suhunya, dan itu sesuai
dengan perintah Suhu mereka sendiri. Bahwa Koay Ji hanya
boleh mengantarkan surat dan tidak boleh mengetahui apa isi
salinan surat suhu mereka, Bu In Sinliong.
1515
“Acchhhh, baru lohu mengerti sekarang.......” gumam Siau Ji Po
sambil memandang Oey Hwa istrinya yang juga menganggukangguk
paham. Keduanya kemudian memandang Koay Ji dengan
wajah dan tatapan yang sulit diterjemahkan artinya oleh Koay Ji
sendiri. Semakin pusing Koay Ji ketika Oey Hwa kemudian
berkata atau tepatnya bergumam:
“Accccchhhh, begitu gerangan. Pantas...... pantas.......” Oey Hwa
bergumam untuk kemudian memandang Koay Ji dengan tatapan
yang sulit diartikan dan kemudian juga memandang suaminya
yang sama mengangguk.
“Koay Ji, demikian panggilanmu menurut Sam Suheng. Menurut
Sam Suheng, kepandaianmu saat ini malahan jauh
melampauinya dan bahkan menurut Suhu sendiri, lebih hebat lagi.
Karena engkau sudah setingkat dengan kepandaian Suhu pada
saat Suhu memutuskan untuk menutup diri selamanya lebih 20
tahun silam seusai mengalahkan Pek Kut Lodjin. Bisa engkau
bayangkan betapa kagetnya kami siauw sute? Ini bukan menurut
Sam Suheng, tetapi menurut Suhu sendiri.....” Siau Ji Po berkata
dengan penuh rasa takjub dan sama sekali tidak merasa iri
ataupun dengki dengan apa yang baru diungkapkannya.
Ungkapan kalimat dan perasaannya menunjukkan rasa takjub
1516
akan apa yang bisa dicapai oleh adik seperguruannya yang paling
bungsu ini.
“Acccch, Suhu dan Sam Suheng terlampau melebih-lebihkan saja
Ngo Suheng. Tidak benar seperti itu.......” elak Koay Ji yang
jengah dengan pujian suhengnya, juga dengan pandang takjub
sucinya.
“Mana bisa melebih-lebihkan jika banyak orang menyaksikanmu
mampu menahan gempuran seorang Mo Hwee Hud yang bahkan
masih dibantu oleh Liok Kong Dji, dan terakhir masih ada pula
Sam Boa Niotju. Jika mendengar saja, suheng dan sucimu tidak
akan percaya siauw sute, tetapi masalahnya Sam Suheng
sekaligus menyertakan siapa-siapa yang menyaksikannya.......”
“Achh, sudahlah suheng, suci. Membicarakannya hanya
membuat sutemu menjadi pusing belaka. Itulah, surat dari Sam
Suheng sudah kusampaikan. Hal terakhir yang ingin siauw sute
sampaikan adalah, persoalan dengan Hek It Kau dan apa yang
terjadi disana. Hek It Kau bersama Ang Liong Pang dan Ceng
Liong Pang di Liang Peng, mengadakan pertemuan untuk
menjawab undangan Sam Suheng selaku Bengcu Rimba
Persilatan Tionggoan. Tetapi, murid-murid Suheng dan Suci
datang kesana menagih hutang saat mereka masih berkumpul.
1517
Rupanya, mereka paham jika kemungkinan Hek It Kau sudah
menemukan Guci Perak yang merupakan mestika yang mampu
mengobati banyak penyakit. Meski mereka belum tahu bahwa
Guci itu palsu atau asli. Mengetahui bahwa mereka berbuat itu
untuk kesembuhan Toa Suheng dan cucu suheng dan suci, maka
setelah melarang mereka melakukan keributan, sudah kupinjam
Guci Perak itu dari Hek It Kau.....”
“Gin Ciu Ouw maksudmu sute.....”? desis Siau Ji Po dan Oey Hwa
sangat senang dan penuh harap.
“Benar,,,,,,,, tetapi, karena sejarah dan kandungan kisah yang
sangat penting terkait Guci Perak ini, maka sudah kupinjam guci
itu untuk diselidiki lebih jauh. Tetapi, sutemu sudah lancang
menyebutkan bahwa dengan meminjam guci ini, maka hutang
Hek It Kau kepada Toko Keluarga Oey dinyatakan lunas. Apakah
Suci bisa memaafkan kelancanganku itu.....”?
“Acccccchhhh, hutang itu kita anggap sudah tidak perlu dibayar
sebenarnya. Jika mereka meminjamkan Guci Perak, maka
mereka minta pinjaman lagipun akan kuberikan dengan ikhlas,
yang penting Ling Ji bisa disembuhkan. Tidak, apa yang engkau
lakukan sudah tepat sute......” Oey Hwa menjawab dengan cepat
dan tegas, tak ada keraguan sedikitpun.
1518
“Baiklah, jika demikian urusan kedua dapat dianggap selesai.
Hanya, karena sutemu perlu memastikan keaslian Guci Perak itu,
maka untuk kesembuhan cucu suheng dan suci, biarlah kutangani
secara langsung. Guci Perak ini akan sutemu bawa dan kelak
akan diperlihatkan kepada Toa Suheng, tetapi keasliannya dapat
mulai kuselidiki selama berada di Kota Cing Peng ini. Bersamaan
dengan itu, sutemu akan memeriksa dan berusaha mengobati
dan menyembuhkan cucu suheng dan suci. Bagaimana menurut
Ngo Suheng dan Liok Suci....”? tanya Koay Ji sambil memandang
dan memohon persetujuan Siau Ji Po dan Oey Hwa.
“Siauw sute, apakah engkau mengerti ilmu pengobatan.....”?
bertanya Oey Hwa dengan suara serius.
“Sejak kecil siauwte belajar ilmu pengobatan dari Ang Sinshe,
bahkan meracik obat anti racun untuk melawan racun dari daerah
Biauw yang dipergunakan Bu Tek Seng Pay di Benteng keluarga
Hu. Untuk mengobati penyakit dari cucu suheng dan suci, maka
biarlah kukuras habis kebisaanku dalam mengobati......”
“Tapi, sakitnya sudah lebih dari dua bulan, semua tabib di kota ini
sudah menyerah dan tidak sanggup menemukan apa penyakit
dari cucuku itu. Apakah engkau yakin akan mampu
menyembuhkannya sute....”? tanya Siau Ji Po.
1519
“Sanggup atau tidak, biarlah kuperiksa dahulu suheng. Tanggung,
jika memang tidak sanggup, maka kita akan mengandalkan Guci
Perak ini setelah kuteliti dan kuselidiki terlebih dahulu benar atau
tidak berkhasiat sebagaimana yang digembar-gemborkan secara
amat rahasia itu” jawab Koay Ji cepat.
“Baiklah, engkau boleh langsung memeriksanya sebentar lagi
sute...... tetapi untuk saat ini, kita perlu menemui anak-anak yang
berada di luar. Dan, oh ya, engkau apakan Phang Cen Loan
sampai kehilangan kekuatan iweekangnya....”? tanya Oey Hwa
melirik Koay Ji sambil tersenyum. Koay Ji maklum, bagaimanapun
Phang Cen Loan adalah menantu mereka.
“Sebenarnya dia tidak kehilangan kekuatannya Suci, hanya
menahan pengerahan dan penyalurannya. Justru setelah sembuh
sebulan kedepan, dia akan memiliki kekuatan dua kali lipat dari
sekarang ini. Tetapi, dia harus mengikuti petunjuk yang akan
kuajarkan kepadanya malam atau pagi nanti, terutama
bagaimana berusaha mengendalikan emosi dan kesabaran.
Sejak awal sutemu sudah tahu siapa mereka, karena itu, meski
diluar menghukum, tetapi sebenarnya juga membuka
kesempatan mereka untuk lebih maju.....”
1520
“Ach, benarkah demikian sute.....? bagaimana engkau bisa
melakukannya...”? kejar Oey Hwa dengan heran dan penasaran.
“Sutemu memahami peredaran jalan darah, arah dan arus
iweekang, dan paham bagaimana mengendapkannya untuk
membuatnya melonjak hebat kekuatannya. Jangan khawatir suci,
sutemu tidak bicara bohong.....”
“Tidak, bukan begitu sute, bukan tidak percaya kepadamu. Tetapi
kemampuanmu dalam ilmu silat, ilmu pertabiban dan
pengetahuan yang baru engkau jelaskan sungguh membuat
sucimu kaget dan kagum.....” jawab Oey Hwa dengan masih tetap
kaget dan kagum.
“Sudahlah, marilah suci, kita memeriksa keadaan cucu dari
suheng dan suci. Biarlah Phang Cen Loan kubekali malam atau
besok pagi saja, toch keadaannya akan lebih baik kelak. Dan satu
hal lagi, kumohon Suheng dan Suci tetap menganggap dan
memanggilku sebagai Thian Liong Koay Hiap. Ada kesulitan
siauwte dan juga Sam Suheng untuk menampilkan siauwte
sebagai Koay Ji, karena itu beliau memintaku tetap sebagai Thian
Liong Koay Hiap. Hanya sesama saudara seperguruan untuk
sementara ini yang mengetahui jati diriku yang asli dan
sebenarnya. Bahkan mohon murid-murid suheng dan suci, juga
1521
tetap mengetahui dan mengenaliku sebagai Thian Liong Koay
Hiap sampai saatnya nanti...”, kata-kata Koay Ji membuat Siau Ji
Po dan Oey Hwa terdiam sebentar, mereka memandangi Koay Ji
sampai beberapa lamanya baru kemudian mengangguk.
Bun Siok Han, Kam Song Si, Siau Hok Ho dan Phang Cen Loan
serta Ho Tek Siu menahan nafas saking tegangnya ketika melihat
Siau Ji Po, Oey Hwa dan Thian Liong Koay Hiap keluar dari
ruangan khusus. Tetapi, mereka menjadi gembira dan senang
karena tidak terlihat ada sinar mata murka dan marah dari Siau Ji
Po dan Oye Hwa. Sebaliknya mereka keluar dari ruangan
tersebut, menemui mereka dan terlihat sepertinya suasana hati
mereka, termasuk juga Thian Liong Koay Hiap sedang amat riang
gembira dan sering melempar senyum. Begitu dekat, Siau Ji Po
sudah berkata kepada mereka semua:
“Kita bertemu kembali malam nanti, Koay Hiap ingin memeriksa
keadaan Liong Ji dan akan mengupayakan pengobatannya.
Hutang pihak Hek It Kau selanjutnya kita nyatakan sudah dilunasi
dan jangan lagi mencari urusan dengan pihak mereka. Dan
engkau Siok Han, 3 hari kedepan selambatnya harus menemani
kami bertiga untuk menemui suhumu. Nach, cukup sampai disini,
malam kita bertemu lagi. Loan Ji, engkau mendahului dan
1522
persiapkan Ling Ji karena Koay Hiap berkenan untuk memeriksa
dan mengobatinya....”
“Accchhh, baik suhu......” tanpa banyak bicara Phang Cen Loan
segera berlalu dengtan ditemani suaminya, dan tidak berapa lama
kemudian mereka semuapun bubar dari Lian Bu Thia.
Sore menjelang malam.....
Dalam kamar yang cukup luas itu terlihat Siau Ji Po, Oey Hwa,
Siau Hok Ho dan Phang Cen Loan serta yang terakhir disamping
Siau Ling yang sakit, adalah Siau Lan putri bungsi Siau Ji Po dan
Oey Hwa. Kelihatannya Koay Ji sudah selesai melakukan
pemeriksaan, keningnya berkerut dan kemudian memandang
Oey Hwa dan Phang Cen Loan diapun bertanya:
“Kapan terakhir kali Ling Ji sehat sebelum jatuh sakit seperti
sekarang ini....”? jelas pertanyaan ditujukan kepada Phang Cen
Loan. Tentu saja, adalah seorang ibu yang tahu jelas apa saja
yang dilakukan anaknya.
“Sehari sebelum Ling Ji sakit, dia bermain bersama temantemannya
dan sempat berenang di sungai hingga sore hari. Sore
hingga malam, Ling Ji tidak bermain di luar lagi, tetapi malamnya
suhu badannya sudah mulai panas dan semakin lama semakin
1523
memburuk. Terhitung sejak hari itu, sudah dua bulan hingga saat
ini, Ling Ji dalam keadaan seperti sekarang, dengan tubuhnya
semakin lama menjadi semakin kurus....” jawab Phang Cen Loan
sambil menahan tangis dan air matanya. Maklum, Siau Ling
adalah putra tunggal mereka sejauh ini.
“Siau Locianpwee, kelihatannya kita perlu bermain ke sungai itu
besok. Ling Ji kemasukan “racun lemas” yang bekerja dalam
waktu yang panjang dan lama. Jika tidak memperoleh
pengobatan yang tepat, maka racun itu akan berubah menjadi
sebuah benda padat sebesar biji kelereng dan akan meracuni isi
perut. Akan amat sulit melacak racun ini, karena tidak berada di
aliran darah Ling Ji, racun ini masuk melalui air atau makanan
yang tercemar dan mengencap di lambung. Jika tidak keliru, awal
bulan kedua, kotorannya mulai berubah warna menjadi lebih cair
dan berwarna kebiru-biruan. Apakah benar dugaan lohu....”?
bertanya kembali Koay Ji kepada Phang Cen Loan yang langsung
mengangguk dan memandangnya penuh harap. Karena baru
sekali ini ada “tabib” yang menebak tepat apa yang sedang terjadi
dan bukan bertanya kepadanya.
“Benar Locianpwee, sejak dua minggu lalu, kotoran Ling Ji
memang mulai berubah warna, semakin lama semakin jelas
warna kebiruan itu muncul dan nafsu makan Ling Ji mulai turun
1524
secara drastis, sementara sebaliknya panasnya senantiasa naik
dan turun nyaris setiap 3 jam...... Apakah anakku benar-benar
akan dapat diobati Locianpwee....”? tanya Phang Cen Loan penuh
harap sambil memegang lengan suaminya dengan erat.
“Jika tidak segera diobati, bulan ketiga kotorannya akan berubah
berwarna ungu dan akhir bulan ketiga adalah akhir segalagalanya.
Racun itu akan membesar dan meracuni seluruh
makanan yang masuk sampai akhirnya meracuni seluruh darah
yang kemudian berubah menjadi ungu. Jika lohu tidak keliru,
racun ini berasal dari hewan khas sejenis siput bercangkang ungu
yang sudah cukup langka. Racunnya tidak mematikan secara
cepat, susah dideteksi karena tidak berada di aliran darah. Untuk
memastikannya, maka lohu dan Siau Locianpwee akan
menyelidiki sungai itu besok. Jika beruntung, kita akan
menemukan seekor siput bercangkang ungu. Obat racun siput
ungu berada di bagian tubuh lainnya dari binatang itu, tepatnya
bagian daging dalam cangkang yang tidak bersentuhan dengan
pusat racunnya. Pusat racun adalah liur sang siput. Tetapi,
jikapun kami tidak menemukan seekor siput cangkang ungu,
maka, lohu akan mengobatinya dengan cara yang berbeda, jauh
lebih sulit, tetapi mampu membersihkan tubuh Ling Ji. Kita akan
mencoba cara yang lebih muda besok...... tapi Phang toanio,
1525
engkau tenangkan hatimu, sebagaimana janji lohu hari yang
lewat, kesehatan anakmu adalah janjiku untuk mengobatinya.
Lohu tidak akan berlalu dari sini sebelum tubuhnya bersih dari
racun.....” berkata Koay Ji yang membuat Siau Ji Po dan Oey Hwa
terhenyak. Berapa banyak kebisaan adik seperguruan mereka
yang masih muda dan penuh misteri ini?
“Terima kasih Locianpwee, apapun yang engkau minta pasti akan
kuturuti” sahut Phang Cen Loan cepat dan sangat antusias.
“Tidak perlu sampai sebegitunya Phang toanio. Engkau bersama
suamimu perlu bersama malam ini, meskipun kelak baru akan
engkau latihkan setelah Ling Ji sembuh kelak. Tetapi, karena
kebutuhan yang mendesak, malam ini juga akan kuturunkan
sesuatu untuk penyembuhanmu. Tetapi, ingat baik-baik,
tunggulah saat Ling Ji sembuh baru engkau mulai melatih dirimu,
karena perhatian yang terpecah akan membuat engkau menderita
lebih parah. Malam nanti kutunggu kalian berdua untuk memulai
penyembuhan Phang toanio.....”
“Baik.... baik Locianpwee, akan kuperhatikan.....”
Demikianlah malam itu Koay Ji menurunkan petunjuk untuk
melepaskan diri dari totokan pengekang iweekangnya.
1526
Sebetulnya, mudah buatnya untuk membuka totokan, tetapi
secara sengaja, dia ingin mendidik suami-istri itu untuk lebih
mampu menahan diri. Rasa tinggi hati dan kesombongan Phang
Cen Loan amat memmbuat Koay ji sebal, untung saja dia
melakukannya untuk anaknya yang sedang sakit. Itulah yang
membuat Koay Ji melunak dan memilih jalan berlatih iweekang
untuk mengekang emosi dan melatih kesabaran suami dan istri
putra Siau Ji Po suhengnya itu. Dan keesokan harinya, diapun
menyusuri sungai dengan suhengnya, sementara sang suci
seperti biasa mengurusi toko mereka.
“Ngo Suheng..... mohon dimaafkan, sebetulnya sutemu bisa
melepaskan totokan atas menantu suheng. Tetapi, ledakan emosi
dan latihan kesabarannya terlihat agak tipis ketika berada di Hek
It Kau untuk mengejar Guci Perak itu. Karenanya, malam tadi,
sutemu memberi mereka jalan untuk melepaskan totokan sembari
melatih lebih dalam iweekang mereka berdua. Semoga suheng
tidak menyesalkan sutemu ini karena memilih tindakan seperti
itu.....”
“Hahahahaha, engkau terlampau sungkan sute. Apakah engkau
sungguh mengira bahwa suhengmu tidak dapat menduga sampai
kesana? Bahkan Bun Siok Han sudah menjelaskan apa yang
sesungguhnya terjadi, dan jika suhengmu dalam posisi sepertimu,
1527
mungkin akan turun tangan lebih keras lagi. Melihat engkau begitu
bijak dan murah hati, menantuku sudah takluk luar dan dalam. Kini
hanya ucapan terima kasih yang bagaimana kelak diberikannya
kepadamu......... percayalah, suhengmu paham dengan
tindakanmu atas mereka.....”
“Terima kasih Suheng.....”
“Tapi, apakah kisahmu tentang Siput Cangkang Ungu adalah hal
yang serius atau juga hanya bualanmu belaka....”? bertanya Siau
Ji Po sambil tersenyum.
“Hahahaha, Ngo Suheng seakan bisa meraba isi hatiku. Tetapi,
untuk sumber racun di tubuh Ling Ji, memang benar berasal dari
siput langka tersebut. Jika kita memakai Guci Perak, maka racun
itu akan ditawarkan dan kemudian menjadi zat tak berguna atau
kotoran yang harus kita keluarkan dari dalam tubuh. Padahal, air
liur atau racun dari air liur siput tersebut adalah racun berhawa
dingin yang justru bisa berguna untuk daya tahan dan kesehatan
darah dan otot Ling Ji. Karena itu, kita harus berusaha untuk
menemukan siput langka tersebut, kelak ketika suheng mendidik
Ling Ji di kemudian hari, kecepatannya belajar akan dua kali lipat
dari anak biasa. Terlebih dalam pemeriksaanku semalam, anak
itu memiliki struktur tulang yang memudahkannya berlatih ilmu
1528
silat. Jadi, biarlah sutemu bercapek-capek sehari dua hari untuk
keuntungan cucumu kelak suheng. Dan jika gagal menemukan
siput langka itu, sutemu masih memiliki cara lain, meski tidak
seampuh dengan daging sang siput, tetapi tetap saja berkhasiat
memudahkannya kelak berlatih silat. Hanya itu yang dapat
sutemu jelaskan sekarang....”
“Accchhhh, banyak sekali pertimbangan strategismu dan lebih
banyak lagi ternyata pengetahuanmu. Tidak heran jika Suhu dan
Sam Suheng sampai begitu memujikan dirimu sute, tidak
heran......”
“Achhh, yang benar suheng....? mana bisa Suhu
melakukannya......? selama berlatih bersama Suhu, sangat jarang
dia orang tua berbicara memuji sutemu ini....” berkata Koay Ji
sambil mengenangkan suhunya yang budiman.
“Hahahahaha, itu rahasia langit sute......”
Demikianlah, kedua kakak beradik seperguruan itu berjalan
sepanjang hari untuk menemukan siput langka yang
dimaksudkan. Jika Koay Ji pulang dengan tangan hampa setelah
sejak pagi sampai sore berburu, maka Siau Ji Po pulang dengan
membawa banyak sekali siput. Tetapi tidak ada satupun siput
1529
bercangkang ungu. Hanya saja, ketika akan dibuang, Koay Ji
tertarik dengan salah satu dari siput yang hendak dibuang kembali
itu:
“Sebentar suheng.......” perlahan-lahan Koay Ji memegang siput
kecil yang hendak dibuang itu. Diapun mengamati dengan
membolak-balikkan siput itu, kulitnya bukan berwarna ungu, tetapi
warna biru terang tetapi karena bercampur dengan siput lain, jadi
warna birunya tertutup oleh lumpur. Setelah mengamatinya
beberapa saat, Koay Ji kemudian berkata dengan nada gembira:
“Dapat Suheng, siput langka itu memang berada di sungai. Ini
adalah salah satu anak siput tersebut. Berbeda dengan siput lain,
siput yang satu ini hanya sanggup menjadikan atau membesarkan
“satu” anak siput di setiap 3 bulan. Berarti 4 anak siput dalam
hitungan setahun. Melihat posisi dan besarnya anak siput
cangkang ungu ini, maka induknya pasti masih berada di sekitar
sungai tadi. Kita harus mengembalikannya saat ini juga, dan
menunggu kedatangan induk siput itu untuk menjemput anaknya.
Mari suheng......”
“Koay Hiap..... apakah engkau yakin......”?
“Pasti, marilah.....”
1530
Dan kembali kedua kakak beradik seperguruan itu berburu siput
ke sungai. Untungnya, ketajaman mata mereka memang diatas
rata-rata sehingga tidaklah terlampau kerepotan hanya dengan
bantuan obor. Dan seperti dugaan Koay Ji, mereka harus
menunggu sampai pagi baru menemukan induk siput cangkang
ungu yang mereka cari-cari. Dan tidak sulit mereka menangkap
siput yang ukurannya tidak beda dengan siput biasa. Dan hari itu,
Koay Ji habiskan dengan membedah siput cangkang ungu,
memisahkan air liur beracunnya dan kemudian memisahkan
“daging” sang siput. Setelahnya, diapun menyeduh obat, atau
tepatnya bahan-bahan obat dari daun obat yang selalu
dibekalnya. Baru setelah makan malam dia siap dan kemudian
mengobati cucu Siau Ji Po dan Oey Hwa. Pengobatannya sendiri
amat mudah, yaitu dengan memberi makan daging siput mentah
dan dilanjutkan dengan obat-obatan racikan Koay Ji.
Setelah itu, Koay Ji membantu dengan mengerahkan tenaga
dalamnya untuk membantu memperkuat tubuh anak yang sudah
lemah akibat mulai dimakan racun bagian dalam tubuhnya.
Bantuan obat-obatan dan iweekang Koay Ji, memperkuat organ
dalam si anak dan sekaligus menjaga agar efek netralisasi racun
tetap akan bermanfaat. Namun, karena organ-organ dalam sudah
lemah, jadi perlu diperkuat agar benar racun yang ditawarkan
1531
berubah menjadi zat positif yang memperkuat organ tubuh dan
bahkan tulang-tulang sang bocah. Untuk melakukan proses itu,
Koay Ji membutuhkan waktu cukup panjang, hampir enam jam
dia berkutat dan mengawasi proses penyembuhan. Sampai
akhirnya sang anak memuntahkan zat-zat tidak berguna
menjelang pagi hari. Muntah yang berwarna ungu pekat. Tetapi
Koay Ji tetap mengawasi proses penyembuhan sang anak
sampai pagi hari, saat dimana akhirnya dia melihat tidur si bocah
sudah nyaman dan tidak lagi gelisah. Saat itulah Koay Ji
meninggalkannya dengan memberi sekali lagi resep kepada
Phang Cen Loan untuk diminumkan menjelang tengah hari, begitu
si bocah bangun dari tidurnya siang nanti.
Dan ketika akhirnya siang hari menjelang makan siang Koay Ji
bugar kembali, dia segera menuju kamar si bocah dan
menemukan disana ada Siau Ji Po, Oey Hwa, Phang Cen Loan
dan Siau Hok Ho, Siau Lian dan suaminya Ho Tek Siu. Begitu
melihat kedatangan Koay Ji, segera Oey Hwa menyambutnya
dengan gurauan sekaligus bernada ucapan terima kasih:
“Sungguh tak kusangka engkau sekaligus adalah tabib yang
sangat jempolan Koay Hiap, sungguh hebat dan luar biasa.
Keluargaku benar-benar tidak cukup hanya dengan sekedar
berterima kasih kepadamu ....”
1532
“Hmmmm, apakah Oey Lihiap beranggapan lohu
mengerjakannya untuk sebuah ucapan terima kasih?.....
hahahahaha” Koay Ji menyambutnya dengan ucapan atau
gurauan yang sama dengan Oey Hwa. Dan saling pandang
dengan sucinya untuk kemudian sama-sama tersenyum.
“Tapi, memang benar, engkau banyak membantu keluarga kami
sekali ini Koay Hiap. Kelihatannya kelak suamiku itu, akan benar
kerepotan untuk meladenimu nanti.... hikhikhik..”
Tetapi Koay Ji tidak lagi mengindahkan kelakar Oey Hwa dan
langsung mengalihkan perhatian kepada keadaan si bocah.
Diapun memandang Phang Cen Loan yang terlihat sangat letih
dan bertanya sambil mengambil sebuah pil dari balik jubah yang
dia kenakan saat itu:
“Bagaimana keadaannya Phang toanio, apakah sejak pagi dia
tidak lagi mengalami suhu badan yang meningkat tinggi .....”?
bertanya Koay Ji dengan suara lembut kepada sang ponakan
murid, ibu dari anak yang diobatinya.
“Sudah semakin baik semua, suhu badanya sudah normal,
sementara kotoran terakhir yang keluar sudah kembali berwarna
normal dan tidak lagi keungu-unguan seperti kemaren. Hanya
1533
keadaannya masih terlihat agak lemas, masih butuh banyak
istirahat...” jawab Phang Cen Loan.
“Hmmm, berarti racunnya sudah bersih, tetapi kebugarannya
memang akan butuh waktu lama mengembalikannya. Untuk
engkau, Phang toanio, makanlah pil ini dan beristirahatlah barang
sejam atau dua jam, niscaya engkau akan segar kembali seperti
sediakala.....” Koay Ji berkata sambil menyerahkan pil penambah
tenaga buatan resep Ang Sinshe yang sudah disempurnakannya.
“Loan Ji, benar kata Koay Hiap, engkau beristirahatlah, biar
adikmu Siau Lan yang akan menjaga Ling Ji untuk beberapa saat
ini....” berkata Oey Hwa yang merasa kasihan melihat
menantunya benar-benar terkuras tenaga dan fisiknya menjaga
anak tunggal mereka yang dalam pengobatan. Dan setelah
beberapa saat, tidak lupa memandang Koay Ji, diapun berkata:
“Baiklah, aku beristirahat sebentar Ibu, Locianpwee .......” dan
diapun pergi dengan diantarkan suaminya, Siau Hok Ho.
================
Kita tinggalkan Koay Ji yang sedang menghabiskan waktu dan
hari-harinya dengan keluarga Suheng dan Sucinya. Mari kita ikuti
perjalanan Sie Lan In yang bertugas mendatangi dan
1534
mengantarkan surat Tek Ui Sinkay kepada Pek Sim Nikouw atau
dahulunya Ci Yan (Walet Ungu) Pek Bwe Li yang sudah berusia
60 tahunan. Sama usianya dengan Tek Ui Sinkay dan juga Siau
Ji Po. Masih berjarak dua tahun dengan orang kedua yang akan
ditemuinya, yakni Cing San Khek (Jago Berbaju Hijau) Tiat Kie Bu
yang sudah berusia 62 tahun.
Sesuai dugaan Koay Ji, Sie Lan In memang menggunakan
“kendaraan istimewa” berupa Burung Rajawali Besar berwarna
Hitam dan Putih ketika mendaki Gunung Ciauw San. Dengan
bersiul dalam lengkingan panjang yang bergaung di udara,tak
lama kemudian muncullah dua ekor burung besar dari angkasa.
Satunya berwarna PUTIH dan satu lagi berwarna HITAM. Setelah
melengking sekali lagi, melayanglah tubuh Sie Lan In dan hinggap
di atas Burung Rajawali Berwarna Hitam, dan tidak lama
kemudian baik Burung Rajawali maupun Sie Lan In sudah
menghilang ke angkasa raya. Tahu-tahu, tidak berapa lama
kemudian, Sie Lan In muncul kembali bersama Burung Rajawali
Hitam dari angkasa. Dan sekali ini mereka berada di bagian
Gunung Ciauw San sebelah utara, tepatnya berada di sebuah
Mulut Lembah dan dalam Lembah terlihat sebuah biara yang
dibangun disana. Sie Lan In sudah paham, bahwa itulah Kwan Im
1535
Bio atau Biara Dewi Kwan Im dimana Pek Sim Nikouw menjadi
Kepala Biara atas sejumlah Nikouw muridnya.
Tempat dan lokasi Pelk Sim Nikouw atau Ci Yan (Walet Ungu)
Pek Bwee Li sudah diberitahukan oleh Tek Ui Sinkay. Karena itu,
tidak rumit dan mudah saja Sie Lan In menemukan kuil Kwan Im
Bio, yang sekaligus adalah tempat tinggal dari orang atau tokoh
yang sedang dicarinya itu. Beberapa saat kemudian Sie Lan In
memutuskan untuk memasuki Lembah dimana berdiri Kuil Dewi
Kwan Im yang sudah terlihat sejak masih di mulut lembah. Karena
paham berada di rumah orang, maka Sie Lan In bertindak agak
berhati-hati dan berusaha mencari tahu dimana adanya para
penjaga yang menjaga pintu masuk lembah. Tetapi, dia sama
sekali tidak bertemu orang lain sampai melangkah masuk ke
dalam lembah.
Ketika akhirnya dia mulai mendekati bangunan berbentuk kuil itu,
barulah Sie Lan In bertemu dengan beberapa Bhiksu Perempuan
yang dengan sopan menjumpainya dan bahkan menanyainya
dengan baik-baik:
“Amitabha....... ada apakah gerangan Kouwnio mengunjungi biara
kami yang jauh terpencil di Gunung Ciauw San ini...”? salah
seorang Bhiksu perempuan yang sudah berusia pertengahan,
1536
mungkin lebih dari 40 tahun menyapanya dengan penuh senyum
yang meneduhkan hati. Sie Lan In mau tidak mau menyesuaikan
dan menyapa sambil menjawab dengan sopan:
“Siauwte Sie Lan In dari Laut Selatan, berkeinginan menjenguk
Pek Sim Subo. Jika berkenan, bisakah memberitahu beliau
mengenai kedatanganku ini....”?
“Amitabha.......... kunjungan dari jauh, tetapi perkenankan kami
menyampaikan kehendakmu kepada subo di dalam sana....
mohon menunggu kouwnio....”
Salah seorang Bhiksu Perempuan ditugaskan masuk
menyampaikan permohonan bertemu, sementara bhiksu
perempuan yang lain menemani Sie Lan In berbicara dengan
amat ramahnya. Dan, beruntunglah Sie Lan In karena ternyata
maksud dan keinginannya bertemu dengan Pek Sim Nikouw
ternyata dikabulkan. Maka, tidak lama kemudian, diapun
diantarkan masuk untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan
Pek Sim Nikouw.
“Tecu Sie Lan In, membawa salam dari Tek Ui Sinkay dan
mengucapkan terima kasih bersedia menerima tecu disini.....” Sie
Lan In memberi hormat sambil langsung memberitahu siapa yang
1537
mengutusnya datang Ui Sinkay dan mengucapkan terima kasih
bersedia menerima tecu disini.....”
“Amitabha .....duduklah anakku......” ujar Nikouw yang menerima
Sie Lan In dalam sebuah ruangan khusus untuk samadhi.
Kelihatannya ruangan tersebut memang secara khusus
digunakan oleh Pek Sim Nikouw untuk bersamadhi karena sangat
terbatas peralatan yang terdapat didalamnya.
“Terima kasih Pek Sim Subo.......” ujar Sie Lan In sambil bersila
berhadapan dengan Nikouw yang menyuruhnya untuk duduk,
meski dia merasa heran karena Nikouw yang menerimanya
berusia tidak sebanyak Pek Sim Nikouw. Menurut Tek Ui Sinkay,
Pek Sim Nikouw sudah berusia skeitar 60 tahun, sementara yang
menerimanya saat ini paling usianya 50 tahunan.
“Ámitabha...... Sie Kouwnio, perkenalkan, loni Leng Bin Nikouw,
bertugas sebagai wakil dari Pek Sim Nikouw dan sekaligus murid
dari Pek Sim Subo. Hari in, pagi-pagi benar, Subo menerima
kunjungan dari seseorang yang tidak disebutkannya. Tetapi,
setelah menerima tamu tersebut, Subo memutuskan untuk pergi
dan memintaku untuk menggantikan dirimnya bersamadhi di
tempat ini agar murid-murid tidak menjadi kalang kabut. Dan Subo
hanya meninggalkan pesan bahwa dalam 2 hari kedepan dia akan
1538
kembali karena urusannya tidaklah jauh dari Gunung Ciauw San
kami ini..... menyesal sekali Nona Sie, karena jika engkau ingin
bertemu Subo, engkau harus menunggu sehari atau dua hari lagi.
Karena setidaknya baru saat itu subo sudah kembali dari
perjalanannya itu.......”
“Acccchh, begitu rupanya. Tapi, apakah Pek Sim Nikouw tidak
menyebutkan alamat tujuannya di Gunung Ciauw San ini.....”?
sedikit kecewa Sie Lan In, tetapi dia masih berusaha mencari tahu
lebih jauh. Jika tahu dimana keberadaan Pek Sim Nikouw, Sie Lan
In memutuskan akan menyusulnya kesana.
“Amitabha..... sama sekali tidak, kecuali mengatakan bahwa
beliau tidak akan pergi jauh, dan urusnanya hanya di sekitar
Gunung Ciauw San ini.....” berkata Leng Bin Nikouw dengan
suara lembut, sementara Sie Lan In terlihat berpikir lama sebelum
akhirnya dia memutuskan sesuatu dan berkata:
“Baiklah Leng Bin Nikouw, jika memang demikian tecu akan
menunggu sampai kedatangan Pek Sim Nikouw.....”
“Amitabha,,,,,, baiklah Nona Sie. Jika membutuhkan tempat
beristirahat, Kuil kami memiliki ruangan yang cukup memadai di
1539
sebelah utara, seorang anak murid kami akan mengantarkan
Nona kesana.......”
“Terima kasih Leng Bin Nikouw, terima kasih.....”
Mau tidak mau Sie Lan In harus menunggu, tetapi menghabiskan
dua hari tanpa melakukan apa-apa sungguh membuatnya bosan.
Karena itu, keesokan harinya Sie Lan In memutuskan untuk naik
ke puncak dan menikmati indahnya pemandangan dari
ketinggian. Tetapi karena medan menuju puncak Ciauw San
cukup menantang dan bahkan terdapat jurang-jurang dalam yang
tak nampak dasarnya, Sie Lan In memutuskan memanggil Hek
Tiauw. Dan jadilah dia selama dua hari menikmati liburan tak
diduga di Gunung Ciauw San dan ketika malam hari, dia terus
mendalami ilmunya. Terutama mencari-cari tanpa menemukan
apa yang dipercakapkannya dengan Bu San ketika pesiar di
telaga Kun Beng Ouw.
Tetapi, setelah ditunggu sampai dua hari Pek Sim Nikouw belum
pulang juga, pada akhirnya Sie Lan In memutuskan untuk pergi
ke bagian lain Gunung Ciauw San, menemui Cing San Khek (Jago
Berbaju Hijau) Tiat Kie Bu. “Toch dapat saja nanti balik lagi ke
Kwan im Bio setelah menyelesaikan urusan di tempat lain Gunung
Ciauw SanDan, jangan-jangan Pek Sim Nikouw sedang menuju
1540
kesana...? accch, mengapa aku kurang menganalisanya dan
malahan asyik bermain-main sendiri di puncak Gunung Ciauw
San ini.....”? setelah berpikir demikian, akhirnya Sie Lan In
memutuskan untuk segera berangkat, hari itu juga setelah
menunggu dua hari di Kuil Kwan Im Bio tanpa hasil.
Setelah memberitahu Leng Bin Nikouw, Sie Lan In langsung minta
diri mengarahkan tujuannya ke lereng Gunung Ciauw San di
sebelah barat. Tempat yang dia tuju teramat terbatas
informasinya, meski sudah ada petunjuk Tek Ui Sinkay mengenai
tempat itu. “Jika mereka saudara seperguruan, sangat mungkin
Pek Sim Nikouw sedang melakukan sesuatu atau merembugkan
sesuatu dengan Tiat Kie Bu”, demikian analisis Lan In. Analisis
yang nyaris benar, meski tidak sepenuhnya. Memang benar Pek
Sim Nikouw sedang mengunjungi tempat Tiat Kie Bu, tetapi
bukannya berkunjung untuk berembug, tetapi untuk sesuatu yang
menegangkan. Apa gerangan yang sedang dilakukan murid
kedua dan murid keempat dari Bu In Sinliong pada saat itu?
Hanya kurang dari satu ujam waktu yang dibutuhkan Sie Lan In
untuk menemukan atau sampai di daerah yang ditunjukkan Tek
Ui Sinkay sebagai tempat yang kemungkinan besar dimana Tiat
Kie Bu tinggal. Tetapi, persoalannya adalah, tidak begitu mudah
untuk menemukan tempat yang menjadi rumah dan juga
1541
sekaligus perladangan tokoh bernama Tiat Kie Bu itu. Karena
lereng sebelah barat gunung Ciauw San bukanlah tempat atau
daerah yang kecil dan sempit untuk dengan mudah menemukan
satu daerah yang dituju. Berpikir demikian, maka Sie Lan In
akhirnya memutuskan untuk segera turun dari tunggangannya
dan melakukan pencarian langsung di daratan.
Dan membutuhkan kurang lebih 3,4 jam baru akhirnya Sie Lan In
menemukan tempat tinggal Tiat Kie Bu, sebuah rumah sederhana
yang dikelilingi begitu banyak tanaman. Baik tanaman berupa
buah buahan, bumbu makanan maupun tanaman-tanaman obat
yang dikelompokkan secara khusus dan sesuai kategorinya oleh
si Petani Sakti. Diam-diam Sie Lan In mengagumi hasil karya Tiat
Kie Bu melihat betapa tanaman-tanaman tersebut membentang
demikian luas dan teratur. Dan hebatnya lagi, ada beberapa
tanaman berupa buah-buahan yang sedang berbuah dengan
lebatnya dan tanaman tersebut berbaris rapih hingga mendekati
hutan yang lebat sebagai batasnya. Kelompok buah-buahan yang
beragam macam jenisnya dikelompokkan secara khusus dan
berbatasan langsung dengan hutan lebat yang mengarah ke
puncak Gunung Ciauw San.
Di tengah beraneka ragam tanaman yang membentang luas,
bahkan di sisi Barat terlihat tanaman-tanaman tumbuh sampai
1542
“mendaki” sisi bukit, Sie Lan In dapat melihat sebuah rumah.
Persis berada di tengah lahan pertanian yang sangatlah luas
membentang dihadapannya dan terlihat kecil dari kejauhan.
Tetapi, begitu berjalan sampai dekat dengan bangunan tersebut,
Sie Lan In mau tidak mau kagum juga. Karena rumah tersebut
benar-benar bercita-rasa petani, terdapat alat-alat pertanian yang
berjejer tepat di halaman. Dan kemudian di bagian belakang, dia
mendengar ada suara-suara hewan peliharaan, tetapi Sie Lan In
tidak tertarik untuk menengok dan meneliti hewan hewan tersebut
lebih jauh. Dia jauh lebih tertarik dengan rumah yang tidak
terlampau besar dibandingkan lahan pertanian itu, tetapi rasanya
memiliki cukup banyak ruangan dan kamar tidur. Meski kecil di
tengah lahan, tetapi sebagai rumah tinggal, bangunan itu lebih
tepat disebut sebuah rumah yang besar, meskipun terkesan
sederhana penataan dan bentuknya.
Tetapi, belum lagi Sie Lan In memutuskan untuk mengetuk pintu
rumah ataupun mengecek ada tidaknya manusia dalam rumah
tersebut saat itu, tiba-tiba dia melihat adanya bayangan yang
bergerak cepat mendekati tempatnya berada. Bersamaan dengan
cepatnya pergerakan bayangan itu, tidak berapa lama kemudian,
terdengar suara seorang wanita:
1543
“Hmmmm, siang-siang seperti ini, tamu darimana gerangan yang
datang berkunjung ke ladang kami....”? meski masih jauh, tetapi
suara itu berkumandang nyaring dan terdengar jelas di telinga Sie
Lan In. Tanda bahwa perempuan yang berbicara itu memiliki
kemampuan yang cukup hebat. Mau tidak mau, diapun menjadi
kagum dan bergumam dalam hatinya: “Hmm bukan kepandaian
buruk.......”
Dan tak berapa lama kemudian, muncul dihadapan Sie Lan In
seorang wanita yang memiliki paras yang cukup cantik, dan jika
ditaksir kelihatannya sudah berusia di atas 30 tahunan. Mungkin
sudah sekitar 35 tahunan, tetapi gerak-geriknya sangat gagah,
lincah, bertenaga dan pastilah seorang tokoh perempuan yang
memiliki kepandaian yang tidaklah memalukan. Dan menyusul
perempuan tersebut, setelah beberapa saat kemudian, muncul
seorang laki-laki yang datang bersama dengan seorang anak
gadis berusia kurang lebih 6 atau 7 tahunan. Menunggu mereka
semua sudah berdiri dan memandangnya keheranan tepat di
hadapannya, barulah Sie Lan In menyapa dengan hormat:
“Tecu Sie Lan In dari datang bertamu atas petunjuk dan sekaligus
mewakili Tek Ui Sinkay, Kaypang Pangcu yang sekarang menjadi
Bengcu Rimba Persilatan di Tionggoan. Mohon untuk sekiranya
1544
diperkenankan bertemu dengan Cing San Khek (Jago Berbaju
Hijau) Tiat Kie Bu Locianpwee...”
“Hmmmm, apakah engkau murid dari Sam Susiok...?” tanya si
Perempuan dengan nada menyelidik dan kelihatan bercuriga.
Maklum, dia masih belum mengenali keberadaan Sie Lan In.
“Bukan, bukan. Tecu bukanlah anak murid dari Tek Ui Sinkay,
tetapi saat ini sedang membawa pesan dan amanat beliau selaku
Bengcu Tionggoan untuk disampaikan secara langsung kepada
Tiat Kie Bu Locianpwee. Menurut keterangan Tek Ui Pangcu,
disinilah tempat tinggal Tiat Locianpwee.....”
“Adakah tanda bahwa Kouwnio benar-benar utusan dari Sam
Susiok, Tek Ui Sinkay yang menjadi Pangcu Kaypang saat ini....”?
bertanya si perempuan sementara laki-laki yang datang dengan
seorang anak perempuan kecil terlihat berdiam diri dan seperti
tidak mau mencampuri urusan saat itu. Dia membiarkan saja si
perempuan bertanya jawab dengan Sie Lan In.
“Tecu membawa surat, sebagaimana juga Thian Liong Koay Hiap
membawa surat yang sama ke Kota Cing Peng menemui kedua
Locianpwee Pouw Ci Sui Beng (Jari Sakti Penghancur Nyawa)
Siau Ji Po dan juga Lam San Hong Ie (Bulu Hong Berbaju Biru)
1545
Oey Hwa...” sambil berkata demikian, Sie Lan In mengeluarkan
surat yang dibawanya dan langsung kemudian menunjukkan
surat yang dibawanya itu kepada si perempuan.
Melihat surat yang ada tanda pengenal Tek Ui Sinkay yang
kelihatannya dikenal dengan baik olehnya, akhirnya si perempuan
itupun menarik nafas panjang tanda lega dan senang. Wajahnya
langsung berubah menjadi lebih ramah memandang Sie Lan In.
Bahkan beberapa saat kemudian, diapun tersenyum dan
menyapa Sie Lan In dengan suara ramah, jauh berbeda dengan
suara sebelumnya yang bersifat menyelidik dan sangat bercuriga:
“Accchhh, kiranya benar orang sendiri. Iya, aku dapat mengenali
tanda pengenal Sam Susiok, tetapi, maaf Kouwnio, perguruan
kami memang tidak saling mengenal dan mengetahui dengan
amat baik. Selain itu, Sam Susiok sendiri sangat jarang datang
berkunjung. Tetapi, baiklah, perkenalkan namaku Lui Sian Ho,
murid tertua dari Suhu Cing San Khek (Jago Berbaju Hijau) Tiat
Kie Bu. Suamiku, adalah seorang petani yang tidak mengerti Ilmu
Silat bernama Coa Hok dan anak kami yang bungsu, seorang
perempuan cilik bernama Coa Siok Ah. Kami yang selalu
menemani Suhu sambil bertani disini karena Suhu sesungguhnya
tinggal seorang diri. Kami memiliki rumah sendiri di dusun yang
berjarak kurang lebih 5 atau 6 km dari sini, dusun asal suamiku,
1546
tetapi karena menemani Suhu, kami lebih sering berada dan
bertani disini. Mohon maaf karena kedua sute sedang
mengembara, bahkan siauw sute baru mengirim kabar akan
bergabung dengan Sam Susiok dan sedang dalam perjalanan
menuju Pek In San......”
Mendengar perkenalan Lui Sian Ho yang kini memandang dan
memperlakukannya kini sebagai “orang sendiri”, Sie Lan In
menjadi sangat senang. Apalagi ketika dia kemudian dikenalkan
dengan si gadis kecil Coa Siok Ah yang rada lucu dan tidak
pemalu, semakin senang suasana hatinya. Karena itu, diapun
berkata:
“Accchhh, senang sekali bertemu dengan Lui Suci sekeluarga.
Lebih senang lagi boleh bertemu adik Siok Ah, bagaimana
kabarmu nona cilik....”? tegur Sie Lan In menjadi ramah dan tidak
dibuat-buat.
“Bibi..... benarkah namamu Sie Lan In....” tegur si bocah dengan
tidak takut dan tidak malu-malu sebagaimana anak-anak
seusianya.
1547
“Benar adikku...... engkau cantik sekali, secantik ibumu....
hikhikhik, tetapi engkau harus mengajak bibimu ini jalan-jalan
mengitari perkebunan luas ini ya.....”
“Pastilah bibi yang cantik, jika engkau mau, Siok Ah akan
mengajak berjalan-jalan. Tapi, harus diijinkan Ibu nantinya.....”
sambil berkata demikian, si cantik Siok Ah memandang ibunya
mengharapkan persetujuan.
“Hikhikhik, coba lihat engkau Ah ji, begitu bertemu bibi Sie sudah
langsung senang dan ingin mengantarkannya berjalan-jalan.
Tetapi, nantilah, mari ajak bibimu masuk ke rumah dan kita
berbicara dalam rumah saja.....”
Tidak lama kemudian, merekapun sudah berada dalam rumah
besar itu, tetapi tetap saja ruangan dalam rumah itu bergaya
petani. Tidak ada perabotan mewah, yang ada adalah meja dan
tempat duduk yang terbuat dari bahan kayu, mungkin kayu dari
pohon di sekitar hutan. Jelas bukan perabotan seperti di kota yang
terkesan mewah, perabotan rumah besar itu terkesan buatan
tangan sendiri dan tidak mendatangkan kesan mewah.
Untungnya, tata letak dan kebersihan rumah itu benar-benar amat
diperhatikan. Dan ini mendatangkan rasa senang dan rasa suka
serta kerasan dalam hati Sie Lan In. Tetapi, tetap saja dia tidak
1548
melupakan misi dan tujuannya datang ke tempat tersebut.
Karenanya, setelah mereka berada dalam rumah dan suasanya
berubah menjadi akrab danCoa Hok langsung menuju dapur dan
menyiapkan hidangan ringan, Lan In berkata:
“Lui cici,,,,,,, mengapa aku tidak melihat dan mendengar
keberadaan Tiat Kie Bu Locianpwee.... apakah beliau tidak
berada disini....”?
Mendengar pertanyaan Sie Lan In, Lui Sian Ho berubah wajahnya
menjadi muram dan berduka. Bahkan dia terdiam beberapa saat
dan Sie Lan In harus menunggu beberapa saat baru mendengar
jawaban Lui Sian Ho:
“Acccchhh, adik Sie Lan In, sebetulnya bukan hanya Suhu
seorang, tetapi juga Pek Sim Nikouw yang datang dua hari
berselang, sedang tidak berada disini. Mereka sedang
menghadapi sebuah urusan yang cukup pelik dan agak sulit untuk
mereka dapat kerjakan jika hanya sendirian.......” berkata Lui Sian
Ho secara hati-hati, namun seri wajahnya yang muram menarik
rasa ingin tahu Sie Lan In.
“Hmmm, ada apa gerangan disini cici, urusan apakah
gerangan....”? kejar Sie Lan In ingin tahu, sangat ingin tahu
1549
malahan. Karena ternyuata, kedua orang tua yang sedang
dicarinya, sebagaimana dugaannya semula, sudah berada di
depan mata. Tetapi, sedang berada dimana saat ini tepatnya,
masih belum jelas karena konon sedang mengerjakan satu
urusan.
“Adik Sie, awalnya kukira urusan ini hanyalah urusan biasa dan
dapat ditangani Suhu sebagaimana biasanya. Tetapi,
belakangan, ternyata Suhu berurusan dengan tokoh besar rimba
persilatan yang masih sejaman dengan Sukong kami, bahkan
setingkat dengan 3 Dewa Tionggoan. Tokoh hebat dan urakan itu
dikenal dengan nama julukannya yang teramat aneh namun
berpengaruh besar, yaitu Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa
Bayangan). Konon menurut Suhu, tidak ada yang tahu dan
mengenal nama aslinya, bahkan juga Suhu sendiri......”
“Ha.... apa benar Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa
Bayangan) locianpwee yang munculkan diri disini..... bagaimana
pula kisahnya Lui cici? konon jejaknya sangat misterius dan tidak
pernah lagi ada tokoh persilatan yang mengetahui
keberadaannya selama puluhan tahun terakhir ini.....” tanya Sie
Lan In dengan amat terkejut dan guncang. Bagaimana tidak
kaget, sebagai murid dari seorang tokoh dewa lainnya, Lam Hay
Sinni, jelas saja dia mengetahui meski belum pernah bertemu
1550
dengan tokoh berjulukan keren dan misterius ini, Bu Eng Ho
Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan). Dia tahu Subonya saling
kenal dengan tokoh ini, bahkan suatu saat pernah Subonya
bercerita dengan cukup detail hubungan mereka berdua. Karena
itu, diapun memiliki cukup kesan dan impressi tentang tokoh yang
memang terkenal sangat misterius itu. Yang pasti, tokoh itu
setingkat dan setanding dengan Subonya, termasuk setanding
dalam ilmu ginkang yang menjadi kebanggan mereka berdua.
Bahkan mereka berdua terkenal sebagai tokoh dengan
kemampuan ginkang yang paing hebat dan selalu berada di
peringkat utama di Tionggoan. Hal yang mengejutkan bertemu si
Rase di Gunung Ciauw San.
“Benar Adik Sie Lan In, Suhu sendiri juga bingung dan heran.
Bahkanpun, meski mereka sempat bentrok, Suhu tetap tidak
mampu mengetahui dan mengenali jatidiri sesungguhnya dari
tokoh itu. Belakangan baru Suhu mulai menyadari siapa tokoh itu
yang sebenarnya, dan itu membuatnya sangat kaget. Tetapi,
begini kisahnya yang sebenarnya..... kira-kira 4 hari yang lalu,
seorang aneh melintas di perkebunan di bukit sana yang berisi
tanaman-tanaman obat. Pada saat itu, teramat kebetulan Suhu
sedang melakukan pengecekan dan pemeliharaan atas beberapa
jenis tanaman di sana. Secara tiba-tiba, begitu melihat Suhu yang
1551
sedang merawat kebun tanaman obatnya, manusia aneh itu
bertanya: “di mana aku dapat menemukan rumput mestika Peng
Lian Leng Cau...”?”. Pertanyaan yang sangat mengagetkan
berhubung menurut Suhu, rumput mestika itu, meski dia tahu
berada dimana dan disimpan siapa, tetapi tidak leluasa dan tidak
mungkin memberitahu siapapun. Karena itu, Suhu menjawab
secara spontan: “tidak tahu.....”. Manusia itu sebetulnya sudah
akan tinggal pergi berhubung Suhu agak sibuk dengan tanaman
tanaman kesayangannya itu. Tetapi, melihat cara Suhu merawat
tanaman dan gerakan Suhu yang cepat dan gagah, manusia
itupun merasa aneh dan akhirnya bertanya lebih jauh. Dari tanya
jawab itu, akhirnya mahluk tersebut jadi mengetahui jika Suhu
adalah anak murid dari Sukong Bu In Sinliong. Pengetahuan itu
membuat Suhu jadi dalam keadaan runyam dan akhirnya
bertarung dengan manusia aneh tersebut. Tetapi, menurut Suhu,
dia orang tua hanya dapat bertahan sampai jurus ke-30 dan kalah
dengan telak. Pada saat itu, manusia aneh itupun berkata, bahwa
dia memberi waktu kepada Suhu selama 3 hari untuk
mengantarkan rumput mestika Peng Lian Leng Cau. Dan harus
diantarkan ke gua tempat tinggalnya yang berjarak 2,3 km kearah
puncak Gunung Ciauw San. Kekalahan itu membuat Suhu
khawatir dan tanpa sepengetahuan Suhu, kupanggil Pek Sim
Nikouw atau yang juga adalah Liok Sukouw kami. Mereka berdua
1552
saat ini sedang memenuhi janji untuk menemui kembali manusia
aneh yang disebutkan Suhu sebagai locianpwee angkatan tua
dan terkena bernama Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa
Bayangan). Nona Sie, meski sudah dibantu Bibi Seperguruan
kami, tetapi Suhu tidak punya pegangan untuk menang. Dan jika
tidak keliru, maka sebentar lagi Suhu akan kembali, entah
bagaimana hasil pertemuan mereka hari ini......”
“Accchhhh, jika memang benar tokoh itu adalah Bu Eng Khouw
Kiat, Si Rase yang sangat misterius itu, maka memang amat sulit
untuk menghadapi tokoh sehebat itu. Lui cici, dimana dapat
kutemukan mereka sekarang ini....”? Sie Lan In bertanya karena
bermaksud untuk menyusul kedua orang yang dicarinya dan
menyelesaikan tugasnya. Memberikan surat-surat kepada alamat
yang dituju. Syukur-syukur dapat membantu mereka yang sedang
berhadapan dengan tokoh mujijat Si Rase Tanpa Bayangan itu.
Tokoh sakti yang menggetarkan.
Tetapi, belum sempat Lui Sian Ho menjawab pertanyaan Sie Lan
In, tiba-tiba terdengar suara yang datang dari arah puncak:
“Tidak perlu Nona muda...... kami sudah kembali dan waktu yang
tersedia kini sudah amat terbatas. Ho Ji, bawakan ramuan obat
luka luar kita, malam ini juga kita menyusun rencana lanjutan.....”
1553
Dan begitu suara itu sirap dan berlalu, beberapa detik kemudian
terdengar dua langkah manusia yang memasuki rumah. Dan
benar saja, tak lama kemudian masuk dua orang, sepasang
perempuan dan laki-laki yang usia mereka jika ditaksir sudah 60
tahun atau bahkan mungkin lebih. Keduanya adalah orang-orang
yang sedang dicari oleh Sie Lan In saat itu, yakni Cing San Khek
(Jago Berbaju Hijau) Tiat Kie Bu, dan Ci Yan (Walet Ungu) Pek
Bwe Li atau nama Budhanya adalah Pek Sim Nikouw. Begitu
masuk, sekali pandang Sie Lan In sudah paham jika keduanya
terluka meski tidaklah terlampau parah. Tetapi, fakta bahwa
keduanya bisa pulang adalah tanda bahwa tokoh yang melukai
mereka memang tidak berniat mengambil jiwa lawannya. Karena
itu, Tiat Kie Bu dan Pek Sim Nikouw dapat pulang kembali dengan
luka yang sebenarnya tidaklah terlampau parah. Bahkan dapat
mencapai rumah Tiat Kie Bu dengan kondisi fisik yang masih
cukup baik. Begitu melihat kedua orang itu, Sie Lan In sudah
langsung tahu, apalagi karena salah seorangnya adalah seorang
wanita tua dalam dandanan sebagai seorang Nikouw:
“Tecu Sie Lan In mewakili Tek Ui Sinkay menjumpai jiwi
locianpwee..... hmmmm, sungguh keadaan jiwi locianpwee
sedang kurang baik.....”
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Top PANL 10 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments