Cerita PL ML PANL 16

--------

“Karena semua jalan masuk menuju ke atas, sudah disiapkan
jebakan berupa Barisan dengan hawa sihir tebal. Dan bahkan
masih belum cukup, mereka juga sudah menyiapkan jebakanjebakan
beracun dari tokoh beracun yang terkenal, Sam Boa
Niocu melalui muridnya Cen Soat Ngo. Cukup dengan itu, maka
kita semua sudah dapat membayangkan betapa sulitnya mendaki
gunung itu saat sekarang ini. Karena itu, lebih baik kita
menunggu.” berkata Sie Lan In dan membuat semua orang jadi
pada mengangguk. Kini setuju sepenuhnya setelah tahu bahaya
apa yang menunggu mereka jika nekat mendaki Pek In San saat
itu.
“Hmmmmm, jika memang demikian, hutan inipun sudah memadai
untuk menjadi tempat persembunyian kita...” berkata Hek Man
Ciok dengan suara tenang, meski keadaan mereka sebenarnya
cukup runyam.
“Tetapi tidak mungkin kita tidak bergerak dan tinggal di pohon
selama lima hari nanti, belum lagi mencari makanan kita.....”
2507
protes Yu Lian, biasanya wanita memang lebih detail dalam
menilai situasi
“Jika memang demikian, mumpung sudah mulai terang tanah,
mari kita mencari tempat yang lebih tepat untuk menjadi
persembunyian kita...... tetapi, tidak perlu untuk mengarah ke
Thian Cong San, lebih baik kita mengarah ke samping tetapi
jangan terlampau jauh dari jalanan utama. Hal ini penting agar
kelak lebih mudah kita untuk bergabung dengan rombongan yang
datang dari Thian Cong San....” desis kakek Hek Man Ciok, dan
memang benar, pilihan itu cukup masuk diakal dan yang
kemudian dapat disetujui bersama.
Meski Sie Lan In dan Yu Lian sudah saling mengagumi sejak awal
bertemu, tetapi barulah pada pagi hari ini mereka bisa bercakapcakap
dan berkenalan secara lebih dekat. Maklum, sejak kemarin
mereka berada pada posisi diburu dan meski Sie Lan In sudah
bisa melihat bagaimana Yu Lian bertarung dengan hebat dan
gagah perkasa, tetapi dia masih belum bisa mengutarakan keluar
secara langsung. Maka, pada hari ini, mereka berdua pada
akhirnya bisa berkenalan dan kemudian malah bisa berbicara
lebih leluasa satu dengan yang lainnya. Dan tentu, keadaan ada
pagi itu membuat keduanya menjadi lebih dekat:
2508
“Engkau bertarung hebat kemaren enci Lian.....”
“Accccch, tetapi sejujurnya, gerakan ginkangmu belum pernah
kusaksikan seumur hidupku. Justru encimu ini yang ingin
mengatakan bahwa, engkau ini sungguh amat hebat dan luar
biasa adikku.....” jawab Yu Lian sambil tersenyum.
“Sesungguhnya banyak yang bisa melakukannya, hanya engkau
belum pernah melihat mereka saja enci, aku sudah melihat dan
berhadapan setidaknya dua orang dengan kemampuan yang
hebat seperti itu.....”
“Apakah engkau maksudkan Si Rase Tanpa Bayangan yang juga
terkenal sebagai raja atau ratu ginkang itu adikku....”?
“Sesungguhnya, dia hanya salah satunya saja enci, beberapa
waktu lalu aku sudah bertemu dengannya, dan sejujurnya, dia
memang sangat hebat.....”
“Masih ada yang lain lagikah....”? tanya Yu Lian nyaris tidak
percaya jika masih ada tokoh sehebat Lam Hay Sinni dan Si Rase
Tanpa Bayangan.
“Selain Subo, memang masih ada yang lain Enci.....”
2509
“Acccchhhh hebat jika demikian.....”
Demikian kedua gadis itu semakin lama jadi semakin akrab, dan
dalam pelarian itu adalah mereka berdua yang bergantian
mengurusi Tian Sin Su yang sudah mulai lebih baik. Sudah bisa
bertarung lagi, tetapi memang masih akan kesulitan jikalau
bertarung melawan musuh dengan kepandaian yang setingkat.
Tetapi, setidaknya sudah jauh lebih baik ketimbang keadaannya
kemaren. Tidak hentinya Tian Sin Su mengucapkan terima kasih
kepada Sie Lan In dan juga tentu saja Yu Lian yang masih orang
sendiri di Hong Lui Bun.
Sementara itu, dengan berhati-hati, mereka berlima melanjutkan
“pelarian” dengan mengambil jalan agak menyamping sesuai
saran Hek Man Ciok. Tetapi, Sie Lan In dan juga Hek Man Ciok
lama kelamaan mulai cepat menyadari jika lawan tetap mampu
mencium kemana mereka melarikan diri. Adalah Sie Lan In yang
mulanya merasakannnya dan kemudian dia memilih untuk
berbisik dan bercakap dengan tokoh tua yang dia tahu juga hebat
itu. Dan, dia tidak terkejut ketika mengetahui jika tokoh tua itu,
juga sudah menyadarinya:
“Hek Locianpwee, kelihatannya mereka membawa ahli mencari
jejak yang cukup hebat dan lihay, karena jika siauwte tidak keliru
2510
maka mereka masih terus memburu kita dan mengejar ke tempat
yang benar dan tepat. Bahkan kurasa rombongan semakin
mendekat, meski masih terpisah jarak cukup jauh, tetapi
kupastikan mereka akan mampu menyusul kita nantinya. Apakah
locianpwee memiliki pandangan dan strategi lain guna
menghadapi keadaan seperti ini,,? Khususnya saat akhirnya
rombongan kita harus berhadapan secara terbuka dengan
rombongan mereka yang lebih besar. Ditambah dengan
kenyataan bahwa kemungkinan besar, mereka juga datang
dengan kekuatan yang lebih besar, lebih banyak dan juga dengan
beberapa tokoh lebih sakti daripada sebelumnya.....”
“Engkau benar Kouwnio, mereka semakin mendekat. Jika lohu
tidak keliru, mereka amat menguasai daerah ini dan karena itu
mereka masih lebih cepat beberapa saat dibandingkan dengan
perjalanan kita. Mereka akan bisa menyandak kita pada sore hari
jika kita benar-benar tidak mampu menemukan tempat
bersembunyi yang cukup baik....” jawab Hek Man Ciok, meski dia
juga merasa tegang tetapi sebagai orang tua dia tidak ingin
memperlihatkan rasa takutnya. Dan hal itu bermanfaat, karena
Sie Lan In menjadi bertambah berani dengan sikapnya itu. Atau,
boleh dikata, keduanya jadi sama-sama saling mendukung untuk
2511
lebih tabah dan berani menghadapi apa yang mungkin ada di
depan mereka nanti.
“Hmmmm, apakah tidak lebih baik kita berjalan sedikit melingkar
agar membuat perhatian mereka dapat teralihkan meski hanya
sejenak.....? Karena sejauh ini tidak kutemukan tempat
bersembunyi yang pas untuk kita semua.....” tanya dan sekaligus
usul Sie Lan In setelah menimbang-nimbang sebentar apa yang
sebaiknya mereka lakukan menghadapi ancaman lawan.
“Biar kita pertahankan jalur ini, baru pada malam nanti, kita
bergerak memutar dan kembali menuju tempat semula, berada
pada jalur perjalanan ke Thian Cong San. Untuk saat ini,
sebaiknya kita pertahankan jalur perjalanan kita dulu...... mereka
pasti akan sedikit kebingungan dalam memikirkan strategi kita
itu...” jawab Hek Man Ciok mengusulkan setelah berpikir sekian
lama mencari-cari strategi alternatif yang dapat mereka lakukan
di sisa waktu yang sempit.
“Baik Locianpwee.... kita tetapkan saja seperti itu, nanti
locianpwee bisa memberi penjelasan kepada kawan-kawan
sebentar”
2512
Boleh dibilang mereka sedang adu strategi dan kepintaran, meski
penguasaan area amat menentukan. Yu Lian bisa menangkap
kegalauan dari percakapan antara Sie Lan In dengan Kakek Hek
Man Ciok. Maka setelah selesai percakapan kedua orang itu,
diapun memutuskan untuk mendekati Sie Lan In dan sekalian
bertanya dengan suaranya yang lemah lembut:
“Ada masalah adik In........”? tanyanya dengan wajah biasa saja,
tetapi perhatian dan juga pertanyaannya yang penuh kehangatan
membuat Sie Lan In merasa dekat dan tidak merasa ditekan untuk
menjawab.
“Mereka semakin mendekat Enci Lian, aku dapat merasakan
pergerakan mereka. Kelihatannya mereka sangat menguasai
area dimana kita berada, karenanya dapat memperpendek jarak
dengan kita.....”
“Apakah kita harus bersiap untuk bertarung....”?
“Kelihatannya memang seperti itu....”
“Biarlah kuberitahu toako......”
“Sebaiknya begitu enci,,,, sebelum gelap mereka akan bisa
menemukan kita semua dan nyaris bisa dipastikan terjadi
2513
pertempuran jika memang kita bertemu dengan mereka,
dimanapun di bagian hutan ini....”
Dan memang benar seperti dugaan Hek Man Ciok itu. Karena
pada sore harinya mereka akhirnya bisa bertemu, atau tepatnya
rombongan Sie Lan In dapat terkejar atau tersusul rombongan
lawan. Hanya untungnya memang sudah saat menjelang
matahari tenggelam dan kegelapan sudah menjelang datang.
Lawan yang mengejar memang tokoh-tokoh yang cukup hebat
tetapi tidak sebanyak rombongan kemaren. Yang muncul
hanyalah Liok Kong Djie serta Ki Leng Sin Ciang (Raksasa
Telapak Tangan Sakti) Ma Hiong Seng sebagai tambahan tenaga
yang baru. Selebihnya adalah tokoh-tokoh yang kemarin sudah
saling bentrok dengan mereka. Mereka itu adalah Liu Beng Wan,
Jamukha, Suma Cong Beng, Si Tiok Gi, Lu Kun Tek dan juga 5
orang Pasukan Robot. Selain mereka, ada juga 2 orang lain,
kepandaian mereka biasa saja, tetapi mereka berpakaian seperti
tokoh Pek Lian Pay. Kemungkinan, keduanya adalah pencari jejak
yang menuntun rombongan pengejar memburu Sie Lan In dan
kawan-kawannya hingga terkejar.
Mungkin saja tokoh-tokoh yang lainnya dari pihak lawan sudah
kembali ke Gunung Pek In San, ke tempat dimana Markas mereka
berada. Karena memang ada tugas-tugas lain yang harus mereka
2514
kerjakan dan selesaikan menjelang pertempuran besar-besaran
disana. Sie Lan In yang sudah sempat mendengar rencana kejam
mereka dengan melumuri Barisan yang menjebak dengan racun,
selain dengan ilmu sihir, merasa bahwa tokoh-tokoh yang tidak
muncul pasti mengerjakan rencana busuk Bu Tek Seng Pay itu.
Keadaan itu jelas bukan hal menyenangkan serta bukan hal yang
baik bagi pertarungan dalam waktu dekat.
Begitu bertemu, Liok Kong Djie langsung bergerak dengan
diarahkan dan dipanas-panasi oleh Suma Cong Beng. Dan sadar
setelah melihat kehebatan kakek itu, Sie Lan In langsung majukan
dirinya dan menghadapinya dengan tidak sedikitpun merasa
takut. Semua pada awalnya terkejut melihat Sie Lan In yang maju,
tetapi ketika lima gebrakan awal mereka mampu melihat
bagaimana Sie Lan In dapat menandingi dan membuat Kakek itu
geram, semua berbalik dari khawatir menjadi kagum. Liu Beng
Wan sendiri kaget, karena dia tidak menyangka suhunya kembali
bertemu lawan gadis muda yang sakti dan mampu
menandinginya seperti dahulu Tio Lian Cu mampu menghadapi
Liok Kong Djie. Satu lagi seorang tokoh muda selain Tio Lian Cu
dapat menandingi Suhunya.
Melihat pertarungan Sie Lan In yang mampu menandingi Liok
Kong Djie yang paling hebat dipihak lawan, barulah semua sadar
2515
bahwa Sie Lan In tidak hanya sekedar sanggup dan hebat dalam
ilmu ginkang, tetapi juga dalam ilmu silat lainnya. Hanya kakek
Hek Man Ciok yang maklum dan tahu, karena kemampuan Sie
Lan In melacak kedatangan lawan jelas menunjukkan
kemampuan iweekang dia yang sudah amat tinggi. Hal yang
memang juga dapat dilakukannya, tetapi bagi seorang seperti Sie
Lan In, jelas dibutuhkan kematangan iweekang dan penguasaan
yang sudah “nyaris” sempurna.
Sementara itu, sebentar saja masing-masing sudah memilih
lawannya sendiri- sendiri. Yu Kong sudah kembali menghadapi
lawan dan musuh keluarga dan perguruannya, yakni Si Tiok Gi
yang kini maju dengan dibantu juga oleh Lu Kun Tek dalam
melawannya. Dan kemudian Liu Beng Wan kembali bertarung
hebat dan ketat dengan Yu Lian, melanjutkan pertarungan ketat
mereka sehari sebelumnya yang masih belum tuntas. Ma Hiong
Seng si pendatang baru dari Tiang Pek Pay sudah maju untuk
menghadapi Hek King Yap dan masih dibantu Suma Cong Beng
yang licik dan banyak akalnya. Sementara Jamukha menghadapi
kakek sakti Hek Man Ciok bersama dengan atau dibantu oleh 5
Pasukan Robotnya yang kemaren keteteran menghadapi kakek
itu. Sebentar saja pertarungan seru pecah di tengah keheningan
2516
hutan yang masih perawan itu. Tetapi, mana para petarung itu
masih sempat sadar dengan hutan yang masih perawan itu?
Tetapi pertarungan paling menarik adalah Sie Lan In melawan
Liok Kong Djie, seru dan amat luar biasa karena kemampuan
mereka memang masih mengatasi kawan mereka yang lain.
Keunggulan Sie Lan In dalam ginkang diimbangi dengan tenaga
yang lebih matang dikuasai dan pengalaman tempur yang amat
banyak oleh Liok Kong Djie yang sudah banyak makan asam
garam. Tetapi tidak terlampau sulit dan menyulitkan Sie Lan In,
hal ini dikarenakan banyaknya kesamaan dengan ilmu Tio Lian
Cu. Dan dari pertarungannya dahulu dengan Tio Lian Cu, dia
sudah berkenalan langsung dengan ilmu-ilmu pusaka dari Hoa
San Pay, sumber ilmu Liok Kong Djie. Bahkan, Tio Lian Cu lebih
asli, lebih murni dan lebih berbahaya, meskipun tenaga dalam dan
variasi Liok Kong Djie lebih kreatif. Maka pertempuran mereka
menjadi yang paling mendebarkan dibandingkan arena lainnya.
Liok Kong Djie bertarung ganas namun tetap tenang setelah
menyadari bahwa lawan muda yang adalah seorang gadis muda,
ternyata benar-benar sangatlah hebat dan juga amat alot. Bahkan
dapat merepotkannya sekalipun. Selain amat sulit diserang dan
selalu bergerak dengan kecepatan yang amat sulit untuk dapat
dia tandingi, daya serangnya juga cukup menyengat dan
2517
merepotkannya. Fakta ini yang kemudian membuatnya
memutuskan untuk tidak banyak bergerak melainkan tetap kokoh.
Dengannya dia mengganti strategi bertempur dan berusaha
bertahan kokoh dengan menyiapkan serangan balasan yang
mematikan. Strateginya memang tepat dan membuat dia, Liok
Kong Djie terlihat seperti terus menerus diserang dan hanya
sesekali menyerang. Tetapi, meski begitu, Sie Lan In tidak
mampu berbuat apa-apa terhadap kakek yang maha hebat itu.
Kekuatan iweekangnya memang sudah dilatih sangat baik dan
masih lebih matang penguasaannya dibandingkan dengan Sie
Lan In yang masih amat muda itu.
Tetapi Sie Lan In juga amat cerdik. Dia tahu jika adu tenaga maka
dia kewalahan, tetapi memanfaatkan kehebatan ginkangnya,
dengan cerdik dia memainkan strategi pukul lari. Dia bergerak
bagai burung yang mematuk dari udara, begitu diserang dia
mencelat lagi, memukul lagi dan terbang lagi dan begitu
seterusnya. Sayang, Liok Kong Djie adalah penggemar fanatik
ilmu silat, karena itu diapun mampu membaca strategi lawan
dengan cermat. Itu sebabnya pada akhirnya Sie Lan In perlahan
harus juga mengandalkan iweekangnya yang sesungguhnya
tidak kalah-kalah amat. Hanya, memang Liok Kong Djie masih
lebih matang darinya mengeksploitasi setiap kelebihan, termasuk
2518
dalam hal iweekang. Itulah sebabnya pertarungan keduanya kini
lebih variatif, Sie Lan In juga sulit jika hanya mengandalkan
ginkangnya, tetapi tetap harus melawan dengan segenap
kekuatannya.
Yu Lian melawan Lui Beng Wan juga sama saja, pertarungan
mereka sejak kemaren memang amat seru dan berlangsung
seimbang. Sulit bagi keduanya untuk saling mendesak, selain Lui
Beng Wan memang tidak berniat melukai lawannya sementara Yu
Lian juga paham bahwa lawannya tidak terlampau serius
bertarung. Mereka berduapun terus bertarung, terlihat
menggunakan ilmu-ilmu hebat tetapi sebetulnya tidak benarbenar
saling mengancam posisi lawan. Mereka berdua seperti
sekedar bertarung agar dilihat kawan-kawan mereka, keduanya
tidak berpangku tangan dan tidak tinggal diam saja. Hal yang
membuat Yu Lian dapat leluasa mengamati serta juga sekaligus
melihat keadaan di arena lainnya, termasuk arena Yu Kong
kakaknya dan Sie Lan In yang bertarung hebat.
Yang seru adalah pertarungan antara Yu Kong melawan Si Tiok
Gi dan Lu Kun Tek, pertarungan mereka adalah pertarungan
balas dendam dan pertarungan musuh dalam perguruan. Karena
itu, pertarungan mereka sesungguhnya merupakan juga
pertarungan mempertaruhkan banyak hal, yakni dendam maupun
2519
juga sekaligus untuk membersihkan perguruan. Tidak heran jika
mereka bertiga bertarung hebat pada puncak kekuatan masingmasing,
serta saling intai untuk bukan sekedar melukai tetapi juga
membunuh. Tetapi, meski dikeroyok dua, karena Lu Kun Tek
memang kemampuan masih dibawah, maka dia terkesan hanya
pelengkap untuk mengganggu konsentrasi Yu Kong.
Meski, yang sebenarnya dia menjadi sejenis pengganggu bagi
kedua lawannya sekaligus. Kadang Yu Kong mempergunakannya
untuk menghindari desakan Si Tiok Gi yang membadai, dan
sebaliknya, Si Tiok Gi juga melakukan hal yang sama sekali
sekali, meski tidak sering. Sewaktu-waktu Lu Kun Tek dapat
menjadi korban dari pertarungan kedua tokoh utama Hong Lui
Bun saat ini yang keduanya sama-sama merasa sah pewaris
Buncu Hong Lui Bun.
Baik Si Tiok Gi maupun Yu Kong sudah meningkat dengan cepat
dan bahkan sudah mulai menggunakan Ilmu Ceng Hwee Ciang
yang mujijat itu. Tahapan yang pada akhirnya membuat Lu Kun
Tek berdebar-debar, karena ilmu maut itu sudah meminta nyawa
sahabatnya Sin Bu kemaren. Jangan sampai dia juga terkena
pukulan itu di tengah dua orang yang sama-sama ampuh dalam
memainkannya. Dan hawa panas menyengat segera
menyergahnya, tetapi dia tidak mungkin lagi mundur karena
2520
sudah terlibas dalam lingkaran dan jangkauan hawa panas dan
sengatan ilmu maut Hong Lui Bun itu. Mau tidak mau, diapun
harus ikut menyerang dan terutama ikut bertahan, sebab jika tidak
keadaannya akan benar-benar konyol. Ketimbang mati konyol,
dia memilih untuk bertarung dengan segenap kemampuannya,
dan karena itu Yu Kong mulai melirik dan memperhatikan
pergerakannya.
Tian Sin Su memperhatikan pertarungan itu, dan membiarkan Yu
Lian terus dalam sandiwara dengan Lui Beng Wan. Dia menjaga
agar keroyokan Si Tiok Gi dan Lu Kun Tek tidak merugikan tuan
mudanya, Yu Kong. Dia belum turun gelanggang karena memang
Yu Kong belum memintanya. Dan dia paham dengan karakter dan
watak Yu Kong yang sangat tidak ingin pertarungannya direcoki
oleh siapapun. Kawannya sekalipun. Tetapi, syukurlah dia bisa
melihat bahwa Yu Kong bertarung gagah dan hebat dan sama
sekali tidak dalam keadaan berbahaya, sebaliknya dia bisa
sewaktu-waktu mengirim nyawa Lu Kun Tek ke singgasana giam
lo ong. Tapi, anehnya, Yu Kong tidak pernah terlihat sungguhsungguh
ingin melukai ataupun membunuh Lu Kun Tek. Ada apa
gerangan?
Tarung lain antara Hek King Yap melawan Ma Hiong Seng dibantu
Suma Cong Beng sedikit agak berat bagi Hek King Yap, karena
2521
kemampuannya setingkat dengan Ma Hiong Seng atau hanya
tipis diatas. Tetapi, bantuan Suma Cong Beng yang licik dan tidak
segan-segan dan tidak jarang bermain curang, benar-benar
membuatnya sedikit terdesak karena harus banyak-banyak dan
sering-sering memperhatikan gerakan Suma Cong Beng yang
berbahaya itu. Dalam Ilmu silat, Suma Cong Beng sebenarnya
tidak hebat-hebat amat, paling setanding dengan Lu Kun Tek
belaka. Tapi dalam soal kelicikan dan kecurangan dia ini juaranya,
dan ini yang perlu amat diperhatikan oleh Hek King Yap.
Menjadi lebih penting bagi Hek King Yap, karena lengannya
sudah sempat tergores sebuah pisau terbang kecil yang
dilontarkan Suma Cong Beng pada saat dia lengah. Untungnya
pisau itu tidak beracun, karena dia menggunakan sebuah pisau
dari Hoa San Pay yang memang tidak begitu ahli dalam
penggunaan senjata beracun. Pisau itupun bukan miliknya, hanya
kebetulan dia, Suma Cong Beng pinjam dari seorang anak murid
Hoa San Pay untuk digunakan membokong lawan. Boleh dibilang,
masih mujur bagi Hek King Yap.
Bisa dimaklumi jika kemudian pertarungan itu sedikit berat bagi
Hek King Yap. Dia bertarung sambil membagi perhatian, wajar
jika Ma Hiong Seng sedikit bisa berada di atas angin dan terus
menerus mendesaknya. Sementara Suma Cong Beng, sejak
2522
berhasil dalam melukai meski hanya menggores lengan Hek King
Yap belaka, kini rajin mencari peluang untuk dapat kembali
membokong lawannya itu. Dia berharap hasil yang lebih besar,
yakni dapat membunuh tokoh itu meski dengan membokong.
Sungguh aneh dan menyedihkan Hoa San Pay bisa melahirkan
tokoh selicik dan serendah Suma Cong Beng. Tapi, memang
begitulah saat ini keadaannya. Si licik terus menerus mengintai,
meski untungnya Hek King Yap sudah menutup diri rapat agar
tidak lagi terbokong lawan liciknya itu. Karena ancaman bokongan
ini, Hek King Yap lebih banyak menutup diri dan keluar
menyerang jika kondisi dan keadaannya sudah matang untuk
keluar menyerang.
Dan arena terakhir juga amat ketat, tetapi karena Jamukha hadir
mengawal lima orang Pasukan Robotnya, maka berbeda dengan
kemaren, lebih sulit bagi Hek Man Ciok berbuah seenaknya.
Jamukha selalu ada untuk melindungi pasukannya dan tidak
jarang ikut menyerang dengan sama hebatnya. Karena itulah,
pertarungan merekapun sulit untuk didefinisikan atau
digambarkan siapa yang lebih mendesak siapa. Yang pasti
pertarungan mereka menjadi lebih seru, Kakek Hek Man Ciok jadi
harus banyak-banyak dan sering-sering memperhatikan bagian
pertahanannya, beda dengan kemaren. Kemaren dia lebih sering
2523
menyerang dan bahkan akhirnya menemukan cara untuk
membuat Pasukan Robot kesulitan sendiri dan menyerang
mereka hingga kocar-kacir.
Dengan bantuan Jamukha, kini serangan Hek Man Ciok dapat
dihalau dan bahkan dikurangi, sehingga tarung mereka menjadi
sedikit lebih seimbang. Keadaan inilah yang membuat Kakek ini
mulai menimbang cara berbeda untuk melawan mereka. Tetapi,
ketika dia melihat kenyataan betapa hari menjadi semakin gelap,
diapun jadi menundanya dan lebih memilih untuk memikirkan
strategi mundur kembali ke balik kegelapan hutan. Hal yang
sudah dia bicarakan dengan Sie Lan In, dan Sie Lan In sudah
mendiskusikannya dengan Yu Lian dan kawan mereka lainnya.
Setidaknya, sehari kembali sudah bisa mereka lewati, dan tidak
ada seorangpun dari mereka dirugikan pihak lawan. Tetapi
sebaliknya, lawan juga tidak dapat mereka desak dan tidak ada
kerugian yang mereka alami. Sehingga, posisi sebetulnya masih
tetap seimbang seperti kemaren.
Dalam posisi yang semua imbang, Hek Man Ciok kemudian
mengirim suara kepada Sie Lan In yang juga pada saat yang
sama memang sudah mulai menimbang untuk menerapkan
strategi yang sama:
2524
“Nona, sudah saatnya..... gelap semakin menjelang datang....” Sie
Lan In yang juga tahu hari mulai gelap tahu artinya. Bahwa sudah
saatnya mereka kembali masuk hutan dan bersembunyi disana.
“Benar Locianpwee, mari kita segera persiapkan, biar siauwte
memberitahu kawan kawan yang lain untuk juga bersiap......”
Dan tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba telinga Hek Man Ciok
mendengar pesan dari Sie Lan In yang berkata:
“Semua menunggu komando Locianpwee, arah pergi kita sudah
disiapkan Lopeh Tian Sin Su, dan dia sudah siap menunggu
perintah. Bahkan juga alat rintangnya sudah beliau siapkan dibalik
hutan, maka silahkan Locianpwee untuk segera memberi
komando kepada kita semua........”
Mendengar kesiapan semua kawan-kawannya dan
diperhatikannya posisi Tian Sin Su yang berada tepat di sebelah
kanannya, maka diapun mengebut dan menyerang dengan
tongkat andalannya secara hebat. Dan disusul tiba-tiba gerakan
memukul dan menotoknya menghebat menerjang sekelilingnya,
sementara pada saat yang bersamaan keluarlah seruan dari
mulutnya:
“Sekarang waktunya.......”
2525
Pada saat lawan-lawannya terdorong mundur dan Jamukha juga
meloncat mundur, diapun menerjang kearah Hek King Yap dan
membantu putranya mendorong lawan lawannya. Dalam hitungan
sepersekian detik, merekapun meloncat ke sisi Tian Sin Su yang
menerjang lawan-lawan Yu Kong dengan senjata rahasia, dan
sebentar saja mereka semua sudah berkumpul. Hanya dalam
hitungan 1 menit, merekapun sudah menghilang masuk kedalam
hutan dan meninggalkan lawan-lawan mereka yang masih
bingung harus melakukan apa terhadap lawan yang masuk
kedalam hutan yang gelap gulita. Tetapi, mereka sadar, tokoh
satunya yang tidak ikut dalam pertempuran pasti sudah
menyiapkan jalan mereka untuk meloloskan diri. Hal yang
membuat mereka semua menjadi gusar, tetapi sekalian juga
penasaran karena lawan memang cukup kuat dan masih sulit
mereka tundukkan;
“Hmmmm, mengejar lawan dalam kegelapan sungguh
berbahaya, tetapi bagaimana pendapat kawan-kawan
sekalian....”? terdengar Jamukha bersuara dalam nada kesal
karena masih belum berhasil juga menangkap lawan-lawan
mereka. Menjadi semakin kesal dirinya, karena dia tidak beroleh
jawaban apa yang sebaiknya mereka lakukan dari kawankawannya.
Maklum, karena mereka semua amat sadar, adalah
2526
standar bagi mereka untuk tidak mengejar lawan yang sudah
masuk ke dalam hutan, apalagi di waktu malam hari.
“Kita akan mengorbankan beberapa orang jika berkeras masuk,
karena sebetulnya kepandaian mereka tidak lebih rendah dari
kita. Dalam keadaan normal, kita tidak perlu takut, tetapi dibantu
dengan kegelapan, sangat berbahaya bagi kita untuk masuk,
karena sama dengan menyerahkan diri kita diserang....” terdengar
Si Tiok Gi berkata dengan nada penasaran. Tetapi, juga realistis
karena bahaya yang tidak kecil jika berkeras menerobos masuk.
Hal yang sama juga ada di kepala Suma Cong Beng, tetapi dia
memilih diam.
“Bagaimana yang lain.....”? tanya Jamukha sambil menoleh
memandang Suma Cong Beng yang biasanya memiliki akal
cerdik dan licik. Dan Suma Cong Beng sadar apa yang
dikehendaki Jamukha, maka diapun berkata,
“Biarkan orang-orang Pek Lian Pay bekerja melacak mereka, saat
mereka bergerak menjauh, kita akan menyusul masuk dan
mengejar mereka, tetapi pada saat mereka berhenti, kita juga
mesti berhenti dan menunggu peluang terbaik....” terdengar Suma
Cong Beng memberi usul
2527
“Benar juga, dengan demikian kita bisa menyandak mereka
besok...” desis Jamukha setuju dengan usulan Suma Cong Beng,
dan disambut dengan senyum tipis yang tidak terlihat di bibir
Suma Cong Beng.
“Tetapi, sejujurnya, hampir semua arena kita seimbang, sulit
menentukan kalah dan menang, padahal masih ada satu orang
dari mereka yang belum turun tangan. Dia memang terluka, tetapi
kelihatannya sudah banyak sembuh, dan jika dia ikut turun
tangan, posisi kita akan cukup sulit......” terdengar Si Tiok Gi
berkata atau tepatnya menganalisis karena dia tahu dan kenal
Tian Sin Su.
“Tetapi, mendatangkan tambahan bantuan juga amat sulit, kecuali
menunggu kawan kawan lain menyelesaikan urusan di tempat
lain, atau mereka menyelesaikan untuk membentuk Barisan dan
Jebakan Racun. Itu Artinya hanya kita yang bisa berusaha
menawan mereka berenam.....” desis Jamukha yang jelas amat
penasaran karena masih juga belum berhasil, padahal banyak
pekerjaan di Pek In San. Waktu yang mereka gunakan sudah
cukup panjang.
2528
“Saat ini mereka sudah bergerak cukup jauh kedalam hutan, dan
masih tetap terus bergerak masuk ke dalam hutan.....” terdengar
tiba-tiba suara dari dua orang pencari jejak andalan Pek Lian Pay.
“Kalau begitu, ayo kita mengejar...” Jamukha terdengar
bersemangat lagi, dan sudah langsung memimpin kelima
pasukan robotnya untuk bergerak memasuki hutan yang serba
gelap dan menyeramkan di malam hari itu. Di depan mereka
berjalan kedua orang pencari jejak asal Pek Lian Pay sebagai
penunjuk jalan. Tetapi, baru sekitar 20 meter mereka berjalan
masuk, tiba-tiba terdengar jeritan menyayat hati dari dua orang
yang berjalan di bagian depan, jeritan itu dipastikan berasal dari
dua orang murid Pek Lian Pay yang bertindak sebagai penunjuk
jalan;
“Aaaaachhhhhh...... brukkkk.... brukkkk....” tidak salah lagi,
keduanya kena serangan telah dari musuh-musuh dalam hutan.
“Kurang ajar, awas......” terdengar bentakan kakek Liok Kong Djie,
tetapi bersamaan diapun mengumpat dengan suara kasar:
“Haiiiitttttt, sungguh kurang ajar.......” diapun ikut menggunakan
kecepatannya guna menghindar ketika merasakan adanya
2529
senjata rahasia yang menyerangnya, dan ada beberapa buah
yang mengejarnya.
“Hikhikhik.... makan hadiahku itu kakek busuk.......” terdengar
suara dari dalam hutan yang semakin lama semakin menjauh.
Dan selanjutnya tidak terdengar suara apa-apa lagi, karena Tian
Sin Su dengan bantuan Sie Lan In sudah berkelabat pergi.
Menjauh. Sementara itu, nampak posisi dan wajah Jamukha yang
termangu-mangu memandangi kedua pencari jejak yang kini
tergeletak tak berdaya dengan kedua kaki mereka tertusuk
senjata rahasia lawan. Artinya, untuk berjalan dan bekerja guna
melacak lawan, mereka berdua harus ada yang menolong, atau
tepatnya menggendong. Tapi siapa yang bisa melakukannya?
Sementara Pasukan Robot tidak punya kemampuan seperti itu,
hanya punya kemampuan bertarung, bertarung dan bertarung.
Mana ada kemampuan menggendong orang?
“Lu heng, engkau menggendong dia....... sementara yang
satunya....”? terdengar Si Tiok Gi memerintah Lu Kun Tek, tetapi
bingung siapa yang harus menggendong yang satunya lagi itu...”?
2530
“Biar engkau tinggal disini, kelak kami akan menjemputmu, ayo
kita kejar....” adalah Jamukha yang kemudian memberi
keputusan.
“Mereka sudah cukup jauh masuk kedalam.....” terdengar
desahan lemah dari si pencari jejak yang kedua kakinya terpukul
senjata rahasia Tian Sin Su. Meski sudah terluka tetapi dia masih
mampu melacak jejak buruan mereka, tetapi rasa sakit di kakinya
benar-benar mengganggu.
“Ayo, kita kejar....... tetapi, hati-hati bokongan lawan....” terdengar
komando lagi dari mulut Jamukha yang kemudian diikuti yang
lain-lainnya.
Di tempat yang lain sementara itu, memang benar, setelah
melindungi Tian Sin Su memukul kedua pencari jejak dengan
jarum rahasia sebagai senjata rahasia, Sie Lan In yang
mempersiapkannya sejak awal sudah menggandeng Tian Sin Su
dan berkelabat menjauh. Tidak berapa lama mereka berdua
kembali bergabung dengan rombongan dan disambut dengan
pertanyaan:
“Bagaimana, apakah berhasil.....”? adalah Yu Lian yang
menyambut dan bertanya dengan nada suara amat penasaran.
2531
“Berhasil, kedua pencari jejak mereka kini sudah tidak bisa
berjalan, ini pasti akan bisa menghambat mereka mengejar
kita.....”
“Tapi, bukankah masih bisa digendong orang lain..” terdengar Hek
Man Ciok berkata dengan nada suara tenang meyakinkan, dan
suaranya membuat Tian Sin Su jadi menyesal karena sudah
bermurah hati tadi. Bukan apa-apa, tadinya Tian Sin Su rada ingin
membunuh mereka, tetapi ditolak Sie Lan In.
“Accchhh benar juga, tahu begitu sudah kuarahkan ke bagian
mematikan...” desis Tian Sin Su terlihat menyesal dan
memutuskan untuk tidak menyalahkan Sie Lan In yang saat itu
sedang menatapnya.
“Hmmm, memang aku yang memintanya untuk tidak
sembarangan membunuh”, Sie Lan In yang dilindungi Tian Sin
Su, justru membuka rahasia jika dia yang memaksa Tian Sin Su
tidak sembarangan membunuh.
“Ach, sudahlah, jauh lebih baik untuk kita terus bergerak....” ajak
Hek King Yap yang sudah langsung mengambil jalan bagian
depan dan kemudian menerobos lebih jauh kedalam, semakin
meninggalkan pengejar mereka di belakang.
2532
Strategi Sie Lan In dan Tian Sin Su cukup berhasil dan kembali
menjauhkan mereka dari para pengejar. Tetapi, sebagaimana
strategi awal, di tengah hutan mereka kembali memutar namun
dengan memilih beristirahat terlebih dahulu, persis seperti sehari
sebelumnya. Mereka memilih beristirahat di atas sebuah pohon,
dan dengan kepandaian setingkat mereka, tidak terlampau sulit
untuk melakukannya. Tetapi, karena yakin dapat melepaskan diri
dan lawan tertinggal cukup jauh di belakang, malam itu Yu Lian
kembali lebih banyak bercakap-cakap dengan Sie Lan In.
Keduanya memang makin lama semakin lama semakin menjadi
dekat satu dengan yang lainnya. Bahkan mempercakapkan
banyak hal yang lain.
“Jadi engkau sudah engkau naksir seorang pemuda yang sama
sekali tidak pandai ilmu silat In moy...? waaaaah, sungguh sebuah
kejutan...” bisik Yu Lian nyaris tak percaya dengan pengakuan Sie
Lan In.
“Benar enci, tetapi terus terang penguasaannya atas teori-teori
ilmu silat sungguh amat luas, bahkan masih melebihi khasanah
pengetahuanku atas ilmu silat dan daya gerak seorang
manusia.....” bela Sie Lan In
2533
“Acccch, masakan demikian adikku...? enci tidak percaya jika ada
manusia seperti dia itu, sedemikian anehnya....”
“Tetapi memang benar begitu adanya enci, beberapa temanteman
kami mengenal dia seperti itu adanya. Bahkan, kemajuan
ilmuku dan beberapa kawan yang lainnya, justru karena
mendapat petunjuk dan sekaligus penyempurnaan teorinya dari
dia Enci, memang sungguh aneh dan sulit dipercaya....” bela Sie
Lan In memamerkan keanehan Bu San pria yang dicintainya.
“Accccchhh, sungguh-sungguh aneh. Enci jadi ingin benar-benar
bertemu dengan pemuda yang sedemikian anehnya....” Yu Lian
benar-benar merasa penasaran dengan gambaran Bu San yang
diceritakan Sie Lan In.
“Suatu saat akan kuperkenalkan dengan enci....”
“Janji ya In moy....”
“Janji enci, pasti.....”
Cukup lama mereka bercakap-cakap dengan penuh rasa
gembira, meski sesekali Yu Lian termenung seperti sedang
memikirkan sesuatu. Tetapi karena gelap dan memang dia
dengan sengaja menyembunyikannya, Sie Lan In sama sekali
2534
tidak melihat dan apalagi memperhatikannya. Cukup lama
mereka bercakap-cakap malah sampai mereka akhirnya mereka
memutuskan untuk beristirahat baru berhenti. Dan keesokan
harinya, merekapun bangun kembali menjelang terang tanah,
saat mereka sudah harus kembali bergerak.
“Sie Kouwnio, lawan yang mengejar sekali ini lebih hebat lagi.....
mereka kini sudah bergerak lebih dahulu dan bisa menyandak kita
lebih cepat. Kita mesti memikirkan strategi lain jika lawan lebih
kuat lagi.....” berkata Hek Man Ciok yang sekali ini dapat didengar
mereka semua
“Kita pikirkan sambil berjalan, tetapi dalam keadaan bertarung
dalam hutan, maka kita dapat membentuk sebuah tameng atau
barisan melawan mereka. Jangan lagi melawan seorang lawan
seorang, karena akan agak berbahaya, apalagi jika kawan
mereka yang lain ikutan datang......” desis Sie Lan In.
“Atau, jika tidak kita melawan mereka secara sembunyisembunyi....
serang lari, serang dan lari..... sambil terus mengulurulur
waktu..... jika memang benar bahwa kekuatan mereka sekali
ini lebih hebat lagi.....” saran Yu Kong.
2535
“Sie Kouwnio benar, mari kita maju sambil memikirkan jalan
keluarnya, lawan sudah semakin mendekat....” ajak Hek Man
Ciok, dan merekapun tidak lama kemudian sudah melanjutkan
perjalanan. Kini arah mereka sedikit melengkung dan berusaha
mencapai jalan kearah Thian Cong Pay, bahkan rencanya akan
masuk kembali ke jalur mereka mulai melakukan pelarian. Tetapi,
memang benar perkataan Hek Man Ciok, pengejar semakin hebat
dibandingkan yang mereka hadapi sebelumnya. Ketika alur
melengkung mereka kembali mendekati kaki gunung Pek In San,
mereka justru akhirnya terkejar lawan.
Jarak mereka pada saat itu ada sekitar 1 km dari tempat mereka
mulai melarikan diri, tetapi sudah kembali berada di kaki gunung
Pek In San. Mereka sudah akan memasuki hutan di kaki gunung
Pek In San ketika mereka akhirnya terkejar, tepat siang hari. Dan
memang benar dugaan Hek Man Ciok, mereka yang datang untuk
memburu sudah bertambah lagi kekuatannya dan masih lebih
hebat lagi. Kini, ada juga di rombongan itu Tham Peng Khek dan
juga istrinya yang datang bersama dengan sejumlah besar
Utusan Pencabut Nyawa dan juga seorang tokoh lain yang belum
dikenal. Dan melihat kedatangan mereka, Sie Lan In sudah
langsung sadar bahwa pertarungan besar akan segera pecah
sebentar lagi. Pertarungan yang akan lebih sulit lagi bagi mereka
2536
melihat kekuatan lawan yang semakin bertambah besar. Tetapi
meskip memang demikian keadaannya, tentu saja tidaklah
sampai membuat Sie Lan In merasa takut.
“Hahahahahaha, masih mau lari kemana sekarang...? jika kalian
keburu masuk ke hutan di kaki gunung Pek In San, maka sama
saja kalian masuk ke sarang kami. Jika melarikan diri dan tidak
memutar, sebenarnya peluang kalian lebih besar, tapi hari ini
sungguh-sungguh apes bagi kalian semua sehingga dapat
terkejar oleh kami......” terdengar Jamukha menyambut dan
mengejek mereka. Memang apa yang dikemukakannya terdengar
masuk akal, meskipun sulit untuk mendebatnya karena toch
mereka sudah saling bertatap muka. Dia hanya tak tahu, bahwa
Sie Lan In dan Hek Man Ciok sudah memiliki pertimbangan
mereka sendiri untuk mengambil jalur memutar seperti ini secara
sengaja.
Sie Lan In yang sudah paham dengan kehebatan mereka yang
baru bergabung sudah saling lirik dengan Yu Kong dan Yu Lian,
dan kemudian berkata kepada Hek Man Ciok, tokoh tertua
diantara mereka:
“Murid kepala Mo Hwee Hud sudah munculkan diri, bukan tidak
mungkin Utusan Pencabut Nyawa sudah bergabung di gunung
2537
Pek In San, artinya mereka sudah siap untuk pertarungan puncak.
Saat ini akan amat sulit melawan mereka, karena tambahan
kekuatan mereka bukan tokoh-tokoh yang akan mudah untuk
dihadapi. Meskipun demikian, apa boleh buat, kita harus melepas
larangan membunuh untuk mengurangi jumlah lawan......”
“Hmmmm, lohu memang datang untuk membunuh. Tetapi masih
belum ingin untuk dibunuh saat ini, mau tidak mau kita harus
segera membuka jalan darah....” desis Hek Man Ciok sambil
menyiapkan tongkatnya dan melirik putranya Hek King Yap. Dan
keduanyapun saling lirik dan bukannya takut, malahan keduanya
justru saling tersenyum satu dengan yang lain. Rupanya mereka
sudah siap untuk bertempur sampai titik darah penghabisan,
apalagi mendengar munculnya Utusan Pencabut Nyawa yang
sangat mereka benci. Maka, tidak ada percakapan lagi.
“Marilah, kali ini kami tidak akan main-main lagi, silahkan tangkap
jika kalian mampu, kami sudah sangat siap untuk meladeni kalian
semua.....” tantang Sie Lan In yang membuat semua lawan
mereka tercengang. Karena bukannya merasa takut, Sie Lan In
justru mempersilahkan mereka untuk maju menyerang. Suasana
yang hingga beberapa detik menahan Jamukha menurunkan
perintah menyerang.
2538
Sambil berkata demikian, Sie Lan In berbisik kepada kawankawannya
dalam nada suara lirih tak terdengar lawan:
“Akan kutahan Liok Kong Djie, usahakan pertarungan di medan
terbuka, sehingga kemungkinan mengurangi jumlah lawan
terbuka, tidak usah terlampau bernafsu guna membunuh, lakukan
secara perlahan-lahan dan jangan sampai terpancing guna
meninggalkan kelompok kita sendiri.....”
Setelah berkata demikian, diapun melayang maju menantang dan
memapak Liok Kong Djie yang juga sudah maju menerjang
menyambutnya. Pertempuran mereka berduapun kembali
berlangsung dengan seru, saling serang dan saling bertahan
dengan sama baik dan sama hebatnya. Tentu saja agak sulit
untuk menentukan siapa yang akan menang antara mereka
berdua. Sementara pertarungan lainnya justru lebih ramai, namun
yang pasti, mereka berada di tengah medan pertarungan terbuka,
siapa saja boleh melawan musuh yang paling dekat, dan lebih
cepat melukai lawan atau membunuh, justru lebih baik. Maka
pertarungannya benar-benar tidak teratur, kecuali Sie Lan In
melawan Liok Kong Djie dimana keduanya saling mencari dan
saling intai.
2539
Namun karena mereka berdua memang berada di lingkaran
pertempuran yang agak semrawut itu, maka mereka berduapun
tidak banyak dapat saling mendesak lawan sampai kepepet. Sulit
untuk membuat lawan mereka ketiadaan jalan keluar untuk
melawan, karena memang aran mereka bergerak sangatlah
sempit dan terbatas. Mereka akhirnya lebih banyak menilik arena
pertarungan itu sambil terus menerus menyerang dan
menghindar ataupun bertahan dengan ketat. Sampai akhirnya
keduanya paham, tingkat kemampuan mereka tidaklah berbeda
jauh, karena itu mereka memutuskan sambil bertarung sesekali
menilik keadaan sahabat mereka yang lain. Arena tidak
memungkinkan mereka saling serang dan saling memojokkan,
karena terlampau banyak gangguan. Suasana yang memang
persis diprediksikan oleh Sie Lan In dan Hek Man Ciok. Anehnya,
Liok Kong Djie rada berbeda dengan pertempuran-pertempuran
sebelumnya, tidak seganas biasanya dan seperti kurang
bersemangat bertarung lebih lanjut.
Sementara itu, Hek Man Ciok justru bertarung ganas, karena
tombak besinya menerjang Pasukan Robot dan Tiang Pek Ngo
Ong atau 5 Raja dari Tiang Pek dengan maksud meminta korban.
Sendirian dia berhasil menahan Pasukan Robot dan 5 Raja Tiang
Pek, tetapi jelas terlihat kalau kakek itu kini sudah bertarung
2540
dalam puncak kekuatannya. Maklum, lawan-lawan saat itu
memang amat hebat dan lebih banyak jumlahnya. Karena itu,
totokan-totokannya membawa suara yang sangat menyeramkan
dan berdesing mampu memutus besi sekalipun. Itulah sebab
yang membuat Tiang Pek Ngo Ong tertahan kerutalan mereka,
sementara Pasukan Robot satu orang mundur karena cedera
parah yang menembus pelindung baja di dada, perut dan bagian
vital lainnya.
Pertarungan berubah menjadi cukup semrawut dan memang
disengaja seperti itu karena lawan berjumlah banyak. Garis
pertahanan para pendekar dibuat sedemikian rupa sehingga
pengeroyokan tidak membuat mereka kelabakan, dan lawan
tidaklah nanti menyerang mereka secara bebas. Dengan
banyaknya pengeroyok, maka lawan kehilangan ruang untuk
mempersiapkan ilmu-ilmu hebat mereka. Dan hal itu langsung
terasa, kecuali dalam arena Sie Lan In melawan Liok Kong Djie
yang memang paling hebat dari antara lawan-lawan itu. Dalam
pertarungan semrawut, pihak lawan yang banyak membawa
anggota pasukan yang kurang sakti, justru banyak menjadi
korban. Sudah ada berapa mayat lawan yang bergelimpangan di
arena pertarungan yang makin panas itu.
2541
Otomatis, tokoh-tokoh seperti Si Tiok Gi, Tam Peng Khek dan juga
istrinya, hingga Jamukha, Suma Cong Beng, Lui Beng Wan, Ma
Hiong Seng kerepotan memilih melepaskan serangan. Karena
juga di arena mereka masih ada Lima Raja Tiang Pek Pay dan
malah juga 5 Pasukan Robot. Belum lagi Utusan Pencabut Nyawa
yang untungnya tidak ikut menyerang tetapi menjaga jalan lari
lawan-lawan mereka. Meski secara khusus Hek Man Ciok
menghadapi 10 orang itu, tetapi karena berada pada arena yang
sama, arena sempit karena dekat hutan, maka siapapun kurang
leluasa bertarung. Dan hal ini sangatlah disadari kedua belah
pihak, dengan secara khusus pihak pendekar sudah
memperhitungkannya secara matang sebagai cara untuk
bertahan melawan demikian banyaknya musuh yang terus
menerjang dan menyerang berusaha membunuh mereka.
Diam-diam Sie Lan In tertawa melihat pertarungan itu. Dia hanya
mengkhawatirkan Tian Sin Su, sementara sisanya, dengan
tingkat kepandaian yang dimiliki, akan sedikit lebih mudah
menjaga diri terkena serempetan pukulan maupun juga pukulan
tak terduga lainnya. Karena itu, Sie Lan In dapat bertarung lepas
tanpa harus khawatir dengan nasib teman-temannya dan terus
menerus melepaskan ginkangnya untuk tarung lawan Liok Kong
Djie. Semakin lama semakin luas arena yang mereka butuhkan,
2542
karena keduanya sudah mengerahkan iweekang pada tingkatan
yang amat tinggi. Dan, sebagai akibatnya, justru semakin
sempitlah arena pertarungan dan semakin semrawutlah
pertarungan massal itu. Terjangan tenaga mereka berdua
membuat arena semakin sempit karena orang-orang menghindar
dari sengatan kekuata iweekang mereka berdua.
Setengah jam berlalu dan pertarungan semrawut masih terus
berlangsung, tetapi Sie Lan In melawan Liok Kong Djie semakin
mendebarkan. Setelah awal-awalnya Liok Kong Djie seperti
kurang bersemangat, akhir-akhirnya Suma Cong Beng mampu
lagi merangsangnya untuk bertempur lebih hebat dan lebih
bersemangat. Dan saat ini Sie Lan In sudah mulai melepas
pukulan-pukulan berisi melawan dan menandingi kehebatan Liok
Kong Djie yang memang sudah lama punya nama besar. Sie Lan
In tidak lagi hanya bersandar pada kehebatan ginkangnya, tetapi
mulai berani keluar menyerang mengandalkan ilmu pukulan yang
ditunjang oleh iweekang lemas dan kecepatan geraknya yang
tidak lumrah. Sementara Liok Kong Djie semakin menunjukkan
kelebihannya dalam mengeluarkan jurus jurus yang mematikan
dengan variasi yang mujijat.
Keduanya seperti sudah melupakan bahwa masih ada
pertarungan lain di dekat mereka bertarung. Apalagi karena arena
2543
tersebut relatif kecil dan dibatasi atau dipagari oleh sejumlah
pepohonan di belakang para pendekar dalam menghadapi
keroyokan tersebut. Menyempitnya arena pertarungan membuat
Pasukan Robot jadi banyak berdiam diri di sudut arena dan sulit
bagi mereka untuk keluar menyerang lagi. Ingin menyerang tapi
ruang yang tersedia kurang memadai bagi mereka bergerak
dalam menyerang dan bertahan. Oleh karena itu sulit mereka
semua untuk mengoptimalkan kelebihan jumlah orang untuk
menyerang, dan akhirnya justru korban lebih banyak jatuh
diantara mereka. Hal yang semakin lama semakin bisa dilihat dan
dianalisis Jamukha.
Tengah pertarungan mereka memuncak, Hek Man Ciok mampu
melukai seorang dari 5 Raja Tiang Pek. Sebetulnya, mereka
berada satu tingkat dengan Hek Man Ciok jika maju bareng,
jikapun kalah, hanya tipis semata. Tetapi, arena mereka
sangatlah tidak nyaman, ditambah dengan 5 Pasukan Robot yang
juga sering memintas jalan dan sering membuat mereka malah
mati langkah. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Hek Man Ciok
dan berhasil melukai lengan kanan salah seorang dari 5 Raja,
meski tidak patah tetapi cukup membuatnya tidak mampu
bertarung optimal selama beberapa jam atau bahkan sehari atau
dua hari. Sementara itu, Yu Kong sendiri sudah kena serempet
2544
pukulan Si Tiok Gi yang langsung dia bayar kontan. Keduanya
terluka, tetapi masih berkeras melanjutkan pertarungan. Hanya
saja, Yu Lian sudah berjaga di sisi sebelah kakaknya dan terus
menerus menjaga dan mengawasi kakaknya selama pertarungan
terus berlangsung.
Harus dikatakan, hubungan Yu Kong dan Yu Lian sebagai kakak
dan adik memang sangatlah dekat. Mereka berdua korban dari
pengkhianatan Si Tiok Gi, kehilangan orang tua dan keluarga dan
tumbuh bersama dan berlatih dibawah pimpinan Suhu yang
sama. Karena itu, Yu Kong dan Yu Lian sungguh saling
memperhatikan satu dengan yang lainnya, lebih erat dari sekedar
kakak beradik yang tumbuh bersama dalam satu keluarga normal.
Yu Lian yang mendapati kakaknya terluka, tidak rela
membiarkannya terancam, dan segera berinisiatif melindunginya
dan menjaganya dari segala kemungkinan yang lain. Karena itu,
kondisi Yu Kong dapat terjaga dan selalu dalam pengawasan
adiknya.
Jatuhnya korban di kedua belah pihak tidaklah membuat
pertarungan berhenti, tetapi justru semakin memanas dan
semakiin keras dan seru. Lawan jelas semakin murka, Jamukha
menyerang serabutan tetapi tetap saja tidak menghasilkan apaapa,
bahkan seorang diantara 5 Raja Tiang Pek, kembali terkena
2545
totokan Hek Man Ciok. Memang, tidak fatal akibatnya. Namun,
meski sama dengan kawannya tidaklah terlampau parah lukanya,
tetapi jeritan kesakitannya membuat Jamukha bertambah marah
dan murka karena belum mampu menyelesaikan pertarungan.
Justru kawan kawannya yang semakin banyak menjadi korban
pertarungan itu. Karena itu diapun berkata kepada kawankawannya:
“Tahan mereka, biar kuarahkan kawan-kawan lain kemari,
mestinya mereka sudah tiba, entah mengapa belum juga
sampai.....”
Perkataannya membuat Sie Lan In tergetar dan membuatnya
terserang Liok Kong Djie selama beberapa jurus. Untungnya, Sie
Lan In memiliki kewaspadaan dan yang terutama reaksi dan gerak
yang amat lincah dan amat cepat. Ini yang membuatnya selamat
meski selama beberapa jurus dia terserang habis-habisan oleh
Liok Kong Djie. Selain itu, kawan-kawannya yang lain juga samasama
tergetar dan terkejut, sebab jika lawan bertambah lagi,
maka peluang mereka untuk selamat otomatis akan semakin
memudar. Hanya, tetap saja mereka bertarung dengan
bersemangat dan membuat lawan-lawan yang akan mencecar
mereka berpikir seribu kali untuk lebih masuk lagi. Yang menarik,
keterdesakan Sie Lan In selama beberapa detik membuat kawan2546
kawan Liok Kong Djie jadi bersemangat dan berpikiran bahwa
amat mungkin kemenangan bakal segera datang.
Tetapi, tidak demikian yang terjadi. Justru yang terjadi adalah
bokongan Ma Hiong Seng atas Hek King Yap yang berakibat fatal
bagi mereka berdua. Hek King Yap memang terkejut bukan main,
tetapi masih tetap sangat waspada, pada saat itulah Ma Hiong
Seng masuk menyerang dengan jurus Hay Tee Tancu (Mencari
mutiara di bawah laut). Dia menendang bagian bawah tubuh Hek
King Yap dan kemudian disaat lawan bergerak mengelak, dia
segera menyusul dengan jurus Liu Sui Pian Lou (Air mengalir
berubah arah). Pukulannya memang mengenai pinggang kiri Hek
King Yap, tetapi pada saat bersamaan, Hek King Yap yang tahu
maksud lawan, juga sudah balas menyerang dengan lebih hebat
lagi. Dia dengan cepat menyerang dada lawan dengan
menggunakan sebuah jurus Hui Hong Lam Hay (Angin puyuh
yang datang dari selatan).
Artinya, Hek King Yap secara sengaja memberikan pinggang
tetapi mendaat dada. Jelas pukulan yang mengena di dada lebih
parah ketimbang di pinggang. Benturan secara bersamaan tak
dapat dihindari terjadi:
“Bukk ..... bukkk ...... ngekkkkk ..... hoacchhhkkk.....”
2547
Mereka berdua terdorong ke belakang, dengan Hek King Yap
menderita luka di bagian pinggang dan mulutnya nampak darah
merembes, tetapi Moa Hiong Seng terlihat lebih parah lagi
keadaannya. Dia terdorong dan langsung terlontar serta tak
tertahankan dari mulutnya menyembur darah segar, tanda dia
terluka lebih parah jika dibandingkan dengan Hek King Yap.
Merekapun terdorong ke belakang, tetapi keadaan Hek King Yap
yang terluka membawa perubahan pada ayahnya. Untung saja
Hek King Yap paham dan tahu keadaan ayahnya itu, maka diapun
berkata dengan suara rawan dan terdengar ayahnya:
“Jangan khawatir ayah, aku terluka ringan, lawan jauh lebih
parah,,,, tetap tahan para musuh, sebentar aku bergabung....”
Suara itu membuat Hek Man Ciok senang dan kembali dia
bersemangat mencecar lawan-lawannya yang sudah kocar-kacir.
Boleh dibilang keadaannya yang justru paling cerah dan paling
menguntungkan dibandingkan dengan kawan-kawannya yang
lain. Dia menjaga pintu yang akan diterobos 10 orang, namun 2
diantaranya sudah dia lukai dan bertarung tidak dalam
kemampuan terbaik mereka. Selain itu, Kelima raja Tiang Pek,
juga tidak bisa bertarung optimal karena arena pertarungan
terlampau penuh sesak, sulit mengembangkan satu barisan guna
menempur lawan. Jadi, apa boleh buat..... meski kondisi yang
2548
terbatas dan sadar bahwa mereka tidak dapat meraih
kemenangan akibat kondisi lingkungan, tetap mereka paksakan.
Tengah pertarungan mereka berlangsung lebih seru lagi, tiba-tiba
terdengar suara dari kejauhan yang kelihatannya dilepaskan oleh
seorang tokoh berkepandaian tinggi. Suara teriakan tersebut
terdengar melengking dan mengalun meskipun masih sangat
jauh, tetapi cukup mampu ditangkap secara jernih oleh orangorang
yang sedang bertarung itu. Suara itu membuat wajah
Jamukha berseri, bahkan diapun kemudian memandang kawankawannya
yang sedang bertarung dan kemudian berkata dalam
nada suara sangat senang dan bersemangat:
“Kita kedatangan dua tokoh puncak, Suhu dan Susiok Couw akan
segera munculkan diri di tempat ini, sudah saatnya kita serang
dan tahan mereka sedapat mungkin biar nanti mudah ditangkap
dan ditawan satu demi satu. Dalam pertarungan puncak nanti,
mereka ini bakal amat bermanfaat nanti......”
Tentu saja Sie Lan In mendengar kata-kata Jamukha dan juga
Hek Man Ciok dapat mendengarnya dengan jelas. Meski belum
tahu siapa gerangan tokoh yang akan datang sebagai bala
bantuan pihak lawan, tetapi jika dia adalah Suhu dan paman
kakek guru dari Jamukha, maka bisa dipastikan tokoh itu bukan
2549
tokoh biasa. Tetapi justru tokoh hebat. Karena berpikir demikian,
maka Sie Lan In mendekati Hek Man Ciok dengan mengurangi
serangan kearah Liok Kong Djie. Keduanya sama paham bahwa
keadaan semakin membahayakan, dan harus bertarung dengan
puncak kemampuan mereka masing-masing.
“Locianpwee, keadaan semakin berbahaya.....”
“Benar Kouwnio, jika memang sampai terpaksa, maka kita masih
bisa adu jiwa di tempat ini....” jawab Hek Man Ciok dengan penuh
semangat dan membuat Sie Lan In jadi ikut terpengaruh.
Semangat juang kakek yang sudah tua itu, entah mengapa justru
merangsang semangat tarung Sie Lan In.
Dan benar saja, tidak lama kemudian muncul dua orang tokoh
yang sudah cukup dikenal oleh Sie Lan In, yakni Geberz yang
datang bersama ponakan muridnya yang juga sudah munculkan
dirinya di Thian Cong Pay, si manusia misterius. Tetapi, tokoh
kedua itu masih belum dikenal sama sekali oleh Sie Lan In.
Kehebatannya bahkan tidaklah kalah dari Gebezs sendiri yang
adalah paman gurunya, dan tokoh inilah yang dipanggil sebagai
suhu oleh Jamukha:
2550
“Achhh, Susiok couw, suhu, syukur jiwi berdua datang...... mereka
cukup alot untuk dapat segera ditundukkan....” lapor Jamukha
yang berharap dan meminta kedua tokoh itu untuk segera dapat
turun tangan. Maklum, sudah berapa hari dia tugas luar untuk
menangkap kawanan pendekar itu.
“Jamukha, engkau terlampau memakan waktu yang panjang guna
menundukkan mereka saja, bagaimana mungkin kita beroleh
hasil maksimal jika seperti itu caramu untuk menjalankan
tugas...”? datang-datang, orang misterius yang dipanggil Suhu
oleh Jamukha sudah menghadiahkan dampratan kepada
Jamukha. Wajah sang murid, Jamukha terlihat langsung berubah
merah padam, tetapi untuk menutupinya diapun buru-buru
berkata:
“Maafkan tecu Suhu, tetapi mereka memang cukup hebat dan
agak sulit untuk dapat kami taklukkan. Bahkan meskipun Liok
Locianpwee sendiri sudah turun tangan dan bekerja sangat keras
sejak dua hari terakhir ini. Meskipun demikian, masih tetap sulit
untuk menaklukkan dan menahan mereka...... Dan selain
daripada itu, merekapun suka menggunakan hutan dan gelapnya
malam untuk bertarung dan melarikan diri, bertarung dan
melarikan diri kebalik gelap dan pekatnya hutan belantara. Tetapi,
hari ini kami sudah berhasil menahan dan kemudian menjebak
2551
dan mengurung mereka semua disini, sulit mereka melarikan diri
lagi.....”
“Hmmmm, sudahlah, banyak pekerjaan lain menanti. Biar
dipastikan bahwa mereka bisa kita taklukkan dan kita tahan, akan
tetapi jika tetap sulit juga, maka lebih baik binasakan saja”
terdengar si manusia yang dipanggil suhu sudah berkata dan
naga-naganya dia sedang sangat kesal.
“Tetapi mereka kini sudah terpojok Suhu, semestinya sudah lebih
muda untuk dapat menangkap mereka saat ini.....” Jamukha
berkata sekali lagi sambil melihat seperti apa reaksi suhunya
nanti.
“Jika sudah terpojok, coba kulihat bagaimana engkau dapat
menaklukkan serta menangkap mereka semua...” berkata lagi
sang Suhu dengan suara getas dan mulai membuat Jamukha
kehilangan kata-kata. Untungnya pada saat itu terdengar suara
orang lain yang ikut menyela.
“Ciok Sutit, sudahlah, bagaimanapun Jamukha muridmu sudah
bekerja cukup keras hari ini, biarlah perkara untuk menaklukkan
dan menangkap mereka kita lakukan bertiga dengan Liok hengte
biar dapat menghemat waktu. Tinggal 4 ataupun 5 hari lagi lawan
2552
akan maju hingga mendekati kaki gunung, karena itu kita butuh
lebih cepat melakukan persiapan-persiapan terakhir. Rijma Singh
sudah mulai bekerja, dan karena itu, gangguan-gangguan seperti
ini, mulai besok sudah tidak boleh terjadi lagi. Engkau harus
bekerja lebih keras lagi Jamukha, biarlah untuk gangguan hari ini
kita pahamu, tetapi mesti ini yang terakhir. Dan karen itu, maka
musuh yang ada sekarang, mestimya dengan cepat dapat kita
bereskan. Ayolah Ciok Sutit, waktu tidak akan menunggu kita
lagi....”
“Baik susiok, kita memang harus bergerak cepat. Mari, kita
tuntaskan dan bereskan, lebih cepat lebih baik. Liok Locianpwee,
biarlah kita bertiga turun tangan untuk bisa menangkap mereka
semua ...”
“Bagus Ciok Sutit, mari kita segera bekerja.....”
Mendengar kalimat terakhir Geberz, manusia misterius yang
disebut ataupun dipanggil She Ciok oleh Geberz terlihat
memalingkan wajah ke arena dan kemudian berkata kepada
semua kawan-kawannya;
“Cuwi sekalian silahkan mundur, biarkan kami bertiga yang
menyelesaikan mereka dan menangkap para pengganggu ini
2553
untuk menjadi tahanan dan sandra di markas Bu Tek Seng Pay.
Jamukha, tarik Pasukan Robotmu, dan engkau Ma Hu Paycu,
segera tarik mundur juga 5 Raja dari Tiang Pek dan berjaga
jangan sampai mereka melarikan diri. Si Hu Paycu, Suma hengte
silahkan kalian juga mundurkan diri.... kita akan amat butuh
mereka untuk pekerjaan yang lain nanti...” sekali berkata
demikian, ornag yang dipanggil Ciok Sutit oleh Geberz itu
bergerak, dan hampir semua tokoh Bu Tek Seng Pay menerima
perintah segera bekerja.
“Baik.....” terdengar hampir bersamaan semua menyahut, dan
kemudian Jamukha dan juga Ma Hiong Seng serta juga Si Tiok Gi
dan Suma Cong Beng, termasuk Lui Beng Wan mengundurkan
diri dan meninggalkan Geberz, Liok Kong Djie dan manusia She
Ciok di arena. Kelihatannya pertarungan besar akan segera
pecah, karena pada saat itu, Sie Lan In dan Hek Man Ciok juga
sudah bersiaga dan sudah mengajak semua kawan mereka untuk
saling menjaga. Maklum, meski lawan mereka hanya tiga orang,
tetapi kehebatan mereka tidaklah diragukan lagi. Sie Lan In
sendiri sudah pernah mengecapi bertarung atau setidkanya
melihat mereka dalam pertarungan di tempat berbeda.
“Hmmmm, apakah kalian masih berpikir untuk bertarung melawan
kami, ataukah tidak lebih baik kalian menyerah saja untuk
2554
menghemat waktu kami..”? bertanya si manusia She Ciok dengan
nada suara yang sangat arogan dan juga terdengar agak
provokatif, namun penuh rasa percaya diri dan memandang
semua lawannya dengan sinar mata mengancam.
“Hanya melawan Thian saja, makakami semua akan dengan
senang hati menyerah, tetapi menghadapi kalian, kami merasa
masih memiliki cukup kemampuan untuk bertahan dan
menghindar. Karena itu, langsung saja tuan-tuan, jika engkau
sudah merasa hebat, maka segeralah menyerang agar kita dapat
saling tahu satu dengan yang lain...” Sie Lan In berkata dengan
gagah berani, hal ini segera mengundang manusia she Ciok itu
untuk melangkah maju dan berencana untuk mulai bertarung
melawan mereka semua.
“Hmmmm, kemampuanmu memang hebat Kouwnio, tetapi
sejujurnya engkau masih belum cukup bermampuan bertarung
melawanku seorang diri. Tetapi, baiklah, jika benar kalian lebih
memilih untuk tarung melawan kami bertiga, maka sebaiknya
kalian segera menyiapkan diri masing-masing. Ingat, kami bertiga
akan berusaha menangkap kalian hidup-hidup dan semoga kalian
bersedia menjadi tawanan kami dan membantu kerjaan kami
kelak...”
2555
“Kami sudah siap sejak tadi, silahkan engkau turun tangan tuan,
kami lebih dari mampu dan terlalu berani melawan dan bertarung
denganmu....” sambut Sie Lan In yang sekaligus langsung
memukul kesombongan lawan yang dia rasa terlampau
memandang mereka remeh.
“Susiok, Liok Locianpwee, baiklah, mari kita bekerja keras
menangkap mereka semua, jika mungkin kita tangkap dan tahan
mereka, tetapi jika amat sulit, binasakan saja semuanya...”
terdengar perintah akhirnya turun dari si manusia She Ciok itu,
dan tarungpun segera dimulai.
“Hek Locianpwee majulah bersama Hek King Yap, hadapi Liok
Kong Djie, Yu Toako majulah bareng Enci Lian menghadapi
Geberz, biar kuhadapi pemimpin mereka yang sok main perintah
ingin menangkap kita....” bisik Sie Lan In dan dianggukkan oleh
kawan-kawannya itu. Pengaturan itu memang tepat dan pas
dalam menghadapi tokoh-tokoh hebat di pihak lawan. Tokoh
terhebat nampaknya memang si manusia she Ciok yang suka
memberi perintah itu. Sementara Liok Kong Djie dan Geberz
masih bisa dihadapi berdua, masing-masing Yu Kong
berpasangan dengan adik perempuannya Yu Lian, sementara
satunya lagi pasangan Hek Man Ciok dengan anaknya Hek King
Yap.
2556
Dengan formasi seperti itu, Sie Lan In dapat menghitung, bahwa
kedua arena tersebut akan cukup berimbang. Dan itu berarti, akan
tinggal bagaimana dia dalam berhadapan dengan si manusia
misterius satunya lagi. Si manusia she CIOK, begitu Geberz
memanggil keponakan muridnya itu. Dan kini, mereka semua
sudah siap dan sebentar lagi pertempuran akan pecah. Semua
kini senyap dan bersiap guna menyaksikan sebuah pertarungan
lebih dahsyat dan lebih hebat antara dua pihak yang memang
bertentangan itu.
Maka ketika Geberz dan Liok Kong Dji maju, benar saja mereka
segera dipapak dan ditandingi oleh gabungan ayah anak dan adik
kakak. Tetapi, jangan memandang enteng gabungan mereka,
karena Liok Kong Djie dan Geberz segera menemukan kenyataan
bahwa menghadapi gabungan itu mereka tidak dapat berbuat
banyak. Gabungan dua orang yang meskipun memang masih
dibawah kepandaian mereka, tetaplah cukup hebat dan sanggup
menahan serangan-serangan mereka berdua, karena mereka
saling melengkapi dan saling menolong dalam bertarung. Apalagi,
karena pasangan itu saling mengetahui dan mengenal ilmu silat
masing-masing, otomatis mereka tahu kapan masuk dan kapan
menolong. Karena itu, Liok Kong Djie segera merasa berat, sama
seperti Geberz yang sama hebatnya dengan Liok Kong Djie, juga
2557
kaget dengan kehebatan lawan. Geberz jelas kaget karena dia
masih belum menduga sejauh itu kehebatan lawannya.
Sementara itu, manusia she Ciok yang bersikap misterius itu
segera menghadapi Sie Lan In, sebelum menyerang dia berkata:
“Nona, lebih baik kalian menyerah menjadi tahanan kami..... lebih
baik bekerjasama dengan kami ketimbang melawan kekuatan
raksasa Bu Tek Seng Pay. Karena sesungguhnya Rimba
Persilatan Tionggoan sebentar lagi sudah akan dapat kami
kuasai....” bujuknya mencoba agar Sie Lan In luluh dan dapat
menyerah. Hal yang dia tahu sebenarnya lebih baik tidak
dilakukan, terutama karena melihat sikap dan juga sifat Sie Lan In
yang agak keras dalam menentang dan juga melawan mereka.
Tetapi, melihat kecantikan gadis itu yang begitu alami dan amat
menonjol, maka dia menetapkan hati untuk mencobanya terlebih
dahulu.
“Engkau ini sebetulnya mau bertarung melawanku atau ingin
membujukku..? apakah engkau mau kubujuk agar segera
membubarkan Bu Tek Seng Pay kalian yang ambisius dan
banyak melahirkan kekacauan di Tionggoan...”? jawab Sie Lan In
yang langsung membuat lawannya menarik nafas dan kemudian
memandang Sie Lan In. Cukup lama dia memandang Nona itu,
2558
dan pada akhirnya, pada lain kesempatan diapun dengan
terpaksa segera berkata:
“Baiklah Nona, engkau berjagalah......”
Selepas berkata begitu, manusia she Ciok, yang sebenarnya
adalah murid dari Pek Kut Lojin bernama Ciok Seng dan berjuluk
Giok Bin Thian Ong (Raja Langit Muka Pualam) segera mau
menerjang. Murid Pek Kut Lojin ini sebetulnya pada awalnya
bukanlah manusia buas dan bukanlah manusia yang berambisi
besar dan tidak berbahaya. Tetapi entah apa yang terjadi atas
dirinya dan entah apa sebabnya, tokoh ini justru kini muncul
sebagai tokoh utama dari Bu Tek Seng Pay. Dan yang juga sangat
penting, orang inipun memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan
jelas bukanlah lawan lemah. Karena sesungguhnya, dia bahkan
masih sedikit berada diatas kemampuan susioknya, Geberz.
Begitu berkata “engkau berjagalah”, langkah kakinya sudah
bergerak secara aneh dan amat mujijat dan dalam waktu singkat
sudah menerjang kearah Sie Lan In. Tapi, Sie Lan In sendiri
bukan orang awam dalam bergerak cepat dan mujijat, meskipun
dia merasa sedikit heran karena ilmu langkah lawannya mirip
dengan ilmu langkah yang sering dilihatnya dimainkan oleh Thian
Liong Koay Hiap. Tetapi tentu saja Sie Lan In tidak bisa terus
menerus kagum dan merasa heran, karena dia harus segera
2559
bergerak membendung dan melawan serangan cepat Ciok Seng.
Selain karena ternyata tokoh itu juga memiliki kekuatan yang
sangat hebat, bukan hanya sekedar memiliki daya gerak yang
cepat nan mujijat. Bahkan, Sie Lan In segera menyadari bahwa
kekuatannya malah lebih hebat dari Geberz.
Sadar sedang menghadapi lawan yang memang sangat hebat
dan lihay, Sie Lan In sudah memainkan ilmu ginkang yang
menjadi andalannya, yakni Sian Ing Tun Sin Hoat (Ilmu Bayangan
Dewa Menghilang). Seiring dengan itu, kekuatan iweekang Hut
Men Sian Thian Khi Kang (Tenaga Dalam Mujijat) juga sudah
dikerahkannya untuk dapat membendung dan menandingi
iweekang lawan yang juga sangat hebat dan istimewa. Dan
benturan pertama sebanyak 3 kali antara kedua lengan mereka
sudah cukup memberi gambaran kepada masing-masing sampai
dimana kehebatan lawan dihadapan mereka. Kuat dan lemah
masing-masing segera tergambar di benak masing-masing, dan
cara melawanpun sudah langsung terpatri di kepala. Dan dengan
cara seperti itulah mereka bertarung.
“Hebat.. hebat...” desis Ciok Seng menemukan kenyataan betapa
Sie Lan In mampu membendung kekuatan tenaga serangannya
dan juga mampu mengimbangi ilmu langkah mujijat yang
dikeluarkannya. Bahkan, dalam beberapa detik kemudian, dia
2560
balik didesak Sie Lan In yang bergerak demikian luwes dan amat
cepat dan nyaris tak terikuti pandangan mata. Dan bahkan lebih
dari itu, gadis itu kini dapat berbalik menerjang Ciok Seng secara
hebat dengan kecepatan bergeraknya yang nyaris sulit dipercayai
Ciok Seng. Tetapi, Ciok Seng yang memang sudah tahu dan
sadar akan kehebatan lawan, juga sudah menggeliat dan dengan
langkah yang hebat dan mujijat dia melepaskan diri dari terjangan
Sie Lan In yang amat cepat itu. Bahkan bukan hanya itu saja,
diapun sudah langsung balik mencecar Sie Lan In dengan
pukulan-pukulan hebat dan berbahaya.
Dalam waktu singkat keduanya tukar menukar jurus pukulan, adu
cepat serta adu tangkas dan sudah pasti juga adu kekuatan. Sie
Lan In seperti biasa menang cepat, tetapi juga tahu bahwa lawan
masih lebih kuat, meski tipis saja iweekangnya. Dan karena ilmu
langkah ajaibnya, maka Sie Lan In benar-benar harus bekerja
keras untuk menghadapi rangkaian serangan dari ilmu-ilmu
lawannya yang hebat luar biasa. Bahkan diapun cepat sadar,
bahwa Ciok Seng yang misterius ini benar-benar merupakan
lawan amat berat dan tidak akan demikian mudah baginya untuk
menandingi tokoh tersebut. Karena selain dia memiliki kekuatan
yang hebat, juga sekaligus memiliki tata gerak yang amat hebat
dan juga yang amat mujijat. Paduan itu sungguh membuatnya
2561
merasa berat dan bahkan sering mampu membuat gerakan
ginkangnya terganggu.
“Benar-benar hebat” desisnya dalam hati, kagum dengan
kemampuan lawannya yang terasa hebat itu. Tetapi, seriring
dengan itu, Sie Lan In sendiri mulai bangkit kebandelan dan juga
gengsinya, hal yang kemudian memaksanya untuk mau tidak mau
terus bertarung dalam tingkat kemampuannya yang tertinggi.
Amat jarang dia memperoleh lawan yang membuatnya harus
menguras seluruh ilmunya, ginkang hebatnya maupun juga
kehebatan iweekangnya. Dan Ciok Seng ini, membuatnya mau
tidak mau harus dapat menguras semua perbendaharaan ilmu
yang sudah dipelajarinya dari Lam Hay Sinni subonya dan
menuangkannya dalam bertahan dan menyerang. Wajar jika
pertarungan mereka meningkat cepat, dan dalam waktu yang
relatif singkat sudah saling serang dengan amat hebatnya.
Sementara itu, pertarungan di dua arena lainnya awalnya
memang cukup seru dan imbang, tetapi karena Yu Kong sudah
sempat mengalami luka meski tidak berat, tetapi setelah
bertarung panjang, maka rasa sakit dari luka ringannya mulai
sesekali mengganggu. Terlebih karena lawannya justru adalah
tokoh yang masih setingkat diatas kemampuan ilmu silatnya. Dan
hal yang sama juga dialami oleh Hek King Yap dan membuatnya
2562
mula sering harus dalam perlindungan tongkat besi ayahnya.
Untung saja tongkat besi Hek Man Ciok memang pusaka yang
menggetarkan sehingga mampu membuat lawannya sering
mengindahkannya. Namun yang pasti, pergerakan mereka mulai
dapat terbaca lawan hebat yang sedang mereka keroyok itu. Dan
perlahan-lahan, tanpa mampu mereka hindari, langkah dan
serangannya mulai mampu diantisipasi lawan.
Keadaan di dua arena itu sama sekali tak dapat lagi diikuti oleh
Sie Lan In, karena dia sendiri sedang amat sibuk dengan desakan
lawannya yang amat berat ini. Kekuatan iweekang mereka
masing-masing yang sangat berbeda jenis dan juga ciri khas
kehebatannya, membuat mau tidak mau Sie Lan In dan Ciok Seng
lebih teliti dan lebih waspada. Jika Sie Lan In lebih bersifat lemas,
maka lawannya bersifat alot dan sulit untuk digiring ataupun sulit
untuk dilontarkan. Pergulatan iweekang lawan iweekang juga
mendatangkan kesulitan tersendiri bagi Sie Lan In, karena dia
harus mengaku masih kalah seurat. Justru karena itulah sesekali
dia membiarkan diri untuk diserang lawan guna mengembalikan
semangat dan kekuatannya yang cepat terkuras jika adu
iweekang.
Sementara itu, setelah bertarung lebih 50 jurus, Hek King Yap
semakin kepayahan tetapi semangat bertarungnya memang
2563
sangat luar biasa. Sungguh patut diacungi jempol. Tetapi, sayang
memang, karena kondisi fisik bagaimanapun juga semakin
tergerus dan semakin tidak bisa dibohongi setelah terluka dalam
adu ilmu dengan Ma Hiong Seng sebelumnya. Bahkan suatu
ketika, Hek Man Ciok harus berjibaku menyelamatkan anaknya
ketika Hek King Yap alpa untuk bergerak mundur. Namun, posisi
mereka menjadi sangat terdesak dan ketika Liok Kong Djie terus
menyerang dan kini menyasar Hek Man Ciok dengan jurus Ular
Keluar Sarang, tokoh tua itu harus gopoh menghindar. Saat
menghindar itulah sebuah serangan cepat dan dahsyat
dilepaskan Liok Kong Djie mengarah telak ke dada Hek King Yap
dalam jurus ampuh Kim So Heng Kong (Rantai emas melintangi
sungai).
Hek King Yap sudah pasti akan terpukul, tetapi Hek Man Ciok
tidak rela anaknya terpukul karena memang sudah terluka
sebelumnya. Jika sampai itu terjadi, maka besar kemungkinannya
Hek King Yap akan mengalami cedera yang agak berat dan bisa
dipastikan akan amat parah. Mengingat hal itu, maka dengan
cepat dan nekat, dengan sedapat mungkin coba menangkis
dengan tongkat besinya, dia melompat menghalang tepat di
tengah-tengah Hek King Yap dan Liok Kong Djie. Tetapi Liok
Kong Djie cukup cerdik, dengan menggeser sedikit lengannya,
2564
pukulan itu tetap masuk dan akhirnya memakan pundak kanan
Hek Man Ciok menggantikan sasaran awalnya Hek King Yap. Tak
pelak lagi diapun terpukul:
“Dukkkk...... ngeeckkkkk”
Tetapi meski terpukul, tokoh tua itu memang sangat alot dan ulet.
Dengan amat cepat dia memutar tongkatnya dan dengan nekat
menyerang Liok Kong Djie yang terpaksa harus mundurkan
dirinya jika tidak ingin terkena hempasan tongkat besi
berkekuatan besar itu. Sungguh amat disayangkan, karena Hek
Man Ciok juga kini teruka dan karena itu, pasti pertarungan
mereka bisa sewaktu-waktu berakhir. Maklumlah, karena Hek
King Yap sendiri toch sudah sulit untuk bertahan lebih jauh karena
sudah terlebih dahulu terluka dalam pertarungan sebelumnya.
Keduanya, ayah dan anak itu, kini sudah terluka dan jelas Liok
Kong Djie sudah mulai membayangkan kemenangan pada
akhirnya dapat juga dia raih. Memang pada saat itu kemenangan
sudah semakin dekat dengannya.
Keadaan yang sama namun sedikit lebih baik dialami oleh Yu
Kong dan Yu Lian. Hanya karena Yu Lian memang berkonsentrasi
melindungi dirinya dan kakaknya, maka mereka bisa bertahan
lebih lama, setidaknya lebih lama dibandingkan dengan Hek Man
2565
Ciok dan Hek King Yap. Tetapi, sudah cukup jelas bahwa mereka
sangat kerepotan menghadapi serbuan Geberz. Dan seperti juga
Liok Kong Djie, Geberz sudah membayangkan akan segera
mengakhiri pertarungan dengan kemenangan berada dipihaknya.
Tetapi, belum lagi kedua tokoh tua itu bergerak lebih jauh untuk
memastikan kemenangan mereka, tiba-tiba di telinga Yu Kong, Yu
Lian, Hek Man Ciok dan Hek King Yap serta Sie Lan In terdengar
suara yang seperti nyamuk masuk ke telinga mereka, namun
terdengar cukup jelas:
“Bersiaplah, 50 Utusan Pencabut Nyawa yang berjaga di tepi
hutan belakang kalian semua sudah kutotok habis. Di dalam
hutan akan menyambut kalian beberapa ekor monyet besar,
jangan banyak bertanya ikutlah saja bersama mereka, karena
sebuah tempat rahasia akan mereka tunjukkan nanti. Sie
Kouwnio, engkau membantuku untuk menahan mereka sebentar
guna memberi kawan-kawanmu waktu yang cukup menyingkir
dari sini...... nach, kalian semua bersiaplah....”
Tidak ada seorangpun yang bertanya, tetapi jelas mereka kaget
dan menebak-nebak siapa gerangan tokoh yang tadi berbicara
kepada mereka. Tetapi, Sie Lan In dan Yu Lian kenal betul
dengan suara yang masuk ke telinga mereka tadi, dan karena itu
keduanya percaya sepenuhnya. Berbeda dengan Yu Kong dan
2566
ayah anak Hek Man Ciok dan Hek King Yap yang sam sekali
belum tahu siapa tokoh yang barusan bersuara tadi. Tetapi,
keduanya segera paham begitu suara yang luar biasa
menggetarkan arena perkelahian dan disusul dengan munculnya
seseorang yang bikin kuncup nyali banyak orang:
“Arrrrrrccccchhhhhhhhhhhhh .....” kemunculannya benar-benar
menghentak karena diawali dengan sebuah raungan maha
dahsyat.
Raungan yang amat keras bagaikan auman si raja hutan
memenuhi arena itu dan menggetarkan sanubari semua insan
yang sedang berada di seputar arena tarung itu. Dan tidak lama
kemudian, raungan dahsyat itu disusul dengan munculnya tokoh
yang selalu mengganggu persiapan dan kegiatan Bu Tek Seng
Pay selama ini. Dan mudah ditebak, karena siapa lagikah
gerangan jika bukan tokoh yang terkenal dan bernama THIAN
LIONG KOAY HIAP?.
Begitu munculkan diri, dia langsung menerjang Liok Kong Djie
dan memundurkan kakek itu hingga terhuyung-huyung ke
belakang. Sesudah itu, diapun segera pindah berkelabat
mengejar Geberz yang sebelum digebah sudah mundur terlebih
dahulu ke dekat Ciok Seng yang pada saat bersamaan sedang
2567
mengejar Sie Lan In. Waktu yang hanya sedetik itu digunakan
Thian Liong Koay Hiap memandang Yu Kong, Yu Lian berdua dan
kemudian berkata:
“Cepat, waktu kita terbatas......” ujarnya sambil matanya melirik ke
tempat dimana para penjaga, Utusan Pencabut Nyawa terlihat
berdiri kaku. Jelas mereka semua sudah tertotok dan tidak
berdaya.
“Baik Locianpwee......” berkata Yu Kong dan langsung bergerak
dan mengajak juga Hek Man Ciok dan Hek King Yap. Melihat
betapa Hek King Yap masih ragu, Yu Kong segera berkata
kepada kedua orang itu:
“Jangan engkau khawatir, dia sahabat dekat kami, ayahmu sudah
terluka, akupun juga sudah terluka meski tidak begitu parah dan
masih bisa kutahan. Tetapi keadaan kita sangat berbahaya. Jika
kita tidak segera berlalu dari tempat ini, maka lain waktu bisa jadi
kita tidak akan miliki lagi. Ayolah,,,,”
Baru kemudian Hek King Yap mengiyakan dan segera menarik
ayahnya sekaligus menuntunnya karena kondisinya memang
yang paling parah ada saat itu. Setelah tahu anaknya Hek King
Yap bersedia pergi, Hek Man Ciok mengiyakan dan mereka
2568
segera bergabung dengan Yu Kong dan Yu Lian yang memimpin
mereka terbang ke belakang. Hanya itu yang diingat Hek Man
Ciok karena setelah itu dia pingsan saking lelah dan letihnya. Dan
benar saja, Utusan Pencabut Nyawa yang semuanya berdiri
gagah menjaga barisan belakang mereka untuk memasuki hutan,
hanya bisa memandangi mereka dengan pandangan mendelik.
Tetapi, tak satupun dari mereka semua yang mampu bergerak
dan menghalangi keempat orang itu memasuki hutan. Selamatlah
mereka dari arena maut itu.
Setelah kurang lebih 50 meter memasuki hutan yang lebat itu,
benar saja, mereka berlima, termasuk Tian Sin Su bertemu
beberapa monyet yang kelihatan besar-besar dan juga tangkas.
Tanpa banyak bicara, monyet-monyet itu berlarian kedepan
menyambut sambil menengok ke belakang mengecek, apakah
empat orang yang di belakang mereka ikut atau tidak. Melihat
keempatnya terus mengikuti mereka, maka monyet-monyet
itupun bergegas maju lebih jauh ke depan. Terlihat jelas bahwa
mereka sedang berjalan dengan berbelok-belok dan menuju
sebuah tempat yang sudah disediakan dan mereka tahu dimana
itu. Mereka berjalan dengan cepat dan mampu melalui
pepohonan yang cukup padat, besar-besar dan memang banyak
terdapat di dalam hutan itu. Sampai pada akhirnya mereka semua
2569
tiba di suatu tempat yang cukup tersembunyi dan monyet-monyet
itu membawa keempat orang tersebut memasuki sebuah gua
yang sulit sekali untuk mereka temukan.
Sulit ditemukan karena berada dibawah sebatang pohon besar
yang sudah amat tua dan sekelilingnya dipenuhi dengan rumputrumput
dan tanaman kecil yang sekaligus menutupi lubangnya.
Tambah aneh lagi, karena bukan dari bawah mereka masuk
kedalamnya, tetapi melalui jalan yang tidak lumrah. Jalan
masuknya tidak lewat liang utama yang dilindungi rumput dan
tanaman kecil lainnya, melainkan lewat batang pohon di atas yang
saking tuanya sudah ada lubang di tengah batang pohon besar
itu. Dan siapa yang bisa menduga bahwa ada liang dan lubang
besar dalam tanah yang terlindung demikian banyak rumput?.
Tapi yang lebih aneh lagi, karena ruang didalamnya, dibawah
akar-akar pohon besar itu, ternyata cukup luas dan memadai bagi
mereka berlima, termasuk Tian Sin Su. Namun yang paling
menyenangkan buat mereka saat itu adalah, dalam ruangan itu
sudah tersedia buah-buahan yang segar dan siap untuk dimakan.
Ketika mereka ingin mengambil buah itu untuk dimakan, mereka
memandang lebih dahulu kearah monyet-monyet itu, terutama Yu
Lian. Dan monyet-monyet nampak menganggukkan kepala
mereka ketika Yu Lian seperti sedang minta ijin kepada mereka
2570
untuk mengambil buah itu buat dimakan. Melihat anggukan para
monyet itu, Yu Lian kemudian berkata:
“Terima kasih sahabat-sahabat monyet”, dan selanjutnya diapun
mengambil buah yang tersedia itu dan memakannya. Yu Kong
dan kedua tokoh she Hek ayah dan anak itupun segera mengikuti
cara Yu Lian dan sebentar saja merekapun sudah makan dan
bahkan menghabiskan buah-buahan yang tersedia. Setelah itu
Hek Man Ciok mulai berusaha memulihkan tenaga dan luka yang
dia derita akibat serial pertarungan panjang selama beberapa hari
terakhir. Hal yang sama juga dilakukan oleh Yu Kong, sementara
Yu Lian dan juga Hek King Yap terlihat berusaha samadhi
mengembalikan semangat dan kebugaran. Tian Sin Su yang lebih
segar memilih untuk melindungi mereka semua yang sedang
melakukan samadhi. Mereka merasa tenang dengan keadaan
dalam gua bawah tanah itu, tanpa mereka semua tahu bahwa
jarak mereka dari arena pertarungan tadi sebetulnya dekat saja.
Tidak akan lebih jauh dari jarak 500 meter.
Bagaimana keadaan arena pertarungan tadi? Kedatangan Thian
Liong Koay Hiap benar-benar membuyarkan rencana dan
persiapan Bu Tek Seng Pay. Kelima calon tawanan sudah
meloloskan diri, tinggal Sie Lan In dan juga Koay Ji atau Thian
Liong Koay Hiap yang harus mereka hadapi pada saat itu.
2571
Tentunya mereka mencak-mencak, apalagi karena Utusan
Pencabut Nyawa kembali kehilangan 50 orang anggotanya. Ke-
50 orang itu bukan hanya sekedar tertotok lumpuh, tetapi tertotok
dan kehiangan pusat kekuatannya karena Koay Ji memang
memutuskan bertindak kejam terhadap kawanan yang sangat
buas dan sangat kejam ini. Maka, dia sudah bekerja langsung
menurunkan tangan kejam kepada Utusan Pencabut Nyawa yang
tadinya berjaga di belakang para pendekar. Totokannya sudah
sekaligus memutus urat nadi yang menjadi sumber kekuatan
mereka, dan jangan harap mereka masih dapat bersilat setelah
kena hukuman Koay Ji itu.
Kedatangan Thian Liong Koay Hiap benar-benar mengejutkan
Ciok Seng, Geberz dan tentu juga Liok Kong Djie. Bahkan juga
membuat kebat-kebit Lui Beng Wan, Suma Cong Beng, Jamukha,
Si Tiok Gi, Ma Hiong Seng, Tam Peng Khek dan semua tokoh
mereka yang berada disitu. Karena setelah menggetarkan
semangat mereka lewat suara raungan singa, sejenis auman
singa dari Siauw Lim Sie, dia juga sudah mengundurkan Liok
Kong Djie yang terpental mundur sampai 5 langkah ke belakang.
Kemudian juga membuat Geberz pergi menjauh meninggalkan
Hek King Yap dan Hek Man Ciok yang sudah terdesak hebat.
Sementara Ciok Seng sendiri juga tergetar hebat meski hanya
2572
sesaat. Memang, beda dengan yang lain, pengaruh suara itu kecil
saja baginya, tetapi kemunculan Thian Liong Koay Hiap
membuatnya tergetar, matu tidak mau. Dia memang tidak takut,
tapi jelas sadar jika missinya terancam gagal. Dan hal sekecil itu
yang kemudian dimanfaatkan oleh Sie Lan In untuk meloncat
mundur dari arena dan mendekati kawan-kawannya serta
mengawal dan membiarkan mereka berlalu.
“Lama sekali baru engkau muncul..” tegur Sie Lan In kepada
Thian Liong Koay Hiap. Memang sejak awalnya Sie Lan In punya
rasa tidak suka kepada tokoh ini entah apa alasannya. Tetapi,
semakin lama semakin dia menyimpan kekaguman karena Thian
Liong Koay Hiap banyak melakukan hal menggemparkan, dan
terutama kepandaian dan ilmunya yang memang sangat hebat.
Namun meski kagum, tetapi Sie Lan In tetap dari luarnya bersikap
judes, keras dan anehnya, Thian Liong Koay Hiap tidak pernah
marah dengan sikapnya yang seperti itu. Seakan dia mandah saja
dan membiarkan dirinya selalu diperlakukan semau-maunya oleh
Sie Lan In, kapanpun mereka bertemu dan berjumpa. Sementara
Sie Lan In juga rada heran dengan kenyataan itu dan sikap Thian
Liong Koay Hiap kepadanya itu. Tetapi seperti itulah, memang
hubungan mereka berdua rada aneh, hal yang juga Sie Lan In
rasa aneh, tapi tak dapat menjelaskannya.
2573
“Lohu mesti mengerjakan banyak hal sebelumnya Sie Kouwnio,
maaf jika nyaris terlambat datang menyelamatkan kawankawanmu.
Tetapi, mereka sudah dibawa ketempat yang aman
oleh kawan-kawanku, tenang saja. Sekarang, kitapun harus pergi
dari tempat ini, sebaiknya kita bergabung dengan rombongan
Pendekar yang sudah bergerak dari Thian Cong Pay...” jawab
Koay Ji yang senang melihat Sie Lan In baik-baik saja dan bahkan
sedang sibuk melawan tokoh-tokoh Bu Tek Seng Pay. Memang,
dia sempat kaget karena nyaris saja terlambat, tetapi untungnya
saat ini dia sempat menyelamatkan kedua Nona yang punya
kaitan erat dengan hidupnya. Sie Lan In dan juga Nona Yu Lian.
Dan setelah Yu Lian pergi menyelamatkan diri, kini dia masih
bersama Sie Lan In, siap meninggalkan arena itu.
“Bagaimana cara kita pergi dari sini....”? tanya Sie Lan In
penasaran dengan cara yang dimaksud Thian Liong Koay Hiap.
“Akan sanggupkah dia menggertak atau memaksa mereka
mundurkan diri dari sini....”? desis Sie Lan In dalam hati, kaget
dan juga penuh rasa penasaran
“Engkau lihat saja, coba kugertak mereka terlebih dahulu......”
Setelah berkata demikian, Thian Liong Koay Hiap memandang
kawanan Bu Tek Seng Pay yang berkekuatan cukup hebat saat
2574
itu. Karena boleh dibilang, pada saat itu, tokoh- tokoh hebat
mereka banyak yang berada di sekitar arena berhadapan dan
langsung saling tatap dengan Thian Liong Koay Hiap. Tetapi hal
itu ternyata tidak membuat tokoh yang menghantui mereka semua
dari Bu Tek Seng Pay, menjadi ketakutan dan kecil hati. Bahkan
yang terjadi adalah sebaliknya, Thian Liong Koay Hiap
menghadapi mereka dengan gagah berani dan malahan dengan
tidak ada rasa takut kemudian berkata dengan suara tegas;
“Pertarungan terbuka toch tinggal beberapa hari lagi kedepan,
ecch mengapa kalian malahan sampai mengirimkan tokoh
sebanyak ini mengejar kawan-kawanku disini? Dan tidak malu
pula melakukan pengeroyokan..... dan, sungguh sulit kumengerti
mengapa Hong Lui Bun, Tiang Pek Pay bahkan tokoh-tokoh Hoa
San sampai bisa galang-gulung disini dengan para penjahat....
aneh, sungguh aneh. Lama kelamaan, Bengcu Tionggoan
bakalan menghabiskan banyak waktu mengurusi urusan yang
tidak genap seperti hari ini....”
“Hmmmm, mereka sungguh berani memata-matai Gunung Pek In
San kami, wajar jika kami berusaha menangkap dan menghukum
mereka semua. Dan tidak ada hubungannya dengan pertarungan
terbuka beberapa hari lagi.....” Ciok Seng yang menjawab dengan
2575
suara dingin dan terasa dia agak emosional berhadapan dengan
Thian Liong Koay Hiap. Tetapi, sejujurnya juga sedikit merasa jeri.
“Hahahaha sahabat, memata-matai jika mereka berada di
pinggang gunung sebelah utara Pek In San dimana Markas kalian
yang megah berada, tapi jika masih berada di kaki gunung Pek In
San dan engkau sudah sebut mereka memata matai, siapa yang
dapat percaya dengan omong kosongmu itu..”? jawab dan tangkis
Koay Ji hingga sulit membuat Ciok Seng buka suara. Padahal
Koay Ji sudah tahu bahwa Sie Lan In memang sedang mematamatai
Pek In San. Dan dia yakin, saat itu Sie Lan In memiliki
banyak informasi penting bagi para pendekar.
“Kenapa tidak kita tangkap dan hajar saja manusia kurang ajar
itu...”? terdengar Liok Kong Djie mengusulkan, maklum, dia tadi
menderita kerugian karena didorong mundur oleh Thian Liong
Koay Hiap. Ini membuatnya menjadi marah dan geram, sulit sekali
dia menerima didepan banyak orang terdesak sampai sedemikian
rupa, dimundurkan sampai beberapa langkah oleh Koay Ji.
Meskipun memang dia sudah lelah dan merasa cukup letih, tetapi
begitupun kekalahannya tadi tetap memalukan baginya. Karena
itu, dia berusaha untuk membuat pertarungan bisa terjadi, dan jika
demikian, maka dia sudah memilih untuk melawan Koay Ji atau
Thian Liong Koay Hiap dengan sepenuh kemampuannya.
2576
Tetapi Koay Ji hanya memandangnya sekejap, sama sekali tidak
berbicara kepada tokoh besar itu. Selanjutnya, dia kembali
mengalihkan pandangan kepada Geberz dan juga Ciok Seng
yang sepertinya bertindak sebagai pemimpin bagi kawanan Bu
Tek Seng Pay disitu. Terdengar dia berkata:
“Hmmm, segala manusia khianat seperti itu, kurang enak lohu
harus banyak buang kata, jauh lebih baik diam. Nach, bagaimana
menurut kalian? Apakah mau kita habisi disini dan menunggu hari
pertarungan tiba ataukah kalian semua berkeras untuk
menangkap kami semua? tapi mohon maaf, kawan-kawanku
yang lain sudah berada bersama rombongan kami yang lain. Dan
mengenai kami berdua, tentunya kalian mestilah bekerja keras
untuk bisa menangkap kami, dan kuperingatkan itu bukan hal
yang mudah......”
Bukan hanya Liok Kong Djie, tetapi juga Lui Beng Wan dan Suma
Cong Beng jadi amat marah dengan kesombongan yang
ditunjukkan oleh Thian Liong Koay Hiap. Mereka tidak bisa terima
dengan pandangan yang amat sinis dan merendahkan yang tadi
diucapkan oleh Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap. Tetapi,
karena masih ada Ciok Seng disitu, maka mereka tidak dapat
berbuat apa-apa. Mereka harus menunggu Ciok Seng yang
berbicara dan mengambil keputusan apa yang harus mereka
2577
lakukan pada saat itu. Meski demikian, Ciok Seng yang cerdik
bukan tidak melihat kenyataan itu, dan dia sadar bahwa kekuatan
mereka sebenarnya cukup memadai. Karena itu, tentu saja dia
tidak akan mundur hanya karena dia merasa agak jeri melawan
Thian iong Koay Hiap. Karenanya, diapun sudah berkata guna
tambah memanaskan pertikaian mereka semua;
“Engkau boleh kubiarkan pergi Thian Liong Koay Hiap, tetapi
kulihat, Liok Kong Djie Locianpwee dan anak muridnya tidak akan
demikian rela membiarkan engkau pergi begitu saja.... bukan
begitu Suma hengte...”?
Mendapat angin dari Ciok Seng, Suma Cong Beng yang cerdik
bukannya tidak tahu apa maksudnya. Tapi, diapun sadar,
Suhunya sedang emosi dan sudah teramat lelah dalam mengejar
lawan-lawan tadi. Sebenarnya dia yakin, bersama Lui Beng Wan
dan Suhunya bertiga, mereka cukup punya kekuatan melawan
Thian Liong Koay Hiap. Tapi, masalahnya, sang suhu sudah
teramat lelah dan dia serta Lui Beng Wan juga sama, setelah
mengejar dan bertarung selama dua hari berturut-turut jelas
mempengaruhi emosi dan fisik mereka. Padahal, pada saat itu,
suhunya yang amat dia andalkan, juga tidak lagi dalam kondisi
yang prima, dan jelas akan amat sulit guna menghadapi Thian
Liong Koay Hiap. Sialnya, pada saat itu, justru Thian Liong Koay
2578
Hiap justru masih segar-bugar karena memang baru saja
munculkan diri itu. “Ach sungguh berabe......” pikirnya susah. Tapi
dia harus mengatakan sesuatu hal pada saat itu, karena mereka
sedang berada dihadapan begitu banyak orang dan kawan-kawan
seperjuangan mereka.
“Apakah kami harus melawan Thian Liong Hoay Hiap? menilik
kehebatannya, maka kami bertiga suhu dan murid bersedia
menghadapinya, entah apakah dia berani menghadapi kami
bertiga secara bersamaan....”? Suma Cong Beng memang cerdik,
jika dia menantang maka ceritanya bisa jadi lain, tetapi jika
mereka melakukan perlawanan atas nama Bu Tek Seng Pay,
maka tersedia banyak bantuan disitu. Kini, bola sulit itu berada
ditangan Thian Liong Koay Hiap, dan Koay Ji serta Sie Lan In
bukannya tidak tahu dengan strategi licik Suma Cong Beng itu.
Tapi Koay Ji sudah memiliki perhitungan lain dan berkata,
“Liok Locianpwee, sungguh sayang buatmu karena kulihat
tenagamu sudah terkuras amat banyak, buktinya tadi sebuah
hentakanku saja membuatmu mundur hingga berapa langkah ke
belakang. Dan, terus terang Suma Cong Beng yang hanya hebat
mulutnya itu sama sekali tidak lohu pandang sebelah mata, hanya
memang licik dan curang memang menjadi keahliannya. Orang
itu memang terkenal busuk dan tak salah jika ornag banyak
2579
menyebutnya sebagai sampah di kalangan rimba persilatan
Tionggoan dewasa ini. Kecuali Liu heng yang memang gagah
perkasa tetapi sayang sekali, dia masih belum memiliki sikap dan
pegangan pasti dalam hidupnya..... jelas kalian bertiga tidak akan
mampu untuk sekedar menahanku dan apalagi untuk sampau
berbuat apa-apa terhadapku. Maka terasa aneh buatku jika
engkau sampai mau memanas-manasiku, dan menantang berani
atau tidak......hahahaha, sungguh lucu dan membuatku ingin
tertawa”
Sungguh terus terang dan menohok tajam kata-kata Thian Liong
Koay Hiap. Sampai Suma Cong Beng tidak tahu mau berkata apaapa
lagi. Satu yang amat jelas adalah bahwa sebuah penghinaan
besar baginya ketika Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap
menyebutnya sebagai: SAMPAH di dunia persilatan Tionggoan.
Ada siapa gerangan yang sanggup menerima penghinaan seperti
yang baru saja diucapkan oleh Koay Ji tadi itu? Karena itu, Suma
Cong Beng dengan garang dan murka sudah melangkah maju
satu langkah kedepan, dan kemudian menuding Thian Liong Koay
Hiap dan diapun berkata:
“Memangnya sesuci apa Thian Liong Koay Hiap sampai berani
mengata-ngataiku dan juga menghina kami bertiga ini? Suhu
memang kelelahan, tetapi bukan tidak mampu melawanmu sama
2580
sekali. Cuiiih, bangsat pengecut, bilang saja jika engkau memang
takut melawan kami......” pilihan kata-kata Suma Cong Beng
memang cukup cerdik, dia balik menghina Thian Liong Koay Hiap.
“Hahahahaha, pura-pura gagah. Padahal, Hoa San Pay yang
membesarkanmu saja engkau khianati, apalagi cuma suhumu
yang menjadi bahan andalanmu meraup keuntungan di Bu Tek
Seng Pay? Suma Cong Beng, kecerdikanmu adalah kelicikan dan
kecurangan, engkau akan berakhir dengan tragis sebagai
manusia, karena ada banyak pihak yang sekarang mengejarngejarmu.
Tanpa lohu turun tangan nanti, akan ada banyak orang,
banyak tokoh yang dengan senang hati akan membuatmu
modar,,,,, maka, mengotori tanganku saja jika harus menghadapi
mahluk sampah persilatan seperti dirimu ini....” sekali lagi Thian
Liong Koay Hiap angkat suara memojokkan dan mengata-ngatai
Suma Cong Beng sampai manusia khianat itu tidak tahu mau
berkata apa lagi.
“Thian Liong Koay Hiap, engkau terlampau menghina kami....” Liu
Beng Wan tampil membela Suma Cong Beng, bagaimanapun
juga yang dihina dan dipermainkan oleh Thian Liong Koay Hiap
adalah saudara seperguruannya. Meski dia memang rada tidak
suka dengan Suma Cong Beng, tetapi yang dihina dan
2581
dipermainkan Thian Liong Koay Hiap bagaimanapun adalah
saudara seperguruannya.
“Jika bukan karena dia, Hoa San Pay tidak akan bernoda buruk
seperti sekarang ini. Engkau masih belum mendatangkan noda
hitam hengte, tetapi jika kelamaan, maka engkau akan berubah
jadi sama dengan sampah yang sangat memuakkan serta
menjemukan ini....” jawaban Thian Liong Koay Hiap kembali tegas
dan membuat Liu Beng Wan terdiam dan juga merasa malu
karena makian itu memang benar. Dia kehabisan kata-kata,
sementara Suma Cong Beng sudah keder sejak awal dan berdiri
tanpa tahu mau berkata apa lagi.
Melihat keadaan dan posisi Liok Kong Djie yang terpojok
menyedihkan seperti itu, Ciok Seng akhirnya angkat bicara;
“Apakah engkau masih berpikir pergi dari sini dengan aman Thian
Liong Koay Hiap? adalah lebih engkau berpikirlah dengan lebih
jernih dan hitung-hitunglah kehadiran kawan-kawanku yang
berada disini....”
“Berapa hari lalu ada 3 orang yang nyaris jadi tangkapan di
gunung Thian Cong Pay. Tapi, mereka masih beroleh
kemurahan.... Lohu tidaklah berharap kemurahan yang sama
2582
akan datang darimu dan dari Bu tek Seng Pay. Hanya, apakah
kalian cukup yakin dan benar-benar berkemampuan untuk
menangkap dan menahanku disini juga bersama Sie Kouwnio....?
lebih baik engkau berpikirlah lebih tenang dan lebih panjang
lagi.....” jawab Thian Liong Koay Hiap tenang sambil memandang
tajam langsung ke mata Ciok Seng.
Lama kelamaan Sie Lan In semakin kagum juga dengan
kegagahan dan juga cara Thian Liong Koay Hiap menghadapi
kawanan musuh yang hebat-hebat itu. Dia bisa menyudutkan
Suma Cong Beng dan membuat Ciok Seng sulit mengambil
keputusan dan dia kelihatannya sama sekali tidak takut untuk
dikeroyok lawan yang cukup banyak dan sakti itu. Bukan main. Ini
perlahan mendatangkan perasaan kagum yang aneh dalam
benak dan dalam hati Nona Sie Lan In yang biasanya galak
terhadap Thian Liong Koay Hiap itu. Dan dia tidak sadar jika
pandangan negatifnya mengenai tokoh ini semakin lama semakin
menipis. Bahkan hari ini, sepertinya sudah nyaris sirna.
Pandangan negatif dan juga sentimennya terhadap Thian Liong
Koay Hiap semakin lama semakin berganti kekaguman.
“Jika demikian, apa yang Koay Hiap inginkan pada saat ini....”?
bertanya Ciok Seng dalam posisi yang semakin tertekan, padahal
kekuatan mereka sebenarnya tidaklah kalah. Pertanyaan Ciok
2583
Seng pada dasarnya terdengar aneh, karena sesungguhnya, saat
itu kekuatannya berada di atas Thian Liong Koay Hiap yang hanya
berdua saja dengan Sie Lan In. Dan jika dihitung, maka berada
dipihak mereka, selain dirinya sendiri masih ada Geberz
susioknya, kemudian juga ada Liok Kong Djie, ada Liu Beng Wan,
Si Tiok Gi, Ma Hiong Seng, Jamukha, Tam Peng Khek dan istrinya
dan masih ada Utusan Pencabut Nyawa dan Pasukan Robot.
Entah mengapa Ciok Seng justru bersikap lunak terhadap Koay Ji
dan seakan-akan memberi angin dan juga segan dengan tokoh
aneh itu.
“Maafkan, karena sebentar lagi kami berdua akan segera berlalu,
dan kita akan bisa bertemu kembali beberapa hari kedepan. Pada
saat itu, hitung-hitungan sedikit dan banyak, satu lawan satu atau
mengeroyok, bukan lagi menjadi persoalan. Karena memang
pertempuran itu adalah soal melawan kejahatan.....” tenang saja
Thian Liong Koay Hiap bicara, dan sekali ini menimbulkan bisikbisik
di kalangan lawan. Karena semakin jelas bahwa mereka
sama sekali tidak rela membiarkan Thian Liong Koay Hiap berlalu
begitu saja, meskipun juga untuk menahannya mereka mulai
berpikir beratus kali dengan kemampuan mereka.
“Maafkan, kami tidak bisa membiarkan engkau berlalu Thian
Liong Koay Hiap” pada akhirnya Ciok Seng mengemukakan apa
2584
yang menjadi pikiran mereka semua. Saat itu diapun mulai
berpikir bahwa mestiny, dengan keroyokan Geberz, Liok Kong
Djie dan dirinya sendiri maka peluang memenangkan tarung
lawan Thian Liong Koay Hiap cukup terbuka. Sementara untuk
melawan Sie Lan In akan dibebankan kepada Liu Beng Wan,
Jamukha, Si Tiok Gi, Ma Hiong Seng dan juga Tam Peng Khek.
“Perimbangan kekuatan seperti itu mestinya akan menghasilkan
kemenangan, bahkan cukup berlebihan untuk sekedar menang”,
dan seperti biasa Suma Cong Beng yang merancang strategi ini
dan kemudian dia mengemukakan strategi itu kepada kawankawannya.
Otaknya memang penuh akal bulus dan licik, dan
itulah yang disukai Ciok Seng darinya.
“Apakah engkau mengira ketika datang tadi lohu berpikir bakalan
berlalu secara baik-baik? Hahahaha, kalian keliru jika demikian.
Karena tentu saja lohu sudah amat siap dan juga sedia termasuk
melawan keroyokan kalian semua. Lohu tidak akan heran, karena
memang seperti itu perangai banyak tokoh yang bergabung
dengan Bu Tek Seng Pay kalian. Sifat-sifat yang curang, licik,
kejam, senang membunuhi banyak orang, adalah apa yang kalian
tunjukkan hingga membuat rimba persilatan bangkit melawan
kalian semua. Tapi, ngomong-ngomong, kemana gerangan
sobat-sobat seperti Mo Hwee Hud, Sam Boa Niocu dan juga Bu
2585
Tek Seng Ong....? akan lebih seru jika mereka semua pada
datang dan hadir disini untuk meramaikan suasana....” masih
sempat Thian Liong Koay Hiap berkelakar, seakan belum cukup
lawan yang berjejer dihadapannya itu.
Mau tidak mau Ciok Seng menjadi sangat mendongkol
mendengar kata-kata nan jumawa dan meledek dari Thian Liong
Koay Hiap itu. Tetapi, dia sangatlah sadar bahwa melawan tokoh
sehebat Thian Liong Koay Hiap dia tidak boleh emosional. Tidak
boleh banyak berayal dan harus berkonsentrasi penuh, bahkan
harus juga mengandalkan kekuatan lain selain dirinya. Maka
untuk menghidupkan peluang dan juga semangat kawankawannya
yang lain, dengan menguatkan diri diapun berkata
dengan suara tawar dan dingin,
“Rasanya kami semua sudah lebih dari cukup untuk membuatmu
menjadi tawanan di gunung Pek In San kami ini. Kami jelas akan
dengan senang hati mengumumkan kepada dunia persilatan
bahwa tokoh bernama Thian Liong Koay Hiap sudah berada di
gunung Pek In San sebagai tawanan yang terhormat dari Bu Tek
Seng Pay kami ini.... hahaha, sungguh menyenangkan
membayangkan jika benar hal itu dapat terjadi” menutup katakatanya,
Ciok Seng tertawa, meski kesannya sebenarnya hanya
untuk menenangkan hati dan semangatnya belaka. Dan kawan2586
kawannya tahu belaka, seperti juga Koay Ji dapat menangkap
kesan itu.
“Kalau memang begitu, untuk apa kalian terus berdiam diri dan
tidak segera datang menyerang kami berdua...? apa masih
menunggu kawan-kawan kalian yang lain? Hahahaha, dan catat,
lohu akan meminta korban tidak sedikit sekali ini. Setelah
memunahkan kepandaian 50 Utusan Pencabut Nyawa, lohu akan
senang jika bisa melakukan hal yang sama untuk 4,5 orang
diantara kalian, karena itu, bersiaplah kalian semua dan tentunya
ingat pesan dan nasehat Lohu agar kalian semua berhatihatilah.....
lohu akan menyerang siapa saja dalam pertempuran
kita nanti” Thian Liong Koay Hiap mengancam dan membuat
siapapun disana tergerak hatinya dan diam-diam merasa rada
seram dengan ancaman itu. Dan otomatis, merekapun bersiap
menjaga diri sendiri.
Tapi, apakah memang benar Koay Ji sedikitpun tidak merasa
takut menghadapi ancaman musuh yang sedemikian banyaknya
itu? sebenarnya sama sekali tidak. Thian Liong Koay Hiap
bukanlah dewa, dan karena dia memang bukan dewa, maka
kedatangannya bukanlah tanpa perencanaan sama sekali. Sudah
sangat jelas jika dia mempunyai rencananya sendiri, dan rencana
tersebut sebetulnya sudah dia paaparkan kepada Sie Lan In.
2587
Beberapa waktu lalu, sesaat setelah kawan-kawan mereka pergi,
dan kemudian dilanjutkan menjelang lawan-lawan mengepung
dan mengeroyok mereka, dibisikkannya kepada Sie Lan In:
“Sie Kouwnio, lawan terlampau kuat, engkau nanti pergi terlebih
dahulu dan tunggu lohu di balik pohon besar sebelah timur sana.
Kita hanya akan bisa meloloskan diri dengan menggunakan
kendaraan besarmu... tapi apakah dia nanti akan cukup kuat
untuk mengangkut kita berdua nantinya....”?
“Lebih dari mampu, hanya saja, jika biasanya dia mampu terbang
sehari-semalam dengan satu orang di punggungnya, maka jika
membawa dua orang, paling lama dia terbang sehari saja...”
jawab Sie Lan In.
“Hmmmm, kita hanya butuh dia terbang sejauh 1,2 km dan setelah
itu kita turun di satu tempat. Jika demikian kita bisa menghindar,
tetapi engkau harus pergi lebih dahulu menyiapkannya. Tetapi
tunggu saat pertempuran pecah, dan jika sudah siap nanti dengan
kendaraan besarmu itu, kirimkan saja isyarat maka aku akan
segera menuju ke tempat yang ditentukan.....”
“Baik Koay Hiap..... tapi aku bakalan membutuhkan dorongan
kuat iweekangmu untuk bisa mencelat keatas, dan menyerang
2588
mereka dengan pedang. Baru setelah itu akan berlalu dengan
cepat. ”
“Baik, engkau lakukan sekarang, mereka akan mulai menyerang”
percakapan kedua orang itu berakhir dengan majunya Geberz,
Liok Kong Djie dan Ciok Seng yang akan mulai menyerang Koay
Ji. Pada saat itulah Sie Lan In membentak keras dan kemudian
mencelat keatas setelah sebuah kakinya disampok oleh Koay Ji.
Sungguh pameran ilmu silat yang amat luar biasa, karena Sie Lan
In bukan hanya bergerak cepat tetapi juga segera mendatangkan
perbawa yang amat hebat, luar biasa dan mengagumkan.
Pameran ilmu silat yang sekaligus membuat lawan-lawannya
kocar-kacir dan keder. Apa pasal?
Pada saat Sie Lan In mencelat keudara, bersamaan dia mencabut
Thian Liong Pokiam (Pedang Pusaka Khayangan), dan bersama
dengan itu dia memainkan ilmu Hui Sian Hui Kiam (Pedang
Terbang Memutar). Inilah Ilmu Pedang Terbang yang sudah
teramat jarang muncul di dalam dunia persilatan. Menjadi lebih
hebat lagi, karena memang, pada saat itu, Sie Lan In sudah
sanggup dan dapat mencapai Kepandaian Kiam Jin Hip It
(Pedang dan Tubuh Terhimpun Menjadi Satu) dan tingkatan ilmu
mitis ilmu pedang, yakni Sen Hap Kiam (Badan Menyatu Dengan
Pedang). Ini adalah tingkatan puncak Ilmu Pedang Terbang dan
2589
sudah dapat dicapai oleh Sie Lan In selama beberapa waktu
belakangan. Terutama setelah dia berlatih sebulan penuh di laut
Selatan.
Pada satu kesempatan belaka dia sudah menyerang semua
lawannya dengan jurus maut yakni rangkaian jurus Han Mo Tui
Ho (Setan kedinginan mengejar api) dan jurus Han Mo Hoan Sin
(Setan kedinginan jungkir balik). Akibatnya sungguh amat
mengejutkan, bahkan juga membuat Geberz, Liok Kong Djie dan
Ciok Seng tergetar hebat melihat kilatan berwarna keputihan
terbang dengan kecepatan yang amat menakutkan. Dalam
sebuah serangan berangkai, Sie Lan In memainkan jurus maut itu
dan menyerbu Liu Beng Wan, Jamukha, Si Tiok Gi, Ma Hiong
Seng, Suma Cong Beng, Tam Peng Khek dan istrinya serta juga
mengejar 5 Raja yang dua diantaranya sudah terluka. Sungguh
luar biasa, pameran ilmu pedang terbang yang amat
mengagumkan dan memang amat dahsyat.
Semua memang dapat menghindar dengan gopoh, tetapi
begitupun pedang dengan cahaya keputihan yang berkelabat
menggiriskan membuat hati mereka ciut. Ada sebagian besar
yang selamat dalam dua kali kesiutan dan menyambarnya sinar
putih bagai kilat itu, tetapi ada juga yang tidak selamat. Terutama,
karena memang Sie Lan In menyasarnya. Dan korban terbesar
2590
yang kena lentikan Pedang mujijat itu adalah Suma Cong Beng
yang memang sangat menyebalkan dan membuat Sie Lan In
begitu membencinya. Putaran dan sabetan pedang pertama
dapat dihindari semua tokoh itu, tetapi sabetan kedua ada
variasinya, khusus terhadap Suma Cong Beng. Begitu dia
menghindar, Pedang terbang bergerak cepat dan mengancam
lehernya. Dalam keadaan apa boleh buat, Suma Cong Beng
menangkis pedang dengan lengannya, dan tak terhindarkan:
“Cressssss..................” dengan tidak meninggalkan bekas namun
pastilah lengan Suma Cong Beng sudah menjadi korban
menggantikan lehernya. Tetapi tiada yang sempat menyadarinya
karena pada saat bersamaan semua pada sibuk menghindari
serangan dan sengatan pedang terbang yang amat dahsyat itu.
Sedikit orang yang tahu apa yang sesungguhnya telah terjadi.
Setelah berhasil dengan targetnya dan pedang bersatu kembali
dengan tuannya, Sie Lan In pun bergerak pergi. Sementara
semua orang masih terpukau dan tersihir dengan pameran maut
“ilmu pedang terbangnya”, serta juga masih kaget dan masih
bergidik karena diserang secara amat luar biasa oleh pedang
terbang yang sebagian dari mereka baru sekali itu mengalaminya.
Keadaan seperti itu yang memang disasar oleh Sie Lan In dan
2591
karena itu, diapun sudah berkata dengan suara jernih dan nada
yang jelas sekali amat puas:
“Aku pergi.......”
Dan tidak ada yang sadar dengan kepergiannya ketika kemudian
terdengar jeritan menyayat hati dari Suma Cong Beng....
“Accccch, lenganku......”
Jeritan menyayat hati itu muncul seiring dengan menghilangnya
Sie Lan In kebalik hutan. Tetapi, siiapa gerangan yang mampu
dan dapat mengejar si ratu ginkang jika sudah sedang melarikan
diri? nyaris tidak ada. Lagipula tidak ada yang peduli lagi dengan
kepergian Sie Lan In karena mendengarkan jeritan menyayat
Suma Cong Beng. Ternyata, saking cepat dan tajam pedang Sie
Lan in, Suma Cong Beng masih belum sadar selama beberapa
detik jika lengan kirinya sudah terpotong sampai sebatas sikunya.
Pada saat dia ingin mengangkat lengan tersebut, lengan sebatas
siku kebawah justru jatuh tergeletak di tanah, persis di
hadapannya. Dan diapun yang memang pada dasarnya
pengecut, tidak sadar menjerit histeris dan kemudian kehilangan
kesadarannya alias pingsan menggeletak di tanah.
2592
Melihat keadaan sang murid tersayang, Suma Cong Beng yang
pingsan karena lengannya terpotong buntung, wajah Liok Kong
Djie tiba-tiba berubah membesi dan matanya nyalang sulit
ditebak. Rasa murka dan emosi sudah memenuhi wajahnya dan
Thian Liong Koay Hiap tentu dapat melihat karena selalu
mengawasi mereka semua, termasuk Liok Kong Djie. Koay Ji
senang dengan hukuman yang dijatuhkan Sie Lan In dan gadis itu
sudah pergi, kini adalah tugasnya untuk juga segera pergi. Tetapi,
dia sadar dia masih harus melawan 3 tokoh besar yang kini mulai
bergerak mengurungnya. Bahkan Liok Kong Djie sudah membuka
serangan dengan angin pukulan yang sangat luar biasa, seakan
menumpahkan kekesalan dan kemarahan atas apa yang dialami
muridnya melalui pukulannya yang amat berat itu. Koay Ji juga
memahami dan melihat, karena memang jelasi jika kakek itu
menumpahkan kemarahannya dalam pukulan bertenaga luar
biasa itu.
Tidak salah lagi, Liok Kong Djie maju dengan emosi dan
menyerang dengan penuh tenaga Siauw Thian Sin Kang (Tenaga
Sakti Membakar Langit), dan melangkah maju dalan Ilmu Mie
Tjong Sin Poh(Ilmu langkah sakti penghilang jejak). Jelas kalau
pukuannya berasal dari apa yang dinamakan Ilmu Pukulan Jit
Gwat It Sian Kun (Pukulan Matahari dan Rembulan Satu Garis),
2593
Itulah satu ilmu pukulan yang memang merupakan andalan dari
Hoa san Pay. Tetapi, Koay Ji tentu saja tidak akan membiarkan
dirinya diserang begitu saja, apalagi pada saat bersamaan
serangan Geberz dan Ciok Seng juga sudah menjelang datang.
Menimbang keadaan, diapun akhirnya bergerak dengan Ilmunya
Thian Liong Pat Pian yang juga sudah sempat
disempurnakannya. Ilmu langkah mujijat yang kini menjadi sudah
jauh lebih luas khasannahnya ketimbang yang dikenali dan juga
dikuasai baik oleh Geberz maupun juga oleh Ciok Seng sendiri.
Sebentar saja mereka sudah bergebrak hebat, Koay Ji menangkis
5 pukulan lawan dan kemudian bergerak lincah kekiri, kenanan
atau bahkan menyelinap dari jurus pukulan ketiga lawannya itu.
Sementara lima benturan yang terjadi dilakukannya dengan
menggiring ilmu pukulan Liok Kong Djie dan membenturkannya
dengan Geberz, kesudahannya membuat mereka berdua mundur
dua langkah masing-masing. Sungguh sebuah pameran
pertarungan tingkat tinggi, dan dalam sepuluh jurus jelas Koay Ji
tidaklah berada dalam kesulitan. Karena dia mampu bergerak
lincah dan balas menyerang yang rata-rata membuat ketiga
lawannya terhentak karena menghadapi kekuatan yang sangat
luar biasa. Baik gerakan yang mujijat maupun kekuatan
iweekangnya memang sangat mengejutkan.
2594
Dan terutama yang lebih memusingkan ketiga lawan mautnya itu
adalah kekuatan iweekang mengisap yang secara otomatis
memancar dari tubuhnya. Dan masih juga disertai lontaran
iweekangnya yang berubah-ubah, kadang-kadang kuat
mendorong, kadang berubah menggiring, kadang
menghempaskan, ataupun kadang-kadang jadi menghisap
tenaga mereka. Inilah yang membuat ketiga lawannya salah
tingkah dan sulit untuk mendekati, apalagi untuk memukul Thian
Liong Koay Hiap. Dan setelah 15 jurus berlalu dengan
menggebrak lawannya dan menumpas kesombongan merka
sampai tidak bisa mendekati dan menyernagnya, Koay Ji merasa
sudah cukup. Terutama, karena pada saat itu, kawan-kawan
mereka yang merubungi Suma Cong Beng sudah mulai berdiri
dan ikut menyaksikan pertarungan hebat yang tersaji di hadapan
mereka antara tokoh-tokoh berkepandaian mujijat.
Bagaimanapun Koay Ji masih berprinsip untuk “tidak membunuh”,
tetapi jika dikerubuti demikian banyak orang, maka dia merasa
sulit jika tidak menjatuhkan tangana kejam. Ketimbang
melakukannya, Koay Ji berpikir lebih baik menyingkir dan
menunggu isyarat dari Sie Lan In untuk segera mengundurkan
dirinya. Tetapi, repotnya, dia masih belum lagi mendengar isyarat
dari Nona Sie.
2595
Karena itu, Koay Ji segera mengerahkan kekuatannya hingga
tujuh bagian tenaga iweekangnya dan kemudian memutuskan
mencoba ilmu baru ciptaannya, yakni jurus keempat dan jurus
kelima (karena jurus pertama sampai ketiga adalah ilmu rahasia
Siauw Lim Sie) dari ilmu baru ciptaannya. Dia memberi nama Ilmu
baru itu Ilmu Liu Hud Jiu Toh Cu (Tangan Budha Bergerak
Merebut Mustika), yang terdiri dari 5 jurus belaka, dengan jurus
keempat adalah ciptaan suhunya dan jurus kelima adalah juga
jurus ciptaannya sendiri. Jurus keempat, yakni jurus Sam Liong
Toh Cu (3 Naga Berebut Mustika) dan jurus kelima Jurus Hud Jiu
Can Liong Boh Ciau (Tangan Budha Menebas Naga Memancar
Luas) – jurus baru dengan kehebatan 3 jurus awal yang coba dia
kombinasikan. Selain untuk keperluan Kuil Siauw Lim Sie, maka
3 jurus awal memang dilarang keras digunakan oleh Koay Ji,
tetapi jurus keempat dan kelima tidak dilarang, karena memang
ada andilnya dalam menciptakannya. Meski atas tuntunan dan
usulan suhunya.
Sebenarnya, Koay Ji sekali ini rada berspekulasi. Karena
keinginannya menyerang ketiga orang ini sebetulnya sekedar
ingin melatih dan melihat efek dari kedua jurus baru yang
didalaminya selama beberapa hari terakhir. Dan dia menemukan
waktu dan kesempatan ketika melihat dan menemukan
2596
rombongan yang dipimpin Sie Lan In ada dalam kepungan lawan.
Dan untuk keluar dari kepungan yang sudah ganti mengepungnya
itu, maka dia merasa cukup pantas untuk mencoba ilmu barunya
itu. Melihat bahwa kesempatan yang muncul secara kebetulan itu,
Koay Ji kemudian kini memutuskan mencobanya. “Kapan lagi...”?
pikirnya. Jurus keempat atau jurus Sam Liong Toh Cu (3 Naga
Berebut Mustika) dikerahkannya dengan iweekang Toa Pan Yo
Hian Kang, dan kemudian disusul dengan bagian menyerang
jurus kelima dalam topangan iweekang gabungan, dalam Jurus
Hud Jiu Can Liong Boh Ciau (Tangan Budha Menebas Naga
Memancar Luas). Dengan dorongan iweekang itu, berarti Koay Ji
berniat menyerang dan bukannya sekedar menggebrak ataupun
guna sekedar bertahan.
Geberz, Liok Kong Djie dan Ciok Seng tidak menduga jika mereka
menjadi sejenis kelinci percobaan jurus baru yang diciptakan
belum lama oleh Koay Ji. Tetapi, jelas mereka terkejut ketika Koay
Ji memainkan jurus 3 Naga Berebut Mestika. Karena dari tubuh
Koay Ji mengalir kekuatan yang amat hebat, ada yang bersifat
menotok, memukul dan juga menghempas atau mendorong
mereka. Bukan hanya itu, Ciok Seng dan Geberz menjadi kaget
karena kekuatan menghisap yang keluar dari tubuh Koay Ji mirip
dengan yang mereka saksikan dan juga rasakan di Thian Cong
2597
Pay. Tetapi, kekagetan mereka mesti disimpan rapih, karena
pada saat itu, Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap bukannya
terserang, sebaliknya justru kini menyerang mereka. Bukan
sekedar menyerang, karena tepatnya sedang menyerbu mereka
dengan kekuatan iweekang yang sulit mereka tebak.
Tidak tanggung-tanggung, Koay Ji menyerang mereka bertiga
dan ketika akhirnya masing-masing menangkis, mereka kaget
karena dorongan dan totokan yang tadi mereka rasakan tiba-tiba
berubah menjadi gaya iweekang menggiring. Untungnya, mereka
bertiga adalah ahli-ahli ilmu dalam, maka merekapun menghentak
secara bersamaan sehingga terlepas. Tetapi, pada saat yang
bersamaan kedua lengan Thian Liong Koay Hiap kembali
bergerak dan entah bagaimana rasanya seperti ada satu
kekuatan luar biasa menghempas dari lengannya. Kekuatan
tersebut sangatlah hebat dan besar, dan sekarang mencecar
mereka bertiga secara bersamaan. Dan merekapun mau tidak
mau harus bertahan karena daya hisap yang mereka lawan, juga
semakin menguat, nyaris sekuat daya menghempas yang
mengalir dari lengan Koay Ji . Karena keadaan yang susah itu,
mereka menangkis apa adanya, dan tiba-tiba saja terdengar
benturan hebat:
“Dukkkk, dukkkkk, dukkkkkk.....”
2598
Benar mereka menangkis, tetapi ketiganya sadar bahwa posisi
mereka amat lemah dan lawan memberi mereka sedikit
kemurahan. Karena itu, mereka mundur sampai 3,4 langkah ke
belakang, sementara lawan mereka, Thian Liong Koay Hiap
sudah mencelat ke belakang dan kemudian berkata:
“Nach, sampai jumpa berapa hari kedepan..... anggaplah hari ini
kuampuni kalian bertiga, tetapi, awaslah dalam pertemuan nanti,
karena jika kalian tetap berkeras dan bersikap kejam, maka lohu
tidak akan segan menumpas kalian”
Setelah berkata demikian, dengan langkah mujijatnya dia
bergerak cepat dan amat aneh namun sebentar saja sudah tiba
dan berada di pinggiran hutan. Pada saat itu terdengar bentakan
keras dan hebat dari Jamukha:
“Serang dan kejar......”
Serentak semua yang masih bisa, mengejar masuk kedalam
hutan. Bahkan juga Liok Kong Djie ikut mengejar bersama Liu
Beng Wan yang khawatir melihat sang Suhu yang emosinya
sungguh menggetarkannya. Pada akhirnya hanya tertinggal
Suma Cong Beng yang terluka, Geberz yang nampak termangumangu
dan Ciok Seng yang sama keadaannya dengan paman
2599
gurunya itu. Beberapa saat kemudian keduanya saling tatap muka
dan senyum yang pahit tersungging di bibir keduanya. Dan Ciok
Seng kemudian berkata:
“Susiok, tokoh hebat bernama Thian Liong Koay Hiap ini seperti
memiliki hubungan dengan Tang Hok yang dilawan Phoa Susiok
berapa waktu lalu di Thian Cong San. Apakah pandanganku
keliru...”?
“Entah mereka tokoh yang sama ataukah berbeda, kita sama
sekali tidak tahu. Tapi, jika mereka orang berbeda, maka tidak ada
cara lain selain meminta Phoa Susiok dan Suhu untuk turun
tangan segera. Kehadiran Rijma Singh akan kurang karena lawan
memiliki beberapa tokoh mujijat yang tidak kalah banyaknya. Jika
tidak, maka bahaya yang mengancam Bu Tek Seng Pay sekali ini,
akan sangat sulit untuk dapat kita hadapi dan kita atasi.....”
“Hmmmmm, engkau benar Sutit, berdasarkan dua pengalaman
pahit yang terakhir ini, biarlah Susiokmu ini yang akan berbicara
dengan mereka semua. Sepulang ini akan kubicara langsung
dengan Suhumu, waktu kita masih ada 3,4 hari sebelum mereka
datang menyerang. Apakah persiapan-persiapan yang lainnya
sudah cukup matang menurut pengamatanmu....”?
2600
“Sejauh ini sudah memadai Sam Susiok, semua pintu masuk
sudah selesai dengan racun dan ilmu sihirnya.....”
“Baiklah, kita sebaiknya pulang. Mengejar tokoh sehebat Thian
Liong Koay Hiap tidak ada guna dan tidak ada untungnya sama
sekali, biarlah kita menyiapkan cara yang tepat menyambut
kedatangannya di Markas kita nanti. Kita siapkan kejutan yang
akan membuatnya kaget kelak....”
“Baik Susiok.....”
Kedua tokoh hebat Bu Tek Seng Pay itupun berlalu. Sementara
itu, tokoh-tokoh lain mengejar Thian Liong Koay Hiap, meski
namanya mengejar tetapi sebetulnya tidak ada seorangpun yang
benar-benar mengejar. Mereka paham belaka siapa tokoh yang
mereka sedang kejar atau sedang mereka buru itu. Dan
merekapun tahu jika mampu menyandak, merekapun tidak akan
mampu mengapa-apakan yang sedang mereka kejar itu. Bahkan
tiga tokoh hebat merekapun tidak mampu mengapa-apakannya,
apalagi hanya kelas mereka?. Semuanya hanya sekedar
menunjukkan bahwa “mereka berani” mengejar, tidak lebih dari
itu. Kecuali seorang tokoh dan muridnya, yaitu Liok Kong Djie dan
Liu Beng Wan yang memang marah dan dendam dengan Thian
2601
Liong Koay Hiap dan Sie Lan In. Terutama nama terakhir yang
telah membuat Suma Cong Beng bercacat. Buntung.
Sementara itu, begitu Koay Ji berlari menuju lokasi, benar saja
semenit kemudian dia menemukan tempat itu dan melihat Sie Lan
In yang sudah berada di punggung burung besarnya itu
menunggu Thian Liong Koay Hiap. Sebagaimana perjanjian
sebelumnya, Koay Ji akan ikut menunggang untuk menghindari
kejaran lawan-lawan hebat di belakangnya. Tetapi melihat
keadaannya, Koay Ji berubah pandangan dan kemudian segera
berkata kepada Sie Lan In:
“Sie Kouwnio, Strategi kita berubah, tokoh-tokoh hebat mereka
tidak ikut mengejar, dengan demikian kawan-kawan Sie Kouwnio
tentu sudah bebas. Nanti biar kawan-kawan monyet yang kelak
akan mengantarkan mereka bertemu dengan rombongan para
pendekar..... untuk saat ini Lohu ada sesuatu urusan lain yang
harus segera dikerjakan, apakah Sie Kouwnio berminat ikut...?
urusan ini masih ada hubungan dengan pertempuran 3,4 hari
kedepan.....”
“Tetapi mereka sudah semakin mendekat Koay Hiap, kita perlu
menghindari mereka terlebih dahulu...” usul Sie Lan In
2602
“Baik, Sie Kouwnio, silahkan, Lohu akan mengikuti dari
pepohonan...” sambil berkata demikian, Koay Ji segera mencelat
kembali dan berlari cepat dengan menggunakan pucuk-pucuk
pohon sebagai pijakannya terus berlari. Dan tidak lama kemudian,
merekapun tiba di tempat yang cukup aman untuk bercakapcakap.
Sudah cukup jauh terpisah dari lawan-lawan tadi.
Kita tinggalkan sebentar Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap yang
kembali bertemu dengan Sie Lan In. Kita ikuti perjalanan Koay Ji
beberapa hari terakhir. Karena perlu untuk mengetahui urusan
apa yang akan dikerjakan Thian Liong Koay Hiap dan karena itu
perlu mengundang Sie Lan In ikut serta. Mari kita ikuti perjalanan
Koay Ji sejak dia pergi meninggalkan Thian Cong Pay pada
kurang lebih 3 hari yang sudah lewat. Koay Ji meninggalkan Thian
Cong Pay setelah terlebih dahulu mengambil Kim Pay berupa Kim
Liong yang kemudian diserahkannya kepada Pek Ciu Ping, toa
suhengnya. Tentu saja Koay Ji mampu memasuki gua itu dengan
bantuan monyet-monyet yang memang menjadi sahabat lamanya
dan sekaligus sahabat setianya, malah dia sempat bertemu
kembali dengan teman-temannya yang menjadi bagian masa
lalunya saat tinggal di dalam gua suhunya itu.
Tidak ada yang luar biasa yang ditemukan Koay Ji di gua
suhunya, karena memang gua itu sudah dihadiahkan kepadanya,
2603
maka dia menitipkannya kepada kawan-kawan monyetnya.
Bahkan Raja Monyet di hutan itu yang langsung menyanggupi
untuk menjaga dan membersihkan gua milik Koay Ji tersebut.
Bukan hanya itu, saat memberitahu bahwa Koay Ji akan menuju
ke Pek In San, dua orang monyet besar menyatakan kesediaan
untuk mengawaninya menuju Pek In San. Dan Koay Ji sudah
menyanggupinya karena memang jaraknya tidak terlampau jauh,
dua gunung yang saling sambung satu dengan yang lain.
Setelah menyerahkan Kim Liong kepada toa suhengnya, Koay Ji
minta diri dengan alasan akan mencari Sie Lan In yang
memutuskan memata-matai Gunung Pek In San. Sebelumnya,
diapun meghadap dan bercakap dengan Sam Suhengnya yang
sudah memutuskan untuk segera menuju kaki gunung Pek In San
dalam waktu dekat. Karena konon, para pendekar sudah
berdatangan dan sudah saatnya mereka diatur dan bergabung
bersama seluruh kaum pendekar, agar tidak terjadi kejadian yang
tidak diharapkan.
“Mereka perlu dijaga, jika tidak bakalan menjadi korban Utusan
Pencabut Nyawa dan sangat mungkin terbunuh satu demi
satu.....” demikian perkataan Tek Ui Sinkay yang cukup masuk di
akal.
2604
“Jika memang demikian, biarlah tecu berangkat menyelidiki Pek
In San, dan Sam Suheng membawa tokoh-tokoh lainnya
berkumpul di kaki gunung Pek In San” saran Koay Ji yang
kemudian diiyakan Tek Ui Sinkay yang pada saat itu ditemani Kim
Jie Sinkay dan Cu Ying Lun. Saran yang memang tepat, sebab
jika benar tidak ada perlindungan kawanan pendekar yang mulai
berkumpul di kaki gunung Thian Cong San, maka musibah dan
bendana yang akan terjadi disana.
Dan memang benar, pada dua hari berselang bersama semua
rombongan Khong Sim Kaypang, Lembah Cemara dan Tio Lian
Cu, Khong Yan, serta seluruh saudara seperguruan Koay Ji,
mereka melakukan perjalanan menuju kaki gunung Thian Cong
San yang bersambungan dengan kaki gunung Pek In San. Karena
menurut laporan, rombongan Siauw Lim Sie, Hoa San Pay, dan
banyak perguruan lain akan tiba dalam waktu dekat. Tidak lama
kemudian, Thian Cong Pay menjadi sepi, karena sesungguhnya
sehari sebelumnya Koay Ji sendiripun sudah melakukan
perjalanan sendirian menuju gunung Pek In San.
Rombongan besar dipimpin oleh Tek Ui Sinkay dengan tokohtokoh
yang sudah dikenal, seperti seluruh saudara seperguruan
Tek Ui Sinkay berada didalamnya, masih ditambah dengan tokohtokoh
Khong Sim Kaypang. Kemudian, juga terdapat tokoh-tokoh
2605
Lembah Cemara dan ditambah lagi dengan Tio Lian Cu, Khong
Yan dan juga Bun Kwa Siang yang selalu mengawal Kang Siauw
Hong sebagaimana pesan Koay Ji. Rombongan ini saja memiliki
kekuatan yang tidak kecil, apalagi akan segera bergabung tokohtokoh
lain dari Siauw Lim Sie yang konon langsung dipimpin oleh
Ciangbudjin dan tokoh hebat mereka yang lainnya. Belum lagi
tokoh-tokoh Hoa San Pay yang Ciangbudjinnya sudah berada dan
bergabung dengan Tek Ui Sinkay. Dan tentu saja, dalam
kelompok itu, juga bergabung barisan-barisan mujijat, baik milik
Kaypang, Khong Sim Kaypang dan juga Siwu Lim Sie.
Mari kita ikuti perjalanan Koay Ji. Sehari sebelum rombongan itu
bergerak, Koay Ji sudah terlebih dahulu memasuki daerah Pek In
San bersama dua ekor monyet besar sahabat semasa kecilnya.
Salah satunya adalah monyet yang dia selamatkan pada masa
kecilnya, dan karena itu, kesetiaannya kepada Koay Ji sungguh
amat kental. Dia sudah tumbuh menjadi monyet dewasa yang
kuat dan dihormati oleh kawan-kawan di kelompoknya. Bahkan
konon, diapun memiliki hubungan yang baik dengan kelompok
monyet di Gunung Pek In San. Dan inilah yang dimanfaatkan oleh
Koay Ji, karena dia ingin menyelidiki keadaan Pek In San terlebih
dahulu sambil juga mencari keberadaan Sie Lan In.
2606
Yang tidak diduga dan disangka oleh kuat dan ketatnya
pertahanan di markas Bu Tek Seng Pay di pinggang utara
Gunung Pek In San, adalah kemampuan aneh nan mujijat dari
Koay Ji. Terutama adalah kemampuannya berbicara dengan
Monyet dan juga persaudaraan dan kasih sayangnya kepada
binatang itu yang tumbuh bersama dengan dia bahkan sejak
masa kecilnya. Mengapa demikian? karena ketika sore hari dia
“melakukan pertemuan” dengan rombongan monyet dari gunung
Pek In San, kepadanya sudah langsung diberitahukan lokasinya,
kelebihannya serta juga kekurangannya. Maksudnya gunung Pek
In San. Bahkan juga, lebih dari itu, seekor monyet lainnya
langsung pergi untuk menghubungi kawanan monyet yang tinggal
di sekitar markas Bu Tek Seng Pay. Saat bertemu Koay Ji,
merekapun sama terkejut, kaget, gembira dan senang karena
Koay Ji mampu berkomunikasi dan berbicara dengan mereka
secara leluasa.
Bukan cuma itu, Koay Ji bahkan berbicara dan bersedia berteman
dengan mereka. Lebih dari itu, malah menghormati mereka, tidak
menganggap mereka sebagai hewan yang lebih rendah dan
sekedar hanya disuruh-suruh begitu saja. Sikap dan pembawaan
Koay Ji seperti itu yang justru membuat kawanan monyet di
gunung Pek In San jadi tunduk dan menghormatinya lebih dari
2607
pemimpin kawanan mereka sendiri. Maka, ketika kawanan
Monyet dari sekitar markas Pek In San datang dan bergaul akrab
dengannya, mengalirlah seluruh kisah dan cerita sedih dari
mereka. Termasuk pengaduan betapa banyak kawan mereka
yang dibunuh, diburu dan kemudian dipermainkan, dijadikan
boneka mainan dan sejenis penghibur bagi kawanan Bu Tek Seng
Pay yang rata-rata memang kejam dan sangat bengis itu. Hal
yang menghadirkan amarah dan juga rasa murka bagi Koay Ji dan
yang membuat kawan-kawan monyet menjadi terharu dan secara
otomatis mendukung dan malah bersedia membantu Koay Ji.
“Ada sebuah jalan rahasia di bawah, kami sering melihat tokohtokoh
Pek Lian Pay dahulu kala menggunakannya...” seru seekor
monyet besar dari daerah Pek In San dekat markas Bu Tek Seng
Pay.
“Ach, benarkah demikian.....”? tanya Koay Ji kaget, karena jelas
ini informasi yang sangat penting dan bisa amat menentukan.
“Memang benar, tetapi sekarang sudah tidak ada yang
menggunakannya lagi sejak ada banyak orang datang di sana,
tetapi kami semua sering mempergunakannya untuk melarikan
diri ataupun bersembunyi.....” seru seekor monyet yang terlihat
sudah cukup tua dan uzur.
2608
“Kemana tembusnya jalan rahasia itu....”? tanya Koay Ji
penasaran dan gembira mendengar laporan penting itu.
“Ada yang tembus ke kaki gunung sebelah utara, ada yang juga
tembus ke bawah, ke bagian ngarai yang banyak orang-orang
mereka juga.....”
“Ach, bagus sekali jika demikian....” semakin senang Koay Ji,
karena penemuan yang tidak terduga ini. Dan sebelum monyet
yang lain berbicara dan memberikan usul lain, maka Koay Ji
bertanya dengan suara gembira dan sempat memuji-muji
pengetahuan monyet kawannya itu segera bertanya,
“Apakah aku bisa dibawa kesana untuk mengetahui jalan rahasia
yang dimaksudkan itu tadi..”? tanya Koay Ji penasaran, dan jelas
sangat antusias dengan penemuan yang agak luar biasa itu. Jika
betul ada.
“Boleh, sekarang juga bisa, karena jalan keluarnya berada dekat
dari sini..” jawab si monyet gembira karena seperti mendapat
perhatian yang lebih dari Koay Ji, persis manusia saja lakunya.
“Ach, engkau hebat sahabat, bagaimana, siapakah sajakah yang
akan ikut aku mencari jalan rahasia itu....”? tanya Koay Ji
2609
Ternyata hanya ada dua yang akan ikut dengannya. Kawan masa
kecilnya dan juga si monyet penunjuk jalan rahasia yang
dimaksud.... setelah berbagi tugas dengan kawan-kawan monyet
lainnya, Koay Ji kemudian melakukan perjalanan bersama dua
monyet yang lain. Dari dua monyet yang datang bersamanya dan
berasal dari Thian Cong Pay, tinggal satu yang terus bersama
dengannya, sementara yang satu lagi sudah berbaur bersama
kawan-kawannya yang berasal dari Pek In San. Tetapi,
merekapun memperoleh tugas yang lain, yakni tugas untuk
memata-matai semua pergerakan Bu Tek Seng Pay.
Dan kelak dari merekalah Koay Ji akhirnya mengetahui bahwa Sie
Lan In dan juga kawan-kawannya sedang dikejar-kejar dan
dikeroyok oleh kawanan Bu Tek Seng Pay. Kawanan monyet
itulah yang memberitahunya dan kemudian mengatur cara dan
strategi menyelamatkan Sie Lan In dan kawan-kawan. Kawanan
monyet itu juga yang menyembunyikan kawan-kawan Sie Lan In,
yang menunjukkan jalan serta juga menyediakan makanan
selama mereka bersembunyi dalam liang persembunyian. Dan
beberapa saat kemudian, membawa mereka untuk bertemu
dengan rombongan yang dipimpin oleh Tek Ui Sinkay.
Setelah selesai pembagian tugas Koay Ji dengan para monyet,
maka merekapun berpisah dengan titik pertemuan kelak di pintu
2610
keluar jalan rahasia. Koay Ji dengan ditemani dua monyet,
memasuki jalan rahasia yang awalnya cukup sempit, namun
hanya sekitar 20 meter kemudian, berubah menjadi terowongan
yang cukup lebar dan cukup tinggi. Bahkan Koay Ji kemudian bisa
berdiri dan berjalan secara leluasa bersama dua ekor monyet
sahabatnya itu. Dan sepanjang pejalanan menuju ke pintu keluar
dekat Markas Bu Tek Seng Pay (dahulunya bekas markas Pek
Lian Pay) ada sekitar 3 pintu rahasia lainnya. Koay Ji secara
sengaja menandainya, dan yang melakukannya adalah monyet
sahabat yang menyertainya.
Di masing-masing pintu keluar yang berjumlah 3 buah itu, ada
ruangan yang cukup lebar dan luang. Tampaknya sengaja dibuat
untuk tempat istirahat ataupun tempat pertemuan, karena dekat
dengan pintu masuk sehingga udara yang masuk cukup banyak
dan memadai. Dan Koay Ji menandai semua ruangan itu,
tentunya bersama dengan pintu masuk atau tepatnya pintu keluar
rahasia. Karena dia memproyeksikan kelak akan dapat
menggunakan ruangan-ruangan tersebut. Entah untuk apa, Koay
Ji sendiripun belum tahu, tetapi untuk mengenali kelak, ada lebih
baik ditandai dan dia tahu lokasi tepatnya.
Setelah menandai ketiga pintu rahasia itu, merekapun
melanjutkan perjalanan dan ketika mendekati pintu keluar di dekat
2611
Markas Bu Tek Seng Pay, hari sudah gelap. Artinya malam sudah
menjelang datang. Tetapi, alangkah senangnya Koay Ji ketika
dari depan datang beberapa ekor monyet yang sudah
menyiapkan makan malam baginya dan kedua kawannya.
Merekapun makan bersama malam itu, tapi, monyet ada monyet
yang lain berbisik kepadanya:
“Di depan, ada jalan yang bercabang, bercabang dua, tapi
sayangnya memang agak gelap dan terlampau sulit kami
masuki...”
“Ach, terima kasih banyak kawan” puji Koay Ji sambil menepuk
bahunya tanda persahabatan, dan monyet itupun senang bukan
main. Merasa diperhitungkan dan diperlakukan layak oleh Koay
Ji. Hal yang tidak mereka dapatkan dari kawanan manusia di
gunung Pek In San yang sering memburu mereka.
Meski malam sudah datang, tetapi Koay Ji tidak berhenti,
sepanjang jalan menuju ke Markas Bu Tek Seng Pay dia tidak
menemukan apa-apa, hanya melulu jalan rahasia dan dia merasa
tidak puas. Dia memutuskan memeriksa jalan bercabang yang
dilaporkan sahabatnya tadi dan dengan kekuatan iweekangnya,
matanya mampu menerobos gelapnya malam. Maka,
meninggalkan dua kawannya (monyet) yang memilih istirahat dan
2612
sudah tertidur lelap, Koay Ji terus menyusuri lorong rahasia
satunya lagi sendirian saja. Tetapi ternyata lorong itu sendiri
cukup panjang dan tanpa disadarinya membawanya hingga ke
tempat yang tidak disangka-sangkanya sama sekali.
Membawanya kepada beberapa penemuan.
Setelah kurang lebih 500 meter dia melangkah masuk, Koay Ji
masih juga tidak dapat menemukan apa-apa. Tetapi, dia tetap
optimist jika jalan rahasia ini pasti akan membawanya masuk
hingga ke Markas Bu Tek Seng Pay di gunung Pek In San. Jalan
Rahasia itu sendiri masih terbentang di depannya dan masih
belum putus, dan lebar serta tinggi masih sama. Hingga Koay Ji
yakin bahwa jalan ini dibuat oleh orang yang sama, baik pada
ujung jalan masuk maupun pada ujung jalan keluarnya. Bahkan,
juga termasuk jalanan dimana dia masih menyusurinya dan belum
tahu akan berujung dimana nantinya, atau akan membawanya
hingga kemana. Setelah berjalan selama beberapa menit lagi,
Koay Ji masih juga belum menemukan apa-apa selain bentangan
jalan yang cukup leluasa untuk dapat dilampauinya. Tetapi, ketika
dia mencoba melangkah beberapa tapak lagi kedepan, telinganya
yang tajam mendengarkan suatu gerakan lemah persis diatasnya,
atau persis berada di atas kepalanya. Diapun kaget.
2613
Koay Ji berhenti sejenak, tetapi beberapa saat dia menunggu,
tidak terdengar lagi ada gerakan diatasnya. Menunggu beberapa
saat lagi tanpa kepastian, akhirnya Koay Ji mengetukkan
lengannya ke dinding di atas kepalanya untuk memastikan
apakah ada orang lain di atas ana. Setelah menunggu beberapa
saat dan tidak ada gerakan, maka akhirnya diapun memutuskan
untuk melanjutkan perjalanan untuk memeriksa keadaan di
depan. Tetapi, baru saja dia hendak melangkah, tiba-tiba dia
mendengar bisikan dari atasnya, bisikan orang yang tidak
bertenaga dalam sama sekali. Tapi, dia dapat mendengar suara
itu, seperti bisikan:
“Pinto Hui Goan Siansu, siapakah tuan yang berada di bawah....”?
suara yang lemah tapi masih bisa didengarnya
“Siauwte Koay Ji, sedang menyelidiki Markas Bu Tek Seng Pay
yang mengganas di dunia persilatan dan markas mereka di Pek
In San ini....”
“Accch, benarkah engkau bukan orang mereka....”? bisik suara itu
lagi, sangat lemah dan sepertinya tidak memiliki tenaga dalam.
“Benar Hui Goan Suhu, aku datang dari Thian Cong San
menyelidiki keadaan di Pek In San sini, karena banyak gerakan
2614
mencurigakan.....” jawab Koay Ji hati-hati dan dengan kebat-kebit,
jangan sampai musuh yang menipunya.
“Acccch, semoga Thian menjawab doaku hari ini,,,,,, jika engkau
bukan mereka, bukalah pintu rahasia yang tersembunyi di
sebelah kiri. Membukanya perlu dengan menarik sebuah batu
yang tertutup dengan batu lainnya berwarna seperti warna tanah.
Tetapi, sekitar batu tersebut engkau akan menemukan petunjuk
yang akan menjelaskan posisinya, bentuknya aneh sendiri.
Engkau melangkah 10 meter dan terletak di sebelah bawah,
carilah dan engkau akan menemukan aku.....”
Koay Ji jelas sangat tertarik, maka tanpa berpikir panjang dia
berjalan sepuluh meter kedepan dan kemudian dia memandang
ke bawah di sebelah kiri, memang benar ada tata letak yang
berbeda disana. Ada sebuah batu yang tersamarkan, namun di
atas batu itu ada sebuah tanda silang yang sulit ditemukan jika
tidak dicari. Maka mengikuti instruksi Hui Goan Hwesio tadi,
diapun mengangkat batu yang diatas, dan benarlah dibawahnya
ada sebuah batu lagi yang tertanam kedalam tanah. Diapun
menarik batu tersebut perlahan saja dan kemudian menunggu
beberapa saat dengan hati yang lumayan tegang.
2615
Benar saja, perlahan-lahan dia melihat dinding gua dihadapannya
bergerak perlahan lahan dan tak lama kemudian, dia dapat
melangkah masuk kedalamnya. Pintu rahasia rupanya, dan dia
tahu akan sulit ditemukannya tanpa batuan Hui Goan Hwesio.
Begitu masuk, dia mendapati dirinya berada di jalan rahasia yang
satu lagi, tetapi tepatnya diujung jalan rahasia dimana kiri dan
kanannya merupakan ruang tahanan. Diapun berjalan beberapa
saat dan akhirnya menemukan sebuah ruang rahasia ataupun
ruang tahanan yang ada orangnya. Untuk memastikan orang
yang dia cari, diapun kemudian berbisik lirih:
“Hui Goan Hwesio......”? tanyanya perlahan untuk memastikan
karena dia masih belum mengenal orang yang memberinya
bisikan tadi.
Koay Ji kaget melihat keadaan kakek yang mengangguk dengan
lemah ketika dia membisikkan nama HUI GOAN HWESIO
barusan. Kakek itu sudah tumbuh kembali rambutnya, dan
bukannya botak seperti biasanya HWESIO, bahkan rambutnya itu
sudah amat panjang tak terurus, tubuhnya tinggal tulang
terbungkus kulit, matanya sudah cekung dan kakinya dirantai.
“Anak muda, tutup kembali pintu rahasia itu, sewaktu-waktu jika
mereka masuk atau turun kemari, akan sangat berbahaya jika
2616
mereka mengetahui jalan bawah tanah itu. Setelah ditutup
kembali, barulah kita boleh bercakap-cakap secara lebih leluasa
lagi,,,, nacj, cepatlah engkau menutupnya.....”
Setelah memperoleh petunjuk bagaimana menutup pintu rahasia
itu, barulah Koay Ji kembali mendapatkan si kakek yang kakinya
dirantai. Tetapi Koay Ji tidak dapat masuk kedalam ruangan si
kakek karena pintunya memang tertutup dan kunci dia tidak
punya. Sebetulnya Koay Ji dapat saja memaksa membuka dan
membobol patok2 pemisah mereka, tetapi si kakek melarangnya
karena menurutnya mereka dapat bercakap seperti itu.
“Anak muda, engkau dengarkanlah, waktu kita tidak lama....
ruangan ini adalah penjara bawah tanah. Jika tidak salah,
beberapa hari lalu ada seorang yang mereka masukkan kemari,
berada di ujung sebelah kiri, aku tidak mengenalnya. Engkau
boleh memeriksanya kelak. Aku adalah Hui Goan Hwesio,
pemimpin Pek Lian Kauw sebelum berubah menjadi Pek Lian Pay
sekarang ini. Kami adalah kumpulan patriot yang tetap bersamasama
meski tidak lagi berjuang untuk Negeri kami, tetapi kami
tinggal bersama sebagai satu perkumpulan. Tempat ini adalah
landasan dan markas perjuangan kami dahulu, sebab itu hanya
generasiku yang paham dengan jalan rahasia bawah tanah itu
yang dibuat generasi sebelum kami. Sayang sekali, lebih 10 tahun
2617
yang silam Pek Bin Hwesio membokongku dan merebut markas
ini dengan membunuh 4 pembantuku yang masih mengetahui
lika-liku perjuangan tempo dulu. Mereka memenjarakanku disini
sudah lebih sepuluh tahun, belum membunuhku karena berharap
kuberitahu harta karun peninggalan perjuangan kami. Padahal
tidak ada sama sekali harta karun itu, kecuali sedikit sisanya untuk
membangun Pek Lian Kauw kami. Anak muda, aku sama sekali
tidak mengenalmu, akan tetapi kutinggalkan sedikit harta itu untuk
membangun kembali Pek Lian Kauw setelah mereka semua bisa
dibinasakan. Tetapi jika memang tidak mungkin dibangun lagi,
kuserahkan kebijaksanaan kepada engkau bagaimana harta itu
kelak dipergunakan. Hanya, mohon engkau bersihkan tempat
kami ini dari para pembunuh dibawah Pek Bin Hwesio dan semua
yang membantunya. Nach, harta peninggalan itu kuserahkan
kepadamu, berada tepat dibawah ruang pertemuan pintu rahasia
kedua. Engkau gali sampai satu meter dasar gua tersebut, tepat
di tengah ruang pertemuan, dan ada disitulah harta tersisa itu.
Tidak usah banyak bertanya, jika engkau berhasil maka
hidupkupun berakhir, tidak ada hal lagi yang mengikatku untuk
terus hidup setelah peninggalan kami diserahkan kepada orang
yang bakal mempergunakannya dengan baik dan
bertanggungjawab......”
2618
“Ach Locianpwee,,,,,,”
“Cukup anak muda,,,,, aku sudah teramat lelah.... penjara bawah
tanah ini akan berakhir di bagian belakang Markas Pek Lian
Kauw, nach engkau pergilah untuk coba menemukannya. Jika
sudah berhasil dengan perjuanganmu itu, sudah cukup dengan
memberitahuku kelak dan tanggungjawabmu selesai atas diriku.
Setelah mengalami siksaan selama 10 tahun terakhir, semua
organ tubuhku banyak yang sudah rusah, maka hidupku biarlah
berakhir disini. Silahkan anak muda........”
Koay Ji terharu dan paham dengan kesendirian dan penderitaan
Hu Goan Hwesio ini, karena itu sebelum pergi diapun berkata:
“Meski locianpwee tidak butuh janjiku, tetapi pada hari ini, siauwte
Koay Ji berjanji akan melakukan semua permintaan Locianpwee
dan mempertaruhkan nyawaku sebagai jaminannya..... siauwte
mohon diri....”
Setelah berjanji kepada Hui Goan Hwesio, Koay Ji kemudian
melangkah menyusuri penjara tersebut yang menurut Hui Goan
Hwesio akan berujung atau tembus ke bagian belakang Markas
Pek Lian Kauw. Ia ingin mengetahui ujung tersebut, maka
perlahan dia menyusuri jalan dan menjelang ujung dari penjara
2619
bawah tanah itu. Dan ternyata ada sekitar 16 ruangan bawah
tanah untuk mengurung tahanan, Koay Ji menghitungnya, namun
ada 8 ruangan belaka yang berisi manusia. Tetapi, selain Hui
Goan Hwesio, yang lainnya rata-rata sudah meninggal dunia.
Tetapi, orang yang kedelapan, yang ditunjukkan oleh Hui Goan
Hwesio sebagai orang yang baru dijebloskan, ternyata masih
hidup.
Ketika akan melewatinya Koay Ji terkejut ketika manusia tersebut
terdengar merintih kesakitan namun dalam bahasa asing, bahasa
Thian Tok tepatnya. Tetapi, karena memang Koay Ji memahami
meski tidak sangat ahli bahasa tersebut, dia jadi terhenti dan
kemudian memandang orang itu. Bahkan kemudian dia bertanya
dalam bahasanya, bahasa Thian Tok:
“Apakah engkau baik-baik saja? Siapakah engkau...”? tanyanya
penuh harap, meski dia tahu tidak akan dapat mengenalnya.
Karena memang dia jarang memiliki kawan atau kenalan orang
tua asal thian tok.
Orang yang merintih itu terdiam beberapa saat, kemungkinan
besar dia terkejut karena ada orang lain yang masuk. Masuk
bukan berasal dari pintu masuk, justru berasal dari dalam, entah
darimana asalnya, darimana datangnya dan darimana masuk
2620
kedalam gua tahanan itu. Tetapi beberapa saat kemudian dia
terdengar balik bertanya dalam bahasa Tionggoan,
“Siapa pula engkau.....? engkau bukannya dari Bu Tek Seng Pay
yang khianat dan suka membunuh orang itu...”?
“Bukan, aku datang untuk membasmi mereka. Kawanan
pendekar ada kurang lebih 400an yang berkumpul untuk
membasmi Bu Tek Seng Pay....” jawab Koay Ji sudah langsung
mengidentifikasi diri dan kelompoknya.
“Acccch, akan sia-sia belaka, sungguh akan sia-sia. Mereka
menyiapkan banyak sekali perangkap yang berbahaya dan
bahkan mematikan, ada perangkap beracun, ada perangkap sihir
dan masih banyak lagi perangkap yang susah untuk diduga dan
mematikan,,,,, lebih baik batalkan anak muda..... jika
memaksakan diri, korban yang jatuh bakalan terlampau besar”
desah orang dalam tahanan yang berusaha untuk mengingatkan
Koay Ji bahaya menyerang gunung Pek In San. Tentu saja Koay
Ji tertarik untuk tahu lebih banyak.
“Hmmm, siapa pula engkau lopeh....”? tanya Koay Ji dalam
bahasa Tionggoan karena ternyata orang itu mampu berbahasa
Tionggoan dengan baik. Koay Ji rada penasaran dan ingin tahu,
2621
karena melihat keadaannya dan mendengar bicaranya, orang itu
mestilah tahu cukup banyak.
“Acccch, aku salah satu dari mereka dahulunya, tetapi, setelah
mereka mengetahui kalau aku membantu anakku melarikan diri
dari mereka, maka beberapa hari lalu akupun dikurung disini......
bahkan kedua mataku sudah dibutakan, otomatis ilmu sihir
kebanggaanku punah dengan sendirinya.... acccch, benar-benar
menyedihkan, benar-benar kejam dan tidak tahu terima kasih
mereka semua itu” keluh manusia dalam kurungan itu dengan
setengah menangis.
“Bersabarlah Lopeh, sebentar lagi waktu mereka akan
berakhir.....” hibur Koay Ji dan berusaha membesarkan hatinya
“Anak muda, bolehkah aku minta tolong..”? terdengar suaranya
dengan penuh harap memohon pertolongan Koay Ji. Seperti
biasanya, sebagai pemuda yang memiliki perasaan halus dan
selalu sedia menolong orang, Koay Ji terdiam, bukan tidak ingin
membantu, tetapi ingin mengenal orang itu dan ingin tahu apa
yang dapat dan bisa dia bantu untuk orang itu.
2622
“Apa engkau bisa membantuku anak muda...”? kembali terdengar
orang itu bertanya dan mengagetkan Koay Ji, lupa bahwa dia
belum mengatakan kesanggupan untuk membantu atau tidak.
“Apa yang bisa kulakukan Lopeh....”? akhirnya Koay Ji bertanya
apa yang bisa dia bantukan bagi orang tua malang itu.
“Jika engkau suatu saat bertemu dengan anakku, Nadine,
beritahukan bahwa ajalku habis di ruang bawah tanah ini.
Beritahukan dia, bahwa Mo Hwee Hud dan murid-muridnya
memang benar telah membunuh semua kakaknya di Thian Tok.
Tetapi, karena Mo Hwee Hud terlampau hebat dan ganas,
sampaikan agar dia tidak usah membalaskan dendam kami lagi,
biarlah dia hidup dengan tentram di Tionggoan sini saja. Lagi pula,
setelah kulihat calon suaminya, bisa kutebak dia adalah salah
satu kelompok orang gagah dari kalian......”
“Accch, jadi lopeh ini justru adalah ayahanda dari adik Nadine....”?
tanya Koay Ji sungguh kaget tak terkira. Dia tidak menyangka jika
tokoh yang kini mengeram dalam kurungan itu adalah Mindra,
murid ketiga Mo Hwee Hud yang dia tahu ahli sihir yang sangat
hebat.
2623
“Apakah engkau mengenal anak gadisku itu anak muda....?
selamatkah dia? Ada dimanakah dia gerangan...”? mendengar
Koay Ji mengenal anaknya, tiba-tiba orang dalam penjara itu
menjadi antusias dan bertubi-tubi bertanya kepada Koay Ji tanpa
memperhatikan apakah Koay Ji bisa menjawab atau tidak. Untung
saja Koay Ji cukup maklum dengan keadaannya.
“Sabar, sabar Locianpwee, memang benar jika Nona Nadine
adalah sahabat baikku. Baiklah, setelah menyelidiki tempat ini,
Lopeh akan kubawa untuk ikut serta, ada yang akan bersedia
mengurus lopeh sampai badai ini mereda dan sampai Bu Tek
Seng Pay ini kuhancurkan.....”
“Accch, engkau terlampau optimist anak muda, hati-hati, kekuatan
mereka amatlah besar dan sangat menakutkan, mungkin engkau
sendiri masih belum mampu untuk menghancurkan kekuatan
mereka yang berlapis-lapis....” ujar Mindra, tokoh yang ternyata
adalah ayahanda Nadine dan sekarang dikurung di penjara
bawah tanah. Dan nampaknya, seperti keluhannya tadi, dia
dibuang ke penjara bawah tanah dengan terlebih dahulu
membutakan kedua matanya. Entah apa alasannya dan entah
mengapa dia berakhir di penjara ini.
2624
“Tenang saja Lopeh, kupastikan keruntuhan mereka dan itu
hanya merupakan soal waktu terhitung saat ini. Karena dewasa
ini, segenap perguruan serta juga kaum pendekar rimba
persilatan Tionggoan, sudah pada bangkit melakukan
perlawanan. Maka, kupastikan keruntuhan kawanan kejam itu
tidak akan lama lagi. Jika tidak, maka percuma saja aku
menyandang julukan Thian Liong Koay Hiap yang selalu
membayangi dan melawan perbuatan jahat mereka”
“Accch, jadi engkau.....”?
“Benar lopeh..... memang aku inilah”
“Hmmmm, mereka sangat takut dengan gebrakan dan gerakgerikmu.
Tetapi, hati- hati karena mereka sudah menyiapkan
beberapa tokoh hebat untuk membekuk dan membunuhmu, jika
bisa. Bahkan, salah seorang yang dipersiapkan, yakni seorang
tokoh hebat, kini sudah tiba dan sudah berada di Pek In San...”
berkata Mindra dengan suara kaget dan jerih.
“Tidak mengapa Lopeh, demi dan untuk kebaikan banyak orang
tetap saja kita semua harus berjuang. Dan, sekarang ini, ijinkan
aku mengintai markas mereka terlebih dahulu, pada saat aku
pulang, biarlah Lopeh pergi bersamaku ketimbang menderita
2625
hidup di penjara bawah tanah ini....” Koay Ji berkata dan
kemudian mohon pamit melanjutkan keinginannya untuk
mengintip dan mengetahui posisi Markas Bu Tek Seng Pay.
“Baiklah, jika engkau berkeras, semoga engkau berhasil anak
muda. Tetapi, perlu kuperingatkan jalan keluar dari sini berujung
pada pos penjagaan belakang yang dijaga sampai 20an orang
setiap saat. Karena itu, lebih baik engkau berhati-hati dalam
langkahmu nanti anak muda.......”
Dan peringatan Mindra memang tidak salah. Koay Ji menyusuri
jalan yang ujungnya adalah pos penjagaan bagian belakang yang
biasanya dijaga sekitar 20an penjaga dan pastinya sangat ketat.
Sebetulnya, bukan perkara yang sulit bagi Koay Ji untuk
menjatuhkan para penjaga tersebut, tetapi kehadirannya dan
jalan rahasia yang diketahuinya bakalan tercium musuh. Hal ini
tentunya tidak diinginkannya, dan bakal membuat pihak lawan
menjadi berwaspada. Karena sesungguhnya, sejak awal dia
sudah memutuskan untuk terus menjaga agar gua itu tetap
rahasia dan tidaklah tercium musuh. Dan karena pertimbangan
itu, maka akhirnya Koay Ji memutuskan cukup untuk
penjelajahannya pada malam ini. Cukup mengetahui ujungnya
dan mengetahui jalan masuk ke markas musuh.
2626
Dan diapun akhirnya memutuskan berjalan kembali menemui
kawan-kawannya, dan ketika pada akhirnya Koay Ji kembali, dia
memutuskan membawa serta Mindra dan berkata kepadanya
dengan nada penuh optimisme:
“Lopeh, Nadine adalah salah seorang sahabat baikku. Dahulu,
kita sempat dan pernah saling bertempur satu dengan lainnya di
rumah Nyo Wangwe, dan sejak saat itu kami berkenalan. Jika
tidak salah, pada saat itu juga sempat bertarung melawan Lopeh.
Tetapi, melihat keadaan Lopeh pada saat ini, biarlah aku
membantu Lopeh, hitung-hitung membantu Nadine agar kalian
bisa bertemu satu dengan lainnya kelak. Jangan engkau khawatir,
karena aku amat mengetahui jalan lolos yang aman dari
pengamatan Bu Tek Seng Pay, dan pada saatnya kelak, akan ada
yang mengurus semua keperluan Lopeh....”
“Accch, sungguh tak kusangka pilihan anakku sangat tepat.
Baiklah anak muda, lohu sendiri tidak ingin mati di tempat seperti
ini, dan jika ada kesempatan bertemu anak perempuanku
sebelum mati, maka peluang itu akan kuambil.....” Mindra
akhirnya setuju untuk ikut serta dengan Koay Ji. Tetapi, ketika
mereka akan mulai berjalan, tiba-tiba Mindra teringat sesuatu:
2627
“Anak muda, mereka akan curiga jika lohu tiba-tiba menghilang
dari penjara bawah tanah ini, sangat mungkin ruangan ini akan
digeledah. Adalah lebih baik mencari “jasad” untuk menggantikan
tempatku dan memakaikan pakaianku ke jasad tersebut sehingga
mereka akan menilai lohu sudah bunuh diri.....”
“Ach, engkau benar lopeh, tetapi dimana aku dapat menemukan
jasad yang dapat kupatut menjadi mirip lopeh...”? Koay Ji
kebingungan sejenak, maklum, dia tidak atau bahkan belum
pernah membunuh manusia.
“Hmmmm, jika tidak salah ada salah seorang tahanan yang baru
saja mereka jebloskan siang tadi kelihatannya baru saja
meninggal dunia. Mungkin kita akan bisa memanfaatkan jasadnya
itu..... dia berada dua ruangan terpisah dengan ruanganku,
cobalah engkau memeriksanya....” saran Mindra, meski terdengar
sedikit beresiko tapi cukup masuk di akal.
Benar juga, dua ruangan dari kamar tahanan Mindra, terlihat
sesosok mayat yang sepertinya baru meninggal, entah siapa.
Koay Ji memainkan peran keahliannya dalam merias wajah dan
mengganti pakaian mayat itu dengan pakaian Mindra dan
kemudian memasukkannya ke ruang tahanan Mindra. Persoalan
selanjutnya soal tokoh yang sudah meninggal itu, tidak lagi
2628
dipkirkan oleh Koay Ji, karena dilihatnya orang atau mayat itu
tidak dikenal. Tidak lama kemudian dia selesai dan segera
mengajak Mindra berlalu.
Dan begitulah selanjutnya, mereka berdua kemudian berjalan
dengan sangat hati-hati dan perlahan sampai mereka akhirnya
tiba di pintu rahasia menuju ke jalan rahasia dibawah. Tetapi,
sebelum memasuki jalan rahasia itu, Koay Ji sempat bertanya
kepada Hui Goan Hwesio:
“Hui Goan Suhu, apakah ada jalan rahasia lain yang langsung
masuk ke sekitar Markas Pek Lian Kauw? Penjara ini berujung ke
penjagaan yang amat ketat, amat sulit buatku untuk dapat
menerobos masuk dengan tanpa ketahuan para penjaga yang
berada di pos penjagaan tersebut....”
“Jika masih belum berubah, maka sejauh 200 meter berjalan
terus, engkau akan menemukan sebuah tikungan yang berbelok
kekiri, dan berjalan lagi sejauh lebih kurang 250 meter, maka
engkau akan menemukan pintu keluar dengan cara buka tutup
yang sama dengan pintu penjara ini. Dahulu, pintu keluar itu
adalah istal kuda peliharaan Pek Lian Kauw, entah sekarang.
Hanya dua itulah yang menjadi pintu keluar masuk untuk Markas
kami. Dan jika engkau ingin tahu lebih banyak lagi, maka
2629
kuberitahukan bahwa kami sebetulnya punya jalan rahasia
menuju ngaray di bawah sana. Tempat itu merupakan tempat
yang paling rahasia, tapi bisa engkau temukan jalannya namun
sangat curam dan menukik ke bawah sehingga butuh tali untuk
menuruninya. Dugaanku, tali yang dahulu kami gunakan sudah
sangat rapuh, karena itu engkau butuh peralatan lebih untuk bisa
sampai turun ke bawah sana. Jika mereka, Pek Lian Pay
pengkhianat itu mengundurkan diri dan bersembunyi, mereka
pasti akan turun kesana .......”
“Terima kasih banyak Suhu, besok pagi biar kumemeriksa dua
jalan rahasia tersebut yang pastinya akan berguna...” Koay Ji
berterima kasih dan kemudian langsung pamit. Tetapi sebelum
dia berlalu, kembali Hui Goan Suhu berkata:
“Jangan lupa pesan-pesanku anak muda.....”
“Pasti Suhu, kuupayakan dalam beberapa hari para durjana itu
sudah berhasil kami basmi, dan locianpwee boleh menikmati hari
itu kelak dengan penuh sukacita...” janji Koay Ji kepada Hui Goan
Hwesio
“Ach, rasanya itu terlampau mewah buatku anak muda, tetapi
terima kasih banyak atas upayamu dan hiburan yang engkau
2630
bawah itu. Yang penting adalah apa semua yang sudah
kupesankan kepadamu sebelumnya, mengenai urusan lain,
anggap saja sebagai bonus buatku.....”
“Baik Suhu, kami mohon diri.....” pamit Koay Ji yang kemudian
membantu Mindra untuk berjalan dan berlalu ke jalan rahasia di
bawah tanah.
Tidak berapa lama kemudian, Koay Ji sudah kembali tiba di
tempat dimana tadi dia meninggalkan kedua monyet sahabatnya
beristirahat. Dan diapun memilih untuk ikut beristirahat, demikian
juga dengan Mindra, beristirahat disana sampai pagi harinya.
Tetapi, Koay Ji sebagaimana biasanya, sebelum benar-benar
beristirahat tetap berusaha untuk menyegarkan ingatannya
terlebih dahulu akan semua yang dialami hari ini. Kemudian
diapun menyimpan dan “mengamankan” semua informasi penting
yang dia temukan, dan barukemudian mempergunakan beberapa
jam untuk melatih dirinya. Waktu beberapa jam itu, terutama
melanjutkan upaya kerasnya mencari “jurus anti” dari jurus baru
yang dia ciptakan sebagai tandingan atas jurus istimewa ciptaan
suhunya yang dia ciptakan kembali berdasarkan petunjuk
suhunya. Hal yang sudah ditekuninya beberapa waktu terakhir.
2631
Tetapi latihan selama beberapa jam sama dengan hari-hari
sebelumnya, masih juga belum beranjak jauh dari mengetahui
kelebihan dan kekurangan jurus ciptaannya sendiri. Dia masih
belum menemukan cara yang tepat untuk memecahkan daya
serang balik jurus ciptaannya dalam menangkal jurus ciptaan
suhunya. Tetapi, itu sudah membuatnya cukup senang dan
membawanya beristirahat meski hanya beberapa jam belaka.
Memang agak sulit saat ini bagi Koay Ji untuk menemukan dan
menciptakan Ilmu dan jurus baru mengingat konsentrasinya
banyak tercurah ke persoalan melawan Bu Tek Seng Pay. Tetapi,
kemajuan yang diperolehnya selama dua jam berkonsentrasi
cukup membuatnya senang. Bayangannya atas peluang dan
kemungkinan menangkal jurus ciptaannya sendiri, sudah semakin
terbentuk tapi belum dapat dia realisasikan.
Subuh, menjelang pagi hari, Koay Ji bangun dan dia rada
kebingungan bagaimana mengurus Mindra yang sudah buta.
Tetapi inspirasi dan jalan keluar muncul pada saat beberapa ekor
monyet kembali mengantarkan makanan untuk pagi itu. Setelah
beberapa saat, Koay Ji pun menjelaskan kepada Mindra apa yang
sedang mereka hadapi dan bagaimana hubungannya dengan
monyet-monyet yang membawakan mereka makanan itu. Mindra
tercengang dan merasa kagum mengetahui Koay Ji mampu
2632
berbicara dalam bahasa Monyet dan minta suatu saat diajari
bahasa khas itu. Terlebih lagi karena pada saat itu dia akan
dititipkan kepada monyet-monyet yang akan menjaganya selama
Koay Ji melanjutkan kerjanya menyelidiki markas Bu Tek Seng
Pay di gunung Pek In San itu.
“Anak muda, ada beberapa hal yang perlu engkau ketahui
sebelum melakukan penyelidikan lebih jauh...” Mindra membuka
percakapan setelah memakan makanan yang disediakan monyetmonyet
untuk mereka, pagi itu.
“Silahkan lopeh, aku siap mendengarkan.....” Koay Ji kaget dan
berdebar juga saat Mindra mengatakan beberapa rahasia lainnya.
Entah mengapa, meski belum lagi Mindra membuka apa “rahasia”
itu, tetapi Koay Ji merasa sesuatu seperti mengusik perasaan
hatinya. “Jangan-jangan ada hubungannya denganku....”
desisnya dalam hati sambil menantikan ucapan Mindra.
“Pertama, seorang ahli sihir yang sangat hebat meskipun masih
sedikit dibawah kemampuanku, baru saja tiba di Pek In San
beberapa hari lalu sebelum mereka memutuskan menghukum
dan memenjarakanku. Nampaknya, kedatangannya itulha yang
membuat keberadaanku yang sudah dicurigai akhirnya menjadi
tidak berguna bagi mereka semua. Mereka sudah mencium dan
2633
sekaligus mengetahui perananku dalam lepasnya anakku dan
teman-temannya dari sekapan kami, tetapi suhuku yang khianat,
Mo Hwee Hud baru berani bertindak setibanya di gunung Pek In
San. Dan terutama karena mereka sudah memiliki penggantiku.
Terlebih dulu dia membutakan mataku dan kemudian diapun
menceritakan bagaimana dia membunuh kedua kakak Nadine,
kedua putraku. Dan setelah menyakitiku, barulah dia melemparku
kedalam penjara dimana engkau menemukan aku. Tetapi,
kisahku adalah nomor dua, yang penting adalah tokoh yang
mereka datangkan untuk memperkuat posisi mereka. Dia adalah
tokoh hebat yang berkepandaian sihir sedikit dibawahku, tetapi
memiliki kepandaian Ilmu Silat yang jauh di atasku, bahkan masih
di atas kemampuan suhu Mo Hwee Hud. Kutahu dengan sangat
jelas, karena dia adalah suheng Mo Hwee Hud yang paling
pandai, dan lebih banyak bertapa di Thian Tok, baru dua atau tiga
hari lalu dia tiba di gunung Pek In San......”
“Acccch, masih ada lagi tokoh baru yang sangat hebat...”? mau
tidak mau kaget juga Koay Ji, karena tadinya pada sangkaannya,
adalah Phoa Tay Teng dan toa suhengnya sudah merupakan
tokoh yang paling hebat dan sakti dari pihak lawan. Dan hari ini,
ternyata ada yang lain lagi. Hal ini agak menyentaknya, meskipun
tidak membuat dia takut dan gentar.
2634
“Dia memang sengaja didatangkan untuk menghadapimu anak
muda,,,,, karena engkau dianggap sangat mengganggu dan
memiliki kepandaian yang amat hebat dan luar biasa. Sepak
terjangmu sudah membuat mereka tersentak dan meragukan
kekuatan mereka sendiri. Itulah sebabnya mereka memanggil
sisa kekuatan yang sebetulnya sudah pada mengundurkan diri,
termasuk Rajmid Singh, tokoh yang sudah amat uzur, tetapi tetap
juga dipanggil datang. Sejujurnya, engkau memang berhasil
dalam membuat mereka sangat takut kepadamu.....”
“Hmmmm, soal diriku rasanya terlampau dibesar-besarkan
Lopeh, kemampuanku biasa saja dan tidak jauh dibandingkan
dengan yang lain-lainnya. Tapi yang penting adalah, bagaimana
sesungguhnya kepandaian kakek itu, dan siapa gerangan nama
tokoh yang mereka datangkan itu....”?
“Di Thian Tok dia sangat terkenal karena memang merupakan
salah satu tokoh puncak dengan kemampuan yang sulit
ditandingi. Dia dikenal dengan nama Rajmid Singh, dan
julukannya jika dalam bahasa kalian di Tionggoan sini adalah Sin
Kui Giam To (Raja Akhirat Penakluk Setan). Ingin kuperingatkan
engkau anak muda, tokoh yang satu ini sangat berbahaya, karena
dia masih setingkat diatas Mo Hwee Hud yang adalah sutenya
dan juga masih mengatasi Bu Tee Hwesio. Terutama karena dia
2635
berhasil memadukan unsur ilmu silatnya yang tinggi dan ilmu
sihirnya yang juga amat kuat. Meskipun, usianya memang sudah
sangat lanjut. Tetapi, bisa kupastikan, kepandaiannya sangat
mujijat, engkau perlu sangat berhati-hati untuk menghadapinya
kelak, dia sungguh sangat hebat, untuk satu hal ini kukatakan
dengan sebenar-benarnya biar engkau menyiapkan dirimu”
“Terima kasih atas peringatanmu Lopeh.....” desis Koay Ji sambil
berdiam diri, bukan karena takut, tetapi karena membayangkan
siapa lagi gerangan tokoh tua yang sudah diundang pihak lawan
untuk menghadapinya?
“Masih ada satu hal lagi....” terdengar Mindra kembali berkata.
“Silahkan, aku mendengarkanmu Lopeh.....” Koay Ji semakin
senang karena bisa mengetahui keadaan lawan lebih banyak lagi
melalui ayahanda temannya ini. Dan Mindra, juga dengan senang
hati mengatakannya, karena dia berharap mereka-mereka
beroleh hukuman berat.
“Mengenai Pek Seng, Hek Seng dan Kim Seng yang menjadi
pengawal khusus dari Bu Tek Seng Ong. Mereka bertiga, atau
ketiga tokoh itu memiliki latar belakang yang sangat luar biasa,
dan jika kukatakan engkau pasti akan sangat kaget.....” berkata
2636
Mindra dan berlaku sedikit “pelit” karena kelihatannya apa yang
akan dia sampaikan memang merupakan satu berita yang cukup
besar dan mengagetkan. Koay Ji tahu dengan melihat gelagat
Mindra.
“Ada apa dengan ketiga tokoh pengawal pribadi atau pengawal
khusus Bu Tek Seng Ong itu lopeh...”? tanya Koay Ji ingin tahu.
“Anak muda, mereka bertiga adalah tokoh-tokoh muda yang
sangat cemerlang pada puluhan tahun silam, karena mereka
sesungguhnya adalah murid-murid dari Tiga Dewa Tionggoan.
Yakni murid tertua dari Bu Tee Hwesio, Lam Hay Sinni dan Thian
Hoat Tosu yang tentunya engkau kenal karena nama ketiga suhu
dan subo mereka memang sangat harum dan sangat terkenal di
Tionggoan. Ketiga orang muda itu tertangkap oleh Pek Kut Lojin
pada berapa puluh tahun silam dan sudah cukup lama kehilangan
ingatan karena dikendalikan oleh sejenis racun yang maha hebat.
Untuk saat ini, mereka bertiga hanya mungkin diselamatkan oleh
Pusaka Gin Ciu Ouw atau Pusaka Guci Perak, sebuah benda luar
biasa, pusaka maha hebat dari tanah Thian Tok. Sayang sekali,
pusaka itu sudah lebih 60 tahun menghilang tak ketahuan
rimbanya dan entah berada dimana. Seandainya aku masih
sehat, maka aku bisa menyembuhkan mereka, meskipun
membutuhkan waktu sampai beberapa hari, atau sampai
2637
beberapa bulan malahan. Tapi aaaaiiiii, sayang sekali aku sudah
menjadi manusia tidak berguna seperti sekarang.....”
Luar biasa terkejutnya Koay Ji mendengar bahwa ternyata dia
masih memiliki seorang TOA SUHENG lagi. Dan toa suheng yang
dimaksud adalah murid kepala Bu Tee Hwesio yang kini menjadi
tawanan bersama dengan murid Thian Hoat Tosu dan Lam Hay
Sinni. Dia jadi teringat peristiwa di Siauw Lim Sie, ketika bekas
Ciangbudjin Siauw Lim Sie yang kehilangan kesadarannya
dimanfaatkan lawan untuk merebut kepemimpinan kuil Siauw Lim
Sie. Tetapi, tokoh Siauw Lim Sie yang sebenarnya masih
merupakan Supeknya itu. Tokoh itu, atau sang Supek sudah
berhasil dia sembuhkan dengan kerja keras menggunakan ilmu
totok dan juga ilmu pengobatan sambil juga melibatkan
penggunaan ilmu jarum emas yang amat mujijat. Hanya saja,
untuk saat ini, Koay Ji tidak begitu khawatir dengan cara
pengobatan terhadap ketiga tokoh yang dimaksudkan Mindra.
Apa pasal? karena sesungguhnya dia sudah memiliki cara lain
yang justru jauh lebih mudah untuk menyembuhkan mereka yang
terkena penyakit yang sama.
Tetapi, yang membuat Koay Ji kaget dan teramat shock adalah
mendengar bahwa sesungguhnya dia masih memiiki seorang
TOA SUHENG dan bahwa ternyata murid 3 DEWA TIONGGOAN
2638
tertangkap dan masih tetap berada bersama-sama dengan
musuh di markas gunung Pek In San ini. “Mengapa Bu Tee Suhu
tidak pernah memberitahukannya kepadaku...”? desis Koay Ji
heran dan bingung. Tambah kaget dan bingung, karena mereka,
toa suhengnya dan kedua kawannya itu, ternyata menjadi
tawanan dan melakukan tugas yang tidak mereka sadari, yaitu
sebagai pengawal pentolan musuh. Sungguh menyedihkan.
“Hmmmm, tugasku bertambah berat, benar-benar butuh
kehadiran kawan-kawan lain untuk dapat menyelamatkan mereka
bertiga nantinya....” desis Koay Ji dalam hati, tegang dan mulai
merancang dan membayangkan bagaimana dia mesti menolong
mereka.
“Hmmmm, lopeh, engkau tenang saja, jika memang begitu
keadaannya, aku akan bisa dan memiliki kemampuan untuk
menyembuhkan mereka kelak. Tetapi, tetap saja sebelumnya aku
akan pergi menyelidiki keadaan Markas Bu Tek Seng Pay di
Gunung Pek In san ini. Dan aku sudah memperoleh petunjuk
bagaimana memasuki markas mereka, rasanya peluang ini akan
kumanfaatkan. Hari ini, akan kuselidiki jalan rahasia itu, dan
besok aku akan mencari sahabat yang akan membantu untuk
menyusup masuk ke markas mereka.....”
2639
“Hmmmm, aku percaya engkau bisa menyembuhkan mereka,
tetapi akan butuh waktu yang sangat panjang dan menguras
tenagamu. Selain itu, tenagamu justru amat dibutuhkan
menghadapi pertarungan besar, jika engkau kehabisan tenaga
mengobati orang, bukankah mengabaikan dan melalaikan tugas
lain yang malahan lebih penting itu...?. Ach, sungguh sayang
kemampuanku sudah sirna sehingga tidak mampu menolong
kalian. Maafkan aku anak muda.....”
“Jika memang harus dilakukan dan diperlukan, maka akan
kulakukan, tetapi harus ada cara lain menyembuhkan mereka
Lopeh. Biar kupikirkan untuk menemukan cara lain yang lebih
mudah nanti sehingga tidak sampai menghabiskan tenagaku.
Tetapi, lopeh, terima kasih banyak atas informasi yang sangat
penting ini, hal yang memaksaku untuk berusaha menemukan
cara yang lebih tepat nantinya....” ujar Koay Ji secara tulus.
“Anak muda, satu hal lagi..... jika engkau bertemu dengan tokoh
besar bernama RAJMID SINGH atau Sin Kui Giam To (Raja
Akhirat Penakluk Setan) itu, berhati-hatilah. Dia konon sekaligus
sedang mencari Pusaka Guci Perak yang dia klaim adalah
miliknya di Thian Tok. Pusaka itu dihadiahkan seorang tokoh
misterius dari Thian Tok kepada seorang tokoh tionggoan pada
kurang lebih 70 tahun silam. Hanya, satu hal yang dia tidak dapat
2640
pahami dengan baik, yakni bahwa Pusaka Guci Perak itu,
sebagaimana juga pusaka mujijat yan lainnya, biasanya memilih
sendiri tuannya. Jangan sampai pusaka hebat itu jatuh ke tangan
Rajmid Singh, karena bakalan menimbulkan bencana besar di
belakang hari.....” ujar Mindra lagi
“Akan kuingat pesan itu Lopeh..... bahwa Rajmid Sing bukanlah
pemilik sah Pusaka Guci Perak, dan tidak ada yang dapat
mengklaim bahwa benda itu miliknya” jawab Koay Ji kaget,
karena ternyata Pusaka yang sudah dikantonginya itu adalah
benda mujijat yang jika benar penjelasan Mindra, maka benda itu
telah memilih dirinya. Dan bukankah sudah beberapa kali dia
menggunakan pusaka itu dan berhasil? Mungkin itulah tanda
bahwa dia dipilih oleh Pusaka itu. Koay Ji merasa bersyukur,
tetapi tidak menunjukkannya kepada Mindra.
“Dan jika firasatku tidak keliru, dengan menimbang aura positifmu
dan menganalisa ketenanganmu dalam menghadapi tokoh-tokoh
yang sudah ditangkap dan juga saat ini sedang dijadikan boneka
itu, maka besar kemungkinan Pusaka Guci Perak yang maha
mujijat itu sudah engkau kuasai dan sedang berada
ditanganmu.... apakah benar dugaanku ini anak muda...”? tanya
Mindra tanpa tedeng aling-aling dan jelas membuat Koay Ji
sampai tersentak. Tetapi hanya sekejap, karena dalam hitungan
2641
detik dia sudah kembali tenang dan mampu menguasai diri dan
juga emosinya. Dan kemudian diapun berkata kepada Mindra,
“Hmmm, Lopeh, sungguh patut kupuji ketenangan dan juga
kemampuanmu dalam mengulas dan menganalisa situasi. Biarlah
kukatakan sejujurnya kepadamu saat ini, memang benar sekali,
Pusaka Guci Perak sudah berada dalam genggamanku. Benda
pusaka itu kuperoleh secara tidak sengaja dari para pemburu
benda pusaka beberapa waktu sebelumnya, dan mereka tidak
mengenalinya sebagai satu benda pusaka. Mereka
menghadiahkannya kepadaku secara cuma-cuma. Dan Pusaka
Guci Perak, Gin Ciu Ouw itu bagaimanapun juga harus
kugunakan melawan Bu Tek Seng Pay dan begundanya
sekarang......”
“Anak muda, bolehkah aku mengajukan sebuah permohonan
kepadamu...”? suara Mindra terdengar tetap tegar, tetapi nada
“memohon” jelas terdengar, sedikit banyak Koay Ji bisa menerka
apa permohonan itu. Dan diapun menyahut dengan tenang dan
tidak terpengaruh emosinya sendiri,
“Jika dapat kulakukan, pasti akan kulakukan Lopeh...” jawab Koay
Ji berdebar, ingin dia mendengar langsung untuk menegaskan
2642
dugaannya atas apa yang akan diminta oleh Mindra. “Benarkah
dugaanku...”? harap-harap cemas dia.
“Beberapa hari yang lalu guruku yang bangsat itu, Mo Hwee Hud
bersama Sam Boa Niocu menggunakan sejenis racun khusus
yang membuat kedua mataku menjadi buta. Tidak dapat meihat
lagi. Tapi, sungguh amat beruntung karena Mo Hwee Hud tidak
mencungkil kedua biji mataku tetapi hanya menggunakan racun
istrinya yang memang amat berbahaya itu. Jika memang engkau
berkenan, maka aku dengan rendah hati mohon bantuanmu untuk
sekiranya dapat menyembuhkan kedua belah mataku dengan
menggunakan air rendaman Pusaka Guci Perak yang amat
mujijat itu........ apapun kelak yang engkau minta, maka Lohu,
Mindra, akan bersedia untuk melakukannya. Asalkan
permintaanmu itu kelak tidak mengangkangi dan tidaklah
mencederai manusia lainnya” Mindra menyampaikan maksud
serta keinginan dan permohonannya diiringi dengan jaminan
untuk membantu Koay Ji kelak, tergantung Koay Ji meminta atau
tidak.
Mendengar permintaan Mindra, Koay Ji menjadi sangat terkejut
dan sulit untuk bisa mengambil keputusan sesegera mungkin.
Meski sebetulnya, dia sudah menduga permintaan apa gerangan
yang akan diajukan oleh Mindra kepadanya itu. Bukan apa-apa,
2643
bagaimanapun juga tokoh ini merupakan ahli sihir yang bahkan
dia sendiri kesulitan untuk menghadapi ilmu sihirnya itu. Karena
haruslah diakui kemampuan ilmu sihirnya memang sangat hebat
dan sangatlah kuat, sulit untuk bisa menemukan lawan sepadan
bagi Mindra dalam ilmu sihir. Dan justru sekarang, di saat-saat
terakhir menjelang memasuki pertarungan puncak melawan
musuh di gunung Pek In San, dia malah menemukan Mindra yang
sudah bercacad. Matanya sudah buta, dan ilmu sihirnya otomatis
macet dan musnah sudah. Dan tentu saja adalah sebuah
kehilangan yang sangat besar bagi musuh-musuh mereka, dan
keuntungan besar bagi pihaknya, tentu saja.
Tapi repotnya, tokoh sihir utama mereka yang sudah cacat itu,
ternyata sekarang ini minta untuk dia sembuhkan dengan
menggunakan Pusaka Guci Perak. Meskipun benar dia mengenal
Nadine, anak kakek itu, tetapi dia masih belum begitu mengenal
Mindra, si penyihir hebat dari pihak musuh itu secara lebih baik.
Bagaimana jika dia berkhianat kelak? atau, memang benarbenarkah
dia dicederai dan dibutakan matanya oleh Mo Hwee
Hud? ataukah malah ini juga adalah sebuah jebakan bagi
pihaknya? Dapat dibayangkan sungguh sulit Koay Ji memutuskan
persoalan ini, meski sisi kemanusiaannya sudah membisikkan
agar dia bertindak untuk segera menyembuhkan Mindra. Biarlah
2644
persoalan lain dipikirkan kemudian. Inilah dilema dan kesulitan
Koay Ji yang mesti dia putuskan.
“Anak muda, jika engkau keberatan karena khawatir kemana lohu
berpihak, boleh engkau menyembuhkan lohu kelak setelah
urusanmu dengan para penjahat besar itu sudah dibereskan.
Jangan engkau khawatir dan tertekan dengan permohonanku
yang tadi itu, lagipula toch kesembuhan yang kurindukan bukan
terutama untuk diriku sendiri lagi, tetapi untuk sekedar melihat
keadaan putriku kelak. Nach, terima kasih anak muda, engkau kini
boleh melanjutkan penyelidikanmu, lohu akan baik-baik saja....”
Mindra cukup tahu diri dengan permintaannya yang cukup
kelewatan tadi. Terutama mengingat sejarah dia dan Koay Ji yang
pada waktu-waktu yang sebelumnya, justru selalu bertemu dalam
keadaan yang saling berlawanan dan saling berupaya
mengalahkan.
“Baik Locianpwee, bagaimanapun memang itulah pilihan yang
jauh lebih baik bagi semuanya.....” Koay Ji berkata perlahan
menyetujui usul terakhir Mindra untuk mengobatinya segera
setelah semua konflik di Pek In San berakhir. Tetapi, Koay Ji
adalah Koay Ji, setelah menyatakan persetujuannya untuk
mengobati Mindra nanti setelah urusan di Pek In San tuntas dan
beres, Koay Ji tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah botol yang
2645
berisi air rendaman Pusaka Guci Perak. Setelah itu, dia kemudian
berkata dengan nada suara tegas dan jelas sekali dia sudah
mengambil keputusan. Dia berkata kepada Mindra:
“Lopeh, buka mulutmu, mengobati orang adalah persoalan
kemanusiaan, tentang kemana engkau berpihak nanti, biarlah
Thian yang mengurusmu, yang jelas tugasku atas nama
kebenaran dan keadilan sudah kujalankan ....” Koay Ji berkata
sambil menyiapkan air rendaman Pusaka Guci Perak yang
memang sudah dia persiapkan sebelumnya. Perkataannya
membuat Mindra terdiam sejenak, dan pada akhirnya ketika dia
ingin membuka mulutnya, dia terdiam sejenak dan tercenung
menghadapi perubahan sikap Koay Ji. Beberapa saat kemudian,
perlahan diapun membuka mulutnya menerima tetesan air anti
racun dan penawar racun dari Koay Ji. Setelah menelan beberapa
tetes air, diapun beristirahat sejenak. Sementara Koay Ji hanya
bisa memandanginya dan berdoa, semoga keputusan yang baru
saja dia buat itu tidak merugukan perjuangannya bersama temanteman
dan suhengnya. Sah dan wajar dia merasa tidak tenang
dan sedikit gelisah. Meski pada sisi lain perasaan kemanusiaan
dan rasa kependekarannya menjadi tenang.
Ada kurang lebih 15 menit Mindra membiarkan air mujijat
rendaman Pusaka Guci Perak membasahi kelopak matanya. Dan
2646
selama itu, tidak pernah dia membuka kedua bola matanya, tetapi
matanya terlihat mengerjap dan menyerap semua air yang masih
berada di permukaan matanya itu. Selewatnya 15 menit,
terlihatlah dia perlahan mencoba membuka kedua bola matanya,
meski secara amat perlahan. Sepertinya, dia sendiripun tegang
menunggu pembuktian apakah matanya akan sembuh seperti
sediakala ataukah malah tidak akan pernah lagi tersembuhkan
dan berarti dia mengalami kebutaan. Tetapi, beberapa saat
kemudian, setelah kedua kelopak matanya membuka penuh,
sementara dipinggiran matanya terlihat adanya cairan kehitaman,
terdengar dia menggumam:
“Sungguh-sungguh mujijat Guci Perak itu, lohu hanya merasakan
gatal-gatal pada biji mata lohu, dan seperti ada kekuatan tarik
menarik yang secara perlahan-lahan menggusur rasa gatal itu
pergi. Dan begitu membuka mataku, ternyata mataku sudah
sembuh seperti sediakala...... luar biasa, terima kasih banyak
anak muda. Sungguh lohu sulit mengungkapkan rasa terima
kasihku dengan cara apa yang paling tepat, tetapi biarlah aku
berterima kasih dengan caraku....” sambil berkata demikian, tibatiba
Mindra berlutut dan mengungkapkan rasa terima kasihnya
sambil menyembah dan menghormati Koay Ji. Perubahan luar
biasa yang segera membuat Koay Ji merasa rikuh sendiri.
2647
“Locianpwee, sudahlah.... buatku tolong-menolong adalah
kewajiban, bahkan biar sekalipun terhadap orang yang tidak kita
kehendaki. Syukurlah dan selamat atas kesembuhan
Locianpwee.....” balas dan jawab Koay Ji dengan sikap biasa saja
sambil membangunkan Mindra yang berlutut.
“Anak muda, terima kasih. Tetapi ingin kukatakan kepadamu,
sesungguhnya selewat 3 hari lagi kelak, mataku akan buta
permanen dan tidak akan mungkin disembuhkan karena
kerusakan pada semua otot dan sarafnya. Karena itu, ucapan
terima kasihku hari ini tidaklah dapat kuungkapkan hanya sekedar
dengan kata-kata. Tetapi, kasih sayangku kepada Nadine
membuatku berbalik sejak beberapa waktu silam, hingga lohu
terpaksa mengkhianati mereka. Satu hal yang lohu pikirkan dapat
sekedar membuktikan perubahan pilihan keberpihakanku adalah,
kita harus bergegas agar jebakan sihir didalam semua Barisan
yang kubuat beberapa hari yang lalu, dapat segera
dipunahkan....” berkata Mindra setelah dia berdiri sempurna
dengan dijemput berdiri oleh Koay Ji barusan. Dan belum lagi
Koay Ji menjawab dan merespons apa yang dikatakan Mindra,
terdengar tokoh sihir itu sudah berkata lagi. Sambil berusaha dia
untuk membersihkan sisa-sisa racun berupa cairan kehitaman
yang berada di sekitar matanya, bahkan mulai menetes kepipinya:
2648
“Hanya saja, untuk saat ini, lohu sangat butuh waktu kurang dari
sehari untuk dapat melakukan semua aktifitas secara baik. Itu
setelah kesehatan dan fisikku kembali sembuh secara tuntas. Dan
untuk melakukan pembersihan “jebakan sihir” yang lohu buat itu,
maka lohu benar-benar sangat membutuhkan istirahat. Meski
istirahat kurang dari sehari tetapi akan bisa memulihkan segenap
kekuatanku lagi, setelah itu lohu akan bisa bergerak pada malam
hari secara lebih bebas dan leluasa. Nach, engkau pergilah anak
muda, aku akan segera beristirahat guna berusaha untuk bisa
mengumpulkan kembali segenap kekuatanku......”
“Baiklah Lopeh, kedua sahabatku ini akan menemani Lopeh
disini, mereka jugalah yang akan menyiapkan makanan buat
Lopeh selama beristirahat dan memulihkan kekuatan.....” pesan
Koay Ji sebelum dia pada akhirnya bergerak untuk melakukan
penyelidikan lebih jauh.
Koay Ji kembali beraksi dengan meminta kedua monyet
kawannya menjagai Mindra yang menjadi buta oleh suhunya
sendiri, Mo Hwee Hud. Tetapi, dengan alasan kemanusian, sudah
dia seembuhkan matanya yang buta keracunan, meskipun dia,
Mindra masih membutuhkan waktu beberapa saat untuk pulih
kembali, baik mata maupun fisiknya. Koay Ji menyusuri kembali
jalanan bawah tanah dan menuju ke jalan keluar satunya lagi,
2649
konon menurut Hui Goan Hwesio akan membawanya masuk ke
bagian lain dari Markas Pek Lian Pay atau kini markas Bu Tek
Seng Pay. Tetapi, kemana jalan keluar pastinya, itu yang ingin
Koay Ji pastikan saat itu. Karena sebentar lagi terang akan
menjelang datang, dan dia ingin memastikan keamanan dengan
mengeluarkan Mindra dari penjara bawah tanah nantinya.
Mengikuti saran Hui Goan Hwesio, diapun menemukan jalan
keluar yang dimaksud. Tetapi, alangkah terkejutnya ketika dia
berusaha untuk mengetahui jalan masuk atau jalan keluar
tersebut, dia merasa bahwa letak jalan keluar itu justru berada di
atas ketinggian, meski tidak cukup tinggi. Tetapi, apakah berada
dalam gedung atau di luar gedung, dia masih harus menentukan
lebih jauh nanti. Karena dia mendengar suara-suara yang sulit
diputuskannya dari mana dan siapa yang mengeluarkan suarasuara
tersebut. Entah langsung tembus kemana, atau bagian
mana dari markas lawan, ini yang sangatlah ingin diselidiki oleh
Koay Ji secara langsung dan lebih teliti lagi. Tetapi karena dia
berpikir dan memutuskan bagaimanapun juga harus tetap
merahasiakan adanya jalan rahasia itu dari lawannya, maka dia
terlihat sangat berhati-hati untuk memancing perhatian lawan.
Bukan apa-apa, karena sesungguhnya Koay Ji memang sudah
memiliki rencana khusus untuk menyelinap dan kemudian
2650
menyerbu langsung markas musuh. Dia sudah membayangkan
betapa akan terkejut lawan ketika menyadari bahwa mereka
ternyata sudah kesusupan musuh hingga ke markas paling dalam
dan rahasia. Dan meskipun memang, pilihan strateginya ini masih
harus didiskusikan dengan Tek Ui Sinkay. Suheng dan yang
sekaligus yang menjadi Bengcu Tionggoan dan yang juga
pemimpin para pendekar untuk menyerang Gunung Pek In San.
Karena justru Tek Ui Sinkaylah yang kelak akan memutuskan dan
akan menurunkan perintah untuk mulai menyerang dan
menggunakan strategi apa.
Koay Ji berkonsentrasi sebentar untuk bisa mengetahui keadaan
di luar, dan dia terkejut ketika mengetahui bahwa jalan keluar
pintu rahasia itu ternyata berada, seperti informasi Hui Goan
Hwesio sebelumnya. Yakni pintu keluar itu berujung di dekat istal
atau kandang kuda, tetapi saat itu kuda dalam istal tersebut ada
terdapat sekitar 15 ekor kuda. Melakukan penelitian lebih jauh,
Koay Ji menemukan masih ada istal atau kandang kuda lain di
sebelah kanan, dan disana terdapat lebih banyak lagi kuda-kuda
peliharaan. Ketika mencoba menghitungnya, mungkin ada sekitar
dua puluhan ekor kuda, dan hebatnya kuda-kuda di kedua istal
ini, adalah jenis kuda yang agak besar, kokoh dan gagah-gagah.
Kelihatannya kuda-kuda pilihan yang tahan berlari cepat dalam
2651
jarak jauh. Kandang yang terlihat bagus dan terurus rapih serta
bersih, selain menandakan perawatan yang baik, juga
menandakan kuda-kuda tersebut adalah kuda pilihan. Dan Koay
Ji menyadarinya dan melihat sepenuhnya ketika membuka pintu
rahasia itu.
Koay Ji bisa merasakan dan mengetahui bahwa di sekitar istal
atau kandang kuda itu, masih belum terdapat satu manusiapun
juga. Tetapi, seentar lagi pasti akan ada manusia atau petugas
pemelihara kuda yang akan datang menjalankan tugasnya
diwaktu pagi. Memberi makan dan mengurus kuda-kuda besar
yang berada di istal tersebut. Memang menurut penuturan Hui
Goan Hwesio, kandang kuda atau istal ini berada di bagian
belakang markas Pek Lian Pay yang lama. Ketika mengedarkan
pandangannya, maka benar informasi Hwesio malang itu, Koay Ji
sedang berada di bagian belakang markas lawan.
Perlahan-lahan Koay Ji membuka pintu tersebut sepenuhnya,
tetapi agak berbeda dengan pintu di bawah tanah, sekali ini Koay
Ji muncul di dinding tebing, berjarak kurang lebih 50 cm atau
setengah meter dari permukaan tanah. Untunglah dia agak
terlindung oleh kandang kuda atau istal dan sejumlah 15 kuda
dalam istal tersebut. Sehingga jikapun ada manusia di sekitarnya,
tetap saja dia sulit untuk dapat dilihat dan ditemukan lawan. Tetapi
2652
yang merepotkannya adalah, hari sudah mulai terang, matahari
mulai banyak mencurahkan cahayanya dan dia harus bergerak
cepat untuk mengetahui apa saja yang dia butuh mengenai
markas itu. Waktunya cukup terbatas untuk tetap bergerak tanpa
diketahui pihak lawan.
Dengan berhati-hati Koay Ji meloncat keluar dari lubang yang
tidak cukup lebar tetapi mencukupi untuk dia keluar. Dengan
ginkangnya dia berhasil melampaui ujung kandang kuda dan
bersembunyi di pondok tempat penyimpanan pakan kuda. Dia
mengedarkan pandangan kesekeliling, samping kiri adalah tebing
yang yang teramat curam, berjarak kurang lebih 10 meter dari
posisinya. Kemudian, diapun mengedarkan pandangan matanya
dan menemukan bangunan-bangunan megah berada di sebelah
kanannya dan terus kearah depannya. Bahkan, sedikit berbelok
ke kanan dan kelihatannya di belakangnya juga ada bangunan
Markas Bu Tek Seng Pay di Pek In San ini. Memandang dari
belakang, memang membawa gambaran yang cukup jelas
mengenai keadaan dan letak gedung lawan.
“Hmmmm, sungguh luas dan besar markas Bu Tek Seng Pay ini,
gedung besarnya susah dihitung, meski yang paling besar
kelihatannya berada dekat dengan posisi bagian belakang yang
ujungnya adalah tebing curam mengarah ke ngaray di bawah
2653
sana. Sulit juga untuk menghitung gedung-gedung megah disini,
nampak mereka memang mempersiapkan markas mereka ini
secara besar-besaran. Jika berusaha menerobos dari depan,
kelihatannya akan sangat sulit juga, karena markas sebesar ini
mestinya menyimpan manusia yang sangat banyak. Entah berapa
banyak anak buah yang mereka pelihara dan tinggal di markas
ini...” kagum Koay Ji memandangi markas megah Bu Tek Seng
Pay ini.
“Adalah lebih baik memasuki Markas mereka malam nanti
bersama dengan Khong Yan, Tio Lian Cu dan Sie Lan In sehingga
lebih mudah untuk bergerak. Memaksa diri memasuki markas
mereka siang ini sungguh beresiko besar, bisa-bisa ketahuan
lawan dan rahasia jalan bawah tanah tercium......” demikian Koay
Ji akhirnya berpikir dan memutuskan untuk menyudahi
pengintaiannya dan lebih bersiap mengetahui lebih jauh, nanti
pada malam hari.
Tetapi selain memeriksa jalan rahasia dan pintu masuk itu, Koay
Ji juga memeriksa jalur lain yang agak curam turun langsung
menukik ke bawah, kedasar jurang. Dan memang benar
perkataan Hui Goan Hwesio sebelumnya, karena memang benar
terdapat tali yang merupakan alat bantu untuk turun ke bawah.
Tapi sangatlah dia sayangkan, karena tali panjang itu terlihat
2654
sudah sangat rapuh dan tidaklah mungkin lagi untuk
dipergunakan. Menahan beban seorang Koay Ji saja kelihatannya
sudah tidak akan mampu lagi, meski Koay Ji dapat menggunakan
peringan tubuhnya. Selain itu, Koay Ji bisa mendengarkan
hembusan angin yang amat kuat dari balik dinding liang yang
menuju ke bagian bawah itu.
“Hmmmm, nampaknya liang ini sengaja dibuat dekat dengan
tebing sehingga masih bisa atau masih ada udara yang keuar
masuk....... butuh bantuan kawan-kawan monyet untuk mengakali
jalan turun ke bawah......”
Dan itulah semua yang dikerjakan Koay Ji hari itu, karena dia
sadar membutuhkan bantuan kawan-kawan monyet, maka diapun
meminta sahabat-sahabatnya itu untuk mengerjakannya. Pada
akhirnya, sepanjang hari itu, sambil menunggu kawan-kawannya
monyetnya bekerja, Koay Ji memutuskan untuk menengok
keadaan dan kondisi Mindra dan kemudian dia kembali berlatih
sendirian. Menjelang sore hari dia selesai berlatih, tanpa dapat
beranjak lebih jauh dari latihannya semalam. Belum lagi mampu
menuntaskan pencahariannya. Dan terutama, karena kedatangan
sahabat-sahabatnya yang membawa bahan-bahan rotan untuk
menjadi alat bantu menuruni liang menuju ngaray di bawah
tebing. Akhirnya, sore itu juga Koay Ji menjajal liang itu bersama
2655
kawan-kawan monyetnya yang menyambung rotan-rotan menjadi
alat bantu turun ke bawah. Bahkan monyet-monyet itu berebut
menjadi relawan menjajal turun ke bawah, hingga akhirnya Koay
Ji kaget karena liang itu tingginya nyaris 500 meter. Tentu saja
cukup tinggi.
Sampai waktu makan malam baru mereka mengakhiri usaha
menjajal liang yang merupakan jalan rahasia menuju ke ngaray.
Monyet-monyet itu terlihat sangatlah antusias dan berlaku seolah
sedang bermain-main dengan Koay Ji, sehingga terlihat lucu dan
lebih banyak main-mainnya. Tetapi toch setelah sekian lama pada
akhirnya Koay Ji merasa cukup, karena dia sudah mendapatkan
gambaran lengkap tentang markas Bu Tek Seng Pay dan juga
ngaray yang menjadi lokasi tersembunyi lawan. “Saatnya
mengatur strategi dan memberitahu kawan-kawan dan Bengcu
Tionggoan” demikian keputusan Koay Ji malam itu. Koay Ji
merasa dan memang demikian adanya, bahwa penemuannya
sangat penting dan bisa menentukan pertarungan mereka kelak
melawan Bu Tek Seng Pay.
Boleh dibilang pada malam itu Koay Ji memiliki waktu yang cukup
untuk berlatih dan kembali menekuni upaya mencari jurus
pemunah atas ilmu yang sudah dia cipta sebelumnya. Heran,
meski dia berpikir dan berkonsentrasi cukup tekun dan ulet pada
2656
malam ini, tetapi dia hanya mampu memikirkan satu peluang dan
berarti hanya mungkin ada satu jurus dan kembangannya, tidak
akan panjang dan banyak. Bolak-balik, hanya satu peluang yang
dapat dipikirkannya dan ditimbangnya. Dan, sampai pagi hari dia
tetap tidak menemukan lebih dari kemungkinan satu jurus, alias
hanya ada satu kemungkinan memunahkannya. Membolak-balik
semua pengetahuan dan ingatannya sekalipun, hanya tetap satu
kemungkinan yang dapat ditemukannya. Karena itu, dia mulai
mendalami kemungkinan yang hanya satu-satunya itu, dan juga
gerak rangkaiannya agar optimal.
Dan karena sudah menjelang pagi, maka diapun akhirnya
menyudahi latihannya dan merasa sudah cukup meski belum
mampu menata tata gerak yang sudah melekat dikepalanya itu.
“Masih cukup banyak waktu, kemungkinan lain kali baru akan
dapat melakukannya....” simpul Koay Ji untuk pagi ini, apalagi
karena Mindra sudah menunggunya dan sudah terlihat sehat
seperti sedia kala. Koay Ji kaget dan girang menemukan Mindra
yang sudah kembali sehat, meskipun sejujurnya masih tetap ada
rasa was-was dalam hatinya.
“Bagaimana keadaanmu pagi ini anak muda....? hmmmm,
sungguh tak kukira jika Thian Liong Koay Hiap merupakan
jelmaan dari seorang pemuda yang masih amat belia....
2657
hahahaha, jika mereka tahu, merekapun pasti tidak akan
percaya....” Mindra terlihat terkejut dan amat gembira bisa
mengetahui rahasia dan jati diri Koay Ji yang sebenarnya. Kaget
juga dia mengetahui jika tokoh yang sering menyaru sebagai
Thian Liong Koay Hiap ternyata adalah seorang anak muda.
Paling banyak usianya 20 tahunan, jika lebihpun tidak akan
banyak.
“Lopeh, bolehkah aku memohon sesuatu kepadamu....”? tanya
Koay Ji dengan nada suara yang amat serius
“Silahkan anak muda.....”
“Aku hanya memohon agar jatidiriku sebagai Koay Ji saat ini dan
sebagai tokoh Thian Liong Koay Hiap agar dijaga dan jangan
sekali-sekali diungkit keluar. Aku memiliki kesulitan tersendiri
karena terlanjur tampil dalam banyak identitas selama ini. Mohon
kesediaan Lopeh,,,,, bahkan dengan Nadine sekalipun, karena
mereka mengenaliku sebagai tokoh yang lain lagi, yakni sebagai
Bu San, tabib muda yang tidak bisa ilmu silat namun dengan
tampilan usia seumurku ini.....” pinta Koay Ji kepada Mindra,
karena sesungguhnya dia masih belum siap untuk ketahuan
orang-orang lain siapa dia yang sebenarnya.
2658
“Waaaaah, sungguh rumit keadaanmu jika demikian..... tapi,
baiklah, aku berjanji tidak akan membuka identitas aslimu kepada
siapapun....” jawab Mindra yang bikin Koay Ji menjadi gembira
“Termasuk kepada Nadine sekalipun, lopeh....”
“Baik, termasuk kepada putriku sekalipun,,, tetapi, sampai kapan
baru dapat mereka tahu dan sadar dengan samaranmu...”? tanya
Mondra bingung dan tidak tahu apa sebab Koay Ji berlaku
demikian rahasianya.
“Terima kasih Lopeh... mudah-mudahan setelah pertarungan di
gunung Pek In San ini, tapi jika belum juga bisa, akan kuberitahu
Lopeh”
“Tetapi, mengapa begitu anak muda....”? kejar Mindra yang justru
menjadi semakin penasaran dengan keadaan dan rahasia yang
dipegang dan disembunyikan oleh Koay Ji itu, bikin penasaran.
“Panjang ceritanya dan sudah terlanjur....” desis Koay Ji yang
semakin kerepotan dengan penyamarannya yang terasa sudah
agak banyak dan mulai mengganggunya dalam beberapa waktu
terakhir ini.
2659
“Yaaaaan, sudahlah, kita berlaku dan berhubungan seperti
sekarang ini saja, meski sesungguhnya sesuai janjiku dan pasti
kupenuhi, aku akan siap menerima perintah yang engkau berikan
untukku.....” Mindra akhirnya mengalah dan mencoba untuk
memahami kesulitan Koay Ji dengan multi jati dirinya.
“Tidak ada perintah apapun Lopeh, engkau tetap manusia bebas.
Tetapi, jikalau Lopeh memang ingin membantu menumpas Bu
Tek Seng Pay, maka kita dapatlah bekerja bersama-sama, saling
membantu.....”
“Begitu juga boleh, tetapi janjiku tetap berlaku anak muda.....”
Mindra tetap berkeras untuk menuruti perintah Koay Ji.
“Terserah Lopeh saja jika demikian......”
Tengah kedua orang itu, yang satu tua dan satunya lagi muda
bercakap-cakap serius dan saling bertukar pikiran, tiba-tiba
masuk kedalam gua seekor monyet yang begitu datang sudah
langsung mendekati dan menemui Koay Ji. Bahkan tanpa dia
perduli ataupun menghiraukan kehadiran Mindra disitu. Monyet itu
segera berkata-kata dan memberikan laporan dan informasi
langsung kepada Koay Ji, yang tentu disampaikannya dalam
bahasa monyet:
2660
“Ada orang-orang sedang dikejar-kejar musuh, jumlahnya 5 orang
dan kelihatannya mereka membutuhkan bantuan, keadaan
mereka sudah payah dan terkurung oleh lawan yang banyak dan
hebat-hebat.....”
“Dimana mereka....”? tanya Koay Ji terkejut karena menduga,
kemungkinan besar adalah rombongan pendekar yang diburu
musuh.
“Di kaki gunung, yang agak berdekatan dengan Gunung Thian
Cong San...” lapor si monyet dan langsung diresponsi secara
serius oleh Koay Ji.
“Hmmm, mereka pasti adalah kawan-kawan pendekar yang
sedang dikejar-kejar dan diburu oleh rombongan Utusan
Pencabut Nyawa dan para pemimpinnya. Lopeh, aku akan
menolong mereka.....”
“Lohu bisa membantu anak muda...” Mindra menawarkan
bantuannya.
“Jangan, untuk saat ini, Lopeh lebih baik berkonsentrasi saja
untuk merusak jebakan sihir dalam Barisan yang sudah terlanjur
disusun itu. Kita harus berbagi tugas dan juga peran, malam nanti
kita akan mulai bergerak menghubungi kawan-kawan yang lain
2661
untuk ikut bergabung dengan kita berdua...... untuk urusan yang
satu ini, biar aku saja yang mengurusnya dulu, karena bisa jauh
lebih leluasa. Apalagi, aku bisa membawa kawan-kawan yang
diburu ke tempat yang aman kelak....”
“Baiklah anak muda, aku menunggumu jika demikian....” Mindra
akhirnya mengalah dan memang benar, Koay Ji bisa lebih leluasa
bekerja jika hanya sendiri. Sementara jika dia ikut, maka bisa
menjadi beban. Ilmu sihirnya memang hebat luar biasa, tapi ilmu
silatnya tidak terlampau hebat.
==================
“Toa suci ditahan di Markas Bu Tek Seng Pay....”? desis Sie Lan
In terkejut, karena sesungguhnya dia sudah lama mencari jejak
toa sucinya sebagaimana perintah sang subo. Bahkan, toa
sucinya ini yang mendapat perintah untuk melanjutkan tugas
sebagai LAM HAY SINNI dan bertahta di laut selatan. Jelas saja
Sie Lan In kaget dan terkejut dengan berita keberadaan Toa
Sucinya yang memang sudah cukup lama dicari dan dilacak
jejaknya.
“Kita membutuhkan Khong Yan dan Tio Lian Cu, karena mereka
berdua juga punya urusan yang sama dengan Sie Kouwnio, dan
2662
kita bisa bergerak besok hari. Selain itu, ada juga pekerjaan lain
yang harus segera dikerjakan dan karenanya lohu amat
membutuhkan bantuan Siauw Hong dan Kwa Siang yang berada
di gunung Thian Cong Pay. Lohu akan menuju ke tempat
persembunyian kawan-kawan Sie Kouwnio untuk
menyembuhkan mereka yang terluka terlebih dahulu. Dan
keesokan harinya, kita harus bergerak cepat guna mengundang
kedatangan kawan-kawan lain, yakni Khong Yan, Tio Lian Cu,
Siauw Hong, Kwa Siang dan juga Tek Ui Sinkay. Dan kita mesti
mengusahakan agar sebelum hari mulai gelap besok hari, kita
semua sudah berada disini kembali nantinya. Selama pengobatan
yang kulakukan atas sahabat-sahabat Sie Kouwnio itu, sebaiknya
Sie Kouwnio memulihkan diri, sahabat mudaku Koay Ji berada
tidaak jauh dari tempat ini. Pekerjaan-pekerjaan yang lain, untuk
selanjutnya bisa dilakukan bersamanya ....”
“Baiklah Koay Hiap, aku memang butuh beristirahat sebentar tapi,
bagaimana cara menemukan tempat beristirahat itu...”? tanya Sie
Lan In yang pada saat itu sedang bersama berada di dalam jalan
rahasia, tepatnya di tempat berkumpul yang cukup luang dan luas
untuk berapa orang itu.
“Sahabat mudaku Koay Ji akan segera kembali, dia saat ini
sedang mengamati dan menyelidiki secara lebih rinci keadaan
2663
dan letak markas Bu Tek Seng Pay yang agak rahasia dan amat
besar itu. Lohu pikir, sebentar lagi dia akan tiba disini, karena
sudah cukup lama dia pergi melakukan penyelidikan..” ujar Koay
Ji sambil mengelus sahabat masa kecilnya, monyet tinggi besar,
yang selalu bangga menemani dan mendampingi Koay Ji itu.
“Accch, baiklah jika demikian Koay Hiap, aku akan beristirahat
sebentar sambil menunggu kedatangan Koay Ji.....”
“Baik Sie Kouwnio, lohu berangkat dulu menyembuhkan kawankawanmu
di tempat lain yang juga aman.....”
Dan sekarang sudah waktunya menemui Yu Lian, Yu Kong, Hek
King Yap dan Hek Man Ciok. Mereka berada di pintu masuk jalan
rahasia yang lain, berada pada jalur keluar pertama, masih belum
begitu jauh dari kaki gunung. Dan untuk pertemuan dengan
mereka semua, maka Koay Ji mau tidak mau harus kembali
berdandan sebagai Thian Liong Koay Hiap;
“Selamat bertemu cuwi sekalian.....” Koay Ji atau Thian Liong
Koay Hiap menyapa semua yang hadir dalam ruang rahasia atau
jalan rahasia itu, yakni Yu Kong dan adiknya Yu Lian, Tian Sin Su
penasehat mereka dan Hek Man Ciok serta anaknya Hek King
Yap. Saat itu, Hek King Yap dan Yu Kong sedang terluka,
2664
termasuk juga tentunya Hek Man Ciok. Hek Man Ciok pada saat
itu justru adalah tokoh yang paling parah menderita luka akibat
pertarungan tadi. Luka yang dia terima menggantikan anaknya di
medan pertempuran.
“Terima kasih atas bantuanmu Locianpwee.....” sambut Yu Kong,
dan segera diikuti oleh Hek King Yap dan Tian Sin Su. Hek Man
Ciok keadaannya agak parah dan itu sebabnya tidak dapat
berbasa-basi menyambut kehadiran Thian Liong Koay Hiap.
Sementara Yu Lian yang juga ikut menyambut, kelihatan sekali
jika sikap dan tindak tanduknya rada kikuk dan salah tingkah.
Padahal, Thian Liong Koay Hiap sendiripun tidak jauh berbeda
dan sama kikuknya dengan dia, namun karena dalam dandanan
yang cukup ketat, tidaklah nampak kekikukannya. Yu Kong
maklum dengan kondisi itu, tetapi tidak dapat berkata apa-apa.
Dan, kelihatannya, dapat ditebak jika Koay Ji dan Yu Lian sudah
tahu dan sudah maklum, mereka dua-duanya sudah tahu dengan
apa yang terjadi diantara mereka.
“Cuwi sekalian, waktu-waktu sekarang agak menegangkan dan
tinggal dua atau tiga hari lagi menjelang pertarungan terbuka.
Karena itu, mohon cuwi sekalian maklum, waktu lohu agak
terbatas, tetapi sebelum berpisah, biarlah kuobati terlebih dahulu
mereka yang terluka.....” Koay Ji berkata demikian, dan sudah
2665
langsung bekerja dengan memeriksa luka Yu Kong, Hek King Yap
dan terakhir Hek Man Ciok. Jika Yu Kong dan Hek King Yap dia
hanya sedikit berkerut keningnya, maka pada saat dia memeriksa
Hek Man Ciok, dia benar terlihat agak prihatin. Tetapi, tidak
terlihat dia sedih ataupun putus asa. Sikapnya tetap penuh
percaya diri, hanya sedikit rikuh jika menghadapi Yu Lian, dan
mengobati mereka bertiga yang terluka sampai sembuh kembali
seperti sedia kala. Semua proses itu berjalan tidak lama,
termasuk juga ketika menyembuhkan Hek Man Ciok. Karena
Koay Ji memang memutuskan untuk menggunakan pusaka Guci
Perak untuk mengobati mereka.
“Saudara Yu Kong dan Hek King Yap, kalian hanya membutuhkan
istirahat setelah meminum obatku ini. Tetapi, Hek Locianpwee
membutuhkan bantuanku karena kondisinya agak lebih parah jika
dibanding yang lainnya..... nach, mari.....” Koay Ji kemudian
mengeluarkan botol kecil berisi air yang memang sudah dia
persiapkan jauh-jauh hari sebelum menuju gunung Pek In San kali
ini. Baik air untuk obat luka parah, obat racun dan bahkan untuk
menyembuhkan luka iweekang yang agak parah sudah
dipersiapkannya secara terpisah di botol-botol kecil. Dengan kata
lain, Koay Ji memang sudah siap untuk pertarungan melawan Bu
Tek Seng Pay kali ini, siap segalanya. Siap lahir dan batin.
2666
Dan benar saja, tidak lama setelah meminum air rendaman
Pusaka Guci Perak, Yu Kong dan Hek King Yap terlihat
keadaannya semakin membaik. Bahkan seusai Koay Ji
mengobati dan membantu meluruskan pengerahan iweekang
kakek Hek Man Ciok, Yu Kong dan Hek King Yap sudah sembuh
seperti sedia kala. Hek King Yap malahan sudah datang
mendekati Koay Ji dan bertanya:
“Bagaimana keadaan ayahku Koay Hiap....”? suaranya jelas
sekali menunjukkan kasih sayang seorang anak.
“Setelah makan obat dan kubantu meluruskan nafas dan
iweekangnya, maka Hek Locianpwee tinggal butuh
mengembalikan kebugarannya. Tanggung malam nanti atau
selambatnya besok pagi, keadaan Hek Locianpwee sudah sama
seperti Hek lote sekarang ini, sembuh seperti sedia kala......”
jawab Koay Ji sambil tersenyum dan memandang wajah Hek King
Yap yang terlihat gembira dengan jawaban dan respons Koay Ji
barusan.
“Ach, terima kasih banyak Koay Hiap, entah bagaimana cara kami
berterima kasih. Kami ayah dan anak sungguh telah menerima
budi yang demikian besarnya dan agak sulit membalasnya saat
ini.....”
2667
“Sudahlah lote, bukan saatnya menghitung-hitung budi dan
dendam, kita masih menghadapi ancaman yang tidak kecil.
Tetapi, untuk saat ini, cuwi sekalian dalam keadaan yang aman.
Hanya, pada malam nanti, sahabatku akan mengantarkan cuwi
untuk bergabung dengan rombongan pendekar. Kudengar
kelompok dari Siauw Lim Sie, Hoa San Pay, Lembah Cemara,
benteng Keluarga Hu, semua sudah berkumpul dan tinggal
menunggu waktu yang ditetapkan untuk menyerang. Berada
bersama mereka jauh lebih aman bagi cuwi sekalian....”
“Memangnya kita berada dimana Koay Hiap....”? tanya Hek King
Yap sambil melirik keadaan ayahnya dan dia senang karena
keadaan ayahnya terlihat sudah semakin membaik sebagaimana
perkataan Koay Hiap barusan. Wajah Hek Man Ciok ayahnya
sudah kembali memerah dan tidak pucat lagi. Jauh berbeda
sebelum dia diobati oleh Koay Ji.
“Kita berada di pinggang gunung sebelah timur, namun masih
cukup dekat dengan kaki gunung, dimana para pendekar sudah
berkumpul semuanya. Hanya, sampai saat ini penjagaan di
seputar gunung Pek In San sungguh sangatlah ketat. Tetapi,
malam hari nanti, akan ada jalur khusus yang luput dari penjagaan
mereka, jalur itu yang akan kita gunakan nanti ....”
2668
“Apakah lawan bukannya sedang mengejar kita semua....”? tanya
Yu Kong sambil menatap Koay Ji butuh penegasan, meskipun
setelah sembuh jelas saja dia tidak merasa takut dengan lawan
manapun yang memburunya. Semangatnya memang patut dipuji,
Koay Ji tahu itu.
“Benar saudara Yu Kong, tetapi ada penunjuk jalan yang sangat
paham dengan semua liku-liku gunung ini, bahkan melebihi
pencari jejak Pek Lian Pay sekalipun. Dan mereka itulah yang
nantinya akan mengantarkan cuwi sekalian ke rombongan
pendekar. Mohon maaf, lohu masih ada urusan yang mesti
dikerjakan malam nanti, karena itu, tidak akan sempat
mengantarkan cuwi sekalian......” Koay Ji berkata dengan suara
sangat yakin
Mendengar Koay Hiap tidak akan ikut dengan mereka malam
nanti, Yu Lian merasa sedikit kecewa. Tetapi, dia maklum, karena
memang pada saat itu, Thian Liong Koay Hiap adalah salah satu
tokoh yang sangat diandalkan memasuki pertarungan
menentukan beberapa hari lagi. Oleh karena itu, tentu saja dia
tidak dapat berharap akan selalu diperhatikan dan dijaga oleh
tokoh yang kini semakin menyita banyak tempat di hati dan
pikirannya itu.
2669
“Kapan kita akan bertemu lagi Koay Hiap....” tanpa sadar Yu Lian
sudah bertanya dengan nada suara penuh harap, hanya Yu Kong
kakaknya yang maklum dengan nada pertanyaan yang
terkandung didalam suara adiknya itu. Tentu saja dia tahu dan
maklum dengan perasaan adiknya, dan sebagai kakak, Yu Kong
hanya bisa menarik nafas panjang, sulit ikut campur. Tentu saja
kebahagiaan adiknya adalah yang utama, karena dialah penjaga
utama adik perempuannya itu. Adik satu-satunya yang tertinggal
dari keluarga mereka, yang atasnya, berkorban nyawapun dia
siap dan dia sedia. Itulah TANGGUNGJAWAB.
“Dalam arena pertempuran nanti Yu Kouwnio, lohu pasti akan
berada disana nanti” jawab Koay Ji dengan berusaha bersikap
setenang mungkin, meski jujur, hatinya berdebar-debar tidak
keruan dan sulit ditenangkan.
Mereka masih bercakap-cakap sampai beberapa lama, sampai
akhirnya Koay Ji kemudian memohon diri:
“Cuwi sekalian, moon maaf, lohu sudah harus segera berlalu
karena ada hal yang amat penting untuk segera dikerjakan.
Sahabat-sahabatku ini (sambil dia menunjuk kearah kawanan
monyet yang berjumlah 5 ekor) akan mengantarkan cuwi sekalian
ke rombongan para pendekar nanti malam. Mereka sangat
2670
menguasai medan dan juga jalanan disekitar sini, tidak usah
banyak bertanya kepada mereka semua, karena mereka hanya
bertugas mengantarkan. Setelahnya, mereka akan kembali
bergabung dengan lohu, sekali lagi mohon maaf, lohu segera
pergi......”
“Baiklah, terima kasih atas bantuan Locianpwee....” ujar Yu Kong
menyahuti Koay Hiap yang minta ijin untuk pergi.
“Oh ya, tunggu sampai gelap datang, pada saat itu Hek
Locianpwee sudah sembuh seperti sedia kala, baru melakukan
perjalanan. Bahkan jika memungkinkan, berjalan di tengah malam
justru jauh lebih aman. Jangan takut, sahabat-sahabatku ini
paham cara menemukan jalan yang aman.....”
“Baik Koay Hiap, sampai berjumpa pula.....” sekali ini Yu Kong dan
Hek King Yap yang melepasnya dengan pandangan penuh rasa
terima kasih dan tentu juga dalam kekaguman mereka yang tak
tersembunyikan.
Sebelum gelap Thian Liong Koay Hiap sudah tiba kembali di
tempat dimana Sie Lan In sedang beristirahat. Dan sekali ini, dia
mengenakan pakaian dan dandanan sebagai Koay Ji, karena tadi
sebagai Thian Liong Koay Hiap, dia menjanjikan Koay Ji yang
2671
akan menemukan Sie Lan In sesaat sebelum mereka berpisah
tadi. Dia memilih memasuki dari pintu yang lain dan kemudian
secara perlahan menuju tempat dimana Sie Lan In sedang
meditasi mengembalikan semua kesegaran dan kebugarannya.
Menurut perhitungan Koay Ji, pada saat itu Sie Lan In sudah
nyaris segar kembali, karena sudah ada kurang lebih 3 jam dia
tinggalkan.
Berpiki demikian Koay tidak lagi menahan langkahnya dan terus
saja melangkah mendekat sampai akhirnya dia bisa melihat Sie
Lan In yang masih terus bermeditasi. “Entah apa yang kini sedang
dia lakukan...” desisnya dalam hati sambil memandangi gadis
yang sangat dia cintai itu, berada didepannya tetapi tidak
mengenalnya. Tapi Koay Ji berpikir, keadaan seperti itu masih
jauh lebih baik saat ini, karena jika tidak, justru bisa menimbulkan
banyak urusan lain.
“Engkau sudah tiba Koay Ji,,,,,”? terdengar seruan merdu dari
mulut Sie Lan In yang ternyata sudah mengetahui kedatangan
Koay Ji. Tentu saja, tingkat kemampuan Sie Lan In saat ini sudah
amat tinggi.
2672
“Benar, siauwte Koay Ji, siapakah kouwnio....”? Koay Ji berpurapura
belum kenal dengan Sie Lan In saat itu. Padahal, dia sendiri
yang merancangkan pertemuan mereka pada malam ini.
“Hmmm, jika engkau murid Supek Bu In Sin Liong, maka mestinya
engkau kenal dengan Lam Hay Sinni Suboku......” Sie Lan In
dengan cerdik menuturkan dan juga menentukan dan
menegaskan posisi hubungan mereka berdua.
“Ach, benarkah saat ini siauwte sedang berhadapan dengan Sie
Lan In Suci....”? tanya Koay Ji dengan suara gembira
“Benar, menurut Subo, murid terkecil supek bernama Koay Ji dan
masih hampir setahun dibawah usiaku, beruntung karena dengan
demikian maka aku yang menjadi sucimu Koay Ji..... hikhikhik...”
“Ach, selamat berkenalan dan selamat bertemu Sie Suci....” jawab
Koay Ji merasa lucu dengan keadaan mereka berdua.
“Bukankah menurut Koay Hiap engkau sedang menyelidiki
markas Bu Tek Seng Pay sejak siang tadi....”? tanya Sie Lan In
“Memang benar Suci, kulakukan sepanjang hari ini, tetapi belum
berani memutuskan masuk ke sarang mereka....”
2673
“Tetapi, kemana gerangan Koay Hiap....”?
“Mungkin sedang menyembuhkan beberapa teman yang terluka
di tempat yang lain, dekat dari sini, tetapi pihak lawan banyak
berkeliaran sehingga agak menyulitkan untuk bisa bergerak
secara bebas.....”
“Acccch, repot jika demikian....” desis Sie Lan In
“Tidak perlu repot Suci, karena beliau berpesan, biar besok kita
akan menyelesaikan semua persiapan melakukan pengintaian
dan beberapa missi sebelum pertarungan besar dimulai di
Gunung Pek In San.....”
“Ach, memang benar begitu lebih baik....”
“Benar sekali Suci.....”
“Ach, baiklah jika demikian, malam ini kita boleh beristirahat”
tegas Sie Lan In pada akhirnya setelah tahu Koay Hiap masih ada
urusan.
“Sebaiknya memang demikian Sute, karena banyak urusan yang
harus kita kerjakan besok hari, sangat banyak malah....”
“Baiklah Suci......”
2674
Keduanya bercakap-cakap cukup akrab dengan Sie Lan In
semakin lama semakin merasa bahwa dia semakin lama seperti
sudah mengenal dekat dengan sosok Koay Ji. Tetapi, entah
mengapa dan entah bagaimana. Setahunya, baru sekali ini
mereka bertemu, tetapi pengenalannya membuat dia merasa
sudah dekat, tetapi juga terasa masih jauh. “Sungguh aneh,
mengapa aku seperti mengenalnya secara dekat, tapi dimana dan
bagaimana...”? pikirnya penasaran dalam hati tanpa dapat
bertanya langsung kepada Koay Ji. Tetapi, lamunan dan
perasaan tersebut lenyap ketika atau saat Koay Ji bertanya:
“Sie Lan In Suci, sebelum Suhu menutup mata, dia orang tua
meninggalkan pesan yang menurut dia orang tua, mestinya juga
sudah dipahami oleh Subo.....” Koay Ji kembali buka suara untuk
topik yang baru. Dan Koay Ji, sudah merancang topik ini secara
sengaja sebelum dia menemui Sie Lan In.
“Entah masalah apakah itu sute....”? tanya Sie Lan In ingin tahu
dan mengajukan pertanyaan tentang apa maksud Koay Ji
“Apakah engkau ingat dengan 3 (tiga) jurus pamungkas dari Kim
Kong Ci, Tam Ci Sin Thong dan Tay Lo Kim Kong Ciang yang
sangat hebat itu....? jurus hebat yang hanya sayangnya tidak
2675
boleh kita keluarkan kecuali sedang membela kepentingan Kuil
Siauw Lim Sie saja”?
“Apakah maksudmu jurus Liu Thian Jiu (Tangan Langit Mengalir)
dari Tam Ci Sin Thong, gerak Can Liong Chiu (Gerak Menabas
Naga) dari Tay Lo Kim Kong Ciang dan jurus Hud Kong Boh Ciau
(Sinar Budha Memancar Luas) dari Kim Kong Cie, ketiga jurus
rahasia yang maha hebat itu....”? tanya Sie Lan In sambil
memandang Koay Ji dengan wajah kaget. Kaget dan masih belum
paham kemana arah dan tujuan percakapan mereka itu.
“Memang benar Suci, tepat ketiga jurus sakti itu..” jawab Koay Ji
sambil memandang Sie Lan In memastikan ketertarikan gadis itu.
“Sudah tentu aku ingat Sute....”
“Pernahkah Subo mengingatkanmu mengenai kemungkinan
menggabungkan ketiga jurus hebat itu dalam sebuah
gerakan....”?
“Rasanya pernah Sute, tetapi belum pernah Subo menurunkan
apa yang pernah beliau ungkapkan itu kepadaku.....” jawab Sie
Lan In heran karena belum mengerti kemana arah pembicaraan
Koay Ji. Memang, dia tentu saja paham dengan 3 jurus yang tadi
dipercakapkan itu, karena diapun menguasai dan dapat
2676
memainkannya dengan sempurna. Dan Sie Lan In sangat yakin
bahwa Koay Ji juga tentunya dapat memainkan ketiga jurus itu
dengan baik.
“Pernahkah Subo mengulas mengenai jurus Sam Liong Toh Cu
(3 Naga Berebut Mustika) yang merupakan salah satu gabungan
ketiga jurus di atas..”? tanya Koay Ji perlahan-lahan sambil
memandang Sie Lan In
“Subo pernah membahasnya, tetapi masih belum sampai
menggabungkannya. Tapi, itu sebelum aku turun gunung pertama
kalinya, entah sekarang....” jawab Sie Lan In sambil balas
memandang Koay Ji dan menduga, kemungkinan besar Koay Ji
sudah menerima dan melatih jurus tersebut. Dan jika iya, tentu
saja diapun ingin tahu dan ingin melihat sampai dimana
kehebatannya.
“Suhu sebelum menutup mata memberitahukannya dan
mengatakan, bahwa jurus ini dapat dianggap di luar jurus Siauw
Lim Sie, karena adalah temuannya dan dalam anggapan Suhu,
pasti Subo juga mengetahuinya dengan baik. Hanya kepada Subo
atau Suci sajalah jurus itu dapat kutunjukkan, demikian menurut
pesan dan amanat Suhu yang terakhir..... tapi, entah Suci
2677
bersedia melihat dan menilai jurus gabungan tersebut jika dapat
dimainkan.....”?
Koay Ji paham, mengambil hati Sie Lan In tidak boleh dengan
cara memukul pada pusat egonya. Karena itu, dia memakai
kalimat “melihat dan menilai”. Dan memang benar, dengan cara
itu, Sie Lan In tidak merasa bahwa dia sedang digiring untuk ikut
melatih jurus yang sebenarnya ciptaan Koay Ji sendiri, meski
lewat petunjuk tidak langsung dari suhunya itu.
“Hmmmm, sungguh menarik.... tentu saja aku bersedia melihat
dan menilainya Sute, tapi maukah engkau menunjukkannya
kepadaku sekarang”? Sie Lan In menyambar umpan yang
memang sengaja disiapkan Koay Ji. Koay Ji tersenyum dalam
hati, memang itu yang dia harapkan.
“Baiklah, aku akan memainkan 3 jurus awal dan diakhiri dengan
jurus gabungan itu. Nach, engkau lihatlah dan perhatikan Suci.....”
Selesai berkata, Koay Ji memainkan keempat jurus itu secara
cepat namun dia merasa pasti Sie Lan In mampu menangkapnya
dengan amat jelas. Karena dia tahu, dasar ilmu mereka berdua
memang mirip atau bahkan sama. Dan dugaannya tepat. Hanya
saja, pada jurus keempat dia melihat sinar mata Sie Lan In
2678
berpendar tanda bahwa dia merasa tertarik saat melihat jurus itu
dimainkan olehnya. Maka setelah selesai memainkan semua
jurus itu, terutama jurus keempat, diapun berhenti dan berbalik
memandang Sie Lan In sambil bertanya:
“Bagaimana Suci, apakah penilaianmu atas jurus tersebut...”?
tanya Koay Ji dalam nada diplomatis, karena sesungguhnya dia
sedang menggiring Sie Lan In melatih jurus keempat dan kelima,
tetapi harus dilakukan secara halus. Perlahan-lahan dan jangan
sampai disadari dan ketahuan oleh Sie Lan In. Dan kelihatannya
sejauh ini, sama sekali Sie Lan In tidak tahu dan tidak sadar
bahwa saat itu Koay Ji sedang “mengakalinya”. Meskipun
sebenarnya untuk kebaikan dan untuk kepentingannya sendiri
juga, bukan untuk gagah-gagahan. Karena Koay Ji sudah
memutuskan untuk juga mewariskan ilmu itu kepada Sie Lan In.
“Hmmm, memang lebih hebat jurus gabungan itu... apakah Supek
yang menciptakan jurus gabungan itu Sute...”? tanya Sie Lan In
tidak menyembunyikan ketertarikan terhadap jurus yang hebat itu.
“Menurut Suhu, Subo juga sudah mengenali dan mengetahui
jurus itu. Sebetulnya Suhu menciptakan dua jurus, satu jurus
gabungan dan satu lagi agak berbeda tetapi unsur ketiga jurus
pembentuknya masih terasa. Bahkan itu yang utama. Tetapi, aku
2679
terus terang merasa masih risih untuk memainkannya karena
berpikir masih sangat peru dan harus menyempurnakannya
sampai beberapa waktu lagi....” pancing Koay Ji lebih jauh lagi.
Dan seperti tadi, jawabannya tetap membuka ruang masuk lebih
jauh bagi Sie Lan In.
“Hmmm, mengapa engkau tidak memainkannya sekalian Sute,
biar aku bisa ikut melihat dan menilainya sekaligus....”?
“Apakah engkau bersedia menilainya juga Suci, tetapi harus
engkau catat, jurus yang kelima itu masih belum cukup
sempurna....”
“Kenapa tidak.....”?
“Baiklah......”
Sekali lagi Koay Ji memainkannya, dan khusus pada jurus kelima,
jurus terakhir dengan sengaja dia memainkannya sedikit lambat.
Karena jurus itu agak rumit dan butuh penyaluran iweekang yang
agak khusus untuk dapat memperoleh khasiat atau pengaruh
yang lebih hebat.
Dan setelah memainkannya, diapun kembali berpaling kepada
Sie Lan In dan sudah langsung bertanya kembali:
2680
“Bagaimana menurut penilaian Suci....”?
“Hmmmm, kelihatannya engkau bermasalah pada mengerahkan
iweekang yang pas dan tepat untuk memainkan jurus kelima
Sute....”?
“Tepat Suci, memang pada bagian tersebut, Suhu menyebutkan
bahwa iweekang Bu Te Hwesio, Lam Hay Sinni Subo dan
iweekang Suhu sendiri akan memainkan peran berbeda-beda
serta menghasilkan efek yang berbeda-beda ketika memainkan
ataupun mengerahkan jurus kelima itu. Efeknya jika didorong
dengan iweekang berbeda, juga sudah jelas berbeda lagi. Karena
itu, Suhu bahkan memintaku untuk memperlihatkannya suatu saat
kepada Suci, supaya bisa melatihnya serta melihat, apakah
pengaruh dengan menggunakan iweekang mana yang bakal lebih
menonjol. Menurut Suhu, ilmu iweekangnya sendiri lebih pas
menghadirkan gaya dan cara “penyembuhan”, sementara
iweekang Subo, kemungkinan lebih hebat pada aspek menyerang
atau bertahan, entah mana yang lebih tepat. Tetapi, harus Suci
sendiri yang membuktikannya. Iweekang Toa Pan Yo Hian Kang
kami sudah jelas berfungsi lebih hebat pada aspek yang berbeda,
yakni pada aspek menyembuhkan......” terang Koay Ji dengan Sie
Lan In menyimak dengan amat serius dan tertarik. Meskipun dia
2681
heran, mengapa menggunakan iweekang Supeknya efeknya
berbeda jika dengan menggunakan iweekang milik subonya?
“Apakah Supek mengijinkan aku mempelajarinya Sute....”? tanya
Sie Lan In jadi amat bergairah, dan Koay Ji senang
mendengarnya. Jelas Sie Lan In sudah masuk dalam perangkap
yang memang disediakannya untuk itu. Dengan kata lain, hal ini
yang memang diharapkan Koay Ji.
“Sesungguhnya Suhu memang menginginkan seperti itu Suci, dia
orang tua ingin tahu efek lain dari jurus itu, tetapi dia tidak dapat
serta merta melatihkannya kepada Suci secara langsung.....”
“Bolehkah aku mencobanya.....”?
“Silahkan Suci, aku akan membantumu dengan teori dan
detailnya.....” sahut Koay Ji dengan sama bersemangatnya
dengan Sie Lan In.
Kurang lebih dua jam kemudian, Sie Lan In merasa bahwa dia
sudah menguasai jurus keempat dan kelima dengan baik. Atau
tepatnya dua jurus terkahir, karena jurus pertama sampai jurus
ketiga, memang sudah dikuasainya sejak lama. Kini, dia
memainkan kembali jurus keempat dan disusul jurus kelima,
sementara dari pinggir lapangan Koay Ji memandangnya dengan
2682
saksama, dan dia yakin, Sie Lan In sudah berhasil. Dia bisa
merasakan dan melihatnya secara langsung.
“Suci, rasanya engkau sudah menguasainya. Karena toch,
memang kedua jurus terakhir itu berasal dari dasar ilmu
perguruan kita. Tetapi, kelihatannya efek utama dengan iweekang
Subo, lebih pada bagian pertahanannya, kulihat dengan iweekang
hebat melebihi sucipun, dalam penggunaan jurus itu, tidak akan
mampu menembus dan malah mudah untuk dilontarkan pergi.
Dengan iweekang Suci, maka lawan yang berkeras menembus,
justru akan terluka parah dengan efek membalnya.....” analisa
Koay Ji yang dibalas dengan anggukkan kepala oleh Sie Lan In.
Bahkan Sie Lan In kemudian berkata dengan suara senang:
“Hebat, Supek mampu memikirkan gabungan ini..... meski efek
hebatnya adalah benar pada bagian bertahannya, tetapi
menurutku, melawan lawan yang setanding, efek menyerangnya
juga tidak akan kalah hebat. Meskipun memang, hanya sedikit
saja lebih unggul diatas jurus keempat atau jurus sebelumnya.
Tetapi, sudah cukup hebat kita menguasai jurus ini Sute.....”
Demikianlah, malam itu keduanya menghabiskan waktu berlatih
bersama dan pada akhirnya berlatih masing-masing hingga
menjelang pagi hari. Ketika mereka pada akhirnya sama-sama
2683
merasa cukup berlatih dan kemudian beristirahat, maka Koay Ji
yang memulai percakapan pagi itu:
“Suci, kita harus membagi diri untuk pekerjaan pagi ini. Ada
beberapa pekerjaan yang perlu kita lakukan dengan segera.
Pertama, malam nanti kita berusaha untuk membebaskan ketiga
murid kepala dari Bu Tee Hwesio, Lam Hay Sinni dan Thian Hoat
Tosu. Selain itu, kita perlu menemukan tempat khusus untuk
peristirahatan ketiga tokoh itu karena dalam kondisi sekarang sulit
meminta mereka ikut gabung bertarung. Tugas kedua, akan
dikerjakan oleh adik angkatku Siauw Hong dan nanti dibantu oleh
Kwa Siang. Tetapi, saat ini kita membutuhkan mereka untuk
menyusun strategi yang perlu kita kerjakan sepanjang hari hingga
malam nanti. Aku akan bekerja mencari tempat yang baik untuk
beristirahat ketiga tokoh yang akan kita bebaskan. Dan kemudian
Suci kuminta menjemput Khong Yan, Tio Lian Cu, Ui Tek Suheng
serta Siauw Hong dan Kwa Siang..... mereka semua memiliki
tugas penting untuk suksesnya misi kita menyerang Pek In
San....”
“Hmmm, baiklah Sute, pembagian tugas itu sudah tepat. Tetapi,
siapa yang akan menemaniku untuk menemukan tempat ini
kembali, masih sulit buatku untuk dapat berkeliaran secara bebas
karena kurang mengenali hutan ini.....”?
2684
“Sahabat-sahabatku akan membantumu Suci......” sambil berkata
demikian Koay Ji menggapai kearah kawan-kawan monyetnya
yang sudah menyiapkan mereka berdua sarapan pagi. Dan Sie
Lan In hanya tersenyum melihat munculnya kawan kawan Koay
Ji yang besar-besar dan sangat hormat kepada sutenya itu.
Lama-lama diapun menjadi senang dengan monyet-monyet yang
sangat jinak dan bersahabat dengan mereka, bahkan melayani
makanan mereka.
Selepas makan pagi, merekapun bergerak secara terpisah. Dan
menjelang siang atau tengah hari, Koay Ji yang sebenarnya
sudah punya tempat untuk ketiga tokoh yang butuh tempat
istirahat nanti, mendengar suara monyet-monyet kawannya. Dan,
dia sadar bahwa kawan-kawannya sudah tiba. Benar saja, tidak
berapa lama muncullah Tek Ui Sinkay yang didampingi Cu Ying
Lun, kemudian Khong Yan, Tio Lian Cu dan Kang Siauw Hong
yang selalu dikawal oleh Bun Kwa Siang. Dan mereka tentu saja
diantarkan oleh Sie Lan In yang kembali merasa sedikit asing
namun seperti mengenal. Sekali lagi dia melihat Koay Ji dengan
perasaan yang agak dekat, kenal seperti kenal, tetapi juga seperti
asing. Tetapi pada saat itu, Koay Ji yang menunggu mereka
sudah langsung ambil insiatif dan menyambut mereka semua
sambil berkata:
2685
“Selamat datang cuwi sekalian, terima kasih banyak Sie Lan In
Suci, semoga tidak keberatan jika kuwakili Koay Hiap menyambut
kita semua.....”
Sementara Koay Ji berbicara, Siauw Hong sudah mendekati Koay
Ji dan kemudian memeluk lengan kanan Koay Ji sambil berkata:
“Toako, engkau kelewatan bermain seorang diri disini.....”
“Sebentar adikku, kita ada persoalan penting yang mesti
dipecahkan dan bantuanmu akan sangat dibutuhkan....”
“Benar toako....”? tanya Siauw Hong polos dan juga senang
karena ada yang dapat mereka kerjakan. Sementara Sie Lan In
memandang kemesraan kakak-beradik Siauw Hong dan Koay Ji
dengan perasaan yang sulit untuk digambarkan, jelas bukan rasa
iri dan cemburu. Tetapi perasaan yang dia sendiri sulit untuk
gambarkan dan sulit untuk dapat dia jelaskan. Dia sendiri merasa
dekat dengan Siauw Hong yang amat polos sepanjang perjalanan
menuju tempat itu.
“Pastilah, ayo, duduklah dahulu. Mari, cuwi sekalian, Sam
Suheng, silahkan kita mencari tempat duduk masing-masing....”
“Baik toako....”
2686
“Maaf Sie Suci, adik angkatku ini ahli dalam Ilmu Barisan, dan
ilmunya itu sangat kita perlukan malam ini. Dan, ya, masih ada
satu tokoh lagi yang akan bergabung malam ini dengan kita,
Lopeh, mari......”
Seiring dengan itu, dari balik kegelapan jalan rahasia menuju
kedalam, muncullah Mindra, tokoh ahli sihir asal Thian Tok. Ketika
dia berjalan mendekat, semua pada memandangnya dengan
penuh rasa heran.... Tek Ui Sinkay masih tidak begitu kenal
dengannya, tetapi Sie Lan In dan Tio Lian Cu mengenal kakek ini
meski tidak amat yakin jika yang muncul adalah tokoh yang
mereka kenal itu.
“Engkau.....”? desis Sie Lan In nyaris tak percaya, juga Tio Lian
Cu dan Khong Yan yang sudah mengenal tokoh itu.
“Tentunya kalian berdua mengenalnya, dia memang tokoh yang
seama ini kita kenal sebagai murid ketiga dari Mo Hwee Hud. Dia
adalah ahli sihir yang amat luar biasa, dan berasal dari negeri
yang cukup jauh, yakni berasal dari Thian Tok. Untuk malam ini,
maka tokoh ahli sihir ini akan bekerja sama dengan kita untuk
melakukan beberapa pekerjaan yang amat berat dan amat
berbahaya. Tapi meskipun demikian, pekerjaan itu akan
menyelamatkan kurang lebih 500 nyawa pendekar ketika kita
2687
maju menyerang dan menerjang ke markas Bu Tek Seng Pay
kelak......” berkata Koay Ji dengan penuh keyakinan, tetapi yang
justru membuat Tek Ui Sinkay amat terkejut. Kaget dan terkejut
mendnegar perkataan Koay Ji dan membuatnya sampai berpikir
dan mendesis dalam hati......”Apa lagi yang dipersiapkan siauw
sute pada hari ini...”?, meski heran tapi dia snagat percaya
dengan Koay Ji
“Siauw sute..... engkau....”?
“Sam Suheng, ech, maaf, Tek Ui Bengcu, malam ini akan
kupaparkan apa yang kutemukan bersama Thian Liong Koay Hiap
berdasarkan petunjuk dari sahabat-sahabat baikku (sambil
menunjuk beberapa monyet yang berada disitu). Mereka
menemukan jalan rahasia yang tembus hingga ke dalam Markas
Utama Bu Tek Seng Pay di pinggang gunung Pek In San. Jalan
ini sudah kami teliti dan selidiki selama dua hari ini dan ujungnya
sudah kami tandai...... dan dalam penyelidikan itu, kami bertemu
dengan Hui Goan Hwesio, Kauwcu Pek Lian Kauw sebelum Pek
Bin Hwesio mengkhianatinya. Untungnya, jalan rahasia ini tidak
diberitahukan kepada Pek Bin Hwesio, sehingga pihak Bu Tek
Seng Pay tidak menyadari keberadaan jalan rahasia ini. Sayang
Hui Goan Hwesio sudah terlampau rapuh setelah 10 tahun
terakhir disiksa dan kemudian dipenjarakan. Namun di tempat
2688
yang sama, juga kami temukan Mindra yang matanya sudah
dibutakan dan juga dipenjarakan di penjara bawah tanah ini.
Kesempatan kita untuk dapat menang menyerang Bu Tek Seng
Pay akan terletak di bagaimana mengoptimalkan jalan rahasia ini
nantinya, dan juga bagaimana Mindra melakukan tugasnya
nanti....” jelas Koay Ji yang terang saja membuat semua yang
hadir terperangah, kaget. Tetapi, memang benar, jika jalan
rahasia ini tembus ke markas Bu Tek Seng Pay tanpa lawan
menyadarinya, maka alamat bahaya bagi pihak lawan. Tapi,
bagaimana peran seorang Mindra, banyak yang masih tetap
belum paham.
“Acccch, engkau benar Koay Ji, temuanmu bersama Koay Hiap
ini benar-benar amat vital dan menentukan. Akan kami susun
strategi penyerangan, tetapi tidak bisa semua masuk melalui jalan
rahasia ini....” puji Tek Ui Sinkay yang sangat gembira dengan
penemuan yang dijelaskan Koay Ji tadi. Penemuan yang
menurutnya akan membuat tugas mereka menjadi lebih mudah
karena efek kejut yang pasti bakalan memukul semangat lawan
dalam bertarung.
“Benar Tek Ui Bengcu, tidak bisa semua memasuki jalan rahasia
ini, bahkan jalan ini harus tetap kita rahasiakan, cukup kita
sekalian yang tahu jalan ini. Tetapi, jalan menerjang keatas,
2689
penuh jebakan beracun dan perangkap sihir. Akan banyak jatuh
korban, bisa jadi semua pendekar menjadi korban jika jebakanjebakan
itu tidak kita musnahkan sebelumnya. Nach, untuk
maksud yang satu itu, maka Mindra akan bekerja bersama
dengan adik Siauw Hong dan Bun heng. Sementara itu, kami
berempat akan bekerja untuk, jika memang dapat, menciptakan
senjata rahasia di pihak musuh, tapi hasilnya kita lihat setelah
malam nanti......” Koay Ji berkata atau menjelaskan apa yang dia
rencanakan dan apa yang dapat mereka kerjakan dalam
mengurangi korban dan mengejutkan lawan.
“Hmmmm, masih adakah hal lain yang perlu kuketahui Koay
Ji....”? tanya Tek Ui Sinkay gembira dengan paparan Koay Ji.
Setidaknya dia mampu melihat bahwa ada banyak hal yang sudah
tersedia dan memudahkan pekerjaannya yang sudah disiapkan
oleh sute termudanya ini.
“Tek Ui Bengcu, perlu mengatur strategi karena pihak lawan
memiliki tempat rahasia yang agak tertutup di ngaray di bawah
tebing. Tempat itu amat rahasia, dan untuk mencapainya kita
sudah menyiapkan peralatan dan jalan rahasia. Disana jika benar,
kumpulan tokohnya akan bersembunyi jika terpukul kalah....”
2690
“Baiklah, kami akan segera meninjaunya bersama Chit Sute.....
apakah ada yang bisa mengawani kami berdua...”? tanya Tek Ui
Sinkay sambil melirik Cu Ying Lun yang mengangguk tanda
setuju.
“Jika Tek Ui Bengcu setuju, maka sahabat-sahabatku (sambil
menunjuk sahabat monyetnya) akan menemani dan menunjukkan
jalannya. Jangan khawatir, mereka sudah cukup terlatih dan
mengetahui jalanan itu. Bahkan, merekapun juga sudah sempat
menyediakan cara masuk atau turun ke ngaray...”
“Apa benar mereka bisa....”? tegas Tek Ui Sinkay, tetapi segera
diam karena dia tahu bahwa adiknya ini memang penuh
kemujijatan, termasuk dapat berbicara dan bercakap dalam
bahasa monyet
“Pasti bisa, bahkan salah satu diantara mereka adalah sahabat
baikku sejak masa lalu, saat kuselamatkan dia ketika digigit ular
berbisa. Dan saat ini, dia selalu berada disini dan
menemaniku.....” tegas Koay Ji memperkenalkan sobat
terbaiknya, monyet gagah tinggi besar yang selalu dekat
dengannya.
“Oooh, baiklah.....”
2691
“Baik, jika demikian, Tek Ui Bengcu bersama Chit Suheng akan
memeriksa kembali jalan rahasia ini untuk menetapkan strategi
pertempuran nanti. Kemudian Paman Mindra bersama Kwa Siang
dan Siauw Hong akan bekerja memunahkan jebakan racun dan
sihir. Tetapi, sebelum melakukan pekerjaan itu, harus makan obat
anti racun terlebih dahulu, kecuali Kwa Siang yang sudah memiliki
kekebalan atas racun secara alami. Dan kami berempat, akan
mencoba membebaskan 3 orang tokoh yang juga menjadi toa
suheng kami bertiga. Pekerjaan maha sulit karena harus dapat
menyusup masuk kedalam markas musuh...... Hmmm, Tek Ui
Bengcu sudah dapat melakukan tugasnya sekarang karena bisa
sewaktu-waktu bekerja, tetapi Mindra dan Adik Siauw Hong serta
Kwa Siang beserta kami berempat, baru akan dapat bekerja
malam nanti”
“Baik sepakat....” ujar Tek Ui Sinkay
“Kami juga siap...” Mindra ikut menyetujui sambil berpandangan
dengan Siauw Hong dan juga Kwa Siang, sementara Sie Lan In,
Khong Yan dan Tio Lian Cu, juga sama setuju dengan paparan
Koay Ji. Hanya, Sie Lan In yang terkadang bingung dengan Koay
Ji, karena seperti kenal tetapi tidak, tidak kenal tetapi seperti
sangat kenal dan merasa sangat dekat. Semakin lama dia
semakin merasa aneh, dia menjadi agak bingung dengan dirinya
2692
sendiri, tetapi sungguh, rasa aneh dalam dirinya terlampau sulit
dienyahkan. Entah mengapa.
“Tek Ui bengcu dan Chit Suheng sudah bisa bergerak sekarang,
karena memakan waktu untuk menyelidiki jalanan ini. Selain
jalannya berliku-liku, juga sesungguhnya cukup panjang dan
jauh....”
“Baiklah, mari Chit Sute....” tidak lama kemudian, dengan ditemani
dua ekor monyet, Tek Ui Sinkay dan Cu Ying Lun segera berlalu.
Memang benar, mereka bakalan membutuhkan waktu yang
panjang karena ada berapa ruas jalan rahasia yang perlu mereka
selidiki dan ketahui lebih tegas dan jelas. Termasuk juga markas
lawan dan markas persembunyian di ngaray bawah tebing jika
terjadi hal-hal yang di luar kendali Bu Tek Seng Pay. Bagi Tek Ui
Sinkay, adalah hal yang akan amat penting dalam pertempuran,
dan bahkan bisa bersifat sangat menetukan jika berhasil
mengetahui detail jalan rahasia ini. Karena jalan tersebut justru
langsung memasuki kompleks vital di belakang markas lawan.
Karena mngetahui beberapa rahasia penting itu, maka mereka
melakukan pekerjaan itu dengan penuh semangat dan berusaha
untuk berhati-hati sedapat mungkin. Mereka amat sadar,
setengah kemungkinan menang sudah berada di tangan pada
2693
saat itu, tinggal bagaimana mengoptimalkan peluang sisanya.
Meski jumlah mereka kalah dari jumlah anak buah Bu Tek Seng
Pay, tetapi dengan kehadiran beberapa Barisan Mujijat, maka
kekalahan jumlah akan dapat diminimalisasi, bahkan bisa menjadi
senjata yang berbahaya.
Sementara itu, di tempat semula yang ditinggalkan Tek Ui Sinkay
dan Cu Ying Lun, Koay Ji kemudian memanggil Mindra, Kang
Siauw Hong dan Bun Kwa Siang bertiga yang akan menjalankan
missi yang berbeda;
“Lopeh, inilah adik angkatku, namanya adalah Kang Siauw Hong.
Dia adalah ahli segala sesuatu mengenai Barisan, dan dialah
yang akan bertugas untuk memandu dan sekaligus mengantarkan
Lopeh untuk memasuki Barisan itu. Kemampuannya mengenali
dan menganalisis Barisan, bahkan masih jauh diatas
kemampuanku dan kemampuan Thian Liong Koay Hiap juga.....
karena itu, sebaiknya kalian bercakap-cakap untuk menentukan
strategi apa yang sebaiknya dikerjakan guna merusak semua
jebakan dalam barisan itu.....” Koay Ji berinisiatif saling
mengenalkan Kang Siauw Hong adik angkatnyadengan Mindra,
si tokoh ahli sihir mujijat asal Thian Tok. Maksudnya sedehana,
biar tugas mereka selesai dengan mudah.
2694
“Ach, akan sangat membantu jika benar Kang Kouwnio bisa
membantuku memasuki dan mengenali sudut-sudut Barisan itu.
Karena sebetulnya, semua jebakan sihir amat tersembunyi dan
sangat membutuhkan ahli Barisan untuk dapat mengenali dan
kemudian menetralisasinya...... Tapi, apakah Kouwnio sudah
mengenali Barisan yang dibentuk di beberapa titik itu....”? tanya
Mindra kepada Kang Siauw Hong yang tadi menjadi agak tersipu
ketika disebut sebagai “Ahli Barisan” oleh Koay Ji. Tetapi,
mendengar Mindra bertanya mengenai bidang keahliannya,
segera muncul ego dan kebanggaan Kang Siauw Hong. Maka
tanpa ragu sedikitpun Kang Siauw Hong segera menjawab dan
memberikan pandangannya;
“Sekilas tadi ketika Enci Sie membawa kami melewati agak dekat
dengan sebuah Barisan tidak jauh dari sini, sedikit banyak aku
sudah memahami Barisan apa yang dibentuk dan diformasikan
disana. Tetapi, untuk mengenali setiap sudutnya, serta mencari
cara mengakali dengan tidak merusak Barisan itu, membutuhkan
waktu dan harus masuk ke dalam Barisan tersebut...”
“Hmmmm, sudahkah engkau mendapat bayangan jenis Barisan
itu...”? tanya Mindra lebih jauh kepada Siauw Hong, bukan
menguji, karena memang Mindra tidaklah paham dengan segala
jenis Barisan
2695
“Sekilas lebih mirip dengan basis dasar Segi Tujuh, tetapi kelak
aku butuh sekitar 5 menit untuk memastikannya nanti.....”
“Hmmm, memang benar, basis dasarnya adalah Segi Tujuh,
tetapi konon menurut mereka, ada beberapa modifikasi terbaru
yang diterapkan. Seperti apa itu, jujurnya lohu sama sekali tidak
paham....”
“Hmmm, bisa kuperiksa nanti Lopeh......”
“Bagus jika memang demikian, tetapi harus engkau pastikan
dapat menganalisa dan memutuskannya dalam waktu yang cukup
singkat. Karena kita bukannya akan bebas pengawasan sama
sekali.....”
“Tentu saja Lopeh, aku akan berusaha.....” Kang Siauw Hong
memastikan dengan nada suara yang mantap dan percaya diri
“Semuanya harus berusaha secepatnya, meski tidak sangat cepat
tetapi adik Siauw Hong memiliki kemampuan untuk itu Lopeh.
Tinggal kita beri dia kesempatan untuk melakukannya dan
mempercayai bahwa dia mampu.....” sela Koay Ji yang menjaga
jangan sampai terjadi hal tidak mengenakkan.
2696
“Engkau benar anak muda....” Mindra tiba-tiba sadar, bahwa dia
memang tidak boleh kelewatan dan membutuhkan bantuan lain.
“Bagaimana adikku, apakah engkau sudah menyempurnakan
semua yang kuajarkan kepadamu selama berapa waktu terakhir
ini...? dan apakah Kwa Siang melakukan apa yang kupesankan
kepadanya....”? Koay Ji dengan cepat segera mengalihkan topik
pembicaraan sebelum terjadi letupan.
“Semua ilmu yang engkau ajarkan sudah kukuasai dengan baik,
tetapi masih belum bisa melukai Kwa Siang.... dia itu terlampau
hebat dan tidak akan mempan dipukul. Kekebalannya terlampau
mujijat, sealu susah dilukai, dengan begitu curang kalau bertarung
dengannya....” gerutu Siauw Hong sambil memandang Kwa Siang
yang selalu mesem-mesem saja.
“Jangankan engkau adikku, toakomu inipun tidak akan mampu
melukainya dan tidak mampu menembus kekebalan alamnya. Dia
memang memiliki kemampuan kebal yang mujijat, entah
bagaimana alam memberi dia karunia yang demikian hebat itu....”
bujuk Koay Ji.
Demikianlah, mereka masing-masing terbagi dalam dua
kelompok dan berbicara dengan topik yang berbeda. Jika Koay Ji
2697
bersama Siauw Hong, Kwa Siang dan juga Mindra dengan topik
beragam, maka Sie Lan In, Khong Yan dan Tio Lian Cu sibuk
membicarakan hal berbeda. Mereka membicarakan kakak
seperguruan mereka yang paing tua dengan nasib buruk yang
mereka alami selama waktu yang cukup panjang. Mungkin sudah
lebih sepuluh tahun terakhir. Percakapan mereka mulai berakhir
ketika gelap akhirnya menjelang datang.
Pada saat itulah Koay Ji memutuskan mendekati Mindra dan juga
Kang Siauw Hong untuk mempersiapkan sekaligus berjaga-jaga
agar mereka mampu menghadapi racun. Untuk maksud itu, dia
sudah memiliki dan membuat persiapan yang cukup matang. Dia
mengeluarkan botol kecil dan memberi mereka beberapa tetes air
yang dapat berfungsi sebagai penolak racun. Mindra sudah
maklum dan memang tahu air tersebut berasal darimana,
karenanya dia merasa girang dan gembira. Dia sangat paham,
bahwa Guci Perak bukan hanya bermanfaat menyembuhkan luka
apapun, tetapi juga dapat memunahkan racun dan bahkan
membuat tubuh dalam jangka waktu tertentu susah terkena racun.
Adalah Kang Siauw Hong yang membutuhkan penjelasan lebih
karena memang dia masih belum paham. Namun kemudian
dengan cepat dapat memahami setelah dia mendengar
penjelasan Koay Ji yang diiyakan oleh Mindra mengenai air
2698
tersebut. Sementara Kwa Siang, selalu menurut apa yang
diperintahkan Koay Ji dan kini juga bertambah dengan perintah
dan “sabda” Siauw Hong. Belakangan, sejak menjadi “pengawal”
Kang Siauw Hong, dia menjadi sangat dekat dengan nona itu, dan
apa yang ditugaskan Siauw Hong dilakukannya dengan gembira.
Bun Siok Han sang suheng terlampau sibuk dengan jurus dan
ilmu barunya sehingga jarang menemani Bun Kwa Siang, dan
diapun jadi makin dekat dengan Siauw Hong.
Maka sekarang, selain Bun Siok Han dan Suhunya, dan selain dia
memiliki Koay Ji yang memang amat dikaguminya karena mampu
menyakitinya, sekarang Kwa Siang juga punya Siauw Hong.
Karena selain Siauw Hong mewakili Koay Ji orang yang amat
dikaguminya itu, tapi yang juga dapat dia rasakan bersikap sangat
baik dan sangat perduli kepada dirinya. Bahkan mereka dapat
berlatih bersama dan diapun tahu bahwa Siauw Hong tidaklah
lemah, sesekali dapat juga membuatnya sakit. Hal yang justru
membuat dia senang dan semakin kagum dengan Siauw Hong.
“Kita semua akan bergerak bersama, Paman Mindra memiliki
keahlian dalam ilmu sihir, tetapi untuk memasuki dan mengetahui
rahasia barisan itu, maka dibutuhkan keahlian adikku Siauw Hong
ini. Dia memiliki pengetahuan luas mengenai tata barisan, karena
itu kalian harus bekerja-sama baru kemungkinan berhasilnya
2699
besar. Tidak perlu semua pintu masuk kalian kerjai, cukup dua
saja, sebab jika semua kita jinakkan, khawatir musuh akan
mencium gerakan kita dan melakukan persiapan lain pada satu
dua hari terakhir.......”
“Engkau benar anak muda..... cukup dua saja, dan dua yang
terdekat dari sini adalah lebih baik karena lebih dekat. Selain itu,
lohu duga mereka tidak akan pernah mengira bahwa kita akan
mengerjai beberapa pintu masuk yang mereka sangat rahasiakan
ini. Lokasi berkumpul para pendekar justru cukup jauh dari sini,
sulit mereka mengira bahwa kita akan masuk dari dekat sini,
sehingga penjagaan disini pasti jauh lebih longgar......”
“Benar paman, lebih baik dua pintu masuk dekat sini..... Sie
Kouwnio konon menurut Koay Hiap sudah pernah
mengidentifikasi kedua pintu masuk itu...” jawab Koay Ji yang
langsung diiyakan Sie Lan In dengan menganggukkan kepalanya.
Tetapi, adalah Mindra yang merespons,
“Iya, lohu tahu dua pintu masuk terdekat dari sini......”
“Baiklah, kita semua bersiap, sebentar lagi harus segera
bergerak.... sobat Tang Hok akan menemani kalian bertiga
nantinya, meski dari balik kegelapan” Koay Ji sengaja
2700
menyebutkan nama Tang Hok yang masih belum dikenal Mindra.
Dan itu memang ada maksud khususnya, dia menyebutkan nama
itu, agar Mindra tidak berbuat kelewat batas. Tidak berkhianat.
Karena semua sudah tahu siapa Tang Hok yang juga hebat itu.
“Siapa dia anak muda....”? terdengar Mindra bertanya, tetapi
nadanya seperti sepintas lalu dan tidak menaruh perhatian besar.
“Dia masih merupakan sute termuda dari Thian Liong Koay Hiap,
tetapi begitupun sudah amat hebat, karena baru beberapa hari di
gunung Thian Cong Pay, dia memukul mundur Geberz dan ji
suheng Geberz yang amat hebat itu.....”
“Oooooh, sungguh bantuan yang berharga....” desis Mindra
gembira dengan adanya dukungan dari Tang Hok. Koay Ji
senang, karena melihat Mindra justru bukannya takut dengan
penjagaan Tang Hok.
“Benar Lopeh, dia akan sangat membantu pekerjaan Lopeh dan
juga Siauw Hong, meski dia bergerak dari balik kegelapan...”
“Bagus jika demikian....... mari, kita bisa segera bekerja...” ajak
Mindra yang menjadi lebih bersemangat dan membuat Koay Ji
bertambah keyakinannya atas Mindra. Tapi, dia tidak ingin kecele
dan menyesal belakangan, karena segera setelah Mindra pergi
2701
bersama Bun Kwa Siang dan Kang Siauw Hong, dia segera
menoleh kepada Khong Yan dan kemudian berbisik:
“Khong sute, kuminta engkau ikut mengawal mereka secara
khusus. Tetapi, harap engkau ingat untuk selalu berkomunikasi
dengan adik Siauw Hong, karena untuk memasuki Barisan
engkau membutuhkan bantuannya...” berkata Koay Ji sambil
memandang Khong yan, dan bahkan langsung menambahkan,
“Dalam keadaan seperti sekarang, kita wajib saling membagi
tugas. Karena tidak dapat kita mengerjakan segala sesuatu
sendirian, tetapi membutuhkan kerjasama agar tujuan kita dapat
dicapai. Mindra, meskipun bekerja untuk kita, tetapi jujurnya
belum kupercaya seratus persen...”
“Baik Suheng, aku segera berangkat.....” Khong Yan langsung
sadar apa maksud Koay Ji setelah kalimat yang terakhir. Jelas
bahwa Koay Ji masih belum begitu mempercayai Mindra, dan
memintanya untuk terus mengawasi ayahanda sahabat mereka
Nadine yang masih belum munculkan diri itu. Memang benar, jika
Mindra sampai mengkhianati mereka, maka akibatnya sungguh
sangatlah buruk, karena itu Khong Yan mengemban tugas itu
dengan penuh rasa tanggungjawab. Karena tugas dia memang
termasuk penting.
2702
Sepeninggal Khong Yan, Koay Ji memandang Tio Lian Cu dan
juga Sie Lan In sejenak dan kemudian berkata:
“Jiwi kouwnio, tiba-tiba aku berpikir akan sangat berbahaya jika
kita menyembuhkan toa suci dan suheng kita masing-masing.
Karena jika mereka sembuh, maka akan butuh waktu beberapa
hari bagi mereka untuk dapat memahami diri mereka. Dan mereka
akan mengalami guncangan emosional yang sangat berat,
meskipun apa yang mereka lakukan sebelumnya, sama sekali
tidak mereka sadari. Konon, yang terjadi di Siauw Lim Sie,
sebagaimana juga Sie Suci ikut menyaksikannya, sampai Toa
Supek mengundurkan diri karena merasa malu dengan apa yang
terjadi atas dirinya. Dia tidak sadar dengan semua pekerjaannya
yang mendukung kejahatan. Kuduga, toa suci dan toa suheng kita
masing-masing, akan bersikap kurang lebih mirip, dan jika
demikian, maka kita kerepotan untuk menangani mereka bertiga.
Satu-satunya yang bisa menangani mereka adalah Suhu dan
Subo kita masing-masing, kita hanya mampu menyelamatkan
mereka, tetapi untuk “menyembuhkan” luka batin mereka,
dibutuhkan seorang yang sangat ahli.......”
Perkataan Koay Ji menyentak Sie Lan In dan juga Tio Lian Cu.
Perkataan Koay Ji memang sangat masuk diakal, dan
kemungkinan besar kejadiannya memang bakal seperti itu. Jika
2703
mereka dalam posisi seperti kakak seperguruan mereka itu, pasti
reaksi mereka juga akan sama belaka. Dan, mereka jelas tidak
akan mampu berbuat banyak berhubung ketiga orang itu adalah
saudara seperguruan mereka yang paling tua. Maka, harus
dipikirkan bagaimana mereka akan bekerja menenangkan dan
membujuk ketiga saudara seperguruan mereka yang pasti sangat
malu dengan apa yang mereka alami sekian lama itu. Berpikir
demikian, ketiganya terdiam sejenak guna mencari cara terbaik
mengatasi masalah itu.
“Accccch, benar sekali engkau Koay Ji sute, memang yang
kusaksikan di Siauw Lim Sie persis seperti itu keadaannya. Toa
supek benar-benar terpukul dan langsung menyatakan menutup
diri setelah menyadari apa yang sudah terjadi, dan bahkan nyaris
merusak Kuil Siauw Lim Sie dalam keadaan tidak sadar......” Sie
Lan In tak lama kemudian mendesis sambil terus berpikir
“Benar Sie Suci, itu yang juga kudengar. Karena itu, benar-benar
kita mesti hati-hati untuk membebaskan mereka dan mengobati
sekarang ini, karena jika kita keliru, kita justru akan kehilangan
mereka bersama-sama. Hanya Suhu dan Subo kita yang akan
mampu menangani mereka untuk saat ini......”
2704
“Ach, dan itu jelas sangat sulit.....” desis Tio Lian Cu gamang
menghadapi usulan Koay Ji. Justru karena dia setuju dengan
Koay Ji, hanya saja keadaan dan dimana Suhunya sekarang yang
menjadi persoalan. Karena Suhunya dan juga Bu Tee Hwesio
jelas-jelas sudah berpesan sebelum mereka menghilang, bahwa
mereka berdua sekalipun tidak boleh diganggu sampai setahun
kedepan. Itu setelah mereka berdua melatih dia dengan Khong
Yan.
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita PL ML PANL 16 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments