Cerita Cinta Dewasa Guru Silat: Si Kaki Sakti 3

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Cinta Dewasa Guru Silat: Si Kaki Sakti 3
Pilingan itu adalah sebagian yang berbahaya dari
bagian kepala, maka orang yang kena dijotos pada
bagian anggotanya itu, pasti bisa menjadi mati, atau
sedikit-dikitnya bakal menderita luka berat.
Tetapi Lie Poan Thian tidak menjadi gugup barang
sedikitpun menghadapi serangan musuh itu.
Pukulan itu segera disampoknya ke samping, sambil
berbareng mengirim satu tendangan yang hebat sekali ke
jurusan dada musuh yang telah menjadi terbuka dan
tiada terlindung itu.
Oleh sebab ini, sudah barang tentu Tang Ngo jadi
kaget sekali, maka buru-buru ia berlompat mundur
beberapa tindak jauhnya, setelah itu, barulah selanjutnya
ia melayaninya berkelahi dengan hati-hati sekali, agar
supaya tidak sampai kejadian ia dijatuhkan lawannya itu.
Demikianlah pertempuran itu telah berlangsung
dengan amat serunya, tetapi belum diketahui pihak mana
yang lebih tinggi atau rendah ilmu kepandaiannya.
Oleh karena Tang Ngo adalah seorang militer, maka
Lie Poan Thian agak khawatir, kalau-kalau lawannya itu
akan memperoleh lebih banyak bantuan dari kawankawannya,
sedangkan ia hanya bersendirian saja, maka
tak mau ia membiarkan pertempuran itu berjalan terus
dengan begitu saja.
Dari itu ia segera mengubah caranya bersilat, sambil
mengeluarkan bentakan keras untuk mengejutkan hati
202
lawannya, tangan kirinya diayunkan kehadapan mata
lawannya, tetapi tangan kanannya lalu mencakar muka
lawannya dengan siasat „Naga emas mempersembahkan
semangka”.
Dengan siasat ini, benar saja Tang Ngo terkesiap
hatinya. Menampak serangan di depan mukanya itu, dan
tatkala ia menangkis serangan tersebut dengan
membentangkan kedua tangannya ke kiri-kanan buat
menyampok.
Lie Poan Thian dengan secepat kilat telah
menendang dada lawannya dengan siasat ,Siauw-pouwlian-
hwan-tui”, yang menjadi salah satu macam ilmu
tendangan yang sangat lihay dari perguruan ilmu silat
cabang Liong-tam-sie.
Oleh karena Tang Ngo sedang sibuk menjaga
serangan dari atas, maka tak keburu ia mengelakkan
serangan Poan Thian dari sebelah bawah.
Hampir dalam saat itu, segera terdengar suara-suara
dan jeritan yang mengerikan.
Duk! — Aduh! — Gedebuk!
Ternyata dada Tang Ngo telah kena ditendang
dengan telak sekali oleh Lie Poan Thian, hingga tidak
ampun lagi, orang she Tang itu jadi terpental ke belakang
dan jatuh terlentang di tanah bagaikan seekor ajam yang
kelabakan karena disembelih dan hampir putus
nyawanya.
Oleh karena dada itu adalah tempat berkumpulnya
paru-paru dan hati, yang merupakan bagian yang sangat
penting dalam tubuh manusia, maka orang yang anggota
badannya kena dilukakan di bagian itu, banyakan
menjadi celaka daripada selamat.
203
Maka setelah berkali-kali memuntahkan darah segar,
Tang Ngo terus jatuh roboh dengan tidak sadar lagi akan
dirinya.
Sementara kawan-kawannya yang turut datang
bersama-sama ke tempat itu, ketika melihat gelagat tidak
baik, sudah lantas memanjangkan langkahnya buat
melarikan diri, dengan meninggalkan kawan-kawan
mereka yang menderita luka-luka berat itu.
Lie Poan Thian mengetahui, bahwa tempat itu tidak
baik buat didiami terlebih lama pula.
Syukur juga luka-lukanya Cin Kong Houw pun telah
mulai menjadi baikan, maka tidak berayal pula ia segera
pergi ke istal buat menuntun keluar dua ekor kuda.
Sesudah membereskan barang-barang mereka serta
membayar rekening hotel, kedua orang itu terus cemplak
kuda masing-masing yang lalu dilarikan dengan pesat
meninggalkan tempat itu.
Sesudah mereka melarikan diri sekira tigapuluh lie
lebih jauhnya, barulah mereka berani berjalan lebih
perlahan.
Selanjutnya, untuk menghindarkan diri daripada
kerewelan-kerewelan yang mungkin bakal terjadi, jikalau
nanti Bu Goan Kwie mengirimkan pasukan berkuda buat
mengejar mereka, maka Poan Thian dan Kong Houw
terus mengambil jalan kecil yang sunyi dan di kedua
tepinya banyak ditumbuhi semak-semak dan pohonpohon
yang lebat.
Sesudah berjalan beberapa lie jauhnya, mereka
sudah hampir tak menemui pula perkampungan,
sedangkan orang yang lalu-lintas di jalan itupun tidak
dijumpai mereka barang seorang pun.
204
Kemudian karena keadaan jalanan itu semakin lama
semakin menanjak dan berkelok-kelok, maka Poan Thian
jadi takut menyasar dan segera menanyakan kepada Cin
Kong Houw, apakah mereka tidak mengambil jalan yang
keliru?
„Jangan kuatir,” kata orang she Cin itu, „jalan-jalan
kecil di sekitar daerah ini, aku ketahui semua dengan
baik sekali. Di sini kita sedang mendaki bukit Jie-liongnia,
sesudah melewati bukit ini, kita akan ketemukan pula
sebuah bukit lain yang dinamakan Hek-gu-nia, dan
selanjutnya adalah bukit Tay-hun-nia. Sesudah kita
berjalan pula kira-kira delapanpuluh lima lie jauhnya, kita
akan tiba di residensi Heng-ciu, kemudian mulai masuk
ke daerah Kang-souw utara.”
Mendengar keterangan begitu, sudah tentu saja Poan
Thian jadi merasa agak kecewa, karena tempat
tujuannya yang sebenarnya adalah Tiong-ciu, hingga
sekarang ia jadi berbalik menjauhkan diri dari tempat
yang ditujunya itu.
Lalu ia memberitahukan maksud hatinya kepada
orang she Cin itu.
„Letak Tiong-ciu dan Khay-hong tidak berjauhan,”
menerangkan Kong Houw, „dan kedua-duanya daerah itu
berada dalam kekuasaan Bu Goan Kwie. Apabila Lauwhia
belum pernah campur tangan dalam urusanku, sudah
tentu saja engkau boleh pergi ke tempat-tempat itu
dengan sekehendak hatimu. Tetapi sekarang karena
Lauw-hia sudah pernah menerbitkan keonaran di daerah
kekuasaannya, maka aku percaya, apabila orang she Bu
itu mengetahui kedatangan Lauw-hia ke sana, tentulah
dia akan berdaya-upaya buat mencelakakan kepada
dirimu. Apabila dia berani mengganggu Lauw-hia dengan
secara berterang, Lauw-hia tentu masih bisa
205
menghindarkan diri, tetapi apabila dia mempergunakan
tipu-muslihat busuk dengan secara menggelap, sudah
tentu sukar sekali buat Lauw-hia bisa menjaganya. Maka
daripada mengantarkan diri ke tempat yang berbahaya
itu, kukira lebih baik Lauw-hia turut aku bersama-sama
pergi ke Kang-lam, untuk pesiar dan menghilangkan
sedikit rasa jengkel kita dengan jalan memandang
keindahan alam di sana yang terkenal permai.”
Pemuda kita jadi merasa tertarik juga dengan
omongan Cin Kong Houw itu, yang kemudian
menceritakan berbagai macam keindahan alam di daerah
Kang-lam, sehingga dengan begitu ia menurut juga buat
bersama-sama pergi ke sana.
Begitulah setelah berjalan beberapa lamanya,
akhirnya tibalah mereka di kota Kim-leng.
Sesudah puas pesiar di ibu-kota kuno itu, mereka
terus berangkat lagi keselatan dan menuju ke kota Hangciu,
yang termasyhur sebagai salah sebuah „Sorga
dalam Dunia” disamping kota Souw-ciu yang menjadi
timpalannya.
Kota Hang-ciu ini adalah ibu propinsi Ciat-kang, yang
mempunyai pemandangan alam sangat indah dan
termasyhur di dalam dunia, terutama telaga See-ouw
nya, yang tak asing lagi dan sering disebut-sebut dalam
sajak-sajak para penyair kenamaan di jaman dahulu dan
sekarang.
Cin Kong Houw ini ternyata sudah paham sekali
dengan keadaan tempat-tempat di situ, maka dengan
tiada menanyakan pula kepada orang lain, ia sudah bisa
mengajak Lie Poan Thian mengunjungi ke perbagai
tempat yang indah-indah pemandangan alamnya, serta
tempat-tempat termasyhur peninggalan dari jaman kuno
206
yang sering dikunjungi dan dipuji orang sedunia.
Setelah puas berputar kayun di sekeliling tempattempat
itu, akhirnya mereka merasa haus dan lapar,
hingga mereka lalu mampir ke sebuah kedai arak yang
terletak di pantai telaga See-ouw, dari mana sambil
duduk-duduk dan berminum arak orang dapat menikmati
pemandangan alam yang terbentang di sekitar tempat
itu.
Begitulah sesudah memilih tempat duduk yang
terletak di dekat mulut jendela, mereka lalu panggil
seorang pelayan dan memesan arak dan makanan yang
menjadi kegemaran masing-masing.
Dalam pada itu, di lain meja di dekat mereka,
terdapat pula dua orang tamu lain yang sedang duduk
bercakap-cakap sambil makan minum dengan asyik
sekali.
Salah seorang di antaranya mengenakan baju biru,
sedangkan yang lainnya berbaju panjang yang berwarna
kuning.
Rupanya mereka inipun ada orang-orang pelancong
yang telah sengaja pesiar ke telaga yang termasyhur
permai itu.
Dalam omong-omong yang dilakukan oleh kedua
orang itu, Poan Thian dan Kong Houw mendengar orang
yang berjubah panjang itu berkata demikian: „Di antara
pemandangan-pemandangan alam yang termasyhur di
sekitar tempat ini, kelenteng kuno Leng-coan-sie di
pegunungan Houw-kiu-san pun kiranya baik juga buat
dikunjungi. Karena selain pemandangannya tak bisa
dicela, juga ketua kelenteng itu yang bernama Siang
Goan Taysu bukan lain daripada salah seorang
kenalanku yang baik sekali.”
207
Tetapi orang yang berbaju biru lalu memotong
pembicaraan orang itu sambil berkata: „Kukira paling
betul kita jangan pergi ke sana. Karena selain terkabar
Taysu sudah lama meninggal dunia, di sanapun kini terbit
suatu peristiwa aneh yang telah membikin orang-orang
yang pesiar ke tempat itu segan mengunjungi kelenteng
tersebut. Dari itu, disamping mengalami seranganserangan
dengan sambitan batu atau genteng dari dalam
kelenteng itu, mungkin juga rumah berhala itu sekarang
telah menjadi sarang tikus atau ular.”
Kemudian ia menunda sebentar pembicaraannya,
karena mengirup arak yang disajikan di hadapannya.
„Tempo hari,” ia melanjutkan, „ada beberapa orang
yang iseng-iseng mengunjungi kelenteng itu. Tetapi
sungguh tidak dinyana, selagi mereka asyik memandang
keindahan alam di sekitar situ, tiba-tiba mereka telah
diserang entah oleh siapa yang telah menggunakan
batu-batu dan pecahan-pecahan genteng yang dibuat
menyambiti orang, hingga dua orang di antara mereka
telah menderita luka-luka yang agak berat juga. Oleh
karena itu, semenjak hari itu dan selanjutnya, tidak
pernah lagi ada orang yang berani datang mengunjungi
pula kelenteng tersebut. Itulah sebabnya mengapa aku
tidak suka pujikan kau akan mengunjungi kelenteng
Leng-coan-sie itu.”
Hal mana, sudah tentu saja, telah membikin si baju
kuning jadi heran dan lantas bertanya: „Sebenarnya ada
perkara aneh apa sih yang terjadi di dalam kelenteng
itu?”
„Menurut cerita orang-orang yang mengetahui,”
demikianlah si baju biru memulai bercerita pula,
„kabarnya di dalam kelenteng itu orang sering menjumpai
setan yang selalu muncul di waktu tiap-tiap tengah
208
malam. Setan itu sekujur badannya berwarna putih, bisa
berlompat-lompat dengan cepat sekali dan sering
dijumpai orang menangis tersedu-sedu sambil
menghadapi rembulan, hingga kejadian ini sangat
menyeramkan orang dan membuat orang takut akan
mengunjungi kelenteng Leng-coan-sie tersebut.
Pada suatu hari, pernah ada seorang yang bernama
Siauw Cu Ceng, seorang terpelajar yang gemar pesiar
dan tidak percaya segala urusan takhayul yang
bersangkut-paut dengan setan-setan atau malaikatmalaikat,
yang di waktu terang bulan telah berjalan-jalan
ke pegunungan Houw-kiu-san buat memandang
rembulan dari atas bukit.
Petang hari itu sinar rembulan yang sangat terang
dan menyoroti muka dunia kita ini, boleh dikatakan
hampir mirip dengan keadaan di waktu siang hari.
Keadaan di sekitarnya sunyi-senyap, sehingga siliran
angin yang paling halus sekalipun dapat didengar
suaranya dengan tegas melalui daun-daun pohon yang
bersuara keresekkan.
Tatkala orang she Siauw itu sedang enak berjalanjalan,
ia hampir tidak merasa lagi telah sampai di muka
kelenteng Leng-coan-sie yang terkenal angker itu. Tetapi
ini semua tidak membikin ia jadi keder atau takut.
Selanjutnya karena merasa keisengan, maka ia lantas
mendekati kelenteng itu sambil melihat-lihat ke bagian
dalamnya dari pintu depan yang ternyata tidak terkunci.
Selagi berbuat demikian, betul saja ia telah
menyaksikan di dekat ruangan besar kelenteng itu
tampak berdiri satu makhluk gaib sebesar manusia,
berpakaian serba putih dan justru sedang menengadah
ke langit sambil memandang bulan purnama yang gilanggemilang.
Kemudian ia menghela napas dengan
209
berulang-ulang, seolah-olah ada sesuatu yang menjadi
„ganjelan” di dalam hatinya.
Sementara Siauw Cu Ceng yang tinggal mengawasi
dari kejauhan, mendapat kenyataan bahwa makhluk itu
berambut panjang yang terurai di atas kedua bahunya,
mukanya putih dan sepasang matanya mengeluarkan
sinar yang menakuti orang.
Begitulah ketika Cu Ceng sedang terliput oleh rasa
heran yang sekarang tercampur aduk dengan rasa takut,
tiba-tiba makhluk gaib itu telah mendusin, jikalau segala
perbuatannya telah diketahui orang, oleh sebab itu,
dengan kaget ia jadi menoleh kepada Cu Ceng, yang
dengan mendadak merasakan bulu romanya jadi pada
berdiri!
Tetapi syukur juga makhluk itu tidak mengunjukkan
aksi apa-apa yang bisa membahayakan bagi diri Cu
Ceng. Hanya setelah menendangkan kakinya ke tanah
dengan sama sekali tak mengeluarkan suara apa-apa,
makhluk itu lalu melayang ke atas wuwungan kelenteng
dan terus menghilang entah kemana perginya.
Cu Ceng jadi kemekmek sehingga buat beberapa
saat lamanya ia berdiri tegak bagaikan sebuah patung.
Tetapi sebegitu lekas perasaan kagetnya telah menjadi
kurangan, akhirnya timbullah rasa kepingin tahu di dalam
hatinya kemana selanjutnya makhluk gaib itu telah
berlalu. Jikalau Cu Ceng segera berlalu dari tempat itu,
ada kemungkinan dia tak akan mengalami kecelakaan
atau kejadian-kejadian tidak enak bagi dirinya sendiri.
Tetapi justru karena ini, maka selanjutnya banyak orang
yang jerih akan mengunjungi pula kelenteng kuno itu.
Diceritakan tatkala Cu Ceng melihat makhluk itu
melayang ke atas wuwungan kelenteng, buru-buru iapun
210
masuk ke dalam buat coba memperhatikan kemana dia
itu pergi. Tidak kira selagi bercelingukan kian kemari,
mendadak ia telah dihujani sambitan batu dan pecahan
genteng yang telah memaksa ia melarikan diri dari dalam
kelenteng tersebut dengan mendapat luka-luka di badan
dan dengan kepala separuh bonyok!
Cu Ceng lari terbirit-birit dengan tidak memperdulikan
lagi pada pakaiannya, yang dalam tempo sekejapan saja
telah menjadi compang-camping karena tersangkut
pohon-pohon berduri yang banyak terdapat di antara
jalanan gunung yang sunyi senyap itu. Setibanya di
rumahnya sendiri, ia telah jatuh pingsan karena, letih
berlari-lari tidak henti-hentinya.
Demikianlah, pada hari esoknya, mulailah Cu Ceng
menuturkan pengalamannya yang seram itu kepada
teman-teman dan handai-taulannya.
Maka setelah kabar itu bersambung-sambung dari
satu ke lain mulut, orang lantas berpendapat bahwa
kelenteng yang telah lama tidak diurus itu, tidak baik
akan dikunjungi orang. Bukan saja di waktu malam hari,
bahkan di waktu siang hari juga, selanjutnya tak ada pula
orang yang sudi datang ke situ. Sekarang ditambah pula
dengan munculnya makhluk gaib yang bersarang di situ,
maka ada siapakah pula yang begitu edan buat
berurusan dengan segala setan pejajaran itu?”
Si baju kuning yang mendengar penuturan itu tampak
mengangguk-anggukkan kepalanya sambil sebentarsebentar
minum arak yang dituangkan oleh kawannya
itu.
„Ceritaku ini belum habis sampai di situ saja,” kata si
baju biru setelah membasahkan pula tenggorokkannya
dengan arak.
211
Sambil bermakan minum dengan perlahan, Poan
Thian dan Kong Houw memperhatikan ceritanya si baju
biru itu.
„Cerita tentang adanya setan atau makhluk gaib di
kelenteng Leng-coan-sie ini memang telah tersiar ke
sana-sini dan diketahui oleh setiap penduduk kota Hangciu,”
si baju biru memulai pula ceritanya. „Tatkala itu di
Hang-ciu kebetulan ada serombongan piauw-su yang
baru saja datang habis menghantarkan uang kiriman dari
Gie Hin Piauw-kiok di Kwi-say. Salah seorang di
antaranya yang menjadi pemimpin dan bernama Chio
Hoat Coan, adalah seorang ahli silat jempolan yang
sangat terkenal tentang keberaniannya.
Ketika Chio Piauw-su mendengar kabar yang agak
menggemparkan ini, ia jadi penasaran dan menyatakan
tidak percaya dengan kabar yang bukan-bukan itu.
Apalagi ketika mengunjungi kelenteng itu dan tidak dapat
ketemukan apa-apa, ia jadi mendongkol dan lalu pergi
menegur pada Siauw Cu Ceng, yang dikatakannya telah
menyiarkan kabar justa untuk membikin para penduduk
kota Hang-ciu jadi gelisah.
Tetapi sudah tentu saja Cu Ceng pun tidak mau
terima begitu saja tuduhan itu, hingga selain ia telah
menetapkan itu dengan suara persumpahan, iapun
menyatakan kesediaannya buat menghantarkan si
piauw-su itu buat pergi mengunjungi kelenteng itu di
waktu malam hari.
Hoat Coan terima baik tawaran itu.
Begitulah dengan hanya berduaan saja dan secara
diam-diam, Cu Ceng dan si piauw-su itu lalu
mengunjungi kelenteng tersebut.
„Dimanakah biasanya setan itu terlihat?” bertanya
212
Hoat Coan dengan perasaan tidak percaya.
„Di sana, di ruangan besar,” sahut Cu Ceng sambil
menunjuk ke dalam kelenteng itu.
„Kalau begitu,” kata si piauw-su itu pula, „biarlah aku
nanti pergi sendiri buat coba buktikan omonganmu itu.”
Cu Ceng menjawab: „Baik,” kemudian ia menantikan
di luar untuk menyaksikan hal apa yang akan terjadi
selanjutnya.
Diceritakan ketika Hoat Coan masuk ke dalam
kelenteng yang gelap itu, ternyata buat beberapa saat
lamanya ia tidak melihat ada apa-apa yang menandakan
bahwa di situ benar-benar pernah ada setan yang
bersarang. Tetapi buat memastikan betul atau tidaknya
kata orang di luaran, ia tidak lekas berlalu pada sebelum
mendapat lihat apa-apa yang dirasanya baik untuk
dijadikan bahan laporan dari penyelidikannya nanti.
Tidak kira selagi ia menoleh ke sana-sini di dalam
kegelapan yang membungkus keadaan di sekitarnya
kelenteng itu, mendadak ia berpapasan dengan benda
putih yang ia tidak lihat dari mana datangnya! Hoat Coan
biarpun hatinya terkenal tabah, tidak urung pada waktu
itu telah jadi gentar juga dan lalu berlompat mundur
tanpa ia merasa lagi.
Itulah ternyata suatu makhluk gaib yang telah
dikatakan oleh Cu Ceng tadi!
Maka setelah menetapkan hatinya, Hoat Coan lalu
bertindak maju buat mencekal makhluk gaib itu, tetapi
makhluk tersebut lalu tendangkan kakinya ke atas jubin
dan terus menghilang di antara wuwungan kelenteng
yang bersusun bagaikan mercu.
Hoat Coan jadi semakin penasaran dan lalu susul
213
makhluk itu dengan jalan mengikuti melayang ke atas
wuwungan tersebut. Tetapi, tidak kira, pada sebelum bisa
menginjak wuwungan itu, mendadak ia telah dihujani
batu dan pecahan genteng yang telah membikin ia
terpaksa lompat turun pula ke ruangan besar, dengan
badan mendapat luka-luka dan kepala setengah bonjok
seperti apa yang pernah dialami oleh Cu Ceng pada
beberapa waktu yang lampau itu.
Tetapi Hoat Coan ini ternyata berkepala lebih keras
dan berlaku lebih nekat buat melakukan penyelidikan
lebih jauh.
„Jikalau aku belum ketahui apakah kau
sesungguhnya setan atau manusia yang menyamar jadi
setan,” kata si piauw-su itu, „belumlah puas aku
melakukan penyelidikan ini!”
Begitulah buat kedua kalinya ia telah mencoba buat
naik ke atas wuwungan kelenteng itu, tetapi „sambutan”
pada kali inipun ternyata tidak kalah „hangatnya”
daripada apa yang telah dialaminya tadi. Karena selain
batu-batu yang dipergunakannya untuk menyambit jauh
lebih besar daripada tadi, bahkan genteng-genteng yang
melayangpun bukan lagi dalam rupa pecahan yang kecilkecil
saja, hanyalah genteng-genteng utuh, yang sebuah
antaranya telah mengenai dengan tepat sekali pada
belakang kepala Chio Hoat Coan, hingga ini telah
membikin mata Hoat Coan berkunang-kunang, kemudian
tak ampun lagi jatuh roboh dalam keadaan pingsan.
Tatkala akhirnya ia tersadar, ia dapatkan dirinya telah
berada di luar kelenteng di atas dukungannya Siauw Cu
Ceng
Oleh sebab itu, ia sekarang baru mau percaya,
bahwa apa yang telah dikatakan orang she Siauw itu,
214
sesungguhnyalah berbukti dan bukan omong kosong
belaka!
Maka dengan terjadinya peristiwa yang tersebut
paling akhir itu, boleh dikatakan sudah tidak ada barang
satu manusia lagi yang sudi mengunjungi kelenteng kuno
itu.”
Demikianlah si baju biru telah mengakhiri
penuturannya yang luar biasa itu.
Lebih jauh oleh karena si baju kuning pun
mengetahui, bahwa Siauw Cu Ceng dan Chio Hoat Coan
itu adalah orang-orang yang namanya cukup terkenal di
kota Hang-ciu, maka ia kelihatan mau percaya juga
penuturan sahabatnya itu. Dari itu, ia terpaksa
membatalkan maksudnya buat mengunjungi kelenteng
tua Leng-coan-sie yang terletak di pegunungan Houwkiu-
san itu.
Kemudian sesudah mereka puas bermakan minum
dan membayar harganya makanan dan minuman, kedua
orang itu lalu meninggalkan kedai arak itu, untuk
melanjutkan perjalanan mereka akan pesiar di sekitar
telaga yang terkenal itu.
Sementara Poan Thian yang memasang telinga
mendengari penuturan si baju biru tadi, lalu menoleh
pada Cin Kong Houw dengan roman yang menandakan
tidak percaya dengan segala obrolan yang dianggapnya
kosong itu.
„Apakah engkau percaya apa kata orang itu tadi?” ia
bertanya pada Kong Houw.
„Ya, itu memang mungkin juga bisa dipercaya”, sahut
Cin Kong Houw. „Karena dalam dunia yang seluas jni
tentunya segala macam keanehan pun memang bisa
215
kejadian di luar dugaan kita. Coba saja kau pikir tentang
lelakon setan yang sering mengganggu manusia itu.
Jikalau perkara itu memangnya tidak ada, cara
bagaimanakah orang bisa menceritakan tentang segala
keanehan-keanehan yang bersangkut-paut dengan
urusan setan-setan itu?”
Poan Thian tersenyum dengan hati yang tetap tidak
percaya dengan penuturan si baju biru tadi.
„Aku kira iblis di Leng-coan-sie itu bukanlah iblis
sungguhan,” katanya, „tetapi bukan lain daripada
manusia yang menyamar sebagai iblis, buat membikin
orang takut akan mengunjungi tempat itu.”
„Ya, ya, pendapatmu itupun memang bisa jadi juga
masuk akal,” sahut Kong Houw yang kelihatan lebih
mementingkan untuk mengisi perut daripada campur
tahu dalam urusan yang agak takhayul itu.
Begitulah ketika matahari telah menyelam ke barat,
barulah mereka kembali ke rumah penginapan.
Malam hari itu karena turun hujan gerimis dan hawa
udara agak dingin, maka sore-sore Kong Houw sudah
tidur menggeros bagaikan seekor kerbau yang
disembelih.
Kecuali Poan Thian sendiri yang karena tak sudahsudahnya
memikirkan lelakon setan itu, maka sudah
barang tentu tinggal gulak-gulik di atas pembaringan tak
dapat lekas tidur pules.
Dalam pada itu pemuda kita kembali membayangkan
lelakon kera tetiron yang lampau itu, kemudian ia coba
bandingkan lelakon itu dengan setan di kelenteng Lengcoan-
sie yang sekarang sedang dihadapinya itu.
„Tentang maksud tujuan si kera tetiron itu, memang
216
sudah terang ditujukan untuk maksud jahat,” pikirnya.
„Tetapi apakah maksudnya iblis dari kelenteng kuno itu,
yang sampai sebegitu jauh belum pernah mencelakai
jiwa manusia dan tampaknya agak kuatir akan
„sarangnya” di sana dikunjungi manusia? Apakah
barangkali di kelenteng itu ada tersembunyi sesuatu
rahasia yang diorganisir oleh sekelompok manusiamanusia
yang tidak bertanggung jawab terhadap pada
kesusilaan atau ketertiban umum?”
Poan Thian yang semakin memikirkan hal itu, jadi
semakin penasaran dan kepingin tahu rahasia apa yang
terletak dibalik tabir lelakon iblis di kelenteng kuno itu.
Oleh karena ini, maka akhir-akhirnya ia telah mengambil
keputusan, buat di malam hari itu juga mengunjungi
kelenteng tersebut, agar supaya dengan begitu, ia bisa
membuktikan dengan mata kepalanya sendiri, sampai
dimana kebenaran omongan orang di luaran itu.
Begitulah setelah selesai menukar pakaian untuk
berjalan di waktu malam dan membawa genggaman
yang dirasa perlu, Poan Thian lalu menolak daun jendela
dan berlompat kelataran rumah penginapan bagaikan
lakunya seekor kucing. Kemudian dengan jalan melalui
tembok pekarangan rumah penginapan itu ia keluar ke
jalan raya.
2.14. Puteri Kepala Polisi Sejati
Dari situ, syukur juga karena keadaan masih sore
dan banyak orang yang masih berkeliaran di jalan raya,
maka Poan Thian dapat menanyakan dengan cukup
jelas, dimana letaknya kelenteng Leng-coan-sie yang
hendak ditujunya itu.
Hal mana, sudah barang tentu, telah membikin orang
217
banyak jadi heran dan coba menasehatkan, agar supaya
pemuda kita jangan pergi mengunjungi tempat yang
berbahaya itu.
Tetapi Poan Thian yang mendengar begitu, tinggal
mengganda mesem dan berbicara dengan secara
memain, bahwa ia akan pergi menangkap iblis yang telah
sekian lamanya menerbitkan ribut-ribut di antara
kalangan khalayak ramai di kota itu.
Kemudian ia menuju ke gunung Houw-kiu-san itu
dengan tindakan cepat. Dan tatkala berjalan kira-kira
satu jam lamanya, maka tibalah ia di muka kelenteng
yang dituju itu, yang selain keadaannya sangat busuk
karena sudah lama tidak dirawat, juga di sana-sini amat
gelap dan seram sekali kelihatannya dalam pandangan
mata.
Maka buat menghindarkan sesuatu kemungkinan
yang tidak diinginkan, Poan Thian lalu mendekati
kelenteng itu dengan golok terhunus di tangannya.
Mula-mula ia menuju ke ruangan besar dari pintu
depan, tetapi ternyata makhluk berpakaian putih yang
dikatakan Cu Ceng dan Chio Piauw-su itu tidak tampak
bayang-bayangannya, hingga ini telah mulai membikin ia
percaya, bahwa kabar-kabar yang menggemparkan itu
adalah isapan jempol belaka.
Lalu ia berjalan mondar-mandir di ruangan
pertengahan kelenteng yang kosong melompong itu.
Tidak ada kursi meja atau perabotan apapun juga.
Tengah ia memandang ke sana-sini hendak
melanjutkan penyelidikannya, mendadak dari sebelah
belakang terasa bersiurnya angin aneh yang telah
membikin Poan Thian buru-buru tundukkan kepalanya.
218
Dan berbareng dengan itu, ia mendengar suara barang
pecah di sebelah atasan kepalanya, suatu tanda bahwa
sebuah genteng yang disambitkan orang ke jurusannya
telah luput dari sasarannya dan membentur dinding
tembok di hadapannya.
„Kurang ajar!” pikirnya, sambil hendak berjalan terus.
Tetapi sebuah genteng lain telah menyamber pula ke
jurusannya.
Buru-buru Poan Thian berkelit dengan jalan
bersembunyi di belakang sebuah tiang batu yang
terdekat, hingga sambitan itupun kembali telah mengenai
tempat kosong.
Selanjutnya, oleh sebab sambitan-sambitan itu masih
saja dilakukannya dengan gencar sekali, maka pemuda
kita terpaksa melanjutkan penyelidikannya dengan jalan
merayap di bawah kaki tembok. Karena jikalau sedikit
saja ia berlaku lalai, ia bisa mengalami kejadian-kejadian
tidak enak seperti apa yang pernah dialami oleh Siauw
Cu Ceng dan Chio Hoat Coan pada beberapa waktu
yang lampau itu.
Lama-lama dengan mengandal pada sinar rembulan
yang agak guram dan mulai mengintip ke dalam rumah
berhala itu dengan melalui cim-che, Poan Thian melihat
ada suatu benda putih yang berkelebat dan bersembunyi
di belakang sebuah tiang batu lain yang terpisah kira
seratus beberapa puluh tindak lebih jauhnya dari tempat
mana ia berdiri. Maka Lie Poan Thian yang sekarang
telah ketemui iblis yang sedang dicari itu, tentu saja
lantas mengejar dengan golok terhunus di tangannya.
„Soal ini tentulah tidak banyak bedanya dengan
lelakon kera putih tetiron yang pernah kualami duluan
itu,” pikir pemuda kita di dalam hatinya.
219
Tetapi ketika baru saja ia berjalan beberapa puluh
tindak jauhnya, mendadak di sebelah depan tertampak
sebuah sinar berkilau-kilauan yang menyambar ke
jurusannya.
Poan Thian jadi terperanjat.
Oleh karena merasa bahwa dia tak mendapat jalan
untuk menghindarkan diri, apa boleh buat ia lantas
angkat goloknya dan menyampok benda yang berkilaukilauan
itu, yang telah terlempar ke arah cim-che dengan
mengeluarkan suara berkontrangan. Karena sinar itupun
ketika kemudian diperhatikannya, bukan lain daripada
sebatang tombak pendek yang berujung sangat runcing
dan tajam, hingga ini dapat mengeluarkan sinar yang
berkilau-kilauan apabila dilontarkan di tempat gelap yang
disinari oleh penerangan bintang-bintang atau rembulan
yang tergantung di angkasa!
„Kurang ajar!” membentak pemuda itu sambil
mengejar terus.
Sekarang Poan Thian telah ketahui cukup jelas,
bahwa apa yang dinamakan „iblis dari Leng-coan-sie” itu,
ternyata bukan lain daripada samaran manusia belaka.
Karena sebegitu jauh yang pernah ia dengar dari ceritacerita
yang pernah dituturkan oleh orang-orang tua,
adalah bahwa iblis-iblis atau setan-setan itu tidak pernah,
bahkan tidak mampu, mempergunakan barang-barang
tajam atau tombak untuk mencelakai manusia.
Karena itu, Poan Thian jadi berani menetapkan
dugaannya, bahwa „iblis-iblis itu adalah samaran
manusia belaka, hingga dengan tidak ragu-ragu pula ia
lantas membentak: „Hei, sahabat! Janganlah engkau
salah sangka atas kedatanganku ini! Aku tidak
bermaksud jahat, juga tidak mau banyak „usil” dalam
220
urusan orang lain. Dan jikalau sekarang aku datang juga
ke sini, itulah karena aku hendak mencari tempat
perlindungan untuk sementara melewati malam dan
hawa dingin serta hujan gerimis yang baru saja berhenti
itu. Nanti pada hari esoknya pagi-pagi sekali aku sudah
mesti berlalu lagi dari sini. Harap supaya engkau jangan
mencurigai apa-apa terhadap pada diriku!”
Tetapi belum lagi bentakan itu selesai diucapkan,
ketika dengan secara mendadak benda putih itu telah
keluar dari tempat sembunyinya dan terus menerjang
kepada Lie Poan Thian dengan golok yang terhunus di
tangannya.
Melihat dirinya diserang dengan secara tiba-tiba dan
tidak diketahui sebab musababnya, sudah barang tentu
Poan Thian tidak membiarkan dirinya hendak dilukai
orang dengan begitu saja.
Sambil mengayunkan goloknya untuk dipakai
menangkis bacokan yang menyamber ke arah dirinya itu,
Poan Thian coba mengamat-amati macamnya iblis itu,
yang akhirnya ia baru ketahui dengan jelas dan cocok
dengan dugaannya, ialah seorang manusia yang
menyamar sebagai iblis. Tetapi apa yang tak pernah
diimpikannya sama sekali, adalah bahwa orang itu bukan
orang laki-laki seperti kera tetiron itu, hanyalah seorang
perempuan muda yang berpakaian serba putih!
Dan karena warna pakaiannya yang dikenakannya
itu, maka dari kejauhan ia terlihat sebagai bayangan
putih, yang dalam waktu yang amat singkat telah
menggemparkan seluruh kota Hang-ciu dengan beritaberita
tentang adanya „Makhluk Putih” di rumah berhala
Leng-coan-sie yang kuno itu.
Maka setelah sekarang ia bisa menyaksikan dengan
221
mata kepala sendiri apa adanya dan bagaimana macam
„makhluk gaib” yang sangat menggemparkan itu, barulah
Poan Thian mengerti dan berbareng merasa heran,
karena pakaian putih itu adalah tidak umum dipakai oleh
penjahat-penjahat yang biasa keliaran di kalangan Kangouw.
Dan jikalau ada juga penjahat-penjahat yang berani
berpakaian begitu, maka dengan lantas mereka dicap
„dogol” oleh rekan-rekan mereka. Karena selain pakaian
begitu mudah ternoda, juga sangat menyolok mata
apabila dipakai dalam „melakukan pekerjaan” di waktu
malam.
Oleh sebab itu, Poan Thian jadi merasa curiga akan
asal usul perempuan muda yang sikapnya agak
mengherankan itu.
Pemuda kita sebenarnya tidak bermaksud akan
meladeni ia bertempur, tetapi karena ia diserang dengan
berturut-turut, maka apa boleh buat ia telah meladeninya
juga sampai beberapa jurus lamanya biarpun di dalam
hati ia mendapat firasat, kalau-kalau ilmu kepandaian
orang perempuan itu masih terlalu jauh akan
dibandingkan dengan ilmu kepandaiannya sendiri.
Sebaliknya orang perempuan itupun yang perlahan
dengan perlahan telah mulai keteter, segera mengerti
bahwa dia bukan lawan Lie Poan Thian yang setimpal.
Maka sebegitu lekas ia melihat ada kesempatan untuk
meloloskan diri, buru-buru ia tendangkan kakinya ke atas
jubin dan terus melayang ke atas wuwungan kelenteng
dengan menggunakan siasat Hui-yan-ciong-thian, atau
burung kepinis menerobos ke angkasa.
Poan Thian yang melihat begitu, pun tidak mau
ketinggalan akan mengejar terus pada si nona itu.
„Hei, jangan lari!” teriaknya dengan suara bengis.
222
Tetapi orang perempuan itu setelah berlompat
beberapa kali melalui wuwungan kelenteng, segera turun
ke bawah dan terus melarikan, diri ke dalam rimba.
Poan Thian membuntuti dengan tidak mengalami
terlalu banyak kesukaran. Karena biarpun keadaan
dalam rimba itu sangat gelap, tetapi ia mudah dapat
melihatnya kemana saja si nona yang berpakaian putih
itu menuju, karena warna putih itu justeru terlalu
menyolok sekali akan dilihat orang, meski umpama di
tempat gelap sekalipun.
Begitulah hutan yang lebat dan gelap itu mereka
telah lalui, kemudian mereka tiba di sebuah tegalan yang
luas dan datar.
Ketika orang yang dikejar itu hampir kecandak,
mendadak Poan Thian melihat orang perempuan itu
merandek, memutarkan badannya dan membentak
dengan suara keras: ,,Hei, bangsat! Apakah maksudmu
engkau mengejar aku terus menerus?”
Sambil membentak begitu, si nona lalu mengayunkan
goloknya yang terus dibacokkan ke jurusan batok kepala
Lie Poan Thian dengan menggunakan siasat Tok-pekhoa-
san.
Serangan itu memang cukup hebat, tetapi Lie Poan
Thian tidak gentar dengan ilmu pukulan yang telah
diunjuk oleh pihak lawannya itu.
Buru-buru ia melompat ke samping buat
menghindarkan diri dari serangan itu, hingga bacokan itu
telah mengenai tempat kosong.
Sementara si nona yang melihat serangannya telah
luput, sudah tentu saja jadi semakin mendongkol dan lalu
menabas pula pinggangnya Lie Poan Thian dengan
223
sekuat-kuat tenaganya.
Tetapi Poan Thian yang telah ulung dalam
pertempuran, untuk keberapa kalinya telah berkelit
dengan secara sebat dan bagus sekali.
Hal mana, tidaklah heran, jikalau ini telah membikin si
nona jadi sangat jengkel dan menyerang sang lawan
terus menerus dengan secara nekat sekali.
Lama-lama Poan Thian tak dapat berkelit begitu rupa
terus menerus, maka akhir-akhirnya ia terpaksa mesti
mempergunakan juga genggamannya buat menangkis
setiap serangan yang ditujukan kepada dirinya itu.
Pertempuran ini belum lagi berlangsung terlalu lama,
ketika dengan sekonyong-konyong si pemuda terdengar
mengeluarkan satu suara teriakan, dan berbareng
dengan itu, iapun kelihatan jatuh roboh ke atas tanah.
Sementara nona itu yang menampak lawannya
mendadak jatuh roboh, sudah tentu saja tak mau menyianyiakan
ketika yang baik itu. Lalu ia maju memburu,
mengayunkan goloknya dan terus dibacokkan pada Poan
Thian yang seolah-olah telah dirobohkan sehingga tak
dapat ia berdaya pula.
Tetapi, cepat bagaikan kilat, Poan Thian telah
menggulingkan dirinya ke sebelah belakang si nona. Di
satu pihak ia berkelit dari serangan sang lawan itu,
sedangkan di lain pihak ia mengangkat sebelah kakinya
dengan menggunakan siasat Oey-kauw-sia-niauw.
Pada sangka perempuan yang berpakaian putih itu,
lawannya tadi benar-benar telah jatuh karena menderita
Iuka yang disebabkan oleh serangannya, tidak tahunya
itulah ada dia sendiri yang justeru sedang diakali oleh
pemuda kita.
224
Oleh karena siasat Lie Poan Thian itu sukar diduga,
karuan saja si nona tak keburu berkelit buat
menghindarkan sabetan kaki pemuda kita, hingga ketika
bagian belakang tekukan lututnya kena tersabet, tidak
ampun lagi ia jatuh mengusruk.
Sementara Poan Thian yang dengan secara sebat
telah dapat berlompat bangun dari atas tanah, bukan
saja tidak menunjukkan sikap yang hendak melanjutkan
pertempuran itu, malah sebaliknya ia mengucapkan maaf
atas perbuatan kasar yang telah diunjuknya itu.
Tetapi orang perempuan itu yang juga telah
berlompat bangun, dengan sorot mata menyala-nyala
tinggal mengawasi pada lawannya dengan napas
memburu karena kegusaran yang bukan alang kepalang
besarnya.
Dan ketika ia hendak menerjang pula, Poan Thian
lalu melemparkan goloknya sendiri ke tanah sambil
menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata: „Nona,
haraplah kau suka bersabar dengarkanlah sebabmusabab
mengapa aku datang ke sini.”
Oleh karena melihat sikap pemuda kita yang suka
damai itu, maka si nona itupun tampaknya jadi lebih
sabar dan tenang, biarpun suara bicaranya masih tetap
kaku ketika ia berkata: „Baik! Bicaralah!”
Poan Thian lalu mulai penuturannya, dengan
mengatakan bahwa di antara si nona dan dirinya bukan
saja tidak pernah terbit permusuhan apa-apa, malah
bertemu muka pun baru saja pada kali itu. Ia tidak
bermaksud jahat, hal mana ia bisa unjuk, bahwa jikalau
ia memang mengandung maksud tidak baik, buat
mengambil jiwanya si nona itu bolehlah dikatakan sama
mudahnya dengan orang yang mengambil barang dari
225
dalam kantong. Karena di waktu si nona jatuh tadi,
apakah itu bukan ketika yang terbaik untuk ia turunkan
tangan kalau saja ia mau?
Tetapi tak mau ia mengambil kesempatan itu, karena
ia sendiri pun memang bukan bermaksud untuk mencari
setori dengan segala orang.
„Aku bukan berasal dari tempat ini,” Poan Thian
melanjutkan penuturannya. „Tetapi karena tertarik oleh
cerita orang tentang adanya iblis yang sering mencelakai
orang di kelenteng Leng-coan-sie ini, maka malammalam
aku telah datang berkunjung ke sini, untuk
membuktikan benar atau tidaknya perkabaran itu. Jikalau
iblis itu benar-benar bisa mencelakai orang, akupun
merasa turut berkewajiban untuk bantu membasmi dia
dengan sekuat-kuat tenagaku. Tetapi syukur juga bahwa
iblis itu bukan iblis sesungguhnya,” begitulah pemuda kita
tertawa ketika berbicara sampai di sini, hingga ini tidak
perlu lagi untuk dibicarakan lebih jauh.
Oleh karena mendengar omongan itu, maka si nona
itupun jadi menghela napas sambil mengunjukkan roman
yang menandakan lesu. Ia kelihatan hendak berbicara
apa-apa, tetapi lantas membatalkan niatannya ketika
mendengar Poan Thian berkata pula: „Maka setelah
sekarang kau ketahui maksud yang benar dari
kunjunganku ini, sudikah kiranya kau memberitahukan
kepadaku kau siapa, orang dari mana, dan karena apa
kau berada di sini dengan menyamar sebagai iblis dalam
kelenteng Leng-coan-sie ini?”
Orang perempuan itu mula-mula kelihatan ragu-ragu
akan memberikan segala keterangan yang bersangkutpaut
dengan dirinya sendiri, tetapi ketika ia menyaksikan
sikap Lie Poan Thian yang lemah-lembut dan sopansantun,
barulah ia jadi menghela napas dan berkata:
226
„Tuan, nyatalah bahwa aku telah keliru menyangka
engkau sebagai seorang jahat!”
Kemudian ia menerangkan, bahwa ia berasal dari
kabupaten Ham-yang dalam propinsi Siam-say, she Bu
bernama Liu Sian.
Ayahnya yang bernama Ciang Tong adalah seorang
murid jempolan dari perguruan ilmu silat cabang Cengleng-
sie di pegunungan Ngo-tay-san.
Bu Ciang Tong ini semasa mudanya memangku
jabatan kepala polisi dalam kabupaten Ham-yang yang
menjadi tanah tumpah darahnya. Oleh karena ilmu
silatnya yang tinggi dan ditambah dengan kecakapannya
dalam tugas yang di jalankannya, maka tidak sedikit
penjahat-penjahat dari Rimba Hijau yang telah dibekuk
dan dihadapkan olehnya kepada pembesar yang
berwajib, hingga untuk jasa-jasa besar yang telah
diperolehnya itu, bukan saja ia mendapat hadiah dan
pujian dari pihak seatasannya, tetapi berbareng juga ia
jadi semakin dibenci oleh musuh-musuhnya yang selalu
berdaya-upaya buat menyingkirkan jiwanya yang
merupakan sebagai duri besar di mata kawanan penjahat
pihak lawannya tersebut. Tetapi sampai sebegitu jauh
Ciang Tong tinggal tetap tak dapat dicelakai ataupun
dibikin terguling dari kedudukannya, berhubung di
kalangan cabang-cabang atas dalam komplotan Rimba
Hijau belum ada orang yang sanggup merobohkan atau
melebihi ilmu kepandaiannya.
Demikianlah kejadian pada suatu hari sekawanan
perampok yang di kepalai oleh Cap-ek-sin-kauw atau
kera malaikat yang bersayap Ngay Houw Cun telah
masuk ke sebuah dusun dalam kabupaten Ham-yang itu
untuk melakukan „pekerjaannya”. Tetapi, apa celaka,
pada sebelum pekerjaan itu dimulai, mendadak telah
227
diketahui oleh Bu Ciang Tong, yang tidak membuang
tempo lagi segera membawa sepasukan orang-orang
polisi dan menyergap kawanan perampok yang sial itu.
Cap-ek-sin-kauw Ngay Houw Cun sendiri biarpun
bukan tandingan Bu Ciang Tong, tetapi masih boleh
dikatakan mujur juga telah dapat meloloskan diri dari
dalam pengepungan hamba-hamba negeri itu.
Sedangkan kawan-kawannya yang terbanyak, jikalau
tidak terbunuh atau tertangkap, tentulah dapat juga
melarikan diri dengan susah payah dan menderita lukaluka
yang dapat dibuat peringatan daripada pekerjaan
mereka yang telah gagal itu.
Oleh sebab pekerjaannya telah digagalkan, sudah
tentu saja Ngay Houw Cun jadi amat sakit hati dan
selanjutnya telah berdaya upaya sedapat mungkin buat
membalas dendam kepada kepala polisi she Bu itu.
Begitulah setelah ia „mencari kawan” sekian lamanya
di kalangan Kang-ouw, akhirnya Houw Cun telah
ketemukan seorang gagah yang sanggup untuk
merobohkan Bu Ciang Tong dengan suatu perjanjian,
bahwa jikalau ia mati dalam pertempuran dengan kepala
polisi itu, Houw Cun harus tanggung seumur hidup
ongkos penghidupan anak-isterinya. Dan jikalau ia
memperoleh kemenangan, Houw Cun harus berikan
separuh dari harta-bendanya yang berjumlah ratusan ribu
tail banyaknya itu.
Perjanjian mana, sebenarnya kurang disetujui oleh
kepala kampak itu. Tetapi karena mengingat yang ia
boleh mungkir buat mengongkosi rumah-tangga si hohan
itu jikalau dia mati dalam pertempuran, maka Houw
Cun lalu menyangggupi sambil menambahkan, „bahwa
semua itu adalah perkara remeh saja,” hingga si ho-han
boleh tak usah merasa ragu-ragu lagi.
228
Maka sesudah perjanjian itu „ditutup” dengan
diadakan suatu perjamuan makan minum sebagai tanda
pemberian selamat jalan dan “berharap akan berhasil”
dalam pekerjaannya itu. Si ho-han lalu berangkat ke
Ham-yang buat menjajal sampai dimana kepandaian Bu
Ciang Tong yang disohorkan sebagai seorang murid
cabang Ceng-leng-sie yang jempolan itu.
Pada suatu hari sesudah menanyakan kepada orangorang
yang kebetulan dijumpainya berjalan mundarmandir
di jalan raya, si ho-han itu telah berhasil dapat
ketemukan rumah kepala polisi she Bu itu, yang ketika itu
kebetulan berada di rumahnya.
Tetapi karena Ciang Tong selalu bercuriga kepada
orang-orang asing yang minta bertemu dengannya, maka
ia telah memesan pada bujang-bujangnya, agar supaya
kalau ada orang yang datang menanyakan kepadanya,
katakan saja bahwa ia tak ada di rumah. Dan jikalau
orang itu juga menanyakan kemana ia pergi, bujangbujang
itu boleh menjawab: „Tidak tahu.”
Terkecuali kalau orang itu mengatakan mau bicara
pada siapa saja yang ada di rumah itu, bolehlah bujangbujang
itu menjawab: “Di rumah hanya ada Ji-ya saja,”
(dimaksukkan: adiknya Ciang Tong yang sebenarnya
sudah lama telah meninggal dunia) atau apa saja
sekenanya, menurut suka mereka.
Tetapi tidak kira ketika si ho-han sampai di
rumahnya, Ciang Tong dari sebelah dalam justeru mau
berjalan keluar, sehingga kedua orang itu jadi
berpapasan dan saling mengawasi satu sama lain
dengan tidak dapat dicegah lagi.
„Tuan ini tentunya kepala rumah tangga ini bukan?”
kata si ho-han itu sambil memberi hormat.
229
Bu Ciang Tong yang selalu bisa berlaku hati-hati
dalam waktu yang kesusu, sambil membalas memberi
hormat ia bersenyum dan berkata: „Ah, sangat menyesal
perkunjungan tuan ini sedikit terlambat. Toa-ya baru saja
keluar pada setengah jam yang lalu itu. Sudikah tuan
duduk-duduk dahulu untuk minum satu-dua cawan air
teh?”
Si ho-han itu tidak lantas menjawab tawaran itu,
hanyalah tinggal mengamat-amati pada Bu Ciang Tong
sesaat lamanya, kemudian ia menghela napas dan
berkata: „Sayang, sayang. Tetapi belum tahu kapan
tuanmu kembali?”
„Itu aku kurang tahu. Menyesal,” kata kepala polisi
she Bu itu dengan hati semakin bercuriga.
Dalam pada itu, si ho-han yang ingin menunjukkan
berapa tinggi ilmu kepandaiannya, lalu sengaja
membanting-bantingkan kakinya ke atas jubin, maka
jubin-jubin itu jadi berlubang sebesar bekas sepatu si hohan
itu!
Maka Ciang Tong yang sekarang telah ketahui
maksud yang benar dari tetamu yang tidak diundang itu,
sudah tentu saja lantas bersedia untuk menghadapi
segala kemungkinan, dan sebegitu lekas ia melihat si hohan
itu selesai menunjukkan „kelihayannya”, buru-buru
iapun membungkukkan badannya selaku orang memberi
hormat dan merasa kagum atas kepandaian itu.
„Tuan,” katanya, „nyatalah kau ini ada seorang ahli
silat yang mempunyai ilmu kepandaian jauh lebih tinggi
daripada ilmu kepandaian yang dipunyai majikanku
sendiri! Aku merasa sangat kagum melihat
kepandaianmu itu. Oleh karena itu, terimalah ini
pemberian hormatku!”
230
Sambil berkata begitu, Ciang Tong pun lalu
membungkukkan pula badannya sambil menyoja ke arah
si ho-han itu.
Di mata seorang yang sama sekali tak mengerti ilmu
silat yang tergolong pada bagian ilmu lweekang,
perbuatan itu boleh dianggap lumrah dan tidak ada apaapanya
yang kelihatan aneh. Tetapi bagi si ho-han yang
telah melihat tegas gerak gerik Ciang Tong yang
semulanya dianggap orang pelayan belaka, sudah tentu
saja jadi amat kaget dan buru-buru balas memberi
hormat sambil mengumpulkan khi-kangnya ke bagian
dada. Karena sebegitu lekas ia melihat Ciang Tong
menggerakkan tangannya, dengan sekonyong-konyong
ia merasakan dadanya seperti didesak oleh suatu tenaga
amat berat yang telah memaksa ia mundur ke belakang
dengan napasnya dirasakan sesak! Maka biarpun
sampai beberapa kali ia mencoba akan menolak tenaga
yang tidak kelihatan itu, tetapi ternyata maksudnya siasia
saja, dan tatkala paling belakang ia mengerti yang ia
bukan lawan Ciang Tong yang setimpal.
Buru-buru ia berlompat ke samping sambil berkata:
„Tuan, ilmu kepandaianmu itu sesungguhnya amat tinggi
dan aku harus akui, bahwa aku ini lebih tepat akan
menjadi „kacungmu,” daripada lawanmu yang telah
sengaja berkunjung ke sini untuk merobohkan
kepadamu!”
„Ya, tetapi aku ini adalah bujangnya Bu Too-ya,” kata
Ciang Tong yang masih saja hendak berpura-pura.
Tetapi si ho-han lalu menggelengkan kepalanya
sambil berkata: „Tidak perlu kau menjustai aku. Aku tahu,
bahwa kau inilah memang Bu Ciang Tong sendiri yang
aku niat cari. Selamat tinggal, dan lagi beberapa hari
akan kuberkunjung pula ke sini!”
231
Begitulah si ho-han telah akhiri bicaranya sambil
berlalu dari situ dengan tindakan amat cepat.
Sementara Bu Ciang Tong yang mengerti bahwa
urusan tidak habis sampai di situ saja, sudah barang
tentu jadi semakin hati-hati dalam hal menjaga
keselamatan dirinya. Karena ia sendiripun yakin, bahwa
kalau musuh-musuhnya tak berani membikin
pembalasan dengan secara berterang, tentulah mereka
akan mencelakai padanya dengan jalan lain yang lebih
halus.
Maka semenjak terjadinya peristiwa yang telah
dialaminya itu, Ciang Tong selalu mengenakan kaca
tembaga di bagian ulu-hati dan punggungnya, dengan
ditutupi oleh pakaian yang dikenakannya di bagian luar,
agar supaya dengan berbuat demikian ia dapat
meringankan kecelakaan bagi dirinya, kalau nanti pihak
musuh membokong kepadanya dengan secara
sekonyong-konyong.
Diceriterakan ketika berselang hampir satu minggu
lamanya, betul saja si ho-han itu telah kembali pula ke
rumah kepala polisi she Bu itu dengan mengajak dua
orang kawannya yang masing-masing bertubuh tinggibesar
dan beroman agak „menyeramkan” di
pemandangan mata.
Kedatangan ketiga orang itu telah disambut oleh
bujang-bujangnya Bu Ciang Tong, yang memang telah
dipesan mesti berbuat bagaimana apabila si ho-han itu
benar-benar balik kembali ke tempat kediamannya di
situ.
„Hari ini tuanku justeru belum kembali dari kantor,”
kata salah seorang bujang itu, sambil persilahkan mereka
masuk dan duduk di kamar tetamu. „Tetapi rupanya ia
232
telah ketahui, bahwa tuan-tuan akan datang hari ini,
karena sedari pagi ia telah memberitahukan pada kami
sekalian, agar supaya kami jangan pergi ke mana-mana.
Dan jikalau nanti tuan-tuan datang ke sini. katanya, kami
boleh menyampaikan kabar pada tuan-tuan sekalian,
bahwa ia akan kembali ke sini selekas mungkin.”
Si ho-han dan kedua kawannya itu jadi saling lihatlihatan
satu sama lain dengan rupa yang menyatakan
heran.
„Cara bagaimanakah dia bisa tahu bahwa kita akan
datang ke sini pada hari ini?” ketiga orang itu seolah-olah
hendak saling menanyakan pendapat masing-masing.
Tetapi sampai beberapa kali, tidak juga mereka dapat
pikir bagaimana Ciang Tong telah dapat ketahui, bahwa
mereka akan datang ke situ pada hari itu.
Padahal mereka tak pernah pikir sama sekali, bahwa
siasat itu memang telah diaturnya dari di muka untuk
membingungkan pikiran mereka bertiga.
„Kalau begitu, tidaklah mengherankan, apabila segala
gerak-gerik saudara-saudara kita di kalangan Liok-lim
bisa diketahui oleh kepala polisi bajingan ini,” berbisik si
ho-han pada dua orang kawannya, sebegitu lekas
melihat para pelayan tadi berlalu dari hadapan mereka.
„Dia itu rupanya pandai meramal!” kata si ho-han.
„Ya, ya, itu boleh jadi,” menyetujui kedua orang
kawannya.
Selagi mereka „kasak-kusuk” membicarakan halnya
kepala polisi she Bu itu, adalah salah seorang bujang
Ciang Tong yang boleh dipercaya telah pergi
menyampaikan kabar tentang kedatangan ketiga orang
yang rupanya tidak mengandung maksud baik itu kepada
233
induk semangnya. Ciang Tong sekarang mengerti,
bahwa saat yang tegang dan sedang ditunggu-tunggu itu
akhirnya telah tiba.
Maka sebegitu lekas ia diberitahukan tentang
kedatangan si ho-han dan kedua orang kawannya itu,
buru-buru ia kembali ke rumahnya dengan membekal
lima buah Tiok-yap-piauw yang disembunyikn di sisi
sepatunya, pada bagian yang bersambung di bawah
lipatan kaki celananya.
Tetapi alangkah mengejutkannya hati si kepala polisi
itu, tatkala sampai di muka pintu pekarangan rumahnya,
ia menampak dua buah singa-singaan batu yang tadinya
ditaruh di kiri-kanan rumah, mendadak berpindah ke
tengah pintu pekarangan tersebut. Maka dengan
mengandangnya kedua singa-singaan ini di tengah jalan
masuk, sudah barang tentu tak dapat ia masuk ke dalam
rumahnya, jikalau singa-singaan tersebut tidak terlebih
dahulu disingkirkan ke tempat lain!
3.15. Jebakan Untuk Kepala Polisi
Jujur Perbuatan ini memang merupakan suatu
rintangan atau kesukaran bagi orang-orang yang
bertenaga kecil, tetapi bagi Ciang Tong yang memang
bertenaga amat kuat, semua ini bukanlah suatu hal yang
perlu diributi sama sekali.
Dari itu, segera juga ia singsingkan lengan bajunya,
pasang bee-sie (kuda-kuda) dan lalu angkat singasingaan
batu itu, yang olehnya lalu dikembalikan pada
tempat asalnya masing-masing dengan tidak banyak
bicara pula! Sesudah menunjukkan sedikit kelihayan itu,
dengan laku yang tenang si kepala polisi lalu
menghampiri pada mereka bertiga, memberi hormat dan
234
menunjukkan roman yang berseri-seri sambil berkata:
„Tuan-tuan, haraplah kamu sekalian sudi memaafkan
atas kelambatanku ini.” (Seolah-olah apa yang telah
terjadi tadi tidak pernah dialaminya sama sekali).
„Setelah sekarang kita saling berhadapan,” ia
melanjutkan omongannya, „belum tahu ada pengajaran
apa pula yang tuan-tuan sekalian hendak sampaikan
kepadaku?”
Kedua orang yang baru datang itu tinggal bungkam
dan hanya mengamat-amati pada kepala polisi itu
dengan mata tidak berkesip, hingga si ho-han yang
melihat „kebungkeman” itu, lalu tampil ke muka dengan
sikap yang sombong dan mata yang menyala-nyala.
„Sebagaimana telah kukatakan pada beberapa hari
yang lampau itu,” demikianlah memulai si ho-han itu,
„aku telah berjanji akan datang pula ke sini. Maka setelah
sekarang kami berada di sini, mengapakah engkau
berbalik berpura-pura meminta pengajaran dari kami?”
Bu Ciang Tong yang mendengar begitu jadi
tersenyum dan berkata: „Oh, kalau begitu, cobalah
engkau beritahukan syarat-syarat apa yang harus
dikemukakan dalam pertempuran ini, agar supaya
sesuatu orang yang kalah bisa merasa rela dan
selanjutnya urusan ini jangan sampai „menjadi
kepanjangan”.”
„Ya, ya, itu aku mufakat,” kata si ho-han. „Tentang
syarat-syarat yang engkau katakan tadi, itulah boleh
dikatakan perlu, juga boleh dikata tidak perlu. Tetapi
pokoknya harus dititik-beratkan kepada kejujuran dan
kepercayaan.
Apabila orang berkelahi dengan jujur dan akhirnya
masih juga kena dikalahkan, maka yang menderita
235
kekalahan pun akan rela mengaku kalah, tetapi jikalau ia
merasa yang ia telah dikalahkan dengn secara curang,
cara bagaimanakah orang bisa terima itu dan urusan itu
lalu disudahi sampai di situ saja?”
„Itu benar, itu benar,” sahut Bu Ciang Tong. „Di
belakang rumahku ini ada sebidang pekarangan yang
agak luas dan baik sekali untuk „berlatih”. Marilah tuantuan
boleh ikut padaku, supaya pertandingan
persahabatan ini bisa kita lakukan di sana.”
Ketiga orang itu lalu menjawab: „Baik,” tetapi dalam
prakteknya ternyata berlainan daripada apa yang telah
mereka katakan itu.
Karena sebegitu lekas Ciang Tong membalikkan
badannya akan mengajak mereka pergi ke pekarangan
tempat berlatih di belakang rumahnya, mendadak ho-han
itu melirik pada kedua orang kawannya sambil memberi
isyarat-syarat dengan kedipan mata. Kedua orang itu
yang lantas mengerti apa maunya isyarat itu, dengan
sebat lalu mencabut badi masing-masing yang
disembunyikan di bawah lipatan kaki celana mereka,
dengan mana mereka lalu menyerang pada kepala polisi
itu dengan tidak banyak bicara pula.
Tetapi Ciang Tong yang memang sudah mendapat
firasat akan „kejadian”, begitu, segera menjatuhkan diri
ke depan sambil berguling di atas jubin sampai beberapa
kali, hingga setelah terluput dari penyerangan yang
curang itu, sambil tertawa menyindir dan melirik pada si
ho-han itu ia lantas berkata: „Oh, oh, apakah ini ada cara
bertempur dengan jujur seperti katamu tadi?”
Si ho-han yang ternyata ada seorang kasar yang
tidak tahu malu, bukan saja tidak mau terima kebaikan
jengekan itu, malah sebaliknya menjadi amat gusar dan
236
membentak: „Bu Ciang Tong! Jangan engkau mengira
bahwa orang gagah di kalangan Kang-ouw hanyalah
engkau seorang saja! Engkau telah tidak memandang
mata pada kawan-kawan kami dan menganggap bahwa
jiwa mereka itu adalah jiwa- jiwa semut! Engkau tangkapi
dan bunuhi mereka itu dengan secara kejam, walaupun
tahu bahwa di antara engkau dan mereka tak pernah
terbit permusuhan apa-apa!”
„Engkau jangan melantur!” membentak Ciang Tong
dengan hati mendongkol. „Kamu juga tentu telah ketahui,
bahwa tugasku sebagai seorang polisi adalah untuk
menjaga keamanan dan membasmi kejahatan yang
bersifat mengacau kepada ketertiban umum dan
kesejahteraan di dalam negeri. Kamu sekalian tidak
mengindahkan ini semua dan mengacau kian-kemari
dengan jalan melakukan perampokan-perampokan atau
pembunuhan-pembunuhan yang ganas terhadap pada
anak-anak negeri yang telah mencoba untuk
mempertahankan harta-benda mereka yang kamu
hendak kangkangi, dengan kamu sekalian sama sekali
tidak pernah memikirkan betapa sukar dan payahnya
mereka telah mengumpulkan itu sedikit demi sedikit,
sehingga akhirnya menjadi suatu jumlah yang besar dan
cukup untuk membiayai penghidupan mereka di hari tua.
„Tetapi kamu sekalian orang-orang malas dan tidak
berbudi, hanya memikirkan keuntungan diri sendiri saja,
sehingga dengan begitu, kamu tidak memikirkan sama
sekali tentang akibat-akibat dan kerugian- kerugian yang
bakal dialami oleh orang lain. Oleh sebab itu, ada apakah
salahnya apabila aku sebagai alat negara mengambil
tindakan-tindakan yang tegas untuk menunaikan
kewajiban yang negara telah percayakan kepadaku?”
237
Si ho-han yang mendengar omongan itu, bukan main
marahnya dan lalu menerjang pada Ciang Tong dengan
dibantu oleh kedua orang kawannya yang masingmasing
bersenjatakan badi-badi tadi.
Sementara Ciang Tong yang memang bukan seorang
yang biasa mundur dalam hal bertempur dengan musuh,
dengan gagah lalu menyambut serangan itu dengan
menggunakan siasat Khong-siu-jip-pek-jim, serupa ilmu
pukulan tangan kosong, yang biasa dipergunakan untuk
bertempur dengan musuh-musuh yang bersenjatakan
golok atau barang-barang tajam lain.
Ilmu pukulan tersebut oleh karena gerakangerakannya
amat cepat, sudah barang tentu telah
membikin ketiga penjahat itu jadi bingung sendiri, hingga
semakin lama mereka jadi semakin kewalahan, dan
akhirnya salah seorang di antaranya telah kena
ditendang dan jatuh terpental ke suatu tempat yang
terpisah kira-kira beberapa belas kaki jauhnya.
Orang yang kedua telah dibikin tidak berdaya karena
badi-badi yang dicekalnya telah ditendang begitu rupa,
sehingga menancap pada papan loteng yang tingginya
tidak kurang dari duapuluh kaki! Maka kedua orang itu
yang mengerti, bahwa mereka bukanlah orang-orang
yang setimpal akan menjadi lawan kepala polisi itu, buruburu
keluarkan „ilmu langkah seribu” dan terus melarikan
diri dari dalam ruangan rumah itu, dengan meninggalkan
si ho-han sendirian bertempur dengan Bu Ciang Tong,
yang sudah terang bukan lawannya yang seimbang
dalam pertempuran yang maha dahsyat itu.
Dan ketika pertempuran itu baru saja berlangsung
beberapa jurus lamanya, ho-han itu ternyata cuma bisa
menangkis, tetapi tak mampu membalas untuk
menyerang kepada musuhnya.
238
Ia mengeluh di dalam hati dan sesambat untuk
meminta bantuan yang tidak kelihatan dari para
sedereknya yang telah tewas jiwanya di tangan kepala
polisi yang ilmu kepandaiannya sangat lihay itu, tetapi
kenyataan telah membuktikan. bahwa semua itu adalah
sia-sia belaka.
Ia tak dapat mempertinggi ilmu kepandaiannya yang
memangnya sangat terbatas dan kalah jauh dengan
pihak lawannya! Akhir-akhirnya karena telah merasa tak
sanggup akan meladeni bertempur pada Bu Ciang Tong
terlebih lama pula, maka ho-han itu lalu mencari
„lowongan” untuk meloloskan diri dengan jalan
mempergunakan segala ilmu pukulan yang ia ketahui
dan cukup berbahaya, tetapi ternyata bagi Ciang Tong
semua itu hanya merupakan sebagai pukulan-pukulan
yang hampir tak ada artinya sama sekali.
Hal mana, keruan saja, telah membikin si ho-han jadi
semakin bingung, semakin kalut pikirannya untuk
mencari jalan akan meloloskan diri dengan jalan yang
tercepat tetapi selamat, walaupun ia telah mencoba
segala cara dengan sedapat mungkin dan dengan
sekuat-kuat tenaganya.
Sementara Ciang Tong yang melihat tegas kesibukan
pihak musuhnya, bukan saja tidak membiarkan dia
dengan begitu saja, malah sebaliknya ia merangsak
terus-terusan dengan mempergunakan ilmu-ilmu pukulan
yang gerakan-gerakannya amat cepat dan sukar diduga.
Maka selagi si ho-han itu telah hampir tidak berdaya
pula, kepala polisi itu lekas maju menendang sambil
membentak: „Pergilah engkau dari hadapanku!”
Si ho-han buru-buru mencoba akan berkelit, tetapi
usaha ita bukan saja telah gagal, malah sebaliknya ia
sendiri telah terpental dan kena menubruk dinding
239
tembok yang segera jadi gugur dan berlubang, dan
berbareng dengan terdengarnya satu suara jeritan ngeri,
si ho-han itupun telah jatuh ke jalan raya dengan melalui
lobang tembok yang telah ditomploknya sehingga
berlubang itu! Ketika Ciang Tong memburu dan menoleh
keluar lubang tembok itu, ternyata si musuh telah
menghilang entah kemana perginya!
Sekarang kita ajak para pembaca menilik pada Capek-
sin-kauw Ngay Houw Cun, yang usahanya selalu
gagal untuk mencelakai jiwa kepala polisi she Bu itu.
Setelah beberapa kalipun tak berhasil ia melakukan
penyerangan gelap untuk membinasakan jiwa musuh
besarnya itu, akhirnya ia insyaf, bahwa untuk berurusan
pada Ciang Tong dengan memakai kekerasan, biar
bagaimana juga ia tentu tak akan berhasil. Dari itu, ia
lantas „putar kemudi” untuk mencelakai Ciang Tong
dengan jalan halus, terutama mempergunakan tenaga
orang-orang dalam yang bekerja di kantor kebupaten
Ham-yang sendiri.
Pada suatu waktu bupati lama dari Ham-yang telah
dinaikkan pangkat dan dipindahkan untuk diperbantukan
dalam pekerjaan di ibukota.
Bupati ini karena mempunyai perhubungan yang erat
dengan Ciang Tong, maka ia telah coba menganjurkan
agar supaya kepala polisi itu mengikuti dan
membantunya dalam pekerjaannya yang baru itu, tetapi
Ciang Tong yang merasa berat untuk meninggalkan
tanah tumpah darahnya, sudah lantas menyatakan
menyesal tak dapat mengabulkan permintaan sepnya itu,
buat mana sang bupati pun merasa amat menyesal dan
terpaksa berangkat ke ibukota sambil tidak lupa
berpesan kepada si kepala polisi, agar supaya sewaktu240
waktu kalau kebetulan dalam perlop pergi berkunjung ke
tempat kediamannya di ibukota.
Ciang Tong berjanji akan berbuat begitu. Maka
dengan saling mengucurkan air mata, sep dan pegawai
yang telah bekerja sama hampir duapuluh tahun lamanya
itu telah saling berpisahan dari satu dengan yang
lainnya, setelah di gedung kabupaten diadakan
perjamuan makan minum sebagai tanda perpisahan
antara si bupati dan sekalian pegawai- pegawainya
dalam kabupaten Ham-yang itu.
Sekarang kita berkenalan dengan bupati baru yang
bernama An Hun Ie.
Bupati ini adalah seorang hartawan yang telah
mendapatkan pangkatnya dengan jalan menyogok pada
pembesar-besar tinggi yang berpengaruh besar di
Kotaraja.
Ia ini bukan orang terpelajar, juga bukan seorang
yang pandai timbang-menimbang segala perkara dengan
secara bijaksana.
Jikalau sewaktu-waktu dapat juga ia mengurus
pekerjaannya dengan baik, itulah bukan karena baiknya
rencana yang keluar dari otaknya sendiri, hanyalah
berkat kecerdikan pegawainya yang ia sengaja telah
sewa tenaganya buat mengurus segala pekerjaan di
kantor kabupaten. Maka biarpun ia sendiri disebut
seorang bupati, tetapi sebenarnya ia tak bekerja sama
sekali, juga tak mengerti bagaimana seluk-beluknya
pekerjaan serta tugas seorang bupati, dari itu, lebih tepat
dia dinamakan „bupati tetiron”, daripada bupati yang
memang karena kepandaiannya telah diangkat dengan
secara resmi oleh pemerintah negeri.
241
Maka pada waktu kabar tentang penggantian bupati
itu sampai ke telinga Cap-ek-sin-kauw Ngay Houw Cun,
buru-buru ia kirim beberapa orang mata- matanya buat
mencari tahu bagaimana sikap dan sepak-terjang bupati
baru itu.
Tidak berapa lama kawanan mata-mata itu telah
kembali dan melaporkan pada Houw Cun, bahwa „bupati
An itu adalah seorang yang temaha pada harta benda
dan mudah „ditempel dengan menggunakan pengaruh
uang”, hingga si kepala kampak yang mendengar
laporan begitu, dengan hati amat girang ia lantas
menggebrak meja sambil berkata: „Nah, inilah ada ketika
yang terbaik untuk memfitnah pada jahanam she Bu itu!”
Lalu ia menyamar sebagai seorang hartawan besar,
dan dengan membawa bingkisan berharga ia berkunjung
ke gedung bupati, dengan alasan untuk berkenalan serta
memberi selamat atas keangkatan Hun Ie sebagai bupati
baru di kota Ham-yang itu.
An Hun Ie yang lebih perhatikan bingkisan orang
daripada mencari tahu siapa dan dengan maksud apa
orang telah memberikan bingkisan itu kepadanya, tentu
saja lantas menyambut kepala kampak itu dengan
berpura-pura, mengatakan. „sudah lama mendengar
nama Houw Cun yang dermawan di daerah Ham-yang,”
biarpun sebenarnya ia tidak pernah dengar ataupun
kenal nama samaran „Thio Sin” yang telah dipergunakan
Houw Cun itu!
Maka dengan menggunakan pengaruh uang dan
hadiah-hadiah yang mahal harganya kepada bupati
bangpak dan orang sebawahannya yang ternyata juga
ada dari satu kaliber, dengan cepat Houw Cun telah bikin
dirinya populer di kantor kabupaten itu, hingga
242
selanjutnya ia bisa keluar masuk di kantor tersebut
bagaikan di rumahnya sendiri.
Pada suatu hari seorang siu-cay she Gouw dari
kecamatan Nouw-tam-lie telah datang ke kantor
kabupaten buat mengadu, bahwa pada malam kemarin
sebuah mustikanya yang bernama Ya-beng- cu telah
dicuri orang.
Mustika itu walaupun hanya sebesar telur burung
merpati saja, tetapi khasiatnya amat besar dan dapat
menerangi segala sesuatu yang ditaruh dalam sebuah
kamar yang gelap gelita, oleh karena itu, tidak heran
jikalau ia amat sayang dan bingung sekali tatkala
mengetahui bahwa mustika kesayangan hatinya itu telah
hilang.
„Berapa besar harganya mustika itu,” begitulah ia
mengadu di hadapan bupati An Hui Ie, „itulah
sesungguhnya belum ada seorang pun yang mampu
menaksirnya. Karena menurut cerita orang, mustika
hamba itu adalah sebuah mustika masyhur yang pernah
dipergunakan oleh kaisar Korya (Korea) sebagai
pembayaran upeti, ketika kaisar Tong Thay Cong Lie Sie
Bin menyerbu ke semenanjung Korea.”
Maka An Hun Ie yang mengingat bahwa peristiwa itu
telah terjadi di daerah lingkungannya juga, tentu saja ia
lantas panggil Bu Ciang Tong buat diajak berembuk, cara
bagaimana baiknya untuk mengurus perkara pencurian
ihi.
Tetapi karena pencurian itu telah dilakukan dengan
amat sempurna, maka Ciang Tong jadi bingung dan lalu
minta permisi buat pergi tengok sendiri ke rumah Gouw
Siu-cay. Karena selain ia bisa lihat di bagian mana
letaknya rumah itu, iapun bisa sekalian menyelidiki juga
243
bekas-bekasnya, cara bagaimana si pencuri telah
melakukan pekerjaannya.
Bupati mengabulkan dengan suatu perjanjian, bahwa
biar bagaimana juga, Ciang Tong harus bisa bekuk
pencurinya. Karena, sebagai seorang pembesar baru
yang datang menjabat pangkatnya di kabupaten itu, ia
merasa akan kecewa, apabila perkara yang begitu kecil
tidak dapat dibikin terang.
Bu Ciang Tong berjanji akan bekerja dengan sekuatkuatnya
tenaga, guna membikin terang muka orang yang
menjadi seatasannya. Kemudian ia kerahkan seluruh
tenaga kepolisian yang berada di bawah penilikannya,
agar supaya perkara pencurian itu bisa lekas dibikin
terang, dengan pencurinya sendiri dibekuk buat diberikan
hukuman yang set impal dengan perbuatannya.
Tetapi karena belakangan baru ternyata bahwa si
pencuri tidak meninggalkan bekas, sebagaimana
kebiasaan peristiwa-peristiwa yang bersangkut-paut
dengan pencurian, maka diam-diam Ciang Tong jadi
bercuriga, kalau-kalau pengaduan Gouw Siu-cay itu
suatu pengaduan yang palsu belaka. Tetapi ia tak
menyangka sama sekali, bahwa Gouw Siu-cay itu adalah
seorang samaran dari salah seorang gundal Cap-ek-sinkauw
Ngay Houw Cun, yang memang telah sengaja
berbuat begitu untuk mempersukar dan kemudian
membuka jalan ke arah kecelakaan bagi diri kepala polisi
she Bu itu! Maka setelah penyelidikan itu telah dilakukan
dengan susah-payah sehingga setengah bulan lamanya
dengan tidak mengasih hasil yang diinginkan, Bu Ciang
Tong jadi amat jengkel dan tak tahu lagi apa yang harus
diperbuatnya selanjutnya.
Sementara Cap-ek-sin-kauw yang telah diberi kabar
oleh kaki tangannya tentang kejadian ini, segera dengan
244
secara diam-diam ia pergi menjumpai bupati she An itu,
kepada siapa ia memberikan kisikan bahwa pencuri
mustika Ya-beng-cu itu makanya sukar ditangkap adalah
karena pencurinya bukan lain daripada Bu Ciang Tong
sendiri! Maka An Hun Ie yang lebih percaya omongan
Ngay Houw Cun daripada keterangan-keterangan yang
didapat dari Bu Ciang Tong sendiri, sudah tentu saja
lantas mau percaya kebenarannya omongan si kepala
kampak itu. Apalagi jikalau menilik laporan-laporan yang
sudah-sudah tentang pekerjaan kepala polisi ini yang
begitu aktif dan belum pernah gagal, orang segera bisa
kemukakan kesimpulan-kesimpulan, walaupun
kenyataan mengunjuk dengan tegas, bahwa Ciang Tong
bukan seorang yang boleh direndengkan namanya
dengan segala kawanan pencuri atau penjahat yang
hina-dina.
Tetapi Hun Ie yang telah dibutakan matanya dengan
harta dan emas, bukanlah seorang dengan siapa kita
boleh bicara tentang liang-sim ataupun ceng-lie, karena
segala keputusan-keputusan yang menurut kata hati
orang benar dan bijaksana, itu semua seolah-olah telah
dihapuskan seluruhnya dari dalam kamus yang
tersimpan di batinnya manusia busuk ini.
Oleh karena berpendapat bahwa dia mempunyai
pengaruh besar di seluruh kabupaten Ham-yang itu,
maka tak segan-segan ia memutar balikkan perkara, dari
yang hitam sehingga berubah menjadi putih dan
begitupun sebaliknya.
Demikian juga dalam hal memberikan pertimbangan
terakhir atas Bu Ciang Tong yang telah bekerja sampai
puluhan tahun lamanya sebagai kepala polisi, hingga
dengan tidak memikirkan pada jasa-jasa besar yang
telah diperolehnya selama itu, Hun Ie segera perintah
245
orang buat tangkap padanya sebagai seorang pencuri,
biarpun ia ketahui, bahwa tidak semua omongannya
Houw Cun itu boleh dipercaya.
Berita tentang ditangkapnya Ciang Tong yang
disangka sebagai pencuri, sudah tentu telah menerbitkan
kegemparan besar di seluruh kabupaten Ham-yang.
Bagi pihak musuh-musuhnya kepala polisi itu, berita
ini telah disambut dengan bertampik sorak saking
kegirangan, tetapi bagi pihak kawan-kawan dan orangorang
yang bersimpati kepadanya, berita itu telah
disambut dengan kemarahan yang sukar dilukiskan
dengan perkataan.
Bukan saja mereka menyomel dan mengutuk pada
bupati jahanam itu, tetapi juga mereka segera menuju ke
kantor kabupaten untuk memprotes dan minta supaya
Ciang Tong yang tidak berdosa itu segera dibebaskan
dari dalam tahanan, hingga Hun Ie yang memang berhati
penakut dan kuatir akan rombongan orang-orang yang
datang memprotes itu menerbitkan keributan, sudah
tentu saja segera kirim beberapa orang yang pandai
bicara buat membujuk pada mereka dan coba
menerangkan duduknya perkara.
Ciang Tong yang telah ditahan, kata utusan-utusan
dari kabupaten itu, bukanlah dianggap atau diperlakukan
sebagai seorang tahanan biasa. Karena sebagai seorang
kepala polisi yang sudah kawakan dan memperoleh
banyak jasa dalam pekerjaannya, nyatanya hanya
namanya saja ia ditahan, padahal di kabupaten ia tetap
dihormati dan dirawat sebagai seorang tetamu agung.
Malah bupati sendiri tidak percaya, melanjutkan
mereka, bahwa Ciang Tong ada turut campur dalam
pencurian mustika Ya-beng-cu miliknya Gouw Siu-cay
246
itu. Maka jikalau karena tuduhan itu Ciang Tong telah
ditahan juga, itulah ada maksud lain yang dikandung oleh
bupati, guna melancarkan jalannya penyelidikan dan
guna kebaikannya kepada polisi itu sendiri.
„Sayang kami tak dapat menerangkan semua
maksud bupati dengan secara terang-terangan,” kata
mereka pula, „hingga hanya sekian saja yang kami dapat
sampaikan kepada tuan-tuan sekalian. Sedangkan apa
yang terjadi selanjutnya kami persilahkan supaya tuantuan
suka menunggu dengan sabar, dengan mana kami
percaya tuan-tuan pasti akan merasa puas dengan cara
pemeriksaan yang akan dilakukan oleh bupati kita
dengan sebijaksana-bijaksananya.”
Oleh karena mendengar keterangan begitu, maka
orang banyakpun kelihatan mau percaya dan segera
pada bubaran dengan tidak menerbitkan keributan
ataupun mengunjuk sikap yang penasaran sebagaimana
pada waktu tadi mereka datang ke situ.
Sekarang kita ajak para pembaca untuk membalik
tabir yang menyelimuti peristiwa yang bersangkut- paut
dengan penangkapan dan penahanan diri Bu Ciang Tong
yang bernasib malang itu.
Sebagaimana di bagian atas telah kita tuturkan
dengan panjang lebar, kepala polisi she Bu itu adalah
seorang murid jempolan dari cabang Ceng-leng-sie di
Ngo-tay-san, yang ilmu kepandaiannya sudah lama
dikenal di kalangan jago silat di daerah barat-laut
Tiongkok.
Oleh sebab itu, para pembaca tentu hendak
bertanya, cara bagaimanakah seorang yang ilmu silatnya
begitu tinggi bisa ditangkap dan ditahan tanpa melawan
serta dalam cara yang begitu gampang sekali?
247
Hal ini memang perlu diterangkan sedikit untuk tidak
membingungkan kepada para pembaca.
Semenjak An Hun Ie mendapat anjuran akan
menangkap pada Bu Ciang Tong yang dituduh mencuri
mustika Ya-beng-cu milik Gouw Siu-cay oleh Cap-ek-sinkauw
Ngay Houw Cun, bupati jahanam ini selalu putar
otak cara bagaimana buat melakukan pekerjaan itu
dengan suatu risiko yang sekecil- kecilnya, tetapi akan
dapat menarik keuntungan yang sebesar-besarnya
dengan tak usah mengalamkan kerusuhan apa-apa.
Tetapi setelah berapa orang kepercayaannya
ditanyakan pikirannya dan tidak juga dapat memecahkan
persoalan ini, lalu ia undang Houw Cun buat coba
mengunjukkan ia suatu jalan yang didasarkan atas
anjuran yang telah keluar dari otak si kepala kampak itu.
Houw Cun yang merasa telah diberikan ketika
seluas- luasnya untuk membikin pembalasan kepada
musuhnya itu, tentu saja jadi sangat girang dan lalu
mengatur suatu muslihat keji.
Mula-mula ia mengatakan, bahwa Bu Ciang Tong itu
bukan hanya pada kali itu saja melakukan kejahatan,
tetapi sudah banyak kali, tetapi karena orang takut
kepadanya, maka rahasia itu orang tak berani
sembarangan siarkan di luaran, berhubung kuatir dengan
pembalasan-pembalasan hebat yang juga mungkin akan
dilakukan oleh kepala polisi itu dan komplotannya yang
berjumlah bukan sedikit.
Sebagai salah satu bukti yang paling nyata, Houw
Cun telah mengalihkan pandangannya kepada kekayaan
Bu Ciang Tong yang tidak sedikit jumlahnya, yang
sebenarnya telah diperolehnya sebagai warisan dari
ayahnya almarhum, tetapi oleh si kepala kampak itu
248
dikatakan telah dapat dikumpulkan dari perampokan,
pencurian, dan sumber-sumber lain yang tidak halal.
Lebih jauh Houw Cun menambahkan, bahwa karena
bupati itu ada seorang baru, maka tidak heran jikalau ia
belum ketahui tentang adanya peristiwa-peristiwa tidak
baik yang pernah dilakukan oleh kepala polisi itu pada
masa yang lampau. Tetapi lain halnya bagi dirinya
sendiri, yang memang sudah sedari lama menjadi salah
seorang penduduk kabupaten Ham- yang, juga telah
ketahui jelas rahasia-rahasia ini dari sumber-sumber
yang sangat boleh dipercaya.
Maka jikalau Ciang Tong ditangkap dan dijatuhi
hukuman berat, bukan saja si bupati bisa dianggap
berjasa terhadap negeri dan kesejahteraan kabupaten
Ham-yang, tetapi berbareng ia bisa sita harta benda Bu
Ciang Tong yang jumlahnya bukan sedikit itu.
„Semua orang suka uang dan harta-benda,” Houw
Cun berbisik di telinga bupati jahanam itu. „Maka setelah
Tay-jin sita harta bendanya Bu Ciang Tong, ada apakah
salahnya kalau harta benda itu Tay-jin ambil semua atau
sebagian untuk keperluan sendiri?
Dalam pensitaan Tay-jin boleh menggunakan „atas
nama negeri”, tetapi dalam „praktek” toh orang akan
ambil pusing atau hendak mencari tahu lebih jauh
„kemana perginya” harta sitaan itu, bukan?”
An Hun Ie yang kemaruk harta benda jadi sangat
girang ketika mendengar anjuran sahabatnya itu.
„Engkau ini sesungguhnya ada seorang yang pandai
dan cerdik sekali!” katanya. „Aku sama sekali tak pernah
pikir, bahwa hal ini bisa dengan secara langsung
menguntungkan kepada diriku sendiri. Maka apabila
pekerjaan ini sesungguhnya telah berhasil menurut
249
ikhtiarmu tadi, aku tentu tak akan melupakan atas jasajasamu
yang bukan kecil itu.”
Tetapi Houw Cun selalu merendahkan diri dan
mengatakan, bahwa semua itu bukanlah menjadi
tujuannya akan ia „mengikut untung” dalam pensitaan
hartanya Bu Ciang Tong itu. Karena ia sendiripun,
katanya, „tidak membutuhkan harta, berhubung
kekayaannya sendiri tidak akan habis dimakan,
walaupun, diibaratkan, ia bisa hidup sehingga seratus
tahun lamanya.”
„Tetapi belum tahu cara bagaimana kita harus
menangkap Bu Ciang Tong itu?” bertanya si bupati
jahanam kepada kepala kampak itu.
„Bu Ciang Tong ini adalah seorang yang keras kepala
dan tidak gampang ditaklukkan,” kata Ngay Houw Cun.
„Maka cara yang terbaik untuk menangkap kepadanya,
adalah Tay-jin di sini pura-pura mengadakan suatu
perjamuan makan minum, dimana Tay-jin boleh undang
padanya serta berikan ia minuman arak yang berisikan
Bong-han-yo, agar supaya dengan begitu, ia bisa dibikin
tidak berdaya dan terus diringkus serta dijebloskan ke
kamar tahanan. Itulah ada tindakan pertama yang Tay-jin
perlu ambil.
3.16. Penjahat Merangkap Kepala Polisi Rahasia
“Apabila kemudian ia sudah dapat ditangkap, Tay-jin
boleh perintahkan orang lobangi bagian tulang yang
menghubungkan antara bagian bahu dan badan. Pada
bagian lobang itu boleh dipasangi rantai yang
membelenggu sekujur badannya, sehingga dengan
begitu, walaupun ia punya sayap buat terbang, niscaya ia
tak akan mampu lagi buat meloloskan dirinya. Ia boleh
250
bicara besar sebelum ia mengalami kejadian itu, tetapi
Tay-jin boleh saksikan bagaimana lagaknya kalau ia
nanti sudah mengalami „pengajaran” itu.”
Begitulah Houw Cun akhiri pembicaraannya sambil
tertawa bergelak-gelak. Hal manapun diturut juga oleh si
bupati jahanam itu.
Begitulah dengan menuruti muslihat busuk yang ia
telah dapat dari ajaran kepala kampak itu, An Hun Ie lalu
mengadakan perjamuan makan minum di antara kaum
seterunya, dengan Bu Ciang Tong yang terhitung
sebagai „orang luar” adalah orang satu- satunya yang
diundang dalam perjamuan tersebut.
Mula-mula Ciang Tong tidak tahu bakal dijebak oleh
sepnya sendiri.
Tahu-tahu ketika ia minum tiga cangkir arak dan
mendadak merasakan langit dan bumi seolah-olah
berputar, barulah ia separuh curiga bahwa diadakannya
perjamuan itu tentulah ada mengandung maksud apaapa
yang tersembunyi. Tetapi ia sama sekali tidak
menyangka, kalau-kalau hal itu ada sangkut-pautnya
dengan hal-hal lain yang akan membawa dirinya ke arah
kecelakaan dan kemusnaan diri dan rumah tangganya.
Hal mana, baru ia ketahui jelas ketika ia mendusin dari
mabuknya dan merasakan sakit yang amat hebat ketika
tulang kipasnya dilubangi dan dipasangi rantai-rantai
yang kuat! Maka dari itu, jangankan mau berontak untuk
meloloskan dirinya, sedangkan untuk bergerak saja ia
sudah tidak bebas daripada perasaan sakit.
Sementara An Hun Ie yang sekarang telah
menyaksikan Ciang Tong telah diborgol dan tidak
berdaya lagi untuk membikin perlawanan, tidak tempo
lagi segera membuka persidangan buat memeriksa
251
perkara Bu Ciang Tong yang dikatakan telah mencuri
mustika Ya-beng-cu milik Gouw Siu-cay dari kecamatan
Nouw-tam-lie.
Tetapi karena merasa tak pernah melakukan
kejahatan itu, sudah tentu saja Ciang Tong menyangkal
keras atas semua tuduhan itu.
Maka si bupati jahanam yang tidak berhasil buat
membikin Ciang Tong mengakui „kedosaannya”, dengan
gusar lalu mempergunakan segala macam alat
pengompres yang paling hebat untuk memaksa
memperoleh berbagai keterangan yang diinginkannya.
Dan setelah kewalahan buat memaksa kepala polisi
itu akan mengaku sebagai pencuri, Hun Ie perintah opas
kabupaten buat menjebloskan Ciang Tong ke dalam
tahanan.
Dan ketika berselang beberapa hari lamanya,
kembali pemeriksaan dilanjutkan. Tetapi karena
mengingat bahwa tuduhan busuk itu ada sangkutpautnya
dengan nama baiknya, sudah barang tentu
Ciang Tong tidak sudi mengaku dengan begitu saja,
walaupun ia merasakan dirinya sudah hampir tidak tahan
karena saban-saban mesti mengalami pengompresanpengompresan
yang amat hebat.
Lama-lama, karena tidak mendapat perawatan baik
selama berada dalam tahanan, maka Ciang Tong telah
jatuh sakit dan akhirnya menutup mata dengan
meninggalkan seorang isteri dan seorang gadis remaja
yang bernama Liu Sian. Dan tatkala harta bendanya
disita „atas nama negeri” dan dikatakan telah dapat
dikumpul dengan jalan yang tidak halal, kemudian telah
dikangkangi oleh si bupati jahanam, hingga isteri dan
puteri Ciang Tong yang bernasib malang dan terusir
252
keluar dari rumah tangganya, terpaksa hidup terluntalunta
di luaran dengan hanya mendapat tunjangan yang
tidak seberapa dari kawan-kawan dan handai taulan
yang mempunyai perhubungan baik semasa hidupnya
kepala polisi itu.
Maka sesudah ibunyapun telah meninggal juga
karena mereras, Liu Sian jadi hidup sebatang kara dan
terpaksa menyingkir ke tempat sunyi untuk berikhtiar
akan menuntut balas pada si bupati jahanam yang telah
menjadi gara-gara dari kematian ayah-bunda dan
keruntuhan rumah tangganya itu Liu Sian ini sejak masih
anak-anak memang pernah meyakinkan ilmu silat di
bawah pimpinan ayahnya sendiri, tetapi karena
mengingat bahwa Liu Sian hanya ada seorang
perempuan saja, maka Ciang Tong tidak terlalu
mengutamakan untuk mendidik sang puteri buat menjadi
seorang ahli silat besar sebagai dirinya sendiri.
Di tempat sunyi yang dikunjunginya itu, Liu Sian
beruntung bisa menumpang tinggal di dalam sebuah
rumah berhala kecil yang ditinggali oleh beberapa orang
paderi perempuan. Oleh karena kepada mereka Liu Sian
telah menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang
maksud tujuannya yang hendak melakukan pembalasan
sakit hati kepada musuh-musuhnya, maka para nikouw
yang merasa simpathi kepadanya telah menganjurkan
supaya si nona suka berlatih ilmu silat dengan rajin untuk
dapat melaksanakan maksud yang dikandung di dalam
hatinya itu.
Di situ Liu Sian menumpang tinggal baru saja kirakira
sebulan lamanya, ketika ia mendengar An Hun Ie
telah dinaikan pangkat menjadi residen dan diunjuk kota
Hang-ciu sebagai tempat kedudukannya.
253
Si nona yang mendengar kabar begitu, tentu saja jadi
heran tercampur menyesal di dalam hatinya.
Yang pertama-tama ia tidak mengerti cara
bagaimana bupati jahanam itu bisa begitu lekas naik
pangkat, berhubung ia sebagai seorang perempuan yang
tidak tahu tentang kebusukan-kebusukan di kalangan
pemerintah di jaman penjajahan itu, tidak mengetahui
sama sekali bahwa pangkat itu bisa dibeli, sedangkan
rasa menyesalnya adalah karena kedudukan sang
musuh telah menjadi semakin jauh dan di sebuah kota
yang lebih besar daripada Ham- yang, maka sudah
barang tentu maksudnya akan membikin pembalasan
akan menjadi semakin sukar.
Tetapi para nikouw yang kemudian mengetahui
tentang rahasia hati si nona pada menghibur dengan
mengatakan, bahwa Thian Yang Maha Kuasa pasti akan
melindungi dan bantu melaksanakan pekerjaan seorang
anak berbakti yang hendak menuntut balas untuk orang
tuanya yang difitnah orang dengan secara keji dan tanpa
melakukan sesuatu kedosaan.
Hal mana, ternyata dapat juga menolong untuk
meringankan rasa penyesalan Liu Sian yang bernasib
malang itu.
Tatkala ia menumpang tinggal di rumah berhala itu
kira-kira beberapa bulan lamanya, pada suatu hari si
nona telah menyatakan pikirannya pada nikouw tua yang
menjadi pengurus rumah berhala itu, bahwa di hari esok
ia akan berangkat ke kota Hang-ciu guna membikin
pembalasan pada An Hun Ie yang menjadi musuh
besarnya.
Tetapi maksud itu lantas dicegah oleh si nikouw
dengan mengatakan: „Nona, aku bukan hendak
254
merintangi niatanmu, juga bukan karena tidak percaya
dengan kepandaianmu yang kita pernah saksikan di
waktu engkau berlatih sehari-hari aku hanya kuatir
karena engkau ada seorang perempuan dan hanya
seorang diri saja, tentunya engkau tak mempunyai
kekuatan cukup akan melakukan pekerjaan yang
sesungguhnya bukan gampang itu.
Lain halnya jikalau maksudmu itu mendapat
tunjangan dari beberapa orang pandai yang bersatu hati,
memanglah banyak kemungkinan engkau akan berhasil.
Kalau tidak, rasanya paling betul supaya kau bersabar
dahulu sehingga beberapa bulan lagi, agar dengan
begitu, aku bisa membantu engkau berikhtiar lebih jauh
cara bagaimana pekerjaan ini harus diaturnya.”
Tetapi Liu Sian yang sudah merasa tidak sabar lagi
buat menunggu-nunggu, lalu mengatakan yang ia sangat
menyesal tidak bisa turuti omongan nikouw yang baik
hati itu. Karena selain ia telah mengambil keputusan,
untuk melakukan pekerjaan yang sangat berbahaya itu,
iapun telah bersumpah akan tidak mau hidup bersamasama
dengan orang yang menjadi musuh besarnya itu.
Jika umpama percobaannya itu gagal, ia tidak melihat
ada jalan lain baginya daripada kematian, walaupun ia
belum bisa meramalkan dengan pasti, apa ia akan mati
di tangan orang lain atau mati karena membunuh dirinya
sendiri.
Maka nikouw tua tadi yang mendengar omongan si
nona, dengan mata mengembeng air karena terharu lalu
berkata: „Nona, engkau ini sesungguhnyalah ada
seorang gadis yang berhati keras bagaikan baja! Aku di
sini hanya bisa bantu berdoa agar supaya Tuhan Yang
Maha Kuasa melindungi dirimu dalam tugasmu yang suci
itu.”
255
Hal mana, dengan tak dapat. ditahan lagi, Liu Sian
jadi menangis tersedu-sedu.
◄Y►
Ketika cuaca baru saja terang tanah, si nona telah
bangun dan berdandan sebagai seorang gadis desa
yang hendak masuk kota untuk mencari nafkah atau
berburuh.
Maka setelah meminta diri pada nikouw tua dan
berlalu dari rumah berhala itu dengan menggendong
pauw-hok yang di dalamnya disembunyikannja sebilah
golok, Liu Sian lalu menuju ke kota Hang-ciu dengan
mengambil jalan di tempat sunyi yang jarang dilalui
manusia. Karena jikalau sampai dikenali oleh orangorang
yang menjadi kaki tangan pihak musuhnya, bukan
saja maksudnya akan jadi gagal, malah dirinya
sendiripun tidak mustahil akan ditangkap dan mengalami
nasib yang bersamaan dengan ayahnya yang telah
marhum itu.
Begitulah pada suatu hari Liu Sian telah sampai
dengan selamat di luar kota Hang-ciu.
Disini karena ia mendapat pikiran bahwa berpakaian
cara lelaki adalah lebih leluasa daripada dengan secara
terang-terangan berpakaian sebagaimana apa yang
dikenakannya sekarang ini, maka ia lantas membeli
seperangkap pakaian pria yang kiranya cocok untuk
dikenakan olehnya. Setelah pakaian ini dikenakannya di
suatu tempat yang sunyi, barulah ia menuju ke dalam
kota dan mencari rumah penginapan untuk dijadikan
„pokok operasinya”, dari mana dengan secara diam-diam
ia hendak menuju ke gedung residen untuk melakukan
pembalasan terhadap pada pembesar jahanam itu, yang
256
telah menerbitkan kemusnahan dan keruntuhan bagi
rumah tangganya, yang dahulu dirasakannya amat
beruntung dan tenteram di dalam dunia ini.
Maka persoalan itu semakin dipikirkan di dalam
hatinya, Liu Sian jadi semakin jengkel dan sedih,
sehingga ketika ia berdiam beberapa hari lamanya di
kota Hang-ciu dan mengetahui dimana letaknya kantor
residen yang hendak disatroninya itu, pada suatu malam
ia telah keluar dari rumah penginapan dengan diam-diam
dan terus menuju ke kantor tersebut dengan berpakaian
ringkas dan membekal golok yang ia selalu bawa dalam
perjalanannya.
Tetapi karena ia bukan seorang yang biasa
melakukan pekerjaan-pekerjaan yang meminta
ketabahan hati sampai begitu jauh, sudah tentu saja ia
jadi keder juga akan segera mulai bertindak menurut
rencana yang telah dipikirkannya sekian lama itu,
terutama ketika melihat penjagaan yang diatur begitu
rapih dan sempurna di sekitar gedung residen tersebut
yang akan dijadikan sasarannya itu.
Maka jikalau mula-mula ia telah membayangkan akan
membalas kepada musuhnya dengan cara ini atau itu
yang agak muluk-muluk buat melampiaskan sakit
hatinya, adalah sekarang ia jadi mundur maju dan buat
beberapa saat lamanya tampak ragu-ragu, karena tak
tahu bagaimana yang harus diperbuatnya selanjutnya.
Begitulah selagi memutar otak dengan perasaan
sedih dan penasaran di suatu pelosok yang gelap di luar
pagar tembok gedung keresidenan, mendadak si nona
mendengar dua orang penjaga malam beromong- omong
sambil duduk mengisap hun-cwee di sebelah pagar
tembok dimana ia bersembunyi.
257
Salah seorang antara penjaga malam itu dengan
suara pelahan-lahan berkata kepada kawannya sebagai
berikut: „Menurut kabar yang aku dapat dengar dari
beberapa teman-teman di kalangan Kang-ouw, Tam-tong
atau kepala polisi rahasia yang baru ini sebenarnya
bukan bernama Thio Sin, tetapi Ngay Houw Cun yang
terkenal dengan gelaran Cap-ek-sin-kauw, hanya belum
tahu sebab apa dia bisa bergaul begitu rapat dengan
residen.”
„Nama dan gelaran yang kau katakan tadi,” kata
penjaga malam yang lainnya, „aku rasanya sudah lama
dapat dengar di kalangan Kang-ouw. Apakah dia itu
bukan seorang kepala kampak yang menjadi musuh
besar dari bekas kepala polisi Bu Ciang Tong di Hamyang,
yang kabarnya telah mati di dalam penjara karena
difitnah oleh residen yang sekarang dan menjadi sahabat
karib dari si kepala kampak itu?”
„Hal itu aku kurang tahu,” kata si penjaga malam
yang pertama. „Tetapi dari kabar angin yang orang telah
sampaikan kepadaku, aku telah dikasih tahu, bahwa
pangkat yang dipangkunya itupun bukanlah berdasarkan
dari keangkatan resmi karena berhubung dengan jasajasa
yang telah diperolehnya, hanyalah.....”
Kedua-duanya penjaga malam itu jadi pada tertawa
cekikikan.
„Aku tahu, aku tahu. Itulah tentu ada suatu „perkara
e-hem” di dalamnya, bukan?”
„Ya, ya, itulah memang bukan urusan langka bagi
orang-orang hartawan yang kepingin mencari untung
dengan mengandalkan kepada pengaruh
kepangkatannya. Semakin mereka kaya, semakin mudah
pula akan mereka „membeli” pangkat yang tinggi”, dan
258
berbareng semakin rakus mereka „menerima” sogokansogokan
dan tak segan melakukan pemerasan ke kirikanan.
Dengan begitu, semakin bertimbun pula harta
benda mereka yang tidak halal. Tinggal kita kaum kecil
yang separuh mati separuh hidup, perut kelaparan,
badan kedinginan.....”
„Hus, jangan kau melantur!” kata si penjaga malam
yang kedua. „Kalau hal ini dapat didengar oleh si Ah
Kauw, dia pasti akan mengadu pada sepnya yang baru,
hingga selain kita bisa dihukum rangket, kitapun tidak
mustahil akan dipecat dari pekerjaan kita.”
„Apakah si Ah Kauw akan dipekerjakan di bawah
perintah Tam-tong baru itu?”
„Ya, itu sudah pasti,” sahut sang kawan yang ditanya
itu.
„Syukurlah,” kata penjaga malam itu dengan suara
menyindir. “Tukang cun-go bekerja di bawah perintah
kepala kampak, hingga dalam sedikit waktu saja aku
percaya dia bisa ketularan juga menjadi „kepala kampak
kecil!”
Dengan mendengari pembicaraan kedua orang
penjaga malam itu, Bu Liu Sian jadi mengetahui semakin
jelas tentang jalannya permusuhan antara An Hun Ie dan
ayahnya almarhum, dengan Cap-ek- sin-kauw yang
campur tangan di antaranya, adalah merupakan sebagai
biang keladi yang menjadi gara- gara dari semua
kecelakaan yang dialami mereka serumah tangga itu.
Maka dengan bertambahnya seorang musuh yang
tak pernah ia impikan sama sekali, sudah tentu saja Liu
Sian jadi menghadapi percobaan yang semakin berat
dan sulit. Karena selain bertambahnya seorang musuh
yang ia belum kenal bagaimana romannya, juga ia telah
259
yakin dengan melihat pada gelarannya yang disebut
Cap-ek-sin-kauw itu bahwa ilmu silat musuhnya itupun
tentunya tidak bisa dikata lemah.
Dari itu, semakin memikirkan urusan dan kesulitankesulitan
yang bakal datang itu, Liu Sian jadi semakin
putus asa dan merasa bosan untuk hidup terlebih lama
pula dalam dunia yang penuh dengan kepalsuan dan
kekejian ini.
Maka dengan timbulnya kenekatan yang sekonyongkonyong
itu, lalu timbullah juga keberanian yang luar
biasa dari si nona, untuk menerjang masuk ke sarang
harimau dan membikin pembalasan pada An Hun Ie yang
menjadi musuh besarnya itu.
Syukur juga Liu Sian pernah meyakinkan ilmu tiamhwe-
kin, serupa ilmu kepandaian untuk membikin orang
tidak berdaya dengan jalan ditotok jalan darahnya, dalam
ilmu mana biarpun belum dapat dikatakan ia sangat
pandai, tetapi kepandaian itu pernah juga dicobanya
dengan hasil yang lumayan.
Begitulah setelah berhasil dapat melompati pagar
tembok yang tidak berapa tinggi itu, si nona lalu
menghampiri kepada dua penjaga malam tadi bagaikan
lakunya seekor kucing yang hendak menerkam tikus
yang menjadi mangsanya.
Mula-mula ia mendekati mereka dengan jalan
bersembunyi di belakang pohon-pohon yang banyak
terdapat di halaman kantor residen tersebut. Dan tatkala
ia berada cukup dekat di belakang kedua orang itu, Liu
Sian dengan sekonyong-konyong lalu membentak:
„Jangan bergerak atau berteriak, apabila kamu sayang
jiwamu sendiri!”
260
Sambil membentak begitu, si nona segera kelebatkan
goloknya di hadapan muka kedua orang itu.
Hal mana, sudah barang tentu telah membikin
mereka jadi kemekmek saking kagetnya.
Dalam pada itu, Liu Sian yang telah mendapat suatu
akal akan masuk ke gedung residen, lalu menyatakan
pada kedua orang penjaga malam itu supaya mereka
bawa ia menghadap pada residen di saat itu juga.
„Ho-han ini siapa? Asal dari mana, dan ada
keperluan apa malam-malam berkunjung ke sini akan
berjumpa pada paduka residen?” tanya salah seorang
antaranya dengan badan gemetaran dan menyangka
bahwa si nona itu adalah seorang laki-laki.
„Hal itu tidak perlu kamu tahu!” membentak si nona
pula. “Kamu hanya perlu bawa aku menghadap pada
residen, lain daripada itu, tidak perlu kamu menanyakan
apa-apa pula kepadaku! Ayoh, lekas kamu berjalan!”
Kedua orang itu menurut.
„Tetapi apabila ada kawan-kawanmu yang
menanyakan aku ini siapa,” memesan Bu Liu Sian,
„katakanlah bahwa aku ini seorang mata-mata yang baru
kembali dari luar kota! Jangan salah, apabila kamu
sayang jiwamu sendiri!”
„Ya, ya, baiklah,” kata mereka dengan hati kebatkebit.
Tatkala mereka berjalan melalui muka gedung
keresidenan, di situ mereka telah diberhentikan oleh dua
orang penjaga malam yang bertugas menjaga di tempat
tersebut.
„Kamu siapa?” tanya mereka.
261
„Thio Pin dan Lie Kie,” sahut kedua orang yang
mengiringkan si nona yang menyamar itu.
„Itu siapa yang seorang lagi?”
„Mata-mata dari gedung keresidenan yang baru
kembali dari luar kota.”
„Ya, kamu boleh lewat!” kata salah seorang
antaranya dengan suara memerintah.
Lie Kie dan Thio Pin melanjutkan perjalanannya
dengan diikuti oleh Bu Liu Sian, yang sekarang telah
masukkan goloknya ke dalam serangkanya yang
digendong di punggungnya.
Beberapa pengawal telah dijumpai dan diberikan
jawaban yang bersamaan ketika mereka menanyakan
siapa adanya si nona itu.
Tidak antara lama mereka telah sampai di gedung
residen, dimana An Hun Ie dan Houw Cun kebetulan
sedang duduk makan minum dengan dilayani oleh
beberapa orang perempuan tukang menari.
Sebagaimana di muka ini telah diterangkan dengan
melalui penuturan yang dilakukan oleh kedua orang
penjaga malam Thio Pin dan Lie Kie tadi, Cap-ek-sinkauw
Ngay Houw Cun ini sekarang telah menyabat
pangkat Tam-tong yang diperbantukan di kantor residen
sambil berbareng juga merangkap jabatan penasehat
dari pembesar durjana itu.
Ia ini dengan mengandal pada pengaruh An Hun Ie
yang telah „kasih persen” ia pangkat dengan perdeo,
mulai dari beberapa minggu yang lalu telah datang ke
gedung residen untuk „menjalankan tugas yang Hun Ie
telah percayakan” kepadanya.
262
Kedua manusia busuk ini karena memperoleh harta
rampasan dari Bu Ciang Tong yang dalam teori
dikatakan „disita atas nama negeri”, tetapi dalam
prakteknya masuk kantong mereka, bukan saja merasa
sangat girang oleh karena mendapat harta „terkejut” itu,
tetapi juga merasa bersyukur di dalam hati, berhubung
yang dimaksudkan bahaya yang sangat ditakuti itu atau
kepala polisi yang bernasib malang itu — sekarang telah
dapat „diatasi” dengan memberikan kesudahankesudahan
yang sangat memuaskan. Oleh sebab itu,
tidaklah heran jikalau hampir setiap hari mereka berpesta
pora dan saling memberi selamat atas keberuntungan
yang mereka telah peroleh bersama-sama itu.
Tetapi tidak kira selagi mereka bermakan minum
dengan gembira, tiba-tiba ada seorang pengawal yang
masuk untuk melaporkan, bahwa di luar ada seorang
mata-mata yang baru kembali dari luar kota dan ada
urusan penting yang perlu disampaikan kepada paduka
residen seketika itu juga.
Sementara An Hun Ie yang memang biasa melepas
mata-mata di luaran buat mencari tahu tentang gerakgerik
dan sikap penduduk negeri yang berada di bawah
perintahnya, dengan lantas ia mengasih perintah supaya
„si mata-mata” itu segera datang menghadap.
Diceritakan ketika pengawal tadi masuk melaporkan
tentang kedatangannya kepada residen jahanam itu, Bu
Liu Sian dengan sebat lalu menotol jalan darah Thio Pin
dan Lie Kie, yang segera menjadi kaku dan tak dapat
berbicara, hingga biarpun mereka bisa melihat, tetapi
sama sekali tak dapat bergerak dan tinggal berdiri tegak
di luar gedung residen bagaikan dua buah patung.
Demikian juga waktu si pengawal itu keluar, ia inipun
lantas di tiam oleh si nona dan menjadi bisu seperti juga
263
kedua orang penjaga malam yang telah „dikerjakannya”
tadi itu! Kemudian, sebegitu lekas ia berhadapan dengan
An Hun Ie dan Ngay Houw Cun yang sedang berduduk
makan minum, bukan saja ia tidak memberi hormat atau
mengunjuk sikap yang manis, tetapi sebaliknya dengan
berseru: „Jahanam! Oleh karena perbuatan kamu
berdua, maka ayah-bundaku berikut rumah tanggaku
telah binasa dan termusnah dalam keadaan yang sangat
menyedihkan!”
Mendengar bentakan yang sangat mendadak itu,
sudah tentu saja Hun Ie jadi terperanjat bukan main,
kemudian ia jadi gemetaran karena ketakutan, sebab
disamping sikap si nona yang begitu gagah dan berani,
iapun merasa cemas melihat Bu Liu Sian menghunus
golok yang sinarnya berkilau-kilauan di bawah api lilin
yang terang benderang.
Kecuali Ngay Houw Cun, yang selain berhati tabah,
juga paham ilmu silat, hingga dengan lantas ia dapat
menetapkan kembali hatinya dan setelah mengalami
sedikit kekagetan, memandang pada si nona dengan
mata tidak berkesip.
„Setelah sekarang aku berhasil bisa mencari tempat
kediamanmu dan bertemu denganmu berdua di sini,”
melanjutkan si nona, „aku tak minta lain daripada jiwamu
berdua sebagai penggantian jiwa ayahku yang telah
kamu fitnah sehingga binasa itu! Ni! Kamu boleh rasakan
golokku yang tidak bermata!”
Sambil berkata begitu, Liu Sian segera membacok
pada An Hun Ie, hingga si residen jahanam ini yang
memang tidak mengerti ilmu silat, bukan saja tak dapat
berkelit untuk menghindarkan diri daripada bacokan itu,
tetapi sebaliknya lantas mengeluarkan suara teriakan
ngeri: „Ho-han! Ampun!”
264
Kemudian terdengar suara bergedubrakan dan
pembesar jahanam itu telah jatuh ke atas jubin.
Liu Sian jadi kaget dan lekas tarik pulang goloknya
yang telah dipakai membacok dengan terlalu terburu
napsu itu. Karena apabila ia tidak lekas tarik pulang golok
itu, Houw Cun yang ia tahu paham ilmu silat dapat
merampasnya selagi tenaganya dicurahkan ke ujung
senjata tersebut.
Apakah sebabnya Liu Sian yang membacok, tetapi
jadi berbalik kaget oleh karena perbuatannya itu?
Hal ini kiranya perlu juga untuk diterangkan sedikit.
Tatkala si nona membacok pada An Hun Ie,
sebenarnya ia tidak kira yang bacokan itu bisa kejadian
gagal. Karena waktu si nona membacok dengan hati
yang sangat bernapsu, ia sama sekali tidak menduga,
kalau Houw Cun yang duduk berhadapan dengan
residen bangpak itu, telah tendang kursi Hun Ie sehingga
terbalik. Maka berbareng dengan terbaliknya kursi itu,
lalu terjungkellah orang yang duduk di atasnya. Dan
itulah ada saat yang sangat berbahaya, ketika goloknya
Liu Sian menyamber ke arah musuhnya, hingga dengan
begitu, Hun Ie telah diselamatkan jiwanya oleh Houw
Cun yang selalu berlaku waspada di setiap waktu
berhadapan dengan musuh.
Sementara si nona yang melihat maksudnya telah
digagalkan oleh si kepala kampak, dengan gusar lantas
menerjang pada Ngay Houw Cun sambil berseru:
„Manusia terkutuk! Aku bersumpah tak akan mau hidup
bersama-sama engkau di kolong langit ini!”
Sementara Houw Cun yang di tangannya tidak
bersenjata sama sekali, buru-buru sembat sebuah kursi
265
di dekatnya, dengan mana ia telah menangkis golok si
nona yang dibacokkan secepat kilat ke arah dirinya.
Dan dalam pada itu Hun Ie yang telah keburu bangun
dan lari terbirit-birit dari dalam ruangan itu, lalu teriakan
pengawal-pengawal yang bersenjata buat datang
membantui mengepung si nona yang sedang bertempur
dengan Houw Cun yang bersenjatakan diri dengan
sebuah kursi itu.
Maka dengan teriakan pembesar itu yang disorakkan
dengan sekeras-kerasnya, dalam tempo sekejapan saja
ruangan itu telah penuh dengan pengawal- pengawal
bersenjata yang maju mengepung pada Bu Liu Sian
sambil bersorak-sorak untuk bantu menambahkan
keangkeran. Tetapi sebaliknya si nona yang melihat
semakin lama orang yang datang mengepung padanya
jadi semakin banyak jumlahnya, sudah tentu saja jadi
kuatir dan buru-buru berlompat keluar ruangan akan
mencari jalan buat meloloskan diri.
“Tangkap, tangkap! Jangan kasih lolos pembunuh
itu!” teriak Hun Ie dari kejauhan. „Barang siapa yang
berhasil dapat menangkapnya, hidup atau mati, akan
diberi hadiah seribu tail perak!”
„Tangkap, tangkap! Jangan kasih lolos pembunuh
itu!” supaya semua orang tambah semangat dalam
pengepungan terhadap pada si nona yang merupakan
sebagai suatu bahaya yang bukan kecil bagi dirinya.
Tetapi Liu Sian biarpun pernah belajar silat di bawah
pimpinan seorang ahli sebagai ayahnya sendiri, ilmu
kepandaian itu bukanlah khusus untuk mendidik ia akan
menjadi seorang ahli di dalam kalangan ilmu silat, maka
sesudah bertempur dengan Houw Cun beberapa belas
jurus saja lamanya, ia sudah lantas ketahui, bahwa ia
266
bukan tandingan yang setimpal dari kepala kampak itu,
hingga biarpun hatinya masih sangat penasaran, apa
boleh buat ia mesti tahan sabar dahulu akan mengalah
pada kali ini dan kembali pula dilain waktu dengan
mengambil cara yang lebih taktis dan tidak terburu napsu
seperti sekarang ini.
Begitulah setelah melihat ada sedikit lowongan untuk
meloloskan diri, Bu Liu Sian lekas ayunkan tangannya
sambil berseru: „Jahanam! Kau rasakan ini pop-wee ku!”
Houw Cun buru-buru berlompat sambil berjongkok
dan menundukkan kepalanya, karena kuatir dilukai oleh
senjata rahasia musuh itu. Padahal semua itu adalah
suatu gertakan belaka, iang semata-mata dilakukan si
nona untuk membikin terkesiap hati si kepala kampak itu!
Maka dengan mengambil ketika selagi Houw Cun berkelit
dan berlaku sedikit ajal dalam perlawanannya, Liu Sian
segera meloloskan diri dengan jalan melompati pagar
tembok dan terus menghilang di antara lorong-lorong
yang gelap dan memang telah diperhatikan beberapa
hari lamanya untuk dipergunakan sebagai jalan untuk
merat.
Dari itu, biarpun Houw Cun telah mengerahkan
semua tenaga yang ada di bawah perintahnya untuk
melakukan pengejaran, tidak urung Liu Sian telah dapat
juga meloloskan diri, tak dapat dicekal ataupun diketahui
ke arah mana larinya. Hal mana, sudah barang tentu,
telah membikin Houw Cun jadi sangat jengkel dan
terpaksa menghentikan usaha pengejarannya itu.
3.17. Penyerangan Terhadap Residen Jahat
Sekembalinya ke gedung residen, si kepala kampak
ini buru-buru pergi menjumpakan An Hun Ie, yang
267
ternyata tidak mendapat luka apa-apa selain mengalami
sedikit kekagetan. Dan sesudah menyatakan
kegirangannya melihat sep bebodor itu tidak kurang
suatu apapun, Houw Cun lalu menganjurkan agar
supaya Hun Ie segera mengeluarkan maklumat untuk
menangkap pembunuh yang telah gagal itu. Hun Ie
membenarkan dan menurut usul gundalnya itu.
Kemudian dengan tidak menunggu lagi sampai di hari
esoknya, pada malam itu juga residen keji ini telah
perintah pengawal-pengawalnya buat menulis maklumat
itu, yang antara lain berbunyi sebagai berikut: „Barang
siapa yang dapat menangkap si pembunuh itu, mati atau
hidup, akan diberi hadiah seribu tail perak, tetapi barang
siapa yang berani melanggar perintah serta berani
menyembunyikan si pembunuh, bukan saja harta
bendanya akan disita oleh negeri, malah orangnya pun
akan dijatuhi hukuman yang sama beratnya dengan si
pembunuh itu sendiri!” Maka semenjak dikeluarkannya
maklumat-maklumat itu, para penduduk dan pemilikpemilik
rumah penginapan jadi keder buat menerima
sembarang orang yang agak mencurigakan akan
menumpang tinggal. Dan jikalau ada juga beberapa
orang diterima untuk menumpang menginap, mereka tak
suka mengizinkan si tetamu itu berdiam lebih lama
daripada tiga hari.
Oleh sebab itu juga, tidaklah heran kalau Bu Liu Sian
yang perlu berdiam agak lama buat mencapai
maksudnya untuk membikin pembalasan pada An Hun Ie
dan Ngay Houw Cun, jadi ketakutan karena diadakannya
larangan tersebut.
Untuk dapat menghindarkan diri daripada intaian
mata-mata dan orang-orangnya Ngay Houw Cun yang
selalu berkeliaran ke sana-sini dan sewaktu- waktu
mengadakan penggeledahan dengan sekonyong268
konyong, Liu Sian terpaksa bersembunyi di kelenteng
Leng-coan-sie, dengan ia sendiri sama sekali tak pernah
menyangka, bahwa berdiamnya ia di situ telah
menerbitkan „lelakon burung” tentang adanya „hantu
putih” yang bersarang di kelenteng kuno tersebut.
Lebih jauh karena Liu Sian yang sudah putus asa
kerap uring-uringan dan merasa jemu dengan
pengunjung-pengunjung yang datang ke situ, maka tidak
jarang ia menyambut mereka itu dengan sambitansambitan
batu bata atau genteng, agar supaya mereka
kapok akan selanjutnya berkunjung pula ke situ. Tidak
tahunya perbuatan itu telah menarik juga perhatiannya
Lie Poan Thian, sehingga karena usahanya ini, akhirnya
dapatlah dibongkar suatu perkara penasaran seperti apa
yang telah dituturkan oleh si nona tadi.
Pemuda kita mendengari semua penuturan itu
dengan penuh perhatian. Disamping menyatakan
simpathi dan menghibur supaya si nona jangan terlalu
bersusah hati, iapun menyatakan kesediaannya untuk
bantu berikhtiar akan membasmi residen jahanam berikut
gundalnya yang amat keji itu.
Begitulah setelah minta supaya Liu Sian suka
bersabar dahulu sedikit waktu lamanya, Poan Thian lalu
berpamitan akan kembali ke tempat penginapannya.
„Sebentar malam dengan mengajak seorang kawanku,”
ia menambahkan, „aku akan kembali pula ke sini buat
bantu merembukkan lebih jauh urusanmu ini. Karena
setelah selesai penggerebekan kedua yang akan
dilakukan terhadap sarang kawanan manusia busuk itu,
tidak perduli apakah maksud itu bisa berhasil atau tidak,
kita sekalian perlu angkat kaki selekas-lekasnya dari sini,
kalau tidak, kita akan dicekal oleh alat-alat negara
269
sebagai kawanan pengacau yang merusak
kesejahteraan dan tata-tertib di dalam negeri.”
Oleh karena itu, maka si nona pun berjanji akan turuti
sesuatu pengajarannya pemuda kita. Kemudian Poan
Thian kembali ke tempat penginapannya, dimana ia
dapatkan Kong Houw sedang duduk termenung di atas
pembaringannya.
Dan tatkala melihat Poan Thian kembali dengan
mengambil jalan dari jendela kamar, ia jadi berbangkit
dan hendak buka mulut buat menanyakan apa-apa,
tetapi Poan Thian lekas memberi isyarat supaya ia
jangan bikin ribut. Setelah itu ia mendekati pada Kong
Houw dan bicara dengan perlahan-lahan, katanya: „Kali
ini aku telah ketemukan suatu perkara Wan-ong, suatu
persoalan yang membuat kita turut merasa penasaran,
hingga tak boleh tidak akan kita turut campur tangan
dalam urusan ini.”
„Cobalah kau tuturkan persoalan itu kepadaku,” kata
Kong Houw yang sudah barang tentu belum mengerti
jelas bagaimana duduknya perkara yang benar. Poan
Thian lalu tuturkan pengalamannya tadi. Dengan ini,
benar saja Cin Kong Houw jadi kelihatan mendongkol
ketika mendengar penuturan itu.
„Kurang ajar benar perbuatannya manusia-manusia
terkutuk itu!” katanya dengan suara agak keras.
Beruntung juga Poan Thian lekas tekap mulut sang
kawan yang bertabeat pemarah itu, hingga suara itu tidak
sampai menarik perhatian pelancong -pelancong lain
yang turut bermalam di rumah penginapan itu.
„Habis bagaimana rencanamu, yang akan menolong
nona itu untuk melaksanakan maksudnya akan menuntut
270
balas kepada musuh-musuhnya?” Cin Kong Houw
meminta keterangan sekali lagi kepada sahabatnya itu.
„Kukira tidak ada jalan lain daripada kita membantui
dia akan melakukan penyerbuan pula untuk kedua
kalinya,” sahut Poan Thian. „Berhasil atau tidak, itulah
tinggal tergantung pada nasib masing-masing. Oleh
karena itu, sekarang aku hendak minta bantuanmu sekali
ini untuk menunaikan janjiku pada nona Bu Liu Sian,
dengan suatu perjanjian yang kau tidak akan menyesal di
dalam hati, jikalau dalam usaha yang berbahaya ini kau
sampai mengalami kejadian apa- apa yang tidak
diinginkan. Karena dalam pekerjaan kita pada kali ini, kita
semua membantu pada nona Bu bukan dengan arti suka
rela saja, bahkan ada kemungkinan mempertaruhkan
juga jiwa kita sendiri, kau mengerti?”
„Jiwaku yang sekarang ini, adalah jiwa punyamu
juga,” sahut Kong Houw, „karena jikalau bukan kau yang
menolong aku dari tangan komplotan Poo Tin Peng,
bukan saja tak mampu aku membikin pembalasan
kepada musuh-musuhku itu, malah jiwaku sendiripun
bisa melayang di dalam tangan manusia busuk itu. Maka
sebagaimana apa kataku dahulu di hadapanmu,
bukanlah semata-mata bermaksud untuk „mengumpak”
saja. Benar aku ini ada seorang kasar, tetapi sebegitu
jauh yang aku pernah ingat, tidak pernah aku menjilat
pula ludah yang sudah dibuangkan di tanah! Percayalah
padaku, Lie Lauw-hia.”
Poan Thian tersenyum dan kelihatan mau percaya
omongan Kong Houw yang bertabiat keras tapi jujur itu.
Maka setelah membayar ongkos makan dan
penginapan, pada hari esoknya Poan Thian kembali
dengan diam-diam ke kelenteng Leng-coan-sie dengan
mengajak sahabat karibnya itu. Begitulah dengan
271
menunggang kuda-kuda yang dapat berlari cepat, kedua
orang itu lalu menuju ke pegunungan Houw-kiu-san
dengan membekal sedikit makanan kering, untuk mereka
dan si nona yang bersembunyi di sana, yang tentunya
membutuhkannya selama berada dalam
persembunyiannya itu.
Kira-kira pada waktu magrib, barulah Poan Thian dan
Kong Houw berani datang ke kelenteng kuno itu, dimana
mereka telah disambut oleh Liu Sian yang telah ajak
mereka masuk ke dalam kelenteng.
„Inilah ada sahabatku Cin Kong Houw,” Poan Thian
memperkenalkan sahabatnya pada si nona. Liu Sian
lekas memberi hormat, yang lalu disambuti oleh Kong
Houw sebagaimana mestinya.
„Nona Bu ini adalah puteri almarhum Bu Ciang Tong
Lo-cianpwee yang namanya sangat terkenal di kalangan
Kang-ouw,” kata Lie Poan Thian. „Bu Lo- enghiong telah
difitnah orang sehingga nona Bu mengalami
kesengsaraan besar dan terlunta-lunta di luar kota
tumpah darahnya. Kita semua belum berhasil dapat
menjumpai Bu Lo-enghiong di waktu masih hidupnya,
hingga ini sesungguhnya amat tidak beruntung bagi kita
ahli silat angkatan muda. Tetapi karena mengingat
bahwa akan menjumpai nona Bu adalah sama saja
seperti kita menjumpai Bu Lo- enghiong sendiri, maka
tidak lebih dari pantas akan kita membantu pada nona
Bu yang menjadi puterinya. Karena dengan jalan berbuat
begitu, bukan saja berarti kita bantu meringankan
kesukaran nona Bu sendiri, tetapi berbareng juga bantu
Bu Lo- enghiong membalas sakit hati kepada musuhmusuhnya
yang sangat busuk dan keji itu.
„Bahkan disamping itu, kita jadi berbareng juga bantu
meringankan kesengsaraan anak negeri yang diperas
272
dan dipermainkan dengan secara sewenang-wenang
oleh An Hun Ie dan Ngay Houw Cun yang menjadi biang
keladi dari semua kebencanaan ini. Tetapi belum tahu
pikiran Cin Lauw-hia bagaimana?”
„Aku ini biarpun seorang kasar yang tidak mengerti
aturan,” kata Cin Kong Houw, „tetapi bisa juga aku
membedakan antara mana yang benar dan tidak benar.
Terhadap pada perkara yang benar, sudah tentu tidak
perlu aku pusingi hati apa-apa, tetapi terhadap urusan
nona Bu ini yang merupakan suatu perkara wan-ong
yang bukan kecil dan justeru memang sangat perlu buat
dibantu, aku bersedia buat mengorbankan jiwaku, jikalau
itu ternyata perlu!”
„Tetapi itulah bukan bagianmu yang mesti berbuat
begitu,” memotong si nona sambil menghapus airmata
yang mengucur di pipinya. „Itulah ada kewajibanku
sendiri yang menjadi puterinya, tidak perduli apa juga
yang akan terjadi atas diriku.”
„Hal ini tidak perlu lagi kita saling merendahkan diri,”
Lie Poan Thian menyelak di antara pembicaraan mereka
berdua. „Paling betul kita sekarang dahar dahulu
seadanya, karena sebentar kita mesti melakukan
penyerbuan yang terakhir dan memastikan berhasil atau
gagal, itulah akan kita lihat apa yang akan terjadi pada
petang ini. Pauwhok- pauwhok kita boleh tunda dahulu di
sini. Juga kuda- kuda kita boleh tunda dan jangan
dilepaskan selanya, agar supaya binatang-binatang itu
bisa segera dipergunakan dimana dirasa perlu.
„Barang siapa yang sudah berhasil bisa menerobos
masuk ke gedung residen, janganlah sembarangan
membunuh orang-orang yang tidak ada sangkut- pautnya
dengan kita. Tugas kita yang utama, adalah akan
membunuh An Hun Ie dan Ngay Houw Cun berdua.
273
Setelah itu, kita boleh kembali ke sini, agar supaya kita
bisa selekas mungkin melarikan diri ke tempat lain yang
lebih aman dan sentosa.”
Kong Houw dan Liu Sian menyatakan mufakat
dengan omongan itu. Begitulah setelah selesai dahar
dan minum air dari pancuran di belakang kelenteng itu,
Poan Thian lalu minta mereka segera bersiap-siap,
berpakaian buat berjalan di waktu malam, membekal
golok dan senjata-senjata lain yang perlu dipakai dalam
pertempuran dengan musuh.
Kemudian mereka menuju ke gedung residen untuk
membikin penyerbuan mati atau hidup buat membalas
sakit hati Bu Ciang Tong yang telah difitnah oleh residen
jahanam dan gundalnya yang amat keji itu.
Dalam perjalanan, si pemarah Kong Houw yang
kasar mendadak telah mendapatkan suatu akal yang
baik sekali.
„Kukira ada juga baiknya,” katanya kepada Lie Poan
Thian, „apabila kita yang berjumlah sedikit masuk ke
gedung residen dengan menggunakan suatu akal halus.”
„Ya, itu sudah tentu saja baik sekali,” sahut pemuda
kita. „Tetapi akal apakah yang dapat kau pikir akan
segera dapat di jalankan di saat ini?” „Begini,” kata Kong
Houw pula. „Sebagaimana telah disebutkan dalam
maklumat yang dikeluarkan dari keresidenan, para
penduduk dan pemilik-pemilik rumah penginapan
diperingatkan supaya jangan menerima tetamu-tetamu
yang agak mencurigakan. Maka barang siapa yang
berani melanggar perintah itu, sehingga kemudian
menerbitkan keributan, bukan saja harta benda yang
tersangkut bisa disita, malah dirinya orang itupun akan
274
dihukum dengan sama beratnya seperti orang yang
dianggap berdosa itu.”
„Ya, ya,” kata Lie Poan Thian. „Setelah itu, kau
hendak berbuat bagaimana untuk menipu residen
jahanam berikut gundal-gundalnya itu?”
„Untuk itu aku boleh, menyamar sebagai seorang
tawanan,” sahut Kong Houw, „sedangkan lauw-hia boleh
berlaku sebagai orang yang mengajukan aku kepada si
residen. Badanku dan tanganku kau boleh ikat begitu
rupa, sehingga dengan begitu aku tampak sebagai
seorang tawanan sungguhan, tetapi tali itu harus dibikin
mudah terbuka, supaya aku mudah pula akan bergerak
dan segera melakukan penyerbuan dimana tiba saatnya
akan kita berbuat begitu.
Aku sendiri tidak tahu pengaduan apa yang
selanjutnya harus disampaikan pada residen bebodor itu,
hingga tentang ini aku serahkan supaya lauw-hia sendiri
mencari alasan-alasan yang masuk di akal, karena aku
sendiri yang memang kurang pandai menyusun kalimatkalimat
yang agak boleh dipercaya orang, tak tahu
bagaimana harus melaksanakannya.”
„Tentang itu baik diatur begini saja,” kata Lie Poan
Thian. „Aku menyamar sebagai anak seorang pemilik
rumah penginapan yang justeru sedang berlatih ilmu
silat, ketika kau — sebagai seorang tetamu — datang
membikin ribut dalam rumah penginapanku, berhubung
kau ditolak oleh ayahku untuk menumpang menginap di
rumah penginapanku, karena ayahku bercuriga melihat
roman dan dandananmu. Oleh sebab itu, kau jadi marah
dan akhirnya jadi bertempur serta kena ditawan olehku.
Nanti di hadapan si residen aku memberitahukan, bahwa
kau ini mungkin juga ada komplotannya si pembunuh
yang tersebut dalam maklumat itu, maka dari itu, aku
275
bawa kau menghadap pada residen buat dilakukan
pemeriksaan dan pengompesan lebih jauh. Sementara
buat membikin orang-orang yang menyaksikan kita tidak
menaruh curiga apa-apa, aku minta supaya kau memakimaki
dan seolah-olah hendak melawan kepadaku, waktu
aku giring kau menghadap ke kantor residen.
Dalam pada itu nona Bu yang memang sudah
dikenali oleh si residen jahanam dan gundal-gundalnya di
sana, baiklah jangan turut „menyelenggarakan”
permainan komidi ini.”
„Kalau begitu,” kata Liu Sian, „belum tahu Lie Congsu
akan memberikan aku tugas bagaimana?”
Cong-su artinya orang gagah. Suatu bahasa sebagai
tanda penghormatan. „Bagi kau,” kata pemuda kita,
„paling betul bersembunyi dahulu di tempat gelap buat
menunggu ketika yang baik akan turun tangan. Apabila
kau mendengar di kantor residen ada kejadian ribut-ribut,
bolehlah kau segera keluar juga membikin ribut di bagian
lain dari gedung ini. Maka biarpun kita datang hanya
bertigaan saja, tetapi ramai dan orang tak mungkin
percaya, bahwa pihak kita yang menyerbu ke sana hanya
terdiri dari tiga orang saja jumlahnya.” „Ya, ya, siasat itu
memang baik sekali,” menyetujui Kong Houw dan si
nona.
Kemudian Poan Thian lalu atur tipu daya itu selekas
mungkin, agar supaya nanti dapat segera „di jalankan”,
jikalau sampai ke kantor residen. Sekarang kita menilik
pada An Hun Ie dan Cap-ek-sin- kauw Ngay Houw Cun,
yang telah mengatur penjagaan semakin keras di kantor
residen, semenjak Liu Sian melakukan percobaan
membunuh atas residen keji itu. Petang hari itu selagi
sep dan gundalnya berembuk, cara bagaimana akan
melakukan penyelidikan dimana tempat sembunyinya si
276
pembunuh yang mereka telah ketahui ada puterinya Bu
Ciang Tong, mendadak ada seorang pengawal yang
melaporkan, bahwa di luar ada seorang puteranya
pemilik rumah penginapan yang membawa menghadap
seorang tetamu yang dicurigai sebagai komplotannya si
pembunuh yang telah menyatroni gedung residen pada
beberapa hari yang telah lalu itu.
Tetapi karena kuatir bahwa semua itu adalah akal
bulus dari musuh-musuh mereka, maka Hun Ie tidak
lantas panggil orang-orang itu akan datang menghadap,
hanyalah ia menanyakan dahulu pikirannya Houw Cun,
apakah orang-orang itu boleh disuruh menghadap atau
dibiarkan saja pengaduannya diurus oleh orang-orang
sebawahannya?
,,Ini semua adalah akalan belaka,” kata si kepala
kampak sambil bersenyum getir. „Jikalau kita biarkan
mereka berada di luar, mereka tentu mudah melarikan
diri. Maka buat membikin mereka tidak berdaya, baiklah
Tay-jin perintah supaya mereka datang menghadap. Aku
di sini ada suatu akal untuk menjebak mereka itu.”
Kemudian, sambil menoleh pada si pengawal, Houw
Cun lalu bertanya: „Belum tahu mereka itu semua ada
berapa orang?”
,,Hanya berduaan saja, anak pemilik rumah
penginapan dan orang tawanannya itu,” sahut si
pengawal.
Mendengar jawaban demikian, Cap-ek-sin-kauw
Ngay Houw Cun jadi mengkerutkan dagunya sesaat
lamanya. Mula-mula ia kelihatan mengangguk- angguk,
kemudian perintah pengawal itu buat memanggil kepala
opas si Ah Kauw.
277
„Kepada anak pemilik rumah penginapan itu, kau
boleh minta supaya dia suka menunggu dahulu,” kata
Ngay Houw Cun, „karena Tay-jin di sini justeru sedang
sibuk mengurus suatu perkara penting.”
Si pengawal itu mengatakan: „Mengerti.” Kemudian ia
berjalan keluar buat minta anak pemilik rumah
penginapan itu menunggu dahulu. Poan Thian
menjawab: „Baik,” meskipun hatinya sendiri mendadak
jadi bercekat, melihat gerak-gerik si pengawal itu.
„Aku harap supaya tuan suka menunggu panggilan di
sini,” kata si pengawal itu, „karena aku ada urusan lain
yang perlu diurus.”
„Ya,” sahut Poan Thian dengan sembarangan.
Tatkala si pengawal telah berlalu jauh, pemuda kita lalu
melirik pada Kong Houw yang menjadi orang tawanan
tetiron sambil berbisik: „Celaka! Mungkin juga mereka
telah mengendus, bahwa kita di sini hendak mengakali
mereka.”
„Tidak usah kau banyak bacot! Kau telah menipu
aku!” Kong Houw mendadak memaki kalang kabut
bagaikan lakunya seorang edan. „Setelah kau terima
uang pembayaran kamarku, kau lantas katakan aku
bersekongkol dengan pembunuh yang disiarkan dalam
maklumat itu!”
„Tutup bacotmu!” akhirnya Poan Thian pun ikut „main
sandiwara”. „Kau memaksa buat minta menginap di
rumah penginapan kami, hingga seolah-olah kau hendak
fitnah kami serumah tangga. Kau membikin ribut dan
merusakkan segala perabotan di rumah penginapan
kami, apakah itu bukan berarti bahwa kau ini seorang
pengacau yang mengganggu kesejahteraan dan tatatertib
di dalam daerah kota Hang-ciu ini?”
278
„Hei, kamu jangan bikin ribut di sini!” membentak
pengawal tadi, yang telah kembali dengan mengajak
kepala opas Ah Kauw. „Jikalau kamu ada urusan wanong
yang perlu meminta keadilan, katakanlah itu nanti di
hadapan Tay-jin, tetapi bukan mestinya kamu tarik urat di
sini. Kamu mengerti?” Poan Thian dan Kong Houw apa
boleh buat tutup mulut sebagai tanda mengindahkan atas
perintah si pengawal itu.
Dan ketika balik kembali habis mengantarkan Ah
Kauw menghadap pada residen jahanam itu, barulah si
pengawal memberi tanda supaya Poan Thian dan Kong
Houw boleh masuk menghadap. Poan Thian menurut
sambil mengiringi orang tangkapannya. Tetapi tidak kira
ketika baru saja ia berjalan beberapa tindak, mendadak
Ah Kauw maju menerjang buat menyergap Lie Poan
Thian sambil berseru: „Bangsat! Apakah kamu kira kita
semua anak-anak yang masih menyusu, sehingga begitu
gampang diselomoti oleh segala muslihatmu yang busuk
itu? Jangan lari! Aku Bu Ah Kauw belum mau sudah,
apabila belum dapat membekuk dan membuka rahasia
kamu berdua!”
Sementara Poan Thian yang sekarang telah
mengetahui, bahwa mereka tak dapat pula melanjutkan
permainan „sandiwara” mereka itu, dengan lantas
miringkan badannya buat kasih lewat tangannya Ah
Kauw yang hendak menyekal kepadanya, sedang
sebelah kakinya lalu digerakkan buat menyapu kaki si
kepala opas itu. Ah Kauw lekas berkelit, tetapi karena
berlaku kurang cepat, tidak urung kena juga ia
„diserampang” kakinya sehingga jatuh terjungkel
bagaikan sebuah kundur yang gugur dari tangkainya,
maka selain maksudnya yang akan menyergap telah
gagal, malah dirinya sendiri berbalik mendapat hadiah
tendangan dari pemuda kita.
279
Para pengawal residen yang lainnya ketika
mendengar suara ribut-ribut, sudah tentu saja segera
memburu ke gedung residen, buat membantu
menangkap orang-orang yang dengan sekonyongkonyong
telah membikin ribut dengan tidak mengetahui
apa sebabnya.
Tetapi Ngay Houw Cun yang lebih siang telah
singkirkan An Hun Ie ke tempat lain yang lebih aman,
dengan membekal golok segera keluar dan maju
menerjang pada Lie Poan Thian sambil membentak:
„Bangsat! Jangan lari! Aku Thio Sin hendak menjajal
golokku yang sudah lama haus darah dan hampir karatan
ini!”
Poan Thian tertawa menyindir sambil berkata: „Apa?
Thio Sin? Aku rasanya belum pernah dengar nama itu!
Apakah itu bukan Cap-ek-sin-kauw Ngay Houw Cun?”
Mendengar omongan itu, si kepala kampak jadi
berjengit bagaikan orang dipagut ular, sehingga buat
beberapa saat lamanya ia merandek dan memandang
pada pemuda kita dengan mata yang tidak berkesip.
Tetapi sudah barang tentu bukan perkara mudah, akan
memikirkan cara bagaimana Poan Thian telah dapat
mengenali kepadanya.
Sementara Cin Kong Houw yang sekarang merasa
tak berguna lagi akan „bermain komidi”, buru-buru
melepaskan tali-tali ikatan hidup dari badannya, hunus
goloknya dari atas bebokongnya dan terus meladeni
Ngay Houw Cun sambil berkata: „Hei, kepala kampak!
Janganlah kau bertingkah di hadapan kakek moyangmu!
Aku inilah orang she Cin yang hendak meminjam
kepalamu untuk dijadikan sam-seng!”
280
Ngay Houw Cun jadi amat gusar dan lalu mainkan
goloknya dengan cepat buat mengindarkan diri daripada
serangan musuh itu.
Sebaliknya Poan Thian yang melihat Houw Cun telah
berbalik diserang oleh Kong Houw, dengan tidak
membuang tempo lagi segera tendang si Ah Kauw
sehingga terpental dan jatuh pingsan, kemudian sambil
berlari ke sana-sini buat mencari tempat persembunyian
An Hun Ie, pemuda itu telah menggunakan kaki dan
tangannya buat memukul dan menendang para
pengawal yang dalam tempo sekejapan saja telah
berkerumun bagaikan kawanan semut yang datang
mengerumuni gula-gula kegemaran mereka.
Demikianlah selagi pertempuran-pertempuran itu
berlangsung dengan amat hebatnya, sekonyongkonyong
terdengar beberapa orang yang berseru: „Ada
api! Ada api! Ayolah, sebagian dari kamu yang ada di
sini, lekas pergi bantu memadamkan api yang berkobarkobar
di halaman belakang kamar An Tay- jin!”
Kemudian disusul pula oleh para pengawal kelompok
lain yang berseru: „Saudara-saudara, di sana pun
ternyata ada kawanan pengacau yang menerjang masuk!
Lekaslah kepung padanya agar dapat lekas dibekuk!”
Dengan mendengar seruan-seruan yang diucapkan
oleh kedua kelompok para pengawal tadi, maka Poan
Thian dan Kong Houw pun lantas mengerti, bahwa pada
saat itu Liu Sian di bahagian sana sedang beraksi buat
membikin keadaan jadi semakin kacau. Tetapi karena
kuatir si nona tak dapat bergerak dengan leluasa, maka
Poan Thian lalu keluar dari kalangan pertempuran
dengan menggunakan siasat yan-cu-cwan-liam, untuk
pergi membantu si nona yang sedang dikepung para
pengawal dalam gedung keresidenan di situ. Karena
281
selama pertempuran- pertempuran itu berlangsung, ia
telah perhatikan dengan cukup jelas, bahwa disamping
meladeni bertempur Ngay Houw Cun, Kong Houw pun
masih sanggup menangkis serangan-serangan yang
datang dari kiri-kanan. Maka karena percaya bahwa
sahabat ini akan tahan meladeni musuh-musuhnya
sampai beberapa waktu lamanya, ia segera menerjang
masuk ke bagian dalam ruangan kantor residen, yang
ternyata bersambung dengan sebuah ruangan besar
yang dijaga oleh beberapa orang penjaga pilihan muridmuridnya
si kepala kampak she Ngay itu. Dengan
bersenjatakan golok, Poan Thian telah tempur mereka itu
dan berhasil bisa melanjutkan penyerbuannya ke tempat
kediaman residen, setelah terlebih dahulu dapat melukai
beberapa orang penjaga-penjaga yang bertugas di situ.
Dan tatkala An Hun Ie mendengar suara ribut-ribut
dan diberitahukan bahwa kawanan pengacau telah
menyerbu dari segala jurusan, sudah tentu saja sangat
ketakutan dan kebingungan. Lebih-lebih ketika ia
mendengar Bu Liu Sian berseru: „Aku hanya hendak
minta kepalanya An Hun Ie!” residen itu seolah-olah
merasakan dirinya dihinggapi penyakit demam dengan
secara tiba-tiba.
Ia lari kian-kemari bagaikan seorang edan. Justeru itu
Liu Sian yang telah sampai di pintu depan dari kamar di
mana Hun Ie bersembunyi, sekonyong- konyong telah
berpapasan dengan sekawanan penjaga yang sebagian
besar telah dilukai oleh Poan Thian tadi. Sedang maksud
penjaga-penjaga ini datang ke situ, adalah buat
memberitahukan, agar supaya si residen bangpak itu
segera mencari tempat berlindung lain yang lebih aman.
Karena jikalau ia tak lekas berlalu dari situ, dikuatirkan
pihak pengacau yang ternyata tidak bisa dikata lemah,
282
akhirnya akan sampai juga ke situ dan ketemukan si
induk semang di tempat persembunyiannya.
Tetapi sungguh tidak dinyana, ketika baru saja
sampai di halaman lorong yang menembus ke ruangan
tersebut, mendadak mereka telah berpapasan dengan si
nona, hingga dengan satu teriakan nyaring Liu Sian
segera terjang mereka dan terbit pertempuran hebat,
yang telah membikin Hun Ie yang berada di dalam kamar
dan mendengar dengan tegas peristiwa itu, dengan tidak
terasa lagi jadi jatuh duduk dan mengeluh: „Celaka!
Celaka! Sekarang si pembunuh itu berada di luar kamar!
Kemanakah aku mesti lari? Kemanakah aku mesti
bersembunyi untuk menyelamatkan diriku?”
„Lari! Lari!” Kemudian terdengar suara teriakan yang
riuh sekali dari beberapa orang penjaga yang merasa
tidak sanggup bertahan lebih jauh buat meladeni pada si
nona itu. „Saudara-saudara! Lekaslah beritahukan
supaya Tay-jin segera berlalu dari sini!” Sementara suara
jeritan penjaga-penjaga yang kena terbacok oleh si nona,
telah membikin hati residen jahanam itu jadi semakin
ketakutan, hingga ia berlari- lari di dalam kamar dengan
tidak ketentuan kemana maksud tujuannya. Ia mengeluh,
ia sesambat, dan akhirnya..... Ia tertawa terbahak-bahak!
Ia telah jadi gila karena sangat ketakutan! Paling
belakang ia berlari ke atas loteng dan menghampiri pada
jendela yang terpisah kira-kira duapuluh kaki lebih
tingginya dari tanah yang berada di bawahnya. Di situ,
setelah menghela napas beberapa kali, ia lantas
berteriak: „Bu Ciang Tong! Tengoklah, sekarang aku
telah tumbuh sayap dan hendak terbang ke langit.
Marilah kau boleh susul aku buat menagih jiwamu di
sana!”
283
3.18. Nikouw Tua Pendekar Sakti
Dan berbareng dengan habisnya ucapan itu, An Hun
Ie lalu terjun ke bawah loteng, sehingga badannya
hancur remuk dan binasa di seketika itu juga! Maka
setelah Kong Houw kemudian muncul dengan menjinjing
kepalanya Ngay Houw Cun yang telah dibunuhnya dalam
pertempuran tadi, si nona pun telah kutungi kepada
residen jahanam itu. Sedang Poan Thian yang memang
bukan memusuhi para pengawal yang mengepung
mereka bertiga, lalu hentikan penyerangannya sambil
menerangkan di hadapan orang banyak, bahwa
kedatangan mereka ke situ bukanlah bermaksud hendak
mengacau, tetapi semata-mata untuk menuntut balas
atas kekejian si residen jahanam dan gundalnya, yang
telah memfitnah dan membuat berantakan keluarga Bu
serumah tangga pada masa yang lampau itu.
Lebih jauh Poan Thian menerangkan di hadapan
mereka, bahwa Tam-tong yang mereka kenal bernama
Thio Sin ini, sebetulnya bukan lain daripada Cap-ek-sinkauw
Ngay Houw Cun yang sudah sekian lama dicari
pihak yang berwajib untuk dijatuhi hukuman berhubung
ia telah melakukan banyak perampokan di sana-sini dan
tak dapat ditangkap karena pihak lawannya yang terkuat
yaitu Bu Ciang Tong telah difitnah olehnya dengan jalan
bersekongkol dengan residen jahanam yang telah mati
menjatuhkan diri dari atas loteng itu.
„Maka pada sesudah maksud kami untuk menuntut
balas telah tercapai,” kata pemuda kita pula, „tugas
kamipun telah berakhir sampai di sini. Dengan begitu,
selanjutnya kami mengharap agar supaya tuan-tuan
sekalian mendapat induk semang yang jauh lebih
bijaksana daripada komplotan manusia busuk ini, yang
sebenarnya sama sekali tak berharga untuk dicokolkan di
284
sini sebagai pemimpin anak negeri seluruh kota Hangciu.”
Setelah selesai berpidato di hadapan para pengawal
dan penjaga dari kantor residen tersebut, Poan Thian lalu
mengajak si nona dan Kong Houw berlalu dengan
membawa dua buah kepala musuh si nona, yang
kemudian hendak dipergunakan untuk menyembahyangi
rohnya Bu Ciang Tong di kelenteng Leng-coan-sie.
Tetapi karena kuatir akan dikepung oleh pihak yang
berwajib sebagai pengacau-pengacau yang telah berani
melakukan penyerbuan ke kantor pemerintah, maka
ketiga orang itu tidak berani berdiam terlalu lama di
kelenteng tersebut. Oleh sebab itu, mereka segera
melarikan diri ke tempat lain dengan menunggang dua
ekor kuda miliknya Poan Thian dan Kong Houw, dengan
yang seekor dinaikkan oleh Bu Liu Sian, sedang kan
yang seekor pula dinaikkan oleh Poan Thian dan Kong
Houw berduaan, yang ternyata telah menderita luka yang
agak berat dalam pertempuran dengan Cap-ek- sin-kauw
Ngay Houw Cun, yang akhirnya toh telah berhasil dapat
membunuhnya dengan susah payah. Tatkala mereka
telah berjalan beberapa lamanya, mendadak Kong Houw
jatuh pingsan dan buru-buru dipondong oleh Poan Thian
akan diturunkan dari kuda. Liu Sian jadi sibuk
memberikan pertolongan dan lalu tanggalkan baju
luarnya yang lantas dibentangkan di atas rumput.
„Marilah baringkan padanya di situ buat beberapa
saat lamanya,” kata si nona.
Lie Poan Thian turuti permintaannya dengan hanya
mengucapkan satu perkataan: „Ya,” kemudian ia
membuka pauw-hoknya yang dibebankan di atas
kudanya, buat mengambil obat untuk mengobati lukaluka
kawannya itu.
285
Dalam kegelapan, si pemuda yang memegang bahu
Kong Houw dan merasakan bahu tersebut agak basah
dan lekat, dari itu, Poan Thian lantas ketahui, bahwa
darah telah keluar dari luka-luka yang terdapat pada
bagian itu.
„Cobalah kau pergi mencari air buat membersihkan
darah-darah yang masih mengucur dari luka-luka yang
diderita Cin Lauw-hia ini,” si pemuda meminta bantuan
Liu Sian. Si nona menurut.
Setelah membuka pauw-hoknya dan mengambil
sebuah gelas, lalu ia menyenduk air dari sebuah solokan
kecil yang airnya mengalir turun dari mata air yang
terdapat di atas bukit. Kemudian ia balik kembali dan
kasihkan itu pada Lie Poan Thian, yang segera
pergunakan itu untuk mencuci luka-lukanya Cin Kong
Houw.
Dan tatkala luka-luka itu telah dibersihkan, barulah
Poan Thian pakaikan obat luka yang dapat memunahkan
bisa, meringankan rasa sakit dan menahan mengucurnya
darah.
Untuk membalut luka-lukanya itu, tidak bisa dicari
kekainan yang cukup lebar. Tetapi Liu Sian yang terlebih
siang telah mengetahui ini, lalu cabut goloknya dan
potong sehelai bajunya sendiri untuk maksud itu.
Maka setelah Kong Houw tersadar dari pingsannya,
ia rasakan luka-lukanya telah menjadi kurangan sakitnya
dan telah dibalut dengan rapih.
Tetapi karena ia masih kelihatan agak lemah dan
perlu dirawat, maka Poan Thian lalu coba memandang
ke sekeliling tempat itu, untuk mencari penduduk yang
kiranya boleh dimintakan pertolongannya akan
memberikan mereka kamar buat mengaso.
286
„Itu di sana tampak api yang berkelak-kelik,” Bu Liu
Sian menunjuk ke suatu jurusan, „apakah itu bukannya
sebuah rumah penduduk, dimana kita boleh coba
kunjungi buat menumpang mengaso untuk beberapa
saat lamanya?”
„Ya, benar,” sahut Poan Thian, „akupun baru saja
melihat sinar api itu dan berpikiran begitu.” Kemudian
sesudah menyimpan kembali segala keperluan tadi yang
dipakai untuk merawat luka- lukanya Kong Houw, Poan
Thian lalu pondong sahabatnya itu dinaikkan ke atas
punggung kudanya, sedangkan si nona lalu menyelimuti
Kong Houw dengan bajunya yang dipakai hamparan tadi.
Setelah itu Poan Thian sendiripun lalu naik juga ke atas
punggung kuda itu, sambil memegangi Kong Houw yang
kelihatannya masih lemah sekali karena mengeluarkan
terlalu banyak darah dari luka-lukanya. Hal mana, pun
diturut juga oleh Liu Sian yang menunggangi kuda lain
dan segera dilarikan menuju ke arah sinar api yang
dilihatnya tadi.
Sesampainya ke tempat yang dituju, barulah mereka
ketahui, bahwa itulah bukan sebuah rumah penduduk,
tetapi sebuah kelenteng yang didiami oleh paderi,
perempuan. Karena dengan melihat nama „Giok-hun-am”
yang tercantum di muka pintu kelenteng tersebut, orang
segera ketahui jelas, paderi-paderi dari jenis kelamin
mana yang mendiami rumah suci itu. Lalu Poan Thian
minta Liu Sian turun dari kuda buat coba mengetok pintu.
Ketika si nona mengetok pintu kelenteng itu beberapa
kali, benar saja lantas terdengar suara orang yang
berjalan keluar membukakan pintu sambil bertanya:
„Siapakah itu yang mengetok pintu pada waktu malam
begini?”
287
„Kami,” sahut Liu Sian, „orang-orang yang telah
kegelapan dalam perjalanan dan mohon menumpang
berhenti untuk melepaskan rasa letih kami.” Begitulah
tatkala pintu kelenteng itu dibuka, dari dalam lalu tampak
dua orang nikouw yang masih muda dan buat beberapa
saat lamanya mereka tinggal terbengong mengawaskan
pada si nona dan kedua orang kawannya dengan tidak
mengucapkan barang sepatah katapun.
Hal mana, telah membuat Poan Thian kuatir, kalaukalau
Liu Sian nanti kesalahan dalam hal menerangkan
siapa diri mereka bertiga. Oleh sebab itu, buru-buru ia
minta supaya si nona suka pegangi dahulu Kong Houw
yang masih duduk di atas punggung kudanya,
sedangkan ia sendiri lalu maju memberi hormat pada
kedua orang nikouw itu sambil berpurapuramenerangkan,
bahwa mereka bertiga adalah
pelindung-pelindung kereta piauw yang telah tidak
beruntung kena dirampok oleh kawanan penjahat yang
telah melukai juga salah seorang kawannya ini.
Oleh karena kawan ini mendapat luka-luka yang agak
hebat dalam pertempuran tadi, maka ia mohon supaya
mereka diperbolehkan untuk menumpang berhenti guna
melepaskan lelah dan merawat lukanya sang sahabat itu.
Apabila luka-luka itu telah tidak berbahaya pula, maka di
hari esok juga mereka berjanji akan segera berlalu dari
situ.
Tetapi karena nikouw-nikouw itu tak berani
mengambil keputusan sendiri untuk menerima serta
memberikan orang menumpang tinggal, maka salah
seorang antaranya lantas berkata: „Sicu, aku harap
engkau jangan menjadi kecil hati. Tentang permintaanmu
untuk menumpang bermalam di sini, itulah tidak kuasa
buat mengabulkan atau melarang. Coba saja nanti aku
288
beritahukan hal ini pada guru kami. Apabila ia suka
mengizinkan, sudah tentu saja kami pun tidak
berkeberatan untuk menerima kunjunganmu ini.”
Poan Thian mengucap terima kasih dan menunggu di
luar untuk menantikan jawaban dari paderi kepala. Tidak
antara lama salah seorang nikouw muda tadi telah balik
kembali dan memberitahukan, bahwa guru mereka tidak
berkeberatan buat memberikan mereka menumpang di
situ untuk sementara waktu.
Mendengar penyahutan demikian, sudah tentu saja
Poan Thian dan kawan-kawannya jadi sangat girang dan
lalu menanyakan pada kedua orang nikouw itu, dimana
kuda mereka mesti dititipkannya.
„Di belakang kelenteng ini terdapat sebuah emper tua
yang sudah lama tidak terpakai,” kata salah seorang
nikouw itu, „tempatkanlah kuda-kudamu itu di sana,
karena selain tempat itu dapat dipergunakan untuk
berlindung dari hujan atau panas di waktu siang hari,
juga di sekitarnya terdapat banyak rumput-rumput yang
gemuk buat makan binatang-binatang itu.”
Poan Thian mengucap terima kasih dan lalu turunkan
Kong Houw dan pauwhok-pauwhok mereka dari atas
binatang-binatang itu.
Setelah kuda-kuda itu ditambatkan di tempat yang
telah diunjuk oleh si nikouw tadi, barulah Poan Thian
bertiga masuk ke kelenteng itu untuk menjumpai paderi
kepala yang kemudian ia ketahui bernama Beng Sim
Suthay.
Nikouw tua ini berasal dari distrik Tay-lie dalam
propinsi Hun-lam. Usianya sudah tua sekali, (menurut
keterangan muridnya, sembilanpuluh tahun), tetapi
gerakan-gerakannya masih gesit dan tangkas laksana
289
orang-orang yang baru berusia antara tigapuluh atau
empatpuluh tahun.
Nikouw tua ini ketika melihat Poan Thian memondong
Kong Houw masuk dengan diiringi oleh Liu Sian, dengan
lantas ia ketahui bahwa luka-lukanya Kong Houw itu
sesungguhnya tak dapat dikatakan ringan.
Maka setelah diunjuk sebuah kamar yang agak
besar, Beng Sim lalu menganjurkan supaya pemuda kita
segera baringkan Kong Houw di atas ranjang, diberikan
minum air teh hangat dan dirawat luka- lukanya
sebagaimana mestinya. Sedangkan Liu Sian yang
merasa bahwa kecelakaan itu seolah-olah telah
diterbitkan oleh karena gara-gara tindakannya sendiri,
maka ia tinggal terus di dalam kamar buat melayani Kong
Houw yang dilarang banyak bergerak oleh nikouw tua
tersebut.
Sementara Poan Thian yang diminta datang ke
ruangan pertengahan kelenteng oleh Beng Sim Suthay,
lalu buru-buru pergi ke sana, setelah terlebih dahulu ia
membuka baju luarnya, yang ia baru ketahui berlepotan
darah, ketika berada di dalam kelenteng itu.
Maka sesudahnya mempersilahkan pemuda kita
akan duduk dan disuguhkan air teh hangat, Beng Sim
lalu mulai menanyakan sebab-sebabnya, mengapa Poan
Thian dan kawan-kawannya bisa sampai ke situ dan
peristiwa apa yang telah dialami mereka, setelah menilik
keadaan Kong Houw yang mendapat luka- luka agak
berat itu.
Buat menyembunyikan peristiwa sebetulnya yang
telah dialami mereka tadi, Poan Thian lalu karang sebuah
cerita tentang bagaimana mereka dirampok di
pegunungan Pek-ma-san, dimana sahabatnya ini telah
290
menderita luka-luka dalam pertempuran dengan
perampok-perampok itu. Kemudian barulah mereka
berhasil dapat meloloskan diri dan sampai ke kelenteng
Giok-hun-am di situ.
Tetapi Beng Sim yang mendengar penuturan itu,
bukan saja agak tak percaya dengan keteranganketerangan
itu, malah sebaliknya ia tersenyum sambil
berkata: „Cong-su, rasanya ada lebih baik engkau bicara
terus-terang dan jangan menjustakan kepadaku. Karena
walaupun aku ini bukan dewa atau malaikat, tetapi aku
percaya, bahwa namaku cukup diindahkan oleh segala
penjahat-penjahat besar dan kecil yang hidup keliaran di
kalangan Kang-ouw. Lagi pula letaknya pegunungan
Pek-ma-san itu hanya tigapuluh atau empatpuluh lie saja
jauhnya dari sini.
Maka apa bila orang-orang yang berada laksaan lie
jauhnya bisa ketahui Beng Sim Lo-nie itu siapa, apakah
nama itu sebaliknya tidak dapat didengar oleh orangorang
yang berdiam hanya beberapa puluh lie saja
jauhnya dari kelenteng ini?”
Pemuda kita jadi kemekmek waktu mendengar
omongan paderi perempuan itu. Karena dengan
memperhatikan gaya bicara dan maksud-maksudnya
omongan tadi, ia baru mendusin bahwa Beng Sim Suthay
ini bukanlah seorang nikouw sembarangan.
Jikalau ia bukan seorang ahli silat yang ilmu
kepandaiannya sangat tinggi, cara bagaimanakah orangorang
dari kalangan Kang-ouw yang hidup laksaan lie
jauhnya dari situ bisa kenal dan mengindahkan
kepadanya?
Poan Thian jadi merasa menyesal yang ia telah
menjustakan kepadanya tadi. Maka buat menebus sedikit
291
kedosaan itu, buru-buru ia berbangkit dari tempat
duduknya, menyoja sambil mengucapkan maaf dan
berkata: „Suthay, aku percaya engkau tentu akan
memaafkan kami sekalian, apabila sebentar aku
menuturkan peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya
dialami oleh kami bertiga.”
„Ya, ya, sebagai seorang penganut agama Buddha
yang berpegang kepada pokok dasar kebaikan hati dan
mencintai pada sesama makhluk yang hidup di dalam
dunia ini,” kata nikouw tua itu, „sudah barang tentu aku
harus berlaku jujur dan tidak berat sebelah dalam hal
timbang menimbang terhadap pada segala persoalan ini
atau itu yang dialami oleh seseorang. Oleh karena itu,
aku anjurkan supaya engkau bicara dengan sejujurjujurnya.
Peristiwa apakah yang sebenarnya telah dialami
oleh kamu bertiga?”
Sekarang Poan Thian yang baru mengerti, bahwa
nikouw tua itu bukan seorang jahat, maka dengan secara
terus terang ia lantas menuturkan apa yang telah terjadi
atas diri mereka, dari awal sehingga diakhirnya, dengan
sama sekali tiada dikurangi atau dilebih-lebihkan.
Sementara Beng Sim Suthay yang mendengar
penuturan itu, sambil menghela napas ia lantas berkata:
„Oh, kalau begitu, patutlah tampaknya kamu begitu
tergesa-gesa. Tetapi, tentang ini, tidak perlu kamu
merasa takut atau curiga apa-apa, apabila kamu sekalian
masih ada di sini.”
Poan Thian lalu berbangkit dari tempat duduknya dan
menyoja serta mengucapkan terima kasih atas
kebaikannya nikouw tua itu.
„Aku lihat luka-lukanya kawanmu itu agak berat juga,”
kata Beng Sim pula. „Sekarang marilah kita coba periksa,
292
agar supaya selanjutnya kita ketahui apa yang kita harus
perbuat untuk meringankan sedikit penderitaannya.”
„Ya, baiklah.” Pemuda kita mengangguk sebagai
tanda setuju.
Kemudian ia mengikut Beng Sim menuju ke kamar
dimana Kong Houw dirawat oleh Bu Liu Sian.
Tetapi Kong Houw di sana ternyata telah tidur
dengan nyenyak oleh karena khasiat obat luka Poan
Thian yang telah dipakaikan kepadanya oleh si nona tadi.
Maka Beng Sim yang melihat kemajuan obat yang
dipakainya itu, lalu memberi isyarat supaya Poan Thian
dan si nona membiarkan saja Kong Houw tidur dan
jangan diganggu.
„Apabila nanti ia tersadar,” memesan nikouw tua itu,
„engkau boleh berikan padanya sedikit bubur dan obat
minum yang nanti aku suruh anak-anak buat sediakan.”
Poan Thian dan si nona kembali mengucapkan
terima kasih, hingga Beng Sim jadi tersenyum dan minta
supaya mereka tidak usah berlaku sungkan sampai
begitu.
Tetapi karena kuatir mereka nanti dikenali oleh matamata
pemerintah, maka nikouw tua itu menasehatkan,
agar supaya Poan Thian jangan keluar kemana-mana
dahulu, buat mana Poan Thian berjanji akan perhatikan
nasehat itu dengan sebaik-baiknya.
Begitulah beberapa hari telah lalu dengan tidak
terasa pula.
◄Y►
293
Pada suatu sore sesudah membantu Liu Sian
merawat dan mengobati Kong Houw, Poan Thian lalu
iseng- iseng pergi ke belakang kelenteng untuk melihat
kuda-kuda mereka yang ditambatkan dalam sebuah
emper kosong.
Di situ, selagi menambahkan rumput dan air dalam
sebuah periuk bekas, mendadak Poan Thian telah dibikin
kaget oleh suara orang-orang yang membentak dan
dibarengi dengan suara beradunya barang tajam.
Buru-buru ia berlompat bangun dan coba pasang
telinga akan mendengari, dari mana datangnya suarasuara
yang mencurigai hatinya itu.
Tatkala mendengar dengan pasti, bahwa suara-suara
itu telah keluar dari belakang pagar tembok yang terpisah
tidak berapa jauh dari emper kosong itu, Poan Thian lalu
melayang ke atas genteng dan terus merangkak menuju
ke arah pagar tembok tadi, dari mana, ketika
memandang ke arah pelataran sebelah dalam kelenteng
itu, ternyata di sana ada beberapa orang nikouw yang
masih muda, tengah berlatih ilmu silat di bawah pimpinan
Beng Sim Suthay, yang duduk melihati dari halaman
belakang kelenteng yang hampir menghadapi pagar
tembok tersebut. Tetapi karena halaman itu teraling
dengan ujung wuwungan yang menyenderung ke bawah,
maka Poan Thian yang berjongkok di situ tidak terlihat
oleh nikouw- nikouw yang sedang berlatih itu.
Tetapi sungguh tidak dinyana, selagi nikouw-nikouw
itu asyik bertempur dengan menggunakan golok masingmasing,
sekonyong-konyong Beng Sim terdengar
berseru: „Berhenti!” hingga sepasang nikouw yang
sedang berlatih itu segera menghentikan latihan mereka
dengan rupa heran. Karena sebegitu jauh yang mereka
tahu, selama itu mereka tak pernah melakukan gerakan294
gerakan yang menyimpang daripada apa yang mereka
telah dapat ajaran dari sang guru itu.
Sementara Beng Sim yang tampaknya paham juga
akan perasaan mereka di saat itu, lalu menunjuk ke atas
genteng sambil berkata: „Perhatikanlah olehmu sekalian!
Di atas wuwungan itu ada seorang yang mengintip
gerakan-gerakan kita.”
Kemudian ia menoleh pada seorang muridnya yang
berdiri tidak berjauhan dengan nikouw-nikouw yang
sedang berlatih tadi.
„Biauw Ko!” katanya, „cobalah kau pergi lihat siapa
adanya orang itu!”
Tetapi pada sebelum Biauw Ko melompat ke atas
genteng, Poan Thian sudah mendahului turun ke bawah
dan segera membungkukkan badannya memberi hormat
pada Beng Sim sambil berkata: „Suthay, murid mohon
beribu ampun atas kelancanganku yang telah berani
datang ke sini dan dengan secara tidak disengaja telah
mengganggu pada Suthay yang sedang melatih para
murid sekalian.”
Tetapi Beng Sim bukan saja tidak kelihatan jadi
gusar, malah sebaliknya lantas panggil pemuda kita
sambil ditanyakan: „Selama beberapa hari ini, aku telah
lupa menanyakan tentang asal usulmu. Kau ini asal
orang mana? Oleh karena kau juga mengerti ilmu silat,
apakah aku boleh dapat tahu siapa nama gurumu?”
„Murid ini berasal dari Cee-lam dalam propinsi Shoatang,”
sahut Lie Poan Tian, „dahulu pernah berguru pada
Kak Seng Siangjin Lo-siansu yang menjadi ketua dari
kelenteng Liong-tam-sie.”
295
„Kalau begitu,” kata nikouw tua itu pula, „kau ini
tentunya ada seorang murid yang berasal dari satu
perguruan dengan Hoa In Liong, bukan?”
„Benar, benar,” sahut Poan Thian, „Hoa In Liong itu
adalah Suheng hamba.”
Mendengar penyahutan itu, Beng Sim jadi tertawa
dan berkata: „Oleh karena kau ada seorang she Lie,
apakah kau ini bukan Lie Poan Thian yang orang- orang
di kalangan Kang-ouw memberikan gelaran Sin- tui itu?”
Poan Thian tersenyum sambil menghela napas.
„Suthay,” katanya, „itulah hanya gelaran kosong yang
orang telah berikan kepadaku sebagai suatu „umpakan”
Karena menurut apa yang aku ketahui, ilmu kepadaianku
itu adalah sangat terbatas. Maka kalau Suthay telah
mendengar juga tentang adanya seorang yang
mempunyai gelaran demikian di kalangan Kang-ouw, aku
harap supaya Suthay anggap itu sebagai suatu „kabar
burung” belaka. Karena dengan sesungguhnya juga
gelaran itu telah diberikan orang tidak seimbang dengan
kenyataan atau apa yang mereka tahu tentang „isi” yang
sebenar-benarnya.”
„Kau ini kelihatannya terlalu merendahkan diri
sendiri,” kata Beng Sim Suthay sambil tersenyum.
„Mungkin juga karena aku belum menerangkan siapa
sebenarnya aku ini, maka engkau telah berlaku sungkan
dan pura-pura mengatakan begitu. Aku inilah bukan lain
daripada adik seperguruan gurumu Kak Seng Siang-jin
dari Liong-tam-sie. Jadi dengan adanya hubungan
dengan gurumu itu, kau dan aku masih kepernah Su-tit
dan Su-kouw. Oleh sebab itu, dimanalah ada seorang
Su-kouw yang tidak merasa bangga, akan mendengar
salah seorang Su-titnya memperoleh nama besar di
296
kalangan Kang-ouw, hingga dengan begitu, nama ilmu
silat dari cabang Siauw-lim jadi semakin mengharum di d
alam dunia ini?”
Lie Poan Thian jadi kaget tercampur girang tatkala
mendengar omongan itu. Ia sama sekali tidak menduga,
akan bisa berjumpa dengan salah seorang adik
seperguruan gurunya sendiri di tempat sunyi itu.
Maka setelah sekarang mengetahui dengan siapa ia
berhadapan, Poan Thian lekas jatuhkan diri berlutut dan
menjura di hadapan Beng Sim sambil berkata: „Su-kouw,
nyatalah aku ini ada seorang yang punya mata tetapi tak
mengenali Su-kouw sendiri! Maka jikalau selama itu aku
telah melakukan perbuatan sesuatu yang kurang patut
dan tidak sopan, sudilah apa kiranya Su-kouw
memaafkan kepadaku.”
Sementara Beng Sim yang melihat Poan Thian
menjura di adapannya, buru-buru ia banguni dan
berkata: „Kita sekarang adalah terhitung sanak saudara
dari satu golongan juga, perlu apakah Su-tit mesti
berlaku sungkan sampai begitu?”
Poan Thian lalu bangun dan berdiri di hadapan
nikouw tua itu, yang sekarang ia kenali sebagai Sukouwnya,
Su-moay atau adik seperguruan dari gurunya
sendiri.
„Kita sekarang justeru tengah berlatih ilmu silat,” kata
Beng Sim Suthay, „oleh sebab itu, sudikah kiranya kau
juga turut berlatih, untuk membuka pemandangan para
Su-cie dan Su-moymu yang sekarang justeru berkumpul
di sini?”
Poan Thian merasa tidak baik buat menolak, apalagi
kalau mengingat bahwa mereka semua adalah berasal
dari satu cabang perguruan Siauw-lim juga.
297
Dari itu, sesudah memberi hormat pada Beng Sim,
yang lalu perkenalkannya pada sekalian nikouw- nikouw
yang berkumpul di situ, Poan Thian lalu menyatakan
kesediaannya akan turut berlatih.
Tetapi berhubung ilmu kepandaiannya masih sangat
terbatas, si pemuda merendahkan diri, maka ia harap
jangan dibuat celaan, jikalau ilmu silat yang
dipertunjukkannya itu kurang baik.
„Kak Seng Suheng adalah seorang yang terlalu
cerewet dalam hal memilih murid,” kata Beng Sim Suthay
sambil tersenyum, „oleh sebab itu aku tidak percaya ia
akan mempunyai murid yang mengecewakan
pengharapannya. Salah seorang antaranya, aku boleh
sebutkan namanya Hoa In Liong, seorang yang sekarang
dianggapnya sebagai salah seorang murid keluaran
Liong-tam-sie yang paling berjasa dan telah membikin
orang-orang di kalangan Kang-ouw semakin
mengindahkan terhadap orang tua yang menjadi
gurunya. Sedangkan orang kedua yang telah membikin
Kak Seng mendapat muka terang di mana-mana, adalah
kau sendiri — Sin- tui Lie Poan Thian. Karena aku tahu,
bahwa setiap orang yang tidak mempunyai bakat baik
akan dididik menjadi seorang ahli silat, Kak Seng selalu
menolak dengan getas akan orang itu belajar ilmu silat di
Liong-tam-sie. Tidak perduli berapa banyak orang itu
hendak membayar biaya melatih kepadanya. Sedangkan
murid-muridnya yang sekarang ada di Liong-tam-sie,
itulah ada murid-murid pilihan, yang baru keluar apabila
ilmu kepandaiannya sudah dianggap sempunra betul.
Oleh sebab itu, perlu apakah kau mesti berlaku sungkan
terus-menerus?”
Poan Thian jadi merasa tidak enak karena
perbuatannya yang terlalu see-jie itu. Maka setelah
298
memberi hormat pada Beng Sim dan para nikouw
sekalian, lalu ia menindak ke tengah lataran, dimana ia
lalu bersilat dengan menggunakan ilmu pukulan Kie-tokun
yang dimulai dengan merangkapkan kedua
tangannya, kemudian ia bergerak dengan mengunjukkan
gerakan-gerakan lain yang semakin lama tampak
semakin cepat dan menarik di pemandangan mata.
Setelah seantero gerakan dari ilmu pukulan itu
selesai dipertunjukkan, barulah Poan Thian dengan
berturut- turut menyambungkan ilmu pukulan tadi dengan
ilmu- ilmu tendangan Lian-hwan-jie-sie-tui, Tiap- pouwwan-
yo-tui, Soan-hong-tui, dan lain-lain., hingga Beng
Sim Suthay yang merasa kagum menyaksikan ilmu
kepandaian pemuda itu, saban-saban terdengar
bersorak-sorak: „Sungguh bagus sekali! Sungguh bagus
sekali!”
„Jikalau ditilik dari jalannya ilmu kepandaian Kok
Ciang ini,” pikir nikouw tua itu, „nyatalah dia tak kecewa
akan dimintakan bantuan tenaganya untuk melakukan
kebaikan bagi dunia.”
Begitulah, tatkala Poan Thian selesai menjalankan
ilmu pukulannya yang terakhir, ia segera
membungkukkan badannya sambil berkata: „Su- kouw,
sekianlah ilmu kepandaianku yang jelek itu.”
Beng Sim jadi kelihatan girang dan berkata: „Jikalau
dilihat dari segala sudut ilmu kepandaianmu itu, yang
sesungguhnya tidak mengecewakan bagi nama baiknya
kita orang-orang dari golongan Siauw-lim, kukira orang
macam kau inilah yang sangat dibutuhkan oleh In Cong
Sian-su dari kelenteng Po-to- sie. Hanya belum tahu
apakah kau bersedia akan membantu usaha orang tua
itu?”
299
„Su-tit belum kenal siapa adanya In Cong Sian-su
itu,”
Poan Thian memotong pembicaraan nikouw tua itu.
„Juga dalam soal apakah, yang ia membutuhkan
seorang sebagaiku ini?”
Beng Sim Suthay lalu menerangkan kepadanya
sebagai berikut: „In Cong Sian-su ini adalah ketua dari
kelenteng Po- to-sie, yang terletak di pegunungan Po-tosan
dalam propinsi Ciat-kang. Oleh karena mempunyai
penglihatan yang amat tajam dan dapat melihat segala
sesuatu di waktu malam yang gelap gelita, maka orangorang
di kalangan Kang-ouw telah memberikan ia nama
julukan Kim-gan-sin-eng, atau garuda sakti yang bermata
emas. Ilmu kepandaiannya In Cong Sian-su ini walaupun
benar setingkat denganku, tetapi ia bukan belajar dengan
secara langsung dari kelenteng Siauw-lim-sie di
pegunungan Siong-san, tetapi dengan melalui kelenteng
Ceng-liang-sie di pegunungan Ngo-tay-san dalam
propinsi San-see, maka dari itu, ia sangat paham dalam
ilmu Lo-han-kun yang menjadi pokok pelajaran ilmu silat
di kelenteng tersebut.
„Sedangkan aku sendiri dan Kak Seng Suheng,
adalah berasalkan dari kelenteng Siauw-lim-sie dan
keluar dari paseban Lo-han-tong untuk bantu menyiarkan
ilmu silat cabang Siauw-lim disamping mengembangkan
agama Buddha.
Lebih jauh karena Kak Seng Suheng menjadi salah
seorang antara empat murid dari kelenteng Siauw- limsie
yang ilmu kepandaiannya telah mencapai puncak
yang tertinggi, maka ia telah diunjuk sebagai salah
seorang guru besar dengan membuka sendiri perguruan
ilmu silat di kelenteng Liong-tam-sie, dimana kau
300
sendiripun pernah belajar di bawah pimpinannya
sehingga beberapa tahun lamanya.
„Tetapi caranya Kak Seng dan In Cong menerima
murid-murid masing-masing sangat berlainan sekali.
Karena jikalau yang pertama mengutamakan kwalitet
pelajaran dan bakat seseorang, adalah In Cong suka
dengan banyak murid dan kepingin kelihatan maju di
mata umum. Oleh sebab itu, ia menjadi kurang menaruh
perhatian terhadap pada kwalitet murid- murid yang turut
belajar di kelenteng Po-to-sie tersebut.
3.19. Tugas Perguruan Dari Bibi Guru
„Salah seorang muridnya In Cong yang bernama Wie
Hui, akhirnya telah melarikan diri dari Po-to-sie, setelah
dapat memahamkan ilmu Pek-houw-kang dengan
sebaik-baiknya.
„In Cong Sian-su sendiri mula-mula tidak mengerti
apa sebabnya sang murid itu telah melarikan diri, apalagi
kalau mengingat bahwa ia itu adalah seorang yang tidak
suka mencari setori dan bisa hidup rukun di antara
sesama kawan seperguruannya.
“Begitulah beberapa orang muridnya telah diperintah
akan pergi mencari kepadanya di daerah-daerah sekitar
pegunungan itu dan di tepi daratan yang berdekatan,
tetapi murid-murid itu telah kembaIi dengan memberikan
laporan, bahwa orang yang cari itu tidak dapat
diketemukan.
„Paling belakang karena orang melihat pakaiannya
pemuda itu telah diketemukan di tepi jurang yang di
bawahnya terletak lautan yang sangat luas dan dalam,
maka orang segera menarik kesimpulan, kalau-kalau Wie
301
Hui itu telah membunuh diri dengan jalan menyebur ke
dalam laut, walaupun tidak terdapat tanda-tanda yang
mengunjukkan dengan tegas, bahwa tindakan itu telah
diambil oleh Wie Hui karena dialaminya sesuatu peristiwa
dalam penghidupannya selama berdiam di kelenteng Poto-
sie tersebut. Oleh sebab itu. selanjutnya orang telah
tidak mencoba pula akan mencarinya.
„Tahu-tahu ketika pada suatu hari ada salah seorang
sahabatnya In Tiong yang berkunjung ke Po-to-sie,
barulah diketahui, bahwa Wie Hui itu sekarang telah
menjadi seorang penjahat yang namanya mulai dikenal
oleh pihak yang berwajib, tetapi sampai sebegitu jauh
belum ada seorang pun yang mampu membekuk murid
yang sesat itu.
„In Cong yang mendengar kabar itu sudah tentu saja
tak berbeda dengan seorang yang mendadak
mendengar suara guntur di hari terang, dan ia marah
bukan main pada Wie Hui, yang dianggapnya telah
berkhianat kepadanya dan merusak nama baik
perguruan ilmu silat cabang Siauw-lim yang terbesar di
seluruh Tiongkok.
„Barang siapa yang mengkhianat atau menodakan
nama baik rumah perguruannya,” kata paderi tua itu, „ia
harus dihukum dengan jalan membunuh diri atau
dibunuh dengan secara kekerasan!”
„Demikianlah menurut kata salah seorang muridku,
tatkala aku perintah ia membawa surat ke sana untuk
memperingati pada In Cong, agar supaya murid yang
begitu jahat bisa lekas dibasmi pada sebelum keburu ia
melakukan lebih banyak kejahatan yang membikin
namanya cabang Siauw-lim jadi semakin „jatuh” di
matanya khalayak ramai.
302
„Akhir-akhirnya karena In Cong sendiri tak
mempunyai murid lain yang ilmu kepandaiannya lebih
tinggi daripada Wie Hui, maka ia telah minta supaya aku
di sini pun turut mengikhtiarkan akan mencari salah
seorang atau beberapa orang saja yang bisa dimintakan
bantuannya untuk membasmi muridnya yang telah
berkhianat itu, asalkan permintaan itu diajukan kepada
orang-orang dari golongan kita juga.
„Maka waktu aku menyaksikan ilmu kepandaianmu
yang begitu bagus dan aku percaya tak ada di bawah
daripada Wie Hui, aku jadi ingat pada pesanan In Cong
pada beberapa bulan yang lampau itu. Hanya belum tahu
apakah kau bersedia akan bantu melaksanakan usaha
orang tua itu, yang mengalami peristiwa tidak enak dan
mungkin juga karena ini akan kejadian hilang muka dan
„turun merek” dalam pandangan saudara-saudara dan
saudari-saudari kaum lain di kalangan Kang-ouw?”
Poan Thian yang memang berhati tabah dan tidak
suka mendengar segala perbuatan yang melanggar tatatertib
dan kesusilaan umum, dengan lantas menyatakan
kesediaannya untuk membantu, sehingga Wie Hui dapat
dibasmi dan nama baiknya In Cong Sian-su terbebas
pada tuduhan orang banyak sebagai seorang guru yang
tak mampu mengajar murid.
„Aku sendiri sebetulnya hendak pergi ke Tiong-ciu
untuk memberitahukan kepada kakakku di sana tentang
pernikahanku yang akan dilakukan sekembalinya aku
dari sana,” kata pemuda kita.
„Tetapi karena mengingat bahwa itu hanya
bersangkutan dengan suatu perkara perseorangan saja
yang masih boleh ditunda, maka aku pikir urusan ini akan
kudahulukan penyelesaiannya, selagi perbuatannya Wie
Hui belum seberapa menghebat. Karena jikalau ia telah
303
memperoleh banyak kawan yang turut serta dalam
„perjoangannya”, mungkin juga aku seorang tidak cukup
untuk membasmi kejahatannya manusia busuk itu
sehingga tercabut sampai ke akar-akarnya. Hanya belum
tahu sekarang Su-kouw hendak atur bagaimana tentang
penyelesaiannya urusan ini?”
„Buat itu,” kata Beng Sim Suthay dengan paras muka
yang berseri-seri, „sudah tentu saja kau harus berangkat
ke Po-to-sie untuk merembukkan hal ini dengan In Cong
Lo-siansu di sana.”
Poan Thian mengangguk-anggukkan kepalanya
beberapa kali, kemudian dengan suara perlahan ia
berkata: „Su-kouw, aku ada suatu hal yang hendak minta
bantuanmu di seketika ini juga.”
„Ya, itu sudah tentu saja boleh sekali,” kata nikouw
tua itu. „Cobalah kau terangkan, bantuan apa yang
hendak kau minta dari aku.”
Poan Thian lalu tuturkan riwayatnya Kong Houw dan
Bu Liu Sian, yang kedua-duanya pernah ia tolong untuk
melaksanakan pekerjaan masing-masing dalam hal
menuntut balas terhadap musuh-musuh mereka.
Maka setelah maksud masing-masing telah tercapai,
apakah tidak baik kalau diusulkan supaya mereka
menikah saja, agar supaya dengan begitu, perhubungan
mereka jadi lebih erat dan bisa hidup terus sehingga
selama-lamanya?”
„Ya, ya, benar,” Beng Sim Suthay menyetujui. „Itu
aku sangat mufakat. Apakah hanya dalam hal ini saja
yang hendak kau minta bantuanku?”
Poan Thian membenarkan omongan itu.
304
„Urusan itu tidak sukar,” kata nikouw tua itu sambil
tersenyum. „Nanti besok aku sampaikan urusan ini
kepada mereka berdua. Aku percaya mereka tentu suka
menurut. Karena dengan hidup saling berkumpul setelah
mengalami kesukaran bersama-sama, sudah tentu saja
ada lebih baik daripada tercerai-berai di luaran dengan
masing-masing tak mempunyai tujuan yang tertentu,
bukan?”
Poan Thian tersenyum dan mengucapkan terima
kasih atas bantuannya Beng Sim yang baik budi itu.
◄Y►
Sekembalinya dari perkunjungan dan turut berlatih
ilmu silat di hadapan Su-kouwnya, Poan Thian segera
kembali ke kamarnya untuk masuk tidur. Akan tetapi
tidak langsungnya ia masuk ke kamar itu, berhubung dari
sebelah luar ia mendengar Liu Sian dan Kong Houw
yang luka-lukanya sudah hampir sembuh tengah pasang
omong dengan suara perlahan-lahan.
„Itulah sebabnya mengapa aku telah bersembunyi di
kelenteng Leng-coan-sie,” si nona terdengar berbicara,
sambil dibarengi dengan suara elahan napas, „tetapi
sungguh tidak kunyana, karena adanya aku di situ, lalu
timbullah lelakon „Hantu Putih” yang telah
menggemparkan khalayak ramai, sehingga akhirnya aku
telah beruntung bisa bertemu dengan kau dan Lie Congsu.
Jikalau aku tidak bertemu dengan Lie Cong- su dan
kau berdua, belum tahu sampai kapan musuh- musuhku
itu bisa terbalas. Oleh karena itu, apakah salahnya
jikalau aku menjunjung begitu tinggi atas pertolongan
dan bantuan-bantuan kamu berdua itu?”
Kong Houw kedengaran tertawa.
305
„Hanya belum tahu setelah kita saling berpisahan
nanti,” katanya, „sampai kapankah kita akan bisa
berjumpa pula?”
Kata-kata yang kedengaran agak romantis itu, bikin
Poan Thian yang berada di luar jadi semakin asyik
mendengarinya. Ia saban-saban kelihatan tersenyum
sendiri. Ia sangat kepingin tahu, jawaban apa yang
hendak diberikan si nona itu.
„Setelah kemudian kita saling berpisahan,” sahut Liu
Sian dengan suara yang kurang nyata, „ada
kemungkinan kita tak akan berjumpa pula.”
Pemuda kita jadi terharu mendengar omongan si
nona itu.
„Itu tidak bisa jadi,” kata Kong Houw. „Biarpun kita
berada dimana juga, kalau kita masih ada umur, tentulah
kita akan bisa saling bertemu. Hanya belum tahu nona
Bu berumah di bagian mana dari kota Ham-yang?”
Liu Sian bungkam. Tetapi elahan napasnya bisa
terdengar dengan tegas dalam keadaan yang sesunyi itu.
„Aku..... tidak punya rumah tangga lagi,” tiba-tiba ia
menjawab. „Karena apa yang ada..... semua telah disita
oleh jahanam she An yang kita telah bunuh itu. Dari itu,
aku sekarang hidup sebatang kara.....”
Setelah berkata sampai di situ, Liu Sian tak tertahan
pula terdengar menangis dengan suara perlahan.
Poan Thian jadi menghela napas dan turut berduka
atas nasib si nona yang malang itu.
Kong Houw yang rupanya jadi „kesima” dengan
kelakuan si nona, mula-mula tidak terdengar berbicara
apa-apa, tetapi kemudian lantas menghibur sambil
berkata: „Nona Bu, segala sesuatu yang telah terjadi,
306
sudah tentu kita sesalkan pun tak ada gunanya pula.
Maka apa yang sekarang paling perlu kita pikirkan,
adalah berikhtiar untuk penghidupan kita yang bakal
datang. Aku telah lama memikirkan dan berniat akan
membuka sebuah piauw-kiok. Kau dan aku adalah
orang-orang yang boleh dikatakan hampir senasib,
hanya persoalannya saja yang agak berbedaan. Juga,
seperti apa yang telah dialami olehmu sendiri, akupun
beruntung telah mendapat bantuan dan pertolongannya
Lie Lauw-hia, kalau tidak, belum tahu bagaimana jadinya
dengan diriku sekarang. Bisa jadi juga aku sudah mati
dibuang ke tempat yang jauh. Aku pikir, jikalau maksudku
buat membuka piauw- kiok itu kesampaian, apakah tidak
baik jikalau..... jikalau kau juga turut dalam usahaku itu?”
„. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .”
Akhir-akhirnya Poan Thian yang tidak sabar lagi
mendengari pembicaraan mereka di luar kamar, lalu
berjalan masuk dan turut menimbrung: „Mufakat,
mufakat! Cara kerja sama itu memanglah ada suatu jalan
yang paling baik untuk mempererat perhubungan kita,”
katanya sambil tersenyum. „Aku bantu doakan, agar
supaya cita-cita itu bisa lekas kesampaian.”
Kong Houw tertawa, yang juga diturut oleh Liu Sian
sambil menyusut airmatanya.
„Dan jikalau piauw-kiok itu bisa kejadian dibuka,”
Poan Thian menambahkan, „aku pujikan supaya
diberi bernama ,,Siang-hap Piauwkiok” atau „Piauw-kiok
Dua Sejoli”! Tetapi belum tahu apakah kamu setuju
dengan nama pemberianku itu?”
Kedua orang itu jadi bungkem sejurus. Karena dalam
kata penolong mereka itu seakan-akan menyelip
307
„maksud” sesuatu yang agak samar tetapi mudah
dimengerti.
Selanjutnya karena urusan Kong Houw hendak
membuka piauw-kiok telah tidak dilanjutkan pula, maka
ketiga orang itupun lalu pergi masuk tidur.
Di hari esoknya pagi-pagi sehabis dahar nasi, ketika
Poan Thian pergi memeriksa kuda mereka di belakang
kelenteng, Beng Sim Suthay telah datang menyambangi
Kong Houw yang luka-lukanya sudah hampir sembuh.
Di situ, setelah duduk mengobrol beberapa saat
lamanya, ni-kouw itu lalu mulai mengulangi penuturannya
Lie Poan Thian tentang dirinya (Kong Houw) dan Si nona
itu, yang dikatakan betapa baiknya apabila mereka bisa
terangkap menjadi suami-isteri.
Karena disamping keperluan Kong Houw sehari-hari
bisa ada orang yang bantu urus, juga si nona yang
sekarang hidup sebatang kara bisa mempunyai
pelindung yang boleh dipercaya dan telah saling
mengenal dengan baik tabeat masing-masing pada
beberapa waktu itu.
Sementara Kong Houw dan Liu Sian yang
mendengar omongan ni-kouw tua itu, mereka pun jadi
teringat akan omongan Poan Thian yang telah diucapkan
kemarin di hadapan mereka dengan secara memain.
Maka setelah sekarang mereka mendapat juga
anjuran dari Beng Sim Suthay, yang baik hati itu, sudah
tentu saja mereka pun suka menurut dan berjanji akan
melaksanakan pengharapan Poan Thian dan nikouw tua
itu, lebih-lebih karena mereka memang „ada hati” satu
sama lain selama mereka menumpang tinggal di
kelenteng Giok-hun-am itu.
308
Tetapi karena mereka berdua tak mempunyai sanak
saudara, maka Beng Sim kembali menganjurkan kepada
mereka, supaya upacara pernikahan itupun diadakan
saja di kelenteng tersebut, dengan semua keperluankeperluannya
diatur serba sederhana oleh ia sendiri dan
Poan Thian berdua.
Kong Houw dan Liu Sian yang mendengar omongan
itu, dengan girang lekas menjura di hadapan Beng Sim
Suthay, sambil menyampaikan rasa terima kasih mereka.
Demikian juga ketika melihat Poan Thian kembali
memeriksa kuda, merekapun lalu menyambut dan
mengucap terima kasih, atas perantaraan si pemuda
yang telah bantu mengikat perjodohan mereka, dengan
melalui usaha yang telah disampaikan oleh Beng Sim
Suthay tadi.
Sedang Poan Thian yang melihat maksudnya yang
hendak merangkapkan perjodohan Kong Houw dan Liu
Sian telah berhasil sebagaimana apa yang diharapnya,
sudah tentu saja iapun menyatakan turut bergirang,
maka selanjutnya dengan suara separuh memain ia
bantu berdoa, supaya dengan perangkapan jodoh ini,
„Siang-hap Piauwkiok” yang dicita-citakannya pun bisa
lekas dibuka. Karena dengan begitu, sewaktu-waktu ia
bisa „numpang berhenti”, apabila ia kebetulan sempat
atau melewat ke tempat kediaman mereka berdua.
Sebaliknya Kong Houw dan Liu Sian yang telah
menerima budi bukan kecil dari pemuda kita, mengharap
juga akan lekas ikut minum arak kemantin yang akan
diadakan di rumah keluarga Na, dimana pun akan
dirayakan pernikahan antara Poan Thian sendiri dan
nona Giok Tin.
Maka setelah Kong Houw dan Liu Sian menikah dan
menuju ke selatan untuk melaksanakan cita-cita mereka
309
akan membuka sebuah piauw-kiok, Poan Thian pun
dengan membawa surat dari Beng Sim Suthay lalu
menuju ke propinsi Ciat-kang, dari mana ia telah
diperintah akan berangkat ke kelenteng Po- to-sie, untuk
membantu usaha In Cong Sian-su yang telah dikhianati
oleh seorang muridnya yang bernama Wie Hui itu.
Oleh karena kuda-kuda yang ada telah diberikan
pada Kong Houw suami-isteri, maka ia sendiri terpaksa
melanjutkan perjalanannya ke Po-to-sie dengan berjalan
kaki.
◄Y►

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Cinta Dewasa Guru Silat: Si Kaki Sakti 3 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments