Cerita Romantis Klasik PANL 5

------
“Amitabha …….. jadi memang benar Ciangbudjin Suheng sudah
kena dicelakai orang hingga tewas ……. sungguh rumit
persoalannya jika demikian. Justru karena itu, kumohon Koay
Hiap tidak kecil hati dengan sikap kami yang sangat hati-hati dan
mau tidak mau harus meneliti semua pihak yang membantu
maupun mereka yang menyusup ke Kuil kami ……” Hoat Kek
Hwesio memang terhitung awas, selalu waspada, berbeda
dengan para Pendeta Pemimpin asal Siauw Lim Sie yang ratarata
polos dan mudah mempercayai orang. Hoat Kek Hwesio
adalah salah seorang pemimpin yang berwawasan luas dan
bersikap selalu awas dan waspada, karena memang dia sering
berkelana untuk urusan Siauw Lim Sie di luar Kuil. Lebih dari itu,
dia salah satu tokoh unggul dari angkatan HOAT, yang menjadi
Angkatan Ciangbudjin Siauw Lim Sia saat ini.
“Losuhu, sejujurnya, kondisi Siauw Lim Sie saat ini memang
sangat mengkhwatirkan. Jika tidak membaca surat permintaan
langsung Ciangbudjin almarhum, maka terus terang akupun
enggan mencampuri urusan Kuil Siauw Lim Sie ini. Selain itu,
457
sudah 4,5 kali rombongan yang tak kukenali berusaha merampas
Kakek dan cucunya yang memegang rahasia kunci terbunuhnya
Ciangbudjin Siauw Lim Sie. Meskipun sudah kugebah pergi, tetapi
rombongan demi rombongan datang meski sudah kulukai secara
sangat berat satu demi satu ………”
“Amitabha …… terus terang saja, hingga kini kami sebetulnya
masih meragukan berita terbunuhnya Ciangbudjin kami itu. Meski
data-data menunjukkan kebenaran peristiwa yang sangat
mendukakan itu ….”
“Losuhu, menurutku Ciangbudjin Siauw Lim Sie itu memang
secara sengaja hendak disingkirkan. Entah apa tujuan para
penjahat itu melakukannya …….”
“Amitabha …… tentu saja mengambil kendali Kuil Siauw Lim Sie
…..” bisikan yang sekaligus juga menjadi jawaban atas
pertanyaan Koay Ji.
“Acccchhhhhh, dan mereka sudah melakukannya …….”? kejar
Koay Ji
“Benar, mereka melakukannya secara licik …… Amitabha ……”
“Maksud Losuhu …..”?
458
“Amitabha ….. tepat setelah Ciangbudjin menghilang, entah
bagaimana Ciangbudjin Siauw Lim Sie angkatan sebelumnya
justru munculkan dirinya dan memegang tanda kepercayaan
dirinya. Tetapi, anehnya, dia seperti tidak mengenali semua hal
dan berada di bawah pengaruh orang lain. Sayangnya, kami
belum menemukan kelompok yang mengendalikan Ciangbudjin
Angkatan sebelumnya itu. Dan lebih celaka lagi, Ciangbudjin
sekarang ini menghilang dengan tanda pengenalnya. Padahal,
jika bisa menunjukkan tanda pengenal itu, maka masalah di
Siauw Lim Sie saat ini akan dapat dengan mudah diselesaikan
…….”
“Accccch ….. sayang sekali ….. jika memang demikian, mestinya
aku menjaga Kakek Ong dan cucunya dengan baik sehingga
dapat menyelesaikan urusan disini dengan cara yang lebih cepat
dan baik …….” Keluh Koay Ji
“Amitabha ….. Jika memang demikian, maka dengan membawa
kedua orang itu, belum tentu engkau dapat memasuki areal Kuil
Siauw Lim Sie. Bukan hanya Pendeta Kuil Siauw Lim Sie, tetapi
kekuatan yang lain pasti akan berusaha menghabisimu ….”
“Hmmmm, tetapi mereka sudah berusaha berkali-kali mencoba
membunuhku dan merampas Kakek dan cucunya itu ……”
459
“Amitabha ….. engkau terhitung hebat dapat menghalau mereka
semua. Tetapi, belum kekuatan inti yang mereka kerahkan waktu
itu, karena semakin mendekati Kuil Siauw Lim Sie, semakin
berlipat kekuatan yang disiapkan untuk menghadangmu ……”
“Aku tahu ….. aku tahu …….. tetapi aku tidak takut ……”
“Amitabha …… orang muda, apa sebenarnya yang menjadi
kepentinganmu membela Kuil Siauw Lim Sie kami ini …….”?
“Losuhu, jawabannya sudah kukemukakan tadi …….”
“Tetapi kami tidakmengenal Suhumu sama sekali …..”
“Suhu tidak mengijinkanku memperkenalkan namanya kepada
siapapun. Tetapi, menurut dia orang tua, beliau mewajibkan anak
muridnya membela kepentingan Kuil Siauw Lim Sie. Dan ini salah
satu kewajiban kami sebagai muridnya ……”
“Amitabha ……. Apakah Suhumu yang engkau ceritakan itu
benar-benar berasal dari Kuil Siauw Lim Sie ini ……”?
“Entahlah, aku tak paham …..”
460
“Amitabha ….. Sam Suheng, Koay Hiap memahami dengan detail
beberapa Ilmu Pusaka Siauw Lim Sie kita ……….” menyela Hoat
Ho Hwesio
“Amitabha ……. iya, dengan menguasai Tay Lo Kim Kong Ciang
dan Tam Ci Sin Thong berarti dia adalah muris salah seorang
Sesepuh Siauw Lim Sie. Tetapi, benarkah dia bermaksud baik
bagi Kuil Siauw Lim Sie, agak sulit kupastikan …….” bergumam
Hoat Kek Hwesio dengan nada penuh keraguan.
“Losuhu, aku tidak membutuhkan apa-apa dari Kuil Siauw Lim Sie
ini … jika tidak untuk menghunjuk hormat bagi pesan Suhuku,
mungkin aku tidak berada disini saat ini ….”
“Amitabha ……. Anak muda, apakah engkau sanggup
menghadapi seluruh penghuni Kuil Siauw Lim Sie …..”?
“Losuhu … jika memang terlampau berat buatku, aku masih
memiliki kesempatan untuk pergi meninggalkan Kuil Siauw Lim
Sie. Dan kuyakin masih memiliki kemampuan yang memadai
untuk melakukannya dengan baik ….”
“Amitabha, tetapi bukan hanya penghuni kuils Siauw Lim Sie,
golongan penjahat yang sedang menyasar Kuil ini, juga akan
mencoba untuk menangkapmu. Apa engkau sanggup pergi dari
461
Kuil Siauw Lim Sie jika dikerubuti demikian banyak orang dan jago
tangguh dari dunia persilatan ……”?
“Entahlah Losuhu, tetapi jika untuk kebaikan, aku tidak
memikirkan keselamatan diriku sendiri, tetapi terutama
kepentingan bersama …..”
“Amitabha, baiklah anak muda. Aku tidak akan menahanmu, tidak
akan mencurigaimu. Tetapi, kalau benar engkau memutuskan
membela Kuil Siauw Lim Sie, maka engkau akan menghadapi
kekuatan luar biasa, termasuk melawan kami kakak dan beradik
perguruan yang akan menggerakkan Lo Han Tin kelak. Jika
engkau memiliki keyakinan akan kemampuanmu, hitunglah
dengan cermat masalah ini …….”
“Losuhu …… aku akan melakukan yang terbaik untuk memenuhi
amanah Suhu. Jika gagal, toch aku sudah melakukan sekuatku.
Jangan khawatirkan keselamatanku …”
“Amitabha … cuma ingin mengigatkanmu, di belakang kami, ada
kekuatan luar biasa yang tak kuketahui jelas kemampuan mereka.
Berhati-hatilah …… kemungkinan, meski kami tidak berniat
mengeroyokmu tetapi kami tetap harus melakukannya. Jika
462
engkau menemukan Kakek dan cucunya itu, maka akan jauh lebih
baik buatmu ……”
“Baiklah Losuhu …….. besok aku akan melakukan sesuatu yang
mungkin kulakukan. Semoga dapat membantu Kuil Siauw Lim Sie
……”
“Amitabha …… berhati-hatilah anak muda …….. jangan
memperlihatkan jejakmu ketika meninggalkan tempat ini. Sebab
hal itu dapat menyulitkan kami bertiga nantinya …..”
“Baik Losuhu, aku mohon diri ………”
“Amitabha ……. Anak muda, jika besok kami menghadapimu
seakan tidak mengenalmu mohon engkau memaafkan kami. Kami
punya kesulitan sendiri …….”
Koay Ji menahan langkahnya. Kaget. Tetapi kemudian
menganggukkan kepalanya dan kemudian berlalu dari ruangan
tersebut. Sebagaimana pesan Hoat Kek Hwesio tadi, maka Koay
Ji menjaga langkahnya dan berlaku sangat berhati-hati. Setelah
dia yakin bahwa tidak ada yang mengawasinya, maka diapun
melesat pergi dengan kecepatan yang sulit untuk diikuti pandang
mata manusia biasa. Tetapi, bukannya kembali ke kamarnya,
tetapi justru mengarah ke luar Kuil Siauw Lim Sie dan untuk itu
463
dia tetap bergerak dengan sangat berhati-hati. Entah apa yang
dipikirkannya, tetapi pada saat itu Koay Ji berlaku sangat berhatihati
dan seperti sedang mengamati dan menyelidiki keadaan di
luar Kuil Siauw Lim Sie.
Tetapi, setelah mengamati dengan berkeliling Kuil Siauw Lim Sie
yang sangat luas itu, Koay Ji tidak menemukan sesuatupun yang
menarik untuk diamatinya lebih jauh. Keadaan sekitar Kuil Siauw
Lim Sie sangat senyap. Tidak ada satupun tanda-tanda
kehidupan selain bunyi mahluk malam yang dengan bebas
bernyanyi dan mengiringi situasia senyap dan sepi sekelilingnya.
Setelah beberapa saat memandangi Kuil Siauw Lim Sie yang kini
nampak berada di bawah, sedikit agak ke bawah, maka akhirnya
Koay Ji memutuskan untuk meluncur kembali menuju Kuil Siauw
Lim Sie. Tetapi, sekali ini dia tidak langsung turun tetapi sekali lagi
berputar kea rah sebelah barat dan dari arah tersebut dia berniat
untuk kembali memasuki Kuil Siauw Lim Sie sebagaimana tadi dia
keluar dari kuil tersebut.
Tetapi, berbeda dengan waktu dia keluar, sekali ini Koay Ji agak
apes. Dan apesnya juga berbeda dengan yang sebelumnya.
Ketika dia bergerak untuk mendekati Kuil Siauw Lim Sie dari arah
barat, tiba-tiba dia mendengar suara mencurigakan datang dari
464
sisi sebelah kirinya. Bahkan, bukan hanya itu, tiba-tiba telinganya
mendengar suara yang berkata dengan nada lirih:
“Malam-malam mengintai Kuil Siauw Lim Sie, pasti ada maksud
buruknya ,,,,,,,”
Menyusul kemudian, kesiuran angin serangan yang mengarah ke
tubuhnya. Bukan sembarangan angin pukulan. Tetapi sebuah
angin serangan yang cepat dan kuat luar biasa dan membuat
Koay Ji sampai terperangah, karena kekuatan pukulan ini adalah
yang paling hebat yang diterimanya selama ini. Bahkan masih
lebih hebat ketimbang pukulan Hoat Ho Hwesio dan Hoat Leng
Hwesio, kedua tokoh hebat asal Siauw Lim Sie yang dihadapinya
beberapa hari lalu. Tetapi, tentu saja Koay Ji tidak limbung dan
juga gugup menghadapi serangan mendadak tersebut.
Dengan langkah ringan dia bergerak dua langkah kesamping
sambil menggerakkan lengannya untuk mendorong pergi
serangan lawan. Tetapi, alangkah kagetnya ketika lawan
bergerak dengan kecepatan yang tak dibayangkannya
sebelumnya dan tiba-tiba lengan lawan sudah berubah arah dan
menyodok kearah dada sebelah kiri dan dalam jarak yang
semakin dekat. Luar biasa, sungguh di luar dugaan Koay Ji.
Gerakan lawan luar biasa cepat dan gesitnya. Kekuatannyapun
465
bukan olah-olah. Kondisi itu membuat Koay Ji kaget dan
mendesah:
“Accchhhh …..”
Tapi, pemahamannya atas gerakan lawan membuatnya mengerti
arah mana yang akan dicecar lawan. Karena itu, Koay Ji
memutuskan bergerak dengan gerakan-gerakan aneh nan mujijat
yang dikuasainya. GerakanLiu seng liok tee (bintang luncur jatuh
ketanah) yang berasal dari Ilmu Langkah Thian Liong pat pian
(Naga langit berubah delapan kali) secara otomatis
dikeluarkannya. Dan bersamaan dengan itu, gerak Kiam hay-teng
liong (membelenggu naga dalam laut) dari Ilmu Pukulan Sian In
Sin Ciang (Lengan Sakti Bayangan Dewa) juga secara otomatis
bergerak menyambut lawan. Ilmu gerak mujijat membuatnya
bergerak merendahkan tubuh dengan sangat cepat dan
bersamaan dengan itu, kedua lengannya mengurung serang
sepasang lengan lawan hingga angin ancaman serangannya
punah dengan sendirinya. Tetapi, masih lebih berbahaya, karena
dari posisi tubuh di bawah, sebuah lengannya melancarkan
serangan berbahaya mengarah pinggang lawan.
Tetapi, serangannya tertahan ketika dia menyadari bau harum
yang tersiar dari tubuh lawan yang ramping. Dan sadarlah dia jika
466
lawannya adalah seorang perempuan. Tapi, begitupun, dia kaget
karena ketika serangannya tidak dilanjutkan, dengan cepat dan
tak masuk diakalnya adalah daya gerak lawan yang luar biasa
yang membuatnya dari pihak menyerang menjadi kembali pihak
yang didesak. Gerak melenting dalam posisi yang tidak masuk
akal membuat Koay Ji terperangah dan kondisi itu dimanfaatkan
oleh lawan perempuannya itu untuk melepaskan serangan yang
lebih berbahaya lagi. Baik karena kekuatan maupun
kecepatannya dengan luar biasa meningkat dan membuatnya
sangat kaget. Benar-benar lawan berat. Tetapi, kekagetannya
harus dibayarnya dengan posisi yang menjadi runyam, dan hanya
karena gerakan-gerakan mujijat Thian Liong Pat Pian yang
membuatnya selamat meski dengan susah payah. Sudah begitu,
sampai gebrakan yang menggunakan beberapa jurus berantai
tersebut, tak membuat keduanya sampai bisa melihat dan
mengenali siapa lawan mereka.
Tetapi, yang pasti, lawan Koay Ji juga terlihat seperti terkejut,
meski masih tak nampak wujudnya aslinya saking cepat semua
serangannya. Meski ada sedetik dia terpana, tetapi karena Koay
Ji sedang mempertahankan posisinya, tidak sempat dia melirik
seperti apa lawannya. Apalagi, ketika posisinya tegak kembali,
lawannya sudah kembali datang mencecar dengan pukulan yang
467
semakin lama semakin berbahaya. Bahkan, kini lawannya terasa
semakin emosional karena beberapa kali serangan mautnya yang
jarang muncul di Tionggoan dapat dengan mudah dikandaskan
lawan. Koay Ji memang bergerak dengan tepat mengantisipasi
semua serangan hebat lawan perempuan yang belum dapat
dilihat bentuknya itu. Lebih dari itu, setelah pengalaman pahitnya
Koay Ji perlahan menjadi emosi juga. Setelah berkali-kali
disudutkan lawan membuat Koay Ji mengerahkan kekuatannya
melebihi pertarungan-pertarungan yang dilakukannya
sebelumnya. Dan kekuatan yang terpancar malah memiliki daya
hisap yang kuat.
Bahkan, sekali ini karena hebatnya sang lawan meski dia sudah
tahu adalah seorang perempuan, Koay Ji sampai menggunakan
ilmu totok, atau ilmu Pa Hiat Sin Kong atau ilmu sakti menotok
jalan darah. Berbeda dengan ilmu totok mujijatnya, Ilmu totok ini
adalah sebuah Ilmu Pukulan Khusus yang membendung dan
menutup semua alur serangan lawan dengan memukul dan
menutul simpul-simpul pengerahan tenaga dan kekuatan di tubuh
lawan. Akibat serangan-serangan antisipatifnya, penyerangnya
menjadi murka dan tiba-tiba dia mendesis marah:
“Terimalah ……..”
468
Dan selajur serangan berwarna kebiruan melesat cepat kea rah
Koay Ji. Tetapi Koay Ji yang sudah siap sedia tidak lagi main
mundur, bahkan dengan cepat dia bergerak dan kemudian
mengibaskan lengannya. Akibatnya luar biasa. Tidak terdengar
ledakan yang keras dan membahana, tetapi beberapa saat
kemudian satu tubuh terlontar kebelakang dan satu tubuh lainnya
melesat dengan cepat menjauh dari arena tarung itu. Apa yang
sebenarnya barusan terjadi?
Melihat lawan mengeluarkan Ilmu yang sekilas dikenali Koay Ji
sebagai sebuah Ilmu Sakti dan langka, Kim Kong Ciang Hoat
(Ilmu Pukulan Cahaya Emas) yang nyaris mirip dengan Tay Lo
Kim Kong Ciang asal Siauw Lim Sie, Ilmu yang menurut Suhunya
adalah milik dari tokoh serupa dewa yang hidup di Lautan Selatan
bernama Lam Hay Sinni (Pendeta Laut Selatan). Dan jika
demikian, lawannya sekali ini adalah tokoh dengan latar belakang
yang luar biasa, dan tentu saja dia tidak mau mengikat tali
dendam dengannya. Apalagi selain murid Tokoh Dewa, juga
lawannya ini seorang perempuan pula. Karena itu, Koay Ji
memutuskan untuk segera menyingkir sebelum persoalan mereka
makin rumit dan bisa terlihat banyak pihak. Dan jika berkelanjutan
bisa menanam dendam antara mereka.
469
Tepat ketika pukulan mujijat itu menyerangnya, diapun
mengerahkan tenaga mujijatnya dari Pouw Tee Pwe Yap Sian
Sinkang. Ilmu yang telah diserap dan dipelajarinya secara lebih
mendalam dan lebih detail ini memampukannya untuk menangkis
bukan hanya serangan mujijat lawan, tetapi bahkan mampu
memunahkannya tanpa melukai dirinya dan melukai lawannya.
Tetapi, untuk menahan kejaran lawan yang dia tahu punya
keistimewaan dalam ginkang dan gerak yang sangat cepat, dia
menyisipkan satu gelombang kekuatan susulan yang akan
mampu menahan lawan untuk mengejarnya. Karena itu, seperti
sudah diperhitungkan secara cermat oleh Koay Ji, lawan tiba-tiba
terperangkap oleh benturan kekuatan namun yang sebenarnya
pantulan kekuatan Koay Ji “kosong”, alias tidak punya daya
gempur. Pada saat itulah Koay Ji melesat pergi meninggalkan
arena pertempuran.
Lawannya, begitu melihat Koai Ji melesat pergi hendak
meninggalkannya, tiba-tiba melepas pusaran kekuatan miliknya
dan berniat untuk dengan cepatnya melakukan pengejaran.
Tetapi, alangkah kagetnya ketika baru saja dia hendak bergerak
pergi, tiba-tiba ada gelombang angin pukulan susulan yang
menerpanya dengan cepat. Tapi, ketika mengerahkan kekuatan
melawan dan menggempur, dia jadi kesal karena ternyata angin
470
pukulan itupun kosong dan tidak berbahaya. Dan lawan sudah
pergi meninggalkannya dalam hitungan 3,4 detik dan sudah
cukup jauh di depan. Hal ini sungguh memukul harga diri dan
kesombongannya dan merangsang amarahnya untuk segera
bergerak melakukan pengejaran.
“Kurang ajar ……” desisnya dan kemudian mencelat mengejar
Tapi, cara mengejarnya yang luar biasa. Sepasang kakinya tak
perlu ditekuk untuk melayang maju mengejar. Begitu berkata
“kurang ajar”, tiba-tiba saja tubuhnya mengapung dan kemudian
melesat cepat, lebih cepat dari kecepatan Koay Ji untuk pergi
meninggalkan arena tadi. Bahkan, gaya dan kegesitan
perempuan yang tadi jadi lawan Koay Ji itu, masih melampaui
Koay Ji sendiri, dan mampu memperpendek jarak antara
keduanya. Sayangnya, Koay Ji sudah terlebih dahulu memasuki
kompleks Kuil Siauw Lim Sie. Sudah dua detik dia memasuki
kompleks Kuil Siauw Lim Sie sebelum bayangan pengejarnya
sampai di titik dia memasuki kompleks Kuil Siauw Lim Sie. Tetapi,
perempuan itu masih sempat melihat bayangan Koay Ji yang
menghilang tidak jauh dari tempatnya menyandak.
Kembali dia mencelat mengejar, tetapi ketika sampai di tempat
Koay Ji tadi terakhir dilihatnya, kembali tubuh Koay Ji mencelat di
471
titik berbeda. Bahkan kemudian tubuh Koay Ji dan bayangannya
menghilang. Perempuan itu penasaran bukan main. Kembali dia
mencelat dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tetapi, sekali
ini dia tidak lagi mampu menemukan kemana dan dimana
bayangan tubuh Koay Ji. Tetapi, dia yakin bayangan tubuh Koay
Ji menghilang di pesanggrahan tempat tamu Siauw Lim Sie
menginap. Pada saat itu, waktu sudah menunjukkan jauh malam,
atau bahkan sudah menjelang subuh. Kira-kira sudah mendekati
atau mungkin melewati pukul 5 subuh. Ketika tiba di
pesanggrahan itu dia menjadi heran karena tidak lagi bisa melihat
dan menemukan bayangan tubuh Koay Ji. Dan dia jadi penasaran
bukan buatan. Mata dan konsentrasinya bekerja mencari dan
menjelajah, tetapi tetap tidak menemukan sesuatu yang
mencurigakan. Semua senyap dan sepi. Keadaan itu
membuatnya curiga dengan rumah kecil dan terpisah agak
berjauhan dengan deretan rumah-rumah kecil indah lainnya di
kompleks pesanggrahan tamu terhormat Kuil Siauw Lim Sie ini.
Karena di situlah dia terakhir kali melihat dan melacak bayangan
Koay Ji dan setelahnya baru dia kehilangan jejak orang yang
dikejarnya itu.
Telinganya yang tajam menangkap ada gerakan kaki yang agak
berat dalam rumah istirahat yang sedikit terpisah dari yang
472
lainnya. Karena curiga, dia terus berdiam diri dan menunggu
gerakan kaki selanjutnya. Tetapi, dia mengerutkan keningnya,
karena gerakan kaki dalam rumah itu tanda seorang dengan
gerakan tanpa kepandaian, berat dan tidak bertenaga dalam.
“Tidak mungkin dia yang kucari ………” desisnya dalam hati dan
sekaligus penasaran. Lebih kaget lagi ketika pintu rumah itu
terbuka dan dia bisa melihat wajah seorang pemuda yang gagah
dan sinar mata yang lembut dan bening, pertanda yang sangat
jelas jika pemuda itu tidak menguasai tenaga dalam, keluar dari
pintu rumah tersebut.
Dipandanginya pemuda tersebut dengan curiga. Usianya paling
belum 20 tahun, paling banyak 18 atau 19 tahun. Tetapi, tubuhnya
tegap dan gagah, meski tidak terlampau tinggi. Perempuan itu
memandangi sampai pemuda itu kemudian berjalan menuju ke
tempat dimana air disediakan untuk para tamu. Kelihatannya si
pemuda seperti ingin membasuh wajahnya. Dengan mata heran
dipandanginya semua yang dikerjakan pemuda itu, sementara si
pemuda sendiri kelihatannya sama sekali tidak menyadari
kehadirannya. Juga terlihat tetap tidak tahu sejak kapan
perempuan itu pergi, karena memang dia tidak menyadari
kehadirannya sejak awalnya. Dan kegiatan pemuda itu seperti
mengawali aktifitas lainnya di Kuil Siauw Lim Sie, karena
473
kemudian beberapa langkah kaki mulai terdengar di berapa
bagian kuil. Tapi, perempuan yang memburu Koay Ji sudah raib
entah kemana.
Hal yang luar biasa adalah, di pesanggrahan itu sebetulnya
tinggal beberapa orang hebat. Tamu-tamu Siauw Lim Sie tinggal
disana, tetapi mereka sama sekali tidak dapat mengetahui
kedatangan Koay Ji dan si Perempuan Misterius ke tempat
mereka, para tamu itu beristirahat. Bisa dipahami, karena Koay Ji
memang menggunakan kekuatan dan kemampuan bergeraknya
yang istimewa. Sementara Perempuan Misterius itu, justru lebih
hebat dan lebih mujijat lagi ilmu gerak dan ginkangnya. Hal yang
membuat Koay Ji terkejut dan terkesima dan harus
mengundurkan perempuan itu dengan cara kekerasan sebelum
dapat lepas dari kejarannya. Satu hal yang pasti, Koay Ji kini
sangat berhati-hati dan tahu, bahwa banyak orang hebat di Siauw
Lim Sie, sebagiannya justru belum dia kenali dan ketahui dengan
baik.
Tidak banyak orang yang tahu kejadian kejar-kejaran antara Koay
Ji dan si Perempuan Misterius tadi, tapi satu hal yang pasti
adalah, setelah si Pemuda yang dicurigai sang perempuan
misterius bangun, tak lama kemudian gadis kecil hitam manis
yang datang bersamanya ikut bangun. Dia menyusul si pemuda
474
yang sedang membasuh wajahnya dan tak lama kemudian
keduanya bersenda gurau kembali berjalan balik, tetapi dengan
tujuan yang berbeda. Si pemuda ingin kembali ke ruangannya,
sementara si gadis lain lagi, seperti sedang mengajak si pemuda
mengikutinya ajakan dan kemauannya menuju ke tempat yang
lain:
“Ayolah koko, engkau boleh menimba pengalaman dari latihanku
……” rengek si gadis sedikit manja dan merajuk
“Acccch, Hoa moy adikku, aku kan tidak mengerti ilmu silat ……..”
“Ayolah koko, temani aku ….. kata kakek, kalau engkau mau
berlatih, engkau sangat mungkin menjadi pendekar hebat. Kakek
tidak pernah mendustai aku ….”
“Achhhhh, tapi aku tidak begitu menyukai ilmu silat adikku ……..
engkau pergilah sana, berlatih dengan kakekmu ……”
“Tidak mau ….. harus ditemani engkau koko ……”
Melihat kemanjaan dan kekeras-kepalaan si gadis cilik itu,
akhirnya sang pemudapun mengalah. Dan diapun berkata:
“Baiklah ……. ayolah kutemani engkau ke tempat latihan itu ……,”
475
“Horeeeeeee …… begitu baru kakak yang baik ……..”
Dengan tanpa rasa malu dan jengah sedikitpun, si gadis cilik
segera merangkul lengan si pemuda dan keduanya berjalan
menuju tempat yang akan digunakan si gadis dan kakeknya untuk
berlatih. Keduanya berlalu dan menuju ke pinggir hutan yang
nampak memiliki lapangan yang memadai untuk dipakai berlatih
ilmu silat. Dan lebih kebetulan lagi, adalah, pagi yang menjelang
datang itu memang cerah, dan saat yang tepat untuk dipakai
berlatih Ilmu Silat.
Pagi menjadi siang dan suasana Siauw Lim Sie terlihat sangat
tenang. Benar-benarkah memang demikian tenang? Entahlah.
Yang jelas, tidak terlihat ada ketegangan maupun gejolak dari
luar, dan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan
sampai menjelang sore ketika sebuah suara menggelegar
memenuhi angkasa dan rasanya suara itu dapat di dengar dari
seluruh penjuru dan pelosok Kuil Siauw Lim Sie. Siapa gerangan
yang melepaskan suara itu? Atau siapa pula yang demikian
berani mati untuk datang mengganggu ketenangan Kuil Siauw
Lim Sie ….”?
Siang yang sebetulnya tenang di Kuil Siauw Lim Sie, dihebohkan
dengan sebuah suara yang sangat keras dan pekak:
476
“Thian Liong Koay Hiap datang memenuhi janji untuk
mengunjungi dan ingin lebih mengenali keadaan dan kehebatan
Kuil Siauw Lim Sie yang diagungkan terhebat sepanjang sejara
Dunia Persilatan …..”
Di halaman depan, beberapa puluh meter dari pintu gerbang
entah sejak kapan telah berdiri sesosok tubuh tegap, wajah
seorang yang memasuki usia pertengahan yang sudah matang
dan terlihat berdiri dengan penuh rasa percaya diri. Dengan
tenang dan sikap menanti, dia bersedekap dan membiarkan
dalam waktu singkat lapangan terbuka itu dipenuhi Pendeta
Siauw Lim Sie dari berbagai angkatan dan menempatkan dirinya
terkurung di tengah-tengah lingkaran Pendeta Siauw Lim Sie
tersebut. Rupanya, suara tantangan yang dikeluarkan Thian Liong
Koay Hiap membuat geger Kuil Siauw Lim Sie dan terbukti, tidak
berapa lama kemudian, terlihat mendatangi seluruh kekuatan
Siauw Lim Sie kecuali sang “Ciangbudjin”.
Seluruh kekuatan yang dimaksud adalah dengan tampilnya Hoat
Bun Siansu yang menjabat sebagai Wakil Ciangbudjin, Hoat Kek
Hwesio yang merupakan tokoh Hwesio paling cerdik dari
angkatan HOAT, kemudian menyusul juga hadir Hoat Kong
Hwesio, Hoat Leng Hwesio dan Hoat Ho Hwesio. Yang tidak
muncul adalah Hoat It Hwesio, entah berada dimana tokoh
477
tersebut. Sebagaimana diketahui, Hoat San Hwesio, tokoh yang
menjabat Ciangbudjin Siauw Lim Sie terbunuh dan ditemukan
oleh Kakek Ong dan Cucunya. Surat Ciangbudjin ini sempat
dibaca Thian Liong Koay Hiap dan surat itu yang menuntunnya
datang hingga ke Kuil Siauw Lim Sie, meskipun dia sudah diberi
tahu akan menghadapi kesulitan yang sangat besar.
Rombongan atau tepatnya, pihak Siauw Lim Sie yang lengkap
dengan semua tokoh utama mereka kecuali Ciangbudjin Siauw
Lim Sie, kini dipimpin oleh Hoat Bun Siansu menghadapi Thian
Liong Koay Hiap. Tokoh yang menjadi Wakil Ciangbudjin ini
langsung memimpin pihak Kuilnya dan ini membuat Hoat Bun
Hwesio terlihat penuh wibawa. Dia berdiri berdampingan
langsung dengan Hoat Kek Hwesio yang sejak kedatangan
mereka, terlihat keduanya sering berbisik-bisik dan sepertinya
sedang berdiskusi dan membicarakan situasi yang sedang
mereka hadapi saat itu. Setelah berbicang-bincangnya selesai,
disusul beberapa saat kemudian, terdengar Hoat Bun Hwesio
berkata dengan suara lembut dan penuh wibawa;
“Amitabha …… Thian Liong Koay Hiap Sicu, ada apa gerangan
sampai engkau berteriak-teriak di lapangan terbuka Kuil Siauw
Lim Sie? Bukankah akan menjadi lebih terhormat jika engkau
478
masuk dengan baik-baik dan kita bercakap cakap dengan cara
yang lebih baik dan terhormat ……”?
“Mestinya memang begitu, tetapi sayang sekali meskipun
berusaha membantu pihak Kuil Siauw Lim Sie terkait Ciangbudjin
mereka yang dilukai pihak luar, ecccch, justru dikejar-kejar dan
diburu orang …..”
Mendengar kalimat Koay Ji yang tanpa tedeng aling-aling, pihak
Siauw Lim Sie terlihat keki dan tidak tahu harus mengatakan apa.
Bahkan Hoat Kek Hwesio yang biasanya cerdik terlihat terdiam,
tetapi tidak untuk waktu yang lama. Apalagi, dia paham betul
maksud kedatangan Koay Ji, hanya sampai saat itu dia masih
belum menemukan jalan terbaik untuk menyelesaikan persoalan
Kuil Siauw Lim Sie. Terlampau banyak nyawa yang dipertaruhkan
selain keselamatan ratusan nyawa Pendeta di Siauw Lim Sie.
Karena itu, dia menyerahkan kepada Wakil Ciangbujdin dan
melihat apa yang dapat dilakukan sesuai tuntutan waktu.
Sementara itu, Koay Ji nampaknya sudah jelas dengan posisinya.
Dia tahu bahwa yang dihadapinya bukanlah Kuil Siauw Lim Sie,
tetapi orang-orang yang bersembunyi di balik kegelapan dan
memerintah Kuil Siauw Lim Sie dengan seorang Ciangbudjin
boneka. Koay Ji yang tahu dengan trik itu merasa apa boleh buat,
479
dia harus menghadapi kedua kekuatan yang maha hebat itu.
Bahkanpun jika harus dengan kekerasan. Dan untuk itu, Koay Ji
merasa siap karena dia tahu, meski tidak berkemampuan
mengalahkan semua orang, tetapi setidaknya dapat membuka
persoalan besar yang membuat Kuil Siauw Lim Sie tersudut dan
tidak dapat melawan para penjahat yang menekan mereka.
“Amitabha …… sungguh tajam kata-kata Sicu …… tapi, apakah
engkau memang tahu bagaimana keadaan Ciangbudjin kami
yang terpancing pergi ke luar Kuil Siauw Lim Sie kami ini ….? Dan
bersediakah engkau menjelaskan kepada kami”?
“Hmmmmm, pada saatnya akan kuberitahukan. Ciangbudjin
Siauw Lim Sie memang dipancing orang ke luar kuil guna
menggantikannya dengan tokoh yang mudah dan memang sudah
mereka kendalikan. Tetapi, syukurlah, aku dapat mengetahui
jejak Ciangbudjin yang asli dan sekarang mengunjungi Kuil Siauw
Lim Sie untuk mengetahui siapa-siapa saja yang terlibat
pengkhianatan di Kuil Siauw Lim Sie …..”
“Amitabha ……. Kuil Siauw Lim Sie memiliki aturannya sendiri.
Ciangbudjin Siauw Lim Sie berada di dalam Kuil Siauw Lim Sie
……”
480
“Baiklah, jika memang demikian, aku, Thian Liong Koay Hiap
menantang Ciangbudjin Siauw Lim Sie untuk adu kesaktian.
Apakah dia berani mempertarukahkan nama besar Siauw Lim Sie
dengan melawanku disini ….”? keras dan tegas suara Koay Ji,
sampai Hoat Kek Hwesio sendiri kaget dengan strategi yang
sedang dimainkan olehnya. Karena, percakapan mereka terakhir,
bukan seperti ini jalan yang akan ditempuh oleh Koay Ji, tetapi
jalan yang lebih lunak dengan menyelidiki langsung dari dalam
Kuil Siauw Lim Sie. Echhhh, tahu-tahu Koay Ji langsung
memutuskan untuk menantang Ciangbudjin Siauw Lim Sie.
Sontak Hoat Kek Hwesio ragu, cemas dan mulai khawatir dengan
keselamatan Koay Ji.
“Amitabha …… sicu, Kuil Siauw Lim Sie memiliki tradisi panjang
dan peraturan sendiri menghadapi tantangan dari luar. Jika tanpa
maksud khusus, tidak mungkin Ciangbudjin akan bersedia
melakukan pibu denganmu ……..”
“Taruhannya adalah keselamatan Siauw Lim Sie sendiri. Karena
paham betul bahwa Ciangbudjin saat ini adalah “palsu” dan
“boneka” orang, maka sudah kuputuskan untuk menantangnya
dan sekaligus menantang semua pihak yang ingin mengangkangi
Kuil Siauw Lim Sie dan mereka semua bersembunyi tidak jauh
dari tempat ini. Kuberitahu kepada kalian semua, kalian akan
481
berhadapan denganku ……” sungguh lantang dan terkesan
sombong kalimat Koay Ji. Padahal, kalimat itu memang sudah
direncanakan sejak semalam setelah sadar bahwa para penjahat
memang berada di sekitar Kuil Siauw Lim Sie dan sedang ikut
menyaksikan aksinya.
“Amitabha …… Sicu, karena engkau menantang Ciangbudjin
Siauw Lim Sie, maka palsu ataupun tidak, bukan persoalanmu.
Tetapi, menghadapi CIangbudjin Siauw Lim Sie mengharuskan
engkau lolos terlebih dahulu dari Barisan Lo Han Tin. Jika engkau
selamat dari kurungan barisan ini, maka engkau akan memiliki
kesempatan untuk langsung menantangnya. Jika tidak, maka
kami berharap engkau pergi meninggalkan Kuil Siauw Lim Sie
secara baik-baik …….”
“Aku siap menghadapi Barisan Lo Han Tin ……..” jawab Koay Ji
nyaris tanpa ekspresi, apalagi merasa ketakutan, tidak sama
sekali.
“AMitabha ….. satu hal lagi Sicu …… rintangan untuk menantang
langsung Ciangbudjin adalah Barisan Utama Lo Han Tin yang
pintu-pintu utamanya akan dijaga oleh tokoh angkatan HOAT.
Karena itu, lebih baik, berpikirlah sekali lagi ……”
482
“Keputusanku sudah bulat …… silahkan, aku ingin merasakan
kekuatan Barisan Lo Han Tin yang termasyur itu ……”
Kalimat singkat Koay Ji membuat Hoat Bun Siansu melirik Hoat
Kek Hwesio, dan keduanya saling menganggukkan kepala tanda
bahwa keputusan sudah dijatuhkan. Karena itu, Hoat Bun Siansu
selaku pemegang kewenangan tertinggi di arena pada saat itu
kemudian mengeluarkan perintah:
“Barisan Lo Han Tin ………..”
Serentak dengan itu terdengar bunyi derap kaki yang luar biasa
banyaknya. Dan sekejap kemudian 72 Padri Kuil Siauw Lim Sie
sudah terbentang di lapangan tersebut, bersamaan dengan
menepinya Padri Siauw Lim Sie lainnya hingga membuat
lapangan menjadi lega. Apalagi Hoat Kek Hwesio dan Hoat Kong
Hwesio sudah ikut bergabung dengan Barisan itu dan menjaga 2
pintu vital dari Lo Han Tin. Dengan bergabungnya kedua tokoh
utama itu, maka bisa dipastikan, Barisan Lo Han Tin ini adalah
Barisan Utama yang disajikan untuk Koay Ji. Tentu saja Koay Ji
memperhatikan bagaimana Padri Siauw Lim Sie membentuk
barisan itu secara tertib, disiplin dan dalam waktu singkat meski
berisikan demikian banyak orang. Ketika 70 Padri Siauw Lim Sie
pada akhirnya berhasil membentuk barisan, pada akhirnya dua
483
tubuh melayang menjaga 2 titik utamanya, yakni merekalah Hoat
Kek Hwesio dan Hoat Kong Hwesio. Setelah mereka berdiri pada
posisinya, Hoat Kek Hwesio kemudian melirik Hoat Bun Siansu
dan kemudian menganggukkan kepalanya.
Isyarat memulai sudah diberikan. Artinya, detik-detik selanjutnya
adalah detik-detik yang menentukan. Koay Ji memaklumi hal itu.
Untungnya, sedikit banyak dia sudah melihat bagaimana Barisan
Mujijat itu menghadapi Kakek Siu Pi Cong yang dahsyat berapa
hari lewat. Dan yang disaksikannya seakan membenarkan apa
yang pernah diturunkan Suhunya mengenai Lo Han Tin. Prinsip
dasarnya, cara bergeraknya dan bagaimana cara menyusun
Barisan serta melatihnya. Memang benar, bukan rahasia utama
Barisan Lo Han Tin, tetapi Koay Ji sudah memperoleh banyak
informasi penting bagaimana menghadapi Barisan Mujijat
andalan Kuil Siauw Lim Sie.
“Amitabha …… silahkan sicu memasuki Barisan Lo Han Tin kami
dari Kuil Siauw Lim Sie jika memang Sicu ingin tampil menantang
dan menghadapi Ciangbudjin Siauw Lim Sie kami ….. siancay ….
siancay ……”
484
“Apakah jika dapat melewati Barisan Lo Han Tin ini artinya aku
akan dapat bertemu dan berhadapan dengan Ciangbudjin Siauw
Lim Sie ……”?
“Tepat sekali ……….. Loni akan mengupayakan engkau
menjumpai dan bertarung dalam pibu dengan CIangbudjin …..”
“Baiklah …….”
Setelah kalimat singkat yang terakhir itu, dengan langkah lebar
Koay Ji kemudian mendekati Barisan Lo Han Tin. Dia tidak
melompat memasuki Barisan yang bagian tengahnya dibiarkan
kosong, tetapi dengan langkah perlahan namun penuh percaya
diri dia berjalan masuk. Pintu utama yang dikawan Hoat Kek
Hwesio dengan segera menyibak dan memberi jalan kepada
Koay Ji yang berjalan masuk dengan diiringi pandangan heran
Hoat Kek Hwesio.
“Sungguh takabur orang ini ……..” begitu mungkin pikiran dan
perasaan Hoat Kek Hwesio yang sebenarnya belum cukup
mengenal Koay Ji. Kecuali bahwa melalui Hoat Ho Hwesio dan
Hoat Leng Hwesio yang memberitahu bahwa Koay Ji merupakan
salah satu tokoh ampuh yang bahkan menguasai dengan baik
ilmu-ilmu mujijat Siauw Lim Sie. Tetapi, tetap saja bagi Hoat Kek
485
Hwesio terbersit rasa ragu terhadap Koay Ji. Bahkan bertanyatanya
dalam hatinya, “siapa Koay Ji yang sebenarnya? siapa
suhunya dan apa hubungannya dengan Siauw Lim Sie ……”?
Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu sirna dan raib begitu Koay Ji
masuk dan kemudian berkata dengan suara tenang:
“Baiklah, aku sudah memasuki Barisan Lo Han Tin, siap
menerima pelajaran ….”
Beberapa saat kemudian barisan Lo Han Tin mulai bergerak.
Lambat namun dengan derap yang merusak pendengaran.
Tetapi, tentu saja seorang Koay Ji tidak akan sedemikian mudah
runtuh hanya karena derap langkah kaki para Padri Siauw Lim Sie
yang mengepungnya. Tetapi, derap langkah tersebut semakin
lama semakin hebat dan Koay Ji masih tetap berdiam diri. Salah
satu pesan Suhunya adalah, Lo Han Tin harus dilawan sesuai
dengan karakter yang sedang dimainkannya. Jika dia bergerak
cepat, jangan pernah mencoba mengimbanginya, jika dia
bergerak lamban jangan pernah coba memandangnya sepele.
Harus lambat tetapi cepat, keras tetapi lembut, jangan pernah
membentur kekuatan melawan kekuatan, karena gabungan
tenaga 72 Padri Siauw Lim Sie bakalan tidak terlawan siapapun.
486
Hal ini disadari betul oleh Koay Ji. Tetapi, setelah belajar banyak
kitab-kitab mujijat, termasuk dua ilmu mujijat yang kini
dikuasainya dengan sempurna, yakni Pouw Tee Pwe Yap Sian
Sinkang dan Toa Pan Yo Hiankang, maka Koay Ji memiliki
hitungan sendiri. Dia mampu memainkan dan mengalihkan serta
bahkan menolak balik serangan iweekang, dia mampu bertindak
sangat lembut melawan kekuatan kasar dan keras. Bahkan dia
mampu mengenali dasar gerakan lawan dan antisipasi atas jenis
serangan serta kemana arah serangan, termasuk serangan
susulan. Tetapi, meksi demikian, dia belum pernah
mempraktekkan semua kemampuan mujijatnya itu. Tetai sekali
ini, dalam upaya melawan dan melewati hadangan 72 tokoh hebat
Siauw Lim Sie secara serentak dalam sebuah Barisan Lo Han Tin
yang termasyur dari Kuil Siauw Lim Sie, Koay Ji benar-benar
mengalami ujian hebat …..
Pengetahuan awal terhadap Lo Han Tin dan melihat bagaimana
Kakek Siu Pi Cong menghadapi Barisan ini memang banyak
membantu. Koay Ji bergerak ketika barisan itu mulai bergerak
menyerangnya, tetapi karena barisan itu bergerak cepat, maka
Koay Ji sesuai petunjuk Suhunya tidak berusaha
mengimbanginya dalam kecepatan. Bukannya bergerak cepat,
dia justru memusatkan konsentrasinya untuk mengetahui
487
bagaimana komposisi barisan itu dan bagaimana mereka
bergerak. Berhubung menghadapi Padri Siauw Lim Sie yang
demikian banyak dan bergerak dalam keteraturan, membuat Koay
Jim au tidak mau harus bersikap serius. Apalagi ketika barisan itu
mulai menghujaninya dengan serangan-serangan beragam, baik
yang menggunakan tongkat maupun dengan pukulan dan
tendangan. Hebatnya, sekali menerima serangan, ada sekitar 9
Padri yang melakukannya.
Karena kini barisan itu tidak banyak bergerak cepat, maka
bergantian Koay Ji yang bergerak cepat sekarang. Karena setiap
menyerang Barisan menggunakan selapisan Padri berjumlah 9
orang, maka kecepatan Koay Ji adalah untuk membendung
serangan itu dan menghindari sebagiannya. Dan benar saja,
Barisan itu dengan cepat dan secara bergelombang
menyerangnya lapis demi lapis. Bergantian, bagi menggunakan
tongkat, tendangan maupun lengan kosong. Setiap lapisan
penyerang berjumlah 9 Padri, dan lapisan lainnya menjaga semua
ruang yang ditinggalkan kawan-kawan mereka untuk menyerang.
Karena itu, sekilas Koay Ji mengalami badai serangan yang tidak
ada henti-hentinya. Awalnya Koay Ji mengira resep sederhana
Suhunya cukup memadai, padahal kalimat lainnya adalah: awasi
488
dan sesuaikan gerakanmu, karena selanjutnya tergantung
pemahamanmu dan kecerdasanmu menghadapi Lo Han Tin.
Bagi pendekar biasa, cukup tiba di tingkat serangan membadai
sudah akan membuat mereka jatuh. Siapa yang sanggup
menerima gelombang serangan Lo Han Tin yang setiap
serangannya dilakukan 9 orang dan penjagaan atas keselamatan
mereka dilakukan oleh lapis penjagaan yang sangat banyak.
Pada tahapan ini Koay Ji mampu bertahan karena ketenangan
dan pengetahuan awalnya, tetapi harus mengandalkan
kemampuan ginkang dan gerak mujijatnya untuk bertahan.
Menghadapi gempuran hingga sembilan serangan dalam waktu
beberapa ketika sungguh membuat orang kewalahan. Tetapi
Koay Ji dengan cerdik menggunakan Ilmu khas yang mujijat,
yakni membentur dan mengalihkan kekuatan serangan lawan.
Dengan cara itu, dia tidak menggunakan banyak hawa murninya
sendiri. Apalagi kemampuan lawan dalam menyerang luar biasa
hebat, penuh variasi dan mencecar seluruh bagian tubuhnya.
Sungguh pertempuran yang banyak mengajar dan memberi Koay
Ji pengalaman dan pengetahuan baru dalam perspektif ilmu-ilmu
yang dikuasainya. Pertarungan sekali ini boleh dibilang
merupakan latihan pematangan Koay Ji atas pemahamannya
489
terhadap Ilmu Silatnya sendiri dan juga bagaimana mengatur
tenaga dalam bertarung.
Tetapi, ada kekuatan luar biasa Koay Ji yang membuat dia
mampu menahan serangan membadai dari Barisan Lo Han Tin.
Daya hisap dan daya kemampuannya mengalihkan kekuatan
serangan lawan sungguh-sungguh hebat. Karena itu, dengan
bergerak cepat dan kemudian menggerakkan lengannya,
dapatlah dia mematahkan badai serangan Barisan Siauw Lim Sie
yang mujijat itu. Bahkan dengan 3,4 gerakan lengannya, biasanya
dia mampu menawarkan serangan 9 Padri Siauw Lim Sie dan
membuat serangan mereka tidak berguna. Keadaan itu membuat
kagum lawan-lawannya, apalagi karena Koay Ji tidak membalas
dan membenturkan serangan Padri Siauw Lim Sie itu hingga
saling melukai.
Setelah semua lapisan Barisan Lo Han Tin menyerang Koay Ji
dalam 2 putaran dan tidak membawa keuntungan sedikitpun,
tidak mampu mendesak Koay Ji, Barisan itu kemudian berputar
kembali dengan cepat dan tetap rapih. Tetapi setelah berputar 2-
3 putaran, barisan itu berubah bentuk menjadi bentuk huruf U
menghadapi Koay ji. Koay ji sendiri tidak berada di luar huruf U,
tetapi dibiarkan berada sejajar dengan barisan paling ujung di
kedua sisi. Tetapi, posisi itu tidaklah lama, karena segera 9 orang
490
kembali mendekati Koay Ji dan menyerang dengan
menggunakan tongkat. Cepat, kuat dan bertenaga. Setelah
putaran pertempuran yang pertama, sebuah pertempuran basabasi
karena sebetulnya lebih sebagai pemanasan bagi kedua
pihak, maka pertempuran di ronde selanjutnya menjadi semakin
seru. Karena dinding kiri dan kanan dikedua sisi Koay Ji juga
melakukan persiapan untuk sekali-sekali menyerang atau
melindungi kawan-kawan mereka yang sedang bertarung. Sisi
depan yang kosong rupanya memang dibiarkan begitu karena
tempat dimana barisan penyerang keluar dan kemudian
menyusun barisan baru menutup celah tersebut.
Sekali ini Koay Ji lebih sibuk karena dua 4 lapis dikali 9 Padri, total
berjumlah 36 orang secara bergantian menyerangnya dari seluruh
sudut dan di seluruh tubuhnya. Ke 36 Padri ini menyerangnya
secara bergantian dengan menggunakan formasi berbeda beda.
Ada yang menyerang khusus bagian atas tubuh, ada yang
menyerang bagian bawah dan bahkan ada yang melayang
dengan menggunakan pijakan kepala teman mereka sendiri untuk
pijakan menyerang. Sungguh sebuah pameran pertarungan
Barisan melawan 1 orang yang hebat dan menarik menjadi
tontonan. Apalagi karena pertempuran berlangsung cepat dengan
491
penyerangan dominan dilakukan oleh para Padri Siauw Lim Sie
yang mengepung Koay Ji.
Sementara Koay Ji bertahan dengan mengandalkan Ilmu
Langkah Ajaib Thian Liong Pat Pian dan Liap In Sut (Ginkang
Mengejar Awan). Tetapi, Koay Ji tidak melulu bersandar kepada
gerakan-gerakan menghindar yang membuatnya dicecar terus
menerus, karena dia menyelingi dengan serangan-serangan
menggunakan Ilmu Thian-liong-cap-jit-sik (tujuh belas gerakan
naga langit). Ilmu inipun adalah salah satu ciptaan terakhir
suhunya dan menjadi favoritnya. Karena dari Ilmu Langkah Mujijat
dan Ilmu Pukulan inilah dia terinspirasi menamai kemunculannya
dengan nama Thian Liong (Naga Langit). Ilmu ini bukan main
ampuhnya, karena setiap kali lengan Koay Ji bergerak dalam
jurus-jurus ilmu pukulannya, selalu membuat 4,5 lawan terpental
mundur dan harus dilindungi kawan-kawannya.
Tetapi meskipun demikian, tidaklah mudah bagi Koay Ji
menaklukkan sekian banyak lawan yang menyatukan kekuatan
dan bergerak dalam barisan yang rapih. Meski dia banyak
mementalkan lawan dengan ilmu tersebut, tetapi sangat terasa
jika dia tidak berusaha untuk memukul rubuh lawan-lawan
tersebut. Semua lawan yang terkena sambaran tangannya
memang terpental mundur, tetapi kekuatan iweekang yang
492
melambari pukulannya tidaklah mematikan. Bahkan untuk
melukai parahpun tidak, hanya cukup mementalkan lawan
dengan luka ringan. Kenyataan ini membuat lawan lawannya
kagum sekaligus hormat. Apalagi karena mereka sadar, kekuatan
menghisap yang sering muncul dari serangan dan tangkisan Koay
Ji sungguh susah untuk dilawan dan harus menggunakan
serangan banyak orang baru mereka dapat terbebas.
Karena itu, kembali Barisan Lo Han Tin berputar dan kini
memasuki babakan ketiga, dimana lawan menyerang dengan
tetap membadai namun dalam formasi tiga orang sekali
menyerang. Namun, tetap menggunakan formula 9 orang dalam
kelompok kelompok kecil. Dan setiap tiga orang ini menyerang
dengan gaya dan jurus yang sama disusul dengan tiga orang lain
lagi dengan gaya yang sama namun berbeda dengan kelompok 3
orang sebelumnya. Setelah menyerang kelompok kecil 3 orang itu
akan segera masuk ke barisan dan digantikan 3 orang lain lagi
dari lapisan yang berikutnya. Dan terlihat jelas jika babak ini
penyerangan menjadi semakin berat, baik ilmunya maupun jurusjurus
yang digunakan. Dan Koay Ji memaklumi serta
memahaminya. Menurut Suhunya, pada putaran ketiga dan
seterusnya, mulai inti kekuatan Lo Han Tin dikeluarkan dan
semakin sedikit pendekar Tionggoan yang sanggup melewatinya.
493
Sekali ini Koay Ji teringat dan sekaligus menggunakan ilmu yang
dipelajarinya dari Thian Hoat Tosu, yakni Ilmu Leng Wan Sip-pat
Pian (Delapan belas jurus ilmusilat Kera Sakti). Sebetulnya dia
ingin menguji Ilmu ciptaannya pada masa kecilnya, ilmu yang
sudah disempurnakannya sehingga jauh lebih ampuh dan bahkan
lebih rumit. Tetapi, mengingat dia pelru memahami penggunaan
dan kegunaan Ilmu dari Thian Hoat Tosu, tokoh mujijat dari Hoa
San Pay, maka dia akhirnya memilih Ilmu Kera Sakti. Dan
rupanya, ditangannya Ilmu ini menjadi semakin ampuh, semakin
berbahaya dan sakti mandraguna. Karena dengan pengerahan
kekuatan secukupya dia mampu menghadapi serbuan pukulan
lawan tanpa terdesak sedikitpun. Sebaliknya, seperti babak
sebelumnya, Koay Ji mampu mematahkan dan membuat semua
serbuan lawannya menjadi tidak terlampau bermanfaat. Hanya
memang, serbuan lawan membuatnya terlihat terdesak dari luar,
padahal lawan-lawan yang mengerubutinya pada mengeluh
karena kekuatan pukulan dan kegesitan Koay Ji yang bukan
hanya susah dipukul, tetapi jika menangkis, membuat lengan
mereka terpental.
Gaya dan kegesitan seekor kera diperagakan dengan baik oleh
Koay Ji dan awalnya mendatangkan rasa lucu bagi lawanlawannya.
Tetapi, efek yang dihadirkan pukulan itu justru lebih
494
dahsyat dibandingkan Ilmu sebelumnya. Masuk akal, karena
memang, sepertinya Ilmu Kera Sakti ini lebih cocok digunakan
ketika melawan banyak orang, lebih efektif dibandingkan dengan
Ilmu sebelumnya yang jauh lebih ampuh digunakan jika
berhadapan dengan beberapa orang belaka. Atau, lebih ampuh
lagi jika digunakan menghadapi atau berhadapan dengan satu
lawan satu dengan musuh. Terutama karena gerak-gerik seekor
kera yang luwes bergelantungan kesana-kemari, dan dengan jitu
diperankan Koay Ji dengan menggunakan lengan dan kaki lawan
untuk bergerak kesana-kemari. Cukup kocak, tetapi justru
membuat barisan Lo Han Tin mendapat lawan yang sangat
tangguh dan dalam waktu yang lama sulit untuk disentuh dan
dikalahkan. Sekaligus menjadi tontonan menarik bagi banyak
orang yang dengan mata tak berkedip mengikutinya.
Sesungguhnya bukan hanya karena kegesitan dan keunikan gaya
Ilmu Kera Sakti yang diperagakan Koay Ji yang membuat Barisan
Mujijat Siauw Lim Sie jadi tak mampu menyentuh dan
mendesaknya. Tetapi, sejumlah karena gerakan-gerakan tak
terduga yang memang sengaja disisipkan Koay Ji dan sangat sulit
dimengerti serta diantisipasi. Selain juga karena kekuatan
dahsyat yang mampu dilontarkan melalui gerakan-gerakan khas
seekor kera yang mendorong atau didorong Koay Ji melalui
495
pukulan-pukulannya. Seperti diketahui, dalam tubuh Koay Ji
bersemayam kekuatan mujijat yang bahkan masih sedang terus
bertambah meski tidak lagi sepesat pada tahun-tahun
sebelumnya. Bertarung melawan Barisan Lo Han Tin
membuatnya mampu merangsang dan membangkitkan
kekuatan-kekuatan hebat dalam tubuhnya, melatihnya,
menguatkan dirinya sendiri dan kemudian mendorong ilmu dan
jurus bertahan serta menyerangnya menjadi sangat hebat dan
sangat kuat.
Keadaan tersebut membuat Koay Ji yang tidak berniat atau belum
berniat mengalahkan lawan dan membuat dia seperti sedang
melatih khasanah ilmu-ilmu mujijatnya dengan lawan yang
memang pas dan mampu membuatnya mengukur diri sendiri.
Bahkan sejak awal tarung dengan Barisan Lo Han Tin, Koay Ji
tidak merasa terdesak, kecuali sedikit bingung dengan arus
serangan yang luar biasa. Tetapi semakin lama bertarung
semakin mampu dan semakin dapat Koay Ji mengukur
kekuatannya dan menyesuaikan gerakan-gerakannya
mengimbangi lawan. Untungnya, lontaran kekuatan mujijat dalam
tubuhnya bertemu dengan kekuatan lawan dalam bentuk barisan
yang justru memiliki kekuatan gabungan yang luar biasa
besarnya. Inilah yang membuat pertarungan itu merangsang
496
Koay Ji untuk mencoba semua ilmu yang dikuasainya. Dan
dengan cara tersebut, semakin terbukalah mata Koay Ji akan
kemampuannya sendiri.
Menurut Suhunya, tokoh yang mampu melewati dan menjinakkan
Barisan Lo Han Tin yang dimainkan oleh tokoh-tokoh utama Kuil
Siauw Lim Sie, hanya bisa dihitung dengan jari sebelah lengan
semata. Tidak banyak. Karena untuk melewati Barisan Utama LO
HAN TIN yang pintu utamanya dijaga tokoh hebat Siauw Lim Sie
dibutuhkan kemampuan Ilmu Silat yang mumpuni dan sempurna.
Bukan hanya itu, juga diperlukan kekuatan iweekang yang mujijat
dan terutama kecerdikan untuk menilai perubahan-perubahan
barisan Siauw Lim Sie itu. Dan sepanjang sejarah Siauw Lim Sie,
teramat sedikit tokoh yang melawan Barisan itu dan berhasil
melewatinya. Bukan hanya sedikit, bahkan menurut suhunya,
dalam seratus tahun terakhir ini, tidak ada yang mampu melawan
dan melewatinya, meski ada tokoh di luar yang mampu, tetapi itu
tidak lebih dari jari tangan sebelah belaka.
“Untuk melewati hadangan barisan Lo Han Tin, engkau sudah
memiliki cukup bekal muridku, tetapi untuk mengalahkannya,
engkau masih membutuhkan syarat yang salah satunya belum
engkau miliki. Keduanya ialah, kecerdasan atau kecerdikan serta
pengalaman. Engkau memiliki kecerdikan, tetapi pengalamanmu
497
masih teramat cetek, masih sangat mentah. Dan satu hal lagi,
dengan alasan apapun, engkau dilarang untuk mengalahkan dan
menjungkalkan Barisan Lo Han Tin …… engkau harus ingat
pesan suhumu itu …., jika inginmenerobosnya engkau masih
memperoleh ijinku, terlebih untuk kepentingan Siauw Lim Sie
sendiri” Demikian penjelasan Suhunya tempo hari ketika
mengisahkan kisah mengenai Siauw Lim Sie. Kisah itu termasuk
juga sejarahnya, ilmu silatnya dan sempat secara khusus
mengulas mengenai Barisan Lo Han Tin yang menjadi
kebanggaan Kuil Siauw Lim Sie di Gunung Siong San itu.
Kembali Koay Ji menguji ilmu-ilmu lainnya, berturut-turut sampai
ratusan jurus dia menggunakan Ilmu Thian-liong-cap-jit-sik (tujuh
belas gerakan naga langit) berganti dengan ilmu Pa Hiat Sin Kong
(ilmu sakti menotok jalan darah). Bahkan juga menguji ilmu
kebanggaan Thian Hoat Tosu, yakni Ilmu Hong In Pat Jiauw atau
ilmu Delapan cengkeraman angin dan Mega serta gabungannya
dengan Sam In Ciang, yakni Sam Hong In Im Ciang. Koay Ji
benar-benar memanfaatkan moment penting ini untuk menambah
pengalaman dan kemampuan tempurnya, terutama mengatur
tenaga pendorong dan bagaimana cara terbaik menggunakan
Ilmu-ilmu tersebut. Pada putaran selanjutnya, dia menguji sebuah
Ilmu kebanggaan Suhunya yang bernama Ilmu Pukulan Sian In
498
Sin Ciang (Lengan Sakti Bayangan Dewa), serta kedua Ilmu
ciptaan Suhunya yang terakhir, masing-masing "Thian Cong
Samsie Sin Ciang," 13 Jurus Ilmu silat Sakti Thian Cong yang
dimaksudkan sebagai Ilmu Pamungkas Perguruan Thian Cong
Pay dan juga Ilmu Tie Liong Ciu atau Ilmu Sakti Tangan
Mengekang Naga.
Khusus Ilmu yang terakhir, Koay Ji ikut membentuk dan
mengusulkan beberapa gerakan hebat dan mujijat dari Ilmu
Mengekang Naga sehingga mencapai bentuknya yang terakhir.
Ilmu ini berbeda dengan yang diwariskan kepada Sam Suheng
dan Thian Liong Pangcu boleh dibilang berbeda dalam sisi
penyerangannya. Karena banyak skema gerakan-gerakan
menyerang dari Ilmu Langkah Thian Liong Pat Pian disisipkan
dengan gerakan-gerakan mujijat Ilmu Mengekang Naga. Dan
semua itu merupakan penyempurnaan lebih jauh setelah Koay Ji
melangkah keluar dari pintu perguruannya, dan saat melawan
Barisan Lo Han Tin adalah untuk pertama kalinya dia melatih dan
mempraktekkannya. Baik sisi aslinya maupun tambahantambahannya,
dan akibatnya ketika dia menggunakannya,
Barisan Lo Han Tin nyaris berantakan, bukan hanya karena
serangan berbahaya yang dihasilkannya, tetapi karena dia meniru
cara Kakek Siu Pi Cong beberapa hari lalu. Untung saja dia ingat
499
pesan Suhunya sehingga dia menahan diri untuk menyerang lebih
jauh dan mulai berpikir untuk lolos dari Barisan Lo Han Tin tanpa
membuat Barisan itu kehilangan muka.
Setelah bertarung hampir 500 jurus dan mencoba banyak sekali
skema ilmu silat yang dipelajarinya dan bahkan beberapa yang
diingat di kepalanya secara sengaja maupun tak sengaja muncul;
karena sudah merasa cukup dan bertarung sudah cukup lama,
serta merasa banyak memperoleh hal baru yang perlu
diendapkan dan kelak dilatihnya lagi, Koay Ji mulai bersiasat
untuk menerobos keluar dari Barisan Lo Han Tin. Dia sudah
memiliki kepercayaan atas dirinya yang kebih dari sebelum dia
memasuki Kuil Siauw Lim Sie sekarang. Baru sekarang dia
percaya akan kata-kata Suhunya ketika akan melepasnya pergi
berkelana, dan dia kini memiliki keyakinan akan dirinya dan akan
kemampuannya sendiri. Apalagi karena hampir semua Ilmu yang
dikuasainya sempat dicobanya dan dia merasa mampu menahan
desakan Barisan Lo Han Tin dan bahkan beberapa moment, dia
menguasai dan mampu mendesak barisan itu. Dia kini memiliki
pegangan untuk “lolos” dari Barisan Lo Han Tin, dan ini yang akan
dilakukan sekarang. Bukan mengalahkannya, karena
mengalahkan Barisan itu sama dengan melanggar pesan
Suhunya, tetapi lolos dari kurungan Barisan Lo Han Tin. Dan
500
untuk lolos dari Barisan Lo Han Tin ini sudah mulai dipelajarinya
sejak pertarungan memasuki pertengahan tadi. Koay Ji sudah
punya rencana.
Berbeda namun ada kemiripan dengan cara Kakek Siu Pi Cong.
Miripnya adalah, Koay Ji memulai dengan jurus Thian heng peng
lui (guntur dan salju diujung langit) dari warisan Ilmu Pukulan Sian
In Sin Ciang (Lengan Sakti Bayangan Dewa) Suhunya Bu In Sin
Liong. Jurus pukulan ini ditujukan kepada penghuni 2 penjaga
Pintu utama Barisan Lo Han Tin yang dijaga kedua tokoh utama
dari angkatan HOAT, yakni Hoat Kek Hwesio dan Hoat Kong
Hwesio. Tetapi, meski sasaran utamanya adalah kedua penjaga
pintu utama, bukan berarti sasarannya hanya mereka berdua,
karena letikan sinar pukulan yang berbahaya juga menyasar
dengan sangat cepatnya 5 hingga 6 Bhiksu lain disekitar kedua
tokoh utama tersebut. Sehingga jika ditotal, serangan kilat Koay
Ji menyasar lebih dari 10 orang bhiksu secara serentak dengan
kekuatan pukulan yang luar biasa hebatnya. Tetapi untuk
menyerang Barisan ini, terlebih dahulu Koay Ji harus memainkan
gerak mujijat Ginkang Cian Liong Seng Thian (Naga Naik ke
Langit), yang kemudian diakhiri dengan gerakan Liu seng liok tee
(bintang luncur jatuh ketanah). Gerakan-gerakan di udara yang
diakhiri dengan gerakan turun ke tanah ini dibarengi dengan
501
kekuatan menghisap yang membuat barisan depan yang
berhadapan langsung dengannya tergetar.
Pada saat itulah serangan dengan jurus Thian Heng Peng Lui
dilepaskan dengan menyasar banyak orang dan menghadirkan
ledakan suara yang membahana. Ledakan ini terhitung
mengganggu pendengaran orang dan membutuhkan waktu 1,2
detik untuk menentramkan hati. Meski bagi Hoat Kek Hwesio dan
Hoat Kong Hwesio ledakan itu tidak mengganggu, tetapi serangan
Lengan Sakti Bayangan Dewa, yang merupakan gubahan senior
mereka Bu In Sin Liong benar-benar menggetarkan. Mereka
seperti mengenal tetapi tidak mengenal pukulan cepat yang
memang berasal dari khasanah ilmu mujijat Siauw Lim Sie. Masih
untung karena beberapa anggota barisan Lo Han Tin dengan
cepat datang melindungi mereka. Tetapi, pukulan cepat dan
bertenaga mujijat itu bukan hanya mengarah kedua tokoh utama
yang terpaksa mundur itu, melainkan menuju dan menyerang
lebih 10 orang lainnya. Hal ini membuat Barisan Lo Han Tin pada
lapis terdepannya sedikit goyah dengan serangan Koay Ji,
apalagi karena diiringi dengan lontaran tenaga hebat membahana
dan juga dengan ledakan maut yang memekakkan telinga
tersebut.
502
Pada saat itulah Koay Ji memainkan langkah mujijat yang belum
pernah dimainkannya sebelumnya dari Thian Liong Pat Pian.
Jangankan para anggota Barisan Lo Han Tin, bahkan Hoat Kek
Hwesio dan Hoat Kong Hwesio sendiri masih belum pernah dapat
melihat sebelumnya. Wajar jika barisan tersebut kebingungan
menghadapi gerakan-gerakan luar biasa dari Koay Ji. Terlebih
karena pada saat yang bersamaan, seiring dengan penggunaan
kekuatan yang meningkat, dari sekujur lengan Koay Ji memancar
kekuatan menyedot tenaga lawan yang sangat luar biasa. Hal
yang sebenarnya boleh jadi tanpa Koay Ji banyak memahaminya
karena merupakan pengaruh perpaduan dua sinkang mujijat dari
Ilmu Budha Tionggoan dan Thian Tok, yakni Pouw Tee Pwe Yap
Sian Sinkang dan juga Toa Pan Yo HIankang. Koay Ji kurang
paham bahwa pada saat dia mengerahkan kekuatan dalam
takaran tertentu, maka kekuatan menghisap itu dengan sendirinya
akan memancar keluar. Bahkan semakin kuat dia mengerahkan
iweekangnya, maka semakin kuat juga daya sedot tersebut.
Masuk di akal jika kemudian Barisan Lo Han Tin yang baru saja
sedetik sebelumnya dicecar dengan pukulan-pukulan mautnya
kembali goyah pada lapis kedua dan lapis ketiganya sehingga
kesulitan untuk dengan cepat menutup sebuah lubang yang
muncul pada peralihan lapis demi lapis penjagaan Barisan.
503
Tetapi, memasuki lapisan kelima dan keenam, pergerakan dan
kekuatan yang memancar dari Koay Ji, yang bergerak dalam
hitungan sepersekian detik, kembali membuat barisan itu
kebingungan. Ketika mereka memutuskan menutup alur
pergerakan Koay ji, kembali gerakan jurus Hui pau liu suan (air
terjun mengalir ke mata air), membuat mereka goyah. Apalagi
karena kekuatan menghisap dan daya sedot Koay Ji
mempengaruhi gerak dan langkah mereka. Pada saat itulah
terdengar suara Hoat Keng Hwesio:
“Hud di utara, Liong di selatan ………”
Mendengar perintah itu, barisan itu kembali bergerak cepat untuk
menemukan daya keseimbangan mereka. Tetapi, tepat ketika
barisan itu bergerak, Koay Ji juga bergerak cepat memadukan
dua ilmu mujijat sekaligus, yakni Ilmu Langkah Thian Liong Pat
Pian untuk menerobos memasuki gerakan lapis keenam dan
ketujuh dan kemudian bergerak diantara lapisan tersebut, tidak
kembali ketitik dimana dia terkurung sebelumnya. Akibatnya
terjadi benturan kekuatan hebat antara Koay Ji dengan barisan
tersebut, tetapi dengan cerdik, dari Ilmu Pouw Tee Pwe Yap Sian
Sinkang, dia mengantarkan kekuatan lawan yang tentu
melebihinya untuk dibenturkan ke tembok kekuatan lawan.
Akibatnya, benturan kekuatan yang kemudian terjadi, lebih
504
sebagai benturan kekuatan antara atau diantara Barisan Lo Han
Tin itu sendiri. Dan segera terdengar ledakan hebat luar biasa
sebagai akibatnya:
“Duaaaaaaarrrrrrr”
Benturan kekuatan antara atau diantara barisan Lo Han Tin itu
membuat Koay Ji yang berada di lapisan terakhir tinggal
menghadapi satu lapis tembok terakhir. Komando Hoat Kek
Hwesio tadi memang fital dan apalagi, tokoh itu langsung yang
kemudian membentuk tembok pelapis dari tembok manusia
terakhir yang menghalangi Koay Ji. Tetapi, ini yang membuat dia
terperangah, karena pada saat benturan terjadi, Koay Ji
melangkah dan melambung dengan gaya yang luar biasa, dalam
gaya mujijat ginkang Liap In Sut (Ginkang Mengejar Awan),
dengan gaya yang indah namun mujijat, sangat sulit dilakukan
manusia biasa, yakni gaya Tou Seng Cai Goat (Mencari Bintang
Memetik Bulan). Pada saat itu sekujur tubuh Koay Ji dipenuhi
hawa iweekang yang juga menghisap kekuatan lawan hingga
beberapa sempat goyah dan harus mengerahkan tenaga untuk
tetap dapat bertahan berdiri tegak dan kokoh. Hal itulah yang
membuat gerakan Koay Ji ketika melambung tinggi ke angkasa,
dan kemudian melambung lebih tinggi lagi tanpa pijakan, dan
sekali lagi melambung tinggi dan pada akhirnya keluar dari
505
kepungan barisan Lo Han Tin, mengakhiri tarung yang luar biasa
menarik dan sangat menegangkan.
Tetapi, yang membuat Hoat Kek Hwesio, Hoat Kong Hwesio, Hoat
Bun Siansu sang Wakil Ciangbudjin dan juga Hoat Ho Hwesio dan
Hoat Leng Hwesio tertegun adalah, ilmu terakhir Koay Ji. Adalah
Hoat Kek Hwesio yang berbisik lirih dan membuat dia tertegun
dan terdiam tanda bahwa dia menerima kekalahannya:
“Achhhhhh, Liap In Sut ……. hanya Ji Supek yang mampu
menguasainya hingga tingkat seperti itu, siapakah sebenarnya
Koay Hiap ini …..”?
Bisikan lirih ini bisa didengar Hoat Kong Hwesio yang bertempur
bersamanya. Diapun berpikiran yang sama: ”Benar, Sam Suheng
benar, yang mampu menguasai Ilmu dan Jurus itu hanya Ji Supek
yang sudah puluhan tahun meninggalkan kuil. Apakah dia ini ada
hubungan dengan Ji Supek yang misterius itu ……”?
Sementara itu Koay Ji sudah melayang dan turun di hadapan Hoat
Bun Siansu. Dan langsung saja dia berkata:
“Losuhu, aku yang rendah sudah berhasil melewati Barisan Lo
Han Tin. Apakah saat ini sudah bisa menemui dan melawan
Ciangbudjin Siauw Lim Sie …..”?
506
Saat itu, Hoat Bun Siansu sebenarnya sedang dalam suasana
antara senang, ragu, cemas dan sejumlah pertimbangan yang
sulit untuk dikemukakannya. Entah mengapa, seperti juga Hoat
Kek Hwesio dan Hoat Kong Hwesio, dia memiliki perasaan bahwa
Koay Ji yang dihadapannya saat ini pastilah ada hubungannya
dengan Ji Supeknya. Tokoh hebat asal Siauw Lim Sie yang sudah
puluhan tahun mengundurkan diri dari Kuil Siauw Lim Sie. Konon,
Ji Supek itu pada akhirnya memilih untuk hidup menyendiri dan
bertapa dan bersamaan dengan itu, semakin hebat kekuatan dan
kemampuan Ilmu Silatnya. Jangankan sebelum menyepi, bahkan
ketika meninggalkan Kuil Siauw Lim Sie pada waktu itupun, ilmu
silatnya sudah menjadi yang terhebat dan bahkan sanggup
bertarung luar biasa melawan seorang Rahib Sakti asal Thian Tok
tanpa terkalahkan. Sekarang, jika masih hidup, dapat
dibayangkan sampai dimana kemampuan Ji Supek yang
dimaksudkan itu.
Masalahnya, apakah orang yang dihadapannya saat ini benar
murid Ji Supeknya itu ataukah bukan. Jika iya, apakah
kemampuannya setanding dengan Supeknya yang adalah salah
satu tokoh yang diyakini mampu menaklukkan Barisan Lo Han Tin
atau tidak. Dan apakah sanggup melawan tokoh-tokoh mujijat
yang sedang mencengkram Kuil Siauw Lim Sie saat ini ….? Inilah
507
persoalan yang sedang dipikirkan oleh Hoat Bun Siansu dan
karena itu untuk beberapa lama dia tidak dapat menjawab atau
memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Koay Ji
barusan. Sebaliknya, dia justru tenggelam dalam lamunan sambil
menimbang opsi terkini yang sedikit memberinya asa untuk
menangani persoalan Kuil Siauw Lim Sie. Tapi, persoalannya,
apakah seorang Koay Ji sanggup melakukannya?
“Losuhu, apakah engkau akan mengingkari perjanjian kita tadi
…….”?
Bersamaan dengan itu, Hoat Kek Hwesio dan Hoat Kong Hwesio
mendatangi sambil berkata dengan nada biasa saja:
“Amitabha ……. Ji Suheng, dia memang berhasil …….”
“Amitabha ……… iya, jelas sekali kulihat tadi dia memang
berhasil. Tapi, persoalannya adalah, apakah Toa Supek bersedia
untuk menghadapinya ….”?
Panggilan TOA SUPEK kepada Bu Sin Hwesio, sang bekas
Ciangbudjin Siauw Lim Sie yang hilang puluhan tahun silam
menandakan bahwa bagi Wakil Ciangbudjin ini, Bu Sin Hwesio
masih tetap belum sepenuhnya dianggap sebagai CIANGBUDJIN
Siauw Lim Sie. Hal yang masuk akal karena memang Bu Sin
508
Hwesio datang dalam cengkeraman orang lain, tidak kenal dirinya
sendiri namun masih memegang “tanda pengenal” dirinya
sebagai Ciangbudjin Siauw Lim Sie. Itulah Persoalan besar yang
sedang dihadapi dan harus diputuskan para tokoh Siauw Lim Sie
dewasa ini. Apalagi karena mereka melihat bahwa jelas-jelas
orang yang menguasai Bu Sin Hwesio mempunyai niat buruk bagi
Kuil Siauw Lim Sie dan Rimba Persilatan Tionggoan.
“Losuhu, aku yang rendah hanya ingin mengingatkan kembali,
bahwa tadi kita telah menyepakati bahwa jika berhasil menang,
akan dapat menemui dan melihat langsung Ciangbudjin Siauw
Lim Sie. Apakah sekarang aku yang rendah dapat menemui
secara langsung Ciangbudjin Siauw Lim Sie ….”?
“Amitabha ……. Jelas sekali engkau berhasil melewati Barisan Lo
Han Tin. Tetapi, sayang sekali karena Ciangbudjin Siauw Lim Sie
saat ini sedang berhalangan serius. Beliau sedang kurang sehat
dan membutuhkan ……..”
“Amitabha …….. siapa yang mengatakan Punco sedang sakit
……”?
Belum habis kata-kata Hoat Bun Siansu, tiba-tiba terdengar
seruan seseorang yang mengaku sebagai Ciangbudjin Siauw Lim
509
Sie. Tetapi, hanya kalimat itu yang diutarakan keluar, selebihnya
diam. Dalam waktu beberapa detik belaka, langkah kaki beberapa
orang terdengar mendekati, namun karena berada di lantai yang
lebih tinggi dari Koay Ji, maka dia tidak bisa melihat langsung
siapa-siapa yang datang. Setelah dekat baru terlihat, rupanya ada
3 orang yang barusan datang. Yang pertama, seorang Pendeta
Siauw Lim Sie yang sudah tua, lebih tua dari Hoat Bun Siansu,
Hoat Kek Hwesio dan Hoat Kong Hwesio. Umurnya mungkin
sudah 80 tahunan atau malah mungkin lebih. Yang sangat
menyolok adalah, sinar matanya tidak bercahaya, tetapi menatap
kosong kedepan entah apa yang sedang dipikirkannya. Tetapi di
belakangnya, berjalan mengikutinya ada dua orang lain dengan
dandanan yang jauh berbeda namun sangat menyolok mata
untuk dipandang. Yang lebih menyebalkan adalah, mereka
berjalan dengan gaya congkak dan sombong.
Orang kedua ketika akhirnya datang mendekat, ternyata dapat
dikenali sebagai Kakek Siu Pi Cong, si jago dari Lautan Timur
(Tung Hay). Kakek Siu Pi Cong ini sebagaimana diketahui
memiliki julukan Jian Bun Kiam Ciang (Telapak Emas Pembabat
Nyawa), dia hadir dengan rambut kepala keputihan yang pada
berdiri tegak seperti landak. Tetapi, kakek yang tinggi besar ini
terlihat penuh percaya diri dan tidak sekalipun terlihat takut
510
mendampingi Bu Sin Hwesio bersama seorang temannya yang
lain. Orang terakhir adalah seseorang yang memiliki dandanan
mirip dengan para UTUSAN PENCABUT NYAWA yang sejak
beberapa hari terakhir memburu Koay Ji. Tetapi, jika para
UTUSAN PENCABUT NYAWA berdandan dengan pakaian dan
kerudung hitam, maka tokoh yang mendampingi Bu Sin Hwesio
ini berjubah hitam namun tutup kepalanya berwarna merah
menyala. Di lengannya lengannya terlihat sebatang seruling kayu
sebagai bekalnya, entah dapat dia gunakan sebagai senjata
ataukah bukan. Tetapi, hawa seram memancar dari tubuhnya.
Koay Ji segera maklum dan berkata dalam hatinya: “Hmmmmm,
Ilmu sihir yang hebat …….”
Begitu melihat kedatangan tokoh-tokoh ini, dengan serentak Hoat
Bun Siansu dengan semua adik seperguruannya dari angkatan
HOAT segera menyambut sambil berkata dengan suara sangat
hormat:
“Menyambut Toa Supek ……..”
Semakin jelas, bahwa para tokoh utama Kuil Siauw Lim Sie, meski
sangat hormat kepada Bu Sin Hwesio tetapi pada dasarnya
mereka belum menerima dan belum memperlakukan tokoh tua itu
sebagai Ciangbudjin Siauw Lim Sie. Hal itu sejak tadi masuk
511
dalam pertimbangan dan pencermatan Koay Ji yang merasa
janggal dengan hal tersebut. Tetapi, tidak lama kemudian dia
menjadi mengerti sendiri dengan keadaan dan kondisi aneh di
Kuil Siauw Lim Sie itu. Tapi dia masih sempat bergumam dalam
hatinya: “Hmmmm, ini rupanya toa supek yang menghilang itu ….”
“Siapa gerangan orang yang begitu berani mati mencari dan
menantang Ciangbudjin Siauw Lim Sie …..”? berkata Kakek Siu
Pi Cong sambil memandang Koay Ji. Jelas sekali dia memandang
sebelah mata. Bukan apa-apa, selain dia adalah tokoh terhebat di
Lautan Timur, juga karena pada dasarnya dia tidak tahu dan tidak
pernah mendengar adanya tokoh Tionggoan yang hebat dengan
potongan seperti Koay Ji ini. Karena itu, dia memandang enteng
dan tidak pandang sebelah mata ……
“Hmmmmmm, masakan orang yang kehilangan ingatan dan
dikuasai orang dengan Ilmu Sihir dapat menjadi Ciangbudjin
Siauw Lim Sie ….? Hanya orang bodoh yang akan menerima dan
memahami keadaan yang ganjil ini. Tetapi, melihat pawing
sihirnya, rasanya sudah cukup untuk dapat memakluminya.
Persoalan Siauw Lim Sie rupanya sedang dibingungkan oleh
pemain-pemain sihir murahan dan ingin mengganggu
ketentraman perguruan lain …… dapatlah kupahami sekarang”
512
“Hmmmm, orang usil, apa yang engkau pahami …..”? bertanya
Kakek Siu Pi Cong dengan roman marah dan bengis
“Kalian memancing Ciangbudjin Siauw Lim Sie dan kemudian
mencelakainya. Untung aku masih dapat menolongnya dan tahu
siasat keji kalian itu. Dan setelah berhasil, kalian menempatkan
seorang sesepuh Kuil Siauw Lim Sie yang sudah lebih 25 tahun
silam menghilang, dan yang ternyata sudah kalian kuasai untuk
menjadi Ciangbudjin Boneka kelak. Jelas maksud kalian agar
dapat meminjam tangan dan kekuatan Kuil Siauw Lim Sie di Siong
San ini agar dapat menaklukkan dan mengangkangi Dunia
Persilatan Tionggoan. Hohohoho, mudah dimengerti ……”
Kata-kata Koay Ji memang tepat. Dia sudah dapat menerka
maksud dari para penjahat yang hendak mencelakai Kuil Siauw
Lim Sie. Hal itupun sebenarnya sudah dipahami oleh para
Pemimpin Kuil Siauw Lim Sie, tetapi jelas tak dapat mereka
suarakan selama ini. Ketika Koay Ji mengemukakannya, mereka
semua mengangguk dan setuju dalam hati, namun kecut
memikirkan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Apalagi, karena
betapapun juga, Bu Sin Hwesio masih memiliki TANDA
PENGENAL CIANGBUDJIN yang masih belum digugurkan
karena memang menghilang. Satu-satunya cara untuk
menyelamatkan keadaan adalah, memiliki TANDA PENGENAL
513
CIANGBUDJIN saat ini. Tetapi, kemana pula mencari Hoat San
Hwesio saat ini? Jika tidak memiliki Tanda Pengenal itu, maka
meski mereka semua mendukung Koay Ji, tapi jika diperintahkan
menangkap tokoh aneh yang sedang membela mereka, tetap saja
mereka harus taat. Sungguh runyam dan sangat merepotkan
posisi mereka saat itu.
Sementara itu, wajah Kakek Siu Pi Cong memerah saking
marahnya. Tetapi anehnya, kawannya yang mengenakan
kerudung warna merah, sama sekali tidak mengatakan apa-apa
dan terus menerus berdiam diri. Tetapi meski begitu, Koay Ji
paham jika orang itu justru yang lebih berbahaya dan lebih mampu
mendatangkan petaka bagi dirinya dan juga bagi Kuil Siauw Lim
Sie. Terdengar Kakek Siu Pi Cong kembali berkata dengan
suaranya yang keras menggelegar:
“Memangnya apa yang engkau andalkan untuk melawan Kuil
Siauw Lim Sie dan juga kami yang mendukung mereka dari
belakang …..”?
“Salah, aku datang untuk melawan para penjahat yang menyusup
di Kuil Siauw Lim Sie. Atau, engkau dengarkan Kakek tua, aku
datang untuk membersihkan kalian semua kaum penjahat yang
juga sedang mengganas di Hoa San Pay sana, menyerang para
514
pendekar, menyerang Thian Cong Pay dan berusaha mengacakacak
rimba persilatan Tionggoan. Sampaikan kepada pemimpin
kalian, seorang bernama Thian Liong Koay Hiap mulai saat ini
akan memburunya. Tetapi akan memulai dengan menghancurkan
ambisi kalian di Kuil Siauw Lim Sie ini ……… cukup jelas ……”?
Bukan hanya Kakek Siu Pi Cong yang terhenyak kaget,
bahkanpun para Pemimpin Kuil Siauw Lim Sie terhenyak kaget
dengan ambisi dan kata-kata besar yang dikeluarkan oleh Koay
Ji. Termasuk tokoh aneh berkerudung merah yang sebelumnya
tenang-tenang saja, kini mulai memperhatikan Koay Ji lebih
seksama. Dia merasa ada yang aneh dan hebat dari orang yang
mengaku bernama Thian Liong Koay Hiap, orang yang sedang
berdiri berseberangan dengannya sebagai seorang musuh.
Sekejap dia melirik Koay Ji, dan amboi, benar dugaan sekali Koay
Ji, tatap matanya mencorong luar biasa, sangat berwibawa dan
telinga hatinya mendengar suara:
“Engkau berlututlah dihadapanku dan meminta maaf ……..”
Tetapi, Koay Ji yang sudah menguasai dua ilmu mujijat dari Thian
Tok dan Tionggoan, mana dapat dengan mudah ditaklukkannya
dengan serangan sihir seperti itu? Dengan santai saja Koay Ji
515
balas berbisik sambil menolak dan mengembalikan serangan
lawan yang menggunakan ilmu sihir:
“Lebih baik engkau yang berlutut …… ayo, berlutut, belutut …….”
Benar saja, perlahan-lahan manusia berkerudung merah itu mulai
menekuk kakinya untuk berlutut. Tetapi, untung saja Kakek Siu Pi
Cong cepat mencegahnya sambil memegang lengannya dan
menyentakkannya ……… masih untung dia tidak berlutut. Tetapi,
tetap saja apa yang terjadi barusan tidak luput dari mata banyak
orang pandai yang mengelilingi lokasi tersebut. Dan merekapun
tahu apa yang baru saja terjadi meskipun Koay Ji tidak berkata
apa-apa dan tetap berdiam diri. Tetapi, semua melihat bagaimana
sebelumnya Koay Ji berkomat-kami sambil kemudian
memandang si manusia kerudung merah. Dan kejadian sesudah
itu mereka paham apa maksud Kakek Siu Pi Cong
menghentakkan lengan si kerudung merah. Bukan lain untuk
membuat si Kerudung Merah tidak menjadi lebih malu.
“Hmmm, sudah kukatakan aku, Thian Liong Koay Hiap, akan
menyapu seluruh durjana yang sedang mengangkangi dan
mencelakai Ciangbudjin Siauw Lim Sie. Termasuk kalian berdua
antek-antek penjahat-penjahat yang tidak tahu malu itu ……”
berkata Koay Ji dengan suara dingin menyakitkan hati Kakek Siu
516
Pi Cong dan si kerudung merah. Adalah Kakek Siu Pi Cong yang
tidak tahan saking panas hatinya:
“Sungguh sombong ….. engkau terima dahulu pengajaranku
……”
Sambil berkata demikian Kakek Siu Pi Cong sudah mencelat
dengan kecepatan luar biasa mengejar dan berniat memukul
Koay Ji dengan satu pukulan langsung binasa jika memang bisa.
Tetapi, Kakek yang juga mampu melawan Barisan Lo Han Tin
yang menjadi Barisan Penerima Tamu dan merupakan Barisan
Kedua di lingkungan Siauw Lim Sie, sekali ini tidak begitu mudah
memukul lawannya. Koay Ji memang terlihat santai, tetapi pada
dasarnya dia sudah menyiapkan diri untuk menghadapi alternatif
paling buruk di Kuil Siauw Lim Sie. Menghadapi serangan Kakek
Siu Pi Cong, dengan mudah dia menghindar, bahkan mengelilingi
tubuh lawannya beberapa kali tanpa sekalipun melakukan
serangan balasan. Ilmu Langkah Thian Liong Pat Pian kembali
menunjukkan kemujijatannya. Meskipun Kakek Siu Pi Cong
menyerang dengan tenaga yang hebat, tetapi semua
serangannya tidaklah disambut oleh Koay Ji yang entah mengapa
berlaku agak lunak kepadanya.
517
Kakek Siu Pi Cong ini sebetulnya bukanlah seorang tokoh yang
kacangan belaka. Sama sekali bukan. Karena dia adalah salah
satu tokoh kuat yang bahkan hanya setingkat ketenaran dan
kehebatannya dibawah atau dibandingkan Tokoh Dewa, Bu Te
Hwesio, Thian Hoat Tosu dan Lam Hay Sinni. Atau setingkat
dibawah kemampuan Mo Hwee Hud dan Bu Eng Ho Khouw Kiat
atau si Rase Tanpa Bayangan, dua tokoh lainnya yang setingkat
dengan Tokoh Dewa namun berjalan di sisi yang sesat atau
kadang sesat kadang benar. Dengan tingkatan yang sudat sangat
tinggi tersebut, masuk akal jika Kakek Siu Pi Cong memandang
remeh lawan seperti Koay Ji yang masih belum punya nama di
Dunia Persilatan Tionggoan. Apalagi, Kakek Siu Pi Cong yang
merupakan jago paling disegani di Lautan Timur, sudah
merupakan tokoh yang sangat disegani dan sangat dimalui
banyak pesilat. Wajar jika dia murka, menyerang dan memandang
enteng Koay Ji yang belum punya nama.
Tetapi, semakin lama semakin dia jadi gelisah ketika Koay Ji yang
melompat, bergeser, melenting, memunahkan pukulanpukulannya
dengan mudah dan tidak terlihat terdesak sedikitpun,
apalagi takut. Bahkan ketika Koay Ji mulai mengerahkan
kekuatan dan tidak lagi sekedar berlari-lari menghindar, Kakek
Lautan Timur itu menjadi kaget karena ternyata iweekang Koay Ji
518
tidaklah rendah. Bahkan, dia masih harus memunahkan daya
lekat dan daya hisap yang mulai keluar memancar dari tubuh
Koay Ji ketika dia mulai mengerahkan iweekang melakukan
perlawanan. Dan ketika pada akhirnya kedua lengan mereka
bentrok, Koay Ji terlihat hanya tersenyum tawar, sementara itu
Kakek Siu Pi Cong menghunjuk wajah terkejut bukan main.
Untungnya Koay Ji seperti masih memberi muka kepada Kakek
itu dan tidak mendesaknya lebih jauh dengan serangan-serangan
balasan yang berbahaya atau bahkan mematikan. Tetapi, itupun
sudah lebih dari cukup untuk membuat Kakek Siu Pi Cong
mendarat kembali ke bumi dan mulai mengerti bahwa dia
menghadapi lawan yang tidak lemah. Bahkan nampaknya punya
kemampuan bertarung yang tidak berada dibawah
kemampuannya sendiri.
Melihat kenyataan itu, luntur sudah emosinya dan sebagai orang
yang sudah memiliki pengalaman yang sangat banyak, Kakek Siu
Pi Cong mulai segera memusatkan perhatiannya dan mulai
menenangkan diri untuk melakukan pertempuran yang lebih
serius. Dalam tarung yang tidak lama tadi , Kakek itu segera sadar
jika lawannya bukanlah lawan enteng sebagaimana perkiraannya
sebelumnya. Dan Koay Ji sendiri sudah segera mengerti bahwa
sebelumnya Kakek dari Lautan Timur ternyata memang
519
memandangnya remeh dan karena itu menyerang serabutan
tanpa menyadari bahwa Koay Ji memiliki daya tarung yang
bahkan tidak dibawah kemampuannya. Melihat Kakek Siu pi Cong
mulai menyiapkan diri dan menyiagakan diri dengan kemampuan
yang lebih meningkat membuat semua yang menjadi penonton
mulai menahan nafas. Ketegangan mulai menerpa banyak orang.
Tetapi Koay Ji sendiri masih tetap santai seperti sebelumnya.
Meski sudah bersiap sejak awal, tetapi pada dasarnya dia masih
sangat kurang pengalaman. Bahkan baru mulai memiliki
kemampuan membedakan mana lawan hebat dan kuat dan mana
lawan yang lebih lemah. Bahwa dia mampu mengetahui bahwa
Kakek Siu Pi Cong adalah lawan berisi adalah sebab yang lain.
Tetapi, setelah melalui beberapa pertarungan, terutama melawan
Barisan Lo Han Tin yang ampuh, Koay Ji mulai beroleh banyak
pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri. Terutama
dalam mengatur tenaga untuk bertahan dan menyerang serta
lebih menjiwai dan mengetahui efek-efek yang dapat
ditimbulkannya jika menggunakan tenaga iweekangnya. Melawan
Kakek Siu Pi Cong membuat dia menjadi lebih paham dan lebih
mengerti lagi, terutama karena Kakek itu sendiri bukanlah tokoh
yang lemah. Bahkan, pertempuran selanjutnya mulai membuka
mata Koay Ji lebih lebar.
520
Sebagai tokoh kawakan, sekali ini Siu Pi Cong mulai lebih awas
karena mengerti nama besarnya dapat luntur melawan tokoh
yang belum dikenal dunia dan baru munculkan diri seperti Koay
Ji. Karena itu, diapun mulai mempersiapkan diri lebih matang,
baik untuk ilmu, tenaga dalam maupun jurus-jurus pilihannya
dalam menggempur dan menyerang posisi Koay Ji. Sebagaimana
nama julukannya, maka kakek Siu Pi Cong mengandalkan
kekuatan tenaga dalam dan kekuatan telapak tangannya yang
memang kuat, hebat dan penuh dengan hawa dan kekuatan yang
mampu merontokkan lawan. Ketika maju kembali, diapun
menggunakan Ilmu Tiat Siu Keng Khi (Tangan Baju Besi) dalam
jurus Liu Ing Uh Khong (Air Mengalir Tarian Kosong). Jangan
ditanya kekuatan lengannya, bahkan beberapa inchi jaraknya
kekuatannya sudah langsung terasa oleh Koay Ji, keras, kuat dan
penuh tenaga yang menggetarkan. Tetapi, meski begitu, kurang
terlihat adanya serangan berbahaya, seperti gerakan-gerakan
kosong yang tidak menyasar sasaran khusus. Tetapi, Koay Ji
yang sudah merasakan getaran kekuatan lawan paham belaka
bahwa terdapat begitu banyak kemungkinan serangan lawan
dengan gerakan-gerakan yang terlihat kosong tersebut.
Menyadari hal itu, Koay Ji cepat cepat mengerahkan kekuatan
Toa Pan Yo Hian Kang untuk melindungi lengan dan badannya
521
dan kemudian bergerak dengan ilmu khas dan menjadi
andalannya, yakni Langkah Thian Liong Pat Pian. Serangan
lengan kosong Siu Pi Cong dengan demikian dapat dielakkan dan
beberapa kali terjadi benturan tangan kosong antara keduanya:
“Plak …. Plak …… Plak ….. Plak …..”
Sekitar empat kali benturan antara keduanya terjadi dengan suara
benturan yang tidak terlampau keras terdengar. Tetapi akbatnya,
baik Koay Ji maupun Siu Pi Cong segera punya penilaian dan
kesimpulan atas lawan mereka. Koay Ji segera sadar jika lawan
ini merupakan lawan terhebat yang ditemuinya selama ini, baik
dari kecepatan maupun kekuatan pukulan yang mampu
menggetarkannya. Sementara Siu Poi Cong semakin kaget
karena kekuatan lawan ternyata mampu mengimbanginya,
bahkan semakin kaget dia ketika melihat ternyata Koay Ji tidak
nampak kesakitan akibat benturan lengan mereka berdua.
Padahal, dia sudah mengerahkan 6 bagian tenaganya dan juga
dia sudah menggunakan Ilmu Lengan Besi yang kuat dan keras.
Lebih runyam dan mengagetkannya lagi adalah karena saat itu
dia masih harus mengerahkan tenaga agar tidak terpengaruh oleh
kekuatan mujijat yang bersifat mengisap yang memancar dari
tubuh lawan. Jika alpa, dia bisa terjerumus maju.
522
Gagal dengan jurus pertama, Siu Pi Cong segera mencecar
dengan jurus Thian Ho Toh Kua (Sungai Langit Terbalik), dimana
langkah kaki dan serangannya seperti berbalikan arah dan
membingungkan. Langkah ke utara tetapi sasarannya di selatan.
Meski membingungkan, tetapi serangannya berbahaya, karena
berbeda dengan jurus sebelmnya, maka kedua telapak tangannya
menyasar banyak tempat mematikan di tubuh Koay Ji. Kekuatan
dan kecepatannya jangan ditanya lagi. Koay Ji yang melawan
dengan langkah mujijatnya memang dapat menghindarinya, tetapi
Siu Pi Cong langsung melanjutkan dengan jurus Lang Cien Liu
Sah (Ombak Menderu Pasir Mengalir). Ini salah satu jurus
andalannya yang diciptakan berdasarkan karakter Lautan Timur
tempat dimana dia tinggal selama puluhan tahun. Koay Ji merasa
sekitar tubuhnya mengalir hawa-hawa kekuatan yang berbahaya
dan mengancam tubuhnya di banyak titik. Merasa terancam,
berbeda dari sebelumnya, diapun mulai menggunakan ilmu-ilmu
andalannya. Dan sekali ini dia menggunakan Ilmu Kan Goan Cit
Shin Kong (ilmu tenaga sinar jari sakti) dengan jurus Hong Cien
Loh Yap (Angin Berhembus Dedaun Ron-tok). Jurus tersebut
membuatnya mampu mengantisipasi dan menghalau seranganserangan
lawan yang mengepungnya disemua penjuru.
Sekaligus juga mampu mengurangi bahayanya.
523
Tak terasa sudah lebih seratus jurus keduanya adu kekuatan dan
sejauh itu belum terlihat siapa dari keduanya yang menguasai
arena. Koay Ji boleh memiliki kekuatan mujijat dan ilmu-ilmu
ampuh warisan Suhunya dan juga warisan Tokoh Dewa Thian
Hoat Tosu sesepuh Hoa San Pay. Tetapi, semua keunggulannya
itu sirna dan tidak terasa karena dia belum memiliki pengalaman
yang memadai dan membuat semua kelebihan dan
kemampuannya dimaksimalkan. Apalagi lawannya kali ini, Kakek
Siu Pi Cong, juga bukanlah lawan ringan. Dia adalah tokoh besar
dari Lautan Timur dan punya kemampuan mumpuni dan hanya
kalah dari tokoh-tokoh legenda baik legenda dari kaum pendekar
maupun kalangan hitam. Dan kemampuannya serta tentu saja
pengalamannya tentu membawa sisi positif baginya sehingga
mampu bertarung ketat dan bahkan sesekali mendesak Koay Ji.
Hanya saja, setelah seratus jurus berlalu, kini Siu Pi Cong sudah
mulai menyadari bahwa lawannya bukannya semakin
mengendor, sebaliknya semakin lama justru jadi semakin hebat.
“Dia seperti sedang berlatih saja menghadapiku …..” desisnya
dalam hati. Dan dugaannya memang benar. Setelah “berlatih”
melawan Barisan Lo Han Tin Siauw Lim Sie, sekali ini Koay Ji
gembira karena kembali berlatih satu lawan satu dengan tokoh
besar dan kenamaan. Bahkan menggunakan Sam In Ciang
524
sekalipun, dia masih tetap belum mampu mengambil keuntungan,
padahal ilmu hebat tersebut diyakininya sudah hebat dan maju
jauh. Tetapi kenyataannya, sampai lebih seratus jurus, meskipun
tidak terdesak, tetapi diapun tidak mampu mendesak lawan.
Hanya saja, semakin lama Koay Ji semakin senang, karena dia
mampu mempraktekkan banyak jurus baru, pengetahuan baru
dan mulai mampu menakar seberapa besar kekuatan yang harus
dikerahkannya baru effektif.
Setelah tidak menemukan keuntungan sedikitpun dengan
pertarungan mereka sejauh itu, kali ini Siu Pi Cong mulai
mengembangkan ilmu lainnya, ilmu Kim Kang Cap Sa Ciang (tiga
belas jurus telapak baja). Ilmu ini juga mengandalkan kekuatan
dan besarnya tenaga iweekang yang berhawa YANG atau keras.
Karena memang, itulah keistimewaan Kakek Lautan Timur ini dan
yang sudah mengangkat namanya. Ilmu ini sebetulnya tidak
banyak berbeda dengan ilmu sebelumnya, tetapi banyak
menggunakan tipu-tipu yang berbeda, dan lebih mirip binatangbinatang
laut yang diadaptasi ke gerakan memukul dengan
kekuatan besar lewat telapak tangan Siu Pi Cong. Kembali dia
mencoba dengan jurus Hoan Kang Toh Hai (Membalikkan Sungai
Menggali Laut), dengan menggunakan gerakan-gerakan lengan
meniru Lumba-Lumba yang suka loncat ke permukaan air dan
525
kemudian menyelam. Gerakan hewan laut itu muncul dalam
gerakan kedua lengan Siu Pi Cong yang memukul ke atas dan ke
bawah dengan kecepatan tinggi dan sudah tentu dengan kesiuran
angin serangan yang luar biasa kuatnya. Kekuatan serangannya
dapat dirasakan oleh Koay Ji yang menjadi makin hati-hati dalam
melakukan perlawanan.
Hal itulah makal membuat Koay Ji seperti makin keasyikan
melatih diri dan memahami satu demi satu rahasia penggunaan
ilmunya. Karena itu, dengan sangat gembiranya dia menyambut
serangan lawan, dan kembali tampil dan memainkan ilmu yang
lain lagi. Dengan cerdik dia memainkan Ilmu Pukulan Sian In Sin
Ciang (Lengan Sakti Bayangan Dewa) dengan sesekali
menyelipkan Ilmu ciptaan masa kecilnya dan yang sudah banyak
disempunakannya, yakni Ke Jiauw Sin Kun (Pukulan Sakti Cakar
Ayam). Rangkaian serangan lawan ditepis dan diterjang balik
dengan menggunakan jurus Guat Hong Khuang siau (Angin
Topan Menderu) dan dilanjutkan dengan jurus Tay Ke Cian Uh
(Ayam Me-ngibaskan Sayap). Kaget juga Siu Pi Cong ketika
terjangannya dipunahkan dengan mudah oleh sebuah pukulan
Koay Ji yang tepat masuk ke sela-sela kedua lengannya yang
bergerak memukul bergantian itu. Bahkan, gerakan kedua lengan
Koay Ji dengan cepat segera berubah menjadi kibasan yang
526
cukup membahayakan posisi Siu Pi Cong karena berganti dia
yang dicecar kedua lengan Koay Ji dengan kekuatan yang hebat.
Mau tidak mau Siu Pi Cong bergerak cepat, sambil mundur
menghalau serangan Koay Ji dalam jurus Ban Hong Cut Cau
(Selaksa Tawon Keluar Sarang), dimana kedua kakinya mundur
dengan gaya bersilang ke belakang. Namun begitu, kedua
lengannya kembali bergerak dan digerakkan dengan jurus Yun
Liong Phun Uh (Naga di Awan Menyemburkan Kabut). Dengan
demikian, bukannya mundur teratur tapi dia justru memanfaatkan
langkah mundur untuk mempersiapkan serangan balik yang cepat
dengan memainkan jurus baru yang langsung kembali menyasar
banyak tempat di tubuh Koay Ji, khususnya tubuh bagian atas.
Tetapi Koay Ji yang sedang kegirangan “berlatih” segera kembali
memainkan Jurus Yueh Pan Hong Yen (Asap Ditengah Malam),
dari Ilmu Lengan Sakti Bayangan Dewa dan dengan cepat
memapak dan menangkis semua serangan lawan hebatnya itu.
Dan disaat yang nyaris bersamaan kembali menyerang dengan
jurus Thian Kang Lo Cieh (Bu-rung Beterbangan) dari Ilmu
Pukulan Cakar Ayam ciptaan sendiri pada masa kanak2nya.
Kedua lengannya mengepak sambil memukul dari bagian atas
tubuh dan kepala lawan dengan kibasan yang cukup berbahaya
jika dibiarkan.
527
Untuk memunahkannya, Siu Pi Cong bergerak cepat dalam jurus
Ku Hoa Cun Ih (Bunga Ku Dimusim Semi) dan dikombinasikan
dengan jurus Pit Yun Cian Cang (Gumpalan Awan Merintang).
Dengan cara tersebut dia kembali dapat memunahkan serangan
Koay Ji dan kembali serang menyerang dengan mengandalkan
kecepatan, kekuatan pukulan dan kecerdikan untuk menemukan
peluang dalam menyerang. Dalam hal yang ketiga, Koay Ji
memang masih tertinggal dari lawannya dan kelihatannya dengan
sengaja sedang belajar lebih jauh dari Siu Pi Cong yang memang
sudah kawakan dan penuh pengalaman tempur. Koay Ji merasa
senang karena dia mampu mendapat dua kali pelajaran luar biasa
hari itu dan karena itu memutuskan untuk terus menyerang dan
menangkis. Apalagi, entah mengapa Koay Ji memang tidak
berniat untuk menjatuhkan kakek ini, kakek yang meski
berangasan tetapi tidak dilihatnya terlalu jahat dan licik. Pukulanpukulannyapun
tidaklah berhawa sesat, meski sering
menyerangnya di tempat-tempat mematikan.
Kembali banyak jurus mereka lalui, bahkan sudah melewati 200
jurus lebih pertarungan tersebut. Adalah Koay Ji yang beruntung
banyak, karena dia benar-benar berlatih dengan lawan yang
mengejarnya mati-matian dan berusaha memenangkan tarung
mereka tersebut. Bahkan Siu Pi Cong mulai mencecarnya dengan
528
kekuatan hingga 8 bagian tenaga dalam Ilmu Bhi Kong Ciang
(Silat Kilat Biru). Sungguh hebat. Sampai sampai Hoat Kek
Hwesio dan Hoat Bun Siansu meleletkan lidah mereka
menyaksikan pertarungan tingkat tinggi tersebut dan diam-diam
mengkhawatirkan keselamatan Koay Ji yang mereka tahu sedang
membela Siauw Lim Sie. Bukan cuma sinar biru berkilat yang
muncul dari lengan Siu Pi Cong, bahkan sesekali sinar berkilat itu
terlontar dari lengan Kakek Lautan Timur dan mencecarnya.
Tetapi, kedua tokoh Siauw Lim Sie itu terkejut ketika dengan
tenangnya perlahan namun pasti Koay Ji menerima letikan sinar
itu dengan lengan telanjang. Pada awalnya dia memukul dari
samping, tetapi setelah 3,4 kali, dia berani menerima serangan
berwarna kebiruan itu dengan lengan kosong dan tidak terlihat dia
terluka.
Padahal, mana Koay Ji tahu bahwa mereka yang mampu dan
sanggup menerima serangan Siu Pi Cong dengan Bhi Kong Ciang
nya dan pula dengan telapak tangan telanjang, sangatlah jarang.
Bahkan sejauh ini, hanya Tokoh-tokoh Dewa yang pernah
menerima pukulan tersebut dengan tangan telanjang dan tidak
terluka. Wajar jika lama kelamaan Kakek Siu Pi Cong mulai
bergidik dan sadar, bahwa lawan muda nya ini bukanlah tokoh
yang dapat dianggap enteng. Bahkan, keraguan untuk menang
529
muncul dalam hatinya setelah dengan beraninya Koay Ji
menerima pukulan andalannya tanpa celaka dan tanpa terluka
sedikitpun. Persis seperti tokoh-tokoh dewa yang pernah
melawannya dahulu, Bu Te Hwesio dan Thian Hoat Tosu.
Bahkan, lebih dari itu, Kakek itu masih harus mengerahkan
tenaga tambahan guna menahan tubuhnya untuk tidak terjerumus
ke depan saking kuatnya daya hisap yang muncul akibat tenaga
iweekang yang dikerahkan Koay Ji. Pertarungan selanjutnya
memang Siu Pi Cong masih terus memburu Koay Ji dengan
pukulan-pukulan mautnya, tetapi dia sudah mulai kehilangan
pegangan untuk memenangkan pertarungan meski masih
menyimpan satu ilmu andalannya. Tetapi, melihat bagaimana
kekuatan Koay Ji yang tidak berkurang dan yang semakin lama
semakin digdaja, membuat Siu Pi Cong ragu untuk bertarung
sampai sedemikian riskannya buat nama dan kebesarannya.
Tetapi, untuk mengalah juga terlampau repot baginya yang
sedang mengerjakan sesuatu bagi orang yang memintanya turun
tangan.
Untungnya suasana runyam yang dihadapi Kakek Siu Pi Cong
tertolong. Pada saat itu, dia dalam keraguan apakah akan
mengeluarkan Ilmu yang paling diandalkannya, yaitu Ilmu Hu Po
Cap Ji Ciang Hoat (Dua Belas Pukulan Menaklukkan
530
Gelombang). Sebuah ilmu pamungkas yang sangat “keras” dan
berbahaya”, yang bila dilepaskan maka jika bukan lawan yang
celaka, diapun pasti akan terluka sangat parah. Repotnya, diapun
sangat percaya bahwa Koay Ji sendiri masihlah belum sampai di
tingkat puncaknya. Apalagi, karena semakin lama Koay Ji
semakin tangguh dan kekuatannya semakin teratur dan semakin
lama semakin kuat. Pada saat itulah terdengar sebuah suara yang
merdu dan melengking tinggi:
“Rupanya manusia usil ini kembali mengganggu Siauw Lim Sie
disiang hari, huhhh, sungguh sombong dan memuakkan …….”
Awalnya kalimat tersebut masih terdengar cukup jauh, tetapi
begitu selesai diucapkan pemilik suaranya sudah tiba dan berdiri
tidak jauh atau bahkan dekat dengan arena pertarungan Koay Ji
melawan Siu Pi Cong. Keadaan ini menguntungkan Kakek Siu Pi
Cong yang dengan cepat menghentikan serangan dan kemudian
memandang kearah pendatang yang baru tiba.
“Siapa engkau …… ech, Siocia dari Lam Hay …….. apa kabar
Nona Sie ,.. apakah Sinni di Lautan Selatan baik-baik saja ……”?
Awalnya Siu Pi Cong ingin pura-pura murka karena
pertarungannya diinterupsi orang. Tetapi, begitu melihat siapa
531
yang datang kemarahannya langsung lenyap. Memangnya siapa
sebenarnya pendatang itu? Mengapa Siu Pi Cong begitu segan
terhadapnya? Apalagi jika dilihat dari dekat, Nona itu paling
banyak berusia 20 tahunan atau mungkin belum mencapai usia
20 tahunan. Mengenakan baju ringkas berwarna biru cemerlang
atau biru laut, benar-benar membuat Nona ini terlihat semakin
cemerlang sekaligus gemilang dalam kecantikannya. Tetapi,
meski begitu wajahnya terlihat memiliki wibawa dalam
kecantikannya dan tidak terlihat dia senang dengan umpakan Siu
Pi Cong. Karena memang latar belakangnya terhitung “luar
biasa”.
Siapa yang dimaksud oleh Siu Pi Cong sebagai Nona Sie …? Dia
bukan lain adalah murid salah seorang tokoh dewa dari Lautan
Selatan. Namanya adalah Sie Lan In, Long Li Hu Tiap (kupu-kupu
di tengah ombak) dan merupakan murid bungsu dan murid
kesayangan Rahib Laut Selatan yang sangat terkenal. Bukan
hanya terkenal, tetapi melegenda bahkan. Karena Lam Hay Sinni
adalah salah satu dari 3 Dewa yang termasyur di Tionggoan
meskipun tempat tinggalnya jauh di Lautan Selatan. Tokoh ini
bersama dengan Bu In Sin Liong pernah menimba Ilmu pada 2
tokoh yang sama, yakni seorang Bhiksu terpendam di Kuil Siauw
Lim Sie dan kepada seorang Bhiksu asal Thian Tok. Mereka
532
masing-masing bertarung melawan Bhiksu tersebut, tetapi jika
Lam Hay Sinni muda kalah setengah jurus dari Bhiksu tersebut,
adalah Bu In Sin Liong yang mampu mengimbanginya.
Sesungguhnya, mereka berdua memiliki hubungan yang cukup
ruwet dan sulit untuk dijelaskan. Dalam dunia persilatan,
kelihatannya tak seorangpun yang mengetahuinya selain mereka
berdua. Bakat dan kecerdasan mereka memang nyaris setingkat,
akar ilmu silat mereka juga sama-sama berasal dari Kuil Siauw
Lim Sie. Masa kanak-kanak mereka juga dihabiskan bersama
dengan seorang Bhiksu Tua asal kuil Siauw Lim Sie sampai
akhirnya mereka berpisah, dimana Bu In Sin Liong masuk menjadi
Pendeta Siauw Lim Sie dengan nama Bu In Hwesio, sementara
Lam Hay Sinni berkelana dan akhirnya bermukim di Lautan
Selatan. Tetapi, diusia pertengahan, keduanya berjumpa lagi dan
bertarung dengan seorang Rahib asal Thian Tok. Tak disangka,
dari Rahib tersebut mereka kembali berjodoh dengan Ilmu Silat
mujijat yang kelak mengangkat mereka menjadi semakin sakti
dan digdaja.
“Hmmmm, Subo baik-baik saja Siu Locianpwee, semoga
locianpwe juga sehat-sehat selalu. Tetapi, maafkan, sesuai
amanat Subo, maka aku harus membantu Kuil Siauw Lim Sie dan
orang itu malam sebelumnya kutemukan sedang mengamat533
amati dan kemudian menyusup masuk kedalam Kuil Siauw Lim
Sie. Maksudnya pasti tidak baik. Hanya orang bermaksud jahat
yang melakukan pengintaian menjelang pagi hari … hey, siapa
engkau sebenarnya …..”?
“Dia mengaku bernama Thian Liong Koay Hiap Nona dan
sepertinya, dia menganggap dirinya yang paling lihay. Apalagi, dia
baru saja mempermalukan Barisan Lo Han Tin Siauw Lim Sie dan
menantang Ciangbudjin Siauw Lim Sie, entah apa maksud yang
sebenarnya dari orang tak dikenal ini ……”
Bukan main kalimat Siu Pi Cong ini. Langsung kena dan termakan
oleh Sie Lan In yang memperoleh amanat langsung Subonya
untuk membantu Siauw Lim Sie. Dia belum tahu kisah yang
sesungguhnya terjadi, sementara para Bhiksu Siauw Lim Sie
tentu saja juga merasa risih untuk angkat bicara karena
“Ciangbudjin” mereka justru berada disitu. Kalimat tadi sontak
membuat Nona Sie menjadi murka dan kesalahpahamannya
terhadap Koay Ji menjadi semakin dalam dan semakin menjurus
ke sentimen. Entah mengapa sejak memergoki Koay Ji dan tak
mampu mengejarnya sudah membuat Nona Sie Lan In menaruh
rasa jengkel dan rasa tidak suka. Rasa yang semakin menjadijadi
ketika mendnegar Koay Ji sudah berhasil menerobos Barisan
Lo Han Tin yang dia tahu nama besar dan kehebatan barisan itu.
534
“Benarkah engkau barus saja mengalahkan Barisan Lo Han Tin
dan menantang Ciangbudjin Siauw Lim Sie untuk bertarung
…….”?
Gadis yang sebenarnya masih sebal dengan Koay Ji terkejut
setengah mati dengan informasi itu sudah langsung bertanya
kepada Koay Ji. Pertanyaannya merepotkan Koay Ji, jelas saja.
Tetapi faktanya memang begitu. Sulit untuk menjawab
sekedarnya. Karena itu, dia menjadi gagap dan berkata:
“Ini …… ach, hal ini perlu dijelaskan …..”
“Aku bertanya sekali lagi, apakah memang betul engkau
mengalahkan Lo Han Tin dan menantang Ciangbudjin Siauw Lim
Sie …..”?
“Ini ….. ech, iya benar ……. tapi ….. tapi”
“Huh, sombong dan pongah ……. Kita belum menyelesaikan
pertarungan kita malam itu, entah mengapa engkau melarikan diri
dan bersembunyi dalam Kuil Siauw Lim Sie. Tetapi sekarang
engkau malah kembali mengacau di Kuis Siauw Lim Sie,
menantang Ciangbudjin pula. Kita harus menentukan siapa yang
lebih unggul jika demikian, selain itu, akupun ingin membalaskan
535
kekalahan Barisan Lo Han Tin tadi dan membela Kuil Siauw Lim
Sie dari orang usilan seperti engkau ………”
Sebenarnya sangat sulit bagi Koay Ji untuk marah kepada Gadis
baju biru yang baru tiba dan terlihat sangat cantik, lembut dan
berwibawa itu. Tetapi, meski begitu, dia kurang senang dengan
rasa marah dan sentiment gadis cantik itu terhadapnya. Karena
dia paham bahwa kemarahan dan kejengkelan gadis itu
terhadapnya jelas sangatlah tidak beralasan. Repotnya, dia
memang datang untuk menantang Ciangbudjin Siauw Lim Sie dan
menjelaskan posisinya tidaklah mungkin dengan satu atau dua
patah kata. Butuh waktu yang panjang dan lama.
“Nona …….. acccchhh, engkau jelas sudah salah paham. Karena
aku sebenarnya sedang membantu pihak Siauw Lim Sie …..”
“Hmmmm, dengan mengalahkan Barisan Lo Han Tin dan bahkan
begitu berani mati menantang Ciangbudjin Kuil Siauw Lim Sie,
engkau sungguh menganggapku tolol dengan mengatakan aku
tak paham heh? …….”
Sambil berkata demikian, Nona Sie Lan In yang terlihat marah dan
kesal dengan apa yang dilakukan Koay Ji sudah menerjang maju
dengan kecepatan yang bukan lagi cepat, tetapi istimewa. Hanya
536
dengan refleks dan gerakan istimewa dari Langkah Thian Liong
Pat Pian sajalah yang membuatnya terhindar dari terjangan Nona
Sie. Meskipun dicecar dan diserang dengan hebat oleh Nona Sie,
Koay Ji yang mampu mengelak dengan manis itu man masih
sempat mengingatkan:
“Nona, Siauw Lim Sie sedang butuh bantuan kita ……..”
“Hmmmmm dengan menantang Ciangbudjin dan mengalahkan
Barisan Lo Han Tin, itu yang engkau maksud ……”?
“Kita bisa bicarakan masalahnya Nona ……”
“Diam …… lawan aku jika memang engkau ingin melakukan niat
jahatmu …..”
Sambil berbicara, mereka sudah saling bentrok sebanyak 10 jurus
saking cepatnya gerakan Sie Lan In dan saking banyaknya
langkah mujijat Koay Ji untuk menghindar dan mengelak dari
serangan berbahaya Sie Lan In. Keistimewaan kedua orang ini
berbeda namun setanding. Sie Lan In memiliki gerakan yang luar
biasa cepatnya, melebihi kemampuan Koay Ji sendiri. Tetapi,
Koay Ji memiliki keistimewaan pada langkah-langkah mujijat yang
kadang atau bahkan sering terlihat tidak masuk akal. Itu
sebabnya, meski bergerak sangat cepat, tetapi tetap saja Sie Lan
537
In tak mampu untuk memukul dan mencowel tubuh Koay Ji.
Sampai akhirnya, saking cepatnya pergerakan Sie Lan In, Koay Ji
memutuskan untuk tidak meladeni gerakan-gerakan cepat yang
jelas tidak akan mampu diladeninya dengan kecepatan yang
sama.
Untuk mengimbangi kecepatan lawan, Koay Ji memilih ilmu tinju
Sam Im Ciang (tiga tinju rahasia). Ilmu ini tidak membutuhkan
gerak cepat tetapi jauh lebih kokoh dan mampu digunakan untuk
menjaga diri sendiri. Apalagi jika kemudian dikombinasikan
dengan gerak-gerak menyerang dari skema Thian Liong Pat Pian.
Dan benar saja, dengan memilih kombinasi Ilmu Sam Im Ciang
dan kombinasinya dengan Thian Liong Pat Pian, sebentar saja
Koay Ji sudah dihujani pukulan dari berbagai penjuru. Tetapi,
meskipun demikian, tak ada satupun serangan lawan yang
mampu luput dari perhatian Koay Ji dan dengan mudah digebah
pergi tanpa mampu mendatangkan bahaya baginya. Hanya mata
ahli yang dapat melihat betapa posisi Koay Ji meskipun terdesak,
tetapi sebenarnya lawan tidak mampu berbuat apa apa
terhadapnya. Bagi yang melihat dari luar, Koay Ji terlihat seperti
hanya bertahan saja dengan perbandingan 8:2 dalam menyerang
dan bertahan.
538
Masuk di akal jika Koay Ji kelimpungan meladeni gerak cepat Sie
Lan In yang bergerak dengan Ilmu Ginkang mujijatnya Sian-Ing
Tun-Sin-Hoat (ilmu bayangan dewa menghilang). Suhunya juga
akan berlaku sama jika melawan Lam Hay Sinni, Rahib Sakti dari
Lautan Selatan. Kecepatan adalah keunggulan Lam Hay Sinni
dan tentu juga diwarisi murid terkasihnya ini. Jadi wajar. Apalagi
untuk mendesak Koay Ji nona Sie menggerakkan lengannya
dengan ilmu Liu Yun Ciang Hoat (llmu pukulan Awan Terbang),
sebuah ilmu yang mengandalkan kecepatan. Karena itu, tubuh
Koay Ji bagaikan terkepung oleh bayangan serangan sepasang
lengan Nona Sie yang terus memberondongnya dengan pukulanpukulan
maut tanpa henti-hentinya. Tetapi meski demikian,
semua serangan tersebut mental balik, baik ketika bertemu
dengan tangkisan Koay Ji, maupun terpental ketika bertemu hawa
khikang Koay Ji.
Menyadari strategi Koay Ji menjadi susah ditembus, Nona Sie
mencoba strategi lainnya dengan menggunakan salah satu Ilmu
andalan Subonya, Ilmu To Im Cih Yang (Menyambut Dengan
Keras Mendorong Dengan Lunak). Ilmu ini mengandalkan tenaga
sakti perguruannya, yakni Hut Men Sian Thian Ki Kong (Tenaga
Mujijat), sebuah iweekang warisan Pendeta Tua Siauw Lim Sie.
Ilmu Iweekang Mujijat ini baru berhasil disempurnakan Lam Hay
539
Sinni ketika menghadapi Rahib Sakti dari Thian Tok. Saat itu,
pada akhir pertarungan merka akhirnya duduk bersama bertukar
“filosofi ilmu silat” bertiga dengan Bu In Siansu yang juga
bertarung dengan Rahib itu. Mereka masing-masing beroleh
manfaat yang luar biasa karena ternyata Rahib Sakti dari Thian
Tok yang sudah berusia 100 tahunan waktu itu, merupakan
gudang Ilmu Silat aliran Budha Thian Tok. Dari sanalah Bun in Sin
Liong dan Lam Hay Sinni menimba tidak sedikit kemajuan yang
membuat mereka melonjak jauh dalam oenguasaan Ilmu Dalam
beraliran Budha. Selaras dengan warisan Suhu mereka.
Ilmu To Im Cih Yang adalah salah satu ilmu ciptaan Lam Hay Sinni
setelah bercakap dengan Rahib Sakti itu. Menjadi lebih hebat lagi
terutama setelah dia mampu menyempurnakan Iweekang mujijat
yang dikuasainya, yakni Hut Men Sian Thian Khi Kang (Tenaga
Mujijat). Ilmu iweekang yang setingkat dengan Toa Pan Yo Hian
Kang karena masing-masing adalah puncak dari penguasaan
Ilmu-Ilmu Budha. Jika Hut men Sian Thian Khi Kang adalah jalur
halus dan lembut, maka Toa Pan Yo Hian Kong adalah jalur
kerasnya. Tetapi, tujuan keduanya sebetulnya sama, muaranya
sama, karena memang keduanya adalah iweekang mujijat yang
berlandaskan ajaran Budha. Kedua jalur iweekang Budha ini
sudah sempurna dan mendarah daging bagi kedua tokoh mujijat
dunia persilatan itu dan dari mereka turun Ilmu-ilmu turunan
540
berdasarkan iweekang penguasan mereka. Dan repotnya,
mungkin tidak pernah diduga kedua tokoh legenda itu, kedua
anak murid mereka akan saling bentrok satu dengan yang
lainnya. Dan tentu akan menggunakan ilmu-ilmu yang sumbernya
sama.
Koay Ji menerjang dengan kokoh, tidak cepat namun tidak lambat
dengan jurus Hung Hui Ming Ming (Angsa Terbang Gelap-Gelap).
Pada saat itu dengan tiba-tiba dia menerjang dan berusaha
menotok jalan darah di lengan kanan dan jalan darah di pundak
Nona Sie. Dengan sebat si gadis bergerak menyambut dengan
jurus Kim Sih Jauw Wua (Benang Emas Melilit pergelangan
Tangan), dan ketika pukulan Koay Ji dia terima, tiba-tiba dia
menghentak dengan jurus Kim Kong Ce Kiam (Arhat Menekan
Pedang). Jurus tersebut adalah salah satu tipu cemerlang dari
Ilmu To Im Cih Ying, tetapi meski berhasil mengagetkan Koay Ji,
gadis itu sendiripun tidak kalah terkejut. Mengapa? Karena entah
bagaimana, dari tubuh Koay Ji keluar daya hisap yang cukup kuat
sehingga dia kehilangan sepersekian detik untuk bertahan baru
mengebut dengan tenaga lunak. Pada akhirnya, kalau Koay Ji
terkejut dengan hentakan lawan yang seperti tak bertenaga
namun tiba-tiba penuh tenaga dan baru dapat dijinakkannya
dengan mengalihkan tenaga serangan hawa lunak itu dengan
541
menggunakan Ilmu Pouw Tee Pwe Yap Sian Sinkang; maka Nona
Sie kaget karena ternyata Koay Ji cukup sigap dan mampu
memunahkannya, bahkan mampu membuatnya terseret nyaris
setengah langkah karena juga tidak siap dengan kemujijatan
Koay Ji.
Setelah episode itu, keduanya kini saling pandang dengan mata
siaga dan sigap. Keduanya kini saling mengerti dan menyadari
bahwa mereka sudah bertemu lawan yang sangat tangguh dan
belum tentu siapa yang akan dapat menangkan pertarungan
tersebut. Tetapi yang pasti, keduanya kini mulai tumbuh sikap
saling menghormati karena menemukan kenyataan lawan
sungguh-sungguh hebat. Yang untung adalah Koay Ji. Karena
melawan Barisan Lo Han Tin dan Kakek Siu Pi Cong, dia seperti
menemukan teman berlatih yang tepat dan mampu memancing
penguasaan yang lebih dalam atas ilmu-ilmu yang sudah
dimilikinya. Terutama melatih kemampuannya dalam menakar
penggunaan tenaga iweekang manakala mendorong ilmu-ilmu
yang sudah dimilikinya. Melawan Nona Sie tanpa pengalaman
tarung sebelumnya, pasti akan membuatnya dalam keadaan
repot, keteteran dan terdesak hebat.
Penasaran karena sedikit dibawah angin akibat sempat terseret
sedikit oleh hentakan tenaga Koay Ji yang bersifat “menghisap”,
542
Nona Sie menjadi murka. Dia memasang pancingan dengan jurus
Lang Cien Liu Sah (Ombak Menderu pasir Mengalir), dimana
serangannya terlihat berbahaya namun memiliki sejumlah lubang
untuk dapat diserang lawan. Dan dia menjadi senang karena pada
saat itu benar saja Koay Ji menghindar sambil mendesak balik
dengan dua jurus beruntun, yakni jurus Hui Hong Soh Liu (Angin
Puyuh Menyapu Pohon), disusul jurus Phing Lan Cih Ie
(Bersandar Di pagar Mengirim Kenangan). Jurus pertama
merupakan jurus pemunah “serangan palsu” Nona Sie, yakni
dengan memukul kesamping lengan lawan, dan begitu Nona Sie
menggeser kakinya dua langkah untuk memunahkan tenaga
hentakan Koay Ji, segera jurus kedua menghambur dengan
mengarah kedua pundak Nona Sie. Tetapi dengan cepat, Nona
Sie Lan In bergerak dengan gerak melingkar, perlahan seperti
sedang mengumpulkan tenaga dalam gerakan Coa Hang Sam
Cun (Ular Melingkar Di Musim Semi). Sedetik kemudian kedua
lengannya bergerak indah menyambut lengan Koay Ji yang
memukul kearah pundaknya. Kecepatan gerak mereka luar biasa,
karena semua berlangsung dalam hitungan kurang dari sedetik.
Bukannya menghindar, Koay Ji justru melanjutkan serangannya
sehingga saling melibas dengan gerakan menarik atau
menyambut dari Sie Lan In. Tetapi ada yang tidak disadari Sie
543
Lan In sejak awal, yakni bahwa Koay Ji bukan hanya menguasai
Ilmu Toa Pan Yo Hian Kang, tetapi juga menguasai ilmu mujijat
lainnya yakni Pouw Tee Pwe Yap Sian Sinkang. Iweekang kedua
ini boleh dikata mampu mengisi beberapa kemujijatan lain dan
melengkapi apa yang sudah dimiliki Koay Ji. Itulah sebabnya,
ketika Sie Lan In mengandalkan tenaga Bian Kang (Tenaga
Kapas) untuk justru balik melontarkan pukulan mengandalkan
kekuatan Koay Ji, dia kecele. Karena Koay Ji pada saat yang
sama justru melakukan tipu yang sama dengan ketika mereka
berdua bertarung malam sebelumnya. Serangan pertama yang
disambut Sie Lan In lebih lemah meski bukan kosong, dan ketika
gadis itu menyambutnya dan kemudian ingin membalikkannya,
tibalah serangan kedua yang jauh lebih kuat.
Sie Lan In yang tidak menyangka strategi cerdik Koay Ji ini
terkejut setengah mati. Tetapi, untungnya dia memang masih
lebih berpengalaman dibandingkan dengan Koay Ji dalam
pertempuran yang sesungguhnya. Pertama, dia memang mulai
merasa curiga ketika serangan pertama Koay Ji terhitung “lemah”
atau kurang bertenaga, padahal dia sudah tahu sampai dimana
kekuatan Koay Ji setelah mereka bertempur lama. Fakta ini sudah
membuat Sie Lan In curiga dan benar saja, kecurigaannya
terbukti dan membuat dia masih memiliki waktu sepersekian detik
544
untuk dapat melesat keatas. Akibatnya, hanya rambutnya yang
terbang menderu kebelakang tersambar angin pukulan Koay Ji
yang lebih bertenaga. Dan lebih untung lagi, keadaan runyam Sie
Lan In tidaklah serta merta dimanfaatkan oleh Koay Ji untuk
memburunya dengan menyerang lebih gencar guna
mendapatkan serta mengejar kemenangan. Sebaliknya, Koay Ji
menunggu sampai Sie Lan In benar-benar berdiri tegak dan kokoh
kembali sambil terus menerus memandanginya dengan mata
yang nyaris tak menyorotkan emosi. Tidak ada rasa menang
sedikitpun dari sikapnya yang tetap biasa saja.
Tetapi Sie Lan In sudah menjadi murka. Tiba-tiba lengannya
bergerak dan tak lama kemudian sudah tergenggam sebatang
pedang berwarna kebiruan, yakni sebuah Pedang Pusaka
kenamaan yang dikenal orang dengan nama Pedang Pusaka
Naga Kayangan (Thian Liong Po Kiam). Begitu mengeluarkan
Pedang itu, barulah sebagian besar sadar jatidiri Sie Lan In:
“Amitabha ……. benar, dia muridnya Lam Hay Sinni ……” berbisik
Hoat Bun Siansu, bisik antara kaget, takjub dan heran melihat
murid Lam Hay Sinni berada di Kuil mereka dan konon untuk
memberikan bantuan bagi mereka. Bisikan ini sayangnya tidak
ada selain mereka berdua, Hoat Bun Siansu dan Hoat kek Hwesio
yang berbicara atau saling berbisik satu dengan lainnya.
545
“Amitabha ….. engkau benar Ji Suheng ……”
Sementara itu di arena, Sie Lan In yang sudah memegang
sebatang Pedang Pusaka berwarna kebiruan seperti pakaian
yang dikenakannya, sudah berdiri gagah sambil kemudian
memandang Koay Ji dan berkata:
“Keluarkan senjatamu, aku mengaku kalah jika bertangan kosong
….. tetapi aku akan sanggup mengalahkanmu jika menggunakan
senjata ……”
“Apakah benar-benar perlu kita berdua menentukan hasil
pertempuran kita ini dengan pertarungan hidup mati Nona …”?
“Apakah engkau takut ……”? pernyataan atau pertanyaan yang
membuat Koay Ji yang juga masih berdarah panas menjadi
penasaran
“Hmmmmm, tidak ada kata takut di kamusku Nona, hanya saja,
sayang sekali karena kita mestinya menyelesaikan urusan Siauw
Lim Sie …..”
“Langkahi dulu mayatku jika engkau mau melakukannya …… ayo,
mana senjatamu jika engkau memang tidak takut ……”
546
“Engkau sungguh sombong Nona ….. baik majulah, aku akan
melayanimu dengan tangan kosong. Jangan ragu menyerangku
nantinya ……”
“Apakah engkau takut menghadapiku dengan senjata ..”?
“Tidak, sedikitpun aku tidak takut menghadapimu dengan senjata.
Tetapi aku memang tidak pernah berlatih menggunakan senjata.
Karena itu, majulah, aku masih mampu meladenimu dengan
senjatamu sekalipun ……”
“Baiklah, banyak orang menjadi saksi jika engkau memintaku
menyerangmu dengan menggunakan senjataku. Kuharap engkau
tidak menyesal nantinya …..”
“Silahkan Nona ……. aku menunggu seranganmu …..”
Meskipun terlihat tetap tenang, tetapi pada dasarnya Koay Ji
sudah mulai mengerahkan kekuatan iweekangnya sambil
berkonsentrasi penuh. Pada saat seperti ini, dia merasa harus
atau wajib menggunakan pengetahuannya atas sumber dan
pokok gerakan manusia berhubung lawan menggunakan senjata
tajam. Sampai detik itu, Koay Ji masih belum cukup memahami
hingga dimana tingkat kekuatan iweekangnya meski Suhunya
pernah menjelaskan kepadanya tempo hari. Tetapi, langsung
547
berada di arena pertempuran dan menghadapi lawan hebat yang
menggunakan senjata membuat Koay Ji sedikit goyah. Tetapi,
jelas dia tidak takut dan bahkan kini sudah siap. Tanpa ada
seorangpun yang tahu, Koay Ji sudah mengerahkan hawa
khikang pelindung badan, sebuah khikang istimewa khas Siauw
Lim Sie. Yakni khikang yang mulai dikuasainya secara otomatis
pada tahun ke-8 dia berlatih dengan suhunya, Kim kong pu huay
che sen (Ilmu Badan/Baju Emas Yang Tidak Bisa Rusak). Ketika
sebagian besar hawa sakti dalam tubuhnya mulai melebur ke
tantian dan dia sanggup menguasai Toa Pan Yo Hiankang,
perlahan-lahan hawa khikang itu mulai terbentuk. Semakin
banyak hawa itu melebur dan semakin kuat penguasaannya atas
Toa Pan Yo Hiankang, semakin kuat pula hawa sakti itu terbentuk.
Dapatlah dibayangkan bagaimana kecepatan Koay Ji dalam
berlatih Ilmu Iweekang yang sebetulnya adalah karena paduan
antara tenaga pukulan 2 tokoh dewa yang mengeram dalam
tubuhnya dan “dimasak” oleh Pil Mujijat Bu Te Hwesio, tokoh
dewa yang lainnya lagi. Maka ketika Suhunya mulai mengajar
mengumpulkan iweekang, dia melakukan bersamaan dengan
upaya meleburkan iweekang dalam dirinya yang sudah
bertumbuh berpuluh atau beratus kali lipat itu kedalam tantian.
Bahkan ketika akan memulai belajar ilmu silat, semua jalan darah
548
fital untuk berlatih silat dan iweekang, sudah dapa ditembusi
semua. Itulah sebabnya, meski hanya dalam jangka waktu 2
tahun, sebetulnya Koay Ji boleh dibilang sudah mengumpulkan
khikang mujijat itu untuk latihan setara dengan 20 tahun. Karena
itu, hawa khikang tubuh yang tak teracuni dan terlukai khas
iweekang puncak Siauw Lim Sie, sebetulnya sudah sangat tinggi
tingkat dan kekuatannya dalam tubuh Koay Ji.
Tetapi, menghadapi Sie Lan In, Koay Ji masih belum cukup
menyadari kemampuan mujijatnya ini. Meski demikian, bukan
berarti dia takut. Karena Koay Ji masih memiliki beberapa andalan
lain yang dijadikannya sandaran dan harapan untuk menahan
atau bahkan mengalahkan Nona Sie Lan In. Meski untuk
mengalahkan gadis itu, Koay Ji merasa berat dan juga tidak
sampai hati. Selain memang, dia sendiri sadar jika teramat sulit
untuk mengalahkan Gadis Sakti seperti Sie Lan In ini. Koay Ji kini
sudah siap dan menjadi lebih siap ketika melihat gaya pembukaan
Sie Lan Ini agak berbeda dengan gerakan ilmu pedang Tionggoan
rata-rata. Gayanya lebih mirip dengan gaya Thian Tok dengan
mengangkat pedangnya sejajar dada untuk kemudian diarahkan
kepadanya. Sementara tatap mata Sie Lan In terlihat tenang
namun penub percaya diri dan yakin akan apa yang akan dan
sedang dilakukannya. Posisi dan ketenangan seperti ini yang
549
justru berbahaya dan membuat Koay Ji makin meningkatkan
kewaspadaannya. Dia sadar, serangan Sie Lan In mestinya
berbahaya dan karena itu, dia berkonsentrasi penuh dan
waspada.
“Awas serangan ……”
Bukanlah teriakan, tetapi hanya seperti bisikan yang terbawa
semilir angin. Begitupun membuat Koay Ji semakin awas dan
melihat bagaimana kini lengan kanan Sie Lan In bergerak
pergelangannya dan pedang kemudian melesat meninggalkan
tubuh dan badan Sie Lan In dan terbang mencari sasarannya.
“Hebat, ini bukankah Ilmu Pedang Terbang, sungguh hebat Nona
itu jika demikian ……” desis Koay Ji dalam hati. Tetapi karena
sudah sangat siap, Koay Ji memutuskan untuk mengandalkan 3
ilmu geraknya sekaligus. Ilmu Langkah Thian Liong pat pian- atau
"Naga langit berubah delapan kali" yang membuat gerakangerakannya
tak terduga, Liap In Sut (Ginkang Mengejar Awan),
andalannya untuk bergerak ringan dan cepat serta Ilmu Cian
Liong Seng Thian (Naga naik kelangit) untuk lompatanlompatannya.
Selain itu, diapun ikut mengandalkan
pemahamannya atas gerak dan kemungkinan gerakan lawan
untuk menambah kewaspadaannya. Maklum, Suhunya pernah
berpesan, bahwa Ilmu Pedang Terbang hanya dapat dimainkan
550
orang yang sudah memiliki kekuatan dan kemampuan istimewa.
Sempurna dalam ginkang dan sudah memiliki kekuatan iweekang
yang juga lebih dari memadai, melebihi kemampuan tokoh-tokoh
tingkat satu.
Koay Ji tahu bahwa tingkat Ilmu Pedang Terbang hanya dikuasai
oleh tidak lebih dari 3 tokoh semata, dan dua diantaranya adalah
Thian Hoat Tosu dan Lam Hay Sinni. Thian Hoat Tosu dan murid
perempuannya Tio Lian Cu sudah dikenal Koay Ji, apakah gadis
ini adalah murid Lam Hay Sinni? Entahlah, karena Koay Ji
memang sama sekali tidak mengenalnya. Tetapi, sangat mungkin
dia ini murid Lam Hay Sinni, karena ilmu pukulan dan dasar
gerakan Ilmunya mirip dengan dirinya sendiri, dan dipastikan
berakar pada ilmu silat keluaran Pintu Perguruan Siauw Lim Sie.
“Ach, itu sebabnya dia berkata harus membantu Siauw Lim Sie,
sama denganku …..” pikir Koay Ji. Tapi saat itu, dia tidak boleh
terganggu dengan urusan lain dan karenanya berkonsentrasi
penuh untuk menerima serangan maut dari Sie Lan In.
Luar biasa serangan Sie Lan In. Pedangnya menyambar dengan
kecepatan tinggi dan langsung menusuk tajam kearah Koay Ji.
Tetapi, Koay Ji yang tahu dengan kehebatan Pedang Terbang
bergerak dengan langkah-langkah aneh dan didukung dengan
daya gerak Liap In Sut. Meski tidak mampu mengimbangi
551
kecepatan mujijat dari Sie Lan In tetapi lebih dari cukup untuk
membuat Nona manis itu kerepotan karena teramat sukar untuk
mengantisipasi kemana Koay Ji akan bergerak. Karena itu,
sepasang lengan Sie Lan In akhirnya bergerak-gerak cepat dan
sebagai akibatnya Pedang Pusakanya berkilat-kilat kebiruan
menyambar-nyambar kearah Koay Ji. Inilah ilmu Hui-Sian-Hui-
Kiam (Pedang terbang memutar) yang digerakkan dengan jurus
'ok miao pok cie' (Kucing galak menubruk tikus).
Kelihatannya Pedang Pusaka Kayangan mengejar-ngejar
kemanapun Koay Ji bergerak dan selalu mengancamnya, apalagi
karena pedang itu digerakkan dari kejauhan lewat sepasang
lengan Nona Sie Lan In. Tetapi, baik Koay Ji maupun Sie Lan In
sadar bahwa hanya sejauh itu yang dapat dilakukan. Karena pada
kenyataannya, selain sulit untuk mengejar Koay Ji yang memiliki
banyak sekali tehnik langkah mujijat dan sulit dijajaki Sie Lan In,
juga jikapun lolos, Koay Ji memiliki Ilmu yang mampu
membelokkan terjangan pedang tersebut. Koay Ji yang sudah
menduga Sie Lan In datang dari Laut Selatan sekaligus menduga
bahwa Pedang itu adalah Pusaka langka milik penghuni Lautan
Selatan. Karena itu, Koay Ji tidak berani menotok atau
menghantam langsung pedang itu disisi tajamnya, tetapi memilih
552
sisi datarnya untuk menutuk atau memukul atau menghantam
guna membelokkan arahnya.
Tetapi Ilmu Hui Sian Hui Kiam (Ilmu Pedang Terbang Memutar)
memang mujijat dan sudah menghentak serta merontokkan nyali
banyak orang. Bahkanpun Kakek Sie Pi Cong kaget melihat
tingkat kepandaian Sie Lan In yang ternyata jauh dari
perkiraannya. Sungguh tak disangkanya jika Nona itu bahkan
sudah mencapai tingkat yang setinggi itu, dan rasanya sudah
tidak berada di bawah kepandaiannya sendiri untuk saat sekarang
ini. Karena itu, dia mulai berharap Sie Lan In dapat segera dengan
cepat untuk membereskan Koay Ji. Bahkan, secara sembunyisembunyi
dia menyiapkan senjata rahasia untuk membantu Sie
Lan In pada waktu yang tepat. Tetapi, dengan keadaan
pertempuran yang demikian dahsyat meski Sie Pi Cong tahu
keadaannya tidak membahayakan Koay Ji, agak sulit dia
menemukan celah melepas senjata rahasia membantu Sie Lan
In. Selain itu, Koay Ji bergerak dengan arah yang sangat sukar
untuk diantisipasi dan diprediksikannya. Karena itu, dia menonton
saja dan menanti saat yang tepat untuk melepas jarum rahasia
yang terbuat dari tulang seekor ikan beracun dari Laut Timur.
Bukan hanya Sie Pi Cong seorang, tetapi bahkan Hoat Bun
Siansu dan Hoat Kek Hwesio beserta Hwesio-Hwesio Siuw Lim
553
Sie angkatan Hoat, semua terkejut melihat kemampuan Sie Lan
In memainkan Ilmu Pedang Terbang. Tetapi, mereka semua,
khususnya Hwesio-Hwesio Siauw Lim Sie yang memang
angkatan tertinggi di Siauw Lim Sie, dapat melihat bahwa dasardasar
gerak Tat Mo Sin Kiam jelas sekali disana. Dan mereka
semakin teryakinkan bahwa Gadis yang lihay dan cantik luar
biasa itu mestinya adalah murid pewaris dari Lam Hay Sinni. Dan
tokoh Dewa dari Lautan Selatan itu justru memang punya
hubungan khusus dengan Kuil Siauw Lim Sie. Tetapi, yang
membuat mereka terkejut dan terus bertanya-tanya adalah, siapa
gerangan Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap itu? Mengapa
dasar-dasar ilmunya sangat mirip dengan Sie Lan In dan demikian
banyak unsur-unsur Siauw Lim Sie meski sudah jauh lebih variatif
dibanding dengan Sie Lan In? Tetapi, lebih dari keheranan itu,
mereka kagum bukan buatan melihat bagaimana caranya Koay Ji
melawan Ilmu Pedang Terbang yang sudah begitu melegenda di
Rimba Persilatan. Mereka bahkan sama sekali tidak menduga
sebelumnya jika akan dapat menyaksikan Ilmu Silat Rahasia itu
di Kuil Siauw Lim Sie. Dan lebih hebatnya lagi, ternyata Ilmu yang
begitu melengenda tersebut dapat ditandingi orang lain di depan
mata dan hidung mereka.
554
Kembali ke pertarungan Sie Lan In dan Koay Ji. Melihat betapa
Ilmu Mujijat Hui Sian Hui Kiam dapat ditandingi lawan dan tidak
mendatangkan keuntungan sedikitpun buat dirinya, Sie Lan In
menjadi panas hati. Dia mulai mempertimbangkan untuk melepas
Ilmu Pamungkasnya yang sayangnya masih belum dikuasainya
secara sempurna. Alasan mengapa Sie Lan In menjadi Pewaris
Lam Hay Sinni, adalah karena bakatnya yang menonjol
dibandingkan para Sucinya. Dan Nona ini dilatih secara istimewa
oleh Subonya hingga mencapai tingkat Sen Hap Kiam (Badan
Menyatu dengan Pedang) yang kemudian membuatnya mampu
memainkan Ilmu Rahasia Pedang Terbang dan Ilmu Andalan Lam
Hay Sinni, yakni Ilmu Kiam Jin Hip It (Pedang dan Tubuh
Terhimpun Menjadi Satu). Ilmu Rahasia dan kebanggaan Lam
Hay Sinni ini masih terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama
adalah model Ilmu Pedang Terbang namun dengan “manusianya”
ikut terbang bersama pedang dan menciptakan bahaya bukan
hanya kecepatan pedang, tetapi juga serangan sebelah lengan
yang bahkan memiliki ketajaman setajam pedang, namun dapat
menotok dan melepas senjata lainnya.
Bagian pertama dari Ilmu Rahasia ini sudah dapat dikuasai secara
sempurna oleh Nona Sie Lan In, namun bagian kedua, yakni
memecah tubuh dan pedang menjadi dua alat serang berbeda
555
lain lagi. Karena Pedang yang dilepaskan terbang sendirian,
harus didorong oleh satu kekuatan mujijat sehingga sanggup
terus menyerang hanya oleh kekuatan sejenis “telepati” sehingga
cenderung terlihat seperti Ilmu Sihir. Pada saat yang sama, kedua
lengan si penyerang mampu menciptakan hawa pedang yang
banyaknya tergantung kesempurnaan si penyerang. Lam Hay
Sinni sendiri ketika terakhir munculkan diri di Tionggoan, sudah
mampu menciptakan 3 hingga 4 sinar atau hawa pedang yang
ketajamannya bahkan melebihi bahaya ketajaman pedang yang
sebenarnya. Padahal hawa pedang itu adalah iweekang yang
dibentuk dan ditajamkan dengan kesempurnaan iweekang mujijat
Lam Hay Sinni, yakni Hut Men Sian Thian Ki Kong. Jika Bagian
Pertama sudah dapat dikuasai secara sempurna oleh Sie Lan In,
maka Bagian Kedua, masih belum sanggup digunakannya secara
baik, atau bahkan masih mentah. Karena meski dia sudah mampu
menciptakan 2 hingga 3 hawa pedang, tetapi kekuatan
iweekangnya masih belum sanggup melambari jurus pedang
terbang sendirian hingga 10 jurus. Padahal, Lam Hay Sinni
mampu mengendalikan atau tepatnya mendorong Pedang
tersebut terbang sendirian hingga 25 jurus pada saat
kemunculannya yang terakhir kali.
556
Tetapi, waktu sepersekian detik yang digunakan Sie Lan In untuk
mempersiapkan diri apakah menggunakan Ilmu Rahasia
perguruannya atau bukan, sudah dimanfaatkan dengan cepat
oleh Koay Ji. Pada saat itu, karena memperhatikan keselamatan
Kuil Siauw Lim Sie, kewaspadaan Koay Ji sungguh patut
dikagumi. Dia masih mampu dan dapat melacak pergerakan
banyak orang lain di luar Kuil Siauw Lim Sie yang bayangan
mereka yang cukup banyak sempat tertangkap olehnya ketika
meloncat ke udara. Dan yang membuatnya kaget adalah, mereka
adalah kelompok Utusan Pencabut Nyawa dalam jumlah yang
cukup besar. Dia tidak mampu menghitung karena terus dicecar
oleh Sie Lan In dan tidak boleh membagi konsentrasi. Tetapi,
pergerakan kelompok penjahat mengkhawatirkannya. Dan
karena itu, dia lebih cepat sedetik untuk ambil keputusan
dibandingkan dengan Sie Lan In yang masih menimbang sebelum
melepas serangan dengan ilmu rahasia Pendeta Sakti Laut
Selatan.
Pada saat sepersekian detik sebelum Sie Lan In menyerang
kembali, Koay Ji yang melihat gelagat yang kurang baik segera
bertindak cepat. Dia tidak menunggu pedang terbang kembali
mencecarnya, tetapi dengan cepat menerjang dengan gerakan
bagian menyerang dari Ilmu Langkah Thian Liong Pat Pian dan
557
kemudian mengancam Sie Lan In dengan jurus Jurus Sam Hoan
Toh Goat (Tiga Lingkaran Menutupi Bulan) dari Ci Liong Ciu hoat
(Ilmu Mengekang Naga). Totokan-totokan mujijat menghambur
dan mengancam beberapa titik sekalian dan membuat Sie Lan In
mau tidak mau harus bergerak bertahan. Pada saat itu, dengan
cepat Koay Ji bergerak dengan Ilmu Sam Hong In Im Ciang (Tiga
Pukulan Angin dan Mega), salah satu Ilmu yang digabung dari
Thian Hoat Tosu dan Bu In Sin Liong, Suhunya. Dia mengejar Sie
Lan In dengan
jurus Gin Ho Heng Tan (Sungai Perak Melintang) dikombinasikan
dengan jurus Hui Pok Liu Cua (Air Terjun Mengalir). Jurus
pertama memojokkan Sie Lan In untuk tidak bergerak menyerang
dan gerakan kedua, menyerang sang Gadis dengan pukulan dan
totokan beruntun dan memaksa Sie Lan In untuk mundur dengan
gerakan yang cepat dan gesit luar biasa.
Pada saat itu, Koay Ji berkata dengan ilmu menyampaikan suara:
”Nona, Lohu bukanlah musuh, justru sedang membantu Siauw
Lim Sie yang Ciangbudjinnya sudah dibunuh penjahat. Dan para
penjahat menekan dengan Ciangbudjin Boneka, tokoh tua yang
sudah lama menghilang dan mereka kuasai pikiran dan
semangatnya melalui Ilmu Sihir. Lawan sudah akan bergerak, jika
558
engkau terus menyerangku, keselamatan Kuil Siauw Lim Sie tidak
dapat terjamin lagi ........”
”Siapa engkau .....? bagaimana aku dapat mempercayaimu .....”?
”Aku menyerang penyihirnya, engkau menjaga agar Ciangbudjin
Boneka itu tidak mengeluarkan perintah menyuruh para murid
Siauw Lim Sie menyerang kita .....”
Tetapi, Koay Ji mulai merancang rencananya, pihak lawan justru
sudah bertindak. Itu karena Sie Lan In masih belum percaya
sepenuhnya. Hal ini memperlambat semuanya dan memberi
peluang lawan bertindak lebih dahulu:
”Amitabha ......... para Murid Siauw Lim Sie ...... tangkah penjahat
.......”
Pada saat itu, Bu Sin Hwesio yang sejak kedatangannya berdiri
seperti orang yang tidak punya semangat dan matanya bercahaya
kosong, terlihat memegang tanda kepercayaannya sebagai
CIANGBUDJIN SIAUW LIM SIE dan memerintahkan para Hwesio
Siuw Lim Sie untuk menyerang. Sambil berkata-kata, lengannya
menunjuk Koay Ji, tanda bahwa Koay Ji atau Thian Liong Koay
Hiap harus segera diringkus dan dijadikan tawanan. Perintah
yang turun secara mendadak itu membuat semua kalangan
559
tersentak hebat, dan awalnya para Hwesio, terutama angkatan
HOAT, enggan untuk mengikuti perintah tersebut. Tetapi, sekali
lagi terdengar bentakan:
”Amitabha, tangkah penjahat .......... ini perintah .......”
Para murid Angkatan HOAT, terlihat saling pandang dan
kemudian menganggukkan kepala satu dengan yang lain dan
kemudian berkata:
”Amitabha ...... menurut perintah .....”
Melihat keadaan dan perkembangan terakhir, Koay Ji mengeluh:
”Achhhhhhh ...... terlambat .......”
Memang terlambat karena pada saat itu kelima Hwesio angkatan
HOAT, yaitu masing-masing Hoat Bun Siansu, Hoat Kek Hwesio,
Hoat Kong Hwesio, Hoat Ho Hwesio dan Hoat Leng Hwesio sudah
maju mengurung arena. Meskipun mengerti bahwa kelimanya
bergerak karena pengaruh CIANGBUDJIN BONEKA, tetapi Koay
Ji paham bahwa Siauw Lim Sie memang punya aturan ketat.
Karena itu dia tidak menyesalkan majunya tokoh-tokoh utama
Siauw Lim Sie ini, tetapi kagum terhadap bagaimana mereka
begitu fanatik dengan aturan yang berlaku di lingkungan Siauw
560
Lim Sie. Menghadapi mereka berlima bukan sesuatu yang
terlampau berat bagi Koay Ji, tetapi persoalannya adalah,
bagaimana dia menguasai Ciangbudjin Boneka agar tidak
menghadirkan kekisruhan yang semakin besar. Repotnya, dia
harus mengalahkan Siu Pi Cong dan si Kerudung Merah yang
belum pernah bergerak sejak tadi dan justru yang memegang
kunci dalam menguasai Bu Sin Hwesio, Ciangbudjin Boneka yang
dikuasainya dengan Ilmu Sihir. Padahal mencapai mereka, dia
harus menundukkan kelima Hwesio angkatan Hoat yang kini
sedang mengepungnya secara ketat.
Di pihak lain setelah berdiri serius dan sempat kebingungan
melihat perkembangan yang terakhir, terlihat wajah
sesungguhnya dari Sie Lan In. Sungguh menawan, dengan tubuh
yang ramping langsing dan wajah yang ayu mempesona, namun
kini bercahaya sangat berwibawa setelah berdiam diri dengan
serius. Tetapi, karena beranggapan yang lebih berhak adalah
para Hwesio Siauw Lim Sie, maka Nona Sie akhirnya menyingkir
ke samping dan memandang mereka dengan wajah serius.
Sayang sekali, meski Koay Ji sudah menjelaskan keadaan Siauw
Lim Sie tetapi Gadis itu sepertinya masih kurang yakin dan belum
bertindak lebih jauh. Kelihatannya masih tetap terus menunggu
dan belum begitu percaya dengan dirinya yang dicurigai gadis itu
561
punya maksud buruk terhadap kuil Siauw Lim Sie. Karena Koay
Ji kemudian berkata dengan suara keras agar terdengar semua
orang:
”Aku tahu, semua karena perintah Ciangbudjin Boneka yang
dikuasai orang tersebut, tetapi jika kalian berkeras untuk
mengerubutiku, masalah di Kuil Siauw Lim Sie akan makin sulit
untuk diselesaikan .......”
”Amitabha ...... tangkah penjahat itu .....”
Terdengar kembali suara Bu Sin Hwesio sambil mengangkat
Lencana Pengenal Diirinya yang terus dipegangnya sejak tadi.
”Amitabha ,...... turut perintah ........”
Sambil berkata demikian Bu Sin Siansu kemudian memandang
keempat saudara seperguruannya dan kemudian berkata lirih:
”Maafkan kami ......”
”Kouwnio, serang si Kerudung Merah, dia yang menguasai
Ciangbudjin Boneka itu dengan Ilmu Sihirnya .......”
”Huhhhhh .....”
562
Meski susah payah mengingatkan Sie Lan In, tetapi Gadis itu
hanya mendengus singkat dan sama sekali tidak mengikuti
sarannya. Dan Koay Ji pun akhirnya harus berkonsentrasi
menghadapi ke 5 tokoh utama Siauw Lim Sie yang kini
menyerangnya atas perintah Bu Sin Hwesio. Tetapi, meski
serangan mereka berat dan bervariasi, karena menggunakan Ilmu
yang berbeda-beda, segera Koay Ji merasa bahwa mereka
memberi dia keleluasaan untuk bergerak. Bukan apa-apa, sejak
awal, Hoat Bun Siansu dan Hoat Kek Hwesio masih bersangsi,
tetapi melihat kemampuan dan keseriusan Koay Ji mebantu
mereka, semua keraguan itu lenyap. Apalagi, jelas sekali mereka
melihat jejak-jejak Ilmu Siauw Lim Sie dalam setiap gerakan Koay
Ji, baik ilmu Dasar maupun Ilmu-Ilmu pusaka yang dikeluarkan
Koay Ji melawan Siu Pi Cong dan Sie Lan In. Mereka makin yakin
bahwa Koay Ji sedikit banyak memiliki hubungan dengan Kuil
Siauw Lim Sie, entah bagaimana hubungan tersebut.
Sie Lan In yang memperhatikan pertarungan itu segera
menemukan kejanggalan tersebut, dan membuatnya semakin
keheranan. ”Siapa sebenarnya tokoh bernama Thian Liong Koay
Hiap itu? Mengapa banyak sekali kemiripan dalam dasar Ilmu
kami berdua ....”? bertanya dia dalam hatinya.
563
Sementara itu, Koay Ji kembali melihat pemandangan yang makin
membuatnya kaget setengah mati. Puluhan atau mungkin ada
lebih seratusan Utusan Pencabut Nyawa kini mulai memasuki Kuil
Siauw Lim Sie. Apakah mereka akan menyerang ....? demikian
dia bertanya dalam hati. Tapi, apa boleh buat, dia harus
mengambil keputusan. Dengan cepat dia berbisik lirih kepada
kelima Hwesio Siauw Lim Sie itu:
”Para Losuhu, maafkan, Utusan Pencabut Nyawa sudah akan
turun tangan, aku sangat khawatir bakal banyak korban yang
jatuh. Aku akan menyerang si Kerudung Merah buat memutus
penguasaannya atas Bu Sin Losuhu, tolong halangi Nona itu agar
tidak mengganggu pekerjaanku ...... kita harus bergegas ....”
Mendengar perkataan Koay Ji dan melihat benar saja, ada
banyak tokoh tak dikenal yang berada di halaman Kuil Siauw Lim
Sie, Hoat Bun Siansu dan Hoat Kek hwesio saling mengiyakan.
Dan Hoat Bun Siansu segera balik berbisik:
”Lakukan Sicu, biar Nona Sie kami yang tangani ......”
Mendengar persetujuan tersebut, Koay Ji sangat gembira. Dan
tiba-tiba dia bergerak dengan gerakan mujijatnya dalam gerakan
Liu-im-cha-san (awan hitam menutupi bukit), gerakan-gerakan
564
mujijat yang bahkan Sie Lan Sin dan Siu Pi Cong tak mampu
mengikuti kearah mana dia ingin menyerang. Tetapi, ujungnya
tiba-tiba dia bergerak melampaui Hoat Ho dan Hoat Leng Hwesio
dan secara tiba-tiba dia bergerak kearah si kerudung Merah
sambil menyerang dengan Jurus Leng Miau Pou Su (Kucing sakti
menerkam tikus). Sambil menyerbu dia membentak:
“Hmmmmmm penyihir busuk, engkau yang harus bertanggungjawab
…..”
Gerakan Koay Ji boleh dibilang cepat, mujijat dan dengan jurus
serangan berbahaya yang diambilnya dari Ilmu Totok Mengekang
Naga. Karena itu, dapat dibayangkan hebatnya serangan Koay Ji.
Tetapi, Siu Pi Cong dan si Kerudung Merah memang hebat dan
penuh pengalaman. Keduanya seperti sudah menduga sejak awal
bahwa Koay Ji akan menyasar mereka suatu saat, dan karena itu
keduanya sudah sangat siap jika waktu tersebut tiba. Dan benar
saja, ketika Koay Ji bergerak aneh dan susah mereka ikuti,
keduanya dengan cepat menyiapkan diri dan bersiaga.
Karenanya, ketika Koay Ji mencecar dengan serangan
berbahaya, lengan Siu Pi Cong cepat menghalanginya sehingga
serangan tersebut tidak langsung mengarah si Kerudung Merah.
Tetapi, melihat Siu Pi Cong menghalanginya, Koay Ji tidak
mengurangi tenaga serangan dan beranggapan apa boleh buat
565
jika Kakek itu terluka. Dia hanya merubah totokan dari yang
tadinya untuk memunahkan ilmu silat lawan menjadi totokan
untuk melumpuhkan lengan lawan dalam waktu terbatas.
Dengan cepat dia menangkis serangan Kakek Siu Pi Cong tetapi
kedua lengannya yang penuh hawa mujijat bergerak dengan
cepat, satu memunahkan serangan Siu Pi Cong jurus Gi-santiam-
hay (memindahkan bukit menimbun samudra). Tangkisan
dalam bentuk balik menyerang lengan lawan ini segera disusul
dengan lengan satunya lagi bergerak aneh dan kemudian
menutuk dalam jurus Hie Jauw Liong Bun' ( ikan mercelat ke pintu
naga). Benar Kakek Siu Pi Cong dapat merubah serangan yang
ditangkis lawan dalam jurus Memindahkan Bukit Menimbun
Samudra, tetapi yang sama sekali tidak diduganya adalah
gerakan kedua yang awalnya terlihat tidak berbahya tapi tahutahu
ternyata berisi hawa yang mujijat. Jemari Koay Ji dengan
cepat menutup jalan darah di pangkal lengannya dan dengan
cepat lengan itupun terkulai ke bawah dan tak dapat digunakan
untuk sementara waktu.
Tetapi waktu yang dimanfaatkan oleh Koay Ji untuk menotok Siu
Pi Cong dengan gerak dan jurus serangan yang mujijat, memakan
waktu sepersekian detik dan membuat si Kerudung Merah punya
waktu sepersekian detik untuk mengatur posisinya. Dengan kata
566
lain, dengan terpaksa si Kerudung Merah membiarkan Siu Pi
Cong menjadi korban dan tidak membantunya. Tetapi sebagai
ganti, dia punya waktu yang cukup untuk mengatur barisannya
dan mengatur rencana untuk segera dilaksanakan. Benar saja,
sebelum Koay Ji menyerang kembali, dia sudah berseru:
“Serang …… “
Dan bersamaan dengan teriakannya itu, seratusan Utusan
Pencabut Nyawa terlihat memasuki maju kearah arena dan
bersiap menyerang. Pada saat bersamaan terdengar bentakan
BU SIN HWESIO, tangkap penjahat ………..
Tetapi, sekali ini KOAY JI bergerak cepat dan sudah siap. Diapun
membentak dengan suara penuh wibawa dan kekuatan batin
yang dahsyat:
“DIAAAAAAMMMMMMM >>>>>>>”
Akibatnya Bu Sin Hwesio kembali layu, sementara si Kerudung
Merah terdorong sampai dua langkah ke belakang dan terbelalak
melihat Koay Ji. Koay Ji yang tahu waktunya sempit segera
berteriak:
567
“Biar aku yang menanggung dosa perlawanan Kuil Siauw Lim Sie
kepada Ciangbudjin yang dikuasai musuh. Orang yang akan
menyembuhkan Bu Sin Hwesio sudah ada di Kuiol Siauw Lim Sie
……. Waktunya Kuil Siauw Lim Sie melawan sampah persilatan
yang mau menggunakan kekuatan Siauw Lim Sie untuk
kepentingan yang jahat …”
Memanfaatkan waktu yang hanya sepersekian detik, Koay Ji
menerjang si Kerudung Merah yang terdorong ke belakang dan
masih belum siap benar. Sementara Kakek Siu Pi Cong sendiri,
sama dengan si Kerudung Merah tercekam sesaat dengan
bentakan mujijat Koay Ji. Serangan kilat Koay Ji yang mengarah
si Kerudung Merah sebetulnya masih sempat diikuti dan
disaksikan oleh Kakek Siu Pi Cong, tetapi sama dengan si
Kerudung Merah, posisi dan kedudukannya sudah runyam. Si
Kerudung Merah hanya punya waktu sepersekian detik untuk
memperbaiki posisinya dari ancaman serangan Koay Ji,
sementara Kakek Siu Pi Cong, hanya bisa terperangah melihat
ancaman Koay Ji terhadap si Kerudung Merah yang demikian
cepat. Untungnya si Kerudung Merah masih sempat membuang
dirinya berguling-guling untuk menghindari dan memunahkan
bahaya yang mengancam dari serangan totokan berbahaya Koay
Ji. Waktu yang cukup bagi Kakek Siu Pi Cong untuk turut
568
membantu si Kerudung Merah agar terbebas dari cecaran dan
serangan-serangan berbahaya Koay Ji.
Tetapi, Koay Ji yang sudah menghitung langkah si Kerudung
Merah, serta menghitung posisi Kakek Siu Pi Cong, dan waktu
menyerangya para UTUSAN PENCABUT NYAWA yang cukup
banyak itu, bergerak luar biasa cepat dan anehnya. Dia tidak
menyambut Siu Pi Cong yang menyerangnya dari samping
kanan, melainkan dengan gerakan manis dan cermat
menggunakan gerakan 'Coa ong sim hiat' (Ular mencari liang), dia
memutari tubuh kakek Siu Pi Cong. Awalnya si Kerudung Merah
dan kakek Siu Pi Cong menduga Koay Ji akhirnya membatalkan
serangan, padahal sebaliknya Koay Ji justru sudah menghitung
posisi ini secara sangat cermat dengan Ilmu Mujijatnya yang
dapat memprediksi gerakan lawan. Kemudian dengan cepat luar
biasa dan di luar nalar si Kerudung Merah yang menjadi sasaran
dan Kakek Siu Pi Cong yang berada di antara mereka berdua,
Koay Ji bergerak menyerang.
Sekali ini dia menggunakan salah satu jurus ampuh dari Ilmu
Mengekang Naga yang mujijat dan belum pernah muncul di
Tionggoan selama ini. Yakni Jurus Han mo tui ho (Setan
kedinginan mengejar api) dengan jari tunggalnya menutuk ke
'hoa-kay-hiat', jalan darah di bagian pundak kiri Kerudung Merah.
569
Kakek Siu Pi Cong tidak menduga jika Koay Ji tidak menyerang
dirinya dan bergerak licin memutarinya dengan cepat sementara
si Kerudung Merah belum cukup sadar jika sasaran utama
tetaplah dirinya. Dia baru mulai sadar ketika totokan dari ilmu
Mengekang Naga sudah tinggal beberapa inci saja dari pundak
sebelah kirinya. Ketika akhirnya dia berusaha membuang dirinya
ke samping untuk tidak membuat pundak kiri tertotok lawan, dia
memang masih dapat melakukannya. Tetapi, kagetnya bukan
buatan ketika jari tunggal Koay Ji masih tetap memburunya
dengan kecepatan tinggi dan bahkan beberapa saat kemudian
terdengar dengusan tertahannya yang diikuti dengan tubuhnya
yang terbanting dengan bunyi benturan ke bumi yang sangat
keras:
“Bukkkkkkk ……..”
Semua terkejut ketika si Kerudung Merah terbanting ke tanah.
Tetapi, adalah kakek Siu Pi Cong adalah yang paling kaget.
Karena debuman keras dbumi itu bagaikan benturan benda
berbobot berat ke bumi. Dan sudah tentu dia menyaksikan tubuh
si Kerudung Merah membentur bumi dengan berat tak tertahan.
Apakah …… apakah …..? desisnya dengan hati tergetar. Dan
benar, dugaannya memang betul. Debuman keras itu adalah
tanda musnahnya kepandaian sejati si Kerudung Merah yang
570
memang menjadi sasaran utama Koay Ji. Karena dialah
(Kerudung Merah) yang mengendalikan dan mengatur gerak dan
kalimat Bu Sin Hwesio, dalam artian membuatnya seperti boneka
mainan. Artinya, tokoh itulah yang selama ini membuat dan
mengatur Siauw Lim Sie dengan mengendalikan pikiran dan
semangat Bu Sin Hwesio melalui ilmu sihirnya. Dan nyaris saja
Kuil Siauw Lim Sie tertimpa bencana besar jika strategi busuknya
benar-benar tercapai dengan Bu Sin Hwesio dalam
genggamannya. Melalui dia, komplotan mereka dapat mengatur
dan memerintahkan anak murid Siauw Lim Sie dalam mendukung
gerakan-gerakan dan niat busuk mereka.
Jika diceritakan secara detail, maka sejak bentakan
“DIAAAAAAAM” Koay Ji yang penuh hawa mujijat sampai
tertotoknya si Kerudung Merah, terjadi dalam hitungan tidak lebih
dari 2 detik belaka. Bahkan mungkin kurang dari 2 detik, karena
Koay Ji memburu waktu dan sekaligus memanfaatkan posisi
tergempurnya si Kerudung Merah melalui bentakan mujijatnya.
Koay Ji sendiri sebetulnya masih kurang paham jika bentakannya
tadi memiliki daya serang yang sedemikian mujijatnya, dan ini
belum pernah diduga sebelumnya. Bukan hanya si Kerudung
Merah seorang, karena bahkan Kakek Siu Pi Cong yang hebat
sekalipun sempat terdorong dan sampai kehilangan pegangan
571
untuk sepersekian detik lamanya. Dan karena itu, secara otomatis
Kakek Siu Pi Cong yang hebat itu tidak lagi memiliki waktu yang
memadai untuk berkesempatan dan mampu menyelamatkan
posisi si Kerudung Merah yang menjadi demikian rawan. Dan
semua kejadian itu terjadi pada saat yang sangat tepat,
berlangsung hanya dalam hitungan beberapa detik belaka
sebelum akhirnya UTUSAN PENCABUT NYAWA tiba untuk
menggempur posisi Koay Ji. Artinya, Koay Ji tinggal menghadapi
para Utusan itu tanpa khawatir Bu Sin Hwesio digunakan untuk
memerintah para murid Siauw Lim Sie.
Setelah menotok roboh dan memunahkan Ilmu Silat si Kerudung
Merah, dengan cepat Koay Ji berkelabat kearah posisi dari Bu Sin
Hwesio. Hanya sedetik sebelum para penyerang tiba dan
menerjang datang. Dengan cepat dia menotok tubuh Bu Sin
Hwesio yang kembali diam mematung dan kehilangan ingatan
dan kemudian berteriak kepada Hwesio Hwesio Kuil Siauw Lim
Sie:
“Bu Sin Locianpwee sudah kukuasai. Kujamin dia dapat
disembuhkan …. tetapi saat ini kita harus melawan para perusuh
Kuil Siauw Lim Sie …….”
572
Bentakan suara Koay Ji sungguh berpengaruh. Suasana menjadi
kacau karena pada saat itu para penyerang sudah menyerbu tiba.
Tetapi, Hoat Bun Siansu melihat Koay Ji sudah menguasai Bu Sin
Hwesio segera berseru:
“Serang para perusuh ……”
Bahkan dia sendiri ikut maju menyerang diikuti seluruh Hwesio
angkatan Hoat. Sesaat berikutnya nyaris seluruh kekuatan Siauw
Lim Sie bergerak untuk mengurung Utusan Pencabut Nyawa.
Dengan sangat cepat para perusuh itu terkurung di tengahtengah,
bahkan karena Hoat Bun Siansu yang langsung
memimpin, dalam waktu singkat para perusuh terjebak dalam
Barisan Lo Han Tin. Bukan hanya itu, dalam waktu kurang dari
semenit, sudah ada 20an Utusan Pencabut Nyawa yang terpukul
jatuh dalam barisan Lo Han Tin. Sementara itu, Kakek Siu Pi Cong
dan Nona Sie Lan In terpaku di tempat mereka dan seperti tidak
tahu harus melakan apa. Saat itu, Sie Lan In terkejut karena
ternyata memang benar Koay Ji datang untuk membantu Kuil
Siauw Lim Sie. Tetapi, egonya yang tinggi membuat dia enggan
turun tangan membantu. Sementara di pihak Kakek Siu Pi Cong,
dia kaget dan terpukul kebanggaan serta harga dirinya. Karena
dia melihat jika missinya ke Kuil Siauw Lim Sie untuk membantu
si Kerudung Merah boleh dikata sudah nyaris ambruk dengan
573
jatuhnya si Kerudung Merah. Bahkan saat itu Bu Sin Hwesio
sudah dapat dikuasai Koay Ji.
Siu Pi Cong tambah nelangsa melihat puluhan Utusan Pencabut
Nyawa berturut-turut terpukul jatuh dalam Barisan Lo Han Tin.
Tokoh terhebat mereka, si Kerudung Merah sudah terlebih dahulu
jatuh keok di tangan Koay Ji, otomatis Barisan Utusan Pencabut
Nyawa porak poranda dan mulai kehilangan semakin banyak
orang. Sementara barisan tersebut kocar-kacir dan mulai
kehilangan banyak anggotanya, tiba-tiba terdengar suara teriakan
datang dari kejauhan. Suara itu memiliki wibawa yang luar biasa.
Bukan hanya mampu untuk membangkitkan semangat para
Utusan Pencabut Nyawa, bahkan Bu Sin Hwesio yang dalam
kekuasaan Koay Ji nampak bergerak-gerak gelisah. Tetapi,
totokan seorang Koay Ji pada jaman sekarang, boleh dikatakan
merupakan totokan yang belum dikenali oleh tokoh-tokoh kelas
utama Tionggoan. Mana bisa seorang Bu Sin Hwesio yang
kehilangan ingatan membuka totokan mujijat tersebut?
Bahkanpun alunan suara yang mujijat itu, tak sampai mampu
membuat Bu Sin Hwesio bergerak dan bebas dari totokan Koay
Ji, sehebat apapun tokoh Siauw Lim Sie itu.
Tetapi yang hebat adalah, pergerakan Barisan Lo Han Tin
terpengaruh dan terlihat melambat, menjadi kurang kokoh.
574
Sementara itu pergerakan para Utusan Pencabut Nyawa justru
berubah menjadi semakin garang dan bersemangat. Bahkan
dalam waktu singkat ada 4 (empat) orang hwesio terluka berat
oleh perlawanan para perusuh yang menghebat itu. Jika
dibiarkan, tentunya Barisan Lo Han Tin pasti akan dapat bobol
dan mengalami kekalahan hebat. Koay Ji dengan jeli dapat
melihat dan memahami sebab dari keadaan tersebut. Tidak salah
lagi, ini pasti pengaruh mujijat suara yang sedang mengalun dan
mempengaruhi pikiran banyak orang tersebut. Koay Ji yang
sudah dapat memastikan bahwa suara yang dilepas dari kejauhan
itu mempengaruhi Hwesio Siauw Lim Sie dalam barisan Lo Han
Tin, dengan cepat memastikan keadaan Bu Sin Hwesio terlebih
dahulu. Dan setelah melihat keadaannya semakin tenang setelah
ditotok sekali lagi, maka tiba-tiba Koay Ji melepaskan suara
sejenis yang dilepaskan orang dari jauh tersebut. Sebuah
serangan menggunakan suara. Atau penyaluran tenaga melalui
suara dan mengakibatkan terjadinya pergulatan yang luar biasa,
tak lazim terjadi. Tarung antara kekuatan suara yang memiliki
perbawa mujijat.
Utusan Pencabut Nyawa yang tadinya mulai kokoh dan sanggup
melukai beberapa Hwesio, bahkan baru saja mampu membunuh
salah seorang Hwesio Siauw Lim Sie, kembali tiba tiba terserang.
575
Dan karena Barisan Lo Han Tin dengan cepat pulih dan
membentengi diri dengan doa-doa Budha, maka Utusan
Pencabut Nyawa kembali tak sanggup mengimbangi serangan
Barisan Lo Han Tin. Mereka kembali terdesak hebat. Kematian
salah satu anggota barisan Lo Han Tin yang kemudian digantikan
murid lainnya, membuat Barisan Lo Han Tin menjadi semakin
kokoh dan semakin garang. Dalam waktu singkat mereka dapat
kembali memukul roboh 5 orang perusuh dan melukai mereka
secara berat dan tak dapat bangun lagi. Barisan Lo Han Tin
memang tidak membunuh lawan lawan mereka, tetapi dalam
keadaan terdesak dan menyangkut keselamatan Kuil, mereka kini
bertindak keras. Merski tidak membunuh lawan, tetapi melukai
mereka secara hebat.
Tetapi, keadaan pertarungan itu sangat tergantung pertarungan
antara Koai Ji dengan lawannya yang tidak nampak. Kakek Siu Pi
Cong terlihat sekali-sekali ingin menyerang Koay Ji, tetapi
keberadaan Sie Lan In di sana membuatnya repot dan serba
salah. Karena meski Sie Lan In seperti tidak bersahabat dengan
Koay Ji, bahkan cenderung bermusuhan, tetapi pada saat itu,
keduanya sama-sama membela keselamatan Siuw Lim Sie. Itu
sebabnya pertarungan antara Koay Ji melawan si penyerang dari
jarak jauh, berlangsung cukup seru. Meski Kakek Siu Pi Cong
576
sadar, kalau pihaknya sedikit lebih lemah dibandingkan Koay Ji.
Ini terlihat jelas dari pertarungan antara Barisan Lo Han Tin
dengan Utusan Pencabut Nyawa. Utusan Pencabut Nyawa lebih
sering terdesak dan jumlah mereka terus menerus berkurang,
sementara Barisan Lo Han Tin boleh dibilang baru 3 orang yang
terluka selama tarung mereka terjadi. Itupun setelah campur
tangan serangan suara mujijat dari kejauhan tersebut. Tetapi,
kakek Siu Pi Cong paham belaka, posisi mereka sudah teramat
runyam. Tinggal menunggu waktu untuk benar-benar terpukul
mundur.
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis Klasik PANL 5 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments