Cerita Romantis Korea Silat : PAB 12

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Romantis Korea Silat : PAB 12
Cerita Romantis Korea Silat : PAB 12
Seperti halnya Huang Ren Fu pemuda itu pun terpental menjauh dari Thai Wang Gui, namun sambil membawa Hua Ying Ying dalam pelukannya. Ding Tao yang sadar bahwa Hua Ying Ying akan terus menerus berada dalam bahaya, selama gadis itu masih berada dalam jangkauan Thai Wang Gui, memanfaatkan tendangan Thai Wang Gui itu untuk melontarkan tubuhnya dan Hua Ying Ying yang berada dalam pelukannya, menjauh dari arena pertarungan.
―Kakak Ding Tao…‖ bisik Hua Ying Ying sambil menatap mesra pemuda itu, segala rasa yang selama ini dikubur dalam-dalam toh ternyata belum mati juga.
―Adik Ying Ying…‖ ujar Ding Tao sambil memandangi wajah gadis itu, rasa yang sama yang dia rasakan selama bertahun-
2113
tahun lamanya ternyata tidak juga hilang, meski kini di hatinya ada pula Murong Yun Hua dan Murong Huolin.
Apa lagi ini kali pertama Ding Tao bertemu lagi dengan Hua Ying Ying setelah dirinya meminum obat dewa pengetahuan. Seperti juga saat dirinya bertemu Murong Yun Hua setelah meminum obat dewa pengetahuan, panca inderanya yang jauh lebih tajam dibandingkan sebelumnya membuat dia mabok oleh kehadiran Hua Ying Ying yang begitu dekat. Lebih-lebih lagi bersama dengan Hua Ying Ying tidak membuat hati nuraninya memberontak, tidak seperti dulu waktu dia bersama Murong Yun Hua sebelum pernikahan mereka. Hua Ying Ying sendiri merasa tubuhnya melumer dalam pelukan Ding Tao, lamat-lamat dia masih ingat bahwa mereka sedang berpelukan di depan ribuan bahkan puluhan ribu pasang mata. Namun otaknya tidak mau bekerja dengan benar, gadis itu merasa sudah berada di tempat yang tepat, dalam pelukan Ding Tao.
Hua Ng Lau yang melihat anak angkat dan muridnya lepas dari bahaya, tiba-tiba mengeluarkan jurus serangan yang hebat, tongkatnya bergerak bagai angin puyuh, Shao Wang Gui dipaksa mundur beberapa langkah. Tidak meneruskan serangannya, Hua Ng Lau justru melompat menjauh, mendekati Huang Ren Fu yang sedang merintih menahan sakit. Thai
2114
Wang Gui dan Shao Wang Gui belum sempat menarik nafas ketika seorang bhiksu Shaolin yang sudah cukup tua ganti melompat menyerang mereka. Orang itu adalah Bhiksu Khongti, dia termasuk jajaran tokoh tingkat atas dalam perguruan Shaolin, dalam hal urutan dia adalah salah seorang kakak seperguruan Bhiksu Khongzhen, jadi bisa dibayangkan seberapa tinggi ilmunya.
―Kau apakan murid-muridku!‖, serunya dengan gusar.
Bhiksu Khongzhen yang tadinya sudah merasa lega melihat tidak ada bahaya yang mengancam ke-18 anak murid Shaolin itu pun buru-buru menghampiri kerumunan anak murid Shaolin dan dua orang bhiksu tua yang mahir dalam hal obat-obatan.
―Ada apa sebenarnya dengan mereka?‖, tanya Bhiksu Khongzhen dengan khawatir.
Dia tidak mengkhawatirkan keadaan kakak seperguruannya yang sedang mengamuk dan berusaha menghajar Shao Wang Gui dan Thai Wang Gui. Dia sudah cukup mengenal tingkatan ilmu Bhiksu Khongti yang tidak selisih jauh di bawah dirinya. Justru keadaan 18 orang itu yang membuat dia khawatir, jika mereka tidak dalam keadaan yang sangat menyedihkan, tentu
2115
kakaknya itu tidak akan semurka itu. Memang Bhiksu Khongti itulah yang bertugas melatih dan mengajar ilmu berisan pada para bhiksu Shaolin. Sejak hilangnya 18 orang dari mereka, sikapnya sudah menjadi murung, jadi tidak heran jika sekarang dia meledak dan kehilangan pengawasan diri.
Salah satu dari bhiksu tua yang memeriksa 18 orang itu, menatap Bhiksu Khongzhen dan menggelengkan kepala dengan sedih, ―Tidak ada yang salah dengan tubuh mereka, tidak ada luka baik di dalam maupun di luar, tapi… tapi… keadaan pusat-pusat hawa murni dan jalur-jalurnya…‖
―Energi kehidupan mereka tidak stabil dan lemah sekali.‖, sambung yang seorang lagi, mulutnya masih terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu namun tidak berani.
Bhiksu Khongzhen dengan segera meletakkan telapak tangannya di atas pusar salah satu dari 18 orang itu. Tangannya yang peka terhadap keberadaann hawa murni seseorang segera merasakan keadaan energi hawa murni dari orang itu. Wajahnya pun berubah menjadi pucat saat memahami keadaan dari ke-18 anak murid Shaolin tersebut. Energi kehidupan mereka sangat lemah, mungkin itu juga sebabnya mereka tak sadarkan diri meskipun tubuh mereka
2116
tidak terlihat mengalami luka. Kemudian Bhiksu Khongzhen pun perlahan-lahan mengalirkan hawa murninya ke dalam tubuh bhiksu itu dengan hati-hati. Sungguh terkejut hatinya saat merasakan hawa murni yang dia salurkan seperti hilang lenyap begitu saja. Seperti menyiramkan air di atas tanah berpasir yang kering.
Bhiksu Khongzhen pun menengadahkan kepala, melihat ke arah dua orang bhiksu tua yang mahir ilmu obat-obatan tersebut, alisnya bergerak naik, bertanya tanpa kata-kata.
―Benar ketua…, mereka semua…18 orang… berada dalam kondisi yang sama. Saat ini kami sudah memerintahkan para murid untuk menyiapkan ramu-ramuan yang menguatkan tubuh. Demikian pula, sedikit-sedikit kami sudah memijat dan menyalurkan hawa murni di pusat-pusat penting dalam jalur energi mereka. Kami berharap, perlahan-lahan, tubuh mereka bisa memulihkan sistem energi dalam tubuh mereka.‖, jawab yang seorang.
―Hanya saja… kami ragu apakah mereka bisa pulih sepenuhnya…‖, sambung yang seorang lagi.
2117
Sedih sekali perasaan Bhiksu Khongzhen, namun tidak sampai dia kehilangan pengamatan diri seperti kakak seperguruannya. Kekuatan batinnya memang sudah lebih mapan, apalagi ketua Shaolin yang seorang ini tidak terlalu mementingkan ilmu silat.
―Yang penting nyawa mereka masih bisa diselamatkan…‖, ujarnya perlahan-lahan, Pendeta Chongxan yang ikut merasakan kesedihan Bhiksu Khongzhen, menepuk-nepuk bahu sahabat lamanya itu.
―Kami akan berusaha semampu kami.‖, jawab dua orang bhiksu tua itu.
Belum sempat Bhiksu Khongzhen menjawab, terdengarlah suara mengaduh dari belakang mereka. Dengan rasa terkejut Bhiksu Khongzhen serta Pendeta Chongxan mengalihkan perhatian mereka ke arah pertarungan yang sedang terjadi antara Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui melawan Bhiksu Khongti. Sungguh di luar sangkaan Bhiksu Khongzhen bahwa kakaknya bisa terdesak sedemikian hebatnya dalam hitungan yang singkat. Dia tahu betul seberapa tinggi kemampuan kakak seperguruannya itu, karena itu dia tidak begitu khawatir dengan keadaannya. Tapi pemandangan yang dia lihat sungguh di luar perhitungannya. Belum 20 jurus lewat, Thai Wang Gui dan
2118
Shao Wang Gui sudah mengajak Bhiksu Khongti mengadu tenaga dalam. Telapak tangan kanan Bhiksu Khongti beradu dan menempel dengan tangan kiri Shao Wang Gui, sedangkan telapak tangan kirinya beradu dengan tangan kanan Thai Wang Gui.
Meskipun cemas namun Bhiksu Khongzhen tidak dapat mengambil keputusan dengan cepat untuk membantu. Sebagai adik seperguruan dia tidak berani sembarangan berbuat, meskipun dirinya adalah seorang ketua. Waktunya memang singkat, tapi waktu yang singkat itu nyata memiliki arti yang besar. Baik Pendeta Chongxan maupun Bhiksu Khongzhen, juga para tokoh ternama yang menyaksikan pertarungan itu, melihat ada yang janggal dalam adu tenaga dalam ini.
Penuh rasa kejut Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen saling berpandangan. Mereka bisa melihat keterkejutan dan rasa khawatir yang terpampang dengan jelas di wajah masing-masing. Tanpa banyak cakap, seperti sudah saling berjanji, keduanya berkelebat menyerang. Pendeta Chongxan menyerang Shao Wang Gui dan Bhiksu Khongzhen menyerang Thai Wang Gui. Keduanya bisa dikatakan merupakan jagoan nomor satu dalam dunia persilatan di masa ini. Betapa hebat serangan mereka berdua, sungguh sulit dicari bandingannya.
2119
Dari segi kecepatan dan kekuatan, setingkat bahkan mungkin setengah lapis di atas tinju petir Bai Shixian. Dari segi jurus, setingkat lebih mendalam dibandingkan Ding Tao dan Wang Shulin. Baik tusukan pedang Pendeta Chongxan maupun pukulan tangan Bhiksu Khongzhen, membuat hati mereka yang menyaksikan tergetar oleh kehebatannya. Wibawa dari jurus yang dilancarkan sampai terasa ke seluruh penjuru. Berwibawa tapi bukan menakutkan, menekan tapi tidak memancarkan hawa pembunuh. Menyentuh rasa sebelum sempat dipahami akal.
Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui yang sedang berjaya itu pun berlompatan menghindar, menjauh dari serangan yang menakutkan itu. Tubuh Bhiksu Khongti terhuyung hendak jatuh ke belakang, disambut oleh tenaga lembut dari Pendeta Chongxan yang dengan gesit menahan tubuh yang sedang jatuh itu. Sementara Bhiksu Khongzhen bergerak menghadang di depan Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui yang hendak bergerak maju mendekat.
Sungguh hebat dua orang ini, serangan mereka bisa dikendalikan sedemikian rupa, hingga baik menyerang ataupun bertahan bisa dilakukan tanpa jeda. Mengalir dan berubah begitu saja sesuai kehendak hati, seperti awan di langit.
2120
Dalam satu gerakan yang sama, dari menyerang tiba-tiba Pendeta Chongxan sudah menyarungkan pedangnya dan tangannya menangkap Bhiksu Khongti yang jatuh ke belakang. Dari tenaga keras, dalam satu tarikan nafas yang sama berubah menjadi tenaga lembut. Demikian juga dengan Bhiksu Khongzhen, dari menyerang dengan tenaga bagaikan badai hendak meniup habis seluruh desa, tiba-tiba tenaganya berubah menjadi diam seperti sebuah gunung. Saat bergerak secepat kilat, saat diam setenang gunung Thaisan.
Mereka yang menyaksikan hal ini pun jadi terpana dan terkagum-kagum, hingga lupa dengan keberadaan Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui. Jika ada perkecualian, maka orang itu adalah Ding Tao dan Hua Ying Ying yang sedang dimabuk asmara di waktu dan tempat yang tidak tepat. Jika ada perkecualian, maka orang itu adalah Wang Shu Lin yang memperhatikan sepasang kekasih itu diam-diam dengan dada bergemuruh.
‗Ah… ada apakah dengan aku ini…‘, keluh Wang Shu Lin dalam hati.
Terkecuali 3 orang ini, yang lainnya tentu saja mencurahkan seluruh perhatiannya pada apa yang terjadi antara Thai Wang
2121
Gui, Shao Wang Gui, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Pendeta Chongxan perlahan-lahan menurunkan tubuh Bhiksu Khongti yang sudah lemah ke atas lantai panggung.
Bibir Bhiksu Khongti bergetar, barulah setelah mengerahkan tenaga dia bisa berkata, ―Xi Xing Da Fa…‖
Kata-kata itu dengan jelas terdengar oleh Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, membuktikan apa yang mereka khawatirkan sebelumnya. Ketika beberapa orang bhiksu Shaolin datang untuk memapah Bhiksu Khongti pergi, Pendeta Chongxan pun dengan wajah sedikit pucat, bangkit berdiri dan melangkah ke sisi Bhiksu Khongzhen berhadapan dengan dua orang tokoh sesat yang tersenyum-senyum angkuh.
―23 tahun yang lalu kami memberikan kalian berdua jalan hidup. Siapa sangka alih-alih bertobat kalian berdua justru semakin sesat. Jangan salahkan kami jika kali ini kami terpaksa mencabut nyawa kalian.‖, ujar Bhiksu Khongzhen dengan wajah gelap.
―Memberi jalan hidup? Jalan hidup? Hahahahaha…. Kau menyegel pusat energi dalam tubuh kami, membuat kami
2122
kehilangan seluruh kepandaian kami. Apa itu yang kau anggap kemurahan hati? Ingat Khongzhen, saat itu kami berdua sudah bersimpuh di hadapanmu memohon diberi jalan kematian, tapi kau justru menolaknya. Sekarang jangan kau menyesali keputusanmu itu.‖, jawab Shao Wang Gui setelah puas tertawa.
―Khongzhen, bukankah tadi kau mengatakan, bahwa siapa yang memegang medali berhak mengikuti pemilihan Wulin Mengzhu. Mengapa sekarang kau menghalangiku untuk mengikutinya? Apa kau mau menjilat ludahmu sendiri?‖, sekarang ganti Thai Wang Gui yang bertanya.
―Urusanmu dengan Ketua Ding Tao boleh kau selesaikan nanti, kalau kau sudah selesai dengan kami. Bukankah sebelum datang ke tempat ini, kau sudah terlebih dahulu melukai anak murid Shaolin? Jadi selesaikan dulu urusanmu dengan kami, baru kau boleh tanya yang lain.‖, jawab Bhiksu Khongzhen diplomatis.
―Menghadapi manusia iblis, tidak perlu banyak bicara. Mari …‖, ujar Pendeta Chongxan sembari mencabut pedang.
Tanpa banyak bicara dua orang itu pun berkelebat cepat, maju menyerang sepasang iblis yang dengan cekatan menyambut
2123
serangan mereka. Ini lebih menegangkan dibandingkan pertarungan-pertarungan sebelumnya. Maksud Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan adalah baik adanya. Sadar bahwa Ding Tao tidak mungkin menang melawan salah seorang dari sepasang iblis tua itu, mereka bertekad untuk maju lebih dahulu dan menghabisi keduanya sebelum keduanya bisa berbuat onar lebih jauh. Selain itu, mereka juga ingin mencegah jatuhnya lebih banyak korban. Dengan majunya mereka berdua, bisa dipastikan tidak akan ada tokoh dunia persilatan lain yang berani ikut mencoba bertarung dengan sepasang iblis itu. Meskipun mereka punya urusan atau dendam, sudah pasti mereka akan menunggu sampai pertarungan antara dua orang iblis itu, melawan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan selesai.
Yang di luar perhitungan mereka adalah kehebatan sepasang iblis itu. 23 tahun bukan waktu yang pendek, sudah tentu 23 tahun adalah waktu yang cukup untuk memupuk kepandaian. Tapi 23 tahun yang lalu dua orang iblis itu kehilangan kemampuan mereka untuk mengolah hawa murni. Kalau hanya sekedar main pukul atau tendang, tentu tidak masalah. Tapi seperti harimau yang sudah dicabuti giginya, tidak akan ada lagi orang yang terancam oleh kejahatan mereka, karena
2124
pukulan dan tendangan mereka tidak ada bedanya dengan serangan orang awam.
Siapa sangka sekarang mereka muncul dengan pusat-pusat energi yang sudah pulih dan bekerja seperti sedia kala, bahkan jauh lebih baik dari 23 tahun yang lalu. Ditambah dengan ilmu baru mereka, membuat mereka berkali lipat jauh lebih berbahaya dari 23 tahun yang lalu. Di lain pihak, memang Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan bukanlah orang yang malas berlatih, sehingga ilmunya mengalami kemunduran. Tapi mereka berdua juga bukan orang yang keranjingan ilmu silat dan berambisi untuk menjadi yang terkuat. Waktu mereka justru lebih banyak diarahkan pada menghaluskan rasa dan mempertinggi kesadaran batin. Setelah 20 jurus lebih berlalu, dua orang tokoh besar ini mulai menyadari kesalahan mereka.
Xi Xing Da Fa, ilmu sesat yang ada dalam kisah-kisah kepahlawanan di masa lampau. Hanya pernah terdengar tapi tidak ada yang pernah menyaksikannya. Benar-benar bukan ilmu yang bisa dianggap enteng. Setiap kali tubuh mereka bersentuhan dengan tangan sepasang iblis itu, tentu mereka merasakan hawa murni mereka disedot oleh lawan. Syukur mereka berdua memiliki pengendalian hawa murni yang sudah sempurna. Sehingga mereka bisa menarik mundur hawa murni
2125
mereka sebelum hisapan itu terlampau kuat dan tidak bisa dilepaskan. Pada awalnya Pendeta Chongxan bertarung menggunakan pedang, untuk mempersulit lawan menggunakan Xi Xing Da Fa, sementara Bhiksu Khongzhen menggunakan tasbih yang ada di lehernya sebagai senjata. Tapi setelah beberapa jurus berlalu, mereka berdua sadar, cara inipun tidak berjalan seperti yang mereka inginkan. Karena lawan tetap bisa menghisap hawa murni mereka, meskipun lewat perantaraan benda lain dan tidak bersentuhan langsung.
Tidak bisa menangkis, tidak boleh sembarangan menyerang. Jika sampai tersentuh telapak tangan lawan, sedikit banyak hawa murni mereka akan dihisap lawan. Dalam usia mereka yang lanjut, baik Bhiksu Khongzhen maupun Pendeta Chongxan, lebih menyandarkan diri pada himpunan hawa murni mereka untuk bertarung. Dengan lawan yang menggunakan Xi Xing Da Fa, hal ini sangat merugikan mereka berdua, karena membuat ilmu mereka tidak bisa berkembang sampai pada puncaknya.
Menolong salah, tapi tidak menolong juga salah. Hampir secara bersamaan, Xun Siaoma, Bai Chungho dan Hua Ng Lau melompat maju, membantu Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan untuk menghadapi sepasang iblis itu.
2126
―Membasmi kejahatan itu tugas setiap orang!‖, seru Bai Chungho sambil memutar tongkat penggebuk anjingnya, menyerbu masuk.
―Maafkan kami ketua berdua, ijinkan kami untuk membantu kalian membersihkan dunia ini dari kejahatan.‖, seru Hua Ng Lau yang dengan gesit bergerak menebas ke kiri dan ke kanan.
―Lurus dan sesat selamanya tak bisa bersama!‖, seru Xun Siaoma sambil melancarkan serangan.
Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan bukannya tidak tahu maksud baik orang. Namun dalam hati mereka juga ada perasaan malu yang naik ke permukaan. Bagaimana pun juga mereka berdua adalah ketua dari dua perguruan besar, tapi sekarang mereka harus bertarung secara keroyokan. Hanya karena menimbang kepentingan yang lebih luas, dua orang itu pun menggertakkan gigi dan berpura-pura tidak mau tahu. Diserang 5 oang jagoan kelas satu, dua orang iblis itu pun mulai sedikit keteteran, tapi tak sedikitpun mereka terlihat khawatir. Bahkan Wu Shan Yee yang seharusnya merupaka nsekutu mereka, masih saja berdiri dengan tenang sambil tersenyum-senyum.
2127
―Bagus, sekarang baru kelihatan wajah busuk kalian? Hahahaha, mana itu Bhiksu Agung Khongzhen? Siapa itu Pendeta Chongxan? Segala pendekar lurus, tai kucing, kalau kalah bisanya kalian hanya main keroyok.‖, seru Thai Wang Gui sembari menghentakkan kuda-kuda ke dalam tanah dan menangkis serangan tongkat Bai Chungho dan Hua Ng Lau yang menyerang hampir bersamaan dari dua arah yang berbeda.
Merah muka mereka berlima mendengar ejekan Thai Wang Gui, Xun Siaoma dan Bai Chungho pun memaki habis-habisan kedua orang iblis itu.
―Iblis keparat, apa kau sudah mabuk bau neraka, hingga mulutmu bicara yang tidak-tidak?‖, maki Bai Chungho sambil bergulingan di atas tanah, menghindari pukulan hawa beracun yang dilakukan Shao Wang Gui.
Sungguh ilmu sesat dua orang iblis itu beraneka rupa dan dikuasai dengan sempurna, membuat penyerangnya harus berhati-hati dan tidak pernah lalai dalam mengamati keadaan, ―Hahahaha, apa maksudmu mabuk bau neraka? Kukira kaulah yang baru saja mencium aroma neraka. Pengemis bau,
2128
kuharap kau sudah makan tadi pagi, jika tidak aku khawatir kau akan jadi setan kelaparan.‖
Meskipun berbagai macam makian, hinaan dan umpatan dilontarkan sepasang iblis itu, lima orang jagoan tua dari aliran lurus itu memaksa diri untuk menulikan telinga mereka. Kalau sampai ada rasa marah, maka rasa marah itu mereka lampiaskan dalam bentuk serangan-serangan. Keadaan dua pihak itupun jadi sedikit berimbang dengan kedatangan Xun Siaoma, Bai Chungho dan Hua Ng Lau, karena sekarang jika ada yang terperangkap Xi Xing Da Fa, maka yang lain akan membantu mereka lepas dari hisapan dengan menyerang si penghisap. Dua orang iblis itu juga kesulitan untuk menggunakan Xi Xing Da Fa saat menangkis serangan lawan, karena serangan yang datang bukan hanya dari seorang atau dua orang, tapi 3 orang bahkan terkadang serangan datang dari 5 orang sekaligus. Serangan tiap orang tidak bisa diremehkan, karena yang menyerang juga tokoh-tokoh kelas satu.
Seluruh dunia persilatan menyaksikan pertarungan ini dengan hati tegang. Tidak semua orang mengharapkan kemenangan dari partai lurus. Lurus dan sesat dalam dunia persilatan tidak mudah diuraikan ujung pangkalnya. Kecuali mereka yang
2129
memiliki dendam pribadi dengan sepasang iblis itu, yang lainnya melihat pertarungan itu dengan pikiran mendua. Mereka menginginkan satu orang kuat untuk memegang kedudukan Wulin Mengzhu dan menyatukan kekuatan menghadapi ancaman dari luar. Tapi persatuan yang diinginkan ini hanyalah kesatuan yang semu, karena urusan dendam, ambisi dan perebutan kekuasaan yang menghubungkan seorang dengan yang lain, antara satu golongan dengan golongan yang lain. Hampir tidak ada seorangpun yang bersih dari pertentangan ini.
Bagi sebagian orang, Wulin Mengzhu yang haus harta dan kekuasaan justru lebih mudah dihadapi daripada seorang Wulin Mengzhu dengan idealisme yang tinggi. Kemenangan Ding Tao di babak terakhir, disambut dengan meriah, namun juga dengan banyak perhitungan di balik sorakan itu.
Kehadiran Shao Wang Gui dan Thai Wang Gui adalah bukti nyata tidak adanya kesatuan yang diharapkan itu. Sebagian besar dari mereka, memilih untuk diam dan menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum memilih pihak tertentu untuk dibela. Jangankan dari keseluruhan tokoh persilatan yang begitu beragam. Dari 6 perguruan besar pun, kesatuan yang rapuh itu sudah bisa dilihat. Bahkan Bhiksuni Huan Feng yang dipandang satu pandangan dengan dua perguruan berlatar
2130
belakang agama yang lain, hanya berdiri menyaksikan, meski dengan kerut merut yang menunjukkan rasa khawatir di wajahnya. Apalagi jika menilik wajah Guang Yong Kwang atau Zhong Weixia.
―Kurang ajar!‖, maki Shao Wang Gui, ujung tongkat Hua Ng Lau hampir saja mencium batang hidungnya, untung dia cepat menjatuhkan tubuh ke belakang.
Sambil berjumpalitan dia pun berseru, ―kakak, orang-orang ini mulai menyebalkan, kenapa tidak kau gunakan Pedang Angin Berbisik?‖
―Apa kau sudah bosan bermain? Baiklah kita sudahi saja permainan ini.‖, lawan Thai Wang Gui.
5 orang jagoan tua itu pun dibuat menegang oleh percakapan itu, bagaimana tidak, ketika dua orang iblis itu bertangan kosong mereka sudah dibuat memeras tenaga sekedar untuk mendesak mereka. Jika benar Pedang Angin Berbisik ada di tangan Thai Wang Gui maka sama artinya mereka sudah menanda tangani perjanjian untuk mati, saat mereka memutuskan untuk bertarung melawan dua orang dedengkot aliran sesat itu.
2131
Bukan hanya mereka berlima yang jantungnya berdenyut kencang mendengar nama Pedang Angin Berbisik, bekas-bekas pengikut keluarga Huang ikut pula berdebaran mendengar hal itu, pedang itu bisa jadi bukti paling nyata akan keterlibatan sepasang iblis itu dalam pembantaian di Wuling. Apalagi bagi Ding Tao yang merasa membawa beban tanggung jawab yang diberikan Gu Tong Dang atas pedang itu.
Mereka tidak perlu menunggu lama, belum habis kata-kata Thai Wang Gui diucapkan, tangannya sudah bergerak menghunus pedang yang digantungkan di pinggang.
Sebuah kilatan pedang, membelah barisan 5 orang tokoh besar di jaman itu. Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan, Tetua Xun Siaoma, Ketua Bai Chungho dan Hua Ng Lau dipaksa berlompatan menghindar ke segala arah, saat pedang di tangan Thai Wang Gui bergulung hampir-hampir tanpa suara, menyerang mereka dengan hebatnya. Tongkat di tangan Hua Ng Lau sudah putus menjadi dua, ujung tongkat pemukul anjing milik Bai Chungo pun terpapas di ujungnya. Bagaikan harimau tumbuh sayap, Thai Wang Gui berdiri di tengah panggung dengan kaki terpentang. Sementara kelima orang lawannya pucat pias di tempat masing-masing, bukan mereka tidak memiliki keberanian untuk bertindak, tapi otak mereka berputar
2132
kencang mencari kelemahan lawan dan tidak juga menemukannya.
Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui tertawa berkakakan dengan kepala mendongak pongah. Hati setiap orang jadi ciut menyaksikan kegarangan mereka berdua. Bhiksuni Huan Feng yang dari tadi belum dapat menentukan sikap, perlahan-lahan menghunus pedang di tangannya.
Suaranya jernih dan lantang, bening mengatasi tawa sepasang iblis itu, membangunkan setiap orang kembali pada kesadarannya, ―Saudara-saudara sekalian, sebelum menghadapi ancaman dari luar, kita bersihkan dulu yang ada di dalam. Jika tidak jangan salahkan siapa-siapa, ketika sepasang iblis ini mencabut jantung kalian dan memakannya mentah-mentah. Mereka ini sepasang binatang liar, yang tidak akan tenang jika tidak mencium darah. Hari ini mungkin bukan kalian, tapi akan datang saatnya mereka mengalihkan pandangannya ke setiap orang dari kita.‖
Hampir berbareng setiap orang dari yang muda hingga yang tua, dari yang memiliki nama sampai yang tak bernama, mencabut senjata masing-masing meskipun belum tentu tahu dengan cara apa mereka akan menyerang sepasang iblis itu.
2133
Namun sebelum ada seorangpun yang dapat bertindak Xhong Weixia pun berseru ―TAHAN !!!‖
Suaranya menggelegar bertalu-talu ke seluruh penjuru, tidak di bawah suara Bhiksuni Huan Feng yang bening dan tajam menyelusup ke telinga setiap orang.
―Apa maksudmu?‖, terkejut Bhiksuni Huan Feng menatap tajam ke arah Zhong Weixia.
―Hmm… apakah kita semua berkumpul sekarang ini untuk menyelesaikan masalah orang-orang tertentu?‖, tanay Zhong Weixia dengan suara yang keras bukan hanya ditujukan pada Bhiksuni Huan Feng tapi pada seluruh yang ada.
―Apakah kita berkumpul untuk menyelesaikan masalah keluarga Huang di Wuling? Atau mungkin urusan dendam lama salah seorang dari kita terhadap Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui?‖
―Tidak.‖
―Kita berkumpul untuk menentukan Wulin Mengzhu yang baru. Wulin Mengzhu yang menyatukan kita untuk menghadapi ancaman dari luar. Thai Wang Gui datang sebagai salah satu
2134
calon Wulin Mengzhu, seharusnya mendapatkan kesempatan yang sama seperti calon-calon yang lain. Namun sebelum dia sempat diuji, apakah dia lebih baik dari Ketua Ding Tao atau tidak, tiba-tiba terjadilah serentetan kericuhan. Mungkin ini bukanlah kehendak Ketua Ding Tao sendiri, tapi jelas ada orang-orang yang mendukung Ketua Ding Tao, yang tidak ingin Ketua Ding Tao dan Thai Wang Gui mengukur kepandaian secara adil.‖, ujar Zhong Weixia membuat setiap orang tak bisa bicara.
―Aku setuju dengan Ketua Zhong Weixia‖, ujar Guang Yong Kwang dengan suara lantang.
―Masalah pertentangan dan dendam, adakah seorang dari kita yang sepenuhnya tidak tersangkut dalam jaring-jaring dendam ini? Jika masalah dendam dan pertentangan antar saudara, masih dibawa ke tempat ini, bagaimana mungkin kita bisa menyatukan kekuatan melawan ancaman dari luar? Jika demikian tidak ada gunanya seorang Wulin Mengzhu dipilih.‖, ujar Guang Yong Kwang sambil menatap ke arah orang-orang di sekelilingnya.
―Ketua Ding Tao belum bisa menjadi Wulin Mengzhu karena masih ada calon lain yang belum sempat maju untuk bertanding
2135
dengannya, memutuskan siapa yang lebih tinggi tingkat kepandaiannya. Seandainya sudah, maka dengan satu patah kata darinya tanpa banyak tanya aku pun akan ikut menangkap Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui.‖
―Tapi sekarang ini, jika aku melakukan hal itu, bukankah justru melanggar asas keadilan? Apakah sudah pasti bila mereka bertanding bahwa Ketua Ding Tao yang akan menang? Bagaimana jika ternyata Thai Wang Gui yang menang? Bukankah itu artinya Thai Wang Gui-lah yang seharusnya jadi Wulin Mengzhu? Jika demikian bukankah aku justru melakukan perintah Wulin Mengzhu yang palsu untuk menangkap Wulin Mengzhu yang asli?‖, tanya Guang Yong Kwang pada sekalian orang.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pada dasarnya pandangan setiap orang pada kedudukan Wulin Mengzhu itu tidaklah sederhana. Ada banyak kepentingan di dalamnya. Guang Yong Kwang tepat benar ketika bertanya, adakah di antara kita yang bebas sepenuhnya dari jaring dendam? Bukan hanya jaring dendam, tapi juga jaring-jaring ambisi dan perebutan kekuasaan. Meskipun hanya berupa berita angin, keinginan Ding Tao untuk menciptakan tatanan baru dalam dunia persilatan bukannya tidak pernah terdengar, karena
2136
justru hal itu yang digunakan untuk merekrut orang-orang yang sepikiran ke dalam Partai Pedang Keadilan, dan tidak semua orang menginginkan hal itu. Sesungguhnya memang hukum rimba adalah hukum yang paling mudah diterima oleh mereka yang mengandalkan kerasnya kepalan dan tajamnya pedang untuk hidup.
Persoalan ini bukannya tidak pernah terpikirkan oleh para pimpinan Partai Pedang Keadilan, hampir dalam setiap pertemuan mereka membicarakan hal ini. Satu hal yang sangat sulit, bila memang Ding Tao ingin menerapkannya dalam posisi Wulin Mengzhu. Sampai pada saat pertemuan terakhir, sebenarnya baru satu peraturan yang ingin coba ditetapkan, seandainya Ding Tao berhasil menjadi Wulin Mengzhu. Peraturan itu adalah, larangan bagi setiap orang dalam dunia persilatan untuk menggunakan ilmu silat melawan orang awam. Dengan larangan ini harapannya, pembegalan di jalan-jalan, pembunuhan di luar masalah perebutan nama dan dendam keluarga, pemerkosaan, dan beberapa macam kejahatan lain yang sering timbul bisa ditekan.
Bahkan satu peraturan ini pun diyakini sudah akan membuat banyak orang berteriak marah. Bukan satu rahasia, tidak sedikit orang-orang dalam dunia persilatan yang mencari makan
2137
dengan cara mencuri atau merampok. Lu Jingyun yang tidak punya pekerjaan tetap dari mana dia bisa makan enak dan minum arak bagus, jika bukan karena mengandalkan ilmu ringan tubuhnya. Meskipun tidak pernah tertangkap basah, tapi setiap orang dalam dunia persilatan sudah bisa menduga apa yang dilakukan Lu Jingyun untuk mencari makan.
Tapi sudah seperti itu pun, tidak ada yang memandang rendah pada Lu Jingyun, tidak juga menganggap dia masuk ke dalam aliran sesat. Bukan tanpa alasan memang, karena sasaran Lu Jingyun hanyalah orang-orang tertentu, yang mungkin bahkan tidak merasa kehilangan saat hartanya diam-diam dicuri Lu Jingyun. Lagipula Lu Jingyun tidak pernah menggunakan ilmunya itu untuk mencederai orang.
Sedemikian sulitnya untuk membuat garis yang jelas tanpa memancing perselisihan yang luas, hingga Ding Tao pun akhirnya mengalah pada saran yang lain. Peraturan yang satu itu pun akhirnya dia batasi lagi, yang dilarang adalah melukai, menghilangkan nyawa dan juga perbuatan-perbuatan yang mencederai kehormatan manusia lainnya. Merampok atau mencuri tidak termasuk di dalamnya, selama tidak ada yang terbunuh atau terluka pada saat kejadian. Ding Tao pun menggeleng-gelengkan kepala bila dia mengenang pertemuan-
2138
pertemuan itu. Sejak saat itu, keinginan Ding Tao untuk menjadi Wulin Mengzhu semakin surut, jika bukan mengingat ancaman Ren Zuocan mungkin Ding Tao tidak akan berada di kaki gunung Songshan hari ini.
Tapi sekarang Ding Tao tidak menyesal sudah datang ke kaki gunung Songshan, karena hari ini justru orang-orang yang paling dia cari-cari sudah muncul. Yang pertama tentu saja Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu. Yang kedua adalah pelaku yang memimpin pembantaian di kota Wuling, Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui.
Maka mendengar Zhong Weixia dan Guang Yong Kwang berbicara panjang lebar, tanpa ragu-ragu lagi Ding Tao berseru dengan lantang, suaranya pun mengatasi riuh rendah suara orang berbicara, ―Aku tidak keberatan. Biarkan aku berhadapan satu lawan satu dengan Thai Wang Gui, supaya jelas siapa yang berhak atas kedudukan Wulin Mengzhu.‖
Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pun tergagap, untuk kemudian mendesah, pasrah. Dengan perkataan Ding Tao tadi, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk mencegah terjadinya pertarungan antara Ding Tao melawan Thai Wang Gui. Jika mereka berkeras, maka justru kesan yang buruk yang
2139
akan nampak. Kewibawaan Ding Tao akan diragukan orang, akan muncul kesan dia seorang lemah yang harus dijaga. Kalau kemudian Ding Tao mengikuti nasehat mereka, justru lebih buruk lagi, bisa muncul anggapan bahwa Ding Tao sebenarnya hanyalah boneka dari Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Bukan hanya Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang menghela nafas, Bai Chungho, Xun Siaoma, Bhiksuni Huan Feng dan Hua Ng Lau pun ikut menghela nafas dan mengkhawatirkan keadaan pemuda itu.
Bai Chungho menghampiri Ding Tao yang sedang berjalan menuju ke tengah panggung untuk menghadapi Thai Wang Gui, ―Anak Ding Tao, apakah kau sudah yakin?‖
Ding Tao menjawab pendek, ―Tetua Bai Chungho, soal menang atau kalah, aku sendiri tidak punya keyakinan 100%. Tapi soal apakah aku harus menghadapinya atau tidak, itu aku sudah yakin.‖
Bai Chungho hanya bisa mendesah, ―Baiklah kalau tekadmu sudah bulat, dengar hati-hati dengan kukunya yang runcing, karena tiap kuku mengandung bisa. Setiap kali hendak melakukan pukulan jarak jauh, setan tua itu tentu akan mengangkat tangan setinggi pundak, merapat di depan dada.
2140
Jika warna telapak tangannya berubah kehitaman, berarti pukulannya beracun, tidak perlu kau tangkis, lebih baik kau hindari sambil menahan nafas.‖
Hua Ng Lau menyambung, ―Pukulan beracun itu sendiri tidak bisa digunakan terlalu sering, pada dasarnya pukulan itu dilakukan dengan cara mengumpulkan darah beracun di telapak tangannya, kemudian dengan kukunya yang tajam dia menggores telapak tangannya sendiri. Setelah itu dia menghentakkan hawa murni dalam bentuk pukulan tenaga dalam. Dengan cara itu darah beracunnya akan menyembur sesuai dengan arah pukulan.‖
―Luka yang dia buat tidak boleh terlalu besar, jika terlalu besar maka darah yang disemburkan tidak akan berupa kabut seperti yang kita lihat, selain juga darah yang menyembur akan terlalu banyak. Bagaimana pun juga cara itu merugikan diri sendiri karena jika darah terlampau banyak berkurang tentu saja tubuh akan menjadi lemah.‖, demikian Hua Ng Lau mencoba menjelaskan tentang pukulan beracun Thai Wang Gui.
Xun Siaoma yang sudah ada di sana ikut memberikan nasihat, ―Sebenarnya berat untuk mengatakan hal ini, tapi ilmu pedang setan tua itu, punya kemiripan dengan ilmu pedang Hoashan.
2141
Kau sudah pernah berhadapan denganku, juga dengan Pan Jun. Jadi kukira kau sudah cukup mengerti, setiap gerakan tentu diiringi penggunaan hawa murni yang mantap, jadi hati-hati kalau beradu pedang.‖
Pendeta Chongxan pun ikut memberi masukan, ―Terutama harus perhatikan penggunaan hawa murnimu, begitu kau merasa hawa murnimu terhisap, segera cari jalan mundur dan hentikan pengerahan hawa murni. Juga jangan berpikir karena kau menggunakan pedang dia tidak bisa menghisap hawa murnimu lewat perantaraan pedangnya.‖
Lanjutnya lagi, ―Jika kau perhatikan baik-baik langkah kakinya, perkembangannya tidak lebih dari 3. Dia mungkin menggunakan macam-macam gerak tipu, namun perubahan gerak tubuhnya hanya ada 3. Waktunya terlalu singkat untuk kujelaskan, tapi aku percaya asalkan kau perhatikan baik-baik kau akan bisa memahaminya.‖
―Petunjuk Pendeta Chongxan ini sangat berharga, ingatlah pada beberapa gebrakan pertama kau perhatikan baik-baik ilmu langkah dari Setan Tua itu, karena lawan menggunakan Xi Xing Da Fa, dalam menghadapi serangan lawan pilihannya tinggal menghindar.‖, ujar Xun Siaoma mengingatkan.
2142
Terharu juga Ding Tao oleh perhatian sekalian orang tua itu, dia mengangguk dengan sungguh-sungguh, ―Terima kasih atas petunjuk tetua sekalian, aku akan mengingatnya baik-baik. Jangan khawatir masalah pemilihan Wulin Mengzhu, sekuat tenaga tidak akan kubiarkan dia mendapatkannya. Jika perlu aku akan mengadu jiwa dengan dia.‖
Bhiksu Khongzhen yang sejak tadi hanya diam berdiri menghela nafas dan berkata, ―Justru itu yang membuat kami khawatir. Kami yang tua ini tidak ingin melihatmu beradu nyawa dengannya, tapi membiarkan dia menduduki kedudukan Wulin Mengzhu juga adalah satu hal yang berbahaya. Itu sebabnya kami mendahuluimu maju mendapatkan dia. Kalaupun ada yang beradu nyawa, biarlah kami yang tua-tua ini.‖
Jangan kata Ding Tao bukan orang yang perasa, mendengar perkataan Bhiksu Khongzhen yang begitu mengasihi dirinya pemuda ini pun merasa kedua bola matanya memanas, sambil mengerjapkan mata dan menahan agar tidak ada air mata yang jatuh pemuda itu membungkuk dalam-dalam. Tidak berani dia mengucapkan sesuatu, karena dia tidak tahu apakah nanti dia bisa bicara dengan jelas atau tidak. Tanpa panjang kata lagi, pemuda ini pun meninggalkan orang-orang tua yang menaruh banyak harapan padanya.
2143
Thai Wang Gui berdiri sendirian di tengah panggung. Shao Wang Gui dan Wu Shan Yee menyisih ke bawah. Ding Tao belum pernah berjumpa dengan orang setinggi Thai Wang Gui. Tingginya sendiri termasuk di atas rata-rata kebanyakan orang. Sering dia berhadapan dengan orang yang lebih pendek dari dirinya, terkadang sama tinggi, tapi belum pernah dia harus sedikit menengadahkan kepala agar dapat menatap mata lawannya.
―Heheheheh… anak muda… apa kau sudah selesai mendengar nasihat orang-orang tua itu? Ku harap kau tidak jadi ketakutan setelah mendengar dongeng mereka. Tapi kalau kau merasa takut, tidak ada salahnya kau mundur sekarang.‖, ujar Thai Wang Gui dengan tawa mengejek.
―Tidak perlu menghina orang, aku tidak takut padamu. Jika kau sudah siap, lebih baik kita mulai saja pertarungan ini.‖, jawab Ding Tao dengan singkat.
―Hmmm… anak muda memang bersemangat… baiklah tapi jangan nanti kau minta-minta ampun jika kita sudah memulainya.‖, ujar Thai Wang Gui dengan mata berkilat marah.
2144
Lucu memang dia yang menghina orang tapi sekarang dia yang marah. Seakan-akan jika ada orang yang tidak takut pada ancamannya, hal itu adalah satu penghinaan buat dirinya. Tapi memang demikian kenyataannya, ada orang-orang yang merasa derajatnya jadi lebih tinggi dibandingkan manusia lain, saat dia bisa membuat orang ketakutan pada dirinya. Entah seorang atasan saat berhadapan dengan bawahan, atau seorang kaya saat berhadapan dengan si miskin. Perlakuan tunduk dan hormat karena takut, dia pandang sebagai satu penghargaan. Thai Wang Gui rupanya juga tidak lepas dari sifat demikian. Ding Tao yang masih muda, dipandangnya rendah dan menurut perasaannya harus merasa takut pada dirinya. Ding Tao yang tidak merasa takut pada dirinya adalah sebuah penghinaan.
―Kaupun jangan minta ampun setelah kita memulainya. Untuk perbuatanmu di Wuling, aku tidak akan mengampunimu.‖, jawab Ding Tao dengan tidak kalah dingin mengancam.
―Cucu kura-kura! Demit! Setan alas! Akan kurobek mulutmu anak muda!‖, geram Thai Wang Gui dengan marah.
2145
―Jaga mulutmu baik-baik atau nanti aku yang merobek mulutmu.‖, timpal Ding Tao dengan ringan, sementara matanya mengawasi lawan tanpa berkedip sedikitpun.
Benar saja kemarahan Thai Wang Gui sudah sampai di ubun-ubun, tanpa banyak berbicara lagi, tanpa peringatan, pedang angin berbisik menebas dengan cepat ke arah mulut Ding Tao. Rupanya Thai Wang Gui benar-benar tersinggung dan ingin merobek mulut pemuda itu untuk membuktikan ancamannya dan mengembalikan harga dirinya. Gerakan Thai Wang Gui benar-benar cepat, tubuhnya yang besar tidak membuat gerakannya jadi lamban, namun Ding Tao tidak kalah cepat, tanpa ragu pemuda itu menangkis serangan Thai Wang Gui dengan pedang yang entah sejak kapan sudah terhunus di tangannya. Tanpa menggeser kakinya sedikitpun, bahkan badannya pun tidak bergerak, Ding Tao menggerakkan pedangnya ke atas dengan gerakan melingkar, menghadang Pedang Angin Berbisik yang menebas cepat ke arah mukanya. Hasilnya sungguh mengejutkan bagi semua orang, terutama bagi Thai Wang Gui. Percikan bunga api pun melompat saat dua bilah pedang yang terbuat dari bahan yang sama itu berbenturan. Selain Ding Tao dan para pengikut utamanya, tidak ada yang tahu bahwa Pedang Pusaka di tangan Ding Tao
2146
adalah kembaran dari Pedang Angin Berbisik, dibuat dengan bahan yang sama dan oleh ahli pembuat pedang yang sama.
Pedang Angin Berbisik sedikit lebih ringan, sedikit lebih lentur, sedikit lebih panjang dan sedikit lebih tajam, tapi bukan berarti kualitas pedang pusaka yang ada pada Ding Tao berada di bawah Pedang Angin Berbisik. Perbedaan di antara kedua pedang itu tak ubahnya Yin dan Yang dalam Tao. Tidak ada yang lebih di atas atau di bawah, semuanya tergantung bagaimana cara pemakaiannya saja.
Bentuk pedang di tangan Ding Tao justru sangat sesuai untuk bertahan. Karena lebih berat, saat berbenturan dengan Pedang Angin berbisik, maka Pedang Angin Berbisik yang lebih ringan yang terpental lebih jauh, meskipun tenaga yang digunakan pemiliknya tidak jauh berbeda. Juga karena lebih pendek maka lebih mudah diatur pergerakannya sesuai dengan kemauan Ding Tao. Tadinya semua orang termasuk Thai Wang Gui menganggap Ding Tao terlalu sembrono, menangkis Pedang Angin Berbisik di tangan Thai Wang Gui, maklum saja jika Ding Tao ingin menggunakan hawa murni untuk menguatkan pedang, maka Thai Wang Gui memiliki Xi Xing Da Fa. Jika tidak, maka Thai Wang Gui memiliki Pedang Angin Berbisik. Tapi kenyataannya Ding Tao tidak mengandalkan hawa
2147
murninya, sehingga Thai Wang Gui tidak bisa memanfaatkan Xi Xing Da Fa dan di hadapan pedang pusaka Ding Tao ternyata Pedang Angin Berbisik tidak bisa berbuat banyak. Wajah-wajah mereka yang tadinya mengkhawatirkan Ding Tao pun berubah jadi lebih cerah. Meskipun setiap orang tahu Ding Tao memiliki pedang pusaka, tapi sungguh di luar dugaan mereka bahwa pedang pusaka Ding Tao bisa menyamai Pedang Angin Berbisik yang dipandang sebagai rajanya pedang pusaka.
Merasakan pedang pusakanya terpental balik, Thai Wang Gui ikut melompat mundur, sekilas dia memeriksa keadaan Pedang Angin Berbisik, ketika dilihatnya tidak muncul cacat pada bilah pedang, barulah hatinya merasa lega. Saat Thai Wang Gui memeriksa pedangnya, dengan ujung matanya Ding Tao pun melirik sekilas ke arah pedang yang sekarang terangkat di sisi kepalanya.
Pendekar pedang di mana pun sama, menilai pedang melebihi nyawa sendiri. Apalagi Pedang Angin Berbisik adalah senjata pusaka yang tidak ada bandingannya.
Setelah yakin tidak terjadi apa-apa pada pedangnya Thai Wang Gui pun menengok ke arah Ding Tao dan dilihatnya pemuda itu berdiri dengan tenang sambil tersenyum mengejek. Tidak
2148
sedikitpun dia bergeser dari tempatnya yang semula. Ditambah lagi dengan tangan kirinya yang tergantung di bahunya, sungguh penampilan Ding Tao itu membuat hati Thai Wang Gui makin terbakar.
―Keparat! Jangan terburu sombong!‖, teriaknya sambil melesat maju untuk kedua kalinya.
Entah siapa yang sebenarnya sombong, sekali lagi Thai Wang Gui mencecar Ding Tao di bagian wajahnya. Dalam hati dia masih yakin bahwa pedang pusaka yang ada di tangannya lebih baik dibandingkan pedang pusaka milik Ding Tao dan untuk menggandakan kekuatan Pedang Angin Berbisik, Thai Wang Gui pun mengerahkan hawa murninya, mengalirkannya pada Pedang Angin Berbisik yang ada di tangannya.
Menurut perkiraan Thai Wang Gui, pedang di tangan Ding Tao tentu akan terpental oleh Pedang Angin Berbisik. Siapa sangka di saat dirinya menyerang dengan menggunakan hawa murni, Ding Tao pun menggerakkan pedangnya untuk menangkis serangan Thai Wang Gui dilambari dengan hawa murni juga. Sekali lagi serangan Thai Wang Gui digagalkan Ding Tao tanpa harus menggeser tubuhnya sedikitpun. Gagal untuk kedua kalinya tidak membuat Thai Wang Gui mempertimbangkan
2149
kembali penilaiannya atas Ding Tao, kegagalannya ini justru membuat emosinya naik dan makin penasaran. Maka riuh rendah kaki gunung Songshan dentangan dua pedang berbenturan berkali-kali, sedemikian cepat dalam waktu yang singkat. Tubuh Thai Wang Gui bergerak dengan cepat, demikian pula serangan pedangnya. Begitu cepatnya hingga bagi yang tidak terbiasa, tubuh Thai Wang Gui terlihat mengabur, sesekali terlihat seperti berada di dua tempat sekaligus.
Sementara dengan tenangnya Ding Tao menangkis tiap-tiap serangan tanpa bergeser sedikitpun dair posisinya semula. Mengundang kekaguman dari mereka yang menyaksikan, mengundang rasa marah dan kesal pada mereka yang membenci dirinya.
Bola mata Thai Wang Gui sampai melotot hampir melompat keluar dari tempatnya, betapa tidak, dia begitu yakin pada ketajaman Pedang Angin Berbisik, dia menyerang seperti seorang tukang kayu menebang pohon. Dalam bayangannya setelah belasan kali berbenturan pedang Ding Tao akan gempil di sana sini dan kemudian putus dibabat habis. Tapi sekian lama dia menyerang pedang Ding Tao tidak luka sedikitpun, malah dia yang terlihat seperti orang bodoh. Semakin
2150
penasaran kali ini Thai Wang Gui berniat membuat Ding Tao kecolongan, dia menyerang dengan Xi Xing Da Fa disiapkan untuk menghisap hawa murni lawan yang jelas-jelas mengaliri pedang.
Bwettt…! Tang!
Sekali lagi Thai Wang Gui dibuat malu, jika tadi Ding Tao menangkis pedangnya dengan menggunakan hawa murni sekarang Ding Tao menangkis pedangnya melulu dengan tenaga luar.
Betapa gemas hati Thai Wang Gui, dengan sebuah teriakan liar yang mengerikan dia bergerak dua kali lebih cepat. Terkadang menggunakan hawa murni untuk menguatkan serangan, terkadang tanpa menggunakan hawa murni karena dia bersiap menggunakan Xi Xing Da Fa untuk menghisap hawa murni Ding Tao, dan itu tidak bisa dia lakukan jika dia mengerahkan hawa murninya. Tapi betapapun dia mencoba, Ding Tao selalu berhasil ―menebak‖ dengan tepat siasat yang dia pakai. Ketika Thai Wang Gui menyerang dengan Xi Xing Da Fa, Ding Tao menangkis dengan tenaga luar. Ketika Thai Wang Gui menyerang dengan hawa murni mengaliri pedang, Ding Tao juga menangkis dengan cara yang sama.
2151
Seakan mau pecah kepala Thai Wang Gui oleh rasa marah, muak dengan senyum tersungging di wajah Ding Tao yang tidak juga hilang, dia pun mengerahkan segenap hawa murninya dan menyerang sehebat-hebatnya. Pedang Angin Berbisik yang selalu bergerak hampir-hampir tanpa suara pun sampai dibuat mendengung dengan keras, karena selagi menebas Pedang Angin Berbisik juga bergetar dengan cepat oleh sebab besarnya hawa murni yang dihentakkan oleh Thai Wang Gui.
Di saat Thai Wang Gui sudah sampai pada puncak kemarahannya ini, justru Ding Tao bergerak menghindar, kakinya sedikit merendah dan tubuhnya meliuk ke belakang, menghindari Pedang Angin Berbisik yang lewat tipis saja melintasi ujung hidungnya. Begitu serangan Thai Wang Gui lewat, tubuh Ding Tao sudah meliuk ke depan dan ganti menyerang.
Sekalinya menyerang Ding Tao tidak menyerang setengah-setengah, pedang pusaka di tangan Ding Tao dalam sekejapan berubah seperti belasan bintang jatuh dari atas langit. Inilah jurus pedang yang dia hadapi dalam pertarungannya yang pertama. Inilah jurus hujan bintang jatuh milik Wang Chen Jin, musuh pertama dalam hidupnya, sekaligus orang yang
2152
mendorong dia terjun dalam dunia persilatan. Jurus boleh sama, tapi yang melakukan beda orangnya, di tangan Ding Tao jurus ini berkali lipat berkembang kehebatannya. Wibawanya benar-benar mengerikan, rasa marah Thai Wang Gui yang meluap-luap, seketika itu juga hilang lenyap, digantikan rasa takut yang luar biasa. Hawa kematian mencekam Thai Wang Gui, ketika dia sadar sudah jatuh dalam jebakan lawan. Oleh karena kesombongan dan nafsunya sendiri dia melupakan pertahanan, tidak terpikir lawan akan menghindar apalagi balik menyerang.
Sebelum otak Thai Wang Gui bekerja, tubuhnya sudah terlebih dahulu mengambil keputusan. Tanpa malu-malu setan tua itu pun melompat bergulingan, menjauh dari serangan pedang Ding Tao yang seakan-akan berubah menjadi malaikat mau yang mengejar nyawanya.
Saat dia sadar dan melompat berdiri, barulah dia melihat, ternyata Ding Tao masih juga belum beranjak dari posisinya semula. Berbarengan dengan itu terdengarlah suara sorak sorai meledak dari antara mereka yang menyaksikan pertarungan itu. Bukan hanya sorak sorai, bahkan di sana sini tidak sedikit terdengar suara tawa meledak.
2153
―Keparat! Keparat! Kutu busuk! Anjing kurap!‖, Thai Wang Gui komat-kamit sendiri dengan wajah merah padam menahan malu.
Sementara Shao Wang Gui dan Wu Shan Yee yang jadi pendukung Thai Wang Gui hanya bisa menundukkan kepala sambil mengomel perlahan-lahan.
Tidak sedikit di antara penonton yang tertawa menyaksikan Thai Wang Gui bergulingan di atas lantai, namun di antara mereka yang berdiri dekat Shao Wang Gui mungkin hanya dua orang ini saja yang berani tertawa.
―Tidak kusangka iblis tua seperti Thai Wang Gui pun ternyata punya ilmu anjing merangkak yang hebat.‖, seru seorang dari mereka yang begitu terkesima dengan pameran Ding Tao mempermainkan Thai Wang Gui.
Ucapan itu disambut tawa oleh rekan yang berdiri di sebelahnya. Usia mereka masih muda, jika tidak mungkin ingatan akan kekejaman sepasang raja iblis itu akan menjaga mulut mereka untuk tidak sembarangan terbuka. Telinga Shao Wang Gui yang sudah sejak tadi merasa dikili-kili oleh sorak sorai seluruh orang di kaki Gunung Songshan itu pun berubah
2154
warna jadi merah. Kebetulan hatinya sudah panas melihat kebodohan Thai Wang Gui yang kena dipermainkan oleh lawannya yang lebih muda. Tanpa banyak cakap Shao Wang Gui berjalan ke arah dua orang muda itu. Sebelum mereka bisa berkata satu patah kata pun, tangannya sudah bergerak cepat menyodok ulu hati mereka.
―Hukk…!‖, suara tertahan keluar dari tenggorokan kedua orang muda itu.
Dan tanpa banyak kata lagi mereka pun berjatuhan ke atas tanah seperti lalat kena pukul. Nyawanya hilang seketika itu juga. Mereka yang berdiri di situ hanya bisa memandang dengan alis terangkat, tapi begitu pandang mata mereka bentrok dengan pandang mata Shao Wang Gui, seketika itu juga mulut tiap orang terkatup rapat. Selesai membunuh dua orang muda itu, perasaan Shao Wang Gui terasa sedikit lebih ringan. Sekali lagi dia menatap ke orang-orang yang ada di sekelilingnya. Melihat mereka terdiam ketakutan, Shao Wang Gui pun berjalan kembali ke sisi Wu Shan Yee yang sedang menyaksikan pertarungan antara Ding Tao dan Thai Wang Gui.
Sungguh sembrono dua orang muda itu, namun memang sungguh hebat kejadian yang mereka saksikan hari ini,
2155
sehingga sulit juga untuk menyalahkan mereka. Seorang tokoh tua yang ditakuti bahkan baru saja menunjukkan kehebatannya saat dikerubuti oleh jagoan-jagoan nomor satu di dunia persilatan bisa jadi kecundang di tangan seorang muda. Sebenarnya hal ini terjadi bukan melulu karena kehebatan Ding Tao, selihai-lihainya Ding Tao toh belum bisa melampaui kehebatan Bhiksu Khongzhen. Juga bukan melulu karena terbantu oleh pedang pusakanya yang mampu mengimbangi Pedang Angin Berbisik di tangan Thai Wang Gui. Yang menjadi sebab utama justru adalah kesombongan Thai Wang Gui sendiri, kesombongan yang berubah menjadi senjata terhebat untuk melawan dirinya. Karena sombong dan memandang rendah Ding Tao, amarahnya jadi bangkit oleh keberanian pemuda itu. Karena marah, diapun termakan oleh perkataan pemuda itu. Sedari tadi yang diserang hanyalah mulut Ding Tao, yang ingin dia robek untuk membuktikan kelebihannya atas pemuda itu. Semahir-mahirnya Thai Wang Gui bermain pedang, jika hanya ada satu sasaran untuk dijaga, tentu saja tidak sulit untuk menjaga diri dari serangannya itu.
Memang Thai Wang Gui punya Pedang Angin Berbisik dan juga punya Xi Xing Da Fa. Tapi sungguh kebetulan di tangan Ding Tao ada pedang yang bisa menandingi Pedang Angin
2156
Berbisik. Juga pemuda itu sudah begitu lama mengenal Pedang Angin Berbisik, meskipun hanya ada sedikit perbedaan yang mungkin orang tidak akan melihat atau lebih tepatnya mendengar, tapi Ding Tao tahu dan mengenalinya, suara Pedang Angin Berbisik yang bergerak saat dilambari hawa murni dan Pedang Angin Berbisik yang bergerak dalam keadaan kosong tanpa dialiri hawa murni.
Seharusnya Thai Wang Gui menyadari hal ini dalam belasan jurus saja, namun amarah dan kesombongan sudah membutakan akal sehatnya. Pada puncaknya ketika dia menyerang dengan sepenuh tenaga, sudah hilang sama sekali dalam benaknya, bahwa ada kemungkinan Ding Tao akan menghindar dan balik menyerang. Puluhan serangan sebelumnya seakan sudah melekat kuat dalam benak Thai Wang Gui, bahwa jika diserang tentu akan ditangkis.
Gerakan Ding Tao yang di luar ―pakem‖ ini membuat Thai Wang Gui kehilangan akal, untuk sejenak kesadarannya melayang-layang, kehilangan pijakan. Seperti orang bodoh yang dibacakan sajak dari penyair terkenal, hanya bisa mendengarkan dengan mulut terbuka, mata terbelalak dan otak kosong. Dalam keadaan kosong ini Ding Tao menyerang dengan serangan yang membawa hawa kematian sedemikian
2157
kuat. Sehingga tubuh Thai Wang Gui pun bereaksi, digerakkan melulu oleh naluri untuk bertahan hidupnya yang primitif, tidak lagi mengenal siasat apa lagi masalah harga diri. Siapa sangka, Ding Tao pun sudah berhitung bahwa dia tidak akan dapat melukai Thai Wang Gui dalam satu serangan itu, sehingga jurus yang digunakan pun tidak diteruskan, melulu hanya menghentakkan semangat dan hawa pembunuh dalam jurus, sementara orangnya diam di tempat.
Meskipun tubuh Thai Wang Gui tidak terluka, harga dirinya terluka habis-habisan, di depan puluhan ribu orang dia dibuat jadi bahan tertawaan.
―Raja besar iblis, apakah sudah selesai kau bergulingan? Apa bisa kita mulai lagi pertarungan ini?‖, tanya Ding Tao dari tempatnya, dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.
Serasa mau pingsan Thai Wang Gui, karena darahnya mengalir begitu cepat ke kepala. Dengan rambut setengah berdiri, setan tua itu pun melolong dan kembali berkelebat menyerang. Kali ini Ding Tao tidak bisa lagi bermain-main, sebelum orangnya sampai sebuah pukulan jarak jauh sudah dilontarkan. Mata Ding Tao yang tajam melihat telapak tangan Thai Wang Gui
2158
sudah berubah warna saat diangkat ke depan dada, teringat pesan-pesan Bhiksu Khongzhen dan yang lainnya, dia pun bergerak menghindar sambil menutup jalan pernafasan. Benar saja sebuah kabut kehitaman segera saja menyembur dari telapak tangan Thai Wang Gui, untung saja Ding Tao sudah sigap menghindar dan kabut itu pun hanya melintas saja tanpa membahayakan dirinya.
Tapi sebelum sempat dia bergerak lebih jauh, Thai Wang Gui sudah sampai di depannya. Harus diakui Thai Wang Gui yang murka, berkali lipat lebih menakutkan, dalam satu tarikan nafas saja Pedang Angin Berbisik sudah 4 kali disabetkan. Ding Tao tidak kehilangan nyali oleh tandang Thai Wang Gui yang trengginas, pedang pusaka di tangannya tidak kalah cepat bergerak menangkis serangan Thai Wang Gui.
Kali ini Ding Tao tidak berdiam diri di tempat, serangan Thai Wang Gui pun tidak sesederhana tadi. Pedang di tangannya bergerak ke sana dan ke mari, mencari-cari setiap celah yang terbuka dalam pertahanan Ding Tao. Tangan kirinya pun tidak diam menganggur, kuku-kukunya yang tajam tidak ubahnya 5 mata pedang yang berkeliaran mencari mangsa. Jika tadi Ding Tao bisa melayani serangan Thai Wang Gui tanpa bergeser tempat sedikitpun tidak demikian kali ini. Pemuda itu dipaksa
2159
berlarian ke seluruh penjuru, tangan kirinya yang patah membuat dia tidak bisa bertahan dengan maksimal. Jika bukan karena pengamatannya yang tajam dan ilmu barunya, mungkin sudah sejak tadi Ding Tao terkapar tak bernyawa, dihabisi oleh amukan Thai Wang Gui yang sudah kalap.
Kekalapan Thai Wang Gui memang cukup merepotkan, hanya dengan otak yang jernih dan hati yang tenang baru Ding Tao bisa menghadapi tokoh sesat itu. Bukan hanya mata tapi seluruh daya tangkap yang ada pada dirinya, menganalisa keadaan di sekelilingnya. Sejak dia mulai terjun dalam dunia persilatan, inilah lawan terkuat yang pernah dia hadapi.
Apalagi saat ini dia berada dalam kondisi yang tidak sempurna, bertarung dengan sebelah tangan dalam keadaan patah.
Belasan jurus sudah berlalu, menginjak jurus ke-20 bahkan sampai jurus ke-30, Ding Tao belum juga bergerak menyerang. Peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya, sementara Thai Wang Gui masih segar bugar, tidak aneh, karena sebelum pertarungan ini dia dan Shao Wang Gui sudah menghisap hawa murni 18 orang bhiksu Shaolin ditambah hawa murni Bhiksu Khongti. Meskipun sedikit banyak hawa murni yang mereka serap itu sudah terpakai saat melawan Bhiksu
2160
Khongzhen, Pendeta Chongxan, Bai Chungho, Xun Siaoma dan Hua Ng Lau, apa yang sudah mereka hisap masih lebih dariapa yang mereka hamburkan hari ini.
Xi Xing Da Fa sendiri bukannya tanpa cacat, hawa murni yang dihisap haruslah digunakan, bagaimanapun juga Xi Xing Da Fa tidak mampu menyatukan hawa murni yang dia hisap dengan hawa murni pemiliknya. Tapi jika digunakan secara berlebihan dalam waktu yang singkat, juga dapat merusak tubuh pemakainya.
Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui tidak malu dianggap dedengkot dari para tokoh sesat pada masa mereka. Pusat-pusat dan jalur-jalur energi dalam tubuh mereka hampir mendekati sempurna. Dengan begitu mereka bisa menggunakan Xi Xing Da Fa untuk menghisap lebih banyak hawa murni dibandingkan orang biasa. Mereka juga bisa menyimpan hawa murni hasil hisapan Xi Xing Da Fa lebih lama dibandingkan kebanyakan orang.
Kecepatan Thai Wang Gui tidak juga berkurang, sementara Ding Tao belum juga bisa balik menyerang. Apakah ini tanda bahwa perlawanan Ding Tao akan segera berakhir?
2161
Jika banyak orang mulai merasa khawatir pada keadan Ding Tao, wajah Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang tadinya tegang justru mulai mencair.
―Lihat… dia sudah mulai memahami polanya‖, demikian kata Pendeta Chongxan.
―Hmm… dia memang berbakat, bukan hanya berotak cerdas, dia juga memiliki keberanian dan yang terpenting kesabaran yang jarang dimiliki oleh orang seusianya.‖, jawab Bhikshu Khongzhen sambil mengangguk-angguk.
―Apakah yang dimaksudkan ketua adalah tentang 3 perubahan gerak tubuh milik Thai Wang Gui?‖, tanya Bai Chungho yang ikut mendengarkan.
―Benar, sejak tadi Ketua Ding Tao tidak menyerang, hal itu bukan melulu karena kecepatan dan keganasan serangan dari Thai Wang Gui. Selama itu Ketua Ding Tao terus mengamati berbagai macam pola dari serangan Thai Wang Gui. Hingga sekarang dia masih menghindar tanpa membalas, tapi sejak jurus ke-37, jika diamati dengan jeli ada satu perubahan yang mendasar. Ketua Ding Tao sudah mampu menghindar dengan gerakan paling sedikit dari setiap kemungkinan yang ada.‖,
2162
jawab Bhikshu Khongzhen sambil menoleh ke arah Bai Chungho.
Sebuah senyum lebar terbentuk di wajah Bai Chungho, ―Heheheh, bagus. Itu artinya setiap serangan setan tua itu sudah terbaca oleh Ketua Ding Tao. Tinggal menunggu waktu sebelum dia tersungkur mencium tanah di hadapan anak muda itu.‖
Pendeta Chongxan ikut tersenyum mendengar perkataan Bai Chungho, namun dia mengingatkan dengan sopan, ―Tapi hasilnya belum bisa dipastikan, memang mulai jurus ke-37 Ketua Ding Tao berhasil membaca pergerakan Thai Wang Gui. Namun tenaganya sudah banyak terkuras habis, sementara Thai Wang Gui masih segar bugar. Pula Thai Wang Gui belum menggunakan seluruh ilmu yang dia miliki. Masih terlalu awal untuk memperkirakan hasil pertarungan, namun setidaknya kesempatan Ketua Ding Tao untuk menang sedikit bertambah.‖
Bai Chungho pun terdiam dan kembali mengamati pertarungan yang sedang terjadi. Ding Tao masih juga belum balas menyerang, namun pergerakannya jauh lebih efektif daripada serangan-serangan Thai Wang Gui yang menghamburkan tenaga. Ding Tao dengan cerdik memanfaatkan pedang
2163
pusakanya untuk menangkis atau menyelewengkan serangan Thai Wang Gui.
Seperti menyaksikan seorang matador mempermainkan seekor banteng yang ganas. Gerakan banteng tentu saja lebih kuat dan lebih cepat. Namun sang matador berhasil mempermainkan banteng itu dengan gerakan-gerakan kecilnya. Membuat si banteng bergerak ke sana dan ke mari, sementara sang matador hanya bergerser satu dua langkah untuk menghindari serangan banteng itu. Thai Wang Gui bukanlah banteng, meskipun butuh waktu beberapa lama, akhirnya dia paham juga dengan apa yang sudah terjadi. Mengetahui kunci gerakannya sudah terpegang di tangan orang, setan tua itu pun memutar otaknya. Tidak lagi dia memandang Ding Tao sebagai lawan yang tidak sederajat dengan dirinya. Meskipun mungkin butuh waktu lama untuk membuat kesombongannya mengakui kesalahan menilai orang, tapi Thai Wang Gui bukanlah orang bodoh.
Pada jurus ke 58, gerakan Thai Wang Gui pun berubah, tidak lagi sesederhana sebelumnya. Meskipun hanya 3 macam perubahan, namun yang 3 itu bila dikombinasikan dengan jurus tipu dan jurus yang sungguh-sungguh, menjadi jumlah yang sangat banyak kemungkinannya. Demikian pula dengan
2164
serangan-serangannya, memang jika Thai Wang Gui hendak melakukan pukulan jarak jauh, dia akan mengangkat tangan ke depan dada, tapi bukan berarti setiap kali dia mengangkat tangan ke depan dada, dia melakukan pukulan jarak jauh.
Bukan hanya Thai Wang Gui saja yang bertarung lebih serius, Ding Tao pun merasa dirinya sudah cukup lama mengamati gerakan lawan, pemuda itu tidak hanya bertahan saja tapi juga berusaha menyerang. Selepas jurus ke-60 mulailah pertarungan terlihat lebih berimbang. Bukan hanya Thai Wang Gui yang terus menerus mendesak Ding Tao, sesekali Ding Tao ganti menyerang dan mendesak Thai Wang Gui mundur ke belakang.
Tapi justru di saat keadaan seperti membaik untuk Ding Tao, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan justru menghela nafas dan menampilkan wajah khawatir.
―Ketua berdua, apakah keadaan Ding Tao lebih buruk dari sebelumnya?‖, tanya Bai Chungho yang ikut merasa khawatir.
―Hmm… belum ada kepastian… dalam satu pertarungan selalu saja ada kemungkinan hasilnya bisa berbalik di luar dugaan
2165
pengamat yang paling jeli sekalipun.‖, jawab Bhikshu Khongzhen dengan diplomatis.
Mendengar jawaban itu, tentu saja para pendukung Ding Tao yang mendengarnya jadi menciut hatinya. Dengan penuh rasa khawatir mereka memperhatikan pertarungan yang terjadi di atas panggung. Di antara mereka yang menyaksikan dengan penuh rasa cemas, ada pula Hua Ying Ying dan Wang Shu Lin. Tidak butuh waktu lama sebelum perkataan Bhiksu Khongzhen itu terbukti, hanya dalam belasan jurus, Ding Tao kembali terdesak. Bahkan beberapa kali Pedang Angin Berbisik sempat menggores tubuhnya.
Ding Tao berusaha untuk tetap tenang, ini bukan kali pertama dia harus menghadapi ancaman maut. Otaknya berputar keras, seluruh tubuhnya sudah bersimbah peluh, otot-ototnya mulai terasa berat untuk digerakkan.
Apakah perjalanannya akan berakhir di sini? Di tangan Thai Wang Gui, orang yang sudah membantai puluhan anggota keluarga Huang di Wuling. Di antara puluhan orang itu ada banyak sahabat yang dia kenal sejak kecil. Orang-orang yang kepada mereka dia berhutang budi. Nafasnya makin memburu, detak jantungnya berpacu, berdentam sedemikian keras
2166
sehingga serasa menulikan telinganya. Beberapa kali dia sudah melakukan kesalahan dan semakin lama semakin terperangkap oleh jurus-jurus yang dilancarakan Thai Wang Gui. Sebuah seringai kejam penuh kemenangan sudah terpeta di wajah dua orang setan tua itu. Shao Wang Gui yang sudah paham benar dengan permainan rekannya, sudah bisa membayangkan bagaimana pertarungan itu akan berakhir.
Tiba-tiba Shao Wang Gui berseru, ―Lima !‖
Thai Wang Gui melontarkan pukulan jarak jauh yang beracun, Ding Tao yang baru saja mendaratkan kakinya di atas panggung, dipaksa menjatuhkan badannya ke samping untuk menghindari pukulan beracun itu.
―Empat!‖, sekali lagi Shao Wang Gui berseru.
Pedang Thai Wang Gui bergulung menyerang Ding Tao yang masih bergulingan di atas lantai panggung. Sambil melenting berdiri dan berputar di udara, Ding Tao berusaha menangkis serangan itu dengan pedang pusakanya. Namun karena kuda-kudanya belum mantap, pedang Ding Tao pun terpental, hampir saja terlepas dari genggamannya.
2167
―Tiga!‖, Shao Wang Gui kembali berseru dan kali ini semua orang mulai bisa meraba, apa yang dimaksudkan Shao Wang Gui dengan seruan-seruannya itu.
Kelima jari Thai Wang Gui yang tidak memegang pedang, mengembang membentuk cakar garuda, menyambar ke wajah Ding Tao yang tidak sempat lagi menarik pedangnya untuk melindungi wajahnya dari serangan Thai Wang Gui. Sadar akan kuku-kuku Thai Wang Gui yang beracun, Ding Tao pun bergerak menghindar. Tidak ingin melepaskan pedang pusakanya, tubuh Ding Tao pun mengikuti gerakan pedangnya yang dipentalkan Thai Wang Gui, membentuk sebuah putaran, sambil sedikit merendahkan badan. Kuku-kuku jari Thai Wang Gui meleset tipis dan memutuskan ikat kepala Ding Tao. Pemuda itu terus berputar dan pedangnya sekarang bergerak menebas kaki Thai Wang Gui dari posisi yang lebih rendah.
―Dua!‖, Shao Wang Gui berseru kembali.
Jauh sebelum pedang Ding Tao sampai pada sasarannya, Pedang Angin Berbisik yang ada di tangan Thai Wang Gui sudah menebas lurus ke bawah, ke arah batok kepala Ding Tao, Ding Tao pun dipaksa untuk menarik kembali serangannya untuk menangkis serangan Thai Wang Gui.
2168
―Satu !‖, seru Shao Wang Gui dan jantung setiap orang pun terasa berhenti berdetak.
Serangan Thai Wang Gui menggunakan Pedang Angin Berbisik hanyalah sebuah pancingan, begitu pedang Ding Tao sudah berada di atas kepala. Tangan Thai Wang Gui dengan bebasnya diletakkan di dada Ding Tao. Meski Ding Tao sadar sudah jatuh dalam jebakan Thai Wang Gui, sudah tidak ada kesempatan baginya untuk menghindar.
Melihat kedudukan dirinya dan kedudukan Thai Wang Gui, menilik postur tubuh Thai Wang Gui saat ini, Ding Tao tidak melihat ada jalan untuk melepaskan diri dari telapak tangan Thai Wang Gui yang menempel di dadanya.
Mata mereka saling bertemu dan seringai kejam di wajah Thai Wang Gui semakin lebar. Meskipun Thai Wang Gui belum melakukan apa pun, mereka berdua sudah sama-sama tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
―Ketua Ding Tao… aku persembahkan padamu… Xi Xing Da Fa…‖, ucap Thai Wang Gui perlahan-lahan, menikmati saat-saat kemenangannya.
2169
Bukan hanya jantung Ding Tao yang berhenti berdenyut, puluhan bahkan ratusan denyut jantung mereka yang menyaksikan ikut serasa berhenti berdenyut ketika Shao Wang Gui sampai pada hitungan satu. Tangan Hua Ying Ying tanpa sadar mencengkeram tangan kakaknya erat-erat, sampai Huang Ren Fu mengerenyit menahan sakit. Lupa akan kedudukannya Hua Ying Ying tiba-tiba maju ke depan, mendekati para tetua yang menyaksikan pertarungan itu dengan tegang.
―Tetua… Ayah… cepat tolonglah Ding Tao… mengapa kalian tidak melakukan sesuatu? Nyawanya dalam bahaya.‖, seru Hua Ying Ying sambil menatap tidak mengerti ke arah mereka.
―Ying Ying… pertarungan belum berakhir…‖, jawab Hua Ng Lau dengan sedih.
―Apa maksud ayah? Bukankah sudah jelas Ding Tao yang kalah?‖, tanya Hua Ying Ying tidak mengerti.
Hua Ng Lau menghela nafas dengan sedih, mulutnya terbuka hendak menjelaskan namun tak sampai ada keluar kata-kata. Hua Ng Lau hanya menggelengkan kepala dengan sedih. Xun Siaoma-lah yang akhirnya menjelaskan.
2170
―Memang keadaan saat ini, tidak ubahnya seperti seekor kucing yang mempermainkan tikus yang sudah ditangkap. Tapi selama Thai Wang Gui belum memutuskan untuk menyelesaikan pertarungan, meskipun tipis harapan bagi Ding Tao, bukan berarti harapan itu hilang.‖, ujar Xun Siaoma menjelaskan.
―Nona… tenanglah, percayalah, kami pun tidak ingin melihat Ding Tao celaka. Begitu Thai Wang Gui menggunakan Xi Xing Da Fa untuk mengakhiri pertarungan dan kesempatan untuk menang itu sepenuhnya tertutup, aku danBhiksu Khongzhen akan maju ke depan untuk menyelamatkan Ketua Ding Tao.‖, ujar Pendeta Chongxan dengan prihatin.
―Kenapa harus menunggu selama itu? Apakah jabatan Wulin Mengzhu itu begitu besar artinya? Apakah demi jabatan itu kalian hendak mengorbankan Ding Tao?‖, ujar Hua Ying Ying sambil terisak menahan tangis.
―Ying Ying! Kendalikan dirimu. Ingat dengan siapa kau bicara?‖, tegur Hua Ng Lau dengan keras.
―Tidak apa… kami mengerti perasaan Nona Hua Ying Ying…‖, ujar Bhiksu Khongzhen sambil menepuk-nepuk pundak Hua Ying Ying untuk menenangkannya.
2171
―Lihatlah nona, lihatlah sorot mata Ketua Ding Tao‖, ujar Bhiksu Khongzhen pada Hua Ying Ying.
Dalam keadaan putus asa, Hua Ying Ying mengikuti perkataan Bhiksu Khongzhen, sambil menghapus air mata yang merebak, dia berusaha memandang ke arah Ding Tao yang berada di atas panggung.
―Lihatlah, sorot matanya masih menunjukkan keinginan untuk berjuang. Itu bukan sorot mata kekalahan. Jangan berpikir bahwa kesempatan itu hilang, selama seseorang masih mau berusaha, kesempatan tidak akan hilang. Jangan kita khianati keberaniannya dengan memutuskan sedikit harapan yang ada dengan tindakan kita.‖, ujar Bhiksu Khongzhen dengan sabar.
Hua Ying Ying memandang ke arah Hua Ng Lau, dengan senyum sedih Hua Ng Lau menganggukkan kepala dan membelai kepala puteri angkatnya itu, ―Bhiksu Khongzhen benar, kita tidak bisa mengkhinati semangat Ding Tao dengan tindakan kita yang terburu-buru. Percayalah, kami semua tidak akan tinggal diam dan menyaksikan Ding Tao celaka tanpa berbuat apa-apa.‖
2172
Masih terisak, akhirnya Hua Ying Ying pun menganggukkan kepala. Huang Ren Fu dengan tertatih-tatih mendekati adiknya, kemudian sambil berpegangan tangan mereka berdua menyaksikan pertarungan yang tengah terjadi di atas panggung. Saat itu Thai Wang Gui yang berada di atas angin berusaha menikmati kemenangannya.
―Anak muda… bagaimana? Apakah kau mau menyerah sekarang? Jika kau mau berlutut dan menyembahku sebanyak 3 kali aku akan mengampuni selembar nyawamu.‖, ujar Thai Wang Gui dengan senang.
Ding Tao tidak menjawab, pikirannya masih berputar dan mencari jalan. Sungguhpun dia tidak melihat ada jalan baginya untuk lepas dari tangan Thai Wang Gui yang melekat di dadanya. Tiba-tiba Ding Tao bergerak berputar, berusaha melepaskan telapak tangan Thai Wang Gui dari dadanya. Namun Thai Wang Gui dengan cepat berlari berputar mengikuti putaran Ding Tao. Sebenarnya putaran Ding Tao lebih kecil, sementara Thai Wang Gui harus bergerak mengitari Ding Tao. Seharusnya cepat atau lambat Thai Wang Gui akan ketinggalan dan Ding Tao bisa melepaskan diri dari ancaman Xi Xing Da Fa. Kenyataannya sudah beberapa kali mereka berputar, Thai Wang Gui masih bisa mengimbangi kecepatan
2173
Ding Tao. Pertama memang ilmu meringankan diri Thai Wang Gui lebih tinggi dari Ding Tao. Kedua, telapak tangan Thai Wang Gui yang menekan dada Ding Tao, dia gunakan juga sebagai rem untuk menahan gerakan Ding Tao.
Gagal melepaskan diri dengan putaran badan, Ding Tao berusaha menyerang tangan Thai Wang Gui yang menempel di dadanya. Namun dengan pedangnya Thai Wang Gui mencegah Ding Tao untuk menarik pedangnya mendekat ke dada.
Ding Tao pun mencoba bergerak mundur, pemuda itu menjejakkan kakinya kuat-kuat ke atas lantai, melemparkan dirinya sambil tetap berputaran. Namun Thai Wang Gui masih juga bisa mengikutinya.
Dengan cepat keduanya berubah jadi bayangan yang bergerak ke sana ke mari. Ding Tao bergerak secepat dia bisa tapi Thai Wang Gui menunjukkan kelebihannya sebagai seorang dedengkot tokoh sesat di jamannya. Sambil terkekeh-kekeh, Thai Wang Gui bergerak seperti sosok arwah penasaran yang menghantui Ding Tao.
2174
―Heheheheh, kau tidak bisa lari ke mana pun, menyerah saja… heheheheh‖, ujar Thai Wang Gui sambil terkekeh-kekeh.
Ding Tao terus bergerak sampai nafasnya putus dan kepalanya serasa hendak meledak oleh denyutan pembuluh darah dahinya. Terhuyung-huyung pemuda itu pun berhenti berlari, telapak tangan Thai Wang Gui masih menempel di dadanya. Pemuda itu pun mau tidak mau mengakui ketangguhan lawan, mau tidak mau dia harus mengakui bahwa tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk memenangkan pertarungan ini. Dengan pasrah dia berdiri menanti Thai Wang Gui mengirimkan serangan terakhir.
Melihat sorot keputus asa-an di mata Ding Tao, mata Thai Wang Gui-pun berkilat-kilat puas,dengan nada jumawa dia berkata, ―Heh, sudah siap untuk mati? Apa kau tidak mau menyembah-nyembahku untuk minta ampun?‖
Sorot mata Ding Tao yang tadinya penuh diwarnai keputus asa-an pun menyala, berkobar oleh rasa marah. Dadanya serasa ingin meledak menyaksikan kejumawaan Thai Wang Gui. Di saat-saat kemtian menjelang, sebuah pikiran melintas di benaknya. Satu-satunya perlawanan yang bisa dia lakukan.
2175
Seulas senyum terbentuk di wajah Ding Tao, ―Hahahaha, mau bunuh, bunuh saja. Tapi hati-hati jangan sampai kemudian kau terguling-guling karena terkejut lagi.‖
Alis Thai Wang Gui pun berkerut karena kesal, dia paling sebal jika ada lawan yang tidak ketakutan saat hendak dia bunuh. Meskipun bukan sekali dua, dia bertemu lawan seperti itu, tapi setiap kali dia berhadapan dengan orang yang demikian, perasaan kesal yang sama selalu mengganggunya. Tapi Ding Tao berkali-kali lipat lebih mengesalkan. Urat-urat di dahinya mulai menonjol keluar, wajahnya memerah oleh murka yang kembali meledak.
―Hmm… baiklah kalau begitu, melihat keberanianmu akan kuampuni nyawamu‖, ujarnya sambil menyeringai kejam.
Ya, terkadang dibiarkan hidup setelah berhadapan dengan Thai Wang Gui bisa terasa lebih sengsara daripada mati. Karena Thai Wang Gui tentu sudah punya rencana sendiri dalam benaknya bila dia berkata demikian. Rencana yang akan membuat setiap orang normal yang mendengarnya bergidik dan muntah-muntah. Apalagi bagi orang yang menjadi sasarannya.
2176
―Tapi pertama-tama, silahkan kau cicipi dulu hidangan pembukanya… Xi Xing Da Fa!‖, dengan kata-kata itu, Thai Wang Gui mengerahkan tenaga hisap Xi Xing Da Fa.
Seketika itu juga Ding Tao merasakan dadanya seperti dihunjam satu tenaga yang tak terlihat, tapi perasaan itu hanya sesaat saja, karena di detik berikutnya yang dia rasakan adalah hawa murninya terhisap keluar. Ding Tao sudah pasrah, tidak ada yang bisa dia pikirkan untuk menolak hisapan lawan. Memang benar Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan bisa menghindar dari Xi Xing Da Fa dengan mengosongkan bagian yang dihisap dari hawa murni untuk beberapa saat lamanya. Segera setelah Xi Xing Da Fa kehilangan sasaran, mereka mundur dan kembali mengalirkan hawa murni melalui bagian tersebut. Namun Thai Wang Gui berhasil menempelkan telapak tangannya di bagian dada, di pusat energi jantung Ding Tao. Tentu saja berbeda dengan kasus di mana Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui berusaha menggunakan Xi Xing Da Fa pada tangan atau pedang Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan saat mereka menangkis serangan.
Tidak mungkin Ding Tao mengosongkan pusat energi jantungnya dari hawa murni, jika demikian sama saja artinya dia membunuh diri.
2177
Tapi di saat yang kritis itulah terjadi sesuatu di luar kehendak atau lebih tepatnya di luar kesadaran Ding Tao sendiri. Digerakkan oleh naluri untuk bertahan hidup, tubuh Ding Tao-lah yang menggeliat dan menerapkan Yi Cun Kai di luar kesadarannya. Kehendak seseorang untuk bertahan hidup, kekuatan yang membuat seorang bayi menangis dan mencari tetek ibunya saat baru dilahirkan. Kekuatan yang melampaui kesadaran manusia sendiri.
Sebuah reaksi yang sulit ditentang oleh kesadaran manusia, seperti jika ada orang yang mendekatkan jarum pada bola mata, meskipun orang tersebut secara sadar berusaha sebisa mungkin tetap membuka kelopak mata, tapi pada saat jarum itu menyentuh bola mata atau bahkan mungkin sebelum tersentuh pun, kelopak mata akan bergerak menutup dengan sendirinya.
Seakan ada dua bagian dari diri manusia yang berebut hak mengambil keputusan, yang satu adalah alam sadarnya dan ada pula sisi lain yang berada di luar kesadarannya.
Demikian pula pada diri Ding Tao kali ini, secara sadar dia sudah berpasrah, namun secara tidak sadar, kemauan untuk terus bertahan hidup itu menggeliat dan berjuang. Pada awalnya pemuda ini hanya bisa mengamati apa yang terjadi
2178
pada tubuhnya, karena sudah tidak ada niatan untuk berjuang melawan serangan Thai Wang Gui, dibiarkannya saja tubuhnya bekerja tanpa dirinya melakukan sesuatu apa pun. Ding Tao hanya berdiri menjadi pengamat, menurut akalnya, semakin dia mengerahkan hawa murni tentu akan semakin banyak yang terhisap oleh lawan. Saat itu dia berpikir, lebih cepat lebih baik, daripada terus menerus dihinakan lawan yang mempermainkan dirinya seperti seekor kucing mempermainkan tikus tangkapannya.
Dan memang benar untuk beberapa saat hawa murninya seperti membobol dan terhisap dengan kuat. Ding Tao pun menutup mata, pasrah menerima kematian.
Tiba-tiba matanya terbuka lebar, terjadi sesuatu yang di luar perkiraannya, saat Yi Cun Kai mulai terbentuk di sekitar tubuhnya, justru semakin sedikit hawa murni yang terhisap keluar, padahal dia masih bisa merasakan tenaga hisap Xi Xing Da Fa tidaklah berkurang. Matanya yang terbuka lebar, berbentrokan dengan pandang mata Thai Wang Gui dan dalam sekejap mata itu pula Ding Tao menyadari bahwa Thai Wang Gui sama terkejutnya dengan dirinya.
2179
Sungguh sebuah satuan waktu yang sangat singkat, antara timbulnya kesadaran Ding Tao dan Thai Wang Gui bahwa telah terjadi sesuatu pada tubuh Ding Tao yang menahan tenaga hisap Xi Xing Da Fa, sampai pada akhir dari pertarungan. Waktu itu menjadi singkat karena pada saat dia menyadari bahwa perkembangan itu di luar perhitungan Thai Wang Gui, serentak semangatnya untuk tidak menyerah pun bangkit. Di saat yang singkat itu, otak Ding Tao bekerja dengan cepat, pertama dia sadar jika diukur tinggi rendahnya ilmu, dia masih 2 atau 3 tingkat di bawah Thai Wang Gui. Kesempatan yang muncul oleh kejadian ini adalah kesempatan yang langka. Kalaupun dirinya berhasil membebaskan diri dari Xi Xing Da Fa, jika Thai Wang Gui masih hidup, maka dirinya akan jatuh dalam permainan jurus-jurus Thai Wang Gui untuk kedua kalinya.
Kedua kesempatan seperti saat ini belum tentu akan muncul kembali untuk kedua kalinya. Oleh karena itu dia harus bertindak sekarang juga memanfaatkan keterkejutan Thai Wang Gui yang menggoyahkan kedudukan iblis tua itu.
Bertarung terus menerus dalam tekanan, membuat seluruh urat syaraf di tubuh Ding Tao menajam. Pemikiran ini berjalan seperti kilat, sebelum Ding Tao sampai pada akhir pemikirannya, tangan kanannya yang memegang pedang
2180
sudah meluncur turun, menusuk Thai Wang Gui dari atas ke bawah.
Thai Wang Gui justru berbeda, keterkejutannya tidak membuat benaknya bergerak dengan cepat dan mengambil keputusan yang penting yang menolong dirinya. Semenjak puluhan jurus dia merasa berada di atas angin, Thai Wang Gui bertarung tanpa ada tekanan. Ketika tiba-tiba Xi Xing Da Fa seperti menghisap karet yang liat, bukannya menghentikan Xi Xing Da Fa dan menjauh, iblis tua itu justru merasa penasaran dan berusaha memperkuat daya hisap Xi Xing Da Fa sambil berusaha mengamati dan menganalisa apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Sebenarnya bisa dikatakan Yi Cun Kai adalah lawan dari Xi Xing Da Fa, dengan Yi Cun Kai hawa murni yang tidak berwujud berubah sifat seakan-akan menjadi berwujud, sehingga membentuk selaput hawa pelindung di sekitar tubuh penggunanya. Hawa pelindung yang bukan saja menghentikan serangan halus tapi juga serangan kasar. Berbeda dengan kebanyakan ilmu kebal yang ada pada saat itu, misalnya Ilmu baju besi milik Shaolin, di mana hawa murni digunakan untuk menguatkan bagian-bagian tubuh tertentu. Karena berubah sifatnya inilah Xi Xing Da Fa kesulitan untuk menghisapnya.
2181
Meskipun lambat, tapi perlahan-lahan Thai Wang Gui mulai bisa meraba apa yang sedang terjadi. Namun percuma saja dia memahami hal ini karena pada saat itu pedang Ding Tao sedang meluncur ke arahnya tanpa dia sadari.
Karena pikirannya tidak lagi tertuju pada pertarungannya dengan Ding Tao yang secara tidak sadar sudah dia anggap selesai semenjak dia mengerahkan Xi Xing Da Fa, maka kesadarannya pun terlambat dalam menangkap serangan pedang Ding Tao yang datang bagai kilat.
Jika besi saja bisa dipotong, apalagi dengan daging dan tulang manusia. Decit suara pedang yang menembus tulang belulang terdengar saat pedang Ding Tao menembus tulang pundak Thai Wang Gui, terus melaju dan terus bergerak mengiris otot dan tulang-tulang rusuk hingga sampai di jantung Thai Wang Gui, terus tak berhenti hingga pedang itu keluar kembali di sisi yang lain dari tubuh Thai Wang Gui. Dengan mata terbelalak tak percaya, Thai Wang Gui pun jatuh tanpa daya dengan tubuh terbelah menjadi dua.
Melihat kengerian itu, kemarahan Ding Tao tiba-tiba menguap hilang digantikan oleh perasaan ngeri, jijik dan bersalah atas pembunuhan yang baru saja dia lakukan. Thai Wang Gui yang
2182
mati dengan cara mengerikan tidak terlihat seperti sosok iblis yang menakutkan. Dalam keadaan tanpa nyawa, jika dilihat kembali, Thai Wang Gui tak ubahnya seperti seorang kakek-kakek lanjut usia yang lain. Berbeda antara apa yang dirasakan Ding Tao dengan yang dirasakan oleh sisa anggota keluarga Huang yang lain. Juga termasuk di antara mereka, ratusan bahkan mungkin ribuan orang lain yang pernah menjadi korban Thai Wang Gui dan memendam dendam. Pekik sorak sorai, umpatan, sumpahan dan ucapan syukur terdengar di mana-mana. Serentak mereka mengacungkan senjata sambil memandangi Shao Wang Gui yang masih berdiri tak percaya. Padahal baru beberapa saat yang lalu mereka esmua hanya berdiri dalam diam, mendendam tapi tak memiliki keberanian.
Shao Wang Gui yang tersadar dengan cepat memburu ke atas panggung, hendak mengambil Pedang Angin Berbisik yang masih ada di genggaman Thai Wang Gui, tapi bukan hanya Shao Wang Gui yang berpikir demikian. Sebelum dia sampai di sana Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen sudah sampai di atas panggung terlebih dahulu. Pedang Angin Berbisik yang dia incar tiba-tiba saja sudah berpindah tangan, ketika menengok ke arah Ding Tao yang masih kehabisan tenaga, sudah ada Bhiksu Khongzhen di hadapannya.
2183
―Shao Wang Gui… bagaimana? Apakah kau mau menyerah baik-baik?‖, tanya Pendeta Chongxan dengan Pedang Angin Berbisik di tangan.
Shao Wang Gui yang terkejut dan marah tidak bisa menjawab dengan segera, tapi ketika perasaannya sudah pulih dengan cepat dia menjawab, ―Chongxan jangan bodoh, apa kau kira aku datang sendirian saja? Dengar dengan satu suitan ribuan orang pendukungku akan memenuhi tempat ini. Jika kau tidak mau melepaskan diriku, mungkin benar aku akan tertangkap, tapi jangan salahkan aku jika lapangan ini akan banjir dengan darah.‖
Tersenyum simpul Pendeta Chongxan menjawab, ―Hmm… apa benar demikian?‖
Marah oleh senyum Pendeta Chongxan yang meragukan kata-katanya, Shao Wang Gui pun bersuit kencang. Suitannya dipenuhi hawa murni, terdengar mengalun dan menusuk telinga sampai beberapa li jauhnya.
Selesai bersuit dia pun menatap tajam ke arah Pendeta Chongxan dan berkata, ―Heh…, sekarang kau baru menyesal.‖
2184
Kemudian suasana pun menjadi lengang beberapa saat. Setiap orang menanti dengan tegang, bahkan Pendeta Chongxan sendiri sedikit menegang mendengar suitan Shao Wang Gui. Namun saat demi saat berlalu dan tidak terjadi apa-apa. Dari wajah yang tegang, orang-orang pun berubah menjadi bingung dan heran. Lain lagi dengan Shao Wang Gui, tadinya dengan penuh percaya diri dia menatap Pendeta Chongxan dan bersuit tanpa menengok ke sekelilingnya. Tapi sekian lama dia menunggu, tidak terjadi sesuatu apa pun yang menunjukkan keberadaan orang-orang yang sudah berjanji untuk mendukung gerakannya. Perlahan Shao Wang Gui mengitarkan pandangan, mula-mula hanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan ujung matanya. Tidak menangkap sedikitpun pergerakan dia mulai menengok ke kiri dan ke kanan. Tidak juga melihat ada pergerakan dari rekan-rekannya, dia pun memalingkan tubuh dan melihat ke sekelilingnya, berputar, memandangi orang-orang di sekelilingnnya dengan wajah bodoh.
Seorang pun tak terlihat, bahkan Wu Shan Yee pun diam-diam sudah pergi meninggalkan tempat.
Keringat dingin mengucuri punggung Shao Wang Gui, sambil menelan ludah dan wajah memerah oleh rasa malu dia
2185
berpaling kembali ke arah Pendeta Chongxan, ―Ap… apa… lalu apa maumu sekarang?‖
Melihat ini, meledaklah tawa setiap orang. Betapa rusak sudah segala nama dan kemegahan yang dibangun oleh sepasang iblis itu. Shao Wang Gui pun meradang namun tidak berani untuk bertindak gegabah, tidak sedikitpun lewat dalam ingatannya untuk membalaskan dendam Thai Wang Gui. Yang dia cari saat ini adalah jalan untuk melarikan diri dan hidup. Kalaupun dia memanggil orang-orang yang sempat menjadi pengikutnya, hal itu tidak lepas dari keinginannya untuk membuat celah bagi dirinya untuk melarikan diri.
Siapa sangka, tak satupun dari mereka muncul membantu, bahkan Wu Shan Yee yang sudah muncul justr u diam-diam menghilang di saat perhatian setiap orang tumpah pada dirinya.
Ding Tao yang terhuyung hendak jatuh, dengan cepat dipapah oleh Bhiksu Khongzhen, ―Ketua Ding Tao, anda sudah memenangkan pertarungan, dengan sendirinya jabatan Wulin Mengzhu itu sudah resmi jadi milikmu. Berikan saja perintah padaku dan Pendeta Chongxan, biar kami bisa menyelesaikan urusan.‖
2186
Dengan lemah Ding Tao memalingkan kepala ke arah Shao Wang Gui kemudian berkata, ―Jika dia bersedia untuk menyerah baik-baik, maka tangkap dia hidup-hidup. Musnahkan ilmunya, putuskan urat besar di pergelangan kaki dan tangan. Kemudian penjarakan dia di biara Shaolin sampai akhir hidupnya. Jika pihak Shaolin tidak keberatan biarlah dia merenungkan dan menebus dosa-dosanya di bawah bimbingan para guru sekalian. Tapi jika dia melawan, maka kuserahkan nasibnya pada sekalian saudara yang ada di sini.‖
―Baik… tentu saja pihak Shaolin tidak keberatan, nah ketua lebih baik memulihkan dahulu keadaan ketua.‖, jawab Bhiksu Khongzhen sembari mengalihkan Ding Tao pada Hua Ng Lau yang sudah ikut pula menyusul ke atas panggung bersama dengan orang-orang lain yang bersimpati pada Ding Tao.
Berjalan ke sisi Pendeta Chongxan, Bhiksu Khongzhen pun berkata pada Shao Wang Gui, ―Nah, Shao Wang Gui, kau sendiri sudah mendengar apa keputusan Wulin Mengzhu yang terpilih atas dirimu. Tinggal dirimu sendiri yang menentukan apakah hendak melawan atau menerima kemurahannya itu?‖
Otak Shao Wang Gui pun berputar cepat, puluhan tahun yang lalu, dialah yang meminta-minta jalan hidup pada Pendeta
2187
Chongxan dan Bhiksu Khongzhen. Pada dasarnya iblis tua yang satu ini memang seorang pengecut yang mencari selamat bagi dirinya sendiri. Persahabatan antara dirinya dengan Thai Wang Gui muncul atas dasar keegoisan dan kelicikan. Di masa itu Shao Wang Gui yang menyadari kekuatan Shaolin dan Wudang, mengambil kesimpulan bahwa dia membutuhkan sekutu untuk menguasai dunia persilatan. Atas dasar itu, dia pun pergi menemui Thai Wang Gui, dia pun tidak keberatan menduduki kedudukan kedua dalam persekutuan itu. Baginya justru kebetulan jika Thai Wang Gui menghendaki kedudukan pertama, karena perhatian orang pun akan tertuju pada Thai Wang Gui.
Sifat licik dan pengecut ini pula yang membuat mereka yang tadinya berjanji untuk mendukung mereka, memilih untuk pergi diam-diam daripada maju membela Shao Wang Gui. Sebagian besar dari mereka bersedia untuk mendukung karena diiming-imingi oleh kekuasaan dan didasari juga oleh rasa takut.
Ketika mereka melihat Thai Wang Gui ternyata kalah di tangan Ding Tao, belum lagi di sana masih ada Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, bahkan Pedang Angin Berbisik pun jatuh pula ke pihak lawan, maka hilang sudah segala alasan bagi mereka untuk tetap mendukung sepasang iblis itu. Namun jika
2188
yang masih hidup adalah Thai Wang Gui, mungkin masih ada beberapa orang yang akan menyediakan diri untuk maju dengan mengharapkan imbalan berupa hutang budi dari setan tua itu. Karena Thai Wang Gui memang bengis dan kejam, tapi dia juga tidak melupakan orang yang berjasa pada dirinya. Berbeda dengan Shao Wang Gui yang akan mengorbankan siapa saja demi keuntungannya sendiri. Selain rasa takut, tidak ada lain yang membuat orang patuh pada perintahnya.
Sadar dirinya sudah ditinggalkan, Shao Wang Gui pun menghitung-hitung kemungkinannya untuk lolos dengan usaha sendiri.
Dilihatnya di depan ada Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang sudah menggenggam Pedang Angin Berbisik. Di dekat Ding Tao yang sedang menghimpun kembali hawa murninya ada Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu yang mungkin bisa dijadikan sandera namun di sekitar gadis itu banyak juga para pengikut Ding Tao yang merubung, berbaris menjaga anak-anak muda itu. Belum lagi ada tokoh kawakan macam Bai Chungho dan Xun Siaoma yang juga berdiri di sana sambil mengawasi dirinya dengan sepasang mata mereka yang tajam.
2189
Ketika Shao Wang Gui menoleh ke kiri, kanan dan belakang, tidak terbilang banyaknya tokoh-tokoh dunia persilatan yang berbaris mengepung. Wang Shu Lin, Zhu Jiuzhen, Lu Jingyun, Tong Baidun dan banyak lagi tokoh-tokoh kelas atas yang ada di sana. Satu per satu, mereka bukan lawan yang setanding, tapi ratusan jumlahnya yang sekarang bersiap untuk menangkap dirinya. Ding Tao yang menang melawan Thai Wang Gui sudah dipandang sebagai Wulin Mengzhu, meskipun sumpah setia belum diucapkan. Siapa yang mau menunjukkan sikap menentang atas perintahnya? Siapa pula yang tidak ingin membuat jasa di hadapannya?
―Bagaimana? Apa kau masih mau melawan?‖, sekali lagi Bhiksu Khongzhen bertanya.
―Tunggu dulu!‖, ujar Shao Wang Gui dengan panik, bagaimana pun juga dia ngeri jika membayangkan ilmunya akan dimusnahkan untuk kedua kalinya.
Bhiksu Khongzhen pun mengerutkan alisnya, ―Shao Wang Gui apa lagi yang kau pikirkan? Lihat ke sekelilinngmu, ada banyak orang yang pernah menjadi korban kebiadabanmu. Bahwasannya Ketua Ding Tao mengeluarkan perintah yang sedemikian sudah merupakan satu kemurahan yang sulit kau
2190
cari bandingannya. Jika kau mengatakan tidak, percayalah padaku, ada ratusan orang yang akan bersorak gembira oleh keputusanmu itu dan bergerak maju untuk mencincang tubuhmu dan memuaskan dendam mereka.‖
Tidak berlebihan perkataan Bhiksu Khongzhen ini, Shao Wang Gui pun bukannya tidak melihat sorot mata penuh dendam di mata banyak orang yang mengepungnya kali ini. Tidak berlebihan juga jika dikatakan Ding Tao sudah banyak bermurah hati padanya, karena tidak sedikit orang yang merasa penasaran pada tawaran Ding Tao itu. Apalagi mereka yang berasal dari keluarga Huang, utamanya Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu, meskipun dua orang muda itu saat ini lebih mengkhawatirkan keadaan Ding Tao yang cukup lemah setelah himpunan hawa murninya sempat dihisap oleh Thai Wang Gui.
―Tunggu… bukannya aku tidak mau menyerah. Tapi apakah Ketua Ding Tao tidak bisa memberikan sedikit keringanan? Bukankah ilmuku sudah dimusnahkan, mengapa juga urat besar di pergelangan kaki dan tangan juga harus diputuskan. Kalau demikian, bukankah seumur hidup aku akan jadi orang cacat? Apakah hukuman ini tidak terlalu berlebihan?‖, ujar Shao Wang Gui mengiba.
2191
Betapa jauh berbeda, berbalik 180 derajat, selicik-liciknya Thai Wang Gui tidak akan sedemikian tidak tahu malu hingga berbuat demikian. Tapi justru inilah yang menakutkan dari Shao Wang Gui, apa pun akan dia lakukan, asalkan perbuatan itu menguntungkan dirinya.Tidak heran mereka yang tadinya sudah berjanji mendukung sepasang iblis itu, diam-diam melarikan diri begitu melihat Thai Wang Gui mati terbunuh di tangan Ding Tao. Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pun sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah orang yang satu ini. Apalagi mereka yang tidak sesabar dua orang tokoh itu, beberapa umpatan tertahan pun terlompat keluar dari mereka yang tidak tahan. Tapi sungguh tebal muka Shao Wang Gui, terhadap umpatan-umpatan itu pun tidak sedikitpun dia menunjukkan rasa marah atau tersinggung atau malu.
Bhiksu Khongzhen pun menghela nafas dan menjawab, ―Shao Wang Gui… Shao Wang Gui…, bukankah dulu kami sudah memberikan kesempatan itu padamu? Ilmumu kami musnahkan dan kami biarkan kalian berdua hidup. Nyatanya, entah dengan cara apa, kalian berdua berhasil mendapatkan kembali ilmu kalian, bahkan mempelajari ilmu sesat yang lainnya.‖
2192
―Menilik akal sehat saja, Ketua Ding Tao bukanlah tandingan dari Thai Wang Gui, tapi kenyataannya Ketua Ding Tao berhasil menang melawannya, ini menunjukkan perlindungan langit pada dirinya. Seandainya bukan karena perlindungan langit ini. Seandainya Thai Wang Gui menang dan berhak atas kedudukan Wulin Mengzhu, kami dari enam perguruan besar jelas tidak akan menyetujuinya. Tapi puluhan ribu orang yang ada di sini tentu akan terbelah menjadi dua bagian yang hampir sama besarnya. Bukankah saat ini akan terjadi banjir darah seperti yang engkau ancamkan?‖
―Melulu melihat dari hal ini saja, sudah adil rasanya jika Ketua Ding Tao menjatuhkan hukuman mati padamu. Apalagi jika ditimbang bahwa kalian berdua pula yang bertanggung jawab atas pembantaian di Wuling. Tapi di atas itu semua, Ketua Ding Tao masih memberikan jalan hidup padamu, apakah kau masih menawar lagi?‖, tanya Bhiksu Khongzhen dengan sungguh-sungguh setelah menjelaskan panjang lebar.
Curahan kata-kata sepertinya tidak berguna buat iblis ini, meskipun diucapkan dengan tulus dan sepenuh hati, tidak juga kata-kata itu mampu menyentuh hati Shao Wang Gui yang kelam. Jika iblis itu masih bersikap rendah hati, hal itu tidak lepas dari kedudukannya yang tidak mungkin menang. Tapi
2193
otaknya sendiri terus berputar berusaha meringankan hukuman yang akan dia terima.
―Dengar, setidaknya jangan putuskan urat di kaki dan tanganku, kali ini sudah pasti tidak seperti dahulu. Apalagi dalam tahanan Biara Shaolin, bukankah kalian dapat memeriksa keadaanku hari per hari?‖, ujarnya memohon.
Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen saing berpandangan, dengan senyum prihatin Bhiksu Khongzhen menggelengkan kepala perlahan-lahan. Pendeta Chongxan diam sejenak dan melirik ke arah Ding Tao yang masih duduk bersila menghimpun kembali semangat dan hawa murninya, sebelum menganggukkan kepala.
―Tunggu… tunggu, coba dengar, aku memiliki satu barang yang akan aku tawarkan pada kalian, asalkan kalian mau memberikan sedikit keringanan.‖, ujarnya cepat-cepat, ketika melihat Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan bergerak mendekat.
Langkah Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pun terhenti, bukan berarti mereka orang-orang yang tamak harta, tapi mereka cukup kenal kelicinan Shao Wang Gui, jika barang
2194
yang hendak dia tawarkan itu bukanlah satu benda pusaka yang sangat berharga, tentu tidak akan dia tawarkan untuk menggantikan urat besar di kaki dan tangannya. Bukan hanya Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan saja yang tertarik, para ketua enam perguruan besar dan tokoh-tokoh kelas atas yang sudah berbaris mengepung pun ikut tertarik dengan tawaran Shao Wang Gui ini.
―Hmm… Shao Wang Gui, benda apa yang kau maksudkan ini? Masakan ada benda yang cukup berharga untuk menebus kesalahanmu yang sudah sedemikian bertumpuk sampai ke atas langit?‖, tanya Pendeta Chongxan dengan alis berkerut.
―Ah… tidak, tidak, dosaku memang sudah terlampau banyak dan sudah sepatutnya orang rendah ini dihukum seberat-beratnya. Tapi aku hanya minta sedikit keringanan saja, supaya jangan aku menghabiskan sisa hidupku dalam tahanan dalam keadaan cacat. Bahkan untuk itu pun apa yang hendak kutawarkan ini tidak ada artinya, namun aku berharap kesungguhanku memohon ini bisa menyentuh perasaan sekalian pahlawan di sini yang berbudi dan berbelas kasih.‖, ujar Shao Wang Gui sambil merunduk-rundukkan badan.
2195
Kalau orang yang tidak tahu ujung pangkal dari peristiwa ini dan melihat keadaan Shao Wang Gui sekarang, tentu akan jatuh belas kasihan padanya dan memaki-maki sekalian orang dunia persilatan sebagai tukang menindas orang yang lemah. Tidak demikian dengan perasaan sekalian mereka yang sudah kenyang menyaksikan atau mendengar tentang kekejaman iblis tua yang satu ini, dengan pandangan dingin mereka menunggu Shao Wang Gui menjawab.
Melihat tidak ada yang tergerak oleh permohonannya, Shao Wang Gui pun menelan ludah dan memaki dalam hati, kemudian menjelaskan, ―Yang hendak aku tawarkan adalah, lencana penanda kewibawaan Wulin Mengzhu yang sudah lama lenyap dari dunia persilatan. Sejak Wulin Mengzhu terpilih yang terakhir menghilang tanpa jejak, lencana itu ikut hilang bersamaan dengan dirinya.‖
―Bukan hanya sebagai penanda yang memiliki perbawa tersendiri, lencana itu juga berhiaskan mutiara katak salju yang bisa menghisap racun sejahat apapun. Lencananya sendiri terbuat dari logam istimewa yang memiliki daya hisap terhadap segala macam logam, sehingga pemakainya sulit diserang menggunakan senjata rahasia karena senjata rahasia yang
2196
dilemparkan padanya akan tertarik lencana dan melekat di sana.‖
Mendengar penjelasan Shao Wang Gui maka lapangan itu pun jadi berisik oleh suara orang yang saling berbicara satu dengan yang lainnya. Lencana yang hilang itu sempat menjadi benda pusaka yang dikejar-kejar dan dicari-cari oleh seluruh tokoh dunia persilatan, siapa sangka pusaka itu justru jatuh ke tangan Shao Wang Gui. Lencana itu sendiri memiliki banyak arti, pada masa Wulin Mengzhu yang terakhir, dia tidak ubahnya sebagai penanda kekuasaan Wulin Mengzhu, barangsiapa memegang lencana itu memiliki kekuasaan yang sama dengan Wulin Mengzhu sendiri. Jika Wulin Mengzhu perlu mengutus seseorang untuk mewakili dirinya, maka dia akan memberikan kekuasaannya pada orang tertentu yang dia percaya untuk melaksanakan tugas tertentu. Pada saat pengangkata Wulin Mengzhu saat itu, sumpah setia dilakukan bukan hanya kepada Wulin Mengzhu tapi juga pada kekuasaan yang disematkan atas lencana itu.
Tentu saja sebuah benda mati tidak lebih dari sebuah benda mati. Kekuasaan yang muncul ada pada orang yang memegangnya, namun Wulin Mengzhu sendiri sudah tentu tidak menyerahkan lencana itu pada sembarang orang,
2197
sehingga lencana itu sendiri akhirnya mewakili satu mitos akan orang-orang yang tak terkalahkan.
Lepas dari segala cerita khayal dan tahayul yang dilekatkan pada lencana itu, lencana itu sendiri, seperti yang dikatakan Shao Wang Gui terbuat dari benda-benda pusaka yang sulit dicari tandingannya. Mutiara Katak Salju yang dikatakan Shao Wang Gui memang benar adanya bisa menawarkan segala macam jenis racun. Demikian juga dengan bahan untuk membuat lencana itu, yang memiliki daya hisap terhadap segala macam jenis logam.
―Shao Wang Gui… apakah kami bisa memegang kata-katamu itu?‖, tanya Pendeta Chongxan.
―Tentu saja, tentu saja, nyawaku yang jadi taruhannya, masakan aku mau main-main dengan ucapanku?‖, jawab Shao Wang Gui cepat.
Masuk akal memang jawaban Shao Wang Gui ini, meskipun terkenal sangat licik, dia juga terkenal sangat takut mati.
―Shao Wang Gui, aku tidak percaya kata-katamu itu, tunjukkan benda itu pada kami sekarang, baru kami mau percaya.‖, uajr Bai Chungho dari tempatnya di sisi Ding Tao.
2198
―Oh.. tidak… tidak…, kau kira aku begitu bodohnya membawa barang berharga itu ke mana-mana dalam kantong celanaku. Tidak barang itu kusimpan baik-baik di sarang rahasia kami. Tapi aku tidak menipu, asalkan Ketua Ding Tao memberikan janji untuk tidak memutuskan urat-urat di tangan dan kakiku, aku akan mengantarkan kalian ke sana. Jika aku berbohong bukankah belum terlambat bagi kalian untuk membunuhku?‖, jawab Shao Wang Gui dengan cepat, akalnya yang licik tidak mudah terjebak dengan pertanyaan Bai Chungho.
―Huh… bagaimana juga kalau kau ternyata membawa kami berputar-putar, sambil mencari cara untuk melarikan diri? Siapa yang tahu juga di dalam sarangmu itu ada jebakan apa saja?‖, jawab Bai Chungho sambil berjalan mendekat.
―Tidak.. tidak… masakan aku berani melakukan itu‖, jawab Shao Wang Gui sambil cengar-cengir.
―Ahh… keparat, lihat saja mukanya, sudah jelas dia merencanakan itu diam-diam‖, seru Bai Chungho sambil mengacung-acungkan kepalan tangannya di depan wajah Shao Wang Gui.
2199
―Dengar, aku bisa memberikan petunjuk, dan biar salah seorang dari kalian yang mengambilnya sendiri, sementara aku kalian tahan di sini. Bagaimana?‖, tawar Shao Wang Gui mencoba memberikan jalan keluar.
Ding Tao yang saat itu sudah membuka mata mencoba berdiri.
―Bagaimana perasaanmu?‖, tanya Hua Ying Ying yang dengan cepat memegang tangannya, khawatir jika pemuda itu masih merasa lemas.
Ding Tao pun menggerak-gerakkan kaki dan tangannya, dirasakannya tidak ada sesuatu yang mengganggu, sambil tersenyum dia menjawab, ―Aku merasa baik-baik saja, memang sedikit lemas setelah menguras bergitu banyak tenaga. Tapi selain itu tidak ada masalah lain.‖
―Syukurlah‖, ucap Hua Ying Ying dengan lega.
Huang Ren Fu yang juga berada di sana, sedang menatap Shao Wang Gui dengan mata penuh kemarahan. Pemuda itu tidak menyadari percakapan antara Ding Tao dan adiknya. Ding Tao yang hendak menyapa pun jadi ragu-ragu untuk menyapa. Hua Ying Ying mengikuti arah pandang mata Ding Tao dan menyadari apa yang menjadi ganjalan dalam hati pemuda itu.
2200
Hua Ying Ying bisa merasakan amarah kakaknya, namun karena dalam hatinya saat ini hanya dipenuhi oleh perasaan cintanya pada Ding Tao, masalah Shao Wang Gui dan keinginan untuk membalas dendam hanya berbisik lirih dalam hatinya. Hua Ng Lau sebagai ayah dan guru bagi dua orang anak muda itu menghela nafas.
―Ketua Ding Tao, ada urusan yang lebih besar, lebih baik diselesaikan terlebih dahulu‖, ujarnya sambil menunjuk Shao Wang Gui yang sedang membela diri terhadap desakan Bai Chungho.
Ding Tao memandang orang tua itu dan menganggukkan kepala dengan hormat, ―Tetua benar…, kalau boleh tahu, siapakah nama tetua? Apakah benar tetua ini yang menyelamatkan Adik Ying Ying dan Saudara Ren Fu? Jika benar sungguh kami semua, berhutang budi pada tetua.‖
―Ini ayah angkatku, namanya Hua Ng Lau, atau lebih dikenal sebagai Tabib Dewa Hua, sekarang namaku berubah jadi Hua Ying Ying, sedangkan kakak menjadi murid tunggalnya. Kami hampir saja mati di tangan anjing-anjing Tiong Fa jika saja ayah tidak menolong kami waktu itu.‖, celoteh Hua Ying Ying menjawab pertanyaan Ding Tao.
2201
Mendengar jawaban Hua Ying Ying itu, Ding Tao pun buru-buru memberi hormat, membungkuk dalam-dalam, ―Ah… benar-benar mata siauwtee ini tidak berguna‖
Cepat-cepat Hua Ng Lau menahan bahu pemuda itu, ―Ketua Ding Tao tidak perlu begitu, di antara sekeluarga sendiri tidak perlu banyak adat.‖
Ding Tao memandangi Hua Ng Lau dan Hua Ying Ying dengan penuh rasa syukur, meskipun bencana yang terjadi menimbulkan banyak luka, tapi perbuatan-perbuatan baik menyembuhkannya, ―Sungguh, tidak pernah kusangka…, sampai… ah sudahlah. Setelah ini kita harus banyak menghabiskan waktu untuk saling bercerita.‖
―Tentu saja, untuk sekarang ini, biarlah urusan yang lebih besar diselesaikan terlebih dahulu.‖, ucap Hua Ng Lau sambil tersenyum ramah.
Dalam hati tabib tua ini memuji anak angkatnya yang pandai menilai orang. Sejak pemilihan Wulin Mengzhu dilaksanakan, dia mengamati tindak tanduk Ding Tao dan sedikitpun tidak mendapati ada yang kurang dari diri pemuda ini. Sikapnya yang terlalu lemah pada lawan, mungkin dilihat banyak orang
2202
sebagai kelemahan. Tapi tidak bagi Hua Ng Lau, sebagai seorang tabib, nalurinya untuk menyelamatkan nyawa manusia, siapa pun itu, justru berjalan selaras dengan kelemahan Ding Tao.
‗Meski terkadang, ada kalanya seorang tabib justru harus mengorbankan anggota tubuh tertentu yang sudah terlanjur busuk, untuk menyelamatkan keseluruhan tubuh‘, pikir tabib tua itu sambil memandangi Ding Tao yang berjalan ke arah Shao Wang Gui yang sedang dikepung banyak orang.
Melihat Ding Tao datang mendekat, dengan sendirinya mereka yang sedang mengepung Shao Wang Gui pun bergerak menyibak, memberikan jalan bagi Wulin Mengzhu yang baru. Ding Tao merasa sedikit aneh, pemuda itu pun berulang kali membalas penghormatan yang diberikan pada dirinya, meskipun hanya dengan anggukan kecil atau sedikit membungkukkan badan jika yang memberi jalan seorang yang lebih tua. Ketika akhirnya sampai, Ding Tao melihat Bai Chungho yang sedang mengacung-acungkan kepalan tangannya ke wajah Shao Wang Gui. Melihat Shao Wang Gui, wajah Ding Tao yang tadinya ramah, berubah menjadi keras. Inilah orang yang memorak-porandakan kehidupannya. Teringatlah kembali dia dengan saat-saat di mana dia baru
2203
mendengar berita tentang apa yang terjadi di Wuling. Teringat dengan puluhan kuburan yang baru digali, pada wajah-wajah orang yang baru saja kehilangan keluarganya.
―Shao Wang Gui… aku sudah mendengar semua ocehanmu. Mengertilah satu hal ini, aku tidak tertarik pada sekalian benda pusaka. Kau boleh simpan lencana itu di jurang yang terdalam. Pilihanmu hanyalah dua, menyerah atau mati.‖, tegas ucapannya tidak ada keraguan di dalamnya.
Wajah Shao Wang Gui pun berubah jadi pucat pasi, ―Tunggu… tunggu.. lencana penanda kekuasaan Wulin Mengzhu, bukanlah sembarangan benda pusaka. Bayangkan berapa banyak nyawa orang yang bisa kau selamatkan dengan mutiara katak salju itu. Pikirkan tentang orang yang penting bagi dirimu, kau bisa memakaikan lencana itu pada diri mereka dan melindungi mereka dari serangan senjata rahasia.‖
―Dia benar Ketua Ding Tao, tapi Ketua Ding Tao juga benar, perbuatannya sudah melampaui batas hukuman yang Ketua Ding Tao tawarkan sudah sangat ringan jika dibandingkan dengan dosa-dosanya.‖, ujar Bhiksu Khongzhen.
2204
―Jadi jika menurut Tetua, bagaimana yang sebaiknya?‖, tanya Ding Tao dengan hormat.
Bhiksu Khongzhen tersenyum, ―Jika Shaolin memutuskan untuk menerima Ketua Ding Tao sebagai Wuli Mengzhu, hal itu karena kami percaya bahwa Ketua Ding Tao akan mengambil keputusan-keputusan yang tepat.‖
Ding Tao terdiam sejenak, sebelum kemudian kembali menatap ke arah Shao Wang Gui dan memberikan keputusan, ―Keputusanku sudah bulat, seandainya benda pusaka itu ada di tempat ini, aku mungkin akan memikirkan kembali keputusanku. Namun karena benda itu tidak ada di sini, menunda lebih lama lagi pelaksanaan hukuman hanya akan menimbulkan resiko yang tidak perlu. Karena itu Shao Wang Gui, keputusanku sudah tetap, menyerahlah sekarang atau kau memilih jalan kematian.‖
Shao Wang Gui tergagap, iblis itu sadar Ding Tao tidak bisa ditawar-tawar lagi keputusannya, meskipun dengan iming-iming benda pusaka. Tiba-tiba iblis itu bergerak sangat cepat, tangannya terayun hendak mencengkeram leher Ding Tao. Serangan ini di luar dugaan banyak orang, karena sejak tadi Shao Wang Gui merunduk-runduk seperti seorang pengecut,
2205
tidak ada yang menduga tiba-tiba muncul keberaniannya untuk menyerang.
―Sreet‖, lima jari terkembang menyambar dengan kecepatan kilat.
‖Cring!‖, suara pedang dicabut dari sarungnya.
Dan sebelum satu orang pun dapat bereaksi, serangan itu sudah berhenti, beberapa jengkal sebelum mengenai leher Ding Tao, Pedang Angin Berbisik yang ada di tangan Pendeta Chongxan sudah menyambar leher Shao Wang Gui. Shao Wang Gui pun dipaksa untuk membatalkan serangannya, ketika dia bergerak mundur, dia bisa merasakan keberadaan Bhiksu Khongzhen di belakangnya. Berendeng di sisi kirinya bergerak dengan cepat menyusul Bai Chungho, di depan Ding Tao sudah pula menghunus pedang pusakanya. Desingan pedang terhunus memenuhi telinga Shao Wang Gui, hawa pembunuh meliputi seluruh tempat di sekelilingnya. Seperti ikan yang sudah terperangkap jaring yang sedemikian rapat, Shao Wang Gui tidak melihat satu celah pun bagi dia untuk menyelamatkan diri.
2206
Iblis tua itu pun melemparkan diri berlutut sambil berteriak, ―Baiklah aku menyerah!‖
Secepat kilat mereka bergerak, hampir bersamaan. Secepat kilat juga mereka berhenti saling menyerang. Satu lawan satu, Shao Wang Gui dan Pendeta Chongxan mungkin lawan yang seimbang, tapi dua lawan satu, Shao Wang Gui tahu dia tidak punya kesempatan menang, apalagi . Tadinya dia berharap bisa menyerang Ding Tao dengan tiba-tiba dan menjadikan pemuda itu sebagai sandera, tapi kedua orang tokoh besar itu tidak bisa ditipu oleh kelicikannya, disusul dengan kecekatan setiap tokoh kelas atas yang sudah mengepung dirinya. Peluh pun membasahi dahi Shao Wang Gui, dia sudah membuat satu perjudian dan dia kalah dalam taruhan itu. Tapi Shao Wang Gui masih belum ingin mati, dia memilih menyerah meskipun itu artinya dia akan hidup sebagai orang cacat. Tidak ingin mengambil resiko lebih jauh, Pendeta Chongxan segera menotok titik-titik penting di tubuh Shao Wang Gui, sehingga kekuatan Shao Wang Gui hilang untuk sementara. Setidaknya sampai hukumannya selesai diputuskan.
―Aku menyerah, tapi terimalah ini, lencana tanda kekuasaan Wulin Mengzhu, kuharap Ketua Ding Tao bersedia memberikan
2207
sedikit keringanan.‖, ujar Shao Wang Gui sambil menyerahkan sebuah lempengan yang terbuat dari logam misterius.
Logam itu memancarkan cahaya keemasan, di bagian tengah terdapat 3 buah mutiara berwarna putih salju. Di satu sisi ukiran naga dan burung phoenis menghiasi lencana itu, di sisi lain tertulis Naga di langit, Harimau di darat, memberi hormat.
―Lencana kekuasaan Wulin Mengzhu!? Ah keparat iblis tua, rupanya membawa-bawa lencana itu ke mana-mana. Jadi benar dugaanku, kau hanya membuang-buang waktu, menunggu kami lengah?‖, maki Bai Chungho.
―Tetua, bisakah melihat apakah itu benda yang asli?‖, tanya Ding Tao pada Pendeta Chongxan yang berdiri paling dekat dengan Shao Wang Gui.
Shao Wang Gui masih dalam keadaan belutut, menyerahkan lencana itu pada Pendeta Chongxan yang dengan wajar menerimanya, tanpa terlihat ada perasaan curiga atau takut-takut. Pendeta Chongxan dengan teliti mengamati lencana itu, kemudian mengangsurkannya pada Bhiksu Khongzhen yang bergantian dengan Bai Chungho dan Xun Siaoma serta ketua
2208
dari enam perguruan besar yang lain, memeriksa dan mengamati lencana itu.
Bhiksu Khhongzhen lah yang kemudian menjawab, sembari memberikan lencana itu pada Ding Tao, ―Menurut pengamatanku lencana itu asli, selamat Ketua Ding Tao, benar-benar langit menunjukkan pilihannya pada hari ini. Tidak disangka di hari Ketua Ding Tao terpilih, lencana yang sudah lama hilang pun muncul kembali.‖
Bergantian para tokoh yang hadir pun memberikan ucapan selamat yang diterima Ding Tao dengan wajah sedikit bersemu merah.
―Jadi bagaimana keputusan Ding Tao atas Shao Wang Gui‖, setelah suasana reda Pendeta Chongxan pun bertanya.
Ding Tao dengan alis berkerut diam berpikir, akhirnya dia menjawab, ―Musnahkan ilmu silatnya, kemudian putuskan urat besar di pergelangan kaki. Namun untuk kesediaannya menyerah dan memberikan lencana ini tanpa paksaan, biarlah urat besar di pergelangan tangannya tidak perlu diputuskan.‖
Shao Wang Gui pun menyembah-nyembah sambil menghaturkan terima kasih yang tiada tara. Beberapa orang
2209
mengerutkan alis, namun kejutan yang terjadi timbul dari seorang yang masih muda. Siapa lagi jika bukan Huang Ren Fu.
―Tidak! Tidak! Tidak! Ding Tao apakah kau sudah silap oleh benda pusaka? Bagaimana kau bisa mengatakan dia menyerahkannya dengan rela? Jika bukan karena terpaksa tidak akan dia menyerahkannya begitu saja. Aku sudah diam saja ketika kau mengijinkan iblis itu untuk hidup sebagai orang cacat. Tapi kau justru mengurangi lagi hukumannya! Apa kau sudah hilang akal!? Dia itu pantas mati beribu-ribu kali!‖, seru Huang Ren Fu menerobos kerumunan orang banyak.
―Saudara Ren Fu…‖, ujar Ding Tao berusaha menyabarkan pemuda itu.
―Jangan panggil aku saudara! Apa kau lupa siapa yang memberimu makan dan tempat tinggal saat kau masih kanak-kanak!? Bagaimana kau bisa memberikan hukuman seringan itu pada iblis ini?‖, ujar Huang Ren Fu dengan mata melotot.
―Ren Fu! Hentikan! Sikapmu ini sudah keterlaluan!‖, Hua Ng Lau menyusul pemuda itu dan menegurnya dengan keras.
―Tapi guru…!‖
2210
―Diam kataku!‖, seru Hua Ng Lau dengan wajah marah.
Semarah-marahnya Huang Ren Fu, pemuda ini tidak kehilangan rasa hormatnya pada Hua Ng Lau, orang yang dia pandang sebagai penolong jiwanya dan lebih penting lagi, penolong jiwa adiknya. Sambil mengepalkan tangan dia menundukkan kepala.
―Ketua Ding Tao, harap maafkan muridku yang masih muda ini.‖, ujar Hua Ng Lau dengan sedih.
Ding Tao pun menghela nafas, kemudian melihat ke sekelilingnya, dia tahu banyak orang yang terkejut oleh tindakan Huang Ren Fu, namun sebagian besar dari mereka bisa mengerti kedudukan pemuda itu dan apa yang mendorongnya melanggar aturan dan memaki-maki seorang Wulin Mengzhu. Apalagi Ding Tao tidak memandang dirinya lebih tinggi dari Huang Ren Fu, dalam pandangannya Huang Ren Fu masihlah tuan muda Huang dan dirinya adalah seseorang yang dahulu bekerja untuknya.
―Saudara Ren Fu… aku mengerti kemarahanmu dan aku yakin setiap orang yang ada di sini merasakan hal yang sama denganmu. Aku pun merasakan kemarahan yang sama,
2211
meskipun sebagian besar rasa marahku mendingin pada saat aku melihat pedangku membelah tubuh Thai Wang Gui menjadi dua. Benar memang dua orang ini melakukan banyak perbuatan jahat, tapi saat melihat kematian datang menjemputnya, betapa aku merasa, lepas dari apa yang sudah mereka lakukan, mereka pun manusia tak ada bedanya dengan kita.‖, ujar Ding Tao menjelaskan.
―Aku bisa memberikan banyak alasan padamu, mengapa aku mengampuni nyawa Shao Wang Gui. Salah satunya adalah adanya 5 orang yang memimpin penyerangan atas keluarga Huang di Wuling, 3 orang sudah kita ketahui tapi masih ada 2 orang yang belum tertangkap. Shao Wang Gui yang masih hidup adalah rantai yang akan menghubungkan kita pada dua orang tersebut.‖, ujar Ding tao memberikan penjelasan.
Penjelasan yang kedua ini nampaknya lebih mudah diterima oleh mereka yang mendengarnya daripada penjelasan Ding Tao yang pertama. Penjelasan ini masuk di akal mereka dan penilaian mereka atas Ding Tao pun meningkat satu lapis. Tapi bukan Ding Tao namanya jika dia hanya mengatakan apa yang ingin didengarkan orang, pemuda itu pun melanjutkan.
2212
―Tapi aku tidak akan beralasan demikian, karena meskipun hal itu benar, tapi bukan itu yang membuatku memutuskan untuk memberikan Shao Wang Gui kesempatan untuk hidup.‖, ujarnya menghapuskan sedikit pengertian dalam hati orang-orang yang mendengarkan.
Sekali lagi mereka dihadapkan pada kenyataan, bahwa Wulin Mengzhu yang terpilih kali ini adalah orang yang membingungkan, ―Dengar, dengarlah baik-baik, karena aku tidak ingin menyembunyikan apa-apa dari kalian semua. Sebagai bagian dari orang-orang yang pernah menerima budi baik keluarga Huang, aku menginginkan pembalasan. Namun sebagai Wulin Mengzhu dan sebagai manusia aku menolaknya.‖
―Cobalah kita tilik diri kita masing-masing, adakah dari kita yang bebas sepenuhnya dari rantai dendam dan pembalasan? Jika hari ini aku sebagai Wulin Mengzhu, menggunakan kedudukanku untuk membalaskan dendam keluarga Huang. Maka apa hakku untuk menolak, jika suatu saat nanti datang seseorang menuntut keadilan yang sama. Keadilan dari sudut pandang dirinya? Jika dendam itu sudah berjalan turun temurun, dan bukankah hal itu bukan hal yang baru, lalu kepada siapakah aku harus berpihak? Kalaupun kemudian aku
2213
memutuskan untuk memihak salah satu pihak, apakah itu menjadi penyelesaian yang terbaik? Pada akhirnya di tanganku, dunia persilatan ini akan terbagi-bagi, antara mereka yang puas dengan keputusanku dan mereka yang tidak puas.‖
―Jika hari ini Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui hampir saja membuat lapangan ini banjir darah. Jika hari ini aku membalaskan dendam keluarga Huang dengan kedudukanku sebagai seorang Wulin Mengzhu, banjir darah itu akan datang juga oleh tanganku sendiri. Meskipun bukan sekarang, tapi mungkin beberapa tahun lagi.‖
―Tindakanku kali ini, kalian ingatlah baik-baik. Selama aku menjadi Wulin Mengzhu, segala dendam di masa lampau hendaknya kalian lupakan. Jika ada pertentangan antara dua keluarga, jangan berharap aku akan memihak salah satu dari mereka. Siapa yang mengingkari keputusanku ini dan berusaha membalas dendam, dialah yang akan jadi lawanku sebagai Wulin Mengzhu. Lupakan dendam pribadi, galang persatuan demi kepentingan bersama. Ingat di luar sana masih ada Ren Zuocan, bahkan bukan tidak mungkin di belakang Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui masih ada pula tangan lain yang menggerakkan.‖, ujar Ding Tao menutup penjelasannya.
2214
Lama suasana pun jadi lengang, masing-masing orang memikirkan perkataan Ding Tao dan merenungkannya. Ada yang puas, ada yang tidak puas. Tapi bila mengingat keadaan mereka saat itu, dengan adanya ancaman dari luar, mau tidak mau mereka menerima kebenaran dari perkataan Ding Tao.
―Kalian sudah mendengar pendirianku, sebelum kalian menyesal, pikirkanlah baik-baik, apakah kalian masih mau mengangkatku menjadi Wulin Mengzhu?‖, tanya Ding Tao setelah membiarkan tiap-tiap orang cukup waktu untuk berpikir.
Ditanya demikian, banyak orang menjadi terkejut, tidak menyangka Ding Tao masih memberikan kesempatan pada mereka untuk menolak penunjukan dirinya sebagai Wulin Mengzhu. Padahal tidak terbersit sedikitpu kemungkinan itu dalam benak mereka. Bahkan mereka yang merasa kurang puas pada penjelasan Ding Tao pun, tidak memandang apa yang disampaikan Ding Tao sebagai sesuatu yang disampaikan oleh calon Wulin Mengzhu, melainkan oleh seorang Wulin Mengzhu. Satu keputusan yang harus diterima, senang atau tidak. Tapi tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk berpikir karena Ketua dari partai pengemis dengan hikmat menjawab pertanyaan Ding Tao itu dengan cepat.
2215
―Kami dari Partai pengemis, bersumpah setia pada Wulin Mengzhu yang baru, Ketua Ding Tao dari Partai Pedang Keadilan. Sejak saat ini, setiap anggota partai pengemis, wajib melakukan perintah dari Ketua Ding Tao atau dari perwakilan yang dikirimnya, dengan penanda Lencana Naga dan Burung Phoenix.‖, ucap orang tua itu sambil membungkuk hormat.
Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pun segera menyusul, disusul kemudian oleh Xun Siaoma yang mewakili Partai Hoasan dan Bhiksuni Huan Feng dari Emei. Setelah itu berturut-turut Kunlun dan Kongtong mengucapkan sumpah, dengan sendirinya tokoh-tokoh duni persilatan yang lain pun susul menyusul mengucapkan sumpah. Kemudian dengan dipimpin oleh Bhiksu Khongzhen, seluruh mereka yang hadir di kaki Gunung Shongsan itu mengucapkan sumpah setia menerima Ding Tao selaku Wulin Mengzhu, untuk secara bersama mengikuti dan menegakkan keputusan yang dia keluarkan.
Setelah semua upacara singkat dan sederhana dilakukan, pecahlah kegembiraan mereka semua, Biara Shaolin tidak pelit-pelit dalam mengeluarkan berbagai macam hidangan dan minuman. Dengan gesit bhiksu-bhiksu muda dari Shaolin mengeluarkan meja serta peralatan makan. Tentu saja tidak
2216
semua orang mendapatkan meja, hanya bagi mereka yang sebelumnya sudah disediakan kursi kehormatan saja. Panggung kayu dirobohkan dan dibersihkan pula dengan cepat. Jumlah anak murid Shaolin yang mencapai ribuan dan terpimpin dengan baik membuat semuanya berjalan dengan cepat. Kecekatan orang-orang Shaolin dalam mengubah lapangan menjadi tempat sebuah perayaan mengagumkan banyak orang. Meskipun sebagai sebuah biara tentu saja semua jenis makanan yang dikeluarkan adalah masakan dari barang tidak berjiwa, demikian pula minuman yang mereka hidangkan tidak mengandung arak. Namun suasana sudah cukup meriah tanpa adanya arak sekalipun. Mereka yang tidak mendapatkan meja dan kursi pun mendapatkan bagian yang tidak berbeda. Bedanya mereka harus menikmatinya sambil berdiri atau duduk di atas tanah. Namun buat orang-orang dari dunia persilatan yang sudah bisa dengan kehidupan yang keras, hal-hal seperti itu tentu tidak menjadi masalah.
Di luar sepengetahuan orang, Zhong Weixia tanpa kentara mendekati Shao Wang Gui yang sudah diikat kaki tangannya dan menjatuhkan secarik kertas di dekat kakinya. Tidak ada orang yang melihat Zhong Weixia melakukan hal itu. Tidak ada pula yang melihat bagaimana Shao Wang Gui mengambil
2217
secarik kertas itu diam-diam dan menyelipkan kertas itu di dalam sepatunya.
Meskipun pengawasan terhadap Shao Wang Gui cukup ketat, tapi mereka yang bertugas menjaga tidak mencurigai Zhong Weixia. Mereka juga tidak mengawasi tiap gerak-gerik Shao Wang Gui yang sudah tertutuk oleh Pendeta Chongxan dan terikat erat oleh tali yang kuat. Apalagi suasana sedang riuh ramai, merayakan diangkatnya Ding Tao sebagai Wulin Mengzhu.
―Ketua Ding Tao, tentang pelaksanaan hukuman atas diri Shao Wang Gui, apakah tidak sebaiknya dilaksanakan secepatnya?‖, tanya Bai Chungho yang duduk semeja dengan Ding Tao.
―Hmm… dalam suasana perayaan seperti ini, melaksanakan satu hukuman, apakah bukan sebuah pertanda yang buruk?‖, tanya Guang Yong Kwang yang juga duduk di meja yang sama dengan alis berkerut.
―Heh…! Kalau menurutku sih, membiarkan setan itu dalam keadaan sekarang ini justru merupakan pertanda yang buruk. Entah bagaimana menurut Ketua Ding Tao?‖, ujar Bai Chungho sambil melirik ke arah Guang Yong Kwang, tapi pengemis tua
2218
itu tidak ingin memancing perselisihan dengan Perguruan Kunlun, oleh karenanya dia kembali melemparkan masalah itu pada Ding Tao.
Ding Tao tidak segera menjawab, melainkan bertanya pada Bhiksu Khongzhen terlebih dahulu, ―Tetua, jika Shaolin diminta menjaga Shao Wang Gui selama semalam saja, apa kira-kira ada halangan?‖
―Hmm… iblis itu sendiri memiliki banyak akal, selain itu para pendukungnya yang tidak berani muncul saat dia panggil. Bukan tidak mungkin masih memiliki cukup keberanian dan kesetiaan untuk mencoba melepaskannya di waktu malam.Tapi jika Pendeta Chongxan, Bhiksuni Huan Feng,Rekan Hua Ng Lau, Rekan Xun Siaoma dan Saudara Bai Chungho bersedia membantu Shaolin untuk menjaganya. Kukira tidak akan ada masalah jika Ketua Ding Tao ingin menunda hukumannya sampai besok pagi.‖, jawab Bhiksu Khongzhen.
Ding Tao yang peka segera menangkap kesan yang disampaikan oleh Bhiksu Khongzhen, dari enam ketua perguruan besar dan tokoh yang hadir, nama Zhong Weixia dan Guang Yong Kwang tidak disebut di dalamnya, ―Hmmm, aku mengerti. Lalu bagaimana dengan Tetua dan Ketua
2219
sekalian, apakah kira-kira ada masalah jika kalian membantu penjagaan atas diri Shao Wang Gui malam ini?‖
―Tidak, tidak ada masalah, tentu saja kami dengan suka hati akan membantu.‖, demikian mereka yang duduk satu meja, beramai-ramai menjawab, termasuk Zhong Wei Xia dan Guang Yong Kwang.
―Baiklah kalau begitu, biarlah hukuman Shao Wang Gui kita tunda sampai besok pagi, tidak perlu pula semua orang menyaksikannya yang hendak pulang ke tempatnya masing-masing hari ini juga, biarlah pulang. Tapi untuk malam ini kuharap Tetua Bhiksu Khongzhen, Tetua Pendeta Chongxan, Tetua Hua Ng Lau, Tetua Bai Chungho dan Tetua Xun Siaoma bersedia untuk berjaga-jaga. Tentunya orang-orang dari partai pedang keadilan pun akan ada yang ditugaskan untuk membantu berjaga di Biara Shaolin.‖, ujar Ding Tao sambil memandang ke arah mereka yang namanya disebutkan.
―Ketua Ding Tao sungguh bijaksana, memang terlampau kasar jika perayaan seperti ini harus dinodai dengan penumpahan darah.‖, ujar Guang Yong Kwang sambil melirik Bai Chungho dengan senyum dikulum.
2220
―Heheh… siapa yang tidak tahu kalau pengemis itu wataknya kasar, yang penting luar dan dalam, tidaklah berbeda. Daripada penampilan bagus namun isinya busuk, ini yang repot.‖, jawab Bai Chungho tidak mau kalah.
Guang Yong Kwang sudah membuka mulut hendak menjawab, tapi Zhong Weixia meletakkan gelasnya ke atas meja dengan suara yang cukup keras, membuat Guang Yong Kwang menoleh ke arahnya, ―Hmm… orang muda seharusnya belajar hormat pada yang lebih tua. Lagipula apa Ketua Kunlun tidak malu, berdebat mulut dengan seorang pengemis?‖
―Hee… jika ada yang hendak membuka suara, baiklah dia mengatakan hal-hal yang baik saja. Jangan sampai suasana jadi rusak karena hal-hal sepele.‖, Xun Siaoma membuka mulut menengahi.
Wajah Guang Yong Kwang sudah memerah karena kesal, namun pemuda itu cepat menekan emosinya dan tersenyum kembali, ―Ah… rekan-rekan, aku mohon maafkan aku. Terkadang mulutku memang susah diatur. Ketua Bai Chungho, harap kau anggap angin omonganku yang sebelumnya.‖
2221
Bai Chungho tadinya masih ingin mendamprat pemuda itu beberapa kali lagi, namun karena Guang Yong Kwang sudah memohon maaf di depan yang lain, dia pun jadi sungkan untuk menerukskan perdebatan, ―Ya..ya… aku pun minta maaf pada Ketua Guang Yong Kwang, maklumlah sehari-harinya aku ini hanya seorang pengemis. Mana mengerti tentang ajaran-ajaran yang baik.‖
Suasana yang sempat memanas pun jadi mereda, Ding Tao yang khawatir akan terjadi pertengkaran di antara mereka pun jadi lega. Hari itu pun berlalu tanpa ada kejadian penting yang perlu diceritakan. Ding Tao masih harus bertemu dengan ketua-ketua dari berbagai perguruan. Mendengar pendapat mereka mengenai apa-apa yang harus dia pertimbangkan sebagai seorang Wulin Mengzhu. Keesokan harinya, kecuali dilakukannya hukuman atas Shao Wang Gui di depan tokoh-tokoh persilatan, kesibukan yang sama seperti di hari sebelumnya masih menghabiskan waktu Ding Tao. Demikian 3 hari berturut-turut Ding Tao dan para pengikutnya menghabiskan waktu di Gunung Songshan, menjadi tamu Biara Shaolin dan Ding Tao menghabiskan waktu hanya untuk mendengarkan masukan-masukan dari tokoh dunia persilatan yang ingin bertemu dengan dirinya. Ada pula ketua-ketua dari
2222
perguruan yang datang untuk mengakui keterlibatan mereka dalam rencana Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui. Mereka ini datang untuk meminta ampunan dari Ding Tao sebagai Wulin Mengzhu, kebanyakan mengaku bahwa mereka mengikuti rencana Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui karena terpaksa. Ada yang anggota keluarganya disandera, ada pula yang dipaksa karena sudah menelan racun tertentu.
Tentu saja setiap laporan ini perlu diurus lebih lanjut, mereka yang mengaku anggota keluarganya disandera, selain datang untuk mengaku tentu saja juga datang untuk memohon bantuan. Demikian juga mereka yang dipaksa meminum racun buatan dua iblis itu.Ding Tao pun harus membagi-bagi tugas dan memohon bantuan dari tokoh-tokoh yang dia percayai, seperti Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan dan yang lain. Tidak ada kesempatan sedikitpun bagi Ding Tao untuk bertemu dengan Huang Ren Fu untuk meluruskan kesalah pahaman di antara mereka. Atau menemui Hua Ying Ying untuk melepas rindu.
Tapi kesibukan itu pun akhirnya berakhir, sedikit demi sedikit tokoh-tokoh dunia persilatan yang menunggu di kaki Gunung Songshan untuk bertemu dengan Ding Tao semakin sedikit. Hingga akhirnya tidak tersisa seorang pun, tinggal para bhiksu
2223
Biara Shaolin, Hua Ng Lau serta dua orang murid dan anak angkatnya, dan beberapa orang pengikut utama Ding Tao yang masih menunggu. Saat akhirnya mereka berpamitan dengan Bhiksu Khongzhen dan para pimpinan di Shaolin pun, rombongan mereka tinggal hanya 8 orang. Ding Tao, Hua Ng Lau, Hua Ying Ying, Huang Ren Fu, Ma Songquan, Chu Linhe, Tang Xiong dan Li Yan Mao. Pengikut Ding Tao yang lain, yang jumlahnya mendekati seratus orang sudah kembali terlebih dahulu ke tempat masing-masing membawa kabar gembira tentang terpilihnya Ding Tao sebagai Wulin Mengzhu di generasi yang sekarang ini. Bagaimana pun juga apa yang mereka khawatirkan ternyata tidak terjadi. Dengan terkuaknya Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui sebagai dua orang otak dibalik penyerangan atas keluarga Huang di Wuling, ketakutan yang membayangi mereka rasanya sebagian besar sudah hilang.
Dari pengakuan Shao Wang Gui, dua orang yang lain adalah Wu Shan Yee dan Kong Wan, raja perampok yang menguasai pegunungan dan hutan-hutan di wilayah barat tenggara. Seharusnya Kong Wan dan anak buahnya ikut pula membaur dengan penonton lain yang menghadiri pemilihan Wulin Mengzhu. Bersama dengan beberapa perguruan-perguruan
2224
kecil dan besar yang ditundukkan oleh Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui secara diam-diam. Dari Shao Wang Gui juga didapatkan banyak informasi yang diperlukan Ding Tao untuk membebaskan mereka yang dipaksa oleh sepasang Iblis itu untuk tunduk pada perintahnya. Mereka yang mengikut secara suka rela karena iming-iming harta dan kekuasaan dicatat pula untuk diperiksa dan diawasi lebih lanjut.
Setelah menghabiskan tiga hari penuh dengan berbagai macam urusan, berjalan dengan bebas dengan langit yang biru cerah di atas, udara yang segar untuk dihirup dan pemandangan indah di kiri dan kanan jalan, hati Ding Tao pun terasa sangat lega.
Beberapa li jauhnya dari Biara Shaolin, melewati jalan yang lenggang, pemuda itu pun menghembuskan nafas lega, ―Hahhhh… Adik Ying Ying, bukankah hari ini indah sekali?‖
―Benar, ini hari yang cerah, apalagi setelah beberapa hari terkurung terus dalam ruangan, tentu perasaan Kakak Ding Tao jadi ringan berjalan di luar.‖, jawab Hua Ying Ying sambil tersenyum.
2225
Ding Tao pun tersenyum, saat dia menengok ke arah Hua Ying Ying, bau harum yang tersiar keluar dari tubuh gadis itu pun tercium oleh hidungnya yang tajam. Saling bertatapan, Hua Ying Ying kemudian menundukkan kepala, tersipu malu. Demikian juga dengan Ding Tao, pemuda itu merasa malu dan jengah, apalagi dia teringat dengan keadaannya sekarang ini. Dia sudah beristeri dua dan sekarang sedang mengagumi seorang gadis yang bukan isterinya. Teringat hal itu, mulut Ding Tao jadi terkunci, lidahnya kelu dan kegembiraannya pun menguap hilang. Betapa mudah manusia dipermainkan susah dan senang.
Hua Ying Ying juga terdiam dan berjalan sambil menundukkan kepala saja. Entah sudah berapa hari, berapa minggu dan berapa bulan dia merindukan Ding Tao? Sekarang ketika akhirnya dia berjalan di sisinya, justru dia tak mampu berbicara. Padahal sekian banyak malam dia habiskan, membayangkan dan merencanakan, apa yang akan dia katakan seandainya dia bertemu muka dengan Ding Tao. Sekarang justru dia tidak bisa mengucapkan apa-apa. Untuk beberapa lama, sepasang kekasih yang dipisahkan oleh nasib ini pun berjalan dalam diam. Anggota rombongan yang lain adalah orang-orang dekat mereka, tanpa perjanjian lebih dulu, dengan sendirinya mereka
2226
berjalan sedikit terpisah dari sepasang kekasih itu. Ma Songquan, Hua Ng Lau dan Chu Linhe, berjalan sedikit di depan. Huang Ren Fu, Tang Xiong dan Li Yan Mao tertinggal cukup jauh di belakang, berbicara banyak tentang pengalaman mereka sejak kejadian di Wuling dan mengenang sahabat dan saudara yang terbunuh di hari yang terkutuk itu.
Setiap kali hendak membuka percakapan, jantung Hua Ying Ying berdegup kencang. Sambil menggigit bibir gadis ini mengumpulkan segenap keberaniannya untuk memulai pembicaraan. Matanya melirik ke arah Ding Tao, siapa sangka di saat yang bersamaan Ding Tao juga sedang memandang dirinya. Wajah setengah tengadah, mata jeli dan bibir ranum yang digigit, tiba-tiba Ding Tao merasa kakinya lemas dan jantungnya berdebaran lebih kencang.
―Ah… uhm…, Adik Ying Ying…, kau… cantik sekali.‖, di luar maunya dia pun berucap.
Hua Ying Ying yang tadinya mau bicara pun jadi lupa dengan apa yang sudah dia rencanakan, tergagap dia menundukkan wajahnya dan menjawab, ―Ah… Kakak Ding Tao bisa saja… bukankah kata orang isteri kakak secantik bidadari dari langit?‖
2227
Selesai berkata barulah gadis itu berpikir dan menyesal, ‗Jangan-jangan Kakak Ding Tao pikir aku cemburu… padahal bukan seperti itu maksudku. Tapi… apa memang aku tidak cemburu…?‘
Kembali keduanya terdiam beberapa lama, namun Ding Tao yang sudah memuji Hua Ying Ying tanpa maksud apa-apa, merasa tidak enak jika tidak menjelaskan. Lagipula jawaban Hua Ying Ying memang bisa berarti macam-macam. Ding Tao yang merasa dirinya memang bersalah, merasa harus menjelaskan. Mengapa harus menjelaskan? Karena dia ingin Hua Ying Ying memaafkan dirinya, tidak marah apalagi benci terhadap dirinya? Apakah karena dia masih berharap bisa memperisteri Hua Ying Ying? Berbagai pertanyaan ini berkecamuk dalam pikirannya, membuat dia terdiam.
―Kakak Ding Tao…, apakah kakak marah oleh ucapanku barusan?‖, dengan suara perlahan Hua Ying Ying bertanya.
Ding Tao yang sedang berpikir dan berkutat dengan tuduhan-tuduhan dalam hatinya sendiri pun terkejut mendengar perkataan Hua Ying Ying, ―Apa? Marah? Tidak tentu saja tidak. Apa yang adik katakan itu tidaklah salah. Adik tidak bersalah
2228
sedikitpun, justru… justru diriku-lah yang bersalah pada kalian semua.‖
Setelah terdiam sejenak, Ding Tao pun berkata, ―Adik Ying, maafkanlah aku, aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Ternyata aku bukanlah lelaki yang setia….‖
―Tidak… kakak tidak salah… Aku tahu, kalian semua mengira kami sudah mati terbunuh juga dalampembunuhan hari itu.‖, jawab Hua Ying Ying, menggelengkan kepalanya perlahan.
Ding Tao pun bimbang, alangkah mudahnya untuk berkata ya, lama dia terdiam, hingga Hua Ying Ying menjadi ragu atas jawabannya sendiri, ―Kakak… bukankah benar kataku?‖
Ding Tao menghela nafas panjang sebelum menjawab, ―Seandainya aku bisa mengatakan ya, dengan nurani yang tidak terganggu…‖
Bibir Hua Ying Ying bergetar, jantungnya berdegup kencang, ―Maksud… kakak… apakah kakak tahu bahwa kami masih hidup… ketika…‖
―Tidak… tidak… bukan itu maksudku. Kami semua berpikir kalian sudah meninggal saat itu, memang sempat muncul
2229
harapan saat kami berhasil menangkap Tiong Fa. Tapi.. kemudian…kami berusaha mencari jejak kalian… dan… tidak… dalam hati kecilku aku percaya bahwa kalian berdua memang masih hidup. Tapi aku tidak tahu apakah itu hanyalah keinginanku, atau memang hatiku berkata demikian…‖, Ding Tao buru-buru berusaha meluruskan maksudnya.
―Maafkan aku Adik Ying…, di saat yang penting, aku justru kehilangan keyakinanku…‖, ujarnya perlahan.
Hua Ying Ying diam untuk beberapa lama, bergumul dengan perasaannya. Ding Tao hanya bisa memandanginya dengan hati terasa perih, menyesal dan menyalahkan diri sendiri untuk kelemahannya. Apakah dia menyesali pernikahannya dengan Murong Yun Hua dan Murong Huolin? Pemuda itu pun bertanya-tanya dalam hati, ada di sudut hatinya satu kejengkelan pada Hua Ying Ying, mengapa gadis itu harus marah? Tidakkah dia bisa mengerti? Mengapa Hua Ying Ying tidak mau membuat masalah ini menjadi mudah? Jika dia sudah bebas, mengapa tidak secepat mungkin menemui dirinya, jika saja dia berbuat demikian, tentu Ding Tao tidak menikah dengan kedua Murong bersaudara dan tidak perlu merasa bersalah seperti sekarang ini. Namun dengan cepat
2230
Ding Tao mengusir rasa itu pergi, merasa kesal pada diri sendiri karena berpikir demikian.
―Tidak apa… kakak tidak bersalah… aku bisa mengerti keadaan kakak. Bahkan Kak Huang Ren Fu dan Ayah Hua Ng Lau pun berpikiran sama. Itu sebabnya kami memilih untuk menghilang, seandainya Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui tidak muncul pada saat itu, sampai sekarang pun kami tidak akan muncul di hadapanmu.‖, ujar Hua Ying Ying setelah diam cukup lama, bergumul dengan perasaannya sendiri.
―Mengapa kalian tidak datang padaku? Jika aku tahu bahwa kau masih hidup, maka aku tidak akan menikahi mereka berdua.‖, tiba-tiba Ding Tao bertanya dengan kesal.
Hua Ying Ying yang mendengar nada kesal dalam suara Ding Tao jadi terkejut. Sejak tadi dia sudah menahan perasaan sakit yang timbul karena cemburu, mendengar nada kesal dalam suara Ding Tao, segala perasaan yang berusaha ditekan pun meledak keluar.
―Apa maksudmu mengapa kami tidak datang padamu!? Berapa lama kau menunggu dan mencari keberadaan kami? Apakah lebih lama dari penantianku? Selama kami dalam tangan Tiong
2231
Fa, bisakah kau membayangkan apa yang harus kami lalui setiap harinya? Ketika akhirnya kami berhasil membebaskan diri, aku mendengar bahwa kau sudah menikah! Justru karena rasa cintaku padamu, aku memutuskan untuk membiarkanmu hidup bahagia, dengan dua orang isterimu!‖, seru Hua Ying Ying dengan suara cukup keras.
Hua Ng Lau yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas. Ma Songquan melirik ke arah isterinya dan Chu Linhe hanya menggelengkan kepala perlahan. Ma Songquan pun hanya bisa menghela nafas, apalagi baginya urusan cinta Ding Tao bukanlah urusan yang paling penting bagi dirinya. Di belakang, rombongan Huang Ren Fu, Tang Xiong dan Li Yan Mao pun ikut mendengar seruan Hua Ying Ying itu. Huang Ren Fu yang sudah mendengar banyak cerita dari Tang Xiong dan Li Yan Mao mengenai keadaan Ding Tao saat dia berusaha mencari mereka berdua, melangkah maju ke depan, ingin mendamaikan keduanya, tapi Li Yan Mao yang sudah kenyang dalam pengalaman hidup, meraih tangannya dan menahan Huang Ren Fu untuk ikut campur.
―Biarlah… masalah ini tidak bisa diselesaikan orang luar… kecuali jika Nona Ying Ying yang datang padamu untuk minta pendapat.‖, ujarnya tersenyum menenangkan.
2232
Di depan sana Ding Tao menggertakkan gigi, menyesali apa yang barusan dia katakan, ―Adik Ying Ying… maafkan aku… maafkan aku… aku merasa marah pada diriku sendiri. Terlalu malu untuk mengakui kelemahanku… dan aku… aku… aku berusaha lari dari kenyataan itu dan melemparkan kesalahan itu padamu.‖, ujarnya dengan setulus hati.
Masih dengan mata membara Hua Ying Ying menatap Ding Tao lurus-lurus, saat itu Ding Tao masih menunduk dengan penuh penyesalan. Saat dia menengadahkan kepala dan memandang Hua Ying Ying, Ding Tao bisa melihat kemarahan dan kesedihan di dalam dirinya.
―Adik Ying… memang aku yang bersalah…maafkan aku…‖, ujarnya dengan sepenuh hati.
Perlahan kemarahan dalam hati Hua Ying Ying mereda, tidak sakit itu tidak hilang sepenuhnya tapi kemarahannya sudah mereda, perlahan dia menggelengkan kepala, ―Sudahlah… Kakak Ding Tao juga tidak bersalah…‖
―Tidak… kalian belum mendengar seluruh kisahnya…‖, ujar Ding Tao, suaranya sedikit bergetar.
2233
Awalnya sedikit terbata-bata, namun dengan semakin banyaknya kata yang keluar, semakin lancar dia berbicara. Dari mulut Ding Tao mengalirlah kisah pertemuannya dengan Murong Yun Hua, bagaimana dalam perjalanannya ke Biara Shaolin dia bertemu dengan dua gadis itu. Hingga pada malam itu, di mana dia akhirnya menyerah pada keinginan Murong Yun Hua. Seperti membersihkan hatinya dari luka yang bernanah, kata-kata keluar dengan menderas.
―Adik Ying… kau lihat, sesungguhnya memang aku bersalah padamu… Bersalah pada kalian semua, aku mengerti jika kau tidak bisa memaafkanku atau percaya padaku untuk kedua kalinya. Tapi jika kau masih mau memberiku kesempatan… maukah kau… maukah kau menikah denganku?‖
―Tidak… jangan kau jawab sekarang… aku sepenuhnya paham jika kau menolaknya…‖, ujar Ding Tao menatap lurus ke arah Hua Ying Ying.
Gadis itu menatap Ding Tao dengan berbagai macam perasaan berkecamuk dalam hatinya, kemudian dia perlahan menganggukkan kepala. Hari itu pun berlalu tanpa ada lebih banyak kata-kata di antara mereka berdua. Anggota rombongan yang lain pun memberikan ruang bagi keduanya
2234
untuk mengurai benang cinta yang terajut kusut di antara keduanya.
Beberapa hari berlalu, kejadian yang sama masih berulang. Hua Ng Lau, Ma Songquan dan Chu Linhe berjalan di depan. Huang Ren Fu, Li Yan Mao dan Tang Xiong berjalan jauh di belakang. Sementara Ding Tao dan Hua Ying Ying berjalan berdua dalam diam. Hua Ying Ying benar-benar bergulat dengan perasaannya yang campur aduk tidak karuan, antara cinta, marah, benci dan cemburu. Ketulusan Ding Tao, penyesalannya yang sungguh-sungguh dan rasa cinta yang belum pernah padam, membuat gadis itu ingin memaafkan dan mengalah. Segala rasa sakit dan cemburu akan dia kubur dalam-dalam asalkan dia bisa bersamanya. Di saat yang sama, rasa cinta itu juga yang membangkitkan kecemburuan dalam hatinya, cemburu dan sakit hati karena merasa dikhianati. Ketika mereka beristirahat di penginapan pun, Hua Ying Ying akan menyendiri, tak hendak dia bercakap-cakap dengan yang lain, kecuali beberapa kalimat pendek, sekedar untuk menjaga kesopanan. Jika dia merasa sangat penat, dia akan datang pada Hua Ng Lau, orang tua itu sudah menjadi pengganti ayah yang sangat dekat dengan hatinya. Lebih mirip seorang kakek
2235
yang memanjakan cucunya, daripada seorang ayah yang lebih keras dalam mendidik puterinya.
Bila saat seperti itu tiba, Hua Ying Ying akan datang pada Hua Ng Lau, tidak ada kata yang keluar. Dia hanya datang untuk menyandar di bahu Hua Ng Lau dan menangis sepuas-puasnya. Hua Ng Lau yang sudah berumur, mengenal betul perangai Hua Ying Ying, yang bisa manja namun juga keras dalam kemauan. Dia mengerti Hua Ying Ying tidak ingin bertanya, dia ingin mengambil keputusan sendiri, dia datang hanya untuk mendapatkan penguatan dan dukungan, dan itulah yang diberikan Hua Ng Lau.
Hua Ng Lau tidak pernah membicarakan masalah Ding Tao dengan Hua Ying Ying. Jika gadis itu datang, maka Hua Ng Lau pun akan membiarkan dia menangis sepuasnya. Jika dilihatnya, perasaan Hua Ying Ying sudah membaik, orang tua itu akan bercerita tentang banyak hal, tapi tidak sedikitpun dia memberikan nasehat. Dia menunggu Hua Ying Ying bertanya, namun tidak juga gadis itu bertanya.
Demikian beberapa hari berlalu, yang lain tidak berani ikut campur dalam urusan yang peka itu. Masalah hati memang masalah yang rumit, apalagi hati seorang gadis.
2236
Ratusan li jauhnya dari tempat Hua Ying Ying, seorang gadis lain dilanda masalah asmara yang tidak kalah peliknya.
―BRAGG !!!‖, seorang lelaki terlempar keluar lewat pintu yang belum dibuka, dari ruangan besar tempat pertemuan Persatuan Harimau Putih yang merajai propinsi Shanxi.
Kalau terlempar keluar saja sudah sakit bukan main, apalagi sebelum keluar harus menuburuk pintu kayu yang keras, setelah sampai di luar masih juga terguling-guling, lalu menabrak pot besar dari batu. Tapi yang terjungkal keluar setelah ditendang oleh seseorang dari dalam ruang pertemuan bukan orang biasa. Nama aslinya Auwyang Xia, nama panggilannya kerbau besi, tubuhnya benar-benar liat dan keras. Benar-benar badannya seperti seekor kerbau yang berkulit dan berotot besi. Sayangnya otaknya juga setingkat kerbau dan lebih suka main seruduk daripada berpikir dahulu sebelum bertindak. Malasnya juga mirip kerbau, jika sudah kambuh penyakit malasnya, pekerjaan apapun akan dia tunda-tunda.
Tidak heran, kalau bekerja di mana pun Auwyang Xia sering mendapatkan caci maki dari atasannya. Herannya meskipun kemalasannya sudah terkenal di mana-mana, tidak kurang juga orang yang berusaha mempekerjakan dia. Termasuk yang baru
2237
saja menendang dia keluar dari ruangan sampai memecahkan daun pintu dan pot dari batu.
Yang ditendang punya nama, tentu yang menendang lebih ternama lagi. Siapa orangnya? Ternyata yang baru saja menendang keluar Auwyang Xia adalah Wang Shu Lin atau yang lebih dikenal sebagai Ximen Lisi. Terbukanya rahasia Ximen Lisi dalam pertemuan untuk memilih Wulin Mengzhu di kaki Gunung Songshan benar-benar membuat pusing gadis itu. Maklum saja yang namanya geng-geng itu, berisi orang-orang kasar yang tidak kenal pendidikan dan andalannya hanyalah kekuatan. Seringkali mereka memandang kaum wanita derajatnya beberapa lapis di bawah kaum lelaki. Selama ini Ximen Lisi membuat mereka takluk dengan kepandaian dan kekuatannya. Namun ketika mengetahui bahwa dirinya adalah seorang gadis, mulailah muncul perlawanan kecil di sana-sini.
Seperti yang baru saja terjadi dengan Auwyang Xia yang ditendang keluar olehnya.
―Kerbau! Kutunggu laporanmu akhir minggu ini. Jika urusan itu belum juga selesai, jangan salah jika lain kali bukan kakiku lagi, tapi pedangku yang bicara. Boleh kita lihat apakah kulit kerbaumu benar-benar sekeras besi.‖, seru Wang Shu Lin dari
2238
dalam ruangan, sedikitpun dia tidak menengok keluar untuk melihat nasib Auwyang Xia yang baru saja dia tendang hingga terlempar belasan kaki jauhnya.
―Baik… baik nona… eh tuan… sebelum minggu ini berakhir aku akan datang untuk melapor…‖, jawab Auwyang Xia sambil meringis menahan sakit.
Di dalam ruangan Wang Shu Lin, mendengarkan jawaban Auwyang Xia dengan alis berkerut. Jari-jemarinya memijit dahinya yang serasa mau pecah, karena banyak urusan tertunda, hanya karena dia seorang gadis. Zhu Jiuzhen dan Lu Jingyun, sejak terbongkarnya penyamaran Wang Shu Lin, ikut datang ke Shanxi dan membantu Wang Shu Lin menjalankan perkumpulannya.
Dengan nada prihatin, Zhu Jiuzhen mendekati Wang Shu Lin, ―Shu Lin…, sabarlah, pelan-pelan mereka juga akan mengerti. Bahwa Wang Shu Lin dan Ximen Lisi tidak ada bedanya.‖
Wang Shu Lin menghela nafas, ―Hehh… Jiuzhen, sampai kapan kau dan kawanmu mau menumpang di sini? Apa kau pikir aku tidak bisa mengatasi masalah ini sendiri?‖
2239
Lu Jingyun yang ikut datang sebagai sahabat Zhu Jiuzhen, hanya duduk di sudut ruangan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
‗Jiuzhen… Jiuzhen… ada ribuan gadis cantik di luar sana, mengapa harus mencari harimau betina?‘, batinnya dalam hati.
Zhu Jiuzhen sudah kenyang berhadapan dengan Wang Shu Lin yang berlidah tajam, ―Hmm… apa kau sudah tidak menganggapku sebagai teman? Masa kau keberatan hanya karena beberapa mangkok nasi dan beberapa guci arak saja?‖
Wang Shu Lin sudah membuka mulutnya untuk memaki lagi, namun melihat ketulusan Zhu Jiuzhen untuk membantu dirinya, tiba-tiba dia jadi tak tega. Apalagi dia tahu Zhu Jiuzhen menaruh hati padanya. Dahulu dia menganggap hal itu sebagai sesuatu yang konyol dan patut ditertawakan, tapi sekarang, sekarang dia sendiri sudah mengenal apa itu cinta. Tidak bisa lagi dia menertawakan Zhu Jiuzhen seperti dulu.
―Ah… dasar kalian segerombolan orang pemalas, kalau memang mau makan dan minum gratis sebaiknya kalian berdua bekerja. Kau gantikan aku menyelesaikan urusan di
2240
sini, aku mau tidur, kepalaku pusing!‖, ujarnya sambil bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan.
―Ya… beristirahatlah yang banyak. Tidak usah kuatir segala urusan, ada kami berdua di sini, kau tidak usah kuatir.‖, ujar Zhu Jiuzhen sambil memandangi Wang Shu Lin berjalan pergi.
Wang Shu Lin hanya melambaikan tangan dan tidak menengok ke belakang. Air mata mengembang di pelupuk matanya.
‗Mengapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak menentu? Mudah terharu, mudah marah, apakah aku sudah mulai gila...? Ah… Ding Tao…‘, pikir gadis itu dalam hati.
Begitu dia sampai di luar dan tidak terlihat dari tempat Zhu Jiuzhen dan Lu Jingyun berada, gadis itu pun menyusut air mata yang sudah mau tumpah keluar. Setengah berlari, gadis itu pergi ke kamarnya. Jika dilihatnya orang lewat cepat-cepat dia berjalan dengan wajar, dengan wajah keras dan tegas, Wang Shu Lin menyembunyikan kegundahan dalam hatinya. Apa yang sebenarnya membuat seseorang jatuh cinta? Sulit dikatakan, tiap-tiap orang mungkin berbeda, yang pasti saat ini Wang Shu Lin sedang jatuh cinta pada Ding Tao. Cinta pertama di hatinya yang tertutup rapat, seperti air yang
2241
membual keluar, semakin kuat di tekan, semakin rasa itu mendesak keluar dengan derasnya.
Begitu sampai di dalam kamar, gadis itu pun segera menutup dan memasang palang pintu, kemudian melemparkan tubuhnya ke atas pembaringan dan menangis tersedu-sedu.
Mengapa juga harus jatuh cinta, jika jatuh cinta, mengapa bukan pada Zhu Jiuzhen yang mencintainya sepenuh hati? Mengapa harus jatuh cinta pada seorang pria yang sudah beristeri dua. Bahkan di luar dua isterinya itu, masih pula memiliki seorang kekasih dan tidak ada satu pun dari ketiganya yang buruk rupa. Sudah berpuluh bahkan beratus kali Wang Shu Lin mematut-matut dirinya di depan cermin sejak dia meninggalkan kaki Gunung Songshan. Tidak sekalipun dia merasa dirinya secantik Hua Ying Ying yang dia lihat berada dalam pelukan Ding Tao. Kekuatan yang dulu dia banggakan, sekarang justru dia benci. Tubuh berotot yang menyimpan kekuatan yang bisa menundukkan setiap lawan, betapa jauh berbeda dengan Hua Ying Ying yang gemulai dan begitu lembut dalam pelukan Ding Tao.
Terkadang perasaannya melambung ke atas bila mengingat seorang Zhu Jiuzhen bisa pula jatuh cinta padanya. Wajahnya
2242
tidaklah buruk, bila dia melepas bajunya dan mengamati tubuhnya yang telanjang, dia bisa melihat lekak-lekuk tubuhnya yang menggiurkan. Tapi di saat lain, penilaiannya terhadap diri sendiri berubah 180 derajat, apalagi jika mengingat pujian orang akan kecantikan dua orang isteri Ding Tao dan lebih-lebih lagi jika teringat oleh keayuan Hua Ying Ying yang dilihatnya sendiri.
Kalau ditimbang-timbang, entah siapa yang lebih merana. Apakah Hua Ying Ying ataukah Wang Shu Lin. Yang seorang merasa dikhianati, karena dialah yang pertama memiliki Ding Tao, namun justru orang lain yang lebih dahulu menikah dengan Ding Tao. Yang seorang lagi justru tidak pernah hadir dalam kehidupan Ding Tao sedikitpun, betapa dia mendambakannya, betapa pula dia merasa dirinya terlalu mengada-ada.
Saat air matanya mengering, Wang Shu Lin bangkit berdiri, menatap cermin yang terpasang di kamarnya. Sebelum dia pulang dari kaki Gunung Songshan, cermin itu tidak ada. Segera setelah dia kembali dari kaki Gunung Songshan, cermin itu pun ada dalam kamarnya.
2243
Sudah belasan kali Wang Shu Lin berpikir untuk pergi dari Shanxi dan mencari Ding Tao untuk menyampaikan perasaan dalam hatinya. Belasan kali pula dia menyingkirkan pikiran itu dari benaknya. Hari ini segenap rasa kesal dan juga cinta sudah tak tertahankan lagi olehnya.
―Gadis bodoh…, apa pula yang kau takuti dan apa pula yang kau tangisi. Baik kita pergi sekarang, biarkan kata-kata yang pedas menyadarkanmu dari mimpi!‖, ujarnya dengan marah pada sosok dirinya yang terpantul di cermin.
Inilah Wang Shu Lin, Wang Shu Lin yang membasmi habis 16 orang kepala geng di Shanxi tanpa ampun. Boleh jadi dia seorang gadis dengan segala emosinya, tapi Wang Shu Lin memang macan betina. Jika dia sudah mengambil keputusan, apakah dunia mau menertawakan dia atau menghalanginya dia tidak akan mau tahu. Siapa peduli apakah tabu atau tidak. Siapa mau peduli, apakah nanti Ding Tao akan menerima cintanya atau tidak. Dia mau kepastian dan dengan kepastian itu dia ingin melangkah ke depan. Tak hendak dia terhenti di tempat dan menangisi seorang lelaki yang belum tentu mencintainya, seperti dirinya mencintai dia. Jika memang ada kemungkinan, dia akan memperjuangkan cintanya. Jika memang tidak ada kemungkinan, dia akan melupakannya.
2244
Belasan kali dia berpikir demikian, namun rasa takut akan penolakan membuat dia terhenti. Tapi hari ini kekesalannya sudah sampai di puncaknya.
Dengan jantung berdebar, dia mengeluarkan selembar kertas yang sudah dia tulis beberapa malam sebelumnya. Sebuah pesan bagi Lu Jingyun dan Zhu Jiuzhen. Wang Shu Lin memang berbakat untuk jadi orang besar dalam dunia persilatan, meskipun dia sering mengeluhkan keberadaan Zhu Jiuzhen dan Lu Jingyun, dia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk menunjukkan pada setiap pengikutnya, bahwa kedudukan dua orang itu hanyalah di bawah dirinya, namun di atas setiap pengikut yang lain. Lain kata, lain pula siasat dan perbuatan. Dengan demikian, selembar surat inipun sudah cukup baginya untuk meninggalkan perkumpulan yang dia bangun di atas banjir darah dan peluh, di tangan dua orang yang dia percayai.
Bagi Wang Shu Lin, waktu terasa berjalan begitu lambat. Menunggu hingga kentongan berbunyi, menandakan malam sudah larut, barulah dia mengendap-endap pergi keluar. Dalam hati Wang Shu Lin sempat tertawa geli, mengapa pula dia harus mengendap-endap di tempatnya sendiri seperti seorang pencuri. Malam itu pun Wang Shu Lin menghilang dari Shanxi
2245
dan keesokan paginya seisi rumah pun jadi geger oleh perbuatan gadis itu.
―Ke mana harimau betina itu pergi, seenaknya saja menitipkan urusan sebesar ini pada orang lain.‖, omel Lu Jingyun sambil membaca surat itu untuk ke sekian kalinya.
Tidak mendapat tanggapan sedikit pun dari Zhu Jiuzhen dia menengok pada sahabatnya itu, dilihatnya Zhu Jiuzhen diam termenung.
Mendesah panjang Lu Jingyun pun berkata, ―Sudahlah…, begitu banyak gadis di dunia ini, mengapa pula kau harus memikirkan yang seorang itu?‖
―Menurutmu dia pergi menemuinya?‖, tanya Zhu Jiuzhen tanpa menengok sedikitpun.
Lama Lu Jingyun terdiam, cara nasib mempertemukan orang memang unik. Persahabatannya dengan Zhu Jiuzhen, diawali dari kejadian yang tak disengaja. Namun dalam waktu singkat, mereka sudah menjadi sahabat dekat. Kecocokan yang timbul dengan begitu saja, setelah melewati berbagai petualangan bersama, berubah menjadi persahabatan yang kuat. Sedemikian sehingga Lu Jingyun yang menyukai kebebasan,
2246
bersedia mengorbankannya buatcinta Zhu Jiuzhen pada Wang Shu Lin. Sekarang sebagai sahabat dia tidak ingin menyampaikan pendapatnya, tidak ingin pula membohongi dia.
―Saudara Jing Yun, menurutmu dia pergi untuk menemuinya kan?‖, sekali lagi Zhu Jiuzhen bertanya.
Lu Jingyun menghela nafas dan menjawab, ―ya…‖
Zhu Jiuzhen diam cukup lama, kemudian bangkit berdiri dan berkata, ―Ayolah, kita toh tidak mungkin makan, minum dengan gratis.‖
Tanpa banyak cakap, Lu Jingyun bangkit berdiri dan mengikuti Zhu Jiuzhen. Entah apa itu cinta, yang pasti, banyak orang berbuat bodoh karena satu perkataan itu. Banyak dari mereka yang saat rasa itu mulai mereda kemudian menyesalinya. Tapi ada juga yang hidup hingga sekian puluh tahun tanpa pernah menyesali kata itu.
Jauh di selatan, rombongan Ding Tao akhirnya sampai juga di tepian sungaiYangtze. Sungai besar yang menjadi garis pemisah, memisahkan dua wilayah daratan menjadi bagian utara dan selatan. Membentang sepanjang daratan, dari tibet hingga Shanghai, sungai itu menjadi sumber penghidupan bagi
2247
jutaan orang, tapi juga menjadi sumber bencana saat banjir datang menerpa. Seperti biasa, di tempat-tempat penyeberangan, ramai sekali orang berlalu lalang, pedagang kecil yang menjajakan makanan, para saudagar dengan barang-barang bawaan mereka, tukang perahu, para pengelana dan sekian banyak macam orang lainnya. Saat itu Ding Tao dan rombongannya beristirahat di sebuah kedai teh yang ada di dekat tempat penyeberangan, sementara Tang Xiong pergi mencari tukang perahu langganan keluarga Huang. Selama beberapa hati melakukan perjalanan bersama, hubungan Ding Tao dan Huang Ren Fu yang sempat merenggang sudah kembali membaik. Satu-satunya ganjalan di antara mereka hanyalah hubungan Ding Tao dengan Hua Ying Ying, sebagai seorang kakak Huang Ren Fu terperangkap di antara keduanya.
Sedangkan masalah keputusan Ding Tao atas nyawa Shao Wang Gui, mereka berdua akhirnya sepakat untuk berbeda pendapat, namun saling menghargai, berdasarkan saling percaya akan ketulusan masing-masing pihak.
Tentang hal itu Huang Ren Fu pernah berkata, ―Jika aku memiliki kesempatan untuk menyatroni Biara Shaolin dan menemukan iblis kecil itu di dalam sel tahanannya, tanpa
2248
berpikir dua kali aku akan turun tangan untuk memenggal kepalanya.‖
Yang atas perkataan itu Ding Tao hanya mengangguk-anggukkan kepala, ―Aku bisa mengerti… aku juga tidak akan menyalahkanmu seandainya hal itu terjadi. Hanya saja sebagai seorang sahabat, satu hal kupinta, sebelum kau menebas lehernya, cobalah lihat dia sebagai manusia, bukan sebagai sesosok iblis atau siluman.‖
Huang Ren Fu tercenung sejenak, sebelum kemudian pembicaraan mereka beralih pada hal-hal lain, tiba-tiba dia berkata pula, ―Aku akan lakukan itu, aku akan coba lihat dia sebagai seorang manusia, namun kukira, tetap saja aku akan menebas batang lehernya.‖
Ding Tao pun jadi sedikit bingung, setelah beberapa saat otaknya bekerja, barulah dia sadar Huang Ren Fu tengah menjawab permintaannya mengenai Shao Wang Gui.
―Terima kasih…‖, jawabnya singkat.
―Tidak perlu… aku tahu, nasehatmu itu kau tujukan bagi diriku sebagai sahabatmu. Bukan karena Shao Wang Gui, tapi karena aku.‖, jawab Huang Ren Fu.
2249
Lama Ding Tao menatap pemuda di hadapannya, beberapa tahun yang lalu dia adalah tuan muda bagi dirinya, sekarang mereka berdiri sejajar. Namun tidak sedikitpun tampak adanya sikap yang merendahkan muncul dari Huang Ren Fu. Ding Tao pun mengingat kembali, saat pertama mereka berjanji untuk menjadi sahabat. Dia mengingat pula sikap pemuda itu jauh sebelumnya. Ding Tao pun merasa kagum pada kerendahan hati Huang Ren Fu, diingatnya setiap tingkah laku dan tindak tanduk pemuda itu dan tidak didapatinya cela di dalamnya.
―Terima kasih… terima kasih sudah mau menjadi sahabatku‖, ujar Ding Tao setulus hati.
Huang Ren Fu hanya tertawa saja, sambil menuangkan secangkir the untuk dirinya sendiri. Di luar sana orang lalu lalang dengan ramai, suara orang berteriak dan berbicara dengan keras. Hua Ying Ying sedang melihat-lihat keramaian ditemani Chu Linhe. Hua Ng Lau berdua dengan Ma Songquan berjalan di belakang mereka, mengobrol tentang berbagai hal.
―Ah… sebenarnya ada satu masalah yang cukup penting, yang harus kusampaikan pada Ketua Ding Tao, tapi rasanya waktunya tidak juga pas. Apalagi dengan adanya masalah
2250
dalam hubungan anak perempuanku dengannya.‖, ujar Hua Ng Lau.
―Ah ada soal apakah, kalau aku boleh tahu?‖, tanya Ma Songquan.
―Tentu saja boleh, justru aku berharap, Saudara Ma Songquan bisa membantu memikirkan masalah ini, tanpa menambah kepusingan Ketua Ding Tao. Tentang penting atau tidaknya bolehlah kalian pertimbangkan sendiri.‖, jawab Hua Ng Lau.
―Tabib Hua, anda membuat aku makin penasaran, cobalah ceritakan masalahnya.‖, kata Ma Songquan tertarik.
Hua Ng Lau pun mulai menceritakan tentang percakapan yang ia curi dengar dari seorang pendekar Kunlun dan seorang pengikut Ding Tao di Gui Yang. Berlanjut pada usaha mereka untuk mengurai masalah tersebut dan kesimpulan yang mereka dapatkan.
―Nah itulah yang ingin kami sampaikan pada Ketua Ding Tao, masalah ini sudah sempat aku bicarakan pula dengan Ketua Bai Chungho, namun belum ada waktu yang terasa tepat untuk menyampaikannya pada Ketua Ding Tao. Lagipula dengan terpilihnya Ketua Ding Tao sebagai Wulin Mengzhu, juga
2251
dengan kekalahan sepasang iblis tua itu, ada kalanya kupikir masalah ini tidaklah sebesar yang kutakutkan.‖, ujar Hua Ng Lau menutup ceritanya.
Alis Ma Songquan berkerut-kerut, jarinya membelai-belai pipi sendiri yang sudah mulai ditumbuhi jenggot kasar, ―Hmm… masalah ini tidak bisa dibilang kecil, sejak awal kami sudah merasa curiga dengan Perguruan Kunlun, memang tadinya kami berpikir mereka semua adalah satu komplotan besar. Tapi bisa juga, orang-orang ini bergerak sendiri-sendiri dengan ambisinya masing-masing. Partai Pedang Keadilan tumbuh terlalu cepat dan membangkitkan pikiran jahat dari orang-orang yang berambisi besar.‖
―Benar, itulah yang awalnya aku khawatirkan, namun ternyata di kaki Gunung Songshan, meskipun terjadi kejutan, tapi tidaklah sebesar yang kita takutkan.‖, jawab Hua Ng Lau.
―Ya…, tapi bisa jadi api itu tidak jadi membara, justru karena kekalahan Thai Wang Gui yang di luar rencana. Seandainya Thai Wang Gui menang, dan kurasa sebagian besar orang berhitung demikian, tentu akan berbeda pula kejadiannya.‖, ujar Ma Songquan.
2252
―Apakah menurut Saudara Ma, ada kemungkinan memang benar pihak Kunlun bekerja sama dengan sepasang iblis tua itu?‖, tanya Hua Ng Lau.
―Kenapa tidak? Kalau menurut Tabib Hua sendiri bagaimana?‖, Ma Songquan bertanya balik.
―Bisa jadi…, yang ada mungkin bukan satu kumpulan dengan satu pimpinan, tapi beberapa kekuatan yang bersekutu untuk menguasai dunia persilatan. Sepasang iblis tua itu bagian yang terlihat, sementara Kunlun dan mungkin beberapa perguruan lurus lainnya bekerja di belakang. Seandainya Thai Wang Gui menang, mereka semua akan munculke permukaan, namun karena Thai Wang Gui kalah, mereka pun urung untuk maju ke depan.‖, jawab Hua Ng Lau.
―Benar…, kurasa juga begitu, Shao Wang Gui memang memberikan daftar panjang dari para pendukungnya. Namun tidak ada satupun perguruan atau perkumpulan besar dalam daftar itu. Bukan berarti tidak ada dari perguruan atau perkumpulan ternama yang muncul, tapi kukira kelicikan Shao Wang Gui membuat dia menyembunyikan nama-nama besar yang bekerja bersamanya.‖, kata Ma Songquan.
2253
―Ya… iblis kecil itu, tentu tidak ingin mencari perkara dengan orang penting, sementara dirinya sudah menjadi cacat. Lebih baik mengumpankan beberapa ikan kecil untuk menunjukkan kerja sama dan mencari muka. Sementara rahasia kelam orang-orang ternama dia simpan, selain mencari balas budi, juga bisa digunakan sebagai modal tawar menawar di kemudian hari.‖, angguk Hua Ng Lau menyetujui pemikiran Ma Songquan.
―Hari ini juga aku akan mengirim berita ini ke Saudara Chou Liang yang sekarang menjalankan segala urusan perkumpulan selama kami pergi. Biarlah Ketua Ding Tao memiliki waktu untuk dirinya sendiri selama beberapa hari ini. Tabib Hua sungguh banyak berjasa bagi kami, mewakili sekalian pengikut Partai Pedang Keadilan, aku ucapkan terima kasih.‖, ujar Ma Songquan sambil merangkap tangan di depan dada, menunjukkan rasa terima kasihnya pada Hua Ng Lau.
Hua Ng Lau pun membalas penghormatan itu, ―Ah … tidak perlu, bagaimana pun juga, perkumpulan kalian memiliki hubungan yang erat dengan anak angkat dan murid tunggalku. Mana mungkin kami berdiam diri jika melihat sesuatu mengancam perkumpulan kalian.‖
2254
―Hahaha, kami sangat beruntung bisa memiliki sekutu seperti Tabib Hua.‖, balas Ma Songquan sambil tertawa.
―Ah, lihat itu, Tang Xiong sudah datang, kukira perahu untuk kita tentu sudah siap.‖, ujar Ma Songquan saat melihat Tang Xiong berjalan mendekat.
―Baguslah, aku sudah tua, tidak begitu lagi menikmati perjalanan panjang‖, ujar Hua Ng Lau sambil tertawa pelan.
Chu Linhe dan Hua Ying Ying yang ada di depan, bertemu lebih dulu dengan Tang Xiong, setelah bercakap-cakap beberapa saat, mereka bertiga pergi menemui Ma Songquan dan Hua Ng Lau. Barulah kemudian mereka berlima pergi ke kedai tempat Ding Tao dan yang lain menunggu. Bersama-sama mereka pergi ke tempat perahu yang disewa Tang Xiong disandarkan. Perahu itu cukup besar, dengan ruang untuk beristirahat. Tidak aneh karena pemilik perahu ini adalah langganan lama keluarga Huang, sudah tentu bukan perahu biasa. Saat pergi ke kaki Gunung Songshan Ding Tao dan pimpinan Partai Pedang Keadilan yang lain juga menggunakan perahu yang sama. Itu sebabnya, sedikit banyak Ding Tao sudah kenal pula dengan pemilik perahu. Mereka pun bercakap-cakap beberapa saat, sebelum menaiki perahu itu.
2255
Ma Songquan yang ingin secepatnya mengirimkan kabar pada Chou Liang, berpamitan pada Ding Tao, ―Ketua Ding Tao, kalian jalanlah terlebih dahulu. Aku dan Chu Linhe ada sedikit urusan di sini, besok pagi tentu kami sudah akan menyusul kalian semua.‖
―Apakah ada masalah penting?‖, tanya Ding Tao perhatian.
―Tidak ada, hanya masalah kecil saja, ada beberapa pesan yang ingin kukirimkan pada saudara-saudara yang ada di pusat. Selain juga memberitahukan tentang perjalanan kita, supaya mereka tidak usah merasa khawatir‖, jawab Ma Songquan.
―Oh begitu, tentu saja, itu pemikiran yang baik. Mengapa juga aku sampai tidak berpikir ke sana.‖, jawab Ding Tao sambil menepuk jidatnya.
―Hahaha, Ketua Ding Tao tidak perlu memikirkan hal-hal yang kecil seperti ini. Sesekali nikmati saja perjalanan dan pemandangan yang ada. Setelah menjadi Wulin Mengzhu, saat-saat seperti ini tentu akan sulit ditemukan lagi.‖, ujar Ma Songquan sambil tertawa lebar.
2256
―Hahaha, ya aku beruntung memiliki banyak sahabat. Baiklah, kami akan berangkat terlebih dahulu.‖, ujar Ding Tao.
Ma Songquan dan Chu Linhe pun, memandangi orang yang mereka percayai bersama sahabat-sahabat mereka, menaiki perahu dan menyeberang. Cukup lama mereka berdiri di tepian sungai, memandangi perahu yang bergerak perlahan ke tengah, sembari mengikuti aliran sungai. Ding Tao dan rombongannya tidak akan menyeberang di tempat itu, melainkan beberapa li jauhnya ke hilir, di jalan besar yang lebih dekat menuju ke Wuling.
―Kakak…, entah mengapa perasaanku sedikit tidak enak. Apalagi setelah mendengar cerita kakak tentang penemuan Tabib Hua di Gui Yang.‖, ujar Chu Linhe sambil memandangi perahu yang makin lama makin jauh dan sebentar lagi tidak akan nampak dari tempat mereka berdiri.
―Hmm…, kukira tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan, sudah cukup lama kita mengamati pergerakan orang-orang Kunlun di daerah kita. Memang sedikit kecolongan di Gui Yang, tapi hal itu tidak begitu aneh, karena Gui Yang baru saja kita kuasai, waktunya pun begitu dekat dengan pemilihan Wulin Mengzhu sehingga kita tidak bisa menaruh banyak perhatian di
2257
sana. Akibatnya tidak banyak orang yang bisa dipercaya di sana.‖, ujar Ma Songquan sambil menepuk lengan Chu Linhe mengajaknya pergi, karena perahu yang ditumpangi Ding Tao dan yang lainnya sudah tidak nampak lagi dari tempat mereka berdiri.
Sambil berjalan pergi, menuju tempat penghubung dari daerah itu ke Jiang Ling, di mana seluruh pergerakan Partai Pedang Keadilan dikoordinasikan, dengan Chou Liang sebagai pemikirnya dan Ding Tao sebagai pengambil keputusan terakhir. Beberapa puluh langkah mereka berjalan Ma Songquan masih diam, Chu Linhe juga tidak menganggunya, mereka sudah begitu saling mengenal hingga Chu Linhe tahu bahwa Ma Songquan masih memikirkan apa yang dia katakan.
―Hmm…, mungkin kau merasa demikian karena segala sesuatunya berjalan terlalu lancar.‖, ujar Ma Songquan tiba-tiba.
―Mungkin kakak benar…, tapi apakah kakak tidak merasa aneh, menjadi Wuling Mengzhu setelah baru saja muncul dalam dunia persilatan. Apakah mungkin memang ada yang dinamakan pilihan dari langit?‖, tanya Chu Linhe setelah merenungi jawaban Ma Songquan.
2258
―Mana aku tahu…, selama ini yang kurasa langit tidak pernah bersahabat dengan kita. Setidaknya sampai kita bertemu Ding Tao. Tapi kita sudah mengikuti pemuda itu sejak awal terjunnya dia dalam dunia persilatan, menurutmu apakah ada yang aneh dengan sepak terjangnya?‖, Ma Songquan bertanya balik.
Ganti Chu Linhe yang terdiam dan lama merenungi pertanyaan Ma Songquan itu. Apakah ada yang aneh dalam diri Ding Tao? Kepribadiannya yang tulus dan tidak berambisi, bisa dikatakan aneh. Lebih aneh lagi jika seseorang yang sedemikian tidak berambisi, justru sekarang menjadi pimpinan puncak dari seluruh tokoh persilatan di dalam perbatasan. Apakah mungkin Ding Tao adalah seorang cerdik, licin dan ambisius, namun begitu pandai membungkus ambisinya, sedemikian rupa sehingga mereka semua menjadi buta matanya, sehingga puluhan bahkan ratusan tokoh persilatan yang kenyang makan asam dan garamnya kehidupan ditipu mentah-mentah olehnya?
―Apa menurut kakak, kita sudah salah melihat orang?‖, tanya Chu Linhe pada Ma Songquan.
Kali ini jawaban Ma Songquan datang dengan cepat, sebelum kaki kanan melangkah untuk kedua kalinya dia sudah menjawab, ―Tidak… sekali-kali aku tidak salah mengenal orang.
2259
Kalau aku salah menilai orang, dengan dua tanganku sendiri akan kubunuh orang itu dan kubutakan dua mataku yang sia-sia melihat dunia selama puluhan tahun lamanya.‖
Chu Linhe pun jadi terdiam, dalam hati dia maklum, betapa runyam keadaan mereka berdua sebelum bertemu Ding Tao. Bisa dikatakan, setiap hari yang ada hanya kegelapan, jika kemudian Ding Tao yang dianggap sebagai secercah cahaya, hanyalah sebuah kegelapan, betapa gelapnya kegelapan tempat mereka hidup saat ini. Dari jawaban kekasihnya itu, dia bisa merasakan, rasa percaya yang mutlak bahkan hampir-hampir putus asa pada sosok Ding Tao. Sebuah kengerian menyelip dalam hatinya, bagaimana jika benar semua yang ditampilkan Ding Tao hanyalah kepalsuan saja? Masih bisakah mereka berdua bertahan hidup dalam keadaan itu? Chu Linhe selamanya satu perasaan dengan Ma Songquan, kali inipun dia bisa mengerti benar apa yang dikatakan Ma Songquan barusan. Apakah memang sudah kodrat wanita untuk mencintai dan mendukung pengejaran hidup seorang laki-laki? Dan sudah kodrat laki-laki untuk mengejar kesempurnaan hidup? Jika benar Ding Tao hanyalah sebuah kepalsuan, secercah cahaya yang nyatanya adalah kegelapan, Chu Linhe bertekad untuk membantu Ma songquan membunuhnya dan kemudian
2260
hidup sebagai satu-satunya cahaya dalam pencarian Ma Songquan, menjadi pengganti sepasang bola mata Ma Songquan, yang dia yakin benar akan dicukil keluar oleh Ma Songquan sendiri tanpa penyesalan, diiringi lolongan kepedihan dari dasar hatinya yang terdalam.
Dua hari kemudian, berita yang dikirimkan Ma Songquan sampai pula ke Jiang Ling. Chou Liang yang membaca pesan dari Ma Songquan, berkerut alis membaca surat itu berulang-ulang, seakan khawatir ada satu atau dua kata yang terlewatkan. Sesungguhnyalah demikian, Chou Liang yang mengawasi jaringan mata dan telinga mereka, sangat khawatir dengan berita yang datang dari Ma Songquan. Meskipun terlihat kecil dan tidak berarti di saat mereka akhirnya berhasil mengantar Ding Tao sampai pada kedudukan Wulin Mengzhu, hal yang sekecil ini bisa jadi adalah batu kerikil yang membuat mereka terpeleset dan jatuh terguling-guling. Dan batu kerikil ini tidak bisa dikatakan kecil, jika benar cabang Gui Yang sudah jatuh ke tangan orang-orang yang dijerat oleh obat perebut jiwa milik orang Kunlun, maka kemungkinan penyebarannya sulit diperhitungkan. Bisa jadi terbatas di Gui Yang, bisa juga saat ii sudah mulai menyebar ke cabang-cabang lain.
2261
Chou Liang pun mulai menghitung-hitung, jumlah pengikut yang bisa dipercaya dan tidak bisa dipercaya. Hatinya semakin getir ketika menyadari, sebagian besar dari mereka yang bisa dipercaya adalah bekas pengikut keluarga Huang. Di saat yang sama, Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu justru muncul ke permukaan.
Dalam pesan Ma Songquan tersirat masih adanya ganjalan dalam hubungan antara Hua Ying Ying dan Ding Tao. Pesan kiriman Ma Songquan memang padat tapi mendetail dalam setiap hal yang penting. Kesetiaan Ma Songquan benar-benar terletak pada Ding Tao, berbeda dengan Tang Xiong dan Li Yan Mao yang berdiri dengan satu kaki di sisi Ding Tao dan kaki yang lain di sisi keluarga Huang. Bagi Tang Xiong dan Li Yan Mao, yang mereka harapkan adalah terjadinya pernikahan antara Ding Tao dan Hua Ying Ying, dengan demikian tidak ada lagi pertentangan di antara dua kesetiaan yang ada dalam hati mereka. Tapi bagi orang-orang seperti Ma Songquan dan Chou Liang, kesetiaan mereka terletak sepenuhnya pada Ding Tao. Bagi mereka ini, kehadiran Huang Ren Fu dan Hua Ying Ying adalah hal yang hanya memperumit keadaan. Jika Ding Tao berhasil memenangkan hati Hua Ying Ying, maka kesetiaan pengikut keluarga Huang dalam Partai Pedang Keadilan akan
2262
semakin kokoh. Tapi jika tidak, maka kehadiran mereka berdua justru memperlemah kekuatan Partai Pedang Keadilan.
―Saudara Chou Liang, seharian kau tidak keluar ruangan, apa tidak bosan?‖, ujar Murong Yun Hua, berjalan masuk tanpa mengetuk pintu.
Chou Liang pun untuk sejenak setelah sekian lamanya menekuni surat kiriman Ma Songquan, menegakkan badan dan meluruskan lehernya, ―Ah.. Nyonya Murong…‖
Setelah begitu lama membaca dalam keadaan tegang, barulah sekarang terasa betapa pegal lehernya, sembari memijat bagian belakang lehernya, Chou Liang menjawab, ―Ada berita baru dari Saudara Ma Songquan mengenai rombongan Ketua Ding Tao.‖
―Ah, baguslah kalau begitu, dengan ini kukira banyak orang akan merasa lega, meskipun kalau dipikirkan sebenarnya tidak ada yang perlu dikuatirkan.‖, ujar Murong Yun Hua sambil berjalan mendekat.
Murong Yun Hua pun menarik kursi, duduk di depan Chou Liang dan bertanya, ―Benar kan? Tidak ada yang perlu dikuatirkan.‖
2263
Tanpa menjawab dengan satu patah kata pun, Chou Liang mengangsurkan surat yang dia terima dari Ma Songquan. Murong Yun Hua segera menerima surat itu dan mulai membaca. Tidak berapa lama dia selesai membaca, ekspresinya sudah berubah sama keruhnya dengan ekspresi wajah Chou Liang.
―Tentang Gui Yang, menurutmu bagaimana?‖, tanya Murong Yun Hua.
―Anggap saja Gui Yang sudah lepas dari tangan kita.‖, jawab Chou Liang perlahan.
―Hmm… Ketua Ding Tao baru saja terpilih menjadi Wulin Mengzhu, pijakannya belum kuat, jika kejadian di Gui Yang ini tersebar, kira-kira apa yang akan terjadi?‖, tanya Murong Yun Hua dan Chou Liang pun diam tak menjawab untuk waktu yang cukup lama.
Meskipun Chou Liang tidak juga menjawab, Murong Yun Hua pun diam tidak memberikan pendapat, sampai akhirnya Chou Liang membuka mulut dan berkata, ―Jika kita tidak bisa membereskan masalah Gui Yang dengan cepat, penilaian orang akan kemampuan Partai Pedang Keadilan dan ketua
2264
Ding Tao akan turun drastis. Jika itu terjadi, maka Wulin Mengzhu akan menjadi sebuah nama kosong. Bagaimana mungkin seseorang mengurus seluruh dunia persilatan, jika dia tidak bisa mengurus satu cabang kecil?‖
―Perintahnya akan dipertanyakan dan dilaksanakan dengan setengah hati. Seandainya Ketua Ding Tao orang yang tegas dan hatinya dingin, masalah seperti itu bisa dengan mudah diatasi. Namun menilik sifatnya, jika sampai terjadi hal seperti itu, tentu akan berusaha dicari jalan yang damai, yang hanya akan memberi angin pada lebih banyak orang untuk membangkang pada dirinya.‖
―Jadi bagaimana pendapat Saudara Chou Liang, dengan cara apa kita harus menangani masalah ini?‖, tanya Murong Yun Hua.
―Untuk saat ini, kita harus menunggu kedatangan Ketua Ding Tao dan yang lain. Kekuatan inti kita tidaklah terlalu besar, sementara penyusupan pihak luar, entah sudah sejauh mana. Baru setelah Ketua Ding Tao ada di pusat, kita akan mengerahkan seluruh saudara yang bisa dipercaya untuk membereskan masalah di Gui Yang.‖, ujar Chou Liang.
2265
―Tanpa memberitahu Ketua Ding Tao lebih dahulu…?‖, sambung Murong Yun Hua.
―Ya…, tergantung dengan keadaan Ketua Ding Tao nanti. Apakah Nyonya punya pendapat yang berbeda?‖,jawab Chou Liang dengan sedikit ragu, dia merasakan ada nada kurang puas dalam pertanyaan Murong Yun Hua.
Murong Yun Hua pun terdiam untuk beberapa lama sebelum akhirnya menjawab perlahan, ―Kukira tidak ada jalan lain, jika memang masalah ini hendak diselesaikan dengan tangan besi… Tapi entah ada berapa banyak masalah yang sudah Saudara Chou Liang selesaikan tanpa sepengetahuan Kakak Ding Tao.‖
Ditanya demikian Chou Liang jadi terdiam, memang bukan sekali ini Chou Liang melakukan sesuatu di belakang Ding Tao. Hanya saat segala sesuatunya terjadi dan tidak mungkin disembunyikan barulah dia melaporkan hal itu pada Ding Tao. Memang bisa dikatakan, setiap kali Chou Liang bertindak demikian, tentu tidak ada kerugian yang didapatkan Partai Pedang Keadilan atau Ding Tao. Bahkan bisa dikatakan, perbuatan Chou Liang itu menguntungkan kedudukan Ding Tao. Dalam segala hal, nama Ding Tao tidak pernah tersangkut
2266
dalam urusan yang buruk. Jika nama Chou Liang mewakili sisi mengerikan dan mengancam dari Partai Pedang Keadilan, nama Ding Tao mewakili segala yang baik dari Partai Pedang Keadilan. Ding Tao sendiri meskipun sering mengecam maupun mempertanyakan perbuatan Chou Liang, pada akhirnya harus menyetujui alasan mengapa Chou Liang melakukan hal itu. Para pengikut Ding Tao pun terbagi dua dalam melihat perbuatan Chou Liang itu, mereka yang lebih praktis dalam menilai keadaan akan mendukung sepenuhnya keputusan Chou Liang. Sebaliknya, mereka yang berpegang pada prinsip-prinsip tertentu seperti Liu Chuncao, tidak jarang menerimanya dengan kerutan di alis. Hanya saja selama ini semua hal itu bisa diterima karena mereka memiliki satu tujuan. Juga karena saling percaya yang ada di antara para pendukung awal Ding Tao.
―Maksud Nyonya …?‖, tanya Chou Liang ragu-ragu, bagaimana pun juga jarang sekali Murong Yun Hua ikut campur dalam urusan Partai Pedang Keadilan, terutama sebelum peristiwa penyerangan Kunlun ke Partai Pedang Keadilan.
―Maksudku, tentang Nona muda Huang Ying Ying…, ketika pertama kali aku mendengar berita bahwa dia dan saudaranya masih hidup, sudah ada perasaan yang mengganjal. Apa
2267
mungkin Saudara Chou Liang yang terkenal cerdik, bisa kalah main petak umpet melawan Tiong Fa yang sudah kehilangan sebagian besar kekuatannya?‖, ujar Murong Yun Hua dengan mata tajam menyelidik.
Chou Liang pun terdiam mendengar pertanyaan Murong Yun Hua. Chou Liang menimbang-nimbang, jawaban apa yang harus dia berikan. Kenyataannya memang dia yang menyabotase sendiri pencarian sarang Tiong Fa, tapi haruskah dia menyangkal sekuat-kuatnya? Ataukah lebih baik jika dia mengakui saja hal itu?
―Tadinya aku yakin benar, kedua bersaudara itu sesungguhnya sudah mati di Wuling. Jika benar perkataan Tiong Fa, aku yakin Saudara Chou Liang pasti mampu menemukan mereka berdua. Apakah ada yang salah dalam pertanyaanku ini?‖, karena melihat Chou Liang masih juga terdiam, Murong Yun Hua pun bertanya untuk kedua kalinya.
Chou Liang menghela nafas panjang-panjang dan menjawab, ―Memang benar dugaan Nyonya, tapi hal itu kulakukan juga demi kebaikan kita semua. Di lain pihak, aku sendiri kurang yakin apakah Tiong Fa hanya menggertak saja atau benar bahwa dua orang bersaudara itu ada di tangannya.‖
2268
Murong Yun Hua menatap tajam ke arah Chou Liang, dengan suara dingin dia berkata, ―Urusan tentang hidup matinya Nona muda Huang Ying Ying, tidak berhubungan dengan Partai Pedang Keadilan. Hal itu adalah urusan pribadi Ketua Ding Tao dengannya.‖
Chou Liang menghela nafas untuk kedua kalinya, ―Ucapan nyonya benar, dan aku menyesali keputusanku waktu itu.‖
Dalam hati dia berucap, ‗Seandainya Huang Ying Ying ditemukan masih hidup, bukankah kau saat ini sudah menjadi ibu dari seorang anak haram?‘
Tapi hal itu tidak terlihat di wajahnya, wajah Chou Liang tampil tenang, tidak memperlihatkan kejengkelan dalam hatinya. Murong Yun Hua menatap tajam Chou Liang yang masih menundukkan kepala, menghindari tatapan matanya.
―Jangan kau pikir, aku tidak bisa meraba apa yang ada dalam benakmu. Menurutmu semua yang kau lakukan adalah demi kebaikan Ketua Ding Tao. Tapi coba pikirkan seandainya saja waktu itu kau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan jejak Tiong Fa. Bukankah hubungan keluarga
2269
Huang dengan Ding Tao akan lebih baik daripada sekarang?‖, tegur Murong Yun Hua dengan sedikit ketus.
Dan Chou Liang pun menghela nafas untuk ketiga kalinya, kali ini perasaan menyesal yang tersirat dari jawabannya, benar-benar muncul dari hatinya yang terdalam, ―Nyonya benar…, sungguh aku menyesali hal itu, seandainya saja aku bersungguh-sungguh mencarinya, seharusnya hubungan bekas pengikut keluarga Huang dengan Ketua Ding Tao akan makin erat.‖
―Tapi kau tidak ingin mereka hanya sekedar jadi pendukung Ketua Ding Tao, kau ingin mereka menjadipengikutnya. Itu sebabnya, bagimu lebih baik jika setiap pewaris sah dari keluarga Huang mati di Wuling.‖, sambung Murong Yun Hua dengan dingin.
Atas tuduhan Murong Yun Hua itu, Chou Liang tidak mengiyakan, tidak pula menyangkal, hanya menghela nafas panjang untuk ke sekian kalinya. Melihat Chou Liang tidak menyangkal tuduhannya, tidak juga berusaha membela diri, sebagian kemarahan Murong Yun Hua jadi sedikit mereda. Apalagi kejutan tentang munculnya Huang Ying Ying sebenarnya sudah mulai dapat dia atasi. Betapa perasaannya
2270
sulit dimengerti ketika berita itu baru saja datang, bersamaan dengan kemenangan Ding Tao di kaki Gunung Songshan yang dibawa oleh pengikut-pengikut mereka yang sudah kembali lebih dahulu. Meskipun di luaran Murong Yun Hua tampi tenang dan percaya diri, dalam hatinya siapa yang tahu? Sejak mereka menikah, dia yang ikut berjuang sekuat tenaga untuk mendukung Ding Tao. Sekarang setelah Ding Tao berhasil menjadi pimpinan dari seluruh dunia persilatan, justru cinta pertama Ding Tao muncul lagi dalam hidupnya. Bukankah cinta rela berkorban? Tapi apakah cinta rela berbagi? Bukankah bicara tentang hak, Huang Ying Ying-lah yang lebih berhak? Tapi bicara saat ini, bukankah dia adalah isteri Ding Tao dan bukan Huang Ying Ying?
―Sudahlah, Saudara Chou Liang, pikirkan saja baik-baik tentang masalah di Gui Yang. Tentang hubungan Kakak Ding Tao dengan keluarga Huang, biar aku yang menyelesaikan.‖, kata Murong Yun Hua dengan tegas.
Tanpa banyak cakap, tanpa berpamitan, Murong Yun Hua meninggalkan ruangan Chou Liang. Chou Liang masih saja menundukkan kepala, menyesali keputusannya yang kurang tepat. Namun mendengar ketegasan Murong Yun Hua, Chou Liang pun berpikir ulang. Tidak, dia tidak menyesalinya, jika
2271
Huang Ying Ying muncul sebelum Ding Tao menikah dengan Murong Yun Hua, maka Ding Tao tidak akan pernah menikahi Murong Yun Hua. Memang benar, dengan demikian, keberadaan bekas-bekas pengikut keluarga Huang bisa jadi lebih kokoh. Tapi toh tetap ada kemungkinan bahwa Huang Ren Fu akan menarik mereka dari Ding Tao. Di lain pihak, Murong Yun Hua terbukti merupakan pasangan yang sepadan bagi Ding Tao. Lepas dari usianya yang lebih tua, berkali-kali Murong Yun Hua membuktikan bahwa dirinya bukan hanya seorang isteri yang bisa menyenangkan suaminya, Murong Yun Hua juga merupakan isteri yang bisa mendukung kemajuan suaminya. Demikian juga dengan masuknya keluarga Murong dalam Partai Pedang Keadilan, jelas tidak sedikit sumbangannya bagi kemajuan partai.
Sambil menghela nafas, entah untuk ke berapa kalinya di hari itu, Chou Liang memutuskan untuk berkonsentrasi pada masalah di Gui Yang dan mempercayakan masalah Huang Ying Ying dan Ding Tao, sepenuhnya pada Murong Yun Hua.
Sementara itu Murong Yun Hua berjalan dengan langkah kaki yang cepat, berjalan menuju ke kamar pribadinya. Dua orang dayang pembantunya yang masih remaja, sampai setengah berlari, mengikuti dia. Sambil berjalan, otaknya sudah berputar
2272
memikirkan masalah Ding Tao dan Huang Ying Ying. Ketika dia sampai di kamarnya, dia pun berbalik ke arah dua orang pembantunya.
―Kalian pergi, carilah Nyonya Huolin, bawa dia menemuiku.‖, perintahnya dengan singkat.
Tanpa menunggu mereka pergi, dia pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Baru setelah dia sendirian, Murong Yun Hua meraih bantal yang ada di atas pembaringan dan membantingnya dengan keras ke atas lantai. Dengan suara tangis tertahan dia mengambil pula bantal itu kemudian ditekapkan kuat-kuat ke wajahnya. Air mata bercucuran keluar, suara jerit tangis tertahan oleh bantal, sendirian dia menumpahkan segala rasa sakit dan kemarahan yang terpendam. Murong Yun Hua baru saja menyusuti air matanya, ketika Murong Huolin mengetuk pintu kamarnya.
Bergegas Murong Yun Hua merapikan diri kemudian membuka pintu kamar.
―Kakak… ada apakah?‖, tanya Murong Huolin sedikit cemas.
―Tidak ada apa-apa, aku ingin mengajakmu untuk pergi menyambut Kakak Ding Tao dan rombongannya.‖, ujar Murong
2273
Yun Hua dengan tenang, tidak terlihat lagi bekas-bekas tangisannya.
―… entahlah kakak, aku memang ingin bertemu dengan Kakak Ding Tao…, tapi … bagaimana jika ada pula Nona muda Huang Ying Ying di sana? Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap.‖, jawab Murong Huolin dengan ragu-ragu.
―Jangan bodoh! Justru karena Nona muda Huang Ying Ying ada bersamanya, kita harus pergi menyambut mereka. Baru saja aku mendapat kabar dari Penasehat Chou Liang, sepertinya ada ganjalan dalam hubungan Kakak Ding Tao dengan Nona muda Huang Ying Ying.‖, ujar Murong Yun Hua.
Mendengar berita baru itu, alis Murong Huolin pun terangkat, ―Apa maksud kakak? Apakah mereka berdua sedang bertengkar?‖
―Kurang lebih seperti itu.‖, jawab Murong Yun Hua.
Murong Huolin menggigit bibirnya dan berpikir, sesaat kemudian dia pun berkata, ―Lalu apa urusannya dengan kita jika mereka berdua bertengkar, biarlah mereka menyelesaikan sendiri urusannya. Justru bagus bila Nona muda Huang tidak ingin meneruskan lagi hubungannya dengan Kakak Ding Tao.‖
2274
―Adik… jangan berpikir sependek itu!‖, tegur Murong Yun Hua dengan keras.
Kemudian dia pun dengan panjang lebar menjelaskan rencananya dan berusaha membujuk Murong Huolin untuk mengikuti rencananya. Lama kedua orang bersaudara itu beradu pendapat, kedua pembantu yang ada di luar kamar hanya bisa mendengar suara-suara dan potongan percakapan yang tak jelas. Ketika pintu kembali terbuka, Murong Huolin keluar dengan bekas air mata di pipinya.
Murong Yun Hua yang mengantarkan dia keluar, berpesan dengan tegas, ―Adik, ingatlah pesanku baik-baik. Jangan kau mengikuti perasaanmu saja, pikirkan kepentingan yang lebih luas. Pikirkan kewajibanmu.‖
Dengan sedikit terisak Murong Huolin mengangguk tanpa membalikkan badan, lalu cepat-cepat lari kembali ke kamarnya sendiri. Murong Yun Hua hanya memandangi kepergiannya dan menghela nafas panjang. Wajahnya sendiri sudah bersih dari segala kesedihan dan kemarahan, yang ada hanyalah kemauan yang kuat dan tegas untuk melakukan apa yang dia pandang penting bagi dirinya dan orang-orang yang penting dalam hidupnya.
2275
Keesokan paginya, terlihat kesibukan yang tidak biasa, Murong Yun Hua dan Murong Huolin sibuk mengatur para pekerja di rumah kediaman mereka, mempersiapkan perjalanan bagi mereka berdua. Beberapa orang pelayan lelaki dan perempuan akan ikut dalam rombongannya. Hari menjelang siang saat segala persiapan selesai dilakukan. Murong Yun Hua pun pergi menemui Chou Liang untuk menjelaskan rencananya.
―Aku akan pergi menyongsong Kak Ding Tao dan rombongannya‖, ujar Murong Yun Hua membuka percakapan.
―Kuharap nyonya berhasil dalam perjalanan ini‖, jawab Chou Liang.
―Aku mengerti tentang pentingnya tugasku, jadi jangan kuatir, akan kulakukan segalanya untuk menyatukan mereka berdua. Sementara itu kuharap Penasehat Chou Liang bisa mempersiapkan aturan rumah tangga yang jelas, terutama mengenai sanksi bagi penyelewengan yang saat ini terjadi di Gui Yang.‖, ujar Murong Yun Hua.
―Hmmm… sebenarnya tentang hal itu bukannya tidak ada aturan yang jelas. Tapi sebelum mereka melakukan tindakan yang jelas-jelas merugikan, memang aturannya jadi sedikit
2276
kabur. Apakah Nyonya memiliki satu ide?‖, ujar Chou Liang sambil mengawasi Murong Yun Hua.
―Aku tidak ingin, Penasehat Chou Liang sekali lagi melakukan suatu tindakan atas nama partai, di luar sepengetahuan Kak Ding Tao. Karenanya aku memiliki satu rencana. Buat peraturan yang jelas, sampaikan pada Kak Ding Tao agar dia menyetujuinya. Pastikan sanksi yang diberikan tidaklah ringan tapi juga tidak terlampau keras sehingga dia menolaknya.‖
―Dengan kepergianku kali ini, aku akan memastikan Nona muda Huang menikah dengan Kak Ding Tao. Kemudian dengan alasan pesta pernikahan mereka, undang setiap orang penting yang ada dalam daftar yang diberikan oleh Tabib Hua. Kita undang juga sekalian tokoh-tokoh penting dari setiap cabang, juga tokoh-tokohpenting dalam dunia persilatan, utamanya dari enam perguruan besar. Pada saat itulah, di depan semua orang kita tegakkan peraturan partai.‖, Murong Yun Hua menjelaskan.
Chou Liang diam berpikir lalu berkata, ―Dengan demikian, kita akan menunjukkan pada setiap orang bahwa Partai Pedang Keadilan bukan partai yang bisa dibuat main-main. Ketua Ding
2277
Tao harus menyetujui sanksi yang diberikan karena aturannya sudah dibuat.‖
―Ya…, selain itu dengan mengundang para pimpinan dari cabang-cabang yang lain, serta keberadaan pengikut inti dari partai yang ada di Jiang Ling sendiri, bisa dikatakan seluruh kekuatan kita terhimpun pada acara itu.‖, ujar Murong Yun Hua.
―Dan mereka yang dari Gui Yang tidak akan curiga, karena sudah sepantasnya memang demikian. Adalah wajar jika dalam pesta pernikahan Ketua Ding Tao, baik sebagai ketua partai maupun sebagai seorang Wulin Mengzhu untuk mengundang mereka semua.‖, sambung Chou Liang sambil menganggukkan kepala.
―Benar…, dengan disaksikan semua orang, kita tunjukkan kebesaran partai kita. Biar juga mereka yang dari Kunlun melihat bahwa usaha mereka itu sia-sia saja. Biarlah jadi pelajaran, untuk tidak bermain api dengan Partai Pedang Keadilan.‖, kata Murong Yun Hua dengan suara tegas.
Chou Liang sekali lagi merasa lega, bahwa dahulu dia sudah mengusahakan agar Ding Tao menikah dengan Murong Yun Hua. Sekali lagi nyonya ini menunjukkan kemampuannya dalam
2278
mengelola sebuah partai yang besar. Dengan dia di samping Ding Tao, Chou Liang merasa yakin Partai Pedang Keadilan akan tumbuh menjadi partai yang besar. Dirinya sendiri tentu saja tidak merasa di bawah Murong Yun Hua dalam hal kecerdikan. Namun posisi Murong Yun Hua sebagai isteri Ding Tao membuat dia memiliki kelebihan dibandingkan Chou Liang. Contohnya saja dalam hal menyatukan Hua Ying Ying dengan Ding Tao, tidak mungkin dia yang bukan apa-apanya Ding Tao ikut campur dalam hal ini, terutama setelah Ding Tao menikah. Tapi Murong Yun Hua sebagai salah satu isteri Ding Tao dan juga kakak dari isteri Ding Tao yang kedua, dialah yang paling tepat untuk melakukan hal ini.
Dengan siasat ini, maka satu kali tepuk, tujuh lalat mati sekaligus.
―Baiklah, apakah ada yang bisa kulakukan untuk membantu nyonya agar rencana ini berhasil?‖, tanya Chou Liang.
―Pastikan saja, nama-nama orang yang harus kita curigai di Gui Yang dan mungkin juga di cabang yang lain. Susun juga undangannya, persiapkan orang-orang yang akan kita gunakan untuk membekuk para pengkhianat itu. Kemudian bantu juga untuk memastikan bahwa Kakak Ding Tao dan rombongannya
2279
tidak mengambil jalan yang berbeda dengan yang sudah kuperkirakan sebelumnya.‖, jawab Murong Yun Hua setelah berpikir sebentar.
Sebenarnya tidak perlu dijelaskan pun sudah tentu Chou Liang tahu apa saja yang perlu dia lakukan dan siapkan. Namun dengan bertanya, Chou Liang membuat Murong Yun Hua merasa lebih dihargai.
―Baik, akan saya persiapkan semuanya, harap nyonya berdua hati-hati di jalan dan semoga perjalanan nyonya berhasil.‖, jawab Chou Liang dengan meyakinkan.
Murong Yun Hua menatap Chou Liang beberapa saat, orang tercerdik dalam Partai Pedang Keadilan, pengikut yang lain percaya penuh akan kesetiaan Chou Liang, tapi Murong Yun Hua terkadang bertanya-tanya dalam hati. Apakah Chou Liang tidak menyembunyikan sesuatu dibalik kesetiaannya itu? Mungkinkah Chou Liang memiliki kepentingan sendiri, ambisi pribadi, dibalik setiap perbuatannya untuk Ding Tao? Saat ini pun, bisa dikatakan, dalam hal mengambil keputusan, Chou Liang adalah orang pertama yang akan dimintai pendapat, juga orang yang memberikan kata-kata terakhir dalam setiap pertemuan. Ding Tao boleh jadi adalah ketua partai, hati dan
2280
juga pemersatu Partai Pedang Keadilan, namun tidak akan ada yang berkata salah, jika dikatakan Chou Liang adalah otaknya.
―Aku percayakan semuanya padamu, baiklah, aku akan berangkat sekarang.‖, ujar Murong Yun Hua berpamitan.
Sekali lagi Chou Liang meyakinkan Murong Yun Hua sambil mengantar nyonya itu sampai ke pintu ruangannya. Untuk beberapa saat lamanya Chou Liang memandangi Murong Yun Hua dari belakang. Dalam hati dia bertanya-tanya, seberapa tuluskan Murong Yun Hua berusaha menyatukan Ding Tao dan Huang Ying Ying? Murong Yun Hua mungkin seorang wanita yang memiliki otak cerdas dan bersandar pada logika, tapi bukankah dia tetap seorang wanita yang memiliki perasaan? Bisakah dia menelan perasaannya demi kepentingan Partai Pedang Keadilan? Chou Liang berdiri di dekat pintu, memandangi punggung Murong Yun Hua, pada awalnya tidak ada rasa, Murong Yun Hua hanyalah salah satu bagian dari rencananya untuk memperkokoh kedudukan Ding Tao. Namun sejak dia menyaksikan kecekatan dan kepandaian Murong Yun Hua dalam menyelesaikan masalah, dia mulai mengagumi wanita itu sebagai seorang manusia dan bukannya sebuah biji catur. Lalu entah sejak kapan, dia mulai menyadari sisi lain dari wanita itu. Kecantikannya, keluwesannya, tawa renyahnya,
2281
keanggunannya bahkan lekak-lekuk tubuhnya yang samar –samar bisa dia bayangkan ketika memandangi wanita itu.
Jantung Chou Liang tiba-tiba berdebar lebih kencang, terasa keringat dingin menetes di keningnya, saat dia menyadari perasaannya sendiri. Entah sejak kapan, dia mulai jatuh cinta, pada Murong Yun Hua. Dan sekarang, wanita yang dia cintai itu akan pergi, untuk meyakinkan orang yang dicintainya, supaya dia menikah dengan wanita lain. Chou Liang bisa membayangkan rasa sakit yang dialami Murong Yun Hua, dulu dia tidak mengerti, tapi sekarang setelah dia menyadari perasaannya pada Murong Yun Hua, tiba-tiba dia bisa merasakannya. Rasa cemburu yang sering muncul namun terpendam dalam-dalam, terpendam oleh perasaannya pada Ding Tao. Tiba-tiba sekarang perasaan itu muncul dengan kuatnya, rasa pahit dan pedihnya, ketika yang dicintai justru menjadi milik orang lain.
Dan dia, Chou Liang, memuji dan mendukung dia untuk melakukan hal itu. 30 tahun lebih Chou Liang hidup sebagai lelaki, baru kali ini dia mengenal rasanya cinta. Bukannya dia tidak memiliki pengalaman dengan wanita, tapi selamanya dia menertawakan mereka yang jatuh cinta. Baru sekarang dia merasakan apa itu cinta dan dia tidak bisa tertawa lagi.
2282
Bagaimana perasaan Chou Liang, apakah Murong Yun Hua tahu? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Meskipun peribahasa mengatakan, dalamnya laut bisa didugan hati orang siapa yang tahu, tapi bukan tidak jarang kisah yang menceritakan, betapa tajamnya perasaan seorang wanita. Apa pun jawabannya dari pertanyaan itu, Murong Yun Hua sekarang sedang duduk dalam kereta bersama dengan adiknya Murong Huolin. Tidak seperti biasa, keduanya tidak saling bicara meskipun berada dalam kereta yang sama.
―Apakah kakak sudah yakin dengan rencana kakak?‖, akhirnya Murong Huolin bertanya.
Murong Yun Hua menatap tajam ke arah Murong Huolin dan menjawab dengan tegas, ―Ya, aku sudah yakin dengan rencana ini. Sudah kupikirkan baik-baik dan aku tidak melihat ada jalan lain yang lebih baik dari jalan ini.‖
Murong Huolin terlihat sedikit gemetar di bawah tatapan tajam Murong Yun Hua, namun gadis itu tidak menunduk dan mengalah, selamanya Murong Yun Hua adalah seorang kakak, pengganti orang tua, namun dalam hal cinta, jangankan seorang kakak, bukankah seringkali orang tua pun dilawan?
2283
―Meskipun kakak mencintainya dan kakak tahu bahwa di matanya, kakak adalah orang yang paling dia cintai?‖, tanyanya dengan suara gemetar.
Murong Yun Hua tidak segera menjawab, apakah terlihat ada sedikit keraguan di wajahnya? Jika memang ada, maka hal itu hanya sebentar saja terlintas di sana, karena Murong Huolin berusaha mencari setitik tanda keraguan dan dia tidak mendapatinya di sana. Mungkin ekspresi ragu dan kepedihan yang dia lihat tadi hanyalah khayalannya semata? Berharap Murong Yun Hua membatalkan rencana ini.
Masih dengan wajah yang tegas dan pandang mata yang tidak tergetar sedikitpun Murong Yun Hua menjawab, ―Ya…, meskipun aku yakin dia mencintaiku dan aku mencintainya.‖
Murong Huolin pun tidak bisa berkata-kata lebih banyak, dia akhirnya membuang muka, memandangi isi kereta hingga tiap detail-detailnya, tanpa sekalipun menatap Murong Yun Hua untuk kedua kalinya.
Sampai Murong Yun Hua memanggil namanya, ―Adik Huolin…‖
Murong Huolin pun menengok ke arah Murong Yun Hua, entah sudah sejak kapan hubungan mereka seperti itu. Dia selalu
2284
menjadi adik yang manis dari Murong Yun Hua dan Murong Yun Hua menjadi kakaknya yang baik.
―Adik… apakah kau masih percaya padaku? Pernahkah aku mengecewakanmu sebelumnya?‖, tanya Murong Yun Hua dengan lembut.
Perlahan Murong Huolin menjawab, ―Ya… aku percaya pada kakak, tidak sekalipun kakak berbuat sesuatu yang merugikanku.‖
Murong Yun Hua tersenyum lembut, ―Percayalah padaku, rencana ini adalah rencana yang terbaik bagi kita semua.‖
Lama tapi akhirnya Murong Huolin mengangguk juga.
―Bagus, masih beberapa hari sebelum kita bertemu Kak Ding Tao dan rombongannya. Berusahalah berdamai dengan hatimu, supaya saat kita bertemu mereka, perasaanmu tidak lepas kendali. Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang menyakitkan hati Nona muda Huang.‖, ujar Murong Yun Hua dengan lembut.
Murong Huolin menganggukkan kepala perlahan, setetes air mata jatuh mengaliri pipinya yang halus, tidak sepatah katapun
2285
keluar dari mulutnya. Murong Yun Hua tidak berkata apa-apa lagi, hanya perlahan dia meraih tangan Murong Huolin dan meremasnya dengan lembut.
Beberapa ratus li jauhnya dari rombongan Murong Yun Hua, adalah rombongan Ding Tao. Jarak di antara keduanya, semakin lama semakin dekat dengan berlalunya waktu. Hari demi hari berlalu, setiap orang dengan pikirannya masing-masing. Pikiran yang menyenangkan, pikiran yang menyedihkan, pikiran yang membangkitkan amarah. Siapa yang bisa membuat otak berhenti berpikir? Saat demi saat, gerbong demi gerbong pemikiran berendeng berjalan dalam otak kita. Satu pemikiran selesai, yang lain akan datang. Terkadang satu pemikiran dengan pemikiran yang lain saling bersambung, terkadang melompat tak terhubung dengan pemikiran yang sebelumnya. Terus menerus dia berlari, bahkan saat tertidur pun terkadang dia masih bekerja dan muncul dalam bentuk mimpi.
Huang Ren Fu berjalan dalam diam, dia pun sedang berpikir. Selama beberapa hari ini bercakap-cakap dengan Tang Xiong dan Li Yan Mao, sebuah pemikiran terbentuk dalam benak mereka bertiga. Lama dia memandang Ding Tao yang berjalan di depannya, berdua dengan adik kandungnya. Tang Xiong dan
2286
Li Yan Mao berjalan mengiringi pemuda itu, keduanya diam, menanti keputusan Huang Ren Fu, sibuk menerka-nerka dan berpikir tentang apa yang sudah mereka percakapkan.
Huang Ren Fu tiba-tiba berkata, ―Aku akan pergi untuk berbicara dengan Ding Tao, kalian berdua tidak usah ikut.‖
Li Yan Mao dan Tang Xiong saling berpandangan kemudian menjawab, ―Baik tuan muda, kami mengerti.‖
Huang Ren Fu pun berjalan lebih cepat, menyusul Ding Tao dan Hua Ying Ying yang berjalan di depan. Li Yan Mao menghela nafas panjang, sementara Tang Xiong diam terpekur.
―Saudara Li… apakah pendapat kita salah?‖, tanya Tang Xiong sambil memandangi punggung Huang Ren Fu.
Li Yan Mao tidak segera menjawab, ―Entahlah… aku sendiri tidak bisa menjawab dengan pasti. Jika sahabat baru datang lalu kita melupakan sahabat lama, orang bilang kita tidak punya rasa persahabatan. Lalu jika yang berlaku sebaliknya, apakah namanya itu? Tapi jika kita benar menilai kepribadian Ketua Ding Tao dan Tuan muda Huang Ren Fu, kukira inilah jalan yang baik. Tidak akan ada yang dirugikan, tidak Ketua Ding Tao, tidak juga keluarga Huang.‖
2287
―Bagaimana jika Ketua Ding Tao menolak?‖, tanya Tang Xiong.
―Jika demikian, berarti jelas siapa yang kemaruk harta dan siapa yang tidak.‖, jawab Li Yan Mao dengan tenang.
―Berarti, apapun jawaban Ketua Ding Tao, kita tidak akan mengambil jalan yang salah, bukankah benar demikian?‖, tanya Tang Xiong kembali.
―Seharusnya benar demikian.‖, jawab Li Yan Mao dengan berat hati.
―Seharusnya demikian…‖, ulang Tang Xiong bergumam tak jelas.
―Tapi mengapa hati ini merasa berat…?‖, ujar Tang Xiong sambil menghela nafas panjang.
Li Yan Mao sendiri tak tahu jawabnya dan hanya bisa berjalan dalam diam, menemani Tang Xiong dengan pergumulan hatinya, dengan serentetan pikirannya sendiri. Memandangi Huang Ren Fu yang kini sudah berdiri sejajar dengan Ding Tao.
―Saudara Ding To, bisakah kita bicara berdua saja sebentar?‖, tanya Huang Ren Fu sambil menepuk pundak pemuda itu.
2288
Ding Tao menoleh ke arah Huang Ren Fu, tersenyum dan menjawab, ―Tentu saja.‖
Baru setelah menjawab, dia melihat ada yang berbeda di wajah Huang Ren Fu. Huang Ren Fu tidak berkata lebih banyak, tapi memandang ke arah Hua Ying Ying.
Hua Ying Ying pun bertanya, ―Apakah kakak ingin berbicara berdua saja dengan Kak Ding Tao?‖
―Uhm… ya…, kalau kalian tidak keberatan.‖, ujar Huang Ren Fu sedikit ragu.
―Tentu saja tidak‖, jawab Hua Ying Ying yang kemudian berjalan lebih cepat, menyusul Ma Songquan, Chu Linhe dan Hua Ng Lau yang berada paling depan.
Ding Tao merasa hatinya tidak tenteram dan bertanya, ―Saudara Ren Fu…, sebenarnya ada apa? Apakah masalah keputusanku terhadap Shao Wang Gui di Shaolin?‖
―Tidak… tidak… bukan itu.‖, jawab Huang Ren Fu cepat-cepat.
―Sebenarnya bukan satu masalah yang penting…‖, ujar pemuda itu ragu, ragu dengan keputusannya untuk berbicara
2289
dengan Ding Tao tentang masalah yang dia simpan di benaknya selama beberapa hari ini.
Ding Tao melihat kesulitan yang dihadapi Huang Ren Fu dan tidak ingin menambah rumit masalah pemuda itu, ―Saudara Ren Fu, katakanlah dengan bebas, apa pun masalah itu. Apakah masalah itu ada hubungannya dengan Adik Ying Ying? Atau masalah yang lain? Percayalah, apapun yang kau katakan, kita tetap bersahabat.‖
Huang Ren Fu memandang ke arah Ding Tao, sekali lagi dia menimbang-nimbang, sebelum akhirnya dia menghembuskan nafas kuat-kuat untuk mengusir kegalauan dalam hatinya dan berkata, ―Ding Tao…, aku ingin membicarakan masalah peninggalan keluarga Huang, terutamanya yang ada di Wuling. Sebenarnya sejak bertemu dengan guru, kami berdua, aku dan Ying Ying sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan masa lalu kami dan memulai lembaran yang baru.‖
―Tidak sedikitpun terlintas dalam pikiran kami, untuk meminta apa yang menjadi hak kami. Tapi beberapa hari ini, berbicara dengan Paman Li Yan Mao dan Tang Xiong…, aku berubah pikiran. Bagaimanapun juga sejarah keluarga Huang tak boleh
2290
terhapus begitu saja di tanganku. Apalagi cabang di Wuling yang menjadi cikal bakal, berkembangnya keluarga Huang.‖
―Itu sebabnya…, aku ingin meminta padamu, untuk mengembalikan seluruh milik keluarga Huang yang ada di Wulin kembali ke tanganku. Aku tahu, setelah peristiwa pembantaian itu, tempat itu tidak ubahnya seonggok puing-puing, jika bukan kalian dari Partai Pedang Keadilan yang membangunnya kembali, tapi di situlah sejarah keluarga ini dimulai. Aku pun tidak ingin mengambil hasil kerja keras orang lain, suatu saat nanti, aku akan mengembalikan setiap sen yang sudah digunakan untuk membangun kembali tempat itu. Ding Tao jika permintaanku ini kau pandang terlalu berlebihan, aku …‖
―Cukup…‖, ujar Ding Tao menghentikan kata-kata Huang Ren Fu.
Wajah Ding Tao bersemu kemerahan.Entah menahan marah atau malu? Huang Ren Fu pun memandang pemuda itu dengan hati berdebar, namun tangan terkepal. Sudah berulang kali dia memikirkan hal ini, dia tidak bisa melihat di mana letak kesalahannya, karena memang semua itu adalah haknya sebagai satu-satunya yang tertinggal dari keluarga Huang.
2291
Ding Tao memejamkan mata beberapa saat lamanya sebelum kemudian membuka mulut dan berkata, ―Saudara Ren Fu… maafkan aku…, mendengarmu berkata sepanjang itu, hanya untuk mendapatkan apa yang sebenarnya memang merupakan hak-mu. Ah… betapa perih hatiku. Betapa aku malu memikirkan hal ini, tanpa mengetahui bahwa kalian yang merupakan pewaris sah dari keluarga Huang masih hidup, aku berdiri, berjalan dan memanjat ke atas menggunakan hak milik kalian berdua.‖
Huang Ren Fu pun jadi tergagap dan merasa malu dengan kecurigaannya, ―Ding Tao.. jangan berkata demikian, tatkala semuanya direbut orang, kaulah yang menyatukan kembali sisa-sisa keluarga Huang dan merebut kembali apa yang sudah diambil oleh penjahat-penjahat itu.‖
―Dan aku lupa untuk mengembalikannya, bukankah aku tidak ubahnya seperti para penjahat itu?‖, ujar Ding Tao dengan senyum pahit.
Huang Ren Fu menggelengkan kepala dengan tegas, ―Tidak, tidak, jangan pernah samakan dirimu dengan para penjahat itu. Ding Tao, jika kata-kataku sudah melukai hatimu, aku minta maaf dengan setulus-tulusnya.‖
2292
Ding Tao terdiam, menghela nafas, ‗Adakah dia merasa tersinggung dengan ucapan Huang Ren Fu?‘
‗Ya… ada sebagian dari dirinya yang merasa tersinggung dengan ucapan Huang Ren Fu. Adakah sebagian dari dirinya yang merasa tidak rela untuk menyerahkan kembali miliki keluarga Huang yang ada di Wuling pada Huang Ren Fu?‘
Dengan kecewa Ding Tao menjawab jujur pada dirinya sendiri, ‗Ya… ada sebagian dari dirinya yang tidak rela menyerahkan apa yang sesungguhnya memang bukan miliknya.‘
Dengan pandangan mata yang lebih jernih, Ding Tao menatap Huang Ren Fu, ―Saudara Ren Fu, aku akan berkata jujur padamu. Sebagian dari diriku merasa tersinggung oleh ucapanmu barusan, sebagian dari diriku tidak rela untuk menyerahkan Wuling padamu, meskipun itu adalah hakmu.‖
Huang Ren Fu mendengarkan dengan penuh perhatian, sebagian dari dirinya terkejut oleh pernyataan Ding Tao, tapi sudah tidak ada lagi kecurigaan yang sempat bersemayam dalam hatinya. Ding Tao mungkin berubah oleh berjalannya waktu, mungkin dia berubah oleh keadaan, tapi di dasar hatinya yang terdalam, Ding Tao tetaplah orang yang sama. Orang
2293
yang dia percayai beberapa tahun yang lalu dan sekarang masih dia percaya dengan sepenuh hatinya.
―Jadi kau lihat, aku tidak sebaik dugaanmu, tapi jangan kuatir, aku masih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Memang bersama beberapa orang sahabat aku mendirikan Partai Pedang Keadilan, tapi sebagian besar dari apa yang kami miliki saat ini sesungguhnya adalah milik kepunyaan kalian berdua. Selekasnya aku sampai di Jiang Ling aku akan mengurus segala sesuatunya, agar apa yang menjadi hak kalian, kami kembalikan pada kalian.‖, ujar Ding Tao dengan hati yang tiba-tiba terasa lapang.
Ya, hati Ding Tao tiba-tiba terasa lapang, begitu dia melepaskan segala keinginan untuk menguasai apa yang dulunya milik keluarga Huang. Justru di saat dia memutuskan untuk kehilangan sebagian besar, jika bukan keseluruhan, dari apa yang pernah dia pandang sebagai miliknya, di saat itu justru hatinya terasa lapang. Serasa sebuah beban yang berat lepas dari jiwanya.
Tapi Huang Ren Fu sekali lagi menggelengkan kepala, ―Ding Tao, kau salah jika mengambil keputusan demikian dan aku akan menyesali keputusanku seumur hidupku jika kau
2294
memaksa untuk melakukan hal itu. Sedikit pun aku tidak ingin kau mengembalikan semuanya itu kembali pada keluarga Huang.‖
Ding Tao diam mendengarkan dan Huang Ren Fu pun berkata lagi, ―Aku hanya menginginkan akar, cikal bakal dari keluarga Huang di Wuling, satu kenangan, satu ungkapan, penghargaan pada usaha yang sudah dikerjakan selama 3 generasi. Satu titik, di mana aku akan membangun sendiri keluarga Huang, dengan dua tanganku sendiri. Bukan dari sisa keluarga Huang yang kau selamatkan dengan kekuatan orang lain.‖
Lama Ding Tao diam, sebelum akhirnya dia menjawab, ―Aku mengerti…, tapi tawaranku tetap adanya. Kapan pun kau menghendaki, kau atau keturunanmu, aku akan mengembalikan semua yang pernah menjadi milik keluarga Huang pada kalian.‖
―Aku mengerti maksudmu, hanya saja kuharap kau mengerti juga apa yang ada dalam hatiku. Semua yang kau katakan sebagai milik keluarga Huang, bagiku sudah hilang di malam pembantaian itu. Tak mau aku bangkit berdiri oleh pertolongan orang lain, aku ingin bangkit berdiri dengan kekuatanku sendiri.
2295
Sekali-kali bukan karena aku tak percaya padamu, tapi inilah yang kurasakan.‖, jawab Huang Ren Fu.
Ding Tao menganggukkan kepala, ―Tentu saja, aku tidak berani mengatakan bahwa aku mengerti apa yang kau rasakan. Tapi aku percaya padamu.‖
Baru kali ini hati Huang Ren Fu terasa lega, setelah lama dia menyimpan pikiran ini, sebuah senyum pun terungkap tulus di wajahnya, ―Lain hari ketika kita bertemu, saat aku sudah membangun kembali keluarga Huang dengan dua tanganku, barulah aku merasa berdiri sejajar dengan dirimu.‖
―Hah… jangan berpikir bodoh, apapun keadaan kita, kita selalu sahabat bukan? Apakah jika aku jatuh dari kedudukanku sekarang, kau akan memandangku dengan belas kasihan, seperti memandang seorang pengemis yang kelaparan? Kuharap bila itu terjadi kau tidak berlaku demikian, tapi tetap memandangku sebagai seorang sahabat.‖, sahut Ding Tao sambil memukul lengan Huang Ren Fu.
―Hahaha… ya… ya…, anggap saja aku yang salah, tapi lihat saja, akan kubangun keluarga Huang kembali dari reruntuhan. Dan setiap sen biaya yang kau gunakan untuk membangun
2296
kembali kediaman keluarga Huang di Wuling, aku akan mengembalikannya.‖, jawab Huang Ren Fu sambil tertawa.
Keduanya pun bercakap-cakap dengan bebas, sebuah ganjalan sudah dilemparkan jauh-jauh dari persahabatan mereka berdua. Tidak mudah untuk membicarakan hal yang tidak menyenangkan, tapi jika dia memang seorang sahabat, maka kau harus percaya bahwa apa pun itu, tidak akan mengubah persahabatan yang ada. Sekilas Huang Ren Fu berpikir, betapa Ding Tao sesungguhnya memang sudah berubah, Ding Tao yang dulu tidak akan sebebas ini berlaku terhadap dirinya. Ding Tao yang dulu selalu membawa diri sebagai seorang hamba terhadap tuan mudanya. Tapi Huang Ren Fu tidak merasa terganggu dengan Ding Tao yang baru ini.
Bicara ke kanan dan ke kiri, tiba-tiba Huang Ren Fu bertanya, ―Bagaimana hubunganmu dengan Adik Ying Ying?‖
Ditanya demikian Ding Tao pun tergagap, ―Eh… apa … ah… entahlah…‖
Memikirkan Ying Ying, Ding Tao jadi terdiam dan lesu, hilang sudah tawa cerianya bersama Huang Ren Fu tadi.
2297
Huang Ren Fu pun menghela nafas, lalu berkata, ―Ding Tao…, sedikit banyak aku sudah mendengar tentang kisah hubunganmu dengan kedua isterimu. Aku pun pernah melihat mereka berdua saat kau mengadakan syukuran kelahiran puteramu yang pertama. Keduanya memang wanita yang bisa dikatakan sulit dicari bandingannya.‖
Ding Tao masih terdiam dan Huang Ren Fu pun terdiam beberapa lama, mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan pikiran dalam benaknya, ―Kau tahu dalam hal hubungan kalian, kedudukanku berada di posisi yang serba tidak enak. Di satu sisi, kau ini sahabatku dan sebagai lelaki, meskipun aku tidak akan membenarkan perbuatanmu, tapi aku juga bisa memahami bagaimana hal itu sampai terjadi.‖
―Di sisi lain, Ying Ying adalah adikku yang kusayangi dan sekarang dia merupakan satu-satunya keluargaku di dunia ini. Tak mau aku melihat dia bersedih atau dihinakan orang.‖, ujar Huang Ren Fu.
Ding Tao pun mendesah sedih dan berkata, ―Ren Fu…, tak nanti aku akan menghinakan atau membuat Ying Ying bersedih.‖
2298
Huang Ren Fu mengangguk dan berkata, ―Ya…, aku percaya, tapi bagaimana dengan orang lain? Bagaimana dengan dua orang isterimu? Inilah pula yang menjadi salah satu alasanku, meminta kembali harta milik kami yang ada di Wuling. Dengan jalan itu aku berharap bisa memberikan latar belakang yang layak bagi Ying Ying. Bukan sekedar anak yatim piatu yang tidak memiliki apa-apa, seorang murid perantauan. Meskipun guru memiliki nama besar dalam dunia persilatan, tapi seorang anak gadis tanpa keluarga yang kuat di belakangnya, akan ada saja orang yang akan mencibir dirinya.‖
―Ding Tao, apakah kau masih mencintai Ying Ying? Apakah engkau masih berpikir untuk menikahinya?‖, tanya Huang Ren Fu.
Ding Tao mengangguk dengan tegas, ―Ya…, sejak pertemuan kita kembali di kaki Gunung Songshan, perasaanku padanya semakin kuat. Aku memang mencintainya dan jika dia bersedia, aku akan menikahinya. Aku tidak ingin memaksa dia untuk mengambil satu keputusan, tapi inilah yang ada dalam hatiku, lepas dari apa yang nantinya akan terjadi.‖
Huang Ren Fu tersenyum puas, ―Aku percaya padamu, aku percaya kau akan berusaha untuk membahagiakan dia. Dan
2299
percayalah, dia sungguh mencintaimu, selama ini dia terus memikirkan dirimu. Mungkin saat ini dia masih butuh waktu untuk bisa memaafkanmu, tapi pada akhirnya dia akan memaafkanmu.‖
Ding Tao terdiam beberapa lama, memandangi punggung Hua Ying Ying yang sedang bercanda dengan Chu Linhe, ―Ya… kuharap dia bisa memaafkanku.‖
―Apakah kau sudah berusaha menyampaikan padanya, mengenai keinginanmu untuk menikahi dia?‖, tanya Huang Ren Fu.
―Sudah…‖
―Lalu apa jawabnya?‖
―Dia berkata akan mempertimbangkannya lebih dahulu.‖, jawab Ding Tao sambil tersenyum pahit.
―Sudahkah kau bertanya lagi padanya setelah itu?‖, tanya Huang Ren Fu pada Ding Tao.
―Belum…, aku tidak ingin mendesak dia terus menerus… Sungguh aku merasa bersalah padanya dan aku tidak ingin
2300
terlalu mendesak dia. Setelah apa yang kulakukan sudah wajar jika dia menolak pinanganku itu.‖, jawab Ding Tao dengan pilu.
―Jangan bodoh, sudah berapa lama kau menunggu jawaban darinya?‖, tanya Huang Ren Fu.
―Entahlah, setidaknya sudah lewat beberapa hari, mungkin 1 minggu‖, jawab Ding Tao.
―Sudah cukup lama, bukankah sekarang dia sudah mulai mau kau ajak bercakap-cakap. Cobalah bertanya lagi padanya, masa kau berharap seorang gadis berbicara lebih dahulu mengenai masalah pernikahan? Jika kau tidak bertanya padanya, bisa jadi kalian berdua sebenarnya saling menunggu dan menunggu.‖, ujar Huang Ren Fu mendorong Ding Tao.
Ding Tao pun berpikir beberapa lama, lalu menjawab, ―Kau benar…, begitu ada waktu yang tepat, aku akan bertanya lagi pada dia.‖
―Itu bagus…‖, jawab Huang Ren Fu.
Dan hari itu pun akhirnya berlalu tanpa Ding Tao sempat bertanya pada Hua Ying Ying mengenai pinangannya pada gadis itu. Keesokan paginya Ding Tao berusaha
2301
mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi Hua Ying Ying. Mereka berangkat dari penginapan pagi-pagi sekali, ketika matahari baru bersinar dengan terang, rombongan Ding Tao sudah jauh meninggalkan desa tempat mereka menginap semalam. Udara yang cerah membuat semangat mereka semua terbangun. Bahkan Hua Ying Ying yang beberapa hari ini sering diam, tampak lebih banyak bicara, membuat Ding Tao tersenyum lebih banyak daripada kemarin. Dengan sengaja, kali ini Ding Tao mengajak Hua Ying Ying berjalan paling belakang. Huang Ren Fu yang bisa mengira-ngira apa yang akan mereka bicarakan, dengan sengaja mengajak Tang Xiong dan Li Yan Mao untuk ikut bergabung dengan Hua Ng Lau bertiga, berjalan paling depan.
―Kak Ding Tao, apa yang kemarin hendak dibicarakan Kakak Ren Fu denganmu?‖, tanya Hua Ying Ying tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
Ding Tao terdiam sejenak, ―Tidak ada yang penting… kakakmu…, dia ingin tinggal lagi di Wuling itu saja.‖
Hua Ying Ying mendesah, ―Jadi akhirnya kakak setuju dengan saran Paman Li…, tidak perlu ditutupi, sedikit banyak kakak sudah pernah berunding pula denganku.‖
2302
―Oh begitu…, lalu bagaimana menurut pendapat Adik Ying Ying tentang hal itu?‖, tanya Ding Tao.
―Aku tidak suka…‖, ujar Hua Ying Ying perlahan.
―Ah…, kenapa?‖, tanya Ding Tao tak tahu harus berkata apa.
―Kakak Ren Fu dan aku sudah memutuskan untuk membuang masa lalu, mengapa sekarang kami justru meminta lagi apa yang kami anggap sebagai hak kami? Entahlah… aku merasa, aku lebih bahagia seperti sekarang ini… bebas dari segala ikatan yang tak perlu…‖, ujar Hua Ying Ying perlahan.
―Tapi… kakakmu, melakukan hal itu, juga demi kebaikanmu… dia ingin…‖, Ding Tao tak tahu harus bagaimana menyampaikan apa yang dibicarakan dengan Huang Ren Fu kemarin.
Setelah beberapa saat terdiam akhirnya Ding Tao memberanikandiri untuk bertanya, ―Adik Ying Ying, tentang lamaranku beberapa waktu yang lalu, sudahkah adik mempertimbangkannya?‖
Hua Ying Ying tidak langsung menjawab, Ding Tao dibuat berdebar-debar menunggu jawabannya.
2303
―Sudah kupertimbangkan…‖, ujar Hua Ying Ying pendek, kemudian lama dia terdiam kembali, membuat Ding Tao hanya bisa menunggu dengan dada yang serasa dihimpit gunung anakan.
―Kakak, jika teringat kakak sudah menikah, apalagi kakak berkenalan dan… bercinta dengan wanita lain, bahkan sebelum kakak mengira aku mati, sementara aku selalu menanti-nanti kedatangan kakak, hatiku terasa sakit… sakit sekali.‖, ujar Hua Ying Ying lalu kembali diam.
Mendengar perkataan itu hati Ding Tao ikut terasa sakit, sakit oleh penyesalan, tapi waktu tidak bisa diputar kembali, hanya bisa berjalan terus ke depan.
―Tapi aku pun mengerti, kakak toh hanya seorang manusia, sementara bahkan dewa pun bisa tergerak hatinya dan melakukan kesalahan, apalagi manusia biasa. Dan kedua isteri kakak, memang bisa dikatakan serupa dengan dewi-dewi di langit cantiknya. Lagipula, aku tahu benar sifat kakak, tiap perkataan kakak, aku tidak meragukan ketulusannya. Sedikit banyak, kukira aku bisa belajar untuk memaafkan perbuatan kakak itu.‖, ujar Hua Ying Ying membuat harapan Ding Tao kembali muncul ke permukaan.
2304
―Aku mencintai Kak Ding Tao, aku tidak bisa membohongi hatiku, semarah apapun, sebesar apapun rasa kecewa yang pernah kurasakan. Di lain pihak, aku jadi berpikir, jika aku menikah dengan Kak Ding Tao…, apakah kedua isteri Kak Ding Tao tidak akan merasakan sakit yang kurasakan? Jadi… jadi aku memutuskan…‖, tinggal satu kata, ya atau tidak, tapi berat sekali bagi Hua Ying Ying untuk mengatakannya.
―Aku memutuskan…‖, ujar Hua Ying Ying setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya, tapi omongannya itu terputus saat Tang Xiong dengan setengah berlari datang mendekat dan menunjuk jauh ke depan.
―Ketua… lihat, sepertinya ada rombongan dari Partai Pedang Keadilan yang datang menyambut kita.‖, seru Tang Xiong yang tidak tahu menahu tentang pembicaraan penting dari sepasang kekasih itu.
Otomatis, Hua Ying Ying pun tidak meneruskan perkataannya dan Ding Tao ditinggalkan bertanya-tanya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam serba salah dan Tang Xiong yang menyadari suasana itu pun bertanya perlahan-lahan, ―Maaf… apakah aku mengganggu pembicaraan yang penting…?‖
2305
Gemas sekali hati Ding Tao, rasanya ingin dia menggampar wajah Tang Xiong yang baru saja sadar, sudah mengganggu satu pembicaraan yang penting. Sekalipun demikian, tak sampai hati dia memaki Tang Xiong. Dengan menahan kesal pemuda itu pun menggelengkan kepala.
―Tidak, tidak ada apa-apa‖, ujarnya sambil memandang ke depan, ke arah yang ditunjuk oleh Tang Xiong.
Hua Ying Ying yang ikut merasa serba salah dengan kedatangan Tang Xiong yang tiba-tiba, cepat-cepat menyambung perkataan Ding Tao, supaya Tang Xiong tidak sempat bertanya lebih panjang, ―Kak Ding Tao, apakah benar yang di depan sana itu rombongan dari Partai Pedang Keadilan? Kalau benar, ayolah kita cepat-cepat menyongsong mereka pula.‖
―Benar, ayolah Paman Tang Xiong, mari kita percepat jalan kita.‖, ujar Ding Tao dengan segera menyambut usul Hua Ying Ying.
―Eh… ya baiklah, kukira di antara mereka tentu ada nyonya berdua, jika bukan mereka siapa lagi yang menggunakan kereta? Apakah Saudara Chou Liang? Menurut ketua
2306
bagaimana?‖, ujar Tang Xiong sambil mempercepat langkah kakinya.
Mendengar ucapan Tang Xiong, hati Ding Tao terasa tenggelam, ―Kukira kau benar… tentu mereka berdua, jika tidak masakan harus pakai kereta segala.‖
Hua Ying Ying melirik sekilas ke arah Ding Tao, melihat wajah Ding Tao seketika itu juga hatinya mengkal, dalam hati dia membatin, ‗Huh… tadi bersemangat sekali, sekarang melihat isterimu datang, toh kau jadi ketakutan…‖
Ya, tapi siapa yang bisa menyalahkan Ding Tao, Tang Xiong yang tadinya bersemangat menyampaikan berita, begitu melihat wajah Ding Tao barulah dia tersadar. Sudah juga jadi lelaki, kalau ada banyak wanita yang mengejar. Dengan wajah kecut, Tang Xiong pun berjalan mengiringi Ding Tao tanpa berani banyak berkata apa-apa. Ding Tao sendiri jadi tenggelam dalam segala macam perasaan dan perhitungan. Seandainya Hua Ying Ying sudah memberikan jawaban yang pasti, maka lebih mudah bagi dia untuk mengambil satu keputusan. Tapi Ying Ying belum sempat mengatakan ya atau tidak. Betapa bodohnya jika dia menyambut kedua isterinya dan mengatakan akan menikahi Hua Ying Ying, tapi ternyata
2307
jawaban dari gadis itu adalah tidak. Sebaliknya dia bisa merasakan pandangan tajam mata Hua Ying Ying yang mengamati setiap detail ekspresi wajahnya dan berusaha membaca perasaannya. Hendak bertanya lebih jelas pada Ying Ying, tapi ada Tang Xiong di sana, sehingga dirinya pun tidak leluasa untuk bertanya.
Ding Tao masih sibuk berpikir bagaimana caranya agar dia bisa berbicara berdua saja dengan Ying Ying, ketika terlihat, kereta kuda yang ada di kejauhan itu berhenti bergerak, dengan serta merta Ding Tao pun berkata pada Tang Xiong, ―Saudara Tang Xiong, cobalah berjalan lebih dulu dan lihat, mengapa kereta itu berhenti bergerak, mungkin mereka butuh pertolongan.‖
Tang Xiong pun merasa lega dan dengan segera menjawab, ―Ah… tentu saja, baiklah ketua, aku akan bergegas ke sana, mendahului ketua.‖
Siapa sangka di saat itu, Hua Ying Ying yang masih merasa mengkal atas sikap Ding Tao berkata pula, ―Paman Tang Xiong, aku ikut denganmu, siapa tahu mereka memang perlu bantuan.‖
2308
Dan habis berkata demikian tanpa menunggu gadis itu pun mempercepat langkahnya, meninggalkan Ding Tao dan Tang Xiong yang melengong dengan mulut setengah terbuka.
―Ketua… soal ini…‖, sedikit terbata Tang Xiong berdiri termangu memandang Ding Tao.
Ding Tao pun hanya bisa menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala, ―Ahh… sudahlah…, ayolah kita semua sedikit bergegas.‖
Akhirnya mereka bertiga pun bergegas menghampiri rombongan yang ada di depan, kemudian bersama-sama, mempercepat langkah kaki mereka untuk menemui para penyambut dari Kota Jiang Ling. Dari kejauhan mereka melihat dua orang wanita turun dari kereta, siapa lagi jika bukan Murong Yun Hua dan Murong Huolin. Dengan berjalan kaki, kedua wanita itu bersama-sama para pengantarnya, pergi menyambut Ding Tao dan rombongannya. Seperti apa perasaan Ding Tao, sulit sekali untuk dijelaskan, karenanya penulis memilih untuk membiarkan pembaca membayangkan sendiri perasaan Ding Tao saat itu.
2309
Siapa yang hendak disalahkan jika pertemuan suami isteri yang sudah lama terpisah jadi terkesan sedikit kaku dan dipaksakan? Ah, mungkin ini jelas-jelas salah Ding Tao, lelaki mana yang punya akal sehat akan datang bertemu dengan kedua isterinya, sembari membawa cinta pertamanya? Tapi Ding Tao sendiri tidak pernah menduga bahwa Murong Yun Hua dan Murong Huolin akan pergi untuk menyambutnya, sehingga sebelum mereka bertemu, sementara permasalahan antara dirinya dan Hua Ying Ying belum memiliki kejelasan. Bukan hanya Ding Tao, yang lain pun merasa berada di dalam kesusahan yang sama. Hua Ying Ying yang bersangkutan langsung jelas ikut berdebar-debar jantungnya, meskipun debaran itu sedikit tersamar oleh kekesalannya pada Ding Tao. Huang Ren Fu dan Hua Ng Lau sebagai orang terdekat dari Hua Ying Ying, ikut pula merasa mulas perutnya dengan semakin dekatnya jarak di antara dua rombongan ini. Li Yan Mao dan Tang Xiong, meskipun tidak terkait secara langsung, ikut terpengaruh dengan suasana yang menyesakkan. Hanya Ma Songquan dan Chu Linhe saja yang tidak terlalu ambil peduli, tapi mengamati kejadian ini dengan penuh rasa ingin tahu.
Tapi ketegangan itu dengan segera menjadi cair ketika kemudian Murong Yun Hua dan Murong Huolin berlari kecil dan
2310
dengan hangat menyapa, bukan saja Ding Tao tapi juga Hua Ying Ying dan yang lainnya.
―Kak Ding Tao…, syukurlah kalian semua baik-baik saja… Bagaimana dengan tangan kakak? Apakah masih sakit?‖, sapa Murong Yun Hua dan Murong Huolin dengan hangat pada Ding Tao.
Kemudian sebelum Ding Tao sempat membuka mulut, keduanya meraih tangan Hua Ying Ying dan menggandeng gadis itu di kiri dan kanan, ―Nona Ying Ying, syukurlah ternyata kalian berdua baik-baik saja. Sungguhpun kami sangat terkejut mendengar berita tentang kalian berdua, tapi kami juga sangat bersyukur bahwa kalian berdua ternyata baik-baik saja. Kalau saja kau tahu betapa Kak Ding Tao sangat bersedih jika sedang memikirkan kalian berdua.‖
Dengan beberapa kalimat itu, dan disambung dengan sapaan-sapaan dan pertanyaan yang ramah pada semua orang yang ada, maka ketegangan yang sempat dirasakan itu pun dengan cxepat mencair. Meskipun tentu ada sisa-sisa perasaan yang mengganjal, tapi perasaan itu tidaklah sampai membuat suasana menjadi rusak. Kedua isteri Ding Tao dengan pandainya membawakan peranan mereka sebagai isteri-isteri
2311
yang berbahagia karena bertemu kembali dengan suami yang dikasihi. Tentang kedudukan Hua Ying Ying sebagai kekasih Ding Tao, tidak sedikitpu mereka singgung, dan orang berakal mana yang mau coba-coba menyinggung masalah itu dalam keadaan demikian? Dengan bijaksana kedua orang nyonya itu berjalan beriringan dengan Hua Ying Ying bukan berjalan beriringan dengan Ding Tao. Dengan cara mereka bersikap, orang bisa menangkap, bahwa mereka tidak menafikan adanya hubungan hati antara Ding Tao dengan Hua Ying Ying. Di saat yang sama mereka juga menunjukkan bahwa, mereka tidak akan memusuhi atau menyalahkan Hua Ying Ying atas hubungan gadis itu dengan suami mereka.
Tentu saja tidak ada seorangpun yang percaya bahwa kedua nyonya itu sungguh-sungguh tidak menyimpan ganjalan apa pun dalam hati mereka. Namun justru ketulusan mereka dalam menyambut Hua Ying Ying, keramahan yang tidak dibuat-buat, membuat mereka semua kagum pada jiwa besar kedua orang nyonya itu. Termasuk Hua Ying Ying sendiri, gadis itu ikut tergerak oleh keramahan mereka berdua yang tulus dan semakin kuatlah keyakinannya untuk menolak pinangan Ding Tao. Gadis itu toh bukannya gadis yang egois dan mau menang sendiri. Jangankan kedua orang nyonya itu bersikap
2312
ramah pada dirinya, seandainya mereka bersikap cemburu pun dia bisa mengerti.
Sikap ramah mereka berdua, juga cara mereka berusaha menjaga perasaan setiap orang, baik Ding Tao maupun dirinya, membuat Hua Ying Ying merasa kecil di hadapan mereka berdua. Dia yang baru saja bersikap semaunya dan tidak mau tahu dengan kedudukan Ding Tao yang serba salah, tiba-tiba dihadapkan pada dua orang nyonya ini, yang menurut Ying Ying lebih berhak untuk merasa kesal dengan Ding Tao, tapi ternyata justru berusaha menghilangkan kekakuan yang ada di antara mereka ber-empat.
Di antara mereka semua, tentu saja yang paling merasa lega dan bersyukur adalah Ding Tao, wajahnya yang murung pun sekarang menjadi cerah. Meskipun kedua isterinya justru bergandengan tangan dengan Hua Ying Ying, tapi justru itu yang membuat dia merasa senang. Ding Tao pun menepuk jidatnya sendiri dalam hati, mengapa pula dia sempat merasa menyesal sudah menikahi dua kakak beradik itu. Tak sedikitpun ada cela dalam sikap mereka sebagai isteri. Tentu saja timbul pertanyaan dalam benak Ding Tao, jika demikian, lalu bagaimana dengan Hua Ying Ying sekarang? Pemuda itu pun
2313
berharap-harap cemas, bahwa pada akhirnya semua akan berakhir dengan baik.
Dengan keceriaan dua orang nyonya itu, perjalanan yang panjang pun menjadi lebih ringan dan menyenangkan. Tanpa terasa akhirnya mereka sampai pula pada kota tujuan mereka untuk hari itu. Penginapan pun dipesan, dalam pembagian kamar tentu saja Ding Tao dan kedua isterinya diberikan satu kamar tersendiri. Tapi ketika yang memesan kamar menyampaikan pembagian itu pada yang lain, Murong Yun Hua menggamit tangan Ding Tao dengan lembut.
―Suamiku, kuharap kau tidak marah, tapi bagaimana jika untuk malam ini, biarlah aku dan Adik Huolin tidur sekamar dengan Adik Ying Ying. Sungguh, ada banyak hal yang ingin kami bicarakan.‖, ujar Murong Yun Hua dengan lembut namun cukup jelas bagi setiap orang.
Ding Tao tertegun menatap Murong Yun Hua beberapa lama, sebelum kemudian hatinya dipenuhi satu kehangatan oleh tatapan mesra yang terpancar dari mata Murong Yun Hua, ―Tentu saja, tentu aku tidak marah. Kupikir, adalah baik kalau kalian bertiga saling mengenal lebih dekat.‖
2314
―Terima kasih…‖, ucap Murong Yun Hua pendek saja.
Meskipun pendek tapi banyak arti yang tersirat di dalamnya, jika bukan Ding Tao percaya, tentu bukan demikian jawaban Ding Tao. Atas kepercayaan Ding Tao ini, betapa besar rasa terima kasih Murong Yun Hua, semuanya tertumpang di atas satu kata itu saja. Untuk sekejap lamanya, kedua orang ini saling memandang dengan mesra, sebelum Murong Yun Hua memalingkan wajahnya dan menarik tangan Hua Ying Ying dengan ceria.
―Ayolah Adik Ying Ying, kita lihat kamar kita, tubuhku sudah penat sekali tidak terbiasa dengan perjalanan panjang. Pasti nikmat berendam bersama dalam satu bak air panas yang besar.‖
Kemudian berpaling pada pemilik penginapan diapun berkata dengan ramah, ― Tuan pemilik, tentu bisa menyediakannya bukan?‖
―Tentu nyonya, tentu, tentu saja kami bisa menyiapkan, akan kami siapkan dengan segera.‖, jawab pemilik penginapan itu dengan ramah dan pandang mata kagum yang tidak bisa disembunyikan.
2315
Melihat cara pemilik penginapan itu memandang Murong Yun Hua, Ding Tao hanya tersenyum saja, memiliki isteri yang cantik, apalagi dua orang isteri yang cantik tentu harus siap melihat lelaki lain memandang mereka dengan penuh kekaguman, asalkan tidak terlihat sorot mata yang kurang ajar atau kata-kata yang tidak sopan. Jika kurang rasa percaya pada pasangan, tentu mudah membuat timbulnya pertengkaran. Apalagi jika si suami rendah diri, tentu pernikahan jadi neraka. Bukan tidak mungkin isteri yang setia pun jadi berubah hati. Beruntung baik Ding Tao maupun kedua isterinya saling percaya, atau mungkin karena mereka masih pengantin baru? Entahlah kita Cuma bisa ikut menyimak saja perjalanan cinta mereka semua.
Ajakan Murong Yun Hua awalnya membuat Hua Ying Ying terkejut, namun melihat keceriaan Murong Huolin dan ketulusan Murong Yun Hua, perasaan gadis itu pun ikut terbawa suasana, meskipun debar-debar kecil masih samar-samar terasa dalam dada. Ketiganya saling bercanda, bercakap-cakap dengan ramai, seperti biasa ketika gadis-gadis berkumpul, seakan-akan sudah bersahabat sejak lama. Meskipun demikian Hua Ying Ying dalam hatinya yang terdalam merasa, bahwa tentunya
2316
Murong Yun Hua memiliki maksud tertentu ketika mengatur agar mereka bertiga mendapatkan kamar yang sama.
Debar-debar itu semakin jelas terasa, saat Murong Yun Hua dengan lembut berkata, ―Adik Ying Ying, bisakah kita berbicara mengenai hubunganmu dengan Kak Ding Tao?‖
Ying Ying tergagap menjawab, ―Ah… apa perlunya… di antara kami sudah tidak ada apa-apa.‖
Murong Yun Hua tersenyum dengan lembut, ―Adik Ying Ying, tidak ada yang perlu kau sembunyikan, kami tahu kalian berdua pernah saling mencintai dan kukira masih saling mencintai.‖
‗Apakah keramahan mereka hanya sandiwara saat berada di depan Kak Ding Tao? Dan sekarang setelah kami tinggal bertiga, mereka ingin memastikan agar tidak ada hubungan asmara di antara kami berdua?‘, dalam hati Hua Ying Ying bertanya-tanya.
Melihat Hua Ying Ying diam tak segera menjawab, Murong Yun Hua memegang tangan Hua Ying Ying dengan lembut, ―Adik Ying… mengapa tidak terbuka saja, percayalah kami memahami keadaanmu.‖
2317
Mendengar suara Murong Yun Hua yang lembut dan keibuan, air mata pun mulai mengembeng di pelupuk mata Hua Ying Ying, terisak dia menjawab, ―Ah… enci… kalaupun sudah tahu, apa lagi yang perlu diceritakan?‖
Murong Yun Hua menghapus air mata yang mulai mengalir, sementara Murong Huolin memeluk Hua Ying Ying dari samping. Untuk beberapa lama, mereka bertiga tidak ada yang berbicara.
―Setelah pertemuan kalian di kaki Gunung Songshan, apakah Kak Ding Tao pernah menyatakan cintanya padamu? Apakah dia sudah pernah meminanngmu untuk jadi isterinya?‖, tanya Murong Yun Hua perlahan, ketika isak Hua Ying Ying sudah berkurang.
Hua Ying Ying menganggukkan kepala sebagai jawaban, kepalanya menunduk memandangi lantai, tak berani bertatap muka dengan dua orang isteri Ding Tao yang sekarang sedang menghiburnya.
―Lalu… apakah Adik Ying Ying sudah menjawab?‖, tanya Murong Huolin hati-hati.
2318
Hua Ying Ying menggelengkan kepala, kemudian berkata, ―Tapi enci berdua tidak perlu khawatir, semuanya sudah kupikirkan baik-baik dan aku memutuskan untuk menolak pinangan Kak Ding Tao….‖
Untuk sejenak Murong Yun Hua dan Murong Huolin saling berpandangan penuh makna, namun Hua Ying Ying yang masih menenangkan diri tak melihat hal itu.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis Korea Silat : PAB 12 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 06 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments