Cerita PANL ke 12

------

Karena itu, Bu Tee Hwesio dan Thian Hoat Tosu berbeda dengan
Lam Hay Sinni, harus mengorbankan waktu setahun untuk
pemulihan. Hal yang justru tidak perlu dilewati oleh seorang Lam
Hay Sinni. Jikalau saja Bu Tee Hwesio sama dengan Lam Hay
Sinni melakukan pendalaman secara serius dan tidak terputusputus,
maka dia pasti menemukan hasil serta cara yang kurang
lebih sama dengan yang dicapai Lam Hay Sinni saat ini.
Sayangnya, dia lebih menyibukkan diri dengan urusan-urusan lain
dan jauh berbeda dengan Lam Hay Sinni yang menyibukkan diri
dengan samadhi dan beroleh kemajuan yang hebat. Sama
dengan Bu Te Hwesio, Thian Hoat Tosu juga memiliki
kesibukannya sendiri yang terutama dimaksudkan untuk
membangun masa depan perguruannya Hoa San Pay.
1703
Wajar kemudian jika pada akhirnya, Lam Hay Sinni berhasil
terlebih dahulu dalam menyempurnakan formula rahasia yang
mereka ciptakan bertiga dan melatih Sie Lan In jauh lebih cepat.
Tanpa kehilangan waktu setahun tetapi justru membuatnya
meningkat lebih hebat dalam latihan-latihan iweekang dan
penyempurnaan ilmunya. Hal ini yang justru masih belum disadari
oleh Bu Tee Hwesio dan Thian Hoat Tosu, belakangan baru
mereka paham sepenuhnya. Tapi apa boleh buat, mereka sudah
melatihkannya masing-masing kepada murid mereka dan untuk
itu mereka harus mengembalikan kebugaran selama setahun.
Tetapi Khong Yan dan Tio Lian Cu sendiri harus belajar banyak
dan memang sempat diberi petunjuk oleh Bu San (atau Koay Ji)
sebelum dia meninggalkan Benteng Keluarga Hu bersama
dengan Sam Suhengnya, atau tepatnya bersama Sie Lan In
menuju ke Gunung Ciauw San.
Khong Yan yang sadar terlebih dahulu dan merasakan betapa
tubuhnya jauh lebih enteng, tenaganya seperti bergelora namun
lebih mudah dikuasai, digerakkan dan disalurkan ke seluruh
tubuhnya. Bahkan, kekuatan besar itu kini dengan mudah dia
dapat kuasai, bergerak ke seluruh tubuh dan mendatangkan
kesegaran yang luar biasa. Maka sadarlah Khong Yan jika dia
kembali sudah meningkat kemampuannya dan dia bersyukur
1704
karena paham jika Suhunya yang sudah melakukan untuk dirinya.
Dan Khong Yan masih dapat mengingat dengan amat jelas
betapa Suhunya pergi dengan wajah muram dan seperti kurang
sehat setelah berlatih semalaman penuh dengannya. Sayangnya,
ketika mereka berlatih bersama dengan iweekang khusus
perguruan yang berlangsung selama sehari semalam, seusainya
ketika Suhunya pamit untuk pergi, dia sedang tidak bisa
melakukan apa-apa sama sekali. Tetapi, Suhunya masih
meninggalkan berapa pesan dan apa yang harus dilakukannya
setelah selesai dengan latihannya kelak. Bahwa dia harus
menemukan Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap jika memang
terjadi sesuatu hal yang tidak sesuai dengan harapan setelah
sebulan masa berlatih lewat.
Siapa tahu, justru ketika sekali lagi dia berlatih dan kemudian
mengembalikan lagi kebugarannya, dia melakukannya secara
jauh lebih cepat. Dan kesegaran yang dia dapatkan juga terasa
jauh berbeda, tenaga yang dapat dikumpulkan dan disalurkan
olehnya, juga terasa jauh berbeda. Setelah menyelesaikan
semuanya, dia mencoba untuk mengetahui apa yang dikerjakan
Tio Lian Cu di ruangan sebelahnya, tetapi dia mendapat
kenyataan jika Tio Lian Cu masih dalam keadaan terlelap dan
belum lagi menunjukkan akan segera selesai. Awalnya dia tidak
1705
sadar bahwa kemampuan dalam menemukan dan mengetahui
aktifitas di ruangan sebelah sebelumnya secara detail tak mampu
dia lakukan sebelumnya. Tetapi sekarang, dia mampu mengikuti
bahkan hingga jalan nafas Tio Lian Cu dan sekaligus juga tahu
bahwa Tio Lian Cu masih sedang samadhi dan juga tahu dia
masih akan butuh beberapa jam sebelum latihannya tuntas dan
selesai.
Tarikan nafas Tio Lian Cu amat jelas baginya, berjalan normal dan
juga sudah jelas sekali sudah jauh berbeda dengan sebelumsebelumnya.
“Hmmmm, Tio Sumoy juga mengalami kemajuan
yang luar biasa, sebentar lagi dia akan menyelesaikannya” desis
Khong Yan dalam hati. Dan karena memahamikenyataan itu,
maka Khong Yan akhirnya menggunakan waktu yang masih dia
miliki untuk menelaah kembali secara khusus warisan Thian Liong
Koay Hiap, yakni bagian lengkap dari Ilmu Langkah Mujijat.
Meskipun dia sudah menerima rincian dan contoh daya gerak dari
Ilmu itu, tetapi dia masih harus menyingkap beberapa hal detail
dari ilmu mujijat yang sudah dia buktikan keampuhannya pada
bagian pertahanan.
Setelah lewat dua jam, dia sudah nyaris sepenuhnya menguasai
ilmu langkah itu dan kemudian melatih dalam gerakan meski
dalam ruangan yang sempit. Hebatnya dan membuatnya jadi
1706
sangat gembira adalah, dia mampu bergerak cepat, gesit dan
bahkan di tengah ruangan yang sempit. Dia memainkan semua
gerak dan jurus yang diajarkan baik oleh Koay Ji maupun juga
oleh Thian Liong Kay Hiap sampai akhirnya dia berhenti dan
nampak tersenyum senang dengan hasil yang dicapainya.
Memang, dia harus menggunakannya dalam pertempuran
sesungguhnya untuk dapat menilai sampai dimana
kehebatannya. Seusai melatih ilmu itu, karena sadar jika dia
masih memiliki beberapa jam lagi, diapun pada akhirnya juga
mencoba mengkombinasikan langkah mujijat menyerang dengan
ilmu-ilmu suhunya. Dan dia menjadi teramat kaget karena
menemukan kenyataan betapa penggunaan dalam kombinasi itu
juga mengalami peningkatan yang luar biasa. Jauh lebih tajam,
lebih berbahaya dan pastilah sangat menyulitkan lawan jika
bertarung secara terbuka. Menggunakan bagian penyerangan
dari Ilmu Langkah Thian Liong Pat Pian, seperti membuatnya
lebih tajam, lebih menusuk dan jauh lebih membahayakan karena
bisa cepat menyutukan dan melukai lawan.
Tanpa disadarinya, Khong Yan berlatih penuh selama lima
sampai enam jam dan baru kemudian dia mendengar jika Tio Lian
Cu mulai tergugah dari samadhi dan latihannya selama sebulan
kurang lebih. Atau sebetulnya lebih dari sebulan, meski hanya
1707
lebih beberapa jam belaka. Kebetulan dia sendiripun sudah
selesai berlatih, dan karena itu dia kemudian kembali melakukan
samadhi untuk dua hal; pertama memberi kesan kepada Tio Lian
Cu bahwa dia belum selesai, dan yang kedua dia menata kembali
seluruh kekuatannya dan mengendapkan apa yang baru saja
dilatihnya dengan kekuatan dan iweekang baru yang kini sudah
menanjak amat jauh tersebut. Dan hal ini berhasil dengan baik
karena dia dapat mendengar di ruangan sebelah, sama dengan
dirinya Lian Cu kini sedang terus berlatih sambil membenahi
kondisinya sendiri. Dan, dia ikut menjadi amat gembira karena Tio
Lian Cu dengan langkah ringannya dan ilmu-ilmu silatnya juga
mengalami peningkatan yang juga tidak kurang darinya. Diamdiam
diapun memuji akan kemajuan dan peningkatan
kemampuan Tio Lian Cu, dan setelah sejam diapun selesai
dengan semuanya.
“Apakah engkau sudah selesai Khong Suheng.....”? terdengar
suara Tio Lian Cu dari ruangan sebelah. Nada suaranya amat
gembira dan sangat ceria. Tanda jika dia amat puas dengan apa
yang dia miliki saat itu. Dan dengan rendah hati Khong Yan
kemudian menjawab pertanyaannya:
1708
“Baru saja aku selesai Tio Sumoy ...... bagaimana
keadaanmu....”? tanya Khong Yan untuk tidak membangkitkan
kecurigaan Lian Cu
“Sudah selesai sejam sebelumnya Ji Suheng dan baru saja
berlatih kembali dengan ilmu-ilmu warisan Suhu. Apakah Suheng
perlu berlatih sebelum kita keluar...”? tanya Tio Lian Cu memberi
waktu kepada Khong Yan.
“Rasanya tidak perlu lagi sumoy, sudah waktunya bagi kita untuk
segera keluar. Bagaimana menurut sumoy sendiri....”? Khong Yan
bertanya kembali, padahal dia sudah tahu jawaban sebenarnya.
“Jika suheng berkata demikian, baiklah, kita boleh segera
keluar....” berkata Tio Lian Cu dan disambut dengan senyum oleh
Khong Yan yang memang sudah menduga jawaban dan
perkataan Tio Lian Cu itu.
Dan tidak berapa lama kemudian, kurang dari satu menit Khong
Yan dan Tio Lian Cu sudah bertemu di tepi sungai. Ruang atau
Tempat Rahasia yang dimaksud memang memiliki pintu khusus
yang berujung di tepi sungai, meskipun juga memiliki pintu atau
tembusan rahasia ke kamar Hu Sin Kok dan ruang kerjanya.
Tetapi, baik Khong Yan maupun Tio Lian Cu memilih pintu yang
1709
tidak menembus tempat rahasia tuan rumah. Karena itu mereka
menembus pintu ketiga atau pintu terakhir yang berujung ke tepi
sungai, dan Khong Yan memberi kesempatan bagi Tio Lian Cu
untuk mendahuluinya tiba di tempat tersebut. Dan sebagaimana
sudah ditebak dan diduga Khong Yan, disana Tio Lian Cu sudah
menunggunya dan kemudian dengan riang dan gembira
menyambutnya:
“Accchhhh, sebulan sudah berlalu Ji Suheng, dan kelihatan sekali
jika engkau sudah maju sedemikian jauhnya........” puji Tio Lian
Cu meski Khong Yan sadar jika Tio Lian Cu jauh lebih
membutuhkan pujian dirinya daripada dirinya memuji Khong Yan.
Tapi Khong Yan yang memang tulus, lebih terbiasa dengan
sopan-santun berhadapan dengan orang lain jika dibanding
dengan Koay Ji ataupun juga dengan Tio Lian Cu. Karena itu, dia
dengan mudah dapat menebak kebutuhan Tio Lian Cu untuk
dipuji: Tidak ragu diapun berkata:
“Tio Sumoy, sesungguhnya kemajuanmu masih lebih jauh lagi.
Kemampuanmu yang dapat menyelesaikan samadhi lebih cepat
dan mencapai tempat ini sepersekian detik mendahuluiku adalah
tanda yang tak bisa diabaikan......” sahut Khong Yan tetap
merendah, meski dia sudah dapat mengukur bahwa kemajuan
mereka berdua membuat mereka tetap sulit atau malah tidak
1710
dapat saling mengalahkan. “Entah dengan Sie Suci kelak.....” pikir
Khong Yan.
Tetapi, Tio Lian Cu meski memang bangga dengan umpakan
Khong Yan, tidaklah kemudian menaruhnya dalam pikiran. Meski
kemudian dia merasa sudah sedikit ada diatas kemampuan
Khong Yan, tetapi tidaklah membuatnya merasa sudah jauh lebih
berada ditingkatan atas dibanding dengan Khong Yan dan Sie
Lan In. Karena dia paham betul, apa yang terjadi hanya membuat
dia seurat tipis saja diatas dan sama sekali tidak akan
membuatnya menang secara mutlak. Dia tahu dan amatlah
oaham sudah sampai dimana kemampuan Khong Yan dan juga
tentunya Sie Lan In meski dia masih kurang jelas saat itu.
Sedangkan bagi Khong Yan di sisinya sendiri, merasa bahwa
tingkatan kemampuan mereka tidak lagi amat berarti, meski
sesekali dia juga ingin menang. Tetapi menang atas Sie Lan In
atau Tio Lian Cu bukan lagi menjadi ambisi ataupun mimpinya
pada saat itu.
Justru mimpi dan ambisinya adalah ingin menandingi ataupun
malah mengalahkan tokoh-tokoh sekelas Liok Kong Dji, Mo Hwee
Hud ataupun Bu Tek Seng Ong yang dia tahu betul kemampuan
dan kesaktiannya. Tetapi anehnya, terhadap Koay Ji dan juga
Thian Liong Koay Hiap yang sangat dihormatinya dan sangat
1711
diindahkan kemampuannya seperti juga dia mengagungkan
Suhunya sendiri, tidak terdapat rasa ingin menang melawan
mereka. Dia paham bahwa pada saat itu kemampuan dan
tingkatnya sudah nyaris imbang dengan musuh-musuh yang amat
berbahaya itu. Karena itu, Khong Yan menempatkan musuh itu
sebagai tolok ukur dimana atau ditingkat mana dia mesti berusaha
mencapainya. Bukan lagi Tio Lian Cu ataupun Sie Lan In lagi yang
menjadi tolok ukur perkembangan kemajuan ilmu silatnya. Wajar
jika dengan rendah hati dia menjawab dan seperti sengaja
memberi peluang jika Lian Cu merasa sudah melampaui
kemampuannya.
“Engkau terlalu merendah Ji Suheng, sekilas aku tahu kalau
perbedaan kita tetap saja terlampau tipis. Entah siapa kalah dan
siapa menang tapi tidak ada yang akan berjalan tegak dari arena,
untung saja engkau masih suhengku, sebab akan agak repot jika
tidak.....” balas Tio Lian Cu yang memperilhatkan sikap dan sifat
ksatria gadis ketua Hoa San Pay yang tersohor itu.
“Marilah sumoy, kita perlu bergerak cepat dengan bertanya
kepada Hu Pocu apa atau kemana kita harus menyusul kawankawan
kita....” Khong Yan segera bergerak untuk menunjukkan
jalan. Dan Tio Lian Cu mengiyakan karena teringat bahwa benar
tugas mereka memang rada berat dan banyak. Sebulan terakhir
1712
bagaimana kabar dan perkembangan, mereka sama sekali belum
tahu.
Tetapi, alangkah kagetnya Khong Yan dan Tio Lian Cu ketika
berbelok ke arah gedung utama dari tepi sungai, mereka melihat
gedung besar yang biasanya banyak orang atau banyak pelayan
bergerak kini terlihat sunyi senyap. Bukan cuma itu, ada sesuatu
yang terasa aneh dan mengganjal karena suasana yang sunyi
sepertinya teramat mencekam dan seperti ada sesuatu yang
sudah terjadi disana. Tetapi entah apa. Karena berpikir demikian,
keduanya secara otomatis saling pandang, dan saling mengerti
jika sesuatu yang aneh sedang ataukah sudah terjadi. Dan
mereka akan segera mengetahui apa gerangan penyebab,
mengapa kesunyian yang demikian mencekam amat terasa.
Setelah saling mengangguk keduanya dengan cepat sudah
bergerak mendekati gedung besar yang terdapat dalam Benteng
Keluarga Hu, tidak jauh dari tempat mereka saat itu.
Kekagetan mereka semakin menjadi-jadi karena mereka
menemukan beberapa mayat yang bergelimpangan begitu
mereka mendekati pintu masuk. Sekali pandang mereka tahu jika
itu adalah orang-orang yang selalu bertugas sebagai penjaga
gerbang Benteng keluarga Hu. Dan begitu mereka masyk,
mereka bahkan menemukan mayat hingga ke halaman gedung
1713
utama. Dan di pintu gedung utama merekapun melihat ada
berapa mayat yang sudah menggeletak, dan sepertinya mayatmayat
itu belum terlampau lama terbunuh. Melihat itu Tio Lian Cu
sudah bergumam dengan kegeraman tertahan:
“Celaka, ada apa dan berada dimana gerangan keluarga Hu Pocu
saat ini.....”? kalimat tanya ini diutarakan sambil menengok wajah
Khong Yan yang sudah berubah menjadi sama dengannya,
sama-sama gelisah dan cemas. Jelas mereka khawatir dengan
keadaan keluarga tuan rumah.
“Celaka, kita harus secepatnya masuk ke dalam gedung, sesuatu
yang menakutkan sepertinya baru saja terjadi....” ujarnya sambil
berkelabat dengan kecepatan amat tinggi mendekati gedung
dimana biasanya Hu Sin Kok menerima tamu. Tentu saja dalam
sekejap mereka sudah memasuki ruangan yang sudah mereka
kenali itu. Tetapi tetap saja mereka tidak menemukan Hu Sin Kok
serta Sam Kun juga kerabat Hu Sin Kok lainnya dalam gedung itu.
Khong Yan dan Tio Lian Cu saling pandang tetapi tidak lagi panik,
tetapi terlihat berpikir keras untuk memecahkan persoalan yang
mereka hadapi. Terlebih karena mereka kembali menemukan
sejumlah mayat dalam jumlah lumayan, ada sekitar 7,8 mayat
dalam ruangan tersebut, dan keadaan mereka mirip dengan
mayat di luaran. Tidak pelak lagi, bencana sudah menerjang
1714
datang dan sepertinya pihak Benteng Keluarga Hu seperti
tidaklah cukup siap. Dibuktikan dengan banyaknya anggota
Benteng Keluarga Hu yang terbunuh oleh serangan lawan, entah
siapa.
“Ada apa gerangan? Dimana Hu Pocu....”? desis Tio Lian Cu yang
tidak beroleh jawaban dari Khong Yan yang sedang dalam
keadaan sama penasarannya dan dan juga sama penasaran
dengannya.
“Terlambat...... kita terlambat...” desis Khong Yan setelah
memperhatikan serta juga mengamati mayat-mayat dalam
ruangan itu secara lebih saksama. Dan ketika Tio Lian Cu
memandang kepadanya, diapun kembali melanjutkan:
“Perhatikan luka dan keadaan tubuh mereka sumoy, meski masih
cukup hangat, tapi sebetulnya sudah lebih dari sejam meski masih
kurang dari tiga jam mereka semua terbunuh. Lawan mestinya
belum pergi jauh, tetapi repotnya, kita harus menolong atau
menemukan Hu Pocu terlebih dahulu.......”
Mendengar penjelasan Khong Yan, Tio Lian Cu yang meski tidak
mau kalah tetapi memiliki cukup kelapangan mengakui ketelitian
orang, beberapa saat kemudian berjongkok dan meraba nadi
1715
serta tubuh mayat terdekatnya. Dan bebetapa saat kemudian
sambil menarik nafas panjang diapun bergumam menyetujui
analisisi dan penjelasan Khong Yan sebelumnya:
“Engkau benar Suheng, benar sekali. Musuh dengan demikian
tidak lagi berada di sini, tetapi kemana Hu Pocu dan keluarganya
berada....”
“Sebaiknya kita berpencar mencari, sumoy......” baru saja Khong
Yan selesai berkata tiba-tiba hampir secara bersamaan,
keduanya mendengar suara yang sudah teramat lemah dan
nyaris sulit untuk didengarkan oleh telinga manusia biasa. Tetapi
mereka yang sudah memiliki kemampuan untuk menangkap
suara maupun erangan kecil sebagaimana suara yang mereka
dengarkan saat itu, paham ada orang yang selamat meski
sekarat. Serentak keduanya menerjang kearah belakang dan
benar, keduanya dapat menemukan sesosok tubuh yang terluka
amat parah namun masih ada nafasnya meski sudah amat lemah.
Keduanya segera mendekatinya dan menemui si korban, tentu
saja mereka bermaksud menolong agar informasi apa yang terjadi
boleh didapatkan.
Tetapi, sekali pandang saja, Khong Yan sudah angsung maklum
dengan keadaan si korban. Sebagai seorang yang pernah cukup
1716
dekat dengan Ang Sinshe dan melalui Koay Jie (terutama sejak
Koay Ji kemudian menghilang) berhubungan cukup dekat dengan
tabib itu, Khong Yan tentunya cukup mampu menilai keadaan
orang sekarat yang baru mereka temukan.
“Gawat, tak lama lagi dia akan putus nafas.....” desisnya sambil
bergegas mendekati orang sekarat itu. Tanpa ragu sedikitpun
Khong Yan segera menyalurkan kekuatan iweekangnya guna
membantu orang sekarat itu. Atau tepatnya, membantunya guna
beroleh informasi meski serba sedikit tentang bencana yang
terjadi di Benteng Keluarga Hu yang mereka temukan saat itu.
Ada kurang lebih 2 ataupun 3 menit Khong Yan berusaha
membantu menyalurkan kekuatan iweekangnya agar orang
tersebut dapat siuman meski hanya sejenak. Dan setelah
beberapa menit berlalu kelihatannya upaya Khong Yan
berhasil.......:
“Aduuuuhhhh, tolong,,,,,, Thian Liong Koay Hiap membantai
penghuni Benteng Keluarga Hu, membunuh Hu Bengcu.... dan.....
dann.........”
Hanya sepenggal informasi itu yang ditinggalkannya. Karena
setelah itu diapun meregang nyawa tanpa Khong Yan mampu
menghentikannya lagi. Siapa memang yang dapat menahan
1717
nafas orang yang sudah sedang meninggalkan raganya dan
sudah saatnya menghadap sang khalik?. Tetapi kematian orang
yang meninggalkan informasi serba sedikit itu membuat Tio Lian
Cu dan Khong Yan menjublak seakan tidak percaya dengan apa
yang mereka dengarkan. THIAN LIONG KOAY HIAP yang
melakukan pembantaian mengerikan di Benteng Keluarga HU
sampai tidak ada seorang lagipun yang hidup? Sungguh luar
biasa informasi itu. Susah dipercaya tetapi jelas mereka
mendengarkannya. Telinga mereka lebih dari sehat untuk dapat
mendengar dan menyimpulkan kalimat terakhir yang disampaikan
oleh orang yang baru saja meregang nyawa itu.
“Thian Liong Koay Hiap..? masak siy.....”? desah Khong Yan
sungguh tidak percaya. Apalagi, karena tokoh itu justru adalah
yang telah mengajarkannya setengah bagian atau bagian
penyerangan dari Ilmu Langkah Ajaib warisan suhengnya. Dan
juga Suhunya amat percaya dan menghargai tokoh itu. Mana bisa
dia percaya begitu saja dengan desahan di ujung usia orang itu?
Sementara Tio Lian Cu sendiripun berada pada posisi antara
percaya dan tidak percaya sama sekali. Seorang selevel Thian
Liong Koay Hiap, ada motivasi apa gerangan sampai harus
membunuh serta juga membinasakan seisi rumah Hu Bengcu
yang baru berapa waktu lalu dia tinggal disitu? Sungguh amat sulit
1718
untuk dipahami. Tapi, justru itu yang mereka dengarkan.
Bagaimana mereka berdua tidak kaget dan terpana dengan berita
yang serba sedikit dan amat terbatas untuk mereka dapat
membuat kesimpulahn sendir?i
“Mari, kita masih harus mengumpulkan bukti-bukti lebih jauh.....”
Khong Yan berkata sambil mengajak Tio Lian Cu untuk mencari
jejak dan petunjuk lebih jauh. Terutama, dia ingin menemukan Hu
Sin Kok untuk membuktikan bahwa apa yang dia baru saja
dengarkan itu adalah berita keliru. Tetapi, begitu jauh mereka
hanya menemukan mayat yang berserakan dan tetap tidak
menemukan Hu Sin Kok ataupun anggota keluarga Hu Pocu itu di
sekitar kompleks Benteng Keluarga Hu yang cukup luas itu. Hal
yang menambah rasa penasarannya.
“Ji Suheng, kelihatannya kita harus pergi meneliti ke jalan rahasia
keluarga Hu Pocu. Bukan tidak mungkin mereka justru masih
bersembunyi disana....”? duga Tio Lian Cu meski tidak yakinyakin
amat dengan dugaannya. Tetapi, berharap pada saat itu
bukanlah sebuah kesalahan.
“Baik, mari kita mencarinya.........”
1719
Tetapi, kemana mereka mencari? karena mereka kurang tahu dan
kurang paham letak pintu rahasia dari dalam benteng. Mereka
dibawah ke ruang rahasia melalui pintu masuk khusus di tepi
sungai, tetapi ujung atau pintu masuk dari ruang keluarga Hu
Pocu, mereka sangat tidak paham dimana letaknya.
“Hmmmm, jika tidak berada di kamar keluarga, maka mestinya
berada di ruang baca Hu Pocu” duga Khong Yan.
“Betul, mari kita periksa satu persatu........”
Di kamar keluarga, mereka tidak menemukan jalan rahasia.
Tetapi, mereka justru menemukan mayat Hu Sian Li putri kedua
Hu Sin Kok bersama dengan suaminya Kwee Hok suaminya dan
Kwee Lan putri tunggal mereka. Disana juga terlihat Oh Kun putra
tunggal putri bungsu Hu Sin Kok, Hu Wan Li dengan Oh Ci Kui.
Mereka semua terbunuh dalam keadaan yang amat mengerikan,
tersayat-sayat pedang dan penuh dengan luka-luka di sekujur
tubuh dan badan mereka berempat. Tetapi tidak ditemukan
adanya mayat Hu Sin Kok dan juga saudara angkatnya yang
selalu ada bersamanya, Sam Kun.
“Astaga,,,,,,, sungguh biadab. Tetapi, tidak pernah kulihat ada
potensi Thian Liong Koay Hiap melakukan pekerjaan sebiadab
1720
dan sekejam seperti ini. Selain itu, Tokoh aneh itu tidak pernah
terlihat menggunakan pedang dan yang lebih meragukan lagi
adalah, sudah jelas ini bukan pekerjaan satu orang saja. Padahal,
Thian Liong Koay Hiap selalu bekerja seorang diri dan tidak
dengan kawanan tertentu. Ini jelas bukan perbuatannya, tetapi
siapa gerangan? Sungguh sangatlah mencurigakan....” desis
Khong Yan semakin tambah curiga dengan apa semua yang
ditemukannya dan tidak berkaitan dengan tokoh aneh yang
dihormatinya itu. Tetapi, mengapa justru pengawal tadi menyebut
nama itu?
“Engkau benar Ji suheng, nyaris mustahil ini dilakukan Thian
Liong Koay Hiap. Mesti ada sesuatu yang dapat menjelaskan
semua kejadian ini.......”
Khong Yan dan Tio Lian Cu kemudian dengan cepat memburu ke
kamar pribadi atau kamar baca Hu Sin Kok. Tetapi mereka tidak
menemukan siapa-siapapun disana, hanya saja, amat jelas
bahwa kamar itu pernah didatangi orang yang tak dikehendaki.
Terlihat dari betapa amat berantakannya tempat tersebut, bukubuku
berserakan, bahkan senjata-senjata koleksi Hu Sin Kok
seperti pedang, kapak, tombak, kaitan, dan banyak jenis lainnya
juga bergelimpangan di lantai. Juga terdapat jejak-jejak
perkelahian dalam ruangan tersebut yang memang cukup luas
1721
dan lebar itu. Tetapi, ruangan tersebut kini sudah sunyi dan
terkesan membuat bulu kuduk mereka berdua sampai merinding
saking sunyi dan senyapnya.
“Tunggu, ada sesuatu di sekitar sini” desis Tio Lian Cu sambil
terlihat berkonsentrasi untuk memperjelas “sesuatu” yang
dicurigainya itu. Dan Khong Yan juga kemudian ikut-ikutan
berusaha melacak apa yang terlebih dahulu dilacak Tio Lian Cu,
dan kini keduanya sama-sama mencari. Saat itu, keduanya
memang sudah menanjak amat jauh sehingga suara nafas
seseorangpun dapat mereka lacak dari jarak beberapa meter
jauhnya dari lokasi mereka.
“Hmmmm, memang benar, ini tarikan nafas seseorang yang
sudah terluka. Meski berusaha menahannya, tetapi jelas sudah
terluka.......” desis Khong Yan yang juga dianggukkan dan
disetujui Tio Lian Cu.
“Kelihatannya dekat daerah sini.......” desis Tio Lian Cu sambil
mendekati dinding sebelah timur dengan amat berhati-hati sambil
terus berkonsentrasi untuk melacak asal suara nafas yang berat
tadi.
1722
“Betul.... dari arah situ..... tapi kelihatannya berada di bawah.....”
tambah Khong Yan dan membuat keduanya saling pandang.
Sebentar kemudian keduanya terihat saling mengangguk seperti
tanda saling setuju bahwa mereka mereka sudah menemukan
apa yang mereka curigai tadi. Bahwa memang benar ada jalan
rahasia menembus tempat yang selama sebulan terakhir mereka
tempati untuk berlatih. Dan tempat atau jalan rahasia itu berada
dalam kamar pribadi atau kamar baca atau kadang juga menjadi
kamar menerima tamu Hu Pocu.
Khong Yan terlihat memandang sekeliling mencoba mencari tahu
dimana gerangan letak tombol rahasia. Tetapi Tio Lian Cu sudah
bertindak jauh lebih cepat lagi dan ketika dia menghentak-hentak
lantai dan menemukan gaung di bawah lantai maka dengan
segera diapun menambah kekuatan tenaga hentakannya. Dan,
betul juga segera nampak hasilnya dengan suara keras....
“Brakkkkkk....................”
Menyusul kemudian sebuah lubang atau tepatnya liang yang
membawa mereka ke ruang bawah tanah segera muncul di
hadapan mereka berdua. Dan Tio Lian Cu segera berkata sambil
bergegas meloncat masuk kedalam, atau lebih tepatnya dia
meloncat ke bawah:
1723
“Ini, pastilah ini jalannya.......”
Tetapi, baru saja dia turun ke bawah, Lian Cu segera merasakan
sesuatu yang agak aneh. Perasaan yang mengatakan bahwa dia
tidak sendirian di jalan rahasia itu, dan orang lain sudah pasti
bukan Khong Yan, karena Khong Yan masih berada di atas di
ruangan pribadi Hu Pocu dan belum lagi turun.
“Tecu Tio Lian Cu, apakah ada orang di dalam........”? pada
akhirnya Tio Lian Cu berkata dengan suara yang cukup jernih.
Dan setelah perkataannya itu, akhirnya Tio Lian Cu mendengar
orang bernafas atau tepatnya menarik nafas panjang dan lega.
Bahkan kemudian disusul dengan suara yang agak lemah:
“Lohu Kim Shia (Si Sesat Bercahaya Emas) Sam Kun, tetapi
sedang terluka yang cukup parah..... engkau tolonglah terlebih
dahulu cucu-cucu sahabatku ini” terdengar suara seseorang yang
cukup dikenal Tio Lian Cu. Ternyata dalam jalan rahasia yang
berbentuk terowongan itu bersembunyi Sam Kun, saudara angkat
Hu Pocu yang sedang terluka itu. Dengan cepat Tio Lian Cu
berjalan mendekat, ada sekitar 10 meter jarak mereka dan segera
menemukan Sam Khun yang sedang berbaring terluka cukup
berat. Dan dalam jarak kurang dua meter darinya, Tio Lian Cu
yang dengan cepat sudah direndengi Khong Yan, melihat dua
1724
orang bocah berumur 12 dan 10 tahun yang juga berbaring dalam
keadaan tertotok. Mereka bukan lain adalah cucu-cucu dari Hu
Pocu, yakni Hu Kong dan juga Hu Lan.
Keduanya adalah putra dan putri dari Hu Sin Tiong Pat Ciu Thian
Cun (Malaikat Tangan Delapan) yang juga adalah putra sulung
dari Hu Pocu dan istrinya Hoa San Sian Li (Dewi dari Hoa San)
Kho Sian Lian. Boleh dibilang, kedua bocah itu masih merupakan
keponakan Tio Lian Cu berhubung Kho Sian Lian adalah juga
anggota Hoa San Pay. Tetapi, keduanya juga sekaligus adalah
keponakan murid dari Khong Yan, karena Hu Sin Tiong pernah
ikut selama setahun kepada Bu Tee Hwesio dan diaku juga
sebagai murid.
“Keduanya terpaksa lohu totok karena tidak mau mengikuti
perintah kakeknya dan lohu, sebentar lagi totokan mereka pasti
akan segera terlepas. Harap kalian berdua, untuk coba mengejar
Hu Pocu yang dibawah oleh Thian Liong Koay Hiap dengan
gerombolan yang bersamanya. Meski susah diterima akal, tetapi
memang dia tokoh yang tadi menyerang Benteng Keluarga Hu,
mereka membawa Hu Toako kurang dari dua jam yang lalu.......
pergilah, lohu masih dapat bertahan......” sambil berkata demikian,
Sam Kun terlihat meringis tetapi memang masih cukup kuat.
1725
Mendengar keterangan Sam Khun, Tio Lian Cu dan Khong Yan
saling berhadapan. Khong Yan bertindak cepat, dia
mengeluarkan sebutir pil dan menyerahkan kepada Sam Kun dan
kemudian berkata:
“Pil ini amat ampuh dari perguruanku, pasti akan amat membantu.
Locianpwee pasti dapat bertahan, kami berdua akan mencoba
mengejar penjahat....” sambil berkata demikian Khong Yan
berdua Tio Lian Cu segera bergerak. Tetapi mereka sempat
mendengtar Sam Kun berkata:
“Mereka membawanya pergi ke arah utara.........”
Tetapi, setelah setengah jam lebih mereka mencari, tidak satupun
mereka temukan jejak dari Thian Liong Koay Hiap dan Hu Sin
Kok. Tetapi, mereka justru mendengar percakapan orang
disebuah kedai yang menyebutkan ditemukan sesosok mayat ke
arah barat yang dipantek di sebuah pohon yang daunnya sudah
pada layu. Dan memang benar, mereka, para penyerang Benteng
Keluarga Hu, pergi ke arah yang salah, bukan keutara menurut
Sam Kun tadi, tetapi kearah timur, atau barat dari posisi Khong
Yan saat di kedai itu. Lian Cu dan Khong Yan tidak terlampau
detail memperhatikan info yang salah dari Sam Kun. Mereka
berdua hanya menduga bahwa kemungkinan orang tua itu
1726
memang benar memberi jawaban, tetapi pihak lawan kemudian
merubah arah ketika dalam perjalanan.
Dan kurang dari 10 menit kemudian, Tio Lian Cu dan Khong Yan
menemukan mayat Hu Sin Kok yang terpantek di sebuah pohon
yang cukup besar dan di bawah pohon sudah terlihat beberapa
anak buah Kaypang. Keterkejutan Khong Yan dan Tio Lian Cu
sama besar dengan orang-orang yang kelihatannya juga baru
menemukan mayat Hu Sin Kok terpantek di sebatang pohon
besar yang mulai mengering itu. Daun-daun pohon itu bahkan
sudah mengering dan jatuh layu. Mayat Hu Sin Kok berada kurang
lebih 3 meter dari permukaan tanah dan terpantek di batang
pohon yang daun-daunnya sudah gugur dan runtuh sehingga
menyolok mata orang yang lewat sekitar daerah itu.
“Sungguh biadab.......” desis Tio Lian Cu berdesis sambil
kemudian bergerak dan berkelabat cepat dan sudah melayang ke
arah mayat Hu Sin Kok yang secara kasar dan biadab dipantek
ke pohon itu.
“Sam sumoy, perlahan dulu......” Khong Yan ikut berkelabat
dengan kecepatan yang tidak kalah dengan Tio Lian Cu karena
melihat ada sesuatu yang rada-rada aneh dengan posisi tubuh Hu
Sin Kok yang sudah almarhum itu.
1727
“Hei,,,,,, siapa kalian.......” serentak orang-orang atau anggota
Kaypang yang ada kurang lebih tujuh orang bergerak, tetapi tidak
dapat berbuat apa-apa melihat betapa cepat dan tinggi
kemampuan Khong Yan dan Tio Lian Cu. Sampai akhirnya
mereka hanya saling pandang menunggu apa yang akan
dilakukan kedua tokoh muda yang gerakan dan kemampuan
mereka amat cepat itu. Dan mereka semakin terpana saat melihat
Khong Yan dan Tio Lian Cu yang tiba dan mendarat di kedua
cabang kecil yang sudah rapuh dekat tubuh mendiang Hu Pocu.
“Ada apa Ji suheng.......” tanya Lian Cu begitu mereka samasama
mendarat di pohon rapuh pinggiran hutan itu.
“Perlahan sumoy, jangan sampai kita menghancurkan bukti dan
jejak....” Khong Yan mengingatkan dan dan diiyakan oleh Lian Cu.
Dan mereka berdua benar menemukan sesuatu yang sebetulnya
memang dibuat secara mencolok mata di dekat tubuh atau mayat
Hu Pocu. Mayat Hu Pocu atau juga Bengcu Tionggoan
sebelumnya sebetulnya masih dalam keadaan yang utuh. Tetapi
yang menyayat hati dan menimbulkan amarah tokoh persilatan
adalah tubuh tokoh itu justru dipantek di pohon rapuh dekat hutan
dan masih berada di pinggiran jalan. Dan di atas mayat tokoh
persilatan itu ada tulisan tangan yang akan cukup membuat orang
1728
gentar, ditulis dengan tangan di batang pohon yang sudah rapuh.
Tulisannya jelas terbaca oleh Lian Cu dan Khong Yan:
“HUKUMANKU ATAS TOKOH PERSILATAN YANG
MUNAFIK......”
THIAN LIONG KOAY HIAP
“Buat apa Thian Liong Koay Hiap Locianpwee membunuh dan
meninggalkan jejak sedemikian mencolok? Bahkan lawanlawannya
dari Bu Tek Seng Pay saja tidaklah dibunuhnya, hanya
dipunahkan kepandaian mereka. Hmmmmm, benar-benar bodoh
si pemfitnah ini....” gerutu Khong Yan yang tidak terima dengan
dengan fakta betapa tokoh yang dihormatinya difitnah sedemikian
rupa.
“Benar Ji Suheng, kupikir kerjaan ini sama sekali bukan hasil
karya locianpwee itu. Lebih tepat yang melakukan ini adalah
gerombolan Bu Tek Seng Pay..... tetapi, mari kita kuburkan
terlebih dahulu mayat Hu Pocu baru kemudian kita menemui Sam
Khun Locianpwe untuk meminta keterangan.......”
Karena adanya sejumlah anggota Kaypang, Khong Yan dan Tio
Lian Cu akhirnya malah beroleh bantuan yang mereka amat
butuhkan, sekaligus beroleh berita lain yang cuckup penting.
1729
Ketujuh anggota Kaypang itu ditugaskan Tek Ui Pangcu untuk
segera menyusul Thian Liong Koay Hiap guna memberitahukan
sebuah berita penting yang ditulis dalam sebuah surat. Sayang
surat itu tidak boleh dibuka. Tetapi, salah seorang anggota
memberitahu, amat mungkin untuk meminta bantuan tokoh aneh
itu tentang hilang dan terculiknya ketiga orang muda, yakni Kwan
Kim Ceng, Oey Bwee dan Nadine. Besar kemungkinan ketiga
tokoh muda ini diculik kawanan Bu Tek Seng Pay, tetapi masih
belum dapat segera dipastikan dan sedang diselidiki. Untuk itu
Thian Liong Koay Hiap diminta untuk segera balik guna bertemu
Pangcu Kaypang. Berita yang membuat Khong Yan dan Tio Lian
Cu menjadi tertarik dan saling pandang penuh arti. Karena
mereka memang harus segera menyusul Bu San segera setelah
sebulan lewat, dan mencari Bu San, konon harus dengan
menemui Pangcu Kaypang saat ini, Tek Ui Sinkay. Apa salahnya
mereka yang menempuh atau menggantikan si tokoh aneh untuk
menyelamatkan ketiga anak muda itu? Toch latihan merekapun
sudah selesai.
Tetapi meski sudah muncuol niat dalam hati merekia, tetapi tentu
saja sebelum melakukannya, mereka berdua harus terlebih
dahulu menyelesaikan urusan yang berkaitan dengan mayat Hu
1730
Pocu. Tetapi Tio Lian Cu segera memperoleh akal dan tanpa
menunggu Khong Yan diapun berkata:
“Cuwi sekalian, terima kasih, selaku Ciangbudjin Hoa San Pay
kami mohon bantuan cuwi untuk memakamkan puluhan anggota
Benteng Keluarga Hu. Kami berdua akan memakamkan Hu Pocu
dan sesudah itu mencari kedua cucunya yang masih hilang serta
mengobati Sam Khun Locianpwee. Jika cuwi semua tidak
keberatan, maka sebaiknya segera juga kabarkan berita ini
kepada Tek Ui Pangcu. Kabarkan juga kami berdua akan segera
turun tangan untuk membantu menyelidiki kejadian ini, sementara
yang lainnya bisa langsung melanjutkan perjalanan untuk mencari
Thian Liong Koay Hiap hingga bertemu .......”
“Baiklah Tio Ciangbudjin, kami bersedia membantu........”
Selesai urusan memakamkan semua anggota keluarga Hu Sin
Kok, Khong Yan dan Tio Lan Cu kembali menemui Sam Kun dan
kedua cucu Hu Sin Kok. Kini mereka sudah aman di ruang rahasia
milik Hu Pocu, berdekatan dengan tempat yang berapa waktu lalu
digunakan Khong Yan dan Tio Lian Cu untuk berlatih. Tidak
berapa lama mereka sudah menemukan ruangan itu, tetapi Sam
Khun masih dalam posisi samadhi, sementara kedua cucu Hu Sin
Kok terlihat sedang tertidur. Atau tepatnya ditotok oleh Sam Kun
1731
agar tertidur mengingat keadaannya yang sangat berat, terluka
dan tidak bisa melakukan apa-apa.
“Tidak mungkin Thian Liong Locianpwee yang melakukannya.....
hmmmm, mestinya ada orang lain yang menggunakan
namanya.....” gumam Khong Yan yang memang punya hubungan
dengan tokoh aneh itu, meski dia sama sekali belum mengenal
bahwa adalah Koay Ji yang menyaru sebagai tokoh aneh itu.
Yang penting baginya, bukan Thian Liong Koay Hiap.
“Akupun merasa amat banyak kejanggalan dibalik peristiwa ini.....
apalagi, menurut anggota Kaypang tadi, adalah Tek Ui
Kaypangcu yang meminta dan menugaskan si orang aneh itu
untuk tugas yang cukup jauh dari sini....... dan, bukan gaya
locianpwe itu untuk main bunuh dan memamerkan korbannya
dijalanan..... hal ini tentu saja amat mengherankan dan sungguh
aneh....” jawab Tio Lian Cu menyahuti perkataan Khong Yang
yang memang juga menjadi bahan perenungannya.
“Tidak menjadi aneh jika mengingat bahwa kita dengan
locianpwee itu dewasa ini sedang berhadapan dengan kekuatan
luar biasa dari pihak Bu Tek Seng Pay....” desis Khong Yan yakin
1732
“Ach, engkau benar Ji Suheng... hal itu memang sangat tidak bisa
kita abaikan. Tapi, tetap saja kita butuh bukti”
“Hmmmm, dengan mata telanjang lohu jelas-jelas menyaksikan si
bangsat Thian Liong Koay Hiap itu. Kepandaiannya, wajah dan
gerak-geriknya, sudah pasti adalah si tokoh bangsat itu...... awas
kalau bertemu lohu.....” tiba-tiba terdengar suara keras Sam Kun
yang ternyata sudah siuman.
“Achhh Sam Kun Locianpwee,,,, bagaimana keadaanmu
sekarang, apakah sudah rada baikan....”? tanya Khong Yan
melihat Sam Kun meski masih sedikit agak pucat wajahnya tetapi
sudah jauh lebih bugar.
“Lukaku teramat parah, pukulan bangsat itu memang luar biasa.
Kelihatannya lohu masih harus berlatih sampai setahun baru bisa
pulih kembali...... acccchh, memang hebat pukulan manusia
munafik itu......”
“Locianpwee,,,, benarkah......”?
“Sudah pasti, mata tua lohu pasti tak akan salah. Postur tubuh,
kehebatan ilmunya, semua adalah tanda-tanda manusia munafik
berjulukan Thian Liong Koay Hiap. Satu hal kupesankan, jangan
membunuh bangsat itu sampai lohu kembali setahun kedepan,,,,,,
1733
harus kusembelih bangsat itu dengan tanganku sendiri........”
wajah dan eskpresi murka Sam Khun sungguh mengerikan.
Belum lagi Khong Yan kembali bertanya, terdengar dia berkata
atau tepatnya bertanya lagi,
“Bagaimana, apakah siauwhiap berdua menemukan jejak Hu
Toako...”? pertanyaan yang membuat baik Khong Yan maupun
Tio Lian Cu terdiam. Untung saja karena penerangan dalam
ruangan rahasia itu memang terbatas, maka akhirnya perubahan
wajah mereka tak terlacak oleh Sam Kun. Tetapi, Khong Yan tetap
saja sambil menarik nafas panjang menjawab dengan berhatihati....
“Locianpwee,,,, kami berdua memang melakukan pengejaran
dengan secepatnya beberapa jam sebelumnya. Tetapi, mohon
maaf Locianpwee, karena kami hanya dapat menemukan mayat
Hu Pocu dan baru saja kami memakamkannya dengan bantuan
beberapa anak murid Kaypang.......”
Dan mendengar jawaban Khong Yan, diluar dugaan kedua anak
muda itu, Sam Kun hanya terlihat tercenung sebentar, tidak
emosional. “Sungguh hebat, dia dapat menguasai dirinya dengan
baik” desis Khong Yan dalam hati. Karena memang, bukannya
meluap emosinya sebagaimana dugaan Khong Yan dan Lian Cu
1734
semula, sebaliknya Sam Kun justru terlihat menarik nafas panjang
dan dengan wajah penuh duka, setelah berkali-kali menarik nafas
duka, dia berkata dengan suara yang jelas namun agak perlahan:
“Terima kasih jiwi siauwhiap sudah memakamkan toakoku, sejak
awal sudah kuduga dia mestinya lebih banyak celakanya
ketimbang selamat. Dan mendegar sejelasnya nasibnya, maka
sudah saatnya lohupun mengundurkan diri dari tempat yang
penuh kenangan ini. Lohu harus merencanakan untuk membuat
persiapan pembalasan, tetapi, mohon jiwi siauwhiap coba
melakukan penyelidikan lebih jauh lagi. Karena, diantara para
penyerang yang semuanya sama menggunakan topeng,,,,,,
rasanya lohu mencurigai keterlibatan Mo Hwee Hud atau mungkin
lebih tepatnya, anak-anak muridnya. Kelak, biarkan Lohu
melakukan pembalasan sendiri, atau kelak anak cucu toako harus
melakukannya.......”
“Sam Kun Locianpwee, percayalah, kami berdua akan melakukan
penyelidikan itu. Bahkan kami akan ikut untuk melakukan
pembalasan atas apa yang para penjahat itu sudah lakukan
kepada keluarga Hu Pocu...........” terdengar Tio Lian Cu ikut
nimbrung gara gara dia sendiri memang sudah amat murka dan
sedih dengan apa yang menimpa keluarga Hu Pocu yang dia
hormati. Apalagi, salah satu keluarga Hoa San Pay, juga adalah
1735
anak menantu dari Hu Pocu yang anak-anaknya kini berada di
dalam ruang rahasia itu bersama dengannya.
“Baiklah, tentu saja Lohu percaya dengan ucapanmu berdua.
Apalagi engkau selaku Hoa San Ciangbudjin maupun engkau
selaku murid Bu Te Hwesio. Karena itu, maka ijinkan lohu pergi
sekarang guna melakukan proses penyembuhan luka-luka lohu
ini. Amat tidak mungkin kulakukan di tempat ini, karena besar
kemungkinan mereka akan memburuku hingga kemari karena
berhasil meloloskan kedua cucu toakoku ini. Mengenai kedua
cucu toako ini, adalah lebih baik kubawa serta, kelak setahun
kedepan kami akan munculkan diri kembali di Tionggoan. Harap
jiwi siauwhiap beritahukan kepada kedua orang tua mereka
bahwa Lohu membawa mereka dan akan tinggal di rumah
lamaku.....”
“Dimana gerangan tempat tinggal lama locianpwee, biar akan
kusampaikan kepada Hu suheng ketika bertemu nanti.....”? tanya
Khong Yan yang memang belum begitu kenal dengan Sam Kun,
beda dengan Tio Lian Cu yang beberapa kali hadir dalam rapat
bahkan sebelum perayaan ulang tahun Hu Pocu. Bukannya
menjawab, Sam Khun malah berjalan menjauh dan mendekati
ranjang tempat kedua cucu Hu Pocu berada. Pada titik itulah
1736
terlihat sekilas sinar mata Tio Lian Cu bersinar aneh, dan dalam
sepersekian detik dia kemudian berseru:
“Locianpwee, perlahan dulu....” sayang sekali, kekurang
pengalaman Tio Lian Cu justru membuat suaranya bergetar.
Mendengarkan nada suara bergetar itu, bukannya berhenti, justru
“Sam Khun” terlihat melangkah jauh lebih cepat lagi. Dan pada
saat itu Tio Lian Cu mengambil keputusan yang cepat dan tepat.
Tubuhnya berkelabat dalam kecepatan yang amat tinggi sambil
dengan suara teramat tegas dan keras terdengar dia berkata:
“Hmmmm, sudah kukatakan perlahan locianpwee......”
Pada saat yang sangat singkat itu terjadi tiga kejadian yang
berentetan, bahkan jika dihitung terjadi dalam waktu kurang dari
dua detik. Ketika mendengar bentakan dari Tio Lian Cu, Sam Kun
terlihat bergegas, bergerak cepat dan tangannya mengibas
kearah dua bocah cilik yang berjarak sekitar 3,4 meter darinya.
Sedang Tio Lian Cu mengejar dan melihat gerakan mengibas
Sam Kun yang berjarak sekitar 4 meter darinya, tangannya
segera bergerak mengirimkan serangan maut. Pada saat yang
nyaris bersamaan, Khong Yan yang selalu awas dengan kedua
anak suhengnya, juga bergerak cepat dengan melontarkan dua
1737
buah kerikil dengan kekuatan pukulan iweekang Pouw Tee Pwe
Yap Sian Sinkang.
“Blaaaaarrrrrr, tukkkk..... tukkkkkkk.......”
Sam Kun memang berhasil menghindar, tetapi kedua senjata
rahasianya terpukul melenceng oleh Khong Yan. Tetapi, untung
bagi Sam Kun, dengan menghindar kekiri, dia menuju ke lubang
keluar yang lain, cabang jalan rahasia yang lain yang justru
mengantarnya langsung ke tepi sungai. Sementara Tio Lian Cu
yang ingin mengejar tertahan oleh seruan Khong Yan:
“Biarkan Sam Kun bangsat itu pergi sumoy, lain kali kita bisa
menemukannya. Saat ini, lebih penting menolong orang........”
Memang benar, lebih penting menolong kedua anak kecil yang
nyaris menjadi korban keganasan Sam Kun. Tetapi Tio Lian Cu
berkata:
“Dia bukan Sam Kun, ada berapa bagian yang mirip, tetapi
gelagatnya dia bukan Sam Kun Locianpwee yang kukenal.....”
gumam Tio Lian Cu yang kemudian segera mengikuti langkah
Khong Yan mendekati ranjang batu dimana kedua anak kecil Hu
Kong dan Hu Lan putra dan putri Hu Sin Tiong suheng Khong Yan.
1738
“Untung mereka hanya tertotok dan tidur dengan nyenyak
karenanya......” berkata Khong Yan setelah melihat dan meneliti
keadaan kedua keponakan muridnya itu. Tapi, dalam waktu yang
nyaris bersamaan dengan Tio Lian Cu, Khong Yan melihat
sesuatu atau tepatnya seseorang berada di belakang ranjang
batu setinggi nyaris satu meter itu. Dan sesosok tubuh itu amat
mirip dengan “Sam Khun” yang baru melarikan diri beberapa
waktu lalu.
“Echhhh, ada orang......” desis Khong Yan kaget, lebih kaget lagi
melihat seseorang dibalik ranjang itu ternyata adalah Sam Kun.
Dan segera dia menjadi paham dengan sendirinya dan saling
pandang dengan Tio Lian Cu yang juga mengangguk kearah
dirinya dan tersenyum. Tetapi, untuk berjaga-jaga Lian Cu
mendekat dan kemudian bertanya dengan suara tegas:
“Jika tidak keliru, ini pasti adalah Sam Khun Locianpwee yang asli.
Benarkah demikian Locianpwee.....”? berkata atau bertanya Tio
Lian Cu yang dengan cepat mengenali Sam Khun namun
memandang wajahnya untuk meminta penegasan. Sam Kun atau
orang dibalik ranjang batu itu terdengar batuk beberapa kali
setelah urat gagunya dibebaskan
1739
“Uhuk, uhuk...... kalian berdua boleh menanyakan langsung
kepada kedua cucuku itu apa yang terjadi......” jawab Sam Kun
sambil menunjuk kedua orang anak yang masih tertidur nyenyak
sejak tadi.
“Hmmmm, kelihatannya memang harus demikian sumoy, kita
haru bertanya kepada kedua ponakan murid kita ini. Maafkan
kami Locianpwee, bagaimanapun kami harus berjaga-jaga..”
berkata Khong Yan sambil kemudian bergerak untuk
membangunkan Hu Kong dan Hu Lan kedua keponakan
muridnya. Dan tidak berapa lama kemudian kedua anak itupun
sadar dan bangun dari tidurnya:
“Jiwi sutit... bagaimana keadaan kalian.....”? tanya Khong Yan
dengan lembut sambil mengawasi kedua anak malang itu.
“Accchhhh Khong Susiok....... bagaimana keadaan kong-kong
dan kedua adikku yang lain......? ach, Suhu (keduanya memang
memanggil Sam Kun sebagai Suhu), bagaimana keadaanmu....”?
Hu Kong yang lebih dewasa meski masih gagap tapi lebih tenang
ketimbang Hu Lan yang terus menangis dalam pelukan Tio Lian
Cu sejak dia siuman tadi.
1740
“Sutit,,,,,,, kenalkah engkau dengan Sam Locianpwee ini.....”?
tanya Khong Yan hati hati untuk tidak menyinggung Sam Kun.
“Ecchhhh, Suhu memang bisa melukai musuh tinggi besar itu
dengan parah, tetapi musuh itu lihay dan bisa berpura-pura mati
dan ketika Suhu lengah dia berhasil menotok suhu dan
meletakkannya dibalik ranjang kami” berkata Hu Kong sekaligus
meredakan kecurigaan Khong Yan dan Tio Lian Cu kepada Sam
Kun. Tidak salah lagi, penjelasan Hu Kong mempertegas dan
memperjelas status Sam Kun yang identitasnya sempat dicuri dan
dipalsukan oleh “Sam Kun” palsu sebelumnya. Dan tidak ragu
keduanya minta maaf kepada Sam Kun asli.
“Suhu, Susiok, bagaimana keadaan kakek dan ibu........”?
bertanya Hu Lan diiringi tangis yang tak tertahankan. Memang,
Hu Lan selain dekat dengan ibunya, juga dekat dengan Sam Kun
yang menjadi saudara angkat kakeknya, sekaligus juga menjadi
Suhu mereka berdua kakak beradik. Uniknya, selain dengan Hu
Sin Kok, Sam Kun hanya merasa dekat dan bisa bermain-main
secara bebas dengan Hu Kong dan Hu Lan dan sangatlah
menyayangi kedua cucu sahabatnya itu.
“Sudahlah Lan ji........” bisik Sam Kun sambil membujuk Hu Lan
tetapi kehabisan kata kata untuk menjawab pertanyaannya.
1741
“Sam Kun Locianpwee...... siapa gerangan para penyerbu yang
ganas itu...” Lian Cu bertanya dengan berbisik, menggunakan
ilmu khusus yang ditujukan kepada Sam Kun. Tetapi, sayangnya
Sam Kun sendiripun masih belum dapat menebak siapa gerangan
musuh yang dapat dilukainya meskipun harus secara menggelap
karena dia lebih paham jalan rahasia ini. Karena itu orang tua itu
berkata kepada Lian Cu dengan suara biasa:
“Tidak salah lagi, mereka adalah anak murid Mo Hwe Hud meski
gembong iblis itu sendiri tidak datang. Tetapi, mereka jika lohu
tidak salah, masih dibantu oleh orang orang atau tokoh dari Tiang
Pek Pay. Dan ini membuat posisi Hu Pocu serta lohu sampai
sangat kewalahan. Selain itu, jika tidak salah, tokoh yang
melukaiku dan kemudian menyamar sebagai diriku bernama
Jamukha, seorang jago luar biasa dari daerah Mongol. Entah
mengapa tokoh itu juga munculkan diri di Tionggoan. Ach, naganaganya
persoalan akan semakin rumit.......”
“Hmmmm, jelas ini perbuatan Bu Tek Seng Pay.....” desis Khong
Yan murka dengan penyerbuan dan pembantaian di benteng
Keluarga Hu.
1742
“Benar anak muda,,,,,,,, mereka mencoba merusak nama Thian
Liong Koay Hiap, tapi sayang masih ada kami bertiga yang dapat
menjadi saksi.......” jawab Sam Kun dengan suara mantap.
“Acchhhhh, kita harus bergegas.....” bisik Tio Lian Cu
“Hmmmmmm, benar Tio Ciangbudjin.... untuk berhasil upaya
mereka, maka pastilah Jamukha akan memanggil bala bantuan.
Sebetulnya lohu bisa melukainya secara berat, tapi entah
mengapa dia sembuh demikian cepatnya.......” keluh Sam Kun
yang membuat Khong Yan merasa amat bersalah. Tetapi, posisi
mereka yang berbahaya membuatnya harus dengan cepat
mengambil keputusan:
“Mari, kita dapat bersembunyi di tempat rahasia satunya lagi.
Tetapi, sayang aku kurang paham dimana jalannya......” keluh
Khong Yan yang sangsi dan kini menatap Sam Kun mohon
pertimbangan.
“Lohu paham, mari kita segera kesana.....”, cepat Sam Kun
mengerti apa maksud tatapan Khong Yan kearahnya.
Baru selesai Sam Khun berkata dan mereka bersiap untuk dapat
berlalu, tiba-tiba terdengar ribut-ribut meski masih sayup, dan
1743
jelas suara itu berasal dari pintu masuk dan mengarah jalan
rahasia itu.....
“Mereka sudah datang..... ayo cepat.....” bisik Tio Lian Cu sambil
menggendong Hu Lan sementara Hu Kong berada dalam
perlindungan Khong Yan. Di depan adalah Sam Kun yang
mengambil jalan memimpin mereka semua meski berjalan
dengan sedikit sempoyongan karena. Dapat dimaklumi, karena
memang dia masih belum pulih total setelah sekian lama ditotok
dan dibebaskan jalan darahnya dari totokan oleh Tio Lian Cu.
Tetapi karena kondisi darurat, dapat juga Sam Kun terus melaju
ke depan, kemudian berbelok kekanan ke arah dimana Jamukha
tadi berlalu. Tetapi hanya kurang lebih 10 meter, diapun kemudian
menekan sebuah tombol yang amat sulit dicari dengan mata biasa
kecuali memang tahu betul letaknya. Dan sebuah pintu yang lain
terbuka, berjalan sekitar 20 meter lagi, tibalah mereka di ruang
yang selama sebulan terakhir menjadi tempat berlatih Khong Yan
dan Lian Cu.
“Jangan ribut dan jangan bersuara..... kelihatannya mereka
membawa banyak orang dan bala bantuan, bukan tidak mungkin
ada yang memiliki kepandaian setingkat Jamukha yang berlalu
tadi....” bisik Khong Yan mengingatkan kepada semua orang agar
lebih berhati-hati.
1744
“Hmmmm, jika mereka terus berusaha mencari, maka besar
kemungkinan tempat ini bakal mereka temukan. Berbahaya bagi
Kong Ji dan Lan Ji, karena itu, sebaiknya kualihkan mereka dari
dalam terowongan rahasia ini.....” berkata Tio Lian Cu dan tanpa
menunggu persetujuan siapapun dia melangkah mencari pintu
keluar.
“Sumoy, terlalu berbahaya......” desis Khong Yan yang mencoba
untuk mencegak kepergian Tio Lian Cu meski dia tahu pasti akan
gagal.
“Hmmmm, aku tidak akan berhadapan muka dengan mereka
suheng, hanya akan berusaha mengalihkan perhatian agar
pencarian mereka di jalan rahasia ini segera berakhir......” desis
Lian Cu sebagai jawaban
“Baiklah, tapi hati-hati......”, dengan terpaksa Khong Yan
menyetujui, karena sekali lagi, memaksa Tio Lian Cu tidak akan
ada gunanya.
Tapi benarkah Lian Cu hanya sekedar ingin mengalihkan
perhatian para pemburu itu? Entahlah. Yang pasti dengan cepat
dia keluar dari jalan rahasia di tepi sungai sebagaimana dia tadi
1745
berapa jam sebelumnya juga keluar dari situ, dan kini kembali
memasuki rumah yang memiliki jalan rahasianya.
Tetapi sebelum memasuki rumah itu, selagi masih berada di
halamannya yang memang terhitung cukup luas itu, dia sudah
berhadapan dengan beberapa orang yang mengenakan pakaian
yang semuanya nyaris mirip. Mereka semua rata-rata
mengenakan topeng, terkecuali 3 orang yang wjahnya dicat
seperti besi dan pandangan mata mereka persis seperti robot.
Tiada cahaya, tidak ada sinar, dan tidak bergerak sama sekali,
persis seperti robot yang berdiri tegak tidak bergerak dan
menunggu berintah belaka. Entah siapa mereka gerangan?
Tetapi sayangnya tak ada satupun yang dapat dikenali oleh Tio
Lian Cu. Tetapi dari cara orang terdepan berdiri dan
menyambutnya, dia langsung tahu jika berhadapan dengan tokoh
yang cukup berisi dan tangguh.
“Hmmmm, engkau tentu salah satu yang lolos di jalan rahasia
itu........”? bertanya si tinggi besar yang kini menghadapi Tio Lian
Cu dan memandangnya penuh curiga tetrapi juga terlihat sangat
merendahkan.
“Hikhikhik, jika benar bagaimana.......”? tanya Lian Cu jenaka,
padahal dalam hati sudah panas membara dan siap menerjang.
1746
Tetapi, menghadapi pertanyaan lawan, sudah tentu Tio Lian Cu
berpikir seribu kali untuk tanpa babibu menyerang orang. Meski
dia tahu benar orang dihadapannya adalah orang jahat. Meski
sesungguhnya dia sudah sangat ingin maju menerjang dan jika
memungkinkan akan memukul roboh binasa lawan yang
sombong itu.
“Hmmm, jika benar, maka engkau membawa dirimu ke
pambantaian Nona. Sayang sekali masih semuda dan secantik
engkau tetapi harus kami tawan.....”
“Mampukah engkau? hikhikhihik... atau jangan-jangan hanya
besar dimulut belaka”? goda Tio Lian Cu yang jahilnya tiba-tiba
muncul mendengar begitu takaburnya lawan tinggi besar
dihadapannya itu.
“Hmmmm, engkau cukup sombong Nona, maju, tangkap dia
hidup-hidup....” perintah si tinggi besar sambil menoleh kepada 5
orang yang tinggi dan besarnya nyaris mirip satu dengan yang
lainnya dan sejak tadi berdiri di sampingnya. Dan perintah itu
dengan cepat sudah bersambut disertai dengan teriakan
mengguntur:
“Awas serangan.........”
1747
Tapi, meskipun Tio Lian Cu sedikit kaget akibat serbuan kelima
orang itu, bukanlah berarti dia kerepotan dan terdesak. Lian Cu
rada kaget karena kepandaian kelima orang yang menyerangnya
secara bersamaan sedikit diluar perkiraannya. Awalnya dia
mengira kepandaian mereka masih rendah, tetapi ketika mereka
mengadakan perlawanan dengan saling membela, maka
kekuatan mereka ternyata dapat berlipat ganda. Tio Lian Cu cepat
sadar bahwa keistimewaan mereka adalah dalam hal bekerja
sama, karena jika maju seorang demi seorang, dia merasa pasti
akan dengan mudah menang. Tetapi ketika mereka maju
bersama, berlima dengan saling bela, saling bantu satu dengan
yang lain, serta terlebih mereka maju dengan satu ilmu kerjasama
atau barisan yang tertib, maka Lian Cu merasa tidak boleh
pandang enteng atas lawan-awannya itu.
Tetapi, setelah berlatih satu bulan, bukan hanya kemampuannya
dalam menguasai ilmu silat dan iweekang yang melonjak jauh.
Selain itu, ketajaman dan kepekaannya dalam memandang serta
mengevaluasi kemampuan lawan, kecepatan, daya serang lawan
serta pertahanan lawan, meningkat amat jauh. Oleh karena itu,
Tio Lian Cu dengan cepat mampu menyesuaikan daya tarungnya,
baik dalam hal pertahanan, menyerang, jurus jurus serangan dan
pertahanan serta pengerahan iweekangnya. Maka setelah
1748
dicecar lawan selama 10 jurus dan lebih banyak mengelak sambil
menilai dan memperhatikan keistimewaan lawan-lawannya,
dengan tiba-tiba Lian Cu menerjang balik hingga mengejutkan
kelima lawannya. Mereka tidak menduga dan menyangka jika
lawan mereka yang masih muda itu dapat dengan cepat merubah
keadaan, dari terserang berbalik menyerang.
Serangan Tio Lian Cu bukan hanya cepat, tetapt dan terukur,
tetapi yang terutama kekuatan yang terkandung dalam
pukulannya memang bukan main kuatnya. Lian Cu belum begitu
menyadari jika kekuatannya saat ini sudah melaju jauh
dibandingkan sebulan sebelumnya. Wajar jika dia mengerahkan
kekuatan yang terlampau hebat hingga mengakibatkan kelima
lawannya menjadi jerih dan segera berkurang jauh kejumawaan
mereka. Benturan antara mereka mengakibatkan kerugian bagi
kelima orang itu dan sampai membuat mereka semua terdorong
4,5 langkah ke belakang. Untung saja Lan Cu masih belum berniat
burut terhadap mereka dan belum cukup paham dengan akibat
benturan antara mereka. Coba seandainya dia berniat untuk
segera menang dan mengalahkan kelima lawannya itu.
Seandainya Lian Cu mengerti bahwa kelima lawannya adalah
tokoh-tokoh maut pada saat itu, dia pasti akan girang luar biasa.
Kelima lawannya adalah Tiang Pek Ngo Ong (Lima Raja dari
1749
Tiang Pek), tokoh-tokoh puncak hanya dibawah Pangcu Tiang
Pek Pay yang misterius. Bahkan, jika mereka bergabung, mereka
masih akan mampu sedikit diatas kemampuab Pangcu mereka
sendiri meski jika maju seorang demi seorang kekuatan mereka
justru merosot jauh. Tetapi saat itu, Lian Cu mampu mendorong
dan menyudutkan mereka berlima meski dia sendiri masih sedikit
tergetar. Memang pada saat itu Tio Lian Cu memainkan Ilmu
Hong In Pat Jiauw (ilmu Delapan cengkeraman angin dan Mega)
andalan Suhunya dan Ginkang Liap In Sut (Ginkang Mengejar
Awan) hadiah Bu In Sinliong. Ginkang ini pada gilirannya jadi
favorit utamanya dan sudah menjadi landasan bergerak
andalannya melampaui ginkang ajaran suhunya sendiri.
Kedua ilmu itu tanpa disadari Lian Cu sudah memberi dampak
yang jauh melampaui kemampuannya sebulan sebelumnya.
Cengkeraman yang dengan cepat berubah menjadi dorongan
dengan kekuatan iweekangnya mampu menggempur kelima
lawan hebat itu. Hal yang sebenarnya patut dibanggakan tetapi
karena Lian Cu tidak mengerti siapa lawannya sehingga tidak
mendatangkan kegembiraan baginya. Coba jika dia tahu siapa
lawannya?
Menyadari jika lawan mereka ternyata adalah seorang Nona yang
berisi, membuat kelima Raja Tiang Pek itu menjadi terangsang
1750
untuk bertarung secara lebih hebat lagi. Pada saat itu Pangcu
Perguruan Misterius Tiang Pek Pay, yang bukan lain adalah Ki
Leng Sin Ciang (Raksasa Telapak Tangan Sakti) Ma Hiong,
belum begitu sadar dengan kehebatan Tio Lian Cu. Dia masih
memandang dengan remeh meskipun Lian Cu dapat menggedor
kelima wakilnya dalam gebrakan pertama tadi. Begitupun dia
masih beranggapan bahwa itu disebabkan anak buahnya yang
lalai dan terlampau memandang remeh gadis cantik yang masih
terlampau muda untuk menjadi lawan berat mereka semua. Dia
hanya tidak sadar saja, atau masih belum bisa mengetahui jika
Gadis Muda yang cantik itu justru adalah Ciangbudjin Hoa San
Pay pada saat itu. Ciangbudjin termuda dalam sejarah Ho San
Pay. Seandainya dia tahu, sangat mungkin dia masih tetap
memandang remeh sebelum dia merasakan secara langsung
sengatan gadis didikan Thian Hoat Tosu itu.
Kelima anak buahnya pada saat itu sudah sadar jika lawan
mereka yang masih muda itu bukanlah lawan ringan. Pukulan
gadis itu yang mendorong mereka, sempat mereka tangkal
dengan kekuatan iweekang mereka tetapi masih juga tetap
memberi dampak buruk. Mereka terdorong berapa langkah ke
belakang. Ach, tapi itu sangat mungkin karena kelengahan
belaka. Mungkin begitu cara berpikir mereka berlima. Dan
1751
sekarang, mereka membuka serangan dengan gaya dan cara
yang amat serius, berbahaya dan sangat mematikan.
Memandang Tio Lian Cu sebagai lawan berat yang harus diawan
secara serius. Melihat keseriusan kelima anak buah andalannya
itu, barulah sang Pangcu tergetar dan mulai memperhatikan
arena pertarungan dengan lebih serius. Jika kelima anak buahnya
sampai seserius itu, maka lawan mereka mestinya bukanlah
lawan sembarangan. Ini yang menyentak dan mengejutkan sang
Pangcu.
Pada saat itu Tiang Pek Ngo Ong (Lima Raja dari Tiang Pek)
sudah bergerak dengan mengembangkan Ilmu Langkah dan
Ginkang khas mereka, yakni Ngo Sing Pou (Langkah Lima
Bintang). Ilmu ini aslinya dari Ilmu Jit Sing Pou (Langkah 7
Bintang) yang merupakan ginkang khas Tiang Pek Pay yang
dimiliki oleh Ma Hiong. Tetapi, para sesepuh Tiang Pek San
secara khusus telah menggubah ilmu ini guna menjadi ciri khas 5
Raja Tiang Pek yang selalu berganti setiap generasi, dan justru
jika dimainkan berlima kehebatannya menjadi meningkat. Ketika
bergerak dengan gaya indah yakni Kim Lun Hoan Sin (Roda emas
menggelinding), dan disertai pukulan Tok Liong Ciang Hoat (Ilmu
Telapakan Tangan Naga Berbisa) dalam gaya Han Mo Tui Ho
(Setan Kedinginan Mengejar Api), kehebatan mereka segera
1752
terasa oleh Tio Lian Cu. Apalagi karena tingkatnya saat ini sudah
cukup tinggi dan mampu merasakan adanya hawa aneh beracun
dari lontaran pukulan kelima lawan yang bergerak secara hebat
itu.
“Hmmmmm, racun...... sungguh ilmu gabungan berlima yang luar
biasa....” desis Tio Lian Cu dalam hati. Tetapi, bukannya takut,
gadis manis ini justru menjadi semakin bersemangat dan sontak
kekuatannya yang sebenarnya mulai meluncur begitu saja berkat
perlawanannya terhadap lima pengeroyoknya yang memang
hebat dalam pertempurannya di arena saat itu.
Tetap bergerak dengan Liap In Sut (Ginkang Mengejar Awan),
tetapi kini dia mulai menyelinginya dengan kedua ilmu pusakanya,
yakni ilmu Hong In Pat Jiauw (Ilmu Delapan cengkeraman angin
dan Mega) dan juga Ilmu Pa Hiat Sin Kong (Ilmu sakti menotok
jalan darah). Menghadapi terjangan berbisa lawan, dengan cepat
dia bergerak dalam gaya indah khas seorang perempuan, yakni
Liang Cie Yauw (Dua Sayap Bergoyang), disusul dengan indah
yang dinamakan Gerakan Giok Li Touw Kang (Wanita elok
menyeberang sungai). Kedua gerakan tersebut sengaja dilakukan
bersambung berhubung kelima lawannya bergerak bersamaan
dalam lima titik meruncing dan menyerang secara bergantian.
Tetapi sambil gadis itu bergerak menghindar, pukulan dan totokan
1753
yakni Thian Ki Hiat' di iga kanan seorang lawan disusul dua buah
totokan Hoa Kay Hiat' jalan darah di bagian pundak kiri kedua
lawan lainnya juga dilakukannya secara gesit. Akibat totokannya
secara beruntun dalam Ilmu Pa Hiat Sin Kong (Ilmu sakti menotok
jalan darah) membuat kelima lawannya harus bergerak cepat
menghindar dan menyerang.
Dengan segera dan amat cepatnya kelima orang itu, bergerak
dalam gaya unik Kim Lun Hoan Sin (Roda emas menggelinding)
yang membuat seluruh totokan Lian Cu buyar. Dan bahkan tiga
serangan beruntun serentak dilakukan dalam jurus yang sama,
dengan gerak tipu Tiat Le Koan Jit (Baju besi menutup matahari).
Dari terserang mereka balik menyerang, dan diawali dengan
bergeraknya mereka dalam berlima secara bersamaan sehingga
bisa menyamarkan serangan yang mereka bangun. Tetapi
sayangnya, Tio Lian Cu yang baru muncul kembali setelah
sebulan berlatih keras sudah memiliki bayangan serta kesadaran
baru atas kemampuannya. Bahkan naluri serta pemahamannya
atas gerak ilmunya juga meningkat secara luar biasa. Jurus
menghindar yang lemas sekaligus efektif yakni jurus Thian Lie
Kay Tay (Bidadari meloloskan sabuk) membuatnya mampu
menghindar dengan indah dan cantik. Tetapi lebih dari sekedar
menghindar diapun bergerak cepat dan lemas sambil menyerang
1754
ketiga lawannya sekaligus dalam jurus Bwee Swat Tiauw Goat
(Kembang Bwee mekar menghadapi rembulan). Dengan
gerakannya ini, bukan saja dia dapat menghambat serangan
ketiga lawannya, tetapi malahan juga mampu menyerang balik
dengan kekuatan yang menggetarkan kelima lawan dari Tiang
Pek itu. Sontak serang menyerang dan saling mencari
kesempatan terjadi dengan amat seru dan silih berganti.
Belum cukup dengan itu, pada saat sebelum kelima lawannya
bergerak bersamaan dia mencecar dengan ilmu pusaka Hoa San
yang amat lihay, yakni dengan jurus toya yang sudah digubah
menjadi pukulan. Aslinya adalah jurus Liong Pang Heng Ouw
(Toya naga melindungi telaga) dari Ilmu Pusaka Thian Lo Sin
Kuay Hoat (lmu silat tongkat sakti jatuh dari langit). Cecarannya
yang terakhir sungguh luar biasa, karena memang berasal dari
ilmu ampuh Hoa San Pay yang sudah lama tidak lagi dimainkan
di daratan Tionggoan. Kelima lawannya sempat tercerai berai dan
sempat bergerak secara kacau tidak lagi dalam irama dan barisan
sebagaimana biasanya. Dan kondisi ini jelas memberi peluang
besar bagi Tio Lian Cu untuk mendesak kelima lawannya dengan
lebih hebat. Tetapi, bukannya mencecar mereka hingga kalah,
sebaliknya justru Tio Lian Cu memberi mereka waktu untuk
bersatu kembali guna melanjutkan pertarungan mereka.
1755
Ada apa? Apakah Lian Cu tidak tahu bahwa dia berada pada titik
yang bakalan memenangkan pertempuran jika melanjutkan
serangannya? Sebenarnya bukan karena Lian Cu tidak paham.
Tetapi lebih karena dua alasan: Pertama, dia merasa senang
karena kelima lawannya mampu memancingnya mengeluarkan
ilmu pusaka perguruan dan mengeluarkan kemampuan
terbaiknya. Kelima lawannya bukanlah lawan lemah, dan
sebenarnya dia belumlah akan menang, hanya memenangkan
peluang untuk berbalik mendesak kelima lawannya. Kedua, dia
melirik sebentar guna memastikan kemunculan Sam Khun dan
Khong Yan yang bertugas untuk mengamankan kedua cucu Bu
Pocu yang sudah menjadi korban lawan. Dan kedua alasan itu
yang membuat Lian Cu memberi kesempatan dua hingga tiga
detik lawan mengambil nafas dan kembali dalam barisan. Mereka
sadar, lawan muda yang juga seorang gadis itu adalah lawan
berat, sangat berat, tetapi kelihatannya seperti masih kurang
pengalaman. Benarkah?
Sementara itu, kesimpulan yang sama juga berkelebatan di benak
Ma Hiong. Pangcu Tiang Pek Pay itu beranggapan sama, bahwa
Lian Cu yang mengagetkan itu ternyata masih mentah. Meski
memang benar kesimpulannya tentang Lian Cu yang masih
mentah, tetapi kesombongannya menutupi fakta bahwa dalam
1756
gebrakan awal, Lian Cu telah membobol barisan kebanggan
perguruannya. “Ach, mungkin amat kebetulan dia membuat anak
buahku keteteran, dan mereka berlima jelas amat memandang
enteng Nona itu.....” simpul Ma Hiong. Kesimpulan yang wajar,
siapa yang dapat dengan rela menerima kekalahan pihaknya
ketika berhadapan dengan pihak yang jelas-jelas terlihat berada
dibawah kemampuan mereka? dan kesimpulan keliru namun
wajari ini, juga diidap oleh Ma Hiong yang tak rela perguruannya
kalah oleh gadis muda yang belum dikenal ini.
“Maju, serang dengan menggunakan Ilmu Ko bok ciang (Pukulan
Kayu Kering). Serang dia secara bergantian niscaya kemenangan
di pihak kita......”
Tidak menunggu lama, kelima lawan Lian Cu kembali maju
menyerang. Sekali ini lebih cepat dan lebih tertata karena
maklum, lawan mereka bukanlah lawan yang dapat dengan
mudah mereka tundukkan. Sebaliknya, mereka sudah merasakan
kopi pahit dari lawan yang masih muda itu. Dengan cepat dan
beruntun merekapun menyerang dengan jurus Hui Hong Soan
Tah (Angin puyuh mengitari pagoda) dan disusul dengan jurus
Lam Hay Liu Sui (Air mengalir dari Laut Selatan). Jurus pertama
sepertinya mengandung kekuatan mitis yang mempengaruhi
gerak dan terutama pikiran orang, dan pada saat guncang mereka
1757
menyerang dengan gaya dan cara yang cerdik. Membuka pintu
utara dan menutup pintu selatan, menyerang satu arah namun
dengan lima pukulan dari lima orang secara bergantian. Itulah
makna dan maksud utama jurus Hui Hong Soan Tah.
Yang berbahaya bukan hanya konsentrasi yang terpecah, tetapi
juga hawa beracun yang dikombinasikan dengan iweekang yang
amat kuat yang mendorong pukulan itu mengarah ke sejumlah
titik mematikan. Tetapi, untungnya Lian Cu sudah menguasai Ilmu
Tot Ing Sam Ciang sejenis Ilmu Suara atau sejenis Ilmu Sihir
melalui Suara yang baginya saat itu berfungsi sebagai IImu
Ampuh pemunah Ilmu Sihir. Menyadari adanya getaran yang
aneh dan istimewa, Tio Lian Cu yang sudah amat waspada sejak
awal segera berteriak sambil bergerak dengan jurus Thian Lie
Pian In (Bidadari menari di dalam awan),
“Haiiiiittttt.....”
Sebanyak tiga kali dia mengelak dengan gerakan indah atas lima
buah pukulan beracun lawan. Pukulan yang tidak membuatnya
takut karena dia mengenakan pusaka pelindung yang
dihadiahkan Bu In Sinliong pada masa kanak-kanaknya. Pusaka
pelindung yang juga dimiliki oleh Koay Ji, bahkan bahannya
sebenarnya berasal dari Koay Ji yang bersahabat dengan para
1758
monyet di hutan sekitar gua dimana Bu In Sinliong bertapa.
Setelah tiga kali mengelakkan serangan pukulan lawan yang
mendatangkan hawa amis itu, Lian Cu menjadi jemu dan dengan
cepat dia kemudian bergerak ringan dengan langkah kaki meliuk
dan secepatnya bergerak dalam jurus Siang Liong Coan Tah (Dua
Naga Menembus Menara) dan ketika bebas, dia balik menyerang
lawan dengan mengarah ke bagian-bagian yang rada berbahaya.
Yang repot adalah 2 penyerang terakhir, karena mereka
bukannya pada membuat Lian Cu repot, justru mereka yang
kewalahan dan harus dilindungi ketiga kawan mereka dan
membuyarkan kepungan dengan jurus Angin Mengitari Pagoda
tadi. Kini, kepungan mereka justru berusaha melindungi kawankawan
mereka yang di serang, tetapi Lian Cu tidaklah bodoh.
Menghadapi lawan yang saling membela, Lian Cu kembali
menyerang dengan tipu Siao Khauw Tek Ko (Anak monyet petik
buah) dan bahkan disusul dengan jurus Lian Hoan Tui Kong
(Tendangan berantai di angkasa). Gerakan yang amat indah
ketika dia mengejar lawan dengan jurus dan gerakan monyet
(diapun memiliki ilmu dan gaya ini, sama dengan Koay Ji yang
mempelajari dari Suhunya). Tetapi gaya lucu itu menjadi
berbahaya ketika susulannya berupa tendangan berantai dengan
segera mencecar mereka berlima. Untungnya, kerjasama mereka
1759
memang sangat efektif dan membuat mereka mampu membela
diri. Meski tidak terdesak, tetapi jelas bahwa mereka akan
kesulitan untuk mengalahkan Lian Cu. Bukan hanya mereka
berlima, tetapi bahkan Ma Hiong juga semakin jelas melihat
bahwa anak buahnya masih tidak akan mampu mengalahkan
gadis itu. Kekuatan iweekangnya hebat, gaya dan jurus
serangannya bervariasi dan membawa tipu yang luar biasa. Serta
sekaligus pandai menggunakan jurus sederhana yang tepat
waktu dan momentum dalam menggunakannya, sehingga
mendatangkan hasil yang hebat. Dengan cermat Ma Hiong
meneliti dan mendapatkan kesimpulan, bahwa meski tidak akan
kalah dalam waktu dekat, tetapi lama kelamaan anak buahnya
akan kerepotan. Hal yang makin lama makin jelas terlihat.
Selesainya Ma Hiong menilai, anak buahnya kembali bergerak
dan kini dengan jurus berbeda, menggunakan jurus Liu Sui Pian
Lou (Air mengalir berubah arah). Dan memang kehebatan mereka
adalah bisa menyesuaikan dengan cepat dan berganti arah
dengan sama cepatnya baik ketika sedang menyerang maupun
sedang dalam posisi bertahan. Menghadapi serangan-serangan
Tio Lian Cu yang mulai mencecar mereka, dengan cepat mereka
berubah arah serangan dan arah gerakan bersama. Dan jurus
tersebut segera memberi mereka peluang untuk bertahan dan
1760
bahkan sesaat punya peuang untuk menyerang. Dan ketika
itupun mereka manfaatkan dengan menyerang melalui jurus Hay
Tee Tan Cu (Mencari mutiara di bawah laut) disusul dengan jurus
Hui Hong Lam Hay (Angin puyuh yang datang dari selatan).
Seperti sebelumnya, pukulan kayu kering yang mereka lontarkan
selalu disertai atau membawa hawa beracun yang amat
berbahaya. Berbahaya sekaligus mematikan lawan yang tak
paham racun.
Tetapi atas kerubutan mereka yang mencecar banyak tempat
mematikan itu tidaklah membuat Tio Lian Cu Panik. Karena
secara tiba-tiba tubuhnya meletik ke udara dan bergeraklah kedua
lengannya dalam jurus Thian Lie Tek Hoa (Bidadari memetik
kembang) sembari membagi-bagi serangan sambil juga
mengelakkan serangan serangan lawan-lawannya. Dan ketika dia
kembali menjejak tanah, dia bererak cepat dengan jurus Kim So
Heng Kong (Rantai emas melintangi sungai). Gerakangerakannya
ini membuat serangan yang dirancang lawan terhenti
dan membuat mereka mau tidak mau kembali dalam barisan
untuk saling menolong menghadapi serangan beruntun Tio Lian
Cu.
Tetapi pada saat itu, tiba-tiba terlintas keinginan “liar” dalam diri
Tio Lian Cu untuk mencoba dirinya sampai dimana batasnya.
1761
“Hmmmm, saat yang tepat melatih Ilmu Mujijat Tiang Kun Sip
Toan Kim. Kapan lagi? Mereka berlima adalah ujian yang tepat
dan lebih dari hebat untuk saat ini......” pikirnya. Dan seusai
berpikir demikian, Lian Cu kemudian memilih Ilmu tersebut, ingin
mengujinya bagaimana bergerak sesuai dengan bagaimana cara
lawan bergerak. Prinsip ilmu mujijatnya memang sederhana tapi
cukup beresiko, tergantung kematangan dan kesempurnaan serta
juga ketabahan. Semakin lawan cepat bergerak, semakin engkau
gesit, semakin lawan kuat, semakin engkau licin dan lemas…..
semua tanpa batas, melawan dengan cara yang tepat, dengan
gaya yang sesuai......
Pertarungan selanjutnya menjadi seperti sebuah ujian bagi Lian
Cu, tetapi semakin lama bertarung, semakin dia merasa sangat
senang. Dia bergerak lincah, gesit, dan terkadang bagai sedang
menari di tengah kerubutan lima lelaki yang dengan galak dan
menyeramkan mengejarnya. Tetapi, sampai 25 jurus berlalu, saat
dimana Ma Hiong menikmatinya dengan senyum kemenangan,
tetap saja dia tidak tersentuh. Kadang cepat dan amat cepat,
kadang gesit dan lincah meski tidak terlalu cepat, kadang gemulai
dan terlihat sedikit lamban tetapi tetap tak tersentuh oleh
serangan kelima lawannya itu. Setelah 25 jurus berlalu, Ma Hiong
mulai mengernyitkan kening dan berpikir dengan kaget:
1762
“Jika dia tidak terdesak, Ilmu Mujijat apa gerangan yang sedang
dimainkannya dan sukses menghadapi kami......”?
Pertanyaan yang tepat. Pertanyaan itu pula yang mulai
mendatangkan keraguan bagi kelima Raja Tiang Pek itu. Ketua
merekapun akan keteteran menghadapi jika mereka maju berlima
dalam barisan Raja Tiang Pek. Tetapi, gadis muda ini, terlihat
tenang, menikmati saat dengan garang mereka menghujaninya
dengan sejumlah pukulan berat dan mematikan. Berulang kali
mereka merubah jurus, merubah jurus cepat nan mematikan
dengan jurus lambat berkekuatan gajah, tetapi tetap saja gadis
muda itu berhasil menghadapi mereka. Tidak nampak rasa
jerihnya, tidak juga terlihat rasa takutnya, justru semakin lama dia
semakin tenang dan terlihat percaya diri. Sesekali saja dia
menangkis ataupun mendorong pukulan, selebihnya dia balas
menyerang untuk memunahkan serangan, bergerak diantara sela
pukulan lawan dan kemudian kadang seperti gemulai menari-nari.
Dengan cepat lebih 50 jurus berlalu dengan Lian Cu belum pernah
sedikitpun oleh lawan dapat didesak. Sebaliknya, ada beberapa
kali dia membuat lawan-lawannya keteteran dan harus saling
bantu dalam barisan untuk bertahan. Selewatnya 25 jurus lagi, Ma
Hiong, Ke 5 Raja Tiang Pek akhirnya sadar, mereka tidak bakalan
mampu menerobos dan menjatuhkan Lian Cu. Mungkin bisa jika
1763
dilakukan dalam waktu yang amat panjang dan lama. Tetapi untuk
saat itu, mereka tidak mampu mendesak dan mengalahkan Lian
Cu. Mereka tidak tahu, jika Lian Cu juga berpikir demikian.
“Hmmmm, meski bisa mendesak mereka, tetapi butuh waktu
panjang guna mengalahkan mereka berlima....... tapi, biar
kutunggu Khong Suheng sebelum menerjang mereka, biar
mereka mengejar-ngejarku dulu......”
Tetapi, baru saja Kelima Raja Tiang Pek itu bergerak memukul,
tiba-tiba terdengar suara yang lantang dan menggedor dada
banyak orang:
“Tahan...........”
Seiring dengan itu, tiba-tiba di depan Tio Lian Cu sudah berdiri
seorang pemuda. Dan ternyata adalah Khong Yan yang sudah
menyambut gebrakan kelima orang penyerang dengan
mendorong kedua lengannya sekaligus kedepan dan kemudian
menggerak-gerakkannya. Kelihatannya dia sepertinya mengatur
sesuatu dengan gerakan kedua lengannya itu. Dan akibatnya,
berbeda dengan Tio Lian Cu yang hanya mampu mendorong
mereka hingga beberapa langkah kebelakang – sekali ini, mereka
sampai terhuyung-huyung ke belakang. Bukan karena Khong Yan
jauh lebih hebat dan kuat sebenarnya, tetapi karena mereka
1764
berlima belum mengerahkan kekuatan sepenuhnya untuk
menyerang lawan yang baru datang. Sementara Khong Yan,
sebetulnya dalam hal iweekang, justru masih sedikit melebihi
kekuatan Tio Lian Cu. Karena itu, sangat wajar jika kemudian
Kelima Raja Tiang Pek itu terhuyung-huyung ke belakang setekah
benturan hebat itu.
Setelah mendorong kelima orang itu mundur, Khong Yan
kemudian berbalik untuk menghadapi Lian Cu sambil menegur:
“Sumoy, sudah kubilang jangan sampai terlibat pertempuran.......”
terdengar suara Khong Yan seperti menyesalkan Lian Cu.
“Hikhikhik, suheng, tanganku gatal-gatal untuk mencoba apa yang
kupelajari selama sebulan terakhir. Ternyata hasilnya amat
memuaskan........ aku barusan melatih ilmu khususku dan
ternyata mereka tak mampu menyentuhku, tidak mampu
memukul dan juga tak mampu mengejarku.......” girang terdengar
suara Tio Lian Cu manakala menjelaskan kepada Khong Yan
yang baru datang.
Tetapi, belum lagi Khong Yan berkesempatan untuk menjawab
atau merespons perkataan Tio Lian Cu, tiba-tiba terdengar
1765
bentakan dari dalam rumah yang tadinya sedang dituju oleh Lian
Cu:
“Kurang ajar, itu mereka para pengganggu yang usilan itu......
mana Sam Kun si manusia mau mati dan kedua bocah cilik itu...”?
teriak orang yang menjadi pemimpin para pendatang itu, dan
sekali lihat Tio Lian Cu dan Khong Yan sudah tahu jika yang
datang adalah si penyaru Sam Khun. Tapi, dandanannya sudah
berantakan dan tidak begitu mirip Sam Kun lagi seperti ketika
Khong Yan dan Lian Cu bertemu dengannya sebelumnya. Sam
Kun palsu segera melompat mendekati arena sambil menuding
Khong Yan dan Tio Lian Cu yang hanya sekedar menoleh tetapi
kemudian lanjut bercakap antara keduanya.
“Suheng, bagaimana dengan Sam Khun locianpwee dan kedua
ponakan muridmu? Apa mereka selamat....”? tanya Lian Cu
“Tenang sumoy, Sam Kun Locianpwee sudah membawa mereka
pergi. Kelak pada saatnya, biar kita bersama Hu Suheng pergi
mencari mereka...... Locianpwee itupun sudah menjelaskan
alamatnya”
“Acccch, syukurlah......”
“Sudah saatnya kita pergi dari sini......” bisik Khong Yan
1766
“Hmmm, tapi aku ingin memberi mereka sedikit pelajaran
suheng.....”
Belum lagi mereka mengambil keputusan, tokoh yang tadinya
menyaru sebagai Sam Khun terlihat sudah saling angguk dengan
Ma Hiong. Dan tak lama terdengar diapun memberi komando
sambil memandang 3 orang yang sejak tadi terlihat seperti robot,
amat kaku gerakannya seperti robot tapi cepat dalam bergerak;
“Serang mereka.......” sambil menunjuk ke arah Khong Yan dan
Lian Cu. Tetapi karena Khong Yan membelakangi mereka, adalah
Tio Lian Cu yang kemudian memapak mereka dan pecah
pertempuran baru. Sementara itu, Kelima Raja Tiang Pek yang
didorong mundur oleh Khong Yan, segera menyerang kembali
dan sekali ini dengan penuh perhitungan dan kekuatan. Dalam
waktu singkat, pertarungan kini berubah menjadi dua arena, dan
segera Lian Cu dan Khong Yan maklum mengapa sampai Sam
Khun terpukul kalah dan Hu Pocu sampai terbunuh.
Pertarungan antara Khong Yan melawan Kelima Raja Tiang Pek
berlangsung seru, tetapi berbeda dengan Lian Cu, Khong Yan
memiliki keampuhan terutama dalam hal iweekang. Selain itu, jika
ingin mengelak dan menghindar, dia mampu melakukan secara
lebih menakjubkan berbeda dengan Lian Cu yang kalah seperti
1767
kalan, tetapi tidak dapat mereka sentuh sama sekali. Tetapi,
Khong Yan yang lebih serius jikalau dibanding dengan Lian Cu,
langsung menghadapi Kelima Raja Tiang Pek itu dengan serius,
keras dan tidak mengalah. Oleh karena itu, Kelima Raja Tiang Pek
merasa melawan seorang yang lebih kuat, lebih berbahaya
ketimbang Tio Lian Cu.
Di arena sebelah, Tio Lian Cu memperoleh kenyataan yang amat
mengagetkan. Dia menghadapi gerakan-gerakan kaku namun
cepat dari lawan-lawannya. Tetapi, hal itu belum seberapa. Dia
beberapa kali berhasil memukul lawan-lawannya berjumlah 3
orang itu, tetapi dia seperti memukul besi atau baja. Dia melihat
sehebat apapun pukulannya, tetap tidak mampu melukai ketiga
lawannya itu, untungnya diapun juga memiliki kekebalan serupa.
Keuntungan lainnya, ketiga lawannya kali ini bergerak tidaklah
secepat dan serapih kelima lawan sebelumnya. Tetapi, karena
dipukul tapi tidak mendatangkan efek apapun, membuat Lian Cu
menjadi kaget dan terhenyak kaget. “Siapa manusia-manusia ini
gerangan”? pikirnya tak habis mengerti.
Kembali ke Khong Yan, sejak awal dia sudah tahu jika kelima
lawannya bukan orang orang lemah. Karena pengetahuan itu,
maka dia sudah memainkan Ilmu Iweekang andalan Suhunya,
Pouw Tee Pwe Yap Sinkang yang memiliki keampuhan yang
1768
bahkan sudah menyamai suhunya sendiri. Kemampuannya
dalam menyedot dan mengurangi kekuatan iweekang lawan serta
menggiring iweekang lawan hingga juga membenturkannya
dengan kawan dari lawannya membuat kelima lawannya benar
benar keteteran. Dalam 10 jurus pertama saja Ma Hiong sudah
langsung sadar bahwa kerjasama kelima murid atau anak
buahnya tidak akan mempan melawan Khong Yan. Berbeda
dengan Tio Lian Cu yang banyak memberi mereka angin guna
berlatih, maka Khong Yan tidaklah demikian. Khong Yan jauh
lebih serius dan paham bahwa dia harus menggertak lawan agar
dapat meninggalkan tempat itu tanpa harus mengalami kerugian.
Apalagi begitu dia melihat posisi Lian Cu yang meski tidak
terdesak tapi sering nampak keheranan dengan lawan yang
susah untuk dilukai dengan pukulan apapun.
Keseriusan Khong Yan terutama karena dia sendiripun sama
dengan Tio Lian Cu sangat ingin menguji kemampuannya.
Sampai dimana gerangan kemampuannya jika menggunakan
Iweekang Pouw Tee Pwe Yap Sian Sinkang, dan begitu saatnya
dia melakukannya, dia sendiripun girang. Meski tidak mengetahui
siapa lawannya, tapi dia sangatlah paham bahwa sebulan
sebelumnya, dia pasti akan kesulitan jika harus melawan kelima
orang ini. Tetapi fakta bahwa dia mampu merepotkan bahkan
1769
membuat kelimanya terdesak membuatnya gembira dan senang,
tanda bahwa dia sudah mengalami kemajuan yang tidak sendikit.
Apalagi ketika dia mencoba pukulan andalan suhunya Ilmu Hud
Keng Ciang (Ilmu Pukulan Tenaga Budha) dan juga sesekali
memainkan ilmu hadiah suhengnya, Ilmu Langkah Thian Liong
Pat Pian (Naga Langit Berubah Delapan Kali). Semuanya sangat
memuaskan hatinya, dan tumbuhlah rasa percaya dirinya yang
semakin tebal dan semakin membuatnya punya sandaran dan
andalan untuk bertindak.
Diawali dengan jurus sederhana jurus Yap Te Tou Ko (Dibalik
daun mencuri buah) disusul kemudian dengan Jurus Yu Liong
Tam Jiau (Naga memain ulur kukunya) Khong Yan mencecar
kelima lawannya. Dengan dorongan Iweekang Budha miliknya
yang sudah maju sangat jauh itu, dengan cepat dia membagi bagi
pukulannya kepada kelima lawannya itu. Dan ketika mereka
dalam posisi yang amat runyam, Khong Yan melepas jurus
berbahaya untuk menyelesaikan pertarungan yang memang
hebat itu dengan jurus Lian Tay Pay Hud (Di atas panggung
teratai menyembah Budha). Apa boleh buat, kelima lawannya
terpaksa haruslah saling bantu dan bahkan memusatkan
kekuatan iweekang mereka untuk tidak nanti terpukul roboh
lawan. Keadaan mereka agak berat, dan jika terpukul meski
1770
belum terluka tetapi pasti akan amat memerosotkan daya juang
mereka. Dan dalam posisi berbahaya ituah terdengar suara:
“Awas........”
Terdengar suara bentakan dari samping kirinya, dan Khong Yan
agak kaget, karena kekuatan pukulan lawan yang datang justru
jauh melampaui kekuatan salah satu dari kelima lawannya. Dalam
terkejutnya, Khong Yan akhirnya bergerak cepat dalam sebuah
ilmu andalannya, yakni Ilmu Langkah Thian Liong Pat Pian (Naga
Langit Berubah Delapan Kali). Tentu saja Khong Yan tidak mau
keberhasilan pukulannya terhadap Kelima Lawan Tiang Pek
harus dia bayar dengan luka akibat menerima pukulan lawan.
Karena itu, dengan cepat dia bergerak, angin pukulannya
memang tetap menerjang lawan tapi kekuatan pukulan sudah
jauh berkurang. Karena itu, nyaris tidak ada efek merugikan yang
dirasakan kelima lawannya, dan hal ini tentu membuat mereka
senang. Tadinya mereka sudah paham bahwa mereka kalah
tenaga dan bisa terpukul luka meski luka ringan. Tetapi merasa
mereka justru tidak terluka dan mendapati Pangcu mereka turun
tangan dan tidak meminta mereka untuk berhenti, membuat
mereka sadar bahwa lawan memang hebat.
1771
Dengan cepat mereka bersiap dan melihat Khong Yan kini
bertarung seru melawan Ma Hiong, Pangcu mereka dari Tiang
Pek San. Mereka sadar, Pangcu merekapun masih belum lawan
sepadan, masih kalah seurat. Karena itu, bukannya mundur,
kelima orang itu justru bersiap untuk kembali mengeroyok Khong
Yan. Apalagi, dalam beberapa saat, merekapun melihat Ma Hiong
sendiripun tidaklah ungkulan melawan Khong Yan dan selalu
terdesak. Dalam sebuah kesempatan, terlihat jelas bagaimana
pukulan Ma Hiong meleset kesamping dan dengan segera dia
terancam pukulan Khong Yan. Posisi yang amat kritis, tetapi
dengan manisnya Ma Hiong menghindar dan mundur ke dekat
kelima anak buahnya. Bahkan diapun segera berkata dengan
suara serak:
“Bentuk Liok Sing Pou Tin (Barisan Langkah 6 Bintang)........”
Tidak menunggu lama, terbentuklah sebuah barisan dengan Ma
Hiong di depan dan kelima anak buahnya membentuk segi lima.
Kini bersama mereka menghadapi dan menunggu serangan
Khong Yan. Tetapi setelah melihat lawan dalam satu barisan,
Khong Yan cukup sadar jika perlawanan mereka mestinya
bakalan jauh lebih alot dan lebih berbahaya. Tetapi tentu saja dia
tidak menjadi takut dan tidak menjadi gentar meski tidak langsung
memutuskan menyerang lawan. Semakin hebat lawan, justru
1772
semakin baik baginya untuk mengukur sampai dimana tingkat
kemajuannya setelah dikeram atau mengeram diri selama
sebulan. Sejauh ini dia sudah gembira dengan kemajuan yang
dicapainya, dan sekarang adalah kesempatan mengetahui
sampai dimana batas kemampuannya.
“Serang........”
Menunggu serangan Khong Yan tidak datang-datang juga, Ma
Hiong akhirnya membuka kebekuan dengan mengeluarkan
perintah menyerang. Dan Khong Yan yang ingin tahu batasnya
dengan cepat memapak mereka dengan ilmu langkah yang
sangat dipercayainya sejak dahulu, langkah pertahanan dari Ilmu
Langkah Thian Liong Pat Pian (Naga Langit Berubah Delapan
Kali). Dan akibatnya amat hebat, karena kini Khong Yan dicecar
dari seluruh penjuru dan seakan-akan tidak ada lagi jalan keluar
baginya dari kepungan itu. Pukulan demi pukulan berseliweran
namun dengan cerdik dan dengan cara yang sulit dipercaya
lawan, Khong Yan dapat menghindar, bergerak licin dan tidak
dapat dijangkau keenam lawannya. Tapi setelah 10 jurus meliukliuk,
berkelabat maju, mundur, kekiri ataupun kekanan, malah
juga melompat tinggi dan melenting di udara, tiba-tiba Khong Yan
bergerak menguji daya serang dari Ilmu langkahnya.
1773
Dengan dua langkah mengagetkan, yakni dalam gerak Hian
Niauw Kwat Se (Burung elang menyapu pasir) disusul gerak Tok
Bong Cut Siat (Ular berbisa keluar dari lubang) Khong Yan tibatiba
merubah dirinya dari terserang dan kini pada posisi dapat
menyerang. Dengan cepat dia menggerakkan kaki kanan sejauh
setengah langkah dan membuka jurus Lok Jit Cay Sia (Matahari
terbenam memancarkan sinar) dan jurus To Ta Kim Cung (Palu
memukul genta) dari Ilmu Pukulan Hud Meh Ciang (Pukulan
Menyambar Nadi). Kedua jurus gerakan awal tadi bukan hanya
menghindar dari sergapan berantai tetapi sekaligus membuka
posisi lawan untuk dapat diserang. Belum lagi Ma Hiong dan anak
buahnya sadar, tiga dari mereka sudah dalam posisi terserang.
Memang mereka masih dapat dalam sistem saling membantu dan
saling melindungi terhindar dari sergapan Khong Yan, tetapi tidak
berapan lama Khong Yan melontarkan 6 totokan sekaligus
dengan ilmu mujijat Tan Ci Sin Thong (Lentikan Jari Sakti).
Tetapi, keenam lawannya memang bukan lawan mudah, secara
serentak mereka bertahan dan saling melindungi dengan jurus
Liong Coa Hui Bu (Naga dan ular terbang sambil menari) dan Lek
Pek Hua San (Tenaga dahsyat membelah gunung). Harus
dikatakan memang, meski menyerang setelah beberapa lama
dalam kurungan lawan, ternyata Khong Yan mampu
1774
menggetarkan nyali keenam lawannya. Dan memang mereka
beruntung, Khong Yan masih belum cukup mampu
mengantisipasi peluang bagus dalam menyerang yang diciptakan
oleh Ilmu Langkah Mujijatnya. Berbeda jika misalnya Koay Ji yang
memainkannya. Tetapi, Khong Yan saat itu sudah mulai dapat
memahami dan menyelami bagian penyerangan yang memang
belum sempat didalami dan dipraktekkannya dalam pertempuran.
Hari ini, dia berkesempatan guna memakai dan menilai jurus-jurus
tersebut dan mendapati betapa mujijatnya bagian penyerangan
itu. Boleh dikata, bertahan hebat, menyerang juga amat tajam
serta juga membahayakan lawan yang kurang siap.
Setelah Kong Yan melakukan serangan balik yang membuat
kocar-kacir barisan lawan, diapun mengendorkan lagi
serangannya dan masih ada 3 kali kejadian serupa yang pada
gilirannya membuat keenam lawannya menjadi lebih berhati-hati.
Meskipun memang harus diakui oleh Khong Yan jika lawannya
sekali ini memang benar-benar amat hebat dan sangat
bermampuan menguras kemampuannya. Hanya untungnya, dia
juga sudah mengalami kemajuan amat hebat dan semakin lama
bertarung, semakin dia sadar dengan batas kemampuan serta
kehebatannya. Bahkan juga sadar bahwa pada sebulan
sebelumnya, dia bakal tidak akan mampu melawan kombinasi
1775
keenam orang ini. Menghadapi kelima orang saja ataupun Ma
Hiong seorang, dia mungkin masih berkemampuan bertahan
ataupun menang tipis. Tapi jika menghadapi barisan mereka
berenam, Khong Yan merasa tak bakal ungkulan, sulit untuk
menandingi apalagi menang. Karena memang kombinasi
kekuatan mereka berenam sangatlah besar, selain kerjasama
yang memang saling mengisi. Dan untuk menghadapi mereka
saat ini, Khong Yan membutuhkan Ilmu Mujijat ajaran Koay Ji
yang dititipkan melalui tokoh aneh Thian Liong Koay Hiap dan
kekuatan iweekang Pouw Tee Pwe Yap Sian Sinkang yang
sempurna baru dapat mengatasi kombinasi mereka berenam.
Setelah paham bahkan semakin paham dengan Ilmu Langkah
Mujijat pada Bagian penyerangannya dan mengetahui sampai
dimana kemampuan iweekangnya, Khong Yan merasa cukup
puas dengan kemajuannya saat itu. Bahkan diapun akhirnya
menggunakan saat pertarungan itu untuk dapat
menyempurnakan pemahamannya atas ilmu tersebut, serta
mengasah diri dalam penggunaan aspek-aspek mendalam dari
iweekangnya. Karenanya dia mampu menemukan hal yang
benar-benar amat menyenangkan hatinya karena kemampuan
menyerap, mendorong serta menggiring serangan tenaga lawan
juga semakin dapat dia sempurnakan. Kelima lawannya tidak
1776
menyadari jika Khong Yan sedang menempa diri dan terus saja
menyerang setelah Khong Yan mengendor. Dan itulah sebabnya
Khong Yan merasa yakin dan melatih diri terus menerus dalam
arena yang pada akhirnya dia merasa dan juga menyadari bahwa
memang sudah dikuasainya ilmu tersebut.
Sementara itu Tio Lian Cu sedikit merasa kerepotan dengan
ketiga lawan “robotnya” tanpa dia tahu, mereka bertiga memang
termasuk dalam Pasukan Robot Bu Tek Seng Pay. Pasukan
Robot adalah pengawal khusus Bu Tek Seng Ong yang juga
dikepalai oleh Jamukha, murid tunggal dari Bu Tek Seng Ong
yang adalah orang Mongol. Pasukan Robot Bu Tek Seng Pay
terdiri dari 25 orang dengan pakaian dan tutup kepala yang
terbuat dari baja ringan yang diolah dan dimasak khusus dengan
sejenis getah pohon dari daerah Persia. Dengan olahan tersebut,
besi atau baja bisa ditempa menjadi lebih tipis dan ringan tetapi
memiliki kemampuan menangkal serta menepis kekuatan
iweekang. Bahan itu menjadi sangat istimewa karena memang
memiliki keistimewaan lainnya dalam hal tahan tusukan maupun
tebasan senjata tajam seperti golok maupun pedang.
Tio Lian Cu sudah puluhan kali memukul ketiga orang anggota
Pasukan Robot itu. Baik dengan pukulan perguruannya hingga
Sam Im Ciang yang ampuh, tetapi tetap saja tidak mempan untuk
1777
menembus dan melukai Manusia Robot. Setelah bertarung
hingga 50 jurus, diapun paham bahwa kelemahan Pasukan atau
Manusia Robot itu hanyalah pada setiap sambungan di lengan,
kaki ataupun di sekitar mata. Selain titik titik itu, tidaklah mempan
terhadap terjangan pukulan lawan. Karena menemukan ide
seperti itu, maka Tio Lian Cu kemudian merubah cara
bertempurnya dengan lebih banyak mengutamakan ilmu
totoknya. Ilmu Pa Hiat Sin Kong (Ilmu sakti menotok jalan darah)
adalah salah satu ilmu totokan yang ampuh dan terkenal di
Tionggoan dan merupakan kebanggaan Thian Hoat Tosu.
Dengan ilmu tersebut dan senantiasa ditujukan ke tempat-tempat
berbahaya, maka hanya dalam waktu beberapa menit kemudian
lengan salah seorang Pasukan Robot itu sudah terkulai tak
berdaya.
Tapi yang mengagetkan adalah, dengan lengan kanan terkulai
kesmaping, manusia robot itu masih tetap bertarung seakan sama
sekali tidak merasakan adanya rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Lengan kanan masih tetap berbahaya. Tetapi, Tio Lian Cu sudah
merasa senang karena berhasil menemukan titik lemah
keampuhan Pasukan Robot dan bahkan pada menit kesepuluh,
kedua lengan Manusia Robot yang satu sudah terkulai lemas.
Anehnya, meski hanya dengan kedua kakipun, manusia robot itu
1778
masih tetap maju mengeroyok Lian Cu dan mengandalkan
tendangan untuk dapat terus menyerang. Sungguh
mengherankan dan sampai membuat Lian Cu mengernyitkan
kening dengan hebat dan nekadnya manusia robot milik Bu Tek
Seng Pay yang luar biasa itu.
Pertarungan selanjutnya baik Tio Lian Cu maupun Khong Yan
yakin bahwa mereka sudah menguasai arena, tetapi musuh
masih amat membahayakan dengan adanya Jamukha dan
pasukan yang sudah mereka kenal. Yaitu Utusan Pencabut
Nyawa. Jamukha meski sehebat Ma Hiong, tetapi belum sembuh
benar, sementara ada 10 orang lain yang dapat maju membantu
kawan-kawan mereka. Artinya, keadaan mereka berdua
sebetulnya tidak terlalu untung karena musuh masih dapat
melawan dengan kekuatan yang masih tersedia dengan jalan
menambah kawan mengeroyok kedua anak muda itu. Apalagi
Jamukha jelas melihat bahwa keadaan mereka lebih lemah, dan
dia sudah bersiap untuk menurunkan pasukan terakhir guna
membantu pihaknya yang sedang sedikit terdesak di dua arena
berbeda itu. Dan memang benar, komando untuk memperkuat
kawan dengan mengerahkan sisa kekuatan kelihatannya akan
segera turun.
1779
“Maju, bunuh atau tahan mereka sebisanya sampai kawan-kawan
kita yang lain tiba kemari........” demikian akhirnya Jamukha
mengeluarkan perintah.
Meski sedang sibuk dalam menghadapi lawan-lawan yang cukup
berat, tetapi Khong Yan dengan kemampuan Iweekang Pouw Tee
Pwe Yap Sian Sinkang dan Tio Lian Cu dengan Ilmu Mujijat Hoa
San Pay masih cukup leluasa mengendalikan lawan-lawannya
masing-masing. Tetapi begitupun, meski berdua, Khong Yan dan
Lian Cu memiliki rasa “marah” dan murka terhadap para
pembunuh keluarga Hu Pocu,i masih dapat cukup waras menilai
situasi pada saat itu. Apalagi mendengar bahwa pihak lawan
masih akan ada bantuan yang akan menjelang datang. Dan jika
memang benar, mereka juga meyakininya, mereka tidak dapat
menebak dan tidak tahu siapa-siapa gerangan yang akan datang.
Tetapi, mereka sadar, pihak lawan memiliki jago-jago yang
bahkan beberapa menyamai atau bahkan melebihi lawan mereka
saat itu. Karena itu, mereka berdua merasa sudah cukup untuk
saat itu. Lagipula, mereka sudah mengetahui siapa musuh dan
lawan serta kemana mereka dapat menagih atas perbuatan licik
lawan. Karena itu, Khong Yan melalui ilmu suara yang khusus
menyampaikan kepada Lian Cu:
1780
“Sumoy,,,, kita tinggalkan urusan pembalasan kepada yang
berhak.... sudah saatnya kita pergi dari tempat ini. Kedua sutit
sudah berada di tempat aman dan terlindungi secara baik oleh
Sam Kun Locianpwee, mari....”
“Baik suheng, tetapi aku ingin memberi mereka peringatan dan
hukuman, bersiaplah kita segera pergi......” jawab Lian Cu yang
hanya mereka berdua yang tahu karena dalam percakapan
khusus.
Begitu selesai perkataan Tio Lian Cu, tiba-tiba dia bergerak
dengan jauh lebih pesat dan cepat dalam ginkang Liap In Sut yang
kini menjadi salah satu kebanggaannya. Dan menyusul kemudian
dalam waktu yang amat singkat terdengar benturan serta suara
berderak patah beberapa kali:
“Krrrk ..... krrrrk...... krrrkkkkk..... krrrrk”
Dan bersamaan dengan itu, ketiga tubuh lawannya yang tadinya
teramat sulit untuk dia pukul roboh dengan ilmu pukulan jenis
apapun, kini mereka semua terdorong ke belakang. Bukan hanya
sekedar terdorong ke belakang, karena sebenarnya, setelah
mengetahui kelemahan ketiga lawannya itu, Tio Lian Cu
mengerahkan kekuatannya melalui totokan-totokan tangannya
1781
dan menyerang sambungan tulang tangan serta kaki lawan.
Akibatnya, terengar suara-suara tulang berderak, tanda terlepas
dan malah hancurnya tulang-tulang di sambungan lengan dan
kaki lawan. Dan pada saat itulah kemudian Tio Lian Cu berkata
kepada Khong Yan:
“Nach, sekarang, mari kita pergi Suheng.......”
Tanpa perlu diminta sekali lagi, Khong Yan menyusul sambil
menggeleng-geleng kepalanya. Dia sadar apa yang baru saja
dilakukan Tio Lian Cu itu, tetapi dia tidak protes karena
sesungguhnya diapun setuju dengan apa yang baru saja
dilakukan adik seperguruannya itu. Karena kebetulan pada saat
bersamaan dia membenturkan tenaganya dengan pukulan lawanlawannya
hingga mereka kehilangan waktu sekian detik untuk
menemukan keseimbangan lagi. Tetapi pada saat bersamaan,
manakala mereka siap untuk menerjang pergi, sejumlah Utusan
Pencabut Nyawa mencoba untuk merintangi jalan lari mereka
berdua. Tetapi Tio Lian Cu dan juga Khong Yan yang masih
murka, segera mengibaskan kedua lengan mereka masingmasing
yang justru masih sedang penuh dengan kekuatan
iweekang sambil dalam nada murka dan sebal mereka
membentak:
1782
“Pergi kalian manusia-manusia busuk......”
Akibatnya 7 orang dari Utusan Pencabut Nyawa bagai tersambar
petir dan terlontar ke belakang meregang nyawa. Sementara tiga
sisanya yang lain merasa beruntung karena hanya sempat
terserempet saja kekuatan pukulan Kong Yan dan Tio Lian Cu
yang sedang murka. Khong Yan masih sempat memperhatikan
mereka yang terluka dan mencoba bangkit, tetapi kemudian
segera menyusul Lian Cu yang sudah loncat berlalu dengan
kecepatan tinggi. Dengan segera Khong Yan mengerahkan
ginkangnya dan menyusul Lian Cu dengan kecepatan yang tidak
kurang. Ada sekitar setengah jam mereka seakan berlomba
berlari dengan kecepatan yang amat tinggi, karena Lian Cu
sebetulnya sedang berlari dalam kecepatan yang amat luar biasa.
Dia sengaja sedang menguji kemampuan Khong Yan dalam ilmu
berlari cepat. Tetapi, secepat apapun dia berlari, tetap saja Khong
Yan terlihat dalam jarak yang sama dengannya sejak awal, dan
keadaan ini mengirim sinyal kepadanya bahwa kemampuan
mereka setanding dalam ginkang.
Menemukan kenyataan itu, antara kesal dan tidak kesal, senang
dan tidak senang, Tio Lian Cu yang dalam usia mudanya memang
masih berdarah panas dan lebih suka menang dan dipuji, tiba-tiba
menghentikan langkahnya. Saat itu mereka sudah berada jauh
1783
terpisah dari lawan-lawan mereka tadi, dan Lian Cu sengaja
mengambil jalan ataupun arah yang berseberangan atau
berlawanan dengan tempat dimana mereka menemukan mayat
Hu Sin Kok beberapa jam lalu. Tentu saja, karena mereka amat
mungkin bertemu lawan yang lain. Dan ketika mereka akhirnya
tiba di tempat yang sudah agak lega itu, tiba-tiba Tio Lian Cu
berbalik serta langsung dengan senyum dikulum berkata kepada
Khong Yan yang masih cukup kaget dengan perkembangan
terkini:
“Ji Suheng, aku masih ingin berlatih lebih jauh. Berlatih denganmu
akan membuatku lebih mengerti dan memahami tingkat kemajuan
yang telah kita capai terakhir ini, terutama setelah kita berdua
selama sebulan terakhir ini berlatih dengan amat tekun di gua
rahasia mendiang Hu Pocu....... mari........”
Khong Yan kontan menjadi kaget setengah mati, tapi untung saja
dia tidak melihat sinar amarah dimata Lian Cu. Hanya mata yang
setengah usil, setengah penasaran, dan setengah tak mau kalah
dan mengalah darinya. Dia sudah cukup mengenal diri dan
keadaan Tio Lian Cu dan kenyataan itu cukup melegakan hatinya.
Bukan karena Lian Cu tersinggung, tetapi karena ingin “dipuji” dan
ingin membuktikan diri sendiri. Karena itu diapun berkata dengan
1784
tenang dan dalam suara yang rendah sambil bersiap atau
menyiapkan dirinya:
“Jika memang engkau senang demikian, mari silahkan sumoy.
Tapi ingat, kita sudah bersepakah untuk membantu Thian Liong
Koay Hiap guna menemukan Kwan Kim Cu hengte dan sekaligus
kedua nona yang dikawalnya itu. Karenanya, cukup dalam 50
jurus saja, setelah itu kita pergi........”
“Hihikhik, bertarung dan berlatih dalam 50 jurus itupun sudah lebih
dari cukup bagi kita berdua untuk saling menyelami dan slaing
mengetahui kemajuan ataupun kemunduran masing-masing
suheng...... awas......”
Tajuknya memang hanya sekedar latih-tanding belaka, tetapi
faktanya betapa amat sangat seru pertarungan keduanya.
Memang benar, sejatinya seorang Khong Yan memiliki tingkat
kedewasaan yang lebih, tetapi ketika menyebut latih-tanding,
maka seorang Khong Yan tidak mungkin membiarkan nama
perguruannya mengalami jatuh merek. Hanya karena ingin
mengalah dan memuaskan kepenasaran Lian Cu atas hasil
latihan mereka. Selain itu, dia sendiripun ingin tahu sejelasnya,
hingga simana gerangan tingkat kemajuan mereka setelah
sebulan menyekap diri? Itulah sebabnya dua gaya mereka
1785
kembali beradu, gaya tenang, kokoh, mantap dan bertenaga,
melawan variasi serangan lewat jurus-jurus serangan yang
teramat hebat, dinamis dan kreatif. Gaya mantap dan kokoh
bertenaga Khong Yan yang mewakili gaya Siauw Lim Sie atau
Perguruan Budha, melawan gaya dinamis penuh variasi dari
Perguruan Hoa San Pay. Jelas seru.
Perbedaan itu menjadi semakin jelas setelah pertarungan mereka
memasuki jurus-jurus keduapuluhan. Manakala seorang Tio Lian
Cu mulai menghamburkan jurus-jurus rahasia dan amat
berbahaya dari khasanah Ilmu Pusaka perguruannya, Hoa San
Pay. Tetapi sebetapa berbahaya dan sehebat apapun rangkaian
ilmu mujijat yang dilontarkan seorang Tio Lian Cu, mulai dari ilmu
pukulan Jit gwat it sian kun (pukulan matahari dan rembulan satu
garis), Ilmu Leng Wan Sip-pat Pian (delapan belas jurus ilmusilat
Kera Sakti) bahkan hingga Ilmu Sam Im Ciang warisan Bu In Sin
Liong hingga andalan Thian Hoat Tosu Ilmu Hong In Pat Jiauw
(ilmu Delapan cengkeraman angin dan Mega), tetap tak sanggup
mengalahkan atau bahkan menempatkan Khong Yan dalam
keadaan terdesak. Apalagi kalah. Keunggulan Khong Yan dalam
Pouw Tee Pwe Yap Sian Sinkang dan Ilmu Langkah Thian Liong
Pat Pian (Naga langit berubah delapan kali) membuatnya mampu
bertahan dan menyerang dengan tidak kurang bahayanya.
1786
Bahkanpun ketika Tio Lianc Cu dengan menggunakan rangkaian
Ilmu Pedang Hoan Ki Bun Kiam Hwat (Ilmu pedang sungsang
balik) dan ditopang oleh Pedang Toa Hong Kiam (Pedang Angin
Badai) dikombinasikan lagi dengan Ilmu Mujijat Tiang Kun Sip
Toan Kim, tetap saja Lian Cu tidak beroleh apa-apa. Mereka
masih tetap saling serang, saling bertahan dengan ketat, sulit
untuk mendapatkan peluang mendesak lawan. Padahal, selama
40 jurus, Khong Yan lebih banyak ataupun lebih sering bertahan
dan menahan diri dan emosinya. Hanya sesekali dia keluar untuk
menyerang guna membuyarkan serangan Lian Cu yang
membadai dan semakin membahayakan. Hal itu bukannya tidak
disadari oleh Tio Lian Cu, tetapi dia juga beryakinan bahwa jika
memang Khong Yan menyerang secara serius, dia memiliki bekal
memadai untuk bertahan dan tidak sampai terkalahkan.
Dan memang, yang akhirnya membuat Khong Yan bertahan
penuh adalah ketika Pedang Pusaka Angin dan Badai ikut masuk
dalam pertarungan mereka. Mulailah Khong Yan lebih banyak
banyak bertahan dan hanya sekali berbanding sepuluh
menyerang balik. Tetapi meskipun sedikit terdesak dan dicecar
Tio Lian Cu selama kurang lebih 5 jurus, Khong Yan tidak benarbenar
dalam keadaan terdesak hebat. Karena ilmu langkah
mujijat membuatnya mampu bertahan dan sesekali dengan tepat
1787
mengganggu dan menggagalkan serangan Lian Cu. Keadaan ini
berlangsung hingga lima jurus dan membuat Lian Cu penasaran:
“Hmmmm, sayang belum kukuasai juga jurus pamungkas itu......”
desis Tio Lian Cu merasa penasaran meskipun masih dapat
ditahannya.
Dicecarnya kembali Khong Yan dengan Pedang Pusakanya,
tetapi pada lima jurus terakhir, entah bagaimana Khong Yan
menjadi lebih berani. Bahkan lengannyapun secara perlahan
mulai tertutup kabut awan putih pekat meski tipis saja, dan dengan
begitu, dia tidak lagi begitu khawatir untuk melawan Pedang
Pusaka. Meskipun juga, Khong Yang masih tidak berani untuk
menerima dengan lengan kosong secara langsung serangan
Pedang Pusaka itu. Tidak salah lagi, Khong Yan kini sedang
memainkan salah satu Ilmu Wasiat dari Suhunya Bu Tee Hwesio
yang bernama Pek In Hoat Sut (Ilmu Sihir Awan Putih). Sebuah
Ilmu Mujijat yang sungguh hebat dalam tingkat tertentu bakalan
memiliki kemampuan dalam menandingi senjata tajam dengan
tangan kosong belaka. Dan dengan kombinasi ilmu-ilmu mujijat
itu, pada akhirnya Khong Yan mampu menandingi dan “berlatih”
melakukan perlawanan secara amat ketat, seru serta juga
imbang.
1788
Sebetulnya keadaan seimbang tidak sesederhana dalam
mengatakan dan sekaligus menggambarkannya. Karena
sesungguhnya prosesnya sangatlah menegangkan dan amat
membahayakan masing-masing Tio Lian Cu maupun Khong Yan
di pihak lain. Khong Yan sendiri sangatlah sadar dengan apa yang
sedang melilit mereka berdua, tetapi untungnya dia memiliki Ilmu
yang mampu menandingi kemampuan sumoynya yang semakin
hebat itu. Karenanya pada ujungnya, persis jurus yang kelimapuluh,
Khong Yan pada akhirnya membentak dengan suara
penuh wibawa, seperti terkandung auman sihir disana:
“Cukup sumoy..........”
Bentakan yang mengandung suara “Auman Singa” itu cukup
ampuh dan membuat Tio Lian Cu mampu menemukan dan
akhirnya menahan diri. Hingga kemudian diapun menghentikan
serangannya, menarik nafas panjang dan kemudian berkata
kepada Khong Yan dengan suara sedikit menyesal:
“Suheng, kita berdua memang sudah maju teramat jauh, tetapi
sejauh dan setinggi itupun kemajuan kita, tetap tidak ada seorang
diantara kita yang dapat mengalahkan seorang dengan yang lain.
Kemungkinan besar Sie Suci sendiripun keadaannya tak akan
jauh berbeda dengan kita berdua.......”
1789
Ada pengakuan kehebatan mereka berdua, meski juga ada sedikit
penyesalan terkandung dalam nada suara itu karena dia, Tio Lian
Cu, Ciangbudjin termuda Hoa San Pay saat ini, tetap saja tidak
mampu untuk mengalahkan seorang Khong Yan. Sebenarnya
bukan maksud Tio Lian Cu mengalahkan Khong Yan dan
kemudian menyombongkan dirinya, hanya ego dan sejenis
kebanggaan diri karena betapapun dia kini adalah Ciangbudjin
Hoa San Pay. Tapi fakta itu tidaklah merusak emosi dan mental
Tio Lian Cu, juga tidak membuatnya terganggu dan merasa
dendam dengan Khong Yan dan juga Sie Lan In. Tidak. Dia tetap
mampu menerima kenyataan itu karena diapun paham, bahwa
Khong Yan dan juga Sie Lan In, memang memiliki Guru yang
sama hebat dengan gurunya sendiri.
“Engkau benar sumoy,,,,,, kemajuan kita memang luar biasa,
tetapi tetap saja apa yang kita capai sekarang ini adalah ciptaan
tiga orang Suhu dan Subo kita pada masa lalu. Tentu saja sulit
bagi kita untuk saling mengalahkan dan jika dipaksakan engkau
mungkin akan dapat mengalahkanku atau Sie Suci, tetapi engkau
juga tentu sadar, bahwa engkau sendiri atau juga Sie Suci, tidak
akan mungkin keluar dari arena dengan tidak membawa luka
yang amat parah dan sangat mungkin tidak tersembuhkan......”
berkata Khong Yan yang sebetulnya menyembunyikan fakta,
1790
bahwa keunggulannya dalam kekuatan iweekang menjadi lebih
signifikan dewasa ini. Tetapi, inipun sangat boleh jadi terutama
setelah dia menemukan fakta betapa Ilmu Langkah Mujijat titipan
Suhengnya, membawa pengaruh yang luar biasa. Jika dia mau,
dia bisa saja menang melawan seorang Tio Lian Cu, tetapi
meskipun begitu, dia juga masih tetap sadar bahwa dia harus
melakukan itu dengan juga bakal mengalami terluka parah,
bahkan mungkin kematian karenanya. Kesadaran itulah yang
membuat Khong Yan tetap menjaga dirinya, menjaga
kewarasannya dan juga tidak membiarkan dirinya tenggelam
dalam persaingan mereka bertiga.
“Acccchhh, engkau benar Suheng. Tetapi sudahlah,
bagaimanapun juga, senang bisa mengukur kemampuan setelah
berlatih serius selama lebih sebulan terakhir ini. Sekarang, adalah
jauh lebih baik kita segera melanjutkan rencana yang semula
Suheng. Kita pergi membantu untuk menemukan Kwan Kim Cu
dan kedua anak gadis yang dikawalnya itu.......”
“Ach benar, memang lebih baik demikian Tio Sumoy. Toch untuk
menemukan Thian Liong Koay Hiap akan bakalan memakan
waktu panjang, karenanya, lebih baik kita yang mencoba
menemukan mereka.....”
1791
“Baik, ayolah......”
Setelah melakukan latihan yang sebenarnya riskan bagi mereka
berdua, Tio Lian Cu dan Khong Yan kini memastikan diri untuk
melanjutkan perjalanan. Keduanyapun bersepakat untuk
menggantikan Thian Liong Koay Hiap untuk berusaha
menemukan dan membebaskan Kwan Kim Cu, Nadine dan Oey
Bwee. Konon, ketiganya justru menghilang dalam perjalanan
pulang kembali ke rumah keluarga Oey Bwee dan hingga saat itu,
belum lagi ketahuan. Tetapi, penyelidikan para anggota Kaypang
menemukan titik terang yang sudah dijelaskan kepada mereka
berdua, dan karena itu, untuk menghemat waktu, mereka berdua
akhirnya memutuskan menggantikan Thian Liong Koay Hiap.
Mereka kini menuju tempat yang dijelaskan oleh anggota
Kaypang sebagai tempat dimana Kwan Kim Cu bertiga ditawan.
Sementara itu, kabar pembantaian di Benteng Keluarga Hu dan
sekaligus juga berita kematian Hu Sin Kok, Bengcu Tionggoan
sebelumnya, dengan amat cepat meluas. Hal yang sudah dapat
ditebak sejak awalnya oleh Khong Yan dan Tio Lian Cu jika
mengingat ketokohan dan popularitas seorang Hu Sin Kok pada
masa hidupnya. Dan seperti yang sudah dapat diperkirakan,
peristiwa itu membangkitkan kemarahan meluas dikalangan para
pendekar karena memang tokoh tua itu memiliki relasi yang luas
1792
dengan kawan kawannya dari dunia persilatan Tionggoan.
Bahkan, diapun sangat sering dimintai pertolongan pihak
Kerajaan berkaitan dengan tingkah dan perbuatan kaum rimba
persilatan yang dirasa rada mengganggu jalannya roda
pemerintahan. Karenanya, berita pembunuhan yang amat
mengejutkan tersebut betul-betul menimbulkan gejolak. Nama
dan darah Thian Liong Koay Hiap pun disebut-sebut halal untuk
ditumpahkan.
Tetapi dalam waktu beberapa hari saja, ternyata persoalan yang
menimpa Benteng Keluarga Hu dan kebinasaa Hu Sin Kok,
secara nyaris bersamaan juga dialami oleh Hoa San Pay serta
dua perguruan silat lainnya. Meski dua perguruan lain yang
disebut tidaklah begitu dikenal orang, tetapi mereka memiliki
cukup banyak anggota. Sehingga pembunuhan disana, jelas
adalah pembunuhan massal karena sampai sekitar 300 nyawa
anak murid mereka bahkan mungkin lebih melayang. Dan kedua
perguruan itu adalah Pek Houw Pay (Perguruan Harimau Putih)
di dekat daerah Cin Ling San, serta Hui Hong Pay (Perkumpulan
Burung Hong Terbang) yang berjarak sekitar setengah hari
perjalanan berkuda kearah timur dari Benteng Keluarga Hu.
Kedua perguruan yang disebut terakhir mengalami pembantaian
sadis hingga boleh dikatakan punah karena selain markas
1793
besarnya dibakar habis, juga semua anak muridnya terbunuh.
Tetapi, entah bagaimana, tidaklah ditemukan jejak-jejak Bu tek
Seng Pay dikedua perguruan yang dibantai tersebut.
Sementara pihak Hoa San Pay, entah mengapa tidak tersebar
adanya pembunuhan dan pembantaian terjadi disana, padahal
ada ratusan anak murid di Hoa San yang tinggal dan hidup di
Gunung Hoa San disana. Ternyata, Markas Besar Hoa San Pay
di Pegunungan Hoa Pan ketika didatangi musuh, justru sudah
dalam keadaan yang kosong melompong. Dan menemukan
kondisi yang demikian, pentolan dari pihak musuh pada akhirnya
memutuskan untuk memberi perintah membakar gedung-gedung
yang berada disana. Kerugian pihak Hoa San untungnya hanya
itu, apalagi karena gedung yang dibakar sudah dikosongkan dan
tidak dijumpai adanya mahluk hidup serta harta pusaka Hoa San
Pay sedikitpun. Tetapi, begitupun, berita tentang diserbunya Hoa
San Pay tetap membuat banyak orang terhenyak, kaget dan
sadar bahwa musuh benar-benar serius membantai perguruan
lain. Hal yang pada satu sisi menghadirkan rasa seram, tetapi
pada sisi lainnya mendatangkan amarah yang membakar orang
untuk segera melakukan serangan balasan.
Ketika Tio Lian Cu mendengar kabar tersebut, dia tersentak kaget
sekaligus senang. Dia dapat menduga, tentu Suhunya, para
1794
Supeknya serta tentunya para Suhengnya telah memutuskan
untuk mengungsikan semua anak murid mereka terlebih dahulu
karena sadar bahwa Hoa San bakalan menjadi target atau
sasaran musuh. Inilah hal yang menyenangkannya. Tetapi, yang
membuatnya marah adalah kebanggaan Hoa San Pay yang
ternoda oleh terjangan musuh yang sampai membakar gedunggedung
di Hoa San itu. Pada awalnya Tio Lian Cu berpikir akan
kembali ke Hoa San terlebih dahulu, tetapi ketika diberitahu
kemudian dan menerima kabar lanjutan bahwa semua tokoh Hoa
San Pay sudah pada turun gunung, maka akhirnya diapun
membatalkan niatnya itu. Dia memutuskan untuk menuggu saja
para Suhengnya menjelang Pertemuan besar untuk menyerang
Markas Bu tek Seng Pay.
Maka dengan perasaan campur aduk, Khong Yan dan terutama
Tio Lian Cu lanjut untuk mengerjakan tugas yang mestinya
dikerjakan Thian Liong Koay Hiap. Dengan terus disabarsabarkan
oleh Khong Yan, pada akhirnya Tio Lian Cu dapat
menerima kenyataan itu dan kini mengalihkan rasa marahnya
kepara penculik. Kesanalah keduanya sedang menuju.
=====================
1795
Ada dua hal yang terjadi kemudian. Pertama, Sie Lan In yang juga
bertemu dengan anggot-anggota Kaypang utusan Tek Ui Sinkay
untuk menjumpai Thian Liong Koay Hiap, bergegas dengan
menggunakan Sin Tiauw untuk menangani urusan yang ingin
disampaikan Pangcu Kaypang itu kepada Thian Liong Koay Hiap.
Dia sengaja tidak menunggu Thian Liong Koay Hiap dan bersama
mengerjakannya, dan ini semata karena urusan yang sebenarnya
sepele, tetapi penting bagi tokoh-tokoh dunia persilatan. Sie Lan
In merasa bahwa dia mestinya diperlakukan sama dengan Thian
Liong Koay Hiap karena merasa tidak kurang lihay dan tidak
kurang hebat dibandingkan tokoh itu. Dan karena itu, tanpa
menunggu Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap bergerak, dia
sudah mengajukan dirinya dan bahkan memutuskan dirinya untuk
melakukan tugas yang ingin dimintakan Tek Ui Sinkay untuk
ditangani tokoh aneh itu. Sie Lan In memang tetap mengijinkan
anggota Kaypang itu menemui Thian Liong Koay Hiap karena
pasti ada urusan lain yang mau disampaikan, tetapi dengan pesan
bahwa dia sudah turun tangan lebih dahulu untuk menanganinya.
Lagipula, toch petunjuk kemana sebaiknya mencari dan siapa
yang harus ditemui guna menangani urusan itu, sudah amat jelas
disampaikan oleh para anggota Kaypang yang saat itu bertugas
menyampaikan berita.
1796
Sementara Koay Jie, begitu mengetahui bahwa Sie Lan In sudah
berangkat duluan, dan menyadari bahwa gadis itu tak mungkin
dia kejar karena mengendarai Sin Tiauw, pada akhirnya memilih
untuk memeriksa urusan lain. Urusan yang dimaksud bisa dia
kerjakan dalam perjalanan menuju Thian Cong San. Dalam
dugaan dan juga perkiraannya, menggunakan Kuda, akan
membutuhkan waktu sekitar 10 hari untuk sampai ke Thian Cong
San. Tetapi jika berjalan kaki, membutuhkan waktu sampai
sebulan baru bisa tiba di tempat perguruan suheng ketujuhnya.
Karena itu, diapun berinisiatif menemui Toa Suhengnya untuk
memberitahu ada hal yang masih harus ditanganinya terlebih
dahulu:
“Toa Suheng, mohon ijin untuk menengahi persoalan antara
Perguruan Hong Lui Bun bersama Pahlawan Bangsa Persia
melawan Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan) dan
murid tunggalnya Thian Cun Tui Hong (Malaikat Langit Pengejar
Angin) Kat Thian Ho. Kita membutuhkan bantuan sahabatsahabat
dari Hong Lui Bun yang gagah dan juga sahabat-sahabat
dari Persia untuk menggempur Bu Tek Seng Pay yang banyak
memiliki tokoh-tokoh sakti dari kalangan aliran hitam. Karena itu,
siauwte berkehendak mendahului Toa Suheng dan rombongan
untuk menyelesaikan pertikaian mereka......”
1797
“Accchhh, kawan-kawanmu yang misterius itu,,,,? dan tokoh aneh
Si Rase Tanpa Bayangan yang sama aneh dan misteriusnya
dengan Insu. Hmmmm, dari kisahmu, rasanya Suhengmu sudah
bisa mendapatkan gambaran bahwa engkau akan dapat
menyelesaikannya. Dan bisa bermakna atau menjadi hal penting
bagi perjuangan Sam Suhengmu dan perjuangan kita semua
nantinya. Baik, engkau boleh berangkat terlebih dahulu,
rombongan saudara seperguruanmu akan menyusul besok hari
dan yakinlah, kami semua akan tiba tepat waktu disana kelak.
Tetapi, harap dicamkan, engkau kuperintahkan untuk bertemu
dengan kami semua persis sebulan kedepan di Thian Cong San.
Karena sesungguhnya, nyaris semua urusan yang kita sedang
kerjakan ini bukan hanya diminta Sam Sute, tetapi juga oleh
Insu......”
“Sudah pasti Toa Suheng, siauwte akan berada di Thian Cong
San persis sebulan dihitung sebelum gerakan menyerang
lawan......”
“Hmm, baiklah. Tetapi, minta ijinlah juga kepada para suhengmu
yang lain, terutama kepada kedua Sucimu itu. Entah mengapa
mereka kini punya hal lain yang menjadi bahan perebutan dan
pertengkaran. Mereka berdua berebut untuk ikut menentukan dan
mengurus masa depanmu, dan akhir-akhirnya meski sudah punya
1798
cucu dan sudah jadi Nikouwpyn tetap selalu berdebat tidak
keruan,..........”
“Baik Toa Suheng.......”
“Oh ya, dan satu hal lagi, apakah engkau membutuhkan bantuan
Siang Ji menemani perjalananmu menuju Thian Cong San.....”?
tanya Jit Yang Sin Sian....
“Menarik juga Toa Suheng, tetapi dapatkah mereka menyusulku
sehari kemudian dan kutunggu di daerah Hok Gu San saja.
Karena dugaanku, mereka mengarah kesana dan amat mungkin
Si Rase Tanpa Bayangan bakalan memergoki mereka di daerah
tersebut. Perjalanan dari tempat si Rase Tanpa Bayangan ke Hok
Gu San memakan waktu sehari penuh, maka jika memang
siauwte berangkat saat ini, maka akan berjarak satu hari dari Kwa
Siang jika dia menyusul. Rasanya cukup waktu itu untuk
menyelesaikan pertikaian antara mereka... sisanya tinggal
perjalanan menuju Thian Cong San saja......”
“Baiklah, toa suhengmu menyetujui saja....... tetapi, perkara Kwa
Siang menyusulmu biar diputuskan besok saja”
“Baiklah Toa Suheng .......”
1799
Dan begitulah, Koay Ji kemudian meminta diri dari tempat tinggal
Toa Suhengnya Jit Yang Sin Sian (Dewa Sakti Jit Yang) Pek Ciu
Ping yang bernama Liong Tam Houw Siat (Gua Naga dan Sarang
Harimau). Tentu saja diapun minta ijin untuk berjalan terlebih
dahulu dari keempat saudara seperguruannya yang lain dan juga
sekaligus memberi janjinya bahwa dia pasti akan datang
menemui mereka sebulan ke depan di Thian Cong San.
Dan pagi itu, setelah sehari-semalam melakukan perjalanan
tanpa henti-hentinya, Koay Ji yang sudah kembali mengenakan
kostum Thian Liong Koay Hiap meski tahu bahwa saat itu
namanya sedang dibusukkan orang, sudah berada di daerah Hok
Gu San. Sejauh mata memandang adalah hamparan hutan dan
pepohonan belaka, dan repotnya, dia sedikitpun kurang paham
bagaimana bisa menemukan kawan-kawan Hong Lui Bun dan
juga kawan kawan Pahlawan Bangsa Persia di daerah itu. Yang
pasti, dari mulut Si Rase Tanpa Bayangan, dia beroleh gambaran
bahwa sahabat-sahabatnya itu akan menuju Hok Gu San dan dia,
si Rase Tanpa Bayangan kelak akan memburu mereka semua
sampai kesana. Tetapi, saat ini tentunya Si Rase Tanpa
Bayangan masih sedang sibuk untuk mengurus kondisi Kat Thian
Ho yang meski sudah membaik, tetapi masih butuh perawatan.
Dia harus berusaha bertemu kawan-kawannya itu terlebih dahulu.
1800
Sudah setengah harian Koay Ji berusaha menyusuri pelosok
gunung Hok Gu San, terutama mulai dari arah selatan karena
memang dari sanalah arah Gua milik si Rase Tanpa Bayangan.
Meskipun demikian, tetapi tidak ada satupun orang yang
ditemuinya, semuanya serba sepi dan tidak ada tanda-tanda
adanya orang melintas. Karena itu, menjelang malam, Koay Ji
akhirnya memutuskan untuk bermalam di hutan dan karena
memang sedang kelaparan, dia berburu dan kemudian membakar
hasil buruannya untuk makan malamnya. Setelah itu, ,
sebagaimana kebiasaannya, sepanjang malam Koay Ji
tenggelam dalam berpikir dan merenung atas banyak hal yang
ditemukannya. Bertemu dengan semua suheng-suhengnya,
bertemu dengan Si Rase Tanpa Bayangan tokoh mujijat
seangkatan gurunya, berjalan dengan Sie Lan In yang semakin
dicintainya, dan namanya yang sedang difitnah orang. Meski
untuk urusan difitnah orang dia tidak merasa gelisah karena
banyak orang yang tahu dia sedang berada dimana pada saat itu.
Menjelang tengah malam, baru dia melatih diri kembali.
Kebiasaannya jika seorang diri, karena dia makin merasa, tetap
saja banyak hal yang perlu disempurnakannya, dilatihnya kembali
terus, terus dan terus. Karena itu, Koay Ji seperti tidak pernah
bosan menganalisa dan tidak berhenti menemukan kelemahan
1801
ilmu orang dan juga kelemahan ilmunya sendiri. Dan kemudian
dia akan terus mencoba satu atau dua rangkaian baru sebagai
hasil dari penelitian dan perenungannya itu. Dengan cara
demikian, Koay Ji selalu dan selalu menemukan jurus dan
gerakan yang pas dan tepat untuk ilmu-ilmunya, ilmu orang lain
dan kemudian menyempurnakan semua gerakannya. Pada saatsaat
menjelang subuh, Koay Ji akan kembali memperkuat
iweekang gabungannya dalam samadhi sekaligus
mengembalikan kebugarannya. Iweekang gabungannya
sekarang ini seperti yang dapat dia rasakan, sudah kembali
meningkat, terutama setelah dia menolong Kat Thian Ho. Meski
pada saat setelah menyembuhkan pemuda itu dia merasa amat
lemah dan iweekangnya dia rasakan agak menyusut. Tetapi
dengan istirahat yang cukup dan latihan tekun, dia justru merasa
kemajuannya sudah melampaui sebelum dia mengobati Kat Thian
Ho berapa waktu sebeumnya.
Karena situasi dan suasana yang memang sangat mendukung
membuat berbeda dengan biasanya, Koay Ji membiarkan dirinya
dalam samadhi sambil berlatih hingga matahari sudah cukup
tinggi. Bahkan hampir sampai menjelang siang hari. Dia baru
benar-benar terjaga dari istirahatnya dan kemudian
menyelesaikan samadhinya saat dia merasa ada sesuatu,
1802
bukannya hanya satu, tetapi beberapa atau cukup banyak aktifitas
yang terjadi di sekitar tempatnya bersamadhi. Tetapi, dia tidaklah
menjadi terkejut ketika menemukan adanya sejumlah monyet
yang saat itu sedang bersama dengannya dan malahan sedang
mengamatinya dengan tatapan mata curiga. Dan menemukan
kenyataan itu, Koay Jie menjadi sangat gembira bagaikan
menemukan sahabat lama. Tidak menunggu lama sambil
mencuit-cuit dan sekaligus menggerak-gerakkan kedua
lengannya untuk menirukan gerakan monyet, diapun menyapa
dan berkomunikasi dengan kawanan monyet yang juga menjadi
kaget sangat dan girang menemukan seorang kawan disitu.
Ada kurang lebih setengah jam lamanya Koay Ji bercengkerama
dengan kawanan monyet tersebut sampai kemudian Koay Ji
paham, bahwa kawanan itu memang menguasai sisi sebelah
barat hingga utara dari Hok Gu San. Dan jam-jam seperti itu,
kawanan monyet itu sedang menunggu beberapa monyet dewasa
yang khusus dipimpin pemimpin mereka untuk mencari makanan.
Memang sebagian besar kawanan monyet itu adalah monyet
betina dewasa dan juga anak-anak, meskipun di pohon itu tidak
lebih dari 10 ekor monyet. Tetapi, ketika mengetahui Koay Ji
pandai berkomunikasi dengan mereka, pepohonan itu sontak jadi
penuh dengan monyet monyet yang penasaran ingin bertemu dan
1803
ingin melihat Koay Ji secara langsung. Otomatis pepohonan
itupun menjadi ramai.
Tidak berapa lama kemudian, monyet-monyet jantan yang besarbesar
muncul, dan benar saja buah-buahan yang ranum-ranum
dan jenis-jenis makanan monyet lain muncul disitu. Tetapi, seekor
monyet besar yang terlihat berwibawa, begitu tahu dan
mendengar keberadaan Koay Ji, terlihat dengan tangkas dan
gesitnya mendatangi. Dan begitu Koay Ji menceritakan siapa
dirinya dan darimana dia datang, si monyet pemimpin terlihat
kaget dan menjadi sangat senang, bahkan terlihat begitu hormat
dan mengindahkan keberadaan Koay Ji. Tetapi, mengetahui Koay
Ji begitu sayang dan menghargai mereka, rasa hormat si Monyet
menjadi lebih bertambah-tambah, dan akhirnya tidak repot Koay
Ji untuk beroleh makanan untuk siang hari itu. Dan Koay Ji
tersentak ketika si Monyet yang menjadi pemimpin itu berkata
bahwa ada beberapa orang lain yang berada di Hok Gu San.
Bahkan kelihatannya mereka dalam posisi yang bermusuhan,
karena sedang berkelahi dan saling kejar-kejaran di daerah yang
tak jauh dari pohon mereka bercakap saat itu.
Mendengar itu Koay Ji tersentak dan bertanya lebih lanjut tentang
keberadaan orang orang yang dimaksudkan. Mendengar bahwa
ada seorang perempuan diantara mereka, Koay Ji menjadi tertarik
1804
dan ingin mengetahui keberadaan mereka. Bahkan, tak berapa
lama, diapun segera “terbang” dengan cepat menuju tempat yang
tadi ditunjukkan monyet pemimpin. Janjinya, monyet-monyet itu
nanti akan menyusulnya setelah ritual makan mereka selesai.
Hanya beberapa menit kemudian, Koay Ji tiba di tempat yang
tunjukkan, dimana tadi terdapat empat orang yang sedang
berkelahi. Tetapi, di sana Koay Ji tidak lagi menemukan adanya
orang yang sedang berkelahi, keadaanya sudah sunyi dan sepi
sepertia biasanya.
Tetapi, tunggu sebentar, ketika mengedarkan pandangannya
berkeliling, Koay Jie pada akhirnya menemukan sesosok tubuh
yang sudah cukup dikenalnya, seorang tokoh muda dari Hong Lui
Bun, Perguruan yang amat misterius bernamaThian-gwa Kuncu
(Pemuda Gagah dari Perbatasan Langit) Yu Kong. Tetapi saat itu,
tokoh muda itu sedang dalam keadaan yang cukup runyam,
dalam keadaan tertotok, dan sepertinya terluka meski terlihat
tidak terlamoau berbahaya dan ringan belaka. Menemukan
kenyataan itu, dengan cepat Koay Jie mendekatinya, dan
beberapa saat kemudian, Yu Kong sudah kembali dapat
menguasai dirinya. Tetapi, ketika Koay Jie ingin mengobatinya,
dengan cepat dia menolak dan kemudian berkata dengan suara
terbata-bata:
1805
“Sabar Koay Hiap Locianpwee,,,,,, lukaku adalah luka ringan
belaka,,,,,, tetapi saat ini, adikku, keadaannya sungguh amatlah
mengkhawatirkan. Dia tadi dibawah lari seorang pemuda bejat,
keadaannya sungguh amat mengkhawatirkan, dan tentang
Suhunya, sungguh-sungguh amat sulit kuceritakan hingga
dimana kehebatannya. Hanya dengan sekali kibasan lengannya
saja aku sudah dapat di lemparkannya kebelakang, dan kibasan
selanjutnya sudah dalam keadaan tertotok. Tetapi, Lian Moy
dibawah lari muridnya ke arah selatan, kita haruslah bergegas
menemukannya” bekata Yu Kong dengan penuh kegelisahan.
“Hmmmm, sungguh lancang,,,,,,, baik, mari kita berusaha
menolong Nona Yu Lian, sambil berharap semoga bantuan kita
masih belum terlambat” gumam Koay Ji yang kemudian memberi
Yu Kong sebutir pil dan tak lama mereka sudah berlari kearah
timur. Tetapi, setelah mencari beberapa saat, mereka tidak dapat
menemukan jejak orang sedikitpun, hal ini membuat Yu Kong
menjadi tambah gelisah. Tetapi Koay Jie cepat tanggap dan
teringat kawanan monyet yang menjadi sahabatnya, yang juga
bahkan memberinya makan siang tadi. Teringat itu, dengan cepat
dia bersiuuuul dengan gaya dan suara khas monyet, dan sebentar
saja terlihat kemudian 5,6 monyet besar sudah menghadapnya
dengan hormat dan girang:
1806
“Ada yang melihat seorang pemuda membawa seorang gadis
yang tertotok baru saja beberapa menit lalu.....? kemana
gerangan mereka berada sekarang? tolong segera dicari dan
bertahu aku....” begitu perkataan Koay Jie yang tentunya dalam
bahasa dan gerak tangan ala monyet yang sudah amat
dikuasainya itu.
“Mereka terlihat berlari kearah sana dan kemudian masuk
kedalam sebuah gua di sebelah sana......” jawab si monyet yang
paling besar sambil lengannya bergerak gerak menunjuk arah di
belakangnya.....
“Baik, terima kasih kawan......”
Yu Kong masih ingin bertanya, heran dan takjub dengan Koay Jie
atau Thian Liong Koay Hiap. Tetapi rasa takjub dan herannya
yang terus bertambah setiap bertemu Koay Ji sedapat mungkin
ditahannya karena dia sadar keadaan dan kondisi adiknya jauh
lebih penting dipikirkan dan ditangani saat itu. Dan memang benar
saja, setelah mereka berdua berlari mencari sejauh kurang lebih
400 ataupun 500 meter, mereka menemukan sebuah gua yang
pintu masuknya penuh daun. Tetapi jelas terlihat ada jejak
manusia yang baru saja mengusik dedauanan ataupun
rerumputan di depan gua beberapa saat lalu. Sejenak keduanya
1807
saling melirik dan kemudian tersenyum, karena keduanya samasama
yakin dan memutuskan berjalan menggunakan ilmu
ginkang agar langkah mereka tidak terlacak lawan.
Bukan main marahnya Yu Kong ketika bejalan sejauh 4,5 meter
kedalam gua alam itu, dia mendengar suara-suara seorang gadis
yang menolak dan merintih, tetapi sesekali terdengar suara
tertawa lelaki muda yang kegirangan, penuh nafsu serta
terdengar sangat memuakkan di telinga Koay Ji dan Yu Kong:
“Jangan.... jangan, aaaaaku mau, aaaachhhhhhh.......” tak salah
lagi, ini merupakan rintihan dari Yu Lian, adik Yu Kong.
Tak mampu menahan dirinya, tiba-tiba Yu Kong membentak
dengan suara keras dan penuh rasa amarah:
“Bangsat, pemuda tak punya malu....... lepaskan adikku itu.......”
bentakan yang jelas menggema dan memenuhi ruangan gua itu.
Dan Koay Jie yang menyertai Yu Kong sudah menemukan
sepasang muda-muda yang sedang berasyik masyuk ria. Jubah
atau pakaian si Nona muda sudah awut-awutan, boleh dibilang
sudah setengah telanjang dan pahanya sudah terekspose penuh.
Bagian dadanya juga sudah setengah terbuka mempertontonkan
buah dada masak seorang gadis cantik yang sebetulnya haram
1808
dipertontonkan. Sementara si lelaki muda yang kemudian dikenali
dengan amat heran oleh Koay Jie sebagai Lat Ciu Sian Mo (Dewa
Tangan Telengas) Cie Tong Pek, murid termuda Mo Hwee Hud,
ternyata adalah penjahat cabulnya. Koay Jie merasa aneh,
karena dia melukai pemuda itu beberapa bulan silam dan butuh
setidaknya 3 bulan untuk dapat pulih kembali seperti sedia kala.
Tetapi, menilik keadaannya saat ini, Cie Tong Pek bukan saja
sudah sembuh kembali seperti sedia kala, bahkan juga
kepandaiannya terlihat menanjak dengan cukup hebat. Sangat
hebat malah dibandingkan kepandaiannya beberapa bulan yang
sudah lewat. Dan itu jelas terlihat dari sinar mata dan juga
bentakan dan tertawanya yang penuh tenaga.
“Ecccchhhhh, si kakak yang pemarah sudah menyusul datang......
dan engkau juga, echhhhhh, accchhhhh Tian Liong Koay
Hiap......” bukan main terkejut dan kagetnya Cie Tong Pek melihat
keberadaan Thian Liong Koay Hiap disitu. Sontak dia berdiri dan
siap siaga dengan sendirinya, membenahi pakaiannya dan
kemudian berkata dengan suara menyebalkan:
“Engkau tunggulah sampai kubereskan orang-orang ini manis.......
terutama si orang aneh yang selalu sok pahlawan itu. Dia memiliki
hutang yang harus dia bayar lunas atas perlakuannya terhadapku
1809
tempo hari” meski suaranya terdengar congkak, tetapi lakunya
jelas jeri menghadapi Koay Ji.
Begitu dia berdiri, Yu Kong hendak memburu kedepan, amat malu
karena gerak-gerik adiknya Yu Lian pada waktu itu sungguh
sangat merangsang dan sekaligus memalukannya selaku
kakaknya. Mendapati hal itu, dengan murka dia menegur dan
membentak Cie Tong Pek:
“Engkau apakan adikku itu.....” tegurnya muak dan murka,
matanya membara saat memandang Cie Tong Pek yang lebih jeri
dengan kehadiran Koay Ji. Meski berbeda dengan beberapa
waktu lalu, tetapi tetap saja Cie Tong Pek merasa jeri menghadapi
tokoh aneh yang melukainya secara hebat berapa waktu lalu.
“Hehehehe kami sedang mereguk madu dunia, sayang kalian
datang mengganggu. Kalau tidak, kami berdua sudah sudah
sedang terbang mengarungi surga dunia, dan dia sudah tentu
sudah lemas sekarang...... hahahahaha”
“Diam.......” bentak Koay Jie yang kini menjadi benar-benar murka
dengan perbuatan Cie Tong Pek. Bentakan yang penuh tenaga
sakti itu membuat wajah Cie Tong Pek berubah sangat hebat,
antara khawatir atau takut kalah dengan kagum karena lawan
1810
yang dahulu melukainya itu, ternyata juga semakin bertambah
hebat saja. “Kemana gerangan Suhu pergi......” pikirnya.
“Hmmmm, aku belum sempat membalas pukulanmu tempo hari,
hari ini kelihatannya aku memiliki kesempatan untuk bisa
membalas persen pukulanmu yang membuatku nyaris binasa
waktu itu. Hmm, majulah engkau orang aneh......” tantang Cie
Tong Pek sambil berusaha untuk menyembunyikan rasa jeri,
khawatir dan rasa takut yang menyerang secara tiba-tiba itu.
“Hmmmmm, pemuda rongsokan, sampah dunia persilatan, aku
memukulmu dahulu untuk membuatmu bertobat dan memberimu
waktu memikirkan kelakuanmu yang amat memuakkan itu. Dan
sekarang, dihadapanku kembali engkau berani dan lancang
mengulangi kelakuanmu yang tidak tahu malu itu. Benar-benar
sudah tidak dapat diperbaiki lagi engkau ini....” berkata Koay Jie
sambil bersiap, sementara Tong Pek juga bersiap menyerang.
Dan segera itu dilakukannya, sementara bersamaan dengan
Tong Pek menyerang Koay Ji, Yu Kong juga bergerak mendekati
Yu Lian adiknya yang dalam keadaan mengenaskan itu. Betapa
sangat malunya dia saat melihat keadaan adiknya yang selalu
ergerak erotis bagai cacing kepanasan mencari-cari belaian
seorang laki-laki, padahal disitu ada dua orang lelaki lainnya
1811
selain dirinya. Cie Tong Pek yang amat memuakkan dan juga
Thian Liong Koay Hiap yang betapapun adalah seorang laki-laki
juga. Dengan cepat dia menotok jalan darah “tidur” atau pingsan
Yu Lian yang kemudian membuat terhentinya dengan segera
gerakan-gerakan erotisnya. Tetapi secara bersamaan, wajahnya
berubah menjadi memerah dan yang semakin lama semakin
terasa panas bagaikan membara. Yu Kong rada panik tapi tetap
tak dapat berbuat apa-apa. Ketika memeriksa keadaan adiknya,
dia segera tahu bahwa adik perempuannya itu berada dalam
pengaruh racun asmara, atau racun penggelora asmara yang
membuat orang berkeinginan kuat untuk melakukan
persetubuhan. Hal yang sudah tentu amat memalukan. Apalagi
karena dia tahu adiknya adalah seorang gadis yang amat pemilih
kawan pria dan masih perawan yang suci.
Sementara itu, meski Cie Tong Pek sudah mengalami kemajuan
yang cukup hebat, tetapi masih tetap belum dapat mengapaapakan
seorang Koay Jie. Karena benar, memang dahulu dia
terpukul sangat berat dan harus beristirahat panjang akibat
membokong Thian Liong Koay Hiap. Saat ini, benar, iweekangnya
sudah menanjak sangat hebat, kelihatannya bahkan sudah
menyamai atau mungkin melampaui toa suhengnya, tetapi masih
tetap belum memadai untuk melawan seorang Koay Jie. Hal ini
1812
segera terbukti, karena hanya dalam tiga gebrakan saja, Koay Jie
sudah membuat Tong Pek terdesak hebat dan main mundur
belaka. Dia masih kalah cepat, kalah gesit dan terutama kalah
jauh kekuatan iweekangnya. Dan karena itu, Cie Tong Pek
mengeluh dalam hati dan berujung pada perbuatan nekatnya:
“Awas serangan.........” ujarnya sambil mengibaskan lengan dan
serentak memukul dengan sepenuh kekuatan iweekangnya.
Kibasan lengannya meluncurkan hawa beracun yang tentunya
dapat dilihat dengan amat jelas oleh mata Koay Jie, tetapi
pukulannya yang penuh tenaga juga dapat diantisipasi dengan
baik oleh Koay Jie. Sayang, si pemuda memuakkan itu memang
penuh daya licik. Otaknya penuh dengan siasat-siasat curang,
kecerdasannya dalam hal menemukan cara licik dan curang
memang luar biasa. Pukulannya awalnya terlihat bertenaga tetapi
kosong, tetapi cukup mampu sepersekian detik mengelabui Koay
Jie yang dengan cepat menyadari bahwa lawan akan berusaha
mengindar dan melarikan diri. Koay Jie sendiri sudah tentu
tidaklah takut dengan racun, segala macam racun tidak lagi
membuatnya takut dan khawatir. Dan saat Tong Pek meluncur
pergi, dengan cepat tangannya meluncurkan pukulan untuk
membuat pemuda bangor itu merasakan lagi hukuman darinya
seperti berapa bulan silam.
1813
“Dukkk.... “pukulannya mengena meski tidak cukup telak, tetapi
sekali itu cukuplah menurut pikiran Koay Jie. Meski sebenarnya
ingin mengejar dan memberi hajaran lebih keras, tetapi dia sadar
sesadar-sadarnya, keadaan Yu Lian sangat berbahaya saat itu,
dan sangat perlu diobati dengan amat segera. Maka setelah Cie
Tong Pek berlalu atau melarikan diri, Koay Jie kemudian
mendekati Yu Lian yang sudah diselimuti oleh Yu Kong karena
bagian-bagian tubuhnya yang terlarang banyak terekspose akibat
perlakuan Tong Pek.
“Bagaimana keadaannya.....”? tanya Koay Jie ketika melihat Yu
Kong agak gugup dan bingung menghadapi keadaan Yu Lian.
“Kelihatannya agak buruk, aku sungguh tak mampu
mengobatinya Locianpwee” jawabnya serak dan sedih untuk
adiknya itu.
“Baiklah, coba kulihat keadaannya.........”
“Silahkan Locianpwee.....” bisik Yu Kong dengan pandangan
penuh harap kepada Koay Ji dan pandangan penuh rasa kasihan
kearah Yu Lian yang terus menerus menggeliat meski sudah
tertotok. Koay Jie sendiri kebingungan ketika melihat keadaan Yu
Lian, apalagi manakala jubah Yu Kong yang menutupi tubuh Yu
1814
Lian tersingkap hingga mempertunjukkan bagian-bagian tubuh Yu
Lian yang sekal dan montok berisi. Keadaan itu benar-benar
sangat menggoda iman, bahkan menggoda iman seorang semisal
Koay Ji sekalipun. Apalagi, meski dalam dandanan sebagai Thian
Liong Koay Hiap, sejatinya dia adalah Koay Ji yang sedang pada
masa-masa usia remajanya. Dan sudah barang tentu,
pemandangan erotis seperti itu sungguh-sungguh godaan yang
amat berat.
Tetapi, hebat memang, meski terguncang amatlah hebatnya,
tetapi Koay Jie dapat tetap menguasai diri dan meski dengan
sedikit menggigil dia memegang lengan Yu Lian. Setelah
beberapa saat menggenggam serta memeriksa peredaran darah
dan keadaan Yu Lian, terlihat keningnya berkerut, tapi terlihat
seperti amat sulit untuk dapat segera memutuskannya. Tetapi,
toch dalam keadaan seperti itupun, dia haruslah bersikap,
karenanya dia bergumam:
“Saudara Yu Kong, jika adikmu ini tertotok seperti ini terus, dalam
hitungan satu jam, seluruh pembuluh darahnya akan meledak.
Dewa sekalipun tidak akan mampu untuk neolongnya lagi. Lohu
membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam untuk
menganalisis jenis racun, kadarnya serta jalan darah dan
kemungkinan pengobatan serta penyembuhannya. Tetapi,
1815
menilik keadaannya dan tingkat bahayanya, kita harus mencari
tempat yang lebih tenang dan, maaf, pengobatan ini harus berada
dalam pengawasan saudara secara langsung........”
“Locianpwee, lakukan hal yang engkau pikir akan dapat
menyembuhkannya. Apa dan bagaimana itu, sungguh aku tidak
terlampau paham, tetapi aku pastilah akan sangat berterima
kasih, juga adikku Yu Lian.......”
“Baiklah,,,,,, tapi kita membutuhkan ruangan yang baru. Karena
jika wajah Nona Yu Lian sampai berubah semerah darah, maka
waktunya akan segera berakhir. Tetapi untuk sampai pada titik itu,
setidaknya butuh waktu sejam sampai racun itu nanti membakar
semua jalan darah dan membuatnya pecah hingga berjujung ajal.
Kita harus mencoba dan sekaligus berpacu dengan waktu..........
Suiiiiiiiiittttt....” kembali Koay Jie memanggil kawan-kawan
monyetnya, dan hanya dalam hitungan beberapa detik, sudah ada
berapa monyet dalam gua itu. Dan berapa menit kemudian
mereka sudah berlalu sekaligus kawanan monyet itu menjadi
penunjuk jalan bagi Koay Ji dan Yu Kong. Berjalan sampai kurang
10 menit, mereka kembali menemukan satu gua alam yang
kelihatannya cukup tersembunyi dari pandangan orang banyak.
Tetapi gua yang mereka temukan sepertinya pernah
dipergunakan seseorang untuk menjadi tempat tinggal, tetapi
1816
karena sudah tidak ditinggali, jadinya sedikit kurang teratur dan
sudah kurang bersih. Maka adalah tugas Yu Kong yang kemudian
jadi bekerja membersihkan sebuah ruangan yang memiliki
ranjang buatan dan meski sudah lama, tetapi masih cukup kuat.
Para monyet kemudian berlalu setelah diberitahu dan sekaligus
sepertinya akan mengemban sebuah tugas khusus dari Koay Ji.
Tak berapa lama mereka berebutan keluar gua dan pergi entah
kemana kedalam hutan meninggalkan gua itu dengan penjagaan
oleh beberapa ekor monyet yang memantau dari jarak yang cukup
jauh namun tidaklah menyolok. Kawanan monyet itu seperti tahu
dan paham bahwa Koay Ji akan mengerjakan sesuatu yang
amatlah penting dan butuh pengawasan mereka meskipun dari
kejauhan belaka. Jika dalam keadaan normal, Yu Kong pasti
akanlah mengagumi dan heran dengan keadaan tersebut, tetapi
sayang, seluruh konsentrasi dan perhatiannya tercurah pada
proses penyembuhan adiknya.
Di dalam Gua, Koay Jie kembali melanjutkan pemeriksaannya
atas Yu Lian setelah terlebih dahulu memberinya sebuah pil
penawar racun. Tetapi, hanya dalam waktu 15 menit Yu Lian
menjadi tenang, setelahnya kembali dia meracau. Kembali dia
menggeliat geliat gelisah, merasa kepanasan dan juga gerakangerakan
erotisnya secara otomatis kembali muncul dan kelihatan
1817
sungguh tak dapat ditahannya. Koay Jie dengan bantuan Yu Kong
dalam ruangan itu dengan amat serius mencoba untuk
melanjutkan analisis serta sekaligus upaya mencari tahu cara
pengobatannya. Tetapi, setelah 15 menit kembali berlalu, Koay
Jie nampak kebingungan, meskipun begitu, dia tetap saja
melanjutkan pemeriksaannya. Sepuluh menit kembali berlalu, dan
Koay Ji terlihat semakin kebingungan dan sulit untuk dapat segera
memutuskan padahal waktu semakin sempit dan terbatas.
Sepertinya dia sudah memahami racun apa yang ditelan Yu Lian
dan sedang merangsangnya secara sangat hebat hingga tidak
kenal malu dan risih lagi. Tetapi dia belum menemukan cara dan
upaya yang tepat guna mengobatinya sehingga sembuh.
Sekali lagi dia melakukan pemeriksaan, tetapi setelah melalui
upaya panjang dan melalui waktu yang diucapkannya, tetap saja
dia gamang sementara wajah Yu Lian justru semakin memerah
dan memerah. Bahkan pada saat itu sudah mulai nampak
mendekati merah padam dan mulai membayang warna merah
yang lain, yakni warna merah berbeda dengan wajah yang merah
padam. Mulai agak lebih dekat ke merah sesungguhnya meski
belum terlihat merah darah. Melihat keadaan Yu Lian seperti itu
dengan amat terpaksa dan sambil menarik nafas panjang, Koay
Jie memandang Yu Kong dengan wajah yang agak panik dan
1818
jelas sangat kebingungan. Tetapi, bagaimanapun keadaannya dia
harus membuat kesimpulan dan karenanya, dengan
memaksakan diri diapun berkata:
“Saudara Yu Kong, adikmu Yu Lian kelihatannya sudah dicekoki
racun olahan dari Yen Yang Bwe (Bunga Bwe Perjodohan). Jika
hanya racun tunggal itu, maka lohu masih merasa sanggup untuk
menyembuhkannya, tetapi olahan yang dicampurkan adalah
racun dari Ang Soa Coa (Ular Benang Merah), membuat
pengobatannya menjadi sangat rumit. Karena hanya ada satu
cara untuk membebaskan Yu Lian dari keadaannya ini, dan cara
itupun bukan cara yang sopan, karena hanyalah dapat dilakukan
oleh seorang yang amat dekat dan sudah pasti menjadi calon
suami adik saudara Yu Kong ini. Apabia kedua racun itu masuk
sendiri-sendiri, masihlah dapat kuobati, tetapi dengan
dicampurkan dan diolah secara khusus, maka cara untuk
pengobatannya hanyalah satu...... yaitu melalui proses
persetubuhan. Tetapi itupun dengan sayarat bahwa ada
kemampuan dari sang lelaki untuk dapat menyerap sari racun itu.
Dan sari racun itu, dapat menjadi sumber latihan mematangkan
iweekang, meski alirannya tidaklah terlampau lurus ........” jelas
Koay Ji yang membuat wajah Yu Kong menjadi pucat dan
berubah menjadi amat menyeramka
1819
“Sungguh bangsat pemuda licik itu......” desis Yu Kong, dan
setelah itu keduanya terdiam sampai kemudian Yu Kong kembali
bertanya:
“Locianpwee, benarkah tidak ada cara lain lagi.....”? jelas ada
pengharapan serta ada permohonan yang sangat di nada
suaranya.
“Yu Kong, sayang sekali, caranya hanya itu. Jikapun ada cara
yang lain tetap sama, meskipun cara lain itu sedikit lebih sopan
tetapi harus dilakukan selama tiga bulan berturut-turut dengan
menyedoti sari racun melalui buah dada Nona Yu Lian. Dan
repotnya, itu dilakukan dalam keadaan dimana Nona Yu Lian
dalam keadaan sadar dan siuman penuh....... dan pertanyannya
adalah, siapakah gerangan yang bakalan dapat melakukannya?
dan akankah Nona Yu Lian mengijinkannya...? sayangnya hanya
ada dua cara itu yang dapat dilakukan. Maafkan lohu, karena
dalam Ilmu Pengobatan tidak ada lagi cara lain....”
Mendengar penjelasan itu Yu Kong terdiam. Terdiam karena
sadar bahwa kedua kemungkinan itu sama mustahli untuk dapat
dilakukan. Sejauh ini dia sangat paham, Yu Lian masih belum
memiliki calon suami. Karena semua perhatiannya hanya tertuju
pada missi mereka untuk membersihkan Perguruan Hong Lui Bun
1820
yang masih belum ketahuan ujungnya itu. Bahwa banyak
memang yang tertarik menjadi pasangan dan calon suaminya,
tetapi Yu Lian yang cantik dan montok itu terlampau terpaku dan
tegas dengan tugas perguruannya dan belum pernah merasa
tertarik dengan seorang pria. Bagaimana ini.....?
Tiba-tiba kembali terdengar erangan Yu Lian dan wajahnya
semakin memerah tanda bahwa waktu yang dimilikinya sudah
semakin menipis. Koay Ji sendiri berada di simpang jalan yang
amat terjal. Bahkan dia sudah pasrah karena memang amat sadar
bahwa jalan pengobatan untuk Yu Lian sudah tertutup. Meski dia
sadar, dia dapat mengobati Yu Lian, tetapi mana bisa dia
melakukannya dengan merenggut kesucian gadis itu?
Persoalannya bukan hanya di Yu Lian, tetapi juga dirinya sendiri.
Termasuk pada pilihan kedua, yakni, mana bisa dia memilih
melakukan pengobatan dengan penyedotan dari payu dara Yu
Lian? Terlebih karena dalam waktu 3 bulan pengobatan sementar
Yu Lian harus dalam keadaan sadar. Jikapun menggunakan batu
Gin Ciu Ouw, juga sudah amat terlambat. Pilihannya hanya dua
di atas, dan tidak ada pilihan lain lagi......... pilihan ketiga adalah
merelakan dan membiarkan Yu Lian meregang nyawa dalam
waktu kurang dari 20 menit kedepan.
1821
“Locianpwee...... mohon tolonglah adikku ini....” kembali Yu Kong
dalam nada suara memelas dan dengan suara serak.
“Yu Kong, kita tak dapat menolong Yu Lian dan memberinya noda
untuk kehidupan selanjutnya, sama saja dengan membebaninya
secara amat berat ketika dia ingin melanjutkan kehidupannya
kelak.......”
“Locianpwee, tapi.... betapapun hanya dia satu-satunya
saudaraku. Untuk saat ini, demi perguruan kami, bagaimanapun
kami harus siap mengorbankan banyak hal. Selain itu,
sesungguhnya aku sendiripun tidak siap menjalankan tugas
kehidupan dengan membiarkan satu-satunya adikku berakhir
hidupnya secara demikian tragis tanpa dapat aku berbuat apaapa,
dan tepat berada di depan mataku pula.....” tangis Yu Kong
demikian sedihnya, karena memang keadaan dirinya dan adiknya
menjadi terasa mengenaskan mengingat keadaan keluarga dan
perguruan mereka.
“Accchhhh Yu Kong, engkaupun tahu demikian banyak tugas
yang harus kuhadapi. Dan jelas, lohu sendiripun tidak lagi
berdaya untuk membantu dan menyembuhkan Nona Yu Lian.
Pilihan-pilihan penyembuhannya terlampau riskan dan bakalan
akan mengorbankan kesantuan kita, dan korbannya terutama
1822
adalah adikmu sendiri. Pilihan kedua sangat tidak mungkin,
karena lohu harus menetap selama 3 bulan di gua ini, sementara
banyak tugas perguruan, tugas pribadi yang harus lohu kerjakan.
Engkau tahu betul persoalan itu.......” jawab Koay Ji yang
tersentak kaget ketika Yu Kong memintanya untuk melakukan
pengobatan. Memintanya jelas dengan harus mengijinkannya
menyetubuhi Yu Lian. Bagaimana Koay Ji tidak menjadi kaget dan
tidak tersentak hebat dengan ide itu. Terlintas dalam
angannyapun tidak.
Sementara mereka bercakap mencari solusi, Yu Lian kembali
mengerang dan kini wajahnya semakin memerah dan memerah,
tanda waktu yang dimilikinya semakin sempit. Koay Ji sendiri juga
sadar, waktunya semakin sempit, dan Yu Kong juga melihat
gelagat ini. Terutama karena melihat sinar mata pasrah di mata
Koay Ji dan sinar mata pasrah berarti bahwa adiknya harus
direlakan untuk pergi selamanya. Dan untuk menerima hal ini,
masih belum seorang Yu Kong siap menerimanya. Karena itu,
saat mereka berdua saling pandang Yu Kong berkata:
“Locianpwee, bolehkah sebagai akakaknya aku memohon agar
engkau dapat melakukan pertolongan itu? Biarlah aku, Yu Kong
kakaknya yang bertanggungjawab atas semua kejadian yang
menyedihkan ini. Betapapun, aku tidak akan membiarkan adikku
1823
tercinta berakhir hidupnya secara nista seperti ini langsung
didepan mataku sendiri tanpa melakukan apapun juga......” katakata
Yu Kong benar-benar telak menghantam jantung hati dan
pertimbangan moral Koay Ji. Benar keduanya tidak seharusnya
membiarkan Yu Lian mati dengan cara demikian, meski juga
untuk menolongnya membutuhkan pertimbangan moral yang
bukannya akan mudah dan gampang untuk diputuskan. Tetapi,
waktu Yu Lian juga semakin sempit.
“Yu Kong, apa.... apa maksudmu.....”? meski Koay Ji tahu
jawabannya tetapi tidak pelak, dia meminta ketegasan Yu Kong
dengan sangat kagetnya.
“Locianpwee,, engkau lakukanlah, engkau tolonglah adikku satusatunya
itu. Biarlah resikonya kutanggung sebagai kakaknya,,,,
karena aku sungguh tidaklah dapat membiarkannya mati dengan
cara seperti ini. Tolonglah adikku itu Locianpwee.....” sekali ini Yu
Kong meminta sambil meratap sangat sedih.
“Yu Kong.......” tetapi Koay Jie tak dapat berkata apa-apa, bibirnya
kelu, matanya nanar, otaknya kosong meski biasanya dia sangat
cerdas.
1824
“Jika Locianpwee tidak mengingininya sebagai istri, biarlah aku
kakaknya yang akan menjelaskan semua kepadanya kelak......
aku sangat sadar akan hal itu, bahwa memang Locianpwee
lakukan semata untuk menyelamatkan nyawanya.......”
“Yu Kong, engkau tidak harus .....”
“Nggggggggggggggggggg,,,, achhhh, panas....”
Kata-kata penolakan Koay Ji patah mendengar keluhan Yu Lian,
karena dia sadar waktunya sudah kurang dari lima menit belaka.
Wajahnya semakin memerah, jika sampai darah mulai menetes,
jangan harap dapat disembuhkan lagi........ dan Koay Ji sangat
paham soal itu.
“Haruskah kulakukan....? mana bisa, bahkan menyentuh seorang
wanitapun belum pernah kulakukan. Apalagi kini harus langsung
melakukan persetubuhan dengan Yu Lian..... bagaimana dengan
Sie Lan In yang kucintai? Ach, sungguh sangat pusing dan sulit
memutuskannya. Tapi, haruskah kulakukan meski dengan
maksud untuk sekedar menyelamatkan nyawanya.....”? Koay Ji
benar-benar dalam situasi yang snagat dilematis dan sulit
memutuskan. Memutuskan antara menyelamatkan nyawa orang
dengan kepentingan dirinya sendiri.
1825
“Acccchhhh, baiklah Yu Kong.......” setuju akhirnya Koay Ji, tetapi
sambil air matanya menetes dipipinya. Yu Kong sampai terpana
dan dia sendiri sadar, bahwa teramat berat permohonannya
kepada Koay Ji. Sangat tidak pantas, tetapi karena memang tidak
ada pilihan lain lagi maka dengan mengorbankan harga dirinya
dan juga harga diri adiknya terpaksa pilihan berat itu harus
dilakukan.
“Terima kasih Locianpwee......” hanya kalimat pendek itu yang
bisa keluar dari bibir Yu Kong yang juga kasihan melihat Koay Ji
atau Koay Hiap bercucuran air mata ketika memutuskan
keputusan nyeleneh itu.
“Yu Kong, engkau keluarlah...... dan jangan sekali-sekali
mengganggu lohu selama kurang lebih setengah jam, karena
bukan hanya racun, tetapi juga menyerap dan menetralisasi
iweekangnya agar tidak habis tersedot........ cepatlah, waktu kita
sudah sangat terbatas, dia sudah hampir tidak dapat bertahan.....”
“Baik locianpwee,,,,,,,,” tanpa menghitung 1,2,3, Yu Kong segera
beranjak keluar. Dan sama belaka dengan Koay Jie, Yu Kong juga
berjalan keluar dengan air mata mengucur di pipinya. Mereka
berdua sama pernah mengalami ketegangan, sama pernah
menghadapi pertempuran yang mempertaruhkan nyawa. Semua
1826
kesulitan dan tantangan itu, mereka berdua, khususnya dia, Yu
Kong, hadapi dengan mata terbuka dan dengan penuh
keberanian. Tetapi, menghadapi persoalan Yu Lian yang seperti
ini, dan kemudian meminta Koay Hiap yang meski dia tahu
usianya masih muda namun sangat terbuka membela mereka, dia
sungguh-sungguh tak mampu menahan air matanya. Dia sadar,
kejadian didalam ruangan itu menghancurkan perasaan dan juga
harga diri seorang Koay Hiap, tetapi juga kelak meninggalkan
beban tidak ringan dalam kehidupan adiknya. Bagaimana dia
tidak menitikkan air mata mengingat kedua orang yang dia
sayangi dan hormati itu?
Sementara itu, sepeninggal Yu Kong, karena waktu sudah amat
sempit, Koay Ji segera membuka pakaiannya, kemudian
membuka totokan atas tubuh Yu Lian, dan selanjutnya........
semuanya terjadi. Koay Ji tidak harus menunggu lama, karena
dengan amat segera Yu Lian sudah menerkamnya dan.....
Mungkin, itulah yang namanya TAKDIR. Anehnya, Yu Lian berada
diantara sadar dan tidak sadar, antara dikuasai nafsu yang amat
kuat serta menggelegak, namun mampu melihat dua wajah
berbeda secara bergantian. Itulah wajah Thian Liong Koay Hiap
dan juga wajah Koay Jie yang asli berganti-gantian. Karena ketika
melakukannya, Koay Ji memang mengunjukkan identittas aslinya,
1827
tetapi tangkapan Yu Lian adalah Koay Hiap ketika sedang
membuka pakaiannya. Tetapi, setelah setengah jam berlalu, dia
kehilangan kesadaran dan baru sadar kembali satu jam
kemudian.
Tetapi dihadapannya sedang bersamadhi Thian Liong Koay Hiap
dan disisinya ada Yu Kong yang sedang menjagainya dan sedang
menata ranjangnya seperti sedang membersihkan segala
sesuatunya. Tetapi anehnya, berbeda dengan orang lain yang
setelah melakukan hubungan senggama menjadi sangat lemas
dan lelah, Yu Lian justru merasakan hal yang sebaliknya. Dia
merasa amat segar, amat bersemangat, bahkan tubuhnya serasa
amat ringan dan seperti ingin terbang. Dan bukan cuma itu,
tenaganya terasa berlebihan dan tubuhnya seperti ingin dan akan
terangkat keatas. Dalam keadaannya yang sera aneh dan serba
asing seperti itu, tiba-tiba telinganya menangkap suara Yu Kong
yang berbisik:
“Adikku, engkau harus melakukan samadhi, atur tenagamu,
kumpulkan di tantian, perlahan melatihnya agar kekuatan besar
itu tidak merembes keluar atau bahkan malah menghantammu
dari dalam..... cepatlah, Thian Liong Koay Hiap Locianpwee
sudah berkenan membantumu. Ayolah....”
1828
Mendengar suara kakaknya, Yu Lian menjadi tenang kembali, dan
kemudian sesuai arahan kakaknya, diapun melakukan samadhi
tanpa sempat memperhatikan betapa Yu Kong kemudian bekerja
membersihkan ranjang dan juga pakaiannya yang tadi sudah
sangat awut-awutan, bahkan setahunya dia tadi ketika bergumul
di ranjang sudah dalam keadaan bugil. Hanya, suatu hal yang
tidak dapat disimpan oleh Yu Kong dan Koay Ji dari Yu Lian, yaitu
fakta bahwa Yu Lian merasa agak nyeri dan sedikit sakit di
selangkangannya, tepatnya di kemaluannya. Tetapi, dia tidak
sempat memikirkannya lebih jauh, karena dia harus
berkonsentrasi memelihara dan menata tenaganya yang entah
mengapa melonjak berapa kali lipat kuatnya.
Dan beberapa saat kemudian dia mulai mendengar bisikanbisikan
dari Thian Liong Koay Hiap yang menuntunnya untuk
mengatur tenaga berlebih yang bersifat panas itu. Bahkan
beberapa kali bukan hanya dengan berbisik, tetapi juga beberapa
kali Koay Hiap melakukan totokan-totokan untuk membantu
kelancaran pengerahan tenaga ataupun menghalau tenaga
berlebih yang bersifat amat liar. Proses bantuan Koay Hiap
berlangsung tidak lama, tetapi bantuan itu berakibat hebat, karena
Yu Lian kemudian mulai bisa menata tenaganya sendiri. Dan
setelah proses tersebut berlangsung secara lebih mudah baginya,
1829
akhirnya Koay Hiap sekali lagi menuntun dan memberinya
petunjuk dengan berkata kepadanya: “Yu Lian, lanjutkan sampai
engkau sungguh-sungguh mampu mengendalikan dan mengatur
kekuatan sesuka hati dan berbaur dengan iweekangmu
sendiri......”
Setelah itu, Koay Ji kemudian berpaling dan memandang Yu
Kong yang juga saat itu sedang memandang dan
memperhatikannya dengan ucapan terima kasih yang tak
terhingga. Apalagi ketika Koay Ji berkata:
“Yu Kong,,, secara tak terduga, paduan kedua racun itu dan
pertarungannya dengan iweekangku memberi kami masingmasing
keuntungan yang tidak kecil. Terutama bagi Yu Lian
sendiri, kemajuannya rasanya meningkat dengan setidaknya 20
tahun hasil latihan iweekang. Semua tenaga yang berasal dari
kekuatan hawa panas kedua racun itu yang bisa kujinakkan, kini
berbaur dengan tenaga iweekang adikmu, tetapi kemampuannya
mengatur dan menata tenaganya saat ini sangat menentukan
apakah dia akan berhasil atau tidak. Boleh dibilang, dari keadaan
celaka, dia justru beroleh manfaat yang amat besar bagi latihan
iweekangnya....... mengenai apa yang baru saja terjadi, engkau
boleh menjelaskan apa adanya kelak. Tetapi, untuk apa yang
kulakukan untuk menolongnya, mohon engkau menyimpannya
1830
sampai aku ataupun adikmu sudah cukup siap untuk dapat
mendengar dan menerimanya apa adanya..... tetapi,
bagaimanapun, sesungguhnya adikmu itu, Yu Lian, sudah
menjadi istriku. Tetapi, lohu tidaklah dapat bersikap serakah untuk
berlaku seperti itu, karena Yu Lian sendiri bisa melakukan dan
menetapkan pilihannya. Karena itu, lohu harap engkau cukup
bijaksana memutuskan dan menjelaskannya secara perlahan.
Setelah ini, Lohu sendiri memiliki sejumlah tanggungjawab yang
mengharuskan berpisah dengan kalian berdua.....”
“Baik Locianpwee,,,, tetapi atas semua itu, terima kasih karena
telah berkenan untuk mengembalikan nyawa adikku Yu Lian
meskipun dengan cara yang kutahu teramat sulit untuk dijelaskan
dengan kata-kata......”
“Sudahlah, semua sudah terjadi...... meski benar untuk
menyelamatkan nyawanya, tetapi Lohu sendiripun tidak mungkin
menghindar dari keadaan dan konsekwensi selanjutnya. Tetapi,
biarlah Nona Yu Lian yang memutuskannya......” Koay Ji berkata
dengan mencoba bersikap bijak dan terbuka.
Dua jam kembali berlalu, dan Yu Lian sudah menyelesaikan
samadhinya, bahkan Koay Ji sudah menjelaskan keadaan
tubuhnya saat itu. Tetapi, Koay Ji tidaklah menjelaskan
1831
pengobatan anehnya atas Yu Lian, meskipun Yu Lian samarsamar
sudah bisa menangkap dan mengerti bagaimana proses
itu berlangsung. Tetapi, begitu mengetahui bahwa Thian Liong
Koay Hiap yang ternyata melakukannya, diam-diam dia justru
merasa bahagia karena sedikit banyak dia bisa menerka bahwa
dibalik dandanan Thian Liong Koay Hiap pasti adalah seorang
pemuda. Soal gagah, tampan atau tidak, adalah persoalan yang
kesekian buat dirinya. Tetapi terlepas dari aib diperkosa seorang
pemuda comberan seperti Cie Tong Pek adalah anugerah luar
biasa yang patut disyukuri.
Apalagi ketika Yu Lian mengetahui bahwa kekuatan iweekangnya
secara luar biasa telah maju sangat jauh. Bahkan dia kini dapat
mengimbangi kekuatan kakaknya, atau malah masih sedikit tipis
mengatasi kakaknya Yu Kong itu. Beberapa kali dia mencobanya,
ternyata kini dia tidak lagi merasa terdesak dengan cecaran
kakaknya Yu Kong. Dan karena itu, dia meminta kemudian
kakaknya guna menurunkan ilmu-ilmu rahasia perguruan mereka
yang lainnya. Menjadi semakin bergembira, karena kemudian
Koay Hiap secara sengaja menuntun, melatih, menyempurnakan
dan membuka kemungkinan mereka menciptakan jurus-jurus
baru dari latihan mereka. Yu Kong sendiri menjadi semakin
tunduk dan kagum serta hormat dengan Thian Liong Koay Hiap,
1832
apalagi karena menemukan kenyataan, betapa berdua adiknya,
mereka seperti bertemu seorang yang bahkan lebih lihay dari
Suhu mereka sendiri. Thian Liong Koay Hiap dengan teliti dan
tekun terus membantu keduanya untuk memeriksa ilmu-ilmu
perguruan mereka, kemudian malahan juga menyempurnakan
dan mengurangi kelemahan mereka.
Malam hari baru kemudian mereka beristirahat. Untungnya,
mereka semua tidak perlu merasa takut dan khawatir dengan
ketersediaan makanan, karena Koay Ji dapat segera meminta
bantuan kawan-kawan monyetnya. Bahkan secara khusus dia
beroleh hadiah beberapa buah yang sangat membantu kondisi
tubuh mereka dibawa oleh kawan-kawan monyet itu. Maka pada
kahirnya, malam itu dapatlah mereka lalui dengan istirahat yang
baik dan proses pemulihan tubuh dan kondisi Yu Lianpun berjalan
sempurna. Hanya, Koay Ji ketika melakukan samadhi pada
malam harinya menemukan kenyataan betapa kekuatan hawa
murninya mengalami sedikit gangguan, atau tepatnya mengalami
sedikit kesulitan untuk maju. Bahkan, ketika berkali-kali
melakukan pemeriksaan, dia merasa kekuatan hawa murninya
sedikit berkurang. Tetapi, hal itu tidak terlampau dipikirkannya.
“Mungkin karena berusaha untuk menyembuhkan Yu Lian dan
1833
bekerja keras menawarkan pengaruh racun dalam tubuhnya.....”
pikir Koay Ji.
Merekapun beristirahat memulihkan kondisi tubuh masingmasing,
bahkan dapatlah disegarkan dengan buah-buahan segar
yang disiapkan oleh kawan-kawan monyet dari Koay Ji. Tetapi
keesokan harinya......
“Kalian semua keluarlah........ lohu menunggu di luar.....” sebuah
suara yang amat bening masuk kedalam gua dan bergema hingga
memasuki ruang telinga dan ruang batin Koay Ji. Suara itu bukan
menghantam dan memukul mereka, tetapi sangat terang dan
bening melalui saluran udara dan masuk di telinga mereka. Jika
Yu Kong dan Yu Lian merasa tenang saja karena mereka merasa
memang sudah meningkat kemampuan ilmu mereka, adalah
Koay Ji yang tersentak kaget. Malahan teramat kaget menyadari
sesuatu yang luar biasa:
“Kemampuan seperti ini adalah kemampuan luar biasa, tokoh
sekelas Mo Hwee Hud saja atau mungkin malah melebihi, yang
bakalan mampu melakukannya seperti itu. Apakah anak muda
bejat itu datang dengan memanggil Suhunya”? desisnya dalam
hati dan kemudian diapun bergegas menyiapkan diri. Dan tak
lama kemudian Koay Ji sudah berjalan keluar dari dalam gua
1834
dengan diikuti oleh Yu Kong dan juga Yu Lian. Tetapi, Koay Ji
terkejut karena bukannya menemukan Cie Tong Pek dengan
Suhunya Mo Hwee Hud, tetapi justru bertemu dengan seorang
yang meski sama tuanya, tetapi jelas bukanlah Mo Hwee Hud.
Berbeda dengan Mo Hwee Hud yang meski licik tetapi berdandan
sedikit mirip pengikut Budha, maka tokoh yang sudah tua ini
berdandan rada urakan dan terkesan seperti seorang pengemis.
Dan yang jelas, tidak dikenal oleh Koay Ji, setidaknya belum
pernah melihatnya.
“Selamat bertemu locianpwee,,,,,, achhhh, echhh maaf, kukira
tadinya Mo Hwee Hud Locianpwee yang datang berkunjung. Dan,
maafkan lohu karena sempat memberi hajaran kepada anak
muda bejat yang datang bersama locianpwee, dia nyaris saja
memperkosa adik sahabatku ini, syukur masih dapat kami
sembuhkan....” berkata Koay Ji dalam nada santai meski agak
kaget karena diluar dugaannya justru bukan Mo Hwee Hud yang
datang. Entah siapa.
“Hmmmmm, semuda itu tapi berani memberi hajaran kepada
muridku.... hahahaha, dunia sungguh-sungguh ajaib membentuk
anak muda seperti engkau menjadi tokoh tak bermata. Anak
muda, bahkan Gurumu sendiri jika masih hidup dan mengenalku,
belum tentu akan berani berhadapan sedemikian lancang
1835
denganku.... siapa engkau memangnya....”? bertanya si orang tua
yang anehnya, bahkan Koay Ji sendiri seperti tidak melihat orang
tua itu membuka mulutnya. Tetapi suaranya bening dan bernada
tinggi menggeletar masuk ke telinga mereka. Untung tiada
maksud untuk menyerang mereka, kelihatannya seperti hanya
ingin menggertak dan menakuti mereka bertiga. Tetapi, jelas
Koay Ji tidak takut.
“Lohu bernama Thian Liong Koay Hiap, maafkan, mengenai
Suhuku, dia orang tua sudah lama tidak ingin namanya dibawahbawah
kedalam perbuatan muridnya itu. Karena perbuatanku
adalah tanggungjawabku, dan sudah pasti tidak bertentangan
dengan ajaran-ajaran beliau......”
“Ech,,, apa engkau kira dapat menyembunyikan siapa Suhumu
dari mataku dan juga pengamatanku.....? hahahahaha, sungguh
lucu ...” si orang tua kembali tertawa, tapi Yu Kong dan Yu Lian
sama sekali tidak melihat mulutnya bergerak pada saat bicara,
dan bahkan Koay Ji sekalipun tak melihat gerakan mulutnya. Tapi,
Koay Ji tentu paham, tokoh tua itu sudah mampu mengolah suara
dari dalam dengan dorongan iweekang tingkat tinggi atau yang
bahkan sudah mencapai tingkat sempurna. Maka semakin
kagetlah dia. Tokoh ini jelas bukan Pendeta Budha, jika bukan,
dengan ilmu apa dia melakukannya? Apakah?
1836
“Tidak berani, tidak berani Locianpwee,,,,, tapi mohon tanya, apa
gerangan nama Locianpwee yang mulia....”? bertanya Koay Ji
meski tidak menunjukkan rasa takut, tapi takut menyalahi kaum
tua maka dia menjaga pola lakunya. Tapi, jawaban serta respons
kakek itu sungguh membuatnya sebal.....
“Hahahahaha, apakah engkau mulai takut anak muda....? tenang
sajalah, lohu tidak bakalan mempermalukan anak muda
sepertimu dengan tanpa memberi engkau kesempatan membela
diri. Hanya saja, karena engkau sudah lancang dan berani
menghina muridku, maka cukup dengan menerima sekali
gaplokan darinya, maka urusan diantara kita, urusanmu dengan
muridku kunyatakan selesai. Selain itu, ingin kulihat dengan cara
bagaimana engkau memukul muridku tadinya,,, jangan-jangan
manusia yang usilan itu sudah menurunkan ilmunya ke anak
muda sepertimu dengan cara sembarangan dan
serampangan.......”
“Hmmmm, engkau terlampau memandang enteng orang
Locianpwee, anak muda itu dengan terpaksa kuberi hadiah satu
pukulan karena tindakannya yang memuakkan. Menghina
seorang gadis muda, hendak memperkosa, dan beberapa waktu
lalu juga membokongku ketika bertarung dengan toa suhengnya.
Sungguh amat memalukan dan memuakkan. Tetapi jika memang
1837
Locianpwee tetap mendesakku yang muda untuk menerima
gaplokannya, maka kuperingatkan agar berhati-hati jangan
sampai dia sekali lagi menerima ganjarannya yang menurutku
masih belum cukup” tegas jawaban Koay Ji dan jelas dia tidak
takut.
“Hahahahaha, lumayan, sungguh lumayan. Punya keberanian,
punya prinsip. Baik anak muda, Lohu tidak akan memaksamu
menerima gaplokannya secara cuma-cuma, engkau boleh
menerima gaplokan dari lohu saja, karena lohu lihat, muridku ini
belum akan sanggup menghadapimu satu lawan satu. Tapi, jika
engkau sanggup menerima serangan lohu sampai 15 jurus, maka
anggap saja gaplokanmu sudah lunas engkau tebus, tapi jika
tidak, maka selain gaplokan lohu, engkau masih akan menerima
rentenya sekaligus dari muridku itu... bagaimana anak muda, adil
bukan”? dengan seenaknya si kakek aneh itu menetapkan aturan
yang tentu saja membuat Koay Ji menjadi gondok dan sifat keras
kepalanya muncul tiba-tiba. Karena itu, dia segera berkata
dengan sama usilnya
“Dan seandainya 15 jurus tersebut ternyata siauwte yang menang
dan terhindar dari gaplokan locianpwee, terus apa yang akan
menjadi hadiah buatku.....”? tanya Koay Ji nekat dan dengan
1838
suara penuh percaya diri. Perkataannya membuat si kakek aneh
melengak, tetapi kemudian tertawa dan berkata:
“Hahahahahaha, engkau membuatku kagum anak muda.
Pertanyaanmu sangatlah tepat. Apa yang engkau inginkan dariku
jika memang engkau terhindar dari gaplokan itu selama 15 jurus
seranganku.....”? tanya si kakek tua itu dengan gaya slebor dan
seenaknya seakan sudah pasti Koay Ji bakalan jatuh
ditangannya.
“Bukan hal yang amat luar biasa sebenarnya Locianpwee,
siauwte hanya sekedar ingin tahu dan ingin mendengarkan
secara langsung dari Locianpwee keterangan mengenai siapa
gerangan locianpwee ini..... rasanya cukup adil bukan....”? jawab
Koay Ji dengan berani.
“Hahahaha baiklah anak muda yang menarik, jika belum ada
muridku ini, tentu saja engkau adalah calon yang sangat menarik
hati. Tetapi, jangan harap engkau dapat bertahan dalam 15 jurus
gaplokanku...... engkau sudah siap....”? bertanya si kakek aneh
setelah merasa cukup bicara panjang lebar
“Sejak dari tadipun siauwte sudah siap, silahkan locianpwee....”
jawab Koay Ji yang memang sudah awas sejak pertemuan
1839
mereka. Apalagi karena Koay Ji amat paham bahwa tokoh tua
dihadapannya ini mestinya memiliki latar belakang yang hebat
dan tidak tercerminkan dari gaya dan cara tampilannya yang asalasalan,
awut-awutan dan bahkan mendekati gaya seorang
pengemis. Diam-diam Koay Ji justru menjadi tegang sendiri dan
ini merugikannya....
“Awas anak muda.......” sambil berkata demikian, tanpa
melangkah Kakek aneh itu menuding kearah Koay Ji. Dan Koay
Ji bukannya bodoh, karena dengan segera dapatlah dia
merasakan betapa hawa mujijat sedang menyerangnya. Tetapi,
yang sangat aneh dirasakan oleh Koay Ji adalah, serangan Kakek
aneh itu sepertinya memiliki demikian banyak kemiripan dengan
ilmu khasnya; yakni Ilmu Ci Liong Ciu Hoat (Ilmu Mengekang
Naga). Sudah tentu dia dapat menyelami dan paham dengan
arah, gerakan memutar dan sasaran serta akibat jika terkena
totokan maut seperti itu. Karena itu, Koay Ji menyiapkan dirinya
dengan menggetarkan hawa Pouw Tee Pwe Yap Sian Sinkang di
lengan dan kemudian bergerak dengan Ilmu Langkah Thian Liong
Pat Pian. Dalam waktu singkat, 3 jurus berlalu dengan juga
menghasilkan kekagetan tak terlukiskan pada wajah masingmasing,
Koay Ji juga si Kakek Aneh. Keterkuejutan juga sangat
1840
jelas membayang dari sinar wajah si kakek aneh begitu melihat
gaya gerakan dan langkah kaki Koay Ji.
Apa pasal? Koay Ji kaget dengan dua hal, pertama kepandaian
lawan yang terlalu mirip dengan ilmu yang juga dimilikinya yakni
Ilmu Ci Liong Ciu Hoat (Ilmu Lengan Mengekang Naga). Dalam
banyak hal, nyaris 90% mirip dan karena itu Koay Ji bisa
mengantisipasi dan mengetahui bagaimana menangkalnya dan
bagaimana untuk menghindarinya. Tetapi, setelah melalui atau
menghindar sebanyak 2 jurus, Koay Ji memutuskan untuk
mencoba kekuatan tenaga lawannya yang mengejarnya untuk
menotok pangkal lengan kirinya. Dengan iweekang warisan Bu Te
Hwesio diapun mengebas dalam kekuatan sampai 5 bagian.
Tetapi hasilnya benar-benar membuat Koay Ji kaget bukan main.
Bukan hanya kuat kuar biasa, tetapi kekuatan sinkang lawan
sungguh berbeda dengan lawan-lawan sebelumnya, sama liat,
sama ulet dan mampu membuat tenaga tangkisannya tergelincir.
Berbeda dengan kekuatannya dalam menggiring tenaga lawan,
sekali ini, kekuatan tenaganya seperti terpeleset bagaikan
berjalan di atas jalan penuh minyak dan kakinya terpeleset saking
licinnya. Dan pengaruh kekuatan iweekangnya hilang begitu saja.
Sementara dipihak yang lain, si Kakek aneh juga terkejut
setengah mati ketika pada 3 jurus awal dia menyaksikan
1841
perlawanan yang tidak jauh dari tingkat kemampuan dia sendiri.
Tetapi bukan hal itu yang mengejutkannya, dia sudah tahu bahwa
anak muda yang mengenakan “rias wajah” yang sangat halus dan
nyaris mirip aslinya, adalah tokoh muda yang jelas amat berisi.
Yang tidak dia sangka adalah, tingginya kemampuan lawan muda
itu sangat jauh dari perkiraannya; dan hal yang kedua yang juga
mengagetkan dan malah inilah yang menyentaknya, adalah
gerakan kaki lawan yang terlampau mirip dan nyaris semuanya
sama dengan ilmu khas mereka yang disebut dengan Ilmu Lam
Hay Peng Po Leng Im Sin Hoat (Ilmu Gerak Tubuh Menyeberangi
Awan Tenang di lautan Selatan). Ilmu itu oleh Koay Ji dinamakan
Ilmu Langkah Thian Liong Pat Pian (Naga Sakti Berubah Delapan
Kali). Betapa si kakek aneh tidak kaget?
“Hmmmm, sungguh-sungguh berisi......” dengus si kakek aneh
menjadi terkejut dan kini berubah dengan seketika menjadi sangat
serius. Hal ini jelas terbayang dari seri wajahnya serta juga sinar
mata yang berubah amat aneh. Antara merasa senang, gembira,
penasaran dan seperti menemukan sesuatu yang amat jarang dia
temui dalam perjalanannya sebelum hari ini. Tetapi, artinya bagi
Koay Ji adalah bahaya, karena si kakek sudah pasti akan segera
meningkatkan serangannya dan menjadi lebih serius dalam
menyerang.
1842
Dalam tiga jurus selanjutnya, kembali si kakek menyerang dengan
cepat dan kuat bukan main, sampai-sampai Koay Ji harus
berjibaku dengan menyandarkan diri menggunakan beberapa
jurus ciptaannya dari Kitab Rahasia Gerakan Manusia. Jurusjurus
itu adalah khusus jurus pertahanan karena totokan-totokan
lawan amat berbahaya dan menyasar bagian-bagian yang sangat
membahayakan. Tetapi pada jurus ketiga, tiba-tiba diapun balas
menyerang dengan Ilmu Ci Liong Ciu Hoat (Ilmu Mengekang
Naga) dan menggunakan dua jurus sekaligus yakni jurus Hoat In
Kian Gwat (Menghalaukan awan melihat bu!an) dan juga disusul
dengan jurus Hun Ceng Tan (Membuyarkan Abu Menjernihkan
Suasana). Kedua jurus tersebut juga didorong oleh kekuatan luar
biasa dari Iweekang Pouw Tee Pwe Yap Sian Sinkang hingga 7
bagian, hingga dapatlah dibayangkan betapa kuatnya serangan
Koay Ji pada saat itu.
Secara berturut Koay Ji menyasar jalan darah Thian King Hiat di
siku lengan lawan dan sekaligus menyasar menotok kearah Ki
Bun Hiatnya. Disusul dengan bergerak secara gesit menggeser
kaki kanan bersilang dengan kaki kiri dan menyerang jalan darah
Hian Ki Hiat di dada si kakek. Tetapi dalam kagetnya, baik Koay
Ji maupun si kakek aneh bergerak dalam ilmu dan sesekali jurus
yang mereka sangat kuasai. Karena kakek aneh itu bergerak
1843
dengan Ilmu Mujijat Thian Liong Pat Pian dan juga menggunakan
jurus Peng Hong Tiang Ho (Membekukan Arus Sungai yang
deras). Sudah semakin jelas bahwa keduanya saling mengenal
dan mengetahui Ilmu dan jurus yang mereka gunakan saling
serang dan saling bertahan itu. Dalam waktu singkat mereka
sudah menghabiskan hampir 10 jurus, tetapi sama sekali tidak
jelas siapa yang akan mampu memenangkan pertarungan. Si
Kakek aneh segera sadar bahwa janji 15 jurusnya berada dalam
ancaman, karena tiba-tiba sadar, jangankan 15 jurus, 100
juruspun belum tentu dia mampu menggaplok Koay Ji.
Tetapi, Koay Ji harus mengakui bahwa lawannya memang hebat,
terutama amatlah terasa pada bagian iweekang. Iweekang lawan
terasa lebih matang, lebih mengalir dan berbeda dengannya,
lawan lebih mengalir, lebih matang dan menggunakannya pada
saat-saat yang amat tepat. Kondisi ini hanya dimungkinkan
melalui proses yang panjang, pengalaman yang banyak dan
kegigihan dalam berlatih, berlatih dan dalam prakteknya
bertarung dengan banyak orang. Pada sisi ini, kematangan si
kakek memang tidak aneh dan Koay Ji terpaksa memang haru
mengakuinya. Tetapi untungnya, Koay Ji sendiri juga memiliki
keistimewaannya sendiri dalam kombinasi ilmunya yang beragam
dengan kematangan penguasaanya dalam ilmu-ilmu Budha.
1844
Apalagi karena ilmu-ilmu tersebut justru diwarisinya dari kedua
orang Suhunya yang merupakan pentolan utama Ilmu Budha
pada jaman itu.
“Hmmmmmm, pandai menggunakan Ilmu Lam Hay Peng Po Leng
Im Sin Hoat (Ilmu Gerak Tubuh Menyeberangi Awan Tenang di
lautan Selatan), Ilmu Cap Ci Tam Kan Ciu (Ilmu Sentilan Sepuluh
Jari) dan pandai pula Ilmu Ban Hwi Ie Yong Sut (Ilmu Merias
Wajah). Tetapi menggunakan iweekang dari Ilmu Pouw Tee Pwe
Yap Sian Sinkang, engkau sungguh menggemaskan anak muda.
Siapa yang jadi Suhumu sudah dapat kutebak sebagiannya, tetapi
harus dapat kubuka seluruhnya dan kucari tahu. Yang pasti
tingkat iweekang yang bisa setinggi ini, mestinya engkau warisi
dari Bu Te Hwesio, si Budha sialan itu. Tapi entah siapa yang
mewarisi ilmu-ilmu mujijat lainnya......? awas anak muda.......”
Kembali si kakek aneh menyerbu datang bahkan sekali ini dengan
kekuatan yang meningkat hingga membuat Koay Ji sampai sesak
nafas. Apa boleh buat, iweekang sejenis itu harus dilawan dengan
kekuatan utamanya, karena itu diapun mau tidak mau
mengerahkan gabungan Toa Pan Yo Hian Sinkang dengan Pouw
Tee Pwe Yap Sian Sinkang. Tingkat penguasaannya untuk
gabungan kedua iweekang ini sudah dapat diandalkan, karena
dalam iweekang perguruannya dia sudah mencapai tahap “Kebal
1845
racun dan pukulan”, dan sudah mampu menggiring, mendorong
sekaligus juga membalikkan tenaga pukulan lawan. Tetapi meski
demikian, Koay Ji sendiri merasa bahwa lawannya tidaklah
berada di sebelah bawah kemampuannya pada saat itu.
Lawannya ini adalah lawan terhebat yang pernah dia hadapi
sepanjang dia mengembara atau sejak dia turun dari pertapaan
suhunya.
Karena pemahaman yang demikian, mau tak mau Koay Ji
mengerahkan seluruh kebisaannya, bahkan pada saat itu diapun
mengerahkan seluruh pengetahuannya dalam menganalisa
gerakan lawan. Dan justru itulah salah satu rahasia dia akhirnya
dapat menetralisasi kehebatan lawan aneh ini, lawan yang
bergerak sesuai dengan ilmu-ilmu yang juga dibacanya sebagai
warisan Pat Bin lin Long. Tetapi, tanpa dia sangka, ilmu itu juga
membantunya lolos. Memang benar, sergapan sebanyak lima
jurus terakhir kakek aneh itu hingga mencapai 13 jurus boleh dia
netralisasi dengan gabungan iweekangnya yang membuat si
kakek tersentak hebat. Tidak salah lagi, iweekang lawan mudanya
memang sangat aneh, bahkan masih lebih dari Pouw Tee Pwe
Yap Sian Sinkang. Selain karena bisa menangkal kekuatan
iweekangnya yang lebih matang dan lebih terkuasai secara
sempurna, tetapi juga dapat mengurangi efek merusak dari
1846
sernagannya sendiri. Sehingga meski Koay Ji boleh dibilang
sedikit dirugikan, tetapi hanya dapat sampai menggoyahkannya
tanpa dapat mampu menerobos atau apalagi sampai melukainya.
Karena itu jurus Sam Sou Lo Shi (Jebakan dari tiga penjuru)
hingga jurus Kie Hong Teng Kiauw (Burung Hong Menyerang
Naga) secara susul menyusul tidak mendatangkan keuntungan
besar baginya. Memang dia dapat mendesak Koay Ji dengan
keunggulan iweekangnya, tetapi dengan cerdik Koay Jie
mengantisipasi serangan selanjutnya dalam jurus serangan si
kakek aneh jurus Ouw Liong Tiong Tian (Naga Hitam Melonjak ke
langit) dan jurus Coa Cauw Ing Hoan (Ular Ngeloyor dan Garuda
Terjun) dengan jurus ciptaannya sendiri yang masih dalam
khasanah ilmu Thian Liong Pat Pian juga, yakni dengan jurus Ngo
Heng Seng Khe (Lima Langkah Mencari Lowongan). Dengan
demikian, hingga jurus ke-13, meski sedikit terdesak, tetapi sama
sekali Koay Ji tidak dapat dikalahkan, tetapi masih tersisa satu
jurus belaka. Terdesak sedikit memang iya, tetapi posisi seperti
itu sama sekali tidak dapat dibilang kalah. Apalagi karena belum
ada tanda-tanda bahwa si kakek aneh akan mampu ataupun akan
dapat menghadiahi Koay Ji dengan satu “gaplokan” sebagai
tanda kemenangannya.
1847
Dua jurus yang terakhir tidak lagi Koay Ji dapat menghitungnya,
karena dia sudah berkonsentrasi untuk menerima jenis pukulan
apapun yang dilontarkan lawannya yang amat hebat itu.
Ketimbang ,mencari kemenangan, dia berkonsentrasi melawan
serangan lawan dengan gabungan iweekang perguruannya dan
antisipasi lewat analisis gerak tubuh lawan. Yang tidak pernah
disangka kakek itu adalah, bahwa Koay Ji sudah membaca buku
selengkapnya dan sebaliknya, mereka hanya mampu menguasai
dua jurus turunan dari buku lengkapnya itu. Tanpa mengetahui
kelebihan lawan muda itu, si kakek aneh kemudian membuka
serangan dengan sebuah bentakan Ilmu Li Seng Toan Hun Lui
(Ilmu Nada Suara Mematikan Roh) dan meluncurkan jurus In Bu
Kim Kong (Awan dan Kabut Meliputi Surya) dari Ilmu yang
berbeda dan tidak diketahui oleh Koay Ji, Ilmu Loh Ing Ciang Hoat
(Pukulan Tangan Bintang Jatuh).
Kedua jurus terakhir memang jurus yang amat berbahaya,
terutama jurus ke-14 yang merupakan gedoran ilmu sihir yang
teramat mujijat. Tetapi, sayangnya pada saat itu Koay Ji sudah
berlindung dibalik hawa iweekang mujijat, gabungan kedua ilmu
iweekang pusaka Tionggoan dan Thian Tok. Bahkan pijaran hawa
sakti itu dapatlah dilihat dengan mata telanjang oleh Yu Kong, Yu
Lian dan Cie Tong Pek, sudahlah pasti si kakek aneh juga
1848
mengikutinya. Tetapi karena sudah dilepaskan, maka dia wajib
menutup 15 jurus serangan dengan sebuah pukulan terakhir yang
menutup semua jalan keluar dan jalan menghindar Koay Ji ...
Bahkan dengan Awan dan Kabut Meliputi Surya, sebuah jurus
penutup yang amat mujijat. Tetapi, dengan mengandalkan naluri
dan analisa gerakan lengan lawan yang berubah menjadi ribuan
di matanya, Koay Ji bergerak gesit dengan Liap In Sut. Pada saat
bersamaan dia juga mengandalkan gabungan iweekang kedua
gurunya dan memapak satu telapak tangan yang sudah dia
antisipasi sebagai penutup dari semua gerakan menyerang itu.
Meski tidak menghitung, tetapi naluri Koay Ji berbicara, karena
dia melihat betapa serangan lawan teramat mujijat dan diawali
dengan mengganggu konsentrasinya. Pastilah itu jurus terakhir.
“Blaaaaaaarrrrrrrr .........”
Benturan yang luar biasa keras terdengar, dan disusul dengan
melayangnya tubuh Koay Ji sampai 5,6 langkah ke belakang.
Tetapi, si kakek sendiri terdorong sampai empat langkah. Namun
meski keadaan Koay Ji lebih susah dan lebih sulit, begitupun dia
sama sekali tidak terluka, tidak terpukul oleh satu gaplokan kakek
aneh itu dan keadaan mereka sudah pasti SERI. Dengan kata
lain, si kakek aneh tidak berhasil mengalahkan Koay Ji dalam
hitungan 15 jurus sebagaimana perjanjian mereka berdua pada
1849
awal pertarungan mereka. Meski juga Koay Ji tidak mampu
menerobos dan mengalahkan lawannya yang memang sangat
hebat itu. Jika disimpulkan, meski Koay Ji masih kalah tipis, tetapi
dia jelas tidak terkalahkan dalam 15 jurus yang sudah mereka
sepakati tadi. Dan ketika melihat kakek itu berdiri dan tidak lagi
dalam posisi siap menyerang, Koay Ji segera berkata:
“Luar biasa locianpwee, sejujurnya jika dilanjutkan siauwte pasti
tidak akan mampu bertahan dan akan dapat terkalahkan. Tetapi
dalam 15 jurus sesuai perjanjian, sungguh sangat beruntung
karena siauwte ternyata dapat menahan semua jurus serangan
locianpwee yang amat mujijat itu......”
“Hmmmm, engkau memang hebat anak muda. Tetapi, dari siapa
engkau belajar Ilmu Lam Hay Peng Po Leng Im Sin Hoat (Ilmu
Gerak Tubuh Menyeberangi Awan Tenang di lautan Selatan) dan
juga Ilmu Cap Ci Tam Kan Ciu (Ilmu Sentilan Sepuluh Jari) ...?
kedua ilmu itu adalah Ilmu Pusaka perguruanku. Kalau Pouw Tee
Pwe Yap Sian Sinkang sudah pasti tingkat kemampuanmu
diturunkan oleh Bu Te Hwesio.......”
Mendengar pertanyaan kakek itu yang tidak lagi segalak tadi,
Koay Ji yang cukup santun dan tahu bahwa kakek itu sedikit
mengalah berkata:
1850
“Locianpwee, sejujurnya kedua ilmu yang locianpwee katakan tadi
tidaklah siauwte ketahui. Bahkan namanya tidak tertera dalam
sebuah catatan yang tecu baca pada 10 tahun silam dalam
sebuah gua lewat sebuah kitab yang sudah sangat kumal dan
sudah tidak lengkap lagi. Bagian pertama sudah dicabut orang
dan tidak siauwte ketahui. Bahkan setelah selesai membacanya,
buku itu lebur menjadi debu dengan sendirinya saking sudah amat
lapuk dan tuanya. Mengenai asal ilmu iweekangku, locianpwee
memang menebak secara sangat tepat, memang adalah suhu Bu
Te Hwesio yang menurunkannya......”
“Baiklah anak muda, karena engkau yang boleh dikata pemenang
dari taruhan kita tadi, maka perkenalkan nama lohu adalah Phoa
Tay Teng atau dikenal orang banyak dahulu kala sebagai Ban Bin
Kiau Hua (Pengemis Berlaksa Wajah). Lohu adalah cucu murid
pencipta kedua ilmu yang engkau mainkan tadi anak muda, yakni
Pat Bin Ling Long. Dan ngomong-ngomong, Ilmu Ban Hwi Le
Yong Sut (Ilmu Merias Wajah) yang engkau tampilkan juga sudah
cukup untuk dikatakan setanding dengan kemampuanku. Engkau
memang hebat anak muda, tetapi sayang, karena mungkin kelak
disuatu hari nanti kita akan bertemu dan berhadapan dalam pihak
yang berbeda. Maka engkau harus banyak berlatih untuk itu......”
berkata si kakek aneh itu dengan perasaan gondok yang
1851
tersimpan di wajahnya, dan masih dengan perasaan gondok itu
diapun kemudian berkata kepada muridnya, Cie Tong Pek
dengan nada kurang sedap:
“Kita pergi .......”
Merekapun berlalu dengan pandangan mata tajam setajam
sembilu dilemparkan Cie Tong Pek kearah Thian Liong Koay
Hiap. Kembali dia terluka, dan ini untuk kedua kalinya dan tidak
mampu atau belum mampu dia membalas kekalahannya itu meski
sudah mengundang Suhu keduanya, Ban Bin Kiau Hua
(Pengemis Berlaksa Wajah) Phoa Tay Teng yang. Padahal Suhu
keduanya ini, bahkan setahunya masih lebih hebat jika
dibandingkan dengan Suhu pertamanya, meski hanya seurat.
Tetapi apa lacur, tetap saja Suhu keduanya ini, ternyata juga
masih tidak mampu mengalahkan Thian Liong Koay Hiap yang
sangat dia benci. Orang yang sudah amat diinginkannya kepala
dan nyawanya, jika diberi kesempatan, maka tidak akan ragu dia
membunuhnya dengan cara apapun. Sudah dua kali dia kalah
dan nyaris binasa, kedudukan 2-0 ini sungguh mengganggunya
dan menanamnya menjadi kebencian yang perlu dituntaskan
suatu saat.
1852
Sepeninggal keduanya, Koay Ji berdiri termenung. “Cucu murid
Pat Bin Lin Long, hmmm pantas saja dia sangat hebat.
Kelihatannya iweekangnya yang sempurna memang benar
adalah tandingan iweekang kaum Budha, dan menurut Suhu,
hanya dengan menyempurnakan iweekangku maka dapatlah
menghadapi kakek itu. Accch, untung saja ada berapa formula
dan jurus baru yang kuciptakan dan mengagetkan kakek itu, jika
tidak......”? demikian Koay Ji berpikir keras sampai akhirnya Yu
Kong dan Yu Lian kemudian membuyarkan lamunannya itu:
“Koay Hiap Locianpwee, mereka sudah pergi....” demikian Yu
Kong menegurnya dan menarik kembali Koay Ji dari lamunannya
tadi. Seketika dia bereaksi dan berbalik memandang kakak
beradik itu. Ada rasa malu dan sungkan yang amat dalam serta
membuatnya sedikit rikuh mengingat apa yang dilakukannya
dengan Yu Lian berapa saat yang lalu. Memang dia bermaksud
mengobati dan menyerap racun, tetapi caranya melakukan
proses penyembuhan harus dengan cara “bersenggama” atau
“bersetubuh”. Bahkan proses itu mereka lakukan selama lebih
setengah jam, karena selain itu, dia harus juga memelihara dan
menata tenaga letupan racun panas berganda yang ada dalam
tubuh Yu Lian.
1853
“Acccch, baguslah...... sesungguhnya kakek aneh itu benar-benar
amat hebat. Jika tidak berusaha dengan bersungguh-sungguh,
akan amat sulit untuk memenangkan pertempuran tadi meski
dengan hanya sekedar untuk menahan seri atau draw belaka.
Accchhh, sungguh bakalan runyam dunia persilatan jika tokoh
seperti dia berpihak kepada pihak lawan kelak. Yu Kong, Yu Lian,
lohu harus segera menuju Thian Cong San untuk menemui Tek
Ui Sinkay, masalah ini harus dihadapi dengan serius. Kepandaian
tohko-tokoh di pihak lawan semakin lama semakin menakutkan,
maka kita harus benar-benar siap menghadapi mereka. Untuk
Nona Yu Lian, sebaiknya engkau lanjutkan latihan mengolah
tenaga itu selama 2,3 hari lagi, dan jangan lupa untuk terus
berupaya menguasai tenaga liar itu. Jika engkau tekun, tenaga itu
masih dapat engkau gali hingga 6 bulan kedepan dan bakal
meningkatkan kemampuan iweekang secara hebat. Nachhh, lohu
harus segera mohon diri, sampai berjumpa lagi sebulan
menjelang pertarungan dengan Bu Tek Seng Pay......”
“Baiklah, terima kasih banyak atas bantuan Locianpwee kepada
kami berdua kakak beradik....” jawab Yu Kong melepas kepergian
Koay Ji. Kepergiannya diiringi dengan tatapan sendu penuh arti
dari Yu Lian. Sudah tentu perasaan Yu Lian dapatlah dengan
mudah dimengerti dan dipahami. Karena meski amat samar,
1854
tetapi dia yang mengalaminya sudah pasti dapat merasakan dan
menerka apa yang terjadi itu dan siapa yang bersamanya
merasakannya. Dan dia tidak kecewa......
Tetapi jangan lagi dikata pergolakan batin Koay Ji dipihak yang
lainnya. Berhubung dia merasa tidak ingin diganggu dengan
banyak persoalan lain, dia pada akhirnya memilih untuk
melanjutkan perjalanan dalam identitas aslinya, yakni sebagai
Koay Ji. Bukan karena takut nanti dipergoki sebagai Thian Liong
Koay Hiap yang sedang dicari dan dicurigai banyak tokoh
persilatan Tionggoan. Tetapi, karena persoalannya dengan Yu
Lian membuat perasaan hatinya menjadi sangat tidak lepas,
penuh rasa bersalah dan bingung apakah pilihannya dalam
bertindak sudah tepat atau malah keliru. Karena kegamangan ini
membuat Koay Ji berjalan meski dalam arah yang masih benar,
tetapi seperti tanpa jiwa dan lebih banyak melamun dan
merenung alias lebih banyak berpikir.
Tetapi keadaannya yang seperti ini, seperti lingung sama sekali
tidak membuyarkan dan mengaburkan pikiran dan tindakannya
dalam membela yang perlu dibela. Kapan dia menemukan
ketidak-adilan, dia tidak segan untuk turun tangan. Disaat dia
bertemu keadaan yang tidak pas dan tidak adil, maka tidak segan
dia membantu dan turunt angan menagih keadilan bagi yang
1855
tercederai rasa keadilannya. Dan hal itu dia lakukan tanpa pamrih
serta tanpa memikirkan sedikitpun balasan. Karena memang
pengalaman pahit semasa kecilnya sudah mengajarkan betapa
sangat tidak enak menjadi orang yang tidak dianggap. Maka
diapun merasa penting untuk membela orang yang terpinggirkan,
mereka yang tidak memperoleh keadilan dalam hidupnya.
Terlebih jika mereka yang miskin dan tidak punya apa-apa
berhadapan dengan yang memiliki kekayaan, memiliki jabatan
ataupun memiliki kepandaian dan tertindas menghadapi mereka.
Ketika berjalan untuk keluar dari sebuah Kota bernama Wie Im,
Koay Ji juga sempat sempatnya menolong seorang pengemis
berusia pertengahan yang matanya terlihat berbinar cerdas
namun diperlakukan secara sangat tidak adil. Sebetulnya
pengemis yang mengenakan jubah hijau namun terlihat bersih
dan terurus itu, ingin membeli makanan di sebuah restoran
lumayan besar dekat pintu gerbang kota Wie Im. Tetapi, para
penjaga dengan dibantu oleh para tukang pukul di restoran
tersebut secara sengaja malah menghalangi dan kemudian malah
mengusir dan memaki-maki si pengemis dengan kata-kata kasar
dan tidak berperasaan. Hal ini sangatlah melukai perasaan Koay
Ji, seakan dia sendiri yang mengalaminya.
1856
“Pergi engkau orang bau, mana ada uangmu untuk membeli
makanan disini....” seru si penjaga atau si pelayan restoran begitu
melihat pengemis berjubah dominan hijau itu hendak masuk
kedalam restoran. Pada saat itu sangat kebetulan Koay Ji
barusan selesai dengan makan siangnya dan dalam keadaan
melamun dan pikiran mengembara entah kemana. Suara
bentakan yang keras dari pelayan restoran itu membuatnya cepat
sadar kembali.
“Lohu hanya sekedar ingin membeli makanan tuan, dan lohu
membawa cukup uang untu membayar makanan itu nanti.....”
jawab si pengemis tetapi tidak menunjukkan uang untuk
membayar makanan.
“Haaaaa, hasil mengemis darimana? Atau hasil mencuri
darimana? Sungguh amat menyebalkan manusia-manusia malas
seperti kalian....... Hei penjaga, tolong usir pengemis ini dari
sini,.......” teriak si pelayan yang bertugas menyambut para tetamu
yang ingin makan di rumah makan itu. Mendengar perintah itu,
dengan gagah berani tampil 4 penjaga yang sudah barang tentu
lengkap dengan golok untuk menambah kewibawaan mereka
sebagai penjaga.
1857
“Hei pengemis, pergi dari sini....... restoran ini bukan tempat
mengemis yang tepat, pergi cari tempat yang lain.....” teriak
mereka dengan suara garang dan keras. Mana bisa jadi seorang
penjaga jika suara tidak keras dan garang menakutkan? Itulah
kira-kira tipe penjaga yang semakin lengkap atributnya jika bisa
menakut-nakuti orang lain dengan suara atau tampilannya. Dan
akan bertambah lengkap atributnya itu jika dia membekal golok
ataupun senjata apa saja yang akan membuatnya terlihat tambah
seram dan menakutkan.
“Sudahlah, beri dia apa yang dia inginkan, biar aku yang akan
membayar semua kebutuhan dan keperluannya, mari lopeh,
engkau masuklah.......” tiba-tiba Koay Ji sudah berada di dekat
pintu itu dan kemudian menggeser para penjaga galak itu dan
memberi ruang masuk bagi si pengemis berbaju hijau terurus.
Si pengemis memandang dengan berterima kasih kepada Koay Ji
dan kemudian dengan sopan berkata:
“Terima kasih anak muda..... matamu sungguh terang, masa
depanmu pastilah akan cemerlang...” setelah berkata demikian
secara mengejutkan, setidaknya bagi Koay Ji, orang itupun
masuk dan memesan banyak makanan yang enak-enak. Tetapi
Koay Ji yang entah bagaimana merasa “tersentuh” ataupun
1858
“tergerak” membiarkan saja. Bahkanpun ketika akhirnya pesanan
si pengemis berjubah rapih dan terurus itu beranjak pergi dengan
nyaris menguras isi kantongnya, diapun tidak merasa galau atau
terbebani dengan apa yang dilakukan si pemengemis yang
sebenarnya cukup aneh itu. Hanya cukup dengan anggukan dan
senyuman dia melepas kepergian si pengemis yang sempat
singgah ke mejanya dan berkata:
“Terima kasih banyak anak muda.......”
“Engkau pergilah lopeh, biar urusan disini aku yang akan
menyelesaikan dengan pihak restoran dan para penjaga itu........”
Maka berlalulah pengemis jubah hijau itu dengan sekali lagi
tersenyum penuh arti kepadanya. Dan, Koay Ji kembali
tenggelam dalam lamunannya.
Dan semuapun berlalu serta kembali normal. Koay Ji kembali
tenggelam dalam lamunan dan impian-impian liar yang kini terus
mengganggunya meski di berada di tengah keramaian.
Semangatnya semakin hari semakin runtuh dan jatuh, dan malah
belakangan samadhinya sungguh susah terkonsentrasikan.
Praktis selama 5 hari terakhir, Koay Ji melakukan perjalanan
secara lamban meskipun kondisi itu belum membuatnya harus
1859
berburu waktu. Karena masih ada waktu sekitar 10 harian lagi
sebelum waktu perjanjiannya dengan Sam Suheng, Tek Ui Sinkay
beserta saudara-saudara seperguruan lainnya tiba. Belakangan
ini semua perbuatannya dengan dan terhadap Yu Lian, juga
percakapannya dengan Yu Kong, berganti-ganti menghantui
nuraninya. Bahkan perlahan-lahan sudah mulai menggerogoti
keyakinannya akan kebenaran, keadilan dan pada gilirannya
memikirkan kepantasannya menjadi seorang pendekar.
Singkatnya menggerogoti nuraninya sendiri. Terlebih mengenang
petuah Suhunya, membuat Koay Ji tambah nelangsa.
Kondisi ini sudah berlangsung beberapa hari. Koay Ji menjadi
semakin tambah gelisah dan gelisah dan gelisah sendiri. Dan
inilah untuk yang pertama kalinya dia menyangsikan dirinya
sendiri, menyangsikan kependekarannya dan menyangsikan
kegagahannya. Dia terus menerus menimbang hasil
perbuatannya, menimbang alasan-alasannya dan menimbang
akibatnya bagi seorang Nona Yu Lian. Memang dia mengakui dan
menyadari bahwa motifnya benar-benar murni dan beralasan.
Yakni semata-mata untuk menolong Yu Lian dari kematian yang
tak terelakkan jika memang dibiarkan tidak diobati dari racun yang
berbahaya itu. Tetapi, lihat, kini dia justru telah mendatangkan aib
1860
yang besar bagi seorang gadis suci seperti Yu Lian dan masa
depannya menjadi tidak menentu.
Meski benar dia dapat disembuhkan dan bahkan bisa bertambah
lihay ilmu silatnya, tetapi tetap saja kehormatan gadis itu sudah
direnggutnya. Memang benar, dari sisi kesembuhan dan semakin
lihaynya Yu Lian adalah efek positif dari apa yang dia lakukan,
yakni pengobatan “nyeleneh” yang sayangnya, hanya jalan itu
saja yang dia tahu. Koay Ji belum tahu dan belum memiliki
formula pengobatan dengan cara yang lain, dan hanya punya satu
jalan itu belaka. Pertanyaan pertama yang sangat
menyesakkannya adalah..... “sudah benarkah dia memutuskan
untuk secara tidak sopan menyetubuhi sang gadis meski itu untuk
proses penyembuhannya....”?. Satu pertanyaan sulit yang
memang sangat dilematis. Dan kemudian, pertanyaan lainnya lagi
yang belakangan dia terus menerus tanyakan kepada nuraninya
sendiri, “Sudah benarkah tindakannya berapa waktu lalu yang
pergi meninggalkan kakak beradik itu tanpa menyatakan ataupun
mengatakan sesuatu apapun secara langsung kepada Yu
Lian...”?. Pada titik inilah dia menaruh banyak syakwasangka dan
melahirkan keraguan terhadap dirinya sendiri.
“Ach, bukankah Yu Kong sudah berjanji dan bahkan menjamin
untuk menyelesaikan semuanya asalkan aku menolongnya...?
1861
apakah salah semua yang kulakukan itu..”? pertentangan batin
seperti ini terus-menerus menghantui Koay Ji selama 5 hari
terakhir, termasuk ketika dia menolong pengemis baju hijau tadi.
Dan dia belum selesai dengan lamunannya ketika akhirnya dia
mesti meninggalkan kota dan keluar dari pintu gerbang terdekat.
Tanpa Koay Ji sadari, dia justru sedang menempuh serta
mengikuti alur keluar kota yang sama arah dengan pengemis
yang tadi baru saja dia tolong di restoran. Wajar jika dia kurang
menyadari, karena memang tidak ada satupun yang nempel dan
secara serius diperhatikan Koay Ji selama 5 hari terakhir ini. Terus
menerus dia terguncang dan diguncang oleh sesuatu yang dia
ragukan kebenaran atas apa yang dia lakukan.
Ataupun, bolehlah dibilang, dia sedang dan terus menghukum diri
karena nuraninya sendiri terusik dengan apa yang baru saja
dilakukannya terhadap dan dengan Yu Lian. Sesuatu yang
meskipun sebenarnya dia punya cukup alasan yang jelas saat
melakukannya, tetapi alasan itulah yang justru berkali-kali diuji
dan disanggahnya sendiri. Dan memang teramat sulit jika nurani
kita, manusia sedang menghakimi dan menunjukkan jalan yang
seharusnya tetapi kita kebetulan memilih jalan yang lain.
Hukuman oleh nurani adalah hukuman yang sebenarnya, karena
kita cenderung membenarkan diri sendiri secara rasional, tetapi
1862
nurani kita aham dan tahu betul apa dan bagaimana motivasi kita.
Dan tepat inilah yang sedang dialami oleh Koay Ji, kebetulan
sekali, dia tidak menemukan orang yang dapat diajak berbicara
mengenai persoalan yang teramat mengusik dan melukai nurani
dan perasaannya sendiri. Dan inilah yang terus terjadi selama
beberapa hari terakhir.
Selepas jam makan siang, Koay Ji yang kepalanya penuh
pertentangan, batinnya yang sedang amat tertekan, samadhinya
juga tidak dapat terkonsentrasi penuh selama beberapa hari
terakhir, terlihat mulai meninggalkan kota Wie Im. Dia terlihat
sedang menyusuri jalan yang akan mengantarkannya ke kota
selanjutnya dengan melalui deretan hutan-hutan dan bukit yang
membentang cukup panjang dan maha luas. Tetapi, jalur itu
memang adalah jalur yang cukup ramai dan merupakan jalur
utama, sehingga dia tidak khawatir akan tersesat. Sempat Koay
Ji menemukan dan melihat sejumlah anggota Kaypang yang
berlalu lalang, tetapi tidak ada seleranya sedikitpun untuk sekedar
menyapa mereka dan bertanya tentang perkembangan terakhir
Rimba Persilatan. Sebaliknya, diapun memilih untuk terus saja
melanjutkan perjalanannnya, menuju Thian Cong San.
Tetapi, setelah kurang lebih 2 jam dia berjalan malas-malasan,
berjalan lamban dan praktis belum cukup jauh dari Kota Wie Im,
1863
tiba-tiba terdengar derap langkah kaki kuda yang cukup ramai
datang dari belakangnya. Dalam waktu singkat derap kuda itu
semakin mendekat dan sudah akan mencapai posisinya dalam
waktu kurang dari satu menit lagi. Dengan sempitnya jalanan,
kawanan berkuda itu pasti akan dan sudah menyita seluruh lebar
jalanan dan bisa dipastikan dia harus menyingkir jika tidak mau
terkena terjangan kuda yang sedang melaju dengan kecepatan
yang amat tinggi itu. Tetapi, wahai celakanya, tepat di depannya,
berjarak sekitar 100 meter, dia melihat seorang nenek yang
sedang menuntun langkah cucunya dan mengusung kayu bakar
yang cukup berat untuk orang yang setua dia. Ketika dia menoleh
ke belakang, kawanan berkuda menerjang datang dan sudah
berjarak kurang dari 100 meter. Dan mereka terus berlari dalam
kecepatan yang amat tinggi. Entah apa yang sedang mereka kejar
di siang bolong seperti itu. Tetapi yang pasti, kecepatan itu akan
menimbulkan kecelakaan bagi kedua orang tak berdaya.
Bisa dipastikan, dalam hitungan beberapa detik lagi, nenek dan
cucunya itu bakal menjadi korban tertabrak kawanan berkuda
yang melaju tanpa menimbang kondisi jalanan. Koay Ji tidak
dapat membayangkan bagaimana jika nantinya nenek dan
cucunya itu tertabrak. Karena pastinya mereka bakal terlontar
amat jauh dari jalanan dalam keadaan mengerikan, karena
1864
keadaan mereka yang sangat lemah itu. Dalam keadaan dan
kondisi yang sangat terdesak itu, Koay Ji mengambil keputusan
cepat dan tepat, dalam hitungan beberapa detik tersisa sebelum
mereka, kawanan berkuda itu melindas si nenek dan cucunya
yang masih kecil, seorang anak lelaki yang berusia kurang lebih
6,7 tahun belaka. Maka Koay Ji melesat dengan sangat cepatnya
kedepan dan langsung bekerja. Dia memutuskan untuk bertindak
dan menyelamatkan kedua orang lemah itu.
“Awas menyingkir....... hai kalian yang di depan.....” terdengar
teriakan kawanan berkuda itu yang meminta jalan kepada
siapapun di depan di jalanan yang hendak mereka lalui itu. Tetapi
begitupun, kecepatan mereka sama sekali tidak dikurangi,
sebaliknya justru semakin melaju cepat kedepan. Jelas kawanan
itu tahu dan paham bahwa di hadapan mereka, di jalanan, sedang
melaju dua orang tak berdaya yang sedang pulang masuk kota
dari hutan. Tetapi, fakta itu tidak mengurangi kecepatan kawanan
berkuda yang entah dikejar setan apa melaju dalam kecepatan
tinggi justru di jalanan yang tidak begitu lebar.
Tanpa berpikir panjang lagi, melihat bahaya yang dihadapi si
nenek dan cucunya, dengan cepat Koay Ji meloncat kedepan.
Dan begitu kawanan berkuda itu menerpa dan bakalan menabrak
mereka, dengan cepat dia menggerakan kekuatan iweekang dan
1865
ginkangnya. Dia mencelat keatas sambil mengangkat dan
membawa nenek dan cucunya itu bersamanya dan kemudian
menerjang ke depan hingga akhirnya mendarat tepat di belakang
kawanan berkuda yang tetap saja melaju dengan tidak
mengurangi kecepatan mereka. Sebetulnya Koay Ji ingin
memberi mereka hajaran. Tetapi belum lagi dia bertindak
menyusul dan menyerang, nenek yang membawa cucunya sudah
dengan terbata-bata sambil menatap wajahnya dalam ketulusan.
Dan terdengar dalam kesederhanaannya dia berkata:
“Terima kasih banyak anak muda....... engkau baru saja
menghindarkan kami nenek dan cucu dari bencana yang amat
mengerikan...... Bun Ji, engkau haturkan terima kasih kepada
tuan penolong kita”
“Terima kasih banyak paman......” ucap si kecil yang dipanggil Bun
Ji oleh neneknya yang masih memandang Koay Ji penuh takjub.
Mungkin karena senang dan gembira karena dibawa terbang
sejenak oleh Koay Ji barusan. Meski sempat terkejut serta seperti
kehilangan “nyawa”, tetapi anak itu tetap saja gembira dibawa
santai terbang sejenak oleh Koay Ji barusan.
1866
“Baiklah, hati-hati di jalan Nek, maafkan aku yang muda harus
segera melanjutkan perjalananku. Semoga tiba di rumah dengan
selamat Nek......”
“Baiklah anak muda, sekali lagi, terima kasih.......”
Koay Ji kembali melanjutkan perjalanannya dan kembali
tenggelam dalam diam dan melakukan “persekutuan dengan
setan”. Orang bijak sering berkata, melamun tanpa keruan sama
dengan “bersekutu dengan setan”,,,,, meski pada kenyataannya,
Koay Ji bukan bersekutu dengan setan, tetapi tenggelam dalam
keraguan akan dirinya sendiri. Ragu bahwa dia layak menerima
kepercayaan Suhu-Suhunya dengan apa yang baru saja dia
lakukan dengan Yu Lian. Sejujurnya dia memang tidak mencintai
Yu Lian, hanya sayang dan hormat sebagai sahabat, tetapi
kondisi yang dia hadapi membuatnya harus melakukan apa yang
tak semestinya dia lakukan bersama gadis yang masih suci dan
murni.
“Anak muda...... hati-hati dengan lamunanmu, tidak akan ada
urusan yang selesai dengan tuntas dalam lamunan, apalagi
lamunan yang dilakukan sambil berjalan. Jika tidak keliru,
kelihatannya engkau amat perlu “menyembuhkan” dirimu
sendiri.....” terdengar teguran seseorang yang anehnya, Koay Ji
1867
tidak melihat dan menemukan seseorang di dekatnya, ataupun
malah disekitarnya berdiri saat itu. Jadi, darimana gerangan asal
suara itu....?
Keadaan yang mengejutkan itu dengan segera membuat
perasaan dan naluri Koay Ji muncul kembali, lepas dari jerat
lamunannya dan kewaspadaanya kembali penuh secara
otomatis. Dan, benar saja, dengan cepat diapun dapat melacak
darimana asal suara itu. Dengan mata telanjang dia tidak mungkin
dapat melihat si manusia yang menegurnya barusan, tetapi dalam
pengerahan kekuatannya, dia dapat “melihat” manusia yang
menegurnya berada beberapa meter di belakang tetapi tidak tepat
berada di pinggiran jalan. Manusia yang menegurnya adalah
manusia berusia pertengahan, berjubah hijau seperti atau
bagaikan seorang pengemis, tetapi tetap rapih, bersih dan juga
terurus. Dan pengemis yang aneh itu, adalah orang yang baru
saja ditolong oleh Koay Ji di restoran dalam kota Wie Im. Dia
sedang duduk sambil bersandar di sebatang pohon yang amat
besar dang jelas rindang serta adem. Dan dari sana dia menegur
Koay Ji. Dia sendiripun kaget menemukan keadaan Koay Ji yang
berjalan seperti “tanpa jiwa” dan kelihatannya seperti sedang
memikirkan satu persoalan yang sulit untuk dipecahkan.
1868
“Ach engkau kiranya Lopeh, apakah engkau baik-baik saja......”?
tegur Koay Ji ketika teringat bahwa suara orang itu adalah suara
orang yang baru saja dia tolong serta membayarkan makanan
yang dibelinya.
“Engkau masih muda, tetapi seperti mengalami persoalan besar
atau mengalami hantaman besar yang masih sulit diterima baik
oleh akalmu, emosimu, nalarmu atau oleh hati kecilmu sendiri.
Anak muda, hati-hati, jika engkau terus tenggelam dalam keadaan
seperti itu, maka bukan hanya otakmu yang bisa berkurang daya
kerja normalnya, tetapi bahkan batinmu akan terluka. Dan jika
demikian, maka engkau akan butuh pengobatan yang luar biasa
menyulitkan, panjang dan menguras waktu dan tenaga. Padahal,
jika engkau memiliki kemauan, engkau dapatlah dengan jujur
membuka diri terhadap persoaan itu, mengaku salah dimana
perlu, memperbaikinya kedepan. Karena tidak ada satupun
manusia yang sempurna. Manusia sempurna adalah khayalan,
tetapi manusia yang kuat adalah mereka-mereka yang selalu
belajar dari kekurangan dan kekeliruannya. Atau mereka yang
tahu bahwa mereka memiliki potensi besar dan sangat mungkin
melakukan kekeliruan dan kesalahan, tetapi yang tetap bisa
menyadari bahwa kesalahan adalah kesalahan dan bukan
dengan membenarkannya baru dapat diterima. Adalah mereka
1869
yang dengan rendah hati selalu awas, dan selalu juga sadar,
bahwa keputusan-keputusan mereka sering keliru, tetapi mereka
tidak membenarkan kekeliruan mereka. Engkaupun jelas bukan
manusia sempurna anak muda, tidak ada dalam dunia manusia
seperti itu. Jika engkau tidak berani membuka diri, membuka hati,
membuka pikiranmu atas batas-batas kemanusiaanmu, maka
engkau akan dipenuhi beban kehidupan yang bakalan
membuatmu terpuruk hingga habis....... terkapar tanpa daya.......”
luar biasa, orang yang dianggap pengemis banyak orang di Kota
Wie Im ini, membeberkan filsafat sederhana yang justru sedang
menggelayuti seluruh isi kepala dan pemikiran Koay Ji. Dan Koay
Ji tersentak kaget, bagai bangun dari mimpi.
“Lopeh,,,,,, apa ..... apa gerangan maksudmu.....”? tanya Koay Ji
gagap, bukan apa apa, kata-kata dan kalimat tokoh setengah tua
itu, benar-benar dengan telak dan tepat menusuk di jantung
pergumulannya selama 5 hari terakhir. Sontak Koay Ji kaget dan
terkesima, dan tanpa disadarinya dia bertanya. Sebuah
pertanyaan yang sama saja dengan membenarkan kata-kata
manusia yang bahkan masih belum dia kenal dan dia tahu siapa
itu. Tetapi, meski tidak saling bertatap muka, Koay Ji tahu persis
bahwa orang yang sedang dia ajak bercakap-cakap itu pasti
sedang menarik nafas panjang. Dan selain itu, juga pastinya
1870
sedang menyusun kata-kata yang akan diucapkan dan
didengarkannya sebentar lagi itu. Dan dia memang benar. Dan
memang dia mengharapkan untuk mendengarkan secara lebih
jelas kata-kata yang baru saja menariknya dari alam khayal itu.
Benar saja, tidak berapa lama kemudian, dia kembali mendengar
manusia aneh itu berkata:
“Benar dugaanku bahwa engkau sedang meragukan dirimu
sendiri. Hmmmm, anak muda, lohu tidak akan menunggumu disini
jika tidak melihat bahwa engkau memiliki wawasan dan
kewaspadaan dan berpihak kepada perbuatan yang adil
bijaksana bagi banyak orang. Namun, sekali pandang, lohu
paham, bahwa engkau sedang berada di persimpangan jalan
dengan mempertanyakan dan bahkan meragukan semua filsafat,
ajaran, pengajaran, tulisan kitab suci keagamaan yang selama ini
justru menjadi bagian dari terbentuknya pandangan hidupmu.
Padahal, jika lohu tak keliru, engkau baru saja mengalami satu
kejadian yang agak ruwet dan engkau tidak sanggup memberi
jawaban yang memuaskan atas kejadian tersebut. Akibatnya,
engkau mulai meragukan banyak hal dan mempersalahkan dirimu
sendiri. Engkau lupa, bahwa manusia terkuat dan terhebat
sekalipun, harus dan pasti melakukan kesalahan besar dalam
hidupnya dan baru dapat menemukan siapa dirinya yang
1871
sebenarnya. Semakin hebat dan berat kekeliruanmu, tetapi jika
berhasil keluar dan menerima bahwa itu adalah kekuranganmu
dan bahwa engkau harus berusaha memperbaikinya, maka makin
besar manfaatnya bagi perkembangan batinmu. Jadi, engkau
harus mampu membuka diri, membuka pikiranmu, mengakui
bahwa engkau memiliki kelemahan, baru engkau dapat
memahami banyak hal. Termasuk membuat sederhana sesuatu
yang engkau rumit-rumitkan selama ini.....”
Koay Ji terpukul, karena bagaimanapun, semua yang
disampaikan Manusia Aneh itu memang sangat tepat. Meski dia
tetap kurang yakin apakah tokoh itu tahu apa yang sebenarnya
menjadi bahan pikirannya itu....... tetapi begitupun dia tetap
bertanya guna memastikan apa yang ada dalam pikirannya:
“Apakah memang lopeh tahu apa yang terjadi dan kemudian
menghantuiku selama beberapa hari belakangan ini.....”?
“Anak muda, lohu tidak tahu, bahkan lohu tidak ingin tahu
sedikitpun........” jawaban sederhana yang tidak dapat dibahas
dan tidak dapat ditolak oleh Koay Ji. Tetapi, jawaban itu sedikitpun
tidaklah mengurangi rasa hormat dan rasa terima kasih atas
peringatan-peringatan yang dikemukakan tokoh aneh itu. Dari
sejak awal menegur dan memperingatinya, sampai kemudian
1872
dengan jawaban TIDAK TAHU yang tidak mengada-ada tetapi
membuatnya sadar.
“Jika demikian, tahukah lopeh apa yang sebaiknya kulakukan
kedepan.....”? tanya Koay Ji dengan penuh harap. Berharap
jawaban.
“Anak muda, lohu bisa melihat dengan jelas bahwa engkau
memiliki hati yang baik, memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi.
Tetapi belum tentu mereka yang cerdas memiliki kerendahan hati
yang cukup untup mengakui banyak batas kelemahannya. Jika
engkau ingin untuk melangkah lebih jauh ke tingkat yang lebih
tinggi, baik pengenalan atas dirimu, maupun atas penguasaan
ilmu silatmu, maka engkau perlu untuk melampaui batas-batas
emosional dan psikologis itu. Engkau jelas mengerti dan paham
apa yang perlu engkau lakukan, karena itu lohu tidak akan
memberi jalan yang lurus dan mudah, adalah engkau yang harus
menemukan jawaban dan jalanan tersebut dan kemudian
menjalaninya dengan penuh kesadaran. Karena takdir kita, tidak
semata ditentukan oleh alam, tetapi juga tergantung dari
bagaimana kita memahami dan memperlakukan diri kita......”
“Tapi lopeh......”
1873
“Anak muda,,,,,,, jangan memaksa mencari dan menjalani jalan
yang mudah. Jangan terbiasa meminta petunjuk apakah harus
mengambil jalan kekanan ataukah kekiri, karena kebiasaan itu
adalah kebiasaan anak-anak kecil. Umurmu sekarang sudah
memadai untuk mencari tahu jalan mana yang terbaik dan
memutuskan untuk menempuhnya dengan segala resiko yang
harus dihadapi. Sudah waktunya engkau sadar bahwa memang
sering engkau melalui yang lebih sulit bahkan jauh lebih berliku
karena jalan itu akan menguji kualitasmu. Sudah waktunya
engkau bangkit dan menemukan dirimu serta tidak tergantung
kepada apa yang disuapkan orang tuamu ataupun Suhumu. Dan
terutama, camkanlah semua pilihan apapun itu dan yang engkau
putuskan untuk dijalani serta dikerjakan akan mencerminkan,
sekaligus menggambarkan siapa dirimu yang sebenarnya......”
Kata-kata terakhir Manusia Aneh itu menohok semakin keras sisi
kemanusiaan Koay Ji, tetapi dia sama sekali tidak menjadi marah
ataupun murka. Bahkan seperti orang bodoh dia berdiri di tepi
jalan dan bercakap tanpa saling memandang wajah dengan
manusia aneh yang dia panggil sebagai LOPEH sejak tadi. Tetapi,
LOPEH yang dia maksudkanpun, tidak terlihat berusaha untuk
bertatap muka dengannya meski terus bercakap-cakap hal-hal
yang sebenarnya amat berat dan mendalam. Bahkan dia
1874
terkadang membiarkan Koay Ji termenung dan berpikir keras
dengan tidak menyapa dan tidak berkata-kata. Seperti memberi
kesmepatan bagi Koay Ji untuk merenung dan mencari jawaban,
karena dia sadar bahwa Koay Ji berada di persimpangan yang
sangat penting dan menentukan untuk menanamkan dan
menjadikan semua didikan dan pengajaran suhu-suhunya, serta
pelajaran-pelajaran yang dulu pernah dipetiknya melalui bukubuku
bacaannya untuk menjadi pandangan hidupnya. Satu titik
kritis yang amat penting.
Setelah merenung beberapa lama, Koay Ji kembali memunculkan
pertanyaan baru yang segera diajukannya kepada lawan
bicaranya:
“Lopeh, apakah berarti bahwa kejadian maha berat itu memang
harus terjadi dalam hidupku....? dan mengapa pula seperti
itu.....”?
“Apakah engkau belum paham bahwa tidak ada satupun manusia
yang tidak akan mengalami kejadian yang engkau sebut MAHA
BERAT itu? Semua pasti bakalan mengalaminya. Yang berbeda
adalah, ada orang-orang yang menyerah dan tidak mampu
menanggung beban seberat itu hingga menyerah, menjadi gila
ataupun masa bodoh dan mengulang-ulang kesalahan itu hingga
1875
terbiasa. Ada orang-orang yang berkeras menyimpan dan
membungkusnya dari orang lain dan memaksa diri untuk
melupakan bahwa dia pernah dan sering melakukan kesalahan
besar. Orang-orang seperti ini adalah manusia munafik, tetapi
yang dapat mudah dikenali karena mereka biasanya tidak
konsisten dalam bersikap atas masaah-masalah besar. Dan yang
ketiga, ada orang yang memang awas dan sadar bahwa dia tidak
sempurna sehingga mengakui meski teramat sakit dan
memalukan bahwa dia melakukan kesalahan tersebut. Orangorang
yang ketiga adalah orang yang berkemampuan untuk
mengalahkan dirinya sendiri, sadar dengan kelemahannya dan
belajar untuk tidak hidup dalam kesalahannya tetapi terus
membaharui dirinya.....”
“Terima kasih Lopeh, sebagian besar dapat kupahami, tetapi
tetap harus kupikirkan bagaimana menjalani dan menerima diriku,
kesalahanku dan tidak hidup dalam hal yang sama berulangulang.......”
“Sudah kuduga engkau akan mampu meningkat dalam tahapan
itu anak muda. Satu hal, memiliki niat adalah langkah awal, tetapi
mewujudkannya jauh lebih sulit dari sekedar memiliki niat. Ada
kalanya, niat baik kita berakibat tidak baik bagi orang lain, tetapi
begitupun lebih baik kita berbuat dalam niat baik, daripada
1876
sekedar berniat tetapi tetap berdiam diri dan tidak melakukan apaapa.
Banyak orang baik yang diam dalam kebaikannya dan
membiarkan yang tidak baik berkembang biak dengan amat
cepatnya. Tetapi sebenarnya, adalah lebih baik kita berbuat
dengan niat baik meski berakhir celaka, daripada berniat berbuat
baik melawan kejahatan tetapi seterusnya berdiam diri karena
takut menghadapinya. Takut menghadapi resikonya. Padahal
berdiam diri terhadap kejahatan, sama saja dengan
membesarkan kejahatan itu. Niatmu sudah membuktikan engkau
ingin membaharui dirimu dan bakalan semakin mengenal
batasmu..... lakukan anakku, restuku akan menyertai langkah
hidupmu seterusnya...” sambil berkata demikian, si manusia aneh
kemudian bergerak dan dapat diketahui karena secara perlahan
suaranya menjauh.
“Lopeh, bolehkah aku mengetahui namamu yang menghadirkan
penerangan bagi batinku ini....”? tanya Koay Ji penuh harap.
“Kelak jika bertemu, engkau boleh memanggilku sebagai Lie Hu
San, si Pengemis. Maaf, saat ini lohu mesti berlalu karena masih
harus mengurusi muridku...... sampai jumpa anak muda yang
baik.....”
1877
Koay Ji sempat meloncat bukan untuk mengejar, tetapi untuk
sekedar melihat dan memperhatikan bayangan LOPEH yang dia
maksud menjauh dan semakin menjauh. Tetapi maksud
utamanya untuk bertatap muka kembali tidaklah kesampaian. Dia
tidak menemukan siapa-siapa karena bayangan manusia l di
bawah pohon rindang yang dia tahu dimana tadinya LOPEH yang
dia maksud berada dan berbicara dengannya sudah pergi. Maka
pada akhirnya, menggantikan LOPEH itu, Koay Ji kemudian
duduk di bawah pohon rindang itu. Tetapi, Koay Ji yang sekarang
sudah sedikit berbeda dengan Koay Ji yang siang tadi menolong
si Pengemis Aneh membeli makanan di sebuah restoran. Koay Ji
yang sekarang sedang berusaha menghindari melamun dan
berbicara menghukum diri sendiri, tetapi seorang yang mencoba
menata kembali pikirannya, pemahamannya dan pendiriannya.
Cukup lama, seharian penuh Koay Ji tenggelam dalam
perdebatan batinnya. Satu upaya untuk tidak lagi membenarkan
diri, tetapi mencoba untuk memahami, bahwa niat baiknya telah
mencelakai orang. Tetapi, bahwa dia menyelamatkan orang Yu
Lian adalah kegembiraannya. Lama baru dia dapat mengampuni
dirinya, meskipun dia belum sepenuhnya mengampuni diri
sebelum memohon maaf kepada Yu Lian secara langsung,
bukannya melalui orang lain.
1878
Dan hal yang dengan segera menggembirakannya adalah, dia
kembali menemukan motivasi, menemukan dirinya dan semakin
bisa merasakan batas-batas kemanusian sendiri. Dia memang
masih merasa berdosa kepada Yu Lian, tetapi dia tidak lagi ingin
terus menerus menghukum dirinya sendiri, tetapi memutuskan
untuk berbicara langsung dengan Yu Lian kelak. Ya, dia harus
melakukannya, baik meminta maaf, sekaligus membicarakan
urusan mereka berdua, bagaimana baiknya kedepan. Hal ini
membuat Koay Ji merasa lega, meski belum akan dilakukannya
segera, tetapi dia memutuskan dalam waktu dekat dia mesti
mengerjakannya. Tidak boleh tidak. Dan dengan keputusan itu,
Koay Ji sekaligus menemukan kembali kegembiraannya dalam
berlatih Ilmu Silat dan bahkan dengan mudah dia kembali mampu
melakukan samadhi dan berkonsentrasi. Tidak lama kemudian
dia tenggelam dalam samadhi dan beberapa jam kedepan, Koay
Ji sudah melanjutkan perjalanannya menuju ke Gunung Thian
Cong San. Disana dia akan bertemu dengan semua suheng dan
juga sucinya, semua saudara seperguruannya.
===================
Apa yang sebenarnya terjadi dengan ketiga orang muda yang
sedang menuju ke Kota Han Im? yakni Kwan Kim Ceng, Nadine
dan Nyo Bwee bertiga setelah meninggalkan Benteng Keluarga
1879
Hu saat pesta sudah usai? Untuk dapat mengetahuinya, terutama
mengapa serta juga kemana Tio Lian Cu, Khong Yan dan secara
kebetulan Sie Lan In juga terlibat dalam upaya membebaskan
mereka bertiga, mari kita mundur sejenak kurang lebih satu dua
bulan kebelakang. Tepatnya masa waktu ketika Perayaan Ulang
Tahun Hu Pocu yang ke-75 usai dan bubar. Kwan Kim Ceng yang
beroleh kepercayaan dari salah seorang saudara seperguruan
dan sekaligus juga Kakek dari Nyo Bwee yaitu Nyo To,
memutuskan mengantar pulang Oey Bwee ke Kota Han Im. Dan
perjalanannya itu ditemani oleh Nadine yang sudah menjadi
kekasihnya.
Tetapi karena mereka melakukan perjalanan sambil menikmati
pemandangan indah di tempat-tempat yang baru, dalam waktu 2
hari mereka belum beranjak terlampau jauh dari Benteng
Keluarga Hu. Begitupun, Kim Ceng dan Nadine berjalan dengan
penuh rasa bahagia, sementara Nyo Bwee melakukan perjalanan
dengan sepenggal hatinya tertinggal di belakang. Maklum,
hatinya sudah semakin menetap dan mantap tertuju kepada Bu
San, dan hanya kepada Bu San seorang. Tetapi sayangnya Bu
San sang pujaan hati, justru mendapatkan tugas lain dari Tek Ui
Sinkay, Pangcu Kaypang yang baru saja menjadi Bengcu Rimba
Persilatan Tionggoan. Apa lacur, dengan sepenggal hati yang
1880
masih tersisa Nyo Bwee mengeraskan hati untuk pulang terlebih
dahulu ke Han Im, meski sebagian keinginannya adalah
melakukan perjalanan ke Thian Cong San.
“Bagaimana kalau kita juga melakukan perjalanan ke daerah
dekat Thian Cong San karena jika tidak salah menguping,
kelihatannya Tek Ui Pangcu akan bermarkas sementara disana
sebelum menuju ke Lembah Cakar Ayam (Kee Jiauw Kok) di kaki
gunung Pek In San.......” usul Nyo Bwee.
“Tidak Bwee moy, kita bisa saja menuju ke Thian Cong San, tetapi
terlebih dahulu kita pulang melapor kepada Nyo Suheng dan
kemudian minta ijin untuk melakukan perjalanan yang baru. Terus
terang kami berdua akan dengan senang hati dalam
menemanimu melakukan perjalanan serta berkelana lagi di
Rimba Persilatan. Terlebih, karena kami berduapun memang
akan menuju kesana, tetapi tanpa ijin dari Nyo Suheng, benarbenar
aku tak berani melakukannya” jawab Kim Ceng yang jelas
sangat mengecewakan hati Nyo Bwee
“Benar adik Bwee, tanpa persetujuan dari kakekmu, bagaimana
bisa kita melakukan perjalanan ke Thian Cong San..? bisa-bisa
malah beliau mengirimkan orang-orang lain untuk memintamu
pulang dengan segera....” tambah Nadine menguatkan dan
1881
membenarkan pendapat kekasihnya Kwan Kim Ceng. Dan
memang, agak riskan untuk melakukan perjalanan lain tanpa
meminta ijin kepada Nyo To yang meminta mereka menjaga dan
mengawasi Nyo Bwee selama perjalanan.
“Accchhhh, kalian berdua sama, habis sudah sekongkol siy
memang....” gerutu Nyo Bwee kesal tetapi tidak dapat marah
karena memang pendapat Kwan Kim Ceng dan Nadine benar dan
sangat masuk diakal.
“Jangan begitu Bwee moy, betapapun juga kami, terutama Kim
Ceng koko memang bertanggungjawab atas perjalananmu kali ini
kepada suhengnya, kakekmu Nyo To. Oleh karena itu, beri kami
kesempatan terlebih dahulu untuk mengantarkanmu pulang ke
kota Han Im sebelum kita kemudian minta ijin pergi lagi
melakukan perjalanan yang lain......” bujuk Nadine.
“Tapi, engkau dan Kwan Susiok harus berjani terlebih dahulu
akan memintakan ijin buatku guna perjalanan yang selanjutnya....
bagaimana...”?
“Baiklah, aku berjanji Bwee moi, Kwan Susiokmu juga pasti akan
membantumu. Tapi untuk soal yang satu, yakni soal cinta
terpendammu itu, kami sangat tidak yakin akan bisa ikut
1882
membantu..... hikhikhik” goda Nadine sambil menjauh karena
percaya pasti Nyo Bwee akan membalasnya. Mereka, Kim Ceng
dan Nadine memang sudah paham, bahwa Nyo Bwee mencintai
Bu San, tetapi mereka berdua sungguh tidak mampu menjajaki
perasaan dan hati anak muda yang aneh itu. Apakah dia juga
mencintai Nyo Bwee, masih misteri bagi mereka. Terkadang dia
terlihat perhatian, tapi kadang terlihat terlampau agung dan pintar,
sungguh sulit dijajaki keinginan, hati dan perasaannya pada saat
itu.
Begitulah, ketiga orang muda itu melanjutkan perjalanan sambil
bersenda-gurau, juga sambil menikmati pemandangan yang
terhampar indah dan relatif baru setiap mereka tiba di satu kota
atau desa yang baru mereka datangi. Karena itu, perjalanan
mereka berlangsung dengan sangat lambat. Tetapi begitupun
juga, mereka tetap bisa menikmati perjalanan tersebut, terlebih
bagi Kwan Kim Ceng dan Nadine yang sedang dimabuk oleh
madunya cinta. Semakin jauh perjalanan justru bagi mereka
berdua semakin baik, karena semakin panjang dan lama mereka
bisa memadu kasih dan cinta. Begitulah orang yang lagi jatuh
cinta.
Pada hari itu, menjelang siang hari mereka semakin dekat untuk
memasuki Kota Tin Pa, Kota terbesar sebelum mereka tiba di Han
1883
Im meski memang masih berjarak sekitar 3 hari berjalan kaki dari
Kota Han Im. Setidaknya, ada 3 jam jaraknya saat itu dari Kota
Tin Pa dan mereka sedang berada di jalan utama menuju Kota
Tin Pa. Karena Kota Tin Pa berada di kaki gunung, maka mereka
sedang menikmati jalanan di pinggiran hutan dengan
pemandangan ke bawah yang cukup menarik. Mereka bertiga
kelihatannya akan tiba di Kota Tin Pa sedikit lewat jam makan
siang nanti. Begitupun, meski Kwan Kim Ceng rada kewalahan,
tetapi agak sulit memaksa Nyo Bwee untuk bergegas dan tidak
memberinya kesempatan menikmati perjalanan pulang melewati
banyak daerah asing baginya.
Tetapi, sesuatu yang merubah seluruh jalan hidup ketiga orang
muda itu terjadi. Sama sekali tak mereka duga, tidak mereka
sangka dan juga tidak diduga oleh para pelaku pada hari itu.
Tetapi jika memang benar nasib manusia dan takdirnya sudah
ada jalannya, maka sulitlah guna menolak dan menghindarinya,
bagaimana keras pun usaha menghindarinya. Seperti juga
pengalaman ketiga anak muda itu, Kwan Kim Ceng dan Nadine
serta Nyo Bwee yang sedang dalam perjalanan pulang, siapa
tahu mereka ternyata sudah dalam incaran orang. Mereka sedang
berusaha untuk melintasi sungai dan baru saja tiba di tepiannya
untuk kemudian membelok kekanan menuju jalan menurun
1884
memasuki Kota Tin Pa. Dan justru di tempat itulah awal dari jalan
baru bagi hidup mereka.
Proses menyeberangnya tidak begitu sulit karena sungainya
sendiri tidak terlampau lebar dan karena cuaca sedang baik dan
tidak ada hujan. Makanya aliran sungainya cukup tenang dan
tidaklah bergelora sampai menakutkan kedua gadis itu, terutama.
Dalam keadaan seperti itu, menyeberang dengan menggunakan
satu batang pohon yang lumayan besar, tidaklah terlampau
mengerikan bagi mereka bertiga karena arus sungai yang sedang
tenang. Bahkan juga bagi Nyo Bwee yang masih asing dan
teramat jarang melakukan perjalanan atau berkelana di rimba
persilatan Tionggoan. Singkat kata, mereka bertiga baru saja
menarik nafas panjang dan siap melanjutkan perjalanan. Tibatiba.....
Terdengar suitan yang agak aneh, terdengar nadanya amat tinggi
di telinga mereka bertiga dan begitu mereka sadar, keadaan
sudah terlambat. Adalah Nadine yang dengan cepat berusaha
menguasai diri dan masih sempat menyaksikan sedikitnya 20
orang menghadang mereka. Dan, samar-samar dia melihat
seorang yang sangat dikenalnya munculkan diri, membasuh
wajahnya dan kemudian berbisik halus dalam bahasa yang hanya
dia sendiri yang paham:
1885
“Tenang putriku....... keadaan kalian sangat berbahaya....” setelah
itu, kesadarannya hilang sama sekali, dan tidak tahu lagi apa yang
terjadi. Kemana mereka membawa dan orang yang membius atau
menyihirnya, sudah dilupakannya sama sekali. Jelas karena
memang dia kehilangan kesadaran.
Jika dikisahkan, cukup menarik dan terjadi dalam waktu yang
sangat singkat. Hanya beberapa detik belaka, dan lokasi kejadian
kembali tenang bagaikan tidak ada satu halpun yang baru saja
terjadi. Tepat setelah Kwan Kim Ceng, Nadine dan Nyo Bwee
menyeberang dan ingin melanjutkan perjalanan, kesadaran
mereka dipengaruhi oleh suara yang aneh dan mitis itu. Selain
Nadine, Kwan Kim Ceng dan Nyo Bwee sudah langsung
kehilangan kesadaran dan hanya Nadine yang tahu serba sedikit
apa yang terjadi dan menimpa mereka. Sebanyak 20 orang
Utusan Pencabut Nyawa dengan gerakan yang cepat dan gesit
mengambil dan membawa Kwan Kim Ceng dan juga Nyo Bwee.
Sementara seorang yang lain, yang pasti orang asing dan
memiliki tipe kulit dan mata yang sama dengan Nadine, mendekati
gadis itu dan menyapa seperti yang digambarkan di atas....... jika
tidak keliru, dialah Mindra si Penyihir Hebat dari Thian Tok. Murid
ketiga Mo Hwee Hud yang juga dikenal sebagai Thian Suan
Sinkun (Malaikat Pemutar Langit). Kemampuan Ilmu Sihirnya luar
1886
biasa hebatnya, dan itu sebabnya Mo Hwee Hud (Budha Api Iblis)
membawanya serta ke Tionggoan dan bahkan diakui sebagai
murid ketiganya.
Hanya dalam hitungan 3 detik, tempat itu kembali senyap, dan
sepi. Bagaikan tidak pernah ada kejadian barusan yang terjadi
disana. Tapi, memang siapa pula yang dapat menduga kejadian
itu yang berlangsungnya di tempat yang amat sepi dan hanya
dalam waktu yang amat cepat, singkat dan tuntas. Tanpa
meninggalkan jejak dan tanpa ada yang menyaksikan
kejadiannya. Dalam waktu 3 detik, mereka semua sudah
menghilang ke balik hutan yang lebat, bahkan lebih kurang
sepuuh menit kemudian, mereka semua sudah berada di balik
sebuah bangunan nampaknya sudah berpenghuni dan pada
ahirnya tidaklah terurus lagi. Entah siapa pemiliknya, tetapi dilihat
dari ketidakterurusannya bangunan itu, pasti sudah lebih setahun
ditinggalkan dan kini kesana ketiga orang muda itu dibawa.
Berapa menit kemudian, kembali suasana menjadi hening bagai
tak ada yang baru terjadi.
Begitu masuk kedalam ruang depan bangunan itu, kembali
terdengar suitan dalam nada tinggi oleh Mindra. Dan hebatnya,
kini 20 orang Utusan Pencabut Nyawa yang datang bersamanya
tiba-tiba terduduk dan kemudian terkapar dengan sendirinya.
1887
Merekapun kehilangan kesadaran seperti Nyo Bwee, Kwan Kim
Ceng dan juga Nadine. Sebaliknya, Nadine yang tadinya dalam
pengaruh sihirnya, kini sadarkan diri dan perlahan-lahan mulai
menemukan dirinya, bahkan kemudian berkata dalam bahasanya
sendiri, bahasa Thian Tok:
“Ayah, aku tahu itu kamu.........” serunya sambil memandang
sosok misterius, tinggi besar yang berdiri tidak jauh dari
tempatnya terbaring dan kini duduk untuk mencoba berdiri.
Tetapi, tak lama kemudian Mindra, ayahnya mendekatinya dan
bahkan juga membantunya untuk berdiri.
“Akupun tahu kalau engkau akan mudah mengenaliku anakku......
berdirilah, karena waktu kita sangat terbatas. Ayahmu harus
mengatur segala sesuatunya agar tidak ada bencana yang kelak
menimpamu...... dengar, waktu kita sangat sedikit dan amat
terbatas. Jadi, camkan dan ingat baik-baik pesan ayah.....”
“Ayah.... tapi,,,,,,” Nadine berkata sambil melirik Kim Ceng dan
lega hatinya karena pemuda kecintaannya baik-baik saja, juga
Nyo Bwee
“Tenang anakku, aku tahu maksudmu. Akupun akan
meninggalkan sesuatu kepada calon suamimu itu, tetapi dia tidak
1888
perlu mendengarkan percakapan kita saat ini. Nach, engkau
paham dan siap....”?
“Baiklah ayah,,,, tetapi apakah memang benar-benar Kim Ceng
koko benar baik-baik saja keadaannya ayah.....”?
“Masak calon menantukupun kucelakai? Engkau ada-ada saja
anakku.....” Mindra terharu melihat ternyata anak gadisnya pada
akhirnya sudah menetapkan seseorang menjadi pilihan teman
hidupnya. Dan untungnya, pemuda pilihannya juga gagah dan
berhati baik. Dan dia merasa sudah cukup tepat, bahkan merasa
senang bagi putri tunggal yang ikut terlunta bersamanya di
Tionggoan.
“Baik, apa yang ingin ayah sampaikan....”? bertanya Nadine
akhirnya setelah tenang melihat Kim Ceng keadaannya baik-baik
saja.
“Begini, engkau pasti masih ingat, kakak lelaki dan adik lelakimu
disekap Mo Hwe Hud, Suhuku entah dimana agar ayahmu
mengikuti perintahnya mengerjakan satu hal di Tionggoan sini.
Tapi, sayangnya, pekerjaannya itu amatlah licik, dan diapun
bekerja dengan orang-orang yang tidak kurang liciknya, tidak
kurang berbahayanya. Jika terus seperti itu, kita akan terbawa
1889
gejolak permusuhan yang dapat membuat kita semua dalam
keadaan berbahaya. Syukurlah engkau justru dapat mengikat tali
persahabatan dengan banyak tokoh di Tionggoan, terutama Thian
Liong Koay Hiap yang sangat ditakuti pihak Suhuku itu. Nach,
engkau terimalah benda ini dan yang satunya engkau berikan
kepada calon suamimu, tapi sayang ayah tinggal memiliki dua
buah ini saja. (Sambil menyerahkan dua butir mutiara berwarna
merah hangus, merah tua) Kedua benda ini dikenal sebagai
Mutiara Penolak Sihir yang ayahmu temukan di Tionggoan sini, di
dalam sebuah gua ketika menyekap musuh-musuh dari Seng
Ong. Engkau simpan baik-baik, dan gunakan nanti sebentar,
karena kalian akan dihadang oleh pihak Utusan Pencabut Nyawa.
Lakukan perlawanan seadanya dan tunggu waktu malam untuk
melarikan diri, karena kalian akan kusihir untuk terlelap selama
sehari semalam dalam sebuah gua. Besok malam, keluar dan
segera melarikan diri menuju Thian Cong San tetapi melalui jalan
hutan, jangan melalui jalanan umum. Lupakan untuk pulang
menuju Kota Han Im, kalian bisa membahayakan seluruh
keluarga kakek Nyo To disana, karenanya jauh lebih baik segera
bergabung dengan para pendekar.......”
“Accchhh, ayah, tapi......”
1890
“Jangan banyak menyela...... ayah harus menyelamatkanmu,
karena kemungkinan kedua saudara laki-lakimu sudah
dibinasakan suhuku. Seorang tokoh dari Thian Tok
memberitahuku kemungkinan itu..... karena itu, engkau harus
hidup baik-baik serta melanjutkan keturunan ayahmu di
Tionggoan sini. Ingat, langsung menuju Thian Cong San dan
jangan mengambil jalanan umum...... kemudian, gunakan mutiara
ini kelak untuk menolong 3 orang pengawal Bu Tek Seng Ong
yang jiwa dan pikiran mereka ditawan melalui sebuah ilmu sihir
yang amat mujijat. Selain ayah dan tokoh Persia, hanyalah si
pelepas sihir yang dapat membebaskan mereka, tetapi, dengan
Mutiara Penolak Sihir ini, akan jadi jauh lebih mudah untuk
membebaskan mereka bertiga. Jika tidak keliru, salah satu
diantara mereka bertiga adalah tokoh dari Negeri kita, entah siapa
namanya..... engkau harus berupaya mencarikan daya menolong
mereka. Nach, ingat pesanku tadi, jangan berdaya keras
melawan, karena tokoh-tokoh utama Bu Tek Seng Pay berada
dekat sini,,,,,,, menyerah untuk kutawan dan malam harinya
meloloskan diri dan menuju Thian Cong San.... apa engkau
paham putriku? Bertanya Mindra dengan nada suara tegang dan
nampak seperti waktunya semakin menipis saja. Nadine paham
soal itu.
1891
“Baiklah ayah, aku mengerti.......” jawab Nadine. Dia tahu sekali
pengorbanan sang ayah, dan kagum dengan pengorbanan untuk
anak-anaknya itu. Mereka memang sangat terpaksa berkelana ke
Tionggoan, sudah cukup lama mereka meninggalkan Thian Tok
dan jalan pulang semakin kabur saja. Bahkan, beberapa kali dia
sendiri nyaris “dimakan” pihak lawan, tetapi pembelaan ayahnya
memang sangatlah luar biasa dan membuatnya tetap selamat
sampai saat ini. Diapun diangkat murid oleh Mo Hwee Hud, tetapi
berkali-kali nyaris diperawani Cie Tong Pek. Untungnya ilmu sihir
ayahnya memang hebat dan amat dibutuhkan gurunya. Tetapi
kini? Setelah dia membelot dan memilih untuk bersekutu dengan
kawan-kawannya sekarang, bahkan berhubungan dengan Kim
Ceng, bukankah persoalannya berbahaya? Bahkan juga
persoalan dan keselamatan ayahnya. Dia baru sadar bahwa
posisi ayahnya dewasa ini sangatlah riskan dan sangatlah
berbahaya. Jika bukan karena kemampuan sihir yang luar biasa,
ayahnya pasti sudah dibinasakan. Dan dirinya sendiri, pasti sudah
memancing amarah Mo Hwee Hud yang menyebalkan itu.
“Nach, jika demikian, bangunlah dan lanjutkan perjalanan kalian,
satu jam kedepan, pasti ayah akan datang dan menawan kalian
hidup-hidup. Ingatkan calon suamimu untuk nanti
1892
menyembunyikan Mutiara itu pada tempat yang tepat dan tidak
mudah ditemukan orang lain nantinya......”
“Baik ayah......”
“Nach, sekarang pergilah. Ayahmu akan memunahkan pengaruh
sihir dan membuat semua mereka Utusan Pencabut Nyawa disini
untuk menjadi lupa dengan apa yang baru saja terjadi disini.......”
Tak lama kemudian, suasana dalam bangunan itupun kembali
sepi. Mindra dengan rombongan anak buahnya pergi berapa
menit setelah Nadine, Kim Ceng dan Oey Bwee berangkat
terlebih dahulu. Nadine menjelaskan semua pesan ayahnya
kepada Kwan Kim Ceng tanpa menyadarkan Nyo Bwee terlebih
dahulu, dan ketika Kim Ceng paham, maka merekapun segera
menyadarkan Nyo Bwee dan kemudian segera melanjutkan
perjalanan. Memang benar, Nyo Bwee kebingungan dan banyak
bertanya-tanya, tetapi karena Kim Ceng dan Nadine bekerja sama
dan mengakui bahwa mereka tidak tahu, pada akhirnya Nyo
Bweepun diam. Dan merekapun tidak lama kemudian
melanjutkan perjalanan.
Tetapi, tepat sekali seperti yang disampaikan Mindra, ayah
Nadine, lebih dari sejam kemudian, tinggal 1 jam sebelum
1893
memasuki kota Tin Pa, mereka sudah dihadang oleh sejumlah
utusan pencabut nyawa. Bahkan para penghadang berjumlah
lebih dari 20 orang, sangar dan menampakkan tanda untuk
menahan dan mengurung mereka bertiga. Bukan hanya itu, sekali
ini mereka hadir lengkap, karena nampak disana kehadiran To
Seng Cu (Tunggal di Atas Tanah) Tam Peng Khek dan istrinya
Tok Sim Siancu (Dewi Berhati Racun) Gi Ci Hoa. Adalah kedua
orang ini yang memang menjadi pucuk pimpinan dari Utusan
Pencabut Nyawa yang banyak membunuh orang itu selama ini.
Utusan Pencabut Nyawa yang menghadang mereka saja sudah
kurang-lebih 50 orang, dan selain Tam Peng Khek suami-istri,
masih ada tokoh-tokoh lain yang juga pemimpin Utusan Pencabut
Nyawa. Mereka-mereka itu adalah Thi Jiau Kim Long (Naga Emas
Cakar Besi), OngKeng Siang yang juga adalah Ji Sute dari sang
tokoh utama, kemudian juga ada Mindra seorang PENYIHIR
HEBAT, dikenal juga dengan nama Thian Suan Sin Kun (Malaikat
Pemutar Langit) dan Sian Hong Kek (Si Angin Puyuh) Lim Kek
Ciang, masing-masing adik seperguruan ketiga dan keempat dari
Tam Peng Khek. Maka, boleh dibilang tokoh-tokoh utama Utusan
Pencabut Nyawa kini berada nyaris lengkap dan menghadang
jalanan Kwan Kim Ceng, Nadine dan Nyo Bwee. Melihat mereka
bertiga, Tam Peng Khek dengan suara murka sudah berkata:
1894
“Hmmmm, jika bukan putri dari Sam Sute, hari ini juga akan
kuberikan engkau jadi santapan empuk anak buahku. Sungguh
memalukan, sungguh sangat memalukan perguruan” dengus
Tam Peng Khek murka melihat Nadine. Tetapi seperti kalimatnya
tadi, dia tidak dapat bertindak atas Nadine karena masih
memandang kehadiran dan pentingnya Mindra bagi mereka.
Sementara itu, melihat posisi kekasih hatinya yang diserang
dnegan kata-kata di depan demikian banyak orang, bahkan
termasuk Mindra, ayah kekasihnya sendiri, Kwan Kim Ceng
menjadi kurang senang. Bukan hanya kurang senang, bahkanpun
dia melangkah maju dan berkata:
“Tam Locianpwee, kami toch sekedar berjalan bersama dan......”
“Diam engkau.... tidak ada hakmu berbicara disini. Sebentar lagi
engkau menjadi mayat hidup dan bakalan ikut denganku sebagai
budakku. Tidak ada hakmu untuk berpendapat disini.....” belum
lagi selesai Kim Ceng berbicara, sudah dibentak dan disuruh diam
oleh Tam Peng Khek. Tetapi, dasar meski berhati kembut tetapi
memiliki ambegan kuat dan besar, Kim Ceng tidak menjadi murka
dan kembali berkata dengan suara keras:
1895
“Hmmmm, Locianpwee, siauwte hanya sekedar mengingatkan
bahwa kemanapun kami pergi, itu masih bukan urusan Tam
Locianpwee.....”
“Bangsat, jika kubilang diam, diam tahu......” sambil berkata
demikian, dengan marah dan murka Tam Peng Khek yang akhirakhir
ini banyak mengalami kekalahan serta kerugian sudah
langsung menyerang Kwan Kim Ceng. Tetapi, Kwan Kim Ceng
tidak merasa gentar dan takut. Meski tahu kehebatan lawan,
tetapi mengandalkan ilmu ilmu perguruan dan penyempurnaan Bu
San, dia tidak merasa takut menghadapi Tam Peng Khek yang
membentak-bentaknya seperti anak kecil.
Benar saja, dalam waktu singkat, Kwan Kim Ceng dengan
keteguhan hati sekaligus dengan semangat melindungi
kekasihnya, mampu menandingi Tam Peng Khek. Dia bahkan
tidak terdesak meskipun sulit untuk menyerang dan mendesak
balik Tam Peng Khek. Keadaan itu membuat Mindra merasa
khawatir dan skenarionya bakal rusak jika Nadine ikut membantu
kekasih hatinya. Karena berpikir demikian, Mindra kemudian maju
selangkah dan berkata:
“Toa suheng, kita butuh bekerja secepatnya.........” sambil berkata
demikian Mindra segera bekerja dan kemudian memekik dengan
1896
suara penuh getaran mujijat yang langsung menggoyahkan Kwan
Kim Ceng dan membuat Nadine serta Nyo Bwee kehilangan
kesadarannya. Luar biasa memang jika Mindra mengerahkan
kekuatan sihir yang memang menjadi kebisaan utamanya selama
ini. Tetapi, yang sedikit dia sayangkan adalah, ketika Kwan Kim
Ceng goyah, dengan tidak malu Tam Peng Khek menyerangnya
dengan satu pukulan hebat:
“Dukkkkkk ................... huaaaaaaaaahkkkkk”
Pukulannya tepat mendarat di perut Kwan Kim Ceng, yang
untungnya, meskipun mulai kehilangan kesadarannya tetapi
iweekangnya masih penuh dalam tubuhnya. Karena itu, meskipun
terpukul telak oleh Tam Peng Khek, tetapi hanya mampu untuk
melukainya dan tidak sampai merengut nyawanya. Begitupun,
luka Kim Ceng saat itu tergolong serius...... tetapi, karena
kehilangan kesadarannya, dia tidak menyadari dan merasakan
kesakitannya. Mindra bersyukur melihat Kwan Kim Ceng hanya
terluka, meski agak parah kelihatannya, tetapi nafasnya jelas
masih ada dan masih bisa tertolong...... begitu harapannya. Tidak
menunggu keadaan menjadi memburuk, Mindra dengan cerdik
segera berkata sekaligus memberi perintah:
1897
“Gusur mereka kedalam gua di belakang peristirahatan kita,
mereka akan tertidur selama 24 jam dan kehilangan kesadaran
mereka. Cepat, tempat ini sungguh tidak aman, sewaktu-waktu
jejak kita tercium orang.......”
Kata-kata terakhir Mindra menyadarkan Tam Peng Khek dan tidak
membuatnya menjadi tambah marah dan murka, dan dia
mengangguk karena perkataan Mindra dan kemudian berkata
dengan suara berat:
“Laksanakan perintah Sam Sute, kita segera pergi.......”
Dan tak lama kemudian, merekapun beranjak pergi dan
meninggalkan tempat itu untuk kembali sepi dan sunyi. Tubuh Kim
Ceng, Nyo Bwee dan Nadine juga dibawah pergi sesuai dengan
perintah Mindra..... tetapi, meski jejak mereka sedapat mungkin
disamarkan tetap ada yang mengetahui dan mengikuti apa yang
terjadi. Ada mata mata kaum Kaypang yang mengetahuinya dan
bahkan mengikuti sampai mereka bersembunyi kedalam hutan.
Bahkan terus mengikuti kemana perginya kelompok ini dengan
membawa ketiga korban mereka itu.
Bukan hanya kaum pengemis yang ahli memata-matai gerakan
lawan, justru ada yang lebih hebat lagi, tiga orang yang terus
1898
mengamati pergerakan banyak orang itu. Ketiganya terlihat
seperti manusia berumur 40an, masih gagah dan cantik salah
seorang dari mereka yang adalah wanita atau perempuan.
Gerakan mereka, jangan tanya lagi, bahkan Tam Peng Khek dan
mungkin Suhunya tak akan mampu untuk menandingi ketiga
orang ini. Dan ketika tengah malam Nadine bersama Nyo Bwee
ingin melarikan diri dengan membawa tubuh Kim Ceng yang
terluka parah, adalah ketiga orang ini yang mencegat. Bahkan
kemudian, salah seorang dari ketiganya, si manusia aneh
berjubah pengemis berwarna hijau, sudah berkata:
“Aku mesti bergegas, anak muda ini terluka parah.......” seusai
berkata demikian, si Manusia aneh berjubah pengemis itu segera
mencelat pergi sambil membawa tubuh Kwan Kim Ceng.
Sebentar saja dia sudah menghilang, tetapi masih terdengar
suara dari kedua kawannya yang mengiriminya suara:
“Baik, tetapi ingat-ingatlah setahun kedepan, kita bertiga
berjumpa dekat Thian Cong San....... Lihat nanti murid siapa yang
terbaik”
“Baik, setuju......” bak semilir angin saja jawaban manusia aneh
itu, tetapi terdengar jelas dan tegas di telinga kedua kawannya.
1899
“Aku membawa gadis ini....” terdengar suara si perempuan dari
ketiga manusia aneh yang tadinya datang bersama sambil
dengan sekali menyedot, tubuh Nadine sudah berada dalam
tangannya. Nadine masih belum paham, mengapa tubuh Kwan
Kim Ceng yang berada dalam pondongannya tiba-tiba terlepas
dan terbang menuju si manusia aneh satunya dan sudah
melayang pergi dengan amat cepatnya. Dan kini, dia sendiri
sudah berada sangat dekat dengan si manusia cantik, amat cantik
dan bercahaya yang memandangnya dengan sinar mata teduh.
“Sudahlah cucuku, engkau kini ikut aku menjadi muridku,
kekasihmu itu, setahun kedepan akan berjumpa lagi denganmu.
Hanya mahluk tadi itu yang akan mampu untuk
menyembuhkannya, kami berdua akan kesulitan. Tetapi, meski
kami bertiga berdekatan, tetapi kalian bertiga harus berlatih keras
hingga setahun kedepan. Nach mari kita juga harus segera
pergi.......”
Terakhir, Nyo Bwee yang meliat kedua temannya pergi dalam
keadaan yang aneh, cepat bak terbang, segera sadar bahwa
mereka bertemu orang berkepandaian amat tinggi. Dan melihat
tatapan mata manusia aneh yang berdiri di depannya, diapun
dengan cepat memberi hormat dan menyebut:
1900
“Suhu......”
Manusia itu tersenyum dan kemudian mengibaskan tangannya,
dalam waktu singkat merekapun lenyap dan tempat itupun sepi
kembali. Menjadi ramai kembai ketika keesokan harinya mereka
tidak dapat menjumpai ketiga anak muda di tempat mereka
dikurung sebelumnya.
Ketiga sebulan lebih berlalu dan muncul Tio Lian Cu dan Khong
Yan di tempat itu, merekapun sama menemukan tempat tersebut
dalam keadaan yang sangat ramai. Bukan apa-apa, karena
memang disitu ternyata menjadi tempat rahasia melatih Pasukan
Utusan Pencabut Nyawa dan lebih mengejutkan lagi, karena
selama beberapa hari terakhir, jumlah mereka bertambah banyak
dan terus menerus melakukan latihan. Bahkan, seorang pelatih
sempat menyebutkan:
“Tidak lama lagi kita akan melakukan pertempuran hidup mati di
Pek In San, ayo, mereka yang malas akan tertinggal dan mudah
terbunuh. Pacu dirimu, berlatihlah secara serius agar mampu
menjadi prajurit Utusan Pencabut Nyawa yang handal dan
mampu merepotkan lawan......”
1901
Tio Lian Cu dan Khong Yan segera sadar bahwa mereka
menyatroni kubu lawan, bahkan salah satu kubu penting yang
justru melatih para petarung lawan untuk pertempuran sebulan
kedepan. Tetapi, lebih terkejut lagi ketika mereka menemukan
kenyataan betapa disitu juga hadir Mo Hwee Hud. Hal yang
membuat mereka jadi berubah sangat hati-hati dan sadar, bahwa
tempat itu benar-benar tempat harimau. Sedikit saja mereka
berlaku alpa, maka keselamatan mereka akan sangat diragukan
karena selain Mo Hwee Hud, disitu juga hadir lengkap muridmuridnya,
kecuali tak nampak kemunculan Cie Tong Pek dan
kedua bersaudara Lan Tjhong Siang Sat (Sepasang Bintang
Djahat dari LanTjhong San) masing-masing Ouw Cing dan Ouw
Cih. Salah satu dari kedua kakak beradik itu sudah cacat
permanen karena memang kemampuannya dipunahkan oleh
Thian Liong Koay Hiap. Sementara yang satunya lagi, harus
beristirahat selama setahun lebih kurang untuk mengembalikan
tenaga iweekangnya yang dikunci oleh Thian Liong Koay Hiap.
Jelas, meski tanpa kedua muridnya itu, keadaan di tempat itu
masih amat berbahaya karena Mo Hwee Hud saja sudah lawan
berat. Apalagi dengan kehadiran semua muridnya kecuali yang
berhalangan termasuk Cie Tong Pek. Jelas saja keadaan disitu
amat berbahaya. Hal itu yang membuat Tio Lian Cu dan Khong
1902
Yan memutar otak untuk menyelidiki keadaan Kwan Kim Ceng
bersama dengan Nyo Bwee dan Nadine. Benarkah mereka
berada dalam gua itu? Atau, benarkah mereka berada di dalam
sarang misterius dari Utusan Pencabut Nyawa yang disebut Kiu
Kok Houw (Lembah Sembilan Harimau)?
Mengetahui kekuatan lawan tidak sampai membuat Tio Lian Cu
dan Khong Yan keder dan mundur ketakutan, sebaliknya, mereka
merasa amat tertantang dan ingin menjawab tantangan itu.
Tetapi, mereka juga cukup tahu diri, membentur tembok Utusan
Pencabut Nyawa tentunya sangat riskan, apalagi di markas itu
ternyata juga berisi tokoh-tokoh yang bukannya rendah
kepandaian mereka. Oleh karena itulah mereka memikirkan
strategi untuk memasuki markas lawan secara menggelap alias
menyelidiki terlebih dahulu isi markas lawan. Mereka
memutuskan untuk menyatroni markas lawan pada malam
harinya:
“Ji Suheng, dilihat seperti ini, markas musuh sungguh sangat kuat
penjagaannya. Apalagi, kekuatan mereka dengan kehadiran
seorang Mo Hwee Hud juga pastinya bertambah amatlah hebat,
tetapi upaya menyelamatkan Kwan Kim Ceng dan kedua
kawannya jelas tidak bisa kita abaikan begitu saja. Bagaimana
menurutmu Suheng? Apa yang mesti kita lakukan memperhatikan
1903
kondisi seperti ini.....”? bertanya Tio Lian Cu meminta
pertimbangan Khong Yan
“Hmmm, aku mulai semakin mengenalmu Sumoy, jika kutinggal,
pasti engkau tetap saja akan berusaha menerobos masuk markas
lawan. Karena itu, jauh lebih baik menyusun rencana dan
kemudan menunggu sampai malam hari datang dan baru kita
bergerak menyusup ke dalam untuk mengetahui dimana mereka
menahan dan menyembunyikan ketiga tawanan mereka itu......”
“Hmmmm, untung engkau memutuskan yang tepat Suheng.........”
bisik Tio Lian Cu dengan mimik menggoda
“Apakah engkau pikir hanya engkau yang ingin menyelamatkan
mereka bertiga Sumoy...? engkau sungguh keliru jika demikian.
Hanya saja, menerobos tanpa sama sekali strategi dan
pertimbangan, sama saja dengan menyerahkan diri dan tidaklah
dapat kita membantu sedikitpun..... salah-salah, justru Thian
Liong Koay Hiap yang akan membantu kita dan bukannya kita
yang membantunya untuk membebaskan Kim Ceng dan kedua
kawannya.....”
“Aku tahu suheng.......”
1904
“Nach, mari kita mencari tempat beristirahat terlebih dahulu.... biar
malam hari atau menjelang subuh nanti kita bisa bergerak secara
lebih leluasa......” usul Khong Yan yang diterima oleh Tio Lian Cu.
Tidak berapa lama kemudian kedua jago muda itu sudah
meninggalkan tempat mereka mengintip tempat persembunyian
lawan yang ternyata sangat terjaga serta penuh tokoh-tokoh lihay
didalamnya. Meskipun demikian, fakta yang mereka temukan
tidak membuat mereka kecil hati, tetapi mengobarkan semangat
untuk mencari strategi dan siasat yang lebih pas dan tepat. Tetapi
tanpa sepengetahuan mereka berdua, beberapa lama setelah
mereka berlalu, seseorang terlihat berdiri dekat tempat mereka
tadi. Untungnya dia bukan musuh, jelas dari ketika orang itu
menarik nafas panjang sambil bergumam sendirian:
“Acccchhh, mereka sungguh-sungguh akan melakukannya.
Biarlah kubantu secara diam-diam nanti malam......” terdengar
desisannya. Sebuah fakta yang mengejutkan bahwa orang ini,
meski hanya berjarak beberapa meter, namun ternyata tidaklah
terlacak oleh Tio Lian Cu dan Khong Yan berdua. Kenyataan yang
sungguh amat mengagetkan mengingat kemajuan Khong Yan
dan Tio Lian Cu selama ini. Tapi, meskipun begitu, toch tidaklah
mengagetkan jika mengenal siapa gerangan orang tersebut. Dan
1905
yang terlebih penting lagi, untungnya dia bukanlah lawan, tetapi
jelas adalah sahabat dari kedua anak muda itu.
Benar saja, lewat tengah malam, lebih tepatnya menjelang subuh,
dua sosok tubuh bergerak enteng dan sangat cepat. Tetapi, jelas
mereka masih belum begitu dapat menguasai tempat asing yang
mereka sedang selidiki itu. Karena itu, terlihat mereka bergerak
agak lamban dan sulit untuk mengetahui secara pasti lokasi lawan
serta apalagi lokasi penawanan orang yang hendak mereka
tolong itu. Tetapi, mereka mulai menjadi curiga ketika di beberapa
titik, lawan yang berjaga mereka temui dan jumpai dalam keadaan
tertotok. Bagaimana bisa seperti itu, padahal mereka sorang saja
belum bertemu musuh. “Jangan-jangan ada orang lain yang juga
melakukan hal yang sama dengan kami.....”? desis Khong Yan
dalam hati dan dengan sendirinya menyiagakan diri dan bersiap.
“Bukan hanya kita yang berniat menyelidiki tempat ini......” bisik
Tio Lian Cu yang dianggukkan tanda setuju oleh Khong Yan,
karena memang diapun sudah sempat berpikir seperti itu tadinya.
Merekapun maju lagi untuk menyelidiki lebih jauh, tetapi mereka
kembali bertemu dengan dua sosok penjaga yang sudah dalam
keadaan tertotok dan tidak berdaya. Apa boleh buat, sudah
tanggung, merekapun maju lebih jauh lagi dan tidak mungkin
1906
mundur lagi. Tetapi semakin jauh ke garis pertahanan musuh,
suasana hati mereka semakin menjadi tegang. Tetapi, Tio Lian
Cu tiba-tiba ingat sesuatu dan langsung berbisik kepada Khong
Yan:
“Kita harus mengompres keterangan dari pihak lawan..... jika
tidak, kita hanya akan sekedar berputar-putar dan sulit
mendapatkan hasil.....” mendengar usulan Tio Lian Cu terlihat
Khong Yan tersenyum dan mengangguk sambil kemudian balas
berbisik kepada Tio Lian Cu:
“Engkau memang sudah layak menjadi seorang Ciangbudjin,
sumoy.......” puji Khong Yang setulus hati dan setuju dengan usul
Lian Cu
“Bukan saatnya bercanda,,,,,” desis Tio Lian Cu sambil kemudian
berusaha untuk menemukan dimana lagi ada pihak lawan yang
berjaga-jaga. Tetapi begitupun, sejauh dia memandang, tidak
terlihat dimana posisi lawan berjaga-jaga. Bukan apa apa, karena
garis pertahanan di hutan seperti yang mereka hadapi saat itu,
memang berbeda jauh. Garis penjagaan tersebar melebar dan
bisa dimana saja, sementara mereka buta lokasi dan harus
banyak berusaha untuk mengetahui dimana pihak musuh. Tetapi,
berkonsentrasi sejenak, mereka sudah sama mengambil
1907
keputusan, arah mana mereka akan tuju. Mereka dengan
kemampuan terkini, sudah memiliki ketajaman dan intuisi yang
amat jama.
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita PANL ke 12 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments