Cerita Dewasa Mandarin Tionggoan : Sian Li Engcu 4 Tamat

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Dewasa Mandarin Tionggoan : Sian Li Engcu 4 Tamat

Cerita Dewasa Mandarin Tionggoan : Sian Li Engcu 4 Tamat
lagi oleh In Hong, terus meluncur dan tubuhnya condong ke depan. Dalam sekejap mata, dua orang hwesio itu memekik kesakitan dan kaki kanan mereka mengucurkan darah karena terluka oleh goresan pedang!
„Omitohud……!” Ceng Seng Hwesio memuji nama Buddha ketika ia melihat keanehan ini. Ia menjadi curiga sekali karena ia melihat bahwa dalam tiga gebrakan berturut-turut dimana In Hong merobohkan atau mengalahkan lima orang hwesio Ngo-heng-tin, gadis itu hanya bergerak sembarangan saja. Sudah jelas bahwa kekalahan lima orang sutenya itu bukan karena ilmu silat,
301
melainkan karena tenaga lweekang yang luar biasa menghantam mereka dari pedang gadis itu.
Ceng Seng Hwesio melangkah maju. In Hong yang kini maklum bahwa ia dilindungi oleh kakek tua renta di belakangnya, menjadi besar hati. Ia tersenyum mengejek dan berkata:
„Hwesio gundul, apakah kau juga masih hendak menawan?”
Ceng Seng Hwesio tidak marah, hanya terheran-heran dan penasaran. Ia telah menyaksikan kelihayan gadis ini pada malam hari tadi di Siauw-lim-si, dan biarpun ia harus akui bahwa ilmu pedang gadis ini luar biasa ganas dan lihaynya, namun dalam hal ilmu lweekang, gadis ini masih terhitung lemah. Bagaimana sekarang tiba-tiba saja dapat menjadi begitu kuat? Apakah tiba-tiba gadis itu mendapatkan ilmu yang aneh?
Tak mungkin, andaikata mendapatkan ilmu juga, tak mungkin dapat dilatih dan dimiliki dalam waktu singkat. Apalagi, baru saja gadis itu telah terkena pukulan toyanya pada pahanya dan ia melihat sendiri gadis itu melarikan diri lalu masuk ke dalam gua.
Bagaimana dan bila gadis itu mendapat ilmu yang aneh? Karena penasaran sekali, Ceng Seng Hwesio hendak mencoba dengan toyanya sendiri. Ia mengayun toya sambil berseru keras:
„Lepaskan pedang!”
302
Dalam sambaran toyanya ini, ia mempergunakan seluruh tenaga dalamnya. Dalam hal lweekang, Ceng Seng Hwesio sudah dapat dikatakan tinggi dan hanya di bawah suhunya, Bu Kek Tianglo. Memang betul dia sendiri belum dapat mewarisi ilmu I-kin-keng, akan tetapi tenaga lweekangnya sudah men¬capai tingkat yang tinggi di dunia kangouw, jarang sekali ia bertemu tandingan.
Kini, karena penasaran ia mengerahkan seluruh tenaganya, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya sambaran toya itu! Kalau menurut perhitungan dan kalau sewajarnya, tidak saja In Hong takkan kuat menahannya, bahkan selain pedangnya akan terlepas, tentu gadis itu akan roboh pula karena serangan hawapukulan itu akan melukai anggauta di dalam tubuh.
In Hong cepat mengangkat pedang menangkis. Dua senjata bertemu, api berpijar mengeluarkan cahaya menyilaukan di dalam gua yang agak gelap itu. Dua tenaga dahsyat yang tidak kelihatan bertemu dalam benturan pedang dan toya. In Hong mengeluarkan keluhan perlahan karena telapak tangan gadis ini tidak dapat tahan menghadapi benturan ini.
Sebaliknya Ceng Seng Hwesio juga berseru kaget, toya dan pedang terlepas dari tangan masing-masing, toyanya melayang dan hampir saja menghantam seorang sute dari Ceng Seng Hwesio yang cepat mengelak sehingga toya itu meluncur dan menancap di dinding gua. Sedangkan pedang In Hong melayang ke atas dan menancap pada langit-langit gua!
303
Ceng Seng Hwesio berdiri seperti patung, matanya terbelalak, penuh keheranan. Ia tadi merasa betapa dari pedang gadis itu menyambar hawa pukulan yang luar biasa sekali dan ia harus mengaku bahwa dalam benturan tenaga tadi, ia masih kalah jauh sehingga tenaganya sendiri membalik dan terpaksa toyanya terlepas dari pegangan dan meluncur ke belakang.
Memang, melihat kemana dua senjata itu meluncur, sudah dapat diketahui siapa yang lebih unggul dalam adu tenaga tadi. Toya di tangan Ceng Seng Hwesio membalik dan meluncur ke belakang, sedangkan pedang di tangan In Hong mencelat ke atas, maka berarti bahwa toya ini terpental ke belakang karena kalah tenaga!
Sebaliknya, lima orang hwesio Ngo-heng-tin setelah melihat betapa pedang itu telah terlepas dari pegangan In Hong, menjadi besar hati. Mereka berlima bergerak maju dan dengan berbareng mereka menyerang. Ada yang menotok jalan darah, ada yang mencengkeram pundak, ada pula yang mencengkeram lengan.
Kalau menurut suara hatinya, In Hong sudah putus asa dan tidak punya harapan lagi. Akan tetapi, kepercayaannya terhadap kakek aneh yang melindunginya mendatangkan keberaniannya kembali. Ia mengangkat kedua tangan, menggerakkan kedua tangannya cepat-cepat untuk menangkis dan balas menyerang.
Luar biasa sekali. Dari kedua tangan gadis ini keluar hawa pukulan dahsyat. Tanpa pedang, ternyata hawa
304
hangat yang mengalir dalam tubuhnya menjadi makin dahsyat dan langsung sehingga tenaga pukulannya terasa anginnya menyambar-nyambar.
Dalam segebrakan saja, terdengar suara teriakan kesakitan ketika tubuh lima orang hwesio yang tangguh itu satu persatu melayang dan terbentur pada dinding gua!
Teng San dan Lian Hong yang tadinya berada di mulut gua, melihat semua kejadian ini dengan mata terbelalak dan mulut bengong. Keduanya merasa heran dan bingung karena memang peristiwa yang mereka saksikan itu benar-benar luar biasa dan tak dapat mereka mengerti.
„Lian Hong, lekas kau beritahukan kepada suhu tentang kejadian ini!” kata Teng San.
Pemuda ini selain khawatir sekali akan keselamatan In Hong yang dikeroyok oleh suheng-suhengnya, juga ia merasa terheran-heran dan tahu bahwa kiranya hanya suhunya, Bu Kek Tianglo saja yang akan dapat membereskan dan memecahkan soal yang aneh ini. Dia sendiri lalu masuk ke dalam gua.
Pada saat itu, Ceng Seng Hwesio sudah melangkah maju. Dengan kedua tangannya, ia menyerang dan hendak mencengkeram kedua pundak In Hong untuk ditekan dan dibikin tidak berdaya. In Hong menyambut kedua tangan ini dan dua pasang telapak tangan bertemu.
305
Ceng Seng Hwesio menekan ke bawah dan In Hong menyangga dan mendorong ke atas. Dua tenaga dahsyat kembali bertarung melalui telapak dua pasang tangan itu.
Ceng Seng Hwesio mengerahkan tenaga lweekangnya ketika merasa betapa telapak tangan dari gadis itu tiba-tiba menjadi dingin sekali. Ia terkejut dan tahu bahwa gadis ini mempergunakan tenaga „im” yang dapat mencelakainya, maka ia memperhebat tenaganya untuk melawan tenaga ini.
In Hong tentu saja pernah mempelajari lweekang dari Hek Moli. Akan tetapi kalau dibandingkan dengan tingkat Ceng Seng Hwesio, ia kalah jauh.
Sekarang, dalam pertandingan ini, ia sendiri tidak turut apa-apa, hanya merasa betapa tekanan pada punggung dan lehernya makin kuat dan hawa panas seakan-akan membakar tubuhnya. Ia hanya menyalurkan hawa panas ini melalui lengan dan jari-jari serta telapak tangannya untuk menahan gencetan lawan yang seakan-akan hendak meremuknya.
Beberapakali ia merasa betapa dari dua telapak tangan hwesio itu menyerang tenaga dahsyat yang menindihnya, akan tetapi dari punggungnya juga keluar tenaga raksasa yang terus mengalir ke arah telapak tangannya dan mendorong kembali tenaga lawan yang menindih itu.
Tiba-tiba nampak urat-urat dijidat Ceng Seng Hwesio menonjol. Hwesio ini saking penasaran dan marahnya, mengerahkan tenaga terakhir. Ia merasa malu kalau
306
sampai kalah oleh gadis muda ini, maka dengan mati-matian ia menghabiskan tenaga terakhir.
Akibatnya hebat sekali, In Hong juga merasa hawa panas yang membuat napasnya sesak dan tiba-tiba hawa panas ini mengalir ke arah kedua lengannya, membuat ia terpaksa mengerahkan tenaga ini supaya keluar dari telapak tangan dan terdengarlah teriakan keras Ceng Seng Hwesio dan tubuh hwesio ini terlempar ke atas!
Ceng Seng Hwesio memang lihay sekali. Biarpun ia telah terpukul oleh tenaga dahsyat ditambah tenaganya sendiri yang terserang dan membalik, namun ia masih dapat menguasai diri. Sebelum kepalanya terbentur langit-langit gua, ia telah membalikkan tubuh sehingga hanya bagian belakang tubuhnya yang terbentur pada langit-langit dan kini tubuhnya me¬layang turun kembali.
Dalam melayang turun ini, Ceng Seng Hwesio mengeluarkan seruan: „Omitohud……!” Agaknya ia terkejut sekali sehingga ia tidak menguasai tubuhnya lagi. Ia pasti akan terbanting keras kalau saja Teng Seng Hwesio cepat-cepat melangkah maju dan menyambut tubuh suhengnya dengan kedua tangannya.
„Nona, kau kejam sekali!” Teng San menegur dan hendak melangkah maju.
„Memang aku kejam, dan para hwesio Siauw-lim-si itu tentu amat baik budi dan tidak kejam, bukan? Hm, kalau menurut pandanganku, di dunia ini hanya kaulah satu-satunya orang yang memiliki welas-asih,” kata In Hong ini
307
biarpun setengah mengejek, namun merupakan pernyataan hatinya.
Di antara para penghuni Siauw-lim-si, memang hanya pemuda ini yang tidak berlaku kejam dan tidak mendesaknya hanya sayangnya, pemuda ini berdiri dipihak mereka yang memusuhinya.
Teng San menjadi merah mukanya. Sesungguhnya, sekali melihat In Hong, hatinya telah jatuh dan ia suka kepada gadis ini. Apalagi setelah ia tahu bahwa gadis ini adalah Kwee In Hong, puteri dari ibu tirinya yang lenyap. Ia merasa suka dan juga amat kasihan. Akan tetapi, karena ia adalah murid Siauw-lim-pay, sudah menjadi kewajibannya untuk membela Siauw-lim-pay melihat partainya telah mengalami hinaan dan malu karena tokoh-tokohnya dikalahkan oleh gadis ini.
Sebelum ia melakukan sesuatu, tiba-tiba Ceng Seng Hwesio berkata:
„Siauw-sute, jangan kau kurangajar terhadap seorang locianpwe!”
Teng San menoleh dengan mata mengandung penuh pertanyaan, dan ia makin terheran ketika melihat suhengnya itu berlutut di depan In Hong!
„Bhutan Locianpwe, siauw-ceng tidak tahu bahwa locianpwe berada disini, mohon banyak maaf!” katanya.
308
In Hong mengerti bahwa hwesio itu telah tahu akan adanya kakek aneh, maka ia diam saja. Tiba-tiba, kakek aneh yang tadinya tidak kelihatan karena tubuhnya seakan-akan mengkeret kecil, kini kelihatan lagi, duduk bersila di belakang In Hong!
Juga Teng San baru saja melihat kakek ini, maka kagetnya bukan main.
„Ceng Seng Hwesio, muka hitam! Akhirnya kau dapat juga melihatku dari atas,” kakek itu berkata sambil tertawa.
Memang, ketika tadi Ceng Seng Hwesio mencelat ke atas dan membalikkan tubuh, dari atas ia melihat kakek yang bersembunyi di belakang In Hong, maka tahulah ia mengapa gadis itu demikian tangguh dan lihay!
„Locianpwe, harap locianpwe maklum bahwa gadis ini telah mengacau Siauw-lim-si dan……”
„Cukup, aku sudah tahu semua! Semenjak puluhan tahun yang lalu, Siauw-lim-si memang terkenal kikir dan memikirkan kepentingan sendiri! In Hong ini adalah murid isteriku, juga muridku sendiri, siapa berani mengganggunya? Aku sudah mengalah dan mematikan nafsu selama puluhan tahun, akan tetapi hari ini kalau ada yang berani mengganggunya, akulah lawannya!”
Mendengar suara yang amat berpengaruh dan dipenuhi oleh nafsu yang meluap-luap, Ceng Seng Hwesio menjadi keder. Diam-diam In Hong juga merasa betapa kakek ini
309
dahulunya pasti seorang yang bernafsu besar dan yang amat ganas dan tabah.
„Omitohud, tidak tahunya Koay-jin masih hidup dan bersembunyi disini!” tiba-tiba terdengar suara orang dari luar gua.
Belum lenyap gema suara itu, orangnya telah berjalan masuk, yakni seorang kakek tua berkepala gundul, memakai topi hwesio dan di tangannya memegang sebatang tongkat hwesio yang besar dan panjang. Hwesio ini sudah tua sekali, usianya paling sedikit delapanpuluh tahun, alis dan jenggotnya sudah putih semua, nampak halus seperti benang sutera putih. Matanya menyinarkan cahaya lembut dan mukanya kelihatan terang dan sabar.
Inilah Bu Kek Tianglo, ketua dari Siauw-lim-pay, seorang hwesio yang sudah puluhan tahun menyembunyikan diri di ruangan paling dalam dari Siauw-lim-si untuk menyucikan hati dan pikiran.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Teng San menyuruh Lian Hong pulang ke Siauw-lim-pay untuk memberi laporan kepada Bu Kek Tianglo tentang peristiwa aneh yang terjadi di dalam gua, di hutan tak jauh dari Siauw-lim-si.
Tadinya Bu Kek Tianglo mendengarkan penuturan murid muda ini dengan tenang dan sama sekali tidak menaruh perhatian, akan tetapi ketika ia mendengar betapa gadis yang mengacau Siauw-lim-si itu mengalahkan semua
310
muridnya dengan tenaga lweekang yang mentakjubkan, ia menjadi tertarik dan mengerutkan kening.
„Mengalahkan yang lain-lain masih tidak aneh, akan tetapi seorang gadis muda dapat mengalahkan lweekang Ceng Seng, benar-benar amat menarik hati. Lian Hong, minggirlah!”
Kakek ini sekali berkelebat melewati pinggir Lian Hong dan telah lenyap dari dalam kamarnya!
Lian Hong meleletkan lidah saking kagumnya, kemudian gadis cilik ini berlari-lari keluar mengejar gurunya.
Setelah Bu Kek Tanglo memasuki gua, kakek aneh yang buntung kaki tangannya itu, yang bukan lain adalah Buthan Koay-jin, suami dari Hek Moli, tertawa bergelak, suaranya bergema di dalam gua, amat menyeramkan.
„Bu Kek Tianglo, kau makin tua makin gagah saja. Apakah kau datang hendak turun tangan dan hendak membuntungkan kaki tangan gadis muridku ini? Ha, ha, ha!”
„Omitohud, Koay-jin, kau sampai sekarang masih saja belum dapat menguasai nafsumu. Tentu saja ini dapat juga kau sengaja dan berpura-pura, karena kau memang orang aneh. Sayang aku tidak dapat menjenguk isi hatimu sehingga aku dapat mengetahui sampai dimana gerangan kemajuanmu.”
311
„Bu Kek Tianglo, gadis muda ini adalah murid isteriku, juga muridku karena mulai hari ini dia ku ambil murid. Dia telah melakukan kesalahan seperti yang pernah kulakukan dahulu, akan tetapi apakah kau tidak dapat mencegah anak buahmu yang mendesaknya terus? Biarlah aku yang minta maaf kepadamu, kalau perlu tangan dan kakiku yang sudah buntung ini bersedia menerima beberapa gebukan tongkatmu yang lihay.”
Bu Kek Tianglo mengerutkan alisnya yang putih.
„Koay-jin, aku malu sekali kepadamu. Anak muridku memang terlampau keras memegang aturan. Akan tetapi, setelah ternyata bahwa bocah ini menjadi muridmu, perlu apa kita berselisih lagi? Urusan puluhan tahun yang lalu cukup mengenaskan hati kita, tak perlu diulang lagi. Ceng Seng, hayo lekas berlutut minta ampun kepada Koay-jin!”
Ceng Seng Hwesio kembali berlutut mengangguk-anggukkan kepala, diturut oleh lain-lain hwesio yang berada disitu. „Mohon locianpwe sudi mengampuni kami.”
Akan tetapi Bhutan Koay-jin tidak memandang kepada mereka ini. Sepasang matanya yang bersinar-sinar itu ditujukan ke arah Teng San. Pemuda ini tidak mau berlutut, hanya memandang dengan mata penuh keheranan.
„Siapa pemuda ini, Tianglo?” tanya kakek buntung itu.
„Dia ini Ong Teng San, muridku yang termuda.”
312
,Bagus, dia telah kemasukan I-kin-keng. Mari kita bertaruh, siapa kelak yang lebih berhasil, kau dengan pemuda itu atau aku dengan muridku ini. Ha, ha, ha!”
„Omitohud, kau benar-benar masih kukoay (aneh) watakmu, agaknya tidak berubah,” jawab hwesio itu.
„Aneh dan tidak aneh, apa bedanya? Berubah atau tidak, dimana letak perbedaannya? Ha, ha, Bu Kek Tianglo, tunggu setahun lagi kita melihat hasil kita. Mudah-mudahan saja kita masih dapat mengalaminya.”
Bu Kek Tianglo tersenyum, menjura dan mengajak semua muridnya berlalu dari tempat itu. Di tengah perjalanan, Bu Kek Tianglo memesan kepada semua muridnya agar jangan sekali-kali mengganggu gua itu, bahkan jangan sekali-kali mendekati tempat itu.
Sepeninggal semua hwesio itu, Bhutan Koay-jin berkata: „Kau mau menjadi muridku, bukan?”
In Hong sudah menyaksikan semua kejadian tadi dan sebagai murid seorang pandai iapun mengerti bahwa kakek ini memiliki tenaga lweekang yang luar biasa tingginya sehingga hanya dengan menempelkan dua lengan buntung di punggung dan lehernya, kakek ini sudah „meminjam” dua tangannya untuk mengusir dan mengalahkan tokoh-tokoh Siauw-lim-pay tadi. Oleh karena itu, tanpa ragu-ragu lagi In Hong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bhutan Koay-jin dan berkata:
313
„Teecu merasa bahagia sekali kalau mendapat pimpinan suhu.”
„Nah, sekarang kauceritakan tentang gurumu Hek Moli, dan bagaimana ia sampai tewas oleh orang-orang Kun-lun-pay.”
4.3. Mewujudkan Tantangan Bhutan Koay-jin
In Hong lalu menceritakan semua pengalamannya dan apa yang ia ketahui tentang kematian Hek Moli. Juga ia ceritakan bagaimana ia mendatangi murid Go-bi-pay dan kemudian menyerbu Kun-lun-pay, mengalami kegagalan dan seterusnya sampai ia menyerbu Siauw-lim-pay.
Mendengar semua penuturan murid-barunya ini, kakek itu menarik napas panjang berulang-ulang.
„Kalau datang derita nestapa, apa perlunya mencela Tuhan dan mencaci setan? Mencari biangkeladi harus membuka dada melihat perbuatan sendiri. Segala akibat yang menimpa diri adalah lanjutan sebab perbuatan diri pribadi, baik perbuatan dihidup kini maupun dihidup lalu.”
Kakek itu bicara seperti pada diri sendiri, kemudian ia memandang kepada In Hong dan melanjutkan kata-katanya:
„In Hong, gurumu Hek Moli terlampau menurutkan nafsu. Demikian pula aku. Kaulihat kaki tanganku ini? Inipun akibat daripada nafsu angkara murka. Dahulu aku tidak pernah memandang langit, merasa diri paling tinggi dan
314
paling pandai. Aku datangi semua partai, kujatuhkan semua ketua partai besar, kutertawai mereka dan kusombongkan kepandaianku. Akhirnya aku roboh dalam tangan tokoh-tokoh besar dari Kun-lun, Go-bi, Bu-tong, dan Siauw-lim yang maju bersama. Akibatnya, kaki tanganku buntung. Mereka itu masih berhati lemah tidak menewaskan aku. Ha, ha, ha!”
In Hong memandang kepada suhunya dengan kagum. „seorang diri dapat mengalahkan tokoh-tokoh besar itu satu persatu, kau benar-benar hebat, suhu. Sayangnya mereka itu curang dan maju mengeroyokmu.”
Kembali Bhutan Koay-jin tertawa bergelak. „Kau memang serupa benar dengan Hek Moli, dan Hek Moli juga hampir sama wataknya dengan aku. Ah, mengapa kita bertiga ini mempunyai dasar watak yang sama? Agaknya memang sudah jodoh. Hanya satu-satunya nasihatku, jangan kau mengikuti jejak Hek Moli atau jejakku. Akibatnya takkan baik, Hek Moli tewas di tangan orang pandai dan akupun roboh di tangan orang pandai.”
„Harap suhu suka meneruskan cerita tadi, selanjutnya bagaimana?” tanya In Hong yang ingin mengetahui riwayat suami isteri yang keduanya menjadi gurunya itu.
„Mendengar bahwa aku roboh oleh tokoh-tokoh besar itu, isteriku, Hek Moli, menyusulku dari Sikkim. Aku sengaja menyembunyikan diri karena malu bertemu muka dengan isteriku tidak saja malu karena aku telah kalah oleh tokoh-tokoh besar empat partai, juga aku tidak mau isteriku melihat kaki tanganku yang buntung. Kuharap dia akan
315
kembali ke Sikkim dan menikah dengan laki-laki lain. Siapa tahu iapun dikuasai nafsu marah ketika ia mendengar bahwa aku mungkin sudah tewas oleh tokoh-tokoh besar Siauw-lim, Kun-lun, Go-bi, dan Bu-tong. Maka ia lalu menyerbu ke Kun-lun dan Go-bi, mungkin juga Bu-tong-pay. Hanya Siauw-lim-pay ia tidak berani ganggu karena maklum bahwa kepandaiannya masih jauh untuk dapat menandingi hwesio-hwesio Siauw-lim yang lihay.”
Demikianlah, mulai hari itu, Bhutan Koay-jin menurunkan kepandaiannya kepada In Hong dengan penuh semangat. Sebaliknya In Hong yang bercita-cita menyerbu Kun-lun-pay, belajar dengan tekun pula, tidak ingat waktu dan tidak tahu lelah.
Sesuai dengan keinginan hati In Hong, dan cocok pula dengan pandangan Bhutan Koay-jin, gadis itu menerima ilmu lweekang yang amat luar biasa, yang cara mempelajarinya bukan dari Tiongkok aseli, melainkan sudah tercampur dengan ilmu yoga dari barat.
Bhutan Koay-jin menurunkan ilmu lweekang ini dengan jalan paling singkat dan cepat. Ia langsung menurunkan lweekang dengan cara „memindahkan” tenaganya sendiri ke dalam tubuh In Hong. Dengan menyalurkan tenaga ini melalui telapak tangan In Hong, juga dengan cara menotok bagian-bagian tubuh muridnya dengan lengannya yang buntung, kakek ini akhirnya dapat memindahkan tenaga dan sinkang ditubuhnya ke dalam tubuh muridnya.
316
Dengan cara ini, In Hong hanya tinggal melatih diri saja sehingga ia dapat menguasai tenaga sinkang yang dahsyat dan yang kini sudah terkumpul di dalam tubuhnya itu. Memelihara tenaga sinkang ini tidak mudah. Tanpa latihan-latihan tertentu dan peraturan pernapasan yang selalu harus dilaksanakan, tenaga sinkang itu akan musnah sedikit demi sedikit seperti gandum dari kantong yang bocor.
Akan tetapi, pengoperan sinkang seperti itu amat membahayakan kesehatan Bhutan Koay-jin, karena hal itu membutuhkan pengerahan tenaga yang melewati ukuran, yang melewati batas daya tahan tubuhnya yang sudah tua sekali. Apalagi ia masih memberi petunjuk-petunjuk dalam gerakan ilmu silat kepada In Hong.
Setiap kali ada lowongan waktu yang sebagian besar dipergunakan untuk pelajaran ilmu lweekang, ia me¬nyuruh In Hong mengeluarkan ilmu silat yang paling lihay yang pernah dipelajarinya dari Hek Moli. Bhutan Koay-jin hanya menonton, akan tetapi kadang-kadang ia menyetop dan memberi petunjuk pada bagian-bagian tertentu yang dianggap kurang sempurna.
„Ilmu silatmu sudah hebat,” katanya. „Memang sejak dahulu, ilmu silat isteriku itu tidak kalah olehku, hanya ia lemah dalam lweekang.”
Memeras tenaga yang sudah tua ini akhirnya mengakibatkan kakek itu jatuh sakit. Selama setengah tahun ia terus menerus setiap hari melatih In Hong
317
sehingga dalam waktu setengah tahun, gadis itu telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali.
Semua tenaga sinkang dari kakek itu telah berpindah ke dalam dirinya, juga ilmu silatnya, terutama ilmu pedangnya, mendapat banyak kemajuan berkat petunjuk-petunjuk dari Bhutan Koay-jin.
Segala daja-upaja In Hong untuk mengobati gurunya gagal. Bhutan Koay-jin bukan menderita sakit biasa, melainkan penyakit tua yang sudah tidak ada obatnya lagi. Bhutan Koay-jin meninggal dunia dengan senyum di mulut, seakan-akan merasa yakin bahwa ia akan menang dalam taruhannya dengan Bu Kek Tianglo ketua Siauw-lim-pay.
Memang, pada saat terakhir dari hidupnya, tiap kali dia membuka mulut mengeluarkan suara, tentu ia menyebut-nyebut soal pertaruhan itu.
Seorang diri In Hong mengurus jenazah gurunya, mengubur jenazah itu di dalam gua dan menangis di depan kuburan. Kemudian ia keluar dari tempat itu dan tempat pertama yang ditujunya adalah kelenteng Siauw-lim-si!
Gadis ini hendak memenuhi kehendak gurunya, keinginan yang disebut-sebut sebelum meninggal dunia, yakni agar ia dapat mengalahkan murid muda Siauw-lim-pay, murid yang telah mempelajari I-kin-keng. Ia harus dapat mengalahkan pemuda itu, pemuda yang dahulu telah menolongnya, yang bernama Ong Teng San!
318
◄Y►
Dengan tenang ia memasuki halaman kelenteng Siauw-lim-si. Kedatangannya sekarang jauh bedanya dengan dahulu. Setengah tahun yang lalu, ia datang di tempat ini pada malam hari dengan maksud mencuri kitab I-kin-keng. Akan tetapi sekarang, datang pada pagi hari dengan terang-terangan dengan maksud mengajak pibu orang yang mewarisi ilmu I-kin-keng!
Semenjak terjadi peristiwa penyerbuan In Hong ke Siauw-lim-si, kelenteng ini sekarang terjaga keras. Tidak mengherankan apabila baru saja gadis itu memasuki pekarangan depan, tiba-tiba datang lima orang hwesio yang bukan lain adalah hwesio-hwesio Ngo-heng-tin!
Mereka memegang toya dan memandang kepada gadis ini dengan mata penuh kecurigaan dan juga keheranan. Akan tetapi gadis itu tersenyum mengejek ke-pada mereka.
„Kau……?” tegur seorang di antara lima hwesio itu.
„Apa kehendakmu, nona?” Mereka masih merasa gentar kalau teringat akan pengalaman mereka di dalam gua, dimana mereka secara aneh sekali dibikin jatuh bangun oleh gadis ini yang melawan mereka hanya dengan duduk bersila.
Akan tetapi setelah mereka tahu bahwa di belakang gadis itu ada Bhutan Koay-jin, lenyap rasa heran dan penasaran hati mereka. Namun diam-diam mereka
319
menaruh hati marah kepada gadis yang menjadi gara-gara sehingga mereka sebagai tokoh-tokoh besar Siauw-lim-si mengalami rasa malu dan penghinaan.
„Ngowi suhu harap memberitahu kepada Bu Kek Tianglo bahwa aku datang untuk bicara dengan dia, atau boleh juga dengan muridnya yang bernama Ong Teng San,” kata In Hong dengan tenang.
Tentu saja lima orang hwesio itu tidak membiarkan In Hong terus masuk, karena mereka mengira bahwa gadis ini tentu datang hendak membikin ribut pula.
Kini mereka tidak takut menghadapi gadis ini, karena dahulu di dalam gua, ke-kalahan mereka bukan oleh gadis ini melainkan oleh Bhutan Koay-jin yang meminjam sepasang lengan In Hong. Biarpun mereka tahu bahwa gadis ini telah diterima menjadi murid Bhutan Koay-jin, akan tetapi dalam waktu setengah tahun saja, kepandaian apakah yang sudah dapat dipelajarinya?
„Nona, jangan kau main gila seperti dulu! Kalau kau memang ada keperluan, mengapa harus mencari suhu atau Ong-sute? Kami berlima ditugaskan menjaga disini, maka segala keperluanmu, katakan saja kepada kami, pasti kami takkan berani mengabaikan dan akan melayanimu.”
In Hong mengerutkan alisnya yang bagus bentuknya.
„Kalian ini masih saja tidak berubah, bersikap galak terhadap orang muda. Bukankah sudah kukatakan tadi
320
bahwa aku ingin bertemu dengan Bu Kek Tianglo atau Ong Teng San? Hayo lekas panggil mereka keluar, kalau tidak jangan bilang aku kurangajar kalau aku masuk dan mencari mereka sendiri.”
Lima orang hwesio itu nampak ragu-ragu. Memang bukan hal yang sederhana dan mudah saja untuk memanggil keluar Bu Kek Tianglo. Kakek ini selalu menyembunyikan diri di dalam kamarnya, bersamadhi dan tidak mau mencampuri urusan di luar kamarnya. Ia tidak mau diganggu, maka tidak ada orang yang berani mengganggu kakek ini kalau tidak karena urusan amat penting.
Sekarang, gadis ini datang hendak bertemu dengan Bu Kek Tianglo, mana lima orang hwesio itu berani mengganggu suhu mereka? Apalagi kalau diingat bahwa gadis ini adalah seorang yang pernah mengacaukan Siauw-lim-si, kalau Bu Kek Tianglo diganggu dari samadhinya hanya untuk menjumpai gadis ini, tentu kakek itu akan menjadi marah.
Adapun In Hong ketika melihat lima orang hwesio itu ragu-ragu dan tidak mau memenuhi permintaannya, lalu melangkah maju dan berkata:
„Kalau tidak mau melaporkan kepada Bu Kek Tianglo, minggirlah, biar aku sendiri masuk menghadap!”
Akan tetapi, lima orang hwesio itu cepat memalangkan toya dan menghadang di tengah jalan.
321
„Nona, jangan kau kurangajar!” Lima batang toya bergerak mendorong ke arah tubuh In Hong untuk memaksa gadis itu mundur lagi.
Akan tetapi, sebaliknya daripada mundur, In Hong malah melangkah terus ke depan. Dua tangannya bergerak cepat dan dilain saat, dua orang hwesio telah terlempar jauh berikut toya yang mereka pegang, sedangkan seorang hwesio lain terpaksa bertekuk lutut karena sambungan lututnya tercium ujung sepatu In Hong. Gerakan nona ini demikian cepat dan tenaganya demikian hebat sehingga tiga orang hwesio itu tak sempat mempertahankan diri.
Mereka berdiri lagi cepat-cepat dan bersama dua orang hwesio yang belum roboh, mereka siap untuk melakukan serangan. Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara keras:
„Tahan senjata!”
Ternyata bahwa yang muncul adalah Ceng Seng Hwesio yang bermuka hitam dan bersuara tenang berpengaruh.
Ceng Seng Hwesio tadi melihat gerakan In Hong dan diam-diam ia terkejut. Tendangan In Hong masih tidak mengherankan karena ia memang tahu bahwa gadis ini memiliki gerakan yang amat cepat dan tidak terduga. Akan tetapi, menerima toya dengan kedua tangan kosong lalu melemparkan toya-toya itu berikut pemegangnya, sungguh merupakan bukti bahwa gadis ini sekarang telah memiliki tenaga lweekang yang tinggi sekali!
322
„Sam-sute, pergilah ke dalam dan laporkan kepada suhu bahwa murid Bhutan Koay-jin datang mengunjungi Siauw-lim-si,” kata Ceng Seng Hwesio.
Sekali saja melihat sepak terjang In Hong, hwesio ini maklum bahwa tentu gadis ini datang untuk memenuhi tantangan Bhutan Koay-jin setengah tahun yang lalu, maka ia pikir lebih baik minta suhunya keluar. Kemudian ia menjura kepada In Hong sambil terse¬nyum:
„Ah, kiranya Kwee-lihiap yang datang. Tidak tahu apakah Kwee-lihiap membawa pesanan sesuatu dari Bhutan Locianpwe?”
„Memang aku membawa pesanan untuk memenuhi tantangan pibu dengan murid Siauw-lim-pay!” jawab In Hong singkat. Ia tahu bahwa Ceng Seng Hwesio adalah murid kepala dari Bu Kek Tianglo, maka ia mau memberitahukan maksud kedatangannya.
Pada saat itu, dari ruangan dalam sudah nampak Bu Kek Tianglo menghampiri tempat itu, berjalan perlahan dibantu oleh tongkatnya. Hwesio ini sudah amat tua dan lemah sehingga In Hong teringat akan gurunya sendiri yang telah meninggal dunia.
Seorang pemuda berjalan disebelah kirinya dan In Hong segera mengenal pemuda ini sebagai Ong Teng San yang pernah menolongnya.
Ia melihat betapa sepasang mata pemuda itu ditujukan kepadanya dan hati In Hong terheran-heran. Mengapa
323
sinar mata itu kelihatan begitu sedih? Di belakang pemuda ini berjalan gadis cilik yang dahulu ia lihat di atas pagar tembok.
Makin terheranlah hati In Hong karena baru sekarang ia melihat wajah gadis ini dengan jelas. Tidak aneh bahwa dulu ia melihat gadis ini seperti seorang yang sudah lama dikenalnya, karena ternyata bahwa wajah gadlis cilik ini hampir serupa dengan wajah yang ia lihat setiap hari apabila ia bercermin! Juga gadis ini kelihatan berduka.
Memang Teng San sudah bercerita kepada Lian Hong bahwa gadis yang mengacau Siauw-lim-si itu bukan lain adalah Kwee In Hong, puteri dari ibu mereka yang hilang ketika dahulu suami ibu mereka itu dibunuh oleh ayah mereka! Kini nona yang menjadi saudara tiri mereka itu datang memusuhi Siauw-lim-si dan otomatis mereka harus menghadapi nona itu sebagai lawan, bagaimana mereka takkan bersedih?
Untuk memperkenalkan diri bahwa mereka adalah anak dari Ong Tiang Houw, lebih tidak mungkin lagi. In Hong tentu membenci Tiang Houw dan seorang gadis yang memiliki watak demikian keras dan ganas, pasti akan berusaha membalas sakit hati terhadap Tiang Houw.
Kalau In Hong mendengar bahwa Teng San dan Lian Hong adalah anak dari Tiang Houw, otomatis gadis murid Hek Moli itu pasti akan memusuhi mereka pula.
Hal ini semua pendeta di Siauw-lim-si sudah mengetahui karena mereka sudah mendengar penuturan Teng San.
324
Akan tetapi, mereka tidak mau membuka rahasia karena mereka sudah diminta dengan sangat oleh Teng San agar jangan mencenitakan rahasia ini kepada In Hong. Mereka semua dapat membayangkan betapa akan hebatnya akibat apabila In Hong mengetahui bahwa Teng San dan Lian Hong adalah anak-anak dari musuh besarnya, yakni Ong Tiang Houw yang telah membunuh Kwee Seng, ayahnya.
Sementara itu, dengan suaranya yang halus dan lemah lembut, Bu Kek Tianglo sudah berkata kepada In Hong:
„Nona, bagaimana kabarnya dengan Bhutan Koay-jin gurumu? Mengapa dia tidak ikut datang beromong-omong dengan pinceng?”
Mendengar pertanyaan ini, In Hong mengerutkan keningnya dan wajahnya berubah sedih.
„Guruku telah meninggal dunia kemarin pagi……”
Mendengar ini, semua hwesio merangkapkan kedua tangan di depan dada. Teng San menundukkan muka dan Lian Hong memandang kepada In Hong dengan muka berkasihan.
Hening beberapa lama, keheningan yang menyesakkan dada In Hong dan membuat gadis itu hampir tak dapat menahan mengucurnya air mata. Ia menjadi gemas kepada diri sendiri dan un¬tuk menyembunyikan perasaan dan kelemahan hatinya ini, ia berkata:
325
„Suhu sudah meninggal dengan tenang dan aku tidak perlu mendapat rasa kasihan orang lain!” Kata-kata ini membuktikan betapa keras adanya hati gadis ini.
„Omitohud…… Bhutan Koay-jin, kau sudah mendahului pinceng. Kau sudah senang dan bebas, semoga kita akan dapat bertemu pula di alam lain,” terdengar Bu Kek Tianglo berdoa perlahan, kemudian ia memandang kepada In Hong dan bertanya:
„Setelah suhumu meninggal, apakah kedatanganmu ini hanya untuk menyampaikan warta itu, nona?”
„Aku datang memenuhi pesanan suhu bahwa aku harus memenuhi janji suhu untuk mengadakan pibu dengan murid Siauw-lim-pay untuk menentukan, mana yang lebih unggul antara ilmu kepandaian yang diturunkan oleh suhu dengan ilmu kepandaian dari Siauw-lim-pay!” Sambil berkata demikian ia mengerling ke arah Teng San yang masih menundukkan mukanya.
Bu Kek Tianglo tersenyum dan menggeleng-geleng kepalanya.
„Bhutan Koay-jin, kau benar-benar telah mendapatkan murid yang cocok dengan watakmu,” katanya perlahan, kemudian kepada In Hong ia berbuat dengan suara sungguh-sungguh: „Nona kau baru menerima latihan selama setengah tahun dari mendiang Bhutan Koay-jin, apakah kau sudah merasa cukup kuat untuk menghadapi Teng San?”
326
„Aku memang seorang lemah dan bodoh, akan tetapi kiranya aku takkan mengecewakan arwah dari suhu,” jawab In Hong.
„Suhu, nona Kwee ini sudah mewarisi sinkang dari Bhutan Locanpwe,” kata Ceng Seng Hwesio kepada gurunya, „tadi teecu sudah menyaksikan betapa dia mengalahkan tiga orang sute dengan tenaga lweekangnya.”
Bu Kek Tianglo mengangguk-angguk puas. „Hm, begitukah? Bagus sekali. Agaknya Bhutan Koay-jin sudah dapat memperdalam kepandaiannya selama puluhan tahun ini sehingga ia telah dapat menurunkan sinkang sekaligus tanpa menghiraukan kesehatannya sendiri. Bagus! Hanya sinkang dari Koay-jin saja yang kiranya patut menghadapi Teng San, kau lawan nona Kwee ini dengan I-kin-keng!”
Dapat dibayangkan betapa berat hati Teng San menerima perintah ini, akan tetapi tentu saja ia tidak berani membantah kehendak suhunya, maka sambil menganggukkan kepalanya, ia lalu melangkah maju dan bersiap sedia mengha-dapi In Hong.
Melihat pemuda itu telah maju, In Hong juga segera melangkah maju tanpa mencabut pedangnya. Ia tidak suka menghadapi seorang lawan yang bertangan kosong dengan pedang, karena iapun tahu bahwa orang menghendaki meng¬adu tenaga lweekang.
327
„Kwee-siocia, silahkan,” kata Teng San yang sudah memasang kuda-kuda. Ia menyalurkan sinkang dari I-kin-keng ke dalam sepasang lengannya dan memasang kuda-kuda dari ilmu silat Lo-han-kun, yakni ilmu silat dari Siauw-lim-pay yang terkenal tangguh dan lihay.
Biarpun ia berwatak ganas dan keras hati, namun In Hong bukanlah orang yang mudah melupakan budi. Ia telah hutang budi kepada pemuda ini yang telah memperlihatkan kebaikan hati dan menolongnya ketika ia dikepung oleh para hweesio Siauw-lim-si. Juga sebagai seorang wanita, perasaannya yang halus membisikkan kepadanya bahwa pemuda ini tertarik kepadanya.
Oleh karena itu, pada mulanya In Hong merasa enggan untuk bertanding melawan Teng San. Ia akan lebih suka menghadapi Ceng Seng Hwesio, atau kalau perlu, ia bahkan lebih suka kalau menghadapi Bu Kek Tianglo sendiri! Akan tetapi, mengingat akan nama baik suhunya, segera timbul semangatnya dan ia mengambil keputusan untuk mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk merebut kemenangan dalam pertandingan ini.
„Baik, kau jagalah seranganku!” jawab In Hong dan dengan cepat sekali ia mulai menyerang, mempergunakan ilmu silat yang ia pelajari dari Hek Moli. In Hong memiliki gerakan yang cepat dan ringan sekali, maka serangannya inipun datang dengan dahsyat dan cepatnya. Tangan kanannya memukul ke arah dada Teng San dan tangan kiri menjaga di atas pusar.
328
Teng San ingin menguji tenaga gadis ini, maka ia tidak mengelak, melainkan menangkis sambil mengerahkan sebagian dari tenaga lweekangnya. Dua buah lengan tangan kanan bertemu.
„Duk!” Keduanya tergeser mundur dan berubah kuda-kuda kaki mereka. Tadipun In Hong hanya mengeluarkan sebagian saja dari tenaganya, maka melihat akibat pertemuan dua lengan itu, dapat diduga bahwa tenaga mereka memang berimbang. Melihat ketangguhan lawan, dua orang muda ini lalu menghilangkan rasa sungkan lagi dan mulailah mereka bertanding sambil mempergunakan seluruh tenaga.
Memang hebat sekali pertandingan itu. Gerakan In Hong lincah dan cepat, sebaliknya gerakan Teng San tenang dan lambat. Namun, tiap kali keduanya bertemu tangan, selalu terasa betapa masing-masing terdorong oleh tenaga yang dahsyat.
Setelah bertempur selama duapuluh jurus lebih, Teng San dapat mengukur tenaga lawannya. Ia adalah ahli waris dari I-kin-keng, ilmu pusaka dari Siauw-lim-si, maka tentu saja tenaga lweekangnya hebat. Ilmu I-kin-keng sudah amat terkenal dan dikagumi oleh seluruh tokoh kangouw, sedangkan Teng San sudah mempelajari ilmu ini bertahun-tahun dan bakatnya memang baik sekali.
Sebaliknya, biarpun ilmu sinkang yang diturunkan oleh Bhutan Koay-jin kepada In Hong juga luar biasa sekali dan hampir setingkat dengan I-kin-keng, akan tetapi In Hong menerima ilmu ini baru setengah tahun lamanya.
329
Dalam hal tenaga dalam ini, In Hong masih kalah dan hal ini diketahui baik oleh Teng San.
Akan tetapi, pemuda ini tidak tega melukai hati In Hong, tidak tega mengalahkannya. Ia merasa kasihan sekali melihat In Hong dan di dalam hatinya timbul perasaan aneh dari kasih sayang.
Perasaan kasihan dan kasih sayang ini membuat Teng San ingin menolong dan membantu In Hong, mana bisa ia tega merobohkannya? Oleh karena itu, ia sengaja mengeluarkan tiga-perempat bagian saja dari lweekangnya dan ini cukup untuk mengimbangi kekuatan In Hong.
Namun, dipihak In Hong lain lagi. Biarpun gadis ini tadinya merasa berhutang budi dan tidak enak untuk bertanding dengan pemuda yang pernah menolongnya ini, akan tetapi setelah melihat bahwa tenaga dari pemuda ini memang hebat, ia lalu mengerahkan seluruh tenaga dalam setiap serangannya.
Bahkan ia melakukan serangan dengan gerakan cepat sekali, mengeluarkan gerak tipu-tipu yang paling lihay dari ilmu silatnya. Dengan gerakannya yang lebih cepat dan lincah karena ginkangnya memang tinggi. In Hong dapat mendesak lawannya yang sebagian banyak hanya membela diri saja.
4.4. Balasan Pembunuh Hek Mo-li
330
Pertandingan berjalan sampai tujuhpuluh jurus dan keadaan mereka masih seimbang, sungguhpun kelihatannya In Hong selalu mendesak dan menindih, namun gadis ini maklum bahwa ia tidak mendapat banyak kesempatan menghadapi pemuda yang kokoh kuat penjagaannya ini.
Tiba-tiba In Hong melakukan serangan nekat. Gadis yang keras hati ini merasa penasaran dan mendongkol sekali karena sebegitu lama semua serangannya tidak berhasil, bahkan kedua lengannya sudah terasa lelah dan sakit-sakit.
Kini ia mengeluarkan gerak tipu yang disebut Sam-houw-toat-beng (Tiga harimau mencabut nyawa), sebuah pukulan yang luar biasa ganasnya dari Hek Moli. Dengan gerakan yang susul menyusul dan bukan main cepatnya sehingga hampir boleh dibilang dalam satu saat, tangan kanan In Hong memukul ke arah pusar, disusul dengan cengkeraman tangan kiri ke arah leher dan diikuti dengan tendangan maut ke depan!
Terdengar Bu Kek Tianglo mengeluarkan napas berat, tanda bahwa kakek ini merasa khawatir melihat muridnya terancam hebat. Juga Teng San terkejut bukan main. Tak pernah disangkanya bahwa gadis itu memiliki ilmu pukulan yang demikian ganasnya. Akan tetapi, sukarlah untuk menghindarkan diri sekaligus dari tiga macam serangan ini dan ia harus menghadapinya dengan tenang.
331
Ia mempergunakan tangan kanan untuk menyampok cengkeraman ke arah leher, tangan kirinya menahan datangnya tendangan maut yang amat berbahaya itu sedangkan tubuhnya agak direndahkan sehingga pukulan In Hong ke arah pusarnya menjadi berubah sasaran dan tiba di atas dadanya. Hal ini memang ia sengaja karena dalam menerima pukulan gadis itu didadanya, Teng San mengerahkan tenaga lweekangnya yang luar biasa.
Terdengar kain robek dan seruan In Hong. Tubuh gadis ini terjengkang ke belakang dan terhuyung-huyung. Hampir saja ia roboh kalau saja tidak lekas-lekas mengatur keseimbangan tubuhnya. Kepalan kanannya terasa panas dan kesemutan, akan tetapi ia tidak terluka.
Dilain pihak, Teng San yang terpukul dadanya itu berdiri tegak tidak bergeming, hanya pundaknya terkena cengkeraman tangan kiri In Hong. Ketika tangan kiri In Hong tadi disampok, gadis ini dengan cepatnya menyelewengkan tangan kirinya sehingga tangan ini dapat melanjutkan serangan ke arah pundak lawan.
Tangan inilah yang melukai Teng San karena cengkeraman jari tangan yang terisi tenaga lweekang ini telah merobek kain penutup pundak dan terus melukai kulit dan daging pundak!
„Kwee-lihiap, aku mengaku kalah……,” kata Teng San sambil tersenyum dan menjura.
In Hong menjadi merah sekali mukanya. Dari tadi juga ia telah dapat mengerti bahwa dalam hal tenaga lweekang,
332
ia masih kalah oleh pemuda ini. Gebrakan terakhir tadi membuktikan.
Juga gebrakan terakhir ini membuka rahasia hati Teng San yang sengaja membiarkan dirinya terpukul tanpa bermaksud merobohkan atau melukai In Hong. Orang yang sudah dapat menahan pukulan pada dadanya tadi tanpa terluka, kalau mau, memang dapat mengirim kembali hawa pukulan dan mengakibatkan luka melakukan hal itu, hanya membuat In Hong mencelat dan terhuyung-huyung saja.
„Ong-tayhiap, kau sudah mengalah. Kau patut menjadi terbaik dari Siauw-lim-pay……” jawab In Hong yang segera menjura kepada Bu Kek Tianglo, kemudian tanpa banyak cakap lagi gadis ini berkelebat dan berlari keluar dari kuil Siauw-lim-si.
Seperginya gadis ini. Bu Kek Tianglo terdengar menarik napas panjang.
„Hm, gadis seganas itu berkeliaran seorangdiri di dunia kangouw, benar-benar berbahaya! Entah kebodohan apa lagi yang akan ia lakukan. Teng San, pinceng tahu mengapa kau tadi mengalah. Memang, dalam kedudukanmu sebagai putera musuh besarnya, dan mengingat pula akan perbuatan ayahmu terhadap ayah dan ibunya, amat sukarlah bagimu untuk tidak menaruh hati iba dan mengalah. Akan tetapi, gadis itu memiliki watak yang amat keras dan perbuatannya sewaktu-waktu bisa ganas seperti mendiang Hek Moli. Lweekang¬nya pinceng lihat sudah amat tinggi sehingga di dunia
333
kangouw, kiranya hanya kau dengan I-kin-keng yang dapat mengendalikannya. Oleh karena itu, sekarang kau pinceng paksa keluar dari sini untuk mengamat-amati gadis itu, syukur kalau kau bisa menguasainya dengan jalan halus, kalau tidak kau harus menjaga agar jangan sampai ia menimbulkan gara-gara seperti yang pernah dilakukan oleh Bhutan Koay-jin dan Hek Moli.”
Demikianlah, pada keesokan harinya, Teng San dan Lian Hong meninggalkan Siauw-lim-si dan kedua orang kakak dan adik ini merasa gelisah kalau mereka memikirkan In Hong. Bagaimana kelak kalau In Hong bertemu dengan ibunya dan mendapat tahu bahwa ibunya telah menikah dengan pembunuh ayahnya?
Mengingat akan semua ini, Teng San menjadi amat berduka. Diam-diam ia kecewa terhadap ayahnya, karena setelah membunuh suaminya, ayahnya lalu mengambil isterinya. Benar-benar hal yang amat memalukan! Dan sekarang ditambah lagi oleh kenyataan betapa menarik adanya In Hong dan betapa hatinya selalu tak dapat melupakan wajah yang cantik jelita dan gagah itu.
◄Y►
Apa yang dikhawatirkan oleh Bu Kek Tianglo memang beralasan. In Hong adalah seorang yang semenjak kecilnya dididik oleh seorang yang ganas seperti Hek Moli, maka otomatis gadis inipun menjadi dewasa dengan watak yang sama dengan gurunya. Keras hati dan ganas.
334
Ia takkan mau berhenti sebelum dapat memuaskan hatinya membalas dendamnya kepada musuh-musuh besar yang sudah menewaskan gurunya. Di dalam hati In Hong, hidupnya hanya mempunyai tujuan tertentu, yakni membalas dendam atas kematian gurunya, kemudian mencari ibunya dan mencari musuh besar yang sudah menewaskan ayahnya!
Setelah meninggalkan Siauw-lim-si, gadis ini langsung menuju ke Kun-lun-san! Ia melakukan perjalanan cepat sekali dan tidak pernah berhenti kalau tidak sudah lelah sekali. Ia tidur dimana saja sang malam menghalang perjalanannya. Tidur di udara terbuka, di dalam kelenteng tua bobrok, di atas pohon, atau dimana saja bagi gadis ini bukan apa-apa.
Kadang-kadang sehari semalam ia tidak menemui kampung dan terpaksa kalau bekal makanan habis, ia berpuasa atau makan buah-buahan. Inipun tidak membuatnya merasa sengsara. Setiap orang kangouw harus berani menghadapi keadaan seperti ini dengan tabah.
Ketika tiba di kaki bukit Kun-lun-san, di luar sebuah hutan kecil ia melihat seorang laki-laki berjalan dengan kepala menunduk. Laki-laki ini berjalan di sebelah depan dan In Hong hanya melihat punggung dan pundaknya yang bidang.
Melihat potongan tubuh orang itu, In Hong merasa sudah mengenalnya, apalagi melihat langkah kaki yang biarpun
335
perlahan namun masih kelihatan ketegapan dan kegagahannya, seperti langkah seekor harimau.
In Hong mempercepat larinya dan tak lama kemudian ia telah dapat menyusul orang itu. Laki-laki itu mendengar kedatangan orang lalu menengok.
„Kau…… Bu Jin Ay……?” seru In Hong, akan tetapi dilain saat gadis ini menundukkan mukanya yang menjadi merah dan menekan perasaannya yang membuat dadanya bergelombang.
Seperti juga dulu ketika bertemu untuk pertama kalinya, ia mendapatkan perasaan aneh. Apalagi sekarang pendekar yang bernama Bu Jin Ay (Tidak Ada yang Menyinta) ini memandangnya dengan sinar mata demikian mesra seakan-akan orang terkena pesona, pandangan mata yang mengandung berbagai macam perasaan, ada terkejut, heran, kagum, dan terbayang kasih sayang yang besar.
Inilah yang membuat In Hong berdebar dan menundukkan mukanya. Gadis ini sendiripun merasa aneh di dalam hatinya. Kalau laki-laki lain yang memandangnya seperti itu, tentu ia akan marah atau setidaknya, akan ditinggalnya pergi tanpa perduli lagi. Akan tetapi, dipandang sedemikian rupa oleh laki-laki ini, ia merasa bangga!
Adapun pendekar gagah itu benar-benar seperti orang dalam mimpi. Ia menatap wajah In Hong dan bibirnya bergerak perlahan, mula-mula tidak dapat didengar jelas
336
kata-katanya, kemudian In Hong dapat menangkap suara itu:
„Kau…… isteriku…… kekasihku…… kau cantik seperti bidadari……” „Gila……” kata In Hong dengan muka menjadi makin merah.
Kemudian ia melihat betapa muka orang itu agak pucat dan lengan kirinya agak kaku gerakannya. Ia terkejut sekali dan tak terasa pula ia melangkah maju menghampiri laki-laki itu.
„Apakah…… apakah lenganmu masih sakit? Hebatkah luka akibat pasir hitamku?”
Bu Jin Ay tersenyum, mukanya yang gagah itu memang kelihatan tampan sekali, dagunya nampak kuat, giginya putih dan berjajar rapi, sepasang matanya bersinar dan berpengaruh. Muka seorang pendekar gagah, muka seorang jantan!
„Pasirmu memang lihay, Put Hauw Li, dan aku terlalu bodoh sehingga tak dapat menyembuhkannya.”
Memang dahulu, dalam pertemuan pertama, In Hong mengaku bernama Put Hauw Li (Anak perempuan tidak berbakti). Tentu saja Bu Jin Ay tahu bahwa nama yang dipakai gadis ini adalah nama palsu, seperti halnya In Hong yang tahu benar bahwa nama pendekar ini adalah nama palsu pula.
337
In Hong nampak menyesal sekali. Pasir hitamnya amat lihay dan berbahaya. Sudah setengah tahun lebih orang ini menderita luka akibat senjata rahasianya itu, ah, tentu orang ini telah menderita kesakitan hebat. Ia melangkah maju lagi dan mendekati Bu Jin Ay.
„Biarkan aku memeriksa lukamu dan mencoba untuk mengobatinya,” katanya.
Tanpa menanti jawaban, ia lalu memegang pundak laki-laki itu dan sekali jari-jari tangannya yang kecil runcing bergerak, terdengar suara kain memberebet dan pakaian Bu Jin Ay di bagian pundak dan pangkal lengan telah robek terbuka!
„Kau masih ingat di bagian mana aku terluka?” Bu Jin Ay berkata heran. „Kalau begitu selama ini kau seringkali ingat kepadaku?”
„Hush, diam dan jangan banyak cakap. Lukamu berbahaya sekali,” kata In Hong yang sudah mengeluarkan pedangnya.
Dengan ujung pedang ia membuat beberapa guratan pada kulit lengan yang menghitam dan gembung itu, kemudian ia mengurut beberapa otot dan menotok jalan darah. Tak lama kemudian, dari guratan-guratan yang dibuat oleh pedangnya pada lengan Bu Jin Ay, keluarlah darah hitam.
338
Tiba-tiba In Hong merasa betapa lengannya yang sedang bekerja itu disentuh oleh jari-jari tangan Bu Jin Ay, dibelai halus.
„Isteriku…… kekasihku……,” kembali bibir Bu Jin Ay bergerak-gerak dan keadaannya seperti orang gila, sepasang mata¬nya memandang kepada In Hong penuh kemesraan dan kasih sayang sehingga dengan kaget sekali In Hong merenggut tangannya dan melompat mundur.
Jantungnya berdebar keras dan aneh sekali. Perasaan marah yang sudah meluap-luap di dadanya, tiba-tiba padam kembali oleh perasaan lain ketika ia memandang kepada Bu Jin Ay. Entah mengapa, muka itu mendatangkan welas asih dan suka. Akan tetapi, rasa jengah dan malu membuat In Hong tidak mau mendekat lagi.
Ia mengambil sebungkus obat penawar pasir hitam, memberikannya kepada Bu Jin Ay sambil berkata lirih:
„Kau sudah gila! Aku tidak mau dekat lagi. Kau keluarkan semua darah hitam dari lenganmu, kemudian kau pakai obat ini di lukanya. Pasti sembuh dalam beberapa hari saja.”
Akan tetapi Bu Jin Ay tidak menerima obat itu sehingga bungkusan obat jatuh ke atas tanah. Sebaliknya, dengan mata saju Bu Jin Ay memandang In Hong dan berkata:
„Isteriku manis, tidak kasihankah kau kepadaku……?”
339
Mendengar ini dan melihat pandangan mata Bu Jin Ay, In Hong bergidik dan gadis ini melompat pergi. Suara yang aneh keluar dari kerongkongannya, suara seperti setengah tangis setengah tertawa.
Memang In Hong merasa terharu dan kasihan sekali melihat Bu Jin Ay, akan tetapi sikap Bu Jin Ay kepadanya membuat ia merasa geli juga. Dia adalah se-orang gadis yang belum pernah menghadapi sikap laki-laki seperti ini, demikian penuh rangsang, penuh kemesraan dan penuh cinta kasih.
Sambil berlari cepat mendaki bukit Kun-lun, In Hong diam-diam memikirkan keadaan dirinya. Mengapa ia begitu tertarik kepada Bu Jin Ay? Laki-laki ini biarpun tak dapat disangkal lagi memilik wajah yang tampan, tubuh yang gagah, sikap yang mengagumkan, namun usianya tidak muda lagi. Kurang lebih empatpuluh tahun, sudah patut menjadi ayahnya!
Akan tetapi, cinta memang aneh sekali. In Hong agaknya tidak anggap hal ini penting. Ia membayangkan wajah dan sikap Yo Kang, putera pamannya. Ia sudah tahu pasti bahwa Yo Kang cinta kepadanya.
Pemuda itu, biarpun kepandaiannya tidak amat tinggi, namun boleh disebut seorang yang bersemangat gagah, wajahnya tampan pula, hartawan dan masih muda. Akan tetapi, anehnya, ia sama sekali tidak tertarik kepada Yo Kang.
340
Masih ada lagi, yakni Ong Teng San, pemuda luar biasa yang baru-baru ini mengadu kepandaian dengannya di Siauw-lim-si. Kurang apakah pemuda ini? Tentang kepandaian, tidak dibawah tingkat kepandaiannya sendiri. Tentang watak ia tahu bahwa pemuda itu berwatak baik, terlihat dari sikapnya, dari usahanya untuk menolongnya dahulu dan bahkan akhir ini di dalam pibu, pemuda itu sengaja tidak mendesaknya dan berlaku mengalah.
Ini saja sudah membuktikan bahwa Teng San suka kepadanya. Akan tetapi, benar-benar mengherankan, ia sama sekali tidak tertarik kepada Ong Teng San.
Mengapa kalau terhadap dua orang pemuda pilihan ini, juga banyak sekali pemuda-pemuda lain yang pernah memandang kepadanya dengan rindu, ia sama sekali tidak tergerak hatinya, sebaliknya terhadap Bu Jin Ay, pendekar yang sudah tak muda lagi, yang wataknya biarpun gagah namun seperti orang gila, ia jatuh hati? Benar-benarkah ini yang dibilang cinta? In Hong merasa malu kepada diri sendiri dan berusaha untuk menyangkal perasaan ini.
„Tak mungkin! Dia sudah tua, patut menjadi ayahku!”
Akan tetapi pikiran ini bahkan mendatangkan kesedihan karena ia teringat akan ayahnya yang terbunuh mati oleh orang yang tidak diketahuinya siapa dan di dalam kesedihan ini kembali terbayang wajah Bu Jin Ay yang nampaknya demikian menyintanya! Ingin ia kembali, mendekati Bu Jin Ay dan menumpahkan semua kedukaan yang di deritanya. Kembali ia mencela
341
keinginan ini dan bagaikan seorang berubah ingatan, In Hong berlari-lari cepat sambil kadang-kadang tersenyum, kadang-kadang menangis!
Setelah tiba di depan kelenteng Kun-lun-pay yang besar, ia segera memasuki pekarangan yang luas. Dilihatnya banyak tosu berada di depan kelenteng, maka ia segera berseru nyaring:
„Kun-lun Sam-lojin, keluarlah untuk membayar hutang kalian!”
Para tosu yang berada disitu ketika mengenal In Hong segera melarikan diri ke dalam untuk memberi laporan. Tak lama kemudian, muncullah Kun-lun Sam-lojin, tiga orang tokoh Kun-lun-pay murid dari Pek Ciang San-lojin.
Dengan sikap tenang akan tetapi mata mereka bersinar marah, tiga orang tosu ini cepat menghampiri In Hong yang masih berdiri di pekarangan dengan sikap menantang. Melihat tiga orang musuh besarnya ini, kemarahan hati In Hong meluap. Cepat ia mencabut pedang Liong-gan-kiam dan membentak:
„Kun-lun Sam-lojin, hari ini kalian harus menyusul arwah guruku!”
„Iblis wanita kau benar-benar harus dibasmi. Apa kau masih belum kapok dan mencari mampus? Benar-benar menjemukan!” Sun Sim San-lojin marah sekali dan menyerang dengan hudtimnya. Dua orang suhengnya
342
juga cepat maju menyerang sehingga dilain saat tiga orang tokoh Kun-lun ini telah mengeroyok In Hong.
Terjadi pertempuran hebat sekali dan baru beberapa jurus saja, tiga orang kakek Kun-lun-pay itu mengeluarkan seruan tertahan. Tak disangkanya bahwa nona ini sekarang, selama kurang dari satu tahun, telah memperoleh kemajuan yang hebat sekali. Yang benar-benar amat mengherankan dan mengagumkan adalah tenaga lweekang dari gadis ini, benar-benar luar biasa kuatnya sehingga tiap kali beradu senjata, tiga orang kakek Kun-lun-pay ini merasa tergetar tangannya.
In Hong kali ini tidak mau memberi banyak kesempatan kepada tiga orang musuh besarnya yang ia benci. Dengan cepat pedangnya bergerak menyambar-nyambar, tangan kirinya juga dikepal dan mengirim pukulan yang disertai hawa lweekang yang ia pelajari dari Bhutan Koay-jin.
Baru belasan jurus, ia telah berhasil memukul dada Sun Sim San-lojin dengan tangan kirinya. Tosu termuda dari Kun-lun Sam-lojin ini terlalu sembrono dan berani menerima pukulan tangan kosong dengan dada terbuka.
Memang sebetulnya ia tidak terlalu singkat pikiran. Dahulu, setengah tahun lebih yang lalu, In Hong masih memiliki lweekang yang tingkatnya dibawah tingkatnya sendiri, maka tak mungkin dalam waktu setengah tahun saja gadis itu akan memiliki lweekang yang luar biasa.
343
Andaikata sudah sangat maju, kiranya pukulan tangan kiri takkan dapat menembus ilmu kebalnya yang disebut tiat-pouw-san (baju besi). Oleh karena mengandalkan ilmu weduk inilah maka Sun Sim San-lojin berani menerima pukulan In Hong dengan tenang, sebaliknya hud-tim (kebutan) di tangannya menotok ke arah uluhati In Hong!
„Blekk!” Tubuh Sun Sim San-lojin terlempar ke belakang dan tosu ini melepaskan hud-timnya, roboh dengan mata mendelik, maka pucat dan dari hidung serta mulutnya keluar darah! Ia telah menderita luka hebat sekali di dalam dadanya dan sukarlah ditolong lagi keselamatan nyawanya.
Tentu saja Cu Sim San-lojin dan Kim Sim San-lojin menjadi marah sekali. Sambil berseru keras mereka menyerang, bahkan beberapa orang tosu mulai mendekati In Hong hendak mengeroyok.
Melihat ini, In Hong mengamuk makin hebat. Ia tidak ingin membunuh lain orang kecuali tiga kakek yang pernah mengeroyok dan menewaskan gurunya itu. Pedangnya menyambar laksana kilat dan terdengar Cu Sim San-lojin menjerit.
Tadi pedang gadis itu menyambar menyerang leher. Kakek ini yang mengandalkan lweekangnya, cepat menyampok dengan ujung lengan baju dengan maksud membikin pedang terpental sehingga ia dapat membalas dengan serangan maut. Tidak tahunya, ujung lengan bajunya terbabat putus dan pedang itu terus menyerang lehernya. Biarpun ia sudah berusaha mengelak, sia-sia
344
belaka, lehernya terbabat pedang dan kakek ini menggeletak dengan leher hampir putus!
Kini terdengar seruan-seruan disana-sini dan sebentar kemudian In Hong sudah dikeroyok oleh banyak tosu yang menjadi marah melihat gadis ini telah menewaskan dua orang tosu kepala. Akan tetapi menghadapi keroyokan ini, In Hong tidak menjadi keder, bahkan mengamuk makin hebat. Untuk kesekian kalinya, seorang tosu roboh dan akhirnya setelah mendesak terus, In Hong berhasil merobohkan Kim Sim San-lojin!
„Cukup! Hanya mereka bertiga inilah yang hendak kutewaskan, kalian tidak ada urusan denganku, harap mundur!” bentak In Hong sambil memutar pedang sedemikian rupa sehingga beberapa batang toya dan golok para pengeroyok terlempar.
Melihat kehebatan ini, para tosu ada yang merasa gentar dan terbukalah jalan bagi In Hong. Akan tetapi baru saja ia melompat dan hendak keluar dari pekarangan, tiba-tiba ia merasa sambaran angin dari kiri, dibarengi bentakan keras:
„Siluman betina, kau berani membunuh murid-muridku!”
In Hong cepat menangkis dengan pedangnya ke kiri.
„Traang……!” Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika pedangnya bertemu dengan sebatang tongkat panjang yang dipegang oleh seorang tosu tinggi besar yang bertangan putih.
345
,„Pek Ciang San-lojin, kau juga turut-turut?” In Hong membentak ketika mengenal kakek ini sebagai ketua dari Kun-lun-pay.
„Bocah keji, kau membunuh-bunuhi murid-muridku, apakah aku harus tinggal diam saja?”
„Kun-lun Sam-lojin tiga orang muridmu itu telah mengeroyok dan membunuh guruku, sekarang aku datang menewaskan mereka untuk membayar hutang, bukankah itu sudah adil dan perhitungan sudah habis? Kau mau apa?”
Pek Ciang San-lojin tertawa menyindir. „Iblis cilik seperti kau kalau tidak dibasmi, kelak hanya mengotorkan dunia. Kau lebih keji daripada Hek Moli,” kata Pek Ciang San-lojin dan begitu kata-kata ini ditutup, tongkatnya telah menyerang dengan cepat dan kuat sekali.
In Hong dengan mudah mengelak, akan tetapi tiba-tiba sebatang pedang menye-rangnya sebagai susulan penyerangan tongkat tadi. In Hong terkejut. Tak disangkanya bahwa ketua Kun-lun-pay ini benar-benar hebat ilmu silatnya. Entah kapan, tahu-tahu pedang pusaka yang terselip di punggung kakek itu kini telah berada di tangan kiri sehingga kakek ini memegang dua macam senjata, tongkat panjang di tangan kanan dan pedang pusaka di tangan kiri!
In Hong cepat menangkis serangan pedang lawan dan ia mendapat kenyataan bahwa tenaga lweekangnya yang ia dapat dari Bhutan Koay-jin, ternyata hanya cukup untuk
346
mengim¬bangi tenaga kakek Kun-lun-pay ini. Maka ia berlaku hati-hati sekali dan mainkan pedangnya dengan penuh perhatian.
Pertempuran kali ini seru sekali. Baiknya yang turun tangan menyerang In Hong adalah ketua Kun-lun sendiri sehingga semua tosu yang berada disitu tidak berani sembarangan turun tangan membantu. Hal ini akan dianggap meremehkan si ketua saja. Tanpa diminta, tak seorangpun tosu disitu berani bergerak membantu Pek Ciang San-lojin.
Akan tetapi, toh ada yang membantunya, yakni seorang kakek yang amat tua, bukan lain adalah Siang Te Lokay, susiok dari ketua Kun-lun-pay yang bekerja sebagai tukang sapu kelenteng! Tadinya, kakek ini tidak membantu, hanya datang menyeret sapunya dan melihat pertempuran itu, ia berseru kagum:
„Nona cilik, dalam waktu beberapa bulan saja kau sudah dapat memiliki lweekang seperti ini, benar-benar bikin lohu kagum sekali! Biarpun I-kin-keng dari Siauw-lim belum tentu lebih tinggi sumbernya daripada lweekangmu itu!”
4.5. Pertarungan melawan Ketua Kun-lun-pay
Adapun Pek Ciang San-lojin yang sudah merasa penasaran dan juga kewalahan menghadapi kelihayan In Hong, ketika melihat kedatangan Siang Te Lokay, lalu berkata keras:
347
„Siang Te Susiok! Harap kau segera turun tangan dan robohkan siluman wanita ini.”
Siang Te Lokay mengerutkan keningnya dan bermain dengan sapunya.
„Aku…… aku tidak tega……” katanya kemudian.
„Susiok, ingat bahwa dahulu gadis ini telah kau lepaskan dan lihat, apa yang menjadi akibat dari perbuatan susiok itu. Ia kini datang dan selain membunuh tiga orang murid kami secara keji, ia masih menewaskan beberapa orang tosu lagi. Apakah kejahatan seperti ini masih harus diampunkan lagi?”
Siang Te Lokay menggeleng-geleng kepalanya yang botak lalu dengan apa boleh buat ia menoleh ke arah In Hong:
„Nona harap kau suka mengalah dan menyerah saja!”
Akan tetapi mana In Hong sudi menyerah?
„Aku datang membalas sakit hati guruku, untuk keperluan ini, aku sudah menyediakan nyawaku sebagai taruhan. Sekarang musuh-musuh besar guruku sudah tewas, dan aku tidak ingin mencari perkara lagi. Kalau kalian orang-orang Kun-lun-pay mau melepas aku pergi, aku selamanya takkan menginjakkan kaki disini lagi. Akan tetapi kalau kalian mau membunuh, cobalah, aku tidak takut.”
348
Pek Ciang San-lojin membentak marah dan kembali ia menyerang sambil menyuruh susioknya turun tangan. Siang Te Lokay meloloskan sebatang biting sapunya dan sekali tangannya bergerak, biting itu meluncur cepat melebihi anak panah dan tahu-tahu telah menyerang kaki In Hong!
Gadis ini tengah sibuk melayani Pek Ciang San-lojin sedangkan biting itu datangnya demikian cepat tidak terduga, maka begitu merasa ada angin menyambar ke arah kakinya, In Hong terkejut dan cepat menggerakkan kaki. Namun tongkat di tangan Pek Ciang San-lojin menyodok dadanya sehingga terpaksa ia menangkis dengan pedangnya dan kakinya turun kembali. Tak dapat dihindarkan lagi, biting itu menusuk pahanya.
In Hong sudah memiliki singkang yang tinggi, warisan dari Bhutan Koay-jin. Akan tetapi biarpun yang me¬nyerang pahanya itu hanya sebatang biting kecil, namun pelemparnya adalah Siang Te Lokay, seorang tokoh besar yang tingkatnya sudah sejajar dengan ketua Siauw-lim-si dan Bhutan Koay-jin sendiri. Maka, biarpun tidak tepat menusuk paha, biting itu masih melukai kulit ketika menyeleweng karena hawa sinkang dari tubuh In Hong. Kulit dan sedikit daging paha terluka. Baiknya biting itu kecil saja sehingga pakaian yang menutup paha tidak robek, hanya berlubang sedikit.
Namun rasa perih pada pahanya membuat In Hong terpecah perhatiannya, sehingga ilmu silatnya tidak begitu kuat lagi menjaga dirinya. Padahal, pada saat itu, Siang Te Lokay sudah ikut menyerbu dan menyerangnya
349
dengan sapunya yang lihay! Didesak oleh dua orang pandai ini, mau tidak mau In Hong sibuk juga. Yang membikin ia sibuk sekali adalah sapu di tangan Siang Te Lokay.
Memang, cara penyerangan kakek tua ini berbeda sekali dengan cara penyerangan Pek Ciang San-lojin. Kalau sepasang senjata di tangan ketua Kun-lun-pay ini, yakni tongkat dan pedang, selalu mengarah bagian tubuh yang berbahaya dan kedua senjata ini digerakkan dalam penyerangan yang sifatnya membunuh.
Menghadapi gadis yang gagah itu, Pek Ciang San-lojin tidak mau berlaku sungkan lagi, apapula kalau ia ingat bahwa murid-muridnya telah tewas dalam tangan In Hong. Ia tidak ragu lagi untuk menjatuhkan tangan maut.
Sebaliknya, penyerangan dari Siang Te Lokay sama sekali tidak mengandung maksud membunuh, hanya ingin membikin gadis itu tidak berdaya saja. Oleh karena ini sapunya hanya menyerang ke arah jalan darah yang melumpuhkan, atau menyapu kaki, menyerang pergelangan tangan dan lain-lain. Justeru inilah yang membikin In Hong bingung dan terdesak.
Penyerangan Pek Ciang San-lojin dapat ia layani dengan cara keras sama keras, sebaliknya penyerangan kakek tua itu benar-benar membikin ia gemas sekali. Kalau ia perhatikan, maka bahaya yang datang dari Pek Ciang San-lojin menjadi lebih besar, sebaliknya kalau ia tidak ambil perduli, serangan-serangan dari kakek tukang sapu
350
ini sekali mengenai sasaran, ia akan jatuh dan tidak berdaya lagi.
Karena terdesak terus, akhirnya pundak kiri In Hong terkena sambaran ujung tongkat Pek-Ciang San-lojin. Gadis ini menggigit bibirnya dan menahan rasa sakit. Sambungan tulang pundak kirinya terlepas dan tangan kirinya menjadi lumpuh tak dapat digunakan lagi!
Pada saat itu, sapu yang lihay dari Siang Te Lokay menyerampang kakinya. In Hong mengeluh dan tubuhnya terguling, cepat menggunakan gerak tipu Teringgiling-turun-gunung. Tubuhnya masih tetap bergulingan dan pedangnya ia siapkan. Ia ingin menggulingkan diri sampai jauh kemudian melarikan diri.
Akan tetap, biarpun Siang Te Lokay hanya tertawa dan tidak mau mengejarnya, tidak demikian dengan Pek Ciang San-lojin. Ketua Kun-lun-pay ini tahu akan maksud gadis itu, maka tentu saja ia tidak mau membiarkan In Hong melarikan diri.
„Siluman betina, hendak lari kemana kau?” serunya dan tubuhnya yang tinggi besar itu melayang, mengejar In Hong yang masih bergulingan. Dengan sekuat tenaga, ketua Kun-lun-pay ini menggerakkan tongkat memukul ke arah kepala In Hong.
Gadis ini cepat menggerakkan tubuh mengelak dan batu kecil yang berada di atas tanah terpukul hancur oleh kepala tongkat! In Hong sudah melompat berdiri akan
351
tetapi ia roboh lagi ketika kaki Pek Ciang San-lojin menyambar lututnya.
Pek Ciang San-lojin mengangkat lagi tongkatnya untuk mengirim pukulan terakhir ke arah kepala In Hong, akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali dan seorang laki-laki bertubuh gagah berseru keras sambil mengangkat tangan mencegah:
„Tak semestinya ketua Kun-lun membunuh aeorang gadis muda!”
Pek Ciang San-lojin memandang. Ia melihat seorang laki-laki tinggi besar beralis tebal yang memandang kepadanya dengan mata bernyala. Sampai beberapa lama ia tidak mengenal laki-laki ini, maka ia menjadi marah.
„Kau tahu apa tentang urusan kami? Hayo pergi!” Dengan mengucapkan kata-kata ini, Pek Ciang San-lojin mendorongkan tongkatnya ke arah orang itu. Akan tetapi, orang itu tidak mau pergi, bahkan dengan tangannya ia menolak tongkat yang didorongkan ke arah dadanya.
Pek Ciang San-lojin kaget sekali. Tenaga yang keluar dari tolakan tangan itu benar-benar hebat. Mengertilah ia bahwa yang datang ini bukan orang sembarangan.
„Hm, kau membela siluman ini? Tentu kau konconya dan kau seorang jahat pula! Robohlah.” Tongkat itu menyerang dengan hebatnya.
352
Mengerti bahwa tongkat lawan ini tak boleh dibuat main-main, orang itu melompat ke belakang dengan cepat, tidak berani menangkis.
Pek Ciang San-lojin melihat orang itu mengelak sambil melompat mundur, mengeluarkan suara ketawa mengejek dan secepat kilat tongkatnya diayun lagi, akan tetapi bukan untuk menyerang orang itu, melainkan unuk menghantam kepala In Hong yang sudah duduk!
„Celaka……! Jangan ganggu kekasihku……!” Orang itu menjerit dan menubruk ke depan, membiarkan tubuhnya yang mewakili In Hong menerima pukulan tongkat itu.
„Bluk! Tubuh orang itu terlempar dan menubruk In Hong. Orang itu merintih perlahan akan tetapi ia masih dapat memeluk tubuh In Hong dan memondongnya! In Hong tadi terkena tendang lututnya, maka gadis ini tidak bisa berjalan. Sekarang, melihat laki-laki itu terpukul hebat oleh tongkat unbuk mewakili dirinya kemudian laki-laki yang sudah terluka hebat ini masih memondongnya, In Hong berkata lirih:
„Bu Jin Ay…… kau baik sekali…….”
Orang itu memang Bu Jin Ay. Kalau tadinya ia merintih dan bibirnya gemetar menahan sakit, kini ia memandang kepada In Hong, matanya bersinar, wajahnya berseri dan bibirnya gemetar. „Aku akan membelamu, melindungimu, aku akan mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanmu, kekasihku…… isteriku manis……”
353
Melihat adegan aneh ini, Pek Ciang San-lojin ragu-ragu, mengerutkan kening dan juga merasa jemu sekali.
,„Kalian sepasang manusia iblis, bersiaplah untuk mampus!” serunya marah. Tongkatnya melayang pula, siap untuk menghancurkan kepala Bu Jin Ay dan In Hong.
„Plak!” Tongkat itu bertemu dengan gagang sapu yang dilontarkan oleh Siang Te Lokay.
„Susiok, mengapa kau mencegah teecu membunuh dua siluman ini……?” tanya ketua Kun-lun-pay dengan marah.
Siang Te Lokay menghampiri mereka dan memandang kepada Bu Jin Ay.
„Pek Ciang, ketahuilah, orang ini adalah murid dari mendiang Bu Sek Tianglo. Tak baik kalau kita mengganggunya.”
Pek Ciang San-lojin kaget mendengar ini.
„Ahh…… apakah dia murid Tianglo yang dulu amat terkenal dan she-nya Ong……?”
Sementara itu, dengan terhuyung-huyung dan mulut bicara mesra, menghibur In Hong dan berjanji hendak mengobati luka-lukanya, Bu Jin Ay meninggalkan tempat itu. Orang ini sebetulnya sudah terluka hebat. Pukulan tongkat dari Pek Ciang San-lojin yang ditujukan ke arah kepala In Hong dan ia wakili tadi, tepat mengenai
354
punggungnya dan telah mematahkan dua buah tulang iganya.
Namun, Bu Jin Ay ini memang seorang yang luar biasa kuatnya. Ia tidak mem-perlihatkan rasa sakit dan tidak memperdulikan dirinya sendiri bahkan ia masih dapat memondong tubuh In Hong dan membawanya pergi dari kelenteng Kun-lun-pay.
Baiknya Siang Te Lokay mengenalnya dan memperingatkan Pek Ciang San-lojin, kalau tidak apabila pihak Kun-lun-pay mengejar dan menyerang terus, pasti Bu Jin Ay dan In Hong takkan dapat melawan dan menyelamatkan diri lagi.
„Put Hauw Li, bidadariku jangan kau susah, aku akan merawatmu sampai sembuh……” Bu Jin Ay menghibur In Hong yang merasa terharu sekali.
Orang gagah yang bernama Bu Jin Ay ini telah menyelamatkan nyawanya, bahkan telah mempertaruhkan nyawa sendiri untuk melindunginya dari bahaya maut. Di dalam pondongan orang gagah ini ia merasa demikian aman dan senang. Belum pernah In Hong mendapat perasaan aneh seperti ini, perasaan bahagia bahwa ada orang yang menyintainya, orang yang membelanya mati-matian.
Biarpun Bu Jin Ay bersikap seperti orang yang tidak beres otaknya, namun In Hong dapat menduga bahwa orang ini bersikap aneh seperti itu karena telah menderita kesedihan besar. Beberapa kali Bu Jin Ay menyebutnya
355
„Isterinya atau kekasihnya,” mengapa demikian? Apakah barangkali Bu Jin Ay telah kehilangan isterinya?
„Bu Jin Ay, punggungmu terluka, mungkin tulang igamu patah,” kata In Hong terharu sekali ketika dalam pondongan, tidak terasa tangannya kena meraba punggung orang gagah itu.
„Tidak apa, hanya dua tulang iga patah, masih cukup murah untuk menebus nyawamu dari tongkat Si tangan putih yang ganas itu,” jawab Bu Jin Ay sambil tersenyum. „Bagiku, yang terpenting adalah keselamatanmu. Aku sendiri, ah, aku orang apa? Hanya nyawa lebihan, hanya manusia yang dibenci sana sini, tidak ada orang yang sayang kepadaku.” Ketika mengeluarkan kata-kata ini, Bu Jin Ay mengerutkan kening dan sinar matanya nampak berduka sekali.
,.Bu Jin Ay, orang sedunia boleh membencimu, akan tetapi percayalah, aku Put Hauw Li tidak akan membencimu selama hidupku.”
„Betulkah? Dan kau…… kau suka kepadaku?”
„Tentu saja. Kau satu-satunya orang di dunia ini yang baik menurut pandanganku, mengapa aku takkan suka?”
„Bagus! Put Hauw Li, marilah kita berdua pergi jauh, pergi meninggalkan semua keributan ini, pergi meninggalkan kebencian dan permusuhan, kita pergi keluar dunia ramai, hidup berbahagia sebagai sepasang suami isteri untuk sela¬manya!”
356
In Hong terkejut sekali sehingga ia tersentak kaget. Belum pernah ia berpikir tentang suami isteri dan kata-kata ini benar-benar mengejutkan hatinya.
„Hush jangan omong tidak karuan!” tegurnya dan tak terasa tangannya menepuk punggung Bu Jin Ay.
„Aduuh……! Bu Jin Ay terhuyung-huyung akan tetapi tetap ia memondong tubuh In Hong dan menahan rasa sakit sampai keringat membasahi jidatnya.
„Ah, maafkan aku, Bu Jin Ay. Aku tidak sengaja…… Mari kita mencari tempat yang teduh agar kita bisa saling mengobati. Aku membutuhkan perawatanmu, akan tetapi sebaliknya kaupun perlu dengan perawatanku''.
„Ada sebuah tempat baik di kaki gunung ini, aku akan membawamu kesana. Kau…… kau tidak marah lagi?”
Muka In Hong menjadi merah sekali, entah mengapa ia sendiri tidak tahu, akan tetapi ia merasa jengah dan malu terhadap orang gagah ini, akan tetapi juga ada sesuatu yang amat mesra terasa di dalam hatinya. Sudah gilakah aku?
Demikian In Hong bertanya kepada diri sendiri karena ia dapat menduga bahwa hatinya tertarik serta suka kepada orang ini. Ia merasa begitu aman dan betah dalam pondongan Bu Jin Ay, merasa disayang sekali, merasa berbahagia dapat bersama-sama dengan orang ini!
357
„Tidak, Bu Jin Ay, aku tidak marah. Akan tetapi kau jangan bicara yang bukan-bukan lagi.”
Mendengar ucapan ini, Bu Jin Ay tersenyum-senyum dan wajahnya yang gagah itu berseri gembira. Ia seperti mendapat kekuatan baru dan setengah berlari ia turun dari gunung itu, menuju ke sebuah gua besar yang berada di kaki gunung.
Ia pernah tinggal digua ini, bahkan ia telah membersihkannya dan disitu ia telah menaruh meja kursi dan pembaringan buatan sendiri, beberapa tahun yang lalu.
◄Y►
Belum lama Bu Jin Ay dan In Hong meningalkan puncak Kun-lun-san, seorang pemuda yang cepat larinya datang di kelenteng Kun-lun-pay. Pemuda ini berwajah tampan, bertubuh tinggi agak kurus dan di punggungnya terselip sebatang pedang. Dia ini bukan lain adalah Ong Teng San, murid termuda dan tersayang dari Siauw-lim-pay.
Ia menjalankan perintah suhunya untuk turun gunung dan mengamat-amati sepak terjang In Hong murid mendiang Bhutan Koay-jin yang telah memiliki kepandaian tinggi. Tadinya pemuda ini turun gunung bersama adiknya, Ong Lian Hong. Akan tetapi ia menyuruh adiknya itu pulang ke rumah orangtuanya.
„Lian Hong, kau tentu tahu sendiri bahwa In Hong adalah puteri dari ibu yang dahulu hilang. Dia tentu berusaha
358
hendak mencari ibu, juga berusaha hendak membalas dendam atas kematian ayahnya yang terbunuh oleh ayah kita. Oleh karena itu, kita harus berpisah. Biar aku yang menjalankan perintah suhu dan mengamat-amatinya agar ia jangan menimbulkan kekacauan seperti yang diperbuat oleh mendiang Hek Moli dan suaminya. Adapun kau harus pulang ke rumah, mencari tahu tentang ayah dan ibu yang sudah amat lama kita tinggalkan. Kemudian kau harus menjaga keselamatan ibu di rumah. Kasihan ibu kita……”
„Baik, koko,” kata Lian Hong.
Diam-diam gadis ini merasa terharu sekali dan memuji hati pemuda yang budiman ini. Biarpun ibu Lian Hong bukan ibu Teng San, namun pemuda ini amat kasih kepada ibu tirinya, bahkan dalam urusan dengan ayahnya, Teng San membela ibu tirinya.
Demikianlah, Lian Hong menuju ke kampung tempat tinggal orangtuanya, sedangkan Teng San melanjutkan perjalanan ke Kun-lun-san.
Pemuda ini dapat menduga bahwa setelah kini memiliki kepandaian tinggi, In Hong pasti akan mengunjungi Kun-lun-pay untuk membalas dendam atas kema-tian Hek Moli. Bukankah dahulu gadis itu datang ke Siauw-lim-pay mencuri kitab dengan maksud untuk dipelajari dan kelak dipergunakan melawan Kun-lun-pay? Maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mengarahkan perjalanannya ke Kun-lun-san.
359
Seperti juga In Hong, pemuda ini berlari cepat dan tidak pernah menunda perjalanannya. Akan tetapi oleh karena In Hong telah berangkat sehari dimuka, tetap saja Teng San datang terlambat. Ia tiba dikelenteng Kun-lun-pay setelah In Hong dipondong dan dibawa pergi oleh Bu Jin Ay.
Kedatangannya disambut oleh seorang tosu penjaga. Di ruang tengah terdapat beberapa buah peti mati, hio mengebul dan banyak tosu bersembahyang dan berdoa. Hati Teng San berdebar tak enak.
„Totiang, siapakah yang meninggal dunia dan mengapa sekaligus begitu banyak yang meninggal? Ada terjadi apakah?”
Setelah tosu itu mendengar bahwa pemuda ini adalah murid Siauw-lim-pay, ia tidak menaruh hati curiga dan berkata:
„Ah, baru saja tempat kami diserbu oleh iblis-iblis jahat.”
Teng San makin gelisah. „Totiang, terus terang saja akupun mendapat tugas dari suhu Bu Kek Tianglo untuk mengamat-amati sepak terjang seorang nona……”
„Ah! Kau terlambat. Dia itulah yang datang menyebar maut. Bukankah yang kau maksudkan itu nona murid Hek Moli?”
„Betul, totiang. Apa yang ia lakukan? Dan dimana ia sekarang?”
360
Teng San kini menjadi agak pucat. Ia menyesal sekali bahwa kedatangannya terlambat. Anehnya dalam mengajukan pertanyaan ini, yang terutama sekali teringat olehnya adalah keadaan In Hong! Ia mengkhawatirkan kalau-kalau gadis itu mengalami kecelakaan.
„Siluman betina itu datang dan mengamuk, menewaskan Kun-lun Sam-lojin dan beberapa orang saudara lain. Kemudian, setelah ketua kami keluar dibantu oleh Siang Te Locianpwe, barulah ia dapat dikalahkan dan terluka. Tentu bocah siluman itu akan dibasmi oleh ketua kami kalau saja pada saat itu tidak datang pertolongan seorang aneh.”
„Ditolong orang? Siapa yang menolong dan bagaimana kesudahannya, totiang?” tanya Teng San dan hatinya makin berdebar. Tadinya ia merasa khawatir dan gelisah bukan main, akan tetapi sekarang agak terhibur mendengar bahwa In Hong tertolong orang aneh.
„Agaknya antara siluman betina itu dan penolongnya memang sudah ada hubungan. Memang aneh sekali. Laki-laki itu biarpun gagah dan tampan, patut menjadi ayahnya, akan tetapi dasar wanita siluman. Kami sampai menjadi malu melihat sikap mereka yang saling mengutarakan cinta kasih. Benar-benar kurangajar!”
Hati Teng San terpukul mendengar ucapan ini. Ingin ia menggaplok muka tosu yang menghina dan memburukkan nama In Hong, akan tetapi Teng San masih dapat bersabar, apalagi ia masih menghendaki penjelasan.
361
„Apa yang dilakukan oleh penolongnya itu dan kemana mereka sekarang, totiang?”
„Laki-laki penolongnya itu merampas nona tadi dari ancaman tongkat ketua kami, lalu membawanya lari turun gunung. Setelah mereka pergi baru kami ketahui dari Siang Te Locianpwe bahwa laki-laki itu bukanlah orang sembarangan. Biarpun kelihatannya seperti orang yang berotak miring, akan tetapi tidak tahunya dia adalah murid dari Bu Sek Tianglo dan shenya Ong……”
Tiba-tiba tosu itu membelalakkan matanya dan hampir menjerit karena pundaknya dipegang dengan eratnya oleh jari tangan Teng San, hampir remuk rasanya.
„Lekas katakan, ke jurusan mana mereka pergi!” kini suara Teng San terdengar penuh ancaman, mukanya pucat sekali.
Tosu itu hanya menudingkan telunjuknya ke arah bawah gunung.
Teng San melepaskan cenkeramannya dan secepat kilat tubuhnya berkelebat ke jurusan itu. Bagaikan terbang cepatnya Teng San turun gunung untuk mengejar In Hong. Hatinya tidak karuan rasanya.
Mungkinkah? Mungkinkah In Hong bersama ayahnya? Tak salah lagi bahwa orang yang dimaksudkan oleh tosu tadi adalah ayahnya. Siapa lagi murid Bu Sek Tianglo she Ong kalau bukan Ong Tiang Houw ayahnya?
362
Akan tetapi, mana mungkin ayahnya bersama-sama dengan In Hong dan lebih tak mungkin lagi antara mereka ada perhubungan seperti yang dikatakan oleh tosu tadi! Sama sekali tak masuk akal.
Ayahnya adalah musuh-besar In Hong, orang yang telah membunuh ayah gadis itu, bahkan setelah membunuh ayahnya, lalu merampas dan mengawini ibunya! Kalau In Hong bertemu dengan ayahnya, tentu gadis itu akan membunuhnya, akan mencincang hancur tubuh ayahnya. Ia dapat mengerti betapa sakit hati gadis itu kepada ayahnya yang telah membunuh ayah dan merampas ibu gadis itu. Bagaimana sekarang ia mendengar dari tosu Kun-lun-pay bahwa ayahnya menolong In Hong dan bahwa di antara mereka terdapat perhubungan yang memalukan?
„Tak mungkin!” Teng San berseru keras untuk menyangkal semua tuduhan yang menyakitkan hatinya itu. Ia memang tidak puas akan perbuatan ayahnya yang telah membunuh Kwee Seng kemudian mengambil isterinya, perbuatan ini dianggapnya rendah sekali.
Akan tetapi kini memikat hati In Hong, puteri dari Kwee Seng? Benar-benar ia anggap keterlaluan dan betapapun juga hatinya tidak rela mengaku bahwa ayahnya sampai hati melakukan perbuatan macam itu.
Setelah mencari dengan penuh perhatian, akhirnya Teng San melihat jejak kaki ditanah yang agak lembek di kaki gunung Kun-lun. Jejak kaki ini menunjukkan bahwa belum
363
lama di tempat itu berjalan seorang yang membawa barang berat.
Ia lalu mengikuti jejak kaki itu dan sampailah ia dimulut sebuah gua yang besar dan gelap, karena ditutup oleh cabang dan ranting pohon dari sebelah dalam. Agaknya ada orang memasuki gua itu dan menutup mulut gua dengan cabang pohon untuk mencegah gangguan binatang buas.
Teng San ragu-ragu. Ia hendak membuka cabang-cabang pohon itu akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara orang bicara:
„Bu Jin Ay, tulang igamu sudah tersambung baik, akan tetapi kau masih harus banyak mengaso.”
Inilah suara In Hong! Teng San masih kenal suara gadis ini.
4.6. Pertemuan Dengan Ibu Kandung
Hatinya berdebar dan ia makin ragu-ragu. Terang bahwa orang yang diajak bicara oleh In Hong itu bukan ayahnya, karena dipanggil Bu Jin Ay, nama yang aneh dan asing baginya.
Tiba-tiba terdengar suara orang laki-laki tertawa perlahan.
Jantung Teng San seakan-akan berhenti berdetik karena tegang dan ragu. Ia menahan napas untuk mendengar dan mengenal suara orang yang tertawa itu.
364
„Kau bidadari berhati mulia, pundakmu sendiri terlepas sambungannya dan lututmu juga terluka, akan tetapi kau selalu memperhatikan keadaanku. Eh, bidadariku, apakah sengaja Thian menyuruhmu turun ke bumi untuk mengawani aku orang yang dibenci sesamanya?”
Itulah suara Ong Tiang Houw, ayahnya! Hal inipun tidak diragukan lagi oleh Teng San. Tak terasa pula pemuda ini jatuh bersimpuh di atas tanah. Kedua kakinya terasa lemas dan mukanya pucat seperti mayat. Akan tetapi ia masih mendengar suara mereka bercakap-cakap:
„Bu Jin Ay, kau sudah menolong nyawaku, bukan aku yang baik, melainkan kaulah orang terbaik dan termulia di dunia ini. Yang lain-lain itu palsu belaka. Aku sebatangkara, kau seorang-diri, nasib kita sama, selalu bertemu musuh dan selalu sengsara. Aku senang sekali dapat bertemu denganmu, Bu Jin Ay.”
Suara ini mengandung kemesraan yang mengharukan, karena begitu jujur dan setulusnya.
Kembali laki-laki itu tertawa. „Memang kita sudah berjodoh agaknya…… heran sekali aku, kau serupa benar dengan dia……”
„Bu Jin Ay, kau mulai mengaco lagi. Selalu kau sebut-sebut aku sama dengan orang lain. Aku tidak perdulikan orang lain!”
„Ha, kau cemburu?”
365
„Cih! Siapa perduli? Sudahlah, kau harus tidur, keadaanmu lemah sekali,” terdengar suara In Hong membujuk.
Teng San tak dapat menahan lagi gelora hatinya. Ia merasa jemu, malu, marah, menyesal, kecewa dan penasaran sekali. Pendeknya semua perasaan tidak enak berkumpul di dalam hatinya, membuat ia menjadi pucat.
Bagaikan seorang gila ia mencabut pedangnya dan sekali ia bergerak, cabang-cabang pohon itu terlempar ke kanan kiri dan terbukalah mulut gua. Dengan sepasang mata liar seperti harimau luka ia memandang ke dalam gua dan pemandangan yang terlihat olehnya merupakan minyak pembakar disiramkan pada api yang sedang bernyala.
In Hong namnak duduk bersandar dinding gua, tangannya mengusap kepala seorang laki-laki yang rebah di lantai gua dan yang menaruh kepalanya di atas pangkuan gadis itu. Laki-laki yang rebah telentang dengan mata meram itu bukan lain adalah ayahnya! Bermacam-macam pikiran terbayang dalam kepala Teng San, terutama sekali pikiran tentang keburukan perbuatan ayahnya.
Ayahnya telah mengepalai perampok-rampok liar untuk merampok dan membunuh-bunuhi orang hartawan dan bangsawan tanpa memilih bulu, sehingga dalam keganasan itu ayahnya telah membunuh seorang hartawan she Kwee yang terkenal budiman dan dermawan. Kemudian, setelah membunuh Kwee Seng, ayahnya ini mengambil nyonya Kwee menjadi isterinya, tentu dengan bujukan karena kalau tidak demikian,
366
bagaimana Nyonya Kwee tidak tahu bahwa Tiang Houw itu pembunuh suaminya?
Dua perbuatan yang jahat itu dikotori pula dengan penyimpanan rahasia pembunuhan itu, sifat yang amat pengecut dan rendah dalam pandangan Teng San.
Kemudian, kini ayahnya itu bahkan main gila dan memikat anak perempuan dari Kwee Seng, atau anak tirinya sendiri! Tentu dengan maksud agar supaya nona ini jangan membunuhnya, jangan membalaskan sakit hati Kwee Seng karena ayahnya juga tahu bahwa In Hong telah memiliki kepandaian tinggi?
Alangkah palsu dan jahatnya ayahnya!
Dengan pikiran ini memuncak di dalam hati dan kepalanya dan membuat Teng San mata gelap, pemuda ini tidak perdulikan lagi pandang mata In Hong yang terbelalak heran melihat pemuda itu telah berada disitu.
In Hong tidak menyangka buruk, maka ia tidak berdaya ketika sambil berteriak mengerikan seperti orang menjerit atau menangis, Teng San menubruk maju dan dilain saat, ujung pedangnya telah amblas ke dalam uluhati Ong Tiang Houw!
Ong Tiang Houw tersentak dan tubuhnya terlempar ketika dengan jeritan marah In Hong melompat berdiri. Tiang Houw membuka mata dan melihat Teng San yang memegang sebatang pedang berlumur darah, ia tersenyum dan berkata perlahan:
367
„Teng San…… anakku……”
In Hong tidak memperhatikan lain hal. Melihat bahwa Teng San telah membunuh Bu Jin Ay, ia berseru keras:
„Jahanam keji, rasakan pembalasanku!” Ia menerjang dengan pedangnya, tidak perduli akan lutut kakinya yang masih sakit, juga rasa nyeri pada pundak tidak dihiraukannya lagi.
Teng San setelah menusuk uluhati ayahnya dan mendengar kata-kata ayahnya tadi, seketika menjadi lemas. Airmatanya mengucur dan ia tidak kuat lagi melihat ayahnya yang sedang menghadapi maut. Maka ia lalu melompat keluar dari gua pada saat pedang In Hong menyerangnya.
„Jahanam keparat, jangan lari!”
In Hong mengejar keluar gua. Di luar gua ia melihat Teng San berdiri dengan muka pucat sekali. Pedang yang masih berlumur darah itu biarpun dipegangnya, akan tetapi tergantung ke bawah dan pemuda itu menundukkan mukanya.
„Keparat, kau datang-datang membunuh orang tak berdosa! Tidak malukah kau murid Siauw-lim-si melakukan perbuatan serendah ini?”
Teng San mengangkat mukanya, memandang kepada In Hong dengan sepasang mata basah. Ia merasa kasihan sekali kepada gadis ini, akan tetapi juga menyesal.
368
Mengapa orang gadis muda secantik dan sepandai ini, sampai mudah terpikat oleh ayahnya?
Kalau tidak terjadi hal demikian, tentu ia takkan membunuh ayah sendiri, dan mungkin sekali dapat dicari jalan damai dan baik untuk membereskan urusan sakit hati yang ruwet ini. Kini keadaan sudah terlanjur, ia sudah membunuh ayah sendiri dengan tangannya. Ia tidak perduli lagi!
„Aku membunuh dia, kau mau apakah?”
„Keparat!” In Hong mengayun tangan kiri, menyebar toat-beng hek-kong (sinar hitam pencabut nyawa), disusul oleh tusukan pedangnya ke arah lambung Teng San.
„Cepp……!!”
Pedangnya menembus lambung pemuda itu dan pasir hitamnya juga mengenai sasaran dengan tepat. Semua serangannya tadi ternyata tidak ditangkis maupun dielakkan sama sekali oleh Teng San.
In Hong berdiri dengan mata terbuka lebar saking heran dan ngerinya. Ia memandang pemuda itu yang terhuyung lalu jatuh terduduk. Darah membanjir dari perutnya, akan tetapi pemuda itu masih dapat memandangnya dengan mulut dipaksa tersenyum sehingga mendatangkan penglihatan yang amat menyeramkan.
369
„Teng San, kau kenapakah? Mengapa kau sengaja menerima seranganku?” tanya In Hong sambil berlutut di depan pemuda itu.
Pemuda itu hanya tersenyum dan menggeleng-geleng kepalanya perlahan.
„Teng San, mengapa kau membunuh Bu Jin Ay? Mengapa?” In Hong mulai menyesal melihat keadaan pemuda ini dan ia bingung sekali.
Teng San menggerakkan bibirnya yang gemetar. Kata lirih keluar dari mulutnya: „Dia…… dia adalah ayahku…… dia harus mati…… dia harus mati……”
„Mengapa? Apa dosanya? Teng San, mengapa kau membunuh ayahmu sendiri?”
Teng San hanya menggeleng kepalanya, wajahnya mulai memucat dan nampaknya berduka sekali.
„Dan mengapa kau membiarkan aku membunuhmu? Kalau kau melawan, aku takkan dapat menang!”
Kembali Teng San mengerahkan tenaga dan berkata lirih: „Aku…… menebus dosa ayah…… juga menerima hukuman…… karena telah membunuh ayah sendiri…… In Hong…… kalau kau mau tahu…… kau pergilah ke dusun Hok-te-chung…… sebelah barat kota…… Im-goan-kan, disana…… disana kau carilah ibumu……”
370
Tiba-tiba tubuh Teng San lemas dan ia takkan mempertahankan diri lagi, roboh terguling.
„Teng San, kau bilang ibuku……??”
Akan tetapi pemuda itu tak dapat menjawab lagi karena nyawanya telah meninggalkan tubuhnya. In Hong melompat ke dalam gua untuk menghampiri Bu Jin Ay atau Ong Tiang Houw, akan tetapi yang dihampiri juga telah menjadi mayat!
Ayah dan anak keduanya telah tewas dan darah mereka membanjiri tanah di dalam dan di luar gua. Sungguh mengerikan dan menyedihkan.
In Hong yang kebingungan itu menangis. Kemudian ia dapat menekan perasaan hatinya dan digalinyalah lubang di dalam gua, sebuah lubang yang cukup lebar untuk mengubur dua mayat. Sampai sore ia bekerja dan akhirnya ia dapat mengubur mayat ayah dan anak itu ke dalam lubang. Pada malam harinya, ia menangis di atas timbunan tanah di dalam gua!
◄Y►
„Lian Hong, anakku, terima kasih kau mau pulang dan kembali kepada ibumu. Baiknya kau lekas datang, nak, kalau tidak, kiranya ibumu takkan tahan lebih lama hidup menderita seperti ini……”
Cui Hwa atau ibu Lian Hong mendekap kepala putrinya yang berlutut dan memeluk ibunya.
371
Lian Hong terharu sekali. Ibunya telah kelihatan tua dan lemah, wajahnya pucat dan rambutnya kusut. Padahal ia ingat bahwa ibunya adalah seorang wanita yang amat cantik, seperti In Hong yang ia lihat belum lama ini.
„Ibu, dimana…… ayah?”
Cui Hwa menarik napas panjang, lalu membetot anaknya supaya duduk di sampingnya. Untuk beberapa lama ia memandang wajah Lian Hong dan kelihatan puas melihat puterinya sehat-sehat saja.
„Ayahmu telah pergi beberapa hari setelah kau dan kakakmu pergi, sampai sekarang belum pernah pulang. Ah, ya, dimana adanya Teng San? Mengapa ia tidak turut pulang?”
Dua orang wanita ini lalu menceritakan pengalaman masing-masing. Cui Hwa mendengarkan penuturan puterinya tentang kedua anak ini yang belajar ilmu silat di Siauw-lim-pay, dan hatinya girang sekali karena mendengar bahwa Teng San juga sudah memiliki ilmu silat yang tinggi.
„Ibu, aku membawa kabar yang tentu amat menyenangkan hati ibu.”
Ibunya menoleh dan melihat wajah ibunya yang kurus pucat serta matanya yang sayu seakan-akan telah dekat mati dari pada hidup, Lian Hong tidak tega untuk menyimpan rahasia itu lebih lama lagi. Ia memeluk ibunya dan berkata:
372
„Ibu, aku telah bertemu dengan enci In Hong……”
Di dalam pelukan ibunya, Lian Hong merasa betapa kedua tangan ibunya gemetar dan jantung di dalam dada itu berdetak-detak keras.
„In Hong……? Dimana dia? In Hong…… aah……!” Dan nyonya ini lalu menangis tersedu-sedu sambil mendekap kepala Lian Hong.
Lian Hong sudah besar dan sudah cukup mengerti apa yang mengganggu hati ibunya. Tentu ibunya ingat akan keadaannya yang benar-benar membingungkan itu. Tentu ibunya bingung, bagaimana kalau In Hong tahu bahwa pembunuh Kwee Seng adalah ayah Lian Hong?
„Harap tenangkan pikiran, ibu. Mudah-mudahan saja semua urusan ini akan berakhir dengan baik. Sekarang Teng San-ko sedang mengikuti perjalanan enci In Hong secara diam-diam, dan aku disuruhnya pulang untuk menemui ibu disini. Percayalah, tak lama lagi San-ko tentu pulang dan mudah-mudahan saja ia datang membawa enci In Hong.”
Karena banyak mendapat hiburan dari Liang Hong, Cui Hwa mulai timbul harapannya. Matahari kini bersinar pula setelah ia berada di dekat puterinya.
Tadinya keadaan nyonya ini memang menyedihkan. Ia lebih banyak berbaring menderita sakit daripada sehat. Barang-barang di rumah sudah mulai menipis, dijual untuk keperluan sehari-hari. Can Ma sudah meninggal
373
karena usia tua, maka Cui Hwa hanya hidup bersama seorang pelayan wanita lain. Hidup kesepian dan hampir putus harapan.
Kedatangan Lian Hong merupakan obat penawar yang mustajab dan mulailah terlihat senyum di wajah Cui Hwa. Mulailah ia membereskan rambut dan pakaian.
Beberapa pekan kemudian, ketika Lian Hong dan ibunya tengah duduk bercakap-cakap di ruangan depan, mereka mendengar suara orang berjalan masuk di pekarangan. Mereka menengok dan terlihatlah seorang gadis berpakaian kusut wajah dan rambutnya juga kusut tidak terpelihara, bahkan ada bekas-bekas air mata dikedua pipinya, kelihatan sedih dan bingung. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang.
„Enci In Hong……!” Lian Hong melompat turun dari bangkunya dan menyambut kedatangan gadis itu.
In Hong tidak merasa heran melihat Lian Hong berada disitu, bahkan ia hanya memandang sejenak kepada gadis muda ini, selanjutnya matanya memandang kepada Cui Hwa yang juga sudah berdiri dari bangkunya dan kini memandang kepada In Hong dengan wajah pucat dan kedua mata mengucurkan airmata yang turun bertitik dikedua pipinya.
„In Hong…… benar-benar kaukah ini, anakku……?” kata Cui Hwa dengan suara merintih dan nyonya ini melompat ke depan, menubruk In Hong dan ia tentu akan roboh
374
kalau In Hong tidak cepat-cepat menyambut dan memeluknya.
„Ya Thian Yang Mahakuasa, terima kasih…… kau benar-benar In Hong!”
Cui Hwa dengan airmata bercucuran menangis dan tertawa seperti orang gila, sambil memegang kepala anaknya dengan kedua tangan, menciumi dan me-nimang-nimang kepala itu.
„Ibu, mengapa ibu bisa berada disini?”
„Mengapa? Apa maksudmu, In Hong?”
In Hong menoleh ke arah Lian Hong. „Bagaimana ibu bisa disini bersama dia?”
Cui Hwa tersenyum di antara tangisnya. „Aah, benar! Kau belum tahu kiranya. Dia ini adalah Lian Hong, adikmu!”
In Hong merasa betapa dadanya berdetak keras. „Ibu, bukankah dia ini adik dari Ong Teng San?”
„Benar, Teng San itu adalah kakakmu sendiri……”
Cui Hwa mulai mendapat firasat tidak enak.
In Hong merenggut diri dan melepaskan pelukan ibunya. Ia melangkah mundur tiga tindak dan menatap wajah ibunya dengan penuh ketegangan. Diam-diam Lian Hong sudah menyiapkan diri untuk turun tangan kalau gadis
375
aneh yang berwatak keras itu hendak mengganggu ibunya.
„Ibu, apakah artinya semua ini? Anak telah bertemu dengan Yo-supek, diberitahu bahwa ayah telah tewas dalam tangan penjahat dan ibu telah hilang, juga Can Ma telah lenyap secara aneh. Bagaimana tahu-tahu ibu sudah berada disini dan adik ini……, bagaimana pula ibu dapat berkata bahwa Ong Teng San adalah kakakku?”
Cui Hwa benar-benar terdesak oleh pertanyaan In Hong yang bertubi-tubi ini sehingga ia berdiri dengan kaki gemetar dan tak dapat menjawab.
Lian Hong melihat keadaan ibunya ini, bergerak maju, menarik ibunya dan menyediakan kursi sehingga ibunya dapat duduk. Cui Hwa menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya, tidak kuasa lagi menentang pandang mata In Hong yang demikian tajam menusuk kalbu.
Lian Hong kini menghadapi In Hong dengan sikap gagah akan tetapi sikapnya cukup menghormat.
„Enci In Hong, karena akupun anak ibu, biarlah aku yang mewakili ibu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Jangan kau merasa heran melihat ibu berada disini, karena sesungguhnya, ibu telah menikah dengan ayah dari kakak Ong Teng San yang ketika itu telah menjadi duda. Dari pernikahan ini terlahir aku, oleh karena ini maka Teng San-ko adalah kakak-tiriku, juga kakak-tirimu.”
376
Muka In Hong menjadi pucat. „Siapakah nama ayahmu yang mengawini ibuku?”
„Ayah bernama Ong Tiang Houw,” jawab Lian Hong singkat. Gadis cilik ini maklum bahwa ia telah tiba di bagian yang amat berbahaya.
In Hong memandang ibunya, hatinya tidak karuan rasanya. Jadi Bu Jin Ay, laki-laki gagah perkasa yang membikin ia jatuh hati itu sebenarnya adalah suami ibunya?
Akan tetapi mengapa Teng San membunuh ayahnya sendiri? Mengapa pula Teng San membiarkan dirinya terbunuh seakan-akan hendak menebus dosa ayahnya? Apa yang terjadi?
„Ibu, harap kau suka berterus terang. Mengapa ibu menikah, sedangkan musuh besar yang membunuh ayah belum kita balas? Juga ibu tidak berusaha mencariku?”
Lian Hong tidak berani menjawab pertanyaan ini dan sekarang Cui Hwa sudah menguasai perasaan hatinya, maka nyonya ini berkata dengan suara tenang.
„Dengarlah, In Hong. Sesungguhnya, baru kurang lebih lima tahun yang lalu aku ketahui bahwa pembunuh dari ayahmu adalah Ong Tiang Houw sendiri. Teng San dan Lian Hong mendengar ini menjadi marah dan melarikan diri, adapun Tiang Houw sendiri seperti gila dan pergi tak pernah pulang. Adapun aku…… aku hanya dapat menangis dan bersedih. Kalau aku tahu bahwa dia
377
pembunuh Kwee Seng ayahmu, sudah tentu aku takkan sudi menjadi isterinya……”
Setelah berkata demikian dan melihat betapa wajah Lian Hong yang tersinggung hatinya menjadi pucat dan berduka, Cui Hwa menangis sambil memeluk Lian Hong.
Mendengar penuturan itu, makin lama wajah In Hong menjadi makin pucat. Ia berdiri seperti patung, memandang kepada ibunya dengan mata sayu dan bibir gemetar.
Kemudian terdengar ia merintih perlahan, membalikkan tubuh dan hendak pergi dari situ. Akan tetapi, baru saja tiga langkah ia bertindak, tubuhnya terguling dan ia roboh pingsan!
Dapat dibayangkan betapa hancur dan pedihnya hati In Hong. Ia telah mencurahkan kasih sayang dan kasihan kepada Bu Jin Ay, dan tidak disangkanya sama sekali bahwa Bu Jin Ay itu adalah suami ibunya, bahkan pembunuh ayahnya!
Orang satu-satunya di dunia ini yang dikasihinya, ternyata adalah orang satu-satunya yang menjadi musuh besarnya, yang seharusnya ia bunuh dan ia cincang hancur tubuhnya!
Baru sekarang terbuka matanya, dan tahulah ia mengapa Teng San membunuh ayahnya sendiri. Pemuda itu tentu merasa terhina sekali melihat ayahnya yang setelah membunuh Kwee Seng lalu mengawini nyonya Kwee, kini
378
bahkan hendak memikat In Hong, puteri dari Kwee Seng. In Hong tahu bahwa Tiang Houw atau Bu Jin Ay melakukan hal ini tanpa disadarinya.
Orang itu setelah ditinggal pergi oleh anak-anaknya dan dibenci oleh isterinya, menjadi patah hati dan seperti gila. Kemudian bertemu dengan dia yang mempunyai wajah seperti Cui Hwa dan Lian Hong, tidak mengherankan apabila Bu Jin Ay jatuh hati kepadanya.
Ketika siuman kembali, In Hong mendapatkan dirinya telah berada di dalam kamar, ditangisi oleh ibunya. Lian Hong juga duduk dikamar itu, keduanya nampak sedih sekali.
„Ibu, anak telah berdosa besar. Tak pantas lagi anak mendekati ibu. Biarkan anak pergi sekarang juga, untuk merantau seperti yang pernah dilakukan oleh guruku,” kata In Hong sambil bangkit dari pembaringan.
„In Hong, anakku, mengapa begitu? Akulah, ibumu yang bersalah dan kau harus dapat maafkan ibumu. Mari kita hidup berkumpul lagi, In Hong. Tidak kasihankah kau kepada ibumu?”
„Ibu, aku tahu, enci In Hong tentu hendak mencari ayah untuk membalas sakit hati. Bukan begitu, enci In Hong?” tanya Lian Hong.
In Hong menggelengkan kepalanya. „Kau keliru. Memang seharusnya demikianlah, akan tetapi nasib menentukan lain. Agaknya memang ayahmu sudah terlalu banyak
379
dosanya, maka ia telah tewas dalam tangan puteranya sendiri.”
„Apa……?” Cui Hwa dan Lian Hong terkejut sekali mendengar warta ini dan keduanya memandang kepada In Hong, penuh pertanyaan.
„Sesungguhnya, Teng San telah membunuh ayahnya dan untuk perbuatan itu…… untuk perbuatan itu aku telah membela…… Ong Tiang Houw dan sebaliknya aku telah menewaskan Ong Teng San……”
Ibu dan anak itu hampir tak dapat percaya kepada In Hong akan penuturan ini. Sungguh tak masuk diakal dan amat mengherankan.
„Jenazah keduanya telah kurawat dan ku kubur baik-baik di dalam gua di kaki gunung Kun-lun-san. Ibu, sekarang aku harus melanjutkan perantauanku.”
„In Hong, jangan……”
„Kalau tinggal disini, mungkin aku dapat mati berduka atau dapat membunuh diri sendiri ibu. Biarpun anak pergi, mudah-mudahan saja kelak aku akan kembali. Adik Lian Hong, kau seorang anak yang baik dan berbakti, kau jagalah ibu baik-baik.”
Tanpa dapat dicegah lagi, In Hong meninggalkan rumah ibunya dan mulai saat itu, di dunia kangouw muncullah seorang pendekar wanita yang gagah perkasa. Dara perkasa ini adalah Kwee In Hong. Dia merasa berdosa
380
sekali maka untuk menebus dosa, ia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang amat menggemparkan.
Entah berapa banyak penjahat di dunia kangouw yang dibasminya dan banyak sekali orang sudah menerima pertolongannya. Sebentar saja namanya amat terkenal dan ia dijuluki orang SIAN-LI ENG-CU (Bayangan Bidadari).
Demikianlah akhir cerita ini dengan catatan dari penulis bahwasanya segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia itu sama halnya dengan bibit ditanam olehnya. Siapa menanam bibit dia akan memetik buahnya. Perbuatan baik pasti mendatangkan berkah, sebaliknya perbuatan jahat pasti mendatangkan malapetaka kepada diri sendiri.
HABIS

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Mandarin Tionggoan : Sian Li Engcu 4 Tamat ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments