Cerita Filipina Dewasa Melodrama : PAB 14

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Filipina Dewasa Melodrama : PAB 14
Cerita Filipina Dewasa Melodrama : PAB 14
Selama malang melintang sebagai tokoh sesat, sudah ada banyak dendam dia tebarkan, sekarang begitu banyak tokoh persilatan berkumpul, tentu tidak sedikit yang menyimpan dendam pada sepasang iblis itu dan teriakan-teriakan pun mulai muncul di antara mereka semua.
―Jika Ketua Ding Tao benar tak bersalah, serahkan sepasang iblis itu pada kami untuk kami cincang!!‖, seru salah seorang tokoh yang datang pada pertemuan rahasia yang diadakan Zhong Weixia.
2510
Orang ini dan beberapa orang lain, sengaja diundang karena permusuhan mereka dengan Sepadang Iblis Muka Giok. Dengan satu seruan itu, segera saja suasana jadi ramai oleh teriakan-teriakan lain yang bernada sama. Belum lagi reda suasana, terlihat Murong Huolin menggendong putera Ding Tao, Murong Ding Yuan bersama dengan Hua Ying Ying dan Hua Ng Lau memasuki ruangan dan diantarkan ke tempat Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Beberapa orang yang melihat kehadiran mereka, dengan segera menunjuk dan menyampaikan kabar itu pada yang lain. Suasana pun menjadi semakin riuh rendah dengan hujatan, semakin yakinlah mereka pada tuduhan-tuduhan yang disampaikan kepada Ding Tao.
―Ding Tao menyerahlah! Serahkan dirimu utuk ditangkap, aku berjanji tidak akan ada yang melukai dirimu maupun pengikut-pengikut setiamu!‖, suara Murong Yun Hua tiba-tiba terdengar lantang dan disambut riuh suara orang.
Chou Liang menatap tajam ke arah Murong Yun Hua, pikirannya menghitung-hitung setiap kemungkinan. Memandangi wajah Murong Yun Hua yang menyiratkan ekspresi kemenangan. Melihat cara Murong Yun Hua menyandarkan diri pada bahu Huang Ren Fu. Mengingat kembali setiap kejadian-kejadian yang berhubungan dengan
2511
Murong Yun Hua. Dan sebuah perasaan ngeri, serta nyerinya dikhianati menyusup ke dalam hatinya.
Dengan suara tertahan dia menarik keras lengan Ding Tao dan berbisik, ―Ketua Ding Tao… jangan menyerah, cepat lari! Kita sudah dikhianati orang! Kita sudah dijebak! Cepat lari!‖
Suaranya makin lama makin keras, menyadarkan setiap orang di sekeliling Ding Tao. Meskipun mereka belum sampai memahami seluruhnya pemikiran Chou Liang, keadaan di sekeliling mereka sudah memberi tahukan pada mereka kebenaran dari perkataan Chou Liang. Bersamaan mereka pun berseru dan yang dekat dengan Ding Tao berusaha menarik-narik lengan pemuda itu.
―Ketua! Sadarlah! Lari, pergi sekarang juga!‖
Ma Songquan dan Chu Linhe yang sempat tercenung memandangi wajah Murong Yun Hua, tiba-tiba meraung marah, sambil menggerung hebat mereka tiba-tiba menggebrak kepungan terdekat, ―Buka jalan untuk Ketua Ding Tao!!!‖
Mendengar seruan ini, terbangkitlah semangat juang setiap pengikut Ding Tao yang setia, jumlah mereka tidak lebih dari tiga puluh orang, namun kemarahan mereka sempat membuat
2512
ngeri setiap orang sehingga jalan pun terbuka untuk sesaat. Tapi di pihak lawan ada Zhong Weixia dan Guang Yongkwang, bahkan ada pula bersama mereka Tetua Xun Siaoma dan ketua partai pengemis Bai Chungho, dengan cepat jalan itu pun menutup kembali. Apalagi Ding Tao sendiri masih saja termangu-mangu di tempatnya, tidak bisa menerima kenyataan bahwa Murong Yun Hua sudah mengkhianati dirinya. Otaknya masih saja berputar berusaha mencari kemungkinan lain dari perangkap yang ada di hadapannya ini.
―Tidak mungkin dia… bukan dia…‖, demikian Ding Tao bergumam pada dirinya sendiri.
Beruntung mereka yang maju menyerang sampai saat itu belum bisa mencapai Ding Tao yang berada di tengah-tengah perlindungan pengikut-pengikutnya yang setia. Pertarungan riuh itu baru sempat berjalan beberapa jurus, ketika sebuah raungan dengan suara rendah bergema, berbarengan dengan sebuah siutan tinggi menggetarkan setiap orang dan membuat gerakan mereka terhenti di tempatnya. Dua bayangan berkelebat cepat ke arah Ding Tao. Sebuah hawa serangan yang menderu, menyerang hebat ke arah Ding Tao dan para pengikutnya. Begitu kuat hawa murni yang dihempaskan, sehingga kumpulan orang yang demikian banyaknya itu pun
2513
tersibak di hadapan dua orang tersebut. Bahkan Ding Tao yang masih termangu pun dibuat bangkit semangat bertarungnya menghadapi serangan yang hebat itu.
Dalam sekejapan saja, segera hawa murni meledak ke segala penjuru, dua bayangan itu bukan lain adalah Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan.
―Ding Tao !!! Matilah kau !!!‖, seru Pendeta Chongxan dan pedangnya pun berputaran seperti pusaran angin putting beliung, mengancam segala yang ada di depannya.
Ilmu Ding Tao boleh saja seluas lautan, namun di hadapan serangan Pendeta Chongxan, pemuda itu hanya mampu menangkis dan bergerak mundur. Belasan jurus berlalu dengan cepat tanpa Ding Tao mampu membalas, dalam sekejapan mata, segera saja Ding Tao terdesak mundur hingga keluar ruangan. Tak urung keadaan di luar pun menjadi heboh dan kacau tak karuan. Ketika di dalam ruangan terjadi huru hara, yang di luar sudah sibuk menduga-duga, begitu pintu pecah berhamburan dan tiga orang itu melesat keluar, keadaan pun jadi semakin kacau. Habis jurus serangan Pendeta Chongxan, segera Bhiksu Khongzhen ganti menyerang. Jika serangan Pendeta Chongxan seperti angin putting beliung, maka
2514
hempasan-hempasan hawa murni yang dilemparkan dari sepasang telapak tangan Bhiksu Khongzhen tak ubahnya badai di samudera yang mengamuk. Serangan yang membabi buta, membuat keadaan semakin kacau, bukan hanya Ding Tao yang didesak mundur, mereka yang hendak mengejar pun dibuat terhenti di tempatnya.
Kemarahan Ding Tao sudah sampai di ubun-ubunnya, jika sejak tadi dia segan untuk mengangkat senjata melawan dia orang tokoh tua itu, lama kelamaan, habis pula kesabarannya. Difitnah, dikhianati dan sekarang diserang tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Segala yang dibangun hancur pula dalam sehari, luapan emosi itu pun tak tertahankan lagi, hawa pedang pun berkesiuran menyambar dari kedua telapak tangannya.
Pedang Angin Berbisik tentu saja tak dibawa, karena Ding Tao datang bukan hendak berperang, melainkan untuk menikah dengan cinta pertamanya. Tapi latihan yang dilakukannya selama berbulan-bulan sekarang baru ditunjukkan hasilnya, apalagi Ding Tao sama sekali tidak menahan-nahan tenaganya, ditambah dengan kemarahan maka hebatlah perbawa yang dihasilkan.
2515
Belasan jurus pun berlalu, dua orang melawan satu orang. Dua orang tokoh utama dari generasi tua, melawan tokoh utama dari generasi muda.
Masakan Ding Tao sehebat itu? Memang terlihat hebat pertarungan mereka, namun semarah-marahnya Ding Tao dia tidak jadi buta hatinya. Pemuda itu pun mulai menyadari bagaimana dalam serangan-serangannya dua orang tokoh tua itu meninggalkan lubang-lubang tempat dia bisa meloloskan diri. Dalam belasan jurus itu, sadarlah Ding Tao, betapa dua orang itu berniat baik pada dirinya. Bukan hanya Ding Tao, orang yang punya otak dengan sendirinya sedikit banyak sadar apa yang sedang terjadi. Namun siapa yang berani menuduh dua orang tokoh tua itu sedang bermain sandiwara.
Semakin lama, tentu saja semakin kentara, betapa mereka berdua memberi kelonggaran pada Ding Tao. Seharusnya Ding Tao tahu diri dan menerima maksud baik orang, dan bukannya Ding Tao tidak tahu diri, tapi setiap kali dia hendak beranjak pergi, teringatlan dia pada para pengikutnya yang masih pula bertarung menghadang serbuan Zhong Weixia dan kawan-kawannya yang hendak menyerbu keluar.
2516
Zhong Weixia tentu saja tidak buta, dia pun dengan cepat menyadari apa yang sedang terjadi, dasar otaknya licin dengan cepat dia menemukan kelemahan dalam rencana Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan.
Dengan seringai licik dia pun memberikan perintah, ―Jangan bunuh seorang pun! Jangan sembarangan menumpahkan darah orang tak bersalah! Tangkap mereka semua hidup-hidup!!! Beri kesempatan pada yang mau menyerah!‖
Ya, sehebat-hebatnya permainan silat pengikut Ding Tao yang setia, jumlah mereka tidaklah sebanding dengan para penyerangnya. Dalam belasan jurus itu, sudah beberapa orang mengejang ditinggalkan nyawanya, beberapa orang yang lain sudah mulai terluka. Hanya tokoh-tokoh liat macam Ma Songquan, Chu Linhe, Fu Tong, Liu Chuncao dan belasan yang lain yang masih bertahan. Jika Zhong Weixia tidak memberikan perintah, niscaya dua puluhan orang yang masih bertahan itu akan mati pula meregang nyawa dan tidak ada lagi talih yang menahan kepergian Ding Tao. Justru dengan perintah yang sepertinya memberi jalan hidup pada lawan, dia menciptakan belenggu yang tak terlihat bagi Ding Tao. Sekaligus mempermalukan dua orang tokoh tua itu, entah orang akan menggunjingkan bagaimana mereka bersandiwara, atau orang
2517
menggunjingkan ketidak mampuan mereka menangkap Ding Tao yang bertarung seorang diri. Ding Tao pun bertarung semakin menggebu-gebu, dia mengerti kesusahan orang, di saat yang sama tidak bisa pula melarikan diri. Meski demikian sampai berapa lama Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan bisa berpura-pura? Sementara ratusan tokoh-tokoh dunia persilatan berdiri di sana menyaksikan jalannya pertarungan. Baik mereka yang berada di pihak Zhong Weixia, maupun mereka yang hanya menjadi penonton dan masih bingung dengan apa yang terjadi.
Zhong Weixia pun tertawa dalam hati, seringai mengejek tak lepas dari wajahnya. Tapi Zhong Weixia pun masih salah perhitungan.
Ma Songquan yang menyadari apa maksud seruan Zhong Weixia tiba-tiba melompat mundur dan membuat jarak dengan lawan-lawannya. Dengan sendirinya Chu Linhe mengikuti apa yang dilakukan suaminya. Zhong Weixia dan Tetua Xun Siaoma yang berpasangan menahan serangan dua orang itu pun tidak buru-buru mengejar, karena lawan masih berada dalam kepungan.
2518
―Ah… apa kalian berdua sudah hendak menyerah?‖, tanya Zhong Weixia dengan alis terangkat.
Sepasang suami isteri itu bisa dikatakan sudah menjadi ujung tombak dari dua puluhan pengikut Ding Tao yang lain, ketika mereka mundur dan mengendurkan serangan, dengan sendirinya yang lain pun mengikuti. Di lain pihak Zhong Weixia sudah menjadi pimpinan dari persekutuan untuk melawan Ding Tao, ketika Zhong Weixia tidak maju mendesak lawan yang mundur, sekalian orang yang bermufakat dengan dia pun ikut menahan serangan dan sekedar membangun kepungan yang rapat.
Ma Songquan tidak segera menjawa pertanyaan Zhong Weixia, sekilas saja dia memandang Ketua Partai Kongtong itu, seakan-akan mengesankan betapa tidak berharganya Zhong Weixia untuk didengarkan. Tapi apa yang dia lakukan berikutnya, sungguh membuat hati setiap orang bedebar dan tercekam.
―KETUA DING TAO !!! LARI !!!!‖, suaranya menggelegar menarik perhatian setiap orang, termasuk Ding Tao, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan.
2519
Dan dalam sekejapan itu, ketika Ma Songquan melihat pandang mata Ding Tao tertuju ke arahnya, maka pedangnya pun berkelebat dengan cepat. Cepat, secepat kilat, serangan pedang tercepat yang pernah dia lakukan sepanjang hidupnya.
Pedang Ma Songquan berkelebat tanpa bisa ditahan seorang pun, tidak pula bisa dihindari oleh sasaran serangan pedang itu, pun sasarannya memang tidak berusaha menghindar sedikitpun. Pedang Ma Songquan berkelebat menebas batang lehernya sendiri. Jantungnya sedang berdebar cepat, setelah mengerahkan sekian banyak tenaga. Emosinya meluap-luap oleh rasa marah dan putus asa. Darahnya dipompa kencang mengaliri seluruh tubuhnya. Ketika pedang menebas lehernya, darah pun memancar seperti semburan gunung berapi.
Setiap orang masih tertegun tak mengerti, ketika Chu Linhe berteriak ―PERGI!!!‖
Dan darah pun kembali menyembur.
Chou Liang yang berada di tengah-tengah kerumunan itu, memandangi kematian Ma Songquan dan Chu Linhe dengan mata nanar. Di antara mereka semua, mungkin hatinyalah yang paling pedih. Pengkhianatan Murong Yun Hua terhadap Ding
2520
Tao, dirasakannya seperti pengkhianatan seorang kekasih. Ditambah lagi kesadaran, betapa dia yang mengatur pernikahan ini, seharusnya dia bisa menyadari apa yang terjadi, bila saja dia tidak sedang dimabuk cinta, mabuk cinta pada isteri Ding Tao, orang yang memberikan kepercayaan begitu besar pada dirinya. Penyesalan tiada tara, ditambah lagi melihat tatapan Ding Tao di kejauhan yang mengkhawatirkan keadaan mereka semua.
Sambil mengeluh pendek dengan permintaan maaf yang tak tersampaikan, Chou Liang menggerakkan sebilah pedang di tangannya, menebas nadi yang ada di lehernya. Sepanjang pertarungan, pedang Chou Liang tak pernah menyentuh tubuh lawan, tapi dengan satu gerakan itu ribuan kata tercurahkan dalam tindakan.
Pendeta Liu Chuncao menyaksikan itu semua dengan air mata berlinang, sebelum kemudian tertawa berkakakan, mengiringi tersemburnya darah untuk ke sekian kalinya membasahi gedung pernikahan itu. Tanpa bisa ditahan lagi, pedang-pedang pun berkelebatan menabas putus leher masing-masing, satu orang, dua orang, tiga, empat, susul menyusul mereka rebah meregang nyawa, sementara merahnya darah membasahi tanah. Setiap orang hanya bisa mendelu, baik
2521
lawan maupun kawan termangu. Bahkan Zhong Weixia pun tak sempat berpikir dan hanya bisa mendelong melihat darah menyembur ke mana-mana, seringai di wajahnya terhapus, benaknya kosong tak mampu berpikir sedikitpun.
Di antara dua puluhan orang itu ada pula Sun Gao, Sun Liang, Qin Hun dan Qin Baiyu. Sebagai orang muda, dengan sendirinya berdarah panas, Sun Gao pun cepat hendak menebas lehernya sendiri, namun ayahnya yang lebih matang dengan cepat menahan lengan putera kebanggaannya itu.
―Tahan !!! Sudah cukup…‖, seru Sun Liang.
Seruan Sun Liang menyadarkan Qin Hun yang dengan cepat menahan pula lengan puteranya Qin Baiyu, sementara sisa yang lain tak ada yang menahan dan dengan sendirinya satu per satu bertumbangan menebas leher sendiri, atau menusuk jantung sendiri, memutuskan rantai yang menahan Ding Tao di sini.
Dengan mata liar nyalang Sun Gao menatap penasaran pada ayahnya. Begitu dia menatap, terlihatlah pandang mata teduh dari ayahnya, sendu namun juga mengisyaratkan keteguhan hati yang tak pernah hilang. Ayahnya tidak berkata apa-apa
2522
hanya menunjuk ke arah Ding Tao yang sudah berada jauh di luar kepungan. Apa yang terjadi dengan Ding Tao?
Apa yang dirasakan pemuda itu jika bukan sebuah kiamat, ketika dia melihat Ma Songquan menebas lehernya sendiri? Apalagi ketika berturut-turut para pengikutnya yang setia mengorbankan nyawa, meminta dia untuk pergi melarikan diri. Masihkah dia hendak bertahan, jika itu artinya kematian bagi para pengikutnya? Sebuah lolongan menyayat hati terlontar keluar dari dada pemuda itu. Bhiksu Khongzhen yang tanggap dengan keadaan, menggerakkan kedua telapak tangannya, mendorong ke depan, sebuah hempasan hawa murni yang kuat melemparkan pemuda itu jauh ke belakang. Di saat yang sama, di telinga Ding Tao terdengar bisikan Pendeta Chongxan, lembut namun terdengar jelas, seperti berbisik tepat di dekat telinganya.
―Larilah ke arah barat !‖
Pikiran pemuda itu sudah pepat, layaknya tubuh tak berjiwa, tak ada yang memimpin gerak tubuhnya, semata digerakkan naluri yang paling dasar. Tanpa berayal, tanpa menyimpan-nyimpan tenaga, begitu kakinya menginjakn tanah, setelah dihempaskan pergi oleh tenaga Bhiksu Khongzhen, pemuda itu pun bergerak,
2523
berlari, melompat, menabrak apa saja yang ada di depannya, seperti kuda liar yang membedal pergi berlari, ke arah mana Bhiksu Khongzhen melontarkannya. Yaitu ke arah barat.
Suasana masih serba bingung, ketika suara tegas Bhiksu Khongzhen mengatasi keributan dan mengambil alih pimpinan dengan cepat, ―Jangan sampai dia pergi melarikan diri, cepat menyebar ke empat penjuru! Tutup seluruh arah lari keluat kota! Aku dan rekan Pendeta Chongxan akan mengejar ke arah barat! Ketua Zhong Weixia dan Ketua Guang Yong Kwang pergilah ke gerbang timur, siapa tahu dia mengambil jalan memutar untuk menyesatkan kita! Tetua Xun Siaoma dan Ketua Bai Chungho harap pergi ke gerbang selatan kota! Bhiksuni Huan Feng dan saudara yang lain harap menutup jalan di utara!‖
Perintah itu datang di saat kepemimpinan sedang kosong, jangankan mereka yang tidak ada sangkut pautnya dengan rencana bumi hangus Partai Pedang Keadilan, Zhong Weixia pun sempat bergerak selangkah ke arah timur sebelum dia sadar apa yang sedang terjadi. Namun tanpa menunggu siapapun Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan sudah melesat ke arah barat, demikian juga Bhiksuni Huan Feng yang tidak mengerti urusan, diikuti dengan ragu oleh beberapa orang
2524
dan dengan semangat oleh sebagian yang lain. Langkah kaki Zhong Weixia yang sempat terhenti pun akhirnya dilanjutkan lagi, meskipun rasa-rasanya kakinya ini diganduli beban ratusan kati. Sambil memaki-maki Bhiksu Khongzhen dalam hati, dia melesat ke arah timur diikuti oleh Guang Yong Kwang.
―Ketua Zhong…‖, bisik Guang Yong Kwang.
―Jangan bodoh! Jika kita menolak, hanya akan menimbulkan kecurigaan orang, biarlah kita pergi ke timur untuk kemudian memutar ke barat!‖, desis Zhong Weixia dengan kesal.
Dengan sendirinya tokoh-tokoh lain yang cukup berpengalaman, berpikiran sama dengan Zhong Weixia, secepat mungkin melesat pergi menjauhi kerumunan orang, untuk diam-diam mengambil jalan memutar dan pergi ke barat, mengejar Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang terlebih dahulu pergi ke arah itu.
Suasana yang demikian ramai, tiba-tiba terasa menjadi sepi karena puluhan orang yang membikin suasana ribut meninggalkan tempat itu. Untuk beberapa lamanya, yang tersisa di sana, saling memandang dengan mulut terkatup rapat dan hati ngilu. Hiasan-hiasan, kursi, bangku dan meja,
2525
hidangan dan segala pernak-pernik sebuah perayaan pernikahan telah berwarna merah. Kata orang merah adalah warna perlambang kebahagiaan. Masihkan saat ini merah berarti bahagia? Sementara merah yang memburat ke segala arah dan menyirati segala penjuru itu berasal dari puluhan tubuh yang sekarang membujur kaku? Tubuh dan kepala, bergelimpangan dan terserak ke mana-mana. Meski setiap orang dalam dunia persilatan punya ambisinya sendiri-sendiri, tapi kehormatan dan kesetiaan adalah salah satu tiang di mana dunia itu dibangun. Jangankan mereka yang tak tahu ujung pangkal dari keributan hari ini, bahkan banyak dari mereka yang datang ke pertemuan rahasia yang diadakan Zhong Weixia pun berdiri diam tak ikut mengejar larinya Ding Tao.
Dalam hati mereka yang terdalam, selirit rasa kekaguman menyebar perlahan-lahan. Setiap mulut pun terkatup, membungkam, merenungi dan mengheningkan cipta, bagi jiwa-jiwa yang setia.
Meradang Murong Yun Hua, tak habis pikir bagaimana Ding Tao bisa lolos dari jeratannya. Matanya menatap nanar pada tubuh-tubuh yang bergelimpangan. Jantungnya berdenyut-denyut oleh rasa amarah, menyadari kesunyian yang ada, memandangi wajah-wajah khidmat yang berdiri mematung di
2526
sekelilingnya, seperti orang-orang yang menghadiri pemakaman para pahlawan.
Kesunyian itu pun pecah oleh seruan Huang Renfu saat Murong Yun Hua tiba-tiba terkulai lemas, pingsan, tepat jatuh di depan pemuda itu.
―Yun Hua… Yun Hua…, Paman Li, Paman Tang Xiong cepat bantu aku mengangkatnya ke dalam. Sepertinya dia tak kuat melihat apa yang terjadi di halaman ini.‖, seru Huang Ren Fu sambil buru-buru membopong Murong Yun Hua masuk ke dalam.
Yang dipanggil pun, bergerak tanpa sadar mengikutinya masuk ke dalam, entah apa rasa dalam hati mereka, meski mereka sejak awal adalah orang yang bekerja bagi Murong Yun Hua, tapi melihat puluhan orang yang pernah dipanggil saudara bergelimpangan tak bernyawa, entah kenapa, hati mereka pun rasanya kosong dan hampa. Meski di sana berdiri Sun Liang, Sun Gao, Qin Hun dan Qin Baiyu, tak ada seorang pun yang berpikir untuk menahan mereka berempat.
Dalam waktu sekejap, dari mereka yang merupakan bagian dari sisa-sisa Partai Pedang Keadilan, hanya Tabib Shao Yong,
2527
Hua Ying Ying dan Hua Ng Lau yang berdiri. Masing-masing dengan pikirannya sendiri-sendiri.
Keributan yang sesaat ini seperti membangunkan setiap orang dari tidurnya. Perlahan-lahan, keheningan itu pun pecah, ada yang bergerak untuk mengumpulkan mayat yang bergelimpangan, ada pula yang diam-diam pergi dari kota Jiang Ling menyadari badai yang baru saja berlalu, ada pula yang diam-diam menyingkir hanya untuk kemudian mengamati dan menunggu perkembangan yang akan terjadi. Kehidupan dunia persilatan pun kembali berputar, setelah terhenti sejenak lamanya, oleh pengorbanan orang-orang Partai Pedang Keadilan.
Ding Tao berlari saja tanpa melihat kiri dan kanan, jika bukan karena Bhiksu Khongzhen membuat setiap orang yang hendak menangkap dirinya harus mengejar ke berbagai arah, tentu cepat atau lambat dia akan tertangkap.
Tenaganya sudah banyak terkuras, baru dua atau tiga li dilampaui, langkahnya sudah melambat, dengan langkah terhuyung-huyung, seperti seorang yang baru saja minum arak dan sekarang sedang mabuk.
2528
Di benaknya masih tergambar jelas, tubuh Ma Songquan yang berdiri tegak tanpa kepala, untuk kemudian jatuh rebah ke atas tanah. Kemudian Chu Linhe, Chou Liang, Liu Chuncao, Wang Xiaho…, setiap wajah dan nama mereka yang jatuh bersimbah darah, terulang dan terulang dalam benaknya sampai akhirnya pemuda itu terkulai lemas. Sebelum tubuhnya jatuh menyentuh tanah, seseorang sudah menyambarnya dan menyangga tubuh Ding Tao yang tinggi besar itu.
―Kakak Khongti, bagaimana keadaannya?‖, tanya Pang Boxi yang menyusul beberapa langkah lebih lambat dari Khongti.
―Sepertinya dia kehilangan kesadaran. Adik Pang Boxi, apa yang terjadi di sana tadi?‖, tanya Khongti sambil membimbing tubuh yang terkulai itu ke sisi jalan, diikuti pandang ingin tahu dari banyak orang.
Dengan singkat Pang Boxi menceritakan apa yang terjadi.
―Pantas saja, tentu guncangan batin yang dia alami sudah tidak tertahankan lagi. Sebentar lagi tentu Ketua Pendeta Chongxan dan Kak Khongzhen akan tiba pula menyusul ke mari. Marilah kita percepat perjalanan kita ke tempat yang sudah ditentukan.‖, ujar Khongti sambil mempercepat langkahnya.
2529
Pang Boxi pun segera memapah Ding Tao dari sisi yang lain, berdua mereka bergerak dengan cepat menuju tempat yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Memasuki sebuah rumah di antara deretan rumah di sebuah perkampungan, mereka disambut oleh saudara-saudara mereka yang lain dan Wang Shu Lin.
―Guru… apa yang terjadi dengannya?‖, tanya Wang Shu Lin dengan cemas.
―Nanti saja aku ceritakan, tidak ada banyak waktu, sekarang kita jalankan rencana kedua, ada banyak orang melihat aku dan guru Khongti memapah dia ke tempat ini.‖, ujar Pang Boxi menjawab pertanyaan Wang Shu Lin sementara Khongti sudah bergegas ke bagian lain dari rumah itu.
Tidak lama kemudian terlihat empat ekor kuda keluar dari perkampungan itu, menuju jalan utama kota di mana mereka bisa bergerak lebih cepat. Masing-masing kuda ditunggangi dua orang. Sampai di sebuah persimpangan, rombongan itu pun berpencar ke dua arah. Dua ekor kuda menuju ke arah barat, dua ekor yang lain menuju ke arah utara. Mencapai jarak tertentu dan sampai pada persimpangan yang lain kembali mereka berpencar, hingga akhirnya masing-masing kuda
2530
dengan dua penunggangnya, mengarah ke empat gerbang kota yang berlainan, barat, utara, timur dan selatan. Di mana mereka berpencar dan jalan yang mereka lalui sudah mereka pilih sejak beberapa hari sebelumnya, dengan sendirinya mereka bergerak dengan cepat tanpa ragu-ragu dalam memilih jalan yang hendak dilalui.
Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang tentunya sudah tahu rencana mereka, mengejar seakan-akan tidak mengetahui arah yang mereka tuju. Kedua orang tokoh itu berhenti di perkampungan tempat Ding Tao dibawa masuk, bertanya-tanya pada orang di sekitar jalan, sebelum mengejar ke arah empat ekor kuda itu pergi. Sampai di persimpangan pertama, mereka pun berpisah. Bhiksu Khongzhen mengejar pasangan kuda yang pergi ke arah barat, sementara Pendeta Chongxan mengejar yang pergi ke arah utara.
Beberapa waktu kemudian, dalam waktu yang hampir bersamaan Tetua Xun Siaoma, Ketua partai pengemis Bai Chungho, Ketua partai Kongtong Zhong Weixia dan Ketua perguruan Kunlun Guang Yong Kwang, sampai pula di perkampungan tempat Ding Tao dibawa dan mendapatkan jawaban yang sama, seperti jawaban yang diberikan orang-orang di tempat itu pada Bhiksu Khongzhen dan Pendeta
2531
Chongxan, tentu saja dengan tambahan bahwa beberapa saat sebelumnya ada seorang Bhiksu Buddha dan seorang Pendeta Tao menanyakan hal yang sama.
―Empat ekor kuda? Hmm… kukira tentunya empat ekor kuda itu akan berpencaran pula ke empat mata penjuru‖, ujar Bai Chungho, mereka berempat sedang berunding setelah mendengarkan keterangan dari orang-orang yang menyaksikan hal itu.
―Tidak disangka, Ding Tao sudah menyiapkan rencana untuk melarikan diri. Apakah menurut kalian ada yang membocorkan rencana kita ini?‖, tanya Guang Yong Kwang dengan alis berkerut.
―Kemungkinan itu bukannya tidak ada, rencana ini melibatkan begitu banyak orang. Semakin banyak orang kemungkinan bocor tentu semakin besar.‖, ujar Bai Chungho.
Zhong Weixia menggelengkan kepala, ―Tidak… meskipun ada banyak orang yang diikutkan dalam rencana ini. Jumlah mereka yang mengetahui detail rencana ini tidak sebanyak yang terlihat. Selain itu, setiap mereka yang diikutkan sudah diperhitungkan dengan masak dan diawasi siang dan malam.‖
2532
Tetua Xun Sioma mendengus kesal mendengar nada suara Zhong Weixia yang sedemikian yakinnya dengan rencana yang dibuat Murong Yun Hua. Zhong Weixia pun melirik tajam pada Xun Sioama tapi Guang Yong Kwang lah yang pertama kali menanggapi dengusan Xun Sioama.
―Tetua Xun sepertinya tidak suka dengan rencana kita, sejak awal terlihat setengah-setengah dalam bertindak. Jangan-jangan kebocoran ini bermula dari pihak Hoasan. Tetua Xun, kuharap tetua tidak lupa, penerus generasi ketua Hoasan sekarang sudah bermarga Murong.‖, ujar pemuda itu sambil menatap tajam pada Xun Siaoma.
Disindir demikian kemarahan Xun Siaoma pun timbul dengan cukup keras dia balik menjawab, ―Hmph! Aku tidak pernah setengah-setengah dalam melaksanakan sesuatu demi Partai Hoasan, meski hal itu berlawanan dengan nuraniku.Jadi jangan samakan aku dengan anak kecil yang mencari jalan pintas untuk menjadi pendekar pedang nomor satu. Kemudian menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya demi sekantung obat.‖
Dibalas demikian wajah Guang Yong Kwang berubah merah padam dan dengan pedas menjawab, ―Ho… ho. Hahaha, baik sekarang ini aku memang menjadi pesuruh orang karena
2533
berusaha menjadi pendekar pedang nomor satu. Tapi kukira masih lebih baik, daripada menjadi pesuruh orang karena tergila-gila pada paha mulus dan dada montok.‖
Ganti Tetua Xun Siaoma yang wajahnya berubah merah padam, dengan suara sedikit bergetar dia menjawab, ―Dengar…, Pan Jun bukan orang yang gila perempuan atau silap dengan kecantikan. Dia sungguh-sungguh mencintai wanita keparat itu!‖
―Hah!!! Bukankah hal itu lebih memalukan lagi? Tergila-gila pada seorang pelacur yang akan mementangkan kedua pahanya asalkan mendapatkan keuntungan? Dan sekarang, ketua generasi Partai Hoasan yang selanjutnya adalah anak seorang pelacur. Ya… setidaknya dia seorang pelacur kelas tinggi. Entah ada berapa orang tokoh kelas atas dalam dunia persilatan yang sudah tidur dengan ibunya.‖, ejek Guang Yong Kwang sambil tertawa mengejek.
Mendengar perkataan Guang Yong Kwang, kemarahan Xun Siaoma pun memuncak melewati batas kesabarannya, tangannya pun bergerak mencabut pedang yang ada di pinggang. Tidak kalah sebat Guang Yong Kwang pun sudah bergerak untuk mencabut pedangnya. Tapi dua orang yang lain
2534
juga merupakan tokoh dunia persilatan kelas atas, dengan tidak kalah cepat Bai Chungho dan Zhong Weixia melerai keduanya, menahan keduanya jangan sampai mencabut pedang yang ada di tangan.
―Hei hei… sabar dulu sobat, kita semua toh sama terlibat dalam hal ini. Apa pun alasannya, tidak ada untungnya jika kita bertengkar dengan sesama kawan.‖, ujar Bai Chungho menyabarkan Xun Siaoma.
Tapi dengan keras Xun Siaoma menepiskan tangan Bai Chungho yang menahan dirinya, Xun Siaoma sudah tidak mencabut pedang, namun matanya menatap tajam ke arah tiga orang yang lain bergantian, sebelum berhenti pada Bai Chungho.
―Kau… kita boleh jadi sama-sama terlibat, tapi kalian bertiga, juga kau, tak sedikitpun kupandang sebagai sahabat. Tidak kusangka, Bai Chungho yang tersohor kepahlawanannya, menjual harga dirinya demi kekayaan.‖, ujar Xun Siaoma dengan keras.
Ucapan Xun Siaoma itu pedas, tapi Bai Chungho tidak menjadi marah, dia terkekeh saja dan berkata, ―Hahaha, baiklah kau
2535
boleh tidak menganggap aku sahabat, di depan kita bertiga kaupun boleh saja memanggilku anjing asalkan bayarannya sesuai. Yang penting jangan sampai ucapanmu itu terdengar orang luar. Jika tidak, kujamin, ucapan Ketua Guang Yong Kwang barusan akan terdengar seantero dunia persilatan.‖
Xun Siaoma sudah siap menyahut ketika Zhong Weixia berdehem dan berkata, ―Sudahlah, cukup, apapun alasannya kita semua sudah terlibat. Tetua Xun Siaoma, kau boleh saja merasa diri paling benar, tapi ucapan mereka berdua tidak salah. Jika sampai tersebar luas apa yang dilakukan Ketua Pan Jun demi cintanya pada Nyonya Murong Yun Hua, habislah reputasi Hoasan. Demikian juga jika sampai tersebar tentang apa yang dilakukan oleh pihak Kunlun dan partai pengemis.‖
Berhenti sejenak agar apa yang dia ucapkan meresap, Zhong Weixia pun melanjutkan, ―Dan di antara kita berempat, kurasa hanya aku seorang yang tidak akan kehilangan nama bila alasan dari kita masing-masing bekerja demi Nyonya Murong Yun Hua dibongkar di depan semua orang.‖
Mendengar ucapan Zhong Weixia itu, ketiganya pun terdiam, meskipun masih menyimpan amarah dalam hati, tapi ancaman halus Zhong Weixia membuat mereka terdiam. Reputasi dan
2536
nama besar, apalagi yang sudah dipupuk selama belasan generasi, memang sangat berharga bahkan mungkin lebih berharga dari nyawa mereka sendiri. Yang jelas, lebih berharga dibandingkan nyawa puluhan anggota Partai Pedang Keadilan. Lebih berharga dari kebenaran dan keadilan.
Dengan suara tertahan Xun Siaoma berkata, ―Jadi menurut Ketua Zhong, menghamba pada perempuan itu demi beberapa jilid kitab tidaklah memalukan?‖
Zhong Weixia tersenyum mengejek dan berkata, ―Dalam pandanganku tidak memalukan. Berapa jilid kitab itu toh merupakan warisan yang hilang dari para pendiri Partai Kongtong. Bukankah yang kulakukan adalah demi membalas budi pada partai yang membesarkanku? Sebuah bentuk bakti pada pada pendiri yang telah meninggal?‖
Xun Siaoma pun hanya mendengus tanpa bisa menjawab. Aneh memang, bakti pada orang tua, bakti pada guru, seringkali menjadi alasan untuk melakukan apa pun juga atas nama bakti. Di jaman tiga kerajaan, Cao Cao membumi hanguskan Xuzhou, membunuh puluhan ribu orang tak berdosa, termasuk anak-anak, perempuan, orang tua tidak satu pun disisakan, dengan alasan membalaskan dendam ayahnya.
2537
Padahal bakti pada orang tua dan mereka yang sudah berjasa dalam hidup kita adalah sesuatu yang mulia. Tapi entah dengan cara apa, manusia seringkali punya cara, untuk menyelewengkan sesuatu yang mulia menjadi sesuatu yang salah. Cinta, sesuatu yang mulia, terkadang dijadikan alasan untuk melakukan perbuatan zinah. Kecintaan pada negara, bisa diselewengkan menjadi kekejian dan kekejaman. Keadilan pun diselewengkan menjadi pembalasan dendam, sementara kemurahan dan maaf diselewengkan justru dengan membebaskan yang bersalah dan melupakan keadilan.
Mungkin benar bahwa hati manusia tak ubahnya sebuah kaca atau cermin, jika hati itu kotor, maka segala apa yang melaluinya pun akan menjadi kotor. Meski sebuah sinar yang jernih dan cemerlang pun, ketika ditangkap oleh hati yang kotor, maka kotor pula yang dikeluarkan.
Tidak salah jika seorang guru besar di jaman yang lalu pernah berkata, jika terang yang ada dalam diri ini menjadi gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.
Orang buta bagaimana bisa melihat dan menilai, Xun Siaoma pun hanya bisa mendengus tanpa bisa menyalahkan tindakan Zhong Weixia yang atas nama bakti pada partai dan guru,
2538
tanpa segan-segan mengorbankan nyawa orang-orang yang tak bersalah. Apalagi sekarang dirinya sedang berjalan di atas jalan yang sama, demi masa depan Hoasan, dia melanggar hati nuraninya sendiri. Ketua dari Partai Hoasan, sudah beberapa generasi diturunkan secara turun temurun dan keturunan Pan Jun adalah anak Murong Yun Hua yang di pandangan banyak orang saat ini adalah anak Ding Tao. Tapi apakah hanya demi mempertahankan kebiasaan selama beberapa generasi Xun Siaoma mati-matian membela anak keturunan Pan Jun?
Berita ini sendiri adalah berita miring yang sempat terdengar puluhan tahun yang lalu sebeum tiba-tiba menghilang, berikut dengan menghilangnya nyawa mereka yang berani berkicau. Isi berita itu, tidak lain mengenai siapa sesungguhnya ayah dari Pan Jun, benarkan ayahnya adalah Pan Tong, ataukah hasil kisah asmara terlarang dari Xun Siaoma dengan isteri Pan Tong.
Ya.. dalam hatinya Xun Siaoma sungguh sedang menyesali dan menangisi kesalahannya di masa muda. Tidak salah jika ada ujar-ujar, siapa menanam angin akan menuai badai, siapa menanam kejahatan akan menuai kesengsaraan. Sayang, bukannya belajar dari masa lalu, Xun Siaoma ternyata belum juga bisa melepaskan diri dari kegelapan hati. Bukannya
2539
dengan rela menerima hukuman dari langit, dia justru terus memberontak dan membuahkan kejahatan yang lebih besar. Padahal siapa yang bisa melawan aturan langit? Hukum manusia boleh tak bermata, tapi hukum Sang Pencipta terus bekerja meskipun terkadang tak bisa terlihat langsung akibatnya.
Diamnya Xun Siaoma membuat senyum di wajah Zhong Weixia makin lebar. Dalam persekutuan yang digalang Murong Yun Hua, dia merasa dirinya berada di atas angin. Setiap rahasia buruk sudah ada di tangannya, betapa mudahnya bagi dirinya untuk menangguk keuntungan di saat Murong Yun Hua terpeleset nanti. Yang penting sekarang adalah kesabaran dan Zhong Weixia punya batas kesabaran yang cukup tinggi. Kenapa tidak? Setiap kali dia tidak sabar atau kehilangan kendali, emosinya akan mereda setelah dia lampiaskan kekesalannya itu pada orang lain, jika orang itu adalah lawan dari Partai Kongtong bagus, jika tidak masih ada anak murid Partai Kongtong yang bisa dia hajar.
―Baik, kalau kita semua sudah paham dengan kedudukan masing-masing, baiklah kita lanjutkan pengejaran ini. Sudah ada banyak waktu terbuang sia-sia.‖, ujar Zhong Weixia sambil melihat ke arah tiga orang yang lain.
2540
―Tunggu, adanya empat ekor kuda, kemungkinan besar pada akhirnya keempatnya akan berpisah arah.‖, ujar Bai Chungho untuk kedua kalinya.
―Lalu?‖, tanya Zhong Weixia sedikit tidak sabar.
Tersenyum simpul Bai Chungho melanjutkan, ―Kita ada empat, dengan sendirinya akan dipaksa untuk membagi tugas, masing-masing ke arah yang berlainan. Di lain pihak, 8 dari 10 bagian aku yakin, mereka yang membantu Ding Tao melarikan diri ini tentu sudah sekongkol pula dengan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan.‖
―Itu artinya, siapapun yang mengejar kuda yang benar, harus berhadapan dengan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan.‖, sambung Xun Siaoma dengan senyum simpul, hatinya merasakan sedikit kenikmatan melihat ada orang yang berpikir lebih cermat dari Zhong Weixia.
Senyum di wajah Zhong Weixia pun menghilang, dia benci sekali, harus mengakui ada orang lain yang berpikir lebih panjang dari dirinya, ―Hmm…‖
Zhong Weixia berpikir sejenak, melihat ke arah tiga orang yang lain, akhirnya sambil mendengus kesal dia mengakui
2541
kebenaran perkataan Bai Chungho, ―Hahh!!! Ya sudahlah, kita kembali saja, hentikan saja pengejaran ini!‖
―Tidak… tunggu dulu, bukan begitu maksudku…‖, ujar Bai Chungho dengan mata berkilat tajam.
―Baik… lalu apa maksudmu?‖, tanya Zhong Weixia dengan geraham mengatup erat.
―Kuda boleh ada empat, tapi Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen hanyalah dua orang.‖, ujar Bai Chungho dengan nada penuh kemenangan.
Ya, kuda yang dikejar boleh jadi ada empat, tapi momok yang sebenarnya, yang menjadi penghalang utama hanya ada dua.
―Kita ikuti saja mereka berdua, kalaupun mereka kemudian berpencar, entah nantinya berkumpul kembali atau tetap berpisah untuk mengaburkan jejak. Pada akhirnya kita akan menemui mereka, dua lawan satu. Boleh saja Ding Tao lepas, tapi saat ini mereka berdua adalah penghalang yang lebih besar dari Ding Tao.‖, lanjut Bai Chungho.
―Benar… Ding Tao sudah terkena pengaruh Obat Dewa Pengetahuan, jika dia tidak meminum obat itu dalam waktu
2542
beberapa bulan dia akan jadi manusia lumpuh tak berguna.‖, sambung Guang Yong Kwang.
―Jadi… maksudmu, kita gunakan kesempatan ini untuk menyingkirkan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan?‖, tanya Zhong Weixia hati-hati.
Senyum kejam terbentuk di wajah Bai Chungho dan dengan suara dingin dia menjwab, ―Ya…‖
Tiga orang yang lain pun memandang Bai Chungho dengan berbagai perasaan berkecamuk dalam hati. Ternyata di antara mereka berempat, Bai Chungho-lah yang paling licik dan kejam. Xun Siaoma pun bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa selama ini dia tertipu oleh penampilan Bai Chungho yang bersandiwara sebagai tokoh tua dengan watak terbuka dan bersahabat itu. Sementara Zhong Weixia mengakui kecerdikan Bai Chungho, di saat yang sama dia menandai Bai Chungho sebagai tokoh yang berbahaya, dalam hati Zhong Weixia sudah mengambil keputusan, jika tiba saatnya dia hendak menumbangkan Murong Yun Hua, Bai Chungho adalah orang pertama yang dia singkirkan. Guang Yong Kwang berbeda lagi, dalam hatinya dia mengakui kedudukannya adalah yang paling lemah di antara yang lain dan dia mulai berharap bisa
2543
menjadikan Bai Chungho sekutu untuk bekerja sama mengimbangi Zhong Weixia yang kedudukannya lebih kuat.
―Baiklah, kita lakukan‖, ujar Zhong Weixia dengan perasaan pahit, karena meskipun dia berlaku sebagai pemimpin di antara mereka berempat, saat ini dia terpaksa harus menerima pendapat Bai Chungho.
Dengan perkataan itu pun mereka ber-empat bergegas mengikuti jejak Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang sudah terlebih dahulu bergerak. Empat orang yang bekerja sama, namun dalam hati menyimpan permusuhan satu dengan yang lain dan masing-masing memiliki pamrih yang berbeda. Zhong Weixia menghibur diri, dengan mengingatkan dirinya bahwa rahasia busuk tiga orang yang lain ada padanya. Sementara tiga orang yang lain, terutama Bai Chungho, menghibur diri dengan mengingat, betapa Zhong Weixia sudah dibuat malu oleh Bai Chungho, ketika Bai Chungho berhasil menunjukkan bahwa akalnya lebih panjang dari Zhong Weixia.
Empat orang itu bukan tokoh sembarangan, dengan pengalaman dan pemikiran yang sudah matang. Buruan yang mereka kejar selalu mereka dapatkan. Cepat atau lambat, jejak Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pun akan mereka
2544
dapatkan tapi baik Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pun sudah memperhitungkan hal ini, yang terpenting Ding Tao dan mereka yang berusaha menolongnya sudah menang waktu. Di saat Zhong Weixia dan yang lain sedang mencari jejak mereka, Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan, Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya sudah berkumpul.
―Di mana dia? Bagaimana keadaannya?‖, tanya Bhiksu Khongzhen ketika akhirnya dia dan Pendeta Chongxan sampai di tempat persembunyian sementara yang sudah mereka siapkan.
―Dia masih belum sadar tapi kurasa itu lebih karena batinnya yang tidak tahan menerima guncangan hari ini bukan keadaan fisiknya sendiri yang bermasalah.‖, ujar Zhu Yanyan sambil mengantar dua orang tokoh tua itu menengok Ding Tao.
Melangkah masuk ke sebuah kamar yang kecil dengan penerangan seadanya, mereka berdua melihat Wang Shu Lin yang dengan khawatir menunggui Ding Tao yang tidak sadarkan diri. Pendeta Chongxan pun mendekat dan meraba nadi di pergelangan tangan Ding Tao sementara yang lain memperhatikan.
2545
―Ketua… Pendeta Chongxan, apakah dia baik-baik saja?‖, tanya Wang Shu Lin dengan khawatir, meskipun sudah mendapatkan penjelasan dari gurunya, hatinya masih khawatir.
Pendeta Chongxan pun menatap lembut gadis itu, bisa dilihatnya betapa gadis itu mengkhawatirkan Ding Tao, tersenyum lembut dia menjawab, ―Tidak apa, tidak ada luka yang berbahaya, baik di dalam maupun di luar. Hanya tekanan batin yang terlampau kuat membuat dia tidak sadar, mungkin itu yang terbaik. Untuk sementara ini kita biarkan dia saja sampai dia sadar sendiri, kukira tidak perlu menunggu lama tentu dia akan sadar kembali.‖
Bhiksu Khongzhen mengangguk setuju dan melanjutkan, ―Sembari menunggu Ketua Ding Tao sadar ada beberapa hal yang perlu aku bicarakan dengan kalian.‖
Setelah berkata demikian Bhiksu Khongzhen berjalan ke ruangan tengah diikuti Pendeta Chongxan, enam orang guru Wang Shu Lin pun menyusul. Wang Shu Lin yang masih merasa sedikit khawatir pada keadaan Ding Tao, sempat meragu. Namun Shu Sun Er yang memahami perasaan Wang Shu Lin menepuk pundak gadis itu.
2546
―Ayolah…, tidak akan terjadi apa-apa padanya.‖, ujar Shu Sun Er.
Wang Shu Lin memandang gurunya itu beberapa saat, ketika terpandang wajah gurunya yang tenang, hatinya pun ikut merasa lebih tenang, ―Baiklah…‖
Ketika Wang Shu Lin sampai di ruangan tengah, ke-enam gurunya sedang mendengarkan pesan-pesan dari Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen.
―Jadi kalian lihat, saat ini ada dua kemungkinan, jika kesetiaan yang ditunjukkan oleh pengikut-pengikut Ketua Ding Tao mampu menggerakkan hati banyak orang, maka selain beberapa orang penting di bawah Murong Yun Hua tidak akan ada yang mengejar Ketua Ding Tao. Jika demikian maka di depan para pengejar ini, kepada siapa kami berpihak tentu sudah sangat jelas.‖
―Jika mereka masih nekad mengejar, itu artinya mereka merasa punya kesempatan untuk mengalahkan kami berdua.‖, ujar Bhiksu Khongzhen.
―Tapi jika ada banyak orang dunia persilatan yang ikut mengejar, kukira kami berdua masih punya kesempatan untuk
2547
mempengaruhi mereka. Bagaimana pun juga dunia persilatan dibangun atas nilai-nilai kehormatan dan kesetiaan, mengingkari hal itu, sama juga mencari mati buat diri sendiri. Setiap kepala geng, ketua partai atau kepala dari sebuah perguruan tidak akan berbuat sesuatu yang bisa membuat orang-orang di bawah mereka mengecilkan nilai-nilai kesetiaan.‖, ujar Pendeta Chongxan menimpali.
―Jika demikian ketua, kenapa kami tidak ketua ijinkan untuk ikut bersiap menghadang pengejar yang mungkin tiba? Masih ada Wang Shu Lin yang bisa membawa Ketua Ding Tao pergi.‖, ujar Zhu Yanyan dengan serius.
―Hmm… bisa dikatakan pada saat ini, kekuatan kita jauh berada di bawah lawan dan kami berdua tidak ingin membuat kekuatan di pihak kita berkurang lebih jauh lagi.‖, jawab Pendeta Chongxan.
―Lagipula… jika benar mereka datang dalam jumlah tak terlalu banyak…, bagaimana pun juga kami berdua masih belum bisa melepaskan sedikit ego kami. Setidaknya masih ada harga diri kami sebagai seorang pesilat, kami tidak ingin mendapatkan bantuan orang untuk menghadapi mereka.‖, ucap Bhiksu Khongzhen sambil tersenyum kecil.
2548
―Tapi kakak…‖ Khongti yang tidak rela melihat bahaya mengancam kakak seperguruannya hendak membantah.
―Tidak… jangan katakan apapun, pikirkan juga, apa yang akan terjadi jika ternyata mereka membawa pengikut mereka untuk ikut mengejar. Apa artinya tambahan 6 orang lagi, kecuali mengantarkan nyawa sia-sia? Juga bagaimana jika kita kalah dalam pertarungan itu? Bukankah itu artinya, kita dari generasi tua, meninggalkan dua orang anak muda untuk menolong diri mereka sendiri?‖, potong Bhiksu Khongzhen sambil menggelengkan kepalanya.
―Jika demikian, kenapa kakak tidak ikut menghindar dari pertarungan ini? Bukankah lebih baik jika kakak dan Ketua pendeta Chongxan menghindar dari mereka?‖, tanya Khongti tidak puas dengan keputusan mereka berdua.
―Tidak… tidak…, kita harus memperhitungkan setiap kemungkinan, jika kami menghindar dari pertarungan, bagaimana jika mereka berhasil menyusul kalian? Selain itu seperti yang dikatakan Saudara Khongzhen, kami masih memiliki harga diri sebagai seorang pesilat, masakan kami hendak melarikan diri dari kumpulan orang macam mereka?‖, kali ini Pendeta Chongxan yang menjawab.
2549
―Hmm… apakah kau meragukan kemampuan kami?‖, tanya Bhiksu Khongzhen pada Khongti.
―Ah, kakak bilang... tidak berani…, tidak berani… , tapi lawan adalah orang yang licik.‖, ujar Khongti terbata-bata.
―Heh… apa kau kira kami sampai pada kedudukan kami sekarang hanya mengandalkan otot saja? Dari dulu pun orang-orang licik selalu ada, bahkan ada yang berpendapat siasat adalah bagian dari ilmu silat. Jadi ini bukan yang pertama kalinya kami berhadapan dengan lawan yang licik.‖, jawab Bhiksu Khongzhen sambil tertawa pelan.
Khongti sudah membuka mulutnya untuk ke-sekian kalinya ketika Zhu Yanyan menepuk pundaknya dan berkata, ―Adik Khongti sudahlah, kukira ketua berdua sudah memutuskan hal ini sejak awal.‖
Khongti melihat ke arah Zhu Yanyan hendak membantah, tapi ketika dia melihat wajah Zhu Yanyan yang bersedih dia tak sanggup berkata-kata. Akhirnya Khongti hanya bisa m enundukkan kepala dan mendesah sedih.
Melihat kesedihan yang tidak bisa diungkapkan di wajah Khongti, hati Bhiksu Khongzhen pun tergerak, dengan suara
2550
parau dia berkata, ―Sudahlah, kami berdua sudah semakin tua, kalaupun bukan mati dalam sebuah pertarungan, kami akan mati oleh karena usia. Apakah ada bedanya?‖
―Hahh… yang dikatakan Saudara Khongzhen benar, usia kami sudah terlalu tua dan beberapa tahun ke depan, tokoh-tokoh seperti Zhong Weixia dan Guang Yong Kwang akan melampaui kami yang mulai dimakan usia. Memikirkan bahwa orang-orang seperti mereka akan berada di bawah arahan seseorang seperti Murong Yun Hua membuat kami ngeri.‖, ujar Bhiksu Khongzhen melanjutkan.
―Pada saat itu…, maka harapan kami ada pada generasi muda yang cemerlang, seperti murid kalian Nona Wang Shu Lin dan Ketua Ding Tao. Oleh karena itu, kami bersedia mempertaruhkan nyawa kami untuk menyelamatkan nyawa Ketua Ding Tao.‖, ujar Bhiksu Khongzhen menutup penjelasannya.
Pendeta Chongxan tersenyum lembut memandangi wajah-wajah sedih di sekelilingnya dan menyambung, ―Tidak ada alasan untuk bersedih, segala sesuatunya memang berjalan alami, yang tua digantikan yang muda. Tidak ada kehidupan
2551
tanpa akhir. Satu generasi mati digantikan generasi baru, itu sudah merupakan sesuatu yang wajar.‖
Wang Shu Lin dan ke-enam orang gurunya pun terdiam, terharu merenungi keputusan dua orang tokoh tua itu.
―Sudahlah, ada hal yang ingin kami sampaikan pada kalian, harap kalian dengarkan baik-baik.‖, ujar Bhiksu Khongzhen setelah terdiam beberapa saat.
―Pada saat kami berpura-pura menyerang Ketua Ding Tao untuk membantu dia kabur, sebenarnya kami menggunakan ilmu simpanan kami yang merupakan inti dari berbagai ilmu yang ada di Shaolin dan Wudang. Kami sadar kemungkinan besar peristiwa yang terjadi akan sampai pula pada titik ini dan nyawa kami mungkin sulit dipertahankan melampaui malam ini. Sayang apa yang sudah kami capai ini, tak dapat kami wariskan pada generasi Shaolin dan Wudang yang ada pada saat ini.‖, lanjut Bhiksu Khongzhen.
―Kami berharap Ketua Ding Tao dapat kami titipi inti sari dari ilmu Shaolin dan Wudang yang sudah kami pahami ini, untuk disampaikan pada generasi muda anak murid Shaolin dan Wudang nanti. Ada beberapa anak murid Shaolin dan Wudang
2552
yang berbakat dan kami yakin akan mampu memahaminya, hanya sayang, saat ini mereka masih belum cukup matang untuk memahaminya, sementara waktu kami semakin singkat saja.‖, ujar Bhiksu Khongzhen.
―Zhu Yanyan, Khongti, kau mengerti apa artinya ini? Lindungilah nyawa Ketua Ding Tao, karena di atas pundaknya telah kami titipkan pula masa depan Shaolin dan Wudang.‖, ujar Pendeta Chongxan pada Zhu Yanyan.
―Karena itu jangan kalian berpikir untuk mengikuti kami mempertaruhkan nyawa, tugas kalian adalah memastikan Ketua Ding Tao selamat. Bukan hanya sekedar selamat karena dari tuduhan-tuduhan yang disampaikan padanya hari ini, kurasa selama ini tentu dia mengkonsumsi pula Obat Dewa Pengetahuan yang dalam beberapa hari ke depan akan mulai menunjukkan efek buruknya. Jika hal itu benar, maka kalian juga harus mencarikan jalan untuk menyembuhkan dia.‖, sambung Bhiksu Khongzhen.
―Kakak, apa maksud kakak tentang Obat Dewa Pengetahuan?‖, tanya Khongti tak mengerti.
2553
Maka Bhiksu Khongzhen pun menjelaskan sedikit banyak yang bisa dia tangkap dari tuduhan-tuduhan Murong Yun Hua pada Ding Tao tentang penggunaan Obat Dewa Pengetahuan, ―Sungguh kami baru mengetahuinya pada saat itu, jika tidak, mungkin kami akan memikirkan cara lain untuk mewariskan apa yang berhasil kami sarikan dari kumpulan ilmu warisan Shaolin dan Wudang…‖
―Tidak… kukira tidak ada cara lain yang lebih tepat, menuliskannya dalam sebuah kitab tidak ada gunanya. Dalam bentuk tulisan, kitab-kitab yang sudah ada sudah menyampaikannya dengan cara yang terbaik dan teratur. Yang tidak bisa disampaikan dalam bentuk tulisan, yang hanya bisa disampaikan secara langsung, disesuaikan dengan sifat, pengalaman dan pemahaman pendengarnya.‖, ujar Pendeta Chongxan sambil tersenyum.
Bhiksu Khongzhen memandang sekilas pada sahabatnya itu kemudian menganggukkan kepala sambil tersenyum, ―Yah… kau benar… memang tiap-tiap kejadian menyebabkan keputusan itu diambil. Hehh… sudah kehendak langit…‖
2554
―Kakak, ada muridku Wang Shu Lin di sini, otaknya pun cukup cerdas, mengapa tidak kakak sampaikan pula pada dia?‖, tanya Khongti.
Bhiksu Khongzhen menggelengkan kepala perlahan, ―Muridmu memang memiliki bakat yang sangat bagus. Sayangnya dasarnya kurang kuat, kami sudah melihat keduanya bertarung di kaki Gunung Songshan dan dari apa yang kami lihat itu kami bisa mengira-ngira sejauh mana mereka berdua sudah berjalan. Itu sebabnya kami merasa Ketua Ding Tao merupakan orang yang tepat untuk kami titipi warisan ini.‖
―Tapi jika benar dia mengkonsumsi Obat Dewa Pengetahuan, bukankah itu artinya hasil yang dia capai adalah berkat bantuan obat itu. Sekarang dengan tidak adanya obat, bukan saja kemampuannya akan menurun tapi malah ada efek buruk dari kebiasaan mengkonsumsi obat itu.‖, keluh Khongti tidak puas.
―Tidak juga, jika benar dia menerima obat itu dari Murong Yun Hua, itu artinya sebelum dia mendapatkan bantuan dari obat itu, dia sudah bisa mengembangkan ilmunya hingga dia bisa menandingi Sepasang Iblis Muka Giok hanya bermodalkan ilmu pedang keluarga Huang yang diajarkan pada anggota luar.
2555
Menilik ini saja sudah bisa dikatakan bakatnya memang luar biasa.‖, ujar Pendeta Chongxan membela Ding Tao.
―Lalu bagaimana sekarang dengan keadaannya setelah mengkonsumsi Obat Dewa Pengetahuan?‖, tanya Zhu Yanyan.
―Itulah yang menjadi salah satu dari tugas kalian.‖, ujar Pendeta Chongxan sambil tertawa kecil.
―Tetua … aku berjanji akan melindungi dia dan berusaha menyembuhkan dia dari pengaruh buruk Obat Dewa Pengetahuan.‖, sela Wang Shu Lin sebelum Zhu Yanyan atau Khongti sempat menyahut.
―Anak baik… anak baik…, baiklah kutitipkan masa depan Wudang padamu‖, ujar Pendeta Chongxan sambil tersenyum.
―Hanya saja, tidak enak juga meninggalkan dunia ini dengan berhutang, supaya hatiku tidak ada ganjalan, terimalah sejilid kitab ini. Hitung-hitung kau masih termasuk anak keturunan dari Perguruan Wudang.‖, ujar Pendeta Chongxan sambil mengeluarkan sejilid kitab tipis dari kantung bajunya.
―Ah tidak-tidak… tetua mengapa berkata demikian, sebaiknya jangan, jika saya terima kitab ini, kesannya saya menerimanya
2556
dengan satu pamrih di hati‖, ujar Wang Shu Lin dengan tulus, berusaha menolak pemberian Pendeta Chongxan.
Bhiksu Khongzhen tertawa mendengar penolakan Wang Shu Lin, ―Hahahaha, Adik Khongti, sungguh kau sudah memilih murid yang baik. Anak Shu Lin, janganlah merasa demikian, sebenarnya kami berdua sudah memutuskan untuk memberikan sesuatu padamu. Kami merasa sayang padamu, kau adalah murid dari adik seperguruan kami, dengan sendirinya masih ada hubungan dengan Shaolin dan Wudang. Terimalah kitab itu dan ini dariku.‖
Wang Shu Lin pun merasa terharu pada kebaikan mereka berdua, sementara ke-enam gurunya melihat dengan hati senang. Dengan hormat Wang Shu Lin menerima kitab yang diangsurkan oleh Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen.
―Terima kasih banyak, terima kasih… aku akan mempelajarinya baik-baik, aku berjanji tidak akan menggunakannya di jalan yang salah.‖, ucap gadis itu sambil menerima kedua kitab yang dihadiahkan padanya.
―Kitab yang kuberikan adalah ilmu pedang ciptaanku sendiri, meskipun berdasarkan ilmu dari peguruan Wudang, tapi juga
2557
tidak bisa dikatakan sebagai warisan Wudang, karena aku sudah memutuskan untuk mewariskannya padamu seorang.‖, ujar Pendeta Chongxan.
―Sedangkan kitab yang kuberikan padamu, kitab itu bukan berasal dari Shaolin. Kitab itu kudapatkan dalam pengembaraanku di masa muda. Sifatnya lembut, lebih sesuai untuk seorang gadis, kau boleh menggunakannya dengan bebas.‖, ujar Bhiksu Khongzhen.
Sekali lagi Wang Shu Lin mengucapkan terima kasih, demikian pula ke-enam gurunya ikut pula mengungkapkan perasaan terima kasih mereka pada kedua tokoh tua yang murah hati itu. Saat perpisahan pun akhirnya tiba, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan tidak ingin terlalu lama berada di sana. Mereka berdua tidak ingin para pengejar Ding Tao sampai terlalu dekat dengan tempat persembunyian sementara mereka. Mereka pun menyarankan agar Wang Shu Lin dan enam orang gurunya, sesegera mungkin membawa Ding Tao pergi ke desa Hotu, segera setelah Ding Tao sadar. Dengan wajah murung Wang Shu Lin dan ke-enam orang gurunya mengantarkan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pergi, hati mereka terasa berat, membayangkan kedua orang tokoh tua itu akan berhadapan dengan lawan-lawan tangguh di
2558
usia mereka yang sudah lanjut. Apalagi keduanya seperti bersiap hendak meninggalkan dunia ini, dengan pesan-pesan juga warisan yang mereka berikan pada generasi muda. Seperti sebuah pertanda buruk sebelum berangkat berperang.
Melihat wajah muram mereka, Bhiksu Khongzhen tertawa lepas, ―Sudahlah, segala sesuatunya belum ada kepastian, tidak perlu terlalu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi.‖
Dengan perkataan itu, mereka pun berpamitan dan meninggalkan tempat itu. Perhitungan mereka berdua jarang meleset, jika sekarang ini mereka pun seperti mendapat firasat akan akhir hidup mereka, kemungkinan besar keberangkatan mereka ini benar-benar menyongsong maut. Namun meski maut membayang di depan mata, keduanya berjalan dengan tenang, dengan hati bersih seperti air di danau yang tenang. Bisa hidup sesuai dengan nurani, matipun tidak ada yang disesali, keduanya , menghadapi kematian seperti sepasang sahabat yang hendak pergi makan siang, semuanya diterima sebagai satu kewajaran.
Kematian memang tidak terelakkan, tidak satu pun di antara kita mampu lari dari kematian, tapi betapa susah untuk menerimanya sebagai satu kewajaran.
2559
Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya berdiri di pelataran memandangi punggung kedua orang itu sampai dua sosok tua itu menghilang dalam kegelapan malam. Satu per satu kemudian kembali memasuki rumah tempat mereka bersembunyi menanti Ding Tao sadar dari pingsannya. Khongti dan Zhu Yanyan adalah yang terakhir masuk ke dalam rumah.
Sementara yang pertama kali dilakukan Wang Shu Lin setelah memasuki rumah, adalah pergi untuk melihat keadaan Ding Tao.
Ketika dia memasuki kamar, dilihatnya Ding Tao sedang duduk termenung, tidak menyadari kehadirannya sama sekali. Samar-samar terdengar dia bergumam.
―Ma Songquan, Chu Linhe, Chou Liang, Liu Chuncao, Chen Wuxi, Wang Xiaho, Fu Tong, …‖
Demikian Ding Tao menyebutkan satu per satu, nama pengikutnya yang hari itu berhadapan dengan kematian. Hati Wang Shu Lin ikut terasa pedih melihat keadaan Ding Tao. Diam-diam dia keluar dari kamar.
―Guru, dia sudah sadar‖, ucapnya pada ke-enam orang gurunya.
2560
―Benarkah? Bagus…, dengar aku sudah berpikir, sebaiknya tiga orang dari kita kembali ke Jiang Ling diam-diam. Mendengarkan berita-berita, yang lainnya bersama Wang Shu Lin akan mengawal Ketua Ding Tao ke Desa Hotu. Bagaimana menurut kalian?‖, kata Zhu Yanyan menengok pada lima orang yang lain.
―Aku setuju, biar aku ikut dengan kakak menyerap berita di Jiang Ling.‖, ujar Khongti dengan cepat.
Empat orang yang lain saling pandang dalam hati segera mengerti, dua orang ini tentu merasa khawatir dengan keadaan kakak seperguruan mereka, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Membuat dua orang tokoh tua itu membatalkan niat mereka juga tidak mungkin, karena keduanya punya alasan yang cukup kuat. Melanggar pesan keduanya untuk tidak membantu juga tidak berani, sehingga akhirnya yang bisa dilakukan hanyalah menanti berita tentang nasib mereka berdua. Juga jika dipikir lebih jauh, memang ada pentingnya memasang telinga, dengan demikian dalam pelarian nanti mereka bisa punya pegangan akan keadaan terakhir di Kota Jiang Ling. Maklum penyebaran berita tidaklah sepesat di jaman sekarang, kecuali jika memang ada orang-orang yang bertugas untuk itu.
2561
―Kalau begitu biar aku yang menemani kakak berdua‖, ujar Chen Taijiang.
Yang lain pun segera mengangguk setuju, karena setelah Zhu Yanyan, maka yang paling penyabar di antara mereka adalah Chen Taijiang, harapannya tentu saja jika ada berita yang tidak mengenakkan hati dan membangkitkan emosi, Chen Taijiang bisa meredamnya. Sementara Hu Ban yang panjang akal akan lebih dibutuhkan bagi mereka yang bergerak membawa Ding Tao. Zhu Yanyan dan Khongti sendiri tampaknya puas dengan pembagian yang dilakukan.
―Baiklah, kalau begitu, sebaiknya kalian mulai bergerak sekarang. Sementara aku, Adik Khongti dan Adik Chen Taijiang akan bergerak mendekati dini hari nanti, sehingga kami akan masuk kota bersamaan dengan orang-orang yang lain.‖, ujar Zhu Yanyan memberi keputusan.
―Wang Shu Lin, mari kita tengok keadaan Ketua Ding Tao lebih dulu, sementara yang lain bersiap.‖, ujar Hu Ban sembari bangkit dan menggamit tangan Wang Shu Lin.
―Aku ikut‖, ujar Shu Sun Er.
2562
―Baiklah kalian pergi menengok dia, sementara aku akan mempersiapkan keberangkatan kita.‖, ujar Pang Boxi bangkit berdiri.
―Ayolah, akan kami bantu juga, toh masih lama sebelum kami berangkat‖, ujar Khongti diikuti oleh Zhu Yanyan dan Chen Taijiang.
Sekilas ada kepahitan memancar dari mata Zhu Yanyan dan Khongti ketika menyebutkan nama Ding Tao. Dalam hati tidak rela, mengapa kakak seperguruan yang begitu mereka sanjung dan hormati, harus mempertaruhkan nyawa untuk Ding Tao yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan mereka. Sungguhpun sebagai orang yang sudah berumur dan dibesarkan dalam lingkungan yang mendidik mereka keras dalam hal keagamaan, toh masih ada bagian dari diri mereka yang belum bisa menerima. Zhu Yanyan pun menghela nafas saat mengingat keikhlasan yang terpancar dari wajah Pendeta Chongxan dan mengeluh pendek saat mengingat betapa dirinya masih sulit menerima sedangkan orang yang menjalaninya sendiri sudah meng-ikhlas-kan.
Sambil melangkah dan bekerja, menyiapkan segala sesuatunya, baik Zhu Yanyan dan Khongti terus menerus
2563
mengingatkan diri sendiri, berusaha mengikis kepahitan yang mereka rasakan pada Ding Tao. Kalaupun mereka belum bisa sampai pada keikhlasan yang ditunjukkan oleh kakak seperguruan mereka, setidaknya mereka sudah berada di jalan yang sama.
Di dalam kamar Ding Tao terlihat pemandangan yang berbeda. Ding Tao yang mulai menyadari keadaan dirinya dan sekitarnya, melompat bangkit dan berdiri dengan sikap menantang ketika Wang Shu Lin, Hu Ban dan Shu Sun Er masuk ke dalam kamar itu.
―Siapa kalian!?‖, tanya Ding Tao dengan nada suara bermusuhan.
―Tenang Ding Tao… ini aku… Wang Shu Lin.‖, ujar Wang Shu Lin dengan sedih dan cemas.
―Wang Shu Lin?‖, jawab Ding Tao dengan nada bertanya, jelas pikirannya belum sepenuhnya bekerja dengan mapan.
―Wang Shu Lin…, Ximen Lisi, kita bertemu pertama kali di kaki Gunung Songshan…‖, jawab Wang Shu Lin sedih melihat Ding Tao melupakan dirinya.
2564
―Wang Shu Lin… Ximen Lisi… oh… Nona Wang Shu Lin…‖, suara Ding Tao pun berubah melembut, ketika ingatannya akan Wang Shu Lin mulai kembali.
Tapi hanya sebentar saja karena rasa simpati yang dulunya dikaitkan dengan diri Wang Shu Lin sebagai seorang nona muda yang cantik, gagah dan menarik hati, sekarang berubah menjadi rasa curiga. Ya, menjadi curiga, karena sekarang seorang wanita yang cantik dan menarik hati sudah memiliki arti baru dalam benak Ding Tao. Sejak pengkhianatan Murong Yun Hua, wanita cantik dan memikat hati sekarang sama dengan seorang pengkhianat, sama dengan udang di balik batu, sama dengan tidak bisa dipercaya dan sederetan keburukan yang lain. Wajahnya yang sempat melembut pun berubah menjadi dingin.
Dengan sopan namun dingin dia bertanya, ―Nona Wang Shu Lin…, rupanya nona dan rekan-rekan nona yang menolong diriku. Aku ucapkan terima kasih pada kalian. Sekarang apa rencana kalian selanjutnya? Kukira kalian tentunya sudah memikirkan sesuatu.‖
Serasa diiris-iris dengan sembilu perasaan Wang Shu Lin mendengar cara Ding Tao menjawab, demikian dingin dan
2565
pertanyaan yang terakhir seperti bermakna dua. Antara menanyakan rencana mereka untuk menyelamatkan Ding Tao namun dibaliknya, yang tidak terkatakan adalah, apa mau kalian dariku? Bukan hanya Wang Shu Lin yang tertusuk hatinya, kedua orang gurunya juga ikut tersentuh dan mereka bisa merasa amarah mulai muncul dalam hati mereka. Baiknya keduanya merupakan tokoh-tokoh tua yang sudah matang pribadinya, dengan pengendalian diri yang sempurna mereka menekan amarah hendak muncul dalam hati mereka itu.
―Ketua Ding Tao baru saja mengalami satu peristiwa yang sangat menyakitkan, kami mengerti jika Ketua Ding Tao merasa curiga terhadap kami pula, meski kami adalah orang-orang yang menolong Ketua Ding Tao lepas dari bahaya.‖, ujar Hu Ban dengan tenang, dengan ucapannya itu selain menegur Ding Tao secara halus, juga ingin mengingatkan dan menghibur Wang Shu Lin muridnya.
Wang Shu Lin pun mengerti maksud gurunya, dengan senyum sedikit dipaksakan dia tersenyum pada Hu Ban lalu mengenalkan mereka pada Ding Tao, ―Ding Tao…, mereka ini adalah guru-guruku. Beliau ini adalah Guru Hu Ban dari Hoashan dan ini Guru Shu Sun Er dari Enmei.‖
2566
Wajah Ding Tao sedikit memerah mendengar sindiran halus Hu Ban, meski demikian kecurigaan dalam hatinya tidak hilang begitu saja, tapi tetap saja dia kemudian membungkuk hormat dan nada suaranya berubah jauh lebih ramah, ―Tetua, rupanya tetua berdua adalah guru dari Nona Wang Shu Lin. Maafkan kecurigaanku… yang mungkin tidak pada tempatnya…‖
―Tidak apa-apa… kami bisa membayangkan perasaan Ketua Ding Tao saat ini. Hanya saja kami harap, Ketua Ding Tao masih menyediakan tempat untuk mempercayai orang lain. Memang hari ini Ketua Ding Tao dihadapkan pada pengkhianatan yang sangat mengejutkan dan menyakitkan hati, tapi bukankah di saat yang sama Ketua Ding Tao juga melihat kesetiaan dan persahabatan yang diberikan orang pada ketua, meski harganya adalah kematian?‖, ujar Hu Ban dengan lembut.
Wang Shu Lin memandang wajah Ding Tao dengan cemas dan tak habis pikir, mengapa gurunya justru mengingatkan kembali Ding Tao pada kenangan buruk itu. Benar saja wajah Ding Tao tampak menggerenyit menahan nyeri di dada, mengenangkan kematian puluhan orang yang merelakan nyawanya bagi keselamatannya.
2567
―Ketua Ding Tao, mungkin sakit mendengarkan ucapanku barusan. Namun aku tetap harus menyampaikannya, jika tidak bukankah sama saja aku membiarkan Ketua Ding Tao melupakan kesetiaan mereka? Membiarkan mata Ketua Ding Tao tertutup dari satu sisi yang indah dari kehidupan ini dan hanya melihat pada sisi buruknya saja.‖, lanjut Hu Ban kemudian.
―Bukan berarti aku menyarankan Ketua Ding Tao untuk melupakan pengkhianatan yang terjadi dan hanya melihat pada kesetiaan yang ditunjukkan oleh puluhan pengikut Ketua Ding Tao. Jika demikian maka peristiwa ini pun akan berlalu tanpa memberikan sumbangan kebaikan, yang kuharapkan dari Ketua Ding Tao adalah membuka mata pada kedua kenyataan itu secara berimbang. Memang ada pengkhianatan ada penipuan, tapi juga ada ketulusan dan kesetiaan.‖
Ding Tao pun termenung mendengarkan uraian Hu Ban, inilah salah satu sifat baik dari Ding Tao. Berkat gemblengan orang tuanya semasa dia kecil, telinganya terbuka pada nasihat orang lain, terutama mereka yang lebih tua dari dirinya. Terkadang saat kita sakit, kita sulit mendengar nasihat orang. Orang yang datang dengan nasihat, tidak jarang kita tanggapi dengan amarah. Biasanya kita akan berkata, memang mudah untuk
2568
bicara tapi siapa yang bisa melakukan? Padahal bukankah lebih baik jika nasihat yang diberikan kita dengar dan renungkan lebih dahulu? Penghalang terbesar, biasanya adalah kesombongan dan ego, merasa diri lebih baik dari orang lain, sehingga sulit menerima nasihat dari orang lain. Ini yang tidak ada dalam diri Ding Tao, pemuda yang rendah hati, sehingga dengan mudah menempatkan diri sebagai orang yang kurang tahu, sebagai orang yang perlu diajar.
Pada hati yang demikian, sebuah nasihat mendapatkan tempat yang baik untuk bertumbuh. Bahayanya jika tidak diiringi kebijakan dalam menyaring nasihat orang, bisa jadi dia akan menjadi pribadi yang terombang-ambing. Baiknya Ding Tao adalah seorang yang jujur pada nuraninya sendiri, inilah pegangannya yang terakhir.
―Jadi, jangan mudah percaya, selalu waspada, tapi di saat yang sama juga jangan menghakimi seseorang bila belum memiliki bukti yang kuat.‖, kata Hu Ban mengakhiri nasihatnya.
Selesai mendengarkan nasihat Hu Ban, Ding Tao pun menghela nafas, ―Aku mengerti… aku mengerti… terima kasih untuk nasihat tetua…, tapi entah… apakah aku bisa melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.‖
2569
Hu Ban tersenyum senang, hatinya mulai merasa simpati pada Ding Tao, ―Kita semua berusaha melakukan yang terbaik, adapun keadaan kita yang sering lupa, itulah perjuangan kita, di mana kita selalu berusaha menengok ke dalam diri, adakah kita sudah menyerong dari jalan yang benar, masih adakah yang perlu diperbaiki dan demikian seterusnya, sampai ajal menjelang.‖
Setelah hatinya merasa tenang barulah Ding Tao bisa berpikir dengan lebih jernih, hatinya masih pedih jika mengingat kematian Ma Songquan dan yang lainnya, namun setidaknya dia mulai bisa berpikir. Maka teringatlah dia, ketika dia baru sadar, sepertinya ada suara yang dia kenal sedang bercakap-cakap di ruangan yang lain.
―Tetua…, kalau tidak salah, tadi aku mendengar suara tetua Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Benarkah mereka ada juga di sini?‖, tanya Ding Tao pada kedua guru Wang Shu Lin itu.
Shu Sun Er sekilas memandang Hu Ban, Hu Ban pun tidak segera menjawab, membuat jantung Ding Tao berdebar.
2570
―Ada apa? Mengapa diam? Benarkah kedua tetua sempat datang ke mari, jika benar ke mana mereka pergi sekarang?‖, tanya Ding Tao dengan perasaan tak enak.
Sebelum Hu Ban sempat menjawab, Zhu Yanyan dan yang lain sudah selesai menyiapkan segala sesuatunya dan sekarang mereka sudah berkumpul di tempat itu. Mendengar pertanyaan Ding Tao, baik Zhu Yanyan dan Khongti merasa nyeri dalam dada, namun di luar mereka tetap tenang.
―Bagus kalau Ketua Ding Tao sudah sadar. Kedua ketua memang sempat berada di sini, bisa dikatakan mereka berdualah yang mengatur rencana penyelamatan dirimu. Sekarang mereka pergi pula untuk satu urusan. Penjelasannya cukup panjang, sedangkan kita sedang diburu waktu, sebaiknya kita berangkat sekarang nanti akan aku jelaskan di jalan.‖, jawab Hu Ban dengan cerdik.
―Ah… baiklah, kita hendak pergi ke mana dan… maaf apa benar tetua berempat juga guru dari Nona Wang Shu Lin? Terima kasih atas pertolongan kalian, budi baik ini tentu akan aku ingat selalu dalam hati.‖, ujar Ding Tao sambil membungkuk hormat pada empat orang yang baru masuk.
2571
―Benar mereka ini guruku‖, jawab Wang Shu Lin untuk kemudian memperkenalkan mereka satu per satu, sesaat kemudian basa-basi sebuah perkenalan pun berjalan dengan singkat.
―Ayolah akan aku jelaskan sambil kita berjalan, tujuan kita kali ini adalah ke Desa Hotu, sebuah desa di luar perbatasan.‖, ujar Hu Ban menjawab pertanyaan Ding Tao selanjutnya.
Sambil menjawab, dia pun berjalan keluar dari kamar menuju ke pelataran di mana kuda dan perbekalan mereka sudah disiapkan. Dengan sendirinya yang lain pun berjalan mengikuti Hu Ban dengan Ding Tao dan Wang Shu Lin sebagai yang termuda berada paling belakang.
―Desa Hotu?‖, ujar Ding Tao dengan nada bertanya.
―Benar Desa Hotu, ini adalah pesan dari Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, nanti di sana kita disuruh menemui seseorang. Ada apa sebenarnya dengan desa itu kami sendiri kurang jelas, karena beliau berdua tidak cukup waktu untuk menjelaskan semuanya. Yang pasti desa itu berada di luar perbatasan, itu pun sudah merupakan alasan yang cukup kuat karena seperti yang kita ketahui, lawan kita kali ini punya
2572
pengaruh yang kuat hampir di seluruh daratan Tionggoan.‖, ujar Hu Ban menjelaskan.
Mendengar penjelasan Hu Ban, Ding Tao tercenung diam, terselip keraguan dalam hatinya. Hatinya masih belum sembuh benar dari sakitnya dikhianati, tapi dengan cepat pemuda itu menyadari keadaannya dan berusaha mengusir kecurigaan yang kurang beralasan itu dari dalam hatinya.
Dia pun berpikir, ‗Untuk saat ini, kukira itu jalan yang terbaik, menjauh sejauh mungkin dari daratan Tionggoan. Untuk sampai ke sana masih butuh waktu berbulan-bulan. Jika ada siasat dibalik pertolongan mereka, masih belum terlambat untuk membongkarnya dan memikirkan jalan keluarnya.‘
Diamnya Ding Tao bukannya tak lepas dari pengamatan Hu Ban yang tajam, melihat Ding Tao bisa menahan diri, Hu Ban pun tersenyum dalam hati. Senyum yang sendu, karena terbayang pengorbanan demikian banyak orang demi pemuda ini.
Dalam hati Hu Ban pun berujar, ‗Ah … semoga pengalaman pahit ini membuat dia lebih dewasa. Dunia persilatan mungkin butuh seorang jujur dan tulus seperti Tetua Bhiksu Khongzhen
2573
dan Tetua Pendeta Chongxan, tapi tokoh itu juga harus secerdik dan sebijaksana mereka, jika tidak dia hanya akan jadi bulan-bulanan dari orang-orang licik yang ada dalam dunia persilatan.‘
Sebentar saja mereka sudah sampai di pelataran, dengan sigap mereka melompat ke atas punggung kuda. Wang Shu Lin serta tiga orang gurunya yang ikut dalam perjalanan ke Desa Hotu pun berpamitan pada Zhu Yanyan bertiga. Kemudian Ding Tao pun berpamitan.
Zhu Yanyan dengan perasaan campur aduk memandangi pemuda itu, kemudian berkata, ―Ketua Ding Tao, hati-hatilah dalam perjalanan, jangan pikirkan apa pun kecuali menyelamatkan diri. Ada banyak tanggung jawab dan kepercayaan orang yang diletakkan di atas pundakmu. Jangan sampai kau mengecewakan mereka.‖
Lama Ding Tao memandangi Zhu Yanyan, dia bisa merasakan kepedihan dalam suara itu, hatinya pun tersentuh dan untuk sejenak seluruh kecurigaan yang sering mengganggunya hilang lenyap digantikan rasa empati. Meskipun dia tak mengerti apa yang membuat Zhu Yanyan bersedih, namun ingin dia berbuat sesuatu untuk menghibur orang tua itu.
2574
―Aku mengerti tetua… aku mengerti…‖, ujar Ding Tao dengan tulus.
Melihat ketulusan dan rasa simpati yang terpancar dari wajah Ding Tao, hati Zhu Yanyan dan Khongti jadi sedikit terhibur. Muncul harapan dalam hati mereka, agar pemuda ini tumbuh menjadi tokoh besar seperti kakak seperguruan mereka. Kiranya pengorbanan itu bukanlah pengorbanan yang sia-sia. Semoga harapan mereka berdua, terwujud benar dalam diri pemuda ini. Terkadang ketulusan beribu-ribu kali lebih berarti dibandingkan kata-kata yang dirangkai dengan indah. Meski kadang orang lebih tersanjung oleh pujian dan bukan ketulusan. Buktinya banyak gadis tertipu oleh rayuan gombal seorang laki-laki atau sebaliknya.
―Bagus… sekarang cepatlah berangkat, kami pun memiliki tugas di sini.‖, jawab Zhu Yanyan dengan hati yang jauh lebih lapang dari sebelumnya.
Kemudian dia pun menengok ke arah Hu Ban yang menjadi pemimpin dari rombongan kecil ini. ―Adik Hu Ban, segera setelah kami selesai menyerap berita di Jiang Ling, kami akan pergi pula ke Desa Hotu, kita akan bertemu di sana.‖
2575
―Baik, akan kami tunggu kedatangan kalian di sana, sepanjang jalan, jika ada perubahan rencana, tentu aku akan meninggalkan tanda-tanda tertentu untuk menjadi petunjuk.‖, jawab Hu Ban.
―Baik, sudah pergilah kalian sekarang‖, ujar Zhu Yanyan mengakhiri percakapan.
Dalam gelapnya malam, empat ekor kuda pun pergi ke arah utara, meninggalkan tiga orang yang memandangi punggung mereka sampai mereka menghilang dari pandangan.
―Kakak… sepertinya dia memang pemuda yang baik…‖, ucap Khongti sambil memandang ke kejauhan.
―Hmm… aku juga berpikir demikian. Lagipula mereka berdua sudah begitu terasah mata batinnya, jarang sekali mereka salah menilai seseorang. Jika Kak Chongxan berpendapat dia adalah seorang pemuda yang baik, aku yakin memang demikianlah kenyataannya.‖, jawab Zhu Yanyan.
―Sekarang masalahnya tinggal, apakah dia bisa selamat melewati cobaan ini? Apakah kepribadiannya tidak berubah akibat cobaan yang berat ini.‖, ujar Chen Taijiang dengan prihatin.
2576
―Itu adalah tanggung jawab kita semua, jangan sampai emas berubah jadi loyang.‖, ujar Zhu Yanyan.
―Kakak benar, tapi kukira hal itu tidak akan terjadi, bukankah ada ujar-ujar, meskipun mutiara terendam lumpur, dia akan tetap jadi mutiara.‖, sahut Khongti.
―Ya… sudahlah, tak ada gunanya menduga-duga masa depan. Yang bisa kita lakukan adalah berbuat sebaiknya di masa sekarang demi masa depan yang lebih baik tentang hasil akhirnya hanya langit yang tahu.‖, desah Chen Taijiang sambil berjalan masuk kembali ke dalam rumah.
Zhu Yanyan dan Khongti masih berdiri di depan pelataran beberapa lama sebelum bergerak lambat mengikuti Chen Taijiang yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam rumah. Meski mereka mengerti dan bisa memahami keputusan yang diambil Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan dalam satu gambaran yang luas, tetap saja terasa ada beban yang memberati hati mereka. Ketulusan Ding Tao yang mereka lihat sekilas tadi, menjadi hiburan yang mengurangi beban di hati.
Sementara Ding Tao sedang bergerak ke arah utara, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan sedang duduk-duduk di
2577
pinggir jalan dengan santai sembari membakar umbi-umbian semacam singkong. Di depan mereka api unggun menyala, lidahnya menari-nari membentuk berbagai macam bayangan.
―Hmm… lama juga mereka ya…, masakan mereka mengambil jalan berputar?‖, tanya Bhiksu Khongzhen dengan suara perlahan.
―Kurasa tidak…, coba saja pikirkan kalau kita ada di posisi mereka, saat ini siapa yang menjadi penghalang bagi mereka untuk menguasai dunia persilatan? Ketua Ding Tao dengan ketergantungannya pada Obat Dewa Pengetahuan justru bisa diletakkan ke nomor yang ke-sekian.‖, jawab Pendeta Chongxan.
―Tentu saja kau benar…, tapi perhitungan kita sebagai manusia kadang meleset juga. Bagaimana jika Obat Dewa Pengetahuan itu cuma satu bualan saja, sehingga Ketua Ding Tao tetap menjadi sasaran utama? Mungkin Zhong Weixia dan yang lain melihat kita menghadang di jalan ini, kemudian mereka mencari jalan memutar untuk menghindari hadangan kita.‖, ujar Bhiksu Khongzhen sembari meniup-niup singkong yang sudah matang.
2578
―Heh.. biasanya orang menggunakannya dalam sup, siapa tahu dibakar pun enak rasanya‖, ujar Pendeta Chongxan sambil mulai mengupas bagiannya.
―Haha, benar, tidak disangkan sudah sampai di penghujung usia, masih juga sempat merasakan makanan yang nikmat.‖, jawab Bhiksu Khongzhen sambil tertawa.
―Nah…, coba dengar, bukankah itu suara langkah kaki orang yang mengendap-endap?‖, ujar Pendeta Chongxan tiba-tiba, di tengah mereka sednag menikmati umbi-umbian itu.
―Hoho… bagus…, rupanya otak kita belum berkarat. Hmm… satu… dua… tiga… ah… tidak kurang dari tujuh orang.‖, kata Bhiksu Khongzhen.
―Mungkin itu sebabnya mereka datang sedikit terlambat, rupanya mereka mencari bala bantuan lebih dulu. Saudara Khongzhen, sayang sekali, kita belum sempat menghabiskan makanan ini, mereka sudah keburu datang.‖, sahut Pendeta Chongxan dengan santai.
―Menurutmu, mereka mau tidak kita suguhi makanan ini?‖, tanya Bhiksu Khongzhen sambil menyisihkan umbi-umbian yang sudah matang dari tengah api unggun.
2579
―Coba saja kita tawarkan, sayang kalau terbuang‖, jawab Pendeta Chongxan tersenyum simpul.
―Sobat…, kenapa tidak datang ke mari? Malam begitu dingin, di sini ada makanan panas dan api unggun, kami pun tidak keberatan untuk berbagi‖, seru Bhiksu Khongzhen ke arah datangnya suara langkah kaki.
Mendengar seruan Bhiksu Khongzhen itu pun, segera muncul tujuh sosok laki-laki, dipimpin oleh Zhong Weixia di depan. Seperti Bhiksu Khongzhen yang berlaku seolah-olah menyapa sesama pejalan kaki yang datang, demikian juga Zhong Weixia dan ke-enam rekannya. Meskipun sedari awal sudah berencana untuk melenyapkan nyawa dua orang tokoh tua itu, di luarnya mereka berlaku seakan-akan menemukan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan secara tidak sengaja.
―Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan, tidak kusangka akan bertemu kalian di sini, sedang menikmati bakar-bakaran. Bagaimana dengan pengejaran kalian atas diri Ketua Ding Tao?‖, sapa Zhong Weixia setelah jarak mereka cukup dekat.
―Ah…, kita bicarakan soal itu nanti dulu saja, sekarang kenapa kalian tidak ikut bergabung di sini bersama kami. Lihat jumlah
2580
yang sudah matang cukup untuk kita semua.‖, jawab Pendeta Chongxan sambil menunjuk ke tempat-tempat yang kosong di sekeliling api unggun.
Tanpa banyak cakap ke-tujuh orang itu pun memilih tempat masing-masing. Zhong Weixia, Xun Siaoma, Bai Chungho dan Guang Yong Kwang memilih duduk berhadapan mengelilingi Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Tiga orang yang lain, duduk sedikit mundur di belakang, di sisi kiri dan kanan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Dengan punggung bersandar pada pohon yang besar, kedua orang tokoh tua itu jadi terkepung dari semua sisi.
―Nah, cobalah rasa umbi-umbian ini, iseng-iseng kami coba membakarnya di api unggun, ternyata rasanya cukup nikmat juga dimasak dengan cara demikian.‖, ujar Pendeta Chongxan sambil menawarkan umbi-umbian yang sudah matang.
Zhong Weixia dan Bai Chungho tampak meragu, sedangkan Xun Siaoma tanpa banyak cakap segera memilih yang terbesar dan mulai mengupas kulit umbi yang kasar dan menikmati penganan itu. Yang lain menunggu sambil berpura-pura sibuk dengan berbagai urusan, ketika mereka melihat Xun Siaoma tidak mengalami apa-apa, barulah mereka mengambil umbi-
2581
umbian itu satu per satu. Melihat keraguan mereka Xun Siaoma mendengus pendek, sedangkan Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen hanya tersenyum-senyum saja sambil menikmati penganan mereka sendiri, seakan tak tahu kecurigaan orang.
Sambil makan itu, Zhong Weixia pun kembali bertanya, ―Jadi apakah ketua berdua sudah menemukan jejak Ketua Ding Tao?‖
―Hmm… hmm…‖, keduanya tidak langsung menjawab, tapi masih saja sibuk dengan makanan di tangan.
Zhong Weixia saling berpandangan dengan rekannya yang lain, Xun Siaoma justru sengaja tidak mau memandang wajah Zhong Weixia dan ikut-ikutan sibuk dengan makanan di tangan, sedang Bai Chungho tersenyum-senyum geli. Melihat itu, Zhong Weixia pun mulai naik darah, selama hidupnya dia senang kalau orang takut padanya, tapi hari ini mereka yang berkumpul di situ bukanlah orang yang bisa dia takut-takuti.
Zhong Weixia sudah membuka mulut untuk bertanya kedua kalinya, ketika Pendeta Chongxan melemparkan sisa kulit umbi yang ada di tangannya setelah melahap habis potongan terakhir, ―Ah… nikmat sekali, dingin-dingin begini memang
2582
paling nikmat memanaskan badan di dekat api unggun sambil menikmati makanan hangat.‖
Bhiksu Khongzhen menyusul sahabatnya itu melahap potongan terakhir umbi di tangannya dan menyahut, ―Lebih nikmat lagi kalau ada minuman yang menghangatkan tubuh.‖
―Aku ada sedikit arak, bagaimana apa Bhiksu Khongzhen mau melanggar pantangan?‖, ujar Pendeta Chongxan dengan mata mengerdip jenaka.
―Haa haa haa…. Biasanya aku selalu menaati perintah dan larangan, tapi malam ini, boleh juga sedikit melanggar, mana araknya?‖, jawab Bhiksu Khongzhen sambil tertawa terbahak-bahak.
Semakin keduanya bersikap wajar, malah semakin tegang perasaaan tujuh orang yang mengepungnya. Pendeta Chongxan pun benar-benar mengeluarkan seguci arak dan berbagi dengan Bhiksu Khongzhen, masing-masing menyesap sedikit saja untuk melegakan tenggorokan yang baru dilewati makanan.
―Hmm… benar-benar arak yang nikmat, entah sudah berapa puluh tahun aku tidak pernah merasakannya‖, ujar Bhiksu
2583
Khongzhen sambil berkecap-kecap, sementara Pendeta Chongxan tertawa geli melihat laku sahabatnya itu.
Bhiksu Khongzhen kemudian menatap lurus ke arah Zhong Weixia, ―Ketua Zhong Weixia, mengapa harus bertanya pula? Sandiwara kami boleh saja menipu orang lain, tapi tentunya tidak menipu kalian. Larinya Ketua Ding Tao adalah polah tingkah kami berdua, jadi mana mungkin kami mengejar untuk menangkap dia?‖
Zhong Weixia berpura-pura terkejut dan menjawab, ―Bhiksu Khongzhen, anda jangan bercanda, apa maksud anda ini? Ketua Ding Tao adalah seorang penjahat yang berbahaya, apa benar ketua berdua memutuskan untuk melindunginya?‖
Bhiksu Khongzhen tertawa hambar, ―Malam sudah semakin larut, sudahlah apa perlunya kita terus bersandiwara. Pilihan kalian cuma dua, kembali ke Jiang Ling atau berhadapan dengan kami berdua. Jangan harap kalian bisa menangkap Ketua Ding Tao selama kami berdua masih ada di sini.‖
Tapi Zhong Weixia masih saja berkeras dengan sandiwaranya, ―Bhiksu Khongzhen! Pendeta Chongxan! Apa kalian bersungguh-sungguh dengan perkataan itu? Jika benar, jangan
2584
salahkan kami jika kami memberanikan diri mengangkat senjata melawan kalian.‖
―Astaga…, memangnya ada berapa orang di sini? Apa perlunya juga kau bersandiwara? Kami berdua yakin, seyakin-yakinnya, bahwa Ketua Ding Tao telah dijebak. Siapa yang menjebak, aku rasa aku tak perlu mengatakannya, cukup ingat, tak akan bisa kalian menangkapnya kalau belum melewati kami berdua.‖, jawab Bhiksu Khongzhen sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sembilan orang itu duduk bersama, seperti sekumpulan pengelana yang sedang menikmati hangatnya api unggun, tapi nyatanya urat syaraf setiap orang sudah menegang.
―Bhiksu Khongzhen, kalau aku bertanya sekali lagi, apa jawabmu?‖, tanya Zhong Weixia, diam-diam jari tangannya sudah mengait salah satu rantai senjatanya.
―Kau bertanya ribuan kali pun jawabanku tetap sama. Sekarang aku tanya, kalian pilih yang mana? Kembali ke Jiang Ling atau mau mencoba-coba kepandaian kami berdua?‖, jawab Bhiksu Khongzhen, hawa murni pun diam-diam sudah dikerahkan melindungi tubuh.
2585
―Kami ada di pihak yang benar, kenapa harus takut?‖, ujar Zhong Weixia menjawab, namun sebelum habis dia berkata, roda bergeriginya sudah terlontar cepat menyambar mata Bhiksu Khongzhen.
Seperti anak panah dilepas dari busurnya, ke-enam orang yang lain bergerak dengan cepat pula, susul menyusul melontarkan serangan mereka ke arah dua orang tokoh tua itu. Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan dengan tak kalah sigapnya melompat berdiri dan menghalau serangan. Dalam sekejapan jalan yang sepi itu pun dipenuhi suara denting pedang dan berbagai macam senjata yang saling beradu. Bhiksu Khongzhen menggunakan tasbih di tangannya sebagai senjata, sedang Pendeta Chongxan sudah mencabut pedang di tangannya. Tetua Xun Siaoma dan Guang Yong Kwang dengan pedangnya, Bai Chungho dengan tongkat pemukul anjingnya, Zhong Weixia menggunakan sepasang roda bergerigi yang dikaitkan pada seuntai rantai besi. Tiga orang yang lain, masing-masing bersenjatakan pedang, tombak berkait dan sebilah golok tipis.
Dalam gebrakan pertama itu terbukti mereka bertujuh tak mampu mengambil keuntungan atas Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, di saat yang sama dua orang tokoh tua itu
2586
ternyata juga tidak mendapatkan kesempatan untuk lolos dari kepungan.
Untuk beberapa lamanya mereka bersembilan pun hanya saling memandang, menunggu lawan membuat kesalahan. Sesekali ada di antara mereka yang menyesuaikan kedudukannya, mencari lubang di pertahanan lawan, dan segera disusul oleh ke-delapan orang yang lain yang menyesuaikan kedudukan mereka dengan perubahan yang terjadi. Perlahan-lahan area pertempurang sedikit bergeser menjauhi api unggun.
―Kalian bertiga, aku tak pernah melihat kalian, tapi nyatanya gerakan kalian boleh dikata tergolong nomor satu dalam dunia persilatan. Jika boleh tahu, siapa nama kalian bertiga?‖, ujar Pendeta Chongxan kepada tiga orang yang tak dikenal itu.
Salah seorang dari mereka, yang sepertinya menjadi pemimpin dari dua orang yang lain menjawab dengan tenang, ―Kami bertiga adalah pelayan-pelayan setia dari keluarga Murong, sejak kecil kami sudah digembleng dengan berbagai macam aliran ilmu silat sebelum memilih senjata tertentu untuk didalami. Tetua berdua tidak pernah mendengar nama kami,
2587
karena memang selama puluhan tahun ini kami tidak pernah keluar rumah.‖
―Ah… menarik sekali, rupanya keluarga Murong menyimpan kekuatan dengan diam-diam. Ada berapa orang seperti kalian dalam keluarga Murong?‖, tanya Pendeta Chongxan dengan tenang, seperti bercakap-cakap dengan seorang kenalan.
―Hmph… baiklah, kalian dengarkan baik-baik. Jumlah kami seluruhnya ada 34 orang dan kami bertiga berada di posisi menengah. Sudah lama nyonya kami memperhitungkan kekuatan kalian berdua, jika nyonya hanya mengutus kami bertiga itu artinya, dia yakin bantuan kami bertiga sudah cukup untuk melenyapkan nyawa kalian.‖, ujar orang itu dengan nada sombong.
―Ah… hebat sekali nyonya kalian…, pernahkah kalian berpikir bahwa ada kemungkinan dia salah perhitungan? Jangan-jangan justru kalian bertiga yang kembali ke Jiang Ling tanpa nyawa.‖, tanya Pendeta Chongxan dengan senyum mengejek.
Dari cara mereka berbicara terlihat jelas betapa tiga orang itu memiliki harga diri yang tinggi, sekaligus memuja Murong Yun Hua secara berlebihan. Ejekan Pendeta Chongxan yang biasa
2588
saja itu pun sudah cukup untuk menyentuh harga diri mereka. Dengan teriakan marah ketiganya berkelebat menyerang Pendeta Chongxan, merusak kepungan yang mereka buat. Dalam hati Zhong Weixia dan yang lain pun memaki kebodohan tiga orang itu, tapi bukan tokoh kelas satu jika mereka terlambat bertindak. Dalam waktu yang singkat itu pun kedudukan sembilan orang itu bergese-geser dengan cepat. Lubang pertahanan yang muncul akibat gerakan tiga orang anak buah Murong Yun Hua dengan cepat berusaha ditutup oleh Zhong Weixia dan Bai Chungo. Namun Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan tidak kalah sigap memanfaatkan kelemahan yang muncul sesaat itu. Sekali lagi jalan yang sunyi itu dipenuhi dengan dentangan senjata, pasir-pasir pun berterbangan oleh hembusan serangan mereka.
Di sini dua orang tokoh tua itu menunjukkan kehebatan mereka, pedang Pendeta Chongxan berkelebatan menahan gerak Zhong Weixia dan Bai Chungho yang berusaha menutup lubang dalam kepungan mereka. Dengan gerak langkah kaki yang rumit dan tepat, sembilan orang itu pun dibuat kesulitan untuk saling membantu. Tidak jarang justru kawan sendiri yang menjadi penghalang untuk bergerak lepas. Selain dari tiga orang anak buah Murong Yun Hua, empat orang yang lainnya
2589
belumlah terbiasa untuk bekerja sama dalam sebuah serangan. Bisa dikata di antara mereka berempat hanya Xun Siaoma dan Bai Chungho yang sering berlatih bersama, mereka berdua dengan mudah bisa menyesuaikan gerakan masing-masing. Sayangnya mereka berdua pun memiliki ganjalan dalam hati, tidak seperti Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang saling percaya dan memiliki rasa persahabatan yang kuat, sehingga sedetik dua detik, gerakan Bai Chungho dan Xun Siaoma masih kalah cepat dan tepat dibandingkan lawannya.
Lagipula permainan pedang Pendeta Chongxan dan kekuatan hawa pukulan Bhiksu Khongzhen yang menyambar-nyambar, cukup membuat jeri lawan-lawannya. Pertempuran pun berlangsung cukup berimbang. Di satu sisi menang jumlah, di sisi lain menang dalam hal ilmu silat dan kerja sama.
Keuletan dan kegigihan dua orang jagoan tua itu pun akhirnya membuahkan hasil, dalam sebuah serangan kepungan tujuh orang lawan mereka itu pun terpecahkan. Keduanya dengan sebat meloloskan diri dari kepungan lawan dan dengan satu serangan mampu menghentikan lawan yang hendak bergerak mengepung mereka kembali.
2590
Sekali lagi dua kelompok yang bertarung ini pun kembali diam. Kali ini mereka berdiri berhadap-hadapan. Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen sudah berada di luar kepungan, tujuh orang lawannya hanya mampu membentuk setengah lingkaran dan tak melihat cara untuk bergerak ke belakang dua orang jago tua itu.
―Nama Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan benar-benar bukan nama kosong… Tapi jangan dulu berbangga hati…‖, ujar Zhong Weixia dengan matanya yang tajam tak pernah lepas dari dua orang itu.
―Terima kasih… terima kasih…, apakah sekarang kalian bersedia untuk berhenti mengejar Ketua Ding Tao?‖, jawab Bhiksu Khongzhen, matanya pun tak pernah lepas dari tujuh orang di hadapannya.
―Dalam mimpimu!‘, dengan perkataan itu kembali Zhong Weixia berkelebat menyerang.
―Bagi jadi dua kelompok! Kalian bertiga layani Pendeta Chongxan,sedang keledai gundul ini serahkan pada kami berempat! Pisahkan mereka berdua! Jangan biarkan mereka bertarung berpasangan!‖, seru Zhong Weixia sembari
2591
menghempaskan tenaganya beradu pukulan dengan Bhiksu Khongzhen.
Kaget juga Bhiksu Khongzhen dengan tenaga Zhong Weixia yang besar, selamanya Zhong Weixia lebih dikenal dengan serangan-serangan licik dan kejam menggunakan senjata roda bergeriginya, siapa nyana ketua Partai Kongtong itu menyimpan juga pukulan-pukulan tangan yang berat, bahkan mampu mengimbangi tenaga raksasa Bhiksu Khongzhen yang ditakuti lawan dan kawan.
―Ketua Zhong Weixia, selamat, rupanya sudah berhasil menyelami puncak ilmu tinju tujuh luka‖, seru Bhiksu Khongzhen sembari menangkis pukulan tangan Zhong Weixia yang datang berkelebat dan tanpa berhenti bergerak, menggeser kedudukannya untuk menghindari serangan pedang di tangan Guang Yong Kwang, tangan yang lain pun tidak menganggur melainkan menggebahkan tasbihnya diiringi hawa murni untuk mendesak mundur Bai Chungho dan Xun Siaoma.
Seruan Bhiksu Khongzhen ini bukan hanya membuat Pendeta Chongxan mengerutkan alis, tapi juga sekutu-sekutu Zhong Weixia sendiri ikut mencatatnya dalam hati. Rupanya Ketua
2592
Kongtong ini diam-diam menyempurnakan pukulan tenaga dalam warisan perguruannya. Sejak Ketua Partai Kongtong dua generasi di atas Zhong Weixia, belum pernah terdengar lagi ada anak murid Kongtong yang mampu menyempurnakan tinju tujuh luka, siapa nyana diam-diam Zhong Weixia menyempurnakannya.
―Hahaha, kalau sudah tahu apakah Bhiksu Khongzhen hendak menyerah sekarang?‖, jawab Zhong Weixia sambil tertawa berkakakan, kedua tinjunya pun bergerak tanpa henti menyambar-nyambar mengincar titik-titik penting di tubuh Bhiksu Khongzhen.
―Hahaha, siapa bilang aku hendak menyerah, justru aku merasa senang, kalau demikian aku pun tidak perlu sungkan-sungkan untuk mencoba Telapak Dewa Buddha tingkat 8 dan Genta emas tingkat akhir yang baru aku kuasai.‖, jawab Bhiksu Khongzhen telapak tangannya pun bergerak dengan cepat menyambuti pukulan tangan Zhong Weixia.
Plak! Plak! Plak! Zhong Weixia pun menyeringai gemas, pukulan tangannya bertemu dengan telapak tangan Bhiksu Khongzhen yang sama liatnya. Tadinya dia sudah bergirang hati, siapa sangka Bhiksu Khongzhen pun tidak berkurang
2593
liatnya seiring dengan pertambahan umur. Tapi tiga orang yang lain pun tidak berhenti menyerang dan juga membantu sekutunya bertahan, sehingga Bhiksu Khongzhen pun harus menguras tenaga untuk mengimbangi ke-empat lawannya. Pertempuran berlangsung makin seru. Pukulan-pukulan yang dilancarkan makin berat dan angin pun menderu-deru di sekeliling mereka berlima.
Di sisi lain pertempuran Pendeta Chongxan dan tiga orang lawannya pun berlangsung tidak kalah serunya. Pendeta Chongxan yang sudah berumur masih mampu bergerak lincah dan efektif, meliuk-liuk di tengah serangan lawan. Pedangnya bergulung-gulung, melipat dan mennghanyutkan serangan lawan. Tidak ubahnya sebuah pusaran angin, gerakannya yang melingkar lingkar, mampu menyeret lawan ke dalam permainan pedangnya. Tapi tiga orang itu bukan orang sembarangan, secara pengalaman mereka beberapa lapis di bawah Pendeta Chongxan, namun kekurangan itu mampu mereka tutupi dengan kerja sama yang sangat apik. Jelas mereka sudah belasan tahun berlatih bersama. Terutama pemimpin dari tiga orang itu yang bersenjatakan tombak berkait. Senjatanya yang panjang mampu bergerak dengan luwes, tombak besi yang keras, bisa bergerak lentur tak ubahnya sebuah rantai panjang.
2594
Kaitan yang ada di ujung pun digunakan dengan sempurna, bergerak menusuk, membacok dan mengait dari belakang, Pendeta Chongxan harus benar-benar waspada, tak boleh lengah sedikitpun.
Di lain pihak, golok yang tipis memang benar bergerak tanpa suara, namun golok tipis yang biasanya lentur, ternyata bergerak seperti golok besar dan berat saat menyerang. Saat bergerak tak bersuara, saat ditangkis tenaga yang menekan terasa berat benar.
Yang keras bergerak lentur, yang lentur bergerak keraS, sedang pedang di tangan orang ketiga bergerak seperti cucuran air hujan, mengisi setiap kekosongan dari serangan dua orang yang lainnya. Pendeta Chongxan tidak bisa mengendurkan semangatnya sedikit pun. Bagusnya jagoan tua itu mampu bergerak dengan hemat, gerakan-gerakannya tidak menghamburkan tenaga yang tidak perlu, gulungan pedangnya mampu menggunakan kekuatan lawan untuk menangkis serangan lawan.
Ulet benar dua orang jagoan tua itu, seandainya lawan-lawan mereka hari ini bukan jagoan-jagoan kelas satu sudah sedari tadi mereka akan menyerah. Sekarang pun luka-luka kecil
2595
mulai menghiasi tubuh lawan Pendeta Chongxan. Luka kecil yang tak berbahaya namun cukup mengganggu dan membangkitkan kemarahan. Melihat keadaan tiga orang itu, Zhong Weixia mengeluh dalam hati.
‗Hmm, benar memang mereka berilmu tinggi, tapi terlalu sombong untuk melihat tingginya langit‘, pikir Zhong Weixia ketika sesekali melirik keadaan di kelompok yang lain.
―Huh! Dasar anak-anak muda yang sombong.‖, geram Xun Siaoma yang rupanya juga menilik keadaan di sana.
Zhong Weixia tidak ingin menyinggung tiga orang kepercayaan Murong Yun Hua itu, namun menilik keadaan mereka dia pun tidak mungkin mendiamkannya saja, dia pun berteriak,‖Sobat! Lawanmu sudah tua, berbelas kasihan sedikitlah. Lihat! Nafasnya sebentar lagi tentu akan habis!‖
―Hahaha! Siapa bilang nafasku sudah hampir habis?‖, seru Pendeta Chongxan sambil mengemposkan semangatnya, dalam satu ledakan tenaga lawan-lawannya seakan melihat bayangan naga berkelebatan menyambar-nyambar dari gulungan pedang Pendeta Chongxan.
2596
Tiga lawan yang lebih muda pun dibuat terpukul mundur, menjauh beberapa langkah dari serangan yang menakutkan itu. Melihat keadaan mereka yang kritis, Xun Siaoma pun melompat mendekat, meninggalkan Bhiksu Khongzhen yang ditahan oleh Zhong Weixia, Guang Yong Kwang dan Bai Chungho. Bagai kilat pedang Xun Siaoma menyambar, tidak salah jika Hoasan dikatakan Gunung Thaisannya ilmu pedang, sambaran kilat pedang Xun Siaoma diiringi hawa murni yang kuat, melesat lurus menyerang pusat gulungan pedang Pendeta Chongxan. Memaksa Pendeta Chongxan untuk menarik kembali serangannya dan tidak memburu tiga orang lawannya. Secepatnya perhatian Pendeta Chongxan pun berpindah ke arah Xun Siaoma, namun Xun Siaoma cepat menarik mundur serangannya, tidak mau terlibat dalam pertarungan melawan Pendet Chongxan. Waktu yang singkat itu sudah cukup untuk memulihkan keadaan tiga orang kepercayaan Murong Yun Hua yang sempat terguncang. Dari pendekar pedang keluarga Murong, berkelebat meyambar Pendeta Chongxan, tujuh buah senjata bidik yang dilontarkan dengan tenaga dalam.
Pendeta Chongxan terpaksa menarik serangannya dan mengalihkan kembali perhatiannya pada tiga orang kepercayaan keluarga Murong, sementara Xun Siaoma dengan
2597
cepat sudah kembali membantu Zhong Weixia bertiga untuk menahan serangan Bhiksu Khongzhen yang memanfaatkan kesempatan di saat lawannya berkurang seorang.
―Awas serangan!‖, seru pendekar dengan tombak berkait menyerang Pendeta Chongxan.
Tidak sia-sia seruan Zhong Weixia, tiga orang itu terbuka matanya oleh kelebihan lawan mereka, tapi juga dengan kekurangannya. Mereka menyerang dengan berhati-hati dan mengambil jarak, sengaja membuat gerakan Pendeta Chongxan semakin luas, dengan demikian mengeluarkan tenaga yang lebih besar. Menggunakan kelebihan panjang tombak, si tombak berkait menyerang dari kejauhan. Menggunakan gerakan goloknya yang tak bersuara, pendekar golok itu mencari-cari kesempatan untuk meyerang Pendeta Chongxan dari belakang. Sementara yang berpedang, sekarang lebih sering menggunakan senjata rahasia untuk menyerang Pendeta Chongxan.
Jika Pendeta Chongxan berkelahi sambil menyimpan tenaga, mereka bertiga pun akan mencecar dengan serangan-serangan yang memaksanya bergerak, tapi ketika Pendeta Chongxan
2598
balas menyerang dengan hebat, mereka akan bergerak menjauh, memaksa Pendeta Chongxan untuk mengejar.
Melihat cara mereka berkelahi, mengeluhlah Pendeta Chongxan dalam hati. Dia sadar kelebihannya dalam hal ilmu silat tidak berselisih jauh dengan ketiga orang lawannya. Ketika mereka bertiga melayani permainan pedangnya dengan keras dalam jarak yang dekat, dia justru punya kesempatan untuk mencuri-curi serangan di sela serangan lawan. Sekarang lawan, menyerang dengan berhati-hati dan bermain dalam jarak yang jauh, memaksa dia bekerja lebih keras, sementara serangannya sulit berhasil karena lawan berjaga dengan ketat. Pendeta Chongxan pun sadar, cepat atau lambat, tenaganya akan terkuras terlebih dahulu dibandingkan lawan yang usianya jauh lebih muda. Fisiknya yang tua tidak mampu menunjang penggunaan hawa murni yang terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama. Ketika tadi dia memaksakan diri untuk mengeluarkan jurus pamungkasnya, dia sudah bisa merasakan betapa gerakan itu membebani tubuh fisiknya yang sudah renta. Seandainya tidak ada Xun Siaoma mungkin pengorbanan itu akan memberikan hasi l yang pantas, setidaknya dia akan berhasil melukai satu atau dua orang lawannya.
2599
Sayang ada Xun Siaoma di sana, dalam hal ilmu pedang dia tidak di bawah Pendeta Chongxan, meski dalam hal himpunan hawa murni dan pengerahannya dia masih selapis dua lapis di bawah Pendeta Chongxan, tapi dalam hal ketajaman mata untuk menganalisa jurus pedang lawan, Xun Siaoma merupakan lawan yang setanding.
Beberapa li jauhnya dari pertarungan itu, Ding Tao, Hu Ban, Pang Boxi, Wang Shu Lin dan Shu Sun Er sedang berpacu dengan kuda mereka menuju ke utara. Sebuah perjalanan yang amat panjang, namun setiap langkah menjauh dari Zhong Weixia dan sekutunya memperbesar kesempatan mereka untuk selamat.
―Tetua Hu, ada apakah di Desa hotu itu?‖, tanya Ding Tao memecahkan kesunyian.
Hu Ban mengerutkan alis, dia sendiri merasa penasaran dengan desa itu, ―Tepatnya seperti apa, aku sendiri kurang jelas. Tetua Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen yang lebih tahu, sayang waktunya sendiri sangat singkat, semuanya serba terburu-buru tak ada kesempatan untuk menjelaskan segala sesuatunya. Petunjuk mereka berdua sendiri cukup
2600
jelas, kukita semuanya akan jadi jelas begitu kita bertemu dengan tabib di desa itu.‖
―Menurut Tetua Hu Ban, kita akan bertemu dengan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan di sana?‖, tanya Ding Tao lebih lanjut.
Berat perasaan Hu Ban untuk menjawab, ―Kukira demikian, tapi kedua tetua itu tidak bisa meninggalkan begitu saja urusan Shaolin dan Wudang di saat situasi demikian genting. Kemungkinan besar, anak murid kepercayaan mereka yang akan datang.‖
―Kedua tetua sungguh tokoh yang berjiwa ksatria, kuharap akan ada kesempatan untuk mengucapkan terima kasih pada mereka.‖, ujar Ding Tao membuat mereka yang mendengarnya mendelu.
Wang Shu Lin pada dasarnya punya hati sangat berperasaan, terhadap lawan memang seperti api yang membara, terhadap orang-orang yang kasar dia pun ikut bersikap berangasan dan tak kalah kerasnya. Namun sesungguhnya hatinya mudah tersentuh, terhadap kebaikan orang tentu dia tidak akan lupa. Bagi gadis ini ke enam orang gurunya adalah dewa penolong,
2601
tempat dia mendapatkan kasih sayang, pengganti orang tua. Demi dirinya mereka terasing dari saudara-saudara seperguruan mereka. Kebaikan orang pada enam orang gurunya ini, berkali lipat jauh lebih berarti dibandingkan kebaikan orang pada dirinya sendiri, itu sebabnya kesannya pada Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan amatlah baik.
Mendengarkan percakapan Ding Tao dan Hu Ban, hati gadis itu mengharu biru, tenggorokan tercekat ingin menangis menumpahkan perasaan.
Demikian pula Hu Ban yang harus menjawab pertanyaan Ding Tao sementara dia tahu kedua orang tetua itu justru sedang menjelang ajal, memasang badan agar mereka bisa berlari menjauh dari bahaya dengan tenggorokan sedikit tercekat Hu Ban menjawab, ―Kau banyak berhutang budi pada mereka berdua, karena itu jangan kecewakan mereka, ingat keduanya mempercayakan satu tangggung jawab besar di atas pundakmu.‖
―Tanggung jawab besar? Apakah kedua tetua ada menyampaikan satu pesan untukku ketika aku tidak sadarkan diri?‖, tanya Ding Tao heran.
2602
―Ya…‖, jawab Hu Ban sedikit ragu.
―Apa pesan mereka?‖ tanya Ding Tao dengan bersemangat.
―Hmm… saat mereka menyerangmu di Jiang Ling, apakah Ketua Ding Tao masih ingat?‖, tanya Hu Ban.
―Ya… aku ingat…‖, jawab Ding Tao sambil mengerutkan dahi.
―Menurut tetua berdua, serangan mereka itu adalah inti sari dari ilmu warisan Shaolin dan Wudang yang mereka dapatkan setelah merenunginya selama puluhan tahun. Mereka titipkan perenungan mereka itu, untuk kau sampaikan pada anak murid Shaolin dan Wudang di masa depan.‖, ujar Hu Ban menjelaskan.
Dahi Ding Tao semakin berkerut mendengarkan penjelasan Hu Ban.
―Apakah Ketua Ding Tao mengerti? Itu sebabnya saat ini Ketua Ding Tao harus menjaga baik-baik diri ketua, karena di atas pundak Ketua Ding Tao bukan hanya ada harapan pengikut-pengikut setia Ketua Ding Tao tapi juga warisan bagi anak murid Shaolin dan Wudang di generasi berikutnya.‖, ujar Hu
2603
Ban berusaha menguatkan semangat Ding Tao untuk bertahan hidup.
―Tunggu … mengapa kesannya kedua tetua membuat pertanda buruk bagi dirinya sendiri?‖, keluh Ding Tao.
―Itu… situasi saat ini sangat genting, sementara di generasi sekarang belum ada yang siap untuk menerima tuntunan kedua tetua mengenai inti dari ilmu silat mereka. Karenanya kedua tetua tidak merasa tenang sebelum ada dari generasi yang lebih muda yang mewarisi hasil pemikiran mereka selama bertahun-tahun.‖, Hu Ban berusaha menjawab ganjalan di hati Ding Tao.
Tapi perasaan Ding Tao yang peka bisa merasakan ada yang disembunyikan dari jawaban Hu Ban, sekilas dia melihat ke kiri dan ke kanan, mengamati ekspresi di wajah Wang Shu Lin, Pang Boxi dan Shu Sun Er. Seketika itu juga sebuah pemahaman merasuk ke dalam pikiran Ding Tao. Kuda yang menderap maju, tiba-tiba berhenti karena ditahan tali kekangnya.
2604
―Apakah kedua tetua hendak mengorbankan diri demi menyelamatkan aku dari kejaran lawan?‖, tanya Ding Tao tiba-tiba.
Ding Tao berhenti begitu mendadak, dengan sendirinya empat orang yang lain sekarang berada beberapa langkah di depan Ding Tao, Hu Ban dengan wajah pucat berusaha menjawab, ―Dengar…, kedua tetua adalah tokoh terbesar di jaman ini, tak ada orang yang dapat menyakiti mereka.‖
―Benar keduanya adalah tokoh terbesar golongan lurus di jaman ini, dengan sendirinya mereka berdua adalah penghalang terbesar bagi mereka yang memiliki niat jahat.‖, jawab Ding Tao, kudanya perlahan-lahan bergerak mundur dan hendak berbalik arah.
―Tunggu! Apa yang hendak Ketua Ding Tao lakukan? Apakah sudah lupa dengan segala pengorbanan mereka? Apa yang mereka percayakan pada Ketua Ding Tao, akankah ketua mengecewakan mereka berdua?‖, tegur Hu Ban dengan jantung berdebar-debar.
Bayangan tubuh-tubuh tak berkepala berkelebatan dalam benak Ding Tao, sambil menggertakkan gigi dia menjawab, ―Itu
2605
urusan mereka berdua! Aku tak pernah memintanya dan aku tak mau berhutang pada siapapun untuk kesekian kalinya!‖
Ding Tao pun menark tali kekang kudanya kuat-kuat, berbalik arah dan menggebah kuda tunggangannya untuk melaju ke arah yang berlawanan.
―Sial!!! Ketua Ding Tao jangan jadi orang egois!!!‖, seru Hu Ban dengan kesal, keringat dingin membasahi dahinya, kudanya pun dipacu untuk mengejar Ding Tao.
Shu Sun Er dan Wang Shu Lin dibuat melengak bingung dengan perubahan yang terjadi dengan tiba-tiba.
―Hmph! Sungguh pemuda pujaanmu itu bukan pemuda sembarangan, hanya bikin pusing saja.‖, dengus Shu Sun Er sebelum memacu kudanya menyusul Ding Tao dan Hu Ban yang sudah lebih dahulu melaju di depan.
―Ho! Ayolah kita mati berbareng saja, ini lebih baik daripada lari seperti anjing kurap.‖, gumam Pang Boxi sebelum memacu kudanya mengikuti yang lain.
Apa lagi yang bisa dilakukan Wang Shu Lin kecuali mengikuti ketiga orang gurunya, memacu kudanya mengejar Ding Tao
2606
yang melesat cepat di depan. Sementara jauh di depan Hu Ban masih berteriak berusaha menghentikan Ding Tao.
―Ketua Ding Tao! Kau bahkan tak tahu mereka ada di mana saat ini! Semuanya baru dugaan saja!‖
―Jika sembarangan bergerak, ketua justru mengacaukan semuanya!‖
Tapi Ding Tao tak menggubris sedikit pun seruan-seruan Hu Ban. Kematian Ma Songquan dan yang lain kasih terlalu lekat dalam benaknya untuk berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu.
‗Celaka, rusak semuanya, semoga saat melewati pondokan Kakak Zhu Yanyan dan yang lain bisa membantuku untuk menghentikannya.‘, keluh Hu Ban dalam hati.
Beberapa li jauhnya, kembali pada pertarungan sengit antara pihak yang lurus dan yang sesat, pertarungan semakin lama semakin tidak berimbang. Tubuh renta Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen tidak dapat mengimbangi jurus-jurus pamungkas mereka dan penerapan hawa murni yang berlebihan dalam jangka waktu yang lama. Dua orang itu bukannya tidak sadar dengan keadaan mereka, namun
2607
pilihannya hanyalah bertahan selama mungkin atau mempertaruhkan segalanya dalam satu serangan yang bukan hanya membahayakan lawan, tapi juga merugikan tubuh mereka sendiri.
Di antara mereka berdua, Pendeta Chongxan lah yang keadaannya paling parah. Tiga orang lawannya sudah terlatih bekerja sama selama belasan tahun, mereka juga berusia 30-an, tepat pada puncak fisiknya. Sementara lawan Bhiksu Khongzhen yang berusia muda hanyalah Guang Yong Kwang dan Zhong Weixia, keadaan Bai Chungho dan Xun Siaoma sendiri sudah sama payahnya dengan Bhiksu Khongzhen. Menyadari keadaannya muncul perasaan tak rela dalam hati Pendeta Chongxan. Dia tiba-tiba merasa betapa puluhan tahun yang dia habiskan untuk melatih ilmunya terbuang sia-sia, mati di tangan orang tak bernama. Dalam keadaan itu, Pendeta Chongxan pun memutuskan untuk mempertaruhkan segala sesuatunya pada serangan berikutnya. Setidaknya sebelum dia mati, dia bisa menunjukkan segala apa yang sudah dia capai, jangan sampai orang lupa nama besar Pendeta Chongxan.
―Saudara Khongzhen! Aku jalan lebih dulu! Tolong jaga agar tidak ada yang mengganggu!‖, serunya sambil menghimpun
2608
segenap hawa murni yang dia himpun selama belasan tahun lamanya di titik-titik pusat energi dalam tubuhnya.
―Saudara Chongxan! Aku akan mengiringimu!‖, seru Bhiksu Khongzhen menjawab.
―Awas hati-hati semuanya!‖ seru Zhong Weixia merasakan hawa pembunuh yang menekan berat keluar dari seluruh tubuh Pendeta Chongxan.
Tanpa peringatan Zhong Weixia pun, mereka bertujuh bisa merasakan tekanan yang keluar dari tubuh Pendeta Chongxan yang kurus dan renta.
―Xun Siaoma awas serangan!‖, seru Bhiksu Khongzhen berkelebat menekan Xun Siaoma.
Di saat yang bersamaan, Pendeta Chongxan bergerak menyerang, pedangnya bergerak cepat menusuk ke depan, terlihat sangat sederhana, tapi tidak demikian bagi pendekar bergolok tipis yang harus menghadapi serangan itu. Seandainya ilmunya tidak setinggi saat ini, tentu dia tidak merasakan kengerian seperti yang dia rasakan saat ini. Nalurinya mengatakan betapa berbahayanya serangan Pendeta Chongxan di saat yang sama dia tidak mampu
2609
menentukan di mana letak bahayanya. Dengan putus asa dia membuang tubuhnya bergulingan ke belakang, namun serangan Pendeta Chongxan sampai lebih cepat dari yang ditangkap oleh panca inderanya. Serangan itu sampai sebelum dia bisa memahami bagaimana serangan itu sampai di tubuhnya, dengan jeritan menyayat hati dia pun rubuh bergulingan dengan lubang di dadanya.
Serangan Pendeta Chongxan tidak berhenti di sana, pedangnya bergerak berbalik mencecar si tombak berkait dan pendekar berpedang yang bergerak hendak membantu rekannya.
Yang paling mengerikan dari serangan Pendeta Chongxan adalah kecepatannya yang sulit diikuti, ketika dirasa telah tiba ternyata belum tiba, ketika dikira belum tiba, ternyata serangan itu sudah sampai. Sepertinya sederhana, namun hanya dengan pengerahan hawa murni yang sempurna saja serangan itu bisa dilakukan, kecepatan yang melebihi kecepatan yang dapat diikuti oleh tokoh-tokoh kelas satu tersebut. Menciptakan serangan bayangan dan serangan sungguhan yang seakan sama mematikannya.
2610
Dalam satu gerakan yang berkesinambungan, pedang Pendeta Chongxan bergerak menyerang tanpa bisa ditahan. Tombak berkait terpotong menjadi dua, sebuah luka menyilang lebar di depan dada, beruntung dia masih cukup sigap untuk menghindar sehingga tidak sampai melepas nyawa, namun rekannya yang bersenjatakan pedang dan senjata rahasia tidak cukup cepat bergerak, terhuyung mundur dengan luka mengucur deras dari dadanya, dalam waktu yang sepersekian saatnya dia menghamburkan senjata rahasia di kantungnya ke depan, berharap bisa menghambat gerakan Pendeta Chongxan yang sudah tak bisa dia ikuti dengan panca inderanya. Tapi entah bagaimana caranya, pedang itu tetap saja mampir ke dadanya. Yang dia tahu hanyalah dadanya yang tiba-tiba terasa basah, banjir oleh darah dan pandangan matanya yang semakin gelap.
Sebelum dia jatuh dengan luka menganga dan kehilangan kesadaran dia masih sempat mendengar seruan Bhiksu Khongzhen penuh rasa khawatir, ―Chongxan! Saudara Chongxan!‖
Lamat-lamat dia melihat Pendeta Chongxan terhuyung-huyung dengan dada dihiasi belasan luka. Pandangannya makin mengabur, bayangan ronce-ronce merah yang menghiasi tubuh
2611
Pendeta Chongxan lamat-lamat bisa dia kenali sebagai senjata rahasianya.Sisa-sisa ketegangan yang masih menjalari tubuhnya pun dia lepaskan, dengan seulas senyum puas, tubuhnya terbanting ke atas tanah. Sementara Pendeta Chongxan yang sempat terhuyung-huyung sudah pula mendapatkan keseimbanganya dan berdiri dengan gagah. Baju dan jubahnya sudah berwarna merah oleh darah, pada serangan yang terakhir seharusnya dia masih bisa menghindar tapi Pendeta Chongxan memilih meneruskan serangannya. Akibatnya tubuhnya pun penuh luka dihujani senjata rahasia lawan, beberapa sempat dia pukul jatuh dengan pukulan tangannya, tapi belasan yang lain menghujani tubuhnya tanpa bisa dicegah.
Melihat keadaan sahabatnya, Bhiksu Khongzhen pun jadi gelap mata. Mengikuti jejak Pendeta Chongxan, tanpa mempedulikan lagi keadaan fisiknya yang sudah renta, Bhiksu Khongzhen pun mengerahkan simpanan hawa murninya, menerapkan ilmu andalannya meski aliran hawa murni yang berlebihan itu merusak sistem energi dalam tubuhnya.
Zhong Weixia yang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan sudah menyambar datang dengan pukulan tinju 7 lukanya.
2612
Sebuah ledakan dengan suara tak terdengar namun menggetarkan dada terjadi saat tinju Zhong Weixia menghantam dada Bhiksu Khongzhen. Hebat, sungguh hebat, pukulan telak Zhong Weixia seperti tak terasa sedikitpun oleh bhiksu tua itu, malah Zhong Weixia yang terpental ke belakang seakan menabrak tembok yang tak terlihat.
―Genta emas tingkat akhir…‖, seru Xun Siaoma yang tergetar melihat pameran ilmu kebal yang ditunjukkan Bhiksu Khongzhen.
―Keparat…! Serang dia!‖, geram Zhong Weixia dengan gemas, bukan hanya tangannya saja, dadanya pun terasa nyeri akibat benturan hawa murni yang terjadi.
Tidak menunggu aba-aba kedua kalinya, Guang Yong Kwang, Bai Chungho dan Xun Siaoma berkelebat cepat menyerang Bhiksu Khongzhen yang berdiri kokoh seperti gunung karang.Mereka sadar saat ini adalah pertaruhan hidup mati, Bhiksu Khongzhen yang sudah mengerahkan ilmunya sampai pada puncaknya tidak bisa dibuat main-main. Bhiksu Khongzhen pun tidak berdiam diri saja, selesai menerapkan ilmu genta emas, tangannya bergerak menyerang dengan pukulan telapak Buddha. Satu saja sudah menguras hawa
2613
murni dan membebani tubuh rentanya, apalagi dua sekaligus. Namun perbawanya sungguh hebat, lawan pun dibuat kebat-kebit oleh serangan Bhiksu Khongzhen yang membadai.
Zhong Weixia yang berteriak untuk menyerang, justru dirinya sendiri tidak ikut maju menyerang. Dia berdiri diam, mengatur hawa murninya yang bergerak liar tak terkendali setelah benturan yang terjadi melawan ilmu kebal Bhiksu Khongzhen. Daya penghancur tinju 7 luka memang hebat, namun ilmu kebal genta emas milik Bhiksu Khongzhen berhasil mementalkannya, menahannya sebelum daya hancur itu sepenuhnya lepas dari pukulan Zhong Weixia. Akibatnya sekarang Zhong Weixia harus berhadapan dengan hawa pukulannya yang membalik, memukul diri sendiri. Lagipula Zhong Weixia tidak ingin berhadapan dengan Bhiksu Khongzhen yang sedang kesetanan. Jika Zhong Weixia bisa berpikir demikian, sudah tentu Bai Chungho yang tidak kalah liciknya dengan Zhong Weixia sampai pada kesimpulan yang sama. Di luarnya saja dia terlihat maju bergebrak, kenyataannya dia lebih banyak menghindar dan memukul tempat kosong.
Tiga orang tokoh kelas satu itu pun dibuat jadi bulan-bulanan oleh serangan Bhikau Khongzhen yang bergerak tanpa henti. Tidak kurang dari tiga kali pukulan Bhiksu Khongzhen mampir
2614
telak di tubuh Guang Yong Kwang, di ujung bibir ketua muda perguruan Kunlun itu sudah dihiasi dengan darah segar. Keadaan mereka pun makin payah, ketika Pendeta Chongxan yang sudah terluka tiba-tiba kembali bergerak menyerang. Meski pendekar yang bersenjatakan tombak berkait ikut pula maju dalam pertarungan, namun kegarangannya sudah jauh berkurang, apalagi jika berhadapan dengan Pendeta Chongxan, seakan dia berhadapan dengan hantu yang tidak bisa dibunuh.
Pucatlah wajah Zhong Weixia dan Guang Yong Kwang, selamanya orang yang punya ambisi besar paling takut dengan kematian.
Keadaan berubah seratus delapan puluh derajat, sisa lima orang yang masih hidup dibuat kalang kabut oleh serangan dua orang jagoan tua yang tak juga padam. Tadinya Zhong Weixia berharap kekuatan keduanya akan surut dengan cepat, sudah bukan rahasia lagi jika pengerahan tenaga yang berlebihan itu menghancurkan tubuh keduanya yang sudah renta. Namun saat yang ditunggu itu tak juga tiba, malah beberapa kali mereka hampir saja melewati gerbang neraka dan hanya dengan gerakan menyelamatkan diri tanpa malu-malu saja mereka lolos dari kematian.
2615
―Mundur! Mundur!‖, akhirnya Zhong Weixia pun tak tahan lagi.
Begitu mendengar seruan Zhong Weixia, lima orang jagoan itu pun berlari mundur tanpa ingat harga diri lagi. Lima orang jagoan yang namanya menggetarkan dunia persilatan, lari lintang pukang, dikejar dua orang jagoan tua yang sudah mendekati ajalnya. Kalau diceritakan, siapa pun juga tidak akan percaya, kenyataannya demikianlah yang terjadi.
Sementara itu Ding Tao terus yang berpacu dengan Hu Ban, Shu Sun Er dan Wang Shu Lin, bergerak dengan cepat semakin lama semakin dekat dengan tempat pertempuran. Melewati pondok persembunyian mereka yang sebelumnya, Hu Ban pun berteriak-teriak kesetanan.
―Tahan dia! Tahan dia! Kakak Zhu Yanyan! Khongti! ‖, seru Hu Ban panik.
Tapi bagaimana bisa Zhu Yanyan, Khongti dan Chen Taijiang yang tidak siap hendak menghentikan Ding Tao yang menderap cepat melewati pondokan mereka. Saat ketiganya berlompatan keluar ke pelataran Ding Tao sudah jauh lewat di depan.
2616
―Apa yang terjadi?‖, tanya Zhu Yanyan sambil berlari mengiringi kuda Hu Ban yang menderap dengan cepat.
―Ketua Ding Tao hendak mencari Tetua Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan.‖, jawab Hu Ban panik.
―Bodoh! Bagaimana bisa terjadi demikian?‖, seru Khongti yang berlari sedikit di belakang.
―Bagus! Apanya yang bodoh sejak semula seharusnya kita tidak melarikan diri!‖, seru Pang Boxi dari belakang.
―Gila! Kalian semua sudah jadi gila!‖, geram Khongti tanpa berhenti.
Malam yang tadinya sepi itu pun jadi ramai oleh suara derap kaki mereka. Rencana yang sudah diatur baik-baik rusak semuanya, berbagai macam pikiran berkecamuk di kepala tiap-tiap orang. Tindakan Ding Tao yang dilakukan tanpa ada pertimbangan, sebenarnya justru mewakili keinginan hati setiap orang. Di lain pihak, tindakan yang hanya menuruti keinginan hati itu membahayakan seluruh rencana yang sudah disusun. Pengorbanan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan terancam jadi sia-sia oleh tindakan Ding Tao yang terburu-buru
2617
hanya mengikuti ledakan hati, tanpa menggunakan pertimbangan sedikit pun.
Mereka berpacu tanpa berusaha menyembunyikan kehadiran mereka, dengan sendirinya bergerak cepat menuju ke arah terjadinya pertarungan.
Beberapa li ditempuh dalam waktu yang singkat, berbeda dengan saat mereka berangkat. Sampai di tempat Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan mencegat perjalanan Zhong Weixia dan rekan-rekannya. Bekas-bekas pertarungan pun dengan mudah terlihat di mana-mana. Apalagi api unggun yang dibuat Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan belum padam, cahayanya yang menari-nari menerangi keadaan di sekelilingnya.
Ding Tao pun melompat turun dari kudanya, ―Tetua! Tetua! Bhiksu Khongzhen! Pendeta Chongxan!‖
Tidak berapa lama kemudian Hu Ban, Zhu Yanyan dan yang lain pun sampai di tempat itu. Sudah sampai di sana, lupalah mereka pada keperluan mereka untuk menahan Ding Tao. Mereka justru ikut mencari-cari Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen.
2618
Tidaklah sulit menyusuri pertarungan yang baru saja terjadi dari bekas-bekasnya yang jelas terlihat, Ding Tao sudah mengambil sebuah potongan kayu dari api unggun dan membuat obor seadanya. Demikian juga yang lain, sembari berjalan mereka mencari-cari berkeliling, semakin lama semakin dekat dengan tempat Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan berdiri. Keduanya sudah dalam keadaan yang sangat payah, tubuhnya sudaj rusak dari dalam oleh sebab penggunaan hawa murni yang berlebihan. Di saat yang sama, hanya simpanan hawa murni mereka yang berlimpah itu pula yang masih menopang kehidupan mereka sampai pada saat itu. Keadaan mereka tak ubahnya sebatang lilin yang sudah mau terbakar habis. Lilin yang membuat api terus menyala, tapi nyala api itu juga yang menghabiskan lilin, cepat atau lambat pastilah padam juga pada akhirnya.
―Kami di sini…‖, ujar Bhiksu Khongzhen dengan suara lembut.
Mendengar suara Bhiksu Khongzhen itu, Ding Tao dan yang lainnya pun bergegas menghampiri. Alangkah hancur hati mereka ketika mendapati keduanya dalam keadaan kuyu, terlebih keadaan Pendeta Chongxan yang bukan saja mengalami luka di dalam, tapi juga belasan senjata rahasia yang menghiasi tubuhnya.
2619
―Tetua…‖, cepat Ding Tao memburu ke arah mereka berdua.
―Kakak…‖, Zhu Yanyan dan Khongti tidak kalah cepat pula datang menolong.
Dua orang jagoan tua itu pun kemudian dipapah untuk duduk bersender pada pohon-pohon yang ada di dekat mereka. Zhu Yanyan yang sedikit mengerti ilmu pengobatan, berusaha menolong sebisanya, dengan hatu-hati senjata rahasia yang menancap di tubuh Pendeta Chongxan dicabut untuk kemudian lukanya dibersihkan, ditaburi obat dan dibalut. Betapa pedih perasaan Zhu Yanyan, ketika membuka jubah luar dan baju Pendeta Chongxan, tubuh yang kurus dan renta itu masih harus dihiasi dengan luka-luka yang tidak ringan. Air mata tidak hentinya mengucur dari mata Zhu Yanyan.
―Sudahlah… memang sudah saatnya…‖, ujar Pendeta Chongxan lemah.
―Mengapa kalian justru berada di sini?‖, tanya Bhiksu Khongzhen yang keadaannya sedikit lebih baik dari Pendeta Chongxan.
Ditanya demikian, menunduklah Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya, tak mampu menjawab pertanyaan Bhiksu Khongzhen.
2620
Tidak demikian dengan Ding Tao, dengan air mata bercucuran, pemuda itu menghaturkan hormat sambil membentur-benturkan kepalanya ke atas tanah, penuh sesal dia berkata, ―Maafkan saya yang datang terlambat… maaf… maaf… maaf…‖
―Bocah tolol… Bagaimana bisa kau mengatakan terlambat, jika seharusnya kau sudah berada puluhan li jauhnya dari sini?‖, jawab Bhiksu Khongzhen dengan suara lembut.
―Kakak… maafkan kami gagal menjalankan tugas kami…‖, ujar Khongti dengan suara perlahan.
―Sudahlah… manusia berencana, langit yang menentukan‖, jawab Bhiksu Khongzhen tersenyum lembut.
Pendeta Chongxan hanya diam saja sambil memejamkan mata, berusaha mengatur jalannya hawa murni melewati jalur-jalur energi yang sudah rusak parah.
―Kakak… apa yang harus kami lakukan sekarang?‖, tanya Zhu Yanyan putus asa tak mampu lagi berpikir, dia dan juga yang lain sudah cukup maklum dengan keadaan kedua orang tua itu.
―Tidak ada yang bisa kalian lakukan, kecuali menjalankan rencana kita sebelumnya. Tidak perlu menghindari kenyataan,
2621
baik kalian maupun kami sendiri, toh sudah cukup maklum dengan keadaan diri kami saat ini‖, ujar Bhiksu Khongzhen lemah lembut, tak sedikitpun tersirat rasa takut menghadapi kematian.
Zhu Yanyan dan yang lain termangu, hendak pergi tak tega, tidak pergi tidak ada pula yang bisa mereka lakukan.
Tiba-tiba Pendeta Chongxan membuka matanya, ―Tunggu sebentar, kukira kawanan serigala itu tidak akan kembali dalam waktu dekat. Ketua Ding Tao, kemarilah…‖
Ding Tao pun datang menghampiri Pendeta Chongxan dengan hormat, ―Apakah tetua ada satu pesan?‖
―Duduklah dekat di sini…‖, ujar Pendeta Chongxan sambil menunjuk dekat kakinya.
Ketika Ding Tao mengikuti perintahnya, cepat tangan Pendeta Chongxan bergerak dan mengunci telapak tangan Ding Tao dengan jari tepat di titik energi di tengah telapak tangan Ding Tao, ―Diamlah, jangan melawan atau aku mati sia-sia.‖
Bukan hanya Ding Tao yang terkejut, gerakan Pendeta Chongxan yang sebat di luar perkiraan setiap orang. Mereka
2622
semua yang menyaksikan pun terkejut sebelum diam oleh rasa haru. Di saat-saat yang terakhir Pendeta Chongxan mengalirkan simpanan hawa murninya yang tersisa ke dalam tubuh Ding Tao. Ding Tao tak tega untuk menerima, tapi juga tak tega untuk menolak. Pemberian ini sungguh terlampau besar dan menjadi beban yang berat dalam hatinya. Tapi menolak pun tak mungkin, karena seperti yang dikatakan Pendeta Chongxan, jika Ding Tao melawan atau mendorong balik hawa murni yang masuk, sama saja dia membunuh Pendeta Chongxan yang keadaannya sudah sangat lemah.
Melihat apa yang dilakukan Pendeta Chongxan, Bhiksu Khongzhen tertawa perlahan dan berkata, ―Ah… dalam segala hal kau selalu selangkah lebih dahulu dariku.‖
Belum selesai dia berucap, Bhiksu Khongzhen sudah pula berpindah ke sisi Ding Tao yang lain, meniru apa yang dilakukan Pendeta Chongxan dia pun mengalirkan sisa hawa murni yang masih ada padanya ke dalam tubuh pemuda itu.
Tidak ada yang bisa dilakukan Ding Tao kecuali menerima pemberian itu dengan air mata bercucuran.
2623
―Tenangkan hatimu, kuasai pikiran dan kehendak, jangan biarkan hawa murni kami berkeliaran liar dalam tubuhmu‖, ujar Bhiksu Khongzhen dengan lembut, m engingatkan Ding Tao yang batinnya sedang mudah tergerak.
Menyadari keadaan sendiri, Ding Tao pun berusaha keras untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan orang.
―Tak perlu merasa sungkan, tak perlu merasa bersalah. Sebentar lagi kami akan mati, tubuh kami sudah tak kuat bertahan, lalu apa gunanya hawa murni yang kami kumpulkan puluhan tahun lamanya ini? Tenangkan hatimu, jika kau ingin membalas budi, inilah jalan yang terbaik.‖, ujar Bhiksu Khongzhen dengan lembut.
―Jangan merasa berhutang budi pada kami berdua…, sebenarnya justru kami hendak meminta tolong pada Ketua Ding Tao, apa yang kami berikan tak lebih dari sebuah titipan dari kami. Dengarkanlah Zhu Yanyan berenam, pesan kami, permohonan, harapan, kami yang kami minta darimu mereka berenam sudah mendengarnya.‖, ujar Pendeta Chongxan menambahkan.
2624
―Saya mengerti… keinginan tetua berdua, tentu akan kuusahakan meski harus mempertaruhkan nyawa.‖, ujar Ding Tao menjawab dengan sepenuh hati.
―Yang kami minta justru memerlukanmu dalam keadaan hidup. Jadi jangan berpikir tentang kematian, carilah jalan kehidupan dan pikul beban yang kami berikan.‖, ujar Pendeta Chongxan dengan tegas.
―Kami tidak butuh orang putus asa yang mencari kematian. Yang kami cari adalah lelaki tangguh yang berani hidup memikul tanggung jawab‖, ujar Bhiksu Khongzhen dengan suara tidak kalah tegasnya.
―Mengerti… mengerti…‖, Ding Tao pun menjawab dengan sungguh-sungguh.
Mendengarkan percakapan antara Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan dan Ding Tao, tiba-tiba Zhu Yanyan bangkit berdiri, ―Adik, marilah kita bersihkan bekas-bekas kedatangan kita di tempat ini. Saat kita pergi nanti, janganlah ada petunjuk bahwa pernah ada orang lain selain tetua berdua dan lawan-lawannya yang menginjak tempat ini.‖
2625
Mendengar perkataan Zhu Yanyan, semangat yang lain pun jadi terbangkit, Hu Ban bangkit berdiri dan menjawab, ―Kakak benar, bagaimana pun juga belum terlambat, jika Zhong Weixia dan rekan-rekannya berpikir bahwa kita sudah pergi jauh ketika mereka dihadang oleh tetua berdua, maka mereka pun akan membatalkan pengejaran dan segala usaha kita tidak terbuang sia-sia.‖
―Hmmm… benar juga, baik ayo kita kerjakan.‖, ujar Pang Boxi.
―Hati-hati, hanya hapuskan keberadaan kita saja, jangan menghapuskan jejak tetua berdua atau yang lain‖, ujar Hu Ban sambil bergerak mulai menghapuskan keberadaan mereka, bekas jejak kaki mereka ketika memapah Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen, kuda-kuda mereka yang ditambatkan tak jauh dari sana dan segala sesuatunya yang tepikirkan.
Mereka berenam bekerja dengan teliti, sementara mereka bekerja, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan sudah selesai pula menyalurkan hampir seluruh simpanan hawa murni mereka ke dalam tubuh Ding Tao. Hanya tersisa sedikit untuk menyambung nafas mereka beberapa lama.
2626
―Ketua Ding Tao, sekarang tinggalkanlah tempat ini, jangan berpikir untuk kembali sebelum kau menemukan jalan untuk mengalahkan lawan.‖, kata Bhiksu Khongzhen.
―Ingat, beberapa hari lagi, keadaanmu tentu akan mulai memburuk, di Desa Hotu ada tabib yang cukup hebat, kuharap dia bisa membantu.‖, sambung Bhiksu Khongzhen pula.
Mendengar ucapan Bhiksu Khongzhen, tiba-tiba teringatlah Ding Tao dengan bungkusan yang diberikan Tabib Shao Yong. Bukankah pesan-pesan Tabib Shao Yong begitu jelas, jika dihubung-hubungkan dengan peristiwa yang terjadi sampai dengan sekarang. Jelas Tabib Shao Yong adalah bagian dari pengikut Murong Yun Hua, namun di saat yang sama dia juga mengasihi Ding Tao. Hanya saja bisakah dia mempercayai Tabib Shao Yong.
Dengan tangan bergetar Ding Tao mengeluarkan bungkusan itu dari balik jubahnya. Kemudian perlahan-lahan dibukanya, ada secarik surat di situ.
―Ketua Ding Tao… apa itu?‖, tanya Bhiksu Khongzhen ingin tahu, melihat perubahan di wajah Ding Tao tentu bungkusan itu punya arti yang penting.
2627
Kebetulan Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya juga sudah selesai dengan pekerjaan mereka dan baru saja datang. Mereka pun sama memandang ke arah Ding Tao penuh rasa ingin tahu. Dengan terbata Ding Tao pun menjelaskan dengan serba singkat tentang pembicaraannya dengan Tabib Shao Yong sebelum mereka pergi memasuki gedung tempat pernikahan Ding Tao akan dirayakan.
―Ah…, bukankah ada surat di situ, coba bacakan.‖, ujar Bhiksu Khongzhen pula.
Ding Tao pun membuka secarik surat pendek yang disertakan bersama dengan bungkusan itu.
‗Anak Ding Tao, saat kau membaca surat ini, mungkin kau dalam keadaan putus asa dan hilang semangat. Kuminta janganlah hilang harapan, selama masih ada kehidupan, selalu masih ada harapan.
Nyonya Murong Yun Hua tidak akan membunuhmu, di sinilah kau memiliki kesempatan. Seperti yang dilakukannya pada Pendekar pedang Jin Yong, dia akan menawanmu dalam keadaan hidup-hidup. Pengaruh Obat Dewa Pengetahuan akan membuatmu tak ubahnya mayat hidup. Tapi dia tidak tahu kau
2628
memiliki obat ini, obat untuk menawarkan pengaruh buruk dari Obat Dewa Pengetahuan terhadap tubuhmu.
Aku sudah menyelidiki ramuan ini sejak aku mendengar keputusan Nyonya Murong Yun Hua untuk memanfaatkan dirimu. Maafkan aku yang renta ini, aku terjepit antara hutang budi serta janji setia pada keluarga Murong dan kasihku padamu, sebagai seorang ayah pada anaknya. Pula kekuasaan keluarga Murong begitu besar, aku pun tak tahu, siapa-siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak. Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu.
Ingat baik-baik, tunggu selama dua minggu sebelum kau meminum obat ini. Supaya ada waktu untuk membersihkan tubuhmu dari sisa-sisa Obat Dewa Pengetahuan. Masa dua minggu itu tentu sangat menyiksa, tapi tidak ada jalan lain, agar obat yang kuberikan bisa bekerja dengan sempurna.
Ada begitu banyak yang ingin kusampaikan, tapi hal itu tidaklah mungkin kusampaikan dalam surat ini. Sabarlah, aku akan mencari-cari kesempatan untuk menemuimu diam-diam.‘
Sejenak lamanya mereka semua terdiam, sampai Bhiksu Khongzhen memecahkan keheningan itu, ―Bagus…, bagus,
2629
jelas-jelas langit sudah memberi jalan dan bantuan. Aku yakin Ketua Ding Tao pasti berhasil melewati semua cobaan ini.‖
―Ketua Ding Tao, hatiku sekarang merasa tenang. Kalian cepatlah pergi dari sini, jangan sia-siakan pertolongan dari langit. Sudah tidak ada lagi yang perlu dikuatirkan, bahkan pengaruh buruk Obat Dewa Pengetahuan pun sudah ada obatnya‖, ujarnya lagi penuh semangat.
―Selain itu, jika kalian baca baik-baik, terlihat ada jalan untuk membersihkan nama Ketua Ding Tao dari fitnahan orang. Setidaknya membuat orang berpikir dua kali tentang siapa benar dan siapa yang salah.‖, tibat-tiba Pendeta Chongxan ikut menimbrung.
―Menurut tetua berdua… bisakah aku mempercayai Tabib Shao Yong?‖, tanya Ding Tao ragu-ragu, hatinya terbagi dua antara curiga dan percaya.
―Aku yakin dengan ketulusan hatinya‖, jawab Pendeta Chongxan dengan mantap.
―Percayalah pada kami, sekarang jangan buang waktu lagi lebih lama di sini. Pergilah cepat, sejauh mungkin sebelum
2630
kawanan serigala itu muncul kembali di sini.‖, ujar Bhiksu Khongzhen dengan tegas.
―Bagaimana dengan tetua berdua…?‖, tanya Ding Tao dengan berat hati.
―Tolol, bocah bodoh, masakan kau masih juga bertanya? Sekarang pergilah, sungguh hati kami sudah merasa tenang mendengar isi surat itu. Benar-benar satu penghiburan sebelum kami menutup mata untuk selama-lamanya.‖, jawab Bhiksu Khongzhen sambil tertawa senang.
―Pergilah, cepatlah pergi‖, sambung Pendeta Chongxan, senyumnya lemah karena kekuatannya sudha mulai memudar.
―Ayolah pergi‖, ujar Zhu Yanyan sambil menggamit tangan Ding Tao.
Dengan berat hati akhirnya Ding Tao pun berpamitan, membungkuk memberi hormat untuk ke sekian kalinya. Mengucapkan janji dan kata perpisahan. Betapapun berat hati mereka untuk meninggalkan tempat itu, pada akhirnya mereka pun pergi juga. Menderap pergi, jauh meninggalkan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang duduk bersila menyambut kematian.
2631
―Saudara Khongzhen…‖, ketika sudah tidak ada orang lagi, Pendeta Chongxan tiba-tiba berkata.
―Ada apa?‖, tanya Bhiksu Khongzhen.
―Aku menyesal… di akhir hidupku ternyata aku membunuh orang lagi… Setelah sekian lama… hahh… ternyata aku masih belum bisa menahan diri dan kelepasan tangan membunuh orang.‖, ujar Pendeta Chongxan dengan sedih.
Bhiksu Khongzhen pun terdiam, ―Hehh… aku pun tidak lebih baik, jika tidak ada yang terbunuh oleh tanganku, itu bukan karena kelebihanku tapi lebih karena kemampuan mereka sendiri…‖
Lama keduanya sama-sama terdiam, kemudian Bhiksu Khongzhen berkata lagi, ―Saudara Chongxan, apakah menurutmu ilmu silat selamanya adalah ilmu untuk membunuh?‖
Pendeta Chongxan tidak dapat segera menjawab, ketika akhirnya dia menjawab, dia berkata, ―Entahlah… entahlah… tapi kuharap tidak demikian, kuharap ilmu silat akan terus berkembang, cara pandang manusia terus berkembang dan
2632
filosofi seni membunuh pun bisa melampaui dirinya dan sampai pada tujuan yang lebih mulia.‖
Keesokan paginya mayat mereka berdua pun ditemukan oleh Zhong Weixia yang pergi bersama-sama dengan orang banyak. Kabar yang tersiar keluar, keduanya mati terbunuh dalam sebuah pertarungan ketika berusaha menangkap Ding Tao hidup-hidup. Ada berbagai macam cerita, mulai dari ketangguhan Ding Tao yang di luar dugaan kedua jagoan tua itu, sampai kecurangan yang dilakukan Ding Tao untuk menang, bahkan ada pula cerita yang mengatakan bahwa Ding Tao mendapatkan bantuan dari orang luar. Kabar yang lebih mengejutkan muncul beberapa hari kemudian, yaitu kesepakatan dari lima perguruan besar yang ada, Hoashan, Shaolin, Kongtong, Enmei dan Kunlun untuk mengangkat Murong Yun Hua sebagai pengganti Ding Tao, dan mereka bersepakat untuk menurunkan ilmu-ilmu dari lima perguruan besar pada Murong Yun Hua. Hanya Wudang yang diam dalam masalah ini, pihak Wudang menyatakan perkabungan atas kematian Pendeta Chongxan dan menarik diri dari dunia persilatan selama waktu yang tidak ditentukan.
Menurut kabar burung, Murong Yun Hua ternyata sebenarnya menguasai ilmu tenaga dalam yang sangat dahsyat, di luar
2633
sepengetahuannya sendiri. Selama ini dia melatihnya hanya sebagai ilmu kesehatan dan untuk menjaga kecantikan. Kenyataan yang sebenarnya baru ketahuan secara tidak sengaja, ketika Bhiksuni Huang Feng memeriksa nadi Murong Yun Hua yang pingsan setelah kejadian heboh larinya Ding Tao dari Jiang Ling.
Berdasarkan temuan itu, juga menilik kepribadian Murong Yun Hua dan sepak terjangnya selama ini, lima perguruan besar itu pun sepakat untuk memberikan kedudukan Ding Tao sebagai Wulin Mengzhu pada Murong Yun Hua, karena untuk mengadakan pemilihan kembali waktunya sudah tidak memungkinkan.
Satu minggu sudah berlalu, perjalanan ke Desa Hotu berjalan lancar tanpa halangan. Meskipun demikian masih butuh beberapa minggu sebelum mereka akan sampai di perbatasan, sebelum akhirnya sampai ke Desa Hotu.
Mengikuti petunjuk surat Tabib Shao Yong, juga nasehat dari Zhu Yanyan, sampai dengan dua minggu berlalu Ding Tao lebih berkonsentrasi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa obat dewa pengetahuan. Zhu Yanyan berpendapat, sebaiknya Ding Tao juga menahan diri untuk tidak makan daging dan
2634
minum arak dalam waktu dua minggu itu. Selama dua minggu itu, Ding Tao hanya diperbolehkan makan sayur-sayuran dan akar-akaran.
Tubuhnya pun menjadi semakin kurus, ditambah lagi dengan efek samping dari terhentinya konsumsi Obat Dewa Pengetahuan, wajahnya jadi kuyu, layaknya orang berpenyakitan. Bukan hanya sulit berpikir, tubuhnya pun terasa lemas dan sakit-sakitan di seluruh persendian.
Di pagi dan siang hari, ketika mereka melakukan perjalanan Ding Tao akan duduk diam di dalam kereta atau tandu. Sesekali bila dia sudah merasa sangat bosan, maka dia pun meminta untuk keluar dan berjalan kaki. Tapi tidak sampai beberapa puluh langkah, tentu dia sudah kecapaian dan harus kembali duduk di dalam kereta. Tubuhnya yang tinggi membuat dia tampak jauh lebih kurus daripada yang sebenarnya, mata dan tulang pipinya menonjol keluar dan kulitnya berwarna pucat. Bukan hanya itu saja, dari hari ke hari, ingatannya makin sering datang dan pergi tak tentu arah. Pada setiap orang yang bertanya, Ding Tao diakui sebagai suami Wang Shu Lin yang menderita penyakit berat dan saat ini dalam perjalanan untuk mencari tabib sakti yang katanya terdapat di luar perbatasan.
2635
Jika ditanya siapa nama tabib sakti tersebut, maka mereka akan menjawab, bahwa mereka sendiri kurang tahu. Hanya saja sudah tidak ada jalan lain, setiap tabib yang mereka temui sudah mengangkat tangan, menyerah tak bisa menyembuhkan penyakit Ding Tao. Melihat wajah tampan yang kuyu itu, mudah saja orang merasa bersimpati dengan keadaan Ding Tao. Tidak ada yang berpikir inilah Ding Tao yang terkenal itu, karena sedikitpun kegagahannya tidak tersisa. Tidak ada yang bisa membayangkan tengkorak hidup itu mengangkat senjata apalagi bertarung dengan garang.
―Kakak, ayo makan… aku masakkan sup kentang untukmu.‖, ujar Wang Shu Lin sambil masuk membawakan makanan untuk Ding Tao.
―Makan…?‖, tanya Ding Tao seperti orang bingung.
―Iya…, makan, lihat apa yang aku masakkan untuk kakak hari ini. Memang Cuma sayur dan kentang, tapi aku sudah bumbui, kentangnya juga manis, cobalah pasti rasanya enak.‖, ujar Wang Shu Lin dengan ceria.
―Makan… ah ya makan… terima kasih…‖, jawab Ding Tao sambil memandangi sup yang dibawakan Wang Shu Lin.
2636
Lama dia hanya memandangi saja makanan yang sudah dibawakan Wang Shu Lin, sampai Wang Shu Lin kemudian bertanya, ―Apa kakak mau aku suapi?‖
―Suap? … tidak, tidak, aku bisa makan sendiri‖, ujar Ding Tao sambil menggelengkan kepala.
Dengan canggung dia mengangkat mangkuk dan mulai makan dengan sumpitnya. Sesuap, dua suap, lalu berhenti dengan wajah berkerenyit.
―Apakah tidak enak?‖, tanya Wang Shu Lin dengan nada sedih.
―Aku mual…‖, ujar Ding Tao.
―Cobalah beberapa suap lagi, jika tidak, mana ada tenaga nanti‖, bujuk Wang Shu Lin dengan sabar.
‗Siapa gadis ini?‘, tiba-tiba Ding Tao lupa siapa gadis yang memaksa dia untuk makan itu.
Dipandanginya Wang Shu Lin lama sekali, sembari mengingat-ingat, ‗Ah ya, dia setiap hari yang membawakan makanan. Dia juga tidak akan pergi kalau makanan ini belum habis.‘
‗Tapi siapa dia? Siapa namanya?‘, dalam hati dia bertanya.
2637
Lama sebelum nama itu tiba-tiba muncul di benaknya, ‗Wang Shu Lin… ya namanya Wang Shu Lin.‘
Teringat nama gadis itu dia merasa sedikit lebih baik, kembali dia makan beberapa suap, ‗Tapi siapa dia?‘
Lama dia berpikir sampai sebuah ingatan terlintas dalam benaknya, kemarin ketika pemilik penginapan bertanya tentang mereka, ‗Dia isteriku…‘
Kebetulan waktu itu Wang Shu Lin mengaku dia sebagai isterinya, sedang Zhu Yanyan menjadi ayah mertuanya, Pang Boxi dan yang lain ada yang menjadi paman ada pula yang berlaku sebagai pelayan. Teringat hal itu, hati Ding Tao jadi sedih sekali, baik karena penyakitnya, maupun kesusahan yang harus ditanggung oleh ―isterinya‖ yang masih muda dan cantik itu.
Betapa kaget Wang Shu Lin ketika Ding Tao tiba-tiba menarik dirinya, seberapa kuat sebenarnya Ding Tao, tentu saja tidak cukup kuat untuk menarik jatuh Wang Shu Lin ke dalam pelukannya. Namun antara terkejut dan terenyuh melihat keadaan Ding Tao, tubuh gadis itu terasa lemas dan jatuh begitu saja dalam pelukan Ding Tao. Gemetarankarena lemah,
2638
Ding Tao memeluk Wang Shu Lin dan membelai-belai rambutnya yang hitam tebal, sembari menciumi pipi gadis itu dengan air mata menetes dia pun berkata berulang-ulang, ―Isteriku… ah isteriku… aku sudah menyusahkanmu…‖
Berdebaranlah jantung Wang Shu Lin dalam pelukan pemuda itu, wajah yang tirus dan cekung, tidak mengurangi ketampanannya dalam pandangan Wang Shu Lin yang sudah jatuh cinta. Berada begitu dekat dengan Ding Tao tubuhnya terasa panas dingin, tapi juga terenyuh mendengar perkataan Ding Tao.
‗Ah… dia memang lelaki yang baik, andainya dia benar jadi suamiku…‘, keluh Wang Shu Lin dalam hati.
Wajah mereka satu dengan yang lain begitu dekat, betapa Wang Shu Lin menikmati kemesraan ini, dia masih ingat, setiap saat bisa saja salah seorang gurunya memergoki mereka. Tapi kapan lagi akan ada kesempatan seperti ini? Sebentar lagi Ding Tao akan mulai meminum penawa Obat Dewa Pengetahuan, secepatnya ingatannya pulih kembali, tentu tidak akan ada lagi kejadian seperti ini. Wajah Wang Shu Lin tiba-tiba merah padam, sebuah keinginan muncul dalam hatinya, sebagian dari
2639
dirinya melarang untuk mengikuti keinginannya itu, tapi sebagian yang lain mendorongnya untuk melakukan hal itu.
Jantungnya berdebar makin kencang, semakin dia berpikir untuk melakukannya, tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar suara Zhu Yanyan menyapa pemilih penginapan di luar. Entah setan dari mana yang datang, Wang Shu Lin pun mendekat dan mencium bibir Ding Tao dengan mesra. Ding Tao yang menganggap Wang Shu Lin sebagai isterinya, tentu saja menyambut ciuman itu dengan hangat. Sejenak lamanya Wang Shu Lin melayang-layang dalam sentuhan yang intim dan mesra itu, kemudian dia pun menarik diri, melepaskan diri dari pelukan Ding Tao dengan lembut.
―Kakak…, ayo cepat habiskanlah makanannya… Bukankah kakak ingin cepat sembuh? Untuk dirimu sendiri, juga untukku…‖, pintanya dengan mesra.
―Ya..ya…, aku aku habiskan… tapi kau jangan pergi jauh-jauh…‖ jawab Ding Tao.
―Tidak… aku akan menunggu di sini …‖, jawab Wang Shu Lin dengan mesra.
2640
Tidak berapa lama Zhu Yanyan membuka pintu kamar dan masuk ke dalam, ―Bagaimana keadaannya?‖
―Seperti biasa… sedangkan ingatannya… sepertinya semakin buruk saja.‖, jawab Wang Shu Lin dengan sedih.
Ding Tao pun memandangi Zhu Yanyan dengan pandangan mata kosong untuk beberapa lama sebelum tiba-tiba dia hendak bangkit berdiri dan memberi hormat, ―Ayah mertua…‖
―Tidak usah bangun, duduk sajalah, habiskan makananmu‖, ujar Zhu Yanyan buru-buru menopang tubuh Ding Tao yang goyah saat henda berdiri.
Zhu Yanyan melirik Wang Shu Lin dengan alis terangkat, Wang Shu Lin pun wajahnya bersemu merah dadu dan mengangkat bahu, ―Ayah…, sudah kubilang, ingatannya semakin lama semakin buruk…‖
―Benar ayah…, maafkan aku bukan maksudku tidak sopan, tapi untuk beberapa saat aku tidak ingat siapa ayah.‖, ujar Ding Tao dengan wajah sedih.
Telinga Zhu Yanyan yang tajam membuat dia tahu, pemilik penginapan sedang ada di depan pintu memasang telinga. Zhu
2641
Yanyan pun menggelengkan kepala dengan sedih, tidak tahu harus tertawa karena lucu atau menagis karena sedih. Sekarang dia jadi ayah mertua Ding Tao dan Wang Shu Lin jadi anaknya. Hendak meluruskan kesalah pahaman Ding Tao juga bukan urusan mudah, apalagi di depan ada telinga-telinga yang serba ingin tahu. Sudah bisa dia bayangkan, kisah sedih yang akan dibicarakan keluarga pemilik penginapan ini nanti malam.
―Ya… ya.. tak apa.. sudahlah kau baik-baik makan, jika nanti kita dapatkan obatnya tentu kau akan jadi baik kembali.‖, ucapnya dengan prihatin.
―Shu Lin, kalau suamimu selesai makan, datanglah dahulu ke kamarku, ibumu ingin berbicara denganmu. Biarlah Boxi yang menjaga suamimu nanti.‖, ujar Zhu Yanyan pada Wang Shu Lin dengan hati rawan.
Wang Shu Lin sudah bisa menduga untuk urusan apa dia dipanggil, dengan wajah bersemu merah dia menjawab, ―Baik ayah… apakah sebaiknya sekarang saja?‖
―Tidak usah, kau temani dulu suamimu sampai dia selesai makan. Nak, aku tinggal dulu ya, kau makanlah yang banyak‖, ujar Zhu Yanyan sebelum meninggalkan ruangan itu.
2642
Benar saja dugaan Zhu Yanyan, di depan kamar pemilik penginapan itu berpura-pura sedang menyirami pot bunga yang besar, padahal sejak tadi tentu telinganya dipasang baik-baik dekat pintu kamar. Sambil berbasa-basi sebentar Zhu Yanyan pun pergi kembali ke kamarnya sendiri, di sana sudah ada Shu Sun Er dan Hu Ban.
―Hehh… celaka… celaka…‖, keluh Zhu Yanyan begitu masuk ke dalam kamar.
―Ada apa memangnya? Apakah keadaannya semakin buruk?‖, tanya Hu Ban.
―Bukan itu, tapi celaka yang lain.‖, ucap Zhu Yanyan sambil menggelengkan kepala, kemudian dia pun bercerita apa yang terjadi barusan.
Mendengar cerita Zhu Yanyan Hu Ban justru terkekeh geli, ―Heheheh, bocah nakal itu tentu sekarang merasa sedang ada di awang-awang, pemuda yang dia cintai mengira dia adalah isterinya.‖
―Jangan sembarangan, ini bukan lelucon, kalau sampai terjadi sesuatu bagaimana?‖, Zhu Yanyan menggerutu.
2643
―Kita nikahkan saja mereka berdua‖, jawab Hu Ban dengan entengnya.
―Orang sableng! Jangan bicara sembarangan, bagaimana kalau setelah Ding Tao sadar dia menyesalinya? Jangan main-main urusan pernikahan.‖, sambar Shu Sun Er sembari memukul pundak Hu Ban.
―Mana mungkin dia menyesal? Kalau dia menyesal berarti matanya buta, atau dia bukan laki-laki‖, jawab Hu Ban tidak mau kalah.
―Hei… Sun Er benar, kita harus berhati-hati, bagaimana pun juga aku tidak rela kalau muridku sampai salah langkah dalam hidupnya.‖, sahut Zhu Yanyan.
―Jadi sekarang maunya bagaimana?‖, Hu Ban balik bertanya.
―Kukira Wang Shu Lin sudah tidak bisa dibiarkan terlalu sering berduaan dengan Ding Tao.‖, jawab Zhu Yanyan.
―Benar, aku akan lebih sering memperhatikan keduanya.‖, jawab Shu Sun Er.
2644
―Hmm… aku sih percaya dengan Wang Shu Lin, lagipula pakah tidak aneh, kita sudah terlanjur mengatakan pada setiap orang bahwa Wang Shu Lin adalah isteri Ding Tao.‖, ujar Hu Ban menyanggah.
Zhu Yanyan saling berpandangan dengan Shu Sun Er kemudian berkata, ―Itulah susahnya… aku pun inginnya percaya dengan Wang Shu Lin, tapi anak itu seringkali lebih mengikuti apa kata hatinya.‖
―Aku percaya dia tidak akan membuat malu kita‖, jawab Hu Ban dengan tegas.
―Hhh… soal itu aku juga percaya, tapi seorang gadis yang sedang jatuh cinta…? Aku khawatir otaknya sama tidak lurusnya dengan otak Ding Tao‖, ujar Shu Sun Er sembari menghela nafas.
Hu Ban terkekeh geli mendengar otak Wang Shu Lin disamakan dengan otak Ding Tao, ―Jadi bagaimana baiknya?‖
―Sudah kusuruh dia datang ke mari setelah Ding Tao selesai makan, Sun Er, kau nasehati dia baik-baik, kalian sama-sama perempuan tentu lebih leluasa untuk bercakap-cakap. Kemudian sebisa mungkin kita jangan meninggalkan mereka
2645
berduaan terlalu lama, setidaknya tentu itu akan membantu Wang Shu Lin untuk menahan diri dari godaan.‖, ujar Zhu Yanyan memutuskan.
―Hehe, baiklah biar aku yang jadi pengawasnya, sepertinya seru juga melihat sandiwara ini.‖, ujar Hu Ban dengan ringan, dibalas Shu Sun Er dengan mata melotot.
Di kamar Ding Tao sendiri, Wang Shu Lin memperhatikan pemuda itu dengan hati berdebar. Sikap dan perkataan Zhu Yanyan sudah cukup dia pahami, apalagi sebelumnya dia memang sudah melakukan sesuatu yang kurang pantas dengan Ding Tao. Dalam hatinya pun timbul peperangan batin, namun kegalauan itu tidak terlampau mengganggunya, sebagian besar dari dirinya masih terbuai dengan ingatan akan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Ding Tao.
‗Tidak mengapa…, sedikit saja.., sebentar saja, tidak lama lagi dia akan kembali ingat dan kami akan kembali berjauhan meski dekat, terpisah oleh sebuah pembatas yang tak terlihat. Ya… sedikit saja aku ingin merasakan kedekatan itu, aku toh masih bisa menjaga diri agar tidak melampaui batas‘, pikir Wang Shu Lin menghibur dirinya sendiri.
2646
Mendapatkan ketetapan itu, hatinya jadi jauh lebih tenang, ketika Ding Tao sudah selesai makan, dia pun menghampirinya dengan mesra, ―Nah sekarang, kakak beristirahatlah lebih dahulu, aku hendak pergi menemui ibu.‖
―Baiklah… apakah nanti kau akan kembali?‖ tanya Ding Tao sambil memegangi tangan Wang Shu Lin.
―Entahlah, kita lihat saja nanti‖, jawab Wang Shu Lin dengan lembut dia membantu Ding Tao berbaring ke atas pembaringan.
Sekali lagi mereka begitu dekat, tubuhpun terasa hangat. Tanpa ragu Wang Shu Lin membaringkan kepalanya di atas dada Ding Tao beberapa lama, lalu mengecup bibirnya dengan mesra sebelum pergi meninggalkan Ding Tao sendiri dalam ruangan.
Satu ingatan seperti hendak muncul dalam benak Ding Tao, ingatan tentang kemesraan dengan isterinya. Sebuah percintaan yang panas membara, hingga mengingatnya saja membuat darahnya bergejolak. Apakah itu Wang Shu Lin? Tentu saja itu Wang Shu Lin, siapa lagi jika bukan dia? Kepalanya terasa pening karena terlalu banyak berpikir, Ding Tao pun akhirnya memejamkan mata, satu-satunya saat di
2647
mana dia bisa bebas dari penderitaan, meskipun tidurnya pun seringkali pendek-pendek dan penuh dengan kesakitan dan mimpi buruk yang tidak dia mengerti keesokan paginya.
Di saat Ding Tao tidur, Wang Shu Lin sedang duduk manis di depan gurunya Shu Sun Er.
―Anak Shu Lin, apakah kau tahu mengapa gurumu mmeintamu untuk datang menghadap?‖, tanya Shu Sun Er langsung pada masalahnya.
―Murid bisa menduga guru, tentunya ini masalah hubunganku dengan Ketua Ding Tao.‖, jawab Wang Shu Lin.
―Bagus, kau memang murid yang cerdas, kebetulan juga watak kita berdua sedikit mirip, jadi kukira pembicaraan ini tidak perlu berputar-putar. Katakanlah padaku benarlah pengamatan kami bahwa kau menaruh hati pada pemuda itu?‖, kata Shu Sun Er.
Ditanya demikian, jantungnya berdegup dan wajahnya terasa panas, Wang Shu Lin menjawab dengan pipi memerah. ―Benar guru.‖
Shu Sun Er menghela nafas lalu membelai rambut muridnya itu penuh rasa sayang, ―Tak perlu kau malu atau menutupi apa-
2648
apa dari gurumu ini. Dia memang pemuda pilihan, tidak heran jika kau jatuh hati padanya. Mungkin kau lupa, tapi watak ayahmu sedikit banyak ada kemiripannya dengan dia.‖
―Benarkah itu guru?‖, tanya Wang Shu Lin sambil mencoba mengingat-ingat sosok ayah yang sudah meninggalkan dia saat usianya masih sangat muda.
Shu Sun Er tertawa lembut, matanya menerawang mengingat sosok ayah Wang Shu Lin ketika dia masih hidup, ―Ya…, ada kemiripannya, meskipun ayahmu lebih pandai bicara dari pemuda itu, tapi kukira dia menggemari ilmu silat sama seperti ayahmu menggemari ilmu sastra. Selebihnya sifat mereka hampir tak ada bedanya.‖
Untuk sesaat lamanya, dua wanita beda generasi itu sama-sama terdiam, berusaha mengenang sosok seorang yang sudah lama meningalkan mereka. Ingatan Shu Sun Er tentu saja jauh lebih hidup dan berwarna. Yang teringat oleh Wang Shu Lin hanyalah ingatan samar tentang seorang ayah yang penyabar dan suka tertawa, bertubuh tinggi juga tampan. Apa benar dia mirip Ding Tao? Entahlah, tapi mungkin itu sebabnya dia menyukai Ding Tao sejak pertama kali mereka bertemu.
2649
Semakin dia mengingat ayahnya, semakin yakin dia dengan ucapan gurunya, semakin pula dia jatuh hati pada Ding Tao.
―Tapi kau harus tahu, cintamu bisa jadi cinta yang tak berbalas.‖, ucap Shu Sun Er tiba-tiba, menarik kembali Wang Shu Lin keluar dari khayalannya.
Wang Shu Lin terdiam sejenak sebelum menjawab, ―Aku tahu guru… aku tahu itu… Dia sudah beristeri, kalaupun isterinya mengkhianati dia belum berarti aku memiliki kesempatan karena dia juga sudah memiliki cinta pertamanya sendiri.‖
―Kalau kau sudah mengerti itu, mengapa kau masih saja berkeras dengan cintamu padanya? Padamkan saja api cinta itu Shu Lin, karena itu hanya membawamu pada kesengsaraan dan penderitaan.‖, kata Shu Sun Er prihatin.
Wang Shu Lin menggelengkan kepala, ―Aku tidak bisa guru… aku tidak bisa…‖
Shu Sun Er menghela nafas, ―Ai… sudahlah, hati memang sulit dikendalikan, aku pun tak akan memintamu untuk melupakan cintamu padanya. Tapi Shu Lin, kau harus berhati-hati, jangan sampai kau melupakan kehormatanmu sebagai seorang wanita. Gurumu Hu Ban mengarang cerita untuk menutupi
2650
perjalanan kita, aku tahu maksudnya tidaklah buruk. Dia sayang padamu seperti juga kami semua, hanya saja pandangannya tentang nilai-nilai terlalu longgar. Apa kau mengerti maksudku Shu Lin?‖
―Maksud guru, tentang sandiwara kita, bahwasannya aku berpura-pura menjadi isteri Ketua Ding Tao?‖, tanya Wang Shu Lin masih dengan mata sedikit membasah.
―Ya. Dan kudengar dari gurumu Zhu Yanyan, Ding Tao saat ini mengira kau benar-benar adalah isterinya, benarkah itu?‖, tanya Shu Sun Er.
―Be… benar guru…‖, jawab Wang Shu Lin sedikit terbata.
―Apakah kau merasa senang dengan keadaan seperti ini?‖, tanya Shu Sun Er, matanya tajam mengawasi setiap gerak tubuh dari muridnya.
―Tentang itu… aku… murid…‖, Wang Shu Lin berusaha menjawab dengan jujur namun rasanya terlalu memalukan untuk berkata.
―Kau merasakan cintamu berbalas, sikapnya yang mesra padamu membuatmu seakan hidup dalam mimpi yang indah,
2651
impianmu untuk hidup bersanding dengannya sebagai suami isteri yang selama ini bagimu tidak lebih dari sebuah khayalan sekarang menjadi kenyataan. Benarkah demikian Shu Lin?‖, tanya gurunya dengan lembut tanpa nada menghakimi, melainkan sekedar menggambarkan apa yang dirasakan muridnya.
―Benar guru… Guru… sungguh murid tidak pernah membayangkan akan jadi seperti ini, murid juga tahu setelah dia meminum penawar Obat Dewa Pengetahuan, tentu sikapnya akan berubah 180 derajat. Tapi, tidak bolehkah aku menikmatinya, walau sebentar saja. Setidaknya dalam waktu 1 minggu ini aku bisa merasakan, impianku jadi kenyataan.‖, jawab Wang Shu Lin dengan nada mengiba.
―Anak bodoh…, jika hanya karena mengikuti keinginan hati, kau tidak menjaga kehormatanmu sebagai seorang wanita bagaimana jawabmu pada guru dan nenek moyangmu?‖, tegur gurunya
―Guru…, aku tidak akan pernah mencintai lelaki lain. Jika aku akan menikah, aku hanya akan menikah dengannya. Dalam hati dia sudah benar-benar kuanggap sebagai suamiku sendiri, jika sekarang dia memandang aku sebagai isterinya, itulah
2652
satu-satunya masa dalam hidupku di mana itu bisa terjadi.‖, keluh Wang Shu Lin.
―Shu Lin…, tapi itu semua adalah semu semata, kemesraannya padamu, bukankah kemesraan yang dia ingat dengan isterinya? Cintanya padamu saat ini, adalah cintanya untuk orang lain, bukan untuk dirimu.‖, ujar Shu Sun Er mengingatkan.
Diingatkan demikian, pecahlah tangis Wang Shu Lin, meski tak terdengar suara isakannya, namun air matanya meleleh juga akhirnya. Dengan sedih dia merebahkan kepalanya di atas dada gurunya yang memeluknya dengan rasa sayang.
―Maafkan aku guru… tapi… tapi… aku sudah terbawa suasana… aku tidak bisa berpikir lurus… aku sudah… sudah…‖, ujar Wang Shu Lin terbata-bata.
Betapa terkejut hati Shu Sun Er, namun wanita yang sudah cukup kenyang dengan pahit manisnya kehidupan ini masih bisa menahan hatinya dan bertanya hati-hati, ―Apa yang sudah kau lakukan…?‖
Dan Wang Shu Lin pun menceritakan smua apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Ding Tao sebelum Zhu Yanyan
2653
datang, perasaannya, ketakutannya tapi juga keinginan hatinya sampai pada apa yang kemudian dia lakukan. Dalam hati Shu Sun Er pun menghela nafas lega, karena kejadiannya belum sejauh yang dia khawatirkan. Tapi juga sekaligus khawatir dan sedih karena kekhawatiran mereka semua bukannya tak berdasar. Cukup lama dia biarkan Wang Shu Lin menumpahkan segala isi hatinya.
Ketika gadis itu sudah mulai tenang barulah Shu Sun Er mulai bicara, ―Muridku… kau selalu berkata, setelah satu minggu ini lewat, semuanya akan kembali seperti sebelumnya. Kau akan diam menyimpan cintamu dan kenangan indah bersamanya dan dia dengan urusannya sendiri tanpa perlu tahu apa yang kau rasakan.‖
―Benar guru… biarlah satu minggu ini saja untukku, karena dia memang bukan milikku.‖, jawab Wang Shu Lin.
―Shu Lin… Shu Lin… kau tak tahu apa yang kau bicarakan, dulu aku pun pernah berpikir demikian, meski nasib tidak memberikanku kesempatan yang satu minggu itu. Tapi hidup dengan cinta yang tak berbalas adalah hidup penuh penderitaan apalagi jika kau terus mengikatkan dirimu pada cinta itu…‖, ujar Shu Sun Er dengan sedih.
2654
Wang Shu Lin memandang gurunya ingin tahu, baru kali ini dia mendengar gurunya Shu Sun Er bicara tentang cinta.
Melihat pandang mata Wang Shu in, Shu Sun Er tersenyum sedih, ―Aku mencintai ayahmu Shu Lin, bahkan sampai sekarang pun dialah satu-satunya cinta dalam hidupku… tapi dia mencintai ibumu. Jangan berpikir yang buruk, tidak pernah lewat dalam benakku sedikitpun untuk merebut cintanya. Aku mengatakan ini semua padamu sekarang, hanya agar kau mengerti, bahwa aku bisa memahami perasaanmu.‖
Mendengar pengakuan gurunya, berbagai macam perasaan timbul dalam hati Wang Shu Lin, tapi pada akhirnya yang menang adalah rasa iba dan rasa senasib sepenanggungan. Sambil mengeluh perlahan dia sekali lagi memeluk gurunya, namun kali ini bukan untuk menumpahkan kegalauannya, tapi lebih pada keinginan untuk berbagi kekuatan dan duka.
―Oh… guru… aku tidak pernah tahu…‖, keluh gadis itu.
―Hahaha, sudahlah, aku toh sudah tidak muda lagi dan tidak seperti dirimu aku sudah tidak terikat dengan cinta. Tapi justru karena itu aku bisa mengatakan padamu, jalan yang kau pilih adalah jalan yang penuh kesusahan. Sebisa mungkin Shu Lin,
2655
lupakan cintamu, kau masih muda dan masih banyak kesempatan untuk mendapatkan cinta yang lain.‖, ujar Shu Sun Er sambil menepuk-nepuk punggung muridnya dengan sayang.
Kemudian Shu Sun Er berkata kembali, ―Tapi aku juga tahu watakmu tak jauh berbeda dengan watakku, karenanya aku tahu, kau pasti tidak akan mau melupakan cintamu ini, meski kau tahu cintamu itu hanya membawa penderitaan saja.‖
Wang Shu Lin hanya terdiam mendengar perkataan gurunya, tidak menyanggah, tidak pula menjawab, hanya diam menundukkan kepala.
―Karena itu aku tidak akan berkata apa-apa lagi padamu mengenai hal itu. Juga selama satu minggu ini, aku pun tidak akan mengatakan apa-apa, hanya saja pintaku, kau tetap menjaga kehormatanmu sebagai seorang wanita. Kamipun sebagai gurumu tentu akan ikut memasang mata dan telinga, kukira tanpa kuberitahu pun kau mengerti.‖, kata Shu Sun Er.
Wang Shu Lin menganggukkan kepala, ―Aku mengerti guru… aku juga mengerti untuk menjaga kehormatanku, tapi… aku tidak berani berjanji apa-apa. Terkadang… terkadang hatiku berbicara lebih lantang dari pikiranku.‖
2656
―Aku mengerti… tapi Shu Lin, kau juga harus waspada, terkadang pikiran yang keruh sulit membedakan mana yang kata hati dan mana yang godaan nafsu belaka. Setelah ini, kau pergilah bermeditasi, sungguh-sungguh kau berusaha tenangkan pikiranmu dan tiliklah kembali apa yang terjadi hari ini. Apakah murni itu kata hatimu, ataukah nafsu ikut berbicara dengan menyamar sebagai cinta yang suci.‖, ujar Shu Sun Er dengan tegas.
Wang Shu Lin tercenung dengan rasa malu ingin dia menepiskan segala ucapan gurunya, tapi juga rasa hormat pada gurunya membuat dia sungguh-sungguh dalam mendengarkan nasihat gurunya itu.
Pada akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh, ―Aku mengerti guru… aku akan melakukannya.‖
Shu Sun Er menatap muridnya dengan tegas tapi juga jelas memancar perasaan sayangnya pada gadis itu, ―Baguslah, sekarang kau pergilah bermeditasi dan renungkan perkataanku barusan.‖
―Baik guru, aku pamit dulu kalau begitu‖, ujar Wang Shu Lin, memberi hormat kemudian beranjak pergi dari ruangan.
2657
Ketika tangannya sudah hendak membuka pintu, tiba-tiba Shu Sun Er berkata, ―Shu Lin…, kau berkata setelah satu minggu lewat dia akan lupa, tapi kukira belum tentu demikian, bisa jadi apa yang terjadi satu minggu ini akan teringat pula olehnya. Entah apa akibatnya, tapi kau ingatlah ada kemungkinan dia mengingatnya.‖
Wang Shu Lin merasa darahnya berdesir kencang mendengar perkataan gurunya, tapi cepat dia mengendalikan diri, ―Baiklah guru, aku akan pikirkan semuanya itu.‖
―Ya, aku percaya padamu. Sekarang pergilah bermeditasi.‖, ujar Shu Sun Er pula.
Begitu keluar Wang Shu Lin bertemu dengan Zhu Yanyan dan Hu Ban yang berjaga di depan kamar sambil bermain catur.
―Guru…‖, kata Wang Shu Lin perlahan, dia yakin kedua gurunya pasti mendengar juga percakapan mereka di dalam.
―Hmm… pergilah bermeditasi …‖, ujar Zhu Yanyan sambil menepuk tangan gadis itu.
Sekilas Wang Shu Lin memandang wajah Hu Ban yang terlihat muram, dalam hati Wang Shu Lin ikut bersedih untuk gurunya
2658
itu, Dia bukannya tidak tahu Hu Ban menyimpan hatinya untuk Shu Sun Er, pengakuan Shu Sun Er tadi pasti menyakiti hatinya. Atau mungkin sebenarnya gurunya itu pun sudah lama menyadarinya? Mungkin itu juga sebabnya dia bersikap malas dan menganggap ringan segala urusan. Tapi tetap saja, dia tentu tergetar juga mendengar pengakuan Shu Sun Er tadi, karena selamanya Shu Sun Er tak pernah mengungkapkan secara terang-terangan isi hatinya.
―Baiklah… aku pamit dulu guru…‖, ucap Wang Shu Lin sembari memberi hormat.
―Ya… Shu Lin… kami tidak menyalahkanmu sedikit pun, masalah hati memang masalah yang rumit. Kami hanya berharap kau tidak mengambil jalan yang salah karenanya.‖, ujar Zhu Yanyan.
―Aku mengerti guru… terima kasih untuk perhatian guru sekalian.‖, jawab Wang Shu Lin.
―Ya… ya…, kami percaya padamu…‖, ujar Zhu Yanyan.
―Shu Lin… aku mengerti perasaanmu, dengarkanlah nasehat gurumu Sun Er, dia pun pasti mengerti perasaanmu.‖, tiba-tiba Hu Ban ikut bicara.
2659
Zhu Yanyan pun menghela nafas sedih, meski dia tidak ikut mengalami masalah percintaan tapi dia bisa membayangkan perasaan mereka. Sejak kecil dia sudah memasuki Wudang untuk menjalani kehidupan membiara, meski seorang pendeta Tao tidak dilarang untuk beristeri, tapi tidak jarang juga yang memilih untuk hidup selibat dan Zhu Yanyan entah mengapa sejak kanak-kanak sudah terpikat dengan kehidupan yang demikian. Ada masanya dia mulai tertarik dengan lawan jenis, namun masa-masa itu singkat dan dengan cepat pendalaman ilmu agama dan limu pedang mengalihkan perhatiannya.
Satu minggu itu pun berlalu dengan berbagai macam pertentangan batin, baik bagi Wang Shu Lin juga bagi ke-enam gurunya. Hanya Ding Tao yang benar-benar menikmati waktu yang satu minggu itu. Otaknya yang susah diajak berpikir dan mengingat hal-hal yang lampau, justru membuat dia terhibur dengan keberadaan Wang Shu Lin yang mendampingi dia sehari-hari. Pengkhianatan Murong Yun Hua, kematian para pengikutnya bahkan kematian Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, adalah peristiwa yang terlalu lampau bagi Ding Tao untuk mengingatnya.
Satu-satunya penderitaan yang dia rasakan adalah keadaan tubuhnya yang sangat lemah, persendian yang ngilu-ngilu dan
2660
nafsu makan yang hilang. Tapi semuanya itu bisa dia tanggung dengan keberadaan Wang Shu Lin yang selalu mendampingi dia sejak dia bangun dari tidurnya sampai dia tertidur kembali.
Wang Shu Lin yang sangat menghormati guru-gurunya, mengikut nasehat mereka baik-baik. Direnungkannya setiap gejolak hati dan perasaan yang timbul dalam dirinya. Dipilahnya, dipertanyakannya dan diselidikinya, dengan hati-hati dia berusaha berjalan menurut hati nuraninya, meski ada kalanya pula dia terlena dengan keadaan dan penjagaannya pun melonggar. Namun sampai pada waktunya Ding Tao mulai meminum penawar Obat Dewa Pengetahuan, Wang Shu Lin masih bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita.
Tiga hari terakhir menjelang berakhirnya waktu yang dua minggu itu, Zhu Yanyan memutuskan bahwa sebaiknya mereka mencari tempat yang baik untuk tinggal selama beberapa waktu.
Perjalanan mereka pun terhenti di sebuah kota kecil di daerah utara, sebenarnya mereka sedikit segan berhenti di kota yang kecil karena kedatangan mereka jadi begitu mencolok. Namun Zhu Yanyan sendiri berkeras agar mereka bisa menetap
2661
setidaknya selama beberapa hari sebelum dan sesudah Ding Tao memulai pengobatannya.
Setidaknya Wang Shu Lin sudah cukup lama hidup di daerah utara, sehingga dari kebiasaan maupun cara berbicara, cukup sesuai dengan cerita yang mereka karang. Bahwa mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah mereka di daerah dekat perbatasan di utara, setelah pergi untuk berobat di ibu kota. Tapi tetap saja, rombongan mereka yang cukup besar, menarik perhatian orang. Apalagi Wang Shu Lin yang masih muda dan cantik, dengan seorang suami yang penyakitan, tentu saja mengundan beberapa pikiran nakal dari laki-laki mata keranjang yang tinggal di kota itu. Bagusnya ada Pang Boxi yang bertubuh raksasa membuat orang berpikir beberapa kali lipat sebelum mencoba-coba menggoda nyonya muda yang cantik itu.
Itu pula sebabnya mereka memutuskan untuk memasuki kota sebagai satu rombongan. Meski lebih menarik perhatian, tapi juga membantu mereka menghindari gangguan yang tidak diinginkan. Tidak ingin terjadi konflik dengan berandalan di kota itu, pagi-pagi sejak datang mereka sudah unjuk kemampuan, utamanya Pang Boxi, Khongti dan Hu Ban yang beraksi sebagai pengawal dari rombongan itu.
2662
Hari itu sudah lewat 2 minggu Ding Tao bebas dari Obat Dewa Pengetahuan, dengan hilangnya seluruh sisa-sisa obat dalam tubuhnya, hampir segala fungsi yang berhubungan dengan syaraf dan otak menurun dengan drastis.
Meski dia berpikir bahwa Wang Shu Lin adalah isterinya, toh Ding Tao juga tidak memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar dekat dan menikmati kehangatan bersama seseorang yang mengasihinya.
―Ding Tao, sekarang kau minumlah obat ini, setelah kau minum obat ini, cobalah untuk bermeditasi, agar obat itu bekerja dengan lebih sempurna.‖, kata Zhu Yanyan sambil memberikan 3 buah pil pemberian Tabib Shao Yong.
Seluruhnya ada 27 buah pil yang harus diminum 3 pil setiap kali minum, 3 kali sehari, selama 3 hari berturut-turut.
―Meditasi ?‖, tanya Ding Tao mencoba mengingat apa maksud perkataan Zhu Yanyan.
Dengan sabar Zhu Yanyan tersenyum dan menjelaskan, ―Ya, meditasi, selama tiga hari ini bukankah aku sudah mengajarimu bagaimana cara melakukannya?‖
2663
―Tapi sekarang minum saja dahulu obatnya, lalu aku akan membantumu kembali mengingat-ingat cara bermeditasi yang kuajarkan.‖, ujar Zhu Yanyan sambil memberikan obat pada Ding Tao.
Melihat obat di tangannya, Ding Tao menengok terlebih dahulu ke arah Wang Shu Lin. Ketika dia melihat gadis itu mengangguk dan tersenyum, barulah dia meminum obat di tangannya itu dengan hati tenang.
―Nah sekarang kita mulai bermeditasi, cobalah ingat apa yang kuajarkan beberapa hari ini.‖, ujar Zhu Yanyan dengan sabar.
Berkerut dahi Ding Tao berusaha mengingat-ingat apa yang diajarkan Zhu Yanyan beberapa hari ini. Memang sebagai persiapan, sudah beberapa hari menjelang hari ini Zhu Yanyan mengajarkan kembali pada Ding Tao bagaimana caranya bermeditasi.
―Hmm… seperti ini…‖, ujar Ding Tao sembari perlahan-lahan, mengambil posisi bersila dan menegakkan tubuhnya.
―Benar… lalu…?‖, kata Zhu Yanyan menyemangatinya.
2664
―Lalu… aku tutup mata dan … dan mengatur pernafasan… kosongkan pikiran dan ikuti terus pernafasan di perut.‖, ujar Ding Tao sambil mulai melakukan apa yang dia katakan.
Tidak sulit tentunya bagi Ding Tao untuk mengosongkan pikiran dan sepenuhnya memfokuskan pikirannya pada pernafasan. Justru pekerjaan yang sederhana itu sesuai sekali dengan otaknya yang saat ini begitu lambannya.
―Benar… rasakan pernafasanmu… masuk… tahan selama satu hitungan, kemudian keluarkan… lakukan dengan lembut dan tidak terburu-buru…‖, kata Zhu Yanyan sambil matanya mengikuti gerak perut dan dada Ding Tao.
Ketika dilihatnya pernafasan Ding Tao sudah mulai teratur, Zhu Yanyan pun berkata, ―Rasakan hawa hangat yang timbul dalam tubuhmu.‖
―Sekarang saat kau menarik nafas, buatlah hawa itu mengalir dari dari dantien, mengarah ke puncak kepala. Kemudian sebaliknya, ketika kau melepaskan nafas tariklah hawa itu dari puncak kepala ke dantien.‖, demikian Zhu Yanyan membimbing Ding Tao untuk mengalirkan hawa murni untuk membersihkan jalur energi dalam tubuhnya.
2665
Kemudian setelah beberapa kali mengalirkan hawa murni dari atas ke bawah, sepanjang poros pusat dalam tubuhnya. Zhu Yanyan kemudian mengarahkan Ding Tao untuk mengalirkan hawa itu mengelilingi permukaan tubuhnya, dari kiri ke kanan dan juga dari atas ke bawah. Ding Tao menyukai latihan ini, karena tubuhnya terasa lebih baik setiap kali bermeditasi. Apalagi kali ini setelah meminum obat penawar dari Tabib Shao Yong. Obat ini sebenarnya lebih bekerja untuk memulihkan kembali fungsi-fungsi syaraf yang tadinya terbiasa bergantung pada Obat Dewa Pengetahuan, agar kembali bisa bekerja sendiri. Seperti menguatkan otot-otot tubuh yang sudah lama lemah karena tidak pernah dipakai.
Cukup lama Ding Tao bermeditasi, pada dasarnya pemuda ini sudah menguasai ilmu tenaga dalam tingkat tinggi, ditambah lagi dengan tambahan simpanan hawa murni yang diberikan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, hanya sekedar mengalirkan hawa murni mengelilingi tubuh dan melancarkan peredaran energi dan darah bukanlah urusan yang sulit. Dalam hitungan hari, perkembangan kesehatannya maju dengan pesat. Pada hari pertama dia sudah mulai bisa berpikir dengan normal, meski belum bisa banyak mengingat masa lalunya sendiri. Pada hari kedua, perlahan-lahan ingatannya pun sudah
2666
mulai pulih. Menginjak hari ketiga, ketika seluruh obat penawar sudah habis diminum, bisa dikatakan dia sudah menjadi Ding Tao yang normal.
Pada hari ketiga itu, semalaman penuh Ding Tao terus bermeditasi tanpa henti, hingga esok harinya. Wang Shu Lin dan Zhu Yanyan ikut menunggu di dekatnya.
Seperti baru saja melewati gua yang gelap dan sekarang kembali melihat sinar matahari untuk pertama kalinya. Begitu membuka mata Ding Tao merasa dunianya kembali sempurna, kabut yang menutupi pikirannya benar-benar sudah terangkat.
Bersamaan dengan kembalinya kemampuan dia untuk berpikir dengan jernih, ingatan-ingatan yang menyesakkan dada ikut pula kembali, beban dan kekhawatiran tentang masa depan juga ikut kembali mengisi pikirannya. Diam-diam Ding Tao menghela nafas, tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan bebas, membuat perasaannya jauh lebih baik, meski dirundung banyak beban. Pandang matanya pun jatuh pada Wang Shu Lin dan Zhu Yanyan yang tertidur di ruangan itu. Melihat Wang Shu Lin hatinya merasa terharu tapi juga galau. Satu lagi masalah pertalian hati yang tidak bisa dia temukan jawaban yang memuaskan. Seperti yang dikatakan Shu Sun Er, nyatanya
2667
sekarang setelah otak dan syarafnya bekerja dengan normal, apa yang terjadi selama dia dalam keadaan sakit masih diingat Ding Tao dengan baik. Meski tidak berani memastikan, namun dia bisa menduga bahwa Wang Shu Lin menaruh hati padanya. Kebaikan gadis itu tentu saja menyentuh hatinya, tapi di lain pihak urusan asmaranya sudah terlalu rumit untuk dia pikirkan. Sakitnya dikhianati Murong Yun Hua, penyesalan karena telah berlaku kurang setia kepada Hua Ying Ying, masih menghantui Ding Tao. Dia belum dapat memutuskan bagaimana dia harus menanggapi cinta Wang Shu Lin.
Perlahan-lahan tanpa suara Ding Tao turun dari pembaringan. Meski sudah semalaman bersila tubuhnya tidak menjadi kaku, justru terasa segar dan ringan.
Berjalan ke arah jendela, dibukanya daun jendela dan dihirupnya dalam-dalam udara pagi yang segar dan bersih. Menatap langit yang berwarna keunguan, Ding Tao memutuskan untuk berhenti berpikir dan menikmati saja suasana pagi itu. Peristiwa-peristiwa yang menyakitkan hatinya, masih diingatnya dengan jelas, namun peristiwa itu sudah berjarak cukup lama sehingga tidak lagi terlalu menyakitkan. Waktu yang berjalan membantu dia menerima kenyataan. Pengaruh Obat Dewa Pengetahuan yang menumpulkan
2668
ingatannya, secara tidak langsung membantu dia menghadapi goncangan yang berat itu. Dengan demikian apa yang dipandang orang sebagai bencana, ternyata menyelipkan satu pertolongan bagi dirinya. Merenungi hal ini Ding Tao memikirkan perkataan Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen tentang kehendak langit.
Betapa Thian bermurah hati pada dirinya, dalam kesedihan yang sendu, terselip juga rasa hangat dan syukur.
Berkat obat dari Tabib Shao Yong, dia terhindar dari nasib menjadi seorang mayat hidup. Waktu yang 2 minggu, tiga hari, bisa dikatakan amatlah singkat jika dibandingkan dengan nasib yang dialami Pendekar pedang Jin Yong. Teringat apa yang dituliskan oleh Tabib Shao Yong mengenai pendekar pedang itu, Ding Tao merasa miris, hampir saja dirinya bernasib sama dengan Jin Yong.
―Tapi apakah semudah itu lepas dari pengaruh Obat Dewa Pengetahuan?‖, tanya Ding Tao meragu dalam hatinya.
Berpikir demikian, maka dia pun keluar dari ruangan menuju ke pelataran. Karena mereka tinggal beberapa hari lamanya, Zhu Yanyan memutuskan untuk berusaha menyewa satu rumah
2669
sendiri, kebetulan ada beberapa rumah kosong yang sebenarnya hendak dijual oleh pemiliknya, namun dengan kepandaian Hu Ban berbicara, mereka bisa mendapatkan satu rumah untuk disewa satu bulan lamanya. Dengan sendirinya, di pelataran dalam rumah yang mereka sewa, Ding Tao cukup leluasa untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan. Perlahan-lahan dia memulai latihan pukulan tangan kosong. Tidak terburu-buru, dia mulai dari ilmu keluarga Huang yang dia pelajari sejak dia masih sangat muda.
Meskipun otot-ototnya masih belum pulih seperti sedia kala, tapi Ding Tao bisa merasakan semuanya bekerja dengan normal. Perlahan-lahan dia mulai meningkatkan kecepatan dan kekuatannya dalam melakukan jurus-jurus yang ada. Puas berlatih tanpa menggunakan hawa murni, Ding Tao pun mulai bergerak dengan jurus-jurus yang lebih rumit yang dia pelajari setelah dia menjadi Ketua Partai Pedang Keadilan. Semuanya bekerja dengan baik, semangatnya pun mulai meningkat. Teringat dengan titipan ilmu dari Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, maka Ding Tao pun mulai mencoba jurus-jurus yang belum pernah dia latih sebelumnya itu.
Gerakannya memang masih kaku, namun dengan ingatan dan kepekaan perasaannya yang tajam, Ding Tao sudah mampu
2670
menangkap inti dari jurus-jurus yang digunakan Bhiksu Khongzhen. Meskipun tidak secepat dan setepat saat dia melatih jurus-jurus yang sudah dia kuasai, perbawa yang keluar justru lebih hebat, karena memang jurus-jurus ini adalah inti sari ilmu dari dua orang tokoh terbesar di masa itu. Tenggelam dalam latihannya, meski dia merasakan ada orang-orang yang datang mendekat, Ding Tao tak hendak menghentikan gerakannya. Lagipula dia masih belum berhasil meyakinkan benar ilmu yang baru dicobanya ini. Seperti anak kecil yang memutar-mutar tongkat besi yang berat, benar memang tenaga yang dihasilkan amat besar, semakin lama semakin besar, tapi jika berhenti mendadak atau lengah sedikit saja, maka akibatnya tongkat besi itu pun akan lepas dari tangan dan bergerak dengan liar. Demikian juga keadaan Ding Tao saat ini, baik dari segi pengerahan tenaga dan gerakan serta jurus, sudah hampir tepat benar sesuai dengan intinya, namun gerakan itu belum menyatu, belum melebur dengan dirinya. Jika dia lengah atau berhenti pada saat yang tidak tepat, niscaya tenaga besar yang ditimbulkan oleh ilmu itu akan memukul dirinya sendiri.
Karena itu, kalaupun dia ingin berhenti, dia tidak berani melakukannya, tidak jika gerakannya belum selesai dilakukan
2671
sampai sempurna pada gerakan terakhir. Dalam hal ini Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang memang menghendaki ilmu itu diturunkan pada Ding Tao lewat serangan pura-pura mereka, sudah melakukan serangan dengan jurus-jurus yang urut dari awal hingga akhir. Sehingga Ding Tao pun sekarang tidaklah mengalami kesulitan untuk bergerak mengikuti ingatannya yang sudah kembali, mengikuti serangan-serangan yang dulu dilakukan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan secara urut dari awal hingga akhir.
Satu per satu jurus dilakukan, bergantian antara jurus miliki Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, semuanya persis tiruan dari apa yang dialaminya saat bertarung melawan dua orang jagoan tua itu di Jiang Ling. Berselang-seling antara ilmu pedang dan ilmu pukulan, dilakukan dengan tangan kosong. Pada hakekatnya menggunakan senjata atau tidak, tidak ada bedanya dalam pelaksanaannya. Pedang menjadi perpanjangan tangan, pedang menjadi bagian tubuh. Ada orang ada pedang, meski pedang tidak ada di tangan, namun ada pedang dalam hati. Apa yang ditunjukkan Ding Tao hari ini membuat semua yang melihatnya merasa kagum. Dalam usia semuda itu, apa yang dia tunjukkan menempatkan dia dalam urutan tokoh-tokoh kelas satu dalam dunia persilatan.
2672
Akhirnya Ding Tao pun sampai pada akhir jurus yang dia lakukan, sebuah pohon tua yang sudah tumbuh puluhan tahun di halaman rumah itu menjadi sasaran ilmunya. Pohon raksasa itu pun tumbang dengan suara berderak keras, bagian yang terkena pukulan Ding Tao sudah hancur dalam keadaan remuk dan layu seperti kayu yang habis dimakan rayap.
―Hebat…‖
―Dahsyat…‖
―Mengerikan…‖
―Selamat Ketua Ding Tao, sepertinya keadaanmu sudah pulih sepenuhnya.‖
Hampir bersamaan ke-enam guru Wang Shu Lin mengucapkan pujian sambil berjalan mendekat untuk melihat hasil pukulan Ding Tao.
Sedikit memerah, Ding Tao menjawab, ―Tidak… tidak… ini… jurus yang diajarkan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan padaku. Jurus yang hebat dan aku belum sepenuhnya menguasai jurus ini… sungguh jurus yang dahsyat bila sudah dikuasai dengan benar. Tapi juga sangat sulit untuk
2673
menguasainya, menggunakan jurus ini serasa seperti menunggang seekor kuda liar yang gagah.‖
―Oh begitu rupanya… menurut Ketua Ding Tao, apakah ketua bisa menguasainya dengan sempurna saat kita sampai di Desa Hotu, kukira jika memang ada sesuatu di sana, mempersiapkan diri sebaik mungkin sangatlah penting.‖, ujar Hu Ban sambil berjongkok memeriksa akibat pukulan Ding Tao pada batang pohon yang besar itu.
Ding Tao ikut berjongkok dan memeriksa akibat dari pukulannya, ―Entahlah…, aku merasa dalam hatiku, jika jurus-jurus itu bisa kukuasai dengan sempurna, seharusnya seberapa besar daya hancurnya, seberapa luas pengaruhnya, semuanya seharusnya bisa aku tentukan sekehendak hatiku.‖
Terdiam sejenak Ding Tao kemudian berkata lagi, ―Aku merasa sangat baik, jauh lebih baik daripada yang kurasakan selama ini. Tapi… di saat yang sama… aku juga merasa otakku tidak bekerja sebaik saat aku mulai meminum Obat Dewa Pengetahuan. Aku merasa… normal… dalam artian yang rasanya benar dalam hati ini, tapi tidak bisa kusangkal, sebagian besar kemajuan yang kudapatkan dalam waktu yang singkat adalah berkat obat sesat itu.‖
2674
―Tanpa obat itu, aku tak tahu, berapa tahun lamanya aku butuhkan untuk menyempurnakan jurus-jurus ini. Dan jika jurus ini tidak bisa kujalankan dengan sempurna, menggunakannya dalam sebuah pertarungan, tiada bedanya menunggangi seekor harimau yang lapar, setiap saat bisa saja terjadi jurus itu berbalik merugikan diriku sendiri.‖, kata Ding Tao dengan lambat-lambat, seakan memikirkan setiap kata-katanya baik-baik sebelum mengucapkannya.
Mereka yang mendengar jawaban Ding Tao ikut tercenung, memang jurus-jurus yang diturunkan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan adalah jurus-jurus yang dahsyat. Tidak mungkin seorang biasa, menyempurnakannya dalam hitungan bulan. Kedua orang tua itu pun butuh waktu belasan bahkan mungkin puluhan tahun untuk menyempurnakannya, setelah memeras puluhan jurus dan ilmu yang pernah mereka pelajari, menjadi belasan jurus saja. Bakat Ding Tao boleh jadi lebih menonjol dibandingkan orang lain seusianya, namun tentu bukan juga berkali lipat melampaui bakat dua orang tokoh besar itu.
―Kita lakukan semuanya perlahan-lahan saja, kesembuhan Ketua Ding Tao saat ini saja sudah merupakan suatu berkah yang tak terkira. Kita pikirkan langkah selanjutnya perlahan-
2675
lahan sembari kita menjalankan apa yang sudah pasti, seperti pergi ke Desa Hotu.‖, ujar Zhu Yanyan memecahkan keheningan.
Mereka semua saling berpandangan lalu menganggukkan kepala, memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali berusaha melakukan yang terbaik.
―Ketua Ding Tao aku bisa membayangkan, kau pasti ingin sesegera mungkin menyempurnakan ilmu yang diwariskan kedua tetua. Tapi lakukan segalanya setahap demi setahap, ingat tubuh kasarmu baru saja mengalami penurunan yang luar biasa. Meski himpunan hawa murnimu tak terganggu, tapi alangkah baiknya jika kau pulihkan dulu tubuhmu perlahan-lahan sebelum berlatih dengan keras.‖, kata Zhu Yanyan kepada Ding Tao.
―Aku mengerti tetua, terima kasih untuk nasehatnya, aku akan mengingatnya baik-baik.‖, jawab Ding Tao dengan hormat.
―Jadi kapan sebaiknya kita mulai kembali perjalanan ke Desa Hotu?‖, tanya Khongti.
Zhu Yanyan terdiam sejenak untuk berpikir kemudian menjawab, ―Baiklah kita beristirahat dua hari lagi, setelah itu
2676
perjalanan ke Desa Hotu bisa kita mulai. Dengan berjalan kaki di udara bebas, kesehatan Ketua Ding Tao juga akan cepat pulih. Yang penting lamanya perjalanan kita ukur sesuai dengan perkembangan kesehatan Ketua Ding Tao.‖
―Bagaimana menurut ketua?‖, tanya Khongti pada Ding Tao.
Ding Tao pun mengangguk, ―Aku percaya pada penilaian tetua sekalian, kukira itu adalah satu rencana yang baik.‖
―Baik, kalau begitu sudah kita putuskan, kita tinggal di sini dua hari lagi, untuk kemudian melanjutkan perjalanan.‖, ujar Zhu Yanyan disambut anggukan kepala oleh yang lain.
―Sebentar lagi makanan akan aku siapkan, tapi teh hangat bisa kusiapkan sekarang juga. Mari kita masuk kembali ke dalam rumah.‖, kata Wang Shu Lin sambil tersenyum lega melihat kesembuhan Ding Tao.
Ding Tao pun tersenyum melihat kegembiraan gadis itu, tapi kemudian dia berkata, ―Kalian masuklah lebih dahulu, aku ingin berada di sini sebentar lagi. Masih ada beberapa hal yang mengganggu benakku.‖
2677
―Ini mengenai ilmu silatku setelah lepas dari pengaruh Obat Dewa Pengetahuan.‖, cepat-cepat dia menambahkan.
―Hmm… baiklah kukira kau tentu ingin merenunginya sendirian, tapi ingat jangan terlalu memaksa tubuh fisikmu.‖, ujar Zhu Yanyan mengingatkan.
Satu per satu mereka pun masuk kembali ke dalam rumah, meninggalkan Ding Tao sendirian. Ding Tao kemudian mematahkan satu dahan pohon dan membersihkannya, meski secara kasar membentuknya seperti sebuah pedang. Puas dengan berat dan setelah menemukan titik kesetimbangannya, mulailah dia memainkan jurus-jurus pedang keluarga Huang. Kemudian beberapa jurus lain yang sempat dia pelajari, semuanya hanya gerakan-gerakan ringan tanpa pengerahan hawa murni. Semuanya bisa dia lakukan dengan lancar tanpa ada satu halangan sedikitpun, tapi entah mengapa masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Ding Tao. Sepertinya dia melupakan sesuatu yang penting, tapi belum bisa menemukan apa yang kurang itu.
Merasa tubuhnya yang sudah lama tidak bekerja itu mulai kelelahan, Ding Tao pun menghentikan latihannya sambil menghela nafas dalam-dalam. Di sudut hati kecilnya, dia tahu
2678
ada sesuatu yang terlewatkan olehnya. Sesuatu yang penting, sesuatu yang akan sangat berpengaruh pada kemampuannya untuk menghadapi satu pertarungan besar, yang tentunya cepat atau lambat akan terjadi. Dengan langkah kaki yang sedikit berat, dengan satu ganjalan di hati, dia berjalan memasuki rumah untuk berkumpul dengan yang lain.
Dengan keadaan Ding Tao yang membaik, perjalanan menuju ke Desa Hotu berjalan lebih cepat. Apalagi Ding Tao yang merasakan masih adanya ganjalan dengan pengaruh Obat Dewa Pengetahuan, ingin agar dia bisa secepatnya menghilangkan ganjalan di hati itu. Di Desa Hotu ada seorang tabib dan Ding Tao berharap bisa mendapatkan jawaban dari tabib itu. Bagaimana pun juga Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan mempercayai tabib itu.
Berita tentang apa yang terjadi di dunia persilatan pun sampai ke telinga mereka. Kehebohan yang demikian tentu saja menyebar ke empat penjuru. Di mana ada orang persilatan, tentu akan mendengar berita itu. Kematian Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen dan berita terpilihnya Murong Yun Hua menjadi Wulin Mengzhu dengan dukungan lima perguruan besar. Berita-berita ini adalah berita besar. Dengan sendirinya Ding Tao juga menjadi salah satu berita yang menghebohkan.
2679
Untuk menghindari perhatian orang, Ding Tao pun harus menyamar. Baiknya semakin jauh mereka dari daerah selatan, semakin sedikit orang yang mengenali Ding Tao. Pemuda itu belum lama menjadi Wulin Mengzhu, sebagian besar tokoh di daerah selatan sudah mengenal pemuda itu dengan baik. Tapi mereka yang berasal dari utara, mungkin hanya satu kali melihat Ding Tao, yaitu saat pemilihan Wulin Mengzhu di kaki Gunung Songshan. Itu pun mungkin sekali hanya dari kejauhan dan dengan penampilannya sebagai seorang ketua dari partai yang besar.
Meski demikian, tidak sedikit orang-orang yang menyelidiki keberadaan Ding Tao, entah mereka yang mencari jasa di depan Murong Yun Hua dan sekutunya, atau mereka yang ingin menjadi terkenal dengan menangkap Ding Tao.
Mereka yang berambisi ini tentu saja bukan tokoh-tokoh sembarangan, setidaknya mereka pernah membuat nama, jika tidak mana berani mereka mencari perkara dengan orang yang diyakini berhasil mengalahkan dua orang jagoan terbesar di jaman itu.
Mengingat hal itu, Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya sepaham dengan Ding Tao yang ingin secepatnya sampai ke
2680
Desa hotu. Tentu saja dengan alasan yang berbeda dengan alasan Ding Tao. Keamanan Ding Tao jadi alasan utama, karena itulah tanggung jawab yang dibebankan Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen pada mereka semua. Terkadang Ding Tao masih tidak percaya jika Murong Yun Hua-lah yang menjadi dalang dari semua kejadian. Dalam benaknya lebih mudah baginya untuk berpikir bahwa Zhong Weixia adalah dalang yang sebenarnya dari semua kejadian itu. Jika sudah demikian maka pemuda itu akan pergi menyendiri dan jadi sangat pendiam. Yang lain tidak berani mengganggunya, karena Ding Tao juga tidak meminta pertimbangan mereka. Beberapa kali Zhu Yanyan dan yang lain, meminta agar Ding Tao lebih terbuka bila ada masalah, tapi sampai saat itu Ding Tao tidak juga bisa membicarakannya secara terbuka.
Tapi perjalanan itu bukan hanya dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang buruk dan kekhawatiran. Dalam perjalanan itu, baik Wang Shu Lin maupun Ding Tao tidak melupakan latihan mereka. Meski waktu yang ada tidaklah banyak, karena hampir sepanjang hari bahkan sampai malam, waktu yang ada mereka gunakan untuk menempuh perjalanan ke Desa Hotu. Kitab pemberian Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan sangat menarik hati Wang Shu Lin, tidak bosan-bosannya dia
2681
membaca dan merenungi kitab-kitab itu. Jika ada kesulitan maka dia akan datang bertanya pada enam orang gurunya.
―Guru… aku mengalami kesulitan untuk memahami bagian ini…‖, demikian suatu malam Wang Shu Lin mendatangi Zhu Yanyan yang sedang berkumpul dengan lima orang gurunya yang lain di dekat api unggun.
Ding Tao baru saja berpamitan pergi untuk berlatih sendirian di tempat yang lebih lega.
Sekilas guru-guru Wang Shu Lin saling berpandangan, Zhu Yanyan pun kemudian melihat pada halaman yang ditunjukkan Wang Shu Lin padanya dan bertanya, ―Hmm.. apa yang tidak kau mengerti?‖
―Murid berpikir, gerakan ini sepertinya merupakan satu kesatuan dengan beberapa gerakan sebelumnya, posisi kedua tangan memungkinkan kita untuk bergerak memukul lurus ke depan, atau bergerak menebas ke samping atau bisa juga dalam keadaan tertentu dilanjutkan seperti jurus tangkapan pergelangan tangan.‖, ujar Wang Shu Lin.
2682
―Hmm… benar, sepertinya pemikiranmu sudah benar, tapi mungkin kau merasa aneh dengan kedudukan kaki yang sedikit merapat ini, benarkah demikian?‖, tanya Zhu Yanyan.
―Benar guru…, posisi kedua tangan sepertinya memungkinkan perubahan gerak serang yang menjangkau jarak serang yang begitu bervariasi, namun posisi kedua kaki justru merapat dan tidak memungkinkan adanya variasi pergerakan yang begitu berbeda jaraknya.‖, kata Wang Shu Lin membenarkan dugaan Zhu Yanyan.
Mengikuti tanya jawab itu, lima orang yang lain pun ikut membaca isi kitab yang diberikan Pendeta Chongxan untuk Wang Shu Lin itu.
Melihat posisi kaki yang dibicarakan Zhu Yanyan dan Wang Shu Lin, Chen Taijiang pun menyeletuk, ―Itu seperti langkah kaki jurus monyet Shaolin yang biasa digunakan Kakak Khongti.‖
―Benar…, meskipun demikian ada sedikit perbedaan, Boxi, apakah kau melihat titik berat di kaki kiri dan kanan yang berbeda? Tidakkah ada salah satu jurus dalam ilmu milik Kongtong yang menggunakan variasi seperti itu?‖, jawab
2683
Khongti membenarkan Chen Taijiang sekaligus bertanya pada Pang Boxi.
Pang Boxi mengamati gambar itu beberapa lama sebelum menjawab, ―Ya… kukira aku pernah melihat beberapa orang saudara seperguruan melatih ilmu langkah kaki yang mirip dengan gambar ini. Aku sendiri tidak mempelajarinya, aku lebih suka menggunakan jurus-jurus yang lurus tanpa banyak kembangan.‖
―Apakah tidak teringat sesuatu yang bisa membantu Shu Lin?‖, tanya Shu Sun Er pada Pang Boxi.
―Hmm… kalau benar ada kemiripannya dengan ilmu langkah kaki itu, tentu akan ada lebih banyak gambar yang menjelaskan perkembangannya. Yang kutahu, perbedaan titi berat yang dikatakan Kak Khongti menjadi kunci untuk memahaminya.‖, jawab Pang Boxi setelah berpikir beberapa lama.
―Nah Shu Lin, kau coba amati perbedaan titik berat yang dikatakan gurumu Khongti, kemudian lihat lagi gerakan-gerakan sebelum dan sesuhan gerakan ini. Mungkin kau akan mendapatkan petunjuknya nanti.‖, kata Shu Sun Er pada Wang Shu Lin.
2684
―Benar, kau cobalah ikuti petunjuk guru-gurumu dan pelajari lagi kitab itu, jika masih tidak menemukan jalan keluar, bolehlah kau kembali bertanya pada kami.‖, kata Hu Ban pada Wang Shu Lin.
―Baik guru, sepertinya petunjuk guru akan memecahkan masalah ini, memang aku tidak terlalu memperhatikan masalah titik berat tubuh di kedua kaki seperti yang dikatakan Guru Khongti dan Guru Pang Boxi tadi.‖, jawab Wang Shu Lin dengan ceria, merasa ada jalan terbuka setelah sebelumnya membentur jalan buntu.
Wang Shu Lin pun berpamitan dan pergi menyendiri untuk mempelajari isi kitab pemberian Pendeta Chongxan itu. Setelah gadis itu cukup jauh, barulah Hu Ban berkata.
―Sepertinya mereka berdua saling menghindar? Jika Ding Tao sedang ada bersama kita, pasti Shu Lin mencari-cari alasan untuk mengerjakan sesuatu. Demikian juga sebaliknya.‖, ujar Hu Ban.
―Bukan sepertinya lagi, selama perjalanan Shu Lin selalu saja menempel padaku, sudah seperti anak kecil saja.‖, sahut Shu Sun Er.
2685
―Heh… dan Ding Tao bersikap sangat sopan padanya, benar-benar membikin aku gemas saja.‖, tambah Khongti menyahut.
Zhu Yanyan menghela nafas, ―Sudahlah urusan anak muda, kita yang tua jangan ikut-ikutan, nanti malah membuat mereka makin serba salah. Biar saja mereka selesaikan sendiri, kita cukup ikut mengamati dari jauh saja.‖
―Sudah kubilang pada Shu Lin, jika Ding Tao ingat apa yang terjadi selama dia kehilangan daya pikirnya, tentu akan timbul keadaan seperti sekarang ini. Shu Lin merasa jengah, demikian juga Ding Tao.‖, keluh Shu Sun Er.
―Masalah ini, Ding Tao saja yang terlalu malu-malu.‖, kata Pang Boxi sambil mendengus keras.
―Lebih baik begitu daripada dirimu, bukannya malu-malu tapi memalukan‖, sahut Khongti sambil terkekeh-kekeh.
Pang Boxi yang kena semprot, karuan saja menggerutu panjang lebar, disambut tawa yang lain. Suasana yang tadinya mendung jadi cerah kembali gara-gara ucapan Khongti.
Setelah reda tawa mereka semua Khongti pun berucap lagi, ―Yang penting kulihat baik Shu Lin maupun Ding Tao masih
2686
berjalan sesuai nilai-nilai yang benar, Shu Lin masih bisa menjaga kehormatannya dan Ding Tao juga seorang pemuda yang jujur dan tidak memanfaatkan kesempatan dalam kondisi Shu Lin saat ini.‖
―Kak Khongti benar, tentang masalah hati, biarlah pelan-pelan terurai sendiri. Yang terpenting keduanya tidak melupakan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam situasi apa pun mereka masih mengedepankan nurani mereka dan tidak mengikuti keinginan nafsu orang muda.‖, ujar Chen Taijiang membenarkan.
―Kau bilang nafsu orang muda, apa kau sendiri sudah tidak memiliki keinginan sedikitpun?‖, tiba-tiba Khongti bertanya.
Wajah Chen Taijiang pun berkerenyit sedih, tapi dia tidak kurang akal untuk menjawab, ―Memang kubilang nafsu orang muda, tentang diriku sendiri, apa pernah kubilang kalau aku sudah tua. Wajahku boleh tua, tapi semangat masih anak muda.‖
Ucapan Chen Taijiang yang berlawanan dengan raut mukanya itu sudah tentu membuat mereka yang mendengarnya jadi geli dan tertawa terbahak-bahak. Nun jauh di sana, baik Wang Shu
2687
Lin dan Ding Tao yang sedang berlatih, mendengar suara tawa mereka. Ya, selain memikirkan Murong Yun Hua, ingatan tentang kemesraan yang sempat ditunjukkan Wang Shu Lin juga ikut mengisi pikiran Ding Tao. Dalam hati sempat pula Ding Tao bertanya dengan wajah bersemu dadu dan dada berdebar, ‗Ah… siapa pula yang mereka tertawakan? Jangan-jangan mereka sedang membicarakan aku dan Nona Wang Shu Lin.‘
Teringat dengan Wang Shu Lin, Ding Tao pun berhenti berlatih, ingatannya kembali pada masa-masa, di mana dia menganggap gadis itu sebagai isterinya. Dalam keadaan ingatannya yang sudah kembali pulih, dapatlah dia mengerti, betapa dia sudah mencampur adukkan antara kemesraan yang pernah dia jalani bersama Murong Yun Hua dengan kesalah pahaman bahwa Wang Shu Lin adalah isterinya. Tapi di lubuk hatinya yang terdalam dia pun bertanya-tanya, benarkah hanya demikian? Ataukah sebagian dari hatinya sudah terpikat pula dengan kecantikan dan kelembutan gadis itu? Terutama dengan kebaikannya saat dia merawat Ding Tao dengan penuh kesabaran.
Ding Tao menggeleng-gelengkan kepalanya, ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan masalah asmara.
2688
‗Nona Wang Shu Lin juga pasti mengerti, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa untuknya…‘, pikir Ding Tao.
Tiba-tiba Ding Tao pun menampar mukanya sendiri, ‗Bodoh, apa pula yang kupikirkan ini? Beraninya aku berpikir kalau Nona Wang Shu Lin memiliki perasaan untukku. Semua yang dia lakukan adalah untuk membantuku melewati masa-masa yang sulit. Keluar dari kebaikan hatinya, tidak lebih dan tidak kurang. Aku yang sudah mengkhianati kesetiaan Ying Ying, mana mungkin dia menaruh hati padaku.‘
‗Ah… Ying Ying… Yun Hua…, mungkin sudah sepantasnya aku dikhianati Yun Hua, itu pembalasan yang pantas buatku… tapi mengapa harus sampai mengorbankan saudara-saudara yang lain…‘, pikir Ding Tao dengan sedih.
‗Yun Hua…, aku masih belum bisa menerima bahwa dia yang ada di balik semua kekejian ini. Tapi apakah dia yang menjadi otak di balik semuanya atau hanya menjadi diperalat oleh seseorang, aku tidak boleh membiarkan mereka menguasai dunia persilatan demi ambisi mereka pribadi.‘
‗Tidak ada waktu untuk memikirkan masalah asmara!‘, geram pemuda itu pada dirinya sendiri.
2689
Ding Tao pun menghela nafas, malam sudah semakin larut, latihannya tidak menunjukkan ada masalah pada dirinya. Dengan mudah dia menjalankan jurus-jurus yang sudah pernah dia kuasai. Tentang ilmu warisan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, meski Ding Tao mengalami kesulitan, tapi setiap saat dia bisa merasakan adanya kemajuan. Tidak secepat saat dia masih berada di bawah pengaruh Obat Dewa Pengetahuan, tapi pemuda itu tidak sampai menemui jalan buntu dalam latihannya. Dia tahu tak mungkin dia bisa menguasainya secara sempurna pada saat pertemuan lima tahunan akan diadakan, tapi Ding Tao memiliki keyakinan bahwa setidaknya dia akan bisa menggunakan ilmu itu bila dia berhati-hati. Jika terpaksa dia bisa menggunakannya dengan kekuatan penuh, meski hal itu akan membahayakan dirinya sendiri selain membahayakan lawan.
Ding Tao berpikir dia perlu waktu beberapa minggu lagi, sebelum dia akan meminta salah satu guru Wang Shu Lin untuk menjadi lawan latih tandingnya, di mana dia akan mencoba menggunakan ilmu yang dia dapatkan dari Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen, dengan pengerahan tenaga yang terukur.
2690
Perlahan Ding Tao menyusuti keringat yang membasahi tubuhnya, kemudian mencari tempat yang nyaman untuk bersila dan mulai bermeditasi. Bukan saja untuk meningkatkan penguasaannya atas himpuanan hawa murninya yang melonjak pesat, tapi lebih utama lagi, dia ingin menenangkan pikirannya. Membersihkannya dari segala beban pikiran yang tidak perlu.
Satu malam dari sekian banyak malam-malam lain dalam perjalanan mereka ke Desa Hotu. Perjalanan mereka bisa dikatakan berjalan tanpa halangan, hanya dua atau tiga kali mereka bertemu sekelompok orang yang sedang mencari Ding Tao. Tapi mereka sama sekali tidak memberikan kesulitan yang berarti, dengan kembalinya kemampuan Ding Tao ditambah dengan Wang Shu Lin dan enam orang gurunya, dengan mudah mereka mengalahkan lawan-lawan yang berusaha menghadang mereka. Demi menghilangkan jejak, maka Ding Tao dan kawan-kawannya harus mengeraskan hati dan tidak melepaskan seorang pun hidup-hidup. Semuanya itu menambah beban di hati Ding Tao, meski hal itu dengan mudah bisa dijawab oleh akal sehatnya.
"Bukan kita yang mencari masalah, tapi mereka sendiri yang mencari kematian.‖, ujar Pang Boxi dengan tegas saat dia
2691
melihat wajah Ding Tao yang murung setelah mereka baru saja menguburkan lawan-lawan mereka.
Seorang dari mereka yang baru saja terbunuh, masih sangat muda, hampir seumur dengan Ding Tao dan Ding Tao bisa membayangkan kehidupan yang baru saja terbentang di hadapan lawannya itu. Ding Tao tidak membantah Pang Boxi, diapun bisa mengerti apa yang dimaksudkan Pang Boxi. Pemuda itu sudah memilih jalannya, dengan segala resiko yang ada, termasuk kematian.
Ding Tao menghela nafas dan bergumam, bertanya, ―Apakah kekuasaan dan ketenaran yang memikat dirinya? Atau keinginan untuk menegakkan kebenaran?‖
Khongti menjawab dengan tegas, ―Kukira yang pertama, mereka bukan dari Shaolin, bukan pula berasal dari Wudang, karena jika tidak tentu aku atau Kak Zhu Yanyan akan mengenal ilmu yang mereka perguanakan. Jika mereka bagian dari keluarga Huang tentu kau mengenalnya. Atas alasan apa mereka mengejarmu, jika bukan sedang mencari nama.‖
Zhu Yanyan lebih bersimpati pada Ding Tao dibanding saudara-saudaranya yang lain, ―Aku mengerti perasaanmu, tapi
2692
inilah kenyataan dalam dunia persilatan. Orang-orang seperti mereka ada puluhan bahkan ratusan jumlahnya. Sebagian besar dari mereka mati terbunuh sebelum sempat mencapai apa yang mereka inginkan.‖
―Ketua Ding Tao mungkin tidak banyak berurusan dengan orang-orang seperti mereka. Tapi aku yakin pengikut-pengikut Ketua Ding Tao banyak berjumpa dengan orang-orang seperti mereka. Yang sampai berhadapan dengan Ketua Ding Tao sendiri, tentu hanya dedengkot-dedengkot saja dan cara mereka jauh lebih halus dan banayk perhitungan.‖, sambung Hu Ban dengan tenang.
Ding Tao pun terdiam dan berpikir, selama dia menjadi ketua dari Partai Pedang Keadilan, memang yang lebih banyak dia lakukan adalah berlatih ilmu silat siang dan malam. Hampir seluruh urusan dikerjakan oleh para pengikutnya. Ding Tao pun menyadari betapa naifnya dia selama ini, yang dia tahu hanyalah laporan dari Chou Liang dan yang lain, bahwa masalah sudah diselesaikan. Ada berapa nyawa yang hilang dalam satu laporan yang pendek itu? Semakin lama dia berpikir, semakin dia merasa malu atas kebodohannya selama ini.
2693
Banyak sekali yang harus dipikirkan Ding Tao selama perjalanannya ke Desa Hotu, hingga pemuda itu pun mengalami banyak perubahan pada cara berpikirnya. Mendekati mereka sampai ke perbatasan, Ding Tao sudah bisa menerima kenyataan bahwa kemungkinan besar, Murong Yun Hua-lah yang menjadi dalang dibalik semuanya.
Di saat yang sama, ada satu penemuan yang sedikit membesarkan hati pemuda itu, sekaligus membuat dia terharu akan kesetiaan pengikut-pengikutnya yang sudah pergi mendahului dia. Waktu itu tinggal dua hari lagi sebelum mereka akan melewati perbatasan. Sudah sejak beberapa hari sebelumnya, Hu Ban dan Khongti memberi kisikan bahwa sepertinya ada beberapa orang yang sedang mengikuti mereka. Setelah mendapatkan peringatan itu, mereka pun menajamkan pengamatan mereka dan memang benar, ada beberapa orang yang tampak mencurigakan.
Sudah terbayang dalam benak Ding Tao, sebentar lagi mereka harus melenyapkan nyawa beberapa orang demi menyembunyikan jejak mereka.
Dengan hati berat dia pun memulai perjalanan hari itu, pada malam sebelumnya mereka sudah menentukan jalur yang akan
2694
mereka tempuh hari itu. Ada beberapa tempat yang bagus untuk menghadang orang, entah mereka yang akan dihadang atau mereka yang akan lebih dahulu menghadang orang, tergantung situasi nanti. Keduanya sama saja, meski dalam hati Ding Tao, dia lebih memilih untuk dihadang orang daripada menghadang orang. Sebenarnya jika bisa dia ingin memberi kelonggaran pada orang, seandainya bisa dia tidak ingin membunuh mereka. Tapi kalaupun mereka membatalkan keinginan mereka untuk berusaha menangkap Ding Tao, Ding Tao dan rekan-rekan yang lain tidak mungkin membiarkan ada kemungkinan jejak mereka sampai bocor. Jadi entah mereka akan memanfaatkan jalan yang sepi untuk menghadang Ding Tao atau Ding Tao yang harus menghadang mereka, nyawa mereka harus lenyap hari itu juga.
Meski tidak menyukainya Ding Tao tidak lari dari kenyataan, di saat yang sama dia juga tidak serta merta menerimanya sebagai satu kewajaran. Ding Tao merenungkan keadaannya, dia bergumul dengan konflik antara dua hal yang bertentangan ini. Terkadang dia berpendapat, reputasi, nama besar, menjadi ahli pedang nomor satu, mungkin bisa membuat dia terhindar dari masalah ini. Di lain pihak, Ding Tao juga sadar reputasi dan nama besar, mengundang orang untuk merebutnya. Apakah
2695
seseorang yang terjun dalam dunia persilatan, sama artinya dengan mengikuti arus bunuh membunuh yang tiada hentinya sampai mereka meninggalkan dunia itu? Entah lewat acara cuci tangan di baskom emas, atau meninggalkannya dengan tubuh dingin tak bernyawa. Bahkan pada akhir hidupnya tokoh sebesar Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen pun tak bisa lepas dari lingkaran bunuh membunuh itu, meski selama belasan bahkan puluhan tahun sepertinya mereka sudah bisa lepas dari jeratan itu.
Sekarang Ding Tao sudah terjerat dalam lingkaran yang tidak dia inginkan. Dia menyadari betul hal itu sekarang ini, sebelum pengkhianatan Murong Yun Hua, dengan naifnya dia menyangka dia tidak ikut terjerat dalam lingkaran bunuh membunuh yang tidak ada habisnya. Tapi sekarang matanya sudah terbuka, meski tangannya tidak ikut berlumuran darah, secara tidak langsung dia sudah berada dalam lingkaran itu bahkan jauh sebelum dia menjadi ketua dari Partai Pedang Keadilan. Dia sudah mulai terjerat begitu dia mendapatkan Pedang Angin Berbisik dari Wang Chen Jin. Bukankah saat dia melarikan diri dari Wuling dia sudah mulai melumuri tangannya dengan darah? Tapi untuk sekilas dia seperti mendapatkan harapan, saat dia berhasil mengubah lawan menjadi kawan,
2696
saat dia bertarung untuk kedua kalinya dengan Sepasang Ibils Muka Giok. Adakah sebuah ilmu, untuk mengalahkan lawan tanpa harus membunuhnya? Mungkinkah dia sampai pada tingkatan setinggi itu atau tidak ada tingkatan setinggi itu?
Tanpa pedang di tangan, ada pedang di hati? Apakah itu tingkatan yang tertinggi yang bisa dicapai seseorang? Tapi itu artinya, dia semakin lihai dalam membunuh lawan-lawannya, bahkan ketika tidak ada pedang di tangan pun dia bisa membunuh lawannya dalam satu tebasan yang tidak terlihat. Sejak melihat jurus-jurus yang disarikan dari ilmu Shaolin dan Wudang, yang dia warisi dari Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan lewat sebuah pertarungan. Pikiran Ding Tao mulai terbuka pada tahap akhir, yang banyak dikatakan para tetua dan tokoh-tokoh dunia persilatan, namun hanya beberapa orang dalam puluhan generasi yang bisa dikatakan telah benar-benar sampai pada tahap itu.
Tokoh-tokoh yang dalam sejarah kehidupannya hampir-hampir tak pernah terkalahkan dalam setiap pertarungan. Sekalipun demikian keraguan mulai merasuki hati Ding Tao. Kali ini dia tidak memiliki seorang guru, di mana dia bisa bertanya, apakah dia sudah sampai pada tahap itu atau belum. Hanya penilaiannya pada diri sendiri saja yang bisa memutuskan,
2697
adakah dia benar-benar sampai di sana atau belum. Ini adalah perjalanan menuju ke daerah, di mana tidak ada orang lain yang pernah sampai ke sana. Seandainya Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan masih hidup, mungkin akan berbeda, Ding Tao masih bisa bertanya pada mereka. Dua orang tetua yang dipercaya telah sampai di tahap itu, meski mereka berdua sendiri belum pernah mengakuinya.
Setiap kali dia dihadapkan pada situasi di mana dia harus membunuh atau dibunuh, seperti saat ini, tentu pertanyaan yang sama akan bergema di benaknya. Zhu Yanyan dan guru-guru Wang Shu Lin yang lain pun tidak bisa membantu Ding Tao untuk memberikan jawaban yang memuaskan. Beberapa hari terakhir Ding Tao lebih sering menyendiri, pergumulan batinnya ini bahkan lebih menyita tenaga dan pikiran dibandingkan hal-hal lainnya. Ini bukan kehidupan yang dia inginkan, tapi bila dia menghindarinya, sama juga artinya dia memilih menjadi manusia yang tidak mengenal budi. Itu pun bukanlah jenis kehidupan yang dia inginkan.
Sembari bergumul dengan dirinya sendiri, akhirnya Ding Tao dan yang lain pun sampai di bagian yang sepi dari jalan yang mereka pilih. Ding Tao, Wang Shu Lin dan Zhu Yanyan berjalan bertiga saja, sementara yang lain bergerak dengan hati-hati
2698
membayangi mereka berdua dan seperti yang mereka harapkan, orang-orang mencurigakan yang sudah mengikuti mereka selama berhari-hari muncul.
Otot dan syaraf Ding Tao sudah menegang, bukan karena rasa takut, juga bukan karena dia bersiap untuk bertarung. Ding Tao tidak merasakan tekanan seperti saat dia menghadapi lawan yang setanding. Nalurinya mengatakan dia bisa mengalahkan mereka dengan cepat. Ketegangannya muncul karena dia tahu apa yang harus dia lakukan setelah dia mengalahkan mereka, karena tidak cukup hanya dengan mengalahkan lawannya, dia harus bertindak lebih jauh lagi.
Tapi tiba-tiba terjadilah hal yang mengejutkan, belasan orang yang menghadang jalan mereka itu tiba-tiba meletakkan senjata mereka di tanah dan membungkuk hormat di depan Ding Tao, serempak mereka berkata, ―Hormat pada Ketua Ding Tao.‖
Tertegun di tempatnya Ding Tao membalas penghormatan mereka dengan hati-hati, ―Salam saudara, bolehkah aku tahu apa alasan kalian menghadang jalan kami?‖
2699
Salah seorang dari mereka maju ke depan dan berkata, ―Ketua Ding Tao, namaku Shin Su, kami semua adalah bagian dari Partai Pedang Keadilan yang dirahasiakan dari semua orang, termasuk dari Ketua Ding Tao sendiri.‖
―Tunggu, apa maksud kalian bagian rahasia dari Partai Pedang Keadilan? Apakah maksud kalian, kalian termasuk bawahan Guru Chen Wuxi? Dan mengapa aku tidak tahu tentang kalian?‖, tanya Ding Tao tak mengerti.
Sementara Zhu Yanyan dan yang lain pun cukup terkejut dengan perkembangan ini dan hanya diam mendengarkan di tempat masing-masing. Mereka yang bersembunyi, tetap menunggu perkembangan selanjutnya.
―Bukan, kami bukan bagian dari organisasi rahasia di bawah Guru Chen Wuxi. Kami dibentuk secara rahasia oleh Tuan Chou Liang dan hanya Tuan Chou Liang sendiri yang tahu tentang keberadaan kami.‖, jawab Shin Su.
―Tuan Chou Liang berpendapat bahwa, meski segala sesuatunya terlihat berjalan lancar, Partai Pedang Keadilan harus punya satu rencana untuk menghadapi segala macam keadaan, termasuk keadaan terburuk sekalipun. Karena itu
2700
diam-diam dia memilih dan mencari 50 orang dan melatih mereka diam-diam. Tidak ada seorang pun yang tahu mengenai keberadaan kami kecuali Tuan Chou Liang seorang.‖, ujar Shin Su menjelaskan.
Ding Tao pun menggelengkan kepala tak percaya, ―Bagaimana mungkin Chou Liang bisa melatih kalian? Sementara dia sendiri baru-baru saja sedikit belajar mengenai ilmu silat?‖
Terlihat wajah Shin Su sedikit tersipu dan dia menjawab, ―Kami pun demikian, sebelum Tuan Chou Liang merekrut kami, sebagian besar dari kami tidak paham sedikitpun dengan ilmu silat, sejak dipilih hingga sekarang, kira-kira lamanya barulah setengah tahun kami berlatih dan apa yang kami bisa, hanyalah satu pelajaran dasar yang terus diulang-ulang. Hanya diriku sendiri yang pernah belajar selama beberapa tahun sebelum Tuan Chou Liang merekrutku menjadi bagian dari kelompok ini.‖
―Oh… rupanya demikian…‖, ujar Ding Tao tanpa bermaksud menghina.
―Tapi Ketua Ding Tao, apa yang tidak kami miliki dalam hal ilmu silat, kami memiliki kelebihan dalam bergerak secara rahasia,
2701
mengumpulkan informasi, menggunakan racun dan di atas segalanya, kami dilatih untuk berpikir dengan cepat, terperinci dan beradaptasi dengan segala macam situasi.‖, ujar Shin Su cepat-cepat, seakan takut membuat Ding Tao kecewa.
―Ya…, ya…, aku yakin Chou Liang tidak sembarangan membentuk satu kelompok khusus seperti kalian. Hanya saja…, ini sungguh di luar dugaan. Adakah kalian memiliki satu tanda untuk membuktikan kebenaran perkataan kalian?‖, ujar Ding Tao dengan hati-hati.
Mendengar pertanyaan Ding Tao, wajah Shin Su menjadi sedikit lebih cerah, cepat dia maju dan memberikan satu surat pada Ding Tao, ―Tuan Chou Liang tidak pernah berharap, kami akan bertemu muka dengan Ketua Ding Tao, karena itu artinya telah terjadi sesuatu pada Tuan Chou Liang dan juga orang-orang kepercayaan Ketua Ding Tao yang terpercaya.‖
―Seharusnya jika terjadi sesuatu pada Tuan Chou Liang, sehingga dia tidak bisa meneruskan kewajibannya pada Ketua Ding Tao, kami harus pergi terlebih dahulu pada Nyonya Murong Yun Hua, Tuan Ma Sonquan, lalu di urutan berikutnya, Tuan Pendeta Liu Chuncao, Tuan Fu Tong dan Tuan Wang
2702
Xiaho. Tapi sekarang…‖, Shin Su pun tidak berani melanjutkan ucapannya.
Ding Tao mengangguk dengan sedih, tapi mereka semua sekarang telah mati dan yang masih hidup adalah pengkhianat dari Partai Pedang Keadilan, demikian pikirnya dengan sedih. Perlahan-lahan dibukanya surat yang diberikan Shin Su, jelas sekali itu adalah tulisan Chou Liang, di dalamnya Chou Liang menjelaskan kelompok rahasia yang dia bentuk itu, satu senjata rahasia terakhir bagi Partai Pedang Keadilan. Seharusnya kelompok itu akan terus dilatih sampai menjadi kelompok elit dalam Partai Pedang Keadilan. Mereka memang sepenuhnya akan berada dalam kekuasaan Chou Liang dan di luar tahu semua anggota yang lain termasuk Ding Tao sendiri. Hanya bila terjadi sesuatu dengan dirinya, mereka akan membuka diri pada orang-orang yang sudah dipilih Chou Liang untuk menggantikan dirinya. Jumlah orang-orang ini sendiri sangatlah sedikit dan mereka adalah orang-orang yang sudah diperiksa Chou Liang berkali-kali sampai Chou Liang benar-benar merasa yakin pada kesetiaan mereka terhadap Ding Tao. Dengan demikian, bahkan bila terjadi kebocoran yang hebat, di mana kelompok rahasia yang berada di bawah Guru Chen Wuxi ikut terbongkar, selama masih ada pimpinan dari Partai
2703
Pedang Keadilan yang hidup, mereka masih ada kekuatan yang tersimpan untuk menjadi modal bagi mereka bangkit kembali. Selain menjelaskan tentang keberadaan mereka dan tujuan dibentuknya kelompok ini, Chou Liang masih menyertakan beberap hal yang hanya diketahui Chou Liang dan Ding Tao sebagai bukti bahwa surat ini benar-benar berasal dari Chou Liang.
Membaca surat dari Chou Liang itu, Ding Tao pun merasa sangat terharu. Betapa dia memiliki pemikiran yang jauh ke depan dan begitu teliti, hingga untuk keadaan yang di luar dugaan pun, Chou Liang sudah mempunyai satu persiapan. Lama Ding Tao terdiam dan menyesali kebebalannya selama ini, tidak seharusnya ada orang-orang berbakat seperti Chou Liang, yang sampai kehilangan nyawa karena ketidak mampuannya untuk menjadi ketua dari sebuah perkumpulan yang besar. Selama menjadi ketua, yang dia tahu hanyalah berlatih ilmu silat saja.
Chou Liang dan yang lainnyalah, yang berpikir dan bekerja untuk membentuk dasar bangunan dari perkumpulan yang mereka dirikan.
2704
Mengeluhlah Ding Tao perlahan, ―Ah… sungguh aku ini tidak pantas kalian panggil sebagai ketua… Chou Liang… Chou Liang… seharusnya kaulah yang menjadi ketua… aku ini lebih pantas menjadi pesuruhmu saja.‖
Mendengar keluhan Ding Tao, Shin Su cepat menjawab, ―Tidak…, itu tidak benar. Tentang hal ini pun Tuan Chou Liang sudah pernah membahasnya dengan kami. Ketua Ding Tao memiliki jiwa yang besar yang diperlukan sebagai seorang pemimpin. Kekurangan Ketua Ding Tao adalah ketidak mampuan atau ketidak mauan Ketua Ding Tao untuk melihat dunia dan orang-orang dengan pandangan yang lebih dekat pada kenyataan. Ketua Ding Tao memiliki impian, memiliki satu gambaran akan dunia yang ideal.‖
―Hal itu diperlukan seorang pemimpin, tapi dia tidak akan menjadi pemimpin yang baik jika dia tidak mau melihat kenyataan yang sebenarnya. Dia hanya akan menjadi seorang pemimpi, bukan pemimpin. Tapi Tuan Chou Liang percaya, dengan berjalannya waktu Ketua Ding Tao akan sampai pada pengertian yang benar. Tahu yang mana impian dan mana yang kenyataan, baru setelah itu, Ketua Ding Tao akan mulai berpikir, bagaimana untuk mencapai yang diimpikan dari apa yang ada dan nyata saat ini.‖, ucap Shin Su panjang lebar
2705
menjelaskan, dari cara dia menjelaskan terlihat jelas bagaimana Chou Liang berhasil menanamkan keyakinan itu pada orang-orang pilihannya.
Di sini terlihat kelebihan Chou Liang, dia tahu bagaimana menilai orang, tahu orang seperti apa yang harus dia pilih dan dia tahu pula cara membentuk mereka menjadi orang-orang pilihan yang sesuai dengan apa yang dia butuhkan.
―Tuan Chou Liang juga berkata, jika sampai kami pada situasi di mana kami harus menemui Ketua Ding Tao, maka pada hari itu, tentunya apa yang dialami Ketua Ding Tao akan membuat Ketua Ding Tao satu langkah lagi lebih dewasa dan lebih siap untuk menjadi ketua yang sebenarnya dari Partai Pedang Keadilan.‖, ujar Shin Su setelah membiarkan Ding Tao terdiam dan berpikir sendiri beberapa lama.
Mendengar uraian Shin Su, Ding Tao seakan mendapatkan satu kekuatan baru. Apa yang dia gumuli selama ini, memang dia belum mendapatkan jawabannya. Tapi satu hal yang dia tahu, dia tidak boleh lari dari tugas dan tanggung jawabnya. Dia memang belum bisa melepaskan diri dari lingkaran bunuh membunuh yang menghiasi dunia persilatan. Tapi menghilang dari dunia persilatan dan lari dari tanggung jawab yang dia
2706
pikul, bukanlah jawabannya. Ada orang-orang yang sudah mempercayakan hal itu padanya dan mereka saat ini sudah tidak hidup lagi di dunia ini untuk melakukan perubahan. Apa pun yang membuat mereka memilih untuk mengikuti dirinya, sekarang mereka bahkan sudah tidak bisa memilih lagi.Kemudian, di depannya masih ada orang-orang yang melanjutkan impian yang sama dan mereka ini pun menaruh harapan di pundaknya.
Dia tidak akan bisa melepaskan diri dari beban ini tanpa melanggar hati nuraninya sendiri. Dia berhutang pada Chou Liang, Ma Songquan dan yang lain. Dia berhutang pula pada Shin Su dan kawan-kawannya.
Lalu datanglah perubahan itu, perubahan itu tidak terlihat dengan mencolok, namun mereka yang saat itu berada di tempat itu dan menyaksikan peristiwa itu, bisa merasakan perubahan yang terjadi pada diri Ding Tao.
―Shin Su…, dari surat ini dan dari yang kalian katakan, jumlah kalian seluruhnya ada 50 orang, benarkah itu?‖, tanya Ding Tao.
2707
―Benar, benar sekali Ketua.‖, jawab Shin Su dengan bersemangat, dia pun bisa merasakan perubahan yang sedang terjadi dalam diri Ding Tao.
―Baiklah, perintah pertamaku pada kalian, usahakan sebaiknya agar jumlah itu tidak berkurang. Aku tidak mau ada satu korban pun yang jatuh dari kelompok kalian.‖, ujar Ding Tao dengan berwibawa.
―Kami mengerti ketua‖, jawab Shin Su dengan terharu.
Ding Tao terdiam sejenak, dia seperti berusaha memahami apa yang sebenarnya dirasakan Shin Su dan kawan-kawannya, kemudian dia berkata pula, ―Tidak, kau belum benar-benar mengerti. Ini bukan hanya karena aku menganggap kalian sebagai kawan seperjuangan, yang sesungguhnya memang itu yang kurasakan. Tidak, bukan karena itu aku meminta kalian untuk menjaga agar tidak ada satu pun korban yang jatuh dari antara kalian.‖
―Karena pengorbanan itu sesuatu yang pasti akan terjadi. Hal itu sudah terjadi dan akan terjadi lagi, dalam sebuah perjuangan korban nyawa adalah sesuatu yang sulit dihindari. Meski aku tidak menginginkannya terjadi.‖, ujar Ding Tao
2708
sembari mengenang kematian mereka yang telah berkorban demi dirinya.
―Aku memerintahkan hal itu pada kalian, karena saat ini kekuatan kita sangatlah lemah. Aku membutuhkan tiap-tiap kalian, aku tidak mau satu pun dari kalian berkurang, kecuali telah tiba saatnya kita bersama-sama mengadu nyawa dengan lawan.‖, ujar Ding Tao sambil matanya bergerak memandang mereka yang ada di hadapannya seorang demi seorang.
―Mengertikah kalian?‖, tanyanya dengan lantang.
Dan mereka pun menjawab dengan penuh semangat, ―Kami mengerti Ketua!‖
―Bagus, sekarang aku hendak bertanya pada kalian, dari mana kalian bisa mengendus jejak kami?‖, tanya Ding Tao pada mereka.
―Sejak awal terjadinya peristiwa di Jiang Ling, kami selalu mengendus-endus kabar yang berkaitan dengan menghilangnya Ketua Ding Tao.‖, ujar Shin Su memulai penjelasannya.
2709
―Beberapa minggu yang lalu, kami mulai mendengar kabar tentang menghilangnya sekelompok orang yang berusaha mencari nama dengan membunuh Ketua Ding Tao. Kemudian desas-desus yang sama kami dengar beberapa kali lagi. Ketika kami memeriksa di mana terakhir kali kelompok-kelompok itu terlihat, maka kami melihat adanya satu pola.‖
―Menganalisa pola itu, kami melihat ada satu kemungkinan bahwa Ketua Ding Tao dan mereka yang membantu ketua bergerak ke arah perbatasan di utara, jadi kami pun berangkat dan berusaha menelusuri jejak Ketua dan memperkirakan jalur yang ketua ambil dari pola yang kami dapat tersebut.‖, jawab Shin Su menjelaskan, dari cara dia menjelaskan, terlihat jelas dia cukup merasa bangga dengan hasil pemikirannya dan kawan-kawannya.
Ding Tao pun merasa kagum dengan penalaran mereka, sekaligus khawatir, ―Bagus sekali pemikiran kalian…, hmm… tapi jika kalian bisa mengendus jejak kami, lawan-lawan kita pun bukan anak kemarin sore. Terbukti lebih dari satu kali kami dipergoki orang.‖, ujar Ding Tao sembari berpikir.
Hal yang sama sudah beberapa kali dibicarakan, namun hal itu tidaklah terelakkan, mereka sudah mencoba mengambil jalan
2710
memutar, tidak mungkin mereka terus berputar-putar karena semakin lama mereka sampai ke perbatasan semakin kecil pula peluang mereka untuk mencegah Murong Yun Hua berkuasa.
―Ketua Ding Tao jangan kuatir, kamipun sudah memikirkan hal itu, jadi sudah beberapa lama ini, kami membagi tugas dan dengan sengaja menyebarkan pula desas-desus palsu yang mengaburkan jejak Ketua Ding Tao.‖, ujar Shin Su, sekali lagi dengan rasa bangga.
―Benar ketua, bahkan ada dua kali kami berhasil melenyapkan kelompok yang serupa di daerah yang menyimpang dari arah perjalanan ketua.‖, ujar seorang yang lain, diikuti anggukan kepala Shin Su dengan penuh semangat.
Mendengar jawaban Shin Su itu pun wajah Ding Tao dan Zhu Yanyan menjadi cerah.
―Bagus, bagus sekali, kalian benar-benar kelompok bentukan Saudara Chou Liang, otak kalian sungguh lincah.‖, puji Ding Tao membuat dada setiap pengikutnya mengembang oleh rasa bangga.
―Bagus, kalau begitu masalahnya jadi lebih mudah. Nah dengarkanlah kalian semua, kami saat ini sedang menuju ke
2711
Desa Hotu yang berada di luar perbatasan. Ini semua sesuai dengan amanah dari Tetua Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Setelah kalian tahu ini, tentu kalian tahu dan menentukan sendiri, di mana dan dengan cara apa bisa berhubungan dengan kami.‖, ujar Ding Tao.
―Baik ketua, kami mengerti‖, ucap Shin Su.
―Bagus, nah sekarang aku memiliki beberapa tugas untuk kalian.‖, ujar Ding Tao lagi.
―Kami siap melaksanakan‖, jawab Shin Su dengan tegas.
―Yang pertama, aku ingin kalian meneruskan usaha kalian untuk mengaburkan keberadaan kami. Aku percayakan tentang bagaimana caranya pada kalian semua.‖
―Yang kedua, ada satu surat untukku dari Tabib Shao Yong, yang aku yakin akan menarik bagi kalian. Seperti yang nanti kalian baca dalam surat ini, kita memiliki saksi kunci yang mungkin bisa kita gunakan. Aku ingin kalian secara berhati-hati, berusaha memeriksa kebenaran dari hal ini dan sebisa mungkin mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai keberadaan saksi kunci kita ini.‖, ujar Ding Tao sambil
2712
menyerahkan surat dari Tabib Shao Yong yang masih dia simpan kepada Shin Su.
―Simpan surat itu baik-baik, itu adalah bagian dari bukti bahwa kita telah dijebak orang.‖, ucap Ding Tao pada Shin Su dijawab dengan sebuah anggukan.
―Baik ketua, apakah masih ada tugas lain untuk kami?‖, jawab Shin Su.
―Ya…, kita semua tentu sampai pada kesimpulan bahwa isteriku Murong Yun Hua telah mengkhianatiku. Tapi selain dia, masih adakah orang yang tidak termasuk dalam rencananya, mereka yang masih bersimpati padaku, meskipun secara diam-diam dari antara apa yang tersisa dari partai kita? Aku ingin kalian memeriksa hal ini. Jika kalian menemukan orang-orang seperti ini, jangan kalian menemui mereka, jalian cukup kumpulkan namanya dan biarkan aku yang nanti menemui mereka. Aku ingin keberadaan kalian tetap menjadi rahasia bagi semua orang.‖
―Baik ketua, kami mengerti‖, ucap Shin Su dengan takzim.
―Lalu tugas terakhir untuk saat ini, kalian tahu ada lebih dari satu orang yang bekerja sama entah di bawah kendali Nyonya
2713
Murong Yun Hua atau sebagai sekutu yang sederajat. Aku ingin kalian mencari tahu, apa motivasi mereka, apa pertalian di antara mereka, adakah persaingan di antara mereka, adakah mereka mengikut karena terpaksa dan sebagainya. Singkat kata, aku ingin kalian mencari celah dan retakan dalam persekutuan ini. Kalian mengerti?‖, ujar Ding Tao.
Wajah Shin Su pun menjadi cerah, keyakinannya pada perkataan Chou Liang semakin tebal. Ketua Ding Tao yang dia lihat sekarang benar-benar pantas dipanggil sebagai ketua.
Dengan penuh semangat dia pun menganggukkan kepala, ―Baik, kami mengerti ketua, kami akan segera mulai melaksanakannya.‖
―Bagus, pergilah kalian sekarang, tapi ingat baik-baik. Lakukan dengan sangat berhati-hati, jumlah kita sudah jauh di bawah lawan, tidak boleh berkurang satu orang pun.‖, ujar Ding Tao memperingatkan.
―Kami mengerti ketua, kami pergi sekarang.‖, ujar Shin Su diiringi pula oleh kawan-kawannya yang lain.
2714
―Sebagai tanda pengenal, apabila kami mengirim seseorang maka ketua harus bertanya seperti ini‖, ujar Shin Su sambil memberikan secarik kertas sebelum pergi.
Ding Tao melihat sekilas isi kertas itu yang berisi tanya jawab, sebagai sandi pengenal, dia pun tersenyum puas, ―Bagus, baik aku mengerti.‖
Shin Su pun tersenyum dan berkata pula, ―Setiap kali ada utusan yang menemui Ketua Ding Tao, tentu dia akan memberikan secarik kertas berisi sandi untuk utusan yang berikutnya. Harap ketua mengingatnya baik-baik.‖
―Aku mengerti‖, jawab Ding Tao sambil balas tersenyum.
―Ketua kami pergi sekarang.‖, ujar Shin Su sambil membungkuk hormat, satu per satu mereka berpamitan dan pergi meninggalkan Ding Tao dan rombongannya.
Menunggu tidak satu pun dari mereka terlihat lagi, melompatlah keluar Hu Ban, Pang Boxi, Khongti, Chen Taijiang dan Shu Sun Er dari tempat persembunyian mereka.
Khongti keluar dengan tawa lebar dan menepuk-nepuk pundak Ding Tao dengan riang, ―Kejutan bagus! Kejutan bagus! Alih-
2715
alih harus membunuh orang, ternyata kita justru mendapat kawan seperjuangan.‖
―Benar sekali kata Kak Khongti, ini kejutan yang bagus, benar-benar menggembirakan.‖, sahut Hu Ban pula.
Begitulah mereka saling memberi semangat dan tertawa lepas, keprihatinan dan ketegangan yang mewarnai perjalanan mereka selama beberapa hari ini tersapu habis oleh pertemuan mereka dengan Shin Su dan kawan-kawannya. Ding Tao yang ikut larut dalam kegembiraan mereka, memandang ke sekelilingnya dan mendapati wajah-wajah yang cerah. Dan kesadaran pun menyelip ke dalam hatinya, tidak seorang pun dari mereka merasa senang harus membunuh orang. Sejak peristiwa di Jiang Ling, dalam benaknya, seisi dunia persilatan seakan hanyalah soal bunuh membunuh. Tapi peristiwa hari ini sekali lagi menyadarkan dia, ada banyak orang seperti dirinya, seperti Wang Jianho, seperti Guru Chen Wuxi, bahkan seperti Ma Songquan dan Chu Linhe. Mereka semua sudah bosan dengan bunuh membunuh, tidak semuanya yang hidup dalam dunia persilatan, mengejar nama besar dan reputasi. Ada juga yang hidup di dalamnya sekedar untuk mencari penghidupan bagi dirinya dan keluarga. Ada pula yang ada di dalamnya karena kecintaan pada seni pedang.
2716
Ada orang-orang seperti ke-enam guru Wang Shu Lin.
Ada dirinya, impiannya mungkin jauh dari kenyataan, tapi dia tidak sendirian. Ding Tao pun ikut tertawa lepas. Ada kelegaan, ada beban yang terlepas dari hatinya. Di satu sisi dia semakin menyadari tanggung jawabnya sebagai seorang ketua dari sebuah partai, tanggung jawabnya atas harapan dan kepercayaan yang diletakkan di pundaknya. Di satu sisi dia menyadari betapa berat dan banyaknya halangan bagi dirinya untuk mencapai tujuan yang dia inginkan. Tapi di sisi lain dia melihat bahwa dia tidak sendirian. Dia bukan seorang diri melawan seluruh dunia persilatan, ada banyak orang dalam dunia persilatan yang memiliki pendirian serupa dengan dirinya. Setidaknya mereka memiliki kecenderungan yang sama dengan dirinya.
Hari itu Ding Tao baru benar-benar merasa terbuka matanya, atas kedudukan yang telah dia pilih, entah oleh karena nasib atau memang benar-benar merupakan pilihannya sendiri. Yang pasti inilah dia yang sekarang dan inilah jalan yang dia pilih, dia tahu halangannya, dia tahu keinginannya dan dia tahu berapa keras dan berliku jalan yang harus dia tempuh untuk mencapai tujuannya.
2717
Perjalanannya boleh jadi panjang, tapi sekarang dia sudah memahami dengan jelas, di mana dia berada dan mau ke mana dia pergi. Betapa banyak orang yang hidup tanpa tahu, di mana dia berada dan hendak pergi ke mana dia, seperti ikan yang mati, yang bergerak hanya mengikuti arus sungai.
Perjalanan ke Desa Hotu masih beberapa hari lamanya, tapi yang beberapa hari itu terasa sangatlah singkat. Tidak lagi mereka berjalan dengan beban berat di hati, meski kewaspadaan tidak menjadi hilang, namun satu kebaikan bisa menghapuskan banyak beban dan membuat langkah kaki menjadi lebih ringan. Melewati segala macam pengalaman, kecil dan besar, mendapatkan berbagai macam pencerahan baik kecil maupun besar, akhirnya sampai juga mereka ke Desa Hotu.
Jika Ding Tao untuk sementara ini merasa lepas dari berbagai macam kekhawatiran, maka nun jauh di sana Murong Yun Hua justru merasakan kegalauan. Kemenangan yang dia raih tidaklah memuaskan dirinya. Saat ini dia sudah berada di puncak kekuasaan. Tiga dari enam perguruan besar berada di bawah kekuasaannya. Kekuasaannya sendiri tidaklah kecil, pendekar yang bersenjatakan tombak berkait kemarin, tidaklah membuat ketika mengatakan bahwa Keluarga Murong memiliki
2718
kekuatan tersembunyi, sekelompok pendekar pilihan yang terlatih. Masih ada lagi yang berada langsung di bawah kekuasaannya, yaitu bagian dari Partai Pedang Keadilan yang memang sudah bersetia padanya dan bukan pada Ding Tao lewat satu dan lain cara.
Tapi lolosnya Ding Tao hingga sekian lama berada di luar perhitungannya. Meski seharusnya tidak ada pula yang perlu dikhawatirkan, karena tanpa Obat Dewa Pengetahuan, dalam hitungan minggu Ding Tao akan menjadi tak ubahnya sesosok mayat hidup. Namun desas-desus yang beredar membuat dia merasa khawatir juga. Adakah dia salah perhitungan? Lagi pula sampai sekarang, orang-orang yang dia kirim tidak berhasil membawa Ding Tao ke hadapannya, entah dalam keadaan hidup atau mati.
Malam itu Murong Yun Hua sedang menyisir rambutnya yang tebal dan panjang di dalam kamar, sendirian, berbicara pada dirinya sendiri yang berada di dalam cermin.
―Apakah dia masih hidup?‖
―Apakah benar dia berhasil bebas dari pengaruh Obat Dewa Pengetahuan?‖
2719
―Siapa yang membantunya?‖
―Apa yang harus kulakukan sekarang?‖
Dia bertanya dan bertanya, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Dengan gemas dan gusar dia berdiri sambil melemparkan sikat rambutnya ke atas meja. Seperti yang biasa dia lakukan, ditariknya ikat pinggangnya dan dia biarkan jubahnya terjatuh ke atas lantai. Dipandanginya tubuhnya yang sempurna di depan cermin. Entah setan dari mana yang datang, tiba-tiba yang terbayang dalam benaknya adalah Ding Tao yang sedang membelai tubuhnya. Tubuhnya menggeletar, teringat pada sentuhan pemuda yang sempat menjadi suaminya itu. Tiba-tiba Murong Yun Hua disergap rasa rindu yang tak pernah dia sadari ada dalam hatinya.
―Ding Tao…‖, bibirnya bergetar memanggil nama itu.
―Tapi dia Cuma seorang pemuda yang bodoh… seperti lelaki baik-baik lainnya, mereka bodoh dan rendah!‖, demikian dia bergumam, memaki kerinduan dalam hatinya.
‗Tapi benarkah pemuda itu bodoh? Jika benar, lalu mengapa dia merasa khawatir dengan tidak ditemukannya Ding Tao sampai saat ini?‘, sebuah pertanyaan terselip dalam hatinya.
2720
‗Bukankah dia merasa khawatir, karena dalam hatinya dia mengakui ada potensi dalam diri Ding Tao yang bisa membuat dia menjadi lawan yang berbahaya?‘, sebuah bisikan lain bertanya pada Murong Yun Hua.
‗Tidak! Sudah pasti dia lelaki yang bodoh dan tak berharga. Lelaki yang punya otak, hanyalah lelaki macam ayahnya, kejam, sadis, penuh ambisi, tidak berperasaan, bejat…‘, dengan menggeram Murong Yun Hua menjawab keraguannya.
Sejenak tidak ada apa pun, hanya keheningan, lalu seperti setan yang tak puasnya menggoda manusia, sekali lagi sebuah pikiran menyelinap diam-diam, ‗Jadi…, maksudmu Ding Tao bukanlah lelaki demikian? Dia tidak seperti ayahmu, dia tidak keji, tidak kejam, tidak bejat, dia memiliki perasaan yang halus, dia memiliki cinta… dia mencintaimu dengan tulus…‘
Dan hati Murong Yun Hua pun tiba-tiba merasa nyeri, nyeri sekali, di luar sadarnya sebuah bisikan pedih keluar dari bibirnya, ―Ding Tao…‖
Terdengarlah ketukan dari pintu dan Murong Yun Hua pun bergegas merapikan dirinya sebelum pergi membuka pintu. Ternyata yang datang adalah Huang Ren Fu.
2721
―Yun Hua… aku rindu padamu…‖, ujar pemuda itu dengan senyum penuh arti.
Biasanya Murong Yun Hua sudah mati rasa dengan hal-hal semacam ini, dengan mudah dia akan tersenyum, dan tak terlihat sedikitpun apa yang ada dalam hatinya tentang lelaki yang datang padanya dengan senyum dan pandang mata demikian. Tapi tidak malam ini, wajahnya berubah masam, tiba-tiba hatinya merasa sebal, sedih, marah dan tak ada keinginan untuk menutupinya dengan sebuah senyuman mesra.
―Ren Fu, aku minta maaf, tapi jangan ganggu aku malam ini. Aku… aku sedang merasa … galau.‖, ujarnya dengan tegas, namun masih sopan, bagaimana pun juga Murong Yun Hua masih memikirkan ambisinya dan Huang Ren Fu sekarang ada dalam rencananya.
―Oh…‖, terkejut Huang Ren Fu, karena sebelumnya tak pernah Murong Yun Hua menolak kunjungannya.
―Ehm… mungkin aku bisa menghiburmu… eh… kita bisa…‖
―Tidak… tidak bisa, sudahlah kembalilah ke kamarmu, aku mau istirahat sekarang.‖, ujar Murong Yun Hua lebih tegas dari
2722
sebelumnya dan tanpa menunggu jawaban dari Huang Ren Fu dia pun menutup pintu kamarnya.
Tertegun Huang Ren Fu berdiri dengan mulut terbuka, suara palang pintu kmar dipasang dari dalam terdengar jelas. Perlahan wajahnya berubah, ada rasa marah dan malu di sana. Untuk sesaat lamanya dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan, sampai kemudian dia berbalik arah dan pergi dengan berbagai macam perasaan dalam hatinya.
Di dalam kamar Murong Yun Hua melepaskan jubahnya, melemparkan diri ke atas pembaringan dalam keadaan polos, direngkuhnya apa saja yang bisa dia rengkuh dan peluk. Rasa rindu tiba-tiba menyerang dengan hebat, penuh tangis sesal dia bertanya-tanya, mengapa dia baru sadar sekarang, Ding Tao bukanlah ayahnya. Ding Tao bukanlah ayahnya dan jika terbukti bahwa pemuda itu bukan seorang bodoh yang tak berguna, itu artinya seluruh kebencian dan kejijikan yang dia bangun atas laki-laki, semuanya tidak berarti di hadapan pemuda itu. Malam itu Murong Yun Hua tertidur dengan wajah penuh air mata dan bibir memanggil-manggil nama Ding Tao.
Di kamar yang lain Murong Huolin berjalan dari satu ujung ke ujung lain dari kamarnya. Ding Tao, ya nama yang sama
2723
sedang menghantui dirinya. Bagi gadis itu Ding Tao adalah satu-satunya lelaki yang pernah menyentuh dirinya, satu-satunya lelaki, kepada siapa dia menyerahkan seluruh dirinya, hati dan tubuhnya. Di sisi lain ada pula Murong Yun Hua, seorang yang lebih dari sekedar pengganti orang tua. Perang batin yang hebat membuat dia semakin hari semakin hilang semangatnya untuk hidup, tubuhnya semakin kurus dan kantung matanya semakin terlihat jelas.
Tapi tidak ada yang memperhatikan dia, semua sibuk dengan rencana mereka sendiri. Tentu saja ada para pelayan, tapi apakah dia bisa percaya pada mereka? Karena mereka pun adalah pelayan setia Murong Yun Hua. Baru kali ini dia merasakan keberadaan Murong Yun Hua sebagai satu penghalang, satu sandungan dalam hidupnya.
―Ding Tao… apakah kau membenciku juga? Tapi aku tidak termasuk dari mereka… ―, keluh gadis itu.
―Tapi kau benar… meski aku bukan bagian dari mereka, aku pun tidak melakukan apa-apa untuk menolongmu…‖, gumamnya lagi.
2724
Terkenanglah dia dengan masa-masa ketika Hua Ying Ying belum muncul. Masa yang indah bagi dirinya, lepas dari segala rencana Murong Yun Hua mereka bertiga hidup bahagia. Bahagiakah mereka? Perlahan Murong Huolin menggelengkan kepalanya, mungkin Ding Tao merasa bahagia, tapi dirinya sendiri, bukankah sebenarnya dia sedang menipu dirinya sendiri. Membungkam hati kecilnya yang merasa bersalah karena ada satu rahasia yang dia sembunyikan dari Ding Tao?
‗Tapi semuanya tidak akan terjadi jika bukan karena kemunculan gadis itu!‘, sebuah bisikan penuh kemarahan tibat-tiba terselip dalam hatinya.
Ya, jika bukan karena Hua Ying Ying, kakaknya Yun Hua tidak akan mengambil keputusan untuk menyingkirkan Ding Tao dan mereka bertiga akan hidup sebagai suami isteri sampai selamanya.
‗Tidak… tidak…, itu pun tidak benar. Sejak awal semuanya dimulai dengan kebohongan, bagaimana mungkin sesuatu yang suci dibangun di atas satu kebohongan?‘, sebuah pikiran lain pun muncul dalam hatinya.
―Ding Tao…‖, Murong Huolin berbisik penuh rasa rindu.
2725
―Ah Ding Tao… aku inilah yang bodoh, kau benar…, ketulusan… kejujuran…, Hua Ying Ying tak bersalah, kamilah yang bersalah. Sejak awal aku sudah memulainya dengan salah.‖, keluh gadis itu.
Tertelungkup di atas pembaringannya, Murong Huolin pun terus bertanya dan bertanya.
―Ding Tao, ada dimanakah kau sekarang?‖
―Apakah kau masih hidup? Apakah kau baik-baik saja?‖
―Tentu kau masih hidup, karena sampai sekarang Enci Yun Hua tidak berhasil menangkapmu, tentu ada orang yang membantumu. Kau orang baik, bukankah langit selalu membantu orang-orang baik sepertimu?‖
―Akankah kau kembali?‖
―Jika kau kembali, apakah kau datang dengan dendam?‖
―Bagaimana perasaanmu padaku sekarang?‖
Ratusan pertanyaan terus berdatangan hingga dia tertidur lelap dengan bantal basah oleh air mata.
2726
Di kamar yang lain ada Hua Ying Ying dan ayah angkatnya. Gadis itu pun memiliki banyak pertanyaan.
―Ayah…, apakah ayah tidak merasa aneh dengan semua ini?‖, gadis itu bertanya.
―Tentang Ding Tao? Ya… aku pun merasa ada yang tidak benar, tidak biasanya aku salah menilai orang.‖, jawab Hua Ng Lau.
―Tapi disaat yang sama ayah juga tidak yakin bahwa dia tidak bersalah.‖, desak gadis itu.
―Tidak ada bukti dan saksi yang meringankan dia, meski bila mataku tidak salah melihat, pada hari itu Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan dengan sengaja melepaskan dirinya.‖, jawab Hua Ng Lau sambil mengingat-ingat kembali kejadian di hari itu.
Malam itu diam-diam Hua Ying Ying pergi menemui Hua Ng Lau. Hua Ng Lau bukannya tidak tahu apa yang ingin dibicarakan gadis itu, karena dia pun merasakan ada ganjalan dalam segala sesuatu yang terjadi di hari itu.
2727
―Dan itu artinya, bukan Kak Ding Tao yang membunuh mereka berdua, ada orang lain, kekuatan lain yang bergerak di sini.‖, gumam Hua Ying Ying sambil berjalan hilir mudik di depan Hua Ng Lau yang duduk dengan tenang.
―Ya… tapi jika itu benar, itu artinya kita sedang berhadapan dengan lawan yang menakutkan. Itu artinya, saat ini kita sedang berada di antara musuh, di luar kita seperti tamu, kenyataannya kita adalah tawanan.‖, jawab Hua Ng Lau dengan bijak.
Hua Ying Ying berhenti berjalan, menatap lurus ke arah ayah angkatnya dia berkata, ―Tapi bukan berarti kita akan diam saja kan ayah?‖
Hua Ng Lau menganggukkan kepala dengan wajah serius, ―Benar…, itu bukan berarti kita akan diam saja… tapi kita harus bergerak dengan sangat hati-hati. Apalagi kakakmu saat ini sudah tidak bisa kita percaya lagi.‖
Teringat kakaknya, Hua Ying Ying pun menggigit bibir dan mengangguk perlahan, ―Ayah benar… aku tidak mengerti… apa yang sebenarnya terjadi dengan Kakak Ren Fu.‖
2728
Akhirnya mereka sampai juga di Desa Hotu, sebuah desa kecil dan terpencil, jauh dari jalur utama perdagangan. Ding Tao berdelapan terlihat cukup mencolok dibandingkan penduduk asli desa itu. Tubuh mereka jauh lebih tinggi dibandingkan kebanyakan ornag cina daratan, Ding Tao yang tertinggi di antara mereka berdelapan, tampak normal di antara penduduk desa itu. Demikian juga pakian yang mereka kenakan, terlihat sedikit berbeda dengan kebanyakan jenis pakaian yang dipakai oleh penduduk desa. Pakaian Wang Shu Lin dan Ding Tao terlihat begitu mewah di sana. Akibatnya ke mana pun mereka pergi, mata orang mengikuti mereka dengan pandang mata ingin tahu. Meski demikian penduduk desa itu cukup ramah. Ding Tao dan yang lain pun menganggukkan kepala dengan sopan setiap kali pandang mata mereka bertemu dan mereka membalasnya dengan senyuman.
Di depan mereka, mengantarkan menuju ke rumah kepala desa adalah salah seorang penduduk asli desa itu yang mereka jumpai pertama kali mereka sampai di bagian terluar desa itu.
―Meng Ho, masih berapa jauh lagi kah rumah kepala desa?‖, tanya Ding Tao pada pemuda tanggung yang mengantarkan mereka itu.
2729
―Tidak berapa lama lagi, tuan lihat rumah di sana itu?‖, ujar Meng Ho sambil menunjuk sebuah rumah kecil yang terlihat dari kejauhan.
―Ya, apakah itu rumahnya?‖, jawab Ding Tao.
―Bukan, tapi setelah rumah itu, kita akan melewati sebuah sawah dan setelah sawah itu kita akan sampai di pusat desa, kebanyakan rumah berkumpul di sana dan rumah pak kepala desa ada di tengah-tengahnya.‖, jawab Meng Ho sambil tertawa lebar, menunjukkan beberapa giginya yang hilang.
―Ah…, begitu, cukup jauh juga. Kami benar-benar sudah merepotkanmu, apa nanti kau akan kembali ke sawahmu?‖, tanya Ding Tao pada Meng Ho.
―Tidak, tidak, pekerjaan hari ini sudah selesai kok, jadi sama sekali tidak merepotkan karena aku memang sudah mau pulang.‖, jawab Meng Ho dengan ramah.
―Syukurlah kalau begitu, aku tidak enak kalau terlalu banyak menyusahkanmu.‖, ucap Ding Tao dengan lega.
―Hahaha, sama sekali tidak menyusahkan.‖, ujar Meng Ho sambil tertawa lebar.
2730
Untuk beberapa saat mereka hanya berjalan tanpa bercakap-cakap, kemudian Meng Ho dengan sedikit ragu bertanya, ―Tuan…, apa benar dugaanku bahwa tuan-tuan ini…, orang-orang dunia persilatan?‖
Ding Tao tidak segera menjawab, dia saling berpandangan dengan anggota rombongan yang lain. Zhu Yanyan mengangkat bahunya, menyerahkan keputusannya pada Ding Tao.
―Meng Ho, kenapa kau bertanya demikian?‖, tanya Ding Tao hati-hati.
Meng Ho mengangkat bahunya, ―Hmm… entahlah, kulihat beberapa dari tuan membawa senjata. Selain itu perjalanan dari daratan ke luar perbatasan bukan perjalanan singkat. Setidaknya beberapa orang dari tuan-tuan ini tentunya bekerja sebagai pengawal.‖
―Kau pintar juga, kau benar, sebenarnya kami semua orang-orang dunia persilatan.‖, ujar Ding Tao sambil mengulum senyum.
―Wah… benarkah?‖, tanya Meng Ho dengan mata terbelalak.
2731
―Tuan…, apakah salah satu dari kalian bisa mengangkatku menjadi murid tuan? Maksudku…, aku cukup pintar dan aku tidak akan jadi beban untuk kalian.‖, pinta Meng Ho dengan sungguh-sungguh.
―Menjadi pendekar? Meng Ho, kalau aku boleh tahu, berapa usiamu sebenarnya?‖, kata Ding Tao balik bertanya.
―Ehm… tahun ini usiaku 15 tahun, tapi beberapa bulan lagi akan jadi 16.‖, jawab Meng Ho.
―Kenapa kau ingin terjun dalam dunia persilatan?‖, tanya Ding Tao pada pemuda itu.
―Karena… karena… karena itu hebat sekali, maksudku, menjadi pendekar, menjadi pahlawan, menolong orang yang lemah melawan penjahat dan sebagainya.‖, ujar Meng Ho dengan bersemangat.
―Hmm… apakah desamu ini pernah diserang gerombolan penyamun?‖, tanya Ding Tao pada Mengho setelah terdiam berpikir beberapa lama.
―Tidak…, tidak, semuanya tenang dan damai di sini.‖. jawab Meng Ho.
2732
―Lalu penjahat mana yang mau kau lawan dengan ilmu silatmu nanti?‖, tanya Ding Tao kemudian.
―Ehm… tentu saja bukan di sini, jika tuan mulai berkelana lagi, tentunya sebagai murid aku akan mengikuti tuan-tuan sekalian.‖, ujar Meng Ho setelah berpikir sebentar.
―Ah… kemudian kita pergi mencari penjahat dan mengalahkan mereka demi menolong orang banyak. Benar begitu?‖, tanya Ding Tao pada Meng Ho.
―Ya, ya, benar begitu.‖, jawab Meng Ho bersemangat.
Ding Tao tersenyum melihat keluguan Meng Ho, ―Meng Ho, jika demikian hidup seorang pendekar, menurutmu, dari mana dia mendapatkan uang untuk makanan, penginapan, kuda yang bagus, memperbaiki pedangnya di pandai besi, atau bahkan rumah dan memberi makan seisi rumahnya?‖
Meng Ho tentu saja tidak pernah berpikir demikian, dalam cerita pahlawan sepertinya tidak pernah diceritakan bagaimana mereka mencari uang, ―Hmm… entahlah, bukankah kita bisa berburu untuk mencari makan dan … tidur di kuil kosong jika tak ada uang untuk penginapan.‖
2733
―Jika kita berada di dekat hutan, mungkin bisa juga kita berburu untuk mencari makan, tapi jika sedang berada di kota besar, hendak pergi ke mana untuk berburu? Lagipula, bagaimana dengan pakaian dan pedang? Apakah kau mau menjahit pakaianmu sendiri dan menempa pedangmu sendiri?‖, tanya Ding Tao lebih lanjut.
Berkerut alis Meng Ho, ―Ya… kupikir tidak perlu ke kota besar, di kota besar perlu banyak uang, kita berkelana ke kota kecil dan pedesaan saja. Bukankah perompak kebanyakan tinggal di jalan-jalan yang sepi? Soal pakaian… ya aku kira aku bisa belajar menguliti binatang dan mungkin menjahitnya menjadi pakaian. Lalu dengan pedang… jika aku sudah sangat mahir dalam ilmu silat, bukankah aku tidak perlu pedang lagi?‖
―Boleh juga, jadi kita tinggal dan berkelana melalui hutan-hutan dan desa-desa kecil. Berburu untuk hidup dan mengurus hidup kita sendiri, kulit binatang bisa juga dijual untuk mendapatkan beberapa keping uang. Lalu jika sudah mengerjakan itu semua, menurutmu kapan kau bisa berlatih agar menjadi benar-benar mahir dengan ilmu silatmu?‖, tanya Ding Tao kembali.
2734
Dahi Meng Ho semakin banyak kerutannya, ―Ehm… entahlah, menurut tuan berapa lama seseorang bisa menjadi seorang pendekar yang tanpa tanding?‖
Terbahak mereka semua mendengar pertanyaan Meng Ho, membuat wajah Meng Ho memerah karena malu.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Filipina Dewasa Melodrama : PAB 14 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 06 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments