Cerita Silat Cersil Lembah Merpati 2

AliAfif.Blogspot.Com -

Cerita Silat Cersil Lembah Merpati 2
Cerita Silat Cersil Lembah Merpati 2
Yun Shia Tjie menyebut beberapa kali perkataan memuji sang Budha, lalu berkata:
“Oh, yang datang itu Kiu Kong Tauto? Entah ada urusan apa, tiba-tiba membuat huru hara di sini?”
Kiu Kong Tauto dengan kasar menjawab:
“Ada seorang gadis yang bernama Oey Bwee Bwee, dengan tidak sebab musabab telah mati di gunung
Cong-lam. Seluruh tubuhnya tidak terdapat luka. Tentang kepandaian yang dapat melukai orang dengan
tidak berbekas, kecuali ilmu Cui-sim-ciang dari Cong-lam, orang lain tidak ada yang mempunyai lagi. Hm,
hm, apakah kau Cong-lam-pay dapat membersihkan diri?”
Yun Shia Tjie mengkerutkan kening. Ia tahu bahwa Kiu Kong Tauto ini kejam dan galak, tidak mudah orang
melayaninya. Kedatangannya ini berarti kesukaran baginya. Maka, dengan menahan kesabarannya ia
berkata:
“Pernah apakah kau dengan nona Oey Bwee Bwee itu? Mungkin kejadian ini adalah salah paham. Pinto
dapat menanggung, bahwa kejadian itu bukannya dari golongan kami yang melakukannya.”
Kiu Kong Tauto tertawa dingin:
“Enak saja kau mencuci tangan. Terus terang kukatakan kepadamu, ini hari, jika kau tidak dapat
menemukan pembunuhnya, aku akan membasmi seratus tosu dari golongan Cong-lam-pay.”
Terdengar Yun Mong Tjie membentak keras:
“Kiu Kong, kau jangan mencari gara-gara saja. Apa kau kira Cong-lam-pay mudah dihina?”
Kiu Kong Tauto tertawa congkak:
“Telah lama aku mendengar tentang kemasyhuran ilmu pukulan Cui-sim-ciang, kini aku ingin melihat
sampai di mana tingginya?”
Yun Mong Tjie yang berangasan sudah tidak dapat menahan sabarnya:
“Jika kau memang bermaksud mencari setori janganlah menyalahkan Cong-lam-pay berani menghina
kepada kawan sendiri.”
Yun Shia Tjie yang melihat keadaan ini menjadi runcing sudah lantas berkata:
“Tunggu sebentar......”
Kemudian, dengan sabar ia menghadapi Kiu Kong Tauto:
“Oey Bwee Bwee itu sebenarnya dari golongan apa? Mungkin juga dia mempunyai musuh? Dan musuhnya
itu yang telah membunuhnya. Kami golongan Cong-lam-pay tidak mempunyai permusuhan apa-apa
dengannya, tidak mungkin kami akan mengganggu.”
Kiu Kong Tauto yang masih marah-marah berkata:
“Yun Shia Tjie, kau harus bertanggung jawab. Terus terang kukatakan kepadamu, bahwa nona Oey Bwee
Bwee ini mempunyai asal-usul yang tidak dapat dibuat gegabah. Jika sampai saudara-saudara
seperguruannya marah, partaimu, Cong-lam-pay akan diubrak-abrik dan dihancur leburkan.
Betul-betul Yun Shia Tjie mempunyai kesabaran yang sempurna. Biarpun Kiu Kong Tauto sedari tadi sudah
membentak-bentak, tapi ia masih tidak menjadi marah. Dengan kalem ia berkata:
“Tidak perduli, bagaimana kuatnya golongan seperguruannya, urusan tentu akan menjadi terang sendiri.
Tapi, kau sudah memastikan bahwa golongan Cong-lam-pay yang berbuat, tidakkah keburu napsu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiu Kong Tauto tertawa iblis,
“Tidak usah kau banyak rewel. Dengan jiwanya ketua partaimu inilah untuk menggantikan jiwanya Oey
Bwee Bwee.”
Mendadak ia telah melancarkan pukulannya dari sebelah, memukul dengan hebat sekali.
“Omong kosong!” bentak Yun Mong Tjie, dari tadi dia menahan sabar.
Dari samping, ia sudah memapaki serangannya. Dua buah pukulan telah terbentur hebat, hingga
mengeluarkan seruan keras.
Yun Mong Tjie kesakitan dan mundur dua tindak. Kiu Kong Tauto dengan mata beringas masih tetap berdiri
di tempatnya.
Dua kali Yun Mong Tjie mendapat kekalahan pada hari ini. Karena marah, berewoknya sudah berdiri
semua, dengan berteriak keras, ia sudah mulai menyerang lagi secara bertubi-tubi
Kiu Kong Tauto terkenal karena kekuatan tenaganya yang kuat. Tubuhnya berdiri di sana seperti gunung,
hanya menggerakkan tangannya yang besar, ia menangkis serangan berantai Yun Mong Tjie. Dengan
tenang, ia telah memaksa Yun Mong Tjie berputaran di sekitarnya
Yun Shia Tjie menyaksikan kejadian itu, ia sudah mengetahui bahwa adik seperguruannya bukan tandingan
si Tauto jahat. Ia bermaksud untuk menggantikannya, tapi takut menimbulkan nama jelek Cong-lam-pai.
Dan lagi yang penting, ia sendiripun belum tentu dapat memenangkan ini Tauto jahat.
Sementara itu, Yun Mong Tjie sudah tidak dapat menahan kekuatannya Kiu Kong Tauto, mendadak, ia
memperdengarkan suara jeritan tertahan. Badannya tampak tergoyang-goyang dan mundur beberapa
tindak.
Empat orang tosu yang berdiri di belakang sudah maju untuk memimpin Yun Mong Tjie.
Kiu Kong Tauto tertawa puas. Dengan lagaknya yang sombong ia berkata:
Orang mengatakan Cong-lam Sam-cie dapat menggetarkan dunia. Ilmu Cui-sim-ciang masing-masing
belum mendapat tandingan. Tidak disangka hanya sebegitu saja....... ha, ha, ha.......”
Yun Shia Tjie mengerutkan alisnya, lalu berkata:
“Jangan sombong. Pinto akan minta beberapa petunjuk darimu.”
Ia sudah maju bertindak untuk mengadu peruntungannya.
Koo San Djie sejak tadi sudah memperhatikan segala-galanya. Dari kepandaian Yun Mong Tjie sampai Yun
Shia Tjie dan Kiu Kong Tauto. Pikirnya, majunya Yun Shia Tjie ini masih bukan tandingan Kiu Kong Tauto
yang kuat. Maka dengan perlahan ia sudah berkata:
“Totiang, silahkan istirahat saja. Biar boanpwee yang meminta beberapa jurus pelajaran darinya.”
Yun Shia Tjie telah mengetahui, sepasang muda mudi ini tidak dapat dipandang enteng maka setelah
menasehatkan agar Koo San Djie berhati-hati ia sendiri sudah mundur ke belakang.
Koo San Djie maju ke depan, sambil mengangkat kedua tangannya, ia berkata kepada Kiu Kong Tauto.
“Kepandaian taysu memang mengagumkan orang, hingga akupun ingin meminta beberapa jurus pelajaran
dari taysu.”
Kiu Kong Tauto melihat yang maju hanya seorang anak kecil, hatinya menjadi dongkol.
“Yun Shia Tjie, apa kau tidak malu mengantarkan seorang anak kecil ke depanku...... Hmm......!” katanya
marah.
Ia kibaskan lengan bajunya, sambil membentak Koo San Djie:
“Lekaslah kau menggelinding pergi.”
Tenaga kibasan lengan baju ini paling sedikit juga ada empat-limaratus kati, ia mengira, bisa membuat si
anak kecil di depannya terpental jauh.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tidak disangka, kibasannya ini tidak membawa hasil. Jangan lagi orangnya, malah baju si anak kecil itupun
tidak bergerak sama sekali. Koo San Djie masih tertawa-tawa, berdiri di tempat semula.
Dalam terkejutnya, Kiu Kong Tauto kehilangan kesombongannya. Tapi ia masih penasaran, ia membentak:
“Kau pernah apa dengan Cong-lam-pay ini? Siapa namamu?”
“Aku bernama Koo San Djie. Di sini hanya menjadi tamu dari Cong-lam-pay. Semua urusan boleh kau
perhitungkan dengan aku saja!”
Tjeng Tjeng yang melihat Kiu Kong Tauto yang galak ini sudah menjadi tidak puas. Sedari tadi ia sudah
ingin mengusirnya.
Kini, ia melihat Koo San Djie masih menghormat dan menghadapi si Tauto jahat, sudah menjadi tidak
sabaran. Dengan keras ia berkata:
“Koko San, lekas usir dia pergi, aku sudah sebal melihat tampangnya!”
Tapi teriakan ini telah menimbulkan hati jahat Kiu Kong Tauto. Dengan tertawa dingin, badannya sudah
maju dua tindak, tangan kirinya memukul tiga kali, lengan kanannya mengibas empat kali, dua macam aliran
yang keras dan lembek, menyerang dari dua jurusan
Koo San Djie sengaja, agar Kiu Kong Tauto tahu diri, maka Bu-kiat-hian-kangnya ditahan, tidak untuk
menyerang, menunggu sampai dua aliran tadi datang dekat sekali, baru dilepas dengan sekuat tenaganya.
Kiu Kong Tauto baru saja kegirangan, karena melihat serangannya hampir berhasil, tidak disangka, akan
adanya tenaga yang besar datang memukul balik serangannya. Maka ia sudah terpental jauh ke belakang.
Masih untung, lawannya tidak berniat membunuh, biarpun demikian, ia juga sudah menjadi kelabakan.
Inilah yang pertama kalinya ia melihat ilmu yang seaneh ini, bahkan dikeluarkan oleh seorang anak kecil.
Hatinya menjadi kaget dan marah, tapi ia tidak dapat berbuat suatu apa, kepandaiannya masih terpaut jauh.
Maka dengan rasa benci, ia menunjuk ke arah Koo San Djie dan berkata:
“Anjing kecil, hati-hati akan datangnya pembalasan.”
Demikianlah, dengan membalikkan badannya Kiu Kong Tauto sudah angkat kaki dari situ dan turun gunung.
Yun Shia Tjie kagum bukan main, ia telah melihat dengan mata sendiri, bagaimana Koo San Djie
menggunakan ilmunya yang hebat dan mengusir pergi si Tauto jahat tadi.
Ia melihat Yun Mong Tjie yang terluka parah, dengan muka pucat duduk sambil memejamkan kedua
matanya, lalu memberi perintah kepada empat orang tosu:
“Lekas bawa susiok masuk ke dalam!” Empat tosu adalah murid-muridnya.
Koo San Djie cepat menggoyangkan tangannya.
“Tunggu!” ia mencegah.
Lalu, ia duduk di sebelah Yun Mong Tjie, dengan setengah berbislk, ia berkata sambil memegang bahunya:
“Totiang awas, aku akan segera membantumu.”
Yun Mong Tjie sedang mengumpulkan tenaganya, dengan seluruh kekuatan yang ada, dia hendak
memulihkan tenaganya yang rusak. Mendadak, dia merasakan datangnya tenaga bantuan yang segar,
memasuki tubuhnya dan membantu mengalirkan jalan darahnya yang mampet. Maka, dengan cepat ia
mengatur jalan darahnya, dan sebentar kemudian, luka dalamaya telah sembuh sama sekali.
Yun Mong Tjie membuka kedua matanya, dan dilihatnya yang menolong adalah bocah angon yang pernah
dipersulit untuk menemui ketuanya. Maka dengan tidak terasa, ia menjadi malu sendiri.
Koo San Djie tahu akan perasaan hatinya, maka ia sudah segera meminta diri:
“Urusan telah selesai, aku akan segera meneruskan perjalanan.”
Yun Shia Tjie dengan cepat berkata:
“Siaoya jauh-jauh telah mencapaikan diri untuk memberi kabar kepada kami. Dan lagi hari ini telah
menolong kami mengusir musuh, sebenarnya adalah merupakan suatu pertolongan yang besar bagi Congdunia-
kangouw.blogspot.com
lam-pay. Biar bagaimana juga harus menginap semalam di sini, pinto masih ada sedikit perkataan yang
akan disampaikan kepada Siaoya.”
Yun Mong Tjie biarpun berangasan tapi mempunyai hati yang jujur, maka ia juga turut menahan:
“Budi tidak dapat dilupakan. Harap Siaoya dapat menerima permintaan ketua partai kami.”
Koo San Djie malu hati, dan menerima baik permintaan tersebut.
Dengan menggandeng tangan Tjeng Tjeng, ia sudah masuk kembali.
Pada malam itu Yun Shia Tjie telah menjamu dua tamunya.
Sewaktu makan-makan, mendadak Koo San Djie ingat urusan Oey Bwee Bwee yang telah mati misterius.
Maka, ia sudah menanyakan urusan ini kepada Yun Shia Tjie!
“Tadi, Kiu Kong Tauto mengatakan bahwa Oey Bwee Bwee mati karena terkena ilmu pukulan Cui-simciang,
tapi totiang percaya, hal ini bukan perbuatannya dari Cong-lam-pay. Jika betul dia bukan terkena
pukulan Cui-sim-ciang, tentu telah memakan sebangsa racun. Pada waktu aku menaiki gunung, Oey Bwee
Bwee terburu-buru sekali, dan pernah mengatakan bahwa dia masih ada urusan yang sangat penting. Oey
Bwee Bwee ini, jika tidak salah adalah orang dari Lembah Merpati. Tapi mengapa Kiu Kong Tauto datang
membelanya? Apa Kiu Kong Tauto juga telah menggabungkan diri kepada Lembah Merpati?”
Yun Shia Tjie juga menganggap perkataannya Koo San Djie benar. Ia merasa tertarik juga tentang anak ini
yang dapat mengetahui sedemikian banyak urusan tentang Lembah Merpati, dengan memanggutmanggutkan
kepalanya ia berkata:
“Siaoya dapat menduga dengan tepat. Jika Oey Bwee Bwee adalah orangnya Lembah Merpati, tidak heran
kalau Kiu Kong Tauto membelanya. Yang menjadi pertanyaan ialah, siapakah yang telah meracuni Oey
Bwee Bwee ini?
Koo San Djie bingung mendengar pembicaraan Yun Shia Tjie.
“Totiang mengatakan tidak heran, kalau Kiu Kong Tauto membela Oey Bwee Bwee. Apakah yang menjadi
sebabnya?” ia bertanya.
“Apakah Siaoya tidak mengetahui, meskipun letak dan ketua dari Lembah Merpati belum diketahui orang,
tapi maksud tujuannya telah menjadi terang?”
Setelah terdiam sejenak, Yun Shia Tjie melanjutkan:
“Menurut penuturan orang, Lembah Merpati telah mengundang empat tokoh ternama dari golongan hitam
untuk dijadikan duta-duta di empat penjuru. Juga telah mengunakan kawanan penjahat pelarian-pelarian
dari berbagai golongan untuk dijadikan begundal-begundalnya. Kiu Kong Tauto berkelakuan jelek, sudah
tidak heran, jika dia telah bernaung di bawah panji Lembah Merpati.”
Setelah terdiam, dan melihat Koo San Djie tidak mengutarakan suatu apapun, ia sudah melanjutkan
penuturannya tentang keadaan yang ia ketahui:
“Masih ada satu soal yang nyata, ialah belakang ini, banyak sekali orang terkemuka yang jujur telah
kedapatan dibunuhi. Dan banyak juga anak-anak muda dari berbagai macam golongan telah berkhianat
pada perguruannya, lari menuju ke Lembah Merpati yang hanya dalam khayalan saja. Cong-lam-pay yang
sedang apes juga kerembet-kerembet dan dua orang muridnya yang murtad sampai menyebabkan
kematian sute Yun Yan Tjie.”
Setelah memberi keterangan yang panjang lebar berkali-kali Yun Shia Tjie menghela napas panjang.
Baru sekarang Koo San Djie berkata:
“Kejadian-kejadian ini aku juga mendapat dengar sedikit,” jawab Koo San Djie. “Yang sukar ialah orang
tidak dapat mengetahui, di mana letaknya tempat Lembah Merpati itu. Jika saja ada orang yang dapat
memberitahukan jalan yang menuju ke dalam lembah, ini tidak sukar untuk ditumpasnya.”
Yun Shia Tjie pernah menyaksikan kepandaian Koo San Djie tentu saja percaya akan perkataannya.
“Ada yang mengatakan, kini sudah ada orang yang akan dijadikan petunjuk jalan ke dalam Lembah Merpati.
Maka telah direncanakan pertemuan para ketua partay dari berbagai macam golongan yang akan diadakan
dunia-kangouw.blogspot.com
di kuil Siauw-lim-sie di gunung Siong-san. Jika siaoya tidak ada urusan penting, tidak ada salahnya untuk
ikut pergi bersama-sama ke sana.”
Koo San Djie yang mendengar ada orang yang akan dijadikan petunjuk jalan untuk ke dalam Lembah
Merpati, tentu saja menjadi girang. Dalam hatinya ia berpikir:
“Jika telah diketahui letak tempatnya, urusan tentu akan menjadi beres.”
Maka ia nyatakan bersedia untuk pergi bersama Yun Shia Tjie dan Yun Mong Tjie ke gunung Siong-san.
11.25. Pertemuan Ketua Partai
Hawa udara pada bulan sembilan...... tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin. Langit biru yang
terang telah mengusir awan gelap yang hanya dapat mendatangkan hujan. Keadaan yang seperti inilah
yang sedang dicari-cari orang perantau untuk pergi keluar kota.
Ruangan tamu dari kuil Siauw-lim di gunung Siong-san waktu itu telah penuh dengan berbagai macam
orang yang datang bersembahyang.
Di antara demikian banyaknya orang sembahyang, tidak jarang terdapat juga beberapa tosu atau pendekar,
dengan cepat mereka sudah diajak masuk ke dalam ruangan belakang oleh para pelayan. Hanya karena
saking banyaknya orang yang datang, maka kedatangan orang-orang ini tidak begitu menyolok mata.
Setelah waktu mendekati lohor, para tamu telah banyak yang pulang. Dari jalan pegunungan, mendadak
telah mendatangi dengan terburu-buru dua orang tosu dengan mengajak dua anak, laki dan perempuan.
Karena takut ketinggalan waktu, maka seorang tosu yang berewokan telah berkata:
“Para tamu yang bersembahyang kelihatannya sudah pulang, lebih baik kita menambah kecepatan jalan.”
Ini memang yang sedang diharap-harapkan oleh si anak perempuan berbaju merah. Tidak sampai
menunggu jawaban, sambil tertawa, ia telah mendahului terbang ke muka. Tidak terlihat bagaimana ia
menggerakkan tubuhnya, bagaikan kupu-kupu saja ia telah lewat terbang dari samping dua tosu tadi dan
menghilang di muka.
Si anak laki seperti tidak puas melihat kelakuan kawannya ini, maka ia dengan cepat telah memanggil.
“Adik Tjeng, tunggu sebentar......”
Ia juga telah menggerakkan tubuhnya lari untuk mengejar.
Dua tosu adalah orang ternama juga di kalangan Kang-ouw, tapi mereka masih tidak dapat mengetahui,
dengan gerakan apa anak ini telah lenyap dari mata mereka. Hanya terasa ada angin yang lewat di antara
mereka dan lenyaplah dua anak ini. Dalam hati meraka telah timbul perasaan jengah.
Dua tosu ini adalah Yun Shia Tjie dan Yun Mong Tjie.
Dua kanak-kanak adalah Liu Tjeng dan Koo San Djie.
Koo San Djie takut kepada Tjeng Tjeng yang sembrono nanti menerbitkan onar pula di kuil Siauw-lim, maka
ia sudah buru-buru mengejar kepadanya.
Kuil Siauw-lim di gunung Siong-san adalah menjadi pusat dari kalangan rimba persilatan. Tidak hentihentinya
mengeluarkan orang-orang yang berkepandaian tinggi. Inilah tempat bersembunyikan macan dan
naga berkaki dua (pendekar).
Kali ini Siauw-lim-pay yang telah mengundang para ketua partay dari berbagai macam golongan, tentu saja
telah membuat penjagaan yang kuat. Ialah untuk menjaga agar jangan sampai orang luar dapat mencuri
dengar perundingan-perundingan mereka dan membuat malu nama baik Siauw-lim.
Dua anak tadi yang sedang barkejar-kejaran telah dapat diketahui oleh orang tingkatan tua dari golongan
Siauw-lim-sie. Hweshio-hweshio itu kaget juga, melihat kepandaian ilmu meringankan tubuh mereka yang
sedemikian gesitnya. Dan ia mengetahui juga ilmu kepandaian yang digunakan oleh kedua anak ini berbeda
dari ilmu-ilmu partai yang diundangnya.
Orang tua ini adalah satu-satunya orang tingkatan tua dari Siauw-lim-pay yang bernama Kong Tie.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tapi Kong Tie tidak mau menahan mereka saling kejar, ia hanya memperhatikan saja dari jarak jauh.
Mendadak, dari atas gunung, bagaikan burung saja terbang seorang yang telah menahan majunya dua
anak muda yang sedang berkejar-kejaran itu. Dengan merangkapkan kedua tangannya di atas dada, ia
berkata:
“Dua saudara kecil, harap berhenti sebentar.”
Koo San Djie dan Tjeng Tjeng merasakan ada benda yang telah menahan dada mereka. Maka keduaduanya
telah menurunkan badan. Dilihatnya yang menghadang itu adalah seorang sepantaran umurnya
dengan mereka, tapi berupa hweeshio yang berkepala gundul, bibirnya yang merah dan giginya yang putih
terlihat karena ia sedang tertawa-tawa.
Tjeng Tjeng yang sedang enak-enak lari telah ditahan olehnya, sudah tentu menjadi tidak senang. Dengan
menjebikan bibirnya ia berkata:
“Kami semua datang kemari untuk mengikuti perundingan, apa artinya kau menahan kami?”
Hweeshio kecil itu tertawa pula, dengan mengunjukan giginya yang putih. Katanya:
“Memang aku bersalah. Entah saudara-saudara apa telah mendapatkan undangan?”
Koo San Djie sudah mendahului Tjeng Tjeng berkata:
“Kami orang sedang mengikuti ketua partay dari Cong-lam-pay, Yun Shia Tjie.”
Hweeshio kecil dengan masih menghormat berkata pula:
“Tidak salah. Bagaimana jika menunggu Yun Shia Tjie datang dan jalan bersama-sama.”
Tjeng Tjeng tidak mau mengerti. Dengan berbuat demikian, ia merasa si Hweeshio seperti menghinanya.
Maka dengan tidak senang ia berkata:
“Mengapa harus menunggunya? Apa kami orang tidak berhak mengikuti perundingan? Aku mau naik
terlebih dahulu.”
Dengan kasar ia mau menerjang naik.
Si Hweeshio kecil merasa susah juga menghadapi anak perempuan yang nakal ini. Dengan memalangkan
kedua tangannya ia berkata:
“Aku juga mempunyai kesukaranku sendiri, harap adik kecil suka bersabar. Sebentar lagi Yun Shia Tjie
totiang juga datang.”
Tjeng Tjeng sudah mengibaskan lengan bajunya.
“Minggir!” bentaknya marah.
Ia dalam keadaan gusar telah mengeluarkan ilmu Sari Pepatah Raja Woo, ajaran ayahnya.
Hweeshio kecil telah merasakan tenaga dorongan dari si gadis cilik ini sangat keras sekali. Ia menjadi kaget
juga, dengan cepat ia mengeluarkan ilmu memberatkan badannya, berdiri dengan teguh, dengan masih
tetap tertawa ia berkata:
“Adik kecil, mengapa harus tergesa-gesa begini?”
Hweeshio kecil ini bernama Siauw Kong. Ia menjadi kepala dari golongan muda Siauw-lim. Ia sangat
disayang oleh kakek dalam perguruannya, Kong Tie, yang sering memberi petunjuk-petunjuk kepadanya.
Biarpun Siauw Kong masih kecil, tapi kepandaiannya berada di atas dari susiok atau supek-supeknya.
Tjeng Tjeng dengan kibasannya masih tidak dapat menggeserkan tubuhnya Siauw Kong, dalam hati
menjadi kaget juga.
Semua kejadian tidak lolos dari pandangan mata Koo San Djie. Ia takut Tjeng Tjeng nanti keterlepasan
menggunai tangannya, maka dengan cepat sudah menyelak di antara mereka dan berkata:
“Adikku yang tergesa-gesa ini telah mengganggu suhu kecil, harap suka memaafkannya.”
Siauw Kong sudah memperlihatkan pula giginya yang putih ketawa, katanya:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Jika adik kecil ini tidak mempersalahkan kepadaku, aku sudah merasa beruntung sekali.”
Lalu ia memberi hormat kepada Koo San Djie dan menanyakan nama jago cilik kita.
Koo San Djie merasa dari tangannya Siauw Kong yang menjura sudah mengeluarkan tenaga yang lembek,
mendorong orang sehingga seperti mau terbang ke langit. Koo San Djie mesem. Sambil mengeluarkan
sedikit Boe-kit Hian-kang ia berkata:
“Aku yang rendah bernama Koo San Djie. Dan bagaimana dengan panggilan suhu kecil?”
“Aku bernama Siauw Kong, harap siaoya dapat sering-sering memberi petunjuk-petunjuk yang berharga.”
Kiranya, Siauw Kong sedang menjajal kekuatan Koo San Djie. Tapi, bagaikan mengukur dalamnya air laut,
ia tidak mendapatkan suatu hasil. Demikian juga di antara mereka telah terjalin tali persahabatan yang
pertama.
Biarpun Tjeng Tjeng telah marah, tapi melihat orang hanya tertawa-tawa saja dan mengalah, di dalam
hatinya si lincah ini telah timbul rasa senangnya juga. Dan ia telah merasakan kepandaian atau tingkah laku
dari si hweeshio ini boleh juga. Maka lenyaplah hawa marahnya.
“Mengapa dua totiang itu belum datang juga? Sungguh menjengkelkan sekali.” Tiba-tiba Tjeng Tjeng
berkata kepada Koo San Djie.
Siauw Kong yang menghadap ke depan gunung sudah menunjukkan tangannya dan berkata:
“Bukankah itu mereka telah datang?”
Betul saja, dua tosu dari Cong-lam dengan terburu-buru telah mendatangi ke arahnya.
Siauw Kong yang melihat betul mereka adalah Yun Shia Tjie dan Yun Mong Tjie sudah berkata kepada
Tjeng Tjeng:
“Adik kecil jika ingin buru-buru, bagaimana jika kita bertiga berjalan lebih dahulu?”
Ia tadinya membelakangi pintu gunung. Dengan tidak membalikkan badannya lagi, kedua pundaknya hanya
digerakkan sedikit, tubuhnya sudah melesat tinggi ke udara, bagaikan anak panah lepas dari busurnya
sudah meluncur ke arah pintu gerbang.
Tadi ia tidak dapat menyelami kekuatan tenaganya Koo San Djie, kini ia mau mencoba kekuatannya
mereka.
Tjeng Tjeng yang sudah tidak mau kalah, dengan menggunakan kecepatan mengejar bintang, sudah mau
pergi menyusulnya, tapi keburu di tarik tangannya oleh Koo San Djie.
“Mari kita jalan bersama!” sang kawan mengajak.
Dengan mengikuti bayangan Siauw Kong, mereka mengintil di belakang. Tiga bintang baru dari rimba
persilatan, dengan jarak yang tidak berubah, bagaikan tiga kapal udara meluncur naik ke atas gunung.
Di balik ini telah membuat orang tingkatan tua dari Siauw lim, yaitu Kong Tie Siansu menganggukanggukkan
kepala, dangan tersenyum puas. Ia telah mendidik Siauw Kong sedemikian rupa, sehingga
menurut perhitungannya akan dapat menandingi semua orang. Tidak disangka, hanya dua anak muda saja
telah berada di atas Siauw Kong.
Tapi hati Kong Tie Siansu tidak bersifat jahat. Ia tidak memandang tinggi rendah, kalah menangnya barang
sesuatu. Dan paling suka ia menuntun anak muda, inilah satu ujian bagi Siauw Kong agar ia dapat lebih
tekun lagi belajar ilmu silatnya.
Kembali pula kepada Siauw Kong yang mengira dengan menggunakan tipu silat kebanggaannya yang
bernama Goresan Pit melewati Sungai, dapat menundukkan dua lawannya. Tidak dikira sesudah sampai di
depan gunung, sewaktu ia menoleh dan melihat ke belakang, dilihat Tjeng Tjeng dengan tangan menariknarik
Koo San Djie tunjuk sana tunjuk sini seperti orang yang baru melihat barang aneh saja. Tidak terdapat
tanda-tanda orang yang baru habis berlari-larian. Sudah dapat diduga bahwa mereka masih belum
menggunakan seluruh kepandaiannya, maka di dalam hatinya Siauw Kong sudah memuji.
Dengan segera ia sudah mengajak mereka memasuki ruangan tamu. Sambil menghadapi dua tamunya ia
berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Silahkan duduk sebentar. Setelah menunggu Yun Shia Tjie totiang dua saudara, baru memasuki ruangan
dalam.”
“Memang sudah seharusnya,” sahut Koo San Djie dengan menganggukkan kepala.
Tidak lama kemudian, Yun Shia Tjie dan Yun Mong Tjie sudah datang menyusul.
“Ombak yang di belakang selalu mendorong yang di depan, kepandaian kau berdua, telah membuat kami
mundur teratur,” kata Yun Shia Tjie tertawa.
Koo San Djie sudah bangun berdiri dan berkata:
“Totiang terlalu memuji orang.”
Kemudian, Siauw Kong sudah mengajak mereka memasuki ruang dalam. Di dalam ruangan belakang,
semua ketua partay dari berbagai macam golongan telah tiba.
Yang menduduki tempat tertinggi ialah ketua partai dari golongan Siauw-lim-pay, yaitu Hwi-kak Siangjin. Di
kedua belahnya, terlihat para ketua dari lain golongan, seperti ketua partay Bu-tong-pay Ceng Yang Cinjin,
ketua partay Ngo-bie-pay Hay Ouw Cie, ketua partay Tiam-cong-pay Ong Thian Ie, ketua partai Ceng-shiapay
Gouw Tiang Bun dan lain-lain.
Yun Shia Tjie sudah memperkenalkan Koo San Djie dan Tjeng Tjeng kepada para ketua partai dan berbagai
macam golongan. Hwi-kak Siangjin dari Siauw-lim-pay tidak percuma menjabat ketua dari pertemuan ini.
Melihat Yun Shia Tjie sangat memandang tinggi kepada dua anak kecil ini, tentu ada sebab-sebabnya.
Maka, seperti menerima para ketua partai lainnya, ia telah memberi hormat.
Tapi yang lain-lainnya tidak sehormat ketua Siauw-lim-pay. Ada yang sudah lantas mengerutkan keningnya,
ada yang menggoyang-goyangkan kepalanya dan ada lagi yang sampai tidak memperdulikan sama sekali.
Kejadian ini membuat Yun Shia Tjie tidak puas dan menyebabkan perut Yun Mong Tjie ham-pir meledak
saking mendongkol.
Gouw Tiang Bun yang menjadi ketua partai Ceng-shia-pay, mendadak dengan dingin berkata:
“Urusan yang sedemikian pentingnya telah mengundang dua orang anak kecil datang ke mari, sungguh
keterlaluan sekali.”
Ong Thian Ie, ketua partay Tiam-cong-pay menggoyangkan kepalanya berkata:
“Memang kami dianggap main-main saja?”
Yun Mong Tjie yang berangasan sudah tidak dapat menahan sabarnya. Dengan keras ia berkata:
“Ilmu sastra dan silat semua orang juga dapat mencapai ke tingkat yang tertinggi. Siapa yang tidak
memandang mata kepada dua saudara kecil ini, percuma saja untuk menjabat ketua partai.”
Ketua partai Ngo-bie-pay Hay Ouw Cie tertawa berkakakan:
“Jika demikian, tentunya Cong-lam Sam-cie adalah sangat memandang tinggi kepadanya.”
Yun Shia Tjie berdiri dari tempat duduknya, dengan tenang ia menjelaskan:
“Boleh dikata juga demikian. Jika dihitung menurut tingkatan derajatnya tidak berada di bawah kalian yang
duduk di sini semua. Terus terang kukatakan kepadamu, bahwa saudara kecil yang laki-laki ini adalah ahli
waris satu-satunya dari locianpwe Pendekar Berbaju Ungu.”
Tangannya sambil menunjuk ke arah Koo San Djie.
Sesudah keterangan ini keluar dari mulut Yun Shia Tjie, ruangan menjadi panik. Ada kaget dan ada juga
yang tidak percaya.
Tentu saja mereka tidak percaya. Si Pendekar Berbaju Ungu telah lama tidak muncul di kalangan Kangouw.
Paling sedikit juga sudah lebih dari empatpuluh tahun mereka tidak mendengar kabar beritanya.
Semua orang juga telah menganggapnya ia telah meninggal dunia, tidak disangka dapat menghasilkan
seorang murid yang masih kecil.
Koo San Djie melihat suasana repot karena hal dirinya, diam-diam merasa tidak enak, maka ia sudah maju
ke tengah ruangan, sambil memberi hormatnya keempat jurusan berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Jika para locianpwe tidak leluasa, karena ada kami berdua disini, kami akan segera meninggalkan
ruangan.
Tjeng Tjeng dengan tidak puas menyelak:
“Hm, berani tidak memandang mata kepada kita, perlu apa memandang mata pada, mereka? Baru
mempunyai umur yang lebih tua saja sudah demikian sombongnya. Koko San, mari kita segera berangkat!”
Yang paling tidak enak ialah Yun Shia Tjie dan Yun Mong Tjie, mereka berdua juga sudah berdiri dan siap
untuk meninggalkan pertemuan itu.
Sebagai tuan rumah, Hwi-kak Siangjin juga sudah jadi bingung. Ia tidak berhak untuk memaksa para ketua
partai menerima dua tamu kecilnya. Dalam keadaan yang serba sulit baginya ini, tiba-tiba terdengar suara
Koo San Djie membentak:
“Siapa yang sembunyi di sana?”
11.26. Jejak Iblis Memasuki Gunung Siong-san
Suaranya ditujukan ke atas. Meskipun sedang tidak puas atas perlakuan para ketua partay itu, tapi mata
dan kuping Koo San Djie selalu berada dalam keadaan siaga. Cepat sudah dapat mengetahui bahwa di
atas genteng ada orang yang mencuri dengar pambicaraan mereka.
Tjeng Tjeng yang dadanya penuh dengan perasaan kemurkaan yang tidak dapat dilampiaskan mendahului
melesat ke atas genting.
Semua orang hanya melihat bayangan merah berkelebat dan lenyaplah anak perempuan kecil yang berada
di hadapan mereka. Kini barulah mereka merasa kaget. Ternyata bahwa dua anak kecil ini mempunyai
kepandaian yang luar biasa.
Berbareng pada waktu Tjeng Tjeng naik ke atas genteng, sebuah benda putih telah melayang masuk dan
langsung mengarah Hwi-kak Sangjin.
Hwi-kak Siangjin tidak menjadi kaget, dengan menggunakan dua jari tangannya, ia menjepit benda yang
datang ke arahnya tadi. Sewaktu ditegasi, ternyata itu adalah sebuah sampul surat.
Dengan sampul surat yang setipis itu, diterbangkan dari tempat yang jauh jaraknya, dengan mengeluarkan
suara mengaung, bahkan telah membuat Hwi-kak Siangjin yang menerimanya tergetar olehnya, teranglah
kepandaian orang yang datang sebagai mata-mata itu adalah sangat tinggi.
Di atas sampul surat tercetak sepasang burung merpati, ini surat hanya terdiri dari beberapa perkataan:
“Jika berani melawan Lembah Merpati. Itulah berarti membentur batu.”
Sewaktu dilihatnya Koo San Djie dan Tjeng Tjeng, dua anak ini juga telah lenyap dari pandangan mata
mereka. Dengan tidak terasa, jago Siauw-lim-pay itu telah menghela napas panjang. Kemudian
diperlihatkannya surat tersebut kepada mereka yang hadir di situ.
Ketua partai Tiam-cong-pay, Ong Thian Ie dengan marah berkata:
“Ini berarti, Lembah Merpati telah menantang perang. Menurut pendapatku, sebaiknya segera kita
berangkat ke sana esok hari, karena kita telah mengetahui, di mana letak tempat Lembah Merpati.”
Ketua partai Ceng-shia-pay, Gouw Tiang Bun juga sudah lantas menyetujuinya:
“Aku tidak percaya, dengan tenaga kita yang telah tergabung boleh takut kepada Lembah Merpati.”
Ketua partay dari Bu-tong-pay, Cek Yang Cinjin setelah memikir sebentar, baru mengeluarkan pendapatnya
“Dengan kepandaian yang telah diperlihatkan orang tadi kepada kita semua, ternyata Lembah Merpati
adalah tempat berkumpulnya macan dan naga berkaki dua. Jalan yang terbaik ialah kita berunding dulu
dengan mengumpulkan tenaga yang telah ada, kemudian baru kita menyerangnya secara serentak.”
Yang diartikan dengan kata-kata macan dan naga berkaki dua adalah para jago-jago silat dari segala
macam aliran.
Ketua partay Ngo-bie-pay, Hay Ouw Cie tertawa berkakakan dan berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sebagai ketua partai masih dapat dibikin takut oleh selembaran kecil, apa tidak takut ditertawakan dunia.
Cepat atau lambat, tokh harus bertempur juga dengan Lembah Merpati. Menurut pendapatku, pada waktu
mereka sekarang belum berjaga-jaga, kita segera pergi menerjangnya.”
Ong Thia Ie dan yang lain-lain sudah menyetujui usul ini:
Hwi-kak Siangjin dan Ceng Yang Cinjin yang bersifat sangat hati-hati, melihat lebih banyak orang yang
setuju dengan usul ini, juga tidak dapat mengatakan sesuatu apa pula.
Demikianlah, pada waktu malam itu juga, mereka berangkat dan menuju ke tempat yang disebut Lembah
Merpati.
Rupanya, sudah nasibnya rimba persilatan yang harus mengorbankan orang-orang ini, di sana karena
kesalah pahaman, sehingga mereka jauh-jauh, mengantar diri untuk menerima kematian, satupun tidak ada
yang terluput dari mara bahaya. Tertawalah ketua Lembah Merpati yang sebenarnya, karena melihat
ketololan mereka.
◄Y►
Untuk sementara cerita Hwi-kak Siangjin dan kawan-kawan kita tangguhkan di sini dan menengok ke arah
lain.
Mari kita mengikuti Koo San Djie, bersama-sama Tjeng Tjeng yang sudah mengikuti jejak bayangan iblis
yang berani memasuki gunung Siong-san dan memberi peringatan kepada para ketua partay yang sedang
berunding di dalam kuil Siauw-lim yang angker.
Koo San Djie melihat Tjeng Tjeng sudah mendahuluinya, maka ia juga membentangkan sayap baju, dan
pergi mengikuti di belakangnya Tjeng Tjeng, dengan kecepatan yang tidak kalah darinya.
Dari jauh telah terlihat bayangan putih yang berlari-lari di antara jalan kecil pegunungan Siong-san.
Koo San Djie dan Tjeng Tjeng mana dapat begitu saja melepaskannya. Bagaikan dua bintang sapu yang
jatuh ke bumi, mereka mengejar bayangan putih tadi. Sayang, sedari mulai lari, mereka telah ketinggalan
sedetik, inilah yang telah menyebabkan mereka susah untuk menyusul.
Koo San Djie telah mulai menambah kecepatannya ilmu Awan dan Asap Lewat Di mata sampai sekuat
tenaga, bersama-sama dengan Tjeng Tjeng, sebentar saja telah dapat melewati semua penjagaan gelap
yang diadakan oleh Siauw-lim-pay. Sehingga menyebabkan mereka yang melihatnya pada meleletkan
lidah. Tidak ada satupun dari mereka yang dapat menahan kepergian sepasang muda mudi itu.
Demikianlah mereka kejar mengejar sehingga sampai di luar daerah gunung Siong-san. Si baju putih yang
lari di depan, kiranya adalah seorang wanita, karena tidak bisa meloloskan diri dari pengajaran Koo San Djie
dan Tjeng Tjeng, dia membalikkan badan dan membentak:
“Budak kepingin mampus, mengapa mengejar-ngejarku?”
“Aku mau melihat ilmu kepandaianmu?” mengejek Liu Tjeng.
Tangan kecilnya disodorkan keluar, segera angin dingin yang lebih tajam dari jarum, dengan cepat
menyerang lawan.
“Iiiiih!” wanita baju putih itu menjerit keheranan.
Ia cepat menghindarkan serangan ini, kedua tangannya tidak tinggal diam, cepat sekali, berbalik
menjambret dua kuncirnya Tjeng Tjeng.
Si nona memindah-mindahkan kakinya, dua tangan bergantian menyerang sampai tujuh kali. Seranganserangan
ini, yang satu lebih cepat dari pada yang lain.
Lawannya, dengan baju putihnya yang melambai-lambai tertiup angin, dengan gesit menyingkir dari tujuh
serangan ini. Tapi semakin lama, hatinya menjadi semakin keder. Ia merasa seperti mengenal jurus-jurus
kepandaian ini. Ia heran juga, mengapa anak kecil ini dapat mempergunakan kepandaian perguruannya,
bahkan lebih banyak perubahannya dan lebih sempurna?
Demikianlah wanita baju putih harus melayani serangan-serangannya Tjeng Tjeng, ia harus menggunakan
seluruh kepandaiannya untuk dapat melayani si nona cilik yang lihay.
Waktu itu Koo San Djie juga telah sampai. Dilihatnya dua buah bayangan putih dan merah tengah
berguling-gulingan. Ia dapat melihat kepandaian dua orang ini, seperti berasal dari satu perguruan atau
dunia-kangouw.blogspot.com
setidak-tidaknya juga dari satu aliran. Hanya bedanya, perobahan-perobahan Tjeng Tjeng ada lebih
sempurna dari pada lawannya.
Koo San Djie menyaksikan wanita baju putih itu mempunyai kepandaian lebih tinggi dari pada si pelajar baju
kuning yang pernah diketemuinya di dalam pesanggerahan Liong-sun-say. Bajunya yang berwarna putih,
demikian rapih sekali, sehingga kelihatannya sangat bersih. Tapi sayang, mukanya sangat pucat, biarpun
ada sangat putih, seperti tidak mengandung darah sama sekali. Sikapnya dingin! Lebih dingin dari pada es,
sehingga siapa yang melihatnya tentu akan mundur teratur. Inilah disebabkan dari sifat pembawaannya
yang tidak mengenal kasihan.
Mereka berdua telah bertarung lebih dari sepuluh jurus, biarpun kenyataannya seperti seimbang, tapi
sebenarnya Tjeng Tjeng sudah di atas angin.
Tiba-tiba, dari hutan yang lebat di sebelah kiri terdengar suara siulan yang panjang, wanita baju putih
dengan cepat menyerang dua kali dan lantas loncat keluar kalangan, lari masuk ke dalam hutan, dengan
kecepatan yang luar biasa.
Tjeng Tjeng hendak mengejar, sayang sudah tidak keburu ia hanya dapat membanting-banting kakinya
karena amat mendongkol.
Terdengar Koo San Djie berkata:
“Orangnyapun entah telah pergi, buat apa kau menjadi sibuk tidak keruan?”
Tjeng Tjeng dengan cemberut menjawab:
“Apa kau tidak dapat melihat, bahwa kepandaian perempuan tadi ada sangat mirip sekali dengan
kepandaian ayahku? Dia tentu mempunyai hubungan yang rapat dengan salah satu dari dua pelayan
ayahku yang telah melarikan diri itu. Aku ingin menangkap dia dan meminta keterangannya. Mengapa kau
tidak membantu menghalang-halangi untuk menangkapnya?”
Koo San Djie melengak. Ia juga diam menyesal, cepat ia menghibur:
“Sebelum ketahuan menang kalahnya, mana aku dapat mengetahui dia akan melarikan diri?”
“Hm, jika aku diberi sedikit waktu lagi, tentu dapat mengalahkannya. Kau percaya, tidak?” Tjeng Tjeng
berkata dengan perasaan tidak puas.
“Tentu saja percaya. Anak mas dari pendekar Merpati, siapa yang tidak percaya?” Koo San Djie bergurau
sambil tertawa.
Tjeng Tjeng juga jadi tertawa.
“Cis, siapa yang suruh kau mengumpak-umpak.”
“Inilah keadaan yang sebenarnya. Siapa yang mengumpak?”
Koo San Djie dengan perkataan-perkataannya ini telah dapat menghilangkan rasa kesal Tjeng Tjeng.
Sebentar ia, sudah menjadi riang kembali seperti sedia kala.
Setelah Koo San Djie berhasil membuat Tjeng Tjeng tertawa, mendadak, ia ingat perundingan tadi. Ia
merasa tidak seharusnya pergi tanpa pamit. Biarpun betul, ada beberapa orang yang tidak menyukai
kehadirannya, ketua partai Siauw-lim-pay, Hwi-kak Siangjin dan juga Yun Shia Tjie beberapa orang, tidak
dapat dikatakan tidak hormat adanya. Maka, dengan menarik tangannya Tjeng Tjeng ia berkata:
“Mari kita kembali ke kuil Siauw-lim dulu. Biarpun kita tidak mau mencampuri urusan mereka, tapi kita tokh
harus pamit dahulu.”
Tjeng Tjeng sudah tidak suka dengan segala perundingan ini. Tapi Koo San Djie mau pergi juga, ia tidak
dapat tidak turut pergi.
Maka mereka berdua telah balik kembali ke gunung Siong-san. Baru saja mereka menaiki kaki gunung,
mendadak Tjeng Tjeng telah berteriak:
“Siapa itu yang datang?”
“Aaaaa, dia adalah Tiauw-toako,” jawab Koo San Djie cepat.
“Dengan umurnya yang demikian tua, masa menjadi kau punya toako?” bertanya Tjeng Tjeng heran.
dunia-kangouw.blogspot.com
Koo San Djie hanya tertawa saja, ia tidak leluasa untuk menceritakan jalan perkenalannya.
Orang yang datang dengan cepat telah sampai di hadapan mereka. Koo San Djie dengan cepat telah maju
menyongsong dan bertanya:
“Toako ada baik? Dari mana saja kau selama ini?”
Tiauw Tua dengan menganggukkan kepalanya sudah membalas hormatnya, katanya:
“Masih beruntung. Baik-baik saja.”
Tapi matanya sudah memandang Tjeng Tjeng yang tidak dikenal. Maka Koo San Djie cepat sudah
memperkenalkan mereka, katanya:
“Inilah...... toako Tiauw Tua.”
Sebenarnya, ia sudah mengatakan locianpwe, namun dengan nama pendekar Merpati yang tinggi, maka
anaknya memanggil toako kepada Tiauw Tua ini juga tidak keterlaluan, maka ia tidak merobah
panggilannya menjadi toako.
Tjeng Tjeng dengan kedua kuncirnya di belakang bergoyang dengan lucu, telah memanggilnya
“Toako.”
Tiauw Tua dalam hatinya merasa lucu juga. Tidak disangka, dalam usia tuanya ia telah mendapat panggilan
toako, dari dua orang anak yang lebih pantas menjadi cucunya.
Tapi waktu Koo San Djie memperkenalkan bahwa nona kecil adalah anak tunggalnya dari si pendekar
Merpati hatinya merasa terkejut dan heran.
Maka ia merasa senang dengan panggilan toako dari Tjeng Tjeng, biarpun tidak kalah taruhan untuk
memanggil toako dari Koo San Djie. Anaknya pendekar Merpati juga sudah pantas memanggilnya toako,
apa lagi ada pertaruhan, maka paling tepatlah panggilan ini.
Koo San Djie tidak membuang waktu lagi, dituturkan tentang rapat perundingan di dalam kuil Siauw-lim.
Ternyata, Tiauw Tua lebih tahu diri dari padanya, setelah mendengar penuturannya, ia sudah berkata:
“Tidak usah pergi ke sana lagi, mereka semua telah berangkat menuju Lembah Merpati.”
Koo San Djie juga kaget. Dengan rasa setengah percaya ia menanya:
“Apa betul mereka telah mengetahui letaknya Lembah Merpati?”
Tiauw Tua sambil menggoyang-goyangkan kepalanya menjawab:
“Untuk sementara, kau tidak usah memusingkan soal ini. Aku rasa, tidak semudah ini mereka dapat
menemukan tempat Lembah Merpati. Aku masih ada urusan penting yang harus dirundingkan kepadamu.”
Koo San Djie lantas menanyakan urusan penting itu.
Tiauw Tua tidak menjawab pertanyaannya. Ia sudah menarik tangannya dan berkata:
“Mari kita duduk-duduk dahulu, untuk membicarakannya.”
Lalu, mereka bertigapun duduk. Dengan ringkas Tiauw Tua telah menceritakan, pengalamannya selama
setahun ia berpisah.
Ternyata, meskipun di mulutnya Tiauw Tua mengatakan ia tidak percaya akan obrolan si hweeshio alis
panjang yang telah meramalkan kesusahan-kesusahannya Koo San Djie, tapi ia juga sudah mengetahui,
bahwa Koo San Djie yang masih belum mempunyai pengalaman, pasti memerlukan tuntunan. Maka ia
sudah mengikuti Koo San Djie untuk membantu mencari kabar tentang encie Hoe Tjoe nya, sehingga
sampai di pesangrahan Liong-sun-say.
Belakangan setelah mendapat kabar bahwa Ong Hoe Tjoe telah ditolong oleh orang lain dan ternyata Koo
San Djie telah kuat untuk berdiri sendiri, baru ia berani meninggalkannya untuk pergi ke tempat kawan
kentalnya, ini adalah orang yang telah menolong Hoe Tjoe dan kini menjadi gurunya. Orang itu adalah
seorang nikouw (padri wanita).
dunia-kangouw.blogspot.com
11.27. Anak Murid Pay-hoa Kui-bo
Nikouw ini beserta si Pendekar Berbaju Ungu dan Sepasang pendekar Merpati yang menjadi ayah ibunya
Tjeng Tjeng adalah orang-orang yang terkenal pada masa yang lampau. Dengan Tiauw Tua adalah
setengah kawan dan setengah guru.
Tiauw Tua telah mempunyai kepandaian yang cukup tinggi, setelah mendapat beberapa petunjuk yang
penting dari si nikouw, dengan, cepat ia telah dapat meyakinkan ilmunya dengan masak. Hatinya yang
masih memikirkan keselamatannya Koo San Djie, lalu meminta diri dari kawannya itu dan terus mencarinya
Koo San Djie lagi.
Setelah beberapa lama ia menyerap-nyerapi kabar, ia mendengar Siauw-lim-pay telah mengundang para
ketua partai dari berbagai macam golongan. Ia menduga Koo San Djie tentu datang kemari, dan betul juga
ia berhasil untuk menemuinya.
“Koo San Djie mendengar Tiauw Tua telah menemukan Ong Hoe Tjoe, lantas menanyakan tentang
keadaannya si nona:
“Toako apa tahu juga telah berapa lama dia turun dan kini berada di mana?”
“Soal urusan inilah maka aku mencarimu,” Tiauw Tua menjawab. “Menurut penuturan, dia telah turun
gunung dan menemukan seorang dari Lembah Merpati. Dia sedang ke utara mengejar orang tadi. Semua
kabar ini adalah toa-sucie yang memberikan kabar kepadaku......”
Koo San Djie sudah lompat dari duduknya dan memotong pembicaraan Tianw Tua:
“Apa dia tidak mendapat kesukaran? Lebih baik kita segera pergi menyusulnya.”
Tiauw Tua berkata lagi:
“Di sebelah utara sana adalah daerah Pay-hoa Kui-bo (nenek setan seribu bunga). Jika Pay-hoa Kui-bo ini
telah ditarik oleh Lembah Merpati, maka lebih sukarlah kita ini.
Untuk Tjeng Tjeng, yang dipentingkan hanyalah keramaian, apa lagi Ong Hoe Tjoe adalah orang yang
sering disebut oleh koko San nya. Tentu saja terhadap keselamatan Ong Hoe Tjoe ia turut menguatirkannya
juga.
Dengan menarik tangannya Koo San Djie, ia sudah berkata kepada Tiauw Tua.
“Toako, ijinkan kami berdua berangkat terlebih dahulu. Kau dapat menyusul kemudian.”
Tidak sampai menunggu jawaban lagi, ia sudah menarik Koo San Djie dan terbang turun gunung. Ia takut
Tiauw Tua nanti seperti Cong-lam Sam-cie lagi yang tidak dapat berlari cepat, maka ia sudah mendahului
mengangkat kakinya agar dapat lebih leluasa melepas kecepatannya. Ia mana tahu, bahwa ilmu
mengentengi tubuhnya Tiauw Tua tidak dapat dibandingkan dengan Cong-lam Sam-cie?
Melihat kemesraan dari dua anak ini, Tiauw Tua menggeleng-gelengkan kepalanya sampai beberapa kali.
Ia tahu, mereka yang masih berumur kecil tidak dapat merasakan suatu apa, tapi setelah lewat satu atau
dua tahun lagi, ombak asmara tentu akan saling susul.
Diceritakan Tjeng Tjeng yang menarik tangannya Koo San Djie, mereka lari meninggalkan gunung Siongsan,
semakin lama menjadi semakin cepat. Mungkin juga ia sudah merasa bosan akan kesempatan
penghidupan kecilnya yang hanya dikurung di dalam lembah, maka begitu ia mendapat kesempatan keluar,
ia telah menggunakan kesempatan ini untuk melampiaskan sepuas-puasnya. Ia senang berlari-larian seperti
ini. Ia paling senang di waktu terbang melayang melewati dua tebing yang tinggi.
Keluar dari daerah pegunungan adalah sebuah jalan raya. Koo San Djie takut dapat mengejutkan orang
yang berlalu lintas, maka sudah mangendorkan langkahnya.
Biarpun demikian, ada juga orang yang melihat. Dari jauh, orang ini telah berteriak-teriak memanggil:
“Adik San, apa kau dapat menemukan Ong Hoe Tjoe?”
Koo San Djie melengak, setelah menegasi, ternyata yang memanggil-manggilnya adalah Tju Thing Thing.
Hampir saja ia tidak dapat mengenalinya lagi.
Tju Thing Thing memakai pakaian yang rebo, make up yang berlebih-lebihan, rambutnya disisir tinggi,
dengan lenggang lenggoknya sudah datang ke arahnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Apakah ini Tju Thing Thing yang pernah jalan bersama-sama dulu itu? Koo San Djie hampir tidak dapat
mempercayai matanya sendiri. Baru saja mereka berpisah dua atau tiga tahun, ia sudah berubah sampai
begini. Bukankah satu kejadian yang mustahil?
Tju Thing Thing yang melihat ia hanya melengak di tempatnya dengan tidak mengatakan suatu apa, sudah
manjadi tertawa terpingkal-pingkal.
“Siapa yang kesudian menjadi kawannya?”
Ia merasa heran mengapa kokonya dapat mempunyai kawan yang seperti ini?
“Aduh! Baru dapat kawan baru, kau telah melupakan kawan lama.”
Koo San Djie menggoyangkan kepalanya dan berkata:
“Bukan begitu. Apa kau telah...... ikut orang?”
Tju Thing Thing tertawa cekikikkan. Badannya sudah dijatuhkan ke arah Koo San Djie. Dengan tertawa ia
berkata.
“Aduh! Kau telah membuat aku hampir mati tertawa. Dasar anak dusun yang tidak mempunyai pengalaman,
aku punya sucie, sumoy semua juga berpakaian seperti ini. Mengapa telah dikatakan telah kawin?”
Yang diartikan sucie dan sumoy ialah kakak beradik seperguruan dari guru barunya.
Di depannya Tjeng Tjeng, Tju Thing Thing berani berbuat seperti ini, Koo San Djie sudah tidak puas,
dengan perlahan ia mendorongnya dan berkata:
“Jangan begini. Mari kukenalkan pada seorang kawan......”
Tapi Tjeng Tjeng sudah keburu berteriak sambil membalikkan badannya:
“Aku tidak suka.......!”
Tju Thing Thing menambah goyang kibulnya, dia mendekati Tjeng Tjeng dan berkata:
“Aduh, adik kecilku, mengapa besar ambek?”
Tjeng Tjeng dengan muka merah padam dan membanting-banting kaki berkata:
“Jika kau berani sembarangan berkata di hadapanku, awas, akan kuhajar di sini.”
Koo San Djie takut juga Tjeng Tjeng betul-betul melaksanakan gertakannya, maka akan celakalah Tju Thing
Thing ini. Maka dengan cepat ia sudah maju memisah.
“Dia adalah Ciecie Tju Thing Thing yang menjadi murid Thian-mo Lo-lo, kita semua adalah orang sendiri.”
Tjeng Tjeng dengan membuang muka sudah berkata:
“Pey! Biarpun muridnya dewapun, tidak nanti kuladeni. Tidak disangka, kau mencari kawan yang sebangsa
siluman.”
Koo San Djie takut, nanti Tju Thing Thing marah, maka dengan cepat menarik tangannya Tjeng Tjeng,
supaya jangan mengoceh terus.
Tidak disangka, Tju Thing Thing tidak menjadi marah. Ia tetap dengan lakunya yang seperti tadi, dengan
tertawa cekikikan berkata:
“Aduh, tidak disangka, pandangan adik kecilku ini begitu tinggi. Boleh juga, anggap saja aku sebangsa
siluman. Kalian hendak pergi kemana?”
Tjeng Tjeng dengan mengibaskan bajunya, berkata dengan tidak menoleh lagi:
“Perduli apa dengan kami mau pergi kemana? Untuk selanjutnya, jangan kau panggil adik kecil lagi
padaku.”
Tju Thing Thing telah merasakan adanya sebuah tenaga yang mendorongnya. Maka dengan hanya
memiringkan sedikit saja tubuhnya, telah terjatuh ke dalam pelukannya Koo San Djie, tangannya telah
merangkul leher si pemuda. Mulutnya tidak mau berhenti berteriak-teriak:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aduh tolong...... adik kecilmu memukul orang.”
Koo San Djie mengimpipun tidak akan menyangka, Tju Thing Thing berani berbuat sedemikian rupa.
Dengan sikap sungguh-sungguh ia berkata:
“Berbuat aturanlah sedikit. Mengapa kau menjadi begini?”
Tju Thing Thing dengan perlahan-lahan memisahkan tubuhnya. Seperti tidak pernah berbuat apa-apa ia
berkata:
“Baiklah. Jika kau tidak suka. Aku kini telah pindah masuk ke dalam golongan Pay-hoa Kui-bo, untuk belajar
silat. Inilah maksud dari guruku sendiri.”
Koo San Djie dengan kaget berkata:
“Pay-hoa Kui-bo? Baik atau jahatkah dia itu?”
“Tidak baik dan juga tidak jahat. Aku sendiripun tidak mengetahui dengan pasti. Yang perlu, aku belajar silat
dari padanya, sudah cukup bukan?”
Tju Thing Thing menjawab dengan seenaknya.
Koo San Djie menjadi tercekat hatinya. Dalam hatinya berpikir:
“Sekali mengangkat guru berarti seperti orang tua. Mana boleh dia sembarangan mengangkat guru dengan
tidak memikir-mikir lagi?”
Dari Pay-hoa Kui-bo ia teringat akan Ong Hoe Tjoe yang pergi ke utara mengejar orang. Hatinya menjadi
kuatir juga. Lagi pula, ia sudah sebal, melihat Tju Thing Thing yang telah berobah seratus persen. Maka
dengan mengajak Tjeng Tjeng yang masih monyongkan mulut, ia berkata:
“Adik Tjeng, mari kita berangkat!”
Rasa simpatinya terhadap Tju Thing Thing telah tersapu bersih, karena tingkah laku terhadapnya sekarang
ini.
Tjeng Tjeng lebih tidak sabaran lagi. Tidak menunggu sampai habis perkataan sang kawan, ia sudah
medahului melesat pergi.
Koo San Djie sudah dengan tidak ragu-ragu mengambil selamat berpisah kepada kawan lamanya yang
telah berobah ini:
“Ciecie Thing Thing selamat berpisah.”
Badannya juga bagaikan kilat saja telah lenyap dari pandangan mata Tju Thing Thing.
Kini tinggallah Tju Thing Thing saja yang masih berdiri bengong.
◄Y►
Apa betul Tju Thing Thing telah berobah sedemikian tidak tahu malu? Tidak! Ini bukan maksud hati aslinya.
Ia telah menjadi korban dari Thian-mo Lo-lo yang telah menuruti sifat yang ceroboh dan kukuh.
Thian-mo Lo-lo masih tidak mau melepaskan keinginannya untuk membalas dendam kepada bekas
kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya, tapi ia tahu, dengan hanya mengandal kepandaiannya yang
dapat dipelajari tidak mungkin untuk membalas dendam. Ia telah memeras seluruh otaknya mencari jalan
untuk dapat melaksanakan niatannya ini. Tapi semua daya upayanya telah menemui jalan buntu.
Dengan badannya yang telah sampai di akhir usia, biarpun ia meyakinkan ilmu lagi, sampai matipun masih
tidak dapat menandingi si Phoa An Berhati Ular, sang murid yang disayang Tju Thing Thing yang
diharapkan dapat membantu dirinya belum tentu memenuhi harapan. Kepandaian si gadis tidak lebih
darinya.
Waktu tidak mengenal prikemanusiaan, memakan usia manusia yang lengah, orang yang tidak bisa
mempertahankan diri.
Masa subur Thian-mo Lo-lo termakan oleh waktu-waktu ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Demikianlah, dengan tidak memikir akan akibatnya lagi, dia membawa Tju Thing Thing ke tempat Pay-hoa
Kui-bo, tokoh silat yang terkenal dengan ilmunya yang diberi nama Cit-ceng-siauw-hun-tay-hoat.
Cit-ceng-siauw-hun-tay-hoat adalah semacam ilmu gaib di jaman dahulu kala, dengan menggunakan alat
tabuhan atau siulan, pikiran lawan bisa dapat dibuat kacau. Dan pada waktu inilah, musuh dapat dijewer
atau diperlakukan semau-maunya.
Apa lagi, ilmu ini dimainkan oleh kaum wanita, dengan diperalat dengan aneka macam make-up yang
berlebih-lebihan, dengan disertai goyang pinggul yang ditonjol-tonjolkan, musuh mana yang tidak jatuh di
bawah kaki gaunnya?
Thian-mo Lo-lo menganggap langkah yang diambil olehnya itu sangat tepat.
Tju Thing Thing dipaksa berguru kepada Pay-hoa Kui-bo.
Tidak disangka, jalan satu-satunya inipun mengalami jalan buntu, kasihan, Thian-mo Lo-lo mengantarkan
sang murid ke dalam lembah kegelapan dan lumpur kehinaan.
Sedari Pay-hoa Kui-bo dapat merampas gunung Pay-hoa, dia merubah tempat ini menjadi markas
besarnya, menganggap dirinya sebagai orang yang tertinggi. Bukan saja ia memuji kepandaiannya yang
tinggi, bahkan dalam soal obat-obatan, dan segala macam racun, dia mempunyai pengetahuan yang luas,
semua murid perempuannya diharuskan memakan butir pil 'penenang hati', agar mereka dapat
menimbulkan kembali sifat kebinatangannya.
Peraturan yang pertama ini dinamakan olehnya 'Pengembalian, asal asli manusia`.
Inilah peraturan gila!
Kemudian, diantarkannya mereka ini kepada muridnya yang telah masuk terlebih dahulu, katanya diuji.
Setelah lulus dalam ujian, baru dapat diterima menjadi muridnya.
Ujian gila!
Tju Thing Thing berguru pada Pay-hoa Kui-bo, ia mempunyai kepandaian yang lumayan, lagi pula
mempunyai rupa yang cantik, maka tidak sukar untuk ia berguru. Tidak lama kemudian, ia telah lulus dan
diperbolehkan turun gunung.
Biarpun obat-obatan telah membuat ingatannya setengah linglung, tapi ia bersifat manusia. Semua gadisgadis
tidak akan lupa kepada laki-laki yang pertama dapat memasuki hatinya. Tidak terkecuali juga dengan
Tju Thing Thing ini.
Tidak pernah ia lupa kepada Koo San Djie. Ia seperti dapat hidup kembali, jika pada waktu mengingatnya.
Tidak disangka, orang yang setiap hari dipikirinya telah berbuat sedemikian kejam, dalam anggapannya
sendiri, tidak memperhitungkan kelakuannya yang menyebalkan.
Koo San Djie telah menggandeng si kepang dan pergi meninggalkannya. Mungkinkah untuk selamalamanya.
Tju Thing Thing menangis.
Ia tidak dapat menggunakan pikirannya, mengapa orang sedemikian membenci kepadanya? Lebih-lebih
lagi, ia tidak dapat memikirkan, mengapa ia tak dapat menjadi berubah sedemikian rupa?
Ia menggigit jari, berdiri terpaku. Dengan hanya dapat memaki di dalam hati, ia melihat bagaimana dua
bayangan kecil itu lenyap dari pemandangan.
Ia benci Koo San Djie yang tidak mengenal cinta, ia benci Tjeng Tjeng yang tidak memandang mata.
Tidak salah jika orang mengatakan 'Di belakang Cemburu, Datanglah Cinta, Dibalik Cinta Timbullah Duka,
Di akhir Duka Keluarlah Kebencian’.
Ia cemburu kepada Tjeng Tjeng, karena cinta kepada Koo San Djie. Karena ia cinta kepada Koo San Djie
maka ia berduka memikirkan nasibnya yang tidak dapat sambutan dari Koo San Djie, maka ia telah
membencinya.
Mendadak, ia menangis seperti gila. Ia tertawa karena duka. Ketawanya lebih seram dari pada tangisnya,
sehingga dapat membangunkan bulu roma kepada siapa yang mendengar.
Ia tertawa, tertawanya telah dapat memikul sebagian kedukaannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendadak, ia tertawa dingin. Angkara murka telah meliputi dirinya. Ia mengangkat kakinya dan terbang
mengejar.
12.28. Jebakan Barisan Pay-hoa Kui-bo
Koo San Djie takut Tju Thing Thing dapat mengejar dan mengganggunya pula, maka setelah lama juga
mereka tancap gas, baru dengan perlahan-lahan mengendorkan langkah mereka. Sebenarnya mereka juga
tidak dapat meneruskan larinya, karena di depan telah terlihat sebuah kota.
Tjeng Tjeng dengan mencubit-cubit perut tertawa, dia berkata:
“Sudah waktunya untuk kita menangsal ini, aku sudah sangat lapar.”
Koo San Djie bersenyum, Mereka lalu memasuki rumah makan dan memilih tempat duduk yang bagus.
Yang masuk ke rumah makan ini tidak banyak. Kecuali sudah ada beberapa orang di situ, terdapat pula
seorang nikouw setengah umur.
Nikouw ini telah memesan makanan, dengan sendirian saja, perlahan-lahan ia memakannya. Dilihat
kelakuannya ia bukan bermaksud makan, mungkin juga ia sedang menunggu orang, dengan perlahan-lahan
ia melewatkan waktunya.
Koo San Djie kini telah mempunyai pengalaman yang lumayan. Dalam rumah makan itu hanya nikouw ini
yang menyolok mata. Maka dengan diam-diam ia telah memperhatikan nikouw setengah umur itu.
Nikouw itu seperti mempunyai pembawaan yang sangat agung. Mukanya yang dingin, tidak mempunyai
rasa. Semua seperti tidak mempunyai hubungan dengannya, belum pernah ia memandang atau
memperhatikan kepada siapapun juga.
Koo San Djie sedang memperhatikan orang, tapi orangpun sedang memperhatikan dirinya. Dari tindak
tanduknya nikouw itu dapat memastikan, siapa adanya anak muda ini. Dan tidak terkecuali juga dengan
Tjeng Tjeng yang duduk di sebelahnnya. Dalam pikirannya telah menganggap anak perempuan kecil ini
sangat menyenangkan.
Demikian ia telah menjadi menguatirkan akan satu orang. Waktu adalah obat satu-satunya bagi hati yang
terluka. Tapi waktu juga, racun bagi kekasih yang terpisah. Perhubungan yang terlalu rapat adalah bibit dari
timbulnya cinta.
Ia ingin dapat tahu tentang hati si pemuda, dengan perlahan-lahan ia melagukan syairnya:
Kacang merah terdapat di selatan,
Setahun hanya tumbuh sekali,
Hati-hatilah untuk memilih,
Dia sebagai kenangan mata.
Ucapan perlahan, tapi terang. Jika bukannya orang yang mempunyai latihan puluhan tahun, tidak nanti
dapat mendengar perkataan ini. Orang hanya menyangka, ia sedang berkemak kemik membaca doa.
Tapi Koo San Djie telah dapat memakan Kodok Mas dan Capung Kumala yang mempunyai khasiat luar
biasa, ia dapat mendengar syair itu. Bagaikan genta yang terpukul, hatinya berdebaran dengan keras.
Dalam hatinya bertanya:
“Seorang nikouw yang telah keluar dari keduniawian mengapa masih dapat membuat syair cinta yang
melibat diri?'“
Kecuali satu jawaban baginya, ialah orang yang mempunyai hubungan rapat dengan Ong Hoe Tjoe .
Ia tahu bahwa Ong Hoe Tjoe telah mengangkat seorang nikouw yang bernama Bie Kiu Nie sebagai gurunya
dan mempunyai saudara seperguruan Biauw Hian, Biauw Giok dan lain-lain, mereka terdiri dari kaum
nikouw.
Apa mungkin Ong Hoe Tjoe menceritakan juga tentang pemberian kacang merahnya kepada nikouw ini?
“Ai, mana kau orang tahu hatiku yang rindu kepadanya?” Koo San Djie berkata dalam hati.
Tjeng Tjeng memperhatikan Koo San Djie yang memberhentikan sumpitnya di tengah jalan sedang
melamun di tempatnya, karena itu ia tertawa. Dengan mengetok meja, ia berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hei, apa semangatmu telah kena terbetot oleh siluman tadi?”
Koo San Djie kaget. Dengan keren ia menjawab:
“Janganlah kau sembarang berkata. Ciecie Thing Thing dulunya juga seperti kau, jujur, entah mengapa,
mendadak dia dapat berobah menjadi seperti itu? Kurasa tentu ada sebab-sebabnya. Mungkin juga dia
telah dipaksa oleh orang.”
“Yang sudah pasti, kau sedang dalam keadaan melamun,” Tjeng Tjeng tertawa.
Koo San Djie menggelengkan kepala seperti seorang melamun lagi.
Mendadak Tjeng Tjeng menepok kedua tangan, seolah-olah telah mendapatkan jawaban yang tepat.
Katanya:
“Aku tahulah. Tentu kau sedang memikirkan Ciecie Ong Hoe Tjoe?”
Koo San Djie baru saja mau membuka mulut keburu dipotong lagi oleh Tjeng Tjeng:
“Kau jangan mungkir lagi. Sebuah syair kacang merah telah membuat penyakit rindumu kambuh kembali.
Lekaslah habiskan makanan ini, setelah habis makan, kita harus segera melanjutkan perjalanan.”
Ternyata, biarpun Tjeng Tjeng tidak dapat mendengar, apa yang dikatakan oleh nikouw tapi sedari melihat
Koo San Djie memperhatikan si nikouw, ia juga telah turut memperhatikan. Dilihatnya mulut si nikouw yang
berkemak-kemik. Dari gerakan-gerakannya ini, ia telah dapat menebak, apa yang dikatakan olehnya. Maka,
sewaktu tadi Koo San Djie sedang melamun kemana, ia juga sedang memikir, apa artinya syair ini.
Koo San Djie tidak mau mengadu mulut, percuma saja untuk ia melawan, ia masih bukan tandingannya.
Maka setelah cepat-cepat menyelesaikan makanannya, sambil melemparkan sumpit, ia berkata:
“Aku telah menjadi kenyang. Tapi hari masih siang, kita masih mempunyai banyak waktu. Mari kita mencari
penginapan terlebih dahulu!”
Setelah dua orang ini berlalu, si nikouw telah mendapat jawabannya. Terhadap kekuatiran tadi tidak
beralasan sama sekali.
Maka, dengan diam-diam ia juga telah berlalu dari situ. Ia mau membawa kabar ini kepada seseorang.
Orang ini tidak lain ialah Ong Hoe Tjoe.
Sang malam telah mengurung, seluruh jagat, keadaan sunyi senyap. Dua bayangan hitam terlihat keluar
dari pintu kota, dengan kecepatan yang pesat sekali.
Di antara sinar bintang yang remang-remang terlihat bayangan dua kali berkelebat, dua bayangan sudah
maju jauh ke depan, menuju ke arah pegunungan Pay-hoa.
Salah satu dari bayangan tadi, yaitu seorang anak perempuan kecil, mendadak mendekati kawannya,
dengan perlahan ia berkata:
“Koko San, apa betul Ciecie Hoe Tjoe berada di atas gunung Pay-hoa ini? Jika dia tidak berada di sini, kita
harus bagaimana?”
Kawannya, yaitu Koo San Djie menjawab:
“Kita hanya menyerapi saja. Jika dia tidak berada di sana. kita akan segera pulang kembali. Biarpun Payhoa
Kui-bo bukan orang baik, tapi, sebelum terbukti dia kaki tangan Lembah Merpati, kita tidak usah
menganggunya. Dan lagi dia adalah menjadi gurunya Tju Thing Thing.”
Tjeng Tjeng marah karena mendengar disebutnya pula nama Tju Thing Thing. Dengan ngambek ia berkata:
“Hm, kembali kau telah ingat kepada siluman itu tadi. Jika kau berani bersama lagi, aku tidak mau
memperdulikanmu.”
Koo San Djie dengan menghela napas berkata:
“Adik Tjeng, jangan kau berkata seperti itu. Jika kau mengenal dia sedari dulu, tentu kau tidak akan berkata
demikian. Sebenarnya dia seorang gadis baik.”
Tjeng Tjeng hanya diam saja. Ia tidak mengatakan menyetujui perkataannya dan juga tidak membantah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Jarak antara kota dan gunung Pay-hoa hanya tiga sampai empatpuluh lie saja. Dengan kecepatan kaki Koo
San Djie dan Tjeng Tjeng sebentar kemudian, mereka telah sampai di sana.
Dua orang, bagaikan asap saja, terbang melewati hutan yang lebat dan menuju ke dalam istana Pay-hoa
Kui-bo.
Dari jauh sudah terlihat istana yang berkelak kelik, jaraknya sudah menjadi sedemikian dekatnya. Waktu itu,
mereka telah memasuki daerah yang banyak betul dengan tidak teratur.
Mendadak, Tjeng Tjeng menghentikan langkahnya dan berkata:
“Tunggu! Gunung-gunung ini gunung palsu. Bahkan mereka seperti telah mengatur suatu tin (barisan) di
sini.”
Biarpun Koo San Djie telah merasakan keanehannya batu-batu yang tidak teratur seperti gunung itu, tapi ia
tidak dapat mengetahui sebab musababnya.
Tjeng Tjeng mempunyai darah turunan ayahnya, Pendekar Merpati yang berpengalaman luas, terhadap
macam-macam barisan, mana dapat mengelabui matanya. Dan lagi, otaknya yang tajam, dengan cepat ia
telah dapatkan cara untuk memecahkan persoalan itu.
Ia memandang keempat penjuru sebentar, dan mengetahui, harus memilih jalan yang mana. Dengan
mengluarkan jengekan dari hidung, ia berkata:
“Barisan semacam ini? Huh! Apa guna? Mereka masih berani mengeluarkan untuk menakut-nakuti orang.”
Maka, dengan menarik sebelah tangan Koo San Djie, berliku-liku mereka masuk ke dalam batu yang tidak
teratur. Sebentar saja, mereka berdua telah dapat masuk ke dalam tengah-tengah batu itu.
Jika dilihat dengan kepandaian mereka, ditambah dengan kepintarannya Tjeng Tjeng yang dapat
memecahkan barisan tin, biarpun sampai masuk ke dalam istana juga, tidak ada yang mengetahuinya.
Tapi, keadaan pada waktu itu harus dikecualikan. Sedari mereka keluar kota, mereka telah diikuti
seseorang, orang ini tidak lain ialah Tju Thing Thing adanya.
Karena cintanya tidak terbatas, Tju Thing Thing menjadi penasaran. Ia menjadi membenci Koo San Djie dan
Tjeng Tjeng berdua.
Ia tahu, bahwa mereka tentu akan datang naik ke gunung Pay-hoa dengan maksud mencari kabar Ong Hoe
Tjoe, dan kebetulan, guru barunya ini tidak berada di gunung, maka ia sudah memikir untuk menggunakan
Cit-ceng-siauw-hun-tay-hoat mengurung mereka di dalam barisan tersebut.
Demikianlah, setelah melihat mereka dapat berhasil memasuki ke tengah-tengah barisan, ia sudah mulai
menjalankan akal bulusnya.
Pay-hoa Kui-bo, Si nenek Setan Ratusan Kembang, sengaja membuat barisan Kiu-kang-hun yang tidak
sukar untuk dipecahkan orang, maksudnya ialah agar lebih mudah memancing musuh. Sudah menjadi
kebiasaan dari sifat orang yang selalu mau menang, setelah melihat barisan itu seperti barisan kanak-anak
tidak mengandung perubahan-perubahan yang aneh, tentu mereka tidak heran, maka masuklah orang yang
mau membuktikan tentang pengalaman-pengalamannya yang luas, dan akan jatuhlah dia ke dalam
perangkap Pay-hoa Kui-bo.
Pay-hoa Kui-bo membuat barisan tin ini bukan dengan maksud untuk mengurung orang, yang penting
adalah kelanjutannya.
Sewaktu Tjeng Tjeng menarik tangan Koo San Djie memasuki tengah-tengah tin, mendadak di empat
penjuru terdengar suara deru tambur dipukul, dari celah-celah gunung-gunungan batu itu, mengepul asap
tebal.
Asap-asap inilah yang menyesatkan pandangan mata orang, semacam bau harum semerbak menyerang
sepasang muda mudi itu.
Dibarengi oleh munculnya bayangan-bayangan orang, mereka adalah wanita-wanita berpakaian minim,
dengan tarian yang luwes, hendak melupakan keadaan lawan.
Tjeng Tjeng tertawa dingin, katanya:
“Mereka hendak apa?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Koo San Djie juga tidak mengerti, dengan menggelengkan kepala dia berkata:
“Entahlah.”
Disaat inilah, mereka merasakan sesuatu, kepalanya mulai pusing, hati berdebar-debar dengan pukulan
jantung yang mendengung-dengung, obat perangsang yang ditaburkan oleh asap itu mulai menyerang.
Inilah hasil dari ilmu yang dinamakan Cit-ceng-siauw-hun-tay-hoat itu!
Beruntunglah Koo San Djie memiliki tenaga dalam yang luar biasa, mengetahui keanehan tadi cepat-cepat
dia mengempos tenaga.
Tjeng Tjeng masih terlalu kecil untuk mengetahui hubungan pria dan wanita, ia tidak sadar, bahwa dirinya
telah berada di ujung kehancuran, dengan mulut yang dijebirkan, ia berkata:
“Aduh, sial. Begitu banyak siluman-siluman bergoyang kibul, bagaimana kita bisa mengusir satu persatu?”
Dengan keras, Koo San Djie membentak:
“Lekas gunakan ilmu pernapasan.”
Siapa yang memegang peranan di belakang layar?
Dia adalah gadis sakit hati Tju Thing Thing.
Beruntung Tju Thing Thing tidak menyebar obat 'Penenang hati' yang banyak. Jika sampai terjadi, walau
Koo San Djie dan Liu Tjeng bertahan sekeras mungkin, belum tentu mereka dapat menguasai keberahian
mereka.
Kini Tju Thing Thing mengganti acara, 'Rayuan cinta' belum berhasil, dia merobah barisan tin.
Mendadak, suara lagu-lagupun lenyap, nada tabuh-tabuhan berganti. Seluruh gunung diliputi oleh suarasuara
pembunuhan, para penari mengundurkan diri, terganti dengan suara derap kaki kuda di medan
perang.
Telinga Koo San Djie dan Liu Tjeng dirasakan pekak, banyak sekali suara-suara makian, bentakan, jeritan,
tangisan dan suara lainnya.
Tjeng Tjeng naik darah, tangannya disodorkan, dengan lima jari kecil, dia menyerang barang-barang
jejadian-jejadian itu.
Tidak berhasil, semua bayangan-bayangan lenyap mendadak, dari kiri dan kanannya, datang pula
bayangan-bayangan yang lebih banyak.
Koo San Djie menyilangkan tangan, dia juga menyerang ke empat penjuru.
Kosong. Semua bayangan-bayangan itu terlalu cepat, mereka lenyap atau mengundurkan diri, bila
mendapat serangan, dan mereka muncul tampil kembali dikala serangan sudah mengendor.
“Semakin lama, suara jeritan-jeritan itu semakin hebat, bayangan-bayangan semakin banyak, serangan dan
tekanan asap semakin gencar.
Koo San Djie dan Liu Tjeng hampir menjadi gila. Percuma saja mereka menyerang dan memukul, semua
hanya bayangan yang tidak berwujud.
Dibiarkan kejadian ini berlangsung terus, pasti mereka celaka.
Beruntung, Pay-hoa Kui-bo tidak berada di gunung, sedangkan Tju Thing Thing belum berhasil memahirkan
ilmu sihir yang lebih hebat, hanya terbatas kepada kemampuannya.
Bilamana Pay-hoa Kui-bo yang menggerakkan barisan tin ini, orang-orang yang berada di dalam kurungan
asap hilang ingatan, mereka bisa saling bunuh dan saling terkam, sampai masing-masing babak belur, jiwa
hancur.
Koo San Djie dan Liu Tjeng masih menempur bayangan-bayangan mereka. Belum puas dengan tangan
kosong, masing-masing mengeluarkan senjata, bergebrak pula.
Koo San Djie menggunakan Pit Badak Dewa. Sedangkan Liu Tjeng menggunakan kalung pusaka yang
biasa digunakan oleh almarhum ibunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hasilnyapun terlihat, tanpa disadari, mereka telah mengisolasi suara tabuhan- tabuhan itu, racun asap yang
menyerang mereka tertahan di luar, pikiran kedua muda-mudi inipun agak jernih.
Terdengar suara teriakan Tjeng Tjeng:
“Koko San, mengapa kita berhantam seperti ini? Setengah harian kita pontang panting, mengapa tidak ada
yang terluka.”
Koo San Djie juga sadar, katanya:
“Kita ditipu mereka. Tentu suara tabuhan itu yang mengacau.”
“Mari kita menerjang.” Liu Tjeng memberi usul.
Disaat ini......
Terdengar suara orang yang membaca doa, diiringi oleh suara tak, tak, tok, tok inilah suara bok-hie dipukul.
Bok-hie adalah alat sembahyang dari kaum suci, biasanya digunakan oleh para hwesio dan para nikouw.
Suara ramainya perang telah terhenti. Siliran angin gunung yang dingin telah meniup pergi asap putih tadi,
sebentar kemudian, langit menjadi terang kembali. Pemandangan malam yang indah, bagaikan sebuah
lukisan besar tercetak di alam semesta.
Seorang nikouw dengan lengan bajunya yang lebar, dengan tangan mengetok Bok-khie, bersama dengan
seorang gadis cantik yang membawa pedang di punggungnya berjalan mendatangi.
Koo San Djie sudah dapat mengenali nikouw yang datang adalah si nikouw yang pernah menyairkan syair
kacang merah di dalam rumah makan.
Sewaktu matanya menoleh ke arah gadis yang berdiri di sebelahnya, seketika hatinya hampir meloncat
keluar, kini ternyata, yang datang itu adalah Ong Hoe Tjoe. Dengan tidak terasa, ia telah berteriak:
“Oh Ciecie Hoe Tjoe......”
Badannya bagaikan terbang saja sudah melesat, menghampiri dan menyekal sebelah tangan Ong Hoe
Tjoe. Saking girangnya, sampai ia tidak dapat mengatakan suatu apa.
Dua pasang mata berpandangan. Rasa suka dan duka bercampur menjadi satu. Sekian lama mereka
berpandang-pandangan.
Pandangan matanya jauh lebih berarti dari pada banyak bicara. Hanya dengan pandangan mata ini telah
melunasi hutang rindu mereka.
Ong Hoe Tjoe mempunyai pikiran yang lebih dingin. Dengan perlahan-lahan ia menolak tangan Koo San
Djie dan berkata:
“Adik San, mari kuperkenalkan, inilah suciku yang bernama Biauw Hian.”
Koo San Djie dengan cepat sudah memberi hormatnya.
Biauw Hian merangkapkan kedua tangannya, ia membalas hormat Koo San Djie dan berkata:
“Siaoya tidak usah banyak hormat.”
Lalu ia membalikkan badannya dan berkata kepada Ong Hoe Tjoe :
“Sumoy boleh bersama siaoya ini menjelajah Kang-ouw, aku akan segera kembali ke atas gunung.”
Kemudian ia menganggukkan kepalanya kepada Koo San Djie dan Tjeng Tjeng. Hanya terlihat baju
jubahnya yang besar berkibar, lenyaplah ia dari pemandangan.
Tjeng Tjeng melihat Biauw Hian sampai lenyap dari pandangan matanya, mendadak, ia seperti mengingat
sesuatu apa, lalu menubruk ke dalam pelukan Hoe Tjoe katanya:
“Ciecie Hoe Tjoe kau, tentu tidak kenal kepadaku, tapi aku setiap hari memikirkan tentang keadaanmu.”
Adik kecilnya yang baru ini dalam pandangan Hoe Tjoe ada sangat menyenangkan, ia sudah mengulurkan
tangannya, dan mengelus-elus rambut si adik baru yang hitam, sambil tujukan pandangan matanya ke arah
Koo San Djie.
dunia-kangouw.blogspot.com
Koo San Djie baru ingat, maka ia lekas memperkenalkannya:
“Inilah adik Tjeng Tjeng yang menjadi anak kesayangan dari Pendekar Merpati, supek Liu Djin Liong suami
isteri.”
Ong Hoe Tjoe baru saja mau bicara kepadanya, mendadak, di belakangnya telah terdengar suara bentakan:
“Dari mana datangnya anak-anak liar yang bernyali besar ini, berani datang kemari bercinta-cintaan? Apa
kau sudah bosan hidup?”
Entah kapan datangnya empat pengiring pribadi dari Pay-hoa Kui-bo telah berdiri di belakang mereka dan
mengambil sikap mengurung.
Yang bicara adalah si Hakim Neraka yang berbadan tinggi besar, kepalanya bundar lebar dengan kumis
dan jenggotnya berdiri seperti bulu landak, tampak galak sekali.
Yang berdiri di sebelah timur ialah si Muka Kuda, di sebelah barat Sapi Celaka dan di belakangnya si Babi
Tertawa.
Yang satu lebih jahat daripada yang lain, dengan rupa mereka yang galak persis seperti julukannya.
Koo San Djie memperhatikannya satu persatu, baru ia berkata:
“Berani hanya menyerang dengan cara menggelap, apa sudah menjadi peraturan kalian semua?”
12.29. Di Antara Cinta Dan Kenyataan
Si Hakim Neraka dengan suara yang menyeramkan sudah menjawab:
“Itu hanyalah permainannya para budak perempuan saja.”
Mendadak, dari gunung-gunungan palsu tadi telah keluar pula seorang perempuan yang berpakaian rebo
dengan suaranya yang nyaring berkata:
“Itulah perbuatanku. Aku benci...... aku sudah benci sekali padamu....... ingin sekali aku dapat mengorek
hatimu...... Ini kali gagal, karena datangnya si nikouw sialan itu. Tapi, lihat saja kemudian, aku mesti dapat
membunuhmu......”
Sampai pada perkataannya yang terakhir, suaranya sudah menjadi serak. Tapi ia masih mencoba
meneruskannya juga.
Koo San Djie dapat melihat, yang datang itu adalah Tju Thing Thing, hatinya sudah seperti diiris-iris. Di
dalam hati dia berkata:
“Dia telah menjadi seperti ini, itulah karena perbuatannya sendiri. Mengapa harus menyalahkan kepadaku?”
Pandangannya tidak berani membentur sinar matanya Tju Thing Thing yang mengandung kedengkian.
Berbeda dengan perasaannya Tju Thing Thing, Koo San Djie tidak dapat menyalahkan bekas kawannya ini.
Biarpun Tju Thing Thing memaki-maki akan membunuhnya, tapi ia tidak lantas benci kepadanya. Bahkan
sebaliknya, ia menjadi lebih sayang. Hatinya pedih, seperti saudaranya sendirilah yang mengalami kejadian
ini.
Ia hanya terdiam saja di tempat.
Tapi, Tjeng Tjeng sudah mengeluarkan kepalanya dari dalam pelukan Ong Hoe Tjoe . Ia sudah meloncat
sambil menuding-nudingkan tangan berkata:
“Ternyata, yang ingin membuat kita celaka adalah siluman ini. Jika saja koko San tidak mengatakan bahwa
kau dulunya seorang baik, aku akan segera membunuhmu......”
Koo San Djie dengan menghela napas berkata:
“Adik Tjeng, jangan memaki lagi. Dia harus dikasihani......”
Tju Thing Thing mendengar Tjeng Tjeng memakinya sebagai siluman, sudah tertawa sepert orang gila:
“Ha, ha, ha...... siluman......? Ha, ha, ha...... siluman, Ha, ha, ha, ha......”
dunia-kangouw.blogspot.com
Bagaikan benar-benar gila saja ia sudah pergi meninggalkan tempat itu.
Si Hakim Neraka yang melihat kelakuannya ini tidak menjadi heran, ia menunjuk ke arah Koo San Djie dan
berkata:
“Di pegunungan Pay-hoa ini tidak mengijinkan orang-orang sembarangan berkeliaran. Mengapa kau tidak
lekas membuang senjata dan menyerahkan diri?”
Koo San Djie sedang girang karena dapat menemukan encie Ong Hoe Tjoe, sudah tidak mau terlibat terlalu
lama di sini. Dengan cepat-cepat ia berkata,
“Jika kau ingin bertarung, lekaslah kau maju semua. Aku hanya dapat melayani dalam satu pertandingan
saja.”
Si Hakim Neraka berempat yang biasanya hanya berbuat sewenang-wenang di daerahnya, sudah menjadi
besar kepala, karena belum pernah ada orang yang berani melawan mereka. Maka bajingan ini sudah
merasa bahwa merekalah yang mempunyai ilmu tertinggi, jika tidak melihat Koo San Djie dan Tjeng Tjeng
memecahkan barisan tin yang lihay tadi belum tentu mereka mau melayani. Tidak disangka, Koo San Djie
berani menyuruh mereka berempat maju bersama, inilah satu penghinaan besar. Maka sambil membentak
keras, si Hakim Neraka berkata:
“Bocah ingusan, jangan sombong.......”
Dibarengi oleh serangannya yang pertama, menyerang ke arah dada Koo San Djie.
Koo San Djie menyingkir ke samping, meloloskan serangan. Tidak keburu ia membalas menyerang, karena
di saat yang sama dua tangan yang kecil putih datang menyelak. Tjeng Tjeng, bagaikan sedang
memperebutkan mustika saja, berteriak-teriak:
“Koko San, jangan kau turun tangan. Biarkan aku saja yang sikat semua!”
Ong Hoe Tjoe di belakang Tjeng Tjeng juga sudah turut berkata:
“Adik Tjeng, kasihkan padaku. Aku masih ada pertanyaan yang harus ditanyakan kepada mereka.”
Si Hakim Neraka dengan tertawa berkata:
“Siapa yang maju pun sama saja, cepat atau lambat, tokh tidak dapat lari juga.”
Tjeng Tjeng tidak mau mengalah, ia sudah bersedia maju pula, tapi pikirannya mendadak berobah, ia ingin
juga mengetahui, sampai di mana ilmu kepandaian Ong Hoe Tjoe yang belum pernah dilihatnya ini.
Ong Hoe Tjoe dengan tenang maju ke muka dan berkata:
“Belakangan ini, apa betul ada seorang tua berjubah merah yang datang ke gunung Pay-hoa ini?”
Si Hakim Neraka, biarpun keluaran golongan rimba hijau, hatinya yang keras tidak takut ia berterus terang.
Yang diartikan dengan golongan rimba hijau atau Liok-lim adalah sebangsa perampok atau penjahat.
“Jika betul bagaimana?” jawabnya.
Ong Hoe Tjoe kembali berkata dengan tertawa:
“Kepergiannya Pay-hoa Kui-bo tentu mempunyai hubungan dengan orang tua berjubah merah ini?”
Si Hakim Neraka sudah menjadi tidak sabar. Sambil membentak keras ia berkata:
“Jangan banyak cingcong lagi. Anggaplah saja dia mempunyai hubungan. Apa yang kau ingini?”
Tangannya tidak tinggal diam, ia sudah lantas menyerang.
Dengan tenang, Ong Hoe Tjoe melompat ke samping. Tangannya sudah mencabut pedang yang
menggemblok di bebokongnya. Dengan menunjuk ke arah lawannya ia berkata:
“Lekas keluarkan senjatamu. Aku akan segera menyerang.”
Si Hakim Neraka tertawa terbahak-bahak:
“Hm......! Hanya menghadapi orang seperti kau ini, harus menggunakan senjata?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sambil membuka lima jari tangannya, ia sudah mencengkeram lawannya.
Ong Hoe Tjoe menuruti arah pedang, meneruskan serangannya. Di antara sinar bulan malam, terlihat
bayangan sinar pedang, bagaikan serentetan rantai saja sambung menyambung. Dalam beberapa jurus
saja, ia telah membuat si Hakim Neraka kelabakan setengah mati.
Si Hakim Neraka bukannya orang sembarangan, ia berkelana di kalangan Kang-ouw sudah puluhan tahun.
Ia tidak sangka, ilmu pedang yang ternama yaitu ilmu Pedang Penumpas Iblis, dapat digunakan oleh
seorang anak perempuan. Biarpun badannya sudah terkurung di dalam sinar pedang tapi hatinya masih
tidak gentar. Ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk merebut kemenangan.
Tjeng Tjeng menonton dua lawan itu bertarung. Kemudian memalingkan kepalanya dan bertanya pada Koo
San Djie:
“Koko San, dapatkah Ciecie Hoe Tjoe memenangkan si Landak Neraka ini?”
Sengaja dia menyebut Hakim Neraka menjadi Landak Neraka.
“Tunggu saja sebentar. Tidak berapa jurus lagi, tentu ia akan berhasil, kau lihat......” jawab Koo San Djie.
Mendadak, warna biru berkelebat, sinar pedang berkilat. Si Hakim Neraka sudah berteriak keras, karena jari
kelingking kanannya telah tertebas dan terbang ke tengah udara. Darah masih menetes keluar dari lukanya
ini.
Ong Hoe Tjoe menyimpan kembali pedangnya dengan tenang berdiri di pinggiran.
Tjeng Tjeng sudah bertepok tangan memuji, “Ilmu pedang yang bagus!”
Dibarengi oleh majunya si Muka Kuda dan si Sapi Celaka, mereka berdua sudah lantas membentak:
“Jangan sombong!”
Tjeng Tjeng sudah menjadi gatal tangan, bagaikan seekor burung, ia menubruk ke arahnya si Muka Kuda.
Dan si Sapi Celaka sudah mendapat perlawanan dari Ong Hoe Tjoe. Babi Tertawa yang tidak mau tinggal
diam, juga sudah maju ke arahnya Koo San Djie dan membentak:
“Kau juga jangan berpeluk tangan, he!”
Maka, datanglah serangan ke arah Koo San Djie, siapa lalu memiringkan badannya uutuk menyingkir dari
serangan. Dalam hatinya berpikir:
“Begitupun ada lebih baik, dari pada membuang-buang waktu.”
Biarpun kepandaiannya Babi Tertawa ada berimbang dengan hakim Neraka tapi ia ada lebih licin dari yang
tersebut duluan.
Koo San Djie tidak mau sembarangan melukai orang, setelah membiarkan, lawannya menyerang beberapa
jurus, mendadak, ia memanjangkan tangannya dan mencekal lengan si Babi, dengan menggunakan sedikit
tenaga, ia telah mengeraskan cekalannya dan melepaskan kembali di pinggiran.
Babi tertawa tidak salah mempunyai banyak ketawanya. Biarpun ia merasa malu juga akan kekalahannya
ini, tapi ketawanya masih tidak hilang dari sang muka. Seraya menjura ia berkata:
“Tuan memang mempunyai kepandaian yang sempurna, aku ada sangat mengagumi. Setelah ketua
gunung kita Pay-hoa Kui-bo kembali, silahkan tuan kembali pula.”
Artinya jelas sekali ialah biarpun ia telah dikalahkan oleh Koo San Djie, tapi masih ada Pay-hoa Kui-bo yang
belum kembali. Pada waktu itu, apa lawannya masih berani kembali lagi?
“Pay-hoa Kui-bo telah menggetarkan dunia. Setelah ia kembali, aku juga akan meminta pelajaran darinya,”
jawab Koo San Djie.
Lalu ia memanggil Tjeng Tjeng dan Ong Hoe Tjoe yang sedang bertarung, teriaknya kepada kedua gadis
itu:
“Berhentilah! Mari kita berangkat.”
Ong Hoe Tjoe segera sudah menarik kembali pedangnya. Tapi Ceng Cmg yang nakal, malah menyentilkan
jarinya dengan keras dan telah membuat sebuah lobang kecil di baju si Muka Kuda.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiga bayangan kecil, bagaikan bintang saja mencelat ke bawah gunung.
Empat orang ternama yang menjadi pengiring pribadinya Pay-hoa Kui-bo hanya bisa berpandangan saja.
Mereka kemaluan karena jadi pecundang di kandang sendiri, hanya Si babi yang masih dapat tertawa:
“Hm, untuk sementara biarkanlah mereka pergi. Jika ketua gunung kita telah kembali baru, mereka tahu
rasa......”
Koo San Djie bertiga kembali ke dalam kota, dengan diam kembali ke kamarnya. Tjeng Tjeng sudah lantas
menarik tangan Ong Hoe Tjoe dan diajak masuk ke kamarnya. Mereka berdua kasak kusuk sehingga terang
tanah.
Memang sukar diduga, biarpun Tjeng Tjeng tidak suka kepada Oey Bwee Bwee dan Tju Thing Thing, tapi
terhadap Ong Hoe Tjoe yang baru saja dilihatnya ini, sudah demikian cocok.
Sedari kecil ia sudah ditinggalkan ibunya, juga tidak mempunyai saudara, maka perasaannya terhadap Ong
Hoe Tjoe sudah menjadi sedemikian akrabnya. Perasaannya ini ada berbeda dengan kasih sayangnya
kepada Koo San Djie, yang sedikit mengandung cinta. Tapi perasaan terhadap Hoe Tjoe adalah kasih
sayang terhadap saudara yang lebih tua dicampur dengan rasa sayangnya kepada ibu, karena ia belum
pernah menerima kasih sayang ini dari ibunya almarhum.
Tentu saja, Ong Hoe Tjoe mempunyai daya tarik sendiri. Biarpun ia dilahirkan dalam keluarga nelayan, tapi
ia juga mempunyai pembawaan sendiri yang agung. Biarpun ia berpakaian sederhana, tidak bermake-up,
tapi semua ini tidak dapat mengurangi kecantikannya yang asli. Biarpun umurnya tidak tua, tapi ia
mempunyai pembawaan sebagai saudara tua.
Tentu saja Tjeng Tjeng yang melihatnya menjadi suka.
Koo San Djie kembali ke kamarnya, lantas melatih pernapasannya. Tapi biar bagaimana juga, kali ini ia
tidak dapat menenangkan diri.
Sebentar memikirkan tentang perobahan Tju Thing Thing, sebentar memikirkan tentang kenakalannya
Tjeng Tjeng dan kemudian, memikirkan bertemunya kembali dengan Ong Hoe Tjoe yang tampaknya lebih
cantik dari tempo hari mereka bergaul.
Dendam keluarga Ong Hoe Tjoe. Kesengsaraan gurunya yang disebabkan oleh saudara seperguruannya
yang jahat, dua pesuruh Pendekar Merpati yang melarikan diri, dan lain-lain, harus diselesaikannya satu
persatu.
Pikirannya tidak tenang, sebentar saja merasakan datangnya pagi. Ong Hoe Tjoe dan Tjeng Tjeng juga
telah keluar dari kamarnya masing-masing.
Mereka bertiga dengan riangnya telah mulai dengan sarapan pagi. Baru pada waktu itu, Ong Hoe Tjoe
dapat menuturkan pengalamannya:
Ternyata pada waktu Koo San Djie keluar untuk membantu ayahnya menangkap ikan, Ong Hoe Tjoe pergi
ke belakang untuk membantu ibunya memasak nasi, telah datang masuk seorang wanita yang mengaku
bernama Oey Bwee Bwee dan memuji-muji Ong Hoe Tjoe yang mempunyai bakat bagus. Lalu
mengajaknya untuk pergi bersama-sama ke dalam Lembah Merpati untuk belajar ilmu silat, katanya. Tidak
lupa, Oey Bwee Bwee memuji-muji tentang kebagusannya Lembah Merpati.
Ong Hoe Tjoe tidak gampang-gampang dipancing, dengan hanya menggunakan beberapa perkataan saja.
Ia mengatakan, segala urusan baiknya dirundingkan setelah ayahnya dengan Koo San Djie kembali dari
menangkap ikan.
Tiba-tiba Oey Bwee Bwee telah menotok jalan darahnya dan membawa ia pergi meninggalkan rumah.
Ibunya yang coba menahan sudah dibanting mati.
Bagaimana ia dibawa ke dalam pesanggrahan Liong-sun-say untuk menunggu Koo San Djie, yang akan
sama-sama dibawa ke dalam Lembah Merpati.
Dan pada waktu itu, berbarengan dengan datangnya Koo San Djie, Hu-hay Sin-kun sekalian, ia telah
ditolong oleh Biauw Hian dan dibawa ke atas gunung untuk diberi pelajaran ilmu silat.
Gurunya sangat sayang kepadanya, maka dengan dapat bantuan obat-obatan ia mendapat kemajuan pesat
sekali dalam waktu singkat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada bulan yang baru lalu, ia diperbolehkan turun gunung, dengan diikuti oleh toa-sucienya Biauw Hian
untuk menjaganya dalam sewaktu-waktu menemui kesulitan.
Di tengah jalan, ia telah berjumpa dengan seorang tua berjubah merah, maka ia balik ke utara mengikuti
jejaknya orang ini.
Ia pernah mendengar cerita gurunya yang mengatakan bahwa orang dari Lembah Merpati yang mempunyai
kepandaian tertinggi ialah orang yang berpakaian merah dan putih.
Orang tua ini dengan umurnya yang lebih dari tujuhpuluh tahun masih mengenakan jubah merah ada
sangat janggal sekali, maka ia telah menyangka akan orang dari Lembah Merpati.
Tidak disangka orang tua berjubah merah ini mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, maka ia tidak
berani terlalu dekat mengikutinya. Karena inilah sehingga sampai di daerah Ho-pei ia telah kehilangan jejak
orang tua tersebut.
Di daerah Ho-pei ini adalah Pay-hoa Kui-bo yang mempunyai kekuasaan terbesar, siapa tidak mempunyai
nama baik di kalangan Kang-ouw. Maka kemungkinan besar sekali jika nenek itu telah ditarik masuk
menjadi anggota Lembah Merpati, dan besar sekali kemungkinannya orang tua berjubah merah tadi datang
kemari.
Maka ia telah naik ke gunung Pay-hoa untuk mencari tahu keadaannya.
Tapi di tengah jalan ia telah mendapat kabar dari toa-sucinya bahwa Koo San Djie juga sedang menuju ke
gunung Pay-hoa. Maka mereka berdua, dengan diam-diam telah mengikuti dari belakang.
Setibanya mereka, kebetulan sekali Koo San Djie dan Tjeng Tjeng berdua sedang terkurung oleh Cit-cengsiauw-
hun-tay-hoat, maka dengan membaca doa telah menolong mereka.
Baru sekarang Koo San Djie mengetahui bahwa yang menjadi algojo ialah Oey Bwee Bwee. Sambil
menghela napas ia berkata:
“Yah, akhirnya si algojo telah binasa juga. Tapi heran mengapa dia mati tanpa sebab?”
Oey Bwe Bwee mati karena terlambat makan obat panjang umur.
Terdengar Hoe Tjoe berkata,
“Yang benar-benar menjadi musuhku ialah ketua Lembah Merpati, ini yang menjadi biang keladi. Guruku
pernah mengatakan, bahwa yang tersangkut, bukannya aku seorang, masih banyak orang lain yang
menerima nasib sama. Mengharapkan kita berdua, dengan bantuan tenaga orang terkemuka dari berbagai
macam golongan, membasmi Lembah Merpati yang menjadi pusat keonaran.”
Setelah berhenti sebentar dan melihat Tjeng Tjeng yang duduk di sebelahnya dengan asyik sekali
mendengarkan, ia lalu melanjutkan penuturannya:
“Yang sering keluar di kalangan Kang-ouw seperti Oey Bwee Bwee dan kawan-kawannya hanyalah
sebangsa pesuruh dari Lembah Merpati saja. Sebelum mereka keluar dari Lembah Merpati, mereka
diharuskan menelan semacam pil beracun, jika tidak kembali pada waktu yang telah ditetapkan, maka racun
ini dapat menjalar dan membinasakan. Oey Bwee Bwee mungkin juga mati karena racun itu.”
“Kiranya begitu! Yang sial adalah Cong-lam-pay, golongan ini dipaksa menanggung jawab atas
kematiannya.”
Koo San Djie terdiam sejenak. Tapi mendadak, ia lompat dari tempatnya, membuat Tjeng Tjeng menjadi
kaget. Sambil mendorong tubuh sang kawan, ia berkata
“Hai. Apa yang kau pikirkan? Kau membuat orang menjadi kaget saja.”
Koo San Djie berkata:
“Ciecie Hoe Tjoe bukan telah mengatakan, kecuali ketua lembah, orang yang berbaju merah dan putih
adalah yang mempunyai kepandaian tertinggi? Barusan, wanita berbaju putih yang bertempur denganmu
yang kau sangka ada hubungannya dengan pelayan-pelayan ayahmu yang telah melarikan diri dengan
membawa barang-barang, mungkin sekali pelayan-pelayan itu telah menjadi orang Lembah Merpati.”
“Betul!” jawab Tjeng Tjeng. “Aku juga telah curiga kepada mereka. Kepandaian Sari Pepatah Raja Woo,
kecuali mereka berdua orang tidak dapat menggunakannya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Demikianlah, mereka bertiga bicara tentang bermacam-macam urusan dan juga tujuan selanjutnya.
Tjeng Tjeng mengusulkan agar mereka segera menyusul para ketua partai yang kini sedang menuju ke
dalam Lembah Merpati.
Ong Hoe Tjoe tidak mengeluarkan pendapat apa-apa tentang usul ini. Tapi Koo San Djie yang ingat akan
Tiauw Tua, mengusulkan agar mereka mencari Tiauw Tua terlebih dahulu, baru menetapkan perjalanan
dengan minta petunjuk orang tua itu.
Pada waktu mereka belum mendapat kepastian, mendadak di luar telah terdengar suara orang yang tertawa
terbahak-bahak. Dibarengi dengan terpentangnya pintu, tampak ada dua orang yang berjalan masuk.
Yang pertama adalah Tiauw Tua, di belakangnya mengikuti Sastrawan Pan Pin yang sudah lama tidak
bertemu dengan Koo San Djie.
Sastrawan Pan Pin yang jenaka, begitu memasuki ruangan sudah membuka suara:
“Selamat, selamat...... selamat kepada saudara kecilku......” sedang matanya terus mengawasi Ong Hoe
Tjoe .
Koo San Djie tertawa. Ia tahu dirinya sedang digoda oleh Sastrawan Pan Pin, maka lalu berkata:
“Locianpwe sangat keterlaluan. Baru saja ketemu, sudah menggoda orang.”
Tjeng Tjeng pelototkan kedua matanya yang kecil jeli, sehingga membuat Sastrawan Pan Pin menjadi
mengkeret, perkataan yang sudah sampai ditenggorokannya telah ditelannya kembali.
Tiauw Tua dengan tidak memutar-mutar lagi sudah memberi laporan:
“Barusan si sastrawan miskin ini telah mendapat kabar bahwa betul sembilan ketua Partai dari berbagai
macam golongan sudah mendapatkan jalan menuju ke tempat Lembah Merpati. Biarpun kita tidak
mengetahui betul atau tidaknya Lembah Merpati ini paling baik kita segera pergi menyusul.”
Beberapa patah perkataan ini telah menentukan tujuan mereka. Pada hari itu juga, segera mereka berlima
berangkat, pergi menyusul sembilan ketua partai yang menuju ke tempat yang dikatakan Lembah Merpati.
Siapa sangka, perjalanan mereka berlima ini bukannya menemui letaknya Lembah Merpati yang tulen,
malah melihat suatu pemandangan yang dapat membangunkan bulu roma.
13.30. Jago-jago Ulung Bertempur di Dalam Rimba
Koo San Djie dan kawan-kawan, mulai berangkat, sebagai pelopor ialah sastrawan Pan Pin, yang katanya
mengetahui, di mana tempat letaknya Lembah Merpati yang termashur itu. Demi keselamatan sembilan
orang yang menjabat ketua-ketua dari sembilan partai, mereka tidak membuang-buang waktu lagi.
Di tengah perjalanan. Tjeng Tjeng yang tahu diri sudah memisahkan dirinya dari Koo San Djie dan Ong Hoe
Tjoe, agar mereka berdua yang telah berpisah lama mempunyai kesempatan yang banyak untuk
membicarakan soal dan kejadian-kejadian selama perpisahan. Setiap hari, ia merengek-rengek pada si
Sastrawan Pan Pin untuk menceritakan pengalamannya.”
Sastrawan Pan Pin, yang sudah lama berkelana di kalangan Kang-ouw, selalu bergembira, belum pernah ia
mengenal apa yang dinamakan susah. Kini mendapat kawan seperjalanan sebagai Tjeng Tjeng yang lincah
dan menyenangkan, mana ia tidak menjadi gembira.
Tapi ia juga ada sedikit takut akan kawan kecil yang nakal dan banyak lagunya ini. Jika bukan ditarik
jenggotnya, tentu dikitik sampai ia tertawa terpingkal-pingkal.
Ia tidak dapat melepaskan dirinya dari gangguan ini dan juga tidak dapat memasang muka asam, sebagai
orang lebih tua, orang yang paling celaka, ia melakukan perjalanan ini.
Setelah Tjeng Tjeng menjauhi Koo San Djie tentunya Koo San Djie dapat lebih leluasa jika berbicara
dengan Ciecie Hoe Tjoe nya. Tapi kenyataannya tidak demikian, terhadap Koo San Djie, Ong Hoe Tjoe
menjadi adem saja, bagaikan kawan biasa, tidak menunjukan perasaan-perasaannya yang berlebih-lebihan.
Ia berusaha untuk mendekati Tiauw Tua, dengan meminta petunjuk ini dan itu sehingga tidak memberi
kesempatan untuk Koo San Djie bicara banyak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja Tiauw Tua tidak dapat tidak melayani setiap hari, dengan teliti ia memberi penjelasanpenjelasan.
Dari ilmu silat sampai kebermacam-macam partai yang berada di dunia dan pantanganpantangannya.
Sikap Ong Hoe Tjoe telah berubah banyak. Ini bukan sifat yang aslinya, ia kini telah berobah menjadi adem,
seperti tersiram oleh air es saja. Mengapa ia harus berobah seperti ini? Inilah satu penderitaan bagi para
wanita jaman itu yang masih terkena racunnya peraturan-peraturan kuno. Biarpun ia ada sangat mencintai
kekasihnya, tapi ia harus memelihara sopan santun yang sudah ditetapkan.
Mereka tidak berani melanggar peraturan-peraturan kuno ini, mereka tidak berani terang-terangan
menunjukkan perasaan cintanya. Perasaan mereka ini telah dapat dilihat dari pandangan mata atau gerak
gerik.
Ada kalanya, mereka memperlakukan kekasih mereka lebih kejam dari pada terhadap laki-laki lainnya.
Mereka menganggap seperti tak kenal atau tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Inilah seperti suatu
kejadian yang tidak masuk diakal.
Hoe Tjoe sebagai anak nelayan, sebenarnya tidak mempunyai sifat-sifat yang seperti ini, itulah karena
gurunya yang telah menyuruh membaca kitab-kitab yang penuh segala macam peraturan-peraturan tentang
bagaimana caranya sebagai seorang wanita membawa diri. Dan tentu saja cara-cara itu adalah cara-cara
kuno.
Dan disamping buku-buku peraturan kuno ini, iapun diharuskan mencontoh kelakuan-kelakuan Biauw Hian,
sang toa-suci yang sebagai satu perawan tua mencukur dirinya sebagai nikouw.
Maka, demikianlah kekangan peraturan-peraturan kuno telah menutupi cintanya terhadap sang kekasih.
Tapi biarpun demikian, dalam hati kecilnya ini, ingin sekali ia dapat menarik tangannya Koo San Djie, setiap
hari bergandengan berdua.
Koo San Djie yang tidak tahu, mana dapat merasakan perasaannya ini? Ia hanya merasa Ciecie Hoe Tjoe
nya telah berobah jauh, berobah sehingga hampir saja tidak mau mengenalnya. Saking kesal rasa hatinya,
sifat kerbaunya telah kambuh pula.
Selalu ia bergumam:
“Hm, mereka sekarang sudah tidak mau mengenalku lagi. Tunggu saja sampai urusannya dengan Lembah
Merpati telah selesai, baru kutanyai mereka.”
Maka, setiap hari ia berjalan di paling buntut. Dengan berjalan perlahan-lahan, ia selalu meninggalkan diri
dari mereka.
Pada suatu hari, selagi ia berjalan di belakang sambil melamun, kupingnya yang tajam dapat menangkap
suara bentakan dan dibarengi oleh suara berkisarnya banyak baju yang seperti lewat di sampingnya.
Tidak ada waktu untuk memberi kabar kepada Tiauw Tua, dengan sekali berkelebat, tubuhnya sudah turun
naik masuk ke dalam rimba.
Pada suatu tempat kosong di dalam rimba, terlihat dua orang yang sedang berhadap-hadapan. Yang satu
dengan rambut riap-riapan, muka biru dan mempunyai caling yang besar keluar dari sela-sela mulutnya.
Yang satu lagi adalah seorang tua berbaju kuning dan biru dengan kepalanya memakai kopiah yang
berwarna kuning emas.
Koo San Djie menjadi bercekat. Inilah orangnya yang telah merebut peta jalan Lembah Merpati. Dan
bukankah ia menjadi musuh besarnya dari supeknya?
Terdengar si orang bercaling yang berambut riap-riapan berkata:
“Kim Ting Sa, jika betul kau telah mendapatkan itu ilmu Sari Pepatah Raja Woo, aku si Kepala Setan
Srigala, akan meminta bagiannya.”
Orang tua berkopiah mas mendongak ke atas berkakakan:
“Tidak salah. Sari Pepatah Raja Woo, memang betul berada di badanku. Tapi kau Kepala Setan Srigala
tidak mempunyai bagian sama sekali.”
Kepala Setan Srigala tertawa dingin:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau mengandalkan berapa ilmu kepandaian itu untuk melawan kepadaku? Tapi kau juga tentu tahu
adatnya dari Kepala Setan Srigala yang tidak dapat dirobah. Sedari ini waktu jangan harap kau dapat
bekerja tenang.”
Perkataan ini dibarengi oleh serangannya yang bertubi-tubi.
Kim Ting Sa tertawa dingin, badannya melompat ke kanan dan ke kiri, menghindarkan empat kali
serangannya Kepala Setan Srigala.”
Caling-caling dari Kepala Setan Srigala beradu beberapa kali, sambil meluruskan kedua tangannya
disodorkan maju ke depan.
Si Kopiah Mas Kim Ting Sa tangannya tidak mau tinggal diam, ia juga telah memapaki datangnya serangan
Kepala Setan Srigala.
Bau busuk lantas tersebar kemana-mana, karena beradunya dua pukulan tadi. Dua lawan itu juga telah
terpental mundur dari tempatnya masing-masing.
Kepala Setan Srigala mempelototkan kedua matanya, ditambah dengan caling gigi yang menakutkan
sehingga semakin galak. Ia sudah bersedia maju kembali, mendadak, terdengar suara orang ketiga yang
menyelak:
“Tunggu dulu! Aku Pay-hoa Kui-bo juga mengingini barang itu.”
Di tengah lapangan segera telah bertambah seorang nenek kurus kering yang berambut merah.
Dengan menggunakan tongkatnya, si nenek kurus kering yang hampir terlihat tulang-tulangnya, mengetok
ke tanah dan berkata lagi:
“Kim Ting Sa, berani kau menentang usulku?”
Perkataan Pay-hoa Kui-bo jika bukannya diucapkan pada waktu itu, Kim Ting Sa tentu sudah
menyerangnya. Tapi di sini, ia tidak berani berbuat demikian, dua musuh yang berada di depannya bukan
musuh sembarangan. Ia tidak akan dapat menahan serangan dari mereka berdua. Maka dengan tertawa
terpaksa ia berkata:
“Aku Kim Ting Sa, sebenarnya belum pernah mengalah kepada orang lain, tapi ini kali karena gara-gara
buku rombeng ini, harus menelan hinaan-hinaan orang. Demi keselamatannya kita semua, kurasa......”
Koo San Djie sampai di sini tidak dapat menahan sabarnya lagi. Ia sangat curiga tentang kitab Sari Pepatah
Raja Woo, yang sedang diperebutkan mereka. Kitab Sari Pepatah Raja Woo, adalah milik supeknya,
mengapa Kim Ting Sa juga dapat mempunyainya? Ia sedari tadi sudah ingin keluar dari tempatnya, sewaktu
melihat Kepala Setan Srigala menyerang, ia membatalkan niatannya. Kemudian dilihatnya juga si nenek
Setan Ratusan Kembang Pay-hoa Kui-bo juga telah datang kemari, dengan sekejap mata saja mereka
bertiga akan berserikat, mana ia tidak menjadi sibuk? Maka dengan cepat ia sudah lompat keluar, untuk
memutuskan pembicaraan mereka.
“Tunggu dulu,” kata Koo San Djie. “Aku ingin mengetahui, dari mana kitab Sari Pepatah Raja Woo ini
didapat?”
Kim Ting Sa melihat pada Koo San Djie sebentar, tapi ia tidak melayaninya, Kepala Setan Srigala malah
tidak mau melihatnya sama sekali.
Tidak demikian dengan Pay-hoa Kui-bo, dengan mengetrukkan tongkatnya, ia membentak:
“Kau siapa? Berani bicara di sini?”
“Aku Koo San Djie!” jawabnya marah.
Lalu dihadapinya Kim Ting Sa dan berkata:
“Kim Ting Sa, jika kau tidak mau mengatakannya, jangan harap kau dapat pergi dari sini!”
Pay-hoa Kui-bo menjadi marah, karena ia tidak diladeni, dengan sekali angkat, tongkatnya sudah mengarah
ke jurusan Koo San Djie.
Koo San Djie bagaikan sebuah gunung kecil, berdiri menahan serangan tiga kali serangan tongkat Pay-hoa
Kui-bo.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tetapi ia masih tidak mau melayaninya terus. Dengan sekali loncat saja ia sudah berada di depan Kim Ting
Sa kembali. Dengan keras ia membentak,
“Apa kau tuli, tidak mendengar pertanyaanku?”
Kim Ting Sa mempunyai derajat yang tidak rendah di kalangan Kang-ouw dan juga kepandaiannya tidak
berada di bawah sepasang pendekar Merpati Liu Djin Liong suami istri. Tadi ia telah mengalah kepada
Kepala Setan Srigala dan Pay-hoa Kui-bo karena terpaksa. Mana ia dapat membiarkan seorang anak kecil
seperti Koo San Djie membentak-bentaknya?
Dengan mendadak, mukanya telah berobah. Seiring dengan kibasan lengan bajunya, sebuah aliran yang
dahsyat telah datang menyerang ke arah Koo San Djie.
Koo San Djie sudah tahu bahwa tenaga lawan barunya ini besar sekali, ia tidak berani terlalu memandang
rendah kepadanya. Dengan sekuat tenaganya jurus Ombak menyapu Ribuan Sampah dikeluarkan
memapaki datangnya serangan.
“Beleduk”. Dua tenaga saling bentur. Koo San Djie tidak tahan untuk tidak mundur setindak.
Kim Ting Sa tergetar hatinya, satu anak kecil berani mengadu kekuatan dengannya?
Matanya menjadi beringas, karena badannya tergetar juga menerima pukulan tadi. Dengan cepat, ia
menyerang tiga kali beruntun, ia tidak mau membuang-buang tenaga lagi, tiga pukulan ini dikeluarkan
dengan tenaga penuh. Ia merasa dan mengharapkan dengan tiga pukulannya yang keras ini, dapat
membinasakan anak kecil yang kurang ajar.
Koo San Djie sekali menerima kerugian, sudah ingin maju kembali untuk menyerang, disaat ini, tiga
pukulannya Kim Ting Sa bagaikan gunung saja menindih kepalanya.
Maka, dengan menggertak gigi, ia obral semua kepandaiannya, Langit dan Bumi Pandang Memandang,
Hujan Angin Menderu-deru dan Sungai dan Laut Sambung Menyambung, hampir berbareng keluar dari
telapak tangannya. Tapi biar bagaimanapun, ia masih kalah setingkat dengan Kim Ting Sa yang telah
kawakan.
“Duk, duk, duk,......” Ia harus mundur tiga kali. Terasa dadanya bergolak dan semua isi dalamnya telah
terluka.
Kim Ting Sa juga merasakan pening di kepala. Justru karena inilah yang menambah keinginannya untuk
dapat membunuh mati anak yang di hadapannya.
Dengan membuka suaranya seperti genta, ia berteriak:
“Bocah kurang ajar, sambut lagi pukulanku ini.”
Sebelah tangannya dimajukan pula ke depan, dengan kekuatan yang masih ada padanya, Kim Ting Sa
memukul pula.
Koo San Djie yang baru saja mengatur pernapasannya untuk dapat mengembalikan kembali tempat
letaknya dari isi dalamnya, telah melihat juga, ia akan menerima serangan maut. Tapi ia tidak diberi
kesempatan untuk berpikir, maka dengan merangkapkan kedua tangannya, disodorkan ke depan untuk
menahan serangan ini dengan sebisa-bisanya.
Terdengar suara gemuruh yang seperti geledek, dibarengi oleh terangkatnya batu dan pasir yang berada di
situ. Koo San Djie bagaikan orang yang sedang mabok keras, sempoyongan dan mundur lagi ke belakang.
Dadanya seperti diiris-iris oleh pisau yang tajam. Ia tahu, inilah berarti semua isi dalamnya telah berpindah
tempat dari asalnya.
Kim Ting Sa biarpun telah berhasil dengan pukulan geledeknya ini membuat Koo San Djie terluka parah,
tapi ia sendiri juga tidak mudah mendapat untung darinya. Dirasakan kedua tangannya kesemutan, dadanya
juga dirasakan agak sesak. Di sekelilingnya terdapat musuh-musuh yang tangguh, ia tidak meneruskan
serangannya dan juga tidak berani menunjukkan lukanya. Dengan tenang, ia memaksa tertawa. Tapi
dengan cepat ia mengatur jalan darahnya.
Tapi Kepala Setan Srigala dan Pay-hoa Kui-bo bukannya anak kemarin, mata mereka mana dapat
dikelabui? Dengan tertawa dingin Kepala Setan Srigala sudah maju berkata:
“Kim Ting Sa, beraninya hanya terhadap anak kecil saja. Lekaslah bereskan urusan kita orang. Jika tidak,
hm, nanti jangan salahkan aku Kepala Setan Srigala keterlaluan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kim Ting Sa seperti tidak mendengar perkataan ini, ia hanya mengatur pernapasannya dengan menutup
kedua mata.
Pay-hoa Kui-bo tertawa dingin, tongkatnya diangkat tinggi, dengan kecepatan yang luar biasa, sudah
dipukulkan ke arah Kim Ting Sa.
Dari suara angin, Kim Ting Sa sudah mengetahui akan datangnya bahaya, dengan segera ia sudah
membuka matanya dan membentak keras:
“Jangan kau tidak memandang mata kepadaku.”
Dua lengan bajunya dikibaskan dengan keras, bagaikan dua gunting saja, sambaran angin ini memotong
datangnya serangan. Tidak menunggu sampai tongkatnya Pay-hoa Kui-bo yang kedua kalinya turun
menyerang, ia sudah mendahului memukul beruntun tiga kali.
Pukulan Kim Ting Sa dahsyat sekali, Pay-hoa Kui-bo terpaksa harus mundur ke belakang. Tapi ia masih
penasaran, matanya yang tadinya hampir tidak terlihat karena keriputan, kini telah dibuka lebar-lebar.
Tongkatnya sudah dipalangkan, bersedia menyerang dengan lebih hebat lagi.
Tapi, mendadak dari udara terdengar suara seorang wanita:
“Pay-hoa Kui-bo, tunggu dulu. Masih ada aku Selendang Merah yang masih......”
Dibarengi oleh sinar merah yang berlelebat, seorang wanita berbaju merah yang cantik berada di antara
Pay-hoa Kui-bo dan Kim Ting Sa.
Kim Ting Sa melihat orang yang datang ini menjadi lebih berkuatir. Dalam hatinya berpikir:
“Orang-orang ini mempunyai telinga yang tajam sekali.”
Pay-hoa Kui-bo yang sudah naik darah mana mau mengerti. Ia sudah menjadi semakin kalap saja, dengan
galak ia membentak:
“Urusanku jangan kau coba campur tahu?”
Tongkatnya dikeprak ke depan mengarah tubuh Kim Ting Sa.
Mendadak, sinar merah berpecah, tongkatnya Pay-hoa Kui-bo yang sedang mengarah pinggang Kim Ting
Sa sudah terlibat oleh selendang merahnya si Selendang Merah.
Selendang Merah tertawa berkikikkan:
“Nenek setan, buat apa kau terburu napsu?”
Tangannya Pay-hoa Kui-bo yang memegang tongkat menjadi bergetar. Maka dengan cepat ia sudah
menarik kembali tongkatnya dan membentak:
“Hai, selendang Merah, mengapa kau membantunya?”
Si Selendang Merah sudah tertawa, bagaikan sekuntum bunga yang sedang mekar. Setelah tertawa sekian
lama, baru terdengar ia menjawab pertanyaan si nenek:
“Semua mesti mendapat bagian. Aku juga ingin melihat kitab Sari Pepatah Raja Woo yang terkenal.”
Waktu Koo San Djie dengan diam-diam sudah dapat memulihkan kembali isi dalamnya. Sambil
memuntahkan darah matinya, ia berkata:
“Dasar bangsa kurcaci yang tidak tahu malu, barang colongan saja harus diperebutkan setengah mati.”
Pemuda itu bertindak maju sampai di hadapannya Kim Ting Sa dan bertanya:
“Kim Ting Sa, aku hanya bertanya satu pertanyaan kepadamu, apa betul itu kitab Sari Pepatah Raja Woo
kau dapatkan dari Makam Merpati?”
Semua orang iang berada di situ menjadi melengak. Mereka memuji anak gembala yang mempunyai nyali
besar dan latihan sempurna ini. Biarpun ia telah terkena pukulan Kim Ting Sa sehingga mendapat luka
dalam, tapi masih demikian gagahnya, tidak mengenal takut akan si kuat.
Kim Ting Sa tertawa sombong
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hei, bocah, kau pernah apa dengan Liu Djin Liong? Meskipun betul kitab ini miliknya, kau bisa apa?”
Koo San Djie menjawab dengan tegas:
“Sepasang pendekar Merpati adalah supekku. Aku berhak untuk mengambil pulang kitab itu. Kau jangan
harap dapat pergi, sebelum mengembalikan kitab curianmu.”
Kim Ting Sa tertawa dingin:
“Dengan kepandaianmu ini masih belum cukup untuk meminta pulang kitabnya. Kau boleh pulang dan
katakan kepadanya bahwa betul kitab Sari Pepatah Raja Woo telah kuambil. Jika betul dia laki-laki, boleh
datang ke tempatku lembah Sin-sa untuk mengambil pulang barangnya. Dan katakan juga aku masih ada
urusan lama yang akan diselesaikan kepadanya.”
Koo San Djie menjadi marah.
“Aku tidak percaya tidak dapat menandingimu!” teriaknya.
Ia mengangkat sebelah tangannya, dari ke jauhan menengok ke arahnya.
Terdengar suara si Kepala Setan Srigala, berteriak:
“Bocah, jangan sembarangan mengacau?”
Ia maju dua langkah dan juga mengeluarkan tangannya, menahan datangnya serangan yang ditujukan ke
arah Kim Ting Sa. Ia sudah dapat melihat bahwa kepandaian Koo San Djie tidak rendah, ia takut Kim Ting
Sa nanti terlibat olehnya dan mengganggu urusan di antara mereka.
13.31. Penyesalan Hati Tju Thing Thing
Tidak disangka memang si Kepala Setan Srigala lagi buruk nasib, pukulan Koo San Djie ini adalah salah
satu dari tiga buah pukulan geledeknya, biarpun Kim Ting Sa, juga belum tentu berani memasang dirinya,
apa lagi Kepala Setan Srigala.
Begitu dua buah pukulan terbentur menjadi satu, Kepala Setan Srigala sudah terhuyurg mundur beberapa
tindak. Darahnya bergolak, dari kedua hidungnya berkelak-kelik mengeluarkan asap biru. Maka ia menjadi
panas hati. Dari mulut, hidung dan kupingnya mengeluarkan asap biru, ditambah mukanya yang bercaling
sudah menambah keseramannya saja.
Koo San Djie berteriak kaget:
“Oh, Yun-ling-pay-kuk-kang. Kau mempunyai hubungan apa dengan itu dua jejadian hidup?”
Kepala Setan Srigala memberhentikan tindakannya, dengan heran bertanya:
“Apa kau kenal dangan mereka?”
Koo San Djie menjawab:
“Dengan menggunakan bangkai-bangkai manusia untuk melatih diri, ada sangat keterlaluan sakali. Mereka
sudah membunuh orang bukan sedikit, maka aku membunuhnya.”
Kepala Setan Srigala yang mendengar di hadapannya, orang mengatakan telah membunuh dua murid
kesayangannya, mana tidak menjadi kalap. Tidak menunggu sampai Koo San Djie melanjutkan
penuturannya ia sudah maju menubruk.
Mendadak, sehelai selendang merah berkelebat lagi, seperti naga api, telah melintang di hadapannya si
Kepala Setan Srigala.
Suara nyaring yang merdu berkata:
“Jika demikian, hutang mereka yang telah melukai adikku, harus kau yang menalanginya.”
Dihalangi sehelai selendang merah ini, terpaksa Kepala Setan Srigala harus tunduk juga. Dengan mendelik
ia berkata:
“Hai, Selendang Merah, apa kau mau campur tangan?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Selendang Merah tertawa:
“Bukan saja campur tangan. Bahkan aku masih mau membuat perhitungan denganmu. Tapi tidak apa,
urusan ini kita ke sampingkan dulu. Yang penting, bagaimana dengan urusan kitab itu?”
Lalu ia berpaling ke arah Kim Ting Sa dan berkata:
“Sekarang, kita menjadi empat orang, bagaimana jika dengan mengadu kepandaian memperebutkan kitab?”
Kim Ting Sa yang licik tahu, ia tidak mudah meloloskan diri dari sedemikian banyaknya orang, tapi
kemudian ia telah mendapatkan suatu akal yang bagus untuk melepaskan diri dari mereka. Dalam hati
diam-diam ia berkata:
Dia mengusulkan dengan cara mengadu kepandaian. Jika waktunya kuundurkan, bukankah pada waktu itu
aku telah mempunyai cukup waktu untuk mempelajarinya?
Maka dengan tertawa ia menghadapi orang banyak:
“Jika semua setuju dengan mengadu kekuatan, setahun lagi, aku akan menunggunya di tempatku lembah
Sin-sa, tapi hanya terbatas dengan kita empat orang, bagaimana?”
Mendadak terdengar pula suara yang asing bagi mereka:
“Mengapa hanya empat orang saja? Apa aku tidak kebagian?”
Dari atas pohon loncat turun seorang tua berbaju merah, dengan gerakannya yang ringan sekali.
Semua jago yang berada di situ menjadi terkejut, karena orang dapat sembunyi di atas mereka dengan
tidak diketahui sama sekali. Tetapi mereka mana mengetahui, bahwa orang tua berbaju merah ini bukannya
orang sembarangan juga.
Yang paling kaget adalah Koo San Djie.
“Orang tua ini tentu orang Lembah Merpati. Kecuali orang dari Lembah Merpati, tidak ada orang tua lain
yang memakai baju merah seperti ini.”
Biarpun dalam hatinya memikir begitu, tapi ia sudah tidak ada waktu untuk menanyakannya. Dengan
menggunakan kecepatan Awan dan Asap Lewat Di mata, ia sudah menyelak di antara mereka dan berdiri di
hadapan Kim Ting Sa.
“Kim Ting Sa, jangan kau berani mati sembarangan memperebutkan barang orang lain. Jika kau tidak
kembalikan Kitab Sari Pepatah Raja Woo, jangan harap kau dapat lari dari sini.”
Kim Ting Sa tertawa menyindir:
“Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk mengadu mulut. Kau boleh panggil Liu Djin Liong menghadap
kepadaku.”
Lalu ia berpaling ke arah si orang tua berbaju merah yang baru datang, dan berkata kepadanya:
“Setahun kemudian, aku Kim Ting Sa menunggu kalian di lembah Sin-sa.”
Tidak menunggu jawaban lagi, ia sudah loncat tinggi ke atas untuk dapat melarikan diri dengan terlebih
mudah.
Tapi maksudnya tidak gampang tercapai. Koo San Djie menutul sedikit ujung kakinya, ia turut mumbul ke
atas dan menghalang-halanginya. Dengan suara keras ia membentak:
“Apa kau ingin melarikan diri? Hm......!”
Ia melepaskan pukulan geledek di udara. Kim Ting Sa dengan meminjam tenaga pukulan Koo San Djie ini
bagaikan kertas saja telah melayang keluar rimba.
Koo San Djie penasaran. Ia sudah siap untuk kedua kalinya menghajar musuh, mendadak, si orang tua
berbaju merah sudah menghalang-halanginya. Terdengar suara tertawanya:
“Bocah, jangan berbuat segalak ini.”
Koo San Djie sudah membanting-banting kaki, karena tidak keburu mengejar Kim Ting Sa, semua
kemarahannya sudah ditumplekkan kepada orang tua itu. Dengan sengit ia berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau menghalang-halangi orang, apa hendak mengadu pukulan?”
Si orang tua berbaju merah tertawa:
“Aku tahu, kau memang tidak dapat dipandang enteng, tapi kini aku sedang tidak sempat. Jika kau berani,
datanglah ke dalam Lembah Merpati.”
Setelah mengucapkan perkataan ini, orang tua berbaju merah juga telah melesat keluar rimba.
Pay-hoa Kui-bo juga telah meninggalkan tempat itu.
Koo San Djie dengan tidak terasa mengeluarkan suara tertahan:
“Lembah Merpati?”
Badannya sudah lantas hendak mengejar jejak si orang tua. Tapi sebelum ia dapat berbuat sesuatu apa,
Kepala Setan Srigala sudah menyerang lagi dari belakang yang memaksa menurunkan kembali badannya.
Koo San Djie sudah tidak takut bau busuk Yun-ling-pay-kuk-kang, pengalaman tempur dengan dua siluman
yang dibunuhnya menambah kekuatan.
“Kau mau apa lagi, dengan menyerang dari belakang?” Koo San Djie membentak gusar.
Kepala Setan Srigala tertawa kejam:
“Aku mau minta nyawamu untuk menggantikan dua jiwa muridku.”
Kaki kanannya maju setindak, mengirimkan tiga pukulan. Bau busuk yang dapat memuntahkan orang yang
menciumnya, ada dua kali lebih hebat dari pada kedua muridnya tempo hari.
Koo San Djie yang dihalang-alangi olehnya mana tidak menjadi marah. Kedua tangan ganti berganti
menyerang sampai lima kali, sehingga si Kepala Setan Srigala tidak berdaya.
Mendadak selendang merah yang tidak mau tinggal diam sudah meluruskan selendangnya. Langsung
menuju arah mata Kepala Setan Srigala, dibarengi oleh suara yang nyaring:
“Kau jangan kesusu membalas dendam muridmu. Lunasilah terlebih dulu hutang kedua muridmu itu.”
Selendang merahnya, bagaikan seekor naga yang memain api berputar-putar di sekitar Kepala Setan
Srigala.
Kepala Setan Srigala mana mau kalah mentah-mentah, pukulannya ke kiri dan ke kanan, menerobos sana
dan menerohos sini berusaha menembus kurungan selendang.
Badannya Selendang Merah berdiri jauh beberapa tumbak, kedua tangannya memainkan selendang
merahnya sedemikian rupa, sehingga Kepala Setan Srigala tidak mempunyai kesempatan maju mendekat.
Inilah permainan yang menakjubkan, dengan menggunakan sehelai selendang sebagai senjata, menyerang
orang yang ternama sebagai Kepala Setan Srigala, jika bukannya mempunyai tenaga dalam yang kuat,
tidak nanti dapat menahannya.
Koo San Djie menjadi heran juga, melihat Selendang Merah yang baru berumur antara duapuluhan dapat
menandingi seorang jago seperti Kepala Setan Srigala. Dari manakah datangnya ia ini? Mengapa Kepala
Setan Srigala yang berani melawan Kim Ting Sa tidak dapat memenangkannya?
Tapi Koo San Djie tidak tahu yang Selendang Merah berlaku sedikit curang. Selendangnya ini terbuat dari
semacam bahan obat-obatan, jika dicurahkan sedikit tenaga dalam, maka selendangnya ini dapat
mengeluarkan semacam hawa, yang dapat mengurangi kekuatan sang lawan.
Koo San Djie yang sedang melamun mendadak telah dibikin kaget oleh teriakannya Kepala Setan Srigala.
Dilihatnya tokoh tersebut telah dapat meloloskan diri dari kurungan selendang lawannya. Dari setadi ia
terkurung oleh selendang ini dan baru saja ia dapat lolos dari kurungannya mana ia tidak menjadi sengit.
Maka dengan berteriak keras ia sudah menubruk ke arah lawan.
Selendang Merah hanya tertawa dingin, dengan menggentakkan tangan, senjata istimewanya telah ditarik,
ditekuk menjadi pentungan lemas. Dengan tidak kalah sebatnya ia tidak membuang-buang waktu lagi,
langsung pentungan lemasnya ini disodorkan ke muka dan mengarah Kiang-tai, Cit-kan dan lain tujuh jalan
darah yang penting.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kepala Setan Srigala juga telah membalas tujuh kali serangannya. Demikianlah keadaan pertandingan
masih sama kuat berimbang.
Kepala Setan Srigala tidak dapat dikatakan tolol, ia tahu, satu selendang merah saja sudah cukup untuk
menghabiskan tenaganya, apa lagi di sebelahnya masih ada Koo San Djie yang sudah siap untuk
menubruknya dan entah lain-lain jago lagi yang mau membikin sulit kepadanya. Ia kini telah berada pada
keadaan yang tergencet sekali. Maka hilanglah hawa napsunya, ia tidak maju lagi tapi berbalik mundur ke
belakang dan berteriak:
“Selendang Merah, tunggu dulu. Urusan di antara kita nanti saja kita selesaikan.”
Kemudian ia berpaling ke hadapan Koo San Djie dan berkata:
“Anjing kecil, tunggu saja waktunya, aku tentu akan dapat membeset kulit kecilmu.”
Setelah cukup mengucapkan perkataannya sebagai modal untuk mundur, dengan tidak sampai mereka
dapat mengerti, apa maksud dari perkataannya itu, badannya sudah loncat ke belakang dan lari keluar
rimba.
Koo San Djie belum mengerti. Sewaktu ia tersadar dari bingungnya, ia juga turut membalikkan badannya
bersiap untuk mengejarnya lagi. Tapi di belakangnya telah terdengar bentakan Selendang Merah:
“Berhenti! Aku juga masih ada perhitungan dengan kau?”
Koo San Djie menjadi heran orang yang dikenalnya ini mempunyai urusan juga dengannya. Maka ia lalu
membatalkan langkah kakinya dan bertanya:
“Di antara kita baru pertama kali ini bertemu, perhitungan apa lagi yang harus diselesaikan?”
Si Selendang merah tertawa terpingkal-pingkal.
“Tentu saja ada. Apa kau sangka aku bersenda gurau?”
Lalu ia membalikan mukanya memanggil ke arah rimba:
“Adikku, mengapa kau tidak lekas keluar?”
Koo San Djie menjadi berjingkrak karena kaget. Ternyata yang keluar adalah Tju Thing Thing dengan
pakaian rebonya, empat mata telah bertemu, entah perkataan apa yang harus mereka katakan......
Lama, lama sekali mereka berpandangan. Membuat si Selendang merah yang berdiri di pinggir menjadi
tidak sabaran.
“Hei, mengapa kau tidak berkata? Apa bocah ini yang telah menghina kepadamu'?” tegurnya dengan nada
kesal,
Tju Thing Thing tidak dapat mengatakan suatu apa, ia seperti telah kehilangan semangat, dan berdiri
menjublek.
Selendang Merah menjadi tertawa melihatnya.
“Kau baru melihat saja sudah menjadi lemas hati. Biar aku saja yang menanyakan kepadanya.”
Lalu ia berbalik ke arahnya Koo San Djie dan berkata:
“Hei, mengapa kau menghina kepada adikku ini?”
Koo San Djie menjadi semakin bingung saja. Entah harus bagaimana ia menjawab pertanyaan ini. Setelah
sekian lama, baru ada beberapa perkataan yang keluar dari mulutnya:
“Waktu kapan aku menghina kepadanya?”
Ia berbalik bertanya. Dan kemudian ia berpaling lagi kepada Tju Thing Thing dan bertanya:
“Apa Ciecie Thing Thing yang mengatakan kepadanya bahwa aku menghina kepadamu?”
Yang aneh, Tju Thing Thing tidak menjawab pertanyaan ini. Ia malah jadi menangis karenanya. Tapi dalam
hatinya ia berpikir:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Betul juga, bukan saja dia pernah menghina kepadaku, bahkan sebaliknya akulah yang telah sangat
keterlaluan terhadapnya.”
Biarpun ia telah memakan pil apa yang di namakan “Penenang jiwa” yang sebenarnya tidak tenang, tapi hati
sucinya tidak jadi hilang semua. Ia sering merasakan bahwa ia tidak seharusnya berbuat seperti apa yang
telah ia lakukan, kini mendengar perkataan Koo San Djie yang tidak menyalahkan padanya, membuat ia
menjadi terharu.
Ia sudah tidak sepadan derajatnya dengan adik San lamanya ini. Bahkah jika dipikir ia telah
mengganggunya, sehingga hampir saja akan meminta jiwa anak muda ini di gunung Pay-hoa yang
beruntung keburu ditolong oleh Ong Hoe Tjoe dan sucienya yang kebetulan datang di situ. Jika tidak, entah
bagaimana dengan nasib pemuda ini. Terhadap kejadian ini, biarpun Koo San Djie tidak menyebutnya pula,
tapi dalam hatinya masih merasa menyesal juga.
Orang sedemikian baik terhadapnya, kini masih memanggil Ciecie kepadanya yang berarti masih
menjunjung tinggi kepadanya. Bagaimana ia dapat menyalahkan kepada orang semacam begini?
Koo San Djie yang melihat Tju Thing Thing masih menangis, dan tidak menjawab pertanyaannya, tahu akan
kesedihan orang, lalu maju dan mengelus-elus pundaknya. Dengan setengah menghibur ia berkata:
“Ciecie Thing Thing, sudahlah. Aku tidak pernah menyalahkan kepadamu. Aku tahu, kau menderita dan
sengsara, katakan saja jika kau memerlukan tenagaku, aku tentu berusaha untuk membantunya.”
Tju Thing Thing mendadak membalikkan badannya dan pergi lari keluar rimba. Tapi dari kejauhan masih
terdengar suaranya:
“Adik San, aku tidak mempunyai muka lagi untuk menemui kau......”
Si Selendang Merah yang melihat urusan menjadi demikian rupa menjadi bingung juga. Ia tidak mengerti
apa yang diperdebatkan mereka berdua. Kini melihat Tju Thing Thing telah lari keluar rimba, ia juga
mengangkat kedua kakinya mengejar perginya sang adik ini. Dari kejauhan masih terdengar suara
panggilannya:
“Adik, kau kemana.....? Hei, kau mau kemana......?”
Koo San Djie hanya dapat melihat perginya mereka satu persatu. Kini tinggal ia seorang diri di sini. Dengan
menghela napas panjang, ia juga meninggalkan tempat ini yang barusan saja penuh dengan jago-jago
berkumpul dengan ramainya.
Setelah tertunda sedemikian lamanya, tentu saja ia tidak dapat mengejar lagi rombongan si Sastrawan Pan
Pin dan lain-lainnya. Masih untung saja mereka meninggalkan tanda-tanda. Dan dengan bantuan tandatanda
ini Koo San Djie mengikuti perjalanan mereka.
Setelah berjalan sekian lama, ia telah merasakan bahwa jalanan yang dijalani ini seperti telah dikenal. Ia
terus mengingat-ingat tentang kapan ia berjalan sehingga sampailah ia pada sebuah lembah.
“Oh, inilah jalan menuju ke tempat kediaman supek. Apa mereka menuju ke Makam Merpati? Apa mereka
telah salah dengar? Sehingga Makam Merpati dianggap menjadi Lembah Merpati?”
Hatinya menjadi bingung juga memikirkan soal ini, maka ia telah menambah kecepatan kakinya. Sebentar
saja ia telah sampai di tempat batu nama “Makam Merpati” yang pernah dilihatnya.
Di sini hatinya menjadi terlebih kaget lagi. Mukanya dalam sekejapan saja telah berobah, karena batu nama
Makam Merpati telah pecah berantakan.
“Celaka! Mereka telah salah paham.”
Maka dengan terlebih cepat lagi ia telah terbang masuk ke dalam Makam Merpati.
14.32. Pembunuhan Besar-besaran di Makam Merpati
Sewaktu Koo San Djie masuk ke dalam Makam Merpati, ia telah merasakan adanya perobahan di
sekitarnya. Lembah yang tadinya tenang dan sepi ini mendadak seperti telah berubah menjadi seram dan
aneh. Jalan ketjil yang penuh dengan tanaman kembang telah berubah di sekitar makam, kini telah ditanami
oleh bermacam-macam tanaman yang seperti mengandung barisan tin.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terhadap barisan tin ia tidak begitu mengerti, seperti Tjeng Tjeng yang mendapat warisan dari ayahnya
mempunyai pengetahuan yang luas. Maka ia tidak berani sembarangan masuk ke dalam lembah.
Pertama dikelilinginya dahulu sekitar makam ini. Setelah diperhatikannya betul-betul, terlihat olehnya pada
sebuah tempat terdapat kekosongan yang seperti telah dirusak orang, maka dengan cepat ia melompat
masuk dari tempat kosong ini.
Lebih-lebih kaget lagi setelah ia dapat menyaksikan keadaan di dalam makam ini. Suatu pemandangan
yang mengenaskan telah tertampak di depan matanya.
Sembilan orang yang menjabat ketua partai berbagai macam golongan yang pernah dilihatnya di kuil Siauwlim,
kini telah menggeletak semua di sini. Mereka telah terbunuh semuanya dalam keadaan yang
menyedihkan sekali, tubuh mereka bergelimpangan dan saling tumpuk. Kematian mereka diduga terbunuh
oleh satu orang. Jantung nadi mereka rata-rata terputus. Inilah terkena pukulan tenaga dalam yang
sempurna. Kecuali Liu Djin Liong, sang supek, orang lain jarang mempunyai tenaga dalam yang sebesar ini.
Memang betul pada batu nama Makam Merpati ada tertulis juga dengan huruf kecil “hukuman mati bagi
yang berani memasukinya”. Biarpun batu nama ini kini telah pecah berantakan, tapi perkataanperkataannya
sudah diingat betul-betul olehnya pada pertama kali datang kemari. Sembilan orang ini berani
masuk ke dalam Makam Merpati, tentulah sang supek yang membunuhnya
Koo San Djie sudah menjadi tidak suka akan tindak tanduk supeknya. Jika sekarang Liu Djin Liong berada
di situ, tentu akan terbit keonaran. Maka dengan teliti ia sudah memeriksa ke seluruh makam.
Di antara sela-sela pintu dalam dari Makam Merpati terlihat sepotong kertas. Setelah dipungut dan
dilihatnya ternyata kertas Tjeng Tjeng yang menaruhnya di mana ada tertulis:
“Koko San, aku pergi mencari ayah.”
Biarpun tidak ada tanda tangan, tapi tulisan ini telah dikenalnya. Dan di dekat kertas ini ada pula sepotong
kertas lainnya yang ternyata ada buah tangan dari Sastrawan Pan Pin dengan tanda tangannya dan Tiauw
Tua berdua, tapi tidak ada terdapat tanda tangan Ong Hoe Tjoe. Di atas mana tertulis:
“Makam Merpati telah kemalingan. Kita orang pergi mencari malingnya. Setelah dapat melihat surat ini,
lekas datang menyusul!”
Huruf-huruf ini ditulis dengan kasar, rupanya mereka terburu-buru sekali.
Dari kejadian-kejadian ini Koo San Djie telah membuat suatu perumpamaan:
Rombongan Tiauw Tua ini karena ada Tjeng Tjeng yang apal dengan keadaan jalanan dengan mudah telah
dapat memasuki makam. Pertama mereka tentu menyuruh Tjeng Tjeng seorang diri masuk ke dalam
makam mencari ayahnya, Tiauw Tua dan yang lainnya menunggu kabar di luar.
Tjeng Tjeng yang masuk ke dalam makam tidak dapat menemukan ayahnya, tapi mendapatkan tanda
tulisan dari ayahnya yang mewartakan lenyapnya kitab Sari Pepatah Raja Woo. Maka dia keluar pula
mewartakan tentang kejadian ini. Dia terburu-buru mencari ayahnya.
Sedangkan Tiauw Tua beramai tahu bahwa kitab Sari Pepatah Raja Woo dapat mengakibatkan keonaran
yang besar, dengan tidak menunggu sampai datangnya Koo San Djie lagi sudah keluar makam untuk
mengejar si pencuri, setelah meninggalkan kabar untuk Koo San Djie.
Kini ia memastikan sembilan orang ketua partai yang mati itu bukanlah terbunuh di tangan sang supek.
Mereka datang sesudah Liu Djin Liong pergi meninggalkan lembah, jika tidak, tidak nanti mereka dapat
masuk dengan semudah itu.
Dengan cepat pikirannya kembali ke tempat rimba tadi. Ia dapat membayangkan bagaimana jago-jago tadi
memperebutkan kitab Sari Pepatah Raja Woo. Maka ia sudah dapat memastikan bahwa si pencuri adalah
Kim Ting Sa. Tapi dengan kepandaiannya, Kim Ting Sa masih belum mampu untuk dapat menandingi dan
membunuh sembilan orang yang lihay ini. Maka dari sini ia dapat memastikan si pembunuh adalah orang
lain.
Maka dengan tidak mengenal letih ia merapikan barang-barang yang kalang kabutan. Lalu mayat dari para
ketua partai satu persatu dikebumikan.
Baru juga ia menanam tiga mayat, dari mulut lembah dengan galak telah menerjang masuk beberapa
orang. Salah satu dari mereka yang jalan paling depan sudah membentak dengan keras:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bagus? Kau sedang mau menghilangkan tanda pembunuhan. Lekas panggil keluar ketua lembahmu!”
Koo San Djie menjadi melengak:
“Apa?”
Yang tadi berkata adalah Si Golok Malaikat Nomor Satu, dari partai Heng-san-pai. Setelah tertawa dingin ia
nyerocos:
“Orang menjuluki kepadaku Si Golok Malaikat Nomor Satu, dan beberapa kawan ini adalah si Ahli Pedang
Tho Siauw Kie, Sepasang Gaetan Ie Hoa Tie, Penadah Langit Kiang Peng dan Hian-tju Totiang......”
Koo San Djie sudah memotong pembicaraan orang:
“Apa kalian datang karena terbunuhnya sembiIan ketua partai ini? Ketua lembah Liu Djin Liong supek sudah
keluar. Tapi dia bukanlah si pembunuhnya, kalian jangan salah paham.”
Si Ahli Pedang Tho Siauw Kie dengan dingin berkata:
“Kau dapat mencuci diri dengan sempurna, tapi jika kau tidak dapat memanggil keluar ketua lembah, kaulah
sebagai penanggung jawabnya.”
Koo San Djie menjadi marah juga.
“Kau mudah saja membuat urusan. Belum tahu duduknya perkara, sudah sembarang menuduh orang.
Terus terang kukatakan padamu. Dalam makam ini sudah tidak ada barang seorangpun juga.”
Si Golok Malaikat Nomor Satu sudah membentak:
“Kau sajalah yang menjadi barang tanggungannya.”
Lima jarinya lantas dibuka dan maju menubruk.
Tapi Koo San Djie sudah mengelak ke samping dan loncat mundur.
Si Golok Malaikat Nomor Satu sekali serangannya tidak mengenai sasaran, sudah mengganti cengkeraman
menjadi pukulan. Ia mengirim pukulan melintang ke arah lawannya.
Koo San Djie dengan menggunakan kepandaian “Awan dan asap Lewat Di mata” sudah menyingkir lagi dari
serangan itu. Ia coba memberi penjelasan sambil berteriak:
“Urusan terjadi karena salah paham. Mengapa kau sudah cepat-cepat turun tangan?”
Si Golok Malaikat Nomor Satu beruntun menyerang dua kali dengan tidak membawa hasil, menjadi kaget
juga, tapi justru inilah yang menguatkan dugaan mereka bahwa sembilan ketua partai itu telah dibunuh oleh
guru si anak angon. Cepat sekali ia lantas mencabut golok malaikat dari gegernya. Suaranya yang nyaring
mengaung keluar dari golok itu, dan menyerang Koo San Djie dengan jurus Sinar geledek menyambar sapi.
Koo San Djie tahu urusan hanya karena salah paham, maka ia tidak membalasnya. Dengan enteng ia
sudah menyingkir lagi.
Ilmu golok ini adalah ilmu yang membuat Si Golok Malaikat Nomor Satu ternama. Setelah jurus yang
pertama Sinar geledek menyambar sapi keluar, lalu jurus-jurus berikutnya menyusul.
Gunung golok seperti telah mengurung di sekitar tubuh Koo San Djie. Datangnya tidak dapat ditahan lagi,
sehingga membuat yang melihatnya menjadi seram juga.
Koo San Djie masih berusaha dengan jalan damai, maka ia tidak mau balas menyerang. Tapi karena inilah
ia menjadi kehilangan kunci pertama sehingga sampai terdesak oleh orang. Ia hanya mengandalkan Awan
dan Asap Lewat Di mata, menyingkir dari serangan-serangan.
Sebenarnya, diukur derajatnya Si Golok Malaikat Nomor Satu berani turun tangan dengan seorang anak
kecil sudah keterlaluan ditambah kini ia menggunakan senjata, dan lawannya bertangan kosong tentu akan
dapat menurunkan namanya. Tapi karena ia berada dalam keadaan kalap, melihat sembilan ketua partai
semua terbunuh dan menganggapnya sebagai perbuatan guru Koo San Djie maka biarpun orang berteriakteriak
bagaimana kerasnya ia sudah tidak memperdulikannya lagi.
Kejadian yang keterlaluan ini, biarpun Koo San Djie mempunyai kesabaran luar biasa tapi akhirnya dipaksa
menjadi marah juga.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Jika kau terlalu mendesak, aku terpaksa harus berbuat kurang ajar kepadamu!” katanya dengan nada
kurang senang.
Tangannya berbareng telah mengeluarkan pit wasiat. Dengan jurus pohon api kembang perak, ia sudah
dapat menerobos kurungan gunung golok. Mendadak, terdengar suara jeritan yang keras, Si Golok Malaikat
Nomor Satu telah mandi darah dengan golok terlepas dari tangannya.
Keadaan telah berobah dalam sekejapan mata, sampai pun Koo San Djie sendiri juga dibuat heran. Ia tidak
menyangka pit wasiatnya ini dapat memancarkan sinar hijau muda di sekitarnya, apa lagi jika ditambah
dengan tenaga dalam yang sempurna, ia dapat melukai orang sejauh satu tombak lebih. Pertama kali ia
menggunakan, tidak mengetahui rahasia ini, sehingga hampir saja membuat lengan Si Golok Malaikat
Nomor Satu terputus menjadi dua.
Setelah ragu-ragu sebentar, si Ahli pedang Tho Siauw Kie dan Sepasang gaetan Ie Hoa Tie sudah
berbareng menyerang dari kanan dan kiri.
Tidak kecewa jika Tho Siauw Kie mendapat julukan ahli pedang, biarpun permainan pedangnya hanya ilmu
pedang biasa dari Ngo-bie-pay, tapi dimainkan oleh si tangan ahli, sangat cepat dan sukar untuk
mendapatkan penjelajahan yang sempurna. Dalam sekejapan mata saja, ia telah menyerang sampai tiga
kali.
Di sebelahnya, Ie Hoa Tie juga bukannya orang sembarangan. Senjatanya yang terdiri dari sepasang
gaetan bukannya senjata yang mudah dipelajari. Ini dengan tidak kalah sebatnya dari sang kawan di
sebelah, juga telah menyerang berkali-kali.
Setelah mengetahui akan keampuhan pit wasiatnya, Koo San Djie menjadi tidak berani sembarang
menggunakan. biarpun ia dikurung oleh dua jago kawakan, ia masih menyimpan pit wasiatnya yang lihay
itu, dengan hanya menggunakan telapak tangan kosong, ia memukul tiga kali ke arah dua lawannya. Tiga
serangan ini telah dapat menahan kedua lawannya untuk sementara waktu, dengan menggunakan
kesempatan ini, ia sudah berteriak lagi:
“Mengapa kalian tidak memakai aturan? Setelah jelas, akan duduknya perkara juga masih mempunyai
banyak kesempatan untuk bertarung!”
Tapi Tho Siauw Kie dan Ie Hoa Tie sudah menjadi seperti tuli. Dengan tidak memperdulikan perkataan Koo
San Djie, mereka masih menyerang dengan gencar.
Biarpun Koo San Djie dalam keadaan seperti tergencet, tapi sebenarnya ia masih dapat melayani kedua
musuhnya dengan ringan. Karena memikir akan lawan-lawannya ini bukannya terdiri dari orang-orang jahat,
maka ia tidak mau menurunkan tangan kejam. Justru karena ia berada dalam keadaan bertahan, dan tidak
mau membalas menyerang, maka biar bagaimana juga, ia harus menelan rugi. Ditambah lagi isi dalamnya
tadi telah terkena pukulan Kim Ting Sa yang tidak enteng, kini telah merasa sakit kembali.
Maka dengan cepat, ia sudah dapat mengambil putusan, tidak berguna untuk melayani mereka yang telah
menjadi salah paham. Ia harus segera meninggalkan mereka nanti, setelah terang akan duduknya perkara,
tentu mereka juga tidak akan membuat susah lagi kepadanya.
Dengan tidak membuang-buang tempo lagi, Koo San Djie sudah memiringkan badannya dan terbang
menuju ke mulut lembah.
Tapi Koo San Die terlalu memandang rendah kepada Hian-tju Todjin yang masih berdiri di pinggiran.
Hian-tju Todjin adalah jago kelas satu dari Kun-lun-pay, pukulannya keras dan hebat, begitu melihat Koo
San Djie mau melarikan diri, ia menggunakan seluruh kekuatannya menyerang belakang Koo San Djie.
Serangan ini sudah tidak mengandung kasihan sama sekali, karena ia melihat ketua partai golongannya
terbunuh di sini.
Biarpun Koo San Djie tidak menginjak tanah, tapi ia juga telah merasai kekuatan pukulan ini, dengan tidak
manmikirkan lagi, ia sudah membalikkan tangannya dan menyampok ke belakang.
Terdengar suara gedebuk yang keras, dada Koo San Djie dirasakan sesak, badannya sudah seperti
layangan putus, terlempar jauh di mulut lembah.
Si Golok Malaikat Nomor Satu dan ahli pedang Tho Siauw Kie hampir berbareng sudah lantas lari menuju
ke mulut lembah untuk dapat menangkap musuh yang dianggap telah membunuh ketua partai mereka ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biarpun Koo San Djie terluka parah, tapi ia masih sadar akan bahaya yang sedang mengancam dirinya,
dengan sekali lompat ia telah menggunakan kegesitan dan menghilang di antara pepohonan yang lebat.
Sebenarnya, ia tak mungkin terkena pukulan ini, biarpun Hian-tju Totiang mempunyai pukulan keras, tapi
jika mau melukai dirinya, masih berbeda jauh. Yang menjadi sebab, ialah karena luka dalamnya yang
terkena pukulan Kim Ting Sa tadi mendadak telah kambuh kembali. Sewaktu ia menggunakan tenaga untuk
menahan datangnya pukulan, kekuatannya menjadi kendor, baru dapat terkena pukulan lawan.
Ini namanya luka ditambah luka, hampir saja menyebabkan ia terjatuh pingsan. Setelah berlari-larian
setengah hari dengan tidak mengenal arah, sampailah ia pada sebuah bukit kecil.
Di sini ia sudah tidak dapat menahan badannya yang sempoyongan. Dengan memaksa diri, ia bersandar
pada salah sebuah pohon besar dan memuntahkan beberapa kali darah segar. Ia tahu, lukanya sangat
berat sekali, ia harus segera dapat mencari suatu tempat yang aman agar dapat memelihara dirinya.
Maka, biarpun dengan cara merangkak, ia juga harus meneruskan perjalanannya. Dalam keadaan payah
demikian, ia dapat menempuh juga setengah lie jauhnya, sampailah ia pada sebuah kuil kecil yang rusak.
Dengan tidak sabar lagi, ia mendorong pintu dan masuk ke dalam. Ternyata, di dalamnya kosong, tidak ada
orang. Biarpun tidak ada yang urus, kuil kecil ini tidak dapat dikatakan jelek, yang disayangkan, tidak
terdapat ruangan tidur untuk istirahat. Maka, dengan apa boleh buat ia telah memilih satu ruangan yang
dirasakan aman dan masuklah ia ke kolong meja abu yang gelap.
Demikanlah, di situ ia mengatur jalan pernapasannya untuk menyembuhkan luka-luka dalamnya yang tidak
enteng.
Waktu semakin gelap. Dan akhirnya gelap sekali.
Di tengah malam yang sunyi, mendadak, dari ruangan depan terdengar suara tindakan kakinya dua orang
yang datang seperti seorang laki dan seorang perempuan. Tidak lama setelah mereka duduk, terdengar si
perempuan berkata:
“Ketua lembah telah mengeluarkan perintah, agar kita semua kembali ke dalam lembah. Apakah
sebenarnya maksud yang dikandung olehnya?”
Si lelaki tertawa:
“Inilah keramaian bagi kita. Sembilan orang yang menjabat ketua partai dari berbagai golongan telah salah
lihat Lembah Makam Merpati menjadi Lembah Merpati. Dengan berani mereka sembarang memasukinya.
Entah siapa yang telah mewakili kita membereskannya. Tentu saja, orang dari berbagai golongan menuduh
Liu Djin Liong yang telah melakukan pembunuhan itu, beramai-ramai mereka telah memecah menjadi dua
rombongan mencari orang she Liu. Apa ini bukan suatu keramaian yang lucu?”
Terdengar pula suaranya si perempuan:
“Mereka saling bunuh, ada hubungan apa dengan kita orang?”
“Dalam waktu belakangan ini,” si lelaki menjawab, “Pekerjaan orang-orang kita sudah semakin teledor,
sehingga telah menarik banyak perhatian dari kalangan Kang-ouw. Terutama seorang anak gembala yang
bernama Koo San Djie, seperti ada permusuhan yang dalam dengan kita, selalu mancari setori saja.”
“Bagaimana dengan anak gembala ini?” tanya si perempuan.
“Menurut penuturan orang, anak gembala ini adalah ahliwaris dari Si Setan tua Berbaju Ungu, bahkan ia
masih mempunyai hubungan yang rapat dengan sepasang pendekar Merpati Liu Djin Liong. Si Baju Ungu
dan Liu Djin Liong dua setan tua ini sangat lihay, ketua lembah takut juga jika kedua orang ini turut campur
tangan, maka telah memanggil kita pulang.”
Si perempuan tidak puas dengan keputusan ketuanya yang dianggap sebagai penakut, maka dari
perkataannya juga sudah lain:
“Apa kita harus mengalah kepada anak gembala itu?”
Si lelaki kedengaran tertawa.
“Mana ada begitu mudah? Bocah itu pernah kulihat baru dua hari di muka, betul juga, ia mempunyai
kepandaian yang lumayan, sampai Kim Ting Sa yang kawakan juga tidak dapat berbuat sesuatu apa.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Si perempuan seperti merasa tertarik dengan cerita ini, lalu ia bertanya lagi:
“Lalu, apa Kim Ting Sa mau tinggal diam saja?”
14.33. Perlindungan Si Selendang Merah
Terdengar suaranya si lelaki yang memberi penjelasan:
“Kim Ting Sa bisa dibuat main? Kini Kim Ting Sa telah dapat mencuri kitab Sari Pepatah Raja Woo. Liu Djin
Liong tentu tidak mau mengerti. Ia tahu Liu Djin Liong tidak mudah untuk dilayani, maka telah menarik Raja
Setan Srigala. Badak Tanduk Perak, Pay-hoa Kui-bo dan Hu-lan Lo-kway berempat untuk membantunya. Ia
dan empat orang ini disebut orang sebagai Lima raja iblis dari dunia. Mereka mempunyai kekuatan yang
lumayan juga.”
Si perempuan seperti heran:
“Iiii, bukankah Pay-hoa Kui-bo telah bersedia menjadi kita punya duta utara? Mengapa dia turut berserikat?”
Si lelaki tertawa dingin:
“Orang-orang ini mana ada satu yang benar. Lima raja iblis dari dunia, mereka bukan saja tidak
memandang mata kepada Lembah Merpati, malah ingin berserikat untuk menaklukkan dunia.”
Si perempuan mengeluarkan suara dari hidung:
“Suatu impian bagi mereka. Tapi itu kitab Sari Pepatah Raja Woo adalah suatu barang yang berharga,
mengapa kau tidak mau merebut?”
“Kau tahu apa?” sahut si lelaki, “Ketua lembah telah mempunyai rencana yang bagus untuk mendapatkan
benda tersebut. Sekarang, biarkan saja mereka saling gigit, kita hanya cukup untuk menonton dahulu.”
Koo San Djie sedang menemukan saat-saat yang gawat dalam mengatur jalan pernapasannya, lapat-lapat
mendengar juga percakapan mereka ini. Pikirnya, jika tidak salah, yang lelaki seperti orang tua berbaju
merah yang pernah dilihatnya. Tapi ia tidak berani terlalu memikir kepada percakapan mereka, karena ia
takut akan bahaya Jalan Darah Masuk Api, seperti yang dialami oleh gurunya.
Jalan Darah masuk Api berarti salah melatih diri, salah satu istilah di dalam kamus persilatan.
Dua orang ini sedang asyik memperbincangkan urusan mereka.
Koo San Djie juga telah hampir selesai mengatur jalan pernapasannya, mendadak, di luar terdengar satu
suara yang serak berkata:
“Sial......, sial...... aku si gembel yang tidak berumah, tidak bertanah, susah-susah mendapatkan kuil kecil ini
untuk dijadikan tempat istirahat, tidak tahunya telah didahului oleh sepasang anjing jantan dan betina.......”
Tidak sampai habis perkataannya ini, dua orang yang sedang asyik bicara tadi telah terbang keluar dan
mengejarnya.
Sayang, Koo San Djie belum sampai pada waktunya, sehingga tidak sempat untuk mengejar mereka, jika
tidak, tentu dapat mengetahui, di mana tempatnya Lembah Merpati mereka itu.
Baru saja orang-orang Lembah Merpati pergi, dari luar terlihat sebuah bayangan merah berkelebat dan
langsung memasuki kolong ruangan meja sembahyang, tempat semedinya Koo San Djie.
Orang itu karena sangat tergesa-gesa, sampai tidak mempunyai waktu untuk melihat keadaan lagi, lebihlebih
tidak menyangka, jika di dalam kolong meja sembahyang ini bercokol seorang yang sedang istirahat.
Maka perbuatan yang ceroboh ini telah mengakibatkan dua orang saling bentur.
“Aduh!”
Sama-sama mereka berdua mengeluarkan suara tertahan. Ia hanya mengaduh, dan tidak terkena suatu
apa, tapi Koo San Djie yang baru saja dapat mengumpulkan hawa pernapasannya menjadi satu, dengan
susah-susah hawa itu hendak bersatu padu, gagal, kini telah berantakan kembali. Bersama dengan suara
mengaduhnya ia sudah terjatuh celentang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ternyata, orang yang datang ini adalah si Selendang Merah. Sewaktu ia masuk, tidak menyangka ada
orang, kini, melihat orang yang selemah ini terjatuh, hanya terkena senggolannya saja, ia menjadi kaget
juga.
Tapi, pengalamannya memang luas, sebentar saja ia telah mengerti akan duduknya kejadian. Tentunya
orang yang sembunyi ini sedang terluka dan sedang mengatur jalan pernapasannya. Maka dalam hatinya
merasa tidak enak sendiri.
Maka, ia sudah lupa akan musuh tangguh berada di muka, diangkatnya badan orang ini. Setelah
diperhatikannya dengan teliti, ia menjadi kaget lagi. Karena orang yang dibentur ini tidak lain ialah orang
yang pernah dilihatnya bersama-sama Tju Thing Thing di dalam rimba.
Biarpun ia hanya bertemu sekali dengan anak muda ini, tapi karena hubungannya dengan Tju Thing Thing
yang rapat, maka ia menjadi lebih tertarik, apa lagi jika dipikir-pikir, ialah yang menjadi gara-gara akan
kejadian ini. Pada waktu itu sedang sibuk tidak keruan ini, mendadak di luar terdengar suara perempuan
yang genit:
“Kau telah melihat setan barang kali. Mana ada orang di tempat yang terpencil ini?”
Terdengar pula suara yang lain berkata:
“Biarpun aku tua, tidak pernah salah. Benar! Aku melihat seorang wanita berbaju merah masuk ke dalam.”
Perempuan genit tadi tertawa dingin:
“Hm, setiap hari, perempuan saja yang dipikirkan. Begitu melihat perempuan, kakimu sudah tidak dapat
jalan lagi.”
Orang itu tidak mau membantah perkataan kawannya, dengan maju setindak ia tertawa dingin.
“Siapa yang berada di kolong meja? Kenapa tidak mau lekas keluar?” bentaknya.
Orang tua yang galak itu tidak lain adalah salah satu dari orang undangannya Kim Ting Sa yang bernama
Hu-lan Lo-kway. Yang perempuan adalah gendaknya bernama Lu Lu Hoa.
Tinggi kepandaian Hu-lan Lo-kway tidak dapat ditaksir, tapi kejelekannya, ia paling suka akan perempuan,
ia tidak boleh melihat perempuan cantik, jika melihat perempuan elok ia sudah lantas seperti cacing kena
abu.
Keahlian Hu-lan Lo-kway adalah dapat mengendus bau perempuan, tidak perduli di mana mangsa itu
bersembunyi.
Selendang merah pernah berjalan kemana-mana, belum pernah takut kepada siapa-siapa juga, hanya
terhadap Hu-lan Lo-kway ini ia takutnya setengah mati. Baru saja terlihat dari jauh, ia sudah cepat-cepat lari
menyingkir darinya. Tapi tidak disangka matanya Hu-lan Lo-kway ada sangat lihay, sehingga dapat
mencarinya sampai di situ. Setelah ia tahu tidak dapat lolos dari setan perempuan itu maka dengan tangan
masih memayang Koo San Djie ia keluar dari tempat sembunyi dan berkata:
“Aku sedang memelihara adik kecilku yang terluka. Ada urusan apa dengan kau Hu-lan Lo-kway.......?”
Hu-lan Lo-kway yang melihat Selendang Merah yang cantik telah keluar dari tempat sembunyinya menjadi
samakin cantik saja. Sekujur badannya sudah menjadi semakin lemas. Dengan membuka mulutnya yang
besar ia berkata:
“Betul! Betul! Tidak mempunyai hubungan suatu apa denganku. Mari, mari kulihat akan lukanya adik
kecilmu. Baru aku dapat membantu kepadamu.”
Selendang Merah takut juga akan kejahatan hati mereka, maka dengan melompat ke samping ia berkata:
“Tidak usah San-cu mencapaikan diri.”
Maksudnya, membopong Koo San Djie ke luar adalah agar Hu-lan Lo-kway tidak membikin susah
kepadanya. Biar bagaimana juga Hu-lan Lo-kway adalah seorang ternama, tentu ia akan malu jika membuat
susah kepada orang yang telah terluka. Tapi tidak disangka, maksudnya mendapat hasil yang sebaliknya.
Hu-lan Lo-kway telah salah menyangka Koo San Djie menjadi kekasihnya Selendang Merah maka, terlebih
dulu ia bersedia membantunya. Melihat Selendang Merah lari menyingkir ia sudah berkata pula dengan
membuka mulutnya yang lebar:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Apa kau tidak percaya, aku tidak dapat menyembuhkan kepadanya?”
Lalu is menoleh kepada gendaknya Lu Lu Hoa.
“Biar aku mendapatkan si baju merah ini, tapi tidak akan lupa juga kepadamu,” katanya sambil ketawa
nyangir.
Lu Lu Hoa menjadi sengit:
“Cis, tua bangka tidak tahu malu!”
Selendang merah biar hatinya marah, tapi tidak dapat berbuat suatu apa. Tapi ia telah lama berkelana di
kalangan Kang-ouw, ia tahu, bahwa bagaimana melayani orang sebangsa Hu-lan Lo-kway ini. Terhadap
perkataannya yang kurang ajar tadi, ia pura-pura seperti tidak mendengar, malah ia mencoba tertawa dan
berkata:
“San-cu memang suka bercanda. Jika betul dapat menyembuhkan adik kecilku ini, maka aku akan
membawanya ke gunungmu terlebih dahulu.”
Lalu ia sudah mendahului berjalan meninggalkan kuil kecil itu, diikuti oleh Hu-lan Lo-kway yang mengintil di
belakang.
Hanya Lu Lu Hoa yang menjadi kesal setengah mati. Ia telah dapat melihat yang si baju merah ini ada lebih
cantik berapa kali dari padanya, dengan tingkah lakunya Hu-lan Lo-kway, mana ia tidak menjadi cemburu?
Maka semua kemarahannya sudah ditumpahkan kepada si Selendang Merah seorang.
“Dua-duanya sama-sama tidak tahu malunya!” ia menggerutu dalam hatinya.
Mendadak, terdengar teriakannya Hu-lan Lo-kway yang berjalan di belakang:
“Hei, kau telah jalan salah. Kau harus jalan dari sebelah kiri.”
Selendang Merah seperti tidak mendengar, malah ia menambah kecepatan kakinya. Hu-lan Lo-kway seperti
baru engah yang ia diakali olehnya. Maka dengan tertawa dingin ia berkata:
“Kau berani main gila di hadapanku?”
Bersama dengan putusnya perkataan, ia sudah melompat tinggi, bagaikan alap-alap yang mau menangkap
mangsanya ia melayang-layang mengejar.
Tenaga Selendang Merah berada jauh di bawah Hu-lan Lo-kway, ditambah lagi harus membopong tubuh
Koo San Die, maka, sebentar saja telah dapat dikejar oleh musuhnya.
Tapi Selendang Merah tidak mau gampang-gampang menyerah kalah, ia sudah mencabut senjata
selendangnya bersedia mengadu untung dengannya.
Terdengar suara tertawanya Hu-lan Lo-kway yang menyeramkan:
“Apa kau ingin mengikat tali merah kepadaku?”
Dengan perlahan-lahan ia maju mendekati.
Selendang Merah dengan membentak keras melontarkan senjatanya, rantai merah menggaet tubuh lawan.
Hu-lan Lo-kway tidak mau berbuat ceroboh, tangannya yang besar dikibaskan berapa kali, menepok pergi
datangnya selendang.
Biarpun Selendang Merah tidak mempunyai kekuatan setinggi lawannya, tapi dengan menggunakan senjata
panjang yang istimewa ia telah berusaha menahan datangnya sang lawan. Dengan menggunakan tenaga
dalam, ia meluruskan selendangnya, mengarah muka Hu-lan Lo Kway.
Hu-lan Lo-kway tidak bergeming dari tempatnya, dengan tidak mengelak lagi ia menggunakan tangannya
yang besar untuk menjambret datangnya selendang.
Selendang dilemaskan sedikit, sudah berbalik mau melibat tangan Hu-lan Lo-kway yang disodorkan. Jika
saja ia kalah sebat.
Mana Hu-lan Lo-kway tidak menjadi gemas mendapat serangan ini. Kedua matanya menjadi merah, seperti
mau memancarkan api, tangannya bergerak, bagaikan titiran-titiran membuat angin yang dahsyat,
memaksa selendang berkibar-kibar naik ke langit.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan tidak membuang ketika yang baik, Hu-lan Lo-kway menubruk maju lagi.
Cepat si Selendang Merah menarik kembali senjatanya, lompat maju lagi.
Selendang ditekuk, dibuat pentung dan mengarah pergelangan sang lawan.
Hu-lan Lo-kway tertawa dingin:
“Apa kau masih dapat lolos lagi?”
Gerakan badannya berobah menjadi semakin cepat. Sehingga si Selendang Merah menjadi pusing juga.
Ia hanya dapat main mundur, tapi biar bagaimana, ia tidak mau menyerah kalah ia, berusaha menjauhkan
diri dari lawannya yang ganas.
Si Selendang merah yang sudah menjadi rada pusing hanya memperhatikan gerak badan musuhnya, tapi
lupa, ia telah main mundur sampai di ujung tebing yang tajam. Waktu Hu-lan Lo-kway lompat menyerang
lagi, dengan gugup ia lompat menyingkir, tapi hatinya menjadi kaget, sewaktu kakinya tidak dapat
menginjak tanah. Berbarengan, dengan suara jeritan ngeri ia sudah terjatuh ke dalam jurang yang dalam,
bersama-sama Koo San Djie.
Masih untung Si Selendang Merah mempunyai hati yang cukup tabah, biarpun bahaya sudah berada di
depan mata, tapi ia tidak menjadi gugup. Dengan kedua tangannya masih membopong tubuhnya Koo San
Djie, ia coba menenangkan pikirannya, tubuhnya dengan cepat meluncur ke bawah.
Berat tubuhnya Koo San Djie dipindahkan seluruhnya ke sebelah tangan, dan tangan yang masih
memegang selendang panjang sudah dilemparkan ke atas dan tepat menyangkut pada salah satu dari
pohon-pohon tua yang berada di situ.
Dengan cara beginilah, ia menghindarkan diri dari kematian. Tapi, dengan sebelah tangan memegang
selendang ia juga tidak dapat berbuat sesuatu apapun.
Matanya diputar ke empat penjuru, dan masih untung baginya, ia dapat melihat sebuah batu menonjol yang
tidak jauh dari tempat mereka bertengger. Dari batu ini terlihat sebuah goa gelap yang cukup untuk dua
orang menjatuhkan diri di sana.
Dengan cepat, ia telah mengambil putusan untuk meloncat ke sana. Tidak perduli goa binatang atau
manusia, yang penting adalah harapan hidup. Maka, dengan mengayun diri ia telah lompat.
Setelah sampai di sana dengan selamat, yang pertama, ia letakkan tubuh Koo San Djie yang menjadi beban
berat baginya. Baru kini ia mendapat ketika untuk bernapas lega.
Sesudah ia istirahat sebentar dan mengatur jalan pernapasannya yang tadi sengal-sengal dengan perlahanlahan
diperhatikan goa tadi. Dilihatnya goa ini sangat dalam sekali, sebentar-sebentar ada angin dingin
yang keluar dari situ, membuat ia yang merasainya menggigil juga. Dilihatnya Koo San Djie yang ada di
bawah masih belum mendusin. Hatinya menjadi semakin pedih saja. Inilah kesalahannya tidak disengaja.
Biarpun pemuda ini tidak mempunyai hubungan dengan dirinya, tapi setelah sama-sama mengalami
kejadian yang mengerikan ini, hatinya telah berobah sayang kepada si pemuda.
Ia adalah orang kuat di antara kaum wanita. Sedari meninggalkan gurunya, seorang nikouw yang tidak
bernama, selalu ia mengembara seorang diri. Dengan mengandalkan kepandaian dan kepintaran, ia telah
mengangkat nama, sehingga menyamai kedudukan Pay-hoa Kui-bo dan si Kepala Setan Srigala.
Seumurnya, tidak pernah mendekati orang laki, ia paling tidak suka akan lelaki yang begitu melihatnya
sudah menjadi lupa daratan, orang inilah yang paling tidak dipandang mata olehnya.
Ini bukannya ia tidak mempunyai perasaan, ia sebagai seorang wanita tetap masih memerlukan kasih cinta.
Hanya ia belum dapat menemukan orang yang cocok dengan hatinya.
Ia sering keluar sebagai pembela kaumnya, seperti Tju Thing Thing yang waktu itu jadi setengah gila,
meninggalkan gunung Pay-hoa, dengan kebetulan sekali telah menemuinya. Setelah mengetahui akan
duduknya perkara, ia sudah menasehatkan meninggalkan Pay-hoa Kui-bo dan mencari Koo San Djie untuk
membuat perhitungan. Sehingga sama-sama mereka menemukan Koo San Djie di dalam rimba. Tapi waktu
itu juga Tju Thing Thing insyaf akan kesalahannya, bukan saja tidak menyalahkan Koo San Djie lagi,
bahkan juga telah minta maaf kepadanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dari kejadian inilah ia telah dapat memastikan, Koo San Djie bukannya orang yang berhati jahat, maka, di
dalam keadaan bahaya tadi, di waktu tergantung ditengah-tengah tebing tadi, ia tidak mau melepaskan
cekalannya.
Ia kini harus berusaha untuk dapat naik dari jurang ini, melepaskan diri dari cengkeraman bahaya yang
belum terlepas sama sekali.
Mendadak, ia mendengar satu suara elahan napas yang panjang, suara ini demikian jelas, dekat sekali,
membuat bulu romanya berdiri.
15.34. Manusia Bertangan Satu Tanpa Kaki
Si Selendang Merah telah dibikin kaget oleh suara elahan napas yang mendadak ini. Jantungnya memukul
dengan keras, ia percaya akan ketajaman telinganya yang tidak pernah salah dengar. Tapi di tengah-tengah
jurang yang tidak terlihat ujung pangkalnya ini, dari mana datangnya suara manusia?
Ia menahan napas, menunggu datangnya suara kedua kalinya.
Betul saja, tidak lama kemudian, suara, elahan napas tadi terdengar pula. Tapi kali ini telah diketahui dari
mana datangnya suara, ternyata suara elahan napas itu keluar dari dalam goa yang dalam tadi.
Maka, ia memberanikan diri, masuk ke dalam goa untuk mencari dari mana datangnya suara ini. Diangkat
lagi badannya Koo San Djie yang terluka, perlahan-lahan ia memasuki goa yang gelap.
Goa ini seperti bikinan manusia, biarpun gelap dan dalam, tapi keadaan jalanan sangat rata. Setelah ia jalan
berliku-liku setengah lie jauhnya, keadaan goa telah menjadi semakin luas, dari atas menyorot sinar
matahari.
Setelah ia memperhatikan keadaan di sekitar ini, dengan tidak tertahan lagi ia berteriak keras:
“Ouw......”
Seorang tua berambut panjang yang awut-awutan duduk di tengah-tengah ruangan. Melihat Selendang
Merah datang ke arahnya orang itu membuka kedua mata yang memancarkan sinar tajam, tapi kemudian,
ia sudah merapatkan kembali.
Dilihat orang tua ini paling sedikit juga telah berumur lebih dari seratus tahun, jidatnya lebar, mukanya keren
dan berwibawa.
Tapi, yang membikin Si selendang merah berteriak adalah kedua kakinya orang ini telah terbabat putus
sama sekali, buntung, tangannyapun hanya tinggal sebelah. Ini masih belum cukup menyeramkan, yang
lebih kasihan ialah, lehernya terdapat sebangsa kalung baja yang berantai, yang diikat sampai ke atas
tembok goa. Jika dilihat dari keadaan ini, orang tua ini hanya dapat bergerak di antara lingkaran yang
berjari-jari dua tumbak lebih.
Orang tua ini telah dikurung orang, tapi siapakah orang yang telah berbuat sekejam ini? Baru juga mau
membuka mulutnya, ia telah keburu didahului oleh orang aneh itu.
“Siapakah kalian berdua, mengapa dapat datang kemari?”
Selendang Merah meletakkan tubuh Koo San Djie, sambil menjura ia memberi hormatnya, kemudian
menjawab:
“Boanpwe mendapat julukan Selendang Merah, karena dikejar musuh dan terjatuh ke dalam lembah,
beruntung dapat menggunakan selendang dapat masuk ke dalam goa ini.”
Terdengar pula suaranya si orang tua tidak berkaki:
“Dan siapa pula yang di bawah itu?”
Dengan masih menghormat ia, menjawab:
“Adik boanpwee yang bernama Koo San Djie, ia terluka berat.”
Terdengar perintahnya yang keren:
“Bawa kemari. Perlihatkan padaku!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Selendang merah tidak membantah akan perintah ini, betul-betul ia membopong ke depan.
Si orang tua tidak berkaki, dengan tidak memeriksa lagi tentang keadaan lukanya, sudah menggerakkan
tangannya yang tinggal sebelah di sekeliling tubuh Koo San Djie, diperhatikannya juga betul-betul paras
muka anak muda itu. Setelah sekian lama baru ia berkata pula:
“Bagaimanakah tentang asal usulnya?”
Selendang merah tidak berani membohong, dengan terus terang ia berkata:
“Ia adalah ahli waris Si pendekar Berbaju Ungu dan juga murid pendekar Merpati Liu Djin Liong.”
Si orang tua telah lama tidak keluar dalam dunia Kang-ouw, maka ia tidak tahu, apa yang disebut Pendekar
Berbaju Ungu atau Liu Djin Liong itu.
Tapi mendengar apa yang disebut “Pendekar” tentunya bukanlah orang jahat. Maka ia memanggutkan
kepalanya dan bertanya lagi:
“Bagaimana dengan kelakuan anak ini?”
“Ia bersifat pemurah dan budiman, tapi angkuh.”
“Baik. Aku bersedia mengobatinya. Tapi aku mempunyai sedikit urusan yang harus ia lakukan, dapatkah
kau mewakilinya berjanji?”
“Demi membalas kebaikan locianpwe yang telah mengobatinya, sudah seharusnya jika kami berbuat
sesuatu apa. Tapi......”
Si orang tua membuka kedua matanya melihat sebentar anak gadis yang di depannya ini dan memotong:
“Tapi apa?”
“Permintaan ini harus tidak melanggar prikemanusiaan, tidak mengandung kejahatan dan tidak lepas dari
keadilan, tiga macam, boanpwe baru berani mewakilinya.”
Si orang tua tertawa terbahak-bahak.
Dengan adanya beberapa perkataan kau ini, aku menjadi lebih tidak ragu-ragu lagi. Dengan terus terang,
tadinya aku masih takut diakali kalian.”
Berkata sampai di sini ia kembali menghela napas lagi.
“Jika tidak mudah percaya kepada orang, tidak mungkin terjatuh seperti ini......” seperti berbicara pada
dirinya sendiri.
Mendadak, ia seperti mengingat suatu apa lalu berkata pula kepada orang di hadapannya:
“Apa kau dapat mewakilinya berjanji menjadi ahli warisku juga?”
Selendang Merah masih tidak mengerti, tapi ia masih menjawab:
“Seperti telah kukatakan, jika tidak melanggar dari itu tiga pantangan, boanpwee akan berani bertanggung
jawab.”
“Baik. Mari kita segera mengobatinya.”
Betul saja, si orang tua sudah mengeluarkan botol obat yang kecil dari saku bajunya, dan menuang pil-pil
merah sebesar kacang tanah. Dengan mata memandang ke arahnya Selendang Merah, ia berkata:
“Betulkah kau sebagai saudara tuanya?”
Muka Selendang Merah menjadi merah. Tapi ia memaksakan menganggukkan kepalanya juga.
“Maka, lekas kau beri ia obat!”
Selendang Merah menjadi serba salah, bagaimana ia harus memberi makan pil itu kepada orang yang
sedang pingsan. Baru kini ia sadar akan pertanyaan si orang tua tadi. Obat ini harus dikunyahnya terlebih
dulu, baru dimasukan ke dalam mulutnya. Biarpun ia telah berumur lebih dari duapuluh tahun, tapi belum
pernah ia mengadu mulut dengan orang lain. Maka, tentu saja tidak pantas baginya untuk memberi obat
seperti ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biarpun Koo San Djie masih terlalu kecil baginya, tapi badan si pemuda cepat tumbuh, seperti orang sudah
dewasa.
Tapi, demi menolong orang ia tidak dapat memikirkan ini lagi. Setelah mengambil obat dari orang tua tidak
berkaki tadi, dengan tidak berpikir lagi, ia menghancurkan dengan air ludah, lalu semuanya dimasukkan ke
dalam mulut Koo San Djie.
Tidak lama kemudian, terdengar suara si orang tua:
“Lekas bawa kemari, agar dapat kusegera bantu menjalankan jalan darah nadi besarnya.”
Dengan cepat Koo San Djie telah dibawa ke hadapan si orang tua. Siapa yang telah mengulur tangan
tunggalnya, dengan kecepatan yang luar biasa, menotok duapuluh empat jalan darah yang terpenting di
tubuh Koo San Djie. Ia hanya berhenti sebentar, lalu mengulangi pekerjaannya, sehingga semua jalan
darah mencair kembali seperti biasa.
Baru kini si orang tua mengeluarkan elahan napas lega, merapatkan kedua matanya kembali dan terdiam.
Selendang Merah mencuri lihat, di atas kepala orang tua itu mengeluarkan asap yang mengepul naik. Inilah
pekerjaan yang berat bagi seorang cacat.
Tidak lama kemudian, napas Koo San Djie sudah mulai terdengar lagi, semakin lama menjadi semakin
keras dan kemudian normal kembali.
Sebenarnya, luka dalam Koo San Djie sudah hampir sembuh semua, sayang, Selendang Merah tidak
melihat orang sedang melatih diri dan menubruknya, sehingga hampir saja menyebabkan ia mengalami
bencana Jalan Darah Masuk Api. Masih untung baginya saat itu telah hampir selesai, sehingga tidak seperti
gurunya.
Kini, setelah makan pil mujijat pemberian si orang tua dan juga dibantu menjalankan jalan darahnya, maka
ia menjadi seperti biasa lagi. Tapi ia masih tidak berani segera berjalan. Dicobanya bernapas sebentar,
setelah tidak merasakan sesuatu yang tidak benar, barulah ia berdiri dari tempatnya.
Dilihatnya ia kini berada di dalam sebuah goa, dengan si Selendang Merah berdiri disamping. Dengan
segera ia mau membuka mulutnya, telah keburu dicegah oleh Selendang Merah, sambil menunjuk ke arah
si orang tua yang sedang duduk memulihkan tenaganya.
Si orang tua mempunyai tenaga dalam yang sempurna, tidak lama kemudian, tenaganya telah pulih
kembali, dengan membuka kedua mata, ia berkata:
“Apa adik kecilmu telah sadarkan diri?”
Selendang Merah cepat menjawab:
“Terima kasih atas bantuan Locianpwe yang berharga. Dia telah sembuh kembali.”
Lalu ia memberi tanda dengan matanya kepada Koo San Djie dan berkata:
“Mengapa tidak lekas mengucapkan terima kasihmu?”
Koo San Djie tidak membantah. Cepat ia menekuk lutut memberi hormatnya.
Si orang tua juga tidak mau banyak cing-cong dengan segala peradatan ini, setelah membiarkan Koo San
Djie memberi hormatnya, ia bertanya pula kepada Selendang Merah:
“Apa kau telah memberitahu kepadanya tentang perjanjian kita?”
Selendang Merah menjawab:
“Tadi, belum ada waktu untuk memberitahukannya.”
Lalu ia menarik tangan Koo San Djie, dengan ringkas, dituturkannya perjanjian di antara ia dengan si orang
tua.
Koo San Jit mengerutkan kening:
“Biarpun tidak ada pengobatan, jika hanya mengurus sedikit persoalan saja, tidak susah ditolak. Tapi,
tentang menjadi ahli waris itu, agak sukar diputuskan, karena aku telah mempunyai dua guru......”
dunia-kangouw.blogspot.com
Si orang tua telah memotong perkataannya:
“Tidak usah kau berguru. Anggap sajalah sebagai orang tuamu, menyuruh kau melaksanakan urusannya.
Apa yang kau buat susah?”
“Entah melaksanakan urusan apa?” Koo San Djie bertanya.
Si orang tua menggapaikan tangannya:
“Kau berdua kemari, aku akan bercerita.”
Lalu ia mulai dengan ceritanya......
“Di dunia terdapat satu lembah, lembah yang tak mudah diduga...... Lembah ini mempunyai tanah yang
subur dan ladang yang luas. Orang yang tinggal di sana tidak pernah mengenal apa yang dinamakan
perobahan hawa karena iklimnya yang selalu itu-itu saja. Bermacam-macam tanaman selalu dapat tumbuh
di sana, beraneka bunga mekar di sana. Siapakah yang beruntung dapat meninggali tempat ini?
“Mereka adalah keturunan orang-orang ternama dari ahala Ching yang melarikan diri dari raja mereka yang
buas. Mereka bercocok tanam sendiri dan dimakan sendiri, mereka menenun sendiri dan dipakai sendiri
juga. Segala kebutuhan mereka tidak usah mendapat dari luar lembah, hasil sandang pangan mereka
sudah lebih dari cukup untuk penghidupan mereka.
Mereka telah dapat juga mewariskan ilmu kepandaian yang menakjubkan dan ilmu ketabiban kuno dari Pan
Ku. Karena ilma ketabiban inilah, di antara pemandangan alam yang indah, mereka hidup tenang. Pemuda
dan pemudi mempunyai otak yang pintar dan terang, orangtua dapat berumur panjang, lebih panjang dua
kali umur mereka, jika dibandingkan dengan orang biasa. Orang yang tinggal di dalam lembah itu turun
temurun telah lebih dari dua ribu tahun lamanya. Tapi biarpun demikian masih belum ada orang luar yang
dapat mengetahui tempat letaknya lembah ini.
Koo San Djie dan si Selendang Merah hampir berbareng berteriak kaget:
“Lembah Merpati?”
Si orang tua membetulkan perkataan ini dengan memanggutkan kepalanya. Sambil menghela napas ia
berkata lagi:
“Telah lebih dari dua ribu tahun, orang tidak mengetahui nama dari Lembah Merpati. Kini, dengan seumur
kau orang ini telah dapat mengetahuinya, dari sini dapat dibuktikan bahwa rahasia lembah ini telah dapat
dibocorkan orang. Dengan kesalahan ini saja telah cukup kesalahannya ketua lembah sekarang untuk
menerima hukuman.”
Si Selendang merah yang loncer mulutnya sudah nyeletuk:
“Locianpwee tentunya adalah orang dari Lembah Merpati.”
Si orang tua tidak mengaku dan juga tidak membantah. Ia hanya terdiam di tempatnya seperti sedang
membayangkan pengalamannya kembali.
Tapi Koo San Djie sudah mengutarakan kecurigaannya:
“Orang dari kalangan Kang-ouw, paling suka akan menjelajah ke berbagai tempat, para tabib kuno sering
mencari obat-obatan di pegunungan, biarpun jurang yang bagaimana curamnya pun, sumber air yang
bagaimana tinggi, tidak mungkin sampai lebih dari dua ribu tahun tidak ada yang menemuinya.”
Si orang tua dengan tenang berkata:
“Pada asal mulanya, mereka yang lari dari tindasannya raja Ching terdiri dari bermacam-macam orangorang
pandai, di antara mereka ada juga yang telah memikirkannya sampai di sini, maka jalanan-jalanan di
sekitar lembah ini dipasang barisan-barisan tin yang tidak kentara. Barisan ini tidak bermaksud untuk
mengganggu orang, ia hanya menyesatkan orang, sehingga lupa akan tujuan arah. Setelah berputar-putar
arah, setelah berputar-putar sekian lama, orang yang masuk ke dalam barisan tin itu akan kembali ke
tempat asalnya lagi. Jika tidak diperhatikannya dengan seksama, tidak nanti orang dapat mengetahui
bahwa ada barisan tin yang telah dilalui oleh mereka.”
Koo San Djie berkata pula:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Jika mendengar penuturan Locianpwee ini, orang-orang dari dalam Lembah Merpati terdiri dari orang yang
baik-baik. Tapi, yang boanpwe lihat di kalangan Kang-ouw, mereka adalah orang jahat yang suka berbuat
sewenang-wenang. Yang menjadi ketua lembah belum tentu juga orang yang dapat dipandang mata.”
Si orang tua yang mendengar perkataan Koo San Djie mendadak berobah seperti marah, tapi tidak lama
kemudian biasa kembali.
Dengan menghela napas ia berkata:
“Orang dari dalam Lembah Merpati tidak pernah mempunyai hubungan dengan dunia luar. Umpama betul
ada kepentingan mendadak, menyuruh orang pergi keluar lembah, orang ini juga diharuskan menelan pil
beracun terlebih dahulu, tidak mungkin mereka berani berbuat sewenang-wenang, karena tidak dapat
kembali tepat pada waktunya, mereka dapat meninggal dengan tidak berbekas. Jika umpama betul mereka
berani berlaku kurang ajar, sekembalinya ke dalam lembah juga akan menerima hukuman yang setimpal
dari peraturan yang telah ada.”
Ia masih kuatir Koo San Djie tidak mengerti dengan jelas, maka telah memberi penjelasannya!
“Di sana, jabatan tertinggi dipegang oleh ketua lembah dan di bawah ini terdapat sidang yang terdiri dari
beberapa orang tertua di sana. Calon ketua lembah ditunjuk oleh ketua lembah yang lama, dan diserahkan
kepada sidang ini, putusan yang terakhir berada di bawah kekuasaan sidang beberapa orang-orang tertua
ini. Demikianlah turun temurun, tidak pernah salah pilih orang. Hanya akulah yang sudah picik, sehingga
menyebabkan terjadinya kesalahan ini.”
Baru sekarang Koo San Djie dan si Selendang Merah menjadi terkejut.
Dua-duanya mempunyai taksiran yang sama!
“Apakah orang tua ini yang menjadi ketua lembah yang lama?”
Si orang tua seperti telah dapat mengetahui pikiran mereka berdua. Dengan memanggutkan kepalanya ia
berkata:
“Betul. Akulah yang menjadi ketua lembah lama. Karena salah mendengar pujian orang, aku salah
menunjuk orang sebagai wakil ketua, sewaktu aku mengetahui akan kesalahanku ini, kejadian sudah tidak
dapat ditarik kembali. Masih untung, aku dapat mempunyai pegangan yang terakhir, sehingga ia masih tidak
berani berbuat dengan semau-maunya. Dari sebab inilah ia menjadi benci kepadaku, dan memotong kedua
kaki dan sebelah tanganku, kemudian dikeram di dalam goa ini.”
Ia menghela napas sebentar kemudian berkata:
“Aii, aku telah limapuluh tahun mengalami penghidupan bukan manusia di dalam goa yang gelap ini.
Beruntung arwah leluhur masih melindungiku, sehingga membawa adik-adik kecil yang mempunyai
pembawaan agung kemari, yang kurasa tidak akan mengecewakan harapanku.”
Koo San Djie dengan membongkokkan badannya berkata:
“Silahkan locianpwee memberi perintah.”
Si orang tua memanggutkan kepalanya.
“Kau perlahan-lahan dengarlah ceriteraku dulu.”
Dengan tidak memberi kesempatan untuk Koo San Djie memotong ia melanjutkan ceritanya:
“Peraturan yang pertama dari Lembah Merpati adalah tidak memperbolehkan orang dari dalam lembah
berhubungan dengan dunia luar dan juga tidak mengijinkan orang luar masuk ke dalam lembah. Tapi,
sekarang binatang itu berani melanggar peraturan dan memanggil para kepala jagoan masuk ke dalam
lembah. Dia berhati besar dengan kepandaian Lembah Merpati yang menakjubkan mau menguasai dunia.”
Si orang tua berpikir sebentar lalu meneruskan pula:
“Dia kini telah membagi Lembah Merpati menjadi dua bagian. Yang diberi nama Lembah Dalam dan
Lembah Luar. Ia sendiri tetap sebagai ketua lembah Dalam bersama dengan para orang tertua mengatur
semua urusan besar dan kecil. Tapi di Lembah Luar seperti juga ada mengangkat ketua juga, hanya ketua
Lembah Luar ini harus mendengar perintah ketua Lembah Dalam. Di dalam Lembah Luar inilah yang
dijadikan asrama besarnya. Para kepala jagoan yang berkepandaian tinggi ditaruh di dalam Lembah Luar
ini. Yang kau katakan sering berbuat sewenang-wenang adalah orang-orang ini. Hanya sayang kejadiandunia-
kangouw.blogspot.com
kejadian ini masih belum dapat diketahui oleh sidang para orang tertua di dalam Lembah Dalam. Inilah
suatu malapetaka yang dapat mengakibatkan hancurnya Lembah Merpati. Maka apa boleh buat aku harus
memberi tugas ini kepada orang luar juga.”
Selendang Merah menyelak:
“Jika demikian, tentunya ilmu silat Lembah Merpati ini akan merajai dunia.”
Kedua mata si orang tua mendadak menjadi lebih bersinar. Dengan keren ia berkata:
“Bukannya aku berkata sombong. Jika keluar di kalangan Kang-ouw saja, tidak ada yang dapat
menandingi.”
Tapi setelah ini si orang tua merasa seperti terlepasan berkata.
Di hadapan dua anak muda itu tidak seharusnya berkata demikian. Maka dengan kalem ia melanjutkan
pula:
“Pada jaman dahulu kala, demi kepentingan dan keamanan lembah, orang yang pandai-pandai telah
bersama-sama menyetujui untuk mengeluarkan kepandaiannya masing-masing yang sudah dikumpulkan
menjadi satu buku. Inilah yang menjadi sari kepandaian Lembah Merpati, dan orang menyebutnya kitab
Kutu Buku. Kitab Kutu Buku ini, karena bukan ciptaannya seorang saja, maka ia terdiri dari bermacammacam
kepandaian yang tidak mudah dipelajari untuk sembarang orang. Biarpun dari Lembah Merpati yang
mempunyai otak yang terang, tapi tidak mungkin seorang dapat memahami kepandaiannya sedemikian
banyak orang pandai. Maka kitab Kutu Buku ini selalu disimpan di tangannya ketua lembah. Dan ketua
lembah menurut keadaan orang masing-masing memberi sedikit pelajaran yang cocok baginya. Aku,
biarpun sebagai ketua lembah lama, juga hanya dapat mempelajari tidak lebih dari empatpuluh persen saja.
15.35. Pewaris Ketua Lembah Merpati
Koo San Djie mengutarakan pandapatnya:
“Jika dikatakan orang yang sering berbuat sewenang-wenang itu, bukannya orang-orang dari lembah, maka
kepandaian-kepandaian mereka itu bukannya kepandaian Lembah Merpati yang asli.”
“Mungkin juga,” si orang tua menjawab. “Si binatang, biarpun bernyali besar, kurasa dia masih tidak berani
melanggar peraturan ini menurunkan ilmu kepandaian kepada orang luar. Umpama benar dia berani
berbuat begini, Dewan Orang Tertua juga tidak dapat sembarangan menyudahinya.”
Berkata sampai di sini si orang tua sudah menggapaikan tangannya kepada anak muda kita.
Koo San Djie menurut akan perintah si orang tua yang hanya tinggal bertangan satu ini.
Mendadak si orang tua dengan keras berkata:
“Lekas berlutut.”
Koo San Djie juga menurut perintah menekuk lututnya dan menjatuhkan diri di hadapannya.
Si orang tua setelah merogoh-rogoh di dalam saku bajunya sekian lama, ia mengeluarkan sebuah benda
seperti batu kumala yang disodorkan ke arah Koo San Djie.
Dengan sifat yang agung sekali ia berkata:
“Inilah tanda kepercayaan ketua lembah dari Lembah Merpati. Siapa yang melihatnya, berarti bertemu
dengan ketua lembah. Harap kau dapat baik-baik menyimpannya.”
Biarpun Koo San Djie menyambuti benda ini tapi masih belum mengerti akan maksudnya.
Diperhatikannya benda ini yang ada seperti batu kumala berwarna licin mengkilap. Di atasnya terlukis
sepasang burung merpati yang sedang terbang di udara. Mata burung yang kecil berwarna hitam bersinar
seperti hidup.
Si orang tua dengan sungguh-sungguh berkata:
“Mulai dari ini waktu kau telah menjadi calon ketua Lembah Merpati.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Lalu ia menyelaskan tentang kegunaannya tanda kebesaran itu.
“Kau jangan tidak memandang mata kepada tanda kebesaran ini, ia mempunyai khasiat tahan panas, tahan
racun dan tahan dingin, ia adalah terbuat dari bahan yang sama dengan batu kumala dari kerajaan Cao.
Ketua lembah yang sekarang juga mempunyai tanda kebesaran yang seperti ini, tapi kepunyaannya adalah
palsu belaka. Setelah kau dapat masuk ke dalam lembah, akan kau ketahui sendiri.”
Setelah penjelasannya si orang tua mengeluarkan juga dua botol obat yang tidak sama. Setelah diberikan
kepada San Djie ia juga mengasi tahu kegunaannya.
“Ini adalah obat buatan Lembah Merpati. Yang satu ini adalah “Penjernih otak” dan satu lagi “Tujuh
kembali”.
Setelah memberi tahu akan namanya kedua obat ini, ia juga memberi tahu akan kegunaannya.
“Yang ini pil “tujuh kembali” dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Orang yang melatih silat, jika
memakan pil ini dapat menambah latihannya menjadi sepuluh tahun. Dan pil “penjernih otak” ini masih
tinggal tiga butir lagi. Kau berdua boleh masing-masing memakan sebutir, dan yang sebutir lagi kau boleh
simpan untuk digunakan nanti.”
Bertiga mereka berdiam ditempatnya masing-masing. Setelah sekian lama mereka terdiam, mendadak San
Djie seperti mengingat sesuatu apa, maka ia bertanya:
“Boanpwee diperintahkan pergi ke dalam Lembah Merpati, tapi sebenarnya boanpwee belum pernah pergi
kesana. Maka harus dengan jalan apa?”
Pertanyaan ini bukan hanya San Djie saja yang ingin tahu, si Selendang Merah pun telah memikirkannya.
Tapi dilihatnya oleh mereka si orang tua telah menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia membuka mulutnya
dan berkata:
“Dengan cara ini saja aku telah melanggar peraturan leluhur, bagaimana berani membongkar rahasia ini
lagi? Kau tidak usah kuatir akan hal ini, tidak lama lagi tentu akan terbuka juga jalannya bagimu.”
San Djie tidak mau memaksa menanya terus.
Si orang tua setelah memberi segala petunjuk-petunjuk yang perlu kepadanya, lalu memanggil San Djie ke
dekatnya dan membisikinya sampai setengah harian.
Si Selendang Merah hanya dapat melihat mulutnya si orang tua yang bergerak-gerak, tapi tidak dapat
mendengar apa yang dikatakan olehnya. Dilihatnya San Djie yang dapat mendengar bisikan ini semakin
lama sudah menjadi semakin tegang saja.
Si orang tua setelah mengucapkan sekali, diulanginya lagi sampai dua-tiga kali baru selesai. San Djie juga
sudah menjadi bukan main gembiranya, berulang kali ia memanggut-manggutkan kepalanya. Dilihatnya San
Djie juga turut berkemak-kemik juga.
Si orang tua hanya melihat saja anak muda yang pintar ini, lalu ia memandang ke mulut goa seperti
membayangkan sesuatu apa. Mendadak si orang tua seperti telah mengambil suatu putusan, seperti
berkata sendiri ia mengeluarkan perkataannya:
“Baik beginipun boleh.”
Lalu ia berkata kepada San Djie berdua:
“Setelah aku tidak bernapas, mayatku kau boleh simpan di sela-sela dalam goa ini.”
San Djie dibikin bingung oleh beberapa patah perkataan yang tidak keruan juntrungannya ini. Tapi ia hanya
dapat memanggut-manggutkan kepalanya dengan mulut tidak hentinya berkata:
“Baik, baik.......”
Sampai disini si orang tua seperti telah selesai dengan tugasnya. Ia memanggil San Djie untuk lebih dekat
lagi dan perlahan-lahan menguruti di seluruh tubuh anak muda ini.
San Djie hanya merasakan aliran-aliran yang hangat mengalir datang dari berbagai jurusan yang terkena
tangannya si orang tua yang bernasib malang ini. Bukan main rasa segarnya sekarang ini.
Tapi ia mana tahu yang si orang tua tidak berkaki ini sedang mencurahkan seluruh tenaga kepadanya untuk
diwariskan kepada orang yang sudah dicalonkan olehnya menjadi ketua Lembah Merpati ini. Setelah
dunia-kangouw.blogspot.com
selesai dengan pekerjaan ini ia akan menjadi seperti pelita yang kehabisan minyak dan meninggalkan dunia
yang fana ini.
Untung San Djie tidak dapat mengetahui akan segala akibat ini. Jika ia berpengalaman, sudah tentu ia tidak
mau menerima cara pengorbanan yang sebesar ini.
Si Selendang Merah tahu akan si orang tua ini telah memakan tenaga yang bukan sedikit untuk membantu
tenaga dalamnya San Djie. Tapi ia juga tidak mengetahui akan akibat matinya dari si orang tua yang
tersiksa ini.
Setelah memijit beberapa waktu lamanya, San Djie merasakan tangannya si orang tua semakin lama
menjadi semakin lemah dan kemudian berhenti sama sekali. Tapi ia masih membiarkannya saja.
Yang heran, tangan ini semakin lama sudah menjadi semakin dingin saja. Koo San Djie seperti telah
merasakan sesuatu yang tidak beres, maka ia dengan cepat sudah membalikkan badannya dan memegang
urat nadi si penolong besarnya.
Alangkah kagetnya, ia merasakan si orang tua sudah tidak bernapas lagi. Bagaikan seorang anak kecil
yang ditinggalkan bapaknya ia menjadi menggerung-gerung menangis. Ia mempunyai perasaan yang tajam,
orang tua ini telah membantu mengobati luka dalamnya, memberi banyak petunjuk ilmu silat kepadanya,
dan yang terakhir, demi menambah tenaga, orang tua ini sampai harus mengorbankan jiwanya yang
berharga.
Pengorbanannya sedemikian besarnya, mana ia tidak menggerung-gerung menangis?
Setelah membiarkan Koo San Djie menangis sampai puas, Selendang Merah turut menghiburnya:
“Seorang laki-laki tidak mudah untuk mengeluarkan air mata. Orang tua itu telah mempercayakan kepada
dirimu maka sudah seharusnya kau dapat menyelesaikan pesanannya. Jika hanya dengan menangis saja,
sampai lupa akan tugas yang telah dipesan kepadamu arwahnya si orang tua jika mendapat tahu juga tidak
puas.”
Koo San Djie baru menahan air matanya, disodorkannya tangannya ke arah rantai yang mengikat orang tua
tadi, tapi tidak disangka, seperti kayu lapuk saja, rantai ini telah jatuh berantakan.
Dari sini dapat diketahui, si orang tua bukannya tidak dapat melepaskan diri dari sini, ia tentu memang rela
terkurung untuk menerima hukuman.
Setelah selesai mereka berdua mengurus mayatnya orang tua itu, lalu keluar ke mulut goa. Dilihatnya ke
atas tebing yang demikian curam di bawah, hitam gelap yang tidak kelihatan dasar tanah. Umpama mereka
dapat berubah menjadi burung yang mempunyai sayap, juga tidak mungkin untuk melepaskan diri dari sini.
Si Selendang merah dengan mengkerutkan keningnya berkata:
“Bagaimana kita sekarang ini?”
Koo San Djie berpikir sejenak, mendadak ia berkata:
“Mari, ikut kepadaku!”
Dengan sebat ia telah mengeluarkan pit wasiatnya dan digenggam dalam tangannya, ia melompat keluar
goa dan menempel di sisi tebing.
Tidak percuma dia mendapatkan pit wasiatnya ini, dengan sekali tusuk saja ia telah dapat membuat lobang
yang cukup besar untuk dapat menaruh kakinya.
Dengan meminjam kekuatan dari lobang penaruh kaki ini, ia melompat lagi setinggi empat sampai lima
depa. Pit wasiatnya telah mendahului membuat lobang menaruh kaki lagi.
Begitu lobang terbuat, kakipun sampai, demikianlah untuk seterusnya ia merayap naik ke atas tebing yang
tinggi.
Si Selendang merah tertawa riang, dengan menurut jejak kawannya ia juga turut naik ke atas tebing.
Angin dingin menampar muka mereka. Badannya menjadi enteng sekali, pikirannya terang tidak berbekas.
Sekarang mereka telah betul-betul seperti menjadi burung merpati yang mau menerbangkan dirinya. Inilah
khasiatnya pil dari si orang tua tadi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Si Selendang merah sudah tertawa menghampirinya. Ia mencoba ingin tahu akan perkataan apa yang telah
dibisikkan oleh orang tua tadi kepada kawan yang bagus nasibnya ini:
“Apa sih yang telah dikatakannya kepadamu tadi. Apa kau suka memberi tahu juga kepadaku?”
Koo San Djie menggoyang-goyangkan kepalanya:
“Maaf, jika aku tidak dapat memberitahukan kepadamu. Inilah permintaan dari si orang tua.”
Si Selendang merah juga tahu, tentu semacam sari pelajaran ilmu silat, maka ia tidak mau mendesak terus.
Sampai di sini, Koo San Djie sudah mengutarakan maksudnya, ia akan mencari tahu akan kejadian yang
menyangkut kitab Sari Pepatah Raja Woo, dari supeknya yang hilang.
Si Selendang merah memang tidak mempunyai tujuan yang tetap, maka ia juga ingin turut kepadanya.
Koo San Djie tidak enak untuk menolak, maka dia hanya mendiamkannya saja.
Tapi anak muda kita mana tahu bahwa hati sang kawan yang angkuh ini sudah mulai terbuka. Seorang
gadis yang tadinya sangat membenci lelaki, dengan tidak terasa telah dapat dimasukinya bayangan Koo
San Djie yang tampan dan gagah.
Menggendong masuk ke dalam goa, memberi makan obat dengan ludahnya dan kejadian-kejadian yang
lain lagi, biarpun terjadi pada waktu Koo San Djie tidak sadarkan diri, tapi Si Selendang merah tidak dapat
melupakannya. Sikap bertahannya terhadap lelaki telah bobol sama sekali, tali asmara telah mulai
mengikatnya karena ia telah mulai tertarik kepada adik kecilnya yang seperti anak sapi besarnya ini.
Tapi sebaliknya, biarpun Selendang Merah telah bersusah payah menggendongnya di antara jurang-jurang
yang dalam berusaha untuk menolong dirinya, Koo San Djie masih tidak suka pada perempuan yang galak
tersebut, ia hanya menganggapnya sebagai kawan seperjalanan biasa.
Biarpun Selendang Merah telah berusaha untuk mendekatinya dengan memanggil kepadanya adik kecil,
tapi ia belum pernah mau mengucapkan Ciecie kepadanya.
Yang tidak dapat dilupakan dari ingatannya ialah: adik Tjeng Tjeng dan Ciecie Ong Hoe Tjoe.
Tapi biarpun ia tidak suka kepadanya, sebagaimana layaknya ia masih menghormat kepada sang encte
yang mulai tergila-gila kepadanya.
Kelakuannya Koo San Djie telah membuat Selendang Merah tidak percaya. Sedari ia terjun di kalangan
Kang-ouw, belum pernah ada laki-laki yang berlaku seperti Koo San Djie, bahkan untuk dapat mendekatinya
saja, laki-laki itu sudah sangat beruntung sekali.
Hanya anak muda ini terkecuali. Apa ia masih kecil? Mana mungkin. Dadanya yang lebar, badannya yang
besar dan yang paling menarik adalah suaranya yang sedikit mengandung magnit saja.
Tapi semakin ia tidak disukai, semakin mau juga ia mendekati.
Ia sangat percaya sekali kepada kecantikan mukanya, tapi kali ini kepercayaannya ini lenyap di hadapan si
anak muda. Ia mulai menjadi sedih, memikirkan dirinya yang berpandangan tinggi harus mengalah kepada
anak muda yang dianggapnya baru keluar kemarin ini.
Sudah menjadi satu sifat dari manusia jika barang yang susah didapatinya itulah yang paling diingini juga.
Tidak terkecuali dengan Si Selendang Merah, orang semakin tidak memperhatikan kepadanya, semakin ia
mau menarik perhatian darinya.
Di tengah perjalanan, ia telah berusaha menuruti segala keinginannya, ia berusaha mengeluarkan perasaan
sayangnya. Belum pernah ia membantah segala kemauan Koo San Djie, biarpun ini tidak disukainya.
Umpama waktu itu Koo San Djie minta sesuatu yang bukan-bukan, ia tidak akan berpikir lama, akan
memberikan juga apa yang diminta.
Api asmara yang telah sekian lama ditahan-tahan olehnya, baru kini memuntahkan lelatu api. Seperti
gunung yang meletus tidak dapat ditahan-tahan lagi.
Pekerjaan tiap harinya hanya melamun saja, apa juga tidak dapat dipikirkan lagi. Inilah bukan
kesalahannya, karena ia kini telah hampir mendekati umur tigapuluh, bukan umur yang kecil bagi seorang
wanita.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ada juga sewaktu-waktu disaat Koo San Djie memperhatikan atau merasa kasihan kepadanya, ini juga telah
cukup untuk membuatnya kegirangan sekali.
Hanya kejadian ini saja telah cukup membuat ia lupa daratan.
Dan pada waktu inilah ia sering berkata dalam hatinya:
“Aduh, penghidupan yang menyenangkan. Tidak kusangka lelaki mempunyai daya tarik demikian
hebatnya.”
Pada setiap saat, sebelum ia merebahkan dirinya, ia selalu mengingat-ingat kejadian yang dialami sehari
tadi. Segala gerak gerik atau tingkah lakunya Koo San Djie, tidak ada satu yang lepas dari pandangan
matanya.
Dangan perlahan-lahan ia membayangkan kembali kejadian-kejadian yang nikmat ini. Inilah makanan bagi
hatinya yang haus dengan itu.
Pada suatu ketika, pandangan matanya ke bentrok atau tangannya tersentuh dengan Koo San Djie, hatinya
berdebaran keras dan perasaan bahagia muncul dalam hatinya yang haus dengan hiburan seorang pria
yang dicintainya.
Keadaan waktu demikian dari Selendang Merah, mana ia mirip seorang pendekar wanita yang telah malang
melintang di dunia Kang-ouw?
Ia sering menjadi malu kepada dirinya sendiri. Ia telah menjadi cepat bermuka merah.
Sewaktu Koo San Djie hampir mendekati tempat tinggal Kim Ting Sa di gunung Sin-sa hatinya telah
merasakan sesuatu yang tidak enak.
Di sini seperti telah terjadi suatu kejadian yang maha besar. Semua orang yang jarang terlihat di kalangan
Kang-ouw, mendadak bisa muncul di sini semua, dengan tingkah yang terburu-buru, mereka ini menuju ke
suatu arah.
Hati Koo San Djie menjadi semakin berdebar saja, dengan memberi tanda kepada Si Selendang Merah ia
telah mendahului menambah kecepatannya.
Mendadak, dari kejauhan terdengar suara teriakan orang:
“Hei, adik kecil, kau telah menyiksa aku si sastrawan miskin. Mengapa sampai sekarang kau baru sampai di
sini?”
Ternyata, orang yang berteriak ini adalah si sastrawan Pan Pin, dengan mengempit baju rombengnya, ia
terbang menghampiri.
Koo San Djie hanya bisa menghela napas:
“Sukar dikata......”
Mendadak ia seperti melihat sesuatu, dengan cepat ia telah merobah pembicaraannya:
“Ciecie Ong Hoe Tjoe?”
Si sastrawan Pan Pin menjadi kaget:
“Apa bukannya ia bersama-sama denganmu?”
“Tidak,” jawab Koo San Djie sambil menggoyangkan kepala.
Si sastrawan Pan Pin menjadi melengak. Tapi ia tahu akan kepandaian Ong Hoe Tjoe, dan lagi, orang telah
dewasa, tidak mungkin jika dikatakan dapat sesat di jalan. Ia menyangka tentu Hoe Tjoe ada urusan sendiri
atau kejadian apa-apa yang mendadak. Maka ia sudah berkata lagi:
“Mungkin ia di tengah jalan telah menemui kejadian apa-apa. Nanti juga ia dapat menyusul kemari. Yang
paling penting sekarang ini ialah dengan cara bagaimana kita harus menyelesaikan urusan salah paham
ini?”
Koo San Djie seperti tidak mendengar perkataan ini.
Si Sastrawan Pan Pin tidak memperdulikan ia mendengar atau tidak sudah meneruskan ceritanya:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tiauw Tua telah pergi mengundang seorang ternama. Jika orang itu dapat tiba tepat pada waktunya,
urusan akan menjadi mudah diurus.”
Koo San Djie seperti tidak mengerti beberapa perkataan yang tidak ada sambungannya ini. Maka ia sudah
bertanya:
“Urusan apakah yang membikin keadaan menjadi tegang?”
Sastrawan Pan Pin menjawab:
“Sembilan ketua partai berbagai golongan yang mati di dalam Makam Merpati tentu telah kau ketahui.
Semua orang telah menyangka akan perbuatannya pendekar Merpati Liu Djin Liong. Kini semua golongan
telah mendatangkan tenaga-tenaga pilihan untuk pergi mencari supekmu itu.”
Ia masih takut yang Koo San Djie tidak jelas, maka meneruskan penjelasannya:
“Supekmu dengan kepandaiannya yang tinggi tentu telah kau ketahui, sifatnya yang angkuh tidak mau
mengalah kepada siapa juga. Jika sampai dapat menemuinya, bentrokan sudah tentu tidak dapat
dihindarkan lagi.”
Setelah Koo San Djie mendengar perkataan ini merasa benar juga akan tegangnya keadaan. Kini ia harus
mencegah terjadinya bentrokan yang tidak diingini.
Terdengar pula si Sastrawan Pan Pin berkata:
“Dan juga kudengar Si Pengemis Sakti Kiang Tjo yang telah lama tidak keluar, mendadak muncul kembali
untuk mencari supekmu juga. Orang ini paling tidak boleh dipandang enteng.”
Dengan sifatnya Liu Djin Liong, masa mau dia membuka mulutnya memberi penjelasan tentang kejadian ini.
Apa lagi ia juga sedang kesal yang telah kecurian barangnya. Mungkin kekesalan ini akan ditumpahkan
kepada orang-orang yang sedang mencarinya. Inilah dapat membuat urusan menjadi besar saja. Maka Koo
San Djie telah memikirkan untuk mencari si pembunuh terlebih dahulu, baru dapat menjelaskan duduknya
perkara penasaran.
Sastrawan Pan Pin berkata lagi:
“Tentang kabar Kim Ting Sa mendapatkan kitab Sari Pepatah Raja Woo, telah meluas kemana-mana.
Dalam beberapa hari ini ia akan mengadakan pertandingan untuk memperebutkan kitab itu. Kitab ini
sebenarnya ada menjadi milik supeknya, semua orang juga tahu supekmu ini tentu akan datang kemari
untuk mengambil kembali. Maka semua golongan partai telah menyediakan orang-orang pilihannya
berkumpul di sini untuk menunggu kedatangan supekmu itu.”
“Kini kita telah sampai di sini. Marilah kita pergi ke gunung Sin-sa terlebih dahulu,” jawab Koo San Djie
tenang.
Ini jalan satu-satunya bagi mereka, dan lagi itu kitab Sari Pepatah Raja Woo, adalah hak miliknya sang
supek, mana Koo San Djie dapat membiarkan terjatuh ke dalam tangan orang lain?
Maka ia telah minta semua orang untuk segera barangkat melanjutkan perjalanan mereka.
Mendadak, terdengar suara teriakannya Si Selendang Merah:
“Siapa yang mencuri dengar perundingan kita?”
Berbareng, selendang merahnya sudah di ulurkan menuju ke arah belakang sebuah pohon besar di sebelah
mereka.
Terdengar suara orang tertawa dengan dibarengi oleh mencelatnya sebuah bayangan yang melompat tinggi
dan terbang meninggalkan mereka.
Koo San Djie berteriak nyaring:
“Tunggu dulu kawan!”
Seperti seekor bangau saja ia melompat lebih tinggi dari orang itu dan mengejar ke arahnya.
Orang itu seperti tidak menyangka akan kepandaian Koo San Djie, maka dengan menambah kecepatannya,
ia telah manghilang dari pandangan mata.
dunia-kangouw.blogspot.com
Meskipun Koo San Djie lebih cepat dari padanya, tapi karena tadi ia telah ketinggalan jalan, maka ia tidak
berhasiI untuk mengejarnya. Tapi biarpun demikian anak gembala yang lihai ini telah dapat melihat gerakan
orang ini sangat mirip sekali dengan gerakan Tjeng Tjeng, yang berbeda dengan orang ini lebih menang
dalam latihan.
Seperti orang linglung ia berjalan kembali.
Mendadak, di belakangnya terdengar suara orang lagi:
“Bocah kecil memang mempunyai dasar kepandaian......”
Suara ini terdengar sedemikian halusnya yang ternyata keluar dari mulut seorang wanita.
Koo San Djie dengan cepat menolehkan kepalanya, tapi orang yang mengucapkan pujian ini telah hilang
juga.
Hatinya kembali jadi tergetar. Mengapa di dalam pegunungan yang, sepi ini terdapat demikian banyak orang
pandai?
Maka pertandingan di gunung Sin-sa tidak mudah untuk diurus, hanya dua orang ini sudah cukup membuat
kepalanya pusing.
16.36. Berebutan Kitab Pusaka
Bintang-bintang dilangit berkelap-kelip, seolah-olah menemani sinar bulan sabit.
Cabang-cabang pohon tua agaknya kedinginan ditiup angin yang bertiup keras.
Batu-batu di gunung Sin-sa, bagaikan macam-macam binatang yang hidup mau menelan orang yang
datang ke sana.
Di antara remang-remang sinar bulan terlihat berkeredepnya sinar pedang.
Berbareng, dengan terdengarnya beberapa suara tertawa, muncul empat orang yang beroman galak-galak.
Mereka adalah empat dari lima raja iblis yang baru saja berserikat, ialah Hu-lan Lo-kway, Kim Ting Sa, Raja
Setan Srigala dan Pay-hoa Kui-bo.
Dan yang menjadi kepala dari mereka si Badak Tanduk Perak tidak terlihat di sini, ia sedang berusaha
menemui satu rahasia.
Tidak antara lama, berbarengan dengaa suara angin menderu-deru, muncul pula beberapa orang. Di
antaranya terdapat Hian-tju Totiang dari Kun-lun-pay, It Tjing Tjie dari Bu-tong-pay, Si Golok Malaikat
Nomor Satu dari Go-bie-pay, dan si Walet Kie Gie.
Di antara sedemikian banyak orang, hanya tidak terlihat orang yang datang dari Siauw-lim-pay.
Mereka rame-rame bertemu, suara ketawa dan ocehan tidak henti-hentinya terdengar dari jauh, bagaikan
kawan-kawan lama saja yang baru bertemu kembali.
Malam ini mereka datang kemari dengan satu tujuan, yaitu sama-sama mencari si Pendekar Merpati Liu
Djin Liong.
Lima raja iblis yang baru saja berserikat, bermaksud naengangkat nama dari pertempuran yang pertama ini,
sekalian merebut kitab Sari Pepatah Raja Woo yang terkenal.
Hian-tju Totiang dengan kawan-kawannya mengingini jiwa Liu Djin Liong untuk membalas dendam para
ketua mereka yang terbunuh mati. Biarpun mereka belum mendapat bukti yang pasti bahwa sembilan orang
yang menjadi ketua partai mereka terbunuh di bawah tangan Liu Djin Liong, tapi mereka juga tidak dapat
mengetahui, siapa pembunuh yang sebenarnya. Demi kepentingan mengangkat nama, mereka tidak mau
pusing-pusing dan telah memastikan Liu Djin Liong sebagai pembunuh, maka selesailah tugas mereka, jika
dapat menangkap sang pembunuh.
Mereka menduga pasti bahwa si Pendekar Merpati tentu akan datang kemari untuk mengambil pulang
kitabnya yang telah tercuri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tapi tidak ada satu di antara mereka ini yang mengetahui bahwa Liu Djin Liong kini ada dalam keadaan
terkurung dan tidak berdaya sama sekali untuk datang kemari.
Semua orang tampak terdiam sepi menunggu keramaian tidak lama lagi.
Tiba-tiba, di antara mereka terdengar suaranya seorang nyeletuk:
“Di antara kau orang dari berbagai partai, apa ada yang bermaksud mencari si Setan tua Liu Djin Liong atau
mau menunggu sampai selesai perebutan kitab Sari Pepatah Raja Woo pada malam ini juga?”
Hian-tju Totiang dengan tersenyum berkata:
“Barang berharga hanya pantas diserahkan kepada orang ternama. Aku tidak sanggup untuk menerimanya.
Sudah tentu aku tidak mau mencampuri urusan kitab itu.
Di dalam hati Kim Ting Sa menjadi lega juga. Dengan setengah memuji ia berkata:
“Biar bagaimana juga sebagai golongan ternama tidak dapat disamakan dengan golongan perampok yang
tidak mengenal puas. Maka dari perkataan totiang tadi, berarti totiang mempunyai hati yang luhur.”
Hian-tju Totiang diam saja, biarpun perkataan ini ada setengah mengangkat dan setengah mengejek.
Mendadak dari atas pohon terdengar suara lain yang campur bicara:
“Demi kepentingan umum, orang yang mempunyai pandangan jauh tentu tidak akan mengalah. Aku suami
istri berdua juga tidak mau mengalah.”
Bersama dengan berkibarnya baju, mereka telah meloncat turun di hadapan orang banyak ini.
Yang laki-laki berparas cakap ganteng, yang perempuan cantik ayu. Suatu pasangan yang memang ada
sangat setimpal.
Semua orang yang berada di situ dibuat terkejut oleh munculnya mereka. Dilihatnya sepintas lalu, umur
mereka di antara tigapuluhan. Siapa juga tidak ada yang mengenalnya.
Belum juga orang-orang yang kaget tadi sempat bicara, dari pohon lainnya sudah loncat turun berturut-turut
tiga orang.
Yang pertama, adalah seorang tua yang rambutnya beruban putih, disamping kanan dan kirinya, masingmasing
berdiri seorang anak gembala dan seorang dara berbaju merah.
Ternyata, mereka bertiga adalah si sastrawan Pan Pin, Koo San Djie dan si Selendang Merah.
Si Sastrawan Pan Pin dan Selendang Merah telah mendapat kursi kedudukan baik, tapi tidak seorangpun
yang menjadi kaget.
Yang membikin mereka kaget adalah datangnya si anak gembala, yang sudah menggemparkan dunia.
Dengan tenaga sendiri, dia menaklukkan ikan mas raksasa di telaga Pook-yang, dengan sebelah tangan dia
menjatuhkan si Iblis Pencabut Roh yang terkenal jahat, pemuda inilah yang telah mengubrak-abrik
pesanggrahan Liong-sun-say sampai menjadi rata.
Koo San Djie sendiri tidak tahu yang namanya telah menggemparkan dunia.
Sampai Kim Ting Sa dan Hian-tju Totiang yang pernah melukainya merasa tidak sanggup untuk diharuskan
terus menerus bersatu seperti itu.
Kedatangan Koo San Djie lebih penting dari pada sepasang suami istri yang cakap tadi.
Hu-lan Lo-kway menjadi melongo. Dengan mata kepala sendiri, ia melihat muda mudi ini terjatuh ke dalam
jurang yang tidak terlihat dasarnya. Dari mana pula datangnya mereka?
Si Setan Kepala Srigala pernah menderita sedikit kerugian dari Koo San Djie, dan lagi riwayat kedua
muridnya juga tamat di tangan anak muda ini. Maka dialah yang paling tidak sabaran menghadapi keadaan
sunyi ini, dengan membentak keras ia berkata:
“Hei, anjing kecil, tidak disangka, kau juga berani datang kemari. Tempat inilah yang akan menjadi tempat
kuburanmu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Belum juga perkataannya si Setan Kepala Srigala habis diucapkan Golok Malaikat Nomor Satu sudah
menimbrung:
“Hei, apa si tua Liu Djin Liong juga telah datang?”
Koo San Djie belum juga sempat untuk menjawab, keburu didahului oleh si Selendang Merah:
“Kau orang ini adalah orang-orang tua yang telah ternama, mengapa baru bertemu terus menjerit-jerit
seperti anak keci1 yang tidak mengenal aturan?”
Hu-lan Lo-kway menjadi cemburu, segera ia membuka suara:
“Kukira apa yang membuat kau menolak padaku, tidak tahunya, kau telah mendapatkan si muka putih ini,
Hm, hm, barang kali sebelum bulan purnama menjadi bundar kau sudah harus menjadi janda muda.”
Si Selendang Merah menjadi merah muka, dengan sengit ia berkata:
“Perhitungan di antara kita ini pada suatu waktu akan dibereskan juga.”
Sepasang suami istri yang cakap tadi telah melihat kedatangan tiga orang baru ini, orang-orang di situ
sudah menjadi ribut tidak karuan, tidak ada yang memperdulikan mereka lagi, tentu saja menjadi
mendongkol dan marah.
Di muka si wanita ayu yang putih telah berobah. Jika waktu itu ada orang yang memperhatikan kepadanya,
tentu dapat mengeluarkan keringat dingin. Karena muka ini bukan lagi mukanya seorang wanita cantik, tidak
berbeda dengan mukanya mayat hidup yang baru keluar dari kuburan.
Terdengar suara yang lebih dingin dari es balokan:
“Kami berdua suami istri adalah pengurus dari Lembah Merpati. Orang menjuluki suamiku ini sebagai Phoa
An berhati ular Lam Keng Liu dan aku sendiri bernama Sui Yun Nio. Dengan kedatangam kami kemari......”
Dan orang ini telah memberitahukan nama mereka, semua orang yang berada di situ menjadi kaget.
Telah berapa tahun orang dari Lembah Merpati tidak mau mengenal dunia luar, kini mendadak, dengan
tidak disangka-sangka, telah muncul dua pengurusnya, mana orang tidak menjadi kaget?
Apalagi anak muda kita, Koo San Djie mendengar disebutnya nama Lam Keng Liu, telinganya seperti
menjadi mengiang, hatinya menjadi panas seperti api membara.
Tadi, ia sudah bersedia maju membeberkan kesalahannya, tapi, dipikirnya kembali akan urusan yang lebih
besar, jika ia tidak dapat bersabar, maka lenyaplah semua harapan untuk merebut kembali kitab Sari
Pepatah Raja Woo!
Kim Ting Sa yang mendengar disebutnya nama Lembah Merpati menjadi keder juga, dengan
merangkapkan kedua tangannya ia berkata:
“Nama Lembah Merpati yang harum telah tersebar kemana-mana, aku sangat mengagumi. Barang pusaka
sudah tentu akan dikeluarkan, tapi mengingat yang berkepentingan, yaitu si Pendekar Merpati Liu Djin Liong
sendiri belum datang, maka harap para kawan dapat menunggu sebentar.”
Koo San Djie membusungkan dadanya dan berkata:
“Tidak usah menunggu si orang tua aku dapat bertanggung jawab dan mewakilinya. Semua yang
mempunyai sangkut paut dengan beliau, boleh berurusan denganku.”
Lalu, ia berpaling kepada Hian-tju Totiang sekalian dan berkata:
“Tentang terbunuhnya sembilan orang yang menjadi para ketua partai kalian, itu terjadi kesalahpahaman.
Harap kalian dapat bersabar untuk menunggu perkembangan selanjutnya.”
Inilah suatu tantangan yang berani kepada semua orang yang berada di situ. Yang pertama tidak dapat
menahan sabarnya ialah Pay-hoa Kui-bo, segera si nenek membentak:
“Hee bocah, kau orang apa? Berani membuka suara besar di hadapanku?”
Dengan tidak mau mengerti, ia telah mengayunkan tongkatnya ke arah Koo San Djie.
Mendadak, angin wangi bersiur, Sui Yun Nio sudah menghadang di hadapan Pay-hoa Kui-bo dan berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tunggu kita harus mendapat ketetapan dari tuan rumah di sini. Yang pertama, barang pusaka belum
dikeluarkan, jangan harap dapat turun tangan kepada siapa juga. Dan yang kedua, harus ada yang
menetapkan tentang pertandingan antara sedemikian banyak orang.” Ia berkata sambil berpaling pada Kim
Ting Sa.
Dengan tenang Kim Ting Sa mengeluarkan sebuah kotak emas yang terisi kitab Sari Pepatah Raja Woo,
yang akan diperebutkan mereka. Kemudian dengan mencoba menenangkan hatinya ia berkata:
“Di dalam kotak ini terisi kitab Sari Pepatah Raja Woo. Harap para kawan dapat memperhatikannya lebih
dulu. Dan tentang caranya pertandingan, ialah dengan cara bergilir, yang kalah harus minggir, dan yang
menang berhak meneruskan pertandingan sampai yang terakhir.”
Pay-hoa Kui-bo menggedrukkan tongkatnya berkata:
“Aku akan bersikap lancang untuk membuka pertandingan ini.”
Lalu, ia menunjuk ke arah Koo San Djie dan berkata:
“Hei anjing kecil, kau berani menerobos ke atas gunungku dan melarikan muridku Tju Thing Thing, jika tidak
diberi sedikit hajaran, kau tidak tahu akan kelihayanku Pay-hoa Kui-bo.”
Selendarg Merah maju menghadang dan mendahului berkata:
“Nenek setan, jangan sembarang menjatuhkan dakwaan kosong di atas kepala orang. Akulah yang
menasehatkan Tju Thing Thing, agar ia bisa meninggalkan sarangmu. Jika kau telah gatal tangan,
pertandingan yang pertama kali akan kulayani.”
Ia malah lebih galak dari pada Pay-hoa Kui-bo. Begitu mulutnya tertutup, selendang merahnya telah
berkibar, menyerang ke arah tubuh orang.
Pay-hoa Kui-bo memutar tongkat yang mengeluarkan suara menderu-deru, ia mulai balas menyerang.
Demikianlah pertandingan pertama telah dimulai.
Koo San Djie sudah lompat ke pinggir kembali ke tempat asalnya. Tapi tidak lama, mendadak di
belakangnya telah terdengar suara orang yang berkata:
“Budha yang mulia. Apa betul Liu Djin Liong tidak datang?”
Sedari tadi Koo San Djie juga telah mengetahui yang Hian-tju Totiang telah bertindak ke arahnya, maka
dengan cepat ia membalikkan badannya dan berkata:
“Besar sekali kemungkinannya supek tidak mengetahui hal pertandingan ini. Pengajaran apa yang akan
totiang sediakan. Boanpwe masih sanggup menanggungnya.”
Hian-tju Totiang tertawa terbahak-bahak:
“Umur begini kecil, juga berani omong besar. Apa kau betul sanggup menanggung semua risikonya?”
Di dalam Makam Merpati, Hian-tju Totiang telah dapat melukainya. Tapi itu waktu ia tidak tahu, bahwa
orang yang dilukai adalah Koo San Djie, pemuda yang sedang tersohor namanya. Belakangan, setelah ia
dapat mencari kabar, siapa anak gembala ini, hatinya menjadi sombong juga, karena telah dapat melukai
seorang jago kecil yang ditakuti orang.
Apalagi jika di hadapan demikian banyak orang dapat menjatuhkannya lagi, bukankah namanya akan
menjadi naik setinggi langit? Maka ia telah mencari gara-gara.
Siapa yang menyangka, bukan nama harum yang didapat, malah menjadi kehilangan muka di hadapan
orang banyak.
Terdengar Koo San Djie bersuara dengan marahnya:
“Tempo hari, aku membiarkan kau memukul, dengan tidak mau menarik panjang urusan, itulah demi
kepentingan semua orang. Tapi, kini kau masih terus mendesak, apa kau kira aku takut kepadamu?”
Wajah Hian-tju Totiang menjadi berobah, ia dimaki di hadapan orang banyak. Dengan keras ia membentak:
“Bagaimana dengan urusan ketua partai yang terbunuh? Apa kau bersedia memberi suatu tanggung
jawab?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Terdengar Koo San Djie berkata:
“Bukankah aku telah mengatakan,” jawab Koo San Djie dingin. “Semua urusan dari supekku akan
kupikulnya semua. Apa yang kau inginkan? Katakanlah!”
Tapi Hian-tju Totiang sudah tidak mau menyambung lagi perkataannya, sebelah tangan bergerak, memukul
ke arah anak muda yang berada di hadapannya.
Koo San Djie melompat ke samping, membiarkan pukulan lolos dari sisi. Ia masih berusaha menahan
amarahnya:
“Tunggu! Aku telah mengatakan, bahwa urusan terjadi karena salah paham, tapi kalian masih tidak percaya.
Umpama betul, pada waktu itu supekku berada di sana, tidak nanti kitab Sari Pepatah Raja Woo, dapat
terjatuh ke dalam tangan orang lain. Inilah suatu bukti yang nyata sekali.”
Tapi Hian-tju Totiang tidak mau mengerti, ia anggap Koo San Djie sudah takut.
“Tutup mulutmu!” ia membentak.
Tangan satunya lagi kembali mengirimkan pukulan. Ia telah bersedia mencari gara-gara, percuma saja
untuk Koo San Djie mengingatkan kepadanya.
Koo San Djie telah hilang sabar. Dengan melompat ke belakang tiga kali, ia berteriak:
“Baik! Apa boleh buat, aku akan melayani kalian. Orang-orang dari sembilan partai boleh maju semua
hitung-hitung sebagai pertandingan yang kedua, untuk memperebutkan kitab Sari Pepatah Raja Woo.”
Semua orang yang mendengar tantangan ini, seperti Si Golok Malaikat Nomor Satu, Sepasang Gaetan Ie
Hoa Tie dan yang lain-lain, rata-rata menjadi muka merah.
Si Golok Malaikat Nomor Satu, dengan tidak bersuara lagi sudah maju dan menyerang dengan goloknya
sampai tiga kali.
Koo San Djie tahu, orang-orang ini menganggap dirinya sendiri saja yang lihay, tidak dapat menyelesaikan
urusan dengan cara halus, maka, begitu mengelak dari datangnya golok yang pertama, dengan kekerasan
yang tidak ada taranya, ia sudah mementil ke arah datangnya serangan golok yang kedua.
“Tang,” golok telah terpental ke udara, membuat Si Golok Malaikat menjadi berdiri bengong di tempat.
Mendadak, terdengar satu bentakan yang memekakkan telinga, inilah suara Ie Hoa Tie dengan sepasang
gaetannya dari belakang.
Koo San Djie tidak mau bergerak dari tempat kedudukan semula, dengan tidak bergeming sama sekali, ia
telah menyerang sampai tujuh kali.
Sepasang gaetan telah dibuat bersuara mengaung-ngaung, tangan Ie Hoa Tie juga tergetar kesemutan.
Mendadak, terdengar suara bentakan si anak muda kita:
“Lepas!”
Dan betul saja, sepasang gaetan le Hoa Tie telah terlepas pindah ke dalam tangan sang lawan.
Si Sepasang gaetan Hoa Tie berdiri terpaku, Koo San Djie dengan cepat telah melemparkan kembali
gaetan orang.
“Nah, gaetanmu telah kukembalikan!” katanya.
Bersamaan dengan muncratnya lelatu api, gaetan itu telah melesak masuk ke dalam batu tebing sebatas
gagang.
Koo San Djie seperti raja raksasa, ia berdiri di tengah-tengah. Sesudah dapat menjatuhkan dua orang jago
dalam sekejapan mata, semua orang menjadi kesima.
Si Sastrawan Pan Pin tidak henti-hentinya menyebut:
“Aneh, aneh......”
Hian-tju Totiang telah mulai melempem. Ia sudah tidak segalak tadi. Dengan menebalkan muka, ia maju ke
muka dan membentak:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mari, perhitungan kita masih belum beres.”
Sebuah pukulan lagi datang menyambar.
Koo San Djie tidak minggir, juga tidak menyingkir dari pukulan ini. Sebelah tangannya diulur ke depan,
perlahan-lahan ditarik ke samping sedikit, angin pukulan musuh telah terbawa oleh geseran tangan, lewat
dari samping kiri.
16.37. Undangan Pengemis Sakti
Inilah ilmu yang didapatkan dari kitab kutu buku dari si orang tua tidak berkaki dan bertangan satu.
Hian-tju Totiang menghadapi mati hidupnya nama dengan susah payah didapatinya selama puluhan tahun
ini, mana dapat gegabah lagi. Dengan hati-hati ia menyerang lawan mudanya.
Koo San Djie telah mulai reda marahnya. Ia tahu nama orang tidak mudah dicari. Ia tidak mau terlalu
mendesak orang sampai tidak dapat muka sama sekali, maka ia hanya menggunakan Hian-oey-ciang
melayani segala sesuatu serangan dari Hian-tju Totiang.
Lam Keng Liu suami isteri ada memperhatikan soalnya. Mereka mengharapkan dari sembilan partai ini
dapat membunuh si anak gembala. Dengan demikian Liu Djin Liong tentu tidak mau tinggal diam lagi,
semakin urusan menjadi besar, semakin senang pula hati mereka.
Tapi Koo San Djie dalam sekejapan mata saja telah dapat merobohkan dua jagonya mereka, mana suami
isteri ini tidak menjadi kaget oleh karenanya?
Sekarang Koo San Djie telah menggunakan Hian-oey-ciang, lebih kaget lagi Si Phoa An berhati Ular ini
dalam hatinya berpikir:
“Apa guruku masih belum mati? Apa anak ini murid guruku juga?”
Diperhatikannya gerakan Koo San Djie yang enteng, ini bukannya cara orang bertanding, ia ada seperti
main-main saja melayani Hian-tju Totiang.
Dilihatnya pula Hian-tju Totiang yang telah seperti kalap, setiap mengeluarkan satu jurus, serangan tentu
dibarengi dengan beberapa “Hm, hm”, beberapa kali ia berteriak seperti orang edan.
Mata Lam Keng Liu sangat tajam sekali, ia telah dapat mengetahui, Hian-tju Totiang paling sedikit juga
mempunyai latihan selama limapuluh tahun lebih, sudah jarang sekali jika mencari orang yang dapat
menyamai seperti orang ini. Tapi lawannya mempunyai kepandaian yang lebih tinggi lagi, sampai pun orang
seperti Phoa An berhati ular Lam Keng Liu ini tidak dapat menaksir, berapa tingginya kepandaian anak
gembala ini.
Dalam hati ularnya telah timbul pikiran jahat:
“Tidak perduli ia adik seperguruanku atau bukan. Yang paling penting, dapat membereskan terlelih dahulu,
ialah paling aman.”
Berpikir sampai di sini, muka yang cakap berobah tertawa kejam.
Koo San Djie hanya bermaksud menakut-nakuti Hian-tju Totiang saja, supaya ia dapat undurkan diri dengan
sendirinya. Tapi tidak disangka, tosu tua ini masih berdarah muda, tidak kenal mundur sama sekali. Jika
tidak diberi sedikit hajaran, tidak nanti ia dapat memberhentikan serangannya.
Cepat-cepat Koo San Djie merobah taktis tempur, ia mengeluarkan dua jurus ilmu pukulan yang lihay.
Hanya sekali berkelebat, dua jalan darah dari Hian-tju Totiang telah kena tertotok.
Seluruh tubuh sang tosu tergetar, meskipun dua totokan ini tidak sungguh-sungguh. Hian-tju Totiang
merasa kesemutan, tidak sampai mendapat malu di hadapan orang banyak. Ia kini tahu gelagat, maka, lalu
lompat mundur dan berhenti menyerang.
Koo San Dlie juga tidak menyerang lagi, ia mundur dua tindak.
Berbareng anak muda itu berkata:
“Pertandingan ini sama kuat. Maka baik sampai di sini saja kita hentikan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Hian-tju Totiang kememek di tempat, mendadak ia lompat masuk ke hutan yang gelap dan menghilang!
Meskipun bermuka tebal, Hian-tju Totiang sudah tidak mempunyai muka lagi untuk berdiam terus di sini.
Maka, selesailah pertarungan itu. Tapi pertarungan yang terjadi di antara Selendang Merah dan Pay-hoa
Kui-bo masih sedang serunya.
Terdengar Selendang Merah berteriak nyaring:
“Lepas!”
Selendangnya telah berhasil melilit tongkat musuh, sampai tiga kali putaran, maka dengan sekali gentak ia
menarik senjata musuh yang akan dilemparkan.
Pay-hoa Kui-bo dengan matanya yang kecil berkelak-kelik, rambutnya yang telah putih berdiri semua.
Dengan geramnya ia berkata:
“Belum tentu!”
Dengan tenaga yang masih ada, ia mencoba menahan tarikan musuh.
Tapi, kedua belah pihak sama kuat. Setelah berkutetan sekian lama, mendadak terdengar suara
mengaungnya dua senjata yang sudah sama-sama terlempar ke tengah udara dan terbang menuju ke arah
tebing jurang.
Karena kehilangan pegangan, dua-dua sama terpental mundur beberapa tindak.
Mendadak, dari dalam jurang terdengar satu suara yang serak:
“Pentungan yang berat sekali. Hampir saja membuat aku si gembel mati tertindih.”
Di antara mereka kini telah bertambah seorang pengemis yang berambut awut-awutan, dengan bajunya
yang banyak tambalan, tangannya menenteng tongkat Pay-hoa Kui-bo yang telah terjatuh ke dalam jurang
tadi.
Tapi, sewaktu dilihataya Pay-hoa Kui-bo, yang seperti mau menelan orang saja pengemis ini sudah lantas
melemparkan tongkatnya.
Pay-hoa Kui-bo tidak mengatakan suatu apa, ia memungut tongkatnya kembali.
Sastrawan Pan Pin yang melihat kedatangannya si Pengemis Sakti Kiang Tjo lantas memberi hormat:
“Tidak disangka, Locianpwee juga masih senang akan keramaian dan datang kemari.”
Si Pengemis sakti membalikkan putih matanya.
“Stop mulutmu,” ia membentak.
Dengan cepat ia merampas guci arak yang berada di bebokong si Sastrawan dan di situ juga langsung
menenggak dengan sepuas-puasnya.
Si Pengemis Sakti Kiang Tjo mempunyai kedudukan yang tinggi, dengan munculnya ia semua orang
menjadi kaget juga.
Banyak orang tahu akan adanya ganjelan di antara Pengemis Sakti ini dengan Pendekar Merpati Liu Djin
Liong. Dengan munculnya ia kemari, tentu saja ia tidak mau membiarkan Liu Djin Liong enak-enakan
memukul orang.
Disamping itu, semua orang juga takut pengemis ini turut campur dalam perebutan Kitab Sari Pepatah Raja
Woo yang tersohor.
Jika betul Pengemis Sakti ini turut campur, maka, tipislah harapan mereka untuk dapat merebutnya, karena
kepandaian si Pengemis tidak dapat diduga oleh orang biasa.
Setelah si Pengemis Sakti Kiang Tjo menenggak habis araknya, dengan memutarkan matanya ia berkata:
“Apa si tua Liu Djin Liong sudah datang?”
It Tjing Tjie dari Bu-tong-pay nyeletuk:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Pendekar Merpati belum datang. Tapi jago kecil ini telah berkali-kali mengatakan, dia dapat mewakilinya
bicara.”
Sambil tangannya menunjuk ke arah Koo San Djie.
Si Pengemis tertawa berkakakan:
“Anak kecil yang masih ingusan tahu apa? Apa kalian bersungguh-sungguh juga?”
“Urusan kita lebih penting sekali,” It Tjing Tjie berkata pula. “Biar bagaimana juga harus kita selesaikan
terlebih dahulu. Maka sampai di sini saja boanpwe meminta diri.”
Si Pengemis Sakti tidak mencegah kepergian mereka. Dengan masih tertawa ia berkata:
“Silahkan, silahkan. Aku masih mau menonton keramaian.”
It Tjing Tjie setelah memberi hormat, dengan mengajak orang-orangnya, ia pergi meninggalkan tempat itu.
Pengemis Sakti Kiang Tjo lalu menghampiri Koo San Djie dan menepok-nepok pundaknya:
“Bocah, kau pernah apa dengan Liu Djin Liong?”
“Dia adalah supekku,” jawabnya, “Karena dia kini tidak berada di sini, jika kau ingin mencari setori
kepadanya, tumpahkan sajalah kepadaku.”
Si Pengemis tertawa terpingkal-pingkal:
“Bagus. Bagus! Nanti kita orang akan menentukan waktunya untuk bertanding.”
Waktu itu, pertarungan di dalam kalangan telah tertunda, karena datangnya si Pengemis yang gila-gilaan
ini.
Raja Setan Srigala paling tidak sabaran, dengan melompat ke tengah kalangan ia berteriak:
“Heii, anjing kecil, lekas kau keluar terima kematian.”
Si Pengemis sudah meludah dan berkata:
“Poey! Orang tidak tahu malu. Beraninya hanya kepada anak kecil saja. Apa kau tidak berani menantang
orang lain?”
Sekarang di tempat yang tadinya ramai ini, hanya tinggal rombongan Koo San Djie dan Lam Keng Liu suami
isteri. Tentu saja yang diartikan dengan orang lain ialah si Phoa An berhati ular dan istrinya.
Si Setan Kepala Srigala tertawa buas:
“Pengemis busuk, tidak perlu kau tunjuk, siapa yang maju juga sama saja hanya menunggu sampai giliran
saja. Pertama aku akan mengajak pengurus Lembah Merpati suami istri beramai-ramai dalam beberapa
jurus.”
Si Phoa An berhati ular Lam Keng Liu datang kemari dengan maksud lain, sebenarnya ia tidak mau turut
campur untuk turun tangan. Tapi orang telah menantang, dengan terpaksa harus melayanin ia juga.
Dengan langkahnya yang dibikin-bikin, ia maju keluar kalangan. Mulutnya juga tidak mau kalah berkata:
“Baik. Aku akan melayani beberapa jurus saja.”
“Bagus, bagus, lihat serangan,” Setan Kepala Srigala berkata sambil menyerang.
Angin yang berbau busuk dengan sepoi-sepoi datang menyerang ke arah si Poa An berhati ular.
Lam Keng Liu tertawa dingin, ia hanya melompat sedikit sudah dapat menyingkir dari serangan lawan.
Berbareng dua tangannya mengeluarkan dua gerakan yang tidak sama.
Sebelah kanannya keras melebihi besi sedang tangan kirinya lembek seperti kapas. Inilah suatu pukulan
Im-yang-ho-hap-ciang yang terkenal.
Dari mata, hidung dan telinga si Setan Kepala Srigala mulai mengeluarkan asap putih, inilah ilmu
kepandaiannya mulai bergerak keluar. Keras lawan keras. Ia menerima dua serangan Lam Keng Liu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah dua kali kebentur, seperti tidak merasai suatu apa, Setan Kepala beruntun mengeluarkan tiga kali
pukulan dan tujuh kali tendangan.
Caranya mengadu kekuatan yang tidak mengenal mati ini telah memaksa Lam Keng Liu tidak berani
gegabah. Dengan kalem, ia melayani satu persatu, ilmu musuh dilawan dengan Im-yang-ho-hap-ciang.
Koo San Djie sangat memperhatikan ilmu pukulan Im-yang-ho-hap-ciang itu, betul-betul ilmu yang tidak
dapat dipandang gegabah tidak dapat disamakan dengan Hian-oey-ciang, biarpun keduanya terdapat
banyak persamaannya.
Setan Kepala Srigala, dengan sifatnya yang ganas tidak takut akan mati bersama, hal ini sangat
menguntungkan dirinya karena Lam Keng Liu tidak mau hancur bersama-sama orang sebangsa berandalan
ini.
Pertandingan mereka ini semakin lama sudah semakin sengit, sehingga sampai berjalan lebih dari seratus
jurus, masih dalam keadaan sama kuat.
Mendadak, pada suatu waktu Lam Keng Liu menggunakan kesempatan yang baik dan berhasil membuat
tubuhnya Setan Kepala Srigala terpental sejauh dua tumbak.
Tapi Setan Kepala Srigala, memang bangsa alot, ia berteriak, karena pantatnya telah membentur tanah
dengan tepat. Sesudah ia terjatuh bukannya ia mundur ke samping, keluar dari kalangan, sebaliknya, malah
lompat maju lagi. Dengan mengeluarkan tangannya yang hitam seperti arang, setindak demi setindak
menghampiri lawan.
Hu-lan Lo-kway mengetahui sang kawan bukan tandingannya yang setimpal bagi Lam Keng Liu, ia maju
ingin menggantikannya.
Tapi Sui Yun Nio tidak mau tinggal diam, membiarkan suaminya harus terus menerus melayani dua musuh
tangguh. Ia juga sudah menghadang datangnya Hu-lan Lo-kway dan berkata:
“Masih ada aku yang akan melayanimu.”
Tidak mau banyak cingcong lagi, Lo-kway sudah mulai membuka serangannya.
Di sana di antara Kepala Setan Srigala dan Lam Keng Liu telah sampai pada babak yang terakhir.
“Bleduk” terdengar suara pukulan dari dua orang terbentur menjadi satu.
Setan Kepala Srigala masih kalah setingkat dari lawannya, isi dalamnya telah tergetar semua. Ia
sempoyongan, hampir terjatuh ke tanah.
Kim Ting Sa dengan cepat telah datang, membimbing bangun tubuh kawan sekomplotannya ini.
Lima Iblis, kecuali Hu-lan Lo-kway yang masih bertarung, hanya tinggal Pay-hoa Kui-bo yang berada dalam
keadaan marah. Kotak yang berisi kitab Sari Pepatah Raja Woo, telah tidak terjaga sama sekali.
Mendadak dari atas tebing terlihat sebuah bayangan hitam, terbang turun dan langsung menuju ke arah
kotak tadi. Dengan sekali comot saja telah terpegang di dalam tangannya, bayangan hitam tadi yang terus
terbang ke bawah. Kejadian ini terjadi demikian cepat, sampai semua orang hampir saja tidak dapat
melihatnya.
Koo San Djie dan si Pengemis Sakti Kiang Tjo hampir berbareng membentak mengejar bayangan hitam
tadi.
Tapi, berbareng dengan terdengarnya suara bentakan, Lam Keng Liu suami istri telah melepaskan
lawannya dan menghadang jalannya dua orang yang hendak mengejar bayangan hitam tadi.
Hampir barbareng kepalan tangan beradu menjadi satu. Hanya terdemgar suara “plak, plak, plok, plok” yang
nyaring. Empat orang telah beradu di udara dan terjatuh kembali.
Dari dalam saku bajunya Kim Ting Sa mengeluarkan segulungan kertas dan tertawa terbahak-bahak:
“Tidak disangka, orang-orang dari Lembah Merpati adalah bangsa tikus-tikus yang hanya bisa bekerja
dengan menggelap. Beruntung sekali aku sudah bersedia akan kejadian ini, sehingga i...... “
Belum juga perkataannya “ini” habis diucapkan, mendadak ada angin santer yang datang ke arahnya.
Hu-lan Lo-kway yang bermata jeli, ia lantas berteriak ;
dunia-kangouw.blogspot.com
“Awas......!”
Tapi keadaan sudah telat, gulungan kertas yang tadinya berada di tangannya Kim Ting Sa telah lenyap
direbut orang.
Dalam sekejap mata saja bayangan orang ramai bergerak-gerak. Semua orang bertujuan sama menuju ke
satu arah dari larinya orang tadi.
Karena perobahan terjadinya sangat mendadak, dan orang yang datang juga memiliki gerakan cepat, maka
sebentar saja orang tadi telah menghilang dari pandangan mata.
Dalam pikiran Koo San Djie dangan cepat telah mengambil keputusan:
“Lam Keng Liu suami istri tidak diperbolehkan lari lagi!”
Waktu itu mendadak dari belakang telah datang serangan yang halus. Perasaan dan pendengarannya Koo
San Djie sekarang boleh dikatakan tidak ada tandingannya, ia telah dapat mengetahui datangnya
bokongan, ia juga sangat membenci kepada orang yang menyerang pada waktu sekalut ini, maka dengan
tidak mengenal kasihan, ia telah memapaki dengan pukulan yang keras sekali.
Si penyerang tidak menyangka sama sekali akan ketangguhan si anak muda ini, ia telah terpental sejauh
satu tombak lebih dengan menderita luka dalam.
Koo San Djie masih belum puas dengan hanya membuat jatuh orang ini, maka dengan hampir berbareng, ia
juga menyerang lagi sampai tiga kali.
Si penyerang gelap mempunyai kepandaian yang lumayan juga, dengan menahan sakit ia berusaha
menahan datangnya serangan yang hebat ini
Koo San Djie segera dapat kenyataan bahwa yang menyerang dengan cara gelap itu adalah suhengnya
sendiri yang telah mendurhakai gurunya.
Pikirannya menjadi bimbang. Ia sudah berpikir akan membunuhnya, tapi sebagai seorang sute, ia tidak tega
juga untuk berbuat demikian, pikirnya, biar suhunya akan diajak ke dalam Lembah Merpati untuk
menangkapnya sendiri.
Lam Keng Liu dikasih kesempatan untuk ia mengasoh. Koo San Djie dapat mengambil suatu keputusan, ia
juga sudah turut lenyap dari situ.
Si pengemis sakti Kiang Tjo melihat di sini sudah tidak ada urusan lagi karena orang-orang telah melarikan
diri semua, lantas berkata:
“Bocah, aku juga akan pergi. Jika kau ingin mengadu kekuatan, aku akan menunggu di kuil Siauw-lim.
Berbarengan, dengan ditutupnya perkataan ini, orangnya juga sudah melesat terbang sejauh beberapa
tumbak.
Si sastrawan Pan Pin juga turut berkata:
„Aku juga ingin mencari Tiauw Tua, setengah bulan kemudian, kita bertemu di kuil Siauw-lim saja.”
Dengan lenggak lenggok dia meninggalkan gunung Sin-sa.
Kini giliran si Selendang Merah berkata:
„Adik kecil, bagaimana dengan kau?”
Koo San Djie dengan geregetan menjawab:
“Biar sampai kemana juga, akan kurebut kembali kitab yang tercuri tadi.”
17.38. Bertemu, tapi berpisah lagi.
Sinar merah dari ujung timur perlahan-lahan berjalan ke tengah, itulah sang matahari pagi mulai
memancarkan sinarnya ke seluruh jagat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Butiran embun pagi masih berjatuhan dari daun-daun yang terkena goyangan angin pagi. Padang rumput
basah dengan laputan air yang mulai mengasap. Dua ekor kuda yang ditunggangi oleh Selendang Merah
dan Koo San Djie meluncur dengan pesat.
Si Selendang Merah yang telah mendekat berakhirnya masa gadis yang berharga, telah kembali
kejenakaannya. Ia kini mulai menjadi kolokan, bagaikan pohon kayu yang hampir layu terkena embun pagi
lagi, bersemi dan mekar kembali.
Di hadapan Koo San Djie yang lebih kecil dari adik kecilnya, ia malah merasa kecil juga. Seperti anak kecil
yang nakal, sering berbuat kolokan dan mengganggu ketenangan Koo San Djie.
Karena mereka kini telah memasuki jalan raya yang lebar, ia sudah memecut dan melarikan kudanya
dengan lebih kencang. Tidak perduli Koo San Djie telah berkali-kali memanggil untuk mengurangi
kecepatan.
Mendadak, di pinggir jalan terdengar bentakan orang:
“Hei, apa kau tidak punya mata? Melarikan kuda yang benar, jangan serampangan saja, tanpa
menghiraukan kepentingan orang!”
Si Selendang Merah baru engah, ia telah menerbitkan onar, maka dengan cepat ia telah menahan jalannya
kuda dan menoleh ke belakang, melihat orang yang menegur tadi.
Di pinggir jalan terlihat sepasang muda mudi yang sedang mempelototkan mata. Si pemuda berpakaian
seragam, bermuka putih tapi bermata bangor. Si pemudi biarpun tidak berpakaian seperlente kawannya,
kemarahannya telah menyebabkan lebih ayu.
Yang membentak Si Selendang Merah tadi adalah si pemuda seragam.
Selendang Merah sudah biasa mengalami teguran seperti ini. Tapi ia tidak mau meladeni si pemuda
seragam yang bermata bangor. Ia lebih suka menggoda si pemudi yang menyenangkan:
“Hei adik kecil, aku tokh tidak melakukan kesalahan apa-apa kepadamu.”
Si pemudi membeberkan baju putihnya yang telah dibuat kotor, karena derapan kaki kuda Selendang
Merah, ia berkata:
“Kau lihat saja, baju yang putih bersih telah dibikin kotor olehmu.”
Selendang Merah masih menggoda:
“Oh adik kecil yang takut kotor. Lebih baik kau tinggal diam saja di kamar penganten, sudah tidak akan
mengalami kekotoran.”
Si pemudi cemberutkan mukanya. Setengah marah ia berkata:
“Poey! Tidak tahu malu, siapa yang menjadi adik kecilmu?”
Selendang Merah belum pernah mengalami makian orang, apa lagi terhadap si pemudi yang dianggapnya
sejudes ini. Maka ia sudah loncat turun dari kudanya dan berkata:
“Siapa yang tidak tahu malu?”
Si pemudi dengan tangan memegang gagang pedang berkata:
“Kau!”
Jika si pemuda seragam datang memisahkannya, urusan akan selesai sampai di sini. Tapi ia tidak berbuat
demikian, ia juga ingin mengetahui, sampai di mana kepandaian si pemudi berbaju putih ini yang telah
diikutinya sekian lama.
Maka ia mulai membakar:
“Nona Tju, apa perlu aku membantu?”
Selendang Merah paling benci akan pemuda sebangsa orang ini, ia sudah mengayunkan selendangnya ke
arah muka si pemuda yang masih tertawa haha hihi.
Si pemuda meluncurkan kakinya ke depan menghindarkan serangan ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Si pemudi takut akan dikatakan tidak berguna dan meminta bantuan orang jika si pemuda dan si baju merah
ini telah bertarung menjadi satu, maka ia sudah menghunus pedangnya dan mendahului menyerang.
Selendang Merah masih tertawa menggoda:
“Aduh, tidak boleh orang memukul jantung hatimu?”
Pecut kuda yang ada di tangannya digunakan sebagai senjata, memapaki bermaksud melibat pedang
orang.
Apa mau, perkataan yang terakhir ini telah menyakiti si pemudi, membuat ia sudah menjadi marah betulbetul.
Dengan ganas sekali ia mendesak lawannya yang suka menggoda orang ini.
Salahnya Selendang Merah, karena ia tadi terlalu tidak memandang mata kepada orang, dengan
menggunakan pecut saja, pikirnya sudah dapat melayaninya. Tidak disangka pemudi ini lihay, hingga untuk
mengeluarkan senjata biasanya yaitu selendang merahnya sudah tidak keburu sama sekali. Maka ia sudah
berada dalam keadaan terdesak sekali.
Si pemudi mengeluarkan serangan pedangnya dan merangsek gencar, seperti berobah menjadi lain orang.
Sifat luwesnya tadi telah hilang sama sekali, gantinya kini menjadi seorang pendekar wanita yang gagah
perkasa.
Hanya terlihat bayangan-bayangan putih berkelebat di sana sini, mengurung bayangan merah di tengahtengah.
Telah berkali-kali bayangan merah ini harus main mundur saja.
Mendadak, Selendang Merah menjerit nyaring, pecutnya telah terpapas menjadi dua. Dibarengi oleh sinar
perak bergulung-gulung bayangan pedang sudah mendekati dadanya......
Pada waktu yang genting itu tiba-tiba, angin keras datang, sesosok bayangan hitam menyelak. Sebuah
tangan yang kuat, dengan cepat mengangkat tubuh Selendang Merah dari ancaman kematian.
Yang datang ternyata Koo San Djie adanya. Begitu sebelah tangannya berhasil mengangkat tubuh
Selendang Merah, sebelah tangan lainnya juga sudah menyentil pedang orang.
Karena ia ingin segera menolongi orang, maka tenaganya untuk menyentil pedang telah dikeluarkan berat
juga. Pedang itu berbunyi mengaung sampai lama, dan tangan si pemudi berbaju putih tergetar kesemutan.
Setelah berhasil Koo San Djie menolong orang dan mementil pedang dengan keras, ia berkata:
“Hai, mengapa kau sedemikian kejamnya? Orang yang tidak berdosa juga mau kau bunuh!”
Tapi sewaktu ditegasi, siapa pemudi berbaju putih yang di hadapannya ini, ia telah mengeluarkan teriakan
kaget:
“Kau? Ciecie Hoe Tjoe......”
Saking bingungnya, sampai ia lupa menurunkan tubuhnya Selendang Merah.
Si pemudi berbaju putih yang memang betul Ong Hoe Tjoe, setelah bersusah payah kian kemari mencari
adik Koo San Djie yang menjadi kenangannya baru kini menemuinya. Tidak disangka, begitu bertemu
muka, si adik San sudah memaki padanya, bahkan di tangannya masih menyekal tubuh perempuan lain
yang genit, mana ia tidak menjadi panas karenanya?
Ia menutup mukanya menangis, membalikkan badannya, lari dengan tidak memilih arah lagi.
Koo San Djie menjadi heran, setelah sadar maka ia lekas-lekas melepaskan tangannya yang masih
menyekal tubuh si Selendang Merah.
Dengan keras, ia berteriak-teriak:
“Ciecie Hoe Tjoe, kau mengapa?”
Ia juga mengayunkan langkahnya, hendak mengejar.
Tapi, mendadak di hadapannya ada sinar pedang menghalang-halangi di atasnya. Ternyata si pemuda
berpakaian seragam sudah berdiri di tengah jalan, menahan majunya anak muda kita.
Dengan adem, ia membuka mulut:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dia adalah orangku. Tidak boleh sembarangan kau mengganggu.”
Perkataan “orangku” inilah, paling menusuk hati Koo San Djie ia heran juga, karena belum pernah melihat
pemuda ini.
Dengan menghentikan langkahnya sebentar, ia membentak keras:
“Kau tidak berhak mengurusnya.”
Dengan menyingkir dari si pemuda berpakaian seragam ia sudah mengejar lagi.
Tapi sinar pedang berkelebat tiga kali, karena si pemuda berpakaian seragam telah mulai dengan
serangan-serangannya.
“Jika kau masih mau menghinanya juga harus melewati pedangku ini dahulu!” bentak si pemuda berpakaian
seragam.
Tadinya Koo San Djie tidak begitu memandang mata kepada serangan ini, acuh tak acuh menangkisnya.
Tapi, serangan pedang itu ternyata lihay sekali, ia menjadi kaget juga:
“Iiii, aliran pedang dari mana?”
Maka, dengan cepat ia sudah berubah sungguh-sungguh, baru dapat menahan datangnya serangan. Ia
heran, karena belum pernah melihat ilmu pedang yang seaneh ini, yang tidak dapat diduga arah datangnya
sama sekali.
Karena pikirannya tidak tetap, tidak ada waktu untuk ia membalas menyerang. Belasan jurus ia harus
diserang terus-terusan dan ia main mundur saja.
Lama-lama, ia tidak sabaran juga. Sambil memekik keras ia mulai majukan badan, hanya mengulurkan
tangan, sebagai gantinya pedang ia juga tidak mau kalah dari sang lawan yang menggunakan ilmu
pedangnya hebat sekali.
Dua orang bertarung sampai lebih dari satu jam, serangan-serangan lebih dari seratus jurus juga masih
tidak dapat menentukan kalah menangnya.
Ini karena Koo San Djie tidak menggunakan keahliannya dalam soal ilmu dalam, ia hanya melawan
perobahan ilmu pedang sang lawan dengan perobahan-perobahan juga.
Setelah sekian lama ia memperhatikan perobahan-perobahan dari lawannya, ia juga telah mendapatkan
jalan untuk memecahkannya. Dari kitab kutu buku yang telah apal baginya, ia telah mendapatkan ilmu
satrunya ini.
Sinar biru berkilat membentur jari Koo San Djie, terdengar suara patahan pedang yang nyaring, pedang
pusaka dari si pemuda berpakaian seragam telah terpatah menjadi dua.
Dengan ketakutan, ia mundur ke belakang membuang kutungan pedang, dengan suara gemas sekali ia
berkata:
“Jika kau bernyali besar, boleh kau bunuh aku sekarang juga. Kalau tidak kau tidak dapat tenang untuk
selama-lamanya.”
Koo San Djie tertawa dingin:
“Percuma saja galak di mulut. Pada setiap saat aku bersiap untuk menunggu.”
Si pemuda berpakaian seragam dengan sinar mata penuh kebencian sudah meninggalkan tempat itu.
Koo San Djie hanya melihat lenyapnya bayangannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak
habis mengerti. Kemudian mengangkat tubuhnya dan pergi lari menurut arah larinya Ong Hoe Tjoe.
Selendang Merah di belakang sudah berkaok-kaok:
“Adik San, tunggu aku sebentar!”
Koo San Djie menghentikan langkahnya.
“Semua juga gara-garamu yang selalu menjadi bayangan, barusan sudah terbit salah mengerti lagi,” ia
menyesali kawannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ia lari lagi sambil menyeret Selendang Merah.
Memang aneh untuk dikatakan, Selendang Merah yang biasanya hanya bisa memaki orang, ini kali diam
saja menerima omelan Koo San Djie. Ia telah menjadi demikian jinaknya, dengan tidak mengeluarkan
keluhan suatu apa. Bagaikan seekor anak ayam saja ia membiarkan tangannya digentak dibawa pergi
entah kemana.
◄Y►
Sekarang kita meninggalkan mereka berdua yang masih berlari-larian seperti mengejar awan dan balik
menceritakan halnya Ong Hoe Tjoe.
Tempo hari, mereka berlima meninggalkan gunung Pay-hoa dan menuju ke tempat yang dianggap Lembah
Merpati biarpun Ong Hoe Tjoe selalu mendekati Tiauw Tua dengan berbagai macam alasan, tapi matanya
selalu melirik ke arah Koo San Djie. Dilihatnya Koo San Djie yang menjadi lesu, selalu meninggalkan dirinya
di paling belakang. Ia tahu, inilah karena ia dan Tjeng Tjeng tidak mau mendekati kepadanya, maka ia
menjadi tidak enak hati sendiri. Perlahan-lahan ia memperlambat langkahnya untuk menunggu, ia muncul di
sampingnya. Tapi setelah ditunggu-tunggu sekian lamanya, Koo San Djie masih tidak muncul-muncul juga.
Ia menjadi kaget, karena dalam sekejapan mata saja sudah tidak mendapatkan jejaknya.
Terburu-buru ia membalikkan tujuannya dan mencari kembali. Dari balik pohon mendadak terlihat bayangan
menghalang di hadapannya, dikiranya Koo San Djie yang sedang menggodanya, maka ia sudah lomput
menubruk dan berkata:
“Adik San, kau pergi kemana saja?”
Tapi setelah ditegasi, mana ada bayangan si adik San, di hadapannya berdiri seorang pemuda yang cakap
dengan berpakaian seragam.
Ong Hoe Tjoe menjadi merah muka dengan tidak berkata suatu apa lagi, ia membalikkan tubuhnya dan
meninggalkan pemuda ini.
Setelah mengejar sekian lamanya, sampailah ia dipersimpangan jalan yang bercagak tiga. Ia tidak tahu
rombongannya Tiauw Tua mengambil jalan yang mana, ia juga tidak tahu jalan yang menuju ke Lembah
Merpati. Maka dengan tidak memilih lagi ia meneruskan perjalanannya.
Tidak dia sangka jalan yang ditempuhnya bukan jalan yang diambil oleh rombongan Tiauw Tua, maka
setelah mengejar sampai seharian penuh ia masih tidak mendapat jejaknya Tiauw Tua dan kawan-kawan.
Waktu malampun telah tiba, dengan terpaksa ia harus bermalam pada satu rumah penginapan. Maka ia
juga memilih sebuah penginapan dan bersedia memasukinya.
Baru saja ia hendak masuk ke dalam rumah penginapan itu, seorang pemuda dengan pakaian seragam
yang pernah ditemuinya tadi, mendahului di depannya dan berkata:
“Nona tentu telah menjadi lelah karena berjalan jauh.”
Tidak perduli kenal atau tidak, tapi mereka pernah bertemu. Dan lagi, melihat orang telah mendahului
memberi hormat kepadanya, maka Ong Hoe Tjoe juga memanggutkan kepalanya tersenyum. Lalu
meninggalkan pemuda itu untuk berurusan dengan pemilik penginapan, ia menyewa sebuah kamar.
Baru saja ia selesai mencuci mukanya, di sana sudah ada pelayan yang menghidangkan makanan. Ia
menyangka itu ada rumah penginapan yang menyediakan. Kebetulan perutnya sudah lapar, maka dengan
tidak banyak bicara lagi, dihadapinya semua makanan ini.
Di hari kedua, sewaktu ia memanggil pelayan untuk diminta perhitungannya, si pelayan sudah tidak mau
menerima uang itu dan dikatakan, semua perhitungan sudah dibayar terlebih dahulu. Maka, dengan apa
boleh buat ia meninggalkan rumah penginapan itu dengan pikiran penuh pertanyaan, siapa gerangan orang
yang membayar ongkos makan dan penginapan?
Tapi baru saja ia meninggalkan pintu depan, si pemuda berpakaian seragam yang kemarin menyapa
kepadanya sudah berdiri menantinya dan berkata:
“Aku bernama Ong Sun Thay. Dan bolehkah aku mengetahui nama nona yang mulia?”
Ong Hoe Tjoe mempelengoskan mukanya:
“Siapa yang mau usil dengan namamu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan sekali pecut, ia sudah melarikan kudanya dengan cepat sekali. Tapi, setelah ia melarikan kuda
sekian lamanya, sewaktu ia menoleh ke belakang, dilihatnya si pemuda berpakaian seragam masih juga
mengikutinya.
Maka, ia menghentikan kudanya dan berkata dengan marah:
“Mengapa kau selalu mengikutiku?”
Si pemuda berpakaian seragam dengan tenang menjawab:
“Aku sedang jalan menuju arahku!”
Inilah jalan raya kepunyaan semua orang maka tentu saja ia boleh jalan di sini juga. Ong Hoe Tjoe tidak
dapat berkata lagi.
Si pemuda berpakaian seragam yang melihat Ong Hoe Tjoe tidak berkata lagi sudah mulai bertanya:
“Kau demikian kesusu, sebetulnya akan menuju kemana?”
“Perlu apa kau bertanya?” jawab Ong Hoe Tjoe ketus.
Tapi mendadak ia mengingat yang ia tidak mengetahui jalan sama sekali, apa lagi harus menuju ke Lembah
Merpati yang masih menjadi rahasia besar. Maka ia sudah menghilangkan muka asamnya dan bertanya
kepada pemuda tadi:
“Apa kau tahu di mana letaknya Lembah Merpati?”
Tidak usah dilukiskan, bagaimana senangnya si pemuda berpakaian seragam yang mendapat sambutan
dari pemudi ayu ini, maka dengan menarik les kudanya ia merendengkan kedua kudanya, lari sejajar.
Dengan memeramkan kedua matanya, pemuda berpakaian seragam yang bernama Ong Sun Thay telah
menjawab:
“Lembah Merpati? Jangan dikata aku, semua orang juga tidak ada yang tahu, di mana letaknya lembah
aneh itu.”
Ong Hoe Tjoe menjebikan bibirnya.
“Kau mengaco belo saja. Mengapa sembilan orang ketua partai dapat pergi ke sana?”
“Inilah masih belum jelas,” jawab Ong Sun Thay.
Ong Hoe Tjoe menjadi marah:
“Kau tidak tahu, aku juga bisa mencarinya sendiri. Siapa yang mau bertanya lagi?”
Ia memecut kudanya lagi, dan lari mendahului. Tapi kali ini Ong Sun Thay tidak mengganggunya lagi, ia
malah lari menyusul dan mendahului ke depan.
Setelah sampai waktu magrib, sebelum Ong Hoe Tjoe dapat menentukan, harus bermalam di penginapan
mana, di pinggir jalan telah berdiri menanti seorang pelayan yang menyambut dangan hormat dan ajak Ong
Hoe Tjoe bermalam di rumah penginapannya. Sampai di dalam kamar juga telah tersedia dengan serba
komplit, dari minuman sampai makanan, tidak henti-hentinya dibawa masuk.
Ong Hoe Tjoe sudah mengalami pangalaman yang kemaren, maka ia sudah mendahului membayar segala
ongkos-ongkos ini. Tapi biar bagaimana si pelayan masih juga tidak mau menerimanya, sebab ia
mengatakan, telah ada orang yang membayar terlebih dahulu.
Ong Hoe Tjoe mana mau mengerti, sehingga suara ribut sampai menyebabkan munculnya Ong Sun Thay
lagi.
Dari sebelah kamarnya pemuda ini keluar dan langsung memasuki kamar Ong Hoe Tjoe, setelah
mengambil tempat duduk, ia berkata:
“Hanya pemberian kecil, jangan sampai kau tidak menerimanya.”
Di hadapan si pelayan, tidak dapat Ong Hoe Tjoe mengeluarkan marahnya. Si pelayan setelah selesai
dengan urusannya juga tidak mau lama di situ dia meninggalkan mereka berdua.
Setelah si pelayan meninggalkan mereka, Ong Hoe Tjoe dengan sengit berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Apa artinya semua ini? Mengapa kau selalu menggangguku saja? Kau buka dulu kedua matamu, jangan
kira aku mudah untuk dihina.”
Ong Sun Thay dengan menyengir menjawab:
“Tentu. Tentu. Biarpun aku bernyali macan juga tidak berani mengganggumu.”
Setelah berkata, ia membuka kedua tangannya dan membuat muka lucu. Lalu keluar dari kamar dan
meninggalkan Ong Hoe Tjoe sendirian.
Ong Hoe Tjoe dibuat tertawa juga karena ledekan ini.
Sedari hari itulah, Ong Sun Thay semakin tidak mau lepas dari Ong Hoe Tjoe. Dimaki, ia tertawa, dipukul, ia
menyingkir. Tapi selalu menjadi bayangan hidupnya si nona.
17.39. Ilmu Sakti dari Lembah Hewan
Setelah lama kelamaan, Ong Hoe Tjoe pun telah menjadi biasa dengan hal ini. Ada kalanya ia kesepian,
diajak omong juga pengiringnya pribadi itu.
Ong Sun Thay memang sudah ahli dalam hal ini, setiap kali ia membuka mulut, tentu dapat membuat Ong
Hoe Tjoe tertawa terpingkal-pingkal. Asal matanya Ong Hoe Tjoe bergerak, ia sudah tahu, apa yang Ong
Hoe Tjoe hendak perbuat, ia selalu dapat melayaninya dengan cermat sekali.
Semua wanita tentu suka akan pujian dan perhatian. Tidak kecuali juga dengan Ong Hoe Tjoe, setelah
bergaul sekian lama, mereka sudah mengenal satu sama lain. Ong Hoe Tjoe kini sudah berani memanggil
namanya Ong Sun Thay, tapi si pemuda masih memanggilnya nona Hoe Tjoe saja.
Setelah beberapa bulan mereka berjalan berdua, masih juga tidak dapat menemui jejak Koo San Djie
sekalian, apa lagi Lembah Merpati segala.
Yang terang ialah perhubungan mereka semakin lama sudah menjadi semakin rapat saja. Biarpun yang
satu sengaja, yang satu lagi tidak dengan disengaja, waktu yang tidak mengenal aturan sudah menarik
mereka bertemu menjadi satu.
Tapi biar bagaimana juga, biarpun Hoe Tjoe mempunyai pandangan yang tidak jelek terhadap pemuda yang
bernama Ong Sun Thay ini, dalam pikirannya hanya menganggap pemuda itu sebagai mainan yang lucu,
dapat membuat ia tertawa dan lupa akan duka.
Sampai pada hari itu, ia dapat bertemu dengan adik San nya, mendadak sudah dimakinya di hadapan
banyak orang, dan lagi di tangannya Koo San Djie masih memegangi itu perempuan yang tidak mengenal
malu, mana ia tidak menjadi sakit hati?
Ia telah lari meninggalkan mereka dengan mengucurkan air mata, ia masih mengharapkan, Koo San Djie
tentu akan menyusulnya. Tapi setelah lari sekian lamanya, masih tidak terlihat mata hidungnya si pemuda
menyusul. Karena saking sedihnya, ia menghentikan langkah dan menangis sesenggukan. Ia menyesal
juga, tadi ia sudah main lari saja, sebetulnya, ia boleh minta penjelasannya di situ juga.
“Bertemu, tapi berpisah lagi......” ia mengeluh dalam hatinya.
Mendadak, bayangan Ong Sun Thay telah datang pula. Jika Ong Sun Thay berada di sini, tentu ia dapat
menyediakan selembar handuk yang hangat, membawakan semangkok teh yang panas, mengucapkan
beberapa perkataan yang lucu untuk menggodanya.
Tapi dalam sekejapan mata, itu pemuda yang tolol, si anak gembala seperti kebingungan menghadapi
keadaan ini menutupi semua bayangan tadi. Dialah orang yang pertama yang telah menempati hatinya, biar
bagaimana memaki dengan kasar, biar bagaimana berendeng dengan perempuan tadi, tapi ia masih tetap
menyinta kepadanya.
Ia tidak memiliki lagi, bagaimana ia bersama-sama dengan Ong Sun Thay dapat menimbulkan kesalah
pahamannya, karena ia hanya menganggap Ong Sun Thay sebagai pelayan-pelayan penginapan tadi yang
tidak menerima bayaran.
Matahari telah mulai doyong ke sebelah barat, burung kecil melayang-layang berbaris di awan-awan. Ada
juga beberapa burung yang terbang rendah di atas kepalanya, mengeluarkan suara cicitnya yang ramai.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ia mendongak ke atas, melihat keadaan yang sudah mau menjadi gelap, ia tidak dapat hanya menangis
saja, ia harus mencari tempat untuk berlindung, menunggu sampai keesokan harinya.
Baru saja ia mengangkat kakinya yang malas, pandangan matanya telah tertumbuk oleh sebuah
pemandangan yang tidak biasa. Karena kaget, sampai ia bertanya sendiri:
“Iiiih, apa burung juga dapat membuat barisan tin?”
Ia melihat burung-burung yang terbang semua menuju ke satu arah, di mana di antara awan yang tipis
terlihat puncak gunung yang menjulang tinggi. Semua burung yang telah menuju ke sana, satu persatu
berbaris dengan sangat rapi sekali, dari puncak sampai ke bawah kaki gunung.
Hatinya sangat memuji akan keajaiban ini, dengan kecepatan kakinya, hanya memakan waktu satu jam, ia
akan sampai di sana, perasaan hatinya yang serba ingin tahu mendorong ayunan kaki pergi menuju ke
tempat itu.
Betul saja, tidak sampai satu jam, ia telah tiba di kaki gunung. Di sana seperti telah memasuki dunia lain
saja. Gunung ini merupakan lembah kecil, biarpun waktu itu telah mendekati akhir musim rontok, tapi
keadaan hawa di sini tetap sangat nyaman.
Pohon-pohon tetap masih mempunyai daun yang menghijau, bunga-bunga memancarkan sari harumnya, ia
seperti telah sampai di pintu sorga.
Mendadak, ia merendek, di sini tentu ada orang yang meninggalinya. Jika dilihat dari jalan-jalan yang bersih
dan pohon-pohon yang teratur, orang ini tentu mempunyai pengalaman yang luar biasa.
Pada waktu itu, kupingnya telah mendengar satu suara yang halus, lebih halus dari suara nyamuk saja:
“Tamu agung dari mana yang sampai di sini? Silahkan menurut arah yang ditunjuk oleh si biru, datanglah
kemari.”
Ia masih ragu-ragu, seekor burung kecil yang berwarna biru mulus telah terbang di atas kepalanya, dengan
mengangkat tinggi-tinggi buntut kecilnya, sang burung bercuit-cuitan.
Ong Hoe Tjoe merasa senang, ia mengulurkan tangannya untuk menangkap. Tapi burung kecil itu sangat
jinak, sebelum ia dapat menangkapnya, sang burung sudah menclok di atas pundak, dan berlompatan ke
arah telapak tangan.
Ong Hoe Tjoe bagaikan menghadapi anak kecil saja mendekati tangannya sampai di depan mukanya dan
sudah bertanya kepadanya:
“Apa majikanmu yang menyuruh datang kemari untuk menjemput?”
Si burung biru memanggut-manggutkan kepalanya dan bercit-cit dua kali, lalu meninggalkan telapak tangan
Ong Hoe Tjoe, lompat ke tanah dan leloncatan ke depan.
Ong Hoe Tjoe berliku-liku mengikuti jalan yang sudah ditunjuk, sehingga sampailah di depan sebuah rumah
batu.
Rumah batu itu penuh dihiasi oleh bermacam-macam bulu burung, jika dilihat dari jauh, bentuknya seperti
satu burung raksasa.
Setelah masuk ke dalam rumah batu di dalamnya ternyata ada lebar juga. Semua perabot dan alat yang
ada di situ diatur sedemikian rapi, sehingga membuat orang yang melihatnya akan tertarik.
Sedang enak ia memandang semua ini, dari dalam telah terdengar suara yang halus tadi berkata pula:
“Anak, masuklah ke dalam.”
Dengan menabahkan hati, Ong Hoe Tjoe memasuki pula ke ruangan sebelah dalam. Di sini terlihat seorang
perempuan setengah umur tengah duduk bersila. Wajahnya yang cantik bersifat agung membuat orang
yang melihatnya tidak berani memandang lama-lama.
Ong Hoe Tjoe dengan tidak terasa telah berlutut di hadapannya dan berkata:
“Bidadari memanggil kemari tentu ada perintah apa-apa?”
Si wanita cantik setengah umur seperti kaget mendengar perkataan Ong Hoe Tjoe.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Iiiih, julukanku Bidadari Sayap Biru kau dapat tahu dari mana?”
Ong Hoe Tjoe lebih kaget lagi karena ia tidak sengaja menyebut julukan wanita cantik setengah umur ini.
Maka dengan cepat ia sudah menjawab:
“Anak tidak tahu telah keliru menyebut julukan bidadari, karena melihat keagungan bidadari yang tidak ada
tandingannya, maka telah memberanikan diri dengan panggilan ini. Harap dapat memberi maaf kepada
anak yang lancang ini.”
Wanita cantik itu sambil tersenyum berkata:
“Kau boleh bangun. Di tempatku ini tidak memerlukan peradatan berlebihan. Bawalah sikap yang
sewajarnya.”
Ong Hoe Tjoe menurut berdiri di sampingnya. Tapi masih tidak berani berbuat sesuatu apapun.
Si wanita cantik setelah memperhatikan Ong Hoe Tjoe, sebentar sudah berkata lagi:
“Tempat ini disebut Lembah Hewan. Biarpun ia disebut demikian, tapi binatang yang paling banyak di sini
adalah bangsa burung. Di atas puncak gunung ini terdapat raja burung Hong, setiap kali ia mengadakan
pertemuan di atas puncak yang rata itu penuh sesak dengan bangsa mereka, maka puncak gunung yang
rata itu dinamakan juga puncak Seribu Burung.”
Setelah menjelaskan tentang nama lembah dan gunung ini, ia sudah menutup ceritanya:
“Karena itu aku senang akan keadaan di sini, banyak sekali bermacam-macam burung, maka aku terus
menetap di sini untuk seterusnya.”
“Suatu tempat yang bagus sekali,” Hoe Tjoe memuji.
Bidadari sayap biru menanya:
“Apa kau senang dengan tempat ini?”
“Jika aku yang tinggal di sini,” jawab Hoe Tjoe, “untuk seumur hidupku tidak akan pergi lagi.”
Senyumnya Bidadari Sayap Biru mendadak lenyap sama sekali, sebagai gantinya ia telah menghela napas:
“Ada suatu tempat yang lebih bagus dari tempat ini, tapi......”
“Tempat apakah yang lebih bagus? Di mana?” Ong Hoe Tjoe bertanya heran.
“Apa kau pernah dengar tentang Lembah Merpati?” tanya Bidadari Sayap Biru.
Ong Hoe Tjoe menjadi sengit, mendengar disebutnya Lembah Merpati, karena ia teringat akan kematian
dua orang tuanya. Maka lagu suaranya sudah berobah:
“Bukan saja pernah dengar, bahkan telah mengetahui, bahwa orang-orang dari lembah ini sangat jahat
sekali, bisanya hanya membunuh dan menculik orang saja. Mereka berusaha memancing pemuda-pemuda
dari berbagai golongan, dengan bermacam-macam usaha untuk masuk ke dalam lembah, dan juga
bersekongkol dengan orang-orang dari golongan hitam, untuk dijadikan kaki tangannya. Semakin lama
menjadi semakin ganas saja mereka ini, ibuku mati di tangannya. Ayahku mati kesal karenanya......”
Berkata sampai di sini, kedua matanya sudah menjadi merah, mau menangis.
Bidadari sayap biru mendengar sampai di sini sudah mengerutkan kedua alisnya yang lentik dan berkata:
“Tidak dikira, si bangsat berani berbuat melakukan sampai di sini, tidak lagi memikirkan segala akibatnya,
dengan berani-berani melanggar peraturan-peraturan lembah. Kau tidak usah terlalu bersusah hati, karena
orang-orang ini tentu akan menerima segala akibat-akibatnya.”
Ong Hoe Tjoe tidak menyahut.
Setelah ragu-ragu sebentar, terdengar Bidadari Sayap Biru, berkata lagi:
“Terus terang kukatakan kepadamu, aku adalah salah satu dari orang Lembah Merpati. Karena ketua
lembah yang baru ada sangat kukuh dan kejam, dan berani melanggar peraturan-peraturan lembah,
memaksa aku untuk dijadikan istri yang kedua, maka aku melarikan diri. Jika dihitung sampai sekarang
telah hampir enampuluh tahun aku tinggal di sini......”
dunia-kangouw.blogspot.com
Hati Ong Hoe Tjoe hampir saja mencelat keluar ia mengaku telah tinggal di sini hampir enampuluh tahun
lamanya. Karena jika dilihat dari roman mukanya, paling banyak juga baru berumur empatpuluh tahun. Jika
betul ia telah mengumpat di sini hampir enampuluh tahun, maka tentunya kini ia telah berumur lebih dari
delapanpuluh tahun, tapi mengapa ia masih kelihatan sedemikian muda.
Ong Hoe Tjoe tidak berani banyak bertanya, dengan tidak menyinggung persoalan ini ia berkata:
“Tidak perduli bagaimana, dendam dari dua orang tuaku akan kubalas.”
Bidadari Sayap Biru, menggeleng-gelengkan kepalanya:
“Urusan ini kita selesaikan belakangan saja. Pada waktu ini, kepandaian yang dimiliki oleh Lembah Merpati
masih belum ada yang dapat menandinginya. Kau harus dapat menahan sabar.”
Ong Hoe Tjoe berkata:
“Anak masih ada punya adik lelaki yang bernama Koo San Djie, kepandaiannya tinggi sekali, ia dapat
membantu anak untuk membalas dendam.”
Bidadari Sayap Biru seperti masih tidak percaya, ia masih menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil
berbangkit dari duduknya ia berkata:
“Mari kuantar kau istirahat.”
Ia sudah lantas menghantarkan Ong Hoe Tjoe ke dalam satu ruangan batu yang lebih kecil. Semua perabot
di sini tidak kalah terpeliharanya, Ong Hoe Tjoe dapat tertidur di sini dengan nyenyak sekali.
Pada pagi harinya, suara cuat cuitnya burung-burung, telah membuat ia terbangun dari tidurnya. Ia bangun
dan menolak daun pintu pergi keluar, dilihatnya Bidadari Sayap Biru sudah bangun terlebih dulu dan berdiri
di pelataran, memainkan burung-burung.
Begitu melihat Ong Hoe Tjoe sudah bangun, ia menggapai ke arahnya dan berkata kepada burung yang
kemarin mengajak Ong Hoe Tjoe datang:
“Ini hari ada tamu yang datang kemari, lekaslah kau suruh mereka menyediakan makanannya.”
Burung kecil ini begitu mendengar perintah sudah lantas terbang meninggalkan sang majikan ke atas
awang-awang yang tinggi menuju ke arah burung-burung di atas puncak gunung Seribu Burung.
Bidadari Sayap Biru sambil menunjuk ke arahnya para burung sudah berkata:
“Kau telah melihat burung-burung itu, di antara sedemikian banyaknya binatang, golongan manakah yang
paling kuat?
Ong Hoe Tjoe yang melihat tangannya Bidadari sayap biru menunjuk ke arahnya para burung, sudah tentu
saja mengetahui maksud jawaban tidak lain tentulah burung. Tapi ia tidak berani sembarangan menjawab,
maka ia berkata:
“Sukar untuk dikatakan dengan pasti, karena mereka mempunyai kepandaian sendiri-sendiri, tergantung di
mana kekuatan mereka itu digunakan.”
Bidadari Sayap Biru menganggukkan kepala:
“Betul. Aku tinggal di dalam Lembah Hewan ini puluhan tahun, setiap hari, aku hanya bergaul dengan para
burung dan tentu saja sudah memperhatikan gerak gerik mereka. Sewaktu kuperhatikan dengan seksama,
waktu mereka terbang menerjang awan dan menukik mencengkram lawan atau mematok makanan,
gerakan-gerakan mereka ini ternyata sangat berguna sekali bagi orang kaum wanita. Jika kita dapat
menggunakan gerak-gerakan ini di dalam ilmu silat, bukankah menjadi suatu ilmu yang tersendiri? Semua
makhluk di dunia, yang kuat menang dari tenaga, yang pintar menang dari keahlian. Gerakan-gerakan
burung-burung yang lincah adalah suatu keahlian bagi mereka, dan gerakan inilah yang patut kita tiru.......”
Mendadak, ia menggoyang-goyangkan badannya, bajunya berkibar-kibaran, dengan sekali enjot, ia
mengangkat tubuhnya, mengikuti gerakannya burung terbang ke tengah udara. Sebentar-sebentar
membentangkan kedua lengan bajunya yang lebar, tidak berbeda dengan seekor burung besar yang
sedang terbang melayang-layang.
Ong Hoe Tjoe sangat kagum, sampai bertepok tangan girang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dalam sekejapan saja, matanya seperti lamur, di hadapannya kini berdiri lagi Bidadari Sayap Biru dengan
senyum di mulutnya.
Setelah menenangkan napasnya, Bidadari Sayap Biru dengan sungguh-sungguh berkata:
“Ilmu berjumpalitan di udara ini, jika telah sampai pada puncaknya dapat terbang dengan hanya
mengempos tenaga, aku hanya baru dapat mempelajari kulitnya saja. Pelajaran yang kudapatinya ini telah
kutambah dengan sembilan jurus ilmu cengkeraman burung, maka kunamakan Sembilan Gerakan Burung
Dewi. Mengingat keinginanmu yang keras untuk dapat membalas dendam kedua orang tuamu, maka
pelajaran ini akan kuturunkan kepadamu!”
Ong Hoe Tjoe sudah menjadi girang sekali, ia menjatuhkan dirinya dan menyentuhkan kepalanya ke tanah
sampai empat kali.
Bidadari sayap Biru tersenyum di tempat, dengan lekas ia sudah membangunkan badan Ong Hoe Tjoe, dan
berkata:
“Lain kali, jangan berbuat seperti ini, aku paling tidak suka dengan segala peradatan dunia.”
Sebentar kemudian, suara berkicaunya burung terdengar ramai sekali, bermacam-macam burung dengan
aneka warna telah datang ke arah mereka. Pada setiap patok burung-burung ini, terbawa bermacammacam
buah-buahan gunung, sebentar saja telah penuh di hadapan mereka.
Bidadari Sayap Biru mengulurkan tangannya dan menggapai ke udara. Seekor burung kaka tua besar yang
bermata merah dan berbulu putih terbang turun di hadapannya, dicengkeramannya masih menyekal buah
yang berwarna hijau terang. Dengan tidak henti-hentinya berkata:
“Barang antaranku paling bagus. Barang antaranku paling bagus.”
Bidadari Sayap Biru tertawa mengomel:
“Sudahlah. Aku juga tahu.”
Lalu mengambil buah yang berwarna hijau terang seperti jeruk tadi dan berkata kepada Ong Hoe Tjoe:
“Betul! Buah inilah yang paling istimewa. Orang menamakannya Jeruk Merah, karena isinya berwarna
merah darah, buah ini seratus tahun baru berbuah sekali, khasiatnya yang paling istimewa adalah dapat
menambah tenaga berkali lipat. Memang kau mempunyai rejeki bagus, lekaslah makan.”
Ong Hoe Tjoe menyambutnya buah ini seraya menghaturkan terima kasih, segera ia memakannya. Bukan
main harum, Jeruk Merah itu setelah masuk ke dalam mulut, garing dan banyak air. Kini ia merasa tubuhnya
menjadi segar sekali, tenaganya dengan tidak diketahui telah bertambah lipat ganda.
Maka mulai dari hari itu Ong Hoe Tjoe menetap di situ, mempelajari ilmu berjumpalitan di udara dan
Sembilan Gerakan Burung Dewi. Setiap pagi, ia memperhatikan gerakan-gerakan dari burung-burung yang
banyak terdapat di sana, malamnya, sering minta petunjuk-petunjuknya yang berharga dari Bidadari Sayap
Biru.
Tapi jika Ong Hoe Tjoe menanyakan tentang jalan atau keadaan di dalam Lembah Merpati, ia setalu
menggeleng-gelengkan kepala dan dengan sedih berkata:
“Aku telah menghianati leluhur, mana berani membongkar rahasia lembah lagi? Aku hanya dapat memberi
pelajaran ini untuk nanti kau gunakan di dalam lembah.”
Sedari saat itu, Ong Hoe Tjoe tidak berani menyinggung-nyinggung tentang Lembah Merpati, ia telah
bersungguh-sungguh mencurahkan perhatiannya ke dalam ilmu pelajaran.
Bidadari Sayap Biru menjadi suka dan kasihan kepada Ong Hoe Tjoe yang telah ditinggal pergi oleh kedua
orang tuanya terlebih dahulu, maka ia bersedia mengangkat anak kepadanya.
Tentu saja, Ong Hoe Tjoe tidak keberatan akan usul ini, maka pada hari itu juga ia memanggil ibu kepada
Bidadari Sayap Biru.
Sebagai kenangan, Bidadari Sayap Biru telah memberikan dua tanda mata kepada anak angkatnya ini,
yaitu Baju Mega Sayap Burung dan Kipas Uap Sayap Burung.
Dua barang pusaka ini adalah barang-barang bawaannya Bidadari Sayap Biru, semasa mudanya. Maka
dengan wanti-wanti ia memesan:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Anak Tjoe, kau harus hati-hati dengan dua pusaka ini. Baju mega sayap burung bukan saja bagus untuk
dipakai, kegunaannya yang terpenting ialah ia dapat menahan air dan memisah api, pedang dan golok
biasa dan tenaga dalam yang mengenainya akan membal balik dengan sendirinya, dengan tidak usah kuatir
dan dapat melukai isi dalam kita. Dan jika menemui racun atau obat bius, dengan mengerahkan tenaga
dalammu ke dalam baju ini, ia dapat mengeluarkan hawa yang bisa memunahkan racun-racun tadi.”
“Tentang Kipas Uap Sayap Burung, ini bukan saja ia mempunyat khasiat yang tidak kalah dengan Baju
Mega Sayap Burung tadi, karena ia lebih kecil dan enteng, maka dapat digunakan sebagai senjata. Apa lagi
jika kau menggunakan Sembilan gerakan burung dewi, maka ia akan lebih berguna lagi.”
Saking girangnya Ong Hoe Tjoe sudah lari dan merangkul ibu angkatnya ini. Dengan suara terharu ia
berkata:
“Bu, kau ada sangat baik sekali kepadaku, entah harus bagaimana aku dapat membalasnya.”
Bidadari sayap biru mengelus-elus rambutnya Ong Hoe Tjoe yang hitam sambil berkata:
“Cukuplah jika kau dapat belajar ilmu baru ini dengan rajin dan gunakanlah untuk membantu orang yang
perlu akan bantuanmu.”
“Akan kuingat perkataan kau si orang tua,” jawab Ong Hoe Tjoe terharu.
18.40. Phi-bu melawan Pengemis Sakti
Kita balik melihat keadaan Koo San Djie yang berlari-larian dengan menenteng si Selendang Merah.
Setelah sekian lamanya berlari masih tidak dapat menemukan jejak Ong Hoe Tjoe juga.
Ia menjadi kesal karena harus kehilangan kekasihnya lagi, maka sambil membanting-banting kakinya ia
sudah menjadi uring-uringan sendiri:
“Dulu kau berlaga pilon, tidak mau memperdulikan kepadaku, kini cari-cari lagi alasan yang bukan-bukan,
marah dan meninggalkan aku. Apa yang menyebabkan ini semua? Terus terang saja kau katakan, TIDAK
SUKA. Akupun masih banyak urusan yang harus dikerjakan.”
Ia seperti merasakan ciecie Hoe Tjoe nya telah berobah, berobah jauh sekali dengan pertama kali mereka
bertemu, semua-semuanya telah berubah, termasuk sifatnya yang open juga.
Setelah mengucapkan beberapa ocehan, ia sudah menjadi bersusah hati karena seperti telah kehilangan
sesuatu barang kesayangan.
Kembali ia teringat akan si pemuda berpakaian seragam, pemuda inilah yang menjadi gara-gara dari
perobahan. Biarpun ia menang bertanding dari si pemuda berpakaian seragam, tapi dalam hal menarik hati
nona Ong Hoe Tjoe, ia harus menyerah kalah.
Koo San Djie telah berobah tidak mempunyai pendirian, maunya marah-marah saja, tidak perduli, apa saja
yang akan dimarahinya.
Sebentar ia sudah berdaya untuk melepaskan gangguan pikiran ini, tapi tidak lama timbul pula pikiran
kusutnya.
Jika bukan Koo San Djie yang mengalami kejadian ini, Selendang Merah sudah mentertawakannya. Tapi
kini ia tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh adik San nya ini, ia tidak berani sembarangan membuka mulut,
ia hanya mengintil di belakangnya.
Bisa jadi, karena akibatnya dari si Selendang merah yang telah menjadi lebih jinak, Koo San Djie telah
dapat menentramkan kembali hatinya, pikirnya:
“Sebagai orang laki harus dapat mengangkat dan memikul. Untuk selanjutnya tidak akan kupikirkan lagi
urusannya......”
Setelah dapat mengambil putusan, hatinya sudah menjadi mantep lagi. Ia telah mengumpulkan segala
macam urusan menjadi satu, jika diusut asal usulnya, Lembah Merpatilah yang menjadi pokok gara-gara.
Ia membuat suatu perumpamaan, jika betul dapat menemukan letaknya Lembah Merpati, maka ia harus
berbuat bagaimana? Jika hanya mengandalkan dirinya sendiri saja, untuk menyerap-nyerapi kabar saja
masih tidak menjadi soal, tapi jika betul-betul mau memecahkan Lembah Merpati, masih terlalu berat
dunia-kangouw.blogspot.com
baginya. Ia mencoba-coba menghitung orang, yang dapat diminta bantuannya sang supek Liu Djin Liong,
Tjeng Tjeng, Tiauw Tua, sastrawan Pan Pin, Ong Hoe Tjoe, Selendang Merah dan Hay-sim Kongcu.
Hitung-hitung dengan cara ini, memang betul banyak orang juga yang dapat diminta bantuannya. Yang
sayang ialah orang ini sukar untuk dikumpulkan menjadi satu dalam sekejapan mata.
Mendadak ia teringat akan si Pengemis sakti Kiang Tjo yang sudah menanti di kuil Siauw-lim, mungkin
sekali ia mengandung maksud yang dalam.
Pengemis sakti orangnya jujur, biarpun mempunyai ganjelan yang dalam dengan sang supek Liu Djin Liong,
tapi itu hanya soal pribadi. Jika menghadapi urusan seperti Lembah Merpati, demi kepentingan dunia Kangouw,
tidak mungkin ia dapat berpeluk tangan.
Jangka waktu sebulan sudah hampir habis, maka ia sudah menetapkan untuk pergi ke kuil Siauw-lim.
Jalan yang menuju ke kuil Siauw-lim di gunung Siong-san adalah jalan lama yang telah dikenal, sebentar
saja ia telah tiba di sana.
Mendadak, ia merasa, dengan mengajak seorang wanita masuk ke dalam kuil adalah tidak pantas maka ia
menasehatkan si Selendang Merah untuk tidak usah ikut masuk, dan menunggu di bawah gunung sampai
ia selesai dengan urusannya.
Terhadap usul ini Selendang Merah tidak lantas menyetujuinya, setelah berdebat sekian lama baru ia
melulusi juga.
Setelah sampai di pintu gunung, kembali Koo San Djie menemukan Siauw Kong yang memang telah
dikenal. Siauw Kong melihat orang yang datang adalah Koo San Djie sudah menjadi girang sekali, dari
kejauhan ia sudah lari menghampiri dan menyekal erat-erat tangan sang kawan.
Koo San Djie melihat Siauw Kong hanya tertawa sambil menunjukkan dua baris giginya yang putih, lantas
bertanya:
“Apa Pengemis sakti Kiang Tjo telah tiba?”
Siauw Kong tertawa:
“Dia telah menanti lama. Tapi sekarang dia sedang bermain catur dengan kakek guruku. Telah beberapa
kali dia menanyakan kedatanganmu.”
“Bagaimana jika kau mengantarkan aku sekarang juga? Sekalian dapat aku berjumpa dengan kakek
gurumu juga.”
Siauw Kong tertawa.
“Mari ikut!” katanya riang.
Sambil menarik tangan Koo San Djie ia bawa sang kawan mengitari kuil dan langsung menuju ke belakang
gunung.
Sebentar saja, mereka telah tiba di bagian belakang. Dilihatnya Pengemis Sakti, sedang enak bercatur
dengan seorang hweeshio yang bermuka merah.
Pengemis sakti melihat Koo San Djie mendatangi sudah lantas membalikkan papan caturnya dan berkata.:
“Aku menyerah kalah saja.”
Hweeshio bermuka merah lantas tertawa:
“Apa dapat kau tidak mengaku kalah? Sebentar lagi juga akan kucar kacir, berantakan semua.”
Koo San Djie bertindak maju dan memberi hormat kepada hweeshio tua bermuka merah terlebih dulu, baru
berbalik dan memberi hormat kepada Pengemis sakti Kiang Tjo.
“Tidak usah banyak peradatan,” kata Kiang Tjo, “Mari kuperkenalkan, ini adalah padri satu-satunya yang
tertua yang masih berada di kuil Siauw-lim, kedewaan dan kepandaiannya telah mencapai puncak yang
tertinggi.”
Kong Tie tertawa mesem, katanya:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Pengemis bau, tidak usah mengumpak-umpak kepadaku. Pendekar kecil inilah yang harus menerima
pujian.”
Koo San Djie tidak dapat campur mulut, ia hanya berdiri disampmg mereka dengan hormat.
Pengemis sakti berkata lagi pada Koo San Djie:
“Apa kau datang kemari mencariku untuk bertanding?”
Koo San Djie berkata:
“Karena mendapat panggilan dari Locianpwe, maka boanpwe tidak berani tidak datang, tentang
pertandingan, mana boanpwe berani mempertontonkan kepandaian jelek di hadapannya seorang ahli?”
Pengemis sakti ketawa nyengir:
“Mulut kecil, tapi tajam. Duduklah dahulu, ada beberapa perkataan yang mau diucapkan kepadamu.”
Koo San Djie menurut dan ambil tempat duduk.
Pengemis sakti dengan sungguh-sungguh berkata:
“Apa kau tahu akan bahaya yang telah membayangimu?”
“Tidak tahu.”
“Kau baru saja terjun ke dalam kalangan Kang-ouw sudah memancarkan cahayanya, beberapa kali
kebentrok dengan orang-orangnya Lembah Merpati. Hal ini telah menarik ke luar dua pengurus Lembah
Merpati, yang sudah lantas mengumpulkan begundal-begundalnya dan memerintahkan empat duta-dutanya
untuk mengurung kepadamu. Kulihat, paling baik kau dapat menyingkir terlebih dahulu.”
Koo San Djie yang mendengar kabar ini sudah menjadi panas. Dengan tertawa lebar ia berkata:
“Terima kasih atas perhatian Locianpwe. Boanpwe masih tidak begitu memandang mata kepada para
kurcaci itu......”
Mendadak ia mengkerutkan keningnya dan melanjutkan:
“Yang paling membuat boanpwee tidak mengerti ialah mengapa orang-orang dari delapan partai selalu
mencari susah saja padaku, bahkan tidak dapat dikatakan pegang aturan.”
Pengemis sakti Kiang Tjo mengangguk-anggukkan kepalanya:
“Hal ini tidak dapat disalahkan mereka, karena sembilan ketua partai telah terbunuh di dalam Makam
Merpati. Kau yang menjadi keponakannya Liu Djin Liong, kebetulan terlihat sedang memendam mayatmayat
itu, mana mereka tidak jadi salah mengerti?”
Lalu ia mengalihkan pandangannya kepada Kong Tie dan bertanya:
“Dan bagaimana pandangan siansu terhadap soal ini?”
Kong Tie dengan tegas menjawab:
“Liu Djin Liong di sini menerima penasaran......”
“Bagaimana dengan urusan yang sebenarnya?” tanya Kiang Tjo heran.
Kong Tie memainkan tasbenya sejenak, kemudian berkata:
“Liu Djin Liong sedari ditinggal mati isterinya sudah bersumpah tidak akan keluar lembah. Kini dia telah
melanggar sumpahnya dan pergi keluar. Dari sini dapat terbukti, tentu terjadi suatu urusan yang besar.
Makam Merpati sedang menghadapi soal rumit. Inilah kecurigaanku yang pertama.”
Setelah berdiam sejenak, ia meneruskan kata-katanya:
“Dan lagi, kitab Sari Pepatah Raja Woo, adalah salah satu barang pusaka, kitab itu telah tercuri sekian
lama, tapi Liu Djin Liong masih belum muncul-muncul juga. Dari sini dapat dibuktikan bahwa Liu Djin Liong
belum mengetahui, tentang tercuri barang ini, yaitu, dia tentu sudah tidak berada di dalam lembah, sewaktu
terjadinya kejadian. Inilah kecurigaanku yang kedua.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Liu Djin Liong dengan sifatnya yang angkuh, pernah membuat peraturan yang tidak mengizmkan orang luar
masuk ke dalam lembahnya, sembilan ketua partai terbunuh di dalam lembah, seolah-olah seperti
perbuatannya. Tapi jika mengingat sifatnya yang kaku tidak nanti dia meninggalkan tempatnya. Dan tidak
mungkin dia mau menyingkir dari orang-orang yang mau membalas dendam, kecuali dia tidak mengetahui
sama sekali. Inilah kecurigaanku yang ketiga.
“Menurut tiga dugaan ini, si pencuri dan si pembunuh adalah satu komplotan dan sudah tentu Liu Djin Liong
juga sedang berada dalam bahaya.”
Penjelasan yang panjang lebar ini telah membuat semua orang memuji kecerdasan si hweeshio tua. Koo
San Djie juga sampai beberapa kali memanggut-manggutkan kepalanya. Sementara hatinya menjadi sangat
gelisah.
“Jika dugaan ini benar semua, sudah tentu Liu-supek dan adik Tjeng dalam keadaan bahaya besar.”
Kong Tie yang melihat perobahan mukanya Koo San Djie, sudah mengetahui isi hati sang anak gembala
yang hebat ini, maka ia menghiburinya:
“Kepandaian Liu Djin Liong sudah hampir mencapai di puncaknya, siapakah dapat mengganggunya?”
Biarpun Koo San Djie percaya akan perkataan ini, tapi ia masih tidak dapat menenangkan hatinya.
Pengemis sakti Kiang Tjo sudah tertawa berkakakan:
“Anak muda, jangan kau cemberut saja. Bukankah kau kemari untuk mencari aku, untuk bertanding? Mari
akan kulayani kau bermain-main.”
Hweeshio kecil Siauw Kong mendengar mereka berdua hendak mengadu kepandaian, sudah menjadi
kegirangan, ia tertawa, memperlihatkan kedua baris giginya yang putih.
Koo San Djie terpaksa, maka ia berkata:
“Selalu boanpwe siap sedia.”
Kiang Tjo pernah juga melihat kepandaian Koo San Djie, tapi itu juga hanya sekelumit saja. Maka ia ingin
mencoba sampai di mana kepandaian anak gembala ini. Ia mendahului ke tempat pekarangan.
“Lekaslah kau kemari!” ia mengundang.
Tempat ini adalah tempat istirahatnya Kong Tie, kecuali Siauw Kong yang suka diperintah ke sana sini,
padri lainnya tidak diperbolehkan datang. Maka, tempat ini keadaannya tenang sekali.
Setelah mereka berempat sampai di pekarangan, Koo San Djie bertanya:
“Dengan cara bagaimana kita bertanding, harap Locianpwe suka menentukannya.”
Kiang Tjo lalu mematahkan dua batang cabang pohon Liu dan berkata:
“Kali ini, aku si pengemis mengambil sedikit keuntungan darimu, dengan cara ini sajalah kita bertanding.”
Ia sambil menyerahkan sebatang cabang pada Koo San Djie.
Pengemis Sakti Kiang Tjo memang tidak omong kosong, ia mempunyai tenaga dalam yang kuat, maka
telah terkenal dengan ilmu pukulannya. Latihannya paling sedikit juga setingkat dengan yang berlatih
delapanpuluh tahun, dengan menyalurkan tenaga kepada cabang kayu, jika dilihat sepintas lalu, memang
Koo San Djie rugi sedikit.
Tapi mereka belum tahu bahwa anak muda kita telah dapat memakan Kodok mas dan Capung Kumala,
tenaganya telah bertambah lebih dari enampuluh tahun. Di dalam goa, si Orang Tua Bertangan Satu telah
mencurahkan semua tenaga yang dipunyainya, sampai berkorban karenanya, maka tenaga latihan Koo San
Djie paling sedikit juga setingkat dengan yang berlatih sembilan puluh tahun. Jika ditambah dengan
tenaganya sendiri, orang manakah yang dapat menyamainya?
Koo San Djie menyambuti cabang kayu tadi dan mengangkat tangannya sebagai tanda hormat. Kakinya
diangkat ke samping sedikit tangannya menggentak cabang kayu, dibareng oleh suara berkesiurnya angin,
ia mulai menyerang ke arah pundak sang lawan.
“Betul luar biasa!” Kiang Tjo berteriak memuji.
dunia-kangouw.blogspot.com
Cabang kayu diputar seperti seekor belut yang licin.
Kedua pihak saling menyerang dengan sama gesit.
Dua cabang kayu tidak kalah dari tajamnya pedang, mengeluarkan warna hijau, bergerak-gerak, bagaikan
dua ekor naga kecil, bermain di udara.
Kepandaian yang tertulis di dalam kitab Im-hoe-keng, sangat tajam dan cepat. Tapi Kiang Tjo jarang sekali
menggunakan pedang, tentu saja menderita kerugian.
Dua orang sama hebat sebentar saja telah lewat dari limapuluh jurus. Koo San Djie semakin bertambah
segar, tapi Kiang Tjo sebaliknya main mundur.
Setelah lewat lagi sepuluh jurus, Kiang Tjo sudah mundur jauh dan berteriak:
“Aku si Pengemis mengaku kalah......”
Tapi suara ini tidak seperti biasa yang riang gembira, didengarnya ada seperti mengandung kesedihan.
Bagaimana kalahnya, si hweeshio kecil Siauw Kong tidak mengetahui sama sekali, hanya Kong Tie yang
memanggutkan kepalanya.
Ternyata cabang yang dipegang oleh Kiang Tjo telah hilang dua lembar daun, terkena babatan Koo San
Djie.
Kiang Tjo setelah menenangkan dirinya lalu berkata:
“Hai bocah, apa kita perlu mengadu pukulan juga?”
Kong Tie sudah maju dan berkata sambil tertawa:
“Sudah sajalah, siapa yang tidak tahu dua telapak tangan besimu merajai dunia?”
Kong Tie sudah tahu anak angon ini mempunyai kepandaian yang tidak dapat ditaksir, ia takut, kedua belah
pihak salah tangan nanti melukai sang lawan. Maka ia mengeluarkan perkataan ini untuk mendamaikan.
Sebenarnya, Kiang Tjo tidak mempunyai pegangan untuk dapat memenangkan anak muda ini dengan dua
telapak tangannya, ia tidak tahu akan arti perkataan ini. Maka ia juga sudah tertawa saja.
Koo San Djie sedang mundur maju, mendengar perkataan ini, tapi melihat Kiang Tjo tidak berkata apa-apa,
maka ia berkata:
“Nanti, jika ada kesempatan, baru boanpwee minta pelajaran pula.”
Selesainya pertandingan. Mereka berempat kembali pula ke tempat tadi.
Setelah duduk kembali, Kong Tie mendadak menghela napas:
Di dalam rimba persilatan sedang mengalami kekacauan, kini ada waktu memerlukan orang seperti
pendekar kecil ini mengepalai orang gagah untuk menindas kekacauan......”
Kiang Tjo sudah menepok pantatnya dan berkata:
“Betul. Aku si Pengemis tidak takut akan segala urusan, bagaimana jika kita berdua bersama-sama
mengundang orang-orang pandai dari berbagai partai untuk merundingkan soal ini?”
Kong Tie menghela napas:
“Bukannya maksudku untuk menolak usulanmu tapi dengan sebenarnya, jika belum sampai pada saat sang
ajal, orang-orang itu tidak akan nanti tersadar dari tidurnya.”
“Maksud jahat dari Lembah Merpati telah menjadi jelas,” kata Kiang Tjo gusar, “Belakangan ini lima raja iblis
juga telah berserikat. Apa masih belum waktunya.”
Kong Tie dengan tenang menjawab:
“Memang betul! Tapi, aku telah lama mengundurkan diri, kau dan ketua partai sajalah yang
menyelesaikannya.”
Kiang Tjo tertawa terbahak-bahak.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku si gembel hanya sebatang kara, tidak mempunyai golongan partai. Biarpun bagaimana jahatnya
kepala-kepala Iblis, juga tidak akan dapat membuat suatu apa. Jika kau tidak mau mengurus, buat apa aku
mesti menggerecokkan diri?”
Ia segera berbangkit dari duduknya dan meninggalkan tempat itu.
18.41. Dengan Tangan Kosong Melawan Belasan Musuh Kuat
Kong Tie tertawa kecil.
“Tidak disangka sudah tua begini masih juga suka mengambil dan tidak dapat meninggalkan sifat
berangasannya.”
Tapi Pengemis Sakti Kiang Tjo dengan tidak menoleh lagi sudah langsung pergi turun gunung.
Koo San Djie juga tidak bermaksud meminta bantuan dari orang-orang beberapa partai, mereka tidak dapat
mengerti akan hatinya, melihat Kiang Tjo sudah pergi, ia juga meminta diri.
Siauw Khong mengantarkan Koo San Djie sampai di bawah pintu gunung dan dengan berat ia berkata:
“Partai kami sudah menyebarkan orang-orang pandai ke berbagai tempat untuk mencari si pembunuh ketua
partai, tapi sampai sekarang belum ada suatu kabar apa juga. Tidak lama lagi aku juga akan turun gunung.”
“Begitupun baik, nanti kita akan bertemu pula,” jawab Koo San Djie.
Setelah meninggalkan kuil Siauw-lim, Koo San Djie telah kehilangan jejaknya si Selendang Merah. Di dalam
hatinya ia berpikir:
“Mungkin ia tidak mau menunggu lagi dan sudah pergi dari sini. Begini ada lebih baik, dapat menghindarkan
banyak kerewelan lagi.”
Maka ia sudah melanjutkan perjalanannya sendiri, tidak henti-hentinya ia melamun yang bukan-bukan.
Demikian lamunannya:
“Apa adik Tjeng telah menemukan Liu-supek? Apa betul Liu-supek mengalami bahaya? Siapa orang yang
dapat mengganggunya? Mungkinkah berada di dalam Lembah Merpati?”
Sedang enak-enaknya ia melamun, dari belakang mendadak terdengar keliningan dari dua ekor kuda.
Samar-samar ia seperti mendengar orang berkata:
“Sampai bertemu pula di......”
Ia tidak dapat mendengar perkataan selanjutnya, maka ia mengangkat kepala, dan menoleh ke belakang.
Tapi dua ekor kuda tadi telah lewat, tidak tertampak lagi.
Dan waktu itu, di depan matanya tertampak serombongan orang. Di antaranya terdapat orang-orangnya dari
berbagai partai It Tjing Tjie, si Walet Kie Gie, Si Golok Malaikat Nomor Satu, Hian-tju Totiang beserta yang
lain-lain.
Koo San Djie mengerutkan alis. Pikirnya, Mengapa sering menemukan orang-orang ini? Tapi ia tidak takut
dengan mereka, dengan membusungkan dada, ia maju terus ke muka.
Setelah berdekatan, Si Golok Malaikat Nomor Satu yang mempunyai ganjelan dengan Koo San Djie sudah
berkata dengan suara dingin:
“Hei, bocah! Apa yang kau sombongkan?”
Koo San Djie tidak menjawab, ia terus melanjutkan perjalanannya tanpa menengok sama sekali.
Tapi waktu itu si Penadah Langit Kiang Peng sudah menghadang di hadapannya berkata:
“Berhenti! Selesaikan dulu urusan antara kita.”
Koo San Djie betul-betul menghentikan langkahnya, dengan tertawa dingin ia berkata:
“Apa maksud kalian? Apa mau berkelahi lagi? Jika mau berantam, lekaslah maju semua.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka tahu, jika satu persatu, tidak satu di antara mereka yang dapat menandingi si anak gembala yang
gagah. Maka, dengan mencabut pedangnya si Walet Kie Gie sudah berkata:
“Tidak disangka, kau demikian sombong. Baru saja mendapat nama sudah berani banyak tingkah!”
Waktu itu ada tujuh orang yang mengeluarkan senjata. Hanya Hian-tju Totiang yang masih tinggal tetap di
tempat, ia merasa malu, jika turut mengkerubutinya.
Si Golok Malaikat Nomor Satu sambil mementil goloknya sudah berkata:
“Mengapa kau tidak lekas mengeluarkan senjata?”
Koo San Djie membeber kedua tangan, ia tertawa menyindir:
“Baru menghadapi orang seperti kalian, cukup dengan menggunakan dua telapak tangan kosong ini.”
It Tjing Tjie sudah tertawa keras.
“Kau terlalu sombong sekali......” katanya.
Pedangnya sudah mendahului berkelebat membuat setengah lingkaran, menyabet pinggang orang. Si
Walet Kie Gie dan Si Golok Malaikat Nomor Satu, satu dari kiri dan kanan sudah membarengi lawan
tangguh ini. Sebentar saja bayangan pedang dan golok bercampur menjadi satu, datang dari empat
penjuru.
Tujuh orang ini mewakili tujuh macam partai, sudah tentu mempunyai keahlian sendiri. Demi kepentingan
nama partai mereka, tidak ada satu yang tidak bersungguh-sungguh. Masing-masing telah mengeluarkan
kepandaian simpanannya yang lihay.
Sejurus demi sejurus terlihat kegunaannya, tekanannya semakin lama sudah menjadi semakin berat.
Bayangan sinar senjata telah mengurung Koo San Djie. Tapi ia tidak menjadi gentar, dengan tenang, selalu
mencari kesempatan untuk dapat meloloskan diri dari kurungan mereka.
Pertarungan ini telah membuat Hian-tju Totiang yang menonton sampai menggeleng-gelengkan kepala.
Pikirannya, ia merasa bersalah berada di pihaknya. Tenaga baru dari para pemuda ini tidak seharusnya
digunakan di sini, mereka baru dikumpulkan menjadi satu untuk menghadapi kejahatan.
Ingin ia menghentikan pertarungan ini, apa mau pertempuran sedang berjalan dengan seruh. Tujuh orang
sudah mengecilkan kepungannya, setindak demi setindak, mereka maju ke muka.
Angin pukulan yang keras terus menahan datangnya senjata, suara sentilan jari pada pedang dan golok
telah menerbitkan suara mengaung yang tidak henti-hentinya.
Perlawanan Koo San Djie seolah-olah gelombang samudera, semakin lama semakin dahsyat. Mereka kini
sudah mulat keteter dan mundur ke tempat asal.
Nyata kepungan ini sudah tidak akan tahan lama lagi. Si Walet Kie Gie sudah tidak dapat menahan sabar,
dengan berteriak keras ia mendesak maju pula.
Semua orang yang melihat ini sudah menjadi bersemangat lagi. Pedang panjang dari It Tjing Tjie menusuk
bertubi-tubi.
Si Penadah Langit Kiang Peng menggeretak gigi, memutarkan senjatanya sampai mengaung-ngaung.
Koo San Djie terkurung, terasa juga tekanan yang semakin berat ini. Tiba-tiba ia bersiul nyaring, merobah
cara bersilatnya.
Ilmu pukulan Sari Pepatah Raja Woo keluar, biarpun ia mempelajari ilmu pukulan ini tidak lama, tapi ia telah
dapat menggunakannya dengan sempurna.
Terdengar suara “ting, ting, ting,” yang ramai sekali, senjata tujuh orang itu telah terpental.
Mereka menjadi kaget, dengan cepat mundur, mereka terlongong-longong.
Tapi mereka tidak berpikir lama-lama, karena waktu itu telah muncul pula beberapa orang, yang sudah
mengurung Koo San Djie lagi.
Yang mengepalai orang-orang ini adalah seorang, bermuka kuning, siapa telah berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Para pendekar kecil tidak usah takut. Bocah ini paling suka menghina orang, mari kita bersama-sama
menyingkirkannya!”
Sewaktu Koo San Djie melihat siapa yang datang, ia menjadi marah. Ternyata yang berkata tadi ialah Tong
Touw Hio. Dan yang lain-lainnya ialah Min Min Djie, si Iblis Pipi Licin, dan Empat orang aneh dari Kong-lu.
Orang-orang dari tujuh partai itu adalah terdiri dan anak-anak muda semua, mereka masih berdarah panas.
Bukannya bersyukur kepada Koo San Djie yang tidak mau melukai orang, sebaliknya mendengar perkataan
tadi sudah memungut kembali senjatanya masing-masing dan maju lagi......
Tong Touw Hio sekalian memang sudah mempunyai rencana, begitu melihat orang-orang ini memungut
senjata, mereka telah mendahului menyerang si anak gembala yang sangat gagah.
Medan pertempuran menjadi bertambah ramai, empatbelas orang telah bersama-sama mengurung seorang
anak muda dengan berbagai macam senjata.
Yang paling janggal ialah dua golongan hitam dan putih ini dapat bersatu padu menghadapi anak gembala
yang baru saja muncul di dunia Kang-ouw.
Dalam sekejapan saja, debu di situ telah dibuat mengepul naik, pedang dan golok membuat suatu pagar
senjata, mengurung Koo San Djie.
Hian-tju Totiang yang lebih tua dari kawan-kawannya menjadi curiga, mengapa orang-orang tadi diam-diam
saja mengumpet? Baru kini mereka muncul dan tahu-tahu sudah mengajak ramai-ramai mengurungnya.
Umpama betul Koo San Djie dapat dibunuh di sini, apa orang yang di belakangnya seperti Liu Djin Liong
dan si Pendekar Berbaju Ungu mau tinggal diam saja?
Tiba-tiba kupingnya yang tajam seperti telah mendengar banyak orang mendatangi, datangnya secara
diam-diam, bahkan orang-orang ini mempunyai kepandaian yang tidak dapat dipandang rendah.
Ia telah sadar akan bahaya yang menimpa dirinya. Jika tidak dapat memberhentikan pertarungan, besar
sekali kemungkinan, mereka akan mengalami kejadian, seperti yang dialami oleh sembilan ketua partai di
lembah Makam Merpati.
Maka dengan segera ia sudah berteriak dengan keras:
“Semua orang dari golongan kita, lekas berhenti. Aku mempunyai beberapa perkataan yang mau
diucapkan.”
Tapi empatbelas orang yang sedang bertempur dengan seru, mana dapat mendengar teriakan ini, suara
senjata telah menelan teriakan Hian-tju Totiang.
Hatinya menjadi gelisah, dengan mengayunkan dua kepalannya, ia juga turun ke dalam gelanggang
pertempuran. Dengan mulut tidak henti-hentinya berteriak:
“Lekas berhenti! Lekas berhenti!”
Dalam keadaan yang kalut ini, Si Golok Malaikat Nomor Satu terpental terbang ke udara. Dibarengi oleh
jeritannya si Iblis Pipi Licin yang mati dipukul Koo San Djie, sang arwah menyusul kawannya yang sudah
menunggu lama di neraka.
Sampai di sini ternyata Koo San Djie sudah tidak dapat menahan sabar, ia sudah mengeluarkan tiga
pukulan geledek, membuat orang-orang yang mengurungnya menjadi kucar-kacir sama sekali.
Menggunakan kesempatan sebaik ini, Hian-tju Totiang sudah berteriak lagi:
“Orang dari golongan kita, apa tidak mau lekas berhenti?”
It Tjing Tjie dan lain-lainnya, yang telah mendapat nama di dalam partainya masing-masing, terhadap
kejahatan dan kebenaran mempunyai perbedaan yang tajam. Tadi, karena dalam keadaan hati panas dan
mendapat ejekan Tong Touw Hio, mereka menjadi lupa akan peraturan-peraturan. Kini mendengar teriakan
Hian-tju Totiang, baru menjadi tersadar.
Dengan segera mereka ini sudah mundur teratur dan berkumpul menjadi satu.
Hian-tju Totiang dengan sikap sungguh-sungguh sudah berkata kepada mereka:
“Kini kita harus dapat segera mangambil keputusan, di antara dendam perseorangan dan kebenaran......”
dunia-kangouw.blogspot.com
Si Walet Kie Gie dengan cepat sudah memotong:
“Sebenarnya di antara kita dengan bocah ini tidak mempunyai dendam suatu apa. Maka pertarungan ini
lebih baik tidak dilanjutkan pula.”
Si Penadah langit Kiang Peng berkata:
“Aku memuji sifat anak ini, bagaimana jika kita membantunya?”
Si Golok Malaikat Nomor Satu yang dua kali pecundang di tangan si anak gembala masih merasa
penasaran. Ialah yang paling pertama tidak setuju dengan usul ini. Terdengar ia membuka suaranya:
“Membantu kepadanya? Hm! Sudah kebagusan baginya yang ia sudah tidak membikin susah lebih jauh.
Lebih baik kita berpeluk tangan dan pergi meninggalkan tempat ini.”
Mendadak dari belakang mereka telah terdengar satu suara dingin:
“Mau meninggalkan tempat ini? Lebih baik kau orang menurut dan mengikuti kami pergi ke dalam Lembah
Merpati.”
Entah kapan datangnya, di belakang mereka kini telah berdiri sepasang laki-laki dan perempuan.
Hian-tju Totiang dengan kalem sudah bertanya:
“Siapakah tuan ini? Apa artinya perkataan tadi?”
Orang itu dengan adem menjawab:
“Pengurus Lembah Merpati Phoa An berhati ular Lam Keng Liu dan Sui Yun Nio.”
“Dan maksudnya?” tanya It Tjing Tjie.
Phoa An berhati ular Lam Keng Liu menjawab:
“Memberikan dua jalan kepada kalian. Jalan pertama ialah pergi ke dalam Lembah Merpati dan menurut
perintah kami, yang kedua, akan kami antarkan kalian jalan ke neraka.
“Omong kosong!” Si Walet Kie Gie membentak keras.
Dibarengi oleh serangan pedangnya yang berbunyi mengaung-ngaung.
Mukanya si Phoa An berhati ular sudah menjadi berobah.
“Orang yang tidak mengenal gelegat!” bentaknya keras.
Dengan pelan-pelan ia mengibaskan tangannya, serangan pedang bagaikan membentur tembok saja
mental berbalik. Hampir saja membuat tangannya si Walet Kie Gie menjadi pecah, maka dengan cepat ia
mundur ke belakang.
Hian-tju Totiang tahu, jika tidak menggunakan kekerasan, jangan harap dapat meninggalkan tempat ini,
maka dengan suara dalam ia berkata:
“Baiklah, jika sahabat-sahabat memang mau menghalangi jalan orang, terpaksa kita harus menerjangnya
dengan kekerasan!”
Dengan mengangkat langkahnya yang lebar, ia telah mendahului berjalan di muka. Diikuti oleh kawankawannya
dari berbagai partai.
Mendadak, bayangan-bayangan orang berkelebat, Tong Touw Hio dengan orang-orangnya sudah
mendahului menghadang di depannya mereka. Dengan tidak mengatakan suatu apa lagi Tong Touw Hio
sudah menyerang.
Sebentar saja bentakan-bentakan terdengar di sana sini, masing-masing sudah mendapatkan lawan sendirisendiri.
Sewaktu dikurung oleh empatbelas orang tadi, Koo San Djie sudah mulai merasa keteter, tapi setelah tujuh
orang Hian-tju Totiang mundur, tekanan ini sudah bebas sama sekali. ia menjadi kelebihan tenaga, jika
hanya menghadapi orang-orangnya Tong Touw Hio.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sekarang ia sudah menjadi marah berlari-lari untuk menghadapi orang seperti Tong Touw Hio, tidak perlu ia
segan-segan lagi. Ia sudah bersedia mengeluarkan seluruh tenaga, pada saat itu telah lompat turun
delapan orang.
Orang-orang baru ini terdiri dari empat laki dan empat wanita, salah satu di antaranya yaitu seorang tua
yang berbaju merah sudah berkata kepada Tong Touw Hio:
“Serahkan bocah ini kepada kita, biar kita bereskannya. Lekas kau pergi ke sana menghalangi mereka itu.”
Koo San Djie menghela napas juga melihat datangnya beberapa orang ini. Dalam hatinya ia mengeluh:
“Jika semua orang maju dengan berbareng, sukarlah untuk memenangkannya.”
Ternyata, di antara empat laki dan empat wanita ini, ada dua orang yang pernah dikenal kepandaiannya di
pesanggrahan Liong-sun-say, yaitu si wanita berpakaian keraton dan laki setengah umur berbaju kuning.
Kecuali dua orang ini, wanita berbaju putih yang mungkin murid pesuruhnya Liu Djin Liong yang telah kabur
dan pernah juga mengadu tangan dengan Tjeng Tjeng di tengah jalan juga berada di sini.
Yang empat lainnya lagi terdiri dari dua wanita berbaju kuning dan dua pemuda berbaju merah.
Jika dilihat dari warna baju mereka, delapan orang ini semua terdiri dari orang-orang pandai Lembah
Merpati.
Si orang tua berbaju merah seperti menjadi pemimpin dari rombongan dan juga orang yang telah dapat
merebut kitab Sari Pepatah Raja Woo di gunung Sin-sa.
Orang tua ini menunggu sampai Tong Touw Hio menahan Hian-tju Totiang, ia baru berkata sambil
menunjukkan tangannya ke arah Koo San Djie:
“Telah berkali-kali kau mengganggu urusannya Lembah Merpati, apa hanya mengandalkan beberapa
kepandaianmu ini? Hari ini, Lembah Merpati akan membereskan perhitungan.”
Menghadapi musuh yang banyak, Koo San Djie masih mencoba menenangkan diri. Dengan menggunakan
waktu yang pendek dari si orang tua berbaju merah yang sedang bicara, ia sudah mengatur jalan
pernapasannya.
Setelah dapat menenangkan dirinya, dengan perlahan ia berkata:
“Aku telah lama dapat mengetahui semua rencanamu. Kini, silahkanlah kau berbuat apa yang kau
kehendaki.”
Si orang tua berbaju merah menjadi kagum juga melihat sikap Koo San Djie, masih seperti tidak
menghadapi musuh tangguh yang sebanyak itu. Sambil mengangkat jempolnya ia berkata:
“Aku memuji akan kebesaran nyalimu. Sebagaimana orang Kang-ouw, urusan ini akan kita selesaikan
dengan kekuatan.”
“Silahkan!”
Belum sempat orang tua berbaju merah ini menyambung perkataannya Koo San Djie, keburu dipotong oleh
suara lain:
“Tahan dulu! Tidak adil jika sampai seorang harus menghadapi delapan orang.”
Dari balik pohon yang lebat muncul pula dua orang pemuda. Yang satu seperti bekas nelayan yang
berpakaian perlente dan satu lagi seperti pemuda desa yang berpakaian sederhana.
Terdengar pula suara tertawanya:
“Dengan kita bertiga saja telah cukup untuk menghadapi delapan orangmu!”
19.42. Tiga Anak Muda, Satu Cita-cita
Koo San Djie telah berkali-kali menemui kejadian ajaib, karena itu, ia mendapat kemajuan yang pesat,
memandang Kang-ouw seperti tidak ada orangnya. Apa lagi, setelah dapat menemui Orang Tua Bertangan
Satu dan terkurung di dalam goa yang telah memberi penjelasan tentang keadaan Lembah Merpati. Maka ia
dunia-kangouw.blogspot.com
tahu, orang-orang ini masih bukan penduduk asli dari Lembah Merpati, biarpun delapan orang ini tergolong
kelas satu, tapi ia masih tidak begitu memandang mata.
Maka ia dapat tertawa dan menganggukkan kepala memberi hormat kepada dua anak muda yang baru
datang itu.
Ternyata, pemuda yang berpakaian perlente di sebelah kiri adalah kawan lamanya Hay-sim Kongcu. Maka
ia segera menghampiri dan menyekal keras-keras dua tangan kawan lamanya ini. Sampai ia lupa akan
musuh di sekitarnya.
Delapan orang yang datang ke situ adalah cabang atasnya Lembah Merpati dari bagian luar.
Orang tua berbaju merah bergelar Pek-hoat Sian-tong, wanita berbaju putih Siok-song Mo-lie, orang
setengah umur berbaju kuning Oey-san Sian-tjia dan wanita berpakaian keraton Ouw-sie Hoe-djin.
Dua pemuda itu adalah dua saudara bernama Thio Hoan dan Thio Hiat, si pemudi juga ada dua saudara
bernama Tan Goat Go dan Tan Goat Bie.
Mereka semua ini sering keluar lembah mengurus bermacam-macam urusan. Tapi kali ini mereka memang
sengaja ditugaskan untuk dapat membunuh anak gembala.
Koo San Djie sudah membalikkan badannya dan asyik bicara ke barat dan ke timur dengan Hay-sim
Kongcu, dengan tidak memperdulikan mereka lagi, hal ini mana tidak membikin mereka menjadi naik
darah?
Pek-hoat Sian-tong sudah menyelak dan berkata keras:
“Hei, pesananmu sudah selesai belum? Nanti saja di perjalanan ke neraka, kau teruskan bicara, juga sama
saja.”
Koo San Djie membalikkan badan dengan sinar mata yang tajam berkata:
“Buat apa kau berteriak-teriak seperti setan? Satu lawan satu atau main kerubut? Tinggal kau pilih.”
Oey-san Sin-tjia adalah bekas pecundang, maka ia sangat mendendam hati. Dengan cepat ia sudah
menyambung:
“Buat apa banyak mulut dengan mereka? Mari kita segera turun tangan dan membereskannya.”
Terlihat bayangan-bayangan orang berlari-larian, sebentar saja Koo San Djie bertiga sudah di kurung
dengan rapat.
Satu pertandingan di antara hidup dan mati akan segera dimulai. Udara terasa telah berobah menjadi panas
dan juga membakar muka orang menjadi merah karena marah.
Mendadak, suara siulan panjang terdengar. Pek-hoat Sian-tong sudah mulai menyerang, sebelah
tangannya dikibaskan, membawa angin santar, meniup ke arah musuh yang tangguh.
Disusul juga dengan lain-lain, sebentar saja terdapat angin puyuh, debu dan batu mengepul naik tinggi,
berterbangan ke atas, seperti mau menarik ketiga anak muda itu.
Hay-sim Kongcu berputaran satu kali, dengan mengikuti aliran angin, ia menyodorkan pedangnya ke depan,
membuat satu lingkaran.
Suara “ser, ser” nya pedang, melewati ombak angin menahan bata. Angin puyuh yang dahsyat tadi dalam
sekejapan saja telah buyar sama sekali.
Si pemuda desa dengan tertawa lucu berkata:
“Anak gembala, kita menyerang atau bertahan?”
Pada waktu ia bicara, sebuah serangan yang hebat telah datang kepadanya.
Karena marah, anak desa ini sudah membentak keras, dua tangannya dilempangkan ke depan. Arus
pukulannya ini demikian hebat, membuat orang-orang yang berada di depannya sampai harus mundur
beberapa tindak.
Koo San Djie melihat dua kawannya mempunyai kepandaian yang istimewa, ia juga tidak mau ketinggalan,
dengan cepat ia mengeluarkan dua pukulan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua pukulan ini cepat dan sukar diduga, dua persaudaraan Thio yang berada di depannya sampai mundurmundur
sempoyongan.
Dengan penuh senyum puas, Koo San Djie menjawab pertanyaannya si pemuda desa yang baru dikenal:
“Lihat dulu, sampai di mana kepandaian mereka, baru kita menyerang.”
Si pemuda desa berkata:
“Demikianpun boleh!”
Koo San Djie menyerang lagi, dua kali memaksa musuhnya mundur ke belakang.
“Saudara, di antara kita berdua tidak mengenal satu dan lain mengapa kau membantu kepadaku?” tanya
Koo San Djie.
Si pemuda desa sudah membuka mulutnya yang lebar:
“Hanya menerima perintah dan menjalankan tugas. Bukan saja kali ini membantu kepadamu, bahkan untuk
seterusnya juga akan membantu kau, menggempur Lembah Merpati.”
Koo San Djie melengak, dalam hatinya bertanya:
“Siapa orangnya yang telah menyuruhnya?”
Tapi waktu itu ia tidak mempunyai kesempatan untuk memikirkan soal ini. Diliriknya Hay-sim Kongcu, kawan
lamanya ini sekarang telah mendapat banyak kemajuan. Berbeda jauh kepandaiannya sang kawan ini jika
dibandingkan dengan semasa pertemuan yang pertama. Pedangnya bagaikan ular hidup, mengarah
tempat-tempat yang berbahaya dari lawan-lawannya, sama sekali ia tidak terlihat menjadi letih, karena
harus menghadapi orang banyak.
Dengan tidak terasa Koo San Djie telah memuji:
“Ilmu pedang yang bagus!”
Hay-sim Kongcu menggunakan pedangnya menusuk dua kali, tujuannya Tan Goat Go dan Tan Goat Bie,
dan memaksa dua saudara ini harus mundur menghindarkan serangan.
Dengan menggunakan kesempatan ini, ia menoleh dan berkata:
“Ilmu pedang yang baru dipelajari hanya dapat membuat kau tertawa saja. Tentu saja tidak dapat disamai
dengan kepandaianmu yang susah diukur.”
Kedudukannya tiga anak muda ini seperti seekor kala jengking yang besar, nongkrong di tengah-tengah
adalah Koo San Djie, si pemuda desa sebagai dua capit depannya, menahan serangan di sampingnya Haysim
kongcu mengambil kedudukan lain, memegang peranan sebagai sengat tin barisan kalajengking itu.
Tenaganya si pemuda desa sangat besar, tidak perduli serangan yang bagaimana hebatnya, ia juga berani
menahan dengan telapak. Belum pernah ia menyingkir dari setiap serangan lawannya.
Hay-sim Kongcu setelah dapat memperdalam ilmunya di atas gunung es, untuk pertama kalinya ia menjajal
kepandaiannya, ujung pedang bagaikan ekor beracun dari kalajengking besar tadi menyabet sana sini.
Biarpun demikian, Hay-sim Kongcu masih mempunyai kesempatan untuk bersenda gurau juga.
Sebenarnya, pertarungan mereka merupakan suatu pertempuran yang dapat menentukan mati hidupnya
orang-orang yang bertempur, tapi di mata tiga pemuda gagah itu hanya seperti suatu permainan saja.
Pek-hoat Sian-tong dan kawan-kawannya yang mengurung tiga anak muda itu, sedari tadi tidak dapat
berbuat suatu apa, lama kelamaan ia menjadi marah juga. Dengan sekali memberi isyarat ia sudah
mengeluarkan pedangnya.
“Trraang!” delapan pedang hampir berbareng keluar dari sarungnya.
Koo San Djie hanya tertawa melihat kelakuannya delapan musuh itu, dengan setengah mengejek ia
berkata:
“Dari tadi saja berbuat begini bukankah lebih cepat selesai?”
Pek-hoat Sian-tong dengan tertawa dingin berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau jangan sombong!” katanya, “Jika hari ini kau dapat meninggalkan tempat ini dengan masih bernyawa,
aku tidak mau berjalan di kalangan Kang-ouw lagi......
Tidak menunggu sampai perkataan ini habis si pemuda desa sudah memotong mengejek:
“Barang kali pergi ke neraka? Melaporkan diri pada raja akherat tentunya.”
Pek-hoat Sian-tong menjadi semakin marah, bulunya seperti berdiri. Dengan tidak mengatakan suatu apaapa
lagi, ia sudah mulai menjujukan ujung pedangnya.
Tujuh orang lainnya, hampir berbareng berdiri tegak, menjujukan pedang mereka ke arah tiga pemuda.
Enambelas mata dibuka lebar-lebar dengan tidak berkesip di arahkan ke tubuh sang lawan.
Hay-sim Kongcu tahu bahaya besar akan segera datang, dengan berteriak keras ia memperingatkan kedua
kawannya:
“Awas, musuh akan segera mulai membikin penyerangan total!”
Dan betul saja, terlihat Pek-hoat Sin-tong mementilkan pedangnya, dibarengi oleh majunya tujuh pedang
kawannya.
Sinar perak berkilat-kilat, bunyi pedang mengaung-ngaung, hawa dingin mengarungi keadaan di situ yang
menjadi kacau sekali.
Koo San Djie tertawa panjang, loncat sana dan loncat sini, bagaikan bayangan setan, menyelip di antara
berkelebatnya pedang.
Si pemuda desa tancap kedua kakinya, dengan kokoh sekali, menggunakan kedua telapak tangan yang
seperti besi, menahan sesuatu serangan pedang yang datang ke arahnya.
Hay-sim Kongcu juga menggunakan pedangnya menyabet sana dan menyabet sini, memainkan buntut
kalajengking ini dengan sempurna.
Lembah Merpati terkenal dengan ilmu meringankan tubuhnya, delapan orang ini mendapat penilikan keras
dari ketua Lembah Luar dan dalam keadaan yang sengit, tentu saja kekuatannya tidak dapat dipandang
enteng.
Dengan cara demikian, Hay-sim Kongcu mulai merasa keteter, disusul dengan si pemuda desa yang
kehabisan bensin.
“Kita jangan mandah bertahan saja, menyerang......!” ia berteriak.
Pukulannya mulai dirobah menerjang keluar......
Koo San Djie tahu yang dua kawannya sudah tidak dapat bertahan terus, maka ia juga mulai menyerang
keluar.
Ia bersiul nyaring, mengangkat tubuhnya lompat ke tengah udara dengan menggunakan ketangkasannya, ia
sudah dapat menerobos lapisan pedang.
Hanya terlihat sinar hitam mengkilap berkelebat, tangannya telah berhasil mengambil keluar Pit Badak
Dewa. Dibarengi oleh suara jeritan yang mengerikan, Oey-san Sian-tjia sudah mundur terpelanting ke
belakang, dengan meninggalkan sebelah tangannya yang telah terpapas putus.
Setelah jurus pertamanya berhasil membuat satu kekosongan, diteruskan jurus yang kedua, ditujukan ke
arah dua persaudaraan Thio.
Angin santer mendahului jalannya Pit Badak Dewa, membawa hawa dingin yang berwarna hijau mengarah
dua musuh muda itu. Thio Thiat tidak sempat untuk mengeluarkan suara, dadanya telah tertembus oleh pit
yang istimewa ini.
Sebentar saja telah pecah dua pintu kurungan, tekanan yang dirasakan oleh Hay-sim Kongcu dan si
pemuda desa telah lenyap.
Waktu itu sifat kerbaunya dari si pemuda desa telah kembali, ia menyeruduk ke sana dan menyeruduk ke
sini, menggunakan ketika Thio Hoan lengah karena kematiannya sang saudara, memukul dengan sekuat
tenaga.
dunia-kangouw.blogspot.com
Angin pukulan yang keras telah membuat Thio Hoan terpental ngapung dan memuntahkan darah segar,
sehingga tidak sadarkan diri lagi.
Hay-sim Kongcu melihat dua kawannya telah dapat menghasilkan kemenangan, ia menjadi lebih
bersemangat, dengan mencurahkan seluruh tenaganya, ia berhasil mendesak Tan Goat Go dan Tan Goat
Bie, mereka terpisah dari kawan-kawannya.
Sampai di sini, kurungannya delapan orang itu telah menjadi kacau balau dan berantakan tidak keruan,
Koo San Djie sangat membenci orang-orangnya Lembah Merpati ini, Pit Badak Dewanya tidak mengenal
kasihan lagi, mencari kesempatan yang bagus. Tidak lama, Ouw-sie Hoe-djin juga telah kena tusukannya di
arah pinggang dan jatuh menggeletak.
Oey-san Sian-tjia melihat kematian sang istri, tentu saja menjadi hilang semangat, lupa akan luka-lukanya,
ia mengangkat tubuhnya sang istri yang telah mandi darah dan lari meninggalkan medan pertempuran.
Pak-hoat Sian-tong yang melihat di antara kawan-kawannya telah kedapatan dua mati dan dua luka, hatinya
gelisah sampai mengeluarkan keringat dingin. Ia tahu kekuatannya telah berakhir sampai di sini.
Maka dengan suara duka ia berkata:
“Hari ini kami mengaku kalah. Tapi pada suatu waktu Lembah Merpati akan membuat perhitungan lagi.”
Sambil memberi tanda siulan kepada kawan-kawannya, ia mendahului meninggalkan tempat itu.
Hay-sim Kongcu sudah mengangkat kakinya untuk mengejar, tapi sudah keburu diteriaki oleh Koo San Djie:
“Saudara, jangan mengejarnya. Musuh besarmu Sui Yun Nio berada di sebelah sini.”
Tanpa menunggu reaksi dari kawannya lagi ia sudah jalan menghampiri Lam Keng Liu.
Hay-sim Kongcu yang mendengar disebutnya nama Sui Yun Nio menjadi lebih bergolak saja darah
panasnya. Ia balik membuntuti di belakangnya Koo San Djie.
Orang-orangnya Hian-tju Totiang yang terdiri, dari delapan aliran partai yang sedang melawan rombongan
Lam Keng Liu mulai kewalahan. Tapi mereka insyaf, pertarungan ini bukannya pertarungan biasa, inilah
suatu pertempuran demi menjaga keselamatan diri mereka dari pembunuhan Lembah Merpati. Maka semua
orang telah mengeluarkan tenaganya, siap sedia untuk mengadu jiwa demi keselamatan kawan lainnya.
Maka, biarpun di pihak Lam Keng Liu lebih kuat beberapa kali, juga tidak dapat membawa hasil dalam
waktu yang singkat.
Begitu Pek-hoat Sian-tong dan kawan-kawannya meninggalkan tempat itu, Lam Keng Liu dan
rombongannya juga sudah siap untuk mengikuti jejak kawannya. Tidak menunggu sampai datangnya Koo
San Djie, ia sudah bersiul panjang dan membalikkan badan, mengambil tipu langkah seribu, ngiprit pergi.
19.43. Hutan Belantara Menyesatkan
Hay-sim Kongcu yang melihat Sui Yun Nio juga telah mengangkat kakinya melarikan diri, dengan tidak
memikir akan segala akibatnya lagi ia sudah lantas mengejarnya.
Terdengar suara Koo San Djie dari belakang memperingatkan kepadanya:
“Saudaraku jangan terburu napsu......”
Tapi mana keburu, Hay-sim Kongcu juga telah lenyap dari pemandangan.
Si pemuda desa malah tertawa-tawa lebar:
“Jangan sibuk tidak keruan. Mari kita segera menyusul.”
Ia mengangkat kakinya, menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, melesat terbang menyusul Hay-sim
Kongcu.
Koo San Djie merasa lega juga melibat adanya pemuda desa ini yang pergi untuk membantu Hay-sim
Kongcu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini ia menghampiri Hian-tju Totiang dan rombongannya. Dari delapan orang ini ada setengahnya yang
mendapat luka-luka.
Si Golok Sakti Nomor Satu terluka dalam, Ie Hoa Tie terluka di lengan, dan yang lain-lainnya lagi tidak
keruan muka. Apa lagi Hian-tju Totiang yang mengadu tangan luka yang terberat.
Dengan cepat, Koo San Djie mengeluarkan pil pemberiannya si Orang Tua Bertangan Satu dan
memberikan empat butir kepada Hian-tju Totiang sambil berkata:
“Pil ini sangat mustajab sekali, harap totiang dapat memberikan kepada mereka.”
Hian-tju Totiang menyambuti pil itu, terasa olehnya bau harum yang keras menusuk hidung, pikirannya
sudah menjadi jernih kembali. Maka ia tahu, inilah obat pil yang mahal harganya, dengan tidak hentihentinya
ia mengucapkan terima kasihnya.
Sebentar saja, kecuali si Golok Sakti Nomor Satu yang mendapat luka luar, yang lainnya sudah menjadi
segar kembali.
Maka dengan beramai-ramai mereka mengucapkan terima kasih kepada anak gembala ini, dan minta maaf
untuk kesalahan paham yang sudah lalu.
“Hanya pemberian kecil, buat apa disebut lagi,” Koo San Djie berkata merendah.
Si Penadah Langit Kiang Peng berkata:
“Hari ini, jika bukannya saudara kecil yang dapat mengalahkan Pek-hoat Sian-tong dan kawan-kawannya,
beberapa tulang kita ini tentu sudah tertanam di sini.”
Si Walet Kie Gie nyeletuk:
“Orang-orang Lembah Merpati keluar dengan berbareng, bukan saja untuk menyatrukan saudara kecil ini
saja, tentu masih mempunyai maksud tertentu. Kita harus bersiap-siap untuk menghadapi mereka.”
Dengan menghela napas, Hian-tju Totiang berkata:
“Sebelumnya aku sudah menganggap sembilan ketua partai kita terbunuh oleh saudara kecil ini, baru
sekarang aku tahu akan kesalahanku itu. Harap saudara jangan menaruh dendam.”
“Urusan yang lama jangan disebut kembali,” Koo San Djie menghibur. “Tentang urusan Lembah Merpati,
sudah tentu akan ku urus sendiri. Apa lagi terhadap si pengkhianat Lam Keng Liu, aku tidak dapat
melepaskan kepadanya.”
“Kami akan segera kembali ke masing-masing gunung,” Hian-tju Totiang berkata. “Jika saudara sudah
mendapatkan di mana letaknya Lembah Merpati, harap suka segera memberi kabar, supaya kami dapat
juga memberi bantuan yang tidak berarti.”
Setelah meagucapkan kata-kata ini, mereka mengucapkan selamat berpisah. Baru beramai-ramai
meninggalkan tempat itu.
Koo San Djie berdiri, mereka berlalu sampai tidak terlihat sama sekali, baru ia gerakan kakinya melanjutkan
perjalanannya.
Baru saja ia membalikkan badannya, dari pohon-pohonan telah terdengar suara orang ramai yang tertawa.
Ternyata yang datang adalah Tiauw Tua, Sastrawan Pan Pin dan Tjeng Tjeng tiga orang.
Tjeng Tjeng yang telah lama tidak bertemu dengan koko San nya, begitu bertemu sudah menarik-narik
tangannya dan berkata:
“Koko San......”
Tapi perkataan yang selanjutnya ia tidak dapat meneruskan karena saking gembira.
Koo San Djie mengelus-elus rambutnya dan bertanya:
“Bagaimana, apa kau telah berhasil menemukan ayahmu?”
Tjeng Tjeng jebikan bibirnya:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mana kita dapat menemukannya. Begitu aku melihat tulisan ayah, pada hari itu juga aku pergi
menyusulnya ke arah barat. Tapi setelah sampai ke sebelah barat Kang-see, di daerah pegunungan yang
penuh belukar, aku telah kesasar. Maka dengan apa boleh, aku kembali ke jalan asal, dan kebetulan
bertemu dengan Tiauw Toako ini.”
Lalu giliran Tiauw Tua yang menceritakan pengalamannya. Dengan menghela napas ia berkata:
“Tidak disangka, aku Tiauw Tua yang telah malang melintang di kalangan Kang-ouw puluhan tahun, masih
terjatuh di tangan orang juga.”
Ternyata Tiauw Tua setelah meninggalkan Makam Merpati, karena mengingat kitab Sari Pepatah Raja
Woo, yang sangat penting sekali, maka dengan tidak mengenal siang dan malam, ia mengejar ke arah
barat.
Setelah sampai di sebuah pegunungan yang penuh belukar di Kang-see barat, baru ia mendapatkan jejak
seorang tua berkupiah emas berbaju biru.
Dilihatnya orang tua berkupiah emas ini sedang berlari-larian di antara tebing, yang curam. Ia juga sudah
dapat melihat dengan tegas si orang tua berkupiah emas ini adalah salah satu dari lima raja iblis, dan yang
mengepalai perserikatan mereka itu, si Badak Tanduk Perak.
Ia tahu, bahwa si Badak Tanduk Perak ini yang dapat mengepalai lima raja iblis, tentu mempunyai
kepandaian yang tidak dapat di pandang gegabah. Maka ia berani menguntit dari kejauhan saja.
Tidak disangka si Badak Tanduk Perak ini sudah seperti mengetahui ia sedang dikuntit orang. Ia menoleh
ke belakang sebentar, tertawa dingin, seperti asap, ia sudah dapat menghilang di antara pegunungan tadi.
Setelah dapat melewati dua puncak gunung, Tiauw Tua telah melihat di depannya terdapat rimba belantara
yang gelap, juga sangat lebat. Di sini ia juga masih tidak dapat menemukan jejak si Badak Tanduk Perak.
Bukan saja ia tidak berhasil menemukan orang, bahkan dirinya sendiri sudah kehilangan arah dan tersesat
di dalam rimba belantara.
Ia berputar-putaran dua hari dua malam di dalam rimba yang gelap dan tidak berujung ini, pada hari ketiga
tahu-tahu ia sudah berada di tempat jalan lama lagi.
Sampai di sini mendadak Tjeng Tjeng berteriak:
“Tempat itulah yang aneh! Sewaktu aku mengejar ayah, juga sampai di sana kehilangan arah, sehingga
kembali ke jalan asalnya lagi. Dikatakan ia seperti suatu barisan tin juga tidak mirip sama sekali. Memang
suatu kejadian yang aneh.”
“Mungkinkah hutan belantara buatan manusia?” tanya Tiauw Tua. Lalu ia meneruskan lagi ceritanya:
“Sebetulnya aku juga mau mencari tahu lagi tentang hutan belantara yang aneh itu. Tapi waktu itu, Si
Sastrawan Miskin telah menyusul dan mengatakan bahwa orang-orang dari delapan partai besar ini telah
bersama-sama mencari Liu Djin Liong untuk membikin perhitungan mereka. Dengan kepandaian Liu Djin
Liong, aku tidak takut suatu apa, tapi jika mengingat kesalah pahaman tentu akan menjadi besar karenanya.
Maka aku tidak membuang-buang waktu sudah lantas pergi mencari gurunya Ong Hoe Tjoe di gunungnya
untuk mendamaikan urusan ini. Tapi tidak disangka, Bie Khiu Nie juga telah turun gunung untuk mengurus
suatu urusan. Yah, untung saja pertikaian ini sudah dapat diselesaikan, untuk seterusnya kita dapat lebih
memusatkan pikiran menghancurkan Lembah Merpati.”
Biarpun mulut Koo San Djie mengia saja, tapi pikirannya sedang melayang-layang, memikirkan rimba
belantara yang aneh itu.
“Bukankah si Orang Tua Bertangan Satu pernah mengatakan, bahwa Lembah Merpati dikelilingi oleh
barisan tin yang tidak kentara, orang-orang biasa, jika sampai di sana, dengan tidak terasa sudah tidak
dapat mengenal arah dan kembali ke jalan asalnya. Apa bisa jadi rimba belantara yang ditemukan Tiauw
Tua dan Tjeng Tjeng ada itu rimba belantara yang dimaksud?”
Si orang tua berkupiah mas, yaitu si Badak Tanduk Perak telah berhasil mendapatkan peta gambar yang
menuju ke Lembah Merpati. maka ia dapat menghilang di sana dan masuk ke dalam Lembah Merpati. Apa
betul ia dapat masuk ke dalam Lembah Merpati?
Sewaktu ia sedang enak-enakan melamun, Tjeng Tjeng sudah menarik tangannya dan berkata:
“Koko San, apa sih yang sedang kau pikirkan?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku sedang memikirkan rimba belantara tadi,” Koo San Djie menjawab. “Mungkin sekali rimba belantara itu
adalah benteng luar dari Lembah Merpati.”
“Haaa, apa betul?”Tiauw Tua menjadi lompat kaget.
Koo San Djie menganggukkan kepalanya. “Aku pernah mendengar orang mengatakan bahwa Lembah
Merpati dikelilingi oleh barisan tin yang tidak menyolok mata, yang dapat mengantarkan orang luar kembali
ke tempat asalnya. Yang telah dialami oleh kalian apa bukan kejadian yang seperti ini?”
Dengan rasa tidak puas, Tjeng Tjeng berkata:
“Jika betul cerita ini. Aku yang paling pertama mau melihat.”
“Jangan berlaku ceroboh!” kata Tiauw Tua. “Kita harus berunding dulu, memikirkan cara pemecahan, baru
masuk ke dalam rimba aneh itu. Dengan cara ini kita akan lebih aman.”
Koo San Djie juga turut berkata:
“Betul. Dan mungkin sekali ayahmu juga terkurung di sana.”
Kali ini giliran Tjeng Tjeng yang berjingkrak:
“Haa? Ayahku berada di sana? Mari kita pergi menolong!”
Si Sastrawan Pan Pin turut bicara:
“Untuk dapat memecahkan Lembah Merpati, dengan mengandalkan tenaganya kita beberapa orang saja
masih belum ketentuan hasil. Lebih kita menyerap-nyerapi kabar lebih dahulu, baru berunding cara
pemecahannya.”
“Urusan tenaga, aku tidak kuatir,” kata Koo San Djie, “Yang menjadi halangan besar ialah kita kekurangan
satu orang yang dapat mengetahui jalan.”
Tjeng Tjeng menjadi gelisah.
“Apa karena ini kita jadi tidak berani memasukinya?” tanyanya.
Dengan menarik tangan Koo San Djie ia sudah berjalan terlebih dulu.
Tiauw Tua dan si Sastrawan Pan Pin tidak dapat berkata suatu apa lagi, dengan menuruti langkahnya Koo
San Djie, mereka juga sudah mengikuti di belakang.
Demikianlah mereka berempat, dengan tidak mengenal lelah menuju ke pegunungan yang tidak teratur di
sebelah barat Kang-see.
Sewaktu mereka sampai di suatu tempat, lapat-lapat terdengar lagu-lagu yang dapat menarik sukma. Tjeng
Tjeng yang masih kecil tidak merasa suatu apa, tapi buat ketiga orang lainnya sudah menjadi tidak keruan
rasa.
Dengan cepat Koo San Djie sudah menahan langkahnya dan duduk menenangkan pikirannya, diturut juga
oleh dua orang lainnya.
Setelah diperhatikannya dengan seksama, suara lagu-lagu tadi ternyata datang dari arah rimba yang tidak
jauh dari mereka.
Tjeng Tjeng dengan keras berteriak seperti baru engah:
“Koko San, apa ini bukan permainan Pay-hoa Kui-bo yang jahat? Lekas kita pergi ke sana, mungkin sekali
ia sedang mengganggu orang.”
Koo San Djie berkata:
“Mungkin juga.”
Dengan cepat Koo San Djie sudah mengeluarkan Pit Badak Dewa, terus menuju ke arah datangnya lagulagu
tadi.
Tjeng Tjeng juga sudah mengeluarkan kalung pemberian ibunya dan mengintil di belakang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiauw Tua dan si Sastrawan Pan Pin yang melihat Koo San Djie dan Tjeng Tjeng sampai mengeluarkan
senjatanya masing- masing tahu akan bahaya yang sedang mengancam tidak enteng. Maka mereka juga
harus hati-hati menghadapi suara musik ini.
Dengan sebelah tangan menjaga dada, dan sebelah tangannya lagi siap untuk menyerang dalam waktu
bersamaan, mereka berdua maju ke dalam rimba.......
20.44. Pay-hoa Kui-bo Terjungkal di Tangan Ong Hoe Tjoe
Koo San Djie dengan tangan menyekal keras Pit Badak Dewa mulai memasuki rimba......”
Seperti kabut tebal saja, asap putih mengepul di sana, enambelas penari jelita dengan memegang
bermacam-macam tetabuhan sedang mengelilingi sepasang muda mudi.
Pay-hoa Kui-bo dengan memeluk phipe dan rambut riap-riapan sedang asyik duduk bersila di atas sebuah
batu besar.
Di samping kiri kanannya terdapat empat anak yang memegang hiolo, dari hiolo-hiolo inilah keluar asapasap
putih tadi. Dengan bantuan angin asap-asap ini menjalar kemana-mana.
Dengan pandangan yang tajam Koo San Djie sudah dapat melihat sepasang muda mudi yang terkurung
adalah Ong Sun Thay dan si Selendang Merah.
Dua orang ini dengan baju yang awut-awutan seperti orang yang baru mabuk saja. Terhadap kejadiankejadian
di sekitarnya mereka tidak sadar sama sekali.
Koo San Djie menjadi marah melihat itu, kedua matanya seperti mau mengeluarkan api. Ia sudah bersedia
hendak menerjangnya, mendadak, dari luar rimba di sebelahnya telah keluar seorang pemudi yang
berpakaian bulu burung, dengan tangan menunjuk Pay-hoa Kui-bo berkata:
“Jika tidak segera menghentikan suara tabuhanmu itu, jangan salahkan aku yang akan membunuhmu.”
Pay-hoa Kui-bo menjadi kaget, ia menyangka akan datangnya orang berkepandaian tinggi mau
mencegahnya. Tapi sewaktu ia melihat, yang datang hanya seorang pemudi yang masih muda, dengan
tidak terasa menjadi tertawa seram:
“Budak hina yang bernyali besar, kau juga berani menghalang-halangi pekerjaanku? Apa kau juga ingin
merasai buah tanganku?”
Si pemudi berbaju burung ini menjadi gusar, tubuhnya mencelat ke atas, seperti alap-alap, ia menerkam ke
arahnya Pay-hoa Kui-bo.
Tangan cengkeramannya si pemudi berbaju burung ini belum juga sampai atau senjata istimewanya telah
mendahului menyambar muka Pay-hoa Kui-bo.
Pay-hoa Kui-bo tidak menyangka akan kegesitan si pemudi berbaju burung melebihi kilat datangnya.
Mukanya hampir tersapu rusak oleh senjatanya sang lawan muda ini.
Terpaksa ia mengangkat tongkatnya menjaga kepala bagian atas dari sampokan senjata.
Tapi kegesitan si pemudi berbaju burung belum sampai di sini, tubuhnya berjumpalitan di udara, naik tinggi
lagi, membuat satu putaran dan balik menerjun, tetap mengarah batok kepala orang.
Belum pernah Pay-hoa Kui-bo melihat orang dapat berjumpalitan di udara dengan tidak mempunyai
pegangan suatu apa. Untuk menyingkir lagi sudah tidak mempunyai waktu, maka dengan terpaksa ia sudah
menyerahkan nyawanya mengemplang.
Ia berbuat begini dengan maksud mati bersama-sama, tapi si pemudi mana mandah ditimpa tongkat
musuh? Sambil mendongakkan badan, tangan kirinya menahan datangnya kemplangan, sedang tangan
kanannya yang memegang kipas, menotok ke arah jalan darah Cie-tong-hiat.
Serangan ini dengan telak mengenakan tepat pada sasarannya, hingga dengan berteriak keras tubuhnya
Pay-hoa Kui-bo sudah terpental dan jatuh tengkurap di tanah, dengan mulutnya mengeluarkan darah.
Sampai pada waktu itu Koo San Djie sudah dapat melihat dengan tegas, pemudi berbaju burung ini bukan
lain adalah Ciecie Hoe Tjoe nya yang selalu menjadi kenang-kenangan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tidak disangka, selama perpisahan dalam setahun ini, kepandaiannya sudah menjadi sedemikian hebat.
Tidak sampai dua jurus, ia sudah dapat membunuh Pay-hoa Kui-bo yang jahat telengas.
Karena saking girangnya, ia hanya dapat berseru:
“Ciecie Hoe Tjoe......”
Berbareng lompat menubruk dan memeluknya dengan kencang-kencang.
Kali ini Ong Hoe Tjoe tidak menghindarkan diri lagi dari adik kecilnya yang sekarang telah tidak kecil lagi. Ia
mandah Koo San Djie berbuat dengan sesukanya.
Di antara mereka berdua terdapat kepercayaan penuh. Tempo hari karena kesalah pahaman sehingga
menyebabkan terpisah mereka berdua. Tapi di dalam hatinya sepasang anak muda pada saat itu sudah
terlupa sama sekali, sebagai gantinya kegirangan yang meluap-luap telah membuat mereka lupa daratan.
Maka biarpun Ong Hoe Tjoe merasa malu sampai merah wajahnya juga tidak mau melepaskan rangkulan si
anak muda idaman.
Setalah mereka terdiam sekian lamanya, Koo San Djie baru berkata:
“Ciecie Hoe Tjoe, kemana saja kau selama ini?”
Baru kini Ong Hoe Tjoe mendorong tangan si pemuda perlahan dan berkata:
“Aku belajar ilmu silat di dalam Lembah Hewan sehingga setahun, dan baru keluar mencarimu kemari.”
Mereka tidak tahu, dengan berkasih-kasihan seperti ini telah melukai hati dua orang lain.
Yang satu ialah si Selendang Merah yang selalu membayangi adik kecilnya, dan yang satu lagi ialah anak
muda terkemuka dari partai Padang Pasir, Ong Sun Thay.
Si Selendang Merah, karena ilmu jahat Pay-hoa Kui-bo yang dinamai Cit-cing-siauw-hun-tay-hoat
mengekang dirinya membuat ia mudah dipermainkan oleh Ong Sun Thay. Begitu melihat datangnya Koo
San Djie, bukan segera Koo San Djie menanyakan keselamatan orang, malah di hadapannya berkasihkasihan
dengan si pemudi burung, mana ia tidak menjadi sakit hati? Maka dengan menggertak gigi ia sudah
lari meninggalkan rimba itu. Belakangan bersama-sama Tju Thing Thing yang juga mengalami nasib yang
serupa, mereka mendirikan perkumpulan Pemutus Asmara dan selalu mengganggu kaum laki-laki. Tapi
inilah urusan belakangan.
Diceritakan kisah Ong Sun Thay yang telah mengikuti Ong Hoe Tjoe sekian lama. Biarpun Ong Hoe Tjoe
tidak mengutarakan suatu apapun, tapi juga tidak memarahinya lagi, maka ia menyangka Ong Hoe Tjoe
dengan diam-diam telah setuju.
Hari itu, Ong Hoe Tjoe setelah bertengkar dengan Koo San Djie dan meninggalkan entah kemana si nona
telah pergi? Maka setelah ia dikalahkan oleh si anak gembala, ia pergi menyusul Ong Hoe Tjoe.
Ia melihat dengan mata sendiri, di antara mereka berdua telah terjadi percekcokan yang besar, maka ia
sangat mengharap dapat menggantikan tempat si anak gembala dalam hati si nona.
Ia tidak berhasil menemui Ong Hoe Tjoe, sebaliknya tidak disangka-sangka ia telah menemukan si
Selendang Merah yang sedang dipermainkan oleh Pay-hoa Kui-bo dan sewaktu ia mau membantunya, ia
turut kecemplung juga dalam ilmu jahat Pay-hoa Kui-bo.
Sebenarnya ia hanya ingin menanyakan kepada si Selendang Merah tentang di mana adanya Ong Hoe
Tjoe. Untung, jika tidak ada Ong Hoe Tjoe datang ke situ, ia dengan si Selendang Merah pasti akan mati
kecapean.
Setelah dapat menenangkan dirinya dari gangguan Pay-hoa Kui-bo, ia melihat pemudi idam-idamannya
sedang berpelukan dengan si anak gembala di depan mata.
Hal mana tentu saja telah menimbulkan rasa cemburu, maka dengan tidak mengucapkan terima kasih lagi,
ia tertawa dingin dan kembali ke tempat asalnya.
Mulai dari saat itu, golongan partai Padang Pasir telah menanam permusuhan dengan Koo San Djie, dan
sering melepaskan orang-orangnya untuk mencari setori.
Munculnya Ong Hoe Tjoe telah menarik perhatian semua orang, sehingga mereka lupa akan kepergian si
Selendang Merah dan juga kepergian Ong Sun Thay.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sampai waktu Tjeng Tjeng dapat menarik Ong Hoe Tjoe dan diajak bicara ke barat dan ke timur, baru Koo
San Djie ingat akan si Selendang Merah.
Dengan segera ia memalingkan mukanya dan mencari-cari, tapi biar bagaimana juga ia tidak dapat
menemukannya lagi. Ia hanya menyangka, tentunya si Selendang Merah sudah menjadi malu dan pergi
maninggalkan dengan diam-diam, maka ia juga tidak menaruh perhatian lagi.
Waktu itu, Tjeng Tjeng sudah seperti dakocan besar saja yang menempel pada Ong Hoe Tjoe, bertanya ini
dan itu.
Sewaktu tangannya menyentuh baju bulu burung Ong Hoe Tjoe yang indah, dengan heran ia bertanya:
“Ciecie Tjoe, bukan main bagusnya bajumu itu.”
Ong Hoe Tjoe dengan tertawa menjawab:
“Kebagusannya hanya nomor dua, yang pertama ialah khasiatnya baju ini yang banyak berguna.”
Lalu ia menuturkan kisahnya bertemu dengan Si Bidadari Sayap Biru di dalam Lembah Hewan dan
memperdalam kepandaian silatnya, sehingga semua orang yang mendengarkannya menjadi terheranheran..
Mandadak Tjeng Tjeng bertanya lagi:
“Jika si Bidadari Sayap Biru adalah orangnya Lembah Merpati, apa dia tidak mengatakan, di mana letaknya
lembah yang tersembunyi itu?”
Ong Hoe Tjoe menggeleng-gelengkan kepalanya,
“Peraturan leluhur Lembah Merpati tidak mengijinkan orang-orangnya membongkar rahasia ini di hadapan
orang luar. Tentu saja ia tidak memberi tahu,” jawab Ong Hoe Tjoe.
Koo San Djie menimbrung:
“Sekarang kita tidak usah takut tidak dapat menemukan tempat itu. Yang kukuatirkan ialah jalannya yang
bisa mempersulit kita.”
Ong Hoe Tjoe seperti baru tersadar dari mimpinya, katanya:
“Sekarang aku baru mengerti. Biarpun si Bidadari Sayap Biru tidak memberitahu, di mana letaknya Lembah
Merpati, tapi dia mengajari banyak gambar-gambar yang tentu mengandung arti yang dalam. Dan gambargambar
tadi tentunya ialah jalan-jalan di rimba belantara yang tidak mau menerima orang luar itu.”
Setelah membiarkan tiga anak muda itu repot pasang omong sekian lama, baru Tiauw Tua menyelak:
“Sekarang kita telah dapat memastikan letaknya Lembah Merpati, tentu berada di sebelah barat Kang-see,
gambar jalan untuk memecahkan kesulitan di dalam rimba belantara juga telah berada di tangan kita, kita
tinggal menyiapkan tenaga saja. Dan inilah yang terpenting dalam keseluruhannya, kita harus mempunyai
suatu rencana yang sempurna.”
Terhadap sang toako ini, Koo San Djie selalu menghormat. Maka ia tidak berkata suatu apa.
Si Sastrawan Pan Pin berkata:
“Lembah Merpati adalah musuh bersama dari semua orang, termasuk juga orang-orang dari sembilan partai
besar yang sudah mendendam sakit hati, karena terbunuhnya para ketua mereka. Jika dilihat dari sudut
persahabatan, kita juga sudah saharusnya memberitahu kepada mereka tentang rencana ini.”
Biarpun kuping Koo San Djie mendengar pembicaraan orang, tapi dalam hatinya sedang berpikir:
“Kepandaian dari Lembah ini, sudah tentu saja aku tidak boleh sembrono. Dengan menggunakan waktu
mereka memberi kabar kepada golongan partai, lebih baik aku mencari suatu tempat yang aman untuk
memperdalam ilmu yang tertulis dalam kitab kutu buku. Baru aku dapat melayaninya dengan terlebih
sempurna.”
Maka maksuduya ini dikatakan juga terhadap semua orang.
Terdengar Tiauw Tua yang pertama menyetujui:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Demikianpun baik juga. Kita tetapkan saja setengah tahun kemudian kita beramai-ramai bertemu pula di
sini.”
Setelah berlalunya Tiauw Tua dari rombongan mereka, Koo San Djie menuturkan juga pengalamannya di
dalam goa, tentang si Orang Tua Bertangan Satu yang mengalami nasib malang. Dan tidak lupa juga ia
memberikan pada Ong Hoe Tjoe dan Tjeng Tjeng, pil yang sangat berfaedah dari pemberian si Orang Tua
Bertangan Satu.
Demikianlah mereka sudah merundingkan soal yang lain-lain. Jika seorang anak laki dan dua orang anak
perempuan berkumpul bersama-sama, si anak lakilah yang menerima penderitaan.
Tidak terkecuali juga dengan Koo San Djie di sini, di tengah perjalanan selalu ia tidak mendapatkan bagian
bicara.
Dari usulnya Tjeng Tjeng, dan setelah disetujui oleh Ong Hoe Tjoe, mereka bertiga bermaksud pergi ke
dalam Makam Merpati untuk meyakinkan ilmu terlebih jauh.
Tiga anak muda ini sudah bersedia pergi ke dalam Makam Merpati, mendadak, Koo San Djie menahan
tindakan kakinya, dengan perlahan ia berkata:
“Orang dari Lembah Merpati.”
Betul saja, tidak lama kemudian, seorang pemudi berbaju putih dan seorang pemuda berbaju merah lewat
di seberang mereka.
Tjeng Tjeng yang paling tidak dapat menahan sabar sudah berkata:
“Mari kita pergi mengejar!”
Tapi Koo San Djie sudah palangkan kedua tangannya mencegah:
“Tunggu dulu di belakang mereka masih ada orang lagi......”
Dan betul saja, dua pasang bayangan orang terbang mengikuti pasangan anak muda tadi.
Ong Hoe Tjoe menjadi kaget juga.
“Apakah artinya mereka ini? Apa di dalam Lembah Merpati telah terjadi perobahan?” tanyanya.
“Bisa jadi,” jawab Koo San Djie. “Mari kita mengejar.”
Tiga anak muda ini menggunakan kepandaian masing-masing, bagaikan kecepatan burung saja, mereka
melayang-layang mengejarnya.
Tjeng Tjeng yang masih bersifat kanak-anak, sudah tidak mau ketinggalan dari dua kawannya, ia
mendahului mengeluarkan semua kepandaian ilmu mengentengi tubuhnya berjalan dipaling depan.
Ong Hoe Tjoe juga ingin mengetahui, sempai di mana ilmu yang baru dapat dipelajarinya dari dalam
Lembah Hewan, gerakan tubuhnya sebentar tinggi dan sebentar rendah, selalu berjalan merendengi Tjeng
Tjeng.
Koo San Djie melihat kepandaian ilmu meringankan tubuh dari dua kawannya menjadi amat kagum.
Tidak lama kemudian, mereka bertiga telah sampai di salah satu kota, maka dengan bersama-sama,
mereka mengurangi kecepatan larinya.
Segera mereka mencari rumah makan untuk menangsel perut yang sedang keroncongan.
Tjeng Tjeng mana ada napsu makan? Dengan memonyongkan mulut kecilnya ia berkata:
“Aku tidak percaya, ilmu mengentengi tubuh mereka dapat memenangkan kita. Mengapa masih tidak terlihat
jejak mereka?”
“Mungkin mereka sudah mengambil jalan lain,” jawab Ong Hoe Tjoe.
“Tidak perduli bagaimana,” kata Koo San Djie, “Kita harus terus mengejar.”
Sedang enak-enaknya tiga anak muda ini berunding, mendadak, sesosok bayangan hitam muncul dari
pintu, seorang pengemis tua yang berambut awut-awutan dengan tidak mengatakan suatu apa lagi sudah
duduk di antara mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tjeng Tjeng sangat mementingkan kebersihan, melihat si Pengemis yang kotor, hampir ia muntah. Dengan
mempelototkan kedua matanya ia sudah mau marah.
Tapi si Pengemis tua sudah mendahului tertawa:
“Hi, bagus betul potongan tubuhmu......”
20.45. Lima Raja Iblis Lawan Lembah Merpati
Tjeng Tjeng yang sudah tidak dapat menahan marahnya, lima jari kecilnya bergerak dan mengeluarkan
angin menyerang si Pengemis tua tadi.
Si Pengemis tua dengan masih tertawa menggoyang-goyangkan tangannya:
“Tunggu dulu. Tunggu dulu. Nyawa si pengemis tua masih mau dipakai untuk menonton keramaian.”
Angin yang lembut dari goyangan tangan tadi telah menahan serangan lima jari Tjeng Tjeng.
Putri Liu Djin Liong penasaran, ia sudah mau mengeluarkan serangannya, ia telah ditahan oleh Koo San
Djie dan berkata:
“Sudah! Jangan meneruskan seranganmu, Mari aku perkenalkan, dia inilah orang tua tersohor dengan
julukan si Pengemis Sakti Kiang Tjo.”
Si Pengemis Sakti masih menggoyang-goyangkan kedua tangan.
“Sudahlah! Jangan banyak memuji orang. Apa kalian kemari untuk melihat keramaian?” tanyanya.
Koo San Djie sudah menalangi kawan-kawannya menjawab:
“Kami sedang mengejar orang-orang Lembah Merpati, tapi sampai di sini, mendadak kehilangan jejak
mereka.”
Si Pengemis Sakti kaget sampai menepok meja:
“Tentu mereka pergi ke gunung Sin-sa.”
Kemudian ia memberikan penjelasannya:
“Yang menjadi kepala dari lima raja Iblis yaitu si Badak Tanduk Perak, dengan tidak disengaja telah berhasil
mendapatkan peta jalan Lembah Merpati, dengan seorang diri saja dia telah berhasil merebut kembali kitab
Sari Pepatah Raja Woo yang telah dirampas orang Lembah Merpati dari tangannya Kim Ting Sa, dia juga
telah mengantongi harta benda berharga dari dalam Lembah Merpati. Maka dengan menggunakan
kesempatan ini, dia telah mengeluarkan banyak surat undangan untuk bersama menduduki tanah yang
subur itu......”
Koo San Djie yang mendengar sampai di sini sudah keterlepasan berkata:
“Dia sedang mengimpi, Lembah Merpati penuh dengan orang-orang pandai, mana dapat membiarkan
orang-orang tolol begitu berbuat dengan semau-maunya?”
Perkataan ini membuat orang terkejut, kecuali Ong Hoe Tjoe yang mengerti sedikit tentang keadaan
Lembah Merpati, si Pengemis Sakti Kiang Tjo menjadi bingung juga. Di dalam hatinya ia berkata:
“Si Badak Tanduk Perak adalah orang nomor satu di kalangan hitam, maka ia dapat keluar masuk di dalam
Lembah Merpati seperti tidak ada orang yang telah menjadi suatu kenyataan. Mengapa bocah ini masih
tidak mempercayainya? Dan lagi jika didengar dari perkataannya, ia seperti berpihak kepada orang Lembah
Merpati.”
Tapi si Pengemis Sakti tidak tahu tempat yang dapat dimasuki oleh Badak Tanduk Perak ini adalah Lembah
Luar dari Lembah Merpati. Dan lagi telah berapa ribu tahun belum pernah kemasukan orang, sehingga
penjagaan di situ menjadi tidak begitu keras dan sering lengah. Si Badak Tanduk Perak yang lagi bintang
terang, dapat masuk keluar Lembah Merpati dengan bebas.
Koo San Djie melihat si Pengemis Sakti seperti tidak mau mengerti, maka ia sudah menjelaskan:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kepandaian-kepandaian yang sering kita saksikan di kalangan Kang-ouw bukannya kepandaian asli dari
Lembah Merpati! Jika kepandaian asli dari Lembah Merpati ini dapat keluar di kalangan Kang-ouw, aku
sendiri juga belum tentu dapat menandinginya.”
Kepandaian Koo San Djie yang tinggi telah diketahui sendiri oleh si Pengemis Sakti Kiang Tjo, sampai Koo
San Djie demikian memuji tinggi kepandaian asli Lembah Merpati, mau tidak mau ia harus percaya juga.
Terdengar ia menghela napas dan berkata:
“Jika mendengar penjelasanmu, aku si melarat harus percaya juga. Tapi, biar bagaimana juga, aku ingin
melihat dengan mata kepala sendiri, kepandaian yang kau puji-puji dari Lembah Merpati.”
Koo San Djie bercerita:
“Asal mulanya Lembah Merpati adalah usaha dari para menteri dari kerajaan kuno kita yang mengasingkan
diri karena tindakan sewenang-wenang dari sang raja. Turun menurun mereka berdiam di lembah itu, maka
terjadilah perkampungan dengan nama Lembah Merpati. Orang-orang yang keluar lembah dan berbuat
jahat, hanya terdiri dari beberapa gelintir orang saja. Nanti, setelah aku dapat masuk ke sana, tentu akan
memberi hukuman yang setimpal kepada mereka ini......”
Beberapa perkataan dapat keluar dari mulut seorang anak gembala yang masih sedemikian mudanya,
membuat si Pengemis Sakti yang telah kawakan menjadi kagum.
Pikirnya:
“Sombong benar bocah ini! Berapa sih umurnya anak yang masih ingusan ini? Berani mengatakan hendak
memberi hukuman kepada orang?”
Koo San Djie juga sudah merasa keterlepasan omong, maka segera ia memutar bicara:
“Kitab Sari Pepatah Raja Woo, adalah kepunyaan Liu-supek, tidak dapat kitab ini terjatuh ke dalam tangan
orang lain, sekarang aku ingin pergi ke sana untuk mengambil kembali.”
Kiang Tjo tertawa lebar:
“Jika kau mempunyai niatan yang bagus ini aku juga bersedia untuk membantu.”
Koo San Djie lalu menjura dan mengucapkan terima kasih.
“Janji Locianpwe adalah sangat berharga. Mari kita mencari tempat meneduh dulu, pada waktu malam baru
kita bekerja.”
Pada malam itu, tiga anak muda dan seorang tua bersama-sama menuju ke sarang perserikatan lima raja
iblis di gunung Sin-sa.
Gunung Sin-sa tadinya adalah suatu tempat yang tidak terawat dan di kelilingi oleh tiga tebing yang tinggi.
Setelah terjatuh ke dalam tangan lima raja iblis, baru diperbarui dengan bermacam-macam tempat
penjagaan yang tersembunyi. Sehingga dapat dikatakan juga sebagai suatu benteng yang kuat dan
terpelihara.
Tapi semua usaha mereka di mata Koo San Djie dan kawan-kawan tidak berarti sama sekali. Hanya seperti
berkisarnya angin saja, mereka berempat telah dapat melewati semua penjagaan.
Si penjaga tidak menyangka akan bayangan orang yang dapat berjalan sedemikian cepat, dalam anggapan
mereka yang tolol, tentu adalah beberapa burung malam yang pulang kandang.
Setelah dapat memasuki tengah-tengah benteng ternyata lampu di sini dipasang terang benderang, masih
terdengar suaranya banyak orang yang sedang makan minum di dalam pesta.
Empat orang sudah dipecah menjadi dua rombongan dan masing-masing maju dari kiri dan kanan.
Koo San Djie dan Ong Hoe Tjoe berdua sudah dapat masuk ke dalam ruangan dan bercokol di antara
mereka.
Dilihatnya tiga meja dipasang segi tiga, si Badak Tanduk Perak, Kim Ting Sa, Hu-lan Lo-kway dan si Kepala
Setan Srigala duduk disatu meja. Di meja sebelah kiri terdapat empat pengiring pribadi Pay-hoa Kui-bo; si
Hakim Neraka, Muka Kuda, Sapi Celaka dan Babi Tertawa. Dan yang lain-lainnya terdiri dari orang yang
tinggi pendek dari kalangan hitam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Si Badak Tanduk Perak adalah kepala mereka. Kecuali Kim Ting Sa yang masih dapat melayani bertanding
beberapa jurus, lain-lainnya tiada yang nempil, seperti si Kepala Setan Srigala dan yang lain-lainnya tidak
ada separuh dari kepandaian Badak Tanduk Perak.
Apa lagi sesudah ia berhasil dapat masuk ke dalam Lembah Merpati dan membawa beberapa oleh-oleh
yang membuat semua orang menjadi bertambah mengilar. Maka kepalanya telah menjadi besar beberapa
kali lipat.
Empat raja iblis lainnya dan orang-orangnya, semua merasa jeri terhadap kepandaian Lembah Merpati yang
disohor-sohorkan orang. Tapi kini melihat pemimpin mereka secara mudah saja masuk keluar Lembah
Merpati, mereka memandang rendah kepada Lembah Merpati yang tadinya dianggap angker itu. Siapa
yang tidak ingin masuk ke sana?
Semua orang yang mengikut perjamuan itu rata-rata memuji-muji kepandaian si Badak Tanduk Perak. Dan
yang dipuji juga sudah tidak segan-segan lagi menerima umpakan-umpakan, sudah membayangkan dirinya
akan naik ke takhta kerajaan baru.
Di antara beradunya cawan-cawan arak mendadak terdengar suara bentakan si Badak Tanduk Perak:
“Sahabat dari mana yang berani mengumpat di sini? Apa tidak takut dianggap seperti pencuri?”
Ong Hoe Tjoe menjadi kaget, ia sudah bersedia lompat turun, tapi keburu dicegah oleh Koo San Djie.
Dalam sekejapan mata, mereka terbelalak. Kiranya, di tengah-tengah ruangan telah bertambah dua pasang
muda mudi, yang pemuda berpakaian merah, dan pemudinya mengenakan pakaian putih lebar.
Terdengar salah satu di antara mereka berkata kepada si Badak Tanduk Perak:
“Sudah dua ribu tahun, Lembah Merpati tidak diketahui oleh orang luar. Kau ini betul-betul bernyali sangat
besar, berani menyelinap masuk ke sana dan mencuri barang juga. Maka dengan kesalahanmu ini, kau
wajib menerima kematian.”
“Di sini berani omong besar, sekelompokan kecil orang Lembah Merpati yang tidak berguna telah dapat
kulihat di sana, bahkan sudah dapat kembali lagi kemari dengan tidak kurang suatu apa. Akan kulihat
bagaimana kalian mengambil tindakan?”
Si pemuda berbaju merah yang berada di sebelah kiri berkata:
“Kau tertawa apa? Lebih baik segera memanggil orang-orangmu untuk menyediakan peti mati.”
Mendadak, ia bersiul sekali dan orang ini sudah berbareng bergerak.
Sebentar saja dalam ruangan perjamuan itu telah ramai dengan bermacam-macam bentakan, lebih dari
sepuluh orang sudah menubruk empat orang tadi.
“Bleduk, bleduk.” Lebih dari tujuh orang sudah terjungkal. Dua pemudi berbaju putih menggoyang-goyang
empat tangan mereka, tidak henti-hentinya mengeluarkan asap putih.
Ong Hoe Tjoe dan Koo San Djie yang berjarak tidak jauh dari mereka juga turut mencium bau wangiwangian
yang menusuk hidung, kontan kepala mereka menjadi pusing.
Ong Hoe Tjoe dengan lekas menggoyang-goyangkan dua pundaknya, dari baju burungnya juga telah
mengeluarkan semacam wangi-wangian yang mengusir asap beracun tadi.
Sewaktu mereka melihat ke bawah, empat anak muda tadi sudah tidak terlihat mata hidungnya sama sekali.
Di ruang perjamuan telah kalut, beberapa orang terlihat sedang berusaha membikin bangun orang yang
terkena racun.
Si Badak Tanduk Perak, Kim Ting Sa dan beberapa orang lagi sudah tidak terlihat juga.
“Celaka!” seru Koo San Djie. “Kita lekas menyusul mereka. Jika telat sedikit saja, kitab Sari Pepatah Raja
Woo mungkin telah dapat direbut oleh mereka.
Dua orang bagaikan angin saja sudah menuju ke belakang, di mana ada terdengar suara pertempuran.
Ong Hoe Tjoe karena saking tergesa-gesa sudah mengeluarkan ilmu kepandaiannya. Berjumpalitan di
udara, menerjang ke belakang ruangan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Koo San Djie juga sudah dapat mengumpulkan semua tenaganya dan dengan Awan dan Asap lewat di
mata, menyusul sang kawan.
Tapi pertempuran sangat kalut sekali, untuk sementara, mereka sudah tidak dapat berbuat sesuatu apa.
Di dalam medan pertempuran, kecuali orang-orang dari Lima raja iblis, juga terdapat empat muda mudi dari
Lembah Merpati.
Si Pengemis Sakti Kiang Tjo menahan serangan Kim Ting Sa, Tjeng Tjeng juga sedang bergulat seru
dengan seorang pemudi berbaju putih. Dan orang-orang yang lainnya juga sudah mencari musuh mereka
masing-masing.
Tjeng Tjeng yang melihat datangnya Koo San Djie sudah lantas berteriak nyaring:
“Koko San, kitab Sari pepatah raja Woo di tangannya orang ini!”
Ia menudingkan jari ke arah seorang pemudi baju putih.
Ia berteriak begini tidak mengapa. Tapi justru karena teriakannya ini membuat semua orang sudah lantas
meninggalkan musuhnya masing-masing dan mengeluruk ke arah pemudi berbaju putih.
Si Badak Tanduk Perak, Hu-lan Lo-kway dan Kim Ting Sa sudah menjujukan pukulan mereka bertiga ke
satu arah ini.
Koo San Djie membentak keras, lalu maju satu tindak dan menyampok tiga pukulan ini dengan berbareng.
Badak Tanduk Perak memang sedang mendongkol, menemu halangan ini sudah menjadi semakin benci
kepada anak muda kita. Bukannya ia mundur menyingkir dari serangan, malah mengeraskan tenaga
pukulan.
“Buuk!” Dua-duanya sama mundur satu tindak karena sama kuat.
Koo San Djie malam itu diam-diam sudah bersumpah akan dapat merebut kembali kitab pusaka, tidak
perduli musuh siapa yang menghalang-halangi sudah main hantam saja.
“Kitab Sari Pepatah Raja Woo adalah milik pendekar Merpati Liu Djin Liong, semua orang jangan harap
memilikinya!” ia berteriak keras.
Si Badak Tanduk Perak mana mau mengalah sama seorang anak muda, dengan mengirim lagi pukulannya
ia berteriak juga:
“Kau ini orang apa?”
Si pemudi berbaju putih yang memegang kitab tadi sudah lantas berpikir:
“Jalan yang paling aman ialah lari meninggalkan mereka.”
Maka ia sudah melompat tinggi di atas kepala semua orang dan siap melarikan diri.
Mendadak, bayangan hijau daun sudah menghadang di hadapannya, mengulurkan tangan putihnya
mengarah beberapa jalan darah yang terpenting.
Si pemudi berbaju putih adalah orang pilihan Lembah Merpati, mana dapat gampang-gampang ditotok,
biarpun badannya di udara, ia juga masih dapat menggerakkan tangan, ia berbalik, mau memegang tangan
orang.
Tapi gerakannya telah menyebabkan kehabisan napas, tubuhnya terjatuh kembali ke tempat asal.
Orang yang datang menyerang kepadanya adalah Ong Hoe Tjoe, kemudian turun di samping Koo San Djie.
Dalam satu gebrakan ini, orang-orangnya dari ketiga belah pihak sudah beramai-ramai mengurung baju
putih. Semuanya berpandang-pandangan siap siaga untuk mencari kasempatan. Tapi siapa juga tidak mau
bergerak terlebih dulu.
Sebabnya tidak sukar untuk diduga, karena jika siapa yang bergerak terlebih dulu, tentu akan mendapat
serangan bersama dari dua pihak lainnya.
Si Pengemis Sakti Kiang Tjo sudah tertawa:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dengan cara pertarungan seperti mengadu ayam ini, mana ada kesudahannya? Kitab Sari pepatah raja
Woo, adalah miliknya si tua Liu Djin Liong. Buat apa susah-susah diperebutkan?”
Kim Ting Sa keluarkan suara jengekkan:
“Tidak semudah itu, sahabat.”
Ia membuka lima jarinya dan mencengkram ke arah si pemudi berbaju putih.
“Serr, serr.....” Lima jarinya Tjeng Tjeng juga tidak mau ketinggalan, menubruk belakang Kim Ting Sa.
20.46. Kehancuran Lima Raja Iblis
Dua pemuda baju merah yang menjadi kawan si pemudi berbaju putih tentu saja tidak mengijinkan
kawannya dihina, maka dua-dua mengeluruk ke arah Kim Ting Sa.
Sepandai-pandainya Kim Ting Sa, sudah tentu tidak dapat melawan jumlah serangannya tiga orang ini,
saking takutnya, sampai ia mundur balik ke belakang lagi.
Keadaan kembali menjadi tenang, untuk menunggu keributan yang lebih besar.
Semua orang sedang mencari daya yang lebih bagus lagi untuk menarik keuntungan dari orang banyak ini.
Empat orang muda dari Lembah Merpati inilah yang paling tenang, mereka tahu, lima raja iblis dan kawankawannya
tidak dapat bertahan sampai pagi hari, karena telah makan makanan yang mengandung racun.
Dan pada waktu itu, mereka dapat mengumpulkan tenaga, untuk menggempur rombongan anak gembala.
Tapi, di mulut mereka tidak mau mengatakan apa-apa, mereka takut si Badak Tanduk Perak sekalian dapat
mengadu jiwa.
Koo San Djie sedang berpikir keras, dengan cara apa, baru ia dapat merebut kitab pusaka dari pemudi
berbaju putih?
Ong Hoe Tjoe memang pintar, hatinya juga tahu, siapa-siapa yang berani menyerang pemudi berbaju putih,
tentu akan mendapat serangan berbareng dari dua belah pihak, kecuali orang ini dapat menahan serangan
berbareng dengan tidak terluka. Tapi siapakah orangnya yang sanggup menahan serangan berbareng?
Hanya ia sendiri yang mungkin sanggup menerima pukulan-pukulan ini, karena baju burungnya tidak
mempan akan senjata dan tenaga.
Maka, setelah dapat mengambil putusan, ia memberi tanda kepada Koo San Djie sekalian. Bagai kecepatan
burung, ia menubruk ke arah si pemudi pemegang kitab.
Serangan dari udara ini ada sangat sukar diduga, pemudi berbaju putih hanya menyaksikan adanya
bayangan orang melayang, jalan darahnya telah terkena totokan.
Dengan tidak menghentikan gerakan tangannya lagi, ia sudah meneruskan merogoh kantong orang dan
terbang balik kembali.
Sebentar saja, bentakan-bentakan dari orang banyak menjadi gempar, serangan-serangan mereka
ditujukan ke arah Ong Hoe Tjoe.
Pukulan-pukulan ini jatuh di tubuh si gadis, tanpa dirasakan oleh orang yang bersangkutan. Dengan tidak
menghentikan gerakan, ia kembali lagi ke tempat asalnya.
Sebelum ia dapat menginjak tanah, ia telah diberondong oleh sekian banyak serangan.
Dengan sekali jumpalitan, Ong Hoe Tjoe sudah dapat memutar arahnya, menuju ke tempat Koo San Djie. Ia
mengeluarkan segulungan benda dan disesapkannya ke arah Koo San Djie, katanya:
“Nah, ini kau boleh simpan kembali.”
Kitab yang dibuat rebutan telah dapat kembali, si Pengemis Sakti Kiang Tjo sudah tertawa terbahak-bahak:
“Nona Tjoe betul-betul pandai. Kini kitab telah kembali ke asalnya.”
Si Badak Tanduk Perak tertawa dingin:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hm...... Apa kalian kira masih dapat meninggalkan tempat ini?”
Koo San Djie mendongkol,
“Aku juga tidak mau pergi. Siapa yang berani? Datanglah kemari, coba merebutnya!” tantangnya.
Kim Ting Sa pernah berhasil memukul jatuh anak muda ini, dengan menghina ia berkata:
“Apa kau kira gunung Sin-sa dapat membiarkan kau berbuat sombong?”
Ia mendahului dari kawan-kawannya dan menyerang sampai tiga kali.
Koo San Djie hanya menghadapi satu lawan, tentu saja dianggap sepi. Badannya tidak bergerak,
membiarkan serangan lawan sampai dekat, baru berputar dan menyambuti dengan kekuatan penuh.
Kim Ting Sa menganggap tenaganya sudah cukup kuat, tidak takut membentur sambutan hebat ini, malah
ia menambah tenaganya lagi.
Koo San Djie bermaksud menebus kekalahannya tempo hari, setelah menyambuti ia balas menyerang.
Jurus yang kedua dengan pukulan geledeknya juga menyusul tiba.
Kim Ting Sa memang tidak tahu mati, begitu menerima serangan Koo San Djie yang pertama, badannya
tergetar. Ia melihat serangan lawan seperti ada sesuatu yang lain, terhadap serangan yang kedua, ia
berusaha mau membuang diri ke samping. Tapi sudah terlambat, dadanya terasa menjadi sesak, ia
terhuyung-huyung ke belakang dengan menderita luka di dalam.
Si Badak Tanduk Perak yang melihat di samping menjadi kaget, ia maju membantu menahan serangan Koo
San Djie.
Koo San Djie telah melancarkan serangan yang pertama dan kedua ia juga telah meneruskan serangan
geledeknya yang ketiga.
Si Badak Tanduk Perak yang bantu menahan tadi, baru tahu betapa hebatnya serangan Koo San Djie,
maka ia sudah segera menyingkir dari serangan yang ketiga.
Terdengar suara gemuruh, kiranya tempat di mana tadi ia berdiri telah berlubang besar, akibat terkena
serangan Koo San Djie.
Melihat ini, si Badak Tanduk Perak meleletkan lidah, tapi jika mengingat kitab yang dengan susah payah
baru didapatkan harus diberikan kepada orang lain, hatinya masih penasaran.
Ia mendahului menyerang dan telah mengeluarkan serentetan pukulan sampai tujuh kali.
Dengan tenang Koo San Djie menyambuti semua serangan-serangan ini satu persatu. Ia juga tidak mau
tinggal diam, setelah cukup menyambuti semua serangan si Badak Tanduk Perak, tangannya digerakkan
berkali-kali, membalas menyerang sampai lima kali. Lima serangannya ini telah membuat si Badak Tanduk
Perak kewalahan.
Setelah berkali-kali mereka serang menyerang, orang-orang Lembah Merpati juga sudah siap untuk turun
tangan. Tapi, jika, mengingat kepandaian si anak gembala yang begitu tinggi, sedangkan di belakangnya
juga masih terdapat Tjeng Tjeng dan Ong Hoe Tjoe, jika hanya dengan empat orang seperti sekarang tentu
tidak ada pegangan untuk memenangkannya. Maka, mereka hanya manunggu kesempatan yang
menguntungkan.
Keadaan di medan pertempuran menjadi tegang kembali.
Sebenarnya, jika mau menggunakan kepandaiannya Awan dan Asap lewat di mata, Koo San Djie dengan
mudah dapat keluar dari kepungan orang-orang ini. Tapi ia ti dak mau berbuat demikian.
Tiba-tiba terdengar dua kali bentakan si Setan Kepala Srigala dan Hu-lan Lo-kway, mereka siap maju
berbareng.
Menggunakan kesempatan ini, dua pemuda berbaju merah juga sudah berpencar dan menyerang dari dua
jurusan.
“Ser, ser......” kekuatan tadi kelihatan dari lima jari kecilnya Tjeng Tjeng sudah memapaki pemuda berbaju
merah yang berada di sebelah kiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ong Hoe Tjoe juga tidak mau tinggal diam ia mengibaskan senjata kipasnya menahan serangan yang
datang dari sebelah kanan.
Koo San Djie memutarkan sebelah tangannya, lalu disodokkan ke arahnya Hu-lan Lo-kway, dan tangan
kirinya dengan sebat telah mengeluarkan Pit Badak Dewa,
Pit Badak Dewa yang berwarna hitam berkelebat, si Kepala Setan Srigala menjerit dan jatuh ke tanah,
dadanya telah tertembus oleh Pit yang tajam itu.
Hu-lan Lo-kway yang kebentrok sekali dengan sebelah tangannya Koo San Djie, melihat sang kawan dalam
tempo segebrakan sudah harus menerima kematian, ia menjadi nekad.
Tangannya dipilin-pilin dengan cepat, ombak dingin saling susul datang menyerang ke arah Koo San Djie.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Silat Cersil Lembah Merpati 2 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 06 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments