Cerita Romantis Novel Cinta Silat ; PAB 9

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Romantis Novel Cinta Silat ; PAB 9
Selesai masalah pertama, masih ada masalah kedua.
Bab XXXII. Ding Tao hilang ingatan saat Ketua Kunlun Pai, Guan Yong Kwan datang berkunjung.
Hari itu juga, segera setelah Chou Liang menjalankan siasatnya dibantu oleh sepasang suami isteri, Ma Songquan dan Chu Linhe, Ding Tao pergi untuk menemui Murong Yun Hua. Dalam hati terselip juga rasa malu, malu untuk mengakui kesalahan. Bukankah suami itu kepala keluarga, pemimpin dari
1554
keluarganya. Betapa sering kedudukan ini, membuat suami merasa dirinya harus menjadi manusia yang tidak pernah bersalah, pun jika terbukti dirinya bersalah.
Memang seorang pemimpin, harusnya tidak membuat kesalahan. Namun sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan, seharusnya pemimpin juga sanggup untuk mengakui kesalahannya. Dengan begitu, jalan menuju pada yang benar akan terbuka. Jika karena malu, seorang pemimpin tidak bersedia mengakui kesalahannya, maka hilang pula kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Bahkan lebih buruk lagi, bila langkah tersebut diambil oleh seorang pemimpin, maka biasanya yang terjadi adalah, kesalahan tersebut ditutupi dengan cara yang mengundang kesalahan-kesalahan lain. Sehingga perlahan-lahan, pimpinan yang tadinya baik, bisa berubah menjadi pembawa mala petaka bagi mereka yang dipimpinnya.
Bagusnya Ding Tao bukan jenis pemimpin yang demikian. Sadar atau bahkan terlalu sadar bahwa dirinya bukan orang paling bijaksana di dunia ini, Ding Tao tidak segan-segan untuk mengakui kesalahannya. Termasuk mengakui kesalahannya pada isteri-isterinya.
1555
Murong Yun Hua sedang bersenda gurau dengan adiknya Murong Huolin di taman, saat Ding Tao datang untuk mengakui kesalahannya.
―Kakak Ding Tao…, wah tidak biasanya belum waktunya makan siang sudah datang‖, ujar Huolin sambil berlari kecil menyambut Ding Tao, disusul oleh Murong Yun Hua di belakangnya. Murong Yun Hua tentu saja tidak bisa berlarian seperti Murong Huolin, perutnya sudah bertambah besar saja. Jika tidak ada aral melintang tentu 2 bulan lagi dia akan melahirkan.
Ding Tao menyambut Murong Huolin yang ceria dengan senyum di wajahnya, tangannya dengan serta merta menggenggam mesra tangan gadis itu. Bergandengan mereka berjalan ke arah Murong Yun Hua yang datang menyusul.
Ding Tao pun berkata, ―Sebenarnya aku datang karena ada satu urusan dengan kakakmu, Yun Hua.‖
―Oh… kusangka kakak rindu padaku, ternyata yang dirindukan adalah Kakak Yun Hua, aduh malunya…‖, keluh Murong Huolin dengan manja.
1556
―Hush… jangan sembarangan.., ini masalah Partai Pedang Keadilan.‖, jawab Ding Tao sambil mencubit Murong Huolin dengan lembut.
―Masalah partai? Apakah ada masalah genting dalam partai kita?‖, tanya Murong Huolin dengan nada yang lebih serius.
Karena sudah sampai pula ke dekat Murong Yun Hua, maka Ding Tao pun dengan segera meraih tangan Murong Yun Hua untuk digandengnya pula. Dengan menggandeng dua orang isteri yang cantik di kiri dan kanannya, Ding Tao berjalan ke arah bangku-bangku yang ada.
―Dikatakan masalah yang genting tidak juga. Tetapi bukan berarti tidak penting. Hal ini ada hubungannya dengan pemilihan Wulin Mengzhu yang akan diadakan dalam beberapa waktu ke depan, hitungan bulan.‖, ujar Ding Tao menjelaskan.
―Ah… apakah hubungannya dengan diriku?‖, tanya Murong Yun Hua.
―Soal itu, ada hubungannya dengan apa yang pernah kita bicarakan sebelumnya. Mengenai koleksi kitab-kitab, milik keluarga Murong. Aku sudah banyak berpikir dan harus kuakui, sebelumnya aku sudah terlalu kaku dalam memikirkannya. Saat
1557
ini waktu yang tersisa semakin sedikit, sementara aku tidak memiliki keyakinan yang kuat untuk maju dalam pemilihan tersebut. Jika imbangan kekuatan dalam pemilihan tersebut, tidak berbeda jauh, bukan tidak mungkin akan jatuh korban dari kalangan sendiri. Aku ingin berusaha sebisa mungkin untuk menghindari jatuhnya korban.‖, jawab Ding Tao menjelaskan.
Murong Huolin yang mendengarkan, tidak berani banyak berkomentar, hanya pandang matanya saja yang terarah pada Murong Yun Hua. Sebaliknya Murong Yun Hua dengan senyum menyambut jawaban Ding Tao.
―Syukurlah kalau Adik Ding Tao memutuskan demikian. Sebenarnya apakah kitab-kitab itu akan bermanfaat atau tidak, aku sendiri tidak bisa mengatakan dengan pasti. Tapi jika aku bisa membantu Adik Ding Tao, sesedikit apapun, hal itu akan membuatku senang.‖, ujarnya sambil meremas tangan Ding Tao dengan mesra.
―Bantuan Enci Yun Hua sudah terlampau banyak, tempat ini pun terasa lebih menyenangkan untuk ditinggali setelah kedatangan kalian berdua. Jika kitab-kitab itu tidak bermanfaat, maka kesalahan terletak pada otakku yang bebal. Aku berjanji akan berusaha segiat mungkin untuk mempelajarinya dan tidak
1558
menyia-nyiakan kebaikan Enci Yun Hua.‖, jawab Ding Tao sambil mencium lembut pipi Yun Hua.
―Aduh irinya… Aku pun ingin bisa membantu Kakak Ding Tao. Apa daya aku tidak sepandai Enci Yun Hua.‖, keluh Huolin sambil tersenyum menggoda.
―Hahaha… kenapa harus iri. Adik Huolin juga sudah banyak membantuku dengan cerita-cerita yang lucu. Jika tidak kepalaku tentu sudah pecah menghadapi urusan partai setiap hari.‖, ujar Ding Tao, tidak lupa memberikan kecupan mesra di pipi Murong Huolin.
Sembari mendudukkan badan mereka ke bangku yang terdekat, ketiganya pun bertukar cerita mengenai apa yang mereka alami hari itu. Setelah bercakap-cakap mengenai hal-hal yang ringan, Murong Yun Hua kembali mengarahkan pembicaraan mereka pada hal yang penting.
―Adik Ding Tao, kitab-kitab itu cukup banyak, sudahkah memikirkan kitab mana dulu yang akan dibaca dan mana yang akan ditekuni? Ataukah adik akan membaca dulu semuanya secara sekilas sebelum memutuskan akan mempelajari kitab yang mana?‖, tanya Murong Yun Hua.
1559
―Tentang hal itu sudah kupikirkan baik-baik. Aku tidak akan memilih ilmu tertentu untuk dipelajari, melainkan lebih menekankan pada mengenali setiap kelebihan dan kekurangan ilmu dari berbagai aliran. Dengan begitu aku bisa menemukan cara untuk mengalahkan lawan tanpa harus terlalu banyak mencuri belajar dari mereka.‖, jawab Ding Tao.
―Oh begitu, maksud kakak, kakak hanya ingin menemukan cara untuk menghadapi setiap aliran dengan ilmu yang kakak kembangkan sendiri?‖, tanya Murong Huolin untuk menegaskan.
―Ya, begitulah. Sebisa mungkin aku akan berusaha untuk tidak mencuri ilmu dari aliran lain. Namun jika memang hal itu tidak bisa dihindarkan, misalnya ketika ilmu itu bisa menjadi pelengkap yang baik dari apa yang sudah kutekuni, maka sebisa mungkin aku menekuninya dengan meleburkannya dengan ilmu yang sudah kumiliki dan bukan menirunya mentah-mentah.‖, jawab Ding Tao.
―Apakah ada cukup waktu untuk melakukan hal itu?‖, tanya Murong Huolin dengan wajah khawatir.
1560
Alis Ding Tao pun berkerut memikirkan hal itu, dengan ragu dia menggelengkan kepala, ―Sebenarnya aku sendiri tidak yakin, namun yang bisa dilakukan hanyalah berusaha mempelajari sebanyak mungkin dalam waktu yang tersisa. Kalaupun tidak bisa mempelajari semuanya, setidaknya dari yang sudah dipelajari akan membuat pengetahuanku menjadi lebih lengkap.‖
―Kalau begitu, biarlah kitab-kitab yang memuat ilmu-ilmu andalan dari perguruan besar dipelajari terlebih dahulu. Dengan kitab yang menerangkan jurus lebih diutamakan daripada kitab yang berkenaan dengan pengolahan tenaga.‖, ujar Murong Yun Hua setelah mendengarkan penjelasan Ding Tao.
Ding Tao pun mengangguk membenarkan, ―Kurasa itu salah satu jalan yang baik.‖
Murong Yun Hua termenung beberapa saat kemudian bertanya, ―Adik Ding Tao, apakah membutuhkan obat pengetahuan dewa untuk mempercepat proses pembelajaran ini?‖
Ding Tao terdiam dan berpikir, Murong Huolin-lah yang terlebih dahulu berkata, ―Kakak, kurasa terlalu banyak
1561
menggantungkan diri pada obat-obatan tidaklah baik. Kakak Ding Tao sudah mendapatkan banyak perkembangan setelah meminumnya. Meminumnya kembali bukan hanya belum tentu memberikan hasil seperti yang lalu, tapi juga tentu memiliki resikonya sendiri.‖
Ding Tao memandang Murong Huolin sejenak, kemudian tersenyum dan menjawab, ―Adik Huolin benar, sejak meminum obat itu untuk berapa lama, memang sekarang kerja otakku jadi lebih encer. Meskipun setelah berhenti meminumnya beberapa bulan, tidak kurasakan daya kerjanya menurun. Kupikir lebih baik, kali ini aku tidak meminumnya kembali. Terlalu banyak pun kurasa tidak akan baik jadinya.‖
Murong Huolin terlihat bersyukur mendengar jawaban Ding Tao. Murong Yun Hua pun menganggukkan kepala setelah mendengarkan jawabannya.
―Hal itu pun baik, ada kalanya karena mengharapkan keajaiban seseorang jadi terlalu bergantung pada obat-obatan. Jika setelah berhenti meminumnya Adik Ding Tao tidak merasakan penurunan dalam kerja otak dan syaraf Adik Ding Tao, maka hal itu menunjukkan satu perubahan yang sudah mapan dalam
1562
sistim syaraf Adik Ding Tao dan obat itu sudah tidak diperlukan lagi.‖, ujar Murong Yun Hua sambil tersenyum.
―Kapan kakak akan mulai mempelajari kitab-kitab itu?‖, tanya Murong Huolin.
―Waktunya tinggal sedikit, makin cepat, makin baik.‖, jawab Ding Tao dengan ringkas.
Mendengar jawaban Ding Tao Murong Yun Hua menganggukkan kepala dan bangkit dari duduknya.
―Jika adik sudah berketetapan demikian, baiklah kita mulai saja sekarang. Kitab-kitab itu kusimpan dalam kamar, sekarang kita bisa pergi ke sana dan mengambil satu kitab untuk dibawa Adik Ding Tao ke ruang latihan. Sambil Adik Ding Tao mempelajarinya, aku dan Adik Huolin akan memilah-milah kitab-kitab yang lainnya sambil juga menyiapkan segala keperluan Adik Ding Tao nanti. Kukira setelah ini, Adik Ding Tao akan menghabiskan banyak waktu di ruang latihan.‖, ujar Murong Yun Hua dengan tegas.
Ding Tao menganggukkan kepala, dia tidak keberatan dengan sikap Murong Yun Hua yang terkadang bertindak sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Lagipula sejak awal, memang
1563
itu pula yang dia pikirkan. Mereka berdua menunjukkan tekad yang kuat, hanya Murong Huolin sedikit muram membayangkan akan berjauhan dengan Ding Tao dalam waktu yang lama. Dengan cara kerja yang cepat dan tepat, tanpa banyak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting, tidak lama setelah itu, Ding Tao sudah berada di dalam ruang latihan, membaca dan menekuni sebuah kitab.
Karena sudah pernah membaca kitab yang menjadi salah satu sumber ilmu perguruan Kongtong, Ding Tao memilih kitab-kitab dari perguruan tersebut untuk dipelajarinya pertama kali. Dalam benaknya dia berpendapat, kalaupun waktu yang ada itu tidak memungkinkan untuk memahami semuanya, setidaknya ada satu atau dua yang sudah dimengertinya dengan tuntas, walaupun hanya dalam bentuk teori.
Sementara Murong Huolin memilah-milah kitab-kitab yang ada, sesuai dengan petunjuk Murong Yun Hua. Murong Yun Hua sendiri memilih untuk mengarahkan para pelayan, mengenai persiapan kebutuhan Ding Tao selama dalam ruang latihan. Setelah selesai memberikan pengarahan dan juga membantu di dapur beberapa lama. Murong Yun Hua pun pergi untuk menemui Chou Liang dan menyampaikan rasa terima kasihnya.
1564
Chou Liang pun ikut bergembira melihat siasatnya berhasil dengan baik, ―Syukurlah kalau begitu. Berarti saat ini Ketua Ding Tao sudah mulai mempelajari isi kitab-kitab itu?‖
―Ya, benar, segera setelah menyampaikan keinginannya pada kami, Adik Ding Tao membawa beberapa jilid kitab ke ruang latihan dan mulai mempelajarinya. Penasehat Chou Liang, melihat keadaannya kukiralebih baik jika Adik Ding Tao tidak diganggu dengan urusan partai sampai waktu yang cukup lama.‖, ujar Murong Yun hua menjawab pertanyaan Chou Liang.
―Ya… tentu saja, kuharap tidak akan muncul masalah yang di luar kemampuanku untuk memecahkannya. Sebisa mungkin akan kujaga agar tidak ada yang mengganggu pikiran Ketua Ding Tao selama dia berlatih nanti.‖, jawab Chou Liang.
―Ya, kuharap juga demikian. Jika tidak maka dengan waktu yang singkat ini, tentu akan sulit untuk mendapatkan hasil yang maksimal.‖, ujar Murong Yun Hua sambil mendesah.
―Sudahlah, kuharap Nyonya jangan terlalu merisaukan hal itu. Aku percaya Ketua Ding Tao adalah orang yang berbakat.‖, jawab Chou Liang berusaha menghibur Murong Yun Hua.
1565
Selesai menemui Chou Liang, Murong Yun Hua pun bergegas kembali menemui Murong Huolin dan ikut membantu adiknya itu memilah-milah kitab-kitab yang ada. Demikianlah keputusan Ding Tao membuat kesibukan rumah itu menjadi meningkat. Meskipun para pelayan tidak seluruhnya mengerti ilmu silat, namun sebagai bagian dari satu partai besar dalam dunia persilatan mereka memahami pentingnya apa yang dilakukan Ding Tao saat ini. Dan bersama-sama mereka berusaha untuk mendukung Ding Tao agar berhasil dalam usahanya, meskipun bila hal itu hanya dalam bentuk doa sekalipun.
Entah karena manjurnya doa mereka, atau mungkin karena suasana hati Ding Tao yang baik. Begitu dia mulai mempelajari isi dari satu kitab, pikirannya bekerja dengan terang. Semangatpun jadi terbangkit dan pelajaran yang berat jadi terasa menyenangkan. Ding Tao hampir lupa makan dan minum, jika saja bukan Murong Yun Hua dan Murong Huolin yang sesekali datang menengok mengingatkan dirinya. Memang benar Ding Tao hanya mempelajari teorinya saja tanpa melatih isi dari kitab-kitab yang dia baca. Namun tenaga yang diperlukan tidak kalah banyaknya, apalagi Ding Tao seperti orang yang kehausan, berusaha mereguk ilmu-ilmu
1566
yang ada sebanyak-banyaknya dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Tanpa terasa beberapa minggu pun sudah lewat, dengan Ding Tao selalu berada di dalam ruang latihan. Sedikitpun dia tidak pernah beranjak keluar. Beruntung Partai Pedang Keadilan memiliki orang-orang yang cakap seperti Chou Liang, Sun Liang, Qin Hun, Pendeta Liu Chuncao dan Ma Songquan. Mereka juga tidak kekurangan orang-orang yang setia dan bisa dipercaya seperti Wang Xiaho, Li Yan Mao dan yang lainnya, mereka ini orang-orang tanpa ragu-ragu akan bersedia mati demi Ding Tao. Dengan demikian, absennya Ding Tao dari kegiatan Partai Pedang Keadilan tidak mengganggu jalannya partai.
Meskipun tidak mengganggu jalannya roda partai, tidak urung keadaan Ding Tao yang seperti lupa makan dan minum ini membuat hati Chou Liang menjadi risau. Ma Songquan dan Chu Linhe yang baru saja selesai membasmi kelompok pembegal di Gui Yang, ikut risau pula melihat keadaan Ding Tao.
―Sudah berapa lama Ketua Ding Tao bersikap seperti ini?‖, tanya Ma Songquan kepada Chou Liang.
1567
Sore itu mereka bertiga sedang duduk-duduk di ruangan kerja Chou Liang. Setelah selesai dengan tugasnya Ma Songquan dan Chu Linhe memutuskan untuk menginap beberapa hari di markas besar Partai Pedang keadilan di Kota Jiang Ling, untuk menilik hasil dari siasat Chou Liang.
―Sudah 16 hari, sebentar lagi genap 3 minggu Ketua Ding Tao mengurung diri dalam ruang latihan.‖, jawab Chou Liang dengan wajah murung.
Melihat wajah Chou Liang yang murung, Ma Songquan tertawa dan menjawab, ―Tidak perlu terlalu kuatir, Ketua Ding Tao rupanya juga orang yang keranjingan ilmu silat. Bukan hal yang aneh bila orang jadi lupa waktu, saat bertemu dengan sesuatu yang mengasyikkan.‖
―Hmmm… Saudara Ma Songquan, belum bertemu dengan Ketua Ding Tao jadi bisa berbicara demikian. Kalau sudah bertemu, mungkin akan beda lagi pendapatnya.‖, keluh Chou Liang.
―Memangnya seperti apa Ketua Ding Tao sekarang ini?‖, tanya Chu Linhe penasaran.
1568
―Hehh… setiap kali bertemu, kulihat dia seperti sudah kehilangan akalnya. Pikirannya hanya penuh terisi dengan ilmu dari kitab-kitab tersebut. Hal-hal lain sama sekali tidak dia hiraukan. Jika bukan kedua Nyonya Murong dan diriku yang mengingatkan untuk makan dan minum, mungkin dia tidak akan makan dan minum sampai berhari-hari.‖
―Oh… itu sih biasa…‖, ujar Ma Songquan menenangkan Chou Liang.
―Kalian belum melihat tumpukan kitab yang sudah selesai dia baca. Bukankah kalian sendiri mengatakan, paling bijaksana jika Ketua Ding Tao hanya melihat-lihat sekilas, kemudian memilih salah satu kitab untuk ditekuni benar-benar. Tapi jika melihat keadaannya, aku tidak akan heran, jika kenyataannya dia melahap setiap ilmu dalam kitab-kitab tersebut.‖, gerutu Chou Liang.
Mendengar itu Ma Songquan pun jadi mengerutkan kening, ―Hmm… apa benar demikian? Masakan Ketua Ding Tao seceroboh itu?‖
―Hmph, coba saja nanti malam kalian ikut dengan diriku, membawakan makanan untuk Ketua Ding Tao, nanti kalian
1569
akan lihat sendiri apa yang membuatku kuatir.‖, jawab Chou Liang menggerutu.
Meskipun mulai merasa khawatir, Ma Songquan meragukan kekhawatiran Chou Liang. Bagaimanapun juga Chou Liang bukanlah seorang pesilat.
―Apakah sudah ada yang pernah menengok kondisi Ketua Ding Tao selain dirimu dan kedua isterinya?‖, tanya Ma Songquan.
Chou Liang menggelengkan kepala, ―Belum, pada anggota Partai Pedang Keadilan yang lain aku hanya menyampaikan bahwa Ketua Ding Tao sedang berusaha mempelajari satu ilmu dan tidak bisa diganggu hingga dia selesai.‖
Ma Songquan termenung mendengar jawaban Chou Liang, sedikit banyak dia bisa meraba alasan apa yang melatar belakangi tindakan Chou Liang yang menyembunyikan keadaan Ding Tao saat ini. Tidak semua orang akan menerima dengan pikiran terbuka, apa yang sedang dilakukan Ding Tao saat ini. Contoh saja Sun Liang dari keluarga Sun di Luo Yang, walaupun ilmu mereka tadinya bersumber dari Shaolin, namun sejak beberapa generasi, mereka sudah mengembangkan sendiri ilmu keluarga Sun. Ilmu yang diwariskan turun temurun
1570
dan dijaga ketat. Atau keluarga Huang sendiri, bukankah ilmu keluarga Huang tidak diwariskan, kecuali pada garis keturunan penerus keluarga Huang? Orang-orang seperti mereka, tentu akan mengerenyitkan alis jika mereka mendengar Ding Tao sedang mempelajari ilmu dari berbagai aliran tanpa ijin dari ketua aliran tersebut. Bahkan mungkin dalam hati mereka akan bertanya-tanya juga, jangan-jangan ilmu warisan keluarga mereka ada di salah satu kitab-kitab yang dipelajari Ding Tao.
―Hmm… sepertinya kita sudah mengambil resiko terlalu besar…‖, gumam Ma Songquan.
―Resiko yang tidak pernah kupikirkan adalah, jika sampai terjadi sesuatu pada Ketua Ding Tao akibat mempelajari kitab-kitab tersebut. Resiko yang lain masih bisa aku tangani.‖, sahut Chou Liang dengan suara lirih.
―Soal itu, justru kupikir, resikonya adalah yang terkecil. Aku sudah melihat bagaimana dia bisa berkembang pesat dalam hitungan bulan, hal itu membuktikan bakatnya yang sangat baik. Aku juga sudah melihat wataknya yang tidak lapar dan haus pada kekuasaan atau kekuatan. Itu sebabnya terasa aneh jika Saudara Chou Liang mengatakan, Ketua Ding Tao
1571
tampaknya berusaha melahap semua ilmu yang ada dalam kitab-kitab itu.‖, jawab Ma Songquan.
―Kukira…, kukira… dalam hal ini aku ada sedikit salah perhitungan‖, ujar Chou Liang dengan wajah memucat dan hati berdebar.
―Apa maksud Saudara Chou Liang?‖, tanya Ma Songquan.
Lama Chou Liang terdiam sebelum kemudian menjawab, ―Tadinya aku hanya berpikir untuk memancing Ketua Ding Tao, agar tergerak untuk mempelajari kitab-kitab tersebut. Mengenal wataknya yang keras kepala dalam hal-hal prinsip, sepertinya skenario yang kuatur terlalu berlebihan.‖
―Dari yang kudengar lewat Nyonya Yun Hua, tampaknya Ketua Ding Tao ingin mempelajari seluruh kitab-kitab tersebut meskipun hanya terbatas pada teorinya saja.‖
―Hoo… mempelajari seluruh kitab tanpa memilih salah satu ilmu untuk dikuasai dengan baik?‖, gumam Ma Songquan sementara otaknya berpikir cepat.
―Hmm… kukira aku mengerti…‖, gumam Ma Songquan perlahan-lahan.
1572
―Apa yang kakak mengerti?‖, tanya Chu Linhe yang sejak tadi mendengarkan. ―Mudah saja, kelemahan Ketua Ding Tao yang terbesar adalah pengalaman bertarungnya. Hal itu pula yang kita tekankan. Dengan mengenali seluruh ilmu-ilmu yang tercatat dalam kitab itu, sama saja dengan menambah pengalaman bertarungnya melawan berbagai aliran tanpa sungguh-sungguh bertarung. Setelah itu, dia bisa memikirkan pemecahan dari setiap serangan dan kelemahan dari setiap pertahanan. Dengan cara itu, tanpa mencuri belajar ilmu dari aliran lain, dia memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mengalahkan mereka.‖, ujar Ma Songquan menjelaskan.
―Jika Ketua Ding Tao bukan sedang berusaha menguasai ilmu-ilmu tersebut. Bukankah bahayanya bisa dibilang hampir tidak ada? Salah jalan hanya terjadi jika seseorang berusaha menguasai satu ilmu dan pikirannya bercabang, hingga hawa murni yang diperkuat, lepas kendali dan menjadi liar. Sedangkan saat ini, Ketua Ding Tao tidak sedang berusaha menguasai satu ilmu pun, resiko tersesatnya hawa murni bisa dibilang tidak ada? Bagaimana menurut kakak, benar tidak pemikiranku ini?‖, tanya Chu Linhe.
1573
Ma Songquan tidak langsung menjawab, sementara Chu Linhe dan Chou Liang menantikan jawabannya dengan penuh harap. Jika benar uraian Chu Linhe, itu artinya Chou Liang pun boleh bernafas lega, mereka semua boleh bernafas lega.
―Uraianmu tidaklah salah, namun keadaan Ketua Ding Tao saat ini juga tidak bisa dikatakan aman dari bahaya. Yang pertama, hawa murni bergerak mengikuti pikiran dan kehendak. Jika dalam mempelajari kitab-kitab tersebut, Ketua Ding Tao tidak berhati-hati, maka bisa jadi tanpa sadar, pikiran dan kehendaknya tergerak untuk melakukan apa yang sedang dia baca.‖
―Yang kedua, meskipun hanya menggunakan pikiran saja, sementara kehendak ditidurkan dan hati dijaga ketenangannya. Bukan berarti tidak ada resiko mengalami kesesatan. Bagaimana pun juga untuk mempelajari ilmu itu, pikiran harus bekerja, maka ada kemungkinan akan mengalami kesesatan juga. Hanya saja, kesesatan yang terjadi tidak mengakibatkan kelumpuhan, seperti yang biasa terjadi saat seorang pesilat yang melatih hawa murni mengalami salah jalan. Namun yang terjadi adalah kegilaan, kepribadiannya yang akan terganggu.‖, jelas Ma Songquan dengan nada prihatin.
1574
Mendengar jawaban Ma Songquan, wajah Chou Liang berubah semakin pucat. Chu Linhe yang melihatnya merasa kasihan juga, apalagi dirinya dan suaminya juga tersangkut dalam masalah yang sama. Maka dengan nada prihatin dia bertanya pada Ma Songquan.
―Jika begitu, apakah tidak ada yang bisa kita lakukan?‖
―Hmm… pada saatnya mengantarkan makanan nanti, kita akan ikut menjenguk dan melihat keadaannya. Jika memang pikirannya terlampau jauh terseret dalam pembelajarannya, kukira asalkan kita bisa menghentikan Ketua Ding Tao untuk berpikir beberapa lama, resiko yang kita kuatirkan bisa dikurangi.‖, ujar Ma Songquan setelah berpikir beberapa lama.
―Ah… kalau benar demikian, mengapa harus menunggu nanti. Baiklah kita datangi dia sekarang.‖, ujar Chou Liang sambil bangun dari duduknya.
Tapi Ma Songquan menggelengkan kepala, ―Tidak, lebih baik pada waktu kita mengantarkan makanan.‖
―Mengapa demikian? Bagaimana jika terlambat?‖, tanya Chou Liang tidak mengerti.
1575
―Bukankah biasanya makanan dan minuman diantarkan pada waktu yang sama?‖, tanya Ma Songquan.
―Ya, benar, kedua nyonya tidak pernah terlambat untuk menyiapkan makanan dan minuman. Semuanya selalu siap pada saatnya.‖, jawab Chou Liang.
―Pada saat makanan dan minuman diantarkan, apakah Ketua Ding Tao bisa makan dan minum sendiri?‖, tanya Ma Songquan.
―Tentu saja, hanya saja bisa terlihat bahwa pikirannya banyak tertuju pada hal-hal di luar apa yang sedang dia lakukan saat itu.‖, jawab Chou Liang.
―Lalu apakah pernah kau atau kedua nyonya mengajaknya bicara di waktu dia makan dan minum tersebut?‖, tanya Ma Songquan.
―Ya, tentu saja pernah, menunggui dia makan tanpa berkata-kata apa pun tentu saja terasa aneh. Lagipula pikiran Ketua Ding Tao yang tampak melayang-layang membuat suasana jadi terasa sedikit aneh. Jadi meskipun tidak banyak selalu ada percakapan pada waktu-waktu tersebut. Sekedar untuk mengisi kekosongan dan mencairkan suasana.‖, jawab Chou Liang.
1576
―Hmm… jadi ada kemungkinan, setelah berhari-hari melakukan rutinitas yang sama, yang dimulai jauh sebelum pikirannya semakin masuk dalam pembelajaran, secara alami sebuah kebiasaan sudah terbentuk. Setidaknya pada waktu-waktu tersebut, pikiran Ketua Ding Tao, dengan sendirinya menyediakan sebagian kemampuannya untuk makan, minum dan juga berinteraksi dengan kalian.‖, ujar Ma Songquan setelah puas bertanya.
Mendengar perkataan Ma Songquan, Chou Liang pun perlahan-lahan kembali duduk sambil menganggukkan kepala tanda paham. Chou Liang bukan orang bodoh, tentu saja dia bisa memahami alasan Ma Songquan.
―Ya… dengan memanfaatkan kebiasaan yang sudah terbentuk, kita sengaja datang pada saat pikiran memberikan celah bagi kita untuk masuk.‖, gumamnya.
―Benar… jika bukan di saat-saat itu, kukira, dengan daya konsentrasinya yang tinggi. Sulit bagi kita untuk berkomunikasi dengan Ketua Ding Tao, di saat dia sedang memfokuskan pikirannya pada kitab yang sedang dia pelajari.‖, ujar Ma Songquan.
1577
―Baiklah, kalau begitu kita menunggu terlebih dahulu. Omong-omong, Saudara Ma Songquan dan Nyonya Chu Linhe, kuharap tetap berada di Jiang Ling sampai masalah ini selesai. Di Wuling sudah kuminta Saudara Sun Liang dan puteranya, dibantu Qin Bai Yu yang sekarang bersahabat dekat dengan Sun Gao, untuk mengambil alih pimpinan di kota Wuling sampai kalian berdua kembali ke sana.‖, ujar Chou Liang.
―Baguslah kalau begitu. Di saat seperti ini aku pun tidak ingin berada jauh dari Ketua Ding Tao.‖, jawab Ma Songquan.
Sambil menunggu waktu, ketiganya pun bercakap-cakap mengenai banyak hal lain. Mendekati waktunya, terdengar pintu ruangan diketuk dari luar. Rupanya Murong Huolin datang membawakan makanan dan minuman yang sudah disiapkan untuk Ding Tao. Setelah berbasa-basi sebentar, merekapun pergi bersama-sama menemui Ding Tao dalam ruang latihannya.
Di luar ruangan tersebut, sekarang tampak beberapa orang anggota Partai Pedang Keadilan yang berjaga. Panca indera Ma Songquan dan Chu Linhe yang tajam, juga merasakan adanya orang-orang yang berjaga di tempat-tempat yang tersembunyi. Bahkan sudah dimulai dari ratusan meter sebelum
1578
mereka sampai di ruangan latihan Ding Tao. Dengan gerakan yang tidak kentara, Ma Songquan melirik Chou Liang dengan alis terangkat. Chou Liang yang paham maksudnya, segera mengangguk sambil tersenyum dan bergumam.
―Hanya ini saja yang bisa kulakukan. Setelah kedatangan kalian berdua hatiku tentu akan merasa lebih tenteram.‖
Rupanya Chou Liang mengkhawatirkan keadaan Ding Tao yang seperti orang ling lung dan menempatkan penjagaan di sekitar ruang latihan itu. Akan tetapi sebagian besar dari mereka ditempatkan di tempat yang tersembunyi, karena jumlah yang terlampai banyak justru akan memberi sinyal bahwa ada yang kurang beres dengan keadaan Ding Tao. Serba salah memang, tidak dijaga salah, dijaga pun salah. Itu juga salah satu sebab Chou Liang merasa cemas beberapa hari ini. Setiap hari Ma Songquan belum datang, setiap hari itu pula Chou Liang harus tidur dengan jantung berdebar-debar.
Setelah mengetuk pintu dengan ringan, tanpa menunggu jawaban, Murong Huolin mendorong pintu sampai terbuka. Ding Tao yang sedang duduk dalam posisi bermeditasi, perlahan membuka matanya. Seperti yang dikatakan Ma Songquan, jam dalam tubuhnya sudah menyesuaikan diri dengan kebiasaan
1579
yang berjalan selama beberapa minggu tersebut. Setelah membuka mata, masih perlu waktu beberapa lama sebelum Ding Tao menyadari hadirnya Ma Songquan dan Chu Linhe. Ding Tao menatap kosong ke arah kedua orang tersebut, samar-samar otaknya mengenali ada yang berbeda dengan hari biasa. Namun sebagian besar dari otaknya sedang sibuk menganalisa dan mengurai apa yang dia baca. Tinggal sebagian kecil yang bersentuhan dengan realita di sekelilingnya dan meskipun dia segera sadar bahwa ada sesuatu yang berbeda, dia pun butuh waktu cukup lama sebelum memahami apa yang berbeda itu.
Ketika dia mulai memahami keberadaan Ma Songquan dan Chu Linhe, wajahnya pun berubah menjadi cerah, sambil tersenyum dia menyapa mereka berdua, ―Saudara Ma Songquan, Enci Chu Linhe, kalian berdua sudah kembali. Bagaimana kabar kalian?‖
―Baik, kami semua baik-baik saja. Ada beberapa orang yang luka ringan, namun tidak ada yang serius, masalah pencoleng itu juga semuanya sudah beres. Ketua Ding Tao sendiri, bagaimana kabarnya?‖, jawab Ma Songquan balik menanya.
1580
―Baik… baik…‖, jawab Ding Tao sedikit mengambang, sejenak matanya menerawang entah ke mana, sebelum kemudian berfokus kembali pada mereka yang hadir seruangan dengan dirinya.
―Ah.. ayolah kita mulai makan, perutku sudah mulai lapar.‖, ujar Ding Tao kemudian bergerak untuk duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan.
Makanan dan minuman sudah diatur oleh Murong Huolin dan Chu Linhe, sambil menunggu Ding Tao dan Ma Songquan bercakap-cakap tadi. Setelah mereka duduk bersama, Murong Huolin dengan telaten, mengambilkan nasi dan lauknya untuk Ding Tao. Sementara Ding Tao seperti sebuah robot, mengucapkan terima kasih, sambil mengajak yang lain untuk ikut makan, kemudian dengan lahap dia makan apa yang sudah dihidangkan oleh Murong Huolin dengan pandangan mata yang seringkali kosong. Hanya sesekali matanya terlihat hidup dan perhatiannya terarah pada keadaan di sekelilingnya. Jika ada yang bertanya pada Ding Tao, maka butuh waktu beberapa lama sebelum dia menjawab.
Setelah menilik keadaan Ding Tao akhirnya Ma Songquan membuka mulut dan berkata, ―Ketua Ding Tao, apakah tidak
1581
bisa berhenti sejenak memikirkan ilmu-ilmu yang sedang ketua pelajari?‖
―Huh ?‖, sahut Ding Tao dengan ekspresi wajah kosong.
Ma Songquan pun mengulangi lagi pertanyaannya dan harus menunggu beberapa saat sebelum Ding Tao akhirnya menjawab dengan alis berkerut dan nada kurang suka, ―Tentu saja bisa, tapi apakah ada sesuatu yang penting?‖
―Penting, sangat penting malah dan berhubungan erat dengan perkembangan ilmu dari Ketua Ding Tao. Jika Ketua Ding Tao mau mendengarkan usulanku, kujamin proses belajar Ketua Ding Tao akan menjadi lebih cepat beberapa kali lipat.‖, jawab Ma Songquan dengan sungguh-sungguh.
Mata Ding Tao berkilat saat mendengar bahwa usulan Ma Songquan bisa membantunya dalam mempelajari ilmu dari kitab-kitab yang sedang dia baca.Sebagian perhatiannya mulai bergeser pada Ma Songquan, tanpa sadar dia meletakkan mangkok dan sumpitnya ke meja.
Melihat perhatian Ding Tao sudah lebih banyak terarah pada dirinya Ma Songquan melanjutkan usahanya untuk menarik Ding Tao dari pusaran ilmu yang mengikat benaknya.
1582
―Sebelumnya, marilah kita coba berlatih tanding untuk menilai sampai sejauh mana Ketua Ding Tao mengalami kemajuan dengan apa yang ketua baca selama ini.‖, ujarnya sambil melangkah ke tengah ruangan.
Sejenak Ding Tao memandangi Ma Songquan dan kemudian menjawab, ―Baik.‖
Keduanya pun berhadapan di tengah ruangan, Ma Songquan merangkap tangan di depan dada dan berujar, ―Mari Ketua Ding Tao, silahkan dimulai lebih dulu.‖
Ding Tao mengangguk dan menatap kuda-kuda lawan, segera saja benaknya berputar, segala apa yang sudah pernah dia pelajari berkelebatan dalam otaknya. Semakin banyak pengetahuannya, semakin banyak kemungkinan-kemungkinan yang dapat dia bayangkan dari kedudukan awal mereka. Semakin lama, Ding Tao semakin terjebak oleh benaknya sendiri, berputar-putar dengan ingatan akan apa yang sedang dia baca. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Ma Songquan pun berucap.
―Jika Ketua Ding Tao segan untuk memulai, bagaimana kalau aku yang memulai lebih dulu.‖, tanyanya dengan sopan.
1583
Dengan ragu-ragu, Ding Tao menganggukkan kepala, ―Silahkan….‖
Tanpa banyak cakap lagi, Ma Songquan pun mulai menyerang, ―Awas serangan Ketua Ding Tao!‖
Serangan yang dilancarkan tidaklah rumit, tapibenak Ding Tao yang masih sibuk memikirkan ilmu-ilmu yang baru dia baca, tidak cukup cepat untuk bereaksi terhadap serangan Ma Songquan yang sederhana. Menatap kosong pada kepalan Ma Songquan yang bergerak lurus ke depan, tiba-tiba kepalan itu sudah mampir di dadanya. Tanpa dapat dicegah, Ding Tao terhuyung mundur beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh terduduk.
Murong Huolin dan Chou Liang yang menyaksikannya dengan tegang terpekik kaget. Chu Linhe buru-buru menenangkan mereka yang sudah hendak bergerak menolong Ding Tao.
―Jangan takut, sabar dulu. Kakak Ma Songquan tahu keadaan Ketua Ding Tao dan membatasi tenaganya. Biarkan dulu mereka, jangan diganggu. Pelan-pelan Ketua Ding Tao akan sadar akan keadaannya.‖, ujar Chu Linhe sambil menahan tangan Murong Huolin dengan lembut.
1584
Dengan ragu Murong Huolin memandang ke arah Chu Linhe, kemudian mengangguk setuju. Sekali lagi pandang matanya diarahkan pada Ma Songquan dan Ding Tao yang sudah saling berhadapan untuk kedua kalinya. Meskipun masih ada jejak-jejak kecemasan di raut wajahnya, Murong Huolin tidak lagi memburu ke depan, melainkan menanti dengan tegang.
―Ketua Ding Tao… bagaimana keadaan ketua? Apakah bisa kita mulai sekali lagi?‖, tanya Ma Songquan datar.
Ding Tao yang masih terkejut ketika menyadari betapa Ma Songquan bisa menjatuhkan dirinya dengan mudah terdiam mendengar pertanyaan itu. Perlahan akal sehatnya mulai bekerja, menganalisa kekalahannya barusan. Serangan yang sederhana masuk dengan mudah.
Dengan penasaran dia mengangguk perlahan, ―Mari kita mulai lagi. Silahkan Kakak Ma Songquan menyerang lebih dahulu.‖
―Baik, awas serangan!‖, seru Ma Songquan.
Sekali lagi dia menyerang dengan serangan yang sama, kali ini gerakannya lebih cepat dari gerakan sebelumnya. Ding Tao yang sudah lebih berkonsentrasi mengamati gerakan lawan, tidak seterkejut tadi saat kepalan Ma Songquan sudah hampir
1585
sampai di dadanya. Namun benaknya masih berkutat dengan apa yang barusan dia pelajari. Bukannya menghindar, dia justru lebih sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan perkembangan selanjutnya. Dengan semakin banyaknya pengetahuan yang ada, semakin terbuka pikirannya terhadap jumlah kemungkinan yang muncul dari satu serangan yang sederhana. Setiap langkah memiliki pecahan kemungkinannya sendiri, jika untuk memikirkan satu langkah ke depan saja sudah puluhan jumlah kemungkinan yang muncul, betapa lebih banyak lagi ketika Ding Tao berpikir dua sampai tiga langkah ke depan.
Akibatnya sebelum dia sempat memutuskan apa yang harus dia lakukan, pukulan Ma Songquan yang sederhana tanpa jebakan atau kembangan kembali mampir ke dadanya. Sekali lagi Ding Tao tersurut mundur, beberapa langkah ke belakang dan jatuh terduduk.
Kembali Murong Huolin dan Chou Liang terpekik kecil. Dada mereka ikut berdebar, tidak sabar dan cemas, menyaksikan pertarungan yang bodoh ini.
Ding Tao sendiri bukannya tidak sadar dengan pekik kaget mereka, wajahnya pun berubah merah oleh malu dan rasa
1586
penasaran. Bagaimana mungkin dia bisa dijatuhkan semudah ini? Seperti seorang anak yang baru belajar ilmu bela diri.
Dengan menggeram dia bangkit berdiri dan sebelum Ma Songquan sempat bertanya, dia sudah berkata, ―Mari kita coba sekali lagi, silahkan Kakak Ma Songquan mulai menyerang lebih dulu.‖
―Baiklah, awas serangan!‖, seru Ma Songquan yang segera menyerang tanpa ragu lagi.
Dua kali di amenyerang dengan pukulan yang sederhana, kali ini Ma Songquan bergerak seperti hendak memukul lurus dengan tangan kiri, namun hanya bahunya yang bergerak maju, di tengah jalan tangan kirinya ditarik ke belakang, sementara tangan kanannya bergerak menebas dari samping. Ding Tao yang sudah bersiap hendak menerima pukulan dari depan, ketika melihat perubahan gerakan Ma Songquan, tiba-tiba kembali lagi benaknya diserang dengan berbagai macam pikiran dari kemungkinan yang bisa saja terjadi. Tanpa dapat dielakkan, sisi tangan kanan Ma Songquan dengan telak mampi di leher Ding Tao. Beruntung di saat-saat terakhir Ding Tao masih sempat mengumpulkan hawa dan semangat untuk
1587
melindungi tempat yang akan terpukul oleh Ma Songquan dengan hawa murninya.
Meskipun demikian pukulan itu menyengatnya dengan keras, pusat syarafnya tergetar dan dengan keluhan pendek Ding Tao melompat jauh ke samping, menjauhi kedudukan Ma Songquqn yang sudah siap dengan serangan berikutnya.
Ma Songquan tidak memberikan kesempatan pada Ding Tao untuk beristirahat, segera setelah Ding Tao bergeser, diapun memburu dengan sebuah tendangan berputar, menutup gerak menghindar Ding Tao. Kakinya yang panjang bergerak melingkar, menyerang ke arah badan Ding Tao yang sedang bergerak menghindar. Sekali lagi Ding Tao harus menahan nyeri, saat tendangan tersebut dengan telak mengenai sisi tubuhnya. Dengan menggunakan tenaga dorongan kaki Ma Songquan Ding Tao pun melompat, mengikuti arah serangan Ma Songquan, selain mengurangi benturan, juga membantu dia untuk melompat lebih jauh ke arah yang berlawanan.
Begitu kaki Ma Songquan menyentuh lantai, dengan segera dia melompat memburu ke depan, sebuah pukulan kembali dilontarkan. Sebuah pukulan lurus ke arah kening Ding Tao yang terbuka lebar, ketika Ding Tao hendak menghindar,
1588
ternyata serangan tersebut hanyalah tipuan, justru kaki Ma Songquan yang diam-diam mengambil posisi untuk menendang dan sebuah tendangan menyapu ke arah kaki Ding Tao dilancarkan. Kali ini reaksi Ding Tao lebih cepat daripada sebelumnya. Dengan cepat dia melompat pendek ke atas, menghindari sapuan kaki Ma Songquan, tidak lupa kakinya berbalik mengincar kaki Ma Songquan yang sedang menyerang.
Ma Songquan pun menarik mundur serangannya dan bersiap dengan serangan berikutnya. Demikianlah, kemudian keduanya saling bertahan dan menyerang. Semakin Ding Tao menunjukkan kegesitannya, Ma Songquan pun menambah kecepatan serangannua. Perlahan-lahan, otak Ding Tao ditarik keluar dari kungkungan pikiran yang diciptakannya sendiri. Setiap kali Ding Tao berhasil menahan serangan Ma Songquan, Ma Songquan akan bergerak lebih cepat dan menggunakan jurus serangan yang lebih rumit, memaksa benak Ding Tao untuk lebih berkonsentrasi pada pertarungan mereka dan bukan pada ilmu-ilmu yang sedang dia pelajari.
Melihat keduanya sekarang bertarung dengan imbang, Murong Huolin dan Chou Liang pun menarik nafas lega.
1589
Dengan nada penuh rasa terima kasih, Murong Huolin berkata pada Chu Linhe, ―Enci Chu Linhe, syukurlah, rupanya serangan-serangan Kakak Ma Songquan akhirnya bisa menyadarkan Kakak Ding Tao dari ketidak sadarannya.‖
Chu Linhe pun tersenyum manis dan membalas, ―Ya, memang itu tujuannya. Namun Kakak Ma Songquan belum sepenuhnya berhasil. Dalam keadaan yang normal, Ketua Ding Tao dapat mengalahkan Kakak Ma Songquan yang bertarung berpasangan dengan diriku dengan mudah. Namun sekarang ini, baru melawan Kakak Ma Songquan saja, dia sudah dibuat keteteran.‖
Murong Huolin dan Chou Liang mengarahkan kembali pandangan mereka pada pertarungan yang terjadi antara Ding Tao dan Ma Songquan. Mereka pun dapat melihat kebenaran dari perkataan Chu Linhe. Memang Ding Tao tidak jatuh dalam satu kali pukulan seperti yang terjadi sebelumnya. Namun sampai sekarang Ding Tao belum dapat mengimbangi serangan-serangan Ma Songquan, beberapa kali serangan Ma Songquan kena dengan telak dan Ding Tao harus terhuyung sambil mengeluh, menahan nyeri. Meskipun demikian, perlahan-lahan, keadaan tampak berubah. Semakin lama gerakan mereka berdua semakin cepat, semakin jarang
1590
serangan Ma Songquan mampu menghantam Ding Tao dengan telak.
Setiap rasa sakit yang menyengatnya, membangkitkan rasa marah dan frustasi dalam diri Ding Tao. Semakin dia marah, semakin sedikit dia memikirkan teori-teori ilmu silat yang saat itu membelenggu benaknya dan semakin cepat reaksi Ding Tao terhadap serangan Ma Songquan. Perlahan-lahan Ding Tao mulai dapat mengimbangi permainan Ma Songquan.
Chu Linhe pun berpaling ke arah Murong Huolin dan Chou Liang, sambil tersenyum kecil dia berkata, ―Kukira, ini sudah waktunya bagiku untuk bergabung.‖
Dengan bergabungnya Chu Linhe kembali Ding Tao terdesak dan dipaksa untuk lebih banyak lagi berkonsentrasi pada pertarungan yang ada di depannya dan bukan pada ilmu-ilmu yang sedang dia pelajari. Murong Huolin dan Chou Liang hanya bisa memandangi pertarungan di hadapan mereka dengan penuh harap. Melihat setahap demi setahap, Ding Tao terbebas dari jeratan yang menjauhkan dia dari dunia nyata. Tidak seorangpun dari mereka sadar, bahwa telah terjadi sesuatu di luar, di ruang besar tempat Partai Pedang Keadilan menerima tamu-tamu mereka.
1591
Kehebohan itu terjadi beberapa saat setelah Chou Liang, Ma Songquan, Chu Linhe dan Murong Huolin memasuki ruang latihan untuk bertemu dengan Ding Tao. Mengingat pentingnya saat-saat itu bagi keselamatan Ding Tao, Chou Liang berpesan agar selama mereka berada di dalam ruang latihan, tidak ada seorangpun yang mengganggu mereka.
Di saat markas besar Partai Pedang Keadilan bisa dikatakan kosong dari tokoh-tokoh pentingnya, tiba-tiba serombongan belasan orang membawa panji-panji Partai Kunlun datang berkunjung dan meminta bertemu dengan Ding Tao atau perwakilannya.
Belasan orang itu dipimpin oleh Seorang muda berbaju putih-putih dan berjubah luar hijau muda, dengan wajah yang cakap dan berwibawa. Mengiringi di belakangnya adalah 12 orang, 6 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Setiap orang berdiri berpasangan, umur mereka bervariasi dari yang tampak berumur 30-an sampai remaja berusia 12-an tahun.
Dengan suara yang tegas, pimpinan rombongan mengibaskan kipas di tangannya dan berkata pada para penjaga di luar, ―Katakan pada Ding Tao, Guang Yong Kwan dari Kunlun ingin bertemu!‖
1592
Mendengar nama orang yang datang, para penjaga pun dengan segera merangkapkan tangan di depan dada dan menganggukkan kepala. Dalam dada mereka terselip rasa tegang, berita tentang Ding Tao yang sedang mempelajari ilmu dan tidak bisa diganggu sudah menyebar dan hampir semua pengikut Partai Pedang Keadilan di Jiang Ling mengetahui akan hal ini. Kedatangan seekor harimau di kala jagoan mereka sedang tidak bisa diganggu, tidak urung membuat selapis rasa takut menyusup dalam dada mereka.
Pemimpin para penjaga itu menjawab dengan hormat, ―Sungguh besar kehormatan yang Ketua Guang Yong Kwang berikan, mari silahkan masuk ketua. Siauwtee akan mengantar ketua ke ruang pertemuan, sementara saudara yang lain akan memberikan kabar ke dalam.‖
Guang Yong Kwang menganggukkan kepala dengan sikap dingin, ―Hmm‖
Tanpa banyak cakap, pemimpin dari penjaga di depan, segera berjalan lebih dulu dan mengantarkan Guang Yong Kwang ke dalam. Melalui penjagaan yang berlapis, dengan segera berita kedatangan Ketua Partai Kunlun Guang Yong Kwang, menyebar pada para penjaga yang sedang bertugas.
1593
―Guang Yong Kwang dari Kunlun? Benarkah dia datang mengunjungi tempat kita?‖, tanya salah seorang pimpinan penjaga lapis kedua.
―Benar, baru saja A Siau mengantarkannya melewati pintu utara dan melaporkan kunjungan ini pada Kakak Feng Qin. Sekarang ini, Kakak Feng Qin dan yang lain ikut mengiringi mereka, sementara aku diperintah untuk memberi kabar pada regu lain di lingkar kedua.‖, jawab salah satu anak buah dari Feng Qin tersebut.
―Hmm… baiklah, kami akan meningkatkan pengawasan di daerah kami dan memperlebar jangkauan pengawasan kami sampai di wilayah Kakak Feng Qin. Kau, segera kabarkan berita ini ke regu-regu penjaga yang ada di lingkaran dalam, pakai jalur rahasia, supaya kau bisa sampai lebih dulu dari rombongan tamu.‖
―Baik Kakak Bong Yo, aku pergi sekarang.‖
―Ya pergilah‖, ujar Bong Yo.
Sambil menyaksikan kepergian pembawa kabar itu, Bong Yo menggosok-gosok lehernya, berusaha menyingkirkan rasa tegang yang muncul.
1594
Berbalik pada anak buahnya dia berkata, ―Kalian dengar berita dari A Tiong tadi? Pertinggi kewaspadaan, ada harimau masuk ke dalam rumah kita.‖
―Partai Kunlun adalah golongan lurus, apakah mungkin mereka melakukan keonaran di sini?‖, tanya salah seorang anak buahnya.
―Hmm… lurus atau sesat, bagaimana pun juga ada orang kuat yang datang. Kita tidak bisa memperlihatkan kelemahan. Dalam dunia persilatan, segala macam hal bisa terjadi dan kita tidak boleh menunjukkan kelemahan jika ingin dihormati dalam dunia persilatan..‖, jawab Bong Yo.
Saling memandang, para penjaga di bawah pimpinan Bong Yo pun mengangguk.
Di saat yang sama, salah seorang dari penjaga berlari ke dalam untuk memberikan kabar pada pimpinan di Jiang Ling untuk hari ini. Dengan tidak bisa diganggunya Chou Liang saat itu, orang yang ditugaskan untuk menerima tamu adalah Bo He, seorang kawakan yang cukup berpengalaman. Ayahnya pernah belajar ilmu bela diri dari Emei sebelum keluar berkelana, sejak kecil Bo He sudah belajar ilmu tombak dari ayahnya. Meskipun
1595
belum bisa disamakan dengan Ma Songquan atau Sun Liang, ilmunya masih selapis di atas Wang Xiaho atau Li Yan Mao yang sudah mulai dimakan usia. Watak ayahnya yang suka berkelana, menular pula pada putra tunggalnya, Bo He pun segera setelah tamat belajar dari ayahnya, berkelana dalam dunia persilatan.
Setiap orang muda yang terjun dalam dunia persilatan, jika masih hidup sampai pada umur setua Bo He, bila bukan amat berbakat, setidaknya tentu orang yang pandai melihat keadaan. Bo He bukan termasuk yang pertama, dia termasuk yang kedua.
Tidak mengikuti darah mudanya yang panas, Bo He cukup tahu diri bahwa bekalnya tidak akan mampu melindungi dia dari amukan tokoh-tokoh kelas atas dalam dunia persilatan. Karena itu selama dia berkelana, tak pernah dia mencari musuh. Jika ada singgungan dengan orang lain, maka dia akan memilih untuk mengalah. Selama belasan tahun dia berkelana dalam dunia persilatan, hanya 2 kali dia bentrok dengan orang lain dan keduanya bukan atas alasan kepentingannya pribadi. Dalam dua perkelahian itu, Bo He terjun atas dasar rasa setia kawan. Itu sebabnya nama Bo He tidak begitu terkenal dalam dunia persilatan. Namun mereka yang mengenal Bo He akan
1596
berkata bahwa dia memiliki pengetahuan yang sangat luas mengenai orang-orang dalam dunia persilatan.
Salah satu alasan mengapa Chou Liang mengangkat Bo He menjadi salah satu orang kepercayaannya, tidak lain dan tidak bukan adalah pengetahuannya yang luas tersebut. Alasan kedua adalah sikap bijak Bo He dalam mengukur kekuatan diri sendiri dan lawan. Dan alasan ketiga adalah rasa setia kawan yang dimiliki Bo He.
Setelah menerima laporan dari penjaga pintu gerbang, Bo He mengelus-elus jenggot kesayangannya. Alisnya berkerut dan jantungnya berdebaran.
‗Kenapa justru sekarang?‘, keluh Bo He dalam hati.
―Dan bagaimana bisa tidak ada kabar sedikitpun dari saudara-saudara yang bertugas di luar?‖, Bo He merenungkan kedatangan tamu dari Partai Kunlun yang terjadi tiba-tiba dan di luar persiapan Partai Pedang Keadilan.
Tentu saja jaringan mata-mata yang dibangun Chou Liang juga mengawasi pergerakan orang-orang dalam dunia persilatan di setiap daerah Partai Pedang Keadilan sendiri. Dengan demikian, setiap orang atau golongan yang berada dalam
1597
lingkup wilayah kekuasaan Partai Pedang Keadilan tidak luput dari pengawasan mereka. Jika Ketua Partai Kunlun hendak berkunjung, tentu beberapa hari sebelum kedatangannya di depan gerbang mereka, berita akan keberadaannya di dekat Jiang Ling sudah diketahui. Chou Liang pun tentu sudah bersiap-siap terhadap adanya kemungkinan mereka datang mengunjungi Partai Pedang Keadilan. Kedatangan mereka yang luput dari jaringan mata-mata Partai Pedang Keadilan, berarti kedatangan mereka tentu dengan sengaja disembunyikan dengan rapi.
Hal ini juga menunjukkan masih kurang matangnya orang-orang Partai Pedang Keadilan yang bertugas sebagai mata-mata di luar sana.
Menghela nafas, Bo He pun merapikan pakaiannya dan berjalan keluar dengan senyum terpasang di wajahnya. Siapapun yang datang, dia tidak boleh menunjukkan sikap bermusuhan, sebisa mungkin bentrokan harus dihindarkan.
Para tamu sudah diantarkan ke ruang dalam, sesuai adat kesopanan hidangan makanan kecil dan minuman sudah pula dihidangkan. Untuk menghapus keringat dan debu dari wajah dan tangan mereka, disediakan juga baskom dan handuk kecil
1598
untuk tiap-tiap orang. Tidak ada kesan permusuhan dari tamu yang datang, mereka tampaknya juga merasa puas dan dihargai dengan perlakuan yang diberikan tuan rumah. Tuan rumah pun tidak kalah wibawa dengan rombongan tamu yang datang, di dalam ruang pertemuan bisa terlihat belasan penjaga yang berbaris dengan rapi dan disiplin tinggi. Sepanjang perjalanan masuk, rombongan dari Kunlun bisa melihat penjagaan yang kaut dan berlapis.
Tidak lama rombongan tamu itu menunggu, Bo He pun muncul menghampiri Ketua Kun Lun Pai, Guang Yong Kwang dengan senyum terkembang dan hati berdebar.
Dengan hormat, Bo He merangkapkan tangan di depan dada dan sedikit membungkukkan kepala, ―Selamat datang Ketua Guang Yong Kwang, maafkan kami yang kurang persiapan. Kunjungan ketua begitu mendadak sehingga kami tidak sempat menyiapkan sambutan yang lebih baik.‖
Guang Yong Kwang membalas penghormatan Bo He dengan merangkapkan tangan di depan dada, ―Hmm, sambutan kalian cukup baik, memang salahku sendiri datang tanpa diundang. Aku ingin bertemu dengan Ketua Ding Tao untuk membicarakan masalah penting.‖
1599
Bo He menjawab, ―Jika itu keperluan Ketua Guang Yong Kwang, maka dengan berat hati, siauwtee harus minta maaf lebih dulu. Karena saat ini Ketua Ding Tao tidak bisa menemui tamu.‖
Mata Guang Yong Kwang berkilat, ―Apa tidak salah? Kukira yang kau maksudkan adalah Ketua Ding Tao sedang sibuk dan tidak dapat menemui sembarang tamu tapi saat ini aku yang datang, bukan sebagai diriku pribadi, tapi Guang Yong Kwang sebagai ketua Partai Kunlun.‖
Bo He menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering, ―Jangan Ketua Guang Yong Kwang salah mengerti. Ketua Ding Tao dalam keadaan tidak bisa ditemui oleh siapapun.‖
―Kalau begitu, boleh aku tahu apa alasannya hingga dia tidak mau ditemui siapa pun? Jangan katakan dia sedang tidak ada di Jiang Ling, karena aku tahu pasti bahwa dia ada di Jiang Ling. Apakah dia sedang sakit? Atau sedang berlatih? Apa pun alasannya, dia toh masih bisa menemuiku. Kecuali jika dia sedang terbaring tidak sadarkan diri saat ini.‖, geram Guang Yong Kwang yang mulai kehilangan kesabarannya.
1600
Bo He terdiam beberapa lama, otaknya berputar dengan cepat, membuat perhitungan. Chou Liang bersama Ma Songquan dan Chu Linhe baru saja memasuki ruang latihan untuk menemui Ding Tao. Seharusnya sore hari nanti, setidaknya sepasang pendekar yang bisa diandalkan tersebut sudah keluar dari ruang latihan. Kapan Ding Tao selesai berlatih sulit dikatakan, tapi setidaknya sepasang pendekar itu bisa membantu melindungi Ding Tao. Sementara itu, jika dia tidak berterus terang dengan Guang Yong Kwang sekarang juga, perselisihan antara Partai Kunlun dan Partai Pedang Keadilan tidak dapat dihindarkan lagi.
Bo He sudah mengambil keputusan, meskipun dia tidak yakin benar dengan ketputusan yang dia ambil, tapi saat ini, dia tidak melihat ada kemungkinan lain.
―Ketua Guang Yong Kwang, sebenarnya saat ini Ketua Ding Tao memang sedang melatih satu ilmu baru dan sedang dalam tahapan yang sangat penting. Tentu Ketua Guang Yong Kwang bisa mengerti, kondisi Ketua Ding Tao saat ini. Itu sebabnya kami tidak berani mengganggunya.‖, ujar Bo He dengan suara sedikit bergetar.
1601
Tiba-tiba seulas senyum terkembang di wajah Guang Yong Kwang. Entah mengapa, saat melihat senyum itu, perut Bo He tiba-tiba merasa mulas, hatinya terasa terjun bebas sampai ke lantai, sebelum Guang Yong Kwang membuka mulutnya dan berkata-kata, Bo He sudah mendapatkan firasat yang tidak baik.
Guang Yong Kwang pun membuka mulut dan mulai berkata-kata, setiap kata membuat jantung Bo He semakin lama semakin tenggelam.
―Kiranya begitu…, sebenarnya aku bisa mengerti, sayangnya kedatanganku kali ini untuk membahas satu hal yang penting dan tidak bisa kutunda-tunda lagi. Jika Ketua Ding Tao tidak ada, maka harus ada yang bisa mewakili dirinya untuk membahas hal ini. Jika tidak ada yang bisa mewakilinya, maka aku terpaksa harus bertemu dengan Ketua Ding Tao sendiri, apa pun keadaannya saat ini.‖
Mata Guang Yong Kwang berkilat-kilat saat memandangi raut muka Bo He dan menunggu jawaban. Senyum di bibirnya memperlihatkan rasa puas atas keadaan yang dihadapinya saat ini. Berbalik 180 derajat dengan Guang Yong Kwang, Bo He justru pucat pias wajahnya. Pilihan yang diberikan Guang
1602
Yong Kwang jelas-jelas memojokkan Partai Pedang Keadilan. Siapa orangnya yang bisa mewakili Ding Tao? Seandainya Chou Liang bisa ditemui, beban ini tentu akan dilepaskan ke atas pundaknya. Tapi sekarang bahkan Chou Liang pun tidak bisa ditemui dan beban itu harus jatuh ke atas pundak Bo He. Bo He memang dipercaya oleh Chou Liang, tapi jelas dia bukan salah satu tokoh tingkat atas dari Partai Pedang Keadilan. Bahkan seandainya dia adalah tokoh setingkat Chou Liang pun, tentu saja keputusannya tidak bisa disamakan dengan keputusan Ding Tao.
Jika dia mewakili Ding Tao memberikan keputusan, berarti keputusannya mengikat seluruh partai. Bagaimana mungkin hal itu dia lakukan? Tapi jika dia menolak untuk mewakili Ding Tao, Guang Yong Kwang secara halus sudah menyampaikan ancaman, bahwa dia akan memaksa untuk menemui Ding Tao. Tidak ada arti lain dalam perkataannya ini kecuali kecelakaan bagi Ding Tao.
Bukan hanya Bo He yang merasakan ancaman di balik perkataan Guang Yong Kwang tersebut, segenap orang Partai Pedang Keadilan yang berjaga di sekitar ruangan ikut menegang mendengar perkataan ketua Partai Kunlun itu. Diam-diam salah seorang pemimpin regu, yang posisinya
1603
kebetulan berada di belakang rombongan dari Kunlun, mengirimkan anak buahnya keluar untuk melapor pada pemimpin regu yang berada di luar. Gerakan keluarnya salah seorang penjaga ini tidak luput dari mata Bo He. Bo He pun merasa sedikit lega, meskipun jantungnya tidak juga berhenti berdegup keras.
Dengan susah payah Bo He berusaha menenangkan perasaannya dan menjawab, ―Jika aku boleh tahu, urusan penting apakah yang ingin dibicarakan oleh Ketua Guang Yong Kwang dengan Ketua Ding Tao. Mungkin setelah itu aku baru bisa memutuskan.‖
Guang Yong Kwang tersenyum saja mendengar pertanyaan Bo He dan menjawab, ―Kulihat kau ini adalah orang yang dipercaya untuk mewakili Ketua Ding Tao sementara dia masih sedang berada dalam ruang latihan. Jadi kukira tidak ada salahnya kalau kusampaikan alasan dari kedatangan kami kali ini.‖
―Kedatangan kami berhubungan dengan akan diadakannya pemilihan Wulin Mengzhu sebentar lagi. Dalam pertemuan untuk memilih pemimpin bagi seluruh anggota dunia persilatan, bentrok antar calon tentu saja akan terjadi. Karena itu kami
1604
berpendapat, jika tidak berhati-hati, tujuan pemilihan ini, untuk menyatukan dan memperkuat dunia persilatan kita, bisa berbalik jadi senjata makan tuan dan memperlemah keadaan kita.‖
―Untuk menghindari hal-hal demikian, alangkah lebih baik, jika sebelum diadakannya pertemuan, jumlah calon Wulin Mengzhu yang maju sudah bisa dipersempit dengan adanya perundingan-perundingan antar partai yang diadakan sebelum pemilihan Wulin Mengzhu itu sendiri.‖, demikian Guang Yong Kwang menguraikan alasan kedatangannya kali ini.
Wajah Bo He dari cemas, perlahan-lahan berubah jadi dingin, saat dia kemudian menyahut, suaranya tidak menunjukkan kegentaran, melainkan lebih pada rasa geram yang ditahan, ―Jadi maksud Ketua Guang Yong Kwang, alangkah baiknya jika Ketua Ding Tao mendukung Ketua Guang Yong Kwang sebagai calon, daripada mencalonkan diri sendiri?‖
―Oh tidak, tidak‖, ujar Guang Yong Kwang sambil tersenyum lebar.
Dengan nada ringan dia kemudian menyambung, ―Kita tentukan siapa mendukung siapa lewat pertandingan
1605
persahabatan. Sengaja kami datang ke pusat Partai Pedang Keadilan untuk melakukan hal ini. Silahkan kalian ajukan wakil dari Partai Pedang Keadilan dan kami akan mengajukan wakil dari partai kami.‖
Bo He dengan geram berkata, ―Jika demikian mau kalian, mengapa kalian tidak menunggu sampai Ketua Ding Tao selesai dengan latihannya?‖
―Hahahaha, dan kapankah dia akan selesai dari latihannya? Bisakah kau memberi kami kepastian? Atau jangan-jangan latihan ini hanyalah alasan untuk menghindari kami. Pemilihan Wulin Mengzhu makin dekat, kami tidak bisa menunggu terlalu lama.‖, ujar Guang Yong Kwang sambil tertawa merendahkan.
Tawanya meledak dengan tiba-tiba, berhenti pula dengan tiba-tiba, dengan dingin dia berkata, ―Kalian harus mengambil keputusan sekarang juga.‖
Bo He hanya bisa menggeram marah, keputusan apa yang harus dia ambil? Dia bisa mengukur kemampuannya sendiri, juga mereka yang ada di sana. Jika mereka harus bentrok sekarang juga dengan orang-orang Partai Kunlun, tentu akan banyak korban yang jatuh di kedua belah pihak, terutama pihak
1606
Partai Pedang Keadilan, siapa di antara mereka yang bisa mengimbangi Guang Yong Kwang? Masalahnya bukan nyawa mereka, tapi siapa yang bisa menjamin mereka bisa menahan Guang Yong Kwang untuk melabrak masukdan mencederai Ding Tao?
Guang Yong Kwang tidak kalah nama dibanding Pan Jun ketua Partai Hoasan, bahkan Ma Songquan dan Chu Linhe sebagai orang terkuat setelah Ding Tao, tidak memiiliki keyakinan melawan Pan Jun. Meskipun sekarang kemampuan mereka sudah maju cukup pesat, Bo He tidak yakin mereka berdua bisa menahan Guang Yong Kwang untuk tidak menerobos masuk dan merusak konsentrasi Ding Tao yang sedang dalam masa genting. Tapi jika Bo He menyetujui permintaan Guang Yong Kwang, tidak mungkin Partai Pedang Keadilan bisa mencalonkan Ding Tao dalam pemilihan Wulin Mengzhu. Bagaimanapun juga, masalah kehormatan adalah masalah yang penting dalam dunia persilatan. Sekali mereka memberikan janji di depan umum, tidak mungkin mereka bisa mengingkarinya tanpa menjatuhkan nama sendiri. Bo He seperti duduk di atas punggung harimau, turun salah, tetap duduk juga salah.
1607
―Berikan keputusan kalian sekarang!‖, geram Guang Yong Kwang menekan.
Suaranya bergema di ruangan pertemuan yang besar itu. Dari pihak Partai Pedang Keadilan, tidak ada seorang pun yang mampu menjawab desakan Guang Yong Kwang, mereka semua hanya bisa memandang Bo He. Menunggu jawaban keluar dari mulut Bo He, dengan tangan menggenggam senjata masing-masing erat-erat. Satu kata perlawanan dari Bo He dan ruangan pertemuan itu pun akan banjir dengan darah.
Bab XXXIII. Murong Yun Hua jadi penyelamat.
Suasana sudah begitu mencengkam, Bo He hanya berpikir untuk mengulur waktu, memastikan kawan yang di luar sudah siap untuk mengurung rombongan Kunlun, agar mereka tidak mampu keluar dari ruang pertemuan tersebut. Rombongan dari Kunlun pun dapat melihat bahwa Bo He sudah mengambil keputusan. Meskipun belum ada senjata yang dicabut, namun ruangan tersebut sudah pekat dengan hawa pembunuhan. Kedua belah pihak sama-sama yakin bahwa pertarungan tidak dapat dihindarkan. Kunlun dengan keyakinannya pada
1608
kemampuan mereka masing-masing dan terutama ketua mereka Guan Yong Kwang. Partai Pedang Keadilan dengan modal kesetiaan dan keteguhan hati untuk mempertahankan kehormatan dan keselamatan ketua mereka.
Di saat yang genting itulah tiba-tiba Murong Yun Hua memasuki ruangan diiringi oleh pelayan-pelayan pribadinya, yang semuanya tentu saja wanita.
Dalam keadaan hamil tua pun Murong Yun Hua masih terlihat cantik. Bahkan wajahnya yang anggun terlihat memancarkan aura berwibawa namun lembut, layaknya seorang ibu dalam pandangan anak-anaknya. Pengiringnya pun adalah gadis-gadis pilihan berusia belasan, baru saja meninggalkan masa kanak-kanak dan memasuki usia dewasa. Meskipun tidak secantik Murong Yun Hua, keremajaan mereka memancarkan daya tariknya sendiri.
Jika mereka tidak mengiringi Murong Yun Hua, orang seorang tentu mereka pun merupakan gadis-gadis yang cantik. Tapi bersanding dengan Murong Yun Hua, kecantikan mereka jadi tampak begitu sederhana. Namun kesederhanaan itu membuat kecantikan Murong Yun Hua makin menonjol, seperti bunga mawar yang dikelilingi daun-daunnya yang segar.
1609
Kehadiran mereka yang begitu tiba-tiba mengejutkan setiap orang. Kecantikannya sedemikian anggun dan menggetarkan hati, hingga melemahkan semangat bertarung setiap orang. Bahkan 6 orang murid perempuan dari Partai Kunlun pun ikut terpesona melihat kehadiran mereka. Keberadaan mereka yang berbeda 180 derajat, begitu kontras dengan hawa pembunuhan yang sebelumnya memenuhi ruangan, tanpa bisa dihindari membuat setiap mata terpaku pada mereka dan menumpulkan konsentrasi setiap orang.
Bagi Bo He dan yang lain, yang sebelumnya sudah bersiap-siap untuk menggadaikan nyawa mereka demi keselamatan Ding Tao, kejadian itu merupakan satu kelegaan. Bagi Guang Yong Kwang yang sudah bersiap-siap menebas setiap penghalang, seperti seseorang menebas rumput untuk makanan kambingnya, kejadian itu merupakan satu gangguan. Tapi bahkan Guang Yong Kwang pun tidak sampai hati untuk bersikap keras pada nyonya rumah yang datang dengan senyum menawan.
Murong Yun Hua merangkapkan tangan dan memberi hormat dengan anggun dan luwes. Tentu saja jauh berbeda rasanya mendapatkan salam dari Murong Yun Hua yang cantik, jika
1610
dibandingkan dengan mendapat salam dari Bo He yang berewokan.
―Salam Ketua Guang Yong Kwang, dari luar kudengar berita tentang kunjungan ketua juga tujuan dari kunjungan ini. Aku harap, kedudukanku sebagai isteri dari Ketua Ding Tao membuatku cukup pantas untuk mewakilinya ketika dia sedang berhalangan.‖, ujar Murong Yun Hua dengan lembut.
Guang Yong Kwang masih muda, dia pun lelaki normal, siapa lelaki yang bisa bersikap kasar jika ditegur oleh seorang wanita cantik dengan lemah lembut?
Tidak sulit bagi Guang Yong Kwang untuk menahan kekesalan hatinya, karena kemenangan yang sudah hampir dipetik harus ditunda sementara, dengan senyum dikulum dia menjawab, ―Tentu saja, orang she Guang ini tidak keberatan. Tapi bagaimana dengan orang-orang nyonya sendiri? Bisakah mereka menerima nyonya sebagai wakil dari suami nyonya?‖
Murong Yun Hua menengok ke arah Bo He dengan suara merdu dia bertanya, ―Saudara Bo He, apakah ada keberatan?‖
Bo He tergagap ditanya demikian, ―Soal ini… soal ini…‖
1611
Murong Yun Hua pun tersenyum manis dan berkata, ―Alasan yang dikatakan Ketua Guang Yong Kwang, bukannya tidak terpikir oleh Ketua Ding Tao. Jika bentrokan terjadi antar calon dan pendukungnya dalam pertemuan Wulin Mengzhu nanti, maka yang meraih keuntungan justru lawan yang hendak dihadapi. Mengingat kemungkinan bentrok antar saudara sendiri, Ketua Ding Tao pun mengambil resiko dengan mempelajari ilmu simpanan dengan bertaruh nyawa.‖
―Apakah menurut kalian Ketua Ding Tao itu orang yang berambisi? Adakah dia menginginkan kedudukan Wulin Mengzhu bagi dirinya sendiri? Ataukah dia mencalonkan diri demi kepentingan yang lebih luas?‖, tanya Murong Yun Hua pada sekian orang Partai Pedang Keadilan yang ada di ruangan tersebut.
―Sangka kalian, jika dia hadir di sini saat ini, dia akan meminta kalian untuk mempertaruhkan nyawa kalian demi sebuah kesempatan untuk maju dalam pencalonan Wulin Mengzhu? Sedemikian lama kalian mengikut dia, serendah itukah penilaian kalian terhadapnya?‖, tanya Murong Yun Hua pada orang-orang Partai Pedang Keadilan.
1612
Mendengar pertanyaan Murong Yun Hua dan pandang matanya yang tajam, tanpa terasa mereka menundukkan wajah.
―Saat ini aku hadir di sini untuk mewakili dia, karena aku yakin pilihan apa yang akan dia pilih seandainya dia dapat memberikan keputusannya saat ini. Sebelum kalian menyetujui atau menentang jawaban yang akan aku berikan, kuharap kalian mengingat baik-baik sifat dari Ketua Ding Tao. Nilailah dengan jujur, sudahkah keputusanku ini mewakili dirinya?‖, ujar Murong Yun Hua kepada sekalian orang Partai Pedang Keadilan, sebelum dia mengalihkan pandangannya kembali pada Guang Yong Kwang.
Kehadiran dan perkataan Murong Yun Hua menimbulkan tanda tanya dan ketertarikan dalam diri masing-masing orang Kunlun yang mendengarkannya. Cara Murong Yun Hua bertanya pada anggota Partai Pedang Keadilan, dengan caranya yang unik, memberikan gambaran akan sifat dan karakter Ding Tao, yang digambarkan sebagai seorang pemimpin yang lurus dan mementingkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi. Seorang pemimpin yang menjadi pelindung bagi pengikutnya, bukan memanfaatkan pengikutnya demi ambisi
1613
pribadi. Tanpa disadari, timbul rasa simpati pada Ding Tao dalam hati beberapa orang di antara mereka.
Sementara Guang Yong Kwang merasa seperti ditodong oleh Murong Yun Hua. Seakan dirinya ditanya dan dibandingkan dengan Ding Tao, jika Ding Tao memperhatikan keselamatan pengikutnya, bagaimana dengan dia yang justru siap mengorbankan pengikutnya demi tercapainya tujuan? Jika Ding Tao digambarkan sebagai seorang pemimpin yang tidak memiliki ambisi pribadi, maka seakan-skan Murong Yun Hua sedang bertanya pada dirinya, apakah dia sedang mengejar ambisinya pribadi? Lalu jika hendak menentukan siapa yang pantas menjadi pemimpin seluruh dunia persilatan, maka siapa yang lebih pantas? Dirinyakah? Atau Ding Tao kah yang lebih pantas untuk menduduki jabatan itu?
Dipojokkan sedemikian rupa, jantung Guang Yong Kwang berdebaran, dia sendiri tidak tahu, apakah dia merasa kagum atau marah pada wanita cantik yang sekarang ada di hadapannya itu. Mungkin keduanya, antara merasa marah karena Murong Yun Hua dengan cerdiknya menguasai keadaan, tapi juga kagum pada kemampuannya. Mungkin juga ada rasa kecewa dan iri karena hati wanita cantik dan cerdik ini sudah dimiliki oleh lelaki lain.
1614
―Jadi, sebagai wakil Ketua Ding Tao, apa jawaban nyonya?‖, tanya Guang Yong Kwang dengan jantung bergetar.
Pedas sindiran Murong Yun Hua, namun manis senyumnya saat menjawab, ―Tentu saja, Partai Pedang Keadilan setuju dengan pemikiran Ketua Guang Yong Kwang yang bijak. Jika kedua partai bisa bekerja sama dalam pemilihan Wulin Mengzhu nanti, tentu akan ada banyak korban yang bisa dihindarkan. Setidaknya korban dari Partai Kunlun dan Partai Pedang Keadilan.‖
―Tentang siapa yang memimpin persekutuan dari kedua partai ini, bagaimana menurut Nyonya?‖, tanya Guang Yong Kwang dengan kepala serasa ringan melihat senyum manis Murong Yun Hua.
―Tentang hal itu, paling adil tentu saja jika diukur berdasarkan tingkat kepandaian masing-masing pihak. Hanya saja perlu diingat, karena tujuan yang utama adalah menghindarkan jatuhnya korban, maka dalam mengukur kepandaian hendaknya dicari cara yang tepat.‖, jawab Murong Yun Hua dengan penuh keyakinan.
1615
Selama menjawab, senyum manis tidak pernah lepas dari bibir Murong Yun Hua, bahkan matanya yang jeli pun mengerjap dengan kerlingan yang bisa dianggap menggoda. Lelaki normal tentu terpikat melihat kecantikan Murong Yun Hua dan Guang Yong Kwang juga lelaki normal. Jika tanpa berusaha pun Murong Yun Hua bisa membuat lelaki terpikat, apalagi ketika dia sengaja menebar pesona. Mungkin hanya Ding Tao yang bisa menolaknya, meskipun hatinya toh tetap saja terpikat.
Suara Guang Yong Kwang sedikit serak saat dia hendak menjawab, entah mengapa tenggorokannya tiba-tiba menjadi kering. Tapi tidak malu dia menjadi seorang ketua dari partai yang besar, dengan cepat dia menekan perasaannya dan meneguk sedikit arak yang disediakan tuan rumah untuk membasahi tenggorokannya. Tindak tanduknya terlihat wajar, tidak tersirat sedikitpun gejolak perasaan dalam dadanya.
Setelah merasa tenggorokannya lega, Guang Yong Kwang menjawab, ―Tidak salah jika orang memuji keberuntungan Ketua Ding Tao yang mendapatkan dua orang dewi sebagai isteri. Nyonya bisa bercakap begitu yakin, apakah sudah mendapatkan satu pikiran, dengan cara apa kita akan saling mengukur kepandaian tanpa ada jatuh korban di kedua belah pihak?‖
1616
Murong Yun Hua tertawa sopan sambil menutup mulutnya dengan tangan, sikapnya begitu gemulai dan menggemaskan, tanpa terasa Guang Yong Kwang ikut tertawa bersamanya, ―Ketua Guang Yong Kwang pandai memuji. Entah ide apa yang ketua punya, tentu saja akupun memiliki ide yang baik. Tapi jika hanya aku seorang yang mengajukannya, orang bisa menuduh aku memilih jenis pertandingan yang hanya menguntungkan pihak kami sendiri.‖
―Jadi bagaimana pendapat nyonya?‖, tanya Guang Yong Kwang tanpa sadar dibuat mengikuti kemauan Murong Yun Hua.
―Kita adakan 3 pertandingan, kita adakan lempar dadu untuk menentukan siapa yang boleh terlebih dahulu menentukan bentuk pertandingan pertama yang akan diadakan. Pihak yang kalah pada pertandingan pertama, berhak menentukan bentuk pertandingan kedua. Demikian juga setelah pertandingan kedua, pihak yang kalah bisa menentukan bentuk pertandingan yang ketiga.‖, ujar Murong Yun Hua dengan gaya yang sedikit manja.
―Bentuk pertandingan boleh apa saja, syaratnya, tidak beresiko akan jatuhnya korban dari kedua belah pihak dan mewakili
1617
kepandaian yang digunakan dalam mempelajari ilmu bela diri. Bagaimana menurut Ketua Guang Yong Kwang? Cukup pantas tidak peraturan ini?‖, tanya Murong Yun Hua sambil mengerjapkan matanya.
―Pantas, sangat pantas, adil dan tidak berat sebelah.‖, jawab Guang Yong Kwang sambil bertepuk tangan.
―Syukurlah kalau Ketua Guang Yong Kwang merasa demikian. Hatiku jadi terasa lega, nama besar Partai Kunlun sudah lama kudengar, jika terjadi bentrokan di antara kawan sendiri tentu sangat disayangkan.‖, ujar Murong Yun Hua dengan lembut.
―Benar, nyonya memang bijaksana, dengan cara ini dua kekuatan besar bisa disatukan tanpa harus terjadi pertumpahan darah.‖, jawab Guang Yong Kwang dengan senyum lebar, yakin akan memenangkan ketiga pertandingan tersebut.
Bo He dan pengikut yang lain hanya bisa mengikuti percakapan antara Murong Yun Hua dan Guang Yong Kwang dengan hati berdebar. Tidak sedikit di antara mereka yang sempat terkilas dalam benaknya, bagaimana jika Murong Yun Hua sedang bermain gila dengan Guang Yong Kwang? Namun pikiran itu dengan segera disingkirkan jauh-jauh. Pengabdian Murong Yun
1618
Hua pada Ding Tao sudah tidak perlu diragukan lagi. Pertanyaan Murong Yun Hua juga masih bergaung dalam benak mereka. Terkoyak antara rasa percaya dan juga ragu, mereka hanya mampu memandangi kejadian demi kejadian.
―Apakah akan kita mulai sekarang?‖, tanya Murong Yun Hua dengan senyumannya yang menggoda.
―Baik, silahkan dimulai.‖, jawab Guang Yong Kwang pendek.
Murong Yun Hua dan gadis-gadis yang mengikutinya terlihat jelas sudah siap, hanya dengan satu anggukan kepala salah seorang pelayan pribadinya maju ke depan.
Pelayan tersebut membawa sebuah tempat kocokan dadu, segera setelah dia sampai di depan dia segera mulai memutar mangkuk dadunya.
Murong Yun Hua masih dengan senyum memikatnya bertanya, ―Baiklah Ketua Guang Yong Kwang memilih nilai kecil atau besar?‖
―Besar‖, jawab Guang Yong Kwang dengan yakin.
1619
Gadis pelayan itu pun memutar mangkuk dadu beberapa kali lagi sebelum kemudian dia meletakkan mangkuk di meja.Sejak melihat munculnya gadis pelayan itu, keraguan Bo He dan beberapa orang lain yang cukup jeli melihat, terhadap Murong Yun Hua dengan segera lenyap. Tinggal rasa cemas, apakah Murong Yun Hua benar-benar memiliki rencana untuk menyelamatkan Partai Pedang Keadilan dan apakah rencananya itu akan berhasil. Tentu saja bukan tanpa alasan keraguan mereka lenyap seketika saat melihat gadis pemegang mangkuk dadu itu. Alasannya tidak lain tidak bukan, adalah karena mereka mengenal siapa gadis pembawa mangkuk dadu itu.
Shu Lin nama gadis itu, tentu saja dia bukan gadis pelayan, dia adalah salah satu pengikut Partai Pedang Keadilan. Sebelum bergabung, Shu Lin ini bekerja di salah satu rumah judi di daerah Chang Sha.
Dari sini bisa dilihat bahwa Murong Yun Hua tentu sudah memiliki rencana sendiri. Dengan membawa Shu Lin sebagai gadis pelayan pribadinya, setidaknya Murong Yun Hua sudah menang satu langkah terhadap Guang Yong Kwang, karena dengan keahlian Shu Lin memainkan dadu, hampir bisa dipastikan nilai dadu yang keluar akan menguntungkan Murong
1620
Yun Hua. Jika Murong Yun Hua bisa menentukan bentuk pertandingan yang pertama, maka kemungkinan besar mereka akan dapat memenangkan pertandingan pertama. Setidaknya Murong Yun Hua dapat memilih bentuk pertandingan yang menguntungkan pihak mereka.
Hanya saja apakah dengan kecerdikan Murong Yun Hua, Partai Pedang Keadilan dapat mengalahkan orang-orang dari Kunlun yang lebih kuat?
Shu Lin membuka mangkuk dadu dan Guang Yong Kwang serta Murong Yun Hua, bersama-sama maju ke depan untuk melihat hasilnya.
―Kecil!‖, seru Murong Yun Hua sambil bertepun tangan dengan gembira, seakan-akan dia juga ikut menantikan dengan tegang hasil kocokan dadu Shu Lin.
Guang Yong Kwang yang masih merasa di atas angin pun tersenyum saja, siapa yang tidak senang melihat seorang wanita cantik tersenyum dan bergembira? Lagipula Guang Yong Kwang merasa yakin dengan dirinya sendiri. Buktinya dia sudah berani datang ke pusat Partai Pedang Keadilan dan mengajak bertemu Ding Tao. Apalagi sekarang ternyata Ding
1621
Tao berhalangan untuk hadir, keyakinan Guang Yong Kwang jadi berlipat-lipat. Sebelum dia datang, dia sudah mengadakan penyelidikan dan dia yakin kecuali Ding Tao tidak ada orang lain yang perlu dia kuatirkan.
12 orang yang dia ajak pun bukanlah orang sembarangan, mereka ini memang tidak memiliki nama di dunia persilatan. Tapi bukan berarti mereka tidak memiliki keahlian, justru mereka inilah orang-orang pilihan yang keberadaannya disembunyikan Kunlun dari dunia luar. Bukan pula berarti mereka hanya diam dan berlatih tanpa memiliki pengalaman di dunia nyata. Kenyataannya setiap orang dari 12 orang ini sudah pernah menumpahkan darah orang yang cukup ternama. Hanya saja mereka melakukannya dengan diam-diam. Dengan perhitungan tersebut, Guang Yong Kwang tidak perlu merasa kuatir akan kalah dalam pertaruhan ini.
―Rupanya keberuntungan berpihak pada nyonya, silahkan, pertandingan seperti apa yang nyonya mau?‖, ujar Guang Yong Kwang dengan sopan.
―Hmm… orang bilang, seni bela diri tidak ubahnya seni perang, mengatur tangan dan kaki tidak ubahnya mengatur pasukan untuk menyerang dan bertahan. Dan permainan catur (Xiang
1622
Qi) adalah permainan yang mampu mewakili kerumitannya. Mengatur wilayah, beradu kecerdikan, tahu bertahan, tahu pula kapan menyerang. Jadi untuk pertandingan pertama ini, biarlah aku mengajukan tanding catur, karena permainan ini mewakili ilmu bela diri dari sisi strategi tanpa harus menggunakan badan dan beresiko menumpahkan darah.‖, ujar Murong Yun Hua setelah diam beberapa lama, berpura-pura berpikir sebelum mengambil keputusan.
Tentu saja aksinya itu ditanggapi Guang Yong Kwang dengan setengah percaya setengah tidak. Bagaimanapun juga Guang Yong Kwang tahu di pihak mana Murong Yun Hua berdiri. Tapi Guang Yong Kwang tidak mengajukan keberatan. Pertama karena alasan Murong Yun Hua memang tepat dan sesuai dengan aturan yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Yang kedua karena di antara orang yang dibawanya ada seorang yang jago bermain catur.
Orang-orang dari Partai Pedang Keadilan sendiri mulai tumbuh harapannya. Mengikuti percakapan Murong Yun Hua dan Guang Yong Kwang. Kemudian melihat bagaimana Murong Yun Hua memiliki kesempatan, setidaknya dua kali untuk menentukan bentuk pertandingan. Dan melihat pula bentuk pertandingan yang dipilih Murong Yun Hua, maka mata mereka
1623
pun terbuka dan sadar bahwa masih ada cara untuk lolos dari ancaman yang ditimbulkan orang-orang Kunlun.Jika tadinya mereka seperti menghadapi jalan buntu, di mana pilihan yang ada hanyalah menyerah atau bertarung tapi kalah. Sekarang mereka dengan kagum berpikir, kenapa tidak terpikirkan cara diplomatis yang dipakai Murong Yun Hua? Kunlun memakai alasan untuk menghindarkan bentrokan dan mengurangi jatuhnya korban pada pertemuan Wulin Mengzhu. Murong Yun Hua dengan luwesnya, menerima alasan Kunlun yang dibuat-buat sebagai kebenaran, tapi kemudian berbalik menggunakan alasan yang sama, untuk mengajukan bentuk pertandingan yang tidak mengandalkan kekuatan.
Dengan cara ini, Partai Pedang Keadilan yang tadinya berada di bawah angin, karena orang-orang terkuatnya sedang tidak ada, sedikit banyak berhasil menyeimbangkan keadaan. Rasa hormat dan kagum mereka pada Murong Yun Hua jadi bertambah.
Guang Yong Kwang sendiri juga mulai sadar, bahwa dirinya sudah terseret oleh permainan Murong Yun Hua. Dia maju untuk menundukkan Partai Pedang Keadilan dengan membawa kelebihan-kelebihan dalam hal ilmu bela diri untuk menunjang kemenangannya, bersiap untuk menggunakan cara keras atau
1624
setidaknya menggunakan kekuatannya itu untuk mengancam pihak Partai Pedang Keadilan. Tapi permainan kata Murong Yun Hua sudah membuat dia terlena dan menyetujui bentuk yang berbeda untuk menentukan kalah dan menang. Sambil menggigit bibir dia memaksa diri untuk tertawa, meski terasa getir dalam dadanya.
―Baiklah, pilihan yang tepat, catur memang jenis permainan tanpa resiko tapi juga mampu mewakili salah satu sisi dari sebuah pertarungan. Dari pihakku aku akan mengajukan Deng Zhi, dia adalah salah seorang ahli catur dari Kunlun. Bagaimana dengan Partai Pedang Keadilan, siapa yang akan maju?‖, ujar Guang Yong Kwang.
Orang yang bernama Deng Zhi pun segera maju ke depan saat dia mendengar Guang Yong Kwang menyebut namanya. Sejak Murong Yun Hua mengajukan bentuk pertandingan pertama, dia sudah tahu bahwa dialah yang akan diperintahkan untuk maju. Sementara Murong Yun Hua terlihat berpikir, pandangan matanya mengitari mereka semua yang ada dalam ruangan. Dua orang pelayannya sedang mengatur meja dan kursi untuk kedua orang pemain. Seorang yang lain sudah pergi meninggalkan ruangan untuk mengambil papan dan buah catur.
1625
Sambil mengetuk-ngetuk dagunya yang runcing dengan jarinya yang lentik, Murong Yun Hua akhirnya menjawab, ―Seandainya Penasehat Chou Liang ada di sini, kukira dialah sepantasnya maju mewakili kami… Namun karena dia berhalangan… biarlah aku yang maju mewakili pihak kami dalam pertandingan ini. Akhir-akhir ini aku sudah banyak belajar dari Penasehat Chou Liang mengenai permainan catur.‖
Berkilat mata Deng Zhi mendengar hal ini, dalam banyak kebudayaan seringkali kaum wanita dipandang sebagai makhluk yang lebih lemah, cenderung mendengarkan perasaan daripada logika dan keberadaannya tidak lebih daripada menjadi pendukung kaum pria. Padahal dalam setiap sejarah satu bangsa, selalu saja ada sosok pahlawan wanita yang menonjol dan tidak kalah dengan kaum pria. Tapi seringkali kebanyakan kaum pria tidak juga belajar dari sejarah dan meremehkan kaum wanita. Deng Zhi yang jago catur pun tidak luput dari kelemahan ini.
Tidak menunggu lama satu set papan catur sudah diletakkan di atas meja. Buah catur sudah tersusun rapi di atasnya. Deng Zhi memegang sisi warna hitam sedang Murong Yun Hua memegang warna merah. Kedua lawan sudah duduk di kursi dan permainan dimulai oleh Murong Yun Hua.
1626
Tidak ada keraguan dan tidak butuh waktu lama saat Murong Yun Hua menggerakkan buah caturnya yang pertama. Deng Zhi pun dengan cepat melakukan langkah kedua. Dibalas dengan cepat pula oleh Murong Yun Hua, dalam waktu singkat kedua pemain sudah melewati tahap pembukaan awal. Deng Zhi yang sempat sedikit kuatir dengan keyakinan Murong Yun Hua akan permainan caturnya, mulai menampakkan senyum mengejek di wajah. Meskipun hanya berupa seulas senyum, bagi mereka yang melihatnya, inilah tanda bahwa Deng Zhi sudah yakin bahwa kemenangan akan ada di tangannya.
Murong Yun Hua yang bergerak lebih dulu, menyerang lawan dengan agresif, prajuritnya dengan cepat menyeberangi sungai.
Sayang rupanya Murong Yun Hua terlalu terburu-buru melangkahkan prajuritnya maju ke depan. Akibatnya 2 prajuritnya terambil oleh lawan, dan Murong Yun Hua pun dengan cepat mengirim kuda dan kereta untuk maju menyelamatkan sisanya.
Tapi sekarang Murong Yun Hua menghadapi masalah lain, prajuritnya yang berhasil menyeberang sungai sudah selamat, kedudukannya di seberang sungai cukup aman. Masalahnya dengan hampir seluruh buah caturnya di seberang sungai, di
1627
daerah pertahanan hanya tersisa buah catur yang memang tidak bisa menyerang ke depan. Deng Zhi dengan cerdik memanfaatkan hal ini dan menyerang lubang-lubang pertahanan yang ada. Salah satu buah caturnya, sebuah kereta perang menyusup masuk dan mengancam raja milik Murong Yun Hua.
Meskipun keadaan sudah kritis, Murong Yun Hua tidak juga menurunkan kecepatannya dalam mengambil keputusan. Berbeda dengan Deng Xhi yang mulai berhati-hati dan berpikir panjang sebelum melakukan gerakan, setelah melewati tahap awal.
Melihat hal itu tanpa sengaja salah seorang pelayan pribadinya mengeluh dan berujar, ―Nyonya, kenapa tidak berhati-hati dalam bermain. Sebelum bergerak seharusnya nyonya waktu untuk berpikir. Jika tidak nyonya akan sering mengambil keputusan yang salah. Bukankah Penasihat Chou Liang pernah menasihati nyonya demikian?‖
Saat itu giliran bergerak sudah kembali pada Deng Zhi, ancaman pada raja dengan cepat digagalkan oleh Murong Yun Hua dengan mengorbankan salah satu gajahnya. Deng Zhi
1628
yang mendengar hal itu hanya tertawa menghina dalam hati, di luaran dia berpura-pura sedang memikirkan strategi permainan.
Murong Yun Hua yang mendengar masihat pelayan pribadinya, menengok lalu menjawab dengan lembut, ―Siauw Hoa, apakah kamu tidak mengerti? Permainan catur ini aku ajukan, sebagai pengganti pertandingan pedang. Jika kau bermain pedang, apakah lawanmu akan memberi waktu bagimu untuk berpikir? Apakah pedang lawan yang bergerak untuk menusuk, akan menunggu sampai dirimu mengambil keputusan sebelum dia benar-benar menusuk?‖
Sambil tersenyum lembut dan dengan nada seperti seorang tua yang mendidik anaknya dia melanjutkan, ―Itu sebabnya setiap kali giliranku bergerak, aku pun bergerak dengan cepat. Selayaknya seorang yang bertanding dengan pedang.‖
―Tapi lawan tidak berlaku demikian, mengapa nyonya tetap saja berlaku demikian.‖, sahut pelayannya dengan kesal.
―Diamlah Siauw Hoa.‖, tegur Murong Yun Hua dengan nada yang tegas, meskipun suaranya tetap lembut terdengar dan tidak menaikkan suara.
1629
Ditegur oleh Murong Yun Hua, Siauw Hoa pun menunduk terdiam, meskipu di wajahnya jelas masih merasa penasaran. Murong Yun Hua melirik sekilas dan melihat rasa penasaran di wajah Siauw Hoa.
―Siauw Hoa, setiap orang memiliki pertimbangannya masing-masing. Pertimbangan siapa yang benar dan pertimbangan siapa yang salah, tidak mudah untuk ditentukan. Dalamnya lautan bisa diukur, hati orang siapa yang tahu? Karena itu aku berprinsip, untuk tidak menghakimi kelakuan orang lain, tapi lebih baik dengan cermat mewaspadai sikap hati kita sendiri. Sudahkah kita berpikir, merasa dan berlaku dengan sebenar mungkin? Seadil mungkin dan sebisa mungkin mengikuti jalan yang menjunjung tinggi kehormatan dan kegagahan.‖
Mendengar penjelasan Murong Yun Hua, Siauw Hoa hanya bisa mengangguk perlahan dengan wajah menyesali keadaan. Jawaban Murong Yun Hua mampu membuat kepala orang-orang Partai Pedang Keadilan yang menyaksikan pertandingan catur itu terangkat ke atas. Meskipun dalam hati mereka merasa khawatir bahwa Murong Yun Hua akan kalah dalam pertandingan catur itu, namun jawaban Murong Yun Hua yang gagah membuat mereka pun merasa bangga. Sebaliknya wajah orang-orang Kunlun jadi sedikit bersemu merah, mereka
1630
yang awalnya merasa berbesar hati melihat keunggulan Deng Zhi dalam bermain catur, sekarang berbalik merasa malu. Dunia persilatan didirikan di atas dasar kegagahan dan kehormatan, tidak jarang nama baik dan sikap-sikap kepahlawanan lebih berarti daripada kemenangan. Keunggulan Deng Zhi berupa beberapa buah biji catur, tentu saja tidak sebanding dengan kegagahan yang ditunjukkan oleh cara Murong Yun Hua menyikapi pertandingan catur tersebut.
Dengan wajah memerah Deng Zhi pun menggerakkan buah caturnya tanpa menyelesaikan lebih dulu rencana yang sedang dia susun dalam benaknya.
Murong Yun Hua tidak mengubah gaya permainannya, segera setelah Deng Zhi selesai menggerakkan biji caturnya, Murong Yun Hua dengan cepat dan tegas mengambil langkah balasan. Permainan pun berjalan dengan cepat, karena sekarang bukan hanya Murong Yun Hua yang mengambil keputusan dan menggerakkan buah caturnya dengan cepat. Deng Zhi pun melakukan hal yang sama.
Tapi baru beberapa langkah permainan itu berlangsung dengan cara demikian, wajah Deng Zhi yang tadinya merah oleh rasa malu, berubah menjadi pucat oleh rasa terkejut. Hatinya
1631
dicekap oleh rasa takut. Bagaimana tidak? Jika tadinya dia berpikir sudah berada di atas angin, setelah berjalan beberapa langkah lebih jauh barulah dia sadar bahwa Murong Yun Hua yang bermain dengan cepat bukan berarti bermain tanpa rencana. Pertahanan di daerah Murong Yun Hua sepertinya terbuka dengan kematian salah satu gajahnya dan posisi prajuritnya yang sudah terlanjur jauh di daerah lawan. Tapi lubang yang menganga itu tidak lebih dari sebuah jebakan.
Kereta perang Deng Zhi yang masuk ke daerah Murong Yun Hua, tiba-tiba terjebak jalan mundurnya oleh prajurit-prajurit Murong Yun Hua yang bergerak ke samping, didukung oleh pergerakan kuda menutup jalan mundur kereta perang Deng Zhi, di pihak lain kereta perang Murong Yun Hua ditarik ke belakang dan mengancam kereta perang Deng Zhi. Bahkan raja dan penasehat pun ditempatkan sedemikian rupa sehingga kedua kereta perang Deng Zhi berada di posisi yang sulit.
Perkembangan ini di luar dugaan Deng Zhi, sehingga sebenarnya dia butuh waktu beberapa lama untuk menganalisa situasi dan memikirkan ulang rencana permainannya. Namun perkataan yang dikeluarkan Murong Yun Hua sebelumnya, membuat dia mati kutu.
1632
Terselip satu kecurigaan dalam hati Deng Zhi, jangan-jangan pelayan yang bernama Siauw Hoa tadi mengeluh dan menasihati Murong Yun Hua dengan sengaja. Dengan sengaja memberi peluang pada Murong Yun Hua untuk mengeluarkan kata-kata yang membuat dirinya terpaksa harus bermain dengan cepat, jika tidak nama baik dan reputasinya bisa rusak. Malu, karena kalah gagah dengan seorang wanita.
Berbagai macam pikiran dan dugaan pun berkelabatan di benak Deng Zhi, pada langkah ke berapa, Siauw Hoa mengeluh tadi? Seperti apa kedudukan tiap-tiap biji catur pada waktu itu? Jangan-jangan, bahkan pemilihan waktunya pun disesuaikan dengan kedudukan biji-biji catur miliknya. Jangan-jangan, Siauw Hoa memancing perkataan Murong Yun Hua, tepat di saat Deng Zhi sudah jatuh dalam perangkap permainan catur Murong Yun Hua. Apakah benar demikian? Entah benar atau tidak, tapi seharusnya Deng Zhi lebih berfokus pada permainannya daripada menyesali kesalahan di waktu yang lalu. Permainan berlangsung dengan cepat, hanya orang dengan konsentrasi yang tinggi yang bisa mengambil keputusan dengan tepat. Bercabangnya pikiran Deng Zhi hanya membuat dia semakin banyak melakukan kesalahan, semakin
1633
bertumpuk penyesalan dan akhirnya semakin ketat hal itu membelenggu pikirannya untuk bekerja dengan tenang.
Jika benar Murong Yun Hua merencanakan itu semua, maka bisa dikatakan Deng Zhi sudah kalah sebelum dia mulai bertanding. Diawali dengan memanfaatkan kedudukan wanita yang dianggap lebih lemah dari kaum pria, Murong Yun Hua membuat lawan memandang remeh dirinya. Cara dia menggerakkan biji caturnya yang berakibat hilangnya beberapa prajurit dan satu gajah semakin menguatkan kesan ini. Di lain pihak, dia menyiapkan perangkap bagi Deng Zhi dan pukulan terakhir adalah komentarnya atas pertanyaan Siauw Hoa yang dilakukan tepat saat perangkap sudah siap dan Deng Zhi sudah memakan umpannya.
Bagaimanapun juga untuk menyiapkan perangkap itu, Murong Yun Hua harus mengorbankan beberapa biji caturnya. Seandainya Deng Zhi punya waktu untuk berpikir, dengan mudah dia akan dapat meloloskan diri dari perangkap Murong Yun Hua dengan mengantongi keunggulan beberapa biji catur.
Tapi justru di saat itu, Deng Zhi dibuat tidak sempat berpikir ulang dengan tenang. Biji-biji catur Murong Yun Hua bergerak dengan telengas dan tanpa ampun.
1634
Guang Yong Kwang bukan ahli catur, namun dia seorang petarung yang berpengalaman. Tanpa melihat papan catur pun, dia sudah bisa melihat kekalahan di pihaknya. Murong Yun Hua bergerak dengan penuh energi dan semangat, tepat di saat moral Deng Zhi hancur berantakan. Di akhir-akhir permainan Deng Zhi pun akhirnya melupakan gengsi dan berpikir dengan keras dan lama sebelum dia menggerakkan biji caturnya. Namun kerusakan yang diakibatkan sudah terlalu parah dan selama apapun dia berpikir, Deng Zhi tidak melihat jalan untuk membalikkan keadaan.
Melihat tidak ada jalan untuk menang, dengan nelangsa Deng Zhi memandang sekilas ke arah Guang Yong Kwang. Pandangan mata Deng Zhi begitu mengenaskan, dengan mudah Guang Yong Kwang mengartikan pandangan Deng Zhi yang sekilas itu.
Dengan menggigit bibir, Guang Yong Kwang pun berkata dingin, ―Pertandingan pertama ini sudah cukup, tidak perlu dilanjutkan lebih jauh lagi, kami sudah kalah.‖
Perkataan Guang Yong Kwang itu tentu saja disambut dengan sorakan gembira, terutama dari gadis-gadis pelayan pribadi Murong Yun Hua yang ikut tegang menyaksikan pertandingan
1635
catur antara Murong Yun Hua dengan Deng Zhi. Lebih menegangkan bagi mereka yang tidak memahami pertandingan yang mereka saksikan dan hanya bisa merasakan ketegangan antara dua pemain itu. Tapi permainan itu memang begitu menegangkan bagi orang-orang Partai Pedang Keadilan, hingga bukan hanya gadis-gadis remaja itu saja yang bersorak, beberapa orang dari para penjaga pun ikut bersorak.
Murong Yun Hua pun berbatuk kecil sambil melontarkan pandangan mengingatkan pada mereka semua. Dengan wajah memerah oleh rasa malu, mereka berhenti bersorak dan menundukkan kepala, meskipun kemudian, ketika Murong Yun Hua tidak lagi melihat, diam-diam mereka berbisik-bisik membicarakan kemenangan Murong Yun hua dengan teman di sebelahnya.
Setelah memperingatkan orang-orangnya untuk tidak bersorak atas kekalahan lawan, Murong Yun Hua segera berbalik dan mengangguk hormat pada lawannya dan pada Guang Yong Kwang, suaranya yang merdu berusaha menghibur lawan yang kalah, ―Ah… hanya keberuntungan seorang pemula.‖
―Terima kasih Kakak Deng Zhi, sudah memberi muka pada kami sebagai tuan rumah dan banyak memberikan kelonggaran
1636
dalam permainan tadi. Jika tidak tentu aku sudah kalah dalam permainan tadi.‖, ujar Murong Yun Hua pada Deng Zhi yang wajahnya pucat seperti baru saja ditebas lawan dengan pedang.
Deng Zhi hanya bisa menggeleng dengan lemah, kemudian setelah memberi hormat dia mundur kembali ke tempatnya dalam barisan Kunlun tanpa berani mengucapkan sepatah katapun.
Wajah Guang Yong Kwang sudah tidak secerah tadi, tapi tidak mungkin pula bagi dirinya untuk marah-marah saat ini. Ada kewibawaan sebagai ketua dari Partai Kunlun yang harus dia jaga. Tidak mungkin dia mengakui bahwa dia sudah terjebak oleh permainan kata Murong Yun Hua. Tidak bisa pula dia menarik mundur kesepakatannya dengan Murong Yun Hua. Satu-satunya jalan hanyalah meneruskan pertandingan dan memenangkan dua pertandingan yang tersisa.
―Nyonya terlalu rendah hati, sudah jelas nyonya seorang ahli dalam bermain catur. Deng Zhi sama sekali bukan tandingan nyonya. Sesuai dengan kesepakatan kita, itu artinya, sekarang giliran kami yang menentukan bentuk pertandingan yang
1637
kedua.‖, ujar Guang Yong Kwang dengan senyum di wajahnya, meskipun hatinya sudah tidak sehangat tadi.
―Ketua terlalu memuji, tapi terima kasih buat pujian ketua. Tentu saja, sekarang giliran ketua untuk mengajukan bentuk pertandingan yang kedua. Pertandingan macam apa yang Ketua Guang Yong Kwang kehendaki?‖, tanya Murong Yun Hua tanpa lupa menyertakan senyum manisnya.
Guang Yong Kwang berpikir dengan dahi berkerut, semakin lama dia berpikir, semakin dia sadar bahwa dia sudah terjebak dengan ide Murong Yun Hua yang sudah dia setujui itu. Ketika dia membuat rencana untuk menaklukkan Partai Pedang Keadilan, dia sudah bersiap untuk melakukannya lewat kekuatan. Nmaun sekarang persiapannya itu berbalik jadi kelemahan, karena salah satu syarat yang dia sepakati bersama Murong Yun Hua menyatakan bahwa pertandingan yang dilakukan tidak boleh sampai melukai salah satu dari pihak yang bertanding.
Cukup lama dia berpikir, sebelum akhirnya dia mengambil keputusan, ―Nyonya, kudengar Partai Pedang Keadilan menciptakan satu ilmu barisan untuk menahan lawan. Untuk
1638
pertandingan kedua ini, baiklah kalian mengepung diriku dengan barisan itu.‖
―Jika kalian dapat menahan agar aku tidak dapat keluar dari kepungan berarti kalian menang. Sebaliknya jika aku berhasil lolos dari barisan kalian, berarti aku yang menang. Untuk mencegah agar tidak ada pihak yang terluka, semuanya ini dilakukan tanpa melakukan serangan pada lawan, hanya dengan mengandalkan olah gerak tubuh saja. Siapapun yang bergerak dan gerakannya itu membentur tubuh lawan, maka dia dianggap kalah, dengan cara ini maka yang diadu sungguh-sungguh adalah kecepatan dan ketepatan berpikir dan bergerak. Masing-masing pihak tidak dapat menggunakan tenaga untuk mengalahkan lawan.‖
Murong Yun Hua dengan cepat menjawab, ―Bagus, sungguh cara yang bagus. Tidak salah, memang beberapa waktu yang lalu, tokoh-tokoh Partai Pedang Keadilan memang sempat berkumpul bersama untuk menciptakan ilmu barisan. Tapi tentu saja, sulit dibandingkan dengan ilmu barisan yang diciptakan tokoh-tokoh besar di masa lampau, semoga kepandaian kami tidak terlalu mengecewakan.‖
1639
Mendengar jawaban ini, Bo He mengerutkan alis, kemudian dengan berbisik dia menyampaikan sesuatu pada salah seorang gadis pelayan pribadi Murong Yun Hua. Selesai Bo He berbisik, gadis itu cepat-cepat menghampiri Murong Yun Hua dan berbisik di telinganya.
―Nyonya…, Tuan Bo He bertanya, jika tidak ada batas waktu yang ditentukan, bukankah akan merugikan pihak kita? Karena Ketua Guang Yong Kwang tidak akan pernah bisa dikatakan kalah selama dia belum mengaku kalah.‖, bisik gadis pelayan itu pada Murong Yun Hua.
Mendengar keprihatinan Bo He, Murong Yun Hua hanya tersenyum saja, kemudian dia pun berbisik pada gadis pelayannya itu, ―Katakan pada Tuan Bo He, hal ini sudah kuperhitungkan. Jika ada batas waktu, maka selepas batas waktu itu habis kita akan sampai pada pertandingan ketiga. Jika tidak ada batas waktu, maka selama barisan kita bisa menahan Ketua Guang Yong Kwang di dalamnya, selama itu pula pertandingan kedua berlangsung. Yang kuharapkan adalah, barisan kita mampu menahan Ketua Guang Yong Kwang dalam kepungan, memberi kita waktu untuk menunggu Ketua Ding Tao hadir di sini, untuk menghadapi mereka di pertandingan ketiga.‖
1640
Mendapat penjelasan Murong Yun Hua, wajah gadis pelayan itu pun menjadi cerah, buru-buru dia kembali pada Bo He dan menyampaikan pesan Murong Yun Hua. Mendengar penjelasan itu, Bo He pun menengok ke arah Murong Yun Hua, seakan meminta kepastian, apakah benar masih ada harapan Ding Tao bisa datang menghadapi rombongan Kunlun di pertandingan yang ketiga? Murong Yun Hua yang melihat pandangan mata Bo He, samar-samar menganggukkan kepala sambil tersenyum. Besarlah hati Bo He melihat hal itu. Bo He melihat ke pihak Kunlun,dilihatnya Guang Yong Kwang sudah berdiri di tengah ruangan dan bersiap menghadapi kepungan orang-orang Partai Pedang Keadilan. Buru-buru Bo He pun pergi untuk memilih mereka yang akan menghadapinya dengan ilmu barisan yang baru saja mereka ciptakan.
Setiap regu pengawal, terdiri dari kelipatan 8 orang. Hal ini bersesuaian dengan ilmu barisan mereka yang menggunakan sistem Bagua. Di antara mereka yang berjaga hari itu, Bo He sudah kenal siapa yang paling bisa diandalkan, karena itu tanpa ragu diapun pergi menemuinya.
Sistem barisan yang diciptakan menggunakan 8 orang untuk membentuk segi delapan, menjaga delapan penjuru mata angin. Tapi bisa dilipat gandakan menjadi penjagaan 16 orang
1641
dengan membuat segi delapan di lingkar luar segi delapan yang sudah ada. Dengan posisi menjaga di titik antara dua orang pada bagian dalam. Dengan mudah hal yang sama dilakukan dengan membentuk garis penjagaan berikutnya dan barisan pun menjadi rangkap tiga dan meliputi 24 orang. Guang Yong Kwang hanya mengatakan akan melawan ilmu barisan milik Partai Pedang Keadilan. Dia tidak menentukan akan melawan berapa orang. Di saat yang sama, yang diminta Murong Yun Hua adalah agar Bo He berusaha, membuat Guang Yong Kwang tertahan dalam kepungan selama mungkin, memberikan waktu seluas-luasnya bagi Ding Tao untuk menyelesaikan hambatan yang sedang dia hadapi.
Karena itu tanpa ragu, Bo He memilih 4 orang regu terkuat yang dia tahu, untuk mengepung Guang Yong Kwang dengan 32 orang dalam ilmu barisan delapan penjuru yang diciptakan para pimpinan Partai Pedang Keadilan bersama-sama.
Melihat 32 orang maju ke depan dan mengepungnya dalam 4 lapis barisan penjagaan, Guang Yong Kwang mengumpat dalam hati. Dari informasi yang sempat dia serap sebelum kedatangannya ke Jiang Ling, barisan yang diciptakan itu terdiri dari 8 orang yang bergerak berdasarkan formasi Bagua. Melihat ada 32 orang yang maju dan melihat bagaimana mereka
1642
menyusun barisan, segeralah Guang Yong Kwang menyadari bahwa dia sedang menghadapi 4 barisan. Namun menjaga harga dirinya sebagai seorang ketua dari partai besar, dia tidak mau mengajukan protes, seakan-akan dirinya takut menghadapi kepungan 32 orang penjaga Partai Pedang Keadilan. Jangankan hanya 32 orang, 100 pun akan dengan mudah dia libas. Lagipula, bagaimana mungkin dia sebagai orang luar bisa mengatakan apakah ilmu barisan buatan Partai Pedang Keadilan terdiri dari 8 atau 32 orang? Sementara ilmu barisan itu senditi masih jarang digunakan di luaran. Bisa-bisa pihak Partai Pedang Keadilan akan menuduhnya mencuri-curi, mempelajari ilmu barisan buatan mereka.
Dengan menyatakan bahwa dia tahu ada ilmu barisan yang diciptakan mereka saja, sudah menyiratkan hal tersebut. Meskipun masih bisa dianggap wajar jika orang memasang telinga terhadap berita di luaran. Tapi bila sampai dia menunjukkan bahwa dia tahu lebih dari apa yang sudah dia katakan, maka pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya berupa tuduhan bukan tidak mungkin akan dikeluarkan. Sekalipun sulit dibuktikan namun bisa mencoreng nama besar Partai Kunlun yang terkenal lurus.
1643
Karena alasan-alasan itu, akhirnya Guang Yong Kwang pun hanya bisa menggertakkan gigi sambil merangkapkan tangan ke 8 penjuru.
―Apakah kalian sudah siap?‖, tanyanya dengan suara dingin.
―Silahkan‖, jawab salah seorang pemimpin regu, kebetulan dia memimpin regu yang akan menjadi barisan pada lingkar penjagaan terdalam.
Dengan satu jawaban itu, Guang Yong Kwang mulai bergerak perlahan-lahan ,menggeser tubuhnya, mencoba mengubah kedudukannya terhadap barisan yang menghadang jalan keluarnya. Demikian Guang Yong Kwang bergerak perlahan sambil mengamati reaksi lawan. Dengan cara itu dia berusaha mengenali prinsip yang digunakan barisan lawan.
Barisan Partai Pedang Keadilan, tentu saja bergerak memperbaiki kedudukan, setiap kali Guang Yong Kwang bergerak. Menyesuaikan posisi mereka dengan posisi Guang Yong Kwang yang baru.
32 orang memusatkan perhatian mereka pada Guang Yong Kwang, hasil dari kerasnya latihan tidaklah mengecewakan. Apalagi bagi mereka yang tinggal di Jiang Ling, mereka
1644
memiliki banyak kesempatan untuk menguji hasil latihan mereka dengan orang terkuat dari Partai Pedang Keadilan, Ding Tao. Pancingan-pancingan Guang Yong Kwang tidak mampu menimbulkan celah dalam barisan yang ketat itu. Namun Guang Yong Kwang bukan mendapatkan kedudukan sebagai ketua Kunlun karena keberuntungan. Sejak dia masih baru memasuki perguruan Kunlun, bakat dan ambisinya menonjol dibanding teman-teman seangkatannya. Dalam hitungan tahun dia sudah naik menjadi murid langsung dari ketua Kunlun waktu itu dan tidak menunggu lama sebelum ketua Kunlun menyadari potensi Guang Yong Kwang dan memutuskan untuk mengkhususkan diri hanya melatih Guang Yong Kwang seorang. Sejak saat itu, kemajuannya tidak bisa ditandingin oleh murid-murid Kunlun yang lain.
Kunlun juga sudah mengembangkan ilmu barisan khas Kunlun. Jika ilmu barisan yang diciptakan para tokoh Partai Pedang Keadilan ini baru berumur beberapa bulan. Ilmu barisan milik Kunlun sudah berumur lebih dari seratus tahun. Dari generasi ke generasi dilatih, diuji dan dikembangkan.
Guang Yong Kwang tidak menjadi gugup melihat kesigapan 32 orang yang mengepungnya. Tubuhnya terus bergerak sementara, matanya yang tajam dan otaknya yang lincah tidak
1645
pernah luput mengamati mereka yang mengepungnya. Dengan sabar dia mencatat dalam benaknya kecekatan tiap-tiap orang. Guang Yong Kwang tidak terburu-buru mencoba menerobos lewat lubang yang dia lihat. Cukup keterlambatan satu dua orang itu dia catat, untuk selanjutnya dia menguji bagian lain dari barisan.
Setelah beberapa lama mereka saling menguji, sebuah gambaran sudah terpeta dalam benak Guang Yong Kwang. Untuk meyakinkan, sekali lagi dia menguji titik-titik lemah dalam barisan itu. Titik-titik lemah yang disebabkan karena tidak meratanya kemampuan setiap orang dalam menjalankan tugasnya.
Dalam hati Guang Yong Kwang pun mengakui bahwa barisan ini adalah sebuah barisan yang baik. Jika Partai Pedang Keadilan memiliki waktu yang cukup panjang, untuk menyaring orang-orang yang berbakat, maka dalam hitungan tahun Partai Pedang Keadilan akan memiliki satu regu yang dapat bekerja sama dengan tangguh dan dapat menghadapi tokoh dunia persilatan tingkat atas. Tapi hari ini mereka belum sampai di sana.
1646
Dengan sebuah seringai puas, Guang Yong Kwang tiba-tiba berteriak nyaring, tubuhnya yang sedari tadi bergerak tidak terlalu cepat dalam waktu singkat tiba-tiba bergerak bagai kilat. Kecepatannya yang luar biasa membuat dirinya tampak seperti akan bergerak ke beberapa arah sekaligus.
32 orang yang mengepungnya, tidak kalah gesit, seluruh panca indera mereka sudah dikerahkan untuk mengamati pergerakan Guang Yong Kwang. Segera setelah Guang Yong Kwang mulai menggebrak, mereka pun dengan cepat bergerak menutup jalan lari Guang Yong Kwang.
Meskipun demikian, tidak urung ada waktu jeda beberapa saat sebelum mereka bereaksi terhadap gebrakan Guang Yong Kwang. Lebih-lebih lagi, jeda waktu yang dibutuhkan untuk menangkap gerakan Guang Yong Kwang, kemudian mengolahnya dalam otak mereka, lalu menentukan langkah-langkah pencegahan yang sesuai dengan ilmu barisan yang mereka pelajari, tidaklah sama antara satu orang dengan satu orang yang lain.
Semakin lama, perbedaan yang kecil dan keterlambatan yang beberapa saat itu semakin besar. Guang Yong Kwang bukan
1647
bergerak tanpa perhitungan. Jauh sebelum dia mulai bergerak dia sudah mempelajari barisan yang menghadangnya.
Jika dia bergerak ke utara, jika dia berbalik arah, jika dia mengincar bagian bawah dan seterusnya.
Bisa dikatakan sebelum dia bergerak dia sudah bisa membayangkan, ke arah mana para pengepungnya akan bereaksi bila dia bergerak seperti ini dan ke arah mana pula mereka akan bergerak jika tiba-tiba dia mengubah arahnya ke arah yang itu.
Bukan hanya itu saja, dengan mengenali kemampuan setiap orang dari pengepungnya, dia dapat pula membayangkan keretakan yang terjadi dalam barisan mereka, setiap kali barisan itu harus mengubah susunan, akibat pergerakan Guang Yong Kwang. Karena itu Guang Yong Kwang bergerak seakan-akan tidak peduli dengan gerakan yang dibuat lawan. Dia sudah membuat rencana, setelah menyerbu ke utara, dia harus berbalik dengan tiba-tiba seakan-akan hendak mengubah arah larinya ke arah selatan. Tapi sebelum dia benar-benar ke selatan, dia harus menggeser titik berat tubuhnya, dan seterusnya.
1648
Benar saja perhitungan Guang Yong Kwang, pada gerakan yang ke 45 terbuka celah yang lebar di lingkaran pertama dan kedua.
Tanpa ragu lagi Guang Yong Kwang pun menerobos dua baris pengepungnya. Barisan ketiga dan keempat yang masih sempat mengamati keadaan rekan-rekan mereka, dengan cepat menutup lubang-lubang tempat Guang Yong Kwang bisa meloloskan diri tapi tentu saja Guang Yong Kwang tidak hanya berhenti sampai di sana. Dengan cepat tubuhnya bergerak menyisir di antara barisan kedua dan ketiga.
Gerakannya yang cepat dan tepat, membuat orang-orang Partai Pedang Keadilan saling berbenturan. Hal ini terjadi karena lingkaran pertama dan kedua yang berhasil dilewati Guang Yong Kwang, berusaha untuk bergerak keluar. Tujuan mereka adalah berganti kedudukan sehingga lingkaran ketiga dan keempat akan menjadi barisan pertama dan kedua, sementara mereka akan menjadi barisan ketiga dan keempat. Dengan cara itu Guang Yong Kwang akan kembali dikepung oleh 4 barisan. Cara ini sangat efektif untuk terus mengurung Guang Yong Kwang, karena aturan dari pertandingan ini tidak memungkinkan Guang Yong Kwang untuk menyerang dan menjatuhkan lawan.
1649
Sayang Guang Yong Kwang bukan lawan yang bisa diperlakukan demikian. Rencana mereka sudah diperhitungkan oleh Guang Yong Kwang dan dia pun memanfaatkan detik-detik di mana barisan kesatu dan kedua hendak bergerak keluar, untuk memancing reaksi barisan ketiga dan keempat untuk bergerak ke jalur lari teman mereka sendiri.
Tidak urung sesama rekan pun saling bertabrakan, sementara Guang Yong Kwang justru berhenti di tempat dengan mata yang tajam mengamati timbulnya celah untuk dia meloloskan diri.
Namun bukan hanya Guang Yong Kwang yang memiliki akal cerdik. Bo He yang cukup berpengalaman juga menunjukkan kecerdikannya. Orang yang paling awas dan cekatan justru dia tempatkan dia lingkaran yang terluar, bukan lingkaran yang terdalam. Sewajarnya justru yang paling cekatan berada paling dekat dengan Guang Yong Kwang, karena dialah yang harus bereaksi paling cepat.
Namun tidak demikian pendapat Bo He, Bo He bisa mengukur diri sendiri dan mengakui bahwa tidak seorangpun dari mereka yang berada di sana mampu mengimbangi kecekatan, kecepatan dan kecerdasan Guang Yong Kwang. Secekatan
1650
apapun orang yang ditempatkan untuk berhadapan langsung dengan Guang Yong Kwang, pasti akan jatuh dalam permainan oleh geraknya. Jika dia menaruh orang yang paling cekatan pada posisi itu, maka segera setelah lingkaran pertama berhasil diterobos oleh Guang Yong Kwang, barisan kedua, ketiga dan keempat pun akan dengan cepat bergurguran.
Bo He memilih menaruh orang paling cerdas dan cekatan di lingkaran terluar. Dari kedudukannya yang paling jauh dengan pertempuran dibanding yang lain, orang ini memiliki kesempatan paling besar untuk mengamati jalannya pertandingan.
Benar saja, runtuhnya barisan pertama dan kedua membuat barisan ketiga sama keroposnya. Beruntung mereka yang berada di barisan keempat memiliki cukup waktu untuk mencerna rencana Guang Yong Kwang, meskipun barisan ketiga harus dikorbankan. Ke delapan orang yang membentuk barisan terakhir ini dengan cepat bergerak menjaga jalan lari Guang Yong Kwang.
Bentuk dan luasan arena pertarungan yang terbentuk oleh pergerakan mereka sudah meluas, demi menjaga agar Guang Yong Kwang tidak bisa lolos, bentuk barisan yang segi delapan
1651
dengan cepat diubah menjadi barisan garis bersudut dengan dua ujung terbuka. Gerakan mereka yang cekatan membuat Guang Yong Kwang terkurung di antara barisan terluar dengan sisa barisan yang sudah diterobos di belakangnya. Sekaligus memberikan jalan bagi rekan-rekan mereka untuk keluar dari barisan keempat tanpa saling menubruk dengan barisan keempat.
Sambil bergerak, pemimpin regu barisan keempat pun berteriak memberikan petunjuk, ―Gerbang utara dan barat membuka!‖
Bersamaan dengan mundurnya rekan-rekan mereka, barisan keempat pun bergerak merapat dan mengurung Guang Yong Kwang.
Tujuannya adalah membuat barisan mereka perlahan-lahan kembali merapat sesuai dengan jumlah rekan yang berhasil keluar dari kekacauan. Dengan demikian saat seluruh rekan mereka sudah menjauh dari kekacauan, Guang Yong Kwang akan kembali dikepung oleh mereka berdelapan dalam bentuk formasi Bagua. Di saat itu, rekan-rekan mereka bisa dengan tenang bergerak untuk membentuk lapis kedua, ketiga dan keempat.
1652
Sulit untuk menggambarkan kedudukan tiap-tiap orang pada waktu itu, bagi mereka yang mengamati dari luar dan kurang jeli, maka yang tampak hanyalah satu keruwetan dan kekacauan. Hanya mereka yang cukup cerdas dan jeli dapat melihat bagaimana Guang Yong Kwang bergerak untuk lepas dari kepungan delapan orang terakhir tanpa menubruk mereka yang bergerak keluar. Di saat yang sama, ke delapan orang yang membentuk barisan terakhir bergerak pula dengan cepat untuk mencegah hal itu terjadi.
Untuk sesaat tampaknya ke-delapan orang itu berhasil dalam melakukan tugasnya. Guang Yong Kwang kembali terkurung dan rekan-rekan mereka mulai berlompatan untuk menempati kedudukan mereka masing-masing, membentuk lapis dua, tiga dan empat. Namun Guang Yong Kwang pun bergerak lebih cepat berusaha menerobos, sebelum lapisan-lapisan berikutnya terbentuk dengan mantap. Jangankan ke-32 orang penjaga itu, Guang Yong Kwang yang namanya sudah sejajar dengan orang-orang nomor satu di dunia persilatan pun bajunya sudah basah oleh keringat.
Desah nafas ke 32 orang itu terdengar menderu-deru, seperti lokomotif yang dipacu kecepatannya.
1653
Semakin tinggi tingkat kelelahan mereka, semakin sulit untuk tetap mengimbangi kecepatan Guang Yong Kwang yang tidak juga berkurang. Pada satu titik, ke delapan orang itu akhirnya tidak mampu menahan laju gerak Guang Yong Kwang yang bergerak mundur ke arah yang berada di luar dugaan mereka.
Yang patut dipuji adalah semangat dan moral mereka yang tinggi. Lolosnya Guang Yong Kwang dari barisan terakhir tidak membuat semangat dan moral mereka runtuh, sehingga kemudian mereka diam di tempat meratapi kekalahan. Melihat Guang Yong Kwang masih terjebak di antara mereka, sebisa mungkin mereka bergerak menutup jalan lari Guang Yong Kwang. Ilmu barisan yang mereka pelajari sudah tidak berguna, karena kedudukan mereka sudah tidak lagi teratur seperti pada awal pertandingan. Tiap-tiap orang hanya bisa bergerak menurut pertimbangan dan keyakinan mereka masing-masing.
Dengan mudah Guang Yong Kwang bergerak ke kiri dan ke kanan, melewati mereka yang berusaha menghadang jalan larinya dan menerobos keluar. Hanya berbekal semangat dan kekerasan hati, ke-32 orang itu berusaha menutup jalan lari Guang Yong Kwang. Namun bagi mereka yang melihat pertandingan itu, hasil akhirnya sudah dapat dipastikan.
1654
Sorak-sorai pun lepas dari rombongan Kunlun saat Guang Yong kwang melewati orang terakhir dan dengan tenang berdiri di luar 32 orang yang sudah tidak tampak lagi bentuk barisannya dan lebih mirip kumpulan orang yang berkerumun di pasar malam.
―Menang!‖, seru mereka ditanggapi senyum dingin oleh Guang Yong Kwang.
―Selamat atas kemenangan Ketua Guang Yong Kwang, sungguh tinggi tingkat ilmu ketua sulit dipahami, 32 orang dalam satu barisan yang teratur bisa dipermainkan sedemikian rupa seperti kumpulan anak-anak kecil yang tidak mengenal bela diri.‖, ujar Murong Yun Hua sambil merangkapkan tangan.
Guang Yong Kwang tersenyum tawar sambil menggelengkan kepala, katanya, ―Biasa saja, hanya hal yang kecil saja tidak ada yang patut dibanggakan.‖
Dalam hati Guang Yong Kwang harus mengakui kelihaian orang yang menciptakan ilmu barisan tersebut. Butuh waktu lama bagi dirinya sebelum dia dapat membentuk satu rencana untuk memecahkan barisan mereka. Benar memang setelah dia mulai bergerak, tidak butuh waktu lebih dari satu hio untuk
1655
terbakar habis, sebelum dia lepas dari kepungan. Tapi untuk sampai pada titik itu, dia harus memeras otak dan menghabiskan cukup banyak waktu. Bahkan setelah dia berhasil membongkar barisan itupun dia harus mengakui kebandelan orang-orang Partai Pedang Keadilan yang tidak kenal kata menyerah sebelum sampai pada garis akhir. Guang Yong Kwang pun dipaksa untuk memikirkan ulang, penilaiannya akan kekuatan Partai Pedang Keadilan. Kenyataan yang menunjukkan potensi besar Partai Pedang Keadilan, mendorong Guang Yong Kwang untuk merendahkan mereka dengan sindiran halusnya. Ada perasaan tidak mau kalah yang muncul dari kebanggaan dirinya sebagai anak murid bahkan sekarang sebagai ketua dari satu perguruan yang ternama.
―Janganlah Ketua Guang Yong Kwang terlalu merendahkan diri, jika ketua berlaku demikian, bagaimana dengan ke -32 orang yang ketua kalahkan hari ini?‖, ujar Murong Yun Hua dengan senyum yang tak pernah meninggalkan wajahnya.
Guang Yong Kwang hanya bisa menanggapi ucapan Murong Yun Hua dengan senyum masam, tidak ingin berkutat terus dengan pertarungannya barusan, dia mengalihkan pembicaraan, ―Sesuai dengan kesepakatan kita, pertandingan
1656
ketiga dan juga pertandingan penentu. Adalah pihak nyonya yang berhak menentukan bentuk pertandingannya. Jadi pertandingan seperti apa yang ada dalam benak nyonya?‖
Murong Yun Hua tersenyum dan menganggukkan kepala. Matanya melirik ke arah pintu masuk dari arah dalam. Apakah Ding Tao sudah bisa hadir dalam pertandingan yang ketiga ini?
Bo He dan pengikur Partai Pedang Keadilan yang lain tanpa terasa mengarahkan pandangan mata mereka ke pintu yang sama. Jantung mereka serasa ingin berhenti ketika pintu itu bergerak terbuka. Siapa yang akan muncul di sana? Berita seperti apa yang akan dibawa olehnya? Apakah Ding Tao berhasil melewati masa kritis dalam latihannya dan sekarang siap untuk menghadapi lawan? Ataukah yang datang adalah pembawa berita bagi Murong Yun Hua, yang mengatakan bahwa Ding Tao belum bisa hadir untuk pertandingan yang ketiga ini. Atau mungkin lebih buruk lagi, yaitu bahwa Ding Tao gagal melewati masa kritis tersebut dan sekarang dalam keadaan lumpuh atau gila?
Bab XXXIV. Ding Tao
1657
Pintu akhirnya terbuka lebar dan 4 sosok orang masuk melewatinya. Siapa lagi mereka kalau bukan Ding Tao, Ma Songquan, Chu Linhe dan Chou Liang.
Ding tao sudah mencuci muka dan berpakaian rapi, penampilannya tidak menampakkan bekas-bekas kelelahan setelah berlatih berminggu-minggu lamanya. Bukankah tadinya Ding Tao sedang bertarung dengan sepasang pendekar Ma Songquan dan isterinya? Bukankah Chou Liang melarang satu orang pun untuk mengganggu mereka. Lalu bagaimana mereka bisa tahu akan kedatangan kelompok dari Kunlun jika tidak ada seorang pun yang berani memberitahu mereka?
Tentu saja ada satu orang yang berani menerobos masuk dan memberi tahukan masalah ini pada Chou Liang dan Murong Huolin yang sedang menonton di pinggir lapangan.
Murong Yun Hua.
Sejak kedatangan tamu dari Kunlun di depan gerbang Partai Pedang Keadilan, sampai kemudian Bo He menemui mereka. Ada waktu yang cukup lama, waktu yang terbuang saat pengantar harus melaporkan kedatangan mereka di tiap gerbang penjagaan yang berbeda. Setelah sampai di ruang
1658
pertemuan pun mereka masih harus menunggu Bo He datang menemui. Setelah bertemu Bo He pun masih ada tanya jawab yang harus dilewati.
Dikatakan lama, memang cukup lama bagi Murong Yun Hua untuk memikirkan satu rencana. Dikatakan lama, tapi sebenarnya tidak akan ada cukup waktu untuk bersiap jika Murong Yun Hua tidak berpikir dengan cepat. Ketika secara tidak sengaja mendengar berita kedatangan tamu dari Kunlun, Murong Yun Hua segera menyadari bahaya yang mereka hadapi. Tanpa membuang waktu otaknya berpikir cepat dan menghasilkan satu rencana nekat. Rencana nekat yang tampaknya berhasil menyelamatkan Partai Pedang Keadilan dari bahaya yang mengancam. Bukan hanya cekatan dalam berpikir, tapi juga tegas dalam mengambil keputusan. Tidak jarang ada orang pandai dalam menganalisa masalah, namun ragu-ragu dalam mengambil tindakan. Hal ini tidak terlihat dalam kecekatan Murong Yun Hua yang menyelamatkan seluruh partai.
Seluruh usaha Murong Yun Hua bersama anggota yang lain akhirnya sampai pada akhirnya. Ding Tao sudah tiba. Sebuah beban berat terasa lepas dari pundak mereka, meskipun rasa
1659
itu hanya sesaat saja lewat dan tidak lama kemudian digantikan oleh ketegangan yang berbeda.
Ding Tao berjalan ke arah Guang Yong Kwang dan merangkapkan tangan di depan dada, memberi salam, ―Salam Ketua Guang Yong Kwang, selamat datang di Jiang Ling. Maaf jika aku terlambat menyambut kedatangan ketua.‖
Jantung Guang Yong Kwang berdegup kencang saat Ding Tao memasuki ruangan. Perkembangan yang terjadi berada di luar perhitungannya, dengan sendirinya keyakinannya pun menjadi goyah. Tapi kebanggaan sebagai ketua dari sebuah perguruan besar tidak mudah luntur. Dengan menggertakkan gigi dia pun membalas salam Ding Tao.
―Ketua Ding Tao…, kiranya bisa hadir di sini. Dari penjelasan salah seorang pengikutmu, tadinya kusangka Ketua Ding Tao sedang berada di dalam ruang latihan dan tidak bisa hadir. Apa mungkin ada salah mengerti?‖
Ding Tao hanya tersenyum dingin, sepanjang perjalanan dari ruang latihan menuju ruang pertemuan dia sudah menerima laporan akan kejadian yang berlangsung hari ini. Jika Guang Yong Kwang merasa kesal karena terperangkap siasat Murong
1660
Yun Hua, maka Ding Tao terlabih lagi merasa kemarahannya sulit ditahan.
―Hmm… kata-katanya memang tidak salah. Selama beberapa hari terakhir aku mengurung diri dalam ruang latihan. Adalah satu kebetulan yang tidak di sengaja jika kedatangan Ketua Guang Yong Kwang, bertepatan dengan selesainya latihanku. Justru adanya pertandingan antara Perguruan Kunlun dengan partai kami yang membuatku bertanya-tanya. Jika ketua sudah tahu aku tidak bisa hadir di tempat, mengapa memaksakan satu pertandingan yang akan menentukan masa depan dari partai kami tanpa kehadiranku sebagai ketuanya?‖, tegur Ding Tao tanpa basa-basi.
Memerah wajah Guang Yong Kwang dan sekalian pengikutnya, dengan senyum masam Guang Yong Kwang pun menjawab, ―Keputusan yang akan diambil sangatlah penting bagi kemaslahatan dunia persilatan dan waktunya sudah mendesak. Kapan Ketua Ding Tao bisa ditemui tidak ada batas waktu yang jelas, demi kepentingan umum mau tidak mau, kami harus memaksa untuk mendapatkan hasilnya hari ini. Siapa tahu? Jangan-jangan ketidak hadiran Ketua Ding Tao hanyalah siasat untuk mengulur waktu.‖
1661
Melotot mata Ding Tao mendengar jawaban Guang Yong Kwang, hawa murni dalam tubuhnya pun bergolak seturut pergolakan rasa dan semangatnya. Tiba-tiba terdengar suara gemeretak lantai yang dipijak Ding Tao. Terlihat telapak kaki Ding Tao melesak ke bawah setidaknya satu-dua jari dalamnya, marmer yang keras dibuat seperti lunak, tidak ubahnya tanah berlumpur. Lantai terbuat dari batu marmer, tebal dan kerasnya tidak perlu ditanyakan. Namun hawa murni yang dilatih Ding Tao berkaitan dengan tenaga bumi, dalam kemarahannya tanpa terasa Ding Tao mengerahkannya sampai pada puncaknya. Jangankan lantai yang terbuat dari marmer, seandainya dia menginjak bongkahan batu raksasa yang ada di sungai-sungaipun, mungkin batu itu akan retak oleh ledakan hawa murninya yang seperti menghunjam ke bawah, ke arah pusat bumi.
Pameran tenaga dalam itu membuat jantung setiap orang berdetak setingkat lebih kencang. Guang Yong Kwang yang terbilang masih muda ikut terpancing emosinya. Tanpa ragu dia pun menghimpun dan mengerahkan hawa murninya sampai ke puncaknya. Segera saja sebuah hawa panas terasa meledak keluar dari tubuhnya. Beberapa orang yang berdiri terlalu dekat dengan Guang Yong Kwang pun tanpa terasa menjauh
1662
beberapa langkah, seakan terdorong satu tenaga yang tidak terlihat.
Hanya Ding Tao yang berada di hadapannya yang berdiri teguh seperti batu karang yang tidak terpengaruh, meninggalkan dua orang ketua dari dua partai besar dengan usia yang terbilang masih muda saling berhadapan.
Suasana yang pekat dengan permusuhan kembali muncul dengan hadirnya Ding Tao. Sebelumnya anggota Partai Pedang Keadilan yang merasa berada di pihak yang kalah kuat, menyambut dengan gembira usulan Murong Yun Hua yang menghadirkan jalan tengah. Apalagi dengan usulan Murong Yun Hua, kekalahan yang sudah pasti, tiba-tiba menjadi situasi di mana ada kemungkinan untuk menang. Kehadiran Ding Tao membuat posisi mereka menguat, semangat mereka untuk bertarung secara keras kembali muncul. Di lain pihak Guang Yong Kwang dan orang-orangnya datang dengan persiapan untuk menggunakan kekerasan, kecerdikan Murong Yun Hua membuat rencana mereka bergerak ke arah yang berbeda. Dua kali pertandingan dengan pertandingan terakhir yang menentukan berada di pihak lawan, menunjukkan bahwa siasat Murong Yun Hua merugikan mereka. Kehadiran Ding Tao dan bergeraknya arah kejadian
1663
menuju kembali pada rencana awal mereka adalah satu keadaan yang bisa diterima. Kedua belah pihak sudah saling berhadapan dengan tangan berada di gagang senjata masing-masing, siap dicabut begitu kedua pemimpin mereka saling bergebrak.
Gadis-gadis yang mengiringi Murong Yun Hua, yang masih dapat menggerakkan kakinya tanpa sadar sudah berdiri jauh-jauh dari Ding Tao dan Guang Yong Kwang. Ada juga yang terpaku beku di tempatnya, merasa ngeri sampai tidak bisa bergerak.
Hanya Murong Yun Hua yang masih dapat menggunakan nalar jernihnya. Sekilas dia menengok ke arah Ma Songquan, Chu Linhe dan Chou Liang. Melihat pula ke arah Bo He dan teman-temannya. Dari yang sekilas itu dia dapat melihat kalau mereka pun sudah dibakar oleh amarah dan keinginan untuk bertarung. Diam-diam Murong Yun Hua menghela nafas sambil tersenyum kecil.
‗Dasar lelaki… jika sudah bicara soal harga diri, tentu lupa diri…‖, pikir Murong Yun Hua sambil menggelengkan kepala.
1664
Tadinya dia berharap pada Chou Liang, tapi dia lupa Chou Liang sendiri seorang laki-laki. Meskipun bukan ahli bela diri, tapi hatinya pun tidak kalah panas dengan mereka yang sudah bisa menyandang pedang. Akhirnya Murong Yun Hua pun berpendapat, dia tidak bisa berdiam diri saja.Dengan langkah yang tegas dan tenang, dia melangkah mendekati Ding Tao.
Ding Tao yang sedang berusaha mengendalikan kemarahannya, tiba-tiba merasakan bau harum yang sudah sangat dia kenal menyentuh lembut penciumannya. Saat sebuah sentuhan lembut pada bahunya dan suara Murong Yun Hua sampai pada telinganya, ketegangannya sudah jauh banyak berkurang.
―Suamiku… apakah tidak lupa dengan tujuanmu semula saat mengurung diri dalam ruang latihan?‖, ujar Murong Yun Hua.
Ucapan Murong Yun Hua seperti guyuran air dingin yang memadamkan api kemaraham dalam dada Ding Tao.
Perlahan hawa murni yang dikerahkan Ding Tao menyurut, kemarahan di wajahnya menyusut. Butuh dua orang untuk bertarung, butuh dua pihak untuk berperang, jika satu pihak mundur sementara yang lain tetap mengejar, bukan lagi
1665
pertarungan namanya. Perguruan Kunlun bukan perguruan sesat, mereka dihormati oleh banyak orang dan tergolong perguruan lurus. Meskipun kali ini mereka datang dengan niat untuk menundukkan Partai Pedang Keadilan dengan segala cara, masih ada garis-garis yang tidak bisa mereka langgar dengan sembarangan. Sekejap saja mata Guang Yong Kwang melintas, melihat ke arah Murong Yun Hua, tapi yang sekejap itu sudah cukup untuk membuat bulu kuduk Ding Tao meremang. Menyadarkan dia betapa hampir saja dia justru memberikan api pada suksesnya rencana Guang Yong Kwang. Hanya ada satu orang dalam ruangan itu yang benar-benar menjadi penghalang atas rencana Guang Yong Kwang, Murong Yun Hua. Menyadari hal itu membuat Ding Tao semakin tenang dalam menghadapi Guang Yong Kwang.
Ding Tao menengok ke arah Murong Yun Hua dan tersenyum padanya. Tidak perlu ada perkataan apa-apa, Murong Yun Hua sudah paham bahwa maksudnya sudah tersampaikan. Dengan senyum manis, dia pun meninggalkan Ding Tao untuk berhadapan dengan Guang Yong Kwang sendirian.
―Kalau begitu aku pamit dahulu‖, ujarnya pada Ding Tao.
1666
Ding Tao menganggukkan kepala dan meremas lembut tangan Murong Yun Hua sebelum kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Guang Yong Kwang. Murong Yun Hua pun menghampiri gadis-gadis yang dia ajak untuk mengiringi dirinya. Bersama-sama mereka pun keluar dari ruangan.
―Kalau Ketua Ding Tao sudah mengetahui apa maksud kedatanganku, lalu sekarang bagaimana sikap Ketua Ding Tao?‖, tanya Guang Yong Kwang setelah menanti beberapa saat, menunggu Murong Yun Hua dan rombongannya meninggalkan ruangan.
Ding Tao tersenyum dingin, ―Bukankah Ketua Guang Yong Kwang sudah membuat kesepakatan dengan isteriku? Kukira tidak ada alasan untuk mengingkarinya sekarang. Apa kata orang jika sekarang aku mengingkari apa yang dia katakan saat bertindak sebagai wakilku?‖
Guang Yong Kwang balik tersenyum dingin kemudian menjawab, ―Tapi toh isteri Ketua Ding Tao bukanlah Ketua Ding Tao sendiri. Sudah wajar jika seorang wanita takut melihat darah dan mencari jalan untuk menghindarinya. Atau… apakah maksud Ketua Ding Tao, bahwa sebenarnya yang menjalankan roda kepemimpinan di sini adalah isteri Ketua Ding Tao?‖
1667
―Ketua Guang Yong Kwang salah mengerti…‖, ujar Ding Tao dengan tenang, tanpa terprovokasi oleh sindiran Guang Yong Kwang.
―Saat isteriku maju ke depan dan berkata hendak menjadi wakilku dalam pembicaraan yang dilakukan dengan ketua. Bukankah ada puluhan anggota Partai Pedang Keadilan yang ikut mendengarkannya. Adakah mereka menyatakan keberatannya? Jika sekarang aku berbalik dari kesepakatan yang dia buat, maka bukan saja aku mempermalukan isteriku, tapi juga puluhan anggota Partai Pedang Keadilan yang setia padaku. Sebagai ketua, aku tidak bisa melakukan hal itu.‖, jawab Ding Tao menjelaskan.
―Dan alasan yang kedua adalah, karena pemikiran yang mendasari kesepakatan ini, memang tepat sesuai dengan hati nuraniku. Bukankah tujuan utama dari diadakannya pemilihan Wulin Mengzhu adalah untuk menyatukan kekuatan seluruh pendekar di negeri ini, dalam menghadapi ancaman dari luar? Jika sebelum tujuan itu tercapai kita justru sudah saling membunuh, bukankah hal itu merupakan satu kebodohan yang tidak terkira?‖, ujar Ding Tao menjelaskan sekaligus balik bertanya.
1668
Guang Yong Kwang pun terpaksa tersenyum masam dihadapkan dengan jawaban Ding Tao, ―Hmm… baguslah kalau kita sepaham. Jadi pertandingan seperti apa yang ketua inginkan untuk menjadi pertandingan penentu kali ini?‖
Guang Yong Kwang sadar tidak bisa mengelak dari jebakan yang sudah dibuat Murong Yun Hua. Untuk sesaat dia sempat berharap bisa memancing Ding Tao untuk bermain keras. Namun melihat ketenangan Ding Tao, Guang Yong Kwang pun membatalkan niatnya. Ding Tao bukan orang bodoh, jika dia sering terliht bodoh, hal itu muncul karena perasaannya yang sering menghalangi dia untuk bersikap keras pada lawan-lawannya. Namun Guang Yong Kwang sudah membangkitkan amarah Ding Tao, perbuatan Guang Yong Kang yang hampir saja membuat banyak jatuh korban membuat Ding Tao tidak memiliki perasaan semacam itu terhadap Guang Yong Kwang. Justru karena perasaan itu, Ding Tao tidak ingin mengikuti keinginan Guang Yong Kwang. Dia tidak mau terpancing kemarahannya dan mengikuti keinginan Guang Yong Kwang untuk melepaskan kesepakatan yang sudah dibuat. Pembalasan yang paling mengena menurut Ding Tao adalah meneruskan rencana Murong Yun Hua dan menolak memberikan Guang Yong Kwang apa yang dia inginkan.
1669
Ding Tao pun menjawab, ―Hmm… karena aku sudah hadir di sini, kukira tidak ada lain yang lebih baik, kecuali satu pertandingan antara Ketua Guang Yong Kwang melawan diriku. Namun mengingat tujuan dari diadakannya pertandingan ini, maka kita tidak bisa bertarung secara langsung.‖
Ding Tao berhenti sejenak untuk mengamati reaksi Guang Yong Kwang. Guang Yong Kwang hanya berdiri tenang, memandangi dirinya, menunggu Ding Tao menyelesaikan ucapannya. Meskipun rencananya mengalami hambatan yang tidak kecil, Guang Yong Kwang tidak serta merta berputus asa. Dia masih memiliki cukup keyakinan bahwa dirinya masih berada di atas Ding Tao baik dalam hal kecerdikan maupun dalam ilmu bela diri.
―Jadi aku ingin mengajukan pertandingan adu jurus di antara kita berdua, sebagai pihak tuan rumah biarlah aku mengalah dan silahkan Ketua Guang Yong Kwang nanti memulainya terlebih dahulu. Untuk memperagakan jurus yang akan digunakan, boleh dilakukan sendiri atau lewat seorang perwakilan.‖
1670
―Bagaimana apakah pertandingan ini cukup memuaskan bagi Ketua Guang Yong Kwang?‖, tanya Ding Tao usai menjelaskan.
―Kenapa harus bertanya? Bukankah sesuai dengan kesepakatan yang kita buat, maka apapun bentuk pertandingan ketiga ini aku tidak berhak untuk mengomentarinya. Kecuali jika tidak sesuai dengan syarat yang sudah ditetapkan.‖, jawab Guang Yong Kwang dengan senyum sinis.
Ding Tao tertawa di dada kemudian menjawab, ―Memang benar demikian kesepakatan yang dibuat, namun aku khawatir jika Kunlun kalah dalam pertandingan ketiga ini, di kemudian hari akan muncul perkataan bahwa kekalahan itu terjadi karena permainan kata-kata saja. Oleh sebab itu aku berusaha mempertimbangkan segala sisi dan memutuskan bentuk pertandingan seperti yang sudah kuajukan. Supaya apa pun hasil dari pertandingan ketiga ini, jangan sampai orang mengatakan kami menang karena keadaan bukan karena kemampuan.‖
Mendengar itu dada Guang Yong Kwang ingin meledak rasanya, tapi di luar dia masih bisa bersikap biasa, ―Oh begitu rupanya? Ketua Ding Tao tidak perlu khawatir soal itu, tapi jika
1671
memang khawatir masalah perkataan orang mengapa kita tidak bertanding saja secara langsung. Agar tidak saling melukai, buat saja peraturan agar menang kalah hanya dilihat dari satu sentuhan saja.‖
―Hahaha‖, Ding Tao tertawa.
―Ketua Guang Yong Kwang bisa-bisa saja, ketua ahli pedang, aku pun ahli pedang. Bermain dengan pedang, memburu menang dan kalah, meskipun hanya dibatasi dengan sentuhan, apa bisa dipastikan tidak ada yang terluka? Kecuali jika tingkatan yang seorang berada jauh di atas tingkatan yang lain. Lagipula, sebelum pertandingan Ketua Guang Yong Kwang sudah harus menguras tenaga untuk memenangkan pertandingan kedua, sementara aku datang dalam keadaan segar bugar, jika aku menang pun, orang akan mengatakan pertandingan itu berjalan dalam keadaan yang memang tidak seimbang.‖, jawab Ding Tao sambil tertawa.
Guang Yong Kwang ingin marah, namun sebelum membuka mulut dia berpikir terlebih dahulu. Benar memang kenyataannya sebelum Ding Tao datang dia sudah harus menguras tenaga untuk memenangkan pertandingan kedua, sementara Ding Tao masih tampak segar bugar. Juga tadi
1672
sewaktu Ding Tao bangkit amarahnya, dia memamerkan hawa murninya yang mampu membuat lantai marmer menjadi pecah dan melesak ke bawah. Jadi dalam hal hawa murni pun, tampaknya Ding Tao lebih unggul, meskipun dia belum dapat memastikan. Jika dia harus bertarung, apakah dia hendak mengadu kecepatan yang menguras stamina atau mengadu tenaga, dia tidak memiliki keyakinan. Terpikir demikian, maka mau tidak mau Guang Yong Kwang pun setuju, bahwa mengadu jurus adalah jalan terbaik.
―Hmm… jadi aku menunjukkan satu jurus dan kemudian Ketua Ding Tao akan menunjukkan jurus lain untuk mengatasinya? Demikian kita saling bergantian menunjukkan jurus-jurus untuk menyerang dan bertahan, sampai salah satu dari kita tidak mampu memecahkan jurus lawan. Begitu?‖, tanya Guang Yong Kwang memastikan.
―Benar, begitu dan untuk memperagakan jurus-jurus tersebut, bisa diwakilkan atau bisa dilakukan sendiri.‖, jawab Ding Tao.
―Baiklah…, kupikir itu cara yang cukup baik.‖, ujar Guang Yong Kwang.
1673
―Kalau begitu, silahkan dari pihak Kunlun memulainya terlebih dahulu.‖, jawab Ding Tao sambil mundur, memberikan ruangan bagi salah seorang dari pihak Kunlun untuk memperagakan jurus yang hendak digunakan.
Guang Yong Kwang berpikir sejenak, kemudian dia menggamit salah seorang pengikutnya dan memberikan petunjuk. Setelah mendengarkan petunjuk dari Guang Yong Kwang, orang itu pun maju dan memperagakan sebuah jurus serangan. Jurus itu tampak sederhana, sebuah tusukan lurus ke depan saja, namun mata Ding Tao yang cermat dengan cepat melihat keseluruhan tubuh dan tidak jatuh dalam perangkap yang tidak terlihat. Jurus yang sederhana namun menyimpan perkembangan yang cukup banyak. Sebenarnya bagaimana keadaan Ding Tao saat ini?
Setelah bertarung dengan Ma Songquan dan Chu Linhe, Ding Tao akhirnya terbebas dari pusaran ilmu yang melingkari benaknya. Pikirannya sudah dapat digunakan, namun ilmu yang dia pelajari jadi tidak berguna. Karena ilmu itu belum luluh lantak ke dalam tubuh dan pikirannya, menggunakan apa yang dia pelajari hanya akan membuat reaksinya melambat. Ding Tao yang menghadapi Guang Yong Kwang saat ini, tidak ada bedanya dengan Ding Tao sebelum dia mengurung diri dalam
1674
ruang latihan. Tapi Ding Tao tidak kalah cerdik dengan Murong Yun Hua jika dia mau. Bertanding dengan memperagakan jurus satu demi satu, tentu jauh berbeda dengan bertarung dalam pertarungan yang sesungguhnya. Dalam pertarungan, kesempatan untuk berpikir sangatlah sempit. Sekali mereka mulai bergebrak, maka keputusan demi keputusan harus diambil dalam hitungan kurang dari satu kejapan mata. Dalam keadaan itu, maka pengetahuan Ding Tao yang luas namun belum menyatu dalam dirinya hanya akan jadi hambatan.
Pertarungannya melawan Ma Songquan dan Chu Linhe sudah membuat dia menyadari hal itu. Itu sebabnya Ding Tao memilih bentuk pertandingan yang dia ajukan sekarang ini. Dengan cara ini, dia memiliki waktu yang cukup banyak untuk berpikir dan menggunakan pengetahuan yang baru saja dia peroleh dengan semaksimal mungkin. Itu pula alasannya mengapa Ding Tao yang biasanya tenang bisa kehilangan kendalinya. Sekali-kali bukan karena Ding Tao kehilangan kendali. Memang benar amarahnya bangkit oleh sifat curang Guang Yong Kwang, tapi pengerahan hawa murni yang dia lakukan bukanlah karena marah. Hal itu dia lakukan untuk menunjukkan pada Guang Yong Kwang puncak pengerahan hawa murninya. Dengan demikian Guang Yong Kwang akan berpikir dua kali
1675
untuk bertarung dalam pertarungan yang sungguh-sungguh melawan Ding Tao. Kemarahan Ding Tao bukanlah pura-pura, itu sebabnya lakon yang dia lakukan tampak begitu meyakinkan. Sampai-sampai Murong Yun Hua pun tertipu olehnya.
Apalagi citra diri Ding Tao yang lugu dan jujur itu sudah tertanam begitu kuat dalam benakbanyak orang. Hingga ketika dia berpura-pura maka dengan mudah orang pun tertipu olehnya. Begitulah dengan kecerdikannya Ding Tao membuat keadaan menguntungkan bagi dirinya.
Siasatnya yang kedua adalah menawarkan pada Guang Yong Kwang, bahwa untuk memperagakan jurus-jurus mereka, mereka bisa menggunakan perwakilan. Dibandingkan dengan berpikir kemudian memperagakan sendiri, berpikir, kemudian memberitahukan pada orang lain tentu memakan waktu lebih banyak. Yang berarti lebih banyak lagi waktu bagi Ding Tao untuk mengamati dan memikirkan pemecahannya. Selain sebagai siasat, Ding Tao juga memiliki tujuan yang lain, dia ingin menggunakan kesempatan itu untuk sebisa mungkin mengajarkan jurus-jurus yang baru saja dia pelajari dan memperkaya pengetahuan pengikutnya.
1676
Setelah mengamati gerakan yang dilakukan oleh pihak Kunlun, dalam hati Ding Tao pun tertawa penuh kemenangan. Bagaimana tidak, jurus seperti itu sudah pernah dia baca dalam salah satu kitab yang diberikan Murong Yun Hua.
―Bo He, ke mari‖, ujarnya memanggil Bo He untuk datang mendekat.
Cepat-cepat Bo he pun datang mendekat, kemudian dengan setengah berbisik, Ding Tao menjelaskan jurus yang tadi diperagakan oleh pihak Kunlun. Ding Tao bukan segera menjelaskan jurus yang harus diperagakan Bo He untuk melawan jurus yang dilakukan pihak Kunlun. Dia justru menggunakan kesempatan itu untuk menjelaskan jurus yang dipakai Kunlun dengan sejelas-jelasnya. Bagi orang yang tidak tahu, mereka akan mengira bahwa Ding Tao berhasil menguraikan jurus itu setelah melihatnya. Padahal sepandai-pandainya Ding Tao, tentu tidak dapat dengan cepat menguraikan jurus itu sedemikian jelasnya, jika dia belum mempelajari teorinya terlebih dahulu dalam salah satu kitab yang dia baca. Demikianlah Ding Tao menemukan cara untuk mengajarkan apa yang dia pelajari pada pengikutnya, tanpa menimbulkan kecurigaan orang bahwa dia sudah mencuri
1677
belajar ilmu orang lain. Selesai menjelaskan barulah Ding Tao mengajarkan pada Bo He bagaimana cara memecahkannya.
Bo He yang mendengarkan penjelasan Ding Tao pun terkagum-kagum oleh kecerdasan ketuanya. Sebagai orang persilatan sudah tentu diapun tergila-gila dengan ilmu. Khawatir ada penjelasan yang terlupa, Bo He pun mencurahkan perhatiannya dengan sungguh-sungguh. Setiap kata yang diucapkan Ding Tao dia pahatkan kuat-kuat dalam otaknya.
Jika Bo He merasa beruntung, sebaliknyalah yang terjadi pada Guang Yong Kwang dan orang-orang Kunlun. Melihat Ding Tao berlama-lama menjelaskan, gatal rasanya hati mereka. Ingin mereka berteriak-teriak, agar Ding Tao mempercepat penjelasannya. Tapi mau ditaruh ke mana muka mereka jika mereka melakukan hal seperti itu. Kelakuan yang demikian tentu tidak sesuai dengan kedudukan mereka sebagai perguruan terhormat.
Guang Yong Kwang hanya bisa menggeram dan memaki, ‗Awas saja kau nanti, apa kau pikir hanya dirimu seorang yang bisa menguraikan jurus-jurus lawan.‘
1678
Setelah selesai mendengarkan penjelasan Ding Tao, Bo He pun maju ke depan dan memperagakan jurus yang digunakan Ding Tao untuk menghadapi serangan tadi. Bo He tidak menghindari serangan pedang, dia justru bergerak menyerang kuda-kuda lawan. Serangan ini dan cara Bo He menyerang tepat mengena pada kelemahan jurus dari Kunlun tersebut. Jika serangan tidak ditarik maka meskipun akan berhasil melukai pundak Bo He tapi serangan Bo He akan menyebabkan kaki lawan terluka dan pada kedudukan berikutnya Bo He memiliki kesempatan untuk lanjut menyerang titik-titik berbahaya pada tubuh lawan sementara pedang lawan berada di posisi yang mati.
Guang Yong Kwang ingin membalas kelakuan Ding Tao, setelah mengamati jurus yang diperagakan Bo He dan selesai menganalisanya. Dia pun ganti memanggil pengikut-pengikutnya dan menjelaskan jurus yang diperagakan Bo He. Tidak tanggung-tanggung, hampir seluruh pengikutnya yang masih muda dia panggil untuk mendengarkan penjelasannya. Setelah puas menjelaskan, dia pun memberikan pengarahan, bagaimana jurus Ding Tao bisa ditangkal. Dengan senyum puas dia melirik pada Ding Tao, seakan-akan berkata, kalau kau bisa, akupun juga bisa.
1679
Ding Tao mengerutkan alisnya, seakan-akan tidak puas dengan perbuatan lawan. Padahal dalam hati dia tertawa terbahak-bahak. Jika Guang Yong Kwang ingin membuat dia marah dengan memanggil lebih dari satu orang untuk mendengarkan penjelasannya, maka Ding Tao justru senang karena di jurus berikutnya dia punya alasan untuk melakukan hal yang sama. Dengan semakin banyaknya pengikutnya yang mendapatkan kesempatan belajar, tercapailaj keinginan Ding Tao.
Benar saja, segera setelah pihak Kunlun selesai memperagakan jurus mereka. Ding Tao berpura-pura kesal dan membalas perbuatan mereka dengan memanggil lebih banyak orang untuk mendengarkan penjelasannya. Guang Yong Kwang dan orang-orang Kunlun pun merasa puas, karena merasa sudah bisa membuat Ding Tao kesal. Demikianlah jurus demi jurus saling diperagakan. Semakin lama jurus yang diperagakan pun semakin sulit. Perlahan-lahan mulailah terlihat perbedaan antara Ding Tao dengan Guang Yong Kwang. Jika Guang Yong Kwang membutuhkan waktu yang semakin lama untuk menganalisa jurus yang diperagakan dari pihak Ding Tao, maka tidak demikian yang terjadi dengan Ding Tao. Demikian pula penjelasan yang diberikan, penjelasan yang diberikan Ding Tao selalu lebih akurat dan menyeluruh.
1680
Yang mendengarkan pun menjadi semakin sulit untuk mengikuti penjelasan Ding Tao.
Salah seorang dari mereka mengeluh perlahan, ―Wah celaka… otakku sepertinya sudah tidak mampu lagi untuk menampung apa yang ketua jelaskan.‖
Bo He yang sudah keringatnya sudah bercucuran membasahi dahi dalam hati mengiyakan keluhan itu, tapi tiba-tiba satu ide berkelebat dalam benaknya dan dia pun berucap, ―Jangan kuatir, jangan pikirkan macam-macam, usahakan saja untuk mengingat sebanyak-banyaknya. Nanti setelah ini semua selesai, kita bisa berkumpul bersama untuk membahasnya. Potongan-potongan ingatan kita, tentu jika dirangkaikan akan menjadi kumpulan yang utuh.‖
Mereka yang mendengarkan perkataan Bo He itu pun saling berpandangan. Ketika mereka menengok ke arah Ding Tao, mereka pun dapat melihat senyum di wajah Ding Tao, tanda bahwa jawaban Bo He berkenan di hatinya. Memikirkan ide Bo He itupun hati setiap orang jadi lebih tenang. Memang benar sulit untuk terus mengikuti penjelasan Ding Tao, tapi mereka melakukannya bersama-sama dan nanti setelah semua ini selesai, masih bisa saling mencocokkan apa yang mereka
1681
dengar. Ketika hati tenang, pikiran pun bekerja lebih terang. Demikianlah jurus demi jurus berlalu, Guang Yong Kwang yang tadinya masih memiliki harapan besar untuk memenangkan pertandingan itu, dibuat menelan pil pahit.
Sudah belasan jurus terakhir dia dibuat terdesak dan hanya bisa bertahan tanpa bisa banyak menyerang. Seandainya pertandingan ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, dia harus mengakui kekalahannya beberapa jurus yang lalu. Tentu saja, seandainya pertandingan dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka Ding Tao pun belum tentu bisa mencapai keunggulan seperti saat ini.
Wajah orang-orang Kunlun pun menjadi semakin suram, sementara Guang Yong Kwang masih berpikir dengan mata terpejam dan mengerutkan dahinya yang sudah dipenuhi keringat. Belasan jurus terakhir selalu saja ada perkembangan dari jurus yang diperagakan pihak Ding Tao yang luput dari perhatiannya. Gerakan susulan yang menyudutkan dirinya karena gagal mengantisipasi setiap kemungkinan, menempatkan dia pada posisi yang terdesak. Berturut-turu sudah sembilan kali dia diserang tanpa mampu balas menyerang. Itu sebabnya kali ini dengan melupakan harga dirinya, Guang Yong Kwang berpikir keras berusaha
1682
memperhitungkan setiap kemungkinan. Meskipun sudah beberapa kali dia merasa menemukan jurus yang tepat untuk membalikkan keadaan, tapi setiap kali dia mengkaji lebih jauh lagi, dia menyadari bahwa dengan jurus itu pun dia masih masuk dalam jebakan yang sudah dibuat Ding Tao.
Jika bukan Guang Yong Kwang, mungkin sudah sejak tadi lawan Ding Tao membuat keputusan dan berakhir pada kekalahan. Mau tidak mau, Ding Tao harus mengakui juga kelihaian lawan, yang tidak mudah jatuh dalam permainannya.
Para pengikut Ding Tao sudah mulai tidak sabar, terlihat dari cara mereka menggeser-geser kedudukan kaki mereka. Ada yang sudah mulai bertolak pinggang, ada juga yang sudah ingin membuka mulut dan berteriak. Beberapa orang melirik ke arah Ding Tao meminta pendapat, yang mereka dapatkan hanya gelengan kepala dan senyum. Ding Tao sudah memperhitungkan setiap langkah dan yakin, jurus apa pun yang digunakan Guang Yong Kwang, dalam 4-5 jurus ke depan, Guang Yong Kwang harus mengakui kekalahannya. Hal ini mudah saja bagi Ding Tao yang sudah mengetahui jurus-jurus yang dimiliki Guang Yong Kwang. Ding Tao cukup yakin akan perhitungannya, Guang Yong Kwang sudah pasti kalah, kecuali bila pihak Kunlun sempat mengembangkan jurus baru
1683
yang belum tercatat dalam kumpulan kitab milik Murong Yun Hua. Bukan hanya pengikut Ding Tao yang sudah tidak sabar, para pengikut Guang Yong Kwang sendiri juga ada yang sudah mulai tidak sabar. Mereka yang pemikirannya tidak sedalam Guang Yong Kwang merasa heran mengapa Guang Yong Kwang harus berpikir selama itu. Dalam hati mereka bertanya-tanya dan berusaha ikut berpikir, namun sulit untuk melihat apa yang membuat Guang Yong kwang berpikir begitu lama. Benar memang Guang Yong Kwang berada dalam keadaan terdesak, tapi bukankah keadaan belum sebegitu parahnya?
Hanya Guang Yong Kwang yang memahami kedudukannya saat itu. Meskipun membutuhkan waktu yang sangat lama, waktu yang dia habiskan itu tidak hilang percuma, dia bisa melihat setiap jebakan dan serangan tersembunyi dalam jurus Ding Tao. Sayang dia terlambat bertindak, keadaannya sudah tidak tertolong lagi.
Guang Yong Kwang akhirnya sampai pada satu kesimpulan, bahwa tidak ada kesempatan baginya untuk menang dengan ilmu-ilmu dari Perguruan Kunlun.
1684
‗Apakah sebaiknya aku harus menggunakan jurus itu? Atau lebih baik menyimpan jurus itu dan mengakui kekalahan kami setidaknya untuk saat ini?‘, renung Guang Yong Kwang dalam diamnya.
Untuk memilih di antara dua pilihan itu bukanlah hal yang mudah bagi Guang Yong Kwang, mengakui kekalahannya sekarang ini berarti dia harus mundur dari pencalonan Wulin Mengzhu dan menjadi pendukung Ding Tao saat perebutan Wulin Mengzhu nanti. Sebagai seorang ketua dari sebuah perguruan yang besar, tidak mungkin dia berbalik dari perkataannya sendiri. Tapi menggunakan jurus simpanan juga satu pertaruhan yang besar. Pertama dia sendiri tidak memiliki keyakinan apakah jurus itu akan mampu membawa dia memenangkan pertandingan ini. Kedua, sekali sebuah jurus dipertunjukkan, keampuhannya jadi jauh berkurang karena sekarang lawan akan memiliki kesempatan untuk mempelajari dan mencari pemecahannya. Itu sebabnya jurus pamungkas biasa disimpan hanya pada keadaan yang sangat genting dan sekali dia mempertunjukkan jurus itu kepada lawan, sebisa mungkin lawan harus mati di tangannya agar rahasia dari jurus itu tetap tersimpan.
1685
Orang lain tentu saja tidak tahu pergolakan hati Guang Yong Kwang, mereka hanya bisa menunggu dan menduga-duga.
Lama Guang Yong Kwang termenung sebelum akhirnya dia menghela nafas dan berkata, ―Aku kalah.‖
Seketika itu juga ruangan itu dipenuhi suara helaan nafas. Sepanjang Guang Yong Kwang merenung, mereka yang mengikuti pertandingan itu tanpa terasa ikut menahan nafas, menanti-nanti jurus apa yang akan dikeluarkan Guang Yong Kwang. Ketika Guang Yong Kwang tidak juga memperagakan jurus balasan, hati setiap orang mulai berdebar, menduga-duga, apakah ini akhir dari pertandingan?
Justru saat lawan mengaku kalah, hati Ding Tao jadi tersentuh. Wajah Guang Yong Kwang yang tampak menderita setelah sampai pada akhir yang mengenaskan itu, membuat dia jatuh kasihan. Terbayang semangat dan kepercayaan diri yang tinggi dari ketua Kunlun yang seumuran dengannya. Terpikirkan beban dari jabatan sebagai ketua yang tentu sama-sama dirasakan. Meskipun masih ada samar-samar rasa marah yang disebabkan kecurangan Guang Yong Kwang, rasa marah itu sudah jauh berkurang dengan menyaksikan kekalahan dan keruntuhan dari Guang Yong Kwang yang sombong itu.
1686
―Hmm… syukurlah kalau Ketua Guang Yong Kwang berpendapat demikian, aku pribadi sebenarnya belum bisa memastikan siapa yang akan menang atau kalah jika pertandingan ini diteruskan. Namun ketua sudah bersedia berbesar hati untuk mengalah, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih.‖, ujar Ding Tao sambil merangkapkan tangan di depan dada dan mengangguk sopan pada Guang Yong Kwang.
Guang Yong Kwang hanya mengangguk lemah sambil tersenyum masam, ―Baiklah hal itu tidak usah dibicarakan lagi, kemudian tentang pencalonan dalam pemilihan Wulin Mengzhu nanti. Sesuai dengan kesepakatan, kami dari Kunlun tidak akan mengajukan nama calon dari perguruan kami sendiri, melainkan mengajukan Ketua Ding Tao sebagai calon yang kami dukung.‖
―Terima kasih atas dukungan ketua.‖, jawab Ding Tao dengan sopan.
Suasana di ruangan itu sudah jauh berbeda dengan suasana sebelumnya yang penuh dengan permusuhan. Kekalahan Guang Yong Kwang menjatuhkan semangat orang-orang Kunlun untuk bertarung. Di saat yang sama, kesediaan Guang Yong Kwang untuk mengakui kekalahannya dan berpegang
1687
teguh pada kesepakatan yang sudah dibuat, sedikit banyak menghapus rasa permusuhan yang tadinya timbul dalam hati orang-orang Partai Pedang Keadilan digantikan oleh rasa kegembiraan yang sangat. Hanya karena takut menyinggung perasaan orang-orang Kunlun saja maka mereka tidak berteriak dan berjingkrak-jingkrak kesenangan.
―Tentang rinciannya baiklah kami akan mengirimkan utusan sebelum hari pemilihan itu dimulai. Jika tidak ada apa-apa yang ingin Ketua Ding Tao tambahkan, kami akan berpamitan sekarang.‖, ujar Guang Yong Kwang tanpa semangat.
―Ah… kenapa terburu-buru, Ketua Guang Yong Kwang dan saudara-saudara sekalian baru saja datang. Mengapa tidak menghabiskan satu-dua hari untuk beristirahat, biarlah kami menjamu kalian sebaik-baiknya.‖, ujar Ding Tao dengan tulus tanpa maksud apapun.
Tapi Guang Yong Kwang sudah kehilangan semangat dan kegembiraannya, mendengar tawaran Ding Tao yang dilakukan dengan setulusnya dia hanya tersenyum masam dan menjawab, ―Kami masih banyak urusan yang tidak bisa ditinggalkan di rumah. Maaf, terpaksa tawaran Ketua Ding Tao kami tolak.‖
1688
Ding Tao tentu saja bisa ikut merasakan apa yang sedang mereka rasakan dan menjawab ―Ah, baiklah kalau begitu, aku pun tidak berani memaksa. Apakah segala sesuatunya untuk perjalanan pulang sudah disiapkan? Jika tidak sebisa mungkin kami akan membantu.‖
Guang Yong Kwang menggelengkan kepala, ―Tidak perlu, pulang-pergi, segala sesuatu tentu sudah kami siapkan. Sekali lagi maaf kalau kami harus menolaj maksud baik Ketua Ding Tao. Sudahlah, kami berpamitan sekarang.‖
Sambil berkata demikian Guang Yong Kwang tidak menunggu jawaban dari Ding Tao, sekali lagi merangkapkan tangan di depan dada, kemudian berbalik pergi meninggalkan ruangan. Pengikutnya yang berjumlah belasan pun segera mengikuti tindakannya. Bersama-sama mereka merangkapkan tangan di depan dada dan berbalik mengikuti Guang Yong Kwang dalam sebuah barisan yang rapi.
―Bo He cepat antarkan tamu‖, ujar Ding Tao buru-buru.
Bo He pun berlarian menyusul rombongan dari Kun Lun, ―Mari Ketua, kami antarkan keluar.‖
1689
Guang Yong Kwang hanya menganggukkan kepala tanpa mengurangi sedikitpun kecepatan dia melangkah. Hingga Bo He pun harus mengikuti kecepatan langkah Guang Yong Kwang yang berjalan dengan langkah panjang-panjang. Tidak berapa lama kemudian, rombongan dari Kunlun sudah jauh meninggalkan ruang pertemuan. Ding Tao yang mengawasi kepergian mereka dengan perasaan yang campur aduk, menghela nafas lalu berpaling ke arah mereka yang berada di belakangnya. Ma Songquan, Chu Linhe, Chou Liang dan para pengikutnya yang lain.
Melihat wajah-wajah yang penuh semangat, kesedihannya melihat Guang Yong Kwang yang pergi dalam keadaan patah semangat, hilang seketika. Senyum pun terkembang di wajah Ding Tao dan sambil merangkapkan tangan di depan dada dia pun mengucapkan terima kasih pada mereka semua.
―Terima kasih, berkat kerja keras kalian semua, partai kita terlepas dari keadaan nyang membahayakan. Bahkan akhirnya berbalik mendapatkan dukungan dari perguruan Kunlun yang kuat.‖
Ucapan Ding Tao itu pun disambut dengan sorakan yang keras. Kegembiraan yang sejak tadi ditahan-tahan akhirnya meledak
1690
juga. Perasaan lega setelah lolos dari keadaan yang sulit, ditambah dengan kemenangan yang gemilang, perasaan setiap orang membuncah dengan kegembiraan. Selain itu, sikap Ding Tao tidaklah seperti kebanyakan ketua yang berpegang ketat pada tinggi-rendah kedudukan. Sikapnya pada bawahan sangat longgar, tidak meminta penghormatan yang berlebihan. Itu sebabnya sikap para pengikutnya terhadap dirinya tidaklah terlalu kaku dan diwarnai dengan aturan dan lebih longgar dibanding hubungan antara pengikut dan ketua di perguruan dan perkumpulan lain.
―Ketua… hebat sekali pertandingan terakhir tadi!‖
―Benar! Sekali-sekali perguruan-perguruan besar itu harus dibuka matanya, supaya mereka tidak sembarangan memandang rendah orang!‖
―Baru tahu rasa mereka sekarang! Berani-beraninya mau mempermainkan kita.‖
―Hah!!! Untung saja Ketua masih bermurah hati pada mereka.‖
―Hei kalian lihat lantai marmer yang melesak ke dalam itu?‖
1691
―Kalian lihat bagaimana Ketua Kunlun sampai berpeluh dahinya memikirkan jurus serangan Ketua Ding Tao?‖
―Ya, padahal Ketua Ding Tao justru dengan mudah bisa memecahkan jurus-jurus yang dia keluarkan.‖
Demikianlah mereka ramai saling bersahutan membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi. Ding Tao dan para pimpinan yang lain hanya bisa tertawa saja melihat kegembiraan mereka. Bagaimana pun juga mereka bisa ikut merasakan kegembiraan yang dirasakan.
―Sebenarnya jika bukan karena Nyonya Murong Yun Hua, kejadiannya bisa berbeda.‖, salah seorang dari mereka berujar sambil mengingat-ingat urut-urutan peristiwa yang terjadi.
―Benar, benar, kau benar. Tadinya kupikir aku akan mati hari ini, sudah terbayang-bayang wajah anak dan isteriku yang menangisi mayatku yang terbelah dua.‖, sahut yang lain.
―Aku juga…‖
―Ah, kalian ini semuanya penakut. Sudah memilih jalan pedang, masa masih memikirkan hidpu dan mati.‖
1692
―Hmm… jangan mengecilkan jasa Nyonya Murong Yun Hua.‖
―Eh, jangan salah, bukan begitu maksudku. Tapi harusnya yang kalian pikirkan adalah tanpa campur tangan Nyonya Murong Yun Hua, saat ini mungkin partai kita tinggallah nama saja. Sudah menjadi boneka dari perguruan Kunlun.‖
―Ya… kau benar juga.‖
―Sungguh beruntung Ketua Ding Tao memiliki isteri yang demikian.‖
―Kita juga ikut beruntung, bukan hanya ada Ketua Ding Tao yang nomor satu ilmu pedangnya. Di sampingnya juga ada Nyonya Murong Yun Hua yang ahli strategi.‖
―Lalu masih ada juga Tuan Ma Songquan, Nyonya Chu Linhe, Tuan Chou Liang, Pendeta Liu Chuncao, Tuan Sun Liang…‖, demikian salah seorang dari mereka menghitung satu per satu pimpinan Partai Pedang Keadilan.
―Hahaha‖, Chou Liang tertawa.
Ketika semua orang menoleh ke arahnya dia pun berucap, ―Tidak perlu dihitung-hitung, yang pasti pahlawan penyelamat
1693
Partai Pedang Keadilan kita hari ini adalah Nyonya Murong Yun Hua.‖
―Benar, tidak seorangpun dari kami dapat hadir untuk mencegah Partai Kunlun membuat kekacauan saat mereka baru saja datang. Jika bukan karena kecerdikan dan kebijakan Nyonya Murong Yun Hua, mungkin keadaan akan sangat buruk bagi kita semua.‖, ujar Ma Songquan memperkuat pernyataan Chou Liang.
―Benar…‖
―Benar..‖, setiap orang saling berpandangan dan bergumam.
―Sudahlah, sudah cukup kita bersenang-senang. Sekarang jangan lupa dengan tugas-tugas kalian, kita baru saja melewati keadaan yang berbahaya tapi bukan berarti kita bisa melonggarkan kewaspadaan.‖, ujar Ma Songquan setelah keadaan mereda.
―Lagipula, bukankah ada banyak yang harus kalian bicarakan? Bagaimana dengan jurus-jurus yang tadi dijelaskan Ketua Ding Tao pada kalian.‖, sambung Chu Linhe.
1694
Teringat dengan hal itu, para penjaga pun jadi bersemangat kembali. Dengan senyum penuh arti mereka saling berpandangan.
―Nah, sudah paham? Baiklah kalian sekarang kembali ke posisi kalian masing-masing.‖, ujar Ma Songquan sambil tersenyum kecil.
―Baik Tuan Ma!‖, ujar mereka beramai-ramai.
Dalam waktu singkat ruang pertemuan itu pun telah kosong, hanya tinggal Ding Tao, Ma Songquan, Chu Linhe dan Chou Liang. Ruang yang tadi terasa penuh dan ramai, tiba-tiba jadi lenggang terisi hanya dengan 4 orang saja.
Mereka saling berpandangan dan akhirnya Ding Tao yang pertama memecahkan keheningan itu, ―Kali ini hampir saja kita semua celaka.‖
Chou Liang mengangguk, ―Benar…, jika bukan karena siasat Nyonya Murong Yun Hua, kukira Ketua Guang Yong Kwang dan orang-orangnya akan menyerbu masuk ke dalam. Korban akan banyak yang berjatuhan, meskipun bagaimana akhir dari pertarungan itu belum bisa dipastikan tapi sudah pasti siapa pun yang menang, kedua pihak akan sama-sama merugi.‖
1695
―Aku heran, apakah hal ini sama sekali tidak terpikir oleh Ketua Guang Yong Kwang?‖, ujar Ding Tao sambil mengerutkan alis.
―Orang-orang dari perguruan ternama seringkali memiliki sifat seperti itu. Di luar perguruan mereka, apalagi sebuah partai yang baru terbentuk, sama sekali tidak mereka pandang sebelah mata.‖, jawab Ma Songquan.
―Meskipun demikian…‖, Ding Tao bergumam tapi tidak mampu menyelesaikan perkataannya.
―Meskipun demikian, keputusan yang diambil Ketua Guang Yong Kwang sangatlah tidak bijak. Kalaupun dia berhasil menundukkan kita, bukankah namanya bisa tercemar? Apalagi jika dia kalah, pertaruhan yang dia lakukan, kemungkinan besar tidak akan memberikan hasil yang baik. Ketua Ding Tao yang merasakan beban yang sama sebagai seorang pimpinan, merasa keputusan itu sangatlah ganjil, bukankah benar demikian?‖, urai Chou Liang menjelaskan.
―Benar… Kakak Chou Liang benar sekali. Keputusan itu kurasa sangat ganjil, sehingga di belakang keputusan Ketua Guang Yong Kwang ini, kurasa masih ada latar belakang yang belum terungkap.‖, ucap Ding Tao sambil menganggukkan kepala
1696
dengan puas karena Chou Liang bisa menguraikan apa yang dia rasakan.
Ma Songquan dan Chu Linhe ikut tercenung mendengar kecurigaan itu.
―Apakah hal ini masih ada hubungannya dengan serangan atas Keluarga Huang di Wuling? Tidak banyak orang yang bisa menggerakkan ketua dari perguruan Kunlun. Jika benar ada orang di belakang Ketua Guang Yong Kwang, maka kurasa kemungkinan besar orang itu adalah orang yang sama, yang berhasil mempengaruhi Hoasan.‖ Ujar Ma Songquan perlahan-lahan.
Ding Tao dan Chou Liang saling berpandangan, dengan wajah serius Ding Tao menganggukkan kepala, ―Kakak Ma Songquan benar… jika melulu demi kepentingan Kunlun, apa yang dilakukannya kali ini terlalu beresiko. Namun jika hal itu dikarenakan oleh orang lain yang menyuruhnya, maka ada kemungkinan besar orang yang sama yang menggerakkan peristiwa di Wuling adalah orang yang menggerakkan Ketua Guang Yong Kwang.‖
1697
―Kalau begitu akan kusediakan orang-orang khusus untuk mengamati gerakan Ketua Guang Yong Kwang.‖, ujar Chou Liang dengan alis berkerut.
―Hmm… pertama Hoasan, sekarang Kunlun dan jika benar kata Tiong Fa, maka yang ketiga adalah Kongtong. 3 perguruan dari 6 perguruan terbesar…‖, gumam Chou Liang berpikir.
―Apakah menurut Saudara Chou Liang, 3 perguruan besar yang lain pun juga terlibat?‖, tanya Chu Linhe.
―Entahlah… sulit dikatakan, tapi kemungkinan itu tentu saja ada. Kebanyakan orang akan dengan serta merta mengatakan bahwa hal itu konyol. Tapi kenyataannya Hoasan terlibat, kemudian dari kesaksian Tiong Fa, Kongtong pun terlibat dan yang terakhir dari pergerakan Kunlun kecurigaan yang sama muncul.‖, jawab Chou Liang.
―Dengan kekalahan Kunlun, mereka sekarang menjadi pendukung kita dalan pemilihan Wulin Mengzhu. Jika benar mereka bekerja untuk lawan, apakah hal ini tidak jadi membahayakan?‖, tanya Ding Tao.
―Bisa jadi demikian… mereka bisa jadi musuh dalam selimut.‖, jawab Chou Liang,
1698
―Apakah sebaiknya kita batalkan saja kesepakatan itu?‖, tanya Ding Tao khawatir.
―Kurasa tidak perlu, mereka jadi musuh dalam selimut yang membahayakan kita, jika kita tidak mewaspadai mereka. Selama kita selalu waspada dan menyadari adanya kemungkinan itu, mereka tidaklah membahayakan.‖, jawab Ma Songquan.
―Saudara Ma Songquan benar, lagipula kalaupun benar Ketua Guang Yong Kwang berada di bawah pengaruh tokoh misterius ini, bukan berarti seluruh Perguruan Kunlun berada di bawah pengaruhnya. Coba saja kita tilik kasus yang terjadi pada Hoasan, apa yang dilakukan Ketua Pan Jun ternyata tidak diketahui oleh para tetua di Hoasan.‖, sambung Chou Liang.
―Saudara Chou Liang, bisa jadi demikian, tapi bagaimana kalau misalnya ternyata Tetua dari Hoasan pun berada di bawah pengaruh tokoh misterius itu dan persekutuannya dengan partai kita hanyalah cara untuk mendekati kita dan bersiap-siap untuk menusuk dari belakang bilamana diperlukan?‖, tanya Ma Songquan tiba-tiba.
1699
―Kakak Ma Songquan janganlah terlalu berprasangka buruk, kukira Tetua Xun Siaoma bisa dipercaya‖, cepat Ding Tao menjawab.
Tapi Chou Liang menggelengkan kepala dan berkata, ―Maafkan kami Ketua Ding Tao, tapi sebenarnya yang dikatakan oleh Saudara Ma Songquan itu bukannya tidak beralasan.‖
―Kakak Chou Liang, jangan bilang kalau kau pun mencurigai Tetua Xun Siaoma. Bukankah kita sampai pada keadaan yang sekarang ini pun oleh bantuan mereka.‖, keluh Ding Tao.
Chou Liang tertawa kecil, ―Ketua Ding Tao, masalahnya begitu rumit, hingga siapa lawan dan siapa kawan tidak bisa ditentukan dengan jelas. Selama tokoh misterius dan orang-orangnya belum terungkap. Setiap orang harus diwaspadai.‖
―Kalau Saudara Chou Liang sudah mengatakan demikian, aku pun bisa bernafas lega‖, ujar Ma Songquan sambil tertawa.
Ding Tao menengok ke kiri dan ke kanan.
Ketika melihat dua orang yang paling dia percayai, Ma Songquan dan Chou Liang rupanya sepikiran, dengan sedih dia pun menggelengkan kepala dan mengeluh, ―Hahh… apa
1700
jadinya jika terhadap teman pun kita masih harus saling mencurigai…‖
―Hmmm… kami pun berharap, satu saat nanti semua ini akan terbongkar. Kukira waktunya yang paling mungkin bagi orang-orang yang bersembunyi dalam gelap ini untuk muncul adalah saat pemilihan Wuling Mengzhu nanti. Jika ada orang-orang yang berpura-pura saja menjadi teman, hal itu akan terlihat pada saat pemilihan itu terjadi.‖, ujar Ma Songquan.
―Benar, aku pun berpendapat demikian, kita semua tahu bahwa tokoh misterius itu kemungkinan besar adalah Ren Zuocan. Jika dia bergerak setelah Ketua Ding Tao berhasil merebut kedudukan Wulin Mengzhu, maka hal itu sudah sangat terlambat. Jalan terbaik baginya adalah menempatkan orangnya untuk memenangkan kedudukan Wulin Mengzhu dan jika itu tidak mungkin, maka jalan kedua adalah dengan menggunakan pemilihan Wulin Mengzhu untuk mengadu domba orang-orang kita.‖, sambung Chou Liang.
―Dan dengan kecurigaan yang timbul di antara kita, hal itu tidak sulit untuk dilakukan.‖, keluh Ding Tao menyesali keadaan.
1701
―Hm… hal itu tidak akan terjadi, setidaknya tidak di partai kita ini. Di sini semuanya sudah ada dengan lengkap. Ada Ketua Ding Tao yang mempercayai setiap orang, tapi ada pula Chou Liang yang mengawasi setiap orang.‖, ujar Ma Songquan sambil memutar bola matanya disambut tawa oleh ketiga orang yang lain.
Demikianlah dengan segala kerumitannya, hari-hari menjelang pemilihan Wulin Mengzhu pun jadi semakin dekat. Apakah Ding Tao dan Partai Pedang Keadilan akan mampu muncul sebagai pemenang? Ataukah kedudukan itu akan direbut oleh kelompok lain?
Kunjungan Guang Yong Kwang ke Jiang Ling mungkin adalah peristiwa paling menghebohkan yang terjadi sebelum diadakannya pemilihan Wulin Mengzhu. Namun rentetan kejadian akibat dari tersebarnya berita itu tidaklah sedikit. Salah satu yang patut dicatat adalah kunjungan wakil ketua perguruan Emei ke Jiang Ling, salah satu yang bisa dikatakan istimewa adalah kunjungan Biksuni Huan Sin justru untuk bertemu Murong Yun Hua, bukan bertemu Ding Tao yang menjadi ketua. Nama Murong Yun Hua memang melambung tinggi sejak kejadian tersebut, bukan hanya jadi buah bibir di kalangan pengikut Partai Pedang Keadilan tapi juga sampai di
1702
kalangan luar. Perguruan Emei yang sebagian besar anggotanya adalah perempuan termasuk salah satunya. Sedemikian harum nama Murong Yun Hua, hingga Biksuni Huan Sin menyempatkan diri untuk bertemu.
Di lain pihak meskipun kekalahan Kunlun semakin mengokohkan kedudukan Partai Pedang Keadilan di antara partai-partai lurus di masa itu, gerombolan perampok dan tokoh-tokoh sesat pun dikabarkan menyatukan kekuatan untuk ikut bersaing dalam pemilihan Wulin Mengzhu.
Para pimpinan Partai Pedang Keadilan pun tidak pernah berhenti bekerja untuk memperkokoh kedudukan mereka. Di 7 kota besar di bagian selatan daratan, nama Partai Pedang Keadilan menjadi sosok pemimpin di antara partai-partai lain dalam dunia persilatan. Tidak ada penjahat yang berani menampakkan batang hidungnya di mana Partai Pedang Keadilan membangun cabang. Nama-nama seperti Ma Songquan, Chu Linhe, Liu Chun Cao, Sun Liang, Tang Xiong dan Wang Xiaho menjadi momok yang menakutkan bagi kaum penjahat. Kelihaian mereka tidak terlepas dari semakin meningkatnya ilmu Ding Tao sendiri semenjak dia mempelajari koleksi kitab-kitab milik Murong Yun Hua. Meskipun Ding Tao tidak pernah ikut menampakkan diri, nama besarnya mampu
1703
menggetarkan hati setiap lawan. Di saat para pengikutnya bekerja keras di luaran, Ding Tao tidak kalah sibuknya dengan latihan-latihan pribadinya. Sedikit demi sedikit, ilmu-ilmu yang dia pelajari semakin melebur dalam dirinya. Setiap kali ada waktu, pengikut-pengikut utamanya akan menemani dia berlatih. Sejak kunjungan Guang Yong Kwang ke Jiang Ling, sekarang ini tentu selalu akan ada satu atau beberapa pengikut utama Ding Tao yang berjaga di Jiang Ling, demikian juga ilmu barisan yang dilatih oleh pengikut Partai Pedang Keadilan yang lain sudah semakin matang, sehingga Ding Tao bisa berlatih dengan tenang.
Berkembangnya Partai Pedang Keadilan tentu saja memiliki bebannya sendiri, semakin hari semakin sulit bagi Chou Liang untuk mengamati dan menilai mereka-mereka yang bergabung dalam partai. Oleh sebab itu pada salah satu pertemuan antar pimpinan, Chou Liang menegaskan sekali lagi, bahwa segala urusan kelompok inti Partai Pedang Keadilan harus sangat dirahasiakan. Jumlah mereka pun sudah tidak akan ditambahkan lagi dalam waktu dekat ini, mengingat dengan semakin besarnya partai semakin sulit untuk menyeleksi pengikut-pengikut yang ada.
1704
Kebesaran Partai Pedang Keadilan tampil dalam seluruh kesemarakannya pada saat diadakan pesta sebagai tanda syukur atas kelahiran putera Ding Tao yang pertama. Dari 7 cabang hadir perwakilan-perwakilan bersama dengan para pimpinan partai-partai dari daerah-daerah yang berdekatan, yang mengakui kepemimpinan Partai Pedang Keadilan. Dari enam perguruan besar pun hadir untuk mengucapkan selamat, meskipun yang datang bukanlah pimpinan perguruan, namun kedudukan mereka yang dikirim pun tidaklah rendah. Tidak seperti perayaan didirikannya Partai Pedang Keadilan, tidak ada tamu yang datang dengan niat mencoba-coba.
Yang mungkin tidak diketahui oleh seorangpun adalah hadirnya Dewa Obat Hua Ng Lau dengan anak angkat dan muridnya. Duduk bercampur di antara para pengunjung yang datang tanpa undangan, Hua Ng Lau, Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu tampil dengan sangat sederhana. Layaknya orang persilatan tidak ternama yang datang sekedar untuk melihat. Di antara mereka bertiga tentu saja yang paling menyolok adalah Hua Ying Ying yang cantik, untuk itu khusus Hua Ying Ying, Hua Ng Lau memberikan sedikit samaran. Hua Ng Lau memang tabib yang ahli, pengetahuannya tentang berbagai macam tumbuhan membuat dia pandai meramu berbagai jenis obat-obatan,
1705
termasuk ramuan yang sangat berguna bagi mereka yang ingin menyamar. Kulit Hua Ying Ying yang putih mulus, dengan cermat dibuatnya sedikit lebih gelap dengan beberapa noda yang membuat wajahnya tidak menarik meskipun tidak sampai menjijikkan sehingga menarik perhatian, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Pakaian yang kebesaran dan terbuat dari bahan yang kasar, menyempurnakan dandanan Hua Ying Ying. Tidak terlalu berlebihan hindda menarik perhatian, di saat yang sama orang yang mengenal Hua Ying Ying pun tidak akan menoleh dua kali untuk melihat gadis itu.
Seandainya ada yang mengenali gadis itu, mungkin orang itu adalah Ding Tao, namun sebagai tuan rumah Ding Tao lebih sibuk menerima dan bercakap-cakap dengan tamu-tamu undangan yang jumlahnya tidak sedikit. Tidak ada waktu baginya untuk menyapa tamu-tamu yang datang tanpa diundang. Jumlah tamu-tamu seperti itupun sangat banyak, mereka yang datang untuk melihat keramaian atau sekedar ingin menambah pengalaman dan melihat tokoh-tokoh yang mereka kenal namanya tanpa pernah melihat orangnya.
Hua Ng Lau, Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu mengikuti perayaan tersebut di meja mereka dengan banyak berdiam diri. Tidak banyak kata yang mereka ucapkan, selain basa basi
1706
sewajarnya dengan tamu-tamu lain yang duduk semeja dengan mereka. Mereka datang hanya sekedar untuk memenuhi keinginan Hua Ying Ying untuk melihat Ding Tao terakhir kalinya, sebelum memutuskan seluruh pertalian dengan masa lalunya. Selesai perayaan, mereka pun ikut bersama dengan tamu-tamu yang lain membubarkan diri dan beristirahat di penginapan tempat mereka menginap beberapa hari sebelumnya. Kamar itu sudah mereka pesan selama seminggu penuh, Hua Ng Lau yang berpengalaman sudah bisa membayangkan bagaimana ramainya Kota Jiang Ling pada saat perayaan itu dan berangkat jauh-jauh hari. Sudah seperti itupun, mereka cukup kesulitan untuk mencari penginapan yang baik, sehingga akhirnya mereka bertiga harus cukup puas dengan satu kamar saja.
Tapi hal itu tidak membuat mereka mengeluh, justru pengaturan seperti itu sesuai dengan keadaan mereka saat itu. Hua Ng Lau memandang Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu belum sepenuhnya siap untuk terjun dalam dunia persilatan. Hanya karena rengekan Hua Ying Ying saja maka akhirnya Hua Ng Lau mengalah dan mengajak mereka berdua ke Jiang Ling untuk menilik keadaan Ding Tao.
1707
Usai membersihkan diri ala kadarnya, mereka pun duduk berkumpul di kamar itu. Sementara Hua Ying Ying terlihat diam dalam lamunan, Huang Ren Fu tidak berani menegurnya dan Hua Ng Lau pun untuk beberapa lama membiarkan Hua Ying Ying berpikir. Baru setelah Hua Ng Lau melihat adanya perubahan pada roman muka Hua Ying Ying, orang tua itu membuka mulutnya.
―Nah… Anak Ying, kau sudah melihat bagaimana keadaan Ding Tao. Apakah hatimu sudah merasa lega?‖, tanya orang tua itu dengan sabar.
Hua Ying Ying menengok ke arah Hua Ng Lau dan terdiam beberapa lama sebelum menjawab, ―Kakak Ding Tao memang terlihat baik-baik saja, keluarganya harmonis dan kedudukannya pun menanjak dengan cepat, tapi entah mengapa, aku merasa bahwa dia tidak sepenuhnya bahagia.‖
Huang Ren Fu yang sejak tadi terdiam pun bertanya, ―Maksud Adik Ying tidak bahagia bagaimana? Bisa dikatakan hampir semua yang diinginkan seorang laki-laki telah dia dapatkan, bukan hanya cukup tapi bahkan berlimpah. Kekayaan, kekuasaan, ketenaran dan segala macam keinginan lainnya.‖
1708
Huang Ren Fu tidak sampai hati untuk berkata wanita, meskipun dalam benaknya hal itu termasuk dari deretan keinginan laki-laki pada umumnya yang telah didapatkan Ding Tao dengan kedudukannya saat ini. Hua Ng Lau pun memandang puteri angkatnya dengan rasa tertarik.
Hua Ying Ying terdiam berusaha mengerti apa yang dia rasakan dan merangkaikannya dengan kata-kata, ―Maksudku… entahlah…, mungkin hanya perasaan saja, tapi Kakak Ding Tao…, rasanya dia bukan orang yang akan berbahagia berada di bawah sorotan banyak orang seperti yang kita lihat hari ini. Bisa kubayangkan seandainya dia boleh memilih, dia akan lebih bahagia mencangkul lahan dan menebar benih-benih, mencampur kotoran kuda dengan tanah untuk dijadikan pupuk atau mencabuti tanaman-tanaman liar hingga bersih.‖
Huang Ren Fu menggelengkan kepala tak percaya, ―Adik Ying… Adik Ying…, perasaanmu itu hanya timbul karena dalam hatimu hanya ada Ding Tao yang dulu yang masih menjadi seorang tukang kebun di rumah kita. Tidak mungkin dia lebih bahagia mencampur kotoran kuda daripada menjadi ketua dari sebuah partai yang besar.‖
1709
Hua Ying Ying hanya bisa tersenyum lemah sambil mengangkat pundak mendengar ucapan Huang Ren Fu, ―Mungkin memang begitulah yang sesungguhnya… Entahlah…‖
Justru Hua Ng Lau yang membela puteri angkatnya itu, orang tua yang sudah kenyang makan asam garamnya kehidupan itu berkata, ―Memang pada umumnya kita berpikir demikian, namun sebenarnya bahagia atau tidaknya seseorang tidak bisa disama ratakan. Ada orang yang lebih berbahagia dengan kehidupan yang sederhana namun jauh dari konflik. Ada pula orang yang merasa bahagia dengan menaklukkan tantangan demi tantangan. Orang seperti apa Ding Tao itu, aku tentunya tidak mengenal dia sebaik kalian berdua. Jadi akupun tidak bisa mengatakan pendapatku mengenai hal ini.‖
Huang Ren Fu mengerutkan alis dan bertanya, ―Guru, sekalipun Ding Tao mungkin lebih memilih kehidupan yang damai, bukankah dia juga memiliki kewajiban untuk mengamalkan bakat dan kebisaaan yang dia miliki untuk kepentingan yang lebih besar? Jika seseorang memiliki kelebihan namun tidak mengamalkannya, bisakah dia hidup dengan bahagia? Tidakkah hidupnya akan dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan dan penyesalan?‖
1710
Hua Ng Lau tersenyum mendengar pertanyaan Huang Ren Fu, ―Jalan berpikir orang itu bermacam-macam, demikian pula apa yang mereka pikirkan tentang apa maksudnya mengamalkan kepandaian.‖
Setelah berucap demikian Hua Ng Lau tidak langsung melanjutkan, dia terlebih dahulu menyeruput the hangat yang disajikan Hua Ying Ying untuk mereka bertiga, ―Umurmu dan umur Ding Tao tidak berbeda jauh, dari cerita yang kudengar tentang dia, bisa kubayangkan pendiriannya mengenai kewajiban dan tanggung jawab, juga pengalamannya dalam hidup. Dalam hal ini kurasa engkau benar, sekalipun dia lebih berbahagia hidup dengan damai, jauh dari konflik, jika saat ini dia melakukan hal yang demikian, hati nuraninya tentu akan merasa bersalah karena merasa tidak berbuat apa-apa.‖
―Ayah, apakah tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menolongnya?‖, ujar Hua Ying Ying tiba-tiba.
Hua Ng Lau tidak segera menjawab, dia termenung memandangi gadis itu. Hua Ying Ying yang ingat bahwa dia sudah berjanji untuk melupakan masa lalunya setelah menilik keadaan Ding Tao untuk terakhir kalinya pun jadi terdiam dan menundukkan kepala.
1711
Huang Ren Fu-lah yang kemudian memecahkan kediaman itu, ―Guru…aku ingat apa yang dikatakan Adik Ying Ying sebelum guru setuju untuk datang ke Jiang Ling ini, tapi sebenarnya bukan hanya Adik Ying Ying, aku pun merasakan hal yang sama. Jika Ding Tao berada pada kedudukannya yang sekarang. Sebuah situasi yang sebenarnya tidak dia kehendaki, namun tetap dia terima karena rasa tanggung jawab dan kepeduliannya. Bagaimana dengan diriku? Tidakkah aku juga memiliki kewajiban? Apakah aku ini bukan seorang laki-laki seperti dirinya?‖
Hua Ng Lau pun mengalihkan pandangannya, dipandanginya wajah Huang Ren Fu yang bernyala-nyala dengan semangat seorang muda. Lama dia memandang dalam diam, kemudian dia pun menghela nafas dan memalingkan muka. Huang Ren Fu dan Hua Ying Ying tidak berani mengatakan apa-apa, mereka ikut berdiam, menunggu Hua Ng Lau membuka suara.
―Hahh…. Mungkin umurku memang sudah mulai tua, sehingga semangatku pun mulai padam…‖, ujar Hua Ng Lau sambil menghela nafas.
―Ayah… siapa bilang usia ayah sudah tua, kalaupun benar sudah tua, toh ayah tidak kalah dengan kami-kami yang masih
1712
muda. Coba saja ayah adu lari dengan Kakak Ren Fu, pasti ayah yang menang.‖, ujar Hua Ying Ying dengan manja sambil meraih tangan Hua Ng Lau yang sudah penuh keriput seperti kulit jeruk.
―Heheheheh, kamu ini bisa saja…‖, ujar Hua Ng Lau sambil terkekeh geli.
Huang Ren Fu ikut tersenyum melihat gurunya tertawa, suasana yang tadinya sedikit muram jadi kembali ceria, meskipun semuanya diam. Hua Ng Lau termangu-mangu cukup lama sebelum akhirnya menengadahkan kepala.
―Baiklah, kalian memang anak-anak yang bandel. Akan ku ikuti kemauan kalian, sebagai gantinya kalian harus benar-benar mendengarkan perkataanku.‖, ujarnya dengan bibir tersenyum namun serius.
―Wah… ayah memang benar-benar berjiwa muda, terima kasih ayah.‖, sorak Hua Ying Ying sambil merangkul Hua Ng Lau, gadis ini dengan cepat menjadi akrab dengan Hua Ng Lau.
―Terima kasih guru‖, ujar Huang Ren Fu dengan singkat namun matanya yang berbinar-binar berbicara jauh lebih banyak tentang perasaannya.
1713
Sungguhpun mereka baru berkumpul dalam hitungan bulan saja, namun dalam waktu yang relatif singkat itu, sifat Hua Ng Lau yang kebapakan, terbuka dan penyabar, membuat Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu menjadi akrab dengan cepat.
―Hahahaha, jangan terlalu cepat merasa senang, kalian toh belum mendengar bagaimana caranya kita membantu dia.‖, ujar Hua Ng Lau sambil tertawa.
―Memangnya dengan cara seperti apa ayah ingin membantu Kakak Ding Tao?‖, tanya Hua Ying Ying dengan sedikit was was.
―Pertama-tama aku tetap berpendapat bahwa sebaiknya Ding Tao tidak mengetahui tentang keberadaan kalian, apakah kalian setuju dengan hal ini?‖, ujar Hua Ng Lau.
Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu berpandangan sejenak sebelum menganggukkan kepala. Bukankah hal itu sudah mereka putuskan sejak mereka pertama kali mendengar tentang keadaan Ding Tao dari Hua Ng Lau? Dengan berjalannya waktu hidup bersama Hua Ng Lau, sepasang kakak beradik itu pun makin bisa menghargai dan menikmati kehidupan Hua Ng Lau yang sederhana. Sehingga saat ini tidak
1714
setitikpun melintas dalam hati mereka, keinginan untuk mendapatkan kembali kehidupan mereka sebagai keluarga Huang yang kaya raya dan berkuasa.
―Bagus… hal yang kedua sangat berkaitan dengan hal yang pertama tadi. Karena kita tidak ingin Ding Tao mengetahui tentang keberadaan kita, maka cara kita membantunya pun harus dengan diam-diam. Perlu kalian sadari, saat ini kedudukan Ding Tao dalam dunia persilatan sangatlah kuat, tidak ubahnya kedudukan ketua dari enam perguruan besar. Sehingga sebenarnya kekuatan kita bertiga bisa-bisa dikatakan tidak ada hitungannya.‖, ujar Hua Ng lau menjelaskan.
―Kalau begitu, bantuan seperti apa yang bisa kita berikan?‖, tanya Huang Ren Fu dengan bergumam.
―Sebagai sebuah partai yang besar, kesulitan yang paling besar tentu saja dalam mengawasi pengikut-pengikut dan sekutu-sekutunya. Mereka tidak kekurangan tenaga, namun apakah ada pengkhianat di antara kumpulan mereka? Apakah ada yang menyalah gunakan nama partai mereka untuk kepentingan sendiri? Itulah yang sulit untuk diawasi, karena sedemikian besarnya jumlah pengikut dan sekutu mereka.‖, jawab Hua Ng Lau.
1715
―Hmm… jadi menurut ayah, kita akan bekerja diam-diam, mengawasi dan mengamati orang-orang Partai Pedang Keadilan?‖, tanya Hua Ying Ying.
―Ya, begitulah, kukira itu adalah cara yang paling baik untuk sedikit menyumbangkan tenaga buat Ding Tao tanpa perlu menunjukkan keberadaan kita.‖, jawab Hua Ng Lau.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis Novel Cinta Silat ; PAB 9 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 06 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments