Cerita Cantik PANL 15

------
Malam terus bergulir, Tek Ui Sinkay dan Cu Ying Lun sudah
membangunkan dan memberitahu Khong Yan dan Tio Lian Cu,
sebab menurut Koay Ji mereka berdua adalah tenaga yang amat
penting malam itu. Sementara Tang Hok, samaran dari Koay Ji
berjaga di pintu masuk atau di Lembah yang sebetulnya juga
sudah cukup terjaga. Selain ada barisan pendam dari para
anggota Kaypang, juga pintu masuk diatur dengan sebuah
Barisan lain yang pada dasarnya cukup hebat. Tetapi Koay Ji
sangat paham, bahwa Barisan itu pastilah tidak akan mampu
menghalangi seorang sehebat Nenek Hua Hun.
Koay Ji atau Tang Hok tidak terlampau tegang menantikan
kedatangan musuh, dia bahkan berada tidak jauh dari barisan
mulut lembah dan menunggu para penyusup disana. Waktu terus
bergulir, selepas tengah malam dan sudah mulai jauh mendekati
subuh, dalam Markas Thian Cong Pay sudah menunggu Tek Ui
Sinkay, Cu Ying Lun, Tio Lian Cu dan Khong Yan bersama juga
2310
Tiang Seng Lojin, Tui Hong Khek Sinkay dan Kim Jie Sinkay.
Hanya mereka belaka yang bersiaga untuk menyambut
kedatangan musuh menjelang subuh. Meskipun sebenarnya
sewaktu-waktu Barisan Pengemis Pengejar Anjing dari Khong
Sim Kaypang juga siaga untuk bertugas, tinggal menunggu
komando kelak.
Waktu terus berjalan, Tang Hok tetap berdiam diri mengawasi
mulut lembah dan kesunyian terus melingkupi pegunungan Thian
Cong San. Sampai kemudian, tak berapa lama, dengan tidak
mengeluarkan suara, nampak bergerak 3 orang dengan
kecepatan tinggi. Melewati Barisan Pendam yang memang tak
terlacak dengan santai dan memasuki Barisan juga tanpa
halangan. Koay Ji nyaris bergerak, tapi batal karena seperti dapat
merasakan kekuatan lain yang aneh di belakang ketiga
pendatang. Tetapi, tidak terlihat orang lain lagi, bahkan setelah
ditunggu sejenak, juga tidak terlihat adanya gerakan orang lain.
Tetapi Koay Ji mampu merasakan adanya tokoh lain dengan
kekuatan yang hebat. Bahkan dalam intuisi dan nalurinya masih
lebih hebat dari tokoh-tokoh yang sudah menyusup masuk itu.
Akhirnya, toch tokoh itu berlalu dan Koay Ji kemudian membuntuti
ketiga lawan yang bergerak dengan kekuatan dan kepandaian
ginkang yang memang diatas rata-rata. “Hmmmmm, Sam Suheng
2311
dan Chit Suheng bakalan kesulitan bertarung melawan dua
diantara musuh-musuh itu..... lawan memang benar-benar sangat
hebat, untung saja ada Tio Kouwnio dan Khong Sute, jadi masih
ada kekuatan yang memadai untuk dapat mengatasi lawan......”
demikian desis Koay Ji dalam hati dan terus saja membuntuti
lawan sambil mengamati arah mereka.
Sesuai dengan strategi awal, maka ketiga pendatang ini awalnya
menuju ke Gua rahasia pertapaan Bu In Sinliong, tetapi adanya
gerakan disengaja dari Barisan membuat mereka membatalkan
niatan. Merekapun memutuskan menuju ke rumah istirahat dan
mencoba menemukan dan menemui Tek Ui Sinkay yang memang
punya satu kamar disana. Sayangnya kamar tempat istirahat Tek
Ui Sinkay juga kosong, dan ini mengagetkan ketiga pendatang itu.
Bahkan mereka sampai diam sejenak di rumah tinggal Tek Ui
Sinkay sampai kemudian seseorang berkata dengan nada
tertahan dan kaget:
“Hmmmm, Tek Ui Sinkay tidak beristirahat malam ini,
kemungkinan besar dia berada di Rumah Utama menyusun
strategi dan siasat. Tetapi, jika berada disana, apalagi sedang
Rapat, maka kekuatan mereka disana mestinya tidak sedikit.
Apalagi, ada beberapa jago lain yang datang ke Thian Cong Pay
siang tadi..... kita harus agak berhati-hati agar tidak konangan.....”
2312
“Hmmm, Rumah Utama nampaknya ada beberapa orang
dalamnya. Kelihatannya Nenek Hua Hun keliru menyimpulkan
waktu-waktu penting dari tokoh-tokoh dalam Thian Cong Pay
ini,,,,,, buktinya semua sasaran kita sulit untuk diserang. Apakah
tidak lebih baik missi ini kita batalkan saja...”? tanya-jawab antara
mereka bertiga terjadi, dan belum ada keputusan bertindak.
“Jangan, setidaknya kita membunuh salah satu tokoh dalam
Thian Cong Pay ini, agar mereka mengalami ketakutan karena
mampu kita terobos,,,,,” sebuah usulan yang luar biasa, memukul
emosi dan kepercayaan diri lawan memang sangatlah penting
dalam kondisi lawan yang sudah berhadap-hadapan. Antara Pek
In San dan Thian Cong San, dua kutub yang akan bentrok dalam
beberapa hari kedepan.
“Iya, begitu juga baik. Tetapi, mana target yang tepat untuk kita
serang itu? Dan dimana dia tinggal untuk kita datangi....”?
“Coba engkau jajaki, siapa-siapa yang berada dalam Rumah
Utama sekarang ini” tanya si tinggi besar, entah siapa.
“Hmmmm, ada satu, dua, tiga, tujuh orang semuanya. Dan
mereka semua bukanlah lawan yang ringan, akan agak repot jika
2313
harus melawan mereka bertujuh, karena resiko kegagalan
amatlah besar......”
“Dimana kamar Nenek Hua Hun....? biar kita bertanya kepadanya,
sasaran mana yang mudah untuk kita serang.....” bertanya lagi
seseorang dari mereka bertiga dan berencana menemui Nenek
Hua Hun
Mereka terus bercakap-cakap tanpa ada keputusan sampai
kemudian memutuskan untuk menemui Nenek Hua Hun terlebih
dahulu. Dan hebatnya, mereka menebak atau malah mungkin
tahu dan menemukan kamar Nenek itu dengan cepat. Tetapi,
pada saat Nenek itu membuka jendela kamarnya dan mulai
bercakap secara rahasia dengan para penyusup itu, Tang Hok
memilih untuk beraksi. Diapun memilih untuk berdiri di tengah
wuwungan rumah terdekat dari rumah yang dihuni Nenek Hua
Hun. Menunggu mereka bercakap-cakap selama beberapa saat
dan terlihat bersikap amat rahasia, maka kemudian Tang Hok
memperdengarkan suara tertawanya dan berkata dengan suara
cukup keras:
“Hahahahaha, ternyata kalian bertiga menyusup untuk bertemu
dengan Nenek Hua Hun... tapi siapa gerangan kalian bertiga yang
begitu berani mati datang menyatroni Thian Cong Pay dan
2314
bersiasat dengan Nenek Hua Hun....? bahkan mencari info dari
Nenek Hua Hun rumah mana yang bisa kalian serang...? kalian
sungguh gegabah sahabat.....” tawa dan tegurannya tidak
terlampau keras, tetapi jelas terdengar orang banyak. Bahkan
juga termasuk rombongan Lembah Cemara yang tinggal dan juga
beristirahat di rumah yang sama serta juga didalam rumah yang
wuwungannya ada Koay Ji berdiri saat itu.
“Ech, setelah ketahuan baru ingin membungkam mulutku
ya.....hahahaha, tidak semudah itu kalian menyatroni Thian Cong
Pay dimalam seperti ini sahabat. Nachh, mundur kalian....” sambil
berkata demikian Koay Ji atau Tang Hok mendorongkan sebelah
tangannya menyambut serangan salah satu diantara ketiga
pendatang yang kelihatannya memiliki kekuatan hebat itu.
“Duaaaaarrrrrrr.................” benturan mereka tidak terhindarkan
dan mendatangkan suara yang cukup keras menggelegar.
Hebat akibatnya. Si penyerang terdorong mundur dan melayang
turun di tanah, sementara Koay Ji atau Tang Hok terlihat sekedar
bergoyang-goyang tubuhnya. Cukup jelas bahwa dia masih
menang kuat. Atau bisa juga karena si penyerang harus
melompat untuk menyerang Tang Hok, sehingga kalah dalam
dasar dan landasan dibandingkan dengan posisi Koay Ji. Tetapi,
2315
repotnya bagi para penyusup, suara Tang Hok tadi mengundang
banyak orang, termasuk rombongan Lembah Cemara yang
merasa terganggu. Apalagi, karena mendengar bahwa mereka
para penyusup itu bersekutu dengan Nenek Hua Hun. Dan Nenek
itu terlihat pucat pasi ketika bermunculan anggota keluarganya
dari dalam rumah, termasuk juga Siauw Hong yang kebingungan
karena melihat di atas wuwungan bukannya Koay Ji tetapi orang
lain yang tidak dikenal.
“Hmmmmm, semua kekuatan Kaypang sudah dikerahkan di
Thian Cong San, sejak memasuki mulut lembah jejak kalian
sudah konangan. Hanya, kami ingin tahu, siapa target utama
kalian dan siapa kalian sebenarnya...... hahahaha, tidak tahunya
kalian memiliki mata-mata melalui Nenek Hua Hun..... nach sobat,
sebutkan siapa kalian yang sebenarnya...? mengapa berani mati
menyatroni Thian Cong Pay....”? tanya Tang Hok atau Koay Ji
dengan suara keras. Dan bersamaan dengan itu, muncul pula Tek
Ui Sinkay dan kawan-kawan lainnya, mereka kini berhadapan
dengan pihak penyusup yang sudah konangan.
“Menjumpai Pangcu,,,,,,,, cayhe menemukan orang-orang ini
menyatroni Thian Cong Pay di tengah malam dan bersiasat
dengan nenek Hua Hun mencari korban yang paling mudah untuk
mereka habisi.......”
2316
“Hmmmm, pekerjaanmu sangat baik dalam menjaga Thian Cong
Pay malam ini Tang Hok, bagus sekali......” berkata Tek Ui Sinkay
memperkuat sandiwara mereka tanpa menjelaskan siapa Tang
Hok yang sesungguhnya. Setelah berkata demikian, Tek Ui
Sinkay kemudian berpaling kearah tiga orang yang membuatnya
tercekat, karena diantara ketiga lawan itu, terdapat seorang kakek
tinggi besar yang dia tahu sangat sakti dan sangat berbahaya.
Kemampuannya amat tinggi. Dia adalah tokoh yang pernah
dijumpai dulu, bernama Geberz.
“Acccccch, ternyata tokoh-tokoh dari Pek In San, tidak salah,
engkau tentu Geberz yang pernah pula menyerang kami di
Benteng Keluarga Hu,,,,, hahahaha, masak kalian tidak sabar
menunggu beberapa hari lagi,,,,,, dan engkau, tidak salah lagi,
engkau adalah tokoh bernama Siu Pi Cong, tokoh timur yang
berkhianat. Hahahaha, entah siapa kawan kalian yang satu lagi.
Tapi, sudah bisa kupastikan gerombolan Pek In San yang sudah
tidak sabar......”
“Hmmmm, kami tidak khawatir menghadapi keroyokan kalian,,,”
berkata Siu Pi Cong sok gagah dan pahlawan, padahal lama
kelamaan dia khawatir juga dengan kondisi mereka saat itu.
Awalnya mereka menduga hanya murid-murid Bu In Sinliong yang
berbahaya, termasuk Tek Ui Sinkay, tetapi, Tang Hok yang tadi
2317
menangkis pukulan Geberz, ternyata juga sangat lihay. Bahkan
lebih dari yang mereka perkirakan, tidak kalah lihay dari Geberz
sendiri, dan itu sudah dibisikkan Geberz ke telinga mereka
beberapa saat yang lalu. Tetapi, hebat memang, Siu Pi Cong
terlihat masihlah tetap tenang karena dia merasa amat yakin
berhubung datang bersama dua orang yang berkepandaian hebat
dan amat mujijat. Mereka berdua yang dimaksudkan adalah,
Geberz dan kawan mereka yang satunya lagi, orang yang
nampak agak misterius itu dan masih belum ketahuan nama dan
identitasnya. Orang itupun masih tetap berdiam diri dan tidak
pernah buka suara sedikitpun dan membuat orang-orang merasa
cukup kaget dengan diamnya.
“Memangnya siapa yang akan melakukan pengeroyokan...”?
bertanya Tek Ui Sinkay dengan santai, bahkan keyakinannya
cukup tebal.
“Apakah kalian berani menahan kami satu lawan satu disini....”?
tanya Siu Pi Cong merasa mendapat angin.
“Sudah jelas kalian datang dan bersekutu dengan Nenek itu untuk
mencari tahu siapa lawan di Thian Cong Pay yang mudah untuk
kalian bunuh. Memangnya kalian datang kemari malam-malam
2318
untuk pibu....”? jawab Tek Ui Sinkay yang membuat Kakek Siu Pi
Cong bungkam seribu bahasa
Sementara itu, Hoan Thian Khek sudah berada di tengah arena
dan memandang kearah istrinya Hua Hun dengan wajah tidak
mengerti. Maka perlahan-lahan diapun kemudian bertanya
meminta kejelasan:
“Istriku, siapa gerangan mereka ini......”? tanyanya dengan penuh
tanda tanya, tetapi yang ditanya menunduk malu tanpa tahu
bagaimana menjelaskannya. Dia terdiam seribu basa dan salah
tingkah.
“Soh Hun Ciang (Si Pukulan Maut) Hoan Thian Kheng
Locianpwee, jika tidaklah keliru, mereka saling memanggil nama
dengan akrabnya. Bahkan, sempat kudengar mereka
menyinggung kakak Nenek Hua Hun yang ternyata adalah Hua
Bong, tokoh yang dahulu bergelar Pek Kut Lojin. Dan tokoh tua
bernama Geberz itu adalah paman guru dari Pek Kut Lojin,
pentolan dari Pek In San yang sedang mengganas dan pada
membunuhi banyak orang di Tionggoan, termasuk membunuh
anak dan juga menantumu dari Lembah Cemara......” terdengar
Tang Hok berkata dengan menjelaskan siapa penyusup yang
2319
mengganggu malam itu dan bagaimana mereka berhubungan
dengan Nenek Hua Hun.
Mendengar penjelasan itu, Nenek Hua Hun terlihat semakin
terdesak dan berkata dengan suara terbata-bata:
“Engkau, engkau, bagaimana bisa mengetahui semua itu...”?
tanya si Nenek dengan suara parau dan nada yang penuh dengan
kegelisahan. Kini jelas, karena sikapnya sudah membenarkan
atau bahkan sekaligus menjelaskan kebenaran tuduhan Tang
Hok yang diutarakan tadi.
“Sejujurnya, pertemuan kalian sebelumnya pernah kupergoki dan
hebatnya, engkau masih bisa terus-terusan bersandiwara
sedemikian lamanya tanpa suamimu bisa mengetahui siapa
jatidirimu yang sesungguhnya. Untungnya engkau masih belum
mendatangkan bencana bagi Keluarga Lembah Cemara, kecuali
hanya dengan terbunuhnya anak tirimu...... hmmmm” tambah
Tang Hok, yang terakhir ini jelas hanya rekaannya, karena
sejelasnya dia sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti. Tetapi,
keluarga Lembah Cemara sudah sama terlanjur murka
mendengar siapa adanya Nenek Hua Hun.
2320
“Istriku, untuk terakhir kalinya aku bertanya...... apakah benar
semua tuduhan yang dilontarkan orang itu kepadamu.....”? tanya
Hoan Thian Kheng dengan nada suara yang mulai keras dan
mulai beraroma kemarahan. Jelas saja dia marah dan murka
dengan jati diri istrinya, apalagi menimbang bencana yang
mereka hadapi hingga membuat mereka berada di Thian Cong
Pay saat ini.
Hua Hun si Nenek yang ketahuan itu mulai terlihat panik, tiba-tiba
dia sadar untuk masalahnya itu, sulit menemukan orang yang
akan dapat membelanya. Sayangnya dia sudah mencoba
bermain api dengan perguruan kakaknya dan meski belum jatuh
korban, tetapi pihak Lembah Cemara pasti akan curiga habishabisan
kepadanya. Berharap kepada Geberz dan sahabatsahabatnya
saat itu, sama saja dia harus dan mesti memutuskan
hubungan dengan Lembah Cemara. Baru sekarang dia sadar
bahwa yang dia miliki di Lembah Cemara sebenarnya adalah
sebuah keluarga yang luar biasa indah dan nikmatnya. Masih
bisakah surga itu dimilikinya? Tidak, kini, dia ragu apakah masih
akan dapat memiliki kembali keluarganya tersebut dengan sekali
“berselingkuh” dengan pihak jahat?
“Suamiku, tentu sulit buatmu memahami keadaanku, tetapi
memang benar bahwa, Hua Bong yang bergelar Pek Kut Lojin
2321
adalah kakak laki-lakiku. Tetapi nama itu nyaris tidak pernah ada
orang yang tahu, termasuk tragedi kehidupan kakakku yang
malang itu. Kusembunyikan identitas yang sebenarnya bersama
cucu kakakku agar tidak menjadi sasaran amukan orang-orang
rimba persilatan dan tetap bersembunyi dengan aman di Lembah
Cemara. Sayang, aku memang pernah memiliki sebuah
hubungan masa lalu dengan keluarga perguruan kakakku, dan
mereka memerasku untuk memberitahu cara menyelusup
kedalam Thian Cong Pay ini. Hal yang sangat terpaksa
kulakukan, karena jika tidak, mereka akan membuka rahasiaku
kepadamu dan aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi
kelak.......” terdengar pengakuan Hua Hun yang jujur, nenek yang
adalah adik kandung dari Hua Bong yang bergelar Pek Kut Lojin,
tokoh hitam yang sangat ditakuti pada puluhan tahun silam. Jelas
saja semua terkejut dan kaget dengan pengakuan itu.
“Hmmm, dan apakah kematian anakku Swi Liang ada
hubungannya dengan semua hubungan gelapmu dengan pihak
mereka...”? tanya Hoan Thian Khek kembali dengan paras muka
dan hati terluka
“Mereka belum mengetahui identitasku pada waktu itu, tetapi
dalam perjalanan menuju Thian Cong Pay ini, mereka baru tahu
identitasku yang sebenarnya dan mulai menekanku untuk
2322
membantu upaya mereka. Dan jika tidak, maka mereka
mengancam akan segera membuka rahasiaku dan membunuh
semua keluarga Lembah Cemara......” tegas si Nenek Hua Hun
dengan tidak punya rasa takut lagi. Kelihatannya Nenek Hua Hun
malah sudah pasrah dengan apa yang sedang dan akan dia
hadapi. Jelas, dengan mengetahui rahasia dirinya, hubungannya
dengan Geberz yang sedang memanfaatkannya dengan
mengancam, memang tidak ada lagi harapannya. Dia sadar
dengan posisinya itu.
“Apakah kata-katamu dapat kami pegang....”? tanya Hoan Thian
Khek dengan muka yang jelas kurang yakin. Meskipun hati
kecilnya sudah membisikkan kata-kata jika penjelasan Nenek Hua
Hun yang selama ini menjadi istrinya yang baik, bahkan juga
melahirkan anak-anaknya adalah benar.
“Apakah engkau sedang menunggu korban lain baru percaya dan
baru akan turun tangan suamiku....”? tiba tiba terdengar suara
Nenek Tio Cui In yang hubungannya dengan Nenek Hua Hun
memang kurang begitu baik selama ini. Dan kata-katanya
sungguh sangat telak dan sulit untuk ditangkis oleh siapapun.
Bahkan Tang Hok sendiripun menjadi salah tingkah, karena tanpa
disadarinya, dia justru sudah menempatkan Nenek Hua Hun
dalam posisi yang tidak mungkin kembali lagi. Artinya, pada saat
2323
itu, hanya ada satu jalan keluar bagi Nenek Hua Hun, dan jalan
itu ujungnya adalah....... MATI.
Tetapi, menghadapi masalah yang seberat itu, secara tiba-tiba
Nenek Hua Hun malah menjadi sangat tenang. Setelah terbayang
ujung jalannya, dia justru menjadi pasrah dan tidak ingin lagi
berdebat lebih panjang. Dia memang sudah mulai sadar bahwa
persekutuannya meski terpaksa dengan bekas keluarga
perguruan kakaknya akan membawa maut. Tetapi, dia memang
sulit menghindar karena memang susah mencari jalan keluarnya.
Karena itu, dia kemudian berpaling dan memandang Hoan Thian
Kheng dan berkata:
“Engkau boleh turun tangan suamiku. Tapi engkau perlu tahu,
selain kejadian malam ini yang memang sangat memalukan,
sebagai istrimu aku tidak pernah berbuat hal yang keliru dan
membuat nama keluarga kita dipermalukan. Tetapi sebelum
engkau menghukumku, biarlah kuberitahukan kepadamu,
keluarga besar kita sedang dalam ancaman besar dan berat.
Jangan biarkan mereka bertiga keluar hidup-hidup dari Thian
Cong Pay sini, karena jalan masuk menuju Lembah Cemara
sudah mereka pahami. Dan mengenai Kang Siauw Hong, dia
bukanlah cucumu dan bukan pula cucuku, dia adalah keturunan
langsung Hua Bong kakakku dan nama aslinya adalah Sie Soat
2324
Ang. Karena orang tuanya akan menyingkir maka kubawah dia ke
Lembah Cemara dan kuasuh dengan menjadi anak angkat putri
kita. Setelah hari dan malam ini, kutitipkan anak-anak dan cucu
kita kepadamu, engkau maafkan aku yang sudah
mempermalukan Keluarga Lembah Cemara. Jika mungkin,
balaskan dendamku dan dendam kakakku kepada manusiamanusia
terkutuk itu...... nach, selama tinggal suamiku, mungkin
ini caraku membalas semua kebaikanmu kepadaku sepanjang
usiaku yang tak lagi berguna ini......” semua kata-kata Nenek Hua
Hun sangatlah tajam menohok, tetapi tidak ada yang
memperhatikan bagian akhirnya, bahkanpun suaminya sendiri
Hoan Thian Khek. Padahal, bagian akhir kata-katanya sudah jelas
bahwa dia sudah merelakan hidupnya, merelakan nyawanya.
Maka ketika dia pada akhirnya mengayunkan lengan memukul
kepalanya sendiri, tidak ada yang mampu menahannya lagi,
bahkanpun Koay Ji yang sudah tidak sempat lagi berbuat apa-apa
untuk mencegah tragedi itu.
“Prakkkkk,,,,,,,”
“Nenek,,,,,,,,”
“Ach istriku,,,,,,”
2325
Bunyi kepala retak dan tangisan Kang Siauw Hong serta keluhan
Hoan Thian Kheng nyaris bersamaan terdengarnya. Adalah Kang
Siauw Hong yang masih sempat memayang tubuh neneknya dan
memeluknya sebelum tubuh Nenek itu benar-benar terkulai.
Tetapi dia masih sempat berbisik kepada cucunya:
“Keluargamu bersembunyi di In Lam, temukan disana. Hua Li
adalah nama ibumu dan Sie Kong adalah nama ayahmu.. jadilah
orang baik cucuku, seperti yang selama ini engkau jalani di
Lembah Cemara”
Dan ketika suaminya mendekat, Nenek Hua Hun yang dalam
pelukan Siauw Hong kemudian berbisik kepada suaminya:
“Jangan khawatir, sebagai istrimu aku tetap suci dan tidak pernah
berbuat serong. Hanya, maafkan kesalahanku yang satu-satunya
dan terakhir ini, aku harus menjaga keselamatan keluarga kita di
Lembah Cemara,,,,,, selamat tinggal suamiku....” lemah suara
terakhir Hua Hun yang ditangisi oleh Siauw Hong dan juga Hoan
Thian Kheng. Kakek itu menyesal meragukan kesetiaan istrinya
itu, meskipun memang perbuatan yang menyusupkan musuh
sungguh sulit untuk diterima. Tetapi, sesuai pesan sang istri, dia
menebus semua kesalahan itu karena juga menjaga keselamatan
Lembah Cemara. Bagaimana tidak menyesal dan sedihnya
2326
seorang Hoan Thian Khek yang kembali kehilangan seorang
istrinya...?
Tang Hok juga terlihat sangat menyesal karena sudah menuduh
secara berlebihan meskipun memang juga tidak terlampau keliru.
Tetapi, menyaksikan meninggalnya Nenek Hua Hun yang salah
satunya karena andilnya membuat Koay Ji atau Tang Hok merasa
sangat menyesal. Diapun menetapkan hatinya untuk membawa
dan melindungi Siauw Hong setelah kejadian di Thian Cong Pay
ini.
Keadaan yang amat menyesakkan dada bagi semua, sudah
menurunkan semangat dan kegagahan Kakek Hoan Thian
Kheng. Dia memeluk jasad Nenek Hua Hun istrinya dan
menangisinya dengan penuh kesedihan. Tetapi adegan penuh
rasa sedih itu berubah kembali ketika Geberz mencoba untuk
mencari celah pergi dari sana dan tertangkap gerakannya oleh Tio
Lian Cu yang cepat berteriak sambil berkata dengan suara
nyaring:
“Mau kemana.......”?
Sambil berkata demikian Tio Lian Cu menerjang langkah Geberz
diikuti Siu Pi Cong dan tokoh yang satu lagi. Karena tiga orang
2327
yang bergerak dari pihak lawan, maka Khong Yan dan Kim Jie
Sinkay sama ikut bergerak untuk membantu Tio Lian Cu. Dan
terdengarlah benturan yang luar biasa hebatnya dengan hasil
yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Tetapi yang pasti,
benturan mereka sangtalah keras dan mendebarkan semua yang
berada disitu.
Tio Lian Cu yang menjegal pelarian Geberz menahan gempuran
mahluk sakti itu dan membuatnya melangkah ke belakang, kalah
tenaga. Tetapi, kekuatannya dalam menahan Geberz tidak siasia,
karena kakek itu tertahan langkahnya dan kembali berada
dalam kurungan pihak lawannya. Dia memandang Tio Lian Cu
dengan tatap mata marah, tetapi juga kagum. Hanya itu yang
dapat dia lakukan, selebihnya dia menatap Tio Lian Cu dengan
mata nyalang dan marah.
Sementara itu, Khong Yan menahan kepergian tokoh yang satu
lagi, masih belum bisa dikenali, tetapi yang bergerak dengan
sama hebatnya dengan Geberz sendiri. Dan ketika pada akhirnya
mereka saling adu kekuatan, sama seperti Tio Lian Cu, Khong
Yan juga tergetar tanda kekuatannya masih kalah matang. Hanya
saja, dia tidak takut dan tidak gentar, karena kalah matang bukan
berarti kalah dan harus tunduk. Dia masih memiliki keyakinan atas
dirinya. Apalagi karena jelas, keduanya, termasuk lawannya
2328
tersentak kaget karena memang bertemu lawan yang sudah pasti
tidaklah ringan.
Satu-satunya yang mengalami kerugian adalah Kakek Siu Pi
Cong yang ditahan langkahnya oleh Kim Jie Sinkay. Kekuatan
Kim Jie Sinkay memang bukan olah olah hebatnya, dan jelas Siu
Pi Cong sadar diri. Sadar bahwa kemampuannya sendiri masih
belum merupakan tandingan sepadan dari si Pengemis Muda
yang amat hebat dan bertenaga itu. Dia sampai terdorong mundur
3,4 langkah ke belakang baru dapat berdiri tegak kembali.
“Hmmm, Pek In San memang dipenuhi orang-orang tak punya
malu. Setelah kalian menimbulkan prahara disini dan mengancam
keselamatan Lembah Cemara, dan sekarang kalian ingin berlalu
begitu saja....? sungguh orang-orang pengecut yang tidak punya
rasa tanggung-jawab, memalukan. Bahkan untuk urusan
kegagahan kalian belum nempil dengan Nenek yang kalian
manfaatkan dan kalian ancam itu. Laki-laki macam apa kalian
bertiga ini? pengecut....” desis Tang Hok yang dapat di dengar
oleh semua orang di arena itu.
“Hei bangsat, memangnya engkau mampu menahan kepergian
kami? Beraninya teriak-teriak dari sana, turunlah kemari jika
memang engkau memiliki kemampuan untuk menahan kami
2329
pergi....” tantang Geberz yang mulai marah dengan Tang Hok
yang memaki-maki mereka dari wuwungan rumah.
“Hmmm, kalian sudah memiliki lawan masing-masing dan belum
tentu kalian akan menang melawan mereka. Memintaku untuk ikut
membekuk kalian akan semakin membuat kalian susah
melepaskan diri. Sabarlah, yang paling penting buat kalian saat
ini adalah memikirkan cara kalian melarikan diri dari Thian Cong
Pay, karena kesempatan itu semakin menyempit......
hahahahaha...”
“Hmmmm, belum tentu,,,,,,,,” sesumbar Geberz sambil mulai
kembali menyerang tetapi sebelum dia ditandingi kembali oleh Tio
Lian Cu, Khong Yan sudah terlebih dahulu maju. Meskipun maju
menyambut Geberz, bukan berarti Khong Yan yakin akan
menang, tetapi karena dia merasa risih Tio Lian Cu maju duluan
ketimbang dirinya. Dia sadar betul bahwa Geberz bukanlah lawan
ringan, karena itu diapun sadar harus bagaimana mestinya
melawan musuh yang dia paham memiliki ilmu silat sehebat
Geberz itu.
Bukan main kagetnya Cu Ying Lun melihat cucunya maju
melawan Geberz yang dia sendiri rasanya tidak akan mampu
melawannya. Tetapi, setelah menyaksikan Khong Yan menahan
2330
semua serangan Geberz dan tidak terlihat terlampau kesulitan,
dia mulai merasa senang dan bangga.
“Cucumu itu benar-benar sudah terdidik secara hebat dan ketat
oleh Bu Tee Hwesio, lihat, dia mampu menandingi kakek yang
hebat itu.....”
Sedang keduanya, Tek Ui Sinkay dan Cu Ying Lun saling
mengagumi kehebatan Khong Yan, tiba-tiba terdengar makian
Geberz:
“Hehehe, sedangkan Suhumu Bu Te Hwesio masih berpikir-pikir
untuk melawanku sekarang engkau bermimpi
mengalahkanku....”? terang dia berusaha memprovokasi dan
merusak konsentrasi Khong Yan. Tetapi, Khong Yan cukup cerdik
untuk tidak terbawa arus provokasi lawan yang bakal
membuatnya jatuh dalam kesulitan. Sebab melawan musuh
sehebat Geberz diperlukan konsentrasi dan ketenangan, hal yang
sudah dialami dan dipelajari Khong Yan ketika melawan Mo Hwee
Hud beberapa waktu yang baru lewat.
Sementara Tek Ui Sinkay dan Cu Ying Lun kaget mendengar
bahwa Geberz malah masih setingkat dengan Bu Te Hwesio suhu
Khong Yan sendiri. Seandainya mereka tahu bahwa Geberz
2331
adalah adik seperguruan dari suhu Pek Kut Lojin, maka mereka
berdua akan tahu bahwa Khong Yan memang memilih lawan
yang teramat hebat pada saat itu. Tapi, untung saja kemampuan
Khong Yan memang sudah meningkat dengan sangat hebatnya.
Hal yang sampai membuat Suhunya kehilangan waktu setahun
untuk menghimpun lagi semangat dan kekuatan yang terbuang
untuk membentuknya menjadi sehebat saat ini. Jadi, wajar saja
bila Khong Yan sanggup meladeni tokoh sehebat Geberz.
Sementara itu, Tang Hok dapat melihat dan menyaksikan betapa
keluarga Lembah Cemara mulai membawa masuk jasad Nenek
Hua Hun. Semua warga Lembah Cemara, bahkan termasuk
Nenek Tio Lian Cu yang kini sudah sadar siapa saingannya Hua
Hun, terlihat sangatlah sedih dan menyesal. Mereka semua mulai
beranjak masuk kedalam rumah istirahat mereka. Sekali lagi Tang
Hok terlihat sedih dengan apa yang baru saja terjadi, dia sungguh
menyesal karena ternyata masih ada kisah tersembunyi lainnya
yang luput dari jangkauan berpikirnya. Tetapi, Kang Siauw Hong
sendiri memang tidak menceritakannya, sehingga hal-hal lain
yang juga cukup penting luput dari pengetahuannya. Korbannya
adalah nyawa Nenek Hua Hun yang menebus kesalahannya
dengan nyawa.
2332
Meski sedih, Koay Ji tetap sangat awas dengan lingkungan
sekelilingnya. Apalagi karena entah mengapa, firasatnya
mengatakan ada tokoh yang amat hebat yang juga masuk dan
sudah berada dalam lingkungan Thian Cong Pay ini. Dan dia
makin yakin dengan firasatnya saat itu, firasat yang membisikinya
adanya seorang tokoh lain yang juga maha hebat. Karena itu,
diapun segera mengirimkan pesan dengan menggunakan Ilmu
Menyampaikan Suara dari jarak jauh kepada Tek Ui Sinkay dan
juga Cu Ying Lun berdua:
“Sam Suheng, Chit Suheng, kita kedatangan tamu yang
kepandaiannya bahkan kelihatannya masih mengatasi Geberz
dan kawannya yang satu lagi itu. Kawannya yang misterius
mungkin masih sedikit di atas kemampuan Geberz sendiri, tetapi
sudah jelas bahwa yang datang jelas sangat hebat. Kita mesti
benar benar siaga dan siap menghadapinya, perhatikan
lingkungan dan arena sekitar, jika dia muncul dia pasti akan
menyasarku.......”
Tek Ui Sinkay dan Cu Ying Lun berdua yang sudah teramat sering
menyaksikan kehebatan Koay Ji menjadi kaget setengah mati
dengan bisikannya itu. Betapa akan berbahaya jika benar masih
ada lagi tokoh yang sehebat atau malah lebih hebat dari Geberz.
Lebih mengagetkan mereka lagi karena malah menurut Koay Ji,
2333
tokoh hebat itu sudah masuk dan berada dalam Thian Cong Pay
mereka saat itu. Jika demikian, maka mereka harus
mempersiapkan diri lebih baik lagi. Itulah sebabnya maka, Tek Ui
Sinkay kemudian mendekati Tang Seng Lojin bertiga serta juga
Tio Lian Cu dan berbisik dengan suara perlahan dan memandangi
wajah mereka satu demi satu dalam ketegangan:
“Masih ada seorang lagi dengan kepandaian yang malah lebih
hebat lagi, tetapi masih belum mau munculkan dirinya, kita harus
cepat menangani mereka ini. Lebih cepat tentunya lebih baik.....”
Kim Jie Sinkay saling lirik dengan Tio Lian Cu dan kemudian
saling mengiyakan. Berhubung perintah ataupun permintaan
kepada mereka berdua bahwa sebaiknya pertempuran dilakukan
secepatnya, maka mereka berdua sama tahu bahwa lawan yang
paling mudah ditaklukkan adalah Siu Pi Cong. Maka Tio Lian Cu
berbisik kepada Kim Jie Sinkay:
“Kim Jie Locianpwee, silahkan menaklukkannya secepatnya, biar
yang satunya lagi kutahan dengan semampuku nanti....”
“Hmmm, baiklah Kouwnio, akan kulakukan secepatnya.....” Kim
Jie Sinkay setuju dan mengangguk dengan usulan Lian Cu.
2334
Maka secara bersamaan, Tio Lian Cu mencari lawan yang tadi
bentrok dengan Khong Yan, orang yang masih agak misterius.
Sementara Kim Jie Sinkay kembali mencecar Siu Pi Cong yang
kewalahan karena merasa kekuatan Kim Jie Sinkay agak sulit
untuk dilawannya. Terutama kekuatan kerasnya yang amat
mujijat dan hebat itu. Tetapi, mau tidak mau dia harus bertarung,
karena untuk bebas dari Thian Cong pay memang membutuhkan
kepandaian. Jika tidak, sama saja menyerahkan diri dan mungkin
nyawa. Diam saja sama dengan menyerah. Karena itu, maka Siu
Pi Cong sendiripun memutuskan untuk bertarung dengan
segenap kemampuannya meskipun dia sadar kemenangan agak
sulit untuk dapat diraihnya.
Jika Kim Jie Sinkay agak menang di atas angin bahkan semakin
lama semakin dapat menekan Siu Pi Cong, maka Tio Lian Cu
sebaliknya. Posisinya sedikit dapat didesak lawan, tetapi tidak
akan kalah dalam waktu yang singkat. Kelihatannya, tokoh yang
misterius ini, menurut pengamatan Tang Hok, malah masih tipis
diatas Geberz yang berusia jauh lebih tua. Tetapi, gerakangerakan
mereka memang mirip. Hanya saja, iweekangnya masih
lebih hebat ketimbang Geberz, dan inilah sebabnya Tio Lian Cu
merasa sedikit kesulitan. Untungnya, Tio Lian Cu mengenakan
pakaian mestika yang menahan efek kekuatan pukulan lawan,
2335
pakaian yang sama dengan milik Koay Ji sebetulnya. Tetapi,
justru inilah yang membuat Tio Lian Cu mampu dan sanggup
menahan semua gempuran lawan tanpa takut terluka. Dan
dengan cara itu dia mampu bertahan dari serangan lawan.
Sementara itu, menyaksikan pertarungan Khong Yan melawan
Geberz, justru yang semakin lama semakin seru. Apalagi ketika
Khong Yan mulai mengeluarkan Ilmu Thian Liong Pat Pian yang
sebenarnya merupakan Ilmu Perguruan Geberz sendiri. Namun,
yang dikuasai Khong Yan, masih lebih lengkap dan lebih luas lagi
karena sudah ditambahi sekian banyak jurus baru, gerakan baru
oleh Koay Ji. Dengan Ilmu tersebut, Khong Yan dapat membuat
pertahanannya lebih mantap, dan serangannya menjadi jauh lebih
berbahaya dan lebih tajam.
Meskipun memang tenaga iweekang Geberz lebih matang, tetapi
kedalaman dan kemurnian iweekang Khong Yan justru adalah
kekuatannya. Pengalaman adalah kelebihan lain Geberz, tetapi
kesegaran dan kreatifitas menjadi kekuatan Khong Yan dalam
pertarungan itu. Wajar jika mereka terlihat seimbang dan saling
serang, saling menghindar dan sama-sama berusaha keras untuk
mencari lowongan menang dari lawannya itu. Tetapi, semakin
lama semakin jelas bahwa sangat sulit untuk dapat
2336
memenangkan pertarungan dimana masing-masing memiliki
kelebihan dan juga kekurangan. Seru, sudahlah pasti.
Tang Hok terus mengamati pertarungan, tetapi yang paling
membuatnya tegang bukan pertarungan itu, tetapi daya pengaruh
lawan tersembunyi yang semakin lama semakin kuat. Artinya,
lawan kuat yang bahkan dalam taksirannya masih di atas Geberz
dan kawan misteriusnya, sudah sedang mendekat dan mendekat.
Tetapi, dia juga nampaknya rada khawatir dengan pancaran
kekuatan serupa yang memancar dari tubuh dan wibawa Tang
Hok ataupun Koay Ji. Karena itu, posisi mereka masih tetap
seperti itu, saling tahu dan saling incar tetapi masih belum mau
saling memperlihatkan diri.
Tetapi, dalam waktu yang tidak terlalu lama, Kim Jie Sinkay yang
bertarung gagah memperlihatkan keunggulannya atas Kakek Siu
Pi Cong. Dia terus memaksa Siu Pi Cong untuk adu kekuatan,
adu tenaga, adu keras lawan keras, dan karena diapun unggul
dalam gerakan ginkang, gagah dan lebih cepat, maka semakin
repotlah Siu Pi Cong dalam bertahan. Bahkan Tang Hok atau
Koay Ji sudah meramalkan jika kurang dari 100 jurus kedepan,
Kim Jie Sinkay sudah akan dapat menaklukkan Siu Pi Cong dan
mengalahkannya.
2337
Jika Khong Yan bertarung imbang, dan Kim Jie Sinkay lebih
unggul, maka Tio Lian Cu justru sedikit kerepotan, sedikit
kewalahan. Lawannya lebih muda dari Geberz, tetapi
kelihatannya bahkan masih lebih hebat dari Geberz sendiri. Hal
ini memaksa Tio Lian Cu untuk meningkatkan kemampuannya
dan bertarung terus pada puncak kemampuannya. Sementara
lawannya terlihat masih mampu untuk meningkatkan
kemampuannya lebih jauh lagi, tapi ilmu dan jurus perlawanan Tio
Lian Cu memang cukup memusingkannya. Itu sebabnya dia tak
mampu meninjau daya perlawanan kawan-kawannya, dan kurang
menyadari jika perlawanan seorang Siu Pi Cong sudah semakin
redup dan sudah dalam sangat berbahaya. Tio Lian Cu sadar
bahwa lawannya memiliki kemampuan hebat, karena itu diapun
memilih ilmu-ilmu hebat untuk bertahan dan balas menyerang,
meski kesempatan menyerangnya lebih sedikit dari lawannya.
Sesuai ramalan Koay Ji, sebelum jurus ke-100, tepatnya pada
jurus ke 89, Kim Jie Sinkay berhasil menjebak dan menutup
semua pintu lari dari Siu Pi Cong. Dan saat itu segera
dimanfaatkan Kim Jie Sinkay yang dalam posisi bagus
memaksakan adu pukulan dengan kekuatannya yang amat besar.
“Dukkkkkk, Dukkkkkk, Dukkkkkk...... huaaaakkkkkk”
2338
Apa boleh buat, dalam keadaan kejepit, Siu Pi Cong menahan tiga
buah pukulan berat dan bertenaga besar dari Kim Jie Sinkay.
Pukulan pertama dan kedua masih dapat dia tahan meski dengan
kesakitan yang dalam. Tetapi pukulan ketiga benar benar sulit
untuk dia tahan lagi karena pada pukulan pertama dan kedua, dia
sudah mengerahkan segenap kekuatannya. Akibatnya, dia
menahan pukulan ketiga dalam dorongan dan dukungan tenaga
yang sudah menyusut dan otomatis tidak lagi memadai. Padahal,
justru pukulan ketiga adalah pukulan puncak dan penuh dengan
tenaga murni Tong Cu Sinkay yang dikerahkan dan dilontarkan
oleh Kim Jie Sinkay untuk menyelesaikan pertempuran mereka.
Setelah memuntahkan darah segar yang cukup banyak, Siu Pi
Cong terduduk tanda sudah kalah. Apalagi karena dia
memuntahkan darah segar yang cukup banyak sebagai tanda
bagian dalam tubuhnya sudah terpukul dan terluka samatlah
parah. Melihat lawan sudah terkapar dan terpukul seperti itu, Tang
Hok segera melompat kearah Siu Pi Cong. Kakek itu hanya
memandang sekejap kepadanya dan kemudian berusaha
menutup mata dan memusatkan perhatian untuk mengobati
lukanya. Tapi terdengar Koay Ji mendesis perlahan:
“Percuma Locianpwee, semakin engkau melawan pukulan
sinkang Tong Cu Sinkang dan berusaha mengobatinya, semakin
2339
dalam dia merusak bagian dalam tubuhmu. Lebih baik engkau
berusaha menerima luka itu sehingga tidak lebih memperburuk
keadaanmu pada saat ini....”
Mendengar petuah Koay Jie dan mendengar bahwa dia terluka
oleh sinkang mujijat yang sudah lama tidak terdengar di dunia
persilatan, perlahan-lahan Siu Pi Cong membuka matanya dan
heran memandangi Tang Hok yang tidak dikenalinya. Tapi dia
seperti mengenali tokoh muda itu, entah dimana.
“Hmmm, kita bertemu di Siauw Lim Sie tempo hari Locianpwee....”
bisik Koay Ji yang maklum dengan tanda tanya diwajah tokoh tua
itu. Dan hal itu membuat Siu Pi Cong sadar sepenuhnya meski
sebentar,
“Acccch, engkau Thian Liong Koay Hiap itu,,,,,, ach betul.... terima
kasih anak muda, engkau mengingatkan aku bahwa upayaku itu
sia-sia. Ajalku memang layak segera datang, tolong engkau bawa
abu jenasahku ke daerah Laut Selatan dan taburkan disana.....”
susah payah Siu Pi Cong berbicara, karena mulutnya kembali
berdarah dan akan seperti itu sampai dia ajal.
Tetapi, beberapa saat kemudian, secara ajaib dan amat aneh, Siu
Pi Cong terlihat memperoleh kembali kesadarannya. Tetapi, Koay
2340
Ji maklum apa artinya. Inilah sisa-sisa tenaga dan daya
kehidupan seorang Siu Pi Cong, setelah itu, maka dia akan seperti
layang-layang putus, atau lampu kehabisan minyak. Melihat
kenyataan itu, maka Tang Hok atau Koay Ji kemudian memegang
lengan kakek yang akan segera mati itu dan berbisik kepadanya:
“Bicaralah locianpwee, aku mendengarkan....”
“Anak muda,,,, Aku membantu Bu Tek Seng Pay sebenarnya
karena nasib dari anak perempuanku yang menjadi boneka
mereka disana, tepatnya di Istana Bu Tek Seng Ong. Tolong
bebaskan putriku itu, dia adalah Pek Seng Kwee Lan Hoa dan
menjadi murid kepala Lam Hay Sinni. Namanya yang sebenarnya
adalah Sui Lan Hoa, dia adalah putri tunggalku, keturunan satusatunya.
Mereka bertiga, murid-murid Dewa Tionggoan sedang
berada dalam pengaruh sihir yang teramat mujijat. Temukan
disakuku ada kisah mengenai putriku itu, hanya kemampuan sihir
mujijat lainnya, ataupun khasiat Gin Cui Ouw yang dapat merebut
kembali kesadaran mereka bertiga. Jika putriku bisa
diselamatkan, maka sampaikan kisah mengenai ayahnya yang
sudah kutulis tersimpan di dalam saku. Mohonkan maaf kepada
sahabat-sahabatku yang lain, tidak ada yang bisa diakukan
seorang ayah yang mencinta putrinya, selain memberi nyawa dan
jika memang perlu, harga dirinya. Dan semua sudah
2341
kulakukan...... mohon bantuan dan pertolonganmu anak
muda....... dan catat, Bu Tek Seng Ong yang sebenarnya belum
munculkan dirinya, yang ada sekarang adalah penyaruannya
belaka. Yang asli, justru masih lebih hebat lagi, maka berhatihatilah....
berhati-hati..... archghhhhhh”
Belum sempat Kakek Siu Pi Cong menyelesaikan perkataannya,
jiwanya sudah terlanjur putus. Tetapi dia terlihat puas karena
dapat meninggalkan pesan kepada Koay Ji tentang anak
perempuannya dan sebab dia harus bergabung dengan Bu Tek
Seng pay. Sungguh kisah mengharukan.
“Achhhh, terlampau banyak drama dan korban dari perguruan
maut itu, jika tidak cepat dibasmi, akan semakin banyak korban
mereka.....” desis Koay Ji menyesalkan nasib dan kematian Siu Pi
Cong itu. Seorang Pendekar bernama besar yang harus rela
namanya menjadi bahan nistaan orang tanpa tahu apa
sebenarnya yang melatari perbuatannya itu. Salahkah seorang
ayah yang berusaha membebaskan anaknya dari lumpur nista
akibat perbuatan orang?
Koay Ji menenangkan pikirannya sejenak, takut dia salah
bertindak karena emosi yang disebabkan kematian Siu Pi Cong,
seorang tokoh besar dari daerah selatan. Setelah mampu
2342
menguasai dirinya, diapun berdiri kembali dan memandang kedua
arena yang berada di kanan dan kirinya. Sekali pandang dia
melihat keadaan Khong Yan masih lebih baik karena mampu
menyerang dan diserang dengan kuantitas atau jumlah yang
sama. Artinya mereka setanding. Tetapi, jika diberi waktu lebih
lama, Khong Yan akan menang karena menang nafas dan daya
tahan, Koay Ji yakin dengan hal itu. Apalagi, sutenya itu sudah
menguasai Singkang Pouw Tee Pwe Yap Siankang, dan dia tidak
khawatir dengan keadaannya.
Keadaan Tio Lian Cu sedikit lebih berbahaya, meskipun dia tidak
akan kalah dalam waktu dekat. Perlawanan Tio Lian Cu sungguh
amat mengagumkan, Ilmu Mujijatnya sudah dikerahkan sehingga
bisa dan mampu menyesuaikan dengan gerakan lawan. Tetapi,
lebih teliti melihat ilmu lawan Tio Lian Cu membuat Koay Ji kaget,
karena langkah kaki lawan jelas adalah ilmu langkah Tian Liong
Pat Pian. Meski masih lebih sederhana daripada yang
dikuasainya, tetapi tetap saja mampu membuat Tio Lian Cu
kerepotan untuk mengejar dan menyerangnya. Maka Tio Lian Cu
sedikit lebih terdesak dibandingkan lawannya yang leluasa
menyerang dan beberapa kali membuat Lian Cu merasa
terdesak.
2343
Koay Ji akhirnya berdiri dan bersiap untuk memasuki arena, dia
sudah memutuskan untuk menggantikan Tio Lian Cu dan
menangkap atau jika perlu memunahkan ilmu silat lawan Tio Lian
Cu itu. Tetapi, ketika dia akan mulai bergerak, tiba-tiba hatinya
berdesir hebat, tanda ada lawan hebat disekitar tempat mereka
berada. Diapun berpaling ketika mendengar suara:
“Tahan anak muda.........”
Mendengar suara yang mengetuk dinding sanubarinya dengan
keras, Koay Ji jadi menahan langkahnya. Tidak salah lagi, lawan
berat itu sudah munculkan dirinya. Tapi, siapakah dia gerangan?
“Hmmmm, engkau rupanya,,,,, “desis Koay Ji, tetapi sambil
dengan kekagetan yang tak tersembunyikan ketika melihat orang
yang munculkan dirinya, bukan saja sudah pernah bertemu, tetapi
bahkan juga membawa seseorang yang bukan lain adalah Kang
Siauw Hong yang sedang dalam keadaan tertotok. Jika sudah
demikian, yaaa apalagi jika bukan sebagai sandera.
“Tentu saja, apakah engkau sudah melupakan lohu anak muda....
hahahaha” tawa yang agak menjengkelkan
“Hmmmm, susah melupakan Ban Bin Kiau Hua (Pengemis
Berlaksa Wajah) Phoa Tay Teng, apalagi setelah pertempuran 15
2344
jurus tempo hari...... tetapi, untuk apa Locianpwee membawabawa
sandera seorang anak gadis orang....”? bertanya Koay Ji
dengan nada sedikit menyindir.
Mendengar disebutnya nama Ban Bin Koau Hua (Pengemis
Berlaksa Wajah) Phoa Tay Teng, bukan main terkejutnya Teik Ui
Sinkay bersama semua tokoh Khong Sim Kaypang. Inilah tokoh
puluhan tahun lalu yang amat ganas tetapi sangat misterius,
konon lebih sering berkelana ke luar daratan dan ke Thian Tok,
tetapi jika muncul di Tionggoan biasanya penuh kejahatan. Ini
tokoh besar itu rupanya. Dan tokoh itu kelihatannya sudah pernah
bentrok dengan Koay Ji. Mereka semua jadi tertarik mengikuti apa
yang dipercakapkan tokoh itu dnegan Koay Ji.
“Hahahahaha, engkau tidak bisa menyindirku anak muda,
berpakaian dengan jenis apapun, menyaru dengan cara apapun,
engkau dapatlah kukenali. Anak gadis ini? Ach, dia adalah cucu
murid toa suhengku, tentu saja aku berhak membawanya pergi
bukan? Daripada disia-siakan orang-orang Lembah Cemara
itu.....”
“Ha, engkau apakan mereka ....”?
“Mereka tidak ada hubungannya denganku dan perguruanku,
bahkan mengetahui lohu membawa cucunya saja dia kurang
2345
tahu..... Huh, belum cukup pantas dia untuk menjadi lawanku.
Bahkan untuk mengenalku sajapun masih belum kurasa pantas.
Tetapi engkau anak muda, mau tidak mau engkau harus
mengijinkan lohu pergi bersama dua orang itu......”
“Hmmm, sudah jelas bagiku, memang mestinya ada hubungan
Locianpwee dengan kedua orang itu...”? Koay Ji terkejut dan
merasa kaget ketika akhirnya Phoa Tay Teng meminta Geberz
dan manusia misterius yang satu untuk ikut dengannya. Tetapi,
sekaligus dia mengerti hubungan mereka.
“Ji Suheng, buat apa engkau ribut dengannya? Bantulah kami,
lawan-lawan kami sangat hebat dan berat......” terdengar Geberz
berteriak kepada Phoa Tay Teng yang ternyata adalah kakak
seperguruannya. Ya, hubungan mereka memang adalah
hubungan perguruan, dan teriakan Geberz sudah menegaskan
apa yang diduga dan disangka oleh Koay Ji tadi.
“Tunggulah sebentar sam sute, bodohmu sendiri malas belajar,
anak muda inipun amat hebat dan harus dilawan dengan sangat
berhati-hati.....” jawab Phoa Tay Teng yang membuat semua
tokoh Khong Sim kaypang kaget, termasuk Tek Ui Sinkay. Malah
dia sampai mendesis dalam hatinya, kaget sendiri, “sampai
2346
dimana sebenarnya suhu mendidik siauw sute ini? Bahkan tokoh
sehebat Phoa Tay teng sendiripun jerih menghadapinya....”?
“Oooooh, rupanya sute dari Phoa Locianpwee, sayang mereka
sudah membuat onar di tempat ini, tidak akan mudah mereka
kulepaskan pergi begitu saja.....” kini Koay Ji yang mendapat
angin, tetapi kakek itu tersenyum saja. Dia seperti tidak khawatir
apakah akan kepas dari sana atau tidak.
“Hahahaha, lohu dapat memerasmu dengan mempergunakan
gadis ini. Tetapi, lohu tidak akan menggunakan cara itu. Ada cara
lain yang lebih baik dan lebih seru serta mendebarkan. Entah
engkau bersedia ikut ataukah tidak...”? tantang Phoa Tay Teng
dengan nada suara misterius.
“Hmmmm, permainan apa lagikah yang Locianpwee siapkan kali
ini....”? tanya Koay Ji dengan kaget dan merasa tidak pasti.
“Engkau takut anak muda....? hohohoho.....” tantang Kakek tua
yang amat misterius dan jelas amat sakti itu.
“Jika belum paham aturan mainnya, takutnya engkau menipu dan
mempermainkan aku yang muda....” jawab Koay Ji.
2347
“Sembarangan, apa engkau pikir setua aku masih mau berpikir
untuk menipumu dan juga mempermainkan kalian orang
muda......”? suara si kakek sontak terdengar menjadi marah dan
melengking mengejutkan.
“Baik, bagaimana aturan permainanmu Locianpwee....”? tanya
Koay Ji penuh rasa penasaran, karena dia tidak mau tertipu,
betapapun keadaan dan kondisi mereka masih jauh lebih baik.
“Kita bertarung sampai 50 jurus saja, tetapi engkau kularang
mempergunakan Ilmu Perguruanku. Aku akan berusaha
mendesakmu dan mengalahkanmu selama 50 jurus tersebut, jika
engkau hanya terdesak saja, maka kita hitung saja pertarungan
itu seri. Jika engkau kalah, maka kami akan berlalu dari tempat ini
tanpa syarat. Nach, bagaimana anak muda....”?
“Dan bagaimana jika engkau yang terdesak Locianpwee,,,,?
Apakah dapat kuhitung engkau kalah dan kalian kukurung di
Lembah kami ini....”? tanya Koay Ji sedikit provokatif sekaligus
menantang emosi Phoa Tay Teng.
“Hmmmm jika engkau mampu mendesakku, maka akan kuhitung
engkau sebagai pemenangnya, tetapi jangan harap engkau
mampu....... hahahaha, bagaimana anak muda, bukankah
2348
permainan ini lebih menantang....”? tantang Kakek Aneh Phoa
Tay Teng yang maha hebat itu. Jelas Koay Ji tidak takut, tetapi
masih ada beberapa hal yang belum jelas baginya.
“Hmmmm, baiklah, jika memang demikian, maka cayhe bersedia
bertanding kembali dengan Locianpwee dengan taruhan tadi.....
tapi, apakah mereka bersedia untuk diikat dalam pertaruhan
ini.....”? tanya Koay Ji sambil menunjuk kearah Geberz dan
kawannya yang jauh lebih muda itu. Pada saat itu, pertarungan di
dua arena lainnya sudah otomatis terhenti, dan kini mereka sudah
ikutan memperhatikan Koay Ji dalam wujud Tang Hok
berhadapan dengan Phoa Tay Teng.
“Tentu saja, yang satu adik seperguruanku, yang satu adalah
sutitku, otomatis mereka harus mendengarkan perkataanku.
Nach, apakah engkau yakin akan mau bertarung dan bertaruh
melawanku anak muda....”?
“Baiklah, tantangan bertaruh itu kuterima..... tetapi jika kita
bertanding seri, maka ada satu permintaan yang perlu
Locianpwee penuhi” jawab Koay Ji penuh dengan keyakinan
untuk bertarung melawan kakek itu.
2349
“Apa permintaanmu itu.....” tanya Phoa Tay Teng antara perduli
atau tidak, antara setuju ataupun juga tidak.
“Tinggalkan adikku Kang Siauw Hong itu......” jawab Koay Ji
“Tahukah engkau siapa dia....”? tanya Phoa Tay Teng terkejut
“Tahu, karena dia adalah adik angkatku.....”
“Oooooch, jadi dia yang membuat penyusupan ini gagal....”?
“Tidak perlu engkau tahu locianpwee....... bagaimana, engkau
setuju...”? tantang Koay Ji memanasi si kakek.
“Baiklah, kita hitung demikian, meski untuk menghadapiku dan
seri masih teramat sulit buatmu anak muda.....”
“Kita lihat saja nanti Locianpwee.....” Koay Ji tetap tenang dan
punya pegangan, dia memang banyak mengandalkan Ilmu Pat
Bin Ling Long, tetapi yang belum diketahui lawannya, bahwa
diapun menguasai ilmu-ilmu suhunya yang tidak kalah hebatnya,
yakni Ilmu-ilmu mujijat dari Bu In Sinliong suhunya. Dan dalam
pertarungan kali ini, dia memutuskan akan menggunakan
kombinasi ilmu kedua suhunya itu, dan dia jelas sangat percaya
2350
diri dengan kemampuannya. Paling tidak, untuk bertarung serta
mampu bertahan dan tidak kalah, dia memiliki pegangan.
“Hahahahaha, engkau memang anak muda paling menarik yang
pernah kutemukan. Sayang sekali si Budha sialan itu sudah lebih
dahulu memungutmu sebagai murid terlebih dahulu. Nach, sudah
siapkah engkau anak muda....”?
“Mari, silahkan Locianpwee, cayhe sudah siap sejak tadi......”
jawab Koay Ji dengan gagah berani, dan memang dia sudah siap
lahir dan batin dan mempersiapkan diri sejak bertemu Kakek itu
berapa waktu lalu. Diapun ingin menguji dirinya sendiri, apakah
ada kemajuannya selama beberapa hari ini. Dan lawan yang tepat
untuk mengujinya, siapa lagi jika bukan kakek ini?
“Hmmmm, 50 jurus saja anak muda, mari kita lihat siapa bisa
mendesak siapa tanpa engkau mempergunakan Ilmu
Perguruanku, nach, mari, lohu akan mulai menyerang dan
memukulmu, hati-hati anak muda......”
Belum habis bicaranya, pukulannya sudah datang menerpa Koay
Ji. Tetapi karena dasarnya Koay Ji sudah siap, maka seluruh
syaraf di tubuhnya sudah siap, bahkan khikang pelindung
badannyapun sudah siaga. Karena itu, dengan mudah dan ringan
2351
saja dia menggetarkan kedua lengannya dan serangan
menggunakan sejenis ilmu mujijat bernama Ilmu Ling Khong
Huan In Cam (Pukulan Tanpa Bayangan) dari lawannya itu sudah
punah dengan sendirinya. Bukan apa-apa, sekali ini Koay Ji
sudah melandaskan ilmunya pada paduan Pouw Tee Pwe Yap
Siankang dan Toa Pan Yo Hian Siankang. Satu gabungan yang
pada pertarungan mereka sebelumnya masih belum sempat
digunakan oleh Koay Ji. Dan kini dia gunakan bukan hanya untuk
bertahan tetapi juga untuk menyerang.
Sadar bahwa bertahan justru dapat membahayakannya, maka
Koay Ji kemudian balas menyerang dengan menggunakan Ilmu
Sakti Tie Liong Ciu atau Ilmu Sakti Tangan Mengekang Naga
yang berbeda dengan Ilmu Ci Liong Ciu Hoat. Jika Ciu Liong Ciu
Hoat dari Pat Bin Ling Long merupakan rangkaian totokan mujijat,
maka ciptaan Bu In Sinliong ini merupakan ilmu tangan kosong
yang penuh dengan hawa serangan mujijat. Jelas sekali bedanya.
Juga kegunaannya. Terbukti dengan ilmu ini Koay Ji mampu
memunahkan serangan-serangan Phoa Tay Teng dan bahkan
juga dapat balas menyerang dengan sama bahayanya. Phoa Tay
Teng terkejut ketika menerima serangan yang amat berbahaya,
tidak jauh berbeda dengan kehebatan ilmu perguruannya sendiri.
Repotnya lagi, dia malah belum pernah melihat serta melawan
2352
ilmu yang dikembangkan Koay Ji. Dia seperti mengenal tetapi
seperti juga belum mengenal, tetapi yang sudah pasti, sangatlah
hebat.
Dalam waktu lima jurus saja, mereka sudah saling serang dengan
hebatnya dan dengan iweekang yang amat luar biasa kuatnya.
Keduanya terkejut setengah mati ketika paham bahwa
kemampuan iweekang lawan memiliki ciri khas yang amat
berbeda, namun sangat alot dan sulit saling menjinakkan. Koay
Jipun haruslah mengakui, bahwa dengan kemampuannya
sekarang, ternyata dia belum mampu menangkap, menggiring
dan melontarkan iweekang lawan yang amat aneh namun juga
mujijat itu. Sementara Phoa Tay Teng juga kaget, karena diapun
tak mampu merusak dan memutus arus serangan iweekang
lawan dan membuatnya menjadi tidak berguna dalam
pertarungan.
Dalam lima jurus, keduanya bahkan sudah sempat saling
menyadari kelebihan dan kekurangan masing-masing. Meski
iweekang Koay Ji sudah meningkat jauh, tetapi dia masih tetap
kalah tipis, bukan kalah kuat, tetapi kalah tipis penguasaan
kekuatan iweekang mujijatnya. Sementara Phoa Tay Teng sendiri
sudah menyelami semua kemujijatan dalam tenaga dalamnya
sendiri. Maklum, usianya sudah memang jauh lebih banyak. Serta
2353
pengalaman lebih kaya dan lebih bervariasi, membuatnya mampu
mengoptimalkan semua kelebihan yang terkecil sekalipun.
Untungnya, Koay Ji memang memiliki keanehan yang amat
mujijat bahkan sejak masa kecilnya. Karena itu, meski sedikit
kalah, tetapi ditambah keuletan dan sikap ngototnya, dapatlah dia
mengisi kekurangan dan menambalnya hingga membuat
pertarungan mereka tetap seru dan imbang.
“Hebat, engkau sungguh hebat anak muda.....” puji Phoa Tay
Teng secara tulus melihat bagaimana Koay Ji memberinya
perlawanan yang sudah sangat sulit untuk ditemukan dalam
petualangannya akhir-akhir ini. Perlawanan dan kehebatan Koay
Ji justru membuatnya merasa lebih hidup dan bergairah untuk
mencari dan mencapai kemenangan melalui kepandaiannya. Hal
yang sulit ditemukannya lagi selama tahun tahun belakangan
seiring dengan semakin sempurnanya ilmu silatnya.
Tentu saja Koay Ji tidak menjadi sombong dengan pujian itu,
karena dia sadar si kakek masih mampu mengembangkan
kemampuannya lebih hebat lagi. Dan dia sendiripun masih
mampu melakukan hal yang sama. Maka selama lima jurus
kedepan, keduanya kembali adu kepintaran, aduk strategi, adu
kekuatan, kelincahan serta juga kehebatan jurus serangan dan
jurus bertahan masing-masing. Tetapi semua itu hanyalah
2354
menambah rasa kagum dan penasaran bagi mereka masingmasing.
Yang justru kaget dan melongo adalah para penonton,
karena pertarungan keduanya membawa pengaruh yang amat
luar biasa. Terutama ketika dari tubuh Koay Ji, dalam tingkat
pengerahan iweekang yang sudah amat tinggi, mulai muncul
kekuatan mengisap yang amat hebat dan luar biasa. Hal yang
juga rupanya mulai disadari oleh Phoa Tay Teng......
“Accchhhh, sungguh banyak kemujijatanmu anak muda, bahkan
Bu Tee Hwesio sendiripun belum tentu sehebat engkau sekarang
ini..... luar biasa, sudah lama lohu merindukan pertarungan seperti
ini......” desisnya dan dengan terpaksa memperkuat iweekangnya
dan menambah kesulitan baginya untuk menang karena
gangguan daya hisap yang entah bagaimana semakin menguat
dari Koay Ji. Semakin lama, semakin hebatlah pengerahan
iweekangnya, terutama pengerahan paduan kedua iweekang
suhunya, Bu In Sinliong dan Bu Tee Hwesio.
Sebetulnya Koay Ji sendiri tidak begitu mengetahui mengapa
orang melawannya selalu berhadapan dengan kekuatan
menyerap dan menghisap yang hebat darinya. Lagipula, kekuatan
itu baru muncul ketika dia mulai melatih secara lebih sempurna
paduan dua iweekang mujijat. Ternyata, selain semakin
mengokohkan kekuatan khikang mujijat Kim Kong Pu Huay Che
2355
Sen (Ilmu Badan/Baju Emas Yang Tidak Bisa Rusak) juga
belakangan, membuat daya hisap tubuhnya semakin hebat dan
kuat. Inilah yang membawa kesulitan bagi lawan-lawan Koay Ji
manakala Koay Ji masuk pada tahap pengerahan iweekang pada
puncaknya. Dan ini pula yang mulai membuat Phoa Tay Teng
merasa kesulitan, karena Koay Ji kelihatannya tidaklah kesulitan
meski daya hisap itu semakin menguat. Justru dia semakin terlihat
gagah dan semakin hebat bertarung.
Sekejap kemudian 15 jurus sudah berlalu, sementara tidak terlihat
siapa mendesak siapa, baik Koay Ji maupun Kakek Phoa Tay
Teng jelas menyadari keadaan ini. Penontonpun menahan nafas
menyaksikan p-ertarungan yang semakin melebar arenanya
karena tarung keduanya membawa angin dahsyat yang sangat
menusuk dan sangat berbahaya. Pada saat itu Koay Ji sendiri
mulai menggunakan ginkang andalannya, Ginkang Liap In Sut
(Ginkang Mengejar Awan) yang membuiatnya jadi lebih cepat dan
pesat dalam bergerak. Baik ketika menyerang maupun ketika dia
sedang bertahan. Sekaligus pada saat bersamaan, dia
menyerang lawan dalam Ilmu Thian Liong Cap Jit Sik (Tujuh Belas
Gerakan Naga angit), sebuah Ilmu hebat dalam menyerang lawan
dari ketinggian.
2356
Tiga jurus serangan beruntun dengan kecepatan luar biasa
dilepaskan Koay Ji yakni masing-masing diawali dengan jurus Kio
Hwi Ih Thian (Burung Camar Menjulang Ke langit), yang
mengangkat tubuhnya ke udara. Tetapi, pada saat bersamaan
kekuatan mengisap dan serangan sepasang lengannya
membawa kekuatan yang amat hebat hingga menggetarkan
sekeliling arena hingga beberapa meter. Kakek Phoa Tay Teng
menyambutnya sebat dengan jurus Mo In Jan Jan (Bayangan Iblis
Berkelabat), yang mengebaskan kekuatan pukulan Koay Ji.
Tetapi dengan sedikit menggeliat, Koay Ji sudah menukar jurus
dan menjadi jurus Han Kang Ih Wi Kiu (Camar Terbang Melintasi
Sungai), tetap menyerang lawan dengan dua sentilan jarinya
kearah kepala dan leher. Kakek Phoa Tay Teng kehilangan jejak
dan waktu untuk balas menyerang, sekali lagi bergerak cepat
menghindar. Tetapi, tetap saja belum mampu menyerang kembali
karena pada saat bersamaan Koay Ji menyerang dengan jurus
Jiang Liong Jip Hay (Naga menukik ke laut), yang kini menyasar
banyak titik serangan di tubuh lawan.
Pada saat itu Kakek Phoa Tay Teng merasa penasaran, jika
serangan Koay Ji tak dapat diputuskannya, maka dia akan terus
bergerak terdesak, padahal sudah 20 jurus berlalu. Artinya, dalam
keadaan seperti itu, dia akan terkalahkan, hal yang tentu saja
2357
membuatnya terkejut dan marah. Menghadapi serangan dari atas
oleh Koay Ji, dengan cepat dia mengantisipasi dengan jurus Tok
Jing To Sim (Ular Berbisa Menjulurkan Lidah), dan kedua
lengannya bergerak lincah membarengi tangkisan dan juga
mempersiapkan serangan balik setelah tiga kali berturut turut dia
didesak pukulan Koay Ji.
“Hiyaaaaaaa.....”
Kini sambil memutus alur dan arus serangan Koay Ji, dengan
terpaksa Kakek Phoa Tay Teng mundur tiga langkah dan
kemudian bergerak cepat menyerang dengan jurus Toan Bing Jao
hun (Kehilangan Nyawa Sukma Tersiksa), tepat ketika Koay Ji
mendarat di bumi. Tetapi, dengan cepat dan ringan serangan
berbahaya dan berbau magis dari Kakek Phoa Tey Teng dapat
dia hindari, tetapi dengan cepat lengan kakek itu mengejarnya
kemanapun bergerak. Apa boleh buat, Koay Ji mau tidak mau
harus menangkis juga dengan jurus Hian Hong It Sek (Sejurus
Angin Lesus). Tetapi, tangkisannya membuat Kakek Phoa Tay
Teng merubah arah dan jurus serangan menjadi jurus To Pian
Toan Tui (Mengayun Pecut Memutus Air), yang mengejar kemana
Koay Ji menghondar.
2358
Pilihan jurus yang tepat membuat keduanya kembali slaing tukar
menukar serangan dan membuat keduanya semakin mengagumi
lawan. Kakek Phoa Tay Teng sadar, tanpa menggunakan Ilmu
Perguruan merekapun, Koay Ji tetap lawan yang sukar untuk dia
taklukkan dengan mudah. Karena bukan sekali atau dua kali Koay
Ji juga mengancam dan mendesaknya, dan dengan susah payah
baru dia dapat kembali menyesuaikan pertarungan mereka
menjadi imbang lagi. Kesadaran di pihak Phoa Tay Teng datang
dan mensyukuri karena pertarungan hanya dibatasi sampai 50
jurus belaka, karena kalau tidak dibatasi, maka bukan tidak
mungkin dia bakalan kalah karena putus nafas. Jelas dari segi
daya tahan dia akan kerepotan, karena tidak setahan usia muda
dan usia puncak Koay Ji. Sementara jika adu kekuatan iweekang,
meski dia menang matang, tetapi dia akan keluar dalam keadaan
cacat permanen jika adu kekuatan dengan Koay Ji, meski
menang.
Phoa Tay Teng menyadari itu, dan Koay Ji juga menyadarinya.
Meski dia sendiri sudah semakin matang dan sempurna, tetapi dia
paham betul, iweekang yang dia latih ternyata dapat ditandingi
dengan baik oleh iweekang lawan. Bahkan, karena lawan lebih
berpengalaman, maka lawan lebih matang dan mampu
mengeksploitasi kelebihannya itu dengan baik. Itulah sebabnya
2359
Koay Ji tidak berani terus menerus adu kekuatan iweekang
dengan lawannya yang maha hebat itu. Dan diapun sadar, inilah
lawan terhebat yang dia hadapi sejauh ini, entah kedepannya.
Yang jelas, dia dapat didesak meski juga dapat mendesak lawan,
dan keduanya saling mendesak hingga memasuki jurus ke-40.
Jelas, keduanya merasa penasaran, karena jurus-jurus dan ilmu
andalan sudah mereka coba, tetapi tetap saja kedudukan mereka
tidak dapat dikatakan menang ataupun kalah. Artinya, 10 jurus
kedepan akan sangat menentukan, apakah mereka nantinya
kalah ataupun menang, dan keduanya mulai mempersiapkan diri
memasuki fase yang sangat menentukan itu.
Kakek Phoa Tay Teng tiba-tiba mendesis dengan nada suara
aneh tetapi membuat semua orang di sekitar arena merasakan
suasana magis yang amat pekat. Jelas jika dia mulai memainkan
Ilmu Sihirnya, karena dia memang menguasai sejenis Ilmu Sihir
yang amat hebat, bernama Ilmu Li Seng Toan Hun Lui (Ilmu Nada
Suara Mematikan Roh). Satu Ilmu yang diserapnya dari Thian Tok
dan dia campurkan lagi dengan salah satu Ilmu Perguruannya
hingga menjadi lebih kental nuansa magis dan nuansa sihirnya.
Pada saat itu dia berpikir, bahwa dalam usia mudanya, Koay Ji
tidaklah mungkin akan mampu menghadapinya dalam
pengerahan Ilmu Sihir tingkat tertingginya. Maka dengan
2360
pertimbangan tersebut, sebelum memasuki jurus yang ke 41,
diapun berteriak dengan nada suara yang amat aneh dan
mengandung hawa mujijat yang teramat kuat dan mencengkeram
perasaan orang-orang sekitarnya. Jangankan Koay Ji, sekeliling
arena itu, termasuk kakak seperguruannya, juga Tio Lian Cu dan
Khong Yan sampai tergetar. Getaran mujijat itu membuat
keduanya tergetar hebat dan sadarlah keduanya, bahwa lawan
Koay Ji saat itu bahkan masih berada di atas kemampuan
mereka. Jika demikian, sampai dimana gerangan tingkat
kemampuan Koay Ji itu....?
“Gila, ilmu sihir apa ini? Apa sute mampu menahannya...”? desis
Pek Ciu Ping kaget dan wajahnya sedikit memucat saat mendesis
dan kemudian memandangi adik-adik seperguruannya. Mereka
yang dipandangi, juga sama sangat kaget dan terpengaruh oleh
suara yang memang amat mujijat itu.
“Hmmm, Ilmu Sihir,,,,” desis Koay Ji maklum dan siap. Tetapi,
selain karena sejak awal dia sudah bersiap pada bagian akhir
pertarungan mereka, juga diapun sudah amat yakin bahwa kakek
sakti itu bakalan mendesaknya sedemikian rupa selama 10 jurus
yang terakhir. Maka ketika Kakek Phoa Tay Teng mulai
menggereng dan melepaskan kekuatan magisnya, Koay Ji sudah
teramat siap. Tetapi, diapun sadar bahwa tentu saja serangan
2361
sihir itu hanyalah awal, karena yang lebih hebat lagi akan segera
menjelang datang. Dapat dimaklumi, karena memang 10 jurus
terakhir akan snagat menentukan seperti apa hasil akhir
pertarungan keduanya.
Tetapi, beda dengan dugaan awal Pakek Phoa Tay Teng,
ternyata Koay Ji sama sekali tidak merasa takut dan tidak
terganggu konsentrasinya. Dia hanya tidak tahu bahwa, pertama,
Koay Ji sudah memasuki gerbang mujijat dan aneh luar biasa
sejak bertemu dengan tokoh aneh yang bernama Lie Hu San;
Dan, kedua, suhu dari Koay Ji sendiripun meninggalkan sebuah
ilmu yang amat hebat, sebuah ilmu batin tingkat tertinggi dan Koay
Ji sudah mampu menguasainya; Sementara yang ketiga atau
terakhir, Koay Ji sendiri sudah mengasah kemampuan menguasai
semangat dan batinnya dalam sebuah barisan yang amat mujijat,
dan dilakukan nyaris setiap saat selama beberapa waktu terakhir
ini di Thian Cong San.
Dan karena paham bahwa pertarungan terakhir akan sangat
menentukan siapa yang menang dan siapa yang bakalan kalah,
ataupun siapa yang terdesak, siapa yang mendesak, maka Koay
Ji secara otomatis siap. Dia secara serius kemudian menyiapkan
dirinya dengan segenap kemampuan dan mengerahkan segenap
hawa kesaktian yang dikuasainya. Lebih dari itu, pada dasarnya,
2362
Koay Ji sendiri sudah amat siap untuk memasuki tahapan
terakhir. Tahapan yang menentukan. Dan bukan hanya itu,
kepercayaan dirinya meningkat semakin tebal.
Ilmu iweekang gabungan miliknya dikerahkan hingga ke tingkat
pamungkas dan diapun menjaga dirinya dengan kekuatan batin
yang membutuhkan kesempurnaan konsentrasi. Keadaannya
seperti saat ini, bahkan masih belum pernah dilakukannya selama
turun gunung, sejak dilepas oleh Suhunya. Karena itu, dapatlah
dibayangkan betapa mujijat keadaan Koay Ji pada waktu itu.
Sekujur tubuhnya, sudah dipenuhi oleh hawa gabungan yang
menggeletar dan dalam konsentrasi tertinggi. Karena itu, wajar
jika kemudian dalam waktu bersamaan, Kakek Phoa Tay Teng
merasakan tenaga hisapan yang amat dahsyat dan luar biasa dari
tubuh Koay Ji. Satu tenaga menghisap yang amat mujijat ini,
biasanya keluar secara otomatis dari tubuh Koay Ji, dan mampu
merusak konsentrasi menyerang dengan kekuatan mujijat di
pihak Kakek Phoa Tay Teng. Tapi, untungnya, Kakek Phoa Tay
Teng sendiripun memang sudah amat siap untuk memasuki
babakan menentukan...........
Tetapi karena pengaruh tenaga menghisap Koay Ji yang amat
kuat, maka saat kakek Phoa Tay Teng akan membuka serangan,
justru adalah saat ketika Koay Ji menumplakkan tiga serangan
2363
beruntun yang amat mujijat. Dan ketiga jurus mujijat tersebut,
sungguh dipenuhi oleh hawa mujijat sebagai akibat dari
pengerahan ilmu iweekang gabungannya yang maha hebat. Maka
bergeraklah dia dengan 3 jurus mujijat yang khusus dia ciptakan
akhir-akhir ini, yakni Ilmu Hian Bun Sam Ciang (Tiga Jurus
Pukulan Maha Sakti) yang juga sudah diturunkannya kepada
Kang Siauw Hong beberapa hari silam. Teriakan Phoa Tay Teng
menjadi tidak berguna, karena justru dia yang terserang terlebih
dahulu. Dan oleh karena itu dapatlah dikatakan, justru hentakan
sihirnya menjadi hal yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri.
Karena membawa posisi terserang dari yang seharusnya dalam
posisi untuk segera menyerang lawannya itu. Dalam artian, justru
adalah Koay Ji yang berhasil memanfaatkan waktu sepersekian
detik untuk memulai dan mengawali dengan serangan yang tidak
kalah dahsyat:
“Awas locianpwee, berhati-hatilah engkau, karena Ilmu ini
sengaja kunamakan Ilmu Hian Bun Sam Ciang (Tiga Jurus
Pukulan Maha Sakti). Hati-hati karena akan segera kumainkan
secara berangkai, mulai dari jurus Hu Houw Tio Jang (Harimau
Mendekam Menghadap Matahari), jurus kedua yakni jurus Lok
Yap Kui Ken (Daun jatuh kembali keakar) dan terakhir jurus Boan
2364
Thian Kai Te (Langit penuh tertutup tanah). Jaga dan berhatihatilah....”
Memang benar, keadaan itu membuat semakin terkejut Phoa Tay
Teng. Tetapi dia bagaimanapun adalah seorang tokoh besar
dengan seabrek pengalaman yang amat kaya dan mumpuni.
Bahkan dia tidaklah terlampau terkejut lagi dengan kegagalan
menyerang dengan hawa sihirnya tadi, tetapi yang justru
mengejutkannya adalah posisinya yang malahan kini berubah
menjadi mengalami desakan Koay Ji yang repotnya mengawali
sepuluh jurus terakhir mereka. Padahal, seharusnya dia yang tadi
berusaha untuk masuk dalam posisi menyerang, terutama segera
setelah dia melepas kekuatan sihirnya. Awalnya dia tahu sudah
bahwa kekuatan sihirnya sangat hebat, dan mestinya bisa
menggoyahkan Koay Ji untuk beberapa detik. Tetapi ternyata, dia
yang terkejut karena masih tidak dapat menggoyahkan
keseimbangan Koay Ji yang masih muda. Justru dia yang
kehilangan sepersekian detik, dan mau tak mau diapun bersilat
dalam Ilmu Mujijatnya melawan tekanan Koay Ji yang makin
membadai dan jurus serangan berangkai.
Dan sekarang, karena kehebatan lawan mudanya itu, untuk
pertama kalinya selama 15 tahun terakhir ini dia sampai harus
mengerahkan sbeuah Ilmu andalannya, yakni Ilmu Hu Deh Lo Khi
2365
(Hawa Sakti Pelindung Badan). Ilmu khas dan juga menjadi
andalannya jika harus berhadapan dan menahan serangan lawan
yang hebat dan amat luar biasa. Bukan apa-apa, pengaruh
tenaga mengisap Koay Ji sudah berada pada puncak
kekuatannya sehingga sempat menggoyahkan posisi Phoa Tay
Teng tadinya. Belum lagi menyadari bahwa Koay Ji kini
menerjangnya dengan Ilmu Maha Sakti yang mau tidak mau juga
harus dipunahkannya, dan dia mesti amat berhati-hati. Karena
bagaimanapun juga dia tahu pasti, bahwa Koay Ji akan
menerjangnya secara hebat dan beruntun.
Maka upaya mengerahkan Ilmu Hu Deh Lo Khi yang mujijat dan
hebat itu, terpaksa dilakukan karena dia mesti menata rencana
untuk jurus-jurus sesudah Koay ji menyerang. Artinya, meskipun
dia dalam posisi diserang, tetapi diapun sudah mesti menghitung
dan merencanakan bagaimana caranya guna menyerang balik
posisi Koay Ji. Dan untuk melakukannya, selain menghadapi
serangan berbahaya Koay Ji dia juga merancang dengan ilmu
apa kelak dia melakukan serangan balik agar dia tidak dihitung
terdesak dan kalah. Mereka berdua kini dalam hitung-hitunan
cermat untuk bertahan dan menyerang, setidaknya tidak sampai
kalah dalam sepuluh jurus terakhir. Maka, bentrokan hebatpun,
2366
adu strategi dan adu kepintaran berlangsung dengan cepat dan
menentukan.
Tetapi Koay Ji sudah datang dengan terjangan dari bawah keatas,
pukulannya amat menggetarkan karena membawa kekuatan
bagai gugur gunung. Dan selain itu, juga gelombang serangan
iweekang yang sungguh amat menggetarkan hati, memuat si
tokoh tua itu mengernyitkan kening. Langsung Phoa Tay Teng
terkejut karena dapat mengetahui bahwa gelombang kekuatan itu
akan mampu menerobos masuk dan memukulnya seandainya dia
terlambat bergerak. Maksudnya, jangan sampai dia terlambat
dalam mengerahkan Ilmu Hawa Sakti Pelindung Badan (Hu Deh
Lo Khi), yang hanya dia dan toa suhengnya yang mampu untuk
menguasainya hingga ke tingkat yang paing sempurna dan
tuntas. Meskipun demikian, dia tetap saja terkejut karena ilmu
Koay Ji tersebut benar-benar ilmu menyerang yang amat luar
biasa dan hebat. Dia benar-benar harus mengerahkan
kemampuan tertinggi untuk sampai dapat menetralisasi badai
serangan maut Koay Ji.
Belum lagi dia memikirkan membalas menyerang setelah mampu
memunahkan jurus yang pertama, Koay Ji sudah menerkamnya
dengan jurus kedua, yakni jurus Lok Yap Kui Ken (Daun jatuh
kembali keakar). Berbeda dengan jurus pertama, maka jurus
2367
kedua ini menyerangnya dari arah sebaliknya, yakni dari atas
menuju ke bagian bawah tubuhnya. Tetapi, yang mengerikan
adalah, bersamaan dengan jurus kedua ini, suara-suara yang
memekakkan memenuhi telinganya dan diapun segera maklum.
“Hmmm, ternyata lawan muda ini malahan sudah memiliki
kemampuan hebat dalam menguasai ataupun mempengaruhi
sukma yang rada-rada mirip dan sama dengan kemampuan
sihirnya sendiri. Maka tidak mau terlambat lagi, diapun dengan
segera dia berteriak dalam nada keras:
“Hiyaaaaaaaaatttttttttttttt......”
Bersamaan dengan itu, dari telapak tangannya meluncur
serangan menahan alur serangan Koay Ji yang semakin berat
dan semakin berbahaya. Serangan yang jika dibiarkan akan
melibasnya, dan sekali terlibas, maka sulit untuk menemukan
jalan keluarnya nanti. Sekali ini mereka berdua seperti melihat
tidak ada jalan yang lain selain dengan terpaksa adu kekuatan:
“Blaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrr......”
Luar biasa dahsyatnya benturan keduanya, karena semua yang
menontonnya merasakan getaran yang amat kuat meski sudah
berjarak lebih kurang 15 meter dari arena. Meski sejauh itu, tetapi
2368
tetap saja mereka terdorong kuat dan harus bertahan dengan ilmu
mereka agar tidak sampai terdorong terhuyung-huyung ke
belakang. Tetapi, sekitar arena tersebut kini mulai dipenuhi warna
merah dan putih yang saling berkejaran dan kadang saling
berbenturan dan menghasilkan suara yang sangat memekakkan
kuping mereka semua. Padahal, Koay Ji dan Phoa Tay Teng
hanya saling sambut dua sampai tiga pukulan dan kemudian
keduanya sama terpental ke belakang, dan kembali saling pukul.
“Kim Jie heng, di kalangan kita kelihatannya harus meminta
bantuan Ceng San Sinkay baru dapat mengimbangi kedua orang
ini......” desis Tiang Seng Lojin sambil melirik dan meleletkan lidah
menyaksikan pertarungan kedua tokoh beda generasi namun
kehebatan mereka setanding dan amat mujijat.
“Hmmmmm, aaaach, Lojin, engkau benar, bahkan terus terang
saja, siauwte sendiri masih belum berkemampuan melawan salah
satu dari mereka,,, hanya angkatan tua kita yang mampu
menandingi mereka. Tapi, Tang Hok atau Koay Ji itu ternyata
amat hebat dan mujijat, sungguh hebat.....”
“Engkau Benar Kim Jie heng, tetapi lawannya juga bukanlah
lawan sembarangan. Dikalangan kita, sulit menemukan tandingan
mereka berdua itu....”
2369
Sementara itu, di arena, tubuh Koay Ji melenting sempurna dan
lanjut dengan jurus terakhir, sebuah jurus ketiga yang juga
bernama jurus Boan Thian Kai Te (Langit penuh tertutup tanah).
Sebuah jurus berbahaya yang penuh kekuatan mujijat dan yang
cepat disadari oleh Phoa Tay Teng. Si tokoh tua mujijat itu. Bahwa
jurus yang ketiga ini mestinya amat berbahaya dan lebih
berbahaya ketimbang dua jurus yang sudah dikeluarkan
menyerang dirinya sebelumnya. Dan dia memang benar dalam
menduga dan mengantisipasi. Kekuatannya melonjak lagi
dibandingkan dengan jurus yang kedua tadi, dan dapat dia
rasakan dari gedoran maut yang juga ikut mempengaruhi
semangatnya dan sukmanya. Seperti ada gelombang ataupun
gelitik rasa takut muncul dari dalam sanubarinya. Tetapi dia
terlampau hebat untuk dapat segera dijatuhkan dengan ilmu yang
seperti itu. Dengan senyum dan dengan penuh percaya diri dia
bersiap dan melakukan perlawanan.
Sadar bahaya, maka Phoa Tay Teng sekali ini mulai
mengerahkan kombinasi Ilmu Hu Deh Lo Khi (Hawa Sakti
Pelindung Badan) dengan Ilmu Pi Ki Hu Hiat (Tutup Hawa
Lindungi Jalan Darah). Dia tahu benar, tanpa kombinasi kedua
ilmu ini dia dapat saja terpukul jatuh oleh lawannya yang masih
amat muda, namun ternyata memiliki kemampuan yang sama
2370
sekali tidak dibawahnya. “Jika lohu selamat sekali ini, maka
engkaupun harus kusuruh untuk merasakan dan mengalami
sendiri posisi sulit seperti diriku ini anak muda,,,” desisnya dalam
hati, dengan menghalau semua rasa marah, kesal dan gelisah,
dan membuat dirinya tetap tenang. Tetapi, sambil pada saat yang
bersamaan, diapun mulai menyiapkan ilmu balasan atas posisi
yang dia sendiri rasakan amat menyedihkan dan membuatnya
bertekat membalas nanti. Harus sepadan dan membuat lawan
muda itu juga kerepotan. Karena sudah amat jelas, bahwa
posisinya sudah kalah jika berhenti sampai pada jurus keempat
puluh tiga ini, untung saja masih belum selesai. Masih belum
selesai.
Phoa Tay Teng terkejut ketika seluruh arena sudah tertutup oleh
getaran ilmu hawa iweekang yang amat luar biasa. Bahkan warna
pijaran yang menyakitkan matanya membuat dia tergedor tetapi
masih tetap bisa bertahan dengan kokoh. Masih saja dia kokoh
dan tidak goyah. Dia tahu bahwa tak ada jalan keluar dalam posisi
seperti itu, sementara hawa pukulan lawan bagaikan petir
menjilat-jilat sekujur tubuhnya, dari kepala bahkan hingga ke
ujung mata kakinya. Untung saja dia juga memiliki kombinasi
kedua ilmu pelindung badan yang teramat hebat, dan inilah yang
2371
dapat membuatnya bertahan kokoh dan bahkan bertarung
kekuatan iweekang secara dahsyat dengan Koay Ji.
Pada saat itu, keduanya adu keuletan dan adu kekuatan untuk
dapat mengikat dan memelesetkan daya pukulan iweekang lawan
masing-masing. Pertarungan antar keduanya, menjadi tarung adu
kesaktian dan kematangan ilmu iweekang, karena posisi mereka
sudah saling libas satu dengan yang lainnya. Dalam posisi seperti
itu keduanya tak akan mampu mengerahkan kekuatan jurus-jurus
penyerang, tetapi hanya bersandar pada kemujijatan ilmu
iweekang masing-masing. Juga tergantung pada kematangan
dan sekaligus kesempurnaan penguasaan iweekang masingmasing.
Hanya, keunggulan masing-masing juga tetap tak
mampu menghasilkan pemenang, karena keduanya tidak mampu
saling libas dan saling dorong, tetap saja kokoh pada posisi
mereka masing-masing.
Setelah beberapa menit, keduanya tak mampu saling unggul dan
tetap saja dalam posisi sama kuat. Koay Ji sebenarnya merasa
sedikit memiliki keuntungan, karena lawan hanyalah sebatas
membuat iweekangnya terpeleset, sementara dia memiliki
kemampuan menarik, menyedot dan menggiring serta
mementahkan ataupun juga menggiring iweekang lawan. Tetapi,
luar biasa, karena iweekang lawan tak mampu untuk dia kuasai,
2372
selalu saja terpeleset dan tak memiliki cukup kekuatan untuk
dapat ataupun mampu menguasai iweekang lawan. Bagaikan
sedang berusaha untuk bisa menggenggam seekor belut yang
dilumuri minyak, sungguh sulit. Meskipun juga, lawannya sama
saja, tidak dapat menguasai iweekangnya, selalu berubah antara
mementalkan, mempelesetkan disatu sisi dengan mendorong,
menggiring ataupun menyedot pada sisi lainnya. Dan keduanya
lama-kelamaan merasa yakin, bahwa kemenangan tidaklah akan
dapat diraih dengan cara tersebut.
Seolah sepakat, keduanya pada saat yang nyaris bersamaan
saling mengerahkan kekuatan iweekang mendorong. Dan karena
itu, kembali keduanya terdorong tetapi sama sekali tidak terluka,
meski semua yang menjadi penonton dapat menyaksikan betapa
kekuatan raksasa mendorong keduanya terlontar ke belakang.
Hal ini karena memang keduanya memiliki khikhang pelindung
badan yang sama-sama alot, kuat dan juga amat ampuh
melindungi tubuh mereka. Tetapi, begitu keduanya terdorong ke
belakang, sekali ini adalah seorang Phoa Tay Teng yang siap
untuk segera dapat menyerang Koay Ji, hal yang memang sudah
dirancangnya sejak tadi. Dan segera terdengar bentakan
kerasnya;
2373
“Awas anak muda,,,,,,,, inilah Pat Mo Hwee Ciang” teriak Phoa
Tay Teng yang tiba-tiba lengannya berubah menjadi merah
membara dan mengejar kemanapun tubuh Koay Ji bergerak.
Karena dari telapak tangannya memberondong keluar cahaya
kemerahan yang berpijar saking panasnya. Ada dua kali
lengannya menggeletar dan melepaskan 4 buah cahaya
kemerahan, masing-masing dua dari sepasang lengan dalam dua
gerakan. Tetapi, Koay Ji tidak terlampau kesulitan, meski pada
akhirnya dia terlihat selalu saja diserang, apalagi ketika gagalnya
serangan dengan percikan cahaya kemerahan tadi segera disusul
dengan serangan jurus Ho Hay To Liong (Mengaduk Laut
Membunuh Naga).
Jurus tersebut memang rada berbahaya karena serangan
sepasang lengan dan juga tendangan Phoa Tay Te ng
memberondong semua jalan bergerak Koay Ji. Tetapi meskipun
demikian, Koay Ji memantapkan hatinya dan memunahkannya
dengan satu gerakan sederhana dalam jurus Hou Gim Toau
(Burung Tiong Mengangguk) namun hanya mampu mengurangi
tekanan karena lawan menyusul menyerang lagi dengan jurus Liu
Sing Kam Gwat (Bintang Jatuh Mengejar Rembulan). Keadaan ini
membuat Koay Ji merasa harus segera melakukan serangan
balasan karena jika tidak, berbalik dia yang akan mengalami
2374
tekanan dari gelombang serangan lawan yang bergelombang
datang menyerang. Padahal, pertarungan mereka berdua sisa
berapa jurus serangan belaka. Koay Ji tentu saja tidak mau kalah.
Berpikir demikian, Koay Ji segera bergerak dengan jurus Sin
Liong Jip Hay (Naga Sakti Menyusup Kedalam Laut), kedua
lengannya menyambut serangan lawan dan disusul dengan
gerakan mencengkeram dari Ilmu In Pat Jiauw (Ilmu Delapan
cengkeraman angin dan Mega). Ilmu terakhir yang digunakannya
berasal dari Thian Hoat Tosu, dan wajar jika kemudian Tio Lian
Cu tergerak hatinya karena amat mengenal gerakan itu. Kaget
karena sangatlah bingung, mengapa Koay Ji mampu
memainkannya? Dan dalam satu jurus Hong Biau Lok Hoa (Angin
Meniup Bunga Berguguran) Koay Ji berbalik menyerang dan
mencecar Phoa Tay Teng yang terpaksa mundur karena
kekuatan pukulan lawan yang amat aneh membuat dia menjadi
siaga. Maka akhirnya dengan jurus Tiap Bu Ing Hui (Kupu-kupu
Menari Burung Kenari Terbang), diapun akhirnya mencoba
memunahkan semua sergapan berbahaya yang dilakukan oleh
Koay Ji.
Masih beberapa kali mereka bertukar pukulan dan sekaligus
saling menangkis serta menghindar, tetapi keduanya sudah
maklum belaka bahwa waktu dan jumlah jurus sudah berlalu.
2375
Karena itu, serangan dan pertarungan mereka yang
sesungguhnya sudah lewat, namun karena keasyikan, keduanya
masih melanjutkan sampai jurus ke 60 namun tetap saja dalam
kedudukan yang sama dan seimbang. Masing-masing merasa
sulit untuk memenangkan pertarungan. Karena itu, pada akhirnya
keduanya meloncat ke belakang dan terlihatlah jika kondisi Koay
Ji masih cukup tenang, maka Phoa Tay Teng yang dimakan usia,
sebaliknya terlihat lebih cepat dan lebih memburu nafasnya.
Tetapi, bagaimanapun, selama 50 bahkan sampai 60 jurus
pertarungan mereka, sangat jelas bagi semua yang hadir, bahwa
kedudukan akhir adalah tetap saja seimbang.
“Hmmmm, engkau hebat anak muda, tetapi engkau harus hatihati
jika berhadapan dengan Toa Suhengku kelak. Dia masih lebih
hebat lagi dibandingkan diriku, maka engkau berlatihlah lebih baik
lagi.... tetapi setelah pertarungan ini, lohu berjanji tidak akan
terlibat di Pek In San kelak” desis Phoa Tay Teng sambil
kemudian berpaling kearah Geberz dan seorang lagi untuk
berkata dengan suara perlahan namun jelas terdengar oleh
semua orang yang berada di sekitar situ:
“Mari, kita harus segera pergi....”
2376
Keduanya sudah akan bergerak ketika terdengar suara keren dan
penuh wibawa dari Koay Ji yang menahan langkah mereka:
“Ban Bin Kiau Hua (Pengemis Berlaksa Wajah) Phoa Tay Teng
Locianpwee, kami persilahkan untuk dapat segera berlalu, tetapi
mohon maaf, ini berlaku hanya untuk Locianpwee dan kedua
teman locianpwee, tetapi sesuai perjanjian tadi, maka tentang
yang satu hal lagi......”
“Aku tahu, aku paham anak muda, tenang sajalah...... anak gadis
itu tentu saja akan kubebaskan.....” berkata Phoa Tay teng
dengan wajah serius. Jelas dia tidak sedang main-main dan
memang serius;
“Satu hal lagi Locianpwee, tolong lepaskan cengkeraman atas
Lembah Cemara, jika tak ada jaminan itu dari Locianpwee, maka
kami semua tidak akan bisa melepaskan Locianpwee pergi dari
sini bersama kedua sahabat Locianpwee yang lainnya. Soal ini
sulit untuk ditawar-tawar karena berkaitan dengan keselamatan
banyak orang yang berada di Lembah Cemara saat ini,,,” berkata
Koay Ji sambil memandang Cu Ying Lun yang mengangguk
setuju. Dia gembira karena Koay Ji memikirkan nasib keluarganya
dari Lembah Cemara.
2377
Phoa Tay Teng memandang Koay Ji cukup lama dan kemudian
berkata dengan suara rawan menjawab pernyataan Koay Ji;
“Hmmmm, sebetulnya Lohu sudah sangat mengalah, tetapi
untung saja, meskipun awalnya berat, tetapi setelah kupikir-pikir,
amat mudah kusanggupi. Tetapi, engkau seharusnya bertanya
langsung kepada sam suteku ataupun juga kepada sutitku ini,
apakah mereka berdua akan bersedia melepaskan Lembah
Cemara setelah semua kejadian malam ini,,,,,,,”
“Maaf Locianpwee, mereka berdua boleh saja memberi jaminan,
tetapi jaminan dari Locianpwee jauh lebih berharga untuk
kupegang dan kupercayai, selain itu, mereka berdua bersama
kawanannya sudah berkali-kali tidak memegang janji......” Koay Ji
tetap berkeras untuk mendapatkan jaminan dari Kakek Phoa Tay
Teng yang dia rasa kata-katanya lebih bisa dipegang.
“Hmmmm, baiklah, untungnya engkau memang cukup berharga
untuk berdebat dan adu kepandaian denganku, karena itu, biarlah
kutegaskan, setelah hari ini dan juga sama dengan dahulunya,
Lembah Cemara bukan sasaran kami, kedepan juga tidak akan
menjadi sasaran dan target kami. Hanya, akan menjadi lain jika
mereka yang datang menemui kami, dengan alasan apapun
juga....... apakah sudah cukup seperti itu anak muda..”? tanya
2378
Phoa Tay Teng yang dirasa oleh Tek Ui Sinkay dan kawan-kawan
lainnya sudah berlebihan, tetapi memang mereka butuhkan. Kini,
lawan boleh dibilang justru yang mengalami “keterpukulan” dalam
hal semangat dan juga daya juang mereka, berhubung jago-jago
mereka yang amat hebat ternyata dapatlah ditandingi dan dapat
memperoleh lawan sepadan.
“Baik, silahkan pergi Locianpwee, dan sampaikan salam bertemu
beberapa hari kedepan kepada seluruh orang di Pek In San .....”
jawab Koay Ji sambil “setengah” berkelakar kepada Kakek itu
“Hahahahaha, pasti, pasti anak muda. Kalian pasti diterima
disana, diterima dengan senang hati dan penuh keramaian.
Hanya, sayang sekali, karena tidak dapat lohu menemanimu
disana, tidak ada urusan dan tidak ada nafsuku lagi untuk bermain
di tengah kerumunan seperti itu.....” berkata si Kakek sambil
kemudian berlalu bersama Geberz dan seorang keponakan
muridnya lagi. Dan tidak lama kemudian, suasana di Thian Cong
Pay kembali sepi, meski rata-rata orang disana sedang
terguncang dengan apa yang baru saja terjadi.
Dari semua saudara seperguruan Koay Ji, hanya Tek Ui Sinkay
yang terlihat tenang meski ada rona kepenasaran di mata mereka,
terutama Tek Ui Sinkay. Sementara saudara seperguruan mereka
2379
yang lain, benar-benar kaget karena sungguh tidaklah mengira
jika kepandaian siauw sute mereka sudah sedemikian tingginya,
masih jauh diatas perkiraan mereka semua. Sama dengan
kekagetan keterkejutan para tokoh Khong Im Kaypang yang juga
sedemikian kaget dengan tingkat kepandaian Koay Ji. Mereka
memandangi penuh rasa, antara kagum, kaget, terkejut, takjub
dengan apa yang baru saja mereka saksikan atas apa yang
dilakukan Koay Ji. Pemandangan yang akan sulit mereka
percayai jika mereka tidak langsung menyaksikan dengan mata
kepala mereka sendiri.
“Siauw Sute,,,,,, ach, sampai tidak tahu lagi apa yang dapat
sucimu gambarkan soal dirimu,,,,, engkau malah sudah sesakti
Insu...” desis Oey Hwa dan juga diiringi tatap mata kagum sucinya
yang lain, Pek Bwe Li.
“Ach, jiwi suci, semua juga berkat pertolongan sam suheng dan
juga Insu sehingga bisa sampai seperti sekarang ini.......”
“Siauw sute, kan suhengmu ini hanya menolong nyawamu, tidak
membuat dirimu bisa sampai sehebat ini......” sela Tek Ui Sinkay
“Benar sam suheng, tetapi pukulan penuh iweekang yang
kuterima dan obat dari Bu Tee Suhu, serta terutama perjuangan
2380
sam suheng membawaku ke Insu, bisalah dibilang awal
semuanya. Insu juga menyebut demikian, karena tenaga pukulan,
obat pusaka dan pelarian suheng waktu itu, mengakibatkan
tenaga pukulan dalam diriku bertumbuh menjadi kekuatan
dahsyat. Itulah yang dileburkan Insu kedalam diriku, dan jadilah
seperti sekarang.....”
“Jika memang Thian berkehendak, siapapun tak bisa
menghentikannya. Kitapun tidak akan mampu merubahnya, dan
itu adalah anugerah yang diterima siauw sute” sela Pek Ciu Ping
yang juga sudah tahu kisah Koay Ji dari surat khusus Suhunya
kepadanya. Sedikit banyak dia tahu kesaktian siauw sutenya,
hanya, sungguh dia tak menyangka jika sehebat itu. Karena itu,
meski mengatakan kalimat di atas, pada kenyataannya, diapun
sama belaka dengan sutenya yang lain, takjub dan heran atas apa
yang dialami oleh Koay Ji, juga kepandaiannya yang mujijat.
“Ach, siauwhiap, sungguh pertarungan yang belum pernah
kusaksikan sebelumnya. Sungguh kagum lohu dengan
kemampuanmu yang sulit diukur dimana tingkat dan batas
kemampuanmu, luar biasa.....” pujia Kim Jie Sinkay secara
terbuka dan tanpa tedeng aling-aling.
2381
“Ach, Kim Jie toako, biasa saja sebetulnya, kita masing-masing
memiliki kelebihan yang berbeda dengan orang lain.....” Koay Ji
merendah dan semakin membuat Kim Jie Sinkay semakin
mengaguminya. Dan merekapun masih bercakap-cakap sekian
lamanya satu dengan yang lainnya.
Orang-orang Lembah Cemara berduka dengan kematian Nenek
Hua Hun, termasuk juga Nenek Tio Cui In yang mengiringi
kepergian madunya dengan konflik yang ternyata tidak benar
sepenuhnya. Dia menyesal sudah menyudutkan madunya itu, dan
bahkan ikut menyebabkan Nenek Hua Hun membunuh diri
dihadapan mereka semua untuk membuktikan kesetiaannya.
Menjadi satu-satunya istri dari Hoan Thian Kheng ternyata tidak
membuatnya bahagia, karena terbiasa berbagi dengan dua istri
lainnya dari suaminya dalam waktu yang sangat lama dan
panjang. Tetapi, dalam waktu singkat, hanya beberapa bulan,
kedua madunya meninggal dengan cara berbeda dan kini hal
tersbeut membuatnya menjadi amat sedih. Karena ternyata, dia
merasa kehilangan dengan meninggalnya kedua madunya itu.
Jika Nenek Tio Cui In saja merasa sedih dan kini kehilangan,
maka apalagi Hoan Thian Kheng. Dia memang seorang yang
agak romantis, dan sekaligus juga amat mencintai ketiga istrinya
itu. Tetapi kini tiba-tiba dalam waktu yang tidak terlalu lama dia
2382
kehilangan dua orang istrinya dan masih ditambah lagi dengan
seorang anak dan seorang cucunya. Bagaimana dia tidak menjadi
sedemikian sedihnya? Dan otomatis kesedihannya yang amat
dalam menjalari semua orang Lembah Cemara, dan selama
beberapa hari kedepan, mereka semua benar-benar bersedih.
Benar benar merasa kehilangan bersama dengan Hoan Thian
Khek. Kesedihan mendalam mengiringi kepergian Nenek Hua
Hun.
Kembali ke arena setelah ditinggal oleh Kakek Phoa Tay Teng,
Koay Ji segera mendekati tubuh Kang Siauw Hong yang
tergeletak tidak berdaya meski masih bisa mengikuti semua
kejadian, termasuk pertarungan tadi. Saat itu, Nona manis yang
biasa misterius itu memang tertotok, tetapi dia tentu saja dapat
mengikuti semua kejadian sampai Phoa Tay Teng meninggalkan
tempat itu dan membiarkannya ditinggal sesuai dengan
perjanjiannya dengan Tang Hok. Diapun bahkan masih sadar
sepeninggal Kakek Phoa Tay Teng, dan juga saat Koay Ji atau
Tang Hok mendekatinya untuk kemudian memeriksa
keadaannya. Tidak lama kemudian, dia mendengar Tang Hok
menggumam:
“Hmmmm, begitu ya, accccchhhhh, benar-benarkah dia berpikir
aku tidak mampu melepaskan jenis totokan seperti ini? Ataukah
2383
jangan-jangan dia sedang berusaha untuk menguji sampai
dimana gerangan kemampuan dan juga pengetahuanku dalam
ilmu totokan... sungguh menggemaskan...”
Koay Ji bergumam karena dia menemukan bahwa totokan itu
memang agak khas, tapi dia sendiripun sebagai ahli totok, tidak
merasa kesulitan untuk membebaskan Kang Siauw Hong.
Totokan khas Pat Bin Lin Long yang memang tidak bisa ditemui
di cabang ilmu silat lain. Tentu Koay Ji mampu membebaskannya.
Tetapi, tetap saja pada saat itu dia merasa kesulitan, karena
memang dia mesti bekerja agak keras membebaskan totokan
seperti itu. Dan ini yang membuatnya merasa agak kesal.
Kekesalan Koay Ji sungguh mengagetkan Kang Siauw Hong
yang pada awalnya menduga, dia akan mudah dibebaskan dari
totokan. Ternyata tidak mudah dan tidak akan langsung dapat
dibebaskan.
“Hmmm, Nona, totokan ini agak istimewa, nanti setelah semua
urusan disini akan kubebaskan engkau dari totokan ini.....”,
berkata Koay Ji sambil menatap wajah Kang Siauw Hong yang
terlihat cukup nelangsa. Baik karena menjadi tawanan, juga
karena barusan kematian neneknya.
2384
“Baik, terima kasih, engkau telah menyelamatkan nyawaku” desis
Kang Siauw Hong yang maklum bahwa dia berhutang budi
kepada Tang Hok yang memaksa Kakek Phoa Tay Teng untuk
tidak membawanya. Tanpa pemuda itu, Kang Siauw Hong tidak
tahu apa yang terjadi nanti.
“Baik Nona, bersabarlah......” bisik Koay Ji yang kemudian
menotok sekali hingga membuat Kang Siauw Hong tertidur....
Koay Ji kembali ke rombongan Tek Ui Sinkay dan semua tokoh
Khong Sim Kaypang yang masih memandangnya penuh takjub.
Mereka semua sangat takjub dengan kepandaian yang
diperlihatkan Koay Ji barusan, dan mereka tidak menduga jika
Koay Ji mampu menandingi tokoh tua Phoa Tay Teng yang sudah
terkenal puluhan tahun silam. Maka ketika dia mendekat, Khong
Yan yang lebih duluan untuk maju menyambutnya dan dengan
ragu bertanya:
“Benarkah engkau Koay Ji suheng.....”? tanyanya dengan nada
ragu, antara percaya dan tidak percaya dengan tampilan Koay Ji
yang berbeda.
“Hahaha, cucuku, jika bukan suhengmu habis, engkau anggap
siapa dia gerangan”? ledek Cu Ying Lun melihat keraguan dimata
2385
atau tepatnya sinar mata Khong Yan yang bingung ketika
menyambut kedatangan Koay Ji.
“Khong Suheng, kupastikan dia adalah Koay Ji Suhengmu,
karena selain anak murid Hoa San Pay, maka Ilmu Hong In Pat
Jiauw (Ilmu Delapan cengkeraman angin dan Mega) hanya
diturunkan kepada Koay Ji seorang.. dia sudah pasti adalah Koay
Ji..” Tio Lian Cu memastikan dengan analisisnya yang memang
benar dan tepat, karena dia tahu suhunya menurunkan ilmu itu
kepada Koay Ji. Jelas dia ingat apa yang dia alami bersama Koay
Ji di gua Bu In Sinliong.
“Ach, Tio Kouwnio, engkau memang menebak dengan tepat.
Sebenarnya bukan karena kurang teliti dan kurang awas, tetapi
karena terlampau tegang maka Khong Sute tidak mampu
teryakinkan jika memang benar bahwa aku adalah suhengnya
sendiri....” sahut Koay Ji sedikit jengah karena semua orang
memandangnya dengan takjub dan kekaguman yang tak
tersembunyikan.
“Accch, sebetulnya aku sudah curiga dan makin curiga di
penggunaan ilmu-ilmu yang amat kukenal, hahahaha, engkau
sungguh membuatku merasa sangat-sangat penasaran Koay Ji
suheng....” gerutu Khong Yan yang akhirnya tertawa lepas dan
2386
senang begitu teryakinkan bahwa Tang Hok memang benar
adalah samaran dari Koay Ji suhengnya sendiri.
“Luar biasa, ternyata seorang tokoh muda luar biasa sudah
dilahirkan, kupikir adalah Kim Jie Sinkay tokoh muda terhebat
pada masa sekarang ini, ternyata masih ada Khong Yan, masih
ada pula Tio Ciangbudjin yang sehebat dirinya dan malah masih
ada pula seorang Koay Ji yang bahkan masih lebih hebat lagi.......”
terdengar pujian dari Tiang Seng Lojin yang mendekat dengan
juga diikuti oleh Tui Hong Khek Sinkay dan juga Kim Jie Sinkay.
“Benar, sungguh luar biasa, saudara Koay Ji, engkau sungguh
hebat. Terus terang, tokoh Phoa Tay Teng itu terlampau hebat
untuk dapat kulawan....” Kim Jie Sinkay ikut menimpali memuji
kehebatan Koay Ji, tokoh ini memang selalu berkata dengan jujur
dan juga sangat terbuka serta setia kawan.
“Acccch, cuwi sekalian terlampau sungkan. Kita sedang
menghadapi tokoh-tokoh hebat di Pek In San, karena itu, kita
butuh banyak tenaga yang hebat untuk dapat menjungkalkan
mereka semua. Tidak ada yang mampu mengerjakannya seorang
diri, dan selain itu, semua Ilmu Silat sesungguhnya memiliki
kehebatannya masing-masing. Maka, rasanya amat sulit untuk
dapat mengatakan bahwa ada Ilmu dan ada tokoh terhebat di
2387
dunia ini.....” jawab Koay Ji dengan tetap merendah dan dengan
demikian dia mengundang simpati tokoh-tokoh asal Khong Sim
Kaypang yang benar-benar sangat mengaguminya.
“Sudah saatnya kita sedikit melepas kepenatan, ayolah, kita
bicarakan sambil juga makan pagi bersama, toch sebentar lagi
matahari akan munculkan dirinya” ajak Tek Ui Sinkay yang
lagsung saja disetujui semua orang, dan sebentar saja arena
yang tadi terdapat pertarungan yang amat seru kembali sepi.
Tetapi, sementara semua makan pagi, Koay Ji minta diri sebentar
yang semua tahu apa yang akan dikerjakannya. Dan memang
demikian adanya, karena tidak berapa lama Koay Ji sudah berada
kembali di Rumah Istirahat rombongan Lembah Cemara dan kini
sedang berada di dalam kamar Kang Siauw Hong. Tetapi, sekali
ini dia juga ditemani oleh kedua gadis kembar she HOAN dari
Lembah Cemara. Kedua gadis itu yang juga mengikuti dan sudah
tahu siapa Koay Ji yang sebenarnya, dan keduanya kini
memandangnya dengan sinar mata penuh kekaguman. Sungguh
jauh berbeda dengan sikap mereka ketika baru tiba di Thian Cong
Pay berapa hari silam yang terkesan sombong dan tidak
menganggap keberadaan Koay Ji.
2388
“Bagaimana jiwi kouwnio, bisakah kumulai upaya membebaskan
totokan atas diri Kang Siauw Hong kouwnio.....”?
“Ach, tentu saja, silahkan Siauwhiap.....”
“Baik, terima kasih.....”
Singkat cerita, selama satu jam atau bahkan mungkin lebih Koay
Ji melakukan proses untuk membebaskan Siauw Hong dari
totokan Kakek Phoa Tay Teng. Sebetulnya tidak akan banyak,
mungkin hanya satu atau dua orang yang memiliki kemampuan
melepaskan Kang Siauw Hong dari totokan istimewa itu.
Untungnya, Koay Ji memahami dan mengetahui kunci
melepaskannya karena memang totokan itu berada dalam buku
catatan Pat Bin Ling Long. Oleh karena itulah, dia memiliki
kemampuan untuk membebaskan Siauw Hong dari kuncian ilmu
totok yang amat hebat dan berbahaya itu.
Setelah satu jam berlalu, Siauw Hong dapatlah dibebaskan
kembali oleh Koay Ji, tetapi begitu dia siuman kembali, yang dia
katakan adalah sesuatu yang menyentak Koay Ji. Karena, Kang
Siauw Hong begitu siuman langsung mendapati Koay Ji yang
sedang berada bersamanya, tanpa berpikir panjang sudah
berkata dengan suara mengambang dan terasa aneh:
2389
“Toako, samar-samar kutahu engkau yang akan membebaskan
aku. Tetapi, ketika ditotok oleh Kakek Aneh itu, aku teringat
dengan perkataan Gwakong, bahwa saat menghadapi Bu In
Sinliong dia menghadapi sejurus ilmu totok yang maha hebat.
Ilmu yang dapat membebaskan tetapi juga dapat
menghancurkan, tergantung pada orang yang melepaskan
totokan itu. Gwakong dipaksa membuka rahasia apa yang ada
dalam pikirannya saat menghadapi totokan Bu In Sinliong itu,
tetapi dia tidak pernah mampu mengungkapkannya meskipun
sudah dipaksa dan disiksa Suhunya. Sampai pada akhirnya dia
memutuskan untuk mengungkapkannya hanya kepadaku
seorang saja. Karena konon, suhu Gwakong berusaha keras
mempelajari apa yang ditunjukkan oleh Bu In Sinliong pada waktu
itu, atau tepatnya mengetahui untuk menemukan ilmu untuk
mengatasi dan mengalahkannya. Karena totokan atas diri
gwakong itu, atau pukulan yang melumpuhkan gwakong, sungguh
aneh, mujijat dan amat hebat. Hal yang memusingkan Suhu dari
gwakong.....”
Perkataan Siauw Hong langsung mengetuk sanubari Koay Ji dan
teringatlah dia dengan salah satu pesan terakhir Suhunya.
Perkataan dan gumaman Siauw Hong serta pertempurannya
dengan Phoa Tay Teng yang maha hebat itu membuat semua
2390
ingatannya kini langsung tertuju kepada suhunya. Ada pesna
khusus, bahwa dia mesti berusaha untuk menemukan jurus anti
dari gabungan 3 ilmu pusaka Siauw Lim Sie dan sekaligus juga
harus menaklukkan jurus anti gabungan itu. “Menurut Insu,
dengan semua yang kumiliki mestinya akan dapat
menemukannya..... dan jika ditambah dengan penjelasan Pek Kut
Lojin kepada Siauw Hong, maka kuncinya ada pada motivasi
penyerang. Hmmm, mudah-mudahan dapat kutemukan dan
memang harus kutemukan .....” desis Koay Ji
“Toako,,,,, ada apa denganmu....”? tanya Siauw Hong melihat
Koay Ji terdiam dan tidak banyak berbicara seperti yang sudahsudah,
dia hanya kurang mengerti jika pada saat itu Koay Ji
teringat sesuatu karena perkataannya tadi. Dan karenanya jadi
terkenang dan tersusun “sesuatu” di dalam kepalanya.
“Hikhikhik, dia terlihat tegang sebelum mengobatimu Hong moi
dan melihat engkau sembuh kembali, tentunya dia merasa sangat
girang sampai-sampai dia menjadi sulit untuk berbicara....”
terdengar gurauan dari salah satu gadis kembar yang hanya
ditanggapi biasa saja oleh Koay Ji
“Nanti kita bicarakan lagi, ada sebuah persoalan berat yang harus
toakomu cari jalan keluarmu. Lebih baik engkau beristirahat
2391
dahulu adikku, dan malam nanti kita bertemu dalam barisan.....
nach, mari Nona-nona, aku mohon diri terlebih dahulu, terima
kasih atas perhatian kalian....” sambil berkata demikian, Koay Ji
melangkah keluar dari kamar tempat Kang Siauw Hong sedang
beristirahat, dan kemudian terus melangkah keluar. Kemana
gerangan tujuannya?
Koay Ji tidak kemana-mana, tetap berada di Thian Cong Pay.
Hanya, sebagaimana biasa jika dia beroleh inspirasi dan ide baru,
maka dia mengurung diri dalam Barisan dengan pikiran penuh
ide. Pikiran penuh rasa penasaran dan dia mulai tenggelam dalam
upaya mencari tahu, juga mendalami semua apa yang yang
diketahuinya tentang TIGA jurus dari TIGA ilmu mujijat dan juga
jurus keempat. Koay Ji mencoba untuk merangkai kembali ketiga
jurus yang pernah disebutkan Suhunya tersebut dan kemudian
membayangkan keistimewaan ketiga jurus pamungkas yang dia
pahami memang hebat. Masing-masing jurus istimewa dari Ilmu
Pusaka Siauw Lim Sie, memiliki perbawa sangat hebat luar biasa.
Hanya saja memang amat disayangkan, karena dia dan saudara
seerguruannya dilarang keras untuk mempergunakan jurus-jurus
tersebut dengan alasan apapun. Kecuali jika untuk urusan Kuil
Siauw Lim Sie atau karena keselamatan tokoh-tokoh utama
Siauw Lim Sie, maka Koay Ji dan saudara seperguruannya baru
2392
diijinkan untuk menggunakan jurus itu. Koay Ji memang sudah
pernah mempergunakannya ketika pada masa awal dia baru
munculkan diri dan berada di Kuil Siauw Lim Sie untuk membantu
mereka. Membantu Kuil Siauw Lim Sie dari ancaman bahaya
yang amat mengerikan, nyaris dikuasai lawan yang
mempergunakan dan menyihir seorang Ciangbudjin tua Siauw
Lim Sie.
“Hmmmm, jurus pertama memiliki kelihayan dalam menotok
melalui sebuah totokan jarak jauh, pada posisi yang meski agak
sulit tetapi tangan akan bergerak bagai melayang terbang pergi
mendekati sasaran. Sementara pada jurus kedua, gerakan
menebas naga sebetulnya adalah kelebihan dalam berusaha
menotok benda yang amat kuat dan gesit dalam bergerak.
Karenanya, maka kekuatan iweekang keluar memancar dengan
amat besarnya guna mengekang Naga yang terus bergerak dan
memberontak. Jurus ketiga adalah totokan jari yang serentak
mengejar kemanapun objek serangan bergerak dengan gaya
apapun, seperti apapun pergerakannya. Jika ketiganya
digabungkan, maka akan muncul sebuah jurus mujijat yang
sayangnya kehebatannya hanya sedikit saja di atas ketiga jurus
sebelumnya, itulah jurus Sam Liong Toh Cu (3 Naga Berebut
2393
Mustika). Sekali lagi, agak disayangkan, karena hanya sedikit
lebih hebat dari tiga jurus pembentuknya.
Tetapi, bagaimana jika ada formula baru?. Ataupun bagaimana
jika keunggulan dari masing-masing jurus itu yang menjadi bahan
pembangun jurus gabungannya dan menjadi sebuah jurus
totokan baru ataupun satu jurus pukulan baru? Jika iya, maka ada
dua jurus serangan yang berbahaya, dimana jurus terakhir akan
menjadi jurus pamungkasnya. Tetapi, jika memang benar
menurut Siauw Hong tentang daya dorongnya yang mujijat, maka
harus ada formula baru. Terutama dalam efeknya apakah akan
merusak atau menyembuhkan, yang konon amat tergantung
motivasi penyerang. Jika benar demikian, maka mestinya ada
aspek magis yang bergabung membentuk jurus gabungan itu.
Aspek itu yang menentukan apakah akan bersifat melumpuhkan
dan atau sekaligus menyembuhkan, sebagaimana yang
diucapkan oleh Pek Kut Lojin yang hebat itu......”
Pikiran dan analisa Koay Ji mengembara di medan yang itu-itu
saja selama berapa jam dia terpekur. Bahkan di depan matanya
seperti membentang orang yang sedang memainkan ketiga
ataupun keempat jurus yang dianalisanya satu demi satu, dan
dipandangi serta dipelototinya. Sebetulnya tidak berapa sulit
membentuk sebuah jurus baru, tetapi yang sulit adalah,
2394
bagaimana menyisipkan kekuatan yang dapat merusak ataupun
menyembuhkan. Apakah itu persoalan iweekang yang digunakan
ataukah soal penggunaan iweekang? Jika iweekang yang
digunakan, maka dia memiliki 3 pilihan: Pouw Tee Pwe Yap
Siankang, Toa Pan Yo Hian Siankang dan Gabungan kedua
iweekang mujijat tersebut. Pilihan yang hebat-hebat dan mujijat
serta jarang dikuasai anak murid Siauw Lim Sie sendiri. Tentu
saja, karena jurus-jurus pembentuk berasal dari Siauw Lim Sie,
maka pilihannya hanya tiga itu.
“Ach, dapat, mestinya begitu.....” terdengar desisan Koay Ji yang
bersemangat dan terdengar amat gembira itu. “ jika mengingat
bahwa suhu hanya memiliki iweekang Toa Pan Yo Hian Kang,
maka mestinya hanya sebuah iweekang, mestinya dapat dimulai
darisana. Tidak mungkin Insu menggunakan gabungan iweekang
pada saat menotok Pek Kut Lojin, lebih masuk akal dengan
iweekang tunggal. Tapi mungkin bisa lebih lebih hebat jika
iweekang gabungan, hal ini bisa dilatih dan dilihat kelak. Dan,
sudah hampir pasti, adalah pengetahuanku atas ilmu Pat Bin Lin
Long untuk mencari cara memunahkan jurus itu, dan kelak
gabungan pengetahuan Ilmu kedua Suhu dan Pat Bin Lin Long
untuk mengalahkan jurus anti ciptaan Suhu itu, haaaaa, pasti
demikian, tinggal bagaimana caranya.....”
2395
Dengan mengikuti formula tersebut, maka Koay Ji sampai pada
kesimpulan yang menurutnya paling masuk akal: Bahwa suhunya
menciptakan sebuah ilmu ataupun jurus istimewa dengan
landasan 3 jurus pamungkas, yakni masing-masing jurus Liu
Thian Jiu (Tangan Langit Mengalir) dari Tam Ci Sin Thong, gerak
Can Liong Chiu (Gerak Menabas Naga) dari Tay Lo Kim Kong
Ciang dan jurus Hud Kong Boh Ciau (Sinar Budha Memancar
Luas) dari Kim Kong Cie. Ketiga jurus hebat itu awalnya
membentuk sebuah jurus bernama jurus Sam Liong Toh Cu (3
Naga Berebut Mustika) yang sudah pernah diajarkan kepadanya.
Tetapi entah mengapa ketika mengalahkan Pek Kut Lojin,
Suhunya memainkan jurus baru yang membuat Pek Kut Lojin
terpesona dan Suhu Pek Kut Lojin terpana sehingga membuatnya
sampai mengurung diri untuk menaklukkan jurus tersebut.
Selanjutnya, Koay Ji berdasarkan apa yang diketahui olehnya dan
dirangkai dari beragam informasi, termasuk dari Suhunya, bisa
mengetahui bahwa Suhunya sudah menciptakan gabungan
ketiga jurus tersebut dan memberinya nama Jurus Hud Jiu Can
Liong Boh Ciau (Tangan Budha Menebas Naga Memancar Luas).
Jurus tersebut kelak bersama dengan gubahan 4 jurus lainnya
menjadi sebuah Ilmu yang kemudian dinamakan sebagai Ilmu Liu
Hud Jiu Toh Cu (Tangan Budha Bergerak Merebut Mustika).
2396
Sampai disini, Koay Ji sudah bisa memahami dan mengetahui
jalan kisah yang dibentangkan suhunya berapa hari lalu. Dan
pengetahuannya yang masih belum tuntas itu membuatnya
gembira.
Menjelang tengah malam Koay Ji merasa sudah cukup dan dia
merasa pasti ini yang dimaksudkan Suhunya. Ketika dia
mencobanya, dia memainkan mulai dari jurus Liu Thian Jiu, jurus
Can Liong Chiu, jurus Hud Kong Boh Ciau hingga jurus Sam Liong
Toh Cu. Baru pada bagian terakhir dia memainkan ilmu
ciptaannya berdasarkan skenario usulan Suhunya yang kemudian
dinamakannya jurus Hud Jiu Can Liong Boh Ciau (Tangan Budha
Menebas Naga Memancar Luas). Berkali-kali Koay Ji
mencobanya, memeriksa motivasinya dan memeriksa
penggunaan ilmu iweekangnya, dan dia pada akhirnya yakin,
bahwa Iweekang Toa Pan Yo Hian Kang yang memang paling
tepat melandasinya. Bahkan untuk menggunakan iweekang
gabungan, dia merasa dengan iweekang suhunya, baru puncak
kehebatannya benar terasakan. Dan dia yakin hal itu.
Dengan skenario itu, maka motivasinya ketika melepas ilmu itu,
dengan puncaknya pada jurus yang pernah dilihat Pek Kut Lojin
tapi diturunkan kepadanya secara samar oleh Suhunya pada
kesempatan terakhir, membuat atau mendatangkan perbedaan
2397
khusus pada efeknya yang bisa saja berbeda. Apakah akan
mematikan ataukah akan dapat justru menyembuhkan. Apakah
akan menghanguskan ataukah justru membebaskan dan
mendatangkan efek menyenangkan atau efek yang positif dan
menghidupkan. Luar biasa, Koay Ji bisa datang pada
kesimpulannya sendiri tanpa dia tahu, bahwa kesimpulan dan
temuannya, sudah sekitar 80-85% benar dan tepat sesuai amanat
Suhunya.
Justru iweekang gabungan seperti tidak mampu menampilkan
efek pengobatannya, tetapi menampilkan efek yang jauh lebih
dahsyat pada saat menyerang. Sehingga, tujuannya menentukan
iweekang mana yang sebenarnya tepat digunakan untuk bisa
mendorong ilmu temuannya itu dalam efek yang tepat. Setelah
memahaminya, Koay Ji mencoba memainkannya kembali dan dia
senang karena hasilnya sesuai dengan penemuannya. Selama
beberapa jam, boleh dibilang dia menciptakan atau tepatnya
menemukan apa yang diusulkan Suhunya untuk dia temukan, dan
dia sudah boleh dikatakan berhasil dengan misinya itu.
Tetapi, langkah kedua dan ketiga yang justru menurutnya dan
juga menurut kata-kata Suhunya bakalan jauh lebih sulit dan lebih
rumit. Dia harus mampu meneliti, menganalisa dan kemudian
memunahkan kehebatan jurus tunggal Hud Jiu Can Liong Boh
2398
Ciau. Jurus tunggal tetapi sudah dimasukkannya dalam Ilmu yang
dinamainya sendiri, bersama dengan 4 jurus lainnya. Dan untuk
memunahkannya, maka Koay Ji harus menggunakan cara
ataupun sudut pandang yang berbeda. Satu sudut pandang dari
khasannah Ilmu Pat Bin Lin Long sebagaimana suhu Pek Kut
Lojin yang justru sampai menghilang hanya untuk khusus
menciptakan ilmu antinya itu. Itu berarti, jurus ciptaan suhunya
memang hebat dan amat mujijat.
Hanya saja, persoalannya adalah, jika Suhu Pek Kut Lojin selama
puluhan tahun menciptakannya dan belum berani munculkan diri
karena belum berhasil, maka bagaimana bisa dia mencipta hanya
dalam beberapa hari saja....? Bukankah ini hal yang terlihat rada
mustahil untuk dikerjakan...? pikir Koay Ji dengan masygul.
Tetapi, belum lagi dia beranjak meneliti lebih jauh, terasa ada
sesuatu yang menggelitiknya, dan terdengarlah sebuah suara
yang sudah amat dikenalnya berkata halus namun sangat jelas
sekali di telinganya. Kalimat itu adalah: “sebelum menemukannya,
jangan meninggalkan Thian Cong Pay...”
Suara yang sudah sangat dikenalnya. Atau, terlalu dikenalnya
malahan. Suara Bu In Sinliong Suhunya. Ya, memang itu adalah
suara suhunya, tetapi mana bisa? Bukankah suhunya sudah
berada di Siauw Lim Sie? Tetapi meski berpikir demikian, tetap
2399
saja Koay Ji menengok kekiri dan kekanan untuk mencari, namun
tidak melihat siapapun disekitarnya saat itu. Hanya, suara tadi
sangat jelas dan sangat terang masuk ke telinga batinnya,
bagaikan sang Suhu langsung berada di hadapannya. “Ach,
mungkin aku terlampau tegang atau terlampau masuk amat jauh
memeriksa jurus-jurus itu, sehingga membuka kemungkinan
munculnya sebuah halusinasi, atau bayangan maya” simpul Koay
Ji pada akhirnya karena tidak menemukan adanya satu
bayanganpun dalam Barisan itu. Begitupun, Koay Ji percaya dan
yakin, bahwa apa yang dia dengar harus dia pastikan dicapai.
Atau dengan lain perkataan, Koay Ji tetap menetapkan bahwa
seperti juga yang disampaikan suara Suhunya tadi, terlepas dari
benar ataupun tidak bahwa suara itu berasal dari Suhunya, tetapi
dia akan berusaha. Dia akan berusaha sekerasnya guna bisa
menciptakan sebuah jurus anti atau peredam atas jurus ciptaan
suhunya yang sudah dapat dia selami rahasianya itu. Dan dia
harus mampu menciptakan terlebih dahulu ilmu itu, baru akan
beranjak pergi dari Thian Cong Pay. Hanya saja repotnya, waktu
yang tersedia tinggal 15 hari saja, dan diapun harus bergerak ke
Pek In San menemukan Sie Lan In.......
Koay Ji adalah Koay Ji..... seorang yang amat cerdas dan jika
ditantang persoalan yang sulit dalam ilmu silat, justru akan
2400
membuatnya semakin tertantang. Setelah memperoleh “perintah
aneh” dari Suhunya untuk tidak meninggalkan Thian Cong Pay
sebelum menciptakan jurus anti jurus ciptaannya barusan, maka
diapun sudah menetapkan akan menemukannya dalam beberapa
hari. Dan dia harus berpacu dengan waktu karena ada urusan lain
yang cukup penting untuk dia tangani dan dia kerjakan. Keuletan
dan kecerdasannya memang istimewa, dia tahu dan paham,
bahwa untuk bertemu Sie Lan In hanya dapat setelah
menciptakan ilmu yang diminta Suhunya. Jika mau mencipta,
maka dia harus penuh konsentrasi. Maka, diapun mencoba
melupakan hal-hal lain, meski, tetap saja ada gangguan. Seperti
malam ini, dua kali dia mendapatkan gangguan;
Yang pertama adalah sesaat setelah dia menemukan jurus yang
diamaksud, tiba- tiba Barisan itu bergerak hebat. Awalnya dia
menduga Siauw Hong, tetapi setelah sekian lama gerakan
Barisan itu malah menghebat, maka dia sadar ada orang lain yang
masuk. Dan benar begitu adanya. Dia melihat Tio Lian Cu dan
Khong Yan yang memasuki Barisan tersebut dan keduanya dalam
keadaan berbahaya karena memang sangat tidak siap ketika
memasuki Barisan. Tentu Koay Ji harus bergerak membantu.
Dalam waktu beberapa kejap, Koay Ji bergerak dengan tenang,
pertama dia memegang lengan Tio Lian Cu dan berbisik,
2401
tenangkan dan pusatkan perhatian dan konsentrasimu, jangan
melawan. Dan kemudian, dengan cara yang sama dia mengambil
Khong Yan dan membawa keduanya memasuki Ruang Rahasia
Kedua yang jarang orang tahu. Atau untuk saat itu, hanya dia
diantara semua yang berada di Thian Cong Pay, yang tahu.
“Mengapa kalian berdua memutuskan memasuki Barisan ini....”?
bertanya Koay Ji dalam nada serius setelah Tio Lian Cu dan
Khong Yan berua pulih kembali seperti sediakala. Dan keduanya
terlihat maklum manakala menemukan Koay Ji berada di hadapan
mereka berdua, dan kini menanyakan apa maksud mereka
memasuki hutan atau memasuki Barisan yang juga berguna atau
berfungsi sebagai “penjaga” atau penyaring bagi siapa yang mau
ke gua pertapaan Bu In Sinliong.
“Luar biasa, tidak kusangka Thian Cong Pay kini penuh dengan
Barisan yang amat hebat dan misterius. Tetapi, untuk apa engkau
membangun Barisan seperti ini di Thian Cong Pay suheng.....”?
bertanya Khong Yan yang masih kaget dan takjub dengan apa
yang baru dia alami memasuki Barisan itu. Dia masih belum sadar
bahwa Barisan itu memang sangat hebat dan mujijat.
“Bukan aku yang membangun Barisan ini, tetapi Kakek Gurumu
yang membentuk dan membangunnya untuk melindungi Thian
2402
Cong Pay dan juga gua pertapaannya. Gunanya..? entahlah,
akupun masih belum tahu sute, mungkin juga untuk dapat
melindungi kakekmu, atau kita semua seperti saat ini ....”
“Ach, benar-benarkah Bu In Sing Liong sucouw sendiri yang
membangun Barisan ini?, sungguh hebat jika memang begitu....”
desis Khong Yan terkenang akan Suhu dari kakeknya yang belum
pernah dilihatnya itu. Padahal, masa kecilnya justru habis di dekat
dengan gua pertapaan tokoh yang amat hebat itu. Tokoh yang
bahkan Suhu nya sendiri juga sangat menghormati dan
mengindahkannya, dan malah sempat menyebutnya sebagai
tokoh nomor satu yang sesungguyhnya.
“Benar Sute, memang Suhu yang membangunnya, aku sendiri
kurang begitu paham dengan semua jenis Barisan, kecuali yang
satu ini...... nach, mengapa memasuki Barisan ini....”? tanya Koay
Ji sekali lagi kepada Tio Lian Cu dan Khong Yan berdua. Kedua
anak muda itu jadi saling pandang ketika Koay Ji bertanya
maksud mereka guna memasuki barisan itu.
“Tek Ui Pangcu dan Nona Siauw Hong menunjukkan Barisan ini
jika ingin bertemu dengan engkau Suheng, keduanya berkata jika
memang amat ingin menemukanmu, maka kami haruslah masuk
kedalam hutan ini,,,,, dan kami memutuskan memasuki hutan
2403
yang ternyata terdapat barisan yang amat mujijat ini.....” jawab
Khong Yan dan yang dapat membuat Koay J segera maklum,
belum lagi dia memberi komentar, Tio Lian Cu sudah
menambahkan,
“Kami ingin mengetahui apa rencana kita untuk selanjutnya Koay
Ji, berhubung waktu yang semakin dekat dan para pendekar
sudah mulai berdatangan ke dekat gunung Pek In San sana...”
tambah Tio Lian Cu mendukung apa yang dikatakan Khong Yan
sebelumnya
“Hmmmm, sesungguhnya yang kita butuhkan adalah berlatih dan
berlatih, biarkan Sam Suheng dan Chit Suheng yang mengurusi
urusan melawan Pek In San dan Bu Tek Seng Pay. Tokoh-tokoh
lihay mereka sungguh banyak, yang kita temui semalam hanya 3
diantaranya, dan masih belum munculkan diri Toa Suheng dari
kedua kakek hebat semalam. Menurut Suhu, bahkan tokoh ini
masih lebih misterius dan lebih hebat lagi ketimbang dua yang
muncul semalam...... karena itu, kalian berdua juga tetap harus
berlatih dan meningkatkan kemampuan..” berkata Koay Ji dengan
wajah berkerut, memang dia prihatin dan merasa gelisah dengan
banyaknya tokoh di pihak lawan yang kemampuan mereka amat
hebat.
2404
“Accchh, ternyata engkau mengetahui urusan ini juga Koay Ji?
jadi, menurutmu apa dan bagaimana kami harus berlatih?
Sebulan terakhir kami diperam habis-habisan oleh Suhu masingmasing
di benteng keluarga Hu, begitu keluar, ternyata tetap saja
masih terdapat banyak tokoh hebat yang tak terlawan oleh kami
berdua......” berkata Tio Lian Cu sambil menarik nafas panjang,
bukannya kecewa, hanya penasaran. Pertama, dia penasaran
karena ternyata, untuk dapat melawan seorang Koay Ji saja dia
masih belum lagi sanggup, bahkan ada tokoh lain yang belum
sehebat Koay Ji, juga masih tetap sulit untuk dilawannya saat ini.
Memang, belum juga tentu dia akan kalah, tetapi amat jelas
mengalahkan musuh semalam, dia merasa masih belum cukup
mampu, membutuhkan latihan lagi.
“Tio kouwnio, ilmu silat itu tidak ada batasnya, berlatih dan berlatih
bukanlah untuk mencapai tingkat tidak ada lawan lagi, tetapi untuk
mengetahui perspektif yang baru. Menemukan perspektif baru
dan kemudian melatih lagi guna menemukan sesuatu yang baru
dan lebih hebat. Jangan dibalik, karena kalau dibalik, maka kita
akan menjadi budak ilmu silat dan akan berlatih untuk pamrih
yang tidak jelas dan tidak baik. Jika ada dalam perspektif yang
jelas, maka kemajuanmu adalah sebuah kepuasan, penemuanmu
adalah sebuah anugerah dan akan seperti itu selalu dan terus.
2405
Tidak ada batas yang tetap atas kemajuan dan tingkat ilmu
silatmu, karena dia akan terus berkembang sebagaimana kata
pepatah, ombak di belakang akan mendorong ombak di depan.
Maka, berusahalah untuk tetap terus dan terus bergerak dan
bergerak maju, teruslah berusaha, dan jangan pernah berpikir
untuk berhenti. Jangan pernah berpikir bahwa suatu saat engkau
akan mencapai tahapan sudah tidak ada lawannya lagi, tidak ada
tandingan lagi. Karena pemikiran seperti itu akan membuatmu
berhenti bergerak suatu saat....” terang Koay Ji seperti seorang
Suhu yang sedang mengajar murid-muridnya. Tetapi begitupun,
kata-kata dan juga semua kalimatnya sebagai wejangan memang
benar, dan ditangkap secara positif oleh Tio Lian Cu dan Khong
Yan. Kedua orang muda itu mengangguk-angguk tanda setuju
dengan kalimat-kalimat Koay Ji tadi, dan karena melihat respons
mereka itu, kembali Koay Ji berkata, tepatnya bertanya:
“Maukah kalian berdua kutunjukkan perspektif baru dari ilmu yang
kalian mainkan ketika bertarung semalam.....? sebuah contoh
nyata agar kalian tidak berhenti untuk mencari dan bergerak maju
lebih jauh....” tanya Koay Ji kepada Khong Yan dan Tio Lian Cu
berdua yang langsung terhenyak sambil mengangguk.
“Tio Kouwnio, engkau memiliki sebuah ilmu yang mirip dengan
Ilmu Khong Yan Sute tetapi sangat berbeda dalam banyak hal.
2406
Engkau memiliki Ilmu yang membuatmu dapat menyesuaikan
daya tarungmu dengan karakter ilmu lawan. Sementara Khong
Sute memiliki Ilmu Langkah yang membuatnya mampu
menghindar dengan tepat dan menyerang dengan telak.
Masalahnya, kedua lawan kalian semalam, memiliki Ilmu yang
sama dengan Khong Sute, karena itu, maka pertarungan kalian
semalam kurang effektif karena sama-sama memainkan jenis
ilmu yang sama, tetapi sayang mereka sudah melatih ilmu itu
sejak puluhan tahun silam. Itu artinya, kalian berdua masih kalah
matang dan juga kalah sempurna dalam penguasaannya. Nach,
jika Tio Kouwnio setuju, maka cobalah untuk menyelipkan 2
langkah bertahan dan juga 2 langkah menyerang yang akan
membuatmu menjadi lebih alot dalam bertahan dan lebih tajam
dalam menyerang. Dua langkah bertahan dan 2 langkah
menyerang itu, akan berguna untuk membuat tempo dan waktu
guna mengacaukan konsentrasi lawan, apakah menyerang atau
bertahan. Nach, coba perhatikan pada titik bertahan ini, gerakangerakan
yang tidak terduga namun bisa engkau lakukan dengan
Liap In Sut, bisa dilakukan seperti ini......”
Koay Ji kemudian menurunkan empat jenis langkah mujijat
ciptaan Koay Ji sendiri, masing-masing 2 dalam bertahan dan 2
dalam menyerang. Tetapi, selipannya justru berfungsi seperti
2407
katalisator, membuat pertahanan menjadi cepat dan gesit, dan
juga serangan menjadi lebih tajam. Selama beberapa menit dia
memberikan petunjuk dan memainkannya bersama dengan Tio
Lian Cu yang terlihat sangat bersemangat berlatih. Sampai pada
akhirnya Tio Lian Cu menjadi lebih paham, dan bahkan ketika
berlatih, Koay Ji menyisipkan satu lagi langkah tambahan.
Beberapa saat kemudian Tio Lian Cu sudah dapat menangkap inti
sarinya, dan dia selanjutnya dapat berlatih sendiri. Selanjutnya
Koay Ji juga ikut melatih Khong Yan dalam melengkapi Ilmu
Langkah Ajaibnya yang dia turunkan sebelumnya.
“Khong sute ada tambahan ciptaanku yang baru untuk langkah
ajaib itu, kutanggung lawan-lawanmu semalam belum
mengenalnya karena kuciptakan selama beberapa bulan terakhir,
beda dengan milik mereka. Nach, engkau dengarkan teori dan
juga rahasianya dan boleh langsung berlatih, kuharap engkau
dapat meleburkannya dan malam ini dapat melatihnya hingga
sempurna. Kedepan, kujamin engkau tidak perlu keteteran jika
sampai menghadapi mereka lagi.....”
Tidak berapa lama kemudian, Tio Lian Cu dan Khong Yan sudah
tenggelam dalam berlatih, tetapi hanya sekitar sepuluh menit
kemudian mereka berdua sudah paham. Bahkan karena sudah
sangat paham dan sudah dapat melatihnya dengan baik serta
2408
tinggal menyempurnakannya, Tio Lian Cu memandang Koay Ji
dan bertanya:
“Meski amat sederhana, tetapi setiap peralihan langkah bertahan
dan menyerangku seperti menjadi berlipat kali lebih hebat.....
engkau hebat Koay Ji......” pujinya secara tulus dan tidak
menyembunyikan kekagumannya.
“Dan sebagai bahan latihan kalian malam ini, ingin kuhadiahkan
sebuah Ilmu yang semalam kugunakan dalam pertarungan
melawan Phoa Tay teng. Tingkat iweekang kalian sudah
memadai untuk menggunakan dalam puncak kehebatannya.
Tetapi sejujurnya, ilmu tersebut kuciptakan berdasar kehebatan
tiga perguruan kalian. Masing-masing dari Suhu Bu Tee Hwesio,
Thian Hoat Tosu dan Lam Hay Sinni. Ilmu tersebut kunamakan
Ilmu Hian Bun Sam Ciang (Tiga Jurus Pukulan Maha sakti), terdiri
dari 3 jurus belaka, yakni masing-masing jurus Hu Houw Tio Jang
(Harimau Mendekam Menghadap Matahari), jurus Lok Yap Kui
Ken (Daun jatuh kembali keakar) jurus Boan Thian Kai Te (Langit
penuh tertutup tanah). Kalian masing-masing akan menemukan
unsur perguruan sendiri dan bisa mengembangkan sisi itu untuk
memperkuat daya serangnya kelak. Tetapi untuk malam ini,
berusahalah melatihnya hingga benar kalian pahamkan sebaikbaiknya,
karena setelah kalian berdua memahami teorinya
2409
akupun harus melakukan sebuah pekerjaan yang lain, nach kita
mulai...” Koay Ji mengajak mereka berdua berlatih dan
memulainya dengan hadiah sebuah ilmu dahsyat.
Selama beberapa menit atau bahkan nyaris setengah jam Koay Ji
kemudian mulai menurunkan teorinya dan selanjutnya juga
penjelasan-penjelasan lebih detail lagi tentang bagaimana
kehebatan ilmu tersebut. Lebih lanjut beberapa menit kemudian,
juga menurunkan petunjuk untuk dapat melatihnya secara lebih
sempurna. Setelah selesai, dia kemudian meminta mereka untuk
dapat melatihnya secara langsung dan melihat bagaimana
kemajuan mereka dalam berlatih menggunakan ilmu tersebut.
Ada beberapa menit dia mengikuti mereka berdua berlatih secara
serius, dan memang dia cukup puas dengan praktek latihan
mereka. Bisa dimaklumi, tingkat mereka dalam ilmu silat memang
sudah amat tinggi. Beberapa saat kemudian, diapun berkata
selagi Tio Lian Cu dan Khong Yan berlatih:
“Kalian berdua berlatih disini sampai subuh, jangan berpikir
meninggalkan dan juga melepas patok-patok di delapan sisi itu,
karena jika tidak, kalian akan tersesat di dalam Barisan ini dan
konsentrasi kalian bisa pecah dan buyar..... biarlah menjelang
pagi nanti akan kujemput kalian berdua disini. Tetapi, usahakan
agar kalian sudah mampu menguasai ilmu itu dengan amat baik.
2410
Karena itu menjadi salah satu modal kita melawan Pek In San dan
Bu tek Seng Pay dengan tokoh-tokoh mereka yang hebat-hebat,
nachh, aku pergi dulu.....”
Sesampainya di Ruang Rahasia ketiga, sebagaimana yang sudah
diduga disana dia bertemu Siauw Hong dengan wajah yang masih
kelam dan penuh duka. Tetapi Koay Ji bersyukur karena tidak
terlihat tanda-tanda bahwa Siauw Hong murka dengan apa yang
terjadi. Kejadian menyedihkan yang sampai menyebabkan
kematian dari bibi neneknya yang selama ini terus bersama
dengannya di Lembah Cemara. Bahkan, Nenek yang juga
mengasuhnya dengan penuh kasih selama ini, dan yang penting
juga memberitahu siapa dia yang sebenarnya pada saat-saat
terakhir kehidupan Nenek yang dicintanya itu.
“Toako, setelah kejadian hari ini, aku tidak akan mungkin lagi terus
berjalan bersama dengan keluarga besar Lembah Cemara itu.
Aku akan berkelana mencari kedua orang tuaku ke daerah
provinsi In Lam di daerah Selatan sana, tetapi sebelumnya aku
ingin mendengarkan pendapat toako. Karena satu-satunya yang
kuanggap keluarga saat ini hanyalah toako seorang......” berkata
Siauw Hong dengan wajah tertunduk, masih berduka dan jelas
sangat terguncang dengan semua apa yang terjadi beberapa hari
terakhir ini. Dalam waktu singkat dia menjadi agak asing dengan
2411
keadaannya, dengan keluarga besarnya dan dengan posisinya di
Lembah Cemara. Jelas dia bingung dan kalut.
“Kang Siauw Hong adikku, menerima kenyataan tidak memiliki
keluarga seorangpun memang mendukakan. Hal yang sudah
lama kulalui, yakni selama 15 tahun terakhir. Sulit untuk
menerimanya memang. Masih lebih beruntung engkau memiliki
seorang Nenek dan juga ayah dan ibu angkat serta malah
seorang adik angkat, bahkan juga masih memiliki kedua orang tua
meski masih harus mencarinya. Setidaknya engkau tahu bahwa
engkau masih memiliki mereka, berbeda denganku yang tahu
bahwa aku tidak memiliki siapapun sampai aku memilikimu
sebagai adikku. Di saat-saat seperti ini, selain berusaha
menerima semua apa adanya, maka memutuskan hal yang lain
adalah lebih baik menunggu suasana hatimu lebih tenang. Jika
suatu saat engkau memutuskan akan mencari orang tuamu, maka
toako akan mendukungmu dan mengantarkanmu, jika lain lagi
keputusanmu, maka mesti untuk kebaikan masa depanmu.....”
hibur Koay Ji yang memang rada susah menemukan kata-kata
yang tepat bagi Siauw Hong pada saat seperti itu. Kata-katanya
setidaknya bisa memberi kekuatan bagi Kang Siauw Hong dan
dapat membuatnya berpikir lebih tenang. Dapat sedikit
2412
menenangkan, dan untungnya, Siauw Hong memang semakin
lama makin mendengar dan mengandalkan Koay Ji.
“Biarkan aku menemanimu disini Toako, pergi ke tempat jasad
Nenek membuatku sangat tertekan, dan rasanya, nyaris seisi
Lembah Cemara kini seperti berubah. Mereka semua sekarang
memandangku secara sangat berbeda, jelas terlihat dari semua
tatapan dan cara pandang mereka. Sungguh berbeda dan lain
dengan hari hari biasanya dan juga hari-hari yang telah lewat.
Mungkin benar bahwa ini hanya perasaanku sendiri saja, tetapi
teramat sulit untuk tidak berpikir seperti itu pada saat-saat seperti
sekarang ini, saat-saat mengantarkan nenek dengan kisahnya
yang amat menyedihkan itu...” keluh Kang Siauw Hong
bertambah sedih, karena dia menganggap keluarganya selama
ini sudah berubah, dan dia menjadi merasa asing dengan semua
perubahan itu. Repotnya, dia kesulitan untuk berinteraksi dengan
mereka semua, karena secara emosional semua sedang merasa
sedih.
“Baiklah adikku, engkau boleh berada disini hingga pagi hari
nanti...... toakomu ini mesti melakukan sesuatu, memeriksa
banyak hal dan berlatih. Jika engkau tertarik untuk berlatih
menghilangkan rasa suntukmu itu, juga sangatlah baik.
Setidaknya, engkau dapat melatih 3 Jurus Maha Dahsyat itu untuk
2413
bekalmu kelak di belakang hari, atau melatih iweekangmu.
Pokoknya, jangan membiarkan dirimu hanyut dalam kesedihan
tetapi kalahkan kesedihan itu denga semangatmu.........” bujuk
Koay Ji melihat sinar mata Siauw Hong yang agak pudar.
“Aku lebih ingin bersamadhi toako, sambil melatih iweekangku.....”
desis Siauw Hong yang tidak lama kemudian terlihat mulai berlatih
sendiri. Sementara Koay Ji sendiri memutuskan untuk kembali
melanjutkan latihannya, menemukan jurus penangkal atau jurus
anti atas jurus yang tadi diciptakannya.
Berbeda dengan orang lain, termasuk juga didalamnya Suhu Pek
Kut Lojin yang belum dikenal dan tidak diketahui sedikitpun
tentangnya oleh Koay Ji, maka Koay Ji sendiri memiliki bekal yang
jauh lebih memadai. Bekal tersebut terhitung jauh dari mencukupi
untuk dapat memahami dan menemukan anti atau pemunah ilmu
yang sudah dia kenali dan ketahui dengan baik. Pada dasarnya,
Koay Ji sendiri jelas mengetahui kelebihan dan kekurangan jurus
ciptaannya itu, atau ciptaan suhunya namun dia rangkai sendiri
atas petunjuk suhunya. Kemudian, seperti juga Suhu Pek Kut
Lojin, diapun memiliki pengetahuan khasanah ilmu Pat Bin Ling
Long, malahan ada kelebihannya yang lebih menentukan, yakni
bahwa dia membekal Kitab Mujijat Rahasia Segala Gerakan
manusia.
2414
Maka dengan semua bekal yang lebih dari cukup itu, mestinya
tidak begitu sulit bagi Koay Ji untuk menemukan penawar ataupun
anti dari jurus ciptaannya atas petunjuk lisan suhunya.
Memikirkan semua persoalan itu, membuat semangat seorang
Koay Ji kembali berkobar. Dia kembali merasa seperti ditantang
untuk menemukan serta menciptakan sesuatu yang sudah
tersedia ide di kepalanya, dan bahan mentahnya juga sudah ada
dalam dirinya. Hanya, bagaimana caranya menemukan, sekaligus
juga menciptakan tata gerak yang menjadi anti dari ciptaannya
sebelumnya. Hal yang menjadi bahan konsentrasi Koay Ji
selanjutnya.
Berbeda dengan jurus pertama yang dia ciptakan menurut
petunjuk samar Suhunya yang hanya membutuhkan beberapa
jam, maka untuk jurus kedua, sampai pagipun dia baru
bermampuan sekedar membentangkan kelebihan dan
kekurangan jurus ciptaannya sendiri. Kemudian, menemukan
juga dua kemungkinan yang sangat mungkin dia pilih nanti, yakni
memunahkan dan mendesak jurus ciptaannya pada tingkatan
“kekurangan” dari jurus tersebut, mengeksplorasinya untuk
kemudian bisa mengalahkannya. Atau justru menempurnya
langsung pada titik ataupun kekuatan utama jurus tersebut, satu
ide yang agak liar muncul di kepalanya. Pilihan kedua ini sudah
2415
jelas akan jauh lebih sulit, tetapi seorang Koay Ji selalu berusaha
mencari yang menghadirkan kejutan bagi lawan.
Karena menimbang satu antara dua pilihan tersebut, maka
sampai pagi hari Koay Ji baru menemukan hanya sekedar bahanbahan
gerakan yang mungkin dapat dia gunakan. Sama sekali dia
masih belum mampu merumuskan ilmu atau gerakan apa yang
dapat dia gunakan. Bahan-bahan atau petunjuk bagaimana
memunahkan atau menaklukkan jurus ciptaannya, sudah dapat
dia kumpulkan, dan itu sudah lebih dari cukup baginya. Namun,
dia masih tetap harus menemukan bagaimana gaya dan
dorongan iweekang atas sejumlah formula gerak atau jurus yang
sudah dia temukan itu. Sayang, hari sudah menjelang pagi.
Tetapi, meskipun baru sampai pada tahap itu, Koay Ji sudah
merasa cukup bergembira, karena dia menemukannya dengan
mampu melupakan semua khasanah ilmu Siauw Lim Sie. “Sudah
cukuplah untuk hari ini...” desis Koay Ji menuntaskan latihannya.
Tetapi, ada yang amat mengejutkan Koay Ji, yakni ketika dia
sadar menjelang pagi dan dia menemukan keadaan Kang Siauw
Hong yang jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Dia
menemukan Siauw Hong dalam keadaan lupa diri dan lupa
segala-galanya, dan ketika dia berusaha untuk menyentuhnya,
sungguh luar biasa, tubuh Siauw Hong benar-benar penuh hawa
2416
yang sangat kuat dan sangat mujijat. Dan tangannya sampai
terlontar kesamping tanpa dapat dia cegah, dan tubuh Kang
Siauw Hong sama sekali tidak terganggu, tetap tegak dalam diam.
Memang dia tadi menyentuh dengan tidak siaga dan tidak
mengerahkan tenaga sedikitpun, tapi tetap saja kejadian itu
mengejutkannya. Dan melihat kenyataan itu, terkejutlah Koay Ji,
karena segera sadar bahwa kelihatannya Kang Siauw Hong justru
sudah berhasil menemukan “SESUATU” justru pada puncakpuncak
keputus-asaannya itu. Koay Ji kaget dan berpikir sejenak,
apa gerangan yang terjadi. Setelah berdiam diri sekian lama,
pada akhirnya diapun menganalisa dan menduga,
“Kelihatannya Siauw Hong seperti menemukan energy yang
memadai untuk mampu meleburkan semua kekuatan Pek Kut
Lojin dalam dirinya, apakah dia selalu melatih teori yang
kuajarkan kepadanya berdasarkan catatan Ilmu Pat Bin Lin Long
itu.....? ach jika demikian, adikku ini justru berhasil membentuk
dirinya meskipun berjalan dari titik yang penuh rasa
keputusasaan. Hebat, hebat.....” desis Koay Ji kagum. Dan dia
semakin yakin saat melihat bagaimana alur pernafasan Siauw
Hong yang amat halus dan melihat betapa persoalan Kang Siauw
Hong sebelumnya yang bermasalah dengan tenaga dalam yang
amat berlimpah dan berlebihan, justru saat itu, sepertinya sudah
2417
dapat diatasinya.
Dan memang, seperti itulah tepatnya yang terjadi. Di puncak
keputusasaannya, tak direncanakan dan tidak disengaja oleh
Siauw Hong, dia justru menjadi pasrah dalam diam. Dan dengan
sikapnya itu, tidak diduganya dia menemukan keberserah-dirian
yang total sebagaimana yang dituntut oleh teori Ilmu sakti Cap
Sah Sik Heng Kang Sim Coat ciptaan Pat Bin Lin Long. Dengan
penyerahdirian secara total, maka dia mencapai tahapan yang
disyaratkan Pat Bin Lin Long melalui teori yang diketahui tapi tak
dapat dijalankan oleh Koay Ji yang sudah kadung melatih Ilmu
Iweekang lainnya. Itulah sebabnya Siauw Hong mampu mencapai
tahapan yang disebut Ilmu Hian Bun Kui Goan Kang Khi (Ilmu
Menghimpun Dan Menyatukan Hawa Murni) dimana dia mampu
menyerap dan menjadikan titipan iweekang Pek Kut Lojin menjadi
iweekangnya sendiri pada saat itu. Dalam semalam, Kang Siauw
Hong berhasil mencapai apa yang sudah dilakukan baik oleh
Khong Yan maupun oleh Tio Lian Cu selama sebulan di Benteng
Keluarga Hu.
Sebetulnya, proses Siauw Hong, nyaris sama dengan resep rumit
dan berliku yang secara ajaib dialami oleh Koay Ji. Meski kasus
mereka tentu saja jauh berbeda dan jauh perbedaan
mengelolahnya, karena Koay Ji melalui latihan dua iweekang
2418
mujijat kaum Budha melalui dua orang Gurunya. Sementara
Siauw Hong, secara aneh dan mujijat, justru memelihara dan
menjadi “pembawa” kekuatan iweekang Pek Kut Lodjin yang
selama beberapa tahun mengendap dan bertumbuh dalam dirinya
itu. Kekuatan yang juga sudah berkembang dan bertambah lebih
kuat dibandingkan saat diberikan dan juga diserahkan kepadanya
oleh gwakongnya.
Padahal, mencapai tingkatan Siauw Hong saat ini, membutuhkan
waktu puluhan tahun bagi ketiga cucu murid Pat Bin Ling Long,
kecuali Pek Kut Lojin yag memang memiliki bakat yangt amat
istimewa. Selain juga, Pek Kut Lojin sendiri sangat cerdas dan
mengerti ilmu pertabiban, sehingga tahu bagaimana
meningkatkan kemampuan dan juga tenaga iweekangnya.
Sayangnya, murid yang istimewa ini menjadi boneka kejahatan
suhunya yang juga berbakat aneh dan sangatlah misterius.
Adalah berkah bagi Siauw Hong menerima titipan iweekang
kakeknya yang sepertinya menyadari bahwa cucu perempuannya
ini memiliki bakat aneh yang turun darinya. Dan setelah sekian
lama, akhirnya titipannya berhasil dioptimalkan meskipun
memang secara tidak di sengaja oleh Kang Siauw Hong Sendiri.
Diawali dengan tuntunan nan teliti oleh Koay Ji melalui bacaan
sobekan Kitab Pusaka peninggalan Pat Bin Lin Long, dan
2419
mengajarinya jalan menuntun iweekang titipan untuk menjadi
miliknya. Hanya, karena pengetahuan Koay Ji berdasarkan Ilmu
Budha, maka dia keliru menebak kehebatan iweekang Pat Bin Lin
Long yang beda aliran dengannya itu. Adalah sebuah kebetulan,
kematian Nenek Hua Hun justru mendatangkan rasa nestapa dan
penyerahdirian yang utuh Siauw Hong atas apa yang sedang dan
akan terjadi dalam hidupnya. Menyadari bahwa Neneknya
meninggal dan tempatnya di Lembah Cemara susah
dipertahankan, dengan hanya memiliki seorang Koay Ji saja, dia
akhirnya menjadi pasrah. Perasaan pasrahnya ini berbeda
dengan putus asa.
Rasa putus asa akan membawanya pada sikap “masa bodoh” dan
membiarkan apa yang terjadi terjadilah. Sikap pasrah seorang
Siauw Hong, adalah sikap menerima apa yang memang sudah
dan sedang terjadi. Menyadari dia sendirian, dia merasa yakin
bahwa hidupnya kedepan akan ditentukan oleh dirinya sendiri,
dan hanya ada seorang Koay Ji sandarannya. Ketimbang
bersandar kepada orang lain, diapun lebih memilih untuk pasrah,
menyatu dengan keheningan, membiarkan semangatnya jadi
penuntun kepasrahan itu. Ketika melatih iweekang, dia malah
membiarkan iweekang dalam tubuhnya merembes, bergerak,
bertumbuh tapi lalu merembes dan masuk ke tan-tian. Tubuh
2420
Siauw Hong yang pasrah membuat efek dan kekuatan iweekang
itu meresap dengan sempurna dan bahkan berlangsung secara
snagat cepat dan tanpa sedikitpun diduga oleh Siauw Hong.
Jika alam berkehendak, maka tak ada yang mampu
menghalanginya, seperti juga keadaan Siauw Hong. Jika garis
takdirnya seperti itu, maka dengan jalan apapun dan
bagaimanapun tetap saja akan menjadi miliknya. Dan juga, jika
Koay Ji tidak menemukannya dalam keadaan seperti itu dan
membangunkannya, maka tetap akan sia-sia capaiannya.
Manakala Koay Ji memandangi Siauw Hong dengan mata tak
berkedip, dia semakin yakin bahwa kekuatan iweekang Pek Kut
Lojin Hua Bong sudah meresak dan terserab kedalam tubuh
Siauw Hong. Itulah sebabnya keadaan Siauw Hong amat tenang,
terlihat teduh, tetapi tubuhnya menggeletar dengan satu kekuatan
yang maha hebat melindungnya dari apapun.
“Thian memang maha pemurah... selamat adikku” desis Koay Ji
takjub memandangi keadaan Siauw Hong yang memang sangat
menakjubkan. Dari tubuhnya bahkan kini mulai memancarkan
samar-samar sinar keputihan yang sesekali berpijar, tanda betapa
kuatnya tenaga yang berada dalam tubuh mungil gadis cantik itu.
Hanya tubuh yang dipenuhi hawa murni yang maha kuat dan
maha hebat yang bakalan mampu mengeluarkan pijaran
2421
semacam itu. Dan jika pijaran itu disentuh, maka akan langsung
melindungi tubuh dimana dalamnya energi atau iweekang itu
berada. Malah bisa-bisa, kekuatan luar biasa dalam diri Kang
Siauw Hong akan bereaksi untuk bisa melakukan serangan balik.
“Selamat Hong moi, banyak selamat untukmu karena pada
akhirnya toch engkaupun berhasil menguasai ilmu peninggalan
kakekmu Pek Kut Lojin Hua Bong” bergumam Koay Ji pada
akhirnya setelah paham dengan apa yang terjadi pada diri Kang
Siauw Hong. Tidak salah lagi, Kang Siauw Hong kelihatannya
memang sudah berhasil menyerab dan bahkan masih sedang
terus-menerus berusaha menyerab kekuatan iweekang Pek Kut
Lojin kakeknya yang sengaja diwariskan kepadanya. Setelah
melihat bahwa proses Kang Siauw Hong masih akan terus
berlangsung sampai beberapa saat lamanya, Koay Ji teringat
kepada Tio Lian Cu dan Khong Yan yang berlatih di tempat
terpisah. Maka diapun bersiap untuk berpindah tempat kembali
guna menengok kedua kawannya yang lain.
Sesuai dengan yang dia janjikan, maka Koay Ji kemudian
berpindah ke ruang yang kedua, dan disana Tio Lian Cu dan
Khong Yan juga sudah dalam keadaan samadhi. Kelihatannya
mereka sedang mengembalikan kebugaran setelah berlatih amat
keras sepanjang malam bahkan hingga jelang pagi hari. Dan
2422
untungnya, dia tidak harus menunggu sangat lama saat keduanya
mulai siuman, karena tidak lama kemudian keduanya, didahului
oleh Khong Yan mulai sadarkan diri dan kembali menemukan
kebugaran fisik mereka masing-masing. Kepada Khong Yan,
Koay Ji bertanya dalam nada suara yang tenang dan juga
gembira, ya, suasana hatinya sedang senang dan gembira
mendapati kemajuan Kang Siauw Hong dan juga Khong Yan serta
tentu saja Tio Lian Cu;
“Bagaimana dengan latihanmu Khong sute....”? tanya Koay Ji
berhati-hati sambil memandang Khong Yan yang baru selesai
samadhi dan terlihat penuh semangat dan penuh gairah itu.
“Latihan Ilmu Langkah Mujijatku sudah jauh lebih baik, rasanya
juga Ilmu Hian Bun Sam Ciang sudah dapat kukuasai, hanya
tingga melatih guna menyempurnakannya lebih jauh lagi
Suheng.....” jawab Khong Yan yang tambah menggembirakan
Koay Ji, dan pada saat itu, Tio Lian Cu juga sudah selesai dengan
samadhinya. Tergugah dan kaget melihat Koay Ji ternyata sudah
berada disitu. Dia memandang Khong Yan dan Koay Ji yang
sama-sama tersenyum memandangnya.
“Baiklah, cobalah kalian memainkannya sekali lagi....... ingin
kulihat sampai dimana kemajuan kalian berdua, dan ingat, ini
2423
adalah jurus serangan dan bukanlah jurus bertahan,,,,” tegas
Koay Ji yang langsung diiyakan oleh Tio Lian Cu dan Khong Yan
bahkan selanjutnya bergantian, didahului oleh Khong Yan mereka
memainkan Ilmu Hian Bun Sam Ciang itu. “Usahakan jurus
terakhir menjadi akumulasi kekuatan dan gerakan yang
melontarkan kekuatan iweekang.....” saran Koay Ji sebelum
Khong Yan tampil menunjukkan hasil latihannya
Dan setelah keduanya memainkan ilmu tersebut dengan nyaris
tanpa cela, Koay Ji nampak semakin senang. Dia memang yakin,
dengan kemampuan Tio Lian Cu dan Khong Yan, dipastikan
mereka akan mampu menyerab lmu tersebut dalam waktu yang
tidak akan lama. Dan memang begitulah yang terjadi. Tio Lian Cu
dan Khong Yan mempelajarinya dan menemukan kehebatan ilmu
tersebut sehingga melatih dengan cermat dan bahkan sepenuh
hati. Karena berlatih secara serius dan tanpa ada gangguan,
maka mereka berhasil melatihnya dengan baik. Hasilnya, pada
pagi harinya mereka sudah mampu dan berhasil mempelajarinya.
Dan Koay Ji terlihat mengangguk-angguk senang melihat
kemajuan Khong Yan dan Tio Lian Cu.
“Hmmm, tidak ada lagi yang dapat kukatakan, tingal kalian
mematangkannya kelak. Dan rangkaiannya, jika tidak terputusputus
dimainkan, bahkan Kakek Sakti Phoa Tay Teng semalam,
2424
juga rada-rada mengalami kesulitan untuk menahannya. Tetapi,
menggunakannya menghadapi lawan tanggung harap kalian
mempertimbangkannya kembali, karena jika tidak, kalian bakalan
membuat lawan tersebut berubah bagai perkedel.....” pesan Koay
Ji setelah puas menyaksikan ilmu yang diajarkannya, sudah dapat
dikuasai secara baik oleh kedua kawannya itu. Bahkan, karena
ilmu itu memang memiliki unsur-unsur ilmu perguruan mereka
masing-masing, maka baik Khong Yan maupun juga Tio Lian Cu
menyisipkan beberapa gerakan sendiri yang membuat Ilmu
tersebut menjadi memiliki ketajaman yang lebih pada saat
menyerang lawan. Koay Ji menyadarinya, tetapi membiarkannya
saja.
“Terima kasih Koay Ji suheng..” terdengar Khong Yan berkata
dengan suara senang karena dianggap berhasil melatihnya.
“Tapi, darimana engkau mempelajari keunggulan kami masingmasing
dan dapat menuangkannya dalam sebuah ilmu sehebat
ini....”? tanya Tio Lian Cu yang entah mengapa mencurigai Koay
Ji, bukan curiga yang buruk, tetapi dia seperti punya bayangan
tokoh sehebat Koay Ji ini tetapi dalam wujud yang berbeda.
Hanya saja, dia tidak merasa yakin, dan karena itu dia bertanya.
Pertanyaannya sederhana, tetapi Koay Ji paham bahwa dia harus
2425
menjawab secara hati-hati, sebab jika tidak, banyak yang bakal
repot kedepan.
“Khong Yan, adalah suteku dari Suhu Bu Tee Hwesio, Nona Tio
adalah murid Thian Hoat Tosu yang alim dan baik budi yang
bahkan ikut menitipkan beberapa ilmu andalannya kepadaku,
juga kukenal dan pernah bertemu berapa tahun silam. Lam Hay
Sinni, juga pernah mengunjungi suhuku selain karena memang,
mereka berdua sesungguhnya adalah saudara seperguruan.
Maka dari itu, sesungguhnya ilmu tiga perguruan itu, Ilmu Tiga
Dewa Tionggoan, dapat kukenali dengan sangat baik. Suhu
membimbingku untuk memadukannya dan pada akhirnya
melahirkan Ilmu tersebut” jawab Koay Ji. Dan, memang banyak
benarnya namun juga ada yang sedikit keliru alias ciptaannya
sendiri. Tetapi, untuk meyakinkan ataupun membuat seorang Tio
Lian Cu menjadi bingung dan akhirnya percaya saja, sudah tentu
lebih dari cukup, dan memang begitu adanya.
Mendengar penjelasan Koay Ji, Tio Lian Cu tidak dapat
membantahnya. Meskipun memang benar bahwa Koay Ji
mengajukan alasan yang sangat masuk akal, tetapi Tio Lian Cu
dapat mengetahui adanya bagian-bagian yang tidak sesuai
dengan fakta dan kenyataannya. Memang Suhunya pernah
menurunkan beberapa ilmu yang hebat kepada Koay Ji, seperti
2426
juga Suhu Koay Ji menurunkan beberapa ilmu hebat kepadanya.
Tetapi, fakta bahwa unsur-unsur jurus perguruannya yang
dimunculkan dalam Ilmu yang dipelajarinya, jelas bukan dari yang
diajarkan Suhunya kepada Koay Ji. Justru adalah jurus-jurus dan
keunggulan yang sifatnya agak rahasia dan juga agak
disembunyikan. “Tetapi, mengapa Koay Ji mengetahuinya juga”?,
itu yang berada di dalam benak Tio Lian Cu. Sementara Khong
Yan, berbeda dengannya, jelas bersikap biasa dan senang. Jelas
saja, karena Koay Ji memang suhengnya, dan pantas jika
mengetahui dan mengenali semua jurus-jurus aneh dan hebah
dari khasanah ilmu perguruannya.
“Baiklah, kalian boleh berlatih lagi atau sarapan, masih ada yang
mesti kulakukan di tempat yang lain. Oh ya, melalui Barisan ini
kalian butuh konsentrasi dan temukan jalanannya lewat bagian
timur, teruslah melangkah menyusuri patok yang kutanam, tetapi
janganlah melepas dan mencabutnya. Setelahnya melalui patokpatok
itu, maka kalian akan menemukan pintu keluar utamanya”,
jelas Koay Ji memberi kedua sahabat itu petunjuk untuk keluar,
Setelah berkata demikian, Koay Ji kemudian kembali menghilang
kedalam Barisan dan muncul kembali di tempat Siauw Hong.
Entah mengapa keberhasilan Siauw Hong membuatnya menjadi
tertantang. Geletar keinginan untuk mencapai “hasil” atas
2427
upayanya benar-benar memicu semangat berlebihnya, sehingga
ingin rasanya saat itu juga berusaha untuk juga berhasil dengan
missinya. Tetapi, pada saat itu dia melihat Siauw Hong yang
wajahnya seperti merengit, pijar-pijar cahaya yang tadi muncul
dari kulitnya tidak ada lagi. Yang ada hanyalah wajah merengut
seperti menahan rasa sakit, dan itu membuatnya sadar. Siauw
Hong terkurung dan belum tahu cara keluar dari keadaannya saat
itu...... apa boleh buat.
Diapun mengerahkan kekuatan iweekangnya dan sadar bahwa
besarnya kekuatan dalam tubuh Siauw Hong membuatnya
mengerahkan tenaga gabungan. Dan diapun kemudian
menempelkan lengannya di belakang tubuh Siauw Hong dan
langsung berbisik-bisik secara perlahan kepada gadis itu: “Kuasai
tenagamu dan alirkan kembali ke tantian, jangan memaksakan
diri, perlahan-lahan saja, nach benar begitu jangan kemaruk dan
menjadi rakus, biarlah tenaga iweekangmu mengalir dan terus
mengalir, karena dengan begitu kekuatan fisikmu juga akan
bertambah kuat. Jika tidak, maka kekuatan tubuhmu justru akan
melemah dan menjadi rusak dengan sendirinya. Perlahan-lahan
biarkan tenaga dalam itu diam dan engkau data nanti
mengendalikannya dengan jauh lebih baik. Karena akan ada
datang kelak saat yang tepat bagaimana engkau belajar untuk
2428
mengendalikan semua tenaga dalam dirimu dengan leluasa dan
sesuka hatimu.....”
Dan setelah beberapa saat, Koay Ji menarik tenaganya dan
Siauw Hong terlihat wajahnya berubah pucat pasi, tetapi tidak lagi
menahan rasa sakit. Iweekang mujijatnya sudah berhasil
dikumpulkannya kembali dan kini sudah berdiam di dalam tan
tiannya. Hanya, sesuai dengan petuah Koay Ji, untuk melatih cara
bagaimana mengendalikannya, masih butuh waktu beberapa saat
bagi gadis itu. Dia butuh ilmu yang mampu mengendalikannya,
dan juga butuh jurus-jurus serangan yang dapat memaksimalkan
tenaga dalam yang dahsyat dalam tubuhnya saat itu. Tetapi saat
ini, gadis ini perlu untuk beristirahat dan mengembalikan
kebugarannya.
“Bagaimana keadaanmu adikku....”? sapa Koay Ji setelah melihat
Kang Siauw Hong sudah sadar kembali meskipun masih nampak
pucat pasi. Wajar, karena memang dia baru melalui episode yang
amat berbahaya. Terlambat beberapa menit lagi Koay Ji datang
dan menemukannya, maka akan sangat sulit untuk
menyelamatkan tenaga dalam yang mulai merusak dan memukul
organ-organ dalam Kang Siauw Hong. Jika itu terjadi, maka
alamat kejadian sebaliknya yang dialami dan dirasakan oleh
Siauw Hong, tersiksa sampai cacad.
2429
“Sudah baikan toako, tetapi beragam macam mimpi hadir
diingatanku setelah saking sedihnya aku kehilangan kontrol atas
kesadaran dan justru selama beberapa jam tubuhku terasa
nyaman, bahkan seperti ingin terbang keangkasa. Tapi, kubiarkan
saja karena entah mengapa terasa begitu nikmat, nyaman dan
menyegarkan. Tapi, beberapa menit terakhir, ketika ingin melepas
semua itu, ech justru tubuhku terasa mulai sakit, semakin lama
semakin menyakitkan. Entah bagaimana keadaan yang tadinya
begitu nyaman dan tentram bisa berubah menjadi sesuatu
keadaan yang justru sangat mengerikan dan menyakitkan......”
“Hmmmm, tanpa engkau sadari, semua iweekang titipan
gwakongmu sudah engkau serap habis dan sudah diam di
tantianmu. Kemampuan iweekangmu saat ini, sudah sehebat atau
malah mungkin lebih hebat dari kakek Geberz yang semalam,
meski mungkin belum sekuat Kakek Phoa Tay Teng, tetapi
entahlah, siapa tahu...... hanya, engkau masih belum mampu
mengendalikannya dan mempergunakannya demi atau untuk
kepentinganmu sendiri. Engkau masih perlu berlatih keras guna
mengolahnya, mengendalikannya, membuatnya bisa berada
dalam genggaman kemauanmu, dan engkau butuh waktu untuk
bisa melakukannya secara lebih baik dan lebih sempurna lagi.
Maka mulai malam ini, engkau khusus berlatih mengontrol dan
2430
memanfaatkan iweekang tersebut, setelah 2,3 hari, gunakan
iweekang itu untuk melandasi semua ilmu yang kau pelajari,
terutama semua 3 ilmu yang sudah kuturunkan kepadamu
sebelumnya. Niscaya, saat itu sudah akan teramat sedikit orang
yang kelak akan bermampuan untuk menandingi tingkat
kemsaktianmu. Terlebih lagi untuk melawan iweekangmu yang
setinggi dan sehebat itu, tambah sulit lagi untuk mencarikan kau
tandingan yang setimpal adikku. Nach sekarang apakah engkau
mengerti semuanya adikku....”? tanya Koay Ji setelah panjang
lebar memberi penjelasan dan petunjuk kepada Siauw Hong apa
sebenarnya yang terjadi dan apa yang dialami gadis itu sejak
malam hingga pagi hari.
“Acccch, aku bakal sesakti Kakek Geberz yang berkelahi
melawan Khong Yan yang hebat itu toako....”? tanya Siauw Hong
antusias teringat tokoh semalam yang dapat bertarung hebat
melawan Khong Yan. Tokoh itu, meski belum sehebat Koay Ji,
tapi dia tahu sudah amat hebat dan jarang tokoh akan dapat atau
mampu untuk menandinginya. Memikirkan hal itu membuat Kang
Siauw Hong menjadi semangat dan angannya melambung tinggi.
“Benar begitu, menurut dugaanku,,,,, tetapi jikapun meleset tidak
akan terlalu jauh jaraknya. Meskipun demikian, untuk benar-benar
dapat menjadi sehebat dia, engkau masih butuh latihan tekun
2431
selama beberapa hari lagi. Dan sesungguhnya masih ada waktu
untuk mencapainya. Karena itu, engkau harus berlatih bersama
toakomu ini setiap ada kesempatan..”
“Accch, jika memang benar-benar begitu menurut
pnegamatanmu, aku akan berlatih lebih serius lagi toako.....”
demikian antusias Siauw Hong mendengar penjelasan Koay Ji,
terutama ketika tahu bahwa kemampuannya ternyata sudah
meningkat sangat hebat. Tidak disangkanya sama sekali jika
kemampuannya dapat melonjak sedemikian tinggi hanya dalam
beberapa hari belaka. Bukankah keadaan ini seperti dalam mimpi
belaka?
“Tidak, sudah cukup untuk hari ini,,,,,, makan pagi terlebih dahulu,
baru kemudian istirahat dan boleh kembali berlatih setelah sore
hari. Sebab jika engkau memaksakan dirimu maka justru bisa
celaka ....”
“Dan toako...”? tanya Siauw Hong
“Juga akan beristirahat, sebentar lagi setelah engkau pergi
adikku”, jawab Koay Ji sedikit berbohong kepada adiknya itu.
Tetapi, kebetulan karena semangatnya saat itu sedang sangat
tinggi-tingginya.
2432
“Baiklah, aku mandi dan makan pagi dulu toako....”
“Silahkan adikku.....”
Sepeninggal Siauw Hong, semangat yang sedang membuncah
membuat Koay Ji melanjutkan penelaahannya. Semua hal dia
lupakan, semua urusan dia tinggalkan dan kembali bertekun
dengan pencahariannya, penyelidikannya. Sekali ini secara
khusus mencoba menemukan dalam khasanah Ilmu Pat Bin Lin
Long, gerak atau jurus ataupun ilmu yang mampu dan dapat
menandingi dan memunahkan jurus yang diciptakannya
sebelumnya. Setengah harian Koay Ji memeriksa seluruh
khasanah pengetahuan tentang Ilmu Pat Bin Lin Long, tetapi
hanya menemukan dua buah cara yang mungkin mampu
mengatasi jurus ciptaannya. Dari Ilmu pengetahuan rahasia
gerakan manusia, dia menemukan satu buah cara lagi, tetapi dia
masih belum yakin benar dengan semua temuannya. Dia masih
harus menyusun semua temuannya dalam sebuah rangkaian
gerak, baru dapat meyakinkan dirinya bahwa dia sudah berhasil.
Tetapi, belum dapat dia merangkainya, gangguan sudah datang,
siapa lagi jika bukan Siauw Hong......”?
Dengan terpaksa Koay Ji melatihnya terlebih dahulu, sesuai
petunjuk kitab pusaka atau sobekan kitab pusaka. Kemudian juga
2433
menurunkan secara lebih lengkap Ilmu Thian Liong Pat Pian dan
Ginkang perguruan Pat Bin Lin Long, baru setelah itu dia bebas.
Tetapi, fisiknya sudah amat lemah, karena itu dia memutuskan
untuk keluar sebentar dari Barisan tempatnya bersembunyi dan
berlatih selama beberapa hari. Mencari makanan di hutan dengan
bantuan monyet-monyet, dan kemudian kembali berlatih sampai
malam harinya. Dia benar-benar berusaha menemukan apa yang
menjadi target dan tujuannya, dengan melupakan hal-hal lain.
Pekerjaannya selama dua hari terakhir hanya berlatih dan
melatih, baik Siauw Hong maupun juga Khong Yan dan Tio Lian
Cu yang jadi rutin berkunjung dan berlatih dalam Barisan itu pada
hari-hari yang selanjutnya.
Tentu tentu saja, kembali dia diganggu dan diselingi dengan
upaya melatih Siauw Hong. Khusus untuk Siauw Hong dia agak
kaget, karena menurutnya, iweekang Pek Kut Lojin, malah masih
sedikit lebih hebat daripada Geberz yang sebenarnya adalah
paman gurunya. “Ach, jangan-jangan seperti iweekang yang
bertumbuh dalam diriku dahulu itu, mungkin begitu juga yang
dialami Siauw Hong ini.....” desis Koay Ji yang tambah gembira
menemukan kenyataan itu. Karena jika memang benar, maka dia
tidak perlu lagi mengkhawatirkan keadaan adik angkatnya ini. Dia
akan bisa untuk menjaga dirinya sendiri kelak.
2434
Tanpa ragu, diapun menurunkan secara lengkap Ginkang Cian
Liong Seng Thian (Naga naik kelangit) dan juga Ilmu Ci Liong Ciu
Hoat (Ilmu Mengekang Naga). Dengan kata lain, semua ilmu
mujijat yang berasal dari Kitab mujijat Pat Bin Lin Long
diturunkannya kepada Kang Siauw Hong. Bahkan dalam
beberapa hal, sudah jauh lebih lengkap dan sempurna dibanding
saat ilmu itu diciptakan oleh penciptanya sendiri. Sebenarnya hal
yang bisa dengan muda dipahami. Koay Ji selain memiliki basis
ilmu-ilmu Budha, dia juga menguasai Kitab Rahasia Gerakan
Manusia, terus memiliki juga ilmu-ilmu Pat Bin Lin Long. Dan yang
paling penting, dia memiliki bakat dan juga kecerdasan di atas
rata-rata.
Hal ini yang menyebabkan Koay Ji memiliki kemampuan untuk
menambahi dan bahkan memperbaiki serta membuat ilmu yang
diciptakan Pat Bin Lin Long justru menjadi lebih lengkap. Menjadi
lebih hebat dan lebih mujijat lagi. Baik dalam aspek bertahan
maupun juga aspek penyerangannya. Koay Ji sendiri melakukan
itu dalam kesadaran penuh bahwa dia tidak merubah, tetapi
melengkapi ilmu ciptaan Pat Bin Lin Long meski sadar, dia tidak
menguasai iweekang Pat Bin Lin Long. Karena itulah semua ilmu
ciptaan tokoh itu dapat disempurnakannya dan kemudian juga
dapat dia ajarkan kepada Kang Siauw Hong.
2435
Setelah melatih Siauw Hong, dia kembali menekuni Ilmu
ciptaannya sendiri, yang kini dia coba rangkai dari 3 jurus
temuannya sendiri. Sebetulnya, hanya satu jurus yang mesti dia
ciptakan sesuai usulan suhunya, tetapi dia menemukan 3 jurus
yang berbeda tetapi punya potensi menangkis dan memunahkan
jurus ciptaannya sendiri. Ketiga jurus temuannya coba dia rangkai
menjadi satu Ilmu lagi, landasannya beda dengan jurus-jurus dari
suhunya Bu In Sinliong, karena dia harus menciptakan badai
angin dingin untuk membuat ilmu itu sesuai perbawa ciptaan Pat
Bin Lin Long. Sampai tengah malam, dia akhirnya berhasil
menciptakan ketiga gerak itu menjadi 3 (tiga) buah jurus yang
kemudian diberinya nama masing-masing: jurus Im Hong Say Tee
(Angin dingin menyapu bumi); kemudian jurus Hong Yu Pin Tiok
(Angin dan hujan turun bersama) dan yang terakhir ialah jurus
Peng Ho Kai Tong (Sungai Es Mulai Membeku).
Bolak-balik Koay Ji melatihnya secara serius dan amat tekun
sambil membayangkan sedang menghadapi Ilmu ciptaannya
sendiri itu. Yakni sebuah ilmu usulan suhunya bernama Ilmu Liu
Hud Jiu Toh Cu (Tangan Budha Bergerak Merebut Mustika).
Selepas tengah malam, dia kembali melatih Siauw Hong
bergantian dengan Tio Lian Cu dan juga Khong Yan, baru
kemudian dia kembali melanjutkan melatih dirinya. Menjelang
2436
pagi dia merasa puas dan memberi nama ilmu baru itu sebagai
Ilmu Sam Ciang Soan Hong Jiu (Tiga Jurus Pukulan Kitiran
Angin). Nama yang diambil dari tiga jurus yang dia ciptakan
menjadi satu ilmu itu.
Keistimewaannya adalah, kitiran angin badai berhawa dingin yang
dapat membuat jurus lengan Budha ciptaannya menjadi
membuyar ataupun meleset atau juga menyamping. Tetapi syarat
agar perbawa utamanya muncul, memang harus dengan
iweekang khusus yang diciptakan oleh mendiang Pat Bin Lin Long
dulu. Diapun melatihkan ilmu itu kepada Siauw Hong yang cepat
dapat memainkannya dan Koay Ji mengamatinya secara sangat
serius dari samping. Dalam waktu sehari dan semalam Siauw
Hong sudah mampu menguasai teorinya dan bahkan mulai
mampu memainkannya. Bersamaan dengan itu, Koay Ji sendiri
mulai merangkai cara untuk memunahkan dan mengalahkannya
berdasarkan amatannya pada saat Kang Sauw Hong
memainkannya. Begitu hal yang dikerjakan Koay Ji bersama
Siauw Hong di tempat terpisah, dan dengan Khong Yan serta Tio
Lian Cu di tempat lainnya.
Berkali-kali dia memainkan Ilmu Tangan Budha yang dihadapi
dengan Ilmu Kitiran Angin oleh Siauw Hong, dan dia semaikin
yakin bahwa kedua ilmu ciptaannya sudah betul dan sudah baik.
2437
Bahkan sudah sesuai dengan peruntukkannya. Hanya, dia amat
paham kalau tetap saja masih perlu penyempurnaan lebih jauk
kelak dalam perjalanannya nanti. Dia tidak menceritakan sejarah
ilmu itu kepada Siauw Hong yang menerima dan melatihnya
karena diajarkan Koay Ji semata. Sampai tiga hari kemudian,
Koay Ji merasa sudah cukup. Karena ilmu untuk memunahkan
jurus kedua yang dia ciptakan, sudah ada rangkaiannya di
kepalanya, tinggal dilatih lebih jauh dan disempurnakan.
Rangkaian ilmu terakhir yang mesti diciptakannya, sudah ada
dalam memorynya, meski masih harus dirangkai lebih teliti agar
benar mampu mentralisasi ilmu ciptaannya yang kedua. Ilmu yang
juga sedang dikembangkan dan ditelaah secara lebih seksama
oleh suhu Pek Kut Lojin. Tetapi, karena terkenang Sie Lan In,
maka dia menyudahi latihannya dulu. “Biarlah kulatih dan
kurangkai ketika ada waktu yang memadai nanti” desisnya dalam
hati.
“Hong moy, besok toako harus melakukan sebuah tugas, tetapi
engkau harus tinggal disini, karena tugas ini sangat berbahaya.
Toako akan mendahului untuk menuju Gunung Pek In San.
Setelah 5 hari terus bergiat dalam berlatih, maka semua ilmu yang
kuturunkan kepadamu sesungguhnya adalah Ilmu-Ilmu pilihan.
Ilmu-ilmu hebat dan sakti. Dan selain itu, kekuatan iweekangmu
2438
juga sudah maju teramat jauh. Tugasmu sebelum menuju gunung
Pek In San adalah, sempurnakan semua ilmu itu, baru kelak ikut
rombongan Sam Suhengku ke Pek In San. Dan, kita kelak akan
bertemu disana, bahkan bertemu dengan semua pendekar
Tionggoan yang memiliki missi yang sama. Dan untuk menemani
dan mengawanimu disini, maka sudah kutugaskan sutitku, Bun
Kwa Siang yang juga engkau tahu sendiri, dia sangatlah
menghormatimu dan menyayangimu seperti juga adiknya sendiri.
Dia kutugaskan mengawal dan menjagamu selama aku tidak
berada disini, jika tugasku selesai sebelum penyerangan ke Pek
In San, maka kita akan bertemu disini...... tetapi, ingat, jangan
lalaikan latihan ilmu silatmu, karena engkau adalah keluarga
perguruan misterius yang sangat hebat dan punya sejarah
panjang di Tionggoan......”
“Acccch, toako, bukankah ilmuku sudah maju cukup jauh....?
kenapa aku tidak ikut untuk membantu dan menemani toako....”?
rajuk Siauw Hong yang berkeras untuk ikut menemani Koay Ji
menuju Pek In San.
“Malam ini engkau akan berlatih dengan suteku Khong Yan dan
Tio Kouwnio, maka engkau bisa membayangkan sudah sejauh
mana kemampuanmu. Setelah berlatih dengan mereka berdua,
engkau matangkan semua yang masih kurang dan setelah itu
2439
engkau siap menuju Pek In San bersama rombongan pendekar....
ingat, engkau kini adalah bagian dari kaum Pendekar, bersikaplah
gagah dan jangan permalukan toakomu ini,,,, engkau sanggup
adikku....”?
“Baiklah toako, adikmu akan berusaha sekerasnya. Tetapi, kapan
kita akan dapat bertemu kembali? Mengapa harus di Pek In
San....”? bertanya Siauw Hong agak sedikit kebingungan, tetapi
begitupun tetap saja diungkapkannya dengan sikapnya seperti
biasa, dengan polos.
“Secepatnya kita akan bertemu lagi, paling lama sepuluh hari dari
sekarang adikku. Yang penting, jangan lalaikan latihanmu, meski
sudah hebat, tetapi pengalaman dan latihanmu masih amat
kurang. Berlatih bersama suteku dan sahabatku Ciangbudjin
muda dari Hoa San Pay akan banyak membantumu...”
“Accch, baiklah jika demikian toako, aku akan berlatih keras......”
“Nach, begitu baru adikku yang hebat,,,, dan satu hal lagi perlu
engkau ingat, yaitu bahwa engkau ini adalah keluargaku satusatunya,
karena itu, toakomu ini tidak ingin sesuatu terjadi
atasmu......”
2440
“Baik toako, aku mengerti......” jawab Kang Siauw Hong dengan
suara penuh haru dengan kalimat terakhir Koay Ji.
====================
Kita ikuti kejadian beberapa hari sebelumnya. Yakni pengalaman
Sie Lan In yang tiba-tiba punya keinginan “liar”. Tetapi, benarbenarkah
dia memang ingin mengintai Pek In San sendirian?
Karena menurut percakapan terakhirnya dengan Tio Lian Cu dan
Khong Yan, dia memang ingin mengunjungi dan memata-matai
Pek In San dari angkasa, dan itu wajar saja karena memang dia
memiliki seekor burung raksasa. Otomatis dengan mengendarai
Burung Raksasa tersebut, maka pengintaiannya bakalan dapat
dilakukan secara jauh lebih mudah. Setidaknya itulah alasan yang
dikemukakan Sie Lan In kepada masing-masing Tio Lian Cu dan
juga Khong Yan sebelum mereka berpisah.
Ide awalnya memang demikian, yakni saat dia berpikir
...”Mengapa tidak membantu kaum pendekar dengan caraku
sendiri? bukankah ada kesempatan untuk mengintai dari angkasa
dan mengetahui rencana musuh”? Pikirnya kemudian dengan
dipenuhi rasa ingin membuat sebuah tindakan yang akan
membuatnya dikenang banyak orang persilatan. “Jika subo
menjadi tokoh yang amat terkenal, tentunya karena dia
2441
mengerjakan banyak hal yang menggemparkan dan membantu
banyak orang. Maka hal yang sama mestinya dapat pula
kulakukan.......”, demikian pikiran sederhana Sie Lan In yang
kemudian berkembang lebih luas. Pikiran yang tidak keliru, meski
terasa sederhana dan, naive. Terdengar sederhana dan naive,
karena dia seperti terkesan mengabaikan fakta bawhwa Subonya
menjalani hidupnya yang panjang dan cukup lama dalam usianya
yang sudah 100 tahunan saat ini.
Dan lagi, karena sebetulnya ketokohan seorang Lam Hay Sinni
tidak diraih dengan mudah, atau secara instan. Sama sekali tidak.
Tetapi dicapainya ataupun diperoleh melalui perjuangan yang
amat panjang dan bahkan bersejarah selama berkelana di
Tionggoan dan mengerjakan banyak hal dengan tanpa pamrih.
Yang membuatnya amat dihormati adalah, karena suka
membantu yang lemah tanpa meminta bayaran, sering membantu
mereka yang teraniaya. Juga, suka membantu para pendekar
untuk memecahkan persoalan rumit di rimba persilatan. Tidak
segan-segan dia turun tangan jika berkaitan dengan urusan orang
banyak, apalagi jika ada yang menderita akibat ketidakadilan atau
sebab kejahatan.
Di tempat dan di kejadian seperti itulah Lam Hay Sinni munculkan
diri dan selalu membuatnya mengagumkan banyak orang. Dan
2442
dari sanalah reputasi dan nama besar Lam Hay Sinni terpupuk
perlahan, waktu demi waktu, kejadian demi kejadian. Tentunya,
selain kesaktian, orang banyak mengenal Lam Hay Sinni muda
sebagai pendekar wanita yang hebat dan berkepribadian. Suka
membela kebenaran, serta juga biasa bekerja dengan kaum
pendekar lainnya memerangi dan melawan mereka yang tidak
adil dan melanggar kemanusiaan. Itulah yang diingat dan
dikenang dari tokoh besar yang kini berjuluk Lam Hay Sinni.
Dengan kata lain, perjalanan panjang Lam Hay Sinni sampai
diterima sebagai “DEWI” bagi Rimba Persilatan Tionggoan,
bukanlah jalan yang pendek. Sebaliknya, justru adalah perjalanan
yang rumit, perjalanan yang menjatuhkan banyak darah dan air
mata. Banyak suka dan dukanya, termasuk kasih tak sampai yang
membawanya menjadi seorang Rahib di Laut Selatan. Kisah
kasih yang tak sampai, perjalanan hidup yang penuh air mata,
semua itu menggemblengnya menjadi matang, menjadi dewasa
dan mampu menerima kehidupan apa adanya. Semua itu
membentuknya menjadi pribadi yang aneh, pribadi misterius,
meskipun tetap ramah terhadap yang berbuat baik dan yang adil.
Jika kini Sie Lan In ingin meniru Subonya. Hay yang
sesungguhnya bukan sebuah kekeliruan. Justru adalah sebuah
keniscayaan. Hanya saja, dia sedikit keliru dan naive dalam
2443
berpikir, bahwa semua prestasi Subonya yang membuat dia amat
dihormati. Bukan, bukan itu jalannya yang terutama. Lam Hay
Sinni menjalani hidupnya apa adanya, pribadi misterius yang
selalu bersedia membantu yang lemah tanpa mengharapkan apaapa,
dan justru itu sebabnya yang utama sampai dia diakui
sebagai Rahib Laut Selatan. Tokoh sekelas Dewi yang pemurah,
suka membantu, tetapi akan ganas jika sedang berhadapan
dengan tokoh jahat yang gemar menebar kebencian, kejahatan,
perampokan dan pembunuhan. Dilakukan dengan apa adanya,
dean bukannya berpamrih. Jelas bedanya dengan pandangan
sederhana dari Sie Lan In, tetapi dimaklumi jika menilik usia gadis
manis itu.
Tapi, Sie Lan In memang seseorang yang sedang bertumbuh,
sedang “menjadi”, dan justru karena itu, biarlah dia menemukan
banyak hal yang kelak menggodoknya menjadi semakin matang
dan juga dewasa. Dia pasti akan menemukan jalannya, meski
kemungkinan besar amat berbeda dengan jalan yang ditempuh
oleh subonya. Dan itulah yang pada dasarnya sedang dicari dan
ditumbuhkan oleh Sie Lan In sendiri, tanpa dia menyadarinya
sejak sangat awal. Dia masih tetap berpikir dalam kesederhanaan
pola pikirnya, dan kelak biarlah pengalaman hidupnya, pahit dan
manisnya, sakit dan gembiranya yang bakal mematangkannya
2444
meniru Subonya. Dalam cara itu, dia akan menjadi tokoh yang
sedia dan siap selalu dalam memberi waktu, perhatian dan
kemauan untuk membantu orang banyak tanpa mengharapkan
balas jasa atau pamrih.
Sebetulnya, Sie Lan In tidaklah langsung menuju Gunung Pek In
San, karena dia memilih jalan memutar dan menikmati indahnya
alam. Bagaimanapun juga Sie Lan In tetaplah seorang muda,
gadis muda yang masih gemar dengan hal-hal baru yang
membawa kesejukan dimatanya. Tamasya dengan
menggunakan seekor burung besar bukan barang baru baginya,
tetapi menikmati keindahan alam sekitar Benteng Keluarga Hu
hingga Pek In San yang dipenuhi corak dan warna alam yang
sungguh memanjakan mata. Jelas jauh berbeda dengan
pemandangan alam di Laut Selatan yang melulu adalah
gelombang, ombak dan pecahan gelombang di tepi pantai. Oleh
sebab itu, sepanjang hari Sie Lan In tamasya dan pada malam
hari dia beristirahat dan tentu saja terus berlatih.
Dan untuk urusan ketekunan dalam berlatih, maka Sie Lan In
adalah contoh yang sangat sempurna. Karena dia terus dan tetap
berlatih keras meskipun jauh dan tidak sedang dalam tilikan dan
pengamatan langsung Subonya. Dengan kata lain, dia tak perlu
dijaga atau dipelototi saat sedang berlatih. Apa sebabnya? karena
2445
sejak awal Subonya sudah jelas menetapkan apa yang minimal
dicapainya jika berlatih, inilah yang menjadi alat ukur baginya,
sehingga dijaga ataupun tidak, sama saja. Dengan cara seperti
itulah, Sie Lan In sejak kecil dilatih dan terlatih untuk
bertanggungjawab bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun.
Sheingga sejak kecil Sie Lan In memang sudah terdidik seperti
itu, disiplin, ulet dan berlatih tanpa diikuti dan diintai subonya.
Dalam kata-kata yang amat bijaksana Subonya berpesan dan
berkata, “jika untuk hal kecil engkau tidak dapat dipercaya,
bagaimana dapat mengerjakan dan dipercayai guna mengerjakan
hal-hal besar...?
Selama dua hari, itulah pekerjaan Sie Lan In, dan baru pada hari
ketiga akhirnya dia menuju ke Puncak Gunung Pek In San untuk
melakukan penyelidikan. Sayangnya, hari itu turun hujan lebat
dan membuat upayanya untuk melakukan penyelidikan terhambat
dan akhirnya dia batalkan. Dan terpaksa hari itu berubah menjadi
hari yang dipenuhi dengan latihan ilmu silat karena hujan
membawa rasa dingin yang hebat dan membuatnya harus melatih
dan mengerahkan kekuatan iweekangnya. Sepanjang hari ketiga,
dia hanya sempat melihat Gunung Pek In San, tetapi belum
menemukan dan melihat apa-apa yang terkait dengan markas Bu
Tek Seng Pay di sekitar gunung Pek In San. Gunung itu seperti
2446
tersenyum mengejek mengundang Sie Lan In untuk datang
mendekat. Dan kondisi itu membuat Sie Lan In tertantang untuk
datang meneliti dan menyelidik.
Keesokan harinya barulah dia berusaha menemukan Markas Bu
Tek Seng Pay, dan dia butuh waktu setengah hari baru dapat
menemukan apa yang dia cari. Markas Bu Tek Seng Pay terdapat
di pinggang gunung Pek In San sebelah utara, terdiri dari banyak
bangunan besar dan megah. Lembah dimana Markas itu didirikan
sungguh amat luas dan terlihat megah dari atas, serta dikelilingi
oleh perbentengan yang cukup tinggi dan tebal. “Luar biasa,
bagaimana mereka dapat membangun gedung besar semegah itu
di pegunungan sepi seperti ini....”? desis Sie Lan In dalam hati
yang mau tidak mau menjadi kagum dengan semua apa yang
dapat dipandanginya dari ketinggian dengan mengendarai
burungnya itu. Dia tidak paham jika banyak orang, banyak harta
dan banyak pekerja yang selama setahun terakhir bekerja keras
dan kehilangan nyawa untuk markas megah di Pek In San.
Sayang sekali, pada hari keempatnya, karena terlambat
menemukan Markas Bu tek Seng Pay, Sie Lan In tidak mampu
menemukan banyak hal, hanya mampu untuk melihat Lembah,
Gedung dan perbentengannya. Baru esok harinya dia
melanjutkan untuk meneliti jalan masuk yang paling tepat, bahkan
2447
juga memeriksa adakah cara dan kemungkinan menyelusup
masuk ke Markas lawan. Dan dia menemukan jika cara untuk
menyelusup itu amat sulit dilakukan, kecuali dengan cara
mengendarai burung besarnya ini. Bukan apa-apa, di belakang
Lembah adalah sebuah tebing maha tinggi yang sulit untuk didaki
dan dilewati, bagian depan dan samping sudah pasti dalam
penjagaan ketat lawan. Karena itu, Sie Lan In merasa pasti,
bahwa melakukan penyusupan hanya mungkin melalui
kendaraan khusus seperti burung yang saat itu sedang dia
kendarai melakukan pengintaian.
“Bagaimana jika mereka menaruh jebakan di tiga pintu masuk
itu......”? pikir Sie Lan In gelisah, dan langsung dijawabnya sendiri.
“karena toch mereka menunggu lawan, akan sangat bodoh jika
mereka tidak berusaha mencederai lawan entah dengan racun,
barisan ataupun hal-hal magis yang ditemukan sepanjang jalan.
Waaaaah, bukannya sedikit kelak korban yang jatuh jika
penerobosan dilakukan tanpa adanya persiapan yang
matang......” demikian Sie Lan In melanjutkan pemeriksaan dan
sekaligus pengintaian markas lawan di Pek In San. Setelah
selama dua hari dia melakukan pengintaian, dia merasa sudah
cukup jelas, dan beberapa hal yang ingin ditelitinya lebih jauh, dia
putuskan akan dilanjutkan besok hari.
2448
“Setelah besok, aku akan langsung terbang menuju Thian Cong
Pay, sedang apa gerangan Bu San.... dan aaaaiiii, mengapa
sampai berpikir tentang dia.....”?, meski mengkhayal dan hanya
berada seoranng diri, tetapi tetap saja Sie Lan In menjadi malu
karena mengenangkan keadaan Bu San. Padahal, wajar hati
yang rindu untuk selalu terkenang akan orang yang dirindukan
dan dicintai, Tetapi, kenangan manis akan Bu San yang kemudian
mengantarkan Nona Sie Lan In yang cantik dan manis itu untuk
tidur dengan nyenyak.
Setelah beristirahat semalaman yang dipenuhi dengan latihan,
istirahat dan juga berkhayal penuh rindu, baru keesokan harinya
menjelang siang hari, Sie Lan In kembali melakukan pengintaian.
Tetapi, dari kejauhan dia melihat turunnya secara berkelompok
orang-orang di tiga jurusan yang berbeda-beda, meski dia tak
mampu melihat siapa-siapa mereka yang turun ke tiga sisi gunung
berbeda itu. Sie Lan In masih terus mengamati dari ketinggian,
dan kemudian menegaskan kembali tiga sisi masuk itu dan
tembusnya kemana saja. Tentu saja, karena posisi mengamati
dari ketinggian, maka Sie Lan In dapat menghubungkan ke
daerah mana saja mereka datang dan keluar, serta kemana atau
darimana mereka datang. Tapi Sie Lan In tak mampu mengikuti
kemana tiga kelompok itu menuju, hanya sekedar mengamati
2449
sekilas dan kemudian melanjutkan upayanya mengenali gunung
itu lebih dalam lagi. Sampai menjelang sore, baru dia akhirnya
menyudahi pengintaiannya dan mencoba untuk menemukan
kemana ketiga kelompok itu pergi.
“Hmmm, mungkin saja mereka pergi melakukan perondaan
sekeliling Gunung Pek In San....” tebakan yang memang tepat
dan akurat dari Sie Lan In. Karena berpikir demikian, maka Sie
Lan In mencoba mencari hingga ke kaki gunung Pek In San.
Tetapi begitupun, tetap saja rada sulit baginya untuk menemukan
jejak manusia, karena para peronda itu selalu bergerak dan tentu
saja berpindah tempat. Jika tidak salah, mereka peronda yang
selalu bergerak.
Cukup lama, dia berusaha mencari dari ketinggian, tetapi karena
hutan memang cukup lebat, maka amat sulit baginya menemukan
jejak manusia di kaki gunung. Jikapun ada bagian yang tidak
terampau lebat hutannya, tetap dia tidak menemukan jejak-jejak
manusia, dan karena itu Sie Lan In pada akhirnya memutuskan
untuk lebih baik pulang saja dan beristirahat. Bahkan
memutuskan akan segera bergabung dengan kawan-kawan lain
di gunung Thian Cong San yang jaraknya cukup dekat dan tidak
akan ditempuh dalam waktu lama.
2450
“Kelihatannya sudah cukup pengintaian hingga hari ini, kurasa
besok sudah saatnya melanjutkan perjalanan menuju Thian Cong
Pay, bergabung dengan kawan-kawan lainnya. Hmmm, kurasa
Khong Sute dan Tio Sute sudah berada disana, adalah baik
menyusun rencana bersama mereka berdua..” desisnya pada
akhirnya memutuskan kemana arah perjalanannya yang
selanjutnya ditujukan. Dan karena sudah berpikir demikian maka
Sie Lan In memutuskan tidak lagi bersembunyi di puncak gunung,
atau dekat puncak gunung agak dekat ke Markas Bu Tek Seng
Pay yang ditemukan pada sehari sebelumnya. Sebaliknya, dia
mencoba mencari tempat di kaki gunung yang tidak terlampau
dingin seperti diketinggian dimana dia tinggal selama beberapa
hari terakhir ini. Sangat dingin disana.
Tetapi, saat dia mulai turun dari ketinggian dan belum lagi
mencapai ketinggian yang tepat untuk meloncat turun, dia
mendengarkan suara pertempuran justru tidak jauh dari tempat
dia berencana untuk turun itu. Sontak dia memalingkan wajah ke
arah kanan, karena dari sanalah asal suara pertempuran, diapun
mendesis: “Ada yang sedang bertempur, hmmmm jangan-jangan
mereka....”?. Mereka yang dimaksud siapa lagi jika bukan orangorang
yang turun dari Gunung Pek In San tadi dan sedang
melakukan ronda berkeliling gunung Pek In San tetapi sulit untuk
2451
ditemukan meski dia bergerak di ketinggian. Pastilah mereka
salah satu dari tiga kelompok yang disaksikannya turun di tiga
jurusan dari markas Bu Tek Seng Pay.
Setelah tiba pada ketinggian yang tepat, diapun menepuk leher
burung dan berbisik untuk kemudian meloncat dengan ringannya
dan segera berlari pesat menuju asal suara pertempuran itu.
Benar saja, dia menyaksikan pertempuran yang sangat seru
antara dua orang melawan beberapa orang yang melakukan
keroyokan. Tetapi yang membuatnya penasaran adalah, seorang
perempuan muda, mungkin sedikit usia diatasnya sedang
bertarung melawan dua orang berusia pertengahan. Meskipun dia
masih di atas angin, tetapi ada beberapa orang yang berdiri di
pinggir lapangan yang kelihatan adalah kawan-kawan dari
kelompok pengeroyok. Dan jumlah mereka yang berdiri di sisi
arena itu ada sekitar 10 orang.
Sementara di sisi yang lain, arena satu lagi, berlangsung seru dan
seimbang sebuah pertarungan antara seorang pemuda yang
sudah matang, mungkin berusia sekitar 35 tahun melawan
seorang tokoh tinggi besar yang mungkin berusia sekitar 55
tahunan. Pertarungan mereka terlihat seimbang, seru dan
menggunakan jurus-jurus yang sangat hebat dan mematikan.
Namun yang mengagetkan, jurus dan ilmu yang hebat mematikan
2452
di arena itu, rata-rata sama, baik jurus maupun gerak tipunya.
Hanya dalam soal kematangan yang agak berbeda, juga
iweekang. Tetapi, sehebat apapun mereka bergerak dan saling
serang, tetap saja sulit menentukan siapa yang menguasai
pertarungan, siapa yang mendesak dan siapa yang terdesak.
Jelas pertempuran mereka sangat seru, dan bakal berlangsung
lama. Meski sebetulnya mereka seperti sedang berlatih karena
jurus dan ilmu yang mirip.
Selain itu, ada seorang tokoh lagi yang berdiri gagah, mungkin
sahabat dari kedua tokoh muda yang sedang bertarung seru itu.
Dia terlihat tenang dan tersenyum saat menyaksikan perempuan
muda yang mungkin temannya bertarung ganas dan mampu
mendesak kedua lawannya hingga terdesak demikian hebatnya.
“Hmm, dia sungguh-sungguh sudah maju secara amat pesat,
malah mungkin sudah sedikit di atas toakonya sendiri,,,,, sungguh
hebat, sungguh hebat, sungguh sangat salut atas kemajuanmu
Yu Kouwnio. Kelihatannya engkau malah akan segera
mengalahkan lawanmu, dan itu bisa saja terjadi dalam waktu yang
tidak akan lama lagi....” desis tokoh itu yang ternyata adalah Tian
Sin Su, tokoh tua Hong Lui Bun yang mengawal kedua anak muda
itu. Tian Sin Su memang berfungsi sebagai penasehat dan selalu
menyertai dan menasehati kedua anak muda itu untuk bertindak
2453
secara benar dan agar tidak membangun permusuhan dengan
banyak kalangan.
Dan, jika didekati, ternyata memang mereka yang sedang
bertarung adalah tokoh tokoh dari Perguruan Rahasia HONG LUI
BUN yang biasanya beroperasi secara amat tertutup dan rahasia
di daerah perbatasan. Perempuan muda yang bertarung hebat itu
adalah Yu Lian, nona manis yang diselamatkan Koay Ji dengan
cara yang “aneh”. Tetapi, ternyata dari bencana dia beroleh
berkah. Racun yang bersarang dalam tubuhnya, berhasil berubah
atau dirubah secara mujijat oleh Koay Ji menjadi arus kekuatan
yang merangsang pertumbuhan iweekangnya. Dan selama
beberapa hari berlatih keras, kekuatan iweekangnya justru
bertambah semakin kuat dari waktu kewaktu. Ampai akhirnya
toakonya sendiri mengakui kemajuannya setelah mereka berlatih
bersama dan adu kemampuan, tepat dua minggu setelah Yu Lian
sembuh dan terus melatih iweekang dan ilmu-ilmunya. Kemajuan
pesat tersebut yang membuatnya gembira dan menumbuhkan
rasa percaya dirinya yang tebal, dan juga membuat kakaknya
gembira sejak saat itu.
Sementara pemuda yang sudah matang yang sedang bertarung,
sudah pasti adalah Yu Kong kakaknya, pemuda berjulukan Thian
Gwa Kuncu (Pemuda Gagah dari Perbatasan Langit), sekaligus
2454
pewaris sah Hong Lui Bun. Pemuda itu bertarung seru dan hebat
dengan Hong Lui Buncu saat ini, tokoh berusia 56 tahun bernama
Si Tiok Gi berjulukan Hong Lui Koay Kiat (Pendekar Aneh dari
Hong Lui Bun). Keduanya bertarung gagah berani dan jual beli
serangan serta berani bertarung terbuka, saling tangkis dan saling
serang dengan jurus-jurus yang kelihatannya banyak miripnya.
Pengalaman dan kematangan mereka berdua kelihatannya
sudah teruji, dan karena itu, mereka bertarung pada puncak
kehebatan mereka masing-masing, dan tidak mau mengalah.
Dua orang yang menjadi lawan Yu Lian adalah Mo Pit Siu (Orang
Tua Lengan Iblis) Sin Bu yang berusia 53 tahun dan juga Jian Pit
Hun (Sukma Cacad Lengan) Lu Kun Tek yang berusia 50 tahun.
Keduanya adalah Hu Buncu atau Wakil Buncu dari Hong Lui Bun,
diangkat oleh Si Tiok Gi menjadi wakil, karena mereka memang
memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Tetapi, meskipun mereka
sudah maju bersama dan mengerubuti Yu Lian, mereka berdua
tetap saja tidak mampu untuk mendesak dan mengalahkan Yu
Lian. Sebaliknya, mereka lebih sering didesak dan diserang oleh
Yu Lian dan membuat keduanya jadi merasa aneh, karena
beberapa waktu lalu, Yu Lian masih bukan tandingan mereka.
Tokoh lain yang berada disitu, bukan lain adalah si Penasehat Tiat
Eng Sin Siu (Kakek Sakti Elang Baja) Tian Sin Su yang sudah
2455
berusia lanjut, sudah 67 tahun. Penasehat kakak beradik Yu Kong
dan Yu Lian dan selalu menyertai mereka selama di Tionggoan,
hanya sempat terpisah untuk melakukan penyelidikan ke Pek In
San. Adalah tokoh ini yang menyelidiki Pek In San dan kemudian
menemukan peluang penyelesaian antara sesama orang Hong
Lui Bun. Karena dia tahu dan paham jadwal perondaan dimana
tokoh-tokoh Hong Lui Bun yang selalu meronda di sisi barat
gunung Pek In San setiap hari, dan hari ini, merekapun boleh
bertemu untuk menyelesaikan urusan Hong Lui Bun.
Mudah ditebak, tidak ada dialog, yang ada sudah langsung
pertarungan mati-hidup. Hong Lui Bun pada dasarnya adalah
perguruan misterius yang bahkan di daerah Kwan Gwa sajapun
jarang munculkan diri mereka. Tapi tiba-tiba Si Tiok Gi berlaku
khianat dan merebut jabatan Buncu dengan mengkhianati Yu
San, ayahanda Yu Kong dan Yu Lian. Bukan hanya merebut
Buncu Hong Lui Bun, tetapi bahkan juga membunuh Buncu yang
sah dan membuat aturan perubahan yang amat drastis. Maka, Yu
Kong dan Yu Lian yang datang menagih dendam pribadi, juga
membawa amanah dari para sesepuh Hong Lui Bun yang masih
hidup untuk dapat ditegakkan kembali setelah diselewengkan
oleh Si Tiok Gi.
2456
Tetapi, Si Tiok Gi sendiripun memperoleh dukungan tokoh-tokoh
Hong Lui Bun lain, terutama kedua wakilnya dan juga seorang
sesepuh Hong Lui Bun. Sayangnya, sesepuh yang
mendukungnya adalah bekas pengkhianat dan sudah terusir
tetapi kembali untuk merebut tahta Hong Lui Bun. Dalam keadaan
seperti itu, untungnya Suhu dari Yu San masih berkenan campur
tangan meski sudah mengundurkan diri. Sudah lama hidup
bertapa dan tidak mencampuri urusan Hong Lui Bun, tetapi demi
keselamatan Hong Lui Bun kedepan dia menyelamatkan Yu Kong
dan Yu Lian. Dan diapun memutuskan untuk mendidik kedua cucu
muridnya itu bukan hanya untuk membalas dendam keluarga,
tetapi juga untuk bisa membersihkan Hong Lui Bun serta sekalian
menegakkan aturan perguruan.
Dapat dimaklumi, sebetulnya pertarungan mereka adalah
pertarungan internal Hong Lui Bun, sekaligus pertarungan balas
dendam yang tak perlu dicampuri orang lain. Karena itu, Yu Kong
bertarung mati-matian, menggunakan segenap kemampuannya
untuk mendesak, menyerang dan sedapat mungkin, jika mungkin,
sekali pukul dapat membunuh musuh perguruan dan musuh
keluarganya. Sayangnya, kemampuan mereka berdua hanya
terpaut sedikit sekali. Meski Yu Kong lebih murni dan kokoh dasar
serta landasan iweekangnya, tetapi lawannya masih lebih variatif
2457
dan lebih banyak kembangannya. Demikianlah keduanya masingmasing
memiliki kelebihan dan kekurangan meskipun mereka
menguasai dasar ilmu dan juga iweekang yang sama alirannya.
Dan karena itu yang justru membuat pertempuran mereka benarbenar
menegangkan dan seru. Karena landas pertempuran
mereka yang adalah penegakkan aturan perguruan dan dendam
keluarga, maka pertarungan mereka memang harus ada
tuntasnya.
Maka meski pertempuran keduanya sudah makan waktu satu jam
atau mungkin bahkan lebih, tetapi tetap saja aroma pertarungan
adalah maut. Begitupun masih saja belum terlihat siapa yang
terdesak atau siapa yang lebih unggul diantara mereka berdua.
Kelebihan dan kekurangan masing-masing sudah mereka
pahami, dan karena itu sedapat mungkin keduanya berupaya
menemukan kelengahan lawan untuk memaksimalkan peluang itu
buat kemenangan pihaknya. Meskipun keduanya sangat sadar,
bahwa menunggu peluang itu amatlah sukar serta sulit, dan
jikapun datang, belum tentu mereka mampu memanfaatkannya
karena lawanpun memiliki perhitungan tersendiri dan kehebatan
tersendiri.
Di sisi yang lain, Yu Lian semakin menguasai arena pertarungan.
Dia sudah sempat memasukkan satu pukulan yang menyerempet
2458
pundak kanan Mo Pit Siu Sin Bu. Sayang memang, karena
pukulan itu tidak mendatangkan luka parah dan hanya membuat
Sin Bu sedikit meringis, meski gerakan-gerakan lengannya
menjadi sedikit terganggu dalam pertarungan mereka yang
selanjutnya. Dua buah jurus serangan beruntun dengan kekuatan
besar, digunakan susul menyusul dan mencecar Lu Kun Tek.
Sebuah sergapan keras dan berbahaya dalam jurus Lui Tian
Kauw Cak (Kilat Dan Geledek Menggelegar) membuat Lu Kun
Tek gopoh dan amat kesulitan untuk menghindar. Adalah Sin Bu
yang datang menangkis serangan tersebut yang sedang
mengarah ke bagian jalan darah di dada kiri Lu Kun Tek. Tetapi
belum lagi tangkisan itu berhasil menangkis dan memunahkan
serangan lawan, tiba-tiba jurus Si Siang Pik Sen (Empat Penjuru
Pasti Muncul) sudah dikembangkan Yu Lian dengan sangat cepat
dan kuat.
Jurus serangan terbaru ini membuat Sin Bu terisolasi dan
langkahnya terputus dari jangkaun bantuan karena Lu Kun Tek
sendiri sudah terlanjur melangkah menyingkir. Sementara pada
saat itu kedua lengan Yu Lian sudah mencecar Sin Bu dengan
jurus-jurus maut lebih jauh lagi. Lu Kun Tek berhasil diselamatkan
oleh Sin Bu dan kemudian menyingkir mati langkah, tidaklah dia
mungkin sempat lagi membantunya. Padahal Sin Bu kini
2459
terancam 4 buah serangan berbahaya Yu Lian dan menutup
semua jalan larinya dan jalan mundurnya. Maka, dengan sangat
terpaksa, Sin Bu membiarkan sebuah pukulan yang paling ringan,
yakni bagian pundak kanannya. Terdengar suara yang tidak
terlampau keras sebenarnya:
“Dukkkk.....” meski tidak terlampau keras, tetapi jelas saja
menghajar ego serta juga harga dirinya, belum lagi rasa sakitnya.
Memang benar, meski tidak melukai bagian dalamnya, tetapi
tentu tetap saja perih terasa pada saat dia berusaha
mengerahkan tenaga buat menangkis ataupun saat menyerang.
Dan untungnya lagi, setelah terpukul, Lu Kun Tek segera dengan
cepat maju menyerang, sehingga serangan susulan Yu Lian tidak
membawa luka yang lebih lagi berat bagi kawannya itu. Dan
kembali mereka saling serang satu dengan yang lainnya, dengan
kendali masih saja tetap di tangan Yu Lian. Dengan cederanya
pundak kanan Sin Bu, maka dia mulai lebih membatasi
serangannya, karena ketika dipakai untuk menyerang, rasa nyeri
sangat terasakan olehnya. Dan itulah sebabnya kini serangan
mereka berdua perlahan-lahan atau semakin lama semakin
sedikit dan semakin berkurang. Dan bahkan setelah 50 jurus lagi,
mereka sudah lebih berkonsentrasi bertahan ketimbang
menyerang, atau sudah tidak lagi berani keluar untuk menyerang.
2460
Meski beberapa kali Yu Lian memberi mereka peluang, tetapi
mereka bertahan untuk menutup diri, dan tidak mau ambil resiko.
Tentu saja Yu Lian memahaminya, dan diapun tahu bahwa dia
sudah diambang kemenangan. Tetapi, mereka berdua, dia dan
juga kakaknya, tidak sekedar mencari kemenangan lewat
pertarungan yang seru ini. Karena mereka harus menghukum
pengkhianatan lawan-lawan mereka, dan sekaligus menghukum
musuh keluarga yang menumpahkan darah ayah, ibu dan adikadik
mereka lainnya. Karena itu, Yu Lian bukannya mengurangi
tekanannya, justru semakin memperberat kekuatan pukulannya
dan tambah membuat kedua lawannya keteteran. Dan dengan
terus-menerus berkonsentrasi dalam pertahanan, mereka kini
semakin parah keadaannya dan tinggal menunggu gebukan
terakhir dari Yu Lian. Sayangnya, gebukan terakhir itu belum
datang juga, karena Yu Lian menunggu saat yang tepat untuk
mengakhiri kedua lawan itu sehingga membuatnya puas.
Yu Lian terus menerjang dengan nafsu bukan sekedar ingin
menang, tetapi untuk menghukum dan membalaskan dendam
keluarga mereka. Entah motivasi mana yang lebih besar dalam
dirinya, tetapi yang pasti kini, secara tiba-tiba kedua lawan yang
menghadapinya menjadi amat kaget dan terkejut. Karena pada
saat itu, tiba-tiba memancarlah cahaya kehijauan dan hawa panas
2461
yang luar biasa mengiringinya. Tanpa tertahan kedua lawannya
mendesis kaget dan merasa sangat khawatir, jelas mereka amat
mengenal pukulan Yu Lian ini. Dan segera jelas juga, bahwa Yu
Lian sudah memutuskan untuk segera mengakhiri pertarungan:
“Ha,,,,, Ilmu Ceng Hwee Ciang.....”?
Memang benar, pada saat itu Yu Lian sudah memutuskan untuk
mengerahkan Ilmu Ceng Hwee Ciang (Ilmu Api Hijau), salah satu
ilmu mujijat Hong Lui Bun yang sudah dia kuasai lebih baik dan
sempurna. Sebetulnya pada saat turun gunung, dia masih belum
menguasai Ilmu ini secara sempurna. Dia baru sampai tingkat 5
dan bahkan kakaknyapun baru sampai pada tingkatan 8 masih
belum mampu mencapai tingkat pamungkasnya. Kini, dia justru
sudah mampu menguasai Ilmu itu hingga pada tingkat kesembilan,
tingkat tertinggi setelah iweekangnya bertambah. Tentu
seusai dia dapat disembuhkan lewat persetubuhan oleh Koay Ji
beberapa waktu yang sudah lalu. Gerakannya menjadi cepat tapi
lamban dan lamban tapi juga cepat. Hebat luar biasa dan
mendatangkan hawa mematikan bagi kedua lawannya yang
merasa terkunci menghadapi ilmu maut itu.
Dalam jurus Liu Sing Hua Khong (Meteor Menembus Angkasa),
dia mencecar kedua lawannya yang semakin gentar mendapati
2462
Yu Lian yang mulai memainkan salah satu Ilmu paling rahasia dari
Hong Lui Bun. Parahnya lagi, kelihatannya Yu Lian memainkan
ilmu itu pada tingkat penguasaan tertinggi sehingga membuat
mereka tambah susah melawan. Susah bergerak dan bahkan
susah bernafas. Mereka sudah mengetahui dan mengenal ilmu
ini, tapi belum mampu menguasai seutuhnya, baru setengah
bagian belaka, baru sampai pada tingkat kelima. Meskipun
demikian, mereka tahu bagaimana efek ketika menghadai Ilmu itu
pada tingkat pamungkasnya. Dan repotnya, kelihatannnya Yu
Lian justru sudah sempurna menguasai Ilmu Rahasia yang hebat
itu, ini terbukti dengan lengannya yang mengeluarkan panas dan
pijar panas kehijauan dari lengannya. Bagaimana mereka tidak
menjadi takut dan panik? Bagaimana mereka tidak tergetar
dengan semua yang kini tersaji dihadapan mereka?
Dengan kerepotan dan sedikit tergesa-gesa karena khawatir dan
nyali sudah ciut, Sin Bu menggeser langkah ke belakang,
sementara Lu Kun Tek maju menyerang dengan ragu. Jelas, tidak
ada lagi kemantapan dan ketetapan hati mereka dalam bertarung
melawan Yu Lian, semangat mereka sudah goyah. Dan dengan
sangat cepat, Sin Bu tergempur mundur sementara Yu Lian
melangkah maju dua langkah dan masuk dengan cepat memapak
tubuh Sin Bu dengan jurus Hai Kou Ciok Lan (Laut Lapuk Batu
2463
Berlubang). Sin Bu yang sudah takut dan gerakannya yang sedikit
kaku karena nyeri di pundak kanan, dan Lu Kun Tek yang
terdorong mundur oleh hempasan pukulan Yu Lian, membuka
peluang amat lebar bagi Yu Lian memukul dengan telak. Dan
memang, dia tidak tanggung dan tanpa belas kasihan
memasukkan pukulan maut yang dengan telak bersarang di perut
Sin Bu, yang langsung menjerit kesakitan:
“Bukkkkkkk,,,,,,, oaaachhhhhh ........”
Tubuh Sin Bu terlontar jauh kebelakang dan bisa dipastikan dia
tewas termakan pukulan Ceng Hwee Ciang yang mujijat.
Bahkanpun Tiat Eng Sin Siu (Kakek Sakti Elang Baja) Tian Sin Su
tidak memperdulikan Sin Bu karena sudah tahu pasti, jika lawan
sudah langsung tewas. Apalagi dia melihat tubuh Sin Bu
melayang mundur dengan cepat dan tidak terlihat ada hambatan
dan tahanan, posisi tubuh gontai dan leher tertekuk. Dan memang
begitu keadaannya. Terkena telak di bagian perut dengan Ilmu
sehebat Ceng Hwee Ciang, mana bisa Sin Bu bangun lagi? Sekali
pukul Sin Bu langsung menghadap giam lo ong.
Tetapi jeritan kematiannya menghentikan semua pertempuran.
Karena Lu Kun Tek meloncat mundur dan menjauh, merasa takut
dna ngeri melawan Yu Lian sendirian. Sementara Si Tiok Gi juga
2464
heran dengan kekalahan kawannya, tidak masuk akal pikirnya
saat itu. Padahal lawannya cuma seorang Yu Lian belaka. “Mana
bisa kalah hanya melawan seorang gadis seperti Yu Lian yang
masih belum matang ilmunya itu...”? pikirnya tidak habis mengerti.
Hal yang amat wajar, karena perhatian Si Tiok Gi sepenuhnya
tercurah pada perlawanannya terhadap Yu Kong dan tidak pernah
menengok kedua kawannya yang bertarung melawan musuh
“ringan”. Memang, sebelum pertempuran ini, Yu Lian adalah yang
paling rendah kemampuannya, tetapi sekarang, mengapa
malahan Sin Bu tewas terpukul?
Dia masih menduga, bahwa kesaktian Yu Lian masih tetap seperti
dulu, masih jauh dibawah kepandaian kedua wakilnya jika maju
berbareng untuk mengeroyok. Karena sesungguhnya, dia
sendiripun masih akan kerepotan jika harus menghadapi
keroyokan kedua wakilnya itu. Setahunya, jika maju satu lawan
satu bisa setanding, atau malah masih kalah tipis pihak Yu Lian.
Tetapi, fakta yang tersaji dihadapannya sekarang ialah, kawannya
sudah tewas dalam pertempuran, dan kini keadaan mereka
berbalik menjadi sangat terancam dan jelas amatlah berbahaya.
Jika pada awalnya dia yakin bisa memenangkan pertarungan,
sekarang dia mulai khawatir dengan peluang mereka untuk
menang. Persoalan utamanya dan masih belum bisa terpecahkan
2465
adalah, mengapa Yu Lian bisa mengalami peningkatan sehebat
itu dan bahkan juga bisa mengalahkannya.
Tetapi beberapa saat kemudian nyalinya bangkit lagi karena
beberapa saat sebelum pertarungan dilanjutkan, tiba-tiba
terdengar bentakan keras dari belakang kelompok Hong Lui Bun
pimpinan Si Tiok Gi itu:
“Sungguh berani mati ... siapa gerangan mereka yang berani
mengacau di daerah gunung Pek In San..”? dan bersamaan
dengan itu, muncullah seorang tokoh yang lain, tokoh yang cukup
penting di Bu Tek Seng Pay. Dia adalah Jamukha, seorang tokoh
hebat yang menjadi salah satu pimpinan atau tepatnya Hu
Pangcu Bu Tek Seng Pay, setingkat dengan Si Tiok Gi.
Kepandaiannya memang setingkat, tetapi yang sangat menonjol
dan berbahaya dari seorang Jamukha adalah, bahwa dia
merupakan Pemimpin atau Panglima Pasukan Robot yang sulit
untuk dilukai dan sulit untuk dibunuh. Dan kemunculan Si Tiok Gi
dibarengi dengan kemunculan 5 orang anggota pasukan robot
yang rupanya sedang bertugas dengan Jamukha di sekitar
Gunung Pek In San saat itu. Dan memang, jika bertugas,
Jamukha sering membawa 5 orang anggota Pasukan Robot untuk
mengawal dan melindungi dia selama dalam penugasannya itu.
2466
“Jamukha Hu Pangcu,,,,, accchhhh terima kasih atas bantuanmu
sekarang ini, lawan lawan kami ini sungguh amat berbahaya, baik
bagi kami juga bagi Bu Tek Seng Pay kita......” desis Si Tiok Gi
jadi gembira melihat kedatangan kawannya. Apalagi datang
bersama dengan 5 orang dari Pasukan Robot yang jelas dia tahu
kelihayan mereka. Karena meski hanya berjumlah sekitar 30
orang lebih, tetapi karena susah dibunuh dan sulit untuk dilukai,
maka Pasukan Robot menjadi amat berbahaya dan sangatlah
diandalkan oleh pihak Bu Tek Seng Pay.
“Hmmmm, kita harus cepat bereskan mereka bertiga, jika tidak
mereka akan bisa mengganggu pekerjaan kita yang masih sangat
banyak...... ayo, mari kita selesaikan mereka secepatnya...” desis
Jamukha memberi perintah untuk cepat menyerang dan
membunuh lawan-lawannya. Tetapi perintahnya tentu saja
tidaklah berlaku terhadap Pasukan Robot, karena mereka tidaklah
cocok untuk bertarung secara acak seperti keadaan arena saat
itu. Pasukan Robot akan efektif jika mereka hanya melawan satu
orang ataupun banyak orang tetapi sudah jelas posisi lawanlawannya.
Jika ada beberapa lawan dan yang mengeroyok
banyak orang, maka Pasukan Robot menjadi sangat tidak
bermanfaat, kurang efektif, sebaliknya bisa merugikan diri sendiri.
Atau merugikan kerjasama mereka sendiri.
2467
Maka dalam waktu singkat, kembali terjadi pertempuran hebat. Si
Tiok Gi kembali lagi bertarung melawan Yu Kong. Sementara itu
Jamukha memberi isyarat kepada kelima anggota Pasukan Robot
untuk melawan Tiat Eng Sin Siu (Kakek Sakti Elang Baja) Tian
Sin Su. Setelah lama menganggur, akhirnya Tian Sin Su dapat
lawan juga, tetapi sekali ini sekaligus 5 lawan yang agak lain
dengan yang lain. Lawan yang susah dilukai dan dibunuh. Karena
sekujur tubuh mereka terlindung dengan bahan khusus, dan
mereka, meski tidak cukup cepat dalam bergerak, tetapi kebal
pukulan. Makanya susah dilukai dan dibunuh. Dan tidak lama
kemudian, Tian Sin Su merasa kerepotan karena melawan 5
orang yang terasa berat untuk dapat dikalahkan karena sulit
dilukai.
Yang ramai adalah ketika Jamukha ikut terjun ke arena
pertarungan menerjang Yu Lian, ikut membantu Lu Kun Tek.
Paduan mereka berdua tentu saja berbeda jauh dengan
paduannya dengan Sin Bu yang sudah tergeletak binasa akibat
termakan secara telak oleh Pukulan Ceng Hwee Ciang. Jamukha
memiliki kepandaian yang jauh melebihi Sin Bu dan Lu Kun Tek,
sehingga terjangannya berbeda jauh dengan pengeroyokan
sebelumnya. Kepandaian Jamukha setanding dengan Si Tiok Gi,
tapi variasinya memang lebih banyak. Karena itu, wajar jika Lu
2468
Kun Tek kini merasa lebih aman dan lebih tenang karena
mendapat kawan bertarung dengan lawan yang tadi dia agak jeri
untuk maju lagi.
Tetapi ternyata, menghadapi paduan Jamukha dan Lu Kun Tek,
dua tokoh dari pihak lawan, tidak membuat Yu Lian takut dan
kemudian keteteran. Sebaliknya, justru dia merasa
kepandaiannya menjadi lebih mampu dikeluarkan dan mengalir
terus karena mendapatkan tandingan yang hebat. Bukannya
terdesak, dia justru mampu dan terus sanggup menahan kedua
lawannya dengan baik, tidak terdesak dan mampu berusaha
mencari cela untuk menerjang lawan-lawannya. Dan Yu Lian
semakin senang karena memang benar, kemajuannya sangatlah
mengagumkan dan sedikit membuatnya kaget. Mampu dan
sanggup membunuh Sin Bu tentu membuatnya seangat senang
karena dapat membalas dendam keluarganya. Tetapi,
menghadapi lawan lain yang lebih hebat dari Sin Bu, dan dia
sanggup meladeni dan tidak merasa terdesak, membuatnya lebih
gembira lagi. “Sampai dimana sebenarnya kepandaian silatku
saat ini....”? bertanya dia dalam hati. Sekaligus, mulai tumbuh
rasa percaya diri yang tebal dalam dirinya.
Memang benar, dia kini sudah dapat dan mampu menahan
imbang kakaknya yang dia tahu dahulu cukup jauh di atasnya
2469
kemampuan sang kakak. Tetapi, selebihnya dia masih buta,
masih belum paham dan tahu banyak. Dan sekarang ini, tepatnya
tadi setelah membunuh Sin Bu, benar-benar membuatnya
gembira. Dan menjadi lebih gembira lagi saat menemukan
kenyataan ketika melawan Jamukha, diapun tidak kalah, tidak
terdesak, malah mampu menekan kedua lawannya. Setidaknya,
dia tidak merasa terdesak dan harus melawan secara mati-matian
untuk sekedar menangkis ataupun menghindari serangan
lawannya. Ketika mencoba menyerang, dia menemukan
kenyataan jika dia mampu memundurkan kedua lawannya dan
kini kekuatannya membuat dia yakin bahwa kemamuannya sudah
meningkat dengan cukup hebat. Cukup dapat diandalkan.
Jamukha sendiri kaget setengah mati menemukan kenyataan
bahwa ternyata, gadis yang menjadi lawannya tidak selemah
yang dia duga sebelumnya. Karena dia hanya sekilas mengamati
kepandaian Yu Lian sebelumnya. Kini, menghadapinya secara
langsung dan masih ada pula yang membantu, justru tidak terlihat
membuat dan mampu mendesak seorang Yu Lian. Kenyataan ini
sungguh membuatnya sangat kaget dan terkejut. “Ternyata dia
hebat juga..... bisa-bisa terganggu pekerjaan kami hari ini...”
gerutunya dalam hati. Dan mulailah dia was-was, karena
pekerjaan besar mereka bisa terganggu dengan pertarungan ini.
2470
Tetapi Yu Lian setelah mendapat angin dan kepercayaan dirinya
meningkat jauh, kini tidak menyia-nyiakan kesempatan dan juga
peluangnya. Meski tidak berniat untuk membunuh Jamukha,
tetapi dia bersemangat untuk mengejar Lu Kun Tek dan selalu
menyerangnya dengan kekuatan besar dan mematikan. Lama
kelamaan Lu Kun Tek jadi ngeri dengan sendirinya, karena dia
amat sadar jika nyawanya dalam intaian lawan. Terlebih dia dapat
membaca niat Yu Lian dari besarnya serangan dan terjangan
yang hampir semua mengarah diri dan bagian tubuhnya yang
berbahaya. Mau tidak mau dia mulai menjaga langkah dan tidak
membiarkan dirinya berada terlampau dekat dan masuk dalam
jangkauan pukulan berbahaya dari Yu Lian. Dan secara otomatis,
dia seperti sengaja lebih banyak membiarkan Jamukha untuk bisa
berhadapan dan menempur Yu Lian secara langsung.
“Entah darimana Gadis ini, muncul-muncul sudah dengan
kepandaian yang malah bisa menyamai Buncu.... sungguh sangat
sial...” gerutu Lu Kun Tek dalam hari dan mulai merasa khawatir
dengan nasibnya kedepan. Jelas saja, sangat tidak nyaman dan
tidak menyenangkan punya musuh dengan kepandaian sehebat
Yu Lian, dan musuh itu, malah sedang mengejarnya untuk
membalas dendam keluarga. Sungguh sangat repot,
menyebalkan dan tentu saja amat menakutkannya. Tanpa terasa,
2471
pertempuran mereka sudah berjalan nyaris setengah jam, sudah
cukup lama waktu tersita untuk pertempuran itu. Jamukha sudah
gelisah, dan ini mempengaruhi gaya dan cara bertempurnya dan
menggoyahkan perlawanan mereka.
Jamukha menyaksikan semua arena dan mendapati, pertarungan
itu akan sulit untuk mereka menangkan dalam waktu dekat. Dia
melihat Yu Kong masih menang tipis, posisinya bersama Lu Kun
Tek juga relatif imbang jika bukan sedikit terdesak. Hanya satu
yang agak sedikit menggembirakan, yaitu arena keroyokan 5
Pasukan Robot yang terus menerus mendesak posisi Tian Sin Su
saat itu. Tapi, sangat jelas mereka kerepotan untuk bisa menang
dalam waktu yang singkat. “Jika begini terus, banyak urusan
bakalan terbengkalai....” desisnya. Bukan hanya sampai menilai
keadaan yang memang sudah sulit buat keadaan mereka saat itu,
tapi Jamukha bahkan bertindak lebih jauh lagi.
Menyadari bahwa banyak waktu mereka bakal banyak terbuang
habis padahal adanya mereka di kaki gunung Pek In San dengan
missi khusus, membuatnya sigap dan dengan segera mengambil
keputusan yang penting. Dan diapun segera bersiap.
Keputusannya saat itu adalah, memanggil bantuan langsung dari
Markas Utama Bu Tek Seng Pay di gunung Pek In San. Markas
utama mereka hanya berjarak satu jam perjalanan dalam
2472
keadaan normal. Itu artinya, bala bantuan mereka akan bisa tiba
guna memberi bantuan dalam waktu relatif singkat. Karena
berpikir demikian, diapun segera bertindak dan mengirimkan
isyarat butuh bantuan.
Tetapi, bersamaan dengan isyarat dilontarkan dan diteriakkan
oleh Jamkuha, saat itu juga muncul satu rombongan baru.
Rombongan itu dipimpin oleh dua orang yang kelihatannya cukup
hebat, sementara dibelakang mereka, ada 10 orang lain lagi yang
bertindak sebagai pengikut. Sepuluh pendatang itu langkah kaki
mereka biasa saja, tetapi dua pemimpin mereka terlihat cukup
hebat dan cukup berisi. Apalagi, kelihatannya juga bukan orang
baru, karena mereka adalah dua tokoh Hoa San Pay yang ikut
bergabung dengan pihak Bu Tek Seng Pay. Mereka adalah Suma
Cong Beng dan yang seorang lagi adalah Liu Beng Wan yang
merupakan murid utama Liok Kong Djie dan yang juga memiliki
julukan Si Hun Koay Sat Jiu (Tangan Aneh Pembetot Sukma).
Pemuda hebat ini bahkan pernah muncul dan bertarung dengan
Tio Lian Cu di Hoa San Pay, usianya sekitar 30 tahunan dan
bertampang gagah. Mereka berdua datang dan memasuki arena
bersama sepuluh orang lain yang adalah anggota Hoa San Pay
pembelot.
2473
Sesungguhnya, tokoh inilah yang amat mengenal Liok Kong Djie
karena sejak umur 7 tahun, dia sudah bersama suhunya yang
kukoay. Tetapi, karena bakat dan juga kegemarannya akan ilmu
silat sama dengan suhunya, maka diapun bisa tahan dengan
keanehan suhunya. Bahkan bisa memahami gerak-gerik dan juga
perangai suhunya yang rada-rada aneh dan sering eksentrik .
Soal kepandaian, jangan lagi dikata. Bahkan seorang Suma Cong
Beng sendiri masih belum cukup sanggup untuk meladeninya
seorang diri. Karena dia sudah mewarisi semua ilmu Liok Kong
Djie yang sama-sama fanatik berlatih silat, hanya saja Lui beng
Wan masih lebih tenang dan jauh lebih waras. Sejak kedatangan
Suma Cong Beng dia tersisih, karena Suma Cong Beng sangat
pandai berkata-kata dan sering mampu membujuk Liok Kong Djie
melakukan kehendaknya.
Pemuda ini sesungguhnya memiliki nama cemerlang di dunia
persilatan, tapi jarang yang tahu jika dia adalah murid seorang
tokoh Hoa San Pay yang rada gila dan fanatik itu. Watak dan
perangainya adalah diam dan tenang, tidak menonjolkan diri
sendiri dan jauh berbeda dengan Suhunya sendiri yang suka
meledak-ledak. Karena tahu posisi Suhunya, maka posisinya
terhadap Hoa San Pay dan Bu Tek Seng Pay juga ikut suhunya
saja. Tetapi, dia sama sekali tidak mau melibatkan diri dalam
2474
kejahatan, meski sesekali membantu Suhunya atas dasar
hubungan anrara Suhu dan Murid. Dan pada sisi ini, dia memang
tetap menghargai dan menghormati sang Suhu meski sang Suhu
bertindak secara keliru. Lui Beng Wan ada dalam posisi yang unik,
berada di pihak Bu Tek Seng Pay, hanya karena menghargai
Suhunya, tapi dia tidak pernah mau disuruh melakukan kejahatan.
Begitu memasuki arena, Lui Beng Wan dan Suma Cong Beng
langsung mengamati arena dan Suma Cong Beng langsung
berkata:
“Engkau bantu menghadapi gadis itu saja Suheng, biar aku yang
membantu Hong Lui Buncu untuk melibas lawannya yang
kelihatan hebat itu....” sekilas saja Suma Cong Beng paham
bahwa melawan Yu Kong, Si Tiok Gi sedikit dibawah angin, meski
masih belum kalah. Tetapi, keadaannya pada saat itu sudah
membutuhkan bantuan, karena semakin didesak oleh Yu Kong.
Suma Cong Beng memilih arena ini karena berpikir dapat beroleh
bantuan lain pada masa yang akan datang. Otak licik Suma Cong
Beng memang cepat bekerjanya.
“Baik Sute,,,,, tapi, bagaimana mungkin mengeroyok seorang
gadis....”? tanya Lui Beng Wan ragu, bagaimana mungkin dia
mengeroyok seorang gadis yang terlihat gagah perkasa itu?
2475
sungguh repot. Kegagahannya masih cukup dominan dan jelas
dia merasa jengah dan merasa kurang enak hati jika harus
mengeroyok dan juga mengalahkan seorang gadis muda. Meski,
dia dapat menyaksikan bahwa memang kepandaian gadis itu
cukup hebat juga. Masih belum tentu dia dapat mengalahkan
gadis itu, meski juga tidak akan kalah. Setidaknya itu yang ada
dalam pikiran Lui Beng Wan pada saat itu.
“Engkau maju saja, nanti juga Lu heng akan mundur dengan
sendirinya, engkau dapat melawannya dengan lebih baik. Kulihat
kepandaiannya cukup hebat, mungkin malah setanding
denganmu suheng” tambah Suma Cong Beng memanasi Lui
Beng Wan, dan untuk yang satu itu dia sukses, karena dia melihat
kerutan penasaran di wajah Lui Beng Wan. Dan Suma Cong
Bengpun tersenyum dingin, licik dan lumayan memualkan mereka
yang melihatnya.
Sementara itu Jamukha memandang bala bantuan dengan wajah
berseri. Jelas dia gembira dengan bantuan dari pihak Hoa San
Pay dan dipimpin Suma Cong Beng dan Lui Beng Wan yang dia
tahu kehebatan mereka. Dia tahu Lui Beng Wan yang baru
bergabung beberapa hari ini cukup kuat dan cukup hebat, dan
akan mampu menandingi lawan wanita yang hebat dan alot itu.
Karenanya, dia memutuskan untuk tidak maju ke arena lagi dan
2476
membiarkan Lui Beng Wan dan Suma Cong Beng untuk
mengambil alih tanggungjawab melawan mereka yang
mengganggu dan menghabiskan waktu itu. Apalagi, satu jam
paling lama, bantuan dari Pek In San akan juga tiba. “Habislah
mereka, desisnya.....”
Benar saja, Lui beng Wan akhirnya maju membantu Lu Kun Tek
meskipun dengan memberi peringatan terlebih dahulu:
“Nona, awas serangan......”
Sadar bahwa lawan meski seorang perempuan tetapi terlihat
hebat, Lui Beng Wan sudah langsung menyerang dengan
mengerahkan sinkang andalannya Siauw Thian Sin Kang
(Tenaga Sakti Membakar Langit) menyerang dengan Ilmu Pa Hiat
Sin Kong (Ilmu Sakti Menotok Jalan Darah). Yu Lian jelas saja
kaget. Lawan yang maju ini rasanya lebih alot dan kuat dari
Jamukha, dan ketika lengan keduanya berbenturan, keduanya
merasakan mengalirnya aliran iweekang yang sama kuat dan
membuat lengan keduanya kesemutan. Otomatis Yu Lian
berpaling dan sama saling pandang dengan Lui Beng Wan:
“Hmmmm, engkau hebat,,,,,,” desis Yu Lian ketika melihat sinar
mata Lui Beng Wan agak beda dengan lawan-lawan yang lain.
2477
Agak tenang dan tidak terlihat sinarnya yang licik dan jahat
disana.
“Engkau juga hebat Nona....” balas Lui Beng Wan sama memuji
lawannya yang juga mampu menggetarkan lengannya itu. Dan itu
tanda bahwa si Nona memang juga hebat dan tidak akan muda
dikalahkannya.
Sekejap keduanya terlibat dalam pertarungan seru dan Yu Lian
segera maklum jika dia menghadapi lawan yang benar-benar
tangguh. Sama dengan Lui Beng Wan yang juga merasa sudah
bertemu lawan hebat yang mampu membuatnya harus segera
mengerahkan kekuatan dan ilmu-ilmu andalannya. Beberapa kali
keduanya adu kekuatan, dan Yu Lian sadar dia tidak bisa
menempuh strategi itu, karena lawan sama kuat namun jelas lebih
segar darinya yang sudah bertarung selama beberapa jam
melawan orang-orang Hong Lui Bun sendiri. Maka, tanpa banyak
buang waktu, diapun mulai mengembangkan ginkang dan
menyerang dengan mengandalkan kecepatan dan mulai
mengurangi benturan iweekang. Lui Beng Wan tentunya sadar
dengan strategi itu, tetapi dia memang tidak mau mencederai Yu
Lian, tetapi harus tetap menunjukkan keberpihakannya.
2478
Sementara itu, posisi Yu Kong mendadak menjadi runyam ketika
Suma Cong Beng yang licik dengan memang tidak tahu malu
sudah terjun kedalam pertarungan tanpa sedikitpun memberi
peringatan terlebih dahulu. Di sisi lain, Si Tiok Gi meski ingin
protes tetapi tidak dapat. Bahkan selanjutnya, bukannya protes
dia malah berterima kasih, karena memang dia merasa mulai
berat mengalahkan Yu Kong. Dan dia juga berpikir, terlampau
lama waktu yang mereka habiskan untuk menghadapi tiga orang
pengkhianat dari Hong Lui Bun ini. Karena itu, pada akhirnya
diapun membiarkan Suma Cong Beng iktu membantu dan
keduanya mengeroyok Yu Kong yang kaget dengan tindakan
Cong Beng ini.
Dengan cepat kedudukan mereka berubah. Meski Yu Kong mulai
terdesak, tetapi dia masih dapat melakukan perlawanan yang
ketat dan yakin tidak akan terkalahkan dalam waktu yang singkat.
Malah, sesekali dia masih mampu mengancam Suma Cong Beng
yang memang ilmunya lebih lemah dibandingkan dirinya dan juga
Si Tiok Gi. Tetapi, dengan masuknya dia, justru memberi angin Si
Tiok Gi dan mulai mampu bernafas lega serta mulai menyerang
lebih banyak dengan juga sesekali membantu Suma Cong Beng.
Secara tiba-tiba, kini kedudukan Yu Kong dan Yu Lian justru
terbalik menjadi amat berbahaya karena keduanya terdesak.
2479
Mengharapkan Tian Sin Su juga sama saja. Karena, dia
kerepotan menghadapi Pasukan Robot yang susah dilukai meski
sudah berkali kali dia memasukkan pukulan, tetapi tetap saja
mereka bangkit kembali dan menyerang tanpa terluka sedikitpun.
Lama kelamaan posisi dan keadaan seperti itu membuatnya
terkejut dan mulai kewalahan juga. Karena ketidakmampuannya
untuk menemukan cara melukai lawan-lawan yang terus menerus
mengerubutinya dan menyerang dengan tidak memperdulikan
keselamatan sendiri. Memang itulah ciri khas Pasukan Robot,
susah dilukai dan menyerang serabutan dan juga menyerang
dalam gaya dan cara tidak menjaga diri. Menyerang secara nekat
dan tidak perduli dengan keselamatan diri sendiri.
Sementara pertarungan terus berlangsung dengan seru, tiba-tiba
terdengar seruan atau teriakan yang mirip dengan apa yang
dilakukan Jamukha tadi. Mendengar itu, Jamukhapun dengan
gembira berkata;
“Desak mereka terus, paling lama sejam bantuan yang lain akan
tiba.... jangan ragu, jika harus membunuh, bunuh saja daripada
menghambat gerakan kita...” perkataan ini benar-benar memukul
semangat lawan. Yu Kong, Yu Lian dan Tian Sin Su sadar bahwa
bahaya mulai mengancam mereka. Karena dalam keadaan
mereka yang sulit, mereka masih mengetahui kabar bahwa pihak
2480
lawan akan kedatangan bala bantuan yang lebih segar lagi dan
mungkin lebih hebat kemampuan mereka. Dan korbannya segera
jatuh, adalah Tian Sin Su yang agak gopoh karena mendengar
seruan Jamukha menjadi lamban dan pada akhirnya termakan
pukulun keras salah satu dari anggota pasukan robot:
“Bukkkkk, aaaacchhhhhh....”
Tubuhnya telak terkena pukulan lawan, untungnya kekuatan
iweekangnya masih lebih kuat ketimbang iweekang lawan yang
memukulnya. Dan karenanya, lukanya sebenarnya tidak begitu
parah. Tetapi bagaimanapun luka tetaplah luka. Meski tidak
membuatnya tidak dapat bertempur lebih jauh, tetapi dapat
mengurangi langkah dan perlawanannya. Dan untuk mengurangi
parahnya luka akibat pukulan lawan, maka dengan sengaja dia
tidaklah melakukan perlawanan hingga tubuhnya melayang jatuh
cukup jauh dari tempatnya tadi. Tetapi bersamaan dengan itu,
pada saat dia jatuh ke tanah, justru muncul dua orang yang lain
lagi. Tian Sin Su otomatis terkejut. Awalnya dia menduga bala
bantuan lawan, tetapi hanya sebentar dia kaget karena salah
seorang yang masih sedikit muda, dari dua pendatang baru itu,
bertanya dengan nada suara hambar langsung kepadanya:
2481
“Apakah lawan-lawanmu yang pengecut itu adalah para penjahat
yang bermarkas di gunung Pek In San dan dinamakan Bu Tek
Seng Pay itu....”?
Harapan Tian Sin Su bangun karena dia dapat menduga kedua
orang yang dia rasa lebih lihay dari dirinya sendiri kelihatannya
adalah lawan dari musuh-musuhnya. Secara cerdik dia dapat
menilai dari pertanyaan tokoh yang lebih muda tadi. Akalnya yang
panjang jadi teringat satu prinsip – MUSUH DARI MUSUHKU
BISA JADI ADALAH KAWAN. Sangat boleh jadi meski bukan
kawan, tetapi dua orang ini memiliki musuh yang sama dengan
pihaknya. Dan itu berarti, mereka sangat bisa bekerjasama meski
hanya untuk sesaat belaka. Berpikiran demikian, maka Tian Sin
Su kemudian berkata sambil mengangguk:
“Benar sekali, mereka-mereka itu adalah bagian dari gerombolan
Bu Tek Seng Pay yang licik dan kejam yang mengganggu
ketentraman rimba persilatan dan main bunuh banyak orang
selama ini......”
“Hmmmm, terima kasih......” sambil berkata singkat seperti itu,
dengan hanya melirik Tian Sin Su yang masih bisa berdiri sendiri,
diapun melirik orang tua yang datang bersamanya dan kemudian
berkata:
2482
“Ayah, kita bertemu musuh. Sudah saatnya kita membalas. Mari
kita berpesta untuk membalaskan dendam kita”
“Benar anakku, mari kita mulai berpesta.....”
Sementara itu, melihat kemunculan dua orang asing, Suma Cong
Beng yang jeli dan licik, mundur dari arena dan kemudian
mencoba menyapa kedua pendatang baru. Tetapi, dia terkejut
begitu melihat siapa yang datang;
“Acccccch, rupanya To Kak Thi Koay (Kaki Tunggal Tongkat Besi)
Hek Man Ciok Locianpwee bersama Thie Tauw Eng Jie Lo (Si
Garuda Kepala Besi) Hek King Yap (47) yang gagah perkasa.
Sungguh, angin apa gerangan yang meniup sampai Locianpwee
bersama putra tunggalmu mengunjungi gunung Pek In San, jauhjauh
dari daerah utara dari sekitar Gunung Bu Ki San sana.....”?
suaranya lemah lembut, karena dia berharap dapat menarik
mereka berdua ke pihaknya. Karena tokoh dari Bu Ki San di
daerah utara ini sangat terkenal, meski jarang beraktifitas di dunia
kang ouw. Jelas banyak orang yang takut kepada orang tua ini,
tetapi itu terutama terjadi didaerah utara. Sikap Suma Cog Beng
membayangkan bahwa kedua pendatang baru ini bukanlah tokoh
biasa.
2483
“Hmmmm, apakah engkau dapat berbicara mewakili Bu Tek Seng
Pay dan juga Utusan Pencabut Nyawa yang konon sekarang
bermarkas di gunung Pek In San sini”? tanya tokoh yang lebih
muda, yang ternyata bernama Hek King Yap, langsung menatap
Suma Cong Beng menunggu jawaban.
“Acccch, memang benar, lohu bisa saja berbicara mewakili Bu
Tek Seng Pay, tetapi tergantung keperluan locianpwee berdua.
Jika ada urusan yang amat penting, maka lohu bisa meminta
salah seorang Hu Pangcu untuk mewakili pihak kami dari Bu Tek
Seng Pay. Nach, apakah gerangan keperluan locianpwee
mengunjungi gunung Pek In San yang menjadi markas kami
ini....”?
“Hmmmm, membunuh semuat bangsat rendah dari Utusan
Pencabut Nyawa dan Bu Tek Seng Pay yang memaksa dan
kemudian membunuh anakku Hek Hong Bu karena sudah
menolak masuk dan bergabung dengan Bu Tek Seng Pay. Nach,
karena engkau ternyata cukup berani untuk mewakili Bu Tek Seng
Pay, boleh saja engkau yang kami antarkan duluan guna
menghadap giam lo ong, membuka jalan bagi yang lainnya untuk
menyusul sebentar lagi.....” terdengar Hek King Yap berkata dan
bahkan sudah langsung menyerang Suma Cong Beng yang
untungnya sudah siap sedia melihat gelagat kurang baik dari dua
2484
manusia didepannya itu. Jika ayal sedikit saja, maka dia pasti jadi
korban.
Tetapi, alangkah terkejutnya Suma Cong Beng karena kekuatan
pukulan lawan rasanya masih berada diatas kemampuannya,
setanding dengan suhengnya yang lebih muda usia, yaitu Lui
Beng Wan. Atau mungkin malah melebihinya. Dan melihat serta
merasakan adanya bahaya, Jamukha dengan cepat dan segera
memberi isyarat sehingga majulah kelima anggota Pasukan
Robot untuk menyambut Hek King Yap. Tetapi sebelum mereka
menyerang Hek King Yip, tokoh yang datang bersamanya dan
merupakan ayahnya, berusia cukup tua, menyambut pasukan itu
dengan sebatang tongkat besi sebagai senjatanya. Kelihatannya
memang seperti bambu, padahal isi tongkat itu sesungguhnya
adalah sebuah besi yang amat keras. Nach dengan tingkatnya itu,
dia mampu menahan serangan kelima manusia robot yang tidak
bisa dilukai dan seperti tidak memiliki rasa sakit itu. Maka, kembali
arena pertarungan bertambah dengan masuknya dua orang itu.
Sementara itu, Suma Cong Beng kini sudah dibantu oleh
Jamukha dan melawan Hek King Yap dengan sama serunya.
Hebatnya, kemampuan Hek King Yap ternyata bisa sehebat Yu
Lian maupun juga Lui Beng Wan, karena dia mampu menandingi
Jamukha dan Suma Cong Beng dengan sangat baik. Pada
2485
akhirnya, pertarungan kembali menjadi seimbang meski bantuan
di pihak Bu Tek Seng Pay masih ada, yakni pasukan Hoa San Pay
yang berkhianat dan para murid Hong Lui Bun. Tetapi, mereka
lebih baik berjaga, karena lawan teramat hebat untuk mereka
hadapi. Jika berkeras, meskipun jumlah mereka lebih banyak,
tetapi sangat berpotensi terluka atau bahkan terbunuh pihak
lawan.
Berbeda dengan Tian Sin Su, maka Hek Man Ciok yang sudah
tua dengan senjata tongkat besinya, berhasil menemukan cara
melukai Pasukan Robot itu. Persis sama dengan bagaimana Sie
Lan In menghadapi mereka dahulu, yakni menotok mereka pada
tempat-tempat sambungan jubah pelindung tubuh mereka.
Dengan cara itu, meski tidak jatuh, tetapi Pasukan Robot rada
terlambat bergerak karena sambungan tulang ataupun
sambungan otot mereka sering jadi sasaran totokan tongkat besi
sang tokoh tua yang ternyata sehebat anaknya yang masih
mudaitu. Malah, berkali-kali tokoh tua itu menotok mereka dan
membuat Pasukan Robot kocar-kacir. Tetapi karena tidak terluka,
dengan gagah berani dan tidak sedikitpun kenal takut, mereka
maju lagi mengeroyok kakek itu. Begitu seterusnya, meskipun
melawan Hek Man Ciok, mereka kurang sukses seperti ketika
melawan Tian Sin Su.
2486
Begitu seterusnya, sampai hampir setengah jam kembali sudah
berlalu. Dan mereka yang sedang bertarung, jelas tidak lagi sadar
akan waktu, lupa bahwa teriakan isyarat dari Pek In San tadi tentu
saja sudah semakin mendekat. Tetapi, pada saat itu, tiba-tiba
muncul Sie Lan In dalam keadaan terburu-buru dan begitu
memasuki arena, dia langsung mendekati Yu Lian. Tetapi dia
memandangi sekeliling arena dan mendapati bahwa penentuan
kalah dan menang benar-benar memakan waktu yang amat lama,
karena masing-masing yang bertarung, sedang dalam posisi yang
nyaris seimbang semuanya. Maka diapun memilih untuk
mendekati arena dimana Yu Lian bertarung dan kemudian
berbisik:
“Bala bantuan Bu Tek Seng Pay yang lain sedang datang, mereka
yang akan muncul adalah tokoh-tokoh hebat dan bahkan banyak
yang melebihi tokoh mereka yang sudah berada disini lebih
dahulu...... kita harus menyingkir terlebih dahulu. Jika terlambat,
maka bahaya maut bakal mengancam kita semua. Engkau
beritahu segera toakomu, kita menghindar, balas dendam akan
dapat kita lakukan lain waktu selama gunung masih menghijau....”
Yu Lian yang saling menghormati dengan lawannya Lui Beng
Wan mengerti dengan maksud Sie Lan In yang bisa dia kenali dari
dandanannya. Karena memang lawan saat itu adalah Lui Beng
2487
Wan yang hanya sekedar “ikut-ikutan”, maka mudah dia
melepaskan diri dari Lui Beng Wan dan mendekati kakaknya. Dia
menyerang kearah Si Tiok Gi tapi dihalangi murid-murid Hong Lui
Bun, tetapi dengan beberapa jurus hebat, anak murid itu terpental
kesana kemari. Hanya, dia tetap sulit ikut menyerang Si Tiok Gi
karena halangan murid-murid Hong Lui Bun. Untung dia masih
sadar, bahwa mereka hanya terpengaruh Si Tiok Gi semata, coba
kalau tidak. Dia bakalan menurunkan tangan kejam.....
“Toako, kita harus segera pergi, lawan yang datang sebentar lagi
adalah tokoh-tokoh berat dari pihak mereka....... biarlah
pembalasan buat bangsat-bangsat itu kita tunda sementara. Kita
harus bergegas pergi sekarang.....” demikian dia menyampaikan
suara ke telinga kakaknya yang melirik kearahnya dan dia dapat
menyetujui rencana mereka itu. Meski dia sebenarnya rada berat
untuk meninggalkan musuh utama keluarganya, tetapi penasehat
mereka disana, juga sudah terluka, sementara bala bantuan
lawan akan segera tiba. Karena itu, dia juga sama berpikir, bahwa
tak ada cara lain yang lebih baik selain menyingkir terlebih dahulu,
dan dapat kelak mempersiapkan untuk menyerang lagi di
kemudian hari. Karena berpikir demikian maka diapun segera
menoleh kearah adiknya, dan kemudian dengan suara tetap dan
gagah dia berkata:
2488
“Baik adikku, kita segera bersiap......”
Yang repot adalah ayah dan anak Hek Man Ciok dan Hek King
Yap, karena mereka berkeras untuk melanjutkan pertempuran
meski sudah diingatkan oleh Sie Lan In beberapa kali. Bahkan,
Sie Lan In kemudian berkata:
“Jika jiwi terbunuh, masihkah mampu melakukan pembalasan?
beberapa hari lagi, rombongan pendekar akan tiba disini
menyerbu mereka, saat itulah yang tepat untuk melakukan
pembalasan. Sekarang ini, pasukan mereka ada seribuan,
Pasukan Robot mereka cukup amat banyak, belum Utusan
Pencabut Nyawa. Dan ada pula Mo Hwee Hud di pihak mereka.....
jika jiwi bertahan, bukankah mempertaruhkan nyawa secara
percuma....”? pada akhirnya Sie Lan In membentak sebagai ganti
membujuk mereka melalui ilmu menyampaikan suara. Maklum,
dia kesal karena kedua tokoh itu keras kepala dan terus bertahan
untuk membunuh semua lawan yang berada di sekitar situ.
“Bahkan yang kalian lawan hanya murid-murid mereka, belum
tokoh-tokoh utama yang kepandaian mereka lebih hebat lagi.......
tinggal dan berkelahilah membawa nyawa kalian, tapi maaf, kami
harus menyingkir untuk menantikan rombongan para pendekar
datang menyerang beberapa hari lagi.....” pada akhirnya Sie Lan
2489
In datang dengan kata-kata seperti itu karena kesal dengan kedua
ayah beranak yang tetap keras kepala melanjutkan pertarungan.
Mendengar perkataan Sie Lan In dan melihat bagaimana Sie Lan
In bertempur melawan Lui Beng Wan dan membagi serangannya
terhadap Jamukha dan lawan lain yang mengeroyoknya, sadarlah
Hek Man Ciok. Jika tokoh muda sehebat itu saja masih mengalah
dan membujuk mereka sadar akan kehebatan lawan yang sedang
datang, maka pastilah lawan memang hebat. Mempertimbangkan
hal tersebut, maka akhirnya lunak jugalah hatinya, dan diapun
menyerang dan menotok sampai lima kali untuk kemudian
berkata:
“Anakku, kita ikut mundur, lawan akan terlalu kuat......”
“Baik ayah......” hanya itu jawaban singkat Hek King Yap, meski
dia sendiri sudah sangat terbakar oleh dendam dan bertarung
untuk membunuh lawan yang selalu datang menerjangnya.
Tetapi, memang benar, nyawa mereka terancam jika nekat
melakukan perlawanan sementara musuh yang lebih hebat akan
segera tiba. Lebih baik mundur sejenak dan maju lagi kelak.
Mereka semua, Yu Kong yang sudah memapah Tian Sin Su, Yu
Lian yang sudah siap sejak tadi, sampai kemudian Hek Man Ciok
2490
dan Hek King Yap terkejut melihat ketika dalam kecepatan yang
amat luar biasa Sie Lan In bergerak. Dia membagi pukulan kearah
Si Tiok Gi, Jamukha, Suma Cong Beng dan Liu Beng Wan, juga
menotok 3 Pasukan Robot yang sudah dia tahu kelemahan
mereka. Ketika semua mundur akibat terjangan hebat Sie Lan In,
terdengar Sie Lan In kemudian berkata dengan suara yang
nyaring:
“Mari kita mundur kearah selatan, musuh-musuh kuat sedang
mengejar kemari. Ke selatan kita bisa bertemu kawan-kawan
pendekar yang sedang berkumpul di sekitar Gunung Thian Cong
San sana.......”
Yu Kong dan Yu Lian cepat tanggap, merekapun bergerak
menyerang rombongan Hoa San Pay dan Hong Lui Bun. Meski
agak lunak terhadap anak murid Hong Lui Bun, tetapi keras
terhadap rombongan bawaan Suma Cong Beng. Gebrakan
mereka membuka jalan mundur, apalagi tokoh-tokoh mereka
didesak dalam kecepatan luar biasa oleh Sie Lan In. Sementara,
Lui Beng Wan sendiri terkesan tidak mati-matian melawan,
maklum, dia kurang setuju dengan tindakan gurunya yang
menurutnya hanya mengekor dan tunduk kepada bujukan Suma
Cong Beng. Entah apa tujuan dan motif Suma Cong Beng
mengajak suhunya yang sudah tua itu. Tetapi, memang, tetap
2491
saja dia tidak tega meninggalkan suhunya dalam kubangan
persekongkolan Bu Tek Seng Pay yang menurutnya tidak genah
itu.
Beberapa saat kemudian mereka berenam sudah terpisah sampai
10-15 meter dari lawan yang agak ragu apakah mengejar atau
tidak. Saat mereka mengejar, mereka masih harus menghitung
kelebihan Sie Lan In yang amat hebat bergerak dan kuat dalam
memukul itu. Karenanya, mereka memutuskan untuk lebih baik
menunggu tokoh mereka yang lain tiba baru menerjang dan
menyerang dengan lebih gencar lagi. Sementara Sie Lan In justru
bertindak menghindari tokoh-tokoh yang sedang turun dari
gunung Pek In San itu. Maka, yang terjadi adalah adu strategi dan
adu kepandaian bagaimana pergi dari tempat itu di pihak Sie Lan
In dan bagaimana mencegah atau memperlambat gerakan
mundur musuh di pihak Jamukha. Strategi dan cara bertempur
kini berubah, tetapi tetap saja menegangkan menunggu siapa
yang berhasil dengan strateginya yang baru itu. Yang pasti, Sie
Lan In sudah memutuskan untuk membawa kawan-kawannya
dan melangkah mundur memilih arah yang jelas, yakni kearah
selatan. Disana dia berharap dapat bertemu dengan rombongan
pendekar yang menurut hitungannya mulai berkumpul.
2492
“Tahan dan perlambat mereka.....” seru Jamukha tetapi dia sendiri
tidak bergerak maju untuk menyerang, sehingga otomatis kawankawannya
yang lain juga jadi rada ragu untuk menyerang
rombongan lawan. Bukan apa-apa, kedatangan Sie Lan In benar
benar mengejutkan dan merubah keseimbangan, mengejar lawan
yang hebat dalam kekuatan pas-pasan, sama saja dengan
mencari kekalahan. Baik Si Tiok Gi, Suma Cong Beng maupun
Lui Beng Wan menyadari keadaan ini, karena itu mereka sama
tidak bergerak mengejar dengan serius. Tetapi, mereka tetap
membayangi namun tidak secepat langkah pergi Sie Lan In dan
kawan-kawan yang berusaha menyingkir secepatnya dari lawanlawan
mereka itu. Otomatis merekapun, Jamukha dan
rombongannya, semakin tertinggal jauh dan lawan sudah
beberapa jauh di depan dan tak lama kemudian menghilang
dibalik hutan lebat sana.
Maka, proses kejar-mengejar, proses berburu segera dimulai.
Meski awalnya para pemburu agak takut-takut, tetapi berselang
setengah jam kemudian proses berburu itu benar-benar mulai
terjadi. Hal tersebut boleh jadi karena setengah jam berselang
kawan-kawan yang dimaksudkan sebagai “bala bantuan” oleh
Jamukha, beberapa waktu yang lewat, sudah pada berdatangan.
Dan mereka adalah tokoh-tokoh utama yang berada di Markas di
2493
gunung Pek In San yang sudah ikut turun untuk mengejar serta
memburu lawan. Bahkan diantara mereka terlihat adanya tokohtokoh
berat, yakni Liok Kong Djie, Ki Leng Sin Ciang (Raksasa
Telapak Tangan Sakti) Ma Hiong Seng dari Tiang Pek Pay dan
masih ditambah dengan Lima Raja Tiang Pek San dan tokohtokoh
utama dari Pek Lian Pay. Bahkan menurut Ma Hiong Seng,
jika dibutuhkan Dewi Alehai akan menurunkan titah agar
rombongan yang lebih besar dan kuat untuk ikutan guna mengejar
dan memburu lawan.
Tetapi, sayangnya lawan yang ingin ditangkap sudah cukup jauh
berlari didepan, bahkan sudah menghilang masuk kedalam hutan
yang memang cukup lebat. Karena itu, upaya menangkap kini
berubah menjadi missi untuk memburu lawan yang sudah masuk
kedalam hutan terlebih dahulu. Terlihat Jamukha segera
memutuskan untuk memberikan perintah agar segera memburu
mereka yang masuk hutan dan untuk itu dia menjadikan anak
murid Pek Lian Pay sebagai bidak di barisan depan. Bukan apaapa,
karena mereka memang menguasai medan di sekitar
gunung Pek In San jika dibandingkan orang lain. Memiliki anak
murid Pek Lian Pay menguntungkan mereka, karena anak murid
perguruan itu jelas cukup menguasai medan yang akan mereka
tempuh. Ini akan memudahkan proses melacak kemana perginya
2494
lawan-lawan yang sudah berapa waktu lalu masuk kedalam
hutan.
Mengapa Sie Lan In muncul belakangan padahal dia
menyaksikan sejak amat awal yaitu saat pertarungan memuncak
antara Yu Kong dan Yu Lian melawan para tokoh pengkhianat
Hong Lui Bun? Ada apa gerangan? atau apa yang terjadi sampai
dia muncul belakangan dan memperingatkan akan muncul tokohtokoh
hebat dari pihak lawan mengejar mereka semua? Untuk
mengetahuinya baiklah kita mundur sejenak kebelakang guna
mengetahuinya.
Sebetulnya adalah sebuah kebetulan ketika Sie Lan In mampu
melacak kedatangan seorang tokoh hebat di pihak lawan yang
belakangan dikenal sebagai Dewi Alehai. Melihat kedatangan
tokoh yang cukup dihormati lawan-lawannya itu, dia kemudian
hanya mengintip sebentar pertarungan Yu Lian dan Yu Kong
menghadapi lawan-lawan mereka. Dia sempat menyaksikan
betapa Dewi Alehai itu, hanya menggeleng-gelengkan kepala
gelisah dan kemudian meninggalkan tempat itu dengan wajah
yang kurang sedap dipandang. Tetapi Sie Lan In justru merasa
curiga dengan tindak tanduknya yang meninggalkan arena
kawan-kawannya bertarung. “Kemana dia akan pergi...”? desis
Sie Lan In dalam hatinya. Curiga, membuat Sie Lan In dengan
2495
kemampuan ginkangnya, memutuskan untuk menguntit kemana
gerangan si Dewi Alehai sedang menuju. Dan ternyata dia
bertemu dengan Jamukha dan percakapan mereka berdua amat
mengagetkan Sie Lan In:
“Usaha kita untuk memasang jebakan beracun pada setiap
Barisan di 6 titik yang mungkin mereka gunakan sebagai pintu
masuk, akan terancam gagal total jika terus menerus begini
keadaannya. Bagaimanapun, engkau harus segera bertugas
serta turun tangan guna membantu Hong Lui Buncu dan bunuh
saja dua pengganggu itu, mereka sungguh menyebalkan datang
di saat seperti ini.....”
“Memangnya sudah sejauh mana tugas memasang jebakan
beracun terlaksana sejauh ini Dewi Alehai...”? terdengar Jamukha
bertanya serius kepada Dewi Alehai yang terlihat agak kurang
senang dengan perkembangan terakhir. Terutama ketika Dewi
Alehai berbicara kepada dirinya sambil juga mengungkit ancaman
gagalnya missi mereka untuk membuka atau memasang jebakan
pada pintu masuk yang akan dilewati lawan. Padahal, itu
tanggungjawab mereka berdua.
“Baru tiga yang terpasang sementara tiga lainnya syukurlah
terletak agah jauh dari arena pertempuran itu sehingga tidak
2496
terlampau terganggu, tetapi jebakan sihir sudah terpasang
semuanya pada tempatnya. Sulitnya, ketiga yang terakhir, justru
terletak dekat area ini....” desis Dewi Alehai murka
“Hmmm, dengan jebakan beracun dan dengan jebakan sihir
dalam Barisan, berapa banyak korban lawan yang kira-kira
jatuh...? tanya Jamukha masih belum beranjak pergi dan masih
terus bertanya.
“Sebetulnya cukup untuk membunuh semua lawan, tapi taruhlah
setidaknya tiga perempat jumlah lawan, sudah cukup
memadai...... sisanya, tentu lebih mudah untuk kita tangani,
bahkan cukup dengan Pasukan Robot dan Utusan Pencabut
Nyawa” jawab Dewi Alehai merasa optimist.
“Tapi, mampukah barisan seperti ini menahan kehebatan seorang
yang bernama Thian Liong Koay Hiap itu....”? tanya Jamukha
dengan rada jerih ketika menyebut nama Thian Liong Koay Hiap
“Untuk dia sudah ada yang akan menangani, engkau tenang
saja....” jawab Dewi Alehai santai dan tidak terlihat khawatir.
Berbeda dengan Jamukha yang memang sudah berapa kali
melihat dan bentrok dengan Thian Liong Koay Hiap yang semakin
mendatangkan rasa seram di pihak lawan.
2497
“Tapi masih ada 3 tokoh muda lihay lainnya, bahkan konon ada
tokoh lain bernama Koay Ji yang juga memiliki kemampuan
menahan tokoh mujijat kita. Artinya, ternyata ada cukup banyak
lawan hebat yang sangat mungkin menyerbu kemari, dan bersiap
diri adalah jauh lebih baik.....”
“Tenang saja, akan ada yang menahannya kelak. Seng Ong
sudah menegaskannya, bahkan Seng Ong sendiri akan mulai
bekerja langsung di lapangan dalam waktu satu atau dua hari
nanti....”
“Sebaiknya memang begitu....”
“Sudah saatnya engkau membereskan mereka....”
“Baiklah biar aku membawa 5 Pasukan Robot membantu mereka”
jawab Jamukha yang akhirnya setuju dengan perkataan dan
pembagian tugas oleh Dewi Alehai. Dan tugasnya adalah segera
turun tangan membunuh musuh yang mencoba masuk dan yang
sekarang sedang bertarung dengan Hong Lui Buncu.
“Begitupun bagus, jika memang masih kesulitan, engkau segera
kirimkan sandi tanda bahaya, niscaya akan ada yang turun
membantu. Aku akan memeriksa tiga Barisan yang sudah
2498
dipasangi jebakan racun dan menjemput Cen Soat Ngo untuk
mulai memasang jebakan beracun di tiga barisan lain...”
“Baik, kita sepakati seperti itu......”
“Tapi, siapa lagi yang berada di Markas jika kubutuhkan
bantuan...”? Jamukha bertanya untuk sekedar memastikan
apakah ada cadangan bantuan baginya ketika lawan ternyata
cukup alot dan hebat.
“Ada Liok Kong Djie, ada Hek, Pek dan Kim Seng, ada tokohtokoh
Tiang Pek Pay, masih ada banyak tokoh hebat, jangan
khawatir.....”
“Baiklah jika memang demikian, aku pergi dulu.....”
Sepeninggal Jamukha, Sie Lan In berpikir keadaan Yu Kong dan
Yu Lian masih belum sangat terancam. Mereka memiliki bekal
yang memadai untuk melakukan perlawanan, bahkan bisa
menang melawan ancaman lawan. Karena berpikir begitu, diapun
memilih untuk melanjutkan menguntit perjalanan Dewi Alehai.
Benar saja, dia kini memandangi sebuah jalan masuk ke atas
yang paling baik, meskipun sangat memungkinkan dan
kelihatannya seperti itu, jebakan juga dipasang di titik ini. Tidak
berapa lama, terlihat Alehai berjalan menjauh bersama dengan
2499
seorang yang dikenal sebagai murid Sam Boa Niocu yang juga
amat beracun, dia adalah Cen Soat Ngo. Kakek berusia 60 tahun
dan lihay dalam ilmu racun.
Sie Lan In menguntit terus sampai tiba di satu lagi jalan masuk,
dan seperti jalur sebelumnya, jalur inipun terlihat memang pas
untuk bisa naik ke atas. Dan setelah dia berhasil mencatat tempattempat
yang sudah dia curigai, tiba-tiba terdengar isyarat dari
Jamukha. “Hmmmm, mereka butuh bantuan lagi sepertinya.....”,
desis Sie Lan In. Dan dugaan Sie Lan In itu memang benar,
karena dia mendengar Dewi Alehai menggerutu dengan suara
sebal:
“Masak mereka masih butuh bantuan juga...... haaaaaai, musuh
ternyata hebat juga. Kelihatannya Liok Kong Djie dan tokoh-tokoh
hebat lainnya perlu meregangkan otot dan mengasah tenaga,,.....”
Kaget juga Sie Lan In mendengarkan gumaman Dewi Alehai. Jika
Liok Kong Djie dan tokoh hebat lainnya muncul, maka orangorang
tadi bakalan dalam keadaan yang berbahaya. “Sudah
cukup yang kutemukan, waktunya menyelamatkan orang
sebelum jadi terlambat.....” demikian akhirnya Sie Lan In
memutuskan. Dan tanpa sepengetahuan Dewi Alehai, baik
2500
sewaktu menguntit maupun sewaku pergi, Sie Lan In kemudian
berkelabat kembali ke tempat pertarungan tadi.
Kembalinya Sie Lan In pas seperti yang dituliskan di depan, dan
diapun memimpin jalan mundur mereka mencari jalan menuju ke
Thian Cong Pay. Tetapi, musuh rupanya mengincar mereka,
apalagi karena tahu salah seorang lawan sudah terluka dalam
pertempuran tadi. Jadi, mereka tahu persis bahwa perjalanan
lawan pastilah akan terkendala dan tidak mungkin melaju dalam
kecepatan yang tak terkejar. Itulah sebabnya Jamukha dipaksa
menunjukkan jalan dan para anak murid dan tokohPek Lian Pay
yang kemudian menjadi penunjuk jalan. Dan dugaan mereka
memang amat tepat, semakin lama mereka tahu semakin
mendekat dengan sasaran, karena Tian Sin Su memang terluka
dan berjalan amat perlahan.
Adalah Sie Lan In yang menyadari bahaya yang mengancam
datang. Tetapi diapun menyadari bahwa hari semakin gelap, dan
ini membuatnya semakin percaya diri untuk bisa menghindari
pengejaran lawan:
“Lebih baik kita mempergunakan situasi kegelapan untuk
menghindari pengejaran lawan...” usul Sie Lan In
2501
“Tapi, lawan masih tetap dapat melacak kita. Sebaiknya kita
mencari tempat istirahat dan memelihara tenaga sehingga jika
perlu, kita bisa melawan dengan kekuatan yang memadai.....”
terdengar Hek King Yap mengusulkan.
“Bagaimana jika kita terus berjalan sampai beberapa saat lagi,
dan ketika hari gelap kita mencari tempat persembunyian. Dalam
keadaan gelap, baik mereka maupun kita akan sangat kesulitan
untuk saling menemukan, dan jikapun saling menemukan, posisi
mereka jauh lebih rawan, karena selain jumlah kita lebih sedikit
posisi kita juga jauh lebih menang. Karena posisi kita yang berada
dibalik kegelapan, tentunya akan membuat mereka berpikir
panjang untuk menyerbu....” saran Sie Lan In
“Baiklah, akupun setuju kouwnio......”
Tepat seperti perkiraan Sie Lan In, tidak lama kemudian
malampun datang. Tetapi, baik pengejar maupun mereka kini
kesulitan saling menemukan, meskipun pada dasarnya mata
mereka terlatih memandang dalam kegelapan. Tetapi Sie Lan In
memilih memimpin rekan-rekannya mencari tempat bersembunyi
namun tak dapat mereka temukan satupun goa disitu. Adalah Yu
Kong yang menemukan sebuah pohon yang amat besar dan
2502
daunnya amatlah rindang. Sebuah tempat bersembunyi yang
baik, meski masih dapat ditemukan lawan;
“Sebaiknya kita beristirahat dan bersembunyi di atas pohon ini.
Dahannya besar dan daunnya amat rindang. Meski memang
benar dapat mereka temukan, tetapi akan jauh lebih cepat kita
untuk menerjang mereka jika memang mereka sampai dapat
menemukan persembunyian ini.....”
“Hmmmm, engkau benar, pohon ini sungguh tempat yang
ideal.....” terdengar Hek King Yap bergumam tanda setuju. Dan
ketika semua mereka akhirnya setuju, maka tidak lama mereka
mencari dahan-dahan besar untuk tempat mereka beristirahat.
Selewatnya 15 menit, pohon itupun menjadi pohon biasa dan sulit
diketahui apakah ada yang bersembunyi disitu ataukah tidak.
Yang pasti, keadaan disitu kembali normal, bagai tak ada manusia
yang berada disitu sebelumnya. Malampun teruslah merambat
perlahan, meski beristirahat, tetapi kawanan pendekar itu
sesungguhnya merasa tegang karena sangat sadar bahwa lawan
sedang terus menerus memburu untuk menemukan posisi
mereka.
Padahal, pada dasarnya hutan itu demikian tenang malam itu,
suasananya seperti malam-malam sebelumnya, tetapi tentunya
2503
bagi mereka yang diburu dan memburu, keadaannya agak lain.
Meskipun merasa tegang, tetapi sampai hari menjelang pagi,
tidak ada diantara mereka yang saling menemukan. Baik yang
memburu maupun yang diburu. Kelihatannya karena semua
sadar bahwa memaksakan diri bergerak di kegelapan malam
akan banyak bahayanya. Karena itu, ada akhirnya malam yang
rada menegangkan itupun berlalu dengan sisa-sisa ketegangan
yang erat melekat di hati. Menjelang terang tanah, semua yang
berada di pohon mulai sadar dari samadhi dan Tian Sin Su sendiri
sudah merasa lebih baik setelah beristirahat dan makan sejenis
obat dari Sie Lan In. Meski tahu sudah saatnya kembali bergerak,
tapi belum ada yang berinisiatif bergerak.
“Sekarang bagaimana.....”? bertanya Yu Kong setelah semua
sudah siap bergerak tetapi masih belum ada yang berinisiatif
untuk memberikan perintah dan sekaligus memaparkan strategi
mereka untuk hari itu. Setelah semua terdiam dan istirahat selama
beberapa ketika, akhirnya terdengar Sie Lan In membuka suara
dan sudah langsung memaparkan saran dan usulnya:
“Kita tetap lanjut menuju gunung Thian Cong San, karena disana
para pendekar sudah mulai berdatangan dan akan bertemu untuk
menerjang kemari, ke markas Bu Tek Seng Pay......” Sie Lan In
mengusulkan
2504
“Tetapi, merekapun pasti tahu sasaran dan arah kita, maka bisa
dipastikan mereka akan berusaha untuk memotong jalan pergi
kita bertemu kawan-kawan Pendekar...” terdengar Hek Man Ciok
memberi pendapat dan tidak menunggu ada yang memberi
tanggapan, kemudian dilanjutkannya lagi,
“Jika kalian semua setuju, mari kita mengambil jalan sebaliknya
sambil mencari tempat persembunyian menunggu kawan-kawan
kalian datang dan kita kelak dapat bergabung dengan mereka.
Mungkin ini lebih baik karena akan dapat menyesatkan perkiraan
mereka dan memberi kita waktu lebih panjang.....”
“Hmmmm, tempat paling aman adalah tempat dimana asal
bahaya itu datang,,, hmm benar, strategi itu cukup cerdik.....”
berdesis Tian Sin Su mendengar usulan yang rada berbahaya tapi
masuk akal dari Hek Man Ciok
“Berapa lama lagi kawan-kawan pendekar akan dapat terkumpul
dan kemudian turun tangan menyerang gunung Pek In San
markas Bu Tek Seng Pay itu......”? bertanya Hek Man Ciok kepada
Sie Lan In, dan membuat keduanya saling pandang dan saling
berpikir akan jawaban pertanyaan itu.
2505
“Mestinya paling lama 6,7 hari lagi.....” berkata Sie Lan In setelah
berpikir dan juga menghitung-hitung selama beberapa ketika.
Tetapi, sebenarnya Sie Lan In masih belum amat yakin dengan
waktu itu.
“Hmmmm, bersembunyi selama lima hari memang sangat tidak
menyenangkan. Tetapi, itulah pilihan yang paling realistis pada
saat seperti sekarang ini......” desis Hek Man Ciok yang dari usia
dan pengalamannya jelas lebih tenang dan lebih bisa menahan
diri dan emosinya. Pada saat yang amat menegangkan seperti
saat itu, memang pengalaman yang dimiliki tokoh setua Hek Man
Ciok sangatlah dibutuhkan. Dan semua sadar hal itu.
“Tetapi masalahnya, kita hanya dapat mengandalkan hutan di
kaki gunung dan tidak boleh naik ke atas gunung, karena jika kita
lakukan itu, bakalan butuh waktu panjang untuk kembali
menemukan jalan bertemu kawan-kawan kita yang kelak akan
datang menyerang itu......” berkata Sie Lan In dengan suara jernih
dan jelas dapat terdengar semua orang pada saat itu. Dan bisa
ditebak, semua orang yang berada disana paham dan mengerti
dengan usulannya, karenanya semua mengangguk dengan
usulan Sie Lan In, tapi ada yang bertanya juga,
2506
“Kenapa begitu Kouwnio.....”? tanya Yu Kong yang ingin
memperoleh gambaran lebih jelas mengenai kemungkinan
sahabat yang akan bersama menyerang markas lawan di gunung
Pek In San itu.

AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Cantik PANL 15 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments