Cerita Panas PANL 4

Cerita Panas PANL 4----

“Achhhh, kalau menurut Nona seperti itu, Koay Ji menurut saja,
biarlah Koay ji akan berupaya membantu sedapat mungkin Nona
……”
Begitulah, keduanya akhirnya bekerjasama menemukan jika
masih ada benda rahasia yang tertinggal disana. Dan,
kecerdasan Tio Lian Cu kembali teruji dan terbukti. Dia
memandangi dan mengamati posisi tubuh kerangka itu, dan
setelah lama menimbang, dengan penuh keyakinan gadis muda
itu menunjuk ke dinding kemana arah ujung pedang itu menunjuk.
Diapun mendatangi bagian tersebut, dan meneliti sedapat
mungkin meski dengan cahaya yang sangat terbatas …… setelah
itu, dia kembali memandangi posisi ujung pedang, kemana
menunjuk ……. dan benar saja, dia menemukan sesuatu yang
dicarinya. Sungguh cerdik nona itu …….
Posisi runcing ujung pedang memang menunjuk ke sebuah titik
yang memang tak akan dapat dijangkau dengan mata biasa jika
307
tidak dengan teliti mencarinya. Tetapi, patokan ujung runcing
pedang menuju kemana, membimbing Tio Lian Cu menemukan
sebuah batu kecil yang menonjol sendiri. Batu sebesar jempol
orang dewasa itu terlihat nyembul sendiri keluar dan benda itu
yang ditemukan oleh kecerdasan nalar seorang Nona kecil. Luar
biasa. Dan tanpa ragu dia kemudian menarik batu kecil tersebut,
dan benar, memang ternyata batu itu menjadi semacam
penopang ataupun sejenis tombol yang membuka tempat rahasia
si pemilik pedang yang sudah berbentuk kerangka tersebut.
Penemuan Lian Cu ini membuat Koay Ji mau tidak mau terkejut
dengan kemampuan hebat dan kecerdasan Nona itu …..:
“Nona, Koay Ji betul-betul takluk kepadamu ….” ujarnya kagum
dengan nada yang penuh kejujuran, tiada sedikitpun nada sirik
atau dengki dalam suara pujian Koay Ji tersebut …… dan inilah
awal kedekatan kedua anak manusia yang kelak mewarnai dunia
persilatan Tionggoan dengan keunggulan mereka masing-masing
yang di luar kenormalan manusia.
“Ach, engkau mengejekku saja Koay ji, mana mampu aku
menandingi pukulanmu yang luar biasa tadi itu …….”
Keduanya saling memuji dengan nada tulus waktu itu, dan Tio
Lian Cu sendiri kaget, karena itulah pertama kali dia memuji orang
308
secara jujur. Dan tak lama kemudian Tio Lian Cu membawa
sebuah kotak dan kemudian meletakkanya di atas tanah dan
diapun memandang Koay Ji dan bertanya:
“Kita berdua sama sekali belum tahu benar apa gerangan isi kotak
ini, apakah engkau akan menginginkan isinya Koay Ji …..”?
“Engkau bercanda Nona …… engkau yang menemukannya,
Koay Ji akan bertarung dengan siapa saja yang berusaha
mengambilnya darimu ……”
“Tetapi, tempat ini ditemukan oleh monyet-monyetmu dan engkau
tentu berhak untuk setidaknya ikut memiliki …..”
“Tidak ….. jika engkau berpikiran demikian, maka kotak dan isinya
itu anggaplah kuhadiahkan kepadamu Nona …. hitung-hitung
merupakan hadiah menyambut tamu yang datang dari jauh …….”
Kembali Tio Lian Cu terenyuh dan kagum dengan keadaan dan
sikap Koay Ji. Dan hal itu semakin membuat dia mengenal watak
dan kepribadian Koay Ji yang selain masih polos tetapi juga tidak
tamak.
Berpikir demikian, Tio Lian Cu menganggap tanggung jika Koay ji
hanya tahu sebagian. Maka diapun perlahan dengan
309
menggunakan pedang yang selalu dibawanya membuka kaitan
yang merupakan penutup kotak itu. Menggunakan pedang karena
dia takut dengan racun ataupun senjata rahasia yang terdapat
dalam kotak itu. Tetapi ternyata, tidak ada apa-apa yang
menyelimuti kotak itu lagi, dan kini isinya segera terpampang
dihadapan mereka ….. kotak itu berisi sebutir mutiara yang
memancarkan hawa dingin pembeku. Kelihatannya sejenis
mutiara soat lian (teratai saldju) dan memancarkan cahaya yang
cukup terang dan menjaga suhu udara dalam kotak agar tetap
terjaga dingin dan mengurangi efek pembusukan benda dalam
kotak itu. Dan tentunya bukan hanya mutiara itu yang berada
dalam kotak. Karena mutiara justru berguna untuk menahan dan
menunda pembusakan benda lain, selain itu benda itulah yang
mestinya teridentifikasi duluan karena cahaya dan hawa dingin
menusuk yang disiarkannya. Tak lama Lian Cu menemukan
sebuah kitab yang sudah cukup lusuh. Tetapi, kitab dan tulisan
didepan sampulnya yang membuat Tio Lian Cu berteriak kaget:
“Astaga …….. Pit Kip Tian-To Im Yang Ngo Heng Kiam Hoat …”?
Tio Lian Cu sampai berdiri terngaga dan bingung melihat isi kotak
yang ternyata adalah sebuah kitab pusaka, dan dia akan menjadi
lebihkaget lagi nantinya. Karena ada sebuah tulisan lain yang
310
membuatnya kaget tak terkira, tulisan yang terpisah dari kitab
pusaka itu berbunyi demikian:
“Kitab Pusaka ini adalah kerja keras melalui penelitian dan ciptaan
terakhirku, Ciangbudjin Hoa San Pay Angkatan ke-7, Kwan Kim
ceng To-Pi Sin-kiam In Kiam (Si Pedang Saktii Berlengan
Banyak). Ilmu pusaka ini sejatinya adalah ciptaan Ciangbudjin
Angkatan ke-4, namun sayang sudah puluhan tahun lenyap dan
tinggal menyisakan helai-helai kitab yang tidak lagi lengkap
sebagai satu ilmu perguruan. Di penghujung hidupku, kucoba
merangkai kembali Ilmu Mujijat ini hingga menemukan bentuk
yang tidak kurang lihay dari ilmu aslinya, dan semoga kelak suatu
saat dapat diwarisi oleh penerus Hoa San Pay untuk menegakkan
Perguruan ………… bagi yang menemukan, semoga bermurah
hati untuk menyampaikannya kepada Ciangbudjin Hoa San Pay.
Tetapi jika karena peruntungan anak murid Hoa San Pay yang
menemukannya, maka engkau berhak mengaku sebagai
pewarisku. Pedang Toa Hong Kiam (Pedang Angin Badai), adalah
Pusaka Pengenal Ciangbudjin Hoa San Pay sejak Ciangbudjin
angkatan ke-5 dan dalam catatan para couwsu Hoa San Pay
selalu disebutkan dan ditegaskan bahwa siapapun yang menjadi
Pemegang Pedang Pusaka, berarti memiliki kekuasaan hak
311
memerintah Hoa San Pay sebagai Ciangbudjin. Dimana ada
pedang, disana ada Ciangbudjin Hoa San Pay ….
Kwan Kim Ceng – Ciangbudjin Hoa San Pay Angkatan ke-7
Begitu selesai membaca surat yang mengantarkan Kitab Pusaka
Tian To Im Yang Ngo Heng Kiam Hoat, Tio Lian Cu nampak
gembira sampai berlinang air mata. Dengan segera dia berdiri dan
pergi berlutut dihadapan kerangka Kwan Kim Ceng:
“Couwsu, tecu Tio Lian Cu, murid Hoa San Pay datang memberi
hormat dan mengucap terima kasih atas anugerah Couwsu ……”
setelah berkata demikian, Tio Lian Cu dengan hikmat memberi
hormat kepada kerangka itu. Tetapi, setelah memberi hormat
untuk ketiga kalinya, dengan bantuan sinar Soat Lian yang masih
terus memancarkan cahaya, dia menemukan adanya tulisantulisan
kecil di lantai tempatnya berlutut dan menyembah itu.
Rupanya, lantai tempat dia menyembah bukanlah terbuat dari
bebatuan ataupun tanah dasar gua, tetapi justru adalah lapisan
besi namun sudah dipenuhi oleh debu dan tanah yang menebal.
Adalah jodoh Lian Cu, karena ujung besi tempat tulisan itu justru
menyibak oleh gerakan-gerakan menyembahnya dan
membuatnya mampu menemukan tulisan itu:
312
“Perhatikan dengan seksama posisi lenganku, posisi telapak,
posisi dada untuk penyaluran tenaga, maka itulah kunci rahasia
jurus pamungkasnya ……”
Sesuai perintah couwsunya, maka Tio Lian Cu memandang
semua letak dan posisi tubuh Couwsu tersebut, mencatatnya
dalam hati dan kemudian secara perlahan mengambil Pedang
Toa Hong Kiam. Begitu memegang pedang yang masih dalam
sarungnya, terdengar Koay Ji berkata:
“Nona, bukankah sebaiknya engkau meneliti terlebih dahulu dan
mengingat-ingat posisi khusus kerangka itu ……”?
“Benar, tetapi menurut Couwsuku, tidak perlu lagi ……….
Penjelasannya sudah ada dalam Kitab ini …..” jawab Lian Cu
“Hmmmm, posisi itu rada aneh Nona …… selain berpengaruh
terhadap pergeseran jalan darah, tetapi juga mempengaruhi
jalannya tenaga iweekang. Jika aku tidak salah, dibutuhkan
kekuatan iweekang yang luar biasa baru dapat menjalankan
posisi aneh dan mujijat itu. Kemungkinan besar, couwsumu
meninggal ketika berusaha membentuk ataupun menemukan dan
mempraktekkan posisinya ini ……. Entah apa alasan dia orang
313
tua untuk mempertunjukkan posisi yang tidak lazim ini, tetapi
buatmu Nona tentu saja besar faedahnya ………”
Kaget Tio Lian Cu tidak terkira. Tetapi, kelak dia akan lebih kaget
lagi. Karena dia tidak tahu jika posisi gerak itu diketahui secara
jelas oleh Koay Ji dan posisi itu berasal dari daerah Thian Tok,
salah satu posisi mengerahkan tenaga yang mujijat tetapi sulit
ditiru oleh orang dengan kemampuan yang cetek.
“Engkau juga dapat mengenali posisi gerak seperti itu ……”?
Tanya Nona Tio Lian Cu kaget setengah mati
“Nona, posisi ini adalah salah satu yang paling rumit dari Thian
Tok, tetapi tidak akan dapat ditiru dan dilakukan oleh mereka yang
berkekuatan iweekang yang masih rendah. Dibutuhkan latihan
minimal 50 tahun untuk mampu mengeluarkan efek mujijat dari
gerak tersebut ……….. itu yang kutahu nona …..”
Tio Lian Cu mendengar tetapi tidak menganggap itu sangat
penting. Tetapi ada saat dia akan merasakan betapa pentingnya
penjelasan Koay Ji hari ini, bukan sekarang tetapi kelak di
kemudian hari …..
314
“Baiklah, mari kita pergi …..” akhirnya Tio Lian Cu mengajak
mereka pulang setelah tidak lagi menemukan apa-apa dalam goa
tersebut.
Alangkah terkejutnya mereka ketika saat mereka kembali, Thian
Hoat Tosu dan Bu In Sin Liong sudah menunggu mereka di depan
pintu goa, karena hari sudah menjelang sore dan sebentar lagi
malam tiba. Begitu melihat kedatangan kedua muda-mudi
tanggung yang ditemani seekor monyet besar, Thian Hoat Tosu
dan Bu In Sin Liong sudah tersenyum dengan Thian Hoat Tosu
yang menegur mereka:
“Ach kemana saja kalian berdua anak-anak ….? Mengapa tidak
memberitahukan kami jika kalian berdua hendak jalan-jalan agak
jauhan …..”?
“Ach Suhu, kami kan bukan anak-anak lagi, lagipula Suhu
kelihatannya asyik sekali bercengkrama dengan Bu In
Locianpwee ……dan jika tidak sedikit nakal, maka tecu tidak akan
menemukan benda-benda ini ….” Tio Lian Cu berkata sambil
menyodorkan kotak berisi buku pusaka yang dipandangi sepintas
saja oleh Suhunya.
315
“Sudahlah, hari sudah menjelang malam. Kita akan beristirahat
dan tinggal selama beberapa hari di kedaiaman pamanmu ini LIan
Cu ……… karena itu, jagalah kata-kata dan tindakanmu selama
berada disini …..” tegur Thian Hoat Tosu meski jelas tidak dalam
nada marah.
“Suhu, tecu menjamin engkau orang tua akan terkejut setengah
mati jika melihat dan mengetahui apa gerangan isi kotak ini …”
berkata Tio Lian Cu dengan suara tegas dan penuh dengan
keyakinan
Thian Hoat Tosu yang tadinya sudah berniat untuk segera
beranjak, segera menahan langkahnya dan kembali melirik
muridnya yang memang selalu menang kalau berdebat
dengannya itu;
“Cu ji, mainan apalagi yang engkau temukan hari ini ……”?
“Suhu, lihatlah sendiri apa isinya ……..” ujar Tio Lian Cu sambil
menyerahkan kotak itu kepada Thian Hoat Tosu suhunya …..
Benar saja, begitu membuka penutup kotak itu, wajah Thian Hoat
Tosu berubah hebat, tetapi hanya sebentar. Perlahan dengan
nada serius dia memandangi muridnya dan kemudian berkata
dalam nada berat:
316
“Cu ji, dimana engkau menemukan kitab pusaka leluhur kita ini
…..”?
Tio Lian Cu tidak menjawab, hanya melirik Koay Ji, sementara
monyet besar yang menyertai mereka sudah berlalu.
“Koay Ji …….. engkau yang menemukannya ……”? Tanya Thian
Hoat Tosu dengan tekanan suara berat namun bernada gembira
“Sebenarnya Nona Tio Lian Cu yang menemukannya locianpwee,
dia sangat teliti dan hebat menemukan Kitab itu, Koay Ji hanya
mengajaknya ikut mengobati kawanan monyet yang ternyata
terluka karena berebut masuk goa itu ….. selebihnya, dia sendiri
yang menemukan pusaka itu ……”
“Cu ji ……. Bagaimana kisahnya …..”?
“Suhu, sucouw sendiri sudah menuliskannya sendiri secara jelas
dan dalam tulisan tangannya mengenai peninggalannya itu ……”
“Kionghi ….. kionghi …… benar-benar anugerah besar bagi Hoa
San Pay …” terdengar Bu In Sin Liong bersuara ikut gembira,
karena melihat wajah Thian Hoat Tosu yang berubah hebat, dia
paham bahwa temuan itu pastilah berharga sangat mahal
317
“Hmmmmm, benar-benar berkah tak terhingga mengunjungi
engkau Bu In …. karena kepingan paling berharga dalam ilmuku
dan ilmu Hoa San Pay justru ditemukan di dekat tempat
pertapaanmu ini. Apakah engkau dapat menebak kitab pusaka
apa gerangan yang ditemukan kedua anak itu ….”?
“Apakah bukannya Pit Kip Tian-To Im Yang Ngo Heng Kiam Hoat?
Karena hanya benda pusaka itulah yang dapat menggerakkan
hatimu hingga berubah menjadi begitu tegang namun sangat
gembira. Hahahahahaha, Thian Hoat Tosu, apakah lohu keliru
menebak beda itu …..”?
“Hahahahaha, engkau sungguh jeli, memang benar, selain benda
itu, mana ada benda lain lagi yang akan merangsang rasa
gembiraku yang berlebihan ……. ”
“Jika demikian, sekali lagi Kionghi Thian Hoat Tosu ……. engkau
dapat mengejar setitik kecil ketertinggalanmu dari Sinni dan Bu
Te …….”
“Tepat sekali …. selama ini sudah puluhan tahun kuusahakan
menemukan keeping terakhir dari rahasia ilmu Hoa San Pay, tak
kusangka ditempatmu kutemukan bagian yang paling rahasia itu
……… “
318
“Sudahlah ……. Kita dapat bercakap lebih jauh di dalam ….” Ajak
Bu In Sin Liong yang merasa ikut gembira dengan temuan
berharga itu.
“Dan pedang apalagi yang engkau pegang Cu ji …..”? tegurnya
melihat masih ada benda lain yang berada di genggaman
muridnya
“Suhu, inipun tidak kurang berharganya ..” sambil berkata
demikian LIan Cu kemudian menarik keluar pedang Toa Hong
Kiam dari sarungnya … dan, luar biasa tiba-tiba angin lesus bagai
bertebaran keluar dari dan mengiringi sinar cemerlang
menyakitkan mata yang memancar dari badan pedang yang
berwarna bening sebening kaca itu. Sungguh-sungguh sebatang
pedang pusaka yang bernilai luar biasa …….
“Astaga, bagaimana bisa Toa Hong Kiam juga muncu disini ……
jika demikian, Pedang apa gerangan yang berada di tangan
Ciangbudjin sekarang ini …..”?
“Kupastikan pedang palsu Suhu ……”
“Sembarangan engkau Cu ji ……”
319
“Karena pedang ini tidak mungkin palsu Suhu …” ujar Lian Cu
sambil kemudian meloncat ke belakang dan menggetarkan
pedang untuk kemudian mengibaskannya dalam jurus sederhana
“memotong sinar rembulan”. Dan akibatnya luar biasa, suara dan
letikan sinar bagai petir menyambar dari pedang itu dan terlontar
hingga jarak serang 7, 8 meter. Dan akibatnya, benda-benda yang
kena serangan pedang tersebut berhamburan bagai tercabut dari
akarnya. Sungguh-sungguh dahsyat dan sampai berapa lama
benda-benda itu masih berhamburan di udara sebelum akhirnya
terlontar jauh ke bumi. Luar biasa ……….
“Hebat ….. sungguh-sungguh pusaka yang hebat ///” gumam
Koay Ji melihat efek dan pengaruh mujijat pedang itu
“Astaga, jika demikian, maka Hoa San Pay ada cara untuk
ketolongan …….” desis Thian Hoat Tosu nyaris tak didengar
orang lain.
Malam itu dilewati Thian Hoat Tosu dan Tio Lian Cu dengan
sangat bergembira. Secara tak sengaja kedatangan mereka ke
Thian Cong San justru berujung kegembiraan yang membuat
mereka berharap banyak atas masa depan dan keselamatan Hoa
San Pay. Meskipun demikian, Thian Hoat Tosu yang belum lama
mendidik Tio Lian Cu memiliki kesabaran dan persiapan yang
320
dibuat lebih matang agar upayanya menyelamatkan Hoa San Pay
tidak terkendala karea terburu-buru …….
Keesokan harinya, Koay Ji tidak bertemu dengan Tio Lian Cu.
Juga tidak melihat dimana gerangan suhunya berada. Tetapi,
ketiadaan suhunya tidak membuat Koay Ji berhenti melatih diri.
Tetap saja dengan seorang diri dia berlatih dengan dikawani
Monyet Putih dan memainkan Ilmu Silat Sam Im Ciang dengan
penuh tenaga dan dengan kegesitan yang mengagumkan. Dia
tidak menyadari jika seseorang mengamati latihannya dan
memandang cara berlatih dan ketekunannya dengan kekaguman
yang tak tersembunyikan. Setelah selesai berlatih Sam Im Ciang,
tiba-tiba Koay Ji sadar ada yang mengamatinya ketika mendengar
suara:
“Luar biasa Koay Ji …… engkau bersilat secara terukur dan
tenaga yang tepat. Tetapi, meskipun demikian sesungguhnya ada
beberapa bagian luang yang dapat menjadi ancaman jika engkau
bergerak agak ayal-ayalan dengan jurus-jurus dari ilmu tadi.
Apakah engkau menyadarinya Koay Ji ….”?
Koay Ji sudah tahu jika Thian Hoat Tosu adalah salah seorang
tokoh mujijat sebagaimana kisah Suhunya dulu-dulu, karena itu,
dengan rendah hati dia menjawab:
321
“Locianpwee, maukah engkau memberikan aku beberapa
petunjuk ….”?
“Perlahan Koay Ji, jika engkau dapat memahami kekuranganmu,
maka apa yang menjadi petunjukku baru akan menjadi sesuatu
yang sangat berguna ….”
Koay Ji terlihat berpikir serius sejenak. Bukan sejenak tetapi
menjadi semakin panjang dan lama. Tetapi, memang demikian
adanya Koay ji jika sedang berusaha keras guna memecahkan
satu persoalan, utamanya dalam Ilmu Silat. Dan sekarang dia
berusaha dengan membayangkan kembali jurus-jurus dan
gerakan-gerakan ilmu yang tadi dia mainkan dan latih, dan dia
seperti melihat dalam bayangannya tubuhnya sendiri yang
bergerak, meloncat, memukul, menghindar dengan kekuatan dan
kecepatan yang hebat. Dalam memandang bayangannya itu, dia
mencoba menilai dan meneliti, dimana gerangan kekuarangankekurangan
yang disebutkan menjadi titik luang yang dapat diisi
dan diperbaiki lagi? Cukup lama Koay ji dalam posisi seperti itu
dan tidak diganggu sedikitpun oleh Thian Hoat Tosu. Beberapa
saat kemudian dia berseru …..:
322
“Acccccch, dapat …… apakah locianpwee ingin mengatakan
bahwa terdapat begitu banyak peluang diserang dari bagian atas
tubuhku ….”?
Kali ini Thian Hoat Tosu yang kaget tak terkira. “Apakah dia dapat
membaca pikiranku”? desisnya dalam hati, tetapi dimulut Thian
Hoat Tosu berkata:
“Tidak sepenuhnya benar, tetapi memang dengan pemusatan
perhatian kepada tinjumu maka engkau mengabaikan serangan
dari udara, apalagi dalam ilmu-ilmu yang justru mengutamakan
serangan cakar elang dan sejenisnya. Menghadapi itu, maka
engkau akan mengalami kerepotan besar Koay Ji ////”
“Acchhhh, benar, engkau benar Locianpwee, sebetulnya
boanpwee sendiri sudah merasakannya sejak lama, tetapi, Suhu
meminta untuk berlatih setahap demi setahap sehingga dapat
menemukan beberapa peluang sendiri dalam mengembangkan
ilmu silat. Tetapi, terima kasih atas petunjuk locianpwee …..”
“Koay Ji, apakah engkau ingin mencoba kita bertarung dengan
gaya berbeda biar engkau dapat melihatnya lebih jelas ……”?
tantang Thoan Hoat Tosu
“Acccch, boanpwee tidak berani locianpwee ….”
323
“Anggap saja engkau membantuku untuk melemaskan otot-otoku
Koay Ji ….”
“Apakah boanpwee tidak berlaku lancang dengan berbuat begitu
locianpwee …”?
“Kutanggung suhumu tidak akan murka Koay Ji, ayo …..”
“Baiklah, Koay Ji menurut locianpwee …..”
“Nach, engkau mulailah anak baik …..”
Maka tanpa diperintah lebih jauh lagi, mulailah Koay Dji
menyerang Thian Hoat Tosu dengan menggunakan jurus-jurus
serangan dari Ilmu Sam Im Ciang. Pertama dia menggunakan
jurus Sin Hoan Put Le (Berputar-putar tanpa henti) dan dilanjutkan
dengan To Tha Kim Ciong (Memukul Jatuh Lonceng Emas).
Kecepatannya sudah tepat dan kekuatan pukulannya juga seudah
sesuai dengan tuntutan yang diajarkan Suhunya. Tetapi dalam
kagetnya, dia melihat gerakan sederhana Thian Hoat Tosu sudah
memegatnya dengan jurus sederhana jurus San-tian-keng-hong
(Kilat mengejutkan pelangi). Otomatis semua serangan yang
disusun dan disasarnya gagal di tengah jalan, maka dia mencoba
lagi dengan menukar jurus masing-masing jurus Kau-hu-bun-lu
(Pencari kayu bakar bertanya jalan) dan Ceng-cui-boan-ta
324
(Meniup ringan memukul pelan). Kedua jurus itu dilakukannya
dengan mengelakkan terjangans ederhana Thian Hoat Tosu dan
berbalik cepat menyasar bagian samping dan bawah tubuh Thian
Hoat Tosu.
Tetapi, kembali seperti kejadian pertama, hanya dengan bergerak
dalam jurus yang sederhana jurus Liu-in-hui-siu (Awan mengalir
lengan baju terbang) semua sasaran serangannya buyar dan dia
kembali harus bergerak dengan jurus yang baru. Seperti itu
selalu, setiap kali Koay Ji menyerang dengan dua atau tiga jurus,
selalu dengan sangat sederhana Thian Hoat Tosu memunahkan
dan mencegatnya untuk mendesak lebih jauh dan membuat Koay
Ji harus memulai kembali menyusun dan menata serangan dari
awal. Setelah menyelesaikan Ilmu Sam Im Ciang, dengan cepat
Koay Ji mundur dan berkata serius:
“Benar sekali locianpwee, sungguh-sungguh pengajaran yang
luar biasa ……”
Kalimatnya ini membuat Thian Hoat Tosu menjadi kaget kembali.
Sungguh bocah yang tahu diri dan tidak takut dihajar, tidak malu
ditegur …….. karena berpikir demikian, maka dengan tulus dia
berkata:
325
“Bocah, jika engkau dapat mengingat-ingat kembali rangkaian
gerakanku, maka engkau akan menemukan pelengkap ilmumu
yang luar biasa. Dapatkah engkau menangkapnya secara benar
dan baik ……”?
“Locianpwee, koay ji dapat mencatat dan mengingat semuanya
dengan baik … meski mungkin masih belum sempurna …….
bolehkah Koay Ji memainkannya dan kemudian locianpwee
meniliknya kembali …..”?
“Boleh anak baik ….. lakukanlah”
Dan ketika Koay Ji selesai meniru semua gerakan sederhana
Thian Hoat Tosu tadi, giliran tokoh tua yang kembali terpana.
“”Bocah ini jika tersesat benar-benar akan menjadi iblis baru yang
sangat berbahaya, untungnya dia berkarakter dan memiliki
kerendahan hati yang menonjol ……”
“Nach, bagaimana jika engkau merangkai gerakan-gerakan yang
engkau lihat tadi dalam rangkaian seperti ini Koay Ji …..”? sambil
menjelaskan, Thian Hoat Tosu bergerak dan bahkan diikuti oleh
Koay Ji ……
Selama setengah hari, tanpa disadari oleh Koay Ji, dia sudah
menimba secara penuh salah satu Ilmu Andalan Thian Hoat Tosu
326
yang membuatnya sangat dilamui orang. Ilmu itu adalah Hong In
Pat Jiauw atau ilmu Delapan cengkeraman angin dan Mega. Dan
ketika Thian Hoat Tosu meminta Koay Ji melatihnya terpisah dari
Sam Im Ciang, terkejutlah bocah itu, karena ilmu tersebut benarbenar
hebat dan luar biasa. Bahkan, ketika Thian Hoat Tosu
memintanya menggabungkan kedua ilmu itu, kembali Koay Ji
gembira, karena dia merasa gabungan itu menjadi lebih kaya,
lebih menyenangkan dan efeknya juga terasa lebih
membahayakan lawan. Sebelum Thian Hoat Tosu
meninggalkannya, sempat orang tua itu berkata:
“Koay Ji, engkau teruslah perdalam ilmu itu sampai malam nanti,
besok kita lihat sampai dimana kemajuanmu baik memainkan ilmu
tunggal itu ataupun ketika engkau menggabungkannya dalam
satu paduan yang selaras. Tetapi, kelak jika engkau berkelana
kumohon engkau lebih sering memainkan gabungan ilmu itu,
untuk menghormati Suhumu dan juga anak muridku yang lainnya
….. “
“Baik locianpwee …. Koay Ji akan terus berlatih keras dan tentu
mengingat pesan locianpwee sebaik-baiknya …./”
Mendapat mainan baru, Koay Ji menjadi sangat bersemangat
berlatih. Bahkan, ketika menggabungkannya, Koay Ji secara
327
cerdik memikirkan beberapa variasi tambahan yang tidak terdapat
dalam Sam Im Ciang maupun Hong In Pat Djiauw. Secara
sengaja dia memasukkan unsur gerakan dari Tibet dan Persia
dalam gabungan jurus ke tujuh dan kedelapan sehingga menjadi
lebih indah dan lebih tajam. Tetapi, ketika keesokan hari Thian
Hoat Tosu memeriksanya, dia menggeleng-gelengkan kepala
melihat hasil paduan Koay Ji yang jauh dari sangkaan dan
dugaannya. “Bocah ini memang betul-betul aneh dan mujijat
…….”
Keesokan harinya dan seterusnya hingga hari ke-10, dengan cara
yang sama seperti hari pertama, tanpa disadari Koay Ji, dia diberi
hadiah beberapa macam ilmu luar biasa milik Thian Hoat Thaysu.
Terakhir yang diajarkan Thian Hoat Tosu hebat itu adalah ilmu
andalannya bernama Khong In Sian Po Hui Hong (Awan Kosong
- angin puyuh yang berpusing dan bergelombang). Ilmu ini adalah
andalannya yang menjadi ciri khas dan sangat diindahkan Bu Te
Hwesio dan Lam Hay Sinni, tetapi tanpa rasa sayang
diturunkannya kepada Koay Ji. Karena Koay Ji belum cukup
paham bagaimana ilmu bidik, maka dia butuh waktu sampai 5 hari
baru dapat mengerti dan melatihnya siang dan malam sampai dia
akhirnya bisa di hari ketujuh. Keistimewaan ilmu senjata rahasia
itu adalah benda atau senjata yang dapat datang bergelombang
328
ataupun meski hanya sebuah tetapi mampu berbelok dengan
kecepatan yang luar biasa cepatnya.
“Koay Ji, kelak jika kekuatan tenaga dalammu sudah dapat
engkau gerakkan seturut kata hatimu, maka berpikirlah secara
jernih untuk menggunakan ilmu tunggalku itu. Engkau membuat
Hoa San Pay dapat diselematkan kembali dengan menemukan
Kitab dan Pedang Pusaka Hoa San Pay, maka lohu tidak merasa
sayang engkau mewarisi berapa macam ilmu kebanggaanku …..”
Tidak kurang dari 3 ilmu hebat yang diwariskan Thian Hoat Tosu,
meski yang paling hebat adalah Ilmu tunggalnya, yakni Khong In
Sian Po Hui Hong (Ilmu Senjata Rahasia yang dapat berpusing).
Selain itu, tentu saja Hong In Pat Djiauw dan menuntun Koay Ji
menggabungkannya dengan Sam Im Ciang. Dan terakhir karena
melihat kedekatan Koay Ji dengan para monyet disitu, dia juga
dihadiahi Ilmu Leng Wan Sip-pat Pian”, delapan belas jurus
ilmusilat Kera Sakti. Ilmu ini kelak memang dikembangkan lebih
lengkap dan mujijat oleh Koay Ji berhubung dia sering bergaul
dan memahami gerak-gerik dan maksud setiap gerakan monyet.
Dibandingkan Thian Hoat Tosu sendiri, kelak ilmu ini malah jauh
lebih hebat karena kedalaman pengertian Koay Ji akan monyet
dan kehidupan mereka.
329
Setelah lewat sepuluh hari, barulah Tio Lian Cu muncul kembali
bersama Bu In Sin Liong. Kemunculan Tio Lian Cu disertai sinar
matanya yang berkilat tajam, tanda kekuatan iweekangnya sudah
melonjak jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya. Sepanjang hari
itu, keduanya, Koay Ji dan Tio Lian Cu lebih banyak bergaul dan
kembali bermain-main dengan kawanan monyet. Bahkan Koay Ji
mengajari Tio Lian Cu bagaimana berkomunikasi dengan monyet,
dan dasar anak itu juga cukup cerdas, maka setelah seharian,
dapatlah dia berkomunikasi dengan monyet meskipun masih
dalam kosa kata yang terbatas. Tetapi, sudah cukup
mendatangkan kegembiraan bagi Tio Lian Cu. Sayang, itulah hari
terakhir mereka bermain karena keesokan harinya Thian Hoat
Tosu mohon diri dan berpamitan dari Thian Cong San;
“Koay Ji, belajarlah yang tekun, ingatlah semua pesanku
kepadamu. Tidak salah lagi, kedepan Rimba Persilatan
Tionggoan akan berharap banyak darimu, jadi jangan pernah lalai
untuk belajar dan berlatih …..”
“Terima kasih locianpwee, semua pesan locianpwee akan Koay Ji
catat dalam hati …”
“Bagus anak baik …… kelak kita akan berjumpa pula …”
330
Tio Lian Cu yang pada awal-awal memandang ringan dan sepele
terhadap kehebatan Bu In Sin Liong dan Koay Ji, menemukan
kenyataan betapa berat berpisah dari sana. Bukan hanya karena
kebaikan hati Bu In Sin Liong yang menempanya dengan obat
mujijat yang baru diolahnya, tetapi bahkan membantu
memperkuat dasar sinkangnya sehingga maju bagai berlatih 10-
15 tahun saja. Bukan hanya itu, berlatih dan meditasi
mengumpulkan tenaga sekarang ini membuatnya mampu
mengumpulkan dan melatih jauh lebih effektif dibandingkan
sebelumnya. Meski Suhunya tidak berkata apa-apa, tetapi dia
sadar, bahwa kemajuannya adalah karena bantuan yang tidak
kecil dari Bu In Sin Liong. Kelak Suhunya memang menceritakan
maksud kedatangan mereka ketika datang berkunjung ke Thian
Cong San dengan maksud kelak menyelamatkan Hoa San Pay
dari kehancuran saat itu …..
“Koay Ji, terima kasih, bantuanmu bagi perguruan Hoa San Pay
kami luar biasa besarnya. Tanpa engkau, Pusaka perguruan kami
tidak akan pernah ditemukan, juga jika bukan karena pasukan
monyetmu; Karena itu, aku berjanji akan berlaku baik kepada
semua monyet yang kukenal kelak ……”
“Nona Lian Cu, kelak aku akan mengunjungi Hoa San Pay kalian
……. sayang sekali, Thian Cong San akan kembali menjadi sunyi
331
dan sepi …..” bisik Koay Ji sedih karena kembali kehilangan
teman ……
“Koay Ji, aku tidak hanya berterima kasih. Karena tidak akan
cukup hanya dengan ucapan terima kasih, tetapi yang pasti kami
akan selalu mengingat semua kebaikan kalian Suhu dan murid
disini. Biarlah kutinggalkan Soat Lian ini sebagai tanda
persahabatan kita …. Sekalian agar engkau selalu mengingatku
…..”
“Ach ….. terima kasih banyak dan selamat jalan Nona Lian Cu ..”
Keduanya saling pandang sejenak dengan tatap mata sedih satu
dengan yang lain. Ya, keduanya masih belum mengenal asmara
dan belum tahu arti khusus hubungan laki laki dan perempuan.
Karena itu, saling tatap antara mereka benar-benar tulus dari rasa
persahabatan yang terjalin dengan baik dan dari rasa hati
persahabatan terdalam. Dan, kembali sunyi dan senyap puncak
Thian Cong San dengan KOay Ji memegang soat lian yang terasa
hangat di tangannya ……..
Selanjutnya, Koay Ji kembali larut dalam latihan dan tempaan
hebat suhunya. Thian Hoat Tosu banyak membantu meyakinkan
Bu In Sin Liong dan karenanya, setelah kedatangannya Bu In Sin
332
Liong menempa Koay Ji habis-habisan. Selama 10 tahun Koay Ji
belajar di Thian Cong San, satu-satunya tamu yang berkunjung
kepada Suhunya hanyalah Thian Hoat Tosu seorang itu sajalah.
Tetapi, itu yang dia tahu, karena sebetulnya ada tamu lain yang
datang menjumpai Suhunya 5 tahun silam tanpa menampakkan
diri kepadanya. Setelah 10 tahun, Koay Ji heran karena dia
melihat keadaan dan kondisi Suhunya masih tetap sama dengan
10 tahun lalu ketika dia mendapati dirinya berada dalam gua
pertapaan Suhunya itu. Koay Ji tidak sadar jika umurnya sekarang
sudah mencapai 19 tahun dan waktu sudah membentuknya
menjadi seorang pemuda yang bertampang gagah.
Wajahnya tidaklah sangat tampan, tetapi jelas sosok berwajah
kokoh dan gagah dari seorang laki-laki, seorang pemuda yang
berisi. Tetapi, anehnya setelah sepuluh tahun berlalu, pancaran
mata Koay Ji justru tidak lagi terlihat menyiratkan tatap mata naga
sakti, tetapi lebih sinar mata bening sebening tatap mata seorang
bayi. Akan sangat sulit orang menduga bahwa dibalik mata
beningnya tersembunyi kekuatan maha dahsyat yang bahkan
suhunya sendiri ngeri membayangkannya sejak masa kecilnya.
Itu berarti tidak banyak yang akan tahu dari fisiknya bahwa anak
itu berisi. Yang pasti tahu adalah Suhunya, Bu In Sin Liong yang
333
setelah percakapan dengan Thian Hoat Tosu menjadi semakin
yakin bahwa Koay Ji adalah pewarisnya yang sejati.
Maka tidak tanggung-tanggung, Bu In Sin Liong memasrahkan
semua ilmunya ke tangan bocah ini. Toa Pan Yo Hiankang kini
telah membaur dengan tenaga mujijat dalam tubuh Koay Ji yang
kini bahkan sudah membaur dan menjadi kekuatan iweekangnya
sendiri. Selain itu, Bu In Sin Liong mengajarkan 3 ilmu mujijat
Siauw Lim Sie yang dikuasainya, yakni Tay Lo Kim Kong Ciang,
Kim Kong Ci, Tam Ci Sin Thong, dengan pesan agar ketiga ilmu
mujijat itu tidak usah dipergunakan selama berkelana karena
adalah ilmu pusaka milik Siauw Lim Sie. Dalam perkembangan
selanjutnya, Bu In Sin Liong kembali kaget menemukan, jika
kekuatan iweekang Koay Ji masih terus bertambah kuat dari
waktu kewaktu. Entah mengapa kekuatan atau pertambahan
kekuatan iweekang Koay Ji seperti tidak mengikuti kebiasaan
umum, “apakah karena hawa bawaan dan pengaruh pil mujijat itu
…”? kenang Bu In Sin Liong. Sampai masa 10 tahun, Bu In Sin
liong tetap tidak menemukan jawabannya, tetapi yang
menggembirakannya adalah, anak didiknya tidak menunjukkan
perubahan watak, malah semakin gagah dan semakin nampak
karakternya yang sangat kuat.
334
Tetapi, setelah genap 10 tahun, dia merasa sudah saatnya
melepas Naga Sakti itu untuk terjun ke dunia persilatan, sebab
tidak ada gunanya memeram anak itu dalam perut gunung
menjadi pertapa. Terlebih, dia sadar bahwa Koay Ji semakin ingin
tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Hal ini beberapa kali
diungkapkan Koay Ji baik secara sengaja maupun tidak. Maklum,
anak itu semakin dewasa menjadi semakin tahu urusan, dan dia
bingung karena tidak mengetahui siapa orang tuanya. Maka, pada
akhirnya Bu In Sin Liong mengambil keputusan.
Suatu malam, Bu In Sin Liong memanggil Koay Ji untuk
menghadap:
“Muridku …….. tak terasa 10 tahun sudah berlalu. Masa
belajarmu sudah tamat, dan karena itu, besok hari engkau harus
bersiap untuk segera turun gunung. Besok, tidak perlu engkau
pamit kepada Suhumu, tetapi engkau ingat-ingatlah semua
petuah dan semua pengajaran Suhumu kepadamu. Termasuk
ingat selalu SUMPAH yang engkau ucapkan disaksikan langit dan
bumi ……. Jika semua itu engkau lakukan, maka engkau sudah
mengerjakan dengan baik semua keinginan Suhumu dan sudah
membalas apa yang engkau sebutkan jasa Suhumu ini.
335
“Suhu ….. tapi ….. engkau ……. siapa lagi yang akan membantu
Suhu …..”?
“Muridku, bukankah sebelum engkau datang Suhumu memang
tinggal sendirian? Lagipula meski Monyet Putih sudah tiada, tapi
engkau sudah melatih Monyet Hitam yang tidak kalah cekatan
dengan Kakak monyetmu itu ……. Jangan pernah memikirkan
keadaan Suhumu, semua akan kembali seperti biasa. Jangan kita
mempercakapkan soal sepele itu, engkau dengarkan apa-apa
yang akan disampaikan Suhumu ….”
“Ba … ba … baik Suhu …”
“Pertama, engkau kenakan JUBAH ULAR PUTIH ini
………JUBAH ini kukerjakan sejak berapa tahun silam dan salah
satunya sudah kuhadiahkan kepada murid Thian Hoat Tosu. Kulit
Ular Putih Mahkota Daun memang berbeda dengan kulit bangsa
ular yang lainnya, kulitnya seperti berubah menjadi karet karena
usia sesungguhnya sudah lebih 100 tahunan. Kulit ular itulah yang
suhumu bentuk menjadi semacam jubah yang tahan senjata
tajam, bahkan ketika suhumu mencoba, sengatan senjata tajam
dapat membal dan dikembalikannya secara hebat. Selain itu,
jubah ini terhitung sangat sensitive terhadap racun ……. Dalam
jarak kurang lebih semester lebih dia akan mengeluarkan hawa
336
panas jika bertemu atau melacak racun hawa dingin dan
sebaliknya bakalan mengeluarkan hawa dingin jika bertemu atau
melacak racun panas, sehingga engkau akan sedia dan siap
menghadapinya. Hanya ini bekal yang suhumu berikan,
selebihnya engkau sudah mendengarkan apa yang sebaiknya
dan mesti engkau kerjakan. Ingat, Suhumu bukan orang yang
suka diberitahu kemana-mana sebagai gurumu, jika engkau
membutuhkan identitas, engkau boleh mengatakan anak murid
Thian Cong Pay, anggota dari perguruan Suheng Ketujuhmu. Hal
terakhir, seorang tokoh lain dapat juga engkau akui sebagai
Suhumu, yaitu Bu Te Hwesio, tanpa bantuannya dan jasanya,
engkau tidak akan mampu mencapai tahapanmu sekarang ini><
bantuannya kepadamu bukan hanya obat mujijat, tetapi kelak
engkau akan mengerti dengan sendirinya …… setelah keluar dari
pertapaanku engkau kularang kembali lagi jika bukan karena
kebutuhan yang sangat mendesak. Suhumu akan menutup diri
dan melanjutkan pertapaanku yang tertunda karena harus
mendidikmu sampai saat ini ……… satu harapanku kepadamu
muridku, janganlah sampai suhumu turun gunung dan kembali
mencampuri urusan Rimba Persilatan karena tingkahmu yang
tidak layak. Tetapi, jika engkau mempertahankan watak dan
sikapmu yang sekarang, maka mata hati suhumu akan selalu
menyertaimu dan merestuimu dimanapun dan kapanpun”
337
“Baik Suhu, tecu mengerti dan mencatat semua pesan
Suhu……..”
“Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin engkau tanyakan
kepadaku, engkau sudah boleh bersiap-siap dan kemudian
beristirahat. Besok pagi-pagi, sebagaimana kujanjikan kepada
Sam Suhengmu, maka dia akan menjemputmu di depan pintu
masuk gua kita di depan, engkau bersiaplah menyambutnya
besok. Dua ilmu terakhir yang kuajarkan kepadamu, engkau
ajarkan kepada kedua suhengmu di Thian Cong Pay sekaligus
katakana kepada mereka, Suhumu menutup diri disini untuk
selama-lamanya …..”
“Suhu …. bagaimana ……”
Tapi Koay Ji berhenti bicara ketika melihat Suhunya sudah
bersamadhi dan dengan isyarat tangannya memintanya tidak
berbicara lebih jauh lagi. Maka mengertilah Koay Ji, bahwa ijin
untuknya pergi turun gunung sudah final. Dengan sedikit enggan
diapun akhirnya mengiyakan. Dan sekali lagin ketika akan
melangkah pergi, dia berlutut dengan bercucuran air mata karena
ingat besok dia sudah akan berpisah dengan Suhu yang sangat
dihormatinya itu.
338
“Suhu, Koay Ji mohon diri ….. jagalah dirimu baik-baik Suhu ……”
Dan setelah itu, dengan mengeraskan hati, Koay Ji akhirnya pergi
melakukan persiapan untuk keberangkatan besok. Dikatakan
persiapan juga tidak tepat, karena dia praktis tidak memiliki apaapa
untuk dibawa serta. Pakaiannya sangat sederhana, meski
didalamnya ada sejenis rombi tipis yang sungguh hangat dan
enak di tubuh, rompi buatan suhunya tercinta. Selain tentu saja
mutiara soat lian yang dihadiahkan Tio Lian Cu kepadanya 4
tahun silam. Dan terakhir, topeng karet tipis beberapa buah hasil
karyanya mengolah buangan kulit ular putih yang diolah suhunya.
Dari kitab rahasia dia pernah belajar ilmu menyaru, dan dia
mempraktekkannya dengan membentuk beberapa topeng wajah
dari kulit ular raksasa bermahkota daun yang secara istimewa
justru seperti karet kualitas tinggi. Maka, siaplah Koay Ji dengan
pakaian di badan, mutiara soat lian, pil mujijat sebanyak 10 butir
dan 5 rupa atau jenis topeng yang disimpannya sedemikian rupa.
Itulah kekayaan Koay Ji setelah 10 tahun berlatih di Thian Cong
San. Dan hanya dengan kekayaan yang sangat terbatas itulah
Koay Ji keesokan harinya melangkahkan kakinya keluar dari
pertapaan suhunya. Tempat dimana selama sepuluh tahun dia
ditempa.
339
Setelahnya, Koay Ji berbaring dan bukannya bersamadhi, karena
dia ingin mengenang sepuluh tahun terakhir perjalanan hidupnya.
Dia sudah berhasil memahamkan Toa Pan Yo Hiankang hingga
tingkat tertinggi, menembus semua jalan darah fital, membaurkan
tenaga yang dahulu menyiksanya dan menjadi iweekang dahsyat
dalam tubuhnya. Belum cukup? Diapun berhasil membaurkan
khasiat pil mujijat itu sehingga pada setahun terakhir dia mampu
memasuk tingkat awal dari khikang mujijat Siauw Lim Sie yang
disebut orang Kim Kong Pu Hay Che Sen (Ilmu Badan/Baju Emas
Yang Tidak Bisa Rusak). Lebih dari itu, selama setahun terakhir
Koay Ji dalam penilikan Suhunya melatih bagian ke-4 Kitab Pou
Tee Pwe Yap Sian Sinkang yakni dalam Bagian MENYEDOT,
MENEMPEL, MENOLAK, MENGGEMPUR, MEMENTALKAN,
BERKELIT dan MELOMPAT. Kekuatan iweekangnya yang sudah
demikian tinggi membuatnya dengan mudah menyelesaikan
bagian ini, dan yang agak lama justru bagian kelima, yakni
MEMBAURKAN. Yang dimaksud membaurkan ada dua tahap,
yakni berusaha membaurkan semua hawa dalam tubuhnya dan
sudah mampu dilaluinya secara sempurna. Dan pucak
penguasaan bagian kelima adalah, dimana semua unsur
Menyedot, Menempel, Menolak, Menggempur, Mementalkan,
Melompat menyatu dalam sebuah pukulan ataupun tangkisan.
340
Dan tingkat terakhir ini masih belum dapat dipahami sepenuhnya
oleh Koay Ji.
Selebihnya, Ilmu silat lain berdasarkan Kitab Rahasia kedua
sudah dipahaminya sepenuhnya dan sudah dapat dimainkannya
dengan sangat baik. Baik Ilmu langkah, ginkang, ilmu totok mujijat
hingga ke Ilmu Sihir dan Ilmu Hitam yang sudah dikuasainya.
Khusus untuk Ilmu Hitam dia tidak tertarik mendalaminya selain
juga dilarang Suhunya. Dan jangan Tanya soal ilmu rias dan
menyaru, boleh dibilang ini salah satu keahlian utama Koay Ji
selain ilmu pengobatan yang juga sudah bertambah hebat seiring
dengan pemahamannya atas tubuh manusia dan pemahamannya
atas jalan darah yang semakin sempurna dibawah petunjuk
suhunya. Koay Ji yang sekarang sudah berubah menjadi manusia
yang sulit dibayangkan banyak orang, karena dalam umur ke-19
tahun dia sudah menguasai banyak ilmu mujijat. Belum lagi jika
ditambahkan Ilmu Tunggal Thian Hoat Tosu, yakni melempar
senjata rahasia yang juga semakin sempurna dikuasainya.
Bahkan ketika Suhunya memintanya menggunakan daun atau
benda ringan lainnya, dia masih mampu melakukannya secara
luar biasa.
Kenangan perjalanan hidup 10 tahun terakhir, berujung di
pertanyaan lama yang belum dapat dijawab, bahkan oleh
341
SUHUnya sendiri, yaitu SIAPA GERANGAN DIRINYA? Siapa
orang tuanya, darimana asalnya? Dan nama aslinya?
Pertanyaan-pertanyaan yang mengganggunya tidak ditemukan
jawabannya. Dan karena itu, Koay Ji membawa semua itu dalam
tidurnya.
Tak terasa waktu terus berlalu. Tahun yang dilalui akan terasa bak
panah yang dilepaskan dari busurnya jika memandang dari depan
dan bukan dari belakang. Karena waktu memang merangkak
lambat, tetapi jika kita alpa mengisinya, maka 10 tahun akan
terasa tertinggal di belakang tanpa pernah kita mampu
mengekangnya. Tapi, begitulah waktu. Sebagaimana yang
dijanjikan Bu In Sin Liong kepada muridnya Tek Ui Sinkay, maka
10 tahun setelah masa belajar Koay Ji, maka dia harus
menjemput bocah yang diselamatkannya dulu itu di depan pintu
gua tempat suhunya bersamadhi.
===============
Yang seorang kakek tua bertubuh gempal namun terlihat lusuh,
kotor dan kelelahan dan yang seorang lagi nona cilik yang
berwajah manis.Kakek tua itu sesekali terlihat batuk-batuk tanda
kesehatannya pastilah berhalangan, tetapi dia tetap berusaha
untuk terus berjalan sambil menggenggam lengan Nona kecil
342
berusia paling banyak 11 tahun. Disisi lain si nona cilik yang
lengannya digenggam si kakek dan dibawah terus berjalan,
wajahnya tidak kurang lusuhnya, tetapi tidak dapat
menyembunyikan wajahnya yang manis dengan bulu mata lentik,
sayang bersinar lusuh dan penuh ketakutan. Mereka terlihat
berjalan buru-buru dan sepertinya ketakutan, entah sesuatu
seperti apa yang sedang memburu mereka. Tetapi, meski
kondisinya sudah sangat menyedihkan tetap tidak membuat si
kakek menghentikan perjalanan dan berusaha untuk tetap terus
maju. Tetapi, kondisi fisik si kakek kelihatannya semakin lama
semakin tidak menunjang. Dan benar saja, dia akhirnya tumbang.
Ketika berbelok ke kanan dan akan memasuki jalanan utama
menuju kota Peng Ciang tubuh gempal besar si kakek akhirnya
tak tahan. Tumbangnya si kakek segera diiringi oleh pecahnya
tangis sang nona cilik:
“Kakek, bangun kek ……… bagaimana dengan He ji? Ayo bangun
kek …..” tangis si nona sungguh mengharukan dan rupanya
mengundang seseorang yang kebetulan melewati tempat itu dan
datang mendekati mereka. Orang tersebut terlihat berusia
pertengahan dengan perawakan tinggi besar dengan jubbah hijau
dari bahan yang sederhana tetapi cukup bersih, dan begitu
melihat adegan yang sangat mengharukan dihadapannya dengan
343
cepat hatinya iba ….. diapun mendatangi si nona dan kakek yang
terbaring tak berdaya itu
“Nona cilik …….. ada apa dengan kakekmu ….”? tegur si
pendatang
“Tolonglah lopeh, tiba-tiba kong-kong jatuh pingsan ………
engkau tolonglah kong-kong lopeh ….. kasihan kong-kong ……
huhuhu”
“Hmmmmm, coba kuperiksa kong-kongmu itu ……”
Dan si pendatang tanpa banyak bicara sudah memegang lengan
si kakek, memeriksa denyut nadi dan kemudian berkata kepada
si nona cilik:
“Tenanglah nona, kong-kongmu hanya terlampau kelelahan
sementara penyakitnya tidak diobati dalam waktu yang lama. Aku
akan mencoba menyembuhkannya, tetapi berhentilah menangis
supaya kong-kongmu tidak terlampau bersedih ….. “
“Baik lopeh …….” heran, begitu cepat nona itu menghentikan
tangisnya, sungguh beda dengan anak-anak biasa. Bahkan
dengan cepat nona cilik itu mendekati si pendatang dan kakeknya
untuk melihat apakah dia dapat membantu atau tidak.
344
Melihat si nona yang tidak ketakutan tetapi malah senang melihat
dan mengikutinya dalam proses pemeriksaan, membuat si
pendatang tersenyum. Wajah si nona bahkan terlihat sangat
perhatian kepada apa yang dikerjakannya. Tetapi hanya
sepersekian detik, karena lain waktu, si pendatang benar-benar
harus berkonsentrasi untuk menangani keadaan si kakek ……
“Sudah lebih dua minggu tidak makan teratur, berjalan dan berlari
nyaris tanpa henti dan tidak pernah makan obat …… hmmmm,
apa yang sebenarnya kalian kejar nona? Mengapa engkau tidak
mengingatkan kakekmu dan memaksa untuk menggunakan
kesempatan dan waktu lebih banyak kepadanya beristirahat?
Lihat, keadaannya sangat menyedihkan, dan aku membutuhkan
waktu yang cukup panjang untuk merawat dan
menyembuhkannya nanti.
“Lopeh, kami …. kami menghindari pengejaran orang-orang jahat,
teman-teman kami sudah pada terbunuh dan tersisa kami berdua.
Kong-kong berusaha mati-matian untuk menyelamatkanku dari
para pembunuh itu …..”
“Ha …? Siapa yang berusaha membunuh dan mengejar kalian
….”?
345
“Hiiiii mengerikan sekali lopeh, wajah mereka putih-putih dan
pucat serta jahatnya minta ampun …” menjawab pertanyaan itu si
nona kembali terlihat ketakutan.
“Sudahlah, nanti engkau ceritakan lagi nona, tetapi sekarang kita
perlu membawa kakekmu ke kota Peng Ciang, disana biar aku
membantumu sampai kong-kongmu pulih sebagaimana
mestinya. Tapi, ingat, engkau harus membantuku merawat kongkong
..”
“Baik ….. baik, terima kasih lopeh ……”
“Siapa namamu anak baik …..”?
“Kwe Giok He, lopeh ……… “
“Baik, He ji, mari, kita menuju kota Peng Ciang ……..”
Ternyata si pendatang berjubah biru sederhana itu membawa
seekor kuda. Kudanya tidak terlihat kokoh dan gagah, tetapi juga
tidaklah kuda kecil atau sakit-sakitan, yang pasti cukup dan
mampu membawa si kakek yang sudah tak berdaya dan anak
perempuan itu berlari menuju kota Peng Ciang. Tetapi,
sayangnya, belum lagi kuda itu berlari, tiba-tiba di depan mereka
sudah menghadang 5 orang dengan tampang yang
346
menyeramkan. Wajahnya mereka semua ditutupi oleh topeng tipis
berwarna putih pucat dan menghadirkan rasa seram yang sangat.
“Ha ….. lopeh … mereka, mereka …….” wajah pucat si nona cilik
sungguh menyentuh perasaan si pendatang. Lengannya
bergerak mengusap perlahan dan tak ada seditik kemudian, nona
itu sudah pulas dan disandarkan tertidur kedepan menindih
kakeknya yang sudah pingsan sebelumnya.
“Siapa kalian dan untuk apa memburu kedua orang tak berdaya
ini ……”? tegur si pendatang berjubah biru tanpa rasa takut
sedikitpun.
Rombongan pencegat itu sedikit keheranan karena si orang tua
berusia pertengahan ini seperti tidak takut dan tidak mengenal
mereka. Karena itu, seorang dari kelima penculik segera
membentak dengan garang:
“Kami Utusan Pencabut Nyawa ……. semua tujuan kami harus
tercapai, dan jika dalam hitungan kelima engkau tidak
meninggalkan mereka, maka engkau akan masuk dalam catatan
rekening kami untuk diselesaikan …….”
347
“Ohhhhhh, begitu rupanya. Kalau memang begitu, silahkan
menghitung sampai lima dan kita lihat nanti siapa yang akan
menyelesaikan siapa ……”
“Hmmmmm, engkau rupanya tidak tahu dengan siapa engkau
sedang berhadapan orang tua .....? Engkau sedang mencari
penyakit bagi dirimu sendiri ….”
“Lohu sedang berhadapan dengan manusia-manusia tidak tahu
diri dan yang sesumbar mencabut nyawa sesama manusia tanpa
rasa bersalah ……. dan, manusia seperti itu akan berlutut
menangis di kakiku jika tidak segera meninggalkan kejahatannya
…”
“Sombong benar engkau sobat, tinggalkan namamu agar kami
tidak membunuh manusia yang tidak punya nama …..”
“Kalian belum memiliki kemampuan mengenali namaku, tetapi
boleh kalian menyebut dan mencari Thian Liong Koay Hiap
(Pendekar Aneh Naga Langit) nanti….”
“Ohhhhhh, rupanya pendatang baru dunia persilatan yang tidak
tahu utara dan selatan, baik beri pelajaran kepadanya …….”
Perintah manusia pucat yang berdiri di tengah, tampaknya
348
menjadi pemimpin dari kelompok yang tadi menyebutkan diri
mereka sebagai “Utusan Pencabut Nyawa”.
“Baik ………”
Dengan cepat si “Pencabut Nyawa” yang paling dekat dengan
tokoh yang menyebut diri sebagai Thian Liong Koay Hiap sudah
mencabut pedangnya dan kemudian menyerang dengan sabetan
cepat dan mematikan. Tetapi, Thian Liong Koay Hiap dengan
manis menghindar hingga semua serangan si “Pencabut Nyawa”
menemui tempat kosong. Ada yang aneh dengan tarung itu,
langkah kaki Thian Liong Koay Hiap terasa terlalu aneh dan
memusingkan lawan, sehingga semua serangannya tidak kena
sasaran dan bahkan membuatnya menjadi rada pusing. Lawan
yang sudah nyaris terkena serangan tahu-tahu sudah menghilang
dan entah bagaimana sudah berada disampingnya, bekalangnya
atau bahkan kembali berdiri di posisi dimana semestinya dia tadi
terkena sabetan atau tusukan pedangnya. Lama-lama, si
penyerang menjadi pusing dan mengeluarkan banyak tenaga
karena lawannya dengan mudah mengelak dan sasaran
serangannya hilang pada titik terakhir.
Pada sisi lain, si Pendekar Aneh sendiri sedang merasa “tegang”
dan senang sendiri melihat bagaimana pertarungan ini berjalan.
349
Dia tidak tahu, kalau lawannya, yakni si Pembunuh, adalah tokoh
kelas teri yang dilawannya dengan ilmu yang terlampau mujijat.
Terlampau berlebihan melawan tokoh kelas seperti utusan
pembunuh yang adalah pembunuh-pembunuh untuk manusia tak
berkepandaian. Tetapi, entah mengapa si Pendekar Aneh merasa
kegirangan. Satu saat, seperti dengan rasa coba coba si
Pendekar Aneh mengulurkan tangannya dan menyentil pedang si
penyerang, dan pedang itupun patah-patah …… dan kembali
terlihat senyum senang di wajah si Pendekar Aneh, sepertinya
kejadian itu menyenangkan hatinya.
Melihat seorang Pembunuh tidak cukup untuk menuntaskan tugas
mereka, si pemimpin kemudian berseru cepat:
“Maju semua, bereskan dia …..”
Maka kelima Utusan Pembunuh itupun kini maju mengejar si
Pendekar Aneh. Tetapi, tetap saja langkah kaki si Pendekar Aneh
terlampau mujijat bagi mereka berlima. Dan setelah menemukan
“kesenangan” mempermainkan kelima orang itu, tiba-tiba seperti
cara sebelumnya, si pendekar Aneh mengulurkan lengannya dan
dalam waktu kurang dari 2 detik, keempat pedang lainnya patahpatah
kena sentilan jemari si Pendekar Aneh. Belum cukup
dengan itu, dalam langkah kaki yang demikian mujijat, cepat dan
350
tepat, si Pendekar Aneh bergerak dan sedetik berikutnya, kelima
lawannya roboh tak berdaya ….. terkapar oleh totokan mautnya.
“Hmmmmmm sebegitu saja kemampuan kalian ……….. kali ini
kuampuni, lain kali kalian semua akan beroleh hukuman yang
lebih berat jika tetap berusaha mengejar kami bertiga …..”
“Engkau tunggu nanti pembalasan maut kelompok kami ……”
desis si Pemimpin Utusan Pembunuh itu
Tapi si Pendekar Aneh sudah berlalu bersama kudanya yang
membawa serta si Kakek dan cucunya menuju kota Peng Ciang.
Pendekar Aneh Naga Langit, bisa ditebak adalah Koay Ji, yang
sebenarnya iseng-iseng saja menyebutkan nama atau julukan.
Ingatannya tertuju pada nama panggilannya saat itu, yakni KOAY
JI (Anak ANEH), dan diambilnya kata ANEH (Koay) dalam julukan
yang dipilihnya asal-asalan itu. Dan dipadukan dengan gerakan
yang paling dia suka dan paling sering dimodifikasi dan
disempurnakannya, yakni Ginkang Cian Liong Seng Thian (Naga
naik kelangit) dan Ilmu Langkah Thian Liong Pat Pian (Naga langit
berubah delapan kali). Kedua ilmu inilah yang pertama kali
dikuasainya, terutama ilmu langkah mujijat yang sejak baru mau
belajar Ilmu Silat sudah dikuasainya baik teori maupun
351
prakteknya, bahkan sudah diturunkannya kepada Khong Yan.
Dan dari kegemarannya akan THIAN LIONG (Naga Langit) dan
dari namanya yang memang sudah aneh sejak awal, maka
dirangkainyalah Thian Liong Koay Hiap secara iseng utnuk
memperkenalkan namanya. Tak dia sangka jika nama itu kelak
terus menjulang sebagai merek dirinya …..
Tak lama kemudian, sekitar satu jam berkuda, menjelang sore,
mereka bertiga sudah mendekati pintu gerbang kota. Koay Ji
kemudian bekerja cepat, dia membangunkan si nona cilik dan
kemudian memberikan obat persediaannya yang diberikan Ang
Sinshe sebelum turun gunung. Setelah itu, dia menyalurkan
tenaga kedalam tubuh si kakek, dan seterusnya, tak lama si
kakekpun siuman. Betapa herannya dia ketika melihat seorang
berjubah biru sedang membantunya dan cucunya, dan lebih kaget
lagi melihat cucunya menangis disampingnya;
“He ji, engkau tidak apa-apa …..”?
“He ji baik saja kong-kong, lopeh ini telah menolong banyak kita,
bahkan kelihatannya tadi juga dia sudah mengusir para
pembunuh itu, tapi entah mengapa setelahnya He ji ketiduran dan
tidak ingat apa-apa lagi …..”
352
Mendengar itu Koay Ji tersenyum dan berkata:
“Engkau ketakutan nona cilik, sampai pingsan melihat para
pembunuh itu. Tapi, sudahlah, mereka sudah merat pergi. Mari
kita mencari tempat beristirahat untuk mengobati luka kongkongmu
ini ……”
Tapi si kakek lebih dulu berkata:
“Ach sahabat, terima kasih atas pertolonganmu. Tetapi, keadaan
kami sangat berbahaya dan kami khawatir akan melibatkanmu
dalam bahaya kami tersebut ….”
“Jangan khawatir paman, sekarang aku sudah terlibat karena
memukul roboh kelima Utusan Pencabut Nyawa tadi. Mari,
kesehatan paman masih sangat berbahaya jika tidak ditangani
secara cepat, tapi, aku kebingungan kemana kita mencari tempat
beristirahat biar kucoba mengobati penyakit paman ……”
“Apa …..? engkau seorang sinshe (Tabib) …?
“Boleh dibilang begitu paman …..”
“Engkau tahu penyakitku ….”?
353
“Berjalan tanpa makan secukupnya selama kurang lebih dua
minggu, juga nyaris tanpa beristirahat, dan penyakit demam
sudah engkau tahan selama kurang lebih 3 hari. Jika engkau
lanjutkan perjalananmu, maka kutanggung dalam waktu 6 jam
engkau akan pingsan kembali dan butuh tangan dewa untuk
menarik kembali nafas kehidupanmu. Bagaimana, apakah aku
keliru paman ….”?
“Jika demikian, mari, engkau boleh mengobatiku, kita mencari
sebuah hotel …..”
Dengan mengikuti kakek itu, mereka menuju ke sebuah hotel
yang agak berada di pinggiran dan bukan hotel yang sering
didatangi orang. Koay Ji memperhatikan semua apa yang
dikerjakan si kakek, termasuk memilih hotel, bagaimana
memesan kamar dan kemudian mereka diantarkan ke kamar
masing-masing. Nampaknya si kakek memiliki cukup bekal untuk
melakukan semua itu, berbeda dengan Koay Ji yang berbekal
secukupnya, itupun pemberian Ang Sinshe sebelum dia turun
gunung. Tetapi, Koay Ji geli-geli sendiri, maklum ini kali pertama
dia mengalami semua pengalaman di kota, termasuk memesan
kamar. Begitu masuk di kamarpun dia kebingungan, bekalnya
hanya buntalan kecil berisi satu pasang pakaian bekal Ang Sinshe
dan beberapa obat hasil racikan Tabib yang baik hati itu.
354
Tapi, karena harus mengobati kakek yang berada di sebelah
kamar, dengan cepat Koay Ji mendatangi mereka dan segera
bekerja. Dan seperti sebelumnya, He ji, si nona cilik
memperhatikan secara seksama bagaimana Paman Anehnya itu
bekerja, bahkan kemudian dengan gaya tabib meniru pamannya,
Ang Sinshe, Koay Ji segera membuka resep. Tetapi, kembali dia
kebingungan, bagaimana membeli obat-obat yang sudah dia
tuliskan resepnya itu?
Untungnya si kakek cepat tanggap. Dia berkata:
“He ji, panggilkan pelayan ……”
“Baik kek …..”
Dan si nona berlalu untuk kemudian tidak lama kembali bersama
seorang pelayan.
“Pelayan, tolong engkau membantu kami menebus resep ini ……”
ujar si kakek mengambil resep dari tangan Koay Ji dan kemudian
memberikannya kepada si pelayan disertai dengan uang
secukupnya ……. dan kembali Koay Ji manggut-manggut
mengerti. Sepanjang hari Koay Ji memang banyak melihat dan
banyak belajar hal-hal aneh yang untuk pertama kalinya
355
dialaminya. Dia tertawa dalam hati, tetapi untung tidak nampak
dari seri wajahnya.
“Lopeh, apakah kong-kongku bisa sembuh ……”? Tanya si nona
cilik membuyarkan ingatan dan kenangan aneh dan menggelikan
Koay Ji
“Pasti nona, kakekmu paling lama 2 hari lagi akan sembuh seperti
sedia kala ….”
“Benarkah paman ……”?
“Pasti nona, jangan engkau khawatir …… asalkan kong-kongmu
tidak takut makan obat yang pahit-pahit ……” ujar Koay Ji sambil
melirik si kakek lucu, dan si kakek juga tersenyum mendengar
ucapan Koay ji
“Kalau kakek takut nanti He ji marahi paman ……” ujar si nona
polos
“Bagus, memang harus begitu nona …..”
“Tapi, bagaimana cara paman mengobati kakekku …..”?
Baik Koay Ji maupun kakeknya sendiri sampai terkejut
mendengar pertanyaan He ji yang meski terkesan kekanak356
kanakan tetapi bagi Koay Ji mengingat apa yang terjadi sejak
siang tadi memang sudah jadi kepikiran. Dia melihat minat sang
nona yang sangat besar dalam bidang pengobatan. Maka diapun
berkata:
“Apa engkau ingin belajar nona …..”?
“Apakah paman bersedia mengajari He ji …”?
“Mengapa tidak ….. asalkan engkau bersedia bekerja keras
selama 2 hari ini, maka akan banyak hal yang dapat engkau
pelajari …..”
“Horeeeee ….. kong-kong, dengar, paman yang baik ini bahkan
mau mengajari He ji ilmu pengobatan ……”
Kesenangan si nona cilik diiringi pandangan aneh si kakek, tetapi
dia tidak mengatakan apa-apa atas kesenangan si nona, tapi juga
tidak mengucapkan terima kasih kepada Koay ji. Tetapi Koay Ji
tidak kecil hati, dia hanya menduga karena kakek itu masih belum
sembuh sehingga susah merasa bergembira. Tetapi, keseriusan
si nona cilik, menjadi daya tarik tersendiri bagi Koay ji yang
memang kasihan melihat dara cilik yang menyenangkan hatinya
ini. Karena itu, hari itu dan juga besoknya, tidak lelah Koay ji
mengajar dan mendidik Kwe Giok He dalam ilmu pengobatan.
357
Ternyata, Kwe Giok He memang memiliki bakat hebat menjadi
seorang tabib, karena dengan cepat dan mudah dia menyerap
ilmu pengobatan dari Koay Ji.
Koay Ji boleh senang, tapi dia masih cetek di dunia persilatan.
Malam itu bahaya sudah datang mengintai. Setelah makan
malam, Koay Ji sempatkan waktu hampir sejam untuk mengajar
He Ji dan kemudian memberinya pekerjaan rumah untuk didalami
lebih jauh. Sementara Koay Ji memilih untuk menyendiri di
kamarnya. Seperti biasanya, Koay Ji akan memulai malam
dengan melatih Toa Pan Yo Hian Kang dan mengumpulkan
iweekang, serta melatihnya dalam samadhinya. Dalam keadaan
ini, dalam jarak hingga 20 meter darinya, gerakan-gerakan sekecil
apapun tidak akan lepas dari pengamatan Koay Ji. Karena itu,
Koay Ji sebetulnya berlatih sambil terus mengawasi keadaan si
kakek dan He ji yang menarik perhatiannya. Dia merasa bahwa
aka nada yang datang mengunjungi mereka malam itu.
Firasatnya benar. Karena menjelang tengah malam dia
menangkap ada 5 langkah kaki yang sangat ringan, tanda
pendatang memiliki kemampuan tidak rendah. Bahkan jauh
melebihi 5 lawan pertama yang ditemuinya siang tadi dalam
perjalanan menuju Kota Peng Ciang ini untuk beristirahat. Tapi
rupanya, lawan memiliki keyakinan diri yang luar biasa, karena
358
mereka memilih tetap berada di atas wuwungan dalam sikap
waspada dan serius. Kemudian salah seorang dari mereka
berkata, lirih dan tidak dapat didengar orang lain, tapi mereka
yakin Koay Ji sudah mendengarnya;
“Tokoh yang mengaku Pendekar Aneh Naga Langit, kami
mengundang saudara untuk bertemu kami di luar …….”
Dan Koay Ji paham, pihak yang ditunggunya sudah datang …
Setelah memastikan bahwa tidak ada gerakan lain selain ke-lima
pendatang di atas wuwungan itu, maka Koay Ji kemudian bersiap
dan tak lama kemudian dia sudah melayang naik dan berdiri di
hadapan 5 orang yang menantangnya tadi. Dandanan mereka
persis sama dengan 5 Utusan Pencabut Nyawa yang menjadi
lawannya tadi siang. Tetapi, dari potongan mereka, kelihatannya
adalah orang yang berbeda meski tetap berasal dari kelompok
yang sama.
“Ada apa cuwi sekalian mencariku …..”? tanya Koay Ji dengan
suara tawar dan terlihat tidak gembira dengan kedatangan tamu
tak diundang itu.
359
Orang yang berdiri paling tengah, kelihatannya bertindak sebagai
juru bicara, dengan suara yang tenang dan mantap yang
kemudian menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Koay Ji:
“Kami hanya ingin memastikan bahwa setelah malam ini, engkau
tidak akan menjadi penghalang “Utusan Pencabut Nyawa” lagi
…..”
“Accccch, padahal sudah cukup jelas kupesankan dan
kutegaskan kepada komplotan dan kawan-kawan kalian tadi
siang. Yakni, jika masih tetap berani menggangguku, maka bukan
hanya totokan yang akan kalian terima, tetapi hukuman yang jauh
lebih berat lagi. Sayang sekali, kalian membuatku harus turun
tangan lebih keras agar jangan ada gangguan lebih jauh ……”
Tetapi rupanya tokoh yang menjadi juru bicara kali ini jauh lebih
sabar. Dan jelas lebih berani dibandingkan dengan para utusan
yang datang terlebih dahulu. Terdengar dia berkata dengan suara
yang tidak berubah:
“Aha ….. engkau memang benar-benar sombong dan pongah
saudara …… katakan, sebenarnya engkau berasal dari kelompok
atau perguruan manakah gerangan? dan apa pula yang menjadi
360
tujuanmu untuk bertentangan dan menabrak kepentingan Utusan
Pencabut Nyawa kami ….?
“Thian Liong Koay Hiap bukan siapa-siapa, bekerja bukan untuk
orang lain, tetapi bekerja untuk kepentingan orang banyak, amat
terlebih membela mereka yang lemah dari tindasan orang-orang
seperti kalian. Jika kalian berkeras, maka kerugian kalian akan
berlipat dari kawan-kawan kalian ……..”
“Hmmmmm, engkau malah semakin sombong dan pongah
saudara, apakah memang benar kekerasan yang engkau pilih”?
“Bukan aku yang memilih, tetapi kalian …. jika berkeras
mencederai kakek dan cucunya yang tak berdaya itu, maka
hukumanku akan menjadi berlipat beratnya …..”
“Baiklah, kami akan menempuh resiko itu jika memang demikian
….”
“Kalian boleh turun tangan berlima supaya menghemat waktuku
…….” sudah mulai tumbuh rasa percaya diri Koay Ji setelah
pertarungan siang tadi
“Bunuh dia …….” tenang dan yakin si pemimpin rombongan
kedua ini dalam memberi dan menurunkan perintah. Tetapi,
361
sayang sekali, mereka bentrok dengan seekor naga sakti yang
sedang menemukan keseimbangan dan belajar dari pengalaman
untuk bertempur dan berkelahi dalam arena sesungguhnya.
Belum lagi serangan pertama lawan tiba di tubuhnya, Koay Ji
sudah menggerakkan lengan kirinya dan akibatnya, lawannya
terlontar ke belakang dan tidak mampu bangun lagi untuk terus
bertarung. Koay Ji berkata dengan suara dingin dan tawar:
“Kawan kalian ini sudah kupunahkan kepandaiannya dan ini
adalah peringatan terakhir bagi kalian semua ……”
Pemimpin Utusan Pencabut Nyawa mendekati kawan mereka
dan memegang nadinya sebentar, dan sekejap berikutnya
kekagetan tidak dapat disembunyikan dari seri wajah dan sinar
matanya. Jelas dia tidak menyangka akan bertemu lawan sehebat
Koay Ji di tempat seperti itu, tempat yang sama sekali tak
diduganya. Maka tak lama kemudian dia berdiri dan berkata:
“Dia bukan lawan kita, mari, sebaiknya kita pulang dan meminta
para pemimpin kita untuk turun tangan langsung ….”
Tak lama kemudian merekapun pergi, dan Koay Ji memandangi
kepergian mereka dengan merenung. Terngiang kalimat para
utusan sebelum lari pulang: “sebaiknya kita pulang dan meminta
362
para pemimpin untuk turun tangan ……”, bukankah itu berarti dia
tidak bakalan istirahat dengan tenang …….? Bagaimana pula
caranya nanti menjaga keselamatan dua orang yang tidak
mengerti ilmu silat itu ……”? pikiran ini mulai membuat Koay Ji
khawatir. Dia tidak khawatir dengan keselamatan dirinya, tetapi
khawatir dengan kakek dan nona cilik itu. Apalagi kakek itu masih
belum sembuh benar meski memang sudah makan obatnya tadi.
Pikiran itu membuat sepanjang malam Koay Ji tidak bisa
beristirahat dengan tenang. Selain memikirkan keselamatan
kakek dan nona cilik itu. Bersamaan dengan itu, dia juga mulai
berpikir lebih jauh tentang siapa sebenarnya kakek dan nona cilik
itu dan mengapa pula mereka sampai diburu dan dikejar-kejar
Utusan Pencabut Nyawa. Jika mereka manusia biasa belaka,
mana mungkin mereka dijadikan target oleh kelompok manusia
buas bertopeng kulit pucat itu? Pikiran-pikiran ini bergelajutan di
benak Koay Ji dan terus terbawa sampai pagi hari. Ketika bangun
di hari yang baru, diapun akhirnya memutuskan akan bertanya
langsung kepada kakek dan nona itu. Siapa mereka dan mengapa
mereka dikejar-kejar komplotan manusia itu ……
Belum lagi dia membuka pintu kamarnya, nona cilik Kwe Giok He
sudah mendahuluinya mengetuk pintu kamarnya dan begitu pintu
363
dibuka dengan wajah senang berseri dan mata berbinar indah
melaporkan:
“Lopeh …. Aku sudah dapat menghafal dan mengerjakan semua
pekerjaan rumah semalam, selain itu, kong-kong keadaannya
sudah jauh lebih baik. Persis seperti perkataan lopeh kemaren itu
…….”
“Baguslah He ji, nach, sekarang mari kita menengok kakekmu dan
sekaligus nanti akan kuajari pelajaran yang lain lagi …..”
“Horeeee ….. baik, baik ….. mari lopeh ……”
Benar saja, begitu memasuki kamar kakek dan He ji, terlihat sang
kakek sudah lebih bercahaya wajahnya tanda bahwa
kesehatannya sudah jauh lebih baik. Bahkan dia sudah langsung
berkata:
“Terima kasih hengte, kesehatanku berangsur membaik. Tapi
sayang kami berdua kakek dan cucu kurang tahu harus berterima
kasih kepada siapa …”?
“Paman, bukankah yang jauh lebih penting sekarang adalah
kesehatanmu dan bukannya soal siapakah gerangan diriku?
Tetapi, jika memang ingin mengenali diriku, orang-orang
364
memanggil dan mengenalku dengan Thian Liong Koay Hiap
(Pendekar Aneh Naga Langit). Mengenai diriku ……. Acccch, aku
sesungguhnya berasal dan datang dari Gunung Thian Cong San.
Dan engkau boleh memanggilku dengan Koay Hiap saja, karena
sejujurnya, aku sendiri sungguh-sungguh tidak mengetahui
namaku sejak sangat lama ……”
“Ach, baik ….. baiklah, terima kasih banyak Koay hiap ….. “ kakek
itu rupanya mengerti jika Koay Ji sengaja ingin merahasiakan
dirinya, dan karenanya dia tidak mendesak untuk mencari tahu
lebih jauh. Sedikit banyak si kakek mengenal dunia Kang Ouw dan
paham bahwa banyak tokoh persilatan yang secara sengaja
menutupi identitasnya dan tidak menyolok untuk mencari
popularitas.
“Sudahlah ….. Paman mari aku memeriksa keadaanmu sekali
lagi. Turut penglihatanku, maka keadaanmu semestinya sudah
jauh lebih baik …. Dan dalam sehari kedepan kondisimu sudah
kembali normal, kecuali memulihkan tenaga fisik semata …..”
Sambil berkata demikian, Koay Ji memegang nadi sang kakek
dan kemudian memeriksa beberapa bagian tubuh untuk
memastikan. Tetapi, berbeda dengan ketika memeriksa pada
beberapa waktu lalu, sekali ini Koay Ji agak terperanjat, karena
365
ada selintasan hawa yang luar biasa besar menyambutnya, tetapi
hanya sedetik. Tetapi, hal tersebut menyentak dan mengejutkan
Koay Ji dan membuatnya menjadi curiga dengan identitas si
kakek tua itu. Tetapi, tentu saja dia tidak menampakkannya di
wajahnya dan tetap tersenyum seperti biasanya. Dan tidak lama
kemudian dia tersenyum dan berkata kepada si nona cilik Kwe
Giok He:
“Nach, apa kataku He ji ….. kakekmu sekarang sudah nyaris pulih
sebagaimana biasanya. Kelihatannya selain pelayananmu
memang baik, kemajuanmu dalam memahami ilmu pengobatan
sudah mengalami peningkatan pula ……. Kuucapkan selamat
kepadamu …..”
“Acccch, semua juga karena pengajaran Lopeh …….. He ji ikut
pelajaran lopeh semata, apa yang hebat dari itu semua ……”?
Tetapi, sekarang Koay Ji jadi semakin ingin mengenal dan
mengetahui lebih jauh latar kedua orang Kakek dan Cucu yang
semakin lama semakin menarik hatinya itu. Karena itu, perlahanlahan
diapun kemudian berkata:
“Paman dan engkau He ji ……. Sudah dua kali aku menjatuhkan
dan mengundurkan para Pembunuh yang sepertinya diutus
366
membunuh kalian berdua. Tetapi, nampaknya, mereka tidak akan
berhenti sebelum maksud utama mereka tercapai. Aku
sebenarnya heran, tetapi ada apa sebenarnya sampai mereka
mengejar-ngejar kalian berdua untuk maksud menangkap dan
bahkan membinasakan ……”?
Mendengar pertanyaan Koay Ji, baik si kakek maupun Kwe He Ji
si nona cilik terdiam seketika. Mereka berdua terlihat berpikir
keras seperti ada yang mengganjal di kepala mereka dan teramat
susah untuk dikemukakan. Giok He memandang kakeknya
dengan sinar mata memohon untuk menjawab, sementara si
Kakek terlihat tetap sabar meski dimata Koay Ji ada sedikit gerak
gelisah. Koay Ji yang melihat semua itu menjadi cukup paham jika
ada kesulitan besar yang dialami keduanya, terutama mata si
nona cilik yang menjadi gelisah tadi. Dia sangat ingin mengatakan
sesuatu, tetapi terlihat jelas bahwa dia gamang untuk
melakukannya …..
“Acccchhhh, maafkan ….. maafkan aku tidak bermaksud untuk
memaksa lopeh dan He ji untuk membicarakan hal yang
terlampau sukar dikemukakan. Tidak apa-apa Lopeh dan engkau
He Ji …… tetapi, kemana aku harus mengantarkan kalian berdua
agar dapat terhindar dari para pembunuh yang menakutkan itu
…..”?
367
Ketika mengatakan kalimat tersebut, justru terlihat wajah si Kakek
yang menjadi serba salah, kikuk dan tidak tahu harus mengatakan
apa-apa. Dia memandangi Koay Ji dengan mata serius,
sedikitpun tidak terlihat rasa takut atau jeri. Matanya menyelidik
jauh kedalam seperti ingin membongkar dan menelanjangi apa
yang sebenarnya ada dan terdapat dibalik mata dan keinginan
Koay ji. Tetapi, dalam kagetnya, kakek itu menemukan betapa
tulus dan tanpa kepentingan sinar mata Koay Ji, bahkan dia
merasa seperti memandangi mata bening seorang bayi. Dan
kakek itu tersentak hebat, sebab jika bukan tak berkepandaian
sama sekali, maka Koay Ji mestinya berkepandaian yang sudah
dalam tingkatan sempurna. Dia bingung, karena mengusir para
Pembunuh berarti mestinya Koay Ji memiliki kepandaian hebat.
Sebagai penolongnya, tentu dia tidak ingin membuka dan
membongkar jati diri dan bahkan samara Koay Ji yang dia tahu
betul penolongnya mengenakan topeng tipis yang hanya dapat
diidentifikasi oleh tokoh sehebat dirinya. Berdasarkan
pengalaman, kakek itu akhirnya memilih untuk mempercayai
Koay Ji …….
“Accchhhhh, meski baru bertemu tetapi harus lohu katakan bahwa
lohu mempercayai Koay Hiap hengte. Hanya, persoalan yang
kami kakek dan cucu sedang hadapi, adalah persoalan rumit yang
368
secara tidak sengaja kami hadapi ……….. seandainya kami tidak
menolong seorang Bhiksu tua yang sedang sekarat, maka kami
mungkin tidak akan terjerat urusan rumit dan menakutkan seperti
sekarang ini …….”
“Acchhhh, Paman …. apa sebenarnya yang terjadi …”? Koay Ji
bertanya ketika si kakek terdiam sebentar seperti sedang
menimbang bagaimana menceritakan masalah mereka hingga
terlibat sebegitu jauhnya. Si kakek berpikir sebentar dan
kemudian berkata dengan suara yang sangat serius:
“Koay Hiap hengte, nama lohu adalah Ong Bun Kim dan bekerja
sebagai guru sastra dan guru silat cucuku Kwe Giok He. Lohu
sesungguhnya sedang membawa cucuku ini untuk bepergian
sebagai hadiah baginya atas kemampuannya meningkatkan
pelajaran sastra dan juga silat yang maju sangat pesat. Tetapi,
acccccccchhhh satu saat tengah kami menikmati perjalanan di
telaga Huan Yang Ou dengan sebuah perahu kecil, tiba-tiba
Bhiksu tua yang sangat hebat namun terluka parah meloncat dan
memintaku untuk secepatnya mendayung pergi. Bukan hanya itu,
diapun membantu dengan kekuatan tenaganya yang besar
selama 10 menit, dan melihat pengejarnya sudah ketinggalan,
baru Bhiksu tua itu pingsan …….”
369
Sampai disini Koay Ji menarik nafas panjang meski tidak
mengalihkan perhatiannya dari kakek dihadapannya yang
mengaku bernama Ong Bun Kim. Apalagi, karena sampai pada
penjelasan “Bhiksu Tua pingsan”, kakek itupun terdiam beberapa
saat dan nampak berpikir keras. Entah apa yang sedang dpikirkan
olehnya. Tetapi, tak berapa lama, diapun kemudian berkata:
“Koay Hiap …… jika engkau tahu siapa Bhiksu tua itu, mungkin
engkau akan sangat terkejut ….. karena ….. karena dia bukanlah
tokoh sembarang tokoh …….”
“Ong Lopeh …….. memangnya, siapa gerangan Bhiksu tua itu
……”? tanya Koay Jie dengan suara terdengar datar saja
“Itulah …… justru karena Bhiksu tua yang latar belakangnya
hebat itulah maka kami berdua dikejar-kejar para pembunuh itu
……”
“Achhhh, begitu rupanya. Aku jadi mulai mengerti sekarang.
Tetapi, sehebat itukah latar belakang Bhiksu tua itu …..”?
“Kalau dia mengaku sebagai CIangbundjin Siauw Lim Sie, tentu
saja latar belakangnya hebat, bahkan teramat sangat hebat ……”
370
“Apa ……? Bhiksu itu Ciangbudjin Siauw Lim Sie yang kesohor
itu ….”?
“Benar sekali …….. memang dia …..”
”Ha …… dimana sekarang Bhiksu tua itu …….”? Jelas Koay Ji
merasa hormat kepada pihak Siauw Lim Sie. Karena jika para
Suhengnya mengetahui serba terbatas tentang keadaan Suhunya
itu, maka sebaliknya, dia yang hidup selama 10 tahun dengan
Suhunya, dan bahkan berdua saja, sudah mengetahui siapa
sebenarnya Suhunya itu. Bahkan juga termasuk hubungan masa
lampau suhunya itu dengan pihak Kuil Siauw Lim Sie di SIong San
yang kesohor ke seluruh Kang Ouw itu. Bahkan, lebih dari itu,
diapun bahkan menguasai beberapa Ilmu Mujijat asal Kuil Siauw
Lim Sie.
“Sudah meninggal beberapa hari silam ………”
“Acccchhhhhhhh, sungguh luar biasa pengalaman Lopeh berdua
He ji. Tapi, jika sudah meninggal, dimana mayatnya sekarang ini
…..”? Koay Ji bertanya dengan nada serius sehingga membuat
Kakek Ong menjadi curiga dan sedikit tertutup.
371
“Kami …. kami sudah memperabukannya ……. Sebagaimana
pesan Bhiksu tua itu dan kelak kami harus mengantarkannya ke
Kuil Siauw Lim Sie”
“Begitu juga baik …… jika tidak akan membebani Lopeh berdua
…..” suara Koay Ji kembali normal dan tidak dalam nada
menuntut lebih jauh.
“Tapi jika hanya itu masalahnya, mengapa pula Lopeh sampai
dikejar-kejar oleh para pembunuh yang sangat berbahaya itu
….”? Lanjut Koay Ji hati-hati setelah mereka semua terdiam
beberapa saat.
Terlihat Kakek Ong berpikir keras. Dan setelah menarik nafas
panjang, diapun pada akhirnya berkata dengan suara berat:
“Koay Hiap, keadaan sudah seperti ini …….. maukah engkau
membantu kami kakek dengan cucunya yang sedang diancam
orang …..? dan harus kukatakan, bahwa apa yang kami hadapi
akan berpengaruh kepada banyak sekali orang ……. Karena itu,
lohu mesti berhati-hati menghadapinya. Bahkan meski harus
kubayar dengan jiwaku sendiri sekalipun …… tapi keadaannya
memang demikian ……”
“Lopeh, apa maksudmu yang sebenarnya …..”?
372
“Jika lohu mengisahkan cerita seutuhnya, maukah engkau
membantu kami dan dengan demikian membantu banyak sekali
orang ……”? Kakek Ong berkata sambil menatap penuh harap
kearah Koay Ji
“Accchhhh, meskipun bukan seorang Pendekar besar dan
kenamaan, dan bukan orang yang sangat terkenal, tetapi aku
pasti akan berusaha untuk membantu siapapun yang sedang
dalam kesulitan. Apalagi bagi mereka yang dengan berani
memperjuangkan kebaikan bagi banyak orang ….. tanpa engkau
minta lopeh, itu pasti kulakukan dengan taruhan nyawaku ini …..”
“Baiklah ….. Koay Hiap, Hendaknya engkau tahu jika Bhiksu tua
yang kumaksud justru adalah Ciangbudjin Siauw Lim Sie Hoan
San Hwesio. Seorang tokoh berkepandaian tinggi yang entah
bagaimana dilukai orang dan bahkan menghembuskan nafas
terakhir setelah meninggalkan pesan kepadaku dan kepada
cucuku ……..”
“Apa …..? Ciangbudjin Siauw Lim Sie Hoat San Suheng
meninggal …? bagaimana bisa terjadi hal seperti ini ……”? tanpa
sadar Koau Ji membuka sedikit rahasia diri jika dia masih memiliki
hubungan dengan Siauw Lim Sie
373
“Ha ….. jadi engkaupun berasal dari Siauw Lim Sie …..” Kakek
Ong terkejut setengah mati sambil memandang Koay Ji.
Sadar jika secara tidak sengaja sudah membuka rahasia dirinya,
Koay Ji akhirnya memandang mata Kakek Ong dan kemudian
berkata:
“Ong Lopeh ….. sesungguhnya Guruku dan perguruanku masih
memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Ciangbudjin Siauw
Lim Sie angkatan sebelumnya, sehingga Hoat San Hwesio
dengan sendirinya masih terhitung Suhengku sendiri ….. karena
itu, bagaimana aku tidak terkejut mendengar warta kematiannya
meskipun aku sendiri belum pernah bertemu dirinya …..”?
“Ach, jika dengan demikian Koay Hiap masih merupakan bagian
dari Kuil Siauw Lim Sie sendiri …… sungguh bagus jika memang
demikian …..”
“Ong Lopeh, sesungguhnya Suhu sudah sejak lama keluar dan
memisahkan diri dari Kuil Siauw Lim Sie. Tetapi meskipun
demikian, beliau masih tetap memelihara rasa dan semangat
Siauw Lim Sie dan meminta anak muridnya untuk terus
menghormati dan ikut membantu Siauw Lim Sie ……”
374
Mendengar penjelasan Koay Ji, terlihat manggut-manggut seperti
paham dengan apa yang dijelaskan dan dikisahkan Koay Ji.
Bahkan, dia terlihat mulai lebih menghormati dan mempercayai
Koay Ji.
“Koay Hiap ….. apakah jika demikian, urusan ini bisa kami
harapkan bantuan dan juga dukungan penuh darimu …..”?
“Ong Lopeh, semua hal yang menyangkut urusan Siauw Lim Sie,
pasti akan menjadi perhatian kami dan karena itu, akupun pasti
akan turut mendukung apa yang sedang Ong Lopeh lakukan saat
ini. Apalagi karena terkait dengan urusan dan kebaikan bagi kuil
Siauw Lim Sie yang kami junjung tinggi. Tetapi, sungguhsungguhkah
Hoat San Suheng sudah meninggal dunia?
Bagaimana pula kejadian sebenarnya dan bagaimana sampai
beliau meninggal dunia …..”?
Kakek Ong terdiam sejenak, namun wajahnya jelas terlihat sangat
girang. Hal yang sama juga terlihat dimata Nona cilik Giok He
yang memang sudah sangat mempercayai paman yang banyak
memberinya pelajaran dalam pengobatan itu. Tetapi, belum lagi
Kakek Ong memberikan jawaban, tiba-tiba nyaris dalam waktu
yang bersamaan, baik Kakek Ong dan Koay Ji merasa ada
sesuatu yang tidak beres. Untung saja Koay Ji lebih dahulu
375
menyadarinya sehingga tidak sempat melihat betapa sinar mata
Kakek Ong berkilat sangat tajam dan awas ……
“Hmmmm, kelihatannya mereka kembali lagi ….. dan sekali ini
dengan tokoh yang lebih hebat dibandingkan dengan yang
sebelumnya …….” Koay Ji mendesis dan jelas dapat didengar
dengan jelas baik oleh Kakek Ong maupun Giok He. Sementara
Kakek Ong, dengan cepat menguasai dirinya dan kembali dalam
peran sebelumnya ….
“Ach, benarkah demikian Koay Hiap ……” berkata si Kakek
dengan suara berlagak takut dan cemas tak terkira.
“Ach ……. Ada satu, dua, tiga orang saja yang datang. Dan
kelihatannya yang datang sekali ini memiliki kepandaian yang
jauh mengatasi para pembunuh yang datang dalam kesempatan
sebelumnya. Kita harus berhati-hati ……..” Koay Ji berkata sambil
sekilas memandang Kakek Ong dan Giok He. Tetapi, jelas dia
mendengar suara “ketakutan” dalam nada suara Kakek Ong tadi,
tetapi, mengapa tindak-tanduk kakek itu seperti biasa saja dan
tidak terlihat ketakutan? Bahkan sinar matanyapun sangat tenang
dan lebih berwibawa dibandingkan sebelumnya. Tetapi, keadaan
saat itu membuat Koay Ji tidak dapat berpikir lebih jauh ……
376
Apalagi karena pada saat itu, terdengar sebuah suara yang
dilontarkan dari luar dan jelas dekat sekali dengan tempat mereka
menginap:
“Thian Liong Koay Hiap ….. entah manusia macam apa engkau
yang begitu berani melawan kami. Lebih baik jika saat ini engkau
segera keluarl menemui kami untuk menerima hukuman atas
tindakan lancangmu itu …..”
Suara itu mengalun kuat dan kokoh, tanda pelepasnya memiliki
kemampuan yang hebat dalam iweekangnya. Tetapi, hal itu tidak
mampu membuat seorang Koay Ji sampai menjadi keder dan
ketakutan. Sebaliknya, dia berdiri dan kemudian memberi pesan
kepada Giok He ….:
“He ji, engkau jaga kakekmu …. Jika ada sesuatu yang penting,
engkau berteriak memberitahu Lopeh, maka lopeh akan berusaha
untuk datang melihat apa yang terjadi dengan kalian berdua disini
……”
“Baik lopeh, He ji akan mengingatnya …….”
Sementara Koay Ji berlalu, mata tajam Kakek Ong menyertainya
dan mengamatinya. Entah bagaimana Kakek Ong merasa heran
dan nyaris sulit mengerti melihat keadaan Koay Ji. Kakek Ong
377
paham dan mengerti bahwa Koay Ji memang sangat hebat,
langkah kakinya sangat ringan dan kekuatan iweekangnya
dipastikannya sudah dalam tingkatan sangat tinggi. Tetapi,
mengapa dia terasa seperti masih mentah dan seperti masih
sangat kurang pengalamannya di dunia Kang Ouw. “Ach, ini
sungguh mencurigakan …….. benarkah dia sehebat itu ……”?
Melihat keanehan itu, Kakek Ong pun segera menyiapkan dirinya,
untuk setidaknya menjaga keselamatan dirinya sendiri dan sudah
tentu terutama cucunya ……
Sementara itu Koay Ji mengerti, posisinya sangat sulit. Jika dia
tidak menyambut dan menemui ketiga pendatang yang memang
menyasarnya, maka mereka, komplotan pembunuh itu bisa
melakukan hal yang lebih gila lagi dengan menyerang kamar itu.
Tetapi, meninggalkan kakek dan cucunya itu dalam kamar, juga
sama riskannya. Dalam keadaan serba salah seperti itu, akhirnya
Koay Ji memutuskan sesuai dengan kebutuhan dan melihat
keadaan yang dihadapinya saat itu.
Setelah meyakini bahwa hanya ketiga orang itu yang datang,
maka Koay Ji kemudian memutuskan keluar untuk menemui di
luar ruangan. Tetapi, ketika membuka jendela, Koay Ji hanya
sempat melihat adanya bayangan tiga orang yang melesat pergi
dengan kecepatan tinggi. Dan, Koay Ji yang sama sekali belum
378
memahami siasat menarik harimau meninggalkan sarang dengan
begitu mudahnya terpancing. Diapun mengejar ketiga bayangan
yang sedang menuju ke luar kota dengan kecepatan yang cukup
tinggi dan membuat dia kagum. Kecepatan mereka jelas-jelas
jauh melampaui para pembunuh pertama dan kedua yang sudah
dibuatnya keok.
Tepat di luar tembok kota, dia berhasil menyandak ketiganya.
Tetapi, ketiga orang itu sendiripun memang sudah memutuskan
menunggunya. Karena itu merekapun kini berhadap-hadapan
muka dengan muka. Atau tepatnya, berhadap-hadapan dengan
mereka semua, mereka berempat mengenakan topeng sehingga
tidak mampu tahu dan menyadari wajah asli lawan masingmasing.
“Apakah kalian adalah Pemimpin Utusan Pencabut Nyawa yang
menyebalkan itu”?
“Tugas kami adalah membunuh dan tidak banyak bicara …..”
sambil berkata demikian si Utusan Pencabut Nyawa yang berada
di sisi kiri ketika berhadapan dengan Koay Ji sudah bergerak
dengan kecepatan sangat tinggi. Bukan itu saja, entah sejak
kapan ditangannya sudah tergenggam sebuah belati tajam
berkilat dan bahkan langsung mengancam ulu hati Koay Ji.
379
Serangan yang sungguh cepat, tepat dan langsung mengarah
tempat yang mematikan.
“Apakah kalian tahu akibat bagi kalian semua sebagaimana
kusampaikan kepada kawan kawan kalian sebelumnya …..”?
Koay Ji mengingatkan sambil kedua kakinya bergerak ringan dan
cepat, tanpa bergeser jauh dari tempatnya berdiri, semua
serangan lawan sudah dapat dielakkannya. Setelah pertempuran
pertama dan kedua, dia mulai dapat mengukur bagaimana
kecepatan dan kekuatan tenaga untuk dipergunakan. Tetapi,
dalam pertempuran pertama dan kedua, dia langsung
mengerahkan tenaga sampai 5 bagian dan ternyata hasilnya
sungguh sangat mengerikan, karena mencederai lawan secara
hebat.
“Cepat …… kawan-kawan kita mungkin sudah menyelesaikan
tugas mereka disana ….” Terdengar Utusan Pencabut Nyawa
yang berdiri di tengah memberi aba-aba, dan pada saat
bersamaan mereka bertiga kini maju mengeroyok Koay Ji. Tetapi,
kalimat yang dikemukakannya sebelum menyerbu dan maju
mengeroyok membuat Koay Ji tiba-tiba sadar bahwa dia
termakan tipuan lawan. “Ach, jangan-jangan mereka sengaja
memancingku kemari …..” pikirnya dalam hati. Karena pikiran
380
tersebut, bersamaan dengan majunya ketiga lawan, emosi Koay
Ji sudah langsung terbakar meski dapat dikendalikannya dengan
baik.
Tetapi, idak demikian dengan kedua tangannya yang sudah
bergerak cepat dengan pengerahan kekuatan iweekang yang
cukup kuat. Diapun bergerak lebih cepat lagi dia menyambut
serangan berantai ketiga lawannya itu. Dan tak lama kemudian
dari arena terdengarlah suara susul menyusul …..
“Buk ….. buk ….. buk ……”
Ketiga tubuh lawannya sontak terpental ke belakang dan jatuh
terlentang di tanah, habis dan musnah kepandaian mereka
bertiga. Sementara Koay Ji dengan tidak perduli lagi dengan
ketiga lawannya sudah bergerak cepat kembali ke penginapan.
Dalam waktu singkat dia tiba kembali di kamar yang tadi
ditinggalkannya, tetapi dia bernafas lega karena dia melihat
Kakek Ong dan He ji dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan posisi
mereka ketika dia tinggalkan tadi masih belum berubah.
“Sungguh cepat sekali engkau mengalahkan dan mengusir para
Utusan Pencabut Nyawa itu Koay Hiap ……” terdengar suara
381
Kakek Ong yang sudah memuji dan menyambut kedatangan
Koay Ji
“Ach, mereka adalah utusan tingkat bawah semata, mereka
belum cukup mampu mengganggu dan merepotkanku Ong lopeh
………”
“Baguslah jika demikian ….. tetapi, mereka pasti akan kembali lagi
selama missi mereka masih belum terlaksana …..”
“Biarlah mereka datang satu demi satu Ong Lopeh ….. tetapi,
bukankah menurut pemimpin mereka yang kujatuhkan tadi, ada
kawanan Utusan Pencabut Nyawa yang menyerang ke mari?
Mengapa aku tidak menemukan mereka seorangpun ……”?
“Achhhh, sama sekali lohu tidak menemukan adanya utusan yang
lain Koay Hiap ….” Sahut si kakek dengan suara datar
“Hmmmm, aneh jika demikian …… tapi sudahlah …. sampai
dimana penjelasan Ong Lopeh tadi mengenai kejadian dengan
Hoat San Suheng ….”?
“Baiklah, mari kita lanjutkan percakapan kita Koay Hiap …….
Tetapi, engkau harus tetap waspada, karena yang akan datang
berikut pasti lebih hebat dan lebih lihay dari utusan sebelumnya
382
yang engkau jatuhkan ….. mari, lebih baik engkau duduk terlebih
dahulu Koay Hiap dan kita bercakap dengan leluasa”
Koay Ji kemudian mengambil sebuah kursi dan duduk di atasnya,
sementara Giok He tetap duduk dan menemani Kakek Ong di
ranjangnya.
“Koay Hiap …. Tiga hari yang lalu, Hoat San Hwesio mendadak
melompat masuk ke perahu kecil kami dan mengerahkan
tenaganya untuk membawa perahu kami melaju seperti terbang
di telaga kecil itu. Tetapi, setelah terlepas dari pengejar yang terus
memburunya, diapun pingsan dengan hanya meninggalkan
pesan singkat: “Lolap Hoat San Hwesio, Ciangbudjin Siauw Lim
Sie baru saja terbokong lawan, tolonglah carikan tempat aman
untuk lolap menyembuhkan diri ……” …… bisa dibayangkan
kaget dan terkejutnya kami. Tetapi, demi untuk membantu tokoh
besar dunia persilatan itu, maka dengan bergegas kami berdua
mencari tempat tersembunyi di dalam sebuah hutan di sebelah
barat telaga huan yang ou itu. Kami dapat menemukan sebuah
tempat tersembunyi yang terlindung oleh semak belukar yang
cukup lebat, tetapi sayang keadaan Hoat San Hwesio sudah
terlampau payah. Menjelang gelap, persembunyian kami mulai
didekati para penjahat itu, sementara keadaan Hoat San Hwesio
sudah sangat payah. Bahkan dia sudah tak mampu
383
mengumpulkan iweekangnya yang semakin membuyar. Dan
pada akhirnya diapun kelihatan menjadi pasrah dan saat itu beliau
kemudian memutuskan untuk memanggil kami berdua, Kakek dan
cucu dengan suara yang semakin lemah …….”
Kakek Ong kemudian melanjutkan kisahnya sebagaimana
kejadian 3 hari yang baru sesuai dengan kejadian yang mereka
alami:
“Ternyata beliau memberikan pesan-pesan terakhirnya kepada
kami berdua, bahkan beliau melakukan secara terpisah. Awalnya
dia meninggalkan pesan kepadaku, dengan menanyakan terlebih
dahulu namaku. Mungkin karena sama sekali tidak mengenal
namaku di dunia Kang Ouw, maka beliau kemudian melanjutkan
pesannya, agar lohu kelak mengantarkan Kim-Pay (tanda
pengenal) Ciangbudjin Siauw Lim Sie, sebuah arca budha kecil
berwarna keemasan dan menyerahkannya kepada Hoat Bun
Siansu untuk menggantikannya menjadi Ciangbudjin. Tidak boleh
orang lain dan harus Hoat Bun Siansu ….. karena menurut Hoat
San Hwesio, mestinya jabatan Ciangbudjin saat ini dipegang oleh
Hoat Bun Siansu namun yang menolaknya beberapa tahun lalu.
Tetapi, keadaan saat ini, dimana ada penyusup yang sedang
menggerogoti Siauw Lim Sie dari dalam, sungguh sangat
membahayakan dan sulit mencari tahu siapa penyusup itu. Tetapi
384
yang pasti, penyusup itu adalah tokoh besar di Siauw Lim Sie, dia
jugalah yang menjebak Hoat San Hwesio dan dikeroyok banyak
tokoh di tepi telaga Huan Yang Ou. Yang paham dan tahu
kepergian Ciangbudjin mengejar musuh hanya Hoat Bun Siansu
dan hanya dia juga yang dapat membantu Siauw Lim Sie untuk
menyelamatkan diri dari serbuan penyusup dalam kuil ……..
setelah pesan-pesan itu, Hoat San Hwesio kemudian
menyerahkan kepada lohu benda ini ……. (sambil mengeluarkan
kimpay arca budha mini berwarna keemasan ……. dan bahkan
kemudian dia serahkan langsung kepada Koay Ji)”
Bukan main terkejutnya Koay Ji mendengar Hoat San Hwesio
kena bokong orang dan bahkan Kuil Siauw Lim Sie sedang
menghadapi bahaya yang tidak kecil. Karena itu, ketika Koay Ji
menerima benda itu, dia masih dalam keadaan gamang namun
masih ingat untuk menghormatinya terlebih dahulu, karena dia
pernah mendengar arca ini dari Suhunya. Setelah itu, baru dia
menerima arca mini keemasan itu, diapun mengangguk dan
kemudian langsung mengembalikan lagi kepada Kakek Ong.
Tetapi, kakek Ong menolak dan berkata:
“Setelah melihat sikapmu yang sangat menghormat terhadap
Arca Budha mini itu, dan sangat khawatir dengan keadaan Kuil
Siauw Lim Sie, maka kutahu engkau adalah orang yang sangat
385
tepat untuk mengembalikannya kelak ke kuil Siauw Lim Sie.
Apalagi, kisah selengkapnya sudah engkau ketahui ….. dan
sekarang, harap Koay Hiap menyimpannya dan kita bersama
menuju Siauw Lim Sie untuk mengembalikannya. Menilik pesan
mendian Hoat San Hwesio bahwa Kuil Siauw Lim Sie sedang
menghadapi bahaya, maka kita harus bergegas …..”
Tetapi Koay Ji setelah mengamati dan memastikan bahwa arca
mini itu adalah tanda pengenal Ciangtbudjin Siauw Lim Sie, terus
saja berkeras mengembalikan arca budha keemasan itu, sambil
berkata dengan nada serius:
“Adalah Ong lopeh yang menerima mandate itu langsung dari
Hoat San Suheng, mana berani aku mengangkanginya sekarang
ini ?…. Tidak, tidak, harus Ong lopeh yang terus menyimpan
kimpai ini sampai diserahkan kepada yang berhak …..”
“Ach Koay Hiap, mengapa berkeras begitu rupa? Jika lohu
tertangkap oleh para utusan itu bukankah keadaannya akan
menjadi sangat runyam kelak ….. karena itu biarlah engkau
simpan saat ini dan ketika kita tiba di Siauw Lim Sie engkau boleh
kembalikan lagi kepadaku. Bagaimana, bukankah ide ini sudah
cukup baik”?
386
Setelah menimbang sejenak akhirnya Koay Ji mengangguk
sambil berkata;
“Baiklah, begitu juga baik Ang Lopeh ….” sambil berkata
demikian, diapun mengambil arca budha mini berwarna
keemasan itu dan kemudian menyimpannya. Dia sangat hati hati
memegang dan menyimpannya karena sadar bagaimana
besarnya pegaruh arca mini itu bagi anak murid Siauw Lim Sie.
Setelah menyimpannya, diapun kembali berkata dengan emosi
yang masih mencekamnya:
“Masalah sekarang adalah, pertama bagaimana memulihkan Ong
Lopeh secepatnya; Dan kemudian bagaimana berusaha untuk
dapat mencapai Kuil Siauw Lim Sie baru yang terakhir bagaimana
memecah masalah dan bahaya yang sedang mengancam Kuil
Siwu Lim Sie di Siong San …..” demikian Koay Ji berkata yang
sekali ini dalam suara yang sangat serius.
“Untuk masalah pertama yang engkau maksudkan sebetulnya
sudah dapat diatasi Koay Hiap ….. karena kondisiku saat ini
sudah jauh lebih baik, kecuali kondisi kebugaran fisik, yang
lainnya sudah tidak berhalangan. Kita sudah dapat melanjutkan
perjalanan menuju Kuil Siauw Lim Sie sekarang ini ……..”
387
“Ong Lopeh, apakah engkau yakin dengan kondisimu ……?
Bolehkah aku memeriksa keadaanmu sekali lagi …..”? bertanya
Koay Ji dengan rasa heran dan sekaligus khawatir bagi
keselamatan Kakek Ong jika berkeras berangkat hari itu juga.
“Boleh, engkau boleh memeriksaku sekali lagi Koay Hiap ……”
Koay Ji kembali mencoba memeriksa keadaan Kakek Ong untuk
memastikan apakah kesehatan dan kebugarannya memang
benar-benar sudah cukup memadai untuk melakukan perjalanan
yang cukup melelahkan ….. Hanya beberapa saat belaka dia
memeriksa keadaan Kakek Ong, dan diapun sebetulnya merasa
heran karena keadaan si Kakek yang jauh lebih fit dibanding
dengan dugaannya semula. Meski sangat heran, tetapi Koay Ji
yang memang sebetulnya masih kurang pengalaman merasa
senang dank arena itu diapun berkata:
“Hmmmm, keadaanmu di luar dugaanku Ong Lopeh, kita sudah
dapat melanjutkan perjalanan setelah makan siang nanti. Biar
kuberikan obat lain lagi sehingga dapat lebih memperkuat kondisi
fisikmu lopeh ……”
“Hmmmm, terima kasih, baik juga jika demikian Koay Hiap …..”
388
Dan selanjutnya, sambil menunggu waktu makan siang tiba, Koay
Ji kembali menemani He Ji sambil menurunkan beberapa
pengetahuan pengobatan kepada anak itu. Sampai beberapa jam
kemudian, baru terlihat tiga orang keluar dari rumah penginapan
dan mengambil arah menuju ke gunung Siong San. Mereka
bertiga mengambil arah yang menuju ke Kuil Siauw Lim Sie.
Mereka bukan lain Koay Ji, Kakek Ong dan cucunya yang
dipanggil sebagai He Ji oleh Koay Ji.
Tetapi, sejak keluar dari hotel, Koay Ji sudah tahu bahwa mereka
sedang dibuntuti dan diikuti orang. Firasatnya yang tajam dan
kewaspadaannya membuat dia dapat dengan mudah mengetahui
bahwa ada beberapa orang yang mengawasi dan mengintai arah
dan perjalanan yang mereka ambil. Terasa merepotkan
sebetulnya, karena jika dia hanya berjalan sendirian, maka Koay
Ji memiliki kemampuan mencapai Kuil Siauw Lim Sie dalam
waktu beberapa jam saja. Tidak akan sampai setengah harian.
Tetapi dengan mengawal Kakek yang baru sembuh dari sakit dan
cucunya yang masih kecil, jelas akan banyak menyita waktunya.
Lebih merepotkan lagi, dia masih harus melindungi kedua orang
yang jelas-jelas sangat rentan diserang orang itu …. Sungguh
perjalanan menuju Kuil Siauw Lim Sie yang bakal penuh dengan
onak dan duri …..
389
Dan sebagaimana yang diperkirakannya, tidak menunggu terlalu
lama halangan dan gangguan akan mereka temui. Karena begitu
memasuki jalanan yang mulai sepi karena akan memasuki hutan
di kaki gunung Siong San, tiba-tiba jalanan yang akan mereka
tempuh sudah dalam penghadangan orang. Siapa lagi jika bukan
para Utusan Pencabut Nyawa? Bahkan, jika beberapa waktu
sebelumnya mereka hanya beberapa orang, sekali ini mereka
datang dalam jumlah yang cukup banyak. Koay Ji tidak lagi
menghitung jumlah mereka semua para penghadang itu, tetapi
dipastikannya ada lebih dari 10 orang yang menghadang jalannya
menuju Siong San.
“Hmmmmmmm ……. lagi-lagi kalian, rupanya pelajaran yang
diterima beberapa kawan pengecut kalian sebelumnya masih
belum cukup. Dan kalian kelihatannya datang untuk meminta
hukuman yang sama ..” dengus Koay Ji dengn suara dingin.
Tetapi, berbeda dengan kawanan Pencabut Nyawa sebelumnya
yang biasanya garang, sekali ini mereka lebih tenang. Bahkan,
mereka tetap diam tidak bergerak dan tidak bicara satu katapun
sampai akhirnya rombongan Koay Ji berjarak hanya sekitar 3
meter dari orang terdepan Utusan Pencabut Nyawa. Kebetulan,
orang terdepan para Utusan itu adalah seorang bertubuh kurus
dengan tinggi umumnya orang Tionggoan. Hanya saja, karena
390
ketenangan dan keseriusannya, Koay Ji menjadi kagum juga.
Matanya menatap tajam dan membuat Koay Ji mulai
mengindahkannya ketika mereka akhirnya saling tatap pada jarak
dekat ……..
“Nampaknya tokoh-tokoh utama mereka sudah mulai munculkan
diri …” demikian Koay Ji bergumam dalam hatinya. Dihatinya
berpikir demikian tetapi dimulutnya Koay Ji segera berkata
kepada Kakek Ong ….
“Accccchhhhh, rupanya sedang banyak orang berbaris di jalanan
ini Ong Lopeh, mari kita mengambil jalan memutar saja ……..”
sambil berkata demikian Koay Ji segera berpura-pura mengambil
jalan memutar, meski dia tahu kawanan itu tidak akan
membiarkannya melakukan itu.
Dan benar saja …… para penghadang melengkungkan
barisannya sehingga jalan menyamping yang dimaksud oleh
Koay Ji juga terhalang. Tetapi, semua mereka lakukan dalam
diam dan dengan kecepatan yang mengagumkan. Tidak terlihat
adanya perintah dari pemimpin mereka yang tetap diam tenang
atau bahkan dingin di tengah jalanan yang mestinya dilewati Koay
Ji.
391
Kepungan itu membuat Koay Ji kembali ke jalur semula. Dan
sekaligus dia menjadi paham, bahwa kemanapun mereka bertiga
bergerak, maka barisan penghadang akan mencegat jalan pergi
mereka bertiga itu. Karena itu, maka Koay Ji kemudian berbisik
kepada Kakek Ong disampingnya:
“Ong Lopeh, mari kita adu kesabaran dengan mereka …….”
tentunya suara Koay ji tidak dimaksudkan untuk didengar lawan.
Karena itu, diapun berkata dengan membuat gaya lelah dan
kecapekan:
“Karena jalanan sedang ramai, lebih baik kita beristirahat dulu
Ong Lopeh ….. lagian, akupun mulai merasa kelelahan ……”
Gaya dan kelakuan Koay Ji seperti itu agaknya diluar perkiraan
para Utusan Pencabut Nyawa. Pemimpin mereka yang tadinya
terus tenang dan diam untuk menghadirkan perbawa menakutkan
dan menyeramkan, terlihat goyah. Apalagi karena Koay Ji
berlagak menguap dan mencari-cari tempat untuk beristirahat …..
dan tingkahnya nampak tidak dibuat-buat. Terlihat memang
benar-benar ingin beristirahat, meski mereka paham belaka
bahwa itu adalah tindakan disengaja. Tetapi, siapa tidak murka
dengan kelakuan Koay Ji seperti itu …….
392
Ketika Koay Ji ingin beranjak untuk berteduh dibawah sebatang
pohon di pinggir jalanan, meledaklah amarah pemimpin Utusan
Pencabut Nyawa itu:
“Hmmmmm, sungguh berani mati engkau menghadapi kami.
Apakah engkau menyangka dapat menghindar dari sergapan
kami ……”?
“Oooooh, engkau bisa bicara juga rupanya ya …… hahahahaha,
kupikir engkau akan terus menjaga tingkahmu yang pura-pura
menyeramkan itu. Harus engkau tahu, begitu engkau bergerak
menyerangku, siapapun mereka, termasuk engkau, kujamin akan
pergi dari tempat ini dengan kehilangan segenap kepandaianmu.
Mereka yang tahu diri boleh pergi dengan tidak kurang satu
apapun ……. Kuperingatkan kalian sekali lagi ….” Koay Ji sekali
ini berkata dengan suara serius, berwibawa dan mendatangkan
rasa segan yang mendalam di kalangan para penghadang itu.
“Hmmmmm, mangsa yang mendekati liar kubur tetapi tetap
sangat berani dan seperti anjing yang ingin menggigit sebelum
dijagal …….” Sampai menggigil pemimpin Utusan itu mendengar
ancaman maut dari Koay Ji
393
“Boleh engkau coba jika memang berani. Sekali lagi kuingatkan,
seketika aku bergerak, mereka yang menyerangku akan tertimpa
bencana …… maka berpikirlah berkali-kali sebelum keluar
menyerangku atau kakek dan cucunya ini ……” sekali ini, berbeda
dengan sebelumnya, Koay Ji berkata dengan nada berbeda.
Berbeda dengan pembawaannya yang tenang dan berwajah
bagai bayi, sekali ini dia berkata penuh wibawa dan dengan wajah
dan terutama sinar mata berkilat penuh cahaya mujijat.
Penampilanya sontak membuat lawan menjadi bergidig entah
mengapa.
“Sayap timur keluar menyerang ……” untuk mengatasi kejerihan
dirinya sendiri dan terutama anak buahnya, sang pemimpin
akhirnya bersuara dengan suara bentakan yang penuh nada dan
wibawa yang hebat. Serentak dengan itu, 3 orang dari sisi timur
terlihat bergerak dan langsung menyerang Koay Ji dengan
kecepatan yang sangat hebat dan dengan kekuatan luar biasa.
Kakek Ong dan He Ji terlihat jerih dan sedikit ketakutan, tetapi
Koay Ji hanya tersenyum kecil.
Pukulan ketiga orang itu sudah menerpa datang dengan kekuatan
dan kecepatan yang sangat mengagumkan. Tetapi Koay Ji terlihat
tenang, penuh percaya diri dan mulut menampakkan senyum tipis
dan samar. Dan ketika serangan itu nyaris mengenai tubuhnya,
394
barulah tiba-tiba dia membentak dan kemudian menggerakkan
kakinya menghindar. Gerakannya terasa aneh, tak terlacak
lawan-lawannya, tetapi seketika tubuhnya menghilang dan
bahkan terdengar bentakannya:
“Lancang ……. terimalah hukuman kalian ……”
Belum habis suara bentakannya, tiba-tiba lengannya bergerak
ringan kearah ketiga lawannya. Dan segera terdengar suara
jeritan menyayatkan hati:
“Accccccchhhhh …… acccchhhhhhhhhh ….. accchhhhhhhh ….”
Bersamaan dengan itu, ketiga teriakan atau jeritan tadi disusul
dengan suara gedebukan, ketiga tubuh mereka bertiga jatuh
menimpa bumi bagaikan benda berat yang jatuh menimpa bumi
dengan keras. Dan Koay Ji yang sudah berhenti bergerak segera
berkata dengan suara tawar:
“Aku hanya memunahkan kepandaian mereka bertiga ……….
Belum sampai hati mengambil nyawa mereka …… silahkan yang
lain jika masih belum puas …..”
Tidak ada jawaban, kecuali bentakan si pemimpin Utusan
Pencabut Nyawa:
395
“Sayap Barat dan Bagian Tengah …. Kalian maju dan kemudian
serang dengan senjata namun tetaplah menjaga jarak darinya.
Dia sesungguhnya memang sangat telengas dan sangat
berbahaya bagi kita semua …….”
Dan enam orang Utusan Pencabut Nyawapun bergerak menyusul
perintah suara sang pemimpin. Tetapi mereka tidak bergerak
mendekat dan menyerang Koay Ji dengan ilmu pukulan. Hal ini
terlihat dengan lengan mereka bergerak masuk kedalam saku
mereka masing-masing terlebih dahulu dan kemudian merekapun
bergerak berpencar. Posisi tersebut membuat Koay Ji berada di
tengah bersama dengan Kakek Ong dan He Ji, berada dalam
kurungan lawan. Jelas Koay Ji tidak takut dengan bentuk apapun
serangan lawan yang banyak itu, tetapi dia harus
memperhitungkan juga keselamatan kakek dan cucunya yang
berada dalam pengawasannya. Meski begitu, Koay Ji tidak
nampak panik ataupun ketakutan dengan keadaan mereka.
Sebaliknya, dia tetap tenang dan awas dengan keadaan
sekitarnya.
Tiba-tiba salah seorang dari keenam Utusan Pencabut Nyawa
menggerakkan lengan dan kemudian bergerak cepat yang diikuti
teman-temannya. Gerakan tangannya tadi rupanya adalah
isyarat. Tetapi bukan sembarang isyarat, karena bersamaan 5
396
sinar berkilat meluncur dari lengannya. Senjata Rahasia. Dan
memang benar, dia melepas senjata rahasia dan kemudian berlari
mengitari Koay Ji dan Kakek Ong serta He Ji dalam lingkaran.
Bukan hanya itu, selepas Koay Ji melibas kelima senjata rahasia
yang dilepas tadi, dalam waktu sedetik, keenam manusia
pencabut nyawa itu mengayunkan lengan mereka secara
bersamaan. Dan luar biasa, puluhan sinar senjata rahasia jarum
berkilat Nampak mengarah ke tengah lingkaran dengan sebagian
besar mengarah Koay Ji dan sebagian kecil mengarah Kakek Ong
dan He Ji.
Tetapi hebatnya, Koay Ji tidak menjadi gentar dan gugup. Dia
tetap tenang namun wajahnya berubah gelap karena merasa
penasaran mengapa ikut menyerang Kakek Ong dan terutama He
Ji yang masih kanak-kanak? Ini yang membuat Koay Ji menjadi
marah. Meskipun tidak secara otomatis membuatnya bertangan
kejam. Dia tahu, saat itu dia mesti memunahkan dan menghapus
bahaya yang datang dari senjata rahasia lawan. Tetapi, belum lagi
dia bergerak. Tiba-tiba keenam manusia itu sudah menghentak
lengan satunya lagi dan menyusul puluhan senjata jarum
mengarah ke tengah dalam formasi berbeda dengan gelombang
pertama. Keadaan itu membuat si pemimpin tersenyum tipis.
397
Tetapi senyum tipis itu hanya sebentar. Karena tiba-tiba dia
melihat Koay Ji menggerak gerakkan kedua lengannya dan
kemudian menggeser langkah kakinya tiga kali kekiri dan
kekanan. Bersamaan dengan itu, pusaran tenaga tak terlihat
mengelilingi bagian tengah arena, pusaran tenaga itu bukan main
hebatnya. Sinar-sinar senjata rahasia yang berjumpah puluhan itu
tiba-tiba ikut tersapu pusaran tenaga tak nampak, baik serangan
gelombang pertama maupun gelombang kedua dan kemudian
pusaran tenaga itu diarahkan Koay Ji keatas namun menyamping.
Bersamaan dengan dilontarkannya senjata rahasia yang
berjumlah puluhan itu, tiba-tiba Koay Ji menggerakkan kedua
lengannya sambil menghitung:
“Satu, dua, tiga, empat, lima dan enam ……. nach …. Itu hukuman
buat kalian”
Setiap kali dia menyebut angka, setiap kali sesosok tubuh
terdorong dan kemudian terjengkang ke belakang. Dan dalam
hitungan kurang dari 10 detik, keenam tokoh yang
mengeroyoknya dengan senjata rahasia sudah terjengkang ke
belakang dengan semua kepandaian mereka musnah. Tubuh
mereka tergolek tak berdaya setelah menerima totokan istimewa
398
dalam jarak yang cukup jauh dari Koay Ji. Pemandangan itu
membuat banyak orang terkesiap ……..
Pameran kemampuan istimewa ini membuat bukan hanya si
Pemimpin utusan pencabut Nyawa terbelalak, tetapi bahkanpun
Kakek Ong ternganga tidak percaya. Karena dia sangat khawatir
dengan keadaan mereka barusan. Tetapi, ternyata dengan
sangat mudahnya, Koay Ji memunahkan serangan keenam lawan
mereka dan bahkan kemudian menotok mereka lumpuh dan
sekaligus juga memunahkan kepandaian lawan lawan tersebut.
Sungguh susah dibayangkan kemampuan yang dimiliki Koay Ji.
Kakek Ong memandang Koay Ji takjub sekaligus juga terkesima.
“Benar-benar sehebat itukah kemampuan tokoh bernama Koay
Hiap ini …….”?
“Engkau …. engkau ….. Ilmu siluman apa yang engkau gunakan
melawan mereka …”? gagap dan terkejut si pemimpin Utusan
Pencabut Nyawa. Dia sungguh tak menyangka jika Koay Ji
dengan mudah menghadapi dan meruntuhkan Barisan 6 Senjata
Rahasia yang diandalkannya untuk menumbangkan Koay Ji.
“Hmmmm, masih ada permainan apalagi yang ingin engkau
sajikan …..”? atau, apakah engkau sudah merasa cukup dan lebih
399
baik membiarkan kami melanjutkan perjalanan menuju Kuil Siauw
Lim Sie …..”?
“Engkau terlalu sombong …. Apakah engkau kira tidak ada lagi
orang yang sanggup mengalahkan dan menaklukkanmu …..”?
“Tentu saja banyak yang mampu, tetapi untuk Utusan Penyebar
Maut seperti kalian, kupastikan akan kubasmi karena melukai
orang-orang tak berdosa …. Lebih baik engkau segera menyingkir
sebelum timbul niatku untuk membuatmu sama dengan anak
buahmu yang lain itu ……”
“Hahahahahahahaha ….. sungguh sombong, sungguh sombong.
Apakah engkau kira aku takut dengan kemampuanmu itu ……”?
“Apakah tidak ……”?
“Baik, mari kuperlihatkan jika aku tidak takut …….”
Sambil berkata demikian, dengan cepat dan mantap, tokoh
bertopeng yang berbadan kurus itu segera merangsek maju.
Langkah kakinya cepat dan kokoh, jauh berbeda dengan temantemannya
yang sudah dijatuhkan Koay Ji. Bukan hanya itu,
tenaga lengan dan jari tokoh itu bertenaga mendebarkan dan
membuat Koay Ji berdebar karena sekali ini bertemu tokoh hebat.
400
Karena lawannya yang cukup kuat itu, terlebih menggunakan ilmu
yang dikenalnya, membuat Koay Ji tidak menurunkan tangan
kejam atas tokoh bertopeng yang hebat itu.
“Hmmmm, engkau memang cukup hebat ……”
Koay Ji bergumam kagum sambil menggerakkan kakinya.
Dengan sangat mudah dia menghindar dan mengelak dari
serangan tangan tokoh itu dan membuatnya berdebar karena
mengenali gerak-gerik lawan yang sangat kental dari Perguruan
SIAUW LIM SIE. “Siapa dia gerangan ….” pikir Koay Ji bingung.
Tetapi, tanda tanya itu menguap ketika lawannya menyerang
hebat dengan ilmu mujijat yang dikenalnya TAM CI SIN THONG
dan membuatnya terkejut. Mereka yang menguasai Ilmu ini,
mestinya adalah tokoh utama dari Kuil Siauw Lim Sie …… jika
demikian, siapa gerangan tokoh yang menjadi pemimpin para
Utusan Penyebar Maut ini …..?
Tetapi, dalam kagetnya, Koay Ji merasa heran karena beberapa
serangan hebat yang dilakukan lawan, mendadak pada puncak
kehebatannya tidak dilanjutkan. Dan berganti dengan jurus lain
yang lebih lunak dan mudah dipunahkan. Padahal, bukannya
Koay Ji tak mampu menghadapinya. Sama sekali bukan. Tetapi,
apa gerangan maksud lawan melunakkan serangan? Adakah
401
sesuatu yang dimaksud lawannya itu ……? Jika hanya sekali atau
dua kali, masih dapat diterima akal, tetapi dilakukan berkali-kali,
maka Koay Ji mulai paham. Bahwa lawannya bermaksud
mengiriminya isyarat bahwa dia bukanlah musuh. Tetapi, sikap
galak yang dipertunjukkan lawan tidak berkurang. Hal ini
membuat Koay Ji merasa bahwa lawan memiliki kesulitan sendiri
dan tentunya kurang mampu untuk menyampaikannya keluar,
karena masih ada 3 orang lain di belakangnya.
Gerakan-gerakan mereka, hanya dapat dipahami orang yang
memahami dengan baik Tam Ci Sin Thong, dan kebetulan Koay
Ji juga memahami Ilmu itu dengan sangat baik. Karena itu, dia
dapat memahami ada kesulitan yang dialami lawannya yang
nampaknya berasal dari Kuil Siauw Lim Sie. Karena pemahaman
itu, maka Koay Ji memutuskan untuk tidak menurunkan tangan
kejam atas tokoh yang satu ini. Tetapi, tiba-tiba angin serangan
lain menuju kearahnya.
Rupanya saat itu, salah seorang lawan yang masih bebas
memutuskan membantu si tokoh Siauw Lim Sie yang tadinya
datang sebagai pemimpin rombongan. Dan dengan demikian,
masih tersisa 2 orang lain yang masih tetap belum turun ke arena.
Begitu memasuki arena, Koay Ji dengan cepat mengerti bahwa
tokoh yang datang memiliki kepandaian tidak dibawah tokoh yang
402
disangkanya pemimpin para Utusan Pencabut Nyawa ini. Bahkan,
karena tokoh belakangan sangat terasa begitu bernafsu guna
menangkap dan membunuh Koay Ji, dank arena itu, nyaris semua
serangannya justru jauh lebih hebat dan mematikan. Selain
tentunya terasa lebih bertenaga dan lebih mengancam dan
menyudutkan Koay Ji.
Untungnya Koay Ji cukup pintar. Jika dia menjatuhkan lawan
secepatnya, maka pasti lawan pertamanya yang diduganya dari
Siauw Lim Sie akan dicurigai. Karena itu, dia melakukan
perlawanan dengan tenaga dan kepandaian terukur. Dia bahkan
memberi diri diserbu keduanya dengan hanya mengandalkan
langkah ajaib yang membuatnya susah disentuh lawan.
Kemampuan dalam Ilmu Langkah Thian Liong pat pian- atau
"Naga langit berubah delapan kali", boleh dikata sudah sempurna
dan menyatu dengan hatinya. Dengan santai dia bergerak kekiri,
kekanan, mendekat, menjauh, atau bahkan memutari tubuh si
penyerang sehingga membuat penyerangnya menjadi sangat
penasaran. Dengan ilmu mujijatnya itu, meski lawan terus
menyerang, tetapi keduanya tetap saja tidak mampu menyentuh
tubuh Koay Ji meski beberapa kali mereka merasa sudah nyaris
dalam genggaman.
403
Tetapi rupanya, tokoh yang tadinya masih menonton justru masih
lebih hebat lagi. Kedua tokoh yang tadi masih belum maju, saling
pandang dan saling mengangguk. Seperti isyarat bagi mereka
berdua. Kelihatannya keduanya cukup sadar bahwa Koay Ji
bukanlah lawan sembarangan dan untuk alasan itu maka
keduanya sampai harus turun tangan langsung. Setelah saling
mengangguk, salah seorang dari keduanya, yakni tokoh yang
lebih kecil namun berbadan tambun dan gemuk maju selangkah
dan kemudian berseru dengan suara berat:
“Coba engkau sambut seranganku ini ……..”
Terdengar suara mencicit mengiringi angin serangan tokoh yang
satu ini. Hal yang cukup membuat Koay Ji meningkatkan
kewaspadaannya. Tetapi, meskipun demikian, Koay Ji tidak
merasa ciut, tawar hati atau apalagi ketakutan. Karena semakin
dicecar, semakin mampu dia mengukur diri dan perlahan-lahan
menggunakan ilmu-ilmu hebat yang terpendam dalam dirinya.
Dengan percaya diri dia menggunakan unsur MENOLAK dari
kekuatan iweekangnya sambil kemudian memainkan Sam In
Ciang (Tiga Tinju Rahasia). Suhu Koay Ji sendiri bisa heran
melihat bagaimana Koay Ji memainkan Tinju Rahasia ini dengan
demikian sempurnanya. Menjadi lebih penuh variasi, penuh
404
tenaga, namun juga dapat luwes, penuh variasi dan mampu
mencecar lawan dengan demikian hebatnya.
Ketika lawan menyerangnya dengan pukulan hebat, kombinasi
dua ilmu hebat tersebut segera dikeluarkan Koay Ji, dan hebat
akibatnya:
“Dukkkkkkk ……..”
Akibat benturan tersebut tokoh bertubuh tambun itu terlontar ke
belakang dengan meski masih mampu menjaga tetap berdiri,
tetapi dia terhuyung-huyung sampai 8 langkah. Hal ini
mengagetkan semua pihak, termasuk kedua lawan pertama yang
masih tetap mengeroyoknya. Tidak mereka sangka jika
sebenarnya Koay Ji masih menyimpan banyak kekuatan dan
kemujijatan dalam dirinya. Meski sebenarnya ada beberapa
alasan mengapa Koay Ji bersikap seperti itu.
Pertama, dia masih memberi angin kepada tokoh yang
disangkanya berasal dari Siauw Lim Sie dan banyak memberinya
peluang meski sebenarnya tidak perlu. Tetapi, perasaan hatinya
mengatakan bahwa tokoh itu ingin mengatakan “sesuatu” kepada
dirinya. Karena itu, Koay Ji sengaja menahan diri dan membatasi
tenaga dan kemampuannya dalam menyerang. Itu juga
405
sebabnya, meski dikeroyok dua orang tokoh hebat, Koay Ji tetap
mampu bertahan dan mampu membuat dirinya tidak terlihat
terdesak oleh serangan lawan-lawannya.
Kedua, Koay Ji merasa saat itu tepat baginya untuk berlatih
secara langsung dalam sebuah pertarungan sesungguhnya.
Apalagi, kedua lawannya terhitung tokoh lihay dan membuatnya
harus mengerahkan ilmu-ilmu hebatnya untuk menahan serangan
mereka. Berkali-kali dia mengamati serangan dan ilmu lawan, dan
dia merasa kedua lawannya, terakhir menjadi tiga, terasa lamban
dan kurang bertenaga. Meskipun disbanding lawan-lawan
sebelumnya, mereka bertiga, terutama tokoh terakhir, memiliki
kekuatan yang cukup mengagumkannya.
Ketiga, Koay Ji mulai merasa curiga dengan urusan yang dia
sudah terlanjur ikut campur ini. Dia ingin mengetahui ada apa
sebenarnya. Meski masih muda, tetapi Koay Ji cukup cerdik dan
pintar. Menyadari semakin lama semakin hebat lawan yang
datang mencari Kakek Ong dan cucunya He Ji, membuatnya
penasaran. Mengapa mereka dicegat dan mengapa Kakek Ong
dan He Ji harus ditangkap atau dibinasakan? Mesti ada sesuatu
yang penting dibalik semuanya.
406
Tetapi, penggunaan Sam In Ciang yang baru pertama kali
digunakannya, membuat jejak Koay Ji menjadi konangan. Semua
lawannya sadar bahwa Koay Ji selama ini ternyata belum
mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Kemampuannya
mementalkan lawan terakhir hingga 8 langkah ke belakang
menyadarkan semua musuhnya bahwa Koay Ji memang lawan
berat. Dan karena itu, dia memancing tokoh terakhir untuk ikut
turun tangan. Tetapi, tokoh yang satu ini cukup cerdik. Dia tidak
menyerang langsung kearah Koay Ji, tetapi dengan cerdik
mengarah Kakek Ong dan He Ji.
Apalagi, tokoh terakhir itu ternyata memiliki kepandaian paling
tinggi diantara semua penghadang Koay Ji. Repotnya, Koay Ji
sendiri sedang dikerubuti oleh 3 orang tokoh kuat, bahkan secara
bersamaan mereka bertiga menyerang Koay Ji dengan ilmu-ilmu
aneh dan hebat. Jelas maksud mereka memberi ruang dan waktu
yang cukup bagi kawan mereka untuk menyelesaikan Kakek Ong
dan He Ji. Koay Ji juga paham dengan strategi tersebut. Melihat
serangan kearah Kakek Ong dia terkesiap. “Bahkan masih lebih
hebat dari lawan-lawan yang mengeroyokku ….” demikian batin
Koay Ji kesal karena jelas dia sudah terlambat sepersekian detik
untuk memberi pertolongan.
407
Keadaan itu membuat Koay Ji murka ….. jika sebelumnya dia
seperti sedang berlatih dan mendikte ketiga lawannya, sekali ini
dia mengerahkan ilmu andalannya yang selama ini digunakannya
menghukum lawan-lawannya, yakni Ci Liong Ciu hoat atau "Ilmu
Mengekang Naga” (Ilmu Totok mujijat). Ilmu yang dipelajarinya
sejak masa kecil dari sebuah Kitab Aneh, sudah dikuasainya dan
dijiwainya, karena selain berguna sebagai Ilmu Totok, juga
bermanfaat besar bagi ilmu pengobatannya. Tetapi, kini dengan
penuh emosi, dia mengerahkan ilmu mujijat ini sambil berteriak:
“Kurang ajar ….. terimalah hukuman kalian ……..”
Ada beberapa kejadian yang secara bersamaan terjadi dalam
selang waktu yang hanya sepersekian detik. Yang pertama
adalah rubuhnya 3 lawan Koay Ji secara berturut turut diiringi
dengan dengusan rendah dari ketiga orang itu, kecuali tokoh yang
diduga dari Siauw Lim Sie oleh Koay Ji yang dibuatnya langsung
pingsan. Tetapi, kedua tokoh lainnya dia sudah menurunkan
tangan kejam, yakni memunahkan kepandaian mereka dan
menotok jalan darah utama dan membuat mereka tak mungkin
lagi berlatih silat. Tetapi, pada saat bersamaan, tokoh hebat yang
menyerang Kakek Ong dan He Ji tadi, juga terpukul dan terpental
jauh dan dari mulutnya mengalir darah segar tanda dia terluka
dalam yang sangat parah.
408
Tetapi Koay Ji masih sempat menangkap bayangan berwarna
putih yang berkelabat pergi. Jelas bayangan tubuh seorang gadis.
Dia terpana karena gerakannya sungguh cepat layaknya terbang.
Bahkan dia sendiri ragu apakah mampu menyusul bayangan yang
membantu dirinya dengan melindungi Kakek Ong dan He Ji:
“Terima kasih atas bantuan Kouwnio ……” ucapnya datar namun
serius dengan dorongan tenaga dan kekuatan mujijatnya ……
tetapi tiada terdengar sahutan sedikitpun, karena bayangan putih
itu memang sudah pergi demikian jauhnya. Meski demikian, Koay
Ji yakin bahwa tokoh yang membantunya tadi pasti
mendengarkan ucapan terima kasih yang dilontarkannya dengan
kekuatan hebat tadi.
Sementara itu, hampir semua lawan Koay Ji sudah perlahanlahan
menjauh dengan tertatih-tatih karena kehilangan
kemampuannya. Kecuali tokoh utama mereka yang sudah pergi
terlebih dahulu dengan membawa luka yang sangat parah dan
tokoh yang diduga dari Siauw Lim Sie oleh Koay Ji. Melihat semua
lawan sudah berlalu, perlahan-lahan dia mendekati tokoh yang
ditotoknya pingsan itu. Dan selanjutnya dia menutuk di beberapa
tempat untuk menyadarkan kembali orang yang dicurigainya itu.
Dan begitu sadarkan diri, dengan segera dia berkata:
409
“Tayhiap, terima kasih atas pengertianmu … tapi ….. tapi ….
kumohon pertolonganmu sekali lagi. Kuil Siauw Lim Sie sekali ini
menghadapi cobaan yang sangat mengerikan. Mendiang
Ciangbudjin berpesan sebelum pergi ….. hanya ada satu atau dua
orang yang sanggup menyelamatkan Siauw Lim Sie sekali ini …..
hanya Bu In Hwesio atau seorang Sutenya yang mampu untuk
saat ini. Tolonglah engkau mencari tokoh itu yang bersembunyi
entah dimana ….. Ciangbudjin sebelum pergi hanya berpesan
satu kalimat saja untuk disampaikan kepada Bu In Hwesio ……
hanya sebuah kalimat pendek “SUDAH SAATNYA …….”.
Tolonglah tayhiap, aku sendiri sudah keracunan hebat. Tolonglah
Kuil Siauw Lim Sie ……..” dan setelah mengucapkan kalimatkalimat
itu, orang itupun melepaskan nyawanya karena rupanya
racun yang jahat sudah mengeram lama dalam tubuhnya. Bahkan
Koay Ji yang coba untuk membantunya sama sekali tidak
berdaya.
Tetapi, kalimat-kalimat yang disampaikan tokoh yang tidak
dikenalnya itu membuatnya tersentak. Masih terngiang di
telinganya petuah terkahir Suhunya:
“Muridku, dalam keadaan apapun, jangan lagi mengganggu
Suhumu ini. Engkau berhak untuk bertindak atas nama Suhumu
jika sangat diperlukan …… dan ingat, semua hal yang berkaitan
410
dengan keselamatan Kuil Siauw Lim Sie adalah urusanmu juga,
jangan pernah melupakannya, karena Suhumu sesungguhnya
berasal dari sana ……”
“Belum lama mengembara, justru sudah harus mengerjakan
amanat SUHU ….” Koay Ji berkata dalam hatinya. Dia sudah
memutuskan, karena memang sabda Suhunya adalah sesuatu
yang wajib dikerjakannya.
“Baiklah Suhu ……. Siapapun engkau, biarlah engkau
mengetahui bahwa apa yang engkau sampaikan pasti akan
kukerjakan ……”
Setelah berkata demikian Koay Ji membuka kerudung wajah
tokoh itu. Benar saja, dia seorang Pendeta Budha, tetapi
wajahnya sudah mulai menghitam sementara kepala gundulnya
masih tetap terlihat jelas.
“Racun yang sangat jahat ……” sambil berkata demikian Koay Ji
menutup kembali kerudung itu dan kemudian bekerja menggali
liang untuk memakamkan Pendeta Siauw Lim Sie yang sungguh
malang itu.
411
Tetapi, baru saja Koay Ji selesai menguburkan jasad Pendeta
Siauw Lim Sie yang malang itu, tiba-tiba terdengar suara
mengalun dengan wibawa luar biasa:
“Amitabha ,,,,,,,,, “
Dan tak lama kemudian sudah berdiri 5 orang Pendeta Budha
lainnya yang terus menerus memandang Koay Ji dengan
pandangan penuh pertanyaan. Mereka tidak sedikitpun melirik
kearah Kakek Ong dan cucu perempuannya yang berdiri kaget
dan bengong dengan kemunculan mereka yang secara tiba-tiba
itu.
“Amitabha ….. engkaukah yang bernama Thian Liong Koay Hiap
…..”? bertanya salah seorang dari kelima Pendeta Tua yang baru
tiba itu. Kelihatannya dia yang bertindak sebagai juru bicara bagi
keempat Pendeta lain yang lebih tua lagi …
“Benar …….. orang menyebutku dengan panggilan tersebut ……”
“Amitabha ……. Bisakah kami mengetahui nama saudara yang
mulia …..”? kembali Pendeta Siauw Lim Sie itu bertanya sambil
menatap tajam wajah Koay Ji
412
“Maaf …… maaf, bahkan aku sendiri memang tidak mengetahui
namaku yang sebenarnya, karena itu maaf jika tidak dapat
memberitahu Lo suhu ……”
“Amitabha ……. siancay …… siancay ….. satu pertanyaan lagi
Sicu ….. benarkah Hui San Sutit meninggal di tanganmu ……”?
Kagetlah Koay Ji mendengar pertanyaan itu. Jika dia sampai
keliru menjawab pertanyaan itu, maka bisa dia pastikan
permusuhan dengan pihak Kuil Siauw Lim Sie bakal sangat sulit
untuk dibersihkan. Tetapi, karena merasa tidak membunuh, maka
dengan nada pasti dia berkata:
“Bukan aku yang melakukannya Lo Suhu …….”
“Amitabha, jika bukan Sicu, habis siapa lagi yang bisa
membinasakannya …..”?
“Sesungguhnya dia binasa karena racun jahat Lo suhu …….”
“Amitabha ….. benarkah demikian ….”
“Tidak salah lagi, karena wajahnya menghitam dan mulai
membusuk ketika aku mencoba membuka kerudungnya ……..
413
sayang sekali setelah meninggalkan pesan, Suhu itupun akhirnya
meninggal …..”
“Amitabha …….. bolehkah kami mengetahui apa gerangan isi
pesan mendiang sutit kepadamu Koay Hiap Sicu …..”?
Koay Ji terlihat sedikit berubah wajahnya, tetapi hanya seketika.
Nalurinya membisiki untuk bekerja sesuai situasi, namun untuk
saat itu, sebaiknya tidak semua informasi yang dimilikinya dibuka
ke pihak luar …. Karena berpikir demikian, maka Koay Ji
kemudian menggeleng dan berkata:
“Lo Suhu, aku akan sangat bersedia mengatakannya kepada
Ciangbudjin atau Pejabat Ciangbudjin Siauw Lim Sie saat ini,
karena sangat pentingnya informasi tersebut. Hanya saja, ada
satu hal yang juga sangat penting dan dapat kuberitahukan, yakni
Suhu itu meminta pertolonganku karena menurutnya Siauw Lim
Sie sedang dalam ancaman yang sangat berbahaya …….”
“Amitabha ……. sungguh ceroboh mendiang sutit jika memang
demikian ……..”
“Tapi, bisa jadi Losuhu yang ceroboh. Kuil Siauw Lim Sie dewasa
ini dalam keadaan yang sangat berbahaya, tetapi Losuhu malah
414
mencurigai kami yang berusaha untuk memberi bantuan dan
pertolongan …….”
“Amitabha …….. kalian tidak akan sanggup ……”
“Cepat, tangkap mereka …….”
Terdengar suara bentakan yang entah berasal darimana.
Bentakan tersebut membuat Pendeta yang sedang adu
percakapan dengan Koay Ji tersentak dan nampaknya berada
dalam situasi sulit antara melakukan perintah tadi atau tidak.
Bukannya bodoh, Koay Ji dapat melihat keanehan tersebut
dengan jelas dan apalagi karena keempat Pendeta Tua di
belakangnya juga menunjukkan gelagat yang sama. Seperti
enggan mengikuti perintah lewat bentakan tadi, tetapi tetap saja
mereka melakukannya. “Pasti ada sebab yang membuat mereka
dalam keadaan sulit seperti itu …..” pikir Koay Ji. Berbeda dengan
teman-temannya yang lain, Pendeta Tua yang paling tinggi
diantara mereka berlima justru melakukan perintah dengan
senang hati.
Diantara kelima Pendeta Siauw Lim Sie itu, ada dua yang terlihat
sudah cukup tua, mungkin sudah sekitar 60 tahunan usia mereka
atau bahkan lebih. Mereka adalah adik seperguruan Ciangbudjin
415
Siauw Lim Sie saat ini, yakni Hoat Ho Hwesio dan Hoat Leng
Hwesio. Sementara ketiga Pendeta lainnya rata-rata berusia
cukup tinggi, di atas 50 tahunan dan bernama Hong San Hwesio,
Hong Keng Hwesio dan Hong It Hwesio. Pendeta angkatan HOAT
adalah angkatan Ciangbudjin dewasa ini, dan Angkatan HONG
adalah angkatan dibawah mereka. Karena itu, kelima orang itu
rata-rata adalah tokoh-tokoh utama Siauw Lim Sie dewasa ini dan
merupakan tulang punggung Kuil Siauw Lim Sie. Tokoh yang
paling semangat untuk segera menjatuhkan Koay Ji adalah Hong
It Hwesio, Pendeta berbadan tinggi besar dan memang
berangasan.
Mendengar bentakan itu, Hong San Hwesio yang tadi menjadi juru
bicara segera melirik Hong Keng Hwesio disampingnya dan
memberinya tanda untuk maju. Dan dengan gagah sambil tidak
lupa mengingatkan lawan:
“Sicu, mari kita mulai …….”
Segera dia menyerang Koay Ji dengan pukulan-pukulan berat
dari Lo Han Kun Hoat. Sebuah ilmu pukulan hebat dari Kuil Siauw
Lim Sie. Tetapi, mana dapat pukulan itu merepotkan Koay Ji yang
bahkan menguasai beberapa Ilmu Mujijat asal Siauw Lim Sie?
Dengan tenang, ringan dan gesit dia menghindar dan sesekali
416
mendorong lengan lawan yang mengancam beberapa bagian
tubuhnya. Sekilas, terlihat Koay Ji seperti sedang didesak habis
oleh lawannya. Tetapi Hong Keng Hwesio dan terutama dua
pendeta Siauw Lim Sie yang sudah tua itu, langsung tahu apa
yang sesungguhnya sedang terjadi. Gerakan-gerakan Koay Ji
sangat sederhana, tetapi dengan tepat dan cepat memotong dan
memunahkan semua serangan Hong Keng Hwesio.
Tetapi, kedua Pendeta tua itu semakin takjub, karena Koay Ji
dalam beberapa gerakan seperti sedang mempertunjukkan
kepada mereka kemahirannya akan ilmu-ilmu pusaka Siauw Lim
Sie. Dan memang, Koay Ji sengaja melakukannya dengan
maksud-maksud tertentu. Semacam sedang mengirimkan isyarat.
Dan, Hong Keng Hwesio sudah tentu mengerti dan tahu dengan
gerakan-gerakan mujijat yang hanya dapat dilakukan Pendeta
angkatan HOAT atau bahkan angkatan diatasnya. Gerakangerakan
Koay Ji terlampau ampuh dan hebat, mestinya datang
dari pemahaman dan ajaran tokoh tingkat tinggi dari Kuil Siauw
Lim Sie. Jika demikian, siapa sebenarnya tokoh yang menyebut
dirinya sebagai THIAN LIONG KOAY HIAP ini?
Mendadak terdengar seruan Hong It Hwesio:
“Sute, biar kumembantumu ………”
417
Sambil berkata demikian, Hong It Hwesio sudah menerjang
masuk kedalam lingkaran pertempuran hebat itu. Dengan cepat,
lebih keras, ganas dan cepat, Hong It Hwesio sudah menerjang
KOay Ji dengan menggunakan Ilmu-Ilmu yang meniru gerakan
binatang. Yakni Houw Sin Kun Hoat dan Pek Ho Kun Hoat, yakni
kedua macam Ilmu Tangan Kosong khas Siauw Lim Sie. Kedua
lengannya sesekali membentuk cakar harimau dan sesekali
berbentuk patuk seekor burung bangau. Tetapi, angin serangan
yang dikerahkannya sungguh berbahaya, tidak kurang dengan
sengatan tangannya sendiri, karena dia memang tokoh yang
mengandalkan kekuatan iweekang.
Tetapi, meskipun demikian, Koay Ji tetap tidak terlihat terdesak.
Dengan manis dan tepat dia mengantisipasi dan mementahkan
semua serangan Hong It Hwesio dan Hong Keng Hwesio. Justru
kedua Pendeta Tua, Angkatan Hoat terlihat semakin tertarik dan
semakin terpikat. “Amitabha …. tidak salah, Sicu itu pastilah anak
keturunan tokoh besar Siauw Lim Sie …….” Begitu tebak mereka.
Tetapi, mereka tidak sanggup untuk mengatakan siapa Koay Ji
sebenarnya. Hanya, mereka yakin, Koay Ji adalah murid seorang
tokoh besar Siauw Lim Sie, entah yang mana. Karena yang
mampu mendidik tokoh sehebat Koay Ji hanya dapat dihitung
dengan jari belaka ……
418
“Amitabha … Hong San Sutit, engkau ikut maju membantu
mereka ……” terdengar Hoat Ho Hwesio berbisik lirih dan segera
diikuti oleh Hong San Hwesio yang juga sejak tadi terpana
mengikuti pertarungan menarik itu.
“Amitabha …… majulah dengan menggunakan Sha Kak Tin dan
serang dengan menggunakan Lo Han Kun berdua dengan Hong
Keng Sutit, biarkan Hong It Sutit tetap menyerang dengan Houw
Sin Kun Hoat dan Pek Ho Kun Hoat. Serang dari 3 jurusan
berbeda dan jangan pernah mengendorkan serangan. Paksa Sicu
itu mengeluarkan kemampuan tertingginya agar bis akita kenali
……”
Hoat Ho Hwesio memberi perintah dengan tidak
menyembunyikan perintahnya. Koay Ji dapat mendengarnya
secara jelas dan mengerti apa yang dikehendaki Pendeta Tua
asal Siauw Lim Sie itu. Sayang, dia kurang paham jika Koay Ji
justru sudah memiliki perbendaharaan ilmu yang tidak sedikit.
Dengan Ginkang Cian Liong Seng Thian" atau, "Naga naik
kelangit dia mampu menghindari hujan pukulan yang dilontarkan
ketiga Hwesio sakti Siauw Lim Sie itu. Bahkan sesekali dia
membalas dengan Ilmu CIptaan masa kecilnya PUKULAN
CAKAR AYAM SAKTI, yang sudah tentu sudah jauh lebih lengkap
dan jauh lebih ampuh disbanding masa kecilnya. Sebagai
419
pencipta ilmu itu, Koay Ji sering menggubahnya dan kini tidak
kalah lihay dibandingkan Lo Han Kun sekalipun. Apalagi, sesekali
Koay Ji menggunakan Ilmu Langkah Thian Liong pat pian- atau
"Naga langit berubah delapan kali" yang membuatnya tak
tersentuh sehebat apapun pukulan keroyokan ketiga lawannya
itu.
Tetapi, Koay Ji tidak lupa untuk mengirimkan isyarat rahasia
“siapa dirinya” ketika beberapa kali menggunakan jurus dari Tam
Ci Sin Thong maupun Kim Kong Ci untuk mentralisasi serangan
lawan. Kedua Ilmu itu masuk dalam khasannah 72 Ilmu Mujijat
Siauw Lim Sie dan jarang dilatih tokoh yang masih tanggung.
Dengan menggunakan kedua macam jurus rahasia dari ilmu
mujijat, berarti Koay Ji bahkan berada pada tingkatan Angkatan
HOAT dijajaran Kuil Siauw Lim Sie. “Siapakah dia gerangan ….”?
Semakin pusing Hoat Ho Hwesio dan Hoat Leng Hwesio. Mereka
berdua sampai saling pandang saking bingungnya melihat
bagaimana keroyokan 3 tokoh Siauw Lim Sie angkatan dibawah
mereka dengan mudah diladeni oleh Koay Ji.
Tentu saja Koay Ji kurang tahu bahwa ilmu-ilmu rahasia yang
ditunjukkannya justru membuat dirinya mulai dilihat secara aneh
dan misterius oleh pihak Siauw Lim Sie. Karena bukan hanya Bu
In Hwesio, Suhunya, yang secara misterius menghilang dari Kuil
420
Siauw Lim Sie. Masih ada Ciangbudjin pengganti Bu In Hwesio
yang juga entah berada dimana sekarang ini, dan kemudian
masih ada seorang lagi dari angkatan BU lainnya yang juga
jejaknya raib selama puluhan tahun terakhir. Masalahnya
sekarang adalah, dari garis tokoh manakah Koay Ji ini ……?
Bu In Hwesio adalah tokoh hebat, generasi angkatan BU yang
paling cemerlang dan simpatik, serta kecintaannya kepada Siauw
Lim Sie tidak diragukan. Sementara yang menjadi Ciangbudjin
pengganti dari Angkatan BU dan menggantikan Bu In Hwesio,
juga seperti itu karakternya. Orangnya terpuji dan juga hebat,
berwibawa meski tetap berada dibalik bayang-bayang Bu In
Hwesio. Dan tokoh ini menghilang dalam konflik besar di
Tionggoan lebih dari 25 tahun yang silam. Sementara tokoh
ketiga, adalah Hwesio angkatan BU yang urakan dan anginanginan
dan hanya bisa dikendalikan oleh SUHUNYA dan oleh
Bu In Hwesio yang menjadi Toa Suhengnya. Menghilang dari Kuil
Siauw Lim Sie segera setelah Bu In Hwesio dipastikan tidak
kembali ke Kuil Siauw Lim Sie dan menghukum diri sendiri. Tetapi
hingga sekarangpun, tokoh ini tetap menghilang dari dunia
persilatan. Meski terkesan angin-anginan, tetapi kemampuannya
justru hanya sedikit dibawah Bu In Hwesio dan merupakan tokoh
nomor 2 terhebat dalam Angkatan BU di Kuil Siauw Lim Sie.
421
Ketiga tokoh utama Angkatan BU ini menghilang secara misterius
dan hingga saat ini, masih tetap belum muncul kembali.
Kembali ke arena, Koay Ji yang tidak ingin memukul roboh para
pengeroyok, meski masih menguasai pertarungan, tetap merasa
kesulitan memikirkan jalan keluar. Dia sedang menimbang
tindakan apa yang terbaik. Jelas dia tidak boleh melukai tokohtokoh
Siauw Lim Sie, perguruan darimana Suhunya berasal.
Bahkan dia ditugasi untuk selalu berusaha membantu Siauw Lim
Sie. Itu sebabnya Koay Ji terus menerus menanti dan dalam
posisi menunggu. Untungnya, meski dicecar pukulan-pukulan
hebat ketiga lawannya, Koay Ji dengan mudah dapat menghindar
atau memusahkan serangan hebat yang dilakukan para Hwesio
itu.
“Amitabha …… gunakan Tat Mo Kun Hoat …” kembali terdengar
aba-aba dari Hwesio tua dari pinggir arena.
Dan kembali serangan ketiga Hwesio Siauw Lim Sie berubah,
karena mereka kini mulai menggunakan ilmu-ilmu mujijat Siauw
Lim Sie. Untungnya, meski tidak melatih Ilmu ini, tetapi Koay Ji
pernah mendengar ulasan Suhunya panjang lebar mengenai ilmu
itu. Karenanya, dia justru sangat mengenal seluk beluk ilmu ini
dan secara otomatis mampu menghadapinya dengan ilmu dan
422
jurus yang tepat. Kembali dia terlihat terdesak seperti terdesak,
mendesak seperti menguasai arena, tetapi kedua kondisi itu sulit
dirumuskan. Karena tidak terlihat ketakutan atau juga
kekhawatiran, juga tidak terlihat rasa jerih dimatanya. Gerakannya
tetap mantap, menghindar, memukul, mengelilingi lawan dan
membuat semua serangan berbahaya lawan dapat diantisipasi
secara sangat baik atau bahkan dipunahkan dengan serangan
Setelah beberapa saat dan kembali tidak menunjukkan hasil, tibatiba
adalah Hoat Leng Hwesio yang kemudian memberi perintah:
“Amitabha …….. bolehlah menggunakan Ilmu-ilmu yang kalian
kuasai …”
Seperti perintah tapi bukan perintah. Tetapi, bisa juga isyarat
bahwa mereka yang sedang mencecar Koay Ji, diijinkan untuk
mengeluarkan segenap kepandaian mereka dalam mendesak
dan menangkap Koay Ji. Tetapi apa memang demikian pemikiran
kedua pendeta tua asal Siauw Lim Sie tersebut? Selesai
mengeluarkan “isyarat” atau “perintah” tadi, Hoat Leng Hwesio
saling pandang dengan Hoat Ho Hwesio, dan keduanya saling
angguk. Keduanya memang paham, dikerubuti dengan ilmu2
lebih hebatpun, kelihatannya Koay Ji tidak akan jatuh.
423
Dan memang benar demikian. Semakin hebat serangan ketiga
murid keponakan mereka, semakin hebat dan semakin aneh pula
gerakan dan jurus-jurus antisipasi yang dilepaskan Koay Ji. Jelas
dan mereka yakin sudah, bahwa Koay Ji memiliki dasar ilmu
Siauw Lim Sie dan tidak terbantahkan. Tetapi, kemampuannya
bahkan seperti jauh melebihi ketiga lawannya dan bahkan terasa
masih diatas kemampuan kedua Pendeta angkatan HOAT yang
sekarang berkedudukan tertinggi di Siauw Lim Sie. Kedua
Pendeta itu kurang sadar bahwa Koay Ji sendiri menarik
keuntungan luar biasa besar dari pertarungan yang hebat itu. Dia
mulai mampu menguasai dan menakar iweekang dan kekuatan
tenaga dalamnya, mampu mengukur kecepatan dan semakin
jelas memahami dasar dan sumber gerakan ilmu silat lawan.
Setelah 30 jurus kembali berlalu dan meski ketiga keponakan
murid mereka sudah mengeluarkan ilmu-ilmu ampuh dan tetap
tak mampu mendesak Koay Ji, maka kedua pendeta tua itu
kembali saling pandang dan saling menganggukkan kepala.
Bahkan Hoat Leng Hwesio kemudian berkata:
“Amitabha ….. silahkan sute ….”
Setelah itu Hoat Ho Hwesio langsung berkata:
424
“Amitabha …… ketiga Sutit, mundurlah …..”
Mendengar perintah tersebut, ketiga Pendeta Hwesio yang
mengeroyok Koay Ji segera mundur. Perintah tersebut memang
menyelamatkan muka mereka, karena pada dasarnya nafas
mereka sudah ngos-ngosan dan jelas tidak mampu menangkap
atau menggelandang Koay Ji menuju Kuil Siauw Lim Sie. Begitu
mereka mundur, Hoat Ho Hwesio segera maju menyerang dan
rupanya dia menguasai dengan baik Ilmu Kim Kong Ci yang hebat
itu. Karena itu, begitu maju jari-jarinya sudah mengeluarkan
ancaman yang berbahaya dan langsung mencecar Koay Ji. Tak
pelak lagi, Koay Ji yang menyambutnya dengan Sam In Ciang,
sudah terlibat dalam 6,7 kali bentrokan secara susul menyusul.
Tetapi yang mengagetkan Koay Ji adalah ketika Hoat Ho Hwesio
berbisik kepadanya dengan suara lirih:
“Siauw Lim Sie membutuhkan bantuan ………… ambil kertas
ditanganku ……”
Sambil berbisik demikian, sekali lagi Hoat Ho merangsek dan
memukul Koay Ji dengan jurus-jurus berbahara dari Kim Kong Ci
yang hebat dan mujijat itu. Tetapi Koay Ji yang mendengar bisikan
tadi, dengan cerdik melakukan tangkisan tangan kosong dan
sama sekali tidak khawatir dengan benturan pukulan antara
425
mereka berdua. Karena itu, terdengar benturan hebat ketika Koay
Ji membentur lengan Hoat Ho Hwesio dan bukan menyambut
sentilan jari berbahaya itu. Tetapi, pukulan dan tarung jarak
pendek mereka ternyata memang memiliki makna dan maksud
tersendiri. Ada 5 kali benturan terjadi dengan kerasnya dan
sampai mengeluarkan suara keras. Tetapi, pada benturan ketiga,
entah bagaimana, jari jemari Hoat Ho Hwesio membuka dan
menyerahkan sesuatu ke lengan Koay Ji yang menerimanya
seperti sedang menangkis pukulan Hoat Ho Hwesio.
Ketika menggenggam benda itu, tahulah Koay Ji bahwa itu adalah
secarik kertas halus dan sepertinya ada tulisannya ketika dia
melirik dan kemudian menggenggam kertas tersebut. “Pasti isinya
penting bagi Siauw Lim Sie …..” pikir Koay Ji dank arena itu dia
segera menggenggam kertas itu dan memukul serta menangkis
seperti biasa. Sampai kemudian kembali terdengar Hoat Ho
Hwesio berbisik lirih:
“Usir dan lukai kami dengan pukulan hebat ……. Salah seorang
dari kami adalah komplotan yang mengancam Kuil Siauw Lim Sie.
Petunjuk ada dalam kertas itu ……” Mendengar suara lirih yang
disampaikan langsung ke telinganya, maka Koay Ji sudah tahu
apa yang harus dia lakukan.
426
Karena pentingnya nasib Kuil Siauw Lim Sie, Koay Ji tidak lagi
banyak berbicara, tetapi mempersiapkan dirinya atau siapa saja
yang harus dilukai Koay Ji untuk dapat menerobos lebih jauh ke
depan.
Mendengar bahwa salah seorang dari kelima Pendeta Siauw Lim
Sie adalah anggota lawan dan berarti “pengkhianat” Siauw Lim
Sie, Koay Ji tersentak kaget. Sekaligus dia merasa semakin
terkejut dan memastikan bahwa keadaan di Siauw Lim Sie tidak
sesederhana yang dipikirkannya semula. Tetapi, dia tak dapat
berlama-lama untuk menganalisis keadaan di Siauw Lim Sie,
karena persoalan di depan mata harus segera dipecahkannya.
Dia harus memukul mundur kelima Pendeta itu dan sekaligus
harus melukai mereka berlima dengan hebat. Tetapi, bagaimana
mereka membela Siauw Lim Sie jika dalam keadaan terluka …..?
Dengan gerakan-gerakan mujijat dari Ilmu Langkah Thian Liong
pat pian- atau juga disebut "Naga langit berubah delapan kali"
mudah saja baginya menghindari semua serangan Hoat Keng
Hwesio dan Hoat Ho Hwesio. Padahal, kedua Hwesio tua itu
sudah mengerahkan kekuatan utama mereka, bahkan juga sudah
memainkan ilmu-ilmu mujijat dari Kuil Siauw Lim Sie. Tetapi, tetap
saja dengan langkah mujijatnya Koay Ji berkelit, menghindar dan
mengelilingi kedua pendeta tua itu dengan santainya. Bahkan,
427
ketika lengannya memukul dengan Ilmu Pukulan Sian In Sin
Ciang (Lengan Sakti Bayangan Dewa) dalam jurus Boan-thiankait
(Langit Penuh Tertutup Tanah), dia menggebah pergi semua
serangan lawan dan membuat mereka berdua terdorong ke
belakang hingga 3,4 langkah.
“Hmmmmm, rasanya sudah cukup untuk saat ini ….. sekarang
silahkan kembali ke Kuil Siauw Lim Sie dan terimalah hukumanku
sebagaimana mereka yang berani melawan perintahku
sebelumnya ….” Sambil berkata demikian, Koay Ji bergerak
sangat cepat dan segera mengerahkan ilmu totokan ajaib yang
sudah sering digunakannya berapa saat terakhir, yakni Ilmu Ci
Liong Ciu hoat atau "Ilmu Mengekang Naga” (Ilmu Totok mujijat).
Tetapi, karena dia memang sedang berhadapan dengan situasi
yang rumit dan luar biasa, maka dia memilih jurus khusus
bernama jurus Lok-yap-kui-ken (Daun jatuh kembali keakar).
Gerakannya yang cepat bukan main membuatnya dengan leluasa
mengejar kedua Pendeta tua Siauw Lim Sie itu dan beberapa saat
kemudian, terdengar benturan dan jeritan sekaligus dari kedua
lawannya:
“Dukkk …… dukkkkk ……. accchhhhhh …… achhhhhh ……”
428
Kedua Pendeta tua Siauw Lim Sie itu terlempar ke belakang
dengan tubuh terluka, bahkan keduanya terkesiap karena mereka
merasa tenaga mereka musnah. Mereka berpikir habis sudah,
karena iweekang mereka musnah dan mereka merasa tidak
mampu lagi untuk mengumpulkannya. Sementara itu, Koay Ji
sudah bekerja cepat, dia langsung menyerang ketiga Pendeta
Siauw Lim Sie lainnya sambil berkata:
“Kalian juga tidak boleh luput dari hukumanku …….”
Sambil berkata demikian, Koay Ji melejit dan mendekati ketiga
Hwesio Siauw Lim Sie lainnya dan menyerang mereka dengan
ilmu dan jurus yang sama dalam kecepatan yang susah diikuti
pandangan mata. Dan belum lagi mereka bergerak, tahu-tahu
mereka sudah terpental ke belakang sambil menjerit ngeri:
“Acccchhhhhhhhhhhhhh …….”
Dan tak lama kemudian Koay Ji berdiri dengan gagah sambil
tertawa pongah dan kemudian berkata kepada lawan-lawannya:
“Sudah kuperingatkan kalian semua, tetapi tidak ada yang
mendengarku. Karena itu, kupunahkan kepandaian kalian saat ini
……… nach, sekarang kalian semua sudah boleh pulang kembali
ke Kuil Siauw Lim Sie ……”
429
Tapi pada saat itu juga segera disusulkannya dengan suara
dalam dan menggunakan ilmu khusus yang memungkinkan tak
ada orang lain yang mampu untuk mendengar ataupun menyadap
perkataannya:
“Jiwi Suhu …… aku melukai jiwi dan mereka yang lainnya dengan
Ilmu Khusus, tetapi jurus ke-10 Kim Kong Ci dipadukan dengan
jurus ke 7 dari Tam Ci Sin Thong dengan kekuatan yang
memadai, bisa menyembuhkannya dalam waktu singkat ……
pergilah, kupikir hukumanku ini sudah sama dengan yang lainnya
…..”
Mendengar perkataan Koay Ji itu, Hoat Ho Hwesio dan juga Hoat
Keng Hwesio terkejut sekaligus senang karena awalnya mereka
berpikir ilmu mereka sudah tak dapat diselamatkan. Mereka
senang karena Koay Ji memberitahukan cara pengobatan dan
karena mereka berdua saja yang tahu, maka sekaligus tetap
membuat tokoh yang sudah menjadi pengkhianat bisa tetap
terhukum. Dan hal terakhir yang membuat keduanya kaget
setengah mati dan juga kagum, adalah pengetahuan Koay Ji yang
sangat jitu dan dalam atas Ilmu-ilmu Siauw Lim Sie. Memahami
semua itu, keduanya segera berdiri dan kemudian berkata:
430
“Amitabha … Kuil Siauw Lim Sie menantikan kunjunganmu yang
bertangan kejam ini dan begitu sombong .. .”
Tentu saja kalimat dan undangan yang “main-main”, tetapi Koay
Ji harus ikut serius dalam sandiwara tersebut. Karenanya diapun
berkata:
“Hahahahaha, apa hebatnya Kuil Siauw Lim Sie …? Kalian boleh
menantikan kami untuk naik hingga ke Kuil Siauw Lim Sie ……”
“Amitabha ….. baiklah, kami semua menantikan kedatangan Sicu
di Kuil Siauw Lim Sie kami di puncak Siong San ….”
Sambil berkata demikian, dengan langkah gontai karena memang
kehilangan kekuatan dan kemampuan tenaga dalamnya,
berlalulah kelima pendeta itu dengan derap langkah berat seperti
orang biasa saja. Mereka tidak perlu berpura-pura terluka, karena
dengan cara yang mujijat mereka berlima dilukai secara hebat
oleh Koay Ji. Bahkan kedua Pendeta Angkatan HOAT sendiripun
masih belum tahu bagaimana caranya sampai tertotok ilmu yang
demikian hebat dan mujijatnya dari Koay Ji. Lebih dari itu, terdapat
setitik keraguan apakah benar luka mereka yang sangat
“mengerikan” ini dapat disembuhkan dengan cara yang
disebutkan Koay Ji tadi atau tidak.
431
Sementara kedua tokoh tua Siauw Lim Sie tenggelam dalam
keheranan dan kekhawatiran, ketiga Pendeta lainnya benarbenar
gontai dan tanpa harapan. Karena memang, mereka tidak
tahu adanya percakapan rahasia Koay Ji dengan kedua Supek
mereka. Yang mereka tahu adalah, kedua SUPEK yang hebat
dan sakti itu tetap saja masih belum merupakan tandingan dari
Koay Hiap yang perkasa. Maka kontras sekali dengan
kedatangan mereka beberapa saat sebelumnya, dimana mereka
harus berlalu dengan kepala tunduk akibat kekalahan yang tragis.
Dan beberapa saat kemudian tidak ada lagi penghalang yang
menghalangi perjalanan Koay Ji bersama Kakek dan cucunya ke
Kuil Siauw Lim Sie.
Tidak berapa lama suasana kembali sepi. Koay Ji tahu benar jika
ada tokoh lain yang mengamati keadaan dan pertarungan tadi.
Setelah merasa benar-benar aman, diapun kemudian membuka
kertas yang diterimanya secara sangat rahasia tadi. Dan, dalam
kagetnya dia membaca:
“Kuil Siauw Lim Sie terancam musnah …… Ciangbudjin angkatan
sebelumnya yang dikabarkan hilang, tiba-tiba munculkan diri dan
kehilangan ingatan. Beliau sedang dalam keadaan yang runyam
dan sepertinya dikendalikan oleh musuh. Repotnya, beliau yang
justru kini sedang mencengkeram dan menguasai Kuil untuk
432
kepentingan orang lain. Memang ada berapa jalan jalan
keluarnya, salah satunya dengan kembalinya CIangbudjin terkini
atau dengan memiliki Tanda Pengenal CIANGBUDJIN. Jikapun
gagal, cari dan temukan sesepuh Siauw Lim Sie, Bu In Siansu,
dialah satu-satunya yang dapat membantu keadaan Kuil …….”
Setelah membaca pesan rahasia tersebut Koay Ji menarik nafas
panjang. Suhunya benar-benar tokoh yang sangat diperhitungkan
oleh pihak Siauw Lim Sie. Apalagi, meski sudah menyatakan
keluar dari Siauw Lim Sie banyak tahun, tetapi tetap sangat
perduli dan sangat perhatian dengan keadaan Kuil Siauw Lim Sie.
Bahkan, termasuk kepadanyapun, perintah untuk membantu jika
diperlukan oleh Kuil Siauw Lim Sie ditekankan dengan sangat
oleh suhunya itu.
Menilik keadaan sekarang ini, keadaan Kuil Siauw Lim Sie sedang
sangat berbahaya. Tetapi, dia memiliki kedua jalan keluar yang
dikemukakan oleh Pendeta Angkatan HOAT tadi. Karena
pertama, dia memiliki Tanda Pengenal CIANGBUDJIN SIAUW
LIM SIE meski dikuasai dan berada di tangan Kakek Ong yang
sedang dikawalnya menuju Kuil Siauw Lim Sie. Kedua, dia sendiri
sudah menerima perintah dan disumpah untuk membantu Kuil
Siauw Lim Sie. Dan untuk tugas itu, berbeda dengan semua kakak
seperguruannya, dia dibekali Ilmu-Ilmu Sakti Siauw Lim Sie
433
sebagai buktinya. Bahkan, dia membekal sesuatu yang dititipkan
Suhunya dan hanya dapat dibuka pada saat genting dan
berkaitan dengan Kuil Siauw Lim Sie.
“Hmmmmm, kelihatannya justru kewajiban terhadap perguruan
yang pertama-tama harus kukerjakan. Dan menilik keadaannya,
Siauw Lim Sie bisa saja akan kuhadapi dengan kekerasan.
Tetapi, jika keadaan mereka menjadi “musuh” karena terpaksa,
maka harus ditemukan cara lain agar tidak jatuh korban sia-sia
…..” demikian Koay Ji berpikir dan menimbang cara memasuki
Kuil Siauw Lim Sie.
Saking asyiknya Koay Ji berpikir dan merancang strategi, dia
menjadi lupa keadaan sekelilingnya. Tetapi, sebagai seorang ahli,
kewaspadaan dan nalurinya sudah sangat hebat dan sangat
awas. Tiba-tiba dia berpaling ke belakang dan betapa terkejutnya
dia karena Kakek Ong dan He Ji sudah tidak berada di
belakangnya. Sebagai gantinya, dia menemukan seorang kakek
tua yang berpenampilan aneh. Dia mengenakan jubah pendeta
dan berpotongan seperti pendeta atau bhiksu, kepalanya plontos
tetapi jubah khas seorang pendeta sudah teramat sangat tua dan
lapuk sekali. Tetapi, bukan penampilan kakek aneh atau pendeta
aneh itu yang mengejutkan Koay Ji melainkan kemampuannya
untuk berada di belakangnya tanpa ketahuan. Dan
434
kemampuannya membawa Kakek Ong dan He Ji tanpa
diketahuinya sungguh mengagetkan dan membuatnya berdebar
tegang. Tokoh seperti ini jelas tidak dapat dianggap enteng.
Seketika timbul emosi dan “ego” seorang Koay Ji, meski hal itu
sebenarnya wajar mengingat usianya yang masih muda:
“Hmmmmm, hebat juga Losuhu bisa berada di belakangku tanpa
kusadari …..”
“Hohohoho, anak muda sekarang sungguh-sungguh tidak tahu
dan tidak paham dengan yang namanya sopan-santun ……….
bahkan Suhumu sendiripun tidak akan begitu berani untuk
bersikap seperti engkau saat ini …… hohoho”
Pendeta atau Bhiksu mesum itu tertawa terkekeh-kekeh. Dan
ternyata, hebatnya, Koay Ji seperti merasa sebuah serangan
yang luar biasa hebat sedang menerjangnya. Tetapi, untungnya,
kemampuannya yang sudah sangat tinggi membuat Koay Ji
mampu bertahan dan tidak sampai terdorong mundur oleh angin
serangan yang entah kapan dilepaskan Pendeta mesum tersebut.
Tetapi, mendengar kata-kata Pendeta mesum itu tadi, Koay Ji
tersentak hebat. Kaget luar biasa. Kalimat itu ingin mengatakan
bahwa, Pendeta mesum itu mengenal Koay Ji dan bahkan
mengenal Suhu Koay Ji sekaligus. “Bukankah ini aneh ….”? Ini
435
yang terlintas di benak Koay Ji. Karena itu, diapun kemudian
berkata dengan nada suara lebih menghormat:
“Aaaaachhh, siapah gerangan Losuhu ……”?
“Kurang genah ……. Sebentar hormat sebentar kurang hormat
………… hohoho, anak kecil, untung engkau sangat menarik hati,
karena itu biarlah aku tidak menghukummu. Kalau menunjukkan
sikap kurang hormat lagi, baru kuhukum ……..”
Melihat gelagatnya, Koay Ji yakin jika Pendeta tua yang hebat
dihadapannya adalah tokoh yang mengenal Suhunya. Mungkin
juga sahabat Suhunya. Tetapi, karena teringat Kakek Ong dan He
Ji, maka diapun berkata:
“Losuhu …… kemana engkau menyimpan Kakek Ong dan
cucunya ……”?
“Hohohoho, engkau kena dikerjai sahabatku itu … dia tidak
selemah yang engkau kira. Paling tidak, dia masih mampu
menghadapi kedua lawan hebat dari Siauw Lim Sie tadi dan
bahkan mengalahkan mereka ………. tapi, bukan lolap yang
membawa mereka berdua, tetapi tokoh lain lagi. Tetapi, jangan
khawatir anak muda, mereka baik-baik saja dan lebih baik mereka
bersama kami karena engkau harus menghadapi pertarungan
436
besar di Kuil Siauw Lim Sie ……. nach, sekarang, lakukan segera
tugas perguruanmu dan sampai bertemu nanti …..”
Sambil berkata demikian Pendeta berjubah mesum dan terlihat
sudah sangat sepuh itu menggerakkan kakinya, dan sekejab
tubuhnya melayang pergi. Kepergiannya diiringi oleh pandangan
mata kagum dari Koay Ji. Bagaimana tidak kagum, karena dia
tahu betul jika kemampuan Pendeta tua tadi itu, dipastikannya
berada pada tataran yang sudah sangat tinggi dan demikian
sempurnanya. Dan kemungkinan besar bahkan masih berada di
atas kemampuannya.
“Sungguh hebat, sungguh hebat …….. “ desis Koay Ji kagum
bukan main.
Sepeninggal orang itu Koay Ji nampak tertegun. Ada banyak
kekagetan yang ditemui selama beberapa waktu terakhir.
Pertama, Pendeta Tua yang berjubah mesum dan sepertinya
meski berjubah Pendeta Siauw Lim Sie tetapi gaya bicaranya
seenaknya. Dan selain itu, tokoh itu terlihat hebat luar biasa,
bahkan yang hebat adalah, tokoh itu seperti mengenal dirinya dan
mengenal suhunya. Siapakah dia? Pertanyaan ini terus
menggantung dan tidak ditemukannya jawaban atas identitas diri
Pendeta Tua yang sangat hebat dan mengagumkannya.
437
Hal kedua adalah, siapa tokoh kedua yang sanggup membawa
Kakek Ong dan cucu perempuannya tanpa dapat diketahui oleh
dirinya? Jika saja Koay Ji dapat memahami dan tahu tingkat
kepandaiannya sekarang, maka dia akan semakin kaget. Karena
dewasa ini, sangat jarang menemukan tokoh dengan tingkat
kemampuan sehebat Koay Ji dan masih berusia muda pula.
Dengan tingkat kemampuannya saat ini, ternyata ada orang yang
sanggup datang dan pergi dengan cepat dan tidak mampu
diketahuinya kapan dilakukan dan siapa yang melakukannya.
Karena itu, setidaknya, ada 2 tokoh hebat yang baru saja
menjumpainya. Atau tepatnya baru saja dia dikunjungi 2 orang
hebat yang kedatangan mereka tidak dapat dilacaknya.
Meskipun, sebetulnya wajar, karena selain kedua tokoh itu
memang hebat dan mujijat, juga karena pada saat yang sama,
Koay Ji sedang berkonsentrasi membaca dan menilai isi surat
yang ditujukan kepadanya. Sebuah surat permintaan tolong,
sekaligus secara sederhana dan buru-buru, meminta
pertolongannya atas keadaan darurat yang sedang dialami oleh
kuil Siauw Lim Sie.
Tengah dia berpikir, tiba-tiba sebuah suara disampaikan dari jarak
jauh dan terdengar lirih di telinganya:
438
“Hohoho anak muda, permainan totokanmu tadi sungguh hebat.
Lolap mengaku tak mampu menirukannya ……. tapi, gunakan
jurus itu sekali lagi, yakni kelak hanya untuk menotok Ciangbudjin
Boneka di Siauw Lim Sie. Karena untuk memulihkannya meski
memakan waktu yang cukup singkat, tetapi akan sangat
menguras tenaga. Cari jurus lain yang ringan untuk menutuk anak
murid Siauw Lim Sie nanti, dan ingat, jangan menurunkan tangan
kejam, kecuali bagi para penjahat yang menyamar menjadi
Pendeta Siauw Lim Sie. Jika engkau melanggar pesan, maka
lolap sendiri yang kelak akan mendatangi Suhumu meminta
pertanggungjawabannya atas kelakuanmu …….”
“Losuhu ……. Tapi tanda pengenal Ciangbudjin berada di tangan
kakek Ong …..”
“Hohoho, masak atas nama Suhumu engkau tidak akan dapat
menangani dan sekaligus menyelesaikan masalah ini …”?
Koay Ji terdiam. Kalimat Pendeta Tua yang aneh itu semakin
menegaskan bahwa benar, tokoh itu memang sungguh mengenal
Suhunya. Tapi, siapa Pendeta tua yang sangat hebat dan sakti
itu? Jika ditilik dari sudut kemampuan ilmu silatnya, kelihatannya
ditdak berada jauh dibawah kemampuan Suhunya sendiri. Hal ini
sungguh membuat pusing Koay Ji dalam memikirkannya.
439
“Apakah bukan dia orang …..”? desisnya dalam hati ….. tetapi dia
membantahnya sendiri ……”Tapi, bukankah Susiok yang menjadi
Ciangbudjin menggantikan Suhu dan kemudian menghilang,
justru saat ini sedang menjadi Ciangbudjin boneka …… jadi, siapa
dia sebenarnya ……”?
Dalam kebingungan itu, akhirnya Koay Ji mulai melangkahkan
kaki mendaki Gunung Siong San menuju Kuil Siauw Lim Sie.
Sekali ini, dia akan berjalan sendirian saja tanpa mengawal Kakek
Ong dan He ji yang banyak menyita waktu sebelumnya. Mestinya
perjalanannya akan jauh lebih cepat. Tetapi, mengingat dia akan
diperlakukan sebagai musuh oleh pihak Siauw Lim Sie, membuat
langkah Koay Ji terhenti seketika. Beberapa saat kemudian
terlihat kepalanya sedikit miring seperti sedang memikirkan
sesuatu. Dan beberapa saat kemudian, diapun berguman …. “ya,
betul …… bakalan sangat sulit memasuki Kuil Siauw Lim Sie
nantinya”.
=================
Tiga orang manusia bergerak cepat mendekati Pintu Gerbang Kuil
Siauw Lim Sie. Jika diperhatikan, ketiganya terhitung menarik
perhatian banyak orang. Seorang Kakek tua dengan rambut
kepala seperti landak, pada berdiri sehingga sungguh mengerikan
440
jika diperhatikan secara seksama. Apalagi, sebagian besar
rambut yang berdiri itu sudah berwarna putih, hal yang
menambah keseraman tokoh yang bertubuh tinggi besar dan
berkulit agak kehitaman. Anehnya, dia menggandeng seorang
pemuda yang terlihat lemah namun tidak terlihat kesulitan bagi si
anak muda dan si kakek untuk bergerak cepat. Sementara orang
ketiga adalah anak gadis berusia remaja, paling banyak berusia
14 tahun, berwajah hitam manis dan masih kekanak-kanakan.
Ketika mendekati pintu masuk, beberapa Pendeta Siauw Lim Sie
dengan hormat menghalangi mereka sambil berkata:
“Amitabha …… kami telah mendengar kedatangani Jian Bun
Kiam Ciang (Telapak Tangan Emas Pembabat Nyawa), Siu Pi
Cong Locianpwee, seorang tokoh besar dari Lautan Timur.
Selamat datang ….. selamat datang ……..”
“Huh ……. ada juga rasa hormat Kuil Siauw Lim Sie kepada lohu
…… hahahahaha”
“Amitabha …… Siauw Lim Sie Ciangbudjin sudah mengingatkan
kami …….”
“Hahahahahaha, bagus ….. bagus. Apakah setan pengganggu itu
sudah tiba untuk menyatroni Kuil Siauw Lim Sie ……”? bertanya
441
Kakek Siu Pi Cong dengan nada yang terlihat jelas angkuh dan
seperti tidak memandang sebelah mata kepada pihak Kuil Siauw
Lim Sie. Keadaan yang sebetulnya menyakitkan bagi para
Pendeta Siauw Lim Sie itu, tetapi yang terpaksa harus mereka
telan.
“Amitabha …….. Thian Liong Koay Hiap masih belum tiba di Kuil
Siauw Lim Sie kami Locianpwee. Kami belum mengetahui dan
melihat jejaknya sampai saat ini ……”
“Hmmmm, baguslah jika begitu lohu tidak terlambat ….. “
“Memang Siu Locianpwee belum terlambat. Mari, kami akan
mengantarkan Siu Locianpwee ke tempat istirahat …….” Sambil
berkata demikian, Pendeta tertua yang bertindak sebagai
pemimpin, mempersialhkan Siu Pi Cong untuk diantarkan ke
tempat istirahat. Tetapi, melihat dia dipersilahkan kearah lain dan
bukannya memasuki Kuil Siauw Lim Sie, kakek berangasan itu
marah
“Oooooooooh, apakah kalian-kalian ini menganggapku kurang
terhormat untuk dapat memasuki Kuil Siauw Lim Sie ….”?
Tentu saja Kakek Siu Pi Cong ini tidak tahu peraturan Siauw Lim
Sie yang melarang kaum wanita untuk masuk dan menetap,
442
meski sementara, di dalam Kuil Siauw Lim Sie. Langsung saja
kakek itu marah dan berang ….
“Amitabha ……. Mohon maaf Siu Locianpwee, peraturan ratusan
tahun Siauw Lim Sie melarang anak perempuan memasuki Kuil
Siauw Lim Sie, dan harus kami antarkan ke ruangan khusus di
samping gunung untuk tinggal ……”
“Hmmmmm, sungguh menghina. Aku tidak akan mau sudah jika
cucuku tinggal jauh dari tempatku tinggal …….”
“Kakek, aku mau masuk ke Kuil itu …….. dari kejauhan Kuil Siauw
Lim Sie terlihat sangat indah dan menawan ……. Aku mau kek
…..”
Tingkah cucunya, Im Yok Hoa, semakin membuat Kakek Siu Pi
Cong meradang dan terus memaksa untuk masuk ke Kuil Siauw
Lim Sie.
“Hmmmmm, kalian setuju atau tidak, kami bertiga akan masuk
sebagai tamu untuk melindungi missi di Kuil Siauw Lim Sie ……”
“Amitabha ….. Siu Locianpwee, jika demikian, perkenankan kami
mohon ijin dari para pemimpin Kuil Siauw Lim Sie …….”
443
“Persetan dengan aturanmu ….. toch aku datang untuk
membantu kalian ….” Sambil berkata demikian, Kakek Siu Pi
Cong sudah bergerak masuk dengan diikuti Im Yok Hoa si gadis
kecil. Gadis itu melangkah masuk sambil menggandeng lengan
pemuda gagah yang lemah seperti tanpa ilmu tersebut. Tetapi,
serentak dengan itu, semua pendeta Siauw Lim Sie yang
berjumlah 18 orang yang berjaga di pintu masuk dengan cepat
bergerak menghadang. Bahkan, dengan sangat cepat barisan Lo
Han Tin yang sangat terkenal di seluruh Dunia Persilatan
terbentuk.
Tetapi, hadangan itu tidak menakutkan bagi Kakek Siu Pi Cong.
Bahkan tidak lama kemudian terdengar dia terkekeh-kekeh sambil
berkata:
“Hahahahahaha, ini pasti Barisan Lo Han Tin yang terkenal itu
…… Hmmm, ingin benar lohu mencicipinya saat ini ….. mari, mari,
serang dan gagalkan langkahku masuk ke Kuil Siauw Lim Sia
kalian ini ……”
Sambil berkata demikian, Kakek yang terkenal di Lautan Timur
dan berjuluk Jian Bun Kiam Ciang (Telapak Tangan Emas
Pembabat Nyawa) sudah berjalan maju sambil menantang
barisan itu. Hebatnya, gerakan maju Kakek Siu Pi Cong yang luar
444
biasa cepatnya itu, dengan segera diimbangi oleh gerakan
otomatis dari ke-delapan belas Pendeta Siauw Lim Sie.
Merekapun dengan cepat membentuk dan merubah barisan
sehingga sesuai dengan posisi, kondisi dan keadaan lawan
mereka. Dan memang, daya adaptasi barisan Lo Han Tin ini
sungguh sangat terkenal dan dimalui oleh seluruh penjuru dunia
persilatan Tionggoan.
“Hmmmmm, bagus ….. coba kalian halangi lohu …..”
Sambil berkata demikian, Siu Pi Cong bergerak cepat dan
berusaha untuk melampaui Barisan Lo Han Tin yang terbentang
di hadapannya. Tapi, dengan segera, beberapa tubuh dan tongkat
terlihat mengejar tubuhnya, mencecarnya secara bertubi-tubi.
Tetapi dengan sebat dia menggerakkan kedua lengannya
sehingga semua serangan berantai dan membadai kearahnya
punah. Meskipun begitu, dia sendiripun tak mampu untuk
melompat dan melewati barisan Lo Han Tin masuk ke Kuil Siauw
Lim Sie, dan bahkan sekarang berada di tengah-tengah kurungan
barisan gaib tersebut. Tentu saja Kakek Siu Pi Cong tidak mandah
saja terkurung. Secara otomatis, kedua lengannya bergerak cepat
dan keluarlah dari sepasang lengannya angis serangan yang
sungguh luar biasa hebat, keras dan kuatnya memancar ke
seluruh penjuru.
445
Tetapi, Barisan Lo Han Tin dengan tenang memadukan kekuatan
mereka dan menjadi tembok manusia dengan penggabungan
kekuatan dan kerjasama team yang sungguh hebat dan
mengagumkan. Serangan tangan kosong Kakek Siu Pi Cong
boleh hebat bukan main, tetapi membentur tembok manusia di
barisan Lo Han Tin. Serangannya seperti membentur tembok dan
tidak mendatangkan akibat apapun bagi barisan itu. Sebaliknya
serangan balik Barisan Lo Han Tin yang bertubi-tubi
menyadarkan Kakek Siu Pi Cong bahwa tidak mungkin
mengalahkan Barisan Lo Han Tin dengan sekedar mengandalkan
kekuatan tenaga dalamnya. Karena itu, mulailah dia
menggunakan kegesitan, kegagahan dan tipu-tipu silat
andalannya.
Tetapi, sehebat apapun dia bergerak, semua serangan
berbahaya dan serangan dengan kecepatan tinggi yang
dikembangkannya, dengan amat mudahnya dapat ditandingi dan
bahkan dipunahkan Barisan Lo Han Tin. Setelah menyerang
habis-habisan selama 50 jurus, sadarlah Kakek itu bahwa
percuma adu kekuatan dan adu kecepatan dengan lawan yang
berjumlah banyak dan mampu bekerjasama secara gaib tersebut.
“Harus menggunakan siasat ……” begitu pikir Kakek dari Lautan
Timur itu. Dan berpikir demikian, diapun memberi dirinya untuk
446
dicecar lawan dan mengurangi serangan-serangan. Dengan
kekuatan tenaga dalamnya yang sempurna, dia tidak takut
menangkis serangan tangan kosong dan serangan tongkat yang
selalu memburunya kemanapun dia bergerak dan pergi.
Kemampuannya memang hebat. Secara berturut-turut dia berkelit
dan langsung melepaskan pukulan balasan secara berturut
dengan mengincar nyaris 10 orang dari barisan Lo Han Tin.
Setelah bergerak menghindar dengan berputar-putar dalam jurus
To-coa-seng-gi (poros ber-putar bintang beralih), Kakek Siu Pi
Cong kemudian menggeber jurus Thian-thian-lui-ing (ge-ledek
membelah angkasa). Bukan cuma itu dia masih menyusulkan
dengan jurus Hua-liong-thiam-cing (melukis naga memberi mata).
Ketiga jurus serangannya ini terhitung luar biasa, setelah didesak
sampai 50 jurus, akhirnya dia melihat celah bagaimana
menyerang barisan ini. Harus mengincar banyak lawan agar
konsentrasi bertahan mereka buyar dan sulit memilih kawan
mana yang harus mereka lindungi secara bersamaan. Memang
hebat Kakek dari Lautan Timur ini, meski dicecar lawan, tapi tetap
mampu melihat dan menelisik kemampuan barisan itu untuk
menemukan celah kosong guna diserang.
Menemukan hal tersebut, Kakek Siu Pi Cong menyerang dengan
jurus Thian-thian lui eng, sebuah jurus serangan cepat dan
447
menimbulkan efek menggeledek dan menyerang sampai sepuluh
orang sekaligus. Gerakan kaki yang cepat menunjang
kemampuannya untuk menyerang sepuluh lawan dalam hitungan
kurang dari 3,4 detik.Dan benar saja, Barisan itu gopoh dan
sempat goyah ketika 3 serangan terakhir teramat sulit untuk
mereka ladeni. Kesulitan barisan itu bertambah ketika dengan
cerdiknya Kakek Siu Pi Cong merubah jurus serangan dengan
mencecar 3 lawan terakhir yang goyah dengan jurus Melukis
Naga Memberi Mata. Jurus ini membuat 3 orang anggota Barisan
goyah dan bahkan tertotok, namun hanya dalam hitungan detik
sudah digantikan orang lain dan kembali mengokohkan barisan
hebat itu. Tentu saja Kakek Siu Pi Cong terkejut dan kaget karena
barisan itu cepat sekali sudah kokoh kembali. Namun, dia sudah
sempat mengetahui setitik kelemahan barisan itu dan percaya diri
mampu untuk membobolnya di lain ksempatan dan waktu.
Ketika kembali mereka bergebrak, tiba-tiba muncul perintah:
“Amitabha ….. Ciangbudjin menitahkan untuk membawa masuk
Siu Locianpwe dan ditempatkan di tempat para tamu, namun,
melarang cucu perempuannya untuk bebas berkeliraran di Kuil
Siauw Lim Sie …….. Amitabha …… antarkan Siu Locianpwee di
pesanggrahan sebelah barat bersama kedua cucunya …….”
448
Suara yang meluncur tersebut sungguh penuh wibawa, jauh
berbeda dengan para murid yang membentuk Lo Han Tin. Wajar
saja, karena yang datang adalah Hoat Kek Hwesio, seorang
Pendeta Angkatan HOAT, angkatan CIANGBUDJIN yang
mengepalai Ruang Tat Mo Wan. Kekuatan suaranya saja sudah
memiliki wibawa yang sungguh susah untuk dilawan, bahkan
Kakek Siu Pi Cong juga menyadari bahwa Pendeta Tua itu
bukanlah lawan ringan.
“Kok Wan ………… antarkan Siu Locianpwee menuju
peristirahatan …..”
“Baik Suhu ……..”
Seorang Pendeta berusia pertengahan segera mendekati Kakek
Siu Pi Cong dan dengan ramah dan hormat berkata:
“Amitabha …….. Ciangbudjin menugaskan tecu untuk
mengantarkan Siu Locianpwee, mari, silahkan Locianpwee ……”
Kali ini, tanpa protes lagi dan dengan dada membusung Kakek
Siu Pi Cong bersama dengan cucunya Im Yok Hoa dan seorang
pemuda lagi yang ikut bersama mereka dan nampak selalu
didekati si gadis hitam manis, memasuki Kuil Siauw Lim Sie.
Merekapun diantarkan ke pesanggrahan tamu Kuil Siauw Lim Sie
449
yang letaknya berada di belakang sebelah barat Kuil. Sepeninggal
mereka, terlihat jika ternyata selain Hoat Kek Hwesio, masih ada
seorang Pendeta tua lainnya lagi yang turut datang mendampingi
Hoat Kek Hwesio. Sama tuanya dan kelihatannya wibawa dan
kematangan mereka juga setara. Mereka berdua terlihat berwajah
kelam seperti sedang menindas perasaan hati masing masing,
terutama melihat kepongahan Kakek Siu Pi Cong.
“Amitabha …… sungguh tak terduga Iblis tua itu masih hidup.
Biasanya dia orang tua tidak berkeliaran di Daratan Tengah,
entah angin apa yang membawanya berkelana hingga datang
mengunjungi Kuil kita ini ……”
“Amitabha …… dan celakanya merusak tatanan dan aturan
leluhur kita. Tapi, sungguh celaka Kuil kita sekarang ini, jika
berlangsung seterusnya, sungguh sulit dibayangkan masa depan
Kuil Siauw Lim Sie …….”
“Amitabha ……. sebaiknya kita menunggu, pasti akan ada jalan
keluarnya …….”
Sambil terus bercakap-cakap, kedua Pendeta yang kelihatannya
menjadi pemimpin Kuil Siauw Lim Sie terlihat berlalu.
Malamnya …….
450
Sesosok bayangan terlihat bergerak dengan kecepatan luar
biasa. Dan dengan pakaian gelap, jelas tokoh ini memang berniat
berkeliaran dan punya maksud tertentu. Entah apa. Tetapi, tetap
terasa gila karena dia melakukannya di dalam kawasan Kuil
Siauw Lim Sie yang dianggap agung dan keramat oleh seluruh
Rimba Persilatan Tionggoan. Kuil ini, baik karena sejarahnya,
juga karena kemampuan ilmu silatnya, banyak dipuji dan dipuja
karena sejarah yang sangat panjang dari Kuil itu dan prestasi
membantu pendekar Tionggoan yang banyak digoreskannya bagi
Dunia Persilatan Tionggoan. Tetapi, memang hebat tokoh yang
terus bergerak dan seperti sedang menyelidiki keadaan Kuil
Siauw Lim Sie di waktu malam hari itu. Gerakannya sangat gesit,
cepat dan sangat ringan. Sekilas, memang tokoh itu punya modal
yang memadai untuk menyatroni sarang para pendekar yang
bermukim di Kuil Siauw Lim Sie.
Tetapi, entah benar kehebatan, kecepatan dan kelincahannya
dapat mengelabui semua tokoh yang berada di Siauw Lim Sie
saat itu. Jika dia tahu bahwa pada saat itu Kuil Siauw Lim Sie
sedang berada dalam ketegangan dan keruwetan yang
melibatkan banyak tokoh hebat dunia persilatan, maka mungkin
tokoh nekat itu akan berpikir beratus kali sebelum melakukan
aksinya itu. Tetapi, setelah beberapa saat berkelabat kesana451
kemari, tetap saja tokoh itu bebas berkeliaran dan saat itu mulai
melirik-lirik dan seperti sedang mencari seseorang atau beberapa
orang. Jelas sudah, memang ada maksudnya tokoh itu berjalan di
balik kegelapan.
Sedang dia mencari-cari, tiba-tiba dia merasa ada suara yang
mendenging masuk ke telinganya. Dan sepertinya dikirimkan
seseorang yang berada cukup jauh:
“Belok ke kanan, bangunan ketiga. Waspada, jejakmu akan dapat
diikuti beberapa tokoh hebat yang berada di Kuil ini ..”
Mendengar suara itu, bayangan yang bergerak cepat dan ketika
dilihat lebih jelas ternyata adalah Koay Ji, tersentak meski tidaklah
kaget. Karena sesungguhnya, diapun bergerak untuk memancing
orang lain. Tetapi, jika menurut suara itu dia harus masuk secara
rahasia ke bangunan ketiga, maka dia perlu melakukan sesuatu.
Dan benar saja karena dalam sekejap, dia bergerak sangat cepat
dan sulit diikuti oleh pandang mata tokoh kelas satu sekalipun.
Dia bergerak mengitari tempat tadi dan beberapa saat, dia
kemudian menyelinap masuk ke dalam ruangan yang ditunjukkan
suara tadi tanpa sedikitpun merasa takut.
452
Tetapi, betapa terkejutnya bukan hanya Koay Ji, tetapi juga
manusia-manusia yang ada dalam ruangan tersebut melihat
kedatangan Koay Ji. Tetapi, untungnya, di dalam ruang itu ada
Hoat Ho Hwesio dan Hoat Leng Hwesio. Dan kedua Hwesio itu
terlihat sudah sembuh meskipun wajah mereka masih nampak
pucat. Kedua tokoh itu kaget namun merasa senang, karena
mereka kemudian berbisik lirih:
“Amitabha …….. teman sendiri ……..”
Koay Ji yang melihat keadaan kedua Pendeta tua itu segera
menjura, memberi hormat dan kemudian berkata:
“Maafkan karena sudah sempat melukai Jiwi Suhu …… jika Jiwi
Suhu tidak keberatan, aku dapat mengembalikan kebugaran Jiwi
Suhu dalam waktu yang relatih lebih singkat. Karena meski sudah
ditangani dengan jurus yang kusebutkan berapa waktu lalu,
sebetulnya masih ada jalan darah lain yang tertutup. Jika memang
diijinkan, maka saat ini juga siauwte akan berusaha
mengembalikan kebugaran Jiwi Suhu kembali seperti sedia kala.
Tetapi, itupun jika memang Jiwi Losuhu tidak keberatan ……”
“Amitabha …. engkau boleh melakukannya Koay Hiap …….. kami
bersedia ….” Adalah Hoat Leng Hwesio yang dudu di sebelah
453
kanan yang mengijinkan. Sementara Hoat Ho Hwesio hanya
mengangguk-angguk, sementara ada seorang Pendeta tua
lainnya yang berada dalam ruangan tersebut namun tidak dalam
keadaan terluka. Kelihatannya mereka seperti sedang
merundingkan sesuatu.
Tetapi Koay Ji tidak memperdulikannya, dengan cepat dia
memeriksa lengan Hoat Leng Hwesio dan benar saja, Pendeta itu
meski sudah sembuh tetapi berhalangan dengan jalan darah yang
mengatur semangat dan penyaluran kekuatan iweekang. Setelah
mengetahui masalahnya, Koay Ji menutuk di empat tempat
berbeda, kemudian memberi sebutir pil kepada Hoat Leng Hwesio
dan kemudian selama 10 menit membantu penyaluran iweekang
Hwesio tua itu. Dan benar saja, kurang dari 30 menit waktu yang
diperlukan, Hoat Leng Hwesio sudah berkata lirih dengan nada
penuh rasa gembira yang tak tersembunyikan:
“Acccch, betul-betul engkau berhasil memulihkanku sepenuhnya
Koay Hiap … maka terimalah salam hormat dan rasa terima
kasihku …. Siancay ….. siancay ……”
Setelah itu, Koay Ji melakukan proses yang sama kepada Hoat
Ho Hwesio, dan sama dengan Hoat Leng Hwesio, dalam waktu
kurang dari setengah jam saja, Hoat Ho Hwesio sudah kembali
454
sembuh seperti sedia kala. Sementara sepanjang proses
tersebut, Hwesio lainnya yang sama tuanya dengan Hoat Leng
Hwesio dan Hoat Ho Hwesio, terus menerus menatap dan
memperhatikan gerak-gerik Koay Ji. Namun menunggu setelah
semua proses pengobatan usai, tak terasa Pendeta itu menatap
Koay Ji dan kemudian berkata:
“Amitabha ……. Saudara Koay Hiap, siapa sebetulnya saudara?
Dan apa maksud serta tujuan saudara untuk membantu Siauw
Lim Sie kami saat ini …..”?
Koay Ji sekilas memandang Hwesio tua itu dan termenung seperti
mengenalinya. Segera dia ingat bahwa Hwesio itu adalah Hoat
Kek Hwesio, tokoh yang sudah munculkan dirinya tadi siang
menyambut Siu Pi Cong, Kakek dari Lautan Timur. Dan saat ini,
adalah Hoat Kek Hwesio yang mendampingi Hoat Leng Hwesio
dan Hoat Ho Hwesio dan bahkan tadinya telah menyembuhkan
kedua saudara seperguruannya itu. Dan kebetulan, diapun jadi
ikut menyambut masuknya Koay Ji. Pertanyaannya standar, lebih
berhati-hati karena memang keadaan Siauw Lim Sie sedang
sangat runyam pada waktu itu. Ada beberapa tokoh musuh yang
menyusup masuk ke Kuil Siauw Lim Sie, bahkan Ciangbudjin
Siauw Lim Sie masih belum tahu berada dimana. Dia tidak tahu,
kalau Koay Ji di pihak lain, juga dalam keadaan yang runyam. Dia
455
tidak boleh atau tak dapat mengenalkan nama Suhunya yang
aslinya dari Siauw Lim Sie, namun juga pada dasarnya tidak tahu
nama aslinya sendiri selain KOAY JI.
“Mohon maaf, mohon maaf Losuhu. Siauwte memenuhi amanat
SUHU untuk kapanpun dan dimanapun membantu Kuil Siauw Lim
Sie, tetapi namaku sendiripun sudah lama kulupakan dan sering
dipanggil orang Thian Liong Koay Hiap ……”
“Amitabha ……. maksud dan bantuan Koay Hiap sangat kami
hargakan. Tapi, siapa gerangan nama Suhu Koay Hiap yang
mulia itu …….”?
“Losuhu, sayang sekali, SUHU melarangku untuk
memperkenalkan namanya kepada siapapun, mohon maaf,
mohon maaf ……”
“Amitabha ….. apa ada maksud lain Koay Hiap selain membantu
Siauw Lim Sie ….”? Sebuah pertanyaan tajam langsung
dilontarkan
“Sesungguhnya, karena membantu Kakek Ong dan cucunya He
Ji baru kutahu jika Kuil ini sedang dalam bahaya. Tanda Pengenal
Hoat Ciangbudjin serta surat ringkas yang ditinggalkannya buat
Kakek dan Cucunya yang menolong Hoat Ciangbudjin hingga ajal
456
sempat kubaca. Tapi, sayang sekali, kedua orang itu dapat
dibawa tokoh mujijat lainnya yang berkata akan membantu
persoalan Siuw Lim Sie dan memintaku langsung menuju Kuil
Siauw Lim Sie memberi bantuan …….”
AliAfif.Blogspot.Com - AliAfif.Blogspot.Com -

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Panas PANL 4 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 19 April 2018. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments