Cerita Cinta Raisa Sekarang Sebelum Putus : Ching Ching 5 Tamat

Cerita Cinta Raisa Sekarang Sebelum Putus : Ching Ching 5 Tamat
Cerita Cinta Raisa Sekarang Sebelum Putus : Ching Ching 5 Tamat
AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Cinta Raisa Sekarang Sebelum Putus : Ching Ching 5 Tamat
baca juga:

Mentari sudah tinggi diatas kepala. Hampir semua orang sudah ada di situ. Tapi
kemudian datang menyusul seorang wanita muda mengenakan pakaian berwarna kelabu.
Rambutnya digelung sederhana dipuncak kepala tanpa hiasan. Kedatangannya tidak
menarik perhatian. Baru ketika setelah menancapkan hio, ia ikut berlutut
diantara anak-murid Pek San Bu Koan, barulah semua menengok kepadanya. Memang ia
tak lain In Sioe Ing adanya. Bukan main kegirangan semua murid perguruan. Mereka
ingin menyapaa, ingin bertanya. Namun kesemua sama tak mau merusak suasana
hening yang khusyuk, maka merekapun bungkam.
Setelah kedatangan In Sioe Ing menyusul pula datang serombongan orang. Dari
pakaian seragam berwarna hijau, kiranya adalah orang Cheng Kok Pai. Diantara
mereka terdapat pula Thio Lan Fung dengan ayahnya.
Diam diam semua saling pandang. Semua sudah dengar kabar burung mengenai
bentrokan antara In Sioe Ing dengan nona she Thio itu. Dengan tegang masingmasing
menunggu reaksi nona she In terhadap seterunya. Akan tetapi betapa mereka
kecewa melihat In Sioe Ing hanya tunduk saja membaca doa dengan roman tidak
berobah.
Menjelang sore, Miaw Chun Kian mendului berdiri meninggalkan reruntuhan Pek San
Bu Koan. Semua murid berdiri dan para tamupun hendak pergi juga. Tapi tidak
demikian halnya dengan Ching-ching. Ia masih tak bergeming diatas selendangnya
dengan sikap yang sama sedari pagi.
Agaknya Ching-ching belum berniat untuk menyelesaikan sembahyang. Tetamu yang
sesungguhnya lebih berkepentingan dengan si nona mulai kehilangan kesabaran.
Terutama sekali Yao Soat Bwe yang bergelar Hu Yong Giok Tiap itu.
"Bocah itu kiranya sengaja mempermainkan kita." cetusnya kesal. "Tak cukup kita
menunggu dari pagi apa mesti juga menunggu semalaman. Dikiranya kita tidak capek
?"
"Biarlah kita menunggu barang sebentar lagi. Kulihat Lie Siaw Lihiap juga sudah
lelah menahan berat tubuhnya mengentengkan badan. Lihat, bukankah selendang tak
lagi terentang tegang, tapi agak turun mendekati tanah?" Thian Sie Su Sing
menyabarkan.
Memang demikian halnya. Ilmu mengentengkan badan milik Ching-ching boleh
dibilang sudah mendakati tingkat kesempurnaan. Akan tetapi setiap kepandaian ada
batasnya. Begitupun si Nona. Setelah seharian mengentengkan badan, bagaimana
mungkin ia tidak habis tenaga?
Mengetahui keadaannya diketahui orang lain, Ching-ching pun merasa tiada gunanya
berlama-lama lagi. Ia lantas mengebaskan selendang melilit satu dahan. Badannya
berayun diudara sebelum ia melompat, hilang dari pandangan.
"Dia kabur!" kemarahan Hu Yong Giok Tiap kini sudah sampai ke ubun-ubun. "Hayo
kita kejar!" katanya sembari menghunus pedang.
Tanpa berpikir panjang yang lain ikut-ikutan mengeluarkan senjata masingmasing,
terus mengejar si nona she Lie layaknya mengejar penjahat buron.
Wang Li Hai melihat gelagat tidak baik, segera hatinya menjadi gelisah. Lekas ia
melesat maju paling dulu. Dalam pikirnya ia akan mengejar Ching-ching guna
melindungi bila terjadi sesuatu.
Namun mereka tak usah mengejar terlalu jauh. Ching-ching tengah berdiri jarak
lima tombak di depan. Kiranya ia hanya pergi keluar dari tanah Pek San Bu Koan
agar dapat berpijak dengan leluasa.
Ching Ching 411
"Kenapa kalian semua menguhus senjata? Apa mau membunuhku secara beramairamai?"
si nona menjengek.
Baru saat itu kesemuanya sadar, mereka menghunus senjata tanpa guna. Dengan
malu-malu mereka turunkan pedang-tombak. Malah ada yang langsung menyarungkan
kembali senjatanya.
"Lie Kouwnio, tempo hari kau berjanji handak memberitahukan kepada kami letaknya
sarang sepasang siluman ular begitu selesai sembahyang seratu hari kematian
gurumu. Nah, sekarang kami datang menagih janji!" seru Hu Yong Giok Tiap yang
paling gusar, menutupi rasa malu lantaran paling duluan megambil tindakan bodoh.
"Ai, kupikir kalian memang tahu terimakasih lantas datang menyembahyangi Suhu,
tak tahunya ada maksud tertentu." Ching-ching mencibir.
"Kouwnio, tujuan kedatangan kami yang utama memanglah hendak sembahyangi
arwahnya Li Tay-hiap. Akan tetapi tempo hari kebetulan kau berjanji pula.
Apabila kami menagih janji hari ini, maksudnya bukan lain daripada menyingkat
waktu saja."
"Aku tidak pernah mengumbar janji dihadapan kalian!"
"Tempo hari kau bilang akan....."
"Aku ingat betul. Tempo hari kataku, 'sebelum seratus hari, tak nanti kuberikan
apa yang kalian mau. Kalau ada seorang saja yang datang menemuiku sebelum
waktunya, maka aku akan bungkam selamanya.' Tapi aku tak pernah berjanji akan
mengatakan hari itu juga. Terserah kepadaku akan mengatakannya duaratus hari
kemudian atau malah seribu hari kemudian."
"Kau......" Thian Sie Su Sing tak bisa berkata-kata lagi, menyadari apa yang
dibilang si Nona tiada salahnya sama sekali.
"Memang sejak semula kusudah menduga!" Seru Hu Yong Giok Tiap. Pedangnya kembali
diacungkan kemuka. "Kiranya benar kau adalah anteknya Kim Gin Siang Coa Pang.
Barangkali betul kata bocah she Chang bahwa kau sudah terhitung iparnya!"
"Hu Yong Giok Tiap, kali ini kau benar-benar kelewat batas!" Ching-ching menjadi
gusar. Sindiran akan hubungannya dengan Chang Houw memang selalu membuatnya
marah.
"Bukankah kata-kataku itu benar? Kau memang punya hubungan gelap dengan orang
she Chang!"
"Tidak!" Seseorang berseru. "Itu bohong! Tidak mungkin!"
"Wang Kongcu!"
Wang Li Hai berdiri didepan Ching-ching, seolah hendaak melindungi si nona.
"Dia tunanganku. Kami belum putus hubungan, mana bisa ia dengan orang lain?"
"Hmmh," Hu Yong Giok Tiap mendengus. "Setahuku Wang Kong-cu malahan sudah
menjalin hubungan dengan Thio Lan Fung lebih dulu. Mana bisa sekarang mengaku
tunangannya lain orang?"
Merah padam muka Wang Li Hai. Di belakang sana Thio Lan Fung juga menggigit
bibirnya lantaran malu dan marah. Sedangkan ayah si nona she Thio menggeram
gusar.
Ching-ching melihat, sekarang bukan dia saja dipermalukan, Wang Li Hai juga
terseret. Dalam hati gadis itu puas, akhirnya ada juga yang mengungkapkan isi
hatinya terhadap pemuda she Wang itu. Akan tetapi demi melihat Wang Li Hai tidak
beranjak, pun hatinya masih merasa sayang, mana dia tega berdiam diri?
"Ai, Hu Yong Giok Tiap, rupanya lantaran kau sendiri tiada berhubungan dengan
laki-laki, makanya kau malah sibuk dengan perhubungan orang lain?"
Ching ching
Baru Bab 1 2 jam lalu (26)
Ching Ching 412
Baru Bab 2 2 jam lalu (12)
Baru Bab 3 2 jam lalu (10)
Baru Bab 4 2 jam lalu (12)
Baru Bab 5 2 jam lalu (9)
Baru Bab 6 2 jam lalu (11)
Baru Bab 7 2 jam lalu (8)
Baru Bab 8 2 jam lalu (10)
Baru Bab 9 2 jam lalu (16)
Baru Bab 10 2 jam lalu (10)
Baru Bab 11 2 jam lalu (9)
Baru Bab 12 2 jam lalu (8)
Baru Bab 13 2 jam lalu (10)
Baru Bab 14 2 jam lalu (6)
Baru Bab 15 2 jam lalu (9)
Baru Bab 16 2 jam lalu (8)
Baru Bab 17 2 jam lalu (13)
[Tulis Komentar]Anggota Online
41 Anggota 3 Tersembunyi 91 Tamu
heru budhary anung asmawih harmanto RudyRasyidi Fredy Syaiful rudin peds kikim
amir Supadi djes wangxiaohu biksubuji soman soep Kiamhaipopo Hardi999 fary
gendantic chingthing wida asep_ay Pheol chiku_em w13t4 teblokoto christianindo
Salanare jopin kuku_kebo taruna jony_indo guyinwonder rduyk Hock wahyu71
Aquarius AgusJ"We're not," kata si pemuda. "We're taking another path."
Selagi berkata mata pemuda itu berbinar dan senyumnya seperti senyum seorang
anak kecil yang ingin memperlihatkan sesuatu yang hebat kepada sobatnya. Sejenak
Ching terpana seolah melihat orang lain dan bukan Chang Houw, putra biang iblis
dijaman itu. Tak sadar kakinya berhenti. Chang Houw menoleh heran. "What is it?"
tanyanya.
"Nothing," kata Ching.
Wajah anak kecil yang sedang bergembira itu hilang. Tergantikan rupa seorang
pemuda dewasa yang mempunyai wibawa besar. Dalam hati si nona merasa kecewa.
Tak terlalu jauh mereka berjalan, tiang-tiang batu makin sedikit dan akhirnya
tidak ada lagi. Kini di depan mereka cuma ada satu lubang lebarnya seperentang
tangan, tingginya sepinggang, dan amat gelap.
"Do we have to crawl in there?" tanya Ching.
"No. This is what we're gonna do." Tahu tahu Chang Houw duduk. Ia menoleh dan
tertawa gembira.
"I'll put out the torch. We'll slide down this hole and down. You better sit in
front. Don't get scared if we slide fast."
Melihat betapa Chang Houw gembira, Ching tahu ia akan mengalami hal
menyenangkan. Maka denga bersemangat ia mengikuti tindakan Chang Houw.
"Okay, I'm putting out the torch. Now, to go forward, you must push back with
your hands to the sides. After that, you just let go and you'll slide on your
own."
"Okay." Ching melakukan apa yang diikatakan Chang Houw. Tahu-tahu ia sudah
memasuki lorong gerap yang licin dan menurun. Turun-turun terus. Ching- ching
melaju dengan cepatnya. Ia merasa angin menerpa mukanya dan menyibak rambutnya
ke belakang. Tanpa terasa ia berteriak antara girang dan tegang. Agak jauh
dibelakangnya terdengar Chang Houw berseru-seru riang.
Ching Ching 413
Mendadak lorong licin yang gelap itu habis. Ching merasakan badannya terhenti
suatu tempat yang empuk dan halus. Ia merabanya dan ternyata adalah pasir
kering.
"Get out of the way! Get out of the way!" terdengar suara Chang Houw.
Ching berusaha bangkit. Tapi susah sekali berdiri diatas pasir halus yang
melesak kalau diinjak. Tang keburu ia menyingkir ketika Chang Houw tiba dan tak
dapat menghentikan lajunya. Ia melompat supaya tidak menabrak Chiing-ching.
Tapi, tidak tertabrakpun si nona sudah jatuh lebih dulu. Keduanya terjungkal
tengkurap dengan muka menghadap pasir. Keruan saja butir-butir halus itu masuk
ke dalam mulut dan hidung mereka.
Keduanya duduk sambil menyemburkan pasir di dalam mulut. Tahu-tahu mereka sudah
tertawa bersama layaknya dua orang yang sudah lama berkawan.
"Puah. We have to wash up before we leave. My servants might get suspcious if we
go home like this."
"You know the way, lead on," Kata Ching. Ia tidak merasa terlalu sungkan lagi.
Chang Houw meraba-raba dinding mencari sesuatu. Tak berapa lama ia sudah
menyalakan obor. Dan pergi ke satu tempat. Disana ada selokan kecil yang jernih
airnya dimana mereka dapat mencuci muka dan bahkan minum airnya.
"We can get out now. And Miss Lie, I hope you can keep what happened today
between us."
"I won't tell anybody," Ching promised.
Chang Houw led the way. Tak lama kemudian mereka sudah keluar dari suatu guha
yang tertutup tirai tanaman. Seluruh mulut guha itu seolah dipenuhi tanaman
hijau yang menggantung dari atas sampai kebawahnya menyeruapai tirai. Chang Houw
membetulkan lagi letaknya sehingga dilihat dari luar, nampak seperti batuan lain
yang sama tertutup tanaman. Tak seorangpun akan tahu dibelakangnya terdapat satu
guha besar.
Ternyata hari sudah hampir gelap. Tapi mereka tak kuatir karena membawa obor.
Dan para pelayan yang mengiringi juga tak jauh tempatnya.
Dalam perjalanan pulang mereka tak saling bercakap. Cuma terkadang saling
melirik sambil tersenyum. Now they shared a pleasant secret. Only they could
know.
Chang Houw mengantar Ching sampai ke kamarnya. Mereka saling berpamit sambil
senyum senyum. A-lian yang melihat jadi terheran heran. Ketika Chang Houw
berlalu, pelayan itu lantas menanya kepada si nona.
"Miss, where did Master take you? We waited an awful long time. We saw you climb
up that steep stone mountain, but didn't see you came back down. And suddenly
you and Master were behind us. And all the way back I saw you glanced at each
other, smiled at each other. What happened, actually?
Sambil mengoceh, A-Lian menggiring si nona mandi. Ia melayani dengan telaten,
tapi mulutnya tak berhenti. Sementara Ching cuma tertawa tawa saja tak mau
memberi tahukan membuat si pelayan benar penasaran bukan buatan.
Esoknya, begitu bangun Ching lekas beberes rapi. Ia berharap hari ini Chang Houw
hendak mengajaknya ke tempat kemarin. Sayang hujan turun dengan deras. Diluar
basah, dan Ching dapat membeyangkan betapa sulit naik ke batu besar dalam hujan.
Karenanya ia cuma bisa berdiam dikamar. Buat perintang waktu ia memain Khim
sambil memperhatikan hujan yang masih terus saja.
Ching terbawa alunan lagu yang mengisahkan keindahan kampung halaman. Ia jadi
teringat saat suci-nya di Sha Ie mengajari lagu ini. Teringat suci-nya, teringat
pula pada gurunya, dan kakeknya, di negeri jauh. Rasa rindu mengusik kalbunya.
Ching Ching 414
Namun sekarang ia tengah dikurung disini. Kesepian, tiada berteman. Entah dapat
keluar hidup ataukah tidak.
Tak sanggup Ching meneruskan permainan. Jari jarinya berhenti bergerak. Namun ia
tak mendapatkan keheningan. Satu alunan lain melanjutkan lagunya. Suara suling
yang begitu jernih sayup sampai ke telinga. Mengalahkan deru hujan.
Ching mencari datangnya suara. Tapi tirai air mengahalangi pandangan ke luar
sana. Hanya saja lamat-lamat tampak sosok seorang gagah berdiri di seberang
kolam. Tegak diguyur air melimpah. Tak perlu Ching melihat siapa, sudah tahu
dia. Pastilah Chang Houw adanya. Tapi apa-apaan dia berhujan hujan macam begitu
?
Bunyi seruling tambah keras. Tidak lagi sekedar berbunyi, tapi merasuk kalbu
tiap yang mendengar. Mengajak ikut berlagu. Tanpa sadar Ching was carried away.
Her fingers began to move again on her harp. Paduan bunyi-bunyian indah
terdengar amat merdu. Selaras berirama atas suatu lagu.
Entah barangkali lagu yang mereka mainkan sampai ke telinga para dewa, atau
bagaimana. Begitu lagu berakhir, hujan pun berhenti. Kini Ching dapat melihat
jelas ke seberang kolam di muka kamar. Chang Houw berdiri disana. Bajunya dan
rambutnya basah, tapi samasekali tidak mengurangi kegagahannya.
Sejenak mereka saling adu mata. Saling menatap dengan pikiran masing- masing.
Ching lekas tersadar. Menutupi rasa jengah, kembali jari-jarinya memetik dawai.
Kali ini lagu yang riang-gembira. Dan suara suling diseberang sana menyahuti.
Sekali lagi merampungkan satu lagu.
"That was beautiful!" A-Lian tahu-tahu saja sudah ada di belakang si nona.
Ching kaget. Ia sama sekali tak mendengar kedatangan pelayan ini. "How long have
you been there?" she asked.
"Not long. Miss, please play one more song. The sounds of the harp and the flute
were so beautiful. Especially played by you and Master."
Ching menangkap sindiran orang. Serta merta ia cemberut. "Play it yourself!"
A-Lian realised she had mispoken. Lekas ia berlagak mengumpak. "No, no! I just
want to listen. I didn't know you had such skills that can compare with
Master's. Master knows a lot about songs and literature. I thought nobody can
beat him. Now I know you can play as good as Master. But do you know as much as
Master?"
"Hmm, you're underestimating me?" Ching bit the bait. "The question you should
be asking is the other way around. Does he know as much as I do?"
A-Lian smiled silently. "I can bet you, any song that you play, Master can
accompany you."
"We'll see," kata Ching. Jari-jarinya bergerak lagi. Lagu lain mengalun.
Bersamaan suara suling juga terdengar. Seperti yang sudah tahu lebih dulu lagu
apa mau dimainkan.
Begitu terdengar Chang Houw menyahuti dengan benar, Ching-chinng segera
berhenti, mengganti lagi dengan lagu yang lain. Dan kalau dapat disahuti ia
ganti lagi. Lagu yang terdengar cuma sepootong sepotong saja tentu tak dapat
dibilang enak didengar. Malah memusingkan bagi yang tidak mengerti musik. A-Lian
sendiri tidak lagi menikmati yang dimainkan. Ia masih tinggal disitu hanya untuk
mengetahui mana yang unggul antara Si nona dengan tuan rumah.
Berpuluh lagu telah tersahut. Hampir semua lagu yang Ching kenal sudah
diperdengarkan. Gadis itu sampai kebingungan mana lagi yang belum dimainkan.
Untung ia dipihak yang maju duluan, Chang Houw sekedar mengiringi. Tapi kalau
pemuda itu lebih dulu, entah Chinng-ching sanggup menyahuti atau tidak.
Ching Ching 415
Berapa jenak persaingan itu terhenti. A-Lian bersorak girang. "Ternyata benar
Kong-coe tak ada yang mengalahkan."
"Not necessarily." kata Ching. Hatinya mulai panas dilecehkan seorang pelayan.
Ia bertekad tak mau kalah. Segera jemarinya memain lagi. Kali dini
diperdengarkan suatu lagu yang menghentak sukma. Menggugah hati untuk maju
berperang. Memang lagu itu tak lain adalah lagu perang dari negeri Shaie. Ching
sengaja memperdengarkannya kali ini. Hampir yakin ia bahwaa Chang Houw takkan
sanggup menyahuti.
Tapi ia kecelik. Sebentaran mendengar saja Chang Houw sudah dapat mengikuti.
Suara sulingnya tidak mengalun, tapi tersentak terputus-putus. Tepat sama dengan
irama yang Ching mainkan. Gadis itu terkejut. Apakah Chang Houw pernah mendengar
lagu itu? Apakah ia pernah pergi ke Sha-Ie? Padahal di negeri tersebut yang tahu
mengenai lagu perang itu juga tak banyak.
Meski kaget, tapi Ching tak sampai hilang akal. Lekas ia mengganti lagunya.
Sekarang yang dimainkan adalah lagu tarian dewi perang. Lagu yang hanya boleh
didengar di kalangan istana Sha-Ie saja.
Memang kemudian Chang Houw terdiam. Ia terpaku mendengar bunyi Khim yang
dimainkan. Nada-nada lembut yang mengalun, sebentar kemudian berubah
bersemangat. Tak sadar Chang Houw bergerak-gerak. Mula mula hanya kakinya
mengetuk-ngetuk. Namun kemudian gerakkannya menjadi cepat. Tahu tahu ia sudah
memainkan satu tarian yang terdiri dari jurus-jurus ** andalannya !
Ching sendiri kaget melihat itu. Ia hanya bermaksud mengalahkan Chang Houw dalam
hal Khim (musik). Ketika ia tahu Chang Houw tidak dapat menyahuti permainannya
gadis itu senang dan tambah bersemangat. Mana tahu kemudian si pemuda memamerkan
jurus-jurus ** nya yang selama ini belum tertandingi.
Si nona tentu saja tak menyia nyiakan kesempatan. Sebagai seorang yang gemar
akan Bu (silat) segera ia pasang mata mengikuti gerakan Channg Houw sembari
mengingat. Sambil begitu tak lupa ia terus memainkan kecapi di bawah tanganya.
Sayang sebelum rampung ** seluruhnya, lagu telah habis. Tapi paling tidak Ching
had committed to memory more than three quarters of the jurus tersebut!
Chang Houw berhenti bergerak. Ia berdiri mematung keheranan. What was he doing
just now? Dancing? He had never learned to dance. Bingung pemuda itu menoleh
pada si nona yang tengah memperhatikan dari balik 'kurungannya'.
Ching berlagak tidak tahu. Ia mengelus-elus Khim sambil berkata, "A-lian,
sekarang kau tahu siapa lebih unggul, aku atau majikanmu ?"
Tapi kata-katanya tidak mendapat jawaban. Hanya deru napas tersengal yang dapat
didengar. Heran Ching menoleh. Tertampak A-Lian duduk ditanah. Napasnya
ngos-ngosan, di keningnya peluh berleleran.
"He, A-Lian kenapa kau ?"
"Sio-cia........ham..hamba tak kuat. Entah kenapa kaki dan tangan tidak
terkendali, maunya bersilat. Lihat, kalau barusan lagu tak berhenti, bisa mati
lelah aku." Kata A-Lian sembari atur napasnya. "Kenapa bisa begitu sio-cia?"
Ching cuma mesem saja. Ia sendiri tak tahu sebabnya.
"Sio-cia, aku mengakui. Kalau dalam soal Khim, engkau unggul setingkat dari
Kong-cu. Tapi apakah berani adu dalam Bun (sastra) ?"
Ching tertawa. Selain Khim (musik) ia juga menguasai Bun, Bu dan Tiok (catur).
Takut apa? Lagi pula ia kepingin tahu sampai mana hebatnya si Kong-cu yang
dijagokan pelayan ini. Maka ia ganti meleceh, "Tanya kongcu-ya mu apa dia berani
melawan aku ?"
"Bagus!" A-Lian bersorak. "Segera kuundang Kong-cu kemari." Dalam sekejapan dara
Ching Ching 416
pelayan itu menghilang. Lupa dia akan lelahnya barusan. Akalnya berhasil.
Sekarang si nona mau mengundang majikannya. Dua-tiga langkah lagi maka ia akan
melayani seorang nyonya muda!
Berbulan Ching bergaul dengan Chang Houw, semakin ia mendapati bahwa pemuda itu
layak dijadikan teman mengobrol, teman memain, dan lawan yang tangguh. Ia dapat
menandingi si nona dalam hal apapun mulai music, chess, literature, sampai
silat. Tak jarang berdua mereka habiskan waktu berdiskusi soal macam-macam,
seharian. Terkadang kalau bosan mereka pergi ke gua diatas bukit batu.
Berlama-lama memandangi cahaya bintang di dalam goa. Mereka semakinn akrab meski
masing-masing belum mengubah panggilan sapa mereka, namun permusuhan hampir
terlupa. Sampai suatu ketika.
Saat Ching dan Chang Houw tengah bermain catur di dalam taman. Mendadak
terdengar satu lengkingan tajam membelah angkasa. Chang Houw yang Giliran jalan
terhenti tangannya di udara. Roman mukanya berubah ubah. Terheran Ching
memandangi. Terlebih sewaktu pemuda itu tergesa pamit.
"Miss Lie, today I have some business to attend to. I have to postpone our game.
I better take you to your room now."
"What kind of business?" Ching bertanya ingin tahu.
"Important business."
"Does that whistle mean that you must go?"
Chang Houw replied by nodding his head.
"Go then," Ching said. "But I want to stay here."
"But ..."
"Why? Can't I?" Ching menantang. Sampai sekarang sifat tak mau kalah dan tak
sudi diperintah itu belum lenyap. Dan Chang Houw paham betul wataknya. Maka dari
itu ia mesem saja.
"Whatever you say," katanya. Ia yakin sebentar kemudian Ching akan bosan dan
balik sendiri ke kamar. "Excuse me." Ia melirik A-lian yang mendampingi si nona.
Pelayan itu mengangguk. Ia akan menjaga Ching sebaik baiknya.
Ketika Chang Houw berlalu, tak sabar Ching bertanya pada A-Lian.
"Do you know what that whistle meant?"
"Young Master already told you, it meant that he was wanted."
"Who called him? Why was he in such a rush?"
A-Lian didn't reply. She just bowed her head.
"Is it his father? His mother?" Ching melanjutkan bertanya.
"Your mother-in-law," a cynical voice said.
Serempak Ching dan A-Lian menoleh. Dari balik gunung-gunungan di taman itu
muncul seorang pemuda perlente yang membawa kipas.
"You ...!!" Ching mendesis geram.
"Yes, it's me. Your brother-in-law." sahut pemuda itu seraya tertawa. Ia
mendekati si nona. "Sister-in-law, I Chang Lun congratulate you."
Brak! Sekali menghentak berkelebatan berpuluh benda putih dan hitam menghambur
ke arah Chang Lun. Pemuda itu kaget menyangka diserang senjata rahasia. Lekas ia
berputar dan mengabas kesana-kemari dengaan kipasnya. Ketika menyadari benda apa
yang beterbangan tadi ia tertawa.
"You became much fiercer. I congratulated you and you throw me these chess
stones?"
Sekali lagi satu benda melayang. Kali ini papan caturnya sekali. Tapi Chang Lun
sudah siap. Ia menyambuti sambil terbahak.
"So you want to fight. Okay. So you'll know that I'm not below my brother."
Ching Ching 417
Setengah mati Ching menahan amarah yang memuncak. Ingin ia membunuh Chang Lun
saat itu juga ditempat. Dan setelah berbulan terlupakan, kini sakit hatinya
kembali merasuk. Untuk yang pertama kali setelah beberapa bulan terakhir ia
menyesali lweekangnya yang terlenyap. Namun meski dendam terhadap pemuda ini tak
terukur lagi, Ching masih tahu diri. Sekarang bukan saatnya. Lebih baik ia
menghindar buat sementara. Lain waktu Chang Lun pasti mendapat ganjaran. Kalau
perlu dengan menggunakan kakaknya.
"A-lian, let's go. The air stinks here. I want to go back to my room," katanya
pedas.
Si Pelayan tak bersuara. Mengikut saja ia kepada si nona. Dalam haati berharap
supaya Chang Lun tak sampai berbuat macam macam. Bisa runyam nantinya. Tapi
harapannya tidak terkabul. Chang Lun malah menghadang di hadapan Ching- ching.
"Where are you going? He just left you for a minute and already you're looking
for your husband? I can keep you company."
Ching berlagak tidak mendengar dan tidak melihat. Tapi mukanya berobah merah.
Matanya menyala-nyala dan mulutnya terkatup rapat sampai tinggal menyerupai
segaris merah.
"Wow, she's angry. And prettier too. I guess you like it here. Your face is
glowing. You even gained some weight."
Habis sudah kesabaran Ching diperhinakan sedemikian. Tangannya terayun hendak
menggampar mulut orang. Tapi Chang Lun terlebih gesit menangkap pergelangannya.
"Aduh, marah lagi. Kenapa......Aduh!"
Dalam jengkelnya Ching menginjak kuat kuat kaki sipemuda. Ia tahu ia tak berdaya
sekarang. Yang diandalkan cuma naluri semata. Naluri buat melawan, buat
menumpahkan kemarahan. Yang dilakukan juga bukan gerakan silat. Sekedar berbuat.
Tapi benar saja, Chang Lun tidak menduga. Ketika merasa sakit dikaki, tangannya
melepaskan.
"A-Lian!" Ching memanggil pelayannya dengan suara gemetar. Si pelayan buru buru
mendului menunjukkan jalan. Tapi Chang Lun belum puas memperolok gadis ini.
Lekas ia mencegat kebali.
"Okay then, no more sweet talk. Are you really going to marry my brother?"
Ching melongo. Chang Lun ini apakah masih memperolok-olok ? Tapi ia tidak lagi
cengengesan seperti tadi. Kali ini wajahnya angker. Matanya tajam berkilat.
"Even if you killed me, I--"
Plak! Giliran Chang Lun menampar. Ching menekap pipinya yang terasa pedas.
Matanya mencorong memandang si pemuda. Tapi Chang Lun tak kalah garang. Melotot
sama galak.
"I knew you were a spy. You get nice with my brother, so you know where our
hideout is. Then you'll escape, telling everybody where it is, so they can wipe
us out. How low! Bitch!"
Ching menatap tajam. Sebenarnya sama sekali tak ada niatan dia berbuat seperti
apa yang dituduhkan Chang Lun. Namun kini hatinya sedang panas. Ia bertekad adu
jiwa sekarang juga dengan pemuda ini. Maka itu ia balas memaki.
"So what? Didn't you do exactly the same thing with my cousin, A-lan? Now I'm
just following in your footsteps. So you're mocking yourself!"
Perkataan Ching tepat mengena. Chang Lun tak dapat berkata kata.
"You just wait. I'll kill off your family the same way you did mine!"
"Go ahead and try. But not before I make you a cripple. I'll cut off your arms
and legs. I'll scar your face, so that no even Houw can recognize you. I'll make
you suffer for the rest of your life. You can't die, you can't take revenge.
Ching Ching 418
Your life will be worthless." Sambil berkata Chang Lun berkelebat mendekat.
Ching bersiaga. Begitu Chang Lun datang, ia akan membenturkan kepala sekuat
tenaga. Biar kepala mereka hancur sama-sama.
A-Lian yang melihat gelagat makin gawat, lekas menghadang di hadapan Chang Lun.
Gadis itu berlutut memohon. "Siaw-kongcu, ampuni Sio-cia. She was lying.
Honest!"
"Stupid servant. Kau sendiri dengar dia memaki dengan kurang ajar. Why are you
defending her? You want to defect? Huh?!"
"I don't dare. But, please, don't act on your own. How will I explain to
Master?"
"I'll handle my brother. Out of my way!" sekali mendepak A-Lian terpental sampai
dua tombak.
"Master, don't! She won't be able to fight you. She has no strength left!"
A-Lian masih berteriak.
"No strength?" Chang Lun terhenti. Tapi kemudian ia melanjutkan. "What's the
difference? Even if she had her strength, she would still die by my hands!"
Chang Lun maju lagi. Ching berdiri gagah. Tak gentar ancaman si pemuda. Tapi
belum lagi Chang Lun melanjutkan tindakan, tahu tahu satu bayangan berkelebat.
Mendadak saja pemuda perlente itu terjengkang kebelakang, tak kuasa bangkit.
Ching menoleh. Chang Houw berdiri disana. Mukanya merah. Ia marah.
"Apologize to Miss Lie!" he ordered his brother.
"Brother ... I ..."
"Do it!" nada suara Chang Houw mengandung perintah yang tak bisa dibantah.
Bahkan Chang Lun tak berani menentang. Ia bangun mengusap bibirnya yang
berlepotan darah.
"Alright. This time I, Chang Lun, beg for your forgiveness." setelah bicara
pemuda itu terus berkelebat menghilang.
Chang Houw menoleh kepada Ching. Tapi gadis itu tengah membalikkan badan. Ia tak
mengucap sepatah kata.
"Miss Lie ...," dia memanggil. Tapi Ching tidak menyahut. Menolehpun tidak.
Gadis itu berjalan menuju satu pintu batu. Ia tahu disitulah jalan terdekat
kembali ke kamarnya. A-Lian memandu di depan. Gadis itu juga tak berani
bersuara. Ketika Ching menghilang di balik pintu, sekelebat Chang Houw melihat
kilatan air dimatanya.
Esok harinya ketika Chang Houw datang berkunjung, Ching tak mau menerima. A-Lian
memberi laporan bahwa sejak semalam gadis itu tidak bersuara. Menangispun tidak.
Hanya duduk diam dipembaringannya. Tidak makan, tidak minum. Tidak berbuat
apa-apa.
Berhari hari cuma itu saja tingkahnya. Lebih celaka daripada sewaktu ia datang
pertama. Dulu masih marah-marah, masih memaki. Sekarang cuma diam dan diam.
Akhirnya pada hari kelima Chang Houw masuk ke kamarnya tanpa diundang.
Terperangah ia melihat pujaan hatinya kusut masai. Mukanya pucat, rambutnya
berantakan. Matanya menatap kosong. Sungguh menghibakan. Tergetar hati Chang
Houw dibuatnya. Ingin pemuda itu memeluknya, menghiburnya. Membiarkan sang
pujaan menangis di dadanya.
Tapi Ching tidak bersuara. Tidak mendengar dan tidak melihat apa-apa. Ia tidak
mengeluh. Apalagi menangis. Hanya setiap kali matanya mengedip, kentara hatinya
menahan siksa. Derita yang ditimbulkan dendam yang terlalu dalam. Tanpa daya
buat membalas.
Chang Houw tak dapat hanya berdiri menatap. Ia mendekat, duduk di sisi
Ching Ching 419
pembaringan. Saat itu pertama kali ia berani memegang tangan Ching
terang-terangan. Menggenggamnya erat. Seolah dengan jalan demikian ia dapat
memberi kekuatan pada si nona. Ia juga tak berkata kata. Perasaannya tak perlu
diucapkan. Ching takkan mendengar. Tapi ia bisa merasakan. Si nona muda telah
mengetahui segala isi hatinya, seperti juga dia bisa membaca hati si gadis she
Li. Hanya dua hati. Melebihi seribu kata.
For a while they sat without moving. A-lian stared from the corner. Waiting.
Touched. Realizing that her master's wish would never come true. Between her
master and Lie Ching was a deep ravine, a splitting difference. Black and white.
Love and hate. Batas yang semu, yet endless.
"Lian, you take care of her. I'll be back." Chang Houw berkata. Sekelebatan saja
bayangannya sudah menghilang. Ada sesuatu yang mesti ia lakukan.
Yesterday, when he was summoned by his parents, Chang Houw knew that something
was going to happen. Every time both his parents called, sitting side by side
like prosecutors, meant that they were going to discuss something important. And
he didn't guess wrong. Even as he paid his respects, his mother asked him,
"Well?" Only one word. But so meaningful. Chang Houw knew. His mother was asking
about Miss Lie. But he did not know how to answer. So he kept silent. His head
bowed.
"Well?" his mother asked again impatiently. "Did she agree?"
"I haven't asked her," Chang Houw replied.
"You haven't? It's been almost a year dan you haven't even asked her? Does she
know about your feelings for her?"
"I think she does?"
"So what are waiting for?" His mother heran. "Do you know how she feels toward
you?"
Chang Houw was silent. Ching's feelings? He didn't know. He couldn't tell. The
girl was stubborn. Unpredictable. At one moment she seemed close and attainable.
At other, she could be as cold as a snowy peak. Chang Houw didn't know.
"A year. That's too long to wait. Ask her tomorrow and get this cleared. If she
doesn't make a sastisfying response, you don't have to wait any longer."
"But Mother ..."
"What?"
"She's not like that. If I surprised her, she won't go for it. And she's already
so vengeful. I need time to..."
"There's no more time. We will make our move next year at the latest. The white
community has to be destroyed, or at least admit us as their superior. As number
one. Have you forgotten already?"
Chang houw hadn't forgot. Being number one in the Warrior World was his goal.
The goal his mother had brought him up with. A must. No matter how, no matter
what the obstacle. But that was then. Before he had ever met a girl named Lie
Mei Ching. Now his goal had almost dimmed, engulfed by the flame of love in his
heart.
"Houw-ji?" This time his father spoke. With his loud thundering voice, but
making his soul serene. Patient.
"Yes, Father."
"What's your opinion? Do you think Miss Lie wishes to join us?"
Chang Houw knew the answer to that. No! But he couldn't say that in front of his
mother. "I don't know."
"You don't know?" his mother yelled. "You still don't know? You can't even
Ching Ching 420
guess?"
"My wife, the heart of a woman is deeper than the deepest ocean, harder to
predict that the weather. Just look at yourself. Aren't you that way also?"
"Yes. But this is just taking too much time..."
"Our son knows better about his love. Knows better how to conquer her. If he
says he needs a little more time, that means he does need it. It's success that
we want."
Listening to her husband, the mother finally consented. "One more month. If she
still doesn't want to be my student, I myself will take care of her.
Understand?"
Chang Houw nodded and left with heavy heart. How would he tell Ching about this?
She would surely decline. Maybe he'd better delay this. And think of a way to
trick the girl into consenting, and to be safe from her cruel mother.
But now, after seeing how Ching suffered so, Chang Houw didn't have the heart.
She had only met Chang Lun, and what effect did it have on her. Not to mention
if she was forced to be his mother's student. Then a member of the family. No.
The girl would feel tormented for the rest of her life. He'd better let her go.
Chang Houw'd rather lose her that to see her suffer, or to watch her killed. By
his own mother!
Ching-ching mengawasi kepergian Chang Houw lewat ujung matanya. Ia melihat
betapa pemuda itu tergesa. Satu jalan telah terbuka! Sebentar lagi ia pasti
segera terbebas. Dan dendamnya akan terbalas. Setelah lama bergaul dan pasang
omong dengan Chang Houw, Ching-ching sudah dapat menduga setiap tindakan yang
akan dilakukan pemuda itu. Begitupun kali ini. Sesuai janjinya pada Chang Lun,
ia akan menggunakan cara licik menipu Chang Houw. Sebenarnya ia benci cara busuk
sedemikian. Jiwa pendekar ajaran maha guru Pek San Bu Koan masih membekas. Kalau
tidak tentu sudah lama ia terbebas dari kurungan. Tapi kali ini tak ada lain
jalan. Chang Lun terlanjur menyulut api dendam yang hampir habis terguyur
kebaikan Chang Houw. Kini si nona telah membulatkan tekad. Tak ada lagi yang
bisa menghalangi.
Esok harinya Chang Houw kembali datang. Kali ini ia menyuruh A-Lian keluar.
Ketika tinggal mereka berdua, mulailah Chang Houw bercakap-cakap dengan si nona.
"Lie-Kouwnio, Lie-Kouwnio, are you listening to me?" Ia mengguncang tangan
Ching-ching. Namun si nona masih menatap lurus ke depan. "Lie Kouwnio, I've
arranged so you can leave. But you can't tell anybody about this. I'm going to
try to get the antidote for the poison in your body. But first, you must get
your strength back. So eat. And drink the medicine. After that, you can get your
revenge. I promise, you'll be free next month."
Mendengar ini hati Ching-ching bersorak girang. Tak sengaja matanya mengedip
lebih cepat. Chang Houw melihat. Ia tersenyum senang.
"Now rest up. Beginning tomorrow, I can't visit you anymore. I have to find the
antidote. But trust me, I'll do the best I can."
Ching-ching puas. Ia akan segera bebas. Apa yang pertama kali akan dilakukannya
? Tentu menemui Siaw Kui. Mendadak rindunya menumpuk pada pemuda itu. Ia ingin
segera bertemu. Lalu Yuk Toa-hu dan kakek angkatnya. Dan kawan kawanya di Pek
San Bu Koan. Bersama sama mereka akan berencana membalas dendam. Ya,
bersama-sama....
Sementara Ching-ching sibuk dengan pikirannya, Chang Houw juga mengerut kening.
Ia sudah mengetahui bahwa obat racun Sia-kang-tok-see (pasir racun pemunah
tenaga) kini disimpan oleh ibunya. Ia harus meminta pada ibunya. Tapi mana
Ching Ching 421
mungkin diberi. Bagaimana kalau berdusta bahwa Ching-ching sudah setuju
dijadikan murid? Ah, ibunya pasti girang dan memberikan obat pemunah itu dengan
sukarela. Tapi kemudian ia juga akan menemui Ching-ching dan terbongkar
semuanya. Apa dia harus mengajak Ching-ching bersekongkol, dan … Tidak!
Ching-ching tak mungkin sudi. Ia kenal watak gadis itu. Ia harus berusaha
sendiri, tak bisa lain. Tapi cara bagaimana ? Hanya satu jalan yang bisa
dipikirkan. Mencurinya. Tapi buat mencuri itu ia harus pertaruhkan jiwanya.
Beberapa hari Ching-ching menunggu, Chang Houw tidak juga datang. Si Nona sudah
putus harapan, sempat berpikir bahwa Chang Houw tak ingin melepasnya dan buat
selamanya ia takkan pulih. Tapi dalam hatinya Ching-ching masih menaruh
kepercayaan pada pemuda itu. Diam diam ia menduga duga, mana yang menjadi nyata,
pikirannya, ataukah perasaan hatinya lebih peka? Ia mendapat jawaban setelah
menanti delapan hari lamanya. Chang Houw datang dengan membawa sebuah kotak di
tangannya. Tanpa berkata-kata ia memberikan pada si nona, yang sudah tahu, apa
isi kotak itu. Pemuda itu cuma mengawasi betapa Ching-ching bergirang menerima
kotak tersebut. "Chang Kong-coe, I¼Thank you. I do not know what to say," kata
Ching-ching. Senyumnya mengembang, wajahnya berseri. Tak lama lagi ia akan
kembali menjadi Ching-ching yang dulu, yang gagah, dan bebas.
Chang Houw tak berkedip melihat pemandangan dihadapannya. Lihatlah, bahkan
bidadari sekalipun takkan dapat menyamai kecantikan si nona sekarang ini. Tidak
buat Chang Houw. Semua capai-lelahnya untuk mendapat pemunah itu lenyap
mendadak. Ia tak ingat berapa kali jebakan senjata rahasia hampir membunuhnya.
Terlupakan betapa ia hampir mati di kamar rahasia ibunya. Dengan melihat
kegembiraan sang pujaan hati adalah lebih dari cukup buat membayar deritanya
semalam.
Ching-ching masih bergembira beberapa saat. Menyadari betapa Chang Houw
mengawasi, ia menjadi jengah sendiri. Mereka sama terdiam, sibuk dengan pikiran
sendiri-sendiri. Tahu tahu Chang Houw teringat sesuatu. Napasnya tersentak.
"Miss Lie, when you've recovered, will you leave immediately?"
"Of course, I don't have any business with¼" mendadak Ching-ching tediam.
Kembali dia diingatkan pada dendam keluarganya.
"Maybe I should tell you. The antidote won't get you better in just a few days.
You'll have to take a lot of rest for some time. I think it's best that when you
leave this place, you go straight to your grandfather Yok-ong-phoa Yuk Lau. He
can treat you until you completely recovered."
"I will do what you say."
"You can leave in a few days." Suara Chang Houw terdengar lirih. "Wait until I
decide who can escort you out."
"Thank you." Suara Ching-ching tak kalah pelan. Sebenarnya tak enak hati ia
menerima begitu banyak kebaikan Chang Houw. Tapi mau bagaimana lagi ?
Lagi lagi mereka membisu. Entah berapa lama. Sampai akhirnya Chang Houw bangkit
dan berpamit pada si Nona.
Sampai kemudian Chang Houw menuju kamarnya sendiri, ia terus mengenangkan Nona
She Lie itu. Teringat olehnya kegembiraan Ching-ching, tapi dalam sekejapan
terlihat kembali murung. Kenapa? Apakah dia merasa sedih lantaran harus
meninggalkan tempat ini? Harus meninggalkan Chang Houw? Ataukah dia cuma
berpura-pura di depannya?
Tapi sebentar lagi nona itu akan pergi. Itu yang terlebih membebani pikiran
Chang Houw. Kemudian untuk selanjutnya mereka takkan pernah berkawan lagi. Tidak
akan pernah lagi. Sebab Ching-ching mendendam pada keluarganya, dan ia takkan
Ching Ching 422
mungkin membiarkan siapapun menyakiti Ayahnya, Ibunya, atau adiknya. Tapi ia
juga tak mau Ching-ching celaka. Aih, sebenarnya kemanakah hatinya lebih berat ?
Kepada Ching-ching atau kepada keluarganya ? Chang Houw tak dapat menjawab.
Sekalipun ia telah mengurung diri dalam kamar mencari jawabnya.
Hatinya pedih mengingat sebentar lagi akan pepisahan dengan kecintaannya.
Menyesal ia tak boleh lebih lama berada dekat dengannya. Chang Houw memejamkan
mata. Terbayang wajah Ching-ching saat cemberut, saat marah, saat berduka, waktu
tertawa, tersenyum, bicara........ Chang Houw tak ingin kehilangan itu semua.
Namun ia tak dapat memiliki si Nona. Akan tetapi ada satu cara. Ia dapat
menyimpan semua kenangan akan Ching-ching dalaam gambar !
Segera pemuda itu mengambil gulungan kertas dan kuas. Lekas tangannya bekerja.
Ia harus menyelesaikannya. Semuanya. Mumpung ia masih ingat, sebelum hatinya
pedih oleh perpisahan, dan dendam. Chang Houw mencurahkan segenap pikiran dan
tenaga pada pekerjaannya sehingga tak menyadari akan lewatnya sang waktu. Tak
kurang dari tujuh buah lukisan telah selesai ketika suara ketukan di pintu
kamarnya terasa mengganggu. Dan tanpa dipersilahkan, tamu tak diundang telah
masuk kedalam.
Chang Houw berusaha menyembuanyikan semua hasil pekerjaannya, namun tamunya yang
tak lain adiknya sendiri, telah lebih dulu melihat.
"Ah!" serunya setelah pulih dari terkejut. Ia mendekati sebuah lukisan. "Let's
see. What's my brother doing? Hmm, it's a pity this painting is too beautiful.
Prettier that the real person. Much prettier.
"Do you need something?" Chang Houw berlagak tidak dengar komentar Chang Lun.
"Toako, you're really crazy about her. You can get in trouble because of these
paintings, you know.”
"What do you mean?"
"You were too busy painting to greet Mother home, weren't you?"
"Mother won't be back in three days."
"Those three days are passed already! She came home this afternoon. She waited
for you all day in the big room, but you didn't come. I wanted to tell you, but
she didn't let me. She had a very important news. She wanted to tell you first.
But you were too busy painting life-size people!"
"Is that true? Whoa, I better go to her!"kata Chang Houw tergesa.
"No use. She's already gone to rest. That's why I can come here to tell you. Be
careful, Toako. You know how she hates to be belittled, let alone by her own
son."
"Yes, I know that." Chang Houw terduduk lemas.
Chang Lun hanya menggelengkan kepala. Sebentar kemudian ia pergi ke kamarnya
sendiri.
Chang Houw menoopang kepala dengan tangan di dahi. Ia telah berbuat kesalahan
besar dengan mengabaikan ibunya. Oh, bagaimana bisa? Padahal ia tahu betul,
ibunya adalah pencemburu yang paling benci dinomorduakan. Bahkan dengan suaminya
sendiri ia tak meu kalah. Dari sepasang siluman ular ia yang memakai julukan
ular emas, sedang semua tahu emas lebih tinggi nilainya dari perak.
Sekarang, dia, anak kesayangan Kim Koay Coa, yang diharapkan dapat menggantikan
orang tua menjadi yang nomor satu di kolong langit, malah berani melupakan
ibunya. Sang ibu pasti marah besar. Apalagi kalau tahu apa yang menyebabkan.
siapa yang menjadikan sedemikian. Takkan ada ampun !
Chang Houw bergegas bangkit. Ia harus bertindak. Sekarang! Sebelum semuanya
terlambat!
Ching Ching 423
Satu bayangan tampak menyelinap kedalam kamar batu dimana Lie Mei Ching tengah
terlelap. Gerakkannya amat cepat dan ringan tandanya orang berkepandaian tinggi.
Sosok itu mendekati tempat tidur dan terpekur mengawasi si nona. Namun saat
kemudian tanggannya lebih cepat bergerak ke muka orang.
Ching-ching tersentak dari mimpinya. Ia tak dapat bernapas. Seseorang mencoba
membunuhnya! Gadis itu menjerit dan meronta, berharap datang pertolongan dari
Sang Tuan Rumah. Tapi suaranya hanya serupa pekik yang hampir tak terdengar. Tak
ada gunanya berontak. Tangan yang memegangnya terlalu kuat.
"Sssssh, it's me!" came a soft whisper.
Ching recognized the voice. It was Chang Houw himself. What was he doing here
this time of night?
“I will take off my hand, but you have to keep quiet.”
Ching had no other choice than nod her head.
“I am going to get you out of this place, but we have to do it quietly. Get your
clothes. I’ll wait outside.”
Ching-ching bergegas-gegas. Sebentar saja ia sudah siap dengan baju ringkas.
Malam ini ia akan bebas! Dipandangnya sebentar kamarnya dari dalam kegelapan. Ia
tak akan kembali lagi ke sini. Tak akan pernah! Dara itu tak berlama-lama.
Segera disambarnya kotak pemberian Chang Houw kemarin dulu. Isinya belum
disentuh, tapi kalau mau benar-benar pergi tentu barang itu tak boleh
ketinggalan.
Begitu sampai di luar kamar, Chang Houw meraih tangan Ching-ching. “Stay close
behind me. I’m going to get you out of here, but until we are out, you cannot
make any noise. Otherwise, we both could die.”
Ching-ching nodded. Berbimbingan dengan Chang Houw, they both moved silently …
Chang Houw membawa Ching-ching melewati lorong gelap yang panjeng dan
berbelok-belok. Entah bagaimana Kong-cu itu dapat berjalan sangat cepat dalam
kegelapan. Sedetik juga tak pernah ia merasa ragu akan jalan jalan yang
ditempuhnya.
Diam diam Ching-ching merasa bersyukur bahwa Chang Houw memegang tangannya erat.
Kalau tidak, ketinggalan dua langkah saja pasti dia sudah tersesat jalan. Belum
lagi ia tak dapat lihat apa-apa. Tapi bersama Chang Houw ia selalu merasa aman.
Tindakannya juga mantap meski dalam gelap. Entah berapa lama sudah mereka
berjalan. Tahu tahu Chang Houw berhenti. Dengan sendirinya Ching-ching juga
tidak melangkah. Mereka berdiri dalam kegelapan dan keheningan beberapa lama.
Ching-ching tak tahu ada apa, namun ia tak berani bertanya mengingat peringatan
Chang Houw tadi.
Tahu-tahu Chang Houw menghela napas. Terdengar nadanya seperti orang menyesal.
"We're caught." katanya lesu. "Tak ada gunanya main menggelap lagi."
"Now what?" tanya Ching-ching kecewa.
Mendadak terdengar suara 'blang' beberapa kali. Seketika tempat itu terang
benderang. Pintu-pintu rahasia disekitar mereka terbuka. Tempat mereka berdiri,
yang tadinya serupa lorong, kini berada di tengah tengah satu ruangan.
Beberapa orang laki berdandan serupa maju membawa obor. Beberapa lagi menghunus
pedang. Kemudian terdengar suatu suara menggeleser halus. Pelan, tapi berirama.
Suaranya berkumandang di semua tempat. Ching-ching sampai bingung darimana arah
datangnya.
"Anak mempersembahkan hormat pada ibu tercinta." belum lagi orangnya tiba, Chang
Houw sudah mengucap salam dengan amat hormat.
Satu pintu rahasia terbuka lagi. Dari gelap muncul satu orang perempuan.
Ching Ching 424
Pakaiannya dari sutera merah bersulam benang emas. Meski dalam kegelapan juga
nampak berkilau. Apalagi terkena cahaya api, maka makin indah kelihatannya.
"Houw-ji, where are you taking her?"
Chang Houw did not answer. He stood with his head bowed.
Wanita yang disebut ibu oleh Chang Houw melangkah semakin dekat. Dengan kepala
tegak dan hati berdebar Ching-ching pentang mata. Sekarang. Ya, sekarang ini ia
akan dapat melihat satu orang yang namanya begitu ditakuti kalangan Bu-lim
belakangan ini. Nama yang menggetarkan hati tiap orang, namun tak pernah
terlihat wujudnya.
Wanita itu dengan anggun melangkah maju. Cahaya obor pelan-pelan menerangi mulai
dari kaki terus ke atas. Semakin mendekat semakin jelas rupanya. Wanita itu
berhenti dihadapan Ching-ching dan Chang Houw.
"Miss Lie, how are you?" tanyanya sambil pamer satu senyum.
Tapi Ching-ching malah bergidik melihat senyumannya. Sambil membelalak tak
percaya ia mundur selangkah. "You ... you ..."
Selama kejadian, tangan Chang Houw belum lagi dilepas. Kini lantaran Ching-ching
mundur, jadinya tangan yang bertaut itu kelihatan oleh semua orang.
Si wanita juga melihat. Kemudian ia menyusul melirik anaknya.
Chang Houw mesti tahu diperhatikan sang bunda, tidak menjadi jengah. Pegangannya
kepada Ching-ching malah makin erat. Si nona yang terpana melihat Kim Koay Coa
tidak menyadarinya.
"Houw-ji, Houw-ji. Perempuan yang kau kenal tidak kurang. Yang mengincar
kedudukan menjadi istrimu juga tak sedikit, kenapa kamu malah penujui gadis
kepala batu yang satu ini?"
Mendengar teguran Kim Koay Coa, Ching-ching jadi tersadar. Dengan muka merah
disentakkannya tangan sehingga terlepas dari genggaman orang. Ia undur lagi
beberapa tindak. Tangannya tracung menuding si Ular Emas.
"You ... It's not possible! You're dead!"
"No. You're wrong. Yo-si-su-thay is dead. I am still alive."
Memang Kim Koay Coa itu tak lain dari Yo Si Suthay adanya.
"But you're dead! Siaw-kui saw it!
"If I'm dead, then how can I stand here right now, in front of you?" jengek Kim
Koay Coa. "Your Siauw Kui was wrong. He saw a woman who looked like me and wore
a nun's robe."
"So it was true. Yo Si Suthay was your disguise." Ching-ching menggumam.
"That's right. Sayang lantaran kau waktu itu menaruh curiga maka Yo Si Suthay
harus dibunuh mati." Kim Koay Coa tertawa. "Miss Lie, I do have to say, you have
keen observation. Nobody knew who I was for many years. But your little nose
appeared and my mask was taken off. I must congratulate you."
“But … Then who is Gin-koay-coa?”
“You don’t really expect me to tell you that, do you? Silakan kau putar otak
sekali lagi. Yang mau kuberitahukan adalah bahwa dendamku padamu sudah tertumpuk
banyak. Pertama karena kau membunuh ibuku. Kedua karena kau bongkar
penyamaranku, yang berarti hilang jerih payahku selama bertahun tahun. Tapi
separoh hutangmu kuanggap lunas karena aku juga telah menghabisi ayah-bundamu.
Separoh lagi boleh hilang bila kau mau menjadi pengikutku. Ai, sesungguhnya
sudah lama kuinginkan kau menjadi pengikut. Lebih baik lagi kalau kau bersedia
jadi menantu." Kim Koay Coa tertawa lagi.
“Your mother … Who is your mother?” Ching-ching sibuk putar otak. Siapa gerangan
yang pernah dia bunuh dan usianya layak menjadi ibu siluman ini? Selama otaknya
Ching Ching 425
berputar, tak habis heran si nona. Yo Si Suthay adalah seorang yang terkenal
galak dan berdisiplin. Bicaranya juga jarang, cuma sekadar yang perlu. Namun
begitu berganti peran, betapa orang dapat omong banyak dengan lagak genit dan
manja, namun tetap punya wibawa.
"Lie Kouwnio, kalau kau lupa........."
“I haven’t forgotten,” kata Ching-ching. "Hek-coa-popo itulah tentu ibumu."
"You're smart. She is my mother. And you have to die for killing her. Unless you
join our family. A life for a life. Your life for my mother's."
“Never!” menjerit Ching-ching. “I would never …” Sekejapan ia melirik Chang Houw
yang pias mukanya. Seketika si nona rem mulutnya dan balik omong. “Even if I
have to die today, I would never regret I have killed that ugly devil, so do not
expect me to go crawling to you to pay for my ‘sins’” "Meski kumati hari ini
selamanya aku tidak menyesal telah membunuh iblis jelek ibumu itu. Maka jangan
harap ku mau bayar hutang- tebus dosa segala."
Wajah Kim Koay Coa yang tadinya penuh senyum itu menjadi beku seketika. “Then
die!” si nyonya mengeluarkan cambuk. Di pecutkannya ke udara. Terdengar bunyi
mendesis bergema. Ching-ching sekilas melihat cahaya ungu memancar dari kulit
ular yang dijadikan senjata itu. tahulah dia, racun jahat dioleskan kepada
sejata. Sekali terkena, entah bagaimana nasibnya.
"Nio …" terdengar lirih suara Chang Houw. Suara itu entah pedih entah kecewa
ataukah berkuatir.
“Houw-ji, stay out of this!” berseru Kim Koay Coa. Sekaligus ia lecutkan sekali
lagi pecutnya ke arah Ching-ching.
Ching-ching tahu, tak ada gunanya melawan. Tenaganya hilang, pula kepandaiannya
jauh berada di bawahan siluman ular itu. Namun si nona tak gentar. Ia berdiri
dengan sikap siaga. Terasa kuda-kudanya goyah. Tapi Ching-ching sedikitpun tak
mau unjuk kelemahan.
Selarik sinar ungu menuju muka orang. Ching-ching siap menghindar. Tapi
sesungguhnya ia sadar tak mungkin lolos dari sambaran lecut orang. Namun sebagai
nona bandel, masa ia mandah saja dibunuh ?
'Tarrr' terdengar suara keras ketika pecut mengenai kulit orang. Disusul
mengucur darah ke atas tanah. Tapi bukan Ching-ching yang jadi korban. Dalam
waktu cuma sekejap mata Chang Houw telah berdiri di hadapan si nona. Pecut
melingkari tangannya yang sengaja dipakai menerima. Terlihat bajunya hancur
terkena hawa panas pecut beracun. Kulitnya yang putih juga matang biru. Dan
darahnya yang menetes berwarna hitam. Inilah tandanya betapa jahat racun di
senjata orang.
"Chang Houw!" Kim Koay Coa membentak. Nadanya seperti kaget, seperti marah,
terlebih lagi menyesal.
"Nio, I beg of you. Please let Miss Lie go for now. Just this once.”
“I … You ….” Kim-koay-coa was speechless tak dapat berkata-kata beberapa saat
lamanya. Kemudian ia melempar satu botol kecil dari sakunya. “Houw-jie, take
this antidote.”
“Nio, I’ll take it when Miss Lie is free.”
“Houw-jie, you’re really …” Kim Koay Coa melotot gusar. “You’ll die even before
she can leave this place! "Sebelum orang pergi kau sudah keburu mati!"
Chang Houw tegak ditempatnya. Botol obat telah digenggam ditangan, tapi ia belum
mau mengambil obat penawar.
“Master Chang, I do not ask for your protection. Take the antidote,” Ching said.
She knew the poison was already spreading fast. If Houw did not take the
Ching Ching 426
antidote immediately, he could die. That means that he would die in vain because
of her. Padahal Ching-ching pantang berhutang budi pada musuh.
Chang Houw made no move. Matanya lurus memandang sang ibu. Mulutnya saja
bersuara. “A Warrior never take back his own words!” Perkataannya itu ditujukan
entah pada Ching-ching atau pada ibunya. Tetapi kedua wanita itu tahu, omongan
Chang Houw bukan sembarang diucapkan.
Kim Koay Coa memandang dingin wajah anaknya. “If I refuse, would you then die in
vain? Miss Lie will die, and you will be dead.” "Kalau aku menolak, bukannya kau
nanti mati tersia-sia? Lie Kouwnio tidak selamat, kau sendiri terbinasa."
Chang Houw went silent. His mother was right. If he were dead, who else would
protect Miss Lie? She would never be able to escape this devil’s lair. Then
again, to die on the same day would be good. They lived as enemy in this life,
who knew if they could be together in the next?
Kim Koay Coa tahu anaknya keras hati. Percuma ia membujuk sebagaimana. Karenanya
ia beralih bicara pada Ching-ching. “Miss Lie, if you surrender, not only I will
give you a comfortable life for the rest of your life, but I will also guarantee
your safety for the rest of mine. We can all be happy. No one is in debt, no one
does any favors for anybody.” "Lie Kouwnio, andai kau mau menyerah, bukan saja
kuberi kehidupan enak sepanjang hidup. Tapi aku juga menjamin keselamatanmu
sampai akhir hayatku. Demikian kita sama sama enak. Semua sama senang. Tak ada
yang berhutang, tak ada yang melepas budi."
Ching-ching mengerti maksud si nyonya. Andaikata Chang Houw mati, berarti dia
ikut berdosa. Tapi Kim Koay Coa menyebut tentang melepas budi segala. Berarti ia
tak tega melihat anaknya mati sekarang. Andaikata Chang Houw tidak tampak
menyerah, tentu Ching-ching akan dilepas bebas.
“I will not be a two-faced person,” Ching replied. “Let us say that I surrender,
we both know that I will not do it wholeheartedly. One day, I will bikin celaka
kamu, and I would be betraying both sides. No, I choose death over that.”
"Aku tak mau jadi orang muka dua." sahut Ching-Ching." Andaikatapun sekarang
kumenyerah, tapi tidak sepenuh hati. Lain hari pasti kubikin celaka kamu. Maka
dari itu daripada menghianati dua pihak, lebih banyak kupilih mati saja."
Tampak lamat-lamat senyuman di bibir Kim Koay Coa. Matanya menerawang jauh
seperti mengingat sesuatu. Lama tak ada yang bersuara di dalam ruangan situ.
'Bluk' tahu tahu Chang Houw rubuh. Ia memegangi dadanya. Mukanya mengunjuk rasa
sakit, tapi mulutnya sedikitpun tidak mengeluh.
Kim Koay Coa lekas memburu ke depan. Ching-ching yang terlebih dekat sudah maju
selangkah, tapi kemudian berhenti. Ia cuma memandang saja orang kesakitan.
“Take this!” Kim Koay Coa mengangsurkan satu buah Tan-wan (obat tablet) kemulut
anaknya.
Chang Houw closed his eyes. “I’ll wait until Miss Lie is safe,” his lips moved.
Suaranya sudah amat lemah.
“Fine, I will do what you want. Miss Lie can go. You have my word.” Kepala Kim
Koay Coa bergerak sedikit. Dayang yang memegang obor teru membuka satu pintu
rahasia. "Orang She Lie silahkan pergi." berseru Kim Koay Coa.
Sejenak Ching-ching ragu. Kalau ia pergi, mau tak mau ia menerima budi Chang
Houw. Tapi kalau ia diam ditempat, berarti Chang Houw mati. Meski pemuda itu
adalah musuhnya, bagaimanapun sikap pemuda itu sudah mendapat simpati si nona.
Lantas bagaimana baiknya?
Si nona melangkah. Ia berlutut di sampingnya Chang Houw. Diambilnya tan-wan di
tangan sang bunda, lalu disuapkannya ke mulut si pemuda. Semuanya dilakukan amat
Ching Ching 427
cepat dan tergesa.
Baik Chang Houw maupun ibunya terkejut atas tindakan si nona. Saking terpana
mulut Chang Houw terbuka. Mudah saja buat Ching-ching membuat pemuda itu telan
obat penawar.
“Master Chang, bagaimanapun I am in your debt. I do not know how to repay you. I
cannot let go my vow of vengeance, but other than that, even if you ask for my
life, I will give it to you," si nona berkata.
"Miss Lie, how can I ask for repayment when I have not done you any favors? aku
tak merasa melepas budi. Bagaimana mungkin minta balas jasa," Chang Houw said.
“You are here because I forced you to. As a good host, it is my duty to see you
off safely. Now you even have poison in your body. Is it not that I have wronged
you?”
"Bukankah kedatanganmu kemari juga lantaran aku yang paksa. Sebagai tuan rumah
sudah kewajiban kalau kumengantar kau pergi dengan selamat. Malah kini kau
sedang keracunan obat. Bukannya aku yang berdosa padamu?"
Ching-ching waved this off. “I’m not good with speech. Aku tak pintar basa-basi.
I do not like to be in debt. Master Chang, you can ask anything of me and I will
try my best to fulfill it. If you do not ask, then I would rather take my own
life right here in front of you.” Sikap Ching-ching lugas. Meski sungkan di
hadapan si tuan muda, tetap saja tak bisa bersikap mengikuti tata peradaban.
Chang Houw sudah kenal adat si nona. Maka dari itu tak ayal lagi terus berkata.
“Then I will ask this of you. In the future, whatever happens, I wish that you
will not fight with me menjadi lawanku pibu (bertarung)."
“Which means I cannot kill you,” she said. “I accept.” Kemudian tanpa berpamit
lagi ia terus mengikuti si dayang penunjuk jalan.
"Orang she Lie!" memanggil Kim Koay Coa. "Ini!" Ia melemparkan satu buah benda.
Dengan sigap Ching-ching menangkap. Begitu menerima ia seketika menjadi pucat
sembari meraba saku. Ternyata kotak obat pemberian Chang Houw tidak lagi
ditempatnya, justeru berpindah di tangan. Kim Koay Coa telah mengambil tanpa
sepengetahuan. Baru Ching-chign menyadari seberapa tinggi ilmu orang.
Akan tetapi gadis itu tidak perlihatkan perasaan. Tanpa mengucap sepatah kata ia
membalik dan melanjutkan langkah.
Chang Houw mengikuti kepergian si nona dengan perasaan kacau. Ia merasa lega,
tapi berduka. Seperti ada sesuatu yang hampa dalam hatinya. Hilang terbawa oleh
kepergian gadis itu. Namun Chang Houw sadar, bagaimanapun ia dan si nona she Lie
berada di dua pihak yang bertentangan. "Andai saja keadaan tidak begini."
diam-diam ia membatin.
White Mountain dari kejauhan amatlah indah dipandang mata. Puncaknya yang
menjulang dilapisi awan. Lerengnya seringkali seperti terhalang kabut tipis.
Sesuai namanya Pek San yang menampilkan pemandangan putih belaka. Namun apabila
makin didekati, warna putih itu makin pudar. Bahkan apabila telah tiba di kaki
gunung itu sendiri, jangan harap melihat salju, atau kabut. Yang ada hanya warna
hijau seperti kebanyakan gunung lain. Bahkan lereng gunung Pek San lebih subur.
Pohon-pohon besar tumbuh disitu seolah memagari kaki gunung.
Di kaki gunung itu Ching-ching berhenti sebentar untuk beristirahat.
Dipandanginya alam sekitar yang sudah pernah ia kenal.
Tiada yang berubah. Semua masih tampak sama. Tapi sudah berapa lama ia tidak
menginjak lereng gunung itu. Setahun? Padahal orang-orang yang kini merupakan
kerabatnya terdekat tinggal disitu.
Setelah mengaso sejenak, Ching-ching meneruskan berjalan ke tujuan. Rumah tabib
Ching Ching 428
Yuk. Ia mesti merepotkan kakek angkatnya itu sekali lagi.
Melihat pondok Si Raja Obat, mendadak Ching-ching merasa berdebar. Ia seperti
juga pulang ke rumah. Tahu-tahu dirasanya teramat rindu pada sang kakek.
Secepatnya ia berlari ke pondok sederhana itu.
“Yuk Kong-kong!” sepanjang jalan ia berteriak memanggil.
Di pekarangan depan dilihatnya sang raja obat tengah menjemur berbagai macam
akar-akaran. Ia memanggil sekali lagi.
Melihat siapa yang datang, Yok Ong Phoa amat terkejut. Tangannya gemetar. Akar
obat yang mau dijemurnya berantakan ditanah. “Kau...........” ia menuding dengan
bingung.
Ching-ching tak kalah heran melihat reaksi orang.
“Kong-kong, apa sudah lupa? It’s me, Ching-ching!”
“Ching-ching!” tabib Yuk lantas mendekat. Beberapa batang akar obat terinjak,
tapi ia tak ambil peduli. Diperhatikannya muka si nona. “Oh my. You’re still
alive?”
Terbengong Ching-ching jadinya. “When did I die?”
“Ah-Lau and Wang Li Hai. They brought home the news that ...Wait, I have to tell
them about this.”
Yok Ong Phoa Yuk Fung menyuruh cucu angkatnya itu menunggu. Ia sendiri terburu
buru menuju ke Pek San Bu Koan untuk mengabarkan kepulangan Ching-ching.
Sebenarnya Ching-ching sendiri tak tega melihat Kakek itu sedemikian repot. Tapi
mau bagaimana. Ia sendiri ingin ketemu dengan kawan-kawan yang lain, padahal
sudah disumpah tidak menginjak Pek San Bu Koan lagi seumur hidupnya.
Tak terlalu lama, Ching-ching sudah mendengar langkah orang berlari. Benar saja,
kemudian ia melihat Chia Wu Fei datang, susul menyusul dengan Miaw Chun Kian dan
Yuk Lau.
“Ching-moy!” mereka semua berteriak serempak begitu tiba dipondok. Tapi ketika
melihat Ching-ching berdiri di depan pintu dengan tertawa, kesemuanya cuma bisa
berdiri menjublak.
Wu Fei adalah yang paling pertama bergerak. Sekali berkelebat ia menarik rambut
Ching-ching. Nona itu tidak menduga, dengan sendirinya tak sempat mengelak.
“Aww! Wu Fei-ko apa-apaan?”
“Huaa, Ching-ching, you are still alive!”
“Of course I am. Kalau sudah mati apa bisa merasa sakit?” gerutu si nona.
Serentak yang lain-lain ikut bersorak. Mereka berebut pasang omong duluan dengan
si nona. Jelas orang jadi bingung dibuatnya.
“Aaaa!” tahu tahu Ching-ching berteriak. Yang lain kaget, terdiam.
“Aku mau lebih dulu menanya!” kata si nona galak. “Kalian dapat kabar aku sudah
mati dari mana?”
“Sam-suheng yang bilang!” menuding Wu Fei.
“That’s right. Memang aku yang membawa kabar. Aku sendiri mendapatkan di
markasnya partai agama di Kong An, dari seorang pemuda bernama Tan Hai Chong. Ia
bilang ketika kau ditangkap Kim Gin Siang Coa Pang, mereka membunuhmu ditempat.
Mayatmu dibakar, abunya disebar.”
“Kurang ajar budak itu! Justru Tan Hai Chong itulah yang bersama gurunya
mempedayai aku. Jelas dia tahu aku masih hidup. Kenapa pula ia berkata yang
bukan-bukan. Eh, darimana Gie-ko (kakak angkat) mengenal dia ?”
“Dia pernah ada hutang budi dengan Sian Toa-ko Chow Fuk. Maka dari itu mau
memberi keterangan mengenaimu. Tak tahunya kita ditipu mentah-mentah.” Wajah Yuk
Lau tampak dendam. “Bangsat tak tahu diri!” ia mengumpat.
Ching Ching 429
Ching-ching noticed that Yuk Lau called orang sebagai Big Brother. Berarti kedua
kakak angkatnya itu sudah berbaikan. Tetapi di depannya Yuk Lau also added
‘late’. Seketika wajah si nona pucat.
“Apa...apa yang terjadi pada Toa-ko?” “What-what happened to Toa-ko?”
“When his teacher caught him talking to me,
“Ketika dipergoki gurunya bahwa toa-ko sering bertemu denganku, ia dianggap
penghianat dan tiada pengampunan lagi. Karena untuk menyelamatkan aku supaya
dapat mencarimu toa-ko melawan habis-habisan gurunya. Ia.......” suara Yuk Lau
mendadak serak.
Ching-ching sendiri amat terpukul. Kepalanya terasa pening. Kakinya lemas. Tak
terasa ia jatuh berlutut.
“Ching-moy!” Wu Fei memayangnya berdiri.”Lebih baik kita bicara di dalam saja!”
katanya sambil mendului membawa si nona kedalam.
Beberapa saat lamanya Ching-ching tak dapat berbicara. Ia menangis tanpa suara.
Tapi kemudian ia tersenyum sambil menghapus airmata.
“Paling tidak kini semua orang tahu bahwa toa-ko bukan orang jahat. Soal
kematiannya biarlah kelak kita yang membalas.”
Melihat si nona tidak lagi berduka malah nampak bersemangat, yang lain tertular
merasa lebih gembira. Apalagi sebenarnya kematian Chow Fuk sudah lama terjadi.
Masa berkabung juga sudah lewat. Tak heran mereka mudah kembali cerah. Semuanya
cuma merasakan kegembiraan atas kepulangan Ching-ching yang tak lurang suatu
apa.
Tidak ada yang tahu betapa perasaan gadis itu yang sesungguhnya. Ia merasa
berdosa atas kematian Chow-Fuk. Sedikit banyak ialah yang menyebabkan. Andaikata
ia tidak sampai tertangkap oleh Chang Houw, pasti tak ada kejadian macam begini.
Dendamnya kembali berkobar. Tapi dipihak lain ia juga merasa berhutang budi pada
musuh besarnya itu. Lebih celaka, ia pernah menganggapnya sebagai kawan.
“Tahu tidak, gara-gara mendengar kabar kematianmu, kami anak murid Pek San Bu
Koan banyak kau bikin repot. Dari berkabung sampai upacara sembahyangan kami
lakukan semua. Tahukah ? Suhu sampai 40 hari pantang makaan daging.” ocehan Wu
Fei membuat si nona tersadar dari lamunan.
“Apa iya ?” katanya. Hatinya tergetar mengingat sang guru.
“Why would I lie? We all wore white in mourning. Teacher didn’t, of course, but
he fasted instead. He also came to the funeral ritual.”
“Buat apa bohong? Waktu itu kami semua selalu pakai baju putih tanda berkabung.
Suhu terntu tidak, tapi ia berpantang sebagai gantinya. Lalu waktu upacara
sembayangan, guru juga datang.”
Diam-diam si nona terharu mendengar bahwa bekas saudara-saudaranya seperguruan
begitu menghargai dia. Namun di depan Wu Fei mana mau ia perlihatkan perasaan
hati. Maka sambil tertawa tawa ia malah berkata, “coba bagaimana upacara
menyembahyangi aku ?”
“Tahukah kau kelenteng yang di kaki gunung ini? Disanalah kami adakan....”
“Kelenteng bobrok itu? Teganya !”
“Tentu sajaa kami perbaiki dulu. Kalau tidak mana pantas terima tamu
pendekar-pendekar besar.”
“Banyak pendekar menyembahyangi aku? Wah, mati pun tidak menyesal.” Ching-ching
tertawa lagi.
“Jangan jumawa. Mereka datang karena menghormati suhu, ayahmu dan kakekmu.” kata
Miaw Chun Kian.
“Oh, ya. Waktu sembayangan ada sekelompok gembel yang mengaku kerabatmu.
Ching Ching 430
Pemimpinnya berjuluk Ban Jiu Touw Ong kalau tidak salah. Dia yang paling ngotot
mengaku sebagai ayahmu, dia yang menangis paling keras, bahkan memaki-maki suhu
di depan banyak orang. Dikatainya beliau tak becus menjaga murid. Yuk-kong-kong
juga dikatai tak becus.” Wu Fei semangat bercerita.
Ching-ching tak tahu harus tertawa atau menangis mendengarnya.
“Kami semua bersedih sedih. Toa-suheng dan Sam-suheng tak bisa makan-tidur,
paling kasihan melihat Hai-ko. Badannya kurus seperti lidi.”
“Kau sendiri menangis tiga malaman sampai matamu bengkak tak bisa melek kenapa
tak disebut-sebut?” omel Yuk Lau.
Wu Fei berlagak tidak dengar. “Ching-ching, kepulanganmu apakah Li-Hai sudah
tahu ?” tanya Wu Fei membuat si nona yang setengah melamun kembali tersadar.
“Tidak. Aku belum lagi bertemu dengan dia. Barangkali sekarang dia sedang jalan
jalan dengan suci, ya. Pantas sedari tadi aku tak melihat Sioe Ing-cici.”
Seketika semua terdiam. Mereka saling pandang dengan sikap yang mengherankan si
nona.
“Kenapa? Atau mereka malah sudah kawin sekalian?” Ching-ching bergurau.
“Kau sudah tahu ?” tanya Yuk Lau.
“Dia malah sama sekali belum tahu!” bantah Wu Fei.
“Apa? Ching-ching bingung.”Tahu apa ?”
“Sioe Ing tidak lagi ada disini. Ia sudah pergi.” Miaw Chun Kian yang memberi
tahu.
“Ada kejadian apa sampai Sioe Ing-cici diusir?”
“Sebenarnya itu adalah kesalahan Su-moy sendiri, tapi juga bukan sepenuhnya
kesalahan dia.”
“Aku tidak mengerti..?”
“Setelah kau dikabarkan mati, Wang Li Hai sedemikian sedihnya sehingga jatuh
sakit. Selama itu selain Kong-kong yang merawatnya adalah Su-ci dan Thio Lan
Fung. Semua tahu keduanya sama menaruh hati pada pemuda itu. Malahan ayah nona
Thio sudah pula datang melamar untuk puterinya, dasar tidak tahu malu!” Wu Fei
menghentikan ceritanya sekedar buat memaki.
“Sioe Ing-sumoy mendengarnya lalu menanyakan kepada Thio Lan Fung.” Yuk Lau
menyambung cerita adik seperguruannya. “Entah bagaimana tahu-tahu Su-moy dan si
nona she Thio sudah bergebrak dengan seru. Dalam pertempuran itu Thio Lan Fung
terluka berat sampai perlu dibawa kepada kong-kong supaya dirawat. Ayahnya, Thio
Tay-hiap tidak terima, lantas datang melabrak ke perguruan. Suhu mencoba
membereskan perkara secara damai, tahu-tahu su-moy datang dan mabuk pula
kemudian memaki-maki Thio Tay-hiap didepan anak-murid yang lain.”
“Suhu murka melihat kelakuan su-moy yang memalukan. Seketika itu juga su- moy
diusir dari perguruan.” kedengaran berduka suara Miaw Chun Kian.
“Sebenarnya suhu tak perlu sampai mengusir.” kata Wu Fei menyesali. “Waktu itu
su-ci sedemikian mabuknya sehingga tak sadar apa yang dikatakan. Malah kalau mau
dibilang justeru suhu yang salah, tahu su-ci tidak tenang bukannya diberi
nasihat malah dilepaskan keluyuran.”
“Su-moy sudah dewasa. Lagipula suhu tak dapat mengawasi murid satu persatu.”
bantah Miaw Chun Kian.
“Aku pikir hal itu dilakukan demi menjaga wibawa.” menyahut Ching-ching.
“Apabila Kang-ouw tahu beliau melindungi murid yang tidak tahu adat, apa jadinya
Pek-San-Bu-Koan?”
“Nah, ternyata Ching-moy lebih mengerti.”
“Justeru aku tidak mengerti sama sekali. Apa suhu kalian lebih perhatikan
Ching Ching 431
wibawanya sendiri daripada anak-muridnya?” menggumam si nona.
Baik Chun Kian maupun Yuk Lau tak dapat menjawab. Sekarang iniipun mereka tidak
mengerti tindakan suhunya. Betulkah hanya demi kewibawaannya seorang? Ataukah
demi seluruh murid Pek-San-Bu-Koan? Atau demi kepentingan Sioe-Ing atau
bagaimana?
“Bagaimanapun, aku yakin tindakan Suhu didasari alasan yang kuat.” kata Miaw
Chun Kian.
“Memang demikian seharusnya tindakan murid berbakti!” Ching-ching mengacungkan
jempol. “Soal itu bolehlah tidak usah dibicarakan lagi. Sekarang aku mau tanya
kabarnya Khu Yin Hung?”
“Dia sedang berada di kampungnya, berusaha membangunn kembali reruntuhan
rumahnya dengan bantuan orang-orang disana. Oh ya, pelayanmu si A-Ying itu juga
menemaninya disana.”
“Sayang Sam-suheng sedang banyak urusan disini, kalau tidak tentu ia akan turun
diam di Ban-Tok-Lim juga.” kata Wu Fei seraya melirik Yuk Lau yang tersipu.
“Kau apakah tidak menanyakan keadaan Wang Li Hai?” membalas Yuk Lau kepada si
Nona.
“Ya, betul. Apa kau tidak kasihan kepadanya? Semenjak kau hilang itu dia banyak
lebih kurus dan sering sakitan. Mukanya sekarang pucat pula. Semestinya kau
jenguk dia !” menyambung Wu Fei.
“Dia sendiri anggap aku sudah mati, guna apa kujenguk dia? Lagipula disampingnya
kini ada Thio Lan Fung yang malah sudah berani melamar.” ketus Ching-ching.
Kentara gadis itu minum cuka alias cemburu. “Sudah, kalian jangan sebut dia
lagi, kalau tidak aku mendingan tidur saja !”
Ketiga pemuda yang lain tertawa saja mendengar ancamannya, tetapi kemudian tak
ada pula yang menyebut nama Wang Li Hai. Yang dibicarakan kini hanya seputar
berita di kalangan Bu-lim saja berhubung si nona banyak ketinggalan kabar
setahun ini.
--oOo—
The news of Lie Mei Ching coming home was spread among the warriors. Many went
to look for her to ask her about Kgscp. In the end, the White Mountain School
had its hand full. Everyone knew that although Lie Mei Ching was kicked out of
the school, but the relationship between the students were very close. So they
came to White Mountain with the excuse to congratulate Lie Wein Ming on his
birthday.
Murid-murid Pek San Bu Koan tentu saja terkejut berbareng heran lantaran ulang
tahun Li Wei Ming ke-82 itu memang tidak dirayakan dan tidak mengundang orang.
Memang bukan kebiasaan untuk merayakan ulang tahun dibawah kelipatan sepuluh.
Bahkan Li Wei Ming sendiri semenjak pagi sudah pergi entah kemana. Ia yang lebih
dapat menyelami tindak-tanduk anggauta Bu-Lim sudah menduga adanya kejadian,
maka lekas menyingkir dengan sedikit mendongkol.
Miaw Chun Kian sebagai murid tertua bertugas menerima tamu. Ia tak dapat lain
daripada mengucap terimakasih dan mohon maaf atas tidak adanya persiapan.
“Sesungguhnya she-jiet Suhu kami tahun ini tidak dirayakan, akan tetapi cu-wi
(anda sekalian) berkenan mengingatnya, kami sungguh merasa tersanjung. Sayang
kami tiada persiapan sama sekali, maka untuk menjamu hanya tersedia teh saja.”
“Ah, kami datang toh bukannya minta dijamu.” kata seorang tetamu.
“By the way, where is your teacher?” kata yang lain.
“As a matter of fact, Teacher is not here for the moment,” Miaw Chun Kian
replied. “He left very early in the morning, maybe just to take a walk to the
Ching Ching 432
back of the mountain.”
“Ah, why does he leave on his birthday?”
“His birthday celebration is still eight years away. The guests are early!”
gerutu Chia Wu Fei, murid kelima Pek San Bu KOan itu.
Para tamu meski merasa tersindir, berlagak tidak mendengar saja. Mereka tidak
datang untuk mencari ribut, bahkan justeru mereka yang punya kepentingan. Maka
dari itu sindiran Wu Fei ditelan saja dengan mendongkol.
Chun Kian melirik adik seperguruannya. Chia Wu Fei berlagak tidak tahu, terus
saja masuk ke dalam.
Tunggu punya tunggu, Li Wei Ming tak juga pulang, padahal hari telah menjadi
gelap, tidak sopan untuk terus diam disitu tanpa diundang. Para tamu menjadi
gelisah sementara Chun Kian dan Yuk Lau sepakat takkan menawarkan tempat tanpa
persetujuan guru mereka.
Akhirnya ada juga yang tidak betah berdiam saja. Mewakili semuanya ia
menghampiri Miaw Chun Kian.
“Actually, we do have other business to discuss with your teacher. But since
he’s not here, you can act as his pr considering you’re the first student of
this school.”
“I’m flattered. But if it’s really important, I think you’d better talk directly
to Teacher,” kata Chun Kian merendah.
“Gurumu sengaja menghindari kami, biarpun kami menunggu juga toh tak bisa
terlalu lama. Memangnya kami tiada kerjaan lain?” Seorang wanita setengah baya
menyahut dengan ketus.
Miaw Chun Kian mengenali orang sebagai Hu Yong Giok Tiap (Kupu kupu kemala
tamanmelati). Wanita ini adalah pemimpin perguruan Hu Yong Pay di selatan.
Perguruan yang hanya menerima anak perempuan sebagai murid. Dan X1 ini memangnya
terkenal bermulut pedas.
“Boanpwee rasa suhu tidak sengaja menghindar.” bantah Chun Kian halus,”hanya
saja beliau tidak menduga akan kedatangan cu-wi sekalian.”
“Sudahlah, tiada guna mempersalahkan orang lain.” melerai seorang tetamu.
Miaw Chun Kian belum pernah bertemu dengannnya. Akan tetapi melihat betapa orang
ini belum sampai seumur gurunya, akan tetapi jenggotnya sudah melebihi dada,
pula melihat senjata orang yang serupa pit dari besi, lantas ia segera tahu
orang berjuluk Tian Sie Su Sing (Pelajar berjenggot panjang) bernama Sie Kong.
Orang itu berkata lagi, “Urusan kami tidak melulu hanya dapat diselesaikan
gurumu, malan kukira kau lebih dapat membantu mengenai persoalan ini.”
“Ah, Sie Tay-hiap terlalu menyanjung. Kalau boleh kutahu, urusan apakah kiranya
itu? Andaikata tidak melanggar aturan perguruan, dan tidak melanggar kupunya
prinsip, senang hati boanpwee (aku yang muda) membantu.”
“Urusan ini adalah mengenai Lie Siaw Li Hiap.....” Tian Sie Su Sing sengaja
menggantung ucapannya untuk melihat reaksi Chun Kian dan Yuk Lau.
Si pemuda she Yuk nampak agak terkejut, sebenarnya Miaw Chun Kian juga tak kalah
kaget, akan tetapi ia lebih dapat menahan perasaannya.
“Lie Mei Ching memang pernah menjadi murid di Pek San Bu Koan, akan tetapi
kedudukannya tersebut sudah dicopot oleh Suhu sendiri, bahkan untuk selanjutnya
ia tak boleh menginjakkan kaki di tempat ini lagi. Maka boleh dibilang urusannya
tidak ada sangkut paut dengan kami.”
“Memang benar. Akan tetapi Lie Siaw Lie Hiap adalah adik angkatnya Yuk-heng
disini bukan?” Tian Sie Su Sing berpaling pada Yuk Lau.
Si pemuda she Yuk menjadi pucat. Ia tak dapat bersuara untuk beberapa lama.
Ching Ching 433
Pandangan setiap orang menuju kepadanya. Mau tak mau gentar juga Yuk Lau.
“Memang benar. Lie Mei Ching adalah adik angkatku. Akan tetapi hal ini tidak ada
sangkut pautnya dengan perguruan kami. Dan kalau adikku ada berbuat salah kepada
cu-wi sekalian, biarlah aku mewakilinya memohon maaf.” Yuk Lau sudah akan
berlutut, akan tetapi Tian Sie Su Sing lekas memapahnya berdiri.
“Oh, bukan...bukan. Ah, Yuk-heng rupanya salah mengerti. We only want to enquire
the whereabouts of Lie Siaw Li Hiap, bukan mau menuntut balas!”
“Ah, andaikata Ching-moy tiada berbuat salah, kenapa cianpwee sekalian
mencarinya?”
“Ini... Apakah kau tahu dimana dia adanya?”
Yuk Lau berkerut kening. Tien Sie Su Sing mengerti. Pemuda itu tentu mengharap
pertanyaannya dijawab lebih dahulu.
“Hehhhh, baiklah, kiranya kami memang harus berterus terang. Semenjak kami
mendengar bahwa Lie Mei Ching belum mati, bahkan dapat pulang dengan selamat
dari Kim Gian Siang Coa Ko (sarang siluman ular) maka kami sepakat untuk menemui
Lie Kouwnio guna menanya kediamannya siluman tersebut untuk kemudian beramairamai
menyerbu dan membasmi kawanan siluman disana. Kami sudah mencari kemanamana,
akan tetapi seperti kau tahu Pek Eng Pay sudah hancur, sedangkan di
tempatnya si tukang copet Ban Jiu Touw Ong juga tak ada, satu satunya kerabat
hanya engkau dan Yuk Toa-hu. Maka kami mencari kemari.”
“Nah, setelah kau tahu maksud kami, apa kau tidak segera memberi tahu dimana
adanya nona Lie?” bertanya pula Hu Yong Giok Tiap.
“ I’m very sorry, but I’m afraid I can’t help you in this matter.”
“Kenapa pula? Kau tidak mau memberi tahu dimana tempatnya Lie Mei Ching?”
“Pada sesungguhnya aku tiada mengetahui di mana adikku berada. Memang ia pernah
datang sekedar menjenguk Kong-kong, tapi kemudian pergi tanpa berpesan.”
“Bohong!” menuduh Hu Yong Giok Tiap. “Memangnya kau tidak mau memberi tahu
kenapa pakai segala macam alasan?”
“Aku tiada berdusta. Akan tetapi andaikatapun kutahu, tak mungkin kuberitahukan
pada Cianpwee sekalian?”
“Huh, aku jadi curiga, Lie Mei Ching sengaja sembunyi, kalian menutup- nutupi.
Jangan jangan sama-sama sudah bersekutu dengan Kim Gin Siang Coa Pang?”
“Cianpwee harap jangan menuduh sembarangan.”
“Tuduhanku beralasan. Kau sengaja tidak memberitahu, gurumu juga hilang dengan
tiba-tiba. Apa bukan sekongkol namanya? Kini kutahu kebusukan kalian. Kelak bila
kutemukan Lie Mei Ching, kubunuh sendiri dia!”
“Siapa hendak bunuh siapa ?” mendadak terdengar suara dari luar. Bersamaan
dengan itu seseorang memasuki ruangan dengan gagahnya.
“Suhu!” berseru Yuk Lau dan Miaw Chun Kian berbareng.
“Cu-wi, kedatangan cu-wi sekalian terlambat kuketahui. Harap diimaafkan kalau
aku telat menyambut.”
“Ha, Lie Wei Ming, kalau boleh kutahu, darimana saja kau?”
“Kalau Hu Yong Giok Tiap yang terhormat ingin tahu, sepanjang pagi ini aku
menikmati hawa sejuk pegunungan, mengaggumi pemandangan alam yang indah, tenang
dan damai tanpa segala keributan. Untuk kemudian menyadari bahwa diriku bukan
orang muda lagi.” Li Wei Ming tersenyum.
Tian Sie Su Sing tertawa, kemudian maju kehadapan Sang guru besar.
“Kebetulan Li tay-hiap pulang cepat, jadinya kesampaian maksudku untuk
mengucapkan selamat ulangtahun kepadamu.”
“Aha, terimakasih, terimakasih. Rupanya saudaraku Tian Sie Su Sing belum
Ching Ching 434
melupakan hari jadiku, sungguh aku merasa tersanjung.”
Kemudian buat beberapa lamanya Li Wei Ming sibuk menerima ucapan selamat dari
kanan kiri.
“Ah, kalian sudah berbaik hati mau mengunjungi aku, sambutanku malahan kurang
meriah. Bagaimana kalau sekarang kita bersantap dulu sekedarnya? Aku bermaksud
menyulang secawan arak untuk sahabat semua. Ah-Kian, Ah-Lau, cepat keluarkan
suguhan!”
Yuk Lau dan Chun Kian segera saja pergi ke belakang. Tak berapa lama kemudian
telah disiapkan makan-minum buat semua orang. Urusan mengenai Ching- ching jadi
tertunda buat beberapa lamanya.
Akan tetapi setelah perjamuan selesai, kembali Hu Yong Giok Tiap membawa
persoalan ke permukaan. Sedari tadi memang dia yang paling tidak sabar menanti
jawaban. Yang lainnya meski sama penasaran, tetapi sungkan untuk membuka
pembicaraan lebih dahulu. Maka mereka diam diam berterimakasih pada si Kukupu
kupu kemala.
Sebelum menjawab pertanyaan orang, Li Wei Ming menghela napas.
“Mengenai nona Lie, aku juga tidak mendengar banyak. Yang kutahu hanyalah bahwa
ia belum mati, melainkan ditawan oleh Kim Gin Siang Coa Pang. Cara bagaimana ia
dapat lolos, atau bagaimana keadaannya sekarang aku sendiri tidak tahu.”
“Tetapi bukankah engkau adalah.....eh, pernah menjadi gurunya?” “But you are ...
ehm, were her teacher?”
“That’s true. Unfortunately, Miss Lie did a
“Benar. Sayangnya Lie Kouwnio pernah melakukan kesalahan besar sehingga aku
sendiri terpaksa memutuskan hubungan guru-murid. Selanjutnya kami tiada bertukar
kabar lagi.”
“Kami telah menanya hal yang sama pada Yuk-Lau Siaw-hiap, akan tetapi nnampaknya
ia enggan membantu. Padahal urusan kami dengan Lie Kouwnio hanya sekedar mohon
petunjuk demi untuk membasmi partai jahat. Bagaimana menurut pandangan Li
Tay-hiap?”
“Aku mengerti maksud baik saudara semuanya, akan tetapi urusan keluarga murid
sendiri tak dapat aku mencampurinya......”
“Akan tetapi muridmu itu sebenarnya adalah cucu adik seperguruanmu. Jadi kau
sendiri tak dapat dibilang orang luar dalam hal ini.”
Li Wei Ming tak dapat berkata kata. Memang benar, Yuk Long, Yuk-Toahu yang
terkenal adalah juga adik seperguruannya.
“Li Tay-hiap, dalam hal ini bolehkah kami menanyai muridmu sekali lagi?”
“Tentu. Akan tetapi aku juga tidak dapat nanti terlalu memaksa.”
“Asal Tay-hiap mau bantu menanyakan, rasanya sudah cukup.” kata seorang. Yang
lain setuju. Masing-masing sama berpikir, apabila gurunya sendiri yang menanya,
mana mungkin Yuk Lau berani berdusta selagi menjawab?
Yuk Lau segera dipanggil datang. Pemuda itu ditanyai sekali lagi. Akan tetpi
dengan sikap menyesal sekaligus lega, ia menjawab sama.
“Teecu (murid) benar-benar tidak tahu dimana adanya Gie-moy (adik angkat). Tempo
hari dia pergi tanpa berpamit lagi.”
“Baiklah. Kau boleh pergi.” kata gurunya. “Tunggu. Kami dengar perhubungan Lie
Mei Ching tidak melulu hanya dengan Yuk Siaw-hiap seorang. Kabarnya ia juga
cukup akrab dengan murid yang lain.”
Li Wei Ming memang sudah mendongkol, tambah kesal sedari tadi terus dipaksa. Ia
memanggil juga Miaw Chun Kian dan Chia Wu Fei. Keduanya ditanyai hal serupa.
Miaw Chun Kian tegas tegas menjawab tidak tahu, sedangkan Wu Fei cuma menggeleng
Ching Ching 435
saja. Sekilas matanya melirik Yuk Lau bersamaan pemuda itu juga menatapnya.
“Nah, kalian lihat sendiri. Kiranya persoalan ini boleh dicukupkan sampai disini
?”
“Sebentar.” kata Tian Sie Su Sing. Ia menghampiri Wu Fei. “Wu Siaw-hiap, kapan
terakhir kau bertemu Lie Kouwnio?” dia bertanya.
Wu Fei gelagapan. “Eh,.....entah, rasanya sudah lama.”
“Berapa lama? Setahun? Sebulan? Atau baru kemarin?”
Chia Wu Fei nampak terkejut, tapi ia tiada berkata-kata. Kepalanya tunduk
menekuri lantai.
“Hmm, kau tidak menyangkal bahwa baru kemarin menemui Lie Kouwnio?”
“Lie Tay-hiap, it seemed that your student has the guts to lie in front of you,”
menjengek Hu Yong Giok Tiap.
Muka Li Wei Ming merah padam. Ia merasa dipermalukan didepan semua orang.
“Chia Wu Fei, you dare lie in front of your teacher?” membentak dia.
Wu Fei menggeleng. Serta merta lututnya ditekuk.
“Teacher, Sute didn’t lie!” membela Chun Kian. “He didn’t say anything, did he?
He didn’t say that he didin’t know, or that he did?
Li Wei Ming menyadari kebenaran kata muridnya tertua. Maka ketika menghardik Wu
Fei suaranya tidak terlalu keras lagi.
“Kuberi kesempatanmu untuk berterus terang. Andaikata masih juga berbohong aku
sendiri yang akan turun tangan menghukum!”
“Teacher, I ... I ...”
“Tell me, do you know where Miss Lie is?”
Wu Fei nodded. “I do. But I also promised not to tell anyone.”
Hu Yong Giok Tiap mendelik, “Meskipun ini menyangkut kepentingan semua orang,
untuk membasmi yang jahat, apa kau masih tidak mau omong?”
“Janji seorang jantan, biar mesti mati juga tidak boleh dilanggar!” berseru Wu
Fei dengan gagahnya.
Diam diam Li Wei Ming merasa bangga akan keteguhan muridnya. Namun ia juga
enggan kehilangan muka. Dalam hatinya ia sendiri tidak tahu harus bagaimana.
“Bocah, biar bagaimana kau harus bawa aku pada Lie Mei Ching itu. Aku punya
dendam sedalam lautan terhadap Kim Gin Siang Coa. Sedapatnya kubalas selekas
mungkin. Maka kau bawalah aku padanya!” tahu tahu Hu Yong Giok Tiap sudah berada
di hadapan Wu Fei sembari menodongkan pedang terhadap pemuda itu.
“Tapi ini......” Li Wei Ming hendak bicara namun keburu dipotong oleh si
kupu-kupu kemala.
“Li Tay-hiap, ini urusanku dengan muridmu seorang. Baik kau maupun perguruanmu
tidak tersangkut paut. Demikian juga kupunya partai tak ikut campur. Tapi
andaikan kau turun tangan berarti hubungan baik kita disudahi saja. Aku tak
berniat sakiti muridmu, hanya kalau terpaksa......”
Li Wei Ming tahu, Hu Yong Giok Tiap juga takkan sembarang membunuh orang. Maka
ia tidak lekas turun tangan.
Wu Fei sendiri tidak perdulikan orang. Seperti tidak dengar perkataan Hu Yong
Giok Tiap ia tunduk saja di depan gurunya.
“Eh, tak perlu kita pakai cara kasar. Kalau benar ia baru menemui Lie Kouwnio
kemarin hari, berarti nona itu bersembunyi disekitar sini saja, sebab kalau
tidak pasti ia bertemu salah satu dari kita diperjalanan bukan?” kata Tian Sie
Su Sing.
“Benar. Kita begini banyak orang, masa tidak dapat mencarinya disatu gunung
begini saja?” sambut yang lain.
Ching Ching 436
“Kalau begitu segera saja kita bergerak!” berseru beberapa orang.
Sedang keadaan ribut-ribut begitu mendadak tercium bau wangi menyengak disusul
satu kabut kuning menyelimuti keseluruh orang.
“Uap beracun, tahan napas!” seru Lie Wei Ming. Ia lantas bergerak menotok jalan
darah ketiga muridnya supaya tidak keracunan. Ia sendiri telah tutup pernapasan
sembari mengebut ngebut mengusir uap beracun yang datang.
Peringatan Li Wei Ming tergolong lekas, tapi toh masih ada beberapa orang
terguling sementara mereka yang kungfunya tinggi telah menutup pernapasan dan
juga berusaha mengusir hawa beracun itu.
Uap Kuning yang menghalangi pandang mata itu tidak lama bertahan. Sebentar
kemudian semua hilang lenyap dari penglihatan. Pandangan menjadi terang jelas
seperti biasa. Hampir serempak semua melihat satu pisau menancapkan surat di
belandar rumah.
“Yang berniat membikin susah Lie Kouwnio berarti cari mati!” Hu Yong Giok Tiap
membaca keras keras. Padahal sebenarnya tak perlu karena semua telah dapat
membaca isi surat itu.
“Who sent this letter?”
“Siapa lagi kalau bukannya si bocah sombong she Lie. Mentang mentang telah dapat
keluar dari Kim Gin Siang Koay Ko ia lantas besar kepala. Hah, dasar bocah
rendah !” memaki Hu Yong Giok Tiap.
“It’s not Miss Lie!” Lie Wei Ming said. He looked outside and yelled, “Saudara
yang ada diluar sana, sudah datang kenapa tidak menampakkan diri ?”
Dari luar terdengar angin menderu. Tahu tahu sesosok manusia dengan baju hitam
menutupi kepala sampai kaki sudah berada ditengah tengah ruangan. Bandannya yang
tergolong tinggi berdiri gagah, mukanya tertutup kain hitam memberikan kesan
seram.
Li Wei Ming maju menyoja.
“May I know your name and where you are from?”
Sosok hitam itu tidak menjawab. Ia mengacungkan pedang ke arah kertas. Matanya
menyapu semua orang, seperti juga menegaskan isi surat.
“We mean no ill will toward Miss Lie, we just want to inquire something. If you
know where she is, I hope you would tell us. I promise, I will not even bother
her hair.”
Sosok hitam itu hanya mendengus tak percaya. Ia membalikkan badan hendak pergi,
namun Yuk Lau keburu menghadang.
“Tay-hiap,” ia menghormat. “Before you go, can you leave your great name. If I
see my sister later, I can tell her, so she can thank you.”
Namun orang itu tak ambil peduli. Tanpa menoleh pada Yuk Lau ia melanjutkan
tindakannya. Ini sebenarnya merupakan suatu penghinaan meskipun tidak tergolong
berat, namun nyata nyata merendahkan si pemuda she Yuk. Untung Yuk Lau termasuk
sabar, lagipula orang ini membela adik angkatnya, maka kedongkolan ditelan saja
tanpa memperpanjang masalah.
Sebaliknya dengan Hu Yong Giok Tiap yang lekas naik darah. Wanita itu ikut
menghadang jalan orang. “Tanpa memberitahu nama atau menunjukkan tempatnya Lie
Mei Ching, aku tak ijinkan kau pergi!” katanya.
Orang itu tetap tidak gubris. Bukan main marahnya Hu Yong Giok Tiap. Kali ini ia
tidak saja mencegat, tapi sekalian ayun senjata.
“Berani kau anggap main-main ucapanku?” geramnya gusar.
Sosok berbaju malam itu tidak kelihatan berkelit. Ia malah seperti tidak
bergerak sama sekali. Yang bikin heran adalah mendadak saja Hu Yong Giok Tiap
Ching Ching 437
tersungkur jatuh. Dipipinya tampak segaris luka yang tak berapa lama kemudian
terus saja mencucurkan darah. Mendadak terdengar suara berkeplok dari luar.
Disertai tawa orang memuji, “Lihai, sungguh lihai. Tak nyana setelah lama tak
memegang pedang ternyata toako masih mahir menggunakannya.”
Pemilik suara muncul dipintu, Semua orang melihat kearahnya. Segera saja roman
muka mereka berubah pucat semua. Lantaran geram, benci, dendam, tapi juga
ketakutan.
“Siaw-tee, what are you doing here?”
Chang Lun tertawa. “Carrying out Mother’s orders, of course. What do you think?
I should be asking you. Didn’t you say that you were going to Kokan?”
Tahulah semua orang. Sosok hitam itu tak lain adalah Chang Houw adanya.
“So it is true. Lie Mei Ching ternyata adalah anteknya Kim Gin Siang Coa Pay.
Tak heran ia boleh keluar hidup hidup dari sana!”
“Jangan sembarangan omong!” Chia Wu Fei berseru, melompat kehadapan Hu Yong Giok
Tiap yang barusan berbicara.
“Buktinya ada di depan mata, masih tuduh aku sembarang omong?” bantah Hu Yong
Giok Tiap.
“Nanti dulu,” Chang Houw buka penutup mukanya seraya menyela. “Miss Lie ...”
“Memang Lie Kouwnio sudah kami anggap orang sendiri. Malah tak lama lagi ia
bakal menjadi enso-ku,” potong Chang Lun.
“Siaw-te.....!” Chang Lun membentak. Tapi suaranya hilang oleh keributan di
luar. Sejumlah murid Pek San Bu Koan yang berlarian masuk ruang pertemuan.
“Fire!” seru mereka gugup. “There’s a fire!”
Lie Wei Ming melompat menghampiri. “Where’s the fire?”
“Teacher ... everywhere ... everywhere’s on fire!”
Pada saat bersamaan di dalam ruangan mulai terasa panas. Kiranya bangunan
dibelakang ruangan situ juga sudah mulai terbakar.
Chang Lun tertawa. “Tak usah repot-repot berusaha memadamkan. Semua bangunan
sudah kena api yang dilemparkan anakbuahku. Tinggal gedung ini masih selamat
karena kakakku ada disini. Sebentar kami juga akan pergi. Tapi........”
Belum lagi beres Chang Lun bicara. Banyak orang segera berlari keluar. Namun
segera terdengar jeritan seram, suara senjata beradu dan banyak yang mundur
kembali dalam keadaan terluka.
“You all should’ve listened to me. Outside, my men are waiting. Whoever comes
out before I leave, will be killed. Whoever comes out after I leave, will be
torn by arrows. For your information, our poison-arrow squad is better than the
palace’s. Also, we don’t use ordinary poison.” Chang Lun told them like telling
a story.
Chang Lun memberitahu dengan cara seperti bercerita saja. Tapi sikapnya itu
tidak berani dipandang enteng yang lain. Mereka juga tak punya nyali pergi
keluar. Memang mereka tak takutt panah. Kena satu-dua saja kalau bukannya tepat
dijantung atau leher, tak lantas menyebabkan kematian. Yang lebih ditakuti
adalah racun di mata panah. Semua tahu kelihaian racun Kim Gin Siang Coa Pang
melebihi jahatnya racun Ban Tok Pang. Mereka lebih takut mati merana sebab
racun-racun itu.
“We needn’t be afraid. As long as he doesn’t leave, this place won’t be burnt.
Why don’t we kill them both. That way, they won’t come out ever!” mengusul
seseorang.
Beberapa pendekar lantas setuju. Tak peduli rasa malu dan sikap kesatria,
beramai-ramai mereka mengurung Chang Houw dan Chang Lun.
Ching Ching 438
“Bagus. Rupanya kepingin lekas mati, ya? Toako, mereka ini cukup aku saja yang
hadapi.” Sambil tertawa tawa Chang Lun melayani. Para pendekar silih berganti
melawan dua pemuda itu. Begitu satu terpukul, yang lain segera ambil posisinya.
Akan tetapi Chang Lun tak berniat main lama-lama. Setelah pamer beberapa
jurusnya, ia mulai menurunkan tangan jahat. Satu persatu pengepungnya roboh
tanpa nyawa. Jeritan dan darah menakuti seisi ruangan. Belum lagi api dan asap
yang masuk ke dalam.
Li Wei Ming tak sanggup lagi melihat para pendekar dibantai di kediamannya. Ia
melompat kehadapan Chang Lun, menangkis kipasnya yang hendak bunuh orang.
“Tell me, cara bagaimana supaya kau lepaskan kami semua?”
“Kau mau mereka bebas? Suruh mereka tunduk dibawah panji-panji Kim Gin Siang Coa
Pang!”
“That’s not possible!”
“Alright, paling tidak kau harus tunduk pada kami.”
“If I agree, will you let them all go?”
“What do you think?” Chang Lun balik menanya.
“Teacher!” sisa murid Pek San Bu Koan serentak berseru. “Don’t buy into his
words!”
“Ah, your students agree to die together,” Chang Lun mendengus.
“I will decide!” kata Li Wei Ming berseru. Entah ditujukan pada murid-muridnya
ataukah pada Chang Lun.
“Sungguh ksatria. Li Tay-Hiap, apapun keputusanmu, kami tak akan menyalahkan
engkau. Sebab kami tahu kau selalu memikirkan kepentingan orang banyak.” kata
Thian Sing Su Sing. Kata kata yang licik menjebak. Sebab dengan begitu secara
halus ia menyuruh Liee Wei Ming menyetujui usulan Chang Lun demi kebebasan yang
lain. Tapi Li Wei ming bukan orang yang gampang terhasut orang lain. Semua
keputusan adalah pemikirannya sendiri. Ia tahu tindakan mana yang baik.
“Baiklah!” katanya. Aku setuju. Harap kau ijinkan semuanya keluar.”
“Biasanya seorang yang mengaku tunduk padaku akan segera berlutut”
Li Wei Ming merasa dadanya panas. Matanya juga pedas. Ia merasa amat terhina.
Tapi demi semua kawannya.........
Chang Lun tertawa. “Kau seorang kesatria, aku juga laki laki. Baiklah, semua
orang boleh keluar dari sini.” Pemuda itu bersuit dua kali guna memberi tanda
kepada anak buahnya. Bergegas semua menerobos keluar. Tinggal anak-murid Pek San
Bu Koan masih termenung ditempat, tidak percaya bahwa kini mereka menjadi murid
anteknya partai paling jahat.
“Semua yang keluar dari Pek San Bu Koan akan mati!” terdengar suara nyaring
membelah angkasa, disusul satu selendang putih membentang, membelit tiang-tiang
penyangga ruangan. Satu sosok putih meluncur enteng diatasnya. Dia berhenti
tepat dihadapan Chang Lun.
“Diluar sana berlapis pasukan pembunuh. Siapa berani menapakkan kaki diluar
batas perguruan tak mungkin selamat!”
“Lie Mei Ching! Pada akhirnya kau muncul juga!” berseru Hu Yong Giok Tiap dari
luar gedung. “Hendak membantu calon suamimu?”
Ching-ching sebenarnya sedang bersembunyi. Ia mendirikan pondok di dalam hutan
di gunung itu. Kedatangan para pendekar diketahui, tapi sengaja ia tak mau
tampakkan diri. Akan tetapi pada tengah malam ia terbangun lantaran terang dan
hawa panas diluar. Terlihat kobaran api yang besar, arahnya dari Pek San Bu
Koan. Tahulah si nona ada yang tidak beres. Dengan mengerahkan ginkang ia datang
secepatnya ke perguruan tersebut. Diperjalanan ia melihat bayaangann anakbuah
Ching Ching 439
Kim Gin Siang Coa bersiaga. Maka ia bergerak makin cepat memberitahukan bahaya.
Mana tahu begitu datang malah dituding pula.
Gadis berbaju putih itu menoleh ke pintu. “Calon suami yang mana?” tanyanya.
“Jangan berlagak pilon. Adik iparmu telah mengatakan semuanya!”
Ching-ching lantas mengerti. “Liar!” serunya. “Chang Lun, berani kau cemarkan
nama baikku? Aku bersumpah merobek mulutmu yang lancang itu!”
“Toaso....”Chang Lun menggoda. Belum lagi ia selesai bicara, mulutnya hampir
kena tampar selendang orang. Chang Lun segera menangkis, akan tetapi selendang
malahan melibat lengannya dan menariknya pula. Sejenak adu tenaga antara Chang
Lun dan Ching-ching. Selendang terentang makin tegang, makin tipis.
Mendadak selendang itu putus! Keduanya terpaksa undur. Chang Lun terhuyung tiga
langkah, sedangkan Ching-ching hampir jatuh ketanah. Namun lekas gadis itu
melemparkan selendangnya ke belandar rumah dan berayun kembali berdiri di atas
kain terentang. Belum lagi tegak berdirinya, si nona sudah menyerang sekali
lagi. Chang Lun mengeluarkan kipasnya melawan selendang lemas yang menyambar. Ia
bersiap menarik jatuh si nona bilamana sabuk kain itu melilit lagi. Mana tahu
mendadak selendang lemas itu menegang. Ketika berbentur dengan kipas,
mengeluarkan suara seperti dua benda keras bertumbuk.
Namun begitu ketangkis, selendang segera menjadi lemas kembali, terulur membelit
leher orang, mencekik dengan kuat. Chang Lun hendak menebas dengan kipasnya,
tapi selendang yang membelit leher dilepas dengan bertenaga seperti juga memutar
gasing. Karena tak siap, Chang Lun terpelanting terputar beberapa langkah.
Mulailah pemuda itu merasa marah.
“Kau sendiri minta, hari ini juga kubuat kau minta ampun padaku!”
Chang Lun melompat sampai hampir menyentuh atap. Kipasnya terkatup, sedia
menyerang. Pemuda itu mengembangkan tangan seperti elang, hendak menendang dari
atas. Sebelum terkena tendangan, Ching-ching lebih dulu ulurkan selendang
membelit kaki orang. Mana tahu Chang Lun mendadak buka kipas. Sejumlah senjata
rahasia meluncur. Ia sendiri menukik, mengitar lewat samping, hendak menebas
pinggang si nona.
“Awas senjata rahasia!” berbareng tiga murid tertua Pek San Bu Koan melompat
menangkisi jarum-jarum halus yang ditebar.
Akan tetapi seorang lain bertindak lebih dulu dari mereka. Chang Houw memutar
pedang, menangkis senjata rahasia, sementara kakinya menendang pinggang Chang
Lun. Sebelum adiknya terpental, lebih dulu disambar dan ia sendiri bersuit
sembari melompat keluar.
“Cuwi, aku berkata yang sesungguhnya Lie Kouwnio tak ada hubungan apa-apa
denganku. Semua perkataan adikku dusta belaka. Dan lantaran Li Tay-hiap telah
setujui syarat kami, maka kami juga takkan mengalangi kalian keluar dari Pek San
Bu Koan. Lie Kouwnio, mengenai kelancangan adikku, kelak kami akan datang
meminta maaf padamu!”
Suara Chang Houw makin lama makin jauh. Belum lagi habis bicaranya, bayangan
orangnya sudah lebih dulu lenyap. Kepergiannya diiringi suara berderap langkah
sepasukan yang tak kelihatan dimana. Namun begitu suasana senyap, semua tahu
bahwa Chang bersaudara dengan seantero anakbuahnya telah pergi. Namun para
pendekar itu belum berani pergi.
Di dalam ruangan juga sunyi senyap. Ching-ching berdiri lemas diatas selendang.
Ketiga murid tertua Pek San Bu Koan juga tidak bersuara, sementara Li Wei Ming
masih berlutut. Keadaan itu berlangsung beberapa lamanya. “Chun Kian!” mendadak
Wei Ming memanggil muridnya tertua.
Ching Ching 440
Kesemua murid menghampirinya.
“Aku hendak bicara dengan toa-komu dulu.” maka yang lain lain segera menyingkir.
“Teecu disini suhu!” Miaw Chun Kian turut berlutut.
“I have something to say to you. While I am speaking, I hope you will not cut in
or protest. After I am finished, I want you to take all your brothers and
sisters out. Then burn this room, let all of the building burn to the ground.
Then …”
“Ada pesan yang mau kusampaikan. Selama aku berkata, harap kau jangan menyela
atau membantah. Setelah selesai aku berbicara padamu, bawalah semua adikmu
keluar. Bakar juga ruangan ini, biarkan hangus runtuh semua gedung.
Selanjutnya...” Li Wei Ming mengeluarkan sebuah kitab dari balik bajunya.
“This is a book of a new style I’ve created. I wish I had time to give you
guidance. Study it with your brothers and sisters. The five of you have to aid
the destruction of the Snake School. When my wish is done, you will dismiss all
your brothers and sisters. The White Mountain School is no more. They can search
for a new Teacher. Forget all the Skills you have learn here. Seed for a good
teacher and a good school. Are you capable?”
“Buku ini mengenai ilmu yang kucipta. Sayang tiada waktu memberi petunjuk.
Pelajarilah bersama adik-adikmu. Kelak berlima kalian harus bantu menghancurkan
partai ular. Apabila tercapai pesan gurumu ini, bubarkan kesemua adikmu. Pek San
bu Koan sudah runtuh. Mereka boleh cari masing masing guru baru. Lupakan semua
ajaran Pek San Bu Koan. Carilah masing-masing guru dan partai yang baik. Apakah
kau sanggup?”
“But why do I have to do this? Is it not …”
“Tapi kenapa teecu harus berbuat begitu. Bukankah.....”
“A-kian, I have taught you to think. Think so that you can then act without
having to ask. Have you not still learned that yet?”
Chun Kian terdiam.
“Now, ask Miss Lie to see me. Not order, but ask her as one of the Warriors.
salah satu pendekar.”
Pemuda itu menurut. Ia menghampiri Lie Mei Ching. “Lie Lie-hiap, my Teacher
wishes that you would kindly see him.” “Lie Lie-hiap, suhuku bermohon supaya
engkau sudi datang kepadanya.” suara Chun Kian bergetar. Ia mulai mengerti
maksud suhunya.
“Kenapa begitu sungkan?” Ching-ching heran. Tapi demi melihat roman muka Chun
Kian ia pun tak banyak tanya lagi. Diulurnya selendang supaya terentang rendah
dihadapan Li Wei Ming. Tak sampai menyentuh tanah, ada jarak sekitar satu dim.
Ching-ching berlutut diatasnya sembari mengentengkan badang sehingga selendang
itu terentang seperti tidak diberati bobot si nona.
Li Wei Ming diam diam memuji tingginya ginkang Ching-ching. “Miss Lie, you have
chase away mengusir the Chang brothers, I am most grateful.”
“Don’t mention it. Cianpwee harap jangan sungkan They left of their own free
will, not because of me.”
“Bagaimanapun you have a part in it. engkau ambil bagian didalamnya. And now you
Dan Kouwnio telah sudi datang padaku, bukankah perlu kuberterimakasih?”
“Cianpwee adalah orang yang boanpwee hormati dan kagumi. Selama ini Boanpwee
yang tak berani menemui. Sekarang malahan diundang, bukankah suatu kehormatan?”
“Aku ini orang yang tak pandai berbasa-basi. Sekarang inipun undanganku adalah
untuk minta pertolonganmu.”
“Cianpwee tinggal menyebutkan, pasti segera boanpwee laksanakan.”
Ching Ching 441
“I dare not ask you to be my student, but mau tak mau I have to ask you to help
my students to destroy the enemy with the ilmu yang kuwariskan. With it, the
reputation of Pek-san-bu-koan can be restored, if only a little. If you would
not …” Dengan demikian mengembalikan sedikit kedudukan Pek San Bu Koan. Tapi
apabila kouwnio tidak berkenan …”
“It is an honor, sir.” Ching-ching membungkuk sampai kepalanya menyentuh
pinggiran selendang. “I dare not ask to be your student, but I hope you will
grant me one wish. If you approve, I wish to consider your students as my
brothers and sisters.”
Li Wei Ming tahu, Ching-ching senang hati meluluskan permintaannya. Gadis itu
juga masih menganggap saudara kepada murid-muridnya berarti juga menganggap dia
sebagai guru, tapi tak berani menyebut lantaran takut dianggap lancang.
“Ching-ching,” panggilnya, “your teacher has one more favor to ask.”
Ching-ching merasakan hatinya gembira dipanggil murid. Matanya basah karena
haru. Disampingnya Miaw Chun Kian malah sudah sibuk mengusap air mata.
“Teacher, teecu siap laksanakan semua perintah suhu.”
“When the time comes, do not let anyone hinder my wish. niatanku.”
“What do you mean?”
“Chun Kian, mulai sekarang, murid Pek San Bu Koan boleh menggunakan ilmu apapun
untuk melawan Kim Gian Sian Coa Pang. Selama tidak digunakan untuk berbuat
keji.”
“Yes, I understand.”
“Now, bring all your brothers and sisters out. Don’t forget to light the fire.”
“Teecu permisi.”
Miaw Chun Kian mengajak Ching-ching pergi. Gadis itu mengikut dengan heran. Pun
ketika semua tiba diluar, setelah membawa sekalian jasad para pendekar yang
terbunuh, gadis itu masih belum mengerti.
“Toako, ini.....”
“Kita keluar!”
Lantaran masih teralang sumpahnya, Ching-ching keluar dengan melompat, menjejak
sekali ke wuwungan atap dan kemudian duduk di dahan pohon diluar.
Miaw Chun Kian menutup pintu. Adik adiknya yang lain bertanya tanya.
“Toako, what about Teacher?”
“Is he not coming out with us?
Chun Kian tidak menjawab. Ia mengumpulkan ranting, menumpuknya di depan pintu.
“Toako, what are you doing?”
Miaw Chun kian Mengambil suluh, menyundut ranting-ranting kering.
“Toako, kau mau membakar suhu? Have you gone crazy?”
Ching-ching juga tidak mengerti. Dengan mengulur selendangnya ia hendak merebut
obor di tangan Chun Kian.
Pemuda itu berkelit.
“When the time comes …” pemuda itu berteriak dengan gemetar. Teriakan yang
ditujukan pada si nona.
Ching-ching understood. She had promised to help her teacher kill himself.
Hatinya tergetar. But a promise is a promise. Maka si nona menarik mundur
selendangnya dan malah digunakan menyusut air mata.
“Toako, what is this?” Yuk Lau dan Wu Fei juga mengalangi. Tahu tahu selandang
putih menyambar lagi, mengenai jalan darah kedua pemuda itu.
“Siapapun tidak boleh mengalangi!” seru si nona.
“Apa kau sudah dipengaruhi gadis iblis itu?” Hu Yong Giok Tiap bertanya.
Ching Ching 442
“This is my teacher’s wish. Teacher would rather die than ruled by evil.” Chun
Kian melanjutkan pekerjaannya.
Rupanya Chang Lun juga telah menebar bubuk api di sekitar tempat itu, maka api
pun segera berkobar melahap gedung dengan suara berkeretak.
Chun Kian tidak banyak buang waktu. “Suhu berpesan supaya kami meninggalkan
tempat ini. Sebelum itu sebaiknya mengantar tamu. Silakan!” Ia mengusir secara
halus.
“Tunggu, tujuan kami kemari adalah mencari nona Lie!” seru seseorang.
Yang lain seperti diingatkan, lantas berhenti bertindak, menoleh pada Chingching.
“Sebelum berkabung seratus hari,tak nanti kuberikan apa yang kalian mau.” seru
Ching-ching. “Kalau ada seorang saja yang datang menemuiku sebelum waktunya,
maka aku akan bungkam selamanya!”
“Kalau kita tak usah memaksa lagi.” kata Thian Sing Su Sing.”Tapi seratus hari
lagi boleh kita kembali guna menyembahyangi Lie Tay Hiap.” pendekar itu mendului
pergi. Yang lain juga tak mau lama-lama disitu dan segera perrgi.
Tinggal anak murid Pek San Bu Koan masih memandang api yang berkobar buat
beberapa lama. Satu persatu mulai berlutut didepan gedung yang terbakar.
Terakhir adalah Miaw Chun Kian. Ching-ching membentang selendang diantara dua
batang pohon dan turut berlutut. Penghormatan terakhir pada guru mereka.
Tiga hari lamanya murid-murid Pek San Bu Koan masih tinggal di gunung putih.
Setelah itu Miaw Chun Kian mengumpulkan mereka semua menyampaikan amanat
gurunya.
"Before he died, Teacher asked me to mengumpulkan lima muridnya untuk
mempelajari ilmu yang diciptakan untuk menghadapi Kim Gin Siang Coa Pang.
Ching-ching sekarang ada disini bersama kita, tapi In Sioe Ing entah berada
dimana."
Adik adik seperguruannya segera mengerti.
"Suhu tentu ingin supaya kita bangun kembali kejayaan Pek San Bu Koan. Ilmu yang
beliau ciptakan bisa membantu."
"Kalau begitu Suheng dan Ching-ching tidak usah pusing. Biar kami saja yang
mencari Su-ci. Kelak kalau Pek San Bu Koan sudah tegak kembali bolehlah kami
belajar dari suheng sekalian."
"Ternyata adik-adikku begini bijaksana. Kalau suhu tahu, tentu beliau merasa
bangga."
Begitu nama suhunya disebut, kesedihan kembali masuk ke hati masing masing.
Chun Kian tidak membiarkan lama-lama.
"Baiklah. Kalau begitu sekarang saja kita pencaran. Nanti kira-kira sebulan lagi
kita kembali berkumpul. Tapi apabila ada yang menemui Su-moy sebelum itu boleh
memberitahukan pada kami. Kami akan menanti dibalik gunung.
Semua mengannguk mengerti. Tanpa buang tempo lantas berpencar. Chun Kian dan
yang lain pergi ke balik gunung diantar Yuk toahu yang selama ini ikut
bersembunyi dengan Ching-ching.
"Su-siok, kami akan tidur di gedung uji saja. Sehari hari akan berlatih
dipelataran, sampai disini saja susiok mengantar."
"Aku akan diam di pondoknya Ching-ching saja dekat dari sini."
"Tapi..."
"Nanti tiap hari akan kutinggalkan makanan, jadi kalian bisa sepenuhnya
berlatih."
"Begitu juga baik." kata Ching-ching. "Nanti sekali-kali aku membantu KongChing
Ching 443
kong."
"Tak usah. Kau berlatih saja. Jangan kecewakan gurumu. Nah, aku tinggalkan
sampai disini saja. Jaga diri kalian."
"Kong-kong juga." mereka saling berpamit.
Miaw Chun Kian, Yuk Lau, Chia Wu Fei dan Ching-ching memasuki gedung ujian.
"Senjatanya Ching-ching ada di ruang senjata. Kita ambil bersama."
Mereka melewati lorong-lorong batu. Ching-ching jadi ingat pengalamannya dulu.
Tapi ia merasa heran. Selama mereka lewat, tak terdapat satupun jebakan.Mereka
tiba di ruang senjata. Chun Kian segera menuju satu pojokan, mengambil satu
kotak segi empat.
"Ching-ching, kau ambillah pedangmu."
"Pedangku? " sambut Ching-ching keheranan melihat wujud pedang itu yang ternyata
sama persis dengan miliknya dulu. Sebuah pedang lemas yang bisa dibawa melingkar
pinggang."Bukankah pedangku sudah dilipat patah?"
"Pedang yang dipatahkan suhu dulu sebenarnya adalah pasangan pedang yang ini.
Kabarnya dulu pedang ini dipakai dua kakak beradik atau apa. Yang jelas setelah
kau pergi, Sian-suhu(mendiang guru) menyimpan potongan pedang itu dan menyimpan
keduanya diruangan ini. Mengapit pedang milik Sian-Ji-suci" kata Wu Fei.
Setelah mengambil senjata, Chun Kian mengeluarkan kitab pemberian gurunya dan
bersama dengan adik-adiknya meneliti keseluruhan buku tersebut.
Ternyata kitab itu terdiri dari lima bagian yang terpisah. Isinya banyak berupa
gambar yang ditambahi keterangan.
"Buku ini bisa dibagi-bagi sesuai jurus dasar dari ilmu pedang teratai yang
sudah kita kuasai. Begini saja. Kita masing masing mempelajari satu, memilih
satu ruangan untuk berlatih sendiri-sendiri, dan setiap tiga hari kita bertemu
untuk berlatih bersama, bagaimana? "
"Sendiri sendiri. Bagaimana kalau ada bagian yang tidak dimengerti?" tanya Wu
Fei.
"Kalau begitu boleh tanya yang lain, asal jangann terlalu sering."
"Aku akan pakai ruangan dibelakang situ, yang tadi kita lewati." kata Chun Kian.
"Aku sebelahnya."
"Aku belakangnya"
"Aduh, aku dipaling ujung!" keluh Wu Fei.
"Mulai sekarang, jangan pikirkan hal lain selain berlatih. Mengerti?"
Yang lain mengangguk. Siang itu juga mereka mempelajari bagian masing- masing.
Entah sudah berapa lamanya mereka berlatih. Suatu kali ketika mereka berlatih,
Yuk Toahu datang membawa berita.
"Mereka sudah menemukan Sioe Ing. Ia ada di The Po Tiong (kelenteng pusaka
bumi)"
"Mau apa dia disitu?"
"Katanya dia mau jadi Nikouw(biarawati)"
"Lantas?"
"Dia bilang dia takkan kembali." "Ai, dia sudah pilih jalan hidupnya. Apalagi
yang bisa kita lakukan?"
"Aku akan menyusulnya!"
"Jangan. Sebagai Nikouw ia tak boleh membunuh, harus meninggalkan masa lalu.
Jangan ganggu lagi." Cegah Chun Kian.
"Tapi kalau begitu ilmu yang kita pelajari akan banyak sekali kelemahannya."
"Kalau begitu, biar aku yang pelajari dua bagian." kata Chun Kian.
"Su-heng, bagian Su-ci harus menggunakan tenaga Im. Biar aku yang melaksanakan."
Ching Ching 444
kata Ching-ching.
"Sudahlah. Nanti kalau berlatih bersama, kita saling menambal kekurangan
masing-masing. Begitu saja. Tak perlu satu orang menanggung semua."
"Berarti kita harus berlatih duakali lebih giat."
"Apa boleh buat."
"Jangan pikir duakali beratnya. Pikirkan betapa senang kalau dapat mencincang
habis partai siluman ular itu." Ching-ching memberi semangat.
"Kau benar!" Wu Fei tersenyum dan semenjak itu ia tak banyak mengeluh lagi.
-oOo-
Tak terasa tiga bulan telah lewat. Tiba saatnya sembahyang 100 hari kepergian
guru mereka. Sisa murid Pek San Bu Koan berlutut sembari memegang hio didepan
bekas reruntuhan perguruan mereka yang hangus, mendoakan arwah guru mereka.
Tapi belum lama kemudian mulai berdatangan wakil dari partai-partai lain.
Masing-masing membawa hio dan menancapkannya ditanah, didekat papan nama Pek San
Bu Koan yang tidak jelas lagi tulisannya. Kemudian mereka menunggu sampai
upacara selesai. Tanpa berkata semua sudah tahu tujuan kedatangan tiap orang.
Semua menunggu Ching-ching. Tapi gadis itu sendiri tengah sujud begitu khusyuk,
berlutut menunduk diatas selendang putih yang terbentang satu dim diatas tanah.
Tiada yang berani mengganggu si nona, kuatir ia melaksanakan sumpahnya tidak
akan membuka rahasia markas Kim Gin Siang Coa Pang. Maka meski dengan penasaran,
semua menunggu, memaksa diri untuk bersabar.
Susul menyusul tiap orang datang. Ada yang mewakili kelompoknya, ada yang datang
atas nama sendiri. Dari mereka diantaranya datang juga Wang Li Hai. Pemuda itu
merasakan sikap bermusuhan dari para murid Pek San Bu Koan. Tapi ia tak perduli,
sama tidak perduli pada para pendekar yang lain. Maka dari itu ia sengaja
memisahkan diri. Kedatangannya cuma untuk menemui Ching-ching, lain tidak.
Mentari sudah tinggi diatas kepala. Hampir semua orang sudah ada di situ. Tapi
kemudian datang menyusul seorang wanita muda mengenakan pakaian berwarna kelabu.
Rambutnya digelung sederhana dipuncak kepala tanpa hiasan. Kedatangannya tidak
menarik perhatian. Baru ketika setelah menancapkan hio, ia ikut berlutut
diantara anak-murid Pek San Bu Koan, barulah semua menengok kepadanya. Memang ia
tak lain In Sioe Ing adanya. Bukan main kegirangan semua murid perguruan. Mereka
ingin menyapaa, ingin bertanya. Namun kesemua sama tak mau merusak suasana
hening yang khusyuk, maka merekapun bungkam.
Setelah kedatangan In Sioe Ing menyusul pula datang serombongan orang. Dari
pakaian seragam berwarna hijau, kiranya adalah orang Cheng Kok Pai. Diantara
mereka terdapat pula Thio Lan Fung dengan ayahnya.
Diam diam semua saling pandang. Semua sudah dengar kabar burung mengenai
bentrokan antara In Sioe Ing dengan nona she Thio itu. Dengan tegang masingmasing
menunggu reaksi nona she In terhadap seterunya. Akan tetapi betapa mereka
kecewa melihat In Sioe Ing hanya tunduk saja membaca doa dengan roman tidak
berobah.
Menjelang sore, Miaw Chun Kian mendului berdiri meninggalkan reruntuhan Pek San
Bu Koan. Semua murid berdiri dan para tamupun hendak pergi juga. Tapi tidak
demikian halnya dengan Ching-ching. Ia masih tak bergeming diatas selendangnya
dengan sikap yang sama sedari pagi.
Agaknya Ching-ching belum berniat untuk menyelesaikan sembahyang. Tetamu yang
sesungguhnya lebih berkepentingan dengan si nona mulai kehilangan kesabaran.
Terutama sekali Yao Soat Bwe yang bergelar Hu Yong Giok Tiap itu.
"Bocah itu kiranya sengaja mempermainkan kita." cetusnya kesal. "Tak cukup kita
Ching Ching 445
menunggu dari pagi apa mesti juga menunggu semalaman. Dikiranya kita tidak capek
?"
"Biarlah kita menunggu barang sebentar lagi. Kulihat Lie Siaw Lihiap juga sudah
lelah menahan berat tubuhnya mengentengkan badan. Lihat, bukankah selendang tak
lagi terentang tegang, tapi agak turun mendekati tanah?" Thian Sie Su Sing
menyabarkan.
Memang demikian halnya. Ilmu mengentengkan badan milik Ching-ching boleh
dibilang sudah mendakati tingkat kesempurnaan. Akan tetapi setiap kepandaian ada
batasnya. Begitupun si Nona. Setelah seharian mengentengkan badan, bagaimana
mungkin ia tidak habis tenaga?
Mengetahui keadaannya diketahui orang lain, Ching-ching pun merasa tiada gunanya
berlama-lama lagi. Ia lantas mengebaskan selendang melilit satu dahan. Badannya
berayun diudara sebelum ia melompat, hilang dari pandangan.
"Dia kabur!" kemarahan Hu Yong Giok Tiap kini sudah sampai ke ubun-ubun. "Hayo
kita kejar!" katanya sembari menghunus pedang.
Tanpa berpikir panjang yang lain ikut-ikutan mengeluarkan senjata masingmasing,
terus mengejar si nona she Lie layaknya mengejar penjahat buron.
Wang Li Hai melihat gelagat tidak baik, segera hatinya menjadi gelisah. Lekas ia
melesat maju paling dulu. Dalam pikirnya ia akan mengejar Ching-ching guna
melindungi bila terjadi sesuatu.
Namun mereka tak usah mengejar terlalu jauh. Ching-ching tengah berdiri jarak
lima tombak di depan. Kiranya ia hanya pergi keluar dari tanah Pek San Bu Koan
agar dapat berpijak dengan leluasa.
"Kenapa kalian semua menguhus senjata? Apa mau membunuhku secara beramairamai?"
si nona menjengek.
Baru saat itu kesemuanya sadar, mereka menghunus senjata tanpa guna. Dengan
malu-malu mereka turunkan pedang-tombak. Malah ada yang langsung menyarungkan
kembali senjatanya.
"Lie Kouwnio, tempo hari kau berjanji handak memberitahukan kepada kami letaknya
sarang sepasang siluman ular begitu selesai sembahyang seratu hari kematian
gurumu. Nah, sekarang kami datang menagih janji!" seru Hu Yong Giok Tiap yang
paling gusar, menutupi rasa malu lantaran paling duluan megambil tindakan bodoh.
"Ai, kupikir kalian memang tahu terimakasih lantas datang menyembahyangi Suhu,
tak tahunya ada maksud tertentu." Ching-ching mencibir.
"Kouwnio, tujuan kedatangan kami yang utama memanglah hendak sembahyangi
arwahnya Li Tay-hiap. Akan tetapi tempo hari kebetulan kau berjanji pula.
Apabila kami menagih janji hari ini, maksudnya bukan lain daripada menyingkat
waktu saja."
"Aku tidak pernah mengumbar janji dihadapan kalian!"
"Tempo hari kau bilang akan....."
"Aku ingat betul. Tempo hari kataku, 'sebelum seratus hari, tak nanti kuberikan
apa yang kalian mau. Kalau ada seorang saja yang datang menemuiku sebelum
waktunya, maka aku akan bungkam selamanya.' Tapi aku tak pernah berjanji akan
mengatakan hari itu juga. Terserah kepadaku akan mengatakannya duaratus hari
kemudian atau malah seribu hari kemudian."
"Kau......" Thian Sie Su Sing tak bisa berkata-kata lagi, menyadari apa yang
dibilang si Nona tiada salahnya sama sekali.
"Memang sejak semula kusudah menduga!" Seru Hu Yong Giok Tiap. Pedangnya kembali
diacungkan kemuka. "Kiranya benar kau adalah anteknya Kim Gin Siang Coa Pang.
Barangkali betul kata bocah she Chang bahwa kau sudah terhitung iparnya!"
Ching Ching 446
"Hu Yong Giok Tiap, kali ini kau benar-benar kelewat batas!" Ching-ching menjadi
gusar. Sindiran akan hubungannya dengan Chang Houw memang selalu membuatnya
marah.
"Bukankah kata-kataku itu benar? Kau memang punya hubungan gelap dengan orang
she Chang!"
"Tidak!" Seseorang berseru. "Itu bohong! Tidak mungkin!"
"Wang Kongcu!"
Wang Li Hai berdiri didepan Ching-ching, seolah hendaak melindungi si nona.
"Dia tunanganku. Kami belum putus hubungan, mana bisa ia dengan orang lain?"
"Hmmh," Hu Yong Giok Tiap mendengus. "Setahuku Wang Kong-cu malahan sudah
menjalin hubungan dengan Thio Lan Fung lebih dulu. Mana bisa sekarang mengaku
tunangannya lain orang?"
Merah padam muka Wang Li Hai. Di belakang sana Thio Lan Fung juga menggigit
bibirnya lantaran malu dan marah. Sedangkan ayah si nona she Thio menggeram
gusar.
Ching-ching melihat, sekarang bukan dia saja dipermalukan, Wang Li Hai juga
terseret. Dalam hati gadis itu puas, akhirnya ada juga yang mengungkapkan isi
hatinya terhadap pemuda she Wang itu. Akan tetapi demi melihat Wang Li Hai tidak
beranjak, pun hatinya masih merasa sayang, mana dia tega berdiam diri?
"Ai, Hu Yong Giok Tiap, rupanya lantaran kau sendiri tiada berhubungan dengan
laki-laki, makanya kau malah sibuk dengan perhubungan orang lain?"
Kini giliran Hu Yong Giok Tiap panas telinganya.
"Aku seorang nikouw, mana berhubungan dengan orang laki?"
"Aku tidak mau bawa-bawa orang lain. Tapi kabar mengenaimu delapan tahun lalu
bukannya aku tidak tahu."
Thian Sie Su Sing ikut merah mukanya. Memang delapan tahun lalu Hu Yong Giok
Tiap hampir saja membubuarkan perkumpulannya lantaran akan menikah dengan Thian
Sie Su Sing. Mana tahu suatu ketika datang pula seorang dari Ko Le Kok(korea
sekarang), mengabarkan kematian istri si jenggot panjang. Sebenarnya Soat Bwee
yang umurnya hampir empat puluh tiada alangan lagi, hanya saja ia pernah
bersumpah takkan menikah dengan orang yang pernah punya istri maka hubungannya
dengan Tian Sie Su Sing dijadikan hubungan persahabatan saja.
Mengenai hal ini juga hanya segelintir orang saja yang tahu. Entah darimana si
Bocah sehe Lie mengetahui yang jelas Hu Yong Giok Tiap semakin kesal, belum lagi
ia kuatir kabar tersebut menyebar, maka ingin ia lekas membungkam mulut si nona.
"Bocah she Lie, jaga mulutmu. Rupanya hari ini terpaksa kumemberi pelajaran
padamu!" "Ai, kebetulan sudah lama aku ingin mengajar mulut lancang, kalau
begitu hari ini ada yang dapat pelajaran baik." si nona menyambuti sembari
menyindir pula.
Tanpa buang waktu Hu Yong Giok Tiap segera maju memapaki si nona.
"Nanti du...." Wang Li Hai yang hendak mengalangi terpaksa bungkam oleh tepukan
seseorang dipundaknya.
"Wang kongcu, urusan orang berdua tak baik ikut campur." kata Tian Sie Su Sing
sembari menariknya kepinggir.
Wang Li Hai tak dapat berbuat apa-apa. Ketika pundaknya ditepuk, buat sejenak
jalan darahnya terhenti, tapi kemudian ia digiring ke pinggir dan ototnya boleh
leluasa lagi, akan tetapi Tian Sie Su Sing memegangi tangannya dengan erat
sehingga ia juga sulit bertindak.
Para pendekar itu tiada yang melerai pertempuran. Diam diam mereka malah
bersyukur sempat menyaksikan pertempuran dua ahli pedang. Memang saat itu ChingChing
Ching 447
ching telah melolos sabuk pedangnya guna menghadapi Hu Yong Giok Tiap. Kali ini
ia menggunakan semua ilmu ajaran Li Wei Ming yang digabung dengan kemampuannya
sendiri buat melawan.
Tengah seru-serunya pertarungan kedua wanita itu, mendadak satu pusaran angin
menderu dan mendarat tepat ditengah keduanya, menghalangi jalannya pertempuran.
Yang menonton berseru kaget. Betapa tidak, yang datang itu ialah Chang Houw
adanya!
Begitu melihat siapa yang datang, justeru semakin bertambah kegusaran dua wanita
yang tengah berlaga.
"Mau apa kau ikut campur?" demikian Ching-ching berseru.
Pada saat bersamaan Hu Yong Giok Tiap turut berteriak pula,
"Kebetulan kau datang, sekalian ku dapat membunuh anak siluman!"
Serempak, tanpa sepakat, tanpa komando, bersamaan baik Ching-ching dan Yao Soat
Bwee sama menyerang si pemuda she Chang.
Tanpa membantah, tanpa berkomentar, Chang Lun meladeni saja kedua harimau betina
yang ngamuk bersamaan.
Kedua pendekar wanita itu melupakan permusuhan masing-masing. Kini keduanya
menghadapi Chang Houw dengan sungguh sungguh. Jurus yang tadi dipakai saling
berlawanan, kini malah dikombinasikan dengan serasi. Satu menyerang, yang lain
melindungi. Demikianlah sifatnya jiwa pendekar. Begitu menghadapi musuh bersama,
pertentangan sendiri boleh dilupakan sementara.
Namun Chang Houw juga seperti yang tak hendak berlama-lama. Kalau mau, ia dapat
memukul mundur kedua penyerangnya sekali gebrak. Waktu yang diberikan juga hanya
agar keduanya tidak kehilangan muka. Pada saat yang tepat, ketika Ching- ching
dan Yao Soat Bwee sama-sama mengubah jurus, sebenarnya adalah peluang buat
memukul sekalijadi. Tapi Chang Houw malah mundur sampai dua tombak dan lekas
menjura.
"Maafkan kedatanganku mengganggu, akan tetapi kedatanganku adalah untuk
menyelesaikan urusan dengan Lie Kouwnio. Hari ini sebenarnya aku khusus datang
untuk meminta maaf atas kelancangan mulut adikku tempo hari."
Selagi orang bicara tanpa siaga, tentunya tidak boleh diserang begitu saja.
Jadinya baik Ching-ching maupun Yao Soat Bwee hanya berdiam diri dengan sikap
kuda-kuda untuk menyerang.
"Urusan itu tak dapat dihapuskan begitu saja!" seru Ching-ching. "Lagipula apa
hakmu mewakili adikmu?"
Chang Lun tidak menyahut. Ia berbalik menghadapi orang banyak yang sudah
bersiaga lagi dengan senjatanya.
"Apabila kalian ingin mencari markas Kim Gin Siang Coa, silahkan datang ke Tok
Ti (telaga beracun). Sebab didaerah itulah kediaman kami."
Mendengar perkataan si pemuda, kontan semua orang terbengong bengong.
"Jangan percayai ular kecil ini. Bocah, lihat senjata!" dari belakang Chang
Houw, Yao Swat Bwee menyerang pula. Meskipun tindakannya dari belakang, akan
tetapi ia sudah memberi peringatan dan dapat dibilang menyerang terang-terangan
dan tidak terhitung tindakan memaluukan kalangan pendekar.
Meskipun tidak siap, ternyata Chang Houw dapat bertindak lekas menangkis, meski
tak urung dadanya tergores senjata, tapi tak sampai tembus. Sembari menangkis,
tangannya bergerak hendak memukul. Seperti terarah pada Hu Yong Giok Tiap, akan
tetapi matanya mengarah si nona she Lie.
Dalam keadaan bahaya buat Yao Soat Bwee, tiada mungkin Ching-ching berdiam diri.
Sinona maju dengan lekas, menangkis pukulan Chang Houw dengan pedangnya. Pedang
Ching Ching 448
itu membuat pukulan melenceng, bersamaan lengan baju si pemuda she Chang
semburat merah. Tak sampai sepuluh hitungan ia sudah kena dilukai dua kali!
Mendadak si pemuda melancarkan serangan kilat ke dua arah. Ching-ching dan Hu
Yong Giok Tiap sama menarik senjata melindungi diri. Mana tahu serangan tresebut
hanya tipuan, ketikanya digunakan Chang Houw mengundurkan diri.
"Urusanku telah selesai. Semoga apa yang kuberitahukan boleh menebus kesalahan.
Selamat tinggal." Dalam sekejapan saja orangnya sudah tak kelihatan.
Kejadian yang sebentar itu telah memukau orang banyak. Bahkan kedua wanita yang
bertempur itu masih juga terpaku ditempatnya. Sampai kemudian tian Sie Su Sing
maju menjura.
"Keperkasaan dua pendekar wanita patut dipuji. Siapapun tahu pemuda she Chang
itu berilmu tinggi, tapi kiranya masih dapat dilukai pedangmu."
Pujian Tian Sie Su Sing disambut sanjungan dariyang lain.
Dengan bergaya Hu Yong Giok Tiap Yao Soat Bwee menghapus titik darah dipedangnya
menggunakan saputangan sutera.
"Hari ini hanya beberapa tetes saja, kali lain akan kumandikan pedangku dengan
darah bocah siluman itu!"
Cring! Ching-ching menyarungkan pedangnya dengan berbunyi. Pujian kesemua orang
itu sama sekali tidak membuatnya bangga. Ia tahu, Chang Houw sengaja mengalah.
Dan ia tidak suka mendapat kemenangan hasil diberi.
Yao Soat Bwee mendekati si nona.
"Lie Kouwnio, aku telah salah menuduhmu bersekongkol dengan musuh. Harap engkau
mau memaafkan."
"Ah, seandainya aku ditempatmu, aku juga akan berbuat sama." kata Ching- ching
singkat. Kemudian pandangannya menyapu semua orang.
"Kalian sudah tahu tempatnya Kim Gin Siang Coa Pang sekarang. Lantas apa yang
akan kalian lakukan?"
"Aku akan segera pulang, melatih tiap orang kemudian menyerbu kesana."
"Aku juga demikian."
"Demikian juga denganku." Masing-masing menjawab tak mau kalah.
"Kapan?" tanya Ching-ching."Berapa lama untuk siap?"
Semua terdiam. Ya, berapa lama untuk siap menghadapi Kim Gin Siang Coa
sendirian?
"Sekarang aku mengerti." seru Hu Yong Giok Tiap. Ia menepuk pundak Ching- ching.
Setelah bertempur besama-sama tadi pandangannya terhadap si nona she Lie berubah
sama sekali. "Aku mengerti mengapa Lie Siaw Lihiap menunda dulu seratus hari
cuma untuk memberitahukan tempatnya Kim-gin siang coa. Rupanya ia berniat
mengumpulkan kita, untuk kemudian bersama-sama menentukan waktu untuk menyerbu
berbarengan. Dengan demikian kita menjadi lebih kuat. Betul bukan?"
"Li-Hiap memang pandai benar meraba maksud orang." Ching-ching menanjung.
Sekedar untuk basa-basi.
"Ah, aku yang bodoh. Sekian lama baru mengerti. Malah perlu sampai berkelahi
segala."
"Justeru diriku yang tidak becus. Kalau saja mengemukakan maksud secara
berterang, kiranya takkan terjadi salah paham." balas Ching-ching merendah.
"Diriku memang tidak pandai mengemukakan maksud. Harap Cianpwee suka
menerangkannya pada yang lain."
Hu Yong Giok Tiap menjadi semakin suka pada si nona. Apalagi setelah disanjung
sedemikian rupa. Ia mengajak yang lain berembuk mencari waktu yang tepat ia
mendekat lagi pada Ching-ching.
Ching Ching 449
Perembukan itu tentu saja tak dapat dilakukan di tempat terbuka, kuatir ada yang
mengintip atau mencuri dengar. Karenanya Ching-ching mengajak kesemua ke gedung
ujian, dimana dibagian luarnya terdapat ruangan cukup untuk mengumpulkan tiap
wakil perkumpulan. Saat membicarakan itu Pek San Bu Koan diwakili Miaw Chun
kian. Ching-ching sendiri memilih menunggu diluar.
"Ching-ching!" satu suara memanggil dengan gemetar.
Ching-ching menoleh. Tertampaklah Wang Li Hai memandangnya penuh arti. Ada
rindu, ada senang, haru, entah apa lagi. Hati Ching-ching juga bergetar. Kini
dihadapannya berdiri orang yang pernah amat ia rindukan.
"Wang tay-hiap, apa kabar?" kata Ching-ching menahan perasaan.
"Ching-ching. Apa-apaan?" Wang Li Hai maju mendekati.
Ching-ching undur setindak.
"Ai, aku lupa memberikan selamat. Kionghi!"
"Untuk apa?" Li Hai kebingungan.
"Bukannya kau sudah jadi suami orang sekarang?"
Merah mukanya Wang Li Hai.
"Aku.... aku memang bertunangan dengannya. Tapi itu lantaran tempohari kau
dikabarkan telah....telah....."
"Mati!" kata Ching-ching dingin.
"Tapi aku ....aku belum menikah. Sumpah. Jadi ikatan itu masih.....Tapi kalau
kau marag padaku, aku juga tak bisa menyalahkanmu."
"Kenapa pula aku mesti marah padamu?"
"Karena....karena perhubunganku dengan Lan Fung."
"Aku tiada berurusan dengan hal itu."
"Tapi....tapi kita adalah......."
Ching-ching menunggu ucapan Li Hai selanjutnya. Tapi kalimat itu tak kunjung
selesai. Gadis itu menghela napas dan kembali diam.
"Waktu itu kusangka kau sudah meninggal. Maka aku... aku berani bertunanggan
dangan....."
"Ooooo," Ching-ching mencibir sinis." Jadi kalau aku belum mati kau takkan
berani berhubungan dengan Lan Fung, begitu? Apa kau pikir aku akan membunuhmu
atau membunuhnya kalau masih hidup? Kau anggap aku apa? Ibumukah, sampai kau
tunggu aku mati baru berani melamar orang ?"
"Ching-ching, maksudku bukannya... Kalau kau inginkan, selamanya aku takkan
berhubungan dengan Lan Fung atau siapapun asalkan kau tidak benci lagi padaku."
Plak! mendadak Li Hai merasakan pipinya pedas. Si Ching-ching menatapnya dengan
pandangan menyala.
"Wang Li Hai, kau ini terhitung laki-laki macam apa? Kalau kau bertunangan
dengan Lan Fung atau siapapun adalah keputusanmu sendiri, kau mau putuskan
hubungan juga bagaimana keinginanmu saja. Siapapun tak boleh memaksamu. Itu baru
tindakan lali-laki sejati!" dengan gusar Ching-ching meninggalkan pemuda itu.
Wang Li Hai diam menunduk. Dalam hatinya memikirkan kata-kata Ching-ching.
Apakah sebenarnya yang dia inginkan? Benarkah perhubungannya dengan Thio Lan
Fung adalah keinginannya sendiri? Lalu perhubungannya dnegan Ching-ching?
Si Nona setelah meninggalkan Li Hai malahan mendekati Chia Wu Fei, abang
seperguruannya. Tanpa berkata apa-apa Ching-ching duduk saja disebelahnya.
"Tampangmu jelek sekali kalau sedang cemberut begitu."
Ching-ching diam saja, malahan menyembunyikan muka diantara kedua lututnya.
"Aku lihat kelakuanmu pada Li Hai. Sungguh tidak pantas."
Ching-ching meradang lagi. "Bukan urusanmu!"
Ching Ching 450
"Kalau saja kau melihat betapa ia merana setelah kematianmu. Bahkan sampai hari
ini juga ia masih memikirkanmu."
"Sok tahu!"
"Kamu yang sok tahu. Kamu tidak lihat betapa dia gembira mendengar kepulanganmu?
Semenjak tiga bulan yang lalu itupun ia sudah menunggu di kaki gunung, menunggu
bertemu denganmu."
"Darimana kau tahu?"
"Su-siokku, kong-kongmu itu yang memberitahukan."
"Tapi kalau dia memang sudah menunggu lama, kenapa tiidak lekas menemui aku?"
"Ada hubungannya dengan Suci. Setelah peristiwa itu boleh dibilang hubungan
murid Pek San Bu Koan dengannya menjadi renggang. Tentu saja ia sungkan naik ke
gunung mencarimu."
"Dia sudah tunangan dengan Lan Fung, memang sepantasnya sungkan mencari gadis
lain."
"Sekarang aku tega menyebutmu gadis tolol!" Wu Fei menuding hidung Ching- ching.
"Apa tidak kau perhatikan dengan siapa Thio Lan Fung datang kemari?"
"Dengan ayahnya. Apa yang patut diherankan?"
"Dan dia tidak menyapa Li Hai sama sekali? Apa itu kelakuan orang yang sudah
bertunangan?"
Ching-ching baru menyadari hal itu.
"Aku....aku tidak memperhatikan."
"Itu lantaran kau sibuk dengaan marahmu. Sibuk menuding Li Hai tidak setia.
Sekarang kau sudah tampar dia melampiaskan kekesalanmu. Apa kau sudah puas?" Wu
Fei menjengek. "Tapi ada apa antara Lan Fung dan dia?"
"Begitu mendengar kau belum mati, saat itu juga dia putuskan pertunangan dengan
Lan Fung."
Ching-ching terperanjat. Buat sejenak ia hanya mendelong saja mengawasi Wu Fei.
Pemuda itu tertawa. "Mukamu lucu kalau sedang begitu, ha,ha,ha!"
"Su-heng, darimana kau tahu segalanya itu?"
"Aku punya kuping, punya mata, punya kaki, dan kau masih tanya bagaimana
kutahu?"
"Tapi.....oh, rupanya Wang Li Hai itu yang menceritakan padamu, ya?"
Wu Fei tertawa saja sambil gelengkan kepala.
"Ching-ching, Toa Su-heng memanggilmu kedalam!" Dari jauh terdengar seruan Yuk
Lau.
Si Nona sempatkan diri menjitak kepala abang seperguruannya sebelum pergi. Wu
Fei masih tertawa saja. Tapi begitu si nona jauh, tawanya lenyap.
"Siaw Su Moy, sebabnya aku tahu segala sesuatu adalah karena aku merasakan apa
yang dia rasakan padamu!" ia bergumam.
Begitu masuk ruangan dimana para pendekar berkumpul, Ching-ching segera dapat
merasakan semangat berkobar dari tiap orang. Gadis itu sampai merinding sendiri
sewaktu berjalan mendekati kakak seperguruannya.
"Toa-Suheng, ada urusan apa memanggil?"
"Sumoy, dari antara semua yang ada disini hanya kau sendiri yang pernah masuk ke
sarangnya Kim Gin Siang Coa. Demikian untuk mengatur strategi kiranya perlu
mendengar pendapatmu."
"Dalam hal ini boleh kita lupakan dulu kedudukan masing-masing," Tian Sie Su
Sing menyambung. "Semua berkedudukan sama, maka Kouwnio tidak usah sungkan
berpendapat."
"Kalau boleh lebih dulu boanpwee tahu, kapan kiranya penyerangan akan
Ching Ching 451
dilakukan?"
"Kalau bisa secepatnya. Barangkali tiga bulan dari sekarang. Lantaran kita
bersama-sama kiranya tidak butuh waktu terlalu lama untuk melatih diri."
"Memangnya tepat. Lalu dimana kita berkumpul lebih dulu?"
"Barangkali langsung di Tok-Ti?"
"Tempat itu tidak baik dipakai berkumpul. Kita tahu Tok Ti bukan benar- benar
telaga tapi danau yang mengering sehingga kini tanahnya lebih menyerupai mangkok
terhadap sekelilingnya. Menurut strategi perang tanah yang demikian tidak
menguntungkan." "Lalu bagaimana menurut pendapat Kouwnio sendiri?"
"Mengenai daerah pertempuran ini adalah wilayahnya musuh, tentu mereka lebih
mengetahui daripada kita. Ada baiknya kirim orang lebih dulu untuk menyelidiki."
"Orangnya yang tepat adalah aku." Seorang berumur awal empatpuluh maju kedepan.
"Bukannya berniat sombong, tapi mata si Tiaw Gan Kwie (Setan mata elang) Sim
Ceng Ho boleh diandalkan. Kalau tidak percaya boleh ditanyakan kepada Ban Nan
Siaw Mo Li."
Ching-ching terkejut. Ban Nan Siaw Mo Li (iblis cilik selaksa tahun) adalah nama
yang pernah dipakainya beberapa tahun lalu. Dan nama Tiaw Gan Kwie juga tidak
asing buatnya (baca buku __)
"Aku tidak punya kelompok, setiap saat selalu sendirian, maka kedatanganku
kesana nanti boleh juga tidak diketahui siapapun. Bukankah begitu nona Lie?"
tanyanya meminta persetujuan Ching-ching.
"Memang orangnya semacam Tiaw Gan Kwie dapat diandalkan. Kebetulan mengajukan
diri maka sungguh keberuntungan." puji Ching-ching. "Selanjutnya kita harus
menyusun kekuatan tanpa ketahuan musuh. Tiga malam perjalanan dari Tok Ti adalah
Pat Kwa Lim yang ditengahnya terdapat Pat Kwa Kiong (istana delapan segi) tempat
ini amat baik buat pertahanan dan menimbun bekal. Untuk strategi lebih lanjut
tempat itu dapat dipergunakan. Karenanya barang siapa merasa sudah siap boleh
segera bergabung disana."
"Namun untuk masuk kedalam kita harus melewati Pat Kwa Lim yang banyak
jebakannya, apa tidak berbahaya?"
"Aku sudah tahu jalan masuk kesana. Nanti dapatlah kuberi petunjuk jalan
masuknya."
"Jadi soal itu beres. Apa ada yang lain?"
Tiada seorang yang menambahkan pendapat. Pertemuan para Enghiong(orang gagah)
diakhiri sampai disitu.
Fajar telah menyingsing. Kebanyakan dari para pendekar tiada yang ingin membuang
waktu. Semuanya bersemangat melatih diri menghadapi Kim Gin Siang Coa Pang.
Kesemuanya ingin segera pulang. Oleh karenanya sebelum mentari tinggi Gunung
Putih telah sepi. Kecuali anak murid Pek San Bu Koan sendiri, tinggal beberapa
orang saja yang masih. Diantaranya adalah Wang Li Hai, Thio ayah- beranak, Tiaw
Gan Kwie, Tian Sie Su Sing dan Hu Yong Giok Tiap.
Tian Sie Su Sing berpamit setelah sempat berbincang dengan Yuk Toahu, tak berapa
lama kemudian Hu Yong Giok Tiap turut minta diri.
"Maafkan kami tak dapat melayani dengan baik." Kata Miaw Chun Kian sewaktu
mengantar. "Tidak apa. Kedatangan kami toh bukan untuk berpesta pora. Lagian
pertemuan kemarin malam itu cukup memuaskan hatiku melebihi segala pelayanan
yang terbaik. Nah, aku takkan berdiam diri lebih lama lagi."
"Mari kuantar turun gunung." Miaw Chun Kian menawarkan diri.
"Te-hiap (adik pendekar) tentunya masih banyak urusan lain. Tak usah terlalu
sungkan. Kalau tidak keberatan biarlah Lie siaw-lihiap saja yang mengantar."
Ching Ching 452
wanita itu menoleh kearah Ching-ching yang sedang mengobrol dengan Yuk Lau.
"Siaw Su-moy, antar tamu pulang!" perintah Chun Kian.
Ching-ching tidak membantah. Tampaknya girang saja disuruh mengantar Hu Yong
Giok Tiap.
Beberapa waktu mereka tiada bercakap cakap. Tapi kemudian Yao Soat Bwee lebih
dulu membuka suara.
"Lie Lihiap, persoalan kemarin itu apakah masih mengganjal dihatimu?" tanyanya.
"Persoalan apa?"
"Bahwa aku lancang berkata yang tidak-tidak mengenaimu."
"Oh, hal itu tidak kupikirkan lagi. Sebaliknya apakah perkataanku ada yang
merisaukan Cianpwee?" Ching-ching sudah meraba maksud tujuan orang.
"Sebenarnya aku tiada mendendam, pertengkaran mulut biasa terjadi. Akan tetapi
perkataanmu mengenai delapan tahun lalu itu maksudnya apa?"
"Ah, itu sebenarnya bukan urusanku. Harap jangan merisaukan."
"Akan tetapi...."
"Angaplah memang kumengetahui sesuatu, tapi itu tidak penting dibicarakan dengan
orang lain. Jadi anggap saja aku tidak tahu apa-apa. Dan kalau aku tidak tahu,
orang lain juga takkan mendapat tahu dariku." kata Ching-ching.
Hu Yong Giok Tiap mengerti maksud orang. Dengan berkata begitu berarti
Ching-ching tak nanti menyebarkan berita tersebut kepada orang lain.
"Aku tak tahu harus bilang apa menyatakan terimakasih. Kuharap saja satu saat
nanti dapaat juga kubalas budimu."
"Ai, budi apa pula. Asal Hu Yong Giok Tiap mau anggap Pek San Bu Koan sebagai
sahabat itu saja aku sudah senang. Maafkan Boanpwee tak dapat mengantar lebih
jauh lagi. Silahkan."
"Kalau begitu selamat tinggal."
"Selamat jalan."
Hu Yong Giok Tiap Yao Soat Bwee berjalan bergegas menuruni gunung. Sebentaran
saja kelihatan sudah jauh. Setelah itu Ching-ching baru berseru,
"Kawan yang diatass pohon, silahkan turun menampakkan diri!" "Pendengaranmu
sngguh baik, nana Lie." Orang diatas pohon itu melayang turun."Kuharap ingatanmu
juga masih bagus."
"Ah, Sim Tay-hiap rupanya. Sengaja menemuiku, ada urusan apakah ?"
"Sekedar menemui kawan lama."
"Sebelum hari kemarin itu rasanya kita belum pernah berjumpa meskipun aku sudah
lama mendengar namamu yang besar." Ching-ching mengelak.
"Aku tidak percaya!" kata orang itu."Mulutmu boleh bilang tidak kenal, tapi
matammu mengatakan lain. Bukan begitu Ban Nan Siaw Mo Li (Iblis cantik selaksa
tahun)?"
"Namaku Lie Mei Ching, tanpa gelaran. Kenapa dipanggil Ban Nan Siaw Mo Li?
"Kau tidak usah pura-pura lagi. Aku tahu Ban Nan Siaw Mo Li dengan Lie Mei Ching
adalah satu orang adanya. Nah, sekarang apa kau ingat namaku tidak?"
"Tiaw Gan Kwie (Setan mata elang) Sim Ceng Ho, sampai sekarang sudah adakah
orang yang dapat menipumu?" Ching-ching memamerkan senyum, tidak berlagak bodoh
lagi.
"Siaw Mo Li (iblis cantik), sekarang kau nampak lebih dewasa. Sayang tidak
segembira dahulu."
"Siapa bilang? Aku masih suka bersenang senang." bantah Ching-ching.
"Ah, kau mau coba menipuku lagi. Percuma, aku sudah dengar semua kabar
mengenaimu. Dan pemuda she Wang itu adalah salah satu penyebabnya."
Ching Ching 453
"Tiaw Gan Kwie, kau terlalu sok tahu."
"Aku memang tahu. Dan aku juga tahu Si Dia mu itu juga membuntuti sejak tadi.
Kiranya ada yang ingin ia bicarakan padamu. Yah, kalau begitu aku tidak mau
mengalangi. Sampai ketemu saja di Pat Kwa Lim nanti Ban Nan Siaw Mo Li!" Si
setan bermata Elang itu terkekeh dan pergi. Dari kejauhan ia berseru lagi," Aku
ingin berbincang banyak denganmu. Kuharap saat bertemu nanti kau berkenan
mengundangku makan enak, nona she Lie!"
Ching-ching melambaikan tangan tanpa menyaahut. Ia membalik badan akan segera
kembali kepada saudara-saudaranya. Tapi demi melihat Wang Li Hai mendekat dari
kejauhan, sengaja ia menghentikan langkah, menunggu. Ingin tahu apa yang mau
dikatakan si pemuda.
Melihat Ching-ching menanti, Wang Li Hai semakin bergegas. Tetapi ketika sampai
dihadapan si Nona, mendadak lidahnya kelu.
"If you want to say something, then say it. I don't have much time," Ching-ching
said. Tapi nada bicaranya tidak sedingin semalam.
"Ching-ching, actually Lan Fung and I already¼"
"I know," potong Ching-ching.
"I've thought things over last night. You're right. I've been indecisive. I've
also talked about this with Lan Fung. So I think it'd be best if the three of us
stay as friends for now. No more, no less. I'll use the time to improve myself."
Ching-ching tersenyum. "Now that's the Siauw Kui I know. Okay, we're still
friends. Where are you heading to now?"
"I'm going to Pat-kwa-lim."
"I'm heading there, too. We can go together. I'll say goodbye to my brothers
first."
"Well, there's still a grudge between us. I think I'll wait at the foot of the
mountain."
"I'll meet you there tomorrow at noon."
"I'll be waiting." Siaw Kui alias Wang Li Haipun segera melesat pergi.
Ching-ching melanjutkan perjalanannya. Tak jauh dari gedung ujian bertemu pula
ia dengan orang she Thio serombongan. Tak sengaja matanya bentrok dengan
pandangan Thio Lan Fung. Ah, wajah si Nona she Thio tidak semendung kemarin.
Agaknya ia memang sempat berbincang dengan Wang Li Hai, dan harapannya berkobar
lagi. Bagus!
"Thio-tayhiap, Thio-kouwnio, I see that you're ready to go home. Let me see you
off," Ching-ching sengaja menyapa duluan.
"No need," sahut Thio Chin Wu sedikit ketus. "We can find our own way."
Ching-ching tidak ambil pusing dengan perlakuan orang tua itu. Ia mengerti, Thio
Chin Wu tentu kesal karena pertunangan anaknya batal lantaran dia, Lie Mei
Ching.
"Then can I talk with Miss Thio for a moment?"
"Thia, you go ahead, I'll catch up." Thio Lan Fung meninggalkan ayahnya sebelum
dapat berbicara apa-apa. Ia dan Ching-ching kemudian berjalan menjauh.
"What is it?" tanya si nona she Thio.
"I know about you and Hai-ko. Honestly, I'm happy to see your engagement got
cancelled. But I don't want to be called homebreaker. Hai-ko's going to
Pat-kwa-lim. If you like, meet him at the foot of the mountain, and ask if you
could go with him."
"I'd like that. Okay, Lie Mei Ching. I guess we'll rivals once again."
Ching-ching ikut tersenyum. Haya saat itu. Saat yang hanya sekejapan. Saat
Ching Ching 454
mereka masing-masing bertekad untuk bersaing, justeru tiada rasa permusuhan.
Namun begitu keduanya sama membalik badan menuju jalan masing-masing, ketika itu
juga mereka sama mengatur rencana menjatuhkan yang lain.
Menemui saudara-saudaranya seperguruan, ternyata mereka sedang berbincang
bincang dengan In Sioe Ing. Begitu Ching-ching datang, ia pun segera
meninggalkan yang lain.
"Siaw Su-moy," panggilnya seraya menghambur. Sebentar mereka berpelukan.
"Soe-moay, I haven't heard your story. How did you escape from the two devils?"
"I haven't heard yours myself."
"You tell yours first."
Maka Ching-ching menceritakan pengalamannya secara singkat. Tentu saja menjadi
lebih singkat lantaran ia membuang bagian dimana sempat berkawan dengan Chang
Houw. Soal itu biarlah ia simpan sendiri.
"Now, Suci, your turn."
"Well, you know what led me to leave the school. After that, I wandered on the
road, drinking whenever I could get my hands on a bottle of liquor. That went on
for three months. Only liquor and liquor that went into my stomach. There was
some food, but not enough to support my health. One time, I was dead drunk not
far from a convent. Someone from there found me and brought me there and took
care of me. I was there for almost a month.
"While I was there, I felt a sense of peacefulness. Suddenly my heart was at
peace, and my mind was clear. So I decided to cut my hair¼"
"Suci! How can you¼Have you become a nun?"
"Not yet," Sioe Ing said. "After accomplishing the assignment Teacher gave me,
I'll cut my hair immediately."
"Soe-tjie, you don't have to cut your hair. Whatever problem you have with Thio
and Wang, does it have to draw so big a sacrifice?"
"No, this has nothing to do with that issue. This is what I want for myself."
"But there must be something that causes it?"
"I just want some peace in my life. If I can get that by purifying myself, then
that I will do."
"But¼but you came¼"
"Destroying evil is every man's duty." Sioe Ing smiled.
"Soe-tjie, tell me honestly. Do you really want to enter a convent? Have you
really cut off any feelings in your heart? I mean toward Hai-ko¼"
"Participating in destroying the Snake Clan is the last time I'll involve myself
with the outside world," Sioe Ing said. "Brother said, we'll go to Pat-kwa-lim
together tomorrow. Have you packed yet? Let me help."
"Soe-tjie, you know, I feel like I'm talking to someone else? Not my sister, In
Sioe Ing."
"Everybody changes. And I will be a different person. My name will be Han-sim
(Cold Heart). I will colden my heart toward the outside world. I hope Soe-moay
can remember this name later on."
"I won't forget," Ching-ching replied curtly.
***
Hari yang dinanti telah tiba. Ketegangan semenjak beberapa hari lalu telah
mencapai puncaknya. Hari ini akan terjadi pertarungan besar besaran antara dua
golongan utama. Dua golongan yang saling bermusuhan semenjak lama. Antara yang
jahat dengan yang baik. Siapa kiranya yang akan menang ?
Yang paling tegang dari semua adalah Ching-ching sendiri. Ia berdiri di pihak
Ching Ching 455
golongan putih, namun ia juga memberi peringatan sebelumnya kepada musuh mereka.
Apakah tindakannya itu benar ? Apa yang nanti bakal terjadi ? Dan kemana
sebenarnya hatinya memihak ? Siapa yang ia harapkan memenangkan pertempuran ini?
Ching-ching tak bisa menjawab semua pertanyaan itu. Ia siap mengorbankan jiwanya
hari ini untuk membasmi Kim Gin Siang Coa Pang, namun ia masih mengharapkan
kemenangan pihak lawan. Kenapa ? Entah. Barangkali lantaran ia mengharap sesuatu
dahsyat, yang lain dari kejadian biasa. Inilah waktunya.
Begitu fajar tiba, terdengar gemuruh derap kaki manusia menyerbu ke arah
selatan, ke arah markas Sepasang siluman ular. Tiap golongan membawa panji
masing masing, namun semua sama memakai baju berwarna putih. Yang ditunjuk untuk
memimpin, termasuk juga Miaw Chun Kian bergerak di depan, seolah panglima di
medan perang.
Namun baru beberapa li mereka bergerak, dari depan terdengar teriakan balasan,
disusul debu beterbangan dan dalam selang waktu sebentar, tahu tahu semuanya
telah terlibat pertempuran. Anak buah Kim Gin Siang Coa memakai seragam mereka
yang berwarna hitam, melawan barisan berpakaian putih. Golongan hitam, dan
golongan putih.
Dalam sekejap tercium bau amis darah memenuhi udara. Korban mulai berjatuhan.
Yang paling menyedihkan adalah bahwa kali itu anak buah Kim Gin Siang Coa tidak
seorangpun memakai kedok. Akibatnya mereka dari golongan putih banyak terkejut,
tak jarang justru anggota keluarga, kenalan, atau malah sahabat sendiri ternyata
dipihak musuh. Mereka benar benar tidak menyangka, lain dengan anak buah Kim Gin
Siang Coa sendiri yang sudah tahu siapa kawan dan siapa lawan. Ini jelas
kerugian di pihak Miaw Chun Kian dan kawan kawan. Malahan disana sini bukan
terjadi perkelahian malah saling berbantahan buat menarik lawan masuk golongan
sendiri.
Di sebelah sana Miaw Chun Kian melawan beberapa orang anak buah sekaligus. Meski
ilmunya maju pesat, namun lawan-lawannya juga bukan kaum keroco sehingga ia
meski berada diatas angin, tak dapat buru buru menyingkirkan kesemua lawan.
Hanya satu persatu roboh ke tanah.
Di lain tempat Chang Lun yang menghadapi keroyokan. Ia berkelebat kesana kemari
dengan kipas bertulang emas yang menjadi andalannya. Pemuda itu tak sedikitpun
ragu menurunkan tangan jahat. Empat-lima orang yang tersabet kipasnya segera
roboh tak berkutik lagi. Namun begitu roboh satu, datang lagi beberapa seolah
tak habisnya.
Ching-ching begitu tahu musuh memapaki sedemikian cepat malah menjadi heran.
Memang ia yang datang memberitahukan kepada Chang Houw, namun itu baru baru dua
malam lewat. Bagaimana mungkin mereka bisa begitu siap, bahkan lebih jauh dari
perkiraannya. Dan bagaimana pula Chang Houw dapat mengumpulkan semua golongan
dipihaknya begitu cepat semacam Sin Liong Pay (partai naga sakti),
Bwee-bun-teecu (anak murid keluarga Ban) dan Thian Lian Kauw (partai agama
teratai langit). Namun Ching-ching tak punya banyak waktu memusingkan hal itu.
Begitu maju ke medan tempur, segera matanya melihat sosok berbaju biru dan
kuning diantara lawan yang hitam seragam. Segera berkobar dendamnya. Itulah si
Pandita Agung dari sekte Thian Lian. Pendeta yaang menyebabkan dia terkurung
berbulan bulan di sarang siluman ular. Hari ini urusan antara mereka harus
dibayar lunas.
Begitu tahu sasarannya, Ching-ching segera bergerak mendekati si pendeta. Lain
orang tak digubris sama sekali. Disenggol saja tidak. Mereka hanya merasakan
kesiuran angin waktu si nona lewat. Tahu tahu saja Ching-ching sudah berada di
Ching Ching 456
dekat pendeta asing yang sedang bertempur dengan salah satu pendekar.
"Chiu Tay-hiap, there's some unfinished business between me and Baldie here. I
hope you'll trust me to get rid of this stinking priest," kata Ching- ching
minta permisi.
Chiu Hong, yang dipanggil Chiu Tay-hiap itu sudah tahu kemampuan si nona.
Meskipun kemampuan sendiri ditaksir tidak berada di sebelah bawahan si pendeta,
ia senang juga mengalah.
"Since Miss Lie has personal problem with him, I'll hand him over to you!"
serunya seraya menjauh. Kini Ching-ching berhadapan dengan sang Pandita agung.
Ia mesem sinis.
"Orang jelek, hari ini urusan kita mesti dibikin beres. Sayang aku tak tahu
namamu, nanti tak bisa kubikin kuburan buatmu !"
"Ay, putrinya Sat-Kauw-Sian-Li ternyata cupat pengetahuan. Tapi kasihanku pada
anak kecil, biarlah kuberitahu namaku Congorpa gelaranku yang agung adalah
....... ah percuma. Kau takkan dapat menyebutkannya. Asal kau panggil Pandita
Agung cukuplah."
"Cih, siapa sudi mengangungkanmu segala. Cukup kupanggil si gundul, dikuburmu
juga kutulis Si Gundul saja." berkata si nona.
"Dari tadi kau sebut gundul, gundul, lihat sebentar kugunduli kepalamu." sahut
Congorpa yang kesal diperolok. Rupanya ia yang terbiasa disanjung, begitu
mendengar sedikit olokan terus lantas merah kupingnya. Bersamaan dengan
perkataannya bergegas pula ia memukul ke depan.
Ching-ching merasakan hawa panas pukulan, lekas ia miringkan badan sehingga hawa
pukulan itu lewat tanpa kenai sasaran. Namun demikian Ching-ching masih dapat
rasai getarannya yang luar biasa. Apabila ia tidak berkelit rambutnya pastilah
juga banyak yang rontok lantaran tenaga panas yang dikeluarkan Congorpa.
Nona ini tidak berayal lagi. Ia pun segera lancarkan serangan dahsyat ke arah si
pendeta Tibet. Akan tetapi Congorpa bukan anak kemarin sore, sekali mengebas
dengan lengan bajunya ia sudah dapatlah membuyarkan serangan Ching- ching.
"Bagus!" memuji si Nona, "Coba yang ini!" Serempak ia menyerang lagi.
Congorpa mengegos dengan gesit. Begitu terhindar dari bahaya, balas ia
menghantam.
Seperti juga Ching-ching, begitu datang Yuk Lau lantas mencari satu orang. Ia
ada mempunyai dendam sedalam lautan yang harus dibalaskannya hari ini juga.
Orang yang ditujunya tengah menghajar satu pendekar dengan sebelah tangannya
yang berwarna kehitaman. Yuk Lau segera mempercepat larinya, namun beberapa
keroco tingkat rendah pihak lawan mengadang jalannya. Dengan terburu-buru murid
ketiga Pek San Bu Koan itu menyingkirkan mereka. Sayangnya, ketika tiba ditempat
yang dituju ia datang terlambat. Pendekar tersebut telah mati dengan badannya
matang biru keracunan.
"Toat Beng Kim Ciang, hari ini aku datang menuntut balas kematian toa-ko!" seru
Yuk Lau seraya menyerang dengan pedang.
Orang yang disebut Toat Beng Kim Ciang itu mengegosi serangan orang dengan
gesit. Sebentaran saja mereka sudah bertempur seru, sama sama tiada kesempatan
membuka mulut. Tapi satu ketika Toat Beng Kim Ciang sempat mencuri napas dan
mengejek. "Orang yang kubunuh sudah ratusan jumlahnya. Toako-mu yang mana sama
sekali aku tak ingat. Tapi tentunya adalah salah satu korban tangan beracunku.
Kamu beruntung, hari ini juga kamu bakal menyusul toako-mu itu di neraka!"
"Awas pedang!" Yuk Lau tidak meladeni poyokan lawan. Seluruh semangat dan
pikirannya dicurahkan guna mengalahkan Toat Beng Kim Ciang.
Ching Ching 457
Yuk Lau tidak berilmu rendah. Bahkan dikalangan persilatan ia sudah mendapat
nama dan gelaran. Akan tetapi menghadapi lawan berjuluk si tangan emas pencabut
nyawa ini ia tidak bisa banyak berkutik. Alih alih mau membalas, malah dirinya
sendiri hampir jatuh dibawah angin. Namun bukannya patah semangat, Yuk Lau malah
semakin bernapsu membunuh orang.
"Andaikata hari ini tak sanggup membalas sakit hati, bagaimana kelak bertemu
Toa-ko dialam baka?" demikian dia membatin. Tapi tentu untuk melawan, tak boleh
lupa keselamatan sendiri supaya tidak konyol nanti. Demikian ia juga putar otak
guna menghindari tangan beracun Toat Beng Kim Ciang.
Sementara itu di tempat lain pertempuran berlangsung tak kalah seru. Miaw Wang
Li Hai sendiri melawan Chang Houw. Dua duanya bertarung dengan dua alasan. Satu
untuk membela golongan, lainnya adalah masalah pribadi. Mereka ingin unggul
dihadapan Ching-ching.
Baik Li Hai maupun Chang Houw sama sama menguasai ilmu pukulan tangan kosong.
Keduanya sama tiada bersenjata, tapi ini tidak membuat pertempuran tidak
berbahaya. Mereka sama kepingin unggul. Untuk itu saling melukai adalah soal
biasa.
Li Hai menyerang dengan sengit, tiap gerakannya mengandung perubahan yang cepat
dan tidak terduga mengimbangi jurus jurus yang dikeluarkan Chang Houw. Saat itu
baru terasa betul bahwa latihannya bersama Ching-ching membuatnya maju pesat,
terutama lantaran gadis itu mengenal jurus milik Chang Houw sama seperti
mengenal jurus yang ia pelajari dari gurunya.
Chang Houw sendiri melayani dengan ketenangan luar biasa. Ia pernah sekali
bertanding dengan pemuda she Wang ini, dan ia tahu sampai dimana kemampuannya.
Namun sepertinya ia terlalu memandang enteng orang. Nyatanya kini semua serangan
yang dilancarkan dapatlah dipatahkan. Bahkan tak jarang Wang Li Hai mencuri
kesempatan balas menghantam.
Akan tetapi ia sendiri bukan orang bodoh. Belasan jurus kemudian ia dapat
melihat bahwa gerak tipu dan serangan semuanya merupakan gabungan beberapa jurus
yang dimainkan berbareng, khusus untuk melayani jurus .... yang ia lancarkan.
Tahulah Chang Houw, kiranya Wang Li Hai ini mendapat petunjuk dari si nona she
Lie. Diam-diam pemuda itu memuji sekaligus merasa kecewa. Lie Mei Ching
memberitahukan segalanya kepada Li Hai, kalau dihitung hitung saingannya itu
sudah menang selangkah dalam memperoleh tempat dihati si Nona. Tapi tidak dalam
ilmu silat. Ia, Chang Houw ada sepuluh kali lebih baik dan sepuluh kali lebih
cerdik.
Mengetahui Li Hai sudah mempelajari cara mematahkan ke 32 jurus... nya, Chang
Houw tidak mengganti ilmu meski ia menguasai banyak jurus ajaran orang tuanya.
Ia hanya mengganti tenaga. Kalau tadi ia melawan dengan lambat bertenaga, kini
menjadi lebih cepat dan lincah. Kepingin tahu, masih dapatkah si pemuda she Wang
ini meladeni.
Mulanya Li Hai memang terkejut. Namun ia lantas teringat kata-kata Ching- ching.
"Apabila orang she Chang itu mengganti gerak serangan, jangan kau bingung. Jurus
yang dipergunakan sama saja, hanya diperbanyak gerak tipu. Perlambat gerakanmu,
tipuan terlanjur lewat, yang berbahaya boleh ditangkis."
Pemuda she Wang itu bukannya tidak mengetahui bahwa Chang Houw ada menguasai
beragam ilmu. Kini setelah menjalankan petunjuk Ching-ching, ternyata tidak
salah sama sekali. Chang Houw tidak mengganti ilmu serangan, hanya menambah
disana-sini.
Wang Li Hai memuji dalam hati. Betapa si Nona she Lie luas pemandangan dan
Ching Ching 458
pandai membaca perangai orang, makanya dapat memperkirakan apa yang akan
dilakukan Chang Houw jauh hari sebelumnya. Ai, gadis yang sedemikian cerdik,
cantik dan berilmu tinggi pula, apa lagi yang kurang?
Apa yang dipikir Li Hai justeru tidak beda dengan perasaan Chang Houw. Nyaris ia
hentikan pertempuran saking girang dan kaget. Paham betul Si nona she Lie akan
segala tindak perbuatannya, bahkan dapat menyelami kedalam hatinya. Demikian
bukankah berartu si nona ada menaruh sedikit perhatian? Batin si pemuda serasa
dibasuh embun dingin. Sejenak perasaannya melambung. Akan tetapi pada saat
bersamaan Li Hai menyerang satu titik kelemahan pada waktu yang tepat. Dimana
Chang Houw tengah melancarkan gerak menyerang. Kalau saja ia tidak menarik
mundur serangan guna menangkis, niscaya saat itu juga akan celaka.
Kalau Li Hai dan Chang Houw belum ketahuan siapa unggul- mana asor, dilain pihak
Ching-ching justeru dapat menghajar habis Congorpa. Sebentaran saja paderi
gundul itu sudah kewalahan betul. Jangankan membalas, menangkis saja sudah
payah. Diam diam pendeta asing itu mencari jalan buat kabur. Pada saat yang
tepat ia melihat satu titik kelemahan dan berlagak hendak menyerang telak. Mana
tahu ketika Ching-ching mengegos ia pakai ketika guna ambil langkah seribu.
Ching-ching mesem saja. Sebentaran ia biarkan musuhnya lari beberapa langkah.
Baru saja Congorpa merasa terbebas, si nona sudah menghadang lagi dihadapannya.
"Mau lari kemana?" Ching-ching membentak seraya menyerang dengan pedang.
Congorpa menangkis serangan dengan gugup dan terburu buru. Hasilnya bukan saja
lengan baju yang dipakai mengebas jadi kutung, tangannya juga tak luput dari
sabetan pedang lawan. Mana lagi Ching-ching tidak setengah setengah melancarkan
serangan. Untuk bagi Congorpa bahwa pedang melukai tangan secara memanjang,
apabila tidak niscaya sudah terbabat kutung tangannya, namun tetap saja beberapa
urat ditangannya putus dan ia mencucurkan darah tidak sedikit.
Pendeta itu menjerit kesakitan sampai jatuh duduk ditanah. Didepannya
Ching-ching menyorongkan pedang di depan batang leher orang.
"Kalau bukannya saat ini aku sedang menyandang nama perguruan Pek San Bu Koan,
jiwamu tentu sudah melayang. Kau harus berterimakasih pada guruku, kali ini
boleh kubiarkan kau pergi. Panggil semua pengikutmu dan minggatlah dari sini,
kalau masih kulihat mukamu lagi jangan menyesal kalau kuturunkan tangan jahat!"
Pendeta agung dari negeri asing itu tertunduk. Buat beberapa jenak ia membisu.
Tapi kemudian ia berbangkit, berdiri sejajar dengan si nona she Lie.
"Baiklah, kali ini aku mengaku kalah. Aku dan semua orangku akan segera pergi
meninggalkan negeri ini. Tapi bukan tak mungkin suatu saat aku atau muridku
kembali sekedar untuk menuntut balas kepadamu !"
"Hah, belajar sepuluh tahun lagi juga belum tentu dapat kau tandingi diriku.
Pergilah. Soal dendam kelak lain waktu booleh kau cari diriku."
Congorpa beringsut mundur. Ching-ching mengawasi. Setelah berjalan beberapa
tombak. Congorpa mengeluarkan sesuatu dari balik baju yang terus dibawanya ke
mulut. Segera terdengar bunyi panjang seperti suara puputan. Mendengar itu
hampir serentak kesemua pendeta gundul yang berpici dikepala itu mundur dari
pertempuran tanpa banyak menanya. Rupanya semua sudah terbiasa menurut perintah.
Dengan terheran-heran mereka dari golongan putih juga tidak mengalangi kepergian
para pendeta asing itu. Dalam hati malahan bersyukur karena kekuatan musuh
berkurang banyak. Tapi mereka juga segera sibuk lagi dengan anakbuah Kim Gin
Siang Coa Pang yang lain.
Ching-ching yang kehilangan lawan segera menyapu medan pertempuran guna memberi
bantuan pada siapa yang butuh. Dalam perkelahian kali ini boleh tidak usah
Ching Ching 459
perdulikan main keroyok atau tidak. Tujuan utama adalah membasmi Kim Gin Siang
Coa Pang, cara apapun boleh digunakan. Main keroyok juga tidak menjatuhkan
pamor.
Kebetulan saat itu matanya tertuju pada Li Hai dan Chang Houw. Tapi si nona
lekas buang muka pandang lain tempat. Justeru arah pandangannya terbentur
pemandangan Yuk Lau yang tengah berkelahi dengan seorang tinggi-gagah. Sekilas
saja Ching-ching dapat melihat betapa Yuk Lau menyerang terlalu emosi, tidak
tenang seperti yang biasa ia lihat. Tindakannya juga banyak terburu buru
sehingga serangan kurang tepat. Penasaran si nona mendekat guna melihat siapa
lawan abang angkatnya yang bisa membikin pemuda she Yuk itu blingsatan
sedemikian.
Ketika mendekat ternyata ia mengenali lawan. Ia pernah sekali berjumpa dan
mempermalukan orang itu. (.........). Bersamaan juga mengetahui kemampuan orang
yang ada setingkat diatasan Yuk Lau.
Selagi si nona menunggu, bersiap memberi bantuan, justeru pada saat itu pedang
Yuk Lau terlempar tinggi. Yuk Lau sendiri poksai di udara. Pedangnya dilepas
guna menyelamatkan tangan sendiri dari cengkeraman Toat Beng Kim Ciang yang
beracun. Toat Beng Kim Ciang sendiri tidak melepas kesempatan dan menyerang
dengan gencar kearah Yuk Lau.
"Ji-ko, kukembalikan pedangmu." Ching-ching melompat menyambar, dan melontarkan
kembali pedang Yuk Lau kepada pemiliknya. Ia sendiri menggetarkan pedang ke arah
lawan. "Orang she Pak, kita berjumpa lagi."
Toat Beng Sin Ciang alias Pak San Chung itu menoleh dan lekas menghindarkan diri
dari pedang lemasnya Ching-ching. Ia juga segera mengenali si nona.
"Nona she Lie, kebetulan sudah lama ingin ku membalas perlakuanmu tempo dulu
kebetulan sekarang kau datang sendiri."
"Ching-ching, dialah pembunuh Toa-ko!" seru Yuk Lau menyambung serangan yang
dilancarkan si nona.
Beberapa jurus dimuka Toat Beng Sin Ciang anggap sepi kedua bocah dihadapannya,
meskipun ia menyadari keduanya bukan anak baru jadi. Bagaimanapun, toh ia lebih
banyak pengalaman, lebih unggul kemampuan, dan punya senjata ampuh- tangan
beracun. Jangankan kena dihantam tangannya, tersentuh saja berarti jiwa sudah
ditangannya Giam Lo Ong(malaikat neraka).
Sayang ia kelewat menganggap enteng. Ternyata kombinasi pedang kedua orang muda
ini sungguh sangat serasi. Baru belasan jurus saja Pak San Chung agak repot
mengahadapi dua serangan bersamaan. Tapi ia bukan anak kemarin sore yang belum
pengalaman. Menghadapi keadaan ini ia lekas melompat mengegosi serangan Chingching
bersamaan untuk kedua kali mengancam pergelangan tangan Yuk Lau.
Namun muda-mudi itu juga lekas bertindak. Apabila tadinya Ching-ching menebas
pinggang dan Yuk Lau mengancam leher, begitu Pak San Chung menghindar, gerak
serangan dua orang ini juga lantas berobah. Ching-ching berputar dan mlah
mengayun pedang dari bawah keatas, sedangkan Yuk Lau berjumpalitan menusuk ke
arah dada. Semua itu terjadi dalam sekejapan mata. Pak San Chung cuma kkalah
cepat dalam perubahan gerak. Namun akibatnya justeru sangat menyedihkan. Tangan
Pak San Chung yang ditakuti itu terbabat putus, sedangkan jantungnya ditembusi
pedang!
Ditengah serunya pertempuran dua golongan mendadak terdengar suara desau angin
dari kejauhan. Semakin lama semakin dekat dan lebih merupakan suatu desis.
Bersamaan muncul Kim Gin Siang Koay Coa. Sedari tadi tak kelihatan rupanya baru
muncul sekarang.
Ching Ching 460
Sepasang suami-istri berjuluk siluman ular emas-perak itu maju tanpa alangan.
Entah cara bagaimana tahu-tahu semua yang menghadang di jalan terlempar ke
kanan-kiri, tak perduli kawan atau lawan. Keduanya berhenti setelah tiba tepat
ditengah.
Ketika kedatangan dua tokoh yang ditakuti ini, hampir semua orang mengentikan
pertempuran. Ada satu-dua yang curi kesempatan menyerang sewaktu orang lengah,
tapi diri sendiri juga kesima. Serangan batal ditengah jalan.
Sepasang ular ini memang punya wibawa. Ketika mereka berhenti ditengah tengah,
semua orang masih terdiam. Kemudian Chang Houw dan Chang Lun memberi hormat,
disusul semua pengikut Kim Gin Siang Coa Pang berlutut pula menyalami.
Tiada tandingan dikolong langit,
Nomor satu dimuka bumi,
Seribu tahun Kim Gin Siang Coa
Seluruh golongan putih semuanya diam-diam mencibir. Tapi tiada yang berani buka
mulut. Rata-rata tidak berani, yang lain masih kesima. Tapi seorang berbisik,
"Lagaknya..." bisikan yang pelan saja, entah siapa yang bicara. Tapi lantaran
pengikut Kim Gin Siang Coa Pang berhenti serentak, mendadak suaranya menggema.
Belum lagi habis omongan orang yang ditelan ditengah jalan, mendadak ada deru
hawa saat Gin Koay Coa mengebut lengan baju. Kejadian mirip seperti pada waktu
kedatangan. Kumpulan hawa yang dilontarkan membuka jalan. Membabat tak pandang
orang. Seketika yang terkena jumpalitan semua, jatuh semaput tak saanggup
bangun. Hanya satu orang, diujung gempuran. Tanpa sempat berteriak mendadak
kepalanya pecah berantakan.
Meskipun yang datang disitu rata-rata orang persilatan yang banyak makan
asam-garam, pengalaman pula menghadapi pembunuhan secara keji, tapi kali ini tak
sedikit yang muntah-muntah bahkan kelengar melihat kejadian tersebut. Bahkan
mereka yang masih berdiri tegak juga seketika pucat mukanya.
Kim Koay Coa tertawa.
"Bagus sekali. Hari ini semua ada berkumpul disini, baik yang hitam atau yang
dari golongan putih, aku tak usah sebar undangan lagi. Sekalian saja kuumumkan,
hari ini Kim Gin Siang Coa Pang menyatakan sebagai ketua kaum persilatan!"
Ketika menyebut kalimat terakhir Kim Koay Coa membuat suaranya menggema sampai
jauh. Wibawanya jadi bertambah. Tapi kemudian ia elanjutkan dengan suara lembut
mengancam. "Apa ada yang masih keberatan?"
Semua terdiam, entah takut entah terkejut.
Beberapa jenak semua hanya berdiri bengong. Tapi mendadak seorang berseru, "Tak
Sudi!! Kami tak sudi tunduk dibawah siapapun, tak sudi akui siapapun terutama
kamu sebagai ketua!"
"Siapa tak mau tunduk ?" mendadak saja ditangan Kim Koay Coa sudah terpegang
sebuah cemeti. Senjata kebanggaannya itu dilecutkan membelah udara dengan suara
menggeletar menakutkan.
Puluhan orang maju serentak, disusul puluhan orang lagi, belasan lagi, sampai
ratusan banyaknya. Semua berdiri gagah, menentang.
"Siapa sudi tunduk dihadapan dua orang tolol macam kalian." sebuah suara jernih
terdengar. Tidak lantang, tetapi amat jelas. " Yang perempuan sok jagoan, yang
lelaki takut bini. Sama-sama pengecut lagi."
Kim Koay Coa mencari arah datangnya suara. Matanya kebentrok sepasang mata hitam
yang mencorong tajam.
"Apa katamu?" desis wanita itu.
"Pengecut!" seru Ching-ching penuh dendam.
Ching Ching 461
"Sembarangan bicara! Begitu sifatnya orang takut, terus omong kosong tiada
guna." jengek Kim Koay Coa.
"Kau itu yang sembarang bicara. Mau menyangkal bagaimana, jelas buktinya selama
ini kau sembunyi dibalik muka orang mati, dan kau punya laki sembunyi dibalik
topeng. Masih kau punya muka minta jadi nomor satu ?"
Gin Koay Coa yang sedari tadi belum bertindak barang sedikit, kini maju kedepan.
"Topengku bukan buat sembunyi, tapi lebih banyak buat cari tahu kepintaran kamu
orang. Tahunya orang yang mengaku punya nama dalam Kangouw tak lebih gentong
nasi belaka!" Gin Koay Coa melepas topengnya." Setelah lebih sepuluh tahun
kalian dapat kutipu begitu gampang."
Semua orang berseru kaget. Dibalik topeng Gian Koay Coa, ternyata terdapat raut
muka seorang yang sangat mereka kenal.
".... ! Kau!"
"Ya aku inilah Gin Koay Coa yang bolak-balik kalian takuti."
"Kau biadab!" seru --- "Anakmu XXX rupanya terbunuh oleh orangmu sendiri."
"Memang. Anak tak berguna, buat apa dipelihara? Bunuh saja."
Ching-ching tak bisa bicara. Ia masih terpaku ditempatnya. Seumur hidup ia tak
pernah menyangka --- lah orangnya. Pendekar yang disangka telah gila oleh
kesedihan lantaran ditinggal mati anak kesayangan dan dimusnahkan seluruh
miliknya. Ternyata dia sendirilah Gin Koay Coa. Penipu ulung yang dapat
mengelabui setiap orang.
"Kalian dua iblis benar-benar tidak boleh dibiarkan hidup! Ayo kawan-kawan
serbuuuu.....!!!"
Begitu mendengar aba-aba, serentak setiap orang maju menyerang lagi. Pertempuran
yang terhenti kini berlanjut. Sampai menjelang petang, kekuatan nampak
berimbang. Banyak yang mati, banyak yang terluka, tapii semangat belum kendur,
berarti belum usai.
Ching-ching mearsa heran. Menurut perhitungannya, orang-orang golongan hitam itu
mestinya sudah kocar-kacir digempur dari mana-mana. Tapi nyatanya malahan
semangat mereka melebihi yang lain. Ini rupanya yang kurang diperhitungkan.
Diam-diam Ching-ching menghitung korban yang jatuh. Sudah terlalu banyak, dan
masih terus bertambah. Apakah ini kesalahannya?
Baru saja berpikir demikian, mendadak ujung matanya melihat Khu Yin Hung tengah
menantang Kim Gin Siang Coa Pang. Ia tak mendengar apa yang dikatakan gadis itu,
lagipula jarak antara mereka terlalu jauh, belum ditambah hiruk-pikuk suara
orang. Akan tetapi Ching-ching dapat menduga apa yang akan dilakukan nona she
Khu itu.
"Goblok!" maki Ching-ching. Lekas ia berusaha untuk menerobos mendekat. Sabet
kiri, tusuk kanan. Setelah berapa lama, berhasil juga ia buka jalan. Tapi Yin
Hung terlanjur mengkelahi. Pada saat Ching-ching tiba di dekatnya, cemeti
beracun milik si nyonya Kim Koay Coa sudah menggeletar. Yin HUng tak bakal
keburu menghindar. Sebentar badannya akan terpotong dua bagian oleh cambuk ular
itu !
Ching-ching tak keburu berbuat. Ia tahu cemeti bergerak amat cepat. Entah
ginkangnya sendiri apakah dapat menandingi kelebatan cemeti maut itu. Namun
demikian dengan penuh perhitungan Ching-ching berani melompak memapaki senjata
orang dengan pedangnya sendiri.
Cemeti meski serupa barang lemas, tapi dengan tenaga yang tepat dapat membelah
manusia menjadi dua kiri-kanan. Namun manusia adalah benda yang padat bentuknya.
Akan tetapi menghadapi sebilah pedang, yang menggeletar sama lemasnya
Ching Ching 462
siapa yang kira-kira menang? Apa cemeti akan tertabas, atau pedang malahan
kutung?
Ching-ching lupa memperhitungkan, cemeti milik Kim Koay Coa bukanlah senjata
sembarangan, tapi lebih merupakan mestika. Pedangnya sendiri, meski masih
merupakan senjata pilihan, belumlah seberapa dibanding cambuk kulit ular itu.
Jsteru pedang si nona malahan yang rompal jadinya. Akan tetapi halangan dari
pedang memberi ketika buat Ching-ching menendang Yin HUng mencelat kesamping. Ia
sendiri hendak lekasan menghindar. Mana tahu cambuk yang ketemu senjata malahan
bisa berbiluk membelit lehernya!!
"Sudah lama aku ingin membunuhmu keparat cilik. Kali ini tiada seorang bisa
minta ampunan buatmu!"
"Ching-Ching!" Yin Hung yang terbanting menjerit melihat betapa leher
Ching-ching terbelit cambuk orang. Suaranya yang melengking menarik perhatian,
sebagian orang yang berdekatan. Lainnya mana peduli. Mereka mencurahkan
perhatian sepenuhnya pada pertempuran. Siapa yang sedang terancam bahaya, yang
penting badan sendiri mesti juga dijaga.
Namun seseorang menerobos kerumunan. Menggenjot badan hingga mencelat di udara
dan menabas cemeti orang dari angkasa.
"Let go!" dia membentak.
Kim Koay Coa terkejut. Melihat tebasan orang, mau tak mau ia tarik cemetinya.
"Chang Houw, what are you doing?"
“Mother, forgive my disrespect,” sahut Chang Houw pendek.
“Stinking devil! Come on and fight me! I’m not afraid to face both of you at
once!”
Dari samping Bu Beng Lo Jin melompat mendekat dan langsung saja melancarkan
serangan pada Kim Koay Coa.
Si nyonya yang sedang marah oleh kelakuan anaknya lantas saja menggenjot cemeti
ke arah si kakek. Bu Beng Lo Jin berkelit, tapi tak urung cemeti berhasil
mengenai lengannya di batas pundak. Bu Beng Lo Jin merasakan pedih seketika.
Ketika ditengok, ternyata lengannya telah terbabat kutung!
"Iblis busuk! Pay for my teacher’s hand!" dalam pada itu Wang Li Hai juag telah
menyusul tiba dan langsung melancarkan serangan pada Kim Koay Coa.
“Mother, let me handle him!” Chang Houw lantas memapaki Li Hai. Kembali keduanya
bergebrak.
Wang Li Hai bertempur seperti orang kesetanan. Ia hampir-hampir tidak pedulikan
keselamatan sendiri. Keadaannya jadi berbahaya sekali. Satu ketika Chang Houw
sempat melancarkan serangan dan mengenai kempungan si pemuda she Wang. Li Hai
sempat muntah darah. Chang Houw tidak sia-siakan ketika, lantas lancarkan
serangan susulan.
“Watch out!” dari samping Ching-ching berseru memperingati. Sembari bersuara, ia
lempar beberapa senjata rahasia ke arah Chang Houw. Ia tak ingin melukai, hanya
sekedar mengusir pemuda she Chang itu guna memberi ketika pada Li Hai buat
berkelit. Mana tahu ada orang yang lebih dulu bertindak. Entah darimana
datangnya, tahu tahu seorang nona telah membuang diri menabrak Li Hai,
mendorongnya ke samping. Namun tindakannya itu masih kurang lekas, sehingga
bukan saja malahan mengalangi gerakan Li Hai, senjata rahasia Ching-ching
malahan ada yang menancap di badannya! Masih untung Chang Houw menghindari
beberapa senjata yang lain sehingga menarik balik serangannya.
Thio Lan Fung terbanting ke tanah disertai jerit terkejut dari Mulut Chingching,
Khu Yin Hung dan teriakan Wang Li Hai sendiri.
Ching Ching 463
"A-Fung!" Li Hai memburu.
"Hai-ko¼I--I die only for you." sehabis berkata Yin Hung lantas terpejam
matanya.
"Chang devil, I must kill you today!” Wang Li Hai jadi kalap dan lantas saja
menyerang Chang Houw membabi buta.
"Good. I've been waiting for a long time for a chance to fight you to the
death," sahut Chang Houw melayani serangannya.
Sesudah bertempur beberapa lama tadi, Chang Houw telah mempelajjari gerak Li
Hai. Ia sudah mengetahui dimana titik-titik kelemahan. Kalau tadi ia tidak
lantas turun tangan, hanyalah lantaran ingin tahu sampai dimana kehebatan si
pemuda. Tapi lantaran kejadian barusan, dimana seorang nona bersedia
mengorbankan diri untuk Wang Li Hai dan Ching-ching juga membantu mengerubuti,
mendadak Chang Houw merasa iri.
Wang Li Hai, apa kelebihamu sampai semua nona tekuk lutut padamu. Kenapa kau
meski telah memiliki nona lain tapi tetap tak hendak melepaskan seorang
Ching-ching? Demikian Chang Houw membatin. Semakin bertambahlah iri hatinya
sehingga napsu untuk membunuh Li Hai semakin besar. Dengan begitu serangan yang
dilancarkan juga semakin hebat.
Pada dasarnya Wang Li Hai memang berada dibawah tingkatan Chang Houw.
Mendapat-serangan serangan dahsyat, hampir ia tak dapat berkutik. Hanya dengan
modal semangat dan dendam saja ia bisa bertahan dan sesekali membalas. Namun
tenaganya mulai terkuras.
Chang Houw tidak sia-siakan kesempatan. Sekali waktu ia lancarkan pukulan
dahsyat menghantam jantung orang.
"Go to hell!" desisnya.
Wang Li Hai terlempar beberapa tombak ke belakang, mulutnya menyemburkan darah
segar. Pemuda itu jatuh tak berkutik lagi.
Ching-ching tengah melayani beberapa jagoan hitam yang mengerubuti, namun
perhatiannya teruh terarah pada Li Hai dan Chang Houw. Begitu melihat Wang Li
Hai terhantam jatuh, serta-merta si Nona lupa keselamatan sendiri. Sekali ia
memutar pedang membuat menyingkir semua musuhnya. Ia sendiri menghampiri Chang
Houw dengan hati mambara.
"Devil Chang Houw, on guard!"
Chang Houw tak menduga serangan Ching-ching, namun sebagai pesilat kelas satu ia
lantas berkelit. Ching-ching menyerang lagi dengan jurus-jurus mematikan. Chang
Houw terpaksa jungkir balik beberapa kali buat menghindar.
"Miss Lie, this .... you've promised...."
Ching-ching memang belum melupakan janjinya untuk tidak bergebrak dengan Chang
Houw di pertempuran. Diingatkan demikian, gerakan si nona menjadi lambat.
Kentara hatinya bimbang. Tapi lantas ia melirik ke arah Li Hai yang tidak
bergerak lagi. Disampingnya tampak Khu Yin Hung menangisi.
"To hell with all the promises!" desis Ching-ching. Mendadak pedang ditangannya
berputar cepat, mengayun kedepan, menembusi badan orang!
Chang Houw seperti tidak merasakan tajamnya pedang yang menembusinya. Ia
memandang saja si nona she Lie sembari tersenyum.
"I knew¼," katanya. "I knew that one day I would die by your hand."
Ching-ching kaget sendiri menyadari serangannya tidak digubris dan Chang Houw
malahan menerima saja badannya ditembusi orang. Tidak melawan, tidak berkelit.
Seolah menyediakan diri untuk dibunuh.
"Fool!" bentak Ching-ching. "Why didn't you fight back?"
Ching Ching 464
"If life has no more meaning, why should I live any longer?"
Chang Houw malahan mendekat kepada Ching-ching. Langkahnya terhuyung.
"Lie Mei Ching, I'll ask you one last time. Do you really ... really has no
feelings for me whatsoever?" Chang Houw terus mendekat, memandang lekat majah
Ching-ching. Menatap jauh ke dalam mata bening gadis yang dicintainya, seolah
dengan begitu dapat mengetahui isi hati si nona.
Ching-ching undur beberapa tindak. Ia tidak menjawab. Hanya matanya tidak
berkedip balas menentang mata si pemuda she Chang. Mata hitam itu berkilat.
Chang Houw tersenyum. Matanya meredup.
"No regrets! I've no regrets!" Chang Houw bergumam. Habis berkata ia roboh ke
tanah, tepat didepan kaki Ching-ching.
Si nona hanya bisa memandang. Mendelong beberapa lamanya, melupakan
sekelilingnya.
"Houw-jie!" Kim Koay Coa melihat anak kesayangannya mati cuma bisa menjerit.
Iblis itu memburu, memeluk mayat anaknya dna meangisi beberapa lama. Ternyata
iblis Siluman ular ini masih memiliki kecintaan terhadap anaknya sendiri.
"Stinky wench, die!” Gin Koay Coa yang datang belakangan memburu pula. “You have
to go with my son to hell!” Siluman itu maju memapak Ching-ching yang masih
terbengong bengong. Si Nona diam saja seolah tidak menyadari datangnya bahaya.
Namun serangan Gin Koay Coa keburu ditangkis oleh sebuah pedang. Di depan
Ching-ching kini berbaris pendekar-pendekar Pek San Bu Koan.
“Today we will make you pay for our teacher’s death. Jaga serangan!" Bersama
saudara-saudaranya Miaw Chun Kian mengayun pedang. Membentuk satu barisan dengan
gerakan serasi, melancarkan jurus mematikan.
Akan tetapi serangan itu dengan mudah dipatahkan Si siluman ular perak. Segera
saja mereka bertempur seru.
Ching-ching masih saja bengong ditempatnya memandangi Kim Koay Coa yang menagisi
anaknya. Ia tidak melihat betapa saudara-saudara seperguruannya mulai keterteran
menghadai si ular perak Gin Koay Coa.
Mendadak si Nona merasa pipinya pedas. Ia baru tersadar. Ternyata Chia Wu Fei
sudah berdiri di hadapannya. Dialah yang barusan menamparnya.
“Are you going to stand there all day? Can’t you see that our brothers are
fighting to avenge our teacher? Do you just want to watch” Pemuda itu membentak
dengan marah.
Baru Ching-ching menoleh. Tiga saudaranya yang lain memang tengah kerepotan
menghadapi Gin Koay Coa.
Chia Wu Fei sudah kembali lagi membantu saudaranya yang lain. Ching-ching masih
mengawasi dari pinggir. Dipandanginya saja kakak seperguruannya itu seperti
orang linglung.
Wu Fei juga menoleh padanya. Sungguh suatu tindakan sembrono dan berbahaya.
Ditengah ia bertempur, semestinya perhatian hanya tertuju kepada musuh. Dengan
melirik sedikit saja berarti ia sudah membuka satu titik kelemahan.
Sebagai pesilat, Gin Koay Coa juga melihat kesempatan. Dengan segera
dilancarkannya serangan ke arah Wu Fei.
"Suheng, be careful!" Saat itu Ching-ching baru tersadar sepenuhnya. Secepat
angin ia memburu ke arah saudara seperguruannya. Untung pedangnya dapant
mendahului menangkis senjata orang. Nyawa Wu Fei terlepas dari maut hanya dengan
jarak waktu sekejapan mata itulah.
Gin Koay Coa diam diam terkejut dan mengagumi kecepatan tindakan si nona. Baru
kali ini ia melihat gerak secepat itu. Bahkan Chang Houw anaknya yang memiliki
Ching Ching 465
kepandaian tinggi juga belum tentu dapat menandingi kecepatannya. Teringat Chang
Houw, kembali berkobar kemarahan si Siluman Ular. Ia langsung menyusulkan
serangan.
Dalam pada itu Kim Koay Coa juga sudah tersadar dari kesedihannya. Matanya
langsung mencari pembunuh anaknya. Terlihatlah Ching-ching diantara saudarasaudaranya
tengah bertempur melawan Gin Koay Coa.
“Dirty wench! Die!” Kim Koay Coa segera menyusul ke tengah pertempuran.
Celakalah para pendekar Pek San Bu Koan. Menggempur Gin Koay Coa seorang mereka
masih belum tentu menang. Kini datang pula pasangannya membantu, semakin
sukarlah keadaan mereka.
Pasangan siluman itu lebih mengarah jiwa Ching-ching daripada yang lainnya.
Mereka benar benar ingin menghabisi si nona she Lie. Namun itu juga tidak mudah.
Disamping si nona memiliki kepandaian lumayan, ia juga bertempur dalam barisan
San Hoa Tin yang mengandalkan kerjasama yang saling melindungi. Hampir-hampir
tiada kelemahan buat diserang. Jangankan Ching-ching, mau mencelakai saudaranya
yang lain juga sulit.
Akan tetapi biar bagaimana tingkatan mereka jauh lebih tinggi. Setelah bertempur
beberapa lama kedua pasangan ini mulai dapat mempelajari gerakan perubahan
barisan. Menunggu ketika yang tepat, akan dapatlah kiranya menghancurkan
pertahanan lawan. Dan kesempatan itu datang sewaktu kelima saudara Pek San Bu
Koan membentuk perubahan barisan. Ketika yang hanya sekejapan mata ini
dipergunakan sebaik baiknya. Gin Koay Coa menyerang Miaw Chun Kin dan Sioe Ing,
isterinya memapaki Yuk Lau dan Wu Fei dalam waktu berbareng. Saat itu
Ching-ching yang terbebas maju menyerang dengan pedang lemasnya. Mana tahu
ditengah jalan kedua siluman itu malahan membatalkan serangan dan secara
bersamaan menghantam Ching-ching.
Sungguh, kelima orang muda itu tiada menduga gerak tipu yang dilancarkan secara
harmonis itu. Seperti juga pasangan siluman itu berkepala satu tapi berbadan dua
sehingga tipuan yang dilakukan tidak kentara sama sekali. Para pemuda itu masih
mencoba melawan, namun Ching-ching kiranya sukar diselamatkan.
“I’m dead!” Pikir Ching-ching yang berusaha memutar pedangnya guna melindungi
diri. Namun cambuk Kim Koay Coa terlanjur memecah pertahanannya. Selagi Gin Koay
Coa melancarkan pukulan maut, cambuk itu meliuk liuk hendak menembusi lehernya!
Ching-ching berkelit. Mana tahu cambuk Kim Koay Coa serupa juga benda hidup yang
segera ikut berubah arah, Ching-ching tak sempat berkelit lagi. Lerernya
terjerat tak dapat lepas dan Cambuk itu membelit dengan kuat seolah hendak
meremukkan tulang lehernya.
Ching-ching tak bisa bernapas. Seketika mukanya membiru akibat kurang hawa.
Badannya lemas tak sanggup melawan lagi. Pandangannya berubah merah semua,
ketika mendadak kupingnya masih mendengar satu suara wanita.
“Who dares hurting my grand-nephew?”
Jeratan di lehernya mendadak lepas. Ching-ching hampir terbanting ke tanah kalau
saja tidak ada Wu Fei yang lekas menyambutinya. Gadis itu memaksa diri membuka
mata guna melihat siapa gerangan yang menolongnya.
"Su-bo?" memang ternyata yang datang itu adalah gurunya yang menetap jauh di
Sha-Ie. Setelah tahu orang, si nona tergeletak tak sadarkan diri.
Kedatangan Lung Yin dan murid-muridnya mengejutkan semua orang. Apalagi melihat
kehebatan wanita yang sudah tidak muda lagi itu. Diam-diam semua bertanya-tanya
dalam hati siapakah gerangan tokoh ini yang dalam beberapa gebrakan saja mampu
membuat Kim Koay Coa keteteran.
Ching Ching 466
Namun kedatangan bantuan yang tidak disangka-sangka ini menambah semangat para
pendekar. Sebaliknya dengan antek-antek Kim Gin Siang Coa, melihat pemimpin
mereka tak sanggup banyak melawan, semangat merekapun kendorlah. Alhasil dalam
beberapa waktu lamanya keadaan berbalik. Golongan putih kini berada diatas
angin.
Pertempuran Lung Yin dengan Kim Gin Siang Coa Pang terlebih seru lagi. Gian Koay
Coa tidak membiarkan isterinya terpukul mundur dan lantas maju membantu. Sayang
meskipun demikian mereka rupanya bukan tandingan orang asing yang membawa
seratus pasukan wanita ini. Pula Lung Yin bukannya orang yang suka mengulur
waktu. Sekali bertindak, rupanya sudah dipertimbangkan secara masak. Ia tidak
banyak menggunakan kembangan ilmu. Setiap serangan dilancarkan tanpa tipuan
ataupun gerakan yang tidak perlu. Ini sungguh berbeda dengan Ilmu kembangan
silat Tionggoan yang banyak menggunakan gerakan selain untuk menipu juga untuk
memperindah. Tak heran Kim Gin Siang Coa perlu waktu guna mempelajari serangan
lawan. Sayang Lung Yin tidak mau memberi kesempatan untuk itu. Kapannya mereka
lengah, ia segera manyerang dan jarang dapat dihindari dengan mudah.
Beberapa gerbrakan saja Lung Yin sudah tahu kalau kepandaian Gian Koay Coa ada
disebelah bawahan isterinya. Namun apabila dihitung pengalaman, jelaslah
pengalaman siluman jantan ini lebih banyak makanya ia lebih dapat menghindar.
Sedangkan Kim Koay Coa boleh jadi tinggi ilmuunya namun tidak sabaran dalam
menyerang sehingga banyak buka kelemahan. Bagusnya kedua pasaangan ini rupanya
saling mengerti satu sama lain. Kim Koay Coa banyak menyerang selagi Gin Koay
Coa menutupi lowongan yang ada.
Tapi biar bagaimana kepandaian kedua siluman ular itru masih disebelah bawahan
Lung Yin. Meski boleh dibilang keduanya jarang dapat dicari tandingannya, tapi
dalam hal ilmu tidaklah sebanding. Beberapa jurus kemudian Lung Yin memperoleh
ketika menyereang. Tanpa ampun ia mengarahkan senjatanya yang serupa tombak
pendek ke arah Kim Koay Coa yang lengah. Pada saat bersamaan, Siluman ular emas
itu tengah melancarkan serangan pula. Ia terlalu girang melihat Lung Yin tidak
mengelak ataupun menangkis. Terburu napsu ia mengayun cambuk. Tahu-tahu saja
jantungnya sendiri sudah terancam senjata lawan.
Dalam pertarungan antar jago, menang-kalah kadang ditentukan oleh sekejapan
mata. Apabila melakukan kesalahan sedikit saja, mautlah ganjarannya. Dan Kim
Koay Coa sadar juga akan hal ini. Melihat Gin Koay Coa juuga tak dapat menangkis
serangan, kelihatannya sejenak kemudian ia akan segera tertembusi tombak.
Mana tahu saat itu Gin Koay Coa demi melihat pertahanannya bobol sehingga
mengancam jiwa isterinya menjadi gelap mata. Secara nekad ia memukul mundur
isterinya. Sedapat mungkin tombak Lung Yin yang meluncur dihadang. Akan tetapi
senjata Lung Yin juga serupa mestika. Bendungan serangan Gin Koay Coa tidak
menghalangi jalannya.
Terdengar satu pekik tertahaan disusul lolongan orang melengkin tinggi. Gin Koay
Coa tak sempat bicara, lehernya telah tertembusi senjata. Kiim Koay Coa yang
melihat ini segera manjerit. Tanpa pedulikan lagi Lung Yin yang masih bersiaga,
ia meloncat menubruk suaminya.
Apa daya jiwa Gin Koay Coa sudah terlanjur melayang.
Saking kaget dan sedihnya, Kim kOay Coa meraung raung seperti orang gila. Ia
sudah tak pedulikan lagi sekelilingnya. Mulutnyamenceracau tak keruan. Andaikata
Lung Yin berniat membunuhnya, adalah sangat mudah sekali. Tapi wanita itu hanya
berdiam diri menonton kejadian dihadapannya.
Anak buah Kim gin Siang Coa mendengar juga jeritan junjungan mereka. Ketika
Ching Ching 467
melihat satu pemimpinnya mati sedangkan yang lain seperti hilang akal,
terbanglah semangat mereka. Pasukannya menjadi kacau balau. Kini lebih mudah
lagi ditumpas. Tak sedikit yang lantas buang senjata menyerahkan diri, Sebagian
lagi langsung kabur begitu sempat. Golongan sesat itu sudah kocar-kacir.
Dari para pendekar sebenarnya tak sedikit yang gatal tangan ingiin segera bunuh
juga pada Kiim Koay Coa. Namun mereka sungkan pada Lung Yin. Di dunia Kang Ouw
ada peraturan tidak tertulis yakni apabila seorang tengah berduel, maka orang
yang menang sajalah yang boleh mencabut nyawa pihak yang kalah. Orang lain
dilarang campur tangan. Karenanya mereka diam saja. Pun ketika mendadak Kim Koay
coa bangkit kabur sembari membawa mayat suaminya.
Pertempuran telah usai. Mendadak suasana jadi hening. Semuanya mengamati 'tamu'
yang baru datang. Apalagi dandanan Lung Yin dan antero muridnya tidak biasa,
datang datang lantas membantu dan malahan sanggup memukul mundur musuh. Siapakah
gerangan orang-orang ini?
Tapi Lung Yin sendiri seolah tak peduli pandangan selidik orang lain. Ia
menghampiri Ching-ching yang langsung menyoja sembari menyapa.
"Subo!"
Lung Yin menyahut dalam bahasa Mongol.
“I knew the news about your death was false. You’ve caused trouble. It’s time
you come home. Your country is in need of you.”
“But…”
Lung Yin tidak menyahut lagi. Sapaan beberapa orang yang ingin berkenalan pun
hanya dijawab dengan anggukkan kepala. Menyangka orang tidak mengerti bahasa
mereka, para pendekar itu menelan saja rasa penasaran dalam hati. Biarlah,
urusan begini toh nanti bisa ditanyakan pada Ching-ching.
Suasana kembali hangat/ Mereka saling menyalami satu sama lain atas keberhasilan
hari ini. Meskipun dalam hati masih ada sedikit kekecewaan karena kemenangan
bukannya mutlak hasil perjuangan sendiri. Masing masing mengakui, kalau bukannya
ada bantuan tak terduga dari pasukan tak dikenal, dan jagoan kosen yang masih
belum ketahuan namanya, belum tentu mereka dapat pukul mundur lawan. Tapi itu
bukan soal. Yang penting tercapai maksud mereka menumpas Kim Gin Siang Coa Pang.
***
It had been a week since the big battle in Red Valley. It was uneventful during
that time for the warriors. Everybody was tending to their wounds, healing
themselves in their homes. Even though the leader of the Snake Clan had not been
captured, everybody believed that they would not cause any trouble at least for
a year or two. The Warrior Society can be at peace for the time being. Other
than small crimes by bandits, nothing else happened.
Just like any other places, the Eight Forrest looked quiet from outside. But
that peaceful quality was not in accord with the state of the girl sitting along
in the inner garden. She was none other than Lie Mei Ching.
The girl seemed content watching the wide-spread blue sky, where white clouds
buoyantly treaded, adorning the earth’s rooftop. But her gaze was beyond those
clouds. She sighed occasionally. Evidently she was trying hard to make a
decision.
“Hey, sis. Daydreaming or waiting for inspiration?” a boy interupted her peace.
Lie Mei Ching didn’t look. She knew who it was by his voice.
“Hi, Fei, haven’t seen you all morning. You slept in, huh?”
“No, no, you slept in. I looked for you all over the place all morning. And here
you are, hiding. Don’t you want to see the others?”
Ching Ching 468
“Grandpa already has somebody else to tend to his needs. Lots of other girls are
helping to clean up the mess. I’ll only be intruding. I’m out of everybody’s way
here.”
“You’re too much, you know that? Everybody’s asking about you, how you’re
holding up, and what do you do? You hide here, shutting out from everyone,
giving me all the trouble of answering all those questions about you. I had to
tell them that you were resting in your room. If anybody knows you’re here,
he’ll think that I’m a liar.”
“I didn’t ask you to lie. That’s your own doing. What’s that got to do with me?”
Her words were scolding, but she sounded like complaining. Like it or not, Wu
Fei was bewildered to see his sister so upset. So he quit teasing her and asked
her earnestly.
“Did your teacher scold you? Did she tell you to go back to Sha’ie? If you don’t
want to, you can run away for a couple of months. Tiong-goan is so vast, you can
hide and travel at the same time.”
“Actually, she didn’t tell me to do anything. She allowed me to decide for
myself. Justru itu yang membikin aku berat pikiran,” Ching-ching answered.
“That’s even better. Just say you don’t want to go back. Case closed.”
“But I don’t know what I want. I don’t know if I want to go back or stay here.”
“If you’re that confused, just weigh the gains and losses. Whatever gains more
for you, you do. It’s that simple. I can help you if you can’t do it yourself. I
think if you’d be better off staying here in Tiong-goan. You have lots of
friends here. You have high status in spite your age. That should help you make
a name for yourself later.”
Lie Mei Ching cuma mesem kecut. Kiranya perkataan Wu Fei tidak meredakan gundah
di hatinya. Wu Fei saw this, and immediately corrected himself.
“Ah, I know that there’s really only one thing that bothers you. It’s about Wang
Li Hai. You don’t know how he feels about you. Right?”
Ching-ching was silent. Tidak membantah, mengiyakan juga tidak.
“I shouldn’t say this, but since you’re so troubled, I will. You know, bro
Wang’s also confused. That’s all I have to say.” Then Wu Fei moved to leave
Ching alone. He looked back twice. Seeing Lie was just terpekur, he left with
his head down.
Ching-ching watched the clouds in the sky. She’s really confused now.
Suddenly her ears caught the sound of cloth sweeping the ground. She looked
over. A girl in a long white dress was approaching.
“Pek-ie-cie,” Ching-ching greeted.
The girl in white smiled gently to her. With a graceful gait, she came closer,
but her lips was quiet.
“Pek-ie-cie, did Teacher send you to tell me something?”
“She only said that a night has passed. We leave this afternoon.”
A cloud passed over Ching’s face. “That soon? Can’t she give me any more time?
One more day?”
“You know how she is,” the girl in white said.
“Yes, I do.” Ching-ching sighed.
They were silent for a moment.
“Ching-moy, actually I overheard your conversation. I know what troubles you,”
the girl in white said after a few moments.
“You do?” Ching-ching said curtly. She wasn’t sure anybody could understand
whatever was in her heart. But she kept silent.
Ching Ching 469
“Ah, what pain that love causes the heart, no medicine ever can cure it,” Pek-ie
said after confirming the problem. “I’ve never been in love, I dare not say
anything. But someone gave me an advice once. When you meet someone you truly
love, don’t let him go until you’re sure he doesn’t love you back. Or you’ll
regret it for the rest of your life.”
“Eh?”
“I think you should decide before it’s too late. Don’t ruin anyone else’s
happiness, but don’t sacrifice your own.” Pek-ie got up. “I’ll ask Teacher to
wait for one more day. But I can’t hold her any longer than that. Use your time
wisely. We set sail tomorrow night.”
The brief words from her sister was enough to set Ching’s heart at peace. When
Pek-ie’s shadow was out of sight, Ching had already made a decision.
Thio Lan Fung mengusap usap luka diperutnya. Ai, sungguh ia merasa beruntung
dapat hidup setelah menderita luka tikaman seberat itu. Memang tabib Yok Ong
Phoa tidak bernama kosong. Kalau bukan lantarannya mana bisa lukanya begitu
cepat menyembuh. Lebih bersyukur lagi lantaran luka tersebut, Wang-Li-Hai jadi
sering datang menjenguk. Tiap kali datang selalu menanyakan keadaan. Pabila
dijjawab baikan, segera wajahnya berseri. Ah, apalagi yang bisa membuat Lan Fung
sedemikian berbahagia daripada perhatian orang kepadanya ?
Sebenarnya untuk semua ini ia merasa perlu berterimakasih pada gadis she Lie
itu. Coba kalau ia tidak salah tangan melempar Hui-to kebadan orang, mana Thio
Lan Fung mendapat rejeki besar? Sudah namanya melambung lantaran sedia berkorban
demi seorang kosen, sudah mendapat perawatan paling telaten, mendapat perhatian
sang kekasih pula. Sungguh bahagia.
“Miss Thio, there’s someone to see you,” seorang murid perempuan Pek San Bu Koan
yang bertugas menjagai diamemberitahu.
Di pintu terlihat Wang Li Hai. Setelah dipersilakan masuk lantas mendekati si
nona.
“Fung-moy, how’s your wound?” tanya si pemuda. Setiap hari yang ditanya itu itu
pula, tapi Thio Lan Fung tidak merasa bosan. Malah makin hari makin enak
kedengaran di telinga.
“It’s a lot better,” jawab Lan Fung sembari tersenyum.
Melihat si nona nampak segar dan memang baikan,seketika Wang Li Hai bertambah
lega. Selama beberapa hari ini si nona she Thio seperti menyalahkan Ching-ching.
Setelah sembuh tentu sakit hatinya banyak berkurang. Apalagi yang mengobati juga
adalah engkong angkatnya si nona she Lie.
Sedikit banyak Wang Li Hai sendiri merasa bersalah pada si nona Thio. Lantaran
dirinyalah ia sampai terluka begitu rupa. Maka buat menebus hampir tiap waktu ia
menjenguk Thio Lan Fung.
“Hai-ko, have you seen Lie Mei Ching?” tanya Lan Fung.
“No.” Si pemuda Wang Li Hai kebat kebit hatinya. Ia sudah hapal apa yang
dikatakan si nona she Thio selanjutnya.
“She haven’t come to see me. I wonder if she’s embarrased. Hai-ko, have you told
her that I’ve already forgotten her kesalahan and she can see me anytime?”
“I¼I haven’t seen her either.”
Diam diam Thio Lan Fung senang hati. “Bagus kalau dia tak ketemu Hai-ko. Berarti
waktu senggang Hai-ko tidak dihabiskan bersama gadis busuk itu.” ia membatin.
Lain pikiran Lan Fung, lain pikirnya Li Hai. Dalam hati ia bertanya tanya kenapa
Ching-ching tak mau menemuinya beberapa hari ini. Apa masih sakit hati
disalahkan tempohari? Akan tetapi ia sudah minta maaf. Dan si nona juga tidak
Ching Ching 470
nampak mendendam. Lalu kenapa ?
“Hai-ko, what’s on your mind?” tanya Thio Lan Fung.
“Ah, eh, tidak. Aku memikir kapan kau sembuh benar benar.” gelagapan Li-Hai
mendusta.
“Hai-ko jangan terlalu pikirkanku. Kesehatan Hai-ko sendiri mesti banyak
dipikir.”
Wang Li Hai cuma sekedar mesem saja.
“Oh, ya. Apakah sudah didapat kabar mengenai Kim Koay coa Mo Ing?”
“Belum. Kalangan Kang Ouw belum menemukan jejaknya. Sudah diketahui orang ramai
kalau untuk sementara Yok Ong Phoa buka praktek disini merawat yang sakit.
Anak-muridnya Pak San Bu Koan ada di sini juga. Maka kalau ada kabar tentu lekas
dikirim kemari.”
“Kalau sudah ada kabarnya, apa Hai-ko mau berjanji hendak segera memberitahu
padaku ?”
“Tentu.” sahut Wang Li Hai cepat.
Thio Lan Fung memamerkan senyum senang.
“Ah, kau tentu sudah lelah. Sekarang kau istirahatlah.” kata Li Hai.
“Hai-ko where are you going?”
“Waiting for news from outside. If there’s any, I’ll let you know right away.”
Thio Lan Fung tertawa. “But don’t be too long,” pintanya manja.
Wang Li Hai mengangguk. Ia segera meninggalkan kamar.
Sesampainya diluar, yang pertama dituju adalah hutan bambu di belakang #.
Biasanya Ching-ching senang berjalan jalan disana. Terutama meniup daun bambu
yang tipis sehingga menimbulkan suara nyaring.
Sayang Wang Li Hai tidak tahu. Justru hampir bersamaan ia mencari di hhutan
bambu, Ching-ching tengah mencari dia di kamarnya Lan Fung. Nona she Lie itu
melirik sebentar ke dalam kamar. Ketika melihat Lan Fung sedang tidur, sedangkan
yang dicari tidak ada, maka ia segera keluar lagi. Dipanggilnya seorang murid
Pek San Bu Koan yang bertuugas membantu mengurus si nona she Thio.
“Ah-Lan, adakah kau melihat Wang-kongcu ?”
“Barusan ia disini, tapi sekarang sudah pergi.”
Ching-ching menghela napas. “Barangkali aku memang tak ada jodoh dengan dia.”
gumamnya.
“Apa, Ching cici?” gadis itu meski umurnya lebih tua dari Ching-ching, namun
berhubung si nona pernah jadi sucinya, ia tetap memanggil secara menghormat.
“Tidak ada apa-apa. Kira kira kemana perginya?”
“Tidak tahu. Tapi ia janji pada Thio-kouwnnio perginya takkan lama.”
“Begitu. kau tunggu sebentar, kumau titip surat buat Wang-Kongcu.”
Si nona she Lie segra menghilang. Ketika kemudian kembali, ada sesampul surat di
tangannya.
“Ah-Lan, sekali ini terpaksa aku merepotkanmu. Harap kau sampaikan ini pada
kongcu. Penting. Jangan sampai hilang.” pesan Ching-ching.
“Ching-ci kenapa tak menemui dia sendiri ?”
“Ku tak dapat. Aku harus pergi supaya dia bisa memikir tenang barang sejenak.
Ah-Lan, ku tak tahu besok bertemu lagi atau tidak. Kalau ku tidak kembali, harap
kau pamitkan pada sekalian orang disini.”
Gadis yang dipanggil Ah-Lan itu mengkerut alis.
“Ini urusan apa ? Kenapa cici bisa tak kembali ?”
“Ai, kau ini selalu mau tahu saja urusan orang.”
“Memang sudah sifatku demikian. Hayo, Ching-ci kau harus bikin jelas perkara
Ching Ching 471
kalau tidak ku tak mau dimintai tolong.”
Mula mula Ching-ching berat hati menjelaskan. Tapi berhubung ia tak mau yang
lain tahu urusan, lagian Ah-lan ini meski usil tapi tak suka mengumbar omong,
maka keraguannya segera lenyap.
“Baik, kuberitahukan. Tapi kau harus janji tidak melakukan tindakan untuk
menghalangi.”
“Tapi kalau kau nekad menempuh bahaya, masa aku tak boleh halangi ?”
“Biar apapun tidak boleh. Lagipula aku bukan mau nekad cari celaka.”
“Baiklah.” Akhirnya Ah-Lan setuju.
“Suhuku mengajak aku pulang ke Sha-Ie. Tapi ......”
“Aku sudah tahu selanjutnya.” potong Ah-Lan.” Tentu ini menyangkut juga
Wang-Kongcu dan Thio-Kouwnio. Betul tidak ?”
Ching-ching mengangguk.
Ah-Lan terdiam. Sesungguhnya ia seorang gadis cerdas. Maka ia dapat menerka isi
surat. Tentunya Ching-ching menulis surat untuk menuntut Wang Li Hai memilih
antara dirinya dan Thio Lan Fung. Tapi selama menunggu keputusan ia tak mau
berada dekat situ. Tapi menanti di tempat lain. Apabila Li-Hai sudah memutuskan,
dia boleh menyusul Ching-ching ke satu tempat yang ditentukan, maka Ching-ching
tak jadi berangkat ke Sha-Ie. Akan tetapi apabila Li Hai tidak menyusul, berarti
ia memilih Lan Fung dan Ching-ching juga tak mau bertemu lagi dengan mereka.
Ah-Lan seorang gadis muda. Ia dapat mengerti perasaan si nona she Lie. Maka tak
menghalangi lagi.
“Ching-ci, hanya satu hal lagi mau kutanya. Dimana kau menunggu dan kapan suhumu
berangkat ?
“Aku tak keberatan memberitahukan padamu tempatnya. Tapi apapun nanti jadinya,
kau tak boleh pengaruhi pikiran dia. Tak boleh memaksa orang.”
“Baik. Boleh kau beritahukan tempatnya ?”
“Tempatnya di Hui Hong Cui Kok(pendopo pelangi yang dikelilingi air) di tepi
sungai. Bila waktu Ngo sie(tengah hari) ia belum datang, selamanya jangan harap
melihatku lagi.”
“Baiklah Ching-ci. Jangan kuatir, Wang Kongcu pasti segera mendapat pesanmu.”
Ching-ching mengangguk. Kemudian sambil menenteng sedikit barang miliknya, ia
segera pergi.
Di balik pintu kamar, Thio Lan Fung mengintip kepergian si nona. Ia telah
mendengar semua pembicaraan. Mendadak ia menjadi berkuatir sekali.
“Hai-ko tak boleh baca suratnya!” ia membatin.”Hai-ko tak boleh pergi dari
sisiku!”
Mendadak pintu dibuka perlahan. Thio Lan Fung kaget setengah mati.
“Thio-Kouwnio, mau kemana ?”
“Aku....aku tidak kemana mana. Hanya ketika panggil padamu kiranya kau tidak
mendengar. Maka aku menyusul keluar.”
“Kouwnio mau ambil apa?”
“Ah, tidak. Hanya sekedar sepi tak ada kawan berbincang.”
“Baiklah kupapah sampai ke pembaringan. Lalu akan kutemani engkau.”
“Boleh juga. Oh, Lan-cici, tadi kulihat Lie Kouwnio berikan sesuatu padamu. Apa
itu ?”
Ah-Lan melirik curiga gadis yang tengah dipayangnya.
“Bukan apa-apa. Hanya sebuah surat.”
“Buat siapa? Boleh kulihat ?”
“Aku sendiri tidak keberatan. Tapi surrat itu bukan buat Thio-Kouwnio. Kalau
Ching Ching 472
kuberikan padamu, namanya lancang.” sambil mengelak Ah-Lan menyindir.
Thio Lan Fung menggerundel dalam hati. Tapi ia sendiri sudah bertekad
mendapatkan surat itu. Namun Ah-Lan ini bukan sembarang gadis. Ia tak dapat
dibujuk. Harus diakali, lalu dibungkam mulutnya supaya tidak ceriwis.
Selagi Lan Fung membikin rencana, Ah-Lan juga bersiap menyahut kalau si nona
mendesak lagi. Pokoknya biar bagaimana surat itu harus sampai ke tangannya Wang
Li Hai saja. Orang lain, apalagi Thio Lan Fung tak boleh melihat.
Lan Fung berbaring lagi di tempat tidur. Ia mengajak Ah-Lan bicara macam- macam.
Tapi soal surat tak disebutnya lagi.
Ah-Lan menjawab semua dengan sopan. Tapi ia tetap berjaga.
Tengah berbincang bincang, tahu tahu Thio Lan Fung memegangi perutnya yang luka.
Mulutnya mendesis kesakitan.
“Aduh, perutku. Ah, lukaku terbuka lagi. Oh, pasti banyak darah yang keluar.”
“Kenapa?” tanya Ah-Lan. “Kau sakit? Kucarikan Susiok(paman guru).”
“Tapi darah di perut ini tak boleh keluar. Aku bisa mati. Tapi kupunya salep
dalam buntelan di sebelah kakiku. Cici, tolong ambilkan.”
“Baik.” Ah-Lan segera berdiri dan melongok ke rangjang bagian kaki. Ia melihat
buntelan yang disebut, maka segera membungkuk dan mencari cari.
‘Tuk’ tahu tahu Ah-Lan merasa pundaknya tertutuk. Segera badannya kaku dalam
keadaan bungkuk begitu. Hiat-to (jalan darah) gagunya juga menyusull kena
ditutuk. Maka gadis itu tak dapat berbuat apa-apa waktu Lan Fung menggerayangi
sakunya dan mengambil surat dari Ching-ching.
Segera dibaca pula surat itu. Namun ia menduga isinya. Tanpa banyak menunggu
lekas surat itu dimasukkan lagi dalam sampul.
“Lie-Mei Ching, malang sungguh nasibmu. Silakan saja kau menunggu di pondok
sana. Sampai kau pergi esok juga Hai-ko takkan menemuimu. Selamanya Hai-ko
takkan menjumpaimu lagi.”
Setelah itu Lan Fung menyalakan api. Surat beserta sampulnya dibakar sekalian.
Setelah hangus terus abunya dibuang di kolong ranjang.
Lan Fung melirik Ah-Lan.”Kau juga tak boleh dibiarkan hidup. Kalau tidak tentu
setelah bebas tutukanmu kau segera cerita kanan kiri. Sayang sungguh.” Lan Fung
mendekati murid Pek San Bu Koan yang tertutuk.
Tahu tahu terdengar suara dua orang tengah berbincang. Makin lama makin dekat.
Thio Lan Fung jelas mendengar suara Wang Li Hai. Yang seorang lagi kalau
bukannya Yuk Lau mestilah Wu Fei. Mendadak nona she Thio kelabakan. Ia menengok
sekeliling mencari tempat buat menyembunyikan Ah-Lan. Tapi di kamar itu mau
menyembunyikan dimana lagi selain.....Tentu saja. Dikolong ranjang buat
sementara paling aman. Kain seprai yang panjang menutupi kolongnya itu amat
jarang disingkap orang. Apalagi bila ada yang tidur diatasnya.
Lekas Lan Fung menyeret si nona yang tertutuk itu ke bawah. Kemudian
disurukkannya ke kolong ranjang. Setelah itu cepat cepat si nona lompat naik ke
tempat tidur masuk di bawah selimut.
Hampir bersamaan pintu dibuka secara perlahan dari luar. Menyusul Li Hai
melongok ke dalam. Melihat si nona Thio terjaga, ia membuka pintu lebih lebar
dan masuk ke dalam kamar. Dibelakangnya mengikuti Wu Fei.
“Fung-fung, ada tamu.” kata Li Hai.
“Thio kouwnio, bagaimana keadaanmu ?” bertanya Wu Fei.
“Banyak lebih baik.” sahut si nona.
“Eh, mana Ah-Lan?” Wu Fei menanyakan adiknya seperguruan. “Bukankah ia mesti
menungguimu disini ?”
Ching Ching 473
“Tadi ia keluar dan sampai sekarang belum kembali.”
“Tidak semestinya ia meninggalkanmu sendiri. Bagaimana kalau ada apa apa?” Wu
Fei mengomel.
“Aku sudah baik. Ditinggal sendiri juga tak mengapa.”
“Kalau begitu biar kutunggui saja sampai nona Lan datang.” Li Hai menawarkan
diri.
Sebetulnya Lan Fung girang bukan kepalang. Senang sekali kalau Li Hai mau
menunggui. Tapi sekarang ada urusan yang mesti segera dibereskan sendiri maka ia
berlagak mau menolak.
Lain lagi dengan pikiran Wu Fei. Ia mengharap Li Hai mau bertemu dulu dengan
Ching-ching. Mana lagi nona bandel itu belum ketemu sampai sekarang. Kalau
Ching-ching tahu Li Hai sedang menunggui Thio Lan Fung, bisa jadi nona itu
minggat sekalian. Maka sebelum Lan Fung berkata apa-apa, Wu Fei buru buru
mendahului.
“Aduh, kalau lantaran kupunya sumoy tak becus lantas merepotkan Wang-heng,
sungguh aku yang merasa tak enak hati. Sudahlah. Biar kupanggilkan yang lain.
Tunggu sebentar.” Wu Fei melesat keluar.
Thio Lan Fung dan Wang Li Hai sama terkesima melihat orang sedemikian repot.
Tapi belum lagi keduanya sempat saling omong, Wu Fei sudah kembali bersama tiga
orang sumoynya yang lain.
“Ah-Mei, Ah-Nio, Ah-Kau, kalian jagalah nona Thio ini. Sekejap juga tak boleh
dibiarkan sendiri. Mengerti ?”
“Ya, suheng.”
“Nanti kalau Ah-Lan datang suruh mencari aku. Biar kudamprat sekali.”
“Ya, suheng.”
Wu Fei mengangguk puas. Ia menoleh pada Wang Li Hai.
“Wang-heng, sekarang kau boleh tenang hatimu. Thio Kouwnio dijaga tiga orang,
mau kenapa-napa juga susah.”
“Memang begini lebih baik.” Kata Li Hai tertawa.” Terimakasih Cia-heng.”
Thio Lan Fung mengumpat dalam hati. Sial betul. Sekarang lebih susah lagi ia
membereskan Ah-Lan. Kalau cuma seorang, bisa saja disuruh ini-itu supaya pergi.
Tapi tiga? Dengan perintah khusus sama sekali tak boleh meninggalkannnya sendiri
pula. Sungguh berabe. Namun dalam hati ia mengucap syukur juga. “Untung tenagaku
sudah banyak pulih. Totokanku takkan lepas dalam dua belas jam. Membereskan
Ah-Lan boleh ditunda saja.”
Di kolong ranjang, Ah-Lan dongkol bukan buatan. Ia dapat mendengar suara Lan
Fung. Suara Wu Fei juga dikenali. Jaraknya sedemikian dekat, tetapi ia tak dapat
bertindak apa-apa. Saking kesalnya sampai titik air matanya. Tapi apa boleh
buat. Kali ini ia memang tidak berdaya.
Sampai malam tiba, Lan Fung belum juga mendapat kesempatan buat bereskan urusan.
Bahkan saat mau tidur, seorang dari tiga gadis itu tetap menjaga. Seorang lagi
diam diluar bergantian dengan yang lain. Ketika basa-basi Lan Fung mempersilakan
orang beristirahat, tegas mereka menolak. Ketiga gadis itu sama tidak berani
membantah perintah suheng mereka.
Lan Fung terpaksa berbaring saja. Tapi gulak gulik sebagaimana tetap juga tak
dapat tidur. Sepanjang malam ia memikir cara buat menyingkirkan Ah-Lan besok
pagi pagi.
Tahu tahu saat hampir subuh terdengar suara geretakan dari kolong ranjang. Lan
Fung kaget. Apakah Ah-Lan sudah lepas totokannya ? Tapi waktu dua belas jam
belum lagi lewat.
Ching Ching 474
Memang demikian ternyata. Ah-Lan bergulingan keluar dari kolong ranjang.
Seketika ketiga gadis yang menunggui Thio Lan Fung melongo. Bahkan ketika Ah-Lan
bergerak cepat menotok jalanan darah Lan Fung yang belum turun dari tempat tidur
mereka tak dapat berbuat apa-apa. Seluruh kejadian itu berlangsung amat
cepatnya. Baru ketika Lan Fung sudah tak berkutik, ketiga gadis ini menegur
serempak.
“Lan suci, kau apa apaan?”
“Suci, kenapa kau bisa keluar dari kolong situ ?”
“Apa yang kau buat ?”
Ah-Lan berdiri tegak memandangi ketiga adik seperguruannya. Tangannya menuding
kepada Lan Fung.
“Dia ini bukan perempuan baik-baik. Justru tadi dia yang menotokku dan mendorong
masuk situ. Kalau bukan kalian menurut perintah Suheng dan tidak keluar kamar
tentu aku sudah dia bunuh.”
“Kenapa dia mau bunuh padamu ?”
“Sebab satu surat yang diberikan Ching-ci padaku untuk disampaikan pada
Wang-kongcu.”
“Surat apa?”
“Itu rahasia orang. Mana kutahu isinya.” Ah-Lan menutupi.” Tapi dia sudah
membaca kemudian membakarnya.”
“Suci, Ching-Cici menghilang entah kemana. Apa dia pesan padamu kemana perginya
?”
“Ya. Aduh, iya. Aku mesti ke kamar Wang-kongcu sekarang!” Ah-Lan hendak berlari
keluar.
“Suci, mana boleh!” serempak ketiga gadis itu mengalangi.”Seorang perempuan
sendirian ke kamar laki laki. Apa kata orang nanti ?”
“Tapi ini penting!” kata Ah-Lan. “Aku kuatir terlambat.”
“Sebentar matahari terbit. Masa kau tak dapat menunggu ?”
“Baiklah.” Ah-Lan duduk di kursi dalam kamar itu. Tak sengaja matanya melihat
Lan Fung. Tahu tahu ia uring uringan lagi.” Perempuan hina! Dulu kau bikin
perkara dengan Ing-suci sampai menyebabkan matinya. Kini kau juga mau mengalangi
perjodohan orang.”
Ketiga gadis yang lain meski tidak berkata-kata ikut memandang benci pada Lan
Fung. Mereka adalah adik seperguruan dibawah pimpinan In Sioe Ing. Mengingat apa
yang terjadi pada suci mereka sedikit banyak disebabkan nona she Thio ini,
terang saja semuanya bersikap dingin kepada si nona.
Keadaan Lan Fung saat itu sungguh tidak enak. Ia ditotok dalam keadaan tidur
tidak, duduk juga tidak. Tentu saja ototnya amat pegal. Belum lagi pandangan
keempat nona tajam menusuk. Kalau bisa, rasanya ingin Lan Fung amblas saja ke
dalam tanah. Terlebih mengingat nanti Wang Li Hai akan tahu segala perbuatannya.
Benar benar Lan Fung merasa malu, sedih dan berduka. Hingga tak terasa
airmatanya menitik keluar.
Lima gadis itu menunggu terbitnya matahari dengan tidak sabar. Ketika sang surya
baru saja menyembul dari balik awan, Ah-Lan sudah berlari ke kamarnya Wang Li
Hai. Begitu tiba, lekas digedornya pintu kamar.
Ah-Lan tak usah menunggu lama. Segera juga Li Hai keluar. Mendengar gedoran
pintu seperti orang terdesak, sebagai kalangan pesilat Li Hai segra bersiaga.
“Ada kejadian apa ?” tanyanya. Ketika melihat siapa, terus saja ia terbeliak
kaget. “Lan kouwnio! Kemarin kau menghilang bersama dengan Ching- ching.
Sekarang.......Apa ada satu kejadian menimpa dia?”
Ching Ching 475
“Ya. Kong-cu mesti segera datang ke.....eh, bukan begitu pesannya. Kongcu
diminta memikir tenang untuk.....eh. Apa sih kemarin itu ?” karena terburu buru
Ah-Lan malah tak tahu bagaimana menyampaikan pesan orang.
“Cepat! Ada apa sebetulnya?”
Pintu kamar di sebelah kamar Li Hai terbuka. Kepala Wu Fei menongol keluar. “Ada
ribut-ribut apa?” tanyanya. Begitu melihat Ah-Lan ia lekas menyusul keluar.
“Ah-Lan, kemarin kemana? Kau lihat Ching-moy tidak? Apa dia bersamamu? Kemana
perginya ?” Wu Fei memberondong bertanya.
“Suheng!” melihat kakak seperguruannya Ah-Lan menjadi terlebih lega. “Ching-ci.
Dia akan pergi kalau terlambat.”
“Terlambat apa ? Bilang yang jelas.”
Maka Ah-Lan mulai bicara. Ia menceritakan semua. Mengenai surat yang dibakar Lan
Fung, bagaimana ia dilumpuhkan si nona. Terkesan mengadu, tapi memang begitu
kejadiannya. Ah-Lan bukan orang yang suka membumbui cerita.
Mendengar semua, berubah air muka Li Hai. Dengan mengkertak gigi ia lantas
berjalan ke kamarnya Lan Fung.
Sesampai disana, ia melihat semuanya seperti yang diceritakan Ah-Lan. Terlihat
juga Kain seprai yang tersingkap. Di kolong ranjang situ memang pernah ada
orang.
“Lan-Fung, setelah ini aku mau bicara!” katanya dari pintu kamar. Sewaktu Ah-Lan
masuk ke dalam, Li Hai menunggu diluar.
Sejenak kemudian Lan Fung keluar digiring Ah-Lan. Nona itu sudah didandani
sekedarnya. Paling tidak pakaiannya sudah cukup rapi buat ketemu orang. Tapi
roman si nona berantakan sungguh. Mukanya pucat, basah oleh airmata. Sungguh
membikin iba. Tapi justeru Wang Li Hai tidak melihat itu semua. Dengan
mengkertak gigi ia menegur.
“Ah-Lan sudah bilang tentang surat yang kau bakar. Aku tak mau banyak
mempersoalkan. Cukup kau beritahu saja apa yang Ching-ching bilang.”
“Dia....dia bilang mau berpamit. Tapi kuatir berubah pikir bila bertemu Hai-ko
maka ia mengirim surat.” Lan Fung masih coba berdusta.
Ah-Lan melotot dibelakangnya hendak membantah. Tapi Wu Fei yang ikut disitu
lekas menempel telunjuk ke bibir. Batal si nona bicara.
“Betulkah ?” nadanya Li Hai makin meninggi.”Cuma sebuah surat pamit, perlukah
kau bakar segala ?”
Tahu-tahu Lan Fung meraung. Badannya terguncang oleh sedu-sedan. “Bahkan Hai-ko
juga sudah tak percaya kepadaku. Memang nasibku yang malang. Sudah ditinggal
mati ibu, ayah gugur di medan tempur. Siapa lagi mau menyayang aku ? huhu.”
Melihat si nona menangis sampai tersedak sedak. Li Hai jadi tak tega. Ketika
bicara lagi suaranya terdengar lebih sabar.
“Aku mau percaya kalau kau katakan yang sebenarnya.”
“Buat apa? Hai-ko tentu sudah tahu semua. Tak usah kuomong lagi. Kalau Hai- ko
mau mengejar budak she Lie itu, pergilah.” Lan Fung kembali menggerung.
“Fung-fung, bukan begitu. Aku cuma mau kau bertindak jujur. Janganmenggelap
seperti pengecut. Aku sungguh kecewa....” Li Hai menunggu.
Tapi Ah-Lan tak mau orang berayal lagi. Lekas ia buka mulut.
“Tempatnya di Hui Hong Cui Kok. Ching-ci cuma memberi waktu sampai tengah hari.
Sebaiknya Kong-cu bergegas.”
Wang Li Hai tak memikir orang tahu darimana. Lekas ia putar badan mengambil
menuju pintu gerbang.
Lan Fung melihat orang hendak pergi, tangisannya makin keras. “ Ibu, ayah,
Ching Ching 476
anakmu nasibnya begini sengsara. Tak ada sanak, tak ada kadang. Teman juga tak
punya. Baiknya aku menyusul kalian saja. Huhu!”
Lan Fung masih tersedu. Tahu tahu badannya limbung. Mukanya pucat dan roboh ke
tanah. Tangannya yang memegangi perut berlumuran darah. Untung Ah-Lan masih
berdiri di belakangnya sehingga ia tak terbanting jatuh.
“Lukanya terbuka!” Li Hai terkejut. Lekas ia memondong si nona kedalam kamar.
“Ah-Lan, lari panggil susiok!” berteriak Wu Fei, ia sendiri terus menyusul
masuk.
Li Hai sudah membaringkan Lan Fung. Tangannya juga sudah bekerja menutukjalan
darah sehingga darah tak terlalu banyak keluar.
Tabib Yuk datang. Semua menyingkir memberi tempat buat memeriksa.
Setelah pegang nadi, dan meraba luka, tabib Yuk geleng-geleng kepala. Keruan Li
Hai kuatir bukan main. Lekas ia mendului bertanya.
“Apa dia bisa selamat ?”
“Tentu saja. Ini cuma luka terbuka yang berdarah. Tidak terlampau parah. Cukup
dua-tiga hari istirahat dan diberi obat. Sama saja seperti luka tertabas pedang.
Yang kusesalkaan adalah tampaknya Thio Kouwnio sengaja celakai diri sendiri.”
“Memang. Kulihat dia pegang pegang perut, ternyata remas lukanya sendiri.” kata
Ah-Lan yang terlanjur benci pada orang.
“Ah-Lan!” Wu Fei menegur. Matanya melirik Wang Li Hai. Tapi pemuda itu tampak
sedang menerawang, tidak gubris perkataan Ah-Lan barusan.
“Susiok, lanjutnya bagaimana?”
“Sebentar kubikinkan obat. Tapi Thio Kouwnio mesti dijaga supaya jangan berbuat
macam-macam.Biarpun lukanya enteng kalau banyak keluar darah tentu jadi payah
juga.” sehabis berkata tabib Yuk keluar.
Wang Li Hai masih berdiri memandangi Thio Lan Fung. Tertampak wajah yang
mengibakan hati. Tak mengerti dia mengapa si nona begitu nekad menyakiti diri
sendiri. Justru sekarang keadaannya jadi sulit. Kalau Lan Fung ditinggal, ia tak
tega. Tapi kalau menunggui disitu, bagaimana dengan Ching-ching? Tak terasa
pemuda itu menghela napas.
Tahu-tahu kelopak mata Lan Fung bergerak. Mulutnya komat kamit. “Hai-ko jangan
pergi!” mendadak ia berteriak sambil hendak berbangkit. Keruan lukanya sakit
lagi. Lan Fung cuma bisa meringis.
“Aku disini.” buru buru Li Hai mendekati.
“Hai-ko, aku... tadi kulihat kau pergi.”
“Tidak. Dari tadi aku disini.”
Ah-Lan yang melihat itu mencibir lagi.”Banyak tingkah !” ia menggumam. Ia
menduga Lan Fung cuma berpura-pura. Pura-pura sakit supaya dapat mengalangi Li
Hai pergi. Tak terasa Ah-Lan melirik keluar. Hari sudah terang. Matahari telah
tinggi. Wang Li Hai belum juga pergi. Padahal dari (situ) ke sungai besar
jaraknya lumayan jauh. Kalau pemuda itu berayal, dapatkah nanti mengejar Chingching?
Atau justru hati pemuda itu sudah terpaut orang lain ?
Saat itu Wu Fei memikir hal yang sama. Bolak balik ia melihat matahari. Sikapnya
juga terlebih gelisah. Kemudian ia gerakkan tangan panggil si gadis Ah- Mei,
membisiki sesuatu. Segera saja Ah-Mei keluar.
Ah-Lan mengawasi Wang Li Hai. Pemuda itu juga nampak tidak tenang. Roman mukanya
berubah ubah. Tapi ia duduk di tepi pembaringan. Tangannya menggenggam tangan
Lan Fung yang putih-pucat. Tidak, lebih tepat Lan Fung yang memegangi erat-erat.
Ah-Lan mendengus sebal.
Selama itu pandangan mata Lan Fung tidak berkisar dari wajah Wang Li Hai.
Ching Ching 477
Hatinya selalu menjadi tenang melihat rupa pemuda itu. Menjadi pendamping
seorang yang gagah dan tampan. Siapa tidak bangga? Tapi ia akan segera
kehilangan pemuda itu. Harus diatur suatu tindakan!
Wang Li Hai yang dipandangi sedemikian rupa mau tak mau jadi jengah sendiri. Ia
berlagak membetulkan selimut si nona.
“Kau akan segera baik lagi. Istirahat dua-tiga hari juga akan segera sembuh.”
“Hai-ko.” si nona memanggil dengan suara gemetar. Kelopak matanya juga ikut
bergetar. Butir air bening mengalir lagi dari matanya. Sungguh Wang Li Hai tak
tahan melihat pemandangan sedemikian. Lekas ia berlagak membetulkan selimut
sekali lagi.
“Hai-ko, pandanglah aku.” pinta Lan Fung.
Li-Hai menurut.
“Aku....aku mengaku. Aku memang yang membakar surat untukmu. Aku juga yang
melumpuhkan Lan-cici, tapi sungguh tiada niatan jahat. Aku melakukan semuanya
lantaran kuatir kehilanganmu. Hai-ko, kalau kau tidak ada, dengan siapa lagi
kuhidup didunia?” Lan Fung sesenggukan.” Aku tak mau kau baca surat itu. Kutahu
kau pasti tak kembali kalau membacanya. Kau pasti meninggalkan aku. Aku tidak
mau, huhu.”
Wang Li hai tak tahu mesti bicara apa. Ia diam saja.
“Dalam suratnya Lie Mei Ching bilang, ia mau kau memilih antara dua. Aku atau
dia. Kalau kau pilih aku, ia akan pergi, kau takkan pernah menemuinya lagi.
Berarti kalau kau memilih dia aku....aku....” perkatan Lan Fung terpotong.
Roman Wang Li Hai berubah melembut. Ia tahu si nona memang tak punya siapasiapa
lagi. Satu-satunya tempat bersandar adalah dia. Tapi......
Baik Ah-lan maupun Wu Fei melihat perubahan roman muka itu. Keduanya menjadi
tegang. Mereka sama berdiri di pihak Ching-ching. Tentu mereka juga yang
penasaran kalau sampai Li Hai tak jadi pergi cuma lantaran si nona penyakitan.
Lan Fung melihat orang mulai bimbang. Makin ia memelas.” Hai-ko, Jangan
tinggalkan aku. Maukah kau berjanji?”
Wang Li Hai tak dapat langsung bicara. Biar bagaimana sebagai seorang laki-laki
sekali berucap susah dipungkiri. Permintaan Lan Fung menyangkut kebahagiaannya
seumur hidup. Bagaimanapuun ia mesti memiikir dulu.
Lan Fung kuatir orang berubah pikiran. Lekas ia menjalankan siasat lain. Dengan
suranya yang lemah gemetaran ia berkata. “Kalau Hai-ko memang jemu padaku, aku
juga takkan halangi lagi.” seraya mulutnya berkata demikian, tangannya
melepaskan pegangan dan menggeser ke arah perut. Lan Fung memang tidak mengancam
secara berterang. Tapi tindakannya itu sama juga menodong Wang Li Hai. Kuatir
orang celaka gara gara dirinya. Li Hai lekas mengambil tangan si nona dan
menggenggamnya erat. Kemudian dengan membulatkan tekad ia buka suara.
“Fung-fung, aku.....”
Ucapan Wang Li Hai berhenti ditengah. Wu Fei menepuk pundaknya sambil
bicara,”Nona Thio tak boleh terlalu lelah. Nanti kau boleh ajak omong lagi.
Sebentar susiok Toa-hu(paman tabib) datang. Biar dia mengobati Thio Kouw-nio
dengan leluasa.
“Benar.” Ah-Lan juga berdiri di pinggir ranjang.”Wang Kong-cu jangan kuatir,
kami bertiga berjanji akan menjaganya baik baik.”
Wang Li Hai mengangguk. Setengah diseret ia dibawa keluar oleh Wu Fei. Ia tak
melihat betapa Lan Fung melotot kesal. Ah-Lan yang berdiri di samping si nona
she Thio itu menutupi pandangan. Ia juga tak mendengar Lan Fung bersuara.
Dikiranya orang memang sudah terlalu lelah. Sama sekali pemuda ini tak menduga,
Ching Ching 478
ketika Ah-Lan datang mendekat, hiat-to si nona sudah ditotok orang.
Wu Fei mengajak Li Hai berjalan jalan ke kebun hutan bambu. Di sana sangat sepi.
Kecuali suara keresek dedaunan dan binatang-binatang kecil, tak ada yang
mengganggu ketenangan di sana.
“Wang-Heng, kutahu kau sedang berada di antara dua jalan. Manapun yang kau
tempuh itu menyangkut kebahagiaanmu kemudian hari. Aku tak ingin kau terpengaruh
orang dalam mengambil keputusan, maka sengaja kubawa kesini supaya dapat
berpikir tenang. Waktumu tidak banyak, tapi paling tidak lebih baik daripada
mengambil keputusan terburu-buru. Nah, silahkan kau merenungkan.”
“Terimakasih, Cia-heng.” kata Li Hai.
Wu Fei mengangguk. Kemudian ia sendiri meninggalkan pemuda itu sendiri. Ketika
sudah berjalan ratusan tindak, ia berhenti dan mengawasi Li Hai dari jauh. Wu
Fei ingin tahu juga siapa diantara dua yang dipilih Li Hai. Dalam hati ia
mengharap Ching-ching yang menangkan pemuda itu. Dengan demikian si nona akan
bahagia dan ia juga turut gembira. Namun Wu Fei juga tahu perasaan hati Wang Li
Hai yang sesungguhnya. Maka itu ia tak banyak bicara, cuma menarik Li Hai dari
pengaruh Lan Fung.
Wang Li Hai sendiri adalah yang benar-benar tersiksa. Setiap malam memang ia
memikirkan tentang perasaannya sendiri. Kemana hatinya penuju ? Ching-ching dan
Lan Fung sama-sama ia sukai. Sama sama punya daya tarik sendiri. Dengan Lan Fung
tentu dia merasa menjadi seorang gagah tiada bandingan. Sudah pasti ia merasa
senang dekat nona itu. Tapi dengan Ching-ching lain lagi. Nona bandel itu susah
ditebak maunya. Sebentar lembut, sebentar galak. Sungguh membuat penasaran.
Dengan Ching-ching ia tak pernah bosan. Mengingat itu ia memilih Ching-ching,
takut kalau kelak bosan menghadapi Lan Fung yang begitu—begitu juga. Meski
orangnya lebih cantik, tapi belasan tahun lagi apa tidak keriput juga?
Namun kalau ia memilih Ching-ching, ada satu ganjelan yang tak dapat
dihilangkan. Gadis itu sering merendahkan dia. Meski sekarang ilmunya boleh
dibilang tak kalah dari si nona, tapi Ching-ching sering masih menganggap dia
sebagai Siaw Kui, anak desa yang bodoh. Meski Li Hai tahu sikap itu cuma
sesekali saja munculnya, tetap ia merasa tidak genah. Padahal Lan Fung
menganggapnya hampir hampir seperti turunan dewa, yang dipuja lebih dari
siapapun juga.
Makin dipikir, Li Hai makin bingung. Belum lagi merasa tegang. Andaikata ia
terlambat, maka ia tak bisa ketemu Ching-ching. Padahal sekarang hatinya sendiri
belum dapat memutuskan.
Wu Fei yang menunggu di kejauhan tak kalah gelisah. Ia bolak-balik memandangi
matahari, mengharap tempatnya tidak berpindah. Tapi hukum alam mana bisa
ditentang. Makin siang tentu matahari makin tinggi. Wu Fei tahu waktunya hampir
habis. Ia mendekati lagi Wang Li Hai yang duduk menunduk dengan menutup muka.
“Wang-heng, sudah ada keputusan ?” tanyanya pelan.
Wang Li Hai mengangkat kepala. Mukanya keruh tanda pikiran belum lagi terang.
“Cia-heng, kiranya kumusti minta pendapatmu.”
“Tidak dapat. Ini sepenuhnya keputusanmu sendiri. Tapi waktu sudah sangat mepet.
Boleh kutanya siapa pilihanmu?”
“Entah.” kata Wang Li Hai.
“Ching-ching takkan menunggu lebih lama.” Wu Fei mengingatkan.
Wang Li Hai memandang tajam muka Wu Fei. Ia sudah tahu perasaan pemuda itu
terhadap bekas sumoynya.
“Cia-heng, diluar pertimbanganku mengenai hal ini, kuingin tanya stu hal
Ching Ching 479
kepadamu. Kutahu perasaan hatimu pada Ching-ching, tapi kenapa kau begitu baik
kepadaku. Tidakkah kau merasa cemburu?”
Wajah Wu Fei merah jengah. Ia cengar-cengir dulu sebelum menjawab.
“Siapa bilang aku tidak cemburu? Aku sirik setengah mati kepadamu. Kalau bisa
kuingin hapuskan saja kau dari muka bumi. Tapi kalau kutunjukkan perasaaan
begitu, bukankah nanti Ching-moy yang susah. Lihat saja urusanmu sekarang. Siapa
yang pusing coba?”
“Kau kenali Ching-moy sudah lama. Kau tahu dia tak sudi mengalah. Tapi sekarang
ia seperti hampir menyerah. Apa kau mengerti kenapa?”
“Kau kenal dia lebih dulu daripadaku. Mestinya kau lebih tahu.”
Wang Li Hai tercenung. Ia ingat, ini kali kedua Ching-ching melakukan hal
demikian. Dulu, di dalam gua ia juga ditinggal supaya dapat lebih tenang berguru
pada Bu Beng Lojin. Hasilnya kini ia menjadi pendekar muda yang sudah punya nama
dan disegani. Kalau dulu Ching-ching tidak meninggalkannya, mana ada kejadian
begini. Dan tindakannya kali ini apa memiliki tujuan yang sama? Demi kebaikannya
sendiri? Supaya ia lebih tenang nanti berdiri di tengah rimba persilatan? Tanpa
dipusingkan dua gadis yang saling cemburu berebut perhatiannya ? Wang Li hai
terus bertanya dam hati.
Wu Fei sekali lagi memandang ke langit. Ia menghela napas.
“Sudah.” katanya menyesal.”Wang-heng, mari kita menengok nona Thio saja.
Barangkali ia ingin kau temani.”
“Tidak!” tahu tahu Wang Li Hai bangkit berdiri. Ia berlari ke arah barat.
“Wang-Heng, mau kemana ?”
“Menyusul Ching-ching!” berseru si pemuda.
Seketika wajah Wu Fei berseri. “Kau salah jalan! Larilah ke gerbang. Sudah siap
seekor kuda. Ambil jalanan kecil lewat sebelah utara kota. Nanti membelok ke
barat, maka kau lebih cepat tiba.”
Li-Hai putar haluan. Sambil berlari ia berteriak.”Nanti kusuguh tiga cawan arak
buatmu, Cia-heng.”
Seperti yang dikatakan Wu Fei, di dekat gerbang seekor kuda yang baik sudah
disiapkan. Ah-mei berdiri disana menunggu. Ketika melihat Wang-Li-hai nona itu
menggebah kuda. Sekarang kuda lari ke utara, Wang Li hai mengejar dan lompatcemplak
ke atasnya. Dengan begitu ia bisa persingkat waktu puluhan detik. Tapi
ia sudah benar terlambat. Waktu puluhan detik itu sangat berharga.
Wang Li Hai membedal kudanya mati-matian ke arah utara mengikuti jalan kecil
yang disebut oleh Wu Fei. Ternyata memang kuda itu dapat berlari kencang sekali.
Tentunya Wu Fei telah memilihkan yang terbaik.
Sesekali Li Hai melihat bayangan ditanah. Bayangan sudah semakin pendek. Ia
mesti cepat! Sungai besar masih jauh. Belum lagi ia tak tahu tempat yang namanya
Hui Hong Cui Kok itu. Celakanya lagi tahu-tahu jalanan kecil yang dilaluinya
terpotong. Di depannya tumbuh semak belukar yang amat lebat. Padahal di kirikanannya
adalah pepohonan. Semua sama besar sama tinggi, entah dia mesti belok
kemana.
Li-Hai turun dari kuda dengan kecewa. Jangan-jangan Wu Fei salah memberitahu
jalan? tapi sekarang tak mungkin putar-balik. Sudah terlalu jauh jara yang
ditempuh.
Wang Li Hai berjonkok. Ia masih dapat melihat samar-samar bekas jalanan lurus.
Langsung menuju ke arah tumbuhnya semak. Segera pemuda itu mengikuti perlahan.
Di bawah semak belukar, tampak bekas jalanan menembus.
Pemuda itu lantas menyingkapkan semak. Ia membabat habis tumbuhan yang
Ching Ching 480
menghalangi itu dengan pedang yang tergantung di pelana kuda. Untung Wu Fei
sudah mempersiapkan segala sesuatu. Kalau tidak tentu ia habis waktu dan tenaga
cuma buat menyingkirkan semak yang lebat-tinggi itu.
Setelah melewati rintangan tersebut, Wang Li Hai terus membedal kuda. Binatang
itu sampai mengeluarkan uap asap dari hidung, tapi larinya sedikitpun tidak
kendor.
Wang Li Hai menoleh lagi ke tanah. Bayangan kuda disitu sudah tidak kelihatan
teraling badan kuda yang besar. Berarti matahari sudah tepat diatas kepala.
Waktu yang diberikan Ching-ching sudah habis. Namun Li-Hai masih punya harapan
si nona mau menunggu beberapa saat. Siapa tahu ? Maka ia tidak kendor
semangatnya.
Kira-kira sepasangan hio kemudian, Wang-Li Hai tiba di tepian sungai. Kini ia
tinggal mencari yang namanya Hui Hong Cui Kok. Ternyata tidak begitu sulit
mencari tempat yang disebut. Hanya saja teraling satu bukui kecil di pinggiran
sungai situ. Setelah melewati bukit itu segera terlihat satu rumah-rumahan di
bagian sungai.
Bagian sungai disitu membiluk dari aliran semestinya sehingga membuat satu kolam
di pinggiran. Pendopo Pelangi itu berdiri di tengah kolam ini. Untuk pergi ke
sana mesti melewati jembatan merah.
Wang Li hai segera turun dari kudanya dan berlari ke tengah sana. Sambil
mendekat ia berseru memanggil nama orang. “Ching-ching!” namun tak ada sahutan.
Li Hai mengerahkan ginkang melompati beberapa bilikan jembatan. Ia kuatir
kalau-kalau si nona...........
Ternyata Li-Hai memang harus kecewa. Di pondok itu tak ada siapa siapa. Lemas
seluruh badan Li-Hai. Ia terlambat. Ching-ching sudah pergi. Saking menyesalnya
Li Hai sampai teru menggelosor ditanah. Ia berbaring tengkurap beberapa lama.
Hatinya kosong, hampa, kecewa. Pemuda itu memejamkan mata. Terbayang wajah si
nona.
Hampir-hampir Li-Hai tidur disitu ketika tiba-tiba terdengar satu suitan
nyaring. Pernah dengar suara yang sama, yakni sewaktu Kim Koay Coa kabur membawa
mayat suaminya yang terluka. Jangan-jangan siluman itu ada disekitar sini ?
Mendadak Li-Hai merasa Ching-Ching masih ada di sekitar situ. Dan kini sedang
dalam keadaan bahaya! Cepat si pemuda memburu ke arah datangnya suara. benar
juga. Kira-kira tiga li jauhnya, diantara pepohonan yang tumbuh di pinggiran
sungai situ dua orang sedang bertempur mati-matian.
Li-Hai dapat mengenali, satu diantara dua adalah Ching-ching. Dan tampaknya nona
itu mulai kepayahan menghadapi Kim Koay Coa yang menyerang serabutan. Siluman
itu seperti tidak perduli diri sendiri, terus saja menyerang tanpa bertahan.
Sedangkan Ching-ching terus bertahan, tidak punya kesempatan membalas.
Makin dekat, makin jelas penglihatan. Li Hai mendapati kedua orang yang tengah
bertempur itu sama parah lukanya. Pecut Kim Koay Coa sudah merobek kuli si nona.
Sedangkan Ching-ching kini cuma bersenjatakan belati tunggal. Yang sebuah lagi
tentu sudah tergubat dan dibuang musuhnya.
Bagaimanapun senjata pecut lebih ganas dari sebilah belati yang cuma bisa
berguna dalam jarak yang dekat. Ketika Li-Hai datang, leher si nona she Lie
telah terbelit tali pecut. Tapi Kim Koay Coa tidak maksud mencekik orang sampai
mati. Ia menyentakkan pecutnya dan senjata lemas panjang itu tergulung. Dengan
demikian Ching-ching ikut maju mendekati si siluman ular emas. Nona itu hampir
habis daya. Betapa tidak, lehernya tercekik erat. Napasnya tidak bebas. Tenaga
jadi kurang, pikiran juga tidak terang. Dalam keadaan begitu mana bisa melawan?
Ching Ching 481
Kim Koay Coa menyeringai. Sudah pasti kemenangan ada ditangan. Ia mengumpulkan
segenap tenaga. Membentak sekali, terhantam telak perut si nona.
Namun Ching-ching bukan orangnya yang gampang menyerah. Setelah tahu pasti
kalah, ia bertekad mati bersama. Maka bersamaan Kim Koay Coa memukul, saat itu
juga ia lemparkan belatinya ke dada orang.
Kim Koay Coa tengah mengeluarkan seantero tenaga. Sedikitpun tidak menduga orang
masih dapat melawan. Apalagi belati yang dilempar sedemikian kuat, dari jarak
yang dekat pula. Ia tak sempat menangkis atau menghindar. Belati itu tembusi
dadanya. Malahan daya pendorongnya masih sempat melemparkan siluman betina itu
beberapa tindak ke belakang. Kim Koay Coa roboh ditanah dengan dada bolong.
Sudah barang tentu bocor mengucur darahnya.
Ching-ching sendiri tak kalah payah. Isi perutnya terhantam telak. Nyaris ia
semaput seketika. Tapi kemudian dirasakan badannya dipangku orang.
Gadis itu paksakan diri membuka mata. Dilihatnya seraut wajah Wang Li Hai.
Seketika si nona berkerut kening. “Kau.........?”
“Ya, ini aku.” Li Hai melepas tali pecut yang masih melibat leher Ching- Ching.
“Kau...masih mau datang.” si nona bicara saja sudah payah. Suaranya serak tak
enak didengar. Napasnya tersengal.
“Kubawa kau pada Kong-kongmu!” kata Li-Hai dan terus meondong tubuh gadis itu
dengan tergesa.
“Tak … berguna. Tak … kan selamat.”
“Kong-kongmu tabib sakti. Kau pasti sehat lagi.”
“Biar … dewa … juga … tak bisa.” Ching-ching paksakan diri tersenyum. “Cucu …
Yok ong … Phoa lebih … lebih tahu.”
“Ching-ching!” Wang Li Hai tak tega melihat si nona yang nampak begitu
menderita. Segera saja airmatanya turun bercucuran.
“Kau … pulang! Selamat … dengan Lan … si nona masih ingin bicara. Tapi cuma
mulutnya komat-kamit. Tak ada suara yang keluar.
“Kau omong apa? Jangan cakap yang tidak-tidak! Sekarang juga kubawa kau pulang.”
“Kuharap … kau … tidak datang.”
Wang Lie Hai mengira dia salah dengar. “Aku datang. Ching-ching, aku sudah
datang.”
Gadis itu menggeleng. “Suratku … kau tak … baca?”
“Lan Fung membakarnya. Tapi bukankah kau menyuruhku memilih antara kau dan dia.
Kalau kudatang maka kita selamanya takkan berjumpa Lan Fung lagi?”
“Gadis … bodoh. Dalam surat … kubilang … aku tak mau ketemu kau lagi. Selamanya.
Ini … kali terakhir. Kalau … kau … yang mau.”
“Apa? Tapi …. Apa maksudmu ?”
“Siaw Kui, sebelum …. Sebelum aku mati, aku mau katakan terus terang kepadamu.
Orang … orang yang ada di hatiku, bukan kamu!”
Wang Li Hai terkejut. Mukanya yang pucat semakin pasi. Tapi lantas ia
menggelengkan kepala sembari tersenyum. “Tidak! Kau bohong! Ching-ching, kau
akan pulih. Tak usah kau membohongi aku demikian cuma untuk mempersatukanku
dengan Yin Hung.”
“Bukan dusta!” Ching-ching tersengal. “Sungguh … bukan engkau.”
“Siapa?” suara Wang Li Hai gemetar menduga-duga. “Apa kakak seperguruanmu Chia
Wu Fei?”
Ching-ching tidak menjawab. Matanya terpejam. Di bibirnya tersungging senyum. Ia
tak akan pernah menjawab pertanyaan Wang Li Hai.
“Wang-heng! Ching-ching!” tahu-tahu di belakang Li Hai sudah berdiri seorang
Ching Ching 482
pemuda. Li Hai tak tahu kapan dia datang, kapan dia mendekat. Tahu-tahu pemuda
itu sudah berlutut di sampingnya.
“Dia bilang bukan aku yang ada dihatinya. Dia bohong bukan?” Wang Li Hai
bergumam setengah bertanya setengah mengeluh. Suaranya gemetar, matanya basah.
“Dia tidak berdusta,” kata pemuda di sampingnya, suaranya sama bergetar. “Bukan
kamu.”
“Apakah kamu?” tanya Wang Li Hai menoleh.
“Bukan,” sahut Wu Fei. “Bukan juga aku.”
“Lantas siapa?”
“Kalau kamu lihat nama siapa yang diukirnya di tiang belandar Teng (paviliun) di
tengah danau, kamu akan tahu.”
“Siapa?”
“Pergi, lihatlah sendiri.”
“Aku tak mau tinggalkan Ching-ching di sini.”
Chia Wu Fei mengawasi Wang Li Hai dengan tajam sampai pemuda she Wang itu gentar
sendiri. Tak pernah dia diawasi sedemikian rupa oleh orang lain. “Selama
hidupnya, meskipun bukan kamu yang ada di hatinya, tapi selalu menemanimu.
Sekarang, setelah begini apakah kau masih tidak ijinkan aku dan dia berdua
barang sesaat?”
“Aku ….” Wang Li Hai tak bisa berkata lagi. Dengan berat hati ia tinggalkan
juga.
Kini tinggal Chia Wu Fei memangku gadis she Lie yang diam membisu. Dipandanginya
wajah gadis itu. Diperbaikinya letak rambutnya, dihapusnya percik darah dari
wajahnya sembari menggumam.
“Selama hidupmu, aku tak berani mengatakannya. Selagi kau hidup tak berani
kubilang perasaanku yang seungguhnya. Tapi tadi ketika hampir kau pergi mendadak
aku ingin menyampaikan, mendadak hilang keraguan. Biarpun aku harus bersaing
dengan Wang Li Hai. Selama ini kusangka dialah orang yang ada di hatimu. Dan aku
benci Wang-heng karena merasa berkali-kali ia telah mengkhianatimu.
“Setelah kutahu bukan dia yang ada di hatimu, mendadak semangatku berkobar. Dan
tadi, waktu kusampaikan itu kepadanya, sesungguhnya hatiku penuh kebencian. Aku
senang melihat dia merana. Tapi itu hanya buat sementara. Sumpah, aku lebih
senang kalau ternyata benar benar dia yang ada di hatimu, kemudian kau boleh
bahagia bersamanya. Biar aku cuma dapat menyaksikan tanpa merasakan. Asalkan aku
masih dapat melihatmu tertawa, bercanda … terlambat. Semuanya sudah terlambat!”
Mendadak Chia Wu Fei sesenggukan. Memeluk badan Ching-ching erat erat.
“No. It’s not too late!” mendadak Wu Fei mendengar suara halus ditelinganya.
“Fei-koko, if I survive, what do you want to give me?”
Chia Wu Fei mengawasi si nona dipangkuannya yang tersenyum meskipun masih amat
pucat wajahnya. Ching-ching belum mati. Antara terkejut dan senang pemuda itu
menangis dan tertawa berbarengan. “Anything you want. Even my life.”
“Good. Could you bring me to my teacher?”
“Sure! Sure! But Wang Li Hai?”
“Don’t mind him. Paling nanti dia memakimu sebagai maling mayat. Let’s go before
he gets back!”
Lantaran Ching-ching belum dapat berdiri, Chia Wu Fei menggendongnya pergi.
“Siauw-soe-moay, I really thought you were dead.”
“Me too. Tapi kiranya Suhu kita melindungi.”
“Suhu kita?”
“Pedang yang suhu berikan masih kubawa dipinggang. Sewaktu dipukul tadi, yang
Ching Ching 483
kena adalah kepala pedang yang dari batu giok. Kiranya sekarang sudah hancur
berantakan. Eh, Wu Fei-koko, apa kau masih mau menemaniku seumur-umur?”
“Ching-ching jangan bercanda. Aku tahu aku bukan orang yang kau cinta.”
“Si orang she Chang sudah mati. Apa kau lebih suka aku menyusul dia?”
Wu Fei tertawa saja. Suaranya makin lama semakin lenyap, seperti juga ia membawa
Ching-ching semakin lama semakin jauh dari tempat itu.
Tamat__________________________

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Cinta Raisa Sekarang Sebelum Putus : Ching Ching 5 Tamat ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 11 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments