Cerita PANL ke 11

------

“Sam Sute mengirimkanmu Nona Sie..... cukup baik, tetapi
keadaan sekarang sungguh sangat tidak menyenangkan. Sayang
kita tidak punya waktu cukup untuk membicarakan urusan lain,
juga untuk sekedar bertukar banyak kisah. Karena bahkan
bersama Su Sumoy pun kami masih belum mampu menandingi
manusia itu sampai lebih dari 100 jurus. Sungguh-sungguh dia
bergerak terlampau cepat dan tidak mampu kami mengikuti
gerakannya itu sama sekali, karenanya kami berdua jelas tak
mampu menandinginya......” berkata Tiat Kie Bu begitu tahu siapa
Sie Lan In dan siapa yang mengutusnya. Sam sutenya.
“Amitabha....... Sie Kouwnio, bagaimana gerangan kabar Sam
Suhengku? Apakah dia baik-baik saja sekarang ini....”? jika Tiat
Kie Bu terlihat agak “payah” dan rada tegang, maka Pek Sim
Nikouw bagi Sie Lan In masih lebih hangat dan lebih dapat
mengendalikan diri. Karena itu, dia merasa lebih diasmbut oleh
Nikouw itu. Dengan cepat diapun berkata kepada kedua orang itu:
“Pek Sim Subo,,,,,,, Tek Ui Pangcu baik-baik saja, hanya,
kesibukan dan tanggung jawabnya saat ini sungguh amat besar.
Selain mengurusi Kaypang sebagai Pangcu, baru-baru ini, diapun
diangkat sebagai Bengcu Tionggoan. Dan untuk membantunya
saat ini tecu datang menjumpai jiwi locianpwee dengan
mengantarkan surat penting yang menurut Tek Ui Pangcu sangat
1555
penting. Bahkan teramat penting dan karena itu hanya bisa
diserahkan langsung kepada jiwi locianpwee....” sambil berkata
demikian Sie Lan In menatap wajah Pek Sim Nikouw dan Tiat Kie
Bu bergantian. Keduanya terlihat tersentak hebat, tetapi dengan
cepat Tiat Kie Bu berkata:
“Acccccchhhh, Sam Sute memang berbakat untuk urusan seperti
ini. Dalam urusan mencampuri urusan dunia persilatan memang
dialah juaranya, tetapi, bagaimanapun dia adalah saudara
seperguruan yang sangat baik. Karena itu Sie Kouwnio, tolong
engkau tunjukkan surat yang dimaksudkan oleh Sam Sute.......”
“Amitabha...... benar Sie Kouwnio, Sam suheng adalah saudara
seperguruan kami yang sangat peduli dengan kami-kami saudara
seperguruannya. Jika sampai dia mengutus Nona Sie menjumpai
dan mengirimi kami surat, maka bisa dipastikan itu adalah urusan
besar......” Pek Sim Nikouw menguatkan kata-kata Tiat Kie Bu dan
meminta Sie Lan In menunjukkan dan memberikan kepada
mereka surat yang diantarkan Sie Lan In buat mereka.
Tentu saja Sie Lan In tidak bodoh. Tadinya dia ingin menunda
memperlihatkan surat yang dibawanya untuk kedua tokoh itu
melihat keadaan mereka yang “terluka” meski tidak terlampau
berat. Tetapi, setelah kedua orang tua itu sama memintanya untuk
1556
memperlihatkan surat yang dikirimkan Tek Ui Sinkay bagi mereka
berdua, maka tak ada alasan lagi menundanya. Karena itu,
dengan perlahan Sie Lan In mengambil kedua surat itu dari balik
jubahnya dan kemudian menyerahkan masing-masing satu surat
kepada Tiat Kie Bu dan kepada Pek Sim Nikouw. Sambil
menyerahkan surat itu Sie Lan In berkata dengan suara perlahan:
“Baiklah jiwi locianpwee, inilah surat yang dimintakan untuk tecu
antarkan kepada jiwi locianpwee. Menurut Tek Ui Pangcu, surat
itu berisi banyak hal yang sayangnya tidak perlu disampaikan
kepada tecu karena urusan perguruan dan sekaligus juga hal
yang mesti dikerjakan kedepan. Silahkan jiwi locianpwee.....” Sie
Lan In sudah tidak menunggu berlama-lama lagi dan dengan
hikmat dan hormat menyerahkan surat itu kepada Tiat Kie Bu dan
Pek Sim Nikouw.
Tidak menunggu lama, setelah saling pandang sejenak, Pek Sim
Nikouw dan Tiat Kie Bu perlahan-lahan membuka sampul surat
itu dan tak lama kemudian sudah terlihat membaca surat yang
dikirimkan Tek Ui Sinkay. Keduanya terlihat sangat tenang dan
khusyuk mengikuti dan membaca surat dari Tek Ui Sinkay itu.
Beberapa saat kemudian kedua tokoh itu terlihat terdiam dan
tenggelam dalam pikiran masing-masing. Entah apa yang sednag
mereka pikirkan, tetapi jelas menganalisa isi surat yang baru saja
1557
mereka baca itu. Dan adalah Pek Sim Nikouw yang terlebih
dahulu mendesis dan memuji kebesaran Budha dalam suara
perlahan:
“Amitabha ........”
Dan sesudahnya hening. Terlihat Pek Sim Nikouw terpekur,
sementara hal yang sama juga dilakukan oleh Tiat Kie Bu. Tetapi,
tidak lama karena terdengar dia kemudian berkata atau bertanya:
“Sie Kouwnio, engkau mestinya datang bersama siauw.... ech
Thian Liong Koay Hiap, kemana gerangan sahabatmu yang satu
itu....”?
“Mohon maaf locianpwee, karena waktu yang mendesak, kami
berdua berpisah jalan dan tecu yang bertugas mengantarkan
surat itu kemari, sementara Thian Liong Koay Hiap mengantarkan
surat menuju Kota Cing Peng. Tetapi, Thian Liong Koay Hiap akan
menemui tecu setelah selesai tugas mengantarkan surat
kemari......” Sie Lan In menjelaskan dengan suara terang dan
membuat Tiat Kie Bu terlihat mengangguk tanda mengerti dan
paham.
“Baiklah Sie Kouwnio, kami berdua memahami isi surat ini dan
akan melakukan apa yang diminta Sam Sute melalui surat ini.
1558
Tetapi, meskipun demikian, kami berdua masih harus
menyelesaikan urusan disini berhubung Si Rase Sakti itu
berkeras untuk memaksa kami. Padahal, kami sama sekali tidak
memiliki lagi barang yang diminta Rase Sakti tersebut......
acchhhhh, sungguh menjengkelkan....” desis Tiat Kie Bu dalam
nada suara penasaran.
“Apakah yang mengganggu jiwi locianpwee adalah tokoh dewa
Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan)...” tanya Sie
Lan In dengan nada suara penasaran dan rasa ingin tahu yang
kuat.
“Amitabha...... dari mana Sie Kouwnio tahu...? biarkan kami
berdua yang tua-tua mengurus si Rase sakti itu.....” berkata Pek
Sim Nikouw, kaget ketika mendapati bahwa ternyata Sie Lan In
tahu apa atau siapa yang mereka hadapi.
“Apa gerangan yang dilakukan Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase
Tanpa Bayangan) Locianpwee kepada Jiwi Locianpwee....”?
bertanya Sie Lan In dalam nada suara yang tetap sama,
penasaran dan ingin tahu.
“Sudahlah Sie Kouwnio, ini urusan kami yang tua-tua......”
1559
“Jika Tiat Locianpwee berkenan, tecu Sie Lan In mungkin dapat
memikirkan jalan keluar dari masalah tersebut......” berkeras Sie
Lan In
“Dia hanya mengira jika kami atau tepatnya perguruan kami
menyimpan Rumput Mestika Peng Lian Leng Cau.
Sepengetahuan kami, sangat mungkin Suhu masih terus
menyimpannya, tetapi tidak mungkin lagi kami berdua
menanyakannya kepada Suhu. Karena beliau, Suhu kami yang
baik itu telah lama menutup diri dan putus hubungan sejak lama
dari dunia persilatan.....”
“Tetapi Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan)
Locianpwee berkeras memintanya kepada jiwi locianpwee....”?
tanya Sie Lan In penasaran
“Amitabha..... benar Sie Kouwnio, dia mengalahkan kami sebelum
100 jurus dan bahkan mengancam akan memunahkan ilmu
kepandaian kami jika tidak kembali membawa rumput mujijat itu
ke guanya dalam dua hari kedepan...”
“Dua hari...? darimana kita mendapatkan rumput mujijat itu....?
ach, sungguh amat keterlaluan Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase
1560
Tanpa Bayangan) Locianpwee itu. Tidak dapat dibenarkan dia
orang tua melakukannya....”
Betapa terkejutnya Pek Sim Nikouw dan Toat Kie Bu mendengar
Sie Lan In amat berani dan lancang menyebut nama Bu Eng Ho
Khouw begitu saja. Bahkan terkesan mencela apa yang dilakukan
tokoh tua itu. Bahkan mereka berdua sekalipun masih tak berani
menegur dan menyebut nama tokoh tua itu secara sembarangan.
Betapa mungkin justru Sie Lan In menyebutnya dengan tidak
hormat?
“Amitabha....... hussshhhh Nona cilik, perlahankan suaramu.
Agak menjadi repot jika Locianpwee itu mendengarkanmu
berbicara demikian......” tegur Pek Sim Nikouw dengan maksud
baik. Betapapun Pek Sim Nikouw terkesan baik dengan Sie Lan
In yang jauh-jauh datang membawakan surat saudara
seperguruannya.
“Pek Sim Subo, Tiat Locianpwee, apa yang menjadi ancaman
terakhir Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan)
Locianpwee...”? tanya Sie Lan In yang menjadi semakin
penasaran dan sepertinya tidak takut menghadapi si Rase Tanpa
Bayangan yang satu angkatan dengan Subonya sendiri.
1561
“Hmmmm, kami diberi waktu 2 hari untuk datang menyampaikan
Rumput Mestika itu ke Gua tempatnya melakukan samadhi. Dan
jika tidak membawa Rumput Mestika itu, maka dia memberi kami
kesempatan untuk menandinginya dalam 100 jurus. Jika tetap
kalah juga, maka dia akan menghukum kami berdua bersama
seluruh anak murid kami. Meski jenis hukuman yang akan
dijatuhkannya sama sekali tidak atau masih belum
disebutkannya.....”
“Hmmm sungguh sombong Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase
Tanpa Bayangan) Locianpwee itu. Tetapi, konon, memang seperti
itulah kelakuannya yang rada aneh dan kukoay serta membawa
adatnya sendiri. Mestinya dia dilawan dengan juga tidak memakai
adat istiadat.....” bergumam Sie Lan In
“Sie Kouwnio, betapapun dan bagaimanapun, dia orang tua,
masih seangkatan dengan Suhu kami..... karenanya, tidaklah
mungkin kami tidak menaruh hormat kepadanya....” berkata Tiat
Kie Bu bernada menyesalkan Sie Lan In yang ceroboh mencela
perbuatan si Rase itu.
“Iya, selagi Locianpwee menghormati dan menghargai dia dalam
tata krama yang normal, sebaliknya dia orang tua sama sekali
tidak menaruh perhatian terhadap tata krama yang dijunjung
1562
tinggi jiwi locianpwee......” tegas Sie Lan In yang membuat Tiat Kie
Bu sampai saling pandang dengan Pek Sim Kouwnio. Berapa
lama mereka berdua terdiam sampai akhirnya Pek Sim Kouwnio
berkata atau tepatnya bertanya kepada Sie Lan In:
“Amitabha....... Jika memang begitu pemikiran Sie Kouwnio,
mohon tanya, ada ide apakah untuk menghadapi si Rase aneh
itu....”?
“Mudah saja Pek Sim Subo, kitapun jangan memakai tata krama
dan aturan yang berlaku selama ini. Kita ikuti keanehannya dan
jika jiwi locianpwee setuju, tecu akan menggunakan cara yang
biasa dilakukan Subo untuk menghadapi locianpwee itu. Tetapi,
jiwi locianpwee dilarang bertanya dan dilarang untuk membatasi
tindakan, kata-kata dan strategiku...... apakah jiwi locianpwee
setuju.....”?
“Eccchhhh, subomu, siapa gerangan subomu itu.....”? bertanya
Tiat Kie Bu yang tiba tiba sadar jika dia sama sekali belum
mengenal Sie Lan In. Pertanyaan yang sama hendak tercetus dari
bibir Pek Sim Kouwnio hanya saja didahului oleh suhengnya, Tiat
Kie Bu dalam mencetuskannya
“Penjaga gelora laut di pintu selatan........”
1563
“Ha.....? Lam Hay Sinni....? engkau benar-benar murid Sinni...”?
tanya Toat Kie Bu nyaris bersamaan dengan pertanyaan sejenis
yang terlontar dari mulut Pek Sim Nikouw. Keduanya saling
berpandangan setelah bertanya dalam nada terkejut dan
kemudian memandang Sie Lan In yang tersenyum sambil
mengangguk kepada kedua tokoh tua itu.
“Accchhhh, menurut berita, Lam Hay Sinni adalah tandingan
dalam segala hal dari
Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan). Baiklah,
engkau boleh meladeni Rase Aneh itu. Tetapi, ingat, tidak boleh
sampai terluka dan gunakan strategi dalam menghadapinya.......”
“Jiwi locianpwee, jika menghadapinya dalam ilmu silat, kita bertiga
masih belum dapat menandinginya. Tetapi, dengan mengetahui
kelemahannya, maka kita masih punya kesempatan untuk
menghadapinya.....” jelas Sie Lan In yang pada saat itu padahal
masih belum punya strategi pas untuk menghadapi si Rase Tua,
tokoh besar seangkatan suhunya.
“Ha..... jadi, dengan apa engkau akan menghadapi tokoh sekelas
Rase Aneh itu Nona Sie, sadarkah engkau jika kepandaiannya
amat hebat dan luar biasa....”? tanya Tiat Kie Bu terkejut.
1564
“Dengan strategi...... Subo pernah membisikiku kelemahannya.
Syaratnya, Jiwi locianpwee dilarang bertanya, tidak boleh
melarang ini dan itu, pokoknya cukup mengikuti dan jangan ikut
campur. Bagaimana.....”?
“Amitabha..... asalkan tidak melanggar aturan Budha......”
terdengar Pek Sim Nikouw bersuara memberikan pendapat dan
persetujuannya
“Ingat Jiwi locianpwee, kita menggunakan cara Bu Eng Ho Khouw
Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan) Locianpwee. Tidak
mengindahkan aturan, mesti dilawan dengan cara yang sama.,,,,,,
pokoknya biarkan tecu yang meladeninya.....”
“Kita lihat saja jika demikian,.,,,,,” menggerutu Tiat Kie Bu, tak
berdaya mendesak Sie Lan In untuk mengetahui strateginya
“Eiiit, Locianpwee, harus setuju menggunakan caraku dan
dilarang bertanya. Maka kutanggung urusannya bisa beres.....
bagaimana.....”?
“Baik, terserah caramu Sie Kouwnio, lohu ikut saja.......”
“Pek Sim Subo.....”?
1565
“Amitabha..... asal tidak melanggar asas Budha....” Pek Sim
Nikouw masih tetap dengan kalimatnya yang mengambang,
meski jelas tidak menentang.
“Baiklah,,,,,,, menurut tecu, jiwi locianpwee setuju dengan caraku.
Nach, kapan kita akan menemui Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase
Tanpa Bayangan) Locianpwee untuk memenuhi perjanjian itu....”?
“Dua hari lagi kita menuju Guanya....... kami perlu mengobati luka
kami terlebih dahulu, engkau boleh istirahat juga Sie Kouwnio......
mari, sumoy....”
====================
Luka Pek Sim Kouwnio dan Tiat Kie Bu sesungguhnya tidaklah
terluka parah. Semalaman mereka berdua mengobati diri, dan
keesokan harinya mereka sudah sembuh seperti sedia kala. Dan
sepanjang hari, mereka terus menerus bercakap dan ditanyai oleh
Sie Lan In tentang urusna yang mereka hadapi. Dan ketika
mereka akhirnya menyaksikan bagaimana Sie Lan In berlatih
merekapun kaget dan bahkan terkejut dengan sangat. Hal yang
membuat mereka kaget dan geleng-geleng kepala adalah, karena
mereka sadar jika mereka masih tertinggal dalam hal kepandaian
Ilmu Silat dibandingkan dengan Sie Lan In yang masih muda. Hal
1566
yang membuat keduanya saling pandang dan kemudian gelenggeleng
kepala memuji kepandaian dan kecerdasan Sie Lan In
yang berusaha menemukan titik kelemahan dalam ilmu Bu Eng
Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan) yang diserapnya
melalui kisah Tiat Kie Bu dan Pek Sim Nikouw. Karena itu, mereka
berdua seperti berlomba untuk menceritakan gerakan dan gaya si
Rase kepada Sie Lan In.
“Pantas Lam Hay Sinni memberanikan diri melepas anak ini,
kepandaiannya benar benar hebat sumoy, bahkan sudah
setingkat atau dua tingkat di atas kita berdua” bergumam Tiat Kie
Bu menyaksikan Sie Lan In berlatih.
“Benar Ji Suheng...... anak ini benar-benar berbakat hebat dan
sudah dididik secara luar biasa oleh Lam Hay Sinni,,,,,, entah
bagaimana dengan siauw sute kita yang amat misterius tetapi
dipuji-puji sam suheng itu. Apakah sehebat Nona murid Lam Hay
Sinni ini ataukah malah lebih hebat....” bisik Pek Sim Nikouw yang
sama mengagumi kepandaian Sie Lan In saat itu.
“Sie Kouwnio, harus kuakui kepandaian kami berdua sudah
tertinggal dengan tingkat kepandaianmu saat ini. Tetapi,
kelihatannya selain kecepatanmu yang sudah nyaris
mendekatinya, dalam hal pengalaman, kekuatan sakti dan juga
1567
kematangan, engkau masih sulit menandingi si Rase itu.......”
berkata Tiat Kie Bu setelah Sie Lan In usai berlatih dan
berbincang kembali dengan mereka berdua.
“Tiat Locianpwee, bukankah sudah kukatakan untuk
menghadapinya membutuhkan strategi dan bukan hanya
kepandaian....? nach, semua harus kita optimalkan untuk
melawan Rase itu.....” jawab Sie Lan In sambil tersenyum,
“Accchhh, tapi strategi seperti apa Kouwnio....”?
“Masih rahasia, tunggu tanggal mainnya....” jawab Sie Lan In
misterius dan membuat kedua tokoh tua itu urut-urut dada tak
mengerti.
“Amitabha...... sekali lagi semoga tak menyalahi jalan Budha.....”
“Semoga saja begitu....”
Hal yang membuat Sie Lan In lupa adalah, semestinya hari dia
harus adu strategi dengan Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa
Bayangan) adalah hari dia sudah berjanji untuk bertemu dengan
Thian Liong Koay Hiap di kota Liang Ping. Tetapi, saking asyiknya
dan tegangnya mempersiapkan diri, dia lupa sama sekali jika
waktu mereka berjanji sudah tiba. Mana bisa dia mengingatnya
1568
sementara dia bersama dengan kedua tokoh atau saudara
seperguran Koay Ji, sedang berjalan mendekati gua tempat
tinggal si Rase Tanpa Bayangan......?
“Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan) Locianpwee,
kami sudah tiba dan datang dengan maksud untuk berunding
lebih jauh agar tidak muncul masalah di kemudian hari nanti.....”
“Hahahahahaha, kalian datang membawa tenaga baru
rupanya...... tetapi bagus juga, mana tahu mampu membuat
kalian melewati batas pertarungan 100 jurus. Jika itu terjadi,
syukur, tidak perlu aku berurusan dengan si Naga Sakti yang
selalu dan selalu sembunyi dari hadapan banyak orang........”
“Kami datang memenuhi janji untuk kembali kemari setelah 2 hari.
Tetapi, seperti kemaren, kami tegaskan sekali lagi, kami sama
sekali tidak tahu dan tidak memiliki Daun Mestika yang engkau
minta.....” Tiat Kie Bu langsung berbicara ke inti masalah yang
sedang mereka hadapi saat itu.
“Aku tahu kalian tidak memilikinya, tetapi Guru kalian memilikinya.
Karena gangguan gadis cilik ini maka kalian tidak berani
memikirkan kemungkinan yang lain. Huh, benar-benar
menyebalkan. Tetapi, baiklah, kuberi kesempatan kalian untuk
1569
lepas dari hukumanku dengan menahan 100 jurus seranganku
sebagaimana janjiku dua hari yang telah lewat.......”
“Hikhikhik..... Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan)
Locianpwee sungguh terlampau sungkan. Mohon maaf jika
keponakan Sie Lan In dari Lautan Selatan datang mengunjungi
locianpwee..... apakah Bibi sehat-sehat saja...”? Sie Lan In tibatiba
mengambil alih peran Tiat Kie Bu.
“Haaaaaa...... engkau si nakal cilik itu...? hmmmm, rupanya
Subomu sudah amat percaya dengan kemampuanmu sehingga
berani mendatangi tempat tinggalku yang buruk ini......” tidak
terdengar nada kaget sedikitpun dalam nada suara Bu Eng Ho
Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan).
“Berkat doa restu Bibi maka sekarang tecu sudah bisa berkelana
di dunia persilatan. Tapi, tecu menyampaikan salam dari Subo
buatmu Bibi.......” berkata Sie Lan In dengan berkali-kali
menyinggung dan membawa nama Gurunya.
“Apakah engkau berharap dengan membawa-bawa nama Lam
Hay Sinni Subomu maka akan membuat tuntutanku melunak In
Ji....”?
1570
“Tentu saja tidak Bibi...... karena keponakanmu ini akan mengikuti
aturan yang Bibi tetapkan, menghadapi 100 jurus serangan tanpa
terkalahkan. Tecu menyediakan diri untuk mewakili mereka agar
Bibi tidak peru bermusuhan dengan Suhu mereka. Cukup adil
bukan.....”? jawab Sie Lan In aleman dan membuat Tiat Kie Bu
dan Pek Sim Kouwnio kaget setengah mati.
“Engkau mau menggantikan mereka berdua dan berharap tidak
kujatuhkan tangan keras selama 100 jurus itu? Acchhhhh,
sungguh-sungguh engkau berharap yang terlalu tinggi In Ji.
Betapapun aku harus memberi pelajaran kepada mereka karena
sudah melalaikan permintaanku kepada mereka......”
‘Tetapi, tetap saja menantang untuk kucoba Bibi....... apakah Bibi
keberatan untuk aku berusaha menahan 100 jurus serangan maut
Bibi....”?
“Bukan..... bukan begitu, tetapi Bibimu takut gara-gara
kegagalanmu engkau harus menanggung beban atas hukumanku
kepada seluruh keluarga perguruan Tiat Kie Bu dan Pek Sim
Nikouw.... bukankah itu akan terlampau berat buatmu In Ji....”?
halus namun dengan ancaman keras jawaban Si Rase Tanpa
Bayangan.
1571
“Tapi, bukankah In Ji juga punya peluang untuk menahan Bibi
sampai 100 jurus? Paling tidak Bibi tidak akan mungkin sampai
menurunkan tangan kejam kepadaku...” licin juga jawaban Sie
Lan In dan hal ini terang saja membuat si Rase jadi bingung dan
susah mau berkata apa lagi.
“Tapi, jika sangat terpaksa, apa boleh buat, Bibimu harus turun
tangan. Karena jika tidak, maka murid kesayanganku akan
mengalami keterlambatan.....” apa boleh buat si Rase harus
memberi jawaban memang
“Accchhh, In Ji kurang percaya jika ada sesuatu yang dapat
membuat Bibi merasa nelangsa dan terancam gagal melakukan
sesuatu. Subo mengatakan, dalam hal kecepatan boleh saja
berimbang dengan Bibi, tapi dalam keuletan menemukan dan
mengerjakan sesuatu, In Ji harus meneladan Bibi.......”
“Hikhikhik, sungguh licik engkau mengapusiku In Ji...... mana
pernah dan mana bisa Lam Hay Sinni begitu murah hati
memujiku....? hikhikhik, sungguh engkau kelewatan bercanda
dengan bibimu ini In Ji......”
“Toch yang tinggal bertahun-tahun dengan Subo adalah In Ji dan
bukannya Bibi. Darimana Bibi tahu jika kata-kataku kosong dan
1572
dusta belaka....” Sie Lan In bicara dengan mengikuti arah dan
kecenderungan kata-kata Si rase Tanpa Bayangan. Tetapi, selalu
menyisakan sesuatu yang tidak mudah dicerna si mahluk aneh
yang dia tahu betul tingkat kesaktiannya.
“Benar In Ji, tetapi watak, kelakuan dan bagaimana Subomu
memperlakukanku, tentunya aku tahu dan paham benar...... tidak
perlu engkau mengapusiku untuk hal itu In Ji...” tangkis Si Rase
dengan tetap cerdik
“Tetapi, memangnya ada apa dengan dengan Kat Thian Ho
Suheng? Apakah dia sedang berhalangan sehingga Bibi harus
berkeras sedemikian rupa...”? bertanya Sie Lan In begitu mengerti
jika rupanya untuk urusan muridnya maka si Rase Tanpa
Bayangan jadi bertingkah seperti itu.
Benar saja, begitu Sie Lan In bertanya, dia melihat wajah Bu Eng
Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan) berubah menjadi
kelam. Meskipun hanya sekilas tetapi sudah cukuplah bagi Sie
Lan In untuk mengerti bahwa memang benar ada sesuatu yang
terjadi dengan Kat Thian Ho, murid bungsu dari Si Rase Tanpa
Bayangan ini. Setelah terdiam hingga beberapa saat, akhirnya Si
Rase Tanpa Bayangan berkata dengan suara perlahan dan
penuh rasa penasaran:
1573
“Dia terluka di tangan musuh-musuhnya yang berasal dari Hong
Lui Bun dan juga dari Liga Pahlawan Bangsa Persia..... lawanlawan
yang tangguh memang. Tapi,,,,, Hmmm, bagaimanapun
juga, kekalahannya itu harus dapat dia bayar secara lunas dalam
waktu dekat.....” tajam kata-kata si Rase Tanpa Bayangan dan
membuat Sie Lan In jadi paham jika memang ada alasan khusus
tokoh hebat itu jadi bertindak agak keras terhadap angkatan
dibawahnya sekalipun.
“Baiklah Bibi yang baik. Keponakanmu dapat memahaminya jika
memang demikian. Untuk memudahkannya, bisakah Bibi
hapuskan pertikaian dengan pihak Tiat Kie Bu Locianpwee dan
juga Pek Sim Nikouw dan sebagai gantinya, keponakanmu akan
mengupayakan pengobatan lain dari tabib yang ampuh dan tepat
hingga tanpa mesti merepotkan orang lain......”
“In Ji, engkau tidak paham apa yang sedang engkau katakan dan
hadapi sata ini. Tidak akan ada satu tabibpun lagi yang akan
berkemampuan unutk menangani Ho Ji, dan hanya dengan
rumput mujijat itu baru berhasil. Selain itu, mereka berduapun
pantas mendapat hukuman agar sekalian disampaikan kepada
Suhu mereka bahwa Bu Eng Ho Khouw Kiat sudah keluar dan
bertindak. Dengan demikian dia mau tidak mau harus menemuiku
kelak.....”
1574
Kini pahamlah Sie Lan In, sebagaimana juga Tiat Kie Bu dan Pek
Sim Nikouw apa sebab mereka dalam keadaan seperti itu. Tidak
lain dan tidak bukan sebenarnya adalah persoalan dari Suhu
mereka dengan si Rase Tanpa Bayangan itu. Dan jika dilihat
jalannya percakapan, maka tidak akan salah lagi bahwa Suhu
mereka punya hubungan dengan Si Rase Tanpa Bayangan dan
juga pastinya dengan Lam Hay Sinni. Meskipun dengan Lam Hay
Sinni mereka sudah mengerti meski masih sedikit, bahwa
memang perguruan mereka atau setidaknya Suhu mereka
memiliki sebuah hubungan yang amat dekat.
“Bibi, percayalah, ponakanmu ini mengenal seorang tabib yang
maha luar biasa. Meski benar dia masih sangat muda dan baru
munculkan diri di Rimba Persilatan, tetapi dia memiliki ilmu
pertabiban yang teramat hebat dan mujijat. Pengetahuannya akan
racun, tata letak jalan darah, alur jalannya pernafasan dan hawa
sakti, serta racun dan tumbuhan mujijat sudah dikuasainya
dengan amat baik. Jika memang Bibi berkenan, biar ponakanmu
sendiri yang akan memintanya datang untuk mengobati Kat
Suheng,,,,,,, bagaimana...”?
“In Ji, pertama-tama engkau menyingkirlah terlebih dahulu.....
bagaimanapun juga aku harus menghukum kedua orang yang
sudah berani membangkang atas apa yang kuperintahkan
1575
kepada mereka berdua. Dan kedua, biar Guru mereka yang
sangat gemar sembunyi bersedia untuk datang menemuiku.
Urusan muridku biar kuurus belakangan saja, karena masih bisa
ditunda sampai beberapa lamanya” ujar Si Rase Tanpa Bayangan
masih tetap berkeras untuk menghajar Tiat Kie Bu dan juga Pek
Sim Nikouw berdua.
“Acccchhhh, sayang sekali Bibi,,,,,, keponakanmu yang bodoh ini
sudah berjanji akan mewakili mereka menerima serangan
Bibi,,,,,,,, sekali lagi ponakanmu mohon maaf sebesar-besarnya.
Selain itu, yang mungkin perlu Bibi ketahui, saat ini Subo sendiri
sudah memutuskan mengundurkan diri dari Rimba Persilatan
setelah tahu dengan jelas bahwa ternyata Bu In Supek sudah
menutup diri selama lamanya dalam gua pertapaannya........”
“Ha...... In Ji, jangan engkau mengapusi orang tua terlampau
berlebihan. Engkau sendiri tahu dan paham bahwa aku berhak
menghukummu jika mendustai generasi lebih tua daripadamu dan
bertindak kurang sopan.......”
“Tahukah Bibi tahu jika In Ji sekarang ini sedang berkelana
dengan menggunakan Tiauw Ko? dan jika seperti itu pastilah Bibi
paham artinya bukan.....?” berkata Sie Lan In sambil memandang
lekat Bibinya yang aneh dan mujijat itu. Kata-katanya terlihat telak
1576
dan membuat si Rase Tanpa Bayangan terdiam dan terlihat
berpikir keras. Keningnya berkerut. Bahkan beberapa saat
kemudian terlihat tokoh itu memandang ke atas dan menarik
nafas panjang sampai akhirnya berkata dengan nada suara rawan
dan bergetar.....
“Bemar-benarkah dia, subomu Lam Hay Sinni itu sudah
menyerahkan Rajawali Sakti kesayangannya kepadamu...?
dimanakah gerangan Sin Tiauw itu..........”? tanyanya sambil
menoleh kesamping bagaikan sedang mencari-cari sesuatu, dan
sudah barang tentu mencari Rajawali Sakti itu.
“Tentunya Bibi sangat mengerti artinya,,,,,,, perjalananku ini
dalam rangka sekaligus mencari dimana Toa Suci berada dan
kelak harus menyerahkan Pek Tiauw Ko kepadanya. Dan itu
berarti sekaligus menyerahkan tugas dan jabatan Lam Hay Sinni
kepada Toa Suci untuk melanjutkannya,,,,,,,,,,” ujar Sie Lan In
begitu melihat jika Si Rase Tanpa Bayangan mulai goyah.
Kata-kata terakhir Sie Lan In membuat si Rase Tanpa Bayangan
semakin rawan pandang mata dan raut wajahnya. Bahkan Sie
Lan In sendiri tidak mengerti apa makna dari perubahan wajah
Bibinya, meski dia paham bahwa si tokoh mujijat sedang tergetar
perasaannya. Karena itu, diapun segera memandang ke atas dan
1577
kemudian bersiul dengan getaran suara tinggi. Dan tak berapa
lama kemudian segera terdengar sahutan di udara, sebuah
teriakan yang amat keras yang membuat banyak binatangbinatang
hutan tersentak. Tetapi, meski begitu si Rase Tanpa
Bayangan tetap tercenung seperti sedang berpikir keras. Sanga
jelas jika diapun sudah mendengar teriakan sang Rajawali Sakti
beberapa saat lalu.
“Hmmmm, baiklah jika memang demikian. In Ji, engkau boleh
menerima serangan 100 jurusku,,,,,,, dan jika engkau berhasil,
maka persoalan dengan kedua orang itu dan juga Suhu mereka
kuanggap selesai sampai disini. Engkau bersiaplah. Tapi ingat,
engkau harus sangat awas karena aku akan menghajarmu
dengan amat keras dan serius,,,,,,, sekaligus, (dengan suara
perlahan hanya ditujukan kepada Sie Lan In) berusahalah dengan
keras untuk mengingat-ingat semua gerakan serta jurus jurus
bersama gerak perubahannya,,,,, kelak akan berguna
untukmu......” kalimat terakhir dari si Rase Tanpa Bayangan
dilepaskan hanya didengar oleh Sie Lan In sendiri. Tentu saja Sie
Lan In menjadi sangat senang karena paham jika Bibinya sudah
percaya dengan kalimat-kalimat yang tadi disampaikannya. Dan
menimbang keanehan bibinya, dia tahu jika serangannya bakalan
tidak main-main dan artinya dia harus snagat berhati-hati.
1578
“Baik Bibi, In Ji bersiap............” Sie Lan In segera mengumpulkan
semangatnya dan juga perhatiannya karena mengerti siapa
lawannya. Lawan yang Subonya sendiri tak mampu
mengalahkannya alias SETANDING.
“Awas,,,,,,,,,”
Belum lagi selesai kata “awas” diucapkan, tubuh Si Rase Tanpa
Bayangan sudah bergerak dengan kecepatan yang teramat sulit
untuk diikuti dengan pandangan mata biasa. Bahkan angin
serangannya sudah terasa di sekujur tubuh Sie Lan In yang
dengan sebat dan nyaris sama cepatnya sudah bergerak sambil
mengibaskan lengannya dan membuatnya terlepas dari sergapan
cepat Si Rase Tanpa Bayangan. Dari Subonya, Sie Lan In sudah
mendengar betapa si Rase Tanpa Bayangan suka bermain tanpa
aturan, tanpa terduga, karena itu sejak awal Sie Lan In sudah
sangat siap menghadapi si Rase yang terkenal sangat sakti itu.
Dan meski gerakan si Rase Tanpa Bayangan sangat cepat, tetapi
sebagai seorang yang juga memiliki gerak cepat yang sama, dia
dapat mengawasi dan mengantisipasinya secara sangat baik.
Maka pecahlah tarung keduanya.
Sesungguhnya, gerakan awal Si Rase Tanpa Bayangan adalah
gerakan sederhana dalam jurus Hui Hong Soan Tah (Angin puyuh
1579
mengitari pagoda). Jurus yang dengan cepat sudah mengancam
Sie Lan In, tetapi Sie Lan In sendiri sudah maju sangat jauh dan
hebat. Dia dengan sebat bergerak dalam jurus Thian Lie Pian In
(Bidadari menari di dalam awan), jurus yang membuatnya
bergerak effisien dan effektif. Lebih sedikit gerakan, lebih sedikit
ruang, tetapi mampu memanfaatkan celah dan ruang sempit
untuk mengelakkan semua serangan si Rase Sakti Tanpa
Bayangan dengan tidak menderita kerugian sedikitpun.
“Hmmmmm, rupanya “dia” sudah tuntas mendidikmu, itulah
sebabnya engkau sudah memiliki kepercayaan diri yang sangat
tinggi sekarang ini. Bagus,,,,,,, dia sungguh tidak mengingkari janji
dan sumpahnya. Tetapi, awas........” pujian si Rase yang
membangkitkan semangat Sie Lan In, tetapi bersamaan dengan
itu kembali dia sudah diserang secara hebat.
Dengan kecepatan yang kini tak dapat diikuti mata biasa, bahkan
juga sulit diikuti Tiat Kie Bu dan Pek Sim Nikouw hingga mereka
sampai harus mengerahkan kekuatan iweekang baru mampu
tidak “pusing” karenanya, si Rase Tanpa Bayangan kembali
menyerang. Sekali ini dia menggunakan tipu 'Siao Khauw Tek Ko'
(Anak monyet petik buah) dan gerakan Siang Liong Coan Tah
(Dua naga menembusi menara). Jurus-jurus serangan dari dua
ilmu andalannya sekaligus Sam Teng Jin Thian (Tiga Kali
1580
Melompat Memasuki Langit) dan Cui Hun Ciap Ji Kiam Ciang
(Dua Belas Jurus Mengusir Setan). Akibatnya sungguh luar biasa,
dengan ginkang yang teramat mujijat si Rase Tanpa Bayangan
mengejar dan mencecar Sie Lan In. Nama yang belakangan jelas
menjadi amat kaget karena Bibi Gurunya begitu cepat memasuki
tahapan serius dalam upaya untuk menyerang dan
mengalahkannya dibawah 100 jurus saja.
“Bibi, Maaf........” sambil berseru demikian, Sie Lan In yang tahu
bahwa dia masih kalah matang dan kalah pengalaman,
memutuskan untuk mengeluarkan semua kebisaan yang
dilatihnya bersama Koay Ji dan juga dimatangkan Subonya
selama berapa saat terakhir di Lautan Selatan. Dengan cepat dia
mengembangkan Ilmu To Im Cih Yang (Menyambut Dengan
Keras Mendorong Dengan Lunak) untuk bisa menghalau
serangan-serangan lawan dan diikuti dengan gerak cepat Sian
Ing Tun Sin Hoat (Ilmu Bayangan Dewa Menghilang). Ilmu yang
terakhir bahkan Subonya sekalipun terkejut karena sudah
mendapatkan beberapa perubahan yang sangat hebat hasil
diskusinya dengan Koay Ji. Dengan kedua ilmu tersebut Sie Lan
In coba untuk menandingi dan mengurangi desakan si Rase
Tanpa Bayangan yang terus menerpa dan menerjangnya tanpa
ampun.
1581
Dalam waktu singkat, sesuai nama julukannya Long Li Hu Tiap
(Kupu-Kupu di Tengah Ombak) Sie Lan In terlihat sudah seperti
seekor kupu-kupu yang terbang tak terduga di tengah hempasan
ombak dan angin menderu. Kadang terlihat bagai terhempas
menjauh, tetapi segera terlihat kembali terbang mendekat dan
terus menyelinap dibalik gerakan-gerakan mujijat Lam Hay Liu Sui
(Air mengalir dari Laut Kidul). Jadilah dia seperti benar-benar
sedang mengalir bersama sekaligus menunggangi ombak laut
selatan yang maha ganas dan mematikan. Sementara Si Rase
Tanpa Bayangan benar-benar terlihat seperti Rase yang sedang
mengejar lawannya dengan gaya yang amat liar dan tak kenal
aturan. Jika gerakan si kupu-kupu amat indah dan
menggemaskan serta menarik, maka sergapan-sergapan si Rase
benar benar menggetarkan, amat liar, buas dan sering sangatlah
tak terduga. Karakter keduanya yang ditandakan dalam julukan
mereka masing-masing sungguh-sungguh tergambarkan dari
ketat dan menariknya pertarungan mereka. Pertarungan antara
gerak-gerik seekor kupu-kupu yang terbang menunggang
gelombang laut selatan dengan seekor Rubah yang memiliki
gerakan seperti siluman saja layaknya. Cepat dan seperti dapat
menghilang layaknya.
1582
“Ini benar-benar ciri khas dua tokoh kenamaan Rimba Persilatan
yang jarang dapat kita saksikan dalam dunia persilatan selama
ini......” desis Tiat Kie Bu kepada Pek Sim Nikouw yang juga
sedang terpana mengikuti tarung itu.
“Amitabha ..... siancay,,,,, siancay.......”
Tanpa terasa mereka berdua sudah bergerak hingga dua puluh
jurus. Jelas bagi mereka berdua dan bahkan juga Tiat Kie Bu dan
Pek Sim Nikouw, bahwa Sie Lan In masih kalah pengalaman,
kalah kuat dan juga kalah matang. Tetapi, tidaklah mudah bagi si
Rase Tanpa Bayangan untuk dapat menjatuhkannya pada saat
itu. Apalagi harus mengalahkannya dibawah 100 jurus. Jelas
teramat sulit. Karena Sie Lan In ternyata memiliki gerakangerakan
selingan yang amat mujijat yang membuat sudah
setidaknya dua kali dia dalam posisi kalah, tetapi dapat lolos dan
bahkan berbalik menyerang lawannya dengan hebatnya. Hal
yang sangat mengagetkan si Rase Tanpa Bayangan, tetapi
menghadapi serangan aneh dan mujijat itu, justru membuat wajah
si tokoh aneh itu nampak senang. Malahan sangat senang.
“Hikhikhik,,,,,, ternyata engkau malah sudah memiliki variasi gerak
yang lebih kaya dan lebih mujijat dibandingkan Subomu
sendiri,,,,,, hikhikhik sungguh menarik, tetapi awas, hati-hatilah
1583
engkau, Bibimu masih punya amat banyak jurus dan kemampuan
untuk dapat mengalahkanmu.......”
Sambil berkata demikian Si Rase Tanpa Bayangan kembali
meningkatkan baik kecepatannya maupun kekuatannya. Sekali
ini, dalam ilmu Kan Goan Cit Sin Kong (Jari sakti menembus baja)
sesekali diselingi dengan kombinasi Ilmu Sah Cap Lak Cau Hui
Su Cong (serangan tinju terbang dengan 36 perubahan).
Kecepatan geraknya, jangan lagi ditanya. Susul menyusul dia
mencecar Sie Lan In dalam jurus
Kim So Heng Kong (Rantai emas melintangi sungai), tipu Hay Tee
Tam Cu (Mencari mutiara di bawah laut) dan gerakan Pek Wan
Hoan Sin (Lutung putih jungkir balik). Jurus serangan Rantai
Emas Melintangi Sungai dari Ilmu Sah Cap Lak Cau Hui Su Cong
mengawali cecaran si Rase Tanpa Bayangan. Kilatan emas
berupa cepatnya pukulan lengan bagaikan menutup semua jalan
keluar dan juga kemungkinan pembelaan diri Sie Lan In.
Tetapi, Sie Lan In tidaklah bodoh, sebaliknya dia justru amat
cerdik dan dengan cepat dapat menyadari bahaya jika tetap
menggunakan ilmu yang sama terus menerus. Bibinya itu tentu
sudah mengenali semua ilmu dan jurus serangan subonya dan ini
repot jika dia melakukan sesuai “teori” atau sesuai kebiasaan.
Untungnya, pada saat itu selain kepercayaan Sie Lan In atas diri
1584
sendiri sudah mulai terpupuk ditambah dengan jurus dan gerak
yang diajarkan oleh Koay Ji kepadanya benar-benar mengganggu
Si rase Tanpa Bayangan. Memang benar bahwa Subonya pernah
memuji keistimewaan gerak tersebut dengan cara yang wajar,
tetapi begitu menggunakannya dan sampai mampu untuk
mendesak Si Rase Tanpa Bayangan membuat hati Sie Lan In
menjadi semakin besar. Dia benar-benar tak menduga jika tip dan
gerak ciptaan Koay Ji benar hebat dan membuatnya amat takjub.
Karena itu. untuk dapat terus mengimbangi tokoh seangkatan
Subonya itu, Sie Lan In kembali membuka ilmu yang baru dan kini
menggunakan Ilmu To Im Cih Yang (Menyambut Dengan Keras
Mendorong Dengan Lunak) dan dikombinasikan dengan Ilmu
yang lain, yakni Ilmu Kim Kong Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Cahaya
Emas). Dan menghadapi kepungan pukulan lawan yang
mencecarnya dari segala penjuru, dengan tenang Sie Lan In
menghadapinya dan menggunakan prinsip dasar iweekangnya
sendiri. Menyambut dengan keras dan mendorong dengan lunak,
atau juga sebaliknya. Tidak semua pukulan lawan dia hadapi dan
tangkis, tetapi hanya pukulan-pukulan berisi yang ditahannya dan
kemudian dipentalkannya meskipun dengan cepat kembali
berubah arah dan cara untuk terus menggempurnya lagi. Dengan
1585
cara begitu dia mampu menanggulangi terjangan si Rase Tanpa
Bayangan tanpa kesulitan yang berarti.
Serbuan si Rase Tanpa Bayangan tidak berhenti disitu saja, justru
semakin lama semakin berbahaya karena menggunakan ilmu
yang lebih membahayakan. Dengan cepat ketika terjangan
pukulan berantainya dipunahkan lawan, tiba-tiba kedua kaki
bergerak menendang. Bukan hanya itu, bahkan jari jemarinyapun
dapat ikut memberikan tekanan dengan ketajaman yang tak perlu
dipertanyakan lagi. Baru desirnya saja sudah membuat Sie Lan In
sampai bergidik, apalagi jika sampai dapat mengenai bagian
tubuhnya yang lemah tak terlindung. Tetapi gadis itu tidaklah
takut, malahan dengan amat cepat diapun menyambut pukulanpukulan
lawan dalam dua jurus bersambungan Jurus Giok Lie Tou
So (Bidadari menenun) dan langsung disambung dengan Jurus Ki
Hwe Siauw Hian (Angkat obor membakar langit). Karena tetap
menggunakan prinsip iweekang perguruannya, maka diapun tidak
khawatir meski kekuatan iweekangnya masih belum sekuat
lawan.
Dalam gerak yang susah diikuti pandangan mata, kembali
keduanya saling serang dan saling bertahan dengan frekwensi
penyerangan lebih banyak dilakukan oleh si Rase Tanpa
Bayangan. Jurus Bidadari Menenun dimanfaatkan secara
1586
maksimal oleh Sie Lan In untuk memunahkan serangan berantai
atau tendangan berantai lawan. Sementara Jurus Angkat Obor
Membakar Langit digunakannya untuk dapat memunahkan
serangan jari yang suara desiran serangannya saja sudah mampu
membuat hati berdesir jerih. Ada sebanyak tiga kali mereka adu
kekuatan, tetapi dengan cerdiknya Sie Lan In menyiasati
kekuarangan iweekangnya dengan tidak berhadapan secara
langsung. Meski dia terserang, tetapi dia sadar posisinya masih
amat kokoh dan masih belum dapat dihitung terdesak
menghadapi tokoh yang amat ditakuti rimba persilatan Tionggoan
itu. Dan kenyataan ini mengembangkan rasa percaya dirinya dan
sekaligus mulai membuatnya mengalir dalam melakukan
perlawanan terhadap si Rase Tanpa Bayangan. Sesekali dia
membiarkan dirinya dalam desakan lawan dan bahkan bergerak
mengikuti irama serangan yang terus menderanya itu tanpa
khawatir terluka.
Apalagi ketika pada peralihan jurus, dia teringat dengan sebuah
totokan khas dan sederhana yang diajarkan Koay Ji kepadanya di
Benteng Keluarga Hu. Sebuah gerakan umum namun sangat sulit
dilatih tanpa iweekang memadai yang bernama Jurus Yu Liong
Tam Jiau (Naga Bermain Mengulurkan Kukunya). Jurus yang
terlihat sederhana ini berupa sebuah totokan tak terduga pada
1587
jalan darah Yang Kok Hiat, satu jalan darah penting pada
pergelangan tangan lawan dan gerakannya itu sungguh amat tak
terduga lawan. Tetapi, karena efek kejutan ini, serangan Si Rase
Tanpa Bayangan selanjutnya, meski berlangsung pada 3-4
gerakan, tetapi sama sekali sudah kehilangan momentum dan
keistimewaannya. Dan keduanya paham dengan kejadian
tersebut. Dan ha ini, membuat Si Rase Tanpa Bayangan mulai
terkejut dan was-was dengan peluang menangnya karena
setidaknya ada tiga kali lawan mudanya ini mengejutkannya
dengan jurus aneh, sederhana, tetapi sungguh amat efektif dan
sangat manjur. Sie Lan In semakin menemukan momentum
dalam melanjutkan perlawanannya, percaya dirinya meningkat
dan mengalirlah jurus-jurus serangan dan pertahanannya secara
otomatis.
Bentrokan keduanya sampai sepuluh jurus kedepan hingga kini
sudah mencapai jurus ke-50, masih belum dapat menentukan
siapa yang terdesak. Logikanya, begitu menurut pikiran si Rase
Tanpa Bayangan, Sie Lan In mestinya sudah terdesak hebat dan
tinggal menunggu gebukan terakhir. Tetapi, apa daya, ada
setidaknya tiga kali dia bersiap untuk mendesak dan menciptakan
posisi kalah yang tak terelakkan oleh Sie Lan In. Tetapi apa lacur,
dia menghadapi gerak yang sederhana namun berakibat secara
1588
tiba-tiba dia yang malahan secara mujijat terserang secara hebat.
Hal itu bukan hanya membuatnya sangat terkejut tetapi juga
mampu memunahkan semua skema serangan maut yang
direncanakannya. “Hmmmmm, sangat alot dan satu kemajuan
yang sungguh amat luar biasa bagi anak ini....” desis Si Rase
Tanpa Bayangan dalam hati. Tentu saja dia malu untuk langsung
mengucapkannya keluar, meski dalam hati dia benar sangat
kagum dengan kemajuan yang dicapai Sie Lan In. Kemajuan yang
membuatnya kerepotan dan sekaligus membuatnya menimbang
ilmu apa yang harus dikeluarkannya untuk menang?
Pada sisi lain, semakin Sie Lan In menyadari kemujijatan gerakgerak
sisipan yang diajarkan Koay Ji semakin dia curiga dengan
keberadaan dan kondisi Koay Ji yang terlampau sulit untuk
dipahami. Mana bisa seorang Koay Ji yang tanpa kepandaian
mampu menciptakan gerakan-gerakan maut yang bahkan dapat
menggoyahkan dan mengejutkan Rase Tanpa Bayangan ini?
Padahal dia tahu betul sampai dimana kemampuan dan tingkat
kepandaian bibi gurunya yang termasuk tokoh paling tinggi di
Tionggoan saat itu. Meski penasaran dengan diri Koay Ji tetapi
disisi lainnya kepercayaannya terhadap kepandaian yang sudah
diselipi berapa rangkaian jurus Koay Ji, justru semakin meningkat.
Berbeda dengan Si rase Tanpa Bayangan yang justru semakin
1589
penasaran, dan sebagaimana wataknya yang rada kukoay, kini
justru mengganggu keseimbangannya. Bagaimana bisa seorang
anak semuda Sie Lan In dapat mengimbanginya sampai
sedemikian lama? Kenyataan yang sungguh amat sulit untuk
dapat dipahami dan diterimanya.
Sebuah serbuan cepat dan dengan kekuatan luar biasa kembali
dilakukan oleh si Rase Tanpa Bayangan. Dalam jurus sederhana
yakni jurus Thian Lie Tek Hoa (Bidadari memetik kembang), dia
menerjang Sie Lan In dan mengincar jalan darah di pergelangan
tangan kiri Sie Lan In. Belum lagi secara bersamaan dia segera
menyusulkan dengan gerakan Yan Cu Tui In (Burung wallet
mengejar mega), yang bermaksud untuk segera menutup jalan
mundur Sie Lan In. Kondisi yang sebetulnya genting bagi Sie Lan
In karena kecepatan dan kekuatan pukulan lawan yang luar biasa.
Tetapi, anehnya, kini Sie Lan In yang sudah mampu menemukan
momentum dan rasa percaya dirinya, tidaklah kaget dan bergerak
terburu-buru seperti awalnya. Melainkan mulai mampu lebih
fleksible dan mengalir melakukan perlawanan dengan jurus-jurus
yang sudah dikuasainya.
Dengan dua gerakan beruntun, dia bukan pergi dan lari
menghindar, tetapi malah maju setengah tindak dan balas
menotok dengan jurus gerakan Ban Li In San (Awan gunung
1590
tampak selaksa li). Bukannya mengindar, dia justru berbalik
menotok di tiga tempat sekaligus dalam kecepatan yang sama
dengan Rase Tanpa Bayangan dan langsung disusulnya dengan
jurus Coan Ping Kiu Siau (Burung garuda berputar sembilan kali
di kabut). Jurus terakhir sama dengan bermain petak umpet
dengan jurus lawan dan akhirnya membuat mereka saling intip
dan saling menunggu kesempatan lawan menggunakan jurus
yang salah dan kemudian akan membombardirnya dengan jurus
serangan selanjutnya. Tetapi, sampai si Rase Tanpa Bayangan
dan Sie Lan In bertukar jurus sekian kali, mereka tetap sulit guna
menemukan peluang tersebut. Adalah Rase Tanpa Bayangan
yang khawatir karena kembai 10 jurus berlalu tanpa ada peluang
yang nyata baginya untuk mendesak dan menyudutkan Sie Lan
In guna meraih kemenangan.
Teringat dengan kemenangan, tiba-tiba si Rase Tanpa Bayangan
merubah lagi strateginya. Kini dia memainkan jurus Mo In Kim Ci
(Mengusap awan dengan sayap emas) dan disambung dengan
jurus Can Goat Siau Seng (Bulan sabit menyinari bintang). Sie
Lan In nyata-nyata melihat pada jurus ke 73 bahwa Bibi Gurunya
ini menyerang dengan tiga buah gerakan memutar dan
mengancam tiga titik pada leher serta wilayah pundaknya. Tetapi,
entah bagaimana dia justru merasa seperti sedang diserang pada
1591
10 titik sekaligus, sementara si Rase Tanpa Bayangan terlihat
melompat-lompat ringan bagaikan capung yang tak memiliki
beban berat. Dalam sepersekian detik dia merasakan adanya
hawa yang aneh mencoba menyusup dan menyerang
konsentrasinya dan berusaha merusaknya. Dan diapun segera
paham jika ada hawa aneh sejenis hawa sihir yang sedang
dihadapinya, dan dia ingat jika bibinya memiliki sebuah Ilmu
bernama Ilmu Cui Hun Ciap Ji Kiam Ciang (12 Jurus Mengusir
Setan) dan gerakan melompat itu pastilah Ilmu Sam Teng Jin
Thian (Tiga Kali melompat Memasuki Langit).
Tebakan Sie Lan In sekali lagi memang sangat tepat. Bukanlah
maksud Si Rase Tanpa Bayangan menyerang dengan
menggunakan kekuatan sihir, tetapi jurus-jurus serangan dalam
ilmunya memang mengandung hawa mujijat yang mempengaruhi
semangat para lawannya. Untunglah Sie Lan In cepat
menyadarinya dan karena itu, meskipun dia kehilangan waktu
sepersekian detik, tetapi tidaklah sampai membuat ataupun
membawa akibat fatal dalam perlawanannya. Dan yang paling
penting adalah, Sie Lan In paham dan tahu bagaimana bereaksi
guna melawan pengaruh aneh itu dan memilih serangan
pertahanan yang pas dan tepat. Dan diapun segera
melakukannya tanpa pikir panjang.
1592
Dengan cepat Sie Lan In memainkan dua jurus secara bersamaan
yakni jurus Gwat Beng Seng See (Bulan terang bintang jarang)
dan disusul dengan jurus Ki Ku Sian Thian (Memukul tambur
menggetar langit). Jurus yang kedua dilakukan dalam
pengerahan ilmu mujijatnya untuk menolak hawa sihir yang
membuatnya melihat setiap serangan lawan menjadi dua kali lipat
banyaknya. Dengan getaran kekuatan iweekangnya dia dapat
memandang kembali jurus serangan lawan secara normal dan
kemudian menyingkap rahasia pukulan itu dalam jurus
selanjutnya. Tetapi, peralihan penggunaan Ilmu si Rase Tanpa
Bayangan memang hebat, dan ini menggoyahkan perlawanan Sie
Lan In yang kehilangan waktu sepersekian detik mengantisipasi
serangan lawan. Dan itu cukup bagi si Rase Tanpa Bayangan
untuk mengambil alih pertempuran guna membuat peluang
mendesak dan mengalahkan Sie Lan In. Apalagi, kini pertarungan
mereka sudah menginjak jurus ke delapan puluh. Tetapi, sekali
lagi untuk kesekian kalinya yang tak diduga oleh Si Rase Tanpa
Bayangan kembali terjadi. Karena secara tiba-tiba dalam posisi
terdesak, Sie Lan In bergerak dalam sebuah jurus sela, yakni
menggunakan sebuah jurus bernama In Liong Sam Sian (Naga di
awan muncul tiga kali).
1593
Sebetulnya jurus itu merupakan salah satu gubahan Koay Ji dari
Ilmu Liu Yun Ciang Hoat (llmu pukulan Awan Terbang) miliknya
sendiri. Tidak ada yang sangat luar biasa dari jurus tersebut,
hanya penggunaan pada waktu yang tepat disertai pengerahan
kekuatan yang memadai dan menghasilkan perbawa yang luar
biasa jika dibandingkan digunakan dalam situasi rangkaian Ilmu
Liu Yun Ciang Hoat. Pada posisi sedikit terdesak itu, kepercayaan
dan rasa cintanya kepada Koay Ji membuat Sie Lan In mengingat
kembali sebuah kalimat Koay Ji tentang jurus In Liong Sam Sian:
“ Jurus ini adalah jurus yang cukup hebat dalam rangkaian Ilmu
Liu Yun Ciang Hoat, tetapi jika dilakukan pada saat terdesak dan
amat membutuhkan peralihan penggunaan ilmu yang baru,
dengan lawan yang sedang menyerang dan engkau
menggandakan iweekang dalam setiap lompatan dan serangan
balasan, maka lawan akan mampu diredam semua
serangannya.... lakukan dengan mengalir, hatimu akan
menuntunmu untuk melakukannya secara benar.....”
Dan Si Rase Tanpa Bayangan serta Sie Lan In sendiri menjadi
tersentak kaget ketika secara mendadak dalam tiga kali upayanya
keluar dari jeratan lawan justru membuatnya mampu berbalik
mendesak lawan. Pukulan pertama dari jurus itu dengan mudah
dipunahkan Rase Tanpa Bayangan, tetapi pukulan kedua dan
1594
ketiga jadi membuatnya tersentak karena kekuatan pukulan
melonjak drastis sementara dia jadi batal menyerang balik karena
kekagetannya itu. Awalnya dia mengira Sie Lan In sudah
kehabisan nafas yang dibutuhkan untuk melakukan serangan
kedua dan ketiga, tetapi entah bagaimana Sie Lan In justru
melakukan apa yang dibayangkan sebagai sesuatu yang
mustahil. Akibatnya, kembali kini Rase Tanpa Bayangan yang
kaget kehilangan momentum dan malah berbalik kehilangan
waktu sepersekian detik dan dimanfaatkan dengan baik oleh Sie
Lan In.
Dengan serentak Sie Lan In balik menyerang dalam rangkaian
jurus Siang Liong Chio Cu (sepasang naga merampas mutiara)
langsung dilanjutkannya dengan jurus To Pu Tu Kang (pengayuh
kayu menampar air). Kedua jurus itu memiliki empat buah
gerakan berbeda yang menyerang Si Rase Tanpa Bayangan dari
empat sisi berbeda dan dalam kecepatan yang luar biasa. Dalam
sekejap bagian dada, pinggang, leher dan pangkal paha Rase
Tanpa Bayangan berada dalam cecaran maut Sie Lan In. Satu
saja terserempet angin pukulan akan berakibat yang amat besar
bagi Rase Tanpa Bayangan. Tetapi, percuma tokoh itu menjadi
tokoh besar jika dapat diapusi oleh Sie Lan In dengan demikian
mudahnya. Dia memang kaget dan memang kehilangan waktu
1595
sepersekian detik, tetapi tidak kehilangan hal yang amat penting
bagi seorang petarung. Ketenangan, kepercayaan diri dan
waspada untuk menyesuaikan dengan serangan lawan dan
antisipasi atas apa yang perlu untuk segera dia lakukan.
Itu sebabnya dalam jurus tunggal yang membuatnya
mengerahkan banyak kekuatan saktinya, yakni jurus Pay San Hu
Ciong atau menghalau gunung menggempur karang dengan
cepat Rase Tanpa Bayangan mengokohkan kembali posisinya.
Tapi, dengan kesadaran dia sudah kehilangan peluang besar
untuk mengalahkan Sie Lan In, dan rasanya dia cukup sadar jika
ponakan perempuannya ini sudah berada dalam tataran yang
tidak jauh dengan dirinya sendiri. Inilah yang membuat Si Rase
Tanpa Bayangan menjadi senang. Tetapi, rasa senangnya itu
membuatnya ingin lebih meyakinkan dirinya dengan
menggunakan 10 jurus tersia guna menguji tingkat kemampuan
Sie Lan In dan meyakinkan dirinya sendiri.
Maka diapun bergerak sambil berbisik kepada Sie Lan In:
“Engkau harus mampu menghadapi kedua ilmu andalanku jika
memang benar nekad dan berkeinginan membantu kedua orang
tua yang tak ada hubungannya dengan dirimu itu... maka berhati
1596
hatilah, karena jika gagal maka engkau mengalami kerugian yang
tidak kecil...”
Mendengar bisikan bibinya itu, Sie Lan In tersentak kaget. Benarbenarkah
bibinya itu akan menyerangnya dengan kedua ilmu
pusakanya? Ilmu Sihir Mi Cin Li Hun (Menyesatkan pikiran &
mengusir roh) yang bisa dilakukan dengan seruling namun juga
bisa dengan lantunan suara bibinya itu. Dan terkahir Ilmu Sie Tie
Kan Kun (Seruling Sakti Menggetarkan Jagad) yang bentuk
terhebatnya dilakukan dengan bantuan suara seruling. Dan
tentunya Sie Lan In paham bahwa kedua ilmu tersebut adalah
ilmu simpanan yang mengangkat nama si Rase Tanpa Bayangan
di Tionggoan. Kekuatannya boleh dibilang pada penguasaan dan
penggunaan ilmu sihir yang mampu mengeluarkan suara yang
mempengaruhi sekaligus merusak konsentrasi lawan. Bahkan
pada kemampuan tertingginya, suara mujijat itu mampu membuat
orang mengerjakan apa yang diinginkan serta diperintahkan oleh
si peniup seruling. Sementara ilmu yang terakhir adalah
penggunaan kekuatan murni yang disalurkan melalui suara dan
mampu menggedor pertahanan lawan sehebat apapun. Dapat
dibayangkan kehebatan Si Rase Tanpa Bayangan jika memang
benar akan melepas kedua ilmu pusakanya itu.
1597
Dan sudah barang tentu Sie Lan In paham dan mengerti bahwa
dia membutuhkan hal yang lebih dari biasanya untuk menahan
kedua serangan itu. Dan memang jika amat dibutuhkan, maka
mau tidak mau dia harus menggunakan senjata andalannya Thian
Liong Po Kiam (Pedang Pusaka Naga Kahyangan) dan
dikombinasikan dalam tingkatan tertinggi Imu Pedangnya. Yakni
sejenis Ilmu Kepandaian Kiam Jin Hip It (pedang dan tubuh
terhimpun menjadi satu) yang mujijat, baru dengan itu dia akan
memiliki cukup peluang untuk sekedar menahan serangan
lawannya itu. Tetapi, itupun hanya sampai pada tingkatan
bertahan karena dia amat sadar, dengan keterbatasan kekuatan
batinnya, maka dia masih belum mampu menerobos masuk ke inti
pertahanan bibinya itu. Hal ini sudah dengan jelas disampaikan
subonya pada saat-saat terakhir ketika dia digembleng habishabisan
sebelum sang subo akhirnya menutup diri.
Kelihatannya Si Rase Tanpa Bayangan memberi waktu yang
cukup kepada Sie Lan In untuk mempersiapkan dirinya. Dan
memang benar, Sie Lan In memanfaatkan waktu yang tersedia
untuk mengumpulkan seluruh semangatnya, mengumpulkan
seluruh hawa murninya dan kemudian melepas untuk pertama
kalinya Pedang Pusaka yang selalu dibawahnya dan
disembunyikan dibalik jubahnya. Itulah Thian Liong Po Kiam atau
1598
Pedang Pusaka Naga Khayangan yang memancarkan sinar
keputihan yang menyilaukan mata. Pedang itu kemudian diangkat
menunjuk keatas, keangkasa dan sebelah lengan Sie Lan In
bersedekab didada. Dan inilah posisi kepandaian pedang langkah
yang sudah teramat jarang munculkan diri di rimba persilatan lagi.
Inilah Ilmu Pedang yang dinamakan Hui Sian Hui Kiam (Pedang
terbang memutar) yang akan dimainkan dalam tingkatan tertinggi
Ilmu Pedang, yakni tingkatan Kiam Jin Hip It (pedang dan tubuh
terhimpun menjadi satu). Mimik wajah Sie Lan In sudah terlihat
sangat serius karena segenap semangat dan kekuatan
iweekangnya disalurkan dan digerakkan keujung pedang,
sementara semangatnya terpusat dan menghadirkan tatap mata
yang amat tajam tanda Sie Lan In sudah sangat siap.
“In Ji,,,,, awas,,,,,,,,,”
“Tringgggg,,,,,,,,”
Peringatan Si Rase Tanpa Bayangan adalah pembukaan
serangan yang segera membuat Sie Lan In bergerak. Dia ingat
betul saran Koay Jie, bergerak dan terus bergerak sesuai dengan
tuntutan dan arahan hati, semangat dan kemauan berpadu dan
biarkan melahirkan gerak sesuai dengan tuntutan hati dan tubuh.
Dan kibasan pertama Sie Lan In berbenturan dengan peringatan
1599
“awas” yang dilepaskan oleh Rase Tanpa Bayangan yang
sebenarnya adalah sebuah serangan berbahaya. Dan akibatnya
terdengar benturan seperti pedang beradu dengan pedang.
Padahal yang terjadi adalah serangan suara Rase Tanpa
Bayangan yang membentur deru angin tangkisan Sie Lan In.
Tetapi, pertarungan mereka selanjutnya justru senyap dan tidak
terdengar telinga Tiat Kie Bu dan Pek Sim Nikouw adanya desiran
angin pukulan maupun suara berkesiutan suara pedang.
Sebaliknya, meski Sie Lan In terlihat bergerak memukul tetapi
sebagian besar menangkis tetapi sama sekali arena itu sepi dan
senyap. Sungguh luar biasa.
Padahal, pada saat itu Sie Lan In sedang digempur habis-habisan
oleh angin suara tak berwujud yang ingin membuatnya tunduk
atas kemauan Rase Tanpa Bayangan. Tetapi, kepercayaan diri
yang tinggi, keyakinan terhadap ilmu warisan subonya dan juga
kepercayaan dan kasihnya yang semakin tebal kepada Koay Ji,
membuatnya mampu bertahan. Serangan suara Rase Tanpa
Bayangan bagaikan meteor yang terus menerjang sekujur tubuh
Sie Lan In yang untungnya terus bergerak baik menghindar
maupun memunahkan serangan lawan dengan pedangnya. Dan
yang hebat dan mengagumkan Rase Tanpa Bayangan adalah
bagaimana Sie Lan In menghadapi serangan suaranya. Dia tidak
1600
hanya bersembunyi dibalik bayangan pedangnya, tetapi sesekali
keluar menyerangnya dan seringkali menarik dengan pedangnya
di tengah hujan cecaran serangannya. Dan yang terpenting, sama
sekali tidak nampak raut wajah yang panik, tergesa-gesa ataupun
gelisah menghadapi badai serangannya yang terus mengancam.
Keadaan itu berlangsung sampai bahkan melebihi jurus ke-100,
tetapi tidak terlihat niat Si Rase Tanpa Bayangan untuk berhenti.
Sebaliknya, dengan pandang mata kagum dan senang dia malah
berdesis: “Terima kasih enci Sie Chen, engkau benar sudah
mengurusnya dengan sangat baik...”. Dan beberapa saat setelah
melampaui 100 jurus, diapun berbisik atau tepatnya mengirimkan
suara kepada Sie Lan In yang sedang berkonsentrasi
menghadapi serangannya: “sekali lagi perhatikan dengan cermat
apa yang kulakukan......”. Sebetulnya Sie Lan In kaget, tetapi jelas
sekali dia mendengar apa yang disampaikan oleh Si Rase Tanpa
Bayangan. Dan segera dia sadar bahwa mereka sudah
melampaui 100 jurus dan kini bibinya itu seperti sedang berusaha
membimbing dan mengajarnya. Dia merasakannya dan
membuatnya berdebar karena jelas gerakan dan serangan Si
Rase Tanpa Bayangan merupakan ulangan atas seranganserangan
sebelumnya. Maka, tanpa sedikitpun mengurangi
kewaspadaannya, diapun kini mulai lebih memperhatikan gerak1601
gerik, jurus dan juga terutama ginkang dan kecepatan si Rase
Tanpa Bayangan.
Kejadian itu berlangsung lumayan lama dan dalam kecepatan
yang terlampau sulit dilacak orang lain, bahkan Tiat Kie Bu dan
Pek Sim Nikouw hanya mampu untuk megikutinya secara samar.
Tetapi, mereka berdua paham kalau pertarungan sudah
melampaui 100 jurus, tetapi entah mengapa kedua perempuan
beda generasi itu masih terus bertarung dengan hebat. Hanya,
sekali ini mereka tidak lagi merasa takut dan sangsi dengan Sie
Lan In karena melihatnya mampu meladeni serangan maut si
Rase Tanpa Bayangan. Setelah sekian lama mereka
menyaksikan dan akhirnya menunggu dengan perasaan gelisah,
tiba-tiba mereka terkejut melihat bayangan si Rase Tanpa
Bayangan berkelabat menjauh. Bahkan sesaat kemudian mereka
mendengar tokoh itu berkata dari kejauhan dengan suara yang
masih sangat bening dan jelas di telinga:
“Baiklah, sekali ini kalian berdua kulepaskan dan tidak akan
kuganggu lagi. Tetapi, jika bertemu suhu kalian, laporkan bahwa
Rase Tanpa Bayangan menantang dan menunggu kunjungannya
di tempatku. Dia tahu bagaimana menemukanku dan bagaimana
menyelesaikan semua hutang diantara kami.....”
1602
Apa gerangan yang terjadi? Bagaimana bisa seorang bernama
besar semisal Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan)
bisa meninggalkan arena tarung seperti itu? Mari kita ikuti bagianbagian
selanjutnyan guna memahami apa yang sebenarnya baru
saja terjadi.
Si Rase Tanpa Bayangan sebetulnya meihat dan menyadari
bahwa meskipun Sie Lan In sudah maju sangat jauh, tetapi masih
belum memguasai beberapa jurus pamungkas Lam Hay Sinni.
Dan dia akan dapat mengalahkan gadis itu, tetapi untuk itu diapun
harus berkorban sangat besar. Padahal, muridnya pada saat itu
sangat membutuhkannya karena berada pada saat yang sangat
kritis. Tetapi, pada sisi yang lain, dia justru sangat gembira
sekaligus terkejut setengah mati karena pada dasarnya tingkat
kemampuan Sie Lan In sudah maju teramat jauh.
Kemampuannya bahkan sudah setingkat dengan kemampuannya
pada usia 50an, pada masa-masa kejayaannya bersama Lam
Hay Sinni. Hanya soal kematangan, pengalaman dan sepenggal
kekuatan batin yang berkembang seiring dengan kemampuan
mengalami dan menata pengalaman hidup agar selaras dengan
perkembangan kemampuan ilmu silatnya. Dan ini sangat
menggembirakan Si Rase Tanpa Bayangan. Itulah sebabnya dia
dengan rela hati mengulangi serangannya setelah melewati
1603
angka 100 jurus pertarungan mereka. Dan benar saja, dia melihat
Sie Lan In dengan cerdik mampu memperhatikan semua formula
gerak, jurus dan ginkangnya. Inilah yang diinginkannya dan
memang dirancangkannya. Maka setelah akhirnya merasa cukup,
diapun meninggalkan tempat itu.
Apakah selesai? Pada dasarnya memang selesai. Setidaknya
urusan Tiat Kie Bu dan Pek Sim Nikouw sudah selesai. Apalagi
jaminannya sudah dilontarkan oleh Si Rase Tanpa Bayangan
barusan. Tetapi, Sie Lan In merasa terkejut dan termenung begitu
Si Rase Tanpa Bayangan berlalu, bahkan bertanya-tanya dalam
hatinya. Sesaat kemudian dia terkenang dengan subonya dan
teringat dengan sebuah pesan dan titipan subonya itu sebelum
perjalanannya yang pertama ke Tionggoan. Pesan dan titipannya
disampaikan secara rahasia dan dalam percakapan dari hati ke
hati ketika dia menanyakan asal-usul serta keluarganya yang
sebenarnya. Teringat akan Subo dan titipan subonya itu, Sie Lan
In terlihat sedikit tenang dan dia memutuskan akan memeriksa
titipan subonya. Dia ingat betul kejadian dan rangkaian kejadian
ketika dia merengek kepada subonya mengenai siapa dirinya
yang sesungguhnya. Dan subonya menjawab:
“Suatu saat ketika engkau menemukan Bibimu Bu Eng Ho Khouw
Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan) boleh engkau bertanya lebih jauh
1604
kepadanya. Tetapi, bacalah terlebih dahulu surat subomu ini yang
baru boleh dibuka setelah engkau bertemu dengan dia untuk
pertama kalinya. Ingat sekali lagi, surat ini baru boleh engkau
buka setelah bertemu dengannya pertama kali, dan setelah itu,
ikutilah suara hatimu. Tetapi untuk bercakap dengan Bibi gurumu
engkau harus teramat sabar serta jangan sekali-kali
mendesaknya. Pada dasarnya dia adalah orang yang baik, tetapi
penderitaan yang panjang membentuknya menjadi amat keras,
aneh dan juga eksentrik. Nach, itu saja pesan Subomu untuk
menjawab pertanyaanmu kemarin mengenai asal-usulmu dirimu
In Ji..... sekarang engkau sudah boleh pergi untuk melakukan
tugasmu dan berusaha mencari Sucimu....”
Lamunan Sie Lan In terhenti ketika dia mendengar teguran dan
ucapan terima kasih dari Tiat Kie Bu dan Pek Sim Nikouw:
“Sie Kouwnio, kami berdua mengucapkan terima kasih atas
bantuan dan atas semua upaya yang engkau lakukan untuk
kami,,,,,,,”
“Accchhhhh, Paman Tiat Kie Bu, Pek Sim Nikouw tidak ada yang
luar biasa. Bukankah itu adalah kewajiban antar sesama
pendekar di Tionggoan kita ini. Tapi, sebaiknya mari kita cepat
1605
tinggalkan tempat ini sekarang, ada suatu urusan yang harus
cepat kukerjakan,,,,,,”
Dan tak lama kemudian Sie Lan In sudah berada dalam ruangan
kecil di rumah unik milik Tiat Kie Bu. Dan dengan hati-hati dia
mengeluarkan surat titipan subonya, membukanya perlahanlahan
dan kemudian membaca tulisan subonya yang amat singkat
namun padat:
Sie Lan In muridku,,,,
Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan) nama aslinya
adalah Sie Hoa dan merupakan nenek buyutmu. Ibumu adalah
cucu dari Sie Hoa, dan Sie Hoa adalah adik bungsu Subomu. Cari
Nenek buyutmu itu dan mintalah dia menceritakan prihal asalusulmu.........”
Lam Hay Sinni
Tergetar perasaan Sie Lan In membaca surat singkat Subonya.
Yang pasti sang Subo tidak mungkin mendustainya. Tetapi,
mengapa dia sendiri memakai nama She Nenek buyut dan
Subonya yang juga adalah bibi nenek buyutnya? Pertanyaan ini
menggantung dan tak dapat dijawabnya sendiri. Karena itu,
diapun memutuskan untuk pergi menemui Nenek Buyutnya itu
1606
guna bertanya mengenai asal usulnya dan juga mengenai kedua
orang tuanya.
Tapi,,,,,, inilah soalnya. Dan ini membawa pertentangan batin
dalam hati Sie Lan In serta memusingkannya: “Accchhh, aku tadi
sudah menggagalkan satu upaya nenek buyut mengobati
muridnya,,,,,, bagaimana baiknya ya.......? hmmmmm, lebih baik
kutemukan Bu San terlebih dahulu baru mengunjungi Nenek
buyut. Tapi, achhhh, aku lupa dengan Thian Liong Koay Hiap,,,,,
apa kata Subo nanti....?”, dengan pikiran itu Sie Lan In akhirnya
memutuskan untuk menemukan Thian Liong Koay Hiap terlebih
dahulu. Dan dalam waktu kurang dari sejam, dia sudah berada di
kota Liang Ping, tetapi celakanya waktu sudah senja dan
menjelang malam. Sementara mereka berjanji untuk bertemu
siang hari. “Bagaimana menemukan Thian Liong Koay Hiap”? ini
yang menjadi persoalan baru bagi Sie Lan In.
Setelah berpikir sekian lama, Sie Lan In tidak mau bertindak
tanggung, dia punya cara “mengundang” Thian Liong Koay Hiap.
Maka diapun kemudian menuju titik pertama atau tempat mereka
masuk ke kota Liang Ping. Setelah berada disana, diapun
menyuruh Rajawali Saktinya untuk “berteriak” dan kemudian
menyuruhnya untuk secepatnya terbang pergi ke angkasa. Dan
memang, seperti yang sudah ditebaknya, tidak beberapa lama
1607
kemudian terlihat Thian Liong Koay Hiap sudah datang untuk
menemuinya disitu.
“Acccchhh, mengapa menggunakan Burung Rajawalimu untuk
menghentak seisi kota ini...? bukankah engkau dapat menemuiku
di hotel terakhir sebelum kita berpisah Sie Kouwnio...”? sungut
Thian Liong Koay Hiap ketika akhirnya menemukan Sie Lan In
yang memang sengaja menunggunya.
“Waktunya terbatas Koay Hiap, aku harus pergi menemukan Bu
San, bibiku amat memerlukannya. Hanya dia yang dapat
mengobati murid bibiku dan hanya bibiku yang dapat
menceritakan asal-usulku.......”
“Sakit apa gerangan murid bibimu Sie Kouwnio.....”?
“Entahlah, tapi kuduga, hanya Koay Jie yang dapat
mengobatinya.....”
“Engkau meragukan ilmu pengobatanku Sie Kouwnio...? engkau
harus tahu, dalam hal pengobatan Koay Jie tidak lebih hebat dari
diriku.......” berkata Koay Hiap dengan suara tawar dan tidak
terkesan menyombongkan diri. Pastilah, karena sesungguhnya
dia dan Koay Jie adalah tokoh yang sama.
1608
“Apa.....? engkaupun ahli dalam pengobatan...”? jerit Sie Lan In
kaget antara terkejut dan senang dengan apa yang didengarnya.
“Apa perlu kubuktikan......”? jawab Thian Liong Koay Hiap dengan
santai sambil memandang Sie Lan In dengan sedikit menggoda.
“Tidak perlu kau buktikan disini, lebih baik engkau buktikan
dengan menyembuhkan murid dari bibiku itu.....”
“Dimana ...”?
“Di dekat tempat tinggal Tiat Kie Bu Locianpwee ..... jika engkau
siap, sekarang juga kita akan segera berangkat....”
“Apa? tidak menunggu sampai besok...”?
“Aku tidak sabar menunggu kalau terkait dengan kisah asal
usulku, siapa orang tuaku dan keluarga terdekatku yang lain.....”
Mendengar perkataan Sie Lan In segera Koay Hiap terdiam. Dia
setuju, kisah soal asal usul terlampau penting untuk dinomor
duakan. Apalagi karena Koay Ji sendiri memang bernasib mirip
dan sama dengan Lan In, itu sebabnya dia dapat menerima dan
memahami alasan Sie Lan In untuk berkeras melakukan
1609
perjalanan saat itu juga. Karena itu, diapun pada akhirnya dengan
suara tegas menentukan sikap dan berkata kepada Sie Lan In:
“Baik, demi dan untuk kisah serta asal-usul dirimu mari kita
berangkat. Tapi biar kuberitahu beberapa orang agar menyusul
segera........”
Setelah kembali sebentar ke hotelnya, saat itu juga keduanya
berkelabat menuju ke tempat tinggal Tiat Kie Bu. Tetapi, pada
saat itu Pek Sim Nikouw sudah pulang ke kuilnya dan konon akan
kembali dua hari kedepan untuk melakukan perjalanan menuju ke
tempat toa suheng mereka. Meski berlarian selama 2 jam lebih
dalam kecepatan tinggi, tetapi Sie Lan In terlihat seperti tidak lelah
dan memaksa untuk segera menuju ke tempat tinggal si Rase
Tanpa Bayangan. Tetapi, setelah diberi penjelasan dan
pertimbangan terutama oleh Tiat Kie Bu, pada akhirnya Sie Lan
In dapat menerima untuk besok pagi akan menemui kembali Si
Rase Tanpa Bayangan. Malam itu mereka dapat beristirahat
dengan tenang, terutama bagi Tiat Kie Bu setelah selama
beberapa hari mengalami ketegangan berhadapan dengan si
Rase Tanpa Bayangan yang mengancam mereka.
Tetapi, sayang sekali, keesokan paginya tetap saja mereka
terlambat. Jika memaksa datang semalampun, tetap saja mereka
1610
terlambat karena Si Rase Tanpa Bayangan sudah langsung pergi
tidak berapa lama setelah pertarungannya dengan Sie Lan In. Hal
ini akan mereka ketahu belakangan. Yang ditemukan Sie Lan In,
Tiat Kie Bu dan Thian Liong Koay Hiap hanyalah sebuah gua yang
sudah kosong melompong. Tetapi itupun setelah Thian Liong
Koay Hiap dengan susah payah menembus tirai sihir yang
kelihatannya sengaja dipasang penghuninya.
“Accchhhhh, kosong juga ....” keluh Sie Lan In begitu menemukan
gua tempat tinggal Si Rase Tanpa Bayangan ternyata sudah
kosong. Dia seperti ingin menumpahkan kekesalannya karena
ditahan-tahan semalam, namun untung dia masih dapat menahan
dirinya. Sementara Sie Lan In mengeluh dan kecewa, Koay Hiap
terlihat tetap tenang dan terlihat terus-menerus mengawasi
sekeliling gua tersebut. Dia seperti mencurigai sesuatu, tidak
percaya jika gua itu sudah ditinggal pergi dan ditinggalkan kosong
begitu saja. Apalagi dia mendengar dari Sie Lan In bahwa murid
bungsi penghuni yang mereka cari sedang dalam keadaan terluka
hebat. Dalam keadaan seperti itu tidak mungkin mereka
meninggalkan gua begitu saja, tentunya ini mencurigakan. Dan
Koay Ji menduga ada sesuatu yang tersembunyi.
“Hmmmm, ini bukan ruangan utama tempat tokoh tua itu
tinggal..... tetapi dia cerdik dengan memasang tirai sihir di tempat
1611
ini dan membuat banyak orang akan salah duga. Tetapi, tidak
mudah mengibuliku” desis Koay Hiap dalam hatinya dan terus
mencari dengan teliti. Sementara Sie Lan In terlihat terpukau dan
menarik nafas penuh kekecewaan, sedangkan Tiat Kie Bu terlihat
berusaha untuk menghibur si dara yang sedang kecewa berat itu.
“Tempat ini bukan tempat tinggal Si Rase Tanpa Bayangan,,,,,, ini
sejenis tempat biasa, menerima tamu atau sejenisnya. Jelas
tokoh itu tidak tidur di tempat ini, dia mestinya memiliki ruangan
lain yang lebih tersembunyi. Jangan bersedih dahulu, kita mesti
dapat menemukan tempat itu......” berkata Koay Hiap dengan
lebih berusaha lagi, bahkan kini berusaha mengerahkan
konsentrasi dan kekuatan batinnya untuk bisa melihat lebih detail
posisi ruangan tersebut. Tetapi, sekian lama, tetap saja dia tidak
dapat menemukan sesuatu yang mencurigakan. Ruangan gua
tersebut memiliki atau terbagi dalam 3 ruangan berbeda, tetapi
Koay Hiap merasa pasti bukan disitu tempat tinggal si Rase Tanpa
Bayangan. Tetapi dimana? Karena ketiga ruangan itu sudah
diteliti dan diselidiki Koay Hiap tanpa ada tanda-tanda yang
mencurigakan. Di atas, di lantai, di dinding, tetap saja tidak terlihat
ada jalan menuju ke ruangan lain yang lebih tersembunyi.
“Sudahkah engkau temukan......”? desis Sie Lan In yang juga
sama penasarannya dan kini kewaspadaannya kembali normal
1612
setelah ditegur dan diingatkan oleh Koay Hiap beberapa waktu
sebelumnya.
“Belum, tetapi kita pasti akan dapat menemukannya......” jawab
Koay Hiap sambil lalu lalang dan bahkan kemudian keluar kembali
dari gua itu dan memandangi gua tersebut dari luar. Tetap dia tak
menemukan satu apapun yang patut dijadikan petunjuk untuk
mengetahui adanya ruangan rahasia.
“Hmmmm, untuk apa dia memasang tirai pembatas yang tidak
sembarangan orang mampu mengurainya di pintu masuk gua
itu.....”? demikian Koay Hiap bertanya-tanya dan semakin merasa
penasaran. Bahkan kini, perlahan-lahan kembali dia melangkah
masuk ke dalam gua itu.
“Tidak mungkin dia orang tua pergi jauh, muridnya sedang terluka
parah” desis Sie Lan In dan dapat didengarkan oleh Koay Hiap.
Dan pada saat dia mulai masuk kedalam pintu gua itu,
perasaannya sedikit tersentuh, dan dia paham apa artinya.
Karena itu dia memandang ke sebelah kanan, sumber dimana dia
merasa ada sesuatu yang lain disana.
“Hmmmm, Si Rase Tanpa Bayangan memang cerdik. Dia
memasang tirai sihir bukan hanya di pintu masuk utama ini, tetapi
1613
juga bahkan memasang tirai itu dengan menyamarkan pintu
masuk yang kedua. Sungguh hebat dan sulit ditebak....” desis
Tian Liong Koay Hiap yang kemudian berjalan perlahan bergeser
kekanan karena dia menduga disitu pastilah ada pintu masuk
yang lain lagi. Dia mengibaskan lengan kanannya yang dipenuhi
kekuatan mujijat dan benar saja, lengannya itu terpental ke
belakang tanda betapa kuatnya tirai sihir tersebut. Ini
membuatnya tersenyum dan menjadi yakin, itulah yang dicarinya.
“Disini .....” desis Koay Hiap antara kaget dan tak menduga.
Tetapi, jeritan kecilnya terdengar oleh Sie Lan In dan juga Tiat Kie
Bu. Tetapi keduanya heran melihat Koay Hiap berada diantara
ilalang dan rerumputan dan terlihat menggapai-gapa untuk
menyibakkan rerumputan dan ilalang itu. Padahal, sebetulnya
pada saat itu dia sedang berusaha menyibak rahasia tirai sihir
yang dipasang hingga memanipulasi pandang mata orang.
Bahkan tokoh sehebat Sie Lan In dan Tiat Kie Bu sekalipun masih
tertipu, apalagi mata orang biasa.
Adalah Koay Hiap yang dengan menggunakan gabungan sinkang
istimewa miliknya dan kemudian mengerahkan kemampuan
sihirnya baru dapat melihat betapa memang ada dinding lain yang
tersembunyi dibalik tirai sihir. Bahkan ketika mulai menyibakkan
tirai sihir itu perlahan-lahan, dia dapat mengidentifikasi adanya
1614
suara pernafasan yang amat lemah. Tetapi, itulah satu-satunya
jejak manusia dalam gua yang pintunya dipagari sihir itu.
“Kita sudah menemukannya.......” desis Koay Hiap yang kini
setelah mengerahkan kemampuan istimewanya mulai
meninggalkan lubang sihir yang lebar dan terlihat sebagian
kecilnya oleh Sie Lan In dan Tiat Kie Bu. Kini, mereka mulai dapat
melihat jika Koay Hiap bukan hanya membelai dan menyibak
ilalang, tetapi ada dinding gua lain di luar yang terletak kurang
lebih 2-3 meter dari pintu masuk gua pertama. “Sungguh hebat
orang ini.....” desis Tiat Kie Bu kagum dengan apa yang dilakukan
oleh Thian Liong Koay Hiap. Sementara Sie Lan In yang sudah
tahu sampai dimana kehebatan Thian Liong Koay Hiap tidak
banyak memuji tetapi langsung mendekati pintu gua dan berkata
lirih:
“Sungguh pintar bibi menyamarkan pintu masuk guanya........”
“Ada deru nafas berat didalam, kelihatannya disinilah kediaman
Si Rase Tanpa Bayangan,,,,,” bisik Koay Hiap yang diiyakan
dengan antusias oleh Sie Lan In, karena dia juga sudah dapat
melacak deru nafas lemah dari dalam gua itu. Meski memang
agak lemah tetapi kemampuannya sudah lebih dari cukup untuk
dapat menangkap deru nafas tersebut.
1615
“Tiat heng,,,,, beberapa saat lagi engkau akan kedatangan tamu
beberapa saudara seperguruanmu. Biarlah urusan dengan Si
Rase Tanpa Bayangan kami selesaikan dan lebih baik saudara
menyambut kedatangan tamu-tamu tersebut, mereka berjalan
bersamaku kemaren, tetapi hari ini mereka akan segera tiba.
Rasanya tidak lama lagi mereka sudah akan berada di tempat
saudara.......”
“Acchhhh benarkah Koay Hiap? Siapa-siapakah gerangan yang
akan berkunjung ke tempatku ini....”? bertanya Tiat Kie Bu dengan
suara antusias.
“Saudara seperguruan Tiat Heng yang berasal dari Kota Cing
Peng, suami istri saudagar sukses di kota itu akan datang
berkunjung......”
“Accchh, suheng dan suci akan datang......”? desis Tiat Kie Bu
sambil bertanya, meski dia juga sadar, Thian Liong Koay Hiap
sengaja ingin menyingkirkannya dari tempat itu. Hal yang bisa
diterimanya mengingat adanya ganjalan perguruannya dengan si
Rase Tanpa Bayangan. Berpikir demikian, diapun akhirnya
mengangguk dan berkata untuk kemudian berlalu:
“Lohu menunggu jiwi nanti di rumah sederhanaku........”
1616
Sepeninggal Tiat Kie Bu, Thian Liong Koay Hiap memandang Sie
Lan In untuk kemudian berkata dengan suara perlahan:
“Sie Kouwnio, satu-satunya tarikan nafas yang dapat kulacak dan
kudengar adalah tarikan nafas orang yang sedang terluka.
Nampaknya terluka agak parah. Jika benar Si Rase Tanpa
Bayangan berada di dalam gua ini, maka semestinya dia sudah
keluar menemui kita. Satu-satunya kemungkinan yang masuk
akal adalah, Si Rase Tanpa Bayangan sedang tidak berada di
tempat..... entah kemana”
“Hmmmm, akupun berpikir demikian Koay Hiap. Tetapi, adalah
jauh lebih baik kita segera masuk untuk dapat membuktikan
dugaan kita itu.....” sambil berkata demikian Sie Lan In perlahan
mengambil inisiatif dan mulai maju kedepan. Dia mendorong
ataupun menyibak sekumpulan tanaman yang menghalangi pintu
masuk gua dan kemudian perlahan berjalan masuk gua. Secara
otomatis Than Liong Koay Hiap juga ikut melangkah maju dan
memasuki gua tersebut. Tetapi, ternyata gua itu lebih pendek
dibanding gua yang disampingnya, hanya sekitar 20 meter
panjangnya dan terdapat pintu keluar di bagian belakang. Tidak
terdapat apa-apa sepanjang gua yang lurus sepanjang 10 meter
dan kemudian membelok kekanan. Disana terdapat sebuah pintu
keluar ke alam bebas.
1617
Mengikuti jalanan yang terlihat jelas buatan manusia dan
mengikuti petunjuk tarikan nafas lemah orang yang sakit, mereka
kemudian berbelok kekanan, menyusurinya hingga 20 meter lagi
berulah berbelok ke kiri. Disana setelah melangkah sampai
sekitar 5-6 meter mereka menemukan sebuah rumah mungil yang
amat sederhana tapi terlihat terurus dengan baik. Tetapi di depan
rumah mungil itu berdiri dengan gagah sesosok tubuh bertinggi
besar, bercambang lebat namun sebagian terbesarnya sudah
terlihat memutih. Tidak salah lagi, orang itupun kelihatannya
sudah lanjut usia, meskipun fisik atau tubuhnya masih terlihat
tegap, tegak dan gagah. Begitu melihat kedatangan Sie Lan In
dan Thian Liong Koay Hiap, matanya menatap tajam dan
kemudian dia bertanya:
“Hmmmmm, cepat benar kedatangan kalian. Adakah diantara
kalian yang bernama Sie Lan In, seorang nona berparas cantik
jelita....”? tanyanya dengan mata menyorot tajam memandangi
baik Thian Liong Koay Hiap maupun Sie Lan In yang sudah
langsung mengiyakan pertanyaan orang itu.
Jelas saja, karena hanya ada satu orang gadis muda yang
datang, tetapi masih juga dia bertanya seperti itu. Dan lagi, dia
memandangi kedatangan Sie Lan In bersama Thian Liong Koay
1618
Hiap dengan sorot mata selalu terpancang kewajah Sie Lan In
terus menerus. Entah apa maksudnya......
“Siauwte bernama Sie Lan In.........” Sie Lan In berkata sambil
maju setindak lebih dekat kearah manusia aneh itu. Dan orang itu
menatap sekilas dan kemudian terlihat berpikir keras dan
menimbang-nimbang apa yang lebih baik untuk dilakukannya.
Melihat itu Sie Lan In dan Thian Liong Koay Hiap saling pandang
dan sadar bahwa sosok manusia tinggi besar dan gagah itu
kelihatannya adalah orang yang kurang waras alias kesehatan
jiwanya terganggu. Matanya yang jelajatan dan teramat sering
bergerak menandakannya.
“Menurut majikan, jika seorang gadis cantik bernama Sie Lan In
yang datang, maka boleh langsung masuk saja.Pesannya,
sembuhkan dahulu tuan mudaku, lain-lainnya tanyakan
kepadanya kelak....” dan sambil berkata demikian, manusia
gagah itu kemudian bergeser memberi celah menuju pintu masuk
kepada Sie Lan In dan Thian Liong Koay Hiap. Tetapi ketika Thian
Liong Koay Hiap akan melangkah maju, dengan suara
menggeledek dia kembali berkata alias bertanya:
“Siapa dia..........”? sambil jari tangannya menunjuk kearah Thian
Liong Koay Hiap, wajahnyapun sangar dan amat menakutkan.
1619
“Dia adalah tabib yang akan menyembuhkan tuan mudamu........”
jawab Sie Lan In cepat atas pertanyaan manusia tinggi besar itu.
“Ooooh Tabib,,,,, boleh masuk..... boleh masuk...... cepat
sembuhkan tuan mudaku, kalau tidak, awas kau”
Mendengar gumaman manusia aneh itu, Thian Liong Koay Hiap
akhirnya berjalan perlahan dan menyusul Sie Lan In masuk ke
dalam rumah. Sementara Sie Lan In kemudian berbisik kepada
Koay Hiap:
“Jangan sampai engkau gagal menyembuhkan suhengku,,,,,,,,”
“Biarlah kita lihat nanti Sie Kouwnio........”
Ketika akhirnya masuk kedalam rumah mungil itu, keduanya
terkejut karena tidak ada ruangan lain disana. Hanya satu
ruangan belaka dan di satu sudut ruangan, tepatnya dekat jendela
darimana sinar matahari biasanya masuk, tergeletak sosok
pemuda yang pernah dilihat Koay Ji atau Thian Liong Koay Hiap.
Siapa lagi jikalau bukan Kat Thian Ho, murid bungsu atau
entahlah mungkin juga murid tunggal Si Rase Tanpa Bayangan.
Melihatnya Koay Hiap bergumam:
1620
“Hmmmm, sudah kuduga dia ini murid SI Rase Tanpa Bayangan
Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa Bayangan). Tapi
kelihatannya luka dalamnya teramat parah, kita harus segera
menolongnya sebelum semuanya terlambat....” Koay Hiap
berkata sambil mendekati tubuh Kat Thian Ho yang terlihat
semakin lemah. Matanya sempat menatap nanar tetapi terlihat
jelas dia semakin redup daya hidup akibat luka dalamnya yang
memang amat parah.
“Cepatlah engkau memeriksanya Koay Hiap, jangan sampai
terlambat. Kelihatannya dia semakin parah, tenaga dalamnya
seperti semakin membuyar. Jika terlambat bukankah akan sulit
ditolong lagi.......”?
“Engkau benar Sie Kouwnio,,,,, tetapi jangan khawatir, dia masih
akan mampu untuk bertahan setidaknya sampai satu bulan
kedepan. Mungkin bahkan lebih. Tetapi, sebulan kemudian,
setelah obat mujijat yang diminumnya kehabisan daya, maka dia
tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi, bahkan saat itu
meskip ada obat dewa sekalipun dia tidak akan tertolong lagi..”
berkata Koay Hiap setelah memegang nadi Kat Thian Ho sejenak
dan tahu jika ada obat mujijat yang sempat ditelan oleh Kat Thian
Ho. Sementara itu, Kat Thian Ho sendiri sejak kedatangan mereka
1621
berdua memang sudah semaput dan tidak mampu lagi berbuat
apa-apa.
Setelah berpikir beberapa saat, Koay Hiap terlihat merenung
beberapa saat. Seperti sedang berpikir keras dan keadaan ini
membuat Sie Lan In menjadi terkejut karena amat jarang dia
melihat Koay Hiap sebegitu serus seperti saat itu. Karena
keadaan yang dia sadar agak genting, maka Sie Lan In memilih
berdiam diri dan memberi waktu dan kesempatan Koay Hiap
mengerjakan tugasnya. Setelah hening sekian lama, akhirnya
terdengar Koay Hiap berkata:
“Sie Kouwnio, luka Kat Siauheng ini teramat parah dan berat.
Untuk menyembuhkan dan membuatnya pulih kembali bukanlah
perkara ringan, setidaknya kita bakalan menghabiskan waktu
seminggu di tempat ini. Padahal masih ada tugas yang harus
kulakukan, yakni untuk menemui dan mengantarkan surat kepada
Jit yang Sin Sian (Dewa Sakti Jit Yang). Menilik keadaannya,
maka lohu harus meminta mereka yang berkumpul di rumah Tiat
Heng untuk berangkat terlebih dahulu dan kita akan menyusul
seminggu kedepan ke Gunung Kiu Boa San Propinsi Kwi Ciu.
Tetapi, waktu kita menjadi semakin sempit karena perjalanan
menuju Gunung Kiu Boa San konon memakan waktu sampai
seminggu kurang lebih,,,,,,,,,”
1622
Setelah berkata demikian Thian Liong Koay Hiap terlihat berpikir
keras. Tetapi Sie Lan In tidak begitu memikirkan cara mencapai
Gunung Kiu Boa San, dia tetap saja berkonsentrasi
menyembuhkan Kat Thian Ho. Bukan kenapa-kenapa, karena Sie
Lan Ini sebetulnya sudah memikirkan cara mencapai Gunung Kiu
Boa San lebih cepat. Bahkan kurang dari sehari dengan
menggunakan Rajawali Sakti miliknya. Karena itu diapun berkata:
“Engkau segeralah sembuhkan Suhengku itu, mengenai
perjalananmu biar menjadi cepat dan singkat ke Kiu Boa San
kelak, biar aku yang memutuskan dan mencari jalan
keluarnya,,,,,,,, kutanggung pasti beres”
“Hmmmm, aku tahu maksudmu Sie Kouwnio,,,,,, tapi baiklah,
selamatkan jiwa orang lebih penting untuk saat ini. Jika demikian,
aku akan bekerja mempersiapkannya, dan saat tengah hari akan
menemui mereka di rumah Tiat Heng menyelesaikan urusan yang
satu itu biar lebih baik........”
Memperhatikan sikap, tindak-tanduk, serta juga cara bertindak
Thian Liong Koay Hiap, mendadak Sie Lan In teringat
kemiripannya dengan seseorang. Tetapi Sie Lan In tidak dapat
berpikir lebih jauh dan lebih teliti karena pada saat itu, dibenaknya
hanyalah “memaksa” bagaimana Kat Thian Ho cepat
1623
disembuhkan oleh Koay Hiap. Karena dia teramat sangat
membutuhkan informasi penting dari Kat Thian Ho dimana
adanya bibinya, Rase Tanpa Bayangan itu.
Sie Lan In tidak dapat bertanya lebih banyak lagi, karena Thian
Liong Koay Hiap sudah bekerja dan sepertinya cara kerjanya
agak berat. Karena meski baru sekitar setengah jam bekerja, dia
melihat awan putih tipis mengepul sudah dari kepalanya. Dan Sie
Lan In segera sadar jika pekerjaan yang dilakukan Koay Hiap
bukanlah sebuah pekerjaan mudah dan ringan saja. Padahal, tadi
Koay Hiap menyebutkan pekerjaannya saat itu baru merupakan
persiapan, karena pekerjaan mengobati akan berlangsung
selama satu minggu baru dapat dipastikan kesembuhannya. Baru
saja Sie Lan In ingin beranjak pergi, tiba-tiba dia melihat Koay
Hiap melepaskan usapan-usapannya pada bagian dada hingga
perut Kat Thian Ho dan kemudian bersedekab sejenak untuk
memulihkan diri. Sekian waktu yang tidak lama, dia sudah
membuka mata dan kemudian berkata:
“Sie Kouwnio, luka Kat Siauwheng ini ternyata lebih parah dan
lebih berat dari yang kuperkirakan. Jika bukan karena obat mujijat
yang dimakannya, sejak jauh-jauh hari nyawanya sudah sulit
dipertahankan. Terdapat gumpalan darah yang sudah mulai
membusuk di sekitar paru-parunya, kemudian beberapa jalan
1624
darahnya sudah mulai tersumbat oleh darah mati. Dan yang yang
paling berat adalah pusat penghimpunan kekuatan iweekang juga
sudah goyah dan nyaris rusak permanen hingga bakalan
membutuhkan waktu panjang untuk mengobatinya. Juga untuk
dia kelak dapat memulihkan diri butuh waktu yang cukup panjang.
Hanya ada beberapa hal saja yang cukup menguntungkannya.
Tetapi, jika dia dengan semangatnya mampu bertahan dalam 2-3
hari ini, maka proses selanjutnya akan lebih jadi mudah untuk
dilakukan. Untuk kesembuhannya lohu tak bakalan dapat
mempersingkat waktunya agar kurang dari seminggu, tetapi untuk
proses pemulihannya akan dapat lohu atur hingga membuatnya
beroleh sedikit keuntungan. Setidaknya tidak perlu sampai
setahun lebih. Untuk itu, lohu butuh bantuan Sie Kouwnio........”
berkata Koay Hiap setelah memulihkan dirinya dan menganalisa
luka Kat Thian Ho.
Sie Lan In melihat tingkat keseriusan yang luar biasa dalam katakata
dan sikap Thian Liong Koay Hiap. Betapapun dia sudah tahu
jelas, Kat Thian Ho terhitung sute atau suhengnya karena baginya
status Si Rase Tanpa Bayangan sudah amat jelas disebutkan
Subonya. Mendengar permintaan Koay Hiap, tanpa berpikir
panjang dia segera menyahut tegas:
1625
“Apapun yang engkau butuhkan akan kusiapkan dan kulakukan
Koay Hiap. Engkau cukup mengatakannya kepadaku....”
“Hmmmm, baiklah...... selama pengobatan keadaan kami nyaris
sama dengan bayi yang tak berdaya. Serangan kecil sekalipun
dapat menewaskan kami berdua. Selain itu, makan minum kami
harus tersedia setidaknya dua kali sehari dengan porsi buah yang
memadai. Itu berarti Sie Kouwnio harus menjadi pelayan kami
berdua selama seminggu ini...... dan, lohu membutuhkan air
bersih dan khusus malam hari selama 3 malam berturut
membutuhkan air panas untuk pengobatan. Terakhir, terpaksa
lohu harus merepotkan Sie Kouwnio, karena ada beberapa obat
yang harus dimasak namun lohu tak akan punya waktu
memasaknya. Lohu akan memberitahu Nona caranya dan apa
boleh buat, Nona yang harus memasaknya karena tenaga kita
disini sangat terbatas. Bersediakah Sie Kouwnio
melakukannya.....”?
“Sudah pasti, jangan engkau khawatir soal itu Koay Hiap,,,,,,,,”
“Baiklah,,,,,, lohu akan memulai prosesnya setelah kembali dari
rumah Tiat heng. Sekaligus memberitahu mereka untuk
berangkat lebih dahulu dan kelak menunggu kita di Gunung Kiu
Boa San. Menurut perkiraan lohu, akan memakan waktu lebih
1626
kurang tujuh hari untuk memastikan kesembuhan Kat siauwheng,
karena itu kuminta mereka menunggu kita di Gunung Kiu Boa San
sampai setidaknya beberapa hari setiba mereka semua kelak
disana. Sie Kouwnio, menunggu lohu membicarakan hal ini
dengan Tiat heng, adalah baik jika engkau menyiapkan air dan
makanan yang cukup dan memadai karena begitu kembali lohu
akan langsung memulai proses pengobatan atas Kat siauwheng
ini,,,,,,,”
“Baiklah Koay Hiap...... apakah ada yang lain lagi.....”?
“Kulihat, manusia penunggu rumah ini adalah pelayan setia dari
Si Rase Tanpa Bayangan, mungkin engkau bisa meminta
bantuannya.......” sambil berkata demikian Koay Hiap sendiri
sebetulnya sudah menyusun rencananya. Dia memutuskan untuk
sendirian menemui Tiat Kie Bu dan saudara seperguruannya
yang lain karena ada dua alasan. Pertama agar leluasa bercakap
dengan saudara-saudara seperguruan yang lama tak ditemuinya.
Dan kedua, dia ingin meminta bantuan dari kawan-kawan monyet
di sekitar pegunungan itu untuk membantunya. Terutama untuk
persediaan makanan atau buah-buahan sehat baginya dan bagi
Kat Thian Ho. Dan dia tentunya harus melakukannya tanpa
terlihat dan tanpa sepengetahuan Sie Lan In.
1627
Dan itulah yang terjadi kemudian, beberapa hal tidak dimengerti
dan dipahami oleh Sie Lan In. Karena entah mengapa di radius
beberapa ratus meter dia menemukan begitu banyak monyet
yang besar-besar seperti sedang berjaga dan berlaku hormat
kepadanya. Bahkan, bukan sekali dua kali dia menemukan
adanya buah-buahan yang sulit ditemukannya, tetapi diantarkan
kepadanya oleh seekor atau dua ekor monyet kepadanya.
Dengan cara itu Sie Lan In benar-benar merasa terbantu dan
berterima kasih kepada pasukan monyet yang berjaga dalam
radius seratus atau dua ratus meter dari rumah mungil.
Sementara itu, Koay Ji yang mulai menangani Kat Thian Ho yang
sudah mulai kehilangan kesadarannya dan hanya tinggal
mengandalkan kemujijatan obat yang diberikan suhunya
menemukan betapa berat pekerjaannya. “Dia terpukul hebat oleh
sejenis pukulan berat dan masih ditambah dengan beberapa
sentilan dengan daya dan kekuatan yang besar. Akibatnya, lukaluka
dalam tubuhnya terdapat di banyak tempat dan melukai
kekuatan hawa murninya dan juga mengurangi daya tahan fisik.
Dan ini boleh terjadi, terutama karena belum ditangani secara baik
dan tepat selama beberapa hari terakhir. Satu hal yang
menguntungkan, hawa murni yang membuyar tidak merembes
1628
keluar tapi menyebar kemana-mana hingga sesekali
mendatangkan sedikit kesadaran meski hanya sekejap saja.
Koay Ji memulai dengan memperkuat organ-organ tubuh bagian
dalam yang sempat terluka dan rusak. Untuk itu dia membutuhkan
obat-obat penguat tenaga dan juga bantuan buah-buahan yang
syukur mengalir lancar dengan batuan monyet-monyet yang
memang dimintanya secara khusus. Tetapi, diapun harus bekerja
keras karena dibutuhkan arus tenaga murninya untuk memaksa
sari-sari kehidupan yang mujijat menuju ke bagian-bagian dalam
tubuh Kat Thian Ho yang terluka. Sepanjang hari kedua dia
melakukannya sejak pagi hingga menjelang malam hari, saat itu
dia harus membersihkan tubuh Kat Thian Ho dari cairan-cairan
membusuk yang merembes keluar dari dalam tubuhnya.
Menjelang tengah malam, barulah Kat Thian Ho mulai
mendapatkan atau menemukan kesadarannya kembali. Tetapi,
sekaligus dia harus mulai merasakan kesakitan yang luar biasa
dan membuat Koay Hiap berusaha keras untuk membangkitkan
semangatnya.
“Engkau harus mampu dan harus kuat Kat Siauwheng, semangat
hidupmu harus menguat agar organ-organ tubuhmu beroleh aliran
positif yang akan mengokohkan dan menguatkan mereka. Ayo,
jangan menyerah melawan rasa sakit, proses untuk
1629
menumbuhkan kembali sel organ tubuh yang rusak sudah
dimulai, dan engkau akan dan harus melawan rasa sakit itu........”
berkali-kali Koay Ji menyuntikkan semangat dan menggelorakan
daya hidup Kat Thian Ho karena sadar, rasa sakit yang dialami
Kat Thian Ho benar-benar berat. Tetapi, proses itu yang justru
mendekatkan mereka dan menanamkan suara Koay Hiap dalam
benak dan alam bawah sadar Kat Thian Ho. Apalagi karena suara
penyemangat disertai bantuan hawa murni yang tidak kecil,
dilakukan pada saat-saat Kat Thian Ho melawan MAUT.
Awalnya Kat Thian Ho meraakan betapa terkejutnya dia, karena
seperti kenal tapi tidak kenal, pernah bertemu tapi tidaklah yakin.
Tetapi yang jelas dia seperti sudah pernah akrab dengan sosok
yang sedang membantu mengobati penyakitnya itu dan yang
memompakan semangat hidupnya. Meski dia merasa asing
dengan fisik sang tabib, tetapi perasaannya yang paling dalam
memberi reaksi positif dan melahirkan kepercayaan yang besar
kepada sosok Thian Liong Koay Hiap. Inilah modal utama dari
proses penyembuhan dari dalam, sebab dengan cara itu, maka
semua yang sedang dikerjakan Koay Ji menjadi semakin mudah.
“Kat siauwheng, proses pengobatan mulai besok pagi akan
sangat tergantung dari semangat serta kemauan hidupmu. Jika
engkau gagal menemukan alasan untuk tetap hidup, maka
1630
engkau akan mengurangi peluang untuk dapat disembuhkan.
Satu hal yang patut menjadi kabar gembira bagimu adalah,
engkau tidak kehilangan hawa murnimu, hanya hawa murnimu
memang sudah menyebar kemana-mana karena pusat tantianmu
mengalami guncangan berat yang bahkan sudah nyaris
merusaknya secara permanen. Jikalau sudah sempat rusak
sedemikian, maka amat sulit menemukan upaya pengobatannya
atau dengan kata lain engkau tidak akan dapat melatih ilmu
silatmu kembali untuk mencapai tingkatmu seperti saat ini. Untuk
selanjutnya engkau sebaiknya beristirahat secara total, jangan
pernah berusaha mengumpulkan tenagamu dan apa boleh buat,
sepanjang malam ini, sesakti apapun yang engkau rasakan,
janganlah berusaha melawannya. Biarkan rasa sakit itu
menderamu sepanjang malam ini, karena sesungguhnya yang
terjadi adalah proses perbaikan beberapa organ tubuh vitalmu
yang mengalami kerusakan berat. Jika engkau mampu melewati
proses yang amat menyakitkan ini hingga pagi hari, maka
kesempatan sembuhmu bertambah semakin besar. Karena itu,
kuatkan hatimu dan tahankan rasa sakit itu hingga selesai.......”
Mendengar penjelasan Koay Hiap, Kat Thian Ho hanya bisa
menganggukkan kepala dan mengiyakannya. Tetapi,
kekeraskepalaan Kat Thian Ho memang menurun dari subonya
1631
yang sama aneh dan eksentriknya. Meski hanya menggeleng,
tetapi dalam hatinya dia menertawakan rasa sakit. Karena rasa
sakit yang lebih hebat, bahkan sakit fisik hingga sakit hati, semua
sudah dilewatinya, sudah dilampauinya dan membawa
keberadaannya hingga saat ini. Dibawah didikan dan bimbingan
subo yang sangat keras, sangat disiplin, sangat aneh, namun
sangat mengasihinya, Kat Thian Ho tumbuh menjadi pemuda
aneh seaneh subonya. Tetapi, dia sadar betul, subonya sangat
mengasihinya, memperlakukannya sebagai putra sendiri dan
dalam dirinya subonya menaruh harapan yang sangat besar. Dan
untuk membahagiakan subo yang amat mengasihinya itulah yang
kemudian mendatangkan perasaan bakti dan sekaligus semangat
berlebih untuk “menertawakan” rasa sakit itu.
Ketika keesokan harinya Koay Ji menemukan keadaan Kat Thian
Ho, dia sampai menggeleng-gelengkan kepala karena dia tahu
betapa hebat dan betapa keras Kat Thian Ho melawan rasa sakit.
Koay Ji menemukannya pingsan saking tak kuatnya menahan
rasa sakit yang menyerang, sakit di rongga dada, sakit di sekitar
perut dan belum lagi rasa sakit yang menjalar ke seluruh kaki dan
tangan. Koay Ji bisa dan dapat membayangkan bagaimana
seorang Kat Thian Ho melewati setengah jam terakhir dalam
derita dan dalam kesakitan yang sangat. Tetapi, justru itulah
1632
modal utama Kat Thian Ho untuk sembuh. Karena proses
sepanjang malam itu adalah awal dari pemulihan organ-organ
dalam yang terluka parah dan nyaris tidak dapat lagi berfungsi
sebelum dirangsang dan “dihidupkan” kembali oleh obat2an dan
juga kekuatan iweekang menyembuhkan Koay Ji.
Begitu melihat keadaan Kat Thian Ho, Koay Ji tersenyum dan
kagum bukan main. Tetapi dia tahu, jika dibiarkan pingsan lebih
lama, maka nafas Kat Thian Ho justru akan putus alias mati.
Karena itu, diapun segera bekerja kembali, menata kembali organ
dalam Kat Thian Ho dan kemudian memperlancar aliran darah
dengan jalan menembus sumbatan darah kotor dan darah mati
yang menyumbat peredaran darah Kat Thian Ho. Koay Ji
melakukannya sampai tengah hari, sampai dia tidak sadar jika Sie
Lan In sudah dua atau tiga kali memasuki ruangan tersebut dan
menemukan mereka berdua berkutat sengit dengan malaikat
elmaut. Dan betapa laparnya Koay Ji ketika dia akhirnya dapat
beristirahat dan menemukan makanan yang terdiri dari buahbuahan
segar serta menu ayam dimasak secara khusus oleh Sie
Lan In sendiri. Tetapi sebelum dia sendiri makan, Koay Ji masih
sempat memberi makan Kat Thian Ho dengan sari buah yang dia
peras dari buah2an yang sudah pada saat itu. Baru setelah itu
diapun makan.
1633
Menjelang sore, kembali Koay Ji bekerja setelah beristirahat dan
memulihkan diri selama beberapa jam saja. Pekerjaan yang
meski tidak seberat sebelumnya, tetapi membutuhkan tingkat
kehati-hatian yang sangat tinggi. Dan ini yang sebetulnya amat
melelahkannya. Dan karena itu ketika menjelang tengah malam
dia kembali sadar dan diapun menemukan Sie Lan In yang ada
bersama mereka berdua dalam ruangan di rumah mungil itu, dia
menjadi senang. Bahkan begitu melihat Sie Lan In diapun
bergumam dalam nada suara yang terdengar sangatlah letih dan
kelelahan, jelas terdengar dan terasa oleh Sie Lan In:
“Syukurlah kita berhasil merebut kembali nyawanya dari sabetan
kejam sang giam lo ong,,,,, tapi proses besok, pengobatan
dengan menggunakan jarum emas adalah bagian lain yang juga
sangat menentukan untuk proses pemulihannya. Terutama
menentukan apakah dia masih akan mampu melanjutkan latihan
silatnya ataukah dia beroleh kemajuan hebat sebagai akibat dari
pengobatan yang berhasil.......... Sie Kouwnio, siapkan buahbuahan
hijau serta daun obat ini untuk dimasak bersama besok
(sambil mengeluarkan kantong daun obatnya dan menyerahkan
beberapa daun yang dikeringkan kepada Sie Lan In)” setelah
berkata demikian, Koay Jie kembali tenggelam dalam istirahat.
1634
Benar-benar luar biasa, selama dua hari berturut-turut Koay Ji
menggunakan nyaris semua pengetahuan pengobatannya dan
kekuatan iweekangnya hingga batas yang tertinggi. Yang dia tidak
tahu, melakukan semua itu pada batas tertingginya namun
dengan tetap terukur, juga membawa khasiat yang amat luar
biasa bagi kekuatan iweekangnya. Tetapi dia sama sekali tidak
menyadarinya karena saat itu dia merasa letih bukan main.
Sampai dia harus memakan sebutir obat mujijat buatannya yang
amat langkah untuk dapat mengembalikan konsentrasi dan
kebugarannya. Setelah itu, dia kembali tenggelam dalam
samadhi.
Proses yang lebih meletihkan dilakukan Koay Ji pada hari ketiga
dan hari keempat, karena dia harus terjaga dan menggunakan
segenap kekuatan iweekangnya. Dia nyaris tidak sadar jika dia
sudah menggunakan secara bergantian baik iweekang Pouw Tee
Pwe Yap Sian Sinkang maupun Toa Pan Yo Hiankang bergantian.
Bahkan juga kombinasi kekuatan kedua iweekang dahsyat itu
tanpa dia sadar bahwa dia mengalami kemajuan satu hingga dua
tingkat lebih tinggi dibandingkan posisi sebelum pengobatan
dimulai. Tetapi, karena melakukannya tanpa disadarinya maka
dia tidak tahu dan tidak menyadari kemajuannya sendiri. Lagipula,
selama proses pengobatan, dia menguras kekuatan iweekangnya
1635
dan menggunakan hingga ke titik berlebihan. Untungnya, kedua
iweekang miliknya memang iweekang mujijat dan istimewa yang
memiliki aspek penyembuh yang luar biasa, sehingga digunakan
dalam manfaat pengobatan justru seperti tidak ada habisnya.
Penguasaannya atas penggunaan kedua iweekang mujijatnya
justru pada satu sisi semakin masak dan matang. Meskipun
sebetulnya, kekuatan iweekang banyak mengalami pengurangan
karena memaksakan diri melakukan pengobatan. Tetapi, karena
kemujijatan kedua iweekangnya, tidak lama dia mampu
mengumpulkan dan bahkan kelak meningkat kekuatannya
tersebut. Hal yang terjadi belakangan.
Pengobatan pada hari ketiga, sepanjang hari dia menggunakan
jarum emas. Mulai dari menusuk, mencabut, menyerap dan
kemudian memasukkan sari-sari obat yang diraciknya sendiri
beberapa waktu lalu. Sejak pagi hingga kemudian menjelang pagi
hari lagi, dia melakukannya terus menerus tanpa henti. Hanya
sesekali beristirahat dan emngumpulkan semangatnya lagi. Dan
pada hari yang keempat, dia hanya beristirahat selama dua atau
tiga jam dan langsung kembali memulainya. Pada hari keempat
ini Kat Thian Ho mulai semakin terang menemukan kesadarannya
meski tubuhnya seperti dilolohi karena sama sekali tidak
bertenaga. Lemas seperti tanpa tulang. Tetapi, rasa sakit yang dia
1636
rasakan sudah banyak berkurang. Dan sejak hari keempat, pada
saat dia sesekali menemukan kesadarannya, dia benar-benar
merasa terharu dan merasa berhutang nyawa kepada Koay Ji.
Terutama karena dia menyaksikan langsung bagaimana
telatennya, bagaimana capainya dan bagaimana usaha tak kenal
lelah Koay Ji untuk mengobatinya serta menyembuhkannya.
Apalagi karena tanpa tahu jika Kat Thian Ho sudah mulai sadar,
Koay Ji sesekali bergumam atas pilihan-pilihan yang harus
dilakukannya:
“Jika memaksakan diri memasukan sari obat-obatan ini dan
takarannya kurang pas, maka dia bisa kehilangan kekuatannya.
Tetapi, sari obat ini penting untuk dapat memperkuat tan-tiannya.
Cara yang paling sederhana adalah mengalirkan kekuatan
iweekang Toa Pan Yo Hian Kang dan membungkus tan-tiannya
selama setengah harian, tetapi akan mengurangi sebagian
kekuatan kekuatan iweekangku. Acccch, sulit. Tetapi,
sudahlah,,,,,,, sudah tanggung, semoga Kat Siauheng benarbenar
dapat meniru subonya, meski eksentrik dan kukoay tetapi
tetap berjalan di jalan kebenaran. Semoga saja.........”
Koay Ji tidak menduga jika gumaman ini yang kelak terus
menjaga dan akan terus dikenang Kat Thian Ho untuk menjaga
nama baiknya sekaligus juga membayar hutang nyawanya
1637
kepada Thian Liong Koay Hiap. Karena kelak, ketika dia sadar,
dia tidak lagi melihat dan menemukan Thian Liong Koay Hiap di
tempat rahasia subonya. Dan sejak saat itu, Kat Thian Ho
mengidolakan Thian Liong Koay Hiap dan menghormatinya bagai
menghormati Subonya sendiri. Kelak, Kat Thian Ho yang beroleh
keuntungan tidak kecil dari proses pengobatan oleh Thian Liong
Koay Hiap, memang munculkan diri di rimba persilatan dan
menjadi tokoh muda pilih tanding. Dia bahkan tidak kalah dari Sie
Lan In yang juga banyak belajar dari subonya sendiri dan Kat
Thian Ho tetap menjaga jalan hidupnya sebagai seorang
pendekar yang berkelakuan nyentrik, sebagaimana subonya.
Hari kelima, seperti hari keempat, Koay Ji melanjutkan
pengobatannya dengan tidak beristirahat barang sedikitpun.
Terutama karena dia harus memantau proses reaksi tubuh Kat
Thian Ho menjelang malam hari kelima dia mencabut jarum
emasnya. Dan baru pada hari keenam dia memperoleh sedikit
waktu untuk dapat beristirahat dan mengembalikan
kebugarannya. Tetapi, Sie Lan In tahu dan melihat jelas betapa
mata Koay Jie kini sudah menjadi cekung dan semangatnya
benar-benar turun dengan sangat tajam. Tetapi Koay Ji tidak
dapat beristirahat panjang pada hari keenam, janya 4,5 jam dia
mengembalikan semangatnya dan setelah itu dia melanjutkan
1638
pengobatan hingga tengah malam. Rencana mencabut jarum
emas baru dapat terlaksana hari keenam karena harus sesuai
dengan reaksi tubuh Kat Thian Ho. Koay Ji benar-benar telaten
dan mengurusinya secara tuntas, karena saat masuk ke
penggunaan jarum emas, dia sendiripun harus merasa yakin baru
dapat memulai proses ataupun mengakhirinya.
Dan setelah melihat reaksi positif yang semakin menguat, ditandai
dengan reaksi organ tubuh Kat Thian Ho yang semakin membaik,
dia akhirnya mencabut semua jarum emasnya. Dan reaksi positif
yang langsung terlihat adalah, seri wajah Kat Thian Ho pada hari
keenam mulai bersemu merah meski masih terlihat sedikit pucat
seperti kurang darah. Tetapi, hal yang berbeda justru terjadi
kepada Koay Hiap yang justru berubah pucat pasi dan awan putih
pekat membubung di kepalanya. Hal ini boleh terjadi karena
memang melepas jarum harus seiring dengan “merawat Kat Thian
Ho” lewat penggunaan hawa mujijat dari iweekangnya. Bahkan
hingga malam baru proses itu selesai secara tuntas. Namun
ketika proses mencabut jarum emas usai, Koay Ji ternyata tak
sanggup lagi berjalan jauh dan karenanya langsung bersila di
lantai saking lelahnya. Sekali ini, dia tak mampu berbicara lagi
dengan Sie Lan In dan Kat Thian Ho, hanya sepatah kata singkat:
1639
“Saatnya kita semua beristirahat. Kat Siauwheng, berusahalah
tidur, jangan sekali sekali melakukan tindakan fisik dan mengatur
tenaga. Sie Kouwnio, engkau juga boleh beristirahat. Maaf, lohu
letih sekali,,,,,” setelah mengucapkan kalimat itu Koay Hiap
kemudian menutup diri dan melakukan samadhi mengembalikan
semangat, tenaga dan kebugaran tubuhnya. Dia bahkan
melakukannya hingga melampaui pagi hari dan baru mulai
merasa lebih baikan menjelang tengah hari, bertepatan dengan
saat makan siang, yang untungnya sudah disiapkan oleh Sie Lan
In. Tepat tengah hari, setelah beristirahat lebih kurang setengah
hari, Koay Hiap kemudian tergugah dari samadhinya, tepat saat
Sie Lan In masuk untuk memanggil dan mengajaknya makan
siang. Sungguh tepat waktunya.
“Koay Hiap,,,,, sudah waktunya makan siang,,,,,,,,,,” sapa Sie Lan
In melihat Koay Hiap perlahan-lahan mulai tergugah dari samadhi
dan sinar matanya sudah mulai bersinar hidup lagi, beda dengan
semalam.
“Accchhhhh, tubuhku sudah mulai segar kembali. Terima kasih
Sie Kouwnio, lohu memang snagat membutuhkan makanan
sekarang ini,,,,,, mari,,,,”
1640
“Tapi, bagaimana dengan Kat Suheng,,,,,”? tanya Sie Lan In
sambil memandangi Kat Thian Ho yang masih tertidur.
“Tenang saja Sie Kouwnio, dia akan tertidur seperti ini sampai
setidaknya dua hari kedepan. Sari obat dan makanan sudah
kumasukkan secukupnya hingga menjaga kondisi tubuhnya tetap
stabil. Setelah dia siuman, sudah boleh dikatakan SEMBUH dari
semua penyakitnya......” setelah berkata demikian, Koay Hiap
melangkah keluar dan diikuti oleh Sie Lan In. Dan sewaktu makan
siang, merekapun kembali bercakap cakap seputar apa yang
mereka hadapi. Koay Hiap secara khusus menjelaskan soal
kondisi terakhir Kat Thian Ho;
“Sie Kouwnio, sesuai kemauanmu, lohu sudah berusaha keras
bukan hanya untuk menyembuhkan Kat Siauwheng. Tetapi
kondisi lukanya dan penggunaan obat-obatan serta kekuatan
iweekang penyembuhku membuat apa yang dia peroleh justru
bakalan lebih dari itu. Karena kelak, dia bakalan dengan kerja
kerasnya akan mudah untuk mengalami kemajuan yang hebat
dalam hal tenaga iweekangnya. Dan rasanya tidak akan butuh
waktu lama dia mencapai tingkat ilmunya seperti sebelum terluka
oleh lawannya, bahkan dengan kerja keras juga dapat menjejeri
tingkatanmu yang sekarang ini. Engkau berikan obat-obatan ini
kepadanya setelah dia siuman hingga pada hari ketujuh nanti.
1641
Jangan khawatir, perkataanku tidak akan salah, dia akan sadar
dan bugar kembali pada hari ketiga atau dua hari lagi. Hanya, dia
harus menunggu sampai sebulan penuh dan harus terus
beristirahat total, dilarang untuk mengerahkan iweekang dan
apalagi berlatih ilmu silat. Tunggu setelah sebulan berlalu, dia
sudah kembali normal seperti keadaan sebelum dia terluka.
Tetapi, berhubung tugasku sudah selesai, besok lohu akan
segera menyusul untuk menuju Gunung Kiu Boa San. Menilik
keadaannya, kita perlu membagi tugas dan harap Sie Kouwnio
melanjutkan untuk menjaga Kat Thian Ho dan menyampaikan
pesan-pesanku kepadanya. Pengobatan memang sudah selesai
dan sudah tuntas, tetapi untuk kembali menjadi normal, sangat
tergantung kepada dirinya sendiri.......”
“Baiklah, terima kasih banyak atas nama Kat Suheng,,,,,,,, karena
bantuanmu, biar besok kutugaskan Tiauw Ko untuk dapat
menerbangkanmu ke Gunung Kiu Bo San. Tetapi, untuk
sementara ijinkan aku menunggu kedatangan Bibiku guna
mengetahui langsung darinya asal-usul serta keberadaan semua
keluargaku. Sekaligus biar aku mencoba menemani Kat Suheng
sampai dia pulih kembali. Mengenai Perjalanan Koay Hiap,
kutanggung dalam setengah hari engkau sudah tiba disana, kelak
aku menunggumu disini untuk melanjutkan perjalanan kembali
1642
menuju tempat yang dijanjikan Tek Ui Bengcu. Tiauw Ko hanya
kuperintahkan mengantarmu, setelah itu dia akan terbang kembali
kemari sendirian,,,,,,,”
“Baiklah, kita tetapkan demikian saja Sie Kouwnio. Besok tengah
hari lohu akan terbang menuju Gunung Kiu Bo San, ijinkan lohu
untuk sekali lagi beristirahat dan memulihkan diri hingga
menjelang pergi sore hari nanti....”
“Baik, silahkan Koay Hiap.......”
Benar saja, tidak menunggu Kat Thian Ho siuman, menjelang
sore hari Koay Ji sudah terbang pergi dengan menunggang Sin
Tiauw milik Sie Lan In. Dan menjelang malam hari, sebelum
matahari masuk keperaduannya, dia sudah tiba di Gunung Kiu
Boa San dan tinggal mencari dimana tepatnya letak tempat
tinggal toa suhengnya, Jit Yang Sin Sian. Toa Suhengnya
menurut yang diketahuinya, konon bertapa di satu tempat yang
bernama Liong Tam Houw Siat (Gua Naga dan Sarang Harimau).
Dimana tepatnya tempat tersebut masih merupakan tanda tanya
dan Koay Ji sesungguhnya kebingungan untuk dapat menemukan
tempat itu dengan mudah. Apalagi berhubung tidak lama, paling
lama satu jam lagi gelap sudah akan menjelang datang
melingkupi bumi.
1643
Tetapi yang kurang dipahami oleh Koay Ji adalah, burung
tunggangannya memiliki kemampuan yang sangat mujijat.
Memang benar, burung itu tidak dapat berbicara kepadanya
sebagaimana dia mampu berkomunikasi dengan pemilknya, Sie
Lan In. Tetapi meski tidak bicara, tetapi naluri burung sakti itu
sungguh luar biasa, karena tanpa diminta dia kemudian mencaricari
tempat yang dicurigai ditinggali orang. Dan dia mencari di
tempat-tempat yang tidak biasa, karena tuannya di Laut Selatan
memang seperti itu gaya dan juga tempat tinggalnya. Naluri
burung itulah yang kemudian mengarahkan mereka ke sebuah
tempat yang cukup tinggi sekaligus juga terpencil di satu lembah.
Dan disanalah kemudian Rajawali Sakti itu menurunkan Koay Ji
yang begitu turun dari punggung si Rajawali, kemudian menepuknepuk
dan mengelus leher besar sang burung besar itu.
Nampaknya burung itupun mulai merasa suka dengan Koay Hiap.
Tetapi ada satu hal yang menarik. Ketika sedang terbang, Koay
Ji berada dalam samaran sebagai Thian Liong Koay Hiap, tetapi
menjelang tiba, dia sadar dia harus dalam wujud aslinya. Terlebih
karena dia harus menemui Toa Suhengnya dianggap orang yang
dituakan dan sekaligus paling bijaksana dan dihormati dari semua
anak murid suhunya. Atau diantara sesama saudara
seperguruannya, rata-rata memandangnya seperti itu,
1644
menghormati dan segan kepada sang toa suheng. Karena itu,
menemui toa suhengnya yang saleh bijaksana yang juga adalah
seorang pertapa, Koay Ji merasa kurang enak jika tetap dalam
samaran selaku Thian Liong Koay Hiap. Karena itu, dia kemudian
melepas samarannya dan kembali dalam wujud aslinya sebagai
seorang Koay Ji. Dan begitu sang Rajawali Sakti mendapati dan
melihatnya dalam wujud Koay Ji, burung itu entah bagaimana
merasa sangat gembira dan berkali-kali menunjukkannya dengan
mendekatkan kepalanya kepada Koay Ji. Koay Ji sendiripun
dengan senang dengan kelakuan burung besar itu hingga
mengelus leher si burung sambil berkata dengan halus
kepadanya:
“Sekarang engkau sudah boleh pergi Tiauw ko. Tetapi, tolong
engkau jagakan Nona Sie Lan In ya, jangan engkau tinggalkan
dia sendrian...... dan kelak kita pasti akan bertemu kembali dan
melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang lain yang lebih
indah dan lebih lama ,,,,,,,,”, kalimat itu diucapkan Koay Ji sambil
terus mengelus leher si Burung Rajawali yang dengan akrab dan
senangnya terus membiarkan Koay Ji melakukannya cukup lama.
Dan lebih anehnya lagi, burung besar itu seperti mengerti apa
yang baru saja dikatakan oleh Koay Ji kepadanya. Karena itu, dia
kemudian mengeluarkan suara teriaknya yang khas,,,,,,
1645
“Arrrrccchhhhhhhhhhhh........”
Dan tidak berapa lama kemudian, Burung Besar itu terbang
kembali ke udara, hanya dalam waktu singkat sudah lenyap
dibalik awan dengan diiringi tatapan kagum Koay Ji. Sampai
beberapa saat setelah burung itu lenyap dari pandangan, Koay Ji
masih tetap mendongak keatas keatas seakan tak yakin jika
burung besar itu sudah pergi meninggalkan dia seorang diri. Dia
masih terus termenung meski menyadari jika ada yang sedang
mendekati tempatnya berada:
“Heeeiiiiii, engkau, siapa engkau gerangan,,,,,,, mengapa
termenung seorang diri di mulut lembah memasuki tempat rahasia
kami Liong Tam Houw Siat (Gua Naga dan Sarang Harimau) ini?
Apakah engkau tersesat kemari,,,,”? Terdengar sapaan seorang
anak muda yang ketika Koay Ji berpaling untuk memandangnya
menjadi tersentak karena si anak muda yang menyapanya terlihat
lebih banyak usianya dibanding dirinya sendiri. Mungkin sudah
berusia sekitar 30 tahunan, dan terlihat ada kemiripan wajah
dewan Bun Siok Han murid toa suhengnya yang sudah ditemui
dan dikenalnya sebelumnya. Tapi beda menyolok antara mereka
adalah, wajah anak muda yang satu ini terlihat agak berbeda,
seperti seorang yang ketololan namun berwajah jujur. Dan lebih
hebat lagi, di belakangnya terlihat berdiri tiga ekor binatang hutan
1646
yang rata-rata lebih besar dari ukuran normal mereka dan
sebetulnya saling memangsa jika hidup di alam bebas secara liar.
Binatang yang pertama adalah seekor harimau berwarna belangbelang,
tubuhnya sangat besar, nyaris dua kali lipat dari ukuran
normal yang sering terlihat manusia. Tetapi harimau itu duduk
dengan manis di belakang si anak muda bertampang tolol itu, dia
berada di tengah di apit oleh seekor monyet yang juga berukuran
sangat besar tetapi tidak sampai mengagetkan seorang Koay Ji.
Karena monyet yang lebih besar dari monyet berkulit hitam
keabu-abuan dan lebih tinggi dari si anak muda yang datang,
sudah pernah ditemui dan bahkan bersahabat dengannya. Dan
yang terakhir adalah seekor beruang yang juga bertubuh amat
besar, nyaris setinggi si monyet namun tubuhnya lebih tambun
dan juga gemuk. Warnanya kecoklatan. Herannya, ketiga
binatang itu berdiri tegak dan diam menyaksikannya dari belakang
tubuh si anak muda yang bertampang tolol itu.
“Siauwte bernama Koay Jie,,,,,, siapakah gerangan engkau toako
yang baik? Hewan hewan peliharaanmu sungguh sangat hebat
dan gagah, bolehkah aku yang rendah berkenalan dan berteman
dengan mereka....” jawab Koay Ji berusaha akrab setelah melihat
keadaan dan kondisi pemuda yang nampak ketololan itu.
1647
“Husssh, engkau sungguh lancang ,,,,, mereka-mereka ini
sahabat-sahabatku. Yang ini Si Belang, yang sebelahnya si
Coklat (sambil menunjuk sii beruang) dan yang ini si Kelabu
(menunjuk si Monyet),,,, nach, engkau boleh berkenalan dengan
mereka bertiga, mana tahu mereka juga mau bersahabat
denganmu.......” tegur si pemuda rada tolol sambil
memperkenalkan ketiga temannya yang ikut datang menyertainya
bertemu dengan Koay Ji.
“Accchhhh, maafkan aku toako,,,,, selamat berkenalan Belang,
Coklat dan Kelabu” Koay Ji tanpa ragu meminta maaf dan
kemudian menyapa ketiga sahabat si pemuda tolol. Bahkan ketika
menyapa sang monyet alias si Kelabu, dia menambahkan dengan
bahasa khusus yang dia yakin dimengerti dengan baik oleh si
monyet. Dan memang benar, tidak berapa lama si Kelabu datang
mendekatinya, mencium-cium pakaiannya dan bahkan tak berapa
lama diapun berdiri di depan Koay Ji. Setelah dekat dan menciumi
pakaian dan bau tubuh Koay Ji, monyet itu kelihatannya terkejut.
Matanya yang tadi bersahabat dan simpti dengan Koay Ji,
berubah menjadi sangat HORMAT dan segera terlihat dalam
upayanya memberi salam dan hormat. Bahkan dia sudah hendak
menjatuhkan diri untuk menyembah di hadapan Koay Ji jika tidak
1648
ditahan terlebih dahulu dan kemudian diangkat hingga dia bisa
kembali berdiri di atas kedua kakinya.
“Hahahahaha, ternyata si Kelabu sungguh senang dengan dirimu
dan itu tandanya engkau adalah orang baik. Apalagi si Belang dan
si Coklat juga tidak terlihat marah dan membencimu,,,,
hahahahah engkau orang baik, engkau orang baik,,,,” teriak si
pemuda dogol dengan senang dan terlihat sangat gembira. Ada
beberapa saat dia berteriak kegirangan seperti itu sebelum
akhirnya dia berhenti dan kemudian terlihat heran dan akhirnya
bertanya:
“Accchhhh, tapi aku disuruh menunggu seorang yang setengah
tua, tetapi mengapa engkau yang justru datang, anak muda yang
masih bau kencur? Kemana mahluk bernama Thian Liong Koay
Hiap yang katanya sangat hebat dan lihay itu? Mengapa belum
datang juga.....”? gumam si dogol sambil memandang Koay Ji
kebingungan. Bahkan, tak menunggu jawaban Koay Ji dia sudah
langsung berkata kembali dalam bahasa untuk diri sendiri
“Accccch, engkau pasti bukan dia. Tapi, engkau sungguh
baik,,,,,,, kita harus jadi teman dan boleh bermain-main dengan
ketiga pengawalku ini” gumam si Dogol ini menandakan bahwa
dia yang bertugas menjemput Koay Hiap tetapi menjadi pusing
1649
karena yang datang adalah wujud aslin KOAY JI bukannya dalam
wujud Thian Liong Koay Hiap. Karena berpikir demikian, dia
kemudian berkata:
“Toako yang, bolehkah engkau membawa aku untuk menemui
majikanmu, Jit Yang Sin Sian,,,,,,, ataupun saudara Bun Siok Han
sahabatku itu? Adikmu ini memiliki urusan maha penting dengan
mereka berdua, bahkan bersahabat baik dengan Bun heng waktu
bertemu di kota Cing Peng........”
“Ha,,,,,, engkau malah sudah mengenal Bun Toako dan juga
Suhu,,,,, siapa engkau gerangan apa sebetulnya maksud
kedatanganmu ke Liong Tam Houw Siat (Gua Naga dan Sarang
Harimau) kami ini....”? si Dogol menjadi semakin heran dengan
Koay Ji yang ternyata mengenal toako dan suhunya.
“Siauwte adalah sahabat Bun Heng dan kami bertemu di Kota
Cing Peng dan Liang Ping. Sebetulnya kami berjanji untuk
bertemu disini atas undangan Bu Heng yang ingin
memperkenalkan dan memperlihatkan alam yang sangat indah di
sekitar Liong Tam Houw Siat (Gua Naga dan Sarang Harimau)
kalian ini, katanya tidak ada lagi pemandangan lain seindah
daerah ini....”
1650
“Ohhhhh, sahabat toako rupanya. Pastilah engkau orang baik,,,
tapi, mengapa toako tidak pernah menceritakan tentang engkau
dan tidak memberitahuku bahwa engkau akan datang
mengunjunginya.....? accccccchhhh, engkau terlihat orang baik,
bahkan sangat disukai si Kelabu. Akupun suka kepadamu, tetapi
kalau aku membawamu tanpa ijin Suhu, aku bisa kena hukuman.
Acchhhhh, bagaimana baiknya ini......”? si dogol menjadi
kebingungan dan jadi nyeletuk sendirian.
“Toako yang baik, kutanggung toakomu dan suhumu tidak akan
menghukummu. Sebaliknya, mereka pasti justru akan memujimuji
kecerdikanmu, sebenarnya aku memiliki hubungan yang baik
dengan Suhu dan juga tentu dengan toakomu yang baik hati
itu,,,,,, naccchhh bagaimana.....”? bujuk Koay Ji yang rada
kewalahan juga menghadapi si dogol. Dia berharap segera diajak
menemui Jit Yang Sin Sian atau Bun Siok Han, apa daya, susah
juga menghadapi si Dogol.
“Acchhhh tidak, tidak bisa. Tanpa ijin suhu siapapun dilarang
memasuki tempat kami dan tidak boleh memberitahu kami tinggal
dimana,,,,,,, tapi, ketiga sahabatku ini juga suka kepadamu,
tandanya engkau pasti seorang yang baik. Waaaah, bagaimana
baiknya ya,,,,,”? semakin bingung si dogol, semakin bingung juga
Koay Ji. Karena bagaimanapun juga diapun tidak ingin
1651
menyulitkan si dogol yang memiliki kesan amat baik dimatanya
ini. Dia yakin akan kejujuran si dogol, sama yakinnya dengan rasa
persahabatan kental yang sudah ditunjukkannya serta dengan
kehangatan persahabatannya. Tapi otaknya yang cerdik, pada
saat itu bekerja dengan amat cepat. Maka diapun bertanya:
“Menurut toako dan suhumu, bagaimana cara orang sepertiku
untuk dapat masuk dan menemui mereka kedalam,,,,,,”?
“Hmmmmmm, jika seseorang dapat mengalahkanku, melewati
ketiga sahabatku, maka orang itu pasti bisa masuk,,,,,, tapi,
engkau bisa terluka atau tewas jika sampai menghadapiku dan
ketiga sahabatku yang besar-besar ini. Dan aku juga tidak
menginginkannya, karena sudah kuyakin, engkau pasti orang
yang baik,,,,,,,” ujar si dogol dengan ragu dan tetap saja bingung.
“Jika memang demikian, siauwte akan mencoba jalan yang
engkau katakan itu toako dan jangan engkau takut, aku tidak akan
tewas di tangan sahabat-sahabatmu. Boleh aku menempuh jalan
itu.......”? tanya Koay Ji ragu
“Engkau mau melawanku dan ketiga sahabatku,,,,,,,? Tentu saja
boleh, tetapi aku sungguh tidak tega melukaimu, lebih tidak tega
lagi jika ketiga sahabatku sampai mengoyak tubuhmu yang lemah
1652
itu,,,,,, accch janganlah.......” tolak si dogol karena sayang dan
tidak sampai hati
“Yakinlah toako, aku akan baik-baik saja, tidak akan sampai
terluka atau apalagi sampai terbunuh. Asalkan toako yang
terlampau berat menyerangku,,,,, bagaimana menurut
pertimbanganmu toako,,,,”? tanya Koay Ji hati-hati
“Accchhhhh, engkau benar. Aku bisa menyerangmu asal-asalan,
tetapi masalahnya aku kurang mampu bertindak asalasalan.,,,,,,,”
“Aku bisa mengingatkanmu toako,,,,,,”
“Tapi, jangan salahkan jika aku melukaimu ya,,,,, karena engkau
baik kulihat,,,”
“Pasti akan kuingatkan toakom,,,,,,,,”
“Accch, bagus jika begitu. Tapi engkau harus hati-hati ya, jangan
sampai terlanggar pukulanku dan termakan kuku dan taring
sahabat2ku nanti,,,,,”
“Jangan takut toako, aku akan sangat berhati-hati,,,,,,”
“Baiklah, mari kita mulai jika memang engkau mendesak,,,,,”
1653
Koay Ji kemudian bersiap dan menunggu serangan si dogol,
tetapi setelah demikian lama, si dogol tetap saja tidak menyerang
meski sudah dalam posisi siap bertempur. Setelah lama saling
menunggu, Koay Ji jadi keki sendiri karena keduanya sudah
dalam posisi siap berkelahi tetapi tidak ada diantara mereka
berdua yang memulai untuk menyerang. Akhirnya diapun
bertanya:
“Kenapa tidak segera menyerang toako,,,,,”?
“Akupun menunggu engkau menyerang, karena kalau aku
menyerang berarti sama dengan aku yang mendesakmu. Engkau
yang harus menyerangku,,,,” berkeras si dogol dan membuat
Koay Ji merasa lucu berbareng dongkol.
“Baiklah, jaga seranganku toako,,,,,,,”
Karena sudah mengetahui tingkat kepadaian Bun Siok Han, maka
Koay Ji mengukur kekuatan serangannya agar tidak terlampau
berat bagi si pemuda dogol yang dalam pikirannya adalah adik
seperguruan Bun Siok Han. Dugaan Koay Ji memang tidak
meleset jauh, pemuda dogol ini adalah murid bungsu Jit Yang Sin
Sian dan memang benar adalah adik seperguruan Bun Siok Han.
Tetapi yang dia keliru sangka adalah, jika kepandaian dan
1654
terutama kekuatan gwakang si dogol sangat jauh meninggalkan
suhengnya. Inilah disebabkan latar belakang dan sejarah hidup si
dogol yang memang amat aneh dan luar biasa. Boleh dibilang
gwakangnya adalah karunia alam dan bukanlah sebagian besar
sebagai hasil latihannya. Itu sebabnya Koay Ji sampai terdorong
hingga 3 langkah ke belakang baru dapat tenang kembali akibat
dorongan tenaga kasar atau tenaga luar si dogol yang luar biasa
kuatnya. Dan ini juga mengagetkan si dogol yang langsung
berkata:
“Accchhhh, sudahlah, engkau orang baik. Aku tidak ingin
melukaimu, sebaiknya engkau pergi meninggalkan tempat ini.
Besok-besok, senang aku jika dapat bermain denganmu lagi di
sekitar tempat ini,,,,,,,,”
“Toako, jagalah aku belum kalah,,,,,,,,” sambil berkata begitu Koay
Ji mulai bersilat dengan gaya berbeda dan dengan kekuatan yang
juga berbeda. Dan ternyata, benar hebat, begitu benturan kembali
terjadi, Koay Ji sudah mampu mengimbangi karena berbarengan
dia menotok dengan totokan khasnya. Apalagi jika bukan Ilmu Ci
Liong Ciu Hoat (Ilmu Mengekang Naga), satu Ilmu totok yang
amat mujijat dari Kitab Mujijat Pat Bin Ling Long. Dan akibatnya,
si dogol yang kini jadi terdorong ke belakang karena kekuatan
besarnya dapat dielakkan oleh Koay Ji, sementara satu totokan
1655
ringan Koay Ji memakan daerah lengannya. Tetapi, dengan
hanya meringis sejenak, si dogol kini balik menyerbu secara liar
meskipun terlihat jika dia bergerak dengan formula jurus tertentu.
Tidak salah lagi, gerak dan jurusnya jelas adalah aliran
perguruannya yang sudah digubah menjadi lebih tepat dengan
karakter dan dengan kepribadian si Dogol. Tapi sayang, Koay Ji
dapat melihat jika gerak dan jurus-jurus si Dogol masih belum lagi
tersusun secara baik. Meski demikian, Koay Ji dapatlah
memastikan, di kalangan perguruannya saat ini, baik suhengnya
maupun bahkan dirinya sendiri, pasti tidak akan mampu
menandingi kemampuan dan kekuatan gwakang sutitnya yang
satu ini. Gerakannya kuat dan gesit, kekuatan gwakangnya
sangatlah mengagumkan bahkan mengherankan karena seperti
tidak normalnya manusia. Daya kekebalannya sangat hebat dan
kuat hingga Koay Ji mengaku sangat sulit untuk dapat
mengalahkannya dengan mudah. Tetapi dalam kekuatan
iweekang Koay Ji menang amat jauh atau menang amat mutlak,
selain juga variasi jurus-jurus serangan serta ilmu totokan
mautnya banyak membantunya. Bukan saja membuatnya
mengurangi serangan si dogol, tetapi juga memundurkannya
sekaligus mendorongnya hingga berapa langkah mundur dan
menyakiti si dogol.
1656
Dan akibatnya sungguh hebat. Beberapa kali Koay Ji menotok
dan menampar si Dogol, tetapi pemuda itu hanya meringis
sebentar untuk kemudian kembali maju menyerbu dengan
ganasnya. Hal ini membuat Koay Ji merasa sulit, karena untuk
dapat mengalahkan si dogol, dia perlu mengerahkan kekuatan
iweekangnya supaya mampu menembus kekuatan gwakang dan
terutama daya kebal lawan yang amat mujijat. Karena sekuat
apapun pukulannya saat itu dengan kekuatan iweekang yang
semakin meningkat, hanya dapat membuat si dogol sedikit
meringis dan kemudian maju kembali untuk menerjangnya.
Sementara jika menotoknya, entah bagaimana susunan jalan
darah si pemuda dogol itu, karena nyaris tidak pernah totokan itu
melumpuhkannya. “Masakan aku harus membuatnya merana
dengan kekuatan pukulan yang hebat.....”? desis dan timbang
Koay Hiap dalam hati mengetahui betapa sulitnya si dogol
dikalahkan. Dia sungguh penasaran tetapi tetap tidak berniat
turun tangan kejam.
Bukan apa-apa, kekuatan gwakang dan daya kebal si dogol
benar-benar sangatlah mengejutkan. Kelihatannya bukan
sesuatu yang normal. Belum lagi, jalan darahnya seperti tidak
mempan ditotok. Masih untung, meski sulit ditotok, tetapi setiap
totokan Koay Ji mampu mendatangkan rasa sakit dan perih
1657
hingga membuatnya tertahan sepersekian detik untuk dapat
melakukan serangan balasannya. Tetapi ada juga sedikit
keuntungan Koay Ji, yang mana semakin membuatnya
menghayati gerakan mujijat miliknya, yakni Ilmu Langkah Thian
Liong Pat Pian (Naga Langit Berubah Delapan Kali). Menghadapi
gerakan yang sering serabutan dari si dogol, membuat Koay Ji
bisa meneropong kembali dan menyusun sejumlah langkah
antisipatif atas gerak-gerik tak terduga lawan. Karenanya, meski
kerepotan, tetapi ada juga sisi yang baik dan positif bagi Koay Ji
menghadapi serangan-serangan yang serabutan dari si dogol
yang bertenaga kasar luar biasa. Perlahan namun pasti dia
semakin mampu mengembangkan dan melengkapi serta
menyempurnakan ilmu mujijatnya itu. Sehingga meski Tek Ui
Sinkay dan juga sutenya sudah ikut menguasai ilmu itu, namun
dalam hal keluasan, kesempurnaan dan keluwesan
penggunaannya masih jauh lebih sempurna yang dikuasai Koay
Ji. Bahkan beberapa variasi langkah baru juga sudah dapat
disusun dan diciptakannya selama beberapa saat bertarung
sengit dengan si dogol yang mujijat ini.
Menghadapi si dogol yang seperti tidak ada matinya, akhirnya
Koay Ji memutuskan menggunakan iweekang mujijatnya
terutama untuk menguras staminasi dogol. Maka tidak berapa
1658
lama, diapun memainkan prinsip-prinsip untuk menempel,
menggiring ataupun melontarkan kekuatan pukulan lawan. Maka
merekapun kembali bertarung dengan keuletan dan kekuatan
yang luar biasa. Tetapi, semakin lama semakin Koay Ji jadi kagum
dan menjadi semakin tidak mengerti, karena kekuatan gwakang
yang besar luar biasa dari si dogol seperti tidak ada putusputusnya.
Selain berani adu kekuatan dengannya, diapun tidaklah
takut mengumbar kekuatannya meski banyak pukulannya yang
meleset atau melenceng. Meskipun demikian, si dogol tidaklah
mengendur perlawanannya, justru dia semakin gembira karena
memang jarang dia dapat bertarung demikian lama dengan tidak
dapat segera menjatuhkan lawannya. Sebaliknya penasaran,
justru dia sering terkekeh-kekehlah gembira.
Padahal, Koay Ji sendiri ketar-ketir menghadapinya. Dia harus
mengerahkan tenaga dalam dengan takaran besar untuk dapat
menembus daya kebal lawannya yang terkesan bodoh itu. Karena
meski sudah berusaha menembusnya dengan kekuatan sebesar
setengah bagian, tetapi dia tetap saja tak mampu melukai dan
membuat si dogol jatuh dan kalah. Sebaliknya, kekuatan tenaga
raksasanya seringkali membuat Koay Ji bergidik karena seakan
kekuatan itu terus menerus mengalir tanpa henti. Kuat dan kasar
mendorongnya dan membutuhkan banyak kekuatan iweekang
1659
untuk dapat menetralisasinya. Padahal, beberapa kali dan sudah
tak terhitung banyaknya dia menggiring serta kemudian
melontarkan kekuatan pukulannya. Tetapi sekian lama justru si
dogol makin bertarung dengan penuh semangat dan penuh rasa
gembira karena berjumpa lawan yang kuat, alot dan belum dapat
ditundukkannya. Bahkan lebih banyak ruginya pula.
Memang sudah berkali kali dia merasa disakiti pukulan-pukulan
dan sentilan totokan Koay Ji, sementara untuk sekedar
menyentuh Koay Ji dia sama sekali tidak mampu melakukannya.
Bahkan berkali-kali dia terlontar pontang-panting hingga
berguling-guling akibat terbawa kekuatannya yang dilontarkan
atau digiring Koay Ji. Atau juga berkali-kali dia meringis kesakitan
karena terkena pukulan ataupun totokan Koay Ji yang sering tak
mampu dia antisipasi dan tidaklah mampu dia ketahui darimana
datangnya. Tetapi, begitupun, tetap saja dia terus bangkit, terus
terkekeh-kekeh dan kemudian menyerang Koay Ji. Hebatnya,
kekuatannya tidka berkurang, kecepatan juga sama saja, cepat,
alot dan gesit. Bahkan dia mempertunjukkan gaya bertarung ala
monyet yang lebih menarik, lebih variatif, meski tanpa dukungan
daya iweekang yang baik dan memadai. Koay Ji merasa tertarik
dan terus memancingnya bertarung dengan gaya tersebut untuk
1660
maksud mempelajarinya dan mengembangkannya sendiri
menjadi jurus-jurus baru kelak.
Dan pada akhirnya, apa boleh buat, Koay Ji meningkatkan
kekuatan iweekangnya sampai tujuh bagian besarnya dan dapat
dibayangkan kehebatannya dengan tingkat kepandaian Koay Ji
sekarang ini. Si dogol menjadi sulit mendekatinya, meskipun tibatiba
Koay Ji sendiri menyadari bahwa kekuatannya belum
sepenuhnya kembali setelah mengobati Kat Thian Hong. Benar,
dia sudah memanfaatkan Guci Perak dan yakin dengan
khasiatnya, tetapi dia belum cukup menghimpun kembali tenaga
iweekangnya yang terkuras banyak mengobati Kat Thian Ho.
Begitupun, dia melihat upayanya mendatangkan hasil, meski dia
tetap saja tidak tega untuk menyakiti dan memukul si dogol
sampai terluka. Tetapi, setiap sentilan dan juga totokannya kini
mendatangkan rasa sakit dan rasa menyengat yang membuat si
dogol mulai kesulitan. Bahkan kini dia mulai jeri. Ketika terakhir
kali dia terlontar jatuh, tiba-tiba si Coklat dan si Belang meloncat
ke sisi kiri dan kanan si dogol, sementara si Kelabu berdiri dengan
ragu di belakang mereka bertiga. Tetapi, belum lagi mereka
bertiga atau tepatnya berempat menyerang Koay Ji secara
bersama, tiba-tiba:
1661
“Siang ji, mundurlah,,,,,, bawa si Kelabu, Belang dan Coklat
menyingkir. Dia masih bukan lawanmu,,,,,,,,, dan selain itu, dia
justru orang sendiri,,,,,,,” sambil berkata demikian, tak lama
muncul disana dua orang yang berjalan perlahan memasuki
arena. Mereka tak lain adalah Bun Siok Han bersama seorang
tokoh yang nampak berwibawa, berambut panjang yang terurai
dan mulai memutih. Tetapi, wajahnya mengingatkan Koay Ji
wajah suhunya, karena sangat tenang, penuh wibawa dan
menggambarkan seorang tokoh yang bijaksana dan berkarakter.
“Acccch, toako, suhu,,,,, saudara muda ini sungguh-sungguh
hebat dan dia sangat baik. Dia pantas menjadi sahabat,,,,, sayang
suhu melarang siapapun untuk dapat memasuki lembah dan gua
tempat tinggal kita,,,,” si dogol memberikan laporan yang
membuat Koay Ji kaget. Dia bukannya menuduh atau
menyudutkannya, tetapi tetap saja memujinya baik dan pantas
menjadi sahabat, saat si dogol melapor kepada suhunya dan
toakonya yang baru datang itu. Tetapi, Koay Ji sendiri sudah tahu
jika saat itu dia sedang berhadapan dengan orang yang sedang
dicarinya, yakni berdua Bun Siok Han dan juga Toa Suhengnya
sendiri. Karena itu, diapan dengan segera menjumpai Jit Yang Sin
Sian (Dewa Sakti Jit Yang) Pek Ciu Ping, tokoh tua itu, bahkan
dengan cepat dan segera dia berlutut mirip atau sama dengan
1662
jikalau dia menjumpai suhunya sendiri dahulu. Dan sambil berlutut
diapun berkata dengan suara penuh rasa haru:
“Tecu Koay Ji menemui toa suheng Jit yang Sin Sian..... dan
mohon maaf atas keterlambatanku karena masih harus
mengobati anak murid Bu Eng Ho Khouw Kiat (Si Rase Tanpa
Bayangan) yang terluka amat parah karena bertarung dengan
musuh-musuhnya dari Persia dan Hong Lui Bun,,,,,,”
Tetapi, sebelum tokoh itu menyambut dan menjawab perkataan
Koay Ji barusan serta membangunkannya, dia terlebih dahulu
melirik kedua muridnya, Bun Siok Han dan Bun Kwa Siang. Dan
kemudian berkata dengan suaran lembut namun mengandung
perintah yang cukup tegas:
“Han Ji dan juga engkau Siang Ji, pergi dan segera kembali ke
gua kita, suhumu sebentar lagi akan segera menyusul. Dan
engkau Siang Ji, bawalah ketiga kawan baikmu itu, karena
sekarang kita tidak perlu lagi menjaga pintu masuk ke lembah dan
gua kita untuk malam ini,,,,,,,”
Bun Siok Han sempat melirik Koay Ji yang masih belum begitu
dikenalnya. Tapi dalam hati dia bergumam: “Masih sangat muda,
tapi benarkah dia adalah “Paman Guruku yang terkecil”?. Tapi
1663
karena saat itu suhunya sendiri sudah menyuruhnya pergi, maka
tak ada kesempatan baginya untuk bertanya mencari tahu lebih
jauh lagi. Apa boleh buat, dia memandangi adiknya serta ketiga
hewan peliharaan dan kawan baik adiknya itu, dan tidak lama
mereka sudah berlalu dari situ. Terlihat jelas betapa si dogol
sangat menghormati kakaknya dan terutama suhunya, si pertapa
yang kini sudah menghadapi Koay Ji dan sedang mengamatinya
dengan teliti. Seakan ingin menjenguk kedalaman hati Koay Ji
lewat pandangan matanya yang amat tajam menusuk itu.
“Hmmm, sudah kuduga engkau pastilah siauw suteku,,,,,, naccch,
sekarang engkau bangunlah Koay Ji. Insu memang sudah
mengirimkan suratnya kepadaku, bahkan para sute sudah berada
di gua tempat tinggalku. Konon engkau akan datang dalam
samaran sebagai Thian Liong Koay Hiap, tetapi entah mengapa
engkau datang dalam wujud aslimu untuk datang
menghadapku.....”?
Sambil berdiri dengan perlahan, dan dengan sikap sangat
menghormat bagaikan menghormati suhunya sendiri, Koay Ji
segera berkata dengan suara perlahan sambil memandangi
wajah toa suhengnya itu meski dalam hati dia bergumam
“sungguh banyak mirpnya dengan Suhu”:
1664
“Acccch, kisahnya cukup panjang dan rumit toa suheng. Semua
berawal terutama ketika tecu menemukan kesulitan saat harus
menolong kesulitan para suheng di kuil Siauw Lim Sie. Dan
kebetulan secara bersamaan, juga harus menghadapi murid Lam
Hay Sinni, dan semua itu membuat tecu dengan amat terpaksa
mengenakan topeng dan berubah menjadi Thian Liong Koay
Hiap. Siapa tahu, ketika dalam samaran sebagai Thian Liong
Koay Hiap tersebut, tecu ternyata mengalami banyak sekali
kejadian susul menyusul dan akhirnya lebih dikenal sebagai Thian
Liong Koay Hiap. Dan paling akhir, untuk membantu keperluan
Sam Suheng sebagai Bengcu Tionggoan, beliau meminta tecu
untuk sementara tetap saja menampilkan diri sebagai Thian Liong
Koay Hiap. Hanya saja, ketika datang untuk menemui Toa
Suheng yang selalu dipujikan Insu, rasanya amat tidak sopan
untuk datang bertemu dalam wujud yang berbeda. Karena itu,
tecu memutuskan untuk datang dengan wujud asli sebagai Koay
Ji,,, tecu merasa akan kurang menghormati toa suheng jika
datang sebagai Thian Liong Koay Hiap. Maafkan tecu, toa
suheng,,,,,,”
Mendengar penjelasan Koay Ji dengan bicara yang tak putusputus,
jernih dan juga menggambarkan ketulusan hatinya, Jit
Yang Sin Siang - Pek Ciu Ping nampak menarik nafas panjang.
1665
Mau tidak mau dia haru mengakui betapa sopan serta juga
spontannya siauw sutenya ini, dan rasa hormat kepadanya selaku
TOA SUHENG tidaklah disembunyikannya. Bahkan
ditunjukkannya secara terbuka dan sama sekali tidak nampak
dibuat-buat. “Bagaimana Insu menemukan bocah muda yang
begitu sopan, menghormat, tetapi amat tahu diri ini....”? tapi dia
berkata melalui mulutnya apa yang dia rasakan:
“Hmmmm, Insu sungguh tepat menggambarkan keadaanmu
siauw sute. Dan surat Sam Sute juga tidak jauh berbeda dalam
memberikan gambaran yang jelas tentang keberadaanmu. Dapat
kubayangkan Insu pasti akan sangat bangga dengan dirimu siauw
sute, dan bisa kupastikan soal itu. Kuharap engkau terus berlaku
seperti saat ini, tidak menjadi sombong, terus rendah hati dan
menjaga nama besar Suhumu dan keluarga besar
perguruanmu.....”
“Tecu mengharapkan petunjuk dan bimbingan toa suheng lebih
jauh lagi, apalagi setelah Insu memutuskan untuk menutup diri
selama-lamanya......” jawab Koay Ji sambil memandang penuh
harap wajah toa suhengnya.
“Siauw sute, urusan kita sesama saudara seperguruan tiba-tiba
menjadi teramat banyak dan membutuhkan kesiapan kita semua.
1666
Tetapi, marilah kita masuk ke tempat tinggalku, karena perguruan
kita sepertinya akan mengalami hal yang amat mengguncangkan.
Juga akan merembet ke tugas Sam Sute selaku Bengcu Rimba
Persilatan Tionggoan. Insu hanya mengingatkanku satu hal
melalui suratnya, tetapi konon engkau akan membawa sesuatu
yang akan membuktikannya, tetapi sampai saat ini terus terang
saja, aku belum cukup memahami sepenuhnya. Maka, mari kita
menemui para sute dan membicarakannya,,,,,,”
“Baiklah toa suheng, sutemu menurut saja.......”
Sambil berjalan beriringan dengan Koay Ji yang merasa agak
jengah namun amat senang dan gembira, mengikuti toa
suhengnya dan merekapun mulai memasuki lembah. Koay Ji
merasa amat gembira karena diperlakukan selayaknya dan
seperti menemukan keluarganya sendiri, tempat dimana dia boleh
bersandar dan tempat dimana dia diperlakukan sebagai orang
atau figur yang punya makna. Hal yang sudah tentu membuatnya
merasa menjadi seperti selayaknya manusia normal dan
membangkitkan semangat mudanya yang bergelora.
Keluarga, meski banyak orang mengetahuinya namun jarang
memaknainya, adalah orang-orang sekaligus suasana. Manusia
yang menjadi keluarga kita, belum tentu akan sama-sama
1667
membentuk sebuah unit bernama keluarga yang mampu
membuat semua yang terhisap dan termasuk didalamnya merasa
aman, merasa disayangi, merasa dihormati, merasa punya
makna. Keluarga dalam artian tersebut mestilah terbangun
dengan pemahaman, penyerahan diri dan kepentingan, rasa
hormat dan rasa menghargai yang lainnya. Maka akan terbentuk
sebuah suasana yang sulit untuk digambarkan dengan kata-kata
namun dapat dengan jelas dirasakan dan juga dihidupi. Suasana
itu akan membentuk keluarga sebagai tempat perlindungan, satu
tempat yang akan selalu dirindukan anggotanya, sebuah suasana
yang membangun dan mendidik seseorang menjadi manusia
yang memiliki makna dan arti. Semua yang berada dalam dan
menjadi bagian keluarga seperti itu akan memiliki tempat terakhir
yang susah direbut orang lain. Karena disana selalu terdapat rasa
aman, rasa dihargai dan rasa dimiliki dan memiliki serta punya
makna sebagai manusia, tidak akan mudah dirusak orang.
Suasana seperti inilah yang selalu membuat siapa saja yang
memiliki keluarga (orang dan suasana) akan teringat untuk
PULANG saat dimanapun dia pergi mengembara maupun
bertugas. Pulang ke tempat dimana dia merasa aman, nyaman
dan dimiliki serta memiliki.
1668
Perasaan seperti itu masih belum dimiliki oleh Koay Ji. Tetapi, kini,
berjalan bersama Toa Suhengnya yang menerimanya dengan
hangat, yang memperlakukannya layak sebagai anggota
keluarganya, mendatangkan rasa hangat tak terhingga dalam hati
serta sanubarinya. Itulah sebabnya Koay Ji berjalan layaknya
“manusia sejati”, dimana dia merasa sudah memiliki “keluarga”
dalam artian di atas. Saat dia merasa disokong, dihargai, memiliki
arti dan dipandang penting oleh bagian keluarga lain di sekitarnya.
Kehangatan itu terus membuncah dan membuat Koay Ji dalam
waktu yang singkat seperti menemukan kembali kepingan yang
belum dia miliki secara penuh dalam perjalanan hidupnya.
“Sute, mari kita masuk.,,,,,,,,” suara Jit Yang Sin Sian ini
menyadarkan Koay Ji dari lamunan indah yang membuat
perasaan dan semangatnya membubung sampai ke angkasa
yang tinggi. Mereka sudah berada di pintu masuk sebuah gua
yang terlihat masih alami, karena pintu gua itu sungguh tinggi dan
besar dengan beberapa jenis tanaman menjuntai ke bawah.
Tetapi, liang atau lubang gua yang ketika dia amati lebih teliti
memang seperti berbentuk “harimau yang mendongak
memandang ke kejauhan. Sungguh hebat.
Ketika memasuki gua tersebut, Koay Ji menjadi tersentak kaget,
karena didalamnya bagaikan siang hari dan ramai dengan
1669
cahaya. Ruangan dalampun cukup lebar dan luas, bahkan
tingginya dua kali lipat dari pintu masuk gua sehingga
menciptakan satu perasaa yang lega dan luang. Dalam ruangan
tersebut dia bertemu dengan Bun Siok Han dan Bun Kwa Siang,
tetapi tanpa ditemani oleh ketiga hewan peliharaan dan sekaligus
kawan dekat Bun kwa Siang. Ketika mereka masuk, serentak Bun
Siok Han dan Bun Kwa Siang menyapa:
“Suhu, Siauw Susiok,,,,,,,,,”
Jit Yang Sin Siang mengangguk ke arah kedua muridnya dan
kemudian berkata dengan suara lembut dan perlahan:
“Han Ji, Siang Ji, suhumu memiliki urusan penting dengan
beberapa orang susiok kalian yang sudah berkumpul. Jangan
sekali-kali kalian berusaha mendekati tempat kami semua
bertemu, tetapi terus berjaga disini dan jangan biarkan ada tamu
memasuki lembah kita.......”
“Baik Suhu,,,,,” jawab Siok Han penuh hormat, juga meski rada
sangsi, tetapi diapun menujukan rasa hormatnya kepada Koay Ji.
“Siang Ji, bawa ketiga sahabat baikmu dan berjaga di luar gua,
biarkan toakomu yang berjaga dalam ruangan ini,,,,,”
1670
“Baik Suhu,,,,,,” Kwa Siang langsung melesat keluar
meninggalkan ruangan untuk mencari ketiga kawannya dan
berjaga di luar gua.
Sementara itu, Jit Yang Sin Sian (Dewa Sakti Jit Yang) Pek Ciu
Ping sudah kembali berjalan dan kini memasuki sebuah
terowongan yang lebih sempit, namun muat dan bisa dilewati
seseorang sambil berjalan. Mereka berjalan beberapa saat,
bahkan sempat melewati sebuah ruang samadhi dan Jit Yang Sin
Sian berbisik kepada Koay Ji dengan suara jernih:
“Siauw sute, disini biasanya suhengmu biasanya bersamadhi, dan
kulakukan sudah sekitar 20 tahunan. Atau ada 10 tahun sejak
turun gunung menuruti pesan serta amanat Insu untuk
membaktikan ilmu yang diajarkannya.....” Koay Ji menganguk
sebagai responsnya, karena toch Toa Suhengnya tidak berhenti
tetapi terus berjalan sampai beberapa saat mereka berbelok ke
sebuah ruangan yang lain. Sebuah ruang yang cukup
mengagumkan, karena ruang tersebut sebetulnya adalah ciptaan
alam yang sangatlah menarik.
Dari ruangan atau tepatnya batas pintu masuk ke gua, ada kurang
lebih15 meter panjang dan lebar 10 meter dengan tempat duduk
bebatuan yang sepertinya sudah ditata lebih jauh oleh pemiliknya.
1671
Tempat itu tepatnya adalah ruangan menjorok karena setelah itu
adalah tebing yang meski tidaklah tegak tetapi cukup landai,
namun tetap saja pada malam hari dasarnya tidaklah terlihat.
Hanya kegelapan yang membentang sejauh mata memandang,
jikapun ada sinar yang menerangi tempat itu tidak lebih adalah
obor sejumlah kurang lebih 20 yang dipasang di setiap sudut
berbentuk setengah lingkaran. Ada sinar yang lain yang bisa
ditangkap mata, yaitu sinar bulan yang bercahaya temaram
ataupun kunang-kunang yang sesekali muncul bergerombol
namun tidak cukup sering.
Ketika memasuki ruangan tersebut, Koay Ji tidaklah terlampau
terkejut ketika dia melihat dan menjumpai disana sudah
berkumpul keempat kakak seperguruan yang lain. Mereka
masing-masing adalah Cing San Khek (Jago Berbaju Hijau) Tiat
Kie Bu yang menjadi Ji Suhengnya, kemudian Ci Yan (Walet
Ungu) Pek Bwe Li atau yang kini sudah berubah menjadi Pek Sim
Nikouw yang merupakan Su Sucinya. Disitu juga nampak Pouw
Ci Sui Beng (Jari Sakti Penghancur Nyawa) Siau Ji Po selaku Ngo
Suheng dan terakhir Lam San Hong Ie (Bulu Hong Berbaju Biru)
Oey Hwa sebagai Liok Sucinya. Yang belum dan memang tidak
kelihatan karena justru adalah pengutus Koay Ji adalah Tek Ui
Sinkay (Pengemis Sakti Bambu Kuning) Liauw Ji Ang selaku Sam
1672
Suheng dan Hoan Thian Ciu (Tangan Membalik Langit) Cu Ying
Lun sebagai Chit Suheng.
Begitu memasuki ruangan tersebut, tanpa menunggu lama Koay
Ji sudah memberi hormat kepada semua suheng dan sucinya:
“Tecu Koay Ji menjumpai dan memberi hormat kepada semua
suheng dan suci yang baik.....” dia memberi salam dan hormat
dan kemudian menundukkan wajah karena sesungguhnya dia
sangat terharu berada di tengah-tengah keluarga besar
perguruannya. Bahkan dia nyaris menitikkan air mata karena
terharu dan terkenang dengan suhunya yang membimbing
dengan ketekunan dan dengan kecermatan yang amat luar biasa.
Menghadapi Koay Ji yang menyapa dan mengormati mereka
semua, keempat suheng dan sucinya ikut berdiri menyambut
karena Toa Suheng mereka masih tetap berdiri mendampingi
Koay Ji. Bahkan seperti ada yang memberi komando, secara
serempak mereka berkata:
“Selamat datang siauw sute,,,,,,,,”
Setelah semua saling memberi salam dan kini dapat memandangi
wajah asli Koay Ji sute mereka yang paling muda. Dan kebetulan
saat itu Koay Ji bukanlah dalam dandanan selaku Thian Liong
1673
Koay Hiap, sehingga dapat dikenali wujud aslinya oleh para
sunheng dan sucinya. Dan baru beberapa saat kemudian Jit Yang
Sin Sian (Dewa Sakti Jit Yang) Pek Ciu Ping angkat suara:
“Para sute dan sumoy, silahkan duduk dan selamat datang di
tempatku yang amat sederhana dan jauh dari kemewahan.
Secara khusus, selamat datang kepadamu siauw sute. Para
suheng dan sucimu beberapa hari terakhir ini membicarakanmu
dan sedikit menuduh Insu yang dianggap agak usil dan seakanakan
mengejek kami kami para suheng dan sucimu karena
usiamu lebih tepat menjadi anak ataupun cucu bagi kami suheng
dan sucimu. Tetapi, tidak ada seorangpun yang menyesalkan
kelakuan dan prilakumu sute, kami yang menjadi suheng dan
sucimu sungguh-sungguh gembira karena Insu benar-benar
mengangkat seorang sute paling muda yang amat sopan dan
santun serta menghormati kami suheng, sucimu yang berusia
jauh lebih tua dalam banyak segi selain usia. Bahkan kamipun
sudah mendiskusikan surat yang dikirimkan baik oleh Sam Sute,
Tek Ui Sinkay dan Chit Sute Hian Thian Ciu Cu Ying Lun, maupun
surat yang dikirimkan langsung oleh Insu. Semua sudah
dijelaskan Insu dalam surat yang ditulisnya untuk semua
muridnya, baik menjelaskan tentang keadaanmu selaku siauw
sute, juga tentang kewajiban kami semua sebagai suheng dan
1674
sucimu....... Nach, sebelum kulanjutkan sebagai Toa Suheng
kalian semua mewakili Insu kita, siauw sute, apakah ada sesuatu
yang ingin engkau kemukakan kepada kami semua....”? bertanya
Jit Yang Sin Sian sebelum melanjutkan untuk memimpin
pertemuan antar saudara seperguruan itu.
Koay Ji tersentak kaget, tetapi tidak terlihat perubahan di
wajahnya. Beberapa saat dia memang diterpa rasa gugup yang
luar biasa, namun pengalaman beberapa waktu terakhir sudah
menempanya menjadi lebih tenang dalam merespons keadaan
yang sering berubah amat cepat. Apalagi, penerimaan dan
suasana bersama semua suheng dan sucinya saat ini sungguh
membangkitkan perasaan mesra yang luar biasa dalam dirinya.
Karena itu, begitu Toa Suhengnya meminta, dengan perlahan
Koay Ji memandang semua suheng dan sucinya dan kemudian
berkata dengan nada suara yang lancar dan bahkan dengan gaya
bahasa yang cukup menarik serta mudah dipahami semua:
“Para suheng dan suci, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang
patut dibanggakan untuk kuceritakan. Sebagaimana pasti sudah
disampaikan oleh Insu, sejak berusia 5 tahun, tecu dibantu dan
diselamatkan Sam Suheng untuk kemudian dibawah kepada Insu
dan kelak diangkat menjadi murid yang terakhir. Sejak kecil
memang tecu sama sekali tidak tahu dan tidak ingat siapa sajakah
1675
keluargaku, bahkan tak ada satupun yang mengendap dalam
memoriku. Tetapi, sejak Insu mendidik dan kemudian Sam
Suheng dan Chit Suheng begitu menyayangiku, bahkan juga Ji
Suheng, Su Suci serta Ngo Suheng dan Liok Suci sama-sama
sangat menyayangiku, membuatku merasa sudah punya keluarga
sendiri. Itu pula yang dipesankan Insu sebelum tecu turun
gunung, yakni agar tecu tidak gelisah dengan soal keluarga
karena Insu merasa yakin para suheng dan suci akan dengan
senang hati menganggapku bukan hanya sebagai siauw sute,
tetapi juga sebagai adik dan bahkan anak bagi mereka. Itu
sebabnya, tecu merasa sangat terharu dan merasa sangat
senang boleh bertemu dengan para suheng dan suci di tempat
toa suheng ini. Bahkan juga Toa Suheng sendiri begitu
mempercayaiku dan menerimaku, padahal baru hari ini tecu
berjumpa dengan Toa Suheng yang mulia......... mungkin karena
itu kelak, sebagaimana Insu memesankan, jikalau ada soal antar
saudara seperguruan, maka Toa Suheng yang harus bertugas
menjadi wasit dan penengah. Sementara adalah Sam Suheng
yang menemukan dan menolongku ditunjuk untuk menjadi waliku.
Dan tecu harus banyak belajar soal kebijaksanaan hidup kepada
Toa Suheng, dan harus menganggap para suheng dan suci
sebagai keluarga tecu sendiri. Itu saja yang ingin tecu sampaikan,
terima kasih para Suheng, Suci sekalian....”
1676
Kata-kata yang mengalir dengan lancar, tidak dibuat-buat dan
tampilan Koay Ji yang memang mudah membuat orang jatuh
kasihan, membuat para suheng dan sucinya ikut merasa terharu.
Merekapun sadar dan dengan mudah menerima kata-kata dan
penegasan Koay Ji atas apa yang memang benar dimintakan
suhu mereka bagi adik seperguruan paling muda ini. Pek Sim
Nikouw dan terutama Oey Hwa sudah sejak mulai berkatakatanya
Koay Ji, terus saja memandangi anak muda itu dengan
mata nyaris basah. Mereka sangat bisa merasakan kesedihan
seorang Koay Ji yang tidak mengetahui dimana dan siapa sajakah
gerangan keluarga-keluarga terdekatnya. Ayahnya, ibunya,
keluarga besarnya dan hal-hal terdekat yang dimilikinya pada saat
kelahirannya. Bahkanpun, siauw sute mereka itu tidaklah
mengetahui nama aslinya sendiripun dan tidak atau belum
mengetahuinya sama sekali serta tak ada satupun petunjuk untuk
ditelusuri. Bagaimana cara melacaknyapun pastilah bukan
pekerjaan yang akan dapat dilakukan secara mudah. Karena
kemana harus mencari orang yang tak dikenal di luasnya dunia
ini?.
“Baiklah siauw sute,,,,,, engkau sudah mengenal kami semua
sebagai suheng atau juga sucimu. Tidak ada seorangpun yang
keberatan untuk menjadi walimu kelak, bukan hanya Sam
1677
Suhengmu yang pasti amat bersedia, bahkan semua suheng dan
sucimu pasti bersedia untuk itu. Kuharap engkau tidak berlaku
sungkan terhadap kami semua, dan untuk engkau ketahui,
meskipun kami semua tinggal berjauhan, tetapi kami semua terus
saling menjaga kekeluargaan dan saling memberi kabar satu
dengan yang lainnya. Untuk urusan keluarga perguruan kita,
kelak bukan persoalan yang amat sulit karena memang perasaan
sebagai satu keluarga, kami jaga dengan erat dan selalu saling
menyayangi dan menghormati,,,,,,” demikian Jit Yang Sin Sian
menjelaskan dan menegaskan kata-kata yang dikeluarkan oleh
Koay Ji barusan. Hal yang diiyakan dan dianggukkan oleh semua
sumoy dan sutenya, termasuk juga oleh Koay Ji yang sedikit
banyak sudah memperoleh gambaran tentang hal itu. Tentang
persaudaraan para suadara seperguruannya.
Jit Yang Sin Sian berhenti sejenak untuk memandangi wajah dan
mata semua sute dan sumoynya, dan setelah beberapa saat,
akhirnya terdengar dia kembali bersuara untuk hal yang lain. Hal
yang justru sangat penting dan harus mereka percakapkan
sebagai satu keluarga perguruan:
“Para Sute dan Sumoy,,,,, pertemuan kita malam ini merupakan
pertemuan awal sesama saudara seperguruan. Tetapi,
pertemuan ini akan menentukan apakah kita akan kembali
1678
bertemu bahkan secara lengkap dengan meminta kehadiran Sam
Sute dan Chit Sute ataukah tidak. Siauw Sute, dalam surat yang
ditulis oleh Insu memang menyinggung tentang satu persoalan
yang mengganjal dan bisa membuat semua kehidupan normal
kita selama ini berubah total. Sebagai sebuah contoh, bukan tidak
mungkin kehidupanku yang tenang selama ini akan berubah
seratus delapan puluh derajat. Hal yang sejujurnya tidak ingin
kulakukan, tetapi demi kepentingan bersama kita selaku satu
perguruan, mau tidak mau tetap harus kulakukan. Siauw Sute,
untuk tidak terlampau menghabiskan waktu dalam bercakapcakap
seperti ini, maka biar kukatakan saja apa yang dituliskan
oleh Insu,,,,,,,,, menurut dia orang tua, engkau akan membawa
sesuatu yang perlu kuuji dan jika memang terbukti, maka aku
akan menceritakan secara ringkas satu kisah tua dan sudah
dilupakan banyak orang. Tapi mari kita mulai dengan sesuatu
yang mungkin engkau bawa itu......”
Jika Tiat Kie Bu dan Pek Sim Nikouw memandangnya dengan
penasaran, maka Siau Ji Po dan Oey Hwa nampak tenang-tenang
saja karena sepertinya memang sudah tahu. Awalnya Koay Ji
sendiri juga tercengang dan kaget, bagaimana bisa Suhunya yang
jauh di Thian Cong San mengetahui apa yang akan dan sedang
terjadi di Kiu Boa San ini? atau apa yang dikerjakannya selama di
1679
Kota Liang Ping dan Cing Peng? Tetapi meski dia bertanya-tanya,
Toa Suhengnya sudah berbicara tentang hal tersbut. Dan
memang, merupakan salah satu tujuannya menuju Kiu Boa San
justru adalah untuk bertanya kepada sang Toa Suheng tentang
sebuah benda yang dia tahu menyimpan rahasia besar. Karena
berpikir demikian, maka Koay Jie kemudian berkata sekaligus
bertanya:
“Toa suheng dan para suheng, suci, sebetulnya kehadiran tecu
disini adalah selain memberitahu maksud dan undangan Sam
Suheng, juga sekaligus ingin melakukan dua hal lainnya. Karena
menurut Bun Siok Han Sutit bahwa Toa Suheng sedang dalam
keadaan sakit parah, maka ingin sekali tecu memeriksa dan
mengobati Toa Suheng. Karena obat mujijat yang kukirimkan
melalui Toat Suheng hanya berfungsi untuk memperkuat daya
kemampuan toa suheng untuk sebulan, jika tidak diobati lebih
jauh maka penyakit itu akan bisa datang kembali dengan lebih
kuat dan lebih parah lagi. Penyakit Toa Suheng sendiri belum lagi
dapat kupastikan apa, tetapi dari pendengaranku melalui kisah
Bun Sutit, kemungkinan besar bersarang di tan tian atau
tersumbatnya sejumlah jalan darah penting. Harus kulakukan
penelitian lebih jauh secara langsung untuk memastikan
dugaanku dan baru dapat mengobatinya secara tuntas....” Koay
1680
Ji berkata dengan suara jernih dan dapat dimengerti semua
orang, termasuk terutama Toa Suhegnya.
“Hmmmm, terima kasih atas perhatianmu Siauw Sute, keadaan
dan kondisiku yang sakit memang benar, setelah memakan
obatmu rasanya banyakan lebih baiknya. Tetapi, sesekali
memang masih terasa ada sesuatu yang sangat-sangat tidak
menyenangkan, namun mengetahui engkau akan datang
membuat sudah membuat Toa Suhengmu merasa sangat tenang
saat sejak saat itu. Apalagi setelah kini engkau sudah datang.
Tetapi, persoalan kesehatanku dapat kita tunda lebih dahulu
pembahasannya, karena bila memang benar, maka masalah
terakhir yang ingin engkau ketahui, sangat erat bersangkutan
dengan sebuah sejarah besar yang akan melibatkan kita semua.
Tetapi, masalah besar itu justru tidaklah diketahui orang orang
Rimba Persilatan Tionggoan.......”
“Baiklah Toa Suheng, terserah kebijaksanaan Toa Suheng
sajalah. Hal kedua yang membuatku penasaran bertemu Toa
Suheng adalah mengenai sebuah benda yang pernah kubaca
dalam sebuah Kitab Pusaka yang berusia sudah amat lanjut dan
juga ditulis dalam bahasa asing, yakni bahasa sansekerta. Nama
pusaka itu adalah Guci Perak, Gin Cui Ouw. Pusaka ini jarang
sekali dikenal di Tionggoan karena memang aslinya adalah
1681
pusaka dari Negeri Thian Tok dan entah bagaimana, Toa Suheng
mengetahui rahasia pusaka tersebut menurut penuturan Bun
Sutit. Padahal dalam pengetahuanku, benda tersebut belum
munculkan dirinya di Tionggoan, tapi atas kisah Bun Sutit, tecu
merasa curiga, jangan-jangan Toa Suheng mengetahui kisah
lebih jauh tentang pusaka itu. Itulah sebabnya benda itu kupinjam
dari Hek It Kaucu, tetapi entah mengapa tiba-tiba Kaucu itu justru
menghadiahkannya kepada tecu dan benda itu sekarang berada
di tanganku.... Apakah benda itu benar Guci Perak yang mujijat
atau tidak, sungguh menggelisahkanku, karena tidak atau belum
ada kisah benda itu masuk ke Tionggoan, sementara benda yang
ditanganku, sudah bisa kupastikan adalah GUCI PERAK”
“Haaaa,,,,, benar-benarkah engkau memiliki benda itu Siauw
Sute,,,,,,”? tanya sang Toa Suheng, Jit Yang Sin Sian dengan
kening berkerut. Terkejut entah senang entah gelisah, entah apa
perasaan yang terkandung dalam hatinya sesungguhnya. Koay Ji
sulit menafsirkannya.
Tanpa berbicara panjang, Koay Ji kemudian mengeluarkan benda
kecil, sekecil kepalan orang dan berbentuk sebuah guci kecil.
Tetapi, yang membuat Koay Ji dan juga para suheng dan sucinya
kaget adalah, guci kecil itu bersinar perak dan dalam pandangan
Koay Ji jauh lebih gemilang ketimbang pertama kali memegang
1682
dan juga menerima guci tersebut. Untuk memastikannya, diapun
meneliti ulang guci kecil itu dan mendapati, betapa bersihnya dan
betapa gemilangnya warna guci itu sekarang dalam warna aslinya
PERAK. Kekagetan Koay Ji beda dengan para suheng dan
sucinya, karena dia kaget oleh sebab semakin bercahaya dan
semakin gemilangnya warna yang dipancarkan guci itu.
“Toa Suheng, inilah Guci Perak itu.......” berkata Koay Ji sambil
mengantarkan guci kecil bercahaya perak itu kepada Toa
Suhengnya yang menerimanya dengan amat berhati-hati dan
memandanginya. Tidak lama kemudian sang Toa Suheng, Jit
Yang Sin Sian (Dewa Sakti Jit Yang) Pek Ciu Ping terlihat
mengangguk-angguk dan wajahnya berubah agak lebih tegang
dari biasa. Hal yang membuat Koay Ji menjadi terperanjat. Ada
apa gerangan?
“Toa Suheng, ada apa gerangan.....”? Pek Sim Nikouw yang agak
teliti juga menjadi curiga melihat tanda-tanda kurang baik dalam
sinar mata Jit Yang Sin Sian ketika tadi mengangguk namun
matanya bersinar tegang. Pertanyaan Pek Sim Nikouw
menyadarkan semua orang, termasuk juga Koay Ji jika memang
benar, ada sesuatu yang menarik dari sikap sang Toa Suheng.
1683
“Toa Suheng,,,,,, bisakah engkau menjelaskan mengapa engkau
terlihat sedikit agak tegang ketika memegang Guci Perak itu......”?
Siau Ji Po ikut bertanya ketika melihat sang Toa Suheng
menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mendapatkan pertanyaan dari kedua sute dan sumoynya, Jit
Yang Sin Sian terlihat kembali mencoba menguasai dirinya.
Pertama dia memandang Koay Ji dan diapun kemudian bertanya
dengan suara kembali tenang:
“Siauw Sute, tahukah engkau khasiat dari Guci Perak ini dan
caranya untuk dapat memastikan bahwa benda ini asli......”?
bertanya Jit Yang Sin Sian langsung kepada Koay Ji dan memuat
smeua saudara seperguruan mereka tertarik perhatiannya dan
kini balik memandang Koay Ji.
“Toa Suheng, benda ini, Guci Perak ini memiiki khasiat yang luar
biasa. Jika air yang direndam sehari dan semalam maka akan
dapat memulihkan luka-luka fisik, luka akibat racun ringan
termasuk juga mengembalikan kebugaran. Jika direndam dua hari
dan dua malam, maka dapat mengembalikan kebugaran karena
keletihan melatih tenaga iweekang, bahkan sekaligus juga dapat
menyembuhkan iweekang yang terguncang serta luka akibat
racun yang agak berat. Dibutuhkan waktu tiga hari tiga malam
1684
merendam air dalam guci untuk menyembuhkan luka-luka
iweekang yang sangat parah, termasuk gejala tersesat dalam
melatih iweekang. Tiga hal ini yang paling penting, karena
setelahnya dibutuhkan waktu setengah tahun untuk dapat
membantu latihan iweekang, dan waktu setahun untuk
mendatangkan efek awet muda. Tentu saja fisik sebagaimana
saat meminum air dalam Guci sangatlah menentukan hasilnya,
jika seorang nenek meminumnya, maka awet muda yang
didapatkannya ada dalam kondisi sebagai seorang nenek, beda
dengan seorang Nona yang akan mendapat efek sebagai gadis
muda jika meminum air pusaka yang direndam dalam guci ini.
Hanya itu yang dapat kukatakan Toa Suheng sesuai dengan apa
yang dicatat Kitab Pusaka itu......”
“Accchhhh sungguh hebat jika demikian, tetapi tahukah engkau
keaslian dari Guci Perak itu..... dengan kata lain, asli atau
palsukah benda itu....”? tanya Oey Hwa yang ikut tertarik
mendengar kisah Guci Perak
“Oey Suci, kupastikan Guci Perak ini asli........” tukas Koay Ji
“Apa,,,, engkau berani memastikan Guci itu asli Siauw Sute....?
bagaimana engkau berani memastikan Guci itu asli”? tanya Jit
1685
Yang Sin Sian kembali kaget dan tegang entah apa sebab dia
menjadi tegang.
“Para Suheng dan Suci,,,,, Guci ini kusimpan dalam saku dan
dalam keadaan buram dan kotor. Sekali pernah kutunjukkan
kepada Siau Suheng dan Oey Suci suami-istri waktu itu, dan jika
tidak keliru warnanya saat itu amat rada buram dan sedikit pudar
dan jauh berbeda keadaannya seperti sekarang ini. Sekali pernah
kucoba untuk membuktikan keaslian benda pusaka ini, yakni
merendam air selama semalam untuk menyegarkan fisikku
setelah mengobati murid si Rase Tanpa Bayangan. Dan ternyata
memang benar, semangat dan keadaan fisikku dapat kembali
segar setelah minum air yang direndam semalam dalam guci
perak ini......”
Terlihat Oey Hwa dan Siau Ji Po mengangguk-angguk
membenarkan kisah Koay Ji. Karena memang merekapun tidak
terlampau berminat dengan kisah mengenai Guci Perak itu, meski
Koay Ji pernah menunjukkan benda buram dan tidak menarik itu
kepada mereka berdua. Melihat keduanya mengangguk tanda
setuju, Jit Yang Sin Sian, Tiat Kie Bu dan Pek Sim Nikouw kembali
memandang Koay Ji siap sedia untuk mendengar kelanjutan
kisah itu. Dan Koay Ji kemudian melanjutkan penjelasannya
mengenai Guci Pusaka itu:
1686
“Bukti lainnya yang membuat tecu merasa yakin ini asli adalah,
karena saat hendak mengobati cucu Siau Suheng dan Oey Suci,
pernah sakuku kecipratan air cukup banyak. Yakni ketika
bersama Oey Suheng kami mencari Siput Cangkang Ungu untuk
mengobati cucunya yang sakit keracunan. Jubahku waktu itu
terkena air cukup banyak, tetapi tanpa setahuku ternyata air
merupakan sesuatu yang amat dekat dengan guci itu. Dan baru
kuingat, untuk mencuci dan membersihkan guci itu cukup dengan
merendam dalam air sekejap saja, dan Guci itu akan
membersihkan dirinya sendiri. Begitu menurut Kitab Pusaka yang
kuingat belakangan. Namun, pengetahuan itu, khusus mengenai
kemujijatan Pusaka ini sebagaimana kukatakan tadi pernah
kucoba karena air yang harus direndam haruslah air yang khusus,
bukan air yang sudah dimasak, bukan air sungai, tetapi air yang
terdapat dalam perut bumi. Air itulah yang dapat berubah atau
dirubah menjadi air mujijat oleh Guci Perak dan bukan
sembarangan air. Karena itu sudahlah dapat kupastikan jika Guci
Perak ini asli dengan khasiat yang kujelaskan berdasar atas
tulisan dalam Kitab Pusaka yang kubaca dahulu pada masa
belajarku.......”
“Hmmmm, cukup jelas jika demikian. Kita semua dapat
mengujinya sekali lagi kelak. Tetapi, penjelasan Siauw Sute
1687
sudah membuatku yakin jika Guci Perak ini asli, dan jika asli,
maka kita harus segera bergegas menuju ke Thian Cong San
karena Insu dan kita semua perlu membicarakan sebuah
persoalan masa lalu yang terkait dengan perguruan kita, bakan
terkait sukong dan juga sukouw kita....”
Mendengar penjelasan Jit Yang Sin Sian yang terakhir, semua
tercengang dan kini sadar mengapa Toa Suheng mereka setiap
kali menyinggung keaslian Guci Perak itu selalu terlihat tegang.
“Toa Suheng, dapatkah engkau menjelaskan lebih jauh lagi......”?
terdengar Tiat Kie Bu yang tadianya lebih banyak berdiam diri, kini
justru bertanya dengan nada suara penasaran yang tak dia
sembunyikan lagi. Bahkan dia memandang toa suhengnya
dengan sorot mata penasaran.
“Hmmm, kalian semua tentu ingin tahu mengapa ini berhubungan
dengan perguruan kita bukan. Bukankah demikian para sute,
sumoy......”? pertanyaan Jit Yang Sin Sian ini dijawab dengan
anggukan kepala oleh semua sute dan sumoynya. Dan karena itu,
tanpa menunggu lama Jit Yang Sin Sian melanjutkan
penjelasannya:
1688
“Karena Guci Perak ini berhubungan dengan tiga tokoh
berkepandaian setingkat Suhu dan mungkin saat ini, Lam Hay
Sinni sukow sudah dapat menyusul dan mensejajarkan dirinya
menurut ramalan Suhu. Dapat kalian bayangkan jika muncul 3
tokoh setingkat kepandaian Suhu yang kepandaiannya jelas
masih mengatasi kepandaian seorang Pek Kut Lodjin bukan?
Artinya, mereka bakalan menghadirkan potensi bencana lebih 3
kali lipat dibanding dengan seorang pek Kut Lodjin. Karena
mereka bertiga dengan terpaksa dikurung oleh Sukong (Kakek
Guru) kita ketika kalah bertaruh, atau tepatnya mereka dapat
dikalahkan satu persatu oleh Kakek Guru kita. Kekalahan yang
membuat mereka diikat untuk mengundurkan diri dari dunia ramai
selama 75 tahun. Tetapi, jika Guci Perak muncul, maka berarti
karena kehendak alam mereka bertiga akan munculkan diri
karena terbebas dari janji mengundurkan diri selama 75 tahun.....
Jika mereka sampai munculkan diri, maka sasaran mereka sudah
pasti adalah Thian Cong Pay dan Laut Selatan........ nach, dapat
kalian bayangkan masalahnya...”? dan belum lagi semua sute dan
sumoynya bereaksi, Jit Yang Sin Sian sudah melanjutkan:
“Khusus untuk engkau Siauw Sute, Insu sudah memesan, bahwa
kelak yang akan mewakili SUHU dalam urusan kepandaian silat
adalah engkau seorang. Setiap tantangan adu kepandaian yang
1689
ditujukan kepada Insu, adalah engkau yang mesti menampilkan
diri. Tapi, yang harus memimpin perguruan kita menghadapi
ancaman musuh hingga urusan ini berakhir, adalah toa suhengmu
ini, atau dengan kata lain, kita semua harus bersatu padu untuk
menghadapi ancaman maut atas perguruan kita. Pada saat yang
sama, meski kita butuh Sam Sute, tetapi urusan dan tugasnya
sebagai bengcu, tidak boleh kita recoki.....”
“Ach, toa suheng......” jerit Koay Ji tidak percaya
“Siauw Sute,,,,,,,,, kemampuanmu sudah diketahui kami semua,
Insu bahkan tidak menyembunyikan kenyataan ini dari kami
semua. Surat Insu menjelaskan soal bakat serta kemampuanmu,
juga ketulusan hatimu selama dalam pendidikan Insu. Karena itu,
Insu mempercayakan kebesaran namanya untuk engkau pikul
dan engkau jaga dengan segala daya dan kemampuanmu.
Bahkan menurut Insu, kemampuamu saat menghadiri pertemuan
kita hari ini, sudah sedikit melampaui kemampuannya saat
mengalahkan Pek Kut Lodjin puluhan tahun silam. Jadi, tidak ada
alasan dan tidak ada rasa cemburu dari kami semua para suheng
dan sucimu, karena kemajuanmu memang diperoleh secara tidak
masuk akal. Terlebih karena Bu Te Hwesio ternyata juga ikut
mendidikmu dan secara ajaib membaurkan dua iweekang mujijat
kedalam dirimu. Dengan kata lain, engkau sekarang memikul
1690
tanggungjawab dari dua nama besar Dewa Tionggoan yang amat
sangat dihormati orang-orang itu. Saat ini toa suhengmu dan
semua suheng dan sucimu siap mendukungmu, pertama karena
Insu meminta ini semua sebagai bakti kami kepadanya. Dan
kedua, karena kami semua dapat melihat jelas kesungguhan dan
perbuatanmu yang tanpa pamrih, hal yang juga dengan sangat
jelas, terang dan tegas sudah dituliskan oleh Sam Suhengmu dan
juga Chit Suhengmu......”
“Ach, Toa Suheng, Insu sungguh memberiku pekerjaan yang tak
tertanggungkan. Sutemu masih terlampau muda, masih amat
kurang pengalaman. Tapi jikapun harus memikul nama besar
Insu, pastilah dengan taruhan nyawa akan sutemu lakukan. Toa
Suheng boleh katakan apa yang harus kulakukan, maka pasti
akan kulakukan dengan penuh rasa tanggungjawab......”
“Siauw Sute, bukan hanya engkau seorang, kita semua menerima
perintah Insu, satu satunya perintah yang pernah dia orang tua
keluarkan dan itu berarti WAJIB. Karena sebelumnya, belum
pernah sekalipun Insu mengeluarkan perintah seperti ini bagi Toa
Suhengmu dan bahkan semua Suheng dan Sucimu..... tetapi,
menghadapi badai yang berkaitan dengan Guci Perak, ternyata
Insu mengeluarkan perintah yang wajib bagi kita semua. Karena
itu, malam ini kita akan melakukan persiapan dan dalam dua atau
1691
tiga hari kemudian kita semua akan berangkat menuju ke Gunung
Thian Cong San. Karena Insu meminta kita semua berkumpul di
Markas Perguruan Thian Cing Pay, dekat dengan Gua
Pertapaannya. Disana Insu menyiapkan perintah lebih jauh
kepada kita semua, dan untuk pertama kalinya Toa Suhengmu
yang sudah tua ini akan memimpin semua adik seperguruannya
guna menjaga sekaligus memasyurkan nama perguruan kita......”
“Tapi Toa Suheng........ engkau, kondisimu,,,,”
“Aku tahu, engkau pasti mengkhawatirkan kesehatanku..... jangan
khawatir Siauw Sute, kita dapat gunakan Guci Perak dan itu
adalah tugasmu. Kudengar engkau juga adalah seorang Tabib
yang istimewa, maka buat apa lohu memiliki adik seperguruan
yang merupakan Tabib Dewa jika menakutkan kesehatan
sendiri....”?
Koay Ji menjadi malu sendiri. Padahal kekawatirannya tadi
sungguh-sungguh dan bukannya untuk sekedar cari nama atau
cari perhatian dihadapan Toa Suhengnya itu. Karena itu diapun
berkata:
“Accch, Toa Suheng, engkau sungguh-sungguh mengerjai
sutemu ini.....”
1692
“Hahahahaha, Siauw Sute, engkau terlampau serius. Mana bisa
kami para suheng dan sumoymu khawatir lagi jika memiliki
seorang sute dengan kemampuan dalam pengobatan sehebat
dirimu.....? Toa Suhengmu bukan mempermainkanmu, tetapi
menegaskan betapa kami semua kini sangat mengandalkanmu.
Engkau sudah boleh menyiapkan obat untuk menyembuhkanku,
carilah Siang Ji, karena dia pasti tahu dan akan bersemangat
untuk membantumu. Buatnya akan mudah menemukan dimana
gerangan mendapatkan air di dalam perut bumi, karena dia
memiliki beberapa teman yang bisa menolongnya dengan cepat
menemukan air yang berada tepat di bawah goa toa suhengmu
ini....”
“Ach, baiklah Toa Suheng...... sutemu akan segera
menyiapkannya....” berkata Koay Ji dengan gembira dan begitu
Jit Yang Sin Sian mengiyakannya, diapun keluar dari ruangan itu
mencari Bun Kwa Siang. Dan begitu Koay Ji keluar dengan
gembira hati, Jit yang Sin Siang menarik nafas panjang sambil
bergumam dengan didengarkan oleh semua Sute dan Sumoynya:
“Insu sungguh bermata amat tajam, anak ini memang sangat
polos. Dan hatinya sungguh amat baik, lihat dia amat
memperhatikan keselamatan kita semua selaku saudara
seperguruannya. Sam Sute sungguh beruntung, jika masih
1693
memungkinkan akupun ingin mengangkatnya menjadi anak
angkatku.......” desis Jit Yang Sin Sian yang dibenarkan oleh adik2
seperguruannya.
“Acccch, sesungguhnya kamipun sudah menganggapnya seperti
anak sendiri Toa Suheng, apa yang dia lakukan untuk cucu kami
serta anak menantu kami sangatlah mengharukan. Mati-matian
dia menjaga nama baik kami dengan tidak sedikitpun
mempermalukan nama besar kami, setelahnya dia
memperdamaikan kami dengan semua perguruan di Kota Liang
Ping, dan masih datang mengobati cucu dan anak kami.
Bagaimana kami tidak jatuh sayang kepada Siauw Sute kita
itu....”? berkata Siau Ji Po sambil dibenarkan oleh Oey Hwa.
“Amitabha, Accchhh, biasanya engkau agak pelit untuk mengasihi
orang lain Hwa Moi,,,,,, Siauw Sute sungguh beruntung memiliki
backing seperti engkau...” berkata Pek Sim Nikouw setengah
mengolok.
“Acccchh, engkau Pek Suci, sudah menjadi Nikouwpun engkau
masih selalu merasa sentimen denganku... hikhikhik, hati-hati,
nanti kelak upahmu di akhirat bakalan akan berkurang sangat
banyak.....” balas Oey Hwa. Keduanya memang terkenal sangat
dekat jika berjauhan dan slaing merindukan, tetapi jika dekat
1694
paling gemar saling olok-olokan satu dengan yang lain. Siau Ji Po
dan Tiat Kie Bu hanya saling pandang melihat kedua suci dan
sumoy mereka kembali ke kebiasaan lama.
Jit Yang Sin Sian membiarkan kedua sumoynya saling ledek
untuk mengenang lagi masa-masa lalu dan masa belajar mereka
dengan Suhu mereka. Meskipun dia tidak sangat lama tinggal dan
berlatih bersama kedua sumoynya seperti Ji Sute dan Su Sutenya
karena keburu disuruh turun gunung, tetapi didikan Suhu mereka
membuat semua mereka merasa saling sayang dan saling hormat
menghormati satu dengan yang lain. Bahkan, ketika mereka
masing-masing sudah turun gunung dan mulai menentukan
tempat tinggal masing-masing, merekapun mengikuti saran yang
oleh Suhu mereka pesankan dengan berkata:
“Jika kalian semua bertahan hidup untuk berdekatan, maka
kemungkinan bentrok satu dengan yang lain sangat besar. Tetapi,
jika kalian tinggal dan hidup berjauhan, maka kasih antar saudara
seperguruan akan terbina dan langgeng, kalian akan selalu saling
merindukan. Tetapi, kelak, itu adalah keputusan kalian masingmasing
dan sesuaikan dengan tuntutan kehidupan kalian pada
saatnya nanti,,,,,,”
1695
Dan memang itulah yang dijalani Jit yang Sin Sian Pek Ciu Ping.
Setelah berkelana selama puluhan tahun, dia akhirnya
memutuskan diri untuk mengikuti jejak Suhunya menjadi seorang
pertapa dengan mengangkat dua orang pemuda menjadi murid
pewarisnya. Tepatnya, mengangkat mereka berdua sebagai anak
angkatnya, bukan hanya melatih mereka dalam Ilmu Silat, tetapi
mendidik mereka dalam tata krama kehidupan yang
mengutamakan kegagahan. Begitu juga dengan Tiat Kie Bu dan
Pek Sim Nikouw yang punya kisahnya sendiri, serta Siau Ji Po
yang memang sudah menjalin kasih sejak lama dengan Oey Hwa.
Tetapi kini, mereka semua terhadap panggilan perguruan, harus
kembali ke Thian Cong San, bahkan sang Toa Suheng sendiripun
memutuskan akan membawa serta Bun Kwa Siang dan Bun Siok
Han ke Thian Cong Pay. Untuk sementara Gua tempat tinggalnya
akan ditinggalkan dahulu dan kelak akan kembali melanjutkan
pertapaannya di tempat yang sudah terlanjur dia sukai dan cintai
itu.
“Toa Suheng, bagaimana sebenarnya keadaanmu saat ini....”?
terdengar Tiat Kie Bu bertanya kepadanya, karena dialah yang
membawa obat mujijat titipan Koay Jie yang waktu itu dalam
samaran sebagai Thian Liong Koay Hiap.
1696
“Ji Sute, sejujurnya keadaanku baik-baik saja, tetapi penjelasan
Siauw Sute tadi memang tepat sekali. Akupun merasakan betapa
keadaan dan pusat pengerahan kekuatanku rada terganggu dan
sejak pagi tadi, aku mengalami saat sesekali dimana amat sulit
untuk menyalurkan iweekangku. Siauw Sute kita memang bukan
orang sembarangan Ji Sute,,,, tak kuragukan itu......”
“Toa Suheng,,, aku tak meragukan siauw sute kita, bahkanpun
murid Si Rase Tanpa Bayangan dengan upaya yang tidak mainmain
sedang dia sembuhkan ketika kami datang kemari. Apalagi
engkau yang menjadi Toa Suhengnya, jujur kusaksikan betapa
dia sangat gelisah dan ingin secepatnya mengobatimu. Kurasa
tanpa Guci itupun dia memiliki keyakinan untuk
menyembuhkanmu......”
“Tak kusangsikan penjelasanmu Ji Sute, karena bahkan Ngo Sute
sekalipun punya kisah yang sama ketika cucunya disembuhkan.
Jika waktu kita panjang, Jie Sute, Ngo Sute, tidak mesti kita buruburu,
kalian tahu sendiri, Insu tidak pernah begini formal dan rumit
memberi kita pesan. Bahkan nyaris dia tidak memberi kita
perintah untuk perguruan kita, kecuali untuk hal yang satu ini.
Itulah sebabnya, tanda hormat kita kepada Insu, kita perlu
secepatnya mencapai Thian Cong Pay guna memastikan kita
mengerjakan perintah Insu secara cepat dan tepat.....”
1697
“Engkau benar Toa Suheng,,,,, kita memang harus cepat
mencapai Thian Cong Pay. Entah mengapa, mendapatkan
perintah Insu membuat kami suami-istri merasa agak gembira,
karena sepertinya kami dapat sedikit saja membayar kebaikan
dan budi Insu yang menggunung bagi kehidupan kami.......”
Sebulan lebih sudah berlalu sejak Bu San (Koay Ji atau juga Thian
Liong Koay Hiap) yang ikut dengan Tek Ui Sinkay pergi
meninggalkan Benteng Keluara Cu. Artinya, sudah sebulan lewat
sejak perayaan Ulang Tahun tokoh bernama Poen Loet Kiam Kek
(Jago Pedang Pengejar Guntur) Hu Sin Kok yang ke 75. Setelah
sebulan berlalu, kini tinggal Hu Sin Kok bersama saudara
angkatnya Kim Shia (si sesat bercahaya emas) Sam Kun yang
masih berada di benteng Keluarga Hu. Selain mereka berdua
tentu saja masih tinggal disana sekitar 40-an penghuni Benteng
Keluarga Hu yang memang tinggal bersama bekas Bengcu
Tionggoan itu. Jika hari-hari sebelumnya Benteng Keluarga Hu
pasti ramai dikunjungi tokoh-tokoh dunia persilatan, maka hari
hari setelah dia melepaskan jabatan itu, Benteng Keluarga Hu
mendadak menjadi lebih sepi dan kini jarang dikunjungi orang.
Bahkan, karena kesibukan untuk menghadapi Bu Tek Seng Pay,
Benteng Keluarga Hu banyak ditinggal tokoh-tokoh mereka.
Seperti anak Hu Sin Kok sendiri, yakni Hu Sin Tiong yang berjuluk
1698
Pat Ciu Thian Cun (Malaikat Tangan Delapan) bersama istrinya
yang adalah tokoh Hoa San Pay, yaitu Hoa San Sian Li Kho Sian
Lian sudah meninggalkan Benteng untuk bergabung dengan para
pendekar. Selain itu, putri bungsunya Hu Wan Li juga keluar
berkelana guna mencari suaminya Koay Ciu Su Seng (Si Pelajar
Tangan Aneh) Oh Ci Hui yang entah mengapa sudah setahun
lebih tidak mengirim kabar. Bahkan dalam acara Ulang Tahun
Ayah Mertuanya juga tidak kelihatan batang hidungnya. Karena
rengekan anak tunggal mereka, Oh Kun, maka Hu Wan Li turun
ke gelanggang dan mengikuti toakonya Hu Sin Tion untuk
berkelana sekaligus mencari jejak dimana suaminya berada.
Jadinya yang tertinggal adalah putri keduanya Hu Sian Li dan
suaminya Kwee Hok bersama putri tunggal mereka Kwee Lan,
kemudian putra tunggal Hu Wan Li bernama Oh Kun, dan kedua
anak Hu Sin Tiong, masing-masing Hu Kong dan Hu Lan. Sejak
mundur sebagai bengcu, adalah ketiga anak dan menantunya itu
yang memang menjadi Pengurus Benteng Keluarga Hu dan yang
sekaligus menemani Hu Sin Kok. Selain itu, tentu saja saudara
angkatnya Kim Shia (Si Sesat Bercahaya Emas) Sam Kun masih
tetap ada dan menemani bekas Bengcu yang kini entah mengapa
sudah mulai merasa kesepian itu. Maklum, diusia yang semakin
tua dan telah melepaskan jabatan, sudah semakin jarang orang
1699
yang datang mengunjungi dan bercakap-cakap dengannya.
Berbeda dengan hari hari sebelumnya yang amat ramai dan
sangat penuh warna.
Tetapi, bukan berarti semangat tokoh tua yang terkenal cerdik ini
sudah habis sama sekali. Memang benar, kepandaian silatnya
tidaklah sangat menonjol, tetapi dalam hal kecerdikan, dia
sangatlah termasyur dan amat disegani baik oleh kawan maupun
juga lawan-lawannya. Itu sebabnya, meski sudah mengundurkan
diri, tetap saja Hu Sin Kok punya keinginan yang amat besar untuk
memberikan bantuannya kepada kawan-kawan rimba persilatan
Tionggoan. Terlebih karena dia sangat paham dan tahu, saat ini
mereka sedang menghadapi ancaman besar dari Bu Tek Seng
Pay. Dan untuk maksud itu, setelah beristirahat secukupnya
selama sebulan terakhir dengan hanya ditemani putri dan
menantunya serta juga saudara angkatnya, Hu Sin Kok sedang
bersiap-siap untuk kembali melakukan perjalanan. Kepada Sam
Kun dia berkata dengan suara penuh semangat:
“Kita harus membantu mereka, dan mudah-mudahan sekalli ini,
benar-benar akan menjadi perjalanan terakhirku di dunia
persilatan”
1700
Perkataan yang dianggukkan dengan senyum oleh Sam Kun yang
sangat kenal dan tahu gelora dalam jiwa saudara angkatnya ini.
Dia paham benar, Hu Sin Kok tidak akan dapat hidup dan tinggal
tenang disatu tempat jika mendengar ada kejadian yang
mengguncang dan membutuhkan bantuan pikirannya. Jiwa dan
hidup saudara angkatnya itu memang sejak jauh-jauh hari sudah
diabdikan untuk keselamatan dan keamanan sesama Pendekar
Rimba Persilatan Tionggoan. Pemahaman itulah yang membuat
Sam Kun hanya tersenyum maklum dengan gumaman Hu Sin
Kok, sang Pendekar Tua yang sudah dimakan umur tetapi masih
tetap bersemangat. Tetapi, semangat dan pengorbanan Hu Sin
Kok itu pula yang membuat Sam Kun tertarik dan rela mengabdi
kepada Hu Sin Kok. Bukannya diterima sebagai PELAYAN, tapi
Sam Kun justru diperlakukan seperti saudara sendiri oleh Hu Sin
Kok meski tahu dia adalah bekas penjahat yang bergelimang
darah.
Sebetulnya, pada saat itu, selain Hu Sin Kok dan Sam Kun, juga
ada dua tokoh lain yang masih berada di Benteng Keluarga Hu.
Mereka adalah Khong Yan dan Tio Lian Cu yang selama sebulan
terakhir memang meminjam ruang rahasia milik Hu Sin Kok untuk
berlatih. Adalah Bu Tee Hwesio sendiri, Suhu dari putra
sulungnya yang justru mengajukan permohonan itu kepadanya
1701
secara langsung. Bahkan dengan disertai oleh seorang sesepuh
Hoa San Pay yang juga sangat dikenalnya dan punya nama yang
juga sangat harum dan cemerlang. Sama harum dan sama
tingkatannya dengan suhu putra sulungnya itu. Dan karena itu,
dengan tidak berpikir panjang, Hu Sin Kok menyerahkan dua
ruangan yang adalah Ruang Rahasia bagi Benteng Keluarga Hu
untuk tempat kedua anak muda itu berlatih. Menjadi lebih penting
lagi, karena ternyata kedua anak muda itu sedang disiapkan Bu
Tee Hwesio dan dan Thian Hoat Tosu untuk melawan tokoh tokoh
sesat berkepandaian tinggi. Semangat kepahlawananya
langsung membuncah tinggi dan dengan rela hati dia menyiapkan
semua hal untuk membantu latihan dari Tio Lian Cu dan juga
Khong Yan selama kurang lebih sebulan.
Dan kini, tidak terasa sebulan sudah berlalu. Sebetulnya Khong
Yan sudah terlebih dahulu menyelesaikan samadhi dan
latihannya, nyaris setengah hari lebih cepat daripada Tio Lian Cu.
Bukan apa-apa, karena sebetulnya aliran perguruannya lebih
dekat dengan Sie Lan In, bahkan sama-sama beraliran Budha.
Yang membuat Bu Tee Hwesio masih belum mampu menemukan
formula sebagaimana Lam Hay Sinni menemukannya dan tidak
perlu menghabiskan waktu dan mengorbankan tenaganya adalah
karena hal sepele. Lam Hay Sinni berlatih terus menerus guna
1702
menemukan dan sekaligus juga menyempurnakan formula latihan
berdasarkan ilmu yang mereka bertiga pahami dan latih bersama.
Sementara Bu Tee Hwesio lebih sibuk berkelana bahkan
belakangan mengankat murid dan melatih Koay Ji serta Khong
Yan menjadi murid-muridnya yang terakhir. Sementara Thian
Hoat Tosu sedang sibuk dengan Kitab Mujijat perguruannya,
selain memang, meski yang paling tua tetapi bukanlah berasal
dari jalur iweekang Budha.
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita PANL ke 11 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments