Baca Cersil Online Pedang Pusaka Buntung Tamat Yuuk

AliAfif.Blogspot.Com -
Baca Cersil Online Pedang Pusaka Buntung Tamat Yuuk
- Tee Thian Kauw menjawab, suaranya keras : „Ban Cun
Bu! Jika kau ingin bertempur, ayolah bertempur! Mengapa
banyak rewel, tanya ini tanya itu? Guruku tak bertangan,
tetapi aku bertangan. Aku persilahkan kau memotong
kedua tanganku ini!"
Baru saja selesai jawabannya, pedang Poa Cu Kiam dan
pedang Leng Liong Pi menyerang berbareng! Ban Cun Bu
hanya mengegos, dan serangan2 itu tak menemui sasaran !
Tee Thian Kauw tidak terus menyerang lagi. la harus
bersikap waspada, karena insyaf akan kelihayan lawannya.
Ban Cun Bu berkata sambil tertawa :„Caranya kau
menyerang aku, kau lebih lihay daripada Lang Sim Siu Si.
Kau terlampau gegabah dan ingin mempertunjukkan apa
yang kau telah pelajari! Aku sekarang ingin menyaksikan,
ilmu silat apa yang kau telah pelajari!"
Sebetulnya Tee Thian Kauw menyerang dengan jurus2
yang luar biasa ampuhnya. Pedang Poa Cu Kiam
menyerang dengan jurus Hui Hong Bu Liu Kiam atau
Angin puyuh menghembus daun2 pohon Liu, dan pedang
Leng Liong Pi menyerang dengan jurus Cek Kie Tong Lay
297
atau Hawa berbisa datang dari timur. Akan tetapi Ban Cun
Bu bukan lawan yang enteng. Serangan yang datang dari
dua pedang sakti itu dapat ia hindarkan dengan menotok
tongkat besi ketanah, dan ia terbang loncat dua depa
kebelakang!
Tee Thian Kauw mengejar dan menyerang. Ban Cun Bu
dengan berdiri diatas tongkat besi ditangan kanan, tangan
kirinya yang luka memegang tongkat besi melawan Tee
Thian Kauw. Dalam sekejapan saja terdengar suara senjata
beradu, lelatu api berhamburan dari senjata2 yang beradu
tersebut!
Tidak percuma Ban Cun Bu mendapat julukan jago silat
nomor wahid. la melawan dengan hanya satu tongkat besi
ditangan kiri, dan tangan kanannya memegang tongkat
besii sebagai kakinya! Hebat benar pertarungan mereka itu,
se-olah2 seekor naga bertempur melawan seekor harimau.
Tee Thian Kauw bertempur dengan beringas dan bernapsu.
Ban Con Bu bertarung dengan tenang dan waspada. Tetapi
kedua2nya mempunyai pikiran yang serupai!
Ban Cun Bu berpikir : „Dengan hanya menggunakan
tenaga dalam Sun Yo aku tak berhasil melucutkan pedang2
dikedua tangannya. Ai! Gadis ini betul2 lihay ilmu silatnya.
Jika dia berlatih lagi 10 tahun, aku yakin tak ada jago yang
dapat menggempur dia.
Tee Thian Kauw berpikir : „Ban Cun Bu ini betul2 bukan
manusia! Pedang sakti Leng Liong Pi dan Poa Cu Kiam tak
berhasil menabas putus tongkat besinya. Aku telah
mengeluarkan semua kepandaianku, tapi Ban Cun Bu
masih tetap tak terkisarkan. Jika demikian, Kong Sun Giok
tak akan berhasil membalas dendam guru dan paman2
gurunya!"
298
Demikianlah mereka masing2 mengagumi pihak
lawannya! Tee Thian Kauw telah menggunakan jurus2 Cit
Kiat Kiam Hoat, Tat Mo Shin Kiam (Pedang sakti
menyentuh angkasa) Hui Hong Bu Liu Kiam dan Thian
Lam Bo Kit Kiam dan juga jurus2 yang gurunya Heng
Taysu telah ajarkan, ia berhasil melawan selama 30 jurus
lebih, dan masih dapat bertahan!
Ban Cun Bu belum menyerang. Ia hanya menangkis,
mengegos dan mengelit, karena ia ingin mencari tahu
sampai batas mana ilmu silat pedung Lawannya itu. la
memperhatikan bahwa serangan2 lawannya makin lama
makin hebat sehingga ia pikir ia tak dapat terus menerus
menangkis dengan tidak balas menyerang.
Lalu dengan menotokkan tongkat besi ,yang mvenunjang
tubuhnya, „Tung" tubuhnya melayang keatas lebih kurang
tiga depa tingginya! la turun sambil menyerang lawannya
dengan tongkat lang dipegang ditangan kiri. Serangan
tersebut adalah jurus Lo Hou Hiat Ji atau Mendodet
tengorokan dan darah mengucur yang dilancarkan dengan
tenaga dalam Sun Yo Cin Lek!
Loncatan yang se-konyong2 itu telah membikin Tee
Thian Kauw tekejut. la tidak menyerang lagi, tetapi loncat
kebelakang dua depa untuk menanti serangan musuh.
Hembusan angin dari serangan tongkat besi
memberitahukan ia bahwa lawannya sudah beringas. Pada
saat itu ia teringat akan jurus Ceng Lian Kiam Hoat (jurus
ilmu pedang dari Ceng Lian Shin Ni yang menitik beratkan
penjagaan diri dari serangan2). Dengan secepat kilat ia ayun
pedang Poa Cu kiamnya, dengan jurus Hua Kai Kian Hut
atau Bunga mekar melihat Hud (dewa) dan pedang Leng
Liong Pi-nya menusuk keatas dengan jurus Ti Siang Seng
Lian atau Bunga teratai tumbuh diatas telaga. Kedua jurus
tersebut adalah jurus2 yang ampuh untuk menjaga diri
299
serangan dari atas karena jika serangan diteruskan, maka
yang menyerang pasti menderita luka atau terbunuh!
Jurus2 itu dapat menahan serangan2 Ban Cun Bu yang
menyerang dengan tenaga dalam Sun Yo tetapi tenaga Tee
Thian Kauw jauh dibawah tenaga dari Ban Cun Bu, yang
melancarkan lagi serangan2nya yang ber-tubi2.
300
Pedang Poa Cu Kiamnya Tee Thian Kauw dengan tongkatnya
Ban Cun Bu saling beradu tidak henti-hentinya.
Pada saat pedang Poa Cu Kiam beradu dengan tongkat
besi Ban Cun Bu, ia segera, rasakan seluruh lengannya
panas dan lemas, dan pedang itu terlepas dari pegangannya
! la terkejut, tapi ia harus segera menangkis kemplangan
tongkat besi lawannya dengan pedang Leng Liong Pinya.
Pedang itupun terpental terbang melewati pohon cemara
dan menancap dipongkot pohon cemara lainnya yang tidak
jauh dari tempat pertempuran!
Demikianlah kedua pedang sakti dari Tee Thian Kauw
terlepas dari tanganya selama pertarungan berlangsung
belum sampai 50 jurus! Bukan main malunya Tee Thian
Kauw. la menggertek gigi, mukanya merah, dan melihat
kedua telapak tanganaya berdarah!
Pada saat itu, Ban Cun Bu menotokkan tongkat besinya.
lalu melayang loncat kearah Tee Thian Kauw. Ujung
tongkat besi ditangan kirinya menotok pundak kanannya
Tee Thian Kauw sebelum ia tiba dan berdiri ditunjang oleh
tongkat besi yang dipegang oleh tangan kanannya.
Totokan itu membikin pundaknya Tee Thian Kauw sakit
dan segera ia tidak dapat mengangkat lengan kanannya itu.
Tee Thian Kauw menangis karena terlampau malu. Ban
Cun Bu membentak : „Hei! Kau masih muda! Kau tidak
harus lekas2 berputus asa dan kecewa karena kalah
bertempur! Kau harus berlatih lebih giat lagi agar kau dapat
mencuci malu yang kau alami hari ini! Menangis itu adalah
sifat orang yang lemah! Seorang pahlawan tak akan
menangis! Kau masih muda, tetapi kau dapat bertahan
melawan aku 47 jurus! Belum pernah ada jago silat yang
dapat melawan aku satu lawan satu demikian lama! Kau
301
kalah dengan terhormat. Ayo, kau lekas2 pulang
memberitahukan gurumu bahwa aku ini adalah kawan
karibnya, dan aku minta dia datang kesini agar kita dapat
saling memberi penjelasan tentang segala salah-faham.
Salah-faham antara kami berdua ini harus dibikin terang
untuk mencegah soa12 yang pahit dikemudian hari, dan
jangan sampai murid2 kedua pihak saling bermusuhan!
Ayo, kau lekas kembali menemui gurumu!"
Lalu ia menoleh kepada pedang Poa Cu Kiam dan Leng
Liong Pi yang ia telah bikin terlepas dari tanganya Tee
Thian Kauw. la berkata lagi. “Aku telah bersumpah
dihadapan Thian Lam Sha Kiam bahwa aku akan berdiam
didalam kuil dan tidak berlalu selama 10 tahun sambil
menanti kedatangannya orang yang membawa pedang
buntung dan kerincingan emas. Orang lain yang datang
kekuil tanpa alasan, aku pasti bunuh mati, atau
membuntungkan kedua betisnya. Tetapi hari ini aku
memberi kelonggaran terhadap kau. Aku lepas kau keluar
dari sini, tetapi aku harus tahan kedua pedangmu. Aku
tidak akan serahkan pedang yang kau anggap sakti ini. Aku
hanya minta gurumu datang kesini agar kami berdua dapat
menjelaskan salah-faham yang lampau. Jika gurumu
datang, bukan saja aku akan kembalikan kedua pedangmu
ini, bahkan aku akan mengajarkan kepadamu ilmu silatku!"
Ucapan Ban Cun Bu meyakinkan Tee Thian Kauw
bahwa Ban Cun Bu mempunyai urusan pribadi terhadap
gurunya yang harus lekas dibereskan.
„Jika mendengar pengakuannya. Ban Cun Bu ini betul2
ada urusan penting yang harus lekas2 dibereskan dengan
guruku," pikir ia, „Mungkin juga guruku pernah menolong
iblis ini, jika tidak, dia pasti membunuh mati aku.
Bukankah dia dengan mudah dapat membunuh mati aku
yang sudah tak hersenjata? Tetapi sebegitu jauh aku belum
302
juga mengetahui musuh besarku. Berkali-kali aku menanya
kepada guruku, dan ber-kali2 guruku sungkan
memberitahukannya. Apakah musuh besarku iblis Ban Cun
Bu ini?"
Demikianlah Tee Thian Kauw berdiri bengong
dihadapan Ban Cun Bu, memikiri hubungan iblis itu
dengan gurunya.
---oo0oo---
BAGIAN 15
PERTEMPURAN YANG TAK TERDUGA
Setelah mendengar ucapan Ban Cun Bu itu, sambil
menahan airmatanya yang bercucuran, dengan gemas Tee
Thian Kauw berkata :
„Ban Cun Bu! Siapakah yang sudi belajar kepadamu
yang jahat dan kejam! Lain kali jika Tee Thian Kauw
datang lagi kekuil Sun Yo Kung adalah hari terakhir untuk
mengambil kepalamu!"
Dengan tertawa ter-gelak2 Ban Cun Bu berkata:
„Seumur hidupku aku tak percaya akan soal balas
membalas, dan aku tak percaya kepada orang lain selain
diriku sendiri! Kuil Sun Yo Kung ini tidak takut diganggu
orang. Aku harap Kau dapat memanggil gurumu datang
kesini untuk membuat perhitungannya dengan aku!"
Dengan mengertek gigi sambil membanting sebelah
kakinya Tee Thian Kauw berusaha menahan
kemendongkolannya. Ia sangat kecewa bahwa setelah
berlatih lama dengan kedua pedang saktinya, ia masih juga
tak berhasil mengalahkan iblis yang jahat itu.
303
„Aku telah diperintahkan oleh guruku untuk berlatih
dengan giat dan menuntut balas terhadap musuhku. Tetapi
siapakah musuhku ini? aku telah menderita kalah dan aku
tak ada muka tmtuk menjumpai guruku. Jika aku berlalu
dari kuil Sun Yo Kung ini, aku harus telah memenuhi
maksudku atau mati!" pikirnya.
Meskipun ia telah bertekad untuk mati, tetapi ia masih
belum tahu cara bagaimana ia harus mati. Pada saat itu ia
tak dapat menahan lagi mengucurnya air matanya!
Sebetulnya penghidupannya Tee Thian Kauw
merupakan suatu teka-teki. Sebegitu jauh ada dua orang
yang ia sangat cintai :
Yang kesatu ialah Taysu, gurunya yang telah
memelihara semenjak kecil, mendidik dan membesarkan ia
seperti seorang ibu kandungnya.
Yang kedua ialah Kong Sun Giok, saudara angkatnya. Ia
tak berani menemui gurunya, dan ia mendapat kabar bahwa
Kong Sun Giok telah tewas didalam sungai karena
perahunya hancur terbalik! la bermaksud pergi kepropinsi
Sucoan dan kemudian ia akan terjun kesungai didekat
pegunungan Bo San untuk mati ber-sama2 Kong Sun Giok!
Dengan maksud itu lalu ia pergi dari kuil Sun Yo Kong
dan dari kota Lak Cao ia menuju kepropinsi Sutioan.
Sebetulnia ia harus menuju keutara dengan mengambil
jalan sepanjang tapal-batas proninsi Kwiciu. tetapi setelah ia
tiba dekat tapal batas Sucoan, ia menemui suatu peristiwa
yang ganjil sekali!
Ketika ia melewati sebuah gunung.Meskipun gunung itu
tidak tinggi, akan tetapi jalannya ber-liku2. la tidak
menempuh jalan yang ber-liku2 itu, dengan ilmu
meringankan tubuh ia mendaki gunung itu. Ketika ia
hampir tiba diatas puncak, dari hembusan angin se-olah2
304
mendengar suara yang lemah lembut menyebut „Giok
koko"!
Suara itu membikin ia terperanjat. la berpikir : ,,Karena
Giok koko aku ingin pergi kedekat pegunungan Bo San
untuk terjun kedalam sungai untuk mati bersama Giok
Koko. Tetapi mengapa ditempat yang terpencil ini ada
wanita yang rupanya juga ketarik oleh Giok Koko?"
Ketika itu terdengar lagi suara seorang pria menarik
napas, yang suaranya tidak asing lagi baginya. ia makin
terperanjat.
„Ha! Mengapa Giok Koko berada disini? Dan siapakah
wanita yang bersama dia itu ? Apakah dia telah melupakan
Bian Leng Jun dan aku?" pikirnya. Lalu ia lekas2 mendaki
puncak untuk menyelidiki lebih jauh. Disemak belukar
dibawah sebuah pohon tampak olehnya sepasang pemuda
pemudi yang sedang duduk berdampingan. Pemuda itu
adalah Kong Sun Giok yang ia cintai, tetapi pemudi itu ia
tak lihat tegas. Ia menjadi gemas melihat mereka itu dan
benci Kong Sun Giok yang rupanya telah melupakan
padanya, dan juga Bian Leng Jun.
Dengan perasaan yang gemas itu ia membentak :
”Hei ! Kong Sun Giok ! Kau ternyata seorang yang tak
berbudi. Seperti binatang kau telah lupakan pesan gurumu
untuk membalas dendam. Nah! Rasakan jotosanku ini!"
Dan satu jotosan yang dabsyat berbareng menyodok
punggungnya!
Kong Sun Giok tidak menduga datangnya serangan itu
tetapi ia telah mendengar teguran yang pedas, dan ia telah
mengenali bahwa orang itu adalah Tee Thian Kauw. Dalam
keadaan demikian, ia telah lupa bahwa tenaga dalamnya
belum pulih, dengan ilmu pukulan Thian Sing Ciang ia
berusaha menangkis jotosan itu.
305
Ilmu pukulan Thian Sing Ciang adalah ilmu khusus yang
ia dapat pelajari dari Shin It Cui, kalau dalam keadaan yang
sehat ia dapat menangkis jo tosan itu. Tetapi kini ia dalam
keadaan sakit, ia segera merasakan kepalanya pusing,
matanya berkunang-kunang dan dadanya menyesak ketika
tangannya bentrok dengan pukulannya Tee Thian Kauw. Ia
terlempar 4-5 tombak jauhnya diatas rumput dan jatuhnya
tertiarap sambil mengeluarkan darah dari mulutnya!
Tee Thian kauw telah mengetahui kekuatan dan ilmu
silatnya Kong Sun Giok ia merasa heran mengapa Kong
Sun Giok dengan mudah dapat dihajar demikian rupa.
Dengan tak terasa olehnya ia berseru : „Ha!", dan berdiri
tertegun!
Pemuda yang duduk berdampingan dengan Kong Sun
Giok adalah Sim Lam Sie, muridnya Bo San Shin Lo. Ia tak
menduga bahwa Kong Sun Giok tak dapat menangkis
jotosan tadi. Dengan air mata mengucur, ia merasa sedih
melihat Kong Sun Giok menderita luka parah. Lalu seperti
seekor kucing yang mengamuk ia loncat menerkam, Tee
Thian Kauw cepat2 meloncat sambil mengegosi terkaman
itu. Lalu empat mata beradu. Sim Lam Sie segera
mengenali bahwa lawannya itu tidak lain tidak bukan ialah
Yen Kek Ciu, pemuda yang telah menipu ambil pedang
saktinya, dan juga kawan karib atau saudara angkat Kong
Sun Gioh.
Dalam keadaan yang serba salah, ia berkata sambil
menarik napas :
”Tee cici, kata2mu tajam sekali, dan perbuatanmu sangat
gegabah! Giok Koko telah kehilangan tenaga dalamnya, ia
sama-sekali tak dapat menangkis serangan2. Jotosanmu tadi
telah melukai ia lagi!"
306
Kong Sun Giok tidak menduga datangnya serangan itu.
Dalam keadaan demikian, ia lupa bahwa tenaga dalamnya belum
pulih, dengan ilmu pukulan Thian Sing Cia ia berusaha
menangkis serangan itu.
Tee Thian Kauw juga telah mengenali Sim Lam Sie.
Mengingat ia telah dipinjami pedang Poa Cu Kiamnya, dan
setelah melihat sikap yang akrab terhadap Kong Sun Giok,
dan memanggil „Tee cici" kepadanya, ia tidak dapat
menjawab lagi. Ia loncat dan menubruk tubuhnya Kong
Sun Giok lalu ia angkat dan dirangkulnya sambil berkata
dengan suara yang sedih : „Sim siocia, aku minta kau
jangan menyalahkan aku. Sebetulnya aku tidak mengetahui
bahwa Giok Koko telah kehilangan tenaga dalamnya. Kini
307
yang penting ialah lebih dahulu kita menolong dia, urusan
lainnya kita bicarakan nanti. Apakah kau membawa obat
yang mustajab yang dapat menolong dia?"
Dengan air mata berlinang Sim Lam Sie mengangguk
lalu menjawab : „Obat yang mustajab aku sudah sediakan,
yang kuperolehnya dengan jerihpayah untuk memulihkan
tenaga dalamnya Giok Koko. Tetapi sekarang ia telah
dilukai oleh Cici, kita harus menolong menyembuhkan
lukanya dulu!"
Lalu dari dalam sakunya ia mengambil tiga butir bidji
Lian-cu yang berwarna hijau. la pecahkan kulit biji Lian-cu
itu dan pencet keluar getahnya untuk dimasukkan kedalam
mulutnya Kong Sun Giok!
Ia melihat Tee Thian Kauw masih juga gelisah, ia
berkata : „Tee cici, akupun mengetahui bahwa kau baru
saja keluar dari pegunungan dan tak mengetahui akan
jejaknya Giok Koko. Kini ia telah makan getah tiga biji
Lian-cu, dan aku yakin jiwanya akan tertolong. Kita hanya
perlu menanti sampai dia siuman kembali. Aku kira ada
baiknya mendengarkan kisahnya, semenjak perpisahan
dengan cici."
Sebetulnya setelah Kong Sun Giok diantar oleh Ti Ci-ok
Hie Ang dan mendarat dikota Ka-teng, ia segera menuju
kepegunungan Go Bi San. Meskipun ia telah kehilangan
tenaga dalamnya, akan tetapi ia masih dapat melanjutkan
perjalanannya dengan cepat ia tiba didaerah pegunungan
Go Bie San, tidak jauh dari lembah Hui Ton Kok. Namun,
perjalanan kelembahHui Tou Kok sangat berbahaya karena
jalan kelembah itu banyak terdapat ular berbisa dan
binatang2 buas.
la berjalan dengan hati2 dan dapat melalui beberapa
puncak. Tiba2 ia melihat dua ekor ular berbisa yang
308
panjangnya kira2 satu depa dan sisiknya mulus sekali, dan
telah dibinasakan dan di-potong2 menjadi beberapa keping!
Ia berpikir : „Rupanya telah ada orang yang datang kesini
dan telah membawa pergi Giok Yap Kim Lian (Bunga
Teratai Emas Berdaun Giok)!" la melanjutkan perjalan berliku2,
ia membaui hembusan angin yang harum. Ia
mengikuti bau harum itu, dan berjalan melalui hutan
pohon2 bambu. Didalam, hutan itu ia menjumpai pula
seekor ular berbisa yang dua depa lebih panjangnya dan
yang telah tertabas putus. Bagian kepala ular itu terpisah 7-8
kaki dari bagian tubuhnya. Tetapi didekat bagian tubuh ular
itu terlihat tubuhnya seorang gadis berpakaian jubah
seorang rahib wanita. Apakah gadis itu masih hidup atau
sudah mati? Pedang gadis itu menggeletak tidak jauh dari
tangan kanannya. Kong Sun Giok menghampiri dan segera
mengenali gadis itu, ialah Sim Lam Sie!
la segera mengarti akau hal itu. Karena ia tidak suka Sim
Lam Sie menyertai ia, maka gadis itu yang kuatir akan
keselamatannya telah mendahului pergi mencari Giok Yap
Kim Lian dipegunungan Go Bie San, dan dalam usahanya
mencari obat yang mustajab itu, sigadis harus bertarung
melawan ular2 berbisa. Pengorbanan gadis itu membikin ia
tak tahan mengucurkan air matanya lagi. la cabut
pedangnya dan tabas ular berbisa itu menjadi beberapa
potong lagi. Lalu ia menghampiri tubuh gadis itu dan
memperhatikan bahwa tangan kirinya masih memegang
erat2 Giok Yap Kim Lian, dan beberapa daunnya telah
jatuh berserakan. Tetapi biji2 Lian-cu di-tengah2 bunga itu
masih utuh!
Menurut kepercayaan kalangan Bu Lim, segala sesuatu
yang berharga dan mujizat sukar diperolehnya, dan
acapkali orang harus bertempur melawan ular2 berbisa dan
binatang2 buas yang menjaga mustika itu. Kong Sun Giok
309
tidak menghiraukan darah yang berhamburan ditanah,
rangkul Sim Lam Sie dan merasai denyutan jantungnya. la
ambil satu biji Lian-cu dan dijejalkan kemulutnya sigadis.
Tetapi Sim Lam Sie masih juga belum sadar. la jejalkan lagi
satu biji, dan sejenak kemudian Sim Lam Sie mulai
membuka kedua matanya. Ketika melihat ia berada
didalam pelukan Kong Sun Giok, mukanya Sim Lam Sie
menjadi merah karena jengah.
Sambil bersenyum Kong Sun Giok berkata : „Lam moy,
aku tak bertenaga untuk menolong kau dengan tenaga
dalamku, dan kau harus menggunakan tenaga dalam untuk
untuk menolong dirimu sendiri."
Sigadis melihat bahwa dua biji Lian-cu telah lenyap, ia
berkata : „Giok Koko, Giok Yap Kim Lian adalah obat
yang mustajab sekali tetapi kau telah hamburkan dua biji.
Aku kuatir sisanya tidak cukup untuk memulihkan tenagadalammu.
Jika demikian halnya, dimanakah kita harus
mencarinya lagi?"
Gadis itu telah tidak menghiraukan jiwanya sendiri,
tetapi lebih perhatikan kesehatannya Kong Sun Giok, hal
ini membkin Kong Sun Giok terharu sekali. la berkata :
„Lam moy, Giok Yap Kim Lian telah herhasil menolong
jiwamu, aku merasa girang sekali. Janganlah kau terlampau
memikiri kesehatanku."
Sim Lam Sie tersenyum, dan mencoba bangun. Lalu ia
berkata : „Giok Koko, kau tunggu disini. Aku hedak pergi
ke mata-air untuk mencuci darah yang mengotorkan
pakaianku."
Kong Sun Giok mengangguk Sambil mengawasi Giok
Yap Kim Lian ditangannya, Kong Sun Giok memikirkan
akan kemanjuran biji2 Lian-cu itu dan juga tentang
nasibnya sendiri. la kuatir akan menyakiti hatinya Sim Lam
310
Sie yang rela berkorban untuk keselamatannya, juga kepada
Bian Leng Jun dikuil Sun Yo Kung, dan Tee Thian Kauw
Saudara angkatnya. Kini obat mustajab sudah diperoleh
dan ia harus mencari Shin It Cui. Tetapi dimanakah Shin it
Cui sekarang berada?
Sim Lam Sie kembali tak lama kemudian. la ambil bunga
teratai dari tangannya Kong Sun Giok dicongkelnya tiga
biji. la berkata : „Giok Koko, aku pernah tanya Ti Ciok Hie
Ang dan dia mengatakan biji2 Lian-cu ini tidak menjadi
rusak meskipun disimpan lama. Aku harus tunggu sampai
aku dapat menggunakan tenaga dalamku lagi untuk
menolong kau melancarkan peredaran darahmu, dan
kemudian memberikan biji2 Lian-cu ini untuk kau makan.
Ban Cun Bu adalah musuh besarmu, maka kau harus
mencari Shin It Cui dulu. Tetapi dimanakah harus
dicarinya??"
Sambil geleng2 kepalanya Kong Sun Giok berkata :
„Saudara angkatku Shin It Cui itu seperti juga seekor naga
sakti yang sebentar muncul dan sebentar lenyap sukar
dicarinya. Dia dapat mencari kau, tetapi kau tak dapat
mencari padanya. Hanya dia telah membataskan waktu
satu tahun untuk berlatih lagi ilmu silatnya, dan kemudian
mencari Ban Cun Bu untuk menentukan siapa yang lebih
unggul. Aku kira untuk mencari dia, kita harus menunggu
ditempat sekitar kuil Sun Ko Kung dikota Lak Tiao Lebih
pula, akupun telah berjanji dengan Hut Mo Shin Ni Ceng
Lian Taysu dan jisuhengku untuk bertemu lagi dikota Lak
Cao setelah lewat satu tahun."
Sim Lam Sie mengerutkan kening dengan berlinangkan
air mata ia menjawab : „Didalam kuil Sun Yo Kung ada
saudarimu Bian Leng Jun. Aku kuatir dia akan salah
mengarti terhadap aku, dia bisa hancur hatinya yang akan
memusingkan kau. Giok Koko, aku tidak bersedia
311
menyertai kau pergi kekota Lak Cao. Aku mengagumi
sifatmu yang terus-terang dan watakmu yang luhur. Tetapi
aku tidak tega melihat kau menderita. Aku harap agar kau
dapat memenuhi janjimu terhadap guru dan paman2
gurumu dalam menuntut balas setelah tenaga dalammu
pulih lagi, dan dapat hidup berbahagia dengan Bian cici dan
tetap akrab dengan Tee cici. Dan mulai hari ini aku minta
kau tidak memikiri aku lagi, biarlah aku tinggal menyendiri
dipegunungan Bo San dengan tenang dan se-waktu2
mengenangkan peristiwa2 lampau yang kita alami
bersama!"
Kata2 itu diucapkan dengan tenang dan lemah-lembut
sehingga menusuk hatinya Kong Sun Giok, dan airmatanya
tak tertahan mengucur keluar!
„Giok Koko," kata Sim Lam Sie, ”Kau tak usah
mengasihi aku. Akupun mempunyai Liangsim (nurani), dan
aku tak akan membenci kau dan menganggap kau tak
mengenal budi. Akupun tak bisa cemburu terhadap Bian
Leng Jun atau Tee Thian kauw. Tegasnya, aku tak akan
merintangi tujuanmu yang mulia. Aku hanya sesalkan
diriku sendiri karena terlambat mengenal kau. Ya, aku telah
berkeputusan tinggal bertapa dipegunungan Bo San
menyertai guruku, dan tak akan turun gunung lagi." Tiap2
kata2 yang diucapkannya dengan khidmat dan ketetapan itu
menusuk dalam sekali jantungnya Kong Sun Giok. Lalu
Sim Lam Sie berbalik dan hendak berlalu.
„Tahan! Lam moy! Tahan dulu!" berseru Kong Sun Giok
sambil mengejar. Dengan berdiri didepan gadis itu dan
kedua tangannya memegang bahunya, la, berkata : „Lam
moy! Ucapan selamat tinggalmu aku tak dapat terima.
Jiwaku ini berada ditanganmu. Setelah aku membalasdendam
guru dan paman2 guruku, aku pasti kembali
mencari kau lagi. Sekarang kitab Ju Keng telah musnah,
312
dan pedang wasiat Leng Liong Pi belum kudapati, dan jika
aku pergi kekuil Sun Yo Kung membikin perhitungan
kepada Ban Cun Bu, aku yakin aku tak dapat luput binasa
dibawah tongkat2 besinya. Oleh karena itu, kita jangan
terlampau memikirkan hari kemudian. Jika kau tak sudi
menyertai aku pergi kekota Lak Cao, aku Kong Sun Giok
rela menjadi seorang yang tak mengenal budi dan
mengakhiri jiwaku ditempat ini!"
Dengan mata berlinang Sim Iam Sie menjawab dengan
senyuman terpaksa : „Giok Koko, aku sebetulnya tidak
sampai hati melihat kau pergi sendirian dengan tenaga
dalammu belum pulih. Tetapi karena aku seorang gadis,
aku kuatir menimbulkan cemburunya Bian cici dan Tee cici
sehingga kaupun menjadi pusing. Jika kau memaksa,
baiklah aku menuruti kehendakmu, dan biarlah kita
serahkan nasib kita kepada Tuhan. Ayolah kita berangkat
sekarang!"
Demikanlah kedua orang itu turun dari pegunungan Go
Bi San menuju kekota Lak Cao. Tetapi baru saja mereka
keluar dari daerah propinsi Sucoan, mereka dijumpai oleh
Tee Thian Kauw yang telah dipecundangi oleh Ban Cun Bu
setelah kehilangan pedang2 Poa Cu Kiam dan Leng Liong
Pi, dan yang telah berkeputusan menyebur kesungai untuk
mati bersama Yong Sun Giok setelah mendengar bahwa
Kong Sun Giok telah binasa karena perahunya terbalik
hancur.
Karena tidak mengetahui seluk-beluknya perkara, Tee
Thian Kauw telah menjotos Kong Sun Giok sehingga jatuh
pingsan dan harus disembuhkan dengan biji2 Lian-cu.
Demikianlah dengan sabar Tee Thian Kauw
mendengarkan kisah dan jejaknya Kong Sun Giok. Iapun
merasa terhibur karena mengetahui bahwa Kong Sun Giok
313
pun memperhatikan padanya. Iapun tampak Kong Sun
Giok telah siuman tetapi masih berbaring.
Dengan bersenyum dan sambil memegangi kepala nya
Kong Sun Giok ia berkata : „Giok Koko, kau jangan pura2
pingsan lagi! Lam moy telah berkorban untukmu, dan jika
kau melupakan budinya, aku dan Bian cici tidak mau kenal
kepadamu lagi. Sekarang segala salah-faham telah dapat
diperbaiki dan menjadi jelas. Soal yang penting ialah soal
menghadapi Ban Cun Bu. Giok Koko, apakah kau
mengetahui bahwa aku telah bertempur dengan dia?"
Mendengar itu Kong Sun Giok terkejut dan mencoba
bangun. „Kauw moy! kau........ kau....... bagaimanakah
dapat masuk kekuil Sun Yo hung dan bertempur melawan
iblis yang jahat itu? Apakah kau menderita luka?" tanya
Kang SunGiok.
Tee Thian Kauw segera menuturkan cara bagaimana ia
telah bertempur melawan Ban Cun Bu selama 47 jurus dan
juga bagaimana pedang Poa Cu Kiam dan Leng Liong Pinya
terlepas dari tangannya. Ia mengakhiri penuturannya
dengan menanya : „Giok Kokok, cobalah pikir, kitab Ju
Keng telah musnah. Pedang Poa Cu Kiam dan Leng Liong
Pi telah hilang. Biji Lian-cu dari Giok Yap Kim Lian telah
habis dimakan sehingga tenaga dalammu se-olah2 tak dapat
pulih lagi. Apakah kita akan duduk diam tidak berusaha
membasmi iblis Ban Cun Bu itu ?"
Kong Sun Giok menarik napas karena pedang Leng
Liong Pi yang ia sedang cari telah jatuh kedalam tangan
Ban Cun Bu, pula karena semua usahanya telah mengalami
kegagalan. Bagaimanakah ia dapat memenuhi janji
terhadap guru dan paman2 gurunya untuk membalas
dendam ? Meskipun ia sangat cemas, tetapi ketika melihat
Tee Thian Kauw dan Sim Lam Sie pun menjadi cemas, ia
berlagak gembira dan menghibur : „Kauw moy dan Lam
314
moy tak usah gelisah. Untuk membasmi iblis Ban Cun Bu
masih ada jalan lain meskipun pedang Leng Liong Pi telah
hilang dan kitab Ju Keng telah musnah. Kita tak harus
putus asa, karena Shin It Cui dan Hut Mo Shin Ni Ceng
Lian Taysu juga berusaha membantu kita. Menurut
pendapatku, kita harus lekas2 pergi kekota Lak Cao untuk
menjumpai Shin It Cui, dan kemudian berdamai lagi
dengan dia!"
Kata2 Kong Sun Giok itu membesarkan hatinya kedua
gadis itu, ketiganya mereka segera berangkat menuju kekota
Lak Cao dipropinsi Yunnan.
Setelah mereka tiba dikota Lak Cao, merka tidak
menjumpai Shin It Cui atau Ceng Lian Taysu. Mereka
menginap dikuil Pik Yun Giam yang terletak dikaki puncak
Pek Lok Hong dengan harapan lekas2 menjumpai Shin It
Cui atau Ceng Lian Taysu, juga kepada kedua saudara
seperguruannya, It Ceng dan It Hok.
Didalam kuil itu Kong Sun Giok melatih ilmu Thian
Sing Ciang, ilmu pedang Ceng Lian Kiam dan ilmu tinju
Shin Mo Sam Sun dari Shin It Cui, disamping memulihkan
tenaga dalamnya.
Demikianlah hampir satu tahun lewat dengan cepatnya.
Kemudian Kong Sun Giok minta Sim Lam Sie pergi
kedekat kuil Sun Yo Kung untuk mengamat-amati jejaknya
Shin It Cui, dan minta Tee Thian Kauw pergi kedekat
puncak Sian Yan Hong mengamat-amati jejaknya Ceng
Lian Taysu, juga mencari kabar tentang It Hok dan It Ceng.
Pada suatu malam Tee Thian Kauw dan Sim Lam Sie
masing2 pergi kepuncak Sian Yan Hong dan kuil Sun Yo
Kung, Kong Sun Giok diam didalam kuil Pik Yun Giam
melatih ilmu tinju Thian Sing Ciang.
315
Selama hampir satu tahun itu, dengan tekun Kong Sun
Giok melatih semua ilmu2 silat sehingga segala jurus ia
dapat lakukan dngan mudah dan hafal. Pada malam kedua
gadis itu keluar, ketika ia sedang giat berlatih, tiba2 ia
mendengar suara tertawa gelak2 se-olah2 meraungnya
seekor naga!
Suara yang dikenalnya itu membesarkan hatinya. Ia
berhenti berlatih, dan lekas2 keluar untuk menyambut. la
membuka pintu dan melihat Shin It Cui telah berada
didepan pintu menuntun Sim Lam Sie.
„Cui Koko....." seru Kong Sun Giok dengan girang
sekali.
„Lotee, Sim Lam Sie telah menuturkan kisahmu
kepadaku. Mari kita masuk dulu baru bicara lagi, dan
buktikan bahwa Cui Koko-mu ini juga mempunyai ilmu
luar biasa untuk memulihkan tenaga dalammu!" kata Shin
It Cui.
Alangkah girangnya Kong Sun Giok yang telah bertemu
lagi dengan saudara angkatnya itu.
Sambil tertawa Shin It Cui berkata setelah mereka duduk
disuatu kamar didalam kuil itu : „Lotee, cobalah terka,
selama hampir satu tahun ini aku berada dimana? Aku telah
melatih Sian Thian Kun Goan Kie (Tenaga Mujijat Kurnia
Tuhan)!"
Kong Sun Giok mengerutkan kening dan berkata sambil
bersenyum : „Cui Koko, aku tak dapat menerka dimana
kau bertapa atau melatih ilmu silat"
Shin It Cui tertawa gelak2 dan berkata lagi : „Aku suruh
kau menebak karena tempat itu kau pernah pergikan.
Hanya kau tak pikir dan menyangkanya!"
316
„Apakah bukan dipuncak Ti Sing Hong disebelah selatan
dari propinsi Hunan?" menebak Kong Sun Giok.
„Betul!" jawab Shin It Cui.
„Puncak Ti Sing Hong adalah tempat bertapanya Heng
Taysu, gurunya Tee Thian Kauw." kata Kong Sun Giok.
Shin It Cui mengangguk dan berkata : „Karena aku
merasa heran terhadap nama Heng Taysu itu. Sebetulnya
jika orang sudah menjadi pendeta, ia harus menjauhi
keduniawian dan berbuat kebaikkan. Tetapi ia memakai
nama „Heng" yang artinya ,,Benci". Dengan kehilangan
dua tangan, ia pasti sangat menderita. Aku pergi kepuncak
Ti Sing Hong untuk menjumpai ia, dan setelah melihatnya,
aku segera mengenali bahwa ,ia adalah kawan karibku.'
Iapun mempunyai dendam terhadap seseorang. Tentang itu
kisahnya sangat panjang. Kita tunggu dulu kembalinya Tee
Thian Kauw, dan aku akan menceritarakannya, karena Tee
Thian Kauw juga ingin tahu. Nah, sekarang persilahkan
aku memeriksa lukamu. Menurut Bo San Shin Lo kau baru
dapat sembuh betul dengan bantuanku dan si-iblis Ban Cun
Bu."
Lalu ia memeriksa urat nadinya Kong Sun Giok dengan
teliti. Sambil menarik napas kemudian ia berkata : „Kau
betul2 telah menderita luka agak hebat dalam tubuhmu,
karena kau dihajar oleh Bo San Shin Lo dipegunungan Bo
San, dibentur karang didalam sungai ketika perahumh
terbalik, dan paling akhir dijotos oleh Tee Thian Kauw. Jika
kau tidak tertolong oleh biji Lian-cu, kau sudah lama mati,
dan tak mungkin kita berjumpa lagi didalam kuil Pik Yun
Giam ini."
Sim Lam Sie menjadi gelisah mendengar penjelasannya
Shin It Cui dan ia menanya : „Lo Shin, kini kita tak
317
mempunyai obat yang mustajab lagi. Apakah Giok Kokok
mempunyai harapan menjadi sembuh kembali?"
Shin It Cui tetap tertawa gelak2, dan menjawab: „Segala
usaha dapat berhasil jika orang tekun serta sabar
melakukannya. Sim siocia, coba tebak, dalam perjalananku
kepuncak Ti Sing Hong, barang apa yang aku telah
peroleh?"
Sim, Lam Sie membuka kedua matanya lebar2
memperhatikan suatu barang yang dari Shin It Cui
keluarkan dari dalam kantong baju dalamnya, lalu berseru :
„Apakah itu bukannya burung Cian Lian Seng Sing Ho Sok
(burung yang berusia 1000 tahun)?"
„Betul" jawab Shin It Cui. Lalu ia potong kepala burung
itu sehingga bau amisnya, memenuhi kamar itu. Terlihat
barang cair mengetes keluar dari kepala burung itu, dan
barang cair yang berwarna putih itu ia suruh Kong Sun
Giok telan. Kemudian badan burung itu direbus dan
dimakan juga oleh Kong Sun Giok.
Setelah Kong Sun Giok makan habis burung itu, Shin It
Cui memeriksa lagi urat nadinya, kemudian nampak
wajahnya yang ber-seri2.
Sim Lam Sie tidak tahan sabar, ia menanya :
„Bagaimana keadaannya dia sekarang?"
„Ia telah menderita luka2 yang hebat. Meskipun ia telah
makan obat yang mujijat dan dapat menolong jiwanya,
namun nyali, dan lain2nya belum dapat bekerja
sebagaimana sediakala. Tetapi dengan menggunakan ilmu
Sian Thian Kun Goan Kie, aku yakin akan dapat
menyembuhkan dia betul2 dengan dibantu oleh seorang
yang ilmu silatnya setaraf atau lebih tinggi daripada ilmu
silatku. Dengan ilmuku aku mendesak beredarnya obat, dan
orang yang membantu itu menggunakan tenaga dalamnya
318
memulihkan jalan2 darahnya dan tenaga dalamnya. Jika itu
dapat dilakukan, maka ia dapat sembuh betul2, bahkan
tenaga dalamnya dapat bertambah. Kita harus melakukan
dengan cermat, karena jika sedikit saja keliru, ia akan
menjadi seorang cacad seumur hidup."
„Tetapi dimanakah kita harus mencari orang yang ilmu
silatnya lebih tinggi dari pada Lo Shin?" menanya Sim Lam
Sie dengan cemas.
„Mengapa tidak ada?" seru Shin It Cui.
„Siapa ?" tanya Kong Sun Giok dengan bernapsu.
„Ban Cun Bu!" jawab Shin It Cui, lalu ia bangun untuk
menenangkan hatinya yang bergolak.
---oo0oo---
BAGIAN 16
POA KIAM IT LENG
(PEDANG BUNTUNG DAN SATU
KERINCINGAN)
Mendengar bahwa hanya Ban Cun Bu yang dapat
menolong. Sim Lam Sie menarik napas dengan perasaan
kecewa.
Kong Sun Giok berpikir : „Hai! Aku harus membunuh
Ban Cun Bu untuk membalas dendam guru dan paman2
guruku. Sekarang aku harus minta pertolongannya untuk
menyembuhkan aku. Ha! Aku lebih suka dan rela mati
daripada berbuat demikian. Menurut pandanganku pada
dewasa ini mungkin Shin It Tiui dapat menyalahkan Ban
Cun Bu. Jika aku dapat mendesak Shin It Cui membunuh
Ban Cun Bu, maka aku telah berbuat sedikit kebaikan
319
dikalangan Bu Lim. Bagiku yang tak berdaya ini, aku rela
mati daripada selalu menjadi beban kawan atau
saudaraku?" Lalu ia banting kakinya menunjukkan
kegemasannya, dan ingin rnemukul dadanya.
Perbuatan nekat itu telah diperhatikan oleh Shin It Cui,
yang secepat kilat menangkis tinju kiri Kong Sun Giok yang
hendak membunuh diri, sambil menotok bahunya dengan
ujung jari tangan kanannya. Kong Sun Giok segera jatuh
pingsan.
Lalu Shin It Cui berkata kepada Sim Lam Sie, „Aku
telah duga bahwa ia tidak sudi ditolong oleh Ban Cun Bu.
Tetapi dalam keadaan terdesak, kita harus melakukan juga
meskipun kita harus merendahkan diri. Kini aku hendak
bawa dia kekuil Sun Yo Kung untuk coba peruntunganku.
Tetapi tidak peduli Ban Cun Bu sudi membuntu atau tidak,
kau harus pegang dua rahasia!"
Sambil melihati Kong Sun Giok yang pingsan dilantai.
Sim Lam Sie dengan air mata berlinang menanyakan
rahasia apa yang ia harus pegang.
„Kesatu." kata Shin It Cui lebih lanjut. „Kau tidak boleh
memberitahukan Tee Thian Kauw bahwa aku membawa
Kong Sun Giok kekuil Sun Yo Kun untuk minta
bantuannya Ban Cun Bu, karena menurut pendapatku, Tee
Thian Kauw yang kepala batu itu, jika dia mengetahuinya,
tentu akan datang kekuil Sun Yo Kung untuk membikin
onar. Hal demikian seperti juga mengirim Kong Sun Giok
keakherat."
Sim Lam Sie menganguk menyatakan setujunya.
„Kedua," kata Shin It Cui, „Jika aku pergi kekuil Sun Yo
Kung dan berhasil memperoleh pertolongannya Ban Cun
Bu, kau jangan ceriterakan itu kepada Kong Sun Giok,
karena aku kuatir ia menjadi gelisah melaksanakan janji
320
terhadap guru dan paman2 gurunya karena telah menerima
budi Ban Cun Bu."
Sim Lam Sie mengangguk, pula lalu menanya : „Lo
Shin, kau bawa Kong Sun Giok kekuil Sun Yo Kung,
bukankah seperti bawa ia kedalam goa macan? Ban Cun Bu
yang terkenal kejam dan jahat apa tidak membunuh mati
dia? Apakah Ban Cun Bu itu dapat dipercaya?"
Dengan tertawa Shin It Cui menjawab : „Betul Ban Cun
Bu kejam dan jahat, tetapi ia senantiasa bersikap jantan,
dan memegang janji. Dengan kedua wataknya yang dapat
dipuji itu, aku akan berusaha menolong Kong Sun Giok.
Kong Sun Giok tak dapat ditolong dengan biji Lian-cu atau
burung Cian Lian Ho Sok lagi, ia telah menderita luka2
didalam tubuh sangat hebat. Hanya aku dan Ban Cun Bu
yang dapat menolong dia."
Bulu romanya Sim Lam Sie berdiri mendengar
penjelasan itu, dan ia mendesak lagi : „Lo Shin, jika
demikian, aku mohon kau lekas2 bawa dia, agar Tee Thian
Kauw tidak mengetahuinya."
Meskipun tertawa, tetapi Shin It Cui merasa cemas juga
atas keselamatannya Kong Sun Giok. la angkat tubuhnya
Kong Sun Giok dan dipanggul diatas pundaknya. Lalu
dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh ia lari
menuju kekuil Sun Yo Kung, tempat kediamannya Ban
Cun Bu!
Sim Lam Sie setelah mengantar sampai didepan pintu,
berdiri terpaku dengan berlinangkan air mata. Lama sekali
baru ia masuk kedalam.
Pintu gerbang kuil Sun Yo Kung dijaga oleh Kho Leng
Hun dan Sie Leng Ko. Dengan tanpa permisi lagi, Shin It
Cui meliwati mereka.
321
Sie Leng Ko menegur dengan suara yang keras : „Hei!
Siapa kau? Daerah kuil Sun Yo Kung adalah daerah
terlarang. Sebelum dapat izin dari Ban Cun Bu Shin Kun,
kau tak dapat menerobos masuk, jika tidak ingin mati!"
Satu jotosan datang menyambar kearah Shin It Cui serentak
dengan ucapan „mati" itu.
Shin It Cui menggeram, tangan kanannya memegang
Kong Sun Giok yang ia panggul diatas bahunya, dan
dengan tangan kirinya ia mengebutkan lengan bajunya
sehingga Sie Leng Ko terhempas jatuh 4-5 kaki jauhnya.
Lalu dengan tertawa ia mengejek : „Anak tolol! Dihadapan
tua bangka ini kalian tak dapat menjual lagak!" la tak
berhenti, tetapi terus lari masuk menuju kekamar dimana
Ban Cun Bu tinggal.
Ketika itu Sie Leng Ko dan Kho Leng Hun dan
mengenali bahwa yang menerobos masuk itu adalah Sibayangan
hitam Shin It Cui yang terkenal ilmu silatnya,
mereka insyaf tak dapat mereka menghalanginya. Mereka
lekas2 melepaskan dua anak panah kecil yang berwarna
hijau memberikan isyarat.
Baru saja Shin It Cui tiba didepan pintu kamarnya Ban
Cun Bu lebih kurang satu depa jauhnya, ia telah mendengar
suara tertawa dan mengejek dari Ban Cun Bu : „Hei! Lo
Cui Kui (Setan pemabokan)! Aku telah mengetahui bahwa
kau tentu datang lagi. Aku persilahkan kau datang kedalam
pekarangan."
Shin It Cui loncat masuk sambil membawa Kong Sun
Giok diatas bahunya, dan melihat Ban Cun Bu berdiri
diatas dua tongkat besinya didalam pekarangan dibelakang
kamarnya. Empat gadis yang mengenakan pakaian putih
berdiri dibelakangnya, dan diantara keempat gadis itu,
seorang gadis telah melihat Kong Sun Giok yang pingsan
dipanggul oleh Shin It Cui, segera menjadi pucat mukanya!
322
Shin It Cu dengan kedua matanya yang tajam segera
mengetahui bahwa gadis itu adalah Bian Leng Jun, dan ia
kuatir kalau2 gadis itu mengetahui bahwa Kong Sun Giok
sangat berat luka2nya. Dengan senyuman terpaksa ia
berkata kepada Ban Cun Bu : „Ban Cun Bu, iblis yang
cacad, kau jangan gelisah! Kali ini Shin it Cui datang
kembali kekuil Sun Yo Kung bukannya menantang kau
bertempur atau mengadu silat. Aku mempunyai suatu
urusan untuk dirundingkan dengan kau dan aku tidak sudi
urusan ini diketahui oleh orang lain!"
Ban Cun Bu yang telah mengenal Shin It Cui yang
berwatak congkak dan kepala batu, dan yang telah melihat
Kong Sun Giok dalam keadaan pingsan diatas bahunya
karena totokan, merasa heran mengapa Shin It Cui ingin
berunding dengan ia. la buka kedua matanya lebar2
menunjukkan keheranannya.
Tetapi Shin It Cui berkata sambil tertawa : „Hei! Ban
Cun Bu! Apakah yang kau perhatikan? Kau yang terkenal
tidak takut apapun, mustahil takut kepada orang yang
pingsan diatas bahuku? Dimanakah panggung „Liu Im Cui
Cia" (Panggung mengadu silat yang dikitari dengan
pohon2)?"
Ban Cun Bu yang biasanya menjadi raja didalam kuilnya
telah diperintah oleh Shin It Cui, dan dengan sikap yang
canggung ia berbalik menghadapi Bian Leng Jun. Cun Leng
Ngo. Goei Leng Sa dan Tu Leng San yang berdiri
dibelakangnya seraya berkata : „Kalian semua pergi
meronda disekitar kuil ini, dan memberitahukan semuanya
bahwa jika tidak mendengar suara kelenganku tiga kali,
siapapun tak dapat datang kepanggung Liu Im Cui Cia!"
323
Shin It Cui loncat masuk sambil membawa Kong Sun Giok
diatas bahunya, dan melihat Ban Cun Bu berdiri diatas dua
tongkat besinya didalam pekarangan dibelakang kamarnya.
Bian Leng Jun, yang telah melihat Kong Sun Giok
pingsan se-olah2 tidak bernapas diatas bahunya Shin It Cui,
menjadi sangat gelisah, tetapi ia tak berani menanya.
Setelah diperintahkan, ke-empat gadis itu membungkukkan
tubuh memberi hormat kepada Ban Cun Bu untuk
kemudian berlalu melaksanakan perintah guru mereka itu.
Lalu dengan menotokkan satu tongkat besinya ditanah,
secepat kilat Ban Cun Bu telah melonjak keatas dan seolah2
terbang melalui tembok yang memisahkan
pekarangan hamarnya ketempat dimana panggung Liu Im
324
Cui Cia didirikan. Shin It Cui juga menotok kedalam ujung
jari kakinya loncat melayang melewati tembok itu.
Tempat dimana mereka berada sangat luas, kira2 seluas
3-4 bau (satu bau = 1/6 hektar). Panggung Liu Im Cui Cia
didirikan tidak jauh dari satu telaga kecil yang bening sekali
airnya. dan seluruh tempat itu dikitari pohon2 yang tumbuh
dengan subur dan rindang.
Lalu dengan satu totokan tongkat besinya Ban Cun Bu
loncat naik keatas. panggung itu. Perbuatan ini ditelad oleh
Shin It Cui. Beberapa kursi ada diatas panggung itu. Setelah
mempersilahkan Shin It Cui dan ia sendiri juga telah
duduk, Ban Cun Bu berkata : „Lo Cui Kwi! Kita berdua
mempunyai watak yang hampir serupa, oleh karena itu kita
tidak perlu bicara kebarat dan ketimur. Nah, katakanlah
urusan apakah yang kau ingin rundingkan dengan aku!"
„Iblis jahat!" jawab Shin It Cui setelah meletakkan Kong
Sun Giok diatas lantai panggung itu, „Pemuda ini adalah
saudara angkatku. Dia telah menderita luka2 didalam
tubuh. Meskipun dia telah makan obat yang mustajab,
tetapi ia masih memerlukan ilmu Sun Yo Cin Kai (ilmu
matahari memancarkan sinar) dan ilmu Sian Thian Kun
Goan Kie (ilmu tenaga mujijat kurnia Tuhan) yang
dikerahkan serentak untuk memulihkan kesehatan dan
tenaganya agar ia dapat melahsanakan maksud dan
hasratnya!"
Ban Cun Bu tidak duga jika Shin It Cui membawa
seorang pemuda untuk minta ia bantu mengobatinya. Ia
geleng2 kepalanya, dan menjawab sambil tertawa : „Ban
Cun Bu senantiasa tidak sudi menerima budi orang tetapi
juga tidak sudi melepas budi kepada orang lain. Lo Cui
Kwi! Kau datang kekuil Sun Yo Kung untuk minta
pertolonganku hanya untuk percuma saja!"
325
Shin It Cui tidak putus asa. Ia tetap tertawa dan berkata :
„Apakah kau tak mempunyai penghargaan terhadap aku?"
„Aku hargai kau, dan aku kagumi ilmu silatmu," jawab
Ban Cun Bu, “tetapi aku Ban Cun Bu seumur hidupnya
belum pernah melepas budi kepada orang lain!"
Lalu Shin It Cui menggunakan siasatnya dengan
memuji: „Ban Cun Bu! Aku terpaksa datang kesini untuk
minta bantuanmu, karena untuk menolong pemuda ini, aku
memerlukan orang yang ilmu silatnya lebih tinggi daripada
ilmu silatku. Dan menurut pengetahuanku, hanya kaulah
yang mempunyai iImu silat lebih tinggi daripada ilmu
silatku!"
Segera terlihat hasil dari siasat itu. Ban Cun Bu yang
berwatak congkak menjadi gembira dengan pujian itu,
terutama karena Shin It Cui mengaku kalah pandai
daripadanya. Dengan suatu senyuman gembira ia berkata :
„Ilmu silatmu tidak kalah daripada ilmu silatku. Kau terlalu
merendahkan diri."
Sambil menunjuk tubuhnya Kong Sun Giok, Shin It Cui
berkata „Mungkin kau tidak kenal pemuda ini."
”Ya, aku tidak kenal. Siapakah pemuda ini, dan murid
dari partai silat manakah?" tanya Ban Cun Bu.
Dengan nada mengejek tetapi tercampur pujian Shin It
Cui mulai lagi membujuk : „Pemuda ini menghendaki
jiwamu! la selalu mengejar kau! Barusan aku telah katakan
bahwa dia ingin melaksanakan kehendaknya ialah dia
menghendaki jiwamu!"
Ban Cun Bu terperanjat, tetapi dengan sikap tenang ia
menanya : „Lo Cui Kwi, kau jangan terlampau kurang ajar.
Jika kau tidak memberitahukan riwayat hidupnya pemuda
ini, aku akan pukul dia mati disini juga!"
326
Shin It Cui bangun, lalu dari dalam kantong bajunya
Kong Sun Giok ia ambil satu bungkusan. la buka
bungkusan itu dihadapannya Ban Cun Bu sambil berkata :
„Ban Cun Bu! Apakah kau masih mengenali benda2 ini?"
Sebetulnya didalam bungkusan itu ada satu pedang
buntung dan satu kerincingan. Ban Cun Bu bengong
melihat kedua benda itu, dan hanya dapat menjawab
sejenak kemudian :„Aku tahu, pemuda ini bernama Kong
Sun Giok, murid dari Thian Lam Sha Kiam "
Shin It Cui mengangguk dan berkata : „Betul! Selain
daripada dia, siapa lagi yang mem-bawa2 Poa Kiam It Leng
(pedang buntung dan satu kerincingan)? Kini ia telah
kehilangan tenaga dalamnya karena telah ber-turut2
menerima pukulan. Dalam keadaan pingsan, kau dapat
memukul mati dia dengan gampang sekali, bukan? Dan aku
tak usah membawa dia lagi kepada orang lain untuk
diminta pertolongannya memulihkan tenaga dalamnya.
Ayo, kau pukul matilah padanya!"
Kata2 Shin It Cui itu sangat menyinggung Ban Cun Bu,
dan untuk menutupi kegelisahannya, ia berkata : „Kau tak
dapat membawa-dia kepada orang lain. Dikolong langit ini,
ilmu apakah lebih lihay daripada ilmu Sun Yo Cin Kai-ku?"
Shin It Cui mengetahui bahwa iblis itu telah masuk
dalam perangkapnya, dan dengan beriagak tercengang ia
berkata : „Apa gunanya mempunyai ilmu Sun Yo Cin Kai
yang tinggi itu? Bukankah kau seumur hidup tidak sudi
menerima budi orang lain, dan juga tidak sudi melepaskan
budi kepada orang lain?"
Sambil menuding Shin It Cui dengan telunjuknya, Ban
Cun Bu membentak : „Lo Cui Kwi! Dimanakah kau belajar
bicara? Jika kau memberitahukan dulu bahwa pemuda itu
adalah murid Thian Lam Sha Kiam, aku tentu tidak
327
menolak mentah2. Ketiga jago silat pedang Thian Lam Sha
Kiam telah mengadu silat melawan aku dilembah Lok Yun
Kok dipegunungan Kwat Cong San, dan telah membunuh
diri karena kalah. Tetapi sebetulnya ilmu silat pedang
mereka luar biasa lihay. Akupun telah menyaksikan agar
pedang buntung dan satu kerincingan (Poa Kiam It Leng)
diberikan kepada muridnya Kong Sun Giok agar murid
tersebut dapat membikin pembalasan. Kini murid ini telah
kehilangan tenaga dalamnya, dengan keadilan aku tentu tak
dapat menolak membantu kau memulihkan tenaga
dalamnya."
Bukan main girangnya Shin It Cui, ia bersenyum. Ban
Cun Bu melihat tubuhnya Kong Sun Giok dan menanya :
„Lo Cui Kwi! Dia menderita luka apakah? Bagaimanakah
aku harus membantu kau menyembuhkannya? Kau pasti
sudah mengetahui, dan tidak perlu aku memeriksa lagi !"
Lalu Shin It Cui menuturkan dengan teliti bagaimana
Kong Sun Giok menderita luka2 didalam tubuhnya, dan
obat apakah yang telah diberikan kepadanya berikut juga
biji2 Lian-cu dan burung Cian Lian Ho Sok, dan
mengakhiri penjelasannya dengan berkata : „Untuk
menyembuhkan dia harus menggunakan ilmu Sian Thian
Kun Goan Kie untuk melancarkan peredaran obat, dan
serentak menggunakan ilmu Sun Yo Cin Kai-mu untuk
membebaskan jalan2 darahnya ...."
Tanpa menunggu Shin It Cui selesai, Ban Cun Bu
berkata sambil bersenyum : „Cara itu baik sekali. Obat dari
burung Cian Lian Ho Sok harus beredar lancar keseluruh
jalan2 darah, alat2 tubuh, dan Sun Yo Cin Kai-ku dapat
membebaskan jalan2 darahnya. Pemuda ini akan menjadi
lebih kuat dan lihay tenaga dalamnya!"
Shin It Cui mengangguk dan menjawab : „Betul!
Pemuda ini telah memahami ilmu tinju Thian Sing Ciang
328
dari aku, ilmu pedang menjaga diri Ceng Lian Kiam Sut
dari Ceng Lian Taysu, dan ilmu Thian Lam Kiam Hoat
dari Goan Siu Totiang, gurunya, ditambah dengan tenaga
dalamnya yang menjadi lebih kuat dan lihay, bukankah dia
dapat membunuh mati kau dengan gampang??"
Ban yun Bu melotot dan berseru „Hm!" tetapi tidak
menjawab.
Shin It Cui melanjutkan : „Oleh karena itu, aku anjurkan
kau pukul dia mati dalam keadaan pingsan ini untuk
menghindarkan kesempatannya mengirim kau keakherat!"
Ban Cun Bu melotot dan berseru „Hm! tetapi Kwi, kau
tak usah banyak bicara. Ban Cun Bu tidak begitu keji
memukul orang yang tak berdaya. Jika aku hendak
menghajarnya, aku harus menghajar dia didalam keadaan
sehat dan kuat. Pemuda ini dengan ilmu2 silat yang tinggi
harus ditolong, setelah dia sembuh, sehat dan kuat lagi, dia
dapat memenuhi janji terhadap guru dan paman2 gurunya
melawan aku!" Ia mengawasi Shin It Cui dan Kong Sun
Giok, lalu melanjutkan pula : „Sebetulnya selagi kau
mengunakan ilmu Sian Thian Kun Goan Kie-mu dan aku
menggunakan ilmu Sun Yo Cin Kai-ku, aku dapat
mengambil kesempatan itu untuk melukai jantungnya,
dengan demikian, nanti diwaktu dia bertempur melawan
aku, hanya dengan mengebutkan tanganku kearah dadanya,
jantungnya bisa putus, dan dia mati konyol!"
Shin It Cui tertawa gelak2, lalu berkata : „Meskipun kau
terkenal jahat dan kejam, tetapi kau terkenal juga tak sudi
melakukan perbuatan yang keji. Jika aku tak mengenal baik
watakmu itu, tidak nanti aku bawa dia kepadamu!
Perbuatan keji itu kau tak akan lakukan!"
329
Sejenak kemudian Ban Cun Bu berkata : „Kita dapat
segera menolong dia. Tetapi aku mempunyai dua syarat
yang kau harus penuhi!"
Shin It Cui mengerutkan kening : ia merasa heran, syarat
apakah iblis itu ingin ia penuhi. „Ia menjawab : „Sebutlah
syarat2mu itu, asal saja Shin It Cui mampu lakukan, Shin It
Cui pasti dapat memenuhinya!"
Sambil bersenyum Ban Cun Bu berkata : „Apakah Kong
Sun Giok mengetahui kau membawa dia kesini untuk aku
membantu menyembuhkannya?”
Shin It Cui geleng2kan kepalarya dan menjawab:
„Saudara angkatku ini berwatak angkuh. la lebih suka mati
daripada minta pertolongan musuh besarnya. Aku sengaja
membikin dia pingsan untuk .......”
Ban Cun Bu mengangguk, dan meneruskan : „Baiklah!
Kita menyembuhkannya tanpa menyadarkan dia.
Syarat2ku itu ialah : kesatu, setelah dia sembuh, kau tidak
boleh memberitahukan dia bahwa aku telah menolong
menyembuhkan dia agar nanti ia dapat bertempur melawan
aku dengan sungguh2 tanpa memikir budiku yang telah
menolong kepadanya".
Sambil mengacungkan jempolnya Shin It Cui berseru :
„Kau betul2 seorang ksatria. Menolong orang tanpa
mengharap balasan. Aku hormati sifat ksatriamu itu!
Akupun sependapat dengan kau. Dan syaratmu yang
kedua?"
„Jika kau dan aku tidak membantu mengobati dia,
apakah ia dapat berusaha sendiri dengan mempelajari ilmu2
yang dibutuhkan dalam jangka waktu 10 tahun?" tanya Ban
Cun Bu.
330
Shin It Cui berpikir sejenak, lalu geleng2 kepalanya.
„Meskipun didalam jangka waktu 20 tahun, aku kuatir ia
tak dapat menolong dirinya," katanya. Tiba2 Shin It Cui
berjingkrak, dan sambil menuding ia menanya : „Hei! Ban
Cun Bu! Apakah kau ingin mempercepat jangka waktu 10
tahun yang Goan Siu Totiang tetapkan, dan ingin muridnya
lekas2 membereskan soal balas-dendam? Apakah kau sudah
merasa bosan memenuhi janji tinggal berdiam dikuil ini
selama 10 tahun?"
Ban Cun Bu mengangguk, dan berkata : „Betul! Setelah
aku menolong dia, sama juga dia telah melatih diri 10
tahun. Aku akan memberikan dia tempo satu tahun lagi
untuk berlatih sebelumnya datang melawan aku."
Shin It Cui berpikir bahwa kitab Ju Keng telah musnah,
dan menunggu lebih lama lagi pun tak ada gunanya. Ia
mengangguk dan berkata : „Ban Cun Bu! Permintaanmu itu
beralasan, dan kau pun tidak usah memberikan dia tempo
satu tahun lagi. Aku jamin bahwa, setelah dia sembuh, dia
akan datang kesini untuk bertempur melawan kau dalam
waktu setengah bulan. Tetapi.........."
„Tetapi kau harus bertempur melawan aku dulu ......."
Ban Cun Bu menyambungkan.
Shin It Cui tertawa gelak2 dan berkata : „Betul! Betul!
Tempo hari aku kalah karena ilmu Sun Yo Cin Kai-mu,
tetapi aku belum tunduk. Kali ini jika kau binasa ditangan
Kong Sun Giok, aku yang belum bertanding lagi dengan
kau tentu akan menjadi masgul. bukan ?"
Ban Cun Bu bersenyum dan menjawab : „Sebetulnya
dikalangan Bu Lim, kau dan aku terkenal sebagai Lam Pak
Siang Mo (Sepasang Iblis dari Utara dan Selatan), dan ilmu
silat kita, berdua pun sebetulnya seimbang, memang aku
ingin sekali bertempur dalam pertandingan ulangan. Tetapi
331
sekarang kita harus menyembuhkan Kong Sun Giok dulu.
Jika kau dapat mempercepat janjinya lagi, aku dengan
gembira akan menghadiahkan suatu mustika kepadanya."
Mendengar bahwa Ban Cun Bu akan memberikan satu
mustika kepada Kong Sun Giok, Shin It Cui terperanjat. la
mengawasi wajahnya Ban Cun Bu dengan penuh perhatian.
„Aku tidak keluarkan mustika itu, aku minta kau terka
barang apakah sebetulnya yang aku hendak berikan
kepadanya. Tetapi kita menyembuhkan dia dulu, dan segera
kau akan mengetahuinya."
Shin It Cui tidak menunggu lagi. la angkat Kong Sun
Giok dan dalam keadaan pingsan didudukkan
dihadapannya Ban Cun Bu. Lalu sambil duduk bersila ia
memijit dan mengurut jalan2 darah dipunggungnya Kong
Sun Giok dengan menggunakan ilmu Sian Thian Kun
Gioan Kie.
Ban Cun Bu menenangkan sukma sebelum ia kerahkan
ilmu Sun Yo Cin Kai-nya. Lalu terlihat ia menepuk
dadanya Kong Sun Giok. kemudian lambungnya beberapa
kali. Sejenak kemudian kedua orang itu bermandikan
keringat, dan ini membuktikan bahwa mereka sedang
mengerahkan semua ilmunya masing2 untuk menolong
Kong Sun Giok. Pertolongan itu diberikan dengan cermat
dan teliti hampir tiga jam lamanya. Akhirnya Shin It Cui
bersenyum dan berseru : „Akhirnya pekerjaan kita yang
mulia ini selesai! Aku hanya kuatir kau, Ban Cun Bu, akan
menyesal karena telah menolong orang yang akan
mengirim kau keakherat!"
Ban Cun Bu tertawa, dan menjawab :„Lihat saja! Mar!
kita masuk kekamar untuk menikmati arakku yang harum."
Lalu dengan satu totokan tongkat besinya, ia loncat masuk
kedalam kamar
332
Shin It Cui memijit dan mengurut jalan2 darah
dipunggungnya Kong Sun Giok, dengan menggunakan ilmu Sian
Thian Kun GoanKie.
Shin It Cui baringkan Kong Sun Gick dilantai dengan
wajah ber-seri2, lalu ia pergi mengikuti Ban Cun Bu masuk
kedalam kamar. Dengan cepat seguci arak diminum habis
oleh mereka berdua.
,,Ban Cun Bu!" kata Shin It Cui, „arak yang enak aku
telah nikmati. Mustika apakah kau ingin berikan kepada
Kong Sun Giok ? Kau dapat berikan kepadaku, karena aku
segera akan membawa dia pergi berlalu dari sini !"
Ban Cun Bu lalu keluarkan dari dalam jubahnya sebuah
pedang sambil berkata : „Murid Than Lam Sha Kiam tentu
333
memerlukan pedang Leng Liong Pi ini untuk membalas
dendam terhadap aku!"
Bukan main herannya Shin It Cui. la tidak mengerti
mengapa Ban Cun Bu berikan Kong Sun Giok senjata yang
lihay itu untuk bertempur melawan dia sendiri. Lalu ia
berkata : „Ban Cun Bu! watakmu sukar berubah. Kau telah
menolong dia, tetapi kau berikan senjata yang lihay
kepadanya untuk bertempur melawan kau. Aku tidak
mengerti.”
Sambil tertawa Ban Cun Bu menjawab : „Ketiga jago
silat pedang Thian Lam telah tewas dilembah Lok Yun Kok
dipegunungan Kwat Cong San karena kalah dalam
pertandingan adu silat dengan aku. Muridnya tentu sangat
benci terhadap aku, dan akan membunuh aku. Jika kau
menjadi aku, apakah yang kau akan perbuat ? Bukankah
kau akan bertempur dengan maksud membunuh dia ?"
Shin It Cui tidak dapat menjawab. la sambuti pedang
Leng Liong Pi itu sambil menanya :„Apakah pedang ini
yang kau dapat rampas dari Tee Thian Kauw ?"
Ban Cun Bu bersenyum dan menjawab : „Lo Cui Kwi,
aku minta agar kau pun dapat mengundang gurunya Tee
Thian Kauw datang ber-sama Kong Sun Giok nanti
setengah bulan lagi untuk membikin hatiku puas!"
Shin It Cui tertawa gelak2 dan menjawab: „Nikoh yang
kehilangan kedua lengannya tidak sudi datang menemui
kau. Tetapi aku jamin bahwa dalam waktu setengah bulan
ini, aku akan membikin beres soal pembalasan dendam ini!"
Lalu ia angkat Kong Sun Giok didalam kedua tangan, dan
setelah mengangguk kepada Ban Cun Bu, ia berlalu dari
kuil Sun Yo Kung.
Alangkah girangnya ketika ia tiba didepan pintu kui1 Pik
Yun Giam, bukan saja Sim Lam Sie sedang menanti
334
kedatangannya, tetapi juga Tee Thian Kauw, Hut Mo Shin
Ni Ceng Lian Taysu begitu juga saudara seperguruannya, It
Hok Tojin.
Sambil bersenyum Ceng Lian Taysu berseru : „Shin Si
Cui, semenjak kita berpisah dipuncak Lee Leng, aku telah
berusaha mencari kau di-mana2, tidak diduga kita dapat
bertemu lagi disini..."
Lalu ia menjawab : „Lo Nikoh, kau tak usah mencari
aku, karena setengah bulan lagi. setelah aku membantu
Kong Sun Giok membalas dendam terhadap Ban Cun Bu,
aku akan pergi kepuncak Lee Leng, dan tak akan keluar
atau turun dari pegunungan lagi!"
Kata2 itu mengejutkan semua orang yang
mendengarnya, karena mereka tidak menduga bahwa Shin
It Cui yang hidup laksana awan tidak berketentuan bisa
tinggal bertapa dipegunungan.
Sambil menunjuk tubuhnya Kong Sun Giok, Shin It Cui
melanjutkan : „Sebetulnya aku ini percuma hidup didunia.
Aku telah dihukum didalam goa agak lama, tetapi saudara
angkatku ini telah masuk kedalam goa dan menolong aku
dengan memukul patah dua balok besar. Balok ketiga tidak
patah, dan aku tak dapat membunuh meskipun musuhku.
Apakah gunanya aku hidup diantara manusia? Bukankah
lebih baik aku hidup terpencil dipegunungan ber-sama2
binatang2 dan burung!?"
„O Mi To Hut!" berseru Ceng Lian Taysu, dan ingin
mengatakan sesuatu, tetapi Tee Thian Kauw menanya
dengan ter-gesa2 : „Lo Shin, apakah kau telah mengobati
Giok Kokok? Dimainakah kau bawa dia? Dan pedang
ditanganmu itu, apakah bukannya pedang Leng Liong Pi,
yang dirampas oleh Ban Cun Bu dari tanganku ?"
335
Shin It Cui mengawasi Tee Thian Kauw, lalu menjawab
: „Giok Koko-mu bukan saja telah sembuh, bahkan tenaga
dalamnya sekarang berlipat ganda. Pedang Leng Liong Pi
ini aku telah curi dari kuil Sun Yo Kung, dan aku telah
berjanji kepada Ban Cun Bu bahwa dalam jangka waktu
setengah bulan lagi, atas bukti Poa Kiam It Leng (Pedang
Buntung dan satu kerincingan), Kong Sun Giok akan
datang kekuil Sun Yo Kung untuk membikin perhitungan,
dari akibat pertaruhan jiwa dilembah Lok Yun Kok
dipegunungan Kwat Cong Sa!"
Rupanya penjelasan Shin It Cui itu ada sedikit membuka
rahasia cara pengobatannya Kong Sun Giok, tetapi
selainnya Sim Lam Sie yang mengetahui, yang lainnya
gelap akan seluk-beluknya. Mereka semuanya menjadi
gembira mendengar bahwa Kong
San Giok telah pulih tenaga dalamnya, dan mereka tidak
curiga akan cara Shin It Cui mencuri pedang Leng Liong Pi
dari kuil Sun Yo Kung!
Kemudian Shin It Cui tepok punggungnya Kong Sun
Giok yang segera menjadi sadar dari pingsannya. Kong Sun
Giok membuka kedua matanya, ia bersenyum, lalu ia
berbangkit dan coba menggerakkan tubuhnya. Wajahnya
ber-seri2, karena la merasa lebih sehat dan bertenaga
daripada sebelumnya!
---oo0oo---
BAGIAN 17
RIWAYATKEDUA GADIS
Dengan riang gembira dan sambil memegang pedang
Leng Liong Pi, Kong Sun Gok berkata kepada saudara
seperguruannya, It Hok Tojin : „Ji suheng, kau telah pergi
336
kepulau Cin Ji To dilautan Utara untuk belajar ilmu
pukulan tangan Thian Lui Ciang (Tinju Geledek) dari Sin
Teng Taysu, apakah kau berhasil?"
Sambil menarik napas It Hok Tojin menjawab: „Ilmu
pukulan tangan Thian Lui Ciang aku telah dapat pelajari.
Sutee juga telah memperoleh pedang Leng Liong Pi. Tetapi
Toasuheng kita belum jumpai. Apakah dia tidak mendengar
kabar tentang gugunya Suhu dan Susiok dilembah Lek Yun
Kok dipegunungan Kwat Cong San ?"
Kong Sun Giok menjadi cemas tetapi setelah menanya
tentang siasat menggempur Ban Can Bu kepada Ceng Lian
Taysu, ia agak menjadi tenang lagi. Shin It Cui bahkan
tertawa sambil berkata : „Jika Toasuhengmu It Ceng Tojin
tidak datang dia tidak akan mempengaruhi siasat kita. Aku
telah berjanji kepada Ban Cun Bu bahwa sebelum dia
dibunuh mati olehmu, dia harus bertempur melawan aku
dulu. Meskipun aku akan kalah karena ilmu Sun Yo Cin
Kai-nya, akan tetapi setelah bertempur melawan aku, dia
pasti akan berkurang tenaga dalamnya!„
Lalu ia berkata kepada Tee Thian Kauw : „Tee siocia,
apakah kau tahu bahwa kau mirip dengan dengan Bian
Leng Jun ?"
Soal ini bukan saja Tee Thian Kauw ingin mengetahui,
bahkan Kong Sun Giok pun ingin mengetahuinya. Maka
kedua orang itu mendesak dan menanya kepada Shin It Cui
yang segera menjelaskan sambil bersenyum : „Kalian
berdua bukannya she Tee atau she Bian, tetapi ke-dua2nya
she Ku, dan kalian sebetulnya saudara kembar. Gurumu
memberitahukan kau she Tee dengan maksud kau tidak
selalu membawa kebencian. Huruf 'Tee' itu berarti
'membawa'. Kakakmu she Bian, dan Bian itu adalah she
dari ibumu!"
337
Tee Thian Kauw mengerutkan kening se-olah2 tidak
percaya akan keterangan itu, dan ia mendesak lagi : „Ibuku
she Bian, tetapi apa namanya? Dan sekarang berada
dimanakah?"
„Ibumu bernama Bian Ceng Peng, kini dia berada diatas
puncak Ti Shing Hong dipegunungan Kauw Ji San
disebelah barat dari propinsi Hunan!" jawab Shin It Cui
dengan sabar.
„Ha!" seru Tee Thian Kauw sambil berjingkrak, „jadinya
guruku Heng Taysu adalah ibuku?"
Shin It Cui mengangguk, dan Tee Thian Kauw menanya
lagi : „Ibuku tidak suka aku membawa perasaan benci. Aku
kira ayahku dianiaya mati oleh orang. Lo Shin, sudikah kau
memberitahukan aku siapakah sebetulnya ayahku, dan
musuhku itu? Kedua lengan ibuku mengapa buntung dan
siapakah yang membuntunginya ?"
„Pertanyaan2 yang demikian banyaknya itu, yang mana
lebih dulu aku harus menjawabnya" kata Shin It Cui,
„biarlah aku ceriterakan apa yang aku telah ketahui, dan
mulai dengan kisah pada 18 tahun yang lampau."
Sebetulnya Ban Cun Bu dan Bian Ceng Peng adalah
saudara sepupu yang saling cinta-menyintai. Ban Cun Bu
yang tampan dan Bian Ceng Peng yang cantik jelita
sebetulnya merupakan suatu pasangan yang baik. Ban Cun
Bu suka sekali mempelajari ilmu silat dan telah
menghamburkan harta bendanya untuk belajar silat
sehingga ia dibenci oleh sanak keluarganya. Sifatnya yang
pemboros itu tak berubah, dan akhirnya ia diusir oleh sanak
keluarganya.
Seperginya Ban Cun Bu menghancurkan hatinya Bian
Ceng Peng. Ban Cun Bu tidak kembali atau mengirim kabar
kepada kekasihnya. Kemudian setelah liwat 7 tahun, Bian
338
Ceng Peng dinikahkan kepada seorang terpelajar bernama
Ku Tiang Teng oleh ayah-bundanya. Karena sang isteri
cantik dan sang suami terpelajar, mereka dapat hidup
dengan rukun. Tetapi. kerukunan itu tidak langgeng atau
berlangsung lama.
Pada suatu malam, ketika suami isteri itu sedang berada
didaiam kamarnya, tiba2 lilin didalam kamar padam. Ban
Cun Bu datang menerobos masuk kedalam kamar dan
membunuh mati Ku Tiang Teng karena cemburu. Lalu
Bian Ceng Peng ditotok jalan darahnya, sehingga menjadi
pingsan.
Ketika Bian Ceng Peng siuman kembali, ia menemui
dirinya berada didalam goa disuatu gunung.
Bian Ceng Peng yang pintar dan cerdas segera mengarti
bahwa Ban Cun Bu telah berhasil mempelajari ilmu silat,
dan telah kembali untuk mengambil ia dengan membunuh
mati suaminya. Sebetulnya ia ingin membunuh diri, tetapi
karena ia telah mengandung, dan ia bertekad membalas
dendam atas pembunuhan suaminya, ia mengambil
keputusan bersikap sabar dan menanti kesempatan untuk
membikin pembalasan. Lalu ia berlagak membalas kasih
sayangnya Ban Cun Bu.
Ketika kandunganya menjadi besar, dan akan
melahirkan satu bulan lagi, karena kuatir anaknya akan
mirip dengan Ku Tiang Teng sehingga menimbulkan
perasaan bencinya Ban Cun Bu yang mungkin akan
membunuh juga bayi yang akan dilahirkan itu, ia bertekad
menunggu kesempatan yang baik untuk membunuh Ban
Cun Bu. Maka pada suatu malam, Bian Ceng Peng sengaja
membikin Ban Cun Bu minum banyak arak agar menjadi
mabuk. Lalu dengan sebuah pisau belati ia tusuk dadanya
Ban Cun Bu! Tetapi ia tak bertenaga karena ia belum
pernah membunuh orang. Tangan yang memegang pisau
339
belati itu gemetaran, dan pisaunya dirampas oleh Ban Cun
Bu untuk digunakan memotong buntung kedua lengannya!
Jika Ban Cun Bu tidak memikir ia sedang mengandung, dan
anggap anak didalam kandungannya itu darah dagingnya,
ia sudah dibunuh mati!
Ia insyaf bahwa ia tak dapat tinggal bersama-sama
dengan Ban Cun Bu yang kejam dan jahat itu. Pada satu
ketika ia berhasil melarikan diri ketika Ban Cun Bu sedang
bertempur melawan musuh yang kuat. Ia bertemu dengan
gurunya Shin It Cui, Pek Hui Taysu, yang merasa simpathi
atas penderitaannya, dan suka mengajarkan ilmu silat. Dua
bayi perempuan yang kembar itu telah dilahirkan tepat pada
waktunya, dan Pek Hui Taysu meninggal dunia setelah ia
melahirkan tiga bulan!
Dengan tekad membalas dendam ia berlatih dengan
tekun ilmu melontarkan senjata rahasia Thian Hua Tok
Mang (Racun Ganas Tumpah dari Langit), dan ia titipkan
puterinya yang kecilan kepada seorang kawan karib, Sio Yo
Sian Seng. Dengan membawa puterinya yang besaran ia
pergi kekota Lak Cao dipropinsi Yunnan untuk mencari
musuhnya Ban Cun Bu!
Untuk menggempur Ban Cun Bu ia yakin tidak mudah.
Karena kuatir puterinya tidak mengenali ayahnya yang
sejati maka, dipakaian puterinya ia: telah menyulam
perkataan yang berbunyi 'Ban Cun Bu adalah musuh
besarmu'. Sulaman tersebut sangat rapi dan halus sehingga
sukar dilihat atau dibaca.
Setibanya ia dipegunungan Lak Cao, ia datang
menjumpai Ban Cun Bu dengan mengatakan bahwa ia
datang untuk mengantarkan darah-dagingnya (puterinya).
Ban Cun Bu sangat girang, tetapi iapun bersikap waspada
terhadapnya.
340
Setelah menyerahkan puterinya kepada Ban Cun Bu. lalu
ia lontarkan senjata rahasianya. Tetapi Ban Cun Bu berhasil
menggeprak jatuh semua senjata rahasia itu hanya dengan
mengebut lengan bajunya.
Ia kembali dengan sedih. la merasa kecewa bahwa ia
tidak mengenal Pek Hui Taysu lebih siang untuk
mempelajari. ilmu yang sakti dan lihay. Maka setelah ia
kembali ketempat tinggalnya, ia memelihara mendidik dan
melatih puterinya yang kecilan dan ia beri nama Tee Thian
kauw.
Ban Cun Bu setelah menerima puterinya ia masih merasa
curiga apakah anak itu darah-dagingnya. Tetapi karena
anak itu cantik, pintar dan cerdas, untuk mengingati ibunya,
ia beri nama Bian Leng Jun, dan di-ajarkannya ilmu silat.
Demikianlah Tee Thian Kauw mendengarkan kisahnya
sendiri dari mulut Shin It Cui dengan penuh perhatian, dan
ia tak dapat menahan air matanya mengucur
mengenangkan nasib ibunya. Dengan mengertek gigi ia
berseru : „Aku harus pergi mencari kakakku dan
memberitahukan ini kepadanya."
Tetapi Shin It Cui mencegahnya sambil berkata: „Kuil
Sun Yo Kung tidak mudah kita dapat masuk. Jika kau ingin
pergi, aku akan menyertai kau."
Segera kedua orang itu lari menuju kekuil Sun Yo Kung.
Dengan kebetulan sekali tampak oleh mereka Bian Leng
Jun sedang berdiri diatas puncak tengah memandang
kearah kuil Pik Yun Giam.
Sebetulnya setelah Bian Leng Jun melihat Shin It Cui
memanggul Kong Sun Giok yang pingsan kekuil Sun Yo
Kung, ia menjadi gelisah sekali. la tidak bisa keluar dari kuil
Sun Yo Kung untuk pergi kekuil Pik Yun Giam
menyelidikinya. Ia hanya dapat memandang kuil Pik Yun
341
Giam itu dari atas puncak. Kini setelah ia melihat Shin It
Cui mendatangi, ia menjadi girang. Tee Thian Kauw
memanggil ia „Cici", dan merangkul ia dengan kedua mata
berlinang sambil segera menuturkan riwayat mereka
berdua.
Seperti bermimpi Bian Leng Jun memikiri
penghidupannya yang lampau. Kini la insyaf mengapa Ban
Cun Bu sangat memperhatikan padanya. Tee Thian Kauw
juga memberitahukan bahwa Kong Sun Giok sudah
sembuh den segera akan datang membikin perhitungan
dengan iblis yang kejam dan jahat itu. Ia pesan Bian Leng
Jun memegang rahasia segala sesuatu.
Bian Leng Jun mengangguk dan menjawab : „Aku masih
ada satu saudara angkat, Cin Leng Ngo, yang ibu-ayahnya
pun telah dibunuh oleh Ban Cun Bu. Ia dibawa kekuil Sun
Yo Kung, dan setelah menjadi gadis remaja, Ban Cun Bu
telah memperkosa padanya. Cin Leng Ngo itu adalah
seorang baik. Sayang nasibnya buruk sekali. Terhadap dia,
aku minta perhatian kalian. la juga ingin membikin
pembalasan terhadap Ban Cun Bu!"
Tee Thian Kauw tentu saja menyanggupkannya, dan
ketika kelenengan dari dalam kuil Sun Yo Kung berbunyi,
Bian Leng Jun terpaksa lari masuk.
Setengah bulan tak terasa telah berlalu. Shin It Cui, Ceng
Lian Taysu, It Hok Tojin, Kong Sun Giok. Sim Lam Sie
dan Tee hian kauw pergi kekuil Sun Yo Kung untuk
memenuhi janji!
Ban Cun Bu mengetahui bahwa Shin It Cui selalu
memegang janji, maka ia te!ah menyiapkan segala sesuatu
penting. la sendiri datang menyambut dimuka pintu, dan
mempersilahkan semuanya masuk kedalam ruang tengah.
342
Setelah semuanya duduk, Ban Cun Bu berkata kepada
Tee Thian Kauw : „Mengapa gurumu tidak datang?"
Tee Thian Kauw mengertek gigi, tetapi tidak menjawab.
Ia menjawab dengan keduaa matanya yang melotot
mengawasi Ban Cun Bu!
Tetapi Ban Cun Bu tetap tenang, dan sambil senyum ia
berkata lagi : „Dia tidak datang pun tidak menjadi apa.
Akupun tidak sudi merampas barang orang, dan aku
kembalikan barangmu! Tapi pedang Leng Liong Pi sudah
hilang. Hanya pedang Poa Cu Kiam yang masih
ketinggalan!" Lalu ia ambil pedang itu dari Cin Leng Ngo
dan melontarkannya kepada Tee Thian Kauw.
Rupanya Tee hian Kauw tidak sudi menyambuti pedang
itu, maka Shin It Cui yang mewakilkannya, Ta tertawa dan
berkata : ,,Kau iblis yang cacad ! Rupanya kau tidak
pandang murid dari Thiah Lam Sha Kiam. Maka kita tidak
perlu lagi menghiraukan peraturan dikalangan Kaug Ouw.
Dengan bukti Poa Kiam It Leng, kita segera boleh
membereskan segala sangkutan!"
Ban Cun Bu mengangguk, dan menjawab : „Lo Cui Kwi,
kau memang pandai bicara ! Ban Cun Bu selalu tidak suka
menarik urat. Jun Ji ! Kau ambil pedang buntung yang
ditinggalkan oleh Goan Siu Totiang dilembah Lek -Cun
Kok dipegunungan Kwat Cong San dari kamarku !"
Bian Leng Jun segera pergi mengambil pedang itu, dan
Kong Sun Giok juga membuka bungkusan yang berisi
separuh pedang buntung gurunya dan satu kerincingan !
Ban Cun Bu segera mengenali bahwa kerincingan itu
adalah kepunyaannya yang ia dapat gunakan sebagai
senjata rahasia. Setelah ia terima separuh pedang buntung
dari Bian Leng Jun, ia minta separuh lainnya dari Kong
Sun Giok untuk disambung menjadi satu, lalu
343
dikembalikannya seluruh pedang itu kepada Kong Sun
Giok, dan Kong Sun Giok pun kembalikan kerincingan itu
kepada Ban Cun Bu.
It Hok Tojin dan Kong Sun Giok berdiri dengan
waspada. Lalu dengan membungkukkan tubuh memberi
hormat, mereka menanya : „Ban Cun Bu! Dimanakah kita
membuat perhitungan?"
Ban Cun Bu mengagumi ksatriannya kedua murid Thian
Lam Sha Kiam itu. Dalam keadaan murkanya mereka
masih tidak melupakan adat istiadat dari kalangan Bu Lim,
Ia menjawab sambil tertawa : „Diluar ruang ini ada satu
lapangan yang luas, kita dapat bertempur ditengah lapangan
itu !"
Segeralah mereka, satu per satu, keluar dari ruang untuk
pergi kelapangan. Oleh murid2nya Ban Cun Bu disekitar
lapangan itu telah disediakan kursi2. Setelah semuanya
duduk, Ban Cun Bu menyapu semua lawannya dengan
kedua matanya, lalu tertawa mengejek : „Apakah kalian
semuanya ingin mengadu silat melawan Ban Cun Bu?"
Shin It Cui menggeram keras sebelumnya menegur :
„Selainnya kedua murid Thian Lam Sha Kiam yang ingin
membikin perhitungan, juga aku, Shin It Cui, si Setan
pemabok ini, telah berjanji bertempur melawan kau!"
Dengan sikap yang tetap tenang, Ban Cun Bu menanya
Ceng Lian Taysu : „Bagaimanakah Hut Mo Shin Ni?
Apakah juga ingin menguji ilmu silat dengan aku ?"
Ceng Lian Taysu memegang kedua tangannya dan
bersabda : „O Mi To Hut!" Ia tidak menjawab, tetapi Shin It
Cui yang menjawab : „Hei! Iblis yang cacad! Mengapa kau
bersikap congkak? Hari ini adalah pertempuran mati-hidup!
Yang binasa memerlukan seorang rahib membacakan do'a,
dan Ceng Lian Taysu yang akan membacakan do'a itu!"
344
Ejekan itu menyakiti hatinya Ban Cun Bu. la
menotokkan satu tongkat besinya diatas tanah, dan secepat
kilat ia loncat dan berdiri diatas kedua tongkat besinya
ditengah lapangan itu. Ia menjerit : „Hei ! Lo Cui Kwi !
Aku tidak sudi mengadu lidah dengan kau! Ayo maju ! Kita
berdua bertarung dulu"
Shin It Cui meraung keras seperti seekor naga yang
ngamuk dengan mendongak keatas. Lalu tenggak arak dari
sebuah buli2 (Buah labu tua yang kulitnya dibuat
penyimpan arak) dari tali pinggangnya, ialu dengan secepat
kilat ia lonyat menghadapi Ban Cun Bu. Tetapi It Hok
Tojin telah loncat lebih dulu, idan membentak Ban Cun Bu
: „Aku It Hok, murid Thian Lam Sha Kiam, mohon
pengajaranmu!"
Ban Cun Bu mengawasinya dari kepala sampai kekaki,
lalu ia mengangguk dan berkata : „Meskipun kita dari partai
silat yang berlainan, tetapi aku yakin aku lebih unggul
daripada kau. Nah, aku persilahkan kau yang menentukan
cara kita bertanding!"
It Hok Tojin yang telah datang dengan tekad berkorban
demi nama Thian Lam ia tidak menghiraukan lagi akibat
daripada pertarungan itu. Ia berkata :„Kita mengadu ilmu
silat pukulan tangan !"
,,Aku yakin bahwa ilmu pukulan Bo Kit Ki Kong
(Tenaga dalam dahsyat) dari partai silat Thian Lam sangat
lihay, dan jika orang dapat berlatih dengan keras tentu
dapat menahan ilmu Sun Yo Cin Kaiku. Tetapi aku kuatir
kau belum berlatih cukup keras." mengejek Ban. Cun Bu.
„Demi membalas dendam Suhu dan Susiok-ku, aku tidak
gentar melawan kau dengan ilmu Sun Yo Cin Kai-mu!
Tetapi mengapa kau masih juga belum lepas tongkat
besimu?" menantang ItHok Tojin.
345
Tantangan itu mengejutkan Ban Cun Bu. la tancap
tongkat besi ditangan kanannya, dan berdiri atas satu
tongkat besi ditangan kirinya. Dengan demikian tangan
kanannya menjadi bebas, dan ia berkata : „Mulailah!"
Dengan mengerahkan semua tenaga dalamnya It Hok
Tojin menjotos dadanya Ban Cun Bu dengan ilmu Bo Kit
Ki Kong. Ban Cun Bu yang belum mengetahui berapa
tingginya ilmu silat lawannya itu, juga mengirim satu
jotosan dengan menggerakkan jurus ke-9 dari ilmu Sun Yo
Cin Kai. Hembusan angin dari jotosan itu telah mendorong
It Hok Tojin mundur dua tindak. Ia rnerasa heran jurus itu
tidak dapat menjatuhkan dan membinasakan lawannya.
It Hok Tojin maju lagi dengan menyodokkan kedua
tinijunya dengan berbareng. Sodokan itu mula2 dikirim
dengan pelahan, tetapi setelah setengah jaIan sodokan
kedua tiju itu dilancarkan secepat kilat, dan disertai dengan
jeritan yang membisingkan. Jurus itu adalah jurus ilmu tinju
Thian Lui Ciang (Tinju Geledek) yang ia dapat pelajari dari
Sin Tong Taysu yang tinggal bertapa dipulau Cin Ji To
dilautanUtara!
---oo0oo---
BAGIAN 18
PEMBALASAN DENDAM TERLAKSANA
Tinju Thian Lui Ciang itu ada diluar dugaannya Ban
Cun Bu, dan tinju itu setaraf dengan tinju Yo Kang Cong
Lik (Tinju Menggempur Tembok Baja). Jika ia tahan tinju
Thian Lui Ciang itu dengan tinju Yo Kang Cong Lik-nya,
ialah keras lawan keras, adalah serupa mencari mati! Maka
ia mengegos menghindari jotosan dahsyat itu. Lalu dengan
mengerahkan tiga perempat dari tenaga dalamnya ia
346
menjotos kearah dadanya It Hok Tojin. Lagi2 It Hok Tojin
terdorong mundur tiga tindak, dan darah kelihatan keluar
dari pinggir mulutnya! Darah itu membuktikan bahwa It
Hok Tojin telah terluka didalam tubuhnya. Tetapi karena ia
telah bertekad untuk berkorban, dengan nekat ia loncat
menerkam lawannya.
Ban Cun Bu yakin betul bahwa jotosannya telah
melukakan 1awannya dengan hebat, dan bahwa lawannya
tak dapat menyerang lagi. Belum habis ia berpikir, It Hok
Tojin telah loncat menerkam ia. Dengan hanya berdiri
diatas satu tongkat besi, karena ia tak berbetis, ia tak dapat
mengegos, dan ia tidak sudi mengegos. Dengan tangan
kanannya ia sabet tubuhnya It Hok Tojin.
Demikianlah tinju Thian Lui Ciang dan sabetan Sun Yo
Cin Kai beradu. „Prak!" terdengar suara tangan kanannya
Ban Cun Bu beradu dengan kedua tinjunya It Hok Tojin.
Sejenak kemudian terlihat Ban Cun Bu terdesak mundur 6
kaki, dan It Hok Tojin terlempar satu depa lebih jauhnya
dengan memuntahkann darah hidup!
Ceng Lian Taysu berseru „O Mi To Hut!" Tee Thian
Kauw, Bian Leng Jun, Cin Leng Ngo memalingkan
pandangan mereka tidak sampai hati melihat darah yang
keluar dari mulutnya It Hok Tojin. Kong Sun Giok
menahan air matanya dan dengan sedih hati menyaksikan
saudara seperguruannya gugur dalam baktinya! Lalu
dengan kedua mata melotot ia awasi Ban Cun Bu!
Seperti juga tidak terjadi apa2, Ban Cun Bu mengambil
tongkat besinya yang ia tancap diatas tanah, lalu berkata
kepada Shin It Cui : „Lo Cui Kwi! Jika kau ingin
menghamburkan tenaga dalam Ban Cun Bu, mengapa kau
sendiri tidak maju melawan aku? Tetapi kau telah biarkan
anak muda itu mati konyol?"
347
Kong Sun Giok tidak tahan sabar lagi. la cabut
pedangnya dan hendak menyerang. Tetapi Shin It Cui
menahan padanya, lalu mengejek : „Iblis! Kau betul2
pintar!Memang aku bermaksud demikian. Sekarang karena
kau menantang, kau boleh rasakan hajaran2ku setelah kita
berpisah satu tahun. Kau boleh menggunakan kedua
tongkat besimu untuk melawan kedua tanganku!"
Dengan congkak Ban Cun Bu menjawab : „Lo Cui Kwi!
Aku telah katakan kita berdua dapat julukan Lam Pak
Siang Mo (Iblis dari Utara dan Selatan) dan aku yakin ilmu
silat kita pun setaraf. Hari ini, apakah aku mati dibawah
tinju Thian Sing Ciang-mu, atau kau binasa dibawah
tongkat besiku!"
Baru saja kata2 itu habis diucapkan, segera terlihat
bayangan hitam berkelebat, dan seperti seekor burung gagak
datang menyambar, Shin It Cui mengirim jotosannya
dengan menggunakan jurus „Thian Ho To Hiat" atau hujan
lebat menyiram bumi. Jotosan itu dikirim ber-tubi2 laksana
jatuh. nya hujan diatas atap rumah, cepat dan empuk
kelihatannya, tetapi tiap2 jotosan dapat merobohkan
tembok batu!
Orang yang menyaksikan serangan itu semuanya pandai
ilmu silat, mereka kagumi serangan Thian Ho To Hiat dari
Shin It Cui itu. Ban Cun Bu terkejut. Lekas2 ia menotokkan
kedua tongkat besinya diatas tanah untuk meloncat
kebelakang menghindarkan diri dari jotosan maut itu! Ceng
Lian Taysu juga terkejut. Ia berpikir : „Ai! Setan ini betul2
telah menyempurnakan tinju Thian SingCiangnya!"
Sebetulnya, ketika Shin It Cui pergi kepuncak Ti Sing
Hong dan tinggal bertapa disitu selama satu tahun, Heng
Taysu telah memberitahukan kepadanya semua teori ilmu
silat yang ia dapat belajar dari Pek Hui Taysu. Heng Taysu
yang telah kehilangan kedua tangan tak dapat berlatih silat.
348
Tee Thian Kauw tidak cukup tenaga mempelajari atau
melatih jurus „Put Hoa Kim Kang Toa Ciang Bo Siu" atau
jurus tinju baja yang dapat membasmi semua iblis. Ia telah
menurunkan jurus tersebut kepada Shin It Cui. Maka
dengan ilmu Sian Thian Kun Goan Ki (Tenaga Dalam
Kurnianya Tuhan), ditambah dengan ilmu Put Hoay Kim
Kang Toa Ciang Bo Siu, Shin It Cui merupakan satu
tandingan yang keras sekali bagi Ban Cun Bu!
Dalam pertarungan melawan Ban Cun Bu itu, ia telah
bertekad menggunakan ilmu Sian Thian Kun Goan Kie,
dan ilmu dari Pek Hui Taysu disamping ilmu tinju Thian
Sing Ciang-nya sendiri.
Demikianlah Lam Pak Siang Mo yang tergolong dua
dari sepuluh jago2 silat yang paling dimalui dizaman itu,
bertarung dilapangan kuil Sun Yo Kung untuk menentukan
nasib jago2 silat dari kalangan KangOuw. Jika Ban Cun Bu
menang, maka lebih banyak jago2 silat akan terbunuh. Jika
Shin It Cui berhasil membunuh mati Ban Cun Bu, maka
orang2 dikalangan Kauw Ouw dapat beriang gembira,
karena Shin It Cui akan kembali bertapa dipegunungan,
melupakan semua urusan Bu Lim. Oleh karena itu semua
mata ditujukan kepada tiap2 serangan atau tangkisan dari
kedua musuh besar iang sedang bertempur itu. Tak usah
dikatakan lagi bahwa semua orang mengharap Shin It Cui
berhasil membunuh Ban Cun Bu.
Sebetulnya, jika dipertimbangkan dengan adil, ilmu silat
Ban Cun Bu lebih tinggi sedikit, tetapi setelah memahami
ilmu Put Hoay Kim Kang Toa Ciang Bo Siu, dan melatih
Sian Thian Kun Goan Ki, Shin It Cui dapat memperhebat
ilmu tinju Thian Sing Ciang-nya, dan dengan demikian
dapat menandingi ilmu Sun Yo Kai-nya Ban Cun Bu yang
belum pernah terkalahkan!
349
Ban Cun Bu, setelah bertempur beberapa jurus, segera
yakin hebatnya pertempuran itu. la harus menggunakan
juga iImu Kiat Kiat Teng Ko Leng Hie Pu Hoat atau ilmu
langkah melonjak keangkasa untuk melancarkan serangan2
tongkat besinya dengan berhasil. Pakaian hitam Shin It Cui
berkelebatan bagaikan asap hitam dihembus angin puyuh,
dan tongkat besinya Ban Cun Bu menyambar-nyambar
bagaikan kilat, dan angin dari serangan tinju maupun
tongkat besi tak hentinya membisingkan kuping se-olah2
beberapa puluh orang sedang bertempur mati-matian.
Demikianlah kedua jago silat itu bertempur hampir 200
jurus, tetapi masih juga belum tampak siapa yang lebih
unggul!
Semua orang yang menyaksikan menahan napas dan
bertegang hati! Setelah pertempuran berlangsung hampir
300 jurus, nampaknya mereka itu agak letih, dan
pertempuran menjadi agak kendoran, namun, serangan2
yang dilancarkan Shin It Cui tak berkurang, dan Ban Cun
Bu tidak menjadi gelisah!
Meskipun pertarungan telah berlangsung 300 jurus lebih.
tetapi Shin It Cui masih juga belum memperoleh
kesempatan untuk mengirim tinju mautnya. Pada satu
ketika, ia meraung seperti seekor naga, lalu dengan jurus2
Hoat Ji Ci Yun (Hujan membuyarkan awan), Kim Kee Tok
Bi (Ayam sakti mematuk beras) dan Thian Li Tiap Hua
(Bidadari memetik bunga) ia menjotos, menggeprak dan
menotok muka, kepala dan dada lawannya.
Ban Cun Bu terkejut. la menotokkan ujung kedua
tongkat besinya, dan loncat keatas untuk turun lagi ditanah
dua depa jauhnya, dan ia terluput dari jurus2 Shin It Cui
yang sudah nekat itu!
Shin It Cui segera bersikap waspada, karena dari
pengalaman yang lampau, ia yakin Ban Cun Bu segera
350
datang menyerang dengan tongkat besinya. Lalu iapun
menjejakkan kedua kakinya, dan secepat kilat ia melonjak
keatas untuk dari atas menerkam lawannya dtengan ilmu
Shin Liong Pa Bwe (Naga sakti menggoyang buntut), lalu
merobah serangan dengan jurus Hut Cit Tiam Goan (Jari
Dewa menotok jantung). Terkaman dan serangan itu
dilancarkan dengan serentak menggunakan Sian Thian Kun
Goan Ki !
Ban Cun Bu insyaf bahwa lawannya mempunyai ilmu
silat setaraf dengan ilmu silatnya. Jika lawannya dapat
menggunakan suatu jurus, ia pasti tak dapat mendesak.
Maka terkaman Shin Liong Pa Bwe dan totokan Hut Cit
Tiam Goan itu ia tak enggosi. la ayun tongkat besinya
diatas kepala dan siap menyodok ketiak lawannya bila
lowongan itu terlihat olehnya!
Terkaman dan totokan yang ditangkis dengan sabetan
tongkat besi dan sodokan merupakan jurus2 yang mungkin
berakibat keduanya terluka atau binasa. Terkaman dan
totokan yang dilancarkan o!eh Shin It yui cepat sekali dan
karena disertai dengan tenaga dalam Sian Thian Kun Goan
Ki, maka bila menemui sasaran pasti membawa maut!
Tetapi menerkam lawan dari atas sangat berbahaya
baginya, karena iapun tak dapat mengegosi ayunan tongkat
besi lawannya!
Suasana menjadi sangat tegang pada saat itu, dan semua
orang menahan napas! Totokan itu kalau diteruskan dapat
berhasil, tetapi Shin It Cui ingat bahwa balok ketiga belum
dipukul patah oleh Kong Sun Giok ketika ia terbelenggu
didalam goa, dan ia TAK DAPAT MEMBUNUH
meskipun yang harus dibunuh itu Ban Cun Bu
la menjerit dan menarik kembali totokannya. la menjadi
seperti telur diujung tanduk! Ketika ia tarik kembali
totokannya, tongkat besinya Ban Cun Bu menghantam
351
bahunya. Tulangnya hancur, dan ia menjerit dan jatuh
pingsan ditanah!
Ban Cun Bu-pun dapat mengemplang Shin It Cui sampai
mati tetapi ia telah melihat bahwa Shin It Cui tidak
meneruskan menotok padanya, maka iapun hanya
mengemplang lawannya sampai pingsan saja!
Ceng Lian Taysu, Kong Sun Giok, Thee Thian Kauw
dan lain2nya tercengang menyaksikan Shin It Cui jatuh
terbanting pingsan ditanah, dan mereka semuanya datang
memburu untuk melihat lukanya. Tetapi justru pada saat
itu, suatu peristiwa yang gaib terjadi! Se-konyong2 terlihat
beberapa jarum beracun terbang keluar dari pakaian salah
satu gadis muridnya Ban Cun Bu, dan jarum2 beracun itu
menyerang Ban Cun Bu!
Sebetulnya, Cin Leng Ngo yang telah diperkosa dan digilas2
kehormatannya, senantiasa menanti kesempatan
membikin pembalasan. Ber-tahun2 ia menderita dengan
bersabar menanti kesempatan itu. la, yakin bahwa Kong
Sun Giok bukan tandingannya Ban Cun Bu, dan ketika
Shin It Cui bertempur melawan Ban Cun Bu, iapun
bergembira dan mengharap Shin It Cui berhasil mebunuh
mati iblis yang kejam dan jahat itu. Tetapi akhirnya
ternyata Shin It Cui telah jatuh dibawah tongkat besinya
Ban Cun Bu. la tak bisa melihat Kong Sun Giok mati
konyol dibawah tangan iblis itu sehingga menghancurkan
hati saudari angkatnya, Bian Leng Jun. Maka setelah
melihat Shin It Cui jatuh terbanting, dengan mengertek gigi
ia lontarkan jarum2 beracunnya ke-arah Ban Cun Bu!
Tetapi jarum2 beracun itu pun tak dapat melukai Ban
Cun Bu. Dengan kebut kedua lengan bajunya, hembusan
angin dari lengan baju itu membuyarkan dan menjatuhkan
semua jarum2 beracun itu! Ban Cun Bu tertawa dengan
jemu setelah melihat bahwa Cin Leng Ngo, murid yang ia
352
sangat sayangi berniat membunuh mati ia. Tiba2 ia sambit
Cin Leng Ngo dengan tongkat besinya demikian rupa,
sehingga gadis yang malang itu dengan tak dapat menjerit
lagi telah tewas seketika!
Dengan beringas Ban Cun Bu mengawasi semua
murid2nya, dan terhadap Bian Leng Jun ia membentak :
„Jun Ji, mengapa kau tinggal diam melihat perbuatan yang
khianat dari Cin Leng Ngo"
Bian Leng Jun tak dapat menjawab. Hatinya hancur
melihat Cin Leng Ngo tewas. Baru saja ia ingin menerkam
Ban Cun Bu agar iapun dapat dibunuh mati, se-konyong2
Kong Sun Giok berteriak seperti orang yang kemasukan
setan, lalu tertawa gelak2.
Ban Cun Bu menjadi heran melihat sikapnya Kong Sun
Giok. la menegur : „Hei! Kong Sun Giok! Mengapa kau
tertawa?"
Kong Sun Giok menjawab sambil menuding : ,,Ban Cun
Bu, cara mu membunuh mati gadis itu betul2 keji! Dan cara
kau bertempur melawan Shin It Cui juga sangat curang."
Ban Cun Bu menjadi pucat, dan dengan perasaan malu2
ia menjelasxan : „Sebetulnya bertempur melawan Shin It
Cui seharusnya kami berdua terluka. Aku tak dapat
mengegos totokan Hut Cit Tiam Goan-nya jika ia
meneruskan, Yang iapun tak dapat luput dari kemplangan
tongkat besiku!"
Kong Sun Giok tertawa lagi, semakin keras, dan
mengejek :„Bukankah dengan demikian kau telah berbuat
curang? Cobalah lihat buktinya. Shin It Cui remuk tulang
pundaknya, sedangkan kau sehat walafiat untuk membunuh
mati seorang gadis yang lemah!"
353
Ejekan itu membikin merah mukanya Ban Cun Bu. Ia
harus akui bahwa ia telah berbuat curang dan keji. Seperti
orang yang menerima salah, ia menanya : „Apakah kau
mengetahui mengapa Shin It Cui tidak meneruskan totokan
Hut Cit Tiam Goannya ?"
,,Shin It Cui telah bersumpah tak boleh membunuh
orang jika balok ketiga yang membelenggu ia tidak dipukul
patah, dan dia seorang yang luhur dan ksatria tak
menginkari sumpahnya. Cobalah lihat dirimu ? Apakah kau
jago silat yang jujur? Dalam kalangan Bu Lim, didalam
segala tindak-tanduk kita harus mentaati peraturan dan
memegang kehormatan. Cui Koko ini, jika ia mati, ia mati
terhormat!"
Ban Cun Bu menjadi gelisah, ia hilang pegangan lagi. Ia
berkata :„Aku tidak mengetahui sebab musababnya Shin It
Cui menahan totokan mautnya. Sudahlah, kau jangan
banyak bicara lagi! Kau juga boleh ambil tongkat besiku ini,
dan pukul hancur pundak kiriku ini! Lalu kau boleh
bertempur melawan aku!"
Selesai omongannya, ia lempar satu tongkat besinya
kepada Kong Sun Giok, dan hanya menggunakan satu
tongkat untuk menahan diri. Sikap itu sangat dihargai oleh
Ceng Lian Taysu dan lain2nya.
Kong Sun Giok menyanggupi tongkat besi yang
dilempar itu, tetapi ia melempar kembali kepada Ban Cun
Bu sambil mengejek : „Meskipun Kong Sun Giok
mempunyai dendam terhadap kau karena Suhu dan
Susioknya, ditambah benci karena kau telah
menghancurkan tulang pundak Shin It Cui, tetapi aku tak
akan melawan kau dengan satu pundak yang remuk
tulangnya. Aku Kong Sun Giok sekarang melawan kau
dengan maksud yang mulia, darah yang mendidih, dan juga
354
mentaati peaturan yang lazim dikalangan Bu Lim. Aku tak
gentar menghadapi ilmu Sun Yo Cin Kai-mu!”
Sikap yang jantan, suara yang tenang dan berani itu
membikin semua orang merasa kagum, meskipun mereka
semua kuatirkan keselamatannya.
Ban Cun Bu terpesona. Ia awasi Kong Sun Giok agak
lama, lalu sambil mengangguk ia berkata : „Jika Thian Lam
Sha Kiam mempunyai seorang murid semacam kau,
mereka mati puas dan bangga. Aku Ban Cun Bu telah
melukai Shin It Cui dengan curang, dan tak dapat merebus
dosa. Aku minta kau menghancurkan tulang pundak kiriku
dulu, lalu bertempur melawan aku yang hanya ketinggalan
tangan kananku!"
Kong Sun Giok pikir ia tak dapat mendesak Ban Cun Bu
yang berkepala batu itu. Dengan pedang Leng Liong Pi-nya
ia menyerang seperti seekor harimau dengan jurus2 khas
dari ilmu pedang Thian Lam. Jurus2 tersebut adalah jurus
Kit Lee Po Ji (Guntur menyambar diwaktu badai), Liong
Men Sam Kit( Naga menyerang dari tiga jurusan) dan Cek
Ki Tong Lai (Hawa beracun dari timur), pedangnya berputar2
disekeliling tubuh lawannya. Serangan pedang itu ia
sertai dengan tinju kirinya dengan menggunakan ilmu tinju
Thian Sing Ciang yang dikerahkan dengan tenaga dalam Bo
Kit Ki Kong. la menyerang dengan nekat sekali, ia telah
bertekad membunuh atau terbunuh, dan ia tak
memperhatikan untuk menjaga diri. Justru tekad demikian
tak terduga oleh Ban Cun Bu.
Meskipun ilmu silatnya lebih tinggi, tetapi jika diserang
dengan nekat, Ban Cun Bu terpaksa menggunakan kedua
tongkat besinya untuk mengegos, atau menangkis.
355
Dipihak Kong Sun Giok tertampak tubuh, tinju dan
pedang datangnya secepat kilat dan berbareng se-olah2
bayangan, dapat dilihat tak dapat disentuh!
Ban Cun Bu terdesak oleh serang2-an yang luar bias? itu.
la menggeram bagaikan harimau murka dan harus
mengerahkan semua kepandaiannya untuk mengelakkan
diri dari serangan2 pedang dan tinjunya Kong Sun Giok.
Pada satu ketika ia putar tongkat besi ditangan kanannya
dengan jurus Thian Mo Cong Hoat ilmu toya mencakar
langit untuk memecahkan serangan2 lawan, dan kemudian
ia lancarkan serangan balasan dengan jurus Loo Hauw Hiat
Ji (menyodok tenggorokan mengucurlean darah)!
Ketika ketiga jago silat Thian Lam bertarung melawan
Ban Cun Bu, Goan Cin Totiang telah kalah dengan jurus
Lo Hauw Hiat Ji itu, yang bukan main dahsyatnya. Tetapi
sekarang Kong Sun Giok yang sudah tidak menghiraukan
jiwanya sendiri dan bertempur dengan nekat, jurus Lo
Hauw Hiat Ji itu tidak ampuh lagi! Satu tusukan pedang
Leng Liong Pi itu dengan jurus Cut Ki Ko Ciu (Burung
elang men,yambar dari angkasa) dibarengi dengan tinju kiri
yang dilancarkan dengan jurus Siu Ti Sing Cin (Menjumput
bintang dilangit) memaksa Ban Cun Bu loncat mundur!
Ban Cun Bu yang anggap dirinya 1ebih pandai daripada
anak kemarin dulu itu tidak maju menyerang setelah
mundur. Tetapi Kong Sun Giok tidak berhenti menyerang
sebelumnya ia berhasil membunuh iblis itu. Sambil menjerit
ia menyerang lagi dengan pedang dan tinjunya!
Cara menyerang yang membabi-buta itu menbikin Ban
Cun Bu yang ilmu silatnya tinggi menjadi serba-salah. la
berpendapat ia harus merampas pedang Leng Liong Pi
lawannya untuk menaklukkannya. Maka ia berlagak
terdesak dengan mengesos kekiri dan kekanan. Lain
daripada itu, Ban Cun Bu telah merasa bersalah dalam
356
pertempuran melawan Shin It Cui dan membunuh Cin
Leng Ngo.
Kong Sun Giok yang sangat benci Ban Cun Bu, dengan
darah panas yang meluap-luap tidak memberikan
kesempatan kepada lawannya. Dengan satu jurus Lek Kai
Ngo Gak atau Tenaga ajaib membongkar gunung, pedang
leng Liong Pi-nya membacok kepalanya Ban Cun Bu!
Ban Cun Bu betul2 bernyali besar. Ia menunggu sampai
pedang itu hampir membacok kepalanya, baru ia angkat
tongkat besinya untuk menangkis bacokan itu.
Kejadian2 didunia ini acapkali mengherankan, dan nasib
manusia sukar ditentukan. Ban Cun Bu yang ilmu silatnya
tak ada taranya, dan yang senantiasa mempunyai
kepercayaan penuh terhadap diri dan kepandaiannya, kali
ini salah menghitung. la percaya bahwa tongkat besinya
dapat menangkis dengan mudah bacokan peclang
lawannya, tetapi ia lupa bahwa banyak tenaganya telah
dihamburkan setelah melawan ItHok Tojin, kemudian Shin
It Cui. Dipihak Kong Sun Giok, setelah pulih tenaga
dalamnya, bukan saja lebih kuat daripada semula, tetapi
juga lebih nekat bertempurnya.
Bacokan yang dilancarkan dengan tenaga Bo Kit Ki
Kong itu betul2 dapat membongkar gunung. Pisau pedang
Leng Liong Pi telah menabas putus tongkat besinya Ban
Cun Bu, meskipun pedang itu menjadi patah dua!
Mereka tak dapat berhenti bertempur. Dengan tongkat
besi ditangan kiri menunjang tubuh, Ban Cun Bu berusaha
mengenjot diri loncat kabelakang dengan menampar udara
dengan tangan kanannya.
Kong Sun Giok insyaf bahwa ilmu Sun Yo Cin Kai dari
Ban Cun Bu tak ada taranya dikolong langit. la tidak berani
lengah. Dengan kedua tinjunya ia kerahkan sodokan
357
sekuat-kuatnya. Dengan tenaga yang kuat melawan Ban
Cun Bu yang sudah agak letih, kedua tinjunya berhasil
membuyarkan hembusan angin yang dikerahkan oleh ilmu
Sun Yo Cin Kai, dan seterusnya Kong Sun Giok
menyerang ber-tubi2 sehingga semua yang menyaksikan
ber-debar2 mengharap Kong Sun Giok berhasil membunuh
iblis yang kejam dan jahat itu.
Bian Leng Jun menggigit bibirnya sehingga keluar darah
menyaksikan pertempuran mati-hidup itu. Sim Lam Sie
mengepal kedua tinjunya erat2 menahan ketegangan
jantungnya. Tee Thian Kauw tak dapat berdiam tenang
menyaksikan serangan2 yang dilancarkan oleh Giok
Kokonya. Akhirnya Sim Lam Sie tidak tahan lagi, ia
berseru : „Bian cici, rupanya Giok Koko tak dapat bertahan
terus.......... kita........ kita harus......."
Tidak salah jika Ban Cun Bu memperoleh julukan iblis
nomor wahid dikalangan Bu Lim. Dalam sikap kateter, ia
sebetulnya sedang menggunakan tenaga dalamnya untuk
memulihkan tenaga dan semangatnya dengan mengunakan
ilmu Sun Yo Cin Kai-nya, dan sejenak kemudian terlihatlah
ia mulai maju menyerang dan mendesak Kong Sun Giok,
sehingga Kong Sun Giok terpaksa loncat kekiri dan
kekanan mengelak jotosan Ban Cun Bu yang telah patah
satu tongkat besinya dan harus menyerang dengan tangan
telanjang!
Kong Sun Giok basah-kuyup dengan keringat, tetapi ia
tetap tak gentar dan rela tewas daripada menyerah.
Semuanya menjadi gelisah. Bahkan Ceng Lian Taysu terus
menerus berseru :”O Mi To Hut! O Mi To Hut!"
Justru pada saat yang sangat gawat bagi jiwa-nya Kong
Sun Giok. Bian Leng Jun melihat mayat2-nya Cin Leng
Ngo dan It Hok Tojin. Ia berseru kepada Ban Cun Bu :
„Ban Cun Bu Shin Kun! Aku masih ingat bahwa ketika kita
358
berada dilembah Lek Yun Kok dipegunungan Kwat Cong
San, kau telah berjanji kepada Goan Siu Totiang bahwa kau
tidak bunuh mati orang lebih daripada jumlah murid2-nya
Goan Siu Totiang. Sekarang yang telah dibunuh mati oleh
mu sudah ada Lang Sim Siu Si, It Hok Tojin dan Cin Leng
Ngo, jumlahnya tiga orang. Jika kau seorang yang luhur
dan ksatria, kau tentu berbuat seperti Shin It Cui yang
menepati janji atau sumpahnya, dan kau tak akan
membunuh orang lagi.”
Peringatan Bian Leng Jun itu seperti juga petir ditengah
hari bolong menembusi sanubarinya Ban Cun Bu. Ia segera
ingat akan janjinya, dan ia merasa malu jika ia dikatakan
keji, terutama terhadap Shin It Cui yang menarik kembali
totokannya untuk mentaati sumpahnya. Ia tak dapat
membunuh mati Kong Sun Giok. Tetapi Kong Sun Giok
yang sangat membenci ia pasti membunuh mati ia. la hanya
menyesal ia harus mati dibawah tangan Kong Sun Giok,
yang boleh dikatakan anak kemarin dulu!
Tetapi ia ingat akan julukan Lam Pak Siang Mo (Kedua
iblis dari Utara dan Selatan) Yang terkenal dikalangan Bu
Lim. Shin It Cui rela menderita luka, mungkin juga tewas,
untuk memegang janji atau memenuhi sumpahnya, dan
iapun harus bersikap seperti Shin It Cui, atau ia akan dibuat
tertawaan orang lain karena ia terlambat memperhatikan
jiwanya dan tidak menghiraukan nama!
Lalu ia tarik kembali serangan2 yang ia lancarkan
dengan menggunakan ilmu Sun Yo Cin Kai. Sambil tertawa
gelak2 ia berkata : „Bian Leng Jun, kau omong betul.
Dikalangan Bu Lim seorang jago silat harus memegang
nama dan kepercayaan. Jiwa itu adalah soal kecil. Ban Cun
Bu hari ini akan binasa ditangan Kong Sun Giok, tetapi aku
minta kalian tidak mengganggu jenazahku!" Perkataan itu
359
ia barengi dengan satu tinju yang keras kelambungnya
sendiri, dan ia mati seketika dihadapan mereka semua!
Kong Sun Giok juga jatuh karena terlampau letih. Ceng
Lian Taysu lekas2 mengobati Shin It Cui, Sim Lam Sie dan
Tee Thian Kauw lekas2 menubruk Kong Sun Giok untuk
menghiburnya.
Meskipun Ban Cun Bu telah membunuh mati ayahnya
dan memperkosa ibunya. Bian Leng Jun yang berwatak
satria tidak berbuat keji. Ia menyuruh seorang penjaga kuil
Sun Yo Kong untuk mengurus penguburan jenazah2 Ban
Cun Bu, It Hok Tojin dan Cin Leng Ngo dengan saksama.
Ketika Shin It Cui dan Kong Sun Giok menjadi sadar
dari pingsannya, didalam ruang belakang dari kuil Sun Yo
Kong tersebut telah didirikan tiga kuburan yang baru.
Shin It Cui menanya peristiwa yang telah terjadi. Lalu ia
menyamperi kuburannya Ban Cun Bu. Ia berdiri dengan
khidmat didepan kuburan itu. Ia mencipratkan beberapa
ketelan darah dari pundak dirinya yang terluka, dan
menjumput sedikit tanah dari kuburan itu.
Sambil mengenggam jumputan tanah kuburan didalam
tangan kanannya ia berseru dihadapan kuhuran itu : „Ban
Cun Lo Mo! (Iblis tua Ban Cun Bu) Yang bisa
menghancurkan tulang pundakku, dikolong langit ini hanya
kau seorang. Kini meskipun aku masih hidup dan kau telah
binasa, dan kita tak dapat berjumpa lagi, akan tetapi dengan
mencipratkan darahku menggantikan arak, dan jumputan
tanah ini menggantikan Hio (semacam setanggi), aku
menghaturkan hormat dihadapan jenazahmu!"
Justru ketika Shin It Cui menghaturkan hormatnya yang
terakhir kepada rohnya Ban Cun Bu, tiba2 angin taufan
datang meniup dengan hebat sekali, sehingga daun2 dari
pohon2 yang disekitar kuburan itu jatuh terbang
360
berhamburan dan sebagian menutupi kuburan yang baru
itu!
Daun2 pohon menutupi hampir seluruh kuburan, dan
roh dari orang yang dikubur itu mungkin sudah berlalu dari
dunia yang fana!
TAMAT.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Baca Cersil Online Pedang Pusaka Buntung Tamat Yuuk ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments