Cerita Mesum Raisa Nggak Doyan Nyepong : Ching Ching 4


Cerita Mesum Raisa Nggak Doyan Nyepong : Ching Ching 4
Cerita Mesum Raisa Nggak Doyan Nyepong : Ching Ching 4
AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Mesum Raisa Nggak Doyan Nyepong : Ching Ching 4
baca juga:

“Dunia tidak sebesar kandangmu yang bau,” kata Ching-ching, lebih menghibur
diri. “Mana tahu dia sedang mencari aku sekarang ini.”
“Keliru! Belakangan ini ia sedang ada di—“
“Ching-ching, ke mana saja kau? Siauw Hung dan Kong-kongmu sedang kuatrikan
engkau, dan kau malah duduk-duduk saja di sini,” sebuah suara menyapa gadis itu.
“Hai-ko, ini ada kakek bau menggangguku!” Ching-ching mengadu.
“Kau!” Boe-beng-lo-jin yang melihat Wang Li Hai lagi-lagi terkejut. “Dan dia—“
“Soe-hoe!” Lie Hay tak kalah kaget. “Sedang ap— Tee-coe memberi hormat.”
“Kau panggil apa padanya?” Ching-ching terkejut.
“Dia memanggilku Soe-hoe, gadis tuli. Dan jangan kau melotot begitu kepadaku.”
“Tapi … berarti … Apakah kau saudara seperguruan Siauw Kui?”
“Ching-ching, inilah aku, Siauw Kui. Hanya namaku saja diganti menjadi Wang Lie
Hay.”
“Hiii, kau jangan bercanda,” Ching-ching tak percaya.
“Ini betul aku. Lihatlah!” Lie Hay membuka bajunya sebelah atas, mengasi lihat
pundaknya yang kekar. Di pundaknya itu terdapat bekas luka berbentuk bulat
dengan dua titik di tengah.
Ching-ching terperanjat. Ia ingat lagi masanya dulu bersama Siauw Kui. Tak usah
ragu lagi. Dua titik di tengah itu adalah bekas gigitan ular. Dan parut
melingkar itu adalah bekas giginya sendiri. “Kau betul Siauw Kui?”
“Masih tak percaya?”
“Kau … kau jahanam!” Ching-ching membanting kaki dengan kesal. “Jadi, selama ini
kau menipu aku?”
“Bukan begitu, tapi—“ Lie Hay alias Siauw Kui hendak menyangkal.
“Kurang ajar, selama ini kau senang-senang sama iblis betina itu ya?”
Boe-beng-lo-jin memotong perkataan. “Murid murtad, kau tak dengan kataku?”
“Soe-hoe—“
“Bukankah sudah kubliang, jangan cari-cari iblis jelek ini!”
“Kau sendiri jelek!” sahut Ching-ching sengit. “Dasar tak becus! Lihat apa sudah
kaujadikan Siauw Koeiku, setan tua!”
“Hayaaa, Lie Hay, gurumu dimaki-maki, apakah kau diam saja? Kasi dia
pengajaran!” Boe-beng-lo-jin melotot.
“Kau sendiri mesti diajar!” Ching-ching mendengus sebal.
“Apa? Kau menantang? Hayo lawan aku kalau berani. Kepingin tahu, sampai di mana
ilmumu!”
“Kenapa tidak?” Ching-ching yang sudah kesal maju hendak melabrak
Boe-beng-lo-jin dengan pukulan.
“Ching-ching, jangan!” Wang Lie Hay menangkis.
“Kalian mau main keroyok? Bagus, dua-dua majulah!” kata Ching-ching.
“Ha, mengeroyok kau apa gunanya. Lawan muridku pun belum tentu menang!”
“Oh, rupanya kau mau sembunyi di belakang murid? Huah, sungguh perbuatan gagah!”
Ching-ching menyindir tanpa berhenti bergerak dilayani Wang Lie Hay.
“Menghina kau ya!” Boe-beng-lo-jin tak mau kalah, maju pula melancarkan pukulan.
“Soe-hoe, jangan!” seru Wang Lie Hay sambil menangkis pula serangan gurunya.
“Suhu biarlah Tee-coe yang menggantikanmu!” seru Li Hai.
Ching Ching 306
Baik Ching-ching maupun Bu-beng-lo-jin sama-sama melotot kepadanya. Keduanya
tahu, Li Hai tak mungkin tega menyakiti mereka. Lantas, kenapa dia menawarkan
diri buat melawan Ching-ching?
Bu-beng-lo-jin yang lebih polos sifatnya tak ambil peduli. Ia mengangguk senang
sembari mesem bangga. “Kau memang murid yang tak buat gurumu kecewa. Baiklah kau
lawan iblis itu. Aku juga enggan mengotorkan tanganku olehnya.”
“Hoo, setan tua ini rupanya mau sembunyi di balik punggung muridnya? Ih, tak
tahu malu,” Ching-ching sinis berkata.
“Apa kau kata?” Bu-beng-lo-jin bangkit lagi kemarahannya. “Kau pikir aku takut
menghadapimu?” Ia hendak maju.
Wang Li Hai melihat gelagat tidak baik, ia cepat mendului ke hadapan
Ching-ching. “Jangan banyak cakap lagi, marilah segera selesaikan masalah ini,”
katanya.
“Siauw Kui, rupanya benar-benar kau dicekoki ajaran gurumu. Baik! Aku hadapi
kau, baru kuhabisi guru jelekmu itu,” Ching-ching berkata. Kekecewaan terlihat
di wajahnya.
Li Hai tak tega melihat gadisnya berduka. Ia cepat berbisik, “Kita main-main
saja, pukulanmu jangan keras-keras, ya!”
Tapi Ching-ching, seperti tidak mendengar, lantas saja melancarkan serangan.
“Aku mau lihat sampai di mana gurumu mengajar murid!”
Wang Li Hai kaget malihat datangnya serangan yang begitu cepat dan berbahaya.
Begitu menyerang Ching-ching sudah memakai jurus andalannya,
Lian-hoa-ban-hoan-ciang (Pukulan berantai selaksa teratai). Pukulan ini jarang
dapat dihindarkan lantaran amat cepat berturutan. Pula di dalamnya banyak
pukulan tipuan. Sebuah pukulan yang tampak berbahaya bisa saja hanya berupa
jebakan, dan begitu dihindari, sebuah pukulan lain yang tak tahu kapan datangnya
sudah mengena telak di tempat yang fatal!
Biarpun sudah sering melihat jurus ini, tak urung Li Hai kerepotan juga
menghadapi lantaran ia tak menduga Ching-ching akan langsung menyerang dengan
jurus ini. Setahunya murid-murid Pek-san-boe-koan tak boleh memakai ilmu dari
luar perguruan. Lalu kenapa Ching-ching …?
Li Hai tak sempat berpikir lama, gadis yang mengamuk di hadapannya sudah
bergerak lagi menerjang. Kali ini Wang Li Hai sudah bersiaga. Ia memapaki gadis
ini.
Tapi kali ini Ching-ching menggunakan jurus yang banyak terdapat
perubahan-perubahan yang cepat. Nanti ia menggunakan im-jiu, di waktu lain
hampir bebareng berobah memakai yang-kong. Jurus ini sempat membuat Li Hai
kelimpungan beberapa lamanya. Apalagi serangan Ching-ching mengarah ke
tempat-tempat yang berbahaya yang jika tidak dihindarkan tentulah ia akan binasa
atau paling tidak bercacat seumur hidupnya.
“Bocah tolol!” maki Bu-beng-lo-jin yang melihat muridnya melawan cuma separuh
hati. “Mana semangatmu. Jangan mau mati konyol di tangannya setan perempuan
itu!”
“Diam kau, setan tua!” Ching-ching balas memaki. “Tak usah banyak mulut, tunggu
saja giliranmu.”
Sembari berkata, Ching-ching memukul ke arah si orang tua. Tenaganya menimbulkan
angin berkesiuran. Si tua lekas menangkis dengan tenaga dalam. Anehnya, kesiuran
angin langsung buyar tepat sebelum lwee-kang Bu-beng-lo-jin memapakinya.
Mengetahui dirinya kena dikelecehi orang, si tua itu merah padam mukanya. Dalam
kemarahannya, ia sangat ingin membinasakan Ching-ching dengan tangan sendiri.
Ching Ching 307
Tapi pamornya di mata Li Hai merosot kalau ia tak berlaku ksatria. Di lain
pihak, tampaknya Li Hai juga tak sungguh-sungguh menghadapi lawan. Kalau begini,
nanti Ching-ching yang akan menganggap dia tak becus mengajar murid.
“A-hai, kalau kau tak dapat kalahkan siluman iblis itu, putus hubungan kita guru
dan murid!” Bu-beng-lo-jin mengancam lantaran tidak ketemu jalan lain.
Wang Li Hai terkesiap. Sedikit banyak ia menghormati gurunya, si orang tua tak
bernama itu. Ia tak rela lepaskan hubungan mereka. Terlebih lagi kalau ia tak
lagi menjadi murid, mana dia punya muka memakan pengajaran gurunya di lain hari.
Sekarang ini Li Hai ada dipandang orang lantaran bekalnya itu. Diam-diam ia
menyayangi kedudukannya sekarang.
Pula dalam hatinya, Li Hai pernah merasa minder lantaran merasa tak punya
apa-apa dibanding Ching-ching. Makanya ia belajar keras buat menyamai gadis itu.
Selama ini Ching-ching ada memandang dia sebagai pendekar muda yang terhormat.
Bukan sebagai Siauw Kui yang dapat dibentak-bentak dan disuruh-suruh semaunya.
Tidak. Ia tak mau kehilangan semua itu.
Tapi apabila dia menang melawan Ching-ching, tidakkan nanti gadis itu mendendam
dan menjadi benci kepadanya? Lalu buat apa ia punya kepandaian tinggi apabila
dibenci gadis kecintaannya? Benar-benar ia tak dapat memutuskan!
Lantaran bimbang dalam hatinya, Li Hai terlambat melihat serangan yang datang.
Ia merasakan kesiuran angin yang dahsyat mengarah ke jantungnya. Telapak tangan
Ching-ching memukul telak ke ulu hati. Sejenak Li Hai sesak napasnya dan
tergetar jantungnya. Untuk tak sampai terluka dalam. Rupanya Ching-ching belum
keluarkan seantero tenaganya.
Dalam pada itu Ching-ching sebenarnya sudah kagum pada Siauw Kuinya yang kini
tak gampang-gampang bisa dirobohkan. Tapi dalam hati ia masih menyimpan sedikit
sakit hati lantaran pemuda itu memilih membela suhunya ketimbang membela dia.
Lantaran kemarahannya, Ching-ching menyerang tak setengah-setengah meski ia
masih memilih-milih jalan yang kira-kira masih dapat ditangkis atau dihindarkan.
Sebenarnya hal ini tidak perlu. Sekali melihat saja, gadis itu sudah tahu
tingkat kepandaian orang. Menyerang sungguh-sungguh pun belum tentu Siauw Kui
dapat dikalahkan. Terlebih lagi sekarang Ching-ching dalam keadaan terluka dan
lama tak menggunakan tenaganya. Mata gadis itu mulai berkunang-kunang setelah
beberapa kali melepas serangan. Ia tahu ia pasti kalah. Tapi seandainyapun
kalah, ia lebih suka kalah terhormat. Siauw Kui mesti menyerang dia secara
bersungguh!
“Siauw Kui, setelah berguru sekian tahun, tak dinyana kau masih tak lebih
sebagai setan kecil yang tak ada guna!” memaki Ching-ching. Sepintas ia melihat
perubahan air muka si pemuda. Merasa mendapat angin, ia lantas melanjutkan,
“Benar, kau memang tidak berbakat dan tolol pulan. Hatimu lembek terhadap lawan,
mana bisa jadi seorang pendekar besar. Dan gurumu sama tololnya memilih engkau
sebagai murid.”
Kali ini Wang Li Hai alias Siauw Kui termakan omongan orang. Mukanya berubah
kemerahan dan matanya menyala-nyala. Ia tidak berkata-kata tetapi serangannya
menjadi terlebih cepat dan berbahaya.
Dalam hatinya Ching-ching tertawa. Siauw Kui masih tetap Siauw Kui-nya yang
masih mendengar kata-katanya. Siauw Kui yang gampang dikendalikan cuma dengan
kepandaian bersilat lidah. Gadis itu menjadi gembira dan terlebih semangat
sekarang.
Puluhan jurus sudah lewat. Ching-ching sudah lemah. Pandangannya sebentar gelap
sebentar terang. Tindakannya tidak secepat tadi. Kali ini ia cuma bisa bertahan,
Ching Ching 308
tetapi itu pun sudah terlalu payah. Buktinya Li Hai berhasil memukul
kempungannya! Semua pertahanannya bobol sudah. Gadis itu terbatuk memuncratkan
darah. Kakinya lemas dan badannya tumbang.
“Ching-ching!” Wang Li Hai berseru kuatir dan cepat merangkul gadis itu supaya
tak terbanting ke tanah. Ia tampak was-was melihat rupa gadis itu yang pucat.
“Bunuh dia, bodoh! Bunuh!” teriak gurunya. “Kalau tidak, seumur hidupmu kau tak
dapat lepaskan dirimu dari siluman itu!”
Wang Li Hai seolah tidak mendengar. Ia malah mengusap darah yang mengucur dari
mulut Ching-ching dengan lengan bajunya sendiri.
“Goblok. Kalau kau tak mau, biar aku yang turun tangan!” Bu-beng-lo-jin bergegas
menghampiri dan bersiap meremukkan tengkorak Ching-ching sekali pukul.
“Jangan!” Wang Li Hai menangkis pukulan gurunya. Tangannya sampai kesemutan
lantaran kalah tenaga. Tapi Ching-ching tidak binasa. Demi langit dan bumi, ia
tak mau melihat kejadian sedemikian.
“Gara-gara wanita kau mati-matian? Apakah pantas? Lebih baik kau saja yang
binasa!” Bu-beng-lo-jin mengangkat tangannya sekali lagi.
Wang Li Hai menunduk. Ia sudah tahu sifat suhunya yang keras hati dan susah
ditebak. Ia dapat saja memohon ampun dan gurunya pasti mengampuni. Tapi
Bu-beng-lo-jin belum tentu mau melepaskan Ching-ching. Dalam hatinya pemuda itu
bertekad. Kalau mati, biarlah mereka mati berdua!
“Suhu, maafkan teecu tak dapat membalas budi,” kata Li Hai tenang. Ia memejamkan
mata. Dapat dirasakannya tangan Bu-beng-lo-jin terayun. Ia dapat merasakan juga
betapa orang tua itu menjerit dalam hatinya dengan pilu. Tapi menuruti adatnya,
Bu-beng-lo-jin tak dapat menarik kembali tangannya yang sudah turun.
Li Hai sudah pasrah. Digenggamnya tangan Ching-ching erat-erat. Ia merasakan
kesiuran angin dekat kepalanya. Tiba sudah ajalnya!
Tap!
Sebuah tangan lain menangkis pukulan Bu-beng-lo-jin. Li Hai membuka mata melihat
siapa melakukan itu. Dan terkejutlah ia mendapati Ching-ching yang menggunakan
tangannya menangkis serangan Bu-beng-lo-jin. Gadis itu tidak pucat lagi. Sebelah
matanya berkedip ke arah Li Hai dan bibirnya tertarik memamerkan cengiran
bandel. Detik berikutnya gadis itu sudah melompat berdiri.
“Bu-beng-lo-jin, benar kataku. Kau tolol tak ada dua.”
“Budak setan, dasar apa kau memaki aku?”
“Kau mau membunuh muridmu satu-satunya, apakah bukan tolol namanya? Seumur hidup
kau cari, belum tentu ada orang yang sama bernasib sial mau angkat guru
kepadamu. Apa tidak nanti kau yang menyesali diri?”
Bu-beng-lo-jin terdiam. Ia memang tak tega membinasakan murid sendiri. Tapi di
hadapan Ching-ching tak mau ia mengakuinya.
Ching-ching sudah tahu isi hati orang. Ia lantas tertawa besar. “Sombongmu juga
belum lenyap. Siauw Kui, sana haturkan terima kasih pada gurumu.”
Wang Li Hai sudah tahu maksud orang, lantas saja ia menyoja dan berkat, “Terima
kasih atas budi suhu yang telah melepaskan teecu.”
“Hmm, yah bangunlah,” kata Bu-beng-lo-jin yang kini sudah terlebih gembira
romannya. “Tapi siluman itu belum boleh kuampuni.”
“Perlu apa aku minta ampun?”
“Eh, kau tahukan aku sudah melepas budi padamu? Kenapa kau tak mengucap terima
kasih?”
“Siapa kesudian!” Ching-ching memberi punggung kepada Bu-beng-lo-jin.
“Gadis tengik!” maki orang tua itu sembari ikut membelakangi.
Ching Ching 309
Wang Li Hai melihat keadaan, kuatir nanti terjadi lagi pertempuran. Ia lantas
menghadap suhunya. “Suhu, biarlah teecu mewakili buat memohonkan ampun.” Pemuda
itu lantas pay-koay tiga kali.
“Heeeh, lantaran kau sudah bermohon, baiklah kuampuni jiwanya kali ini.”
“Siapa sudi terima—“ Ching-ching sudah hendak mulai bertengkar lagi. Tapi Wang
Li Hai lekas berdiri membekap mulut gadis itu.
“Ini sudah sore,” katanya. “Mati kuantarkan kau ke rumah kong-kongmu.”
“Aku cape!” kata Ching-ching. “Aku tak mau pergi.”
“Kalau kau lelah, biar aku gendong,” kata Li Hai.
Ching-ching menjebi dan senang hati naik ke punggung Wang Li Hai. Ia mau
digendong bukan lantaran kolokan, tetapi memangnya sudah tak sanggup lagi
berjalan. Kakinya lemas dan kepalanya pusing.
Begitu Li Hai tidak melihat, muka Ching-ching segera pucat lagi. Barusan ia
memakai ilmu mawar merah mawar putih, yang menggunakan tenaga dalam buat merobah
roman. Mukanya dapat dibikin merah macam orang mabuk, hitam seperti keracunan,
ataupun pucat selayaknya mayat. Ini berguna buat mengelabui orang dan sekarang
terutama ia tak mau Li Hai kuatir atas keadaannya.
Seperti yang dikatakannya, Li Hai mengantarkan ke pondok Tabib Yuk. Ia mampir
sebentar dan berbicara dengan Khoe Yin Hung sekalian memperkenalkan suhunya pada
gadis itu. Yin Hung melayani Bu-beng-lo-jin baik sekali. Si Tua itu nampak
senang. Di pojokan Ching-ching melecehkan. Setelah bercakap-cakap ke sana ke
mari, Yin Hung pada akhirnya mengemukakan bahwa ia ingin pulang.
“Pulang? Kenapa?” tanya Li Hai.
“Aku sudah pergi terlalu lama. Sudak saatnya balik ke rumah. Lagipula sebentar
ladi popo-ku she-jit. Pantasnya aku yang mempersiapkan segala sesuatu.”
“Aku juga mau pulang,” kata Ching-ching tiba-tiba. “Aku kangen pada Nio. Pula
hampir lewat sebulan sekarang. Kalau nanti Kim-gin-siang-coa menyerang, aku
harus ada di sana membela keluargaku.”
“Benar. Ilmumu boleh dikata tinggi,” ujar Li Hai. “Oh ya, omong-omong kenapa kau
gunakan ilmu itu? Bukankah Pek-san-bu-koan melarang menggunakan ilmu dari partai
lain? Tidak cukupkan kau buat kesalahan itu sekali?”
“Aku sudah tak ada urusan dengan Pek-san-bu-koan,” kata Ching-ching sedih. “Aku
berbuat salah tempo hari dan tak ada ampun bagiku. Suhu telah putuskan hubungan
guru dan murid denganku.”
Tahu-tahu kedengaran Bu-beng-lo-jin tertawa besar.
“Apa yang lucu?!” tanya Ching-ching galak.
“Kau! Kau diusir oleh gurumu? Ha-ha, sungguh tindakan pandai. Aku salut dengan
bekas gurumu itu. Wah, lain kali aku mesti mampir memberi selamat. Ha-ha, gadis
banyak lagak ternyata tak becus jadi murid.”
“Bungkam!” teriak Ching-ching seraya menyampok dengan poci teh. Poci itu
melayang cepat tanpa tumpahkan isinya. Tiba di dekat Bu-beng-lo-jin, barulah
menuang teh itu ke kepala si Tua itu.
Bu-beng-lo-jin bukan sembarang orang. Ia sudah tahu tindakan Ching-ching. Maka
dari itu ia dongakkan kepala menerima air dengan mulutnya sambil mengambil poci
itu.
“He-he, sungguh santun. Engkan mau menyulangi aku teh sepoci. Hi-hi, mari minum
sama-sama.” Bu-beng-lo-jin balas melempar poci kepada Ching-ching. Belum separuh
jalan, poci itu sudah balik lagi.
“Tak sudi aku minum bersamamu!” kata si gadis. “Kau boleh minum sendiri sampai
perutmu kembung.”
Ching Ching 310
Poci itu menungging lagi. Tapi sewaktu Bu-beng-lo-jin membuka mulut buat
menyambuti, mendadak poci itu pecah berantakan. Airnya tumpah ke muka
Bu-beng-lo-jin. Sementara mulut poci jatuh menyumbat mulut orang tua tak bernama
itu.
“Hi-hi, sungguh bagus. Baru sekali aku lihat orang kehujanan di dalam rumah.”
Ching-ching bertepuk tangan. “Bu-beng-lo-jin, kalau tak punya hun-cwee, belilah,
jangan pakai mulut poci begitu.”
“Puh!” Boe-beng-lo-jin membuang benda di mulutnya sambil menggebrak meja sampai
patah keempat kakinya. Ia menantang, “Kau betul tak boleh diampuni! Kalau
berani, hayo kita selesaikan dengan mengadu jiwa!”
“Boleh!” sambut Ching-ching ikut melotot.
“Ching-ching!” dua suara menegurnya bersamaan. Satu adalah Wang Lie Hay, seorang
lagi tak lain adalah Tabib Yuk yang baru datang. “Apa-apaan?” tegur tabib sakti
itu.
“Kong-kong!” Ching-ching menyapa.
“Oh, ini kong-kongmu?” Boe-beng-lo-jin menuding. “Kau! Kau tidak becus mengajar
cucumu. Makin besar makin dia kurang ajar.”
“Kong-kong, jagnan percaya. Dia sendiri yang kelewatan. Disuguhi malah merusak
meja dan memecahkan poci.”
“Ching-ching, jaga kelakuanmu!” tegur kong-kongnya. Gadis itu seketika terdiam.
Tabib Yuk berbasa-basi sejenak dengan Boe-beng-lo-jin. Sebagai seorang dari
kalangan Kang-ouw, tata sopan santun ini sudah berakar padanya. Sebaliknya,
Boe-beng-lo-jin yang merasa dihormat orang menjadi jumawa. Untunglah ia tak
punya banyak waktu menjelek-jelekkan Ching-ching. Wang Lie Hay keburu pamit pada
tuan rumah dan tentu saja ia harus ikut pergi.
Begitu kedua tamu tak kelihatan lagi, Tabib Yuk segera duduk berhadapan dengan
Ching-ching. “Kau sudah menemui suhumu? Hukuman apa yang kauterima?”
Sekali lagi Ching-ching menceritakan apa yang terjadi.
“Apakah Soe-heng betul-betul tak memberimu ampun?” Tabib Yuk keheranan. “Kalau
begitu, biar aku yang memohonkan kepadanya!”
”Kong-kong, jangan! Tak usahlah membuat beliau repot-repot lagi. Lagipula dengan
tidak menjadi murid Pek-san-boe-koan kini aku lebih bebas bertindak.”
“Tapi—“
“Uaah, sudah sore. Aku capek. Istirahat dulu ah.”
“Tunggu!” Tabib Yuk mencegah. “Mukamu pucat. Lukamu mestinya terbuka lagi. Ke
sinilah kembali dulu.” Kong-kongnya itu memeriksa tak berapa lama. Dengan meraba
nadi ia sudah tahu penyakit orang. “Benar kataku. Hatimu tergoncang dan lukamu
terbukan kembali. Untungnya lwee-kangmu sudah bagus. Dan lwee-kangmu yang
terpendam kini berputar-putar di tubuhmu dan mau menyembuhkan lukamu pula. Malam
ini kau cukup siu-lian dan minum obat. Niscaya besok pagi kau merasa enakan.
Kalau kau siu-lian tiga malam berturutan, musnah sudah lukamu.”
“Kong-kong memang paling hebat. Orang lain tidak tahu, tapi Kong-kong tak dapat
ditipu,” Ching-ching memuji.
“Tak usah menyanjung. Sana pergi mengaso. Kumasakkan obat untukmu.”
Begitu kong-kongnya berlalu, sirna sudah senyum di wajah Ching-ching. Ia
menunduk muram.
“Ada apakah?” tanya Yin Hung.
“Aku mau pulang.”
“Pulang? Kenapa?”
“Tak ada gunanya lagi aku tinggal di sini. Pek-san-boe-koan sudah tak anggap aku
Ching Ching 311
sebagai murid.T ak punya muka aku berdia di wilayah mereka.”
“Hmm, yah aku mengerti,” kata Khoe Yin Hung. “Kalau kau pulang, aku juga mau
pergi.”
“Kau? Bagaimana dengan Hai-komu?” Ching-ching mendadak teringat. Wang Lie Hay
bukankah adalah Siauw Koeinya? Mana boleh ia membiarkan gadis lain mendekati?
Maka dari itu, ia buru-buru menyambung ucapannya. “Tapi kalau kau memang mau
pergi, ya tidak apa-apa. Ke mana tujuanmu?”
“Aku juga mau pulang. Sebentar lagi ulang tahun Po-po. Aku tentu harus
bantu-bantu di rumah.”
“Po-pomu she-jit kapan?”
“Bulan depan. Tapi sampai sekarang aku tak tahu kado apa yang pantas buat
beliau.”
“Aku tahu! Mintakan Kong-kong membuat resep racun yang langka! Po-pomu pasti
girang menerima.”
“Tapi, apakah Kong-kongmu suka memberikannya?”
“Tunggu saja. Ditanggung besok malam kita sudah dapat dan paling banter besok
pagi sudah dapat berangkat. Kau berkemaslah. Sebelum pergi nanti, kita
mengunjungi Hay-ko dulu di kota!”
Sementara itu di tengah kota, berdiam di penginapan yang dimilikinya, Wang Lie
Hay termenung sendiri. Suhunya sudah ada yang melayani. Kesibukan mengurus tamu
yang membancjir juga ada yang mengatasi. Ia punya banyak waktu buat dirinya
sendiri.
Wang Lie Hay sedang merenungkan sendiri apa yang nanti bakal terjadi setelah
kini gurunya datang. Pula Ching-ching telah mengetahui siapa dia yang
sebenarnya. Apakah sikap gadis itu berubah? Kalau dulu sikapnya hanya sebagai
kawan biasa, mungkinkah sekarang menjadi terlebih akrab seperti pada saat mereka
pertama kali bertemu dul? Lie Hay memang merindukan saat-saat seperti dahulu
itu. Tapi, bisakah terulang?
Bagaimana kalau Ching-ching tidak berubah sikap dan cuma menganggap kawan saja?
Dan kalau benar ia nanti kembali seperti dulu, bagaimana sikapnya kepada Khoe
Yin Hung dan In Sioe Ing? Apalagi terhadap Thio Lan Fung!
Mendadak pintu kamarnya diketuk orang. Lie Hay segera mendusin dari lamunan.
“Kong-coe, ada seorang nona mencarimu!
Seorang nona? Siapa kira-kira? Apakah Ching-ching? Mau apa gadis itu? Wang Lie
Hay buru-buru keluar menemui pelayan. “Di mana dia?”
“Di kamar utara,” kata si pelayan.
Lie Hay bergegas menuju tempat yang disebut kamar utara, yang tak lain adalah
kamar makan istimwa di mana orang menjamu kawan yang dihormati secara mewah.
Demikian pula kamar barat, selatan, dan timur. Di tempat-tempat itu orang dapat
berbincang-bincang secara leluasa, tanpa perlu kuatir terdengar atau terlihat
orang lain. Letaknya yang agak memencil membuat orang merasakan ketenangan tanpa
peduli di luar kamar ada keributan. Daya tarik ini menyebabkan para pejabat
sering mampir di sana. Wang Lie Hay sebagai pemilik, tidak tahu bagaimana losmen
sekaligus rumah makan yang dibelinya menjadi sedemikianb esar. Ia cuma tahu
memberi modal, segala pengurusannya disrahkan kepada Yang liang-koei. Dan si
pengurus itu ternyata orang jujur. Begitu Lie Hay tiba, ia langsung berikan
hasil keuntungan. Tapi majikannya itu cuma mengambil seperlunya, sisanya
diberikan pada Yang liang-koen. Kiranya itulah yang dijadikan modal usaha.
Wang Lie Hay menghampiri gadis yang berdiri memandang keluar jendela. Ia agak
kecewa gadis itu bukan Ching-ching.
Ching Ching 312
“Hay-ko! Thio Lan Fung yang menyadari oarang datang langsung menyapa.
“Fung-moay!” Lie Hay balas menyapa. “Kupikir kau sedang di perjalanan ke rumahmu
setelah kau dijemput abangmu tempo hari.”
“Kau tak senang aku kemari? Baiklah aku pergi!” Thio Lan Fung bertindak.
“Fung-moay, jangan begitu. Tentu saja aku senang kau datang.” Wang Lie Hay tidak
berdusta. Secara jujur ia senang pada Thio Lan Fung, senang pula gadis itu
menyempatkan diri untuk mampir. Terus terang Lie Hay ada merasa bangga. “Aku
hanya merasa heran saja.”
“Gie-ko tidak berniat membawaku pulang. Alasannya saja supaya dapat keluar dari
… Sudahlah, jangan bicarakan tentang dia lagi. Aku—“
“Haaa!” sebuah seruan mengagetkan muda-mudi itu. “Kucari-cari nyatanya kau
sedang berdua dengan dia! Eh, kau bukan gadis yang tadi!”
“Soe-hoe!” Lie Hay langsung memanggil.
“Soe-hoemu?” Thio Lan Fung seperti tak percaya. Tapi melihat betapa Lie Hay
menghormat, ia pun lantas menjura. “Cian-pwee, Boan-pwee Thio Lan Fung
menyalam.”
“Eh, ya ya ya.” Boe-beng-lo-jin yang tak terbiasa cuma dapat menjawab demikian.
“Euh, muridku, ini sudah waktunya makan.”
Wang Lie Hay segera memanggil pelayan, memesan segala macam makanan. Di dekatnya
Boe-beng-lo-jin tersenyum-senyum bangga. Lihatlah muridnya, hasil didikannya.
Belum ada setahun di luaran sudah jadi bos besar, jadi pemuda yang dikejar
banyak gadis pula. Siapa takb angga punya murid sedemikian.
“Fung-moay, kau menginaplah beberapa hari di sini,” Wang Lie Hay menawarkan.
Memang itu maunya Lan Fung. Tapi ragu-rag ia menoleh kepada Boe-beng-lo-jin.
“Ya, ya, menginap saja!” Orang tua itu lekas berkata, “Lebih baik kau menemani
muridku daripada nanti dia kesepian.”
“Soe-hoe!” Lie Hya menegur.
“Daripada kau berkawan dengan setan betina bernama Ching-ching itu!” soe-hoenya
membandel.
Mendengar nama saingannya disebut dengan rasa benci, hati Thio Lan Fung melonjak
girang. Kiranya guru Lie Hay juga membenci dia. Hah, itulah bagus. Bagus sekali.
“Apakah kau kenal dengan gadis Ching-ching itu?” Boe-beng-lo-jin bertanya.
“Tentu saja. Si tukan cari ribut itu,” Thio Lan Fung menunjukkan rasa tak
senangnya pada Ching-ching.
“Betul, betul! Tukang cari ribut. Tepat sekali. Tuh, A-hay, apa kataku. Jangan
dekati setan itu. Kouw-nio ini juga tahu dia itu biangnya ribut!”
Wang Lie Hay cuma mesem saja. Ia tak suka gurunya menjelek-jelekkan orang.
Apalagi orang itu adalah Ching-ching. Ia juga tak suka Lan Fung ikut-ikutan.
Tapi pemuda itu enggan mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Untunglah saat itu pelayan membawa hidangan. Percakapan yang menyenangkan bagi
Boe-beng-lo-jin dan Thio Lan Fung terputus. Tapi kedua orang itu telanjur senang
satu sama lain. Paling tidak mereka punya satu kecocokan. Maka dari itu,
keduanya cepat merasa akrab. Bahkan pada waktu makan, Thoi Lan Fung banyak
melayani Boe-beng-lo-jin. Mengambilkan sayur, menuang arak. Dan si orang tua tak
bernama itu senang diperlakukan sedemikian. Ia pun jatuh sayang pada Thio Lan
Fung. Secara diam-diam disandingkannya gadis itu dengan muridnya. Cocokkah?
Wah, ternyata betul sangat cocok. Thio Lan Fung punya wajah yang cantik. Jauh
melebihi si iblis kecil Ching-ching dan pedang yang dia bawa menunjukkan bahwa
dia bukan gadis sembarangan. Sikapnya telaten, sopan, hormat, dan jelas mau
melayani Soe-hoe dan Lie Hay. Huah, sungguh pantas dijadikan murid-mantu.
Ching Ching 313
“Cian-pwee, silakan!”
“Ya, ya, cukuplah aku sudah kenyang. Ngantuk sekarang. Maklum sudah tua, cepat
capek, lain dengan kalian. Eh, malam ini terang bulan. Kenapa kalian tidak
jalan-jalan?”
Lan Fung langsung menoleh pada Lie Hay, memandang penuh harap. Dan Wang Lie Hay
tentu saja tidak menolak. Saat berikutnya keduanya sudah berjalan-jalan di
tengah kota yang cukuplah ramainya itu.
Pagi hari Ching-ching dan Yin Hung sudah bersiap akan berangkat. Tabib Yuk ikut
repot mengingatkan ini-itu yang mesti dibawa. Setelah semuanya beres, kedua
gadis itu berpamitan.
“Yuk Toa-hoe, kami permisi dulu,” kata Yin Hung.
“Sampaikan salam selamatku buat nenekmu.”
“Kong-kong, aku pergi.”
“Kau hati-hatilah di jalan. Meski kau bukan lagi murid Pek-san-boe-koan, jangan
sembarangan bertindak.”
“Kong-kong juga jaga diri baik-baik. Sampaikan salamku pada saudara-saudara di
Pek-san-boe-koan. Dan Kong-kong, berjanjilah akan membuat Ngo-soe-heng, eh,
maksudku Wu Fei Ko-ko menjadi sembuh.”
“Tak usah kausuruh, aku pasti akan berusaha menyembuhkan dia.”
“Aku tahu. Kalau nanti Wu Fei tak sembuh, Kong-kong mesti mencopot gelar
Yok-ong-phoa.”
“Sudah, kau pergilah. Kalau tidak, nanti tak kukasih kau pergi.”
“Baiklah, Kong-kong, selamat tinggal.”
“Kapan kau ada waktu, janganlupa mampir kemari!” seru Tabib Yuk dari jauh.
Ching-ching membalas dengan lambaian tangan. Mau tak mau ia sedih juga. Setelah
perpisahan ini, entah kapan mereka dapat bersua algi.
Seperti yang sudah diatur kemarin hari, Ching-ching dan Yin Hung mampir dulu ke
tempat Wang Lie Hay. Kebetulan pemuda itu ada di tempatnya. Ia heran megnetahui
Ching-ching akan pulang sedimikian cepatnya.
“Kau mau berangkat sekarang?” tanyanya memastikan. “Langsung pulang?”
“Sebenarnya aku mau mampir dulu ke rumah Siauw Hung. Hendak menyampaikan kado
ulang tahun dari Kong-kong.”
“Hay-ko, sebenarnya aku mau kau ikut, tapi kau tentu tak dapat meninggalkan
soe-hoemu,” kata Khoe Yin Hung menyesal.
“Siapa bilang tidak bisa?” mendadak Ching-ching berseru. “Siauw Koei, lekas kau
bebenah. Kau ikutlah dengan kami.”
“Tapi—“
“Sudah, sana pergi beres-beres.”
Begitu Lie Hay pergi, Yin Hung tak dapat tidak menanya. “Apa kau sebut Hay-ko
tadi?”
“Siauw Koei, kenapa?”
“Aku baru dengar. Semenjak kapan kau menyebut dia begitu?”
“Semenjak dulu sewaktu pertama bertemu. Aku juga baru tahu ia ada satu kawan
lamaku. Lantaran soe-hoenya kemarin.”
“Kau sampai tak kenal? Apakah ia banyak berubah?”
“Yah, dia sekarang lebih jangkung, putih, gagah. Wah, kalau kau lihat dia dulu,
tak bakal kau sudi jadi kawannya!”
“Tak mungkin!” sanggah Khoe Yin Hung dengan muka merah. Ia suka pada Wang Lie
Hay, tak peduli seperti apa rupanya.
Pada saat itu dua orang yang sedang berjalan masuk sambil bercakap-cakap melihat
Ching Ching 314
mereka. Kebetulan Ching-ching juga memandang. Serempak ketiganya membuang muka
ke lain-lain arah.
“Thio Kouw-nio, mari kita bercakap-cakap di pojokan sana saja,” ajak
Boe-beng-lo-jin, tak menganggap kepada Khoe Yin Hung yang menjura memberi
hormat.
“Wah, Siauw Hung, kau merasa tidak, rasanya ada yang berbau busuk di sekitar
sini.” Ching-ching mendengus-dengus mendekat kepada dua orang yang baru datang.
“Wah, di sini baunya paling luar biasa.”
“Apa maksudmu?” Thio Lan Fung tersinggung lantaran Ching-ching ada di dekatnya.
“Eh, Siauw Hung, apakah kau mendengar sesuatu?” Ching-ching berlagak tidak
mendengar.
Tinggal Khoe Yin Hung merasa terjepit. Membenarkan Ching-ching, ia merasa tak
enak pada Boe-beng-lo-jin. Mau menyangkal, Ching-ching adalah kawannya. Akhirnya
ia memilih diam saja.
Untunglah Lie Hay segera datang. Ia membawa bekalnya , tapi rupanya masih
menampakkan kebingungan. Apalagi melihat soe-hoenya dan Thio Lan Fung. Pemuda
itu semakin salah tingkah.
“Mau ke mana?” tanya soe-hoenya melihat buntalah yang dibawa.
“Siauw Koei akan pergi bersama kami!” sahut Ching-ching ketus.
“Dengan kamu? Tidak boleh!”
“Siapa boleh melarangku? Siauw Koei, mari pergi!”
“Hay-ko!” Thio Lan Fung ikut menarik Lie Hay ke lain arah. “Kalau kau pergi, aku
ditemani siapa?”
“Si Setan Tua itu pasti tak keberatan menemanimu,” ketus Ching-ching.
“Sudahlah, jangan ribut-ribut. Kenapa tidak semuanya saja pergi? Dengan
demikian, she-jit Po-po akan semakin meriah.”
“Begitu lebih baik,” kata Lie Ha sambil cepat melepaskan diri dari Lan Fung dan
Ching-ching. “Fung-moay, benahilah barang-barangmu. Soe-hoe, biar aku yang bantu
beres-beres.”
“Buat apa? Aku tak mau pergi bersama setan betina itu.”
“Siapa yang mengharapkanmu ikut,” tukas Ching-ching. Setengah menyeret, Wang Lie
Hay ditariknya pergi tanpa memberi kesempatan untuk pamitan lagi.
Khow Yin Hung masih tahu sopan. Ia memberi hormat dulu kepada Boe-beng-lo-jin
sebelum pergi, baru kemudian menyusul.
“Dasar iblis cilik!” gerutu Boe-beng-lo-jin. Ia menoleh pada Thio Lan Fung yang
cemberut lantaran ditinggal. “Kau menunggu apa? Lekas susul muridku. Jangan
kaubolehkan dia berduaan saja dengan iblis itu!”
Tanpa memikir dua kali, Thio Lan Fung lekas menyusul. Saking terburu-buru ia
sampai lupa pamitan dulu. Tapi Boe-beng-lo-jin tidak peduli. Ia sendiri sibuk
menyumpah-nyumpahi Ching-ching yang membawa kabur muridnya.
Dua hari berjalan bersama-sama, baik Khoe Yin Hung maupun Thio Lan Fung sudah
dapat melihat perubahan sikap Ching-ching dengan Lie Hay. Kalau sebelum ini di
antara mereka cuma sebagai kenalan saja, sekarang keduanya berlak sebagai
pasangan muda-mudi yang sudah saling mengenal semenjak kecil. Ini tentu saja
membuat kedua gadis yang sama-sama menaruh hati pada Lie Hay itu menjadi tidak
senang. Bahkan Khoe Yin Hung menjauhi juga sahabatnya.
Ching-ching bukannya tak menyadari, tapi ia terlebih tak peduli. Sejak dulu
Siauw Koei adalah miliknya. Siapa yang boleh merebut darinya?
Mereka sampailah di sebuah desa tak jauh dari Ban-tok-lim, tempat kediaman Khoe
Yin Hung. Seperjalanan lagi akan sampailah mereka di Ban-tok-pang. Tapi hari
Ching Ching 315
telah gelap. Malam itu mereka menginap dulu di rumah seorang petani tua yang mau
memberi tumpangan.
Tengah malam, ketika sedang lelap tertidur, mendadak kedengaran suara orang
ribut-ribut. Sebagai orang kalangan Kang-ouw, empat muda-mudi ini segera keluar
dari rumah untuk melihat apa gerangan telah kejadian. Nyatanya ketika sampai di
luar, langit sebelah utara telah menjadi terang kemerahan.
“Apakah fajar datang terlalu cepat?” tanya Lan Fung heran.
“Ini belum lewat tengah malam, tolol, bagaimana bisa muncul fajar. Itu adalah
api.”
“Kebakaran!” Wang Lie Hay menegaskan. “Kebakaran besar!”
Khoe Yin Hung sedari tadi diam saja. Matanya nyalang ke api di kejauhan.
Mendadak mukanya pucat dan lantas berlari ke arah kebakaran.
“Siauw Hung, mau ke mana?” Lie Hay menegur. Tapi Khoe Yin Hung berlari terus.
Sekali ini ia tak mendengar panggilan Lie Hay.
“Kenapa dia?” Lan Fung tak kalah bingung.
“Jangan-jangan …!” Tak membuang waktu lagi, Ching-ching dan Lie Hay menyusul Yin
Hung. Di belakang mereka, Lan Fung mengikuti.
“Meski Khoe Yin Hung tak terlalu cepat berlari, tapi kawan-kawannya ada
menghadapi kesukaran buat menyusul. Sebentar-sebentar keduanya berhenti,
menajamkan mata dan telinga buat mencari ke mana kiranya Yin Hung memilih jalan.
Lantara tak ada bulan malam itu jadi teramat gelap. Tapib agi Lie Hay yang
pernah lama hidup tanpa cahaya, hal itu tak terlalu jadi masalah. Malah ia masih
dapat melihat rumput yang rebah lantaran diinjak orang. Denganb egitu mereka
jadi terlebih yakin.
Hampri dua pertanak nasi mereka berlari. Cahaya api semakin terdekati. Yin Hung
tetap tak kelihatan. Tapi mereka semua sudah tahu ke mana tujuan, tak ada
tandanya pun dapat menduga.
Makin ke sana, jalanan yang bulak-biluk menjadi terlebih tak rata. Bayangan Yin
Hung juga sudah tak jauh di depan. Tapi kemudian ada yang lain yang menghalangi
penglihatan, yaitu kabut putih kehijauan yang wangi sekali.
“Bau apa ini? Wangi sekali!” Thio Lan Fung mengendus-endus.
“Jangan! Ching-ching lekas menutup pernapasan dan membekap hidung Lie Hay. Tapi
terlambat mengingatkan Lan Fung yang sempoyongan rubuh ke tangah.
“Tutup jalan pernapasanmu, kabut awan ini beracun!” Ching-ching berseru. Ia
lantas mengeluarkan sapu tangan, mengambil sepotong dahan dari poinggir jalan di
mana banyak tumbuh semacam pohon bercabang banyak.
Wang Lie Hay mengawasi saja apa yang dilakukan Ching-ching. Gadis itu meremas
potongan dahan di dalam sapu tangannya. Tersiarlah bau menyengat. Ching-ching
mengikatkan sapu tangannya ke kepala Lan Fung buat menutupi hidung dara yang
jatuh semaput itu.
“Begini dia tak bakal mati,” ujarnya, lalu memotong dua cabang lagi dan
memberikan satu buang Wang Lie Hay. “Kunyahlah, tapi jangan ditelan. Ayo cepat,
kita mesti menyusul Siauw Hung.”
“Thio Kouw-nio bagaimana?”
“Tak ada waktu. Biarkan saja di situ. Sebentar kemudian dia akan mendusin
sendiri. Sekarang ini Siauw Hung terlebih gawat. Aku kuatir ia bertindak yang
bukan-bukan.”
Sembari berlari, Lie Hay mengunyah potongan dahan yang diberi Ching-ching. Puah,
dalam keadaan biasa, tak akan mau ia memasukkan mulut barang seperti ini.
Rasanya pahit, getir. Dengan bau yang luar biasa pula. Meski begitu, karena ia
Ching Ching 316
tak mau sempaut seperti Lan Fung, ditahannya saja mualnya lantaran dahan bau
itu.
Tak berapa lama, asap putih yang menyelubungi mereka lenyaplah. Mereka kini
berada di depan sebuah hutan kecil.
“Awas, jangan sembarangan melangkah. Nih, baluri dulu badanmu dengan ini!”
Ching-ching memberikan sebotol obat. Wang Lie Hay menurut saja. Ia percaya pada
Ching-ching.
Hutan kecil itu tidak seberapa dalamnya. Cuma sangat lebat sehingga orang yang
tidak tahu, dapat mengira itu adalah sebuah belantara luas. Lewat dari hutan,
mereka tibalah dis ebuah lapangan yang amat luas berumput hijau kebiruan. Tak
jauh di depan tampaklah Yin Hung berlari ke arah kebakaran besar di
tengah-tengah lapangan itu.
“Siauw Hung!” Lie Hay mengejar.
Yin Hung terus saja berlari seperti yang kesetanan, memanggil-manggil nama
po-ponya. Lie Hay berhasil menyusur sewaktu mereka sampai di pelataran
Ban-tok-pang yang terang benderang lantaran cahaya api. Yang membuat mereka
terkejut adalah melihat banyaknya mayat bergelimpangan di pelataran itu.
Kelihatan pula bekas-bekas orang berkelahi.
Yin Hung mendekati salah satu mayat. Ia langsung menjerit begitu mengenali. “Pah
Siok-siok! Siok-siok!” Ia menghampiri yang lain. “Chen Kouw-kouw! Apa yang
terjadi? Mana Po-po?”
Mendadak Yin Hung sadar. Mereka semua sudah mati, tak dapat lagi menjawab
pertanyaannya. Yin Hung berdiri dan mendelong. Ia tak mendengar Ching-ching
memanggil namanya.
“Siauw Hung, di sini ada yang hidup! Siauw Hung!”
Lantaran Yin Hung tak bergeming, terpaksalah Lie Hya menyeretnya ke dekat
sesosok tuuh bersimbah darah yang masih bernapas. Satu-satu … seperti sudah tak
kuat. Tapi ia masih dapat menyapa nonanya meski sudah payah. “Sio … cia!”
Yin Hung melihat kepadanya. Gadis itu buru-buru berjongkok di dekat anka
buahnya. “Toa Sinag! Ini kenapa? Apa yang telah kejadian?”
“Ini … oleh … Kim-gin …”
“Kim-gin-siang-coa-pang?” Ching-ching memotong.
“Tapi kenapa?”
“Sudah lewat … ulang tahun … tak mau datang …”
“Undangan Kim-gin-siang-coa!” Ching-ching berseru. “Mereka berkata hendak
membasmi partai yang tidak memberi muka!”
“Po-po mana?” Yin Hung bertanya panik. “Jawab aku, Po-po ada di mana?”
“Loo-nay-nay, dia ada di … kamar … ra—ha—sia …” Itulah kata-kata terakhir Toa
Siang yang segera terbang jiwanya setelah berkata.
Khoe Yin Hung tak menyadari kematian anak buahnya. Ia menoleh ke api yang
berkobar-kobar tak terlalu jauh dari tempatnya sekarang. Gadis itu bengong
menjublak sesaat. Tahu-tahu ia melompoat, berlari ke arah api seakan hendak
menembusinya.
“Siauw Hung!” Ching-ching lantas mengejar hendak mencegah.
Lie Hay juga segera bangkit. Tapi mendadak kepalanya terasa begitu enteng sampai
terasa mau terbang. Terbang! Lie Hay ambruk ke tanah, tak ingat apa-apa lagi.
Ching-ching mempercepat larinya. Yin Hung tak boleh masuk ke sana, ke api yang
menyala. Tak ada apa-apa lagi yang bisa diselamatkan dari dalam sana. Tidak juga
Khoe Lan Fey. Yin Hung tak akan dapat menyelamatkan po-ponya yang pasti sudah
jadi abu. Dan gadis itu akan bernasib sama bila nekad hendak masuk ke sana.
Ching Ching 317
Semakin dekat dengan api, justru semakin jauh Ching-ching dan Yin Hung.
Diam-diam Ching-ching merasa heran. Gin-kangnya ada terlebih baik, jauh lebih
baik dari Yin Hung. Lantas kenapa ketinggalan?
Gadis itu mengempos semangat. Yin Hung sudah terlalu dekat ke api. Ia tak boleh
masuk ke sana! Nekad, Ching-ching melompat menubruk sobatnya, jatuh ke tanah.
Gadis itu menggulingkan diri menjauhi api, Yin Hung diseretnya juga.
“Lepaskan!” Yin Hung berteriak. “Aku mesti selamatkan Po-po! Kau lepaskan!”
“Siauw Hung, Po-pomu tak bisa diselamatkan lagi.”
“Bohong! Po-po ada di sana. Aku mesti ajak keluar. Dia tak tahu ada kebakaran!”
“Siauw Hung! Siauw Hung, dengar, po-pomu sudah mati tahu! Mati! Bahkan dewa takd
apat membuat dia hidup kembali!”
“Dusta kau! Belum lihat mayat Po-po, mana boleh kau berkata begitu? Lepaskan
aku! Aku mau pergi.”
“Tidak! Aku tak mau biarkan kau bunuh diri!”
“Aku tidak mau bunuh diri, aku mau tolongi Po-po! Kau lepaslah aku, Ching-ching.
Aku bermohon padamu!”
Ching-ching tak peduli Ia malah menyeret sobatnya menjauhi gedung besar yang
mulai runtuh lantaran terbakar.
Yin Hung tak kehilangan akal. Biarpun ia berontak sebagaimana, tetap saja tangan
Ching-ching tak dapat lepas. Akhirnya Yin Hung mengambil tusuk rambutnya dengan
sebelah tangan yang bebas. Dengan sekuat tenaga ia menancapkan benda itu ke
tangan Ching-ching.
Ching-ching meraskaan pedih di tangannya. Gadis itu menggigit bibir menahan
sakit. Tapi ia tak menoleh. Tangannya pun tak mau lepas, meski setelah itu ia
masih merasakant ikaman Yin Hung berkali-kali.
Melihat usahanya tak berhasil, Yin Hung membuang tusuk rambutnya. Ia
memancangkan kaki ke tanah, tapi terang saja kalah tenaga dari Ching-ching.
Gadis itu tak bisa berpikir lain daripada duduk di tangah membiarkan Ching-ching
menyeretnya.
“Ching-ching, kalau kau tak lepaskan aku, aku tak mau jadi temanmu! Aku tak mau
bicara seumur hidup, aku akan bunuh kau!”
Ching-ching tetap tak menyahut.
Yin Hung melirik betis Ching-ching. Ia tahu gadis she Lie itu tak pernah
meninggalkan pisaunya dan selalu melekatkan di tempat sama, di balik sepatunya.
Secepat-cepatnya Yin Hung menyambar ke arah sana. Dapat!
Ching-ching kurang cepat menyadari. Ia baru melihat Yin Hung menggenggam belati.
“Aku akan bunuh kau kalau tak lepaskan aku.”
“Aku lepas kalau kau tak balik ke sana.”
“Baiklah!”
“Sayangnya, aku tak percaya. Dan aku juga tak percaya kau dapat membunuhku.”
“Kau benar, aku tak mungkin dapat membunuhmu. Baik, dengan satu tangan aku masih
mampu menyelamatkan Po-po!” Yin Hung mengayunkan pisau hendak menebas tangan
sendiri.
Ching-ching keburu sadar. Pula dia terlebih waspada. Kakinya cepat melayang,
menendang pisau terpental, masuk ke sarungnya yang tersembunyi di balik sepatu.
Bersamaan dengan itu, tangannya melayang menampar Yin Hung yang teriak-teriak
mengancam akan bunuh diri bila tak segera dibiarkan menolong po-ponya.
“Dengar!” Ching-ching berjongkok di hadapan sobatnya yang begitu kaget ditampar
olehnya. “Kalau po-pomu memang bisa ditolong,a ku dan Hay-ko sudah menolongnya
sedari tadi. Kami lebih cepat dan jauh lebih kuat darimu. Tapi ilhat ke sana!
Ching Ching 318
Lihat ke tengah api itu! Lihat rumah yang nyaris rata dengan tanah! Apa yang
bisa kauselamatkan dari situ?”
“Po-po. Po-po ada di dalam.”
“Dia sudah mati!”
“Tidak!”
“Dia mati!”
“Tidaaak!” Yin Hung berteriak. “Po-po tak boleh mati!”
Di mulut, Yin Hung boleh bilang tak mungkin,t api di dalam hatinya gadis itu
mulai percaya. Itulah kenapa dia yang sedari tadi berontak, kini cuma duduk
teriak-teriak sembari mencucurkan air mata memanggil-manggil po-ponya yang tak
juga keluar dari api.
Ching-ching tak berkata apa-apa. Ia sudah tahu perasaan Yin Hung. Gadis itu
memeluk sobatnya erat-erat. Tahu-tahu ia merasakan Yin Hung lemas. Gadis she
Khoe itu semaput, pingsan. Mulanya Ching-ching mengira Yin Hung lemas karena
sedihnya. Tapi kemudian ia sendiri meraskan kepalanya sendiri enteng.
Pandangannya mulai tidak jelas. Tahulah Ching-ching ada sesuatu yang tidak
beres.
Ia teringat Siauw Hung berkata hawa di sekitar Ban-tok-pang ada mengandung
racun. Gadis itu lekas mengeluarkan sian-tan yang bisa menangkal segala racun
dan menelannya sebuah. Ia juga menjejalkan satu ke mulut Siauw Hung, lalu ia
mencari Lie Hay dengan matanya.
Melihat Wang Lie Hay semaput, Ching-ching lekas mendekat dan mengeluarkan lagi
sebutir sian-tan. Sesudah itu ia menyeret Lie Hay dan Siauw Hung menjauh dari
tempat yang sudah seperti neraka itu.
Pagi harinya Wang Lie Hay terbangun dan melihat Thio Lan Fung berada di
sampingnya. Nyatalah ia berada di sebuah kamar sederhana. Entah bagaimana ia
bisa ada di situ.
“Hay-ko, kau sudah bangun.” Thio Lan Fung bangkit dari duduknya.
“Fung-moay, ini aku berada di mana? Siapa membawaku kemari?”
“Semalam kau tak sadar. Orang sekampung yang menolongmu pulang.”
“Lalu yang lain? Ching-ching dan Yin Hung?”
“Mereka ada di kamar lain.”
“Aku mesti menengok.” Lie Hay bangkit.
“Tak usah. Ching-ching sudah menemani Khoe Yin Hung. Mereka sedang
berbincang-bincang dan tentunya tak suka diganggu. Hay-ko, kau istirahat
sajalah.”
Apa yang dikatakan Thio Lan Fung hampir benar. Ching-ching memang menemani Yin
Hung, tapi keduanya sama berdiam diri. Yin Hung sedih karena semua kerabatnya
telah binasa. Ia menyesal terlambat pulang. Kalau tidak …
Tapi kalaupun ia lebih cepat datang, apa yang dapat dilakukan? Bukankah itu
berarti ia ikut mati? Kepandaiannya masih di bawah tingkatan Po-ponya. Dan kalau
neneknya tak bisa berbuat banyak, apalagi dirinya. Pula, ia belum kepingin mati
sekarang. Tidak! Nanti ia tak dapat bersama-sama Hay-konya lagi.
Hay-konya? Betulkah Wang Lie Hay adalah miliknya? Kepunyaannya? Yin Hung sendiri
masih bersangsi.
Sementara Ching-ching memikirkan ayah-ibunya sendiri. Sudah lewat tempo yang
diberikan Kim-gin-siang-coa-pang datang ke she-jit si Ular Betina. Lalu apa
hukumannya? Apakah dibasmi semua sama seperti kerabat Yin Hung?
Kim-gin-siang-coa-pang adalah partai yang kuat. Mustahil dilawan Pek-eng-pay
sendirian. Pula mereka terkenal beringas. Sekali menantang, tak akan mundur
Ching Ching 319
setapak. Sekali mengancam, pasti terlaksana. Semakin dipikir, Ching-ching
semakin berkuatir.
“Lie Mei Ching, Hay-ko mau ketemu kau,” seruan Thio Lan Fung menggugah kedua
gadis itu.
“Sebentar aku ke sana,” sahut Ching-ching. “Siauw Hung, aku pergi sebentar.”
Yin Hung mengangguk dan memalingkan muka ke tembok. Benar apa yang ditakutkannya
Semenjak tahu bahwa Lie Hay bukan lain adalah Siauw Koei, Ching-ching semakin
dekat pada pemuda itu. Lie Hay kadang lupa, yang bersamanya bukan Ching-ching
seorang. Thio Lan Fung juga sering terlupakan.
Mendadak Yin Hung tersentak. Selama ini yang menjadi saingannya merebut
perhatian Lie Hay adalah Lan Fung. Itu pun ia hampir-hampir terkalahkan. Kini
Ching-ching juga mendekati pemuda pujaannya. Bukankah ia semakin tersisih?
Sebentar saja Lie Hay tak akan ingat pernah mengenal dia.
Yin Hung merasa sendirian di dunia ini. Keluarganya musnah sudah. Pemuda
pujaannya telah direbut orang. Orang itu adalah sahabatnya sendiri. Bahkan
sobatnya tega mengkhianati dia! Lalu buat apa ia hidup lebih lama di dunia? Tak
ada gunanya.
Yin Hung bangkit dari tempat tidur. Ia sudah bertekad akan menghabisi nyawanya
sendiri!
“Bagaimana Siauw Hung?” tanya Lie Hay begitu bertemu Ching-ching.
“Bagus ya. Aku datang belum disapa, kau sudah menanya orang lain,” Ching-ching
bercanda mengomeli. “Siauw Hung baik. Cuma masih sedih saja. Kau sendiri?”
“Aku sudah tak apa-apa. Kau kelihatan pucat. Apakah sakit? Ataukah tidak tidur
semalaman?”
“Setelah semalam kauharapkan aku tidur? Siauw Hung saja mendusin sebelum
menyingsing fajar.”
“Aku ingin menengok dia. Tapi Fung-moay melarang.”
“Kau terlalu menurut pada gadis she Thio itu.”
“Aku juga menurut padamu bukan?”
“Aku lain urusan.” Ching-ching cemberut.
Pada tempo bersamaan Thio Lan Fung masuk membawa semangkuk sop untuk Lie Hay.
“Hay-ko, diminumdulu sopnya selagi masih panas.”
“Mana buat Siauw Hung? Biar aku yang antarkan!” kata Ching-ching.
“Eh, aku … aku cuma buatkan untuk Hay-ko. Kupikir kau sudah mengurus temanmu
itu.”
“Katakan saja kau tak mau buang tenaga untuk orang lain selain buat Hay-ko,
sebab kau ada maksud tujuan sendiri.”
“Aku tidak!”
“Sudah, jagnan bertengkar. Biarlah sop ini untuk Yin Hung. Kasihan dia.”
“Tapi itu kubuat untukmu …,” Lan Fung tidak rela.
“Aku juga tak mau Yin Hung makan sopmu. Kalau-kalau teracuni hati jahatmu!”
Thio Lan Fung sudah angkat tangannya hendak menampar mulut lancang si gadis she
Lie, tapi Ching-ching terlalu lincah menghindar dan pergi ke dapur. Ia mau
menunjukkan masakan Thio Lan Fung tak akan dapat menandingi apa yang akan
dibuatnya.
Tak sampai sepertanak nasi, tercium aroma harum sampai ke kamar Lie Hay. Aroma
itu semakin wangi saja sewaktu Ching-ching masuk membawa dua buah mangkuk berisi
sop. “Siauw Koei, ini kubuatkan untukmu. Habiskanlah. Aku mau mengantar yang ini
buat Siauw Hung!”
Sudah berkata demikian, ia keluar dari kamar itu. Namun sebentar kemudian ia
Ching Ching 320
sudah kembali lagi. Mukanya menunjukkan rasa kuatir. “Adakah kalian melihat
Siauw Hung lewat? Ia tak ada di kamarnya!”
“Paling sedang jalan-jalan menenangkan pikiran. Dia sudah besar, dapat menjaga
diri. Buat apa kau repot?”
“Ia sedang berduka. Aku kuatir ia bertindak bodoh. Ah, tak ada guna berbantah
denganmu. Aku pergi saja!” Cing-ching hendak berlalu.
“Ching-ching, tunggu, aku akan bantu!” Wang Lie Hay berusaha bangkit. Ia menarik
tangan Ching-ching dan lekas melepas genggaman sewaktu melihat gadis itu
meringis kesakitan. Barulah Lie Hay melihat telapakan tangan gadis itu penuh
luka bekas tikaman. “Tanganmu kenapa?” tanyanya berkuatir.
“Tidak apa,c uma luka sedikit. Hayolah, kalau mau ikut, lekasan!”
“Hay-ko, keadaanmu belum pulih betul. Sebaiknya kau istirahatlah saja,” Thio Lan
Fung mencegah.
“Tapi …” Lie Hay nampak ragu.
Melihat semua itu, Ching-ching mendadak merasa tak senang. Ia menjadi tak
sabaran. Lekas ditepislah tangan Lie Hay, ia sendiri berlari pergi.
Lie Hay terkejut akan kelakuan gadis itu, tapi ia menyangka Ching-ching terlalu
menguatirkan Yin Hung dan sungkan membuang tempo. Maka dari itu, ia tidak merasa
sakit hati.
Akan tetapi, Thio Lan Fung lebih menyelami perilaku orang. Ia tahu belakangan
ini Ching-ching berkawan akrab dengan Lie Hay lebih dari sahabat. Dan melihat
Lie Hay mendengar perkataan Lan Fung, tentu saja gadis itu jadi cemburu. Tahu
demikian, Lan Fung menjadi girang bebareng kuatir. Girang lantaran ia dapat
membuat Ching-ching uring-uringan, kuatir lantaran takut Lie Hay terebut pula
hatinya. Dalam hati, Lan Fung bertekad, biar jalan bagaimana, Lie Hay tak boleh
direnggutkan orang dari sisinya!
Ching-ching tak melihat bayangan Yin Hung di mana-mana. Ia sudaht anya
kiri-kanan tapi tak ada yang tahu ke mana sobatnya itu pergi. Mendadak terpikir
barangkali Yin Hung balik ke Ban-tok-lim. Secepat-cepatnya ia ke sana, tapi
ternyata sia-sia saja. Yin Hung tak di sana.
Gadis itu kembali ke kampung sambil mengira-ngira di mana adanya Yin Hung.
Separo jalan ia bertemu dengan seorang tukang kayu yang membawa selampai merah.
Ching-ching tertarik selampai sutra yang tidak biasa dimiliki orang sembarangan.
Masih ia kebingungan, datang pula seorang gadis desa. Dandanannya biasa, tapi
perhiasan yang dikenakannya dikenali Ching-ching, yaitu kepunyaan sobatnya!
“He!” Ching-ching berseru. “Kau, tunggu.”
Gadis desa itu menoleh heran. “Kau panggil akukah?”
“Ya. Aku hendak menanya. Perhiasan-perhiasan ini kaudapat dari siapa?” tanya
Ching-ching terburu-buru.
Mendadak gadis desa itu pucat mukanya lantaran takut. Kakinya gemetaran.
“Apakah punyamu?” Ching-ching bertanya lebih halus.
“Kau … kau mau? Ambillah. Nih, nih, ambil semua.” Gadis itu mencopot semua,
memberikannya kepada Ching-ching.
“He, aku tanya kaudapat dari mana?”
“Sumpah, aku tidak mencurinya.”
“Aku bukannya tuduh—“
“Ada orang di pinggir jurang. Ayahku luka, dia mau lompat ke bawah—“ gadis itu
berbicara kalang-kabut.
“Ayahmu? Lompat?”
“Sio-cia itu mau buang jiwa. Aku dan ayahku melarang. Dia suruh pergi. Titipkan
Ching Ching 321
selampai merah buat orang she Wang. Upahnya dia kasihkan semua barang.”
“Di mana dia tadi katamu?”
“Di jurang. Sana itu.”
Ching-ching lantas mengandalkan ginkangnya mengudak ke arah yang ditunjuk. Tak
peduli gadis desa itu lari sambil menangis kepada ayahnya, si tukang kayu,
melapor semua barang sudah dirampok lie-cat.
Ching-ching betul-betul kuatir sekarang. Ia takut tak keburu menyelamatkan Yin
Hung yang mau buang jiwa, kata si gadis tadi. Meski sedari mulai ia kuatir Yin
Hung bertindak bodoh, tapi dalam hati Ching-ching tak mau mempercayai hal
demikian bakal terjadi. Tapi toh ia berlari secepat angin mencari Khoe Yin Hung
yang sudah di mulut jurang!
Khoe Yin Hung benar-benar berniat menghabisi jiwa sendiri. Ia sudah memikir lama
di jalanan tadi. Andaikata ia hidup, tentulah hidupnya tak lebih dari belas
kasihan kawan-kawannya yang lain, seperti Ching-ching atau Wan Lie Hay. Dia tak
mau lihat orang lain mengasihani dia. Dia bukan pekemis miskin yang boleh
dikasihani. Dan terlebih dari itu, ia tak mau melihat gadis lain bersama Lie
Hay. Terlebih bila gadis itu adalah Ching-ching. Ia tak mau jadi penghalang di
antara mereka.
Tapi setelah sampai di tepian jurang dan melongok ke bawah, tak kelihatan
olehnya ujung jurang yang amat dalam itu. Mau tak mau hatinya menjadi keder. Ia
mulai memikir apa yang terjadi bila ia mati. Ia belum pernah mati. Apakah mati
itu enak? Betulkah ia tak akan merasakan apa-apa setelah mati? Lalu orang yang
sudah mati, ke manakah perginya? Dan betulkah kata orang, roh orang yang mati
tidak tenang akan jadi setan gentayangan? Apakah dia nanti akan gentayangan
tanpa tujuan?
Yin Hung jadi merasa kasihan pada diri sendiri. Mengasihani nasibnya yang tidak
beruntung. Ia lantas ingat pada neneknya. Semasa neneknya masih hidup, ia tak
merasakan sedemikian susah. Dan ayah serta ibunya yang sudah duluan meninggalkan
dunia fana … Khoe Yn Hung makin mantap menyusul mereka.
Tapi baru saja melangkah setindak mendekat ke jurang, berkelebatanlah wajah Lie
Hay dan Ching-ching bergantian di matanya. Dua orang itu. Yang satu adalah
pujaan hatinya, yang lain adalah sobatnya. Dua orang yang selama ini begitu
baik. Ia belum sempat membalas budi keduanya. Namun, bukankah dengan kematiannya
Ching-ching tak akan teralangi lagi berdekatan dengan Siauw Koeinya? Itu sudah
boleh disebut membalas jasa orang. Tapi pada Wang Lie Hay?
Yin Hung teringat sapu tangans utera merah pemberian neenknya. Selampai itu
bukan barang biasa, tapi adalah dari serat sutra yang direndam darah tiga
binatang beracun, yang kalau bersatu darahnya justeru menangkal racun. Sudah
tiga tahun direndam lalu disimpan di antara dua buah pek-giok tiga tahun lagi.
Sudah itu baru disimpan di dalam kotak dari kayu Sim-hio-bok yang wangi.
Pembuatan satu selampai saja makan waktu sembilan tahun, tentu juga selampai itu
adalah serupa barang mestika. Mukjizatnya adalah apabila seorang terluka dalam
lantarans uatu racun jahat, sehingga tak sadar diri lebih dari tiga hari,
selampai itu boleh dijadikan kompres. Dalam semalam, niscaya semua racun di
badan orang akan keluar bersama keringat dan terhisap selampai itu. Sudah
demikian, selampai itu boleh direnam air panas tiga malam berturutan dan boleh
gdigunakan lagi. Sayangnya, cuma boleh dipakai tiga kali sebelum musnah semua
mukjizatnya. Meski begitu, barang demikian tetaplah sebuah mestika yang tentunya
akan sangat berguna bagi seseorang seperti Wang Lie Hay.
Mendapat pemikiran demikian, Yin Hung kemudian menitip pada dua orang yang
Ching Ching 322
lewat. Sesudah itu, ia berdiri di pinggiran jurang, memikir buat terakhir kali
sebelum menamatkan riwayatnya sendiri.
Khoe Yin Hung masih berdiri mendelong di tempatnya ketika mendengar namanya
dipanggil orang.
“Siauw Hung!”
Tak usah menoleh, Yin Hung sudah tahu sipaa yang datang dan dia juga tahu, kalau
tidak sekarang merlompat ke bawah, maka ia tak akan punya ketika lagi!
“Siauw Hung!”
Teriakan Ching-ching seperti mau membelah langit melihat kawannya hilang ditelan
jurang tak berdasar yang menganga seperti mulut besar. Gadis itu buru-buru
mendekat, melihat kebawah. Tampaklah badan Yin Hung meluncur cepat ke bawah.
Ching-ching melihat sekeliling. Kemudian tanpa memikir dua kali, ia turut
melempar diri menyusul Yin Hung!
Khoe Yin Hung merasakan kosong di bawah badannya. Dirasanya juga angin dingin
menerpa dari arah bawah. Mendadak gadis itu ketakutan. Ia berteriak keras. Meski
demikian ia yakin, penderitaannya akan segera berakhir dan ia akan berkumpul
kembali bersama keluarganya.
Sayang, rupanya Giam-lo-ong belum mau mencabut jiwanya. Dari bawah, Yin Hung
merasakan tenaga yang mendorongnya beberapa tombak ke atas. Belum lagi berhenti,
tenaga tak kelihatan itu mendorongnya pula. Terus begitu sampai Yin Hung
melewati tepi jurang dan satu benda kecil membuat si nona terpental dan
tersungkur di rerumputan.
Yin Hung belum lagi sempat memikir kejadian barusan ketika penolongnya keluar
dari dalam jurang dengan gerakan luar biasa indah, seperti layaknya burung hong
yang sedang terbang. Lebih kaget lagi Yin Hung melihat, sang penolong tak lain
adalah Ching-ching. Lie Mei Ching, sahabatnya! Yin Hung terkejut bukannya apa,
tapi melihat tingginya tingkat kepandaian Ching-ching, ia menjadi kesima. Namun,
kemudian kembali muncul rasa jelus di hatinya.
Lihatlah dia. Begitu lihay dan mulia pula. Mana dapat aku persandingkan diri
dengannya, pikir Yin Hung.
Ching-ching dalam pada itu sudah mendekati sahabatnya. Begitu tiba, ia bertolak
pinggang. Matanya melotot dan mulutnya lantas membuka. “Apa kauperbuat?”
“Kenapa tak kaubiarkan saja aku mati?”
“Eh, kau belum pamit padaku, mana boleh mengunjungi akhirat lebih dulu? Hayo,
sekarang bilang padaku, kenapa mau mati buru-buru?”
“Semua adalah gara-garamu juga. Pergi! Biarkan aku mati!” kata Yin Hung. “Atau,
kau kubunuh!”
“Eh—“ Belum lagi sempat berkata, napas Ching-ching mesti lekas ditarik pulang
lantaran Yin Hung telah menyerang dengan seantero tenaganya. “Kau ditanya
sungguhan malah mengajak main-main?” tegur Ching-ching menghadapi Yin Hung
dengan bercanda. Mana tahu dia pada saat itu sobatnya dalam keadaan terkecewa
luar biasa. Ching-ching jadi tersentak kaget waktu kuku jari Yin Hung telah
menyerempet mukanya sehingga terasa pedih. “Siauw Hung, kau salah makan obat
atau apa? Kau benar mau bunuh padaku?”
“Ya, aku mau bunuh kau, dan Thio Lan Fung, dan In Sioe Ing dan semua gadis yang
berani mendekati Hay-ko!”
Melihat nona itu begitu bersungguh, Ching-ching tak berani berayal lagi. Ia
lekas menggunakan ilmu totoknya yang jitu. Dalam sekejapan mata, Yin Hung telah
berdiri kaku.
“Lantaran Hay-ko? Lantaran Lan Fung dan Soe-cie? Kenapa tunggu ini hari?
Ching Ching 323
Bukankah kemarin-kemarin hari kau ada banyak sempat?”
“Kemarin hari tak ada Hay-ko aku masiha da Po-po buat menyayang. Sekarang aku
sendirian, Hay-ko tak sudi, tak ada peduli padaku. Guna apa aku hidup?”
“Apakah kau mau bilang aku tak mempedulikanmu? Lantas buat apa repot aku
menolongi kamu?” Ching-ching mendengus kesal.
“Kau juga tak peduli lagi. Kini kau akrab dengan Hay-ko, aku boleh dianggap tak
ada!” Yin Hung adalah seorang yang polos, ia tak tahu mana boleh dikatakan mana
tidak. Maka itu dia tak menutupi apa perasaannya kepada Ching-ching.
“Kau salah menduga. Tak sekali-kali aku dan dia anggap angin padamu.”
“Oh? Lantas kenapa kaurebut Hay-ko—“
Dituduh secara demikian, meski oleh sobatnya sendiri, sudah terang Ching-ching
tidak terima. “Kalau mau bilang merebut, sesungguhnya kaulah yang mrebut dariku.
Aku dan Siauw Koei bertemu lebih dulu. Ia malah mengakui aku sebagai ‘istri
kecil’, kau tahu?”
Yin Hung terdiam. Ia mengakui apa yang dibilang adalah benar. Sesungguhnya ia
sendiri yang berkhianat kepada sahabat. Memikir demikian, ia menjadi begitu malu
sampai menitikkan air matanya.
Melihat demikian Ching-ching merasa tak tega. Ia tahu betul perasaan Yin Hung
pada kecintaannya. Tapi apakah ia sendiri rela membagi Siauw Koei dengan gadis
lain? Dalam hatinya Ching-ching percaya, Siauw Koei tak akan mendua hati. Dan
lagi, Yin Hung tak ada harapan mendapat perhatian pemuda itu. Namun, bila
Ching-ching meminta, pemuda itu mesti akan lebih telaten terhadap Yin Hung.
“Baiklah,” kata gadis itu. “Begini saja. Kau boleh urus Hay-komu dan aku cuma
urus aku punya Siauw Koei!”
“Kau entah sudah gila atau terlalu mulia. Hay-ko dan Siauw Koei adalah satu raga
satu jiwa. Bagaimana dipisah? Aku tak mau menghalangi kamu berdua. Hanya
hati-hatilah pada Lan Fung. Jangan kasih dia sempat. Aku … Aku baiklah hanya
mengawasi dari neraka,” kata Yin Hung setengah ketawa separo menangis oleh
tawaran Ching-ching.
Si nona galak yang tahu temannya tiada semangat, lantas menjadi kesal bukan
buatan. Ia melepas Yin Hung. “Aku mau tolongi, kau malah hilang semangat. Aku
mau bilang apa? Kau mau apa pun tak akan kuhalangi,” bentak gadis itu. “Baiklah
kalau kau kepingin mampus, sana lompat ke bawah!”
Sudah berkata demikian, gadis itu malah menyesal sendiri. Apalagi sewaktu Yin
Hung makin mendekati jurang. Tapi sudah terlanjur pula Ching-ching menyuruh, tak
mau ia menghalangi. Lekas ia putar otak mencari siasat.
“Hayoh, kau menunggu apa lagi? Lompatlah. Paling Po-pomu penasaran lantaran tak
ada yang membalaskan dendamnya!”
Yin Hung menghentikan tindakannya. Melihatnya ragu-ragu, Ching-ching seperti
mendapat angin, buru-buru melanjutkan.
“Mati secara begini, orang akan menertawakan, menyebutmu tolol, dan kau akan
segera terlupa. Padahal, ada cara lain bunuh diri yang tidak bikin malu.”
“Apa?” Yin Hung berbalik menghadap Ching-ching.
Sobatnya itu cuma mesem saja. Diam-diam ia menaksir jarak antara Yin Hung dengan
jurang. Masih terlalu dekat. Kalau salah langkah, melayang jiwa sobatnya.
“Marilah kuberitahukan padamu!” Ching-ching duduk di tanah.
Yin Hung tampak ragu. Ia diam saja di tempatnya tak mau beranjak.
Tapi, Ching-ching ada satu jalan. “Mau jalan yang enak? Gampang. Pada waktunya
nanti, bolehlah kautantangi Kim-gin-siang-koai-coa. Lawan mereka habis-habisan.
Ilmumu tak seberapa. Kau mesti mati. Tapi paling tidak orang-orang akan
Ching Ching 324
mengingatmu sebagai gadis gagah. Paling bagus kau dianggap lie-hiap. Setidaknya
itu lebih baik daripada mati konyol di dasar jurang.”
Selama bicara, makin lama Ching-ching makin pelankan suara. Tanpa terasa Yin
Hung melangkah setindak demi setindak mendekati, berarti makin jauh dari jurang.
Ching-ching bersorak dalam hati. Terlebih sewaktu Yin Hung membenarkan
perkataannya dan mau diajak kembali ke rumah.
“Huh, kau aneh-aneh saja. Mau membunuh diri, kenapa lari ke jurang segala. Susah
apa angkat pedang tusuk badan sendiri? Hei, tapi jangan coba-coba sekarang sebab
ada cara yang terlebih bagus. Bukankah?”
Tapi Yin Hung tak kepingin bicara. Ia diam saja meski sobatnya mengoceh.
Biarlah, pikir Ching-ching. Paling tidak ia masih punya waktu menggugah semangat
orang. Kalau berhasil,Yin Hung tak bakal gampang-gampang mati. Tidak juga di
tangan sepasang siluman ular itu.
Tiga hari mereka tinggal di desa itu. Selama itu Yin Hung terus-menerus
berlatih. Kadang-kadang Ching-ching atau Lie Hay memberi petunjuk kepadanya.
Meski kini nona she Khoe itu mencurahkan perhatian pada ilmunya, ia tak bisa
menyangkali merasa senang bila Lie Hay yang mengawasi. Ching-ching tahu ini. Ia
sengaja mengatur supaya lie Hay banyak bertemu dengan Yin Hung. Entah kenapa, ia
lebih lega bila Lie Hay ada bersama sobatnya itu ketimbang Lan Fung. Selain
daripada itu, ia percaya dengan begitu Yin Hung tak akan coba-coba lagi
bertindak bodoh.
Malam hari itu mendadak saja Ching-ching teringat tujuannya semula untuk pulang
ke rumah. Ia membicarakan dengan yang lain-lain sebelum tidurnya.
“Beberapa hari ini perasaanku tak enak. Kupikir lantaran kejadian yang menimpa
Khoe Loo-hoe-jin,” kata Ching-ching melirik Yin Hung. Selama ini tindakan bodoh
Yin Hung hanya berdua yang tahu. “Tak tahunya aku rindu pada Thia dan Nio.
Lagipula aku kuatir mereka sudah mendapat kabar dan menantikan aku.”
“Kalau begitu, bseok pagi-pagi sekali kita pergi, “Lie Hay menyahut.
“Tapi Hay-ko, kau belum sehat betul!” Lan Fung mencari alasan.
“Sudah dari kemarin-kemarin aku pulih,” Lie Hay berkata heran. Kenapa Lan Fung
bilang ia tidak sehat?
Ching-ching tahu kenapa. Lantaran Lan Fung tak senang padanya, maka ia tak mau
pula singgah. Hampir si nona membuka mulut menyindir, tapi kemudian Yin Hung
mengatakan sesuatu yang membuatnya urungkan niat.
“Aku tak ikut. Sebelum lewat seratus hari kematian Po-po aku tak mau jauh-jauh
pergi.”
Ching-ching menyesal. Lantaran pikirkan rindu sendiri, ia melupakan kesedihan
orang lain. Ia bukannya tak tahu, kini setiap pagi sebelum sang fajar datang,
Yin Hung pergi ke kuburan neneknya dan setelah mentari terbit gadis itu pulang
cuma buat berlatih.
“Kalau begitu, biar tunda saja kepulanganku,” katanya. Ching-ching tak mau nanti
Yin Hung merasa kesepian dan mengulangi tindakannya tempo hari.
“Tak usah, aku tak apa-apa sendirian. Kau jangan kuatir, aku tak akan bertindak
yang bukan-bukan.” Yin Hung mengetahui pemikiran sobatnya.
“Eh, kita berkawan, seiring seperjalanan. Kalau kau tak dapat biarlah ditunda.”
Ching-ching memberi putusan.
“Kalau tak ada lagi yang dibicarakan, aku mau tidur,” kata Lan Fung.
“Kita juga butuh istirahat.” Ching-ching berdiri. “Siauw Hung, mari tidur.”
“Aku ada sedikit urusan. Kau duluanlah.”
Yin Hung pergi ke kebun belakang sedangkan Lie Hay pindah ke ruangan lain.
Ching Ching 325
Tinggal Ching-ching dan Thio Lan Fung, tetapi keduanya sama tidak menganggap
kepada yang lain.
Maka, malam menjadi semakin sepi. Namun sebentar kemudian kedengaran suara orang
berlatih di kebun belakang. Kiranya Yin Hung tengah perlatih. Biarlah,
Ching-ching enggan menegur. Dilarang juga percuma.
Malam kian larut, tapi Ching-ching masih tak dapat memejamkan mata. Ia
terus-terusan ingat pada orangtuanya, pada piauw-cienya. Ketika Yin Hung masuk
ke dalam kamar, si nona berlagak pulas. Tapi waktu Yin Hung lelap, justru ia
sendiri masih jaga.
Semakin sepi, semakin rindu Ching-ching pada keluarga. Semakin ia ingin pulang.
Akhirnya ia memutuskan untuk pergi. Sendirian. Tempat itu tak seberapaa jauh
dari rumahnya. Cukup dua hari perjalanan dengan berkuda. Apabila sekarang
berangkat, esok petang tentulah ia sudah tiba.
Ching-ching bangkit perlahan dari pembaringan, supaya tidak membangunkan yang
lain-lainnya. Tapi, sebelum pergi, ia mesti meninggalkan pesan tentunya. Lekas
ia mencari kertas dan tinda. Setelah menulis sura tyang ditujukan pada Siauw
Koei di sampulnya, ia pun pergilah.
Pagi-pagi sekali, seperti kemarin-kemarin Yin Hung hendak pergi ke kubur
neneknya. Ia keheranan tidak ada Ching-ching di sampingnya. Sewaktu matanya
melihat surat di meja, ia lantas mengerti. Lekas dibangunkannya Lie Hay,
memberikan surat itu.
“Apa katanya?” Yin Hung tak sabar.
“Dia mau pulang sendiri. Kita disuruh menunggu. Oh ya, dia juga menyuruh
membayar kuda yang diambilnya semalam.” Lie Hay tidak mengatakan bahwa
Ching-ching menyuruhnya banyak meluangkan waktu buat Yin Hung. Ia disuruh banyak
memberi petunjuk dalam latihan dan sedapat mungkin menemani ke mana Yin Hung
pergi. Meski keheranan, perintah Ching-ching mesti diturut. Apalagi nona itu
berjanji hendak menceritakan sebabnya kelak.
Diam-diam pemuda itu menyesali. Ching-ching menyuruhnya menemani Yin Hung. Itu
berarti seratus hari lamanya ia tak dapat bersua dengan gadisnya.
“Eh, Siauw Hung, mau ke mana?” mendadak Lie Hay menyadari Yin Hung sudah
beranjak.
“Mau ke pekuburan Po-po.”
“Aku menemanimu!” kata Lie Hay buru-buru. Tak mau ia mengecewakan Ching-ching
nanti. Biarlah sekarang ini diturut dulu apa maunya.
Tempat tinggal Khoe Yin Hung sebetulnya tak begitu jauh dari rumah Ching-ching,
tetapi gadis itu telah salah perhitungan. Kuda yang dia tunggangi bukan kuda
jempolan dari Mongol yang bisa lari terlebih cepat daripada kuda biasa. Akan
tetapi, tentu saja tidak terlalu mengecewakan mengingat ia tidak terburu-buru
dan tak mau banyak bercapai lelah. Namun, sebagai akibatnya ia terlambat dua
hari. Tempat tinggalnya baru kelihatan saat mentari menjelang silam lewat empat
hari perjalanan.
Ching-ching membedal kudanya kencang sekali. Ia ingin segera tiba di rumah.
Bertemu dengan piauw-cienya, ibunya, ayahnya, semuanya. Bahkan ia ingin bertemu
Boe Sin Mei yang pernah menyaru jadi dirinya.
Nona she Lie itu menghentikan kuda di depan pintu. Segera saja ia melihat hal
yang tidak wajar. Papan nama Pek-eng-pay telah patah jadi dua, tergeletak di
tanah. Hal itu tak mungkin menampak bila bukan lantara satu kejadian luar biasa.
Seketika Ching-ching merasa tak tenang. Apalagi, ia kemudian merasakan kesunyian
yang mencekam di sekelilingnya. Tak ada suara sama sekali. Matahari telah
Ching Ching 326
seilam, bulan-bintang belum menampakkan diri. Keadaan kian gelap dan sepi.
Namun, sebagai orang muda yang sudah sering merantau, Ching-ching tak lekas
menjadi ketakutan. Ia malah mewaspadai segala apa. Pelan-pelan ia mendekati
pintu besar yang tertutup rapat. Didorongnya pelan pintu yang seketika menjublak
terbuka itu. Bunyinya menderit seperti jeritan saja di tengah kesunyian.
Masuk pekarangan, Ching-ching belum juga mendengar segala apa. Si nona segera
mengernyitkan dahi keheranan. Tak suka ia keadaan begini. Mengharap ada yang
menyahut, ia lantas berteriak memanggil. “Thia! Nio!” serunya lantang. “Yin
Cie-cie!”
Suaranya yang jernih lantang menggema di semua tempat, tapit etap saja tak ada
sahutan. Entah ke mana perginya semua orang. Apa telah terjadi malapetaka dan
ayahnya berniat pindah?
Lekas Ching-ching masuk ke dalam rumah buat memastikan. Terperanjatlah ia sebab
menemukan bekas-bekas pertempuran. Di keadaan yang gelap itu, ia bisa membaui
lamat-lamat amisnya darah. Pula samar-samar matanya dapat melihat meja-kursi
yang jungkir balik. Tapi, ia tak menemukan sosok manusia di ruangan itu.
Ching-ching lantas menyalakan pelita di ruangan dengan batu api di saku. Kini ia
dapat melihat semuanya terlebih jelas. Ruangan yang berantakan dan ceceran darah
di tanah. Darah itu sudah kering, kehitaman. Ching-ching merabanya dan
mencongkel sedikit dengan belatinya. Belum begitu lama rupanya. Kejadian itu
lewat baru sekitar dua-tiga harian. Tapi kejadian apa sampai meninggalkan begitu
banyak darah? Tepatnya bekas darah. Ada jejak-jejak kemerahan dari beberapa
tempat menuju ke dalam. Ching-ching mengikuti jejak itu. Di dalam, keadaannya
sama saja. Berantakan. Tapi Ching-ching tidak heran lagi. Perhatiannya semua
tertuju pada jejak yang dibuntutui, yang terus menuju pekarangan belakang.
Menginjak pekarangan itu, terbelalaklah mata Ching-ching bahna kagetnya. Ia
berdiri menjublak melihat pemandangan di hadapannya. Perkarangan yang indah,
tertata rapi, dan terawat baik kini sudah lenyap. Bunga-bunga indah dengan harum
semerbak di tempat luas itu berganti papan-papan nama. Tempati itu yang tadinya
memberikan kenyamanan kini berubah menjadi pekuburan yang menyeramkan. Ada
ratusan papan nama di sana, dimulai dengan nama Lie Chung Yen.
Beberapa lama Ching-ching berdiri menjublak. Tak tahu ia mesti berbuat apa.
Melihat papan nama ayahnya, ibunya, piauw-cienya, dan lain-lain murid ayahnya,
si nona merasa sebagian jiwanya melayang entah ke mana. Sesaat ia rasa tak
percaya, sesaat kesedihan menguasai dirinya, tapi kemudian kemarahan meluap-luap
di dadanya. Namun, tak ada lain yang dikerjakan. Ia cuma berdiri saja. Pandang
matanya kosong menatap satu titik. Bahkan tak ada air mata menetes. Terlalu
dalam perasaan hatinya. Tak dapat keluar meski lewat seketel air mata.
Entah berapa saat ia berdiri begitu, ketika kemudian sadar akan satu suara.
Suara cangkul membentur tanah, terus, berulang-ulang berirama. Lekas ia memburu
datangnya suara. Diharapkannya ada orang dapat memberi penjelasan apa telah
kejadian.
Jauh di pojok pekarangan, di antara deretan pekuburan yang masih baru, ia
melihat sesosok tubuh mengayun cangkul. Pelan, tidak ada tenaga, tapi pasti.
Ching-ching makin mendekat pada orang yang sudah tak eruan paran dengan rambut
acak-acakan dan percik-percikan darah mewarnai semua bagian bajunya. Ching-ching
mesti maju dekat sekali untuk mengenali orang.
“A-ping?!” ia menyebut nama pelayan piauw-cienya. Suaranya gemetaran, akan
tetapi cukup lantang buat didengar orang. Tapi si pelayan yang dipanggil
sepertinya tidak mendengar. Tangannya terus saja bergerak membuat lubang yang
Ching Ching 327
sudah cukupan dalamnya itu.
“A-ping!” Ching-ching mengulangi panggilan. Ia memandang berkeliling. Tak ada
satu mayat ketinggalan, buat apa satu lubang kubur lagi? “A-ping, kau bikin
apa?” Si nona menggoncang badan orang. Cangkul direbut dan dibuang. Muka si
pelayan dihadapkan padanya.
Nyaris ia berteriak ngeri. Muka A=ping sudah tidak seperti muka orang. Pucat
melebihi mayat, tapi ada bekas-bekas darah di mukanya. Matanya tak ada cahaya
kehidupan. Keadaannya seperti setan yang kembali dari neraka.
Mau tak mau Ching-ching bergidik. Ia terus memanggil-manggil nama si pelayan
buat menyadarkan, namun tak ada reaksi sama sekali. Dalam putus asa, Ching-ching
melayangkan tangannya ke muka orang.
Justru dengan tamparan yang pedas dengan suara menggelegar itu, A-ping menjadi
tersadar. Matanya berkesip dua kali, baru ia melihat dengan jelas. Mulutnya
komat-kamit beberapa lama sampai sebuah suara serak berbareng dua butir air mata
keluar. “Siauw-cio-cia … oh Siauw-sio-cia!”
Sudah itu badannya roboh. Untung Ching-ching cepat menangkap. A-pin yang pingsan
dibaringkannya di tanah, agak jauh dari lubang. Di dekatnya ada sebilah papan
nama. Ching-ching membaca nama yang tertera. Cuma ada satu huruf. Ping! Rupanya
A-ping telah menggali kubur untuk dirinya sendiri!
Semalaman Ching-ching merawat pelayan itu. Untung ia tahu pengobatan buat orang
yang kelelahan atau terpukul jiwanya sampai semaput. Sudah dua kali mengurut di
beberapa jalan darah tertentu, pagi itu A-ping sadarlah.
“Bagus kau sudah bangun. Sekarang pertama-tama kau mesti makan.” Ching-ching
yang sudah menyiapkan semangkok bubur lantas menyuapi.
“Sio-cia, biar saya sendiri.” A-piong mengulur tangannya. Ia sungkan dilayani
nonanya.
“Tanganmu gemetaran. Kalau buburnya tumpah, nanti kau kelaparan. Sudah, biar aku
menyuapimu. Kau tinggal buka mulut, susah apa?”
“Tapi, Siauw-sio-cia—“
“Jangan banyak rewel!” bentak Ching-ching. “Sejak kapan kau berani melawan
perintah nonamu?”
A-ping tidak membantah lagi. Meskipun mulutnya pahit dan lehernya sakit, bubur
bikinan Ching-ching ditelannya sampai habis. Ia juga tak banyak rewel disuruh
minum segala obat.
Berkat perawatan Ching-ching yang telaten dan separoh memaksa, tak sampai tiga
hari A-ping sudah tidak pucat dan tidak lagi gemetaran. Setelah si pelayan lebih
sehat, baru ia berani tanya segala apa.
“A-ping, malapetaka apakah menimpa keluarga di sini hingga begitu banyak orang
mati?”
“Aku … itu …” A-ping menunduk, tak dapat menjawab. Di matanya terbayang
kengerian yang sangat serta kedukaan teramat dalam.
“Siapa yang membunuh mereka? Apakah musuh Thia? Perguruan mana? Berapa orang
yang menyerbu ke sini?”
Mendadak saja A-ping terisak, lalu menangis sesenggukan. Ching-ching jadi tak
enak hati. Namun, beberapa hari ini telah ia cukup menahan sabar. Dendamnya
telah berkobar terlebih disulut penasaran. Siapa gerangan begitu tega membantai
seantero perguruan?
“A-ping, kau bilanglah. Ceritakan semua padaku, supaya kelak aku tahu pada siapa
mesti menuntut balas dendam dan sakit hati perguruan kita.”
“Sio-cia … dendam ini memang mesti dibalas. Itulah pesanan Toa-sio-cia. Kata
Ching Ching 328
Nona, kalau kau tidak pulang, nanti aku mesti membalas. Aku tak ada guna, nona
sendiri tak dapat dibela, bagaimana sanggup membalas?”
Sabar Ching-ching menunggu tangisan budak itu menjadi reda. “Kau ceritakanlah
dari mula. Separo-separo aku tak menangkapnya.”
Tahu-tahu A-ping berlutut di hadapan Ching-ching. “Setelah budak bercerita,
harap Nona sudi ampunkan!”
“Kau tak ada salah. Hayo bangun dan cerita sebelum aku hilang sabar!”
Sebetulnya bagaimanakah perguruan Pek-eng-pay terbasmi dan hanya menyisa A-ping
seorang? Pelayan itu satu-satunya dari mana Ching-ching dapat tahu kejadian
semua, namun A-ping hanya tahu sebagian. Meski begitu, nonanya dapat menerka
seluruh peristiwa, sementara kejadian sesungguhnya adalah demikian …
Setelah semua tamunya pulang sehabis pertemuan para eng-hiong, Lie Chung Yen
memanggil semua pegawai dan semua muridnya berkumpul. Tentu saja semuanya ingin
tahu mengapa, apalagi ketika kemudian Lie Chung Yen berbicara didampingi sang
istri yang dalam keadaan biasa tak pernah campur-campur urusan. Apa gerangan
yang mau dibicarakan?
Semua orang di rumah itu telah kumpul di satu tempat, di antara mereka tentulah
berbisik-bisik satu sama lain mengira-ngira. Tapi, begitu Lie Chung Yen angkat
sedikit sebelah tangan, seketika sepi mencengkam di tempat itu.
“Kamu orang tentu sudah tahu undangan yang dikirim oleh Kim-gin-siang-coa-pang.
Kamu tentu sudah mendengar juga sikap tindakan partai sesat itu, Maka jauh-jauh
hari aku sudah memutuskan tak akan pernah bersekutu dengan mereka …”
Kata-kada Lie Chung Yen langsung disambut seruang mendukung dari kesemua
muridnya. Begitu gemuruh sorak mereka, sampai Chung Yen perlu mengangkat dua
tangan guna membikin tenang.
“Senang hatiku mengetahui kamu orang setuju, tapi hendaknya kamu berpikir juga
akibat di masa datang. Lantaran putusan ini, bukan tak mungkin mereka akan
datang dengan niat membinasakan semua. Bukan aku mau merendahkan partai sendiri,
tapi untuk menang melawan Kim-gin-siang-coa-pang, aku sungguh merasa bersangsi
sekali. Maka itu aku sudah memikir untuk membubarkan saja partai kita ini.”
Kembali suasana ramai oleh seruan terkejut dan heran. Banyak yang tak mengerti
alasan dan maksud pembicaraan Lie Chung Yen. “Soe-hoe, persoalan yang ini kami
tak dapat memberikan persetujuan.”
Setelah beberapa lama seorang wakil murid-muridnya mengutarakan pendapat hasil
bicara antara mereka sendiri. “Kami tak takut melawan Kim-gin-siang-coa-pang.
Kita tak usah lari serabutan menghindar.”
“Aku tak berkata kamu tak ada nyali, aku juga bukan menyuruh kamu lari. Tapi,
mengingat sifat kejam partai iblis itu, aku cuma menghindarkan pertumpahan
darah. Lebih baik dunia kehilangan satu partai daripada ratusan nyawa tak
bersalah. Maka dari itu, mulai semenjak sekarang kamu semua adalah orang bebas.
Tak ada dari kamu yang sebagai budak atau sebagai anggota partai. Kamu semua
boleh pergi ke mana suka. Aku telah sediakan sedikit bekal buat kamu. Coe-wie
selamat berpisah!”
Lie Chung Yen merangkap tangan di depan dada, sudah itu ia keluar ruangan tanpa
menunggu lagi. Di belakangnya, istrinya dan Lan Sioe Yin sibuk membagikan
ratusan kantong bekal kepada orang-orang mereka, yang menerima dengan hati pilu.
Tak tahan dengan keadaan mengharukan, Lie Hoe-jin kembali ke dalam dengan
berlari.
Sudah nyonya mereka pergi, datanglah yang lain-lain mengerubuti Lan Sioe Yin.
“Toa-sio-cia, sebenarnya apakah persoalannya betul sedemikian berat?”
Ching Ching 329
“Tidak salah. Kalau bukan persoalan luar biasa, tak akanlah Sioko-siok
membubarkan partai.”
“Apabila kami pergi, lalu sekalian keluarga Lie bagaimana?”
“Siok-siok akan berdiam. Siok-bo mau diungsikan ke Lok-yang, namun Siok-bo
berkata tak mau dipisah dari Siok-siok. Aku juga tak mau beranjak setapak. Apa
pun terjadi nanti, kami hadapi berempat.”
“Berlima!” cetus Sie Ling Tang mengembalikan kantong uangnya ke dalam kotak.
“Aku juga tak tahu mesti pergi kemana. Kerabatku cuma keluarga Lie. Aku tak ada
sanak yang lain. Pula Soe-hoe adalah yang memelihara aku semenjak kecil.
Sekarang beliau dalam kesusahan, mana boleh aku pergi begitu saja. Aku bukan
orang tak berbudi macam demikian.”
“Tan Toa-ko benar. Aku juga tak dapat pergi.”
“Aku juga tak sudi.”
Makin lama semakin bnayak yang mengembalikan uang ke kotak. Semua murid anggota
Pek-eng-pay memilih mati bersama mempertahankan perguruan ketimbang pergi dari
sana. Para pelayan setia turut pula beserta mereka. Kecuali beberapa pelayan
yang bekerja belum lama, semua tinggal di tempat.
Lan Sioe Yin terharu atas ketulusan mereka. Gadis itu lantas saja mencucurkan
air mata tanpa dapat berkata-kata. Boe Sin Mei saja yang menggantikannya
berbicara. “Tak tahu bagaimana aku mewakili Gie-hoe berterima kasih kepada
semua. Biarlah aku mewakili menyoja kepada kalian.” Boe Sin Mei merangkap tangan
dan membungkuk tiga kali.
“Jie-sio-cia, janganlah terlalu sungkan,” kata yang lain.
“Kita sudah berkeputusan, pantasnya Soe-hoe diberi tahu,” Sie Ling Tan berkata.
“Tan Ko-ko, aku menemanimu menghadap Gie-hoe.” Sin Mei buru-buru mau ikut.
“Tak usahlah,” jawab Ling Tan, dan lantas bergegas ke kamar gurunya.
Tak berapa lama kemudian, Lie Chung Yen kembali ke hadapan murid-muridnya
diiringi muridnya kesayangan. Muka guru besar itu nampak tegang dan angker.
Suaranya menggelegar sewaktu mendengar.
“Aku sudah dengar putusan kalian. Menurutku itu satu putusan yang salah besar.
Tinggal di sini sama saja kamu membunuh diri dengan restuku. Tidak, tidak boleh.
Kamu sekalian mesti pergi. Perlukah aku mengusir?”
“Soe-hoe!” serentak murid-muridnya berlutut.
“Pek-eng-pay adalah rumah kami, Soe-hoe dan Soe-bo orangtua kami, Soe-heng dan
Soe-tee sudah seperti saudara sedarah sedaging, mana boleh kita tercerai berai?”
“Soe-heng benar. Meski bagaimana, d sini adalah rumah dan keluarga yang mesti
dibela. Biarpun mati tak ada rasa menyesal.”
“Tidak salah. Kita adalah keluarga besar. Apapun yang terjadi, marilah dihadapi
bersama.”
Semua kata-kata bersemangat itu disetujui oleh anggukan mantap dari yang
lain-lain. Keputusan mereka tak dapat diubah lagi. Tidak juga oleh Lie Chung
Yen.
Mau tak mau pemimpin Pek-eng-pay itu merasa terharu oleh kesetiaan
murid-muridnya. Romannya yang angker hilang, namun suaranya masih menggelegar.
“Kalau itu keputusan kamu, aku tak bisa omong apa-apa lagi. Namun harap coe-wie
memikirkan sekali lagi baik buruknya. Semua tetap seorang bebas. Barangsiapa
berubah pikiran, tak ada yang boleh melarangnya pergi.”
Lie Chung Yen lupa, semua muridnya yang dididik keras sudah beradat pendekar.
Mereka menghargai dirinya tinggi. Apa yang sudah diucapkan pantang ditarik
pulang. Dalam hati mereka semua berkobar tekad, biarpun dengan taruhan jiwa dan
Ching Ching 330
darah, Pek-eng-pay akan mereka bela sekuat tenaganya.
Semenjak hari itu di Pek-eng-pay mulai dilakukan persiapan. Semua murid berlatih
keras dari fajar hingga mentari tenggelam. Tak ada seorang yang mengeluh. Semua
murid ingin memperbaiki diri supaya dapat melawan murid-murid Kim-gin-siang-coa
nanti.
Sebab itulah, Lie Chung Yen jadi lebih sibuk. Ia mesti melatih muridnya,
mengatur pertahanan, mengurus penjagaan. Meski lelah Chung Yen tampak lebih
bersemangat. Di hatinya ada setitik harapan untuk mempertahankan perguruan. Cuma
satu yang masih memberati pikirannya. Ia tak tahu di mana Ching-ching, puteri
satu-satunya.
Suatu malam Mei Lin istrinya datang membawa persoalan ini pula. “Yen Ko-ko,
belakangan hari ini aku terus memikirkan anak kita. Menurutmu, apakah baik jika
kita mengirim orang buat menjemput?”
“Lin-moay, pada pendapatku, adalah lebih baik jika Ching-ching tinggal bersama
gurunya. Di sana ia terlebih aman.”
“Aku tahu. Tapi … ah, aku merasa berdoa berpikiran begini. Tapi, aku lebih suka
Ching-jie ada bersama kita meski nantinya ia tidak selamat.”
“Lin-moay, kau omong apa?! Apakah kau sudah tidak sayang pada anak kita?”
“Justru aku amat sayang padanya. Aku takut tak ada kesempatan kita bersua
dengannya. Tak ada sempat kita menyayangnya. Nanti dia sendirian di dunia, tak
ada sanak, tak ada saudara, tiada orangtua. Kalau demikian, bukankah lebih baik
ia ikut bersama-sama dengan kita?”
“Tidak! Biar bagimana ia mesti hidup!”
“Tapi nanti tak ada yang mengurusnya.”
“Selama ini dia hidup tanpa kita yang urus.”
“Itulah. Aku ibunya, tentu aku ingin mengurus anakku tersayang. Semenjak
anak-anak dia sudah direnggutkan daripadaku. Menjelang dewasa ia kembali, tapi
justru aku yang akan dijemput maut.”
“Lin-moay, kau jangan omong yang tidak-tidak. Andaikata kau mau bertemu
Ching-jie, masih sempat pergi ke Pek-san-boe-koan bersama Yin-jie dan aku akan
suruh Ling Tan menemani.”
“Betul?” tanya Han Mei Lin girang. “Kapan kita ke sana?”
“Kau boleh berangkat kapan kau mau.”
“Kau sendiri?”
“Aku mesti mengurus perguruan.”
“Tapi …”
“Lin-moay, kalau kau sayang dan mau mengurus Ching-jie, pergilah ke
Pek-san-boe-koan. Tinggalkan tempat ini sebelum Kim-gin-siang-coa datang.”
“Kalau kau tak pergi, aku juga tak pergi.”
“Tapi bukankah …”
“Hahhh, biarlah semuanya terserah kepada takdir saja.” Dengan menunduk
menyembunyikan bimbang di hati, Han Mei Lin meninggalkan suaminya tercenung.
Lewat di pelataran, mendadak Mei Lin mengenali sosok bayangan kemenakannya
berjalan bergegas. “Yin-jie, hendak ke manakah?”
Yang ditegur kaget. Gugup ia menoleh kepada bibinya. “Eh, Siok-bo, belum tidur?”
“Kau sendiri tak hendak beristirahat?”
“Aku … aku hendak memeriksa ronda.”
“Ah, kalau begitu lekaslah.”
“Ya, Siok-bo.” Lan Siu Yin terbirit-birit pergi. Han Mei Lin merasakan
kelakuannyayang aneh, tapi ia tak banyak curiga. Kebetulan malam itu Sie Ling
Ching Ching 331
Tan memimpin perondaan. Mungkin Sioe Yin mau menemuinya, persis seperti dirinya
sendiri semasa gadis yang sembunyi-sembunyi hendak bertemu dengan Chung Yen. Ah,
kalau saja Thian memberi umur panjang, kelak ia akan merangkapkan jodoh Sioe Yin
dengan Ling Tan.
Han Mei Lin sama sekali tidak menduga, bukan Ling Tan yang ditemui Sioe Yin,
melainkan Chang Loen, musuh mereka. Sioe Yin menemuinya di hutan kecil.
“Yin-moay,” sambut si pemuda she Chang begitu melihat siapa yang datang.
“Bun-ko,” Sioe Yin balas menyapa.
Sejenak sepasangan insan itu berpandangan melepas rindu.
“Bagaimana keadaanmu, Yin-moay?”
“Aku baik. Kau sendiri?”
“Jarang berjumpa kau membuat aku susah makan susah tidur. Lihatlah, aku makin
hari makin kurus.”
“Dusta, kau malah semakin gemuk.”
“Itu lantara kau jarang jumpa, maka kaulihat aku gemukan. Yin-moay, aku sungguh
merindukan kau.”
“Aku juga sudah bosan bertemu malam-malam. Aku ingin seperti orang lain yang
dapat melihat pemandangan siang hari bersama-sama.”
“Dalam keadaan begini, hal tersebut tidaklah mungkin. Ekcuali kau atau aku
mengkhianati partai kita atau kabur diam-diam. Namun tak berarti kita lolos dari
tangan mereka.”
“Tidak, kau tak mau kau menjadi pengkhianat, tapi aku juga tak dapat tidak,
harus membela pamanku. Ciang Cun Ko-ko, tak dapatkah kau mencari jalan yang
lain?”
“Pikiranku juga sudah buntu. Omong-omong, bagaimana keadaan pamanmu?”
“Paman baik, cuma sibuk memikir dan menyiapkan segala sesuatu. Bun Ko-ko,
kapankah partaimu akan datang membalas? Bolehkah kau cari jalan supaya pamanku
sekeluarga dapat selamat?”
“Aku sebetulnya tak ingin hal begini kejadian, tapi abangku orangnya tak kenal
ampun. Nantilah kubujuk dia supaya memberi ampun kepada kalian.”
“Kau memang baik hati. Sayang, abangmu dan ayah-ibumu ada di jalanan tidak
lurus.”
“Biar bagaimana mereka adalah juga keluargaku.”
“Ciang Bun Ko-ko, bila abangmu datang menyerbu nanti, apakah kau ikut?”
“Kuharap demikian, supaya nanti sempat aku menyelamatkanmu. Kau kelihatan
kuatir, apakah kau tak percaya kemampuanku?”
“Bukan. Tapi … Bun-ko, andaikata kau harus ikut, hati-hatilah. Kudengar Paman
sudah rencana memasang bai-hok di beberapa tempat.”
“Kau takut aku tak selamat? Lantas apakah kau sudah tahu letak bai-hok itu?”
“Sekarang ini belum, tapi Bun-ko kau datanglah tiga hari lagi, aku akan cari
tahu. Tapi, berjanjilah cuma kau saja yang boleh tahu mengenainya.”
“Jangan kuatir. Bahkan abangku tak akan kuberi tahu.”
“Baiklah. Aku mesti lekas pulang. Bun-ko, jaga dirimu.”
“Kau pun berhati-hatilah.”
Bayangan Lan Sioe Yin menghilang ditelah kegelapan malam. Bersamaan dengan itu,
sebuah bayangan lain tiba di hadapan.
“Nio!” Chang Lun memberi hormat.
“Bagaimana?”
“Kiranya semua akan beres. Tiga hari lagi gadis itu akan membawa strategi
pertahanan mereka.”
Ching Ching 332
“Bagus. Sesungguhnya aku tidak menguatiri Lie Chung Yen, tapi menurut kabarnya
ia seorang yang cerdas. Kalau kita tak tahu rencana kekuatannya, bisa banyak
korban. Padahal, amsa ini kita butuh orang buat membantai mereka yang tidak
kasih muka saat pesta kemarin.”
“Nio, dalam pertempuran nanti, bolehkah aku selamatkan satu orang?”
“Kau suka gadis barusan? Tidak boleh! Tidak boleh selamatkan siapa-siapa, supaya
semua tahu Kim-gin-siang-koai-coa tidak suka memberi ampun pada siapa yang
membangkang. Mengerti kau?”
“Baik, Nio.”
“Kau tak usah pusingkan satu gadis. Di kolong langit masih banyak yang tak kalah
cantik dengan gadis itu.”
“Siauw-jie tahu.”
“Marilah pergi. Masih ada urusan kita yang lain.”
Dalam sekejapan mata saja dua orang itu sudah menghilang, meninggalkan hutan
gelap yang semakin sunyi.
Lan Sioe Yin diam-diam kembali ke kamarnya. Ia sedikit terburu-buru lantaran
takut ketahuan orang. Ia tahu hal itu sebenarnya tidak perlu, namun rasa
bersalahnya menyebabkan dia ketakutan sendiri.
“Yin-cie, dari mana?” sapaan halus di belakangnya hampir membuat Sioe Yin
menjerit kaget. Ia lekas menoleh dan menampak Boe Sin Mei memandangnya
bercuriga.
“Eh, aku … aku habis memeriksa penjagaan.”
“Oh? Aku sedari tadi di tempat berjaga, mengapakah tak bertemu?”
“Aku … aku memeriksa yang ronda.”
“Aku baru saja bertemu mereka dan tak ada yang melihatmu.”
“Kau sengaja mencari aku? Ada urusan apa?” Sioe Yin mengelak dari pandang mata
Sin Mei yang minta penjelasan.
“Tidak ada. Hanya Nio menyuruhmu tidur siang-siang supaya tidak kecapekan.”
“Ya, aku juga akan segera istirahat.”
“Sioe Yin Cie, aku lihat kau melompati tembok belakang,” kata Boe Sin Mei dengan
nada sinis. Lan Sioe Yin kaget sekali. Ia memandangi Sin Mei dengan mata
terbelalak.
“Sin Mei, mohon kau jangan bilang siapa-siapa.”
“Baiklah. Aku tak akan bilang asal kau katakan siapa yang kautemui.”
“Aku … aku tak dapat …”
“Kalau begitu aku juga tak menjanjikan—“
“Namanya Ciang Bun. Sin Mei, jangan kau bilang siapa pun. Aku mohonkan padamu.”
“Sioe Yin Cie, janganlah kau terlalu kuatir.” Boe Sin Mei tersenyum menenangkan.
“Hari telah larut. Marilah kita beristirahat,” katanya sembari menggandeng Sioe
Yin ke kamar mereka yang memang berdekatan.
Sie Ling Tan sebagai murid kesayangan dan tangan kanan Lie Chung Yen tentu saja
tak kalah sibuk dengan gurunya. Namun, pemuda itu tak pernah mengeluh. Ia senang
melakukan semua, apalagi Sioe Yin selalu membantu.
Hanya ada satu yang mengganggu Ling Tan selama ini, yaitu Boe Sin Mei yang
selalu mengikut ke mana pun pergi. Ling Tan bukan tak tahu gadis itu sudah lama
menaruh hati padanya. Namun, jauh-jauh hari Ling Tan sudah terpaut pada Sioe
Yin. Dulu ia masih meladeni Sin Mei lantaran mengira ia sebagai Ching-ching,
puteri soe-hoenya. Tapi, kini setelah terbongkar semua, ia jarang beramah-tamah
dengan gadis itu.
“Tan Ko-ko, hendak ke manakah?” Boe Sin Mei menyapa. “Apakah kau tidak melatih
Ching Ching 333
saudara-saudara yang lain?”
“Tidak. Soe-hoe bilang, hari ini boleh tak latihan sampai tengah hari.”
“Gie-hoe mungkin kuatir pada kecapekan.”
“Bisa jadi. Eh, adakah kau melihat Yin-moay?”
“Dia ada di kebun belakang. Ada urusan apa dengan dia?”
Ling Tan menggumam, menyahuti pertanyaan Sin Mei. Pemuda itu bergegas pergi.
Tentu saja Boe Sin Mei menjadi mendongkol. Apalagi, sewaktu ia berseru
memanggil, Sie Ling Tan seperti tidak mendengar. Padahal, suara Sin Mei tidak
pelan dan ia tahu juga bahwa Ling Tan belum tuli. Gadis itu menjadi kesal
sekali. Ia mengikuti Ling Tan dari belakang.
Si pemuda tentu saja risih dibuntuti begitu. Ia menoleh dengan pandang tak
senang. “Ada apa lagikah?”
“Tidak!” sahut Sin Mei dongkol. “Aku sekadar mau lewat.” Dengan kesal gadis itu
pergi ke kamarnya.”
“Jie-siauw-sio-cia, Jie-siauw-sio-cia!” seorang pelayan menghampiri Boe Sin Mei.
“Hoe-jin memanggilmu ke kamar!”
“Ada urusan apa?”
“Tidak tahu.”
Setengah bergegas Sin Mei menuju kamar ibu angkatnya. Selama ini Han Mei Lin
jarang mengobrol dengannya. Ada urusan apakah sampai memerlukan memanggil?
Boe Sin Mei mengetuk pintu kamar dan segera masuk, begitu terdengar suara orang
menyahut. Ia lantas menampak ibu angkatnya sedang mematut sebuah pakaian indah
dari bahan mahal.
“Ah, kau sudah datang. Marilah, coba kau kenakan ini.” Han Mei Lin lantas
mengangsurkan bahan itu secara berhati-hati sekali.
Boe Sin Mei yang pada dasarnya menyenangi barang bagus, lantas kegirangan. Ia
lekas memakai pakaian itu yang ternyata pas sekali di badannya.
“Cocok, cocok,” komentar Han Mei Lin. “Tinggal perlu disulam di sini dan di sini
supaya nampak semakin manis.”
“Baju yang indah ini apakah Gie-bo sengaja menjahitkan sendiri?”
“Benar, dan ternyata cocok sekali di badanmu bukan?”
“Ya. Gie-bo sungguh ahli dalam menjahit. Apakah ini untukku?”
“Bukan, ini untuk Ching-ching. Potongan badannya sama denganmu, maka itu aku
perlukan kau buat mengepas baju. Oh ya. Untukmu sendiri sudah kubelikan beberapa
setel pakaian, sekarang ada di kamarmu. Kau cobalah. Kalau ada yang tak benar,
boleh kau datang kemari, nanti kuajari memperbaiki.”
Boe Sin Mei tak berkata-kata lagi. Ia mencopot pakaian setengah jadi itu dengan
hati yang pedih. Gadis itu hanya menggumam sewaktu pamitan, namun Han Mei Lin
terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tak melihat perubahan muka sang anak
angkat.
Anak angkat keluarga Lie itu berlari ke kamar dengan berurai air mata. Hari ini
sudah dua kali ia sakit hati. Pertama lantaran Lan Sioe Yin, kedua lantaran Lie
Mei Ching. Ia jadi benci kedua gadis itu.
Boe Sin Mei membanting pintu kamarnya kuat-kuat. Ia segera menumpahkan kekesalan
di pembaringan. Tak sengaja ia melihat setumpuk pakaian di samping bantalnya.
Tak usah diukur, pastilah pas di badan. Han Mei Lin pandai menaksir ukuran badan
orang. Ia juga pandai memilih bahan. Semua pakaian itu dari bahan mahal, yang
halus.
Tapi tak semahal pakaian Ching-ching yang dijahit oleh ibu sendiri, kata Sin Mei
dalam hati. Semakin dipikir, Sin Mei semakin benci pada Ching-ching. Ia benci
Ching Ching 334
pada Han Mei Lin, Lan Sioe Yin, Sie Ling Tan, dan juga Lie Chung Yen. Segera
terbayang semua perlakuan tak adil padanya. Teringat juga bagaimana ayah
kandungnya mati di tangannya sendiri, cuma lantaran Lie Chung Yen.
Semuanya benci padaku! Semua tak sayang padaku! Buat apa nanti aku membela
mereka? Lihat saja nanti pembalasanku pada semua! Terutama pada Lie Mei Ching
itu! tekad Sin Mei dalam hati. Hatinya kini terbakar dendam. Dendam oleh rasa
jelus dan rasa iri yang semuanya bermula dari rasa kasihan pada diri sendiri.
Tiga hari telah lewat. Pada malam ketiga itu, Lan Sioe Yin kembali menyelinap
keluar dari kediaman keluarga Lie. Ia akan menemui Chang Lun di hutan kecil.
Sioe Yin pergi terburu-buru. Ia tak sadar bahwa ia tidak pergi sendirian. Ada
orang mengikutinya diam-diam!
Ketika tiba di tempat tujuan, Sioe Yin segera mencari orang yang mau ditemuinya.
Ia tak perlu susah-susah, Chang Lun lebih dulu melihatnya.
“Yin-moay, di sinI!” bisik pemuda tampan itu seraya menyentil sebatang ranting
kecil di tangan.
“Bun Ko-ko?”
“Ya, aku.”
“Kau datang. Tahukah, aku tak sabar tunggu tiga hari ini tiba.”
“Aku pun demikian. Malam ini aku tak dapat lama. Abangku hendak bertemu pula.
Apakah kau membawa rencana pamanmu?”
“Bun Ko-ko, aku tak dapat menemukannya,” kata Sioe Yin dengan nada menyesal.
“Aku sudah mencari di kamar baca dan juga di dalam kamarnya, tapi tak ada
apa-apa.”
“Yah, sudahlah. Apa boleh buat. Kau tak tahu apa-apa mengenainya?”
“Tidak. Siok-siok cuma membicarakan dengan Tan Toa-ko, sementara aku dipanggil
Siok-bo. Selama ini aku tiada sempat bicara dengan mereka, pula Siok-bo melarang
keluar dari rumah.”
“Sayang sekali, tapi kau tak usah bersedih. Aku pasti selamat.”
“Bun Ko-ko, setelah malam ini baiknya kau jangan datang lagi.”
“Kenapa?”
“Bai-hok ada di mana-mana. Kutakut kau salah pijak dan …”
“Kau terlalu kuatiri orang. Aku harus pergi sekarang, kau pulanglah. Belum
tenang aku kalau tidak mengawasi kau selamat keluar dari hutan ini.”
“Baiklah, aku pulang. Bun Ko-ko, berhati-hatilah. Oh, kalau nanti kau bicarakan
abangmu, mohonkan supaya ia ampuni keluargaku, bolehkan?”
“Tentu, pergilah!”
Lan Sioe Yin melambai dan berlari pergi dari tempat itu. Chang Lun menanti
berapa lamanya sampai bayangan Siu Yin tak kelihatan lagi. Lalu ia berjalan ke
pinggiran semak di mana tergeletak sesosok tubuh. Pemuda she Chang itu
berjongkok dan membuka jalan darah orang yang terbaring itu.
“Kulepas totokanmu, tapi kau jangan coba lari atau berteriak. Asal tahu, aku tak
segan membunuh orang!”
“Tidak berani,” terdengar sahutan lirih.
“Kau dari Pek-eng-pay?”
“Ya!”
“Kalau begitu, tak dapat tidak kau mesti mati. Aku tak mau Yin-moay mendapat
susah!” Chang Lun mengangkat tangannya, siap membikin hancur kepala orang.
“Tunggu, kalau aku mati sekarang, kau yang terlebih rugi!”
“Oh? Bagaimana sedemikian?”
“Karena aku dapat membantu kau menghancurkan Pek-eng-pay.”
Ching Ching 335
“Haha, kiranya kau seorang murid murtad. Baik, cara apa kau mau membantu?”
“Peta tempat membuat bai-hok ada padaku.”
“Pantas Yin-moay tak menemukannya, rupanya sudah keduluan dicuri orang. Tapi
pangkat apa kau di Pek-eng-pay sehingga dapat mencurinya?”
“Kau tak usah tahu!”
“Tak mau bilang ya sudah. Aku telah tahu, kau mestilah anak angkat keluarga Lie
yang bikin ribut tempo hari bukan? Hahaha, sunggu Lie Chung Yen tak salah pilih
anak, sehingga menguntungkan aku di kemudian.”
“Cukuplah! Katakan, kita mau runding tidak?”
“Apa yang kau minta atas pengkhianatanmu?”
“Setelah kaubunuh keluarga itu, perguruan dans emua harta kekayaan jatuh ke
tanganku!”
“Tidak dapat. Seisi perguruan akan mati, kecuali mereka yang mau kerja sama
dengan kami. Maka itu, kau mau dirikan perguruan sendiri, kau mesti coba bujuk
mereka itu mengikut padamu.”
“Baik, aku akan melaksanakan. Tunggulah kabar dariku tiga hari lagi.”
“Tunggu, mana peta itu?”
“Tak dapat kuberikan sekarang. Mana tahu kau tiba-tiba menyerang.”
“Lantas bagaimana aku percaya kau ada memiliki peta itu?”
“Aku tak menduga menemuimu. Kupikir Lan Sioe Yin hendak menemui kekasih
gelapnya. Barang begitu mana kubawa?”
Chang Lun mati langkah. Apa yang dikatakan Boe Sin Mei ada benarnya juga. Ia tak
dapat berbuat lagi. “Aku percaya kau. Akan tetapi besok malam kau mesti bawa
peta itu kemari.”
“Jangan kuatir. Kau boleh percaya padaku sebab aku sendiri tak sabar ingin
melihat terbantainya keluarga itu.” Tanpa pamitan lagi, Boe Sin Mei meninggalkan
Chang Lun.
Si gadis she Boe tidak main-main dengan ucapannya. Pagi berikut ia mulai
membujuk kawan-kawannya yang sedang istirahat selagi berlatih. Sin Mei
menghampiri mereka yang suram muka lantaran latihan berat pagi itu.
“He, marilah. Kalian tentu haus. Lihat aku bawa apa,” gadis itu mengeluarkan
tujuh buah tho yang ranum.
“Kebetulan, jie-sio-cia, kami memang kehausan.” Tak pikir dua kali, lima oran
gyang duduk agak jauh dari yang lain itu mengambil seorang satu.
“Bagaimana tidak haus, kalian latihan semenjak subuh. Heran aku, kenapa dari
kalian tak ada yang minta keringanan barang sedikit? Aku sendiri kasihat melihat
kalian.”
“Ini demi kebaikan kita juag. Kalau berlatih keras, tentu kemampuan kita
bertambah untuk menghadapi Kim-gin-siang-coa-pang,” kata yang seorang.
“Tapi kalian apakah tak merasa kesal digembleng secara berlebihan?” pancing Boe
Sin Mei.
“Kadang kalau sedang terlalu capek, kami juga kesal dan mengomel.”
“Nah, kalau sedang begitu, tidakkan kalian sebal dan merasa ingin pergi dari
sini?”
“Tidak sekali-kali!” sahut kelima murid itu serempak. “Kami sudah menetapkan
pilihan, sampai tuntas mesti dilaksanakan. Meski mati lantaran latihan dan
bukannya lantaran musuh, kami tak akan berganti pikiran!”
Boe Sin Mei kecewa. Apa yang diajarkan oleh Lie Chung Yen terlalu mengakar dalam
pada murid-murid ayah angkatnya itu. Kesetian yang ditunjukkan sulitlah
terlunturkan.
Ching Ching 336
“Andaikata, aku misalkan saja, ada orang yang mau memberi kekayaan berlimpah,
tak habis seumur hidup dan menjamin kamu punya jiwa asal mau tinggalkan
perguruan, apa tindakan kamu?”
“Untuk apa harta berlimpah kalau nanti kita terus dikejar rasa berdosa lantaran
menjual jiwa saudara, kawan, dan sahabat pada musuh? Nantinya kita tak boleh
hidup tenang. Kalau begtu, segala harta intan berlian tak dapat menghibur.”
“Sio-cia tanya-tanya untuk apakah?”
Sin Mei gelagapan. Ia tak siap ditanya demikian.
“Untuk apa lagi? Tentulah untuk menguji ketulusan hati kita. Bukankah begitu?”
Boe Sin Mei seolah mendapat pertolongan dan segera mengangguk mengiyakan.
“Benar, aku tak mau di antara kamu ada yang menyesal di kemudian hari. Jangan
salah sangka, aku cuma memikirkan kamu orang saja.”
“Jie-sio-cia tak usah sungkan. Kami mengerti,” kata yang lain.
Sin Mei juga tak lama-lama lagi. Ia lantas pamit dari situ. Kecewa bukan main
ia. Dari antara murid ayah angkatnya, yang paling tak ada semangat pun masih
membela perguruan. Apa lagi yang bisa diperbuat?
Tak sengaja Sin Mei melihat Sie Ling Tan, pemuda pujaan hatinya sedang
beristirahat pula. Inilah. Barangkali Ling Tan mau diajak kerja sama. Sin Mei
datang mendekat. “Tan Toa-ko!” sapanya.
“Jie-sio-cia,” Ling Tan balas menyapa demi kesopanan.
“Toa-ko, kau lelah? Makanlah ini buah tho, tanggung sebentaran lelahmu akan
hilang.”
“Terima kasih. Aku sedang tak ingin. Kau simpan sajalah.”
“Tidak dimakan sekarang, bolehlah di simpan.” Sin Mei menjejalkan buah masak itu
ke tangan Ling Tan sehingga pemuda itu tak boleh menolak lagi.
“Kalau begitu terima kasih.”
Sejenak keduanya terdiam.
“Tan Toa-ko, aku ingin ajukan satu pertanyaan padamu. Bolehkah?”
“Selama tidak menyangkut rahasia orang, aku tak perlu sembunyikan,” sahut Ling
Tan berhati-hati atas pertanyaan yang mau disebut, sehingga menjawab demikian.
“Seandainya dapat, inginkah kau menjadi ketua perguruan Pek-eng-pay ini?”
“Ah, mana bisa aku? Soe-hoe lebih pantas.”
“Kalau sesuatu menimpa Gie-hoe, bisa saja.”
“Jie-sio-cia jangan bicara yang bukan-bukan!” tegur Ling Tan.
“Aku cuma memisalkan. Tapi kau ingin menjadi ketua, bukan?”
“Tentu saja. Menjadi pendekar besar yang terhormat, siapa tak suka?”
“Sebentar lagi keinginanmu terlaksana. Sebentar lagi Kim-gin-siang-coa-pang
datang menyerang, Gie-hoe akan susah selamat.”
“Soe-hoe tak selamat, aku pun pasti binasa. Sudahlah, jangan harapkan yang
tidak-tidak. Semoga saja hasil latihan nanti dapat berguna.”
“Percuma. Brelatih sampai cucurkan keringat darah belum dapat menang melawan.
Satu-satunya jalan selamat cuma dengan tunduk pada mereka.”
“Kau …!” Sie Ling Tan terbelalak kaget.
“Tan Toa-ko, apabila kita bekerja sama dengan mereka, kita tak akan
terbinasakan. Apabila kau dapat ajak serta beberapa murid, Pek-eng-pay tak akan
musnah dan kau boleh menjadi ketuanya.”
“Bekerja sama dengan Kim-gin-siang-coa-pang? Mengkhianati partai sendiri? Kau
sudah gila!”
“Itu bukan mengkhianat, melainkan bertindak menyelamatkan diri.”
“Tak tahu malu kau berkata sedemikian! Tak ingat siapa memberimu makan-pakai
Ching Ching 337
selama ini? Benar-benar tak kenal budi!” Sie Ling Tan menghardik. “Tak usah
heran, padamu memang mengalir darah pengkhianat she Boe! Tak sudi aku bicara
denganmu!” Pemuda itu mengambil pedangnya dan bergegas pergi.
“Dalam darahku boleh jadi mengalir darah pengkhianat. Tapi apa mau kau sebut
gadis kecintaanmu yang berkawan dengan musuh?”
“Siapa kau maksudkan?” Sie Ling Tan berhenti.
“Lan Sioe Yin. Siapa lagi? Lantaran dia, kau abaikan aku. Padahal, di hatinya
ada orang lain yang bukan kau!”
“Dusta!” Ling Tan membentak. “Kau cuma mau menutupi kebusukanmu dengan
menyiarkan kebohongan.”
“Tak percayakah? Tanyalah padanya siapa itu Ciang Bun, siapa nama yang
sebenarnya, dan apa hubungannya dengan Kim-gin-siang-coa-pang!” dalam kesalnya
Boe Sin Mei tak sadar berteriak.
Beberapa orang menoleh. Untung di antara mereka tak ada yang mendengar jelas,
kecuali Sioe Yin sendiri yang langsung memasang kuping begitu mendengar nama
‘Ciang Bun’ disebut. Gadis yang tengah berjalan itu menghentikan langkah.
Mukanya seketika pucat.
Boe Sin Mei kebetulan melihatnya datang. “Nah, kau boleh tanya sendiri padanya.”
“Sin Mei, kau … kau sudah janji …” Sioe Yin tergagap.
“Yin-moay, apakah benar?” tanya Ling Tan dengan suara gemetar.
Lan Sioe Yin lama terdiam. Pada akhirnya ia mengangguk pelan.
“Siapa dia?”
“Namanya Ciang Bun.”
“Tanya nama aslinya,” desak Sin Mei.
“Tak peduli namanya yang asli, aku cuma kenal dia sebagai Ciang Bun,” potong Lan
Sioe Yin.
“Kenapa? Kau malu mengatakan bahwa dia tak lain adalah Chang Lun, putra kedua
Kim-gin-siang-koai-coa?”
“Kau diamlah!” kata Ling Tan.
“Kau sakit hati dan tak sanggup lagi mendengarnya?” ejek Boe Sin Mei.
Ling Tan tak mempedulikan. Matanya terus menatap Sioe Yin yang menunduk.
“Yin-moay, kenapa dia? Kenapa bukan orang lain? Orang yang gagah, seorang
pendekar?”
“Tan Toa-ko …”
“Kenapa penjahat itu?”
“Dia tidak jahat!” Sioe Yin membela. “Segala tindakannya yang tidak benar cuma
lantara dipaksa oleh ayah-ibu dan abangnya. Merekalah yang jahat. Kalau ia
melawan, ia tak akan selamat!”
“Alasan!” dengus Sin Mei.
“Tan Ko-ko, persoalan ini jangan sampai Siok-siok mengetahui. Aku mohonkan …”
Ling Tan menatap lama-lama seraut wajah di hadapannya, yang memandang dengan
tegang, antara takut dan pengharapan memohon padanya. Dan mata yang terbelalak
itu berkaca-kaca. Ling Tan memalingkan muka. Ia tak tega melihat. Menyesal ia
menyadari wajah cantik itu bukan untuknya. “Yin-moay, jangan kuatir. Ini tak
bakal sampai kepada Soe-hoe.”
“Kau gila? Dia pergi menemui laki-laki lain dan kau malah menutupinya?” Sin Mei
berseru heran. “Baiklah, tak perlu kau, aku saja yang melapor!”
“Kalau kau melapor, aku juga akan mengadukan segala omonganmu!” ancam Sie Ling
Tan.
Boe Sin Mei tak berani berkutik. Ia memandang dendam pada Sie Ling Tan. “Kau
Ching Ching 338
tolol!” makinya, dan lantas pergi. Ia sungguh tak dapat menerima perlakuan si
pemuda. Belum lagi segala hinaan padanya. Kalau sebelum ini Sin Mei ragu untuk
berkhianat, kini ia malah semakin bertekat. Untung juga aku sempat menyalin peta
bikinan Gie-hoe tempo hari, pikirnya. Meski yang asli tak ada padaku, salinannya
bolehlah kuserahkan orang!
Chang Lun yang menerima peta itu di malam harinya terang saja merasa girang.
“Kapan kau mau menyerang?” tanya Sin Mei.
“Begitu putri keluarga she Lie datang, kami akan bikin habis mereka semua!”
“Menunggu Ching-ching? Berapa lama? Anak tengik itu tak bakal lekas pulang.”
“Kalau tidak demikian, lain hari ia balas dendam. Itu lebih berabe.”
“Lantara satu orang, kau tunda satu rencana besar? Sungguh tidak bijaksana!
Belum lagi kalau ia pulang bersama guru dan semua saudaranya seperguruan. Itulah
namanya berabe.”
“Kebetulan kami ada dendam pada Pek-eng-pay, sekalian saja kami bantai.”
“Tapi makan waktu. Kenapa tidak segera bereskan urusan di sini, kemudian ke
Pek-eng-pay? Ching-ching tak bakal lari ke mana-mana lagi, pekerjaan juga
terlebih gampang.”
“Haha, rupanya kau benar tak sabaran, entah ada dendam apa sama mereka? Tapi
akalmu boleh dipakai. Baiklah. Kami akan ‘berkunjung’ secepatnya. Kapan waktu
yang baik? Besok malam apakah kau sedia?”
“Tidak. Jangan tengah malam. Saat fajar menyingsing paling tepat.”
“Baik. Dalam waktu dekat kami datang. Tapi ingat, ini tak boleh ada yang tahu.
Dan pada mereka yang mau bergabung dengan kita, suruhlah memakai pita merah di
lengannya.”
“Tak usah. Selain aku, kau boleh habisi semua pendekar konyol itu.”
“Ah, tepat sekali. Pendekar konyol! Sungguh tepat. Kau tunggulah saja waktunya,
haha.” Belum lenyap tawanya, bayangan Chang Lun sudah lenyap.
Boe Sin Mei tersenyum sinis. Sebentar lagi seluruh kekayaan Pek-eng-pay akan
jadi miliknya, termasuk juga ilmu mereka, kitab pedang yang dimiliki ayah
angkatnya. Kemudian ia akan menghilang, hidup bersenang-senang di tempat lain
sampai tiba saatnya ia kembali ke kalangan Kang-ouw sebagai seorang pendekar!
Sudah beberapa hari Sie Ling Tan tak dapat tidur. Pengakuan Sioe Yin terus
menggelisahkannya. Ia masih tak mengerti, apa yang dilihat Sioe Yin pada Chang
Lun yang melebihinya? Memang, Chang Lun berkepandaian jauh lebih tinggi
daripadanya, tapi bagaimanapun hebat, ia tetap dari kalangan hitam, tak
sebanding dengan pendekar kalangan rendah sekalipun.
Sie Ling Tan terus mencari-cari kesalahannya sendiri di mata Lan Sioe Yin. Ia
tetap tak menemukan cacat. Dari tingkah gadis itu sendiri, ia merasa Sioe Yin
ada mempunyai perasaan lain terhadap dirinya meski mereka sama-sama belum berani
saling mengungkapkan. Itulah mengapa Ling Tan hampir tak mempercayai
pendengarannya sewaktu Sioe Yin mengaku.
Dan ini membuatnya penasaran terus-terusan. Tak terasa matanya tak dapat meram
beberapa malam. Juga kali ini. Tengah malam sudah lewat lama. Sebentar lagi
mentari muncul, namun tetap saja ia tak dapat terpejam.
Mendadak kupingnya mendengar senjata diayun. Tak mungkin ada yang berlatih dini
hari begini. Sie Ling Ten lekas berpakaian untuk kemudian keluar bersama
pedangnya. Ia tak melihat apa-apa, tapi tak ada guna kembali ke kamar. Pemuda
itu memutuskan untuk meronda sendiri.
Baru saja ia memutuskan, terdengar suara ramai di kejauhan. Ling Tan mengerahkan
gin-kang untuk naik ke bubungan atap. Ia melihat kelap-kelip cahaya obor. Tak
Ching Ching 339
jauh lagi. Musuh sudah mengepung! Seketika itu juga kentongan berbunyi di
sana-sini. Saat itu yang terlintas di kepala si pemuda cuma satu. Ia harus
melindungi gurunya!
Sementara itu, di kamar Lie Chung Yen sudah terjadi peristiwa tersendiri.
Mendengar ribut-ribut di kejauhan, ketua she Lie segera mendusin. Ia lantas
bersiaga. Akan tetapi belum lagi keluar, pintu telah lebih dulu didobrak orang.
Boe Sin Mei masuk dengan pedang siap di tangan.
“Apakah mereka telah datang menyerang?” tanya Chung Yen. “Aku segera datang,
kalian duluanlah!”
Tapi Boe Sin Mei tak menghiraukan ayah angkatnya. Ia terus saja menghampiri Han
Mei Lin yang duduk di pemaringan dan tanpa diduga menodongkan pedang ke leher
sang nyonya.
“He, apa kau buat?!!” Lie Chung Yen yang tak menduga sama sekali tak dapat
berbuat banyak.
“Jangan mendekat!” seru Sin Mei. “Atau kubikin putus lehernya!”
Lie Chung Yen terpaksa diam di tempat. Ia tak berani sembarangan bertindak. “Kau
jangan main gila. Ini apa-apaan?”
“Di mana kitab kitab?”
“Kau mengincar ilmu keluarga Lie? Jangan mimpi!”
“Tua bangka, kalau tak kauserahkan kitab itu, kau akan lihat ibu-anakmu mati di
hadapanmu!”
Lie Chung Yen terperanjat, namun sebagai orang berpengalaman, ia dapat menekan
kagetnya dan malah balik membentak. “Apakah kau mau mengancam? Beginikah sikapmu
pada orangtua?”
“Memangnya sikap bagaimana yang kau mau?”
“Sudah sinting kau rupanya. Benar menyesal aku peliharakan kau, bahkan
menurunkan ilmu keluarga kepadamu!”
“Aku bukan anak kandungmu, tak usahlah berlagak sayang. Sebaliknya, aku juga tak
perlu berlaku hormat padamu. Sekarang lekas kau keluarkan kitab itu, kalau tidak
…”
Lie Chung Yen ragu-ragu. Kitab kitab adalah warisan soe-hoenya yang juga adalah
mertua. Itu adalah milik keluarga, mana boleh diberikan ke sebarang orang? Tapi
istrinya lebih berharga dari segala macam kitab silat. “Baiklah, asal
kaulepaskan istriku!”
“Jangan! Aku tak sudi warisan ayahku jatuh ke tangan penjahat!” teriak Han Mei
Lin. “Yen-ko, kau jangan tertipu. Lihatlah siapa yang datang bersamanya. Meski
nanti ia melepaskan kita, toh kita akan mati di tangan yang lain!”
“Tapi—“
“Yen-ko, kitab itu cuma Ching-ching yang boleh mewarisi. Kau tak usah ragu, aku
tak akan biarkan orang lain merebutnya dari tangan anakku!”
Sembari berkata demikian, Han Mei Lin memegang tangan Boe Sin Mei yang memegang
pedang. Kemudian, secepat kilat ia bawa ke lehernya. Seketika darah muncrat
membasahi pembaringan. Han Mei Lin telah putuskan urat lehernya sendiri!
“Lin-jie!” Seperti macan terluka, Lie Chung Yen menggerung merebut istrinya yang
sudah jadi mayat dari Boe Sin Mei. Gadis itu sendiri sudah lekas mundur ke
samping Chang Lun.
Beberapa lama Lie Chung Yen meratapi istrinya, tak peduli pada sekelilingnya.
Kemudian mendadak ia tersadar. Lekas disambarnya pedang dan bergerak mengincar
Boe Sin Mei. “Anak durhaka! Jangan harap keluar dari rumah ini dengan selamat!
Kau, dan anak jahanam itu!”
Ching Ching 340
“Heh, tadinya aku tak mau ikut campur, tapi lantaran kau maki aku, apa boleh
buat,” kata Chang Lun.
“Baik! Majulah kamu berdua!” tantang Lie Chung Yen.
“Tak usah berdua, sendirian pun cukuplah melawan satu orang tua!” ejek Chang
Lun.
“Bagus! Awas senjata!” Lie Chung Yen membuka serangan lebih dulu.
Sambil senyum-senyum merendahkan, Chang Lun mengegosi pedang lawan. Sewaktu Lie
Chung Yen menyerang lagi, ia juga tak banyak repot berkelit. Akan tetapi, nama
Lie Tay-hiap bukannya sebarang nama. Sejurus kemudian Chang Lun tidak dapat
menghindar melulu. Mau tak mau ia mesti menangkis atau membalas. Pemuda itu juga
tidak keberatan. Ia diperintahkan membunuh seisi wisma Pek-eng-pay, maka
pertempuran dengan Lie Chung Yen adalah bagian dari tugasnya.
Diam-diam Lie Chung Yen merasa kagum juga pada lawannya. Usianya belum lagi
mencapai dua puluh tahun, tetapi gerakannya gesit dan lincah. Ia mestilah
seorang yang cerdas berbakat. Sayang, moralnya ditempa dengan cara yang salah
sehingga menjadi penjahat muda.
“Pak Tua, ilmumu tak ada apa-apanya,” ejek Chang Lun. “Apakah cuma sebegitu yang
kamu bisa?”
Dalam pada itu Lie Chung Yen napasnya sudah sengal-sengal. Melihat Chang Lun
masih bisa tertawa-tawa, merosotlah semangat si orang she Lie.
“Anak muda, kau terlalu jumawa!” sahut Lie Chung Yen. “Sambutlah!” Setelah
memperingati, mendadak Chung Yen lompat ke udara, tangannya mengembang ke
samping dan setelah mendekat Chang Lun, ia mengayunkan tangan bersilang.
Pedangnya di tangan kanan menyabet leher orang!
Chang Lun menyadari serangan berbahaya, lekas menarik kepala ke belakang. Ia
lantas keluarkan kipas menangkis pedang. “Gerakan Hui-eng-coan-in (Elang terbang
menerjang awan) memang benar indah dan berbahaya, tapi belum apa-apa dibanding
ilmu Kim-gin-siang-coa-pang!”
“Jangan banyak mulu! Lihat pedang!” Lie Chung Yen tak banyak mengasih kesempatan
musuh untuk mengoceh.
“Ha! Kau boleh lihat buktinya!” Chang Lun berggerak berpusingan menghindari
serangan berantai Lie Chung Yen. Kipasnya membuka-menutup dengan gerak yang
sudah diperhitungkan. Begitupun waktu kipasnya terpentang memapaki serangan Lie
Chung Yen dan mendadak menutup menjepit pedang di antara tulang-tulang kipas.
Sekali sentak saja, pedang Lie Chung Yen terpental menancap di tembok. “Budak
busuk, tak punya modal saja berani menantang Kim-gin-siang-coa-pang?”
“Tak ada pedang, aku masih ada dua tangan!” seru Lie Chung Yen.
“Benar mencari mampus!” Chang Lun menangkis pukulan Chung Yen.
Pendekar itu tidak puas. Ia melancarkan satu lagi pukulan ke dada orang. Kali
ini Chang Lun tidak menangkis, tak pula berkelit. Ia memapaki pukulan itu dengan
tangannya yang terbuka. Kini kepalan Lie Chung Yen terbungkus kepalan Chang Lun.
Sejenak keduanya terdiam dalam keadaan seperti itu. Boe Sin Mei yang menonton
mengawasi dengan tegang. Ia tahu dua orang itu sedang mengadu tenaga. Siapa yang
menang?
Mendadak kedengaran suara barang patah, bersamaan Chang Lun berseru kaget.
Sebelah tangan Chung Yen yang bebas telah memukul pula, padahal sebelah tangan
yang lain tengah adu kekuatan. Pukulan tak terduga itu mengarah ke kepala. Namun
luput! Chang Lun terlalu gesit menghindar, tapi tak urung sebelah kupingnya
tersampok kesiuran angin.
“Sebelah tanganmu patah, mesti kupatahkan yang satu lagi?” ejek Chang Lun.
Ching Ching 341
Lie Chung Yen tak menjawab. Ia terus menyerang dengan sebelah tangan dan banyak
pula menendang. Namun, karena kesakitan akibat sebelah tangannya yang patah tak
berfungsi, terang saja kekuatannya jauh berkurang.
Chang Lun juga seperti tak mau banyak buang waktu. Kipasnya yang bertulang baja
mengeluarkan suara kesiuran waktu bergerak. Segera saja Lie Chung Yen jatuh di
bawah angin. Ia terpukul berkali-kali. Namun, pendekar itu bersemangat baja. Ia
tak juga menyerah sampai Chang Lun mulai tersengal.
“Sudah cukup aku melayanimu. Kini, mampuslah!” Chang Lun menggerakkan tangan dan
kakinya bersamaan, kipasnya juga berkelebat cepat. Kedengaran tiga kali beruntun
suara barang patah disusul muncrat darah dari dada Lie Chung Yen. Pendekar itu
tersungkur jatuh ke tangah dan diam tak berkutik.
Chang Lun mengerutkan kening. Ia agak kecewa pada diri sendiri. Kipasnya
mengarah leher orang, kenapa bisa meleset. Namun, mengingat betapa sebelum itu
Chung Yen telah patah tulang kedua tangan dan kakinya, Chang Lun tak terlalu
pikirkan kesalahan.
“Dia sudah mati,” katanya kepada Boe Sin Mei. “Sekarang tinggal membantai yang
di luar.”
“Marilah!”
Dalam pada itu Sie Ling Tan yang berniat membantu gurunya tertahan sejumlah anak
buah Kim-gin-siang-coa. Pemuda itu mengayun pedangnya bersemangat. Namun,
lawannya terlalu banyak dan terlatih pula. Ia tak dapat gampang-gampang
meloloskan diri.
Tak jauh darinya, Lan Sioe Yin dan pelayannya A-ping berpunggungan meladeni
pengeroyok. Kepandaian si pelayan yang tak seberapa sebenarnya cuma merepotkan
si nona, tapi Lan Sioe Yin mati-matian melindunginya.
Sie Ling Tan melihat ini. Ia juga lihat bahwa pengeroyok Sioe Yin tak sebanyak
yang mengerubuti dia sendiri. Gadis itu lebih gampang lolos bila mendapat
sedikit bantuan. Sebaliknya bila bertahan, tak lama lagi pastilah mendapat
cedera.
Maka dari itu, Sie Ling Tan sengaja mundur mendekati Lan Sioe Yin. Setelah jarak
mereka tak jauh lagi, ia melompat tinggi melepaskan diri dari pengeroyoknya ke
arah Sio Yin dan membantu gadis itu.
“Yin-moay, kau lihatlah keadaan Soe-hoe. Aku saja yang menghadapi mereka.”
“Tapi—“
“Lekas!” Melihat Sioe Yin ragu-ragu, si pemuda mendorong A-ping ke pinggir.
Menguatiri pelayannya, Sioe Yin lantas menyusul. Lagipula ia percaya Ling Tan
dapat melindungi diri sendiri. lebih baik ia menengok keadaan peh-bonya.
Begitu masuk kamar dan melihat dua tubuh yang terkapar bersimbah darah, A-ping
lantas menjerit ngeri. Lan Sioe Yin lebih tenang. Ia segera mendekati peh-bonya
kalau-kalau masih hidup. Namun, jiwa wanita itu telah lebih dulu melayang
meninggalkan raga.
“Sio-cia, itu Loo-ya bergerak. Ia masih hidup!” jerit A-ping separo girang
separo ngeri.
Lan Sioe Yin memburu peh-pehnya. Benar, meski luka parah dan napasnya
sengal-sengal, ia masih hidup. “Peh-peh!” panggilnya.
“Yin-jie, kau datang. Ambil di belakang lukisan. Berikan … Ching-ching! Lekas!”
“Ya, Peh-peh.” Sioe Yin terburu-buru menuju lukisan. Tapi di situ cuma satu
lukisan besar menutupi dinding. Apakah peh-pehnya tidak salah?
“Di belakang … gambar … elang terbang!” kata Lie Chung Yen. Berkata sebegitu
saja ia sudah kehabisan tenaga dan batuk-batuk. Maka dari itu Sioe Yin meski
Ching Ching 342
belum jelas tak berani bertanya.
Lantara terburu-buru, ia mengepalkan tangan dan menjebol gambar elang terbang.
Benar saja. Di belakang gambar itu cuma papan tipis dan ada tempat rahasia.
Dalam keadaan biasa pasti ada satu cara membukanya. Namun sekarang yang cepat
adalah lebih perlu.
“Peh-peh, sudah ketemu!” Sioe Yin mengambil kitab yang ada di sana. “Inikah yang
mesti diserahkan kepada Ching-moay?”
Namun, Lie Chung Yen tak menjawab. Sioe Yin lantas mendekat dan mendapati
peh-pehnya telah menyusul sang istri ke akhirat.
“Jahanam! Siapa pun yang melakukan ini akan kubalas!” Dalam marahnya Lan Sioe
Yin berlari ke luar. Ia berlari terus sampai ke ruang tamu.
Ruangan itu sudah berantakan tak karuan. Di sana tak ada orang lagi. Yang ada
cuma mayat bertumpuk yang mandi darah menyebabkan di sana tercium bau amis yang
menyesakkan napas. Melihat kadaanmacam bebitu, darah Sioe Yin berdesir. Mendadak
ia sadar, sudah tak ada jalan keluar. Malam ini seisi Pek-eng-pay akan binasa.
Bila kelak Ching-ching pulang …
“A-ping, marilah!” katanya. “Simpan kitab ini!”
“Tapi …” A-ping tak dapat bertanya. Dalam keadaan tidak siaga ia telah ditotok
nonanya, sehingga tak dapat bergerak, tak dapat bersuara.
“A-ping, seandainya aku mati hari ini, kau mesti tetap hidup. Tunggu nona
kecilmu pulang. Berikan kitab ini kepadanya. Ingat, hanya kepada Ching-ching
saja! Kalau ada orang lain merampas, lindungi ini dengan seluruh tenaga, kalau
perlu dengan jwia. Dan bilang dia supaya membalaskan dendam keluarga!”
Sesudah memesan demikian, Lan Sioe Yin memondong pelayannya untuk diletakkan di
antara mayat yang bertumpuk. Satu sosok malah ditimpakan di atas pelayan.
“Maafkan aku, kau mesti begini. Tapi kalau tidak, kau tak akan selamat!”
Lan Sioe Yin berdiri. Ia siap kembali ke belakang membantu saudara-saudaranya
yang lain. Namun, baru ia membalik, dua orang yang ia kenali memasuki ruangan
itu bersamaan.
“Sin Mei, Bun-ko … kau … kalian …!” Segala pikiran jelek bermunculan di kepala
si nona.
“Jangan keburu cemburu,” Chang Lun yang melihat perubahan roman muka si nona
lekas mendului. “Aku cuma membantu Boe Kouw-nio menyelesaikan urusan!”
“Oh, rupanya kau mau menolong.” Sioe Yin menurunkan pedang yang sudah siap
dipakai. “Bun-ko, apakah abangmu memimpin penyerangan ini? Tahukah dia kau ada
di sini?”
“Dia tak tahu aku kemari,” kata Chang Lun.
“Baguslah. Sin Mei, ayah angkatmu gugur. Apa kau lihat siapa yang melukai dia?”
“Tak usah jauh-jauh. Orangnya ada di depanmu,” jawab Sin Mei.
“Kau jangan bergurau. Apa maksudmu, ngomonglah yang terang.”
“Dia—“ Chang Lun hendak berkata namun keburu dipotong Boe Sin Mei yang terlalu
bersemangat.
“Justru kami berdua yang mengobrak-abrik Pek-eng-pay. Perkara ayah angkatku sama
saja.”
“Maksudmu … Kalian membunuh Peh-peh dan Peh-bo? Bun-ko … aku tak menyangka …!”
Chang Lun melirik tajam pada Sin Mei yang lancang mulut. Namun mau apa? Ia tak
dapat mengelak lagi sekarang. “Partaimu telah runtuh> Baiknya kau ikut saja
denganku.”
“Benar. Kita dapat hidup senang di—“
“Diam kau pengkhianat! Tak sudi aku turut jejakmu. Tan Toa-ko rupanya benar. Kau
Ching Ching 343
seorang yang tak dapat dipercaya.”
“Tan Toa-ko tolol. Maka itu hidupnya tidak panjang.”
“Kau … kau bunuh dia?”
“Kenapa? Aku memang sengaja habisi dia. Kalau aku tak dapat miliki dia, orang
lain juga tidak. Maka dari itu, ia mesti mati!”
“Kau biadab. Kau bukan manusia. Lantaran persoalan Tan Toa-ko, kau bunuh juga
Peh-peh dan Peh-bo. Kenapa? Dulu kau bunuh ayah sendiri buat menyelamatkan
Peh-peh, eknapa sekarang kau bunuh orang yang pernah kauselamatkan?”
“Mau tahu? Baiklah kuceritakan sedari mula. Dulu waktu kecil hidupku melarat.
Ibuku cuma seorang perempuan miskin di kampung terpencil. Ayahku cuma dua kali
menengok aku, anak haramnya. Rupanya ia takut ketahuan penya anak dari perempuan
kampung.
“Waktu umurku sembilan tahun, ibuku mati. Aku ikut dengan pamanku, namun di
rumahnya aku diperlakukan sebagai pelayan. Dua tahun lamanya, sampai Thia datang
menjemput. Tapi aku harus mengaku sebagai orang lain, bukan anaknya!
“Thia mau aku kelak menguasai Pek-eng-pay supaya ia bisa ikut campur mengatur.
Aku tak mau dijadikan alat ayahku mencapai cita-citanya. Lagipula aku tak mau
hilang apa yang sudah kupunya. Itu sebabnya kubunuh dia di saat yang tepat. Aku
dianggap pahlawan dan aku tak hilang kesenangan. Pintar ya aku?”
“Kau lebih kejam dari binatang!” teriak Sioe Yin. “Kau pantas mati!” Gadis itu
lantas menyerang dengan pedang di tangannya.
Boe Sin Mei melayani. Namun, menghadapi serangan bertubi-tubi, ia kerepotan
juga. Apalagi ilmunya masih jauh di sebelah bawah Lan Sioe Yin. Setelah lewat
puluhan jurus, Boe Sin Mei jatuh di bawah angin.
“Chang Kong-coe, dia benar-benar mau membunuhku! Lekas bantu aku!” pinta Sin Mei
menyadari jiwanya terancam.
“Terima kasih, kurasa aku lebih suka menonton saja,” sahut Chang Lun.
Mendengar jawabannya, Boe Sin Mei kaget. Gerakannya menjadi lamban. Melihat
kesempatan, Lan Sioe Yin tidak menyia-nyiakan tempo. Ia segera mengayun pedang
menembusi jantung si gadis she Boe.
“Ha, sungguh suatu pertunjukan bagus!” Chang Lun bertepuk tangan memuji.
“Kau pun tak boleh kulepas begitu saja!” Lan Sioe Yin menodongkan pedangnya.
“Apakah kau mau bunuh aku? Boleh. Nih, leherku boleh kautebas.” Chang Lun
melangkah mendekati Sioe Yin. “Hayolah, kenapa mundur? Hm. Hahaha! Aku tahu kau
masih ada hati padaku. Kau tak akan tega membunuhku. Begini saja, lupakan semua
ini. Ikutlah denganku pulang. Kami butuh gadis-gadis pemberani macam engkau.
Kita akan bersenang-senang sepanjang hidup.”
“Kau benar” suara Lan Sioe Yin gemetar. Air matanya sudah membanjir. “Aku tak
sanggup bunuh padamu. Tapi aku tak sudi berkhianat!”
Pedang di tangan Lan Sioe Yin terayun. Detik berikutnya badan si nona roboh
dengan leher putus!
“Gadis bodoh!” dengus Chang Lun dingin. “Tak tahu diuntung. Diajak senang, malah
bunuh diri. Kau pikir aku peduli? Kau mau mati, matilah!”
Mendengar cerita A-ping, bergolak darah Ching-ching. Hatinya terbakar dendam.
Napasnya memburu. “Kurang ajar Kim-gin-siang-coa-pang! Mereka akan kubantai
semua!’
“Siauw-sio-cia, inilah titipan Loo-ya, kitab kitab. Dan ini adalah pedang
Toa-sio-cia. Kuharap untuk membalas dendam keluarga, kau memakai ilmu dan pedang
milik keluarga sendiri pula."
“Kau benar. Mulai dari hari ini aku akan belajar ilmu pedang keluarga Lie!”
Ching Ching 344
“Selama Sio-cia belajar, izinkan saya yang melayani. Dan kalau ada sempat, saya
juga ingin membalaskan sakit hati Toa-sio-cia.”
“Baiklah. Tapi kita tak dapat tetap tinggal di sini.”
“Kenapa?”
“Berita ini pasti segera tersebar. Orang-orang akan datang menyembahyangi Thia.
Nanti kita tak dapat belajar. Kita mesti cari tempat yang tenang.”
“Tapi Sio-cia, kalau rumah ini ditinggal, saya kuatir akan digunakan jadi sarang
rampok kelak.”
“Aku juga tak mau orang mengobrak-abrik makam keluarga. Malam ini kau tidurlah.
Urusan itu aku yang bikin beres. Besok pagi-pagi kita berangkat!”
A-ping tak berani membantah. Setelah menyiapkan apa yang mau dibawa, ia segera
mengaso. Akan tetapi, Ching-ching sepeninggalnya juga tak dapat tenang. Ia ingin
lekas membalas. Ia mengambil kitab kitab dan membuka-buka halamannya seklias.
Akhirnya ia membaca semua petunjuk yang ada. Tangannya turut bergerak. Tanpa
sadar akhirnya Ching-ching tengah berlatih sendirian.
Matahari telah terbit. Ching-ching baru sadar bahwa ia tak tidur semalaman
lantaran latihan. Gadis itu heran sendiri. Apakah selama membaca ia juga
berlatih? Ia menutup buku dengan bingung.
“Sio-cia, semua sudah beres. Tempo-tempo kita bolehberangkat.” Suara A-ping
mengingatkan Ching-ching apa yang mesti dikerjakannya.
“Sebelum pergi aku ingin sembayang dulu.”
“Saya sudah siapkan.”
“Eh, pintar. Tak heran Yin Cie-cie sangat sayang padamu. Kau memang paling
mengerti.”
Ching-ching lekas mengadakan upacara sembahyangan dibantu A-ping. Di depan
makam-makam itu keduanya bersumpah menuntut balas. Setelah menjalankan segala
upacara, Ching-ching masuk ke dalam rumah.
“A-ping, keluarlah dulu. Aku mau sendirian sebentar!”
“Ya, Sio-cia.
Ching-ching berjalan-jalan sendirian keliling rumah. Inilah terakhir kalinya ia
berada di situ dengan segala kenangannya. Sebentar ia akan meratakan rumah itu
supaya tidak nanti menjadi puing. Itu cuma akan mengingatkan orang pada
kekalahan partainya menghadapi Kim-gin-siang-coa-pang. Tidak! Ia tak rela.
Sebenarnya dalam hati Ching-ching merasa sayang. Ia ada keinginan kembali ke
sini dan mendirikan perguruannya sendiri. Tapi kapan? Sekarang ini ia tak siap.
Menunggu nanti, kuatir rumahnya sudah ditempati orang dan menjadi sengketa. Lalu
ia mesti bagaimana?
A-ping menunggu nonanya di luar rumah. Tak berapa lama Ching-ching keluar.
“Mari!” katanya dan berjalan tanpa menoleh.
A-ping mengikut. Keluar dari kota kelahirannya, baru Ching-ching mau melihat. Di
atas kota itu, di kejauhan tampak segulung asap hitam.
“Kebakaran!” kata A-ping.
“Bukan urusan kita!” sahut Ching-ching dan terus melangkah pergi.
Berita mengenai runtuhnya Pek-eng-pay sampai juga di Pek-san-boe-koan. Sebagai
sesama anggota Kang-ouw dan apalagi Ching-ching pernah menjadi murid di sana,
berita itu tentu saja menjadi bahan pembicaraan. Tak terkecuali Lie Wei Ming,
ikut kepikiran sampai merasa perlu mengumpulkan murid-muridnya.
“Kamu orang tentu sudah mendengar berita,” Lie Wei Ming membuka pembicaraan.
“Kamu ada pemikiran apa, lebih baik dibicarakan.”
Sejenak murid-muridnya terdiam. Semenjang kejadian Ching-ching diusir dari
Ching Ching 345
Pek-san-boe-koan, memang seperti ada ganjalan antara guru dan murid. Mereka jadi
sungkan bercakap-cakap dengan gurunya. Terlebih ada kejadian seperti sekarang,
bertambahlah simpati pada si gadis she Lie. Diam-diam banyak yang menyalahkan
guru mereka bertindak kelewat keras.
“Bagaimana?” tanya Lie Wei Ming lagi pada empat muridnya tertua.
“Soe-hoe, tempo hari Siauw-soe-moay, eh maksudku Ching-moay, eh bukan. Itu … Lie
Kouw-nio pamit pulang ke rumahnya. Masa sekarang tentulah ia sudah di sana lama.
Entah apakah dia selamat sewaktu terjadi peristiwa.” In Sioe Ing mendului buka
mulut. Lagunya menyindir sang guru yang mengusir adik seperguruannya.
“Soe-cie, jangan bicara yang bukan-bukan. Soe-moay, eh, Ching-moay, tak bakal
mati begitu gampang,” kata Chia Wu Fei menegur.
“A-lau, ia adik angkatmu. Bagaimana pandanganmu sendiri?”
Yuk Lau yang abang angkatnya Ching-ching adalah yang terlebih sakit hati sewaktu
dara itu diusir. Maka pada kesempatan ini ia segan bicara banyak. “Tee-coe cuma
berani minta izin Soe-hoe buat menengok keadaan Gie-moay.”
“Yah, daripada di sini membicarakan yang tidak-tidak, ada baiknya juga mengirim
orang mencari kabar. Baiklah, kau boleh berangkat.”
“Terima kasih, Soe-hoe.”
“Soe-hoe, kalau boleh, Tee-coe ingin mendampingi Sam-soe-tee,” kata Miauw Chun
Kian, murid tertua.
“Tee-coe juga mau ikut!” timpal In Sioe Ing.
“Uh, kalau aku sudah dapat berlari, aku juga tak mau ketinggalan,” gerutu Cia Wu
Fei. “Sekarang ini berdiri saja masih gemetaran.”
“Tak usahlah banyak-banyak orang yang pergi. Cukup Yuk Lau dan Chun Kian saja.”
“Baik! Tee-coe berempat mohon pamit!” semua muridnya memberi hormat dan
meninggalkan sang guru.
Sesampainya di luar, keempat murid itu kembali membicarakan persoalan barusan,
lebih leluasa daripada di hadapan guru mereka.
“Toa-soe-heng, menurut pemikiranmu, apakah Soe-moay, eh Ching-moay dapat selamat
dari tangan Kim-gin-coa?” tanya Sioe Ing berkuatir.
“Tentu saja!” Wu Fei yang menyahut. “Apakah Soe-cie tak ingat seberapa tinggi
ilmunya sebelum menjadi murid Pek-san-boe-koan?”
“Aku juga merasa pasti dia selamat,” kata Yuk Lau. “Tapi, aku ingin melihat
keadaannya.”
“Kudengar Ban-tok-pang juga kena dihancurkan. Apa Sam-soe-tee tak hendak
menengok Khoe Kouw-nio?” goda Wu Fei. Muka Yuk Lau mendadak merah.
Saudara-saudaranya tahu ia ada menaruh hati kepada si nona she Khoe.
“Ke Pek-eng-pay dapat juga melewati Ban-tok-lim. Kau dapat melihat-lihat,” kata
Sioe Ing.
“Sayang Soe-cie tak boleh ikut. Kalau tidak, kau pun dapat mencari tahu keadaan
Wang Lie Hay!” Wu Fei kembali cengengesan melihat roman In Sioe Ing yang
berubah. “Kalau tak salah, ia jalan bersama Khoe Yin Hung dan Ching-ching.
Toa-soe-heng, mestinya kau kasih sempat Soe-cie yang pergi.”
“Ngo-soe-tee, bukannya kau berprihatin, malah bercanda,” tegur Chun Kian.
“Kalau tidak bercanda, aku bisa menangis. Lihatlah, aku tak kuat jalan jauh.
Dari sana ke mari juga mseti dituntun layaknya kakek-kakek.”
“Jangan terlalu berduka. Dilihat keadaanmu kan sudah banyak mendingan. Tak
berapa lama kau mesti sembuh.”
“Tapi aku tak sabar. Aku ingin lekas keluar dan mencari Ching-ching!”
“Itu urusan kami, kau tak usah berkuatir!” kata Miauw Chun Kian. “Begitu bertemu
Ching Ching 346
nanti, kusuruh dia datang menengokmu.”
Miauw Chun Kian dan Yuk Lauw tengah beristirahat di sebuah kedai. Sembari
mengisi perut, dibincangkan arah perjalanannya.
“Dari Pek-san-boe-koan ke Pek-eng-pay ada makan waktu enam hari berjalan. Kalau
memutar lewat Ban-tok-lim, menghabiskan waktu sepuluh hari. Menurut
Toa-soe-heng, perlukah kita mampir?” tanya Yuk Lau.
“Mmm. Sepuluh hari. Terlalu lama kalau Ching-ching memang butuh bantuan,” kata
Miauw Chun Kian. Ia melirik adik seperguruannya yang berubah roman mukanya.
“Tetapi adalah kewajiban kita juga melihat apa yang terjadi pada Ban-tok-pang,”
sambungnya buru-buru.
“Lalu, bagaimana baiknya menurut Soe-heng?”
“Begini saja. Di simpangan di depan sana kita pepisahan. Kau menuju Ban-tok-lim,
aku ke Pek-eng-pay. Bulan depan tanggal dua tengah hari kita bertemu lagi di
tempat itu.
Yuk Lau mengangguk. Mendung di mukanya lenyap seketika. Miauw Chun Kian
tersenyum saja.
“Kau tahu, kalau Ching-ching dan Wu Fei ada di sini, kau akan habis digoda.
Sayang, lidahku tak pandai menggoda orang,” kata murid pertama Pek-san-boe-koan
itu. “Tapi rasanya tak perlu lidah yang lincah. Lihat, baru berkata begitu saja,
mukamu sudah merah seperti orang mabuk!”
“Soe-heng omong apa, aku tak mengerti,” sahut Yuk Lau pura-pura bodoh.
Miauw Chun Kian tak menjawab. Ia hanya mesem sembari meneguk tehnya. Namun,
senyumnya segera lenyap sewaktu seorang petani datang mengaso di situ membawa
berita. “Wah, tadi aku melihat bidadari pencabut nyawa!” aktanya dengan napas
memburu.
“Di mana?” tanya orang lain yang juga mengunjungi kedai itu.
“Di sebelah sana. Wah, hebat dia! Puluhan orang mengeroyok dihabisinya sekali
kebasan tangan.”
“Wah, aku jadi ingin melihat!”
“Jangan coba-coba! Bidadari itu amat kejam. Aku lolos saja dengan susah-payah.
Pelayan bidadari itu hampir saja membunuhku. Untung aku dapat melawan dan
kemudian lari kemari!”
Miauw Chun Kian dan Yuk Lau saling pandang. Sebagai kalangan pesilat, tentu saja
mereka mau tahu lebih banyak. “Soe-heng, kita melihat?”
“Baik, tapi kita jangan dulu campur tangan!”
Setelah meletakkan pembayaran di meja, kedua pemuda itu segera menuju ke arah
yang ditunjuk petani barusan.
Benar saja. Tak berapa lama berlari kedengaran suara orang bertempur. Kelihatan
pula seorang gadis yang memegang pedang tengah dikeroyok belasan orang
berpakaian hitam.
“Pengecut! Beraninya main keroyok! Soe-heng, mari kita bantu!”
“Dia tak butuh bantuan,” kata Chun Kian. “Marilah sembunyi di balik semak itu
dan melihat kejadian sebenarnya.
Yuk Lau mengikuti soe-hengnya yang telah mendului berjalan ke semak yang tak
jauh dari tempat pertempuran. Dari tempatnya sembunyi, Yuk Lau dapat melihat dan
mendengar terlebih jelas. “Toa-soe-heng, pengeroyok itu orangnya
Hek-houw-piauw-kiok.”
Miauw Chun Kian menangguk.
“Kita mesti membantu yang mana?”
“Sst!”
Ching Ching 347
Yuk Lau tak berani banyak mengoceh. Dengan heran bercampur kuatir, ia mengawasi
si nona yang mulai tampak terdesak.
“Kau kurang lincah, mesti bergerak lebih cepat! Tanganmu kurang lurus waktu
menusuk. Ulangi ke sebelah kanan. Sekarang!” Terdengar sebuah suara dingin
memberi petunjuk.
Si nona lekas menurut. Ia bergerak lebih lincah. Sebentaran saja keadaan
berbalik. Kini si nona berada di atas angin!
Yuk Lau mencari-cari datangnya suara. Kemudian matanya menangkap sosok tubuh
seorang dara muda yang duduk di keteduhan semak-semak. Seperti juga dara yang
sedang bertempur, gadis ini berbaju putih dengan ikat rambut yang putih pula.
Sayang, mukanya tak kelihatan di balik rimbun semak.
Si nona yang tengah bertempur kini berbalik mendesak lawan-lawan pengeroyoknya.
Pedangnya berkelebat-kelebat cepat menebas kanan-kiri. Dua pengeroyoknya roboh
seketika. Seorang dari orang Hek-houw-piauw-kiok memberi komando pada yang lain.
“Kurung dia rapat-rapat. Setelah habis yang satu ini, kita habisi yang satu
lagi!”
Orang-orang Pek-houw-piauw-kiok lantas mengurung. Si nona nampak kebingungan. Ia
tak dapat meluruskan pedang.
“Dalam keadaan seperti ini kamu mesti bertahan, tapi waspada. Begitu sempat,
jangan punya perasaan ragu. Tusuk saja lawanmu sampai tembus!” kata si dara yang
menonton.
Petunjuk gadis itu sangat berharga buat si nona berpedang. Ia bertahan. Begitu
ada lowongan, ia langsung menebas dan menusuk serta cepat ditarik lagi buat
melindungi diri.
“Cukup bagus,” puji si dara baju putih, “tapi kurang mengarah tepat. Kali ini
incar jantungnya, jangan meleset!”
“Kamu banyak mulut, kenapa kamu sendiri tak berani ikut bertempur!?” bentak
pemimpin Pek-houw-piauw-kiok.
“Hati-hati bicara dengan majikanmu!” si nona berpedang menjadi galak, menusuk
leher orang yang lancang omong itu.
“Jangan!” cegah si dara di balik semak. Sepotong ranting kecil mengalangi
jalannya pedang. Akibatnya pedang itu melenceng, menusuk pengeroyok lain yang
hendak coba-coba membokong.
“Yang satu ini belakangan,” kata si dara dingin. “Sudah cukup latihanmu hari
ini. Habisi mereka semuanya!”
“Baik!” Si nona berpedang cepat menghadapi yang lain-lain Ia tak lagi
menggunakan jurus-jurus barusan. Gerakannya berubah lebih cepat. Ia nampak sudah
hafal dengan jurus yang satu ini. Badannya berputar-putar cepat. Dua lagi
pengeroyoknya roboh. Yang lain hilang semangat melihat teman-temannya sudah jadi
mayat. Serempak mereka kabur ke lain-lain arah.
“Jangan ada yang lolos!” seru dara baju putih. Ia melompat dari tempatnya duduk.
Tangannya berkelebat beberapa kali, disusul robohnya mereka yang lari. Satu lagi
roboh dengan pedang si nona menembusi punggung. Cuma satu lagi yang masih hidup,
yaitu si pemimpin yang keburu ditotok sebelum lari. “Kalau musuhmu beberapa
orang, jika ad ayang lari, jangan lempar pedang. Mana tahu yang lain balik lagi
menyerang kamu? Itulah bahaya.”
“Lalu saya mesti bagaimana?”
“Lain hari kuajari cara jitu menyampok orang. Sekarang bereskan dulu yang satu
itu!”
Mereka mendekati orang satu-satunya yang masih hidup.
Ching Ching 348
“Kamu kemenakan si pengkhianat Yong Hu, bukan?” tanya si nona yang sudah
mengambil balik pedangnya.
“Yong Hu mana?”
“Jangan berlagak? Orang Pek-houw-piauw-kiok tak tahu Yong Hu adalah bohong!”
“Ada urusan apa denganmu.”
“Pamanmu pengkhianat busuk. Kau pikir, kita tak tahu ia mendatangi pesta
Kim-koay-coa?”
“Itu … itu tak ada urusan denganku.”
“Tapi kamu turut dia menghadiri itu pesta!” tuduh si nona berpedang. “Sekarang
beri tahukan, siapa lagi yang datang ke sana?”
“Tidak tahu!”
“Kamu mau bandel?” si nona menodongkan pedang.
“Mau bunuh, bunuhlah! Siapa takut mati?”
“Mati cepat terlampau murah buatmu. Orang bandel macammu mesti disiksa dulu!”
Gadis yang seperti lebih tinggi kedudukannya itu menotok belakang leher orang.
Mendadak orang Hek-houw-piauw-kiok itu menjerit sembari bergulingan di tangah.
“Aduh! Ampun! Sakit! Ampun! Kamu mau tahu apa, kuberi tahu, tapi hentikan dulu
…”
“Siapa lagi yang datang?”
“Aku tak lihat. Semuanya mengenakan kedok. Tapia da yang punya tanda ketua
Cheng-in-pay dan ada yang membawa golok besar milik Hek-to-sian-houw.”
“Lainnya?”
“Aku tak tahu, sungguh tak tahu. Kami ditempatkan di bilik-bilik terpisah. Aduh,
aku tak kuat. Lekas sembuhkan aku. Aku mohon!”
“Penderitaanmu akan berakhir. Bunuh!” perintah si gadis, yang langsung diturut
si nona berpedang. Orang itu tak berkutik lagi. Seperti sudah tahu apa mesti
dilakukan, ia membuka baju mayat itu dan menggoreskan sesuatu di dadanya.
Yuk Lau melotot di tempatnya sembunyi. Kalau bukan dicegah Chun Kian, sudah
tadi-tadi ia keluar mencegah tindakan keji si gadis. Tapi lantaran tak dapat
berbuat apa-apa, ia lantas mendengus saja.
“Siapa itu?” tanya si nona berpedang.
“Hari ini kita tak mengharap kedatangan dua tamu terhormat!” kata dara yang
berkedudukan lebih tinggi. “Kita pergi!” Ditariknya tangan si nona berpedang.
Dalam sekejapan mata saja, bayangan dua gadis itu tidak kelihatan lagi.
Setelah mereka pergi, Chun Kian keluar dari tempatnya bersembunyi.
“Soe-heng, kenapa kau larang aku mengalangi mereka?” tanya Yuk Lau. “Keduanya
begitu keji, menggunakan orang buat berlatih. Tapi aku rasa pernah ketemu dengan
mereka.”
“Terang saja,” sahut Chun Kian. “Salah satunya adalah adik angkatmu!”
“Ching-ching? Tidak! Tak mungkin ia berlaku begitu kejam.”
“Kalau mengingat yang dibunuh adalah partai pengkhianat golongan putih, kurasa
tindakannya dapat diterima.”
“Tapi kenapa dia tak mau ketemu kita?”
“Entah. Barangkali lantaran peristiwa tempo hari. Atau lantaran terlalu sakit
hati. Ah, ia bahkan tak mau kita melihat wajahnya.”
“Aku masih tak percaya.”
“Tak mungkin salah. Ilmu pedang yang kita lihat adalah ilmu Pek-eng-pay jurus
ketiga. Dan cara dia menyambit … Siapa lagi yang punya cara begitu jitu di
daratan Tiong-goan ini?” Miauw Chun Kian menghela napas. “Sudahlah, sebaiknya
kita lanjutkan perjalanan.”
Ching Ching 349
“Soe-heng, apakah tetap ke Pek-eng-pay? Kalau benar nona tadi adalah
Ching-ching, kau tak bakal ketemu sebab ia lari ke utara.”
“Dendamnya begitu besar. Aku mau lihat seberapa banyak yang dilakukan
Kim-gin-siang-coa-pang yang membuatnya menjadi demikian.”
“Baik. Kita berpisah sekarang dan ketemu lagi di sini tanggal dua bulan depat!”
Yuk Lau membelok ke timur. Sebelum pergi, matanya sempat melirik mayat orang
yang telah diukir luka.
Hutang mata bayar mata
Dendam kesumat menagih darah
Yang berkhianat mati bayarannya
Sebuah sajak yang tak dapat dibilang bagus, tapi mencerminkan dendam penyairnya.
Yuk Lau bergidik merasakan kesumat dalam syair itu. Tak sadar kakinya membawa
dia berlari cepat-cepat menjauhi tempat pembantaian tersebut.
Hari-hari berlalu tanpa terasa. Selama itu Ching-ching dan A-ping terus berlatih
tekun sekaligus mencari mereka yang berkawan dengan Kim-gin-siang-coa-pang.
Dengan caranya sendiri, mereka dapat mengetahui siapa-siapa saja yang berkhianat
diam-diam.
Dunia Kang-ouw geger. Terlalu banyak tokoh yang sudah mati. Namun, mereka tak
dapat terlalu menyalahkan, apalagi lantaran yang mati bukan cuma golongan putih
yang licik, tapi kebanyakan adalah anggota partai Kim-gin-siang-coa-pang.
Meski sudah cukup makan korban, Ching-ching dan A-ping belum puas. Tujuan mereka
yang sebenarnya adalah memancing tokoh-tokoh pertai besar itu. Namun, usaha
mereka tampaknya sia-sia.
“A-ping, Pek-eng-kiam-soet sudah kaukuasai lebih sepertiga bagian, selebihnya
boleh kaupelajari sendiri. Beberapa waktu ini aku tak dapat mendampingimu,” kata
Ching-ching suatu ketika.
“Sio-cia mau ke mana?”
“Mencari beberapa jagoan. Kudengar ada tujuh orang jagoan tua yang telah menjadi
antek Kim-gin-siang-coa-pang.”
“Tapi Sio-cia, bukankah itu berbahaya? Izinkanlah budak ikut buat membantu
sewaktu-waktu.”
“Dengan kepandaian kamu sekarang, melindungi diri saja belum cukup. Sudah,
begini saja. Di isni kita pepisahan, bulan depan aku kembali. Kalau kamu dapat
menguasai lebih separto Pek-eng-kiam-sut, kamu boleh ikut.”
“Sio-cia …” Belums empat A-ping meneruskan, Ching-ching telah hilang dari
pandangan. Cuma gema suaranya saja masih kedengaran.
“Sebulan, A-ping, di tempat inI!”
Ching-ching sengaja pergi secara mendadak. Ia tahu A-ping pasti bersikeras ingin
ikut. Dan itulah berbahaya buat dirinya sendiri.
Ching-ching tahu, tanpa bantuannya, A-ping juga akan maju pesat ilmunya. Tak
segan nona itu memberikan buku ilmu pedang kepada pelayannya. Ia sendiri boleh
dikata telah menguasai. Untunglah ia telah memiliki dasar ilmu kelas atas,
sehingga buat mempelajari Pek-eng-kiam-sut tak makan banyak waktu. Hanya saja
buat menjadi mahir, ia mesti banyak berlatih. Ini yang Ching-ching tak sempat.
Padahal, ia telah bersumpah akan menagih hutang jiwa dengan ilmu warisan
keluarga.
Kali ini Ching-ching menuju ke selatan. Ia berniat akan membasmi Sin-chio-pang.
Telah diketahuinya bahwa pang-coe perkumpulan tersebut, Sin-chio-houw, telah
mengadakan kerja sama dengan Kim-gin-siang-coa-pang.
Perjalan ke Sin-chio-pang tak terlalu sukar. Belum sampai seminggu ia telah tiba
Ching Ching 350
di sana. Begitu tiba, tanpa pikir panjang ia memasuki wilayah partai. Ia tak
banyak kuatir sebab Sin-chio-pang bukan perkumpulan besar.
Orang-orang Sin-chio-pang terang tidak senang wilayahnya dimasuki sebarangan.
Baru sampai di pintu gerbang, belasan orang telah mengepung Ching-ching.
“He, Nona, kau telah memasuki wilayah kami. Tahukah, yang masuk ke sini tanpa
izin tak boleh keluar hidup, kecuali membayar upeti,” kata salah seorang
menggertak.
“Mana Sin-chio-houw?” tanya Ching-ching tak peduli.
“Engkau datang dari mana dan siapa namamu? Nanti disampaikan kepada Houw
Pang-coe. Kalau berkenan, ia akan datang menemui.”
“Jangan banyak aturan, suruh dia lekas keluar menemui nonanya!”
“Wah, anak kecil banyak lagak. Dihabisi sajalah!” cetus yang lain.
“Benar, ia berhani menghina Houw Pang-coe. Bunuh saja!”
“Baik, majulah kamu bebareng. Siapa takut?” tantang Ching-ching.
“Bunuh!” seru seorang. Yang lainnya segera mengikut mengeroyok.
Ching-ching cuma mesem saja. Orang-orang ini bukan tandingannya dan ia tak
hendak banyak buang tenaga. Sekali melompat, gadis itus udah lenyap dari hadapan
para pengeroyoknya, yang lantas mencari-cari dengan bingung.
“Rasakan pedangku!” pekik Ching-ching yang mendadak saja sudah berada di
belakang. Pedangnya berkelebat cepat. Seketika semua pengeroyoknya roboh dengan
jantung bolong terkoyak pedang. Hanya satu yang disisakan hidup. Ching-ching
membiarkannya lari supaya memanggil Sin-chio-houw keluar.
Benar saja, tak berapa lama Ching-ching menanti, dari dalam keluar belasan orang
yang lantar berbaris membentuk pagar di kiri-kanan. Menyusul seorang laki-laki
berwajah sangar dengan tongkat panjang keluar pula dengan sikap jumawa.
“Siapa berani menantang aku, keluar!” bentak orang sangar itu. Melihat cuma
seorang gadis muda yang ada di pelataran, serta-merta ia melecehkan. “Haha! Anak
kemarin sore, namaku kau belum tahu, kau sudah berani menantang?”
“Namamu aku tak mau tahu. Sampai di mana kau punya ilmu, itu yang mau kulihat!”
“Kau minta pengajaran? Boleh!”
“Kau yang kuberi pelajaran!” Ching-ching melompat maju, bersiaga.
“Aku Sin-chio-houw Chen Cie pantang dihina. Nona cilik, hari ini kau mesti
mati!” Sin-chio-houw memutar tombaknya yang panjang, menimbulkan bunyi kesiuran
angin berpusing.
Melihat ini saja Ching-ching sudah tahu kekuatan orang. Ia masih menang dalam
segalanya, cuma mesti menghitung jarak antara senjata.
“Majulah bocah!” bentak Sin-chio-houw.
Ching-ching memiringkan badan, mencari kelemahan lawan. Tombak Sin-chio-houw
memang berputar melindungi sang ketua yang enggan menyerang duluan menghadapi
orang muda. Namun, dara di hadapannya bukan orang muda sebarangan. Ia telah
menguasai ilmu tingkat tinggi dan, meski terbatas, sudah punya sedikit
pengalaman. Mata si nona yang awas telah melihat satu celah di antara perputaran
tombak. Satu celah yang selalu terulang di tempat yang sama. Celah kematian bagi
Sin-chio-houw!
Ching-ching membentak sekali, kemudian sembari mengacungkan pedang ia maju
merangsek ke arah lawannya. Sin-chio-houw tersenyum. Gadis nekad ini akan segera
mati! Tapi ia keliru sebab pada saat yang berikut, ketua Sin-chio-pang itu
merasakan benda dingin membeset kening, kemudian dirasanya pedih di tempat yang
sama. Mendadak pandangannya gelap, matanya rapat, lantaran cairan kental yang
telah membasahi mukanya.
Ching Ching 351
“Belum sejurus kau sudah keok, mau berlagak hendak mengajariku?” ejek
Ching-ching.
“Ampun, Siauw-lie-hiap! Mataku buta, tak kenal gunung Thay-san di depan sehingga
bertindak lancang. Harap Lie-hiap sudi mengampuni!”
“Asal kau menjawab satu-dua pertanyaanku, aku akan pertimbangkan buat ampuni
kamu!”
“Lie-hiap silakan tanya. Asal tahu ajwabannya, pasti kuberitahukan tuntas.”
“Aku tahu kau diam-diam jadi antek Kim-gin-siang-coa-pang dan datang ke
perjamuannya tempo hari. Nah, pada waktu pergi ke sana, kau bertemu dengan siapa
saja?!”
“Aku … aku tak ingat,” Sin-chio-houw mengelak.
“Kalau kulintangkan pedangku di depan lehermu begini, barangkali kau ingat?”
“Aw, ampun! Ya, aku melihat Chen Sen dari Cheng-in-pay dan Yuen Pan dar
Kwie-to-pay.”
“Mereka sudah mati! Siapa lagi yang kaulihat dan yang kautahu menjadi antek
partai terkutuk itu?”
“Dari undangan aku cuma tahu mereka itu saja.”
“Ada yang lainnya? Apakah tujuh jagoan tua yang dikabarkan datang juga hadir?”
“Ya, sepasang pendekar Goat-seng-siang-mo-ko dan dua orang hoat-ceng yang aneh
dandanannya.”
“Dua hoat-ceng? Siapa?”
“Namanya tidak tahu, tapi kabarnya mereka mendirikan tempat sembahyangan dekat
kota Kong-an buat menyebarkan agama mereka.”
“Sudah ini giliran mereka. Tapi mula-mula kau dulu kubereskan!”
“Ampun, Lie-hiap, jangan bunuh. Apa yang Lie-hiap mau, akan saya beri. Bahkan
kalau Lie-hiap mau jadi ketua di sini, ini tanda ketua.”
“Mari sinikan! Kau tak pantas jadi ketua. Tidak malu kau merengek sementara anak
buahmu menonton. Kau pantas mati. Biar bagaimanapun mereka yang jadi antek
Kim-gin-siang-coa-pang harus mati. Tapi jangan kuatir, ini akan cepat. Kau tak
akan sempat merasa sakit!”
Habis berkata, Ching-ching mengebaskan pedangnya kembali ke sarung. Terdengar
suara pekik tertahan dari kerongkongan Sin-chio-houw dan hampir seketika itu
juga, lepaslah jiwanya dari badan.
“Pang-coe!!” serentak anak buah Sin-chio-houw yang tadi tak berani berkutik
datang mendekat dengan panik.
“Diam di mana kamu berdiri!” bentak Ching-ching menghentikan semua gerakan.
“Pang-coe, pang-coe. Siapa pang-coe? Tanda ketua ada padaku. Dia itu sudah jadi
mayat!” Dengan galaknya gadis itu memandang berkeliling. Semuanya yang adu mata
segera menunduk, kecuali satu orang. Seorang muda umur dua puluhan yang
memandangnya dengan dendam.
“Kamu lihat apa?” bentak Ching-ching.
“Kau perempuan jahat, kau yang membunuh Pang-coe!”
“Dia bersalah lantaran berkhianat, sudah semestinya mati!”
“Dia sudah mohon ampun.”
“Tak ada ampun buat penjahat! Eh, kamu melotot?! Mau balas dendam? Majulah!”
“Aku tak ada kemampuan, tapi aku tak takut mati. Ayo!”
“Heh, aku tak mau bunuh yang tak ada dosa. Ini, kuserahkan tanda ketua padamu.
Kalau kamu mau balas dendam, carilah aku. Tapi, dari sekarang kuingatkan. Jangan
hubungan sama Kim-gin-siang-coa-pang sebab nanti sebelum balas dendam, kau mati
duluan!”
Ching Ching 352
Pemuda yang memegang tanda itu berdiri kebingungan. Terlebih lagi gadis muda
yang berbicara barusan telah menghilang mendului suaranya.
Ching-ching menuju Kong-an secepat-cepatnya. Ia ingin segera membereskan dua
hoat-ceng yang disebut oleh Sin-chio-houw. Rupanya keberuntungan ada di
pihaknya. Baru separuh jalan, ia sudah ketemu jejak dua pendeta itu.
Ketika itu Ching-ching sedang megnaso di atas dahan sebuah pohon yang rimbun
daunnya. Ia dapat melihat ke mana-mana, tapi orang yang lewat tak dapat lihat
padanya.
Hampir saja si nona ketiduran, apalagi hari begitu panas, sedangkan angin
bertiup sepoi. Sekonyong-konyong muncul satu iring-iringan dengan dua ekor kuda
putih berjalan paling depan. Di punggung kuda yang seekor duduk seorang pendeta
mengenakan jubah bertopi, merah dan kuning. Di kuda yang satu lagi duduk seorang
pemuda cakap dengan paras dingin. Ia duduk tegak tak bergerak di atas punggung
kudanya.
Dua kuda itu diiringi lagi oleh dua barisan pendeta yang jubahnya mirip dengan
si pendeta di depan, tapi warnanya kuning dan biru. Mereka membawa keliningan
yang digoyang sepanjang jalan. Di tengah-tengah terdapat tandu kuning-hitam
warnanya yang digotong empat orang. Di belakang tandu itu masih ada sebagian
yang lain membawa ceng-ceng, yakni semacam piringan logam yang sepasang. Alat
itu dibunyikan dengan cara diadu dan mengularkan suara yang sangat berisik.
Melihat semuanya, Ching-ching menyangka inilah rombongan salah satu hoat-ceng
yang dicari. Tanpa banyak pikir, ia lantas melompat menghadang, mengagetkan dua
kuda yang di depan sampai meringkik, berdiri di atas dua kaki. Untung mereka
yang di punggungnya sudah pandai mengendarai sehingga tak sampai jatuh.
“Siapa berani mengalangi perjalanan Pandita Agung!”
Bebareng dengan bentakan itu, si pemuda meloncat turun dari kudanya dan mencoba
mencekal tangan si nona. Ching-ching berkelit dan mendorong dengan sebelah
tangannya. Si pemuda lantas saja terhuyung beberapa tindak. Sesudah tegak badan,
ia merangsek pula. Di lain saat, pendeta yang membawa keliningan sudah mengurung
Ching-ching dalam bentuk segi tiga. Mereka mengawasi si nona tanpa berkata,
serentak pula keliningan di tangannya tak bersuara. Ching-ching tahu, tentulah
mereka memakai tenaga dalam buat membikin bungkam keliningan masing-masing.
“Perempuan jahat, besar nyalimua berani mengganggu perjalanan Pandita Agung!
Hayo mohon maaf!”
“Yang mana itu namanya Pandita Agung? Hayo kasi aku lihat!” kata Ching-ching.
Merasa pimpinannya dihina, para pendeta itu jadi marah. Mereka mulai membunyikan
kerincingan sembari maju setapak demi setapak mendekati si nona.
“Kamu sungguh membikin berisik, mengganggu ketenangan orang!” Ching-ching
berjongkok memungut segenggam kerikil dan melempar pada keliningan para pendeta
itu. Akibatnya, keliningan berhenti berbunyi dan tangan para pendeta itu
kesemutan tak bisa digerakkan.
“Nona, harap sopan. Kami tak ada urusan denganmu, kenapa kau bikin perkara?”
“Kalau aku mau cari persoalan, lantas kau mau apa?” Ching-ching balas membentak
si pemuda.
Pemuda itu hendak berkata sesuatu, mendadak satu bayangan melompat antara dia
dan Ching-ching. Ternyata dia adalah pendeta yang tadi di atas kuda. “Haha,
Siauw-mo-lie, tak dinyana kita ketemu di sini!” tawanya.
“Aku tak rasa pernah bertemu dengan kau, kenapa kaupanggil aku begitu?” tanya
Ching-ching.
“Kau tak ingat aku? Tapi aku ingat tampangmu sampai mati pun!” Si pendeta
Ching Ching 353
merenggut kudung kepalanya, memperlihatkan kepala yang botak licin. Namun, ada
empat huruf di kepalanya yang lantas diperlihatkan pada Ching-ching, yakni huruf
See-chong-sa-kwa.
Seketika Ching-ching teringat lagi pendeta asing yang ditemuinya bertahun lalu
di rumah keluarga Kwan. “Ah, See-chong-sa-kwa, begitu senang kau akan hadiah
pemberianku sampai tak usaha menghilangkannya.”
“Menghilangkan bagaimana? Seumpama kulit kepalaku dibeset, tulisan ini belum
tentu hilang.”
“Mau tahu? Lepaskan kepalamu, tak usah dibawa-bawa ke mana-mana.”
“Dilepaskan? Sama saja aku mati.”
“Sekalinya goblok memang tetap saja coglok. Memang itu yang aku maksud,”
Ching-ching tertawa geli.
“Kau tertawa sekarang yang puas sebab sebentar lagi tak dapat kau tertawa.”
“Oh? Kenapa begitu?”
“Sebab kepalamu akan turun ke tanah!”
“Siapa mau turunkan kepalaku?” Ching-ching masih saja tertawa.
“Soe-teeku inilah!” See-chong-shak-wa menunjuk si pemuda. “Soe-tee, keinginanmu
balas dendam terwujudlah sekarang. Iblis wanita inilah yang telah membunuh ayah
dan adikmu!”
“Sa-kwa, siapa dia? Apa urusanku dengannya?”
“Namaku See-chong-shak-wa!” pendeta itu mencak-mencak. “Tak dapatkah kau
menyebutnya betul?”
“Sebodoh! Siapa orang ini?”
“Aku perkenalkan diriku sendiri. Namaku Hai Chong, sedangkan margaku Tan. Apakah
mengingatkan kau pada sesuatu?”
“Hubungan apa kau dengan Tan Piauw-soe dan anaknya, si Hai Bun?”
“Aku anak keluarga Tan yang sulung!”
“Oh, rupanya kau itu. Baiklah, kau boleh bereskan kaup unya urusan belakangan.
Sekarang ini kau ada lain urusan. See-chong-sa-kwa, apakah sekte kamu yang
adakan hubungan dengan Kim-gin-siang-coa-pang?”
“Kamu maua dakan hubungan dengan siapa, itu bukan urusanmu!”
“Aku sudah tunggu terlalu lama. Urusan kita mesti selesai dulu!” kata Tan Hai
Chong tak sabar.
“Berhubung kamu juga nggota sekte, baik aku tanyakan, apakah kalian ada hubungan
dengan Kim-gin-siang-coa-pang?”
“Memang. Lantas kau mau apa?”
“Kalau gitu, kamu semua adalah penganut agama sesat, mesti dihabisi!” kata
Ching-ching galak.
“Kau membunuh keluargaku, menghalangi perjalanan Pandita Agung, dan sekarang
menghina sekte kami. Demi Budha Hidup, kau tak dapat diampuni!” si pemuda she
Tan mengeluarkan golok yang dicabut dari punggungnya.
“Baiklah, sekarang atau nanti, toh segala urusan antara kita mesti beres.”
Ching-ching mencabut pedangnya sendiri. “Kau majulah!”
“Lihat senjata!” seru Tan Hai Chong memperingatkan. Habis berkata, ia segera
menyerang pula. Pemuda itu mengarahkan goloknya ke kepala Ching-ching, namun
bacokannya cuma mengenai angin sementara yang diarah tanpa diketahui telah
berada di belakang Tan Hai Chong.
Ching-ching tertawa. Ia memulai serangannya yang pertama. Hai Chong menangkis
tebasan si nona dan mencoba membalas dengan menyabet ke pinggang. Sayang,
lagi-lagi serangannya mengenai angin.
Ching Ching 354
“Rasa-rasanya golok besar itu terlalu berat buatmu sehingga kau tak dapat
bergerak lincah. Kenapa tidak kau buang saja dan ganti yang lebih enteng?” ejek
Ching-ching.
Tan Hai Chong tidak pedulikan kata-kata si nona. Ia terus menyerang lagi dengan
berapi-api.
Ching-ching memandang sepi serangan orang. Sayang, ini adalah kesalahan yang
hampir mencelakakan jiwanya. Secara mendadak sekali Tan Hai Bun melompat tinggi,
badannya memuntir di udara. Ching-ching terkesima melihat gerakan tak terduga.
Selagi si nona lengah, Hai Chong maju menebas dengan goloknya.
Untung Ching-ching menang pengalaman. Ia mengangkat pedang melindungi badan.
Lelatu api memercik ketika dua senjata beradu. Seketika itu pula si pemuda she
Tan terlontar mundur, tapi Ching-ching juga undur terjungkal.
“Hihi, Siauw-mo-lie, tak dinyata berapa tahun tak ketemu, ilmumu bukannya
mendapat kemajuan, malahan turun beberapa tingkat. Menghadapi soe-teeku yang
belum lima tahun berlatih saja, kau kalah?” dari pinggiran si Ayam Jago dari
Tibet terkikik geli.
Ching-ching sendiri kaget. Biasanya sekali melihat, ia sudah dapat mengukur
kemampuan orang. Dibanding dengan dirinya sendiri, Tan Hai Chong bukan apa-apa
meski ia sendiri mesti mengakui, pemuda she Tan ini memang memiliki bakat luar
biasa. Apalagi ditambah perasaan dendamnya, semakin hebatlah ia.
Sejenak si nona terpekur.T api detik berikut ia sudah menyadari apa yang tidak
betul. Pertama adalah ia terlalu menganggap sepi orang lain, lalu ia melupakan
bahwa ilmu si pemuda berasal dari luar daratan Tiong-goan. Perubahan gerakannya
tidak seperti ilmu silat biasa dan ia sendiri melawan dengan Pek-eng-kiam-sut,
baik dalam bernapas ataupun dalam bergerak. Ilmu tersebut, meski cukup tangguh,
bukanlah ilmu kelas satu yang dapat diandalkan secara penuh, terutama menghadapi
lawan berat.
“Siauw-mo-lie, kenapa bengong? Apakah gentar? See-cong-shak-wa mengejek lagi.
Ching-ching melirik tajam. Dulu, setan gundul itu pernah dihajarnya habis,
sekarang menghadapi adiknya seperguruan, manakah mungkin tak sanggup? Ia
mengalihkan pandangan pada si pemuda. “Sambutlah!” serunya.
Ching-ching maju sembari memutar pedang. Kali ini pendatang-pendatang Tibet itu
yang menjadi kagum. Setelah mengempos semangat, gampang saja Ching-ching
meladeni Tan Hai Chong sampai lewat sepuluh jurus. Meski gerakan si pemuda gesit
dan tak gampang diduga, setelah lewat sekian lama, ia nampak mulai terdesak.
See-chong-shak-wa melihat ini. Mau tak mau ia menguatiri juga keadaan adik
seperguruannya. Namun, tak dapat ia membantu terang-terangan, nanti soe-teenya
merasa diremehkan.
“Soe-tee, aku juga ada dendam dengan iblis ini. Harap kau tak keberatan aku
membereskan sedikit urusan,” akhirnya si pendeta gundul berkata begitu Hai Bun
dalam keadaan tak dapat membalas selain melindungi diri.
Tergetar juga hatinya si nona waktu See-chong-shak-wa lompat ke antara dia dan
Hai Bun. Menghadapi si pemuda sendirian ia masih sanggup, tapi kalau berdua?
Namun, Ching-ching tak kasih unjuk perasaan. Ia cuma mesem saja sembari terus
menyerang.
Tapi See-chong-shak-wa tak boleh juga dipandang enteng. Dengan semacam lonceng
di tangan kiri dan sebuah pisau si pendeta menyerang bertubi-tubi, Ching-ching
tak ada sempat membalas lagi. Ia putar pedang melindungi diri. Kaget juga si
nona melihat kemajuan yang dicapai si pendeta tahun belakangan. Mendengar suara
loncengnya yang bikin pekak telinga, tentulah tenaga dalamnya sudah maju
Ching Ching 355
beberapa tingkat. Dan pisau di tangannya juga gesit bergerak. Apalagi, ia
dibantu Tan Hai Chong, maka Ching-ching hampir tak dapat maju.
Tapi, sementara melindungi diri, ia tetap awas mencari kelengahan lawan. Susah
juga, bila yang satu mundur, yang lain datang. Ia mana punya tempo? Tapi ketika
yang ditunggu tiba sewaktu Hai Chong dan soe-hengnya menyerang hampir bersamaan,
yang berarti secara bersamaan pula menarik serangan buat disusul yang berikut.
Selagi keduanya menarik diri itulah mendadak Ching-ching melompat ke sebelah Hai
Chong. Ia mengitari badan si pemuda mendekati See-chong-shak-wa, mengitar lagi
lalu menendang kepala gundulnya menjadi tolakan buat poksai di udara untuk
kemudian mendarat dengan dua kaki.
Si pendeta dan soe-teenya sama meringis. Ternyata di lengan mereka telah
terdapat satu goresan memanjang.
“Ilmu siluman apa yang kaugunakan?” bentak See-chong-shak-wa yang tidak
menyadari kapan mendapat luka.
“Jurus Jiauw-san-coan-in (Mengitari gunung menebas mega), bukannya ilmu
siluman,” Ching-ching tertawa.
Hai Chong tak banyak bicara. Belum habis gelak si nona, ia telah maju lagi
dengan sepenuh tenaga. Soe-hengnya juga tak lama-lama, ia maju membantu.
Sayangnya, Ching-ching tak gampang dikalahkan. Meski peluh mulai membasahi
keningnya, ia masih tenang menghadapi lawannya.
Mendadak si Pendeta Gundul menyadari, cara begini, meski dapat menang dari si
nona, pastilah makan waktu dan tenaga tidak sedikit. Ia berdua boleh dikata
berimbang dengan si nona. Kalau mau lekas selesai, mestilah memakai cara
berbeda.
See-chong-shak-wa mundur dari gelanggang. Ia berdiri saja di pinggiran sambil
membunyikan keliningan.
“Sa-kwa, kau lagi sembahyang supaya nanti rohmu naik ke langit?” Di antara
menyerang, Ching-ching masih sempat menggoda orang.
Tapi yang diajak bercakap tidak menggubris. Ia terus saja menggoyang lonceng.
Makin lama makinc epat dan semakin keras. Keliningan itu mengeluarkan suara
berlagu tidak karuan. Ching-ching sungguh merasa terganggu suara itu.
Tindakannya jadi banyak melenceng. Sebaliknya, Tan Hai Chong yang malah jadi
bersemangat. Mulai pula ia menyanyi dengan bahasa yang susah dimengerti oleh
Ching-ching. Gadis itu mendelik saking heran. Lebih-lebih tindakan Hai Chong
jadi ngawur, tetapi sungguh dahsyat.
“Edan!” tak sadar berseru si nona. Tadi menuduh orang pakai ilmu siluman,
sendirinya panggil hantu dan kesurupan! Makinya dalam hati.
Gadis itu lekas bersiasat. Hai Chong jadi bersemangat semenjak kelingingan
berbunyi. Jadi, pertam-tama ia mesti menghancurkan itu lonceng.
Mana tahu selagi Ching-ching mencari kesempatan, si pemuda she Tan malah melihat
kelemahan orang. Diangkatnya golok hendak menebas leher orang!
Ching-ching merasakan kesiuran angin dingin menerpa, mengancam jiwa. Lekas ia
mengalihkan perhatian pada See-chong-shak-wa dan angkat pedang guna menangkis
sembari menarik badan ke belakang.
Terdengar suara besi diadu, lelatu api memercik membutakan pandangan buat
sesaat. Saat berikutnya,s epotong besi terpental ke tanah. Si nona merasa
pedangnya menjadi terlebih enteng. Seketika ia sadar apa yang terjadi. Pedangnya
telah kutung, tinggal tersisa gagang.
“Pedangku!” teriaknya. “Pedang dari Yin Cie-cie. Peninggalan satu-satunya. Kau
harus ganti dengan nyawamu!”
Ching Ching 356
Hai Chong sedang memegang golok, mana dengar ancaman orang. Sekali lagi ia
bertindak menebas. Kali ini Ching-ching tidak menghindar, malah maju dan memukul
sepenuh tenaga. Terasa kesiuran angin pukulannya dahsyat memapaki golok dan
malah membuat baja berat itu hampior-hampir melukai tuannya sendiri.
See-chong-shak-wa lekas maju menolongi soe-teenya. Ditangkapnya lengan Tan Hai
Chong merebut golok. Pemuda itu selamat dari golok, namun abang-adik seperguruan
itu tak selamat dari hawa pukulan Ching-chin gyang membuat mereka terjengkang di
tanah.
Begitu terjatuh, See-chong-shak-wa telah bersiap. Sebelum Ching-ching mengirim
serangan berikut, ia telah lebih dulu melempar segenggam tanah ke muka orang.
Selagi si nona mengebaskan tangan mengusir debu, ia lekas menggunakan ketika
buat bangkit bersama soe-teenya. Bebareng mereka menyerang si nona yang nampak
belum siap.
Keduanya keliru. Dalam keadaan marah, Ching-ching selalu siap membalas. Belum
lagi sampais erangan orang, si nona lebih dulu mengirim pukulan susul-menyusul
seperti air mengalir tanpa henti.
Baik See-chong-shak-wa maupun Tan Hai Chong tak dapat menghindari satu pun dari
semua pukulan itu. Dalam sesaat mereka telah babak belur. Tan Hai Chong malahan
telah memuntahkan darah segar dari mulut.
“Ban-hoa-lian-hoan-ciang sungguh bukan sebarang pukulan!” Satu bayangan kuning
melompat keluar dari tandu, membuat Ching-ching menunda niat menghabisi si
pendeta gundul.
Pendeta biru dengan sikap agung melayang pelan ke hadapan Ching-ching. “Ternyata
benar kau!” si pendeta agung itu terkejut melihat siapa di hadapannya.
Ching-ching menjura, sekadar pura-pura. “Kita belum pernah bertemu, bagaimana
dapat engkau mengenali aku dan juga jurus yang kugunakan?”
Si Pendeta balas menjura dengan sikap tunduk dan separo sungkan.
“Sat-kauw-sian-lie, harap kauampuni sikapku dan kedua muridku yang lancang
padamu!”
Begitu mendengar orang menyebut julukan, Ching-ching lantas mengerti. “Yang
Agung salah mengenali orang. Tapi kalau boleh aku menanya, hubungan apa antara
ibuku denganmu?”
“Kiranya engkau adalah putri dari beliau. Ah, tapi Kouw-nio sungguh mirip dengan
sang Bidadari Pembasmi Anjing yang gagah. Bukan salah mataku keliru orang.”
“Lalu, perhubunganmu dengan …”
“Kami boleh dikata berkawan. Oh ya, di mana ibumu? Apakah ia ikut bersama
engkau?”
“Tidak. Ibu telah pergi ke langit barat.”
Sejenak si Pendeta terbengong-bengong. Ia tak paham istilah yang menyatakans
eseorang telah meninggal. Namun, dua muridnya yang telah bangkit berdiri
membisikkan pengertian itu kepadanya.
Si Pendeta Biru manggut-manggut, membuat peci tinggi di kepalanya
bergoyang-goyang seperti mau jatuh. Namun, sementara ia menyatakan duka cita,
segala sikap sungkannya lenyap.
Ching-ching menerima pernyataan itu dengan hromat meski dia masih berwaspada
lantara sekte itu adalah antek Kim-gin-siang-coa-pang. “Pandita, aku tak biasa
berbasa-basi. Kedatanganku kemari sengaja hendak mengusut, apakah benar kamu
orang menjadi kaki tangan Kim-gin-siang-coa-pang. Muridmu telah mengaku.
Bagaimana penjelasanmu sendiri?”
“Memang kami melakukan kerja sama untuk memperluas ajaran Sang Buddha. Sayang,
Ching Ching 357
sebelumnya kami tak mengetahui adanya permusuhan antara mereka dengan putri
Sat-kauw-sian-lie.”
“Apakah kamu orang tidak mencari tahu dulu partai macam apa
Kim-gin-siang-coa-pang.”
“Berita yang kami dengar semuanya baik. Kiranya kami kena ditipu orang.”
“Kalau begitu, Pandita Agung, memandang mukaku dan ibuku, bolehkah kau putuskan
hubungan dengan mereka? Aku tak hendak bermusuhan dengan kawan lama ibuku,
tetapi kalau keadaan memaksa ….”
“Oh, jangan salah sangka. Kawan Sat-kauw-sian-lie adalah kawanku juga, dan
musuhnya adalah musuhku. Kouw-nio adalah putrinya, dapat juga menggantikan
kedudukan Sian-lie di hatiku, jikalau Kouw-nio sudi berkawan denganku yang sudah
tua.”
“Tentu saja. Semua kawan ibuku mesti pula kuhormati sebagai tetua. Terimalah
salam hormat dari Lie Mei Ching!” Ching-ching melakukan basa-basi peradatan.
“Jangan sungkan! Jangan sungkat!” kata si Pendeta. “Semestinyalah aku yang
bangga mengenali Sat-kauw-sian-lie ibu dan anak. Apalagi putrinya kini mewarisi
kegagahan dan jiwa yang luhur. Kouw-nio, menurut berit dalam, itu partai terjadi
kekacauan. Pengikutnya banyak yang tewas. Andaikata itu adalah perbuatanmu, aku
sungguh mengagumi.”
“Memang,” kata Ching-ching tersiup. Ia risih terus-terusan mendapat pujian. “Aku
mau semua yang bersekongkol dengan musuhku mati. Semua harus mati, tanpa
kecuali.”
“Sungguh suatu tindakan yang berani. Betul-betul seperti Sat-kauw-sian-lie
bertahun lalu.” Si Pendeta mengacungkan jembol, untuk kemudian menarik napas
panjang. “Sayang, beliau keburu pergi sebelum aku sempat memenuhi janji mengasi
lihat pusaka negeri kami.”
“Pusaka apa?” tanya Ching-ching. “Maafkan, aku terlalu lancang.”
“Tak apa. Tak ibunya melihat, putrinya toh dapat mewakili.” Pendeta itu
mengeluarkan sesuatu dari lengan bajunya yang amat lebar. “Inilah kotak mestika
kami.”
“Kecil betul.” Ching-ching mengamati kotak segienam yang mungil itu. seperti
anak-anak, rasa ingin tahunya segera muncul dan lantas ia merengek pada si
Pendeta. “Apa isinya? Boleh dilihat?”
“Silakanlah!”
Dengan rasa ingin tahu, si Nona membuka itu kotak pelan-pelan. Apa isinya? Ia
bertanya-tanya. Mutiara? Batu giok? Berlian?
Kotak terbuka lebar. Segulung asap segera menyambar wajah Ching-ching. Sebelum
si nona sadar apa yang terjadi, badannya telah lemas dan limbung, jatuh ke
tanah!
Lie Wei Ming tengah mengawasi latihan da muridnya, In Sioe Ing dan Chia Wu Fei.
Terutama muridnya Wu Fei itu, yang baru saja berlatih setelah sekian lama tak
berdaya. Di samping sang guru besar, berdiri Tabib Yuk turut mengawasi.
In Sioe Ing menunjukkan kemajuan besar. Lie Wei Ming tampak puas. Namun, tidak
demikian dengan Wu Fei. Pemuda itu banyak berbuat kesalahan, meski dalam
jurus-jurus yang pernah ia kuasai sekalipun.
“Cukuplah!” terdengar suara Lie Wei Ming. “A-fei, tak ada gunanya kau berlatih
kalau tidak memusatkan perhatianmu.”
Chia Wu Fei menyarungkan pedang. Ia tak menyahuti ucapan gurunya.
“Mana semangat kamu? Percuma latihan kalau kau tak ada semangat dan kemauan.
Apakah kau suka menjadi orang bercacad selamany?”
Ching Ching 358
“Memang aku murid tiada guna!” Wu Fei melempar pedangnya ke tanah. “Angkat
senjata juga tak becus. Buat apa aku susah payah belajar? Melindungi diri
sendiri juga tak sanggup, malah membawa siap kepada orang yang menyelamatkanku!”
Habis berkata, dengan langkah yang menunjukkan kegusaran, pemuda itu pergi
meninggalkan semua tanpa berpamitan.
“Soe-tee!” In Sioe Ing menegur. Ia hendak mengejar, namun dihalangi oleh Tabib
Yuk.
“Biarlah dia sendirian dulu barang sebentar. Kurasa kita terlalu cepat memaksa
dia berlatih. Kesehatan dan tenaganya belum pulih betul. Bukan kesalahannya kalu
tidak sempurna memainkan senjata.”
“Kemarin-kemarin justru dia yang minta dilatih buru-buru supaya dapat lekas
keluar dari sini. Kenapa sekarang justru tak ada semangat?” Lie Wei Ming
mengerutkan alis. “Dan sikapnya tadi, tak dapat dibilang sopan!”
“Sioe Ing, kau tahu sesuatu?” Melihat roman muka In Sioe Ing, Tabib Yuk lantas
menanya sebab.
“Soe-tee jadi begitu semenjak mendengar kabar dari kalangan Kangouw yang
menyebutkan seorang nona banyak membantai orang-orang persilatan dengan kejam.
Menilik berita, kami menduga si nona tak lain adalah Ching-ching yang membalas
dendam keluarga pada sebarang orang. Soe-tee tak habis menyalahkan diri sendiri.
dalam pikirnya, andaikata Ching-ching tak diusir, ia tak akan menjadi sedemikian
gegabah!”
“Rupanya begitu!”
Sejenak ketiga orang itu termenung. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri,
namun tak hendak mengutarakannya pada orang lain. Keheningan di situ buyar oleh
datangnya seorang murid membawa kabar.
“Soe-hoe, Toa-soe-heng telah datang.”
Baru saja kata habis diucapkan, telah muncul pula Miauw Chun Kian ke hadapan
mereka. Romannya tidak mengunjuk kegembiraan. Mestilah kabar yang dibawanya
bukan kabar yang baik.
“Soe-hoe, Soe-siok,” Miauw Chun Kian menghormat.
“A-kian, kau baru saja datang. Mengasolah dulu, setelah itu baru menghadap.”
“Tee-coe tidak sebegitu lelah. Di samping itu juga, ada satu berita yang mesti
disampaikan segera.”
“Di sini tak ada orang luar. Kau boleh katakans egera,” kata gurunya. “Tapi,
mana Yuk Lau?”
“Soe-tee sekarang ini berada di Ban-tok-lim bersama-sama dengan Wang Kong-coe
dan Thio Kouw-nio serta Khoe Kouw-nio.”
“Engkah dari sana? Bagaimana keadaan Khoe Kouw-nio? Apakah masih berduka?”
“Telah lewat 100 hari, masa berkabung sudah lewat. Akan tetapi, ia masih berat
meninggalkan tempat yang telah rata dengan tanah itu.”
Lie Wei Ming manggut-manggut. Di kalangan pesilat, satu berita lekas tersebar.
Kabar mengenai musnahnya Ban-tok-pang juga telah sampai. “Dan bagaimana keadaan
Ching— Pek-eng-pay?”
“Tak jauh beda. Sewaktu tiba, Tee-coe cuma menemukan beratus kuburan. Rumah
keluarga Lie telah habis dimakan api.”
“Ching-ching bagaimana?” Tabib Yuk tak sabar hendak mendengar kabar mengenai
cucu angkatnya.
“Di peerjalanan Tee-coe bertemu dengan dua gadis yang mmengenakan baju berkabung
serta menggunakan pula Pek-eng-kiam-soet.” Miau Chun Kian lantas menceritakan
pengalamannya.
Ching Ching 359
“Untunglah kalau dia selamat!” kata Tabib Yuk setelah mendengar seluruh cerita.
“Akan tetapi, kau tidak melihat wajahnya?” Lie Wei Ming menegaskan.
“Dari suara dan gerak-geriknya, Tee-coe hampir yakin itulah dia. Akan tetapi,
dari perbuatannya….”
“Baiklah. Semuanya sudah kudengar. Kau istirahatlah. Setelah segar nanti, aku
hendak membicarakan sesuatu.”
“Soe-hoe, ada satu hal lagi. Tee-coe sempat mendengar mengenai pertemuan
pendekar di Tempat dua-tiga bulan mendatang. Seluruh partai golongan putih
diharap datang buat membicarakan cara membasmi Kim-gin-siang-coa-pang yang mulai
bertindak kelewat batas.”
“Soal ini juga sudah sampai. Itu pula yang akan kita bincangkan nanti.”
“Kalau begitu, baiklah Tee-coe mohon diri.” Miauw Chun Kian pamit.
“Tee-coe juga hendak undur,” kata Sioe Ing.
Kedua saudara seperguruan itu kemudian beriringan pergi. Sioe Ing sengaja ikut
mohon diri untuk mengadu kepada soe-hengnya mengenai Wu Fei. Namun, yang pertama
kali ditanyakan tentulah mengenai Wang Lie Hay.
“Ia baik. Thio Kouw-nio dan Khoe Kouw-nio mengurusnya dengan baik. Ah, tidak.
Sebenarnya dia itu yang mengurus Khoe Kouw-nio dengan telaten.”
“Khoe Kouw-nio? Kusangka Hai-ko lebih perhatian kepada Thio Lan Fung?”
“Soal begitu aku tak mengerti. Tapi anehnya, sikap Khoe Yin Hung begitu berubah.
Kerjanya seharian cuma sembahyang ke pusara neneknya dan berlatih pedang. Lupa
makan, lupa tidur, kalau saja tak diingatkan Wang Lie Hay. Herannya lagi, semasa
aku di sana, Khoe Kouw-nio tampak segan bertemu Wang Kong-coe.”
“Kenapa begitu? Apakah lantaran terlalu terpukul?”
“Bisa jadi. Tapi kau mesti bergirang buat soe-hengmu, sebab kini Khoe Kouw-nio
lebih memperhatikan dia ketimbang kepada Wang Kong-coe.”
“Itu bagus. Pantas saja Sam-soe-heng enggan pulang.”
“Bagaimana kabarnya di sini? Siauw-soe-tee apakah sudah lebih baik?”
“Justru itu yang membuatku berkuatir. Semangatnya mendadak terbang entah ke mana
berapa hari ini. Kuharapkan Soe-heng dapat menasihati dia. Aku sendiri tak
sanggup. Tapi, baiknya Soe-heng beristirahatlah dulu. Soe-tee tak akan bertindak
terlalu jauh.”
“Lebih baik—“
“Soe-siok yang bilang supaya membiarkan dulu beberapa lama.”
Chun Kian tak membantah lagi. Apa pula badannya sudah penat, maka ia pergilah
beristirahat.
Di lain tempat, Khoe Yin Hung tengah tekun berlatih. Yuk Lau menemani, sedangkan
Wang Liw Hay cuma mengawasi dari kejauhan. Ia bukan tak tahu kalau si pemuda she
Yuk menaruh hati kepada Khoe Yin Hung. Dan tampaknya kini Khoe Yin Hung juga
mulai menyukai Yuk Lau.
Semestinya Wang Lie Hay merasa gembira. Kini gadis-gadis yang sering meminta
perhatiannya berkurang lagi. Namun, dalam hatinya ia ada merasa kehilangan juga.
Ada sedikit rasa tak suka melihat akrabnya Yuk Lau dengan Yin Hung.
“Kau lihat apa?” mendadak saja Thio Lan Fung telah berdiri di hadapannya.
“Apakah sepasang manusia di sana? Tak usah mengiri. Bukankah masih ada aku di
sini? Selama ada aku, kau tak akan kesepian.”
“Aku tidak mengiri,” Wang Lie Hay tertawa.
“Lebih bagus kalau kau mengiri. Sudahlah, biarkan kedua orang itu. mari kita
jalan-jalan. Sayang kalu hari cerah ini dilewatkan di dalam rumah.”
Akan tetapi, pasangan itu tetap saja tak sempat berdua-dua. Ketika keluar dan
Ching Ching 360
melewati mereka yang sedang berlatih, Yuk Lau menegur duluan. “Kalian hendak ke
manakah?”
“Kami akan cari hawa segar. Mau ikut?” ajak Lie Hay.
“Boleh juga. Siauw Hung, bagaimana?”
“Aku masih ingin latihan.”
“Jangan memaksa diri. Engkah sudah latihan semenjak pagi buta. Nanti kau keburu
bosan.”
“Ya baiklah,” Khoe Yin Hung menyetujui.
Di pinggir si pemuda she Wang, Thio Lan Fung cemberut. Ia tak suka ada orang
lain pada saat kepingin berduaan dengan pujaannya.
Sebaliknya, Lie Hay sungguh lega dua kawannya yang lain mau ikut. Sewaktu
menuruti ajakan Lan Fung tadi, ia merasa sedikit berdosa pada Ching-ching. Tapi,
lantaran Yuk Lau yang terhitung saudara dan Yin Hung sahabat Ching-ching,
dosanya seolah sedikit terhapuskan.
Dua pasang muda-mudi itu berjalan tanpa berkata-kata. Entah kenapa lidah mereka
mendadak kelu dan seolah asing satu dengan yang lain. Padahal, beberapa hari ini
mereka selalu bersama dan dapat mengobrol secara biasa.
Namun, kebisuan mereka tak berlangsung lama. Selagi berjalan, Yuk Lau melihat
bayangan orang sekelebatan. Tapi dalam waktu singkat itu ia telah dapat
mengenali orang.
“Itu kawan Ching-ching yang kulihat tempo hari!”
“Nona yang kauceritakan itu?” Lie Hay memastikan.
“Benar! Ching-ching mestinya ada bersama dia.”
“Tapi kenapa kita tidak lihat?”
“Mana tahu si nona dikirim sebagai penunjuk jalan. Marilah kita kejar!”
Wang Lie Hay dan Yuk Lau mendului. Lan Fung dan Yin Hung yang gin-kangnya cuma
tingkat lumayan ketinggalan sedikit, tapi masih dapat mengikut. Lagipula,
keempatnya tak usah terlalu jauh mengejar, lantaran orang yang di depan juga
tidak berilmu tinggi.
“Kouw-nio, harap tunggu!” seru Yuk Lau.
Si nona yang tahu dikejar malah mempercepat langkah. Namun, tak ada guna, sebab
Lie Hay keburu menyandak. “Nona, kami tak ada maksud jahat. Harap kau jangan
salah paham.”
“Kamu orang mau apa?” dengan galak si nona bertanya. Tangannya sudah siap
melolos pedang.
“Kami mencari seseorang.”
“Apa hubungannya denganku?”
“Namanya Ching-ching,” Yuk Lau tak sabar. “Kira-kira tiga bulan lewat aku
melihat engkau ada bersamanya.”
“Di mana dia sekarang?” tanya Wang Lie Hay.
“Hubungan apa kau dengan Majikan?”
“Kami adalah kawannya,” kata Lie Hay. “Bahkan Kong-coe ini terhitung saudara
angkatnya.”
A-ping mengawasi barang sejenak. Pada saat yang sama Lan Fung dan Yin Hung
menyusul. Melihat kedua nona itu, mendadak saja muka A-ping menjadi cerah.
“Jie-wie Kouw-nio! Ah, tentu saja. Aku ingat sekarang. Kalian pernah datang
sewaktu pertemuan beberapa bulan lalu.”
“Dan kau. Bukankah pelayan Lan Kouw-nio?” Khoe Yin Hung juga tidak melupakan
orang.
“Itulah aku.” Roman muka A-ping berubah sewaktu nama nonanya disebut.
Ching Ching 361
“Sekarang nonamu di mana?” tanya Yuk Lau.
“Nona sudah ke Langit Barat.”
“Ching-ching? Tak mungkin!”
“Yang kumaksud adalah nonaku Lan Sioe Yin,” A-ping buru-buru meluruskan. “Soal
Siauw-sio-cia, aku telah berpisah. Dua hari lalu tepat sebulannya.”
“Baiknya kita pulang dulu dan baru tukar pengalaman,” potong Lie Hay.
Maka, semua pulang ke pondok. Di sana A-ping diminta menceritakan segala apa
yang terjadi semenjak Pek-eng-pay diserang orang sampai ke sepak terjangnya
bersama Ching-ching. A-ping menceritakan semua dengan jujur, kecuali bahw
nonanya ada hubungan dengan tuan muda kedua Kim-gin-siang-coa-pang. Pelayan itu
merasa masih harus melindungi nama baik nonanya.
“Jadi, semenjak Ching-ching ke Sin-chio-pang, ia tak ada memberi kabar lagi?”
“Ya. Padahal, Siauw-sio-cia sudah berjanji akand atang pada waktu tepat
sebulan.”
“Begitu. Sudah lewat dua hari. Biasanya Ching-ching tak pernah begitu lambat aku
kuatir …”
“Daripada kita berkuatir di sini, lebih baik kita mencari kabar ke
Sin-chio-pang. Bagaimana?” usul Yuk Lau.
“Begitu pun baik. Kita berkemaslah. Esok siang kita berangkat!” Lie Hay
memutuskan.
“Siauw Hung, kau ikut?” tanya Yuk Lau.
Sejenak Khoe Yin Hung ragu. Ia menguatirkan keselamatan kawannya itu memang,
tapi ia juga tak kepingin bertemu dengan Ching-ching.
“Bagaimana?” tanya Wang Lie Hay.
“Baiklah,” kata Yin Hung dengan berat hati. Ia juga tak kepingin tinggal
sendiri.
Perjalanan ke Sin-chio-pang tak seberapa jauh, cuma makan waktu sepuluh hari
perjalanan. Namun, rombongan yang datang ini lebih terkecewa ketika pemimpin
partai yang baru mengatakan yang dicari tak ada di sana.
“Beberapa waktu lalu memang ada satu nona mengacau di sini dan membunuh ketua
kami. Kalau tak salah, lantaran Houw Sian-pang-coe mengadakan hubungan dengan
satu partai sesat. Inilah suatu fitnah dan penghinaan besar terhadap partai
kami. Kalau Coe-wie adalah kawan-kawan si nona, mohon maaf, kami tak dapat
menganggap sebagai sahabat.”
Wang Lie Hay menatap tajam si ketua. Pemimpin muda itu baru 20-an tahun, mana
dapat ia langsung dipilih menjadi ketua? Dalam hati Lie Hay ingin bertanya,
namun tak jadi lantaran hal demikian amatlah tidak sopan.
Namun, si pang-coe muda lekas maklum keinginan orang. Tidak diminta, ia lantas
menceritakan bahwa justru Ching-ching yang mengangkat dia jadi pemimpin.
“Dalam adat kami, tanda ketua cuma boleh dipegang oleh pemimpin, untuk kemudian
diteruskan langsung kepada penggantinya tanpa perantara tangan orang lain. Yang
bukan ketua, menyentuh pun tak boleh. Kalau terpaksa sekali, mesti dibungkus
selapis penghalang, baru boleh dipegang. Aku telanjur menerima, orang lain tak
berani membantah. Namun, si nona bukan dari partai kami, tak berniat pula
menjadi ketua, tapi berani memegang dengant angan telanjang. Tanda ketua kami
menjadi cemar dan baru dapat suci kalau dibasuh darah orang yang mencemarkan.”
Pemuda itu menghela napas. “meski telah diangkat ketua juga lantaran kawan
kalian, aku tak merasa berterima kasih. Malah di pundakku kini ada beban bahwa
aku harus menyucikan itu tanda.”
Yuk Lau dan Lie Hay terperanjat. Berarti secara tidak langsung, ketua partai
Ching Ching 362
menyatakan dendamnya pada Ching-ching dan berniat membunuhnya.
“Antar tamu keluar!” mendadak si ketua muda berseru. Itulah satu pengusiran
halus yang telah membungkam mulut tamu-tamunya yang ingin bertanya lebih jauh.
Si ketua muda itu malah lebih dulu meninggalkan tempat. Maka, tamu-tamunya tak
dapat berbuat lain daripada keluar dari markas Sin-chio-pang.
Namun, belum berapa jauh mereka meninggalkan gedung, satu benda melayang ke
dekat Wang Lie Hay. Ternyata adalah sebuah surat yang diikatkan ke batu. Lie Hay
yang cepat menangkapnya segera membaca surat tersebut.
Mendengar dua pendeta disebut-sebut. Yang kalian cari menuju ke kota Kong-an.
Wang Lie Hay tersenyum meremas surat itu. “Ching-ching tak salah pilih orang.
Aku yakin segala urusan bisa beres dengan menggembirakan di hari kemudian.
Sekarang, baiknya kita melanjutkan perjalanan ke Kong-an.”
Kota Kong-an adalah satu kota yang ramai. Banyak barang yang diperjualbelikan,
tak sedikit restoran dengan menu makanan yang merwah, namun yang membuat heran
rombongan muda ini adalah begitu banyak pendeta asing berpakaian aneh. Pendeta
yang manakah yang disebutkan dalam surat tempo hari?
“Hai-ko, aku sudah lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu?” rengek Lan Fung.
“Ya, memang sudah waktunya makan,” Lie Hay setuju. Mereka pun masuk ke salah
satu rumah makan yang paling dekat.
Memilih meja untuk enam orang yang tidak jauh dari jendela supaya dapat
melihat-lihat, mereka duduk dan memesan mkanan. Selagi menanti datangnya
pesanan, mereka bercakap-cakap.
Tahu-tahu percakapan mereka terhenti. Mereka merasa suasana di ruangan itu
berubah. Semua orang melihat ke pintu dan buru-buru berdiri sembari mengangguk
hormat. Secara serempak empat pendekar muda itu menoleh ke pintu. Di sana
berdiri dua orang pemuda gagah. Yang seorang bermuka tegas dan dingin. Mereka
tidak mengenalnya, tapi pemuda di sebelahnya pernah mereka temui. Tak salah
lagi, pemuda yang bersarung tangan keperakan itu adalah Chow Fuk.
Yuk Lau buru-buru membuang muka begitu mengenali siapa yang datang.
Sedapat-dapatnya ia memalingkan wajah supaya tak dikenali orang.
Untung dua orang muda yang baru datang itu cuma melirik sekali kepada mereka.
Selanjutnya si pemilik rumah makan tergopoh-gopoh menyambut sehingga keduanya
tak sempat menaruh perhatian lebih banyak.
Selama makan, Yuk Lau tak banyak bercakap. Melihat Chow Fuk membuat mangkal
betul. Ia juga tak suka melihat kawannya. Pasti bukan orang baik-baik, begitu
pikirnya.
“Kita sudah sampai di kota ini, selanjutnya apa?” tanya Lan Fung sekeluarnya
dari rumah makan.
“Pertama-tama tentulah mencari tempat menginap,” sahut Lie Hay. “Kita mesti
menyelidiki keadaan kota dan itu makan waktu berhari-hari.”
“Kebetulan,” kata Lan Fung. “Aku juga kepingin pergi melihat-lihat.”
“Asal jangan lupa pasang mata dan telinga buat mencari tahu mengenai
Ching-ching,” gumam Lie Hay. “Di situ ada penginapan. Baiklah kita ke sana.”
Rombongan kecil itu menuju ke penginapan yang ditunjuk Wang Lie Hay. Begitu
mereka datang, langsung disambut seorang pelayan. “Kong-coe dan Kouw-nio mau
menginap? Benar tidak salah pilih, penginapan ini adalah yang terbaik di kota
Kong-an. Kami menyiapkans egala apa mulai air mandi, makan enak dan hiburan, tak
heran banyak orang memilih tempat—“
“Kami butuh lima kamar,” kata Lan Fung tak sabar. “Empat yang terbaik!” katanya
mengerling A-ping.
Ching Ching 363
Gadis itu diam saja. Ia menyadari dirinya yang berkedudukan lebih rendah.
“Berapa lama Kong-coe dan Kouw-nio mau menginap?”
“Selama kami mau! Urusan apa dengan kau? Yang penting kami bisa bayar!”
Pelayan itu cemberut dibentak-bentak, tapi ia tak berkata apa-apa. Lie Hay
melihat ini dan merasa tak enak hati. Ia mengeluarkan sepotong uang perak dan
menyodorkannya kepada si pelayan. “Kami sudah lelah dan butuh kamar supaya dapat
segera beristirahat,” katanya dengan nada memohon maaf.
Si pelayan lantas saja mengambil potongan uang itu dengan sikap senang. “Tentu,
tentu. Marilah, mari masuk!”
Si pelayan mengantar kepada pemilik penginapan. Setelah mengurus sedikit hal-hal
yang perlu, ia pun mengantar ke kamar. A-ping mendapat satu kamar yang
sederhana, tapi cukup rapi dan bersih. Yang lain-lain tentu saja mendapat kamar
yang lebih mewah.
“Ini kamar-kamar yang cocok buat pendekar-pendekar seperti Kong-coe dan
Kouw-nio,” kata si pelayan seraya melirik senjata di tangan tamu-tamunya.
“Banyak pendekar menginap di sini dan tidak merasa kecewa.”
“Di antara pendekar-pendekar itu, adakah seorang nona muda yang gagah?” Lie Hay
mencari tahu, barangkali Ching-ching pernah menginap di situ. “Wajahnya cantik
dan, eh, agak galak.”
“Oh, ada … ada. Nona itu galak dan suka mencari ribut.”
“Yah.”
“Orangnya tidak tinggi, tidak pendek, dan lihay?”
“Itulah dia.”
“Kouw-nio itu teman Coe-wie?” si pelayan nampak sangsi. “Ia mencari ribut dengan
pendeta di sini, kemudian hari berikutnya ia pergi meninggalkan kamar yang
berantakan. Ia pergi begitu saja tanpa membayar.”
Kelima tamu itu saling berpandangan. “Kau tak tahu apa yang terjadi padanya?”
“Dia … yah … mungkin ….” Pelayan itu nampak ragu. Ia melongok ke kanan-kiri
sebelum berbisik. “Barangsiapa ribut dengan pengikut Pandita Agung mestinya
tidak selamat!”
Kelima tamu itu terdiam.
“Kapan … kapan itu kejadiannya?” tanya Yuk Lau setelah beberapa lama.
“Hmm …” si pelayan mengingat-ingat, “sudah cukup lama … mmm … tiga bulan lalu
kira-kira.
A-ping menghembus napas lega. “Bukan Siauw-sio-cia!” katanya. “Tiga bulan lalu
dia masih bersama denganku.”
“Selain dia, adakah nona yang lain menginap?”
Si pelayan menggeleng. “Jarang ada gadis menginap sendirian di sini. Biasanya
dikawal pelayan atau datang bersama orangtuanya yang pedagang. Paling banyak
menginap adalah pendekar-pendekar yang pedangnya besar-besar atau para
pedagang.”
“Yah, terima kasih. Ini buatmu!” lagi-lagi Lie Hay memberi sepotong perak,
membuat si pelayan girang dan segera pergi setelah mengucap terima kasih.
“Kiranya Ching-ching tak pernah ke sini. Sia-sia kita ke mari!” Lan Fung
menggerutu.
“Ini bukan satu-satunya penginapan. Dia bisa di mana saja.”
“Pandita Agung,” Yuk Lau menggumam. “Ketua Sin-chio-pang menyebut-nyebut
pendeta. Mungkinkah pengikut si Pandita? Dan kata pelayan tadi, barangsiapa
bikin ribut dengan mereka susah selamat. Mungkinkah Ching-ching ….”
“Kita mesti cari tahu soal pendeta-pendeta ini. Itu sudah jelas,” kata Lie Hay.
Ching Ching 364
“Cara paling mudah adalah dengan keluyuran di jalan dan mencari tahu dari
pedagang di jalan,” usul Lan Fung.
“Boleh juga,” Lie Hay setuju.
“Kita pencar supaya mudah,” lagi-lagi Lan Fung yang punya usul. “Aku dan Hay-ko
ke utara. Sebelum gelap, kami sudah pulang!” Gadis itu menarik tangan Lie Hay
dan lantas pergi.
“Sebaiknya kita bertiga jangan pencar,” kata Yuk Lau pada Yin Hung dan A-ping
yang setuju saja.
Mereka lantas jalan bertiga. A-ping berjalan agak di belakang, seperti juga
menjadi pelayan Yin Hung. Gadis itu tak tahu harus bagaimana, begitu pula Yuk
Lau dan Yin Hung, sama-sama canggung. Di perjalanan tak ada dari mereka membuka
percakapan.
Tiba di satu belokan, mendadak Yuk Lau terperanjat. Tak jauh di depan mereka,
mendatangi dua orang yang mereka lihat tadis siang. Chow Fuk dan kawannya. Tapi,
kali ini Yuk Lau tak mungkin menghindar. Chow Fuk terang telah melihat dia.
“Eh, Siao Hung, lihatlah jepitan rambut yang itu. tampaknya cocok buatmu!” Dalam
bingung, Yuk Lau menarik Yin Hung ke tukang menjual perhiasan.
Yin Hung terheran-heran. Tak biasanya Yuk Lau menunjuk satu barang dengan begitu
semangat, tapi ia menanggapi. “Yang mana?”
“Yang mana yang kau suka?”
Yin Hung tambah kebingungan. Hanya untuk menyenangkan Yuk Lau saja ia berlagak
memilih.
Yuk Lau mencuri pandang ke arah Chow Fuk. Ternyata pemuda itu juga sedang
mengawasi dari sebelah sana, sembari pura-pura memilih di tukang kipas. Namun,
pemuda she Chow itu lekas mengalihkan pandangan dan tawar-menawar. Akhirnya ia
membayar kipas itu dan melanjutkan perjalanan melewati tukang perhiasan. Lewat
begitu dekat sampai hampir menabrak. Yuk lau tentu menghindar dengan bercuriga.
Namun, jadinya justeru ia menabrak A-ping yang berdiri di belakang sampai
sempoyongan hampir jatuh.
Chow Fuk menahan punggung A-ping dengan kipasnya. Sebagai seorang pemuda, ia
cukup hati-hati untuk tidak menyentuh gadis.
“Tidak apa-apa?” tanya Chow Fuk.
“Tidak,” jawab A-ping gugup.
Chow Fuk berjalan lagi seperti tak terjadi apa-apa. Yuk Lau memandang heran. Apa
maksud pemuda itu?
“A-ping, kau bagaimana?” tanya Yin Hung.
“Saya baik, Sio-cia.”
“Salahku kurang hati-hati,” kata Yuk lau minta maaf.
“A-ping, apa itu di pinggangmu?” Yin Hung berkata.
Si gadis pelayan meraba pinggangnya. Di sana terselip kipas kertas. “Bagaimana
bisa …?” A-ping keheranan. “Barangkali kong-coe yang tadi …” Begitu gadis itu
mengambil kipas yang disangkutkan ke ikat pinggangnya, tulang-tulang kipas yang
dari kayu itu patah. Kipas terkebas, jatuh ke tanah. Sekilas Yuk Lau melihat
huruf Ching berwarna merah. Darah!
Pemuda itu segera memungut dan membukanya dengan hati-hati. Ia terkejut melihat
kipas kertas itu. di antara gambar pemandangan yang dilukis, terdapat
huruf-huruf merahyang ditulis secara cepat-cepat. Huruf-huruf itu agak pudar
lantaran tinta darah yang belum kering, namun masih terbaca kalimat Ching-ching.
Pondok merah. Kamar biru.
“Kita segera kembali ke penginapan!” kata Yuk Lau.
Ching Ching 365
Tiba di penginapan, barulah Yin Hung berani bertanya ada apa. ia tak sempat
mlihat huruf-huruf di atas kipas. Saat itu baru Yuk Lau menunjukkan kepadanya.
“Dia pasti sesuatu mengenai Gie-moay,” kata Yuk Lau.
“Dia siapa?”
“Ingatkah sewaktu pertemuan besar di Pek-eng-pay, seorang dari anak buah
Kim-gin-siang-coa-pang disebut Gie-toa-ko oleh Ching-ching?”
“Ya?”
“Itulah dia.”
“Ah, aku tak ingat rupanya. Tapi, pastikah kong-coe yang tadi itu?”
“Itulah dia.”
“Dia menulis Pondok Merah. Kamar biru. Apa maksudnya?”
“Nama tempat, bisa jadi.”
“Tempat apa? Di mana?”
“Barangkali bisa kita tanya si pelayan.” Yuk Lau mencari pelayan yang kemarin
itu.
“Ada perlu apa, Kong-coe?”
“Apakah kau tahu tempat yang namanya Pondok Merah?”
Mendadak si pelayan cekikikan. “Tahu, Kong-coe. Hi-hi-hik. Kong-coe mau ke sana?
Nanti saja kalau sudah gelap.”
“Eh?” Yuk Lau terkejut.
“Nanti saya antar. Jangan kuatir, mulut saya biasa disumpal. Nona tak bakal
tahu!”
“Nona apa yang tak bakal tahu!” mendadak Lan Fung sudah berada di situ bersama
Lie Hay.
“Eh, ini, nonanya tuan … itu … eh, saya banyak pekerjaan!” Si pelayan hendak
kabur.
“Tidak boleh pergi!” bentak Lan Fung.
“Ini ada apa?” Lie Hay bertanya.
“Aku menanyakan tempat, dan mendadak dia ngaco-belo tak karuan,” sahut Yuk Lau
bingung.
“Tempat apa?”
“Pondok Merah.”
Mendadak si pelayan cekikikan, tak peduli pada Lan Fung yang mendelik. “Kenapa?
Apa kau tertawakan?” tanyanya galak.
“Hi … hi … hi … Kong-coe ini … sebaiknya Sio-cia tidak tanya.”
“Kenapa tidak boleh tanya? Hayo bilang! Kupatahkan tanganmu kalau kau tidak
terus terang.”
“Tuan ini tanya Pondok Merah.”
“Lantas?” Yuk Lau masih tak mengerti.
“Tuan betul tak tahu?” giliran si pelayan keheranan. “Itu tempat pelesiran.
Banyak nona-nona cantik.
Yuk Lau merah mukanya, tak dapat berkata-kata. “Aku tak tahu!” katanya lirih.
“Sebaiknya dibicarakan di dalam,” kata Lie Hay.
Di dalam kamar Yuk Lau menceritakan segala sesuatunya dan memperlihatkan kipas
itu.
“Aku ingat,” kata Lie Hay. “Saudara angkat Ching-ching itu, yang jadi pengikut
Kim-gin-siang-coa-pang. Rupanya ia tahu tujuan kita kemari dan punya kabar
mengenai Ching-ching.”
“Kiranya begitu. Lantas apa yang kita lakukan sekarang?”
“Ke Pondok Merah. Apa maksudnya? Apakah Ching-ching di sana?” kata Lan Fung.
Ching Ching 366
“Tak mungkin!” Yin Hung, Yuk Lau, Lie Hay, dan A-ping segera membantah.
“Paling-paling kita menemui salah seorang yang punya berita.”
“Aku kuatir ini jebakan. Mungkin Ching-ching ada pada mereka dan mereka mau
menjebak kita juga,” kata Yuk Lau bercuriga.
“Bagaimanapun, kita harus datang dulu ke Pondok Merah!”
“Aku ikut!” seru Lan Fung.
“Tapi—“
“Aku akan menyaru laki-laki.”
“Kita pergi semua saja, untuk jaga-jaga,” sahut Yin Hung.
“Justru tak dapat. Seorang harus tinggal. Kalau yang lain tak kembali, ia mesti
melapor kepada Soe-hoe atau yang lain,” kata Yuk Lau.
“Ini pekerjaan bahaya,” kata Lie Hay. “Aku dan Yuk Lau saja yang pergi.”
“Tidak!” Lan Fung berkeras. “Aku mau ikut!”
“Jangan!”
“Pokoknya ikut!”
“Aku tak mau repot nanti!” Lie Hay berkata dingin.
Lan Fung diam. Kalau sudah begitu, ia tak berani membantah.
Setelah sepakat, Yuk Lau dan Lie Hay pergi ke Pondok Merah diantar oleh si
pelayan penginapan. Tempat yang dinamakan Pondok Merah itu benar-benar ramai.
Bukan cuma orang muda yang datang, beberapa di antaranya sudah cukup berumur,
tapi semua punya tujuan yang sama. Mencari kesenangan!
Seumur hidupnya Yuk Lau dan Lie Hay belum pernah datang ke tempat beginian.
Mereka ada pemuda baik-baik yang menjunjung tinggi moral dan kehormatan. tak
heran mereka begitu risih dan sedapat-dapatnya menghindari gadis-gadis yang
mendekati mereka.
Seorang nyonya yang melihat betapa kikuk kelakuan mereka segera dapat menduga
bahwa ini adalah pertama kali dua orang muda itu datang. Ia lekas mendekat.
“Jie-wie Kong-coe, apakah sudah ada kenalan khusus di sini? Atau barangkali
perlu dipanggil beberapa orang supaya dapat memilih?”
“Eh, tidak … kami tidak bermaksud untuk itu,” Lie Hay terbata.
“Eh, adakah di sini yang namanya kamar biru?” Yuk Lau langsung bertanya.
Roman si nyonya berubah. “Jie-wie Kong-coe sudah ditunggu. Tapi saya mendapat
pesanan cuma mengantar satu orang saja.”
“Baiklah, kau yang ke sana,” kata Lie Hay. “Aku lebih suka menunggu di luar, di
seberang jalan.”
“Kalau Kong-coe berkenan, boleh meminjam kamar di sebelahnya,” kata si nyonya
genit.
Lie Hay memikirkan keselamatan Yuk Lau. Kalau benar dugaannya bahwa ini semua
adalah satu jebakan, tentu ia harus ada di dekatnya supaya dapat segera
membantu. “Baiklah. Aku akan menyewa kamar di sebelah kamar biru. Tapi aku mau
sendirian!”
“Terserah Kong-coe saja.” Si Nyonya lantas mengantar dua tamunya ke kamar
masing-masing.
Yuk Lau masuk ke kamar yang disebut kamar biru. Nama yang cocok buat kamar itu
sebab semua benda di sana dicat biru. Kursi, meja, tirai, dan lukisan-lukisan
pemandangan laut, semuanya memberi warna biru.
“Selamat datang, Yuk Kong-coe,” sebuah suara halus menyambutnya.
Yuk Lau melihat seorang gadis berbaju biru menghampiri. Tiap kali ia melangkah,
tercium bau yang semerbak.
“Eh, maafkan, aku tak tahu ada orang lain di sini. Kusangka …” Yuk Lau mundur
Ching Ching 367
dua langkah.
“Kau tak usah ketakutan begitu. Aku tidak menggigit,” si nona tertawa. “Aku tahu
kau mengharap menjumpai Ciang Toa-ko. Baiklah kuantar ke sana.” Nona itu
mendekat ke tempat tidur. “Marilah!”
Yuk Lau ragu-ragu mengikuti, tapi ketika si nona naik ke tempat tidur, ia
berhenti. “Kouw-nio … saya ada urusan penting. Sebaiknya …”
“Kau jangan menyangka yang tidak-tidak,” kata si nona. “Di bawah tempat tidur
ada jalan, tapi kau mesti naik dulu supaya sampai ke sana.”
Yuk Lau tidak melihat niat jahat pada wanita itu. pemuda tersebut lantas saja
ikut jejak si nona. Begitu ia duduk di tempat tidur, tahu-tahu pembaringan itu
seperti amblas ke dalam tanah. Mereka turun terus. Yuk Lau tak dapat melihat
apa-apa sampai kemudian ada satu cahaya dan mereka berhenti.
Si nona turun dari pembaringan. Yuk Lau buru-buru mengikuti di belakangnya.
Mereka melewati lorong dengan beberapa pintu. Si nona masuk ke salah satunya dan
mempersilakan Yuk Lau.
“Ciang Toa-ko, tamumu sudah datang.”
“Terima kasih, Lan-moay,” Chow Fuk berkata ramah.
“Kalian tentu ingin berckap-cakap. Lebih baik kutinggalkan. Kalau ada apa-apa,
panggil saja.” Si nona meninggalkan mereka.
“Gie-tee, apa kabarmu?” sapa Chow Fuk dengan muka girang.
Yuk Lau tak menjawab sapaan itu. ia menatap tembok di sebelah belakang Chow Fuk.
“Aku tak punya waktu berbasa-basi. Kedatanganku cumamau menanyakan keadaan
Ching-ching kalau engkau mengetahui.”
“Sebetulnya aku ingin urusan kita terselesaikan lebih dulu,” kata Chow Fuk.
“Kita masih saudara, bukan?”
“Aku tak punya saudara dari golongan hitam!” sahut Yuk Lau.
Chow Fuk tertawa kecewa. “Sudah kuduga,” katanya. “Kau tak mau mengampuni aku.
Pastilah kau anggap aku ini tukang jagal yang kejam tiada dua.”
“Orang partai Kim-gin-siang-coa mana ada yang baik.”
“Ha … ha … Gie-tee, coba aku menanya padamu. Seumur hidupmu, berapa orang sudah
kaubunuh?”
“Yang kubunuh cuma orang-orang jahat. Dan jumlahnya pasti lebih sedikit dari
pendekar-pendekar yang mati di tanganmu!”
“Hebat, Gie-tee. Rupanya kau belum pernah memutuskan hidup orang sebab orang
yang pernah mati di tanganku cuma satu dan dia bukan pendekar!”
Yuk Lau mendelik kaget. Betulkah Chow Fuk tak pernah membunuh orang lain?
“Hmmph, kau mau aku percaya ocehanmu?”
“Aku memang gemar mengoceh, tapi tak suka berbohong. Memang tanganku beracun,
aku sadari itu. makanya, aku tak sembarang mempergunakan. Pertama kali aku
melepas sarung tangan adalah sewaktu Soe-hoe menyuruh aku melawan muridnya
tertua yang tangannya sama beracun. Racun di tanganku lebih jahat daripada
tangannya itu. Ia mati tiga hari setelah terpukul. Aku sendiri terluka dan harus
berbaring selama tiga bulan. Soe-hoe merawat dan menyelamatkan jiwaku. Tapi dari
saat itu sampai sekarang ia tak pernah dapat memaksaku melepas sarung tangan
air.”
“Gurumu bukan orang baik-baik. Kau pun begitu juga.”
“Oh?” Chow Fuk tersenyum. “Lantaran aku diam di tempat begini? Ketahuilah, kota
ini dikuasai oleh Pandita Agung. Di semua tempat ada mata-mata. Kecuali tempat
ini. Pandita Agung melarang anak buahnya bergaul dengan wanita. Kami memang
bekerja sama dengan mereka. Aku bahkan bersahabat dengan salah satu orang
Ching Ching 368
kepercayaan di sana, tapi tetap saja pendeta-pendeta asing itu tak dapat
dipercaya sepenuhnya.”
“Aku tak berminat mendengar segala dongenganmu. Berkatalah terus terang. Kau
tahu tidak di mana adanya Gie-moay? Kalau kau tak tahu, guna apa aku buang waktu
di sini?”
“Justeru aku menemui engkau adalah untuk urusan Gie-moay.”
“Di mana dia? Apakah dia selamat?”
“Kabar mengenai dia aku tak begitu jelas, tetapi ….”
“Rupanya engkau memang cuma mau mempermainkan aku saja!” tuduh Yuk Lau kesal.
“Tak ada guna aku berdiam di sini. Lebih baik aku pergi!” pemuda itu beranjak
keluar.kamar.
“Gie-tee,” Chow Fuk memanggil. “Sebelum kau pergi, aku ingin kepastianmu. Apakah
kau masih anggap aku sebagai saudara atau tidak?”
“Tidak!” Yuk Lau menjawab mantap.
Chow Fuk menghela napas. “Kalau begitu aku tak dapat berbuat apa-apa. tapi kita
telah melakukan upacara angkat saudara. Kuharap diputus hubungan pun secara baik
pula.”
“Sekarang pun aku siap memutuskan hubungan.”
“Tidak sekarang!” kata Chow Fuk. “Sebelum kita betul-betul menganggap tidak
pernah ketemu dan tidak saling kenal, kuharap kau mau melakukan satu tindakan
bersama-sama denganku terlebih dahulu.”
“Aku tak dapat kau perintah semaumu!” tukas Yuk Lau ketus.
“Aku pun tak ada maksud memerintah. Aku mengajak, memohon kalau perlu, sebab
pekerjaan ini tak dapat kulakukan sendiri.”
“Maaf saja, aku tak ada niatan bekerja sama denganmu!” Yuk Lau meneruskan
langkah.
“Gie-tee, kau mau menolong Ching-ching, bukan? Kau dan teman-teman yang
bersamamu itu?”
Yuk Lau berhenti dan menghadap pada Chow Fuk dengan muka merah lantaran marah
dan gemas. “Jadi kau tahu di mana Gie-moay berada?! Sekarang kau mau
mempergunakan dia buat memaksa aku melakukan kehendakmu?”
“Sudah kubilang, aku tak ada niatan memaksa. Aku cuma memohon bantuanmu.”
“Kalau aku menolongmu, apa kau bisa jamin Ching-ching pasti selamat?”
“Aku belum dapat memastikan, tapi paling tidak kita bisa mencoba.”
“Baik, kau mau aku lakukan apa?” tanya Yuk Lau setelah memikir sejenak.
“Aku mau kau minta bantuan dari semua golongan partai putih. Makin banyak makin
baik.”
“Kenapa semua? Mau diapakan?”
“Mereka harus menolong kita membebaskan Gie-moay.”
“Mengapa begitu?”
“Sebab kawanku dari kalangan pandita itulah yang telah menangkapnya …”
“Cuma golongan pandita, kenapa mesti membikin repot banyak orang?” potong Yuk
Lau.
“Golongan Pandita Agung bekerja sama dengan Kim-gin-siang-coa-pang. Mereka tahu
Ching-ching telah membikin banyak kerusuhan bagi partai. Maka, untuk
menyenangkan sekutunya, mereka menyerahkan Ching-ching kepada
Kim-gin-siang-coa-pang.”
Yuk Lau diam. Ia memikirkan nasib adik angkatnya yang telah jatuh justreru ke
tangan musuh bebuyutannya. “Ching-ching … sekarang dia …”
“Dia sekarang ada di markas rahasia Kim-gin-siang-coa-pang. Dan celakanya, aku
Ching Ching 369
sendiri tak tahu di mana tempat itu berada!”
When Ching woke up, she was in a big soft bed. For a moment she forgot how she
came to be there. But it was not long before she remembered what happened
before.
"Damn monk! Drugging me with anesthetic!" she said.
She got down from her bed. She saw that she was in a luxorious room. Ching
looked around. Even her room in Shaie couldn't campare to this one. It was big
and complete. On one side, there was a big closet. When she opened it, she found
silken dresses. On another part, there was a table with a mirror on it and a
number of make-up. There were even expensive jewelry. Jade hairpin, diamond
earrings, lustrous pearl necklace. She whistled admiringly. But she didn't touch
any of them. She was wondering whose room it was. It could be the room of the
Princess for all she knew. But why was she brought here?
Ching walked over the drapes that separated this bedroom with another room. This
time she walked in a some kind of study. On one wall there was a cupboard to the
ceiling, filled with books. She took one of them, and was surprised to see that
it was a rare kind of literary art. None of these books were inferior in
quality. In another part of the room, there was a big writing table, complete
with paper and ink of the best quality. In the center of the room there was a
blue stone table. She couldn't figure out what kind of stone it was made out of.
Another wall was papered with beautiful landscape painting. They were painted
detailed with small people, houses, mountains, animals, grass. Ching admired the
painting for a considerable time.
Then she saw the two walls across the drapes. She entered one of them. She was
in a much smaller room. There were no furniture. Only a square pond with
transparent water. It would be nice to bathe in there when she had finished
looking around.
She walked back into the study, cross the room to open the other drapes. This
time she set foot in a terrace. It has no wall, but exquisitely chiseled fences
surrounded it. Just like a bird's cage. She peered through the fences. Down
below was rippling clear water with small fishes sputtering in it. Apparently
the terrace was directly above a pond. The water reflected the image of the sun.
Across the pond was a picturesque garden, bordered by a high wall stone. How
high, Ching couldn't make out. The roof of the terrace concealed it.
Ching stood in the terrace, where there was a short table with the chair. On it
was a harp made from elegant Dragon Wood. She caressed the carving. She picked
one of the strings. A lucid sound reverberated until it disappeared in a
distance. Ching grew up in a castle where she was taught all kinds of art and
literature. She often came across rare art objects, hard to compare with other
things. But only this time she found an instrument that generated such beautiful
sound.
She forgot herself. She couldn't resist the impulse to play a song on the Dragon
Wood Harp. Without any further thought, she played a tuneful song. She drifted
in it. She didn't pay anymore attention to her surroundings. When she finished
playing, she was aware of the few people standing behind her.
She was alerted at once. But when she saw that they were only servants with her
food, she cheered. "Perfect timing! I'm hungry, and you brought me food. How
nice of you."
The food was laid out on the blue table in the bedroom. She devoured it. While
she was eating. she asked to one servant, "How did you come in? I don't see any
Ching Ching 370
doors. Is there another room that I'm not aware of?"
Ching didn't get any answers. So the servants won't tell her. So what? She could
see where they go out. Then she'd find the door.
"May I ask who's your master who's been kind enough to invite me here?"
Again, there was no answers. The servants just stood, face front. Ching got
penasaran.
"Hey, you!" she pointed at one. "Let me take look at your tongue!"
The one she pointed at was puzzled by the odd request.
"Hurry up!" Ching bellowed, pounding the table. The servant jumped, then put out
her tongue. "So you do have a tongue. Why didn't you answer my questions?" Ching
widened her eyes, but still no one made any response. "Alright then, I'll cut
your tongue off for you."
She touched her leg where she's used to keep her dagger. She only wanted to
scare them. But the weapon was not here.
"Where's my blade?" She began to panic. "Where are you hiding it?"
One of the servants gave a signal to the others. They proceeded to leave Ching.
Ching of course didn't stay put. She blocked one of them, but the servant
managed to avoid her. Everybody else dispersed to different directions. Before
Ching could do anything, she was left alone in the room.
Bewildered, Ching stood there for a few moments. When she was back, she was
outraged. She immediately looked for the likely places the servants might have
gone. But after a while, when she still couldn't find any secret passage, she
was agitated. She threw down plates and bowls. She cursed continuously. But no
one heeded.
"Hey! You, the host! Give me back my things! Where are you? Afraid to show
yourself?" she hollered. "Come here if you dare!"
No one replied. The thick wall was covering her voice. But Ching was sure,
whoever kept her here could hear every word she said somehow.
"Alright!" she yelled. "There's no way I'd let myself caged by a cowardly enemy.
This is humiliation! I'd rather die!"
She took a piece of a bowl. She hold it in her hand. Then her body slumped to
the floor. As her body fell with a noise, a part of the wall opened. Two guards
with sabers on their hips entered.
"She fainted. Is she dead?" one asked to his friend.
"This brat? Die that easily? I don't think so!" His friend replied. He came
closer and examined Ching. But when he saw the blood on the corner of Ching's
mouth, she became worried nonetheless
"Whoa, I think she really ate the piece."
"Well, hurry, we might be still able to save her!"
They forced her mouth open to pull out the piece of bowl from her throat. But
unexpectedly they were flung away with flaming cheeks because of a slap.
"Finally, I know the way out." Ching sat up. "You're such idiots!" She laughed,
but stopped when she saw their uniforms. "Ptoey! Members of
Golden-silver-snake-pair-gang! So what is this place? Your lair, I suppose?
Good, I don't have to waste my time looking for it. Where's your master? Tell
him to come out and meet me!"
"Who do you think you are, ordering our master?" one guard said.
"If you won't call him, I'll look for him myself," Ching replied. She moved to
the opened passage way. The guards blocked her way.
"Get out of my way!" Ching pushed him back two steps. The guard became angry. He
Ching Ching 371
wanted to get back at her, but his friend stopped him.
"Young Master said, we must not harm her."
Ching stopped in mid-step. "Which Young Master are you talking about?" she
asked.
"First Young Master."
Ching's face blushed. Chang Houw. What did he want anyway? She hurried out. But
she was blocked again.
"Young Master ordered to take care of the prisoner."
"Then try and stop me!" She moved to hit the guard. But suddenly her body was
gangrened and couldn't move. Someone struck her nerve point from behind.
"Little brat! This way she'll be a good girl," the other guard said impatiently.
Ching was amazed to find herself to be struck that easily. Even more amazed when
she couldn't use her strength to release her blood stream. Her inner strength
had vanished completely.
"Now you sit nicely here. By midnight you'll be released."
"Let's just leave her!" the other one said.
Ching was left alone. She couldn't do anything. She couldn't even make a sound,
for her speaking muscle was paralyzed. She repeatedly tried to free herself, but
couldn't At last she gave up and fell asleep.
The next day, when the servants brought her food, she wasn't all upset anymore.
She just sat and read a book. When in the evening, food was brought again, she
still didn't move. She suspected, the food was drugged by some poison that
drained inner strength. She decided not to eat anything served by her host.
Seven days Ching refused to eat. No matter how they begged her, she refused. She
became thinner and paler. But not because she starved. Everyday she ate well.
The fishes in the pond were plenty for a year's food. And not bad-tasting even
if barbecued without any spices. She was thin and pale because she didn't like
living in a cage.
But the host didn't know that. The host was worried to see the distinct change
in Ching's condition. On the eighth day, four servants brought three trays of
food, put it on the table, and face Ching, all in tears.
"Please, Miss, just eat a little bit!" they begged.
"I'm the one who's not eating, what are you so concerned about?" Ching said
without looking up from her book. "Just take all of this out. I lost my
appetite."
Suddenly one of the servants wailed, hugging her legs.
"Miss, please! I beg you, eat even a spoonful."
"Are you mad? Stop crying! Go away!"
Ching wasn't at all touched. She was sure this was only a trick so she would eat
the poisoned food.
But then the two guards from the other day came. They were more frightened and
their faces was pale. Even paler when they saw the food untouched. They looked
at each other with widened eyes.
Lie Ching sensed that something was wrong. She asked, frowning, "What happened?
You're acting like somebody's got her head chopped off or something."
"So you know already?" one of them said.
"Know about what?" Ching got more puzzled.
"We ... we were ordered to serve you."
"We're responsible for your well-being."
"If something happened to you, not only our heads that fell to the ground, our
Ching Ching 372
families would get their share too," they said berebutan.
"That's ridiculous. Who said such ridiculous things?"
The servants were quiet.
"Hey, I asked you, who said those horrible things?"
"First Young Master."
"Him again!" she grumbled. "What does he want from me? Drain me of all my
strength? Kill me? Why go through all this trouble? Tell him, I don't want his
services."
So the servants could do but leave Ching.
That afternoon, Ching was fishing with a simple rod that she had made herself
when someone came with a servant. Seeing them coming, Ching hid her fishing gear
and acted like she was observing the swimming fish.
"Miss, this is a gift for you."
"Just put it on the table!" Ching said, uninterested.
"After you see the gift, there's a message from master."
Unwillingly she took the red cloth that was covering the gift on the tray. Once
she saw it, she turned her head. Her face changed from red to white and back.
She couldn't speak for a moment.
"What's the message?" she said at last. Her voice was soft, shaking.
"He said, this time you get an arm. Next time, it will be a head!" The messenger
pushed the servant forward. Then Ching realized that the servant had lost an
arm! Now she knew that Chang Houw was using other people to force her. And he
wasn't bluffing.
"What does your master want from me?!" she yelled.
"Not much. Just so you'd look after for your health. And eat, of course."
"Eat the poisonous food?" she pouted. "Can't he think up any other way to poison
me? How difficult can it be just to blow the sand pengusir sukma through the
ventilation? Why does it have to be in the food?"
"Forgive me for speaking freely," said the one-armed servant. "But you
misunderstand. I'm responsible for all services, food, clothing, everything. I
supervise the cooking, I bring it myself, no one can put poison in it without my
knowing. Young Master even said, if Miss Lie was injured in any way, get a
headache, or get a rash, that he won't forgive us."
"He cut your arm, and you still defend him?" Her voice was harsh but it sounded
more amazed than angry. "If it wasn't the poison in the food the other day, why
am I so weak, and couldn't use my inner strength?"
"We're just lower people, we don't know anything about that."
Ching frowned. So how did she lose her inner strength. She must clear this up
right away with Chang Houw.
Seeing that the girl wasn't upset anymore, the messenger clapped his hands. From
other sides, a dozen of servants entered, bringing all sorts of food.
"Miss, please," the messenger said.
Ching didn't even take a glance. She came and sat on a a chair, acting like a
queen. "Tell your master, kalau mau menjamu orang, jangan setengah setengah. If
he really means it, he has to come here himself and serve his guest."
All servants widened their eyes in shock. Their young master, serving this brat?
No way!
"Why are you still standing there?" Ching yelled "Go tell your master!"
"Well, if you want to invite him to dinner, Miss--"
"Who's inviting?" Ching snapped. "I told you, I want him to wait on me.
Ching Ching 373
Otherwise, you can take all these food back to the kitchen."
The messenger realized, that Ching intended to humiliate their master. If their
master didn't do what she wanted, then he couldn't blame her if she didn't eat
either. In short, Miss Lie refused the master's good will.
On that thought, he quickly acted. He pulled his sword and put it on the
servant's neck. "Master said, if you membangkang, then I chop off her head!"
Then he waited to see if Ching would change her mind.
But Ching didn't move. Pity for the servant and her ego fought in her heart. If
she obliged, that meant she gave into Chang Houw's threat. And this girl didn't
like giving in to anybody.
After giving the guest enough time, the messenger brought up his sword to cut
the servant's head. Ching glanced a little. From the corner of her eyes, she
could see the servant's helplessness. The sword flashed as it moved.
"Hold it!" two voices shouted at the same time.
Ching turned to see where the other voice came from, the one that drowned her
own. Chang Houw stood there, gagah berwibawa. Everybody except Ching gave
respects as he walked into their room.
"Miss Lie is right. Kalau mau mengundang orang memang tidak boleh setengah
setengah." Chang Houw poured wine into a cup. "Here, my toast to you."
"How do I know the wine's not poisoned?" Ching turned her head.
"Then let me--"
"That's an old trick!" she snapped. "Of course you can drink it first. You
already took the antidote."
"Do you trust these more?" Chang Houw pointed to the table where a pair of
chopsticks was still wrapped with silk. When he unwrapped, Ching saw that the
chopsticks were made out of silver.
"Everybody in the martial world knows that silver reacts with poison. Now you're
giving me silver chopsticks, I'm more suspicious." She got up. "Grandfather once
said, at least four hundred kinds of poison don't react with silver. Some poison
reacts only after mixed with saliva. Some kinds are harmless on their own, but
if you eat it along with another drug, then it becomes an incurable poison."
Ching talked like an expert on poison.
"Miss Lie, you don't trust me. I can understand that. We stand on opposite
sides. But do you really distrust me that much?"
"I don't want to distrust you, but it's not like I don't have reasons for it.
Ever since I got here, I felt my strength had drained out on me. So if it's not
because you put poison in my food, what other explanation is there? You can put
other kinds of poison, for all I know."
"Your strength disappeared, that is not because of me. But there's a kind of
Tibetan poison called X . I don't think I have to mention names."
"Those damn monks! Awas kalau nanti kubertemu!" she hissed.
"So, Miss, do you accept my invitation now?"
"Orang jahat usually have slippery tongue!" Ching still won't give up.
Chang Houw didn't appear the least bit annoyed by her actions. He even smiled
and said, "Yok-ong-phoa's granddaughter of course is more knowledgeable about
poison and medicine than stupid me. I don't dare to show my stupidity with any
proof. I only can guarantee with my words that there's no poison in this food."
"Okay, I believe you!" Miss Lie sat down and took the silver chopsticks.
Actually Chang Houw was out of tricks to persuade the girl to eat. He didn't
expect the girl suddenly believe what he said. When he recovered from the shock,
Ching Ching 374
he sat down to accompany his guest.
"Hey, who says you can sit?" Ching pointed with her chopsticks. "Aren't you
supposed to wait on me?"
The servants widened their eyes in surprise. This brat had no manners at all.
She really wanted their master to wait on her. They were certain that their
master would lose his cool this time. But they guessed wrong. Chang Houw's
expression didn't' change. He stood beside Ching-ching, and waited for her next
command.
As she ate, Ching was busy thinking, what could it be that could make this Chang
Houw angry and hate her instead. She would rather this boy scold her, because
then she could scold him back. Or rather he had her killed, so she wouldn't have
to owe this devil anything.
"Miss, is there something not to your satisfaction?" Chang Houw asked when he
saw Ching stopped eating.
"Mm. I don't like eating without entertainment," Ching grinned. "How about you
performing something for me?"
"What song would you like? I'll play it on the harp for you."
"No. Somebody else can play the music while you dance to it!"
"What?!" not only Chang Houw who shouted in surprise, but his servants also.
"Well, I'm not the one who wants to menjamu orang sampai tuntas!" Ching said
harshly, but she cheered in her heart. Chang Houw would get mad undoubtedly.
"All right." The answer made the girl taken aback. "But I'm not a dancer. I hope
you'll understand if I make some mistakes."
"Well, let me tell you, that my favorite is the genit girl dance."
"Whoa, okay. I'll try my best," Chang Houw said.
A servant took a harp with wonder. She begam to play a song. Chang Houw moved
his body like a girl. But his gagah body was not flexible. His moves were like a
wooden statue.
Seorang pelayan mengambil Khim dengan terheran heran. Ia mulai mainkan satu
lagu. Chang Houw mulai lenggak-lenggok lagak seorang dara. Sayang badannya yang
gagah itu tak begitu luwes. Tingkahnya jadi seperti boneka kayu yang kaku.
Pelayan-pelayan yang tadinya sungkan dan tidak tega pada tuannya mulai
cekikikan. Masing-masing tak dapat tahankan diri tidak ketawa. Terpaksa mereka
gigiti ujung baju supaya tak kentara. Ching sudah tadi tadi tergelak. Seorang
bawahan tak tahan lagi , cekikikan sampai duduk di tanah.
Chang Houw tidak marah. Ia malah menari makin semangat. Lebih lucu jadinya.
Ching tertawa sampai sakit perutnya, keluar airmatanya. Tak dapat makan lagi
dia, tapi puas hatinya.
Ketika lagu habis dan Chang Houw berhenti, serentak para bawahannya sadari
kelakuan mereka. Gelak terhenti. Mereka berdiri kaku dengan kepala tunduk merasa
bersalah. Mana tahu malah ganti kongcu mereka tertawa tewa girang. Semakin heran
mereka. Baru kali ini sang tuan muda lapaskan tawa segitu gembira.
"Miss Lie, you're really good at having fun. I've never felt so energized and
happy. But I still made too many mistakes. Next time, you must teach me," kata
si pemuda.
Ching mesem mendongkol. Maksud mengerjai orang malah jadi penghiburan orang.
Tapi gundah hatinya terpupus sedikit. Ia menghela napas putus asa. Baru kali ini
Lie Mei Ching habis daya menghadapi orang.
Tapi kejadian hari itu tidak membuat hati si nona luluh. Hari berikut masih juga
ia bikin ulah macam macam yang bikin orang pusing kepala. Namun Chang Houw
Ching Ching 375
seperti tahu betul bagaimana menghadapi tingkahnya. Kadang ia sendiri datang
mengunjungi, kadang dibiarkannya Ching ngamuk ngamuk sendiri.
Kini malah Ching yang habis akal menghadapi orang. Lepas dari tempat ini tak
mungkin. Cari mati juga susah. Akhirnya si nona menyadari, tak ada guna menyiksa
diri. Buat marah marah butuh tenaga akhirnya dia yang lelah. Lantas kenapa tidak
dinikmati saja hidup di tempat mewah ini ? meskipun sebenarnya ia mendongkol
lantaran dikurung macamnya burung.
Lantaran ia tak banya bertingkah lagi, maka si nona dapat juga berteman dengan
para gadis yang melayaninya. Ia paling akrab dengan A-lian yang tangannya
buntung itu. Sebab merasa si gadis bercacat lantaran dia juga, maka ia taruh
perhatian lebih besar. Dari A-lian juga ia dapat mengorek segala keterangan.
Mana tahu satu saat orang lepas omong memberitahu jalan keluar.
Mau tak mau Ching mulai kerasan ditempatnya sekarang. Memang ia tak bebas, tapi
ia cukup diperlakukan baik. Bahkan ia sudah boleh berjalan jalan di sarangnya
biang iblis itu. Tentu saja dengan ditemani Chang Houw. Dari situ ia mendapat
tahu kalau sarangnya Kim Gin Siang Koai Coa terletak ditengah tengahnya gunung
batu. Jalan keluar maupun masuk cuma satu yakni lewat lorong lorong batu yang
gelap. Bahkan seluruh bangunan terletak di antara lorong lorong itu.
Ching bukannya tak berniat lari. Ia pernah coba-coba cari jalan sendiri. Sewaktu
Chang Houw mengajak pesiar di dalam taman sebrang kamarnya, diam diam si nona
menghapalkan pintu rahasia yang pernah dilewati. Tapi entah bagaimana ia salah
masuk. Tahu tahu saja ratusan jarum halus menyambar ketika membuka salah
satunya.
Meski matanya cukup jeli menangkap kelebatan sinar keperakan, namun ia belum
dapat bergerak secepat dan segesit dulu. Biar menghindar sebisabisanya, belasan
jarum terlolos dan nyaris menancap di hiat to terpenting. Ia pasti tamat kalau
tidak secara mendadak satu tirai melindungi di depannya. Jarum jarum itu patah
menjadi ratusan potong dan rontok ke tanah begitu mengenai tirai yang sekuat
baja.
Sewaktu tirai itu hilang, Ching baru menyadari Chang Houw yang berdiri di
dekatnya. Tirai yang telah melindungi ternyata tak lain adalah baju luarnya si
pemuda.
Chang Houw tak mengucap sepatah kata. Hanya saja mukanya tegang dan nampak
gusar. Itu kali pertama Ching melihatnya sedemikian. Tak usah dibilang, si nona
sudah tahu tuan muda itu tengah marah besar.
"I'll take you back to your room!" Chang Houw said coldly. Ia balik badan
berjalan menunjuk kamar si nona. Mereka melewati belasan pintu rahasia. Keduanya
sama tak berkata-kata. Baru setelah sampai di depan kamarnya Ching- ching
beranikan diri bilang "Chang Kongcu, I ... forgive me for the troubles." ia
bicara cepat cepat lantaran sungkan.
Chang Houw angkat sebelah tangan. "No need. I hope next time you won't endanger
yourself by walking around without a guide." sehabis bicara ia lantas pergi.
Semenjak itu Ching tak berani sembarang pergi. Ia tak mau bahayakan jiwa
sendiri. Terlebih sebelum dendamnya terbayar lunas.
That day, once again Chang Houw took her out. They walked pretty far. Some
servants came along to bring snacks.
"Master Chang, where are you taking me?" Ching asked.
"I want to show you a beautiful place. It's mine, you know," Chang Houw said,
proud of himself. "Even my parents don't know about the place."
"What is it?"
Ching Ching 376
"You'll see for yourself. I usually go there if I'm down. I can stay there for a
long time. I leave when I feel better."
"I see." Ching understood. No wonder A-lian said, his master was as if he had no
heart. That was not the case at all. He was just good at hiding his feelings. He
only let them out when he was alone.
After a while Chang Houw told the servants to stop. He himself continued walking
with Ching.
"Miss Lie, after this the path is rather difficult. Be careful," he warned her.
Memang selanjutnya perjalanan agak sukar ditempuh orang kebanyakan. Buat Chang
Houw yang ada ginkang tentu tak seberapa payah. Tapi Ching yang mengandalkan
gwakang (tenaga luar) saja tentu kerepotan. Tapi didepan Chang Houw tak mau
memperlihatkan kelemahan. Ia maju terus berpegangan kanan-kiri. Pemuda she Chang
itu tentu menawarkan bantuan. Ia patahkan satu cabang pohon dan memegang
ujungnya. Dengan itu ia bermaksud menarik Ching dimana perlu. Tapi si nona mana
mau. Meski dalam hati ia mengakui, ternyata anak iblis itu masih mengingat adat
sopan laki-perempuan.
Kira kira sepemasak nasi mereka mendaki, Chang Houw menunjuk ke satu tempat.
"You see that big rock over there? That's where we're headed."
"What's so special about that?" tanya Ching curious. Setelah melewati jalanan
yang begitu sulit, ia merasa sudah sepantasnya ia tahu kemana dan apa yang
mereka tuju.
Tapi Chang Houw tidak mau menjawab. "You'll see," he said.
Ching penasaran. Ia jadi besemangat ingin lekas sampai. Chang Houw bersenyum
melihat betapa si nona begitu gesit, tidak seperti setadi-tadi.
Mereka sampai jua di batu besar itu. Dengan terengah Ching sekali lagi menanya.
"So what do you want to show me?"
"Just a little more. But first you have to cover your eyes."
"Macam-macam saja!" Ching menggerutu. Tapi toh ia keluarkan saputangannya dan
tutupi mata.
Dengan masih memegangi tongkat keduanya mulai berjalan pelan pelan. Ching- ching
menurut saja kemana lantaran sudah terlalu penasaran. Tapi tentu ia tak bisa
berjalan secepat dengan mata terbuka.
Mereka berjalan melingkar. Ching merasakan ia dibawa masuk ke sebuah ruangan
besar. Disitu amat sejuk hawanya. Mereka masih berjalan. Ching mendengar suara
air mengalir. Terasa pula kakinya menapak pasir. Tapi mereka masih terus
berjalan tanpa suara. Tempat yang dilalui sangat menurun, terjal dan agak licin.
Sampai akhirnya mereka masuk lagi ke sebuah ruangan besar yang amat sunyi. Tanah
dibawah kaki keras dan suara air sama sekali tidak kedengaran.
"Now you can open them," Chang Houw whispered.
Tergesa-gesa Ching merengutkan saputangan yang menutupi mata. Seketika matanya
terbuka, seketika itu pula ia ternganga. Tak tahan terpekik takjub melihat
pemandangan didepan matanya.
Ching tidak melihat suatu ruangan indah yang sehebat istana. Ia juga tidak
melihat perhiasan segala rupa. Bahkan ia tak tahu ada dimana. Sekelilingnya
gelap, namun terdapat banyak titik cahaya warna warni seperti bintang. Jauh
diatas, dibawah, didepan, dibelakang, dimana-mana.
"What are they?" she whispered tak sadar. She was afraid that the beautiful
lights would go away if she talked louder. "Are they firefly?"
"No. I think they're stars," Chang Houw replied.
"Wow!" Suddenly Ching felt an urge to laugh. She was so ecstatic to look at such
Ching Ching 377
beautiful things. She wanted to dance. But she remembered that her host was
still beside her. "Can ... can I take home one of them?" she asked. Dan tanpa
menunggu lagi ia sudah berjalan mendekati satu bintang yang paling dekat.
Mengambang setinggi lututnya.
"Watch out!" Chang Houw memperingati. Ching tak memperdulikan.
Tahu-tahu ia tersandung sesuatu benda keras sebelum sempat meraih bintang itu.
Untung Chang Houw lekas bergerak menarik tangannya dan menyentakkan ke belakang.
Ching jadi menghadapi pemuda itu. She couldn't see him, but she felt his warm
breath. She realized then that he was very close. She stepped back quickly. At
the same time, Chang Houw moved back. Both of them were jengah. Thank goodness
it was dark, so they couldn't see each other's faces yang sama-sama malu.
Sejenak keduanya terdiam. Ching cepat palingkan muka lagi melihat
bintang-bintang yang bertebaran.
"Master Chang, what are they? What makes them so beautiful? Are they like
dangerous animal or plant?" Ching asked.
"You really wanna know? Okay."
Mendadak cahaaya-cahaya indah itu lenyap tergantikan satu cahaya kemerahan.
Chang Houw memegang satu obor menyala, menerangi tempat itu. Kini Ching dapat
melihat apa yang ada disana. Ternyata adalaah tiang-tiang batu berbentuk
gunung-gunungan yang tajam dari atas-dan dari bawah. Ribuan jumlahnya, terserak
di dalam suatu guha yang besar. Semua tampak begitu mengerikan dalam keremangan
cahaya. Ching melihat ke bawah, kearah mana tadi terdapat bintang yang ingin
diraihnya. Ternyata sama saja. Tak lebih tiang batu yang mencuat. Tadi ia
tersandung pinggirannya. Dan kalau ia terjatuh, pasti menimpa unjungnya yang
tajam sampai tembus dan......... Kelanjutannya Ching tak berani membayangkan.
"Master Chang, where did the stars go? Were they afraid of the light and ran
away?"
"No. These stone pillars are the stars."
"No way. The stars were so small and beautiful. These stone pillars are big and
hideous!"
"The tips of the stone pillars shine the beautiful light. You don't believe me?
Now you hold this tip here while I put out the torch."
Ching menurut. Dan benar kata Chang Houw. Begitu cahaya obor padam, ribuan
bintang itu kembali lagi. Dan Ching sedang memegang salah satunya.
"Begitu." Ching kini mengerti. "So the tips of these pillars can illuminate
beautiful lights."
"They do, don't they? I want to know how myself, but I still don't know the
answer." Chang Houw menyalakan lagi obor ditangannya.
"No, no! Please don't light it," Ching asked. "I still want to enjoy them."
gadis itu terus saja duduk selonjor ditanah, memandangi titik titik gemerlap
diatas kepalanya. Ia dapat merasakan Chang Houw duduk amat dekat dengannya. Tapi
apa mau dikata, tempat yang datar cuma tempat mereka duduk itulah. Lainnya penuh
tiang batu, jadi Ching membiarkan saja.
Entah sudah berapa lama mereka duduk diam disitu sampai kemudian Chang Houw
berkata, "Miss Lie, we've gone too long. We better go back. If you like, we can
come back here the day after tomorrow."
"Okay," Kata Ching dengan berat hati. Ia menunggu Chang Houw menyalakan obor,
kemudian mengikutinya keluar dari tempat itu. Mereka berjalan belok ke kiri dan
ke kanan. Ching tidak merasa lewat kesitu sewaktu datang. Ini dikatakannya pada
Chang Houw.
Ching Ching 378
"We're not," kata si pemuda. "We're taking another path."
Selagi berkata mata pemuda itu berbinar dan senyumnya seperti senyum seorang
anak kecil yang ingin memperlihatkan sesuatu yang hebat kepada sobatnya. Sejenak
Ching terpana seolah melihat orang lain dan bukan Chang Houw, putra biang iblis
dijaman itu. Tak sadar kakinya berhenti. Chang Houw menoleh heran. "What is it?"
tanyanya.
"Nothing," kata Ching.
Wajah anak kecil yang sedang bergembira itu hilang. Tergantikan rupa seorang
pemuda dewasa yang mempunyai wibawa besar. Dalam hati si nona merasa kecewa.
Tak terlalu jauh mereka berjalan, tiang-tiang batu makin sedikit dan akhirnya
tidak ada lagi. Kini di depan mereka cuma ada satu lubang lebarnya seperentang
tangan, tingginya sepinggang, dan amat gelap.
"Do we have to crawl in there?" tanya Ching.
"No. This is what we're gonna do." Tahu tahu Chang Houw duduk. Ia menoleh dan
tertawa gembira.
"I'll put out the torch. We'll slide down this hole and down. You better sit in
front. Don't get scared if we slide fast."
Melihat betapa Chang Houw gembira, Ching tahu ia akan mengalami hal
menyenangkan. Maka denga bersemangat ia mengikuti tindakan Chang Houw.
"Okay, I'm putting out the torch. Now, to go forward, you must push back with
your hands to the sides. After that, you just let go and you'll slide on your
own."
"Okay." Ching melakukan apa yang diikatakan Chang Houw. Tahu-tahu ia sudah
memasuki lorong gerap yang licin dan menurun. Turun-turun terus. Ching- ching
melaju dengan cepatnya. Ia merasa angin menerpa mukanya dan menyibak rambutnya
ke belakang. Tanpa terasa ia berteriak antara girang dan tegang. Agak jauh
dibelakangnya terdengar Chang Houw berseru-seru riang.
Mendadak lorong licin yang gelap itu habis. Ching merasakan badannya terhenti
suatu tempat yang empuk dan halus. Ia merabanya dan ternyata adalah pasir
kering.
"Get out of the way! Get out of the way!" terdengar suara Chang Houw.
Ching berusaha bangkit. Tapi susah sekali berdiri diatas pasir halus yang
melesak kalau diinjak. Tang keburu ia menyingkir ketika Chang Houw tiba dan tak
dapat menghentikan lajunya. Ia melompat supaya tidak menabrak Chiing-ching.
Tapi, tidak tertabrakpun si nona sudah jatuh lebih dulu. Keduanya terjungkal
tengkurap dengan muka menghadap pasir. Keruan saja butir-butir halus itu masuk
ke dalam mulut dan hidung mereka.
Keduanya duduk sambil menyemburkan pasir di dalam mulut. Tahu-tahu mereka sudah
tertawa bersama layaknya dua orang yang sudah lama berkawan.
"Puah. We have to wash up before we leave. My servants might get suspcious if we
go home like this."
"You know the way, lead on," Kata Ching. Ia tidak merasa terlalu sungkan lagi.
Chang Houw meraba-raba dinding mencari sesuatu. Tak berapa lama ia sudah
menyalakan obor. Dan pergi ke satu tempat. Disana ada selokan kecil yang jernih
airnya dimana mereka dapat mencuci muka dan bahkan minum airnya.
"We can get out now. And Miss Lie, I hope you can keep what happened today
between us."
"I won't tell anybody," Ching promised.
Chang Houw led the way. Tak lama kemudian mereka sudah keluar dari suatu guha
yang tertutup tirai tanaman. Seluruh mulut guha itu seolah dipenuhi tanaman
Ching Ching 379
hijau yang menggantung dari atas sampai kebawahnya menyeruapai tirai. Chang Houw
membetulkan lagi letaknya sehingga dilihat dari luar, nampak seperti batuan lain
yang sama tertutup tanaman. Tak seorangpun akan tahu dibelakangnya terdapat satu
guha besar.
Ternyata hari sudah hampir gelap. Tapi mereka tak kuatir karena membawa obor.
Dan para pelayan yang mengiringi juga tak jauh tempatnya.
Dalam perjalanan pulang mereka tak saling bercakap. Cuma terkadang saling
melirik sambil tersenyum. Now they shared a pleasant secret. Only they could
know.
Chang Houw mengantar Ching sampai ke kamarnya. Mereka saling berpamit sambil
senyum senyum. A-lian yang melihat jadi terheran heran. Ketika Chang Houw
berlalu, pelayan itu lantas menanya kepada si nona.
"Miss, where did Master take you? We waited an awful long time. We saw you climb
up that steep stone mountain, but didn't see you came back down. And suddenly
you and Master were behind us. And all the way back I saw you glanced at each
other, smiled at each other. What happened, actually?
Sambil mengoceh, A-Lian menggiring si nona mandi. Ia melayani dengan telaten,
tapi mulutnya tak berhenti. Sementara Ching cuma tertawa tawa saja tak mau
memberi tahukan membuat si pelayan benar penasaran bukan buatan.
Esoknya, begitu bangun Ching lekas beberes rapi. Ia berharap hari ini Chang Houw
hendak mengajaknya ke tempat kemarin. Sayang hujan turun dengan deras. Diluar
basah, dan Ching dapat membeyangkan betapa sulit naik ke batu besar dalam hujan.
Karenanya ia cuma bisa berdiam dikamar. Buat perintang waktu ia memain Khim
sambil memperhatikan hujan yang masih terus saja.
Ching terbawa alunan lagu yang mengisahkan keindahan kampung halaman. Ia jadi
teringat saat suci-nya di Sha Ie mengajari lagu ini. Teringat suci-nya, teringat
pula pada gurunya, dan kakeknya, di negeri jauh. Rasa rindu mengusik kalbunya.
Namun sekarang ia tengah dikurung disini. Kesepian, tiada berteman. Entah dapat
keluar hidup ataukah tidak.
Tak sanggup Ching meneruskan permainan. Jari jarinya berhenti bergerak. Namun ia
tak mendapatkan keheningan. Satu alunan lain melanjutkan lagunya. Suara suling
yang begitu jernih sayup sampai ke telinga. Mengalahkan deru hujan.
Ching mencari datangnya suara. Tapi tirai air mengahalangi pandangan ke luar
sana. Hanya saja lamat-lamat tampak sosok seorang gagah berdiri di seberang
kolam. Tegak diguyur air melimpah. Tak perlu Ching melihat siapa, sudah tahu
dia. Pastilah Chang Houw adanya. Tapi apa-apaan dia berhujan hujan macam begitu
?
Bunyi seruling tambah keras. Tidak lagi sekedar berbunyi, tapi merasuk kalbu
tiap yang mendengar. Mengajak ikut berlagu. Tanpa sadar Ching was carried away.
Her fingers began to move again on her harp. Paduan bunyi-bunyian indah
terdengar amat merdu. Selaras berirama atas suatu lagu.
Entah barangkali lagu yang mereka mainkan sampai ke telinga para dewa, atau
bagaimana. Begitu lagu berakhir, hujan pun berhenti. Kini Ching dapat melihat
jelas ke seberang kolam di muka kamar. Chang Houw berdiri disana. Bajunya dan
rambutnya basah, tapi samasekali tidak mengurangi kegagahannya.
Sejenak mereka saling adu mata. Saling menatap dengan pikiran masing- masing.
Ching lekas tersadar. Menutupi rasa jengah, kembali jari-jarinya memetik dawai.
Kali ini lagu yang riang-gembira. Dan suara suling diseberang sana menyahuti.
Sekali lagi merampungkan satu lagu.
"That was beautiful!" A-Lian tahu-tahu saja sudah ada di belakang si nona.
Ching Ching 380
Ching kaget. Ia sama sekali tak mendengar kedatangan pelayan ini. "How long have
you been there?" she asked.
"Not long. Miss, please play one more song. The sounds of the harp and the flute
were so beautiful. Especially played by you and Master."
Ching menangkap sindiran orang. Serta merta ia cemberut. "Play it yourself!"
A-Lian realised she had mispoken. Lekas ia berlagak mengumpak. "No, no! I just
want to listen. I didn't know you had such skills that can compare with
Master's. Master knows a lot about songs and literature. I thought nobody can
beat him. Now I know you can play as good as Master. But do you know as much as
Master?"
"Hmm, you're underestimating me?" Ching bit the bait. "The question you should
be asking is the other way around. Does he know as much as I do?"
A-Lian smiled silently. "I can bet you, any song that you play, Master can
accompany you."
"We'll see," kata Ching. Jari-jarinya bergerak lagi. Lagu lain mengalun.
Bersamaan suara suling juga terdengar. Seperti yang sudah tahu lebih dulu lagu
apa mau dimainkan.
Begitu terdengar Chang Houw menyahuti dengan benar, Ching-chinng segera
berhenti, mengganti lagi dengan lagu yang lain. Dan kalau dapat disahuti ia
ganti lagi. Lagu yang terdengar cuma sepootong sepotong saja tentu tak dapat
dibilang enak didengar. Malah memusingkan bagi yang tidak mengerti musik. A-Lian
sendiri tidak lagi menikmati yang dimainkan. Ia masih tinggal disitu hanya untuk
mengetahui mana yang unggul antara Si nona dengan tuan rumah.
Berpuluh lagu telah tersahut. Hampir semua lagu yang Ching kenal sudah
diperdengarkan. Gadis itu sampai kebingungan mana lagi yang belum dimainkan.
Untung ia dipihak yang maju duluan, Chang Houw sekedar mengiringi. Tapi kalau
pemuda itu lebih dulu, entah Chinng-ching sanggup menyahuti atau tidak.
Berapa jenak persaingan itu terhenti. A-Lian bersorak girang. "Ternyata benar
Kong-coe tak ada yang mengalahkan."
"Not necessarily." kata Ching. Hatinya mulai panas dilecehkan seorang pelayan.
Ia bertekad tak mau kalah. Segera jemarinya memain lagi. Kali dini
diperdengarkan suatu lagu yang menghentak sukma. Menggugah hati untuk maju
berperang. Memang lagu itu tak lain adalah lagu perang dari negeri Shaie. Ching
sengaja memperdengarkannya kali ini. Hampir yakin ia bahwaa Chang Houw takkan
sanggup menyahuti.
Tapi ia kecelik. Sebentaran mendengar saja Chang Houw sudah dapat mengikuti.
Suara sulingnya tidak mengalun, tapi tersentak terputus-putus. Tepat sama dengan
irama yang Ching mainkan. Gadis itu terkejut. Apakah Chang Houw pernah mendengar
lagu itu? Apakah ia pernah pergi ke Sha-Ie? Padahal di negeri tersebut yang tahu
mengenai lagu perang itu juga tak banyak.
Meski kaget, tapi Ching tak sampai hilang akal. Lekas ia mengganti lagunya.
Sekarang yang dimainkan adalah lagu tarian dewi perang. Lagu yang hanya boleh
didengar di kalangan istana Sha-Ie saja.
Memang kemudian Chang Houw terdiam. Ia terpaku mendengar bunyi Khim yang
dimainkan. Nada-nada lembut yang mengalun, sebentar kemudian berubah
bersemangat. Tak sadar Chang Houw bergerak-gerak. Mula mula hanya kakinya
mengetuk-ngetuk. Namun kemudian gerakkannya menjadi cepat. Tahu tahu ia sudah
memainkan satu tarian yang terdiri dari jurus-jurus ** andalannya !
Ching sendiri kaget melihat itu. Ia hanya bermaksud mengalahkan Chang Houw dalam
hal Khim (musik). Ketika ia tahu Chang Houw tidak dapat menyahuti permainannya
Ching Ching 381
gadis itu senang dan tambah bersemangat. Mana tahu kemudian si pemuda memamerkan
jurus-jurus ** nya yang selama ini belum tertandingi.
Si nona tentu saja tak menyia nyiakan kesempatan. Sebagai seorang yang gemar
akan Bu (silat) segera ia pasang mata mengikuti gerakan Channg Houw sembari
mengingat. Sambil begitu tak lupa ia terus memainkan kecapi di bawah tanganya.
Sayang sebelum rampung ** seluruhnya, lagu telah habis. Tapi paling tidak Ching
had committed to memory more than three quarters of the jurus tersebut!
Chang Houw berhenti bergerak. Ia berdiri mematung keheranan. What was he doing
just now? Dancing? He had never learned to dance. Bingung pemuda itu menoleh
pada si nona yang tengah memperhatikan dari balik 'kurungannya'.
Ching berlagak tidak tahu. Ia mengelus-elus Khim sambil berkata, "A-lian,
sekarang kau tahu siapa lebih unggul, aku atau majikanmu ?"
Tapi kata-katanya tidak mendapat jawaban. Hanya deru napas tersengal yang dapat
didengar. Heran Ching menoleh. Tertampak A-Lian duduk ditanah. Napasnya
ngos-ngosan, di keningnya peluh berleleran.
"He, A-Lian kenapa kau ?"
"Sio-cia........ham..hamba tak kuat. Entah kenapa kaki dan tangan tidak
terkendali, maunya bersilat. Lihat, kalau barusan lagu tak berhenti, bisa mati
lelah aku." Kata A-Lian sembari atur napasnya. "Kenapa bisa begitu sio-cia?"
Ching cuma mesem saja. Ia sendiri tak tahu sebabnya.
"Sio-cia, aku mengakui. Kalau dalam soal Khim, engkau unggul setingkat dari
Kong-cu. Tapi apakah berani adu dalam Bun (sastra) ?"
Ching tertawa. Selain Khim (musik) ia juga menguasai Bun, Bu dan Tiok (catur).
Takut apa? Lagi pula ia kepingin tahu sampai mana hebatnya si Kong-cu yang
dijagokan pelayan ini. Maka ia ganti meleceh, "Tanya kongcu-ya mu apa dia berani
melawan aku ?"
"Bagus!" A-Lian bersorak. "Segera kuundang Kong-cu kemari." Dalam sekejapan dara
pelayan itu menghilang. Lupa dia akan lelahnya barusan. Akalnya berhasil.
Sekarang si nona mau mengundang majikannya. Dua-tiga langkah lagi maka ia akan
melayani seorang nyonya muda!
Berbulan Ching bergaul dengan Chang Houw, semakin ia mendapati bahwa pemuda itu
layak dijadikan teman mengobrol, teman memain, dan lawan yang tangguh. Ia dapat
menandingi si nona dalam hal apapun mulai music, chess, literature, sampai
silat. Tak jarang berdua mereka habiskan waktu berdiskusi soal macam-macam,
seharian. Terkadang kalau bosan mereka pergi ke gua diatas bukit batu.
Berlama-lama memandangi cahaya bintang di dalam goa. Mereka semakinn akrab meski
masing-masing belum mengubah panggilan sapa mereka, namun permusuhan hampir
terlupa. Sampai suatu ketika.
Saat Ching dan Chang Houw tengah bermain catur di dalam taman. Mendadak
terdengar satu lengkingan tajam membelah angkasa. Chang Houw yang Giliran jalan
terhenti tangannya di udara. Roman mukanya berubah ubah. Terheran Ching
memandangi. Terlebih sewaktu pemuda itu tergesa pamit.
"Miss Lie, today I have some business to attend to. I have to postpone our game.
I better take you to your room now."
"What kind of business?" Ching bertanya ingin tahu.
"Important business."
"Does that whistle mean that you must go?"
Chang Houw replied by nodding his head.
"Go then," Ching said. "But I want to stay here."
"But ..."
Ching Ching 382
"Why? Can't I?" Ching menantang. Sampai sekarang sifat tak mau kalah dan tak
sudi diperintah itu belum lenyap. Dan Chang Houw paham betul wataknya. Maka dari
itu ia mesem saja.
"Whatever you say," katanya. Ia yakin sebentar kemudian Ching akan bosan dan
balik sendiri ke kamar. "Excuse me." Ia melirik A-lian yang mendampingi si nona.
Pelayan itu mengangguk. Ia akan menjaga Ching sebaik baiknya.
Ketika Chang Houw berlalu, tak sabar Ching bertanya pada A-Lian.
"Do you know what that whistle meant?"
"Young Master already told you, it meant that he was wanted."
"Who called him? Why was he in such a rush?"
A-Lian didn't reply. She just bowed her head.
"Is it his father? His mother?" Ching melanjutkan bertanya.
"Your mother-in-law," a cynical voice said.
Serempak Ching dan A-Lian menoleh. Dari balik gunung-gunungan di taman itu
muncul seorang pemuda perlente yang membawa kipas.
"You ...!!" Ching mendesis geram.
"Yes, it's me. Your brother-in-law." sahut pemuda itu seraya tertawa. Ia
mendekati si nona. "Sister-in-law, I Chang Lun congratulate you."
Brak! Sekali menghentak berkelebatan berpuluh benda putih dan hitam menghambur
ke arah Chang Lun. Pemuda itu kaget menyangka diserang senjata rahasia. Lekas ia
berputar dan mengabas kesana-kemari dengaan kipasnya. Ketika menyadari benda apa
yang beterbangan tadi ia tertawa.
"You became much fiercer. I congratulated you and you throw me these chess
stones?"
Sekali lagi satu benda melayang. Kali ini papan caturnya sekali. Tapi Chang Lun
sudah siap. Ia menyambuti sambil terbahak.
"So you want to fight. Okay. So you'll know that I'm not below my brother."
Setengah mati Ching menahan amarah yang memuncak. Ingin ia membunuh Chang Lun
saat itu juga ditempat. Dan setelah berbulan terlupakan, kini sakit hatinya
kembali merasuk. Untuk yang pertama kali setelah beberapa bulan terakhir ia
menyesali lweekangnya yang terlenyap. Namun meski dendam terhadap pemuda ini tak
terukur lagi, Ching masih tahu diri. Sekarang bukan saatnya. Lebih baik ia
menghindar buat sementara. Lain waktu Chang Lun pasti mendapat ganjaran. Kalau
perlu dengan menggunakan kakaknya.
"A-lian, let's go. The air stinks here. I want to go back to my room," katanya
pedas.
Si Pelayan tak bersuara. Mengikut saja ia kepada si nona. Dalam haati berharap
supaya Chang Lun tak sampai berbuat macam macam. Bisa runyam nantinya. Tapi
harapannya tidak terkabul. Chang Lun malah menghadang di hadapan Ching- ching.
"Where are you going? He just left you for a minute and already you're looking
for your husband? I can keep you company."
Ching berlagak tidak mendengar dan tidak melihat. Tapi mukanya berobah merah.
Matanya menyala-nyala dan mulutnya terkatup rapat sampai tinggal menyerupai
segaris merah.
"Wow, she's angry. And prettier too. I guess you like it here. Your face is
glowing. You even gained some weight."
Habis sudah kesabaran Ching diperhinakan sedemikian. Tangannya terayun hendak
menggampar mulut orang. Tapi Chang Lun terlebih gesit menangkap pergelangannya.
"Aduh, marah lagi. Kenapa......Aduh!"
Dalam jengkelnya Ching menginjak kuat kuat kaki sipemuda. Ia tahu ia tak berdaya
Ching Ching 383
sekarang. Yang diandalkan cuma naluri semata. Naluri buat melawan, buat
menumpahkan kemarahan. Yang dilakukan juga bukan gerakan silat. Sekedar berbuat.
Tapi benar saja, Chang Lun tidak menduga. Ketika merasa sakit dikaki, tangannya
melepaskan.
"A-Lian!" Ching memanggil pelayannya dengan suara gemetar. Si pelayan buru buru
mendului menunjukkan jalan. Tapi Chang Lun belum puas memperolok gadis ini.
Lekas ia mencegat kebali.
"Okay then, no more sweet talk. Are you really going to marry my brother?"
Ching melongo. Chang Lun ini apakah masih memperolok-olok ? Tapi ia tidak lagi
cengengesan seperti tadi. Kali ini wajahnya angker. Matanya tajam berkilat.
"Even if you killed me, I--"
Plak! Giliran Chang Lun menampar. Ching menekap pipinya yang terasa pedas.
Matanya mencorong memandang si pemuda. Tapi Chang Lun tak kalah garang. Melotot
sama galak.
"I knew you were a spy. You get nice with my brother, so you know where our
hideout is. Then you'll escape, telling everybody where it is, so they can wipe
us out. How low! Bitch!"
Ching menatap tajam. Sebenarnya sama sekali tak ada niatan dia berbuat seperti
apa yang dituduhkan Chang Lun. Namun kini hatinya sedang panas. Ia bertekad adu
jiwa sekarang juga dengan pemuda ini. Maka itu ia balas memaki.
"So what? Didn't you do exactly the same thing with my cousin, A-lan? Now I'm
just following in your footsteps. So you're mocking yourself!"
Perkataan Ching tepat mengena. Chang Lun tak dapat berkata kata.
"You just wait. I'll kill off your family the same way you did mine!"
"Go ahead and try. But not before I make you a cripple. I'll cut off your arms
and legs. I'll scar your face, so that no even Houw can recognize you. I'll make
you suffer for the rest of your life. You can't die, you can't take revenge.
Your life will be worthless." Sambil berkata Chang Lun berkelebat mendekat.
Ching bersiaga. Begitu Chang Lun datang, ia akan membenturkan kepala sekuat
tenaga. Biar kepala mereka hancur sama-sama.
A-Lian yang melihat gelagat makin gawat, lekas menghadang di hadapan Chang Lun.
Gadis itu berlutut memohon. "Siaw-kongcu, ampuni Sio-cia. She was lying.
Honest!"
"Stupid servant. Kau sendiri dengar dia memaki dengan kurang ajar. Why are you
defending her? You want to defect? Huh?!"
"I don't dare. But, please, don't act on your own. How will I explain to
Master?"
"I'll handle my brother. Out of my way!" sekali mendepak A-Lian terpental sampai
dua tombak.
"Master, don't! She won't be able to fight you. She has no strength left!"
A-Lian masih berteriak.
"No strength?" Chang Lun terhenti. Tapi kemudian ia melanjutkan. "What's the
difference? Even if she had her strength, she would still die by my hands!"
Chang Lun maju lagi. Ching berdiri gagah. Tak gentar ancaman si pemuda. Tapi
belum lagi Chang Lun melanjutkan tindakan, tahu tahu satu bayangan berkelebat.
Mendadak saja pemuda perlente itu terjengkang kebelakang, tak kuasa bangkit.
Ching menoleh. Chang Houw berdiri disana. Mukanya merah. Ia marah.
"Apologize to Miss Lie!" he ordered his brother.
"Brother ... I ..."
"Do it!" nada suara Chang Houw mengandung perintah yang tak bisa dibantah.
Ching Ching 384
Bahkan Chang Lun tak berani menentang. Ia bangun mengusap bibirnya yang
berlepotan darah.
"Alright. This time I, Chang Lun, beg for your forgiveness." setelah bicara
pemuda itu terus berkelebat menghilang.
Chang Houw menoleh kepada Ching. Tapi gadis itu tengah membalikkan badan. Ia tak
mengucap sepatah kata.
"Miss Lie ...," dia memanggil. Tapi Ching tidak menyahut. Menolehpun tidak.
Gadis itu berjalan menuju satu pintu batu. Ia tahu disitulah jalan terdekat
kembali ke kamarnya. A-Lian memandu di depan. Gadis itu juga tak berani
bersuara. Ketika Ching menghilang di balik pintu, sekelebat Chang Houw melihat
kilatan air dimatanya.
Esok harinya ketika Chang Houw datang berkunjung, Ching tak mau menerima. A-Lian
memberi laporan bahwa sejak semalam gadis itu tidak bersuara. Menangispun tidak.
Hanya duduk diam dipembaringannya. Tidak makan, tidak minum. Tidak berbuat
apa-apa.
Berhari hari cuma itu saja tingkahnya. Lebih celaka daripada sewaktu ia datang
pertama. Dulu masih marah-marah, masih memaki. Sekarang cuma diam dan diam.
Akhirnya pada hari kelima Chang Houw masuk ke kamarnya tanpa diundang.
Terperangah ia melihat pujaan hatinya kusut masai. Mukanya pucat, rambutnya
berantakan. Matanya menatap kosong. Sungguh menghibakan. Tergetar hati Chang
Houw dibuatnya. Ingin pemuda itu memeluknya, menghiburnya. Membiarkan sang
pujaan menangis di dadanya.
Tapi Ching tidak bersuara. Tidak mendengar dan tidak melihat apa-apa. Ia tidak
mengeluh. Apalagi menangis. Hanya setiap kali matanya mengedip, kentara hatinya
menahan siksa. Derita yang ditimbulkan dendam yang terlalu dalam. Tanpa daya
buat membalas.
Chang Houw tak dapat hanya berdiri menatap. Ia mendekat, duduk di sisi
pembaringan. Saat itu pertama kali ia berani memegang tangan Ching
terang-terangan. Menggenggamnya erat. Seolah dengan jalan demikian ia dapat
memberi kekuatan pada si nona. Ia juga tak berkata kata. Perasaannya tak perlu
diucapkan. Ching takkan mendengar. Tapi ia bisa merasakan. Si nona muda telah
mengetahui segala isi hatinya, seperti juga dia bisa membaca hati si gadis she
Li. Hanya dua hati. Melebihi seribu kata.
For a while they sat without moving. A-lian stared from the corner. Waiting.
Touched. Realizing that her master's wish would never come true. Between her
master and Lie Ching was a deep ravine, a splitting difference. Black and white.
Love and hate. Batas yang semu, yet endless.
"Lian, you take care of her. I'll be back." Chang Houw berkata. Sekelebatan saja
bayangannya sudah menghilang. Ada sesuatu yang mesti ia lakukan.
Yesterday, when he was summoned by his parents, Chang Houw knew that something
was going to happen. Every time both his parents called, sitting side by side
like prosecutors, meant that they were going to discuss something important. And
he didn't guess wrong. Even as he paid his respects, his mother asked him,
"Well?" Only one word. But so meaningful. Chang Houw knew. His mother was asking
about Miss Lie. But he did not know how to answer. So he kept silent. His head
bowed.
"Well?" his mother asked again impatiently. "Did she agree?"
"I haven't asked her," Chang Houw replied.
"You haven't? It's been almost a year dan you haven't even asked her? Does she
know about your feelings for her?"
Ching Ching 385
"I think she does?"
"So what are waiting for?" His mother heran. "Do you know how she feels toward
you?"
Chang Houw was silent. Ching's feelings? He didn't know. He couldn't tell. The
girl was stubborn. Unpredictable. At one moment she seemed close and attainable.
At other, she could be as cold as a snowy peak. Chang Houw didn't know.
"A year. That's too long to wait. Ask her tomorrow and get this cleared. If she
doesn't make a sastisfying response, you don't have to wait any longer."
"But Mother ..."
"What?"
"She's not like that. If I surprised her, she won't go for it. And she's already
so vengeful. I need time to..."
"There's no more time. We will make our move next year at the latest. The white
community has to be destroyed, or at least admit us as their superior. As number
one. Have you forgotten already?"
Chang houw hadn't forgot. Being number one in the Warrior World was his goal.
The goal his mother had brought him up with. A must. No matter how, no matter
what the obstacle. But that was then. Before he had ever met a girl named Lie
Mei Ching. Now his goal had almost dimmed, engulfed by the flame of love in his
heart.
"Houw-ji?" This time his father spoke. With his loud thundering voice, but
making his soul serene. Patient.
"Yes, Father."
"What's your opinion? Do you think Miss Lie wishes to join us?"
Chang Houw knew the answer to that. No! But he couldn't say that in front of his
mother. "I don't know."
"You don't know?" his mother yelled. "You still don't know? You can't even
guess?"
"My wife, the heart of a woman is deeper than the deepest ocean, harder to
predict that the weather. Just look at yourself. Aren't you that way also?"
"Yes. But this is just taking too much time..."
"Our son knows better about his love. Knows better how to conquer her. If he
says he needs a little more time, that means he does need it. It's success that
we want."
Listening to her husband, the mother finally consented. "One more month. If she
still doesn't want to be my student, I myself will take care of her.
Understand?"
Chang Houw nodded and left with heavy heart. How would he tell Ching about this?
She would surely decline. Maybe he'd better delay this. And think of a way to
trick the girl into consenting, and to be safe from her cruel mother.
But now, after seeing how Ching suffered so, Chang Houw didn't have the heart.
She had only met Chang Lun, and what effect did it have on her. Not to mention
if she was forced to be his mother's student. Then a member of the family. No.
The girl would feel tormented for the rest of her life. He'd better let her go.
Chang Houw'd rather lose her that to see her suffer, or to watch her killed. By
his own mother!
Ching-ching mengawasi kepergian Chang Houw lewat ujung matanya. Ia melihat
betapa pemuda itu tergesa. Satu jalan telah terbuka! Sebentar lagi ia pasti
segera terbebas. Dan dendamnya akan terbalas. Setelah lama bergaul dan pasang
omong dengan Chang Houw, Ching-ching sudah dapat menduga setiap tindakan yang
Ching Ching 386
akan dilakukan pemuda itu. Begitupun kali ini. Sesuai janjinya pada Chang Lun,
ia akan menggunakan cara licik menipu Chang Houw. Sebenarnya ia benci cara busuk
sedemikian. Jiwa pendekar ajaran maha guru Pek San Bu Koan masih membekas. Kalau
tidak tentu sudah lama ia terbebas dari kurungan. Tapi kali ini tak ada lain
jalan. Chang Lun terlanjur menyulut api dendam yang hampir habis terguyur
kebaikan Chang Houw. Kini si nona telah membulatkan tekad. Tak ada lagi yang
bisa menghalangi.
Esok harinya Chang Houw kembali datang. Kali ini ia menyuruh A-Lian keluar.
Ketika tinggal mereka berdua, mulailah Chang Houw bercakap-cakap dengan si nona.
"Lie-Kouwnio, Lie-Kouwnio, are you listening to me?" Ia mengguncang tangan
Ching-ching. Namun si nona masih menatap lurus ke depan. "Lie Kouwnio, I've
arranged so you can leave. But you can't tell anybody about this. I'm going to
try to get the antidote for the poison in your body. But first, you must get
your strength back. So eat. And drink the medicine. After that, you can get your
revenge. I promise, you'll be free next month."
Mendengar ini hati Ching-ching bersorak girang. Tak sengaja matanya mengedip
lebih cepat. Chang Houw melihat. Ia tersenyum senang.
"Now rest up. Beginning tomorrow, I can't visit you anymore. I have to find the
antidote. But trust me, I'll do the best I can."
Ching-ching puas. Ia akan segera bebas. Apa yang pertama kali akan dilakukannya
? Tentu menemui Siaw Kui. Mendadak rindunya menumpuk pada pemuda itu. Ia ingin
segera bertemu. Lalu Yuk Toa-hu dan kakek angkatnya. Dan kawan kawanya di Pek
San Bu Koan. Bersama sama mereka akan berencana membalas dendam. Ya,
bersama-sama....
Sementara Ching-ching sibuk dengan pikirannya, Chang Houw juga mengerut kening.
Ia sudah mengetahui bahwa obat racun Sia-kang-tok-see (pasir racun pemunah
tenaga) kini disimpan oleh ibunya. Ia harus meminta pada ibunya. Tapi mana
mungkin diberi. Bagaimana kalau berdusta bahwa Ching-ching sudah setuju
dijadikan murid? Ah, ibunya pasti girang dan memberikan obat pemunah itu dengan
sukarela. Tapi kemudian ia juga akan menemui Ching-ching dan terbongkar
semuanya. Apa dia harus mengajak Ching-ching bersekongkol, dan … Tidak!
Ching-ching tak mungkin sudi. Ia kenal watak gadis itu. Ia harus berusaha
sendiri, tak bisa lain. Tapi cara bagaimana ? Hanya satu jalan yang bisa
dipikirkan. Mencurinya. Tapi buat mencuri itu ia harus pertaruhkan jiwanya.
Beberapa hari Ching-ching menunggu, Chang Houw tidak juga datang. Si Nona sudah
putus harapan, sempat berpikir bahwa Chang Houw tak ingin melepasnya dan buat
selamanya ia takkan pulih. Tapi dalam hatinya Ching-ching masih menaruh
kepercayaan pada pemuda itu. Diam diam ia menduga duga, mana yang menjadi nyata,
pikirannya, ataukah perasaan hatinya lebih peka? Ia mendapat jawaban setelah
menanti delapan hari lamanya. Chang Houw datang dengan membawa sebuah kotak di
tangannya. Tanpa berkata-kata ia memberikan pada si nona, yang sudah tahu, apa
isi kotak itu. Pemuda itu cuma mengawasi betapa Ching-ching bergirang menerima
kotak tersebut. "Chang Kong-coe, I¼Thank you. I do not know what to say," kata
Ching-ching. Senyumnya mengembang, wajahnya berseri. Tak lama lagi ia akan
kembali menjadi Ching-ching yang dulu, yang gagah, dan bebas.
Chang Houw tak berkedip melihat pemandangan dihadapannya. Lihatlah, bahkan
bidadari sekalipun takkan dapat menyamai kecantikan si nona sekarang ini. Tidak
buat Chang Houw. Semua capai-lelahnya untuk mendapat pemunah itu lenyap
mendadak. Ia tak ingat berapa kali jebakan senjata rahasia hampir membunuhnya.
Terlupakan betapa ia hampir mati di kamar rahasia ibunya. Dengan melihat
Ching Ching 387
kegembiraan sang pujaan hati adalah lebih dari cukup buat membayar deritanya
semalam.
Ching-ching masih bergembira beberapa saat. Menyadari betapa Chang Houw
mengawasi, ia menjadi jengah sendiri. Mereka sama terdiam, sibuk dengan pikiran
sendiri-sendiri. Tahu tahu Chang Houw teringat sesuatu. Napasnya tersentak.
"Miss Lie, when you've recovered, will you leave immediately?"
"Of course, I don't have any business with¼" mendadak Ching-ching tediam.
Kembali dia diingatkan pada dendam keluarganya.
"Maybe I should tell you. The antidote won't get you better in just a few days.
You'll have to take a lot of rest for some time. I think it's best that when you
leave this place, you go straight to your grandfather Yok-ong-phoa Yuk Lau. He
can treat you until you completely recovered."
"I will do what you say."
"You can leave in a few days." Suara Chang Houw terdengar lirih. "Wait until I
decide who can escort you out."
"Thank you." Suara Ching-ching tak kalah pelan. Sebenarnya tak enak hati ia
menerima begitu banyak kebaikan Chang Houw. Tapi mau bagaimana lagi ?
Lagi lagi mereka membisu. Entah berapa lama. Sampai akhirnya Chang Houw bangkit
dan berpamit pada si Nona.
Sampai kemudian Chang Houw menuju kamarnya sendiri, ia terus mengenangkan Nona
She Lie itu. Teringat olehnya kegembiraan Ching-ching, tapi dalam sekejapan
terlihat kembali murung. Kenapa? Apakah dia merasa sedih lantaran harus
meninggalkan tempat ini? Harus meninggalkan Chang Houw? Ataukah dia cuma
berpura-pura di depannya?
Tapi sebentar lagi nona itu akan pergi. Itu yang terlebih membebani pikiran
Chang Houw. Kemudian untuk selanjutnya mereka takkan pernah berkawan lagi. Tidak
akan pernah lagi. Sebab Ching-ching mendendam pada keluarganya, dan ia takkan
mungkin membiarkan siapapun menyakiti Ayahnya, Ibunya, atau adiknya. Tapi ia
juga tak mau Ching-ching celaka. Aih, sebenarnya kemanakah hatinya lebih berat ?
Kepada Ching-ching atau kepada keluarganya ? Chang Houw tak dapat menjawab.
Sekalipun ia telah mengurung diri dalam kamar mencari jawabnya.
Hatinya pedih mengingat sebentar lagi akan pepisahan dengan kecintaannya.
Menyesal ia tak boleh lebih lama berada dekat dengannya. Chang Houw memejamkan
mata. Terbayang wajah Ching-ching saat cemberut, saat marah, saat berduka, waktu
tertawa, tersenyum, bicara........ Chang Houw tak ingin kehilangan itu semua.
Namun ia tak dapat memiliki si Nona. Akan tetapi ada satu cara. Ia dapat
menyimpan semua kenangan akan Ching-ching dalaam gambar !
Segera pemuda itu mengambil gulungan kertas dan kuas. Lekas tangannya bekerja.
Ia harus menyelesaikannya. Semuanya. Mumpung ia masih ingat, sebelum hatinya
pedih oleh perpisahan, dan dendam. Chang Houw mencurahkan segenap pikiran dan
tenaga pada pekerjaannya sehingga tak menyadari akan lewatnya sang waktu. Tak
kurang dari tujuh buah lukisan telah selesai ketika suara ketukan di pintu
kamarnya terasa mengganggu. Dan tanpa dipersilahkan, tamu tak diundang telah
masuk kedalam.
Chang Houw berusaha menyembuanyikan semua hasil pekerjaannya, namun tamunya yang
tak lain adiknya sendiri, telah lebih dulu melihat.
"Ah!" serunya setelah pulih dari terkejut. Ia mendekati sebuah lukisan. "Let's
see. What's my brother doing? Hmm, it's a pity this painting is too beautiful.
Prettier that the real person. Much prettier.
"Do you need something?" Chang Houw berlagak tidak dengar komentar Chang Lun.
Ching Ching 388
"Toako, you're really crazy about her. You can get in trouble because of these
paintings, you know.”
"What do you mean?"
"You were too busy painting to greet Mother home, weren't you?"
"Mother won't be back in three days."
"Those three days are passed already! She came home this afternoon. She waited
for you all day in the big room, but you didn't come. I wanted to tell you, but
she didn't let me. She had a very important news. She wanted to tell you first.
But you were too busy painting life-size people!"
"Is that true? Whoa, I better go to her!"kata Chang Houw tergesa.
"No use. She's already gone to rest. That's why I can come here to tell you. Be
careful, Toako. You know how she hates to be belittled, let alone by her own
son."
"Yes, I know that." Chang Houw terduduk lemas.
Chang Lun hanya menggelengkan kepala. Sebentar kemudian ia pergi ke kamarnya
sendiri.
Chang Houw menoopang kepala dengan tangan di dahi. Ia telah berbuat kesalahan
besar dengan mengabaikan ibunya. Oh, bagaimana bisa? Padahal ia tahu betul,
ibunya adalah pencemburu yang paling benci dinomorduakan. Bahkan dengan suaminya
sendiri ia tak meu kalah. Dari sepasang siluman ular ia yang memakai julukan
ular emas, sedang semua tahu emas lebih tinggi nilainya dari perak.
Sekarang, dia, anak kesayangan Kim Koay Coa, yang diharapkan dapat menggantikan
orang tua menjadi yang nomor satu di kolong langit, malah berani melupakan
ibunya. Sang ibu pasti marah besar. Apalagi kalau tahu apa yang menyebabkan.
siapa yang menjadikan sedemikian. Takkan ada ampun !
Chang Houw bergegas bangkit. Ia harus bertindak. Sekarang! Sebelum semuanya
terlambat!
Satu bayangan tampak menyelinap kedalam kamar batu dimana Lie Mei Ching tengah
terlelap. Gerakkannya amat cepat dan ringan tandanya orang berkepandaian tinggi.
Sosok itu mendekati tempat tidur dan terpekur mengawasi si nona. Namun saat
kemudian tanggannya lebih cepat bergerak ke muka orang.
Ching-ching tersentak dari mimpinya. Ia tak dapat bernapas. Seseorang mencoba
membunuhnya! Gadis itu menjerit dan meronta, berharap datang pertolongan dari
Sang Tuan Rumah. Tapi suaranya hanya serupa pekik yang hampir tak terdengar. Tak
ada gunanya berontak. Tangan yang memegangnya terlalu kuat.
"Sssssh, it's me!" came a soft whisper.
Ching recognized the voice. It was Chang Houw himself. What was he doing here
this time of night?
“I will take off my hand, but you have to keep quiet.”
Ching had no other choice than nod her head.
“I am going to get you out of this place, but we have to do it quietly. Get your
clothes. I’ll wait outside.”
Ching-ching bergegas-gegas. Sebentar saja ia sudah siap dengan baju ringkas.
Malam ini ia akan bebas! Dipandangnya sebentar kamarnya dari dalam kegelapan. Ia
tak akan kembali lagi ke sini. Tak akan pernah! Dara itu tak berlama-lama.
Segera disambarnya kotak pemberian Chang Houw kemarin dulu. Isinya belum
disentuh, tapi kalau mau benar-benar pergi tentu barang itu tak boleh
ketinggalan.
Begitu sampai di luar kamar, Chang Houw meraih tangan Ching-ching. “Stay close
behind me. I’m going to get you out of here, but until we are out, you cannot
Ching Ching 389
make any noise. Otherwise, we both could die.”
Ching-ching nodded. Berbimbingan dengan Chang Houw, they both moved silently …
Chang Houw membawa Ching-ching melewati lorong gelap yang panjeng dan
berbelok-belok. Entah bagaimana Kong-cu itu dapat berjalan sangat cepat dalam
kegelapan. Sedetik juga tak pernah ia merasa ragu akan jalan jalan yang
ditempuhnya.
Diam diam Ching-ching merasa bersyukur bahwa Chang Houw memegang tangannya erat.
Kalau tidak, ketinggalan dua langkah saja pasti dia sudah tersesat jalan. Belum
lagi ia tak dapat lihat apa-apa. Tapi bersama Chang Houw ia selalu merasa aman.
Tindakannya juga mantap meski dalam gelap. Entah berapa lama sudah mereka
berjalan. Tahu tahu Chang Houw berhenti. Dengan sendirinya Ching-ching juga
tidak melangkah. Mereka berdiri dalam kegelapan dan keheningan beberapa lama.
Ching-ching tak tahu ada apa, namun ia tak berani bertanya mengingat peringatan
Chang Houw tadi.
Tahu-tahu Chang Houw menghela napas. Terdengar nadanya seperti orang menyesal.
"We're caught." katanya lesu. "Tak ada gunanya main menggelap lagi."
"Now what?" tanya Ching-ching kecewa.
Mendadak terdengar suara 'blang' beberapa kali. Seketika tempat itu terang
benderang. Pintu-pintu rahasia disekitar mereka terbuka. Tempat mereka berdiri,
yang tadinya serupa lorong, kini berada di tengah tengah satu ruangan.
Beberapa orang laki berdandan serupa maju membawa obor. Beberapa lagi menghunus
pedang. Kemudian terdengar suatu suara menggeleser halus. Pelan, tapi berirama.
Suaranya berkumandang di semua tempat. Ching-ching sampai bingung darimana arah
datangnya.
"Anak mempersembahkan hormat pada ibu tercinta." belum lagi orangnya tiba, Chang
Houw sudah mengucap salam dengan amat hormat.
Satu pintu rahasia terbuka lagi. Dari gelap muncul satu orang perempuan.
Pakaiannya dari sutera merah bersulam benang emas. Meski dalam kegelapan juga
nampak berkilau. Apalagi terkena cahaya api, maka makin indah kelihatannya.
"Houw-ji, where are you taking her?"
Chang Houw did not answer. He stood with his head bowed.
Wanita yang disebut ibu oleh Chang Houw melangkah semakin dekat. Dengan kepala
tegak dan hati berdebar Ching-ching pentang mata. Sekarang. Ya, sekarang ini ia
akan dapat melihat satu orang yang namanya begitu ditakuti kalangan Bu-lim
belakangan ini. Nama yang menggetarkan hati tiap orang, namun tak pernah
terlihat wujudnya.
Wanita itu dengan anggun melangkah maju. Cahaya obor pelan-pelan menerangi mulai
dari kaki terus ke atas. Semakin mendekat semakin jelas rupanya. Wanita itu
berhenti dihadapan Ching-ching dan Chang Houw.
"Miss Lie, how are you?" tanyanya sambil pamer satu senyum.
Tapi Ching-ching malah bergidik melihat senyumannya. Sambil membelalak tak
percaya ia mundur selangkah. "You ... you ..."
Selama kejadian, tangan Chang Houw belum lagi dilepas. Kini lantaran Ching-ching
mundur, jadinya tangan yang bertaut itu kelihatan oleh semua orang.
Si wanita juga melihat. Kemudian ia menyusul melirik anaknya.
Chang Houw mesti tahu diperhatikan sang bunda, tidak menjadi jengah. Pegangannya
kepada Ching-ching malah makin erat. Si nona yang terpana melihat Kim Koay Coa
tidak menyadarinya.
"Houw-ji, Houw-ji. Perempuan yang kau kenal tidak kurang. Yang mengincar
kedudukan menjadi istrimu juga tak sedikit, kenapa kamu malah penujui gadis
Ching Ching 390
kepala batu yang satu ini?"
Mendengar teguran Kim Koay Coa, Ching-ching jadi tersadar. Dengan muka merah
disentakkannya tangan sehingga terlepas dari genggaman orang. Ia undur lagi
beberapa tindak. Tangannya tracung menuding si Ular Emas.
"You ... It's not possible! You're dead!"
"No. You're wrong. Yo-si-su-thay is dead. I am still alive."
Memang Kim Koay Coa itu tak lain dari Yo Si Suthay adanya.
"But you're dead! Siaw-kui saw it!
"If I'm dead, then how can I stand here right now, in front of you?" jengek Kim
Koay Coa. "Your Siauw Kui was wrong. He saw a woman who looked like me and wore
a nun's robe."
"So it was true. Yo Si Suthay was your disguise." Ching-ching menggumam.
"That's right. Sayang lantaran kau waktu itu menaruh curiga maka Yo Si Suthay
harus dibunuh mati." Kim Koay Coa tertawa. "Miss Lie, I do have to say, you have
keen observation. Nobody knew who I was for many years. But your little nose
appeared and my mask was taken off. I must congratulate you."
“But … Then who is Gin-koay-coa?”
“You don’t really expect me to tell you that, do you? Silakan kau putar otak
sekali lagi. Yang mau kuberitahukan adalah bahwa dendamku padamu sudah tertumpuk
banyak. Pertama karena kau membunuh ibuku. Kedua karena kau bongkar
penyamaranku, yang berarti hilang jerih payahku selama bertahun tahun. Tapi
separoh hutangmu kuanggap lunas karena aku juga telah menghabisi ayah-bundamu.
Separoh lagi boleh hilang bila kau mau menjadi pengikutku. Ai, sesungguhnya
sudah lama kuinginkan kau menjadi pengikut. Lebih baik lagi kalau kau bersedia
jadi menantu." Kim Koay Coa tertawa lagi.
“Your mother … Who is your mother?” Ching-ching sibuk putar otak. Siapa gerangan
yang pernah dia bunuh dan usianya layak menjadi ibu siluman ini? Selama otaknya
berputar, tak habis heran si nona. Yo Si Suthay adalah seorang yang terkenal
galak dan berdisiplin. Bicaranya juga jarang, cuma sekadar yang perlu. Namun
begitu berganti peran, betapa orang dapat omong banyak dengan lagak genit dan
manja, namun tetap punya wibawa.
"Lie Kouwnio, kalau kau lupa........."
“I haven’t forgotten,” kata Ching-ching. "Hek-coa-popo itulah tentu ibumu."
"You're smart. She is my mother. And you have to die for killing her. Unless you
join our family. A life for a life. Your life for my mother's."
“Never!” menjerit Ching-ching. “I would never …” Sekejapan ia melirik Chang Houw
yang pias mukanya. Seketika si nona rem mulutnya dan balik omong. “Even if I
have to die today, I would never regret I have killed that ugly devil, so do not
expect me to go crawling to you to pay for my ‘sins’” "Meski kumati hari ini
selamanya aku tidak menyesal telah membunuh iblis jelek ibumu itu. Maka jangan
harap ku mau bayar hutang- tebus dosa segala."
Wajah Kim Koay Coa yang tadinya penuh senyum itu menjadi beku seketika. “Then
die!” si nyonya mengeluarkan cambuk. Di pecutkannya ke udara. Terdengar bunyi
mendesis bergema. Ching-ching sekilas melihat cahaya ungu memancar dari kulit
ular yang dijadikan senjata itu. tahulah dia, racun jahat dioleskan kepada
sejata. Sekali terkena, entah bagaimana nasibnya.
"Nio …" terdengar lirih suara Chang Houw. Suara itu entah pedih entah kecewa
ataukah berkuatir.
“Houw-ji, stay out of this!” berseru Kim Koay Coa. Sekaligus ia lecutkan sekali
lagi pecutnya ke arah Ching-ching.
Ching Ching 391
Ching-ching tahu, tak ada gunanya melawan. Tenaganya hilang, pula kepandaiannya
jauh berada di bawahan siluman ular itu. Namun si nona tak gentar. Ia berdiri
dengan sikap siaga. Terasa kuda-kudanya goyah. Tapi Ching-ching sedikitpun tak
mau unjuk kelemahan.
Selarik sinar ungu menuju muka orang. Ching-ching siap menghindar. Tapi
sesungguhnya ia sadar tak mungkin lolos dari sambaran lecut orang. Namun sebagai
nona bandel, masa ia mandah saja dibunuh ?
'Tarrr' terdengar suara keras ketika pecut mengenai kulit orang. Disusul
mengucur darah ke atas tanah. Tapi bukan Ching-ching yang jadi korban. Dalam
waktu cuma sekejap mata Chang Houw telah berdiri di hadapan si nona. Pecut
melingkari tangannya yang sengaja dipakai menerima. Terlihat bajunya hancur
terkena hawa panas pecut beracun. Kulitnya yang putih juga matang biru. Dan
darahnya yang menetes berwarna hitam. Inilah tandanya betapa jahat racun di
senjata orang.
"Chang Houw!" Kim Koay Coa membentak. Nadanya seperti kaget, seperti marah,
terlebih lagi menyesal.
"Nio, I beg of you. Please let Miss Lie go for now. Just this once.”
“I … You ….” Kim-koay-coa was speechless tak dapat berkata-kata beberapa saat
lamanya. Kemudian ia melempar satu botol kecil dari sakunya. “Houw-jie, take
this antidote.”
“Nio, I’ll take it when Miss Lie is free.”
“Houw-jie, you’re really …” Kim Koay Coa melotot gusar. “You’ll die even before
she can leave this place! "Sebelum orang pergi kau sudah keburu mati!"
Chang Houw tegak ditempatnya. Botol obat telah digenggam ditangan, tapi ia belum
mau mengambil obat penawar.
“Master Chang, I do not ask for your protection. Take the antidote,” Ching said.
She knew the poison was already spreading fast. If Houw did not take the
antidote immediately, he could die. That means that he would die in vain because
of her. Padahal Ching-ching pantang berhutang budi pada musuh.
Chang Houw made no move. Matanya lurus memandang sang ibu. Mulutnya saja
bersuara. “A Warrior never take back his own words!” Perkataannya itu ditujukan
entah pada Ching-ching atau pada ibunya. Tetapi kedua wanita itu tahu, omongan
Chang Houw bukan sembarang diucapkan.
Kim Koay Coa memandang dingin wajah anaknya. “If I refuse, would you then die in
vain? Miss Lie will die, and you will be dead.” "Kalau aku menolak, bukannya kau
nanti mati tersia-sia? Lie Kouwnio tidak selamat, kau sendiri terbinasa."
Chang Houw went silent. His mother was right. If he were dead, who else would
protect Miss Lie? She would never be able to escape this devil’s lair. Then
again, to die on the same day would be good. They lived as enemy in this life,
who knew if they could be together in the next?
Kim Koay Coa tahu anaknya keras hati. Percuma ia membujuk sebagaimana. Karenanya
ia beralih bicara pada Ching-ching. “Miss Lie, if you surrender, not only I will
give you a comfortable life for the rest of your life, but I will also guarantee
your safety for the rest of mine. We can all be happy. No one is in debt, no one
does any favors for anybody.” "Lie Kouwnio, andai kau mau menyerah, bukan saja
kuberi kehidupan enak sepanjang hidup. Tapi aku juga menjamin keselamatanmu
sampai akhir hayatku. Demikian kita sama sama enak. Semua sama senang. Tak ada
yang berhutang, tak ada yang melepas budi."
Ching-ching mengerti maksud si nyonya. Andaikata Chang Houw mati, berarti dia
ikut berdosa. Tapi Kim Koay Coa menyebut tentang melepas budi segala. Berarti ia
Ching Ching 392
tak tega melihat anaknya mati sekarang. Andaikata Chang Houw tidak tampak
menyerah, tentu Ching-ching akan dilepas bebas.
“I will not be a two-faced person,” Ching replied. “Let us say that I surrender,
we both know that I will not do it wholeheartedly. One day, I will bikin celaka
kamu, and I would be betraying both sides. No, I choose death over that.”
"Aku tak mau jadi orang muka dua." sahut Ching-Ching." Andaikatapun sekarang
kumenyerah, tapi tidak sepenuh hati. Lain hari pasti kubikin celaka kamu. Maka
dari itu daripada menghianati dua pihak, lebih banyak kupilih mati saja."
Tampak lamat-lamat senyuman di bibir Kim Koay Coa. Matanya menerawang jauh
seperti mengingat sesuatu. Lama tak ada yang bersuara di dalam ruangan situ.
'Bluk' tahu tahu Chang Houw rubuh. Ia memegangi dadanya. Mukanya mengunjuk rasa
sakit, tapi mulutnya sedikitpun tidak mengeluh.
Kim Koay Coa lekas memburu ke depan. Ching-ching yang terlebih dekat sudah maju
selangkah, tapi kemudian berhenti. Ia cuma memandang saja orang kesakitan.
“Take this!” Kim Koay Coa mengangsurkan satu buah Tan-wan (obat tablet) kemulut
anaknya.
Chang Houw closed his eyes. “I’ll wait until Miss Lie is safe,” his lips moved.
Suaranya sudah amat lemah.
“Fine, I will do what you want. Miss Lie can go. You have my word.” Kepala Kim
Koay Coa bergerak sedikit. Dayang yang memegang obor teru membuka satu pintu
rahasia. "Orang She Lie silahkan pergi." berseru Kim Koay Coa.
Sejenak Ching-ching ragu. Kalau ia pergi, mau tak mau ia menerima budi Chang
Houw. Tapi kalau ia diam ditempat, berarti Chang Houw mati. Meski pemuda itu
adalah musuhnya, bagaimanapun sikap pemuda itu sudah mendapat simpati si nona.
Lantas bagaimana baiknya?
Si nona melangkah. Ia berlutut di sampingnya Chang Houw. Diambilnya tan-wan di
tangan sang bunda, lalu disuapkannya ke mulut si pemuda. Semuanya dilakukan amat
cepat dan tergesa.
Baik Chang Houw maupun ibunya terkejut atas tindakan si nona. Saking terpana
mulut Chang Houw terbuka. Mudah saja buat Ching-ching membuat pemuda itu telan
obat penawar.
“Master Chang, bagaimanapun I am in your debt. I do not know how to repay you. I
cannot let go my vow of vengeance, but other than that, even if you ask for my
life, I will give it to you," si nona berkata.
"Miss Lie, how can I ask for repayment when I have not done you any favors? aku
tak merasa melepas budi. Bagaimana mungkin minta balas jasa," Chang Houw said.
“You are here because I forced you to. As a good host, it is my duty to see you
off safely. Now you even have poison in your body. Is it not that I have wronged
you?”
"Bukankah kedatanganmu kemari juga lantaran aku yang paksa. Sebagai tuan rumah
sudah kewajiban kalau kumengantar kau pergi dengan selamat. Malah kini kau
sedang keracunan obat. Bukannya aku yang berdosa padamu?"
Ching-ching waved this off. “I’m not good with speech. Aku tak pintar basa-basi.
I do not like to be in debt. Master Chang, you can ask anything of me and I will
try my best to fulfill it. If you do not ask, then I would rather take my own
life right here in front of you.” Sikap Ching-ching lugas. Meski sungkan di
hadapan si tuan muda, tetap saja tak bisa bersikap mengikuti tata peradaban.
Chang Houw sudah kenal adat si nona. Maka dari itu tak ayal lagi terus berkata.
“Then I will ask this of you. In the future, whatever happens, I wish that you
will not fight with me menjadi lawanku pibu (bertarung)."
Ching Ching 393
“Which means I cannot kill you,” she said. “I accept.” Kemudian tanpa berpamit
lagi ia terus mengikuti si dayang penunjuk jalan.
"Orang she Lie!" memanggil Kim Koay Coa. "Ini!" Ia melemparkan satu buah benda.
Dengan sigap Ching-ching menangkap. Begitu menerima ia seketika menjadi pucat
sembari meraba saku. Ternyata kotak obat pemberian Chang Houw tidak lagi
ditempatnya, justeru berpindah di tangan. Kim Koay Coa telah mengambil tanpa
sepengetahuan. Baru Ching-chign menyadari seberapa tinggi ilmu orang.
Akan tetapi gadis itu tidak perlihatkan perasaan. Tanpa mengucap sepatah kata ia
membalik dan melanjutkan langkah.
Chang Houw mengikuti kepergian si nona dengan perasaan kacau. Ia merasa lega,
tapi berduka. Seperti ada sesuatu yang hampa dalam hatinya. Hilang terbawa oleh
kepergian gadis itu. Namun Chang Houw sadar, bagaimanapun ia dan si nona she Lie
berada di dua pihak yang bertentangan. "Andai saja keadaan tidak begini."
diam-diam ia membatin.
White Mountain dari kejauhan amatlah indah dipandang mata. Puncaknya yang
menjulang dilapisi awan. Lerengnya seringkali seperti terhalang kabut tipis.
Sesuai namanya Pek San yang menampilkan pemandangan putih belaka. Namun apabila
makin didekati, warna putih itu makin pudar. Bahkan apabila telah tiba di kaki
gunung itu sendiri, jangan harap melihat salju, atau kabut. Yang ada hanya warna
hijau seperti kebanyakan gunung lain. Bahkan lereng gunung Pek San lebih subur.
Pohon-pohon besar tumbuh disitu seolah memagari kaki gunung.
Di kaki gunung itu Ching-ching berhenti sebentar untuk beristirahat.
Dipandanginya alam sekitar yang sudah pernah ia kenal.
Tiada yang berubah. Semua masih tampak sama. Tapi sudah berapa lama ia tidak
menginjak lereng gunung itu. Setahun? Padahal orang-orang yang kini merupakan
kerabatnya terdekat tinggal disitu.
Setelah mengaso sejenak, Ching-ching meneruskan berjalan ke tujuan. Rumah tabib
Yuk. Ia mesti merepotkan kakek angkatnya itu sekali lagi.
Melihat pondok Si Raja Obat, mendadak Ching-ching merasa berdebar. Ia seperti
juga pulang ke rumah. Tahu-tahu dirasanya teramat rindu pada sang kakek.
Secepatnya ia berlari ke pondok sederhana itu.
“Yuk Kong-kong!” sepanjang jalan ia berteriak memanggil.
Di pekarangan depan dilihatnya sang raja obat tengah menjemur berbagai macam
akar-akaran. Ia memanggil sekali lagi.
Melihat siapa yang datang, Yok Ong Phoa amat terkejut. Tangannya gemetar. Akar
obat yang mau dijemurnya berantakan ditanah. “Kau...........” ia menuding dengan
bingung.
Ching-ching tak kalah heran melihat reaksi orang.
“Kong-kong, apa sudah lupa? It’s me, Ching-ching!”
“Ching-ching!” tabib Yuk lantas mendekat. Beberapa batang akar obat terinjak,
tapi ia tak ambil peduli. Diperhatikannya muka si nona. “Oh my. You’re still
alive?”
Terbengong Ching-ching jadinya. “When did I die?”
“Ah-Lau and Wang Li Hai. They brought home the news that ...Wait, I have to tell
them about this.”
Yok Ong Phoa Yuk Fung menyuruh cucu angkatnya itu menunggu. Ia sendiri terburu
buru menuju ke Pek San Bu Koan untuk mengabarkan kepulangan Ching-ching.
Sebenarnya Ching-ching sendiri tak tega melihat Kakek itu sedemikian repot. Tapi
mau bagaimana. Ia sendiri ingin ketemu dengan kawan-kawan yang lain, padahal
sudah disumpah tidak menginjak Pek San Bu Koan lagi seumur hidupnya.
Ching Ching 394
Tak terlalu lama, Ching-ching sudah mendengar langkah orang berlari. Benar saja,
kemudian ia melihat Chia Wu Fei datang, susul menyusul dengan Miaw Chun Kian dan
Yuk Lau.
“Ching-moy!” mereka semua berteriak serempak begitu tiba dipondok. Tapi ketika
melihat Ching-ching berdiri di depan pintu dengan tertawa, kesemuanya cuma bisa
berdiri menjublak.
Wu Fei adalah yang paling pertama bergerak. Sekali berkelebat ia menarik rambut
Ching-ching. Nona itu tidak menduga, dengan sendirinya tak sempat mengelak.
“Aww! Wu Fei-ko apa-apaan?”
“Huaa, Ching-ching, you are still alive!”
“Of course I am. Kalau sudah mati apa bisa merasa sakit?” gerutu si nona.
Serentak yang lain-lain ikut bersorak. Mereka berebut pasang omong duluan dengan
si nona. Jelas orang jadi bingung dibuatnya.
“Aaaa!” tahu tahu Ching-ching berteriak. Yang lain kaget, terdiam.
“Aku mau lebih dulu menanya!” kata si nona galak. “Kalian dapat kabar aku sudah
mati dari mana?”
“Sam-suheng yang bilang!” menuding Wu Fei.
“That’s right. Memang aku yang membawa kabar. Aku sendiri mendapatkan di
markasnya partai agama di Kong An, dari seorang pemuda bernama Tan Hai Chong. Ia
bilang ketika kau ditangkap Kim Gin Siang Coa Pang, mereka membunuhmu ditempat.
Mayatmu dibakar, abunya disebar.”
“Kurang ajar budak itu! Justru Tan Hai Chong itulah yang bersama gurunya
mempedayai aku. Jelas dia tahu aku masih hidup. Kenapa pula ia berkata yang
bukan-bukan. Eh, darimana Gie-ko (kakak angkat) mengenal dia ?”
“Dia pernah ada hutang budi dengan Sian Toa-ko Chow Fuk. Maka dari itu mau
memberi keterangan mengenaimu. Tak tahunya kita ditipu mentah-mentah.” Wajah Yuk
Lau tampak dendam. “Bangsat tak tahu diri!” ia mengumpat.
Ching-ching noticed that Yuk Lau called orang sebagai Big Brother. Berarti kedua
kakak angkatnya itu sudah berbaikan. Tetapi di depannya Yuk Lau also added
‘late’. Seketika wajah si nona pucat.
“Apa...apa yang terjadi pada Toa-ko?” “What-what happened to Toa-ko?”
“When his teacher caught him talking to me,
“Ketika dipergoki gurunya bahwa toa-ko sering bertemu denganku, ia dianggap
penghianat dan tiada pengampunan lagi. Karena untuk menyelamatkan aku supaya
dapat mencarimu toa-ko melawan habis-habisan gurunya. Ia.......” suara Yuk Lau
mendadak serak.
Ching-ching sendiri amat terpukul. Kepalanya terasa pening. Kakinya lemas. Tak
terasa ia jatuh berlutut.
“Ching-moy!” Wu Fei memayangnya berdiri.”Lebih baik kita bicara di dalam saja!”
katanya sambil mendului membawa si nona kedalam.
Beberapa saat lamanya Ching-ching tak dapat berbicara. Ia menangis tanpa suara.
Tapi kemudian ia tersenyum sambil menghapus airmata.
“Paling tidak kini semua orang tahu bahwa toa-ko bukan orang jahat. Soal
kematiannya biarlah kelak kita yang membalas.”
Melihat si nona tidak lagi berduka malah nampak bersemangat, yang lain tertular
merasa lebih gembira. Apalagi sebenarnya kematian Chow Fuk sudah lama terjadi.
Masa berkabung juga sudah lewat. Tak heran mereka mudah kembali cerah. Semuanya
cuma merasakan kegembiraan atas kepulangan Ching-ching yang tak lurang suatu
apa.
Tidak ada yang tahu betapa perasaan gadis itu yang sesungguhnya. Ia merasa
Ching Ching 395
berdosa atas kematian Chow-Fuk. Sedikit banyak ialah yang menyebabkan. Andaikata
ia tidak sampai tertangkap oleh Chang Houw, pasti tak ada kejadian macam begini.
Dendamnya kembali berkobar. Tapi dipihak lain ia juga merasa berhutang budi pada
musuh besarnya itu. Lebih celaka, ia pernah menganggapnya sebagai kawan.
“Tahu tidak, gara-gara mendengar kabar kematianmu, kami anak murid Pek San Bu
Koan banyak kau bikin repot. Dari berkabung sampai upacara sembahyangan kami
lakukan semua. Tahukah ? Suhu sampai 40 hari pantang makaan daging.” ocehan Wu
Fei membuat si nona tersadar dari lamunan.
“Apa iya ?” katanya. Hatinya tergetar mengingat sang guru.
“Why would I lie? We all wore white in mourning. Teacher didn’t, of course, but
he fasted instead. He also came to the funeral ritual.”
“Buat apa bohong? Waktu itu kami semua selalu pakai baju putih tanda berkabung.
Suhu terntu tidak, tapi ia berpantang sebagai gantinya. Lalu waktu upacara
sembayangan, guru juga datang.”
Diam-diam si nona terharu mendengar bahwa bekas saudara-saudaranya seperguruan
begitu menghargai dia. Namun di depan Wu Fei mana mau ia perlihatkan perasaan
hati. Maka sambil tertawa tawa ia malah berkata, “coba bagaimana upacara
menyembahyangi aku ?”
“Tahukah kau kelenteng yang di kaki gunung ini? Disanalah kami adakan....”
“Kelenteng bobrok itu? Teganya !”
“Tentu sajaa kami perbaiki dulu. Kalau tidak mana pantas terima tamu
pendekar-pendekar besar.”
“Banyak pendekar menyembahyangi aku? Wah, mati pun tidak menyesal.” Ching-ching
tertawa lagi.
“Jangan jumawa. Mereka datang karena menghormati suhu, ayahmu dan kakekmu.” kata
Miaw Chun Kian.
“Oh, ya. Waktu sembayangan ada sekelompok gembel yang mengaku kerabatmu.
Pemimpinnya berjuluk Ban Jiu Touw Ong kalau tidak salah. Dia yang paling ngotot
mengaku sebagai ayahmu, dia yang menangis paling keras, bahkan memaki-maki suhu
di depan banyak orang. Dikatainya beliau tak becus menjaga murid. Yuk-kong-kong
juga dikatai tak becus.” Wu Fei semangat bercerita.
Ching-ching tak tahu harus tertawa atau menangis mendengarnya.
“Kami semua bersedih sedih. Toa-suheng dan Sam-suheng tak bisa makan-tidur,
paling kasihan melihat Hai-ko. Badannya kurus seperti lidi.”
“Kau sendiri menangis tiga malaman sampai matamu bengkak tak bisa melek kenapa
tak disebut-sebut?” omel Yuk Lau.
Wu Fei berlagak tidak dengar. “Ching-ching, kepulanganmu apakah Li-Hai sudah
tahu ?” tanya Wu Fei membuat si nona yang setengah melamun kembali tersadar.
“Tidak. Aku belum lagi bertemu dengan dia. Barangkali sekarang dia sedang jalan
jalan dengan suci, ya. Pantas sedari tadi aku tak melihat Sioe Ing-cici.”
Seketika semua terdiam. Mereka saling pandang dengan sikap yang mengherankan si
nona.
“Kenapa? Atau mereka malah sudah kawin sekalian?” Ching-ching bergurau.
“Kau sudah tahu ?” tanya Yuk Lau.
“Dia malah sama sekali belum tahu!” bantah Wu Fei.
“Apa? Ching-ching bingung.”Tahu apa ?”
“Sioe Ing tidak lagi ada disini. Ia sudah pergi.” Miaw Chun Kian yang memberi
tahu.
“Ada kejadian apa sampai Sioe Ing-cici diusir?”
“Sebenarnya itu adalah kesalahan Su-moy sendiri, tapi juga bukan sepenuhnya
Ching Ching 396
kesalahan dia.”
“Aku tidak mengerti..?”
“Setelah kau dikabarkan mati, Wang Li Hai sedemikian sedihnya sehingga jatuh
sakit. Selama itu selain Kong-kong yang merawatnya adalah Su-ci dan Thio Lan
Fung. Semua tahu keduanya sama menaruh hati pada pemuda itu. Malahan ayah nona
Thio sudah pula datang melamar untuk puterinya, dasar tidak tahu malu!” Wu Fei
menghentikan ceritanya sekedar buat memaki.
“Sioe Ing-sumoy mendengarnya lalu menanyakan kepada Thio Lan Fung.” Yuk Lau
menyambung cerita adik seperguruannya. “Entah bagaimana tahu-tahu Su-moy dan si
nona she Thio sudah bergebrak dengan seru. Dalam pertempuran itu Thio Lan Fung
terluka berat sampai perlu dibawa kepada kong-kong supaya dirawat. Ayahnya, Thio
Tay-hiap tidak terima, lantas datang melabrak ke perguruan. Suhu mencoba
membereskan perkara secara damai, tahu-tahu su-moy datang dan mabuk pula
kemudian memaki-maki Thio Tay-hiap didepan anak-murid yang lain.”
“Suhu murka melihat kelakuan su-moy yang memalukan. Seketika itu juga su- moy
diusir dari perguruan.” kedengaran berduka suara Miaw Chun Kian.
“Sebenarnya suhu tak perlu sampai mengusir.” kata Wu Fei menyesali. “Waktu itu
su-ci sedemikian mabuknya sehingga tak sadar apa yang dikatakan. Malah kalau mau
dibilang justeru suhu yang salah, tahu su-ci tidak tenang bukannya diberi
nasihat malah dilepaskan keluyuran.”
“Su-moy sudah dewasa. Lagipula suhu tak dapat mengawasi murid satu persatu.”
bantah Miaw Chun Kian.
“Aku pikir hal itu dilakukan demi menjaga wibawa.” menyahut Ching-ching.
“Apabila Kang-ouw tahu beliau melindungi murid yang tidak tahu adat, apa jadinya
Pek-San-Bu-Koan?”
“Nah, ternyata Ching-moy lebih mengerti.”
“Justeru aku tidak mengerti sama sekali. Apa suhu kalian lebih perhatikan
wibawanya sendiri daripada anak-muridnya?” menggumam si nona.
Baik Chun Kian maupun Yuk Lau tak dapat menjawab. Sekarang iniipun mereka tidak
mengerti tindakan suhunya. Betulkah hanya demi kewibawaannya seorang? Ataukah
demi seluruh murid Pek-San-Bu-Koan? Atau demi kepentingan Sioe-Ing atau
bagaimana?
“Bagaimanapun, aku yakin tindakan Suhu didasari alasan yang kuat.” kata Miaw
Chun Kian.
“Memang demikian seharusnya tindakan murid berbakti!” Ching-ching mengacungkan
jempol. “Soal itu bolehlah tidak usah dibicarakan lagi. Sekarang aku mau tanya
kabarnya Khu Yin Hung?”
“Dia sedang berada di kampungnya, berusaha membangunn kembali reruntuhan
rumahnya dengan bantuan orang-orang disana. Oh ya, pelayanmu si A-Ying itu juga
menemaninya disana.”
“Sayang Sam-suheng sedang banyak urusan disini, kalau tidak tentu ia akan turun
diam di Ban-Tok-Lim juga.” kata Wu Fei seraya melirik Yuk Lau yang tersipu.
“Kau apakah tidak menanyakan keadaan Wang Li Hai?” membalas Yuk Lau kepada si
Nona.
“Ya, betul. Apa kau tidak kasihan kepadanya? Semenjak kau hilang itu dia banyak
lebih kurus dan sering sakitan. Mukanya sekarang pucat pula. Semestinya kau
jenguk dia !” menyambung Wu Fei.
“Dia sendiri anggap aku sudah mati, guna apa kujenguk dia? Lagipula disampingnya
kini ada Thio Lan Fung yang malah sudah berani melamar.” ketus Ching-ching.
Kentara gadis itu minum cuka alias cemburu. “Sudah, kalian jangan sebut dia
Ching Ching 397
lagi, kalau tidak aku mendingan tidur saja !”
Ketiga pemuda yang lain tertawa saja mendengar ancamannya, tetapi kemudian tak
ada pula yang menyebut nama Wang Li Hai. Yang dibicarakan kini hanya seputar
berita di kalangan Bu-lim saja berhubung si nona banyak ketinggalan kabar
setahun ini.
--oOo—
The news of Lie Mei Ching coming home was spread among the warriors. Many went
to look for her to ask her about Kgscp. In the end, the White Mountain School
had its hand full. Everyone knew that although Lie Mei Ching was kicked out of
the school, but the relationship between the students were very close. So they
came to White Mountain with the excuse to congratulate Lie Wein Ming on his
birthday.
Murid-murid Pek San Bu Koan tentu saja terkejut berbareng heran lantaran ulang
tahun Li Wei Ming ke-82 itu memang tidak dirayakan dan tidak mengundang orang.
Memang bukan kebiasaan untuk merayakan ulang tahun dibawah kelipatan sepuluh.
Bahkan Li Wei Ming sendiri semenjak pagi sudah pergi entah kemana. Ia yang lebih
dapat menyelami tindak-tanduk anggauta Bu-Lim sudah menduga adanya kejadian,
maka lekas menyingkir dengan sedikit mendongkol.
Miaw Chun Kian sebagai murid tertua bertugas menerima tamu. Ia tak dapat lain
daripada mengucap terimakasih dan mohon maaf atas tidak adanya persiapan.
“Sesungguhnya she-jiet Suhu kami tahun ini tidak dirayakan, akan tetapi cu-wi
(anda sekalian) berkenan mengingatnya, kami sungguh merasa tersanjung. Sayang
kami tiada persiapan sama sekali, maka untuk menjamu hanya tersedia teh saja.”
“Ah, kami datang toh bukannya minta dijamu.” kata seorang tetamu.
“By the way, where is your teacher?” kata yang lain.
“As a matter of fact, Teacher is not here for the moment,” Miaw Chun Kian
replied. “He left very early in the morning, maybe just to take a walk to the
back of the mountain.”
“Ah, why does he leave on his birthday?”
“His birthday celebration is still eight years away. The guests are early!”
gerutu Chia Wu Fei, murid kelima Pek San Bu KOan itu.
Para tamu meski merasa tersindir, berlagak tidak mendengar saja. Mereka tidak
datang untuk mencari ribut, bahkan justeru mereka yang punya kepentingan. Maka
dari itu sindiran Wu Fei ditelan saja dengan mendongkol.
Chun Kian melirik adik seperguruannya. Chia Wu Fei berlagak tidak tahu, terus
saja masuk ke dalam.
Tunggu punya tunggu, Li Wei Ming tak juga pulang, padahal hari telah menjadi
gelap, tidak sopan untuk terus diam disitu tanpa diundang. Para tamu menjadi
gelisah sementara Chun Kian dan Yuk Lau sepakat takkan menawarkan tempat tanpa
persetujuan guru mereka.
Akhirnya ada juga yang tidak betah berdiam saja. Mewakili semuanya ia
menghampiri Miaw Chun Kian.
“Actually, we do have other business to discuss with your teacher. But since
he’s not here, you can act as his pr considering you’re the first student of
this school.”
“I’m flattered. But if it’s really important, I think you’d better talk directly
to Teacher,” kata Chun Kian merendah.
“Gurumu sengaja menghindari kami, biarpun kami menunggu juga toh tak bisa
terlalu lama. Memangnya kami tiada kerjaan lain?” Seorang wanita setengah baya
menyahut dengan ketus.
Ching Ching 398
Miaw Chun Kian mengenali orang sebagai Hu Yong Giok Tiap (Kupu kupu kemala
tamanmelati). Wanita ini adalah pemimpin perguruan Hu Yong Pay di selatan.
Perguruan yang hanya menerima anak perempuan sebagai murid. Dan X1 ini memangnya
terkenal bermulut pedas.
“Boanpwee rasa suhu tidak sengaja menghindar.” bantah Chun Kian halus,”hanya
saja beliau tidak menduga akan kedatangan cu-wi sekalian.”
“Sudahlah, tiada guna mempersalahkan orang lain.” melerai seorang tetamu.
Miaw Chun Kian belum pernah bertemu dengannnya. Akan tetapi melihat betapa orang
ini belum sampai seumur gurunya, akan tetapi jenggotnya sudah melebihi dada,
pula melihat senjata orang yang serupa pit dari besi, lantas ia segera tahu
orang berjuluk Tian Sie Su Sing (Pelajar berjenggot panjang) bernama Sie Kong.
Orang itu berkata lagi, “Urusan kami tidak melulu hanya dapat diselesaikan
gurumu, malan kukira kau lebih dapat membantu mengenai persoalan ini.”
“Ah, Sie Tay-hiap terlalu menyanjung. Kalau boleh kutahu, urusan apakah kiranya
itu? Andaikata tidak melanggar aturan perguruan, dan tidak melanggar kupunya
prinsip, senang hati boanpwee (aku yang muda) membantu.”
“Urusan ini adalah mengenai Lie Siaw Li Hiap.....” Tian Sie Su Sing sengaja
menggantung ucapannya untuk melihat reaksi Chun Kian dan Yuk Lau.
Si pemuda she Yuk nampak agak terkejut, sebenarnya Miaw Chun Kian juga tak kalah
kaget, akan tetapi ia lebih dapat menahan perasaannya.
“Lie Mei Ching memang pernah menjadi murid di Pek San Bu Koan, akan tetapi
kedudukannya tersebut sudah dicopot oleh Suhu sendiri, bahkan untuk selanjutnya
ia tak boleh menginjakkan kaki di tempat ini lagi. Maka boleh dibilang urusannya
tidak ada sangkut paut dengan kami.”
“Memang benar. Akan tetapi Lie Siaw Lie Hiap adalah adik angkatnya Yuk-heng
disini bukan?” Tian Sie Su Sing berpaling pada Yuk Lau.
Si pemuda she Yuk menjadi pucat. Ia tak dapat bersuara untuk beberapa lama.
Pandangan setiap orang menuju kepadanya. Mau tak mau gentar juga Yuk Lau.
“Memang benar. Lie Mei Ching adalah adik angkatku. Akan tetapi hal ini tidak ada
sangkut pautnya dengan perguruan kami. Dan kalau adikku ada berbuat salah kepada
cu-wi sekalian, biarlah aku mewakilinya memohon maaf.” Yuk Lau sudah akan
berlutut, akan tetapi Tian Sie Su Sing lekas memapahnya berdiri.
“Oh, bukan...bukan. Ah, Yuk-heng rupanya salah mengerti. We only want to enquire
the whereabouts of Lie Siaw Li Hiap, bukan mau menuntut balas!”
“Ah, andaikata Ching-moy tiada berbuat salah, kenapa cianpwee sekalian
mencarinya?”
“Ini... Apakah kau tahu dimana dia adanya?”
Yuk Lau berkerut kening. Tien Sie Su Sing mengerti. Pemuda itu tentu mengharap
pertanyaannya dijawab lebih dahulu.
“Hehhhh, baiklah, kiranya kami memang harus berterus terang. Semenjak kami
mendengar bahwa Lie Mei Ching belum mati, bahkan dapat pulang dengan selamat
dari Kim Gian Siang Coa Ko (sarang siluman ular) maka kami sepakat untuk menemui
Lie Kouwnio guna menanya kediamannya siluman tersebut untuk kemudian beramairamai
menyerbu dan membasmi kawanan siluman disana. Kami sudah mencari kemanamana,
akan tetapi seperti kau tahu Pek Eng Pay sudah hancur, sedangkan di
tempatnya si tukang copet Ban Jiu Touw Ong juga tak ada, satu satunya kerabat
hanya engkau dan Yuk Toa-hu. Maka kami mencari kemari.”
“Nah, setelah kau tahu maksud kami, apa kau tidak segera memberi tahu dimana
adanya nona Lie?” bertanya pula Hu Yong Giok Tiap.
“ I’m very sorry, but I’m afraid I can’t help you in this matter.”
Ching Ching 399
“Kenapa pula? Kau tidak mau memberi tahu dimana tempatnya Lie Mei Ching?”
“Pada sesungguhnya aku tiada mengetahui di mana adikku berada. Memang ia pernah
datang sekedar menjenguk Kong-kong, tapi kemudian pergi tanpa berpesan.”
“Bohong!” menuduh Hu Yong Giok Tiap. “Memangnya kau tidak mau memberi tahu
kenapa pakai segala macam alasan?”
“Aku tiada berdusta. Akan tetapi andaikatapun kutahu, tak mungkin kuberitahukan
pada Cianpwee sekalian?”
“Huh, aku jadi curiga, Lie Mei Ching sengaja sembunyi, kalian menutup- nutupi.
Jangan jangan sama-sama sudah bersekutu dengan Kim Gin Siang Coa Pang?”
“Cianpwee harap jangan menuduh sembarangan.”
“Tuduhanku beralasan. Kau sengaja tidak memberitahu, gurumu juga hilang dengan
tiba-tiba. Apa bukan sekongkol namanya? Kini kutahu kebusukan kalian. Kelak bila
kutemukan Lie Mei Ching, kubunuh sendiri dia!”
“Siapa hendak bunuh siapa ?” mendadak terdengar suara dari luar. Bersamaan
dengan itu seseorang memasuki ruangan dengan gagahnya.
“Suhu!” berseru Yuk Lau dan Miaw Chun Kian berbareng.
“Cu-wi, kedatangan cu-wi sekalian terlambat kuketahui. Harap diimaafkan kalau
aku telat menyambut.”
“Ha, Lie Wei Ming, kalau boleh kutahu, darimana saja kau?”
“Kalau Hu Yong Giok Tiap yang terhormat ingin tahu, sepanjang pagi ini aku
menikmati hawa sejuk pegunungan, mengaggumi pemandangan alam yang indah, tenang
dan damai tanpa segala keributan. Untuk kemudian menyadari bahwa diriku bukan
orang muda lagi.” Li Wei Ming tersenyum.
Tian Sie Su Sing tertawa, kemudian maju kehadapan Sang guru besar.
“Kebetulan Li tay-hiap pulang cepat, jadinya kesampaian maksudku untuk
mengucapkan selamat ulangtahun kepadamu.”
“Aha, terimakasih, terimakasih. Rupanya saudaraku Tian Sie Su Sing belum
melupakan hari jadiku, sungguh aku merasa tersanjung.”
Kemudian buat beberapa lamanya Li Wei Ming sibuk menerima ucapan selamat dari
kanan kiri.
“Ah, kalian sudah berbaik hati mau mengunjungi aku, sambutanku malahan kurang
meriah. Bagaimana kalau sekarang kita bersantap dulu sekedarnya? Aku bermaksud
menyulang secawan arak untuk sahabat semua. Ah-Kian, Ah-Lau, cepat keluarkan
suguhan!”
Yuk Lau dan Chun Kian segera saja pergi ke belakang. Tak berapa lama kemudian
telah disiapkan makan-minum buat semua orang. Urusan mengenai Ching- ching jadi
tertunda buat beberapa lamanya.
Akan tetapi setelah perjamuan selesai, kembali Hu Yong Giok Tiap membawa
persoalan ke permukaan. Sedari tadi memang dia yang paling tidak sabar menanti
jawaban. Yang lainnya meski sama penasaran, tetapi sungkan untuk membuka
pembicaraan lebih dahulu. Maka mereka diam diam berterimakasih pada si Kukupu
kupu kemala.
Sebelum menjawab pertanyaan orang, Li Wei Ming menghela napas.
“Mengenai nona Lie, aku juga tidak mendengar banyak. Yang kutahu hanyalah bahwa
ia belum mati, melainkan ditawan oleh Kim Gin Siang Coa Pang. Cara bagaimana ia
dapat lolos, atau bagaimana keadaannya sekarang aku sendiri tidak tahu.”
“Tetapi bukankah engkau adalah.....eh, pernah menjadi gurunya?” “But you are ...
ehm, were her teacher?”
“That’s true. Unfortunately, Miss Lie did a
“Benar. Sayangnya Lie Kouwnio pernah melakukan kesalahan besar sehingga aku
Ching Ching 400
sendiri terpaksa memutuskan hubungan guru-murid. Selanjutnya kami tiada bertukar
kabar lagi.”
“Kami telah menanya hal yang sama pada Yuk-Lau Siaw-hiap, akan tetapi nnampaknya
ia enggan membantu. Padahal urusan kami dengan Lie Kouwnio hanya sekedar mohon
petunjuk demi untuk membasmi partai jahat. Bagaimana menurut pandangan Li
Tay-hiap?”
“Aku mengerti maksud baik saudara semuanya, akan tetapi urusan keluarga murid
sendiri tak dapat aku mencampurinya......”
“Akan tetapi muridmu itu sebenarnya adalah cucu adik seperguruanmu. Jadi kau
sendiri tak dapat dibilang orang luar dalam hal ini.”
Li Wei Ming tak dapat berkata kata. Memang benar, Yuk Long, Yuk-Toahu yang
terkenal adalah juga adik seperguruannya.
“Li Tay-hiap, dalam hal ini bolehkah kami menanyai muridmu sekali lagi?”
“Tentu. Akan tetapi aku juga tidak dapat nanti terlalu memaksa.”
“Asal Tay-hiap mau bantu menanyakan, rasanya sudah cukup.” kata seorang. Yang
lain setuju. Masing-masing sama berpikir, apabila gurunya sendiri yang menanya,
mana mungkin Yuk Lau berani berdusta selagi menjawab?
Yuk Lau segera dipanggil datang. Pemuda itu ditanyai sekali lagi. Akan tetpi
dengan sikap menyesal sekaligus lega, ia menjawab sama.
“Teecu (murid) benar-benar tidak tahu dimana adanya Gie-moy (adik angkat). Tempo
hari dia pergi tanpa berpamit lagi.”
“Baiklah. Kau boleh pergi.” kata gurunya. “Tunggu. Kami dengar perhubungan Lie
Mei Ching tidak melulu hanya dengan Yuk Siaw-hiap seorang. Kabarnya ia juga
cukup akrab dengan murid yang lain.”
Li Wei Ming memang sudah mendongkol, tambah kesal sedari tadi terus dipaksa. Ia
memanggil juga Miaw Chun Kian dan Chia Wu Fei. Keduanya ditanyai hal serupa.
Miaw Chun Kian tegas tegas menjawab tidak tahu, sedangkan Wu Fei cuma menggeleng
saja. Sekilas matanya melirik Yuk Lau bersamaan pemuda itu juga menatapnya.
“Nah, kalian lihat sendiri. Kiranya persoalan ini boleh dicukupkan sampai disini
?”
“Sebentar.” kata Tian Sie Su Sing. Ia menghampiri Wu Fei. “Wu Siaw-hiap, kapan
terakhir kau bertemu Lie Kouwnio?” dia bertanya.
Wu Fei gelagapan. “Eh,.....entah, rasanya sudah lama.”
“Berapa lama? Setahun? Sebulan? Atau baru kemarin?”
Chia Wu Fei nampak terkejut, tapi ia tiada berkata-kata. Kepalanya tunduk
menekuri lantai.
“Hmm, kau tidak menyangkal bahwa baru kemarin menemui Lie Kouwnio?”
“Lie Tay-hiap, it seemed that your student has the guts to lie in front of you,”
menjengek Hu Yong Giok Tiap.
Muka Li Wei Ming merah padam. Ia merasa dipermalukan didepan semua orang.
“Chia Wu Fei, you dare lie in front of your teacher?” membentak dia.
Wu Fei menggeleng. Serta merta lututnya ditekuk.
“Teacher, Sute didn’t lie!” membela Chun Kian. “He didn’t say anything, did he?
He didn’t say that he didin’t know, or that he did?
Li Wei Ming menyadari kebenaran kata muridnya tertua. Maka ketika menghardik Wu
Fei suaranya tidak terlalu keras lagi.
“Kuberi kesempatanmu untuk berterus terang. Andaikata masih juga berbohong aku
sendiri yang akan turun tangan menghukum!”
“Teacher, I ... I ...”
“Tell me, do you know where Miss Lie is?”
Ching Ching 401
Wu Fei nodded. “I do. But I also promised not to tell anyone.”
Hu Yong Giok Tiap mendelik, “Meskipun ini menyangkut kepentingan semua orang,
untuk membasmi yang jahat, apa kau masih tidak mau omong?”
“Janji seorang jantan, biar mesti mati juga tidak boleh dilanggar!” berseru Wu
Fei dengan gagahnya.
Diam diam Li Wei Ming merasa bangga akan keteguhan muridnya. Namun ia juga
enggan kehilangan muka. Dalam hatinya ia sendiri tidak tahu harus bagaimana.
“Bocah, biar bagaimana kau harus bawa aku pada Lie Mei Ching itu. Aku punya
dendam sedalam lautan terhadap Kim Gin Siang Coa. Sedapatnya kubalas selekas
mungkin. Maka kau bawalah aku padanya!” tahu tahu Hu Yong Giok Tiap sudah berada
di hadapan Wu Fei sembari menodongkan pedang terhadap pemuda itu.
“Tapi ini......” Li Wei Ming hendak bicara namun keburu dipotong oleh si
kupu-kupu kemala.
“Li Tay-hiap, ini urusanku dengan muridmu seorang. Baik kau maupun perguruanmu
tidak tersangkut paut. Demikian juga kupunya partai tak ikut campur. Tapi
andaikan kau turun tangan berarti hubungan baik kita disudahi saja. Aku tak
berniat sakiti muridmu, hanya kalau terpaksa......”
Li Wei Ming tahu, Hu Yong Giok Tiap juga takkan sembarang membunuh orang. Maka
ia tidak lekas turun tangan.
Wu Fei sendiri tidak perdulikan orang. Seperti tidak dengar perkataan Hu Yong
Giok Tiap ia tunduk saja di depan gurunya.
“Eh, tak perlu kita pakai cara kasar. Kalau benar ia baru menemui Lie Kouwnio
kemarin hari, berarti nona itu bersembunyi disekitar sini saja, sebab kalau
tidak pasti ia bertemu salah satu dari kita diperjalanan bukan?” kata Tian Sie
Su Sing.
“Benar. Kita begini banyak orang, masa tidak dapat mencarinya disatu gunung
begini saja?” sambut yang lain.
“Kalau begitu segera saja kita bergerak!” berseru beberapa orang.
Sedang keadaan ribut-ribut begitu mendadak tercium bau wangi menyengak disusul
satu kabut kuning menyelimuti keseluruh orang.
“Uap beracun, tahan napas!” seru Lie Wei Ming. Ia lantas bergerak menotok jalan
darah ketiga muridnya supaya tidak keracunan. Ia sendiri telah tutup pernapasan
sembari mengebut ngebut mengusir uap beracun yang datang.
Peringatan Li Wei Ming tergolong lekas, tapi toh masih ada beberapa orang
terguling sementara mereka yang kungfunya tinggi telah menutup pernapasan dan
juga berusaha mengusir hawa beracun itu.
Uap Kuning yang menghalangi pandang mata itu tidak lama bertahan. Sebentar
kemudian semua hilang lenyap dari penglihatan. Pandangan menjadi terang jelas
seperti biasa. Hampir serempak semua melihat satu pisau menancapkan surat di
belandar rumah.
“Yang berniat membikin susah Lie Kouwnio berarti cari mati!” Hu Yong Giok Tiap
membaca keras keras. Padahal sebenarnya tak perlu karena semua telah dapat
membaca isi surat itu.
“Who sent this letter?”
“Siapa lagi kalau bukannya si bocah sombong she Lie. Mentang mentang telah dapat
keluar dari Kim Gin Siang Koay Ko ia lantas besar kepala. Hah, dasar bocah
rendah !” memaki Hu Yong Giok Tiap.
“It’s not Miss Lie!” Lie Wei Ming said. He looked outside and yelled, “Saudara
yang ada diluar sana, sudah datang kenapa tidak menampakkan diri ?”
Dari luar terdengar angin menderu. Tahu tahu sesosok manusia dengan baju hitam
Ching Ching 402
menutupi kepala sampai kaki sudah berada ditengah tengah ruangan. Bandannya yang
tergolong tinggi berdiri gagah, mukanya tertutup kain hitam memberikan kesan
seram.
Li Wei Ming maju menyoja.
“May I know your name and where you are from?”
Sosok hitam itu tidak menjawab. Ia mengacungkan pedang ke arah kertas. Matanya
menyapu semua orang, seperti juga menegaskan isi surat.
“We mean no ill will toward Miss Lie, we just want to inquire something. If you
know where she is, I hope you would tell us. I promise, I will not even bother
her hair.”
Sosok hitam itu hanya mendengus tak percaya. Ia membalikkan badan hendak pergi,
namun Yuk Lau keburu menghadang.
“Tay-hiap,” ia menghormat. “Before you go, can you leave your great name. If I
see my sister later, I can tell her, so she can thank you.”
Namun orang itu tak ambil peduli. Tanpa menoleh pada Yuk Lau ia melanjutkan
tindakannya. Ini sebenarnya merupakan suatu penghinaan meskipun tidak tergolong
berat, namun nyata nyata merendahkan si pemuda she Yuk. Untung Yuk Lau termasuk
sabar, lagipula orang ini membela adik angkatnya, maka kedongkolan ditelan saja
tanpa memperpanjang masalah.
Sebaliknya dengan Hu Yong Giok Tiap yang lekas naik darah. Wanita itu ikut
menghadang jalan orang. “Tanpa memberitahu nama atau menunjukkan tempatnya Lie
Mei Ching, aku tak ijinkan kau pergi!” katanya.
Orang itu tetap tidak gubris. Bukan main marahnya Hu Yong Giok Tiap. Kali ini ia
tidak saja mencegat, tapi sekalian ayun senjata.
“Berani kau anggap main-main ucapanku?” geramnya gusar.
Sosok berbaju malam itu tidak kelihatan berkelit. Ia malah seperti tidak
bergerak sama sekali. Yang bikin heran adalah mendadak saja Hu Yong Giok Tiap
tersungkur jatuh. Dipipinya tampak segaris luka yang tak berapa lama kemudian
terus saja mencucurkan darah. Mendadak terdengar suara berkeplok dari luar.
Disertai tawa orang memuji, “Lihai, sungguh lihai. Tak nyana setelah lama tak
memegang pedang ternyata toako masih mahir menggunakannya.”
Pemilik suara muncul dipintu, Semua orang melihat kearahnya. Segera saja roman
muka mereka berubah pucat semua. Lantaran geram, benci, dendam, tapi juga
ketakutan.
“Siaw-tee, what are you doing here?”
Chang Lun tertawa. “Carrying out Mother’s orders, of course. What do you think?
I should be asking you. Didn’t you say that you were going to Kokan?”
Tahulah semua orang. Sosok hitam itu tak lain adalah Chang Houw adanya.
“So it is true. Lie Mei Ching ternyata adalah anteknya Kim Gin Siang Coa Pay.
Tak heran ia boleh keluar hidup hidup dari sana!”
“Jangan sembarangan omong!” Chia Wu Fei berseru, melompat kehadapan Hu Yong Giok
Tiap yang barusan berbicara.
“Buktinya ada di depan mata, masih tuduh aku sembarang omong?” bantah Hu Yong
Giok Tiap.
“Nanti dulu,” Chang Houw buka penutup mukanya seraya menyela. “Miss Lie ...”
“Memang Lie Kouwnio sudah kami anggap orang sendiri. Malah tak lama lagi ia
bakal menjadi enso-ku,” potong Chang Lun.
“Siaw-te.....!” Chang Lun membentak. Tapi suaranya hilang oleh keributan di
luar. Sejumlah murid Pek San Bu Koan yang berlarian masuk ruang pertemuan.
“Fire!” seru mereka gugup. “There’s a fire!”
Ching Ching 403
Lie Wei Ming melompat menghampiri. “Where’s the fire?”
“Teacher ... everywhere ... everywhere’s on fire!”
Pada saat bersamaan di dalam ruangan mulai terasa panas. Kiranya bangunan
dibelakang ruangan situ juga sudah mulai terbakar.
Chang Lun tertawa. “Tak usah repot-repot berusaha memadamkan. Semua bangunan
sudah kena api yang dilemparkan anakbuahku. Tinggal gedung ini masih selamat
karena kakakku ada disini. Sebentar kami juga akan pergi. Tapi........”
Belum lagi beres Chang Lun bicara. Banyak orang segera berlari keluar. Namun
segera terdengar jeritan seram, suara senjata beradu dan banyak yang mundur
kembali dalam keadaan terluka.
“You all should’ve listened to me. Outside, my men are waiting. Whoever comes
out before I leave, will be killed. Whoever comes out after I leave, will be
torn by arrows. For your information, our poison-arrow squad is better than the
palace’s. Also, we don’t use ordinary poison.” Chang Lun told them like telling
a story.
Chang Lun memberitahu dengan cara seperti bercerita saja. Tapi sikapnya itu
tidak berani dipandang enteng yang lain. Mereka juga tak punya nyali pergi
keluar. Memang mereka tak takutt panah. Kena satu-dua saja kalau bukannya tepat
dijantung atau leher, tak lantas menyebabkan kematian. Yang lebih ditakuti
adalah racun di mata panah. Semua tahu kelihaian racun Kim Gin Siang Coa Pang
melebihi jahatnya racun Ban Tok Pang. Mereka lebih takut mati merana sebab
racun-racun itu.
“We needn’t be afraid. As long as he doesn’t leave, this place won’t be burnt.
Why don’t we kill them both. That way, they won’t come out ever!” mengusul
seseorang.
Beberapa pendekar lantas setuju. Tak peduli rasa malu dan sikap kesatria,
beramai-ramai mereka mengurung Chang Houw dan Chang Lun.
“Bagus. Rupanya kepingin lekas mati, ya? Toako, mereka ini cukup aku saja yang
hadapi.” Sambil tertawa tawa Chang Lun melayani. Para pendekar silih berganti
melawan dua pemuda itu. Begitu satu terpukul, yang lain segera ambil posisinya.
Akan tetapi Chang Lun tak berniat main lama-lama. Setelah pamer beberapa
jurusnya, ia mulai menurunkan tangan jahat. Satu persatu pengepungnya roboh
tanpa nyawa. Jeritan dan darah menakuti seisi ruangan. Belum lagi api dan asap
yang masuk ke dalam.
Li Wei Ming tak sanggup lagi melihat para pendekar dibantai di kediamannya. Ia
melompat kehadapan Chang Lun, menangkis kipasnya yang hendak bunuh orang.
“Tell me, cara bagaimana supaya kau lepaskan kami semua?”
“Kau mau mereka bebas? Suruh mereka tunduk dibawah panji-panji Kim Gin Siang Coa
Pang!”
“That’s not possible!”
“Alright, paling tidak kau harus tunduk pada kami.”
“If I agree, will you let them all go?”
“What do you think?” Chang Lun balik menanya.
“Teacher!” sisa murid Pek San Bu Koan serentak berseru. “Don’t buy into his
words!”
“Ah, your students agree to die together,” Chang Lun mendengus.
“I will decide!” kata Li Wei Ming berseru. Entah ditujukan pada murid-muridnya
ataukah pada Chang Lun.
“Sungguh ksatria. Li Tay-Hiap, apapun keputusanmu, kami tak akan menyalahkan
engkau. Sebab kami tahu kau selalu memikirkan kepentingan orang banyak.” kata
Ching Ching 404
Thian Sing Su Sing. Kata kata yang licik menjebak. Sebab dengan begitu secara
halus ia menyuruh Liee Wei Ming menyetujui usulan Chang Lun demi kebebasan yang
lain. Tapi Li Wei ming bukan orang yang gampang terhasut orang lain. Semua
keputusan adalah pemikirannya sendiri. Ia tahu tindakan mana yang baik.
“Baiklah!” katanya. Aku setuju. Harap kau ijinkan semuanya keluar.”
“Biasanya seorang yang mengaku tunduk padaku akan segera berlutut”
Li Wei Ming merasa dadanya panas. Matanya juga pedas. Ia merasa amat terhina.
Tapi demi semua kawannya.........
Chang Lun tertawa. “Kau seorang kesatria, aku juga laki laki. Baiklah, semua
orang boleh keluar dari sini.” Pemuda itu bersuit dua kali guna memberi tanda
kepada anak buahnya. Bergegas semua menerobos keluar. Tinggal anak-murid Pek San
Bu Koan masih termenung ditempat, tidak percaya bahwa kini mereka menjadi murid
anteknya partai paling jahat.
“Semua yang keluar dari Pek San Bu Koan akan mati!” terdengar suara nyaring
membelah angkasa, disusul satu selendang putih membentang, membelit tiang-tiang
penyangga ruangan. Satu sosok putih meluncur enteng diatasnya. Dia berhenti
tepat dihadapan Chang Lun.
“Diluar sana berlapis pasukan pembunuh. Siapa berani menapakkan kaki diluar
batas perguruan tak mungkin selamat!”
“Lie Mei Ching! Pada akhirnya kau muncul juga!” berseru Hu Yong Giok Tiap dari
luar gedung. “Hendak membantu calon suamimu?”
Ching-ching sebenarnya sedang bersembunyi. Ia mendirikan pondok di dalam hutan
di gunung itu. Kedatangan para pendekar diketahui, tapi sengaja ia tak mau
tampakkan diri. Akan tetapi pada tengah malam ia terbangun lantaran terang dan
hawa panas diluar. Terlihat kobaran api yang besar, arahnya dari Pek San Bu
Koan. Tahulah si nona ada yang tidak beres. Dengan mengerahkan ginkang ia datang
secepatnya ke perguruan tersebut. Diperjalanan ia melihat bayaangann anakbuah
Kim Gin Siang Coa bersiaga. Maka ia bergerak makin cepat memberitahukan bahaya.
Mana tahu begitu datang malah dituding pula.
Gadis berbaju putih itu menoleh ke pintu. “Calon suami yang mana?” tanyanya.
“Jangan berlagak pilon. Adik iparmu telah mengatakan semuanya!”
Ching-ching lantas mengerti. “Liar!” serunya. “Chang Lun, berani kau cemarkan
nama baikku? Aku bersumpah merobek mulutmu yang lancang itu!”
“Toaso....”Chang Lun menggoda. Belum lagi ia selesai bicara, mulutnya hampir
kena tampar selendang orang. Chang Lun segera menangkis, akan tetapi selendang
malahan melibat lengannya dan menariknya pula. Sejenak adu tenaga antara Chang
Lun dan Ching-ching. Selendang terentang makin tegang, makin tipis.
Mendadak selendang itu putus! Keduanya terpaksa undur. Chang Lun terhuyung tiga
langkah, sedangkan Ching-ching hampir jatuh ketanah. Namun lekas gadis itu
melemparkan selendangnya ke belandar rumah dan berayun kembali berdiri di atas
kain terentang. Belum lagi tegak berdirinya, si nona sudah menyerang sekali
lagi. Chang Lun mengeluarkan kipasnya melawan selendang lemas yang menyambar. Ia
bersiap menarik jatuh si nona bilamana sabuk kain itu melilit lagi. Mana tahu
mendadak selendang lemas itu menegang. Ketika berbentur dengan kipas,
mengeluarkan suara seperti dua benda keras bertumbuk.
Namun begitu ketangkis, selendang segera menjadi lemas kembali, terulur membelit
leher orang, mencekik dengan kuat. Chang Lun hendak menebas dengan kipasnya,
tapi selendang yang membelit leher dilepas dengan bertenaga seperti juga memutar
gasing. Karena tak siap, Chang Lun terpelanting terputar beberapa langkah.
Mulailah pemuda itu merasa marah.
Ching Ching 405
“Kau sendiri minta, hari ini juga kubuat kau minta ampun padaku!”
Chang Lun melompat sampai hampir menyentuh atap. Kipasnya terkatup, sedia
menyerang. Pemuda itu mengembangkan tangan seperti elang, hendak menendang dari
atas. Sebelum terkena tendangan, Ching-ching lebih dulu ulurkan selendang
membelit kaki orang. Mana tahu Chang Lun mendadak buka kipas. Sejumlah senjata
rahasia meluncur. Ia sendiri menukik, mengitar lewat samping, hendak menebas
pinggang si nona.
“Awas senjata rahasia!” berbareng tiga murid tertua Pek San Bu Koan melompat
menangkisi jarum-jarum halus yang ditebar.
Akan tetapi seorang lain bertindak lebih dulu dari mereka. Chang Houw memutar
pedang, menangkis senjata rahasia, sementara kakinya menendang pinggang Chang
Lun. Sebelum adiknya terpental, lebih dulu disambar dan ia sendiri bersuit
sembari melompat keluar.
“Cuwi, aku berkata yang sesungguhnya Lie Kouwnio tak ada hubungan apa-apa
denganku. Semua perkataan adikku dusta belaka. Dan lantaran Li Tay-hiap telah
setujui syarat kami, maka kami juga takkan mengalangi kalian keluar dari Pek San
Bu Koan. Lie Kouwnio, mengenai kelancangan adikku, kelak kami akan datang
meminta maaf padamu!”
Suara Chang Houw makin lama makin jauh. Belum lagi habis bicaranya, bayangan
orangnya sudah lebih dulu lenyap. Kepergiannya diiringi suara berderap langkah
sepasukan yang tak kelihatan dimana. Namun begitu suasana senyap, semua tahu
bahwa Chang bersaudara dengan seantero anakbuahnya telah pergi. Namun para
pendekar itu belum berani pergi.
Di dalam ruangan juga sunyi senyap. Ching-ching berdiri lemas diatas selendang.
Ketiga murid tertua Pek San Bu Koan juga tidak bersuara, sementara Li Wei Ming
masih berlutut. Keadaan itu berlangsung beberapa lamanya. “Chun Kian!” mendadak
Wei Ming memanggil muridnya tertua.
Kesemua murid menghampirinya.
“Aku hendak bicara dengan toa-komu dulu.” maka yang lain lain segera menyingkir.
“Teecu disini suhu!” Miaw Chun Kian turut berlutut.
“I have something to say to you. While I am speaking, I hope you will not cut in
or protest. After I am finished, I want you to take all your brothers and
sisters out. Then burn this room, let all of the building burn to the ground.
Then …”
“Ada pesan yang mau kusampaikan. Selama aku berkata, harap kau jangan menyela
atau membantah. Setelah selesai aku berbicara padamu, bawalah semua adikmu
keluar. Bakar juga ruangan ini, biarkan hangus runtuh semua gedung.
Selanjutnya...” Li Wei Ming mengeluarkan sebuah kitab dari balik bajunya.
“This is a book of a new style I’ve created. I wish I had time to give you
guidance. Study it with your brothers and sisters. The five of you have to aid
the destruction of the Snake School. When my wish is done, you will dismiss all
your brothers and sisters. The White Mountain School is no more. They can search
for a new Teacher. Forget all the Skills you have learn here. Seed for a good
teacher and a good school. Are you capable?”
“Buku ini mengenai ilmu yang kucipta. Sayang tiada waktu memberi petunjuk.
Pelajarilah bersama adik-adikmu. Kelak berlima kalian harus bantu menghancurkan
partai ular. Apabila tercapai pesan gurumu ini, bubarkan kesemua adikmu. Pek San
bu Koan sudah runtuh. Mereka boleh cari masing masing guru baru. Lupakan semua
ajaran Pek San Bu Koan. Carilah masing-masing guru dan partai yang baik. Apakah
kau sanggup?”
Ching Ching 406
“But why do I have to do this? Is it not …”
“Tapi kenapa teecu harus berbuat begitu. Bukankah.....”
“A-kian, I have taught you to think. Think so that you can then act without
having to ask. Have you not still learned that yet?”
Chun Kian terdiam.
“Now, ask Miss Lie to see me. Not order, but ask her as one of the Warriors.
salah satu pendekar.”
Pemuda itu menurut. Ia menghampiri Lie Mei Ching. “Lie Lie-hiap, my Teacher
wishes that you would kindly see him.” “Lie Lie-hiap, suhuku bermohon supaya
engkau sudi datang kepadanya.” suara Chun Kian bergetar. Ia mulai mengerti
maksud suhunya.
“Kenapa begitu sungkan?” Ching-ching heran. Tapi demi melihat roman muka Chun
Kian ia pun tak banyak tanya lagi. Diulurnya selendang supaya terentang rendah
dihadapan Li Wei Ming. Tak sampai menyentuh tanah, ada jarak sekitar satu dim.
Ching-ching berlutut diatasnya sembari mengentengkan badang sehingga selendang
itu terentang seperti tidak diberati bobot si nona.
Li Wei Ming diam diam memuji tingginya ginkang Ching-ching. “Miss Lie, you have
chase away mengusir the Chang brothers, I am most grateful.”
“Don’t mention it. Cianpwee harap jangan sungkan They left of their own free
will, not because of me.”
“Bagaimanapun you have a part in it. engkau ambil bagian didalamnya. And now you
Dan Kouwnio telah sudi datang padaku, bukankah perlu kuberterimakasih?”
“Cianpwee adalah orang yang boanpwee hormati dan kagumi. Selama ini Boanpwee
yang tak berani menemui. Sekarang malahan diundang, bukankah suatu kehormatan?”
“Aku ini orang yang tak pandai berbasa-basi. Sekarang inipun undanganku adalah
untuk minta pertolonganmu.”
“Cianpwee tinggal menyebutkan, pasti segera boanpwee laksanakan.”
“I dare not ask you to be my student, but mau tak mau I have to ask you to help
my students to destroy the enemy with the ilmu yang kuwariskan. With it, the
reputation of Pek-san-bu-koan can be restored, if only a little. If you would
not …” Dengan demikian mengembalikan sedikit kedudukan Pek San Bu Koan. Tapi
apabila kouwnio tidak berkenan …”
“It is an honor, sir.” Ching-ching membungkuk sampai kepalanya menyentuh
pinggiran selendang. “I dare not ask to be your student, but I hope you will
grant me one wish. If you approve, I wish to consider your students as my
brothers and sisters.”
Li Wei Ming tahu, Ching-ching senang hati meluluskan permintaannya. Gadis itu
juga masih menganggap saudara kepada murid-muridnya berarti juga menganggap dia
sebagai guru, tapi tak berani menyebut lantaran takut dianggap lancang.
“Ching-ching,” panggilnya, “your teacher has one more favor to ask.”
Ching-ching merasakan hatinya gembira dipanggil murid. Matanya basah karena
haru. Disampingnya Miaw Chun Kian malah sudah sibuk mengusap air mata.
“Teacher, teecu siap laksanakan semua perintah suhu.”
“When the time comes, do not let anyone hinder my wish. niatanku.”
“What do you mean?”
“Chun Kian, mulai sekarang, murid Pek San Bu Koan boleh menggunakan ilmu apapun
untuk melawan Kim Gian Sian Coa Pang. Selama tidak digunakan untuk berbuat
keji.”
“Yes, I understand.”
“Now, bring all your brothers and sisters out. Don’t forget to light the fire.”
Ching Ching 407
“Teecu permisi.”
Miaw Chun Kian mengajak Ching-ching pergi. Gadis itu mengikut dengan heran. Pun
ketika semua tiba diluar, setelah membawa sekalian jasad para pendekar yang
terbunuh, gadis itu masih belum mengerti.
“Toako, ini.....”
“Kita keluar!”
Lantaran masih teralang sumpahnya, Ching-ching keluar dengan melompat, menjejak
sekali ke wuwungan atap dan kemudian duduk di dahan pohon diluar.
Miaw Chun Kian menutup pintu. Adik adiknya yang lain bertanya tanya.
“Toako, what about Teacher?”
“Is he not coming out with us?
Chun Kian tidak menjawab. Ia mengumpulkan ranting, menumpuknya di depan pintu.
“Toako, what are you doing?”
Miaw Chun kian Mengambil suluh, menyundut ranting-ranting kering.
“Toako, kau mau membakar suhu? Have you gone crazy?”
Ching-ching juga tidak mengerti. Dengan mengulur selendangnya ia hendak merebut
obor di tangan Chun Kian.
Pemuda itu berkelit.
“When the time comes …” pemuda itu berteriak dengan gemetar. Teriakan yang
ditujukan pada si nona.
Ching-ching understood. She had promised to help her teacher kill himself.
Hatinya tergetar. But a promise is a promise. Maka si nona menarik mundur
selendangnya dan malah digunakan menyusut air mata.
“Toako, what is this?” Yuk Lau dan Wu Fei juga mengalangi. Tahu tahu selandang
putih menyambar lagi, mengenai jalan darah kedua pemuda itu.
“Siapapun tidak boleh mengalangi!” seru si nona.
“Apa kau sudah dipengaruhi gadis iblis itu?” Hu Yong Giok Tiap bertanya.
“This is my teacher’s wish. Teacher would rather die than ruled by evil.” Chun
Kian melanjutkan pekerjaannya.
Rupanya Chang Lun juga telah menebar bubuk api di sekitar tempat itu, maka api
pun segera berkobar melahap gedung dengan suara berkeretak.
Chun Kian tidak banyak buang waktu. “Suhu berpesan supaya kami meninggalkan
tempat ini. Sebelum itu sebaiknya mengantar tamu. Silakan!” Ia mengusir secara
halus.
“Tunggu, tujuan kami kemari adalah mencari nona Lie!” seru seseorang.
Yang lain seperti diingatkan, lantas berhenti bertindak, menoleh pada Chingching.
“Sebelum berkabung seratus hari,tak nanti kuberikan apa yang kalian mau.” seru
Ching-ching. “Kalau ada seorang saja yang datang menemuiku sebelum waktunya,
maka aku akan bungkam selamanya!”
“Kalau kita tak usah memaksa lagi.” kata Thian Sing Su Sing.”Tapi seratus hari
lagi boleh kita kembali guna menyembahyangi Lie Tay Hiap.” pendekar itu mendului
pergi. Yang lain juga tak mau lama-lama disitu dan segera perrgi.
Tinggal anak murid Pek San Bu Koan masih memandang api yang berkobar buat
beberapa lama. Satu persatu mulai berlutut didepan gedung yang terbakar.
Terakhir adalah Miaw Chun Kian. Ching-ching membentang selendang diantara dua
batang pohon dan turut berlutut. Penghormatan terakhir pada guru mereka.
Tiga hari lamanya murid-murid Pek San Bu Koan masih tinggal di gunung putih.
Setelah itu Miaw Chun Kian mengumpulkan mereka semua menyampaikan amanat
gurunya.
Ching Ching 408
"Before he died, Teacher asked me to mengumpulkan lima muridnya untuk
mempelajari ilmu yang diciptakan untuk menghadapi Kim Gin Siang Coa Pang.
Ching-ching sekarang ada disini bersama kita, tapi In Sioe Ing entah berada
dimana."
Adik adik seperguruannya segera mengerti.
"Suhu tentu ingin supaya kita bangun kembali kejayaan Pek San Bu Koan. Ilmu yang
beliau ciptakan bisa membantu."
"Kalau begitu Suheng dan Ching-ching tidak usah pusing. Biar kami saja yang
mencari Su-ci. Kelak kalau Pek San Bu Koan sudah tegak kembali bolehlah kami
belajar dari suheng sekalian."
"Ternyata adik-adikku begini bijaksana. Kalau suhu tahu, tentu beliau merasa
bangga."
Begitu nama suhunya disebut, kesedihan kembali masuk ke hati masing masing.
Chun Kian tidak membiarkan lama-lama.
"Baiklah. Kalau begitu sekarang saja kita pencaran. Nanti kira-kira sebulan lagi
kita kembali berkumpul. Tapi apabila ada yang menemui Su-moy sebelum itu boleh
memberitahukan pada kami. Kami akan menanti dibalik gunung.
Semua mengannguk mengerti. Tanpa buang tempo lantas berpencar. Chun Kian dan
yang lain pergi ke balik gunung diantar Yuk toahu yang selama ini ikut
bersembunyi dengan Ching-ching.
"Su-siok, kami akan tidur di gedung uji saja. Sehari hari akan berlatih
dipelataran, sampai disini saja susiok mengantar."
"Aku akan diam di pondoknya Ching-ching saja dekat dari sini."
"Tapi..."
"Nanti tiap hari akan kutinggalkan makanan, jadi kalian bisa sepenuhnya
berlatih."
"Begitu juga baik." kata Ching-ching. "Nanti sekali-kali aku membantu Kongkong."
"Tak usah. Kau berlatih saja. Jangan kecewakan gurumu. Nah, aku tinggalkan
sampai disini saja. Jaga diri kalian."
"Kong-kong juga." mereka saling berpamit.
Miaw Chun Kian, Yuk Lau, Chia Wu Fei dan Ching-ching memasuki gedung ujian.
"Senjatanya Ching-ching ada di ruang senjata. Kita ambil bersama."
Mereka melewati lorong-lorong batu. Ching-ching jadi ingat pengalamannya dulu.
Tapi ia merasa heran. Selama mereka lewat, tak terdapat satupun jebakan.Mereka
tiba di ruang senjata. Chun Kian segera menuju satu pojokan, mengambil satu
kotak segi empat.
"Ching-ching, kau ambillah pedangmu."
"Pedangku? " sambut Ching-ching keheranan melihat wujud pedang itu yang ternyata
sama persis dengan miliknya dulu. Sebuah pedang lemas yang bisa dibawa melingkar
pinggang."Bukankah pedangku sudah dilipat patah?"
"Pedang yang dipatahkan suhu dulu sebenarnya adalah pasangan pedang yang ini.
Kabarnya dulu pedang ini dipakai dua kakak beradik atau apa. Yang jelas setelah
kau pergi, Sian-suhu(mendiang guru) menyimpan potongan pedang itu dan menyimpan
keduanya diruangan ini. Mengapit pedang milik Sian-Ji-suci" kata Wu Fei.
Setelah mengambil senjata, Chun Kian mengeluarkan kitab pemberian gurunya dan
bersama dengan adik-adiknya meneliti keseluruhan buku tersebut.
Ternyata kitab itu terdiri dari lima bagian yang terpisah. Isinya banyak berupa
gambar yang ditambahi keterangan.
"Buku ini bisa dibagi-bagi sesuai jurus dasar dari ilmu pedang teratai yang
Ching Ching 409
sudah kita kuasai. Begini saja. Kita masing masing mempelajari satu, memilih
satu ruangan untuk berlatih sendiri-sendiri, dan setiap tiga hari kita bertemu
untuk berlatih bersama, bagaimana? "
"Sendiri sendiri. Bagaimana kalau ada bagian yang tidak dimengerti?" tanya Wu
Fei.
"Kalau begitu boleh tanya yang lain, asal jangann terlalu sering."
"Aku akan pakai ruangan dibelakang situ, yang tadi kita lewati." kata Chun Kian.
"Aku sebelahnya."
"Aku belakangnya"
"Aduh, aku dipaling ujung!" keluh Wu Fei.
"Mulai sekarang, jangan pikirkan hal lain selain berlatih. Mengerti?"
Yang lain mengangguk. Siang itu juga mereka mempelajari bagian masing- masing.
Entah sudah berapa lamanya mereka berlatih. Suatu kali ketika mereka berlatih,
Yuk Toahu datang membawa berita.
"Mereka sudah menemukan Sioe Ing. Ia ada di The Po Tiong (kelenteng pusaka
bumi)"
"Mau apa dia disitu?"
"Katanya dia mau jadi Nikouw(biarawati)"
"Lantas?"
"Dia bilang dia takkan kembali." "Ai, dia sudah pilih jalan hidupnya. Apalagi
yang bisa kita lakukan?"
"Aku akan menyusulnya!"
"Jangan. Sebagai Nikouw ia tak boleh membunuh, harus meninggalkan masa lalu.
Jangan ganggu lagi." Cegah Chun Kian.
"Tapi kalau begitu ilmu yang kita pelajari akan banyak sekali kelemahannya."
"Kalau begitu, biar aku yang pelajari dua bagian." kata Chun Kian.
"Su-heng, bagian Su-ci harus menggunakan tenaga Im. Biar aku yang melaksanakan."
kata Ching-ching.
"Sudahlah. Nanti kalau berlatih bersama, kita saling menambal kekurangan
masing-masing. Begitu saja. Tak perlu satu orang menanggung semua."
"Berarti kita harus berlatih duakali lebih giat."
"Apa boleh buat."
"Jangan pikir duakali beratnya. Pikirkan betapa senang kalau dapat mencincang
habis partai siluman ular itu." Ching-ching memberi semangat.
"Kau benar!" Wu Fei tersenyum dan semenjak itu ia tak banyak mengeluh lagi.
-oOo-
Tak terasa tiga bulan telah lewat. Tiba saatnya sembahyang 100 hari kepergian
guru mereka. Sisa murid Pek San Bu Koan berlutut sembari memegang hio didepan
bekas reruntuhan perguruan mereka yang hangus, mendoakan arwah guru mereka.
Tapi belum lama kemudian mulai berdatangan wakil dari partai-partai lain.
Masing-masing membawa hio dan menancapkannya ditanah, didekat papan nama Pek San
Bu Koan yang tidak jelas lagi tulisannya. Kemudian mereka menunggu sampai
upacara selesai. Tanpa berkata semua sudah tahu tujuan kedatangan tiap orang.
Semua menunggu Ching-ching. Tapi gadis itu sendiri tengah sujud begitu khusyuk,
berlutut menunduk diatas selendang putih yang terbentang satu dim diatas tanah.
Tiada yang berani mengganggu si nona, kuatir ia melaksanakan sumpahnya tidak
akan membuka rahasia markas Kim Gin Siang Coa Pang. Maka meski dengan penasaran,
semua menunggu, memaksa diri untuk bersabar.
Susul menyusul tiap orang datang. Ada yang mewakili kelompoknya, ada yang datang
atas nama sendiri. Dari mereka diantaranya datang juga Wang Li Hai. Pemuda itu
Ching Ching 410
merasakan sikap bermusuhan dari para murid Pek San Bu Koan. Tapi ia tak perduli,
sama tidak perduli pada para pendekar yang lain. Maka dari itu ia sengaja
memisahkan diri. Kedatangannya cuma untuk menemui Ching-ching, lain tidak.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Mesum Raisa Nggak Doyan Nyepong : Ching Ching 4 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 11 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments