Cerita Cinta Romantis Suami Istri : PAB 11

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Cinta Romantis Suami Istri : PAB 11
Cerita Cinta Romantis Suami Istri : PAB 11
Beberapa kali serangan Bai Shixian sempat masuk, meskipun tidak dengan telak. Demikian juga sebaliknya, ada juga serangan Ding Tao yang menghajar tubuh Bai Shixian, meskipun bukan di tempat yang mematikan. Sampai menginjak jurus ke-20, belum juga Ding Tao mencabut pedangnya. Sehingga lepas dari masuknya beberapa serangan dari kedua belah pihak, belum ada satu pihakpun yang terluka parah hingga tidak mampu melanjutkan pertarungan. Jika hendak dinilai dari kerusakan badan yang dialami, sebenarnya Ding Tao yang berada pada posisi kalah, karena tangan kirinya menderita nyeri yang sangat hebat. Pukulan Bai Shixian di gebrakan awal sudah membuat tulang dari legan kiri Ding Tao retak. Untung saja bengkak di lengan kiri Ding Tao masih ditutupi oleh lengan bajunya yang panjang. Ding Tao pun cukup cerdik dan tabah, sehingga meskipun dia harus menahan nyeri setiap kali dia menggunakan tangan kirinya, tidak jarang dia justru menyerang Bai Shixian menggunakan tangan kirinya dengan pengerahan tenaga yang cukup besar. Serangan itu juga dilaksanakan pada saat yang tepat dan dengan jurus yang
1912
memaksa Bai Shixian untuk menghindar dan bukan menangkis lengan kirinya.
―Hmm… apa Ding Tao merendahkan lawannya? Mengapa sampai sekarang tidak juga dia mencabut pedangnya? Bukankah dia seorang ahli pedang?‖, salah seorang dari mereka yang menonton bertanya sambil menonton pertarungan itu.
Pertanyaan yang sama dengan bentuk kalimat yang berbeda terdengar di beberapa tempat yang lain. Pertanyaan yang tidak diarahkan pada orang tertentu, tapi merupakan pertanyaan buat setiap orang yang sama-sama menonton dan mendengar pertanyaan itu. Mereka yang mendengar itu pun menjawab, ada berbagai macam jawaban.
Salah satunya adalah jawaban dari pendukung Lei Jianfeng, ―Hmph… bocah muda itu rupanya begitu sombong, Sudah jelas ilmu andalannya adalah ilmu pedang, tapi dia tidak mau mencabut pedangnya.‖
Ada juga yang menjawab, ―Itulah kebesaran dan keadilan dari seorang ketua dan tokoh dalam dunia persilatan. Meskipun umurnya masih muda namun Ketua Ding Tao jelas memahami
1913
dua hal tersebut. Bagaimana pun juga, tidak adil jika seorang yang bersenjata melawan seseorang yang tidak bersenjata dalam pertarungan satu lawan satu.‖
Ada juga yang menyahut, ―Sudahlah diam saja dan lihat. Kalau Ding Tao mencabut senjatanya yang tidak mendukung dia akan bilang dia menang karena senjata. Jika tidak mencabut, dibilangnya dia sombong. Dicabut atau tidak, yang penting siapa yang masih berdiri setelah pertarungan selesai, dialah yang menang dan melanjutkan ke babak berikutnya.‖
Ada banyak lagi macam jawaban, tapi jika dikelompokkan kurang lebih tiga macam jawaban itu mewakili mereka. Yaitu mereka yang mendukung Ding Tao, yang berusaha menjatuhkan nama Ding Tao dan yang hanya ingin melihat tanpa mendukung baik Ding Tao maupun Bai Shixian. Tapi yang pasti jawaban mereka semua tidaklah tepat benar, karena kalaupun Ding Tao ingin mencabut pedangnya, dia tidak bisa. Karena lengan kirinya sudah tidak bisa menggenggam dengan benar, lalu bagaimana dia bisa mencabut pedang dari sarungnya? Tapi karena tidak ada seorang pun yang tahu tentang cedera di lengan kiri Ding Tao, sementara pemuda itu beberapa kali menyerang hebat Bai Shixian dengan lengan kirinya, maka pikiran itu pun tidak mampir dalam benak mereka.
1914
Sepandai-pandainya Ding Tao menyembunyikan cedera pada lengan kirinya, Bai Shixian bukan pendekar kemarin sore, yang baru saja menginjak dunia persilatan. Bukan sekali ini saja Bai Shixian terlibat dalam pertarungan, pelan namun pasti Bai Shixian mulai curiga pada keadaan lengan kiri Ding Tao. Dia pun mulai menimbang-nimbang kekuatan pukulan tinju petirnya dan himpunan hawa murni Ding Tao yang dia tunjukkan selama puluhan jurus itu berlangsung. Sambil berkelahi otaknya pun membuat perhitungan. Menghitung-hitung kekuatan pukulannya dan kekuatan Ding Tao, Bai Shixian pun mulai yakin bahwa tulang lengan kiri Ding Tao yang terpukul oleh tinju petirnya setidaknya tentu sudah retak sekarang ini.
Dalam satu kesempatan Ding Tao menggunakan tinju kirinya untuk memukul perut Bai Shixian yang terbuka. Menurut perhitungan Ding Tao, Bai Shixian masih bisa menghindari tinju kirinya. Siapa sangka Bai Shixian justru terlambat menghindar beberapa kejap, tinju Ding Tao pun tanpa bisa dihindari lagi masuk telak memukul perut Bai Shixian.
Bai Shixian pun terhuyung ke belakang sambil menggerung, ―Ugh… keparat…‖
1915
Tinju Bai Shixian segera bergerak memukul berturutan memaksa Ding Tao menjauh tanpa sempatmengirimkan serangan susulan. Di saat terakhir Ding Tao masih sempat menahan tenaganya, sehingga tinju kirinya tidak memukul perut Bai Shixian dengan kekuatan penuh. Meskipun demikian tinjunya sudah meluncur terlalu cepat dan benturan yang terjadi membuatrasa nyeri menyerangnya dengan hebat. Peluh pun memenuhi dahi Ding Tao yang menahan diri untuk tidak menggerung kesakitan. Bai Shixian melompat mundur beberapa langkah, seakan khawatir Ding Tao mengirimkan serangan yang lain. Namun dalam hati dia tersenyum senang, pukulan Ding Tao masuk bukan karena kelengahan Bai Shixian. Bai Shixian dengan sengaja menyediakan perutnya untuk dipukul, ini suatu pertaruhan, namun Bai Shixian yakin 8 dari 10 kemungkinan, dia yang menang dalam pertarungan itu.
Kalaupun dia salah, dia sudah mengumpulkan hawa murni untuk menahan tinju Ding Tao sebisa mungkin. Sambil menyiapkan diri untuk menerima pukulan Ding Tao, mata Bai Shixian yang tajam mengamati wajah Ding Tao dengan lekat.
Ekspresi wajah Ding Tao yang terkejut dan khawatir saat Bai Shixian tidak bisa menghindari tinju kirinya. Kerutan di dahi menahan nyeri saat tinju kiri Ding Tao menghantam perutnya.
1916
Ditambah lagi dengan betapa lemahnya pukulan Ding Tao yang mengenai perutnya, jelas-jelas Ding Tao berusaha menahan tenaganya di saat-saat terakhir. Semua itu hanya memiliki satu arti dan Bai Shixian pun melonjak kegirangan dalam hati. Dengan sengaja dia berpura-pura terhuyung setelah kakinya mendarat kembali di panggung. Dengan cermat dia menghitung jarak antara dirinya dengan Ding Tao. Sebelum Ding Tao sempat mengejar, Bai Shixian pun mengerahkan jurus pamungkasnya, tinju petir yang dikembangkan sampai ke puncaknya. Diiringi bentakan yang menggelegar, Bai Shixian pun berkelebat secepat kilat menyerang.
Ding Tao yang baru saja pulih dari serangan rasa nyeri yang menyerang lengan kirinya merasakan hawa pembunuhan yang begitu kuat terpancar dari serangan Bai Shixian. Bukankah Ding Tao sudah menghindari jurus yang sama beberapa kali? Ketika Bai Shixian tiba-tiba menyerangnya di awal pertarungan, memang Ding Tao terpaku dan dalam waktu yang singkat itu tidak bisa mendapatkan jalan keluar kecuali menyurut mundur ke belakang sambil menyilangkan tangan untuk menahan tinju petir Bai Shixian. Tapi pada serangan yang kedua, bukankah dia sudah mulai dapat meraba serangan lawan dan melihat jalan keluar? Mengapa sekarang di saat Bai Shixian kembali
1917
menggunakan jurus yang sama, yang sudah beberapa kali dia lihat, Ding Tao kembali merasakan kengerian yang dia rasakan saat pertama kali Bai Shixian menggunakan jurus itu? Kengerian yang membuat dia merasa tidak ada jalan lain bagi dirinya kecuali menyurut mundur sambil menyilangkan tangan untuk menahan serangan tinju Bai Shixian?
Dalam sepersekian kejap yang singkat itu, sembari tubuhnya menyurut mundur seperti yang dia lakukan pada serangan Bai Shixian yang pertama, Ding Tao menyadari kenyataan akan tinju petir Bai Shixian.
Tinju petir Bai Shixian yang dilancarkan pertama kali, adalah tinju petir yang sama dengan tinju petir yang dilancarkan Bai Shixian kali ini. Tinju petir itu juga adalah tinju petir yang berbeda dengan tinju petir yang sempat dia hindari beberapa kali dalam sekian puluh jurus yang terjadi dalam pertarungan mereka. Tinju petir, tapi bukan tinju petir. Jurus yang bukan jurus. Terlihat serupa namun tak sama.
Inilah tinju petir yang menjadi jurus pamungkas Bai Shixian.
Jika umumnya ketika pendekar bertarung melawan pendekar lain, tidak dengan segera menggunakan jurus pamungkas
1918
mereka, melainkan perlahan-lahan meningkatkan ilmunya dari tataran tertentu naik ke tataran berikutnya, dan baru ketika tidak ada jalan lain lagi, barulah mereka menggunakan puncak ilmunya, tidak demikian dengan Bai Shixian dalam pertarungannya melawan Ding Tao kali ini.
Bai Shixian justru mengerahkan puncak ilmunya pada gebrakan yang pertama.
Biasanya seseorang tidak ingin sembarangan menggunakan jurus utama yang dia miliki dalam sebuah pertarungan, apalagi pertarungan itu dilakukan di depan banyak orang, karena semakin sering orang melihat jurus yang dia gunakan, maka semakin besar kesempatan seseorang untuk mengamati, mempelajari dan mencari kelemahan dari jurus tersebut. Tapi Bai Shixian memiliki jurus yang bukan jurus. Jurus tinju petir yang nampak seperti tinju petir tapi bukan tinju petir. Entah ada berapa orang yang pernah melihat tinju petir yang sebenarnya. Apalagi yang selamat hidup-hidup dari tinju petir yang sesungguhnya itu sehingga bisa mengenali perbedaan jurus tinju petir yang sesungguhnya dan tinju petir yang kosong tak berisi.
1919
Bai Shixian pun mengeluarkan segenap kekuatannya tanpa ragu-ragu. Jika pada serangan yang pertama, serangannya sudah sedemikian mengerikan, betapa lebih lagi serangannya yang terakhir ini. Kali ini Bai Shixian sudah memiliki kepastian akan menang dengan satu jurus pamungkasnya ini. Tidak ada lagi yang perlu disimpan. Sudah belasan tahun dia memoles dan memoles jurus simpanannya ini. Berulang kali dia memikirkan sendiri cara untuk memecahkan serangan tinjunya.
Jika dua tangan atau seluruh tenaga digunakan untuk menahan serangan tinju petir, maka petir kedua siap menyambar. Saat serangan kedua ditahan, tinju petir yang ketiga sudah siap untuk menyambar.
Jika lawan mengelak ke kiri atau ke kanan atau ke mana saja selain mundur ke belakang sambil menahan serangan, maka kembangan selanjutnya dari tinju petir sudah siap untuk menyerang. Seperti gerakan petir yang acak dan sulit diduga, demikian pula perkembangan yang tersembunyi dalam serangan tinju yang terlihat sederhana itu.
Apa yang dilakukan Ding Tao saat gebrakan pertama mereka adalah jalan keluar terbaik yang bisa dia sendiri bisa temukan. Menyurut mundur untuk mengurangi tenaga tinju petir yang
1920
sampai. Menggunakan satu tangan untuk menahan serangan tinju petir dan satu tangan yang lain menyiapkan serangan balasan.
Tapi sekarang satu dari tangan Ding Tao sudah cedera dan tangan yang cedera adalah tangan yang tidak membawa senjata. Itu artinya Ding Tao harus menahan serangan Bai Shixian dengan tangan kanan yang menggenggam senjata. Jika tadi sembari tangan kiri menahan tangan kanan mengancam dengan gagang pedang dari baja. Maka sekarang yang bisa dilakukan Ding Tao hanyalah tangan kanan menahan dan tangan kiri yang sudah mau patah mengancam hendak menyerang.
Jika Bai Shixian harus mempertaruhkan batok kepalanya untuk diadu dengan gagang pedang yang terbuat dari baja, diapun tidak berani mengambil resiko itu. Tapi kali ini yang hendak beradu dengan batok kepalanya adalah sebuah kepalan tangan yang terdiri dari tulang, darah dan daging. Otak memang organ tubuh yang mudah cedera, tidak lebih seperti sebuah agar-agar yang dengan sedikit tepukan saja bisa hancur dan rusak. Namun alam memberikan pelindung bagi organ terlemah itu. Tulang tengkorak manusia, bisa dikatakan adalah bagian yang terkuat dan terkeras dari tubuh manusia. Kepalan tangan yang
1921
tidak terlatih dengan mudah bisa mengalami cedera jika harus beradu dengan batok kepala manusia yang keras. Apalagi Bai Shixian sudah bersiap, jika tinju kiri Ding Tao benar-benar menyerang, maka dia pun akan mengadu tinju Ding Tao dengan dahinya. Bagian terkeras dari kepala manusia. Bagian yang sudah dilatihnya bertahun-tahun untuk menutupi kelemahan tinju petir yang dia miliki. Terlebih lagi lengan kiri Ding Tao sudah dalam keadaan retak, Bai Shixian pun yakin jika itu terjadi maka kerugian yang lebih besar ada pada Ding Tao. Bukan saja tangan kanannya akan terhajar oleh tinju petir, tangan kirinya pun sudah pasti akan patah oleh benturan itu. Selanjutnya Ding Tao tidak memiliki satu tangan pun untuk menahan tinju petir yang datang berikutnya.
Terlebih lagi jika Ding Tao tidak menggunakan tinju kirinya untuk menyerang Bai Shixian, itu artinya setelah Bai Shixian menghajar lengan kanan Ding Tao, maka tinju petir yang kedua akan menyelesaikan pertarungan itu.
Yang dijelaskan panjang lebar dengan kata-kata, terjadi dalam sekejapan mata. Sekali lagi tubuh Bai Shixian dan Ding Tao tampak mengabur bagi mereka yang melihatnya. Sekali lagi terjadi benturan maha dahsyat dan ledakan udara yang menerpa sekalian mereka yang duduk di deretan terdepan.
1922
Sekali lagi terjadi benturan antara dua kekuatan raksasa, kali ini hati setiap orang bukan saja tercekam oleh dahsyatnya benturan yang terjadi. Suara berderaknya tulang dan jeritan yang menyayat hati, mengiringi benturan antara dua orang pendekar pilih tanding tersebut.
Ketajaman pikiran Bai Shixian sudah membongkar kelemahan Ding Tao. Tahu kekuatan lawan dan tahu kekuatan sendiri, adalah kunci untuk bertempur seratus kali dan memenangkan seratus pertempuran. Apakah ada kemungkinan dia akan kalah?
Tinju pamungkasnya yang menggetarkan langit sudah dilancarkan sementara Ding Tao harus menghadapinya dengan sebelah tangan terluka. Apakah masih ada kemungkinan Bai Shixian menemui kekalahan?
Apakah masih ada kemungkinan Bai Shixian kalah?
Nyatanya Bai Shixian salah menilai Ding Tao, tidak pernah terbayangkan dalam benak Bai Shixian bahwa Ding Tao akan menggunakan tangan kirinya yang sudah retak untuk menahan tinju petir yang dilontarkan oleh Bai Shixian. Ledakan udara yang terjadi diiringi pula dengan suara berderaknya tulang Ding
1923
Tao yang patah oleh tinju petir Bai Shixian. Meskipun Ding Tao sudah menyurut mundur sejauh mungkin ke belakang, meskipun Ding Tao mengerahkan hawa murninya untuk melindungi lengan kirinya, tidak urung tinju petir Bai Shixian menghajar lengan kiri Ding Tao hingga patah. Namun dengan menguatkan diri untuk menggunakan lengan yang sudah retak untuk menahan serangan Bai Shixian, maka tangan kanan Ding Tao pun memiliki kesempatan untuk mengirimkan serangan balasan.
Suara tulang yang berderak bukan hanya berasal dari patahnya lengan kiri Ding Tao. Suara tulang yang berderak itu juga berasal dari pecahnya batok kepala Bai Shixian yang beradu dengan gagang pedang Ding Tao yang terbuat dari baja.
Saat Ding Tao membalas serangan Bai Shixian dengan sebuah pukulan menggunakan gagang pedang ke arah kepala Bai Shixian, Bai Shixian sendiri sudah bersiap untuk menyambut serangan Ding Tao dengan membenturkan dahinya. Kenyataan bahwa Ding Tao justru berkeras untuk menahan serangan Bai Shixian dengan lengan kirinya yang cedera, sehingga dia bisa membalas serangan Bai Shixian dengan kekuatan penuh, tidak sempat diolah oleh otak Bai Shixian yang sudah menyiapkan rencana sebelumnya. Gagang pedang yang melaju disambut
1924
dengan sebuah tandukan sekuat tenaga. Gagang pedang baja sudah tentu berbeda dengan tinju manusia. Kerasnya dahi Bai Shixian yang sudah terlatih masih kalah keras dengan gagang pedang dari baja.
Dahi yang sudah terlatih belasan tahun itu, dahi yang biasa memecahkan kayu setebal jari kaki itu, kini pecah dan melesak ke dalam dihantam oleh gagang pedang dari baja.
Dahsyatnya hasil dari serangan Ding Tao sebagian besar juga disebabkan oleh kerasnya tandukan Bai Shixian sendiri. Ding Tao sendiri pun terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang, baik oleh karena pukulan tinju petir, maupun tandukan kepala Bai Shixian. Lengan kirinya patah terkulai, bahu kanannya pun terasa pegal. Tapi akibat yang lebih parah dari benturan mereka berdua dialami oleh Bai Shixian yang sudah melesak ke dalam dahinya, dengan darah mengucur keluar dari kedua lubang telinga, mata, hidung, mulut dan dahinya yang berlubang.
Dengan cepat para pengikut kedua calon memburu ke depan, Tang Xiong dan Li Yan Mao dengan cepat menahan tubuh Ding Tao yang terhuyung-huyung dan hampir saja terjengkang ke belakang. Wang Xiaho dengan cekatan mengambil pedang
1925
Ding Tao yang jatuh bergelontangan di atas lantai panggung. Ma Songquan dan Chu Linhe dengan cepat berdiri menghadang di depan Ding Tao, siap menghadapi jika ada yang menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Ding Tao. Menyusul dengan cepat belasan pengikut Ding Tao yang lain berlompatan dan berbaris di belakang mereka berdua.
Di sisi lain, para pendukung Bai Shixian melakukan hal yang sama. Bedanya jika Tang Xiong dan Li Yan Mao, memapah Ding Tao yang masih hidup dan perlahan-lahan mulai pulih nafas dan juga tenaganya. Maka para pendukung Bai Shixian sedang memapah Bai Shixian yang sudah kehilangan kesadarannya, dengan badan mengejang dan meregang nyawa. Kematian Bai Shixian terjadi dalam sebuah pertarungan yang adil dan disaksikan banyak orang. Tidak ada dasar untuk membalaskan dendam. Kalaupun ada dari pendukung Bai Shixian yang ingin membalas dendam, mereka tidak punya kesempatan, di depan mereka menghadang Ma Songquan, Chu Linhe dan belasan pengikut Ding Tao yang lain.
Terdengar sorak sorai dari para penonton yang mendukung Ding Tao, senyap dari mereka yang mendukung Bai Shixian. Tapi baik mereka yang mendukung Ding Tao maupun mereka yang mendukung Bai Shixian, mau tidak mau merasa kagum
1926
pada kepandaian ditunjukkan oleh kedua orang tersebut. Bai Shixian boleh saja mati di atas panggung, namun kisah kepahlawanannya dan dua kepalan dengan tinju petirnya masih hidup sampai beberapa generasi kemudian. Tapi apakah Bai Shixian masih bisa menikmati ketenaran itu? Apakah harumnya nama Bai Shixian sampai juga pada arwahnya? Siapa yang tahu? Adakah segala usaha yang dilakukan manusia masih berarti bagi dirinya sendiri setelah dia mati?
Dua orang bhiksu Shaolin yang ahli dalam hal pengobatan, dengan cepat mendekati kedua orang jagoan yang baru saja selesai bertarung itu. Di belakang mereka masing-masing, mengikuti dua orang bhiksu yang lebih muda membawa tas berisi berbagai macam obat dan peralatan. Shaolin memang gudangnya ilmu, perpustakaan mereka yang besar sudah terkenal di seantero negeri, berisi berbagai macam kitab pengetahuan, dari ilmu pengobatan, ilmu perbintangan, ilmu bercocok tanam, ilmu silat dan banyak lagi ragam lainnya.
Yang memeriksa Bai Shixian hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan sedih, meskipun tetap berusaha berbuat sebisa mungkin untuk meringankan penderitaan Bai Shixian. Beberapa jarum dengan cekatan ditancapkan di beberapa tempat, sementara peralatan ketabiban dicuci dengan obat.
1927
Bhiksu tua itu berusaha dengan sehati-hati mungkin mengambil serpihan tengkorak yang masuk ke dalam otak. Tapi apa yang bisa dia lakukan, bhiksu tua itu berkali-kali menggelengkan kepala sambil menyebut-nyebut nama Buddha. Entah jalan darah mana yang ditotok, atau titik apa yang ditusuk dan obat apa yang diberikan. Bai Shixian sudah tidak lagi mengejang-ngejang dan perlahan tertidur pulas. Tetapi meskipun dia masih bernafas, belum pernah bhiksu tua itu melihat ada orang yang bisa hidup setelah menerima luka seperti itu. Sebisa mungkin bhiksu tua itu membersihkan luka, memberikan obat, kemudian membebat kepala Bai Shixian dengan kain yang bersih.
Sambil mengiringi para pendukung Bai Shixian membawa tubuh tinggi besar itu ke tempat yang sudah disediakan, bhiksu tua yang welas asih itu terus menerus membacakan doa sambil sesekali menghela nafas.
Di tempat lain rekannya yang berjenggot panjang dengan warna seperti salju sedang memeriksa lengan Ding Tao. Gerak-geriknya cekatan, demikian pula dua orang bhiksu muda yang membantunya.
―Hmm.. patahan yang bagus‖, katanya sambil menarik nafas lega saat dia memeriksa lengan kiri Ding Tao.
1928
―Ketua Ding Tao, harap gigit kayu ini‖, ujarnya sambil mengangsurkan sebatang kayu kecil yang sudah dibebat kain.
Ding Tao mengangguk dan tanpa banyak bertanya melakukan apa yang disuruh.
―Siao Fei, siapkan baluran untuk patah tulang, pelat dan perban. Siao Xiang siapkan obat untuk membersihkan luka, juga jarum dan benang.‖, demikian bhiksu tua itu mulai memberikan perintah pada kedua orang pembantunya, sementara dia sendiri bekerja merawat Ding Tao.
Dengan cekatan Bhiksu tua itu menotok bagian-bagian tertentu hingga darah berhenti mengucur. Tulang yang patah dikembalikan ke tempatnya. Luka akibat patahan tulang yang menembus otot dengan cepat dibersihkan,kemudian dijahit. Obat dibalurkan dan pelat dipasang, agar tulang yang patah dan sudah kembali ke tempatnya tidak lagi berubah tempat. Dengan cekatan pelat-pelat itu dibebat dengan kain yang sudah disiapkan. Dahi Ding Tao pun penuh dengan peluh yang bercucuran, beberapa kali dia menggeram menahan sakit yang luar biasa.
1929
Ketika seluruhnya sudah selesai dan bhiksu tua itu sedang membereskan peralatannya, dibantu oleh para pembantunya, Ding Tao bertanya, ―Bagaimana dengan keadaan Saudara Bai Shixian?‖
Mereka yang mendengar pertanyaan Ding Tao terdiam sejenak, Bhiksu tua itu akhirnya membuka mulut dan menjawab, ―Dari sekilas yang sempat kulihat, sepertinya tipis sekali harapannya.‖
Ding Tao yang mengirimkan serangan itu tentu saja lebih tahu daripada orang lain, namun sebagian hati kecilnya masih berharap Bai Shixian bisa diselamatkan. Pemuda itu pun hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepala.
―Dia seorang pendekar yang hebat…‖, ujarnya dengan sedih.
Bhiksu tua itu pun berkata, ―Dua orang bertarung demi sebuah jabatan yang sedemikian menggiurkan. Jabatan yang menjanjikan kekuasaan yang besar. Bukan hal yang mengherankan jika adu kepandaian pun berubah jadi pertarungan hidup dan mati. Itu sebabnya ketua kami pada awalnya menolak usulan dari banyak pihak untuk mengadakan pemilihan Wulin Mengzhu ini.‖
1930
Ding Tao menganggukkan kepala dengan sedih, Wang Xiaho pun perlahan-lahan menepuk pundak anak muda itu, ―Toh pemilihan itu akhirnya diadakan juga. Jika bukan dirimu, bisa jadi orang lain yang membunuh dia, atau dia membunuh pendekar lainnya. Apakah menurut ketua, kejadian akan berubah bila Ketua Ding Tao tidak ikut serta? Setiap orang yang maju, mereka maju dengan tujuan dan keyakinannya sendiri. Selama kita yakin tujuan dan dasar perbuatan kita benar, maka tidak ada yang perlu disesali.‖
―Bukankah Ketua Ding Tao juga sudah berusaha agar pemilihan ini tidak jadi dilaksanakan?‖, ujar Chu Linhe mengingatkan.
―Kenyataannya Bhiksu Khongzhen pun mengerti, apabila pemilihan Wulin Mengzhu ini tidak dilaksanakan sekarang, di bawah pengawasan Shaolin. Akan ada banyak pihak yang akan tetap melaksanakannya. Dengan cara mereka sendiri, bisa jadi akan bermunculan dua atau tida orang Wulin Mengzhu, masing-masing dengan pengikut yang besar di belakangnya.‖, tambah Ma Songquan.
Bhiksu tua itu pun menganggukkan kepala dengan sedih dan ikut pula menghibur Ding Tao, ―Ketua Ding Tao, pemilihan ini
1931
memang tidak bisa dihindarkan, demi terhindarnya dari pertikaian yang lebih besar. Demikian pula jatuhnya korban, yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha sebisa mungkin untuk memperkecil jumlah korban. Aku pribadi berharap Ketua Ding Tao bisa berhasil memenangkan adu kepandaian ini.‖
Pembicaraan tentang Bai Shixian masih belum reda.Ding Tao masih merenungi kematian seorang yang tangguh dan berbakat oleh perbuatannya. Ingatan tentang pertarungan yang menegangkan masih belum sepenuhnya hilang. Namun di atas panggung sudah berdiri dua orang.
Shan Zhengqi, pendekar yang terkenal dengan ilmu totokannya, melawan Tong Baidun yang ahli senjata rahasia. Ilmu tentang jalan darah dan jalur energi, tentu saja hampir setiap orang yang berlatih ilmu silat mengerti. Tapi yang mengerti keseluruhan peta energi dan jalan darah dengan lengkap mungkin tidak banyak dan dari yang sekian banyak itu, yang bisa menggunakannya dalam sebuah pertarungan, terlebih sedikit lagi jumlahnya. Titik-titik pada tubuh manusia itu kecil sekali luasannya, tidak lebih besar dari ujung jari. Sementara lawan bergerak ke sana, ke mari dengan cepatnya, karena itu tidaklah mudah melatih ilmu bela diri dengan menitik beratkan pada ilmu totok ini. Dibutuhkan reaksi penglihatan
1932
yang cepat, daya ingat yang kuat, kecepatan dan juga ketepatan.
Biasanya Shan Zhengqi hanya menggunakan jari-jarinya, namun jika terpaksa dia pun memiliki senjata. Senjatanya tidaklah lumrah, bentuknya adalah sepasang kuas sepanjang lengan dengan gagang dari baja. Bulu-bulu kuasnya sendiri cukup panjang dan lebat, sehingga mirip kebutan yang terkadang dibawa pendeta wanita. Ujung-ujung dari gagang kuas itu luasnya sebesar ujung jari kelingking, bentuk yang pas untuk jadi alat penutuk. Bulu-bulu dari kuas itu sendiri bukan pula hanya jadi hiasan, bulu-bulu itu terkadang digunakan untuk menyerang mata lawan atau setidaknya mengaburkan pandangan mata lawan dengan gerakan yang membingungkan.
Tong Baidun seperti anggota keluarga Tong lainnya, membekal senjata rahasia yang tersimpan di kantung-kantung kulit yang tergantung di pinggangnya. Jenis senjata rahasia yang mereka miliki sungguh beragam, dari jarum-jarum biasa sampai bola-bola besi yang justru meledak bila ditangkis lawan dan pecahannya inilah yang berbahaya. Dari sekian macam, tidak satupun yang tidak berbisa, entah hanya sekedar membuat lumpuh sementara, sampai yang mengakibatkan kematian.
1933
Melempar sejata rahasia juga merupakan ilmu yang sulit untuk ditekuni. Butuh mata yang tajam, pengolahan tenaga yang tepat, selain juga kemampuan untuk menghitung jarak antara diri sendiri dan lawan yang selalu bergerak. Tidak bisa seorang yang menekuni ilmu ini sembarangan saja melemparkan senjata rahasianya, karena saat isi kantung mereka habis, itu artinya habis pula nyawanya.Jika batasan bagi pendekar lain adalah stamina dan tenaga mereka, batasan bagi anak murid keluarga Tong adalah jumlah senjata rahasia mereka. Lagipula bukan hanya masalah jumlah senjata rahasia yang terbatas, biaya untuk pembuatannya juga tidak murah. Demikian pula rancangan dari senjata itu sendiri juga sangat dirahasiakan. Tidak bedanya dengan seorang pendekar pedang merahasiakan jurus pamungkasnya, dari sekian banyak kantung kulit yang tergantung di pinggang, ada kantung-kantung yang tidak akan pernah disentuh dan digunakan kecuali dalam keadaan paling menentukan.
Butuh waktu beberapa saat sebelum bisik-bisik di antara penonton mereda dan mereka menyadari kehadiran dua orang itu di atas panggung.
―Saudara Shan Zhengqi‖, ujar Tong Baidun sambil merangkapkan tangan di depan dada.
1934
―Saudara Tong Baidun‖, balas Shan Zhengqi.
Itu saja, tidak ada kata-kata lainnya lagi, ceceran darah dan sebagian cairan otak Bai Shixian di atas panggun masih belum kering. Dua orang ini sudah siap menambahkan tumpahan darah yang lain. Ketika sadar bahwa pertarungan di antara dua orang itu akan segera dimulai, tiba-tiba deretan terdepan dari para penonton saling berpandangan. Ada apa gerangan?
Wajah-wajah kecut saling berpandangan, tawa serba salah pun terdengar di beberapa tempat, meskipun ada pula yang berusaha menjaga agar wajahnya tetap tampil keren berwibawa. Namun hampir bersamaan mereka semua mundur beberapa langkah ke belakang, menjauh dari panggung pertarungan. Ah, rupanya mereka semua sama-sama jeri dengan senjata rahasia keluarga Tong. Memang senjata itu bukan ditujukan ke arah mereka, tapi Shan Zhengqi tentu saja tidak akan diam di tempat dan menangkapi senjata rahasia itu satu per satu. Jika dia menghindar dan senjata itu melaju ke arahmu, atau Shan Zhengqi menangkis dan senjata rahasia itu meluncur ke arahmu, kalau satu dua masih tidak mengapa, bagaimana kalau nanti Tong Baidun menghujani Shan Zhengqi dengan puluhan jarum beracun dan jarum-jarum itu ditangkis pergi ke arahmu?
1935
Tapi untuk mundur ke tempat yang aman, juga bukan masalah kecil. Mereka yang duduk di deretan paling depan, sudah tentu yang memiliki reputasi tidak kecil. Mana mau mereka mengaku ketakutan terkena senjata nyasar, baru setelah melihat di kiri dan kanan punya pikiran yang sama, barulah mereka mundur bersamaan.
Siapa sangka di saat seperti itu terdengar suara mengejek dari salah seorang yang ada, ―Hmmm… ternyata Li Nan Hun yang ternama itu takut juga dengan senjata rahasia keluarga Tong, bukankah sesumbarnya dia tidak takut pada apa pun?‖
Li Nan Hun yang mendengar ejekan itu pun berhenti di tempat dan melotot pada orang yang berbicara, ―Hmmm… rupanya Saudara Chen Xigong… tadinya aku ikut mundur karena memandang mukamu. Kalau kau merasa tidak perlu untuk mundur seperti yang lain, tentunya aku pun akan tetap duduk di sini.‖
Beberapa patah kata dari mereka berdua sudah cukup untuk membuat setiap orang merasa malu dan bakal jatuh namanya jika mereka tetap bergerak menjauh dari panggung. Dengan punggung berkeringat dingin, mereka pun membatalkan niatnya untuk mencari jarak yang cukup aman. Li Nan Hun sudah
1936
terlebih dahulu duduk kembali di tempatnya sambil matanya tidak lepas memandangi Chen Xigong. Chen Xigong yang ditatap oleh Li Nan Hun pun membalas tatapan matanya dan dengan senyum masam duduk kembali di tempatnya. Dua orang ini memang sudah sejak lama bermusuhan. Setiap kali bertemu tentu akan ada pertengkaran, mulai dari pertengkaran mulut biasa sampai beradu kepalan. Biasanya bertemunya dua orang ini jadi hiburan yang cukup menyenangkan bagi orang-orang dunia persilatan yang suka menonton perkelahian. Tapi kali ini mereka semua memaki-maki dalam hati kedua orang tersebut.
Akibatnya bukan hanya dua orang yang berhadapan di atas panggung saja yang merasakan ketegangan dari sebuah pertarungan hidup dan mati. Yang menonton di baris terdepan pun ikut berdebar-debar dan menajamkan panca inderanya.
Jika penonton di baris terdepan memilih pergi menjauh, tentu saja tidak demikian dengan ke-enam ketua perguruan besar dan 5 orang calon Wulin Mengzhu yang lain. Perbuatan demikian bisa meruntuhkan pamor mereka. Zhong Weixia yang melihat kesibukan yang sempat terjadi di barisan terdepan, terkekeh-kekeh menghina. Demikian pula pandang mata Guang Yong Kwang. Di antara 5 orang calon Wulin Mengzhu,
1937
hanya Ding Tao yang hendak menjauh dari panggung, segera setelah mengerti alasan mereka yang di bawah hendak mundur menjauh.
―Baiknya kita mundur menjauh, tidak ada perlunya mengambil resiko.‖, ujar Ding Tao.
Tang Xiong melirik ke arah 5 orang calon yang lain dan berkata, ―Tapi mereka akan mentertawakan kita. Menurut pendapatku biarlah kita menunggu saja di sini.‖
Wang Xiaho dan yang lainnya mengerti mengapa Tang Xiong menolak mengikuti perintah Ding Tao. Pada dasarnya yang dikhawatirkan Ding Tao tentu saja bukan dirinya sendiri, melainkan yang lain yang ilmunya tidak seberapa tinggi. Pengikutnya seperti Li Yan Mao dan Wang Xiaho sudah terlalu tua untuk meningkatkan ilmunya lebih jauh lagi. Tidak seperti Liu Chuncao dan Tang Xiong yang masih muda dan mengalami peningkatan yang cukup berarti selama beberapa bulan terakhir. Justru karena perintah Ding Tao itu lebih demi keselamatan mereka dan bukan demi diri pemuda itu sendiri, maka para pengikutnya enggan untuk mentaatinya. Mereka sadar, perbuatan itu akan menjatuhkan nama Ding Tao dan mereka tidak rela itu terjadi.
1938
―Kalian semua berkeras untuk tetap berada di sini?‖, tanya Ding Tao.
―Benar ketua…, asalkan kita tidak lepas kewaspadaan aku yakin tidak akan ada masalah dan aku lebih baik menerima ratusan jarum keluarga Tong daripada harus ditertawakan orang.‖, jawab Tang Xiong dengan tegas.
―Ketua Ding Tao tak perlu khawatir, di masa lalu kami pernah bentrok beberapa kali dengan anak murid keluarga Tong. Aku yakin kita semu ayang ada di sini bisa saling menjaga dan tidak akan terjadi apa-apa‖, kata Ma Songquan dengan suara perlahan.
Ding Tao pun melihat ke arah pengikutnya yang lain, satu per satu dari mereka tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ding Tao pun hanya bisa mendesah saja, dirnya sendiri belum pernah berhadapan dengan salah seorang dari keluarga Tong dan tidak bisa membayangkan seperti apa senjata rahasia mereka.
―Baiklah kalau itu mau kalian‖, jawab pemuda itu sambil menyiapkan diri.
1939
Tapi berbeda dengan Ding Tao adalah Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, ketika melihat barisan terdepan yang hendak menjauh tidak jadi menjauh. Dua orang itu pun saling berpandangan, tanpa perlu bertukar kata mereka segera mengerti apa yang ada di pikirannya masing-masing. Tanpa merasa malu keduanya berdiri dan menggeser kursinya menjauh dari panggung.
Bhiksu Khongzhen pun dengan suara yang disertai pengerahan hawa murni berujar, ―Saudara-saudara sekalian, kami harap sedikit menjauh dari panggung. Mengingat ilmu andalan Saudara Tong adalah melemparkan senjata rahasia, ada baiknya kita semua mengambil jarak yang cukup dari kedua pahlawan di atas.‖
Bhiksuni Huan Feng dan Xun Siaoma segera maklum dengan apa yang akan dilakukan dua orang tokoh besar itu, segera setelah mereka berdiri dan mulai mendorong kursinya menjauh. Dua orang yang cukup berumur itu pun mengikuti teladan mereka. Hanya tinggal Guang Yong Kwang dan Zhong Weixia yang mengeraskan hati dan tetap duduk di tempatnya dengan wajah kesal dan senyum mengejek. Namun apa yang dilakukan Bhiksu Khongzhen ini memiliki arti besar bagi yang lainnya. Apalagi Ding Tao yang tetap saja merasa khawatir dengan
1940
keselamatan para pengikutnya, hatinya tergerak oleh kebesaran hati kedua orang tokoh besar itu.
―Kalian lihat apa yang dilakuka oleh Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan? Demi keselamatan orang banyak, mereka tidak malu untuk pergi menjauh, padahal siapa yang tidak tahu betapa tinggi ilmu mereka? Ayolah kita juga mengundurkan kursi-kursi ini agar tidak terlalu dekat dengan panggung.‖, ujar Ding Tao dengan bersemangat.
Tanpa menunggu jawaban dari seorangpun Ding Tao pun segera bangkit berdiri dan mengangkat kursinya. Jika Ding Tao sudah bertindak demikian, apa yang bisa dilakukan oleh pengikutnya?
Buru-buru Tang Xiong mengambil kursi yang diangkat Ding Tao, ―Ketua biarkan aku yang mengangkat kursi itu.‖
Merekapun mundur menjauh dari panggung ke tempat yang lebih aman, tindakan Ding Tao itu dengan segera menghapuskan keraguan beberapa orang yang masih ragu-ragu untuk mundur ke belakang. Hampir serempak para penonton pun menjauh dari panggung, meskipun masih ada perbedaan dalam hal berapa jauh mereka harus mundur.
1941
Setidaknya mereka tidak perlu merasa malu untuk mundur, jika tokoh-tokoh seperti Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan saja sudah melakukan hal itu. Tindakan Ding Tao itu sendiri tidak diikuti oleh 4 calon Wuling Mengzhu yang lain, bahkan Ximen Lisi yang tadi memilih untuk meniru Ding Tao pada pembukaan acara. Tindakan Ding Tao itu memang tidak lepas dari mata sekalian orang dan mau tidak mau mereka membandingkan Ding Tao dengan calon-calon yang lain. Ada banyak reaksi, mulai dari yang mencemooh sampai yang berusaha membela keputusannya tapi semuanya itu tidak dipedulikan Ding Tao, pemuda itu merasa lega dan puas, karena dia yakin apa yang dia lakukan sudahlah tepat.
Pemuda itu teringat dengan perkataan bhiksu tua yang baru saja merawat dirinya, ‗Jatuhnya korban memang tidak bisa dihindari, tapi setidaknya mereka bisa berusaha semaksimal mungkin untuk memperkecil jatuhnya korban.‘
Sementara itu di atas panggung Tong Baidun dan Shan Zhengqi masih diam di tempatnya masing-masing. Sudah jelas mereka tidak ingin bercakap-cakap, seperti yang sempat dilakukan Ding Tao dan Bai Shixian. Lalu apa lagi yang mereka tunggu?
1942
Masalahnya Shan Zhengqi tidak ingin bergerak lebih dahulu, dia menunggu Tong Baidun menyerang lebih dahulu. Demikian juga Tong Baidun, Tong Baidun justru menunggu Shan Zhengqi bergerak. Saat ini Shan Zhengqi berada pada kondisi siap bergerak, seperti pegas yang ditekan tapi belum dilepaskan, setiap saat Shan Zhengqi bisa melenting ke arah mana pun, bila Tong Baidun melepaskan senjata rahasianya sekarang, dengan mudah Shan Zhengqi bisa menghindar.Harapan Tong Baidun adalah menangkap saat Shan Zhengqi berada di tengah-tengah pergerakan, di mana Shan Zhengqi akan sulit untuk mengubah arah. Saat itulah, di saat yang hanya sekejap saja, adalah saat yang paling tepat bagi Tong Baidun untuk menyerang Shan Zhengqi.
Shan Zhengqi sendiri tidak bisa bergerak sembarangan, dia mengerti benar resikonya. Lawan memiliki jangkauan yang jauh, sebelum Tong Baidun masuk dalam jarang serangannya, dia sudah terlebih dahulu berada dalam jarak serang Tong Baidun.
Sejak dia dengan spontan membalas salam Tong Baidun, Shan Zhengqi sadar bahwa dia sudah jatuh dalam jebakan lawan. Mereka baru saja sama-sama naik ke atas panggung dan berjalan beberapa langkah ke tengah, ketika Tong Baidun
1943
merangkapkan tangan dan mengucapkan salam. Spontan Shan Zhengqi membalas salam Tong Baidun, tapi pada saat dia merangkapkan tangan dan mengucapkan salam, saat itu pula Shan Zhengqi sadar dia sudah berbuat kesalahan.
Segera setelah saling mengucapkan salamm, sudah bisa dikatakan bahwa mereka siap saling menyerang. Segera setelah Tong Baidun mengucap salam, Tong Baidun berhenti di tempatnya dan tidak lagi melangkah ke depan. Jarak Tong Baidun dengan Shan Zhengqi masih ada beberapa langkah jauhnya, jika Shan Zhengqi ingin menyerang maka dia harus melompat jauh ke depan. Padahal di saat yang sama Tong Baidun sudah bisa menyerang dia dengan senjata lontarnya saat itu juga. Itu sebabnya begitu mengucapkan salam, langkah kaki Shan Zhengqi segera terhenti. Bagusnya Shan Zhengqi dengan cepat menyadari keadaan dan bersiap untuk menghindar, terlambat sedikit saja senjata rahasia Tong Baidun tentu sudah menyambar.
Sehingga saat banyak orang menunggu pertarungan di antara dua orang jagoan tersebut, sebenarnya pertarungan itu sendiri sudah dimulai. Pertarungan itu sudah dimulai sejak Tong Baidun menghitung jarak antara dirinya dengan Shan Zhengqi,
1944
menunggu Shan Zhengqi masuk tepat dalam jarak yang paling ideal dan mengucapkan salam untuk menjebak Shan Zhengqi.
Pertarungan kedua orang ini, berbeda 180 derajat dengan pertarungan antara Ding Tao dan Bai Shixian. Pertarungan Ding Tao dan Bai Shixian tidak ubahnya menyaksikan amukan badai dan topan. Sementara pertarungan antara Tong Baidun dan Shan Zhengqi adalah sebuah penantian yang menyiksa. Sekian lama mereka berhadapan, keduanya masih juga berdiri dengan posisi yang sama. Tidak ada kata-kata, tidak ada gerakan, hanya naik turunnya perut dan dada yang menunjukkan pernafasan mereka, itu pun bisa dikatakan tak tampak karena begitu halusnya pernafasan mereka.
Tiba-tiba salah seorang dari penonton memaki, ―Jika mereka berdua mau jadi calon Wulin Mengzhu, sebaiknya mereka menunjukkan sedikit keberanian. Apalagi orang bermarga Tong itu, jarak lawan masih begitu jauhnya, tapi dia tidak juga punya keberanian untuk menyerang. Bukankah dia ahli senjata lontar? Atau matanya sudah mulai buram sehingga dia sudah tidak bisa melihat dengan jelas lagi? Hei Tong… grgh… ack…‖
Baru saja dia selesai berkata, seketika itu juga terdengar suara desingan halus dan sebatang jarum halus menancap di
1945
tenggorokannya. Nama orang itu Bi Yonggi, ilmunya tidak begitu tinggi namun memiliki hubungan baik dengan banyak pejabat negeri. Keluarganya memiliki latar belakang yang dekat dengan istana, itu sebabnya dia bisa duduk di deretan kursi bagian depan, meskipun dari segi ilmu dia belum bisa dimasukkan dalam hitungan.
Bi Yonggi juga dikenal memiliki hubungan yang baik dengan Shan Zhengqi, mungkin itu pula sebabnya Bi Yonggi secara sembrono mengeluarkan kata-kata yang tidak mengenakkan buat Tong Baidun. Ditambah lagi dia bukan duduk di deretan terdepan, melainkan di baris ketiga, tidak pernah lewat dalam benaknya, jarum beracun milik Tong Baidun bisa menemukan jalan untuk sampai pada dirinya. Entah apa yang ada dalam benak Bi Yonggi sekarang, karena dia sudah tidak bisa berkata-kata, yang pasti serangan Tong Baidun tadi membawa perubahan di atas panggung. Di saat Tong Baidun menyerang Bi Yonggi, di saat itu pula Shan Zhengqi bergerak mendekat. Cepat bukan main gerakan Shan Zhengqi, meskipun tidak secepat tinju petir Bai Shixian, namun pilihan waktunya sungguh tepat. Tepat di saat Tong Baidun baru saja melepaskan sebatang jarumnya ke arah Bi Yonggi, saat itu pula Shan Zhengqi melenting ke depan.
1946
Tong Baidun menyambit Bi Yonggi dengan tangan kirinya, betapa cepat gerakannya tak tertangkap mata banyak orang, namun masih terlihat oleh Shan Zhengqi yang bermata tajam dan sudah mengerahkan seluruh panca inderanya untuk mengawasi Tong Baidun sejak mereka mulai berhadapan.
Shan Zhengqi sama sekali tidak memikirkan nasib Bi Yonggi, bisa dikatakan Shan Zhengqi tidak memikirkan apapun juga. Sejak tadi seluruh tubuhnya hanya bersiap menanti ada kelemahan yang terbuka pada Tong Baidun. Seperti busur yang sudah dipentang sekian lama, saat Tong Baidun bergerak, seketika itu juga Shan Zhengqi melenting cepat ke arah Tong Baidun. Matanya yang tajam mengawasi secara ketat tangan kanan Tong Baidun, bukankah dia menyerang Bi Yonggi dengan tangan kiri? Itu artinya jika sekarang dia menyerang dia akan menyerang dengan tangan kanan.
Tiba-tiba seluruh syaraf Shan Zhengqi berteriak ngeri, otot-ototnya terasa menciut dengan cepat dan tulang belakangnya terasa mengejang. Selarik tipis sinar hitam menyambar ke arah dahinya, tepat di antara kedua bola matanya. Dengan cara apa Tong Baidun menyerang? Sudah jelas tangan kanannya belum bergerak dari tempatnya. Shan Zhengqi tidak sempat berpikir, tubuhnya sedang melayang, tidak mungkin untuk mengubah
1947
arah, kedua tangannya pun bergerak dengan cepat, memutar kuas, menciptakan perisai. Segera saja suara berdenting-denting memenuhi tempat itu. Senjata rahasia Tong Baidun susul menyusul menyerang Shan Zhengqi. Kuas baja itu terhitung ringan dibandingkan sebuah tongkat pemukul atau rantai baja, tanpa tenaga yang terlalu besar, bisa diputar dengan cepat untuk membentuk perisai. Namun panjang kuas baja yang hanya selengan, membuat Shan Zhengqi harus sibuk menggerakkan perisai ciptaannya itu ke berbagai sisi untuk melindungi tubuhnya dari jarum-jarum Tong Baidun yang dengan gesit mengincar bagian tubuh yang tidak terjaga.
Begitu kakinya menginjak ke tanah, secepat mungkin Shan Zhengqi melompat sejauh mungkin menjauh dari Tong Baidun.
Keputusan yang tepat, meskipun di saat yang singkat itu Shan Zhengqi tidak tahu tepat tidaknya keputusan itu, karena pada saat itu dia belum menyadari bahwa Tong Baidun menyerangnya sambil bergerak mundur dan menjaga agar jarak mereka masih sama jauhnya. Baru setelah hujan serangan Tong Baidun berhenti dan dia bisa menarik nafas lega, barulah dia menyadari hal itu dan bersyukur bahwa dia memutuskan untuk lari dan bukan menerjang ke depan.
1948
Di waktu jeda yang singkat itu barulah beberapa hal terpikir oleh Shan Zhengqi. Saat tangan kiri Tong Baidun bergerak untuk meraih senjata di kantungnya, kemudian melepaskan serangan ke arah Bi Yonggi, dia sudah menghitung lamanya waktu yang dibutuhkan, dari sejak Tong Baidun meraih senjata di kantungnya sampai jarum meninggalkan tangannya dan melesat ke arah Bi Yonggi. Dengan perhitungan itu dia yakin bisa melompatn mendekat dan menginjakkan kakinya kembali ke atas panggung sebelum tangan kiri Tong Baidun bisa meraih senjata rahasia yang lain, sehingga yang perlu dia waspadai hanyalah tangan kanan Tong Baidun. Kenyataannya berkata lain, jarum yang mengancam dahinya meluncur dari arah tangan kiri Tong Baidun. Artinya serangan Tong Baidun ke arah Bi Yonggi tadi, tidak lebih dari sebuah pancingan agar dia bergerak. Dengan sengaja Tong Baidun memperlambat gerakan tangannya agar Shan Zhengqi salah perhitungan. Kecepatan dan kekuatan serangan Tong Baidun yang asli adalah yang direkam oleh tubuhnya pada serangan-serangan berikutnya.
Saat dia menyadari hal itu, keringat dingin pun mengucur membasahi punggung Shan Zhengqi. Benar memang dia masih hidup sampai saat ini. Tidak salah jika dikatakan dia
1949
berhasil menghalau belasan serangan-serangan Tong Baidun. Masalahnya hingga jarum-jarum ke 3 atau ke-4 Shan Zhengqi masih dapat mengikut ialur serangannya, dua serangan berikutnya dia hanya mengandalkan nalurinya saja, menginjak serangan ke 7 dan seterusnya kecepatan senjata yang mengejar dirinya sudah menurun karena pada saat itu jarak di antara mereka berdua kembali melebar dengan melompat mundurnya Shan Zhengqi.
Wajah Tong Baidun terlihat begitu geram, kesempatan yang lepasbenar-benar di luar dugaannya. Hawa membunuh Tong Baidun sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Perlahan Tong Baidun menggeser kedudukannya ke depan, berusaha kembali memasuki jarak paling ideal bagi dirinya untuk menyerang Shan Zhengqi. Tanpa terasa Shan Zhengqi menyurut mundur, secara naluriah mencari jarak yang aman dari Tong Baidun yang hendak menghabisi dirinya.
Semangat Shan Zhengqi sudah goyah, Tong Baidun pun bisa merasakan hal ini, perlahan seulas senyum kejam terbentuk di wajahnya. Wajah Shan Zhengqi sudah pucat pasi, pertarungan kali ini bukan lagi antara dirinya dengan Tong Baidun. Pertarungan kali ini adalah antara dirinya dengan ketakutannya sendiri.
1950
Jika ada yang menghalangi dirinya untuk melemparkan sepasang kuas baja itu ke atas lantai panggung dan menyerah, maka itu adalah bayangan dari segala jerih payahnya dalam memupuk kedudukannya hingga sampai pada kedudukan yang setinggi sekarang ini. Bisa dia bayangkan apa kata orang jika dia menyerah sekarang ini, entah sudah ada berapa banyak tokoh silat yang dia hancurkan nama dan reputasinya, demi mengangkat pamornya sendiri. Sekarang dia yang harus menghadapi kenyataan serupa.
Setiap langkah dia menyurut mundur, yang terjadi adalah pertarungan dalam dirinya, antara kengerian untuk berhadapan dengan kematian, melawan kengerian untuk hidup dengan nama ternoda.
Shan Zhengqi sudah hampir sampai di tepi panggung, tiba-tiba ujung matanya menangkap ceceran darah dan cairan otak milik Bai Shixian yang belum sempat dibersihkan.Terbayang tokoh besar yang mengejang-ngejang hendak melepas nyawa. Terbayang tatapan kosong dan nanar Bai Shixian yang tidak lagi mengenali keadaan di sekelilingnya, saat bhiksu tua dari Shaolin selesai memberikan perawatannya. Kalaupun Bai Shixian berhasil diselamatkan, dia akan hidup tidak ubahnya seperti orang-orangan sawah.
1951
Di saat itu juga nyali Shan Zhengqi terbang ke langit lapis tujuh. Lengannya tiba-tiba terasa lemas.
Dengan parau dia berteriak, ―Aku menyerah.‖
Benar-benar anti klimaks, beberapa orang dengan jelas-jelas mendengus penuh penghinaan. Tapi itulah kenyataannya, Tong Baidun pun mengeluarkan tawa menghina dan Shan Zhengqi hanya bisa menggigit bibir dengan rasa malu tidak terkira.
Di hadapan banyak orang Shan Zhengqi melangkah dengan berat, menuju ke undak-undakan untuk turun ke bawah. Tidak ada keberanian untuk kembali ke kursinya sendiri. Seandainya dia bisa, dia akan memilih untuk berlari sekencang mungkin, meninggalkan tempat itu. Namun dari harga dirinya yang masih secuil tersisa, Shan Zhengqi menguatkan hati untuk tidak lari dan menjadi bahan tertawaan orang lain. Kepalanya menunduk ke bawah, tanpa berani menengok ke kiri ataupun kanan. Ramai suara orang bercakap atau berbisik, begitu riuh dalam benaknya, tak satupun yang tertangkap jelas, namun dia yakin semuanya berisi cercaan dan ejekan atas kepengecutannya. Tiba-tiba dia merasakan, satu tangan menahan bahunya.
1952
Dengan rasa marah yang hampir meledak akibat rasa malu yang tidak tertahankan, dia mendongakkan kepala dengan mata mendelik dan tangan mengepal, ―Apa maumu!?‖
Tapi kemarahannya dengan cepat menjadi surut saat dia melihat siapa yang sudah menahan bahunya. Ding Tao pada awalnya ikut merasakan kekecewaan karena Shan Zhengqi menyerah kalah tanpa melakukan perlawanan. Namun ketika banyak orang mulai menghina Shan Zhengqi, timbul rasa kasihan dalam hatinya. Melihat langkah demi langkah yang dilewati Shan Zhengqi dengan menanggung rasa malu, perasaan Ding Tao mulai berubah, dari sekedar kasihan menjadi kekaguman. Karena kasihan Ding Tao bisa bersimpati pada Shan Zhengqi. Dia bisa menempatkan dirinya di posisi Shan Zhengqi, merasakan beratnya tiap langkah yang harus diambil dan menyadari apa yang tidak pernah terpikirkan oleh Shan Zhengqi sendiri.
―Apa maumu?‖, tanya Shan Zhengqi untuk kedua kalinya, kali ini dengan nada yang sedikit berbeda.
Bagaimanapun juga yang menepuk bahunya ini adalah seorang ketua dari sebuah partai yang menguasai 6 propinsi di daerah selatan. Orang yang baru saja menumbangkan Bai Shixian
1953
dalam sebuah pertarungan yang gemilang. Selain itu ada satu perasaan yang terpancar dengan tulus dalam sorot pandang Ding Tao. Di sana Shan Zhengqi tidak melihat ada penghinaan.
―Satu hari nanti, kuharap kita bisa minum arak bersama, sebagai seorang sahabat.‖, ujar Ding Tao sambil tersenyum.
―Aku… aku.. aku tidak mengerti.‖, ujar Shan Zhengqi terbata-bata.
Ding Tao mengerutkan alis sejenak, berusaha mengubah perasaannya menjadi kata-kata dan kemudian menjawab, ―Untuk sesaat lamanya, aku pun merasa kecewa dan memandang rendah dirimu. Kemudian aku merasa kasihan mendengar cemoohan orang atas dirimu. Namun kemudian kulihat dan kurasakan betapa berat tiap langkah yang harus kau ambil untuk meninggalkan panggung ini. Tiba-tiba saja, jadi timbul perasaan kagum akan dirimu. Terkadang lebih mudah untuk mati daripada untuk hidup, bahkan bila kita mati untuk satu tujuan yang tidak berharga.‖
Berhenti sejenak Ding Tao melanjutkan, ―Entah mengapa tiba-tiba kalimat itu terpikir olehku. Dan akupun sadar, betapa satu
1954
kebodohan jika kau harus mati hanya demi sebuah kedudukan atau harga diri.‖
Dengan sebuah senyum Ding Tao memukul lengan Shan Zhengqi dengan bersahabat, ― Entahlah tiba-tiba aku merasa bisa melihat kekuatan dan segi baik dari dirimu. Kekuatan yang membuat kau bisa berjalan pergi dari panggung ini sebagai seorang laki-laki. Kali lain aku bertemu dengan dirimu, aku yakin akan bertemu dengan seorang pahlawan sejati.‖
Beban berat yang disandang Shan Zhengqi di pundaknya tiba-tiba hilang lenyap. Dia tidak sepenuhnya memahami apa yang dikatakan Ding Tao. Ding Tao sendiripun mungkin tidak sepenuhnya mengerti apa yang dia coba katakan. Tapi Shan Zhengwi bisa merasakan perasaan Ding Tao yang tulus. Di saat dirinya sendiri tidak bisa mempercayai dirinya. Di saat dirinya sendiri menyalahkan apa yang baru saja dia lakukan dan meragukan seluruh keberadaannya, tiba-tiba ada seseorang yang berkata bahwa dia percaya pada dirinya. Sebagian orang terdiam oleh perbuatan Ding Tao, sebagian yang lain tetap mencemooh Shan Zhengqi. Bahkan sekarang ada juga yang membicarakan perbuatan Ding Tao dengan nada menghina. Tapi semuanya itu tidak lagi menjadi racun-racun yang bersarang di hati Shan Zhengqi.
1955
Shan Zhengqi pun merangkapkan tangan dan menganggukkan kepala pada Ding Tao dengan senyum lebar di wajahnya, ―Kali lain, aku akan datang ke tempatmu dengan membawa seguci arak tapi kau yang menyediakan bebek panggangnya.‖
Ding Tao pun tersenyun lebar dan berkata, ―Hahahaha, bagus! Kau boleh datang kapan saja, aku tentu akan menyiapkan bebek panggangnya.‖
Sambil berpamitan Shan Zhengqi pun berkata, ―Baiklah aku pergi sekarang, ingat janjimu, jangan berani mati sia-sia di sini.‖
Ding Tao tersenyum dan menganggukkan kepala. Shan Zhengqi pun pergi berlalu, langkah-langkahnya terasa jauh lebih ringan. Hinaan orang dia balas dengan senyuman saja. Bagaimana pun juga, dia masih sempat berada di atas sana, sedangkan mereka yang menghina dia sekarang ini, belum tentu memiliki keberanian dan kemampuan untuk berdiri di atas panggung itu. Dia naik ke atas panggung untuk mengejar satu impian kosong, untuk mempertaruhkan hidup matinya demi sesuatu yang tidak berharga. Sekarang dia turun sebagai orang yang kalah, namun dia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah reputasi. Shan Zhengqi sekarang tahu seberapa berharganya satu kehidupan. Dalam hati dia
1956
berjanji, akan mengingat baik-baik apa yang dia rasakan hari ini. Selamanya dia menganggap diri tak terkalahkan, selamanya diamemandang rendah pancaran rasa takut dari lawan-lawannya. Selama ini dia tidak pernah memikirkan nyawa yang melayang oleh kedua tangannya. Teringat ini terselip pula rasa penyesalan dalam hati Shan Zhengqi, namun di saat yang sama sebuah tekad yang kuat menggelora dalam dadanya. Dia akan jadi manusia yang baru, jika kali lain dia harus menghadapi pertarungan antara hidup dan mati, dia ingin menjalani pertarungan itu untuk satu tujuan yang berarti, bukan sekedar mencari reputasi kosong. Satu pertarungan, di mana bila dia harus memilih, maka dia akan memilih mati tanpa ragu lagi. Tapi kematiannya akan menjadi sesuatu yang berharga dan tidak akan dia sesali.
Shan Zhengqi pun menghilang di balik kerumunan orang banyak dan perhatian tiap orang kembali tertuju ke atas panggung. Kali ini Lei Jianfeng berhadapan dengan Deng Songyan.
Deng Songyan dengan cekatan memutar tombak peraknya dengan ringan, seperti sedang bermain-main, sebelum dia merangkapkan tangan di depan dada dan mengangguk pada Lei Jianfeng. Lei Jianfeng yang dikenal dengan pukulan tangan
1957
kosongnya, naik ke atas panggung membawa sepasang pedang di tangannya, menganggukkan kepala sebagai balasan. Tanpa banyak cakap, mereka berdua segera mengambil kuda-kuda dan siap bertarung.
―Saudara Deng Songyan, kau tidak ada rencana untuk mundur sebelum bertanding kan?‖, tanya Lei Jianfeng sambil tertawa dibuat-buat.
―Hmm… tentu saja tidak, hanya pengecut yang mundur dengan tubuh tanpa luka sedikitpun.‖, jawab Deng Songyan dengan senyum dingin.
―Bagus… bersiaplah.‖, ujar Lei Jianfeng.
―Silahkan mulai lebih dulu‖, ujar Deng Songyan.
Tanya jawab mereka ini mengundang tawa dari beberapa orang, tapi juga menusuk hati mereka yang dekat dengan Shan Zhengqi, karena sudah jelas perkataan itu ditujukan untuk Shan Zhengqi. Ding Tao yang baru saja bersahabat dengan Shan Zhengqi mengerutkan alis tidak senang, namun seperti banyak teman Shan Zhengqi yang lain, tidak ada yang dapat dia katakan. Perbuatan Shan Zhengqi memang bisa dikatakan sebagai sesuatu yang memalukan. Tapi mungkin ada
1958
perbedaan antara Ding Tao dan banyak sahabat Shan Zhengqi yang lain, dalam diamnya Ding Tao percaya suatu saat Shan Zhengqi akan bangkit dan memperbaiki namanya dengan usahanya sendiri.
Pertarungan Lei Jianfeng dan Deng Songyan merupakan pertarungan yang klasik. Tidak ada gebrakan yang dengan sepenuh tenaga di awal pertarungan seperti yang dilakukan Bai Shixian dan Ding Tao. Bukan pula pertandingan dalam diam seperti Tong Baidun melawan Shan Zhengqi. Lei Jianfeng dan Deng Songyan dengan cepat mulai saling menyerang dan bertahan, mengukur kekuatan dan kelebihan lawan secara bertahap. Sepasang pedang dan tombak menari-nari di atas panggung, belasan jurus pun dengan cepat berlalu, semakin lama gerakan kedua orang itu semakin cepat. Yang mengejutkan adalah Lei Jianfeng, dikenal sebagai seorang ahli pukulan, ternyata Lei Jianfeng mampu mengimbangi Deng Songyan dengan sepasang pedangnya.
Menonton pertandingan di antara keduanya, tiba-tiba Ma Songquan mendesis, ―Ah, dasar Bai Shixian keparat itu...‖
Tentu saja Ding Tao menarik muka dan bertanya, ―Saudara Ma Songquan, apa maksudmu? Mengapa berkata demikian, aku
1959
tidak ingin ada yang menjelek-jelekkan Saudara Bai Shixian, dia sungguh seorang yang hebat.‖
Ma Songquan menghela nafas, ―Maafkan aku ketua, masalahnya cobalah kita lihat dua pertandingan yang baru saja lewat. Setiap calon bertanding dengan berhati-hati, tidak ada yang sembarangan mengobral tenaga dan serangan. Dalam pertandingan semacam ini, hal itu penting sekali.‖
Ding Tao mengerutkan alisnya sebentar sebelum menjawab dengan nada yang lebih lunak, ―Aku mengerti… tapi sudahlah, apa yang terjadi tidak perlu dibicarakan lagi.‖
Ma Songquan menganggukkan kepala dan sekali lagi mendesah, Li Yan Mao yang tadi hanya ikut mendengarkan tiba-tiba berkata, ―Jika demikian halnya, orang bermarga Tong itu adalah orang yang memiliki kesempatan paling besar untuk memenangi pertandingan ini.‖
Mereka semua terdiam sebelum Tang Xiong menjawab, ―Hmm… dengan senjata rahasianya dia bisa menyerang dari jauh dan menang tanpa harus menempatkan dirinya sendiri dalam bahaya. Kalau dipikir-pikir, rasanya jadi kurang adil…‖
1960
―Tidak juga, setiap mereka yang maju ke atas panggung ini, membawa ilmu dan tehnik yang mereka latih selama bertahun-tahun. Jika Tong Baidun yang melatih senjata rahasia dianggap lebih beruntung. Itu artinya kita semua sudah salah mendalami ilmu.‖, ujar Ding Tao dengan tenang.
―Benar…, jika ada yang bisa menghadapi senjata rahasianya, Tong Baidun bukan apa-apa.‖, ujar Ma Songquan.
―Tapi… kenapa ketua bisa begitu sialnya, di pertandingan pertama dia harus bertemu Bai Shixian yang hanya tahu bertarung tanpa memikirkan pertarungan berikutnya. Yang gaya bertarungnya seperti mengajak lawan mati berbareng. Lalu di pertarungan kedua, bertemu pula dengan Tong Baidun yang mengandalkan senjata rahasia?‖, keluh Tang Xiong disambut senyum tawar oleh yang lain.
―Jangan kuatir, bukankah kita masih punya ilmu simpanan?‖, ujar Wang Xiaho sambil tersenyum.
Mendengar kata-kata Wang Xiaho, mata Tang Xiong ikut menyala dengan semangat, ―Benar, Ketua Ding Tao sudah mempelejari ilmu itu. Kita bisa lihat nanti, bagaimana Tong Baidun menghadapi ilmu itu.‖
1961
―Bagaimana menurut ketua?‖, tanya Tang Xiong dengan bersemangat.
Ding Tao pun tersenyum dan menjawab, ―Kukira, dengan lengan kiriku yang patah ini, tidak ada jalan lain kecuali menggunakan ilmu itu.‖
―Haha… kalau begitu Tong Baidun boleh mengucapkan selamat tinggal dalam pertarungan nanti.‖, ujar Tang Xiong dengan puas.
Tang Xiong pun menoleh dengan penasaran saat mendengar Ma Songquan menghela nafas panjang.
―Kenapa?‖, tanyanya dengan heran.
Ma Songquan tidak langsung menjawab, sepertinya dia berpikir sejenak apakah lebih baik dijawab ataukah tidak. Akhirnya dia memilih untuk menjawab.
―Masalahnya ilmu simpanan itu harusnya disimpan sampai pada saat pertandingan terakhir. Dengan adanya cedera di lengan kiri, Ketua Ding Tao harus menggunakannya di pertandingan kedua. Itu artinya lawan di pertandingan terakhir
1962
akan memiliki kesempatan untuk mempelajari ilmu itu.‖, ujar Ma Songquan menjelaskan.
Wajah Tang Xiong pun berubah jadi lesu, Ding Tao yang melihatnya lesu dengan tenang menepuk lengan Tang Xiong dan berkata, ―Jangan kehilangan semangat seperti itu. Kita hadapi saja setiap pertandingan satu per satu.‖
Selagi mereka berbicara, pertarungan antara Lei Jianfeng dan Deng Songyan sudah memasuki jurus ke 48. Dengan jangkauan tombak yang lebih jauh Deng Songyan berhasil mendesak Lei Jianfeng. Ujung tombak dengan lincah mencecar, mengincar setiap bagian yang terbuka dari pertahanan lawan. Tapi bukan berarti Deng Songyan sudah pasti menang, karena sedikit saja dia mengendurkan serangan, Lei Jianfeng akan bergerak masuk dan pada saat itu Deng Songyan akan berada dalam kesulitan. Lei Jianfeng sendiri tentu saja bukannya tidak mengerti hal ini, sepasang pedangnya bergerak dengan lincah, bukan hanya menangkis serangan lawan tapi juga berusaha menghalau pergi tombak Deng Songyan agar dia bisa masuk ke dalam wilayah Deng Songyan, tapi tombak Deng Songyan sungguh lincah, batang kayu yang kaku bisa tampak selentur cambuk. Pula Deng Songyan tidak berdiri di tempat, jika Lei Jianfeng sempat
1963
bergerak maju, dengan cepat dia bergerak mundur dan pada serangan berikutnya dia kembali bisa mendesak mundur Lei Jianfeng.
Kecepatan gerak tombak Deng Songyan perlahan-lahan menunjukkan kelebihannya. Wajar saja karena sejak berumur 5 tahun dia sudah memegang sebatang tombak, sementara Lei Jianfeng memilih untuk mendalami Luo Yanchang dengan kedua telapak tangannya.
Jurus-jurus Luo Yanchang yang dia kembangkan tampak bagus juga ketika diterapkan dengan sepasang pedang, namun jelas dalam hal menggunakan sepasang pedang sebagai senjata, Lei Jianfeng masih kalah jam terbang dibandingkan Deng Songyan dengan tombaknya. Dengan langkah Bagua-nya Lei Jianfeng berusaha mengimbangi kelincahan tombak Deng Songyan, namun menggerakkan mata tombak jelas lebih ringan daripada menggerakkan seluruh tubuh. Pakaian Lei Jianfeng sudah lama dibasahi keringat sementara Deng Songyan baru saja berpeluh. Tombak Deng Songyan yang panjang mampu menutup kelincahan gerak Lei Jianfeng. Padahal sebagai seorang pendekar yang menekuni jurus tangan kosong, sudah banyak lawan yang bersenjata dikalahkan Lei Jianfeng hanya dengan berbekal kedua tangannya itu. Namun kali ini
1964
jangankan untuk menyentuh Deng Songyan, untuk mendekat pun dia tidak mampu.
Lei Jianfeng sudah terdesak hingga tepi panggung, tahu dirinya tidak mungkin mundur selangkahpun lagi, Lei Jianfeng pun memutar sepasang pedangnya mengelilingi seluruh tubuh, membentuk sebuah perisai yang kuat yang sulit ditembus. Gerakan ini tentu saja menghabiskan banyak tenaga, namun di saat yang kritis nyata mampu menahan serangan tombak Deng Songyan.
Beberapa kali serangan tombak Deng Songyan terpental oleh perisai yang diciptakan oleh sepasang pedang itu. Bahkan Lei Jianfeng mulai berani bergerak maju ke depan, selain untuk menghindar agar tidak terjebak di tepi panggung, Lei Jianfeng juga berusaha ganti mendesak Deng Songyan.
Deng Songyan pun surut mundur beberapa langkah, namun Deng Songyan tidak mudah dikalahkan, sembari mundur dia mulai mempelajari jurus lawan sambil menghimpun kekuatan. Pada langkah ke 7, Deng Songyan tiba-tiba berteriak keras dan tombaknya meluncur masuk ke dalam putaran pedang Lei Jianfeng. Lei Jianfeng pun mengerahkan tenaganya untuk memutar perisai pedangnya lebih cepat lagi. Mata tombak Deng
1965
Songyan yang sempat masuk ke dalam pusaran sepasang pedang Lei Jianfeng ikut terbawa berputar. Pendukung Lei Jianfeng pun bersorak memberi semangat sementara pendukung Deng Songyan ganti mengepalkan tangan dengan cemas.
Di saat yang kritis bagi dirinya Deng Songyan menunjukkan kemahirannya sebagai pewaris ilmu tombak keluarga Deng. Deng Songyan bukan berusaha menarik mundur serangannya, tapi justru menambahkan tenaga mengikuti gerak berpusaran dari sepasang pedang Lei Jianfeng.
Tiba-tiba pertarungan berubah bentuknya, dengan tombak di tengah pusaran pedang, Deng Songyan berusaha menekan agar tercipta lubang di tengah-tengah lingkaran pedang Lei Jianfeng. Sebaliknya Lei Jianfeng berusaha menekan mata tombak Deng Songyan ke arah dalam dan menutup lubang yang terbentuk. Kaki kedua orang pendekar itu pun tertancap kuat di atas panggung, meskipun kedua tangan mereka yang bekerja keras, namun kaki yang berpijak sebagai dasar, haruslah kuat menopang pergerakan badan di atas. Lei Jianfeng tidak berani sembarangan mengubah jurus sebelum mata tombak Deng Songyang berhasil dia patahkan atau sampai Deng Songyang menarik mundur tombaknya.
1966
Sebaliknya Deng Songyan yang merasa yakin akan keahliannya dalam hal senjata, tidak ingin melepaskan kesempatan yang baik ini. Begitu lubang yang dia ciptakan cukup lebar, dia bisa menusukkan tombaknya secepat kilat menyerang bagian dada Lei Jianfeng yang terbuka lebar. Namun Deng Songyan juga tidak berani terburu-buru menyerang. Jika dia salah perhitungan maka sebelum mata tombaknya melubangi dada Lei Jianfeng, sepasang pedang Lei Jianfeng akan memotong batang tombak yang terbuat dari kayu.
Setiap mereka yang menyaksikan pertandingan itu pun tahu, bahwa ini adalah saat yang paling menentukan dalam pertarungan antara Lei Jianfeng melawan Deng Songyan. Jika Lei Jianfeng berhasil memotong putus tombak Deng Songyan, berarti Deng Songyan harus mengaku kalah karena Deng Songyan tanpa tombaknya tidak ubahnya seperti Tong Baidun tanpa senjata rahasianya. Di lain pihak jika Deng Songyan berhasil menciptakan celah dalam perisai pusaran pedang yang dibentuk Lei Jianfeng, maka nyawa Lei Jianfeng sudah dipastikan akan melayang.
Baik pendukung Lei Jianfeng maupun pendukung Deng Songyan sama-sama merakan ketegangan mereka memuncak.
1967
Deng Songyan tadinya berharap dia akan dapat membuka celah dari pusaran sepasang pedang Lei Jianfeng dengan menambahkan tenaga berputar dari mata tombaknya sendiri. Di luar dugaan, Lei Jianfeng memiliki tenaga yang besar di kedua belah telapak tangannya, gagang pedang seperti lengket di tangannya. Meskipun di awal-awal Lei Jianfeng sempat kelabakan dan Deng Songyan berhasil menekan sepasang pedang Lei Jianfeng sehingga sepasang pedang Lei Jianfeng bergerak melebar. Namun di saat berikutnya Lei Jianfeng mulai berhasil mengikuti kecepatan gerak tombak Deng Songyan dan ganti menekan mata tombak Deng Songyan mengikuti putaran pedangnya.
Kehilangan kesempatan untuk menusuk Lei Jianfeng lewat lubang yang tercipta, sekarang Deng Songyan harus berjuang keras hanya untuk dapatmelepaskan mata tombaknya dari pusaran pedang Lei Jianfeng.
Tapi ketrampilan tangan Deng Songyan dalam memainkan tombaknya memang perlu diacungi jempol. Antara tombak dengan manusianya sudah tidak terpisahkan. Bukan hanya tombak akan bergerak sesuai kemauan Deng Songyan, Deng Songyan bahkan bisa merasakan dan menganalisa kekuatan dan kecepatan pedang lawan, lewat persentuhan mata tombak
1968
dengan pedang Lei Jianfeng. Benar-benar tombak sudah merupakan bagian dari dirinya. Pelan namun pasti, sepasang pedang Lei Jianfeng jatuh dalam permainan tombak Deng Songyan. Seulas senyum terbentuk di wajah Deng Songyan.
Dengan satu teriakan, ―Kena !‖
Tombak Deng Songyan berhasil mengungkit pedang Lei Jianfeng hingga pedang Lei Jianfeng terlempar dari tangannya. Pendukung Deng Songyan pun bersorak penuh kemenangan, namun sorak sorai mereka segera terhenti karena di saat yang hampir bersamaan Lei Jianfeng memanfaatkan saat-saat di mana mata tombak Deng Songyan bergerak melontarkan pedang Lei Jianfeng, untuk bergerak dengan cepat menutup jarak antara dirinya dengan Deng Songyan.
Gerakan Lei Jianfeng ini terasa tidak masuk akal bagi Deng Songyan, sebagai ahli senjata dia tahu benar bahwa dalam pertarungan untuk saling menguasai senjata lawan, kuda-kuda harus kuat menancap di tanah. Masalahnya Deng Songyan lupa, Lei Jianfeng tidaklah serupa dengan dirinya, tidak pula seperti seorang pendekar pedang yang memandang pedang sebagai nyawa sendiri. Bagi kebanyakan ahli senjata, kehilangan senjata andalan dalam sebuah pertarungan tidak
1969
ubahnya seperti kehilangan nyawa. Tapi Lei Jianfeng bukanlah seorang ahli senjata, dia seorang ahli berkelahi dengan tangan kosong yang kebetulan menggunakan sepasang pedang. Saat menyadari dia tidak dapat lagi mempertahankan sepasang pedangnya, Lei Jianfeng dengan segera memutuskan untuk melepaskan sepasang pedangnya dan menggunakan saat-saat di mana konsentrasi Deng Songyan masih tersedot pada usaha untuk melepaskan pedang dari tangan Lei Jianfeng, untuk menutup jarak di antara mereka.
Kemampuan dua orang ini tidak berselisih banyak. Kesalahan perhitungan yang fatal harus dibayar Deng Songyan dengan mahal.
Susul menyusul Lei Jianfeng mengirimkan sebuah tepukan ke atas dua pundak Deng Sonyan. Sebuah pukulan yang dikembangkan berdasarkan Luo Yanchang, telah menghancurkan tulang pundak Deng Songyan. Luo Yan Zhang yang asli hanya menyerang dari atas ke bawah, Luo Yan Zhang yang dikembangkan Lei Jianfeng bisa menyerang dari berbagai arah, bisa pula menjadi serangan berantai, tanpa mengurangi terlampau banyak besarnya tenaga serang Luo Yan Zhang.
1970
Dari segi besarnya tenaga, Luo Yan Zhang yang asli masih lebih unggul, namun dari variasi serangan dan kecepatan Luo Yan Zhang yang dikembangkan Lei Jianfeng lebih unggul. Terbukti dia bisa mengirimkan dua kali serangan dalam satu tarikan nafas.
Hampir bersamaan dengan jatuhnya sepasang pedang Lei Jianfeng ke atas lantai, tombak Deng Songyan pun terlepas dari tangannya. Dua tangannya terkulai ke bawah tanpa tenaga, rasa nyeri tidak dirasakan oleh Deng Songyan. Begitu dia sadar kedua tulang pundaknya sudah remuk oleh pukulan Lei Jianfeng, dunia Deng Songyan menjadi gelap. Apa artinya hidup dengan lengan yang cacat? Puluhan tahun dia melatih ilmu tombaknya, sekarang dia tidak bisa menggunakan kedua tangannya.
Dengan penuh kepahitan dia memandang pada Lei Jianfeng, suaranya parau saat dia berkata, ―Lebih baik, bunuh saja aku…‖
Lei Jianfeng hanya tersenyum saja, menunjuk ke arah kejantanan Deng Songyan dan menjawab, ―Sudahlah, terima saja nasibmu, kalaupun ternyata bahumu tidak dapat
1971
disembuhkan, setidaknya kau masih bisa menyambung keturunan keluarga Deng.‖
Dengan langkah santai Lei Jianfeng pun meninggalkan Deng Songyan yang sudah dikerubuti oleh sanak keluarganya. Bhiksu tua yang bertugas untuk menangani cedera dan luka yang terjadi sudah sibuk memeriksa dan merawat Dneg Songyan. Deng Songyan sendiri hanya bisa terdiam dengan lidah kelu, beberapa saat yang lalu dia menertawakan Shan Zhengqi dan menggelengkan kepala atas nasib Bai Shixian. Siapa sangka dirinya tidak luput dari nasib yang sama. Sejak dia masih kecil, Deng Songyan sudah berambisi untuk menjadi orang terkuat. Ketika perjalanan yang dia tempuh, dipaksa untuk berakhir dengan tragis, tiba-tiba hidup Deng Songyan terasa begitu hampa. Menempa diri untuk menjadi pendekar terkuat, apa hanya sebuah pencarian kosong? Sampai saat dia sudah diusung turun pun Deng Songyan masih membisu, terdiam dalam pencarian.
Setiap manusia pasti memiliki tujuan hidup, beberapa mengejarnya dengan seluruh yang ada pada dirinya.Sebagian yang lain mungkin justru tidak pernah memiliki bentuk yang jelas dengan tujuan hidupnya. Bagi Deng Songyan yang memiliki tujuan hidup yang jelas, ketika jalan itu tiba-tiba
1972
direnggut dari dirinya, guncangan yang dialami oleh jiwanya, lebih berat dari rasa sakit yang dirasakan oleh tubuhnya.
Apakah Deng Songyan bisa bangkit dari kegagalannya atau tidak, kisah ini sendiri tidak memuatnya. Untuk saat ini, seperti biasa mata hanya memandang pada pemenang, sementara yang kalah digusur ke belakang. Perhatian setiap orang, kembali beralih ke atas panggung, di sana berdiri Ximen Lisi yang tampan dan Lu Jingyun, pendekar berkaki empat.
Lu Jingyun dijuluki berkaki empat bukan saja disebabkan oleh ilmu meringankan tubuhnya yang disegani lawan, tapi juga disebabkan oleh wataknya yang tidak mau terikat. Tidak memiliki tempat tinggal tertentu, tidak memiliki keluarga dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Lu Jingyun hidup tidak ubahnya seperti angin yang selalu bertiup. Jika Ximen Lisi sangat memperhatikan penampilannya, apa yang dipakai, bagaimana rambutnya ditata dan juga bagaimana dia berlaku. Lu Jingyun berbalik 180 derajat dari Ximen Lisi, pakaiannya boleh jadi baru dicuci, tapi terlihat tambalan di sana-sini. Rambutnya yang sudah disisir, digelung secara sembarangan. Kumis dan jenggot pun tumbuh tidak beraturan. Buat mereka yang sudah pernah bertemu dengan Lu Jingyun, akan mengatakan inilah
1973
penampilannya yang paling rapi jika dibandingkan dengan penampilan Lu Jingyun biasanya.
―Hmm… tidak pernah kuduga, Lu Jingyun akan ikut menjadi calon dalam pemilihan Wulin Mengzhu ini‖, ujar seseorang di antara ribuan yang ikut menyaksikan pemilihan Wulin Mengzhu ini.
―Apa menurutmu dia kurang pantas untuk jadi Wulin Mengzhu?‖, tanya orang di sebelahnya, dalam benaknya penampilan seorang Wulin Mengzhu pantasnya seperti Lei Jianfeng yang keren dan berwibawa; Ximen Lisi yang tampan dan halus; atau minimal seperti Ding Tao yang meskipun bersahaja tetap menampilkan keberadaan seorang ketua dari partai yang besar.
―Bukan begitu, tapi sifatnya yang tidak mau terikat dengan segala macam aturan dan ikatan sudah begitu terkenal, hingga dia mendapatkan julukan empat kaki. Mengapa dia tiba-tiba tertarik untuk menjadi Wulin Mengzhu?‖, jawab yang seorang.
―Lebih ruwet lagi kalau dia sampai jadi Wulin Mengzhu, bakal jadi Wulin Mengzhu macam apa dia nanti?‖, sahut seorang yang lain lagi.
1974
―Jangan seenaknya bicara! Setidaknya Lu Jingyun masih lebih baik daripada orang munafik macam Ximen Lisi atau Lei Jianfeng.‖, terdengar ada orang yang membentak.
―Siapa kau ini berani mengatakan Lei Jianfeng seorang munafik?‖, tegur yang seorang lagi.
―Hmph, kau kira aku takut pada Lei Jianfeng dan begundalnya? Namaku Chen Thai, asal dari Bei Hai. Kau sendiri siapa?‖, jawab yang ditanya dengan garang.
Tiba-tiba terdengar lagi orang lain menyahut, ―Sudah tidak usah banyak bicara, hajar saja biar tahu aturan.‖
Dan benar saja yang marah-marah saat Lei Jianfeng dikatakan munafik dengan segera melayangkan pukulan, yang mengaku bernama Chen Thai pun dengan cekatan mengelak dan balik menyerang. Mereka pun beradu jurus sambil disoraki oleh orang-orang yang berada di dekatnya, sebelum muncul petugas ketertiban dari pihak Shaolin yang melerai mereka. Hari itu benar-benar hari yang sibuk bagi perguruan Shaolin sebagai tuan rumah. Perselisihan semacam itu bukan hanya terjadi satu dua kali, tapi berkali-kali.Baik antar pendukung calon Wulin Mengzhu, atau bahkan perselisihan lama yang
1975
kembali muncul karena bertemu secara tidak sengaja di hari itu. Di baris-baris depan saja perkelahian seperti itu tidak terjadi, maklum saja, mereka yang duduk di baris ini sudah memiliki nama dan tidak mudah terpancing untuk saling berselisih, meskipun saling ejek atau saling sindir masih juga terjadi.
Lepas dari perkelahian yang terjadi, pertanyaan yang sama sebenarnya juga muncul dalam benak banyak orang. Mengapa Lu Jingyun yang tidak suka terikat, kali ini justru menceburkan diri dalam pemilihan Wulin Mengzhu?
Setelah saling memberi hormat, Ximen Lisi juga menanyakan hal yang sama, ―Saudara Lu Jingyun, nama besar saudara sudah sering aku dengar. Hanya saja sedikit mengherankan, Saudara Lu Jingyun yang terkenal tidak suka terikat dengan macam-macam aturan, mengapa kali ini ikut maju dalam pencalonan Wulin Mengzhu?‖
Lu Jingyun hanya tersenyum-senyum saja dan menjawab, ―Jika orang seperti dirimu ingin menjadi Wulin Mengzhu, aku pun jadi ingin ikut-ikutan mencoba jadi Wulin Mengzhu.‖
―Orang seperti diriku? Aku tidak mengerti…. Memangnya aku orang semacam apa?‖, tanya Ximen Lisi sambil tertawa kecil.
1976
―Kukira Ximen Lisi tentu tahu orang macam apa dirinya tanpa kuberitahu‖, ujar Lu Jingyun dengan santai.
Ximen Lisi pun tersenyum dingin dan berkata, ―Hm..hm… baguslah kalau begitu. Kuharap kau sudah siap untuk berhadapan denganku kalau begitu.‖
―Entahlah… kalau ternyata kemampuanmu di luar dugaanku, aku akan lari‖, jawab Lu Jingyun ringan.
Mendengar jawaban Lu Jingyun, Ximen Lisi tertawa terbahak-bahak, ―Hahaha, benar-benar lelaki sejati. Tidak malu diberi julukan pendekar empat kaki.‖
Disindir demikian Lu Jingyun hanya tersenyum saja, ―Sudah selesaikah kau tertawa? Kalau sudah selesai, sebaiknya kita mulai saja pertarungan ini, aku sudah bosan mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulutmu.‖
Merah padam wajah Ximen Lisi mendengar jawaban Lu Jingyun yang pedas, ―Bagus ! Sebaiknya Saudara Lu Jingyun berharap masih bisa lari selesai kita bertarung nanti.‖
Lu Jingyun tidak menjawab apa-apa, hanya tangannya memberi tanda agar Ximen Lisi cepat-cepat memulai. Ximen
1977
Lisi menggeram marah, dengan wajah murka dia mencabut golok yang dia bawa. Lu Jingyun sendiri yang bersenjata sepasang pisau pendek segera bersiap menerima serangan lawan. Ximen Lisi tidak membuang waktu lagi, segera setelah Lu Jingyun mencabut sepasang pisaunya, dia pun dengan cepat menyabetkan goloknya menyerang Lu Jingyun.
Jangan salah melihat penampilan Ximen Lisi yang lemah lembut seperti seorang sastrawan, goloknya menyambar-nyambar dengan ganas membawa hawa pembunuhan yang pekat. Lu Jingyun pun menunjukkan kemampuan yang mengangkat namanya dalam dunia persilatan, tubuhnya bergerak lincah mengatasi cepatnya sambaran golok Ximen Lisi. Meskipun demikian nama Ximen Lisi juga bukan nama kosong, sudah beberapa jurus berlalu Lu Jingyun tidak juga menemukan kelemahan dalam pertahanan Ximen Lisi.
Golok sendiri bukanlah senjata andalan Ximen Lisi, 18 macam senjata semuanya dia bisa menggunakan. Jurus tangan kosong maupun senjata lontar juga bisa dia lakukan dengan baik, tidak ada yang tahu persis apa ilmu yang ditekuni dan menjadi andalan Ximen Lisi. Atau mungkin Ximen Lisi memang ahli dalam segala ilmu bela diri. Sesekali terlihat Ximen Lisi menggunakan beberapa jurus dari Shaolin, Kongtong, dan
1978
Kunlun. Dengan menggunakan jurus yang campur aduk itu, beberapa kali Ximen Lisi berhasil mendesak Lu Jingyun, namun berkat kecepatan geraknya di saat-saat terakhir Lu Jingyun selalu berhasil melepaskan diri. Melihat Ximen Lisi bisa menggunakan jurus-jurus golok dari beberapa perguruan, alis mereka yang berasal dari perguruan tersebut pun berkerut. Namun karena jurus-jurus yang digunakan Ximen Lisi belum bisa dianggap merupakan jurus-jurus rahasia dari perguruan mereka, maka mereka pun menahan diri untuk tidak mengucapkan apa-apa. Bagaimana pun juga, perguruan mereka sudah berdiri ratusan tahun, entah sudah ada berapa ratus atau ribu murid yang lulus dari perguruan dan tersebar di dunia persilatan. Tidak mungkin mereka bisa terus menerus menjaga agar jurus-jurus milik perguruan mereka tidak tersebar juga pada orang-orang yang tidak memiliki hubungan dengan perguruan mereka. Yang lebih mengagumkan adalah kemampuan Ximen Lisi untuk mempelajari begitu banyak aliran dan mengombinasikannya dengan baik.
Tapi nama besar Lu Jingyun bukanlah nama kosong belaka, perlahan-lahan kecepatan gerak Lu Jingyun semakin meningkat. Hingga pada satu titik, Ximen Lisi mulai kesulitan untuk mengikuti kecepatan gerak Lu Jingyun. Jika sebelumnya
1979
Lu Jingyun hanya bisa menghindar, setelah memasuki jurus ke 30 Lu Jingyun mulai balas menyerang.
Dengan kecepatan geraknya Lu Jingyun berhasil menghindari serangan Ximen Lisi, menyerang di titik terlemah, kemudian kembali menghindar sebelum golok Ximen Lisi berhasil menyentuhnya. Semakin lama, gerakan Lu Jingyun semakin cepat. Bukan hanya mengincar titik lemah dalam pertahanan Ximen Lisi, beberapa kali Lu Jingyun bahkan berhasil menghilang dari pandangan Ximen Lisi. Tidak mampu mengikuti kecepatan gerak Lu Jingyun, ganti Ximen Lisi yang dipaksa untuk bertahan.
Ximen Lisi memiliki kepekaan panca indera yang tajam, meskipun Lu Jingyun berhasil menghilang dari pandangannya dan menyerang dari sudut yang tidak terlihat oleh matanya, Ximen Lisi masih bisa menggunakan perasaan dan intuisinya untuk menentukan dari mana Lu Jingyun akan menyerang. Goloknya pun dengan segera menyambar ke arah Lu Jingyun, sebelum Ximen Lisi sempat mengubah kedudukan tubuhnya. Dengan demikian sekian lama Lu Jingyun berhasil lari dari mata Ximen Lisi, tapi belum ada serangan yang berarti dari Lu Jingyun. Beberapa kali justru Lu Jingyun yang harus cepat
1980
menghindar sebelum sempat menyerang, karena dengan tiba-tiba golok Ximen Lisi menghadang di depan jalannya.
Melihat keadaan Lu Jingyun, tiba-tiba Ding Tao bertanya, ―Jika aku turun tangan untuk menolong salah seorang dari mereka, apakah itu akan dianggap mengganggu jalannya pertandingan?‖
Para pengikutnya pun saling memandang dan mengangkat alis, Ma Songquan kemudian balas bertanya, ―Maksud ketua menolong salah seorang dari mereka untuk memenangkan pertarungan ini?‖
―Bukan… bukan begitu… sejak kekalahan Saudara Bai Shixian, aku sudah merasa sangat menyesal. Seharusnya pertarungan yang terjadi, tidak perlu terjadi sampai saling melukai apalagi mengorbankan nyawa. Aku hanya berpikir, jika kalah dan menang sudah jelas, lalu aku ikut campur hanya untuk menyelamatkan nyawa seseorang, apakah bisa dianggap mengganggu jalannya pertandingan?‖, jawab Ding Tao menjelaskan.
Liu Chuncao dan Ma Songquan saling berpandangan, kemudian Liu Chuncao menjawab, ―Jika demikian halnya
1981
kurasa tidak akan dianggap demikian. Asalkan pihak yang kalah tidak menggunakan kesempatan itu untuk melukai yang seharusnya memenangi pertandingan.‖
―Hmm… benar juga… tapi kurasa jika waktunya tepat, aku bisa memastikan hal itu tidak terjadi.‖, gumam Ding Tao.
―Selain itu, ketua juga harus memastikan agar keadaannya benar-benar tepat. Jika ada keraguan tentang siapa yang seharusnya menang dan siapa yang seharusnya kalah, maka bisa jadi pihak yang kalah akan mengelak dari kenyataan dan melanjutkan pertarungan. Padahal menang dan kalah, terkadang hanya sebatas rambut. Yang kalah di satu saat, bisa jadi menang bila diberi kesempatan beberapa jurus lebih banyak. Jika demikian yang terjadi, banyak orang akan menyalahkan ikut campurnya ketua dalam pertarungan itu.‖, Liu Chuncao buru-buru menjelaskan.
Ding Tao mengerutkan alis dan berpikir, ―Hmmm… tidak mudah juga ya…‖
―Menurut ketua sendiri siapa yang akan kalah dalam pertarungan ini?‖, tanya Ma Songquan.
1982
―Menurutku Saudara Lu Jingyun yang akan kalah dalam pertarungan ini dan jika aku tidak ikut campur untuk menahan serangan terakhir Saudara Ximen Lisi, maka kalaupun tidak mati, tentu Saudara Lu Jingyun akan cacat seumur hidup.‖, jawab Ding Tao dengan yakin.
Para pengikutnya yang mendengar perkataan Ding Tao itu, tidak ada yang meragukan pendapatnya. Ada juga pihak luar yang mendengar ucapan Ding Tao, mereka ini pun mulai berbisik-bisik membicarakan dugaan Ding Tao dan juga keinginan calon Wulin Mengzhu yang satu ini.
Lei Jianfeng yang akhirnya mendengar juga apa yang dikatakan orang mengenai pembicaraan antara Ding Tao dan pengikutnya, meludah ke atas tanah dan bergumam, ―Dasar, bocah kecil yang sok suci.‖
―Ketua, jika boleh tahu apa alasan sebenarnya sehingga ketua ingin menyelamatkan Lu Jingyun?‖, tanya Ma Songquan.
Ding Tao terdiam sejenak sebelum menjawab, ―Sejak aku secara tidak sengaja membuat Saudara Bai Shixian terluka parah, hatiku sudah merasa terganggu. Bagaimana pun juga, kami sebenarnya tidak memiliki permusuhan apa-apa.
1983
Demikian juga saat melihat Saudara Deng Songyan harus mengalami cedera yang sedemikian berat, hingga kemungkinan besar untuk selanjutnya dia menjadi orang yang cacat. Akhirnya aku pun merasa, seandainya bisa, aku harus berusaha agar tidak jatuh lebih banyak korban dari saudara segolongan sendiri.‖
Sekali lagi para pengikut Ding Tao saling berpandangan, tiba-tiba Wang Xiaho tersenyum lebar. Orang tua itu menepuk perlahan bahu Ding Tao dan berkata, ―Jika demikian pandangan ketua, maka lakukan saja apa yang ketua pandang benar. Kami semua akan berdiri di belakang ketua.‖
Ding Tao pun menoleh ke belakang dan di sana dilihatnya wajah-wajah bersahabat. Seluruh dunia persilatan boleh saja menyumpahi Ding Tao dan mempertanyakan ketulusannya. Namun orang-orang ini percaya penuh pada dirinya dan siap untuk berdiri di sampingnya saat kesulitan datang. Dengan sendirinya Ding Tao merasakan keragu-raguan yang sempat menguasai dirinya lenyap, oemuda itu balas tersenyum dan kembali memperhatikan pertarungan yang sedang terjadi di depannya dengan cermat. Ding Tao sudah mengambil keputusan, mulai saat ini dia akan berusaha agar tidak ada korban lain yang jatuh dalam pemilihan Wulin Mengzhu ini.
1984
Mereka yang mendengar perhitungan Ding Tao tentang jalannya pertarungan, awalnya banyak yang tidak percaya dengan pendapat Ding Tao. Tapi setelah puluhan jurus berlalu, terbukti Ding Tao dengan tepat memperhitungkan jalannya pertarungan. Lu Jingyun yang dipaksa untuk bergerak dalam wilayah yang lebih luas, perlahan-lahan mulai menurun kecepatannya. Seandainya Lu Jingyun bisa menggunakan kecepatannya untuk menyarangkan satu atau dua serangan, mungkin dia bisa memenangkan pertarungan ini. Namun Ximen Lisi bisa menutupi kelemahannya dalam hal kecepatan dengan pertahanan yang rapat dan pembacaan keadaan yang tepat. Sementara Lu Jingyun hanya memiliki kecepatan saja, saat kecepatannya mulai menurun, Ximen Lisi sudah bersiap untuk kembali menyerang.
Beberapa belas jurus kembali berlalu dan saat itu pun tiba. Dengan susah payah Lu Jingyun berusaha menghindari serangan Ximen Lisi yang mencecarnya tanpa jeda. Ding Tao semakin waspada, matanya dengan tajam mengawasi jalannya pertarungan.
Dalam hati Ding Tao berharap Lu Jingyun menyerah seperti apa yang dilakukan Shan Zhengqi saat menyadari dirinya tidak mungkin menang melawan Tong Baidun. Apalagi di awal
1985
pertandingan Lu Jingyun sudah mengatakan akan melarikan diri seandainya dia tidak tahu tidak bisa memenangkan pertarungan ini. Namun berbeda dengan apa yang dia katakan di awal pertandingan, jelas Lu Jingyun tidak berniat untuk menyerah sebelum dia tergeletak tak berdaya.
Peluh sudah membasahi sekujur tubuh Lu Jingyun, namun Lu Jingyun tetap tidak menyerah. Sesekali dia bahkan berusaha untuk menyerang Ximen Lisi, meskipun untuk melakukan hal itu dia harus mengambil resiko yang tidak kecil. Luka-luka pun mulai menghiasi tubuh Lu Jingyun.
―Hehe, apakah ini belum waktunya untuk melarikan diri? Atau kau sudah kehabisan tenaga untuk lari?‖, ejek Ximen Lisi.
Merah wajah Lu Jingyun, tiba-tiba dia menggeram dan melemparkan sebuah pisau pendeknya ke arah Ximen Lisi. Sebilah pisau itu pun berkelebat cepat menyambar Ximen Lisi dengan suara mendengung. Serangan Lu Jingyun itu sedikit di luar dugaan tapi tidak membuat Ximen Lisi kehilangan pengamatan. Dengan cepat Ximen Lisi menggeser tubuhnya untuk menghindar sambil menarik balik serangan goloknya untuk berjaga. Seperti yang sudah dia duga di saat dia bergerak menghindar, Lu Jingyun melepaskan pisau kedua.
1986
Pisau kedua ini berkelebat jauh lebih cepat daripada serangan yang pertama, jelas serangan yang pertama hanya berfungsi untuk memancing gerakan lawan dan serangan kedua bertujuan sebagai serangan yang sesungguhnya. Banyak penonton yang terkejut melihat serangan Lu Jingyun ini, lontaran Lu Jingyun tidak di bawah serangan Tong Baidun.
Selamanya Lu Jingyun lebih banyak mengandalkan kecepatannya dan berkelahi dengan tangan kosong. Jika dia merasa tidak bisa menang, dia pun akan lari tanpa memikirkan apa ucapan orang.
Entah mengapa kali ini terihat berbeda, bahkan Lu Jingyun sampai menggunakan jurus serangan simpanannya. Tapi yang dia hadapi adalah Ximen Lisi yang tidak pernah kehilangan kewaspadaan. Serangan putus asa Lu Jingyun dengan mudah dihindarkan, bahkan karena Ximen Lisi sudah bersiap maka begitu goloknya berhasil menangkis serangan pisau kedua, golok itu dengan cepat berbalik arah menyambar ke arah Lu Jingyun yang sekarang harus bertarung tanpa senjata.
―Lu Jingyun menyerahlah!‖, seru Ximen Lisi tanpa memperlambat sedikit pun ayunan goloknya.
1987
―Sampai mati aku tidak akan menyerah padamu!‖, seru Lu Jingyun sambil melemparkan diri ke belakang, menghindari ayunan golok Ximen Lisi.
Ximen Lisi tentu saja tidak membiarkan Lu Jingyun lepas begitu saja, tubuhnya meluncur ke depan, memburu Lu Jingyun yang berusaha mengelak dari serangan Ximen Lisi yang bertubi-tubi. Di saat-saat yang genting ini, semangat Lu Jingyun ikut terbangkit, entah oleh kemarahannya pada ejekan Ximen Lisi atau oleh naluri bertahan hidup yang dia miliki. Lu Jingyun kembali bergerak dengan cepat, entah dari mana sepasang pisau pendek kembali berada di tangannya. Lu Jingyun yang bangkit semangatnya ini berani menyerang dengan mengorbankan diri sendiri. Luka-luka di tubuhnya seperti tidak dia rasakan. Ximen Lisi pun dipaksa untuk berhati-hati dalam menyerang dan tidak melupakan pertahanan.
Sebenarnya jika Ximen Lisi mau dia bisa saja menyudahi pertarungan ini lebih cepat, tapi dengan mengambil resiko terluka pula oleh serangan Lu Jingyun. Melihat serangan Lu Jingyun yang membabi buta, justru membuat Ximen Lisi waspada. Dia sadar, kalaupun dia menang melawan Lu Jingyun, jika dia mendapat kemenangan itu dengan sebuah luka berat di tubuhnya, itu sama artinya dia harus melupakan
1988
kedudukan Wulin Mengzhu karena Lei Jianfeng yang akan dia hadapi di babak berikutnya bukanlah lawan yang mudah. Sebaliknya Lu Jingyun juga memperhitungkan hal ini dan dengan beraninya mengambil resiko. Pendek kata, sekalipun Ximen Lisi berhasil menabas putus lehernya, setidaknya dia masih bisa menyarangkan sepasang pisaunya dalam-dalam ke tubuh Ximen Lisi. Sekarang nyawanya boleh saja melayang, tapi dengan luka yang didapatkan, nyawa Ximen Lisi sama saja tinggal menunggu giliran berikutnya, saat dia berhadapan dengan Lei Jianfeng.
Itu sebabnya pertarungan yang seharusnya bisa dimenangkan dengan mudah oleh Ximen Lisi, menjadi pertarungan yang lebih panjang dan sukar. Di lain pihak, melihat kenekatan Lu Jingyun, adalah Ding Tao yang jadi semakin berdebar-debar. Seluruh syarafnya sudah menegang, tidak ubahnya dia sendiri yang sedang bertarung di atas panggung.
Meskipun demikian, perlahan-lahan Ximen Lisi kembali mendapatkan posisi yang lebih baik. Setinggi apa pun semangat Lu Jingyun, kekuatan tubuhnya tetap saja terbatas. Tapi perlawanan Lu Jingyun yang penuh semangat membuahkan hasil, meskipun tidak bisa dikatakan seimbang dengan pengorbanan nyawa. Selain dia berhasil banyak
1989
menguras tenaga Ximen Lisi, beberapa luka sudah menghiasi lengan Ximen Lisi. Luka goresan pisau Lu Jingyun itu sendiri tak terlampau dalam dan berbahaya, namun luka tersebut tidak ubahnya sebuah corengan di atas gemerlapnya reputasi Ximen Lisi. Setidaknya dalam benak Ximen Lisi sendiri, karena itu dengan hati panas Ximen Lisi pun bertekad untuk membasuh rasa malu dan kesalnya dengan darah Lu Jingyun.
Dalam sebuah serangan Lu Jingyun dipaksa untuk melompat mundur bergulingan di atas panggung. Ximen Lisi yang tidak sempat melompat mengejar, menimpukkan goloknya. Goloknya pun berkelebat cepat, menjadi bayangan hitam yang melesat cepat ke arah Lu Jingyun.
Dengan sekuat tenaga, Lu Jingyun menjejakkan kaki untuk mengubah arah gerak tubuhnya yang sedang meluncur ke belakang. Golok Ximen Lisi pun gagal menembusi tubuh Lu Jingyun dan melaju tipis di sisi kiri Lu Jingyun. Dengan kedudukan yang masih goyah, Lu Jingyun menggunakan kesempatan yang langka itu untuk menerjang Ximen Lisi yang tidak bersenjata. Kesempatan tidak akan datang dua kali, Lu Jingyun yang sadar dirinya sudah mulai kehabisan tenaga tidak memiliki kesempatan kedua. Dengan pemikiran itu, Lu Jingyun pun mengerahkan seluruh sisa tenaga yang dia miliki untuk
1990
menyerang Ximen Lisi. Tubuhnya melesat cepat ke depan, dengan pisau di tangan siap diayunkan.
Di luar dugaan setiap orang, golok yang sudah melaju, melewati tubuh Lu Jingyun, tiba-tiba berputar dan sekarang mengancam punggung Lu Jingyun yang terbuka lebar.
Lu Jingyun yang merasakan desiran angin di belakang tubuhnya, tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya melaju terlampau cepat ke depan, dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengubah arah. Satu-satunya yang dia harapkan adalah dia bisa maju lebih cepat dari sambaran golok yang datang dari belakang. Ingin mengerahkan lebih banyak tenaga untuk mempercepat luncuran tubuhnya ke depan pun sudah tidak bisa. Lu Jingyun hanya bisa pasrah pada nasib saja.
Tubuh Lu Jingyun meluncur cepat ke depan. Golok Ximen Lisi yang dengan ajaibnya berubah arah dan sedang bergerak hendak menabas tubuh Lu Jingyun juga bergerak dengan cepat. Hanya Ximen Lisi tidak juga beranjak dari tempatnya.
Di saat yang sama seorang yang lain dari luar panggun berkelebat dengan cepat mendekat ke arah dua orang yang sedang bertarung. Sebuah percikan bunga api, sebuah denting
1991
dan suara logam beradu, suara teriakan pedih seorang yang terluka. Setiap kejadian berlangsung dengan sangat cepat, terasa seperti bersamaan meskipun bukan bersamaan.
Saat semuanya berhenti bergerak yang mereka lihat adalah Ding Tao yang berdiri dengan tangan menghunus pedang. Sebuah potongan golok yang terlempar di atas lantai panggung dan sedang berputar-putar, terguling-guling tak tentu arah sebelum akhirnya diam. Lu Jingyun yang berlutut dengan punggung sobek oleh golok Ximen Lisi yang sekarang sudah kutung separuh lebih. Dan Ximen Lisi yang memandangi Ding Tao dengan pandangan yang berapi-api.
Ketika mereka semua diam, barulah mereka yang ada di baris terdepan dan memiliki mata yang tajam, melihat seuntai rantai tipis yang terikat di pergelangan tangan Ximen Lisi, rantai yang terus terulur dan menjuntai ke arah potongan golok yang baru saja melukai punggung Lu Jingyun. Rupanya gagang golok Ximen Lixi menyimpan segulung rantai atau benang tipis yang kuat, pada saat Ximen Lisi melemparkan goloknya ke arah Lu Jingyun, seutas rantai itu masih menghubungkan golok dengan pemiliknya. Saat Lu Jingyun berhasil menghindari golok, Ximen Lisi menendang rantai tipis itu, menciptakan sebuah poros di tengah rantai yang terentang. Golok pun sekarang bergerak
1992
berputar ke arah Lu Jingyun dengan kaki Ximen Lisi yang menahan rantai sebagai pusatnya.
Melihat dari keadaannya, jika Ding Tao tidak menyerbu masuk dan memotong golok Ximen Lisi, sudah tentu sekarang ini tubuh Lu Jingyun sudah tertabas menjadi dua buah potong. Golok yang sudah kutung itu saja, masih sempat melukai punggung Ximen Lisi cukup dalam.
Dengan cekatan bhiksu tua yang bertugas mengobati mereka yang cedera dalam pertandingan, sudah berada di atas panggung bersama dengan dua bhiksu muda yang bertugas untuk membantunya.
―Tuan…, bagaimana keadaannya?‖, tanya Ding Tao dengan khawatir.
Bhiksu tua itu menyelesaikan pekerjaannya, membersihkan luka dan memeriksa keadaan Lu Jingyun sebelum menjawab, ―Syukurlah, berkat pertolongan Ketua Ding Tao, Tuan Lu Jingyun tidak menderita satu luka yang membahayakan jiwanya. Maju sedikit lagi, tentu tulang belakangnya akan terluka oleh golok Tuan Ximen Lisi dan untuk seterusnya dia akan menjadi orang cacat.‖
1993
―Ketua Ding Tao, apakah perbuatanmu ini tidak keterlaluan?‖, tanya Ximen Lisi dengan dingin.
Perhatian Ding Tao yang sebelumnya lebih tertuju pada Lu Jingyun yang terluka pun, teralihkan ke arah Ximen Lisi, ―Ah…, maafkan aku Saudara Ximen Lisi, tapi kukira, tindakanku ini tidak merugikan siapa-siapa. Soal siapa menang dan siapa kalah, kukira semuanya sudah jelas. Saudara Lu Jingyun pun tentu akan mengakui kekalahannya. Aku hanya sekedar mencegah agar tidak ada korban yang jatuh lagi.‖
―Hmm… bukankah kita semua sudah biasa mempertaruhkan nyawa? Yang naik ke atas panggung ini sudah sadar akan resikonya. Mengapa Ketua Ding Tao merasa perlu untuk menyusahkan diri, bertindak seakan-akan diri sendiri yang paling benar dan berlagak sok suci?‖, tegur Ximen lisi dengan ketusnya.
Jantungnya berdebaran oleh kemarahan, wajah Ding Tao pun memerah mendengar teguran Ximen Lisi yang dilakukan di hadapan orang banyak, ―Saudara Ximen Lisi, terserah apa penilaianmu terhadap perbuatanku, tapi jelas apa yang kulakukan tidak merugikan dirimu. Jadi dengan alasan apa kau
1994
menegurku? Apakah lebih baik, jika sesama saudara segolongan saling membunuh dan mencederai?‖
―Bagaimana dengan dirimu sendiri? Bukankah kau sudah membunuh lawanmu di babak pertama? Apakah nyawa Lu Jingyun lebih berharga dari nyawa Bai Shixian?‖, tanya Ximen Lisi tidak mau mengalah.
Sambil menggertakkan gigi Ding Tao menjawab, ―Hati-hati dengan ucapanmu Ximen Lisi. Nyawa mereka berdua kupandang sama berharganya, apa yang terjadi pada Saudara Bai Shixian membuatku sangat menyesal. Seandainya ada yang bisa menghentikan seranganku pada waktunya, sehingga Saudara Bai Shixian bisa terhindar dari seranganku, aku akan sangat berterima kasih pada orang tersebut. Justru kau yang haus darah ini yang membuatku muak.‖
―Tapi tindakanmu sudah merugikanku‖, kata Ximen Lisi.
―Apa maksudmu?‖, tanya Ding Tao penasaran.
Ximen Lisi menunjuk pada kutungan goloknya, ―kau sudah mengutungkan senjata yang kupercaya. Setiap pendekar yang berlatih menggunakan senjata tentu tahu, senjata yang sudah dipakai selama bertahun-tahun, tidak ubahnya seperti anggota
1995
badan sendiri. Berat senjata, jangkauannya, kekuatannya, setiap aspek dari senjata itu sudah begitu kita kenal sehingga dengan demikian kita bisa menggunakan senjata itu dan mengembangkan jurus yang kita miliki dengan semaksimal mungkin. Sekarang kau sudah mengutungkan golokku, jika nanti aku harus bertarung dengan senjata yang lain, bukankah kerugian ada di pihakku?‖
Ding Tao merasa bahwa Ximen Lisi hanya mengumbar kata-kata kosong, Ximen Lisi dikenal sebagai seorang pendekar yang bisa menggunakan segala jenis senjata tanpa pernah menggunakan senjata khusus tertentu. Namun Ding Tao juga tidak berani memastikan bahwa Ximen Lisi hanya berbohong saja. Lagipula Ding Tao juga tahu, seperti apa rasanya memiliki senjata yang baik dan sudah dikenal.
Tidak ingin menuduh orang sembarangan namun juga merasa orang sedang bermain kata-kata saja, akhirnya Ding Tao hanya bisa mengeraskan hati dan bertanya, ―Baiklah, tapi hal itu sudah terjadi, lalu apa maumu?‖
Ximen Lisi tersenyum mengejek dan berkata, ―Tidak ada yang bisa kau lakukan, golok sudah terpotong jadi dua, dalam waktu yang singkat ini mana bisa dikembalikan seperti semula. Jelas
1996
sangat merugikanku saat babak kedua melawan Saudara Lei Jianfeng nanti.‖
Ximen lIsi sengaja terdiam sejenak seperti sedang berpikir, kemudian dia menambahkan, ―Tapi setidaknya ada satu hal yang bisa kaulakukan.‖
―Apa itu?‖, tanya Ding Tao.
―Bila aku beruntung bisa lolos ke babak selanjutnya, kemudian kita harus saling berhadapan di babak terakhir, kau bisa membuat keadaan sedikit lebih berimbang bila kau berjanji untuk tidak menggunakan pedangmu itu. Aku tanpa golok kepercayaanku dan kau tanpa pedang andalanmu. Bagaimana?‖, tanya Ximen Lisi pada Ding Tao.
―Huh! Tipuan anak kecil, Ketua Ding Tao jangan termakan oleh ucapannya!‖, sergah Tang Xiong sambil melompat ke depan menjajari Ding Tao.
Rupanya Tang Xiong sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan Ximen Lisi. Lagipula mereka semua merasa ucapan itu terlalu mengada-ada. Jelas tujuan utama Ximen Lisi adalah menghalangi Ding Tao untuk menggunakan pedang pusaka yang dia bawa. Setiap orang bisa melihat bahwa pedang Ding
1997
Tao bukanlah pedang sembarangan. Jika tidak mana mungkin golok yang tebal dan berat bisa dipotong hingga putus. Selain itu, kabar burung tentang munculnya pedang angin berbisik di tangan Ding Tao masih diingat banyak orang. Tang Xiong yang khawatir Ding Tao termakan oleh ocehan lawan, segera maju ke depan untuk mengingatkan, tapi Ding Tao mengangkat tangannya, memberi tanda agar Tang Xiong dan yang lain diam.
―Aku terima syaratmu itu.‖, jawab Ding Tao dengan tegas.
―Ketua Ding Tao?‖, seru Tang Xiong penasaran.
Lu Jingyun yang sudah selesai dirawat dan ikut mendengarkan pembicaraan mereka pun berseru, ―Saudara Ding Tao!‖
Tapi Ding Tao mengangkat tangannya, meminta mereka semua diam dan sekali lagi menegaskan, ―Jika kau bisa lolos ke babak selanjutnya dan aku pun beruntung bisa lolos, sehingga kita saling berhadapan, aku akan menghadapimu dengan menggunakan pedang lain dan bukan dengan pedang andalanku ini. Apakah kau sudah puas?‖
1998
Ximen Lisi mengangguk puas dan menjawab, ―Bagus, tidak salah kabar yang mengatakan bahwa Ketua Ding Tao adalah seorang lelaki sejati. Aku percaya pada janjimu.‖
Di tempat duduknya Lei Jianfeng memandangi Ximen Lisi yang berjalan kembali ke kursinya dengan amarah yang menyala-nyala. Harga dirinya tersinggung karena Ximen Lisi sudah berani membicarakan babak selanjutnya, seakan-akan dia pasti menang melawan Lei Jianfeng. Ding Tao sendiri sudah mengalihkan perhatiannya pada Lu Jingyun.
―Saudara Lu Jingyun, bagaimana keadaanmu?‖, tanyanya dengan perhatian yang tulus.
Lu Jingyun tersenyum kecut dan menjawab, ―Heheheh, kalau bukan karena pertolongan Ketua Ding Tao tentu aku sudah tinggal nama sekarang ini. Entah, apakah ada sesuatu yang Ketua Ding Tao inginkan dariku?‖
Cepat-cepat Ding Tao menggelengkan kepala, ―Tidak ada, tentu saja tidak ada. Asalkan Saudara Lu Jingyun baik-baik saja, hal itu sudah membuatku senang. Sungguh aku menyesali jatuhnya pendekar-pendekar hebat dalam
1999
pertandingan kali ini. Tidak ada maksud lain kecuali berusaha mencegah jatuhnya lebih banyak korban lagi.‖
Lu Jingyun menganggukkan kepala, namun terlihat tidak sepenuhnya percaya pada Ding Tao, ―Ah… begitu rupanya... Tidak salah jika Ximen Lisi memanggilmu lelaki sejati. Kalau begitu aku pamit lebih dulu, aku ingin mengistirahatkan tubuhku yang sedang terluka ini.‖
Ding Tao pun buru-buru memberi jalan pada Lu Jingyun yang berjalan pergi sambil dibantu dengan seorang bhiksu muda dari Shaolin. Tidak seperti Lu Jingyun, bhiksu tua yang sebelumnya juga sempat mengobati Ding Tao, tampaknya menaruh kepercayaan pada pemuda itu.
―Tuan, baik sekali apa yang tuan lakukam barusan. Kuharap tuan tidak menjadi kecil hati dengan tanggapan orang yang bermacam-macam.‖, ujar bhiksu tua itu.
Ding Tao pun mengangguk dengan sopan dan menjawab, ―Sudah kupikirkan masak-masak apa yang tuan bhiksu katakan. Bukankah sekarang ini yang bisa kita lakukan hanya berusaha mengurangi jumlah korban semampu kita. Tuan bhiksu dengan
2000
kemampuan tuan dalam hal pengobatan dan aku dengan sedikit kepandaian yang kumiliki.‖
Bhiksu tua itu tersenyum senang, ―Baguslah kalau tuan berpandangan seperti itu. Perlu tuan ketahui, jatuhnya korban juga membuat sedih ketua kami dan sahabat ketua kami Pendeta Chongxan. Namun sebagai penyelenggara pertandingan ini, tangan mereka lebih banyak terbelenggu dengan berbagai kesulitan. Lepas dari itu semua, apa yang tuan lakukan mendapat dukungan dari mereka, meskipun hanya dalam hati saja.‖
Selesai menyampaikan itu, bhiksu tua itu pun pergi kembali ke tempatnya, meninggalkan Ding Tao yang termangu beberapa saat lamanya. Pandang mata Ding Tao pun melayang ke arah Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Kedua orang tokoh besar itu dengan samar menganggukkan kepala mereka begitu tatapan mata mereka saling bertemu. Dengan hati yang lega dan bersemangat, Ding Tao membungkukkan badan, memberikan hormat pada mereka sekalian yang duduk berdampingan, ke arah para pimpinan enam perguruan besar. Saat dia kembali untuk duduk di kursinya, nyeri di lengan kirinya pun jadi terlupakan untuk sesaat lamanya.
2001
Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena baru saja dia duduk, seorang bhiksu Shaolin yang bertugas membacakan jalannya pertandingan sudah maju ke depan dan mengumumkan hasil pertandingan di babak pertama dan pertandingan yang akan diadakan berikutnya.
Siapa lagi jika bukan Ding Tao dan Tong Baidun.
Selesai nama mereka dipanggil, keduanya pun tidak membuang waktu untuk maju ke atas panggung. Tong Baidun tanpa malu-malu atau ragu, menggunakan taktik yang sama yang dia pakai saat melawan Shan Zhengqi. Begitu dia merasa jarak paling optimal antara dirinya dan Ding Tao tercapai, dia pun merangkapkan tangan di depan dada dan mengucapkan salam. Menurut hemat setiap oragn, Ding Tao yang sudah menyaksikan jalannya pertarungan antara Tong Baidun dan Shan Zhengqi tidak perlu terjebak dalam jebakan yang sama. Maju saja berjalan, beberapa langkah lebih dekat, sebelum membalas salam Tong Baidun.
Tapi tentu saja bukan Ding Tao namanya jika dia melakukan hal itu. Sejak kehadirannya dalam dunia persilatan, apa yang dia lakukan seringkali berada di luar perhitungan orang pada umumnya. Dalam hal ini ada kemiripan antara Ding Tao dan Lu
2002
Jingyun, apa yang hendak dia lakukan akan dia lakukan. Bedanya Lu Jingyun hanya menuruti keinginan hatinya, sedangkan Ding Tao berusaha mengikuti prinsip yang dia yakini bukan apa yang dia ingini. Jika dia yakin itu benar, maka dia akan melakukannya tanpa memperhitungkan pendapat banyak orang. Demikian juga sekarang, jika orang lain memberi salam, sudah selayaknya dia membalas salam orang itu. Jadi itu pula yang dilakukan Ding Tao, meskipun sekarang dia harus menghadapi masalah yang sama yang dihadapi Shan Zhengqi.
Di lain pihak, bisa dikatakan seandainya saat itu bukan Ding Tao yang berhadapan dengan Tong Baidun, orang itu tetap saja akan melakukan hal yang sama. Anggap saja Lei Jianfeng yang berhadapan dengan Tong Baidun, masakan dia mau mengakui ketakutannya pada senjata rahasia Tong Baidun? Jika dia tidak segera membalas salam dari Tong Baidun dan berusaha memperpendek jarak antara dirinya dengan Tong Baidun sebelum pertarungan dimulai, bukankah itu artinya dia sudah mengakui keunggulan lawan?
Dengan demikian pertanyaannya bukan pada mengapa Ding Tao membalas salam Tong Baidun meskipun dia sudah tahu hal itu akan merugikannya. Pertanyaannya sekarang adalah, dengan cara bagaimana Ding Tao hendak mengubah
2003
kedudukan yang merugikannya itu, sehingga dia bisa meraih kemenangan.
Kedua jagoan itu pun berdiri dengan tenang, saling berhadapan dengan seluruh panca indera dikerahkan untuk menangkap gerakan lawan dan keadaan di sekitarnya. Pernafasan Ding Tao dan Tong Baidun sama-sama masih teratur dan tidak terganggu dengan ketegangan yang semakin memuncak. Keadaan tubuh mereka bisa dikatakan rileks dan waspada di saat yang bersamaan. Ding Tao tidak ingin membuat tubuhnya terlalu tegang dengan terlalu bersiap sedia terhadap serangan lawan. Seperti busur yang direntangkan penuh, jika anak panah tidak segera dilepaskan maka tangan pun akan mulai pegal dan kewaspadaan akan terganggu. Yang terbaik adalah dalam keadaan siap namun rileks, perubahan dari diam jadi bergerak hanya dalam hitungan kejapan mata.
Tong Baidun sadar, lawan di hadapannya tidak sama seperti lawan yang sebelumnya. Dalam hal menjaga agar syaraf tidak terlalu tegang, meskipun tetap waspada, Tong Baidun memiliki keuntungan. Dia dapat menyerang lawan sementara lawan tidak mungkin menyerang dia tanpa mendekat terlebih dahulu.
2004
Dengan keyakinan seperti ini, tentu saja lebih mudah bagi Tong Baidun untuk tetap rileks sambil menunggu lawan melakukan kesalahan.
Entah sudah berapa helaan nafas berlangsung dan keduanya masih saja berdiri dalam diam, saling berhadapan. Tidak terlihat tanda-tanda akan ada yang bergerak lebih dulu. Kali ini tidak ada suara-suara yang mengeluhkan pertandingan yang membosankan itu. Masih segar dalam ingatan mereka nasib dari Bi Yonggi yang tidak bisa menjaga lidahnya. Adu kesabaran, adu kekuatan psikis dan mental, keduanya saling bertatapan dan mengamati lawan, tanpa melakukan gerakan. Tong Baidun dengan mata elangnya, melihat bagaimana nafas Ding Tao tidak juga berubah iramanya. Otot-otot di badannya tidak sedikitpun menunjukkan keseimbangannya terganggu. Memikirkan hal itu, Tong Baidun sempat tergoncang perasaannya untuk beberapa kejap.
Yang sekejap itu tidak lepas dari pengamatan Ding Tao, dalam sekejap itu Ding Tao menggeser kedudukannya maju beberapa langkah. Ding Tao tidak melompat dalam satu lompatan yang besar, dia bergerak dengan cepat tapi dengan langkah yang pendek-pendek, sehingga setiap saat dia bisa mengubah arah gerakannya dengan cepat. Kelemahannya dia tidak bisa
2005
menutup jarak yang jauh itu secepat apabila dia melakukannya dalam satu kali lompatan.
Di lain pihak, Tong Baidun yang tadi terguncang perasaannya, tidak berada dalam keadaan yang siap untuk menyerang saat Ding Tao mulai bergerak. Hal itu membuat dia semakin gugup dan tidak sempat berpikir untuk mengamati gerakan Ding Tao dan memilih waktu yang tepat untuk menyerang. Demi menjaga agar jarak di antara mereka berdua tetap sama, Tong Baidun pun menyurut mundur beberapa langkah.
Tapi Tong Baidun bukan baru kali ini berhadapan dengan tokoh besar dalam dunia persilatan. Menyadari kesalahannya, Tong Baidun pun berusaha menguasai kembali perasaannya secepat mungkin. Ding Tao yang tidak pernah melepaskan pengawasannya bisa melihat perubahan di ekspresi wajah dengan gerak-gerik Tong Baidun. Saat Tong Baidun kembali mendapatkan kendali atas dirinya, selarik cahaya hitam melesat cepat mengarah ke bagian tubuh Ding Tao yang terdekat, yaitu ke arah lutut Ding Tao yang sedang bergerak ke depan. Tidak kalah cepat Ding Tao menggerakkan pedang yang masih berada dalam sarungnya untuk menangkis serangan tersebut.
2006
4 kali serangan susul menyusul dilepaskan Tong Baidun, memaksa Ding Tao untuk berhenti bergerak. Meskipun tidak satupun serangan Tong Baidun mengenai sasaran, setidaknya serangan itu membantu Tong Baidun untuk meneguhkan kembali kedudukannya.
Untuk beberapa lama mereka pun kembali berdiri diam dan saling mengamati. Beberapa orang penonton tanpa sadar mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya keluar kuat-kuat.
―Ah… dasar sialan, membuat jantungku jadi berdebaran begini.‖, gerutu salah seorang dari mereka.
Ya, tontonan kali ini bukan hanya membosankan tapi juga teramat sangat membuat orang menderita. Menunggu bosan, tapi jika perhatian mereka teralihkan sedikit saja, bisa jadi pada saat itu akan terjadi gebrakan yang paling menentukan hasil pertarungan ini. Sehingga yang menyaksikan pertarungan itu dipaksa untuk beradu konsentrasi, kesabaran dan ketenangan dengan dua petarung yang berada di atas panggung.
2007
Mereka yang masih lemah pengendalian dirinya dengan cepat kehilangan fokus dan butuh waktu lama untuk bisa kembali mengikuti pertarungan itu dengan sabar.
Salah satunya adalah Sun Gao yang masih muda, anak muda itu menggerutu dengan suara perlahan. ―Mengapa juga Ketua Ding Tao tidak menggunakan saja ilmu barunya, dengan begitu pertarungan akan jadi lebih seru dan selesai dalam waktu yang singkat.‖
Ayahnya yang mendengar keluhan itu tertawa kecil dan menjawab, ―Kenapa kau hilang kesabaran? Ketua Ding Tao yang berhadapan dengan orang bermarga Tong sendiri saja masih bisa sabar. Gunakan kesempatan ini untuk melatih kesabaranmu, teladanilah Ketua Ding Tao, dari segi umur dia seumuran denganmu, namun kesabaran dan ketenangannya sudah jauh melampaui dirimu.‖
Qin Bai Yun yang ikut mendengar teguran Sun Liang pada Sun Gao, menyeringai pada temannya itu, dia pun berbisik pada Sun Gao, ―Rasakan kau.‖
―Sialan‖, gerutu Sun gai sambil memukul pundak sahabatnya itu.
2008
Di atas panggung, rupanya justru Tong Baidun yang terlebih dahulu habis kesabarannya. Melihat ketenangan Ding Tao dan belajar dari kesalahan sebelumnya, akhirnya Tong Baidun sampai pada kesimpulan bahwa dia harus memaksa Ding Tao bergerak terlebih dahulu dan menunggu Ding Tao membuat kesalahan. Setelah sampai pada kesimpulan itu pun, dia segera bersiap. Meskipun dari luar tidak terlihat ada pergerakan, mau tidak mau, hawa pembunuh itu terasa keluar dari tubuh Tong Baidun. Dari sini bisa dilihat seberapa tinggi tingkat kepandaian Tong Baidun. Semakin menanjak kekuatan dan semangat seseorang, semakin cepat terasa dan semakin menekan semangat yang timbul dari kesiapan mereka untuk menyerang. Namun di tingkat-tingkat yang tertinggi, justru keinginan itu tidak bisa dirasakan oleh lawan.
Jika Ding Tao orang awam, bisa jadi dia mengkerut ketakutan oleh tekanan semangat lawan, tapi dia sudah pernah menghadapi lawan yang lebih mengerikan dari Tong Baidun. Hawa pembunuh yang memancara dari Tong Baidun hanya jadi pertanda bagi Ding Tao untuk bersiap-siap dan meningkatkan kewaspadaan. Mereka yang menyaksikan dan berilmu cukup tinggi juga bisa merasakan adanya perubahan situasi di atas panggung, dengan sendirinya tubuh mereka menegak dan
2009
jantung mereka berdebar sedikit lebih cepat, mengantisipasi badai serangan yang akan segera mereka saksikan, bahkan mungkin juga akan ada beberapa senjata lontar yang berkunjung ke tempat mereka duduk menonton.
Benar saja, begitu Tong Baidun selesai mengumpulkan hawa murni dan sudah mapan semangatnya, segera saja belasan senjata rahasia melesat cepat ke arah Ding Tao. Benar-benar unik serangan Tong Baidun ini, tiap-tiap senjata rahasia dilemparkan dengan tenaga dan kecepatan yang berbeda-beda. Ada serangan yang sekedar memancing gerakan lawan, ada serangan yang tujuannya menutup jalan mundurnya lawan ada pula serangan yang memang ditujukan untuk melukai lawan.
Kalau dibuat contoh yang paling sederhana, Tong Baidun bisa melontarkan satu serangan yang terlihat cepat padahal lambat. Saat Ding Tao menghindar ke samping, Tong Baidun melepaskan serangan lain yang lebih cepat, sementara serangan yang pertama justru berada di belakang serangan kedua. Akibatnya, jika Ding Tao menghindari serangan yang kedua dengan kembali ke posisinya semula, dia justru akan bertemu dengan senjata rahasia Tong Baidun yang pertama kali dilepaskan. Dan semuanya itu jadi lebih rumit, karena Tong
2010
Baidun memiliki variasi serangan yang sangat beragam. Ada yang terlihat cepat tapi tiba-tiba melambat, ada yang di awalnya terlihat lambat tapi semakin lama semakin cepat, ada pula senjata yang dapat bergeser arah serangannya bahkan ada yang dapat berputar kembali menyerang Ding Tao dari belakang sesudah melewati Ding Tao dari samping.
Saat bertarung melawan Shan Zhengqi, Tong Baidun baru bermain dengan kecepatan serang senjata rahasianya untuk mengacaukan pengamatan Shan Zhengqi. Baru sekarang inilah mata setiap orang jadi terbuka, betapa mengerikannya senjata rahasia milik Tong Baidun.
Terlebih Ding Tao yang berhadapan dengan senjata-senjata Tong Baidun. Lebih sulitnya lagi, sudah menjadi pengetahuan umum, senjata rahasia milik keluarga Tong ada pula yang dilapisi dengan racun, sedikit saja luka goresan di atas tubuh sudah bisa mengakibatkan kematian. Mati-matian Ding Tao mencoba menyelamatkan diri dari serangan senjata rahasia Tong Baidun, tapi bukannya mundur, justru Ding Tao memilih untuk berusaha mendekat maju. Semakin pendek jarak antara Ding Tao dengan Tong Baidun, semakin singkat waktu yang dimiliki Ding Tao untuk menangkis atau menghindari senjata rahasia yang dilepaskan Tong Baidun. Mengingat hal itu, Tong
2011
Baidun memutuskan untuk bertahan di posisinya saat ini dan tidak menjauh dari Ding Tao yang langkah demi langkah semakin dekat dengan dirinya. Tong Baidun memilih untuk mencecar Ding Tao dengan lebih banyak serangan, kalaupun dia tidak bisa melukai Ding Tao, dia berharap bisa memaksa Ding Tao mundur.
Ketika melihat sudah sekian puluh senjata rahasia dilepaskan, tapi Ding Tao masih juga mampu berjalan mendekat ke arahnya. Keringat dingin mulai membasahi dahi Tong Baidun. Jarak mereka sudah tinggal beberapa langkah lagi. Jika Ding Tao bisa melampaui jarak itu, maka Ding Tao bisa melepaskan serangan ke arah Tong Baidun.
Tong Baidun pun bersiap untuk melompat mundur, jika Ding Tao berjalan satu langkah lagi lebih dekat. Dalam ketegangannya, Tong Baidun mengerahkan kemampuan terbaiknya dalam melepaskan senkata rahasia. Tujuh macam senjata rahasia dilepaskan dalam satu tarikan nafas, tujuh tempat terancam oleh serangan itu. Menyusul 9 macam senjata rahasia yang berbeda dilepaskan pula di tarikan nafas yang kedua, menutup jalan bagi Ding Tao untuk menghindar dari serangan yang pertama.
2012
Ding Tao pun menggertakkan gigi dan membangkitkan semangatnya, tangan kanannya berkelebatan ke atas dan ke bawah, menangkis serangan Tong Baidun. 1, 2, 3, 4 senjata rahasia berhasil ditangkisnya, namun 3 yang lain sudah terlalu dekat.
Tanpa bisa dihindari lagi, 3 senjata rahasia itu pun dengan telak mengenai tubuh Ding Tao. Dua di bahunya dan satu di punggungnya.
―Kena!‖, Tong Baidun pun bersorak, seraya melompat mundur, menjauh dari Ding Tao yan masih bergerak mengejarnya.
Sambil berhitung dalam hati, Tong Baidun berusaha lepas dari desakan Ding Tao yang berusaha memojokkan dia di sudut panggung. Ding Tao sendiri saat Tong Baidun berseru, bergerak lebih cepat dan berusaha mendesak Tong Baidun secepatnya. Jantung tiap orang berdebaran, sekarang ini pertanyaannya, siapa yang lebih cepat? Ding Tao yang hendak mengirimkan serangan maut ke arah Tong Baidun atau racun dari senjata rahasia Tong Baidun. Suasana pun jadi hening mencekam, baik pendukung Ding Tao maupun pendukung Tong Baidun tidak ada yang mampu mengeluarkan suara untuk bersorak. Bahkan mereka yang tidak mendukung keduanya
2013
pun ikut menyaksikan dengan tegang. Nyawa dua orang jagoan tingkat atas sedang berada di ujung tanduk. Apakah Ding Tao akan mati sebelum dia berhasil menyerang Tong Baidun ataukah Ding Tao akan berhasil mengajak pembunuhnya mati bersama?
10 hitungan sudah berjalan, namun tidak ada tanda-tanda Ding Tao menderita keracunan. Akhirnya Tong Baidun masuk dalam jangkauan Ding Tao dan sebuah serangan dilancarkan. Tong Baidun pun dipaksa untuk mengelak mundur, semakin terpojok di sudut panggung. Sungguh tidak masuk akal Tong Baidun, karena seharusnya sudah dua hitungan yang lalu Ding Tao terkapar di atas panggung. Tapi bukan saja pemuda itu tidak terkapar tak berdaya, bahkan dia masih menyerangnya dengan hebat
Sambil mengelak dari serangan Ding Tao yang berikutnya, hampir putus asa Tong Baidun pun menghamburkan senjata rahasianya yang paling berbisa.
Jarak mereka sudah begitu dekat, belasan biji peluru pipih dengan ujung tajam itu menyambar dengan cepat ke arah Ding Tao. Senjata ini bukan saja beracun tapi juga lebih berat daripada jarum-jarum yang ringan. Kalaupun Ding Tao kebal
2014
racun, senjata ini akan mampu menembusi otot dan uratnya dan mengakibatkan luka yang cukup parah. Dengan pedangnya yang belum dicabut, Ding Tao mengebaskan 3 senjata yang mengarah ke wajahnya, tapi 9 senjata yang lain tidak sempat dia tangkis ataupun hindari. Mata Tong Baidun menatap nyalang ke arah laju senjata rahasia yang dia lemparkan. Waktu seperti melambat dan mata Tong Baidun pun mendelik tak percaya. Pada saat senjata rahasianya hampir mengenai tubuh Ding Tao, tiba-tiba baju yang dikenakan pemuda itu seperti mengembang. 9 senjata rahasia yang melaju itu tiba-tiba melambat begitu mendekati Ding Tao dan runtuh sebelum berhasil melukai Ding Tao sedikitpun, seakan tertahan oleh tenaga yang tak terlihat.
Tercengan, tergoncang, Tong Baidun pun tak sempat mengelak saat tangan Ding Tao bergerak menghajar perutnya. Tong Baidun hanya bisa mengeluh tertahan, terhuyung mundur dengan isi perut terasa terbalik. Saat dia akhirnya bisa menegakkan badan dan menengadahkan kepala, yang terlihat adalah ujung pedang Ding Tao yang mengancam tepat di antara dua matanya.
Entah sejak kapan, Ding Tao mengempit sarung pedangnya di ketiak tangan kiri, mencabut pedangnya dan menodongkan
2015
pedang itu ke arah Tong Baidun. Jarak antara mata pedang dengan dahi Tong Baidun tidak lebih dari 1 cun. Senjata rahasia Tong Baidun boleh saja cepat, tapi sebelum dia bisa menggerakkan tangannya, dahinya sudah terlebih dahulu berlubang.
Memandang Ding Tao dengan rasa tak percaya, Tong Baidun berucap lemah, ―Aku kalah….‖
Suasana yang hening mencekam pun dengan segera pecah oleh sorak sorai para pengikut Ding Tao, diikuti oleh sorakan ragu-ragu oleh mereka yang mendukung Ding Tao namun bukan pengikut Ding Tao. Dua orang bhiksu tua yang ahli dalam hal pertabiban, melompat dengan cepat mendekati Ding Tao. Dalam bayangan mereka saat ini, pemuda itu tentu sedang mengerahkan hawa murni untuk mencegah racun merambat ke seluruh tubuhnya. Di saat yang sama, entah siapa yang memulai, tapi jelas berasal dari kelompok pengikut Ding Tao. Sebuah bisikan menyebar ke seluruh penjuru.
―Yi Cun Kai!‖
―Yi Cun Kai?‖
2016
Apa maksudnya Yi Cun Kai? Baju besi satu inci? Apa maksudnya itu?
Entah siapa yang memulai, kisah tentang Ding Tao yang berhasil mempelajari sebuah ilmu dari daratan yang jauh pun menyebar di antara orang-orang dunia persilatan yang sedang menyaksikan pemilihan Wulin Mengzhu tersebut. Karena ilmu itu sendiri sebenarnya dirahasiakan keberadaannya, sudah tentu yang pertama kali membocorkan adalah dari pengikut Ding Tao sendiri. Oleh karena perasaan gembira yang meluap, tanpa sadar sekelompok kecil mereka yang tahu, membocorkan rahasia ini pada sesama pengikut yang tidak tahu. Yang tidak tahu ini pun dengan rasa bangga yang meluap, menceritakannya pada teman dan kenalan, meskipun mereka ini bukan pengikut Partai Pedang Keadilan. Dari satu mulut ke mulut yang lain. Suasana pun dengan cepat menjadi riuh oleh suara mendengung, bisik-bisik yang terjadi hampir secara bersamaan di seluruh penjuru.
Ma Songquan hanya bisa menggelengkan kepala, ―Hehh…. Siapa lagi ini yang sudah menyebarkan cerita tentang Yi Cun Kai?‖
2017
Wang Xiaho yang masih meluap kegembiraannya menyaksikan Ding Tao menang melawan Tong Baidun tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk pundak Liu Chuncao yang berada di sampingnya, ―Hahahaha, siapa yang peduli? Cepat atau lambat mereka juga akan mendengarnya.‖
Liu Chuncao pun mengangkat bahu, menatap Ma Songquan sambil menyengir, tak bisa menahan kegembiraannya, ―Saudara Wang Xiaho benar, bagaimana pun juga toh ilmu itu sudah diperlihatkan. Setidaknya Tong Baidun tentu bisa menyaksikannya dalam jarak begitu dekat. Kalaupun tidak ada dari saudara sendiri yang bercerita, sebelum pertarungan antara Lei Jianfeng dan Ximen Lisi selesai, semua orang yang ada di sini tentu sudah mendengar ceritanya.‖
Akhirnya Ma Songquan pun ikut tersenyum dan tertawa bersama saudara-saudaranya yang lain.
Jadi sebenarnya apa itu Yi Cun Kai? Dari sekian banyak kitab-kitab ilmu silat yang dikoleksi keluarga Murong, ada satu kitab yang bukan berasal dari daratan Cina sendiri. Menurut penulisnya ilmu itu berasal dari sebuah pulau yang jauh, di selatan daratan Cina, melewati samudra luas dan beberapa kepulauan. Sebuah negara yang jauh namun sudah maju
2018
peradabannya. Sebuah negara yang penuh dengan berbagai cerita akan kekuatan misterius dan mistis.
Ketika Murong Yun Hua mendapati kitab ini, dengan serta merta dia mengajukannya pada Ding Tao. Pertama, kalaupun Ding Tao mempelajari ilmu ini, maka tidak akan ada aliran ilmu bela diri di daratan yang akan merasa dicuri ilmunya oleh Ding Tao. Yang kedua, apabila benar ilmu itu bisa dipelajari dan digunakan, bukankah ilmu ini setanding dengan ilmu baju besi milik Ren Zuocan? Sebuah bekal yang tepat untuk mengimbangi Ren Zuocan yang menjadi lawan utama Ding Tao nantinya.
Yi Cun Kai sendiri, seperti namanya, membentuk sebuah perisai yang tak terlihat di sekujur tubuh penggunanya. Sebuah perisai setebal 1 cun yang terbentuk oleh olahan hawa murni, menyebabkan setiap serangan lawan terhenti 1 cun sebelum benar-benar mengenai tubuh penggunanya.
Ding Tao sendiri sebenarnya belum menguasai ilmu ini secara sempurna, sehingga dia tidak bisa menerapkan ilmu ini dengan cepat. Ding Tao masih butuh waktu untuk mengolah hawa murni di tubuhnya, menerapkan ilmu ini, sampai perisai itu benar-benar siap dan bisa menangkal serangan lawan.
2019
Beruntung lawan Ding Tao kali ini adalah Tong Baidun. Siasat Tong Baidun yang menunggu lawan melakukan kesalahan, justru berbalik merugikan Tong Baidun sendiri. Di saat mereka saling diam itu, Ding Tao justru mendapatkan kesempatan untuk menggerakkan hawa murninya sesuai apa yang diajarkan dalam kitab itu. Sehingga tatkala dia mulai menyerang, ilmu itu sudah diterapkan dengan sempurna. Sebenarnya tidak perlu Ding Tao susah payah menghindar ataupun menangkis senjata rahasia Tong Baidun, namun Ding Tao masih berharap bisa mengalahkan Tong Baidun tanpa menunjukkan ilmu andalannya tersebut. Hanya saja, ilmu Tong Baidun memang tidak bisa dianggap enteng, meskipun Ding Tao berusaha semampunya untuk menangkis dan menghindari senjata rahasia Tong Baidun, tetap saja beberapa di antaranya lolos dan berhasil menghajar tubuh Ding Tao.
Setelah 3 senjata rahasia Tong Baidun berhasil mengenai dirinya dan satu-satunya yang menahan adalah ilmu baru yang dia andalkan. Ding Tao pun beranggapan tidak ada gunanya lagi dia berusaha menyembunyikan ilmu itu. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa ilmu itu belum benar-benar dikuasainya sehingga Ding Tao hanya bisa menggunakan ilmu itu dalam waktu yang terbatas, maka Ding Tao pun
2020
memutuskan untuk mengakhiri pertarungan mereka secepat mungkin. Itu sebabnya gerakannya pun berubah jadi semakin cepat dan semakin berani.
Di saat yang sama Tong Baidun yang menyangka Ding Tao sudah terkena senjata beracunnya, tidak dengan segera menyerang pemuda itu lagi. Sampai di saat yang paling kritis, barulah dia menghamburkan senjata rahasianya. Ding Tao terpaksa menangkis serangan yang mengarah ke wajahnya, karena ilmunya yang belum sempurna, belum bisa melindungi bagian-bagian yang lemah seperti mata, lubang hidung dan telinganya.
Meskipun ilmu itu sendiri belum sempurna, namun apa yang ditunjukkan Ding Tao sudah cukup untuk membuat heboh seluruh orang dunia persilatan yang menyaksikan pameran kekebalan tubuhnya itu.
Sangat jarang tokoh dalam dunia persilatan yang memiliki ilmu baju baja seperti Ren Zuocan. Meskipun cukup banyak macam ilmu kebal yang dikenal, seperti Tie Bu Shan dari Shaolin atau Jin Zhong Zhao dari aliran Dao, tapi sangat jarang ada tokoh persilatan yang melatih ilmu tersebut. Salah satu alasannya adalah karena sulitnya untuk menguasai ilmu itu secara
2021
sempurna, sampai pada taraf di mana ilmu itu bisa digunakan secara efektif dalam satu pertarungan. Ilmu-ilmu ini justru lebih banyak dipelajari oleh pesilat jalanan yang mencari uang dengan mempertontonkan ilmu kebal mereka. Sebelum mereka mulai menusukkan tombak atau membiarkan tubuh mereka dipukul dengan keras, tentu mereka terlebih dahulu menghabiskan waktu beberapa lama untuk menerapkan ilmu kebal mereka itu. Waktu yang tentunya tidak selalu tersedia sewaktu bertarung dalam pertarungan yang sesungguhnya. Apalagi ilmu kebal Ding Tao ini bukanlah ilmu kebal yang sudah umum dikenal, tentu saja mengundan rasa tertarik orang-orang persilatan untuk membahasnya.
Lei Jianfeng dan Ximen Lisi yang menyaksikan pertarungan itu memiliki pemikirannya sendiri-sendiri. Dengan kemenangan Ding Tao atas Tong Baidun itu artinya bila mereka memenangkan pertandingan berikutnya, mereka harus menghadapi Ding Tao dengan ilmu yang bernama Yi Cun Kai itu.
Lei Jianfeng mengamati bagaimana Ding Tao mengebaskansenjata rahasia yang mengancam daerah mukanya dan berpikir, ‗Hmm… kalaupun dia memiliki ilmu kebal, toh ilmu itu belum bisa melindungi seluruh tubuhnya. Jika
2022
demikian aku bisa berfokus pada daerah kepalanya. Selain itu pada saat melawan Bai Shixian, bukankah lengannya jadi patah oleh pukulan Bai Shixian? Berarti kemungkinan besar, ilmu kebal Ding Tao mungkin bisa digunakan melawan serangan senjata tajam atau pukulan biasa, tapi tidak untuk pukulan tenaga dalam.‘
Lei Jianfeng memiliki keyakinan akan Luo Yan Zhang-nya, dia yakin Luo Yan Zhang tidak akan kalah dengan Tinju Petir milik Bai Shixian, sambil tersenyum Bai Shixian berpikir, ‗Apalagi Luo Yan Zhang milikku memiliki perkembangan yang lebih banyak macamnya dari tinju petir miliki Bai Shixian. Tidak ada yang perlu kukhawatirkan dengan ilmu kebal Ding Tao. Justru pedangnya itu yang membuatku khawatir. Sungguh cerdik Ximen Lisi, dia bisa membuat Ding Tao berjanji untuk tidak menggunakan pedang pusaka itu.‘
‗Tapi saat melawan Bai Shixian yang bertangan kosong, bukankah Ding Tao memilih untuk tidak mencabut pedang pusakanya? Moga-moga bila aku bertarung dengan tangan kosong, dia akan melakukan hal yang sama.‘, pikir Lei Jianfeng dalam hati.
2023
Ximen Lisi yang duduk di sisi yang berlawanan juga sedang memikirkan infirmasi baru tentang Ding Tao ini, ‗Hmmm banyak orang menggambarkan Ding Tao sebagai pemuda yang lugu. Nyatanya dia menyembunyikan ilmunya ini dari penciuman orang. Hal ini membuktikan bahwa meskipun mungkin saja dia orang yang jujur, bukan berarti dia bodoh dan bekerja secara sembarangan.‘
‗Hmm.. saat melawan Bai Shixian mengapa dia tidak menggunakan ilmu kebalnya itu? Apakah karena tinju petir Bai Shixian terlampau keras sehingga menembus kekebalannya? Ataukah karena Bai Shixian menyerang sebelum dia sempat menerapkan ilmu kebalnya itu? Kukira keduanya sangat mungkin, Tong Baidun yang menunggu-nunggu hanya memberi kesempatan pada Ding Tao untuk menyiapkan ilmu kebalnya.‘, pikir Ximen Lisi menganalisa kedua pertarungan Ding Tao.
‗Atau bisa juga ilmu kebal itu terbatas pada badannya saja, itu sebabnya lengannya patah dan saat senjata rahasia Tong Baidun mengarah ke wajahnya dia harus menangkisnya.‘
Seulas senyum pun tersungging di wajah Ximen Lisi, ‗Aku tahu, pada pertandingan melawan Ding Tao aku akan menggunakan toya besi yang berat. Dengan senjata itu, kukira tenaga
2024
serangan yang dihasilkan tidak berada di bawah tinju petir Bai Shixian. Seandainya Ding Tao menggunakan pedang pusakanya, toya besi itu bisa dengan mudah dia potong-potong. Tapi dia sudah berjanji untuk tidak menggunakan pedang pusakanya, jadi tidak ada yang perlu kukhawatirkan.‘
Baik Lei Jianfeng dan Ximen Lisi sama-sama sudah tersenyum membayangkan kemenangan di depan mata, ketika mereka mendengar nama mereka dipanggil untuk maju bertarung, memperebutkan posisi di babak selanjutnya. Sekilas mata mereka pun bertubrukan dan senyum pun hilang dari wajah mereka.
―Pertarungan berikutnya, antara Pendekar Lei Jianfeng dari Qinghai melawan Pendekar Ximen Lisi dari Shanxi.‖, demikian seru seorang bhiksu Shaolin yang bertugas untuk mengumumkan nama-nama mereka yang bertanding.
Belum habis gema suaranya, yang dipanggil sudah berada di atas panggung. Kali ini Ximen Lisi membawa sebuah tombak panjang terbuat dari baja pilihan, seluruh tombak terbuat dari baja, mulai dari gagang hingga mata tombaknya, sudah tentu tombak tersebut sangat berat untuk dimainkan, namun Ximen Lisi membawanya seperti sedang membawa sebuah tombak
2025
mainan saja. Sementara Lei Jianfeng, tetap dengan membawa sepasang pedangnya. Keduanya tampil keren dan berwibawa, jubah luar mereka berkibar-kibar tertiup angin, baik jubah maupun pakaian dijahit dari bahan kain sutra yang mahal. Bedanya Lei Jianfeng tampil lebih konservatif dengan warna-warna gelap, sedangkan Ximen Lisi menggunakan warna cerah, sesuai benar dengan kemudaannya.
―Saudara Ximen Lisi, sudah lama kutunggu kau berkunjung ke Qinghai tapi sepertinya Saudara Ximen Lisi terlalu sibuk dengan berbagai urusan. Siapa sangka akhirnya kita bertemu juga. ―, sapa Lei Jianfeng.
―Kalau aku tahu Saudara Lei Jianfeng sedang menunggu kunjunganku ke Qinghai tentu aku akan pergi ke sana. Sayangnya urusan di Shanxi sangat banyak hingga aku tidak sempat memikirkan urusan tetangga dekat.‖, jawab Ximen Lisi.
―Hahaha, tidak apa, toh akhirnya kita sudah bertemu sekarang. Kuharap sejak hari ini, tidak perlu lagi ada yang menebak-nebak tentang siapa yang terkuat di utara.‖, ujar Lei Jianfeng sambil tertawa.
2026
―Ah… rupanya tentang hal itu, kukira siapa yang lebih kuat dan siapa yang lebih lemah sudah cukup jelas. Sehingga akupun tidak pernah berpikir untuk berkunjung ke Qinghai. Seandainya aku tahu masih ada orang-orang yang berdebat tentang hal itu, tentu akan kusempatkan juga untuk berkunjung ke Qinghai.‖, jawab Ximen Lisi dengan cerdik.
―Heh, cukuplah kita bicara. Lidahmu tajam tapi apa tombakmu itu setajam lidahmu? Biarkan sepasang pedangku ini mencari tahu.‖, ujar Lei Jianfeng sambil mengambil kuda-kuda.
Ucapan Ximen Lisi menyinggung harga dirinya, namun tidak menggoncangkan ketenangannya. Jagoan yang sudah cukup berumur ini sudah kenyang dengan pengalaman dan tidak mudah dipancing emosinya. Dua orang dari generasi yang berbeda sudah berhadapan, Lei Jianfeng yang baru saja menginjak 40-an dan Ximen Lisi yang seumuran dengan Ding Tao. Yang satu tampil tenang dan berwibawa, Lei Jianfeng berdiri seperti sebatang pohon beringin raksasa yang sudah berdiri kokoh selama ratusan tahun, menjadi keras dan tegar setelah melewati puluhan hujan badai dan kerasnya alam. Di hadapannya seorang muda dengan semangat menggelora, seperti api unggun yang menari-nari, siap membakar apa pun yang menghalangi jalannya.
2027
―Mari‖, ujar Lei Jianfeng.
―Hati-hati, akan kumulai.‖, jawab Ximen Lisi dan secepat dia berujar, secepat itu pula tombaknya meluncur ke depan.
Cepat dan keras tombak itu meluncur ke depan, tombak yang terbuat dari baja itu pun berkilauan memantulkan cahaya matahari, serupa sinar keperakan dia meluncur ke arah Lei Jianfeng. Dengan sebuah ayunan yang melingkar Lei Jianfeng menangkis tombak Ximen Lisi, suara berdentang keras memenuhi telinga saat pedang bertemu tombak. Mata tombak Ximen Lisi terdorong ke lantai panggung, kemudian terpental membal, tepat kembali menyerang Lei Jianfeng yang sedang bergerak maju. Jangan dilihat bahannya dari baja, tombak Ximen Lisi bisa bergerak dengan lentur seperti terbuat dari kain saja. Seperti ular yang mematuk-matuk, tombak Ximen Lisi bergerak dengan lincahnya, diiringi derik-derik suara seperti giring-giring di kaki gadis muda yang sedang berlari. Jika diamati lebih dekat lagi, terlihatlah ruas-ruas tipis di sepanjang batang tombak Ximen Lisi, rupanya tombak baja itu dibuat dari potongan-potongan yang lebih pendek dan disatukan dengan satu cara tertentu sehingga dapat bergerak dengan lebih bebas dibandingkan tombak biasa.
2028
Dengan kekuatan dan cara dia memainkan tombaknya, tombak Ximen Lisi terkadang bergerak hampir seluwes sebuah pecut yang terbuat dari baja daripada sebatang tombak biasa.
Menggunakan panjang tombak dan kelincahannya Ximen Lisi menyerang Lei Jianfeng sekaligus menahan laju majunya Lei Jianfeng mendekat ke arahnya. Sepasang pedang Lei Jianfeng sendiri, menjadi tembok pertahanan yang tangguh, sembari Lei Jianfeng berusaha maju mendesak kedudukan Ximen Lisi. Saling menyerang dan bertahan, keduanya bertarung dengan jurus-jurus yang mematikan namun indah dipandang. Matahasri sudah semakin tinggi di atas, pedang dan tombak berkilauan ditempa cahayanya. Permainan pedang Lei Jianfeng lebih mantap dan bertenaga, permainan tombak Ximen Lisi lincah dan cepat, keduanya tidak ada yang mau mengalah. Deng Songyan mengawasi pertarungan itu dengan hati yang tak tentu. Ximen Lisi memilih tombak, Deng Songyan yang sejak kanak-kanak sudah memegang tombak dengan cepat bisa menyelami permainan tombak Ximen Lisi, dalam hati dia bertanya-tanya, bukankah permainan tombaknya lebih baik dibandingkan Ximen Lisi? Lalu mengapa sekarang ini yang berada di atas panggung bukan dia melawan Ximen Lisi tapi Lei Jianfeng melawan Ximen Lisi. Jika dia lebih kuat
2029
dibandingkan Ximen Lisi, dan dia kalah melawan Lei Jianfeng, bukankah itu artinya Ximen Lisi juga akan kalah melawan Lei Jianfeng? Apakah menang kalah adalah hasil pertaruhan belaka, kemampuan untuk memanfaatkan datangnya kesempatan yang selisihnya hanyalah sehelai rambut dibagi tujuh? Bukankah sebenarnya permainan pedang Lei Jianfeng sudah jatuh ke dalam permainan tombaknya? Mengapa oleh karena tergelincir pada satu kesalahan kecil saja harus berakhir dengan tragis? Seharusnya saat ini dirinyalah yang berhadapan dengan Ximen Lisi.
Tidak sedikit orang yang berpikir sama seperti Deng Songyan, mereka menunggu dan menunggu, saat-saat kekalahan Ximen Lisi.
Permainan tombak Ximen Lisi tidaklah lemah, 18 macam senjata dia kuasai dengan baik. Tiap-tiap senjata penguasaannya tidak di bawah orang lain. Namun jika permainan tombaknya dibandingkan dengan permainan tombak Deng Songyan yang selama belasan tahun melulu berlatih tombak, tentu saja permainan tombak Deng Songyan lebih hidup dan lebih kuat.
2030
Jika permainan tombak Deng Songyan bisa menguasai sepasang pedang Lei Jianfeng, tidak demikian dengan permainan tombak dari Ximen Lisi. Di sele-sela serangan tombak, sesekali Lei Jianfeng berhasil menyerbu masuk dan menyerang dengan sepasang pedangnya. Pada saat demikian maka kelincahan dan pemahaman ruang Ximen Lisi yang baik membuat dia bisa menghindari serangan sekaligus memperbaiki kedudukan. Pertarungan pun berjalan dengan ketat, antara Lei Jianfeng yang sebenarnya ahli pukulan tangan kosong tapi menggunakan sepasang pedang, melawan Ximen Lisi yang menguasai 18 macam senjata tanpa mengkhususkan diri pada satu ilmu tertentu.
Perlahan namun pasti Lei Jianfeng mulai menguasai pertarungan, dalam 10 jurus terakhir Ximen Lisi selalu didesak mundur oleh Lei Jianfeng. Pilihannya hanyalah mundur atau dia akan berada pada posisi bisa diserang namun tak bisa balas menyerang.
―Sepertinya lawan ketua di babak akhir nanti adalah Lei Jianfeng…‖, bisik Liu Chuncao pada Ding Tao.
―Sepertinya begitu…, tapi entah mengapa aku tidak mendapatkan kesan tersebut dari wajah Ximen Lisi. Bagi setiap
2031
orang yang melihat sudah jelas dalam beberapa jurus terakhir dia terdesak. Tapi tak kulihat ada kecemasan di wajahnya. Bisa jadi dia sedang menyiapkan sesuatu.‖, jawab Ding Tao yang terus mengamati pertarungan itu dengan cermat.
‗Hmmm… benarkah demikian?‘, pikir Liu Chuncao sambil mengamati wajah Ximen Lisi.
Mereka yang mendengar percakapan itu pun jadi semakin tertarik untuk mengikuti jalannya pertarungan. Apakah pengamatan Ding Tao akan terbukti benar?
Lei Jianfeng telah mengurung Ximen Lisi dengan langkah-langkah Bagua-nya. Semakin lama Ximen Lisi semakin terdesak, hingga pada satu saat Ximen Lisi tidak lagi mungkin bergerak mundur karena dia sudah berada di pinggir panggung. Sebuah teriakan penuh kemenangan pun terdengar dari mulut Lei Jianfeng, mengiringi serangan kilatnya yang dilancarkan sekuat tenaga. Pedang di tangan kiri menebas tombak Ximen Lisi, mendorongnya ke arah luar. Di saat yang bersamaan pedang di tangan kanan bergerak menusuk ke arah lubang pertahanan yang terbuka. Jarak mereka berdua sudah begitu dekat, mata tombak Ximen Lisi berada di belakang Lei Jianfeng
2032
dan tidak mungkin bisa digerakkan untuk menyerang Lei Jianfeng.
Di saat yag paling kritis untuk Ximen Lisi itulah tiba-tiba terjadi kejadian yang mengejutkan. Sepersekian kejap setelah Lei Jianfeng berteriak, sebuah suara berkeratakan terdengar dari tombak Ximen Lisi, dibarengi suara mendesing. Dalam sekejap mata, tombak Ximen Lisi tiba-tiba terpisah-pisah menjadi beberapa bagian, masing-masing ruas dihubungkan dengan sebuah rantai pendek dan di saat yang bersamaan dari pangkal tombak yang tumpul mendesing keluar sebilah mata tombak yang lain. Kerena tombak tidak lagi menjadi sebatang tombak maka memang benar bagianujung tombak Ximen Lisi terdorong keluar, namun bagian lain yang terpegang oleh Ximen Lisi tidak ikut terdorong oleh pedang kiri Lei jianfeng. Dengan gesit Ximen Lisi menggunakan ruas yang dipegang tangan kirinya untuk menangkis serangan Lei Jianfeng, sementara tangan kanan yang memegang pangkal tombak bergerak menyambar tubuh Lei Jianfeng yang tengah bergerak mendekat.
Celaka bagi Lei Jianfeng, pedang di tangan kiri menebas terlalu kuat, karena tenaga tombak yang seharusnya menahan laju pedang menjadi tidak ada. Di saat yang sama pedang di tangan kanan tertangkis ke arah luar oleh Ximen Lisi, tubuhnya yang
2033
sedang bergerak mendekat menjadi hidangan empuk bagi mata tombak Ximen Lisi yang menebas ke depan.
Tapi bukan sekali ini saja Lei Jianfeng harus berhadapan dengan maut di depan mata, jagoan tua itu tidak menjadi gugup menghadapi perubahan yang tiba-tiba itu. Nalurinya untuk bertahan hidup dan keteguhan hatinya dalam menghadapi kematian memberi dia pikiran yang jernih di saat yang kritis itu. Sadar bahwa sepasang pedangnya tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk menahan serangan Ximen Lisi, Lei Jianfeng segera mengemposkan seluruh tenaga di kakinya untuk melompat mundur. Tanpa malu-malu jagoan yang sudah matang itu bergulingan ke belakang untuk menghindari mata tombak Ximen Lisi yang tiba-tiba muncul dari pangkal tombaknya, tak urung tombak Ximen Lisi berhasil mengiris dada Lei Jianfeng cukup dalam, darah pun dengan cepat mengucur deras.
Ximen Lisi yang tidak mau melepaskan kesempatan baik, memburu ke depan, namun sebelum dia sempat bergerak terlalu dekat, sebilah pedang Lei Jianfeng meluncur cepat ke arah wajahnya dengan suara mengaung. Ximen Lisi pun dipaksa untuk menghindar dan menyampok jatuh pedang yang disambitkan Lei Jianfeng. Masih dalam keadaan bergulingan,
2034
tangan kanan Lei Jianfeng yang sudah tidak lagi memegang pedang, dengan cepat menotok jalan darah di sekitar luka yang diterimanya.
Saat Ximen Lisi kembali memburu ke depan, Lei Jianfeng sudah berdiri di atas kedua kakinya, melompat mundur beberapa langkah, melintangkan pedang yang ada di tangan kiri di depan dada dan tangan kanannya menempel di pinggang siap untuk melontarkan serangan. Ximen Lisi pun tidak berani menyerang dengan sembrono, serangan yang dia lontarkan adalah serangan yang terukur tenaganya.
Pedang di tangan kiri Lei Jianfeng pun dengan lincah menangkis serangan Ximen Lisi, langkah bagia Lei Jianfeng kali ini digunakan untuk menghindar dan bukan lagi untuk mengurung Ximen Lisi.
Perubahan pada senjata Ximen Lisi sangat mengejutkan, membuat yang melihat pertarungan itu merasa kagum sekaligus ngeri dengan kayanya perubahan dan rahasia yang tersimpan dalam diri ilmu bela diri Ximen Lisi dan senjatanya. Namun terlebih kagum pada ketenangan dan kemampuan Lei Jianfeng untuk lolos dari pintu gerbang kematian yang datang dengan tidak disangka-sangka. Bahkan Deng Songyan yang
2035
merasa benci dan penasaran atas kekalahannya di tangan Lei Jianfeng, memandang jagoan itu dengan pandangan mata yang berbeda.
Keadaan yang dihadapi Lei Jianfeng barusan, tidaklah lebih ringan dibandingkan dengan keadaan yang dialami Deng Songyan saat bertarung dengan Lei Jianfeng. Ketika saat-saat kemenangan berubah menjadi ancaman kematian dalam waktu yang kurang dari sekejapan mata. Tapi kejutan yang membuat Deng Songyan membeku di tempatnya, bisa dihadapi dengan tenang oleh Lei Jianfeng. Kejutan itu tidak membuat Lei Jianfeng kehilangan akal. Kengerian yang dihadapi ketika sadar dirinya sudah jatuh dalam jebakan lawan, tidak membekukan tubuh Lei Jianfeng. Permainan tombaknya boleh jadi lebih tinggi beberapa lapis dibandingkan permainan senjata Lei Jianfeng dan Ximen Lisi. Namun ketenangan dan kemampuan untuk bertindak dengan cepat di saat-saat yang kritis dari Lei Jianfeng melampaui dirinya. Di saat-saat itu, tiba-tiba Deng Songyan mendapatkan satu kedamaian dan ketenangan yang belum pernah dia rasakan. Satu penerimaan akan keadaan dirinya sebagai sesuatu yang memang sewajarnya terjadi. Deng Songyan menjadi manusia yang baru, tulang bahunya
2036
yang remuk tidak menghalangi Deng Songyan untuk menemukan jalannya kembali.
Keteguhan hati, kekuatan jiwa dan semangat yang ditunjukkan Lei Jianfeng membukakan satu pintu pada jalan buntu yang dihadapi Deng Songyan.
Pada dasarnya Deng Songyan bukanlah orang yang lemah dan berjiwa sempit. Setelah melihat kematangan yang ditunjukkan oleh Lei Jianfeng, pemuda itu menemukan kembali semangatnya sendiri. Di kemudian hari, Deng Songyan menelurkan pemuda-pemuda berbakat dari generasi berikutnya dalam keluarga Deng. Meskipun pada akhirnya tulang bahunya tidak dapat disembuhkan dan sebagai akibatnya kedua lengannya harus dipotong, Deng Songyan tidak kemudian menjadi manusia yang cacat jiwanya. Justru keadaannya yang cacat membuat api dalam dadanya berkobar lebih garang. Deng Songyan menciptakan sebuah ilmu tendangan yang didasari oleh ilmu tombak yang selama ini dia tekuni. Menambahkan ilmu keluarga baru dalam keluarga Deng.
Belasan tahun setelah pertemuan Wulin Mengzhu ini, tersiarlah sebuah perkataan dalam dunia persilatan. Jika bertemu dengan keluarga Deng yang membawa senjata, hati-hati dengan ilmu
2037
tombaknya. Jika hendak menghadang keluarga Deng yang tidak membawa senjata, berhati-hatilah dengan tendangannya.
Deng Songyang yang menonton di pinggir arena boleh mendapatkan jalan hidup, tapi Lei Jianfeng yang berada di atas panggung harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan pintu kehidupan yang semakin lama semakin tertutup. Tombak Ximen Lisi yang sekarang berubah menjadi ruyun beruas tujuh dengan dua ujung bermata tombak, tidak kalah mengerikan dari permainan tombak atau permainan golok Ximen Lisi. Sementara Lei Jianfeng sudah terluka berat di dadanya, sepasang pedangnya pun sudah berubah menjadi sebatang pedang.
Ding Tao yang bertekad untuk berusaha agar tidak ada korban lain yang jatuh dalam pemilihan Wulin Mengzhu ini dibuat ketar-ketir oleh keadaan Lei Jianfeng. Untuk turun ke panggung, keadaannya belumlah memungkinkan, meskipun sudah terdesak namun Lei Jianfeng masih melawan Ximen Lisi dengan penuh semangat. Namun keadaan Lei Jianfeng sudah sedemikian buruknya hingga bisa terjadi setiap saat Ximen Lisi akan memberikan serangan terakhir yang menjadi penutup pintu kehidupan bagi Lei Jianfeng. Apalagi senjata Ximen Lisi yang berupa ruyung beruas tujuh itu jauh lebih sukar
2038
diperkirakan gerakannya dibandingkan dengan golok atau tombaknya.
Beberapa kali Ding Tao sudah bersiap untuk melompat maju namun harus membatalkan niatnya.
Tang Xiong yang ikut tegang melihat pertarungan itu dan kesulitan yang dihadapi Ding Tao, akhirnya tidak tahan lagi dan berseru, ―Lei Jianfeng jangan bodoh, menyerah sajalah, sayangi nyawamu yang cuma satu itu!‖
―Dengar itu orang tua, dengarkan nasihat itu, cepatlah menyerah sebelum kau terjungkal di bawah kakiku!‖, seru Ximen Lisi menimpali seruan Tang Xiong.
―Eh! Budak keparat! Kenapa kau berkata demikian?‖, seru Tang Xiong terkejut, tidak mengira Ximen Lisi membuat seruannya jadi bahan untuk mengejek Lei Jianfeng.
Seruan kaget Tang Xiong itu hanya dijawab dengan suara tawa berkakakan oleh Ximen Lisi dan pendukungnya. Sementara para pendukung Lei Jianfeng melirik pada Tang Xiong dengan pandang mata penuh kemarahan. Ding Tao pun menepuk lengan Tang Xiong dan memberi tanda untuk tidak membuka mulut lagi. Terpaksa Tang Xiong hanya bisa menundukkan
2039
kepala dengan hati mendelu, menyesali diri sendiri yang tidak bisa menahan mulut. Maksud hati Tang Xiong tidaklah buruk, namun bagi telinga Lei Jianfeng masihat yang tulus itu terdengar sebagai satu penghinaan yang memedihkan. Apalagi setelah Ximen Lisi menyambung seruan Tang Xiong itu dengan hinaan. Bukannya membuat hati Lei Jianfeng jadi lunak, seruan Tang Xiong itu justru membuat hati Lei Jianfeng semakin keras. Sambil menggertakkan gigi Lei Jianfeng terus melawan Ximen Lisi dengan luka di dadanya yang terasa nyeri dan terus mengucurkan darah, meskipun tidak terlalu deras karena sudah tertahan oleh tutukan yang dia lakukan.
Pandangan mata Lei Jianfeng mulai berkunang-kunang, kepalanya terasa ringan, gerakannya semakin melemah, tubuhnya sudah kehilangan banyak darah yang terus mengucur tanpa henti. Ximen Lisi terus mencecar Lei Jianfeng, tidak mengijinkan jagoan itu untuk mengambil nafas sedikitpun.
Pada jurus yang ke 71, Ximen Lisi mundur setengah langkah mengambil jarak, Lei Jianfeng yang sudah mulai hilang kesadarannya terhuyung menghindar. Dengan satu gerakan pergelangan tangan, ruyung beruas tujuh milik Ximen Lisi bergerak melingkar melilit pedang Lei Jianfeng. Ximen Lisi pun menghentakkan tenaga, menyendal ruyungnya ke atas, tanpa
2040
bisa ditahan lagi pedang Lei Jianfeng terlepas dari tangannya. Alam bawah sadarnya menyadari bahaya yang mengancam, secara intuitif Lei jianfeng berusaha bergerak menghindari serangan Ximen Lisi yang datang menyusul. Apa daya tubuhnya sudah tidak bisa diajak bekerja sama, meskipun serangan Ximen Lisi mampu dihindari, tubuh Lei Jianfeng tanpa bisa ditahan lagi terguling jatuh di atas panggung.
Saat itu juga tubuh Ding Tao sudah berkelebat maju ke depan,sudah cukup lama dia mengamati gerak ruyung beruas tujuh milik Ximen Lisi. Dengan matanya yang tajam dan otaknya yang encer, dia bisa membayangkan bagaimana akhir dari gerakan ruyun beruas tujuh itu kali ini.
Tanpa berkedip sedikitpun Ximen Lisi meneruskan jurusnya hingga puncaknya, ruyung beruas tujuh miliknya bergerak berputaran dan dengan satu hentakan mata tombak yang berada di ujung ruyung meluncur cepat ke arah Lei Jianfeng yang sudah tidak berdaya. Meskipun demikian Ximen Lisi sudah tahu bahwa mata tombaknya itu tidak akan sampai pada sasaran. Matanya berkilat ketika dari ujung ekor matanya dia bisa melihat tubuh Ding Tao yang meluncur cepat ke arah dirinya. Dengan suara melengking pedang Ding Tao menusuk mata tombak Ximen Lisi yang sedang meluncur ke arah Lei
2041
Jianfeng yang sudah tergeletak tak sadarkan diri. Pedang Ding Tao meluncur dengan kerasnya, membawa mata tombak Ximen Lisi terbang beberapa langkah jauhnya dari Lei Jianfeng.
Tapi ruyung beruas tujuh milik Ximen Lisi memiliki dua mata tombak, ketika mata tombak yang satu bergerak menusuk Lei Jianfeng, mata tombak yang lain sedang bergerak melingkar, tersembunyi di balik punggung Ximen Lisi. Saat Ding Tao sudah berada di depan Lei Jianfeng, mata tombak itu pun muncul dari balik punggung Ximen Lisi dari sisi yang lain, bergerak memutar mengancam punggung Ding Tao yang dari sudut yang tak terlihat oleh mata Ding Tao.
Agaknya dari awal Ximen Lisi bukan bertujuan untuk menghabisi Lei Jianfeng, tapi dengan menggunakan Lei Jianfeng sebagai umpan, dia sedang membuat jebakan bagi Ding Tao. Mata tombak bergerak dengan cepat menuju punggung Ding Tao yang tak terjaga. Hanya tinggal sejengkal lagi mata tombak itu akan menembus punggung Ding Tao ketika Ximen Lisi tiba-tiba merasakan ruyungnya tertarik ke arah yang berlawanan.
Agaknya lontaran pedang Ding Tao demikian keras, membawa mata tombak Ximen Lisi di ujung yang lain dengan kuatnya,
2042
hingga pegangan Ximen Lisi atas ruyung beruas tujuhnya terlepas. Di saat yang kritis itu, justru pedang Ding Tao menjadi tenaga yang menahan mata tombak Ximen Lisi yang menyerang punggungnya. Ruyung yang terlepas dari genggaman tangan Ximen Lisi sekarang berbalik meluncur ke arah yang membahayakan Ximen Lisi sendiri. Meskipun mata tombak yang tajam masih teracung ke arah Ding tao, namun sisi-sisi yang tajam dari mata tombak itu bisa mengiris putus jari-jari tangan Ximen Lisi yang menggenggam ruas ruyung. Ruyung yang sekarang dengan cepat meluncur melalui genggaman tangannya dengan membawa mata tombak yang tajam. Namun Ximen Lisi tidak menjadi gugup, dalam waktu yang sekejap itu dia mengerahkan tenaganya menghentikan luncuran ruyung yang tidak terkendali itu dan dengan sebuah gerakan menyendal dia menghunjamkan mata tombak yang meluncur ke arah dirinya ke atas lantai panggung. Sekaligus menghentikan lanjunya mata tombak lain yang terbawa oleh pedang pusaka Ding Tao.
Tapi dalam saat yang sama tubuh Ding Tao sudah berkelebat pula dan dengan gerakan yang indah dan mengalir, mencabut pedang pusakanya yang masih tertancap pada mata tombak Ximen Lisi, menyarungkannya kembali dan berdiri tegap di
2043
antara Lei Jianfeng yang tidak sadarkan diri dengan Ximen Lisi yang sekarang sudah berdiri pula dengan sepasang mata tombak di tangan.
Ding Tao yang jarang-jarang terlihat marah, kali ini memandangi Ximen Lisi dengan mata menyala-nyala, ―Keji sekali perbuatanmu! Mengapa kau berusaha menyerang lawan yang sudah jelas-jelas tidak sadarkan diri?‖
Sebaliknya Ximen Lisi justru memandangi pemuda itu dengan mata yang nakal, seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru dan sedang memikirkan cara paling unik dan menarik untuk memainkannya, ―Hahaha, Ketua Ding Tao benar-benar hebat, rupanya kau sungguh-sungguh berupaya agar tidak ada lagi korban yang jatuh.‖
Ding Tao tidak menjawab, hanya alisnya saja yang makin berkerut dan rahangnya mengatup erat, jika dia membuka mulut, mungkin yang keluar hanyalah sumpah serapah.
―O o o, apakah Ketua Ding Tao sedemikian murkanya padaku? Ketua Ding Tao, aku toh tidak akan berlaku sekeji itu pada lawan. Aku menyerang Lei Jianfeng yang sudah jatuh tak sadarkan diri, karena aku percaya Ketua Ding Tao pasti akan
2044
menyelamatkannya dari mata tombakku itu.‖, ujar Ximen Lisi dengan tenang dan tertawa-tawa.
Mendengar jawaban Ximen Lisi wajah Ding Tao jadi mengendur, tidak lagi semurka sebelumnya, ―Hmm… jadi maksudmu kau bukan hendak membunuh Lei Jianfeng? Hanya memancingku untuk maju ke depan, tapi untuk apa?‖
Sebelum Ximen Lisi sempat menjawab Ding Tao sudah terlebih dahulu berkata lagi, ―Hmm… sungguh licik perbuatanmu, apakah itu sebabnya kau menggunakan jurus itu, sehingga ketika aku menolong Saudara Lei Jianfeng, mata tombakmu yang kedua menyerangku dari belakang?‖
―Hahaha, benar-benar pengamatan yang jitu, seperti yang sudah kuduga, Ketua Ding Tao memiliki pengamatan yang tajam. Memang benar di jurus ke 17, 30 dan 43, aku menggunakan jurus yang sama, tapi kukira tidak banyak orang yang bisa mengingat jurus itu dengan tepat sehingga tahu apa yang akan terjadi setelah Pendekar Lei Jianfeng jatuh tak sadarkan diri.‖, jawab Ximen Lisi dengan tenang.
2045
Wajah Ding Tao masih gelap, meskipun tidak lagi sekeras sebelumnya, ―Sepertinya Saudara Ximen Lisi sudah tidak sabar lagi untuk memulai pertarungan di antara kita berdua?‖
Ximen Lisi menengok ke arah Lei Jianfeng yang sedang digotong turun dari panggung, dikerumuni oleh para pendukungnya dan sudah mendapatkan perawatan dari pihak Shaolin. Di dekat tangga kayu menuju ke atas panggung, bhiksu yang bertugas mengumumkan jalannya pertandingan masih berdiri, meragu, apakah hendak naik atau menunggu mereka berdua menyisihkan diri dari tengah arena.
―Hmm… mengapa tidak? Apakah kita sebangsa wanita yang harus berdandan terlebih dahulu sebelum mengunjukkan diri di depan orang?‖, tanyanya pada Ding Tao.
―Baiklah kalau begitu‖, jawab Ding Tao dengan singkat sebelum menengok ke arah para pengikutnya.
―Paman pendeta Liu Chuncao, bisakah aku minta pinjam pedangmu?‖, ujarnya pada Liu Chuncao yang berdiri sambil membawa pedang.
Tanpa banyak tanya Liu Chuncao pun maju dengan pedangnya, sementara pedang Ding Tao diserahkan pula
2046
padanya. Ximen Lisi memandangi mereka berdua dengan senyum dikulum.
Diapun menengok ke arah para pengikutnya yang ada di sana, ―Xiaohu, ambilkan aku toya yang biasa kupakai untuk berlatih!‖
Dengan tangkas, salah seorang pengikutnya pun maju membawa sebuah toya terbuat dari besi. Dengan ringan dia melompat ke atas panggung sambil memanggul toya besi itu, kayu-kayu yang menjadi lantai panggung berderak saat orang itu menginjakkan kakinya di atas panggung. Setiap langkahnya membawa suara berderit-derit dari panggung yang terbuat dari kayu. Bisa dibayangkan, seberapa berat toya besi yang dia panggul.
Liu Chuncao yang memandangi orang tersebut, dengan prihatin berbisik pada Ding Tao, ―Ketua… berhati-hatilah. Otaknya sungguh panjang, bukan lawan yang mudah dihadapi… Bisa jadi apa yang dia lakukan tadi, adalah usaha untuk memancing emosi ketua saja.‖
Ding Tao terdiam untuk beberapa lama, kemudian menganggukkan kepala sambil tersenyum pada Liu Chuncao.
2047
. ―Aku mengerti paman…‖, jawabnya singkat.
―Baiklah, kalau begitu aku turun dulu ketua.‖, jawab Liu Chuncao.
Ding Tao hanya menganggukkan kepala sekali lagi sebelum perhatiannya tertuju sepenuhnya pada Ximen Lisi yang sekarang sudah membolang-balingkan toya besi yang ada di tangannya. Toya besi yang berat bisa dia gerakkan dengan mudah, seperti memainkan toya kayu biasa. Pameran tenaga luar yang luar biasa ini saja sudah mengundang decak kagum banyak orang yang menyaksikan. Mereka yang condong pada Ding Tao pun merasa jantungnya berdebaran lebih kencang. Di satu sisi adalah Ximen Lisi dengan penampilannya yang meyakinkan, memainkan sebuah toya besi yang berat dengan mudahnya. Di pihak lain, adalah Ding Tao dengan tangan kiri masih terbebat dan digantungkan dengan menggunakan selembar kain ke atas pundaknya, di tangan kanannya sebagai ganti pedang pusaka yang bisa memotong besi seperti memotong sayur, hanyalah sebilah pedang biasa.
―Apa kita mulai sekarang?‖, tanya Ximen Lisi sambil tersenyum-senyum.
2048
―Silahkan dimulai‖, jawab Ding Tao singkat.
Tanpa banyak menawar lagi Ximen Lisi pun menggerakkan toya besinya sambil berseru, ―Awas serangan!‖
Suara angin menderu mengikuti bergeraknya toya besi yang menggebah Ding Tao dengan kuat dari sisi kanan Ximen Lisi. Toya berat dan kuat, Ding Tao tidak ingin mencoba-coba kekuatan pedangnya dengan menangkis serangan itu. Ding Tao pun memilih untuk menyingkir ke belakang sembari terus memperhatikan lawan. Toya besi yang berat, setelah berputar tentu tidak mudah dihentikan, tapi memang tidak percuma Ximen Lisi dikatakan sebagai seorang jenius dalam ilmu silat. Toyanya terus berputar, mengikuti alurnya, di saat toya sedang berputar, giliran tendangan kaki kiri Ximen Lisi yang mencuat keluar. Pedang Ding Tao yang sejak tadi disimpan saja di belakang punggung, dengan cepat bergerak menusuk ke arah kaki yang menyerang. Sebelum pedang sampai mencium kaki Ximen Lisi, kaki kiri sudah ditarik kembali ke belakang sementara toya besi kembali muncul dari sisi kanan tubuhnya dan kembali menyerang Ding Tao dengan kekuatan yang berlipat ganda.
2049
Tapi yang banyak disebut orang sebagai jenius dalam dunia persilatan bukan hanya Ximen Lisi seorang. Tentu saja Ding Tao sudah bersiap dengan serangan toya yang berikutnya. Tubuhnya dengan cepat meliuk, merendah, menghindari serangan toya, sementara pedangnya masih terus bergerak mengikuti gerak kaki Ximen Lisi yang ditarik mundur, kali ini arahnya berubah ke arah pergelangan tangan Ximen Lisi.
Ximen Lisi pun melompat mundur tanpa sedikitpun membatalkan gerak toyanya yag berputaran di sekitar tubuhnya, hanya arahnya yang digeser sedikit sehingga sekarang mengarah tubuh Ding Tao yang merendah. Dari posisi yang rendah, tentu tidak mudah untuk bergerak, tapi nyatanya Ding Tao masih bisa menghindar. Bisa dikatakan sejak awal dia menyerang kaki Ximen Lisi yang menendang dia sudah memperkirakan perubahan ini, dengan cekatan dia menegakkan tubuh sambil melompat ke depan, membiarkan toya lewat di bawah tubuhnya dengan sendirinya. Sementara pedangnya sendiri masih sekarang ganti mengejar ke arah wajah Ximen Lisi. Demikianlah Ding Tao menghindari serangan toya yang kembali datang, tanpa sedikitpun mengendurkan serangannya atas Ximen Lisi.
2050
Kembali Ximen Lisi dipaksa untuk mundur selangkah, kali ini dia menahan tenaga berputar yang keluar dari gerak putar toya besinya. Dibantu dengan munculnya tenaga tolak saat ujung toya besinya menghantam lantai panggung, toya itu pun kali ini bergerak ke arah yang berlawanan. Sementara kaki Ding Tao yang sudah menjejak lantai, dengan cepat bergerak menghindar ke belakang.
Toya besi Ximen Lisi yang kehilangan sasaran untuk ke sekian kalinya kembali berubah arah, sementara tangan yang di depan menahan lajunya toya besi, tangan yang di belakang menggerakkan pangkal toya ke atas. Kemudian dengan gerakan yang sebat, Ximen Lisi menusukkan toya dari posisi tersebut. Dengan tangan di depan bekerja sebagai penahan, tangan di belakang dan ditambah berat toya itu sendiri sebagai pendorongnya, toya itu pun melaju pesat mengejar Ding Tao yang mundur ke belakang.
Mengapa di serangan yang pertama Ding Tao menyurut mundur ke belakang? Mengapa di serangan yang kedua, saat Ximen Lisi menendang dia justru maju menyerang, jika dia tahu bahwa serangan toya yang kedua kalinya sudah siap untuk menyambar? Mengapa setelah dua kali menyerang, Ximen Lisi
2051
mengganti pola serangannya? Dan mengapa pula Ding Tao menghentikan serangannya?
Pada serangan toya yang pertama, Ding Tao memilih mundur ke belakang, karena dia tahu bahwa tenaga putaran toya masih bisa dikendalikan dengan baik oleh Ximen Lisi, jika dia maju menyerang maka Ximen Lisi bisa mengubah arah serangan toyanya setiap saat dan itu berbahaya bagi Ding Tao yang bersenjata lebih ringan.
Pada serangan yang kedua, meskipun Ding Tao tahu bahwa tendangan Ximen Lisi hanyalah pancingan, sebuah serangan yang digunakan Ximen Lisi sekedar untuk mengisi kekosongan di antara serangan toyanya, Ding Tao berani maju ke depan. Karena pada saat toya kembali menyerang dirinya untuk kedua kalinya, tenaga putar toya sudah dua kali lipat dari tenaga pada serangan sebelumnya. Dengan demikian, meskipun toya datang lebih cepat dan lebih kuat, jika Ding Tao menghindar ke arah lain, tidaklah mudah bagi Ximen Lisi untuk mengubah arah serangannya. Dengan laju dan arah toya yang bisa diperkirakan, Ding Tao tidak perlu mengkhawatirkan serangan toya Ximen Lisi dan dengan pedang yang tajam dia bisa melukai bagian tubuh Ximen Lisi yang manapun yang bisa dia capai.
2052
Pada putaran toya besi yang ketiga, Ximen Lisi yang mampu mengukur kekuatannya, justru mengeluarkan sedikit tenaga untuk mengurangi tenaga putar toya besinya. Sehingga toya besinya masih menyerang Ding Tao dengan hebat, tapi tidak secepat dan sekuat serangan yang kedua. Dengan mengurangi tenaga putar toya besinya, toya besi Ximen Lisi pun kembali dapat dia kendalikan dengan lebih bebas. Ding Tao yang menyadari hal ini, tidak lagi melanjutkan serangannya, karena dia paham bahwa setelah gerakan menebas ke bawah itu, tenaga putar dari toya besi akan jauh berkurang dan toya bisa bergerak ke mana saja dengan cepat. Sebelum dirinya terjebak dalam permainan toya besi Ximen Lisi, Ding Tao memilih untuk bergerak keluar. Ximen Lisi yang tidak ingin melepaskan Ding Tao begitu saja, sekali lagi menyerang Ding Tao, tapi kali ini dengan gerakan menusuk. Gerakan menusuk lurus ke bawah dan tidak melingkar. Tenaga serang yang keluar tetap berbahaya bagi Ding Tao, tapi kalaupun serangan itu bisa dihindarkan, maka tidak akan berupa gerakan mengalir yang melipat gandakan tenaga serang untuk kedua kalinya. Serangan itu akan terhenti pada saat ujung toya memukul lantai dan bisa dengan segera ditarik untuk serangan berikutnya. Demikianlah yang terjadi, gerak mundur Ding Tao tidak kalah cepat dengan toya yang menusuk deras ke arah dirinya. Ujung
2053
toya membentur lantai panggung, selisih beberapa jari di depan kaki Ding Tao, sebelum dengan cepat ditarik kembali ke posisi semula oleh Ximen Lisi.
―Ilmu pedang yang bagus‖, ujar Ximen Lisi memuji.
―Toya besi yang mengerikan‖, sahut Ding Tao balas memuji.
Menyusul jawaban Ding Tao, toya besi Ximen Lisi pun kembali menusuk dengan cepat ke depan, tidak berani menangkis serangan Ding Tao memilih bergerak ke samping sambil berusaha maju ke depan, mempersempit jarak di antara mereka. Namun serangan Ximen Lisi kali ini sudah terukur benar tenaganya. Cepat untuk menyerang, cepat pula kembali ke posisi semula. Seperti jarum mesin jahit yang bergerak ke bawah dan ke atas dengan cepat, toya besi Ximen Lisi bergerak maju dan mundur dengan cepat, mengejar Ding Tao ke mana pun dia pergi. 12 kali serangan sebelum gerakan toya Ximen Lisi menurun kecepatannya. Seketika itu juga ganti Ding Tao yang mengejar maju ke depan. Meskipun tenaga Ximen Lisi sempat menurun, bukan berarti dia mudah untuk diserang. Kali ini toya besinya bergerak berputaran di sekitar tubuhnya membentuk benteng pertahanan. Ding Tao yang bersenjatakan
2054
pedang tidak ingin pedangnya membentur toya besi Ximen Lisi yang berat.
Jika Ximen lIsi berdiri diam di tempat, sembari menggerakkan toya besinya mengelilingi tubuhnya, maka ganti Ding Tao bergerak dengan cepat di sekeliling Ximen Lisi berusaha menemukan lubang untuk diserang. Seperti seekor lebah yang mengelilingi bunga, hanya saja bunga yang satu ini bukan hanya batangnya berduri, salah perhitungan sedikit saja bukan Ximen Lisi yang terluka tapi justru pedang atau bahkan lengan Ding Tao yang patah terlanggar oleh toya besi.
Setelah beberapa tarikan nafas, mulailah tenaga Ximen Lisi kembali terkumpul. Bagaimana bisa? Bukankah Ximen Lisi harus memutar toyanya untuk membentuk benteng pertahanan? Sekilas memang terlihat seperti itu, tapi dengan memegang toya di titik keseimbangannya, maka dengan tenaga yang relatif kecil Ximen Lisi pun bisa memutar toya besi itu dengan cepat mengitari tubuhnya. Tenaga yang membentuk benteng pertahanan itu sendiri adalah tenaga putar yang timbul dari berat toya besi itu sendiri. Ximen Lisi hanya perlu mengeluarkan sedikit tenaga untuk menjaga agar toya tetap berputar dan berputar mengikuti jalur yang dia inginkan.
2055
Begitu tenaganya kembali, ganti Ximen lisi yang menyerang dari berputar untuk bertahan, toya itu pun berputar untuk menyerang. Demikian kedua tokoh muda terbaik di jaman itu, bergantian saling menyerang dan bertahan dengan cepat.
Jurus berganti jurus, tanpa terasa 35 jurus sudah berlalu, peluh sudah membasahi tubuh keduanya. Apalagi Ximen Lisi yang harus terus menerus menggerakkan toya besi yang berat, meskipun daya kekuatan itu timbul dengan sendirinya oleh karena gaya berat dari senjata itu sendiri, tenaga yang dikeluarkan Ximen Lisi untuk mengatur gerak dari senjata itu sudah tentu lebih besar dibandingkan Ding Tao yang bersenjatakan sebilah pedang.
Beberapa kali toya besi Ximen Lisi sempat mampir ke tubuh Ding Tao, namun berbekal ilmu kebalnya yang sudah mulai dia terapkan perlahan-lahan sejak mereka mulai berhadapan, tubuh Ding Tao tidak mengalami cedera yang berarti.
Nyata meskipun Ximen Lisi sudah mengetahui keadaan Ding Tao, toh bukanlah perkara yang mudah untuk menyerang titik lemah pemuda itu. Baik lengan kirinya yang patah ataupun kepalanya, beberapa kali menjadi sasaran toya besi Ximen Lisi yang ganas, tapi Ding Tao bisa menjaga dengan baik titik-titik
2056
lemah pada dirinya. Dibarengi dengan ilmu kebal yang dia terapkan, pertahanan pemuda itu pun jadi kokoh tak tertembus oleh serangan-serangan Ximen Lisi. Namun bukan berarti ilmu kekebalan yang dia terapkan itu tidak memiliki harga, karena untuk menerapkan ilmu kebal itu sebagian konsentrasi Ding Tao jadi terpecah, antara pengaturan hawa murni untuk membentuk benteng tak terlihat bagi tubuhnya dan bertarung dengan Ximen Lisi, sehingga beberapa kali kesempatan untuk menyerang jadi tersia-siakan. Penerapan ilmu itu juga menguras cadangan hawa murni yang dia miliki. Dengan demikian setelah sekian lama bertarung, keadaan mereka berdua tidak bisa dikatakan ada yang lebih baik atau yang lebih buruk.
Seandainya saja lengan kiri Ding Tao tidak cedera mungkin dia bisa lebih leluasa dalam bergerak dan mampu mendesak Ximen Lisi tanpa harus terlalu banyak mengandalkan ilmu kekebalan.
Seandainya saja Ding Tao bisa mempergunakan pedang pusakanya, maka toya besi itu bisa dibuatnya jadi potongan-potongan kecil dalam waktu singkat.
2057
Seandainya saja Ximen Lisi tidak menggunakan senjata yang demikian berat, sehingga menghasilkan daya serang yang kuat, mungkin Ding Tao tidak perlu terlalu sering bersandar pada ilmu kekebalannya untuk melindungi tubuh, dia bisa memanfaatkan pedangnya untuk menangkis serangan lawan.
Tapi 2 dari 3 alasan tersebut terjadi karena kecerdikan Ximen Lisi dan bukan semata-mata ketidak beruntungan Ding Tao. Bagi para tokoh dunia persilatan yang menyaksikan pertarungan itu, kecerdikan Ximen Lisi tidak sepenuhnya dipandang sebagai satu kelicikan. Bagaimanapun juga bagi sebagian besar dari mereka, siasat dan strategi adalah bagian dari pertarungan. Semata-mata mengandalkan kekuatan dan kecepatan, tidak ubahnya seperti seekor banteng, bukan sesuatu yang pantas dipuji. Di lain pihak, ada pula yang justru bersimpati pada pilihan-pilihan merugikan diri sendiri yang diambil Ding Tao. Seakan tanpa siasat dia menghadapi kecerdikan Ximen Lisi, murni mengandalkan kepandaiannya dalam ilmu silat. Meskipun memiliki pedang pusaka, Ding Tao memilih untuk tidak menggunakannya dalam setiap pertarungan yang dia hadapi. Di saat melawan Bai Shixian yang bertangan kosong, bahkan dia tidak mencabut pedangnya, meskipun dia dikenal sebagai pendekar pedang.
2058
Ditambah lagi beberapa kali dia bergerak untuk menyelamatkan saingannya yang tersingkir dari bahaya kematian.
Ada yang memandang dia terlalu bodoh, ada pula yang memandang dia memegang teguh kehormatan dan harga dirinya sebagai seorang pendekar. Ada yang memandang dia sebagai seorang pendekar yang lemah hati, ada pula yang memandang dia sebagai pendekar yang penuh welas asih.
Betapa berbeda cara tiap-tiap orang memberikan arti pada sesuatu yang dia lihat dan dia dengar. Nyata sesungguhnya, penghakiman yang diberikan pada orang lain seringkali lebih mencerminkan keadaan diri sendiri dibandingkan keadaan yang sedang dihakimi. Hati yang keras akan memandang belas kasih orang lain sebagai satu kelemahan, hati yang penuh curiga akan memandang kebaikan orang lain sebagai muslihat yang disembunyikan dan hati yang hanya mencintai diri sendiri akan melihat kebaikan orang sebagai satu kebodohan. Mungkin itu sebabnya, orang berhikmat justru berhati-hati dalam menilai orang lain, sementara orang yang bodoh dengan cepat memberikan penghakiman.
Semakin lama semakin sulit bagi Ximen Lisi untuk mengendalikan tenaga dari toya besinya, hingga pada satu titik
2059
dia menyambitkan toya besi itu sekuat tenaga ke arah Ding Tao. Toya besi itu pun meluncur diiringi dengungan yang keras.
Menurut perkiraan banyak orang tentulah Ding Tao akan melompat menghindar, tapi di luar sangkaan orang justru Ding Tao menyambut datangnya toya besi itu dengan dada terbuka, meskipun tubuhnya tetap bergerak menyurut ke belakang beberapa kaki. Jika pada pertarungan sebelumnya, biji-biji senjata rahasia yang dilontarkan oleh Tong Baidun terhenti satu cun dari tubuh Ding Tao, kali ini toya besi yang dilontarkan Ximen Lisi yang terhenti satu cun jaraknya dari tubuh Ding Tao. Apakah Ding Tao dengan sengaja memamerkan kekuatan ilmu kebalnya? Ataukah toya besi itu datang begitu cepat sehingga Ding Tao tidak sempat menghindarinya? Sebelum keheranan mereka itu sempat terlontar, jawabannya sudah bisa dilihat di depan mata.
Tidak kalah cepat dari toya yang dilepaskan, menyusul pada saat yang hampir bersamaan Ximen Lisi menghamburkan senjata rahasia ke arah Ding Tao. Meskipun caranya melemparkan senjata rahasia masih kalah jika dibandingkan dengan Tong Baidun, namun kebrutalan toya besi yang dilontarkan sebelumnya seakan menjadi pengalih perhatian
2060
bagi senjata rahasia yang jauh lebih kecil dan tidak menarik perhatian seperti toya besi yang besar dan mengerikan.
Di belakang hamburan senjata rahasia itu, masih tersimpan pula kejutan yang lain. Entah sejak kapan di tangan Ximen Lisi sekarang sudah tergenggam sebatang pedang. Rupanya di dalam toya besi masih juga disembunyikan sebilah pedang. Dengan mata yang awas dan kecepatan tubuh yang meningkat setelah berganti dengan senjata yang lebih ringan, Ximen Lisi bergerak menyerang Ding Tao.
Serangan yang berlapis-lapis ini pun berhasil dimentahkan oleh Ding Tao dengan tenang. Pertama dia menyusut mundur dan menahan serangan toya besi dengan menggunakan kekebalan tubuhnya. Begitu toya besi itu kehilangan tenaga serang, dengan sangat indah dia menggerakkan tubuh dan pedangnya. Toya besi yang dilontarkan Ximen Lisi, dibuat bergerak berputaran dengan pedang Ding Tao sebagai porosnya, menjadi tameng melawan hamburan senjata rahasia yang datang. Tentu saja dengan badan dan sebelah tangan, tidak mungkin memutar toya terlalu lama, ketika pedang Ximen Lisi datang menyerang Ding Tao sudah lepas dari ancaman senjata rahasia dan toya besi pun sudah tidak lagi diperlukan. Sambil melompat menghindar dari serangan Ximen Lisi, toya besi
2061
dibiarkan saja terjatuh berputaran, menyerang kaki Ximen Lisi yang hendak menginjak lantai setelah melompat menyerang. Baru saja Ximen Lisi berhasil menghindar dari toya besinya yang berputaran dengan liar, pedang Ding Tao sudah ganti menyerang.
Seandainya Ding Tao bergerak menghindar selain menyurut ke belakang, tentu senjata rahasia Ximen Lisi akan menghadang jalannya. Saat Ding Tao kerepotan, tentu pedang Ximen Lisi akan memanfaatkan lubang yang tercipta.
Namun setiap serangan Ximen Lisi sudah diantisipasi oleh Ding Tao. Pemuda itu yakin sepenuhnya bahwa Ximen Lisi bukan orang yang mudah merasa putus asa, sehingga melemparkan senjata yang dia gunakan tanpa menyiapkan sesuatu di baliknya. Oleh karena itu ketika toya besi dilontarkan, Ding Tao pun menajamkan mata, membiarkan pedang di tangan kanannya dalam keadaan siap bergerak, sambil menggunakan ilmu kekebalannya untuk menahan lajunya toya besi yang datang.
Dari diserang berbalik menjadi penyerang dalam satu jurus yang sama, mereka yang menyaksikan mau tidak mau
2062
berdecak kagum dan mengakui keahlian Ding Tao bermain pedang, ketenangan dan kemampuannya membaca keadaan.
Dari 3 keuntungan yang berhasil diciptakan Ximen Lisi, dua di antaranya sudah hilang. Setelah tenaganya terperas akibat menggunakan toya besi yang berat tanpa memberikan hasi lyang maksimal, sekarang Ximen Lisi dipaksa untuk bertarung menggunakan pedang yang jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan toya besinya. Dengan sendirinya tenaga serangnya jauh lebih menurun, karena sekarang Ding Tao tidak perlu takut untuk mengadu senjata. Meskipun senjata Ding Tao bukanlah sebuah pedang pusaka, tapi kualitasnya tidak di bawah pedang milik Ximen Lisi. Keadaanpun berbali jadi tidak menguntungkan bagi Ximen Lisi. Meski bukan berarti Ding Tao bisa mengalahkannya dengan mudah. Di balik jubah luar yang lebar itu, entah masih ada senjata apa lagi yang tersembunyi.
Banyaknya variasi serangan dan jenis ilmu yang dimiliki Ximen Lisi terbukti menjadi ancaman yang tidak ringan bagi lawan-lawannya. Apakah kali ini Ding Tao juga akan jatuh, mengikuti Lei Jianfeng dan Lu Jingyun, yang sudah termakan kelihaian Ximen Lisi?
2063
Sepertinya tidak, meskipun masih berusia muda, Ding Tao dengan hati-hati menjaga kedudukannya yang lebih baik. Pemuda itu tidak terburu nafsu menggunakan kesempatan yang ada untukmengakhiri perlawanan Ximen Lisi secepatnya. Serangan-serangannya cepat tapi terukur, meskipun Ximen Lisi tidak bisa dijatuhkan dalam satu serangan, namun Ximen Lisi pun tidak menemukan celah dalam pertahanan Ding Tao yang bisa dimanfaatkan untuk membalikkan keadaan.
Perlahan namun pasti Ximen Lisi didesak oleh serangan-serangan Ding Tao. Bagi mereka yang sudah pernah bertarung dengan Ding Tao, dengan yakin mereka memprediksikan kemenangan Ding Tao. Ketika Ding Tao sudah mulai memainkan jurus-jurusnya dengan mantap seperti saat ini, jarang terjadi ada yang bisa lolos dari permainan pedangnya. Ximen Lisi bukanlah perkecualian, meskipun Ximen Lisi memiliki banyak akal dan terbukti tidak kalah dalam hal kekayaan ilmu dan ketajaman pengamatan. Tapi ilmu pedang Ximen Lisi tidaklah sematang ilmu pedang Ding Tao. Serangan Ding Tao lebih tajam dan lebih mantap, variasi perkembangan jurus pedang yang dimilikinya jauh lebih kaya. Pada saat-saat seperti inilah baru terasa kekurangan Ximen Lisi yang memilih untuk tidak mendalami satu jenis senjata saja.
2064
Seperti tukang sulap yang sudah kehabisan tipuan, Ximen Lisi tidak memiiki apa-apa lagi untuk digunakan melawan Ding Tao. Pertarungan jadi berlangsung lebih lama dari yang diperlukan, karena Ding Tao ragu-ragu, dengan cara apa dia bisa mengalahkan Ximen Lisi tanpa melukainya dengan parah. Tadinya dia berharap, bisa membuat Ximen Lisi terjebak dalam permainan pedangnya, perlahan-lahan diarahkan pada satu posisi di mana Ximen Lisi tidak memiliki jalan lain lagi. Seperti Tong Baidun yang ditodong ujung pedang di keningnya. Siapapun yang melihat bahkan Tong Baidun pun sendiri tidak akan bisa mengelak bahwa Ding Tao telah menang, tanpa Ding Tao harus membuat lawannya jatuh tergeletak, penuh luka dan tak berdaya di atas panggung. Berbeda antara keinginan dan keadaan yang sesungguhnya, Ximen Lisi memang cerdik, tidak kalah cerdik dibandingkan Ding Tao. Ilmunya pun sangat beragam, sehingga pengamatannya atas serangan-serangan Ding Tao, tidak berada di bawah Ding Tao. Demikian pula kecepatan dan ketepatan dia dalam mengambil keputusan.
Akibatnya sekian lama Ding Tao berusaha mendesak Ximen Lisi pada posisi mati tersebut, tidak juga dia berhasil.
Jika Ding Tao mau mengeraskan hati, maka bisa saja serangannya berhasil masuk. Namun Ximen Lisi akan mati atau
2065
terluka parah, tanpa sempat menyerah. Satu hal yang tidak diingini Ding Tao dan agaknya Ximen Lisi pun mengerti hal ini. Sehingga jika Ximen Lisi dihadapkan pada pilihan yang beresiko, tanpa ragu pendekar muda itu mengambil jalan tersebut, karena yakin bahwa Ding Tao tidak akan memanfaatkan kesempatan itu untuk melukainya.
Hal ini tentu tidak luput dari pengamatan sekian orang yang menyaksikan. Suara desahan panjang, terdengar di sana-sini. Entah dari mereka yang memandang Ding Tao seorang yang lemah hati, atau mereka yang menyesali betapa Ximen Lisi keras kepala dan tidak mau mengakui kekalahan.
Bukan hanya mereka yang menyaksikan saja yang mulai hilang kesabarannya, Ding Tao pun ikut mulai hilang kesabarannya. Terutama karena dia menyadari bahwa tenaganya mulai melemah. Baik dia maupun Ximen Lisi semakin lama akan semakin kehabisan tenaga. Dengan tenaga yang kurang, maka penguasaan atas senjata dan pelaksanaan jurus-jurus pun jadi berkurang. Jika diteruskan maka bukan tidak mungkin Ding Tao akan melukai Ximen Lisi tanpa sengaja. Atau bisa juga Ximen Lisi yang memenangkan pertarungan akibat kesalahan Ding Tao dalam melakukan jurus-jurus pedangnya. Sehingga akhirnya Ding Tao pun memutuskan untuk mengakhiri
2066
pertarungan ini secepat mungkin, sebelum dia semakin banyak kehilangan kendali atas jalannya pertarungan.
Dalam keadaannya itu, pemuda ini pun teringat pada cerita-cerita kepahlawanan yang sering dia dengar di masa kanak-kanaknya. Bagaimana seorag pendekar pedang menunjukkan kelebihannya atas lawan, dengan memutuskan ikat kepala lawan tanpa melukai, atau mungkin memotong putus beberapa kancing baju lawan sekedar untuk menunjukkan bahwa jika dia mau dia bisa saja membunuh lawan.
Kisah itu tentu saja menjadi kisah yang membuat semangat Ding Tao yang masih kanak-kanak semakin berkobar untuk belajar ilmu silat, terutama ilmu pedang. Namun dengan beranjak dewasanya Ding Tao kecil, Ding Tao semakin menyadari, bahwa hal itu mudah diceritakan dan dibayangkan, tapi sesungguhnya sulit untuk dilaksanakan. Namun setelah berkutat sekian lama tanpa hasil Ding Tao memutuskan untuk mencoba. Meskipun dia tidak yakin bisa melakukan seperti apa yang dikisahkan dalam kisah-kisah kepahlawanan itu. Setidaknya dia memiliki keyakinan, bahwa kalaupun sampai Ximen Lisi terluka, dia tidak akan terluka terlalu parah. Setidaknya lukanya masih bisa disembuhkan dan tidak mengancam jiwanya.
2067
Setelah mengambil keputusan maka dengan sendirinya keraguan dan kekhawatiran yang berlebih menghilang. Permainan pedang Ding Tao pun jadi semakin mantap.
Dalam satu gerak tipu, pedang Ximen Lisi yang menangkis serangan pedang Ding Tao yang menyerang bahu kanannya, justru dibuat bergerak terlalu jauh keluar. Sebaliknya pedang Ding Tao dengan cantik bergerak melingkar, seperti sedang menyusuri pedang Ximen Lisi dengan lembut, kemudian berbalik arah menyerang ke arah tubuh Ximen Lisi.
Ding Tao tidak terlalu berambisi untuk memutuskan ikat kepala Ximen Lisi, kepala yang lebih kecil dibanding tubuh, jadi sasaran yang lebih sulit. Belum lagi meskipun pedangnya hanya menggores tipis, jika yang kena adalah mata bukankah Ximen Lisi akan menjadi buta. Jika sampai ujung hidungnya terpotong atau timbul goresan luka memanjang, bukankah hal itu akan menjadi cacat yang dibawa seumur hidup. Perasaan Ding Tao yang halus tidak menginginkan hal itu terjadi. Karena itu dia memutuskan untuk berusaha, menyobek saja baju di bagian jantung Ximen Lisi, sebagai tanda, bahwa jika dia ingin dia bisa menusuk jantung Ximen Lisi dan membunuhnya.
‗Brett….‘, suara baju yang tersobek.
2068
Bersamaan dengan kejadian itu terdengar pekikan terkejut dari dua tempat. Yang pertama dari bawah panggung, dari salah seorang penonton, terdengar suara dua orang pria berseru kaget. Yang kedua adalah dari atas panggung sendiri, pekikan terkejut yang nadanya terlalu tinggi bagi seorang laki-laki.
Kalau bukan laki-laki tentu seorang perempuan atau tepatnya seorang gadis. Tapi di mana ada seorang gadis di atas panggung itu? Yang ada adalah Ding Tao dan Ximen Lisi.
Ding Tao sedang berdiri terpaku dengan mata terbelalak oleh rasa kejut dan mulut terbuka, hendak berbicara namun otaknya terlampau bingung hingga tak bisa bersuara. Ximen Lisi berdiri dengan wajah pucat lesi, pipi bersemu merah muda dan mata membara. Tangannya tidak lagi memegang pedang, namun memegangi bagian dari jubah luar dan bajunya yang terobek oleh sabetan pedang Ding Tao.
Hampir berbarengan dua sosok melompat ke atas panggung, ketika mereka sudah mendarat, orang pun segera mengenal siapa mereka berdua. Yang pertama adalah Zhu Jiuzhen dan yang menyusul belakangan namun sampai di saat yang bersamaan adalah Lu Jingyun. Zhu Jiuzhen tidak mempedulikan Ding Tao, tidak pula ambil pusing dengan Lu
2069
Jingyun yang bergerak menengahi Zhu Jiuzhen dan Ding Tao seandainya, seakan-akan dia khawatir jika dua orang itu akan bentrok di atas panggung.
―Shu Lin, apakah kau tidak apa-apa?‖, tanya Zhu Jiuzhen pada Ximen Lisi.
Ximen Lisi yang disapa dan ditanya dengan nama Shu Lin tidak menjawab pertanyaan Zhu Jiuzhen dengan segera, matanya masih memandangi Ding Tao dengan tajam. Ding Tao yang akhirnya berhasil juga menguasai keterkejutannya, apalagi dengan hadirnya Lu Jingyun dan Zhu Jiuzhen dengan cepat merangkapkan tangan di depan dada dan menunduk dalam-dalam.
―Maaf, tidak sengaja. Kuharap nona tidak salah paham, maksud hati hanya memastikan kemenangan tanpa melukai siapa-siapa.‖, ujarnya dengan sangat sopan.
Setelah sekian lama diceritakan, rasanya para pembaca sudah bisa menduga dengan sendirinya apa yang barusan terjadi. Seharusnya penulis tidak perlu menceritakan lebih panjang, tapi mungkin karena dia mengejar setoran, harus menulis sekian ribu kata, ditulisnya juga penjelasannya. Segera setelah
2070
pedang Ding Tao menyambar, persis seperti yang dia harapkan, mata pedangnya berhasil merobek jubah luar dan baju bagian atas dari Ximen Lisi tanpa mengenai tubuh Ximen Lisi. Pameran ketepatan ini sendiri, sungguh mengagumkan, meskipun jika Ding Tao ditanya maka dia akan menjawab dengan jujur bahwa 7 dari 8 bagian hal itu terjadi karena keberuntungan saja dan bukan murni berdasarkan kemampuan. Harusnya selesai sampai di situ, tapi cerita tidak berhenti di sana, dalam waktu yang sekejapan itu helai baju yang terkoyak menunjukkan bagian dada Ximen Lisi dan membongkar rahasianya.
Kejut dan malu, Ximen Lisi pun berteriak, lupa sudah dengan pedang dan pertarungan, yang teringat hanyalah secepat mungkin menangkap jubah luar yang terkoyak dan menutupkannya ke bagian dada yang sempat sekilas terbuka.
Tapi sampai di sini tentu belum menjawab, mengapa pula Zhu Jiuzhen dan Lu Jingyun ikut berteriak kaget dan mereka berdua susul menyusul melompat ke atas panggung. Dari sapaan Zhu jiuzhen, bisa kita simpulkan pendekar muda ini sudah mengetahui rahasia Ximen Lisi dan nama asli Ximen Lisi adalah Shu Lin, entah apa nama marganya. Untuk lebih jelasnya ada
2071
baiknya, beberapa puluh kata yang dibuang percuma oleh penulis dihentikan dulu sampai di sini.
Setelah mendengar Ding Tao meminta maaf, wajah Ximen Lisi atau Nona Shu Lin ini pun dengan cepat melunak, sekarang wajahnya tidak segarang tadi. Sekarang dia menundukkan wajahnya yang bersemu merah dan pendekar tertampan di propinsi Shanxi ini pun jadi makin terlihat tampan, atau lebih tepatnya terlihat cantik. Tubuhnya terhitung tinggi bagi ukuran seorang gadis, tadinya jubah luar yang dia kenakan mengesankan tubuh yang kekar di balik jubah itu, tapi sekarang saat tangannya menarik jubah itu kuat-kuat untuk menutupi dadanya, barulah terlihat, mungkin benar terhitung kekar bagi ukuran seorang gadis, tapi lekak-lekuk tubuh seorang gadis tidaklah hilang oleh karenanya. Justru di bagian yang harusnya menonjol maka benar-benar menonjol dan di bagian yang rata, benar-benar rata, dengan lekukan yang menggoda. Meskipun terkesan kelaki-lakian, ada pula daya tarik sendiri yang muncul dari nona yang gagah ini.
Zhu Jiuzhen yang tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, mengulangi lagi pertanyaannya itu, ―Shu Lin… apa kau baik-baik saja?‖
2072
Mendengar pertanyaan Zhu Jiuzhen, Ximen Lisi atau Shu Lin mengangkat wajahnya dan menyemprot pemuda itu dengan keras, ―Kenapa juga masih tanya-tanya!? Memangnya matamu itu buta? Tidak bisa melihat? Atau saat ini aku sedang tertelungkup bersimbah darah? Pakai matamu, menurutmu aku baik-baik saja atau tidak?‖
Merah padam sudah wajah Zhu Jiuzhen disemprot oleh Ximen Lisi disaksikan oleh hampir seluruh tokoh dunia persilatan yang hidup di masa itu. Meski demikian pemuda itu tidak berubah menjadi marah pada Ximen Lisi atau Shu Lin, kemarahannya justru dialihkan pada Ding Tao yang berdiri serba salah, tidak tahu harus berbuat apa karena keadaan tiba-tiba mengarah pada situasi yang tidak pernah dia bayangkan.
Sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajah Ding Tao, Zhu Jiuzhen menanyainya dengan keras, ―Ketua Ding Tao, seorang laki-laki yang terhormat, mengapa berbuat demikian rupa? Mempermalukan seorang gadis di hadapan sekian banyak orang. Sekarang apa yang hendak ketua lakukan? Bagaimana tanggung jawab ketua pada Nona Shu Lin?‖
Wajah Ding Tao jadi ikut memerah, bagaimanapun juga dia merasa bersalah juga dalam hal ini, dengan sedikit terbata dia
2073
pun menjawab, ―Tentang hal itu… tentang hal itu sekali lagi aku katakan, adalah bukan kesengajaan…‖
Belum selesai Ding Tao berbicara Ximen Lisi sudah menyergah Zhu Jiuzhen, ―Hei… apa kau marah karena perkataanku? Kalau memang marah, labrak saja aku? Mengapa juga kau menyalahkan orang yang tidak bersalah?‖
Ah apa mau dikata, maksud Zhu Jiuzhen maju membela Ximen Lisi, tapi Ximen Lisi yang dibela justru membela Ding Tao yang menurut Zhu Jiuzhen sudah mempermalukan Ximen Lisi. Pemuda itu pun tergagao dan tidak bisa menjawab. Melihat keadaan Zhu Jiuzhen mau tidak mau Ding Tao pun merasa kasihan. Dia bisa merasakan perasaan pemuda itu, seandainya dia yang ada di posisinya, entah seperti apa wajahnya saat ini. Lu Jingyun yang sepertinya lega karena Zhu Jiuzhen tidak sampai bentrok dengan Ding Tao, menggamit tangan Zhu Jiuzhen.
―Sudahlah Saudara Jiuzhen, lupakan saja masalah ini, bukankah tentang keberadaan Shu Lin sebagai seorang wanita memang tidak ada seorangpun yang tahu? Kau tidak bisa menyalahkan Ketua Ding Tao atas apa yang terjadi kali ini.‖,
2074
ujar Lu Jingyun berusaha mendamaikan suasana hati Zhu Jiuzhen.
Ding Tao yang ikut bersimpati dengan cepat merangkapkan tangan dan sedikit membungkuk pada Zhu Jiuzhen, ―Saudara Zhu Jiuzhen, aku sungguh minta maaf atas apa yang terjadi barusan. Kukira Nona Shu Lin tentunya adalah sahabat dekat Saudara Zhu Jiuzhen, atas apa yang terjadi atas dirinya, aku dengan setulus hati memohon maaf pada kalian berdua.‖
Lu Jingyun mengangguk puas dengan sikap rendah hati Ding Tao, sementara Zhu Jiuzhen menganggukkan kepala menerima maaf Ding Tao, sambil menggumamkan beberapa patah kata maaf. Setelah disergah dari berbagai jurusan, kemudian dia mendapatkan tanggapan yang simpatik dan rendah hati dari Ding Tao, membuat emosi sesaat yang menggelapkan pertimbangannya hilang pada saat itu juga. Dengan penuh rasa syukur Lu Jingyun menepuk-nepuk bahu Zhu Jiuzhen, sepertinya semua sudah beres.
Tiba-tiba Ximen Lisi memelototi Ding Tao dan bertanya, ―Eh, mengapa juga kau malah meminta maaf padanya? Sudah jelas dia yang bersalah dalam hal ini, kau meminta maaf padanya
2075
kan justru membuatku seperti orang yang bersalah, karena sudah mengingatkan dia?‖
―Eh...? Ah… tentu saja bukan seperti itu maksudnya. Nona Shu Lin, kuharap kau mengerti, biarlah urusan ini disudahi sampai di sini.‖, ujar Ding Tao tergagap.
Sebelum Shu Lin atau Ximen Lisi bicara lebih panjang, di luar tahu mereka sudah hadir di atas panggung, Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan, Tetua Xun Siaoma, Bhiksuni Huan Feng, Zhong Weixia dan Guang Yong Kwang. Wajah dua orang yang terakhir, kurang sedap dipandang, tapi toh mereka bukan orang yang mudah ditebak perasaannya. Bhiksu Khongzhen dengan wajah ramah dan senyum lebar menepuk pundak Ding Tao, sebelum kemudian menoleh ke arah Ximen Lisi.
―Ah… rupanya Ketua Ximen Lisi yang terkenal dari Shanxi adalah seorang gadis muda belia lagi jelita. Benar-benar sebuah kejutan, kuharap nona bisa memaafkan kesalahan sikap beberapa orang muda ini. Jika tidak keberatan, biarlah persoalan di antara kalian bisa diselesaikan secara pribadi setelah semuanya selesai. Bagaimana menurut nona?‖, ujar Bhiksu Khongzhen dengan ramah.
2076
Bahkan Ximen Lisi yang tidak punya rasa takut inipun masih merasa segan pada ketua Shaolin yang berilmu tinggi namun rendah hati ini.
―Maafkan sikapku, memang benar aku menyembunyikan identitasku yang sesungguhnya, bahkan para pengikutku pun hanya sedikit yang tahu. Nama siauwtee yang sebenarnya adalah Wang Shu Lin.‖, jawab Ximen Lisi atau Wang Shu Lin dengan sopan.
―Wang Shu Lin… apakah puteri dari Pelajar berbudi Wang Yang Hong?‖, tanya Bhiksu Khongzhen dengan pandang tertarik.
Dengan hormat Wang Shu Lin menjawab, ―Benar Bhiksu…‖
―Ah… rupanya begitu…, apakah Adik Khongti baik-baik saja?‖, tanya Bhiksu Khongzhen setelah terdiam sejenak, di sisinya Pendeta Chongxan ikut mendengarkan dengan penuh perhatian.
Demikian juga ke-4 ketua perguruan besar yang lain, ikut memperhatikan Wang Shu Lin dengan penuh perhatian. Wang Shu Lin memandang ke arah wajah Bhiksu Khongzhen dengan
2077
pandang mata penuh selidik, kemudian setelah diam beberapa lama dia pun menjawab.
―Keadaan Paman Khongti sangat baik adanya, demikian juga dengan kelima paman yang lainnya, mereka sekarang menikmati kehidupan yang damai dan tenang di suatu desa kecil, hidup sederhana sebagai peternak dan petani. Jika tidak sedang bekerja, maka mereka akan bermain catur atau membaca-baca tulisan dari para guru besar yang hidup di masa lampau. Memikirkan masalah agama dan bukan masalah dunia.‖, demikian jawab Wang Shu Lin.
Wajah Bhiksu Khongzhen tampak lega, demikian pula wajah Pendeta Chongxan dan Bhiksuni Huan Feng. Tetua Xun Siaoma tampak merenung sejenak, kemudian menganggukkan kepala dan menghela nafas, seperti seorang ayah yang merelakan anaknya pergi memilih jalan sendiri. Beda dengan Zhong Weixia dan Guang Yong Kwang, mereka berdua tampak kurang puas dengan jawaban Wang Shu Lin, hanya saja memandang masalah itu sebagai masalah yang tidak cukup penting untuk mereka pikirkan.
Dengan sedikit ketus Zhong Weixia bertanya pada Wang Shu Lin, ―Dari Pang Boxi, apa saja yang kau pelajari?‖
2078
Wang Shu Lin menatapnya dengan rasa tidak suka dan menjawab, ―Dari Paman Pang Boxi aku hanya mendapat sedikit petunjuk tentang bagaimana memainkan sepasang kapak dan sebilah pedang berkait. Menurutnya, kemungkinan besar pada generasi yang berikut tentu Ketua Zhong Wei Xia akan terpilih menjadi Ketua Khongtong dan dirinya merasa segan untuk mengajariku lebih oleh sebab orang itu.‖
Zhong Weixia menyeringai kejam dan berkata, ―Baguslah dia mengerti diriku dengan baik, kepadamu aku peringatkan baik-baik, jika sampai aku mendapatimu berkelahi dengan menggunakan salah satu ilmu simpanan Perguruan Khongtong, bukan hanya dirimu yang kukejar, Pang Boxi yang murtad itu pun jangan harap bisa hidup lebih lama.‖
Wang Shu Lin dengan benci memandangi Zhong Wei Xia kemudian menjawab dengan hormat, ―Perkataan Ketua Zhong Weixia akan kuingat baik-baik.‖
―Bagaimana dengan Paman Chen Taijiang?‖, tiba-tiba Guang Yong Kwang bertanya pula.
Dengan pandang mata yang berapi-api, Wang Shu Lin menatap tajam Guang Yong Kwang dan dengan jawaban yang
2079
tidak kalah hormat dia menjawab, ―Paman Chen Taijiang mengajariku berbagai wejangan Guru besar Lao Tze. Diajarkannya pula pergerakan bintang-bintang dan benda-benda di angkasa. Juga tentang lima unsur dalam dunia serta hubungannnya. Selain itu tidak ada hal lain yang dia ajarkan.‖
Guang Yong Kwang bukannya tidak menangkap nada sinis dalam sikap Wang Shu Lin yang sopan, bahkan sopan secara berlebihan, tapi dengan tetap menjaga sikapnya sebagai seorang ketua dia pun menjawab dengan tidak kalah sopannya, ―Syukurlah kalau Paman Chen Taijiang hidup dengan damai. Baguslah kalau di mana pun dia berada, dia selalu ingat akan aturan dari perguruan yang membesarkan dia.‖
Pendeta Chongxan menunggu suasana sedikit mereda sebelum kemudian berkata dengan lemah lembut pada Wang Shulin, ―Keponakanku, jika kau sempat bertemu dengan adikku, Paman Zhu Yanyan, katakanlah padanya, banyak saudara di Wudang yang rindu ingin bertemu. Jika dia mau datang, tentu kita akan siapkan pesta perayaan yang ramai. Jika dia ingin datang bersama sahabat yang lain, kami dari Wudang akan menerima dengan senang hati dan akan kami anggap seperti saudara sendiri.‖
2080
Berhadapan dengan Pendeta Chongxan, berbeda lagi sikap Wang Shulin, dengan sedikit sendu dia menjawab, ―Paman Zhu Yanyan sering bercerita tentang anda dan paman-paman di Wudang. Jika sedang rindu pada saudara-saudara yang di Wudang, seringkali beliau meminum arak sendirian sambil bermain pedang. Tapi sebelum aku pergi, beliau berpesan, bahwasannya beliau tidak ingin menyusahkan kalian semua. Biarlah segala perasaan cukup disimpan dalam hati. Asalkan ada saling mengerti dan percaya.‖
Pendeta Chongxan pun terdiam beberapa lama sebelum mendesah dan bertanya, ―Apakah keponakan masih sering berjumpa dengan ke-enam paman?‖
Terhadap pertanyaan itu Wang Shu Lin menggeleng dengan sedih, ―Segera setelah tamat belajar, ke-enam paman pergi menghilang. Hanya sekali mereka mengirim surat, sekedar memberitahukan bahwa keadaan mereka baik-baik adanya. Agar keponakan tidak perlu banyak berkuatir tentang keadaan mereka. Asalkan keponakan dengan tekun melaksanakan kewajiban sebagai seorang anak terhadap orang tuanya, sebagai seorang murid pada gurunya. Tentu mereka yang mendengar kabar tentang keponakan akan merasa berbahagia.‖
2081
Tetua Xun Siaoma yang sedari tadi diam mendengarkan ikut pula berkata, ―Anak Shu Lin, peristiwa menghilangnya keluargamu dalam sebuah perjalanan, bersamaan pula dengan hilangnya enam sahabat pengikat perguruan besar, apakah ada hubungannya dengan gerakanmu menghajar habis 16 orang kepala geng di Shanxi?‖
Wang Shu Lin memandang sejenak wajah Xun Siaoma dan tidak mendapati sikap bermusuhan seperti yang ada pada Zhong Weixia atau Guang Yong Kwang, tapi sikap bersahabat yang sama seperti pada wajah Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan dan juga Bhiksuni Huan Feng. Melihat itu diapun tersenyum ramah.
―Benar sekali paman, meskipun tidak ada bukti yang kuat, hanya keponakan seorang sebagai saksi, bagaimana pun juga dari penyelidikan ke-enam paman dan dari apa yang keponakan saksikan, kecurigaannya kuat ada 9 orang dari ke-16 orang itu. Meskipun tidak bisa memastikan siapa yang 9 dari 16 orang itu, toh 16 orang itu sama jahatnya.‖, jawan Wang Shu Lin dengan penuh semangat.
Sikapnya yang sedikit berangasan ini tentu saja sesuai dengan Xun Siaoma yang di masa mudanya pernah mendatangi 9
2082
orang pendekar pedang di 9 propinsi hanya untuk memahsyurkan reputasi ilmu pedang milik Hoashan. Meskipun usianya yang sudah lanjut meredam banyak kegarangannya di masa muda, mendengar jawaban Wang Shu Lin yang bernada berani namun juga sembarangan itu, tokoh tua ini pun tertawa terbahak-bahak.
―Ha ha ha …, benar-benar, aku tahu ayahmu hanya seorang sastrawan, namun seorang sastrawan dengan nyali harimau. Sungguh pantas kalau kau ini jadi puterinya. Baguslah, kau pesanlah juga pada ke-enam pamanmu, bukan hanya Wudang yang membuka pintu bagi mereka, Hoasan juga terbuka bagi mereka.‖, ujarnya dengan bersemangat.
―Ucapan paman tentu aku ingat baik-baik, seandainya ada kesempatan untuk menyampaikannya, keponakan tentu akan menyampaikannya.‖, jawab Wang Shu Lin dengan wajah cerah.
Berturut-turut Bhiksu Khongzhen dan Bhiksuni Huan Feng mengungkapkan hal yang sama. Wajah Zhong Weixia dan Guang Yong Kwang makin tidak sedap saja untuk dilihat. Sementara itu mereka yang di bawah panggung dan tidak ikut bercakap-cakap. Mempercakapkan sendiri di antara mereka tentang Ximen Lisi yang ternyata adalah saruan dari seorang
2083
gadis bernama Wang Shu Lin. Gelaran ―Enam Sahabat Pengikat Enam Perguruan Besar‖, cukup dikenal belasan tahun yang lalu. Meskipun sekarang sudah mulai dilupakan orang sejak menghilangnya mereka dari dunia persilatan. Mereka adalah 6 orang pendekar dari 6 perguruan besar, meskipun berasal dari perguruan yang berbeda-beda, mereka terikat erat dalam satu persahabatan. Satu hubungan yang di masa itu menggambarkan sisa-sisa kedekatan 6 perguruan besar yang ada di masa lalu. Ke-enamnya bukanlah tokoh yang berilmu tinggi, meskipun tidak bisa dikatakan lemah. Namun nama-nama perguruan di belakang mereka yang membuat orang segan terhadap mereka ber-enam.
Keseganan orang atas asal-usul mereka, tidak membuat ke-enam orang ini bertindak pongah. Justru sebaliknya hal itu sering menjadi beban bagi mereka. Karena itu tidak pernah sedikitpu mereka ber-enam berpaling pada perguruannya jika sedang ditimpa masalah. Melainkan bersama-sama sebagai 6 orang sahabat mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Bagaimana pun juga, karena kedudukan dan tingkatan mereka, ditambah lagi dengan nama besar dibalik punggung mereka. Bisa dikatakan kehidupan mereka dalam dunia persilatan tidaklah banyak dilanda badai dan ancaman. Sesekali mereka
2084
bergerak bersama menolong orang, pihak yang bentrok biasanya memilih untuk mundur atau mengalah segera setelah tahu siapa yang datang.
Tidak ada yang terlampau mengherankan dalam keberadaan mereka sebagai bagian dari dunia persilatan, sampai pada kejadian menghilangnya Wang Yang Hong, seorang sahabat dari ke-enam orang pendekar tersebut. Persahabatan itu terjalin belum begitu lama, ketika sebuah nasib buruk menimpa Wang Yang Hong. Disebabkan perkataannya yang jujur dan tidak mau kenal bahaya, Wang Yang Hong bentrok dengan seorang ketua geng di Shanxi dalam satu perkara pengadilan. Tidak banyak yang tahu apa yang kemudian terjadi, namun menilik dari percakapan Wang Shu Lin dan ke-enam orang ketua perguruan besar, bisa disimpulkan bahwa ada 9 orang kepala geng di Shanxi yang bekerja sama untuk membalas dendam dan melenyapkan Wang Yang Hong sekeluarga. Wang Shu Lin sendiri diselamatkan oleh ke-enam pendekar itu, serta dididik dalam ilmu bela diri agar dapat membalaskan dendam orang tuanya.
―Kenapa ke-enam pendekar itu tidak membalaskan dendam Wang Yang Hong sendiri? Mengapa harus mewakilkannya
2085
pada puterinya?‖, tanya seorang muda pada salah seorang seniornya.
Beberapa telinga pun ikut dipasang untuk mendengar penjelasan dari senior orang muda itu. Kebetulan sejak tadi penjelasan dan uraiannya terdengar masuk akal. Yang sedang ditanya ini adalah seorang murid Wudang yang suka berkelana, dikenal dengan wawasan yang luas dan mulut yang bocor alias suka sekali bercerita, sukar menyimpan rahasia.
―Kukira ada beberapa sebab. Yang pertama, ke-enam pendekar tersebut menyadari bahwa bakat mereka dalam bela diri memang tidak cukup untuk menghadapi 9 orang ketua geng yang bersatu itu. Kukira 9 orang itu sendiri tentu paham bahwa Wang Yang Hong adalah sahabat dari mereka berenam, itu sebabnya mereka urun bersama dalam melampiaskan sakit hati pada Wang Yang Hong. Hal ini tentu saja bukan karena takut pada Wang Yang Hong, karena dia hanyalah seorang sastrawan biasa, melainkan lebih karena hubungan Wang Yang Hong dengan ke-enam pendekar tersebut.‖, ujarnya menjelaskan.
―Hmm… masuk akal, kebetulan mereka melihat Wang Shu Lin memiliki bakat yang lebih baik dari mereka berenam, jadi
2086
mereka memutuskan untuk melatih Wang Shu Lin dan mengutusnya untuk membalas dendam. Lagipula dia adalah puteri Wang Yang Hong satu-satunya, tidak ada orang lain yang lebih tepat untuk itu. Kau bilang ada sebab lain, apa sebab lainnya itu?‖, tanya adik seperguruan-nya.
―Sebenarnya kalau sekedar masalah kekuatan, bukankah mereka bisa minta bantuan pada saudara seperguruan mereka? Namun yang jadi masalah ke-enam pendekar ini memiliki harga diri yang tinggi. Karena urusan ini dipandang sebagai urusan pribadi, maka memalukan adanya jika mereka sampai harus merepotkan saudara seperguruan mereka. Selamanya urusan Enam Sahabat Pengikat Enam Perguruan Besar, selalu diselesaikan sendiri oleh mereka. Ini sebab kedua.‖, jawab kakak seperguruannya.
―Ya…, kalau sekedar tidak bisa membalaskan dendam dengan kekuatan sendiri, bukan berarti harus mengajarkan Wang Shu Lin ilmu-ilmu perguruan mereka. Bisa juga mereka meminta bantuan dari saudara-saudara seperguruan. Tapi akibat dari gengsi mereka ini, mereka harus menyingkirkan diri dari dunia persilatan. Jika tidak tentu harus berhadapan dengan aturan perguruan yang melarang murid-muridnya untuk mengajarkan
2087
ilmunya pada orang luar.‖, ujar adik seperguruannya sambil menganggukkan kepala.
―Benar…, demi sebuah gengsi mereka melanggar peraturan perguruan mereka. Tapi bagaimanapun juga, rasa kesetia kawanan mereka patut dipuji.‖, jawab kakak seperguruannya.
―Tunggu dulu kak, kalau memang dua alasan itu saja, mengapa mereka tidak mengantarkan Wang Shu Lin ke Wudang untuk diajar? Dengan bakatnya Wang Shu Lin tentu akan bisa mencapai taraf yang tinggi dan bisa membalaskan dendam orang tuanya tanpa harus ada yang melanggar peraturan perguruan?‖, tiba-tiba adik seperguruannya berseru.
―Hmm… karena kau murid Wudang maka kau berkata demikian. Jika kau murid Hoashan maka kau akan berkata, mengapa mereka tidak mengantarkan Wang Shu Lin ke Hoashan, dan demikian seterusnya. Harus kau ingat hubungan erat dari mereka ber-enam, jalan yang kau berikan akan membuat seorang di antara mereka lebih berjasa sementara 5 orang yang lain tidak berkesempatan menunjukkan persahabatan mereka pada almarhum Wang Yang Hong.‖, jawab kakak seperguruannya dengan cepat, rupanya hal inipun sudah terpikirkan olehnya.
2088
Mendengar perkataan kakaknya itu, sang adik seperguruan terpekur beberapa lama, ―Hmm… ya, ya, sekarang bisa kubayangkan keadaan mereka berenam saat itu.‖
Terdiam sejenak, tiba-tiba dia pun kembali berkata, ―Ah… sungguh mengagumkan rasa kesetia kawanan mereka. Demikian juga keengganan mereka untuk melibatkan perguruan tempat mereka belajar, kurasa tidak melulu disebabkan karena rasa gengsi yang berlebihan. Kalau mengambil jalan demikian, tidak mungkin enam perguruan besar bergerak bersama hanya karena urusan seperti ini. Di lain pihak menyerahkan pada salah satu perguruan akan membentur hal yang sama dengan pemecahan yang sebelumnya kuajukan.‖
Kakak seperguruannya pun tersenyum sambil menepuk bahu adik seperguruannya itu, ―Nah… baguslah kalau kau bisa belajar untuk menempatkan diri di posisi orang lain. Seringkali pertikaian yang tidak perlu, bisa terjadi hanya karena kita tidak bisa menempatkan diri pada posisi orang lain.‖
―Hmm apakah kakak juga tahu, apa hubungan Zhu Jiuzhen dan Lu Jingyun dalam masalah ini?‖, tanya adik seperguruannya.
2089
―Heheheh, kalau soal ini secara pastinya aku tidak bisa menebak. Tapi dari percakapan di antara mereka bisa kukatakan kalau Zhu Jiuzhen sepertinya menaruh hati pada Wang Shu Lin, hal itu tidaklah aneh karena mereka pernah saling membantu ketika Wang Shu Lin menghabisi 16 orang kepala geng di Shanxi. Tentang Lu Jing Yun, dia adalah sahabat Zhu Jiuzhen dan keikut sertaannya dalam pemilihan Wulin Mengzhu ini, mungkin ada hubungannya dengan hal itu.‖, ujar kakak seperguruannya.
―Hmm… mungkin Zhu Jiuzhen yang menaruh hati pada Wang Shu Lin, mungkin menyatakan perasaannya itu pada Wang Shu Lin. Namun Wang Shu Lin menolak dan memberikan syarat bahwa Zhu Jiuzhen harus mampu terlebih dahulu mengalahkannya. Sayangnya sampai sekarang Zhu Jiuzhen masih juga gagal mengalahkannya, ketika Wang Shu Lin terjun dalam pemilihan Wulin Mengzhu, Zhu Jiuzhen meminta Lu Jingyun sahabatnya untuk mewakili dirinya mengalahkan Wang Shu Lin.‖, gumam si adik seperguruan sambil mencoba mengotak-atik fakta yang ada di tangan.
Kakak seperguruannya tertawa geli melihat tingkahnya itu, ―Hahaha, itu kan hasil pemikiranmu yang baru saja menonton drama Liang Shanbo dan Zhu Yingtai. Jangan terlalu
2090
dipaksakan kalau memang tidak bisa dimengerti, toh itu bukan urusan kita, itu urusan pribadi mereka.‖
Wajah adik seperguruannya itu pun jadi memerah, mendengar komentar dari kakaknya, diapun memilih diam, namun dalam hati dia masih memikirkan masalah itu, ‗Mungkin Wang Shu Lin mengatakan seperti ini, apa lebihnya lelaki? Aku tidak akan menikah, kecuali kalau terbukti ada lelaki yang lebih hebat dari diriku dalam memainkan pedang.‘
‗Hmm… tentunya Zhu Jiuzhen ingin dirinya yang mengalahkan Wang Shu Lin, namun masuk dalam pemilihan Wulin Mengzhu, ada banyak lelaki yang punya kesempatan untuk mengalahkan Wang Shulin, daripada orang yang tidak dikenal, dia lalu minta tolong pada sahabatnya, Lu Jingyun. Jika Lu Jingyun berhasil mengalahkan Wang Shu Lin, lalu Wang Shu Lin membuka jati dirinya tapi Lu Jingyun tidak tergerak hatinya. Bukankah ini berarti kesempatan buat Zhu Jiuzhen?‘, pikirnya dalam hati.
‗Kalau orang lain yang berhasil mengalahkan Wang Shu Lin, lalu Wang Shu Lin jatuh hati dan yang mengalahkannya itu juga menanggapi kan berabe buat Zhu Jiuzhen… Eh… bukankah yang menang akhirnya adalah Ding Tao? Kira-kira… apa Wang Shu Lin akan mendekati Ding Tao?‘, dengan jantung berdegup,
2091
pemuda yang baru beranjak dewasa inipun memperhatikan kejadian di atas panggung.
Kakak seperguruannya yang mengamati dari samping, hanya tersenyum kecil saja, dia merasa tidak ada yang terlalu menyimpang dari kelakuan adik seperguruannya ini. Sudah wajar di umurnya itu, untuk tertarik pada masalah hubungan antara pria dan wanita. Jadi bahaya jika yang dipikirkan hanyalah bentuk hubungan antara pria dan wanita yang tidak sehat. Selama arahnya tidak menuju ke sana, dia pikir lebih baik dibiarkan saja.
Ini adalah salah satu contoh cara Pendeta Chongxan mendidik anak muridnya. Anak murid yang lebih muda biasanya dipasangkan dengan anak murid yang lebih berpengalaman. Dengan cara itu wawasan dan cara berpikir yang luas ditularkan pada yang lebih muda. Selain juga diadakan pertemuan-pertemuan umum, di mana Pendeta Chongxan memberikan ceramah pada seluruh murid Wudang yang kebetulan sedang ada dalam perguruan.
Di atas panggung sendiri pembicaraan sudah mulai berubah ke arah yang berbeda.
2092
Selesai dengan urusan pribadi yang kebetulan terbawa ke atas panggung, Bhiksu Khongzhen mengarahkan lagi pembicaraan ke arah tujuan mereka semua berkumpul di kaki Gunung Songshan hari ini, ―Nona Wang Shu Lin, bukankah kita semua hari ini berkumpul untuk memilih seorang Wulin Mengzhu. Pemilihan yang kita adakan dengan jalan adu kepandaian dan di babak terakhir, tinggallah Ketua Ding Tao dan Nona Wang Shu Lin. Dari hasil pertarungan apakah Nona Wang Shu Lin keberatan jika aku, sebagai pihak yang netral mengatakan bahwa Ketua Ding Tao sudah memenangkan pertarungan ini?‖
Dengan wajah sedikit bersemu merah, Wang Shu Lin pun menjawab, ―Tidak…, aku tidak keberatan, adalah kenyataannya aku yang kalah.‖
Sambil menjawab, matanya melirik sekilas ke arah Zhu Jiuzhen, kemudian ke arah Ding Tao sebelum kembali menatap Bhiksu Khongzhen. Entah kegalauan apa yang sedang dirasakan gadis muda ini. Wang Shu Lin bukanlah gadis manja, sejak dia belum bisa berkata-kata dengan jelas, dia sudah mengenal kerasnya dunia dan belajar untuk hidup di dalamnya dengan mengandalkan kekuatannya sendiri tanpa bersandar pada orang lain. Sudah terbiasa bersikap keras, gadis muda
2093
yang sedang dililit masalah asmara ini bisa memisahkan antara kepentingan diri sendiri dan kepentingan orang banyak.
Bhiksu Khongzhen mengangguk puas, kemudian berbalik pada mereka semua yang telah datang untuk menyaksikan terpilihnya seorang Wulin Mengzhu setelah sekian puluh tahun kedudukan itu tidak ada yang mengisi.
―Dengan pernyataan Nona Wang Shu Lin tadi, maka jelaslah bahwa Ketua Ding Tao dari Partai Pedang Keadilan, berhak untuk menduduki kedudukan Wulin Mengzhu yang telah kosong selama berpuluh tahun. Dan aku sebagai Ketua dari Shaolin, telah mengamati dan menimbang kepribadiannya.‖
―Ketika kami mengirimkan 18 orang bhiksu Shaolin untuk menguji mereka yang datang untuk ikut dalam pencalonan. Hampir seluruh mereka yang kami kirimkan dan gagal untuk mempertahankan medali, telah pulang dalam keadaan terluka, ringan maupun berat. Hanya mereka yang bertugas untuk menguji Ketua Ding Tao yang kembali dalam keadaan tanpa luka. Demikian juga dalam pertarungan untuk memperebutkan kedudukan ini, berkali-kali Ketua Ding Tao menunjukkan sifat yang welas asih dan menjunjung kepentingan orang banyak. Dengan menimbang itu semua, mewakili seluruh anak murid
2094
Perguruan Shaolin, aku menyatakan bahwa kami bersedia untuk ikut bersumpah setia.‖, demikian Bhiksu Khongzhen menjelaskan.
Begitu Bhiksu Khongzhen mengakhiri penjelasannya , seketika itu juga suasana meledak oleh suara riuh rendah orang bersorak. Meskipun masih cukup banyak yang meragukan hati Ding Tao yang dipandang seringkali terlalu lemah dalam mengambil keputusan, namun tidak ada seorang pun yang meragukan betapa tinggi ilmu dari pemuda itu. Ditambah lagi dengan pernyataan dari Bhiksu Khongzhen, kekhawatiran timbulnya perpecahan akibat perguruan Shaolin yang mengambil sikap berbeda hilang. Dan hal itu justru terjadi karena sikap Ding Tao yang welas asih, sudah menarik simpati dari pihak Shaolin yang pada masa-masa di bawah pimpinan Bhiksu Khongzhen, lebih menekankan pada pembinaan spiritual dari anak murid Shaolin daripada pelatihan ilmu-ilmu beladiri Shaolin. Sehingga banyak juga dari mereka yang masih sedikit meragukan kemampuan Ding Tao untuk memimpin dengan tegas jadi bersimpati juga pada sifat pemuda ini yang kurang mereka setujui itu.
2095
Tapi suara riuh rendah itu pun tiba-tiba menjadi senyap diganti oleh kediaman yang mencekam ketika sebuah suara berseru mengatasi sorakan setiap orang itu.
―TUNGGU !!!‖, seru seseorang dari luar panggung.
Suara itu bergema ke segala penjuru, seakan diserukan dari beberapa penjuru sehingga sulit ditentukan di mana orang yang berseru itu sesungguhnya. Suara keras bergaung dan membawa rasa kengerian, seperti auman dari seekor singa. Sebuah ilmu hawa murni yang disalurkan dalam bentuk suara dan sudah jarang terdengar di masa ini. Menyusul suara itu, sebuah bayangan berkelebat ke atas panggung. Sebelum sampai di atas panggung, bayangan itu sudah menyambitkan sesuatu ke arah Bhiksu Khongzhen. Ketika bayangan itu akhirnya berdiri di atas panggung, benda yang dia sambitkan sudah berada di tangan Bhiksu Khongzhen dan sedang dia amati. Itulah medali yang menyatakan bahwa pemiliknya lulus ujian dari Shaolin dan berhak untuk datang sebagai calon Wulin Mengzhu.
Berdiri sambil tersenyum-senyum di atas panggun adalah seorang lelaki berusia 30-an dengan dandanan yang sangat rapi dan warna-warna yang cerah. Bahkan lebih cerah dan
2096
bercorak dari Wang Shu Lin ketika menyamar sebagai Ximen Lisi.
Beberapa orang yang mengenalnya pun berseru, ―Tawon merah? Apa yang dilakukan penjahat cabul itu di sini?‖
―Keparat! Cari mati dia!‖
―Wu Shan Yee… manusia bejad… akhirnya kutemukan dirimu…‖
Dan banyak lagi seruan tertahan dari berbagai penjuru, jika dihitung jumlah orang yang ingin maju dan mencincang tokoh yang satu ini, mungkin jumlahnya mencapai ratusan orang pendekar. Hanya karena memandang muka para tokoh besar yang ada di atas panggung mereka menahan diri. Juga karena kepandaian orang ini tidak bisa disepelekan dan di antara mereka yang ingin membuat perhitungan namun tidak memiliki keyakinan akan menang, berharap bahwa tokoh-tokoh itu akan mewakili mereka memberikan hajaran.
Bhiksu Khongzhen dengan tenang bertanya, ―Apa maksudmu datang ke mari?‖
2097
Meskipun ratusan bahkan ribuan mata memandangnya dengan sorot mata ingin membunuh, bahkan dari wajah tokoh yang dikenal sabar seperti Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pun tidak tampak ada persahabatan, yang biasanya disediakan bagi hampir setiap orang. Ding Tao tidak terlalu mengenal nama busuk Wu Shan Yee, mau tidak mau dia mengagumi keberanian orang ini.
Masih tersenyum-senyum Wu Shan Yee menjawab, ―Kudengar Shaolin mengeluarkan pengumuman, barang siapa datang dengan membawa medali ini, orang itu boleh ikut dalam pencalonan Wulin Mengzhu.‖
―Jika kau memang ingin ikut mencalonkan diri, mengapa tidak naik ke atas dari tadi?‖, tanya Bhiksu Khongzhen dengan dingin.
―Hahahaha, kebetulan aku ada urusan penting dan baru bisa datang. Apakah ada peraturan yang kulanggar?‖, jawab Wu Shan Yee tertawa-tawa.
Wajah Xun Sioma sudah gelap, penuh dengan hawa pembunuhan. Jika tidak mengingat kedudukannya yang mewakili ketua perguruan Hoashan, mungkin sudah sejak tadi
2098
dia melabrak Wu Shan Yee tanpa mempedulikan aturan dan sopan santun. Zhong Weixia dan Guang Yong Kwang tentu saja diam-diam merasa girang melihat munculnya sandungan bagi jalan Ding Tao. Bhiksuni Huan Feng memandang Bhiksu Khongzhen dan dengan menundukkan kepala, memberi tanda bahwa dia menyerahkan keputusan pada Bhiksu Khongzhen. Bhiksu Khongzhen berpandangan sejenak dengan Pendeta Chongxan, sahabat dekatnya itu pun balas memandang beberapa saat lamanya, bertukar pikiran tanpa kata, hanya rasa bertemu rasa, kemudian menganggukkankepala.
Setelah mengitarkan pandangannya ke orang-orang di sekelilingnya sebentar, akhirnya Bhiksu Khongzhen pun siap untuk memberikan jawaban.
―Baiklah, memang mereka yang mendapatkan medali itu berhak untuk ikut dalam pencalonan Wulin Mengzhu. Meskipun caramu memilih waktu mengesankan kecurangan dalam hatimu. Aku tidak akan membatalkan keputusan ini. Supaya jangan dirimu membuat perkataan yang tidak-tidak di kemudian hari.‖, ujar Bhiksu Khongzhen dengan tenang.
Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan berpendapat bahwa Wu Shan Yee tidak akan menang melawan Ding Tao, daripada
2099
menolak permintaan Wu Shan Yee dan menimbulkan ganjalan di kemudian hari, akhirnya Bhiksu Khongzhen memutuskan untuk meluluskan permintaan Wu Shan Yee. Dari puluhan ribu orang yang menyaksikan terdengar berbagai macam umpatan dan seruan.
―Hajar saja laki-laki keparat itu Mengzhu!‖
―Hukum dia buat segala perbuatan bejadnya!‖
―Ya, benar! Hajar saja orang tidak tahu diri itu!‖
―Kutungi saja tangan dan kakinya!‖
―Jangan kutungi saja yang di selangkangannya itu!‖
Demikian mereka berteriak dan berseru, beberapa disambut tawa dan makian. Jelas dari sebanyak orang yang datang, sebagian besar tidak bersimpati pada Wu Shan Yee. Mendengar sorakan orang banyak, Ding Tao menghela nafas. Terbayang jika seandainya yang ada di atas panggung ini adalah sepasang iblis muka giok, apakah tidak seperti ini juga kejadiannya. Orang ini apakah juga memiliki kesulitan-kesulitan untuk kembali ke jalan yang benar? Ding Tao pun sudah berniat untuk melumpuhkan lawan untuk ―diurus‖ lebih lanjut,
2100
selepas pemilihan ini berlalu. Jika bisa diluruskan ya diluruskan. Jika tidak mungkin diluruskan, setidaknya dia bisa mencabut taringnya sehingga dia bisa dibiarkan hidup tanpa membahayakan orang lain.
―Apakah Ketua Ding Tao setuju?‖, tanya Bhiksu Khongzhen.
Ding Tao buru-buru merangkap tangan dan membungkuk hormat pada Bhiksu tua itu dan menjawab, ―Tentu saja, aku setuju.‖
―Hahahaha bagus, bagus. Memang kalian semua adalah pendekar-pendekar yang terhormat.‖, ujar Wu Shan Yee sambil bertepuk tangan.
―Hmm… sebelum kalian mulai, kalau boleh aku bertanya, apa yang kau lakukan dengan 18 orang murid Shaolin yang mengujimu?‖, tanya Bhiksu Khongzhen dengan tatapan mata yang tajam.
―Oh.. tentang 18 orang itu? Soal mereka seharusnya bukan kau tanyakan padaku, karena yang mengalahkan mereka bukanlah aku. Aku naik ke sini hanya membantu dia menanyakan masalah pemilihan Wulin Mengzhu.‖, jawab Wu Shan Yee
2101
―Hah !? Apa maksudmu?‖, tanya Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan dalam waktu yang hampir bersamaan.
Sebelum Wu Shan Yee memberikan jawaban maka terjadilah kejadian yang akan menjadi pemicu serentetan kejadian lainnya. Sebuah gerobak pengangkut tiba-tiba datang dari arah jalan besar menuju ke arah panggung. Yang menjadi kusir seorang dengan tinggi tubuh beberapa jengkal lebih rendah dari rata-rata orang. Biarpun badannya pendek, namun tubuhnya gempal dengan otot-otot yang besar bertonjolan. Di depan gerobak itu berlari dengan cepat adalah seorang dengan tinggi melampaui tinggi badan banyak orang. Bahkan lebih tinggi dari Ding Tao, yang tingginya di atas rata-rata. Raksasa ini pun menunjukkan kebolehannya, dengan ringan dia melempar-lemparkan orang-orang yang menghalangi jalannya gerobak itu ke arah panggung.
Dengan sendirinya keadaanpun jadi kacau balau, orang-orang yang sudah berdiri berjejalan jadi berjatuhan, baik mereka yang kena tangkap lalu dilemparkan, ada pula mereka yang berusaha minggir namun saling bertabrakan, atau mereka yang tiba-tiba ditimpa jatuh oleh sesama penonton yang sudah dilemparkan oleh orang tinggi besar itu. Mereka yang berdiri di bagian itu memang bukan tokoh kenamaan, namun dalam
2102
dunia persilatan ini ada berapa orang yang bisa dengan mudahnya menangkapi mereka lalu melemparkannya seperti mainan?
Mereka yang berada di bagian kursi kehormatan, yang duduk di beberapa lapis baris terdepan, secara serempak sudah bangkit dan mencabut senjata andalan masing-masing. Mau ditaruh ke mana muka mereka, jika mereka pun sampai terkena tangkap dan dilemparkan seperti para pendekar kelas bawah seperti yang terjadi saat ini.
Selapis demi selapis, gerobak dan orang yang membuka jalan semakin dekat dengan mereka.
Otot-otot dan urat syaraf tiap orang pun makin menegang, bersiap menghajar bila pendatang yang tidak tahu aturan ini berani menjajal ilmu mereka. Bukan hanya mereka, para tokoh besar yang ada di atas panggung pun memandangi kejadian itu dengan pandang mata tajam. Hanya Wu Shan Yee yang tersenyum-senyum melihat kejadian itu. Dari sikapnya sudah jelas dua orang yang baru datang ini adalah sekutunya.
2103
Ketika lapis terakhir sudah pula tercapai, otomatis kuda-kuda mereka yang berada di barisan kursi kehormatan merendah, bersiap untuk menghadapi serangan yang akan datang.
Di luar dugaan orang, gerobak dihentikan. Raksasa yang membuka jalan, melompat berjumpalitan ke belakang dengan ringan, melayang dan tepat ditangkap oleh kedua tangan kusir yang berotot itu. Dengan sebuah hentakan, yang seorang melontarkan orang yang dia tangkap sekuatnya ke depan, sementara yang tertangkap menghentakkan kakinya sekuat tenaga melompat ke arah yang sama. Dua tenaga raksasa dikerahkan, hasilnya sesosok tubuh tinggi besar melompat bagaikan terbang menuju tepat ke atas panggung, melewati beberapa barisan orang yang sedang bersiap untuk menerima serangan mereka. Jangan dilihat tubuhnya tinggi besar, nyata ilmu meringankan tubuhnya tidak jauh di bawah Lu Jingyun.
Ketika orang itu sampai di atas panggung, pertunjukan belumlah usai, sambil tertawa berkakakan, dia berkata, ―Khongzhen, kukembalikan anak muridmu yang tidak tahu diri hendak mengujiku.‖
Menyusul perkataannya itu, si kusir yang masih berada di gerobak, melempar-lemparkan tubuh-tubuh tak berdaya ke atas
2104
panggung, yang dengan cekatan ditangkapi oleh orang tinggi besar yang berdiri di atas panggung. Dengan cepat sebuah bukit kecil terbentuk di atas panggung, tersusun dari 18 orang bhiksu Shaolin yang tak berdaya. Menyusul si pendek kekar melompat pula ke atas panggung, jika ilmu meringankan tubuh si tinggi besar sedikit di bawah Lu Jingyun, maka yang pendek kekar ini bisa dipastikan ilmu ringan tubuhnya selapis dua lapis di atas Lu Jingyun.
Di saat yang sama, orang mulai mengenali siapa yang datang barusan ini, termasuk Bhiksu Khongzhen yang dengan cepat memburu ke arah anak muridnya yang bertumpukan tanpa daya. Ketika dia melihat mereka masih bernafas dengan stabil, meskipun tak sadarkan diri, hatinya pun sedikit lebih tenang.
Dengan wajah marah, yang belum pernah dilihat orang Bhiksu Khongzhen menghadap ke arah dua orang yang baru datang, ―Shao Wang Gui! Thai Wang Gui! Bukankah dulu sudah kami ampuni selembar nyawa kalian!? Kalian pun sudah berjanji untuk menarik diri dari dunia persilatan!? Lalu apa pula maksud kelakuan kalian berdua kali ini !?‖
―Khongzhen… sahabat lama, tidak ada niatan buruk sama sekali. Aku dengar kau dan Chongxan mengalami kesulitan
2105
untuk menghadapi Ren Zuocan, jadi kupikir baiklah kami datang untuk ikut membantu.‖, jawab Thai Wang Gui dengan senyum lebar.
Sebelum Bhiksu Khongzhen atau yang lain dari mereka yang berwenang sempat menjawab terjadi lagi peristiwa mengejutkan yang lain. Sejak kemunculan Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui, selain adanya bisik-bisik di antara tokoh dunia persilatan yang pernah mengenal keduanya. Ada bisik-bisik yang berbeda dari sisa-sisa anggota keluarga Huang.
―Bila dilihat perawakannya bukankah itu dua orang dari mereka?‖
―Thai Wang Gui… Shao Wang Gui… mengapa hal itu tidak pernah terpikirkan olehku?‖
―Waktu itu mereka memakai jubah kedodoran dan menyamarkan bentuk tubuh mereka. Barulah setelahmendengar suara mereka kita merasa kenal.‖
―Bukankah keduanya mati di tangan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan?‖
2106
―Bukan, bukan mati, hanya seluruh ilmu silatnya sudah dimusnahkan, itu sebabnya tidak pernah terbayang jika mereka merupakan salah satu pelaku dalam penyerangan itu.‖
Bisik-bisik ini semakin santer dan ketika keyakinan mereka sudah mantap, maka sampailah perkataan itu pada Ding Tao lewat Li Yan Mao.
―Ketua Ding Tao, ampuni mata kami yang buta.Dua dari lima orang yang memimpin penyerangan itu adalah mereka berdua. Thai Wang Gui dan Shao Yang Gui.‖, ujar Li Yan Mao setelah menarik Ding Tao mendekat ke arah dirinya dan beberapa orang bekas pengikut keluarga Huang yang lain.
Mendengar perkataan Li Yan Mao, jantung Ding Tao seperti berhenti saat mendengar perkataan Li Yan Mao, ―Apa maksud paman?‖
―Mendengar suaranya, kami semua yakin, kedua orang itu adalah salah satu dari lima yang memimpin penyerangan ke keluarga Huang di Wuling.‖, sekali lagi Li Yan Mao menjelaskan.
Ding Tao menatap ke orang-orang yang ada di sekelilingnya, ada Tang Xiong, Li Yan Mao, Qin Baiyu dan yang lain.
2107
Meskipun sulit mempercayai telinganya, perlahan-lahan Ding Tao mulai merangkaikan tiap-tiap fakta yang sedang mereka hadapi. Meskipun Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui ini sempat menggegerkan dunia persilatan, namun sudah puluhan tahun ketika mereka menghilang, setelah Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan bertarung untuk menghentikan kejahatan yang mereka lakukan.Meskipun perawakan tubuh kedua orang itu tidak bisa dikatakan lumrah dibanding kebanyakan manusia, tidak bisa juga dikatakan sangat berbeda jauh. Menggunakan baju dan jubah, dengan mudah keanehan tubuh mereka itu disamarkan. Apa lagi di antara mereka tidak ada yang pernah melihat dua orang raja iblis itu.
Wajahnya pun mengeras, ―Kalian yakin?‖
Mereka semua menganggukkan kepala, ―Kami yakin.‖
―Paman pendeta Liu Chuncao, pendeta pusakaku…‖, ujar Ding Tao sambil mengangsurkan tangannya.
Liu Chuncao tanpa banyak tanya memberikan pedang pusaka milik Ding Tao kembali, namun sebelum Ding Tao melakukan sesuatu, terjadi kejadian lain yang mengejutkan. Semuanya ini berjalan hampir bersamaan. Ketika Bhiksu Khongzhen sedang
2108
memeriksa keadaan 18 orang bhiksu yang tidak sadarkan diri untuk kemudian berbicara dengan sepasang raja iblis itu, Li Yan Mao dan yang lain sedang berbicara dengan Ding Tao. Di lain pihak di antara penonton ada pula 2 orang yang sedang mengingat-ingat kembali kejadian malam itu dan sampai pada kesimpulan yang sama. Ketika Ding Tao baru berbalik badan, ketika Bhiksu Khongzhen baru selesai bertanya, susul meyusuk 3 sosok berkelebat dariantara mereka yang berada di bawah panggung.
―Penjahat! Bayar hutang nyawa keluarga Huang !‖, diiringi pekik penuh kemarahan dua sosok yang berkelebat pertama kali tanpa banyak cakap langsung menyerang dua orang itu.
―Ren Fu! Ying Ying hati-hati!‖
Sosok ketiga yang menyusul dengan cekatan menyerang Shao Wang Gui yang hampir saja berhasil menyarangkan serangan telak pada salah seorang penyerangnya. Dengan segera terjadi dua pertarungan di atas panggung, yang pertama Thai Wang Gui melawan dua orang muda dan pertarungan kedua adalah antara seorang tua melawan Shao Wang Gui. Siapa lagi dua orang muda dan seorang tua itu jika bukan Hua Ying Ying, Huang Ren Fu dan Hua Ng Lau. Ding Tao yang baru saja
2109
hendak bergerak menggebrak jadi diam termangu, bibirnya komat-kamit tidak jelas.
―Adik Ying Ying… Adik Ying Ying…‖, gumam Ding Tao tak percaya.
Bukan hanya Ding Tao yang membeku di tempatnya oleh kejutan yang tidak disangka-sangka ini. Para pengikut keluarga Huang yang lain juga hanya bisa terlongong-longong melihat orang-orang yang disangka sudah mati, ternyata masih hidup, segar bugar bahkan sekarang memiliki ilmu silat yang lebih baik dari sebelumnya. Yang lebih mencolok tentu saja adalah ilmu silat dari Huang Ren Fu yang tampil lebih kokoh dan liat daripada sebelumnya, tapi kemajuan yang lebih mengejutkan mungkin justru dari Huang Ying Ying yang dulunya bisa dikatakan bukanlah seorang pesilat yang sesungguhnya, sekarang justru bisa bertarung dengan garang. Pertarungan itu jelas tidak seimbang, meski ilmu silat Huang Ren Fu dan Hua Ying Ying sudah maju pesat, namun berhadapan dengan jagoan tua semacam Thai Wang Gui tentu saja permainan mereka tidak lebih dari permainan kanak-kanak belaka. Syukur Huang Ren Fu yang lebih matang dalam berpikir dan bertindak ikut membantu Hua Ying Ying, sehingga dia sangat berhati-hati dan lebih menitik beratkan jurus-jurusnya untuk
2110
mempertahankan dirinya sendiri dan juga adiknya. Sementara pertarungan antara Shao Wang Gui dan Hua Ng Lau berjalan lebih seimbang, meskipun serangan Shao Wang Gui lebih ganas, namun mampu dinetralisir oleh pertahanan Hua Ng Lau yang lebih mantap.
Rasa terkejut Ding Tao berubah jadi kegembiraan yang meluap dan dalam waktu singkat berubah menjadi kekhawatiran, Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu perlahan-lahan mulai terdesak oleh serangan Thai Wang Gui yang membingungkan, sudah beberapa kali Huang Ren Fu harus memasrahkan badannya untuk menerima pukulan dari Thai Wang Gui demi menyelamatkan adiknya.
Bukan hanya Ding Tao yang merasa cemas, tokoh-tokoh seperti Bai Chungho, Xun Siaoma, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pun mengamati keadaan tersebut dengan cemas. Apalagi sebagai orang luar, mereka tidaklah cukup leluasa untuk bertindak. Bukan sebuah alasan yang dibuat-buat, karena dunia persilatan kental dengan masalah harga diri. Jika mereka menyelamatkan kedua kakak beradik itu, belum tentu keduanya akan berterima kasih. Lain halnya jika Thai Wang Gui yang terlebih dahulu menyerang, tapi dalam kejadian ini, kedua kakak beradik itulah yang lebih dulu menyerang. Di
2111
lain pihak Thai Wang Gui pun tidak sembarangan menurunkan tangan kejam, bisa jadi hal itu dilakukan sehubungan dengan keinginannya untuk menjadi Wulin Mengzhu. Selain itu bukankah bekas pengikut keluarga Huang banyak juga hadir di sana, termasuk Ding Tao yang memiliki kemampuan setingkat dengan mereka. Berbagai alasan ini membuat mereka berpikir beberapa kali sebelum ikut campur bertindak.
Segera setelah menguasai dirinya, tanpa menunggu keadaan menjadi lebih buruk lagi, Ding Tao pun berkelebat cepat sambil menghunus pedang pusakanya.
Benar-benar saat yang tepat, karena Huang Ren Fu dan Hua Ying Ying berada dalam keadaan yang kritis, sebuah serangan Thai Wang Gui telak mengenai punggung Huang Ren Fu, sedemikian kerasnya hingga membuat pemuda itu terpental dan memuntahkan isi perutnya. Tanpa adanya Huang Ren Fu, Hua Ying Ying pun berada dalam bahaya besar, tangan Thai Wang Gui yang panjang dengan kuku runcing seperti kuku harimau, bergerak menyambar. Hua Ying Ying yang sudah mati langkah hanya bisa memandang datangnya serangan dengan pasrah. Di saat dia menyangka maut datang menjemput, sebuah pedang berkelebat, memaksa Thai Wang Gui menarik serangannya. Dengan cekatan, hampir tanpa jeda, kaki Thai
2112
Wang Gui bergerak menendang ke depan. Yang diserang bukan Ding Tao yang baru datang, tapi Hua Ying Ying yang lebih lemah. Demi menolong Hua Ying Ying, Ding Tao pun dipaksa menarik mundur serangannya, memutar tubuh untuk merengkuh Hua Ying Ying ke dalam pelukannya dan dengan punggungnya yang sudah dilambari Yi Cun Kai menerima tendangan yang dimaksudkan untuk Hua Ying Ying itu.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Cinta Romantis Suami Istri : PAB 11 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 06 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments