Cerita Amoy Lokal PANL 19

----
baca juga
Sementara itu, Koay Ji sudah bisa memperbaiki posisinya
meskipun masih tetap dalam posisi terserang lawan dan dia
berusaha menetralisasinya. Sama dengan adiknya Siauw Hong
yang juga terus menerus didesak Bu Tek Seng Ong dan anehnya,
mereka bertarung dalam ilmu yang sama dan jurus-jurus yang
sama. Hanya, kematangan, pengalaman dan juga latihan Bu Tek
Seng Ong menang jauh, sementara iweekang mereka justru
terlihat setanding. Keunggulan Siauw Hong ada pada khasanah
jurus dan variasi jurusnya yang jauh lebih tajam, jauh lebih banyak
dan jauh lebih bervariasi. Karena itu, tetap saja poisis Siauw Hong
terdesak, namun keunggulannya dalam Ilmu Gerak Mujijat
membuat dia mampu menghindar semua kesulitan yang
didatangkan lawannya. Dan ini membuatnya merasa senang dan
mulai merasa percaya diri guna menghindari serangan lawan.
Bahkan pada akhirnya, dia jadi senang mengelak dan menghindar
dengan ilmu yang sama hingga beberapa puluh jurus lamanya.
2999
Semua arena kini menjadi agak terdesak, terutama Kwa Siang
yang kini tinggal mengandalkan kekebalannya saja dan sudah
menjadi bulan-bulanan kedua lawan yang terus mencecar dan
menyerangnya. Meskipun demikian Bun Kwa Siang tidak
mengeluh, tetapi menjadi marah sedikit demi sedikit bahkan
emosinya sudah makin meninggi. Apalagi karena saat itu baik
Siauw Hong maupun Koay Ji yang biasanya menahan emosinya
dan biasanya menyabarkannya, juga sedang sibuk meladeni
lawan masing-masing. Akibatnya, lama kelamaan Bun Kwa Siang
yang sudah agak emosional mulai agak terpancing menjauh dari
posisinya oleh kedua lawannya dan mulai meninggalkan cela
yang berbahaya bagi kawan-kawannya. Untunglah meski dogol,
tetapi rasa setia kawan dan loyalitas Kwa Siang terhitung luar
biasa, dan dia dapat menyadari posisi dan tugasnya. Karena itu,
dia masih sesekali berpindah lagi ke posisi pada awalnya,
mengawal celah belakang pertahanan mereka.
Pada saat posisi Koay Ji semakin membaik, tiba-tiba kembali
terdengar seruan dan juga suara mujijat dari Rajmid Singh:
“Wahai ULAR RAKSASA, terkam dan telan mereka......”
Seruan yang amat aneh dan mujijat ini benar-benar tepat pada
saatnya dan mampu mengguncang situasi pertempuran. Koay Ji
3000
mau tidak mau harus mengerahkan lagi kekuatan mujijatnya dan
memunahkannya sambil membentak keras:
“Naga Raksasa akan mengejar kemanapun engkau pergi,,,”
bentakan sihir Koay Ji memang mampu menandingi kemampuan
sihir Rajmid Singh dan bahkan untuk sesaat mengembalikan
semangat kawan-kawannya dan memukul. Tapi, bayarannya
cukup mahal bagi Koay Ji, karena tiba-tiba lawan mujijatnya
sudah mencecar dia kembali dengan hebatnya. Posisi baik yang
secara susah payah diraih oleh Koay Ji, kembali menguap dan
dia kembali terperosok dalam kondisi yang sangat buruk dan
berbahaya, bahkan sebuah sentilan ringan lawan sempat
mengenai pundaknya dan dia merasa cukup terganggu meski
luka itu ringan saja. Dan repot, dia tidak dapat segera mengobati
dirinya dan masih harus melakukan perlawanan atas serangan
lawannya yang bergelombang datang menyerbunya.
Kemana para pasukan monyet? Ternyata dalam
kebingungannya, Rajmid Singh pada akhirnya menemukan akal
juga. Dia menyuruh anak buah Bu Tek Seng Ong, Utusan
Pencabut Nyawa yang tidak ikut bertarung untuk bekerja
mengusir dan juga melawan para monyet yang bersembunyi di
pepohonan di samping arena. Dengan menemukan cara yang
tepat itulah akhirnya Rajmid Singh kembali mampu untuk
3001
menyerang lawan-lawannya dengan Ilmu Sihir dan membuat
kondisi Koay Ji kembali menjadi amat berbahaya. Meskipun
demikian, untuk beberapa saat lamanya, dia belum bisa lagi
menyerang balik, karena pengaruh dan wibawa Koay Ji barusan
cukup menyentak dan beraroma sihir yang amat sangat kuatnya.
Maka beberapa saat lamanya, Rajmid Singh masih terdiam,
karena memang secara otomatis membutuhkan waktu beberapa
saat untuk mengembalikan semangatnya. Sekaligus diapun
menjadi sadar bahwa sesungguhnya dipuncak kemampuan, Koay
Ji lawannya itu, bahkan mampu menggedornya dan mampu
menindih kekuatan sihirnya. Hal yang sesungguhnya
membuatnya tersentak dan agak kaget. Dia tidak menyangka jika
kekuatan sihir dan wibawa serta pengaruh suara mujijat Koay Ji
bahkan mampu mengimbanginya dan mampu menawarkan
serangannya. Berpikir demikian, Rajmid Singh mulai menjadi
lebih berhati-hati dan mempersiapkan semua serangannya
secara lebih baik. Rajmid Singh bersikap lebih positif dan optimist
karena memang dia menyiapkan serangan-serangan selanjutnya
dalam kerjasama dengan tokoh lain. Aspek inilah yang meski dia
sempat sangat kaget dan kagum dengan kehebatan Koay Ji,
tetapi tetap saja optimist dan percaya bahwa apa yang akan
mereka lakukan pasti berhasil.
3002
Kembali kearena pertarungan, bukan hanya Koay Ji seorang
sesungguhnya yang sedang dalam kerepotan menghadapi dua
lawannya di jenis pertarungan yang berbeda. Tio Lian Cu dan
Khong Yan juga menghadapi hal yang sama, sementara Siauw
Hong sudah akrab dengan keterdesakkan meskipun lawan yang
lebih ampuh di saat-saat menentukan, justru sering kehilangan
kesempatan. Kelihatannya Siauw Hong membekal banyak sekali
jurus yang amat ampuh dan mampu memukul Bu Tek Seng Ong
balik dan membuyarkan semua skenario serangan mutlaknya
untuk meraih kemenangan. Jurus-jurus yang diandalkan dan
menjadi jurus simpanan Siauw Hong benar-benar ampuh dan
juga mujarab dalam menjaga dirinya untuk tidak sampai kalah
secara telak. Apalagi, Siauw Hong merasa amat bersemangat
bertarung bersebelahan dengan kakak angkatnya yang dia lihat
bertarung habis-habisan untuk mereka semua.
Khong Yan untungnya sudah menjejeri kemampuan Mo Hwee
Hud, meskipun ada Sam Boa Niocu yang membantu kakek itu,
tetapi dengan arena terbatas bagi upaya pengeroyokan, otomatis
menguntungkan posisi Khong Yan. Karena itu, dia dapatlah
bertahan dengan baik meskipun juga tetap saja agak sulit untuk
mengalahkan kedua lawan yang bergantian menyerangnya
secara hebat. Terutama adalah Mo Hwee Hud yang terus
3003
mencecarnya dengan segenap amarah dan kebenciannya, dan
Sam Boa Niocu yang menjagakan pertahanan bagi aspek serang
Mo Hwee Hud. Karena itu, Khong Yan juga tidak beroleh progress
memadai meski sesekali mendesak mundur Mo Hwee Hud.
Hanya sesekali dia kehilangan waktu sepersekian detik ketika
mesti melawan hentakan sihir yang dilontarkan oleh Rajmid
Singh, seperti yang baru saja terakhir. Tetapi, dengan cepat dia
bisa mengatasi keripuhannya dan kembali melakukan perlawanan
hebat.
Situasi yang sama belaka, dialami oleh Tio Lian Cu yang
bertarung melawan Geberz dan dibantu oleh Jamukha. Tio Lian
Cu mampu mengimbangi serangan Geberz, tetapi sulit guna
menembus pertahanan lawan yang digalang bersama dengan
Jamukha. Apalagi, Jamukha khusus membantu penyerangan jika
kondisi Geberz jadi tidak menguntungkan Akibatnya, Tio Lian Cu
sering didesak tetapi sulit untuk terjerumus dalam keadaan
menyulitkan karena sesungguhnya dia mampu menjaga dirinya
dengan baik. Seperti Khong Yan, dia juga sesekali terganggu dan
kehilangan kewaspadaan dalam sepersekian detik akibat
serangan sihir pihak lawan. Setelah serangan sihir, kembali dia
seperti juga Khong Yan, harus berjuang keras kembali menutupi
kelemahan yang muncul dan mestilah berusaha sekeras mungkin
3004
untuk menyeimbangkan posisi melawan serangan kedua
lawannya.
Posisi Koay Ji pada saat itu, kembali sulit, meskipun dia masih
mampu bergerak dengan ilmu Thian Liong Pat Pian,
sebagaimana Siauw Hong yang tinggal mampu mengandalkan
ilmu gerak langkah mujijat tersebut. Tetapi, Koay Ji melakukannya
dengan penuh perhitungan, tidak akan mencari jalan aman dan
jalan mundur, tapi juga mengintai jalan untuk balik menyudutkan
lawan. Tetapi, dalam kagetnya, dia menemukan kenyataan sulit
melakukannya terhadap kakek tua lawannya yang maha hebat ini.
Kemampuan kakek ini menurut timbangannya, bahkan masih
sedikit melebihi kehebatan dan kesaktian Phoa Tay Teng yang
dilawannya beberapa waktu yang telah lewat. Untung saja diapun
sudah berlatih lebih keras dan memperlakukan latihannya akhirakhir
ini untuk terus meningkatkan iweekang dan juga kekuatan
batinnya. Dengan cara itu, dia merasa tidak harus kewalahan dan
apalagi kalah dan tidak harus tenggelam dalam jebakan lawan
semisal Phoa Tay Teng yang membuat dia mesti melawan
dengan segala keterpaksaan. Tidak, Koay Ji justru terus dan terus
mengintai kesempatan guna menyerang baik lawan, meski saat
itu, dia sedang dalam desakan hebat lawannya.
3005
Posisi mereka menjadi semakin rawan dan berbahaya karena
Kwa Siang sudah amat sering terpancing jauh meninggalkan
lubang di belakang pertarungan lainnya. Meski Bun Kwa Siang
masih akan mampu untuk balik menutupnya dengan cepat, tetapi
yang jelas, dia sedang emosional dan akan sangat sulit
mengontrol emosinya. Terlebih karena para pengontrol emosinya,
juga sedang berjibaku dan bertarung dengan tingkat konsentrasi
yang amat tinggi dan tidak boleh banyak terganggu. Bahkan Kang
Siauw Hong dan Koay JI pada saat itu sedang dalam kondisi yang
tidak begitu baik, sedang didesak lawan masing-masing. Kondisi
seperti ini jelas amat berbahaya dan tidak menguntungkan kelima
anak muda yang sedang dalam konsentrasi penuh menghadapi
pengeroyokan dan juga serbuan lawan-lawan mereka yang ratarata
hebat dan mumpuni.
Keadaan mereka menjadi semakin parah, karena tengah kondisi
mereka semua yang sedang tidak baik, tiba-tiba:
“Awas ULAR RAKSASA, jauh lebih besar lagi, mengancam
menelan kalian semua, maka segeralah menyerah,,,,,
menyerahlah......”
“Wahai ULAR RAKSASA, terkam dan serang tuanmu dan kawankawannya....”
tiba tiba terdengar bentakan Koay Ji, tetapi
3006
bersamaan dengan itu suara sihir itu makin kuat dan menggema
sama:
“Terkam dan telan tuanmu, terkam dan telan tuanmu....”
Bersamaan dengan Koay Ji yang menggemakan suara itu dan
otomatis kehilangan posisinya, dia dengan cepat merasakan
sebuah serangan yang berbahaya sedang mengarah dirinya. Dan
jelas Koay Ji tahu artinya, tetapi sekali ini sayangnya, dia sudah
tidak memiliki cukup waktu lagi untuk menghindar pukulan itu.
Untungnya, saat mengerahkan kekuatan sihir, dia juga sudah
melapisi tubuhnya dengan khikang istimewa milik perguruan
suhunya, Siauw Lim Siem, yang disebut dengan Ilmu mujijat Kim
Kong Pu Huay Che Sen (Ilmu Badan/Baju Emas Yang Tidak Bisa
Rusak). Tetapi, serangan kakek yang menjadi lawannya saat ini,
sudah dia prediksi akan mampu menembus khikang istimewa itu,
meski juga Koay Ji yakin masih tidak akan mampu merusak
tubuhnya. Perlindungan dari khikang itu dan juga kekuatan hawa
murninya pada saat itu sudah amat hebat dan kuat, dan Koay Ji
percaya penuh dengan kemampuannya tersebut.
“Dukkkkkkkk,,,,,,,”
3007
Hebat sekali pukulan itu, Koay Ji benar merasakan bagaimana
pukulan itu mampu menembus khikang perlindungan dirinya.
Tetapi, otomatis kekuatan pukulan itu meski menembus, tetapi
sudah banyak berkurang karena menembus tirai tidak kelihatan
yang melindungi tubuh Koay Ji. Koay Ji mundur dan terdorong
sampai 4 (empat) langkah ke belakang dan di bibirnya terlihat ada
tetesan darah, tetapi dia masih sadar dengan dirinya dan bahaya
yang dihadapi. Lukanya tidak terlampau berbahaya meskipun
mampu melukainya. Karenanya, dengan tetap mengeraskan hati,
dia memasang langkah pertahanan kokoh dan sekaligus pada
saat itu juga menyiapkan bukan hanya bertahan, tetapi juga akan
balik menyerang dengan ilmu-ilmu mujijat yang dia bekal pada
saat itu. Dan memang benar, si tokoh tua nan hebat itu, tidak
berhenti sampai disitu. Tetapi, dia kaget karena Koay Ji tidak
memilih untuk bertahan, melainkan tap memilih balik
menyerangnya. Tetapi, dia paham, Koay Ji mencecarnya untuk
mencari waktu beristirahat sejenak.
Maka dengan kecepatan luar biasa dan juga dengan kekuatan
yang maha besar, dia mencecar Koay Ji setelah mengelakkan
dua pukulan dan kini menyerangnya tanpa ampun. Apalagi dia
merasa sudah di atas angin, melihat Koay Ji sudah terluka dan
3008
dalam posisi yang sangatlah tidak menguntungkan. Jika bukan
saat ini menang, maka kapan lagi peluang itu datang?
Tidak menunggu Koay Ji sampai sadar seratus persen,
meluncurlah serangan maut kakek tua itu dan tidak tanggungtanggung,
dengan kekuatan iweekang yang luar biasa kuatnya dia
menerkam Koay Ji dengan jurus Coan Ping Kiu Siau (Burung
garuda berputar sembilan kali di kabut) dan dikombinasikan lagi
dengan jurus San tian keng hong (Kilat mengejutkan pelangi).
Dua jurus maut itu menuju atau mengarah ke kepala dan titik-titik
mematikan di pundak dan leher Koay Ji, selain itu kekuatan
iweekang yang luar biasaa dari alirannya, yakni Ilmu sakti Cap
Sah Sik Heng Kang Sim Coat benar-benar sulit diraba. Koay Ji
jelas sadar bahaya, karena itu diapun tidak mengacuhkan
lukanya, tetapi ketika terdorong mundur otaknya yang cerdik
sudah menyusun strategi jalan keluar lainnya.
Sekali ini, diapun tidak lagi mau memikirkan pertarungan lain,
karena jika dia sampai terluka hebat dan jatuh, maka kawankawannya
yang lain juga akan sangat sulit untuk dapat
diselamatkan. Dalam sekejap Koay Ji sudah memikirkan sejumlah
jurus mujijat dari Pat Bin Lin Long yang sudah lama dia
tambahkan dan cipatakan sendiri dan digabungkan dengan
sebuah jurus serangan dari Hian Bun Sam Ciang. Maka, tidak
3009
menunggu serangan lawan, Koay Ji sudah langsung berputar tiga
kali di tempat dimana dia terdorong. Dan kemudian lengannya
bergerak dalam formula jurus Mo in kim ci (Mengusap awan
dengan sayap emas) dalam Ilmu Ci Liong Ciu Hoat dan ketika
lawan mendekat, tiba-tiba lengan satunya lagi dengan kaki
bergerak menghindari menyusul dengan jurus Can goat siau seng
(Bulan sabit menyinari bintang). Kedua jurus ini nampaknya
seperti jurus saling menyakiti alias bagaikan jurus “mati bersama”
atau “luka parah bersama”, padahal Koay Ji masih ada juga
menyelipkan gerakan lain yang disebutnya gerak Liu An Hwa
Beng (Pepohonan gelap bunga terang).
Koay Ji yang cerdik sudah paham, bahwa lawan yang sedang
menang posisi tidak akan bermain-main dengan keselamatannya.
Dan karena itu, dia bergerak dengan jurus mengajak terluka
bersama, padahal ada langkah selipan sederhana yang
menyamarkan maksudnya, bunga terlindung dari pepohonan,
dengan bersembunyi atau menyembunyikan serangannya di balik
jurus “mati bersama”, Koay Ji sukses mengelabui si tua mujijat.
Benar saja, kakek tua itu jelas tidak mau dan tidak ingin mati atau
terluka bersama Koay Ji yang dia paham akan berlaku demikian
karena sudah terluka sebelumnya. Tetapi, satu langkah
sederhana dan tidak terbayangkan karena memang meniru gaya
3010
pegulat mongol, tiba-tiba membuat Koay Ji sudah dalam posisi
menyerang si kakek. Sungguh cepat, cerdik dan penuh
perhitungan selain membutuhkan keberanian.
Serangan yang disamarkan itu, tiba-tiba sudah mengancam si
kakek, dan sekali ini dalam sebuah gerakan menyerang jurus Ya
Can Pat Hong (Bertarung malam dari delapan arah). Betapa kaget
kakek itu karena dari posisi yang tersudut, sekarang Koay Ji
malah berbalik menyerangnya, meskipun dia paham bahwa
serangan itu bisa dia elakkan. Tetapi, jelas dengan posisi
sekarang, Koay Ji berbalik menyerang dan menyeimbangkan
pertarungan mereka berdua. “benar hebat anak muda ini”
desisnya dalam hati penuh rasa kagum, tetapi juga rasa iri dan
dengki yang semakin tebal. Tentu saja Koay Ji kurang tahu
pergolakan dalam hati kakek itu, dia tetap saja membangun
serangan guna membangun dan merangkai kembali posisinya
yang sudah sempat tergoyahkan amat kuat dan bahkan juga
sudah terluka meski belum sangat mengganggunya dalam
pertarungan.
Posisi Koay Ji yang semakin membaik dan terus membaik,
seakan menjadi titik balik keadaan di arena pertarungan. Apa
pasal? Karena kini serangan sihir Rajmid Singh tidak lagi
terdengar, bahkan selebihnya anak buah dan anak murid Bu Tek
3011
Seng Ong kini tercerai berai entah kemana. Ini seperti senjata
makan tuan, manakala sosok ular raksasa ciptaan Rajmid Singh
tadi, justru berbalik mengejar dan juga menyerang anak buah Bu
Tek Seng Pay dengan ganasnya. Jelas mereka yang tidak paham
sihir berlarian dan serabutan entah kemana, ketakutan melihat
ular raksasa yang mengamuk dan mengancam akan menerkam
dan menelan mereka. Melihat ukuran ular itu saja sudah amat
menggetarkan, apalagi melihat betapa ular liar dan besar itu
mengejar mereka semua dengan ganasnya. Benar-benar
mengerikan dan membuat mereka kocar-kacir. Semua mencari
jalan selamat masing-masing. Tetapi, apakah gerangan yang
mampu membuat mereka seperti itu setelah tadinya justru
berteriak-teriak gembira dan bersorak menjemput kemenangan?
Setelah Koay Ji berteriak menetralisasi dan bahkan
mengembalikan serangan sihir Rajmid Singh, diapun terhajar
lawannya. Tetapi, Rajmid Singh sendiri sudah sempat goyah
saking kuatnya serangan sihir yang dibalikkan oleh Koay Ji tadi
itu, untungnya hanya sesaat belaka. Tidak berapa lama, Rajmid
Singh mencoba untuk kembali memulihkan lagi semangatnya dan
mengerahkan segenap kekuatan sihirnya. Tetapi apa lacur, dalam
waktu sekejap kemudian, ada beberapa kejadian yang lain susulmenyusul
terjadi dengan amat cepatnya. Formula serangan balik
3012
Koay Ji yang sudah mulai memudar dan sudah mulai dapat
dikuasai kembali oleh Rajmid Singh, tiba-tiba didukung dan
diperkuat oleh suara sihir lainnya. Siapa gerangan yang
melakukannya? ya, bukan lain MINDRA. Ini dia ahlinya. Adalah
Mindra yang datang dan kini meladeni tarung sihir melawan
Rajmid Singh, dan bahkan Mindra membuat Rajmid Singh
terkurung dalam pertarungannya sendiri melawan ular
ciptaannya. Dan Mindra dengan cerdik menerjang Rajmid Singh
yang sebenarnya sudah mulai mampu menguasai dirinya itu.
Mindra yang melihat upaya keras Rajmidh Singh untuk dapat
memulihkan diri, sudah segera tenggelam dan melibatkan diri
dalam tarung sihir tersebut. Diapun segera berkemak-kemik
mengerahkan kemampuan sihirnya dan kemudian Mindra
berbalik mengalirkan dan memperkuat kembali serangan balik
sihir Rajmid Singh yang tadi sudah diawali dan dikembalikan oleh
Koay Ji. Memperoleh serangan dari Mindra, Rajmid Singh kaget
karena awalnya dia sudah mampu menguasai diri, tetapi tiba-tiba
arus kekuatan hebat menerpanya kembali. Akibatnya fatal, dia
kembali masuk dalam jebakan sihir ciptaannya sendiri dan
menyaksikan betapa ular raksasa itu kini mengancam dirinya dan
dia mesti bersemadhi untuk dapat memunahkannya. Mindra
bekerja lebih jauh, diapun kemudian mengalihkan efek sihir ke
3013
kawanan anggota lawan yang bersiap masuk mengeroyok kawankawan
mudanya. Dan sekali ini dia sukses besar, karena lawan
jadi berserabutan berlarian mencari jalan selamat bagi diri mereka
masing-masing.
“Hehehehe, Ular Raksasa kini akan menyantap kalian......” desis
Mindra dengan kekuatan gaib yang amat kuat.
Pada saat Rajmid Singh sedang sangat disibukkan meladeni
Mindra, beberapa sosok tubuh memasuki arena dengan
cepatnya. Kim Jie Sinkay masuk menutup pintu yang terbuka
lebar akibat Bun Kwa Siang yang sudah jauh meninggalkan post
penjagaannya. Kedatangannya tepat waktu dan membantu Sie
Lan In yang sudah berada disitu terlebih dahulu guna menjaga
segala kemungkinan. Bukan hanya itu, secara bersamaan
Panglima Arcia dan Panglima Ilya, juga menyusul memasuki
arena, dan Panglima Arcia tanpa banyak bicara sudah merangsek
dan menyerang Geberz yang terkejut setengah mati melihat
saiapa lawannya itu. Benar dia tahu bahwa kedatangan mereka
semata karena dirinya, dan dia selama ini bersembunyi di Bu Tek
Seng Pay menghindari kejaran Liga Pahlawan Persia. Tetapi,
Geberz jelas tidak takut karena dia percaya dengan
kemampuannya dan percaya dengan kekuatan penopangnya, Bu
Tek Seng Pay. Dia sangat percaya diri bahwa akan bisa dan
3014
mampu alias berkemampuan menandingi dan juga mengalahkan
kaum Liga Pahlawan Bangsa Persia. Karena sesungguhnya,
hanya ada satu orang yang dia sangat hormati dan takuti di
Persia, dan orang itu justru tidak berada disitu. Adalah tokoh yang
bernama Spenta Amaity, Guru Agung Bangsa Persia, orang
sangatlah ditakuti dan disegani Geberz.
Kedatangan Sie Lan In, Kim Jie Sinkay, Panglima Arcia dan
Panglima Ilya dengan cepat membuat perimbangan berubah
drastis. Arena tarung Tio Lian Cu yang tadinya menghadapi
Geberz, kini beralih dikeroyok tokoh-tokoh hebat lawan lainnya.
Tapi, dia melihat betapa Liok Kong Dji bersikap agak kelewatan
menghadapi Kwa Siang, dan dialah yang kini disasar oleh Tio Lian
Cu. Untung saja, karena dia masih agak hormat dengan angkatan
tua perguruannya, maka dia tidak datang dengan jalan langsung
menyerang, tetapi mendatanginya dan menegurnya. Dalam posisi
itu, Tio Lian Cu memperlakukan dirinya sebagai seorang
Ciangbudjin Hoa San Pay, dan meski masih muda, dia memiliki
hak melakukannya. Toch dia yang memegang dan mewarisi
pusaka Hoa San Pay, maka dia berhak bicara;
“Hentikan........” bentaknya sambil mendekati arena pertarungan
Bun Kwa Siang yang menghadapi Liok Kong Djie dan Ma Hiong
Seng. Bentakannya cukup hebat dan sekaligus menangkis
3015
pukulan Ma Hiong Seng dan kemudian mengerahkan kekuatan
hebatnya untuk mematahkannya. Setelah itu, dia menghadapi
Liok Kong Djie yang heran dengan keberanian Tio Lian Cu, tetapi
melihat bagaimana gadis itu menghempas serangan lawan,
diapun tersentak. Bahkan terdiam sejenak, segera mengawasi Tio
Lian Cu dan kemudian bertanyalah kakek tua yang aslinya asal
dari Hoa San Pay itu:
“Hmmm, pastilah engkau yang kini menjadi Ciangbudjin Hoa San
Pay.....” desis Liok Kong Djie dengan heran dan takjub. Maklum,
tangkisan dan serangan balik Tio Lian Cu tadi melawan Ma Hiong
Seng mengejutkannya dan membuatnya tidak berani untuk tidak
memuji kehebatan gadis itu. Penuh perhitungan, tenaga yang
tepat dan variasi yang indah, dan paling penting, terlihat
sederhana tetapi sangat efektif dalam menolak dan mendorong
lawan ke belakang. Hanya tokoh-tokoh utama dari Hoa San Pay
yang akan sanggup melakukannya dengan sangat baik, dan gadis
yang akan dilawannya, justru memainkannya secara baik. Tidak
kalah darinya.
“Tidak salah, dan jika tidak keliru, Locianpwee adalah Liok Kong
Djie, seorang tokoh Hoa San Pay yang membelot dan sudah
dibebaskan dari keanggotaan....” desis Tio Lian Cu tidak marah,
3016
tetapi juga tidak menunjukkan rasa hormat karena melihat tokoh
itu bekerja dengan kaum penjahat.
“Hohoho, apakah Thian Hoat Tosu kehabisan bahan sehingga
menjadikan gadis semuda engkau menjadi Ciangbudjin......”? ejek
Liok Kong Djie setelah memastikan bahwa memang Tio Lian Cu
masih muda, terlihat sangat muda malah. Jelas bagi Liok Kong
Djie, dia tidak pantas dan tidak layak memimpin Hoa San Pay
yang sudah punya sejarah panjang itu. Bagaimana bisa gadis
semuda ini menjadi Ciangbudjin dan memimpin demikian banyak
anak murid Hoa San Pay? sungguh sulit diterima oleh seorang
Liok Kond Dji.
“Hmmmm, setidaknya pantas melacak Locianpwee yang
mengganggu Hoa San Pay melalui sejumlah murid yang
kemudian memberontak, dan terpaksa hari ini, sebagai
Ciangbudjin Hoa San Pay meminta pertanggungjawaban
Locianpwee. Dimana Suma Cong Beng dan kawankawannya....”?
tanya Tio Lian Cu tajam dan menohok langsung
ke pusat kesombongan Liok Kong Djie. Jelas, tegas, sangat
optimist dan memukul kesombongan seorang Liok Kong Djie.
“Hmmmm, engkau masih terlampau kanak-kanak untuk
menanyaiku kouwnio, dan terlampau tidak layak memimpin Hoa
3017
San Pay.....” desis Liok Kong Djie juga sama keras dan sama
tegasnya.
“Baiklah, maafkan jika sebagai Ciangbudjin sampai tidak
menghormati Locianpwee, berhati-hatilah, tugas perguruan akan
kujalankan......” berkata Tio Lian Cu memberi peringatan bahwa
dia akan segera menyerang.
“Tio Ciangbudjin, tahan....... biar kuwakili Suhu
menghadapimu.....” tiba-tiba ada suara yang datang dari belakang
Liok Kong Djie dan langsung mendekati arena itu serta bahkan
kemudian berdiri di depan Liok Kong Djie. Dia bukan lain adalah
tokoh muda, meski masih lebih tua dari Tio Lian Cu, dan yang
sudah pernah bertemu dan bahkan bertempur dengan Tio Lian
Cu sendiri di Gunung Hoa San. Dia adalah murid Liok Kong Djie
yang gagah, bernama Liu Beng Wan dan sudah berusia sekitar
30 tahunan, berwatak gagah perwira namun berhutang jiwa dan
budi kepada Suhunya Liok Kong Djie yang sudah tua. Dia
menyadari perbuatan suhunya yang eksentrik dan sering salah
jalan, tapi apa mau dikata, budi orang tua itu mengikatnya. Maka,
meski tidak ikut jalan kejahatan, tetapi dia terus membayangi dan
menjaga Suhunya yang sudah tua dan renta itu.
3018
“Hmmmm, Wan jie, hukuman atas pembangkanganmu akan
kuhapus jika engkau mampu melawan dan bahkan menawan
gadis itu, kita sangat membutuhkannya pada saatnya kelak..”
terdengar suara Liok Kong Djie yang diiyakan oleh Lui Beng Wan
dengan wajah yang gelap dan terlihat sangat terpaksa. Lui Beng
Wan tentunya tidak akan dan tidak berniat menjatuhkan Tio Lian
Cu, selain karena dia tahu lawan muda itu sangat hebat, juga tidak
ingin dia menyerahkan Tio Lian Cu yang gagah itu kepada
sahabat suhunya yang rata-rata sesat dan menyeramkan. Dia
lebih memilih bertarung dan bertarung dan tanpa harus menang.
“Baiklah Suhu, akan kucoba.....”
“Hmmm, majulah Lui Beng Wan.......”
Dua jago Hoa San Pay dari generasi termuda berhadap-hadapan
dan tidak lama kemudian sudah saling serang dengan ilmu-ilmu
yang mirip. Tio Lian Cu kaget, karena Lui Beng Wan ternyata
sudah tidak kalah dengan Suhunya sendiri, padahal ketika
mereka bertarung di Hoa San Pay, kekuatan dan kepandaian
mereka juga setanding. Saat ini, setelah dia maju sangat jauh,
ternyata kemampuan Lui Beng Wan juga sama meningkat dengan
amat hebatnya. “Atau jangan-jangan dahulu dia sengaja
3019
mengalah...”? tebak Tio Lian Cu penuh kekaguman dengan
kemampuan dan juga kebersahajaan Beng Wan.
Tetapi, memang demikian. Lui Beng Wan bertarung dan meladeni
Tio Lian Cu dalam kekuatan dan kemampuannya yang amat
hebat dan diluar dugaan Tio Lian Cu yang berpikir jika Lui beng
Wan adalah tokoh dengan kemampuan yang sama dengan waktu
mereka bertarung setahun sebelumnya. Tahu tahu, Lui Beng Wan
bertarung mantap, berisi, penuh perhitungan dan jelas sekali
sangat paham dan menguasai dengan baik intisari ilmu Hoa San
Pay. Hanya, variasi dan jurus-jurus menyerang yang dikuasainya
lebih kaya dan sudah banyak modifikasi disana-sini yang juga
membuat serangannya terasa lebih berbahaya. Namun, harus
diakui, keaslian daya gerak dan jurus Hoa San Pay masih tersisa,
meski tidak murni lagi.
Sebaliknya, Tio Lian Cu justru lebih memiliki kemurnian dan juga
keaslian, meski kematangan masih sedikit lebih di pihak Lui Beng
Wan. Karenanya bertarunglah keduanya dengan seru, dan dalam
kagetnya baik Tio Lian Cu maupun Liu Beng Wan menemukan
kenyataan jika lawan mereka masing-masing mampu saling
mengimbangi. Tio Lian Cu kaget karena Liu Beng Wan mampu
menahan kekuatan iweekangnya yang sudah disempurnakan Bu
In Sinliong dan juga oleh Koay Ji akhir-akhir ini. Hal yang sama
3020
juga berlaku bagi Liu Beng Wan yang kaget karena kemampuan
Tio Lian Cu kini sudah mampu dan sanggup merendenginya;
“Luar biasa, dahulu meski dia sudah hebat, tetapi sangat jelas
masih mampu kutangani dengan baik....” desis Liu Beng Wan
dalam hatinya.
Jelas keduanya sama kaget dan sama mengagumi kemampuan
lawan dan juga membuat pertarungan keduanya jadi seperti
sedang latihan ketimbang bertempur untuk saling menjatuhkan
dan saling mengalahkan. Keduanya saling belajar dan saling
menemukan kelebihan dan juga kekurangan lawan, sehingga
keduanya juga sama seperti sedang mengamati intisari
kepandaian Hoa San Pay yang dimainkan secara luar biasa
masing-masing oleh keduanya. Perimbangan mereka nyaris di
semua aspek pertarungan dengan tingkat perbedaan yang tipis
belaka. Baik dari segi ginkang, iweekang, pengalaman, latihan,
keduanya berbeda amat tipis dan jelas akan sulit untuk dapat
saling menjatuhkan.
Sementara itu, Khong Yan mulai bertarung ketat dengan Mo
Hwee Hud setelah Panglima Ilya menyerang Sam Boa Niocu dan
terlibat dalam pertarungan yang juga cukup seru. Berbeda
dengan Khong Yan yang sedikit mampu mendesak lawannya, Mo
Hwee Hud yang memang sudah mulai rusak “semangatnya”.
3021
Begitu mengetahui jika kemampuannya saat ini ternyata mulai
dilampaui banyak orang, Mo Hwee Hud agak tersentak kaget.
Awalnya, dia beranggapan kemampuannya sudah amat hebat
dan hanya beberapa orang belaka yang akan mampu
menandinginya. Tetapi, sejak munculnya Thian Liong Koay Hiap,
Koay Ji, dan lalu Tio Lian Cu, Sie Lan In dan Khong Yan, dan
menemukan murid-muridnya terluka parah dan bercacat satu
demi satu, kesombongannya mulai runtuh.
Maka mulailah tokoh sesat itu berpikir untuk menarik diri dan
berlatih lebih jauh agar kegemilangannya bisa diraih kembali.
Tapi, untuk melakukannya dia harus melewati episode sulit di Pek
In San, dan saat ini dia sedang didesak oleh Khong Yan yang
terus menerus menyerang dan mendesaknya tanpa sedikitpun
rasa kasihan. Hal yang mengejutkannya. Lawan mudanya jelas
terus mencecarnya, karena memang ada dendam perguruan
yang sudah berusia panjang dalam sejarah pertemuan mereka.
Anak muda Khong Yan yang adalah musuh sejarahnya kini
menandinginya adalah fakta yang sulit diterima kakek itu, dan
membuatnya merasa sangatlah kaget dan juga penasaran.
Pemikiran itu membuat Mo Hwee Hud mulai tawar hati dan yakin,
dia harus mengundurkan diri sejenak untuk menempa dirinya
kembali dan membayar rekening kematian murid-muridnya.
3022
Untunglah Tam Peng Khek ada dekat disitu, dan kemudian turun
tangan membantu suhunya sekaligus mengurangi tekanan Khong
Yan. Masuknya Tam Peng Khek menyadarkan Mo Hwee Hud
bahwa dia masih harus menyelamatkan diri dan baru berpikir
berlatih untuk menemui lawan-lawannya kelak. Tetapi, tidak
mungkin dia melarikan diri karena suhengnya, Rajmid Singh justru
berada disitu atas prakarsa dan undangannya. Suhengnya itu
bisa murka besar jika ditinggalkan di Pek In San dan dia pergi
begitu saja. Susah payah dia membujuk dan merangsangnya
dengan kisah bahwa Pusaka Guci Perak sudah muncul di
Tionggoan. Maka adalah tidak mungkin dia lakukan itu,
meninggalkan suhengnya yang sudah tua renta itu di Pek In San
tanpa permisi. Tidak mungkin.
Apalagi, Mo Hwee Hud kini memperhitungkan untuk meminta
beberapa kesaktian suhu mereka untuk bisa dilatih agar
kemampuan dan ilmunya bisa meningkat lebih hebat lagi. Dia
tahu suhengnya ini masih menyimpan beberapa kitab ilmu dari
suhu mereka di Thian Tok sana, tetapi ilmu-ilmu yang tersisa
terlalu hebat dan atau terlalu sesat latihan dan akibatnya. Karena
itu hanya murid-murid tertentu yang melatihnya, tidak semua
murid diijinkan berlatih ilmu itu. Tapi buat Mo Hwee Hud saat itu,
dia tidak lagi perduli dan harus melatih dirinya kembali dengan
3023
lebih hebat. Untuk itu, dia butuh ilmu baru yang akan
membantunya membalaskan dendamnya atas kejadian yang
menimpa murid-muridnya yang cacad permanen.
Pertarungan dua lawan satu berlangsung cukup seru, dan Tam
Peng Khek memang bukan petarung utama, tetapi dia akan
masuk secara penuh ketika suhunya, Mo Hwee Hud terdesak
atau didesak Khong Yan. Dengan cara tersebut, maka mereka
berdua mampu melayani dan menghadapi Khong Yan secara
lebih baik. Selain itu, masuknya Tam Peng Khek juga
membangkitkan kembali semangat Mo Hwee Hud yang sempat
redup menemukan kenyataan betapa Khong Yan seperti mampu
meladeni dan malahan mendesaknya dengan hebat. Justru
Khong Yan sudah lebih hebat dari suhunya, Bu Te Hwesio, yang
tidak pernah bertarung lebih dari seimbang dengannya.
Kenyataan ini membuat kepercayaan diri Mo Hwee Hud Sempat
anjlok dan jatuh sampai ke titik yang sangat mengecewakan dan
membuatnya nyaris patah arang. Kini, Mo Hwee Hud bertarung
untuk masalah keselamatannya, dan bukan lagi demi nama dan
harta.
Sementara itu, arena yang paling hebat dan paling berbahaya
justru adalah Koay Ji yang sedang melawan si kakek mujijat itu.
Malah saking hebatnya, kakek itu berhasil melukai Koay Ji dan
3024
juga belum pernah sekalipun terdesak oleh lawan mudanya itu,
meski ada alasan lain atau sebab lain tentunya. Pada dasarnya,
kakek itu sangatlah hebat, Koay Ji sendiri mengakuinya dan
bahkan sudah pernah terkena serangan si kakek yang mampu
menembus khikang hebatnya. Artinya, Koay Ji sendiri sudah
paham, dia sedang berhadapan dengan lawan yang maha luar
biasa, yang bahkan masih sedikit mengatasi Phoa Tay Teng
lawan hebat sebelumnya di Thian Cong San. Untungnya, Koay Ji
tidak lagi merasa ketakutan, justru sebaliknya merasa tertantang
untuk melawannya meskipun rada disayangkan karena
kondisinya pada saat itu sudah terluka, meskipun bukan luka
berat. Selain itu, posisinya yang selalu terdesak, juga disebabkan
oleh kenyataan betapa dia diganggu oleh serangan sihir Rajmid
Singh yang nyaris setanding dengan dia dalam hal ilmu sihir dan
ilmu hitam. Itu yang dialami dan dihadapi Koay Ji.
Kini, tanpa bantuan serangan Rajmid Singh yang sudah sedang
sibuk bertarung sihir berhadapan dengan Mindra, Koay Ji mulai
secara penuh menaruh perhatian atas pertarungannya dan juga
tentunya keselamatan diri. Dia sudah terluka, khikangnya sudah
tertembus, tetapi luka itu tidaklah terlampau mengganggunya,
selain itu dia juga memiliki obat mujarab guna mengobati luka
ringan. Kini Koay Ji berkonsentrasi untuk secara penuh melawan
3025
kakek itu dan senang melihat bantuan Sie Lan In yang sudah
datang, sehingga dia tidak lagi perlu terlampau memperhatikan
kawan-kawannya yang lain. Sekilas dia juga melihat keadaan
Siauw Hong, tetapi dia sadar bahwa adiknya meski benar sedang
terdesak hebat, tapi dia juga percaya adiknya masih akan mampu
bertahan lebih lama. Apalagi, kawan-kawan mereka yang lain,
juga sebentar lagi pasti bergabung.
Berpikir demikian, maka Koay Ji menjadi lebih tenang dan
memainkan Ilmu Thian Liong Pat Pian secara lebih leluasa dan
menjadi lebih mudah meladeni lawannya. Tetapi, dia masih tetap
bertahan karena mencari kesempatan memulihkan dirinya,
karena tanpa terluka saja, dia merasa tokoh yang dihadapinya
sudah amat hebat, apalagi ketika dirinya terluka. Karena
pemikiran itu, maka Koay Ji menjadi lebih banyak mengandalkan
gerakan mujijatnya dan juga ginkangnya Liap In Sut. Pada saat
itu, dia berpikir, jika terlampau lama bertarung, maka kakek
lawannya pastilah juga akan sulit bertahan lama. Maka,
mengandalkan ilmu gerak yang sudah jauh lebih lengkap dan
luas, diapun menghadapi serangan lawannya, menghalau jurus
maut dan kemudian melepaskan diri dari bahaya.
“Hmmmmm, engkau mau bertarung atau berlari-lari anak
muda....”? geram si kakek yang berusaha keras mencecar dan
3026
mengalahkannya tetapi benar kewalahan karena gerakan mujijat
Koay Ji. Repotnya, dia mengenal ilmu langkah itu, tetapi tidak
selengkap dan tidak seluas khasanahnya dengan yang dimainkan
oleh Koay Ji. Ini membuatnya sering salah kira dan salah
menduga, membuat Koay Ji seringkali dengan mudah
menghindari rangsekannya.
“Hahahahahaha, Locianpwee, seandainya engkau berjiwa
ksatria, tidak akan kalian berdua tokoh-tokoh berusia tinggi
mengeroyokku secara licik. Sungguh heran, tokoh seusia kalian
masih saja licik dan tidak tahu malu. Curang, mau menang sendiri
dan licik pula.... hahahaha” ledek dan maki Koay Ji dengan tidak
lagi menyisakan rasa hormat kepada lawannya yang licik itu.
Sesungguhnya karena Koay Ji sendiri sudah merasa marah dan
memutuskan mencoba untuk memancing amarah lawannya yang
sudah tua itu, mana tahu berhasil.
Dan memang, mendengar jawaban Koay Ji, si kakek mujijat
menjadi semakin murka dan menyerang semakin hebat dan
semakin menekan. “Sungguh repot, dia sudah murka, tetapi
melawannya membutuhkan kekuatan seutuhnya, tenaga
sepenuhnya sementara saat ini aku justru sedikit mengalami
luka.....” sungguh dilematis Koay Ji dalam menghadapi serbuan
serta serangan beruntun dan mematikan dari lawan. Disatu sisi
3027
dia repot menghadapi kakek itu dan membutuhkan kekuatan
ekstra besar menghadapinya saking hebatnya kakek itu, padahal
dia sendiri sedang terluka. Di sisi lain, dia memancing amarah
kakek itu agar terus menekan dan menyerangnya dengan hebat
dan sekuat tenaganya. Pancingannya memang berhasil dan
mengena dengan sukses sehingga membuat kakek itu menerjang
dengan hebat, dan ini memang dikehendaki Koay Ji.
Dalam perhitungan Koay Ji, menimbang usia tua lawannya, maka
nafasnya secara fisik akan dengan cepat terkuras. Apalagi
dengan merangsang dan memicu emosi dan amarah kakek itu.
Maka kekuatan besar akan dikerahkannya untuk mengejar
kemenangan melawan dirinya. Jika itu terjadi, maka kakek itu
akan cepat kehabisan tenaga dan pernafasan. Pada saat itulah
Koay Ji punya kesempatan memenangkan pertarungan melawan
kakek yang demikian hebat ini. Dia sendiri bergidik melihat betapa
radius beberapa puluh meter, batu dan pasir beterbangan akibat
iweekang hebat yang menerjang keluar dalam takaran yang luar
biasa. Sangat luar biasa, karena kakek itu sudah emosi.
Ketika kakek itu kembali menerjangnya habis-habisan, Koay Ji
mau tidak mau harus meladeninya dengan sangat berhati-hati
tentunya. Begitupun, mau tidak mau diapun tetap harus sesekali
membentur kekuatan lawannya yang menyerangnya dengan
3028
membadai. Dan untungnya, dia menguasai iweekang yang
mampu meladeni lawan lebih keras dan hebat, baik dengan
mementalkan, ataupun mendorong, mengisap maupun
membalikkan. Tetapi, kesemuanya itu sayangnya sangat
membutuhkan kekuatan iweekang di tingkat puncaknya, mau
tidak mau. Sementara mengerahkan iweekang sebesar itu,
perlahan namun pasti mendatangkan luka dalam dirinya dan
memperparah luka dalamnya. Koay Ji menyadari bahwa lukanya
bertambah parah, meskipun sedapat mungkin dia berusaha
membuat agar lawannya tidak tahu atau tidak paham bahwa
lukanya semakin parah.
Sayang, dia lupa kalau lawannya bukanlah orang sembarangan.
Sudah tentu kakek itu sadar bahwa luka dalam tubuhnya
perlahan-lahan semakin parah karena dia harus mengerahkan
kekuatan di luar takaran dalam pertarungan itu. Lebih celaka lagi,
Koay Ji sama sekali tidak diberi nafas dan kesempatan untuk
mengambil dan meminum air mujijat yang amat dibutuhkannya
untuk memulihkan diri dan juga tentu iweekangnya. Karena itu,
luka-luka dalam Koay Ji justru semakin bertambah parah dari
waktu ke waktu, dan hal itu disadarinya hingga diapun mulai
memikirkan jalan bertarung yang lain. Sekali lagi, lawannya orang
yang cerdas, awas dan sekaligus amat berpengalaman, dan
3029
karena itu, semua strategi Koay Ji bisa dibacanya baik cepat
maupun agak lambat.
Maka pada akhirnya, Koay Ji pun terus menerus dan harus
berusaha mati-matian melakukan perlawanan serta berusaha
sedapat mungkin menghindari kontak pukulan antara mereka
berdua. Dan untuk itu, sama saja dengan keadaan Siauw Hong
pada arena di sebelahnya, pada ahirnya diapun banyak
menggunakan Ilmu Thian Liong Pat Pian. Tetapi, jauh melebihi
Siauw Hong, dia berputar-putar dan mengelilingi tubuh lawan
dengan kecepatan seadanya dan menyesuaikan dengan watak
dan karakter jurus serangan kakek mujijat itu. Kadang cepat
berkelabat dan kadang dengan gerak yang lamban tetapi mampu
menggagalkan dan memunahkan serangan kakek itu. Tetapi,
ujung pukulan dan jurus serangannya biasanya bertemu dengan
pukulan balasan ataupun pukulan “pencegat” dari kakek itu,
sehingga tetap saja benturan mereka tak terhindarkan.
Keadaan seperti itu, jelas membuat keadaan dan posisi Koay Ji
terlihat sangatlah repot dan semakin mengenaskan. Hebatnya,
meski situasinya amat sulit pada saat itu, tetapi Koay Ji tetap
berusaha bersikap tenang dan tidak terpengaruh oleh lawan yang
terus mencecarnya. Keadaan itu membuat lawannya juga tidak
terlihat merasa di atas angin, melainkan harus terus berusaha
3030
menciptakan suasana dan situasi yang lebih baik. Apalagi karena
sesekali Koay Ji menyentil dengan Ilmu Ci Liong Ciu Hoat dan
membuat terjangan pukulan kakek itu seringkali tertahan atau jika
tidak, bergeser dari sasaran utamanya.
Menghadapi keadaan tersebut, kakek itu tiba-tiba bergerak
semakin lambat dan kedua lengannya bisa diikuti pandangan
mata telanjang pergerakannya. Tetapi, saat itu justru Koay Ji
merasa tersentak, karena lawan bergerak penuh dengan tenaga
murninya. Dengan kata lain, lawannya mulai mengajak adu
tenaga dan akan sangat repot jika diladeninya berhubung dia
sedang sedikit terluka akibat pertarungan yang diganggu oleh
ilmu sihir tadi. Tetapi, jika dia menggunakan ilmu menghindar,
maka kawan-kawannya atau mereka yang berada di luar arena
dan berada di dekatnya sangat mungkin terkena tenaga pukulan
yang lolos dari tangkisannya. Tidak. Koay Ji bukanlah orang yang
akan membiarkan kawan-kawannya terluka dalam keadaan dan
kondisi seperti itu. Dia memutuskan akan melawan kekuatan
hebat tersebut, meskipun apa boleh buat, dia harus mengerahkan
kekuatan hebat, kekuatan penuh untuk menangkis dan terus
bertarung melawan kakek itu. Koay Ji sadar, dirinya ada dalam
posisi sulit, tetapi adu dna tarung mereka yang beresiko besar
melukainya harus dia jawab dan harus dia lawan.
3031
Apa boleh buat. Dia tidak mempunyai waktu yang panjang untuk
menimbang, apa dia harus melawan ataukah menghindar dengan
konsekwensi yang sudah dia tahu. Dan dia lebih memutuskan
untuk melawan atau melakukan perlawanan. Segera Koay Ji
memusatkan kekuatannya dan memilih untuk mengutamakan
iweekang Pouw Tee Pwee Yap Sinkang dengan pilihan
mempelesetkan atau menggiring kesamping kekuatan tenaga
menyerang lawan yang hebat itu. Dia agak khawatir
menggunakan kekuatan iweekang gabungan, berhubung
kekuatan iweekangnya sulit dikerahkan sampai pada kekuatan
puncaknya. Karena itu, dia memutuskan untuk menggunakan
salah satu iweekang andalannya dan sudah langsung bersiap
untuk melakukan perlawanan.
Kakek itu sudah segera tahu pilihan Koay Ji dan dia tersenyum
sejenak, dan Koay Ji sudah paham apa yang akan segera terjadi
dengan rangkaian serangan lawan. Karena itu, keduanya saling
pandang dan mulai saling ukur kemampuan dengan kakek itu
terlihat tersenyum aneh dan sinis. Saat itulah untuk pertama
kalinya Koay Ji melihat secara penuh wajah kakek itu, juga sinar
matanya yang terlihat cerdik namun sayang agak jalang dan liar
dan seperti tidak stabil emosinya. Sinar mata manusia yang
memang terlihat cerdas, sangat pintar, namun tidak memiliki
3032
landas moral dan landas rasa kemanusiaan yang memadai,
hingga rela dan sanggup menyiksa dan membunuh dengan
mudah. Mulailah Koay Ji merasa pantas jika Bu Tek Seng Ong
menjadi seperti sekarang, karena kelihatannya kakek inilah
backing dan penopang utama mereka.
Bahkan juga, kelihatannya sejak kasus lama dimana Pek Kut
Lodjin membawa drama dan terror berdarah di Tionggoan, konon
disebabkan manusia satu ini. Terror dan kejadian berdarah
puluhan tahun lalu, kelihatannya juga erawal dari tokoh hebat
yang emosinya sangat labil ini. Dan kini, terror itu menjadi
tanggungjawabnya, sebab jika tidak, maka akan semakin banyak
korban yang jatuh dengan sia-sia. Tidak salah lagi, inilah biang
keladi utamanya dan bukan Bu Tek Seng Ong yang kelihatannya
juga cuma boneka mainan kakek ini. Bukan tidak mungkin Bu Tek
Seng Ong yang dipanggil She CIOK itu hanya boneka juga seperti
Pek Kut Lodjin dahulu itu. Maka, Koay Ji merasa adalah tugasnya
untuk membasmi bibit penyakit berbahaya bagi dunia persilatan
Tionggoan ini.
“Awas,,,,,” desis kakek itu dan kemudian maju kedepan tanpa
melangkah, tahu-tahu saja kedua kakinya bergeser perlahan dan
mendekati posisi berdiri Koay Ji di tengah arena. Koay Ji tidak lagi
menghindar, sebaliknya dia menggerakkan kedua lengan dan
3033
kemudian kakinya bergerak seirama dengan pergerakan kedua
kaki lawannya. Tidak lama kemudian merekapun sudah saling
adu kekuatan dalam jarak yang cukup dekat, Koay Ji memainkan
kombinasi Hian Bun Sin Ciang dengan totokan maut Ci Liong Siu
Hoat, sementara lawannya bergerak-gerak aneh dengan gerakan
yang belum dikenal Koay Ji. Tetapi, pengetahuannya cukup
dalam dan mengenali gerak itu sebagai gerak-gerak khas dari
daerah Thian Tok, bercampur Tibet dan malah juga Tionggoan
sendiri. Sungguh kaya variasi kakek itu. Sadarlah Koay Ji bahwa
kakek itu memang berbahaya, penuh gerakan mujijat dan
kekuatannya sangatlah hebat. Diapun masih belum yakin apakah
dalam keadaan sehat akan mampu untuk menandingi kekuatan
iweekang kakek itu jika digerakkan dengan ilmu dan jurus-jurus
pembunuh yang mujijat.
Kakek itu memang hebat luar biasa, Koay Ji sampai harus
menguras semua ilmu dan penguasaannya atas Ilmu Ci Liong Ciu
Hoat dan memainkan jurus-jurus yang amat aneh dan mematikan.
Tetapi, itu hanya mampu memuat si kakek menunda
serangannya, tetapi setelah menggeliat beberapa kali, kembali
dia menerjang dan menyerang Koay Ji. Kekuatannya memang
luar biasa, dan karena itu, dia berhasil membuat Koay Ji kembali
harus beberapa kali adu tenaga dengannya. Kondisi ini membuat
3034
luka Koay Ji bertambah parah, tetapi, juga celaka bagi kakek itu,
karena harus mengerahkan kekuatan sepenuhnya, maka
wajahnya mulai memerah tanda-tanda orang yang kelelahan.
Koay Ji merasa sedikit terhibur meski berbarengan, juga sedikit
khawatir dengan kondisinya yang lukanya semakin bertambah
parah. Posisi dan kondisi bertarung yang dilematis bagi Koay Ji,
tetapi tetap harus dia lakoni dan hadapi.
Tapi, dalam hal semangat, Koay Ji tetap berkobar melakukan
perlawanan. Bahkan kini, diapun meladeni adu kekuatan yang
dikehendaki kakek itu, dan perlahan-lahan keduanya sudah lupa
dengan keadaan sekeliling dan berkonsentrasi bertarung satu
dengan yang lain. Gerakan mereka kadang lamban, kadang cepat
tak terikuti, tetapi jangan salah, terserempet sedikit saja, tokoh
kelas satu Tionggoan pasti akan modar saking kuatnya tenaga
serang menyerang keduanya. Mereka tidak tahu dan sudah tidak
memperhatikan lagi apa yang sedang terjadi di arena sekitar
tempat mereka bertarung mati-matian itu. Yang penting, mereka
melakukan analisa, memikirkan jurus anti serangan lawan, dan
menimbang apa yang sebaiknya dilakukan agar mampu
memenangkan pertarungan itu.
Mereka malah lupa, sudah berapa jurus adu pukulan dan adu
serang dengan ilmu dan jurus-jurus mujijat. Yang pasti, kakek itu
3035
semakin kelelahan dan Koay Ji di pihak lain semakin parah luka
dalamnya. Tetapi, terus saja keduanya saling beradu ilmu, jurus
dan pukulan dengan kekuatan hebat. Koay Ji tidak lagi perduli
dengan luka dalamnya, kakek itupun tidak ingat lagi bahwa dia
sudah sangat tua dan renta, hingga lama kelamaan kelelahan
mulai menggerogoti iweekangnya. Hebatnya, mereka berdua
masih tidak mengurangi intensitas penggunaan kekuatan dan
yang akhirnya membuat keduanya sama-sama terluka dalam.
Tetapi sinar mata iri dan dengki serta rasa ingin melumat dan
membunuh Koay Ji masih saja tajam menusuk mengarah Koay
Ji. Sementara Koay Ji yang juga sudah terluka parah semakin
suram sinar matanya, namun semangat bertarungnya masih
sangat besar selama melihat kakek itu masih berdiri untuk
menyerang.
Keduanya cukup lama, atau malah sangat lama bertarung dalam
kondisi seperti ini, sampai tenaga si kakek terkuras hebat
sementara luka Koay Ji juga makin parah. Kini, kelelahan si kakek
sudah merambat menjadi luka dalam, sementara luka Koay Ji
akibat tarung iweekang, juga semakin parah, dan menghambat
mereka bertarung lebih hebat lagi. Orang-orang mulai menunggu,
siapa yang akan jatuh duluan dalam posisi yang seperti itu.
Mereka menunggu dengan was-was, karena melihat, meski
3036
sudah terluka, tetapi serangan dan tenaga pendorong serangan
masih tetap hebat, tajam dan kuat menghentak.
Setelah sekian lama semua orang dalam ketegangan sehingga
lupa waktu, Mereka berdua yang sedang bertarung pada akhirnya
adu kekuatan dengan menggunakan sisa-sisa kekuatan dan sisa
kebugaran masing-masing. Sampai beberapa kali adu pukulan
mereka berdua terjadi:
“Duk,,,,,, duk,,,,,, duk,,,,,,,,”
“Hoackkkkk, Hoackkkkkk ....” keduanya, bukan hanya Koay Ji,
setelah adu pukulan yang hebat sama terdorong ke belakang dan
memuntahkan darah segar. Bahkan Koay Ji sampai terdorong
hingga terjengkang ke belakang, sementara kakek yang menjadi
lawannya, sama juga terdorong hingga terlentang. Hanya,
keadaan kakek itu masih sedikit lebih baik ketimbang Koay Ji,
tetapi sama juga terluka dalam dan muntahkan darah dari
mulutnya. Kelelahan membuat kakek itu luka dalam karena
fisiknya sudah tidak begitu mendukung.
Dan setelah keduanya terlempar ke belakang serta terluka dan
masing-masing juga muntahkan darah segar, Koay Ji merasa
kepalanya berkunang-kunang namun tetap berusaha sekuat
3037
tenaga menahan untuk tetap sadar. Sementara kakek aneh itu
terlempar ke belakang dan sudah langsung berusaha untuk
berdiri, tetapi tetap agak kesukaran hingga pada akhirnya
berusaha untuk duduk. Keduanya jelas terluka cukup parah. Tapi
jelas keadaan Koay Ji lebih parah dbandingkan dengan kakek tua
lawannya yang memang sakti mandraguna itu. Dan begitu
mereka berdua, Koay Ji dan kakek lawannya itu sama terlempar
ke belakang terluka, barulah orang banyak mampu melihat seperti
apa keadaan kedua yang secara hebat bertarung dalam sebuah
arena yang tak terlihat mata itu. Keduanya terluka sama parah,
meski masih Koay Ji yang jauh lebih parah, tapi tetap saja saat itu
kondisi fisik masing-masing sudah sangat sulit. Dan saat itu,
ternyata arena yang lain sudah sama-sama bubar dan kini saling
berjaga melihat hasil dari tarung hebat antara mereka berdua.
Hasil yang sama-sama terluka.
Memang, Koay Ji dan kakek itu tidak sadar dan tidak lagi tahu
bagaimana keadaan arena sekitar mereka beberapa saat setelah
mereka saling serang dengan amat serunya. Ketika keduanya
memutuskan saling libas dengan kekuatan iweekang masingmasing
pada puncaknya, mereka tidak tahu bahwa radius 30-40
meter dari posisi mereka, mengalami pengaruh akibat adu
kekuatan hebat keduanya. Mereka tidak sadar jika lontaran
3038
maupun angin pukulan keduanya dalam kekuatan iweekang
tingkat puncak, membuat arena sekitar mereka terganggu.
Bahkan Siauw Hong dan kawan-kawan yang melawan tokohtokoh
puncak Bu Tek Seng Pay, sampai harus berhenti dan
menatap ke pertarungan maut Koay Ji melawan si kakek.
Mereka semua, bahkan termasuk juga Bu Tek Seng Ong sampai
melongo ketika menyaksikan efek pertarungan maut yang
sungguh belum pernah tersajikan dalam sejarah maut di rimba
persilatan Tionggoan sejauh ini. Menakjubkan. Pandangan
semua tokoh yang berada disitu terhadap Koay Ji dan kakek
lawannya perlahan terbentuk dan sama-sama percaya dan yakin,
keduanya adalah sama tokoh sakti mandraguna. Kekaguman
terhadap Koay Ji jelas lebih menonjol karena menilik usia yang
masih muda, berbeda jauh jaraknya dengan kakek lawannya yang
semua tahu sudah amat banyak umurnya itu.
Saat tarung hebat itu berlangsung semakin memuncak, arena lain
satu demi satu berhenti bertarung, termasuk arena Khong Yan
melawan Mo Hwee Hud, Tio Lian Cu, Sie Lan In, Kim Jie Sinkay
dan semua tokoh pendekar lainnya. Mereka semua perlahanlahan
membentuk lingkaran untuk menikmati pertarungan langka
yang amat hebat, dengan para pahlawan secara otomatis
membentuk setengah lingkaran yang membelakangi pintu masuk
3039
markas dan pihak Bu Tek Seng Ong memilih posisi yang
membelakangi tebing bagian belakang markas Bu Tek Seng Pay.
Tidak ada yang sadar bagaimana pengelompokkan itu terjadi,
karena memang semua orang terkuras perhatiannya oleh
pertarungan luar biasa dengan kekuatan mujijat yang
diperagakan kedua tokoh hebat yang terus bertarung.
Kadang mereka berdua yang bertarung, melakukan serang dan
bertahan dalam gerakan lambat namun kekuatan yang memancar
sangatlah hebat dan luar biasa. Kadang dilain waktu, mereka
bergerak cepat dan bahkan tidak terlihat tubuh mereka dari luar
arena oleh mereka yang berilmu hebat sekalipun, kecuali tokohtokoh
sekelas Bu Tek Seng Ong, Sie Lan In dan tokoh hebat
lainnya. Pendeknya kedua tokoh yang bertarung dalam arena
tersebut benar-benar mendatangkan rasa kagum yang luar biasa.
Penonton sampai ternganga dan kini memutari arena
menyaksikan pameran ilmu-ilmu hebat dan jurus-jurus sederhana
yang digunakan namun terlihat bermanfaat dan sangat berguna.
Dalam keadaan seperti itu, saat dimana semua pendekar
membentuk setengah lingkaran mengelilingi arena maut Koay Ji
melawan si kakek aneh, dan setengah lingkaran lainnya adalah
pasukan Bu Tek Seng Pay, maka Panglima Arcia melawan
Geberz, juga berlangsung seru. Inilah arena kedua, satu-satunya
3040
arena yang tersisa selain Koay Ji melawan si kakek. Tidak ada
satupun dari pasukan Liga Bangsa Persia yang menonton
pertarungan Koay Ji saat itu, mereka khusus menjaga arena
Panglima Arcia melawan Geberz. Sementara pasukan Bu Tek
Seng Pay sendiri, menyisakan beberapa orang dan tokoh untuk
ikut menunggui dan menjaga pertarungan itu. Pertarungan dan
arena lain yang juga sebenarnya tidak kalah hebat dengan tarung
maut yang sedang disaksikan nyaris semua orang disitu dan
membuat tarung massal terhent sejenak. Tang pasti, Panglima
Arcia saat itu sudah sedang berada di atas angin dang mendesak
lawannya, meskipun untuk menang, dia masih akan
membutuhkan waktu yang cukup panjang dan lama.
Dan Panglima Arcia jelas paham dengan posisinya, sama dengan
Geberz yang juga tetap bertarung hebat dan paham bahwa dia
tidak dapat berharap bantuan orang lain setelah melihat betapa
tokoh mujijat andalan mereka juga sedang bekerja keras. Hal lain
tidak dapat lagi diikutinya, termasuk dimana posisi Rajmid Singh
dan juga kawan-kawannya yang lain. Semua pasti sedang bekerja
keras. Posisinya yang makin sulit, pada akhirnya membuat dia
memutuskan, bahwa ketimbang menunggu bantuan orang lain,
termasuk saudara seperguruannya, lebih baik bersandar atas
kemampuan sendiri dan terus bertarung. Itulah sebabnya Geberz
3041
melakukan tarung seru melawan Panglima Arcia yang memang
dia tahu berniat keras dan punya alasan kuat mengejarnya hingga
ke Tionggoan.
Maka, pertarungan keduanyapun penuh aroma dendam sehingga
membuat mereka berdua saling menyerang dan membela diri
dengan kekuatan yang tidak ditahan-tahan. Melepas serangan
dengan jurus-jurus maut, bertahan dengan jurus-jurus lihay dan
kekuatan iweekang yang melandasi semua gerakan juga amatlah
kuatnya. Sesungguhnya, kehebatan arena merekapun tidak jauh
berbeda dengan arena Koay Ji melawan si kakek aneh.
Kehebatan Geberz sudah dikenal, kehebatan Panglima Arcia,
sungguh mengagumkan dan mengagetkan, karena dia mampu
mendesak dan memojokkan Geberz. Tetapi, karena Geberz
bertarung mati-matian, maka bukan hal mudah bagi Panglima
Arcia menaklukkan lawan yang nekat ini. Sebaliknya, sesekali
Geberz menyelinap keluar dan menyerang Panglima Arcia,
sehingga mereka sama bertarung hebat dan seru mencari
kemenangan.
Sementara itu, begitu nampak bagi banyak orang Koay Ji dan si
Kakek terdorong ke belakang dan masing-masing terluka dan
muntah darah, Sie Lan In sudah akan segera memasuki arena.
Tetapi sebelum dia bergerak melakukannya, tiba-tiba terdengar
3042
bentakan lain yang sungguh sangat berwibawa dan mampu
membuat siapapun tidak berani bergerak melanggarnya.
Termasuk Sie Lan In sendiri terkejut dan kaget dengan bentakan
bepnuh wibawa tak tertahan itu:
“Tahan...................”
Bentakan itu ternyata bukan hanya dari satu orang, melainkan
tampaknya bentakan dua orang yang sama dikerahkan dengan
kekuatan pendorong yang amat hebat dan amat kuat. Dan saking
hebatnya, tidak ada orang yang berani melanggarnya gara gara
sama tertahan oleh wibawa yang terkandung dalam suara itu.
Bersamaan dengan bentakan itu, tiba-tiba dalam arena sudah
berdiri dua orang yang tampilan fisik mereka amat bertolak
belakang. Namun, Tio Lian Cu dan Khong Yan serta Siauw Hong
sama sama kaget melihat salah seorang diantaranya. Tokoh yang
sudah mereka kenal sebelumnya. Sementara Bu Tek Seng Ong
dan Rajmid Singh, Mo Hwee Hud dan kawan-kawan mereka,
terlihat tersenyum gembira melihat kakek yang berada dalam atau
di tengah arena. Merekapun kelihatannya mengenal salah satu
dari tokoh dalam arena itu. Benar tokoh yang datang adalah
sahabat mereka, kenalan mereka yang tak kalah hebat dengan
kakek yang baru bertarung melawan Koay Ji dan sama terluka itu.
Siapakah dia?
3043
Apakah semua kaget dan gentar dan tidak lagi ada gerakan?
Sebenarnya tidak juga. Karena, masih ada satu arena yang
pertempurannya sangat hebat dan sangatlah menggetarkan,
terjadi kurang lebih 70 atau 80 meter dari arena Koay Ji melawan
kakek aneh tadi. Pertempuran yang sedang berlangsung itu
dikelilingi tidak banyak orang namun demikian berlangsung tidak
kurang hebatnya dengan pertarungan hebat antara Koay Ji
melawan kakek mujijat itu. Pertarungan mereka tidak berhenti,
pertarungan hidup dan mati bagi Geberz yang sedang
menghadapi Liga Pahlawan Bangsa Persia dalam pertarungan
satu lawan satu melawan Panglima Arcia. Dan tentu mereka terus
saja bertarung dan tidak berhenti oleh bentakan tadi, bentakan
yang membuat kedua pihak bertikai berhenti dan tidak segera
dapat memulai kembali tarung massal mereka.
“Bu Tek Seng Ong,,,,,, “ terdengar desisan yang seperti panggilan
dari kakek yang berada di tengah arena itu. Kakek yang membuat
Tio Lian Cu dan Khong Yan kaget karena mereka kenal dan tahu
keampuhannya yang luar biasa dan masih seimbang dengan
Koay Ji. Kemunculannya jelas saja sangat mengagetkan karena
sadar dia adalah tokoh hebat yang sangatlah berat untuk dilawan,
apalagi karena Koay Ji yang bisa melawannya terlihat sudah
terluka. Cukup parah pula. Tetapi, mereka semua yang sedang
3044
tegang memilih menunggu apa yang akan terjadi, karena masih
ada orang lain atau orang kedua di arena tersebut. Orang kedua
itu, terlihat tidak kurang wibawa dan hebatnya dengan tokoh
pertama, dia berdiri tenang, penuh percaya diri dan terus
mendampingi orang pertama yang ternyata sudah dikenali oleh
Tio Lian Cu dan juga Khong Yan.
Secara fisik, tokoh kedua itu terlihat kira-kira berusia pertengahan,
mungkin sekitar 40 tahunan atau jikapun lebih hanya satu atau
dua tahun belaka, dan dan berdiri tenang di dekat Koay Ji yang
sedang terluka parah itu. Posisi dan keadaannya terlihat seperti
sedang menjaga dan menunggui Koay Ji, dan karenanya pemuda
itu dapat segera berusaha untuk mengobati dan memulihkan diri
sendiri itu. Tokoh yang berpakaian hijau itu cukup rapih dan bersih
dengan gayanya yang rada-rada dekat dan mirip dengan tokohtokoh
Kaypang. Tetapi meski terlihat agak sama, segera jelas jika
ada perbedaan yang cukup menyolok, karena rapih dan sangat
bersih justru pakaian yang dikenakannya. Meski berusia jauh
lebih muda dibandingkan tokoh pertama yang tadi memanggil BU
TEK SENG ONG, tetapi baik wibawa dan juga perbawanya,
tidaklah kalah dengan kakek yang datang bersamanya. Bahkan
dia tidak risih, tidak terlihat takut atau merasa rendah diri dengan
kakek tua yang datang bersamanya memasuki arena pertarungan
3045
tersebut. Tentu saja keadaan dan kedatangannya yang berani
berdiri dalam arena tarung, ketenangan dan wibawanya,
mengagetkan banyak orang. Mereka memandangnya takjub dan
kagum sambil juga bertanya-tanya, siapa dia gerangan?
Mengapa mengagetkan? Karena tokoh itu tidak banyak dikenali
orang. Jikapun ada, kelihatannya hanya segelintir tokoh yang tahu
dan kenal dengannya, terutama dari kelihatannya dari kalangan
kaum Pengemis. Baik Kaypang, maupun Khong Sim Kaypang.
Sementara kakek tua yang datang bersamanya, yang juga sudah
dikenali beberapa orang, memang benar adalah Kakek Phoa Tay
Teng yang bagi baik itu Khong Yan maupun juga Tio Lian Cu,
sangat mengerti dan tahu jelas, jika dia sama sekali bukanlah
tokoh sembarangan. Mereka sudah membuktikannya beberapa
hari sebelumnya ketika kakek itu bertarung dengan hebat dengan
Koay Ji, dan mereka sadar jika tokoh itu memang mujijat.
Kakek Phoa Tay Teng atau yang juga dikenal memiliki nama Tibet
sebagai, HULISA sudah sangat lama terkenal dan dikenali
dengan nama julukan Ban Bin Kiau Hua (Pengemis Berlaksa
Wajah). Dan, tentu saja tidak ada yang akan dengan berani
meragukan kemampuannya, karena dia salah satu cucu murid
dari tokoh legendaris ratusan tahun silam, Pat Bin Lin Long. Dan
dia merupakan ji suheng dari Geberz yang sedang bertarung di
3046
arena yang satu lagi. Jika Geberz sudah hebat, maka sang ji
suheng ini, lebih hebat lagi kepandaiannya meskipun sangat
jarang muncul di rimba persilatan Tionggoan. Bukti
kehebatannyapun sudah dipamerkan ketika dia munculkan
dirinya dengan si tokoh berjubah hijau, karena suara bentakannya
dengan sahabatnya yang datang, mampu merontokkan nyali,
konsentrasi dan juga keberanian banyak orang disitu.
Sementara itu, di pihak lain, yakni pihak Khong Sim Kaypang,
sama-sama sedang memandangi tokoh berusia 40 tahunan itu
dengan takjub. Sepertinya mereka sangat mengenal tokoh
tersebut, tokoh berusia pertengahan namun yang punya wibawa
sangat hebat dan luar biasa itu. Bahkan tidak kurang hebat dan
wibawa dengan kakek yang datang bersamanya itu, meski usia
mereka berbeda amat jauh. Tetapi mereka tidak berani buka
suara sedikitpun karena sedang mengamati keadaan arena dan
keadaan Koay Ji. Tokoh berusia pertengahan dan berjubah hijau
itu, berdiri dalam posisi menjaga Koay Ji yang kini sudah sedang
melakukan samadhi dan terlihat wajahnya mulai normal kembali.
Koay Ji sendiri baru berani melakukan samadhi setelah terlontar
ke belakang dan terluka parah, saat melihat tokoh berusia 40
tahunan itu. Dan sempat mendesiskan ucapan dengan lemah:
“Terima kasih banyak, Locianpwee......”
3047
Tokoh itu tersenyum lembut dan mengangguk kearah Koay Ji,
baru setelahnya, Koay Ji bergerak lemah dan mengambil sesuatu
dari balik jubahnya diiringi senyum dan juga anggukan kepala si
manusia berjubah hijau. Keadaan itu memperjelas bagi semua
orang, bahwa dia dan Koay Ji sudah saling mengenal dengan
cukup dekat. Situasi di arena kembali tenang namun jelas sangat
menegangkan, karena masing-masing, Phoa Tay Teng telah
berdiri di sisi kakek tua yang dia jaga, sementara Koay Ji juga ada
penjaganya. Kakek tua yang kita kenal sebagai Phoa Tay Teng
begitu datang sudah langsung mendekati kakek aneh lawan Koay
Ji dan bahkan kemudian berkata lemah tanpa seorangpun sadar
dan tahu apa yang dikatakan kakek Phoa Tay Teng itu kepada si
kakek yang terluka.
Tetapi kalimat dan perkataannya itu sungguh amat mengejutkan.
Apa pasal? Karena suara dan perkataannya itu seperti membuka
tabir siapa sebenarnya lawan mujijat Koay Ji yang amat hebat dan
mampu melukainya. Kakek Phoa Tay Teng datang dan mendekati
kakek lawan Koay Ji dan berkata;
“Toa suheng, engkau sungguh kelewatan... sembuhkan dirimu,
sutemu tidak mampu berbuat banyak, urusan disini harus
diselesaikan, entah bagaimana caranya. Tetapi, apapun dan
3048
bagaimanapun itu kelak, jauh lebih baik jika terlebih dahulu
sembuhkan dirimu secepatnya, waktu sangat berharga......”
Perkataan itu membawa akibat yang besar, karena kakek tua
yang bertarung hebat dengan Koay Ji ternyata adalah toa suheng
Phoa Tay Teng. Dan kakek tua yang sama terluka dengan lawan
mudanya itu, terlihat sama dengan lawannya Koay Ji, segera
mengambil sesuatu dari balik jubahnya dan kemudian tersenyum
lemah kearah Phoa Tay Teng dan menelan apa yang dia ambil
itu. Tentunya obat. Dan seterusnya, tidak menunggu lama diapun
sudah bersamadhi guna memulihkan dirinya. Tetapi, banyak
orang bertanya-tanya, siapa gerangan orang tua yang baru
datang itu? dan jika kakek hebat yang terluka melawan Koay Ji itu
ada hubungan dengan dia, seperti apa hubungan mereka?
Pertanyaan tersebut tentu membuat banyak orang merasa
sangatlah penasaran dan ingin segera mengetahui siapa
gerangan orang tua misterius yang sangat hebat dan digdaya itu.
Memang, setelah Phoa Tay Teng menyebut dan memanggilnya
TOA SUHENG, maka jelas dia inilah cucu murid tertua dari Pat
Bin Lin Long, sekaligus suhu dari Pek Kut Lodjin. Tetap saja tidak
banyak orang yang tahu dan kenal, karena memang, keluarga
perguruan mereka jarang bergaul dan memperkenalkan diri.
Terlebih sejak menghilangnya Pat Bin Lin Long pada kurang lebih
3049
200 tahun silam, menambah misteriusnya keluarga perguruan
mereka. Meskipun demikian, banyaklah tokoh-tokoh hebat dan
sepuh dari kedua belah pihak, segera paham dan tahu siapa
lawan dari Koay Ji yang maha hebat itu. Hal yang membuat
mereka merasa segan dan sekaligus sungkan, bahkan ada yang
ketakutan.
Memang benar, tokoh inilah yang bernama julukan Hong Tin Kie
(Cendekiawan Serba Bisa), Yap Jeng Cie, cucu murid tertua Pat
Bin Lin Long. Tokoh yang sangat berbakat dan juga menemukan
murid yang sangat hebat dalam diri Pek Kut Lodjin yang sempat
mengganas pada puluhan tahun silam. Pek Kut Lodjin,
belakangan kita tahu, meski hebat dan sangat berbakat,
sayangnya dimanfaatkan secara keliru dan menjadi boneka
suhunya dalam melakukan banyak kekejian dan kejahatan.
Tetapi, dia sendiri, Yap Jeng Cie, sebetulnya adalah seorang
tokoh maha hebat dan mujijat, bahkan masih mengatasi ji
sutenya, Phoa Tay Teng dan juga sam sutenya Geberz yang
banyak bergerak di Tibet. Meski hebat, tetapi sang toa suheng,
Yap Jeng Cie, amat jarang berkelana dan apalagi bertindak
secara terbuka di rumba persilatan, dia lebih memilih jalan
menggelap seperti dalam kasus mengganasnya Pek Kut Lodjin.
3050
Wajar jika dia dikenal terbatas, tetapi tokoh-tokoh sepuh dan
hebat dari Tionggoan jelas tahu dan mengenal keberadaannya.
Sementara Kakek Yap Jeng Cie yang hebat dan sakti
mandraguna menyembuhkan diri, juga Koay Ji sedang melakukan
upaya yang sama, pertarungan hebat antara Geberz melawan
Panglima Arcia juga terus berlangsung seru, terlihat Phoa Tay
Teng mendekati si manusia jubah hijau. Keduanya saling
berpandangan dalam sinar mata yang sama-sama sukar untuk
ditafsirkan dan sulit untuk dapat diterjemahkan, apalagi oleh
orang luar. Tetapi, orang luar yang tadi dipanggil LOCIANPWEE
oleh Koay Ji yang memang sudah mengenalnya, terus menerus
tersenyum sementara Phoa Tay Teng terlihat seperti meringis.
Keadaan itu sukar dipahami, meskipun sudah sedikit memberi
gambaran apa yang terjadi antara mereka berdua. Jelas ada
sesuatu yang membuat keduanya berada di tempat itu, masingmasing
memiliki kepentingan dengan arena maut tersebut.
“Lie hengte, bagaimana pertimbanganmu dengan keadaan
mereka sekarang ini? jelas korban sudah teramat banyak di
kedua pihak, meski kerugian Bu Tek Seng Pay jelas jauh lebih
besar......”
3051
“Hmmmm, wajar, karena bara dan bencana ini memang mereka
sendiri yang ciptakan. Penentuan akhir haruslah tidak boleh lagi
memakan banyak korban, harus diantara yang terlibat dan
merancangnya. Sebagaimana janjiku Phoa hengte, tidak
sekalipun kami akan melibatkan diri dalam pertikaian ini. Tetapi,
kamipun tidak akan membiarkan perbuatan biadab toa suhengmu
terus membakar Tionggoan dengan melibatkan begitu banyak
tokoh asing. Pertarungan penentuan, biarlah dilakukan tidak
dengan menggunakan orang-orang yang tidak tahu apa-apa dan
dibunuhi demi ambisi pihak kalian. Pihak toa suhengmu tentunya.
Karena itu, silahkan pertarungan menentukan dilakukan
secepatnya, oleh semua yang terlibat dalam kekejian, harus
bertanggungjawab dan tidak boleh lepas tangan..... pihakmu lebih
beruntung, karena hanya engkau yang tidak boleh terlibat,
sementara kami berdua tidak akan turun tangan. Undurkan
semua anak buah sutitmu dan toa suhengmu ke dekat tebing, dan
semua pendekar akan mundur ke dekat pintu gerbang. Tapi,
siapapun yang sudah terlibat, dilarang melarikan diri dari tempat
ini, kami akan menjaganya di semua pintu masuk. Dan setelah
masing-masing pihak siap, maka pertempuran penentuan boleh
segera dilanjutkan lagi........” si manusia pertengahan yang
namanya disebut sebagai Lie hengte itu sudah bersuara dan
kelihatannya mereka, bersama dengan Phoa Tay Teng seperti
3052
sudah ada perjanjian lebih dahulu dan melibatkan bukan hanya
mereka berdua. Dan perjanjian mereka yang entah apa itu, benarbenar
merupakan bantuan tak terhingga bagi Koay Ji dan
lawannya. Karena jika bukan karena kedatangan mereka berdua,
maka arena pertarungan bisa berbeda ceritanya.
“Hmmmm, cukup adil........” desis Phoa Tay Teng sambil
menengok keadaan toa suhengnya yang masih butuh waktu
untuk memulihkan diri. Sama seperti Koay Ji yang juga sama
masih sedang samadhi guna mengembalikan kebugarannya itu.
Tetapi, pemulihan Koay Ji pada dasarnya lebih cepat,
kepercayaannya melihat Lie Hu San sudah berada disitu dan
menjaganya, membawa dampak positif. Karena tokoh yang juga
sangat dia hormati, mampu membuatnya melupakan semua apa
di sekitarnya. Juga lupa dengan pertarungan antara Geberz
melawan Panglima Arcia tidak jauh dari posisinya. Keadaan Koay
Ji jauh berbeda dengan pemulihan lawan tuanya yang
berlangsung cukup lama. Bukan apa-apa, bukan karena Koay Ji
jauh lebih sakti dibandingkan dengan lawannya yang sudah tua,
tetapi karena pengaruh dari air mujijat yang direndam di Guci
Pusaka.
Itu dan keadaan penjaganya yang maha hebat, membuat Koay Ji
menjadi pulih lebih cepat, lukanya sudah sembuh total dengan
3053
meminum air dari pusaka guci perak. Tetapi, sadar dengan
keadaan yang berbahaya, Koay Ji langsung berusaha
memulihkan diri, dan kelihatannya sebentar lagi dia akan
menyelesaikan samadhi dan kembali bugar seperti sedia kala.
Keadaannya itu tidak membuat si baju hijau jadi kaget dan
terkejut, tetapi melirik Koay Ji sambil tersenyum, karena dia
seperti tahu dan sadar dengan apa yang dialami oleh anak muda
itu. “Apalagi jika bukan karena guci pusaka itu...”? desis Kakek Lie
Hu San dan kembali mengamati seputar arena dan akhirnya
memandangi juga arena pertarungan
“Dan bagaimana dengan mereka....”? tanya Phoa Tay Teng
menunjuk arena Geberz melawan Panglima Arcia. Pertarungan
besar yang kini sudah banyak ditonton orang melibatkan adik
seperguruannya yang paling muda, Geberz, tokoh Persia yang
dia tahu sangat banyak menimbulkan masalah di Persia. Saking
banyaknya, dia menjadi buronan disana dan karena itu, pada
akhirnya tertangkap setelah kekuatan utama Liga Pahlawan
Bangsa Persia ditugaskan untuk turun tangan. Bahkan, sang
Guru Agung Bangsa Persia turun tangan membekuk Geberz. Dan
Guru Agung itulah yang kemudian menaklukkan dan
mengalahkan Geberz dan membuatnya takluk kepada Guru
Agung itu. Tetapi setahunya, itulah untuk terakhir kalinya Maha
3054
Guru Spenta Amaity turun gelanggang menangkap pesakitan dan
kemudian memenjarakannya, setelah menangkap Geberz, tokoh
itu tidak lagi aktif dan cenderung menghilang dari keramaian
dengan orang banyak.
Memang, Geberz terhitung sangat ugal-ugalan dan juga sangat
ambisius, sampai dia menyalahi Liga Pahlawan Bangsa Persia,
dan kira-kira 10 tahun yang lewat, setahunya sudah ditangani,
ditangkap dan kemudian disekap oleh mereka. Karena tahu
kebinalan dan kesalahan besar Geberz tersebut, kedua
suhengnya memilih tidak campur tangan. Selain memang
kesalahan ada di pihak adik seperguruan yang binal itu, keduanya
juga tahu kehebatan dan kesaktian dari Guru Agung Bangsa
Persia yang sering diagulkan sebagai tokoh pilih tanding dan tak
terlawan. Itulah sebabnya Geberz disekap dna dihukum sampai
dia akhirnya bisa meloloskan diri dan dikejar lawan-lawannya dari
Persia. Mengetahui pengejarnya tidak termasuk Guru Agung,
membuat Geberz menjadi berani dan pada akhirnya melakukan
juga tarung mati hidup di Pek In San.
“Apakah engkau benar-benar merasa sanggup menghadapi
kerubutan Barisan Liga Bangsa Persia yang mendatangkan
Panglima Ilya dan Panglima Shouroushi untuk menjaga
pertarungan itu, Phoa heng? Dan, ingat tarung mereka adalah
3055
tarung yang diakibatkan kesalahan dan kejahatan siauw sutemu
itu. Jika engkau ingin bergabung membantu saudara
seperguruanmu, silahkan, lohu tidak akan mencampurinya sama
sekali. Tapi, setahuku disana masih ada 2 orang panglima mereka
yang juga masih menganggur, belum lagi Barisan Liga Pahlawan
Persia yang termasyur, engkau tahu sendiri kekuatan mereka itu.
Jika boleh kusarankan, biarkan mereka menyelesaikan urusan
pribadi mereka, dan kita masing-masing mengundurkan dua
kekuatan yang bertarung dan tidak mencampuri urusan kawankawan
Persia. Malam nanti atau besok, setelah kita
mengundurkan diri dan yang penting buat lohu, jiwa yang kita
selamatkan sangat banyak, baru pertarungan menentukan boleh
dilanjutkan lagi. Tetapi, ingat, sesuai kesepakatan kita, semua
Utusan Pencabut Nyawa suruh turun gunung dan sudah harus
dibubarkan. Sebab jika tidak, banyak dari antara mereka yang
akan menjadi sasaran pembantaian dari banyak orang yang
mendendam. Tetapi semua yang terlibat dalam pertikaian,
silahkan untuk tetap boleh bertahan dan diurus dengan cara rimba
persilatan.........”
“Hmmmm, baiklah. Urusan siauw sute, biarlah dia mengurusnya
sendiri, karena urusannya memang urusan pribadi dengan pihak
Persia. Untuk urusan Bu Tek Seng Pay, biarlah kupanggilkan
3056
sutitku yang akan menjawab permintaanmu sesuai kesepakatan
kita bersama......”
“Baik, silahkan....... jika memang ingin terus bertarung, juga
terserah...” jawab Lie Hu San santai dan wajahnya tetap
tersenyum melihat Phoa Tay Teng yang kemudian memanggil
ponakan muridnya, tokoh yang disebutkannya dengan nama
hebat, Bu Tek Seng Ong. Beberapa tokoh yang mengikuti
percakapan mereka berdua sampai mengerutkan kening,
terutama mengetahui bahwa Phoa Tay Teng terkesan banyak
mengalah kepada si manusia jubah hijau. Ada apa gerangan
dibalik kedatangan kedua tokoh hebat itu memisahkan pertikaian
berdarah yang sedang berlangsung? Entah, masih sulit untuk
ditebak.
Tidak berapa lama kemudian, Phoa Tay Teng sudah
mendatangkan Bu Tek Seng Ong dan kemudian membawanya
berbicara dengan Lie Hu San. Tokoh yang sejak awal
kehadirannya selalu dipandangi penuh rasa takjub oleh Kim Jie
Sinkay, Tiang Seng Lojin dan kelompok Khong Sim Kaypang
lainnya. Maklum, dia sebetulnya memang merupakan tokoh hebat
dan terkenal dari Khong Sim Kaypang. Tokoh yang pada masa
lalu pernah menjadi Pangcu Khong Sim Kaypang dikenal dengan
nama harum Sin Ciang Kay Hiap (Pendekar Pengemis Tangan
3057
Sakti). Tetapi, rimba persilatan Tionggoan mengenal tokoh ini
dengan nama julukan yang berbeda, yakni dengan nama julukan
hebat, yakni Ceng San Sin Kay (Pendekar Pengemis Sakti Jubah
Hijau) Lie Hu San. Repotnya, Kim Jie Sinkay dan pihak Khong
Sim Kaypang belum dapat menyapa dan mendatangi tokoh besar
mereka itu, tokoh yang angkat nama pada puluhan tahun silam.
“Ciok Sutit, meski kutahu engkau hanya menjadi boneka toa
suheng, tetapi engkau tetap wajib untuk memberi kepastian
terhadap tokoh mujijat didepanmu. Apakah akan terus bertarung
dan mengorbankan banyak anak buah masing-masing padahal
sudah sampai 500-600 orang menjadi korban, ataukah akan
melakukan pertarungan terakhir, dengan cara kaum rimba
persilatan sebagai penentuan siapa yang unggul dan menang..”
tanya Phoa Tay Teng dengan nada suara serius sambil
memandang mata sutitnya itu dalam nada pandang serius.
Bu Tek Seng Ong yang dipanggil CIOK SUTIT oleh Phoa Tay
Teng terlihat terdiam. Dia sendiri masihlah cukup bugar dengan
pertarungan tadi meski bertarung hebat melawan Siauw Hong.
Tetapi dia sadar bahwa kekuatan mereka sudah susut sangat
jauh, meski tokoh-tokoh utama belum banyak yang kalah, tewas
ataupun terluka berat. Tetapi, untuk menyerah, dia sangat takut
dengan suhunya. Dia tahu betul apa yang bakal terjadi jika dia
3058
menyatakan menyerah tanpa bertanya atau meminta pendapat
suhunya. Tetapi, akan lain jika yang menyarankan ji susioknya,
Phoa Tay Teng yang dia tahu juga sama hebat dan sama sakti
dengan suhunya. Dan sangat kebetulan, susioknya itu sudah
berada bersama mereka. Bantuan yang tidak kecil, bahkan sudah
membuatnya merasa yakin akan menang. Tetapi, mengapa justru
sang susiok menyarankan agar pertarungan dihentikan?
Meskipun demikian, mendengarkan usul bahwa pertarungan
antar jago masing-masing pihak bakalan menjadi penentuannya,
sudah membawa lagi harapan bagi pihaknya dan pihak Bu Tek
Seng Pay untuk menang. Dan dia merasa yakin dengan peluang
mereka setelah ji susioknya juga ikut muncul karena bakalan
memperkuat pihak mereka. Kehadiran susioknya akan membuat
sang susiok tidak mempunya lawan setimpal, kecuali mungkin si
jubah hijau. Tetapi, masih terlalu muda untuk jadi tandingan
susioknya. Dengan kata lain, kemenangan sudah hampir pasti
akan jadi milik mereka. Karena berpikir seperti demikian, dengan
cerdik dia memikirkan untuk mengembalikan keputusan itu
kepada susioknya dan karena itu diapun kemudian berkata
dengan suara tegas;
“Ji susiok tentu paham dengan tingkah laku suhu. Tetapi, jika
memang usulan agar pertarungan penentuan dilakukan tanpa
3059
mengorbankan banyak orang, maka kami akan siap
melakoninya......”
“Apakah dengan demikian engkau setuju para prajurit dibubarkan
dan disuruh turun gunung sesuai permintaan Pendekar Lie...”?
kejar Phoa Tay Teng yang dia tahu apa maksudnya yang
sesungguhnya dari sutitnya itu. Jika dia tidak mengenal karakter
sutitnya yang satu ini, maka dia sudah pasti mudah masuk
kedalam lubang jebakan halus yang dipasang ponakannya itu.
Bu Tek Seng Ong kaget, tetapi setelah berpikir sejenak dan tahu
bahwa meski butuh waktu lama tetapi tidak terlampau sulit
mengumpulkan semua anak buahnya yang bakalan tercerai berai
itu, maka diapun kemudian menjawab susioknya dengan nada
suara penuh keyakinan;
“Siauwte setuju saja Ji Susiok, meskipun kepada Suhu, mohon ji
susiok yang nanti menjelaskan dan menerangkannya.....”
“Hmmm, baiklah,,,, kita tetapkan secara demikian......” berkata
Phoa Tay Teng dan kemudian menghadap Lie Hu San dan
berkata,
3060
“Baiklah, biarlah penentuan mereka lakukan dengan cara-cara
orang dari Rimba Persilatan. Kalah dan menang ditentukan
secara demikian.....”
“Hmmmm, sepakat jika memang demikian, kaum pendekar akan
mudah diberi pemahaman. Bagaimana Tek Ui Bengcu, apakah
engkau juga sepakat..”? tanya Lie Hu San kepada Tek Ui Sinkay
yang sudah mengenal siapa tokoh itu dan sejak tadi terus berdiri
di belakangnya.
“Sebagai Bengcu Tionggoan, kami nyatakan setuju dengan
pengaturan sesepuh Lie yang terhormat...” jawab Tek Ui Bengcu
cepat. Tentu saja, meski dia memang benar merupakan Bengcu
Tionggoan dan sekaligus juga adalah Pangcu Kaypang, tetapi dia
sudah memperoleh gambaran dan hal itu pasti, siapa
sesungguhnya tokoh yang berjubah hijau itu. Koay Ji pernah
menyinggung keberadaan tokoh ini, dan sedikit banyak dia mulai
bisa meraba, siapa gerangan Lie Hu San itu.
“Baiklah, gencatan senjata kita berlakukan dengan segera kecuali
pertikaian antara Bangsa Persia dengan Geberz. Pertikaian
mereka tidak ada hubungannya dengan pertikaian di Tionggoan,
biarlah mereka menentukan nasib mereka sendiri dan jangan kita
campuri. Pertempuran penentuan akhirnyanya akan segera kita
3061
lihat, apakah besok ataukah dua hari lagi, biarlah pemimpin
masing-masing yang akan sama memutuskannya......... kita boleh
segera melaksanakan kewajiban masing-masing, dan setelah itu
tidak ada yang menghuni markas yang sudah menjadi puing ini.
Pertarungan terakhir akan dilakukan segera.....”
Tidak lama kemudian, Lie Hu San menyingkir dan memberi
kesempatan Tek Ui Bengcu untuk mengatur para pendekar,
sementara Phoa Tay Teng memberikan kepercayaan
membubarkan anak buah Bu Tek Seng Pay kepada Bu Tek Seng
Ong yang ternyata adalah keponakan muridnya. Tidak berapa
lama, di markas yang tadi sangat seru dan juga saling bunuh,
tertinggal pertarungan antara Geberz melawan Panglima Arcia
yang semakin seru dan semakin mendebarkan. Tetapi,
pertarungan mereka tidak ada yang mencampuri, bahkan
penontonpun menyaksikan dari jarak jauh, dari tempat masingmasing
beristirahat. Kecuali tentu saja Liga Pahlawan Persia dan
Jamukha yang tetap berdiri mengitari arena tarung itu.
Tidak berapa lama kemudian, banyak orang yang sudah mulai
turun gunung sesuai kesepakatan yang dibuat, dimana Bu Tek
Seng Ong membubarkan para Utusan Pencabut Nyawa yang
menjadi landas pasukannya. Utusan Pencabut Nyawa, kini mulai
turun gunung dengan sukacita, karena mereka tidak menjadi
3062
korban dalam pertarungan brutal yang membuat jumlah mereka
berkurang drastis, tinggal 30% belaka. Pasukan Robot yang
hanya sedikit, tidak terlihat turun bersama mereka, mungkin
masih akan tetap ikut bertarung nanti di pertempuran penentuan.
Tetapi, dari kedua belah pihak, banyak sekali yang mulai turun
gunung sehingga suasana hingar bingar mulai terurai. Dan tidak
berapa lama kemudian, hanya suara deru pertarungan hebat dan
seru yang masih tertinggal. Meski mulai sepi, tetapi bukan berarti
ketegangan tidak lagi merayapi semua yang masih berada dan
tinggal di dekat markas Bu Tek Seng Pay.
Sementara itu, Koay Ji pada akhirnya menyelesaikan samadhinya
lebih dahulu jika dibandingkan dengan kakek tua lawannya. Tidak
berapa lama setelah banyak Utusan Pencabut Nyawa turun
gunung, dia mendahului lawannya, Kakek Yap Jeng Cie dan
sudah melompat berdiri segar bugar dan langsung menemui Lie
Hu San. Menyapa dan memberinya hormat;
“Sekali lagi Locianpwee sudah membantu dan juga
menyelamatkan boanpwee, terima kasih banyak, terima kasih
banyak......”
“Hahahaha, itu urusan sepele anak muda. Lebih baik engkau
bersiap, karena tetap saja tarung kalian harus diselesaikan, cuma,
3063
tidak akan lagi melibatkan banyak pihak yang tidak bersalah.
Putuskan dengan cara-cara kaum Rimba Persilatan, dan jangan
mengorbankan orang banyak yang tidak tahu persoalan
sesungguhnya” jelas, tegas dan singkat saja perkataan Lie Hu
San, tetapi Koay Ji sudah dengan cepat menangkap dan
memahaminya. Karena itu, diapun segera melirik Tek Ui Sinkay,
sam suhengnya dan terlihat sam suhengnya mengangguk sambil
tersenyum kepada dia. Dan Koay Ji segera maklum. Maklum
bahwa sam suhengnya sudah punya rencana dan tinggal
melaksanakannya nanti.
“Jika memang demikian keputusannya, maka urusan selanjutnya
boanpwee akan serahkan kepada Tek Ui Bengcu saja,,,,, tetapi
atas pengasihan Locianpwee selama ini, boanpwee sekali lagi
berterima kasih.....” Koay Ji berkata sambil memberi hormat
secara khusyuk kepada Lie Hu San.
“Sudahlah anak muda, itu urusan sepele. Tugasmu masih banyak
dan pekerjaanmu harus dituntaskan, jangan lagi bekerja
setengah-setengah seperti Suhumu yang sok bekerja dari balik
layar itu.....”
“Baik Locianpwee, boanpwee mengerti.....” kesal juga sebenarnya
Koay Ji ketika mendengar sindiran si manusia jubah hijau kepada
3064
suhunya. Tetapi, dia tetap diam karena tahu, itu bukan makian.
Selain itu, diapun tahu dan sadar bahwa manusia dihadapannya
ini adalah tokoh seangkatan suhunya sendiri. Tokoh yang hebat
dan sakti mandraguna, tokoh yang luar biasa.
“Bagus jika engkau mengerti,,,,, nach, lohu ingin menyaksikan
pertarungan hebat disana itu. Apakah engkau mau ikut....”? ajak
Lie Hu San setelah tahu bahwa Koay Ji sudah bugar dan tidak
terkendala lagi.
“Boanpwee mengikuti Locianpwee saja....” jawab Koay Ji
mengikuti undangan Lie Hu San yang hanya ditujukan
kepadanya.
“Baik, mari, engkau temani Lohu menuju ke dekat arena
mereka.....” ajak Lie Hu San dan kemudian beranjak mulai
berjalan mendekati arena. Beberapa saat kemudian, mereka
melewati rombongan Khong Sim Kaypang, Kim Jie Sinkay dan
tokoh-tokoh mereka serentak berdiri tegak dan memberi hormat.
Tiang Seng Lojin yang berdiri diapit Kim Jie Sinkay dan Tui Hong
Khek Sinkay, sudah dengan penuh hormat datang dan segera
berkata dengan suara nyaring;
“Menjumpai sesepuh......”
3065
Tetapi Lie Hu San mengangkat lengannya, tersenyum simpul dan
kemudian berkata kepada Tiong Seng Lojin, Kim Jie Sinkay dan
Tui Hong Khek Sinkay dan ditujukan kepada semua anggota
Khong Sim Kaypang yang berada disitu dengan suaranya yang
lembut namun penuh wibawa;
“Lohu masih ada urusan dengan arena disana bersama anak
muda ini, kita nanti akan bicara sebentar. Bersabarlah.......”
Setelah berkata demikian, Lie Hu San berjalan seakan sedang
menunjukkan jalan atau seperti sedang membuka jalan bagi Koay
Ji. Maka keduanyapun kemudian melangkah mendekati arena
tarung yang berlangsung semakin hebat dan seru itu. Sementara
itu, Kim Jie Sinkay dan para tokoh Kaypang dan Khong Sim
Kaypang terpesona sekaligus bertanya-tanya heran, seperti apa
gerangan hubungan Koay Ji dengan sesepuh mereka itu?
mengapa sesepuh mereka seperti sangat menganak-emaskan
Koay Ji? apakah gerangan maksud dan kehendak sesepuh
mereka melerai pertarungan di markas Bu Tek Seng Pay ketika
pihak lawan justru sudah sedang terdesak hebat? Banyak
pertanyaan yang ingin segera mereka dapatkan jawabannya.
Maklum, Lie Hu San atau Sin Ciang Kay Hiap (Pendekar
Pengemis Tangan Sakti) merupakan salah satu tokoh
kebanggaan mereka, dan terhitung sangat legendaris. Maka
3066
sangat wajar jika mereka ingin bertanya dan juga ingin mengenali
lebih jauh dan lebih dekat lagi.
Merekapun memandangi dengan penuh tanya melihat sambil
berjalan Lie Hu San bersikap ramah dan bercakap-cakap santai
dengan Koay Ji. Meskipun, merekapun dapat melihat betapa
Koay Ji, meski benar diperlakukan istimewa oleh Lie Hu San,
sesepuh Khong Sim Kaypang itu, tetapi tetap bersikap penuh
hormat dan begitu mengindahkan. Percakapan mereka dapat
diikuti tokoh-tokoh hebat Khong Sim Kaypang meski dilakukan
dalam suara lirih oleh Lie Hu San dan Koay Ji menambah rasa
penasaran dan keingintahuan lebih jauh;
“Mestinya ada banyak yang menarik dari pertarungan hebat itu
anak muda, mari kita menonton dan menyaksikan pertarungan
hebat itu.....”
“Tapi, sepengetahuan boanpwee, Panglima Arcia memiliki
kemampuan yang cukup untuk mengalahkan kakek Geberz itu..”
sela Koay Ji sambil terus mengiringi langkah kaki si tokoh
berjubah hijau itu.
“Bisa jadi anak muda, tetapi tidak akan semudah persangkaanmu
itu. Mari kita lihat bersama dan kemudian menganalisa secara
3067
langsung, karena mestinya banyak hal menarik akan terjadi
disana....”
“Hmmmm, Geberz sedikit terdesak Locianpwee, tetapi masih
belum kalah...” berkata Koay Ji dan semakin dekat mereka ke
arena tetapi mereka terus saja melangkah sampai hampir 10-15
meter dari arena.
“Tapi, engkaupun tahu dia tidak akan mudah menyerah anak
muda, lihat, dia akan terus berusaha bertahan dan menyerang.....”
“Benar, ilmu langkahnya memang mujijat dan jelas bakalan
membuat pertarungan mereka berdua menjadi panjang...”
“Tepat sekali.....”
“Tapi seberapa lama dia akan mampu bertahan.....”?
“Mestinya engkau mampu menjawabnya.....”
Begitulah percakapan Koay Ji dan Lie Hu San yang sebagiannya
terdengar para pemimpin Khong Sim Kaypang. Percakapan yang
semakin membuat mereka jadi pusing dan merasa penasaran
tentang bagaimana sebenarnya hubungan Koay Ji dengan
sesepuh mereka itu. Mengapa sesepuh mereka memperlakukan
3068
Koay Ji dengan perlakuan yang sangat istimewa, dan Koay Ji
sendiri meski tetap bersikap menghormat, tetapi bisa berdiskusi
demikian akrab. Mau tidak mau merekapun jadi melihat Koay Ji
dalam cara pandang yang jauh lebih berbeda, menjadi lebih
hormat dan sekaligus kagum dengan anak muda itu.
Kehebatannya mereka sudah melihat dan mengetahuinya, dan
bertambah kagum karena bahkan dia ternyata mengenal dan bisa
berbicara akrab dengan sesepuh mereka yang sudah puluhan
tahun lamanya menghilang dan kini muncul kembali.
Sementara itu, Lie Hu San dan Koay Ji sudah tiba di tepi arena,
berjarak beberapa meter belaka dari kedua tokoh yang sedang
bertarung dengan kekuatan penuh. Angin pukulan Geberz dan
lawannya Panglima Arcia menyambar-nyambar dengan kuat dan
amat hebatnya, sampai-sampai Lie Hu San dan Koay Ji haruslah
sama-sama mengerahkan kekuatan keduanya untuk
menahannya. Tetapi hebatnya, meski sebenarnya mereka berdua
mengerahkan kekuatan hebat, tetap saja tidak terlihat jika
keduanya sedang menahan beban berat terjangan angin pukulan
kedua tokoh hebat yang terus bertarung itu. Betapapun keduanya
memang tokoh hebat, dan jika hanya angin pukulan yang
menyerempet, maka keduanya masih sanggup dengan mudah
menghalau dan menahannya.
3069
Koay Ji dan juga Lie Hu San, tidak memahami apa gumaman dan
seruan baik itu Geberz maupun Panglima Arcia yang sesekali
mengumpat dan saling berbicara dalam nada saling ejek dalam
bahasa Persia. Tetapi, keduanya paham bahwa Geberz dan
Panglima Arcia bertarung dan saling berusaha menjatuhkan
semangat lawan melalui saling umpat dan saling membakar
emosi lawan. Hal tersebut menjadi nyata dalam peningkatan
penggunaan kekuatan masing-masing dan angin pukulan yang
semakin kuat dan tajam menyambar-nyambar.
“Menyerahlah kakek tua, dan kembalikan semua benda curianmu,
maka nyawamu akan kupertimbangkan untuk diampuni,,,,,,
meskipun tidak menghapuskan hukuman kurunganmu kelak di
Persia......”
“Hehehehe, kalahkan aku terlebih dahulu, dan jangan banyak
mulut.......” bentak Geberz murka dengan provokasi Panglima
Arcia.
“Hahahaha, lihatlah, semua pasukan pendukungmu sudah
mengundurkan diri, harus dirimu sendiri yang membela diri, kami
dari Persia tidak membutuhkan keroyokan untuk
menaklukkanmu.....” tambah Panglima Arcia, dan ini memang
benar sehingga Geberz tidak lagi banyak bicara tetapi mulai
3070
bertarung lebih serius berhubung dia lebih banyak ditekan
ketimbang menekan.
Memang benar, Panglima Arcia memang sudah disiapkan
suhunya di Persia untuk keluar mengejar Geberz. Dan
pertarungan mereka membuktikan, bahwa persiapan yang dia
lakukan memang memadai, dan kini dia mampu mendesak
Geberz meski tetap saja tidak mudah untuk dapat memenangkan
pertarungannya dengan cepat. Geberz memiliki ilmu gerak yang
mujijat dan menurut Suhunya, membutuhkan waktu dan
kecerdasannya untuk menemukan cara menaklukkannya dalam
arena tarung dengan Geberz. Itulah sebabnya, meski mendesak,
tetapi panglima Arcia tetap tahu dan sadar, bahwa
kemenangannya membutuhkan waktu panjang dan dia masih
tetap harus bersabar. Pergerakan Geberz memang cepat, tepat
dan terlihat tidak butuh kekuatan dan tenaga besar untuk
melakukannya.
Pertarungan keduanya memang berat sebelah, Geberz terlihat
terdesak tetapi tetap saja Panglima Arcia kesulitan
menyelesaikan pertarungan. Sudah cukup lama posisi seperti itu
berlangsung dan Panglima Arcia berusaha keras untuk
menemukan titik lemah lawannya. Meski demikian, diapun
menyadari bahwa meski dia dipersiapkan dengan mempelajari
3071
kelemahan-kelemahan Geberz, tetapi sesungguhnya rentang
beda kemampuan mereka tidak jauh. Ilmu dan jurus-jurusnya
memang anti dari dari ilmu utama Geberz, tetapi meski demikian,
ada faktor lain yang juga mempengaruhi pertarungan mereka.
Kematangan, pengalaman, kecerdasan dan pemanfaatan waktu
yang tepat mempengaruhi jalannya pertarungan. Ini yang
membuat mereka terus bertarung dengan seru dan meski Geberz
lebih banyak terdesak, tetapi bukan berarti dia sudah kalah dan
kehilangan kesempatan.
Kondisi ini jelas diketahui mereka berdua, dan karena itu, pada
tahapan selanjutnya tinggal kematangan dan kecerdasan yang
menentukan. Dan mereka masing-masing memiliki kelebihan
pada kedua sisi berbeda itu. Geberz jelas lebih matang, tetapi
Panglima Arcia lebih cerdas. Sisi manakah yang akan
menentukan hasil akhir dari pertempuran seru ini?
“Bagaimana anak muda, menurut penilaianmu siapa yang akan
memenangkan tarung seru ini....”? tanya Lie Hu San sambil
senyum-senyum.
“Panglima Arcia akan memenangkannya Locianpwee.....” jawab
Koay Ji mantap dan yakin dengan pilihannya itu.
3072
“Engkau memiliki alasannya.....”? tanya Lie Hu San dengan wajah
biasa saja, tidak terpengaruh oleh emosi pilihan mana yang
menang atau kalah.
“Pertama, Geberz meski lebih matang tetapi kekuatan fisiknya
sudah semakin lama semakin melemah, sementara dia terus
bergerak yang meskipun benar tidak banyak menguras iweekang,
tetapi sedikit banyak menekan kekuatan fisiknya yang tidak muda
lagi. Dan yang kedua, tidak lama lagi Panglima Arcia akan
menyadari bahwa formula langkah mujijat Geberz masih memiliki
banyak cela, tinggal tungguh waktu dia menyadarinya. Pada
saatnya, meski tetap saja masih cukup lama, Geberz akan mulai
terdesak lebih hebat dan Panglima Arcia akan menemukan cela
yang tepat guna mengalahkan lawannya,” Koay Ji menganalisis
dengan memperhatikan secara cermat pertarungan hebat itu. Dia
melihat betapa pergerakan Geberz pada titik yang optimal akan
mengganggu fisiknya, dan menentukan kekalahannya.
“Hmmm, dan bagaimana seandainya Geberz masih memiliki ilmu
simpanan yang lain lagi...”? tanya Lie Hu San dengan kening
berkerut tetapi tidak menolak analisis Koay Ji. Dengan kata lain,
dia seperti membenarkan analisis Koay Ji, tetapi masih
meragukan beberapa hal yang masih belum dapat dia buktikan.
Dugaannya hanya selintas dilontarkan, tetapi keduanya, dia dan
3073
Koay Ji sadar bahwa memang sangat mungkin kenyataannya
demikian.
“Kitapun patut menduga bahwa Panglima Arcia juga memiliki hal
yang sejenis, dan itulah faktor mengapa mereka berdua pasti
akan mengalami luka parah baik menang maupun kalah dalam
pertarungan itu....’
“Hmmmm, engkau benar. Dan kelihatannya, dalam menganalisis
dan mencermati pertarungan engkau masih lebih hebat
dibandingkan lohu..... karena dalam usiamu sekarang, lohu masih
belum cukup matang dalam memeriksa dan menganalisis
pertarungan secermat engkau...... hmmmm, dugaan lohu tidak
keliru...” desis Lie Hu San dengan suara lirih.
“Boanpwee tidak berani.....”
“Engkau memang tidak perlu terlampau bangga dengan hal itu
anak muda. Karena justru baik jika tetap membumi tidak merasa
bangga berlebihan, itu adalah kunci utama berlatih dengan terus
menggali dan mencari...”
“Terima kasih Locianpwee....”
3074
“Lebih baik engkau perhatikan bagaimana Panglima Arcia itu
bergerak nantinya, dia akan mulai memainkan jurus dan gerak
rahasia kaum Persia. Itu pasti akan sangat membantu dan
meningkatkan kreasi kita dalam memandang gerak dan jurus
serta ilmu silat sehingga lebih lengkap.....”
“Baik Locianpwee,,,,, ech, dia sudah mulai.....”
Selanjutnya, Lie Hu San dan Koay Ji terdiam dan menyaksikan
pertarungan yang kembali mulai berlangsung dalam gaya
berbeda. Berbeda karena memang Geberz sebagaimana
dikatakan Lie Hu San, mulai bergerak dalam ilmu berbeda, tidak
lagi sekedar mengandalkan ilmunya Ilmu Lam Hay Peng Po Leng
Im Sin Hoat (Ilmu Gerak Tubuh Menyeberangi Awan Tenang di
lautan Selatan) yang disebut Thian Liong Pat ian oleh Koay Ji.
Sekarang, oleh keterdesakkannya, Geberz memulai lagi dengan
Ilmu Loh Ing Ciang Hoat (Pukulan Tangan Bintang Jatuh). Ilmu ini
rada khas perguruan mereka, salah satu ilmu pukulan ciptaan Pat
Bin Lin Long, dan oleh Koay Ji masih belum dia tahu dan kenal.
Memang, ilmu pukuan itu tidak tercantum dalam buku
peninggalan Pat Bin Lin Long, tetapi ditinggalkan turun-temurun
kepada anak murid tokoh mujijat itu.
3075
Tetapi, gaya dan karakter Pat Bin Lin Long cukup kental disana,
yakni memainkan ilmu hawa berdasarkan penguasaan semangat,
sehingga tidaklah cukup memakan tenaga iweekang. Tetapi,
jangan salah, efek dan akibat ilmu itu, cukup hebat dan juga
mematikan karena secara khusus pada saat akan mengenai
bagian tubuh lawan yang mematikan, kekuatan tenaga
pemukulnya akan berubah sangat keras dan bagai kekuatan
sebuah “bintang jatuh”. “Cukup hebat..” desis Koay Ji dalam hati
setelah mengamati dan mencatat dibenaknya semua gerakan
Geberz, yang dengan ilmu itu mulai merasa sedikit lebih bagus
posisinya. Padahal, posisi seperti itu baru didapat Geberz dengan
terutama mengkombinasikannya dengan variasi gerakan
menyerang yang mujijat dari ilmu geraknya.
“Tapi, dia akan memasuki situasi buruk, karena gerakan-gerakan
khas kaum Persia memang unik, kita tunggu saja....” seperti dapat
membaca pikiran Koay Ji, tiba-tiba Lie Hu San bergumam lirih
sambil mencermati arena dan tidak melirik Koay Ji barang
sedikitpun. Jelas sekali diapun tertarik dengan pertarungan
Geberz melawan Panglima Arcia yang semakin menghebat.
“Benar, tidak akan sampai 15 jurus dia akan terjerumus pada
keadaan yang makin runyam, dan kekalahannya akan
mendekat.....”
3076
Geberz saat itu memang terus menggebu, dari posisi terdesak dia
memainkan jurus menyerang karena memperoleh peluang karena
memainkan langkah mujijatnya dalam jurus simpanan keluarga
perguruannya. Mendapatkan peluang itu, Geberz cepat bergerak
menggeser selangkah kedepan dan menyerang dengan
serangan panjang dalam jurus Thian li hui ko (gadis langit
mengayunkan tombak). Dalam lengan terulur panjang dan
menotok dari atas ke bawah mengarah titik-titik yang mematikan
di bagian atas lawan. Tetapi gerakan sederhana Panglima Arcia,
dalam jurus Bang hong jut ciau (selaksa kumbang dari sarang),
bisa memunahkan jurus serangan Geberz. Prosesnya cukup
cepat dan sederhana, Panglima Arcia tidak hanya bergerak
secara sederhana, tetapi juga ampuh, cukup dengan sebuah
langkah sederhana bergeser ke samping, dan kemudian
mendoyongkan tubuhnya sambil bergerak lagi untuk balik
menyerang dalam sebuah jurus Hui tim cing tam (mengebut debu
mencari ketenangan).
Tidak mau kalah, Geberz kini bergerak dengan cepat
menggunakan jurus Heng im toan gak (lapisan awan memotong
perbukitan), dan langsung melanjutkan jurus serangan ke arah
Panglima Arcia menggunakan gerakan Toan hun yu si (benangbenang
halus pemutus nyawa). Kelihatannya Geberz mulai
3077
merubah strateginya dengan keluar menyerang dengan
memanfaatkan ilmu gerak mujijatnya, dan ini memang cukup
tepat dan juga hebat. Koay Ji menyadari bahwa Geberz dan
semua saudaranya, saudara seperguruannya, mestilah
memahami bagaimana ilmu langkah itu membuat mereka mencari
dan menemukan posisi-posisi yang strategis dalam bertahan dan
juga menyerang. Kini, dia melihat Geberz memanfaatkan
pengetahuan tersebut dan berbalik mampu dalam mengimbangi
lawan untuk menyerang dengan hebat. Gerakan-gerakannya
gesit, tidak terduga, dan selalu mencari cela untuk menemukan
tempat yang tepat untuk menyerang.
Ketika Panglima Arcia bergerak menghindari pukulan maut nan
berbahaya Geberz sebelumnya, Geberz sendiri kelihatannya
sudah menduga dan bersiap dengan jurus susulan. Dan benar,
dengan segera dia kembali menyerang dalam totokan dengan
jurus Siau ci thian lam (sambil tertawa menuding langit selatan).
Jurus tersebut terhitung berbahaya dan mematikan,
memanfaatkan serangan hawa mematikan dan jika sampai
menyentuh titik yang disasar, bisa mendatangkan lubang bagai
ditusuk jarum. Efeknya bisa segera dan mematikan. Panglima
Arcia akan terlampau bodoh jika tidak mengetahui bahaya
serangan lawan, tetapi sebagaimana tebakan Koay Ji dan juga
3078
Lie Hu San, dia sebentar lagi akan menampilkan gerakan-gerakan
khas nan mujijat dari Persia. Dan itu kelihatannya sudah akan
dimulai, karena geliat dan gerakan Panglima Arcia sesudahnya,
sungguh-sungguh tak dikenal di Tionggoan, meski Koay Ji
mampu mengenalinya dan membuatnya tersenyum kagum.
“Benar, dia segera memulainya....” desis Koay Ji dan disambung
lagi,
“Ach, begitu rupanya.......” desis Koay Ji lirih, namun terdengar
jelas oleh Lie Hu San dan membuatnya memandang sekilas dan
tersenyum misterius.
Sementara itu, meski sampai dengan 3 jurus Gebers terus
menerus menggebrak dan lebih mendesak Panglima Arcia, tetapi
tidaklah berarti Panglima Arcia berada dalam situasi runyam.
Koay Ji dan kelihatannya Lie Hu San paham apa yang akan
segera terjadi di arena dengan suasana yang berubah dan
menempatkan Geberz yang biasanya terdesak menjadi pihak
penyerang. Tetapi, Panglima Arcia yang dalam posisi diserang,
tidak terlihat panik, khawatir dan bertindak tidak perhitungan dan
ceroboh. Sebaliknya, terlihat senyum tipis di bibirnya dan sinar
matanya justru menjadi bercahaya senang dengan keluarnya
Geberz mencecar dan menyerangnya dengan jurus-jurus maut
dan mematikan.
3079
“Sekarang saatnya......”
Desisan yang tidak dijawab Lie Hu San selain senyum dikulum
mengembang di bibirnya seperti menjadi titik baru tarung
Panglima Arcia melawan Geberz. Setelah lebih sepuluh jurus
namun kurang 15 jurus Geberz selalu menekan dan mengejar
lawannya, tiba-tiba satu gerakan aneh dilakukan Panglima Arcia.
Gerakan itu seperti gerakan tidak ada polanya, tetapi terkesan
mirip seperti gerakan-gerakan ritual penyembahan kepada sosok
atau tokoh yang dianggap suci. Sederhananya, seperti gerakan
menyembah tapi bukan menyembah, seperti gerakan tarian
massal penyembahan dewa-dewi tetapi dilakukan seorang diri.
Panglima Arcia berubah seperti menjadi seorang pemimpin
kelompok penyembah dewa-dewi dan bergerak-gerak secara
aneh dalam lompatan lompatan ringan dengan lengan teracung
bergantian kiri dan kanan ke atas. Tepat, seperti gerakan penari
dalam ritual-ritual keagamaan guna menyembah dewa atau dewi
yang sangat dihormati.
Jangan salah, itu bukan sekedar gerakan penyembahan atau
komando dalam satu ritual keagamaan biasa, tetapi sebuah Ilmu
khas Persia yang disusun dari gaya untuk menyembah Dewa Api
Bangsa Persia. Ilmu ini bahkan sudah dikembangkan menjadi
Ilmu Barisan, meski sejatinya adalah salah satu ilmu mujijat para
3080
Pendekar dan Pahlawan Bangsa Persia. Dan gerakan-gerakan
aneh Panglima Arcia ini cukup ampuh dan membuat semua
serangan Geberz kini mengalami kegagalan dan sulit menembus
pertahanan Panglima Arcia yang kini dikelilingi arus kekuatan
yang amat panas membakar. Kondisi seperti itu sama artinya
dengan Panglima Arcia sudah memutuskan menggunakan atau
meningkatkan kekuatan iweekangnya, karena jurus yang dia
keluarkan memang jurus dari rangkaian ilmu berat bangsa Persia.
Geberz sendiri sepertinya mengetahui hal itu, dan karenanya,
wajahnya terlihat cukup serius dan mulai sadar bahwa mereka
akan memasuki tarung tahapan lanjut yang bakalan menguras
kekuatan dan stamina lebih jauh.
“Perhatikan baik-baik anak muda, meski Geberz belum sehebat
kedua suheng atau kakak seperguruannya, tetapi sedikit banyak
dia memiliki rahasia-rahasia ilmu yang mengangkat nama
perguruan mereka. Engkau beruntung bisa menyadap dua gerak
berbeda sekaligus, dan bermanfaat digunakan sebelum
memasuki pertarungan yang sangat menentukan besok atau dua
hari kedepan.....”
Benar bisikan Lie Hu San, tiba-tiba Geberz mengeluarkan suarasuara
mendesisi yang agak aneh. Dan Lie Hu San berbisik lirih:
3081
“Hmmmm Ilmu Li Seng Toan Hun Lui (Ilmu Nada Suara
Mematikan Roh) dia juga bisa memainkannya, sudah hebat jika
demikian....”
Dan memang, adalah sebuah ilmu silat berbalur ilmu sihir kuat
yang kemudian mulai dikembangkan oleh Geberz. Maklum, gerak
silat Panglima Arcia juga sama mulai berselaput kekuatan mujijat
yang amat kuat mencengkeram dan mulai menyerang konsentrasi
lawan. Geberz memainkan gerak Jurus Liu-an-hoa-beng
(Pepohonan gelap bunga terang) dan kemudian menindih
pengaruh mitis gaya Persia, bahkan lanjut kemudian dengan jurus
Peng-sabu-jang (Pasir datar tiada batas). Lengan kanannya
mengibas, sementara lengan kirinya menarik atau menyedot,
pada saat bersamaan dia memainkan dua jenis pukulan yang
amat hebat. Satu untuk kembali menguasai konsentrasinya dan
satu lagi melakukan serangan balasan dengan ilmu yang berisi
kekuatan besar.
Tetapi, meski Geberz memainkan ilmu hebatnya, pada saat itu,
Panglima Arcia juga sudah dalam pengerahan kekuatan yang
amat besar, dan dia tidak takut. Bahkan wajahnya terlihat sedikit
tersenyum, tanda bahwa apa yang sedang terjadi dalam
pertarungan mereka saat itu sudah berada dalam jangkauan
perencanaannya. Maka diapun bergerak dalam jurus aneh khas
3082
Persia, sejenis gerak jurus Kui-ong-pat-hwee (Raja setan
mengendalikan api). Gerakannya terlihat saling libas dengan
sedotan kekuatan iweekang lawan, tetapi dengan gerakan
mengendalikan api, dia justru mengerahkan arus kekuatan panas
itu untuk disedot oleh Geberz. Tetapi, saat itu Geberz sendiri
sadar bahaya, dan memang naluri jago sehebat mereka
sangatlah patut dibanggakan, sangat hebat.
Dengan cepat dia merubah gerakan dan juga daya kekuatan
iweekangnya dalam gaya jurus Houw-siau-san-lim (Harimau
bersiul di gunung dan di hutan) yang juga kemudian dia masih
kombinasikan dengan jurus Lui-tong-ban-bu (Halilintar
menggoyangkan selaksa benda). Hasilnya luar biasa, dalam
waktu singkat baik Geberz maupun Panglima Arcia mengadu
kekuatan iweekang namun tidak saling berbenturan, tetapi saling
menyedot dan saling memelesetkan ataupun berusaha untuk
menindih kekuatan iweekang lawan. Ketika Geberz kemudian
bergerak cepat dan dalam jurus Ya-can-pat-hong (Bertarung
malam dari delapan arah) dia berusaha menyasar dan menyerang
sambil mengelilingi Panglima Arcia, tokoh Persia itu tak terlihat
ketakutan. Melainkan bergerak dengan kekuatan iweekang
penuh, terus saja meladeni serangan Geberz yang merubah
3083
serangan dengan jurus Tiang-hong-koan-jit (Pelangi menembus
matahari).
“Pertarungan yang sungguh menguras tenaga, Geberz bakalan
segera keteteran” desis Lie Hu San dan diiyakan dengan segera
oleh Koay Ji yang tidak bersuara apa-apa selain hanya sekedar
mengangguk. Dengan begitu dia membenarkan pendapat tokoh
berbaju hijau yang kelihatannya sangat dia hormati itu. Apa yang
didengarnya memang persis sama dengan apa yang
disaksikannya di arena tarung yang semakin memanas dan
berkekuatan raksasa itu.
“Hmmm, engkau perhatikan, itu salah satu ilmu mujijat perguruan
mereka, namanya Ilmu Pat Mo Hwee Ciang (Pukulan 8 Iblis
Sakti). Engkau harus hati-hati jika kelak dalam pertarungan
terbuka menghadapi ilmu tersebut...... apalagi jika dimainkan ji
suhengnya, Phoa Tay Teng atau terlebih hebat lagi jika sang toa
suheng dari Geberz sendiri yang memainkannya.....” kembali Lie
Hu San mendesis, ujarannya jelas dia tujukan kepada Koay Ji.
Dan beberapa saat setelah menyaksikan pukulan itu dilepaskan
Geberz, mau tidak mau Koay Ji menjadi sangat kagum dan
terpikat. Tanpa sadar diapun berkata:
3084
“Hmmmm, kelihatannya memang menakjubkan Locianpwee.
Sungguh hebat malah, tapi resikonya Geberz akan semakin
terkuras kekuatannya, akan membahayakan dirinya sendiri,
tenaganya bakalan terkuras habis dengan lebih cepat lagi...” Koay
Ji menanggapi dengan suara lirih dan kagum melihat pukulan
Geberz yang memang hebat. Penuh gerakan mujijat dan
kekuatan pukulan yang menderu. Tapi, seperti dugaan mereka
berdua, Geberz akan semakin habis kekuatan fisiknya, sementara
aspek tenaga ini yang akan menjadi unsur penentu.
“Engkau benar, dia akan mampu bertahan dan sangat susah
dikalahkan Arcia jika usianya masih lebih muda. Sungguh amat
disayangkan......” desis Lie Hu San yang seperti tidak rela Geberz
dikalahkan.
“Iya, dan proses kekalahannya sudah akan segera dimulai
Locianpwee, Panglima Arcia sepertinya terus menerus memberi
peluang untuk Geberz terus menyerang dan mendesaknya.
Kurasa sebentar lagi dia sudah akan memulai proses menyerang
balik dan mengalahkan Geberz... tidak akan lama lagi....”
Dan memang seperti itu yang terjadi. Kekuatan pukulan Geberz
sungguh luar biasa, menghentak dan membuat posisi Panglima
Arcia seperti selalu tertekan. Tetapi, baik Lie Hu San maupun
3085
Koay Ji dapat melihat betapa Panglima Arcia meskipun terlihat
terdesak, tetapi matanya dan sikapnya masih sangat tenang dan
penuh percaya diri. Sama sekali tidak terlihat cahaya panik dan
khawatir dimatanya, bahkan terlihat ada tersungging senyum
dibibirnya. Inilah indikasi yang justru menguatkan dan lebih
meyakinkan Koay Ji maupun Lie Hu San akan dugaan, bahwa
keadaan seperti itu sebenarnya sudah dalam hitungan Panglima
Arcia. Panglima Liga Pahlawan Bangsa Persia yang memang
cerdas dan hebat itu.
“Sayangnya, Ilmu Pat Mo Hwee Ciang itu memang sifatnya keras,
jika tidak dalam kekuatan puncak, maka ilmu itu justru bakalan
kehilangan pamor setengahnya. Geberz memang sanggup
menyeimbangkan atau bahkan sedikit merebut posisi untuk
sementara waktu, tetapi dia pada saatnya dia justru kehilangan
besar dan bakalan terkalahkan secara tragis.....”
Koay Ji nampak berdiam diri, karena dia memang belum
mengenal ilmu pukulan Geberz yang memang hebat meski
sayang banyak memakan kekuatan iweekang si pelepas pukulan
itu. Dan Geberz yang diberi keadaaan “menang” dan “mendesak”
oleh lawannya itu, seperti tidak mampu lagi mengendalikan diri.
Sikap dan gayanya bertarung sangatlah beringas dan terlihat
emosi yang susah dikendalikan, serta bawaannya terus menerus
3086
memburu lawan. Matanya berkilat tanda dipenuhi emosi untuk
segera memukul dan membunuh lawan, dan biasanya jika mata
seperti itu, berarti bahwa dia tidak lagi dikuasai oleh pikiran, tetapi
jauh lebih oleh emosi dan rangsangan berlebih untuk meraih
kemenangan.
“Atau jangan-jangan bukan Geberz yang mengendalikan pukulan
itu, tetapi emosi dan “jiwa” pukulan itu yang menguasainya
sehingga tidak menyadari batasan ilmu iweekang yang
dikerahkan....” desis Koay Ji menduga, karena buat dia yang
cukup mengenal Geberz, orang tua itu biasanya cerdik dalam
berkelahi. Terasa agak mengherankan melihatnya bertempur
dengan gaya seperti saat ini, seperti bukan Geberz yang sejati,
atau seperti orang lain yang sedang bertarung. Bukan tidak
mungkin jika keadaannya seperti itu adalah akibat ataupun
bawaan sebuah ilmu yang melibatkan unsur emosi dalam
memainkannya.
“Hmmmm, sejak dahulupun lohu sudah memiliki dugaan yang
demikian, dan jika engkaupun melihat seperti itu dengan indikasi
gaya tarung Geberz, maka itu bagus. Dan harus kita berikan kredit
point kepada Arcia, karena memang cara perlawanan Panglima
itu sungguh sangat tepat. Meskipun bukannya tidak ada cara lain
yang mungkin bisa jauh lebih effektif....”
3087
“Benar Locianpwee,,,,,” desis Koay Ji, karena memang benar, di
benaknya sekarang berisi demikian banyak formula menangkal
pukulan berhawa iblis yang kelihatannya menguasai pikiran dan
emosi Geberz. Pukulan hebat itu memang membawa angin
pukulan yang melebihi pukulan Geberz sebelumnya, dan
memang saat itu mampu mendesak Panglima Arcia. Bukan
sekedar Panglima Arcia yang memberi angin, tetapi memang
perbawa dan kekuatan ilmu itu sangatlah hebat dan sungguh luar
biasa. Tetapi, Panglima Arcia sepertinya sudah menduga dan
juga mengenali ilmu dan permainan Geberz itu, dan karena itu
membiarkan Geberz menguasai arena dan memancingnya terus
menerus menyerang dengan kekuatan maha besar itu. Cara
Panglima Arcia sepertinya memang sudah dia persiapkan jauhjauh
hari, itulah sebabnya dia tersenyum dan wajah kemenangan
memancar darinya.
Dan ulasan serta tebakan Koay Ji maupun Lie Hu San segera
menjadi kenyataan setelah Geberz menyerang hebat selama 20
jurus. Kegesitan dan kekuatan pukulan Geberz setelah kurang
lebih 20 jurus mengejar dan mendesak lawan, perlahan-lahan
mulai menyusut. Bahkan sinar mata kelelahan mulai terlihat jelas,
dan sudah tentu keadaan ini juga tercium dan terlihat oleh
Panglima Arcia. Tetapi, hebatnya, Panglima Arcia tidak dengan
3088
segera mencecar Geberz balik, tetapi tetap memancing Geberz
untuk terus menyerang meski kini sudah menggunakan Ilmu
Pukulan yang lain. Sekali ini Geberz memainkan Ilmu Ling Khong
Huan In Cam (Pukulan Tanpa Bayangan), meski sama hebat
tetapi dengan iweekang yang mulai menyusut dan kegesitan yang
mulai terganggu, maka ilmu hebat itu tidak bisa lagi optimal.
Mengapa tidak optimal, karena sesungguhnya, Ilmu Pukulan
Tanpa Bayangan yang dimainkan Geberz membutuhkan cecaran
kekuatan pukulan yang hebat serta juga banyak variasinya. Dan
biasanya pukulan-pukulan atau jurus-jurus utama yang hebat dan
mematikan, tidaklah mudah teridentifikasi oleh lawan. Tetapi,
dengan kondisi dan keadaan Geberz, perbawa asli dan utama
dari ilmu itu justru redup dan tidak muncul. Yang muncul adalah
serangan-serangan yang berusaha mendesak lawan, tetapi daya
tekan dan daya desaknya sudah berkurang banyak. Hal yang juga
sudah disadari oleh Arcia.
Dalam keadaan begitu, toch Panglima Arcia tetap saja terusmenerus
membuat Geberz berusaha mendesak dan
menyerangnya. Tetapi, jelas bahwa Panglima Arcia berlaku dan
beraksi dengan sangat hebat, menyesuaikan keadaan lawan dan
tidak terpancing segera masuk. Dia tetap saja berlaku seakanakan
sudah terdesak hebat sejak Geberz menyerang dengan Ilmu
3089
Maut Pat Mo Hwee Ciang, sehingga ketika menggunakan Ilmu
Pukulan Tanpa Bayangan, Geberz tidak berniat untuk
mengendorkan penggunaan iweekangnya. Geberz berharap dan
berpikir bahwa dia sudah akan segera menang, maka diapun
menghamburkan pukulan-pukulan maut disertai kekuatan
iweekang yang maha hebat. Dan sontak kekuatannya yang
tersisa tergerus terus padahal dia sudah bertarung berjam-jam
melawan Siauw Hong dan kemudian Tio Lian Cu sebelumnya.
Dan kini masih harus menghadapi Panglima Arcia yang juga tidak
kalah hebat dan sakti. Sementara pada sisi lainnya, usianya
sudah amat lanjut, dan tentu saja daya dukung fisiknya juga
sudah terbatas, tetapi sayangnya sekarang dia peras habishabisan.
Sama saja dengan dia menyerang untuk dikalahkan
lawannya.
Karenanya, sangat wajar jika kemudian seorang Panglima Arcia
mengembangkan senyuman yang semakin meriah karena dia
sudah menduga ujung pertarungan akan segera datang. Memang
dari segi iweekang mereka tidak berbeda jauh, tetapi jelas
kebugaran fisik karena usia yang berbeda jauh, juga
membedakan mereka berdua secara jelas dan jomplang. Geberzs
sayangnya luput melihat ini. Karena memang terutama dia sudah
lama bertarung dan masih belum beristirahat secara cukup
3090
memadai. Dalam keadaan lelah secara psikhis, kini
diperhadapkan dengan tarung mati hidupnya melawan tokoh
Persia yang hebat dan tidak kalah darinya. Maka ketika akhirnya
Panglima Arcia menggereng dan kini bersiap melakukan
serangan menentukan, Lie Hu San segera mendesis:
“Sudah selesai........ tinggal melihat bagaimana cara Panglima itu
menaklukkan Geberz tanpa membunuhnya.....”
“Geberz sudah terlampau lelah untuk melawan dan melukai
Panglima Arcia secara hebat Locianpwee,,,,, pertarungan sudah
usai....” analisis Koay Ji membenarkan perkataan Lie Hu San
sebelumnya.
“Engkau benar, tetapi Geberz harus mereka bawa ke Persia
hidup-hidup, ini yang membuat pertarungan tetap menarik.
Setidaknya kita bisa menyaksikan dan juga sekalian menikmati
strategi Panglima Arcia untuk memenangkan pertarungan tanpa
membunuh lawannya itu.....”
Tiba-tiba baik Koay Ji maupun Lie Hu San merasakan
menyambarnya angin pukulan berhawa sangat panas dan
membuat keduanya saling pandang dan sama-sama
mengangguk. Tidak salah, Panglima Arcia sudah mulai
3091
memainkan strategi paling akhir guna menyelesaikan pertarungan
yang sudah berlangsung sangat lama itu. Artinya, sekarang ini,
dia sudah mulai menyerang balik dan mulai berusaha keras untuk
memojokkan Geberz. Geberz tiba-tiba jadi amat terkejut karena
lawannya ternyata masih menyimpan energi yang cukup besar
untuk menyerangnya. Bukan cuma itu, kekuatan pukulan
Panglima Arcia, kini meningkat secara luar biasa dan membuat
dia tidak memiliki cukup tenaga lagi untuk melawan dan
membenturnya. Karena kaget dengan keadaan itu, jadilah Geberz
tinggal menyandarkan diri dengan ilmu geraknya yang memang
hebat dan mujijat meski belum selengkap milik Koay Ji, tetapi
dengan emosi, fisik dan juga kecepatan yang sudah terkuras, ilmu
tersebut menjadi tidak sehebat saat dia memainkannya di awal
tarung. Sudah jelas posisinya semakin susah dan semakin
tertekan.
Kini Geberz seperti lebih banyak berlari, menghindar dan
berusaha keras dicegat oleh Panglima Arcia dengan pukulanpukulan
hebat. Lebih dari itu, ilmu pukulan dan jurus serangan
Panglima Arcia, berbeda jauh dengan sebelumnya, kini berubah
jauh lebih cepat dan jauh lebih bertenaga. Keadaan itu jelas
membuat Geberz keteteran dan segera sadar, bahwa waktunya
sudah tiba. Kekalahan menjelang datang. Pada saat dia sudah
3092
nyaris kehabisan tenaga dan fisiknya sudah terkuras habis oleh
pertarungan panjang, lawan ternyata masih menyimpan ilmu dan
tenaga yang hebat. Kekalahan sudah mulai membayang, dan
Geberz segera menyadarinya, sehingga langkah mujijatnya mulai
tidak mujijat dan mulai tidak cukup ampuh lagi. Sudah berapa kali
dia nyaris termakan pukulan lawan, tetapi memang kekuatannya
sudah sungguh-sungguh terkuras.
Pada sebuah kesempatan, Panglima Arcia mencegat langkah dan
gerak mujijat Geberz dengan dua gerakan hebat, yakni sebuah
kombinasi jurus Kui-ong-pat-hwee (Raja setan mengendalikan
api) dengan jurus Lui-tong-ban-bu (Halilintar menggoyangkan
selaksa benda). Jurus dan gerakan pertama, dia mengerahkan
kekuatan besar dengan mengurung seluruh jalan keluar Geberz
dengan kekuatan hawa pukulan maha panas. Bersamaan dengan
itu, diapun mempersiapkan sebuah pukulan hebat ketika Geberz
kebingungan memilih arah untuk menyembunyikan diri dari
kepungan hawa panas itu. Kombinasi kedua jurus itu, mau tidak
mau membuat Geberz kembali harus beradu dua kali pukulan
dengan Panglima Arcia dengan jurus Houw-siau-san-lim
(Harimau bersiul di gunung dan di hutan). Dan hebat akibatnya,
dua kali mereka adu kekuatan:
“Dukkk, Dukkkk.....”
3093
Lie Hu San maupun Koay Ji sampai bergidik membayangkan
benturan pukulan kedua tokoh itu, karena maklum, Geberz sudah
teramat repot dan sulit keadaannya. Sudah terkuras fisik dan
iweekangnya, juga emosinya. Jelas adu pukulan seperti itu
merugikannya, tetapi keduanya sama melihat betapa dengan
cerdik Panglima Arcia membangun kondisi dimana Geberz tidak
mungkin menghindari adu kekuatan itu. Tidak sempat dan tak
mampu lagi.
Memang Geberz belum kalah, tetapi akibat benturan tersebut, dia
terdorong sampai tiga langkah ke belakang dan untungnya, gerak
mujijat yang melekat di memorinya menyelamatkan keadaannya.
Gerak dan jurus yang memang sudah menyatu dengan dirinya,
karena terlatih dan sering menyelamatkannya dalam keadaan
yang berbahaya. Tetapi, dalam cara yang sama, setelah kurang
lebih 7 atau 8 jurus lagi kedepan, kembali mereka adu pukulan.
Atau tepatnya, kembali terjadi kondisi atau keadaan dimana mau
tidak mau Geberz harus melawan dan menahan kembali pukulan
Panglima Arcia. Karena seperti kejadian sebelumnya, dia
kehabisan jalan menghindar dan harus menangkis pukulan lawan.
Dan keadaan tersebut berulang nyaris setiap kurang dari 10 jurus
serangan, sehingga semakin lama semakin sering mereka adu
kekuatan pukulan.
3094
Memang harus dipuji seorang Geberz, yang meski sudah tua
namun masih mampu meladeni Panglima Arcia yang baru
bersusia 50 tahunan. Tetapi setelah kembali mereka adu pukulan
yang kesekian kalinya, kini dia terdorong mundur dan mulai
terhuyung-huyung. Tidak lagi terdorong mundur, tetapi mundur
dan kesulitan dalam mengontrol tubuhnya yang terkena
hempasan kekuatan lawan. Maklum, dia harus terdorong sampai
6,7 langkah dan dengan kondisi yang semakin lama semakin
menyedihkan. Dan, ketika dia terhuyung-huyung, kelihatannya
Geberz sudah mulai terluka di bagian dalam tubuhnya. Geberz
tentu menyadarinya dan Panglima Arcia juga sudah bisa melihat
keadaan lawan yang semakin tidak mampu meladeninya.
Beberapa kali adu pukulan dipaksakan Panglima Arcia, dan
semakin lama itu makin membuat geberz menderita dan akhirnya
terluka. Sampai pada posisi itu, Panglima Arcia memberi
kesempatan dengan berkata:
“Geberz, menyerahlah dan ikut kami ke Persia.....” serunya
membuka kesempatan namun nada suaranya tegas.
“Menyerah kepadamu....? hhhhhh, haram kulakukan...” desis
Geberz murka ketika Panglima Arcia menawarinya untuk
menyerah. Sebuah penghinaan atas nama besar yang sudah dia
3095
pupuk bertahun-tahun. Menyerah adalah penginaan baginya,
adalah pencorengan atas prestasinya.
Panglima Arcia sendiri sebenarnya sadar bahwa sukar memang
membuat Geberz menyerah. Tetapi, dia masih ingat jika ini di
Tionggoan, dan dia tidak ingin terjadi hubungan buruk dengan
kawan-kawannya di Tionggoan. Karena menganggap para
kawannya, maka bujukan dia keluarkan, meski tahu Geberz akan
menolaknya. Karena itu, diapun mulai mempersiapkan diri
melakukan penyerangan terakhir dan bisa dipastikan bakalan
dapat mengakhiri pertarungan itu. Koay Ji dan Lie Hu San dapat
melihat jelas bahwa Panglima Arcia sudah mengambil keputusan.
Keputusan yang menentukan bagi Geberz.
“Dia akan segera melakukannya, engkau perlu melihatnya secara
jelas, karena ini pasti akan sangat menarik untukmu....” desis Lie
Hu San meski Koay Ji merasa heran, apanya yang menarik.
Bukankah keadaan dan kondisi Geberz memang sudah terdesak
dan tinggal durobohkan?
Tetapi pada saat itu Panglima Arcia sudah bergerak menyerang
dengan cepat dan kokoh. Yang menarik adalah, pertama kedua
belah telapak tangannya yang seperti memancarkan pijaran dan
kilat yang berwarna keputihan. Sebuah puncak kekuatan hawa
3096
panas yang mampu menggeletarkan lengan pemukulnya dan
tentunya teramat panas karena mengeluarkan pijaran yang amat
menggetarkan itu. Kemudian hal kedua yang menarik adalah
langkah kaki Panglima Arcia yang bergerak melingkar dan
bergerak seperti lenggang-lenggok seekor ular dan mendekati
lawannya dengan cepat dan mengelilinginya. Kemudian, entah
dari mana kedua lengannya akan dia gunakan untuk segera
menyerang dan menyengat lawan, tetapi pastilah sengatan
tersebut bakalan membahayakan dan menentukan.
Geberz bergerak menghindar, tetapi sayang sudah kehilangan
kecepatan, sehingga dengan mudah, gerak bagai ular dari
Panglima Arcia kembali mendekatinya dan kemudian
mengancamnya. “Ini hebat, mungkin ilmu ayam emas dan ilmu
monyetku harus disempurnakan sehingga bisa sehebat ilmu
Panglima Arcia ini....” desis Koay Ji dalam hati dan
memperhatikan serangan panglima Arcia dengan amat teliti.
Sama dengan yang juga sedang dilakukan oleh Lie Hu San yang
berdiri tepat di samping Koay Ji dan menikmati tarung hebat itu.
Mereka berdua tenggelam dalam kondisi menganalisis,
sementara Geberz semakin kesulitan dan terdesak, sedang
Panglima Arcia terus menganalisis arah lawan menghindar.
Sebagian besar dapat ditebak dan berakhir buruk bagi Geberz
3097
yang keadaannya semakin memburuk, sudah semakin terdesak
dan tidak akan lama pasti terkalahkan. Lukanya semakin lama
semakin parah dan mulai menghambat gerakannya.
Gerakan-gerakan bagai ular yang cepat luar biasa, selalu
bergeser sendiri, dan sepertinya kaki tidak melangkah namun
bergeser sendiri, membuat gerak langkah mujijat Geberz yang
sudah melamban mulai tidak effektif. Dalam keadaan terdesak
seperti itu, mau tidak mau Geberz haruslah juga melindungi diri
dengan memukul atau menangkis jurus serangan lawan. Tetapi,
kali ini dia meringis kesakitan karena puncak kekuatan Panglima
Arcia yang sudah dia lepas dan digunakan menyerang Geberz
sungguh menyakitinya. Sekali lagi terjadi adu kekuatan yang
terpaksa dilakukan Geberz dan terlihat membuat Geberz terluka,
dan luka itu sudah dapat dilihat dengan mata telanjang oleh Koay
Ji maupun Lie Hu San. Waktunya semakin dekat, Geberz sudah
habis.
“Sudah cukup, kurasa engkau bisa belajar banyak, bukan
mencangkok pelajaran ilmu lawan, tetapi membuka perspektif
bertarung lawan...” masih sempat-sempatnya Lie Hu San
bersabda dan memberi petunjuk.
3098
Koay Ji tidak menjawab karena masih terpaku terhadap
pertarungan yang semakin menuju akhirnya. Geberz sudah jelas
kalah, dalam beberapa pukulan lagi dia sudah mesti menyerah,
bukan karena ilmunya kalah, tetapi karena memang dia sudah
lanjut usia dan teramat lelah bertarung. Selisihnya dengan
Panglima Arcia hanya tipis belaka, tetapi usia tidak akan pernah
berdusta. Dan itu yang terjadi sangat jelas dan menonjol dari
tarung itu. Meskipun, selain itu, tentu saja Panglima Arcia sendiri
memang memiliki kemampuan hebat dalam ilmu silat gaya dan
khas Persia yang sudah dikuasainya secara matang itu.
Tidak lama kemudian, setelah 10 jurus, adu pukulan ketiga
kalinya terjadi dan sudah akan segera dituntaskan oleh Panglima
Arcia yang sudah siap dengan pukulan atau tepatnya totokan
terakhir yang mengakhiri pertarungan itu. Segera setelah Geberz
terdorong ke belakang, gerakan bagai ular Panglima Arcia
bergerak mengiringinya secara cepat, dan belum lagi kedua
lengan Geberz sigap untuk menangkis, sudah datang serangan
keras yang menerpanya. Kedudukan Geberz sudah amat sulit, dia
masih sempat mengibas tanpa kemampuan menghindar, dan
kembali tubuhnya terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung.
Tetapi, karena kekuatannya memang sudah susut teramat jauh,
Panglima Arcia tidak lagi mampu dia dorong ke belakang. Oleh
3099
karena itu, Panglima Arcia tetap mengiringinya yang mundur ke
belakang dan terus mengancam dan menyerangnya.
Geberz sadar bahwa dia sudah kalah. Karena itu, dia
memutuskan untuk menyerang diri sendiri dan menotok ke arah
kepalanya, tetapi Panglima Arcia yang awas dan sudah
menduganya bergerak sangat cepat. Dia mendorong dengan
kekuatan penuh kearah lengan Geberz dan kemudian
memukulnya terkulai ke bawah, dan dengan cepat kemudian
menutup pertarungan itu dengan menotok Geberz. Selesai.
Tokoh hebat asal Persia itu akhirnya berhasil dibekuk lewat
sebuah pertarungan panjang yang sangat melelahkan keduanya.
Panglima Arcia segera menoleh kearah Panglima Ilya dan
Panglima Shouroushi yang cepat bergerak dan tidak lama
kemudian Geberz yang tertotok sudah dalam keadaan tak
berdaya. Selain tertotok, juga sudah dalam belenggu khas Persia
yang terhitung sulit untuk diepaskan, bahkan meski dengan
kekuatan iweekang sekalipun. Terlihat Panglima Arcia berdiri
kokoh, namun keletihan dan kelelahan yang sangat tidaklah dapat
dia sembunyikan. Betapapun, dia menang bukan hanya karena
kehebatan ilmunya, tetapi juga karena kelelahan sangat yang
dialami oleh lawannya. Tetapi, betapapun itu sudah lebih dari
cukup, karena dengan demikian, tugasnya dapat diselesaikan
3100
dengan baik dan boleh dikata berhasil dengan gemilang. Senyum
mengembang dibibirnya tetapi tidak lama karena dia segera sadar
bahwa ada dua tokoh hebat di dekatnya.
“Terima kasih banyak karena kedua sahabat sudah berdiri
membantu sehingga kawan-kawan Geberz tidak berani
memasuki arena ini.....” ucapnya dengan dibantu Panglima Ilya
sebagai penterjemah. Lie Hu San hanya tersenyum dan tidak
berkata-kata kalimat apapun juga. Dia sepertinya secara sengaja
membiarkan Koay Ji yang menjawabnya. Koay Ji awalnya melirik
Lie Hu San yang mengangguk kepadanya, sebagai isyarat untuk
berbicara atas nama mereka berdua yang berhadapan dengan
Panglima Arcia secara langsung.
“Acccch, sungguh pertarungan yang luar biasa.... banyak selamat
karena sudah menyelesaikan missi di Tionggoan, Panglima
Arcia...” ucap Koay Ji yang kemudian diterjemahkan Panglima
Ilya.
“Terima kasih banyak Thian Liong Koay Hiap,,,,,,, undangan dari
Maha Guru atau Guru Agung Bangsa Persia tetap berlaku, kapan
saja engkau memutuskan untuk datang berkunjung ke Persia,
akan kami sambut dengan penuh kemeriahan dan juga penuh
persahabatan.....” ucap Panglima Arcia yang membuat Koay Ji
3101
kaget meski tidak sangat terkejut. Karena ternyata pihak Persia
sudah mengenali dia dan samarannya sebagai Thian Liong Koay
Hiap..... hebat, awalnya dia tidak paham dan tidak melihat ada
tanda mereka sudah mengenali samarannya. Untungnya, kalimat
Panglima Arcia diterjemahkan secara lirih belaka oleh Panglima
Ilya.
“Terima kasih sudah mencoba memahami kesulitanku dalam
penyamaran selama ini, tetapi ada cukup banyak alasan untuk hal
itu. Mengenai UNDANGAN dari Guru Agung Persia, pasti akan
kami penuhi dengan senang hati......” balas Koay Ji juga dalam
nada suara lirih sehingga tidak terdengar oleh orang banyak yang
sedang terus memperhatikan mereka semua.
“Baiklah, Thian Liong Koay Hiap, kamipun mohon diri. Dan ada
satu hal yang ingin kusampaikan, tetapi biarlah melalui tulisan
ini......” berkata Panglima Arcia sambil menyerahkan sebuah surat
kepada Koay Ji yang heran dengan isi surat dan maksud surat
yang disampaikan Tokoh Persia itu.
“Acccchhhh, apa maksud surat ini Panglima......”? kaget Koay Ji
menerima sepucuk surat dari Panglima Arcia, langsung.
3102
“Sebuah kenang-kenangan kecil dari kami.... dan ucapan terima
kasih karena sudah membantu kami selama di Tionggoan. Dan
jika engkau tidak mengunjungi kami di Persia, maka berarti
engkau bukan sahabat kami yang baik......”
“Acccch, pasti akan kukunjungi Persia suatu saat nanti, Panglima.
Tunggulah aku disana, pasti akan datang berkunjung....”
“Baiklah, terima kasih atas persahabatanmu, terima kasih buat
perhatian kalian semua. Pada hari ini juga Liga Pahlawan Bangsa
Persia akan melakukan perjalanan pulang, kembali ke Persia.
Missi dan pekerjaan kami sudah tuntas. Tetapi, sahabat-sahabat
dari Tionggoan akan selalu kami kenang kedepannya.....
sampaikan salam kepada Tek Ui Bengcu....”
Sambil berkata demikian, Panglima Arcia kemudian menurunkan
perintah dan tidak lama rombongan dari Persia kemudian berjalan
pergi dengan membawa serta Geberz sebagai tawanan dan
setidaknya ada 6 atau 7 dari rombongan itu yang mati dalam
tugas. Terutama tewas dalam pertempuran di Pek In San.
Setelah semua mereka memberi hormat kepada Koay Ji dan juga
Lie Hu San, dan menjura kearah seluruh Pendekar Tionggoan
yang masih berada disitu, maka tidak lama kemudian, rombongan
3103
Liga Pahlawan bangsa Persia itupun berjalan pergi. Cukup lama
Koay Ji memandangi rombongan Persia berjalan pergi, sambil
terus memegang surat yang ditinggalkan untuknya. Tetapi dia
masih belum berniat untuk membacanya, karena ada suara yang
disampaikan kepadanya agar membaca surat itu secara pribadi.
Dia baru sadar ketika Lie Hu San berbisik:
“Apa yang engkau pelajari dari pertarungan tadi......”? desisnya
sambil memandang jauh dan bukan memandang mata Koay Ji,
tetapi meski begitu Koay Ji merasakan bahwa pertanyaan itu
penting dan dalam. Karena itu, dia berpikir sejenak kemudian
menjawabnya dalam jawaban serius.
“Ada cukup banyak atau malah terlalu banyak hal yang amat
menarik Locianpwee, dan tentunya sulit untuk dapat diuraikan
dalam waktu yang amat singkat ini” jawab Koay Ji sambil melirik
tokoh hebat yang banyak membantunya itu. Tetapi, Lie Hu San,
tokoh jubah hijau itu tetap memandang jauh kedepan, seakan
jawaban Koay Ji tadi tidak dia dengarkan. Tetapi, bukan demikian
yang sebenarnya, karena segera kembali terdengak kalimatnya;
“Hmmm, tetapi tentu saja ada yang bisa secara khusus untuk
engkau sebutkan bukan.....”? tanya Lie Hu San lagi dengan tetap
tidak memandang matanya, tetapi nada suaranya amat serius.
3104
“Sudah tentu demikian Locianpwee. Jika disebutkan, maka yang
lebih khusus dan juga tentunya hebat adalah, semua yang dapat
kulihat dan juga kucatat tadi, masuk dalam ingatanku, sekarang
semuanya sudah bisa kulupakan. Mengapa demikian, karena
pada akhirnya semuanya itu hanya bisa berguna pada saat dan
waktu yang tepat. Menghadapi situasi sulit, mungkin formula
gerak tadi akan dapat muncul dan kugunakan, dan di waktu yang
juga tepat untuk digunakan demi manfaat yang dapat diprediksi
sejak sangat awal.....” jawab Koay Ji yang juga kini sama
memandang ke kejauhan. Seakan jawabannya keluar begitu saja.
“Melihat, mengingat, mencatat, mengetahui manfaatnya untuk
kemudian mencoba dan bahkan mampu untuk
melupakannya........ engkau sudah lebih dari cukup untuk
kutinggalkan dan kubiarkan terus berkembang. Engkau entah
mengapa, mampu menjadi mutiara yang sanggup menggosok
kotorannya sendiri dan memancarkan kilaunya, cukup dengan
sedikit saja bantuan, dan bahkan kemudian kini semakin
memancarkan sinar gemilangnya. Kemampuan dalam melihat,
mengingat, mencatat dan melupakan yang engkau saksikan tadi,
sesungguhnya adalah tahapan luar biasa yang akan membuatmu
mampu menentukan apa yang tepat pada saat yang juga tepat.
Sesuatu yang terlihat sederhana bukan berarti tidak berguna,
3105
karena justru mampu menjawab pada saat dan waktu yang tepat.
Ilmu dan jurus menjadi relatif, menjadi semua, karena
sesungguhnya setiap saat engkau bisa dan mampu menciptakan
ilmu dan jurus baru. Yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan
yang khusus.... maka, pantas jika pada kesempatan ini
kuucapkan kepadamu ucapan yang juga sederhana, tetapi
penting: banyak selamat anak muda......” panjang serta dalam
sebenarnya makna kata-kata Lie Hu San, disampaikan secara
serius dalam suasana yang lain daripada yang lain.
Meskipun disampaikan dalam cara yang sedemikian anehnya,
tetapi Koay Ji seperti memperoleh pengajaran dan malah
pendidikan yang setara dengan pendidikan dan pengajaran
selama bertahun-tahun. Bukan apa-apa, memang benar, mereka
berdua bercakap biasa saja, tetapi sejak dia diajak mendekati
tarung Geberz melawan Arcia atau Panglima Arcia, dia sudah
merasa ada sesuatu yang aneh. Secara sederhana dan nyaris tak
terasa, Lie Hu San memancingnya menggunakan
kecerdasannya. Baik untuk mengamati, mencatat, menganalisa,
mengingat dan menekankan bagian bagian penting baginya.
Untungnya, dia sangat serius menanggapinya, dan akhirnya
diapun sadar, secara luar biasa dia dididik oleh Lie Hu San,
melalui sebuah cara yang menurutnya snagat luar biasa. Dan jujur
3106
dia menyebutkan: banyak yang dia dapat lihat, catat, ingat,
temukan, tetapi jika diminta menyebutkan dia menjadi LUPA,
tetapi ada dalam pikirannya. Maka dengan tulus dan penuh rasa
terima kasih, Koay Ji kemudian bergumam;
“Terima kasih atas semua bimbingan dan bantuan Locianpwee.
Sungguh tidak dapat kuantisipasi pada bagian awalnya, tetapi
manfaatnya langsung terasa.....” ujar Koay Ji dengan ucapan
terima kasih yang amat tulus, sekaligus menonjolkan kerendahan
hatinya dengan mengakui kehebatan Lie Hu San.
“Hahahaha, engkau terlalu merendah dan menempelkan emas
dimukaku. Tetapi, Hmm, masih ada beberapa tugas berat yang
perlu engkau selesaikan dalam waktu mendatang ini. Dan semua
hal berat tersebut akan berlangsung secara beriringan, entah
bagaimana engkau mengerjakannya satu demi satu. Tetapi, yang
berada di depan matamu adalah menyelesaikan pertikaian
dengan Bu Tek Seng Ong atau sesungguhnya dengan perguruan
Pat Bin Lin Long. Lebh aneh lagi, karena secara mujijat engkau
mewarisi sebagian besar kepandaian tokoh aneh nan mujijat itu.
Hanya, tidak akan ada cara yang lain selain menaklukkan tokoh
utama yang menjadi biang keladinya, seorang tua yang hebat
mujijat dan amat sangat berbakat, namun sayangnya gila dan
sangat ambisius. Bagaimana kelak engkau menyelesaikannya?,
3107
terserah kepadamu, tetapi sudah kusepakati dengan Phoa Tay
Teng, waktunya adalah besok atau mungkin lusa.... pertarungan
dengan gaya dan cara pendekar di Tionggoan. Tetapi, Phoa Tay
Teng dan Lohu tidak akan berada dan tidak akan masuk dan
terlibat dalam pertikaian yang bersifat menentukan itu. Satu hal
patut engkau catat, setelah tarung tersebut sesungguhnya
masalah belum selesai bagimu dan juga bagi perguruan itu, masih
tetap akan ada ekor panjang persoalan yang akan menyeretmu
dan menyertai penyelesaian persoalan itu kelak. Karena itu, tetap
dan teruslah berhati-hati dan jangan pernah puas dengan apa
yang engkau sudah miliki pada hari ini di hari-hari mendatang.
Tetapi satu hal yang pasti, Lohu sudah berhasil membalas budi
kebaikanmu dan karena itu, akan melepasmu ke medan tarung
dengan perasaan sangat bangga, karena kini engkau sudah lebih
dari siap menghadapinya..... nach, Lohu akan mohon diri darimu.
Tetapi sebelumnya perlu untuk sekedar menyapa dan
bercenkerama dengan kaum Khong Sim Kaypang sebelum
meninggalkan tempat ini......”
“Locianpwee.....”
“Cukup Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap...... ada soal, ada
jalan keluar, selalu berpatokan pada skema itu, dengan
mengutamakan keadilan dan kebersihan hati, maka engkau tidak
3108
akan tersesat jalan. Sekali lagi, kebersihan hati. Dan ingat apa
yang lohu sudah tegaskan. Waktu lohu disini sudah selesai, Phoa
Tay Teng tidak akan ikut campur, dia tidak terlibat kegilaan toa
suhengnya meskipun terus menerus diminta untuk membantu
gerakan toa suhengnya. Sisanya, entah bagaimana, harus
engkau yang selesaikan. Meski memang berat, sangat berat,
tetapi dapat engkau carikan jalan keluarnya. Tidak ada masalah
tanpa jalan keluar. Nach, lohu akan berlalu, Phoa Tay Teng juga
akan segera berlalu menyusul, pesan lohu, selesaikan secara
baik........ selamat tinggal....”
Setelah berkata demikian, Lie Hu San segera berlalu dengan
terlebih dahulu pergi menemui para tokoh Khong Sim Kaypang,
juga tokoh-tokoh dan sesepuh Kaypang yang berada bersama.
Mereka bercakap-cakap, dan nampak jelas betapa mereka
semua sangat menghormati Lie Hu San, si pengemis sakti yang
sangat legendaris pada masa lalu itu. Tetapi, mereka tidak lama
bercakap, karena Lie Hu San sudah segera minta diri dan tidak
lama kemudian berlalu. Terlihat jelas betapa kaum Khong Sim
Kaypang dan juga para sesepuh Kaypang sangat menghormati
dan sangat bangga bertemu tokoh bernama Lie Hu San itu.
Sementara itu, sepeninggal Lie Hu San, Koay Ji segera ditemani
dan didatangi oleh Tek Ui Sinkay, sam suheng sekaligus yang
3109
bertugas dan bertindak selaku Bengcu Tionggoan. Tetapi, belum
sempat mereka berdua, atau tepatnya bertiga karena segera
menyusul datang suheng ketujuhnya, Cu Ying Lun, tiba-tiba tanpa
diduga, seorang tokoh tua sudah berada di dekat mereka bertiga.
Dia bukan lain Kakek sakti bernama Phoa Tay Teng, tokoh hebat
yang bertarung dengan Koay Ji beberapa waktu lalu di Thian
Cong San. Koay Ji bisa mengetahui dan meraba kedatangan
Phoa Tay Teng yang begitu datang langsung berkata;
“Urusan disini bagi lohu sudah selesai, pihak Bu Tek Seng Pay
meminta waktu untuk pertarungan terakhir pada selambatnya dua
atau tiga hari kedepan. Pertarungan itu bersifat penentuan bagi
semuanya. Mereka akan mengirim kabar secepatnya, dan seperti
juga Lie heng tadi, maka tugas lohupun sudah selesai. Karena itu,
selesaikan yang perlu diselesaikan secara jantan dan tidak
mengorbankan banyak pihak yang sebenarnya tidak bersalah dan
hanya ditekan serta dipaksa. Lohu mohon diri. Untuk engkau anak
muda, kemajuanmu sungguh hebat, bahkan toa suheng sampai
terluka parah menghadapimu...... tapi, baik-baiklah menjaga diri”
kata-kata yang setengah bersifat pujian disampaikan kepada
Koay Ji dengan tatap mata kagum, selain juga beberapa informasi
menyampaikan penyelesaian dengan pihak Bu Tek Seng Pay. Hal
yang sama dan juga ada dalam pikiran Koay Ji dan kedua
3110
suhengnya, sehingga mau tidak mau Koay Ji mengangguk saat
tokoh tua itu berlalu.
“Terima kasih atas bantuan Phoa Locianpwee, semoga kami bisa
menyelesaikan semuanya dengan cara sebijaksana mungkin”
jawab Koay Ji yang disampaikan lewat ilmu mengirimkan suara.
Tetapi, setelahnya tidak ada jawaban dari Phoa Tay Teng, karena
dia sudah pergi jauh. Telinga tajam Koay Ji masih menangkap
suara lirih di telinganya: “Lohu percaya kepadamu anak muda....”
Sebagaimana Lie Hu San, Phoa Tay Teng juga pergi setelah
menyelesaikan semua urusan dengan pihak Bu tek Seng Pay,
yang memang memiliki hubungan perguruan dengan dirinya. Dan
sekarang, kakek itu sudah berkelabat pergi dan sebentar saja
bayangannya sudah tidak nampak lagi. Phoa Tay Teng pergi
meninggalkan Lie Hu San yang masih bercakap beberapa saat
dengan pihak Khong Sim Kaypang dan kemudian juga menyusul
berlalu. Koay Ji tercenung dan bertanya-tanya, seperti apakah
gerangan hubungan antara Lie Hu San, tokoh hebat yang terlihat
seperti masih berusia muda atau pertengahan itu, dengan Phoa
Tay Teng.
Kedua tokoh itu jelas tokoh tua yang punya kepandaian mujijat,
dia sendiri kesulitan ketika bertarung melawan Phoa Tay Teng
3111
dan sangat sadar bahwa Lie Hu San, bahkan kemunkinan besar
masih lebih hebat lagi dibanding Phoa Tay Teng. Kedua tokoh
hebat itu, bersama dengan kakek tua lawannya tadi yang
membuatnya terluka parah, adalah tokoh-tokoh seangkatan.
Bahkan juga seangkatan dengan Suhunya sendiri, juga
kemungkinan dengan Lam Hay Sinni. Pusing juga Koay Ji
memikirkan semuanya, hubungan kedua tokoh tadi, tetapi
kebingungannya buyar karena tidak lama kemudian sam
suhengnya Tek Ui Sinkay bertanya;
“Siauw sute, bagaimana sekarang? apakah lukamu tidak lagi
berhalangan dan sudah sembuh kembali.....”? tanya Tek Ui
Sinkay agak khawatir meski dia melihat sesugguhnya sutenya itu
sudah sehat kembali. Hal yang sesungguhnya sangatlah
menyenangkannya, melihat siauw sutenya sudah sembuh. Bukan
apa-apa, Koay Ji baginya sama dengan anaknya sendiri, tetapi
sekarang bertumbuh s ebagai tempat dia bertanya dan bertukar
pikiran. Selain sandaran utama untuk menyelesaikan kisruh di
rimba persilatan Tionggoan.
“Sesungguhnya sejak awal sudah sehat kembali suheng, dengan
air dari guci perak lukaku sudah sembuh, tetapi mumpung ada Lie
Locianpwee, jadi kumanfaatkan sekalian untuk memulihkan
semangat dan fisikku. Jangan khawatir, sudah tidak ada
3112
halangannya sama sekali suheng..” Koay Ji maklum, bahwa
keadaan dan kesehatan dirinya penting bagi sam suheng. Bahkan
dia juga sadar bagaimana kasih dan juga perhatian sang suheng
kepada dirinya, hal yang dia rasakan berlangsung bahkan sejak
dia masih kecil.
“Syukurlah jika memang demikian..... kita masih memiliki waktu
yang cukup, yakni selama 2 atau 3 hari kedepan untuk sebuah
persiapan pertarungan satu lawan satu. Dan kita akan amat perlu
mempersiapkan siapa-siapa yang kelak akan turun tanding
dengan mempertimbangkan lawan-lawan yang kemungkinan
turun gelanggang guna mewakili pihak Bu Tek Seng Pay.....”
berkata Tek Ui Sinkay yang sudah mulai memikirkan pertarungan
puncak.
“Benar suheng, lebih baik kita menarik semua kekuatan dan
beristirahat secukupnya sambil mempersiapkan diri. Rasanya,
kekuatan kita cukup memadai untuk melawan mereka dalam
pertarungan yang adil, satu lawan satu, jadi janganlah terlampau
khawatir. Meskipun memang di pihak mereka, masih sangat
mungkin tetap ada tokoh tersembunyi yang masih belum lagi
keluar dan turun tangan. Tetapi, selama dua hari ini, biarlah akan
kukerjakan yang terbaik bagi mereka yang kelak akan turun
bertarung melawan kekuatan Bu tek Seng Pay mereka itu.....”
3113
berkata Koay Ji sambil menyarankan menarik semua pendekar
dan beristirahat sambil memikirkan strategi pertarungan kedepan.
“Hmmm, Phoa Tay Teng di pihak mereka, jika beliau bergabung
bakalan sangat berbahaya, tetapi untungnya kita juga memiliki Lie
Locianpwee. Ngomong-ngomong, bagaimana engkau sampai
mengenal sesepuh Khong Sim Kaypang yang sangat legendaris
itu sute...”? bertanya Tek Ui Sinkay dalam nada penasaran.
Apalagi dia melihat betapa Lie Hu San seperti sangat perhatian
dan memperlakukan Koay Ji dalam cara yang sangat istimewa.
“Sesungguhnya, Lie Locianpwee sudah berkali-kali membantuku
suheng, hanya saja dia melakukannya secara rahasia dan secara
diam-diam. Akan tetapi, menjelang “kepergian” Suhu, dia orang
tua sudah sempat menjelaskan bahwa Lie Locianpwee itu adalah
seorang “sahabat” Suhu, dan dia pastilah tidak akan mungkin
memiliki berniat buruk kepada kita sebagai murid Suhu.....” jelas
Koay Ji antara menjawab dan juga tidak menjawab apa yang
ditanyakan Tek Ui Sinkay. Tetap saja Tek Ui Sinkay merasa
sangat penasaran.
“Hmmmm, sama saja engkau tidak menjawab pertanyaanku
sute....” desis Tek Ui Sinkay yang menggerutu namun maklum,
karena sutenya sudah membawa-bawa nama SUHU mereka. Hal
3114
yang bermakna bahwa, tidak bisa ada pertanyaan lebih jauh
mengenai tokoh yang dikenal sebagai LIE HU SAN itu. Baik
identitasnya maupun hal-hal lain terkait tokoh itu. Tek Ui Sinkay
sendiri hanya tahu serba sedikit mengenai tokoh itu melalui
informasi dari pihak Khong Sim Kaypang. Karena bagaimanapun
tokoh itu, ternyata masih punya kaitan secara tidak langsung
dengan sejarah panjang Kaypang mereka itu. Sebagai Pangcu
Kaypang, tentunya dia tahu kisah Khong Sim Kaypang, dan
bahwa Lie Hu San adalah salah satu pemimpin yang legendaris
dari perkumpulan rahasia kaum pengemis yang selalu membantu
dan perhatian dengan keselamatan kaum Kaypang.
“Maaf suheng, tetapi sesungguhnya, pengetahuanku tentang Lie
Locianpwee itu memang masih serba terbatas. Kenyataan bahwa
beliau beberapa kali membantu, adalah benar, namun juga
dengan memperkenalkan diri secara terbatas. Dan lagi, Suhu
sendiri juga tidak cukup banyak menceritakan mengenai
keberadaan serta juga identittas tokoh itu. Itulah sebabnya,
tidaklah dapat kukisahkan hal yang lebih dari yang mampu
kusampaikan kepadamu suheng.....” berkata Koay Ji saat dia
paham dan mengetahui bahwa sam suhengnya sadar bahwa dia
memang tidak banyak berbicara mengenai tokoh yang dipanggil
sebagai Lie Locianpwee tadi. Meskipun sesungguhnya, dia
3115
memang paham beberapa hal yang lebih detail, tetapi diapun
masih merasa belum waktu yang tepat untuk membuka hal-hal
yang sudah dia tahu terlebih dahulu itu.
“Hmmm, baiklah sute, jika memang demikian, mari.... sudah
saatnya kita menemui dan membicarakan rencana kita dengan
kawan-kawan pendekar yang lain. Arena tarung nanti, jauh
berbeda dengan yang baru saja kita lalui, dan jelas membutuhkan
kesiapan yang lebih berbeda.....”
“Baik, mari suheng.....” Koay Ji kemudian mengikuti Tek Ui Sinkay
dan juga suheng yang lain, Cu Ying Lun yang tidak banyak bicara
sejak awal. Tetapi, Cu Ying Lun tetap memperhatikan percakapan
kedua saudara seperguruannya itu, serta paham tentang tokoh
yang baru saja berlalu itu.
Ketiga orang saudara seperguruan itu akhirnya melangkah
mendekati rombongan para pendekar yang memandang dari
jarak seratus-meteran dari posisi mereka tadi. Memang,
sebagaimana pesan Koay Ji, Tek Ui Sinkay melarang siapapun
mendekati arena pertempuran Geberz melawan Panglima Arcia.
Selain, dia sendiri juga sudah memperoleh bisikan Lie Hu San
untuk tidak datang mendekat ke arena yang sangat berbahaya itu.
Itu sebabnya, hanya Tek Ui Sinkay dan Cu Ying Lun yang datang
3116
mendekat ke arena setelah Lie Hu San akhirnya meninggalkan
tempat itu. Maka, ketika mereka bertiga kakak beradik
seperguruan akhirnya datang untuk berkumpul bersama dengan
para pendekar, segera laporan datang disampaikan kepada Tek
Ui Sinkay sebagai Bengcu Tionggoan;
“Lapor Bengcu, mereka, Bu Tek Seng Pay, menggunakan rumah
terdekat ke tebing di belakang gunung dan semua lokasi lain
sudah bersih dari anak buah Bu Tek Seng Pay. Semua anak
murid Pek Lian Pay dan Utusan Pencabut Nyawa yang menyerah,
sudah pada berlalu dan turun gunung sambil memberikan janji
mereka untuk tidak melakukan kejahatan lagi kedepan.....”
“Hmmm, baiklah. Apakah seluruh jalan keluar dari gunung ini
sudah dijaga secara ketat dan dengan kekuatan yang cukup
memadai....”? tanya Tek Ui Sinkay yang langsung masuk ke
persoalan bagaimana menjaga setiap celah agar tidak ada tokoh
lawan yang meloloskan diri.
“Tidak ada lagi celah untuk turun gunung, karena semua kekuatan
kita sudah berada di posisi yang mungkin menjadi jalan mereka
melarikan diri. Selain itu, jalan turun dari Markas inipun, memang
sangat terbatas....”
3117
“Baik, jika demikian, sebaiknya saat ini kita gunakan untuk segera
beristirahat. Tetapi, siapkan segera kelompok pengintai dan
kelompok mata-mata untuk dapat selalu mengawasi dan
mengetahui semua gerak-gerik pihak lawan dan laporkan
perkembangannya setiap satu jam....”
“Baik bengcu.....”
Tidak lama kemudian arena yang tadinya menjadi pertarungan di
markas Pek Lian Pay yang digunakan juga sebagai markas Pek
Lian Pay menjadi sepi. Tidak banyak mayat di arena itu, berbeda
dengan arena pintu masuk dan pintu penjagaan yang memakan
korban ratusan nyawa. Tetapi, pertarungan di dalam markas Bu
Tek Seng Ong lebih berimbang dan lebih hebat, karena
melibatkan tokoh-tokoh puncak yang memiliki kepandaian sangat
tinggi. Tanpa diperintah, semua mayat yang menjadi korban di
semua arena sudah dibersihkan oleh kelompok Kaypang yang
bertindak sebagai pendukung utama Bengcu Tionggoan.
Hanya tinggal beberapa gedung megah yang tertinggal, dari
puluhan yang dibangun, hanya tinggal 6 atau 7 gedung belaka
yang tertinggal dan tidak terbakar. Gedung gedung tersebut kini
digunakan oleh dua pihak yang bertikai, 5 gedung yang dekat
dengan tebing, luput dari pembakaran karena jauh di dalam, dan
3118
dua lainnya ada di dekat hutan. Dan dua yang tersisa kini
digunakan oleh kaum pendekar, sementara kelompok Bu Tek
Seng Pay menggunakan 3 gedung lainnya yang tertinggal.
Semua itu sesuai dengan laporan yang masuk kepada Tek Ui
Sinkay yang kebetulan juga Koay Ji berada disana;
“Para tokoh utama lawan mendiami gedung megah dekat dengan
tebing, sementara sisanya menggunakan dua gedung lainnya
yang berada dekat dengan gedung dimana para tokoh mereka
tinggal” demikian laporan kepada Tek Ui Sinkay selepas makan
malam, dan didengar oleh semua tokoh utama Kaypang, Hoa San
Pay, Kun Lun Pay, Siauw Lim Sie serta Khong Sim Kaypang yang
masih tinggal. Juga berada disana para pendekar muda yang
berlelah memimpin dan melakukan perlawanan atas para
gerombolan Bu Tek Seng Pay. Laporan tersebut terhitung yang
kedua kali kepada Tek Ui Sinkay, dan setiap jam selalu ada yang
masuk memberikan laporan kepada sang Bengcu.
“Hmmm, apakah ada pergerakan lain dari pihak mereka sejak
sore hingga malam ini....? atau mereka semua sedang beristirahat
menunggu hari pertarungan yang sudah ditetapkan bersama....”?
tanya Tek Ui Sinkay setelah mendengarkan laporan terakhir
perkembangan di pihak lawan.
3119
“Tidak ada Bengcu, ketiga gedung yang mereka diami, duanya
sunyi senyap dan tidak ada pergerakan, sedangkan gedung
ketiga cukup ramai. Tetapi, sampai saat ini tidak ada satupun dari
mereka yang terlihat meninggalkan gedung, semua saat ini
nampaknya sedang istirahat.....”
“Hmmm, baiklah........ satu jam lagi, kutunggu laporan
selanjutnya....” perintah Tek Ui Sinkay kembali kepada anak
buahnya.
“Baik bengcu.....”
Demikianlah, setiap satu jam kedepan, laporan mengenai
keadaan gedung lawan selalu disampaikan. Tetapi sampai besok
harinya, tetap tidak ada laporan bahwa ada pergerakan di pihak
lawan. Bahkan hingga laporan terakhir di pagi harinya, juga tetap
saja sunyi sepi, dan tetap belum terlihat ada satu pergerakan di
pihak lawan. Pelapor menyimpulkan mereka sedang beristirahat.
“Bagaimana sute....”? tanya Tek Ui Sinkay dengan berbisik
setelah para pelapor dan pengintai beranjak keluar. Dia
menginginkan analisis Koay Ji atas perkembangan terakhir
dimana lawan sedang berdiam diri. Hal yang sebenarnya tidak
biasa, tetapi mereka tidak tahu apa yang sednag terjadi.
3120
“Memang sedikit mencurigakan, tetapi kita tidak memiliki
informasi yang lengkap dan detail apa yang sedang mereka
lakukan dalam gedung itu.....” desis Koay Ji yang terlihat sedang
memikirkan sesuatu, dia ingin berkata lebih jauh tetapi terihat
batal dan kemudian memilih melirik sam suhengnya dan
kemudian melanjutkan lagi perkataan dan analisanya,
“Biarlah besok saja kita intai apa yang sedang mereka lakukan.
Karena dalam keadaan seperti sekarang ini, tidak akan ada yang
mau dan dapat mereka lakukan selain beristirahat. Kurasa, besok
baru mereka akan mulai berunding, yang penting buat kita adalah,
selalu ada yang mengintai dan melihat apa yang sedang dan akan
mereka lakukan di markas mereka saat ini.....”
“Benar sute, dan kita juga membutuhkan istirahat malam ini.
Biarlah perundingan kita lakukan besok saja...... bagaimana cuwi
sekalian...”? tawar Tek Ui Sinkay yang segera disetujui semua
orang, dan tidak lama kemudian, tempat pertemuan yang cukup
mewah itupun hening.
Tetapi, tidak sepenuhnya demikian dengan beberapa ruangan
yang lain, termasuk ruangan dimana Koay Ji beristirahat. Karena
tidak berapa lama setelah dia masuk ke kamar yang sangat besar
dan luas, meski tidak seluas kamar Tek Ui Sinkay suhengnya,
3121
tiba-tiba ikut menerobos masuk Siauw Hong, adik angkatnya.
Tanpa berkata apa-apa, dia masuk mengikuti Koay Ji, dan di
belakangnya ikut dengan ragu Bun Kwa Siang. Koay Ji hanya
melirik sejenak mereka berdua, tidak berkata apapun dan tidak
melarang keduanya untuk masuk ke ruangannya, karena
memang dia perlu berkata dan bercakap dengan kawankawannya.
Dia bahkan tahu, sebentar lagi pastilah Tio Lian Cu,
Sie Lan In, Khong Yan juga akan menyusul mencarinya. Karena
memang, dia yang paling banyak tahu apa yang sudah dan telah
terjadi sepanjang pertarungan hebat siang tadi.
“Toako,,,,,, bagaimana keadaanmu...“ beum lagi selesai
pertanyaan Siauw Hong, Koay Ji sudah memberi isyarat agar
diam, karena dia tahu sebentar lagi ada orang lain lagi yang akan
memasuki ruangannya. Dan memang benar demikian, karena tak
lama kemudian Sie Lan In bersama Tio Lian Cu, Khong Yan dan
bahkan Bun Siok Han sudah memasuki ruangannya. Mereka
seperti sudah bersepakat terlebih dahulu sebelum datang
mengunjungi Koay Ji.
“Nach, aku akan menjawab pertanyaanmu Hong moi, karena pasti
semua datang untuk salah satunya karena pertanyaan yang
engkau ajukan tadi itu. Selain tentunya ada pertanyaanpertanyaan
yang lain seputar bagaimana dan apa yang akan kita
3122
kerjakan besok atau mungkin dua hari kedepan. Hal yang tentu
saja tergantung apa dan bagaimana mereka akan melakukan
pertarungan itu pada waktu yang mereka tetapkan nanti..... tetapi,
kita memang mesti bersiap, entah besok atupun kapan mereka
mengatakan siap melakukan pertarungan yang menentukan....”
jawab Koay Ji dengan masih tetap menggantung.
Semua saling pandang, Sie Lan In memandang Siauw Hong yang
sedang dalam tatapan penuh tanya kepada Koay Ji. Dan Tio Lian
Cu , Khong Yan dan yang lain juga sama, mereka memang benar
datang untuk mencari tahu apa yang terjadi dan bagaimana
sebaiknya mereka menghadapi perkembangan terakhir. Dan
kepada Koay Ji mereka semua sepakat untuk mencari
jawabannya. Karena mereka sadar dan tahu betapa Tek Ui
Sinkay, meski sejatinya adalah SAM SUHENG dari Koay Ji dan
bahkan adalah bengcu Tionggoan, tetapi nyaris selalu bercakap
dan berdiskusi dengan Koay Ji sebelum mengambil keputusan.
Karena itu, tidak peru kemana-mana untuk mencari tahu keadaan
yang sebenarnya, cukup datang dan menemui Koay Ji, dan
mereka akan beroleh informasi,nya.
“Baiklah, bagaimana jika toako yang baik dan maha pintar mulai
saja menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan juga kira-kira
apa yang akan terjadi nantinya... dan bagaimana sampai toako
3123
yang sangat lihay luar biasa tenryata masih bisa terluka dan nyaris
tewas tadi itu....”? kejar Siauw Hong yang memang penasaran
dengan apa yang terjadi siang tadi. Semua jadi tersenyum,
termasuk Sie Lan In, karena juga itu adalah pertanyaannya.
“Sebetulnya semua sudah kami perhitungkan hong moy. Sejak
sangat awal, enci Sie dan toakomu ini sudah menghitung berapa
lama waktu yang dibutuhkan sampai semua kekuatan kita masuk
ke markas lawan. Yang berada di luar perkiraan adalah, ternyata
Rajmid Singh dan kakek tua itu bisa bekerja-sama sehingga
membuatku terluka. Untungnya ada kawan-kawan monyet yang
mengganggu si penyihir itu dan memberiku cukup waktu sampai
akhirnya kakek Mindra muncul. Jika tidak, memang keadaan kita
teramat sangat berbahaya. Meskipun demikian, tetap saja ada hal
yang menggembirakan bagi pihak kita, yakni kita semua sudah
mengenali kekuatan utama pihak musuh dan jika saatnya tiba
kelak, kita bisa mengukur kekuatan lawan sehingga pertarungan
nanti kita memiliki peluang lebih besar untuk menang. Yakni
dengan mengalahkan dan sekaligus menghancurkan kekuatan
Bu Tek Seng Ong hingga ke tokoh-tokoh utama dan andalan
mereka. Tapi, janganlah dulu bertanya bagaimana
pengaturannya, karena hal itu adalah wewenang Tek Ui Bengcu
untuk mengaturnya kelak bagi kita semua......” Koay Ji
3124
menjelaskan dengan suara jernih dan didengar semua yang
datang menemuinya.
“Tapi toako, memang benar-benarkah kakek tua lawanmu itu
memang sehebat itu dan sampai mampu melukaimu...”? tanya
Siauw Hong penasaran, karena baginya, Koay Ji adalah manusia
terhebat. Pandangan Kang Siauw Hong terhadap Koay Ji
memang sangatlah berlebihan, tetapi wajar, karena apapun dan
bagaimanapun buat gadis itu, toakonya adalah yang terhebat.
“Sesungguhnya memang demikian, kemampuannya masih di
atas Phoa Tay Teng, dan kemungkinan memiliki tingkat sehebat
Suhu dan juga Lie Locianpwee, manusia berjubah hijau yang juga
tokoh hebat itu....” jawab Koay Ji yang membuat semua orang
disitu terhentak kaget.
“Koay Ji, memang benarkah demikian....”? tanya Sie Lan In kaget
dan membutuhkan penegasan atas apa yang baru saja dia
dengar. Sie Lan In sendiri, setelah menjadi kekasih Koay Ji,
memang memandang kemampuan Koay Ji sebagai yang
terhebat, meski dia sendiri adalah tokoh hebat. Begitulah cinta,
orang yang dicintai cenderung akan ditinggikan, dianggap hebat.
Paling hebat jika perlu. Apalagi, Koay Ji memang mempunya
potensi seperti itu.
3125
“Memang benar demikian Sie Suci, dan malam ini harus
kupikirkan secara detail bagaimana kelak menghadapinya......
karena belum kumiliki cukup keyakinan untuk dapat
mengalahkannya dalam pertempuran satu lawan satu kelak.
Sejujurnya, dia terlampau hebat, kemampuan iweekangnya
sudah sempurna.....” desis Koay Ji dan sekali lagi menyentak
semua orang disitu.
“Ooooh sehebat itukah dia....”? desis Siauw Hong antara percaya
dan tidak percaya dan seterusnya keadaan dan suasana menjadi
hening. Tentu saja semua agak kaget mendengar penjelasan
Koay Ji mengenai kakek tua lawannya itu.
“Benar-benarkah engkau belum dan tidak akan mampu
mengalahkan kakek tua itu suheng”? tanya Khong Yan yang juga
sama kagetnya mendengar bahwa lawan Koay Ji ternyata
memang hebat.
“Hmmm, untuk mengalahkannya biarlah kupikirkan selama waktu
yang tersedia, tapi persoalan yang kita hadapi bukan hanya dia
Khong sute. Rajmid Singh adalah tokoh setingkat dengan dia, tadi
dia tidak mampu berbuat banyak karena dilibas oleh Mindra
dalam imu sihir. Tapi jika dia tampil dalam pertarungan kelak,
maka kita akan kerepotan menghadapinya, kemampuannya
3126
setara dengan kakek tua lawanku itu. Selain mereka berdua, ada
tokoh lain akan dapat kita hadapi dalam keadaan imbang atau
jikapun menang sangatlah tipis. Selain mereka berdua, sedikit
dibawah mereka berdua adalah Bu Tek Seng Ong, pemimpin Bu
tek Seng Pay yang tingkatnya juga sudah amat hebat dan sudah
amat tinggi....” jelas Koay Ji.
“Acccch, bukankah jika demikian untuk mengalahkan mereka kita
masih belum cukup kuat dan belum cukup orang....”? tanya Tio
Lian Cu yang juga ikut merasa penasaran dengan kekuatan
lawan.
“Sesungguhnya mereka memang amat kuat Tio kouwnio, selain
ketiga tokoh tadi, mereka juga masih memiliki tokoh-tokoh hebat
lainnya. Tokoh-tokoh seperti Liok Kong Djie, Mo Hwee Hud dan
Sam Boa Niocu dipihak mereka juga sangat hebat, tetapi akan
dapat kalian hadapi. Karena itu waktu yang tersedia sekarang,
adalah waktu yang harus dimanfaatkan untuk mempersiapkan diri
kalian menghadapi lawan-lawan itu. Sedikit waktu yang ada,
haruslah kita manfaatkan meningkatkan kemampuan kalian
semua. Karena hanya pemenang dalam pibu penentuan yang
memungkinkan kita untuk dapat menang dan membubarkan Bu
tek Seng Pay yang culas itu. Untuk saat ini, ketiga lawan berat
harus kita carikan lawannya, kakek tua lawanku, Rajmid Singh
3127
dan Bu Tek Seng Ong. Tek Ui Bengcu menyerahkan kepadaku
untuk mengurus pibu itu kelak, tetapi kita semua yang akan
menghadapi tokoh-tokoh itu: Liok Kong Dji haruslah dihadapi oleh
Tio Lian Cu, karena dia berasal dari Hoa San Pay. Mo Hwee Hud
akan dihadapi Khong Yan, karena ada persoalan perguruan yang
mesti mereka selesaikan. Sam Boa Niocu yang sakti dan beracun
biar akan dihadapi oleh Kim Jie Sinkay. Lawan yang lain, akan
kita perhitungkan siapa yang akan menjadi lawan sepadannya,
nach, waktu dan kesempatan yang ada, sebaiknya kita
manfaatkan sebaik-baiknya.....”
Semua mendengarkan dengan hikmat dan tanpa menyela saat
Koay Ji menjelaskan serta membeberkan apa dan bagaimana
yang akan mereka lakukan kedepan. Tapi, mereka masih tetap
terdiam meski Koay Ji sudah berhenti berbicara, dan karena itu
Koay Ji kemudian memandangi mereka satu persatu. Terutama
memandangi Sie Lan In dan Siauw Hong yang masih belum
ditentukan siapa yang akan mereka hadapi kelak. Keduanya tidak
berbicara atau belum berbicara, tetapi karena mereka berdua
sudah memasrahkan saja kepada Koay Ji memutuskan apa yang
mereka akan lakukan kelak. Karenanya, mereka berdua tenang
saja sikapnya. Keadaan tersebut terus berangsung hening,
3128
sampai akhirnya Koay Ji yang kemudian kembali berbicara
kepada mereka semua:
“Sebaiknya kita tidak berdiskusi lebih panjang malam ini, tetapi
pesanku kepada kita semua: Tio kouwnio, lawanmu jelas masih
lebih unggul dalam pengalaman dan kematangan iweekang.
Sempurnakan gerak langkah dan juga kegesitanmu, ini yang akan
menentukan kemenanganmu kelak. Bekal Sam Ciang Hian Bun,
jika dimainkan pada saat yang tepat dan cepat, dengan dorongan
ilmu gerak yang sempurna akan menentukan kemenangan......
Khong sute, engkaupun sudah maju cukup jauh dan memiliki
potensi mengalahkan Mo Hwee Hud. Yang perlu dan dapat
engkau lakukan saat ini adalah menyempurnakan jurus-jurus
serangan dan memadukannya dengan Ilmu gerakmu. Kalian
berdua akan bertarung lama dan juga panjang, tetapi disitulah
keunggulan kalian nantinya, hanya jangan sampai termakan oleh
pancingan lawan. Bertarunglah dengan sabar dan pancing
mereka untuk menyerang secara hebat dan penuh kekuatan. Dan
engkau Siauw Hong, pengalaman bertarungmu sangat cetek,
karena itu mudah dikibuli lawanmu, padahal ilmu dan
iweekangmu sudah maju amat jauh.... waktu-waktu yang tersedia,
asah kemampuan bertarungmu itu. Melawan tokoh Tiang Pek Pay
mestinya engkau masih bisa menang, tetapi jangan terpancing
3129
emosimu saat menghadapinya..... sebaiknya, malam ini kalian
semua berlatih, karena akupun juga akan berlatih......”
“Koay Ji, bagaimana denganku.....”? tanya Sie Lan In yang masih
belum disinggung siapa yang akan menjadi lawannya.
“Kita perlu berbicara beberapa saat lamanya Sie Suci, setelah
yang lain-lain pergi. Ada satu hal penting yang perlu
kusampaikan.....”
“Baiklah.....”
Setelah pada akhirnya semua meninggalkan ruangan itu, Koay Ji
menatap Sie Lan In dan jelas sekali bagi Sie Lan In, jika Koay Ji
pada saat itu masih belum memiliki pegangan untuk
memenangkan pertarungan dengan lawan hebatnya. Murid tertua
dari anak murid tunggal pewaris Pat Bin lin Long. Keduanya saling
pandang sejenak, sampai kemudian Koay Ji berkata:
“Sie suci, engkau yang harus mengambil kesempatan bertarung
melawan Bu Tek Seng Ong. Tetapi, sebelumnya, engkau perlu
melatih lebih sempurna penggunaan ketiga jurus mujijat itu, dan
juga ilmu penawarnya yang sudah kuajarkan kepadamu. Selain
itu, masih ada rangkaian lain, yang meski belum sempurna tetapi
akan dapat menjadi bekalmu untuk menghadapinya....... tingkat
3130
kemampuannya sudah setingkat diatas Mo Hwee Hud dan Liok
Kong Djie. Pengalamannyapun masih mengatasimu, tetapi dalam
hal ginkang engkau jauh mengunggulinya dan dalam hal ilmu
serangan, engkau akan dapat mengunggulinya nanti. Karena
keunggulan masing-masing yang sangat tipis itu, dan untungnya
dalam hal ginkang engkau unggul cukup jauh atas dia, maka
tinggal kita memikirkan bagaimana dengan aspek pertahanan
untuk bisa meraih kemenangan. Meski kemenangan tipis
sekalipun. Mestinya, 3 ilmu utama yang sudah kuajarkan akan
mampu merepotkan dan bahkan mendesaknya, tetapi dibutuhkan
penyempurnaan dengan memanfaatkan kemampuan ginkangmu.
Soal ini yang kupikirkan akan menentukan........”
“Koay Ji, apakah memang sehebat itu Bu tek Seng Ong saat
ini....”? tanya Sie Lan In yang merasa penasaran karena pada
dugaannya semula, dia sudah akancukup berkemampuan
memenangi pertarungan dengan tokoh misterius itu. Tetapi, apa
yang diuraikan oleh Koay Ji barusan cukup menyentaknya, tidak
dia sangka jika Bu Tek Seng Ong sehebat itu. Memang, dia
sempat menyaksikan bagaimana Siauw Hong didesak Bu Tek
Seng Ong, tetapi dia belum melihat keistimewaan tokoh itu pada
tarung tersebut.
3131
“Kupastikan, tingkat kemampuan kalian berbeda sangat tipis saat
ini. Tapi setelah Sie Suci dapat menguasai ketiga ilmu terakhir itu
secara sempurna, maka hal perbedaan kalianpun teramat tipis
dan sulit menentukan siapa yang kalah dan siapa yang akan
menang nantinya. Karena itu, maka saat pertarungan
melawannya, Sie Suci harus menggunakan sesuatu yang bakal
banyak membantu menahan kekuatan pukulannya. Bahkan lebih
dari sekedar ginkang......” kalimat Koay Ji menggantung dan
membuat Sie Lan In terkejut.
“Koay Ji, apa maksudmu..... benda apakah itu...”? tanya Sie Lan
In terkejut dan tidak paham maksud Koay Ji.
“Insu dahulu pernah menyebutkannya kepadaku, dan apa boleh
buat, kita akan sangat membutuhkannya untukmu nanti.....”
“Tetapi, benda apakah itu....”? kejar Sie Lan In yang merasa
sangat penasaran gara-gara Koay Ji yang belum bersedia
menjelaskannya.
“Besok, saat benda itu berada disini, akan kujelaskan Sie Suci.
Malam ini, biarlah engkau berlatih dibawah pengawasanku
langsung, berlatih ketiga ilmu terakhir itu yang kebetulan adalah
warisan terakhir Suhu. Terutama dalam bagaimana detail
3132
teorinya, kekuatannya dan bagaimana berusaha agar dapat lebih
pas dan saling mendukung dengan dorongan kekuatan
iweekangmu dan lebih terutama kecepatan ginkangmu. Semoga
kita bisa menemukan lebih dari yang kita duga dan bayangkan
pada saat sekarang ini....”
“Baiklah......” meski masih penasaran Sie Lan In pada akhirnya
mengiyakan apa yang dikatakan Koay Ji.
Dan malam itu, Koay Ji berlatih bersama Sie Lan In dan juga
menunjukkan semua rahasia Ilmu Hian Bun Sam Ciang (Tiga
Jurus Pukulan Maha Sakti), sebuah Ilmu menyerang yang sangat
berbahaya dan mematikan. Selain itu, juga mereka berlatih
bersama jurus-jurus pamungkas yang dikemas dan dimainkan
sekaligus dalam satu rangkaian, yaitu jurus pusaka Tam Ci Sin
Thong, Kim Kong Cie dan Tay Lo Kim Kong Ciang. Dalam
keadaan khusus, larangan menggunakan Ilmu Mestika Siauw Lim
Sie itu, sudah dicabut oleh Bu In Sin Liong dan membuat Koay Ji
bebas untuk mengembangkannya. Dari rangkaian tersebut,
kemudian Bu In Sin Liong melatih dan mencipta sebuah ilmu
maha hebat yang bernama Ilmu Liu Hud Jiu Toh Cu (Tangan
Budha Bergerak Merebut Mustika). Ilmu ini, diyakini sedang coba
dicari antinya oleh pihak perguruan Pat Bin Lin Long.
3133
Pada dasarnya ilmu itu adalah rangkaian adu pintar dengan anak
murid Pat Bin Lin Long, dan karena itu, jurus-jurusnya terbatas
dan mirip dengan penakluk ilmu Pat Bin Lin Long. Ilmu tersebut
terdiri dari jurus Liu Thian Jiu (Tangan Langit Mengalir) dari Tam
Ci Sin Thong, kemudian dari gerak Can Liong Chiu (Gerak
Menabas Naga) dari Tay Lo Kim Kong Ciang; terakhir jurus Hud
Kong Boh Ciau (Sinar Budha Memancar Luas) dari Kim Kong Cie.
Jurus gabungan pertama yang kemudian menjadi ilmu tersendiri
adalah sebuah jurus Sam Liong Toh Cu (3 Naga Berebut
Mustika), merupakan saripati dari keistimewaan ketiga jurus dari
ilmu mestika Siauw Lim Sie. Dan puncaknya adalah Jurus Hud Jiu
Can Liong Boh Ciau (Tangan Budha Menebas Naga Memancar
Luas), jika jurus pertama adalah jurus ciptaan Bu In Sinliong,
maka jurus baru ini adalah penataan yang diakukan dan juga
dikembangkan oleh Koay Ji.
Koay Ji sengaja belum menurunkan ilmu kedua yang merupakan
ciptaannya dalam dasar kepentingan memunahkan jurus dan ilmu
suhunya. Dia sudah mampu secara teori memunahkan jurus-jurus
tersebut di atas dengan menciptakan ilmu yang dia dasarkan atas
keistimewaan ilmu gerak Pat Bin Lin Long, dan dia
menamakannya
Ilmu Sam Ciang Soan Hong Jiu (Tiga Jurus Pukulan Kitiran
3134
Angin). Bahkan, dia sudah mulai merancang ilmu perguruannya
untuk memunahkan ilmu ciptaannya sendiri yang dirancang
menaklukkan ilmu suhunya. Sesungguhnya cukup rumit memang
kerjaan Koay Ji, tetapi itulah pandangan dan pesanan suhunya,
yang untungnya memang Koay Ji memiliki bekal. Dengan memiliki
Kitab Rahasia gerak manusia, Koay Ji justru mampu
mengantisipasi dan menyambung gerakan-gerakan dengan
menerka maksud dari gerakan yang dimaksudkan.
Ketika kemudian Koay Ji berlatih bersama Sie Lan In, pada saat
itu dia sendiri sedang dipenuhi benaknya dengan gerakangerakan
tempur Geberz dan Panglima Arcia. Entah mengapa,
melihat Sie Lan In memainkan dua ilmu ciptaannya dan juga
ciptaan suhunya, dia melihat banyak sekali kemungkinan baru.
Bahkan, baik ilmu Hian Bun Sam Ciang maupun Ilmu Liu Hud Jiu
Toh Cu (Tangan Budha Bergerak Merebut Mustika) justru
memperoleh penyempurnaan. Lebih dari itu, Koay Ji juga
membuat beberapa penyesuaian sehingga keunggulan Sie Lan In
dapat semakin membuat ilmu ciptaannya menjadi lebih hebat dan
lebih membahayakan. Beberapa sisipan yang dia lakukan sambil
mendiskusikannya dengan Sie Lan In, bukan saja berguna bagi
Sie Lan In, tetap semakin lama semakin membentuk sebuah
rangkaian baru di kepala Koay Ji. Maka, setelah lebih 2 jam
3135
mereka berlatih bersama, tiba-tiba Koay Ji berkata kepada Sie
Lan In. Meski berkata-kata, tetapi matanya terlihat bercahaya
aneh, dan pikirannya seakan sedang mengembara:
“Sie Suci, cobalah engkau mainkan kembali rangkaian semua
ilmu yang kita coba sempurnakan itu, sebaiknya dimulai dari Ilmu
Hian Bun Sam Ciang baru kemudian menyusul rangkaian ilmu
lainnya....”
“Baik, langsung kumulai Koay Ji.....”
Sie Lan In segera bergerak, cepat, indah, tetapi sengatannya
sungguh berbahaya, dan entah bagaimana, Koay Ji seperti
masuk dan berada dalam pusaran gerakan Sie Lan In. Beberapa
kali dia tersenyum puas, beberapa kali dia mengernyitkan kening
dan kemudian tidak lama kembali tersenyum. Pada kesempatan
yang lain dia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu, dan
kesempatan berikutnya lengannya ikut bergerak mengikuti
permainan Sie Lan In. Pada kenyataannya hanya Sie Lan In yang
bergerak, tetapi sesungguhnya, tidak kurang lelah dan seriusnya
adalah Koay Ji yang mengamati dari samping. Maka, keduanya
terlihat berlatih dalam cara dan gaya yang berbeda, tetapi
kemajuan keduanya justru jauh lebih hebat karena Koay Ji
mampu menemukan formula lain, terutama dalam kecepatan dan
3136
bagaimana kecepatannya didukung oleh iweekang dan gerak
khasnya.
Tidak terasa, setengah jam atau bahkan lebih berlalu. Koay Ji
segera tersenyum begitu Sie Lan In menghentikan gerakannya
dan berkata:
“Sie Suci, beberapa gerakan masih bisa disempurnakan, tetapi
pada peralihan jurus kedua dan ketiga, mungkin gerak dan tarikan
nafas perlu lebih selaras. Hal ini agar kekuatan pukulan
bertambah, tetapi kesempatan melejit pergi juga terbuka dengan
peluang menyerang secara lebih hebat juga sangat mungkin....”
Koay Ji berkata sambil mempraktekkannya di hadapan Sie Lan In
dan beberapa varian yang dia maksudkan. Dan hal itu segera
disambut Sie Lan In;
“Hmmmm, benar juga, gerakan itu membuat pergantian nafas
menjadi lebih ringan dan kesempatan meningkatkan kekuatan
pukulan lebih besar.....”
“Nach, engkau dapat berlatih dan menyempurnakannya Sie
Suci.... untuk malam ini, sudah cukup. Besok kita dapat
melanjutkannya lagi.....”
3137
“Baik Koay Ji, sebaiknya kita beristirahat sekarang.....” berkata
Sie Lan In pada akhirnya meskipun dia sudah memutuskan untuk
melanjutkannya sendiri. Tanpa dia tahu bahwa Koay Ji sendiripun
memang sedang penuh ide dan membutuhkan waktu untuk
menyendiri menuntaskan ide-ide itu.
“Baik Sie Suci....”
Tidak lama kemudian Koay Ji tinggal sendirian dalam
ruangannya. Tetapi, dia sama sekali tidak sedang beristirahat.
Sebaliknya, entah mengapa matanya mencorong tajam,
konsentrasinya sungguh penuh, dan matanya yang mencorong itu
seperti sedang berpikir, mengingat dan bekerja keras. Dan
sepanjang malam hingga jelang pagi, keadaan Koay Ji tetap
seperti itu, tidak banyak bergerak dan terlihat seperti sedang
mengerjakan sesuatu dalam pikirannya. Menjelang pagi, baru dia
menarik nafas panjang, masih terlihat penasaran, meskipun dia
tidak terlihat kecewa. Malah sempat dia bergumam lirih:
“Sudah sangat dekat, sudah sangat dekat.... tetapi, sebaiknya aku
beristirahat dulu, sebentar lagi pagi menjelang datang” kata-kata
atau rangkaian kalimat yang kaya makna dan sekaligus paham
batasnya.
3138
Dan memang, Koay Ji beristirahat. Tetapi, keadaan seperti
dirinya, cukup satu atau dua jam beristirahat dan berkonsentrasi
mengembalikan kebugarannya sudahlah lebih dari cukup. Maka,
tiga jam kemudian, diapun keluar dari kamarnya, menuju ke
ruangan bertemu dengan Tek Ui Sinkay untuk menikmati teh
gunung di pagi hari. Tetapi, kedatangannya yang masih pagi-pagi
benar tu sungguh bertepatan dengan laporan pagi hari yang
sedang disampaikan secara langsung kepada Tek Ui Bengcu, di
tempat dia menghirup teh pagi hari. Dan kelihatannya laporan itu
masih belum banyak berbeda dengan semalam;
“Bengcu, mereka berlatih sejak pagi-pagi benar, meskipun tidak
banyak yang dapat kami pantau. Paling banyak hanya 6, 7 orang
yang berlatih, selebihnya tetap saja bersembunyi dalam gedung
dan tidak memperlihatkan diri mereka. Setelah berlatih selama 2-
3 jam, merekapun kembali masuk kedalam gedung, tetapi
anehnya, suasana dalam gedung, meski sebenarnya banyak
penghuninya, namun terasa aneh dan lengang. Kami belum
berani mengintai dari jarak yang amat dekat... tapi, kami yakin,
rumah tinggal mereka seperti semakin lengang.....”
“Adakah laporan tokoh yang keluar masuk area penjagaan
kita....”? tanya Tek Ui Bengcu sekedar bertanya
3139
“Sejak kemarin, tidak ada lagi tokoh yang berani keluar masuk
Bengcu....” jawab si pemberi laporan dengan suara penuh
keyakinan.
“Baguslah jika demikian.,,,,,,, kutunggu laporan lebih jauh sejam
kedepan” ujar Tek Ui Sinkay dalam kebingungan.
“Siap Bengcu....”
Dan pagi itu, suasana berubah menjadi semakin ramai, karena
kemudian menyusul datang Kim Jie Sinkay, Cu Ying Lun, Tiang
Seng Lojin, Tui Hong Sin Kay, Tio Lian Cu, Ciangbujin Siauw Lim
Sie, serta juga beberapa saudara seperguruan bengcu lainnya.
Kedatangan Koay Ji membuat suasana lebih ceria lagi dan
percakapan pagi itu lebih lepas dan tidak terlihat ada ketegangan
diantara mereka. Dengan kata lain, mereka mencoba untuk
membuat suasana lebih santai agar tidak membebani mental dan
moril mereka memasuki pertarungan menentukan.
Hal itu sepertinya memang menjadi kesepakatan semua, Tek Ui
Bengcu sudah menjelaskan, bahwa menjelang pertempuran
menentukan adalah lebih baik mereka bersikap santai. Tidak
tegang, agar kemampuan fisik dan moril mereka meningkat dari
saat kesaat. Dan itulah yang mereka lakukan, bercakap santai
3140
seakan tidak sedang menghadapi pertarungan mati hidup dengan
lawan yang berjarak sangat dekat dengan posisi mereka berada
pada saat itu. Dan keadaan seperti itu jikapun lawan mengintai
apa yang sedang mereka lakukan, pasti akan mendatangkan rasa
heran karena pihak pendekar sepertinya santai saja menghadapi
tarung mati hidup yang akan terjadi beberapa saat lagi.
Koay Ji sendiripun senang dengan keadaan itu. Suasana yang
dibuat santai dan tidak tegang, melupakan sejenak pertarungan
yang akan terjadi, membuat situasi mereka menjadi lebih ringan.
Membuat mereka bisa menceritakan dan berdiskusi hal-hal lain
yang juga terjadi di daerah lain. Jadilah percakapan pagi itu
menjadi serupa percakapan lepas, tukar menukar informasi di
antara sesama pendekar dan saling mengeratkan hubungan satu
dengan yang lainnya. Bahkan tidak ada yang menjadi pemimpin
diskusi, masing-masing bebas memilih kawan bicara dan bisa
bicara apa saja.
Dan selama percakapan santai mereka itu, masih ada dua kali lagi
laporan masuk, dan laporan terakhir menyebutkan bahwa
semakin lengangnya gedung atau rumah utama. Koay Ji sendiri
sebetulnya sudah mulai curiga sejak awalnya, tetapi karena
memang dia lebih perduli dengan persiapan mereka untuk
bertarung, maka dia tidak memberi perhatian lebih terhadap
3141
laporan tersebut. Seperti juga laporan terakhir, meski dia menaruh
rasa curiga, tetapi tetap saja belum berniat untuk menyelidiki
kecuigaannya, melainkan menugaskan para pengintai untuk
mengintai dua titik masuk ke jalan rahasia yang dia ketahui
dengan baik. Siapa tahu jalan rahasia di bawah tanah sudah
diketahui pihak lawan.
Setelah percakapan santai itu, dan setelah mereka bubar, Koay Ji
sendiripun kemudian meninggalkan persoalan tersebut dan
kembali berlatih dengan anak muda lainnya yang memang sudah
lama melakukan hal tersebut dengannya. Betapapun percakapan
santai tadi menyegarkan pikirannya. Juga membawa perspektif
segar dan baru baginya, bahwa dunia persilatan bukan hanya
persoalan pertarungan dan adu kekuatan serta siapa lebih hebat.
Tetapi ada aspek lain, yaitu persahabatan, kekeluargaan dan
saling menjaga kepercayaan satu dengan lainnya dan komitmen
untuk selalu menegakkan kebenaran.
Dan latihan hari itu, Koay Ji memperoyeksikan Tio Lian Cu dan
Khong Yan melawan dua tokoh utama lawan. Dan karena dia tahu
mereka sudah setingkat atau bahkan mulai tipis berada diatas
lawan mereka, maka Koay Ji tinggal membantu mereka untuk
menyisipkan jurus-jurus lain guna semakin mempertajam ilmu
mereka berdua. Demikian juga dengan Kang Siauw Hong dan
3142
Bun Kwa Siang. Khusus dengan Kwa Siang, Koay Ji melatihnya
lebih jauh dengan tata gerak dan ilmu ginkang, dalam hal ini dia
dapat memperoleh kemajuan yang cukup hebat. Gerak-geriknya
menjadi lebih cepat, lebih gagah dan lebih tangkas lagi, dan
sudah dapat diandalkan untuk lawan kelas satu. Kekuatan
kekebalan Kwa Siang coba diselidiki oleh Koay Ji, dan dia menjadi
kaget, karena dia tidak dapat menjelaskan secara masuk akal apa
yang sebenarnya terjadi dan dialami oleh Kwa Siang. Sampai
ketika dia memukulpun, Kwa Siang tidak terluka dan hanya
merasa sakit fisik. Luar biasa.
Sedangkan untuk Siauw Hong, Koay Ji sendiri memang sudah
memiliki rencana, bahwa dia belum akan bertarung dengan tokoh
puncak lawan. Maklum, ini adalah pertarungan mati hidup. Tidak
mungkin dia membahayakan nyawa adiknya yang masih sangat
cetek pengalaman bertarungnya. Memang benar, iweekang dan
juga ilmunya sudah hebat, tetapi sayang, dia masih kaku dalam
memainkan semua ilmu yang dia kuasai. Masih kurang
pengalaman tempur. Karena itu, Koay Ji memikirkan lawan lunak
bagi adiknya itu. Tetapi, siapa lawan yang dia maksud, masih
belum terbayang di kepala Koay Ji.
Tetapi dengan Sie Lan In, Koay Ji berlatih jauh lebih serius,
karena dia merasa Sie Lan In membutuhkan kemajuan penting
3143
guna menandingi Bu Tek Seng Ong. Jika melawan Hong Tin Kie
Su (Cendekiawan Serba Bisa), Yap Jeng Cie dan Rajmid Singh
dia tidak punya pegangan, maka lawan-lawan lainnya dia memiliki
keyakinan cukup kuat. Melawan Yap ceng Jie, dia kurang merasa
yakin dan kurang mendapat pegangan, meskipun juga mulai
merasa percaya diri bahwa dia tidak akan kalah. “Bisa-bisa
pertarungan akan kembali berimbang, kecuali jika strategi seperti
yang dia terapkan kemaren, menguras tenaganya berjalan
lancar”. Sedang menghadapi Rajmid Singh, Koay Ji sudah
memiliki pilihan, pilihan yang dia sadar tidak akan dapat
memenangkan pertarungan, meskipun tidak mengorbankan
nyawa pihaknya. Dan untuk satu hal ini sudah diperhitungkan
secara cermat oleh Koay Ji sampai hari itu. Jika demikian, maka
pilihan atas lawan dari Sie Lan In akan agak ruwet karena sangat
berimbang, sementara dia yakin kemajuan Tio Lian Cu dan Khong
Yan akan bisa membawa kemenangan pihaknya. Setidaknya
potensi kemenangan mereka bisa dia prediksi. Demikian juga
dengan Kim Jie Sinkay dan juga Siauw Hong, dia merasa mereka
memiliki peluang menang yang cukup besar.
“Sie Suci, bagaimana dengan latihan semalam....”? tanya Koay Ji
begitu mereka akhirnya beroleh kesempatan berlatih bersama
sore hari, itupun setelah Koay Ji pada kesempatan sebelumnya
3144
kembali berlatih bersama Tio Lian Cu dan Khong Yan dan puas
dengan kemajuan dan kemampuan yang mereka tunjukkan. Dan
hal yang sama dia rasakan ketika menilik Siauw Hong dan Kwa
Siang, khususnya untuk Siauw Hong dia meminta untuk banyak
berlatih tanding dengan Kwa Siang, Tio Lian Cu dan juga Khong
Yan.
“Sepertinya kemajuannya cukup menggembirakan Koay Ji,
kecepatanku bertambah sementara kekuatan pukulan juga bisa
ditingkatkan. Rasanya seperti mengalami peningkatan yang
cukup untuk pertarungan nanti.....” jawab Sie Lan In puas dengan
latihan sendiri yang dia lakukan malam hingga menjeang pagi.
Padahal, sekali pandang saja Koay Ji sudah tahu bahwa Sie Lan
In masih melanjutkan latihannya sampai menjelang subuh, sama
seperti dirinya.
“Hmmm, Bu Tek Seng Ong masih tipis di atas Geberz susioknya
sendiri, berarti tingkatan kalian boleh dibilang sejajar. Tetapi, saat
ini suhunya berada bersamanya, dan pasti diapun akan berlatih
habis-habisan sebagaimana kita berdua saat ini. Oleh karena itu,
kedua ilmu terakhir haruslah engkau kuasai dengan sempurna,
dan oleh karenanya, latihan sore dan malam hari ini harus bisa
membuatmu memainkannya dengan lebih baik dan lebih
sempurna. Tidak boleh ada celah masuk dia nantinya saat ilmu itu
3145
dimainkan. Maka jika memang demikian, peluang kita untuk
menang bertambah besar.....” berkata Koay Ji dengan suara
serius, sementara Sie Lan In sendiri memang sudah berusaha
sekuatnya.
“Engkau sendiripun masih harus meningkatkan kemampuanmu,
jangan sampai lukamu malah lebih parah lagi setelah pertarungan
dengan kakek tua itu......” balas Sie Lan In yang membuat
perasaan Koay Ji menjadi hangat. Disaat berdua dengan Sie Lan
In, jelas dia merasa bahagia memperoleh perhatian khusus dari
kekasih, meski di saat-saat menegangkan.
“Sudah pasti Sie Suci, setelah berlatih denganmu, ada beberapa
kunci perubahan lain yang kutemukan, hanya saja semakin dekat
justru semakin sulit untuk dapat dirangkai. Semakin banyak terasa
semakin sedikit, semakin kulihat semakin kurasa mudah
dilupakan. Tetapi, pada saatnya nanti, pasti dapat kutemukan
jalan untuk sesuatu yang lebih dan lebih hebat itu.....” jawab Koay
Ji yang diaminkan oleh Sie Lan In, karena dia mengenal Koay Ji
tentunya.
“Kuyakin engkau mampu Koay Ji.....” desis Sie Lan In penuh rasa,
dan dia sadar serta tahu bahwa luapan rasanya itu tidak akan
terbaca oleh Koay Ji yang sama seperti dirinya sedang dilanda
3146
ketegangan. Hanya, perasaan perempuan memang selalu lebih
peka dan lebih mudah tergugah. Dan dia benar, Koay Ji tidak
memberi perhatian atas kalimat penuh rasa yang baru saja dia
kemukakan, tetapi begitupun dia tidak kecil hati. Keci hati buat
apa? Bukankah mereka berdua sedang berunding bagaimana
memenangkan pertarungan nanti?
“Terima kasih Suci.....”
“Ingat, kita masih akan mengalami pertarungan berat sebentar
lagi.....” tegas Sie Lan In seperti mengingatkan.
“Benar, karenanya engkau dan aku perlu berlatih kembali Suci.....
mari....” ajak Koay Ji yang segera diiyakan Sie Lan In.
Ketika Sie Lan In memainkan kembali ilmu-ilmu keluarga
perguruan mereka, Koay Ji kembali dapat menangkap dan
merangkai jalinan ilmu yang lain, tetapi setelah dia sanggup
merangkainya, segera dia melupakannya lagi. Ketika memainkan
ilmu kedua yang notabene ciptaannya, dia membayangkan
sedang melawan serta juga memainkan ilmu yang belum
diajarkannya kepada Sie Lan In. Tidak atau belum dia ajarkan
karena memang waktu yang terbatas, selain gerak-geriknya
berdasarkan ilmu Pat Bin Lin Long. Dia menamakan ilmu
3147
ciptaannya dengan nama Ilmu Sam Ciang Soan Hong Jiu (Tiga
Jurus Pukulan Kitiran Angin), gerak-gerik yang dia dasarkan pada
ciri khas Pat Bin Lin Long, tetapi iweekangnya campuran kedua
suhunya. Dan dengan cara itu, dia mempu meyakinkan dirinya
sendiri bahwa dia menemukan “penawar” atas ilmu lain yang dia
ciptakan. Dia memang maju setapak lebih, karena Sie Lan In
belum melatih ilmu yang dia latih dalam angan sambil dia
memandang Sie Lan In berlatih.
Tetapi secara keseluruhan, ketika dia membayangkan bagaimana
menawarkan ilmu ketiga itu, Ilmu Sam Ciang Soan Hoang Jiu, dia
menemukannya dalam rangkaian yang panjang dan
kemungkinan yang terbatas. Bukan apa. Ilmu ciptaannya
memang merupakan jawaban atas ilmu ciptaannya juga,
berdasarkan ilmu-ilmu perguruannya yang berasal dari Siauw Lim
Sie. Kedua ilmu ciptaannya itu saling genggam dan saling
cengkeram, maka bagaimana dia menaklukkan ilmu ciptaannya
yang terakhir menghadirkan kemungkinan yang sangat terbatas.
Tetapi, perspektif lain dan baru yang dia saksikan ketika Geberz
bertarung dengan Panglima Arcia, juga masukan dari Lie Hu San
yang dia simpulkan dalam “banyak tapi tidak ada, diingat tetapi
sudah dilupakan”, dan terakhir menengok bagaimana Sie Lan In
memainkan ilmu ciptaannya, membuat semua rangkaian dalam
3148
kepalanya mulai berbentuk. Benar, berbentuk tetapi seperti kabut,
cepat sekali menguap pergi entah kemana, tetapi dia rasakan
berada dan menyatu dengan dirinya.
Seperti biasanya, setelah Sie Lan In selesai berlatih, semua
rangkaian yang sudah terbentuk dalam kepalanya, entah
mengapa menguap dan hilang kembali. Tetapi, sekali ini Koay Ji
tidak lagi merasa penasaran, sebaliknya memiliki keyakinan
bahwa yang dia rangkai itu sudah ada di kepalanya, meskipun
sudah dia lupakan dan sudah hilang lagi dari ingatannya tetapi
ada dalam dirinya. Entah mengapa Koay Ji diam saja, tidak lagi
berusaha untuk mengingatnya, tetapi menganggapnya sudah
tenggelam di alam bawah sadarnya dan kelak bisa dia panggil jika
dibutuhkan. Koay Ji masih sedang tersenyum tenang dan senang
ketika Sie Lan In datang serta langsung menegurnya karena
sekian lama dia terdiam dan tersenyum sendiri. Karena memang
ada yang membuatnya demikian;
“Koay Ji, bagaimana, apakah kau temukan sejumlah kekurangan
yang perlu untuk diperbaiki dan disempurnakan lebih jauh
lagi....”? tegur Sie Lan In, tetapi dalam kaget dan setengah kesal,
dia melihat Koay Ji tetap saja dalam keadaan diam dan terus
menerung. Keadaan Koay Ji yang seperti sedang melamun dan
3149
tidak sedang mendengar apa yang dia katakan barusan. Merasa
sedikit kesal tentunya Sie Lan In dan seperti sedang diabaikan.
“Koay Ji, bagaimana.....”? bentaknya, dan karena dia sedikit
menggunakan tenaga iweekang dalam bentakkannya, maka
sekali ini dia mamou menyadarkan dan juga menggugah Koay Ji
yang sedang tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. Dalam
kaget Koay Ji segera berseru,
“Ach, ech..... kenapa Sie Suci.....”?
“Hmmmm, rupanya engkau tidak memperhatikan.Koay Ji,
bagaimana, apakah kau sudah menemukan sejumlah kekurangan
yang masih amat perlu untuk diperbaiki dan disempurnakan lebih
jauh....”? sekali lagi Sie Lan In bertanya dan sekali ini dengan
nada suara yang sedikit kurang senang. Siapa yang senang jika
diabaikan oleh seorang yang dikasihi, padahal mereka sedang
berhadapan dan berada dalam jarak yang demikian dekat?
“Oooooccch, maaf Sie Suci,,,,, memang justru untuk itulah aku
tenggelam dalam diam dan merangkai sejumlah kemungkinan
yang lebih kuat dan lebih sulit untuk dilawan oleh Bu Tek Seng
Ong kelak....” berkata Koay Ji dengan setengah berdusta, karena
dia sesungguhnya sedang memikirkan “sesuatu” yang lain. Tetapi
3150
untung saja, memang benar, dia sudah memikirkan
penyempurnaan pada beberapa aspek yang membuat kecepatan
ginkang Sie Lan In menjadi lebih menentukan sifatnya. Dan hal itu
akan segera dia utarakan.
“Ach, benarkah....”? bertanya Sie Lan In dengan antusias, lupa
dia bahwa barusan dia menegur Koay Ji dengan nada kurang
senang.
“Benar suci, mari kutunjukkan, ada beberapa perubahan dalam
ketiga jurus itu guna membuat kecepatanmu menjadi menentukan
dan sulit bagi lawan untuk menahan dan menjinakkannya. Tetapi,
untuk itu, engkau membutuhkan pengerahan iweekang yang juga
agak besar, karena perubahan gerakmu adalah perubahan yang
tidak wajar dan tidak biasa..” sambil memberi petunjuk Koay Ji
kemudian memperagakan dalam gerak perlahan, dan pada
gerak-gerak tertentu, memang gerakannya amat tidak biasa.
Inspirasi itu diperoleh Koay Ji dari cara tarung orang Mongol dan
Persia yang benar-benar diluar nalar orang Tionggoan. Sie Lan In
tertegun dan sedikit agak kaget melihat formasi yang ditunjukkan
Koay Ji.
Tetapi begitupun Sie Lan In yang mengikutinya, merasa tidak
kesulitan, meskipun dia sangat sadar, bahwa untuk melakukan
3151
gerakan itu dalam kecepatan tinggi, benar-benar membuatnya
mesti mengerahkan iweekang dalam takaran yang lebih dari
biasanya. Atau dengan kata lain, dia harus mampu
menyelesaikan pertarungan secara cepat agar dia sendiri tidak
kehabisan tenaga iweekang, apalagi karena lawannya memiliki
iweekang yang juga setakar dan setingkat dengan dirinya dan
dengan kemampuannya. Dan dengan antusias dia menimbang
serta memikirkan perubahan yang diusulkan Koay Ji baginya,
perubahan hebat yang dilakukan pada 4 gerakan utama pada 3
jurus yang sudah dia kuasai. Dan setelah dia paham, Koay Ji
kemudian memintanya kembali berlatih:
“Cobalah engkau latih kembali Suci, jika keadaan seperti
kemaren, maka kupastikan Bu Tek Seng Ong tidak akan mampu
lari dari dua perubahan besar itu, dia pastilah bukan hanya
keteteran, tetapi pada titik perubahan ketiga, akan terpukul secara
telak dan terkalahkan. Jikapun dia lolos dari perubahan ketiga,
maka perubahan yang terakhir akan menjebak dia untuk tidak
bisa kemana-mana......” jelas Koay Ji dengan wajah sumringah.
“Ach, sehebat itukah Koay Ji......”? tanya Sie Lan In, bukannya
ragu, tetapi merasa girang dengan bayangan Koay Ji atas
kehebatan perubahan terhadap jurus-jurus ilmu yang baru dia
kuasai itu. Terutama pada perubahan ketiga dan keempat yang
3152
diproyeksikan menyelesaikan pertarungan mereka nanti.
Pertarungan Sie Lan In melawan Bu Tek Seng Ong.
“Jika suhunya tidak menggemblengnya lebih jauh, maka yang
kukatakan tidak akan mungkin banyak meleset suci,,,,,”
Sie Lan In akhirnya kembali berlatih, dan memang benar saja,
pada bagian-bagian perubahan itu, setelah dia memainkannya,
membuatnya mengeluarkan peluh yang luar biasa. Bahkan dia
merasa teramat sangat letih, padahal dia hanya mencoba
memainkan dua ilmu ajaran Koay Ji saja. Bagaimana jika
iweekangnya sudah lebih dahulu terkuras habis sebelum
mengeluarkan kedua ilmu mujijat itu? Sie Lan In jadi sadar, bahwa
memang benar, dia mesti berhitung secara cermat jika bertarung
melawan tokoh-tokoh hebat seperti Bu Tek Seng Ong.
Menghemat tenaga dan stamina sangat penting, dan untungnya
dia memiliki ginkang yang luar biasa dan bisa membuatnya
bertarung dengan tidak terlampau banyak mengeluarkan tenaga
iweekang dalam pertarungan ketat.
Karena berpikir demikian, maka Sie Lan In, kemudian melatih
kembali ilmunya setelah beristirahat sebentar dan memulihkan
kekuatan staminanya. Sementara Koay Ji, terlihat masih
merenung dan tidak banyak memperhatikan keadaan luar,
3153
keadaan sekitarnya. Melihat keadaan Koay Ji, Sie Lan In segera
sadar jika Koay Ji sedang tenggelam dalam memahami beberapa
hal penting lainnya, tapi pasti tidak akan jauh dari ilmu silat. Dan
karena itu, tanpa mengatakan apa-apa kepada Koay Ji, Sie Lan
In kembali sudah berlatih, sekali ini dengan mematangkan semua
ilmu silat perguruannya, termasuk mencoba formula terkahir ilmu
perguruannya yang ternyata masih tetap sulit untuk dia mainkan.
Sebuah jurus pedang istimewa yang menjadi warisan rahasia
subonya. Meskipun, sudah mampu memecahkan sampai
setengah jalan, tetapi untuk mencapai titik sempurna, masih tetap
belum mampu dia lakukan. Belum dapat dia memainkannya,
karena dia dapat merasakan betapa kekuatan iweekangnya,
meski memadai tapi mengalir tidak lancar.
Ada apa dengan Koay Ji sendiri....? sebenarnya bukan sesuatu
yang luar biasa, karena dia sering melakukannya. Yang luar biasa
adalah perspektif dalam dirinya. Jika sebelumnya ilmu penawar
ciptaannya ketiga coba dipandang sekedar untuk menaklukkan
dan mengalahkan ilmu itu, maka dia mencoba mengembangkan
lebih jauh berdasarkan apa yang dialaminya selama beberapa
hari terakhir. Dia merasa “terprovokasi” dengan jawaban LIE HU
SAN ketika tokoh itu bertanya kepadanya dalam nada yang
3154
sangat serius, meski diluarnya seperti biasa saja: “Apa yang
engkau pelajari dari pertarungan tadi....”?.
Pertanyaan sederhana Lie Hu San itu, dimaklumi Koay Ji, karena
ketika tokoh tua nan misterius itu mengajaknya seorang diri untuk
mendekati arena Panglima Arcia yang sedang bertarung hebat
melawan Geberz, dia sudah merasa aneh. Padahal, masih
banyak tokoh lain disana, tetapi dengan keras dia melarang agar
jangan ada yang datang sedekat dia dengan Koay Ji ke arena
maha hebat itu. Larangan itu yang membuat Koay Ji merasa
yakin, bahwa ada sesuatu yang dikehendaki oleh manusia aneh
yang senang membantunya itu. Meski tidak dia minta dan tisak
dia duga sebelumnya. Secara samar dia dapat menebak dan
menduga apa yang dikehendakinya. Maka, ketika Lie Hu San
bertanya meski terlihat sepintas lalu, Koay Ji secara jujur
menjawabnya:
“Ada cukup banyak atau malah terlalu banyak hal yang amat
menarik Locianpwee, sulit untuk dapat diuraikan dala, waktu
singkat” jawab Koay Ji sambil melirik tokoh hebat yang banyak
membantunya itu.
“Adakah yang bisa secara khusus untuk engkau sebutkan.....”?
tanya Lie Hu San lagi dengan tetap tidak memandang matanya.
3155
“Yang lebih khusus dan juga hebat adalah, semua yang kulihat
dan kucatat tadi, sekarang sudah bisa kulupakan, karena
sebetulnya hanya bisa berguna pada saat dan waktu yang tepat.
Menghadapi situasi sulit, mungkin formula gerak tadi akan dapat
muncul dan kugunakan, dan di waktu yang juga tepat untuk
digunakan demi manfaat yang dapat diprediksi sejak sangat
awal.....” jawab Koay Ji yang juga kini sama memandang ke
kejauhan.
Rekaman tanya jawab dengan Lie Hu San di atas, kembali
terngiang di benak Koay Ji. Dia memang menjawab secara
JUJUR, bahwa dia mencatat banyak, tetapi semua yang dia lihat
sudah dia lupakan, karena semua itu berguna hanya pada saat
yang tepat, tidak pada semua momen yang didapatkan. Gerakan
Geberz dan Arcia yang MAHA HEBAT, tidak akan berguna pada
setiap kesempatan, tetapi berguna pada kesempatankesempatan
tertentu belaka. Dan jawaban KOAY JI yang jujur ini,
justru mendapatkan respons yang luar biasa dari LIE HU SAN
yang menurut Suhu Koay Ji sendiri, Bu In Sinliong, adalah salah
satu manusia mujijat yang seangkatan dan sama hebat dengan
gurunya itu. Dan sampai sekarang, terus menerus dan masih
tetap terngiang jawaban dan komentar Lie Hu San atas
jawabannya sebelum dia pergi meninggalkan Pek In San:
3156
“Melihat, mengingat, mencatat, mengetahui manfaatnya untuk
kemudian mencoba dan mampu melupakannya........ engkau
sudah lebih dari cukup untuk kutinggalkan dan kubiarkan terus
berkembang. Engkau entah mengapa, mampu menjadi mutiara
yang sanggup menggosok kotorannya sendiri dan memancarkan
kilaunya, dan kemudian kini semakin memancarkan sinar
gemilangnya. Kemampuan mengingat, mencatat dan melupakan
yang engkau saksikan tadi, sesungguhnya adalah tahapan luar
biasa yang kelak akan membuatmu mampu menentukan apa
yang tepat. Sesuatu yang sederhana bukan berarti tidak berguna,
karena justru mampu menjawab pada saat dan waktu yang tepat.
Ilmu dan jurus menjadi relatif, karena setiap saat engkau mampu
menciptakan ilmu dan jurus baru..... selamat anak muda......”
Bagian percakapan inilah yang memprovokasi Koay Ji dan terus
terbawa dalam upayanya membantu, terutama Sie Lan In, sejak
sehari sebelumnya. Lahirnya dia sedang menyempurnakan ilmu
maupun jurus yang dimainkan Sie Lan In, tetapi jauh dalam
dirinya, dia sedang merenungkan apa yang disampaikan Lie Hu
San kepada dirinya secara langsung. Hal ini memang kurang
diketahui Sie Lan In, meski dia sadar Koay Ji sedang memikirkan
formula baru. Formula baru entah dalam bentuk Ilmu ataupun
jurus baru guna dipakai dalam pertarungan melawan Bu tek Seng
3157
Pay sebentar lagi. Entah malam ini ataukah besok. Entahlah. Sie
Lan In belum tahu, bahkan bertanya ke Koay Ji pun, jawabannya
belum pasti. Yang pasti adalah, bahwa pertarungan itu akan
terjadi.
Setelah percakapan dengan Lie Hu San semalam, Koay Ji
memang mencoba untuk merenungi tahapan itu. Melihat,
mencatat, mengingat dan melupakan. Semuanya berguna pada
saat khusus, tidak ada yang sederhana dan mudah, karena yang
sederhana juga bermanfaat pada momen yang tepat. Dengan
demikian, Koay Ji menyimpulkan, semua gerak bermanfaat, yang
harus dia pahamkan dan kemudian yakini adalah,
kemampuannya memprediksi dan memastikan gerakan
menyerang lawan seperti apa, sehingga gerak responsnya seperti
apa. “Bukankah ini butuh ginkang hebat dan ilmu memprediksi
gerak lawan melalui kitab itu....”? tanya Koay Ji dalam hatinya,
dan terus memeriksa semua yang sudah dia ingat, dia kuasai, dia
hafalkan dan catatkan dalam benaknya.
“Hmmm, dibutuhkan pengalaman, dibutuhkan pemahaman,
dibutuhkan kemampuan ilmu silat tinggi, dibutuhkan khasannah
gerakan silat dan jurus, dibutuhkan sejenis ginkang dan kemudian
ketenangan tingkat tinggi untuk sampai pada proses itu. Bukan
sesuatu yang mudah, meski bukan sesuatu yang mustahil.....
3158
apakah ini yang suhu maksudkan dengan ketenangan dan
keteguhan batin melalui kekuatan batin yang diterapkan dalam
ilmu silat....? hmmm, sangat mungkin seperti itu. Jika mampu
maka menurut Lie Locianpwee, perkembanganku memasuki
tahapan yang baru, tingkatan yang baru....... hmmmm, mudahmudahan
memang demikian. Tetapi, apa dengan demikian
tingkatan yang suhu maksud sudah kucapai....”?
Tanpa disadarinya Koay Ji menyimpulkan sesuatu yang memang
benar, selangkah maju lagi dalam ilmu silatnya. Dengan
kemampuannya saat ini, maka sedikit orang yang mampu
menghadapi dan mengalahkannya, bahkan yang terhebat
sekalipun sudah dia hadapi meski dia terluka parah. Dengan
perspektif yang baru mulai dia yakini ini, Koay Ji mulai
memandang ilmu silatnya, meskipun memang baru pada tahap
awal belaka. Karena menyadarinya, maka dia tetap melanjutkan
memberikan petunjuk penyempurnaan atas imu-ilmu Sie Lan In,
dan juga pada kesempatan lain kepada Tio Lian Cu, Khong Yan,
Siauw Hong, Bun Siok Han yang bergerak maju paling cepat serta
Bun kwa Siang dengan ajaran khusus. Perspektif baru itu juga
membuatnya mengevaluasi ilmu-ilmunya, termasuk ilmu cakar
ayam sakti yang juga ciptaannya pada masa kecil dan Ilmu
monyet warisan Thian Hoat Tosu. Semua dia pandang dan nilai
3159
dari manfaatnya, dan gunanya digunakan pada momen seperti
apa. Gerak sederhana untuk waktu yang tepat, bermanfaat besar.
Tidak semua ilmu hebat berguna, tidak semua jurus maut dan
mematikan berfaedah dan penting dalam semua kesempatan dan
momentum.
Tak disadarinya, jika orang yang paling sibuk selama dua hari
terakhir adalah dirinya yang meladeni semua orang. Karena, Tek
Ui Sinkay, juga sering datang dan mohon diskusi dengannya
berkaitan dengan laporan terakhir yang mengatakan bahwa
sebuah gedung sudah senyap sama sekali dan tidak ada aktifitas
lain lagi. Sedang gedung kedua, juga semakin senyap, tetapi
belum ada informasi lebih jauh apa yang sesungguhnya sedang
terjadi. Karena, menurut laporan, tidak ada gerakan manusia
sedikitpun yang keluar dari gedung, padahal gedung itu diawasi
selama 24 jam, dan yang mengawasi, juga bukan tokoh-tokoh
lemah.
“Besok, kuyakin ketiga gedung itu sudah kosong, dan akan
kupastikan besok pagi. Kurasa sam suheng sudah bisa menebak
mereka kemana....” jawab Koay Ji dengan memandang sam
suhengnya sambil tersenyum. Saat itu, Tek Ui Sinkay sendiri
sebetulnya sudah memiliki dugaan yang sama, dan dia benar
tersenyum setelah Koay Ji mengatakan apa yang berada dalam
3160
pikirannya. Tetapi, dia masih merasa penasaran dan kemudian
bertanya;
“Apa mereka mengetahui jalan rahasianya sute....”?
“Jika kita memiliki, masakan mereka tidak mampu
menemukannya atau setidaknya membuatnya sebagai jalan guna
menyelamatkan diri dalam kesempatan seperti sekarang ini....”?
tebak Koay Ji, yang juga sebenarnya kurang yakin. Padahal, satu
saat tebakannya bisa saja terbukti benar, tetapi entahlah.
“Engkau benar, kemungkinan besar jalan rahasianya berada
didalam gedung itu, dan masih belum kita tahu kemana
arahnya......” tebak Tek Ui Sinkay asal-asalan tetapi padahal
memang begitu yang mereka ketahui akhirnya.
“Mereka berada di bawah tebing suheng..” Koay Ji berkata
dengan penuh keyakinan dan membuat Tek Ui Sinkay tercenung
dan berkata
“Ya, kupikir juga demikian.....”
Dengan pengawasan ketat tookoh-tokoh hebat dan tidak terlihat
ada yang keluar dari gedung itu, maka hanya ada beberapa
kemungkinan. Mereka sudah pergi jauh dari gedung itu, atau
3161
sudah bersembunyi di bawah tebing melalui jalan rahasia.
Apalagi, Koay Ji dan Tek Ui Sinkay sudah tahu bahwa ada jalan
rahasia yang juga tembus hingga ke markas lawan. Jika mereka,
tokoh-tokoh itu menemukan jalan rahasia, maka Koay Ji pasti
tahu, karena kawanan monyet sahabatnya pasti akan
memberitahunya apa yang sebetulnya terjadi. Teringat kawankawan
monyet, Koay Ji seperti memperoleh sebuah inspirasi, dan
karena itu, tiba-tiba dia berkata kepada sam suhengnya, tek Ui
Sinkay:
“Sebentar suheng, coba kutanyakan kawan-kawanku, apa
mereka punya informasi kemana gerangan tokoh-tokoh lawan
pergi, aku butuh beberapa saat untuk tahu kemana mereka
pergi.....”
“Sute, apa maksudmu....”? Tek Ui Sinkay bertanya curiga, tetapi
dia segera paham ketika Koay Ji menjawabnya dengan jawaban
yang sebenarnya juga sudah dia tahu sejak beberapa waktu yang
lewat.
“Kawan-kawanku pasti punya informasi itu.....” dan segera Tek Ui
Sinkay paham, karena cara Koay Ji mengatakan “kawan-kawan”
kepada kawanan monyet berbeda dengan gayanya
memaksudkan kawan-kawan manusianya.
3162
“Baiklah, aku menunggumu nanti.....”
Tidak berapa lama Koay Ji sudah menemui kawan-kawan monyet
yang selama ini terus dan selalu membantunya. Bahkan,
sebagian sudah menganggapnya sebagai pemimpin, karena
pengaruh, kepemimpinan dan kebaikan Koay Ji dalam mengobati
dan berkawan dengan mereka secara tulus.
“Kawan-kawan, siapa yang punya informasi kemana kawanan
penjahat itu pergi? Sebagian dari mereka sudah pergi dari rumah
atau gedung satu dan dua, entah siapa yang tahu kemana mereka
pergi....” Koay Ji bertanya sambil memandangi kawanan monyet
itu. Melihat mereka saling pandang dan tidak mengerti padahal
mereka mengawasi jalan rahasia itu siang dan malam, maka Koay
Ji sudah paham sebagian besar yang ingin dia tahu.
“Tidak ada dari mereka yang menuruni gunung Pek In San, tetapi
tidak ada juga yang memasuki jalan rahasia ini...” lapor monyet
paling besar yang biasa menjadi pemimpin kalangan monyet itu.
Kedua monyet kawan baik Koay Ji juga terlihat mengangguk
tanda membenarkan pernyataan kawan mereka itu. Dan semakin
sah dan meyakinkan apa yang dalam pikiran Koay Ji.
3163
“Hmmm, jika demikian, mereka pasti masih berada dalam gedung
dan bersembunyi, atau sudah menuruni tebing itu untuk
bersembunyi disana. Bisakah salah satu atau beberapa dari
kalian mencoba menyelidiki keadaan di bawah tebing itu....”?
tanya Koay Ji meminta bantuan kawan-kawan monyetnya itu.
Permintaan bantuan yang pasti akan dijawab segera.
Benar saja, permintaan Koay Ji dijawab dengan kesediaan semua
monyet yang berada disitu, bahkan mereka seperti berebut untuk
melakukannya. Karena itu, Koay Ji kemudian berkata kepada
mereka:
“Cukup dua saja, karena jika terlampau banyak, maka justru akan
mendatangkan kecurigaan bagi mereka jika mereka benar berada
di bawah tebing....” putus Koay Ji dan membuat semua kawan
monyetnya diam.
“Betul, biar aku yang menetapkan siapa yang akan ke bawah......
engkau, dan juga engkau, pergi selidiki ke bawah tebing....”
monyet pemimpin akhirnya mengambil alih dan menunjuk dua
ekor monyet untuk bertugas. Dan tanpa menunggu lama, mereka
sudah berlalu melaksanakan tugas.
3164
“Kutunggu beritanya malam ini di gedung itu....” seru Koay Ji
kepada kedua monyet yang sudah melesat pergi melakukan
tugas.
Malamnya, Koay Ji kembali bercakap-cakap dengan Tek Ui
Sinkay di tengah banyak orang yang sedang makan malam.
Percakapan mereka berdua tidak banyak orang yang mengikuti,
karena semua sedang bersenda gurau dan bercakap-cakap
dalam kelompok-kelompok yang berbeda. Seperti paginya,
mereka tidak banyak bercakap hal-hal yang mendatangkan
ketegangan, melainkan hal-hal remeh yang justru membangkitkan
kebersamaan diantara mereka.
“Bagaimana dengan laporan terakhir sute....? kedua gedung
sudah kosong, masih ada gedung ketiga yang terdiri dari orangorang
yang tidak begitu penting. Gedung ketiga didiami oleh
Pasukan Robot, tinggal gedung itu yang masih ada aktifitasnya,
kedua gedung yang lain sudah kosong......”
“Yang pasti, tidak ada yang turun gunung, karena semua sudut
sudah ada kawanan monyet yang berjaga dan mengintai.
Keterangan terakhir sedang kita tunggu malam ini, membuktikan
kemana mereka pergi suheng” belum lagi habis Koay Ji
menjawab pertanyaan Tek Ui Sinikay, telinganya yang tajam
3165
menangkap suara minta bertemu dua ekor monyet. Dan dia tahu
siapa mereka. Siapa lagi jika bukan kedua kawan monyet yang
dia tugaskan kebawah?
“Sebentar suheng, mereka sudah tiba.....”
Setelah berkata demikian, Koay Ji kemudian berjalan keluar dan
tidak berapa lama sudah bertemu dengan kedua sahabatnya itu.
Kedua monyet itu berebut memberi salam dan berebut memberi
laporan.
“Bagaimana penyelidikan kalian kawan-kawan....”? sapa Koay Ji
dengan bersahabat dan membuat kedua monyet yang sudah
bekerja keras itu merasa hangat dan juga bangga bersahabat
dengan Koay Ji.
“Mereka memiliki jalan rahasia sendiri, muncul di tengah tebing,
dan sejak sore tadi ada beberapa orang yang merambat turun ke
bawah..... di bawah tebing, sudah ada beberapa orang yang
menunggu mereka turun.... sudah ada banyak orang di bawah
tebing sana. Mereka sudah dibawah sana.....” demikian laporan
kedua monyet itu dan berita itu sudah cukup, Tapi Koay Ji masih
bertanya,
“Mereka turun dari tengah tebing....”?
3166
“Benar, mereka muncul dari sebuah lubang di tengah tebing,
sepertinya ada jalan sendiri yang mereka bangun....”
“Hmmm, memang benar, ada jalan rahasia lain dalam gedung
itu.....” desis Koay Ji dan kini yakin bahwa dugaannya benar.
Untung mereka menguasai jalan rahasia lain yang justru langsung
ke bawah tebing, meski ketinggiannya ada lebih dari 500 meter
hingga ke bawah.
“Baiklah kawan-kawan, terima kasih atas pekerjaan kalian yang
sangat membantu. Kita akan berjumpa lagi tidak lama
kedepan........ pergilah menemui kawan-kawan yang lain
disana.....” perintah Koay Ji setelah jelas dan yakin kemana
kawanan penjaha Bu tek Seng Pay berada.
Tidak berapa lama, setelah makan malam berakhir, saat semua
tokoh masih berada di ruangan makan, berdasarkan informasi
Koay Ji, Tek Ui Sinkay memutuskan untuk memberi informasi
kepada semua orang;
“Cuwi sekalian, ada sebuah informasi penting yang perlu
kusampaikan. Perubahan terjadi, pertarungan pamungkas
melawan gerombolan Bu Tek Seng Pay mengalami perubahan.
Pertarungan itu akan terjadi besok hari, dan kita akan perlu
3167
melakukan persiapan baru untuk itu. Perlu cuwi ketahui, arena
pertarungan akan mengalami perubahan dan sedang kami
persiapkan sejak malam ini. Besok pagi, cuwi semua akan
mengetahui arena tersebut, pertempuran juga secara otomatis
mengalami tingkat kesulitan yang lebih. Besok pagi, atau
selambatnya siang hari, akan kami beritahu arena pertarungan
setelah orang kita menemui mereka mengenai arena
pertarungan. Malam ini sudah cukup, biarlah kita beristirahat dan
melakukan semua persiapan yang kita butuhkan nanti.....”
Beberapa orang terlihat ingin bertanya, tetapi Tek Ui Sinkay
menegaskan bahwa semua akan menjadi jelas dan terang besok
pagi. Meskipun sebenarnya baik Koay Ji maupun Tek Ui Sinkay
sudah tahu apa yang akan ditemukan orang yang mereka utus
besok pagi. Sebuah gedung yang kosong.
Tetapi, malam itu Koay Ji memahami sesuatu dan mengerti
bahwa semua kawan-kawannya mengalami kemajuan yang
membuatnya merasa sangat optimist. Sesuai janjinya, setelah dia
menilik dan melatih kembali semua kawannya, terakhir Siauw
Hong dan Kwa Siang yang memakan waktu panjang, Sie Lan In
yang pada akhirnya muncul menuntut janjinya. Padahal waktu
saat itu sudah hampir tengah malam, tapi memang dia
3168
berkepentingan dengan Sie Lan In, selain juga mencari jalan dan
cara untuk menyempurnakan keyakinannya.
“Koay Ji, apa gerangan yang engkau sembunyikan atau
rahasiakan itu dan yang menurut pendapatmu sangatlah penting
buatku guna nanti melawan Bu Tek Seng Ong yang hebat itu
besok.....”?
Koay Ji memang sudah siap, karena itu, menerima pertanyaan
dari Sie Lan In yang mengingatkan dia tentang apa yang sudah
dijanjikan semalam, membuat Koay Ji kemudian melangkah
perlahan. Ia berjalan mendekati lemari khusus di ruangan itu
sambil mengeluarkan sesuatu. Kelihatannya Koay Ji memang
sudah lebih dahulu mempersiapkan, sehingga “benda” yang
selama ini melekat dengan dirinya, sudah dia lepaskan. Memang
benar, benda yang layaknya kaos dalam berwarna hijau muda
dan dahulu adalah hadiah suhunya sudah dia siapkan dan
kemudian kembali mendekati Sie Lan In sambil menyodorkannya.
Selain itu, diapun berkata dengan suara yang amat perlahan:
“Sie suci, besok engkau menghadapi lawan dengan kekuatan
yang berimbang, akan sangat sulit mengetahui hasil akhir
pertarungan kalian. Karena itu, kusiapkan jubah ular putih yang
berasal dari Ular Mahkota Daun, sebuah pusaka yang dibentuk
3169
dan juga dihadiahkan suhu buatku. Satu jubah atau tepatnya kaos
ular putih ini, juga dimiliki oleh Tio Lian Cu, dihadiahkan oleh suhu
ketika dia pada masa-masa kecilnya mengunjungi suhu bersama
Thian Hoat Tosu di Pek In San. Jangan mengira bahwa kaos ini
sederhana saja seperti yang nampak dimata kita, sesungguhnya,
kaos ini memiliki manfaat yang luar biasa. Karena kaos ini
sesungguhnya punya kemampuan untuk mengurangi kekuatan
pukulan lawan, meskipun tidak cukup kuat namun bisa engkau
andalkan besok, selain juga mampu tahan senjata tajam dan peka
terhadap serangan beracun. Semua pukulan yang mengarah ke
badanmu nanti, akan mengalami pengurangan yang cukup,
sehingga aku tidak akan merasa khawatir ketika Sie suci
bertarung melawan Bu Tek Seng Ong besok. Engkau kenakan,
dan jangan khawatir, karena saat dikenakan warna kaos ini akan
berubah dan menjadi sama dengan warna kulitmu..... dengan
kaos pusaka ini, kekuatan iweekangnya akan menjadi sama
denganmu. Sehingga kemenangan siapapun, akan ditentukan
oleh ilmu silat dan bukan semata kekuatan iweekang..... nach,
engkau kenakan Sie suci. Besok, akan banyak hal yang
kupikirkan bersama sam suheng, bisa jadi perhatianku berkurang
ketika engkau sedang bertarung, tetapi dengan kaos mujijat ini,
semua kekhawatiranku akan lenyap......”
3170
Bukan main kaget dan terharunya Sie Lan In dengan pemberian
Koay Ji, kekasih yang kini sudah secara terbuka diakuinya.
Apalagi, dia tahu, justru lawan kekasih ini yang jauh lebih hebat
besok, hal yang membuatnya khwatir sejak kemaren. Tetapi,
justru dia yang diserahi kaos mestika itu, dan bukannya dipakai
sendiri untuk memasuki arena berbahaya besok hari. Bukankah
mereka berdua akan memasuki babakan pertarungan yang
sangat menentukan besok? Mengapa pula hanya dia yang
diperhatikan keselamatannya? Berpikir demikian Sie Lan In
menjadi kurang enak hati dan juga mengkhawatirkan Koay Ji.
Meski, disatu sisi, hatinya terasa manis, semanis madu.
“Koay Ji, engkau... bukankah engkaupun sangat
membutuhkannya...” sedikit terisak Sie Lan In saking terharunya.
Sekaligus khawatir dengan keadaan dan kondisi Koay Ji dalam
pertarungan nanti.
“Ach, tahukah engkau jika aku sudah mencapai titik mujijat Kim
Kong Pu Huay Che Sen (Ilmu Badan/Baju Emas Yang Tidak Bisa
Rusak)..? hal yang membuat kaos mujijat itu menjadi tidak banyak
berguna buatku.....? belum lagi, selama dua hari ini, banyak hal
yang sempat kusempurnakan, sehingga tidak terlampau repot
kelak menghadapi kakek tua itu lagi....” tolak Koay Ji secara halus
dan memaksa agar Sie Lan In yang mengenakannya.
3171
“Tapi, mengapa engkau sampai terluka kemaren itu....”? tanya Sie
Lan In tetap amat khawatir dengan keadaan Koay Ji.
“Tenang Suci, jika bukan karena serangan sihir yang
menghantam titik pengerahan iweekang utamaku, tidak akan
kakek itu mampu menembus batas kemampuan khikangku.....”
ujar Koay Ji rada sedikit berdusta, karena sesungguhnya,
kekuatan lawan memang amat luar biasa dan mampu menembus
khikang mujijatnya. Bukan apa-apa, sesungguhnya Koay Ji dan
kakek itu memang memiliki kemampuan berbeda amat tipis
belaka. Keampuhan iweekang kakek itu mampu menembus
khikangnya, meski memang benar fakta itu terjadi karena
gangguan ilmu sihir Rajmid Singh. Tapi, jika dilakukan dalam
keadaan biasa, meski kekuatan pukulan lawan hebat, tetapi Koay
Ji merasa masih memiliki cukup kemampuan untuk menahan
pukulan iweekang kakek mujijat itu.
“Benarkah demikian Koay Ji.....”? tanya Sie Lan In sendu, dan
jelas sekali terlihat kekhawatiran dan ketakutannya jangan sampai
terjadi sesuatu yang mengerikan bagi Koay Ji. Jelas sekali
kekhawatiran tergambar di matanya.
“Tenang Suci, kupastikan apa yang kukatakan barusan... engkau
mesti mengenakan kaos itu, anggaplah sebagai tanda perjodohan
3172
kita. Karena hanya itu benda pusaka peninggalan suhu yang
kujaga dengan segenap jiwa dan ragaku. Mengenakan kaos itu
membuatku tidak perlu terlampau khawatir lagi, dengan
ginkangmu, ilmu mujijat kita, maka teramat sedikit yang akan
mampu menyerangmu sampai akan sangat membahayakan
keselamatan dirimu.....” berkata Koay Ji kini sambil mendekati Sie
Lan In, menyerahkan kaos pusaka itu dan kemudian dengan yakin
dan tidak malu, dia membelai pipi kekasihnya itu. Meyakinkannya
dan menunjukkan rasa sayang dan pedulinya kepada kekasihnya
itu.
“Baiklah Koay Ji....” bisik Sie Lan In lemah, senang, terharu dan
semakin bertambah rasa cintanya kepada Koay Ji. Betapa tidak,
saat keduanya terancam bahaya dalam pertarungan nanti, Koay
Ji tetap mendahulukan dirinya dan tidaklah egois dengan
kebutuhan dan kemenangan diri sendiri.
“Sekarang engkau kenakan kaos pusaka itu, boleh engkau
gunakan ruangan dalam dibalik lemari besar itu untuk
mengenakannya suci.....”, Koay Ji menyuruh Sie Lan In untuk
mengenakan kaos itu.
Dan setelahnya, Koay Ji kembali tenggelam dalam pemikiran
yang sama pada saat Sie Lan In berlatih. Bahkan, kemudian,
3173
setelah Sie Lan In selesai mengenakan kaos itu, untuk membuat
efek ilmu yang dilatih semakin terasa, Koay Ji mengajak Sie Lan
In berlatih dalam hutan, dekat dengan pintu keluar dua dalam
markas itu. Di alam terbuka, Sie Lan In mampu memainkan
semua ilmunya dan pada bagian terakhir memainkan dua ilmu
terakhir yang merupakan gubahan Bu In Sinliong dan Koay Ji.
Khusus di bagian kedua, ia memainkannya secara serius,
berbeda dengan sehari sebelumnya, dia memainkan dengan
tenaga terukur dan kecepatan yang sesuai dengan tuntutan ilmu
itu. Sie Lan In melihat atau sempat melirik keadaan Koay ji, dan
menemukan anak muda itu memperhatikan seperti tidak
memperhatikan, serius seperti tidak terlihat serius.
Memang, pada bagian pertengahan latihan Sie Lan In, Koay Ji
sendiri merangkum dan kembali memproyeksikan dalam
bayangannya formula ketiga dan keempat dan kemudian
dipertentangkannya. Moment-moment penting dia proyeksikan
atau lebih tepatnya dia simulasikan dan dipertentangkan satu
dengan yang lain. Hanya saja, tanpa dia sangka, dia tidak lagi
memakai formula awal, tetapi memakai perspektif yang baru:
gerakan sederhana sesuai dengan tuntutan. Dan karena itu,
semua yang dia bayangkan dapat dia temukan gerakan
pemunahnya, dan semakin lama ketika dia mencoba menerapkan
3174
dalam menerima serangan Sie Lan In, semakin lama semakin
cepat dia menemukan gerakan pemunah. Dengan cara seperti itu
Koay Ji melatih dirinya dan memperkuat perspektif barunya dalam
sebuah pertarungan, juga termasuk mencipta ilmu dan jurus baru.
Semakin cepat Sie Lan In bergerak, kadang semakin lambat
justru bagi Koay Ji membayangkan dan memproyeksikan
pergerakannya. Hanya, semakin cepat dia menemukan dan
menyadari gerak pemunahnya, dan seperti itu semakin lama
makin cepat gerak pemunah ditemukannya. “Ach, kemajuan
berarti” desis Koay Ji dalam hati namun merasa senang. Dan
karena pemikiran itu, diapun memutuskan untuk menamai ilmu
terakhir yang diciptakannya dengan nama yang aneh, nama yang
sebelumnya tidak ada dalam angannya. Dia memberi nama
pukulan terakhir yang dia ciptakan sebagai Ilmu Poan Liong Ciang
Hoat (Ilmu Pukulan Naga Melilit). Di benaknya, Koay Ji
beranggapan, ilmu terakhirnya itu adalah saripati dari semua ilmu
yang dipelajari dan dipahami serta diciptakannya, hanya saja,
karena secara khusus diperuntukkan menandingi ilmu Pat Bin Lin
Long, maka dia menemukan sebuah upaya khusus untuk
menahan serangan lawan sejak pada awalnya. Ilmunya itu lebih
seperti seekor naga yang melilit mangsanya dan membuat sang
mangsa tidak mampu untuk banyak bergerak secara leluasa,
3175
meski sang naga tidak memangsa lawannya, lebih melilit secara
terus menerus.
Karena prinsipnya itu, maka gerakan-gerakan yang dipkirkannya
adalah gerakan yang bersifat mencegah dan menekan lawan
mengeluarkan kemampuan terbaiknya, tetapi jikapun terlanjut
dilepaskan, maka dia mampu dan siap mengantisipasi dan
menundukkan semua gerakan itu. Prinsipnya itu dia temukan
dalam prinsip NAGA MELILIT, dalam semua keadaan ilmu dan
jurus yang diingatnya bersifat menekan, membuat lawan tidak
punya ruang pukul, dan semua jurusnya mendahului gerakan
lawan untuk bisa menyerang. Itulah prinsip “NAGA MELILIT” yang
secara hebat dipikirkan oleh Koay Ji dan diciptakannya “tanpa
jurus”. Bahkan proses untuk jurus bertahan maupun jurus
menangkis yang baku dan tersusun rapih, tidaklah dia susun
sebagaimana jurus lainnya. Yang ada adalah prinsip sederhana
namun sangatlah dalam: bergerak sederhana pada saatnya,
sedikit bergerak untuk menekan yang banyak bergerak, dan
memutus ataupun menggugurkannya sebelum serangan lawan
diluncurkan atau dilepaskan.
Tanpa disadari, keduanya menemukan kemajuan hebat. Khusus
untuk Sie Lan In, dengan tambahan Kaos atau Jubah Ular Putih,
maka kemampuannya meningkat dengan pesat. Kecepatan dan
3176
kekuatan pukulannya sudah memperoleh sentuhan istimewa dari
mekanisme NAGA MELILIT, menyesuaikan gerakan dengan ilmu
dan jurus lawan, memanfaatkan kekuatan dan kecepatan.
Meskipun memang, ilmu dan jurusnya masih seperti formula biasa
yang tersusun rapih dan berurutan. Dengan demikian, Sie Lan In
sendiri sudah memperoleh perasan beberapa prinsip baru Koay
Ji tanpa dia dapat memahami mengapa dan bagaimana dia dalam
tahapan seperti itu. Boleh dibilang, bentuknya justru adalah awal
dari apa yang sedang dibangun dan diciptakan Koay Ji.
Yang jelas, ketika keduanya kemudian beristrahat, Koay Ji terlihat
mulai tersenyum puas dan Sie Lan In juga terlihat sama.
Keduanya seperti menemukan kemajuan yang cukup hebat dan
mendatangkan rasa percaya diri yang kuat dan tebal guna
memasuki pertarungan pada keesokan harinya. Bahkan Sie Lan
In ketika menutup latihannya dengan ringan dan senang sudah
berkata kepada Koay Ji dalam nada yang penuh rasa percaya diri;
“Koay Ji, nampaknya kemajuanku sungguh hebat, karena
kecepatan dan kekuatan pukulanku terasa membawa angin
pukulan yang amat kuat dan mematikan. Selain itu, kecepatanku,
juga sudah meningkat hebat, dan pasti membuat lawan akan
makin keteteran jika menghadapinya....”
3177
“Itu sebabnya engkau harus bersifat dan bersikap amat hati-hati
dikala memainkan ilmu-ilmu tersebut, karena efeknya memang
sangat hebat dan membutuhkan orang yang berkemampuan
istimewa untuk dapat menahanmu. Rangkaian jurus-jurus itu
memang tercipta untuk kemampuan mendesak dan memojokkan
lawan dalam satu rangkaian yang mengalir. Karena itu, ingat baikbaik
pesanku ini Suci, harap dicatat dalam hati agar digunakan
pada saat yang tepat......” jawab Koay Ji ringan sambil
memperingatkan agar hati-hati menggunakan ilmu itu.
“Baiklah Koay Ji, semua itu tentu saja kucatat dalam hati, apalagi
karena hari untuk memulai pertarungan sudah menjelang
datang....”
“Benar Suci, karena itu kita harus menggunakan jam tersisa untuk
beristirahat. Pulihkan kembali kekuatan dan semangatmu, masih
ada beberapa jam sebelum kita nanti beraksi besoknya.....”
“Baiklah Koay Ji, mari kita sudah cukup berlatih malam ini.....”,
ajak Sie Lan In guna mengakhiri latihan bersama mereka berdua
dan tidak lama kemudian, mereka sudah berada di ruangan
masing-masing.
3178
Tetapi tidaklah benar jika Koay Ji akan beristirahat, karena
sesungguhnya dia malah bekerja lebih keras untuk memantapkan
Ilmu yang baru saja dia susun dengan pola yang tidak biasa. Dia
memberi nama Ilmu Pukulan Naga Melilit hanya dalam hal pola
dan prinsip, tidak dalam rangkaian jurus-jurus yang membentuk
sebuah ilmu. Yang dia lakukan adalah prinsip menekan lawan
untuk tidak sampai mengeluarkan jurus menyerang. Prinsip yang
mirip dengan Ilmu Thian Liong Pat Pian yang selalu saja
menghindar dan menghindar, maka sekali ini dia menciptakan
ilmu yang selalu menekan lawan untuk tidak bisa keluar
menyerang. Beda utamanya adalah, Ilmu Thian Liong Pat Pian
tersusun dari rangkaian jurus yang jumlahnya sudah dua kali lipat
dari ilmu aslinya di tangan Koay Ji.
Sementara Ilmu Pukulan Naga Melilit, justru masih belum memiliki
atau memang diciptakan tanpa jurus tertentu. Melainkan jurusnya
datang dari inspirasi dengan melihat jenis serangan apa yang
akan dilontarkan lawan. Hadang dan buat lawan tidak mampu
mengeluarkan jurus serangannya, dan buat lawan tidak mampu
berbuat apa-apa bagai tubuhnya dililit seekor naga. Formulanya
dengan demikian bebas dan mengalir, tergantung bagaimana
lawan bergerak menyerang, pada saat itu Koay Ji keluar menekan
untuk tidak sampai jurus menyerang lawan terlontar. Tapi, ketika
3179
serangan tetap terlontarpun, prinsip ilmu itu tetap saja berjalan,
yakni dengan mematikan secepat mungkin serangan itu dan
kembali membuat lawan mesti berganti jurus. Dalam
keterdesakan atau keterpaksaan.
“Apakah ini tidak riskan? bagaimana jika tidak kutemukan
antisipasi atas jurus lawan pada saat yang tepat...? meski
memiliki kitab rahasia bergerak manusia, tetapi apa itu sudah
cukup dan memadai....? sudah mencakupi seluruh
kecenderungan serta juga pola gerakan secara keseluruhan...”?
ini yang menjadi persoalan Koay Ji dan yang juga membuatnya
tetap berpikir dan bekerja sampai jauh malam. Bahkanpun dia
masih tetap merenung sampai menjelang pagi hari, meskipun
perlahan-lahan dia mulai memahami banyak hal. Prinsip-prinsip
utama mulai tersusun di kepalanya dan semakin mengendap
menjadi sesuatu yang adalah bagian dari dirinya. Tetapi, memang
belum terumuskan detail. Kemampuannya yang banyak, gaya
bergerak Sie Lan In, gaya tarung Geberz dan terutama Panglima
Arcia, dan desisan Lie Hu San saat sebelum mereka berpisah
yang terakhir kali. “Melihat, mencatat, mengingat, dan kemudian
melupakan semuanya......”.
“Meskipun belum sepenuhnya dapat kupahami, tetapi rasanya
sudah cukup dan sudah memadai. Biarlah ilmu terakhir itu
3180
berkembang dengan sendirinya, dan juga menjadi lebih sempurna
seiring perjalanan waktu..... toch tidak ada ilmu yang begitu
diciptakan sudah langsung sempurna, tetapi akan terus
mengalami perubahan dan juga penyempurnaan seiring
perjalanan waktu.....” demikian akhirnya Koay Ji pada akhirnya
menutup perenungannya yang diakhir dengan senyum. Ya, dia
paham dia tidak perlu mengejar sesuatu yang bisa berlangsung
perlahan dalam perjalanan waktu. Sebab tidak ada ilmu yang
begitu diciptakan langsung sempurna dan tidak memiliki celah
lagi, tetap butuh waktu.
Sesuatu yang hebat dalam dirinya, dalam diri Koay Ji adalah
menyadari batasnya dan tidak hidup hanya dan untuk ilmu silat
belaka. Rasa ingin tahunya memang luar biasa, kepenasarannya
menciptakan sesuatu sangatlah hebat. Tetapi ketika tahu
batasnya, maka semua yang dia miliki akan menjadi lebih masuk
akal dan tidak menerjang dirinya. Inilah yang membedakan Koay
Ji dengan seorang Liok Kong Djie misalnya. Tokoh hebat yang
maniak ilmu silat, yang menjadi tawanan dan menjadi budak dari
nafsu dan juga rasa penasarannya untuk menemukan sesuatu.
Rasa penasaran untuk menjadi manusia sempurna, padahal tidak
ada batasan tertinggi untuk sebuah upaya menjadi lebih baik.
3181
Batas ilmu silat langit yang tiada batas. Selalu di atas langit ada
langit yang lain, tidak ada satu orangpun yang bisa mengklaim
sebagai yang paling hebat, raja diraja dari Ilmu Silat. Mengetahui
batas adalah penting. Sangat penting malahan. Liok Kong Djie
tidak memiliki pemahaman seperti ini, karena dia hidup demi dan
untuk ilmu silatnya. Dia memahami banyak hal, tetapi tidak pernah
mencoba mengerti dan mencari kedalaman dibalik semua tata
gerak yang bisa dia ciptakan dengan hadil yang megah dan gebat.
Pagi harinya, selesai makan pagi, sesuai dugaan Koay Ji dan Tek
Ui Sinkay, datang laporan bahwa ketiga gedung sudah sepi.
Sangat sepi. Tetapi untuk meyakinkan dirinya dan juga semua
pendekar yang sudah berada disitu, Tek Ui Sinkay kemudian
memutuskan untuk mengutus wakilnya menyelidiki. Beberapa
orang anggota Kaypang sekaligus ditugaskan untuk segera
datang dan mengunjungi ketiga gedung serta menyampaikan
bahwa waktu bertarung hari itu akan segera dimulai. Dengan
demikian, ada alasan jika mereka dipergoki lawan, tetapi jika
tidak, mereka akan tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi.
Benarkah lawan bersembunyi atau sudah berlalu dari markas
mereka. Jika sudah jelas tidak berada dalam gedung lagi, tinggal
satu soal, kemana mereka pergi?
3182
“Bun Pek, engkau pergi dan sampaikan bahwa keputusan kita hari
ini adalah, bahwa pertarungan akan dilakukan pada hari ini juga.
Engkau datang dan sampaikan pesanku kepada mereka, bahwa
kita semua akan segera datang menyerang siang ini, beberapa
jam lagi kedepan.....”
“Baik bengcu.....”
Orang yang dipanggil Bun Pek, yang juga anggota Kaypang
segera menerima pesan itu dan bersama 4 orang lainnya segera
berangkat menuju ke gedung dimana pihak lawan beristirahat.
Koay Ji dan Tek Ui Sinkay sebenarnya sudah tahu serta menduga
bahwa mereka akan membawa berita bahwa gedung itu memang
benar sudah kosong. Tetapi keduanya sudah sama memiliki
rencana cadangan yang akan langsung diturunkan dan
dilaksanakan hari itu juga. Karena mereka tahu dan sudah
menduga berada dimana musuh-musuh itru pergi dan
bersembunyi. Artinya, tidak akan menunggu hari lain untuk
menuntaskan pertempuran.
Benar saja, berselang satu jam kemudian, Bun Pek datang
kembali dengan wajah penuh keheranan dan kekagetan. Dan
tidak menunggu lama, diapun langsung melaporkan apa yang dia
temukan:
3183
“Bengcu, ketiga rumah itu sudah kosong. Tidak ada lagi tandatanda
kehidupan, tapi kami menemukan sebuah kertas dengan
tulisan yang cukup besar dan mencolok dan ditujukan kepada
Bengcu......”
“Hmmm, baiklah. Coba, serahkan surat itu dan biar kita bersama
tahu apa gerangan maksud mereka” berkata Tek Ui Sinkay
dengan suara mantap dan tidak terlihat sama sekali kekagetan
dalam sikapnya. Banyak orang mau tidak mau menjadi kagum
akan sikapnya saat itu.
“Baik, ini suratnya Bengcu....” ujar Bun Pek sambil mengeluarkan
sehelai kertas yang tidak dimasukkan dalam sebuah amplop,
tetapi sebuah surat yang sengaja dibuat dan ditulis terbuka biar
semua orang dapat membacanya. Ketika Tek Ui Sinkay akan
mengambil surat itu, tiba-tiba seseorang menyela dengan suara
awas dan mengagetkan semua yang hadir:
“Tahan bengcu, sebentar...” orang yang menyela itu bernama Bu
Ta Kuang, sahabat Tek Ui Sinkay sejak muda dan merupakan
salah seorang anggota Kaypang yang sangat gemar dengan
racun. Tokoh itu sudah muncul sejak sebelum pertarungan
puncak menyerbu markas Bu Tek Seng Pay, dan berperan sangat
besar dalam menghadapi serangan beracun yang dilepas Sam
3184
Boa Niocu beserta murid serta juga cucu muridnya yang memang
amat berbahaya.
“Koay Ji, yang lainnya menjadi tugasmu......” sambil berkata
demikian, Bu Ta Kuang mengambil surat itu dan benar saja
lengannya terlihat berpijar karena dia sudah melumuri lengannya
dengan salep anti racun yang juga buatannya sendiri. Dan setelah
memegang surat itu, diapun kemudian menggerak-gerakkan
lengannya seperti mengibas, sementara Koay Ji sudah berherak
mendekati Bun Pek dan langsung bertanya kepadanya:
“Siapa saja yang sudah memegang surat beracun itu...”? tanya
Koay Ji, tetapi belum lagi ada yang sempat menjawab
perntanyaannya, Bu Ta Kuang sudah menyela dan berkapa
kepadanya dengan suara keras:
“Tidak usah ditanya Koay Ji, mereka semua yang baik yang
sempat masuk masuk maupun yang tidak sempat masuk kedalam
gedung itu, sudah bisa dipastikan telah keracunan. Beberapa dari
mereka atau bahkan mungkin mereka semua, hanya dalam
hitungan beberapa menit belaka, akan segera melayang jiwanya
secara sia-sia. Karena itu, lebih baik bergeraklah dengan
cepat....” sambil berkata demikian, Bu Ta Kuang kemudian
3185
mendekati Tek Ui Sinkay dan segera menyerahkan surat itu
sambil berkata kepada Tek Ui Sinkay:
“Bengcu, silahkan, surat ini sudah tidak beracun lagi....”
sementara Tek Ui Sinkay mengambil surat itu, Koay Ji sudah
mengobati orang-orang malang yang keracunan itu, dan sebentar
kemudian wajah mereka yang ketakutan berubah menjadi tenang
kembali. Setelah Bu Ta Kuang melirik mereka dan menyatakan
sembuh, merekapun keluar ruangan dengan rasa syukur tak
terhingga, sambil bergidik karena nyawa mereka tadinya nyaris
melayang. Dan saat itulah Tek Ui Sinkay membacakan surat itu
bagi semua orang:
“Bengcu Tionggoan, KAMI BELUM KALAH. hati-hatilah, kami
pergi dulu. Tetapi kami berjanji akan segera kembali dalam waktu
tidak lama dengan kekuatan yang jauh lebih besar lagi....... hari
itu, tidak akan ada tawar menawar, Rimba Persilatan Tionggoan
akan berubah menjadi neraka mengerikan....”
BU TEK SENG ONG
Singkat dan jelas ancaman ancaman. Pihak lawan yang tadinya
sudah terdesak ternyata dapat menemukan jalan mundur dan kini
bersembunyi entah kemana. Benar-benar ancaman bahaya yang
3186
sangat mengerikan. Bagaimana jika mereka mengunjungi
perguruan silat satu demi satu dan menghancurkannya?
Bukankah akan banyak korban yang jatuh? Bagaimana
menemukan mereka yang kini sudah tidak berada dalam gedung
itu? jika mereka lolos, benar bahwa mara bahaya yang amat hebat
akan mengancam Rimba Persilatan. Karena tokoh-tokoh lawan
yang meloloskan diri itu, semuanya adalah TOKOH UTAMA,
sekutu utama dari maha iblis Bu Tek Seng Ong yang membentuk
dan memperkuat Bu Tek Seng Pay. Benarlah, sebuah ancaman
maha hebat.
“Kurang ajar, mereka benar-benar licik,,..” maki si tua Hek Man
Ciok yang tetap coba ditenangkan oleh anaknya. Kedua tokoh
hebat anak beranak itu tetap tinggal dan bergabung untuk
menghajar kawanan Bu tek Seng Pay. Meski lawan utama
mereka, Utusan Pencabut Nyawa sudah ratusan yang modar dan
sudah membubarkan diri, tetapi mereka berdua masih tetap
berkomitmen mengejar para perusuh yang amat membahayakan
keselamatan rimba persilatan Tionggoan.
“Benar sungguh licik....” suara tokoh pendekar lainnya
mendukung geraman si tokoh tua yang menjadi sangat murka
karena kehilangan semua tokoh penjahat yang tadinya sudah
3187
kejepit itu. Geraman keduanya mewakili perasaan kaget dan juga
was-was semua tokoh persilatan yang berada disana.
Tek Ui Sinkay memandang Koay Ji yang mengangguk kepadanya
dan kemudian diapun berkata dengan suara keras:
“Cuwi sekalian, harap tenang. Mereka tidak akan lari jauh, kita
akan dapat mengejar mereka karena kami tahu dan paham
mereka berada dimana. Hanya, harap cuwi sekalian menahan
diri, beberapa orang dari kita akan bekerja keras untuk menyusun
strategi mengejar dan menghajar mereka. Akan dimulai dari
ketiga gedung itu, malam ini selambatnya, pertarungan dengan
mereka akan dilakukan.... maka, sekali lagi harap cuwi sekalian
tenang. Beberapa dari kita akan segera bekerja keras untuk dapat
memastikan dimana pertarungan itu dilakukan......”
“Bengcu, kemana para penjahat itu pergi....”? terdengar teriakan
Hek Man Ciok yang benar-benar merasa amat penasaran. Saking
penasarannya dia memotong Tek Ui Sinkay yang sedang
memberi penjelasan.
“Kami punya dugaan kuat, mereka tidak berada jauh dari sini.
Karena itu, harap kita semua tetap tenang dan tetap bersiaga......
Kuang heng akan tetap berjaga disini, sementara beberapa orang
3188
akan menyelidiki rumah atau gedung mereka...... harap cuwi
sekalian sabar menunggu” sambung Tek Ui Sinkay dengan
sebelumnya juga menjawab pertanyaan emosional Hek Man
Ciok.
“Sampai kapan kita menunggu....” tanya tokoh lain lagi
memastikan waktu mereka untuk tetap sabar menunggu.
“Selambatnya sore kita sudah tahu mereka berada dimana....”
Tek Ui Sinkay tetap meladeni dengan sabar.
“Apakah pertarungan akan dilakukan hari ini....”?
“Tetap akan kita lakukan....”
“Bagaimana aturan pertarungannya....”?
“Kita atur kemudian, kesepakatan awal sudah mereka cederai,
maka kita berhak untuk menentukan bagaimana pertarungan
nanti....”
Dan sibuklah Tek Ui Sinkay meladeni semua pertanyaan bernada
penasaran pada saat itu. Kepenasaran yang dapat dimaklumi.
Masalahnya, jika lawan meloloskan diri dengan semua tokoh
utamanya yang memiliki kepandaian yang luar biasa hebatnya,
3189
maka sama saja upaya mereka yang sudah banyak makan
korban akan sia-sia. Bahkan, ancaman yang lebih besar kini
secara langsung akan menimpa mereka jika tokoh-tokoh itu
muncul dan meluruk ke rumah perguruan masing-masing. Jika
sudah begini, siapa yang tidak akan merasa ketakutan? Tidak ada
cara lain selain saat itu menemukan dan menghentikan tokohtokoh
hitam yang diketahui sebagian besar adalah tokoh berdarah
dingin. Tokoh yang biasa dan mampu membunuh dengan cara
mengerikan dan tidak punya welas asih.
Melihat betapa Tek Ui Sinkay keteteran memberi penjelasan
kepada banyak orang yang penasaran dengan raibnya musuh
didepan mata, maka Koay Ji sadar bahwa dia harus membantu
suhengnya. Betapapun dia juga memilki beberapa informasi dan
bahkan juga pengetahuan lengkap tentang apa yang sedang
semua hadapi dan takutkan itu. Maka dengan mengerahkan
kekuatannya, kemudian berkata dengan suara penuh rasa
penasaran:
“Jika cuwi sekalian berdebat seperti ini, maka tidak akan ada yang
dapat dikerjakan dalam menghadapi persoalan yang di depan
mata..... dibanding berdebat, sebaiknya cuwi memberi
kesempatan kepada Bengcu untuk bekerja. Mari kita semua
bekerja sesuai dengan kebisaan kita...” perkataan Koay Ji yang
3190
mulai dipandang dan juga dilihat dengan cara menghormat oleh
banyak orang termasuk menyentak. Dan itu yang akhirnya
menyadarkan semua orang.
Apalagi karena nada suara Koay Ji agak berat dan serius
sehingga menutupi semua suara penasaran yang masih ingin
bicara dan tetap ingin pendapatnya didengarkan. Tetapi, seperti
biasanya, bahwa semakin banyak orang semakin banyak usul
dan ide, dan akan semakin sulit memutuskan apa yang akan
dikerjakan. Sentilan Koay Ji dengan kekuatan mujijatnya
membuat banyak orang sadar akan hal tersebut. Benar, bahwa
menghujani Tek Ui Sinkay dengan pertanyaan, sama saja dengan
menahan Bengcu itu untuk memutuskan dan mengerjakan
sesuatu yang akan cepat memulai pekerjaan mencari mereka
yang menghilang dan sembunyi. Pada akhirnya semua diam dan
memberi kesempatan Tek Ui Sinkay untuk berbicara:
“Cuwi sekalian, terima kasih bisa mendengarkan lohu bicara
seklai lagi. Kemana lawan-lawan kita pergi, sebenarnya sudah
dalam perkiraan kami, tetapi masih akan kami lacak biar dapat
segera memastikannya. Bisa dipastikan, mereka memiliki jalan
rahasia dibawah gedung itu, kemana ujungnya sudah kami dapat
tebak. Tetapi, beri kami waktu untuk melacak jalan rahasia itu,
baru setelahnya kami akan memutuskan cara untuk mengejar
3191
lawan. Jangan takut, kemana mereka pergi kemungkinan besar
masih belum ada jalan keluarnya, karena itu bersabarlah karena
mereka tidak akan kemana-mana. Untuk sekarang ini, berilah
kami waktu untuk memastikan apa yang akan kita lakukan.....”
Pidato terakhir Tek Ui Sinkay membuat semua orang sadar,
bahwa Bengcu bukan berdiam diri dan bukannya bodoh dikibuli
lawan. Perlahan-lahan mereka paham dan satu persatu kemudian
meninggalkan ruangan pertemuan dengan memperoleh janji
bahwa apa yang akan dilakukan, akan dijelaskan setelah makan
siang nanti. Atau selambatnya sore hari. Jika memang bisa e bih
cepat dari itu, tentunya lebih baik lagi. Menunggu Tek Ui Sinkay
bekerja untuk menemukan jalan rahasia dan bersikap apa
terhadap jalan rahasia tersebut, bisa dilakukan di tempat mereka
beristirahat. Itu sebabnya banyak yang pergi kembali beristirahat
ataupun berkelompok sambil juga bercakap-cakap satu dengan
yang lain.
Pada akhirnya, tertinggal Koay Ji bersama dengan Tek Ui Sinkay,
Kim Jie Sinkay, Ciangbudjin Siauw Lim Sie, Cu Ying Lun Pangcu
Thian Cong Pay, Ciangbudjin Hoa San Pay, Khong Yan dan Sie
Lan In yang berada dalam ruangan tersebut. Bu Ta Kuang, juga
masih ada dalam ruangan karena sejak awal dia memang duduk
dan membiarkan urusan dunia persilatan diatur oleh sahabatnya
3192
saja, Tek Ui Sinkay. Beberapa saat, mereka semua dalam
ruangan sama bersikap diam dan menunggu Tek Ui Sinkay untuk
membuka percakapan. Dan untuk itu, mereka tidak perlu
menunggu lama, karena setelah semua saling pandang,
terdengar Tek Ui Sinkay, bengcu Tionggoan membuka suara:
“Kuang heng, mohon memeriksa gedung itu dengan ditemani oleh
Khong sutit dan juga Sie Kouwnio serta Tio Ciangbudjin. Kita perlu
mengetahui jalan rahasia yang mereka buat, yang jika tidak keliru
ada di ketiga gedung tersebut. Selain bahaya racun, bukan tidak
mungkin ada lawan tersembunyi disana, karena itu sebaiknya
disertai oleh Barisan Lo Han Tin dari Siauw Lim Sie..... kita perlu
segera memastikan dimana jalan masuk agar dapat segera
membuat keputusan.....”, itu perkataan dan perintah pertama
yang keluar dari mulut Tek Ui Sinkay setelah dia berdiam diri
untuk beberapa saat lamanya. Tidak ada yang menolak dan tidak
ada yang menentang apa yang sudah diperintahkannya.
Karena memang, perkataan Tek Ui Sinkay sekali ini sudah
bersifat perintah karena keadaan yang sudah agak genting.
Karena itu, Khong Yan, Tio Lian Cu dan Sie Lan In tidak
membantah, mereka langsung berdiri dan menyatakan kesiapan
dengan ditemani atau menemani seorang tokoh atau ahli racun
bernama Bu Ta Kuang. Bahkan, Ciangbudjin Siauw Lim Sie
3193
sendiripun sudah menurunkan perintah agar Lo Han Tin juga
menyertai rombongan itu, dan rombongan yang lain dari Kaypang
juga sudah siap. Tugas mereka bukan hanya menemani, tetapi
juga untuk membongkar atau menyelidiki ketiga gedung yang
tadinya dihuni tokoh-tokoh pihak lawan. Tidak menunggu terlalu
lama, semua yang disebutkan atau diperintahkan Tek Ui Sinkay
sudah pergi melaksanakan tugasnya.
“Amitabha, Bengcu,,,,, kemana sebetulnya tokoh-tokoh utama
lawan kita pergi dan berada sekarang ini....”? adalah Ciangbudjin
Siauw Lim Sie yang membuka suara dalam nada yang penuh
hormat dan tetap lembut. Pertanyaan yang berada di benak
semua yang hadir pada saat itu. Atau pertanyaan yang ingin
diungkapkan banyak orang hanya mereka semua saling
menunggu. Maklum, keadaan tiba-tiba menjadi agak tegang sejak
Koay Ji bersuara tadi.
“Ciangbudjin Suhu, sekarang ini tinggal ada satu tempat. Tapi,
kami pastikan mereka berada di bawah tebing sana..... karena
penyelidikan awal menunjukkan kesana mereka pergi. Jangan
ditanya darimana informasinya, mereka yang pergi menyelidiki ke
gedung itu, sedang berusaha mencari jawaban bagaimana
caranya pihak lawan menuruni tebing itu.....” jawab Tek Ui Sinkay
dan membuat semua yang belum tahu merasa kaget.
3194
“Astaga, tebing yang bawahnya konon tidak terlihat.....”? tanya
Kim Jie Sinkay dalam nada bertanya, bukan nada meragukan.
“Benar Kim Jie heng, memang benar, bahkan cara kita menuruni
tebing itu sudah kami siapkan sejak beberapa hari yang lalu. Kita
hanya sedang mencari tahu, cara apa yang dilakukan lawan untuk
menuruni tebing, karena kita harus menutup akses itu agar
mereka tidak punya jalan melarikan diri saat kita justru sedang
mengejar mereka dari jalur yang lain......” tegas Tek Ui Sinkay.
“Hmmm, ada baiknya jika kita semua membantu mereka mencari
jalan rahasia di bawah gedung itu....” usul Kim Jie Sinkay.
“Usul yang menarik dan perlu dipertimbangkan Sam Suheng,,,,”
terdengar Cu Ying Lun juga berbicara mendukung usulan Kim Jie
Sinkay.
“Jika memang kita ingin secepatnya menemukannya, kita akan
pergi membantu. Hanya, biarkan Bu Ta heng mengerjakan
bagiannya terlebih dahulu, membersihkan racun di ketiga gedung
itu. Sebab jika tidak, justru akan terjadi sesuatu yang tidak kita
inginkan bersama...”
“Baiklah, kita tetapkan demikian....” terdengar Kim Jie Sinkay
kembali bersuara dan diiyakan semua orang. Betapapun memang
3195
benar, sudah terbukti, serangan senyap dengan menggunakan
racun, nyaris memakan nyawa beberapa orang. Untung saja ada
Bu Ta Kuang dan Koay Ji. Kalay tidak?
“Jika demikian, mari sekarang kita menuju ketiga gedung itu” ajak
Tek Ui Sinkay dan kemudian diikuti semua orang. Sementara
Koay Ji juga beranjak menuju keluar, tapi tidak lama, dia
kemudian mengambil jalan lain yang agak melebar dan tidak
menuju ke tiga gedung tujuan bersama dengan rombongan itu.
Tek Ui Sinkay sempat tahu Koay Ji memisahkan diri. Tetapi dia
tetap melanjutkan langkahnya karena paham bahwa
kemungkinan Koay Ji akan melakukan hal lain yang tidak kurang
penting dan strategisnya dengan apa yang sedang mereka
hadapi. Kepercayaan Tek Ui Sinkay kepada Koay Ji memang
sangat tebal.
Tetapi, sementara itu, Koay Ji yang berjalan menyimpang dari
semua rombongan tidak menyadari jika langkahnya diikuti oleh
Siauw Hong, Kwa Siang dan Siok Han. Mereka bertiga mengiringi
langkahnya dari belakang hingga dia mencapai sebuah tempat
yang pernah dia ketahui bukan bagian luarnya tetapi bagian jalan
masuknya. Ya, tempat itu dia ketahui merupakan sebuah pintu
masuk kedalam penjara yang tidak banyak orang yang tahu.
Bahkan, dari kawan-kawannya, hanya dia sendiri yang paham
3196
bahwa penjara bawah tanah itu terhubung dengan jalan rahasia
bawah tanah, dan juga jalan rahasia menuju ke tebing bagian
bawah. Kesanalah Koay Ji menuju, dia tahu ada yang
mengikutinya tetapi dia paham benar siapa-siapa saja mereka
yang mengikutinya.
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Amoy Lokal PANL 19 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Jumat, 20 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments