Cerita ML PL PANL 17

--------

“Apa maksudmu Tio Kouwnio....”? tanya Koay Ji heran dan masih
belum paham sepenuhnya dengan maksud Tio Lian Cu
“Karena Suhu dan Bu Tee Locianpwee sudah menutup diri
selama setahun sejak peristiwa Benteng Keluarga Hu. Mereka
berdua melakukan sesuatu yang agak khusus atas kami berdua
dengan Khong suheng....... setahun kedepan baru mereka bisa
munculkan diri kembali......” penjelasan Tio Lian Cu semakin
membuat mereka merasa kerepotan mencari cara mengatasi
masalah nanti. Dengan tidak mungkin mengundang Bu Tee
Hwesio dan Thian Hoat Tosu, berarti tinggal ada Lam Hay Sinni
seorang yang bisa diharapkan. Tetapi, bagaimana mendatangkan
dan juga meminta tolong rahib dewa itu?
2705
“Accccch, sungguh repot jika demikian...... bagaimana dengan
Lam Hay Sinni Subo, apakah engkau tahu dimana
keberadaannya Sie Suci....”? tanya Koay Ji kepada Sie Lan In
kabar dan keberadaan Lam Hay Sinni.
“Sudah berapa bulan terakhir Subo minta diri menuju Lam Hay,
tetapi entahlah. Bisa jadi Subo berada di daerah Tionggoan, tetapi
sulit bagi kita melacak keberadaannya. Hanya Burung Raksasaku
yang bisa melacaknya......”
“Hmmm, satu-satunya yang bisa mengembalikan semangat dan
kesadaran mereka hanya Lam Hay Subo. Sie Suci, bisakah
Burung itu mencari tahu atau membawa kabar mengenai
kesulitan kita malam ini...? karena setelah kita selamatkan dan
obati, maka harus ada yang mendampingi mereka selama
beberapa saat. Jika tidak, kita tidak dapat menyelamatkan mereka
malam ini.....”
“Baik, bisa kulakukan Sute... apa harus sekarang...”? tegas Sie
Lan In dan langsung bersiap untuk melakukan tugas itu.
“Sebaiknya Suci, karena kita akan berkejaran dengan waktu. Jika
malam nanti Subo ketahuan berada dimana, lebih bagus lagi......”
“Baik, kulakukan sekarang juga....”
2706
“Tio Kouwnio, engkau boleh menemani Sie Suci, biar aku
menunggu kalian berdua di tempat ini...” Koay Ji menyarankan
agar Tio Lian Cu menemani Sie Lan In, dan benar saja, mereka
berdua sebentar saja sudah berlalu. Karena memang waktu
mendesak, maka mereka masing-masing memainkan perannya.
Sementara Koay Ji tetap tinggal dan berpikir keras merancang
strategi kedepannya, baik memasuki markas lawan, maupun
untuk mengamankan hal-hal penting lainnya yang mungkin masih
luput dari perkiraannya selama ini. Tanpa disadarinya, Koay Ji
mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya melampaui dari apa
yang bisa diharapkan untuk dia lakukan. Hanya seorang Sam
Suhengnya yang mengerti, jika Koay Ji bukan hanya cerdik
pandai dan juga mujijat, tetapi selain itu memiliki ketelitian dan
perhitungan strategi yang amat hebat. Itulah yang menyebabkan
Tek Ui Sinkay selalu mempercayai dan bahkan tidak segan
meminta pendapat dan juga berdiskusi dengannya dalam banyak
kesempatan pengambilan keputusan.
Koay Ji sedang menghitung lagi apa yang sebaiknya dia lakukan
dengan ketiadaan orang yang dapat mendampingi ketiga murid
kepala 3 Manusia Dewa Tionggoan. Memang benar bahwa dia
sudah menyiapkan ruangan khusus buat ketiga orang itu. Tetapi
tetap saja, jika ketiga orang itu tidak ada yang terus mendampingi
2707
sambil terus menguatkan kondisi moril mereka, maka bisa
dipastikan ketiganya bakalan mengambil jalan pendek. Jalan
yang bisa mengakhiri hidup mereka secepatnya, atau segera
menjadi biarawan atau biarawati, atau keputusan lain yang juga
tidak mengenakkan. Tidak ada jalan lain selain membuat mereka
bertiga menunggu sampai kedatangan Suhu atau Subo mereka,
orang yang mereka hormati dan akan bisa membuat mereka
mengerti dan mendengar nasehat..... Dan itulah keputusan yang
pada akhirnya jadi kesimpulan akhir Koay Ji.
Waktu merekapun tiba. Tetapi berbeda dengan Tek Ui Sinkay dan
Cu Ying Lun serta Mindra, Kang Siauw Hong dan Bun Kwa Siang,
maka missi Koay Ji bersama Sie Lan In dan Tio Lian Cu memang
lebih menyerempet bahaya. Mereka, jika berhasil, haruslah
menyusup masuk jauh hingga kedalam area Markas Utama Bu
Tek Seng Pay. Memang, mereka akan memakai atau melalui
jalan rahasia yang sebelumnya sudah diketahui dan diselidiki oleh
Koay Ji selama beberapa lama itu. Sie Lan In dan Tio Lian Cu
sudah siap setelah sebelumnya Sie Lan In dengan ditemani Tio
Lian Cu, sebentar keluar memberi perintah kepada Burung
Raksasa mencari subonya, Lam Hay Sinni yang entah berada
dimana dewasa ini. Kehadiran Lam Hay Sinni diharap dapat
mempengaruhi dan menguatkan ketiga kakak seperguruan
2708
mereka jika benar dapat diselamatkan dari markas Bu Tek Seng
Pay.
Dan sekarang, mereka semua sudah siap sedia, karena waktu
sudah menjelang tengah malam, waktu yang mereka persiapkan
dan tetapkan untuk melaksanakan missi yang amat berbahaya itu.
Missi untuk membebaskan kakak seperguruan mereka yang
tertua, masing-masing kakak tertua Sie Lan In, Tio Lian Cu serta
juga kakak seperguruan tertua Khong Yan dan Koay Ji dari
gurunya Bu Tee Hwesio. Tetap menjadi pertanyaan besar tentu
saja bagi mereka bertiga, akankah missi tersebut berlangsung
dengan sukses padahal mereka harus memasuki kandang singa?
Tetapi meski ada pertanyaan itu, meski sangat menyadari bahaya
yang akan mereka hadapi, bukan berarti mereka tidak siap, atau
bukan berarti mereka takut. Bukan berarti mereka tidak berani
melakukannya alias membatalkannya hanya karena persoalan
nyali. Sebaliknya, semangat ketiga anak muda itu justru terlihat
menggebu-gebu dan sudah amat siap untuk melaksanakan missi
berani mati itu. Missi dengan langsung memasuki dan mendatangi
pusat dan inti kekuatan lawan, langsung di kandang lawan
tersebut.
Tidak berapa lama kemudian, Koay Ji sudah memimpin
perjalanan mereka, sekali ini mereka bertiga; Sie Lan In, Tio Lian
2709
Cu dan Koay Ji dan diikuti serta dikawal oleh 2 ekor monyet besar
lainnya yang berjalan di depan membuka jalan. Dan tidak berapa
lama, mereka semua sudah tiba dan kini berada pada titik pintu
rahasia keluar, yakni pintu keluar yang akan membawa mereka
keluar dan tiba ke bagian belakang dari Markas Bu Tek Seng Pay,
tepat di kandang kuda. Tempat yang sudah diidentifikasi Koay Ji
sebelumnya dan dipandang amat tepat untuk dimasuki karena
kemungkinan bertemu lawan jauh lebih kecil dibanding dengan
pintu keluar satu lagi. Pintu keluar yang melalui penjara bawah
tanah dan keluar di lokasi penjagaan para penjaga penjara.
Lokasi yang tentunya bakalan langsung bertemu dengan pihak
lawan dan potensi ketahuan sangat besar di pintu itu.
“Kita sudah tiba....... pintu keluar ini akan membawa kita ke
kandang kuda, berada di bagian belakang Markas Bu Tek Seng
Pay. Hanya, kita sama sekali tidak tahu, apa pada jam-jam seperti
sekarang ini ada orang yang berjaga-jaga ataukah tidak..... jika
memang tidak ada dan kosong, maka kita akan masuk melalui
kandang kuda itu dan bertemu kembali di tempat penyimpanan
makanan (pakan) kuda. Tempat itu berada di sebelah kanan
kandang kuda dan cukup untuk menjadi persembunyian kita
semua, kita bertiga. Dan dari sana kita bisa melihat-lihat situasi
sebentar, dan lanjut kemudian menyelidiki gedung utama mereka
2710
yang berada di bagian lebih ke tengah. Hampir bisa kita pastikan
jika ketiga kakak seperguruan kita berada di markas utama
musuh, karena mereka memang bertugas sebagai pengawal
Seng Ong.....” jelas Koay Ji kemana mereka keluar, kemana
mereka bersembunyi untuk memutuskan saat yang tepat
bergerak di markas lawan.
“Baik,,,,,” Sie Lan In dan Tio Lian serentak mengiyakan, keduanya
merasa cukup jelas dengan informasi dari Koay Ji. Dari mata
mereka terlihat atau terpancar sinar mata penuh semangat,
bukannya takut.
“Baik, mari kita mulai keluar, harap berhati-hati senantiasa Sie
Suci, Tio Kouwnio, kita sedang berada di kandang macan” Koay
Ji mengingatkan, hal yang sebenarnya tidak perlu lagi, karena
mereka semua sudah amat siap, tentu juga sudah paham jika
mereka harus berhati-hati.
Tidak lama waktu yang mereka butuhkan untuk keluar dari tempat
tersebut dengan Koay Ji yang bertindak sebagai penunjuk jalan di
depan mereka. Dan tentu saja, sebagai penunjuk jalan dan juga
sebagai seorang laki-laki, maka dia keluar terlebih dahulu
mendahului baik Sie Lan In maupun juga Tio Lian Cu. Dan kurang
dari 3 menit belaka, mereka bertiga sudah aman berada di dalam
2711
gudang penyimpanan makanan atau pakan kuda, masih berada
masih tidak jauh dari lokasi kandang kuda tempat mereka masuk
tadi. Keadaan cukup senyap dan mereka tidak melihat ada
kegiatan ataupun ada peronda yang berlalu lalang dan berjaga di
sekitar tempat mereka menyembunyikan diri. Keadaan relatif
tenang. Sunyi dan amat tepat untuk segera beraksi memasuki
kandang lawan.
“Mulai saat ini, kita bertiga berkomunikasi dengan “Ilmu
menyampaikan suara”, agar tidak terlacak lawan” Koay Ji
menyampaikan maksud dan usulannya melalui ilmu
menyampaikan suara, dan selanjutnya percakapan mereka
dilakukan dengan ilmu khas yang sulit terlacak ini. Mereka bertiga
sudah memiliki kemampuan yang lebih dari cukup untuk bercakap
melalui ilmu itu.
“Kita perlu menyelidiki dimana gedung utama Bu Tek Seng Pay,
hal ini yang masih belum dapat kulakukan pada berapa hari yang
lalu, semoga bisa kita temukan dalam waktu yang lebih cepat”
usul Koay Ji yang langsung disetujui bertiga dan segera akan
mereka kerjakan.
“Biar aku yang bekerja untuk mencari tahu dan menyelidikinya,,,”
terdengar Sie Lan In berkata, mengajukan dirinya dan sudah akan
2712
langsung bergerak dan bertindak jika saja Koay Ji tidak segera
menahannya dan berkata,
“Perlahan Sie Suci,,,,, kita tidak ingin mereka sadar bahwa tempat
ini sudah kita ketahui dan kita masuki, sedapat mungkin kita tidak
boleh meninggalkan jejak kita. Dan kita mesti mengusahakan
agar kita mampu membawa pergi ketiga kakak seperguruan kita
tanpa mereka tahu bagaimana kita membawa mereka pergi dari
tempat atau markas mereka ini” demikian ujar Koay Ji berpesan
dan mengingatkan, hal yang membuat baik Tio Lian Cu maupun
Sie Lan In jadi sadar, bahwa pekerjaan mereka memang sulit.
Sangat sulit.
“Jadi, bagaimana usulmu Sute...”? tanya Sie Lan In yang lama
kelamaan mulai merasakan wibawa Koay Ji dan mulai menerima
keadaan seperti itu selaku sesuatu yang memang wajar diantara
mereka. Koay Ji memang memiliki wibawa yang cukup besar
hingga bisa mengendalikan kedua gadis perkasa yang biasa
membawa adat mereka sendiri dan memang kadang sulit
dibantah.
“Kita menyaru menjadi penjaga, tetapi kita membutuhkan
pengetahuan mengenai seragam dan dandanan serta
mengompres mereka dimana Gedung Utama Bu Tek Seng
2713
Pay,,,,,, cara ini akan mungkin mendatangkan hasil yang lebih
baik dan tidak perlu membuat kita berkeliaran kesana kemari yang
membuat kita kemungkinan tercium musuh menjadi amat
besar.....” jelas Koay Ji yang diikuti dengan anggukan kepala baik
Sie Lan In maupun Tio Lian Cu. Keduanya merasa bahwa strategi
yang diusulkan Koay Ji masuk akal dan bisa dikerjakan.
“Baiklah, caramu cukup masuk di akal dan sangat baik..... mari
kita mencari penjaga-penjaga di sekitar sini....” usul Sie Lan In
“Atau kita memancing mereka datang kemari....” usul Tio Lian Cu
menyambung usul Sie Lan In barusan.
“Apapun dan bagaimanapun, kita membutuhkan mereka. Mari
mencari akal guna memancing mereka mendekati kita,,,,, atau,
kita keluar mencari mereka. Hanya ada dua cara itu,,,,” kata Koay
Ji
“Lebih cepat kita keluar mencari....” usul Sie Lan In
“Jika demikian, mari kita keluar mencari mereka.....” bersamaan
dengan kalimat Tio Lian Cu, berkelabatlah ketiga bayangan itu
keluar dari persembunyian mereka. Maka pekerjaan berbahaya
itupun dimulai, tepat di jantung pertahanan dan juga
persembunyian semua lawan mereka.
2714
Tingkat kepandaian Koay Ji, Tio Lian Cu dan terlebih Sie Lan In
dalam hal ginkang dewasa ini sudah amat tinggi. Gerakan
mereka, akan sukar diikuti lawan, bahkan lawan berkemampuan
silat kelas satu sekalipun..... itulah sebabnya mereka ringan saja
memutuskan keluar mencari. Dan tidak ada yang mampu
mengikuti ketiga orang muda hebat yang memiliki kemampuan
sangat tinggi itu ketika mereka semua bergerak dalam
kemampuan ginkang tertinggi mereka bertiga.
Tetapi, tentu saja mereka tidak begitu saja berkelabat pergi,
sebaliknya mereka mengintai keluar dan mencaritahu letak, posisi
dan lokasi mereka di tengah markas Bu Tek Seng Pay yang
demikian besar dan luas. Harus mereka akui, tempat itu memang
besar dan cukup luas. Serta sekaligus sudah diatur dan ditata
sedemikian rupa hingga menjadi Markas yang baik. Bagi mereka
orang baru, jelas saja merasa kesulitan mengetahui dimana letak
markas utama lawan. Bahkan, pada bagian lain, ketiga anak
muda itu bingung, karena penjaga lawanpun tidak tahu mana
gedung utama di markas lawan itu.
“Kita sekarang kurang lebih berjarak 100 meter dengan gedung
terdekat itu, dan itu berarti bukan tidak mungkin terdapat petugas
jaga atau peronda. Terlebih di tengah-tengah kondisi yang agak
tegang karena sebentar lagi pertempuran besar..... tetapi,
2715
kupastikan sebelum mencapai gedung itu kita akan bertemu
penjaga atau peronda. Jadi, kita harus agak sedikit berhati-hati”
bisik Koay Ji yang dianggukkan kedua gadis lainnya yang
memang sama-sama mendapatkan pandangan dan kesimpulan
serupa dengan Koay Ji.
“Kita sudah boleh bergerak....” desis Sie Lan In yang sudah tidak
tahan untuk segera bergerak mendekati gedung terdekat.
“Kita kembali kemari setelah berhasil memperoleh target masingmasing
satu, tetapi tidak boleh sampai ketahuan kawan-kawan
mereka.....” Tio Lian Cu mengingatkan mereka bertiga bahwa aksi
mereka adalah rahasia dan tidak boleh tercium lawan, setidaknya
sampai 2,3 hari kedepan. Dan desisan Tio Lian Cu itu diiyakan
dengan segera oleh kedua kawannya.
Tetapi, alangkah kagetnya Koay Ji bertiga ketika menemukan
kenyataan, bahwa Markas Bu Tek Seng Pay ternyata demikian
besar dan luas. Bagian belakang yang mereka masuki, masih
berjarak cukup jauh masuk hingga ke bagian tengah, entah
berjarak berapa panjangnya, mungkin ada 500an meter atau bisa
jadi malah lebih. Dan setelah itu, pada daerah yang mulai landai
dan menurun jauh didepan, juga terdapat bangunan serta
gedung-gedung besar yang berjejer dan dibangun secara sangat
2716
teratur dan rata-rata mirip. Entah yang mana yang menjadi
bangunan utama, karena ada banyak bangunan yang sama
bagus dan juga sama besarnya. Tidak mungkin mereka masuk
dan meneliti satu demi satu tanpa lebih dahulu bertanya atau
mencari tahu mana Markas Utama lawan. Dan justru itulah
kebutuhan mereka yang terpenting pada saat seperti itu.
Menjadi lebih kaget lagi, ketika akhirnya Koay Ji, Tio Lian Cu dan
Sie Lan In sudah menyaru dan dalam tampilan sebagai penjaga
di Markas Bu Tek Seng Pay, tetapi mereka memperoleh informasi
yang amat sangat mengagetkan. Benar mereka sudah menyiksa
sampai 7 orang penjaga, baik dari kalangan anak murid Pek Lian
Pay maupun dari penjaga biasa, mungkin para penjahat yang
bergabung dengan Bu Tek Seng Pay belakangan. Tetapi,
ternyata tak satupun dari ketujuh orang itu yang mampu
menunjukkan dimana atau gedung mana yang menjadi tempat
tinggal Bu Tek Seng Ong. Bahkan ketika Koay Ji menggunakan
ilmu sihirnya, tetap saja sang tawanan bingung dan tidak
memberitahu tempat yang jelas. Atau tidak mampu menjawab
pertanyaan dimana para pentolan Bu Tek Seng Pay tinggal
selama ini. Padahal mereka itu rata-rata para penjaga yang
tugasnya berjaga di sekitar Markas tetapi mereka tidak
2717
mengetahui tempat-tempat paling dirahasiakan karena memang
dibuat dengan maksud misterius.
“Kelihatannya membangun gedung dan tempat tinggal besarbesar,
sengaja menjadi strategi utama mereka. Repotnya ada
banyak sekali gedung besar, sekitar 20 an gedung besar yang
semua sama besar dan megah, sementara yang lebih kecil
mungkin ada 30an banyaknya. Tapi, yang mana yang menjadi
Markas utama, sulit untuk kita pastikan....” Koay Ji berkata kepada
kedua kawan yang mengiringinya sambil geleng-geleng kepala,
dan Sie Lan In serta Tio Lian Cu berdua hanya mengaminkannya
karena mereka menemukan kenyataan yang sama. Kenyataan
yang sama-sama mengejutkan mereka.
“Jika memang begini keadaannya, maka mau tidak mau kita harus
bertanya kepada tokoh-tokoh utama dari pihak lawan.....” berkata
Tio Lian Cu sebagai usulan dan saran belaka yang membuat Koay
Ji maupun Sie Lan In berpikir keras menimbang usul itu dan juga
menimbang strategi lain. Meski terdengar bagus, tetapi, darimana
dan bagaimana memancing tokoh lawan?
“Tapi, bahkan Mindra yang menjadi ahli sihir utama sebelumnya,
juga tidak paham dimana tempat utama mereka....” desis Koay Ji
yang juga tidak mendapatkan nama dan tempat pasti dimana
2718
gedung utama lawan. Kalimatnya ingin mengatakan bahwa tidak
semua tokoh lawan mengetahui rumah utama.
“Tetapi, benar-benarkah tidak ada cara lain untuk mengetahuinya
selain bertanya kepada tokoh-tokoh hebat mereka? Atau,
memeriksa seluruhnya 15 gedung mewah nan besar-besar itu
guna mencari tahu dimana tempat Bu Tek Seng Ong....”? geram
Sie Lan In karena penasaran
“Tetapi waktu kita kurang cukup untuk mengetahui dimana letak
Markas Utama dan tempat tinggal Bu Tek Seng Ong, terutama
jika harus meneliti semua rumah satu demi satu.......” Tio Lian Cu
berkata.
“Hmmmmm, dapat..... mungkin bisa menjadi jalan keluar
meskipun apa boleh buat, kita akan membuat lawan tahu bahwa
markas mereka sudah kesusupan musuh” terdengar Koay Ji
bergumam dan mengagetkan Sie Lan In dan juga Tio Lian Cu.
Betapa tidak? Koay Ji mengatakan sudah menemukan cara untuk
mengetahui yang mana Markas lawan yang utama.
“Sute, apa maksudmu....”? tanya Sie Lan In kaget, dan
pertanyaan yang sama juga terlontar dari mulut Tio Lian Cu.
2719
“Sie Suci, engkau yang memiliki gerakan paling cepat, maka
engkau coba bakarlah sebuah rumah besar dan sebuah rumah
lebih kecil, sementara kami berdua akan memeriksa Gedung
mana yang akan memperoleh penjagaan yang paling ketat.
Hanya itu cara kita satu-satunya.....” desis Koay Ji sambil
memandang Sie Lan In. Serentak mereka bertiga berpikir keras,
namun pada akhirnya Sie Lan In menyerah dan kemudian dia
berkata kepada kedua kawannya;
“Ide Koay Ji sute memang benar, itulah cara yang paling cepat
guna mengetahui Markas Utama lawan kita, meskipun resikonya
adalah, kita sangat mungkin bakalan ketahuan. Jika dalam
kekisruhan kita menyelinap kedalam rumah itu, maka upaya guna
menolong mereka malam ini sangat mungkin bisa kita lakukan.
Hanya tinggal bagaimana mempergunakan waktu yang sudah
sangat sempit dan terbatas ini untuk menyelamatkan ketiga toa
suci atau toa suheng kita. Sebab keadaan akan sangat kacau
namun pasti hanya sebentar saja, mereka akan cepat menyadari
bahwa ini adalah sejenis sabotase dan penjagaan akan semakin
diperketat, ini membuat kita sulit untuk bergerak pergi.....”
“Jangan khawatir, Sie Suci dan Tio Kouwnio kelak yang nanti
menyelamatkan ketiga kakak seperguruan kita, aku akan
memancing mereka mengejarku. Pada saat itu, dengan
2720
kemampuanku dan juga dibantu oleh kegelapan, maka akan
mudah untuk menyelinap bahkan menyebabkan konsentrasi
mereka semua akan lebih tertuju kepadaku. Nach, pada saat
kisruh itu, Sie Suci dan Tio Kouwnio segera membawa mereka
bertiga dan masuk kedalam jalan rahasia. Persoalan
keselamatanku, jangan khawatir, aku masih berkemampuan guna
pergi dari tempat ini sekalipun, karena masih mengetahui satu
jalan rahasia lainnya......” usul Koay Ji itu segera dipahami kedua
gadis sakti itu, tetapi mereka merasa keberatan.
“Ach, itu terlampau membahayakan engkau Koay Ji, mara bahaya
disini mesti kita hadapi dan tanggulangi bersama.....” tegas Tio
Lian Cu sedikit tidak setuju dengan ide yang disampaikan Koay
Ji.
“Benar Sute, kita harus berdaya mencari cara untuk menuntaskan
missi dengan tidak meninggalkan seorang dari kita bertiga untuk
celaka.....” Sie Lan In juga sama tidak setuju dengan ide itu.
“Hmmmm, Sie Suci, Tio Kouwnio, kekacauan yang kita sebabkan,
jikapun tidak membuat kita menemukan Gedung Utama, tetapi
akan membantu kerja Mindra dan adik angkatku; selain itu,
setidaknya akan memberi kita waktu untuk menyelesaikan missi
malam ini. Jangan khawatirkan diriku, aku memiliki banyak cara
2721
untuk pergi dari Markas mereka ini. Bahkan bisa kupastikan, kita
akan bertemu di dalam jalan rahasia itu juga.... karena aku
mengenal 3 titik jalan lain memasuki jalan rahasia, dan sudah
pasti akan kugunakan malam ini.....”
“Engkau yakin sute...”? tegas Sie Lan In, masih merasa kurang
yakin dengan apa yang disampaikan Koay Ji
“Sudah tentu, itu sebabnya dua hari kuhabiskan meneliti jalan
rahasia itu. Jangan kalian khawatir, yang pasti lakukan secara
hati-hati, maka jalan keluar akan muncul dengan sendirinya. Kita
pasti berhasil.....” dorong Koay Ji sambil membangkitkan
semangat dan daya juang kedua gadis itu. Dan perlahan-lahan
diapun mulai berhasil meyakinkan kedua gadis itu, bahwa dia
akan baik-baik saja, sementara semangat merekapun semakin
menyala oleh “provokasi” Koay Ji.
“Baik, jika memang demikian, maka akan kubakar dua rumah di
ujung selatan sana, dan kemudian akan secepatnya aku berlari
kemari untuk bertemu kalian berdua” putus Sie Lan In kemudian
dan sudah langsung dilakukannya dengan kecepatan yang luar
biasa. Didak lama terlihat dia sudah berkelabat menjauh ke arah
selatan, sementara Koay Ji dan Tio Lian Cu mencari cara agar
mampu mengawasi banyak sudut dan banyak lokasi. Mereka
2722
mesti bekerja keras menentukan rumah mana yang menjadi
tempat istirahat Bu Tek Seng Ong, karena yakin, disanalah juga
tempat ketiga kakak seperguruan mereka berada.
Sie Lan In memang hebat, dalam waktu sekejap saja dia sudah
bersiap untuk dapat segera membakar kedua rumah yang
dimaksud. Bahkan dia memutuskan akan membakar beberapa
rumah dan bukannya hanya satu atau dua rumah belaka. Agar
supaya apinya membesar dengan cepat, maka dia mencari bahan
bakar terlebih dahulu, dan dia tahu, tempatnya pasti di dapur atau
di gudang. “Kapan lagi bikin rusuh dan membakari markas lawan
yang sangat busuk dan amat berbahaya ini jika bukan
sekarang.....”? desis Sie Lan In yang memang sudah lama gondok
dan murka dengan Bu Tek Seng Pay ini.
Dalam waktu yang tidak cukup lama dia dapat menemukan
sejumlah bahan bakar, terutama dia dapatkan di dapur gedung
besar bagian belakang. Karena terdapat di bagian belakang
gedung, maka dia bisa dan mampu dengan mudah untuk masuk
dan menyelusup serta bahkan mencuri bahan bakar disana. Dan
benar saja, tidak sampai sepuluh menit kemudian, sudah ada tiga
rumah yang berturut-turut terbakar dan dengan segera
menghadirkan kekacauan yang luar biasa. Apalagi, tidak lama
2723
kemudian, rumah keempat dan kelima, juga ikut terbakar, maka
semakin riuhlah teriakan orang-orang dalam markas lawan itu:
“Kebakaran, kebakaran.....” terdengar teriakan-teriakan yang
dengan cepat menjalar kemana-mana, sementara banyak orang
berebutan keluar dari gedung untuk pergi menangani kebakaran
hebat itu.
“Kebakaran....kebakaran.....”
“Ada 3 gedung yang terbakar di bagian selatan, ech, sekarang
malah menjadi 5 buah rumah yang terbakar, ech ada lagi
disana.....” demikian teriakan demi teriakan yang terus menerus
saling sahut-sahutan di markas itu. Keadaan sontak menjadi riuh
dan kacau balau.
Sementara itu, Koay Ji dan Tio Lian Cu mengawasi dan
mengamati gedung mana yang layak mereka curigai. Tetapi,
sampai sekian lama, mereka hanya mencurigai satu gedung
belaka, dan gedung itu justru terletak sangat dekat dengan
kandang kuda dimana mereka bersembunyi dan kemudian
memasuki markas ini. Keduanya saling pandang dan kemudian
tersenyum satu dengan yang lainnya, kelihatan jika mereka
2724
berdua sepakat sudah menemukan apa yang mereka cari.
Gedung utama dimana Bu Tek Seng Ong bersemayam.
“Koay Ji, gedung yang satu disana itu, adalah satu-satunya yang
tidak menunjukkan adanya aktifitas, tetap tenang dan tak ada
orang yang bergerak. Seperti tidak ada orang disana, tetapi justru
tetenangan dan kesenyapan gedung itu justru agak sedikit
mencurigakan nampaknya...”
“Hmmmmm, pandangan dan pengamatanku sama Tio Kouwnio,
tetapi, apa sudah bisa kita bergerak dengan lebih berhati-hati?
Meskipun, entah mengapa firasatku juga mengatakan, mereka
seperti sudah siap dan sedang menunggu kedatangan kita di
gedung itu....” desis Koay Ji perlahan.
“Apa maksudmu bahwa mereka seperti bisa menebak apa yang
sedang kita lakukan malam ini Koay Ji....”? Tio Lian Cu
nampaknya tersentak kaget dengan kalimat Koay Ji yang paling
akhir tadi.
“Ketenangan dan diamnya gedung itu jelas rada mencurigakan.
Jika aku tidak keliru, maka pihak mereka sedikit banyak sudah
punya perhitungan akan apa yang sedang dan akan mungkin
terjadi disini. Tapi, sayang sekali, saat ini kita sudah tidak punya
2725
lagi pilihan lain....... mau tidak mau kita harus segera bergerak
meskipun harus awas dengan apa yang mereka persiapkan....”
“Bagaimana Sute.... apakah sudah engkau dapatkan yang kita
butuhkan untuk bisa bersenang-senang malam ini.....”? belum
selesai Koay Ji berkata-kata, Sie Lan In sudah munculkan diri dan
langsung memotong percakapannya. Dan mereka bertiga,
dengan kemunculan Sie Lan In kini sudah dalam posisi dan
keadaan yang siap untuk segera bergerak.
“Tio Kouwnio, Sie Suci, kita tidak punya pilihan lagi, ayo.....”, Koay
Ji yang kemudian memberi aba-aba dan mulai bergerak dengan
diikuti kedua gadis pendekar itu tepat berposisi di belakangnya.
Apa yang akan terjadi?
Tidak berapa lama ketiga pendekar muda itu sudah mendekati
gedung yang agak beda sendiri jika dibandingkan dengan gedung
yang lainnya. Tidak secara fisik berbeda dengan gedung lain
sebetulnya. Karena gedung itu pada dasarnya sama belaka
dengan gedung yang lain, dalam ukuran dan dalam bentuknya
sama. Tetapi, malam itu keadaannya sungguh lain sendiri. Karena
jika gedung-gedung yang lain pada bergerak serta para
penghuninya pada bangun berhamburan untuk melihat dan
meninjau keadaan di luar yang serba kacau karena kebakaran;
2726
justru gedung yang satu ini sama sekali tidak menunjukkan
adanya satu gerakanpun. Tidak ada satupun orang yang keluar
dari gedung itu untuk melihat-lihat ataupun untuk sekedar
mengecek apa yang terjadi di luaran.
Suasana gedung itu tetap diam dan senyap. Lampu-lampunya
tetap padam dan tidak ada satupun yang menyala, serta tidak ada
kegiatan satupun yang nampak dari luar, entah didalamnya.
Penjaganya seperti terus saja tertidur, tidak bersiap dan malah
seperti tidak ada yang tinggal disitu. “Atau jangan-jangan gedung
itu memang kosong dan tidak berpenghuni....”? sempat Koay Ji
menduga seperti itu, tetapi tidak mungkin karena gedung itu
terawat rapih dan intuisinya mengatakan bahwa gedung itu
berpenghuni dan ada aktifitas didalamnya. “Accchhh, gedung ini
memang amat mencurigakan..... suasananya sepi, tetapi
memancar kekuatan gaib dari sekitar gedung ini, aku harus
berhati-hati....” desis Koay Ji dalam hati.
“Keadaannya sungguh membingungkan, jika ada penghuninya,
maka dipastikan mereka agak rahasia dan misterius. Atau,
kemungkinan lainnya, gedung itu memang tidak berpenghuni
sehingga tidak kelihatan satupun pergerakannya. Entah mana
yang tepat menggambarkan gedung ini.....” desis Tio Lian Cu
sedikit bingung ketika menghadapi keadaan yang luar biasa ini
2727
dan semakin mendekati gedung yang rada misterius dan
mencurigakan itu.
“Mari kita bergerak memasukinya biar semua menjadi semakin
jelas....” Sie Lan In sudah mulai melangkah ketika tiba-tiba Koay
Ji tanpa sadar memegang lengannya dan kemudian berkata
dalam nada suara serius...
“Sie Suci, tahan langkahmu......” Koay Ji sendiri tidak sadar
dengan nada suara dan tindakannya memegang lengan Sie Lan
In. Tidak seperti biasanya dia berlaku dan bertindak seperti itu,
sambil memegang erat lengan Sie Lan In. Sie Lan sendiri jadi
bingung, meski tidak marah dengan perlakuan Koay Ji, sebaliknya
dia berdiam diri dan menahan langkah kakinya.
Selain itu, suara dan gerakan Koay Ji memang agak berbeda,
penuh bernada mujijat dan itu juga salah satu alasan Sie Lan In
jadi tertahan langkahnya dan kemudian berpaling. Pada saat
itulah dia bisa menemukan dan mendapati seri wajah dan juga
tatapan mata Koay Ji yang bersinar aneh dan sangat berwibawa
itu. Diapun terkejut menemukan keadaan Koay Ji itu.
“Sekeliling gedung ini sudah dijaga dan dipagari oleh kekuatan
yang amat mujijat yang tidak kelihatan mata telanjang kita. Namun
2728
sekali kita melangkah masuk ke kisaran bagian dalam, maka
mereka akan segera menyadari kehadiran orang yang tidak
dikehendaki, atau bahkan akan langsung bereaksi dengan cara
yang tak dapat kita tebak...” bisik Koay Ji dengan kening berkerut.
“Ach, Koay Ji sute, apakah engkau yakin memang demikian
keadaannya....”? bisik Sie Lan In sambil kemudian berusaha
melepaskan lengannya dari pegangan Koay Ji yang agak erat itu.
Gerakannya membuat Koay Ji tiba-tiba sadar dan melepaskan
lengan Sie Lan In dengan segera dan langsung berkata;
“Echhh, maaf Suci, tetapi memang benar, ada pagar ilmu
istimewa yang terpasang mengelilingi gedung ini, dan pagar
istimewa ini benar-benar menyulitkan kita. Bahwa mereka tidak
terpancing keluar oleh kebakaran, menandakan bahwa mereka
sangat cerdik dan sangat berhati-hati, bukan tidak mungkin
mereka sudah menunggu kita dan sudah pula menyiapkan
sesuatu yang tidak kita duga..... Hmmmm, jika Sie Suci dan juga
Tio Kouwnio masih belum mempercayai perkataanku barusan,
maka kalian berdua boleh segera mencoba dengan melemparkan
sesuatu benda yang hidup melampaui garis pertahanan dan juga
garis batas pagar istimewa itu. Kurang lebih berjarak 3 (tiga)
meteran dari jarak kita berdiri pada saat sekarang ini, maka
semua akan semakin jelas.... terang Koay Ji sambil bersedekab
2729
dan membiarkan kedua gadis itu semakin penasaran dan
keduanya kemudian berusaha melakukan seperti yang dianjurkan
Koay Ji tadi.
“Koay Ji, seperti apa untuk membuktikannya...”? tanya Tio Lian
Cu merasa sangat penasaran dan terlihat setengah percaya dan
setengah kurang percaya, dan ingin segera dapat
membuktikannya.
“Benda apa saja yang hidup, burung, katak, tikus atau apapun
yang hidup, maka engkau akan mengetahui apa yang
kukatakan....” jawab Koay Ji yang kini mulai ikut bersiap dengan
kedua kawannya itu.
“Bagaimana jika benda mati, seperti batu misalnya, apakah akan
berguna sekedar membuktikan tentang kehebatan pagar mujijat
itu....”?
“Bisa juga, tetapi efeknya berbeda terhadap benda hidup. Benda
mati hanya akan merangsang sebagian dari pagar istimewa itu,
tetapi benda hidup akan mengganggu dan menggerakkan seluruh
mekanisme pertahanannya.... coba saja Tio Kouwnio” jawab Koay
Ji agar kedua gadis itu tidak ragu lagi.
2730
“Baiklah, akan kucoba terebih dahulu dengan benda mati....”
berkata Tio Lian Cu dan kemudian mencari sebuah batu di sekitar
tempat mereka berdiri pada saat itu. Sejujurnya Tio Lian Cu
sebenarnya sudah mempercayai perkataan Koay Ji, tapi rasa
penasarannya ingin membuktikan bahwa yang dipercayainya itu
memang benar. Dan dia kemudian membuktikannya.
“Boleh, tetapi setelah itu kita mesti bergegas pergi.... kita merubah
strategi, karena lawan sudah siap dan menunggu kita. Jika kita
memaksakan diri, maka jalan rahasia kita akan diketahui lawan,
dan pertarungan kedepan, kita kehilangan efek rahasia yang
bakal menentukan kalah menang pertempuran.....” Koay Ji
berkata tegas dan kedua gadis itu mau tidak mau percaya.
Ách, benar juga.... bagaimana baiknya Koay Ji......”? tanya Tio
Lian Cu dan juga Sie Lan In memandangnya dengan sinar mata
penasaran.
“Sie Suci, engkau lemparkan batu dari sisi sebelah barat sana,
tetapi setelah itu, melihat efeknya, kita mesti segera bergegas
kembali lewat ke jalan kita masuk tadi. Meksipun missi kita gagal,
tetapi kita sudah mengetahui bagaimana system kerja Markas
mereka, dan pertempuran akan bisa kita kuasai lebih mudah
kelak....” jawab Koay Jie memutuskan untuk segera mundur.
2731
“Tetapi, mengapa aku Sute....”? tanya Sie Lan In bertanya dengan
nada penasaran, tetapi bukan takut.
“Karena ginkangmu yang paling luar biasa...” ringan saja jawaban
Koay Ji dan dapat dimaklumi oleh kedua gadis itu. Karena
memang faktanya demikian, jadi perkataan Koay Ji biasa saja,
bukan pujian lagi bagi mereka.
“Jika begitu, bersiaplah, aku akan segera mencobanya.....” tegas
Sie Lan In yang justru menjadi bangga dan gembira setelah tahu
alasan dia dipilih. Diapun segera bersiap mencobai pagar
perlindungan istimewa gedung itu. Seperti perkataan dan usul
Koay Ji tadi, dia menuju ke sisi barat.
“Silahkan Suci.....” serentak Koay Ji dan Tio Lian Cu mengiyakan,
dan Sie Lan In segera bergerak dengan kecepatan kilatnya.
Sebentar saja, di sebelah sana, bagian barat gedung itu, setelah
tiba dan mengambil posisis, segera dia melemparkan batu yang
dibekalnya. Batu itu dengan cepat dan tepat melampaui garis tiga
meter yang dijelaskan oleh Koay Ji sebelumnya.
Dan apa yang dikatakan Koay Ji memang benar-benar terjadi,
karena ketika batu itu melewati “pagar tak terlihat”, terlihat adanya
pijaran berwarna biru keputihan yang membuat batu itu terlontar
2732
jauh lebih cepat dan keras kedalam halaman gedung yang
mereka curigai itu. Dan, tepat seperti dugaan Koay Ji, bersamaan
dengan itu terdengar bentakan hebat dari dalam gedung:
“Bangsat, ada penyusup......” suasana dalam gedung itu sontak
menjadi lebih ramai dan menunjukkan adanya kehidupan, bukan
hanya bagian depan, tetapi malahan seluruh bagian gedung itu
dengan cepat bergerak.
Bentakan itu disusul dengan bergeraknya beberapa orang ke luar
dari dalam gedung dan langsung menyebar menglilingi gedung
itu. Koay Ji sempat melihat adanya tiga orang yang bergerak
tetapi tidak sampai ke halaman rumah, mereka mengenakan
jubah berbeda warna, putih, hitam dan emas. Sampai pintu depan
saja dan tidak lagi bergerak lebih jauh. Mungkin batas pergerakan
mereka memang hanya sampai disitu, dan tidak boleh menjauh.
Tetapi, yang membuat Koay Ji tersentak adalah ketika sebuah
suara mengambang di angkasa:
“Sudahlah, mereka hanya anak-anak yang iseng belaka, tidak ada
manusia yang sanggup dan mampu untuk memasuki Gedung kita
ini. Segera balik dan kembali ke tempat masing-masing,
beristirahat, karena akan ada yang lebih tepat menangani
penyusup nyali kecil seperti mereka itu......”
2733
Koay Ji dan juga Tio Lian Cu sudah sedang dalam pergerakan
menjauh ketika Koay Ji menangkap getaran suara yang seperti
sengaja dilontarkan ke angkasa itu. Dan, Koay Ji segera terkejut
bukan main. Bukan apa-apa, melainkan karena dia bisa
merasakan dan mengukur bahwa tokoh yang bermampuan
melakukannya hanya tokoh setingkat dengan Phoa Tay Teng.
Atau, selain tokoh itu, dia mengenal nama Lie Hu San yang juga
amat hebat dan mujijat, dan dua orang Maha Hebat yang sudah
pernah ditemuinya sebelumnya. Bahkan dengan Phoa Tay Teng,
dia sudah pernah bergebrak dua kali dan masih tetap belum ada
“keputusan” tentang siapa melebihi siapa dalam kemampuan
mereka.
“Ach, sungguh banyak petarung dan pendekar mujijat dalam
organisasi bernama Bu Tek Seng Pay ini....... sungguh
berbahaya....” desis Koay Ji dengan wajah berkerut dan hati yang
sungguh tergetar. Bukannya tergetar karena Koay Ji takut dan
gentar. Tetapi karena sadar bahwa memang ternyata adalah
benar, dalam markas Bu Tek Seng Pay terdapat banyak sekali
tokoh-tokoh hebat seperti digambarkan Mindra. Dan sebagian
dari mereka, ditujukan khusus melawannya.
Tetapi, begitupun, Koay Ji tidak mengatakan apa-apa lagi dan
terus menjauh hingga pada akhirnya berjumpa dengan Sie Lan In
2734
dalam hitungan beberapa detik, hingga mereka bertigapun segera
menghilang. Memang benar, missi mereka sudah gagal pada
malam ini, tetapi mereka tetap dapat membawa informasi serta
pengetahuan penting mengenai keberadaan Markas lawan.
Tapi, benarkah mereka sudah selamat? sama sekali belum,
karena tiba-tiba Koay Ji berdiri tegak dan berkata dengan nada
serius kepada kedua kawannya yang juga jadi sama-sama kaget
dengannya;
“Sie Suci, Tio Kouwnio, cepatlah kalian berdua menuju lubang
rahasia itu, biar saat ini kualihkan perhatian tokoh-tokoh ini. Tio
Kouwnio, engkau tanyakan kepada sobat monyet dalam gua itu,
minta dibukakan pintu keluar kedua, kelak aku akan masuk
menyelamatkan diri melaluinya nanti. Cepatlah, lawan yang
datang amat hebat, dan jalan rahasia itu sangat mungkin
ketahuan orang jika kalian lamban bergerak dan pergi dari tempat
ini.
“Sute, tidak bisa engkau melakukannya sendirian.....” Sie Lan In
berkeras dan tidak setuju dengan tindakan yang akan diambil
Koay Ji. Sie Lan In dan juga Tio Lian Cu adalah gadis gagah
perkasa yang tidak takut mengambil jalan kekerasan dalam
kondisi seperti saat itu.
2735
Tetapi, beum lagi Koay Ji berkata untuk menjelaskan keadaan
yang gawat pada saat itu, dia kaget melihat perubahan wajah Sie
Lan In dan Tio Lian Cu. Tadinya, kedua gadis itu berwajah tidak
senang dan tidak setuju dengan tindakannya dalam menyambut
musuh dan menyuruh mereka segera pergi. Tetapi, aneh, hanya
dalam berapa detik kemudian, tanpa dia menjelaskan kedua gadis
itu sudah mengangguk-angguk dan kemudian diam.
Bakhan, tanpa banyak bicara dan bahkan dengan bergegas, dan
entah apa serta kenapa, berdua Tio Lian Cu dan Sie Lan In sudah
berkelabat pergi dengan cepat. Tetapi, Koay Ji tidak lagi sempat
memikirkan lagi hal-hal kecil tentang mengapa kedua gadis sakti
itu begitu saja pergi tanpa banyak ba bi bu meski awalnya tidak
setuju dengan keputusannya menyuruh mereka segera berlalu.
Tetapi, masih sempat Koay Ji mendengar seperti ada kepakan
sayap seekor burung sayup-sayup dan juga suara burung besar
yang terbang pergi menjauh beberapa saat kemudian. Koay Ji
hanya merasa senang karena menduga Sie Lan In membantunya
mencari alasan hilangnya dua teman lain yang bersamanya
menyatroni markas lawan. “Sungguh strategi yang tepat”
desisnya dalam hati.
“Sungguh cerdik, dan sungguh bantuan yang sangat berharga”
desis Koay dalam hati sambil tersenyum membayangkan Sie Lan
2736
In yang cerdik dan sudah meloloskan diri dengan tetap menutupi
jejak jalan rahasia. Padahal, jalan rahasia itu yang fital dan
memang harus mereka pertahankan kerahasiaannya. Dan jalan
rahasia itu yang justru membawa mereka hingga ke bagian yang
sangat rahasia dari markas lawan di gunung Pek In San ini.
Kepergian mereka dan kepakan sayap burung besar tadi, menjadi
hal sangat penting dan membuat Koay Ji tersenyum, karena dia
amat paham bahwa tokoh yang mengejarnya pasti paham dan
tahu bahwa suara kepakan sayap burung berarti apa dengan
hilangnya dua orang dari samping Koay Ji. Itulah yang membuat
Koay Ji senang dan tambah bersemangat.
Tetapi, Koay Ji tahu setengah kisah sesungguhnya dibalik
perginya Sie Lan In dan Tio Lian Cu, yang sesungguhnya tidak
pergi dengan menggunakan seekor burung. Koay Ji dapat
menebak tepat bahwa mereka berdua pergi tidak dengan burung
besar tadi. Jarak mereka terlampau jauh dan tidak mungkin
dicapai dalam 2,3 detik, terutama untuk Tio Lian Cu mencapai
jarak kepakan sayap tadi. Dan mereka juga tidak pergi sambil
menirukan suara kepak sayap maupun suara teriakan seekor
burung besar. Sama sekali tidak seperti itu. Koay Ji sangat yakin
bahwa mereka berdua benar pergi dan melalui jalan rahasia
seperti cara mereka datang tadi, tetapi dia tidak mengetahui
2737
mengapa mereka berdua memutuskan pergi meninggalkan dia
seorang diri setelah seersekian detik sebelumnya menentang
habis-habisan untuk sendirian menyongsong bahaya.
Sebetulnya, memang benar Tio Lian Cu dan Sie Lan In
melenggang seperti biasa dengan memasuki jalan rahasia yang
mereka berdua memang sudah tahu. Untuk kemudian lanjut guna
memberitahu kedua kera sahabat Koay Ji agar membuka pintu
rahasia kedua. Tio Lian Cu mampu untuk melakukannya karena
pernah belajar berkomunikasi dengan Monyet semasa kecilnya
dulu, dan dia belajar justru dari Koay Ji di gua pertapaan Bu In
Sinliong. Koay Ji menyadari keduanya masuk melalui jalan
rahasia, tetapi tidak tahu persoalan suara dan kepakan burung
besar. Hal itu dikarenakan dia sedang menunggu lawan tangguh
yang dia tahu sudah mengetahui keadaan serta juga penyusupan
mereka bertiga itu.
Tetapi, apa pula penyebab Koay Ji sampai “mengusir” kedua
gadis sakti itu? Apa hal itu tidak sama dengan memandang remeh
kedua gadis yang juga sama-sama punya kesaktian yang maha
hebat itu? dan mengapa pula seorang Koay Ji sampai begitu
gelisah seperti tidak percaya diri?. Pertanyaan lainnya yang juga
sama pentingnya adalah, “mengapa pula kedua gadis perkasa itu
cepat memutuskan diri untuk pergi dan membiarkan Koay Ji
2738
seorang diri...”?, pertanyaan yang akan kita temukan jawab dan
juga sebabnya kedepan, tidak akan lama.
Sesungguhnya, sejak berlatih “ilmu batin” dengan Suhunya, Koay
Ji semakin hebat dalam intuisi dan suara batinnya, bahkan tanpa
diduganya bakat untuk “mengetahui” sesuatu atau sebuah
kejadian di masa depan dalam jangka yang pendek (kurang dari
sehari) justru semakin terasah. Dan naluri serta intuisi yang
terlatih inilah yang membisikkannya sesuatu yang membuatnya
sangat menggelisahkan. Bahwa para pengejarnya, ada dua tokoh
yang bahkan masih setingkat dengan Phoa Tay Teng namun dia
merasa sangat jelas, bahwa justru bukan Phoa Tay Teng yang
sedang memburunya. Melainkan ada dua tokoh lainnya lagi yang
masih belum dia kenal. Tetapi, siapa gerangan berdua itu?
Kedatangan dua orang super hebat yang datang beserta dengan
tokoh-tokoh lain yang sudah bisa dia tebak siapa-siapa itu,
membawa pergolakan batin yang cukup hebat dalam dirinya.
Bukan apa-apa, menghadapi seorang diantaranya, dia masih
cukup percaya diri, tetapi jika menghadapi keduanya sekaligus,
sungguh sangat berat. Sementara, dia masih harus memikirkan
lagi lawan-lawan lain yang pada saat bersamaan muncul
menyertai kedua tokoh hebat itu. Dan, yang paling membuatnya
gelisah adalah bagaimana dia bisa pergi dengan tetap menjaga
2739
dan membuat agar jalan rahasia bawah tanah tetap tidak tercium
pihak lawan. Maka, dalam keadaan berbahaya itu, Koay Ji
menetapkan dan memutuskan bahwa dalam kondisi apapun dan
bagaimanapun, dia harus menjaga serta mengamankan
keberadaan JALAN RAHASIA bawah tanah. Jalan itu tidak boleh
sama sekali sampai tercium lawan dan kelak menutup aksesnya.
Dalam keadaan yang gawat, muncul sifat dasar dan
kepahlawanan serta bahkan semua kehebatan seseorang. Dan
itu terjadi dan dialami oleh seorang Koay Ji. Koay Ji jadi terlihat
sangat berwibawa dan seperti mampu “menguasai” baik Sie Lan
In maupun Tio Lian Cu yang tidak berdaya untuk menolak atau
menyatakan TIDAK ketika Koay Ji menyuruh mereka pergi.
Memang, ada juga unsur lain yang ikut berpengaruh tanpa
diketahui oleh Koay Ji apa dan mengapa itu, tetapi hal terpenting
lainnya adalah wibawa luar biasa yang memancar dari sinar mata
dan suara Koay Ji yang membuat kedua gadis sakti itu ikut
dengan permintaannya. Setelah itu, Koay Ji kemudian menunggu
kedua lawan hebat beserta beberapa pengiringnya dengan penuh
kepercayaan diri.
Sesungguhnya Koay Ji tidak menyadari jika wibawa dan semua
kekuatannya tadi terpancar dari suara dan sinar matanya yang
sulit ditolak oleh Sie Lan In dan juga Tio Lian Cu. Yang dia hanya
2740
tahu, bahwa dia merasa senang karena sepeninggal kedua gadis
itu, maka dia leluasa menghadapi lawan-lawan berat dan hebat
dengan caranya sendiri dan tidak perlu takut akan sesuatu yang
lain. Tidak, dia tidak alpa dan memandang remeh musuhmusuhnya,
tetapi dia merasa lega karena dua hal: Pertama,
JALAN RAHASIA tetap tertutupi kerahasiaannya dan bakalan
tergantung bagaimana dia meloloskan diri dan dari mana dia
melakukannya, dan kedua, jikapun mesti bertarung, dia bertarung
tanpa mengkhawatirkan orang lain.
Tetapi Koay Ji bukannya orang yang bodoh. Dia paham, satu saja
lawan berat yang dia sudah identifikasi tadi, sudah merupakan
pekerjaan nan berat untuk dihadapinya dengan berterang.
Apalagi, jika tidak salah, dia mampu melacak ada dua tokoh yang
setanding dengan Phoa Tay Teng, dan jelas ini merupakan
pekerjaan yang teramat berat baginya. Seorang Phoa Tay Teng
saja sudah setanding serta seimbang dengannya, apalagi kini
ditambah satu orang lagi. Maka jika demikian, dia mesti bekerja
dan memilih strategi yang lebih pas, lebih tepat dan lebih realistis,
dan harus dia ambil dalam waktu yang amat singkat dan cepat.
Dan sudah barang tentu, harus langsung dia kerjakan saat itu
juga. Beberapa detik menunggu dimanfaatkan Koay Ji memutar
2741
otaknya guna mencari jalan dan cara untuk menyelamatkan diri
tanpa harus terlihat lawan dia melalui jalan rahasia.
Dan Koay Ji cukup cerdas menghadapi keadaan seperti ini.
Begitu dipikirkan serta diputuskan, langsung dia bekerja dan
bergerak. Jelas jalan paling aman adalah jalan yang tidak akan
dapat diduga lawan, dan dia memilih mendekati insiden dimana
tiga rumah atau gedung Bu Tek Seng Pay terbakar, atau dibakar.
Kesanalah dia melesat pergi dengan kecepatan yang sangat luar
biasa, yang jika Sie Lan In melihatnya, dia pasti akan
mengerutkan keningnya. Karena Koay Ji bekerja dan berlari
dengan gaya dan dengan kecepatan yang amat luar biasa. Tetapi,
begitupun, telinganya masih mampu mendengar desiran suara
yang mengejarnya:
“Engkau cerdik memilih arah anak muda, tetapi, mengapa kedua
temanmu engkau biarkan meninggalkanmu menggunakan seekor
burung besar....”? bisikan yang jadi membuat Koay Ji tersenyum
geli.
Hebatnya, suara itu seakan mengikuti dan terus mengiringinya
kemanapun dia pergi ataupun melesat guna menyembunyikan
jejaknya. Tetapi, untungnya, meski suara mujijat itu tetap
mengikutinya dan tetap terasa dekat baginya, tetapi kawan-kawan
2742
yang menyertai mereka berdua jelas tertinggal cukup jauh di
belakang. Kondisi ini membuat Koay Ji merasa agak ringan dan
terhibur, meski dia sadar sekali jika dia masih belum lolos dari
hadangan lawan. Dia masih harus menghindari dua lawan
pengejarnya yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dan
disadarinya sekali, mereka masih setingkat dengan
kemampuannya saat itu. Dan kemampuan seperti itu jelas bukan
kemampuan biasa, melainkan adalah kemampuan luar biasa
yang hanya segelintir orang atau manusia yang mampu dan dapat
mencapainya. Untung dia sudah termasuk dalam kategori itu.
“Hohoho, engkau tidak akan dapat dan tidak boleh lari seenak
maumu anak muda, engkau sudah terkepung dan berada dalam
area Markas Bu Tek Seng Pay, masih lebih baik engkau
menyerahkan diri ketimbang kami tangkap dan adili.....” suara
tokoh berkemampuan mujijat itu terus menerus membayanginya,
mengikutinya kemanapun dia bergerak, tetapi Koay Ji paham,
jarak mereka tidak dekat meskipun juga tidak terlampau jauh.
Tetapi, tengah dia berusaha meloloskan diri dan mencari cara
memutar sambil juga mencari lokasi pintu rahasia kedua, tiba-tiba
dia mendengar suara yang lain. Pemilik suara yang patut dia
duga, tidak berada dibawah kemampuannya dan tidak berada
dibawah kedua tokoh pengejarnya. Dan yang lebih penting lagi
2743
adalah, suara dan pemilik suara itu seperti dia kenal dengan
dekat, tetapi masih beum pasti. Dan suara itu membuatnya girang
setengah mati:
“Koay Ji, bawa mereka semua berputar-putar, jangan tertangkap
dan jangan terlalu cepat engkau pergi meloloskan diri. Ajaklah
mereka bermain kucing-kucingan, Pinni butuh waktu yang cukup
memadai untuk melakukan sesuatu yang tadinya ingin engkau
lakukan bersama kedua kawanmu....”
“Achhh, tidak salah lagi, dia pastilah Lam Hay Sinni,,, Subo..”
desis Koay Ji dalam hati, dan semangatnya segera berkobar
kembali. Lebih bergelora malahan. “Pantas suaranya demikian
lembut dan terasa betul mengasihiku, rupanya dia adalah Bibi
Guruku, ech malah subo sendiri......” desis Koay Ji dalam hatinya.
Sekalian dengan itu muncullah keisengan dan kebinalannya dan
kemudian mengajak lawan-lawannya berputar-putar, bahkan
kemudian dia dengan sengaja memperdengarkan suara tawa
untuk membakar emosi lawan-lawannya:
“Apakah Geberz, Mo Hwee Hud, Liok Kong Djie dan semua tokoh
tua yang sudah tidak tahu malu itu juga ikut mengejar,,?
hahahahaha” ketawanya sekali ini terdengar lebih lepas, karena
memang begitu suasana hatinya. Dia merasa sangat senang
2744
karena dapat mengerjai Markas lawan dan membuat lawan-lawan
beratnya kini bangkit untuk ikut mengejar dan memburunya.
Dibawanya mereka semua berlari mengejarnya dan “bermain”
kucing-kucingan dengan dia. Hal yang tentu membuat panas dan
murka hati lawan-lawannya. Mereka memutuskan mulai
mengerahkan semua kekuatan untuk memburu dan mengejar
Koay Ji.
Tetapi, meski banyak dan malah beberapa tokoh utama lawannya
sudah pada tampil dan ikut mengejarnya, Koay Ji tetap tidaklah
dapat dengan mudah mereka kejar dan apalagi kemudian
ditangkap?. Koay Ji terkesan terlampau licin, pintar dan selain itu,
dia juga memang memiliki kecerdikan yang amat hebat dan
membuatnya bisa berputar-putar keluar masuk markas lawan.
Bahkan suatu ketika dia sempat masuk dan membaurkan diri
dengan para penghuni Markas Bu Tek Seng Pay yang sedang
sibuk memadamkan kebakaran pada enam titik yang berbeda.
Banyaknya manusia di tempat itu membuat Koay Ji leluasa dan
beroleh waktu lumayan untuk sedikit berlama-lama. Hanya karena
dua lawan berat yang terus mengejarnya yang membuatnya
kembali harus melaju ke tempat yang lain lagi. Terhadap dua
lawan yang hebat itu, Koay Ji memang memutuskan harus dan
wajib untuk berhati-hati, karena dia tidak dapat menipu
2745
penglihatan mereka. Jelas, karena kedua orang itu tidak mengejar
dan memburunya dengan menggunakan mata belaka, tetapi juga
menggunakan kekuatan sihir mereka.
Selain itu, Koay Ji juga kemudian melanjutkan upayanya
menemukan pintu rahasia kedua, tempat yang rencananya akan
menjadi lokasi dia meloloskan dirinya. Untuk hal yang satu itu, dia
percaya penuh kepada kawannya yang banyak memenuhi hutan
sekitar tempat itu. Dan memang, merekalah yang pada saat tepat
mulai bermunculan dan mulai ikut membantu Koay Ji. Tidak ada
yang dapat paham dan mampu mengetahui, bahwa pelarian dan
kemampuan Koay Ji untuk bermain kucing-kucingan dengan
lawan-lawannya yang semakin banyak dan juga hebat-hebat itu,
melibatkan bantuan dari kawan-kawan monyetnya yang banyak
berada di sekitar situ. Dan melalui merekalah Koay Ji kemudian
meminta tolong menemukan jalan rahasia atau pintu rahasia
masuk ke dalam jalan rahasia bawah tanah. Jalan yang dia
putuskan akan lalui nanti.
Setelah mendapat bantuan kawan-kawan monyetnya, Koay Ji
seperti menjadi punya mata dan mengetahui tempat dimana dia
dapat menghindar dan memilih arah agar tidak terkejar oleh
lawan-lawannya. Selama beberapa menit, nyaris dua puluh menit
atau bahkan lebih dia kucing-kucingan dan belum terkejar lawan2746
lawannya. Tetapi, Koay Ji paham, kedua lawan utamanya justru
semakin mendekati dirinya, karena mereka memang lebih hafal
dan lebih kenal dengan lokasi. Untung saja dia dibantu sahabat
monyetnya, jika tidak, dia sudah terkejar sejak beberapa waktu
yang lalu. Dan selama beberapa menit yang berlalu, kawankawan
monyetnya sudah memberi isyarat dimana lokasi pintu
rahasia yang sudah dia tandai.
Tetapi, sayangnya, meski sudah mengetahui pintu rahasia itu,
tetapi dua lawannya sudah semakin dekat dan dia tidak ingin
kedua lawan hebat itu menyadari ada jalan keluar dan jalan
rahasia di bawah tanah. Sebab jika demikian, maka rencana sam
suheng yang disusun bersamanya untuk melakukan penyerangan
markas lawan dengan efek kejut, bisa-bisa buyar. Selain itu, dia
belum menerima isyarat dari Lam Hay Sinni apakah usahanya
sudah berhasil ataukah masih belum. Padahal, waktu yang dia
gunakan, sesungguhnya sudah cukup lama. “Apakah Subo sudah
berhasil atau masih belum berhasil....”? pikir Koay Ji mulai sedikit
gelisah karena lawannya semakin mendekat dan mendekat.
Dalam keadaan seperti itu, otak licin Koay Ji membuatnya jadi
nekat dan membawa kembali lawan-lawannya kearah yang lebih
terbuka dan ramai. Kembali dia menuju ke lokasi kebakaran, yang
meski apinya mulai dapat diatasi, tetapi lokasinya masih tetap
2747
cukup ramai karena masih banyak manusianya. Koay Ji berniat
menggunakan keramaian untuk berspekulasi melawan para
pengejarnya yang rata-rata memiliki kemampuan yang hebat dan
juga mengagumkan. Terutama kedua pengejar yang terus
membayangi di belakangnya dan menjaga jarak dengannya, dan
semakin mendekat memendekkan jarak dengannya. Sekali saja
dia berhenti, maka dalam dua atau tiga detik dia akan terkejar dan
harus meladeni kedua lawan berat itu. Koay Ji maklum akan hal
itu. Karenanya, sedapat mungkin dia terus bergerak dan bergerak
dalam tinggi.
“Engkau cerdik juga anak muda.....” terdengar kembali pujian dari
suara yang selalu setia mengejarnya namun Koay Ji sadar,
mereka mengejar sekerasnya mencegah dia untuk mencapai
keramaian.
Bukan apa-apa, dengan banyaknya orang yang berkepandaian
rendah, maka Koay Ji akan mudah menghadapi sekian banyak
orang yang menghendaki nyawanya. Memang bukan untuk
menang, tetapi untuk memperpanjang waktu yang dia sita dari
lawan-lawannya agar Lam Hay Sinni mampu menuntaskan
tugasnya. Dan Koay Ji cukup cerdik untuk memahami, bahwa
banyaknya orang yang berkemampuan rendah, justru bakalan
membantunya dan bukannya mempersulitnya. Sebab dia bisa
2748
dengan mudah menyelinap diantara lawan-lawan yang
berkemampuan rendah itu dengan tidak takut bahaya.
Tetapi, rencana tinggal rencana, sesaat sebelum Koay Ji
mencapai keramaian itu, tiba-tiba ada yang menyerangnya secara
hebat dan memotong jalur pelariannya itu. Siapa dia? Koay Ji
kurang tahu, tetapi serangan itu sangat kuat dan bukanlah dari
tokoh yang lemah. Setidaknya lawan sehebat Geberz atau Mo
Hwee Hud yang bisa menghadangnya dengan pukulan sekuat itu.
Tetapi, Koay Ji yang memiliki kepekaan dan juga ilmu langkah
mujijat, dengan tenang sudah menggerakkan kakinya dan pada
lain kesempatan, dia sudah kembali berlari kedepan
meninggalkan penyerang gelapnya dan juga kedua lawan
mujijatnya itu. Tetapi, kedua lawannya kini semakin dekat dan
hanya berjarak sekitar 4,5 meter di belakangnya. Jarak yang
cukup dekat untuk menyerangnya, tetapi juga cukup untuk Koay
Ji menghindarinya. Keadaan jadi semakin menegangkan bagi
kedua pihak.
Pada akhirnya Koay Ji mampu mencapai keramaian itu, dan
langsung melompat di tengah keramaian dan kemudian
menyelinap maju terus. Sementara itu, terdengar suara bentakan
di belakangnya:
2749
“Semua diam di tempat, ada musuh berbahaya berada di tengahtengah
kita, semua harus berusaha menangkapnya hidup atau
mati......”
Jamukha nampak muncul dan memberikan perintahnya, dia
muncul dari arah depan sementara di belakang Koay Ji terdapat
dua lawan hebat yang dia hindari. Otomatis Koay Ji melangkah
terus maju dan mendekati tempat dimana Jamukha berada. Tapi
Jamukha cepat melihat keberadaannya sekitar 7,8 meter dari
posisinya dan sudah langsung berteriak karena kaget dan jeri:
“Itu dia, sedang menuju kemari......”
“Awas jarum beracun.......” Koay Ji berteriak sambil menyerang
serabutan dan dari lengannya “seperti” meluncur sinar-sinar tajam
sejenis senjata rahasia, padahal yang benar adalah pasir-pasir
yang sengaja dibuatnya sebagai senjata rahasia guna membuat
keadaan menjadi kacau. Dan benar saja, dalam waktu singkat
orang-orang serabutan menghindar, dan Jamukha sendiripun
sampai kerepotan karena beberapa orang menutupi
pandangannya. Ketika dia bisa melihat lebih jelas, Koay Ji sudah
hilang dari pandangannya, dan dia baru menyadari beberapa
detik kemudian ketika melihat Koay Ji sudah berada di sisi
sebelah kanannya. Tetapi, sekitarnya ada banyak anak buah
2750
mereka merintih kesakitan karena tersengat pasir terbang yang
tadi digunakan sebagai senjata rahasia oleh Koay Ji.
“Disana,.” sontak dia berteriak sambil menunjuk kearah sebelah
kanan, arah dimana Koay Ji sedang menyelinap diantara
kerumunan banyak orang sekitar tempat itu. Tetapi, pada saat
yang bersamaan dengan itu, Koay Ji kembali mendengar suara
lembut mengiang di telinganya:
“Pekerjaan Pinni sudah berhasil dengan baik, Pinni membawa
mereka bertiga yang sedang dalam keadaan tertotok, engkau
sudah bisa meloloskan diri. Dan engkau tahu bagaimana caranya
pergi dari tempat berbahaya ini, begini caranya....” dan masih
beberapa pesan lagi disampaikan oleh Lam Hay Sinni kepadanya
mengenai cara bagaimana dia pergi dari sana.
Tanpa diperintah lebih jauh lagi, antara mengerti dan tidak
mengerti dengan semua petunjuk dari Bibi Gurunya itu, Koay Ji
kembali memutar arah pelariannya. Tetapi, pada saat itu, ada 3
orang hebat yang memapaknya, dan syukur jaraknya dengan
kedua tokoh hebat di belakangnya sudah bertambah menjadi 10
meteran. Hasil dari strateginya memasuki kerumunan orang dan
membuat kedua lawan hebatnya agak tertinggal di belakang.
2751
Tetapi, sudah jelas jarak itu bukan sesuatu yang panjang bagi
mereka berdua para pengejar yang berkepandaian hebat itu.
Koay Ji tergetar karena di hadapannya kini menghadang Mo
Hwee Hud, Liok Kong Djie dan Geberz, sementara tokoh-tokoh
lain setahunya masih tetap terserak di lokasi kebakaran yang baru
saja dilaluinya.
“Hmmmm, kalian terlampau sering menghalangi jalanku, awas
serangan....” sekali ini Koay Ji memilih salah satu serangan hebat
dari rangkaian Hian Bun Sam Ciang, dengan jurus serangan yang
sangat berbahaya. Bersamaan dengan itu, iweekang gabungan
yang dilatihnya selama ini dia kerahkan sampai pada tujuh
bagian. Jelas serangannya bukan serangan main-main, apalagi
karena dia memang ingin buka jalan guna pergi dari tempat itu.
“Awas, hindari dan jangan dilawan..... berbahaya” terdengar
bentakan dari belakang tubuh Koay Ji, sudah pasti peringatan itu
berasal dari dua lawan berat yang selalu menguntit di belakang
Koay Ji dengan jarak yang tadinya sudah dekat tetapi kembali
menjaduh setelah Koay Ji melampaui kerumunan orang-orang
tadi. Dan saat itu, kembalu mereka semakin mendekat jaraknya.
Hadangan tiga tokoh sepuh kembali memangkas jarak mereka
menjadi semakin pendek, dan masih amat untung ada peringatan
2752
mereka berdua, selain memang ketiga tokoh tua itu bukanlah
orang yang tidak paham apa-apa. Sebaliknya, mereka bertiga
adalah tokoh hebat yang sudah mengenal lawan berbahaya
dalam diri Koay Ji. Bahkan mereka sudah beberapa kali
menghadapi tokoh sehebat Koay Ji dalam bentuk Thian Liong
Koay Hiap, dan gaya Koay Ji mirip tokoh itu. Hal yang
mengagetkan mereka dan membuat mereka awas dan segera
berwaspada.
Peringatan dua tokoh di belakang Koay Ji dan pengetahuan
mereka membuat tokoh-tokoh seperti Mo Hwee Hud, Liok Kong
Djie dan juga Geberz waspada dan bisa mengantisipasi secara
tepat. Ketiganya sudah tahu bahwa serangan yang datang bukan
serangan ringan, karenanya mereka memilih menghindar dan
bersiap untuk menyerang kembali. Tetapi, sungguh sayang di
belakang mereka ada terdapat tiga orang yang lain lagi, mereka
masing-masing adalah Tam Peng Khek dan istrinya Gi Ci Hoa
serta juga Ong Keng Siang, murid kedua dari Mo Hwee Hud. Jika
sang Suhu dan kedua kawannya bisa menghindar, maka mereka
justru terlambat menghindar dan mau tak mau langsung
berhadapan dengan pukulan Koay Ji. Tapi, sayangnya, pukulan
Koay Ji sekali ini bukan ditujukan ke tokoh sekelas mereka
2753
sebagai murid Mo Hwe Hud, tetapi ditujukan ke tokoh sekelas
Suhu mereka. Jelas beda dan akibatnya bisa fatal bagi mereka.
Dan, mana bisa mereka melawan? selain mereka tiba-tiba
merasakan daya hisap Koay Ji yang amat tidak tertahankan, juga
ilmu yang dikerahkan Koay Ji terlampau hebat bagi mereka
bertiga. Maka tanpa dapat dicegah lagi, pukulan Koay Ji justru
nyasar dan mau tidak mau harus ditangkis ketiga murid Mo Hwee
Hud itu, karena memang mereka tidak punya waktu menghindar
lagi. Yang beruntung pada saat itu Tam Peng Khek karena dia
berada dan terlindung di belakang istrinya Gi Ci Hoa. Dan yang
menyedihkan adalah Ong keng Siang dan Gi Ci Hoa yang
berhadapan langsung dan harus menangkis secara langsung
pukulan Koay Ji yang maha hebat itu. Jangankan mereka, Suhu
merekapun masih akan berpikir berapa kali guna menangkis
pukulan seorang Koay Ji pada saat itu. Apalagi mereka? Untung
saja Koay Ji masih sempat mengurangi sedikit kekuatan
iweekangnya dan juga secara otomatis memperlambat
langkahnya. Tetapi, meskipun kekuatannya dikurangi, tetap saja
terlampau kuat bagi kedua murid Mo Hwee Hud itu.....
“Dukkk, dukkkkk, dukkkkk....... accccchhhhhhh, aiiicchhhhhhhh...”
2754
“Maafkan aku.....” masih sempat terdengar seruan lirih dari mulut
Koay Ji melihat ketiga lawannya terlontar jauh ke belakang. Dan
dia tidak sempat lagi menanyakan dan melirik keadaan mereka,
karena diapun sudah langsung kembali berlari kearah tebing di
belakang markas lawan. Tetapi, melihat arah lari Koay Ji, lawanlawannya
terlihat saling tersenyum satu dengan yang lain, dan
kemudian perlahan mengekor kedua tokoh tua yang terus
mengejar Koay Ji. Kedua tokoh yang mengejar Koay Ji sendiripun
melambatkan langkahnya. Bukan untuk bersimpati kepada kedua
murid Mo Hwee Hud yang belum ketahuan nasib mereka, tetapi
karena tahu ujung pelarian Koay Ji akan berakhir dimana.
Sementara itu, Mo Hwee Hud tersentak dan berhenti untuk
beberapa saat hanya untuk mengetahui bahwa dia kembali
kehilangan dua orang muridnya. Karena, Gi Ci Hoa dan Ong keng
Siang, dipastikannya mengalami luka yang sangat berat, dan
bahkan kemungkinan mereka untuk sembuh sangat kecil. Mereka
berdua pastilah akan cacat permanen jika masih tetap dapat
dipertahankan nyawa mereka, itupun pusat tan tian mereka
tergedor rusak dan tenaga dalam mereka dipastikan buyar. Mo
Hwee Hud bersama Tam Peng Khek murka tak terkirakan, dan
sebagai SUHU kedua orang itu, Mo Hwee Hud masih sempat
memberi perintah kepada beberapa orang untuk mengurus murid2755
muridnya sambil bersungut-sungut dan marah bukan main.
Bahkan bersumpah akan membalas.
“Bangsat, awas engkau kelak..” berang dan sangat murka tokoh
tua itu menyaksikan anak muridnya kembali jatuh menjadi korban.
Sementara itu, Koay Ji sudah tiba di tebing dan secara sengaja
berbalik menunggu kedua lawannya. Dia memang ingin melihat
dan berkenalan dengan kedua orang hebat itu, setidaknya tahu
siapa mereka sebenarnya. Dan tak terhindarkan, diapun
sekaligus ingin mengetahui sampai dimana kemampuan kedua
orang yang bisa rasakan sangatlah hebat wibawa dan
pengaruhnya. Karena itu, dengan sikap gagah dan tenang, dia
berbalik dan menunggu lawan-lawannya itu. Memandangi ketika
kedua orang itu berhenti beberapa meter dihadapannya. Bahkan,
ketika mereka pada akhirnya berhenti dan menghadapinya, Koay
Ji dengan tenang dan dengan wibawanya berkata dalam suara
tegas dan menegur,
“Hmmmm, sungguh amat disayangkan, kemampuan sehebat dan
semujijat ini, serta usia Jiwi Locianpwee yang sudah sangat tinggi,
tetapi masih saja tergoda membantu kejahatan. Amat
disayangkan dan sesungguhnya amatlah memalukan...” sambut
Koay Ji ketika kedua tokoh tua itu pada akhirnya tiba
2756
dihadapannya dan sekarang bisa bertatap muka secara langsung
dengannya. Keduanya anehnya sama sekali tidak atau belum
dikenalinya, atau belum pernah bertemu sebelumnya. “Entah
siapa mereka sesungguhnya, tidak ada seorangpun dari mereka
berdua yang kukenal. Ini atau yang lainkah yang bernama Rajmid
Singh.....”? bertanya-tanya Koay Ji dalam hatinya sambil
menebak-nebak orang di depannya. Tetapi, satu hal yang pasti,
dari tubuh kedua orang itu mengalir dan merambat wibawa yang
aneh dan membuatnya sedikit gamang. Sungguh hebat.
Di depannya dia bisa menebak dan memang cukup jelas cirinya,
yakni bahwa dia adalah keturunan Thian Tok. Ciri fisiknya lebih
mirip dengan Mindra dan tokoh Thian Tok lainnya, termasuk Mo
Hwee Hud, tapi rada sedikit berbeda karena tokoh terakhir ini
memiliki juga darah keturunan Tionggoan. Sementara tokoh yang
seorang lagi ini, terlihat sudah agak tua, bahkan masih sedikit
lebih tua juga kelihatannya dibanding Mo Hwee Hud. Hanya saja,
baru sekali ini berhadapan dan bertemu dengan Koay Ji secara
langsung. Dan dia ini yang membuat Koay Ji merasa terkejut,
karena betapa hebat dan betapa misterius kekuatan yang terus
memancar dari tubuh dan perbawa tokoh itu. Dia bahkan
terlihatan masih lebih hebat dan sedikit tipis diatas tokoh Thian
Tok yang datang bersama-sama dengannya itu......
2757
“Hahahahaha, anak muda, kemana lagi engkau akan melarikan
diri....”? terdengar teguran dari kedua orang itu saat tiba dan
berhadapan langsung dengan Koay Ji. Terlihat mereka sedikit
kaget setelah sadar betapa masih muda orang yang mereka kejar
itu. Tetapi, hebatnya, dan yang ini membuat Koay Ji sendiri
sampai terkejut, karena dia tidak melihat seorang diantara kedua
tokoh tua yang baru datang itu yang membuka mulut. Meskipun
sudah jelas seorang dari mereka yang berbicara. Siapa yang tadi
berbicara dapat ditebak dengan mudah oleh Koay Ji, karena dia
sudah sejak awal mengerahkan kekuatan murni dan kekuatan
batinnya menghadapi kedua orang itu. Toch tetap saja Koay Ji
tersentak dan kaget dengan penampilan serta juga perbawa
kedua orang tua itu.
“Hmmmm, memangnya apa yang jiwi locianpwee akan lakukan
kepadaku? Ingin mengeroyokku? Ingin menangkapku? Silahkan,
akan dengan senang hati kuhadapi dan kuladeni..” jawab Koay Ji
dalam gaya dan cara yang sama, diapun tidak terlihat berbicara
dengan mulut. Hal itu tidak mengherankan kedua tokoh tua itu,
karena mereka sudah tahu dan sadar sampai dimana kehebatan
dan juga kemampuan tokoh bernama Koay Ji, meski mereka
kaget karena dia masih terlihat sangat muda. Dan itu yang justru
membuat mereka merasa terperanjat dan terkejut. Sungguh tidak
2758
mereka duga jika ternyata benar, lawan mereka masih amat
muda, namun memiliki kemampuan yang sudah amat tinggi. Dan
kelihatannya tidaklah terpaut jauh dengan tingkat kemampuan
mereka berdua.
“Engkau harus bertarung untuk mempertahankan dirimu anak
muda, karena dengan cara apapun engkau harus menjadi
tahanan kami. Jika engkau mau yang secara baik-baik, maka
akan lebih baik jika engkau menyerah saja, sehingga tidak
membuat kita bertiga lelah dan capek-capek, toch betapapun
engkau akan kalah juga. Tetapi jika engkau lebih menginginkan
jalan kekerasan, kamipun punya waktu untuk bisa sekedar
meregangkan otot. Hitung-hitung meregangkan otot dan melatih
kembali ilmu yang sudah lama tidak terpakai ini. Engkau pilihlah
sendiri sesuai keinginanmu, mana yang engkau ingin lakukan dan
engkau pilih...” terdengar orang tua yang datang bersama Rajmid
Singh berbicara
“Hahahahaha, manis sekali terdengarnya..... tetapi aku akan
melakukan perlawanan jiwi locianpwee, karena itu, ketimbang
banyak bicara, lebih baik lagi jika langsung saja. Mari, silahkan
menyerangku. Meski masih muda, tetapi cukup bisa untuk
meladeni dan menghadapi jiwi locianpwee atau salah seorang
dari jiwi locianpwee yang hebat, dan ini adalah sebuah
2759
keberuntungan buatku” tantang Koay Ji tanpa segan dan tanpa
tedeng aling-aling, karena dia memang sudah memiliki dan
menyusun rencana sejak tadi. Karena itu, meskipun dia kini
terkepung oleh banyak orang, banyak tokoh pemimpin Bu Tek
Seng Pay yang hebat-hebat dan sakti, tidak sekalipun dia terlihat
takut ataupun jeri. Keadaan ini mengherankan semua tokoh yang
mengepung dan bersiap menyerangnya itu.
Sebaliknya, sikapnya tetap tenang, tetap gagah dan tidak terlihat
takut atau cemas dengan keadaan dirinya yang sudah terkepung
lawan. Sikap, kata-kata dan perbawa Koay Ji jelas saja
mengagetkan dan menyentak mereka semua. Dan mau tidak mau
tokoh-tokoh yang kini semakin banyak berkumpul di tebing itu
menjadi semakin kagum dengannya. Kagum karena dalam usia
yang masih semuda itu, tetapi Koay Ji sudah bisa memiliki
kesaktian dan kemampuan yang sangatlah tinggi. Dan, bahkan
Koay Ji juga memiliki kegagahan yang terlihat sangat menonjol
dan mempengaruhi cara pandang mereka atasnya. Dalam
kesendirian dan keterkepungan, dia tidak terlihat takut dan tidak
panik, tetap tenang dan meladeni semua toko dihadapannya.
Padahal, mereka adalah tokoh-tokoh puncak.
Tetapi, belum lagi pertempuran itu pecah, tiba-tiba datanglah
seseorang melapor dengan suara takut-takut. Tetapi meskipun
2760
berkata-kata secara perlahan dan takut-takut, masih tetap
terdengar oleh Koay Ji:
“Laporan Hu Pangcu, baru saja Hek Seng, Pek Seng dan Kim
Seng bertiga diculik orang, dan mereka bertiga sudah digondol
orang dan dibawah sebagai tawanan oleh seorang Rahib Wanita
yang sungguh sangat lihay dan sangat sakti, kami semua tidak
mampu melawannya tadi......” demikian laporan yang baru saja
disampaikan kepada Jamukha tetapi yang bisa didengar oleh
Koay Ji. Tetapi laporan itu membuat Jamukha naik pitam dan
murka,
“Bangsat, sungguh bangsat..... pasti dia adalah konco mereka
yang sudah berani mati menyusup hingga kemari.....” terdengar
jeritan Jamukha dan membuat banyak orang disitu tersentak
kaget dan tambah murka menghadapi Koay Ji. Jelas Jamukha kini
sadar, jika Koay Ji memainkan peran mengalihkan perhatian
mereka sementara sahabatnya sudah bekerja menyusup
kedalam gedung dan mengambil serta juga menahan 3 orang dari
antara mereka.
“Ach, ternyata masih ada orang lain lagi yang juga sudah ikutan
datang menyusup. Mohon maaf, karena harus kukatakan bahwa
aku gembira mendengar kabar baik itu..... hahahahaha” sungguh
2761
tenang, santai dan malahan amat senang Koay Ji saat
mendengar kabar yang membuat Jamukha berang itu. Dan itu
mengkonfirmasi apa yang dibisikkan Lam Hay Sinni kepadanya,
bahwa dia sudah selesai dan berhasil dengan missi
penyelamatannya. Tentu saja Koay Ji amat senang, dan tidak
tahan diapun mengeskpresikan kegembiraannya dan membuat
lawan-lawan yang berdiri di depannya bertambah marah dan
gondok.
“Tertawalah, karena sebentar lagi engkau tidak akan senang
dengan keadaanmu anak muda, bersiaplah, aku akan
menangkapmu.....”
“Acccccch, jika maju seorang diri akan kurang seru Locianpwee,
lebih baik maju sekalian berdua biar lebih cepat selesai.....”
“Hahahaha, dia sendirian sudah cukup menangkapmu..”
terdengar suara Jamukha membela tokoh di pihaknya.
“Diam..” bentak tokoh tua yang menghadapi Koay Ji, terlihat
murka dengan Jamukha yang banyak mulut itu. Dan dia
melanjutkan;
“Kedatangan kawanmu yang seorang lagi berada di luar
jangkauan pengawasan kami berdua, bisa dipastikan dia tokoh
2762
yang sangat hebat. Siapa dia gerangan”? desisnya dalam tanya
sambil memandang Koay Ji, tetap tenang meski sebenarnya juga
kaget dengan keadaan hari itu.
“Beliau Bibi guruku, dan mengambil pulang murid kepala Tiga
Dewa Tionggoan yang kalian sekap dengan cara memalukan.....”
jawab Koay Ji ringan saja dan membuat tokoh tua itu kembali
manggut-manggut.
“Hmmmmm, bagusah, toch engkau ganti yang memadai buat
mereka bertiga. Malah masih jauh lebih bernilai, bersiaplah anak
muda, kami tidak akan main-main untuk menyerang dan
menangkapmu......” desis orang tua itu.
“Hmm, baiklah, jika memang demikian aku ingin mencoba sampai
dimana kekuatan Locianpwee..” berkata Koay Ji sambil kemudian
mengerahkan iweekang di tangan dan kemudian memukul tokoh
dihadapannya, dan adalah tokoh asal Thian Tok yang majukan
dirinya terlebih dahulu melawannya. Dia tahu lawannya hebat,
karenanya dia tidak tanggung-tanggung lagi, lima bagian
iweekang sudah dia kerahkan mendorong pukulannya itu.
“Dukkkkk ......”
2763
“Hmmmm, hebat .... terima lagi pukulanku ini.....” benturan
pertama menghasilkan kesimpulan bagi kedua belah pihak,
bahwa kekuatan mereka masih berimbang dan tidak ada yang
mampu mengatasi lawannya. Seri. “Luar biasa, padahal usianya
masih amat muda....” desis tokoh satunya lagi yang mengamati
pertarungan hebat itu dari luar arena
Seruan pujian Koay Ji bukanlah tanpa dasar, karena dia sadar
pukulannya tadi kena bentur tokoh hebat yang kepandaiannya
bahkan tidak berada di bawahnya. Setakar dengan Phoa Tay
Teng yang dilawannya di Thian Cong Pay beberapa hari silam.
Tetapi, jelas Koay Ji tidak takut, tidak juga khawatir menghadapi
kepungan demikian banyak tokoh yang mengurungnya sampai
tidak ada jalan keluar, karena di belakang adalah tebing yang tak
nampak dasarnya. Justru Koay Ji memang sengaja mengadu
pukulan, karena ada maksud tersembunyi di baliknya, dan dia
sudah menyiapkan diri untuk suasana dan kondisi saat ini. Maka
sekali lagi, diapun siap mengerahkan iweekang lebih kuat lagi dan
kini mengerahkan ciri khas iweekang perguruannya dan
kemudian berteriak dan mendorong sambil memukul hebat:
“Hiaaaaaaaat, awas Lociapwee....”
2764
Secara bersamaan, tokoh Thian Tok yang Koay Ji kenali bernama
Rajmid Singh sesuai penuturan Mindra beberapa hari lalu, juga
mengerahkan dan meningkatkan kekuatannya dan memukul
kedepan. Tetapi, alangkah kagetnya dia ketika iweekang dan
kekuatannya seperti terhisap kedepan, dan sesaat kemudian
kekuatannya yang terhisap itu terasa dihentakkan lawan kembali
kepadanya. Luar biasa, dia terkenang akan Pouw Tee Pwe Yap
Hian Kang dan Toa Pan Yo Hian Kang, dua iweekang kaum
Budha yang punya keistimewaan seperti itu. Dia sungguh kagum,
tetapi paham bagaimana memunahkan serangan yang berbalik
itu. Karena itu dia bergerak dengan penuh keyakinan, santai saja
dan tidak terburu-buru dan sebentar kemudian dia terlihat kokoh
kembali dan balik menyerang.
Dan memang, dia, Rajmid Singh mampu menangani serangan
Koay Ji dengan baik dan kembali menggerakkan tangan
menyerang. Tetapi sekali ini Koay Ji memainkan ilmu Hian Bun
Sam Ciang dan secara sengaja menutup kemampuannya yang
bisa menggunakan ilmu perguruan Pat Bin Lin Long. Seranganserangannya
kuat, berisi kekuatan tenaga iweekang gabungan
hingga menyentak dan memukul harga diri dan kesombongan
Rajmid Singh. Tidak dapat dia dalam waktu singkat memojokkan
dan mendesak Koay Ji, justru serangan Koay Ji terasa terus
2765
meningkat dan terus bertambah kuat sehingga diapun menambah
kekuatan iweekang pendorongnya. Dan tiba-tiba dia mendengar
bentakan Koay Ji:
“Hmmm, tahan pukulan ini.....” seiring dengan bentakan Koay Ji
itu, kembali Rajmid Singh merasakan hembusan kekuatan
iweekang yang maha hebat sedang datang menerjang dirinya.
Dan kekuatan lawan sudah bertambah hebat, hitungannya sudah
tujuh bagian iweekang lawan, dan tentu harus dia lawan dengan
cara yang sama. Benturan kekerasan dengan kekuatan
iweekangnya jika tidak mau keteteran serta dipermalukan lawan
yang masih amat muda itu.
“Blaaaaarrrrr......”
Benturan hebat kembali terdengar, dan akibatnya tubuh Rajmid
Singh terlihat sedikit bergoyang akibat benturan kekuatan yang
maha hebat itu. Tetapi Rajmid Singh memang bukan seorang
tokoh sembarangan, bukanlah pula tokoh kacangan dan dia
membuktikannya segera. Guncangan itu tidak berpengaruh pada
dirinya, bahkan dia sudah kembali bersiap mendorong dengan
sepenuh tenaga sambil mencari dan juga memandang dimana
posisi Koay Ji saat itu. Setelah menemukan Koay Ji yang juga
bersiap memukul kembali, dengan teriakan penuh tenaga gaib
2766
dan tenaga mujijat, dia kembali menyerang dengan
mendorongkan kedua lengannya kedepan. Luar biasa, dari
lengannya keluar sejenis sinar kemerahan yang menerjang ke
arah posisi Koay Ji yang juga sudah sama mengerahkan
kekuatan penuh guna membendung serangan maut lawannya itu.
“Hiyaaaaaaaaaaat.......”
Sambil berteriak keras, Koay Ji mendorongkan kedua lengannya,
tetapi sekali ini meski penuh kekuatan, tetapi juga memiliki daya
tenaga berbeda. Hal ini segera terlihat dari akibat benturan hebat
antara kedua kekuatan iweekang mereka. Rajmid Singh terlihat
terdorong sampai 5 langkah ke belakang, dan setelah itu baru
dapat kokoh kembali guna mencari dimana posisi Koay Ji.
Tetapi, episode selanjutnya membuatnya tercengang, bukan
hanya dia, tetapi juga kawannya yang datang bersamanya dan
yang tidak kurang hebat darinya. Dia juga sama-sama terkejut,
atau lebih tepat, terperanjat malahan. Termasuk juga semua
tokoh yang berada di belakang mereka berdua dan yang juga
ikutan menjaga jalan lari Koay Ji, sama terperangah dengan apa
yang terjadi pada saat itu, dalam waktu sepersekian detik belaka.
Apa gerangan yang terjadi?
2767
Sesaat setelah benturan kedua yang sangat hebat dan luar biasa
karena memang didorong oleh tenaga pukulan yang amat luar
biasa itu terjadi, sesuatu yang sangat mengagetkan terjadi. Apa
pasal? Karena ternyata, Koay Ji dengan cerdik sudah
menggunakan kekuatan iweekangnya untuk menarik dan juga
lantas menggunakan daya dorong iweekang lawan yang amat
kuat dan hebat itu untuk menambah daya mendorong dan
mementalkan tubuhnya sehingga melayang jauh ke belakang
dengan sangat cepatnya. Tubuhnya mencelat dan terlontar cukup
jauh ke belakang dan terus melayang cepat melampaui pijakan
kakinya di tebing itu. Dan masih terus melayang ke belakang dan
sudah pasti tubuhnya akan langsung meluncur ke bawah tebing
menghujam bumi dan TEWAS.
Tetapi betulkah demikian jadinya? Kejadian yang sebenarnya
justru sebaliknya dan bukanlah seperti yang mereka bayangkan
dan pikirkan. Dan ini yang membuat tokoh di belakang Rajmid
Singh cepat bereaksi sambil mendesis tajam, sepertinya dia tahu
apa yang sebenarnya sedang terjadi:
“Hmmmm,,,,, Lam Hay Sinni......”
Tetapi, pameran Koay Ji masih belum berhenti, karena beberapa
saat sebelum tubuhnya menukik turun ke bawah dan dipastikan
2768
hancur di bawah tebing, terdengar dia berteriak dengan kekuatan
hawa yang luar biasa:
“Haiiiiiiiiiiiiittttt.......................”
Kedua lengannya terkembang dan kemudian, secara luar biasa,
tubuhnya bukan meluncur ke bawah, tetapi kembali melayang ke
belakang hingga menambak jarak antara dirinya dengan ujung
tebing. Sebelumnya berjarak 3 meter dari ujung tebing, tetapi
dengan melayang lebih jauh lagi, kini dia menambah jarak sampai
7,8 meter dari ujung tebing tersebut. Dan tubuhnya masih tetap
melayang kebelakang tanpa takut apakah dia akan terhempas
turun ke bawah, ke bawah tebing yang berjarak ratusan meter dan
pasti meremukkan tubuhnya nanti. Tetapi, dalam beberapa detik
kemudian, tubuhnya jatuh dipunggung seekor burung besar yang
kelihatannya memang sudah menantinya disana. Ya, jika bukan
burung besar milik Lam Hay Sinni, milik siapa lagi?
Sementara itu, kawan Rajmid Singh yang menggumamkan nama
LAM HAY SINNI tadi sudah bergerak cepat setelah sadar apa
yang terjadi. Maka secepat kilat dia mengumpulkan kekuatan dan
kemudian maju hingga ke tepi tebing untuk memukul dengan
segenap kekuatannya, tetapi belum lagi dia melepaskan pukulan,
nalurinya yang tajam berbisik dan mengingatkannya sesuatu. Dan
2769
memang benar, karena saat dia meloncat ke depan untuk
memukul, dia melihat sebuah gerakan lengan yang amat aneh
dari Koay Ji. Betul, pada saat itu Koay Ji menggerakkan
lengannya dalam Ilmu Khong In Sian Po Hui Hong (Awan Kosong
dan angin puyuh yang berpusing dan juga bergelombang). Dan
dari lengannya saat itu segera menghambur sejumlah senjata
rahasia menyerang khusus kearah dirinya dan juga kawannya
Rajmid Singh. Untung dia cukup cepat bereaksi dan juga punya
wawasan atas ilmu silat yang sangat luas. Sehingga dia bisa atau
mampu mengenali Ilmu Khas dan Ilmu Tunggal yang amat
berbahaya dan sangat harum dari Thian Hoat Tosu, sebuah ilmu
senjata rahasia yang amat hebat dan berbahaya. Dan ilmu itu
sedang menyasarnya dan juga sahabatnya Rajmid Singh.
Ilmu senjata rahasia Khong In Sian Po Hui Hong ini memang
merupakan salah satu ilmu senjata rahasia yang ditakuti dan
sangat mujijat milik Thian Hoat Tosu. Dan ilmu itu sengaja
diturunkan oleh Thian Hoat Tosu kepada Koay Ji pada masa
kanak-kanaknya. Dan sampai saat ini, Koay Ji terus melatihnya
dan sudah meningkat amat hebat, sehingga saat digunakannya,
lawannya sampai tergetar saking kaget dan juga terkejut melihat
dia ternyata juga mampu memainkan dan menggunakannya.
Apalagi didorong dengan tenaganya yang sudah meningkat luar
2770
biasa, maka ilmu itu pada dasarnya masih sama, tetapi
perbawanya sudah meningkat cukup hebat. Malah mungkin
sudah melampaui kemampuan tokoh penciptanya jika
menggunakan pada saat seperti saat itu.
“Kurang ajar, sungguh licik.......” jerit tokoh itu memandang Koay
Ji yang kini pergi menjauh dengan menunggangi seekor burung
yang besar, dan bersamanya terlihat Sie Lan In yang sungguh
gembira menyaksikan bagaimana Koay Ji melepaskan diri secara
cerdik dari lawan-lawannya yang memang amat hebat itu. Tetapi,
mereka belum benar-benar bebas dan merdeka, karena beberapa
saat kemudian, tiba-tiba Koay Ji dan Sie Lan In mendengar suara
yang mengalun tinggi, amat berwibawa dan menggedor semangat
serta kesadaran mereka:
“Hohohoho, Anak Muda, kembalilah.... burung besarmu sudah
keletihan, kalian akan jatuh ke bawah tebing jika memaksakan
diri. Ayo, kembalilah, sayangilah burung besar itu, kemalilah,
baliklah kemari.....”
Tidak salah lagi, itu adalah usaha lain dari Rajmid Singh, karena
dia memang tokoh dan seorang ahli sihir yang sangat handal.
Tapi, sayangnya, bahkan seorang Mindra sekalipun masih
kesulitan menyihir Koay Ji, apalagi Rajmid Singh yang masih
2771
sedikit berada di bawah kemampuan si Raja Sihir Mindra?.
Mendengar getaran yang aneh dan mujijat itu, Koay Ji segera
paham lawan sedang bermain gila. Sedang Main-main dengan
menggunakan ILMU SIHIR. Koay Ji segera melirik Sie Lan In yang
juga terlihat sedikit terguncang meskipun tidaklah sampai
terpengaruh. Maka setelah memegang lengan sucinya itu, diapun
mengerahkan kekuatannya dan kemudian dia berseru dengan
suara berkekuatan mujijat, tidak jauh berbeda dan tidak kalah kuat
jika dibandingkan dengan serangan sihir Rajmid Singh. Dan Koay
Ji sengaja ingin mempertunjukkan kekuatannya sekali ini:
“Bahkan Mindra sekalipun masih tetap kurang kuat
mempengaruhiku, engkau buang buang waktu dan tenaga orang
tua, sebaiknya pulanglah ke Thian Tok sebelum ajal dan waktumu
habis di tanah Tionggoan..” dan sekejap pengaruh aneh itupun
lenyap. Dan perlahan-lahan bayangan Koay Ji lenyap dari
pandangan mereka semua diiringi sumpah serapah dan makianmakian
kasar dari semua tokoh-tokoh hitam di tebing belakang
markas utama Bu Tek Seng Pay di gunung Pek In San itu. Tetapi
dari kejauhan terdengar tawa gembira dari Koay Ji:
“Hahahahahaha, sampai berjumpa pula.....”
=====================
2772
“Engkau menyembunyikan banyak kepandaianmu dari kami
semua, jika bukan Subo yang mengingatkanku, aku akan selalu
merasa lebih hebat daripadamu, Sute..” bisik Sie Lan In setelah
beberapa saat mereka terbang menjauh dari Tebing di belakang
Markas Bu Tek Seng Pay. Lepas dan lolos dari sergapan serta
kepungan nyaris semua tokoh Bu Tek Seng Pay yang mengepung
dan hendak menahan atau malah membunuh Koay Ji. Nyaris
saja. Untungnya Lam Hay Sinni memiliki strategi yang tepat, dan
untung saja Koay Ji memiliki bekal yang memadai untuk melalui
episode menegangkan di tepi tebing itu.
“Sie Suci, maafkan aku.... bukan maksudku menyembunyikan
semua itu, tetapi Suhu memang memintaku untuk berlaku seperti
itu...”
Suasana berubah menjadi agak kaku ketika keduanya tenggelam
dalam ingatan dan juga impian masing-masing dalam angan.
Koay Ji sesungguhnya merasa senang bukan main pada saat itu,
tidak sering dan bahkan amat jarang bisa berada berdua bersama
Sie Lan In. Tetapi, sejujurnya, dia juga merasa kebingungan
bagaimana sebaiknya dia memperlakukan gadis yang amat
dicintainya ini. Bukan apa-apa, dia dicintai gadis itu sebagai
seorang Bu San, dan sedikit dibenci oleh si gadis sebagai Thian
Liong Koay Hiap. Tetapi sebagai Koay Ji, dia adalah sute dari si
2773
gadis, dan mereka justru belum lama kenal satu dengan yang lain
sehingga menghadirkan rasa asing dan aneh. Sungguh berabe.
Bagaimana dia harus bersikap? Tidaklah mungkin dia bersikap
sebagai Bu San saat itu, orang yang dicintai gadis itu meski Bu
San adalah dirinya sendiri dalam samaran yang lain.
Memperkenalkan diri sebagai Bu San, juga agak berabe pada
keadaan yang sama sekali tidak tepat. Karena itu, Koay Ji memilih
menikmati keadaan yang menyenangkan seperti itu dalam diam,
dan dalam kebingungan.
Hal yang sama dialami oleh Sie Lan In. Dia jelas dan pasti
mencintai Bu San, sang pemuda lemah namun penuh semangat,
tidak memiliki ilmu silat tetapi memiliki teori ilmu silat yang sangat
kaya. Pemuda lemah penuh semangat dan memperlakukan
mereka sebagai seorang pemuda lemah yang gagah perkasa.
Tetapi, mengapa kini setelah bertemu dengan Koay Ji dia
merasakan sesuatu yang sangat aneh dan sulit untuk dapat dia
rumuskan, sulit dia jelaskan. Biasanya, dia akan merasa tersaingi
dan marah jika bertemu jago muda yang hebat, tetapi mengetahui
Koay Ji yang malah lebih sakti darinya, dia tidaklah marah, tidak
emosi. Entah mengapa. Yang menggetarkannya adalah, dia
menemukan banyak kemiripan antara Koay Ji dan Bu San, pria
muda yang dia cintai itu. Dan Koay Ji....? ach, entahlah, Sie Lan
2774
In merasa pusing memikirkan urusan hatinya, antara Bu San dan
Koay Ji.
Setelah beberapa saat hanya semilir angin dan kepak saya
burung Rajawali Besar yang terdengar. Di atas punggung Burung
Besar itu, terdapat dua orang muda yang saling merindukan tetapi
tidak dapat saling menumpahkan rasa rindu itu. Halangan yang
ada, adalah ciptaan mereka sendiri, dan karena itu, mereka duduk
dalam diam menikmati indahnya perasaan masing-masing.
Sekian lama sampai tiba-tiba Koay Ji sadar sesuatu. Bukankah
para pendekar sangat mungkin bakalan menjadi sasaran amarah
Bu tek Seng Pay yang kesusupan dan bahkan ada tokoh mereka
yang terculik? Dan sangatlah mungkin mereka menyerang secara
sembunyi malam ini juga sebagai pelampiasan kekesalan hati
mereka. Bukankah keadaan akan sangat berbahaya jika itu
terjadi? Terlebih setelah pihak mereka, Bu Tek Seng Pay
dipermalukan oleh penyusupan Koay Ji dan dapat dirampasnya 3
orang penjaga Seng Ong selama ini. Keadaan jelas sangat
berbahaya, dan sangat mungkin akan terjadi. Maka, mengingat
keadaan dan bahaya tersebut, Koay Ji bergidik dan oleh karena
itu, diapun kemudian langsung berkata atau menyampaikannya
kepada Sie Lan In. Katanya,
2775
“Sie Suci, aku agak khawatir mereka menjadikan kumpulan para
pendekar sebagai sasaran kemarahan malam ini, kita mesti
mengingatkan mereka bahaya ini dan agar mereka bersiap
menghadapinya......”
Sie Lan In tersentak dari lamunannya, dan diapun merasa sangat
mungkin apa yang baru saja disampaikan Koay Ji. Tetapi,
serentak dengan itu, diapun teringat pesan dari Subonya untuk
disampaikan kepada Koay Ji:
“Accch, benar sute, tetapi, Subo tadi mengingatkan agar setelah
urusan di Markas Bu Tek Seng Pay selesai, agar kita segera
datang menemuinya. Subo menekankan pesan ini berulang
kali.....”
“Hmmmm, kita tidak bisa mengabaikan pesan Subo, engkau
benar Suci. Tetapi, bolehkah kuingatkan terlebih dahulu kawankawan
di kaki gunung Thian Cong San, biar mereka bisa
bersiap....”? tawar Koay Ji karena tetap khawatir dengan
serangan balasan lawan yang bisa amat berbahaya.
“Baik, jika hanya sekedar mengingatkan kita masih punya cukup
waktu Sute, tetapi kita perlu sedikit bergegas....”
2776
Tidak lama kemudian, Koay Ji yang singgah sebentar dan
kemudian bicara dengan saudara-saudara seperguruannya,
terutama dengan Sam Suhengnya dan tentu juga Toa Suhengnya
yang kebetulan pada saat itu sedang berada bersama-sama
dengan Tiang Seng Lojin, Tui Hong Khek Sinkay dan Kim Jie
Sinkay. Tidak lama dia berada disana, karena sudah langsung
pergi lagi menemui Lam Hay Sinni sesuai dengan janjinya kepada
Sie Lan In.
Dan untung saja Koay Ji menyempatkan diri memberi peringatan
akan rombongan Pendekar yang segera mempersiapkan semua
kekuatan mereka, baik Barisan Lo Han Tin maupun Barisan
Pengemis Pengejar Anjing, juga Barisan Kaypang dan barisan
perguruannya dipimpin sang Toa Suheng. Malam itu, benteng
pertahanan para pendekar menjadi sangat ketat, dan itu
sebabnya kondisi tetap aman sampai pagi harinya dan lawan
pasti terkejut dan kaget dengan penyusupan semalam yang amat
memukul moril mereka. Karena pusat kesombongan mereka
tertembus dan bahkan langsung ke tempat yang amat mereka
rahasiakan.
Menjelang pagi, Koay Ji akhirnya kembali memasuki Jalan
Rahasia dan kemudian bersama-sama dengan Sie Lan In, pergi
menemui Lam Hay Sinni. Sebagaimana dipesankan tokoh mujijat
2777
itu kepadanya melalui Sie Lan In, maka setelah lolos dari tebing
maut di markas Bu Tek Seng Pay di gunung Pek In San, maka
Koay Ji harus menghadap subonya itu. Dan benar saja, belum lagi
mereka berdua mendekati pintu masuk ke dalam ruangan khusus
yang diatur Koay Ji, sudah terdengar suara yang hanya mereka
berdua yang bisa mendengarnya:
“Masuklah murid-muridku........”
“Menjumpai Subo.....” Koay Ji langsung berlutut dan menyembah
sekaligus memberi hormat kepada Lam Hay Sinni, yang dia tahu
betul, selain sebagai adik seperguruan Suhunya, tetapi juga yang
memiliki hubungan khusus dan sangat luar biasa dengan
Suhunya. Karena itu, panggilannya memang berbeda. Sie Lan In
juga memberi salam dan hormat dengan hanya berkata
“menjumpai Subo” tetapi berbeda dengan Koay Ji, dia tidaklah
berlutut. Tetapi kelihatannya Lam Hay Sinni sendiri tidaklah
mempermasalahkan semua yang terjadi di hadapannya itu. Entah
mengapa dia membiarkan saja Koay Ji memanggilnya dengan
panggilan SUBO. Apakah artinya memang dia memiliki hubungan
khusus dengan Bu In Sinliong?
“Amitabha..... terima kasih sudah menyiapkan tempat ini Koay Ji,
tempat yang sangat baik dan sangat cocok dengan kebutuhan kita
2778
dewasa ini......” hanya itu sambutan Lam Hay Sinni dan diiringi
dengan senyum lembut tersungging di bibirnya yang sudah
termakan usia itu. Begitupun, sinar mata, kewibawaan dan
keagungan amat menonjol dari perempuan itu.
Sesungguhnya Koay Ji agak kaget juga, karena ruang yang
ditempati Lam Hay Sinni adalah ruang rahasia yang memang
dipersiapkannya buat tempat beristirahat dan nantinya dia
masukdkan menjadi tempat memulihkan diri. Terutama bagi
ketiga orang kakak seperguruan tertua mereka. Para murid
kepala Tiga Dewa Tionggoan. Entah bagaimana Lam Hay Sinni
dapat menemukannya sendiri meskipun dia belum
menunjukkannya dan memberitahukannya. Tapi tentu saja Koay
Ji tidak terlampau memusingkannya, apalagi berniat menegur
seorang sesepuh seperti Lam Hay Sinni. Meskipun demikian, Lam
Hay Sinni sepertinya memahami kebingungannya dan karena itu
malah langsung berterima kasih atas tempat yang memang agak
nyaman untuk beristirahat dalam gua bawah tanah itu.
“Acch, tempat ini memang disiapkan khusus untuk ketiga kakak
seperguruan kami, dan karena Subo justru sudah
menemukannya, adalah baik sekali...” buru-buru Koay Ji
menjawab dan sebetulnya dia heran juga karena Lam Hay Sinni
seperti dapat menebak jalan pikirannya.
2779
“Hmmm, berbeda dengan semua Suheng dan Sucimu yang
memanggilku sebagai Sukouw (Bibi Guru), engkau malah
memanggilku Subo, apakah dia, Suhumu itu memang benarbenar
menceritakan semua kisah kepadamu Koay Ji.....”?
bertanya Lam Hay Sinni dengan suara yang lembut dan sinar
mata yang sama lembutnya sambil memandang kearah Koay Ji.
Pandangan lembut tanpa tuntutan, tetapi bagi Koay Ji, justru lebih
“menuntut” dibanding pandangan menuntut yang biasanya. Dan
mau tidak mau dia harus memberikan jawaban atas pertanyaan
Subonya, karena iya, memang benar, Suhunya menceritakan
kisah pribadinya hanya kepadanya. Murid penutup yang berusia
sangat muda. Entah mengapa.
“Benar seperti itu Subo. Suhu memang memintaku, jika suatu saat
bertemu Subo, maka harus memanggil SUBO,,, maafkan jika tecu
agak lancang.....” Koay Ji berkata dengan suara penuh keyakinan
“Mana bisa disebut begitu..? tapi sudahlah, itulah kisah lama kami
berdua. Maka hendaknya kisah sedih seperti itu tidaklah kalian
berdua ulangi kelak dikemudian hari....” sahut Lam Hay Sinni
dengan tenangnya sambil melirik Sie Lan In yang sudah duduk
disamping Koay Ji. Nenek atau Rahib tua yang amat sakti itu
senang melihat kedua anak muda itu duduk bersebelahan. Dan
seperti dugaannya, sesuai pengenalannya akan muridnya, Sie
2780
Lan In, maka gadis itu pasti bakalan langsung bereaksi dan
mendebat,
“Tapi Subo.......”
“Sudahlah In Ji, apakah engkau pikir Subomu tidak tahu jika
engkau jatuh cinta pada pemuda yang tidak bisa bersilat itu.....
dan lagian”?
“Subo.....” potong Sie Lan In cepat, tetapi belum lagi dia berkatakata
lebih jauh, Lam Hay Sinni sudah mengangkat lengannya
menyuruh dia untuk diam. Dan Sie Lan In tahu arti dari isyarat itu,
dia disuruh menunggu dan mendengar terlebih dahulu dan jangan
banyak bicara dulu. Jika biasanya dia bisa memaksa bicara
karena memang dia amat disayang Subonya, tetapi dia tetap tahu
diri, dan sangat paham, bahwa jika Subonya bergerak dengan
cara tadi, maka dia harus diam dan menunggu apa yang akan dan
hendak dikatakan Subonya.
“Dan lagi pula, mengapa engkau tidak awas dan masak engkau
tidak pernah curiga dengan dia muridku? Mana bisa seorang Bu
San yang tidak pandai ilmu silat tetapi menguasai teori-teori ilmu
silat yang khasannahnya amat luas, amat dalam serta juga sangat
hebat itu? sebanyak itu dan pula sedetail itu? masak
2781
kewaspadaan dan kecerdasanmu berkurang begitu banyak dan
tidak menyadari bahwa semua itu adalah samaran dari seseorang
belaka....? dan engkau tidak paham dan tetap tidak tahu siapa
yang begitu cerdik menyamar sebagai Bu San” nada suara Lam
Hay Sinni tidak terdengar marah atau kesal, justru seperti sedang
meledek muridnya itu. Dan dia tersenyum ketika dengan pinggir
matanya melihat betapa cara duduk dan wajah Koay Ji yang mulai
gelisah. Tetapi, dia juga kagum karena dengan cepat Koay Ji
dapat menguasai dirinya.
“Accccchh, masak Subo juga tahu dengan persoalan sepele
itu.....”? elak Sie Lan In yang tiba-tiba merasa semua yang
dikatakan Subonya adalah benar. Meski diapun sebetulnya sudah
pernah memikirkan kemungkinan tersebut, tetapi entah mengapa
dia abaikan semua selama ini. Apakah karena rasio dan pikiran
sehatnya tenggelam dibalik rasa dan emosinya terhadap Bu San?
atau adakah faktor lain yang membuat dia sampai kurang awas?
Entahlah.
“Muridku, orang jatuh cinta memang pasti akan kehilangan
keawasan, kewaspadaan dan juga kecerdikannya. Sebetulnya
itulah yang terjadi kepadamu muridku, selama beberapa bulan
terakhir ini....” tegas Lam Hay Sinni dan membuat wajah Sie Lan
In semakin memerah karena malu. Dia bahkan melirik Koay Ji,
2782
karena dia merasa suka kepada Koay Ji, tetapi kini dibukakan
perasaan hatinya yang sudah terisi oleh orang lain. Sungguh
repot keadaan Sie Lan In. Tetapi, bagaimanapun hatinya sudah
milik Bu San, dan meski dia tertarik atau sangat tertarik dengan
Koay Ji, tetapi apa boleh buat, dia sudah memilih seseorang yang
lain. Acchhhhh.....
“Accch, Subo bisa saja.....” cibirnya manja. Maklum, Lam Hay
Sinni meski sangat disiplin, tapi mendidik Sie Lan In seperti
anaknya sendiri. Karena itu, Sie Lan In juga kadang bersifat agak
manja bagai seorang anak kepada ibunya. Terleboh dalam materi
percakapan seperti sekarang ini.
“Masak engkau tidak yakin dengan Subomu ini.....”? goda Lam
Hay Sinni lebih jauh dan membuat Sie Lan In tambah keki. Dia
ingin Subonya mengalihkan percakapan, tetapi entah mengapa
Subonya malah mantap dengan materi percakapan mereka. Dan
memaksanya terus berbicara dan terus mengungkapkan isi
hatinya, membuat dia merasa risih dengan kehadiran Koay Ji. Dia
hanya kurang paham, jika Koay Ji sendiri merasa seperti duduk di
atas bara. Hanya karena kemampuan batinnya yang sudah tinggi
yang membuatnya bisa menahan diri dan tidak bereaksi yang
menyolok dan membuat jati dirinya terbuka.
2783
“Coba jawab pertanyaan Subomu ini, kemiripan apa yang engkau
temukan antara Bu San yang engkau cintai dengan Koay Ji
sutemu yang engkau juga sangat kagumi ini..... ayo, coba jawab
pertanyaan Subomu..” telak sekali pertanyaan Lam Hay Sinni dan
sampai membuat baik Sie Lan In maupun Koay Ji yang sudah
mulai tenang terhenyak dan tersentak kembali.
“Subo,,,,,” sekali ini adalah Koay Ji yang menyela, karena rasa
gelisah dan juga rasa bersalah mulai menyergahnya. Apalagi
karena gadis yang dicintainya berada tepat di depannya,
bercakap dengannya. Dan subonya.
“Kenapa, apakah engkau kurang senang jika muridku mengetahui
semuanya Koay Ji.....? atau jangan-jangan ada sesuatu yang
engkau sembunyikan dari muridku yang cantik nan manja ini....”?
tanya Lam Hay Sinni tandas dan sekali ini amat tegas sehingga
membuat Koay Ji terdiam, tidak mampu lagi berbicara lebih jauh.
Apalagi untuk melakukan protes. Tidak mampu.
“Bukan begitu, tapi, tapi.....” tidak ada kalimat sesungguhnya yang
bisa dikeluarkan dan dilontarkan Koay Ji, maklum, sedang keki
tingkat tinggi. Semua kecerdasannya mendadak menguap entah
kemana. Semua kehebatannya dalam bersiasat lenyap tak
berbekas menghadapi wibawa Lam Hay Sinni.
2784
“Eccch, Maksud Subo, dia ini dan Bu San.....”? tegas Sie Lan In
sambil memandang Subo dan sutenya berganti-gantian. Dan dia
melihat Subonya mengangguk perlahan dengan sinar mata geli
dan merasa lucu.
“Haaaaaa, Sute, engkau benar-benar keterlaluan
mempermainkan aku. Sekian lama dan selama ini, engkau..”?
tatap mata Sie Lan In berubah menjadi kesal dan merasa
dipermainkan, sementara Koay Ji kehilangan semua
kecerdasannya. Hanya bisa memandang Sie Lan In bingung
tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Sekian lama Koay Ji menghadapi
tatapan mata menusuk dari Sie Lan In, dan apa boleh buat, dia
harus mengatakan sesuatu. Dengan terpaksa diapun berkata;
“Acch, maafkan aku Suci,aku, aku sama sekali tidak menyangka
bisa sampai sejauh ini. Sama sekali tidak ada maksud untuk
mempermainkanmu, atau mempermainkan semua sahabatsahabat
kita. Adalah keadaan dan kejahilanku membawa kita
dalam keadaan seperti sekarang, maafkan aku Suci..” Koay Ji
meminta maaf secara jantan meski memang dipaksa oleh
keadaan, lebih tepatnya dipaksa oleh Lam Hay Sinni yang
membuka semua rahasianya.
2785
“Enak saja engkau Sute...... engkau mempermainkan perasaanku
tahu.....” Sie Lan In berkata dengan nada marah dan kesal.
Sebenarnya juga malu, karena perasaan dan rasa cinta sudah
keduluan diketahui Koay Ji. Malunya......
“Subo juga, ikut-ikutan mempermainkan aku.........” setelah
berkata begitu, Sie Lan In melompat dan berlari keluar dengan
perasaan tidak menentu. Antara marah, kesal, dan merasa
dipermainkan oleh Koay Ji. Meskipun sesungguhnya, diapun
sendiri merasa bingung, KOAY JI adalah BU SAN? “pantas aku
merasa seperti mengenal Koay Ji, ternyata adalah dia......”?
desisnya sambil terus berlari. Kesal, marah, keki, tetapi juga
bercampur senang, bangga, bahagia.
“Subo, bagaimana ini.....? dia, Suci.....” Koay Ji kebingungan dan
memandang Lam Hay Sinni dengan pandangan mata memohon.
“Jika engkau benar mencintainya, maka jangan terus
membohonginya. Kejar, minta maaf dan bawa dia kemari, kuberi
engkau waktu sampai pagi hari. Mengenai soal Thian Liong Koay
Hiap, sudah kubicarakan dengan Gurumu, dan ada waktu yang
tepat untuk membukanya, termasuk urusan yang susah dipahami
yang engkau sudah lakukan. Khusus untuk saat ini, jika engkau
gagal memberitahu dan membuat In Ji mengerti dan
2786
memahamimu, maka perjodohan kalian yang malah sudah kuikat
dengan Suhumu sejak beberapa tahun silam, akan
kubatalkan.....” nada suara dan pandang mata Lam Hay Sinni
tajam menusuk pada saat itu. Dan Koay Ji paham bahwa Subonya
sedang tidak main-main.
“Baik Subo, akan kukejar......”
“Ingat Koay Ji, cinta itu harus engkau perjuangkan, dan bukannya
datang dengan sendirinya. Karena cinta yang diperoleh dengan
mudah, akan pergi dengan sama mudahnya. Maka jangan pernah
mempermainkan perasaan hati perempuan dan perasaan hatimu
sendiri.....”
“Baik Subo, tecu akan mengingat dan mencatatnya dengan
baik......” Koay Ji berkata dengan nada suara serius dan
bersungguh-sungguh.
“Pinni tidak butuh engkau yakinkan, engkau ingat dan catat sudah
baik, tetapi saat ini itu tidaklah cukup. Cinta tidak dapat kau
peroleh dengan mencatat, tetapi dengan berusaha dan
memperjuangkannya. Karena itu, ingat, apapun yang terjadi, pagi
nanti kutunggu engkau disini Koay Ji....”
“Baik Subo, tecu mengerti....”
2787
“Nach, pergilah....”
Begitu keluar dari ruangan itu, Koay Ji segera menyusul kearah
larinya Sie Lan In. Karena dia lebih menguasai Jalan Rahasia itu,
maka tidak berapa lama kemudian, dia dapat menyusul Sie Lan
In yang sedang berdiri kebingungan di persimpangan jalan
menuju keluar. Tepatnya di pintu keluar pertama. Tetapi, pada
saat itu dia tidak sedang sendirian, karena dihadapannya ada
Kang Siauw Hong yang begitu melihat sudah langsung mendekati
dan memeluk Sie Lan In. Pelukan Siauw Hong sebagai sesama
perempuan, membuatnya menjadi luluh serta menghentikan
sementara usahanya untuk pergi dari jalan rahasia itu.
“Enci, mengapa wajahmu sekusut ini....”? tanya Siauw Hong
penuh perhatian, tetapi langsung terdiam begitu tahu bahwa
perasaan dan emosi Sie Lan In sedang galau. Sedang kacau.
Melihat itu, Siauw Hong mendekat dalam diam. Pilihan yang
sangat tepat dari seorang Kang Siauw Hong. Tetap mendampingi
tetapi tidaklah banyak bicara. Hal yang dibutuhkan Sie Lan In.
Karena memang, ada kalanya atau sering, berada bersama
dalam diam justru dapatlah memberikan dukungan yang lebih.
Support yang tepat. Dengan sikap diam, kemudian merangkul
atau memeluk, lebih bermakna daripada banyak bicara dalam
2788
kondisi emosi yang sedang amat labil. . Dan itulah yang dilakukan
Kang Siauw Hong ketika menemukan Sie Lan In yang
kelihatannya sedang tidak bagus emosinya dan perasaannya.
Sebagai sesama gadis, Kang Siauw Hong memilih untuk
menemani Sie Lan In tanpa banyak bertanya-tanya, tanpa banyak
bercakap dan hanya berdiri bersama dalam diam. Itu saja.
Dalam sikap diam seperti itu, Sie Lan In jadi bisa berpikir jauh
lebih waras, dan apalagi dengan juga bantuan serta dorongan
moril dari Kang Siauw Hong yang terus menemani dan
menguatkann dia. Dalam keadaan seperti itu, mulailah pikiran
warasnya mengalir datang, perlahan-lahan dan perlahan-lahan.
Sampai tiba-tiba dia mulai sadar akan sesuatu yang membuatnya
menjadi kikuk. Sesuatu yang juga pada dasarnya belum bisa
membuatnya merasa marah ataupun penasaran baik dengan
Koay Ji ataupun dengan Bu San sekalipun.....
Karena, bukankah Bu San sendiri juga bahkan belum pernah
mengatakan sesuatu apapun kepadanya? Belum ada ikatan
apapun antara mereka berdua. Dan juga, bukankah sudah jelas
meski mungkin Bu San menyukainya tetapi belum pernah dia
mengungkapkan perasaan hatinya itu secara langsung? artinya,
mereka berdua pada dasarnya belum memiliki ikatan apapun.
Sementara Koay Ji sendiripun, juga sama saja, masih belum
2789
pernah mengatakan apa-apa kepadanya tentang perasaan dan
tentang hubungan mereka. Meskipun, dibanding Bu San, justru
Koay Ji yang jelas sudah mengirim sinyal RASA kepadanya.
“Acccchhh, apa benar aku tidak keliru dengan bersikap kekanakkanakan
seperti ini.....”? desis Sie Lan In dalam hatinya, dan diamdiam
dia mulai menjadi malu sendiri karena sudah bertindak
kurang pantas. Atau tepatnya, sudah berlaku keterlaluan dan
kelewatan. Kesadaran yang ditemukannya membuatnya menjadi
malu kepada dirinya sendiri, juga malu kepada Koay Ji. Kepada
Subonya, dia tidak merasa malu, karena Subonya lebih mirip
ibunya daripada gurunya.
“Terima kasih Hong moy, aku sudah tidak kenapa-kenapa” pada
akhirnya Sie Lan In mampu menemukan dirinya sendiri dan
menguasai emosi dan perasaan hatinya. Dia mulai bisa melihat
keadaan dirinya dan pengalaman kemaren-kemaren sebagai hal
yang wajar dan belum dapat menarik kesimpulan apa-apa dari
semua itu. Bahkan dia mulai bisa memeriksa secara lebih jujur
hubungannya dengan Bu San ataupun dengan Koay Ji. Dua figur
yang adalah satu orang, tetapi yang dua-duanya sudah
menempati hatinya selama ini.
“Apakah engkau yakin Enci......”? bujuk Siauw Hong dan pada
saat itulah dia melihat kedatangan Koay Ji yang terburu-buru.
2790
Sadarlah dia bahwa adalah Koay Ji, kakak angkatnya penyebab
keadaan Sie Lan In seperti itu.
“Apakah toakoku yang membuat engkau seperti ini, Enci..”? suara
Kang Siauw Hong tiba-tiba mengeras dan membuat Sie Lan In
kaget, sadar bahwa Koay Ji ternyata sudah mengejar sampai
kesitu. Dia menjadi malu, tetapi langkah kakinya terpaku ke tanah,
dia masih tidak dapat, tidak mampu untuk bergerak pergi
menjauh. Menjauh dari Koay Ji. Bingung tepatnya. Tetapi, juga
masih belum bisa menyusun kata yang tepat untuk diutarakan
dalam keadaan yang serba kebetulan seperti saat itu. Adalah
Koay Ji yang kemudian membuka percakapan;
“Sie Suci, maafkan aku.... bukan maksudku mempermainkanmu,
posisi dan samaran sebagai Bu San sebetulnya adalah strategiku
yang sangatlah kurang melihat dan memperhitungkan apa-apa di
kemudian hari. Tetapi, sama sekali tidak ada niatku dan juga tidak
ada maksudku untuk mempermainkanmu, apalagi untuk
menyakiti dan menipumu dirimu......” Koay Ji yang juga memang
masih hijau, tanpa melihat dan menimbang keadaan dan situasi
sudah langsung membicarakan perasaannya. Padahal, dia
mestinya bisa melihat bahwa kehadiran Kang Siauw Hong disitu
pada saat itu, bisa jadi soal.
2791
“Ooooh, jadi sudah lama engkau mempermainkan Enci In ya?
Waaah bagus benar kelakuanmu toako, bena-benar sungguh
jantan engkau sampai hati mempermainkan seorang gadis sebaik
Enci In. Rupanya engkau menasehatiku sebagai adikmu, tapi
kelakuanmu sama belaka dengan laki-laki tengik diluaran.....”
bukan main kata-kata Kang Siauw Hong, sampai Koay Ji meringis
dan tersenyumpun jadi susah. Keki, kesal, marah kepada Siauw
Hong tidak bisa ditumpahkannya keluar. Bagaimana bisa adiknya
ini membuat kesimpulan yang sangat ngawur padahal dia tidak
tahu apa yang sebenarnya terjadi? berabe.
“Hussssh, Hong moy, engkau.....”
“Biarkan aku Enci, jangan biarkan seenaknya dia memberi dan
menasehatiku, tetapi ternyata dia melakukan hal-hal yang buruk
seperti itu. Nach, coba engkau jelaskan, mengapa bisa seburuk
itu kelakuanmu toako....? dan mengapa pula engkau sampai hati
menipu enci In sekian lama padahal engkau mengaku kepadaku
kalau engkau sungguh-sungguh sangat sayang, sangat cinta
kepadanya....”? cecar Siauw Hong yang membuat Koay Ji dan Sie
Lan In sama-sama kaget dan terperangah. Tidak tahu mau bilang
apa. Koay Ji sendiri bahkan berdiri mematung dan pucat, tak tahu
mau bicara apa lagi, dia memandang Siauw Hong dengan sinar
mata penuh rasa penasaran. Kaget, gemas, marah, sekaligus
2792
sedikit senang karena memang pada dasarnya, perasaan
terdalamnya secara tidak sengaja di tumplekkan keluar oleh si
nakal Siauw Hong. Tapi si nakal tidak perduli dan masih terus
ngoceh dan mencecar dengan tidak ada rasa kasihan;
“Ada apa main lirak-lirik begitu...? engkau gemas dan kesal
kepadaku ya, apa masih belum cukup engkau mempermainkan
Enci In..? bilang-bilang kepadaku sangat menyayangi dan sangat
mencintai Enci In tetapi ternyata sikapmu sangat pengecut. Hanya
beraninya mengaku-ngaku kepadaku sebagai adikmu, tetapi
ternyata takut mengatakannya. Dan masih belum juga minta maaf
kepadanya? Apakah toako mau menunggu sampai Enci In pergi
jauh dan menghilang baru mau mengejar dan melakukannya?
Hayo, jika engkau jantan, bersikaplah sebagai laki-laki sejati.....”
bukan main berondongan Siauw Hong ini.
Bukan main keki dan kesalnya Koay Ji, tetai bukan main manisnya
madu dalam hati Sie Lan In. Sebenarnya juga perasaan Koay Ji
sama manisnya. Karena memang, dia, Sie Lan In sudah cukup
lama jatuh hati kepada Bu San, dan juga kagum tak terkira kepada
Koay Ji, tak disangka kedua tokoh itu adalah satu orang yang
sama. Kedua figur impiannya yang entah mengapa dan
bagaimana kini menyatu dalam diri satu orang, dan kini dia tahu,
bahwa orang itu juga ternyata mencintainya. Betapa hati Sie Lan
2793
In tidak sangat senang? Mana bisa dia marah lagi kepada Koay
Ji? Dan betapa bersyukurnya dia kepada Siauw Hong?. Sama
belaka dengan Koay Ji yang terbantu oleh ulah Siauw Hong.
Marah dan gemas kepada adiknya tertutupi oleh fakta bahwa
perasaannya sudah tumplek atau tepatnya ditumplekkan keluar
oleh si nakal Siauw Hong itu.
“Sudahlah adikku, biarkan saja dulu dia....” desis Sie Lan In
dengan bibir yang mulai tersenyum, tersenyum tipis, tetapi jelas
di mata Siauw Hong. Gadis cilik itu sudah jelas mengetahui
perubahan dalam diri Sie Lan In, dan jelaslah sekarang bahwa
cinta kakaknya tidaklah bertepuk sebelah tangan.
“Ayo, mana kehebatan toakoku yang perkasa? Masak mengakui
kesalahan dan juga perasaanmu kepada Enci In saja tidak
berani? Beraninya cuma bilang dan ngaku kepada adiknya
saja...... memalukan”
Benar-benar konyol dan serba salah Koay Ji. Tetapi, apa boleh
buat, meski paham bahwa Siauw Hong main-main, tapi memang
benar dia mencintai Sie Lan In. Hanya, persoalan Yu Lian yang
membuatnya merasa tidak tenang. Tetapi, dalam keadaan
“dipaksa” oleh Siauw Hong, mau tidak mau diapun harus
mengatakan sesuatu. Hal yang sebetulnya sangat pribadi dan
2794
sangat rahasia, yaitu persoalan perasaannya. Tapi, apa lacur,
Siauw Hong menjebaknya meski juga sebenarnya membukakan
jalan baginya untuk berbicara. Melihat keadaan kakaknya, Kang
Siauw Hong cukup paham dan merasa kasihan. Dia memang
sengaja membuka jalan bagi kakaknya itu. Dan untuk tidak
membuat mereka berdua bertambah kikuk, diapun kemudian
berkata dengan suara lebih lunak:
“Nach, toako, engkau selesaikan sebagai seorang pria jantan,
jangan hanya jago dalam menasehatiku saja.....” sambil berkata
demikian, dengan melirik genit kearah Koay Ji, dia kemudian
menyingkir. Sambil berjalan menjauh gadis manis itu nampak
tersenyum-senyum nakal.
Sepeninggal si nakal Kang Siauw Hong, Koay Ji merasakan
badannya panas dingin, peluhnya mengucur deras, telapak
lengannya sebaliknya terasa dingin. Sangat dingin. Sungguh
repot dan runyam Koay Ji dan keadaannya pada waktu itu.
Bahkan melirik dan melihat Sie Lan In pun dia jadi jengah dan
takut-takut. Untungnya Sie Lan In berdiri dalam posisi sedang
membelakanginya. Dan cukup lama keadaan mereka begitu, ada
beberapa menit, sampai akhirnya dengan gugup dan berusaha
mengumpulkan seluruh keberaniannya, Koay Ji kemudian
berkata dengan suara gagap dan rada gugup;
2795
“Sie Suci...... ech, maafkan, maafkan aku, Hong moy itu tadi,
memang benar, dia itu tadi bicara seperti itu...... tapi
sesungguhnya dia tidak bermaksud seperti itu. Karena itu,
maafkan aku....”
“Hmmmm, bicara apa belepotan seperti itu.....” sergah Sie Lan In
dengan tetap saja membelakangi Koai Ji, padahal hatinya penuh
madu. Dan saat itu, diapun sudah sangat ingin berbalik
menghadapi Koay Ji.
“Di memang benar Sie Suci, sudah lama aku mencintaimu, juga
sejak masih sebagai Bu San. Bahkan saat pertama kali bertemu
di Kuil Siauw Lim Sie. Engkau maafkan aku, sungguh-sungguh
aku tidak ada maksud menipumu. Dan lagi......”
“Cukup, jangan panjang-panjang...... ungkapkan bahwa engkau
benar-benar sangat mencintai Enci In, seperti katamu. Ngaku dan
lagaknya seperti orang gagah perkasa, tetapi untuk urusan ini
saja sulit dilakukan....” pungkas Kang Siauw Hong yang ternyata
masih nguping dan sungguh membuat Koay Ji menjadi gugup
kembali dan Sie Lan In jadi salah tingkah dan tambah keki,
“Hong Moy, tadi kan sudah....”
2796
“Sudah apa? Engkau kurang tulus, sampaikan langsung kepada
Enci In..... dan juga, harus dengan penuh perasaan. Nach,
sekarang kalian kutinggalkan berdua, kali ini benar-benar
kutinggalkan, selesaikan urusan cinta kalian berdua.....” si nakal
Siauw Hong kemudian berlalu, namun sebelumnya dia memeluk
erat Sie Lan In sambil berbisik, “jadi kakak iparku gak boleh jahatjahat
nanti ya.....”. Tapi, Sie Lan In meski merasa amat berterima
kasih tetapi tidaklah dapat berkata apa-apa. Sudah sadar dia
bahwa Siauw Hong memang sengaja mengerjai mereka. Tapi,
sejujurnya dia malah senang-senang saja. Amat senang malah
dengan kejadian itu, karena membuka jalannya berdua dengan
Koay Ji untuk dipertemukan.
Sepeninggal Kang Siauw Hong, baik Koay Ji maupun Sie Lan In
masih saling salah tingkah dan cukup lama keduanya berdiam
diri. Koay Ji benar-benar mengeluarkan keringat dingin, dan
sungguh seandainya mungkin, ingin tenggelam masuk kebawah
tanah. Tapi, bukankah itupun bukan perbuatan ksatria? Berpikir
demikian, sekaligus merasa sebagai seorang pria, maka akhirnya
Koay Ji berbisik,
“Sie Suci,,,,,, engkau maafkan aku......”
“Engkau tidak salah Sute,,,,,,”
2797
“Betapapun, aku mohon maaf tidak jauh-jauh hari
memperkenalkan diriku, meskipun punya alasan, tetapi kurasa
tetap aku harus meminta maaf kepadamu.....” Koay Ji berkeras
minta maaf.
“Sudahlah Sute, engkau kumaafkan.....”
“Dan mengenai hal yang satu itu, yang satu itu......” Koay Ji tibatiba
merasa bibirnya kelu, susah berkata-kata. Boleh saja dia sakti
mandraguna, boleh saja dia tahu yang sebenarnya ingin dia
katakan, tetapi dia merasa seperti kelu. Seperti tidak ada atau
kurang ada kalimat yang pas yang dapat dia katakan dalam
kondisi dan keadaan seperti dia pada saat itu.
“Apa lagi Sute...”?
“Yang tadi itu...... yang tadi Siauw Hong....”
“Yang mana Sute...”? lirik Sie Lan In dengan tersenyum malu,
tetapi juga dengan pandangan setengah geli meski pada .
“Mengenai satu hal itu tadi....” sungguh, banyak peluh dan juga
keringat dingin mengucur di sekujur tubuh Koay Ji, bisa dipastikan
tubuhnya basah oleh keringat. Tetapi saat itu Sie Lan In tetap
terus membelakanginya, karena tidak atau belum berani bertatap
2798
muka dengannya berlama-lama. Hal yang kemudian membuat
Koay Ji mulai merasa sedikit lebih tenang. Padahal, Koay Ji saat
itu sedang kebingungan, apa dan bagamana mengungkapkan
perasaan yang satu itu? rasa itu, mengapa mengungkapkannya
terasa demikian susah dan sulit? Mengapa, mengapa dan
mengapakah gerangan? Koay Ji benar-benar kebingungan dan
seperti habis kata-kata untuk menggambarkannya.
Waktu kembali berlalu, keduanya masih dalam diam. Sampai
pada akhirnya dengan segenap keberaniannya, dan segenap
rasa yang dia miliki, akhirnya Koay Ji berkata juga kepada Sie Lan
In,
“Aku, aku memang sudah mencintaimu sejak dahulu Sie Suci,,,,,
maaf jika engkau tidak merasa itu pantas. Aku cukup tahu diri.......”
beban seberat gunung Thian Cong San seakan terlepas dari
pundak dan batinnya setelah mengungkapkan kalimat “maha
sakti” itu kepada Sie Lan In. Tetapi, Koay Ji kaget karena tiba-tiba
Sie Lan In berbalik dan memandangnya sambil berkata, lembut
memang,
“Aku melarangmu berkata demikian, Sute.....” pandang matanya
menjadi mesra dan jelas bersinar penuh cinta.
2799
Kaget, bingung dan kurang mengerti Koay Ji. Tiba-tiba impiannya
terhempas kebumi tetapi tidak membuatnya patah sepatahpatahnya,
karena dia tahu diri dengan siapa dia dan latar
belakangnya.
“Aku minta maaf Sie Suci, aku memang kurang pantas ......”
“Sute, bukan itu maksudku......” mau tidak mau Sie Lan In merasa
geli karena Koay Ji salah tangkap dengan maksudnya.
“Maaf Suci, aku memang kurang paham dan kurang mengerti....
entah mengapa aku menjadi sulit berpikir terang dan jelas
sekarang ini” kelu Koay Ji menghadapi Sie Lan In yang dia
anggap menolaknya. Dan karena anggapannya itu, Koay Ji malah
tiba-tiba menjadi amat sportif dan bisa menemukan
ketenangannya sendiri untuk berkata dengan penuh percaya diri.
“Sute, tidak pantas engkau memandang dan menilai dirimu
rendah setelah apa yang dilakukan Suhu, mengangkatmu
menjadi murid dan kemudian tokoh kepercayaan dari Bengcu
Tionggoan. Jelas sekali semua itu sudah mengangkat dan
sekaligus memandangmu demikian tinggi di mata banyak
orang.....”
“Maaf, aku kurang paham Suci.......”
2800
“Apa engkau sungguh kurang paham dengan perasaan
perempuan, dan perasaanku kepadamu.....”? kesal Sie Lan In dan
kembali membelakangi Koay Ji, sungguh kesal sekali ini karena
kebodohan Koay Ji. Dan perkataan Sie Lan In terakhir ini
membuat perasaan nelangsa yang menyergap rasa Koay Ji tibatiba
menguap pergi berganti perasaan sangat bahagia. Jadi...?
“Maaf jika aku bodoh untuk urusan seperti itu Suci, apakah,
apakah engkau juga...”? tanya Koay Ji kembali gagap.
“Masih belum jelas juga bagimu....”? potong Sie Lan In
menegaskan perasaannya dan membuat Koay Ji merasa pasti.
“Ach, terima kasih Suci......”
“Sudah, mari, Subo memanggil kita...” Sie Lan In berbalik,
memberi Koay Ji pandang mata mesra dan kemudian mendahului
Koay Ji kembali menuju ruangan dimana Lam Hay Sinni sedang
berada.
“Kalian berdua duduklah, waktu untuk urusan pribadi sudah
selesai, biarlah urusan yang lebih rumit, kalian pecahkan bersama
kelak. Yang jelas, sebagaimana sudah kukatakan kepada Koay
Ji, kalian berdua sudah kami jodohkan sejak jauh-jauh hari.
Tetapi, bagaimana mewujudkannya, kami berdua sebagai guru2801
guru kalian berdua, tetap menyerahkan kepada kalian tentunya...”
sambut Lam Hay Sinni begitu Sie Lan In masuk duluan dan diikuti
oleh Koay Ji. Melihat sinar mata keduanya, Lam Hay Sinni sudah
bisa menebak dengan tepat apa yang sudah terjadi, dan dia tidak
lagi menahan diri memberitahukan soal perjodohan keduanya.
Dan seperti sudah dia duga, Koay Ji dan terutama Sie Lan In, kini
malah senang mendengarkan perkataan mengenai perjodohan
yang disampaikannya itu.
Setelah menarik nafas panjang, lega dan senang akan masa
depan kedua murid yang bersimpuh di depannya, Lam Hay Sinni
kemudian berkata lagi dengan suara yang ;embut dan empuk di
telinga;
“Nach, untuk selanjutnya, kalian akan memasuki proses yang
sangat menegangkan, pertempuran yang tidak akan terelakkan,
dan juga ketegangan yang akan susul menyusul satu dengan
yang lainnya. Kematangan emosional kalian akan sangatlah
menentukan, bukan hanya kepandaian ilmu silat yang sudah
cukup tinggi kalian kuasai. Khusus untuk engkau Koay Ji, ada satu
keberuntunganmu, yakni bahwa tingkatanmu sekarang ini malah
sudah setingkat denganku, tapi engkau bahkan masih bisa
menanjak lebih jauh lagi. Tapi, untuk dapat meningkat lebih jauh
lagi, akan membutuhkan pengalaman kebatinan yang lebih,
2802
karena itulah yang justru mampu untuk lebih mematangkanmu.
Karena itu, In Ji, kuijinkan kelak Koay Ji membimbingmu lebih
jauh, dan jangan sekali-sekali engkau iri dengan sutemu itu.
Karena sesungguhnya dia mengalami banyak sekali kemujijatan
secara alamiah, yang bahkan berdua suhu dan subomu ini, nyaris
tidak dapat mempercayainya pada awalnya. Tetapi, memang
begitulah keadaannya. Untuk selanjutnya, kalian berdua mesti
lebih sering bekerja sama, juga dengan murid bungsu dari Bu Tee
Hwesio . Mengenai murid Thian Hoat Tosu, diapun sudah punya
modal yang memadai untuk dapat menandingi kalian, tetapi
memang jalan iweekangnya agak berbeda. Hanya karena didikan
dan pengorbanan Suheng, dia berhasil menemukan jalan menuju
puncak kemampuannya. Itu semua mengenai kalian dan masamasa
dekat yang akan kalian lalui......”
Sambil memandang Koay Ji dan Sie Lan In berdua yang tertunduk
dengan hikmat mendengar wejangannya, Lam Hay Sinni
kemudian berhenti sejenak. Dia meneliti seri wajah kedua
muridnya itu, dan melihat keduanya mendengar dengan hikmat
dan tekun, diapun melanjutkan:
“Koay Ji, sebelum engkau menyembuhkan mereka bertiga maka
sangatlah perlu kuberitahukan kepada kalian berdua, setelah hari
ini, maka setidaknya dibutuhkan waktu nyaris setahun untuk
2803
menemani dan menyembuhkan luka jiwa mereka. Semoga tidak
selama itu waktu yang kuperlukan. Luka fisik dan kehilangan
ingatan akan mudah disembuhkan, tetapi menerima kenyataan
betapa mereka menjadi alat berbuat kejahatan oleh orang lain,
membutuhkan waktu yang panjang dan bukannya pendek guna
membuat mereka berdamai dengan diri sendiri...... karenanya,
setelah engkau mengobati mereka, ketiganya akan kubawah ke
Gua Suheng dan mengobati mereka disana. Soal Suhumu setuju
atau tidak, biar aku yang menanggungnya Koay Ji, janganlah
engkau khawatir.....”
Untuk sejenak Lam Hay Sinni berhenti bicara, berdiam selama
beberapa waktu dan tidak lama dia lanjutkan lagi;
“Yang kupikirkan hanyalah, bagaimana kalian nantinya
menghadapi adanya 2 tokoh mujijat di pihak mereka. Jika seorang
lawan seorang engkau masih mampu guna menanggulanginya,
tetapi menghadapi mereka berdua sekaligus, maka akan sangat
riskan buatmu. Apa boleh buat, engkau membutuhkan paduan
Khong Yan bersama In Ji ataupun dengan Tio Lian Cu baru
mereka mampu bertahan. Dengan hadirnya Khong Sim Kaypang,
maka perimbangan kekuatan sudah cukup memadai, karena itu
kuputuskan memulai proses mengobati ketiga kakak seperguruan
kalian itu. Dan, mungkin baru setahun kedepan kita bertemu
2804
kembali, itupun merupakan pertemuan kita yang terakhir
kalinya.......”
“Subo,,,,,,” desah Sie Lan In
“In Ji, selama setidaknya setengah tahun subomu akan bertapa
menemani mereka bertiga di Thian Cong San. Sesekali engkau
menengok Lam Hay dan engkau boleh menemani Koay Ji
berkunjung ke Persia, sebagaimana Subomu dahulu menemani
Bu In Suheng ke Persia sesuai dengan penugasan mendiang
Suhu. Koay Ji, engkau paham maksudku bukan...”?
“Tecu paham Subo,,,,,”
“In Ji, engkau paham dengan penugasan Subomu....”? tanya Lam
Hay Sinni sambil memandang tajam kearah Sie Lan In.
“Paham dan siap Subo....”
“Mana Subo paham bahwa tanpa diminta Koay Jipun, pasti akan
kupaksa dia untuk membawaku ikut serta ke Persia.....” desis Sie
Lan In dalam hati, namun mulutnya menyunggingkan senyum
manis. Senyum senang.
2805
“Baiklah, dan terkahir untuk pertikaian antar perguruan pada
setahun kedepan. Koay Ji, kita mesti mempersiapkan diri lebih
baik lagi. Setahun di Gua suheng pasti akan dapat kulakukan
persiapan yang lebih baik, harap engkaupun menetapkan waktu
yang pas untuk selalu melatih diri selama dalam perjalananmu
nanti. In Ji jelas bisa dilibatkan dalam pertarungan itu sebagai
muridku, tetapi, entah setahun belakangan ini dia akan bisa
mencapai tingkatan seperti engkau saat ini. Jika tidak, lebih baik
jangan dilibatkan, karena cukup berbahaya.....”
“Tecu mengerti Subo, persiapan kamipun sudah cukup baik,
meski masih tetap harus terus menempa diri lebih jauh.....”
“Subo, masalah apakah ini.....”?
“Sudahlah In Ji, biar Koay Ji yang kelak akan menceritakan
persoalan ini kepadamu lebih jauh. Kisahnya cukup panjang dan
berliku, selain itu, persoalan tersebut juga langsung berkaitan
dengan kakek gurumu.....”
“Accch, baik jika begitu Subo.....”
“Nach, sekarang engkau sudah bisa mengobati mereka Koay Ji,
karena sebentar lagi mereka akan siuman....”
2806
“Benar Subo, lagi pula, jika mereka siuman, akan jauh lebih sulit
menyembuhkan mereka. Sekarang sudah saatnya....”
“Baik, mari kita masuk kedalam......”
=====================
Siang harinya, Tek Ui Sinkay, Bengcu Tionggoan, terlihat sangat
gagah memimpin pertemuan di sebuah lapangan yang cukup
besar dan di bagian depannya dibuatkan sebuah panggung
darurat. Lapangan tersebut penuh dengan manusia, ada kisaran
500 sampai 600an tokoh dari berbagai perguruan ditambah
dengan Benteng, juga perguruan keluarga, pendekar kelana,
semua yang menujunjung tinggi kebaikan dan kependekaran.
Mereka sudah berkumpul sejak 3 hari sebelumnya sesuai dengan
waktu yang ditetapkan dalam undangan yang ditandatangani
Bengcu Tionggoan, Tek Ui Sinkay. Dan, hari itu, sebagaimana
kesepatakan, akan dibuka Rapat Besar guna mendengar
keputusan kapan penyerangan terhadap kubu Bu Tek Seng Pay
yang bermarkas di Gunung Pek In San. Dilihat keadaannya, maka
persiapan sudah dapat dikategorikan siap dan tinggal menunggu
komando terakhir dari Bengcu Tionggoan. Komando yang
dimaksud adalah kapan waktu untuk segera menyerang lawan
2807
diturunkan. Karena sesungguhnya semua sudah siap dan nyaris
semua yang diundang sudah berada di lapangan itu.
Di atas panggung, terlihat ada beberapa tokoh utama yang duduk
dan berada di sana. Terlihat perwakilan dari Siauw Lim Sie yang
dipimpin langsung oleh Hoat Bun Siansu yang kini menjabat
sebagai Ciangbudjin Siauw Lim Sie. Bersama tokoh besar dari
Siauw Lim Sie ini datang 18 Hwesio yang bertugas sebagai
pembentuk Barisan Lo Han Tin yang maha hebat serta beberapa
tokoh Hwesio liannya. Belum cukup, masih ada Hoat Hun Hwesio
yang adalah juga sute dari Ciangbudjin Siauw Lim Sie. Kemudian,
juga ada terlihat 15 anak murid Siauw Lim Siey lainnya yang turut
memperkuat kelompok pendekar. Kekuatan kuil Siauw Lim Sie
yang bergabung boleh dikatakan memang hebat dan sangatlah
besar dan karena itu, Ciangbudjin mereka dipersilahkan
sebagaimana sudah-sudah, duduk sebagai tamu kehormatan.
Maklum, ratusan tahun terakhir, Siauw Lim Sie memang menjadi
salah satu tiang utama penopang Dunia Persilatan Tionggoan
dalam memerangi kejahatan.
Kemudian, sudah tentu Kaypang yang hadir secara lengkap pada
saat itu, namun karena Bengcu adalah juga Pangcu Kaypang,
maka saat itu, kursi kehormatan kaum Kaypang diserahkan
kepada Hu Pangcu Kaypang yakni Giok Bin Sin Ang (Kakek Sakti
2808
Berwajah Pualam) Ouw Hok Cu Pok. Tetapi, yang membuat
Kaypang jadi sorotan pada hari itu, karena entah bagaimana
muncul seorang tokoh mereka yang pernah angkat nama
sebelum Pek Kut Lojin mengganas. Yang seorang dikenal luas
karena waktu itu memang termasuk tokoh yang supel dan sangat
pandai bergaul, namanya adalah Hu Hauw Sin Kay (Pengemis
Penakluk Harimau). Tapi, pada usia yang sudah cukup lanjut, dia
tidak banyak berbicara dan hanya sesekali bicara dengan Tiang
Seng Lojin dan penggantinya sebagai Pangcu Kaypang Hwa I Sin
Kay (Pengemis Sakti Baju Kembang). Hwa I Sinkay ini adalah
Pangcu jaman Pek Kut Lojin mulai mengganas, tetapi entah
mengapa tiba-tiba menghilang dan baru kali ini munculkan dirinya
kembali setelah 30 tahunan berlalu. Bisa ditebak, pihak Kaypang
menjadi keripuhan meladeni munculnya tokoh-tokoh masa lalu
mereka yang disegani rimba persilatan.
Tentu saja ada juga Khong Sim Kaypang yang misterius dan
kurang begitu dikenal. Tetapi, bagi kalangan Kaypang, kelompok
ini sangat keramat dan sangatlah dihormati. Seperti biasanya,
tokoh-tokoh mereka, termasuk juga Barisan Pengemis Pengejar
Anjing, memang tidak mau menonjolkan diri. Mereka cenderung
bersikap tertutup dan hanya kepada tokoh tertentu saja mereka
berani membuka diri dan berbicara terbuka. Sejauh ini, hanya
2809
dengan pihak Thian Cong Pay dan Siauw Lim Sie mereka banyak
berkomunikasi, selebihnya mereka bersikap agak tertutup.
Karena itu, mereka lebih banyak berdiri di belakang panggung
dan bercakap-cakap dengan para leluhur dan juga Tianglo
Kaypang. Kim Jie Sinkay terutama terlihat sangat tertarik jika
bercakap dengan Koay Ji yang sangat dikaguminya.
Kekuatan Kaypang sekali ini, boleh dibilang adalah yang paling
besar dan melebihi setengah jumlah para pendekar yang
berkumpul. Ada sekitar 300 lebih anak buah Kaypang yang
mendukung penyerangan ini dari total 600 atau lebih yang
terkumpul untuk memusnahkan Bu Tek Seng Pay. Tentu saja
jumlah tersebut adalah jumlah yang sangat besar, karena
Kaypang memang dikenal sebagai perkumpulan terbesar dari
segi jumlah di Rimba Persilatan Tionggoan. Tetapi, semua anak
buah Kaypang tersebar dan menyebar di lapangan, bahkanpun di
nyaris semua sudut lapangan yang memungkinkan musuh
menerjang datang. Bahkan Barisan Pengemis Kaypang yang juga
dikenal sebagai Pengawal Khusus Pangcu, yakni Kaypang Cit Ti
Sat (7 Algojo Akhirat dari Kaypang) malahan berjaga di garis luar.
Mereka bertugas dan berjaga bersama dengan Barisan Pengemis
Pengejar Anjing.
2810
Selain Siauw Lim Sie dan Kaypang, perguruan terkenal yang juga
muncul dan dikenal cukup luas adalah Perguruan Hoa San Pay.
Ciangbudjin muda pada waktu itu adalah Tio Lian Cu, dan
mungkin dia adalah Ciangbudjin termuda yang pernah muncul
dari sebuah perguruan di Tionggoan. Ada banyak tokoh Hoa San
Pay yang muncul di Thian Cong San, tepatnya kaki gunung Thian
Cong San yang berjarak beberapa jam belaka dari Markas lawan.
Ada setidaknya 40 an orang dari Hoa San Pay yang ikut
bergabung dibawah pimpinan Ciangbudjin mereka. Kemudian,
juga ada dari perguruan lain seperti Tiam Jong San, dari Kun Lun
Pay, Go Bi Pay, Bu Tong Pay, Cin Ling Pay serta juga masih
banyak lagi daftar perguruan silat yang menggenapkan jumlah
lebih 600 kaum pendekar.
Masih banyak yang hadir dan sulit disebutkan satu persatu,
karena ada perguruan kecil yang hanya mengirimkan wakil satu
orang, ada yang hanya beberapa orang. Tetapi, semua yang
hadir, sedikit atau banyak jumlahnya, memang secara sengaja
mengirim utusan sebagai bagian dari kebersamaan Rimba
Persilatan Tionggoan. Hal yang sudah berlangsung cukup lama,
dengan perguruan-perguruan utama yang biasanya menjadi
penopang utamanya, seperti Siauw Lim Sie, Kaypang, Bu Tong
Pay yang kebetulan sedang meredup, Hoa San Pay, Kun Lun
2811
Pay, dan Go Bi Pay. Peran perguruan-perguruan lainnya
biasanya tergantung reputasinya pada saat mengerjakan hal-hal
penting secara bersama.
Koay Ji datang bersama Khong Yan dan Sie Lan In, sementara
Tio Lian Cu sudah lebih dahulu berada di lapangan itu dan sudah
duduk di kursi kehormatan sebagai Ciangbudjin Hoa San Pay.
Tetapi, sebelum pertemuan dibuka, Koay Ji agak kaget karena
masih juga belum menemukan keberadaan dari kawankawannya,
yakni Yu Lian, Yu Kong, Tian Sin Su bersama Hek
Man Ciok dan Hek King Yap. Otomatis diapun celingak-celinguk
kesana kemari untuk menemukan keberadaan mereka. Tetapi,
sesaat sebelum dia bergabung dengan semua saudara
seperguruannya di belakang panggung dan juga melihat
kehadiran Kim Jie Sinkay disana, tiba-tiba seseorang datang dan
kemudian bertanya kepada Sie Lan In dan Khong Yan. Dan
pertanyaan itu sangatlah mengagetkannya;
“Sie Kouwnio, ada yang menyampaikan pesan minta bertemu
dengan Sie Kouwnio atau dengan Thian Liong Koay Hiap.
Tentang Koay Hiap, terlampau sulit untuk bisa menemukannya,
tetapi menemukan Sie Kouwnio disini, maka kami bisa sampaikan
pesan ini. Mereka yang ingin bertemu berada bersama Yu
Kouwnio dan kakaknya, juga Hek Locianpwe dan anaknya, tetapi
2812
selain mereka, nampaknya ada beberapa orang yang bergabung
bersama mereka. Konon, merekapun akan bergabung guna
menyerang Bu Tek Seng Pay di gunung Pek In San, tetapi merasa
agak ragu untuk bergabung kemari, kecuali Sie Kouwnio atau
Koay Hiap menemui mereka. Mereka berada di hutan sebelah
timur...” pesan itu disampaikan dan entah mengapa, Koay Ji
langsung merasa bahwa ini adalah pesan yang amat penting.
Sedikit banyak dia dapat menerka dan menebak siapa gerangan
mereka yang sangat ingin bertemu dengannya sebagai Thian
Liong Koay Hiap.
Sie Lan In memandangnya dan kemudian bertanya agak bingung
karena belum tahu jelas siapa yang ingin bertemu:
“Sute, bagaimana ini.....” tanya Sie Lan In kebingungan
bagaimana menjawab dan meladeni permohonan yang misterius
itu.
“Biar kumintakan ijin kepada Sam Suheng agar kita dapat
menemui mereka...” Koay Ji berkata sambil kebingungan dengan
cara bagaimana dia menemui kawan-kawan yang dia bisa
pastikan adalah rombongan dari Persia dan sudah berada
bersama dengan Yu Lian dan kawan-kawan mereka yang lain.
2813
Hal ini dapat dia pastikan, karena itu dia berinisiatif untuk meminta
ijin sam suhengnya.
Sepanjang perjalanannya menuju ke panggung, dia
memikirkannya, tetapi tetap agak sulit menemukan cara yang
tepat. Tidak berapa lama, beberapa saat sebelum pertemuan
dibuka, diapun meminta ijin berbicara dengan Tek Ui Sinkay yang
begitu melihatnya langsung memanggilnya:
“Siauw Sute, apa yang ingin engkau sampaikan.....”? tanya Tek
Ui Sinkay yang amat yakin, jika Koay Ji ingin bertemu di saat
penting seperti ini, mestinya untuk sesuatu yang sangat penting
bagi missi mereka. Karena itu, begitu dia menerima pesan dari
anggota Kaypang tentang keinginan Koay Ji, diapun langsung
memanggilnya dan sudah langsung bertanya. Meski dia bertanya
tidak dengan suara dan sikap yang agak mencolok dimata banyak
orang. Maklum, bagaimanapun dia adalah Bengcu, sementara
siauw sutenya itu meski memiliki kemampuan yang maha luar
biasa, tetap belum dikenal banyak orang.
“Sam Suheng, mohon ijin, ada sahabat-sahabat dari Persia yang
ingin bergabung, tetapi mereka meminta sutemu ini sebagai Thian
Liong Koay Hiap untuk menjadi penghubung antara mereka
dengan kawan-kawan pendekar di Tionggoan. Kekuatan mereka
2814
sangat besar dan kuat meskipun hanya sebanyak 10 atau 11
orang yang sedang bertugas di Tionggoan ini. Dan, mereka
memang memiliki ganjalan dengan seorang tokoh besar di pihak
lawan, dan pasti akan bertarung secara sungguh-sungguh untuk
menangkapnya. Bagaimana menurut Tek Ui Bengcu? Apa
mereka kita undang atau biarkan bertarung di luar lingkaran
kita....”? tanya Koay Ji dengan ilmu menyampaikan suara dari
jarak jauh, meski mereka sudah berdekatan. Tetapi, di mulut dia
berkata berbeda:
“Tek Ui Bengcu, apakah sahabat-sahabat kami, Yu Kong dan
rombongannya dari Hong Lui Bun sudah ikut bergabung atau
belum.....”?
“Mereka boleh bergabung Sute, tetapi engkau aturlah tempat
yang baik dan tepat agar mereka merasa berada bersama dengan
kita.....” jawab Tek Ui Sinkay tetapi di mulutnya dia berkata;
“Mereka masih belum kelihatan bergabung sute,,,,,,,,”
“Baiklah, biarlah tecu yang mencari mereka berada dimana.......”
jawab Koay Ji yang kemudian sudah langsung kembali ke Khong
Yan dan Sie Lan In. Tetapi, dalam perjalanan yang tidak jauh itu,
dia menemukan akal.
2815
Dan begitu bertemu dengan Sie Lan In dan Khong Yan, diapun
langsung berkata dengan nada suara serius:
“Sie Suci, Khong Sute, percakapan sekali ini harus agak aman
dan tidak boleh ada musuh yang mengintip. Karena itu, kita mesti
berbagi tugas mengamankan dua sisi yang agak lemah, karena
tidak dijaga secara baik. Sisi depan dan belakang sudah dijaga
oleh Barisan Pengemis Pengejar Anjing dan Lo Han Tin dari
Siauw Lim Sie, mereka masih didukung oleh barisan pendam
Kaypang. Tetapi, pada arah Barat dan Timur, penjagaan relatif
lemah, kita mendapat tugas melakukan perondaan selama
pertemuan itu berlangsung. Khong Sute, engkau membantu
penjagaan di sisi Barat, dan aku bertugas di sisi Timur, Sie Suci
melakukan perondaan berkeliling, karena kecepatan bergerakmu.
Mengenai, kawan-kawan dari Persia, ternyata menurut Sam
Suheng, sudah ditangani oleh Thian Liong Koay Hiap.......” dalam
waktu singkat, otak cerdas Koay Ji mampu menemukan cara
mengatasi kesulitan yang dia hadapi berkaitan dengan keinginan
pihak Persia untuk dia bantu ikut menyerbu Gunung Pek In San.
Karena mereka, memang sedang mengejar Geberz yang lari dari
penjara mereka sebagai tawanan yang berbahaya.
“Baik Suheng,,,,,,, aku akan langsung menuju ke sisi barat
membantu penjagaan di sana....” jawab Khong Yan yang
2816
langsung bergerak tanpa banyak bertanya dan meminta
penjelasan lebih jauh.
“Kita berjumpa kembali disini setelah pertemuan berakhir Sute,,,,”
pesan Koay Ji saat Khong Yan mulai menjauh
“Baik Suheng,,,,”
Sepeninggal Khong Yan, Sie Lan In memandnag Koay Ji dan
kemudian bertanya dalam nada suara serius;
“Sute, bagaimana caraku melakukan perondaan ini....”?
“Mari, kita bersama menuju ke arah timur, engkau bisa memulai
pekerjaanmu dari sisi yang sama dimana aku bertugas Suci,,,,,”
ajak Koay Ji dan mereka berduapun segera bergerak menuju ke
sisi timur. Koay Ji sengaja memilih sisi timur, karena memang dia
berencana untuk menemui kawan-kawan asal Persia yang
mengikat tali perkenalan dan persahabatan dengannya beberapa
bulan silam. Dan, diapun juga menerima penugasan sam
suhengnya untuk menjadi penghubung dengan sahabat asa
Persia yang bersedia bergabung itu.
“Tugasmu memastikan, terutama sisi utara dan selatan, sesekali
juga membantuku dan Khong Sute, agak tidak ditembus oleh
2817
mata-mata musuh, atau jago lihay yang mencoba mengintip dan
memata-matai pertemuan yang dipimpin Tek Ui Bengcu. Tugas
kita sangat penting Suci......” terang Koay Ji ketika mereka menuju
area timur pertemuan para pendekar.
“Hmmm, baiklah Sute, benar juga, kita mesti memastikan mereka
tidak mengetahui dan mendengarkan percakapan disini.....”
“Tepat sekali......”
Tidak lama kemudian, keduanya sudah tiba di sisi timur dan Koay
Ji serta Sie Lan In dapat dengan kemampuan mereka yang sudah
amat tinggi menyadari bahwa ada pasukan pendam di sekitar
tempat mereka. Dan Koay Ji kemudian mengangguk senang,
karena mereka bekerja dan bertugas dengan baik.
“Engkau boleh segera meninjau bagian utara dan selatan suci,
biarkan aku mencoba mencari celah yang mungkin ditembus
musuh di hutan sebelah timur ini....” berkata Koay Ji kepada Sie
Lan In yang dengan tangkas menjawab;
“Baik sute, aku segera pergi.......” belum habis suara Sie Lan In,
tubuhnya sudah melayang jauh dan sebentar saja bayangannya
menghilang.
2818
Sepeninggal Sie Lan In, beberapa saat kemudian, Koay Ji
berkelabat kedepan guna mencari dimana tepatnya sahabatsahabat
asal Persia itu berada. Dan tidak berapa lama, Koay Ji
kembali sudah berubah menjadi Thian Liong Koay Hiap dan
bergerak cepat dan tangkas menuju tempat yang ditunjukkan
kepadanya tadi oleh pembawa pesan yang juga anggota
Kaypang.
Sementara itu, Tek Ui Sinkay, tidak lama setelah Koay Ji
berangkat menemui kawan dari Persia, segera menyampaikan
maksud pertemuan dan kemudian memimpin rapat para pendekar
siang itu. Tetapi, pertemuan besar itu berlangsung singkat, yang
agak lama adalah pertemuan terbatas untuk merancang strategi
menyerang lawan di pinggang utara gunung Pek In San.
“Cuwi sekalian, sepanjang hari ini sebagaimana percakapan kita
adalah waktu untuk persiapan terakhir. Besok, kita akan
melakukan pertempuran mati hidup dengan para penjahat di
gunung Pek In San. Karena itu, lohu menyarankan agar
sepanjang hari ini kita melakukan persiapan dan beristirahat, agar
kita dalam kondisi prima pada hari pertarungan nanti. Penjagaan
kita, jangan dikhawatirkan, karena musuh dipastikan sulit untuk
menyusup dan memasuki kompleks tinggal kita, tetapi meskipun
demikian diharapkan kita semua tetap berwaspada. Ciangbudjin
2819
Siauw Lim Sie, Ciangbudjin Hoa San Pay, para sesepuh
Kaypang, para pemimpin Tiam Jong Pay, Go Bi Pay, Kun Lun Pay
dan semua pemimpin kita sudah memutuskan besok adalah
harinya kita beraksi. Strategi terakhir akan diputuskan pada
malam ini juga, dan akan kita jalankan pada besok hari..........
beristirahatlah cuwi sekalian, biarlah para pemimpin kita yang
membicarakan strategi pertarungan besok hari nanti” demikian
Tek Ui Sinkay menutup pertemuan pada hari itu yang diikuti
dengan pergerakan ratusan pendekar yang membubarkan diri
untuk beristirahat. Semua berlaku tertib dalam membubarkan diri,
betapapun ketegangan mulai melingkupi mereka semua
menunggu hari pertempuran besok hari.
Keputusan menyerang besok hari yang sudah diumumkan,
mengakhiri spekulasi tentang hari H yang terus-menerus menjadi
topik percakapan. Meskipun sebenarnya baru 3,4 hari para
pendekar berkumpul di kaki gunung Pek In San yang berbatasan
dengan gunung Thian Cong San. Bahkan, banyak yang juga baru
ikut bergabung dua hari atau malahan sehari terakhir, alias baru
saja bergabung dengan rombongan pendekar di tempat itu.
Sebagian besar jika tidak semua, kurang tahu bahwa selama dua
hari terakhir, Koay Ji dan kawan-kawan serta juga Tek Ui Sinkay
justru sudah melakukan pekerjaan maha penting untuk mereka.
2820
Pekerjaan yang bisa jadi akan sangat menentukan pertempuran
mereka besok hari. Bahkan tidak tahu kalau ada yang sudah
berjibaku untuk sekedar mengetahui letak dan lokasi markas
lawan yang kelak menentukan kemenangan atau kekalahan
mereka.
Setelah semua pada membubarkan diri dan sebagian beristirahat,
sebagian memilih bergaul dan bercakap dengan tokoh-tokoh lain,
tokoh-tokoh utama dari perguruan penting di Tionggoan masih
tinggal sampai kemudian Tek Ui Bengcu menyapa mereka dan
kemudian berkata dengan suara tegas;
“Cuwi sekalian, mari kita membahas apa yang akan dan mesti kita
lakukan untuk menghadapi pertarungan besok hari.........” ajak
Tek Ui Sinkay untuk kembali duduk dan memasang jarak yang
cukup jauh dari pinggiran lapangan yang juga terjaga. Maksudnya
adalah, supaya percakapan mereka tidak disadap orang dan
terjaga kerahasiaannya agar lawan tidak bersiaga dengan strategi
mereka besok. Meskipun dia tahu dan sadar, bahwa penjagaan
sudah dilakukan secara berlapis, tetapi dia tetap berjaga dan
menjaga jarak aman untuk disadap.
Tidak lama kemudian Tek Ui Sinkay membuka pertemuan
terbatas, dengan berkata sesuai dengan yang bisa dibukanya;
2821
“Cuwi sekalian, sesuai dengan pengamatan dan penyelidikan
yang kami lakukan selama beberapa hari terakhir, maka kami
menemukan ada 6 titik atau akses masuk yang mungkin kita
gunakan. Ke-enam titik masuk itu, semua mengarah ke Markas
Bu Tek Seng Pay di pinggang utara gunung Pek In San. Satu hal,
jika kita bisa dan dapat mengetahui, maka musuh juga pasti
mengetahuinya dan menyiapkan baik penjagaan maupun
mungkin jebakan disana. Karena itu, kita harus bersiaga penuh
dan kita akan menggunakan semua titik masuk itu agar lawan
tidak berkonsentrasi menghadapi kita pada satu titik belaka. Kita
memiliki setidaknya 3 barisan lihay yang sudah sangat terkenal,
dan dapat kita optimalkan dalam pertarungan besok. Nach,
mengenai pertarungan yang akan kita lakukan besok hari, apakah
ada usul ataupun ide dari cuwi sekalian..? terutama atau secara
khusus tentang bagaimana besok siasat pertarungan kita......”?
Semua hadirin yang mendengar uraian Tek Ui Sinkay menyimak
penjelasan dan uraian sang Bengcu. Bahkan setelah Tek Ui
Sinkay selesai berbicara, semua masih terdiam dan memikirkan
jawaban atas pertanyaan yang baru saja diajukan oleh Tek Ui
Sinkay kepada pertemuan itu. Dan menunggu beberapa saat,
baru kemudian ada seorang yang minta ijin bicara,,,,,
2822
“Tek Ui Bengcu, mungkin sebaiknya kita membagi dalam 6
kelompok yang berbeda seluruh pendekar yang sudah hadir dan
berkumpul. Dan kemudian masing-masing kelompok tersebut
memilih pemimpin kelompok dan menerjang melalui enam titik
yang dimaksudkan tadi.....” terdengar wakil dari Tiam Jong Pay,
seorang tokoh pendekar pedang yang cukup lihay berkata yang
berbicara menyahuitu pertanyaan yang diajukan Tek Ui Bengcu .
Tokoh tersebut dikenal dengan nama Kim Ji Toa Beng (Elang
Besar Sayap Emas) Koo Hong, tokoh berusia 48 tahun yang juga
adalah Ciangbudjin perguruan Tiam Jong San. Karena masih
baru dalam memimpin perguruannya, baru setahun terakhir,
maka dia berusaha keras agar bisa dikenal kawan-kawan
persilatan di Tionggoan.
“Tek Ui Bengcu Lohu Thi Pi Kim To (Golok Emas Lengan Besi)
Ho Liang, dari Cin Ling Pay; sesungguhnya, lohu juga setuju
dengan usulan Koo heng, tetapi, dengan jumlah kita yang kalah
jauh banyaknya, maka menyebar pasukan ke banyak kelompok
terhitung merugikan kita. Sebaiknya, paling banyak kita bertarung
di tiga kelompok besar yang berbeda, dimana kepala kelompok
masing-masing dilindungi oleh sebuah Barisan Sakti yang dimiliki
oleh Siauw Lim Sie dan Kaypang. Dengan cara begini, maka
konsentrasi orang-orang kita akan bisa terjaga dan bisa saling
2823
mengetahui keadaan masing-masing kelompok...” demikian
usulan Ho Liang, usulan dari Cin Ling Pay yang juga menjadi
bagian dari persekutuan pendekar itu. Usulan yang dirasa semua
orang lebih masuk akal dan bisa digunakan.
Ho Liang tokoh dari Cin Ling Pay menutup penuturannya dengan
menatap kearah Koo Hong, Ciangbudjin Tiam Jong San sambil
tersenyum penuh persahabatan. Ide mereka mirip, meski
pengelompokan saja yang berbeda, dan karena itu, Koo Hong
dengan suara rendah kemudian menyahuti:
“Ide Ho hengte rasanya juga baik, tinggal bagaimana cara kita
nanti dalam membagi atau melakukan pengelompokan yang lebih
tepat dan baik. Hal ini penting agar kita bisa menghadirkan
kekuatan yang maksimal....”
Bisik-bisik antara beberapa orang terjadi dan saling lempar ide
dan usulpun segera terjadi, hal yang membuat suasana
pertemuan itu cukup tegang. Tio Lian Cu terlihat agak senang dan
menikmati pertemuan seperti itu, meski dia masih belum berani
memberikan masukan. Masih enggan atau menahan diri. Jelas,
dia ternyata senang dengan rapat atau pertemuan seperti yang
sedang berlangsung saat itu. Malahan semakin lama dia semakin
menikmati dan mulai sesekali ikut memberikan masukan setelah
2824
bercakap dengan beberapa senior atau tokoh senior dari
perguruannya. Posisinya sebagai Ciangbudjin Hoa San Pay
dalam usia muda dan seorang gadis pula, benar-benar menarik
perhatian banyak orang. Tetapi, selain mereka yang sudah
mengenal kehebatannya, beberapa orang yang melihatnya
berbicara, ada yang mencibir dan kurnag yakin dengan
kemampuannya baik sebagai Ciangbudjin, maupun kemampuan
ilmu silatnya.
“Cuwi sekalian, kita harus agak memperhatikan tokoh-tokoh hebat
yang berada dan berdiri di pihak lawan, beberapa diantaranya
sudah pernah bertemu den bertempur dengan kami. Seperti
misalnya Geberz yang adalah Susiok dari mendiang Pek Kut
Lodjin, ataupun tokoh bernama Ciok Seng yang kemungkinan
adalah sute dari Pek Kut Lodjin, masih ada pula Mo Hwee Hud
dan istrinya yang beracun, kemudian semua murid Mo Hwee Hud,
ada lagi perguruan misterius Tiang Pek Pay dan tokoh yang
berontak di Hong Lui Bun. Juga, mohon dimaafkan, seorang
tetuah Hoa San Pay dan beberapa murid pengkhianat kami,
berada di pihak sana. Mohon ijinkan kami menangani mereka
kelak. Bahkan, kabarnya, ada beberapa tokoh sepuh yang salah
seorangnya pernah menyusup ke Thian Liong Pay dan untung
ada yang bisa menanganinya dan mengusirnya....... kita harus
2825
sangat siap menangani mereka, jika tidak maka korban bisa
berjatuhan dengan sangat banyak.....” demikian Tio Lian Cu
mencoba mengemukakan masukan dan idenya yang memang
sangat benar, dan bahkan Tek Ui Sinkay mengangguk tanda
paham dengan apa yang disampaikan Tio Lian Cu. Karena dia
sendiri tahu sampai dimana kehebatan Nona muda yang juga
adalah Ciangbudjin Hoa San Pay...... meskipun tentu saja ada
banyak orang yang belum mengenal nona itu, memandangnya
remeh.
“Tio Ciangbudjin,,,,, benar-benarkah Ciangbudjin sendiri pernah
berhadapan dengan tokoh-tokoh sekelas Geberz yang engkau
katakan sebagai Susiok dari mendiang Pek Kut Lodjin itu.....”?
terdengar pertanyaan dari Hu Pangcu Ngo Bie Pay, tokoh
bernama Hwi Ciauw Ong (Raja Cakar Terbang) Beng Bing Sia
yang baru berusia 37 tahun. Wajahnya menyiratkan kepenasaran
mendengar perkataan Tio Lian Cu yang menurutnya berlebihan
dan sulit diterima akal. Bagaimana mungkin gadis muda itu
sedemikian digdayanya meskipun faktanya dia memang adalah
seorang Ciangbudjin dari partai terkenal Hoa San Pay? rasa
penasaran yang wajar dan malah mewakili kepenasaran banyak
orang.
2826
“Setidaknya sejak peristiwa tragis yang terjadi di Benteng
Keluarga Hu, sudah dua kali kami berhadapan langsung dengan
mereka, termasuk baru saja kami bertarung bersama Khong Yan,
murid Bu Tee Hwesio dan juga Siauw Sute dari Tek Ui Bengcu
yang malahan menangani dan mengusir tokoh mujijat dari pihak
lawan.....” jawab Tio Lian Cu tanpa menduga yang bukan-bukan.
Dia berbicara santai dan seadanya dengan tanpa memahami jika
sebetulnya banyak orang yang meragukannya dan juga
meragukan kata-katanya. Lagipula, Tio Lian Cu sendiri memang
karakternya rada cuek dan tidak begitu perduli dengan apa yang
dipikirkan dan dikatakan orang lain, kecuali mengenai dirinya dan
Hoa San Pay.
“Acccch, benar-benar hebat jika memang demikian. Tetapi,
apakah ada pada saat itu yang menjadi saksi matanya......”? tanya
Beng Bing Sia kembali, dan pertanyaan kali ini membuat Tio Lian
Cu memandangnya dengan sinar mata aneh dan merasa mulai
terpancing emosinya. Dia mulai sadar bahwa ada “udang di balik
batu” dengan kata-kata Beng Bing Sia barusan. Bukan hanya dia,
bahkan anak murid Hoa San Pay lainnya, juga mulai tersinggung
dengan cara bertanya tokoh itu. Bukan apa-apa, Tio Lian Cu
memang masih sangat muda, dan pada awalnya tidak bersedia
menjadi Ciangbudjin Hoa San Pay, tetapi dengan menjadi
2827
pemegang pedang pusaka Hoa San Pay, dia tidak bisa menolak
tuntutan perguruannya. Dan lagi, sebagai murid terakhir sesepuh
Hoa San Pay Thian Hoat Tosu, maka kepandaiannya sudah dapat
ditebak sangat tinggi dan hebat. Kepandaiannya yang tinggi itu,
dipastikan bukan hanya dikalangan Hoa San Pay belaka, tapi
bahkanpun juga di rimba persilatan Tionggoan pada saat itu.
“Apa maksud Beng Hu Pangcu.....”? terdengar Bok Hong Ek,
murid bungsu generasi tertua dari Hoa San Pay saat ini, Boh Hun
Jiu (Si Tangan Pembelah Langit), Bun Thian Pah. Bok Hong Ek,
meski baru berumur 26 atau 27 tahun, tetapi merupakan seorang
murid yang paing cemerlang dari Suhunya dan sudah menerima
tempaan luar biasa, termasuk dari Thian Hoat Tosu sekalipun.
Melihat bagaimana Tio Lian Cu yang dia hormati dan sayangi
sebagai sumoynya (sekarang Ciangbudjin dan tiba-tiba juga
menjadi Bibi Gurunya), dia jelas sudah menjadi sangat tidak
senang hati. Meskipun demikian, nada suaranya masih tetap
tawar dan belum menanjak tinggi. Jelas emosinya terpancing dan
akan mudah meledak, meskipun masih dapat dia tahan sedapat
dan sekuatnya. Tetapi, dia sendiri sadar, jika percakapan yang
amat tidak menyenangkan itu berlanjut terus dan gaya Beng Bing
Sia tetap seperti itu, maka ledakan emosinya bisa dipastikan
segera.
2828
“Ada, siauwte bisa menjadi saksinya karena menyaksikan secara
langsung berapa hari lalu di Thian Cong San.....” belum lagi Beng
Bing Sia kembali bersuara, tiba-tiba Hoan Kun yang sudah tahu
kehebatan Tio Lian Cu dan yang juga menaruh simpati dengan
gadis itu, sudah bersuara menyatakan pembelaannya. Hoan Kun
adalah putra penguasa Lembah Cemara, dia hadir mewakili
ayahnya yang karena berduka sangat dalam dan sangat terpukul,
lebih memilih mewakilkan anaknya ke pertemuan para pendekar
untuk menyerang Bu Tek Seng Pay itu. Dan Hoan Kun yang
memang langsung dan jelas menyaksikan bagaimana Tio Lian Cu
bertemput menghadapi lawan-lawannya, jelas bisa menjadi saksi.
Saksi langsung yang sangat menentukan dan juga valid.
Tetapi, Beng Bing Sia, meski sekarang sudah menjadi Hu Pangcu
Ngo Bie Pay, memang masih berdarah panas meskipun tetaplah
dia seorang gagah. Dia memang dikenal selalu tegas dan terbuka,
tidak mau bermain munafik. Apa yang dia pikirkan akan dia
katakan dan tidak disembunyikan. Melihat Tio Lian Cu yang masih
muda, meski adalah Ciangbudjin Hoa San Pay, dan bahkan
seorang gadis pula, membuat dia merasa bahwa perkataan Tio
Lian Cu tadi terasa seperti bualan dan bukanlah kenyataan.
Berpikir demikian, maka itu dia berkata dan juga bertanya, tidak
dengan maksud menyudutkan Tio Lian Cu, tetapi terasa seperti
2829
menyudutkan. Sebetulnya hanya untuk sekedar memuaskan
dahaga rasa ingin tahunya dan juga sekaligus rasa
kepenasarannya atas diri Tio Lian Cu.
“Maaf Tio Ciangbudjin, tidak ada maksud menyakiti dan
menghinamu. Hanya saja, karena Ciangbudjin masih muda dan
seorang gadis pula, maka mendengar apa yang Ciangbudjin
katakan barusan, terdengar seperti bualan di telingaku. Tetapi,
jika ternyata memang lohu keliru sangka dan terkesan
memandang entang, maka saat ini Lohu langsung mengutarakan
permohonan maaf......” memang tanpa tedeng aling aling orang
bernama Beng Bing Sia itu.
Kata-kata Beng Bing Sia tidak salah, tetapi tentu saja susah
diterima oleh anak murid dari Hoa San Pay, terutama Bok Hong
Ek serta Thian Lui Sianseng (Tuan Geledek Langit) Yap Eng Ceng
dan istrinya Pek Hoa Tiap (Kupu-kupu Seratus Bunga) Kiang Cui
Loan. Mereka bertiga adalah murid dari Bun Thian Pah dan samasama
datang mewakili Hoa San Pay sebagai tokoh-tokoh utama
perguruan itu dewasa ini. Sudah barang tentu, di pundak
merekalah selain Tio Lian Cu nama baik perguruan disandarkan.
Dan bersama mereka, juga ada anak murid Hoa San Pay lainnya
yang ikut datang, berjumlah hampir 50 orang banyaknya. Tetapi,
Tek Ui Sinkay cepat melihat gelagat yang kurang baik, dan karena
2830
itu dia cepat memutuskan untuk bertindak. Tetapi sungguh sangat
disayangkan karena dia masih terlambat sedetik dari Kiang Cui
Loan yang sudah buka suara;
“Hmmm, kata-kata Hu Pangcu sungguh tidak pantas dan tidak
layak. Jika memang ingin mengetahui kehebatan Tio Pangcu,
bisa dilakukan di luar, tetapi dengan Hu Pangcu mengemukakan
di tempat pertemuan seperti ini, maka sama saja dengan
menghina dan menampar wajah kami dari Hoa San Pay. Apakah
Hu Pangcu merasa ingin mencicipi kehebatan kami dari Hoa San
Pay? tidak perlu Tio Ciangbudjin yang turun tangan, cukup kami
pembantunya yang meladeni, tanggung kami masih akan mampu
menahanmu dan memberi ingat hingga dimana kemampaun Hoa
San Pay kami pada saat ini” tegas dan jelas Kiang Cui Loan,
bahkan kesan dan pesan menantang sudah dia kemukakan.
Tentu saja keadaan sontak berubah gempar dan suasana
menjadi rada panas.
“Hahahahaha, tidak perlu sampai begitu Kiang Lihiap, kita berada
diantara orang sendiri, tidka perlu sampai sejauh itu. Cukup hanya
mendengar jaminan bahwa apa yang dikatakan Tio Ciangbudjin
memang kenyataan. Sederhana saja....” jawab Beng Bing Sia
yang jelas enggan meladeni tantangan Kiang Cui Loan. Dalam
anggapan dia, Kiang Cui Loan adalah prajurit pembantu belaka di
2831
Hoa San Pay, akan repot jika dia melawan sekelas tokoh
pembantu. Kalah rugi, menangpun rugi, apalagi Kiang Cui Loan
adalah seorang perempuan, dan saat itu dia ditantang perempuan
itu. Wajar jika karena itu dia memilih menghindar. Pilihan yang
memang tepat karena jika diladeninya, dia akan mengalami
kejadian yang susah dia lupakan sepanjang hidupnya kelak.
“Sudah kukatakan akulah saksinya, dan sesungguhnya, lebih dari
itu, bahkan Tek Ui Bengcu sendiripun juga ikut menyaksikan
bersama beberapa tokoh hebat lainnya yang hadir di lokasi, di
Thian Cong Pay pada saat itu......” kembali terdengar suara Hoan
Kun dan membuat Tio Lian Cu memandangnya penuh rasa terima
kasih. Padahal, Tio Lian Cu sebelumnya sudah sempat merasa
agak sebal dengan pemuda itu waktu mereka bertemu di Thian
Cong Pay. Tapi, bencana berturut-turut bagi Lembah Cemara
membuat naluri pemimpin dalam diri Hoan Kun terpancing keluar
dengan sendirinya.
Mendengar kesaksian Hoan Kun, semua mata kini memandang
Tek Ui Sinkay dan juga Tio Lian Cu. Dan kesempatan itu
digunakan oleh Tek Ui Sinkay untuk bicara dan menjelaskan apa
yang dia tahu;
2832
“Beng Hu Pangcu, sahabat-sahabat semua, apa yang
disampaikan Tio Ciangbudjin memang tidak keliru, demikian juga
kesaksian Hoan heng. Tetapi, pertanyaan Beng Hu Pangcu, lohu
anggap masih wajar jika menimbang kondisi dan kesiapan kita
saat ini yang akan berhadap-hadapan langsung dengan pentolan
lawan. Hanya, jika Beng Hu Pangcu tahu bahwa Tio Ciangbudjin
adalah murid dari Thian Hoat Tosu, maka bisa dipahami jika meski
masih sangat muda dan seorang gadis pula, Tio Ciangbudjin
memiliki ilmu kepandaian yang tidak lumrah. Dia mampu dan
sanggup menandingi Geberz pada dua tiga hari lalu, bahkan juga
sudah mampu menyusup ke belakang markas Bu tek Seng Pay
kemaren bersama Sie kouwnio, murid Lam Hay Sinni dan Koay
Ji, siauw sute kami. Mereka bahkan membebaskan 3 orang dari
markas Bu Tek Seng Pay pada kesempatan itu, jadi bisa
dibayangkan sampai dimana kemampuan Tio Ciangbudjin yang
masih muda ini....” kalimat Tek Ui Sinkay ini membuat banyak
orang yang belum tahu terkejut, dan kini mulai memandang Tio
Lian Cu sebagai tokoh muda paling lihay. Mampu menyusup dan
membebaskan orang dari kandang musuh, siapa lagi tokoh muda
yang akan mampu melakukan kerja yang hebat dan
menggemparkan itu?
2833
“Tio Ciangbudjin, mohon engkau maafkan kelancanganku, tidak
ada maksudku untuk menyudutkan dan meragukan
kemampuanmu, hanya perlu tahu bahwa kita tidak sedang
mendengar informasi yang keliru...... maka sekali lagi, lohu mohon
maaf sebesarnya kepadamu Tio Ciangbudjin......” dengan ksatria,
Beng Bing Sia berdiri dan meminta maaf langsung kepada Tio
Lian Cu. Dan itu dilakukannya di hadapan banyak orang gagah,
dan mau tidak mau Tio Lian Cu menjadi kagum dan semua
kegeramannya segera terhapus dengan cepat.
“Sudahlah Beng Bing Sia Hu Pangcu, keterus-teranganmu
membuatku merasa sangat kagum, engkau sungguh tokoh yang
berterus terang. Tidak, sedikitpun kami dari pihak Hoa San Pay
tidak menyimpan dendam dan juga rasa amarah. Jujur, kami
malah sangat mengagumi keberterus-teranganmu itu.....” Tio Lian
Cu langsung berdiri dan menyambut permohonan maaf dari tokoh
bernama Beng Bing Sia itu secara ksatria pula tentunya. Dan
memang, seperti itulah senantiasa dan sewajar wajarnya yang
selalu terjadi di kalangan para pendekar. Pada waktu-waktu silam,
hal seperti ini sering terjadi.
Percakapan dilangsungkan lagi, bahkan sampai menjelang sore
hari. Membicarakan strategi menghadapi tokoh-tokoh lawan,
strategi memasuki Pek In San, serta hal penting lainnya.
2834
Menjelang sore hari muncul kemudian Koay Ji, Khong Yan dan
Sie Lan In yang memasuki ruangan pertemuan terbatas itu.
Bertepatan dengan saat Tek Ui Sinkay sudah mulai menimbangnimbang
dan kemudian memutuskan untuk segera mengakhiri
pertemuan itu;
“Cuwi sekalian, sudah banyak usul yang dikemukakan. Tetapi,
apa yang akan kita lakukan, bagaimana kita bergerak melakukan
penyerangan, akan lohu sampaikan besok pagi-pagi sebelum kita
bergerak. Sekaligus, besok pagi ada hal yang perlu kita
persiapkan lagi, tetapi nanti akan diberitahukan besok hari, agar
tidak terduga oleh lawan dan membuat mereka bersiap
menyambut kita nantinya. Karena itu, lohu sarankan, malam ini
kita semua beristirahat mengumpulkan tenaga agar besok kita
sekalian bugar untuk pertarungan panjang. Lohu dapat
memastikan, bahwa pertarungan besok akan berlangsung cukup
lama, panjang dan makan waktu, maka kesiapan kita secara fisik
sungguh sangatlah diperlukan...... Nach, dengan demikian, maka
Lohu selaku Bengcu Tionggoan, saat ini menutup pertemuan dan
besok pagi-pagi akan dilanjutkan. Kita semua siap untuk
bertarung melawan musuh setelah pertemuan besok pagi.......”
Setelah semua membubarkan diri, kecuali Ciangbudjin Siauw Lim
Sie, Ciangbudjin Hoa San Pay bersama Koay Ji, Khong Yan dan
2835
Sie Lan In, masih belum beranjak pergi. Mereka semua masih
menahan langkah karena paham bahwa ada berita baru yang
dibawah oleh Koay Ji. Karena itu, setelah suasana menjadi lebih
senyap dan tepat melakukan percakapan yang lebih terbatas,
maka Tek Ui Sinkay kemudian bertanya kepada Koay Ji;
“Siauw Sute, bagaimana perkembangan dengan para sahabat
dari Liga Pahlawan Bangsa Persia, apakah mereka memutuskan
akan ikut bergbaung dengan kita guna menempur musuh besok
hari....”?
“”Koay Hiap sudah menangani mereka, tetapi sejelasnya akan
datang menemui Sam Suheng sebentar lagi karena mereka justru
sudah datang bersama tecu saat ini..... biarlah mereka yang
menyampaikan secara langsung kepada Sam Suheng dan semua
sahabat disini” jawab Koay Ji
“Hmmm, sangat baik jika memang demikian, panggil mereka
masuk..” Tek Ui Sinkay gembira dengan kabar itu dan langsung
memberi perintah agar sahabat-sahabat dari Persia segera
masuk.
Bagaimana pertemuan dengan Pahlawan Bangsa Persia
sebenarnya? Informasi dari mereka sebetulnya sangat berharga.
2836
Koay Ji yang kembali mengenakan kostum sebagai Thian Liong
Koay Hiap mendatangi mereka sendirian, meskipun untuk itu dia
harus sedikit “mengelabui” Sie Lan In. Dan seperti sudah dapat
dia duga, para Pahlawan Bangsa Persia, yakni ARCIA – Panglima
Agung Liga Pahlawan Persia; Shoroushi – Wakil Panglima Agung
Liga Pahlawan Persia, sekaligus juga Pendeta Agama Zoroaster,
wanita cantik khas Persia berusia 36 atau 37 tahun; Ilya – Wakil
Panglima yang berusia 45 tahun, sudah menunggu
kedatangannya untuk berbicara penyerangan ke markas lawan.
Dan dari mereka bertiga, Pemimpin Liga Pahlawan Persia, adalah
Ilya yang menguasai Bahasa Tionggoan dengan cukup lancar.
Dan oleh karena itu, maka Ilya yang kemudian bertindak sebagai
juru bicara sekaligus juga juru runding.
“Hahahaha, Thian Liong Koay Hiap, selamat bertemu kembali....”
sambut Ilya, begitu melihat Koay Ji atau yang dalam dandanan
sebagai Thian Liong Koay Hiap sudah sedang mendekati
perkemahan mereka yang memang agak menyolok di tengah
hutan sepi itu. Maklum, perkemahan mewah mereka yang berada
di tengah hutan memang agak aneh, sangat aneh malahan.
Tenda atau kemah mereka berwarna-warni dan sangat cerahmeriah,
sehingga kesannya agak ramai, sementara tenda utama
berada di tengah dan memiliki ruangan yang cukup luas. Juga
2837
terdapat fasilitas yang agak mewah untuk ukuran tinggal dalam
hutan terpencil seperti pada saat uty. Sementara tenda-tenda
kecil yang menjadi pelindung dan tempat tinggal hampir 20 orang
pengawal dan pelayan rombongan ini ada sekitar 10 buah tenda
kecil mengelilingi tenda utama.
Ilya menyambut Koay Ji di depan tenda utama yang ukurannya
cukup besar, ada sekitar 6 x 15 meter panjangnya dan memiliki 4
buah kamar, sisanya adalah ruang besar yang juga amat luas.
Liga Pahlawan Bangsa Persia yang sedang bertugas ini
membawa 15 Petarung handal mereka yang mampu membentuk
barisan khusus, dan 10 orang lain sebagai pengawal merangkap
pelayan. Ada dua orang perempuan di antara 10 orang terakhir,
yang bertugas menjadi juru masak dan pelayan tenda utama.
Selain itu, mereka juga membawa cukup banyak kuda yang selalu
berpindah bersama dengan rombongan tersebut. Dan adalah
tugas 10 orang terakhir untuk memastikan bahwa semua logistik
dan juga perbekalan mereka terjamin dari hari ke hari selama
perjalanan mereka itu.
Begitu memasuki tenda tersebut, Pangima Agung Arcia sudah
menyambut Koay Ji dan pada saat itu dia didampingi oleh seorang
wanita cantik asal Persia bernama Shoroushi. Jangan salah
sangka, dia bukan pelayan dan bukan perempuan biasa,
2838
melainkan dia adalah seorang tokoh sangat penting di dalam Liga
Pahlawan Bangsa Persia. Selain sebagai Wakil Panglima dan
petarung hebat, dia juga adalah Pendeta Zoroaster yang sangat
dihormati oleh segenap Bangsa Persia. Selain sebagai seorang
petarung hebat, dia juga sangat ahli dalam ilmu sihir dengan
tingkatan yang sangat hebat dan mumpuni. Mungkin hanya kalah
dari Mindra asal Thian Tok. Dan adalah mereka berdua yang
keluar untuk menyambut kedatangan seorang Koay Ji, atau Thian
Liong Koay Hiap, sementara di belakang mereka Koay Ji melihat
adanya Yu Lian yang seperti biasa tersipu-sipu, kemudian juga
nampak Yu Kong, Tian Sin Su dan ayak anak Hek Man Ciok dan
Hek King Yap.
“Selamat datang di tempat kami dan sungguh senang bertemu
anda kembali Thian Liong Koay Hiap yang gagah perkasa.....”
sambut Panglima Agung Arcia, yang tentu saja disampaikan
dalam bahasa Persia dan sudah dengan cepat diterjemahkan
oleh Ilya kepada Koay Ji. Sambutannya sungguh menghormat,
tanda bahwa dia tahu dan paham bahwa dia berhadapan dengan
seorang yang tidak dapat dianggap remeh dan patut memperoleh
penghormatannya.
“Selamat bertemu Panglima Arcia, sungguh terhormat mendapat
undangan bertemu dari Panglima yang agung....... selamat
2839
berjumpa Pendeta Shoroushi, terhormat dapat bertemu dengan
anda semua di tengah hutan sepi namun dalam sebuah tenda
yang maha indah ini......” jawab Koay Ji sambil memberi hormat
dengan gaya dan cara kaum pendekar di Tionggoan. Sekaligus
dia menyampaikan penghargaan dirinya atas undangan saat itu,
dan juga kekaguman atas tempat atau tenda yang maha indah
dan luas serta mewah ini.
Selanjutnya, dengan tangan dan dengan terjemahan Ilya,
Panglima Arcia segera menyambut Koay Ji dan kemudian
mempersilahkan dia masuk dan ikut duduk bersama mereka
mengelilingi meja besar yang penuh dengan buah-buahan segar
dan ranum, menarik dimakan. Suasana yang menambah rasa
kagum Koay JI atas apa yang ditampilkan Pahlawan Bangsa
Persia ini.
“Mari masuk dan silahkan segera mengambil tempat duduk Thian
Liong Koay Hiap agar kita bisa bercakap-cakap dengan penuh
persahabatan.....” undang Panglima Arcia melalui terjemahan
Wakil Panglima Ilya.
“Terima kasih Panglima Arcia......”
2840
Ternyata Thian Liong Koay Hiap diberi tempat duduk yang
istimewa, persis duduk di samping Panglima Arcia dan berada di
meja bagian depan dengan tempat duduk yang terasa nyaman
dan empuk. Diam-diam Koay Ji semain memuji serta sekaligus
mengagumi tenda utama dan juga cara menata tenda itu yang
amat luar biasa. Selain mampu menampung banyak orang, bisa
sampai 20 orang dalam posisi rapat atau pertemuan, juga latar
pengaturan yang amat bagus dan tidak membosankan. Belum
lagi dengan layanan luar biasa, buah-buahan ranum campuran
dari Persia maupun juga dari Tionggoan sendiri.
Setelah mereka semua pada akhirnya duduk, maka Panglima
Arcia dengan penuh rasa persahabatan yang ditujukan secara
khusus kepada Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap, segera
berkata;
“Thian Liong Koay Hiap, pertama-tama terima kasih atas
bantuanmu kepada kawan kawan kami, dan juga kesediaanmu
berkunjung memenuhi undangan Guru Agung Spenta Amaity.
Kami sungguh menunggu kunjungan Koay Hiap dan akan sangat
bersyukur jika memang itu bisa terwujud,,,,,,, hanya, sayangnya,
kami masih harus menyelesaikan sebuah pekerjaan disini, dan
kebetulan bisa bekerja-sama dengan para pendekar di
Tionggoan. Bagaimana menurut Koay Hiap pengaturan agar kita
2841
bertarung bersama melawan kekuatan besar yang terhimpun di
gunung Pek In San ini....? dan sudah siapkah kawan-kawan
pendekar Tionggoan untuk segera memulai penyerbuan ke
markas utama mereka....”? sambil ramah-tamah memakan buahbuahan
yang tersedia, Panglima Arcia membuka percakapan
yang sesungguhnya. Kerjasama Tionggoan-Persia..... Dia
sungguh tidak membuang-buang waktu dengan kata-kata
kosong, tetapi langsung kepada inti persoalan. Dan Koay Ji cukup
sadar dengan pernyataan dan pertanyaan Panglima itu.
“Serangan akan dilakukan besok hari Panglima Agung, sekarang
mereka sedang berunding bagaimana strategi penyerangan
besok hari akan dilakukan... Bagaimana sebaiknya menurut
Panglima Agung kerjasama itu dilakukan.....”? tanya Koay Hiap
atas usulan Panglima Agung Arcia.
“Thian Liong Koay Hiap......... sebetulnya, pengejaran kami hingga
ke Tionggoan, disebabkan dicurinya satu rahasia besar,
pembuatan senjata rahasia yang akan sangat mematikan. Karena
selain dapat dilumuri racun mematikan, juga bisa menembakkan
senjata rahasia hingga mencapai kecepatan yang luar biasa, dan
dalam jumlah yang juga sangat banyak. Dan jika senjata ini
memakan korban jiwa yang amat besar, maka kami akan sangat
2842
merasa berdosa kepada kawan-kawan Rimba Persilatan
Tionggoan......”
“Acchhhhh, itukah sebabnya mereka mengosongkan jalur setelah
pintu masuk dan menunggu hingga ke dekat markas mereka.....”?
tanya Koay Ji kaget dengan apa yang baru saja dia dengarkan.
Dia tidak takut dengan senjata itu, tetapi bagaimana dengan para
pendekar yang tidak membekal kemampuan tinggi seperti dirinya
sendiri? Bukankah mereka bakalan menjadi korban?
“Benar sekali, memang itu tujuan mereka. Dengan senjata itu,
ditambah lagi dengan keampuhan racun daerah Biauw, maka
senjata itu akan semakin mematikan. Satu yang menguntungkan,
mereka belum berhasil menyempurnakan senjata mematikan itu
hingga saat ini.......”
“Tapi, tahukah Panglima Agung bahwa enam pintu masuk sudah
dipasang jebakan beracun dan jebakan sihir....”? tanya Koay Ji
“Hmmmm, ini informasi baru bagi kami, tetapi tentu saja tidaklah
mengherankan. Karena, kamipun pasti melakukan hal yang
sama.......” jawab Panglima Agung Arcia yang terlihat memang
tidak kaget.
2843
“Dan ini sudah kuselidiki secara mendalam, semua jebakan itu
tidak akan bekerja sampai mereka memantiknya. Bisa dipastikan
besok hari mereka akan memantiknya pada saat penyerbuan
dimulai.....”
“Hmmmm, sungguh berbahaya.... tetapi kami membekal anti
racun dan juga punya tokoh ahli sihir yang cukup handal.......”
“Setidaknya jika kita sudah bersiap dengan kemungkinan itu, jelas
lebih baik dan akan mengurangi jumlah korban nanti...”
“Engkau benar Koay Hiap......”
“Kelihatannya Panglima Agung sudah melakukan penyelidikan
secara mendalam untuk jalur pintu masuk hingga nanti mencapai
markas itama lawan di Gunung Pek In San itu....”? tanya Thian
Liong Koay Hiap yang akhir-akhirnya sadar bahwa apa yang dia
tanyakan sia-sia dan tidak berguna, karena pasti memang sudah
mereka lakukan selama beberapa saat terakhir.
“Hahaha, Panglima Ilya sangat mahir dalam menyaru, dan dia
sudah melakukannya secara leluasa hingga paham dengan
sangat jelas...... Mereka membiarkan jalur menuju Markas tidak
terjaga, tetapi menyiapkan serangan gelap dengan senjata itu.
Baru menjelang Markas, maka mereka akan mengerahkan
2844
senjata itu kembali secara besar-besaran dan juga menyediakan
pasukan beracun, dikombinasikan dengan binatang-binatang
beracun asal daerah Biauw. Dapat dibayangkan betapa
berbahayanya jika tidak diantisipasi dengan tepat....” tegas
Panglima Arcia dan sudah dimaklumi Koay Ji
“Acccch, sungguh mengerikan.,,,,,, korban yang jatuh bakalan
tidak sedikit....” desis Koay Hiap dengan prihatin
“Benar sekali Koay Hiap...... kami bisa menangani senjata itu,
tetapi menangani racun hanya bisa terbatas terhadap anak buah
kami......” tegas Panglima Arcia yang tentunya dimaklumi Koay Ji
“Untuk para pendekar Tionggoan, biar lohu yang akan
menanganinya...” desis Thian Liong Koay Hiap sama tegasnya
dan sama optimistnya sehingga membuat mereka seperti saling
melengkapi.
“Tetapi, permintaan kami tetap sama, yakni agar Geberz tidaklah
dibunuh, tetapi biarkan kami yang melawan dan menangkapnya.
Kami sudah menyiapkan diri cukup lama dan menghabiskan
banyak waktu kami untuk menangkap tokoh hebat yang amat licik
itu.....” tawar Panglima Arcia karena mereka memang punya
ganjalan khusus dengan Geberz, tokoh hebat di pihak lawan.
2845
“Baik, bisa kami pahami, biarlah Geberz menjalani hukuman di
Tanah Persia, kami tidak akan mengapa-apakannya....” janji
Thian Liong Koay Hiap diberikan dan dia tahu, Koay Ji paham, dia
mesti menjamin hal itu terjadi dalam pertempuran di Pek In San
kelak, jika tidak bisa berbahaya.
“Panglima Ilya dan Panglima Shoroushi akan membicarakan
strategi besok lebih detail lagi Thian Liong Koay Hiap, karena
mereka berdua yang menyusun rencana penyerangan. Dan akan
lebih baik membicarakannya dengan kaum pendekar” usul
Panglima Agung Arcia
“Apakah Panglima Ilya bersedia jika kuajak bercakap dengan
Bengcu Tionggoan saat ini juga....”? bertanya Koay Hiap
mengharapkan persetujuan Liga Pahlawan Persia, karena saat itu
percakapan yang sama sedang berlangsung di Markas para
Pahlawan di tempat terpisah.
Atas pertanyaan Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap tersebut,
segera terlihat Pangima Agung dan juga kedua Wakil
Panglimanya saling tatap satu dengan yang lain. Dan beberapa
saat kemudian ketiganya berbicara dalam bahasa Persia yang
tidak begitu dipahami oleh Koay Ji, tetapi hanya beberapa saat
mereka bercakap seperti itu, karena Panglima Arcia kemudian
2846
menoleh kearah Koay Ji dan kembali berkata kepadanya dengan
suara khasnya:
“Baiklah, Panglima Ilya dengan didampingi Panglima Shoroushi
akan mengikuti Koay Hiap untuk merundingkan strategi
penyerangan besok hari.....” tegasnya yang sudah langsung
dengan senang disambut Koay Ji
“Ach, baik sekali jika demikian......”
Setelah percakapan itu, Thian Liong Koay Hiap masih bercakap
sejenak dengan Yu Kong dan adiknya, Hek Man Ciok dan
anaknya, dan setelah itu, diapun kemudian minta diri. Setelah
hampir 3 jam dia berada dalam tenda itu, pada akhirnya diapun
berkata kepada Panglima Agung Arcia:
“Panglima Agung, ijinkan lohu minta diri saat ini. Sementara untuk
Wakil Panglima Ilya dan Wakil Panglima Shoroushi, nanti
berjalanlah lurus ke arah barat, maka disana kelak, ada sute
termuda Bengcu Tionggoan kalian berdua. Jangan ragu, anak
muda itu juga sangatlah hebat. Dialah yang akan membawa
masuk menemui Bengcu Tionggoan saat ini......”
Menanggapi perkataan Thian Liong Koay Hiap itu, Panglima
Agung memandang Panglima Ilya dan tidak lama keduanya
2847
sama-sama tersenyum misterius dan kemudian berkata
menjawab Koay Ji:
“Baiklah Koay Hiap, kami amat paham, nach, jika demikian
sampai berjumpa di arena pertempuran besok hari....”
“Kami akan segera menyusul tidak lama lagi Koay Hiap...”
Panglima Ilya segera berkata menjelang Thian Liong Koay Hiap
keluar dari pintu tenda dan tidak lama kemudian menghikang di
balik hutan.
Dan benar saja, Panglima Ilya dan Panglima Shoroushi bertemu
dengan Koay Ji setelah kedua wakil panglima itu berjalan hampir
satu kilometer kearah barat. Dan Koay Ji yang melihat
kedatangan mereka, sudah langsung menyongsong serta
menyambut keduanya dengan penuh persahabatan;
“Jika tidak keliru, maka saat ini tecu sedang berhadapan dengan
kedua Panglima dari Liga Pahlawan Bangsa Persia, Panglima Ilya
dan Panglima Shoroushi. Apa benar demikian.....”? sambut Koay
Ji ramah dan menyenangkan kedua pendatang yang dia sambut
tersebut. Meski demikian, kedua tamu itu hanya memandang
penuh senyum kearah Koay Ji dan kemudian menganggukkan
2848
kepala dan ikut di belakang Koay Ji berjalan masuk ke lokasi para
pahlawan Tionggoan.
“Benar sekali, dan jika tidak keliru, Siauwhiap adalah Adik
Seperguruan termuda dari bengcu Tionggoan yang dipanggil
Koay Ji, benarkah.....”? tanya Ilya sambil senyum dengan
sambutan Koay Ji yang ramah. Dan Koay Ji kemudian
mengangguk sambil tersenyum dan memandang kagum dengan
kecantikan Pendeta Shoroushi, yang meski sudah berusia lebih
35 tahun tetapi terlihat cantik dan montok berisi. Tapi, senyum
perempuan cantik itu juga sangat ramah dan menunjukkan
persahabatan yang akrab antara mereka. Senyumnya bahkan
seperti sudah akrab dengan Koay Ji dan membuat Koay Ji rada
bingung.
“Ach, selamat berjumpa Panglima Ilya, Panglima Shoroushi, mari
segera kuantar untuk menjumpai Bengcu Tionggoan......” ajak
Koay Ji, dan pada saat bersamaan muncullah Sie Lan In yang
selesai melakukan perondaan mengelilingi lokasi dimana para
pahlawan Tionggoan beristirahat. Dan otomatis Koay Ji atau
dengan Sie Lan In kembali saling menyapa satu dengan yang lain,
tetapi tidaklah makan waktu yang panjang dan lama karena
merekapun kemudian berjalan berempat. Kini, bersama menuju
markas para pendekar Tionggoan.
2849
Setiba di Markas para Pendekar, pertemuan terbatas tepat sudah
mau berakhir. Maka percakapan Panglima Ilya yang datang
bersama Panglima Shoroushi bisa dengan cepat dilakukan, dan
dicapai kesepakatan untuk bekerjasama dengan detail yang
mereka sepakati. Dimana pihak Persia akan mengambil peran,
dan apakah yang mesti dilakukan agar kerjasama itu dapat
berlangsung dengan baik. Tek Ui Pangcu, Koay Ji dan kawankawan
mereka dari Tionggoan sungguh kagum dengan uraian
strategi dari Panglima Ilya. Wajar, karena mereka memang adalah
tokoh tokoh perang yang memahami strategi peperangan,
sementara Tek Ui Sinkay adalah kaum Pendekar yang
mengutamakan pertarungan satu lawan satu. Karena itu,
kehadiran Pahlawan Persia banyak membantu penentuan strategi
perang yang akan berlangsung besok hari.
Malam, percakapan itu tuntas dan diakhir dengan jamuan makan
malam dimana kedua Panglima sahabat dari Persiapun diundang
untuk ikut bergabung. Tokoh tokoh utama Tionggoan diundang
ikut hadir dan selesai jamuan makan, barulah Panglima Ilya dan
Panglima Shouroushi segera minta diri untuk melakukan
persiapan. Mereka berdua diantarkan Koay Ji, Sie Lan In, Khong
Yan dan Tio Lian Cu hingga ke pinggir hutan dan akhirnya
berpisah. Tek Ui Sinkay hanya mengantar mereka keluar dari
2850
ruangan jamuan makan, tidak mengantar hingga ke pinggir hutan.
Hal ini untuk menjaga harga diri kawan-kawan Tionggoan.
Setelah mengantar kawan-kawan Persia, Koay Ji bergabung
dengan Tio Lian Cu, Khong Yan, Sie Lan In, Bun Kwa Siang, Kang
Siauw Hong, Bun Siok Han serta juga muda-mudi asal Lembah
Cemara. Kelihatannya mereka, keluarga Lembah Cemara, mulai
lebih terbuka dengan Siauw Hong, dan juga Siauw Hong mulai
lebih membuka diri. Percakapan mereka sebenarnya ringanringan
saja, terutama membicarakan pertempuran besok, dan
Koay Ji yang paling dicecar oleh kakak beradik kembar dari
Lembah Cemara itu. Tetapi, karena disampingnya ada Sie Lan In
yang semakin lama semakin mesra, membuat kedua kakak
beradik itu perlahan-lahan jadi tahu diri dan tidak banyak
bermanja-manja lagi. Sie Lan In jelas sudah merasa lebih lepas
dan sudah merasa lebih “memiliki” Koay Ji, terutama sekali
setelah kejadian yang dirancang oleh Siauw Hong.
Tetapi tidak lama kemudian, Koay Ji dipanggil sam suhengnya,
berbicara kurang lebih setengah jam dalam nuansa serius, dan
sesudahnya dia kembali ke kelompok para anak muda kawankawannya
itu. Tetapi, itupun tidak lama karena mereka kemudian
berpisah untuk beristirahat mempersiapkan diri untuk pertarungan
esok hari. Meskipun pada saat itu Sie Lan In selalu bersama
2851
dengan Koay Ji, Kang Siauw Hong tidak sedikitpun merasa risih.
Apalagi, karena Sie Lan In memang merasa dekat dan merasa
amat senang dengan gadis manis itu yang sangat dekat dengan
kekasihnya. Dan diapun tahu, bahwa bagi kekasihnya, Kang
Siauw Hong benar-benar disayang seperti adiknya sendiri.
Maklum, tidak ada anggota keluarga yang diketahui dan dikenali
kekasihnya itu.
Seperti biasanya, Bun Kwa Siang selalu mengawal Kang Siauw
Hong sebagaimana amanat Koay Ji kepadanya secara khusus.
Selain itu, pada saat itu, juga ada Bun Siok Han yang bergabung
dan juga termasuk dalam rombongan kecil para anak muda.
Mereka terus berkumpul hingga malam hari, termasuk ketika
Kang Siauw Hong terus saja mengikuti Koay Ji dan Sie Lan In dan
otomatis Kwa Siang dan Siok Han juga ikut bergabung. Jadilah
mereka berenam seterusnya berjalan bersama mencari tempat
istirahat.
“Toako, engkau harus melihat hasil latihanku sebelum
pertempuran besok. Apakah sudah cukup memadai atau
bagaimana, jangan-jangan masih terdapat banyak sekali
kekurangan......” tetap saja Siauw Hong bermanja-manja meski
ada Sie Lan In yang senyum-senyum saja melihat tingkahnya.
2852
Sama sekali tidak cemburu dengan tingkah adik angkat
kekasihnya itu.
“Hong moy, begitu banyak orang, bagaimana bisa.....”? tolak Koay
Ji secara halus, meski dalam hati dia mengakui kebenaran
permintaan Siauw Hong. Memang saat itu amat tepat berhubung
besok adalah hari pertempuran. Dan tentu saja dia tetap
memikirkan keselamatan gadis manja yang lekat dengannya dan
kekasihnya itu. Jika terjadi apa-apa, bukankah tanggungjawabnya
juga?
“Orang banyak juga pada berlatih toako, kan sebentar saja......
lagipula, kita bisa mencari termpat yang lebih pas untuk
berlatih.....” rayu si gadis untuk memperoleh persetujuan kakak
angkatnya itu
“Engkau tahu tempatnya.....”? tanya Koay Ji akhirnya, menyerah
atas rayuan dan keinginan Siauw Hong
“Dekat dengan Barisan Pengemis Pengejar Anjing, para
Pahlawan Hebat Khong Sim Kaypang...... tidak banyak orang
disana, lagipula, para paman pengemis sangat menyayangiku.
Apalagi setelah mereka semua tahu bahwa engkau adalah
2853
toakoku, hikhik, tambah sayang dan hormat mereka semua.
Paman Kim Jie Sinkay juga sesekali suka melatihku toako”
“Ya sudah, ayo kesana” akhirnya Koay Ji menyetujui meski sedikit
kaget mendengar jika Pahlawan dan tokoh gagah Khong Sim
Kaypang punya rasa sayang juga kepada adiknya itu. Dan
akhirnya, jadilah mereka semua berenam menuju tempat yang
disebutkan Siauw Hong
Benar saja, areal yang dijaga oleh Barisan Pengemis Khong Sim
Kaypang memang agak tenang, tidak sebanyak di tempat-tempat
lainnya, dimana kelompok pendekar pada beristirahat di ruang
atau udara terbuka. Tetapi, tempat dimana mereka berada semua
dalam lingkaran yang terjaga secara ketat oleh pasukan pendam
Kaypang. Tempat penjagaan Barisan Pengemis Pengejar Anjing
memang terhitung agak longgar dan tidak banyak yang berada
disitu. Dan kesanalah Siauw Hong membawa Koay Ji untuk minta
dilatih sekali lagi.
Tanpa diminta, Siauw Hong menyapa para pengemis Khong Sim
Kaypang yang berjaga dengan suara khasnya:
“Para paman pengemis, mohon maaf, karena toakoku sangat
ingin menilik latihanku sebelum besok bertempur melawan
2854
musuh..... bolehkah kami menggunakan tempat ini untuk
berlatih.....”?
“Silahkan kouwnio, silahkan Koay Ji tayhiap, biar kami berjaga
agak lebih keluar lagi supaya bisa lebih bebas berlatih nanti...”
jawab seorang pengemis memberi mereka ijin berlatih disitu. Dan
tidak lama, Kang Siauw Hong sudah berlatih semua ilmu yang
diturunkan dan diajarkan oleh Koay Ji selama beberapa waktu
mereka bersama-sama. Dan ketika Koay Ji melihat bagaimana
adiknya itu bergerak sesuai dengan arahannya, mau tidak mau
dia harus memuji akan kemajuan dan kehebatan adiknya terkini.
Bahkan saking kagum akan kemajuan adiknya itu, diapun
kemudian berbisik kepada Sie Lan In;
“Bakat adikku itu memang istimewa, bahkan mungkin tidak
berada dibawahmu Suci, dia sangat cepat mencapai tingkat
seperti sekarang ini. Padahal kita membutuhkan waktu bertahuntahun
dan sangat lama untuk bisa mencapai tingkat seperti dia
pada saat seperti sekarang ini......”
“Sute, apa maksudmu.....? benarkah dia sehebat ini dalam waktu
singkat...? amat sulit dipercayai jika begitu.....” desis Sie Lan In
nyaris tidak percaya dengan apa yang diucapkan Koay Ji
2855
“Sebenarnya, dia beroleh kemujijatan yang diluar dugaannya.
Iweekangnya bisa meningkat demikian jauh karena dua hal;
pertama, karena iweekangnya itu adalah iweekang warisan
gwakongnya, Pek Kut Lodjin yang mewariskannya kepadanya,
dan malah bisa bertumbuh dengan sendirinya dalam tubuhnya.
Entah aliran iweekang apa, atau gwakongnya menggunakan obat
mujijat apa sehingga bisa jadi demikian. Selama puluhan tahun
tenaga itu mengeram dalam diri adikku itu dan malahan terus
bertambah kuat dari waktu kewaktu; Kedua, karena tanpa
sengaja, dia berlatih sesuai dengan tuntutan yang utama dari
iweekang perguruannya. Karena itu, dia bisa bertumbuh dengan
cara yang sangat pesat dan cepat. Selain juga, tentu saja yang
sangat menentukan adalah bakat dan kecerdasannya yang juga
memang sangat luar biasa. Dalam hal iweekang, dia sudah setara
Geberz, tetapi dalam penguasaan tata gerak atau ilmu silatnya,
masih belum cukup dalam, tetapi sudah amat hebat.....”
“Acccch, pantas jika demikian.....” desis Sie Lan In kagum dengan
permainan Siauw Hong yang menurutnya sudah amat hebat itu.
Memang benar, kekuatan tenaganya terasa amat kuat dan
tidaklah selisih jauh lagi darinya, hanya memang masih terlihat
beberapa gerakan agak kaku darinya. Jelas bahwa Siauw Hong
memang kurang latihan dan masih agak kurang pengalaman.
2856
Sementara itu, ketika memainkan Ilmu Hian Bun Sam Ciang,
Koay Ji melihat betapa Siauw Hong mengalami kemajuan yang
juga sangat luar biasa. Kemampuannya memainkan ilmu itu
sudah tidak berada dibawah kemampuan Khong Yan dan juga Tio
Lian Cu, dan ini tentu saja amat mengagetkannya. Sangat
mengagetkannya malahan. “ Engkau sungguh luar biasa adikku,
sungguh mengagumkan.....” desisnya tanpa sadar dengan suara
lemah.
Setelah lebih dari setengah jam, Siauw Hong berhenti dan
kemudian langsung dia bertanya kepada Koay Ji;
“Toako, bagaimana menurutmu....”? tanya Siauw Hong dengan
mimik wajah manja dan minta segera pendapat Koay Ji
“Engkau tinggal mematangkannya adikku, rata-rata kekeliruanmu
tinggal dalam hal kesabaran dan pengerahan iweekang. Tetapi,
semua itu hanya dapat engkau alami dan dapatkan melalui
pertempuran sesungguhnya....... untuk malam ini, tidak ada lagi
yang dapat kuajarkan kepadamu.....”
“Benarkah toako.....”? senang Siauw Hong mendengar pujian
Koay Ji yang sungguh jauh di luar dugaannya
2857
“Benar, malam ini sebaiknya engkau berlatih untuk bisa lebih
leluasa mengendalikan iweekangmu. Sebab pertempuran besok
hari, justru amatlah membutuhkan baik kekuatan iweekang
maupun kematangan penguasaan iweekang, dan ini bakalan
sangat menentukan. Dalam tarung besok, andalkan ilmu langkah
Thian Liong Pat Pian, dan usahakan jangan terlampau mudah
membunuh orang jika menggunakan ilmu mujijat yang sudah
kuajarkan....”
“Baik toako....... nach, aku berlatih dulu toako, enci Sie yang
cantik. Ingat, janganlah terlalu mesra, banyak orang di sekitar
kita.... hikhikhik...” Siauw Hong langsung berlalu atau
memisahkan diri secepatnya sebelum menerima cubitan Sie Lan
In, meskipun sebenarnya tidaklah jauh. Hanya sekedar
memisahkan diri untuk berlatih bersama Kwa Siang dan Siok Han
dan itupun tidak lama. Karena kemudian terlihat dia mulai berlatih
iweekang sesuai petunjuk yang diberikan oleh Koay Ji.
Sementara Koay Ji kemudian meladeni permintaan Bun Siok Han
yang kembali menemuinya untuk melatihnya, dan juga
berlangsung tidak lama, kurang dari satu jam saja. Baru setelah
itu, dia bisa mendapat waktu mengaso dan berbincang lebih
santai dengan kekasihnya Sie Lan In.
2858
“Suci, kemana Khong Sute dan Tio Ciangbudjin.....”? tanya Koay
Ji karena tidak melihat keberadaan kedua kawannya. Padahal,
dia ingin merundingkan beberapa urusan bersama kawankawannya
itu
“Tio Ciangbudjin meminta waktu untuk berbincang dengan para
anggota Perguruan Hoa San Pay, tetapi konon tengah malam
nantia dia akan mencari kita. Sementara Khong Sute tadi
dipanggil oleh kakek luarnya, tetapi juga tengah malam berjanji
akan bergabung kemari.....” jawab Sie Lan In yang tadi memang
sempat bercakap-cakap dengan Tio Lian Cu dan Khong Yan
sebelum mereka berpisah.
“Hmmmm, ada baiknya kitapun berlatih sebentar........ apalah
engkau sudah bisa memainkan dengan baik Ilmu Liu Hud Jiu Toh
Cu (Tangan Budha Bergerak Merebut Mustika) Suci...”? tanya
Koay Ji yang memang sangat menginginkan Sie Lan In untuk bisa
membekal ilmu mujijat perguruan mereka secara sempurna selain
menguasai juga Ilmu Hian Bun Sam Ciang. Keduanya sangatlah
penting dalam menghadapi pertarungan besok hari yang dia
perkirakan akan berlangsung secara seru, mati-matian dan
membutuhkan kesiapan ilmu yang memadai. Berhadapan dengan
lawan-lawan tangguh, maka kekasihnya membutuhkan kesiapan
mendalam dan ilmu-ilmu hebat.
2859
“Rasanya sudah kulatih berulang-ulang, dan memang ada yang
berbeda jika harus memainkan gerakan kelima tersebut.
Sepertinya kekuatan iweekangku tersedot dengan sendirinya dan
mengalir keluar dalam setiap gerakan pukulan dan sentilan
sehingga akibatnya susah diperkirakan.....” jawab Sie Lan In yang
takjub dengan ilmu itu meski efeknya dia belum pasti.
“Itulah Suci, kelihatannya, setelah kupikirkan berulang-ulang,
kedua jurus terakhir memang merupakan cara bergerak untuk
menggetarkan lawan dengan kekuatan iweekang yang mengalir
deras. Jenis iweekang menyebabkan efek yang berbeda beda
sebagai akibat pukulan iweekang tersbeut. Tetapi, bagaimana jika
kita bisa menata dan mengatur agar supaya lonjakan iweekang
yang menerjang keluar itu fokus atas satu titik belaka..... hmmm,
tapi untuk hal itu memang tak perlu sekarang kita melakukannya
atau melatihnya..... mungkin kesempatan lain...” desis Koay Ji
yang wajahnya terlihat berkerut tanda sedang berpikir.
“Hmmmm, aku juga ingin berlatih sebentar Sute.....” desis Sie Lan
In sambil menuju arena didepannya untuk berlatih. Dan diapun
meninggalkan Koay Ji yang terus termenung memikirkan katakata
terakhirnya. Sementara disana, saat itu Sie Lan In berusaha
menerapkan secara khusus satu rangkaian gerak dari ilmu
2860
terakhir yang perlu dia latih lebih jauh. Dan itu lebih ke menguji
efek apa yang akan dihasilkan dengan latihannya tersebut.
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita ML PL PANL 17 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments