Cerita Romantis Terbaik PANL 2

Cerita Romantis Terbaik PANL 2
baca juga
-----
Selama setahun terakhir, hampir tak ada llmu baru yang dikuasai
Koay Ji, dan karena itu dia menjauhkan rasa curiga Cu Pangcu
kepadanya. Tetapi, kecurigaan muncul lagi ketika suatu saat dia
dipanggil Cu Pangcu atas usul Ang Sinshe. Bukan apa-apa, pada
saat itu Ang Sinshe kebingungan untuk menentukan penyakit apa
gerangan yang diderita oleh adik Cu Yu Hwi yang bernama Cu Yu
Tek. Sepulang bertugas ke kota Liok yang, Cu Yu Tek jatuh sakit
dan sudah 5 hari terakhir ditangani Ang Sinshe namun belum juga
sembuh. Karena penasaran, hari itu Ang Sinshe meminta Cu
Pangcu guna memanggil Koay Ji membantunya.
Perkataan dan permintaan Ang Sinshe ini membuat Cu Pangcu
kaget dan terheran heran. Kecurigaannya terhadap si bocah aneh
ini timbul kembali. “Mesti ada apa-apa yang hebat dan istimewa
atas anak ini” begitu pikir Cu Pangcu. Karena berpikir demikian,
maka dengan segera diikutinya saran dan juga permintaan Ang
Sinshe untuk menghadirkan Koay Ji si bocah ajaib. Toch tidak ada
salahnya, mana tahu justru akan berhasil dengan cara itu?
“Pangcu, adakah sesuatu yang dapat kubantu ….”? tanya Koay Ji
begitu menemui Cu pangcu yang sedang bermuram durja.
103
“Bukan aku Koay Ji, tetapi Ang Sinshe memintamu membantunya
untuk memeriksa keadaan Cu Yu Tek ……”
“Ohhhh, apakah Cu Toako masih sakit Cu Pangcu ….”? tanyanya
polos
“Betul, dan Ang Sinshe masih belum mampu menyembuhkannya
…. maka Ang Sinshe memintaku untuk mohonkan bantuanmu
untuk ikut memeriksa anakku bersama Ang Sinshe, menurutnya
engkau akan sangat membantu ……”
“Ach, mana bisa aku sehebat Ang Sinshe Pangcu ….”?
“Engkau coba sajalah Koay Ji …..”
Dengan sikap apa boleh buat, akhirnya Koay Ji menuju kamar Cu
Yu Tek dan benar menemui Ang Sinshe dalam kamar itu. Melihat
kedatangan Koay Ji, Ang Sinshe terlihat gembira dan kemudian
berbisik kepadanya:
“Koay Ji, engkau bantu aku memeriksa peredaran darahnya.
Sepertinya ada sesuatu yang salah dengan peredaran darahnya
karena kondisi tubuh lainnya sebenarnya tidak terganggu. Engkau
cobalah …..”
104
Mendengar permohonan bantuan Ang Sinshe, Koay Ji yang
memang sangat taat dan sayang kepada Tabib itu sudah dengan
cepat mengangguk dan berkata:
“Baik Sinshe …..”
Dan diapun kemudian membantu Ang Sinshe dan memeriksa
peredaran darah Cu Yu Tek. Sesekali dia mengetuk pergelangan
tangan, pergelangan kaki dan sampai akhirnya menekan sesuatu
di bawah pinggang Cu Yu Tek. Tiba-tiba tubuh Cu Yu Tek
melenting dan nampak jelas jika wajahnya meringis kesakitan.
Ang Sinshe sudah paham apa yang dilakukan si bocah, keduanya
slaing pandang dan kemudian Ang Sinshe tersenyum. Si bocah
balas tersenyum dan menganggukkan kepala, maka keduanya
sudah paham apa gerangan penyakit si sakit. Setelah ketahuan
sakitnya, Koay Ji kemudian berkata:
“Sinshe, bolehkah aku pergi sekarang ……”?
Jawabannya hanya anggukan Ang Sinshe dan terbanglah si
bocah aneh keluar. Diiringi pandangan bingung Cu Pangcu dan
istrinya serta Cu Yu Hwi yang berjaga sambil menunggu kabar
keadaan si sakti. Tetapi, Koay Ji hanya bersenandung singkat
sambil menuju keluar ruangan:
105
“Sakitnya sudah ditemukan ……”
Dan sebentar saja Koay Ji sudah berada di kebun belakang,
kebun obat Ang Sinshe untuk bermain bersama Khong Yan.
Tingkahnya membuat Cu Pangcu dan Cu Yu Hwi geleng kepala
saking pusingnya. Tetapi, keduanya senang ketika memasuki
ruang si sakit, ternyata memang benar, sumber penyakit sudah
diketahui dan wajah Cu Yu Tek perlahan mulai memerah dadu.
Nyaris dengan suara tak terdengar, Cu Pangcu berkata heran dan
takjub:
“Punya kemampuan aneh seperti apa sebenarnya Koay Ji itu
…..”?
“Sudahlah Pangcu ….. kadang ada hal-hal yang sulit kita pahami
dan mengerti. Entah mengapa dan bagaimana, bocah aneh itu
justru mengajariku bagaimana mengenali peredaran darah
manusia. Dan dia tadi yang mampu mengetahui dimana letak atau
sumber penyakit Tuan Muda Cu ini …….. padahal aku yang
rendah sudah berusaha selama dua hari dua malam untuk
menemukannya. Karena itu, Cu Pangcu, biarlah kita semua
menikmati kehebatan dan keanehannya, karena selain
keanehannya, anak itu sebenarnya sangatlah menyedihkan
keadaannya …….”
106
Cu Pangcu nampak mengangguk-anggukkan kepalanya sambil
berpandangan dengan anak sulungnya Cu Yu Hwi. Memang
benar, buat apa pusing memikirkan keanehan anak itu? Bukankah
dia selama ini justru banyak membantu keluarga mereka? Dan
selain itu, memang benar, anak aneh itu sangat menyedihkan
keadaannya. Tidak atau lupa nama sendiri dan tidak tahu
darimana asal-usulnya. Entah siapa orang tua anak yang
demikian aneh dan memiliki banyak kelebihan yang mengagetkan
hati mereka. Dan kekagetan kedua orang itu tidak sampai disitu
saja, akan lebih kaget lagi kedepan depannya karena masih lama
Koay Ji bersama mereka.
Tak terasa setahun kembali berlalu. Selama setahun terakhir,
Koay Ji entah mengapa lupa atau tidak sadar, tidak lagi merasa
terlampau menderita ketika serangan PANAS dan DINGIN
kambuh. Padahal, jika serangan itu kambuh, kini jarak jangkau
panas dan dingin sudah mencapai jarak 3 meter lebih, dan
menjelang serangan tersebut yang tanda-tandanya sudah
dikenali Koay Ji, dia akan segera mencari tempat di hutan. Dan
keesokan harinya Ang Sinshe, satu-satunya orang yang tahu
dimana kini Koay Ji Samadhi, sudah siap obat-obat dan makanan.
Tetapi, pada tahun ketiga, mereka berdua kaget setengah mati,
karena radius 3 meter lebih dari Koay Ji rebahan pada gosong
107
karena panas. Tetapi bulan berikutnya, radius 3 meteran pada
muncul balok balok es yang luar biasa dinginnya. Antara kaget
dan heran, tetapi Ang Sinshe tidak dapat berbuat apa-apa.
Mungkin karena siulian atau mungkin karena obat-obat Ang
Sinshe, atau mungkin karena pengaruh hal yang lain, yang pasti
selama satu hari dan satu malam, seperti biasanya Koay Ji
terserang hawa dingin dan hawa panas bergantian. Cuma, jika
dua tahun awal dia sangat menderita, maka pada tahun terakhir
ini, penderitaannya terasa jauh berkurang dan dia mampu
melewatinya dengan tidak banyak merasa kesakitan lagi. Dalam
kondisi atau keadaan seperti ini kemudian “SUHU” yang tak
pernah nampak itu pada akhirnya muncul kembali menemuinya.
Kemunculannya persis menjelang siumannya Koay Ji di hutan
belakang, dan seperti biasanya dia menyembunyikan dirinya dari
pandangan Koay Ji yang sebentar lagi siuman:
“Koay Ji ……..” suara yang lembut tetapi sangat berwibawa ini
menyelusup masuk ke keheningan yang melingkupi Koay Ji ……..
“Engkau dengarkan dan perhatikan secara seksama ……..”
Berbeda dengan biasanya, kini ada jeda waktu yang cukup lama
dari perkataan “Suhu” tersebut, dan rupanya keadaan ini
108
membuat Koay Ji merasa sangat penasaran. Biasanya, suara itu
hanya memberi instruksi dan perintah, tidak pernah seperti
sekarang punya jeda panjang.
“Suhu ……” baru sekali ini akhirnya Koay Ji menyebut dan
memanggil si tokoh aneh dengan panggilan SUHU. Karena sejak
dua tahun terakhir mendapat bantuan serta pelajaran, dia tidak
pernah memanggil atau menyapa tokoh aneh itu. Selama ini, dia
hanya mendengar dan melaksanakan perintah itu. Tetapi, entah
mengapa, panggilan Koay Ji tidak ada respons sampai sekian
lama. Tetapi, sejauh itu, Koay Ji tetap saja dalam sikap menunggu
perintah …..
“Accccccchhhhh, bolehlah engkau memanggilku demikian. Tapi,
kita tidak memiliki waktu yang cukup banyak. Baiklah, engkau
dengarkan Koay Ji …….. menjelang pagi ini akan kujelaskan
rahasia Ilmu Pou Tee Pwe Yap Sian Kang itu. Tetapi, ingat,
jangan sekali-sekali menyebutkannya kepada siapapun. Jika
suatu saat ada yang bertanya, engkau boleh menyebutkan bahwa
engkau dibimbing melalui perintah suara tanpa membaca dan
melihat Kitab Pusaka ………. engkau paham ….”?
“Tecu berjanji Suhu ……”
109
“Bagus …….. Koay Ji …… engkau dengarkan baik-baik. Kitab
Pusaka itu adalah Ilmu Mujijat yang dicatat seorang Rahib Sakti
Setengah Dewa di daerah Thian Tok (India) sana. Sebetulnya,
Ilmu Sinkang sejenis juga dikembangkan di Siauw Lim Sie, tetapi
juga sudah jarang mampu dikuasai Ciangbundjin Siauw Lim Sie.
Ada 5 bagian utama dari Kitab Pusaka itu yang sudah engkau
kuasai teorinya dan sudah engkau hafalkan. Bagian-bagian itu
adalah; Awalnya berlatih SAMADHI atau SIULIAN, tanpa mampu
secara benar memisahkan melatih berkonsentrasi memusatkan
SEMANGAT dan HAWA, maka engkau tidak akan sanggup
melatih Ilmu Pusaka tersebut. Tetapi syukur engkau sudah
melalui tahapan dasarnya. Pusaka itu memusatkan diri pada
upaya mengumpul dan mengelolah hawa sakti melalui, Bagian
Pertama adalah MENYERAP HAWA ENERGI dan kemudian
Bagian Kedua Memperkuat Tubuh dan Organ Dalam dengan
memanfaatkan energy atau hawa tersebut. Kedua bagian utama
itu sudah engkau latih dan manfaatnya sudah engkau rasakan,
setidaknya penderitaan dan kesulitan fisiknya yang sering
sebelah badanmu memendek sudah teratasi. Bagian Ketiga
adalah Mengubah Energi dan Hawa yang diserap menjadi
kekuatan iweekang dilanjutkan dengan Bagian Keempat adalah
mengolah kekuatan iweekang itu dalam hal MENYEDOT,
MENEMPEL, MENOLAK, MENGGEMPUR. Dan Bagian Kelima
110
adalah MEMBAURKAN – Ada sama dengan tiada, tiada sama
dengan ada. Engkau sudah melatih dengan sangat baik Bagian
Pertama dan Kedua, tetapi engkau masih belum boleh melatih
bagian ketiga, karena engkau belum memiliki dasar iweekang
murni yang dapat menampung hawa mujijat yang ada dalam
tubuhmu dan selalu menyiksamu selama 3 tahun terakhir ini.
Organ tubuhmu sengaja sudah kukuatkan dengan melatih bagian
pertama dan kedua, tetapi dasar Sinkang dan Iweekangmu masih
sangat kosong. Karena itu, ingat baik-baik, engkau kularang untuk
berusaha menarik dan membaurkan hawa dalam tubuhmu ke
TANTIANmu karena itu artinya adalah kematian bagimu. Hawa itu
sudah bertumbuh berapa kali lipat dari waktu memasuki tubuhmu
dengan Pil Mujijat yang engkau telan 3 tahun silam, dan kekuatan
tubuhmu belum sanggup menerima kekuatan sebesar itu. Karena
itu, apa boleh buat, jangan berlatih Bagian Ketiga, Keempat dan
Kelima sampai waktunya tiba kelak, sebab jika tidak semua
upayaku akan sia-sia belaka dan bagianmu adalah kematian …”
“Tecu paham Suhu ……..”
“Koay Ji, sesungguhnya dengan cara biasa, orang baru dapat
menguasai Sinkang Istimewa itu setelah berlatih selama 50 tahun
terus menerus tanpa henti. Kekecualian bagimu adalah, dengan
sangat terpaksa dan apa boleh buat, karena pertempuran 2
111
tenaga yang bertumbuh lipat ganda akibat rangsangan obat
mujijat, apa boleh buat untuk merenggut kembali nyawamu dari
dewa kematian, terpaksa kuajarkan teori Pou Tee Yap Sian
Sinkang. Itupun masih belum dapat menyelamatkan nyawamu,
karena engkau membutuhkan Sinkang lainnya, yakni Toa Pan Yo
Hian Kang. Keistimewaan Sinkang khas Ilmu Budha Tionggoan
itu adalah kemampuannya MENYEDOT tenaga dalam jumlah
besar dan membaurkannya dalam dirimu. Sisi ini kelak harus
diatasi oleh Sinkang istimewa itu yang sayangnya tak dapat
kuajarkan. Tetapi, engkau harus ingat Koay Ji, kita wajib
berusaha, meski takdir juga kelak yang akan menentukannya.
Tetapi, usaha dan kemauanmu sungguh luar biasa, bahkan
dengan menahan sakti yang luar biasa, engkau terus mampu
bertahan dan bahkan melewati semuanya. Karena itu, hasilmu
pasti akan gemilang ……”
“Terima kasih atas perhatian Suhu …….”
“Sekarang, engkau dengarkan baik-baik apa yang harus
dilakukan. Jika perhitunganku tidak keliru, maka dalam waktu
dekat, akan ada perubahan yang sangat menentukan. Engkau
akan bertemu kembali dengan Pengemis Sakti yang menolongmu
3 tahun silam itu dan juga, semoga atas perkenan Budha, bertemu
calon Suhumu yang akan membimbingmu untuk melatih diri
112
melewati bagian ketiga. Engkau boleh belajar darinya Simhoat
istimewa yang tidak kalah dengan Sim Hoat Pou Tee Pwe Yap
Sian Kang, dan jika engkau berhasil melatih Iweekangnya, baru
engkau melanjutkan belajar Tahap Ke-empat dan Kelima. Tetapi,
ingat, jangan menunjukkan gelagat bahwa engkau sudah
menguasai simhoat Pou Tee Pwe Yap Sian Kang. Ada satu waktu
dia akan mengetahuinya dengan sendirinya, dan pada saat itu
semua akan menjadi terang. Dan sekarang, engkau dengarkan
dan camkan petunjuk untuk kelak melatih Bagian Keempat dan
Kelima, meski kelak bagian-bagian ini akan sangat sulit engkau
sempurnakan. Tetapi, semoga takdir dan peruntunganmu
memang untuk menguasai kedua pusaka luar biasa itu ……….”
Dan begitulah, sampai akhirnya matahari bersinar, baru petunjuk
dan latihan dari SUHU yang tak pernah NAMPAK itu selesai.
Ketika akhirnya Koay Ji bertanya lagi untuk pertanyaan yang
terakhir:
“Suhu, bolehkah Tecu mengetahui nama Suhu yang mulia
……..”?
Tetapi sudah tidak ada jawaban lagi. Dan setelah menunggu
sampai beberapa lama, baru kemudian Koay Ji kembali
memusatkan perhatiannya, mengingat dan juga menanamkan
113
semua petunjuk dan latihan yang dikemukakan SUHUnya
barusan. Dan setelah merasa yakin bahwa tiada lagi yang
tertinggal alias sudah menanamkannya dalam ingatannya,
barulah kemudian Koay Ji berkemas. Tidak lama kemudian
diapun sudah bekerja kembali seperti biasanya di rumah Ang
Sinshe alias di belakang Markas Thian Cong Pay.
Rimba Persilatan Tionggoan sudah cukup lama tenang dan
damai. Perguruan aliran putih yang dominan seperti Siauw Lim
Sie, Bu Tong Pay, Kun Lun Pay, Kay Pang, Go Bi Pay, Hoa San
Pay boleh dibilang jarang terlihat aktifitasnya. Kalaupun ada
beberapa perkumpulan yang mengaduk-aduk dunia persilatan
maka itu akan dianggap perbuatan nekad. Karena tokoh-tokoh
hebat yang dimiliki Siauw Lim Sie dan Hoa San Pay pada masa
sekarang sedang di puncak-puncak kehebatannya. Belum lagi
barisan Kaypang yang juga sangat solid dan bahu membahu
dengan kaum pendekar.
Adalah Pek Kut Bun (Perkumpulan Tulang Putih) yang terkenal
dengan Pek Kut Leng (Lencana Tulang Putih) pada 20 tahun
silam yang mendatangkan mimpi buruk bagi rimba persilatan
Tionggoan. Pek Kut Lodjin (Orang Tua Tulang Putih) yang
menjadi ketuanya, sekaligus pendirinya adalah tokoh yang terlihat
sederhana, mudah bergaul tetapi dibaliknya sangat buas dan licik.
114
Tidak kurang dari 15 perguruan dilibasnya, ratusan pengemis
Kaypang dipanggangnya, ribuan anak murid perguruan aliran
putih diracun dan dibantainya. Bahkan Bu Tong Pay nyaris
musnah jika tidak terpaksa tetuah-tetuah mereka yang sudah
menyepi turun tangan dengan bantuan Siauw Lim Sie dan Hoa
San Pay. Go Bie Pay bahkan lebih parah lagi, sapai hanya tinggal
40-50an anak murid yang tersisa dengan lebih 500 lainnya tewas
dalam mempertahankan nama dan kehormatan perguruan
mereka.
Bencana yang ditimbulkan Pek Kut Bun memang menakutkan.
Karena mereka berhasil dengan kekuatan diplomasi Pek Kut
Lodjin menarik bantuan dari Perkumpulan Rahasia Hong Lui Bun
serta Tiang Pek Pay yang biasanya beroperasi di luar perbatasan.
Bukan hanya itu, Pek Kut Lodjin juga mampu mendatangkan
seorang ahli racun dan ahli tenung dari daerah Biauw. Belum
cukup, entah bagaimana dia sanggup mengundang beberapa
tokoh hitam yang sudah menyepi dari Himalaya. Dan terakhir, dia
mampu menyusupkan orang-orangnya ke para penguasa korup
dan mengancam mereka untuk membantu pergerakannya
menguasai dunia persilatan.
Luar biasa kerusakan yang dialami waktu itu. Karena 90%
kekuatan Go Bie Pay musnah, setengah kekuatan Bu Tong Pay
115
dan setengah gedung utamanya terbakar. Bahkan Ciangbundjin
dan tiga orang tokoh utama Bu Tong Pay terbunuh. Selain itu,
Ciangbundjin Siauw Lim Sie waktu itu, Toa Suheng Ciangbundjin
yang menjabat saat ini, juga lenyap sampai sekarang ini setelah
berkunjung ke markas Pek Kut Bun. Kaypang sendiri juga tidak
luput dari pembantaian ini dan kekalahan tersebut membuat
Pangcu Kaypang terdahulu sampai tampil kembali karena
Kaypang sempat dipecah belah oleh Pek Kut Lodjin dan timbul
perang saudara. Hanya karena kehadiran Pangcu Kaypang
sebelumnya akhirnya pertikaian berdarah mereka dapat diatasi
dan membuat Pangcu waktu itu bunuh diri. Kun Lun Pay dan Hoa
San Pay sendiri juga harus ikut merelakan banyak tunas muda
cemerlang perguruan mereka untuk gugur di medan pertarungan.
Tokoh-tokoh utama mereka juga ikut gugur saking hebatnya
kekuatan durjana yan mengancam dan melingkupi dunia
persilatan. Pendeknya, Pek Kut Bun yang tadinya sebuah
perkumpulan kecil belaka, dalam waktu sepuluh tahun bertumbuh
menjadi perkumpulan besar dan nyaris mengalahkan semua
perguruan besar waktu itu.
Badai besar itu berlangsung selama 15 tahun dan membuat rimba
persilatan benar benar gaduh, dipenuhi ketakutan dan rasa seram
oleh gerakan Pek Kut Bun yang bersanding dan bersekutu
116
dengan Hong Lui Bun dan Tiang Pek Pak. Kombinasi strategi
yang tepat, diplomasi beracun dan cara-cara menghadapi lawan
yang telengas dan keji mendatangkan rasa seram
berkepanjangan. Karena itu, ingatan akan serbuan dan perbuatan
keji Pek Kut Bun tertanam dan terpatri jelas di sanubari banyak
orang. Tidak ada yang tidak merasa ngeri dengan cepatnya
pertumbuhan Pek Kut Bun, kombinasinya dengan Hong Lui Bun
dan Tiang Pek San serta cara-cara mendekati dan menaklukkan
banyak tokoh persilatan untuk berjuang bagi kepentingan mereka.
Sungguh kombinasi yang nyaris sempurna.
Ketika akhirnya gerakan besar itu dapat ditumpas, sampai-sampai
seorang tokoh besar yang waktu itu sudah hidup, menyucikan diri
sampai bergumam:
“Semoga dunia persilatan tidak lagi mengalami tragedy besar
seperti ini. Guncang karena pengkhianatan seorang tokoh yang
sangat cemerlang namun ternyata memiliki hati yang sangat buas
……..”
Ya, kejadian besar ini akhirnya mengundang tokoh-tokoh tua yang
sudah menyepi dan hidup bagai dewa untuk turun tangan. Mereka
adalah Bhiksu Aneh Bu-te Hwesio yang biasa hidup seperti
gelandangan dan sudah menyepi tanpa seorangpun tahu dimana
117
dia tinggal; Thian Hoat Tosu seorang Pendeta Agama To dan
yang menjadi Sesepuh Perguruan Hoa San Pay. Pada waktu itu,
tokoh yang sudah berumur 72 tahun itu juga sudah
mengundurkan diri dan berdiam di salah satu puncak rahasia di
Hoa San; Dan terakhir Lam hai Sin ni (Wanita Sakti Laut Selatan)
– Rahib Laut Selatan, Pendeta Perempuan yang sama aneh, lihay
dan misteriusnya dengan Bu Te Hwesio dan Thian Hoat Tosu.
Tempat tinggalnya yang tak ketahuan dimana, kecuali hanya
menunjuk ke Laut Selatan, membuat semakin misteriusnya tokoh
ini. Dan tanpa campur tangan ketiga tokoh dewa ini, persoalan di
Tionggoan mungkin belum terselesaikan sampai saat sekarang
ini.
Hanya saja, orang atau tokoh yang menotok roboh Pek Kut Lodjin
dan memunahkan segenap kepandaiannya, hingga sekarang
tiada seorangpun yang tahu. Karena, ketiga manusia dewa itu
bertarung melawan iblis-iblis tua dari luar perbatasan dan bahkan
dari Tibet dan Thian Tok. Pek Kut Lodjin sendiri diketahui bukan
hanya hebat dalam diplomasi, mengorganisasikan perguruan
kecil dan membentuk perserikatan besar, tapi kemampuan ilmu
silatnya luar biasa hebatnya. Bahkan tersiar kabar jika
kemampuan ilmu silatnya hanya terpaut sangat tipis dibawah
ketiga manusia dongeng yang datang menumpas kejahatannya.
118
Tapi, sebagian yang lain berani bersaksi jika tokoh buas itu justru
memiliki kemampuan standing dengan 3 tokoh dewa itu. Maka,
jadi tanda tanya, jika bukan ketiga manusia dongeng itu yang
menotok habis kepandaian Pek Kut Lodjin, habis siapa lagi?
Justru karena akibat totokan istimewa itu baru belakangan Pek
Kut Lodjin membunuh dirinya sendiri.
Dan kini, 20 tahun kemudian setelah pertikaian berdarah itu,
masa-masa tenang dialami oleh insan persilatan. Semua
perguruan kembali membenahi diri. Hanya Go Bie Pay yang
masih tetap menutup diri dan sedang berusaha membangun
kembali reruntuhan perguruan mereka. Selebihnya, selama 20
tahun terakhir, belajar dari konflik berdarah sebelumnya, sedang
giat giatnya membangun dan melatih diri kembali. Karena itu
jugalah yang menjadi pesan 3 Manusia Dewa sebelum mereka
menghilang kembali. Terhitung selama 20 tahun terakhir, hanya
seorang Tek Ui Sinkay yang pernah bertemu dengan 1 dari 3
tokoh dewa masa lalu itu. Selain itu, tiada seorang lagipun yang
pernah berjumpa dengan tokoh-tokoh maha hebat itu.
Tokoh yang memimpin para Pendekar pada 20 tahun silam
adalah Poen Loet Kiam-kek (Jago Pedang Pengejar Guntur) Hu
Sin Kok yang sekarang sudah berusia lebih dari 64 tahun. Tokoh
ini sebenarnya bukanlah yang paling lihay dari kalangan
119
pendekar, bahkan banyak yang melampaui kemampuannya.
Tapi, kecerdikan dalam mengatur strategi dan kehangatannya
dalam bersahabat dengan tokoh-tokoh rimba persilatan
membuatnya mendapat tempat terhormat untuk memimpin para
tokoh rimba persilatan. Bahkan penghargaan atas
kemampuannya, membuat anaknya Hu Sin Tiong mendapat
kehormatan dididik selama 3 tahun dan menjadi murid setengah
resmi dari Bu Te Hwesio, salah satu dari 3 Manusia Dewa yang
membantu para pendekar pada waktu pertarungan itu.
Dan untuk saat ini, Hu Sin Tiong, yang pernah dididik selama 3
tahun oleh Bu Te Hwesio, adalah salah satu Pendekar ternama
yang sangat dimalui di rimba persilatan dan berjuluk Pat Ciu
Thian-cun (Malaikat Tangan Delapan). Apalagi karena istrinya
juga adalah tokoh kenamaan dari Hoa San Pay dan murid dari
Ciangbundjin Hoa San Pay bernama Hoa San Sian Li (Dewi dari
Hoa San) Kho Sian Lian. Pasangan pendekar ini tinggal bersama
ayah mereka yang sudah tua, Hu Sin Kok yang memang hanya
memiliki anak satu-satunya, yakni Hu Sin Tiong. Mereka tinggal di
Kota Yan In, sebuah Kota yang tidak terlampau besar di dalam
Benteng Keluarga Hu, yang dibangun di pinggiran telaga Kun
Beng Ouw.
120
Benteng keluarga Hu ini dibangun sebagai penghormatan kepada
Hu Sin Kok atas jasa dan pengabdiannya kepada para Pendekar
pada 20 tahun silam. Karena itu, gedung keluarga ini dibentengi
sedemikian rupa dengan tidak menghilangkan nuansa keindahan
pemandangan Telaga Kun Beng Ouw di bagian samping dan
pemandangan Kota Ya In di depan dan agak menurun serta
panorama pegunungan di belakangnya. Keluarga Besar HU
memiliki sekitar 30-35 pengikut yang secara sukarela mengikuti
dan membantu Hu Sin Kok sejak di masa-masa ketenarannya.
Tetapi, sebetulnya bukan cuma karena ketenarannya, tetapi
karena memang kedermawanan dan kehangatan pergaulan Hu
Sin Kok yang menyentuh hati.
Meski mengaku sebagai anggota Benteng Keluarga Hu, tetapi
pada dasarnya ke 35 orang itu adalah tokoh-tokoh silat yang
bergaul erat dan sangat dekat dengan Hu Sin Kok. Bahkan, salah
seorang dari mereka adalah bekas Penjahat besar yang
kemudian bertobat dan menjadi saudara angkat Hu Sin Kok, Kim
Shia (si sesat bercahaya emas) Sam Kun . Benteng Keluarga Hu
semakin lama semakin ramai dan kini, kompleks yang cukup luas
itu memiliki 2 bangunan utama nan besar dan banyak bangunan
tempat tinggal keluarga Benteng Hu bersama para pengikutnya.
Untuk saat ini, Benteng Keluarga Hu adalah salah satu tempat
121
yang sangat sering dikunjungi umat persilatan Tionggoan. Karena
sampai saat ini, Hu Sin Kok masih sering dimintai pertolongan
untuk mendamaikan persoalan-persoalan yang timbul diantara
sesama insan persilatan Tionggoan dan bahkan antar perguruan.
Hari itu, adalah Cia gwe ce-sa (Bulan satu tanggal tiga) dan
merupakan hari penting bagi Hu Sin Kok, karena bertepatan
dengan Hari Ulang Tahunnya yang ke 64. Hu Sin Kok dan
keluarganya sudah paham, dirayakan atau tidak, pasti akan
banyak tamu yang berdatangan untuk memberikan ucapan
selamat baginya. Oleh karena itu, setiap tahun di tanggal yang
sama, Hu Sin Kok selalu menyiapkan banyak hidangan karena
dapat dipastikan Balai Pertemuan di Gedung besar samping
tempat tinggalnya pasti akan kebanjiran tamu. Dan memang, tidak
usah menunggu lama, hari masih pagi seorang tokoh besar sudah
mengunjunginya dan praktis menjadi tamu pertama di hari
tersebut. Siapa dia? Seorang tokoh besar bernama Pek I Sinkay
(Pengemis Sakti Berbaju Putih) yang kini menjadi Hu Pangcu
Kaypang. Selain menjadi Hu Pangcu, tokoh ini juga adalah salah
satu sahabat karib Hu Sin Kok sejak sebelum peristiwa Pek Kut
Bun pada 20 tahun silam. Boleh dibilang sahabat sehati.
Namanya Pek I Sinkay karena memang, meski pakaiannya
tambal-tambalan namun terlihat rapih, anehnya dia selalu saja
122
memilih bahan dasar putih untuk pakaian pengemisnya. Meski
anggota partai Pengemis, beda dengan pengemis umumnya, Hu
Pangcu ini tidak terkesan mesum dan jorok, melainkan terlihat
bersih dibandingkan kaum Kay pang pada umumnya. Tetapi,
jangan salah, tokoh ini sangat dicintai kaum Kaypang, karena
memang sama dengan Hu Sin Kok, dia suka dan gemar bergaul
dan sangat luwes. Bersahabat tanpa pandang bulu serta ringan
tangan menolong siapapun, apalagi anggota Kaypang. Karena
itu, tokoh ini menjadi salah satu andalan kaum Pendekar pada 20
tahun silam. Terutama dalam menjalin hubungan serta
menyatukan semua pendekar untuk berjuang melawan Puk Kut
Bun. Dan bersama dengan Hu Sin Kok yang sama-sama luwes
bergaul dan cerdik bersiasat adalah kombinasi hebat.
“Hahahahahaha, Hu Pangcu, mari …… mari ….. semakin tua
engkau semakin gagah” sambut Hu Sin Kok dengan senyum tawa
ramah melihat kedatangan sobat sejatinya di pagi hari tepat pada
hari ulang tahunnya. Tidak beda dengan tahun-tahun silam, tokoh
ini memang sering memberi kejutan kepada Hu Sin Kok.
Beberapa kali, tokoh ini pula yang rajin berkunjung atau
mengiriminya selamat paling awal di hari ulang tahunnya. Karena
itu, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kedatangannya
123
disambut dengan senang hati oleh tuan rumah. Bahkan
kedatangannya sepertinya sudah diduga oleh Hu Sin Kok sendiri.
“Hahahahaha, Hu Pocu, semakin tua semakin semarak saja
engkau kelihatannya. Akan menyesal lohu jika sampai tidak
menjumpaimu ketika kebetulan lohu melalui daerah indah dan
sentosa ini ………”
“Acccch, tidak usah berpura-pura, engkau pasti sengaja
mengambil jalan dekat tempat tinggalku karena ingin menikmati
arak sukacita lohu hahahahaha …..”
“Hu Pocu, engkau tahu saja kegirangan sobatmu ini …….”
Tidak lama kemudian keduanya sudah tenggelam dalam
percakapan serius tapi santai dengan banyak tertawa antara
keduanya. Maklum, sahabat lama …….
“Hu Pangcu, bagaimana kabar Kaypang Pangcu sekarang ini
…..”?
“Selalu baik Hu Pocu, hanya, kami sedang kebingungan karena
Tek Ui Sinkay sudah tiga tahun menghilang tanpa kabar …….
justru karena itulah Pangcu memintaku untuk mencari kabar. Dan
124
konon terakhir kali dia munculkan diri di Pek In San, karena itu
lohu sedang dalam perjalanan ke Pek In San ….”
“Achhhhh, tokoh sehebat dan sesakti Tek Ui Sinkay (Pengemis
Sakti Tongkat Kuning) tidak perlu kita khawatirkan. Bukan hanya
pengalamannya yang matang, karena kepandaiannyapun luar
biasa …….”
“Pocu, bukan itu persoalan utamanya. Pangcu khawatir, karena
dalam waktu sekitar 6 (enam) bulan terakhir ini, 3 saudara
seperguruan Tek Ui Sinkay lainnya terluka dan diserang orang
secara menggelap. Entah siapa penyerang mereka. Bukan apaapa,
hanya berjaga-jaga belaka ……..”
“Astaga …… masih ada orang yang berani menyerang keluarga
perguran yang hebat itu ……”? gumam Hu Pocu terdiam sejenak,
tetapi tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sangat serius dan
kemudian saling memandang dengan Hu Pangcu. Pek I Sinkay
nampak mengangguk …….
“Benarkah …….”? entah apa yang coba ditegaskan oleh Hu Pocu,
tetapi nampak karenanya Pek I Sinkay bereaksi dengan
mengangguk. Setelahnya, keduanya terlihat bersikap agak serius
dan misterius.
125
“Hmmmm, jika demikian, masalahnya tidaklah sederhana ……”
gumam Hu Pocu dengan nada rawan
“Benar, dan jika sederhana, masakan sampai seorang Hu Pangcu
semacam Lohu yang mesti bertugas Pocu …..”?
“Benar, tidak salah ……..”
“Tapi, siapa-siapa yang gerangan kena bokong itu …….”?
“Konon, Cing-san-khek (jago berbaju hijau) Tiat Kie-bu terluka
dan nyaris binasa oleh jarum berbisa di daerah Kanglam ketika
sedang membawa cucunya melancong pada 6 bulan silam,
kemudian Pouw-ci-sui-beng (Jari sakti penghancur nyawa), Siau
Ji-po 3 bulan berselang setelah Ji suhengnya kena dilukakan oleh
sekelompok orang tak dikenal di Provinsi Ceng Hay ketika
menjemput seorang tabib untuk mengobati istrinya. Dan terakhir
adalah murid keempat, Ci Yan (Walet Ungu) Pek Bwe Li baru
bulan kemaren dengan susah payah menghindar dari penyamun
berkerudung hitam di Hek Houw San daerah Sujwan. Dan sampai
sekarang, sudah 3 tahun Tek Ui Sinkay, murid ketiga, masih
belum ketahuan jejaknya ………. Apakah tidak sangat kebetulan
semua kejadian tersebut …….”?
126
“Jikapun sebuah kebetulan, maka kebetulan itu sungguh tidak
lucu. Apalagi karena ada penyerangan manusia berkedok, maka
kebetulan itu tak dapat dijelaskan secara sederhana lagi. Dan bila
dihubungkan dengan hilangnya cucu terkecilku, apakah semua itu
tidak direncanakan dan berhubungan satu dengan lainnya
……….”?
“Benar Pocu ………”
“Memang, setahuku, hanya kita berdua dan jikapun ada yang lain,
paling banyak juga hanya Bu Te Hweio, Thian Hoat Tosu dan Lam
Hay Sinni yang tahu siapa yang memunahkan semua kepandaian
Pek Kut Lodjin yang berujung ke bunuh dirinya tokoh hebat itu.
Atau, mugkinkah ada gejolak-gejolak permusuhan baru dengan
keluarga perguruan tersebut atau ada kelompok penjahat baru
..”?
“Sulit untuk ditebak. Lagipula, tokoh-tokoh yang mengenal
Locianpwee yang sejak dahulu menyepi di Thian Cong Pay itu
sangatlah terbatas dan sedikit, hanya bisa kita hitung dengan jari
tangan belaka, akan jauh lebih sedikit lagi yang tahu kaitannya
dengan peristiwa 20 tahun silam ……”
127
“Hmmmm, tapi entah mengapa firasatku mengatakan suasana
yang sangat tenang akhir-akhir ini terasa aneh dan
menghanyutkan. Semoga firasatku tidak benar dan semoga rimba
persilatan kita, tidak kembali mengalami mimpi buruk seperti
kejadian pada 20 tahun silam ……”
Percakapan mereka terhenti ketika beberapa tokoh lain pada
bermunculan di Benteng Keluarga Hu di Yan In. Tokoh-tokoh
itupun bukan tokoh sembarangan, mereka adalah Wakil
Ciangbundjin Siauw Lim Sie, Ciangbundjin Hoa San Pay,
Ciangbundjin Kun Lun Pay dan Ciangbundjin Go Bie Pay dan
bersama rombongan mereka, nampak banyak tokoh-tokoh
terkenal lainnya. Kehadiran tokoh-tokoh utama Rimba Persilatan
ini menunjukkan wibawa dan nama besar Benteng Keluarga Hu
dan khususnya Hu Sin Kok yang memang cemerlang di
Tionggoan. Dan lebih banyak lagi tokoh-tokoh lain yang
bergabung termasuk wakil dari Bu Tong Pay, Tiam Jong Pay,
Thian San Pay dan para pendekar kenamaan yang berdatangan.
Dengan sifatnya yang luwes dan sangat bersahabat Hu Sin Kok,
Pocu Benteng Keluarga Hu meladeni dan melayani semua tamu
yang datang. Tidak pandang tinggi atau rendah kedudukan orang
di dunia persilatan. Dan sepanjang hari itu, hingga malam
suasana di Benteng Keluarga Hu benar-benar meriah oleh begitu
128
banyaknya tokoh persilatan yang datang menghunjuk hormat dan
ucapan selamat kepada Pocu Benteng Keluarga Hu.
Bahkan hingga malam hari, Hu Sin Kok masih tetap sibuk
meladeni banyaknya tamu yang datang dan pergi. Tetapi,
menjelang tengah malam, tinggal beberapa tamu yang tinggal,
sebagian besar sudah pulang atau beristirahat di tempat istirahat
Benteng Keluarga Hu yang terletak persis di pinggir telaga yang
berpemandangan menarik. Tetapi, Hu Sin Kok, si Pocu Tua
kenamaan, ternyata masih sedang bercakap-cakap dengan
beberapa tokoh ternama. Percakapan mereka, bahkan sudah
berpindah ke ruangan khusus milik Hu Sin Kok sendiri, lebih
leluasa dan lebih tertutup:
“Cuwi sekalian, atas permintaan Ciangbundjin Hoa San Pay dan
Hu Pangcu Kaypang, lohu memberanikan diri mengundang cuwi
untuk bercakap-cakap secara lebih tertutup. Secara singkat, Hu
Pangcu sudah menyampaikan beberapa informasi dan juga
kecurigaannya atas beberapa kejadian yang entah berkaitan atau
tidak tetapi tetap penting untuk kita perhatikan ……….. karena itu,
untuk lebih jelas, maka sebaiknya kita mengundang Keng Seng
Ciangbudjin untuk memaparkan beritanya …..”
129
“Omitohud …….. terima kasih Pocu yang baik, cuwi sekalian
sebuah kejadian menarik perlu pinto ceritakan. Beberapa bulan
lalu, perguruan kami berhasil menangkap seorang “penyusup” di
Gunung Hoa San Pay kami. Seorang yang sudah 5 tahun
menyusup menjadi anak murid Hoa San Pay dan tertangkap
basah sedang berusaha mencuri Kitab Pusaka di Hoa San.
Setelah diperiksa secara seksama, orang itu akhirnya mengaku
memang sengaja disusupkan oleh sekelompok orang yang dia
sendiri tidak tahu siapa mereka. Bahkan, konon, bukan hanya
Hoa San yang menjadi target mereka, tetapi juga beberapa
perguruan lain. Jika hanya kejadian ini, maka pinto masih belum
terlampau bercuriga, tetapi pada setahun terakhir ini, terdapat
tanda-tanda jika beberapa perguruan kecil, mulai kembali
bergerak dengan diawali pergantian kepemimpinannya.
Berdasarkan penelitian anak murid kami, sepertinya perguruan
perguruan kecil itu, digerakkan oleh kekuatan misterius yang
masih belum mampu kami lacak hingga sekarang ini …. karena
itu, maka pinto memutuskan untuk membagi kisah ini dan
memohon kita semua untuk waspada. Jangan sampai
kelengahan kita membuat tragedy 20 tahun silam kembali
terulang ……..”
130
Demikian Ciangbudjin Hoa San Pay, Kheng Seng Thaysu
mengakhiri penuturannya. Hal yang sebetulnya memalukan,
karena membuka borok kebobolannya perguruan mereka. Tetapi,
bobot berita itu menjadi menarik jika dihubungkan dengan
kelengahan mereka pada 20 tahun silam hingga Pek Kut Bun
tumbuh menjadi raksasa yang menyakiti mereka semua.
“Achhhhh, jika memang benar berita Hoa San Ciangbudjin, maka
bukan tidak mungkin penyusupan juga dilakukan di semua
perguruan. Dan aneh, ada 2 perguruan kecil dekat Kun Lun Pay
kami yang tiba-tiba bergeliat dengan pimpinan tokoh yang tidak
berasal dari perguruan tersebut ……… jika demikian, peristiwa di
Kun Lun Pay sangat mungkin terencana sama dengan yang di
Hoa San ……. bagaimana pendapat cuwi sekalian dengan
kenyataan ini ……”? terdengar Ciangbundjin Kun Lun Pay Kang
Hong Siang Kit Hong Kiam Khek (Jago Pedang Angin Puyuh) juga
memberi laporan
“Amitabha …….. anak murid Siauw Lim Sie hanya melaporkan
aktifnya kembali Pek Lian Pay di Pek In San yang juga dahulu
mendukung Pek Kut Bun ……. entah apakah ada kaitan dengan
kejadian di Hoa San dan Kun Lun San …..”?
131
Semua terdiam ketika mendengar berita yang hampir sama dari
Hoa San Pay, Kun Lun Pay, Siauw Lim Sie dan juga Kay Pang.
Suasana dengan cepat berubah menjadi sangat serius dan
menegangkan:
“Cuwi sekalian, jika dipikir lebih jauh, adanya Pembunuh atau
kelompok manusia berkerudung yang misterius, penyusupan di
Hoa San Pay dan mungkin di perguruan lain, bergeraknya banyak
perkumpulan kecil terutama pendukung Pek Kut Bun 20 tahun
silam, menghilangnya Tek Ui Sinkay, penyerangan 3 orang murid
seorang tokoh kenamaan, kelihatannya bukan peristiwa yang
masing-masing berdiri sendiri. Karena, bahkan cucu terkecil kami
juga menghilang, entah bagaimana caranya dan sampai sekarang
masih belum ditemukan. Sejujurnya, sudah kusampaikan kepada
Hu Pangcu Kaypang, bahwa suasana yang terlampau tenang 2-3
tahun terakhir ini, membuatku menjadi tidak tenang karena terasa
“menghanyutkan” ……….. entah bagaimana tanggapan cuwi
sekalian …..”? Hu Sin Kok mencoba mengerucutkan percakapan,
keahlian dan memang selalu menjadi tugasnya selama ini …..
“Amitabha …….. siancay ….. siancay …… cuwi sekalian,
sebelum Ciangbundjin Suheng menutup diri 5 bulan silam, dia
menitipkan pesan agar awas dengan suasana tenang rimba
persilatan. Mohon maaf, ucapan Hu Lo Pocu tadi sungguh mirip
132
dengan ungkapan Ciangbudjin Suheng waktu itu …… bahkan,
sebelum turun gunung menuju ke Benteng Keluarga Hu disini,
pinto sudah menugaskan 5 murid Siauw Lim Sie untuk menelisik
keadaan rimba persilatan …….” Hoat Bun Siansu terlebih dahulu
memberikan tanggapan dan bahkan informasi mengenai keadaan
yang disimpulkan Hu Sin Kok tadi
“Hoa San Pay juga sudah menugaskan beberapa murid untuk
berkelana mencari informasi. Dan informasi yang pinto
kemukakan tadi sebagian besar berasal dari mereka, disertai
peringatan bahwa kemungkinan besar dalam beberapa waktu
kedepan bakal ada aktifitas yang lebih berterang dari kelompok
yang sekarang bekerja secara menggelap dan misterius …….”
Kembali Keng Seng Thaysu, Ciangbudjin Hoa San Pay
“Cuwi sekalian ……. sebetulnya bukan hanya karena Hu Pangcu
kami, Tek Ui Sinkay menghilang maka lohu turun gunung. Tetapi
karena ada beberapa Tancu (Kepala Cabang) kami melaporkan
adanya gerakan-gerakan misterius dan salah satu cabang kami
menderita kerugian besar di kota Gak Yang. Oleh sebab itu,
Kaypangpun sudah mulai menggerakkan anak muridnya ……”
Semua kini terdiam. Menjadi semakin jelas jika semua perguruan
ternyata sudah menyimpan kecurigaan dan sudah lama
133
berwaspada, bahkan karena pengalaman 20 tahun silam, kini
semua tidak mau kecolongan. Korban 20 tahun silam terlampau
banyak, berdarah-darah dan memporak-porandakan rimba
persilatan Tionggoan, dan semua tidak ingin itu terulang. Hu Sin
Kok melihat itu dan gembira dengan fakta betapa semua kini jauh
lebih siap dan sigap tanpa menunggu korban jatuh terlebih
dahulu.
“Cuwi sekalian …….. baik sekali jika kita sudah sama sependapat
bahwa bibit bencana sedang ditabur orang, dan kita tidak ingin
mereka menuai taburannya dengan menjatuhkan korban yang
begitu banyak dan massal sebagaimana pengalaman kita dahulu,
kurang lebih 20 tahun yang silam. Mohon lohu dimaafkan karena
terlampau berkonsentrasi mencari cucu terkecil kami yang entah
diculik siapa. Dia lenyap begitu saja selagi bermain-main, dan
tidak ada yang melihat kemana perginya. Apakah ini bagian dari
persekongkolan jahat itu? Entahlah. Maka, karena semua sudah
mulai mengerahkan anak muridnya, maka baiklah kita mengatur
demikian ……. agar semua membagi tugas dan berkonsentrasi di
bagian yang jelas dan saling membagi informasi. Artinya,
pertama, alur informasi melalui burung merpati akan kembali kita
aktifkan sejak saat ini; Kedua, kekuatan mencari informasi dari
jaringan Kaypang, kita mintakan kembali digalakkan oleh teman134
teman Kaypang …….. (Sambil memandang Pek I Sinkay, yang
langsung mengangguk tanda setuju ….), dan ketiga, kita
kemudian meminta kawan-kawan Hoa San Pay untuk bertugas
menyelidiki kelompok misterius yang bekum ketahuan tujuan dan
siapa gerangan mereka …. (Hoa San Pay Ciangbudjin juga
mengangguk). Keempat, tugas kawan-kawan Kun Lun Pay, Bu
Tong Pay, Go Bie Pay adalah secara bersama-sama menyelidiki
perguruan-perguruan kecil yang sedang bergerak dan mencari
siapa tokoh mana yang menggerakkan mereka, dan apa tujuan
mereka ……(secara bersamaan Siauw Lim Sie, Go Bie Pay dan
Bu Tong Pay mengangguk sepakat), Kelima, kami akan mengutus
orang-orang untuk melacak tokoh-tokoh yang sedang menyepi
yang mungkin dipanggil kawananan itu membentuk kekuatan
kembali. Selain itu, tukar menukar informasi dapat cepat kita
lakukan, karena hari ini juga, semua kesiapannya akan lohu
selesaikan ….. bagaimana menurut pendapat cuwi sekalian
……..”?
“Amitabha ….. sebagaimana biasa, Hu Sin Kok Pocu memang
yang paling cepat menentukan tugas dan petugas yang tepat
melakukannya. Kita harus kembali bekerja sama untuk
menanggulangi bahaya yang mungkin akan timbul itu ……. Kami
135
Siauw Lim Sie mendukung sepenuhnya ……. Dan jika memang
memungkinkan, saat ini juga kita sudah harus mulai bergerak”
Ditempat lain sedang melakukan perundingan, tetapi di tempat
lain serangan sudah dilakukan. Peristiwa Hoa San Pay, Kun Lun
Pay, Pek In San, hilangnya Tek Ui Sinkay dan cucu termuda Hu
Sin Kok, apakah semua berkaitan? Entahlah. Tetapi yang pasti,
malam itu pegunungan Thian Cong Sang nampaknya sedang
menjadi sasaran orang. Sasaran siapa gerangan?
Malam itu Pangcu Thian Cong Pay, Hoan Thian-Ciu (Tangan
Membalik Langit) Cu Ying Lun yang sudah berusia 49 tahun dan
sebentar lagi akan memasuki usia ke-50 tahun, terlihat agak
resah. Bukan apa-apa, baru siang harinya dia menerima kabar
jika dalam beberapa bulan terakhir, beberapa saudara
seperguruannya mengalami musibah. Setelah nyaris 3 tahun Sam
Suhengnya belum ketahuan hasil pengobatan yang dijalaninya
dan mati hidupnya belum jelas; 6-7 bulan lalu Ji Suheng Cing-sankhek
(jago berbaju hijau) Tiat Kie-bu juga diserang secara
menggelap, disusul kemudian oleh Pouw-ci-sui-beng (Jari sakti
penghancur nyawa), Siau Ji-po, kakak seperguruan kelima juga
kena dilukai orang dan terakhir dia menerima kabar jika jika bulan
sebelumnya Kakak seperguruan keempat Ci Yan (Walet Ungu)
Pek Bwe Li, juga kena diselomoti hingga dilukai orang tak dikenal.
136
Dia tahu benar, semua kakak seperguruannya sudah merupakan
jago-jago silat kelas top, sangat kenamaan dan termasuk sulit
dicari tandingan lagi. Tetapi, toch, tetap juga bisa dikalahkan
orang lain. Kapan gilirannya? apakah hari ini, besok atau …?
Sungguh susah untuk diprediksi karena lawan tidak dikenal dan
belum ketahuan motifnya. Karena itu, siapa yang tidak menjadi
resah memikirkannya?
Dan, bukan apa-apa, posisinya sendiri sebagai murid paling
buntut dari Suhunya, yang meski tidak terlampau suka
menonjolkan diri dan menampakkan bayangannya, sudah barang
tentu juga rentan diserang lawan. Apalagi berbeda dengan para
suheng dan sucinya, dia terhitung orang yang menetap di sebuah
tempat tertentu. Karena itu, begitu menerima kabar tadi siang
nalarnya sudah langsung jalan. Segera saja dia putuskan dan
memerintahkan agar semua murid kepala dan ketiga anaknya
untuk berkumpul. Agenda yang harus mereka bahas adalah
masalah serangan kepada saudara seperguruan mereka yang
mungkin bisa datang kapan saja menimpa mereka di Thian Cong
Pay. Maka malam itu, setelah selesai menguraikan berita yang
diterimanya beberapa waktu sebelumnya, diapun berkata:
“Murid-muridku, terhitung malam hari nanti, kewaspadaan harus
kita tingkatkan. Karena, sangat mungkin keluarga perguruan kita
137
disini, juga sedang diincar orang. Karena itu, Hwi Ji, Tek Ji, Liong
ji jangan berkeliaran sendirian dan perhatian kemana Yan ji pergi.
Kita harus sangat waspada, karena kelihatannya keluarga
perguruan kita sedang diawasi dan sedang menjadi sasaran
orang-orang yang tak dikenal. Ke-empat suheng-suci terluka oleh
bokongan orang, dan sadar atau tidak, kitapun pasti ada dalam
daftar untuk dilukai atau bahkan dibinasakan. Cuma, yang masih
menjadi tanda Tanya dan mengherankan adalah, mengapa
perguruan kita yang diincar orang? Apa kesalahan kita
sebenarnya ……? kalianpun pasti bertanya-tanya seperti itu,
tetapi mereka, para penjahat itu tidak pernah butuh alasan untuk
menyerang targetnya. Entah untuk balas dendam, karena uang,
karena harga diri ataupun karena sebab sebab lain yang mungkin
tidak kita pikirkan sebelumnya.
Tetapi, mana ada murid atau anaknya yang berani angkat bicara
dalam keadaan seperti itu? Semua menunggu apa gerangan yang
akan disampaikan oleh sang Pangcu terkait dengan ancaman
atas perguruan mereka. Dan karena tidak ada satupun yang
bersuara, maka akhirnya Cu Ying Lun memutus:
“Mulai malam ini, secara bergantian kita melakukan penjagaan
ketat. Semua murid, tidak ada kecualinya, harus ambil bagian
tanpa kecuali dengan tentu saja secara bergantian atau bergiliran.
138
System penjagaan dan tanda isyarat harus segera kita sepakati,
dan malam ini juga kita mulai berlakukan. Jika para suheng dan
suci dapat mereka lukai, berarti kekuatan mereka cukup hebat.
Karena itu, sedapat mungkin tidak ada yang bertugas sendirisendiri,
mesti dalam kelompok. Masing-masing kelompok
setidaknya terdiri dari minimal 3,4 orang dan melakukan
perondaan berkeliling. Setiap malam setidaknya harus ada 3
kelompok peronda dan bergantian bertugas setiap malamnya.
Hwi ji, engkau yang mengatur jadwal dan mekanisme perondaan.
Dan terhitung mulai malam in, tidak boleh ada orang yang keluar
dari benteng kita setelah matahari terbenam. Bagaimana, ada
yang mau bertanya ……”?
“Suhu, bagaimana dengan anak-anak ….”? Tanya salah seorang
murid
“Peratuan tadi berlaku bagi semua dan dengan tiada seorangpun
yang dikecualikan. Khusus untuk anak-anak, tentunya tidak perlu
untuk ikutan meronda. Meski demikian, larangan untuk bermain
dan berada jauh dari garis penjagaan, kita harus berlakukan
secara ketat kepada semua …”
“Baik Suhu …..”
139
Dan setelahnya hening. Beberapa lama kemudian, terdengar lagi
suara Cu Ying Lun, Pangcu Thian Cong San:
“Baik, jika memang tidak ada lagi yang ingin bertanya, maka
langsung saja kita akan bergerak malam ini. Hwi ji, engkau
selesaikan tugasmu segera, dan perondaan harus dimulai malam
ini juga. Tek Ji, bantu cici kalian mengatur dan mengawasi
perondaan, semua harus kita awasi secara seksama”
“Baik Pangcu ……”
Dan benar saja, malam itu juga, perondaan diperketat di
lingkungan Perguruan Thian Cong Pang. Tetapi, bukan berarti
perondaan itu tidak dapat ditembus. Entah disengaja atau tidak,
lewat tengah malam atau tepatnya menjelang subuh, lima
bayangan berwarna hitam pekat, entah bagaimana sudah berada
di dekat bangunan utama Thian Cong Pay. Gerakan mereka
semua sama cepat dan sama gesitnya, jelas jauh di atas para
murid biasa yang sedang melakukan perondaan di Thian Cong
Pay. Karena itu, wajar jika mereka mampu menerobos masuk
hingga mulai mendekati ke gedung utama Thian Cong San
tersebut. Meski selalu agak berhati-hati, tetapi sesungguhnya
mereka belum cukup menguasai area itu, dan juga belum
mengetahui siapa-siapa gerangan tokoh yang berdiam di Thian
140
Cong San. Celaka bagi mereka karena tiba-tiba terdengar suara
yang cukup keras, lantang dan pasti menggema di malam hari,
entah suara dari mana dan berasal dari siapa:
“Sungguh berani kalian memasuki daerah perguruan kami Thian
Cong Pay. Masuk bagai pencuri pula, apa maksud kalian …….”?
Suara itu diucapkan lantang, dan pastilah didengar banyak orang.
Jelas hal itu didengar para penjaga dan juga pastilah tokoh-tokoh
utama Thian Cong Pay. Sudah pasti kelima penyusup terkejut
karena missi mereka siang-siang sudah ketahuan lawan. Tampak
mereka berbisik-bisik, pasti sedang membicarkan strategi atau
plan B setelah rencana utama mereka ketahuan. Dan yang hebat,
mereka sepertinya sudah terlatih baik dan karenanya sedikitpun
tidak terlihat panik ataupun serabutan dalam bertindak. Tidak
lama mereka sudah tegak dan siap sedia, bahkan tiba-tiba
terdengar suara komando dari seorang antara mereka:
“Kerjakan ……”
Dan bersamaan dengan itu, mereka berlimapun berpencar
sehingga membuat atau mendatangkan kebingungan bagi lawan
yang mulai lebih banyak berdatangan. Dalam waktu yang sangat
singkat, termasuk Pangcu Cu Ying Lun kini sudah siap sedia
141
dengan pedang terhunus. Tetapi, Cu Ying Lun hanya sempat
menyaksikan kelima bayangan tersebut menyebar, dan dengan
cepat diapun membentak:
“Mau kemana …..”? dan kemudian mengejar bayangan yang
bergerak menuju hutan larangan di belakang …….. tetapi sambil
mengejar dia berseru keras:
“Hwi Ji, ada 4 penyusup lainnya di Markas kita, temukan mereka,
tetapi janganlah berpencar dan mengurangi kekuatan”
Luar biasa, baru sekarang terlihat kehebatan Cu Ying Lun.
Gerakannya cepat, gesit dan terlihat tidak gamang dalam
mengambil keputusan. Sebaliknya, sangat tegas, tidak ragu-ragu
dan jelas memiliki wibawa sebagai seorang pemimpin. Begitu
mengejar lawan yang mengarah ke tempat suhunya samadhi,
kecepatannya bagaikan angin. Jelas masih sedikit lebih cepat dari
para penyusup itu, tetapi karena dia tertinggal beberapa meter di
belakang, dia tidak mampu menyandak si penyusup secara cepat.
Mereka terpisah hampir 50 meter jauhnya, dan kini si penyusup
terlihat menuju ke kebun obat, sebentar saja sudah mendekati
hutan menuju ke tempat khusus Suhu Cu Ying Lun biasanya
Samadhi dan tidak mau diganggu.
142
Sejak suhunya mengundurkan diri kurang lebih 20 tahun silam,
Cu Ying Lun diwanti-wanti untuk tidak lagi mengganggu suhunya
menyucikan diri. Apalagi, karena dia diberi persetujuan
membentuk perguruan dan menggunakan area Thian Cong San
sebagai basis dan pangkalannya. Tetapi, dengan persetujuan itu,
Ying Lun juga diberi amanat untuk menjaga dan merahasiakan
tempat menyucikan diri sang suhu. Maka, wajar jika dia terlihat
mati-matian mengejar si penyusup yang kini berjarak 30 meter
darinya tetapi sudah memasuki hutan itu. Meski berbahaya
mengejar musuh yang sudah masuk hutan, tetapi hutan didepan
justru sangat dikenal Ying Lun, karena itu tak sekalipun dia
merasa ketakutan atau jerih untuk terus mengejar. Begitu masuk,
dengan kesiagaan penuh dia berjalan menyusur hutan dan
langsung menuju ke pintu rahasia yang tidak banyak dikenali
orang. Dan yang aneh adalah, kelihatannya si penyusup misterius
itu seperti sudah tahu cukup jelas dan mampu menduga serta
mengantisipasi dimana letak posisinya yang terakhir. “Bagaimana
mereka sampai tahu tempat rahasia Suhu dalam menyucikan
dirinya ….. apakah”? gumam Cu Ying Lun sambil terus
melangkah maju dengan penuh kewaspadaan sambil terus
menerus menduga-duga dengan hati berdebar debar tegang.
143
Sementara itu, di markas Thian Cong Pa, Yu Hwi juga
menunjukkan kehebatan dan kepandaiannya. Dengan cepat dia
merespons teriakan ayahnya dan langsung menjaga pos-pos
penting yang sangat mungkin didatangi para penyusup. Dia tidak
khawatir dengan tempat lain, karena murid-murid Thian Cong Pay
sudah berjaga secara berkelompok dan lagi pula, kedua adiknya
yang kepandaiannya tidak terpaut jauh darinya, juga sudah
berbaur dengan para penjaga ikut bertempur. Tetapi anehnya,
gedung utama yang dijaganya, termasuk Perpustakaan
Couwsunya, justru tidak ada kedatangan penyusup satupun juga,
sementara telinganya menangkap sudah ada 2 penyusup yang
ketahuan dan sedang terjadi pertempuran.
Tiba-tiba, terdengar seruan baru, berasal dari suara yang sangat
dia kenal, yakni suara adiknya Cu Yu Tek:
“Mau kemana engkau penyusup ….”?
Dan sebentar kemudian terdengar suara pertempuran. Tetapi,
heran dan kaget dia, karena penyusup itu sepertinya mampu dan
dapat mendesak adiknya. Keadaan adiknya membuat Yu Hwi
ragu sejenak, tetapi rasa sayang kepada adiknya membuatnya
cepat memutuskan. Diapun berkelabat menuju arah suara dimana
adiknya sedang bertarung. Tetapi, alangkah kagetnya ketika dia
144
melihat ada 2 arena yang cukup berjauhan jaraknya, dimana area
pertama seorang penyusup misterius sedang dikeroyok 2 orang
murid kepala dengan 6 anak murid Thian Cong Pay lainnya.
Keadaan mereka sudah terdesak meski berjumlah banyak.
Bahkan 2 orang lainnya sudah terluka di tangan dan kaki, ada 2
tubuh anak murid Thian Cong Pay yang sudah tergeletak di tanah.
Nampaknya sudah tewas malah.
Dia harus cepat, jika tidak, bakalan banyak yang jatuh menjadi
korban para penjahat. Tetapi, alangkah kagetnya Yu Hwi ketika
melirik area kedua, dia menyaksikan betapa si penyusup sedang
mengejar-ngejar seorang anak yang ketika dicermatinya, justru
adalah anaknya sendiri Khong Yan. Dan herannya, dia melihat
adiknya Yu Tek memandangi saja dengan wajah keheranan yang
tak tersembunyian. Ibu mana gerangan yang sanggup
menyaksikan anaknya yang masih kecil, belum genap berusia 10
tahun dikejar-kejar dengan pedang yang menyambar-nyambar?
Sontak dia melejit ke arena itu, begitu sampai pedang tajamnya
sudah terhunus. Tetapi, anehnya adiknya menahan dia dan
berkata:
“Hwi cici, tahan pedangmu sebentar saja, kemudian engkau lihat
dan perhatikan baik-baik bagaimana Khong Yan itu bergerak
145
menghindar dan membuat serangan lawan menjadi mandul tanpa
guna ……”
“Adikku, mengapa engkau …….”? tapi kalimat Yu Hwi terputus
ketika dia melihat Khong Yan anaknya secara ajaib lolos dari tiga
serangan maut lawan dan kelihatannya tidak takut, sebaliknya,
justru sekarang sudah senyum-senyum. Padahal, Yu Hwi tahu
betul, lawan anaknya itu berkepandaian hanya sedikit belaka
dibawah kemampuannya.
“Astaga …………. mengapa ….”? Sampai tak sanggup berkatakata
lagi Yu Hwi ketika melihat semua serangan si penyusup
dapat dielakkan dengan manis. Dan meski selalu diserang, tetapi
Khong Yan tidak terlihat takut, sepertinya gerakan-gerakannya
sudah dikuasai secara sangat baik dan kemanapun lawan
menyerang, dia selalu dapat menebak dan menghindar dengan
cepat dan tepat. Meski heran, tetapi Yu Hwi harus cepat bergerak,
diapun memutuskan:
“Serahkan dia kepadaku, Tek Ji, bantu anak-anak disana, mereka
kerepotan. Kemana pula Liong ji sekarang …..”?
“Baik cici …..”
146
Dan dengan cepat Yu Hwi kini menerjang si penyusup sambil
berteriak:
“Yan ji, cepat engkau masuk kerumah dan bersembunyi disana,
biar ibumu meringkus penyusup busuk ini ….”
Dan tak lama kemudian Yu Hwi dan si penyusup sudah saling
serang dengan serunya. Ternyata kepandaian mereka benar
nyaris berimbang. Hanya kecepatan sajalah yang menjadi
keunggulan Yu Hwi. Wajar jika serang menyerang antara
keduanya terlihat berlangsung seru luar biasa, dengan kecepatan
dan variasi Yu Hwi sedikit lebih unggul namun berimbang dalam
kekuatan dan tenaga. Tetapi meski demikian, tidaklah mudah bagi
Yu Hwi untuk mengalahkan lawan dan meraih kemenangan.
Sementara itu, setelah Cu Yu Tek masuk ke area kedua, dengan
cepat perimbangan bergeser. Meski sebelumnya si penyusup
sudah membunuh bahkan 3 orang murid Thian Cong Pay, tetapi
dengan masuknya Yu Tek, kini dialah yang sedikit repot. Karena
Yu Tek, berbeda dengan kakaknya justru memiliki kemampuan
iweekang yang lebih baik, dan kegesitannya mampu
mengimbangi musuh. Pertempuran merekapun menjadi sama
serunya dengan arena Yu Hwi di sebelah. Tak pelak lagi, Yu Hwi,
Yu Tek memang sudah memiliki dasar dan kemampuan silat yang
147
sangat tinggi, tinggal terpaut sedikit dengan ayah mereka. Dan
merekalah tiang utama Perguruan Thian Cong Pay, dan itu
sebabnya para penyusup kelihatannya tidak beroleh apa-apa.
“Tek Ji, sedapat mungkin ringkus mereka hidup-hidup …..”
terdengar suara Yu Hwi di telinga Yu Tek dan anak itu
mengiyakan meski sadar untuk melakukan itu sulitnya minta
ampun. Karena lawanpun bukannya lemah, hanya terpaut tipis
dari kemampuan dia sendiri. Maka semakin serulah pertarungan
mereka. Tak lama kemudian, kedua arena itu menjadi semakin
padat, karena murid-murid lain datang mengerumuni area tarung
mereka. Bahkan, Yu Liong juga nampak sudah berada disana
dengan lengan kanannya terlihat mengeluarkan darah, juga ada
6,7 murid lainnya yang terluka. Mereka kelihatannya sudah
menyelesaikan tugas di sudut yang lain.
Sekarang sudah jelas, niat para penyusup sudah terpatahkan.
Melihat kedatangan Yu Liong, segera jelas jika missi para
penyusup sudah terpatahkan. Tetapi, kemana penyusup yang
satu lagi?
“Liong ji, cari penyusup yang satu lagi ………. entah dimana dia
….”
148
“Baik …….”
Tak lama kemudian Cu Yu Liong sudah berkelabat pergi.
Sementara pertarungan masih terus berlangsung, tetapi
kemenangan di pihak siapa sudah cukup jelas. Itu sebabnya Yu
Hwi menugaskan Yu Liong untuk mencari penyusup terakhir yang
belum kelihatan batang hidungnya.
Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di hutan belakang Markas
Thian Cong Pay, kejadian yang lain sedang terjadi melibatkan Cu
Ying Lun, Pangcu Thian Cong Pay. Dia masih terus dan terus
mencari kemana gerangan si penyusup, karena sebelumnya dia
sudah menuju pintu masuk gua rahasia, tetapi tak terlihat jejaknya
disana. “Kemana dia jika demikian ….”? Penasaran Cu Pangcu
untuk terus mencari. Tetapi setelah sekian lama tidak
menemukannya, tiba-tiba pendengarannya yang tajam
menangkap gerakan gerakan di sisi sebelah kanan. Gerakan
yang cukup berat namun cepat. Sontak diapun bergerak
mengejar, dan dalam hitungan detik dia sudah menemukan
sumber suara itu.
Tapi, betapa terkejutnya dia ketika melihat si bocah aneh Koay Ji,
kalang kabut diserang si penyusup. Yang membuatnya terkejut
adalah, meski gerakan Koay Ji kalang kabut, tetapi beraturan,
149
sangat efektif dan membuatnya mampu menghindar secara
manis dari ancaman-ancaman serangan lawan. Lebih
mengagetkan lagi, karena si penyerang memiliki kemampuan
tinggi, mungkin sedikit saja dibawah kemampuan dirinya sendiri.
Tetapi, dalam kagetnya, dia tidak melihat rasa takut di mata si
bocah, awalnya mungkin iya. Tetapi, lama-kelamaan, gerakangerakan
si bocah, justru terlihat jauh lebih ringan, tangkas dan
gesit sehingga lawannya kelabakan menyerang dan
menyudutkannya. Karena serangan sehebat apapun, dapat
dielakkan dan dapat dihindari dengan manis oleh si bocah.
Semakin memandang semakin Cu Pangcu kesengsem dan
merasakan kepenasaran yang amat sangat. Bagaimana mungkin
bocah sekecil ini mampu …..?
“Bodoh …… cepat selesaikan bocah tengik itu, teman-temanmu
sudah gagal di dalam. Tapi kita harus berhasil …………”
Luar biasa suara yang baru saja muncul itu, ternyata masih ada
orang lain lagi di sekitar hutan itu. Dan orang tersebut kini
munculkan diri dan langsung disambut oleh Cu Ying Lin, dan
sebentar saja keduanya terlibat dalam pertarungan seru. Yang
mengagetkan Ying Lun adalah, kemampuan orang itu sungguh
luar biasa. Dia harus mengakui keunggulannya dalam hal tenaga
sakti, hanya kegesitannya saja yang mampu dia imbangi. Tetapi,
150
setelah bertarung bebeerapa jurus, dia sudah sadar, jika hanya
soal waktu saja untuk menerima kekalahan. Karena jurus-jurus
dan ilmu silat lawan, juga adalah ilmu-ilmu campuran beragam
perguruan di Tionggoan, bahkan ada beberapa gerak serangan
yang sangat aneh dan mujijat dan membuatnya terpukul mundur
ke belakang. Sayang sekali posisinya sungguh buruk. Tetapi,
keheranannya menjadi-jadi karena si bocah aneh masih tetap
tenang-tenang bersilat, menghindar kekiri, kekanan, bahkan
sesekali maju mendekati lawan, melompat dan kemudian bebas
lagi dengan mulut mengelluarkan senyum gembira nan jenaka.
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis Terbaik PANL 2 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments