Cerita Cinta Romantis Filipina : PAB 13

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Cinta Romantis Filipina : PAB 13
Cerita Cinta Romantis Filipina : PAB 13
―Hei… mengapa demikian? Apakah Adik Ying Ying sudah tak mencintainya lagi?‖, tanya Murong Huolin dengan heran.
Agak lama sebelum Hua Ying Ying menjawab, ―Aku… aku tidak ingin berbohong pada enci berdua, sebenarnya perasaan itu belumlah hilang. Tapi aku tidak ingin menjadi pengganggu kebahagiaan kalian. Aku yakin Kak Ding Tao sudah mendapatkan dua orang isteri yang sangat baik, yang akan dapat membahagiakan dirinya. Sedangkan diriku, kukira setelah beberapa tahun, tentu perasaan ini akan hilang dengan sendirinya.‖
―Anak bodoh…‖, tegur Murong Yun Hua penuh rasa sayang.
2319
―Bagaimana mungkin dia bisa berbahagia, jika dia tidak bersanding dengan dirimu, tak tahukah kamu, betapa dia mencintaimu?‖, tanya Murong Yun Hua pada Hua Ying Ying.
Pipi Hua Ying Ying bersemu dadu mendengar perkataan Murong Yun Hua dan tidak menjawab apa-apa. Meskipun sudah bertekad untuk menolak pinangan Ding Tao, bagaimanapun juga hatinya mengembang mendengar kata-kata Murong Yun Hua itu. Tiba-tiba Murong Yun Hua mendesah sedih dan Hua Ying Ying pun menengadahkan kepala, melihat kesedihan di wajah Murong Yun Hua dan bertanya.
―Enci… mengapakah enci bersedih?‖, tanya Hua Ying Ying dengan kuatir.
―Bagaimana aku tidak bersedih? Kalian berdua tidak bisa bersatu…, semua itu adalah salahku.‖, keluh Murong Yun Hua.
Hua Ying Ying yang sudah timbul perasaan suka dan sayangnya pada kedua bersaudara Murong itu, dengan serta merta menjawab, ―Jangan berpikir demikian, aku sudah mendengar semua kisahnya dari Kak Ding Tao dan aku kira itu semua bukan kesalahan enci berdua.‖
2320
―Ah… benarkah demikian? Coba kau ceritakan apa yang Kak Ding Tao katakan kepadamu tentang pertemuannya dengan kami berdua.‖, ujar Murong Yun Hua.
Maka Hua Ying Ying pun bercerita, menceritakan pengakuan Ding Tao tentang pertemuannya dengan kedua Murong bersaudara itu. Ding Tao adalah seorang pemuda yang tulus hati, dengan sendirinya dalam cerita itu dia tidak menceritakan bagaimana Murong Yun Hua menggodanya. Sebagai seorang pemuda yang lembut hati, dia menjaga nama baik kedua orang isterinya itu, dan kesalahan sepenuhnya tertimpa pada kelemahan hatinya.
Setelah Hua Ying Ying selesai bercerita, maka Murong Yun Hua pun berkata, ―Ah… Ding Tao memang sungguh seorang lelaki sejati, tak hendak dia membuka aibku, meskipun dengan demikian dia bisa membersihkan namanya. Adik Ying, kisah Ding Tao itu meskipun tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.‖
―Maksud enci?‖, tanya Hua Ying Ying dengan hati berdebar.
Murong Yun Hua memandangi Hua Ying Ying lama sekali, kemudian berkata, ―Adik Ying Ying, sebelum kuceritakan yang
2321
sebenarnya, maukah kau berjanji untuk tidak memandang rendah diriku?‖
―Tentu saja aku tidak akan pernah melakukan hal itu, sudah kudengar banyak hal yang baik tentang Enci Yun Hua, dan hari ini aku membuktikannya dengan mataku sendiri, mana mungkin aku memandang rendah enci?‖, jawab Hua Ying Ying dengan yakin.
Tersenyum sedih, membuat mereka yang melihatnya merasa pilu, Murong Yun Hua pun menjawab, ―Jika sudah kuceritakan kisah yang sebenarnya, mungkin Adik Ying Ying tidak akan berpikir demikian lagi. Namun demi kebahagiaan kalian berdua, biarlah aku membuat pertaruhan ini.‖
―Dengarlah, sesungguhnya antara aku dan Ding Tao tidak pernah terjadi apa pun, sebelum pernikahan kami. Meskipun benar adanya kami berdua sudah jatuh cinta padanya, namun Ding Tao selalu mengingat dirimu semata. Hanyalah setelah mengira engkau sudah tiada, barulah hatinya terbuka bagi kami berdua. Itu pun pada awalnya dilakukan semata-mata karena rasa kasihan dan keinginan untuk membalas budi.‖, ujar Murong Yun Hua menjelaskan pada Hua Ying Ying.
2322
―Aku tidak mengerti…, jika kalian berdua belum pernah berhubungan, lalu… lalu…‖, ujar Hua Ying Ying terbata-bata, tak tega hendak melanjutkan pertanyaannya.
―Lalu dengan siapa aku berhubungan hingga akhirnya aku berbadan dua.‖, sambung Murong Yun Hua melanjutkan pertanyaan yang tidak sampai hati diselesaikan oleh Hua Ying Ying.
Air mata pun meleleh, membasahi kedua pipi Murong Yun Hua , ―Ah… adik… sebelum aku bertemu dengan Ding Tao, aku tidak tahu seperti apa lelaki yang baik itu.‖
Untuk beberapa saat lamanya ruangan itu hening, tak ada seorang pun yang bicara, kemudian Murong Yun Hua melanjutkan, ―Aku tertipu oleh seorang laki-laki… kukira apa yang terjadi tidak perlu kujelaskan, kau toh sudah mengerti. Tadinya sudah kuputuskan hendak hidup jauh dari orang-orang, biarlah kusembunyikan aib ini sendiri. Tapi nasib berkata lain, dalam pelariannya Ding Tao bertemu kami berdua.‖
―Saat itu dia dalam keadaan terluka dan dikejar-kejar oleh Sepasang Iblis Muka Giok, oleh belas kasihan, kami berdua memutuskan untuk menolong dirinya. Dalam waktu yang
2323
singkat itu, memang kami berdua dibuat terpikat oleh sifat-sifatnya yang mulia. Namun dalam hatinya hanya ada dirimu, tak ada tempat bagi yang lain. Aku pun bisa menerima kenyataan itu, mengingat keadaanku … ah… masakan aku cukup berharga untuknya?‖, Murong Yun Hua bercerita penuh perasaan, membuat Hua Ying Ying ikut hanyut dalam ceritanya.
―Ketika kami mendengar nasib buruk yang menimpa dia, tak tahan, kami pun datang mengunjunginya, untuk memberikan sedikit bantuan yang bisa kami berikan. Keadaanku yang berbadan dua, tentu saja mengundang pertanyaan. Tapi di sinilah kemurahan haitnya sungguh terlihat, tanpa ragu dia mengakui anak ini sebagai anaknya. Adik Ying Ying, kau yang paling mengenal dirinya, jika dia merasa berhutang budi pada seseorang, dalam keadaan seperti itu, di mana dia juga mengira dirimu sudah meninggal, menurutmu apakah dia akan berlaku demikian?‖, tanya Murong Yun Hua pada Hua Ying Ying.
Hua Ying Ying pun tercenung, dan mengingat-ingat segala sifat baik Ding Tao. Kelembutannya bahkan kelemahan hatinya jika melihat kesusahan orang lain. Apakah mungkin ini kisah yang sebenarnya? Bagi kita yang mengikuti perjalanan Ding Tao dari awal hingga sekarang, tentu saja kita tahu bahwa cerita Murong
2324
Yun Hua tidak lebih hanyalah karangan belaka. Jika Ding Tao mengisahkan pertemuannya dengan Murong Yun Hua sambil menutupi bagian-bagian yang dia anggap bisa mempermalukan Murong Yun Hua, maka justru Murong Yun Hua tanpa ragu mengisahkan kisah itu dengan memikul semua aib pada dirinya, mengangkat Ding Tao seakan dia seorang lelaki tanpa cacat, serupa malaikat atau orang suci. Apakah ada manusia sebaik itu? Mungkin demikian kita akan bertanya-tanya, tapi Hua Ying Ying yang sedang jatuh cinta pada Ding Tao, mana mungkin bertanya demikian.
Melihat Hua Ying Ying termakan oleh ceritanya, Murong Yun Hua pun melanjutkan, ―Sungguh aku berterima kasih tak terkira dalamnya saat dia meminang wanita yang penuh noda ini, menjadi pahlawan yang menghapuskan aib, yang kukira harus kutanggung oleh diriku dan oleh anak dalam kandunganku seumur hidupku.‖
Air mata Hua Ying Ying kembali mengembeng, perasaannya campur aduk antara terharu, bangga dan bahagia.
―Tapi aku merasa diriku tak pantas baginya, di saat yang sama, pinangan itu adalah berkah yang tak terkira harganya. Kebetulan aku tahu bahwa Adik Huolin menyimpan rasa pada
2325
dirinya, dan aku memutuskan untuk menerima pinangannya, asalkan dia bersedia menikah pula dengan Huolin adikku yang masih suci. Hanya dengan cara itu, setidaknya aku tidak merasa terlampau malu, merasa tak pantas setiap kali aku bersanding dengan dirinya.‖, ujar Murong Yun Hua melengkapi kisah buatannya.
―Adik Ying Ying, mengertilah, sungguh hanya dirimu yang ada dalam hatinya. Jika sekarang kau menolak pinangannya, betapa kau juga menambahkan bara di atas kepalaku. Jika karena keegoisanku, kalian berdua tidak bisa bersatu, lebih baik… lebih baik aku mati saja sekarang ini‖, ujar Murong Yun Hua menutup siasatnya, diiringi tangis yang sangat sedih.
―Ah…enci… janganlah berpikir demikian‖, ujar Murong Huolin dengan sedih dan ikut pula menangis.
Ketiga gadis itu pun bertangis-tangisan untuk beberapa lama. Perasaan memang mudah dipermainkan, betapa banyak orang mencari untung dengan curang bermodalkan kepandaian mereka memainkan perasaan orang lain. Kali ini Murong Yun Hua membuat perasaan Hua Ying Ying naik dan turun, air mata diperas seperti curahan hujan. Tapi jika penipu, menipu untuk
2326
keuntungannya sendiri, Murong Yun Hua menipu untuk keuntungan suaminya dan merugikan diri sendiri.
―Ah lebih baik aku mati‖, keluh Murong Yun Hua untuk ke sekian kalinya.
Dengan penuh rasa haru Hua Ying Ying pun menggenggam erat tangan Murong Yun Hua yang sedang menarik-narik rambut sendiri, ―Sudahlah enci, hentikan… hentikan…, jangan pernah berpikir demikian. Jika enci meninggal bagaimana dengan anak enci yang masih kecil?‖
―Tapi jika karena diriku, aku justru membuat tuan penolongku tak bisa bersatu dengan gadis yang dia cintai, masakan aku kasih punya muka untuk hidup lagi‖, ujar Murong Yun Hua sambil menangis.
―Tidak… tidak…, aku akan menerima pinangannya, jadi enci janganlah berpikiran demikian lagi.‖, jawab Hua Ying Ying dengan air mata berlinangan.
―Maksud adik… adik tidak jadi memutuskan untuk menolaknya?‖, tanya Murong Yun Hua sambil menyusut air mata.
2327
Dengan wajah bersemu merah Hua Ying Ying menganggukkan kepala, disambut dengan seruan gembira oleh kedua orang bersaudara Murong. Sekali lagi mereka saling berangkulan dan sungguh sulit mengerti wanita, saat sedih mereka menangis, siapa sangka saat bahagia pun mereka juga menangis. Puas menangis, barulah mereka saling berpandangan dan melihat keadaan masing-masing.
Sambil tertawa geli mereka merapikan diri masing-masing, kemudian dengan kerlingan nakal Murong Huolin berkata, ―Tapi biarlah keputusan Adik Ying Ying ini, jangan kita sampaikan dulu pada Kak Ding Tao. Mulai besok, kita bertiga harus bersikap agak dingin padanya. Biarlah dia diberi pelajaran, agar tidak mudah menebar pesona, jika tidak, sekarang ada tiga, bisa-bisa nanti akan ada yang ke-empat, ke-lima dan selanjutnya.‖
Usul Murong Huolin yang nakal itu dengan serta merta diterima, diiringi oleh tertawa terkikir dari kedua orang gadis yang lain. Dengan ini, maka selesailah masalah Ding Tao dengan Hua Ying Ying, meskipun sisa perjalanan mereka dipenuhi dengan berbagai macam kejahilan ketiga orang wanita ini kepada Ding Tao. Meskipun demikian, melihat ketiganya akur adalah hiburan terbaik bagi Ding Tao. Kalaupun terkadang dia mendapati sikap
2328
yang bermusuhan dari ketiganya, hal itu masih jauh lebih baik bagi dia, daripada melihat ketiganya bertengkar di depan dirinya. Perubahan suasana ini tentu saja ditangkap oleh anggota rombongan yang lain, dengan sendirinya perjalanan yang cukup panjang jadi lebih menyenangkan.
Sesampainya mereka di Jiang Ling, tidak banyak yang bisa diceritakan lagi, kecuali tentang persiapan pernikahan Ding Tao dan perjalanan Wang Shu Lin yang semakin lama semakin mendekati kota Jiang Ling. Sementara nama Murong Yun Hua semakin harum di antara mereka yang mendengar kisah tentang kesetiaan dan kebesaran hatinya. Sosok wanita itu jadi semakin menawan, bagi dia yang diam-diam menyimpan cinta padanya. Semakin besar cinta yang terasa, semakin sakit pula karena tidak bisa memilikinya. Di satu sisi, seakan kekusutan jaring-jaring cinta dalam kehidupan Ding Tao sudah bisa diluruskan, tapi diam-diam justru tumbuh masalah lain yang semakin besar, namun sampai saat ini belum kelihatan.
Hampir satu bulan lamanya Jiang Ling disibukkan dengan persiapan pernikahan Ding Tao dengan Hua Ying Ying. Di saat yang sama, Tiong Fang mengajukan hukum-hukum dan peraturan dalam partai yang nantinya disiapkan untuk menangani para pengkhianat di Guiyang, sesuai dengan
2329
pemikiran Murong Yun Hua. Dunia persilatan pun ramai dengan kabar pernikahan Ding Tao dengan isteri yang ketiga. Tidak sedikit yang meragukan kerja dari Wulin Mengzhu yang baru, bayangkan saja dalam waktu kurang dari satu tahun menikahi tiga orang wanita. Apakah dia lawan yang sepadan bagi Ren Zuochan? Jika dia sibuk dengan kehidupan cintanya sementara Ren Zuochan sibuk melatih ilmunya. Baiknya masih ada Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Lepas dari Ding Tao sebagai tokoh paling menonjol di generasi yang sekarang, dua orang tokoh tua ini masih merupakan pilar yang menjadi penyangga kegarangan dunia persilatan dalam perbatasan.
Hanya mereka yang tidak mengenal Ding Tao yang berpikir demikian, atau mereka yang memang ingin melihat kejatuhan pemuda itu. Dalam kenyataannya Ding Tao sangat menyadari posisinya saat ini. Hampir setengah dari seluruh waktunya dia habiskan untuk mendalami apa yang sudah dia pelajari. Beruntung ada orang-orang yang bisa dia percayai untuk memegang kendali partai, sementara dia berkonsentrasi untuk meningkatkan terus ilmu-ilmu yang sudah dia miliki.
Pamor Partai Pedang Keadilan semakin mencorong dengan dua pedang pusaka di tangan mereka. Pedang Angin Berbisik kembali dipegang Ding Tao, sementara Pedang Amarah
2330
Phoenix menjadi penanda kuasa bagi mereka yang diutus Ding Tao atas nama Partai Pedang Keadilan. Di tangan seorang ahli pedang seperti Liu Chun Cao, maka memberikan tanda kuasa dalam bentuk sebuah pedang pusaka sungguh membuat perbedaan yang besar, seperti seekor harimau tumbuh sayap.
Tapi semuanya datang dengan harga yang tidak murah, orang boleh saja iri dengan Ding Tao yang memiliki dua orang isteri yang cantik dan dalam waktu dekat akan menikah dengan isteri yang ketiga. Memiliki nama besar dalam usia yang sangat muda, memiliki kedudukan nomor satu dalam dunia persilatan, apa lagi yang kurang? Namun dalam kenyataannya, dengan segala pencapaiannya itu, Ding Tao menghabiskan lebih banyak waktu untuk memenuhi tanggung jawabnya, daripada menikmati pencapaian-pencapaian itu. Semakin sibuk Ding Tao, semakin sedikit waktu yang bisa dia berikan untuk kedua orang isterinya.
Satu malam Ding Tao yang baru saja selesai bercinta dengan kedua isterinya, tengah berbaring sambil memeluk Murong Yun Hua dan Murong Huolin di kiri dan kanannya. Dengan lembut dia membelai-belai rambut mereka yang hitam tebal, sementara matanya menerawang ke langit-langit kamar tidur mereka. Menghitung balok-balok kayu yang saling silang di atas sana.
2331
Tiba-tiba dia menghela nafas, ―Hehh…., isteriku…, kalau dipikir baik-baik, betapa banyak yang kalian berikan, namun betapa sedikit aku membalas kebaikan kalian….‖
Sambil tertawa lembut Murong Huolin tidak berkata banyak, hanya bergerak merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan Ding Tao. Membuat darah Ding Tao berdesir dan dadanya dirambati kehangatan, saat merasakan tubuh lembut dan hangat Murong Huolin merapat ke tubuhnya. Apalagi ketika kaki Murong Huolin yang panjang bergerak menindih paha Ding Tao, dan Ding Tao bisa merasakan bulu-bulu di bagian tertentu milik Murong Huolin membelai pangkal pahanya, membangkitkan kembali yang baru saja tertidur. Perubahan pada tubuh Ding Tao tidak lepas dari perhatian Murong Yun Hua, sambil tertawa geli Murong Yun Hua menggeser tubuhnya ke atas, membuat sepasang putingnya tepat berada di depan wajah Ding Tao. Remangnya malam, tidak mampu menyembunyikan bentuk sempurna dari sepasang buah dada Murong Yun Hua. Cahaya lilin yang sesekali bergoyang, membentuk siluet lengkung yang sempurna di mata Ding Tao.
Murong Yun Hua pun merintih perlahan saat Ding Tao dengan lembut merengkuh sepasang payudaranya. Sekali lagi kamar itu pun dipenuhi desahan dan erangan kenikmatan. Waktu pun
2332
terus berjalan, entah berapa lama sebelum akhirnya mereka bertiga berbaring dengan tenaga terperas namun puas.
Berbantalkan sebelah tangan Murong Yun Hua, kepala Ding Tao bersandar pada dada isterinya itu, sementara Murong Yun Hua dengan lembut membelai dan menyisir rambut Ding Tao, ―Ding Tao… jangan pernah berpikir tentang siapa yang lebih banyak memberi dan siapa yang lebih banyak menerima. Bagi kami, asalkan kau sungguh-sungguh mencintai kami, kami sudah merasa sangat bahagia.‖
―Itu benar Kak Ding Tao…‖, ujar Murong Huolin sambil menyandarkan kepalanya di dada Ding Tao yang bidang.
―Kalian terlalu baik padaku…‖, kata Ding Tao terharu.
―Asalkan kami selalu ada dalam hati kakak…‖, jawab Murong Huolin.
―Tentu saja… aku tidak akan pernah berhenti mencintai kalian berdua.‖, jawab Ding Tao dengan setulusnya.
Udara semakin dingin, namun mereka merasa hangat meskipun tanpa selembar kain pun untuk menutup tubuh mereka. Kehangatan yang menyebar dari dalam dada mereka.
2333
Murong Yun Hua diam-diam menghela nafas, ‗Apakah ini yang namanya kebahagiaan?‘
Ding Tao dan Murong Huolin sudah tertidur pulas, perlahan-lahan Murong Yun Hua menarik lengannya dari bawah kepala Ding Tao dan bangkit berdiri dari pembaringan. Berjalan dalam keadaan telanjang, Murong Yun Hua perlahan tanpa suara duduk di sebuah kursi tempat dia biasa merias diri. Sebuah cermin besar terbuat dari perunggu ada di depannya. Duduk dengan punggung tegak, Murong Yun Hua perlahan menyisir rambutnya yang panjang dan lebat, sembari mengamat-amati bentuk tubuhnya. Mengamati garis rahangnya yang lembut namun tegas, membingkai sepasang mata yang jeli, hidung yang mancung dan bibir merah merekah . Mengamati lehernya yang jenjang yang menopang wajah yang cantik itu, sebuah garis lembut ke bawah, kemudian melekuk mendatar, menampilkan dua bahu yang halus. Perlahan Murong Yun Hua mengangkat dua buah tangannya, menggelung rambutnya yang panjang. Matanya menelusuri garis lengan, yang mengalir bersambung dengan garis yang membentuk tubuhnya, ke arah sepasang payudara yang menggantung, mengundang. Memandang ke arah pinggangnya yang ramping dengan
2334
pinggul membulat. Ke arah pahanya yang bersilang, menyembunyikan miliknya yang paling berharga.
Salahkah dia bila merasa bangga dengan kecantikannya sendiri?
Tersenyum bangga melihat kesempurnaan tubuhnya, Murong Yun Hua mengalihkan pandangannya, memandangi Ding Tao yang tertidur pulas dengan Murong Huolin dalam pelukannya.
Memandangi Ding Tao, perasaan Murong Yun Hua bercampur aduk tak menentu. Sungguh dia tidak mengerti, apa yang membuat Ding Tao berbeda dari lelaki lain dalam hidupnya. Dengan cara apa pemuda itu mampu membuat perasaannya goyah? Memandangi Ding Tao, Murong Yun Hua tiba-tiba terkenang pada lelaki pertama dalam hidupnya, Jin Yong, pendekar pedang yang terkenal itu. Dia teringat pertama kali ayahnya mengundang Jin Yong untuk menginap di kediaman keluarga Murong dan memperkenalkan Jin Yong pada setiap anggota keluarga Murong. Waktu itu umurnya belum lagi genap 15 tahun, meskipun tubuhnya sudah mulai menojolkan lekuk tubuh wanita dewasa, pikirannya masihlah seorang kanak-kanak yang baru mulai mengerti apa itu cinta antara lelaki dan
2335
perempuan. Bersama teman sebaya saling menggoda dan terkikik geli membicarakan anak lelaki yang seumuran.
Jin Yong memang pantas untuk menjadi tokoh kenamaan di generasinya, wajahnya mungkin tak setampan Ding Tao, namun gerak-gerik dan perilakunya jauh lebih berwibawa dan memancarkan rasa percaya diri yang tinggi, membuat orang yang berhadapan dengannya merasa kagum dan lawan yang berhadapan dengannya merasa gentar.
Murong Yun Hua pun saat itu dibuat kagum dan berdebar-debar saat ayahnya memperkenalkan pendekar pedang kenamaan itu pada dirinya. Usia Murong Huolin saat itu masih terlampau muda untuk mengerti hal-hal demikian. Gadis kecil itu bersembunyi di belakang tubuh ibunya, takut dan malu-malu saat hendak diperkenalkan pada Jin Yong. Meskipun menyimpan rasa kagum pada Jin Yong, tetap saja Murong Yun Hua terkejut dan ragu, ketika ayahnya mengusulkan pada Jin Yong, untuk mengambil Murong Yun Hua sebagai isterinya. Saat itu Murong Yun Hua belum memahami pesona dirinya sendiri atas lelaki. Apalagi di usianya yang masih remaja, kecantikannya memancarkan keluguan kanak-kanak, yang seakan bersih dari dosa, memberikan kesan yang berbeda dari kecantikan yang berasal dari dunia lain, seperti seorang peri
2336
hutan yang malu-malu. Hati Jin Yong pun tergetar begitu pertama kali melihat dia. Seperti juga Ding Tao saat pertama kali melihat dia.
Gayung pun bersambut, Jin Yong yang terpukau oleh kecantikan Murong Yun Hua tentu saja menyambut gembira usulan ayah Murong Yun Hua. Sementara Murong Yun Hua yang belum benar-benar mengerti cinta, setidaknya menyimpan rasa kagum atas diri Jin Yong dalam hatinya. Pernikahan pun dilaksanakan, sampai pada titik itu, tidak ada seorang pun yang merasa diperalat, baik Murong Yun Hua maupun Jin Yong sendiri.
Tapi tidak ada pernikahan yang berjalan tanpa masalah.
Teringat dengan Jin Yong maka ingatan Murong Yun Hua pun berkelebat pergi, berkelana kembali pada pengalamannya yang pertama dengan kebuasan laki-laki.
Saat itu Murong Yun Hua sedang berbaring dengan jantung berdebar-debar di atas pembaringan yang sudah disiapkan. Bau wewangian memenuhi ruangan, kepalanya masih terasa ringan setelah meneguk arak pernikahan. Jin Yong belum masuk, masih tertahan di luar dengan beberapa orang tamu
2337
laki-laki, yang terdengar dari tempat Murong Yun Hua menanti, hanyalah suara ramai yang tidak jelas. Dengan jantung berdebar, Murong Yun Hua memasang telinga, membayangkan apa yang terjadi di luar sana. Satu kali sorakan terdengar lebih keras dari sebelumnya, disusul langkah kaki yang perlahan-lahan mendekat.
Jantung Murong Yun Hua pun terasa berdebar begitu keras, seakan dadanya akan pecah oleh detakan jantungnya. Ketika pintu perlahan-lahan terbuka, Murong Yun Hua yang gugup, berpura-pura sudah tertidur dan menutup matanya rapat-rapat.
―Yun Hua…‖, panggil Jin Ying perlahan, diiikuti suara pintu ditutup dan dipalang dari dalam.
Detak jantung Muring Yun Hua semakin keras, memenuhi telinganya, wajahnya merah padam, namun dalam cahaya lilin yang temaram, hal itu hanya membuat dia makin menawan.
―Yun Hua… apakah kau sudah tertidur?‖, sekali lagi Jin Yong bertanya dengan suara perlahan sambil berjalan mendekat.
Kelopak mata Murong Yun Hua sedikit bergetar, terlalu lama dipaksa menutup, padahal dia belum tertidur pulas. Murong Yun Hua yang tidak tahu harus berbuat apa, meneruskan saja
2338
sandiwaranya, nafasnya dibuat sehalus mungkin menyerupai orang yang sudah tertidur pulas. Meskipun demikian, seluruh inderanya yang lain bekerja dengan keras. Jantungnya serasa akan melompat saat dia merasa, selimut yang menutupi tubuhnya ditarik pergi. Menyusul pembaringan yang bergerak saat Jin Yong membaringkan tubuhnya di sisi Murong Yun Hua. Bau arak samar-samar tercium, makin lama makin keras, bersamaan dengan hangatnya nafas Jin Yong yang menghembus lehernya.
―Yun Hua… apakah kau sudah tertidur…?‖, untuk kedua kalinya Jin Yong bertanya, pertanyaan yang tidak menunggu jawaban dari Murong Yun Hua.
Sejak tadi Jin Yong sudah menyadari gadis di depannya hanyalah berpura-pura tertidur pulas. Dia tidak menjadi marah, justru dia menikmati pemandangan yang ada di depannya, menghabiskan waktu mengagumi gadis yang baru dia nikahi. Dadanya berdebar, tapi bukan oleh rasa takut seperti Murong Yun Hua, melainkan berdebar karena nafsu yang makin memuncak.
Darah Murong Yun Hua pun berdesir, saat hembusan nafas Jin Yong semakin dekat, meniup-niup lehernya. Apalagi ketika dia
2339
merasakan bibir Jin Yong mengecupi lehernya yang jenjang. Sebuah perasaan yang sulit dijabarkan dengan kata-kata, desir-desir sensasi kenikmatan yang merambat ke seluruh tubuhnya. Setengah sadar, Murong Yun Hua merasakan jubah luarnya disingkapkan. Murong Yun Hua pun terkesiap kaget, saat tangan Jin Yong menyusup masuk ke dalam pakaian dalamnya dan meremas-remas sepasang payudaranya, kepalanya yang terasa ringan setelah meminum arak pernikahan, sekarang semakin melayang. Seluruh tubuhnya terasa panas, terutama di bagian tertentu dari tubuhnya.
Murong Yun Hua tak bisa lagi berpura-pura tertidur pulas, nafasnya memburu dan tanpa bisa ditahan dia mengerang nikmat. Antara sadar dan tidak, Murong Yun Hua samar-samar mengingat, bagaimana pakaiannya dilucuti satu per satu, rasa malu bercampur takut tidak bisa mengalahkan kenikmatan yang dia rasakan.
Semuanya begitu membingungkan sampai ketika Jin Yong mulai menindih tubuhnya dan dia bisa merasakan sesuatu yang keras hendak memasuki dirinya. Di saat itu, tiba-tiba panik dan takut menguasai dirinya.
2340
―Tunggu… jangan…‖, rintih Murong Yun Hua sambil meronta berusaha lepas dari tindihan Jin Yong.
Tapi Jin Yong sudah tidak bisa mengendalikan diri,sedikitpun dia tidak menyadari ketakutan dalam suara Murong Yun Hua. Rontaan dan rintihan Murong Yun Hua justru seperti minyak yang disiramkan ke atas api, membuat nafsu Jin Yong semakin membara. Apalah artinya kekuatan Murong Yun Hua dibandingkan kekuatan Jin Yong? Semakin Jin Yong memaksa, semakin besar ketakutan dan kepanikan yang menguasai Murong Yun Hua, dan semakin bersemangat pula Jin Yong untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya. Puncaknya saat Jin Yong dengan sekuat tenaga mengambil kesucian Murong Yun Hua. Murong Yun Hua memekik kesakitan saat kesuciannya direnggut dengan paksa, tapi hal itu tak sedikitpun memadamkan bara api dalam dada Jin Yong. Tanpa mempedulikan permohonan dan isak tangis Murong Yun Hua, Jin Yong bergerak tanpa henti, merobek-robek khayalan indah Murong Yun Hua menjadi satu mimpi buruk yang panjang.
Teringat kembali dengan kejadian malam itu, Murong Yun Hua menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengusir pergi ingatan yang pernah menghantui dirinya. Tidak, dia bukan lagi seorang gadis bodoh seperti belasan tahun yang lalu. Seulas senyum
2341
mengejek terbentuk di wajahnya, menertawakan kebodohan dirinya di masa muda.
Murong Yun Hua berdiri dan mulai berpakaian, gerak-geriknya lugas, seakan ingin lari dari ingatan masa lalu yang sering menyergap dirinya di saat-saat seperti ini. Tapi ingatan masa lalu tidak ubahnya seperti arwah penasaran yang berkeras tak mau pergi dengan damai ke alam kematian. Malam pertama yang menakutkan bagi Murong Yun Hua hanyalah awal dari serangkaian mimpi buruk yang lain. Mengingat satu hal, kemudian ingatan lain datang mengikuti. Wajah Murong Yun Hua mengeras, saat dia teringat guncangan terbesar dalam hidupnya.
Hari itu dia menangis sesenggukan, datang pada ayahnya yang selama ini selalu memanjakan dirinya. Mencari pertolongan dan rasa aman yang selama ini dia dapatkan, meskipun merasa malu, dengan terbata dan serba samar, dia mengisahkan kebuasan Jin Yong terhadap dirinya. Tentu saja Murong Yun Hua sudah cukup dewasa untuk mengetahui bahwa yang terjadi adalah hal yang memang sudah sewajarnya. Sudah menjadi bagian dari tugasnya sebagai seorang isteri, namun seumur hidupnya dia hidup dikelilingi orang-orang yang memanjakan dirinya, sulit bagi Murong Yun Hua ketika dia
2342
kemudian ditempatkan pada posisi harus menerima keinginan orang lain atas dirinya, meskipun orang itu adalah suaminya.
Pikirannya masih berkutat pada masa lalu, ketika dia perlahan-lahan meninggalkan kamar mereka. Dengan hati-hati ditutupnya pintu, kemudian tanpa suara dia berjalan, menelusuri lorong yang sepi, menuju ke tempat beristirahatnya pelayan-pelayan pribadi keluarga Murong. Jalan yang ditempun tidaklah jauh, namun belasan tahun lamanya berkelebatan dalam benak Murong Yun Hua sebelum dia mencapai tempat yang dia tuju.
Guncangan terbesar dalam hidupnya, adalah ketika dia mendapati ayahnya yang dia puja dan cintai, sosok ayah dan sosok laki-laki yang ideal dalam hidupnya, ternyata tidak mencintainya dengan tulus sebagai seorang anak. Ayahnya hanya memandang dia sebagai barang berharga yang bisa digunakan untuk mencapai cita-citanya sendiri. Saat itu seperti juga malam ini, Murong Yun Hua berjalan perlahan dalam gelap, dengan tubuh sakit dan anggota tubuh yang paling dia jaga terasa pedih tersayat-sayat, terpincang-pincang menahan nyeri, menyusuri lorong dalam rumah mereka. Sementara Jin Yong sudah tertidur pulas, dipenuhi kepuasan yang tiada tara. Tujuannya hanya satu, mencari tempat di mana dia merasa
2343
aman, mencari sosok yang bisa menenangkan kegalauan dalam hatinya. Murong Yun Hua mencari ayahnya. Kakinya membawa dia ke arah ruang belajar pribadi milik ayahnya. Ruang yang dipenuhi buku-buku tua, gulungan kitab dari sutra dan terkadang tersusun dari bilah-bilah tipis bambu yang diikat menjadi satu.
Kenangan manis saat dia diajar ayahnya untuk membaca, membuat dia tanpa sadar berjalan ke ruangan itu, dalam hatinya dia tahu betul ayahnya akan berada di sana, seperti biasa membaca kitab-kitab kuno hingga larut malam.
Di sisi lain, Murong Yun Hua pun sadar, apa yang terjadi malam itu adalah satu kewajaran, satu bagian dalam kehidupan berumah tangga. Didikan dari ayah dan ibunya, akan tugas dia sebagai seorang isteri membuat langkahnya dibayangi keraguan. Itu sebabnya, saat dia akhirnya sampai di sana, Murong Yun Hua tertegun di dekat pintu dan tidak memiliki keberanian untuk mengetuknya, justru perlahan-lahan dia bersimpuh dengan tubuh yang terasa lemas, bersandar di dinding dekat pintu masuk.
Nyala api lilin yang terlihat menerangi ruangan itu dari kertas-kertas tipis yang menutup jendela dan dari berkas-berkas
2344
cahaya yang menerobos keluar dari celah-celahnya, memberi tahukan pada Murong Yun Hua bahwa ayahnya ada di sana. Namun sedekat itu dia dari apa yang dia cari, justru keberaniannya hilang di saat terakhir. Bisa dikatakan, nasib Murong Yun Hua sudah mulai ditentukan sejak saat itu.
Sisa keberanian dan keinginan yang ada dalam hati Murong Yun Hua untuk menemui ayahnya, menguap seketika, ketika dia mendengar suara pamannya dari dalam ruangan.
―Hmm… kakak, menurut kakak, apakah sudah cukup tali-tali yang kita pasang untuk menggerakkan Jin Yong sebagai boneka kita, dengan menikahkan dia dengan Yun Hua?‖, ujar paman Murong Yun Hua, ayah Murong Huolin terdengar bertanya pada ayah Murong Yun Hua.
―Tentu saja tidak…, kita butuh jaminan yang lebih pasti sebelum kita memberikan Pedang Angin Berbisik padanya.‖, jawab ayah Murong Yun Hua dengan segera.
―Apakah kakak sudah memiliki sebuah ide?‖, tanya paman Murong Yun Hua.
2345
―Hmm… aku sedang membaca mengenai satu macam obat yang tertulis dalam salah satu catatan murid Tabib Hua yang tidak pernah ditemukan orang.‖
―Apakah semacam obat perebut jiwa? Tapi kita tidak ingin memiliki sebuah mayat hidup, yang kita butuhkan adalah orang dengan pikiran yang sehat, namun berada di bawah kendali kita, mengikuti secara aktif apa yang kita rencanakan. Jin Yong seharusnya akan menjadi ujung tombak dalam rencana kita, sementara kita hanya bergerak di balik layar.‖, ujar Paman Murong Yun Hua mengajukan keberatan.
―Hoho, tunggu dulu, aku belum selesai menjelaskan. Jika benar apa yang tertulis dalam buku ini, obat ini sesungguhnya akan membuat orang yang meminumnya menjadi lebih cerdas dan sistem syarafnya bekerja dengan lebih sempurna. Sejak awal tujuan orang tersebut berusaha meramu obat, bukanlah untuk membuat obat perebut jiwa.‖, jawab Ayah Murong Yun Hua dengan penuh semangat.
―Hmmm… cobalah kakak jelaskan sampai selesai.‖, ujar Paman Murong Yun Hua dengan tertarik.
2346
―Ya, yang dicari oleh tabib ini adalah obat yang bisa membuat dia lebih cerdas, lebih mudah mengingat segala macam pengetahuan, ambisinya adalah menjadi tabib yang paling ternama, melampaui gurunya. Menurut catatan hariannya, pada awalnya obat ini memang memberikan efek yang dia inginkan, namun ada efek samping yang tidak berhasil dia pecahkan.‖
―Apa itu?‖
―Obat itu menciptakan ketergantungan, benar memang saat dia mengkonsumsi obat itu, pikirannya berjalan lebih terang, namun saat dia berhenti meminumnya, tubuhnya bereaksi dengan keras, menuntut dirinya agar meminum obat itu lagi, Jika tidak, selain membuat tubuhnya sulit bergerak, pikirannya pun menjadi kabur.‖, ujar Ayah Murong Yun Hua memberi penjelasan.
Sesaat lamanya tidak terdengar suara, sebelum kemudian paman Murong Yun Hua dengan antusias berkata, ―Wah…, tidak sia-sia kakak berusaha membaca setiap buku yang ada di tempat ini. jika obat itu benar ada, maka akan mudah sekali membuat Jin Yong takluk di bawah kehendak kita, selama dia tidak mengetahui cara pembuatan dari obat itu, selamanya dia akan menjadi budak kita.‖
2347
―Hahahaha… kau benar, dan dalam kasus ini dia akan menjadi budak yang sangat pandai dan menguntungkan bagi pemiliknya.‖, sahut Ayah Murong Yun Hua sambil tertawa terbahak-bahak.
―Kalau begitu, mengapa pula kita perlu memberikan Murong Yun Hua padanya? Apakah tidak sebaiknya, kakak menikahkan Murong Yun Hua dengan tokoh lain lagi, supaya semakin banyak tokoh dunia persilatan yang berada dalam kekuasaan kita?‖, setelah tawa mereka mereda Paman Murong Yun Hua kembali bertanya.
―Hehh… sewaktu aku melihat bakat dalam diri Jin Yong, aku belum menemukan tulisan tentang obat ini. Jadi pada saat itu, yang terlintas dalam benakku, hanyalah sebisa mungkin mengikat dirinya dengan keluarga kita, sebelum ada partai lain dalam dunia persilatan yang mengikat dirinya. Tapi tentu saja tidak cukup hanya sampai di situ, itu sebabnya setelah menjalin hubungan baik dengannya dan mempersiapkan jalan bagi kita untuk menikahkan dia dengan Murong Yun Hua, aku pun menghabiskan waktu untuk mencari kemungkinan-kemungkinan lain, sampai akhirnya aku menemukan kitab ini.‖, jawab Ayah Murong Yun Hua.
2348
―Tapi kau benar, jika pada saatnya obat ini sudah terbukti cukup ampuh untuk menjadikan Jin Yong sebagai boneka kita, maka Murong Yun Hua bisa digunakan untuk kepentingan lain.‖, sambung Ayah Murong Yun Hua setelah berhenti beberapa saat.
Dan perkataan ayah Murong Yun Hua yang berikutnya membuat bulu kuduk Murong Yun Hua berdiri dan seluruh dunianya jungkir balik.
―Kita bisa menggunakan Murong Yun Hua, untuk memikat tokoh lain, kemudian memberikan obat yang sama pada mereka. Satu, dua, tiga…, hahahaha,dan seluruh tokoh penting dalam dunia persilatan akan jatuh dalam tangan kita.‖
‗Apakah benar itu suara ayahnya? Apakah benar yang ada dalam ruangan itu adalah ayahnya? Jika benar itu ayahnya, apakah tidak salah yang sedang dia dengar? Ayahnya hendak menggunakan dirinya sebagai umpan, mengumpankan dirinya pada sekian banyak laki-laki yang tidak pernah dia kenal?‘, ribuan pikiran berdentang-dentang memenuhi kepalanya, matanya terbuka lebar menatap jauh ke depan, pada kekosongan yang tak berujung.
2349
Malam itu seluruh kehidupan Murong Yun Hua direnggut dari dirinya. Tidak ada lagi yang bisa dia percayai. Jika ayahnya yang dia pandang sebagai contoh dari lelaki ideal ternyata orang yang semacam itu, maka macam apakah lelaki lain di dunia ini? Lalu bagaimana dengan ibunya? Tidakkah dia tahu apa yang ada dalam benak ayahnya? Apakah dia seorang ibu yang bodoh dan buta, tak melihat apa yang sedang direncanakan atas diri anaknya? Ataukah ibunya sama dingin dan sama penuh perhitungannya seperti ayahnya. Lututnya terasa lemas, tapi dia tidak ingin berada di tempat itu lebih lama lagi. Rasa nyeri yang dirasakan tubuhnya, tidak sebanding dengan kengerian yang terasa dalam hatinya. Perlahan-lahan, merangkak, beringsut, Murong Yun Hua pergi menjauh dari ruangan itu, menutup telinganya dari suara yang keluar dari dalam sana. Ruangan itu bukan lagi tempat yang hangat, tempat penuh kenangan akan cinta seorang ayah pada dirinya. Ruangan itu sudah menjadi dasar neraka, tempat iblis-iblis yang paling keji tinggal dengan rencana-rencana kejam mereka. Bukan karena rasa sakit di tubuhnya dia bergerak dengan begitu perlahan, tanpa suara. Murong Yun Hua tidak peduli dengan perih dan pedih yang dirasakan tubuhnya, dia ingin lari secepatnya, pergi dari tempat itu dan suara-suara yang seperti pedang berkarat, mengiris dan menusuk hatinya,
2350
meninggalkan luka bernanah. Tapi suara yang sama yang membuat dia ingin berlari pergi secepatnya, suara yang sama juga membangkitkan rasa takut yang tiada tara. Kekejaman yang tidak pernah dia bayangkan ada dalam diri orang yang dia kagumi dan cintai. Rasa takut yang menguasai dirinya itu, seakan menyerap habis sedikit kekuatan yang masih tersisa.
Entah berapa lama Murong Yun Hua beringsut, menggeleser menjauh dari ruangan itu, perlahan-lahan rasa takut dan guncangan yang dia rasakan makin berkurang, seiring dengan menjauhnya dia dari ruangan itu. Sampai pada satu saat, dia menemukan kembali kekuatannya untuk bangkit berdiri, dan berjalan pergi, meskipun masih tertatih-tatih.
Murong Yun Hua ingin lari, tapi ia tak tahu hendak lari ke mana. Tempat ini mengerikan, tapi dunia di luar pun tidak kalah mengerikan dalam benaknya yang sudah kehilangan kepercayaan akan adanya kebaikan dalam diri manusia. Murong Yun Hua belumlah dewasa, usianya tidak lebih dari 15 tahun. Dengan rasa pahit, dia menelan kenyataan. Tertatih dia kembali ke kamar tidurnya. Dengan tubuh lemah dan kesakitan, dia perlahan-lahan membaringkan diri di sisi Jin Yong yang masih tertidur pulas. Dengan hati hancur dan hampa, dia menutup mata dan membiarkan tidur mengubur segala
2351
kekisruhan dalam hatinya. Sejak malam itu kehidupan Murong Yun Hua tidak pernah lagi sama.
Ketika dia bangun keesokan harinya, sebuah pikiran tiba-tiba menembusi pikirannya. Dia bukan buah catur yang tak berotak dan tak memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri.
Selama ini dia tidak lebih dari sebiji buah catur karena dia bodoh dan tidak menyadari kenyataan di sekelilingnya. Tapi sekarang dia sadar. Dia sadar dan itu artinya, dia bukan lagi sebuah biji catur yang digerakkan tanpa pernah mengerti mengapa dia bergerak ke kotak yang ini dan bukan yang itu. Sebuah pemikiran mulai terbentuk dalam benak gadis muda ini.
Semua laki-laki pastilah busuk, bahkan lebih busuk dari ayahnya. Jika tidak, maka betapa busuknya dia yang menjadi anak dari lelaki terbusuk di dunia. Tidak, setiap laki-laki haruslah sebusuk ayahnya, kalaupun mereka tidak melakukan apa yang dilakukan oleh ayahnya, itu adalah karena kebodohan mereka. Ya seperti A Sau yang menjadi tukang kebun mereka, yang ada di otaknya hanyalah kotoran kerbau, tanah dan cangkul. Dia tidak berbuat busuk, bukan karena dia tidak busuk. Dia tidak berbuat busuk karena dia tidak memiliki otak.
2352
Seandainya saja dia berotak, tentu dia akan berlaku sebusuk ayahnya. Bukankah A Sau pernah memandanginya dengan penuh nafsu? Bukankah itu bukti bahwa si A Sau pun adalah lelaki yang busuk? Dia tidak berani berbuat apa-apa yang busuk karena dia bodoh dan penakut. Seandainya dia pandai dan memiliki nyali, tentu dia sudah akan menggagahi dirinya, memuaskan keinginannya pada dirinya.
Demikianlah pikiran-pikiran mulai terbentuk dalam benak Murong Yun Hua.
Bagaimana dengan Jin Yong? Apakah yang dia lakukan semalam tidak menunjukkan kebusukannya? Dan yang pasti Jin Yong lebih bodoh dari ayahnya, jika tidak tentu dia yang akan memperalat ayahnya dan bukan sebaliknya.
Tidak, ayahnya mungkin busuk, tapi memang begitulah semua laki-laki. Ayahnya masih lebih baik dari segala macam lelaki, karena ayahnya cerdik dan berambisi. Murong Yun Hua bukanlah anak lelaki terbusuk di dunia. Dia adalah anak lelaki paling cerdik dan bernyali di dunia.
2353
Tapi dia tidak akan mendah menerima perlakuan ayahnya. Jika ayahnya cerdik, maka dia bisa berlaku lebih cerdik. Jika ayahnya busuk, dia bisa jadi lebih busuk.
Pagi itu ketika Jin Yong terbangun, dia tidak mendapati Murong Yun Hua yang bermuram durja dengan tubuh lemas tak bersemangat. Meskipun tubuhnya masih nyeri, bahkan ada lebam di beberapa tempat, di mana Jin Yong mencengkeram dirinya agar tidak bisa meronta lepas, Murong Yun Hua justru bangun lebih pagi dari Jin Yong. Membersihkan diri dan berias. Memakai bajunya yang terbaik, kemudian mengaturkan sarapan untuk diantarkan pada mereka di dalam kamar.
Pagi itu saat Jin Yong terbangun, dia mendapati isterinya yang cantik jelita, menyambut dia dengan senyuman di wajah, bau yang segar dan harum menguar dari tubuhnya. Makanan dan minuman sudah tersaji rapi di meja yang ada dalam ruangan mereka. Betapa haru hati Jin Yong, apalagi jika dia teringat pada kejadian semalam. Penyesalan datang terlambat, pengaruh arak dan nafsu yang tak tertahan membuat dia melampiaskan keinginannya dengan buas. Perlahan Jin Yong bangkit berdiri dan menyambut Murong Yun Hua dengan kecupan yang lembut, begitu lembut hingga tak terbayang
2354
orang yang sama bisa menjadi demikian buas di malam sebelumnya.
Di luaran Murong Yun Hua menerima kecupan itu dengan mesra dan penuh cinta. Dalam hati yang terbayang adalah kekejian ayahnya yang tersembunyi di balik perilaku yang kebapakan.
Tak ada seorangpun yang tahu, apa yang ada dalam hati Murong Yun Hua. Selama kurang lebih satu tahun, yang nampak dari luar adalah pasangan yang berbahagia dan saling mencinta. Seandainya waktu terus berjalan seperti demikian, mungkin pada akhirnya cinta Jin Yong yang sungguh-sungguh, lepas dari kebodohannya dalam memperlakukan seorang gadis, akan bisa mengikis kegelapan dalam hati Murong Yun Hua. Mungkin satu saat, entah setelah berapa tahun lewat dan berapa kali Jin Yong membuktikan ketulusan cintanya, Murong Yun Hua akan kembali bisa percaya pada kebaikan dalam diri manusia. Tapi hanya satu tahun waktu yang diberikan bagi mereka berdua. Dalam satu tahun itu Ayah Murong Yun Hua akhirnya bisa membuat dan meyakinkan obat yang hendak dia berikan pada Jin Yong.
2355
Seberapa banyak perasaan yang mulai terpupuk dalam hati Murong Yun Hua untuk Jin Yong, tersapu habis di hari itu, saat ayah dan pamannya akhirnya dihadapkan pada kenyataan, bahwa tengkuk Jin Yong terlalu keras untuk ditundukkan dengan segala persiapan mereka.
Murong Yun Hua melewati belokan terakhir, di bagian kediaman Ding Tao ini, tidak ada seorang pun pengikut Ding Tao dari Partai Pedang Keadilan yang tinggal. Ding Tao tidak pernah memiliki pelayan pribadi, sementara bagian ini hanya berfungsi sebagai tempat beristirahat Ding Tao dan keluarganya. Memang di luar area ini ada penjagaan dari orang-orang Partai Pedang Keadilan, namun di dalam hanya ada Ding Tao, Murong Yun Hua, Murong Huolin dan pelayan-pelayan setia keluarga Murong. Maka sepanjang perjalanan Murong Yun Hua hanya bertemu dengan beberapa orang pelayan pribadinya yang juga bertugas sebagai penjaga.
Akhirnya sampai juga Murong Yun Hua di tempat tujuannya, sebuah kamar kecil, salah satu di antara beberapa kamar lain tempat pelayan pribadinya beristirahat. Murong Yun Hua berdiri diam di depan pintu kamar, seperti merenungi sesuatu. Kemudian sambil menghela nafas, dia mendorong pintu kamar
2356
hingga terbuka, masuk ke dalam kemudian menutup pintu rapat-rapat.
Di dalam kamar yang kecil itu hanya ada satu pembaringan. Sementara ada dua orang yang tidur di dalamnya. Yang seorang berbaring di atas pembaringan dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya, sampai di bawah dagu. Yang seorang lagi, tidur di kaki pembaringan. Ketika Murong Yun Hua masuk ke dalam, yang di atas pembaringan tetap saja tertidur pulas, namun yang berbaring di kaki pembaringan, melompat berdiri dengan cekatan. Seorang wanita berusia 50-an, rambutnya sudah mulai beruban, namun matanya terlihat tajam dan gerak-geriknya lincah, jelas dia mengerti ilmu silat. Ketika melihat bahwa Murong Yun Hua yang datang, dengan segera dia memberi hormat.
Murong Yun Hua menggerakkan kepalanya, menunjuk ke arah pintu. Wanita tua itu pun dengan patuh meninggalkan kamar dan berjaga di depan pintu. Meninggalkan Murong Yun Hua sendirian dengan orang yang sedang tidur dengan nyenyaknya.
Murong Yun Hua pun mengambil sebuah bangku, duduk di samping pembaringan, lalu dengan lembut membangunkan
2357
orang yang masih juga tidur dengan nyenyaknya itu, ―Suamiku… bangunlah… bagaimana kabarmu?‖
Ya, orang itu adalah Jin Yong yang dikabarkan telah tewas. Kenyataannya mayatnya tidak pernah ditemukan, kabar kematian dia hanyalah kabar burung yang disebarkan oleh sumber yang tidak jelas. Bagaimana dia mati dan siapa yang membunuh selalu dijawab dengan kata tidak tahu, namun setelah waktu lewat beberapa lama, semua orang pun percaya bahwa Jin Yong telah tewas, karena orangnya sendiri tidak pernah muncul untuk menyangkal berita itu.
Pendekar pedang yang namanya pernah menggetarkan dunia persilatan itu pun akhirnya membuka matanya, lamat-lamat dia mengenali Murong Yun Hua. Otaknya bekerja tidak beraturan, meskipun seluruh panca inderanya berjalan dengan baik, meskipun apa yang dikatakan Murong Yun Hua dengan jelas dia dengar dan ingat, namun butuh waktu lama bagi dia untuk memahami apa yang sedang dibicarakan oleh Murong Yun Hua. Inilah Jin Yong yang pernah terkenal dan sekarang tidak lebih dari mayat hidup.
Melihat Jin Yong terbangung, ingatan Murong Yun Hua pun melayang pada kejadian belasan tahun yang lalu. Ayah Murong
2358
Yun Hua yang merasa Jin Yong sudah berada di bawah kekuasaannya, tanpa ragu mulai menjelaskan rencana-rencana keluarga Murong untuk menguasai dunia persilatan dan pada akhirnya, cita-citanya untuk menghidupkan kembali dinasti Yan, yang pernah jaya di bawah kepemimpinan keluarga Murong. Impian gila bagi beberapa orang, tapi impian yang nyata bagi Ayah Murong Yun Hua dan adiknya. Dan demi cita-cita itu, segala cara akan dia gunakan dan segala hal akan dia korbankan.
Sayangnya dia salah menilai watak Jin Yong. Penuh kebanggaan dengan apa yang dia capai, Jin Yong pun dengan tegas menolak segala rencana Ayah Murong Yun Hua. Tentu saja hal itu membangkitkan murka dari Ayah Murong Yun Hua. Sebagai persiapan, sebelum dia mulai menjelaskan rencananya pada Jin Yong, sudah beberapa hari lamanya, pasokan obat yang diberikan secara diam-diam pada Jin Yong, lewat makanan dan minuman yang disajikan, sudah dihentikan. Efek obat itu sendiri belum muncul dengan seluruh kekuatannya, Jin Yong hanya merasakan tubuhnya melemah dan pikirannya, tiba-tiba sulit berkonsentrasi.
Betapa kejut dan murka Jin Yong ketika mendengar penjelasan Ayah Murong Yun Hua, penolakan itu pun ditanggapi Ayah
2359
Murong Yun Hua dengan tenang. Diberikannya waktu beberapa hari bagi Jin Yong untuk berpikir, sementara dia menjadi tahanan rumah sambil menunggu hatinya melunak.
Yang berada di luar dugaan Ayah Murong Yun Hua pertama-tama adalah sikap Murong Yun Hua sendiri. Tak pernah tahu bahwa Murong Yun Hua sempat mencuri dengar pembicaraan mereka, Ayah Murong Yun Hua menggunakan kepandaiannya bicara untuk memenangkan hati Murong Yun Hua, supaya anak gadisnya itu tidak berusaha membantu Jin Yong dan membantu ayahnya untuk meyakinkan suaminya itu. Di luar Murong Yun Hua sepertinya terpengaruh dengan nasehat ayahnya, namun dibalik sandiwaranya itu, ingatan akan kejadian di malam jahanam itu teringat dengan jelas. Murong Yun Hua pun menjadi panik, karena jika sekali saja Jin Yong mengikuti kemauan ayahnya akibat kecanduan dengan obat yang diberikan, maka itu artinya akan tiba saatnya bagi Murong Yun Hua untuk menjadi pelacur. Dipaksa untuk menyerahkan tubuhnya pada laki-laki, bukan demi uang tapi demi memupuk kekuasaan ayahnya.
Di saat yang sama, meskipun Murong Yun Hua belum bisa mencintai Jin Yong dengan setulusnya, meskipun
2360
kebahagiaannya tidak lebih dari sandiwara, tapi setidaknya dia masih mendapatkan rasa aman di sisi Jin Yong.
Malam itu pun Murong Yun Hua memutuskan untuk membantu Jin Yong kabur dari kediaman keluarga Murong. Dengan membawa Pedang Angin Berbisik dan sekantung obat dewa pengetahuan, mereka melarikan diri dalam gelapnya malam. Tapi apalah artinya Murong Yun Hua jika dibandingkan dengan ayahnya. Ayahnya sudah tentu memiliki jaringan yang luas dan kecerdikan di atas rata-rata, jika tidak segala usahanya tentu sudah jauh-jauh hari tercium oleh tokoh-tokoh dalam dunia persilatan. Nyatanya, jangankan rencananya, bahkan keberadaan keluarga Murong pun mampu dia sembunyikan dengan baik.
Kantung obat yang dicuri Murong Yun Hua ternyata hanya berisi obat palsu. Dalam keadaan yang tidak sempurna, dengan mudah Jin Yong dibekuk untuk kedua kalinya. Di antara mereka yang ikut menangkap mereka berdua, adalah tokoh sesat yang menjadi sasaran berikutnya dari Ayah Murong Yun Hua. Dengan kata lain, orang itu adalah laki-laki berikutnya yang akan menikmati kemolekan tubuh Murong Yun Hua. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Thai Wang Gui. Thai Wang Gui beradat tinggi hati, dari mana dia yang beradat tinggi bisa
2361
bekerja sama dengan Shao Wang Gui? Tidak lain dan tidak bukan, hal ini adalah hasil dari kerja Ayah Murong Yun Hua. Shao Wang Gui yang berhati pengecut, kemaruk harta dan kesenangan, dengan mudah dijerat masuk menjadi pembantu yang diandalkan. Tapi tidak mudah mencari hal yang bisa menjerat hati Thai Wang Gui. Maka dibantu dengan Shao Wang Gui, ayah Murong Yun Hua mulai mencari cara untuk menjerat hati Thai Wang Gui.
Demi mendapatkan kerja sama dari Thai Wang Gui, ayah Murong Yun Hua tidak segan-segan untuk merendah dan menjilat Thai Wang Gui, termasuk di dalamnya menawarkan puterinya sendiri untuk menjadi permainan Thai Wang Gui.
Thai Wang Gui yang memang pendek pikir dan gemar disanjung puji, dengan mudah jatuh dalam kelicinan kata-kata ayah Murong Yun Hua. Sungguh kebetulan di hari Jin Yong dan Murong Yun Hua melarikan diri, Thai Wang Gui sedang diundang untuk menikmati kemolekan Murong Yun Hua untuk pertama kalinya. Benar-benar buruk nasib kedua orang itu, tanpa keberadaan Thai Wang Gui di situ pun sudah sulit untuk melarikan diri. Apalagi ada Thai Wang Gui di sana, belum genap sehari mereka meninggalkah rumah kediaman keluarga Murong, keduanya sudah tertangkap kembali.
2362
Tapi pelarian mereka bukannya tanpa hasil, karena di waktu yang singkat itu, Jin Yong berhasil menjauhkan Pedang Angin Berbisik dari genggaman keluarga Murong. Entah di mana dan kapan, diam-diam Jin Yong telah menyembunyikan pedang pusaka itu. Tentu saja hal itu membuat ayah Murong Yun Hua murka. Jin Yong pun dihajar habis-habisan, namun pendekar itu tetap keras kepala dan tak mau membuka rahasia, di mana dia menyembunyikan pedang pusaka itu. Dalam murkanya ayah Murong Yun Hua pun menghadapkan sepasang suami isteri itu dengan satu pilihan.
Jika Jin Yong tidak bersedia untuk tunduk pada ayah Murong Yun Hua, maka ayah Murong Yun Hua akan membiarkan puterinya itu, isteri Jin Yong, untuk diperkosa Thai Wang Gui dan sekalian orang yang menghendakinya, di depan mata Jin Yong.
Ancaman ini tentu saja membuat keduanya pucat pasi, namun Jin Yong yang tidak ingin melihat dunia persilatan jatuh ke tangan rencana keji ayah Murong Yun Hua, memilih untuk mengeraskan hati dan menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh Murong Yun Hua, karena dia sendiri tidak tahu di mana Jin Yong menyembunyikan Pedang
2363
Angin Berbisik, segala jeritan dan permohonan Murong Yun Hua pun bertemu dengan telinga tertutup.
Tidak banyak yang diingat Murong Yun Hua setelah kejadian itu, karena tak lama kemudian gadis itu kehilangan kesadarannya. Dia terlalu lelah, baik secara fisik dan mental, saat Thai Wang Gui mendekatinya, setitik kekuatan yang ada pada dirinya segera lenyap.
Ketika sadar kembali, dia sudah berada di atas pembaringan dalam kamarnya sendiri. Seseorang sudah membersihkan tubuhnya , juga memberikan perawatan pada luka-luka yang ada, kemudian memakaikan baju putih bersih dan menyelimuti dirinya. Murong Yun Hua perlahan bangkit dan duduk di sisi pembaringan, memandangi keadaan di sekelilingnya, sebelum pandangannya berhenti pada pakaiannya yang putih bersih. Satu seringai yang tak jelas terbentuk di wajahnya, entah perasaan apa yang sekarang ini mengambil bentuk dalam hatinya.
Belum lama dia termangu, seseorang sudah membuka pintu, orang itu adalah ayahnya.
―Yun Hua…‖, tegur ayahnya dengan lembut.
2364
Ketika Murong Yun Hua tidak menjawab apa-apa, ayahnya berjalan mendekat dengan wajah penuh kasih dan penyesalan. Perlahan dia duduk di samping Murong Yun Hua, dengan lembut dia menepuk-nepuk tangan Murong Yun Hua.
―Yun Hua… aku sungguh sedih dan menyesal, bahwa kau harus mengalami semua ini. Tapi kau harus mengerti, pengorbanan kita sekarang ini, bukanlah pengorbanan tanpa arti dan tujuan. Ketika nenek moyang kita membangun Dinasti Yan, berapa banyak prajurit yang harus berkorban nyawa di medan laga? Setiap orang mengorbankan apa yang ada pada diri mereka, demi satu perjuangan suci, demi satu cita-cita yang mulia, yang melampaui kehidupan mereka sendiri.‖
―Kita manusia hanya hidup beberapa puluh tahun, lalu mati. Tapi kita bisa menghabiskan tahun-tahun yang terbatas itu, untuk membangun sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Sesuatu yang akan bertahan lama, lama bahkan sesudah kita mati.‖, demikian ayah Murong Yun Hua memberikan nasehat.
―Kami terpaksa menggunakan cara yang keras terhadap suamimu, karena ternyata dia justru menjadi penghalang bagi cita-cita kita. Tapi percayalah, asalkan dia mau mengubah
2365
sikapnya, tentu kami pun akan segera membebaskan dia.‖, ucap Ayah Murong Yun Hua sebelum diam beberapa saat, menunggu reaksi dari Murong Yun Hua.
Demikianlah berbagai macam bujukan, janji dan penjelasan diberikan oleh ayah Murong Yun Hua, namun sudah sekian lama tidak juga gadis itu memberikan reaksi apa-apa.
―Aku mengerti, saat ini mungkin kau belum mengerti, kau belum bisa menerima penjelasanku. Tapi kuharap, kau mau memikirkannya, cobalah ingat bagaimana ayahmu ini memperlakukan dirimu selama ini. Mungkinkah ayah dengan sengaja menyakiti dirimu?‖, ujar ayahnya membujuk Murong Yun Hua yang masih saja diam.
Perlahan ayah Murong Yun Hua bangkit berdiri, memeluk anaknya dengan lembut, sungguh sosok seorang ayah yang sangat mencintai anaknya, ―Baiklah untuk sementara, ayah akan tinggalkan kamu sendiri di sini. Pikirkan baik-baik apa yang ayahmu ini katakan. Bayangkan keadaan kita pada saat cita-cita kita itu tercapai. Tidak akan ada seorangpun yang hidup yang akan mengetahui apa yang terjadi pada dirimu sekarang ini. Kau bahkan akan ayah jadikan seorang ratu yang menguasai seluruh negeri.‖
2366
Melihat Murong Yun Hua masih diam, ayahnya pun tidak menjadi marah atau kesal, hanya menepuk-nepuk pundaknya dengan kebapakan kemudian pergi.
Tapi sebelum dia menutup pintu kamar dia berbalik dan berkata, ―Yun Hua… berat bagi kami untuk mengambil keputusan ini. Namun demi cita-cita yang mulia, tidak ada jalan lain, jika kau tidak bersedia, aku bisa mengerti. Hanya saja itu artinya, kami harus mengandalkan Huolin, padahal dia masih terlampau kecil.‖
Sejak tadi Murong Yun Hua hanya berdiam diri, tapi ketika mendengar perkataan ayahnya yang terakhir, tanpa kentara, terlihat ada perubahan, tangannya menggenggam kencang selimut yang ada di dekatnya. Saat pintu sudah ditutup rapat, gadis itu pun menegakkan badannya. Sebuah kilatan tajam seperti memancar dari sepasang matanya. Keesokan harinya, saat ayahnya berkunjung untuk kedua kalinya, Murong Yun Hua sudah kembali pulih seperti sedia kala. Kekuatan batin yang dimiliki gadis muda ini memang sulit dicari tandingannya, kemauan untuk hidup, kemauan untuk terus melawan, meski berulang kali dia harus terhempas tak berdaya.
2367
Dengan tenang gadis itu bisa memberikan jawaban yang memuaskan hati ayahnya dan tanpa ragu menerima tugas yang diberikan olehnya. Tugas Murong Yun Hua adalah merebut kepercayaan Thai Wang Gui, karena sudah sekian lama ayah Murong Yun Hua berusaha membuat Thai Wang Gui meminum obat dewa pengetahuan, namun setan itu terlampau teliti dalam memeriksan makanan dan minuman yang dia santap. Setan itu pun terlampau tidak percaya pada orang-orang di sekelilingnya. Tugas Murong Yun Hua adalah menyelidiki kelemahan setan sesat itu, berusaha merebut kepercayaannya dan pada akhirnya membuat Thai Wang Gui kecanduan obat dewa pengetahuan. Kalau itu sudah tercapai, maka Murong Yun Hua pun akan terbebas dari kewajibannya melayani Thai Wang Gui. Ayahnya pun menambahkan berbagai pujian dan janji-janji, untuk menguatkan Murong Yun Hua dalam menjalani tugasnya itu.
Ayahnya boleh saja punya rencana, tapi Murong Yun Hua punya rencana sendiri.
Dalam hati dia berkata, ‗Ayah… jangan khawatir, cita-citamu itu tentu akan tercapai. Keluarga Murong akan kembali menguasai tanah ini. Namun bukan oleh tanganmu, melainkan oleh tanganku.‘
2368
Murong Yun Hua pun dengan sungguh-sungguh mendekati dan berusaha merebut hati Thai Wang Gui, tentu saja hal ini bukanlah perkara mudah. Tokoh sesat ini bukan sekedar terpikat oleh kecantikan, meskipun dalam hal itu kecantikan Murong Yun Hua, memang sungguh sulit dicari tandingannya. Tidak ada yang tahu kecuali ayah Murong Yun Hua sendiri, bahwa Murong Yun Hua bukanlah anak kandungnya. Ketika mencari isteri dia mencari wanita tercantik, sekian tahun dia bergaul dengan isterinya, tidak juga dia mendapatkan keturunan. Di luar sepengetahuan isterinya, ayah Murong Yun Hua menjalin hubungan dengan banyak wanita lain, namun tidak juga membuahkan hasil. Entah setan mana yang berbisik padanya, tapi sebuah rencana yang sesat dan mesum, tiba-tiba terbentuk di benaknya. Dicarinya lelaki yang paling tampan yang bisa dia temukan dan diperintahkannya laki-laki itu untuk menggauli isterinya yang sudah terlebih dahulu dibuat tertidur pulas dengan obat buatannya.
Itu sebabnya kecantikan Murong Yun Hua memang seperti menyimpan misteri, karena lelaki yang didapatkan oleh ayahnya itu adalah seorang yang bukan berasal dari dalam perbatasan. Masih beruntung bayi kecil Murong Yun Hua, bahwa dia memiliki setiap apa yang diinginkan oleh ayahnya
2369
dalam diri seorang anak perempuan. Karena jika tidak, tanpa sangsi tentu dia akan dibunuh sebelum dia sempat tumbuh dewasa. Pada saat itu, di mata ayah Murong Yun Hua yang kecewa setelah mendapati dirinya mandul, isteri dan anaknya, hanyalah barang percobaan bagi dirinya. Bagi dirinya dan cita-citanya yang ―mulia‖. Pada saat itu, ayahnya berpikir hendak menciptakan sosok gadis suci dalam diri Murong Yun Hua. Murong Yun Hua kecil pun dididik dalam berbagai kepandaian dan juga cara membawa diri, hingga terbentuk Murong Yun Hua yang mampu memikat hati pendekar besar seperti Jin Yong. Tapi apakah itu cukup untuk menaklukkan hati Thai Wang Gui yang bengkok?
Tentu saja ayah Murong Yun Hua tidak hanya mengandalkan Murong Yun Hua sendiri untuk memerangkap Thai Wang Gui. Dia sendiri pun bekerja keras untuk menemukan celah dalam diri Thai Wang Gui. Namun ternyata, memang Murong Yun Hua lebih berhasil dalam memenangkan hati setan sesat itu.
Usaha Murong Yun Hua yang tidak kenal lelah, otaknya yang tidak pernah berhenti berputar, akhirnya mulai memahami kegemaran Thai Wang Gui yang di luar kewajaran. Thai Wang Gui yang masa kecilnya dipenuhi penghinaan, lebih dari apapun mendambakan pujian dan penghormatan dari orang
2370
lain. Itu sebabnya tokoh sesat ini, tidak seperti Shao Wang Gui yang mudah ingkar janji, justru sangat memegang kata-katanya dan bersikap melindungi pada orang-orang bawahannya. Meskipun di saat yang sama, jika mereka sedikit saja membuat hatinya tak senang, maka nyawa mereka pun akan melayang. Itu pula sebabnya sampai sekarang Thai Wang Gui mau membantu beberapa pekerjaan ayah Murong Yun Hua, entah itu untuk mencuri kitab atau untuk menekan perguruan tertentu. Semuanya itu dia lakukan karena cara Ayah Murong Yun Hua menjilat dirinya, merunduk-runduk, bahkan sampai memberikan puteri ―kandung‖nya pada Thai Wang Gui, membuat setan sesat itu merasa puas, merasa dirinya berharga.
Dan inilah yang dilakukan Murong Yun Hua, diperlakukannya Thai Wang Gui bagai seorang dewa berwajah tampan. Jangankan menciumi kakinya, bagian yang lebih menjijikkan dari diri Thai Wang Gui pun tidak akan membuat gadis itu bergeming. Semuanya demi merebut hati Thai Wang Gui.
Usahanya pun tidak sia-sia, setelah beberapa bulan lamanya dia menjadi ―kekasih‖ Thai Wang Gui, Thai Wang Gui pun tidak bisa hidup tanpa Murong Yun Hua. Meski dalam bentuknya Murong Yun Hua masih menjadi ―budak‖ yang harus mendewa-dewakan Thai Wang Gui, namun setiap kata permohonan dan
2371
permintaan Murong Yun Hua tentu diperhatikan Thai Wang Gui dengan sungguh-sungguh. Setelah mendapatkan pegangan atas Thai Wang Gui, mulailah Murong Yun Hua membangun kekuatan dalam keluarganya sendiri. Kekuatan yang akan dia gunakan untuk menumbangkan kekuasaan ayahnya. Cukup panjang dan berkelok, jalan Murong Yun Hua untuk merebut kekuasaan ayahnya sendiri, tapi tekad yang luar biasa akhirnya mengantarnya pada kemenangan. Murong Yun Hua bahkan mengambil resiko agar dia dapat melampaui ayahnya, saat dia memutuskan untuk meminum sendiri obat dewa pengetahuan yang seharusnya disediakan untuk Thai Wang Gui. Bisa dikatakan hal itu adalah salah satu keputusan yang memungkinkan Murong Yun Hua memenangkan pertarungan kekuasaan yang terjadi diam-diam dalam keluarga Murong ini. Berbekal kecerdasan yang berlipat, Murong Yun Hua berusaha memecahkan sendiri ramuan obat dewa pengetahuan.
Ayahnya memang menyembunyikan catatan pembuatan obat tersebut, namun buku-buku lain yang berkenaan dengan pengobatan tidaklah terlampau ketat untuk dijaga. Ditambah lagi Thai Wang Gui yang dengan setia bersedia untuk mencari informasi-informasi yang dibutuhkan Murong Yun Hua. Pada akhirnya Murong Yun Hua berhasil meramu sendiri obat dewa
2372
pengetahuan, bahkan membuatnya lebih baik dari obat yang dibuat oleh ayahnya berdasarkan catatan yang dia miliki.
Sudah sekian lama ayahnya menggunakan obat itu untuk menaklukkan tokoh-tokoh dalam dunia persilatan. Mereka tunduk karena tanpa ayah Murong Yun Hua yang memberikan pasokan obat itu pada mereka dalam hitungan minggu mereka akan menjadi mayat hidup seperti Jin Yong. Dengan keberhasilan Murong Yun Hua memecahkan formula dari ramuan obat itu, dia sekarang memiliki kekuasaan yang sama dengan ayahnya. Bahkan dia memiliki sedikit kelebihan karena dendam yang tersimpan dalam hati banyak orang yang sudah diperas oleh ayahnya.
Apalagi diam-diam, cerita tentang bagaimana ayah Murong Yun Hua memaksa anaknya sendiri untuk melacurkan diri sudah menjadi rahasia umum. Banyak pengikut keluarga Murong turun temurun yang bersimpati pada Murong Yun Hua, yang mengorbankan diri demi melindungi Murong Huolin yang lebih muda. Meskipun kisik-kisik akan berita itu menyebar, dengan sendirinya ayah Murong Yun Hua tidak pernah mendengarnya, karena dialah yang menjadi tokoh antagonis dalam kisah itu. Sedangkan Murong Yun Hua sendiri tentu saja berpura-pura tidak pernah mendengarnya, meskipun dirinyalah yang menjadi
2373
sumber awal cerita itu bergulir. Demikianlah baik dari luar maupun dari dalam keluarga Murong sendiri, Murong Yun Hua telah unggul dibandingkan ayahnya. Tinggal menunggu waktu sebelum gadis itu membalaskan dendamnya pada ayahnya sendiri.
Ketika akhirnya Murong Yun Hua memegang tampuk kekuasaan dalam keluarga Murong, dia sudah menjadi seorang wanita yang ahli dalam bidang pengobatan, juga dalam hal bela diri.
Dengan kecantikan, kecerdikan dan kesabarannya, Murong Yun Hua pun diam-diam menjadi satu kekuatan besar yang jaringannya tersebar hampir ke seluruh perguruan yang ada dalam dunia persilatan. Namun semuanya itu didapatkan dengan mengorbankan dirinya sendiri. Entah berapa banyak perbutan dan rencana-rencana keji yang harus dia ciptakan dalam pikirannya, tanpa ada tempat untuk berbagi. Di saat malam-malam terasa sepi, Murong Yun Hua pun akan pergi menemui Jin Yong yang hidup tak ubahnya sesosok mayat hidup. Sebenarnya dengan pengetahuannya yang sekarang dalam hal pengobatan Murong Yun Hua bisa saja membebaskan Jin Yong dari keadaannya yang sekarang. Namun perbuatan Jin Yong yang memilih untuk berpegang
2374
pada prinsipnya daripada berusaha menyelamatkan dirinya, tidak pernah bisa dimaafkan oleh Murong Yun Hua. Selain itu Murong Yun Hua pun membutuhkan tempat untuk mencurahkan segala uneg-uneg, terkadang dia datang pada Jin Yong dan bercerita, sekedar untuk menyombongkan keberhasilannya.
Seperti juga malam ini, saat Murong Yun Hua sedang mempersiapkan salah satu rencana besarnya. Dengan suara setengah berbisik dia pun menceritakan segala sesuatunya pada Jin Yong, yang hanya bisa memandang tak berkedip, menyimpan semua perkataan Murong Yun Hua tanpa bisa memahaminya. Mungkin berhari-hari lamanya Jin Yong merenungkan setiap detail ingatannya, sebelum akhirnya dia memahami rencana yang dia dengar. Dan pendekar besar itu hanya bisa meneteskan air mata, ketika memikirkan wanita yang pernah menjadi pasangan hidupnya itu.
―Pemuda itu begitu mirip dirimu…, dia bahkan lebih tampan dibandingkan dirimu belasan tahun yang lalu. Jika saja tidak ada nona muda keluarga Huang…‖, Murong Yun Hua bercerita pada Jin Yong.
2375
―Hmp!! Semuanya ini gara-gara kelicikan Tiong Fa, tidak kusangka dia berani-beraninya memiliki rencana sendiri di belakangku…‖, dengan tangan mengepal Murong Yun Hua mengutuki Tiong Fa.
Terdiam beberapa lama, Murong Yun Hua menghela nafas dan berkata, ―Tidak… tidak bisa aku sepenuhnya menyalahkan Tiong Fa. Hari-hari itu, pikiranku berjalan kurang jernih, pertimbangan yang kuambil terlampau banyak dipengaruhi oleh emosi.‖
Kembali diam beberapa lama.
―Ya… penolakan Ding Tao, membuat harga diriku tersinggung. Kemarahan yang menutupi pertimbangan yang lebih matang. Pada saat itu aku terlampau bangga akan keberhasilanku, kecantikanku, kecerdikanku dan segala kelebihanku. Sungguh tidak nyana, hari itu aku bertemu dengan seorang pemuda yang akan menolakku, demi seorang gadis biasa.‖
Sebuah senyum terbentuk di bibirnya, ―Tapi sekarang aku akan meluruskan segala kesalahan itu. Kekuasaanku sudah menyebar luas, bahkan 6 perguruan besar tidak lepas dari pengaruhku. Seandainya tidak ada Hua Ying Ying dan ayah
2376
angkatnya, alangkah baiknya jika Ding Tao memegang jabatan itu. Dia akan menguasai sebagian dunia persilatan dan aku menguasai sisanya. Sementara dia sendiri berada dalam pengaruhku, dengan kata lain, sesungguhnya seluruh dunia persilatan sudah ada dalam genggamanku.‖
―Sayang gadis itu ternyata belum mati. Selama dia ada, kekuasaanku atas Ding Tao belumlah sempurna. Kali ini aku tidak ingin bermain-main terlalu cantik, satu gerakan yang keras dan brutal jauh lebih baik. Terlalu banyak bermain strategi bisa menjadi bumerang, sungguhpun aku cukup yakin dengan cara tiap orang berpikir. Terhadap Ding Tao juga terhadap Tiong Fa, terbukti aku pun melakukan kesalahan-kesalahan.‖
―Yang satu karena keluguan yang sulit dibayangkan, atau lebih tepatnya jenis kebodohan yang tidak bisa disembuhkan. Yang seorang lagi karena kelicikannya yang sulit dicari bandingannya…‖, ujar Murong Yun Hua sambil merenung.
Kemudian dia menggeleng perlahan, ―Tidak juga, kelicikan Tiong Fa tidak akan ada artinya jika pada saat itu aku tidak terlalu sombong, sehingga banyak hal tidak aku perhatikan. Ya…, terlampau banyak hal-hal kecil yang lepas dari
2377
pengamatanku saat itu. Tapi tak apa, aku belajar untuk jadi lebih rendah hati, oleh karenanya.‖
Sekali lagi dia mendekatkan wajahnya ke wajah Jin Yong dan berkata, ―Itu sebabnya, Ding Tao dan setiap mereka yang menghalangi jalanku akan kulenyapkan. Terlampau riskan untuk terus bermain-main dalam bayangan, berusaha mengatur keputusan mereka, hanya lewat permainan pikiran. Kali ini aku akan menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya dari Murong Yun Hua. Waktu untuk bersembunyi sudah habis… Kuharap kau mengerti…, bukan aku kejam, tapi aku terpaksa melakukan semua ini.‖
Lama Murong Yun Hua terdiam dan memandangi tatapan kosong dari Jin Yong, sampai ketika dia melihat setitik pemahaman mulai datang di benak pendekar besar itu. Ya, sedari tadi Murong Yun Hua berbicara, baru sekarang Jin Yong menyadari kehadirannya dan mungkin memahami kata-kata pertama yang dia ucapkan. Sebuah senyum yang cantik pun terbentuk di wajah Murong Yun Hua.
Dengan lembut dia membelai wajah Jin Yong yang pucat karena sekian lamanya tak melihat cahaya matahari, dengan lembut pula dia berbisik, ―Tidurlah kembali dengan nyenyak,
2378
beberapa hari lagi, aku akan membawa teman untukmu. Ding Tao orang yang sangat mirip sifatnya denganmu, kalian berdua tentu akan saling menyukai.‖
―Dia juga sudah cukup lama mengkonsumsi Obat Dewa Pengetahuan di luar sepengetahuannya. Aku sudah mengukur waktu yang tepat untuk datang mengunjunginya, sejak itu di luar tahunya, aku mencampurkan obat itu dalam makanan dan minuman yang kuantarkan bagi dirinya. Dan lebih mudah lagi sejak dia menikahi kami berdua. Jadi kau lihat, dia akan menjadi teman yang sangat pas untukmu. Bisa kubayangkan bagaimana kalian berdua bercakap-cakap, berbulan-bulan lamanya.‖, ujar Murong Yun Hua sambil tertawa.
Tertawa geli, geli membayangkan dua orang dengan otak yang berjalan begitu lambat akibat efek samping Obat Dewa Pengetahuan yang dihentikan pemberiannya, bercakap-cakap berdua. Betapa lucunya, jika untuk memahami satu kalimat mereka butuh satu minggu.
Setelah tawanya mereda, pembicaraan Murong Yun hua dengan Jin Yong untuk malam itu pun berakhir, diakhiri dengan sebuah kecupan lembut di dahi Jin Yong, Murong Yun Hua bangkit berdiri dan meninggalkannya. Berbaring diam di atas
2379
pembaringan, hanya ditemani seorang perempuan bisu dan sebatang lilin yang berkelip-kelip. Tapi jika rencana Murong Yun Hua berjalan dengan lancar, maka sebentar lagi dia tidak akan sendirian, karena akan ada Ding Tao yang berbaring di sisinya.
Hari itu Wang Shu Lin akhirnya sampai juga di kota yang sama dengan pemuda pujaan hatinya. Menakjubkan memang, bagaimana cinta bisa memberikan kekuatan pada seseorang untuk melakukan hal-hal yang berat, mengorbankan apa yang seringkali dipandang penting, hanya demi bisa berdekatan dengan orang yang dicintai.
Gadis itu baru saja menempuh perjalanan yang panjang dengan sedikit istirahat, segera setelah mendapatkan kamar di penginapan pertama yang dia temui, Wang Shu Lin pun menghempaskan tubuhnya di atas pembaringan. Sambil memejamkan mata, dia pun menarik nafas dalam-dalam, menikmati empuknya kasur di bawah tubuhnya, ganti tanah atau dahan pohon yang keras, tempat dia menghabiskan malam-malam panjang dalam perjalanan yang melelahkan.
Hanya dua bulan lebih sedikit, jarak waktu antara perginya Wang Shu Lin secara diam-diam dari Shanxi, sampai dengan sekarang ketika dia merebahkan diri di sebuah penginapan di
2380
kota Jiang Ling, namun perubahan penampilan dari gadis ini cukup besar. Apalagi bagi mereka yang biasa melihat Wang Shu Lin berpakaian laki-laki dan berlagak seperti laki-laki, tentu akan pangling jika melihat Wang Shu Lin yang sekarang. Dulu Wang Shu Lin mengejar kekuatan, makan dalam takaran yang dua kali lipat melebihi takaran kebanyakan laki-laki dan melatih kekuatan ototnya siang dan malam. Tak pernah pula dia takut pada sinar matahari. Tubuhnya pun menjadi kekar dengan kulit sedikit kehitaman, penampilannya tidak kalah garang dengan para bawahannya. Mulutnya pun terkadang tidak kalah kasar dan galak dibandingkan dengan bawahannya.
Sejak mulai mengenal cinta dan lebih memperhatikan kecantikan diri, Wang Shu Lin pun membatasi makanan yang dia makan, berusaha berlaku lebih lemah lembut layaknya seorang wanita terpelajar. Jika sedang berjalan di bawah teriknya matahari, maka tidak lupa pula mengenakan topin anyaman yang lebar dan secarik tipis cadar di bagian depan. Selain lebih banyak menjaga diri, Wang Shu Lin sekarang ini mulai pula berdandan. Dalam hal ilmu bela diri, meskipun tidak meninggalkan latihannya, gadis ini sekarang lebih berfokus pada kecepatan dan ketepatan dalam melakukan jurus. Tidak lagi dia melatih permainan toya besi atau permainan goloknya.
2381
Sebagai senjata, dipilihnya pedang yang lebih ringan dan lebih sering dipakai oleh pendekar wanita, dibandingkan jenis senjata lainnya. Tubuhnya yang dulu kekar, sekarang menjadi ramping. Kulit yang dulu kehitaman, sekarang menjadi putih mulus. Wajah yang dulu tak pernah mengenal bedak, sekarang sudah didandani dengan bedak dan gincu. Bahkan rambut pun disanggul sesuai dengan gaya sanggul yang paling mutakhir. Sepasang anting mungil dari emas, menghiasi daun telinganya. Garis rahangnya yang tegas memang sukar diubah, namun secara keseluruhan Wang Shu Lin seperti beralih rupa meskipun tanpa memakai samaran sedikitpun.
Tubuhnya yang penat, perlahan-lahan mendapatkan kembali kesegarannya. Namun hatinya belum lepas dari rasa galau, yang dia derita sejak dia mendengar berita pernikahan antara Ding Tao dan Hua Ying Ying.
Berulang kali dia meyakinkan diri sendiri, betapa baik dan cantiknya Hua Ying Ying, sungguh merupakan pasangan yang memang pantas bagi Ding Tao. Pula Hua Ying Ying adalah murid seorang kenamaan, keberaniannya pun tidak perlu diragukan, ketika banyak orang mengkerut ketakutan mendengar nama besar Thai Wang Gui, gadis itu tanpa rasa takut berani mencoba bergebrak dan menuntut balas kematian
2382
keluarganya. Apa lagi yang kurang? Pula, sejak awal dia mengenal Ding Tao, bukankah pemuda itu sudah memiliki dua orang isteri, apa bedanya jika sekarang dia memiliki tiga orang isteri?
Setelah rasa penat di tubuhnya hilang, Wang Shu Lin pun bangkit berdiri untuk meminta satu bak penuh air panas untuk mandi. Air yag hangat membuat tubuhnya terasa nyaman, sedikit banyak, perasaan galau dalam hati terusir pergi. Selesai berdandan Wang Shu Lin pun memutuskan untuk pergi berjalan-jalan, melihat-lihat isi kota Jiang Ling. Tidak seperti dulu, Wang Shu Lin yang sekarang justru gemar melihat-lihat berbagai macam jualan di pasar yang berhubungan dengan kecantikan wanita, meskipun tentunya justru sangat sesuai dengan penampilannya yang sekarang ini. Ada gadis cantik berjalan-jalan sendirian, sudah tentu ada banyak lelaki yang menaruh perhatian. Jika bukan karena pedang yang tergantung di pinggang, mungkin sudah ada yang menggoda sejak tadi. Tapi sudah ada pedang pun, ternyata masih ada juga yang berani menggoda.
―Nona…, sepertinya nona bukan berasal dari Jiang Ling‖, tiba-tiba seorang laki-laki datang menyapa.
2383
Wang Shu Lin menengok sekejap, sebelum memalingkan wajahnya kembali ke arah barang-barang yang sedang dijajakan dan menjawab, ―Aku memang bukan berasal dari Jiang Ling, maaf saudara, tapi aku sedang ingin berjalan sendirian saja.‖
―Ah…, apa enaknya berjalan sendirian? Kebetulan aku dan kawan-kawanku hendak berpesiar di luar kota, bagaimana kalau nona ikut pula dengan kami?‖, ujar lelaki tersebut sambil menunjuk ke arah beberapa orang lelaki lainnya.
Sekilas Wang Shu Lin menengok, gadis ini menghela nafas melihat kegigihan orang, namun perbuatan orang juga belum melanggar batas, jadi diapun masih memandang muka orang. Apalagi sejak jatuh cinta, sifat Wang Shu Lin yang keras jadi banyak melunak.
―Sekali lagi aku minta maaf, namun tidak ada keinginan untuk berpergian keluar kota. ―, jawab Wang Shu Lin dengan tegas.
Sayang, sikap Wang Shu Lin yang berusaha mengalah, justru membuat lelaki tersebut semakin bersemangat, ―Ayolah nona, kulihat nona membawa pedang, tentunya nona orang dunia persilatan sama seperti kami. Kukira nona tentu pernah
2384
mendengar nama besar Kongtong, biarpun Lau Wan Kiet bukanlah tokoh tingkatan atas dalam Partai Kongtong, namun masih terhitung seangkatan dengan Ketua Kongtong yang sekarang.‖
Wang Shu Lin yang sudah mulai jengkel, tidak memberikan jawaban apa-apa, sambil menundukkan wajah, menyembunyikan kegeramannya, dia berjalan menjauh. Melihat Lau Wan Kiet pendekar dari Kongtong itu gagal mengajak Wang Shu Lin, pecahlah tawa teman-teman yang menunggu tidak berapa jauh dari sana. Wajah Lau Wan Kiet pun berubah kemerahan menahan malu, sigap dia melompat menghadang Wang Shu Lin.
―Nona, harap kau beri muka padaku‖, gertaknya sambil melintangkan tangan di depan Wang Shu Lin.
Berkilat mata Wang Shu Lin, pedang yang digantung di pinggang dengan cepat sudah berpindah ke tangan, ―Saudara, aku tidak ingin mencari ribut, tapi tolong kau beri aku jalan. Jika tidak, jangan salahkan pedangku tak bermata.‖
Lau Wan Kiet sudah biasa berkelana, malang melintang belum pernah bertemu lawan, masa hari ini harus mengalah pada
2385
seorang gadis yang masih muda, ―Hmm… hmm…, nona sepertinya nona ini lebih mengagumi kemampuan dari pada wajah tampan, bagus-bagus, memang seorang gadis harusnya begitu. Mari aku tunjukkan kemampuan dari tuanmu ini.‖
Salah seorang rekan Lau Wan Kiet rupanya tidak ingin membuat keributan di tengah pasar, masih dengan senyum mengulum dia buru-buru mendekat dan berusaha mencegah Lau Wan Kiet, ―Saudara Lau, sudahlah, orang tidak mau mengapa dipaksa, nanti akan aku carikan teman melancong yang seratus kali lebih cantik dari nona ini.‖
Wang Shu Lin dengan bibir mencibir menyeletuk, ―Huh… mau modal kemampuan kukira kau tak mampu, paling-paling kemampuanmu menggunakan pedang sama buruknya dengan wajahmu.‖
Lau Wan Kiet sudah biasa dipuji-puji orang, matanya pun mendelik mendengar ucapan Wang Shu Lin, mana dengar dia dengan nasihat rekannya, ―Ho ho ho…, tadinya aku mau memandang muka tuan rumah dan memberimu kelonggaran. Tapi rupanya kau justru sengaja memancing agar aku tidak melepaskanmu. Baik, siang ini kau saksikan pedang tuanmu, malam nanti tuanmu akan tunjukkan kemampuannya yang lain.‖
2386
Rekan Lau Wan Kiet yang berusaha mencegah Lau Wan Kiet pun menengok ke arah Wang Shu Lin dengan kesal, ―Nona… kau ini memang mencari perkara saja, jangan salahkan orang she Chen kalau kau mendapat nasib buruk.‖
Sambil menghentakkan kaki dia pun pergi meninggalkan tempat itu, beberapa rekan yang lain berusaha mencegah kepergiannya. Namun sambil berbisik orang she Chen itu menjelaskan tindakannya kemudian pergi tanpa ada yang mencegah lagi. Tinggal Lau Wan Kiet dengan wajah merah dan mata melotot dengan pedang sudah dicabut dari sarungnya, menghadapi Wang Shu Lin yang juga sudah berdiri dengan pedang terhunus. Suasana di pasar pun jadi ramai, orang-orang yang lewat pun berdiri menjauh. Ada yang memang senang menonton keramaian ada pula yang menggerutu karena pekerjaannya terganggu. Namun hiburan biasanya hanya jadi milik mereka yang punya uang, tontonan biasanya bisa dinikmati saat ada yang mengadakan syukuran. Kalau ada pertunjukan gratis, apalagi salah satu pemainnya seorang gadis cantik, mengapa harus menggerutu? Begitulah orang-orang berkerumun, beberapa ada yang berteriak menyemangati Lau Wan Kiet, ada pula yang berteriak menyemangati Wang Shu Lin.
2387
―Tuan pendekar, beri dia hajaran sedikit, kalau sudah jinak, baru kasih jurus menghantar ke surga dunia‖, seru seseorang entah siapa disambut tawa kurang ajar beberapa orang.
Lau Wan Kiet yang mendapat teriakan memandang Wang Shu Lin dengan dada membusung, ―Kau dengar itu nona? Terserah kau pilih jalan yang mana, aku pun tak ingin terlalu menekan perempuan. Asal kau mau memanggilku koko dan memberiku ciuman tentu akan kulepaskan.‖
Mendengar ucapan Lau Wan Kiet itu, segera saja terdengar suitan dan seruan serta kata-kata cabul dari beberapa penonton, membuat alis Wang Shu Lin yang lentik berkerut dan tanpa banyak cakap pedangnya bergerak menusuk secepat kilat.
Serangan Wang Shu Lin datang dengan cepat, Lau Wan Kiet pun tergagap dan mundur beberapa langkah sembari memutar pedang membentuk benteng pertahanan. Pedang pun bertemu pedang dan suara nyaring dentang pedang, bertubi-tubi terdengar, mengiringi siutan angin yang ditimbulkan oleh kedua bilah pedang yang bergerak dengan cepat. Baru dalam beberapa gebrakan sudah telrihat Lau Wan Kiet berada di
2388
bawah angin. Mereka yang sebal dengan kelakuan Lau Wan Kiet dengan segera bersorak mendukung Wang Shu Lin.
―Bagus nona pendekar! Hajar saja orang tak tahu adat itu.‖
―Potong saja hidungnya!‖
―Jangan, lebih baik potong saja itunya!‖
Tapi Lau Wan Kiet termasuk generasi seangkatan dengan Zhong Wei Xia meskipun selisih beberapa tahun lebih muda, sudah tentu ilmunya juga bukan ilmu sembarangan. Meskipun sempat terdesak, tapi tidak mudah untuk menjatuhkan dirinya. Sebaliknya keampuhan permainan pedang Wang Shu Lin menurun beberapa tingkat, pedangnya kali ini adalah pedang biasa, tidak tersembunyi berbagai macam alat dan kejutan yang biasa dia pakai untuk menggertak lawan. Pula tenaganya menyusut cukup banyak, akibat dia mengubah pola latihan dan pola makannya. Meskipun berada di atas angin tidak begitu mudah baginya untuk segera menyelesaikan pertarungan.
Pertarungan sudah berjalan memasuki jurus ke-12 ketika Wang Shu Lin semakin memastikan kemenangannya. Dalam kecepatan, ketepatan dan kematangan jurus serta gerak perubahan, gadis itu berada beberapa tingkat di atas lawannya.
2389
Pedangnya bergerak lincah seperti burung elang yang menyambar-nyambar. Memakai baju berwarna cerah dengan jubah luar yang warnanya sepadan, diiringi bau harum samar-samar, Wang Shu Lin bergerak cepat membuat penonton merasa kabur melihatnya.
―Ah… nona pendekar ini benar-benar cantik dan hebat, melihat dia bertarung seperti melihat bunga bertaburan di musim semi.‖, ujar salah seorang pendukung Wang Shu Lin yang menonton sambil terkagum-kagum.
Segera saja ucapannya itu mendapat anggukan kepala setuju dari banyak orang yang menonton pertarungan mereka berdua. Telinga Wang Shu Lin yang tajam tentu saja mendengar pujian orang, hati gadis itu pun berbunga-bunga. Di luar sadarnya dia memilih jurus-jurus yang lebih indah untuk dilihat, meskipun sebenarnya dia bisa menggunakan jurus-jurus yang keras untuk menyelesaikan perlawanan Lau Wan kiet dengan lebih cepat. Kebetulan jurus-jurus pedang yang dipilih Wang Shu Lin adalah jurus pedang dari Wudang yang memang dikenal dengan keindahan dan kelembutannya.
Lau Wan Kiet pun jadi berpikir, ‗Apakah aku kebetulan bentrok dengan seorang murid muda dari Wudang? Ah, celaka benar,
2390
belum pernah kudengar ada pendekar pedang wanita dari Wudang, mengapa hari ini aku bisa bertemu dengan seorang yang berkepandaian begitu tinggi?‘
―Tunggu nona, apakah nona berasal dari Wudang? Jika benar, baiklah kita hentikan saja pertarungan ini, sesama enam perguruan besar, tak baik jika saling bentrok seperti ini.‖, ujar Lau Wan Kiet di sela-sela kesibukannya menangkis hujan serangan dari Wang Shu Lin.
―Hmm… dalam keadaan seperti ini baru berkata demikian, mengapa bukan dari tadi?‖, dengus Wang Shu Lin tanpa mengendorkan serangannya.
Jawaban Wang Shu Lin membuat Lau Wan Kiet semakin yakin bahwa dia berasal dari Wudang. Gerakannya pun menjadi semakin kacau, dengan senyum sinis Wang Shu Lin memperketat serangannya, membuat Lau Wan Kiet tak bisa membuka mulut untuk berbicara. Jangankan untuk berbicara, bernafas pun dia sudah tersengal-sengal.
Ketika Lau Wan Kiet melihat ujung pedang Wang Shu Lin berkelebat cepat ke arah wajahnya, Lau Wan Kiet sudah tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menutup mata dan menanti
2391
datangnya ujung pedang yang tajam. Di saat yang berbahaya bagi Lau Wan Kiet itu, tiba-tiba Lau Wan Kiet merasakan tubuhnya seperti dihisap oleh satu kekuatan besar. Tubuhnya bergeser beberapa jengkal dari tempat dia berdiri. Ujung pedang Wang Shu Lin pun gagal mengenai sasaran, sebelum dia bisa menarik kembali pedangnya, sebuah senjata aneh sudah membelit pedang Wang Shu Lin. Sepasang roda bergerigi yang disatukan oleh seuntai rantai besi, siapa lagi yang datang jika bukan Zong Weixia. Cepat sekali senjata Zong Weixia menyambar, dengan ujung yang satu membelit pedang, ujung yang lain sudah pergi menyambar lengan Wang Shu Lin yang menggunakan pedang. Daripada mengorbankan tangannya, Wang Shu Lin pun memilih untuk melepaskan pedang.
Dalam sekejap mata, Lau Wan Kiet terbebas dari ancaman, masih dengan wajah pucat dia memandang wajah penolongnya.
Melihat penolongnya adalah Zong Weixia, wajah Lau Wan Kiet malah semakin pucat, dengan kepala tertunduk dan suara hampir tak terdengar dia berkata, ―Ketua… maafkan aku.‖
2392
Zong Weixia tidak segera menjawab Lau Wan Kiet, dengan satu gerakan dia melemparkan pedang milik Wang Shu Lin kembali ke gadis itu, ―Hmm… nona ini aku kembalikan pedangmu.‖
Rantai seperti sudah menjadi tangannya sendiri, pedang meluncur terarah dan dengan mudah Wang Shu Lin menangkap gagang pedang. Ketika pedang sudah di tangan baru terasa, lemparan Zong Weixia menyimpan tenaga yang tidak kecil. Wang Shu Lin yang sudah menurun kekuatannya pun terhuyung beberapa langkah ke belakang dengan tangan tergetar. Dengan pandang mata berkilat Wang Shu Lin memegang pedangnya bersiap terhadap serangan Zong Weixia, tapi Zong Weixia sendiri sudah mengalihkan perhatian ke arah Lau Wan Kiet yang berdiri gemetaran.
Dengan sebuah gerakan menyendal, rantai besi Zong Weixia bergerak mengayun ringan dan dalam sekejap, roda bergerigi yang ada di salah satu ujung rantai sudah tergantung dengan ringannya, menyangkut pada daun telinga Lau Wan Kiet.
―Lau Wan Kiet…, tentu kau tahu, kita di sini cuma bertamu, yang menjadi tuan rumah kita adalah Partai Pedang Keadilan.‖, ujar Zhong Weixia dengan suara dingin membesi.
2393
Lau Wan Kiet yang gemetar ketakutan tidak bisa mengeluarkan kata-kata hanya mengangguk-anggukkan kepala sebagai jawaban.
―Hmm… dari yang kudengar, nona ini sudah menolak ajakanmu tapi kau terus saja mendesaknya. Aku tidak menyalahkanmu berusaha memikat hati nona ini. Nona ini memang cantik, sudah wajar jika seorang laki-laki jatuh hati dan ingin mengenalnya lebih dekat, tapi seharusnya kau mundur ketika dia menolakmu. Apa gunanya telinga jika kau tidak mau mendengar jawaban orang?‖, ucap Zong Weixia dengan dingin.
Keringat pun bercucuran membasahi dahi Lau Wan Kiet, dari ujung matanya dia bisa melihat saudara seperguruannya yang datang bersama Zong Weixia. Rupanya ketika rekannya yang bermarga Chen melihat Lau Wan Kiet tidak mau mendengar nasihatnya, dia segera pergi untuk memanggil saudara seperguruannya untuk menghentikan dirinya. Entah memang sengaja, atau nasibnya yang sedang sial, Zong Weixia mendengar pula polah tingkahnya dan memutuskan untuk datang. Tidak berani menjawab ucapan Zong Weixia, Lau Wan Kiet hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan gugup, roda bergerigi milik Zong Weixia tampak seperti sebuah anting yang kebesaran.
2394
―Bagus kalau kau tahu, kuharap ini akan jadi pengingat bagimu, sebuah telinga yang bisa mendengar lebih baik daripada sepasang telinga yang hanya menempel tanpa guna‖, ucap Zong Weixia sambil menyendal, menarik kembali roda bergerigi yang bertenggar di telinga Lau Wan Kiet.
Daun telinga Lau Wan Kiet pun jatuh ke tanah tanpa suara, sementara pemiliknya hanya bisa meringis menahan sakit tanpa berani berucap apa-apa.
Zhong Weixia tidak ambil peduli lagi dengan Lau Wan Kiet, dia berbalik menghadapi Wang Shu Lin dan bertanya dengan keren, sesuai dengan jabatannya sebagai seorang ketua partai besar, ―Nona…, muridku memang bersalah dan sudah kuhukum. Apa masih ada keberatan?‖
―T.tt..tidak, tidak, baiklah aku permisi.‖, ucap Wang Shu Lin dengan gugup dan wajah pucat, buru-buru gadis itu berbalik badan dan meninggalkan tempat.
Zhong Weixia tersenyum sinis, tidak salah jika dikatakan berkat dirinya Partai Kongtong masih ditakuti orang sampai hari ini. Juga mereka masih digolongkan dalam aliran yang lurus, meskipun sedikit banyak tingkah laku mereka agak berandalan
2395
jika dibandingkan dengan perguruan lurus yang lain. Lau Wan Kiet masih berdiri menunduk dengan darah bercucuran dari telinganya, tidak ada yang berani bergerak sampai Zhong Weixia memberikan perintah.
―Rawat lukanya, lalu secepatnya kalian kembali. Mulai hari ini jangan ada yang main di luaran.‖, tegas Zong Weixia sebelum berlalu pergi.
Buru-buru saudara seperguruan Lau Wan Kiet menghampiri rekannya yang sedang sial itu dan mulai membubuhi luka yang masih terbuka dengan obat tabur milik mereka, ada pula yang merobek lengan baju Lau Wan Kiet dan memotongnya panjang-panjang untuk digunakan sebagai perban. Lau Wan Kiet sendiri, menanti Zong weixia sudah tidak terlihat barulah berani mengeluh dan merintih.
―Ah… benar-benar sial, mana orang marga Chen itu, berani sekali dia mendatangi ketua dan mengadukan aku padanya. Dasar kurang ajar.‖, keluh Lau Wan Kiet sambil meringis-ringis kesakitan.
―Sudahlah Adik Lau, kau jangan mencari perkara, salahmu sendiri tanggal mainnya sudah makin dekat tapi kau masih
2396
berkeliaran di luar.‖, tegur rekannya yang sedang membebat luka Lau Wan Kiet.
Lau Wan Kiet masih menggerutu beberapa kali, tapi tidak berani pula melawan. Sementara itu, tidak berapa jauh dari mereka ada Wang Shu Lin yang bersembunyi di balik kerumunan orang yang sudah mulai menipis, memasang telinga baik-baik dan mendengarkan percakapan di antara anak murid Kong Tong itu. Melihat semakin lama, kerumunan orang-orang yang ada di situ semakin menipis, Wang Shu Lin pun pergi menjauh dengan alis berkerut.
Rupanya Wang Shu Lin tadi hanya berpura-pura ketakutan, supaya Zhong Weixia tidak membuat urusan makin panjang, tapi begitu dia sudah menghilang dari pandangan orang-orang Kong Tong, dia memutar dan memasang telinga. Dalam hati dia merasa heran, mengapa orang dari Partai Pedang Keadilan bisa membaur dengan orang dari Kongtong? Memang sejak Ding Tao menjadi Wuling Mengzhu bisa dikatakan setiap orang dalam dunia persilatan disatukan di bawah namanya, namun penasaran juga melihat mereka bergaul begitu akrab. Lebih heran ketika Zhong Weixia yang terkenal tinggi hati, bisa berpihak pada pihak tuan rumah, padahal biasanya Zhong Weixia cuma tahu nama Kongtong dan yang lain dipandang
2397
sebelah mata. Jika orang lain yang melihat tentu saja tidak akan ambil pusing tapi Wang Shu Lin termasuk orang yang usilan dan rasa ingin tahunya besar, segala macam urusan dalam dunia persilatan dia mau tahu. Setelah mendengar sekilas percakapan antara Lau Wan Kiet dan saudara seperguruannya, keingin tahuan Wang Shu Lin pun jadi makin menjadi.
Saat Lau Wan Kiet dan saudara seperguruannya pergi, diam-diam Wang Shu Lin mengikuti mereka, sampai di tempat orang-orang dari Partai Kongtong menginap. Sadar penampilannya terlalu menyolok untuk menjadi mata-mata, Wang Shu Lin pun tidak berlama-lama mengawasi. Gadis itu segera kembali ke penginapannya sendiri dengan pikiran berputar, mengutak-atik kejadian yang baru saja dia alami. Begitu sampai di kamar, pintu pun ditutup rapat-rapat dan Wang Shu Lin duduk termangu sambil mencubit-cubit bibirnya.
Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak benar, menilik sifat Zhong Weixia, hari ini dia lepas terlalu mudah. Bagaimanapun juga dia sudah mempermalukan seorang murid dari Partai Kongtong, biasanya tentu Zhong Weixia akan memberikan hajaran yang cukup, bukan hanya pada muridnya, tapi juga pada orang luar yang mengalahkan muridnya itu,
2398
sekedar untuk menunjukkan bahwa Partai Kongtong bukan partai yang lemah. Tapi hari ini dia hanya membuat Wang Shu Lin terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang, jelas dia ingin masalah itu cepat selesai dan tidak mau menarik perhatian orang.
Pernikahan Ding Tao dengan Hua Ying Ying akan diadakan beberapa minggu lagi, seluruh Kota Jiang Ling menjadi sibuk dengan peristiwa ini. Pengantin prianya adalah Wulin Mengzhu yang baru saja terpilih, jangankan orang dunia persilatan, pelayan di restoran pun mendengar kisah di kaki Gunung Songshan. Lalu pengantin wanitanya adalah anak perempuan dari keluarga Huang yang terbantai habis hampir setahun yang lalu, tentu saja ini menjadi sebuah cerita yang menarik. Apalagi ketika mereka menambahkan bumbu-bumbu sendiri ke dalamnya. Anak murid Partai Kongtong mengatakan bahwa waktunya sudah semakin dekat dan peristiwa besar yang paling dekat adalah pernikahan Ding Tao.
Rasanya tidak mungkin jika Zhong Weixia memandang Ding Tao begitu tinggi, hingga anak muridnya dilarang berbuat ulah mendekati pernikahan Ding Tao. Lalu apa? Masakan Zhong Weixia berencana melakukan sesuatu di hari itu? Apakah dia tidak puas dengan hasil di kaki Gunung Songshan? Zhong
2399
Weixia dikenal sebagai orang yang berambisi besar, di hari pernikahan Ding Tao bisa dikatakan, seluruh tokoh puncak dalam dunia persilatan akan datang berkumpul. Bisa dikatakan tidak akan kalah ramai jika dibandingkan dengan pertemuan di kaki Gunung Songshan. Dalam perjalanan ke Jiang Ling, Wang Shu Lin berkali-kali melihat orang-orang dunia persilatan, entah sendirian atau dalam satu kelompok, berjalan ke arah yang sama. Tapi jika benar Zhong Weixia merencanakan sesuatu yang besar, hal ini juga bukan sesuatu yang masuk akal, sebesar apapun ambisi Zhong Weixia, kekuatan Partai Kongtong tidak akan bisa mengimbangi kekuatan 5 partai yang lain secara bersama-sama.
Meskipun nalarnya menolak kemungkinan itu, namun hatinya tetap saja berdebar-debar. Lagipula ada banyak cara untuk membunuh orang, tidak selamanya seorang jagoan silat mati oleh pedang. Racun, bahan peledak, hanyalah dua cara di antara sekian banyak cara lainnya untuk menghilangkan nyawa orang.
Tapi apa iya, Zhong Weixia segila itu?
2400
Berpikir demikian, Wang Shu Lin pun teringat dengan kilatan mata Zhong Weixia yang seperti harimau liar. Di luar sadarnya, bulu kuduknya pun berdiri mengingat mata Zhong Weixia.
Hati Wang Shu Lin pun berdebar-debar makin kencang. Zhong Weixia memang gila, tapi dia bukan orang bodoh. Jika benar dia memiliki satu rencana, kemungkinan besar ada banyak tokoh lain yang terlibat pula dalam rencana ini. Pertanyaan berikutnya, adakah tokoh-tokoh dalam dunia persilatan yang akan mau diajak bekerja sama dalam proyek gila Zhong Weixia? Wang Shu Lin pun mulai menghitung-hitung nama-nama mereka yang cukup berambisi dan mau mengambil resiko besar. Tersenyum kecut dan berkeringat dingin, Wang Shu Lin harus mengakui cukup banyak orang yang akan tergiur dengan ajakan Zhong Weixia, tergantung umpan apa yang diberikan tokoh besar itu. Kongtong punya nama cukup besar, jika Zhong Weixia bisa menggandeng beberapa nama besar lain, niscaya akan mudah untuk mengumpulkan kekuatan yang cukup besar. Ding Tao sendiri mencari masalah ketika dia mengeluarkan kebijakannya yang pertama sebagai seorang Wulin Mengzhu, kekuatannya belum terpupuk benar, namun dia berani mengeluarkan kebijakan yang akan menyinggung banyak orang.
2401
Jika benar Zhong Weixia merencanakan satu rencana busuk menjelang hari pernikahan Ding Tao, apa yang bisa dia lakukan?
Meskipun dia adalah ketua perkumpulan terbesar di Shanxi, jarak antara Shanxi dan Jiang Ling tidaklah dekat. Kalaupun dia mengirim kabar sekarang, pada saat kabar itu sampai di Shanxi kemungkinan besar apa yang ditakutkan sudah terjadi. Jika dia hendak mendekati Ding Tao ataupun orang kepercayaannya, tanpa bukti yang kuat, apakah dia akan dipercaya? Bukan hanya bukti, bahkan apakah rencana itu benar-benar ada, dan kalau ada apa rencananya, sedikitpun dia tidak tahu apa-apa.
Seumur hidupnya baru kali ini Wang Shu Lin merasa kehabisan akal dan ingin menyerah. Dahulu saja waktu baru turun gunung dan melaksanakan kewajibannya sebagai anak untuk membalaskan dendam bagi ayahnya, tidak sampai dia merasa ingin menyerah. Padahal dia hanya seorang diri dan lawannya begitu banyak. Tentu saja faktor waktu yang mendesak juga berpengaruh, tapi mungkin yang terbesar adalah faktor perasaan. Kali ini yang terancam adalah Ding Tao, lebih mudah bagi dia untuk menghadapi satu bahaya daripada membayangkan Ding Tao menghadapi bahaya. Seandainya Wang Shu Lin tahu bahwa Murong Yun Hua akan melakukan
2402
acara bersih rumah, membasmi pengkhianat dari dalam Partai Pedang Keadilan, mungkin dia akan menghibur diri dengan berpikir bahwa rencana yang dibicarakan Zhong Weixia ada hubungannya dengan hal itu. Mungkin Ding Tao sebagai Wulin Mengzhu meminta bantuan dari enam partai besar yang ada. Tapi tentu saja dia tidak tahu tentang rencana itu dan hanya bisa menduga-duga sendiri, sementara penilaiannya dipengaruhi pula dengan perasaannya kepada Ding Tao.
Gadis yang baru pertama kali jatuh cinta ini pun akhirnya menghempaskan badannya dengan mata mengembeng.
Tiba-tiba dia teringat pesan guru-gurunya, ‗Jangan berbuat semena-mena, meskipun kau tidak bisa melihat keberadaan kami, tapi sesungguhnya kami akan selalu mengamat-amati pergerakanmu. Jika kami dapati, kau melanggar nilai-nilai kehormatan, dengan menggunakan ilmu yang sudah kami wariskan, tentu kami akan datang untuk menghukummu.‘
Pada awalnya dia berpikir bahwa memang ke-enam gurunya selalu mengikuti dirinya. Namun beberapa tahun berlalu dan tidak sedikitpun dia mencium tanda-tanda atau jejak mereka berenam, Wang Shu Lin menganggap ancaman itu sekedar ancaman. Sekedar pengingat supaya dia tidak melanggar
2403
nasehat dan larangan yang sudah diberikan ke-enam gurunya itu. Sekarang di saat dia terdesak, teringatlah lagi dia akan peringatan yang diberikan gurunya. Tiba-tiba dari ingatan itu, timbul sedikit harapan, jika benar guru-gurunya selalu memantau setiap gerak-geriknya, mungkinkah salah satu dari mereka ada juga di Jiang Ling saat ini? Kalau iya, bagaimana dia bisa menarik perhatian gurunya agar datang membantu dia?
Perlahan-lahan sebuah senyuman terbentuk di wajah Wang Shu Lin, malam itu dia mengatur agar diletakkan sebuah meja di tengah halaman, lengkap dengan hidangan dan arak. Sendirian dia duduk di sana, pengurus penginapan sudah diminta agar mengatur supaya tak ada orang yang mengganggu. Malam sudah larut ketika Wang Shu Lin duduk di sana, sendirian ditemani nyala lilin yang bergoyang-goyang ditiup dinginnya angin malam. Sementara sebuah pemanas dinyalakan untuk menghangatkan arak, menanti langit jernih tak dinaungi awan, Wang Shu Lin pun perlahan-lahan mengangkat seruling dan meniupkan sebuah lagu.
Sebuah lagu sendu, sendunya seseorang yang harus pergi jauh dari kekasihnya. Kalau ada kelebihan Wang Shu Lin, maka itu adalah keluasan pengetahuan dan ketrampilannya.
2404
Meskipun bukan nomor satu dalam suatu bidang, dalam segala bidang dia adalah yang nomor dua atau setidaknya nomor tiga. Mungkin juga karena memiliki banyak guru, masing-masing dengan keunikan dan kelebihannya.
Yang mengajar dia bermain seruling dan sastra adalah Zhu Yanyan, pendekar pedang dari Wudang ini bukan saja paling perasa, tapi juga gemar akan segala yang indah. Salah satu yang membuat dia sedih, adalah kenyataan bahwa dia harus menjauhi saudara-saudara seperguruannya, yang dia rasa lebih dekat dari keluarga sendiri, yang dia kasihi lebih dari seorang laki-laki mengasihi seorang wanita. Kau bertanya kapan aku akan pulang, namun aku tak tahu jawabnya
Hujan malam hari di bukit Ba, membanjiri kolam-kolam
Kapankah kita bisa duduk bersama, memangkas pucuk sumbu lilin yang menyala, di jendela barat,
Berbincang-bincang hingga jauh malam, tentang hujan malam hari di bukit Ba.
2405
Suara merdu Wang Shu Lin melagukan puisi karangan Li Shangyin yang mengisahkan kerinduan seseorang yang dikirim jauh dari tempat tinggalnya, meninggalkan kekasihnya di sana. Mengalun mendayu-dayu, membuat sekalian hati mereka yang mendengarkan ikut merasa pilu dan ridu akan kampung halaman, serta kekasih yang menunggu di rumah.
Di atas meja dituangkan dua mangkuk arak hangat, Wang Shu Lin baru saja meneguk sedikit arak dari mangkuk yang ada di hadapannya ketika sebuah sosok dengan ringan mendarat di depan gadis itu. Tanpa banyak cakap orang itu pun mengambil mangkuk yang kedua dan menenggaknya dengan satu hirupan.
Sebuah senyuman terkulum di wajah Wang Shu Lin, dengan hormat dia pun bangkit dari tempat duduknya untuk kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan orang yang baru datang, ―Guru Zhu Yanyan, murid menghaturkan hormat.‖
―Ah… dasar anak nakal.‖, tegur Zhu Yanyan dengan rasa sayang sembari menghapus setitik air mata yang mengembeng di ujung matanya.
―Guru saja yang terlalu perasa‖, jawab Wang Shu Lin sambil tertawa lebar.
2406
Senyum di wajah Wang Shu Lin pun semakin lebar saat berturut-turut, 5 sosok lain berlompatan datang mendekat. Dengan penuh semangat gadis itu pun berturut-turut, menjura memberi hormat pada ke-lima gurunya yang baru datang.
―Heh bocah nakal, masa hanya Guru Zhu Yanyan seorang yang kau suguhi arak.‖, tegur salah seorang gurunya yang berkepala gundul, melihat kepalanya yang gundul tentunya orang mengira dia guru Wang Shu Lin yang berasal dari Shaolin, padahal justru dia berasal dari Kunlun.
Yang berasal dari Shaolin justru sekarang berambut panjang digerai ke belakang. Penampilan mereka memang sudah berubah banyak dibandingkan penampilan mereka belasan tahun yang lalu. Belasan tahun lamanya hidup menyamar, menjadi orang asing bagi saudara seperguruan mereka sendiri, demi satu persahabatan. Sifat ke-enam orang ini dengan sendirinya sudah bisa dibayangkan. Sesungguhnya bukan hanya Zhu Yanyan yang mengembeng air mata mendengar syair yang dilagukan oleh Wang Shu Lin. Bahkan Pang Boxi yang sejak dulu sering berselisih paham dengan Zhong Weixia pun sempat menitikkan air mata. Sifat orang Khongtong memang kebanyakan sedikit telengas dibandingkan 5 perguruan yang lain, namun dalam hal rasa persaudaraan
2407
sebenarnya tidak kalah kental. Hidup selama belasan tahun satu atap, meskipun ada yang berlawanan sifat seperti Pang Boxi dengan Zhong Weixia, tentu juga ada yang sepaham dan dekat di hati. Wang Shu Lin yang sudah hidup dibesarkan ke-enam orang itu, mengenal baik sifat mereka, dengan cekatan dia mengeluarkan 5 cawan arak dan menyajikannya pada guru-gurunya.
Pada yang seorang dia bersikap manja, pada yang lain bersikap riang, bertemu dengan Shu Sun Er, satu-satunya guru wanitanya, dia bersikap seperti seorang adik. Demikian Wang Shu Lin membawa diri dengan pandainya sehingga kesenduan yang mewarnai awal pertemuan mereka dengan cepat tersapu pergi.
Siapa saja enam orang guru Wang Shu Lin ini? Yang pertama dan menjadi saudara tertua adalah Zhu Yanyan yang berasal dari Wudang, sikapnya santun dan lemah lembut, menyukai sastra dan musik. Kemudian ada Khong Ti bekas bhiksu dari Shaolin, sekarang sudah memelihara rambut, minum arak dan makan daging, hanya kawin saja yang belum dia lakukan. Wajahnya tampan, sifatnya jenaka, dengan perawakan tidak terlalu tinggi, dia ahli dalam silat monyet. Senjata andalannya tentu saja sebuah toya, di antara enam saudara bisa dikatakan
2408
ilmunya yang paling tinggi. Yang ketiga adalah Pang Boxi, senjatanya sepasang kapak, wajahnya lebar menggambarkan sifatnya yang jujur dan terbuka, tubuhnya tidak terlampau tinggi namun dadanya lebar dengan bahu menggunung menyimpan tenaga yang besar. Meskipun Khongti yang berilmu paling tinggi di antara mereka berenam, tenaga Pang Boxi ini justru yang paling besar.
Yang ke-empat adalah Chen Taijiang, wajahnya terlihat seperti orang hendak menangis sedih. Sering menjadi bahan gurauan oleh saudaranya yang lain, terutama oleh Khongti yang suka melawak. Namun sifatnya yang penyabar membuat Chen Taijiang tak pernah marah. Bahkan pada keponakan muridnya yang dengan terbuka pernah menyatakan bahwa dia sudah dikeluarkan dari perguruan pun, Chen Taijiang tidak menyimpan dendam. Apalagi ketika perintah itu kemudian dibatalkan oleh karena permohonan saudara-saudara seperguruannya. Selalu mencari kebaikan pada diri orang dan berusaha menutupi kekurangan mereka, itulah sifat Chen Taijiang yang paling menonjol. Dalam hal ilmu silat, yang menonjol dari Chen Taijiang adalah ilmu meringankan tubuhnya.
2409
Yang ke-lima adalah Hu Ban, pendekar pedang dari Hoashan, meskipun ilmu silatnya bukan yang terbaik di antara mereka berenam, tapi justru pengetahuannya tentang ilmu silat lebih luas dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Bakatnya besar, sayang sedikit pemalas, dia lebih suka menghabiskan waktu untuk memancing dan membakar ikan, daripada berlatih silat. Lebih suka menggunakan otaknya daripada menggunakan ototnya. Terhadap kehidupan dia memandang ringan segala sesuatu, hanya satu saja yang dia pandang penting dan itu adalah persahabatan mereka berenam. Dari mereka berenam Hu Ban yang paling sering memanjakan Wang Shu Lin, dia yang pemalas, menutup diri di dalam kamar selama beberapa bulan sebelum kepergian Wang Shu Lin. Demi untuk memberi bekal berupa gambar-gambar tentang berbagai macam senjata dengan jebakan dan mekanik tersembunyi untuk gadis itu.
Yang ke-enam dan satu-satunya wanita dari antara mereka ber-enam Shu Sun Er, hingga sekarang masih tampil kelaki-lakian dengan rambut dipotong pendek dan dengan menyamar sebagai laki-laki. Berasal dari enmei, seorang bhiksuni wanita, meskipun sekarang seperti Khongti sudah pula melanggar berbagai pantangan kecuali mengenai hubungan antara pria
2410
dan wanita. Sifat Wang Shu Lin yang keras dan tidak mau tahu apa kata orang, rupanya menurun dari Shu Sun Er, satu-satunya sosok wanita yang dia kenal semenjak kecil hingga besar. Satu-satunya pedoman Shu Sun Er adalah, bila hati nuraninya mengatakan benar, maka peduli setan apa kata orang di seluruh dunia. Senjatanya adalah sebuah pedang yang panjangnya hampir mendekati panjang tombak, salah satu senjata khas dari aliran Enmei. Sebagai wanita suka juga bersolek dan pandai merias diri, termasuk merias diri dalam berbagai macam samaran. Jika Zhu Yanyan pandai bermai seruling, maka Shu Sun Er cakap sekali dalam melukis.
Itulah ke-enam orang guru Wang Shu Lin, hidup belasan tahun dalam perantauan, ilmu mereka berkembang justru lebih pesat dibandingkan ketika mereka masih berada dalam perguruan mereka masing-masing. Dihadapkan pada tugas untuk mengajar dan mendidik Wang Shu Lin kecil, akhirnya mereka melanggar salah satu garis yang mencegah tiap-tiap pendekar membocorkan rahasia aliran mereka pada murid dari aliran lain. Hu Ban yang malas berlatih tapi encer dalam berpikir adalah yang paling berjasa dalam menggabungkan ilmu dari ke-enam aliran menjadi satu ilmu yang unik. Merangkaikan kelebihan-kelebihan dari tiap-tiap orang dan menciptakan ilmu yang baru.
2411
Meskipun ilmu gado-gado mereka belum bisa disandingkan dengan tingkatan para ketua dari enam perguruan besar, tapi setidaknya mereka akan bisa berhadapan dengan imbang dalam seratusan jurus. Apalagi enam orang ini memiliki kelebihannya masing-masing. Jika Zhong Weixia atau Guang Yong Kwang menganggap enam orang itu seperti belasan tahun yang lalu, maka mereka akan mendapatkan kejutan besar.
―Anak Shu Lin, dari mana kau tahu bahwa kami selalu mengawasimu? Jangan-jangan selama ini kau selalu menjaga kelakuanmu karena tahu kami mengawasimu.‖, tanya Hu Ban setelah mereka puas bersenda gurau.
―Tidak guru, selama ini kupikir guru berenam sudah hidup tenang, di suatu desa, bertani dan beternak seperti dulu ketika membesarkan aku. Jika bukan karena terdesak oleh keadaan, tentu tidak akan muncul dalam ingatan, peringatan guru sekalian sebelum murid turun gunung.‖, jawab Wang Shu Lin dengan tersenyum manis.
―Ohho, begitu rupanya, lalu bagaimana kau bisa yakin dengan menyanyikan lagu ini kami berenam akan muncul ke
2412
hadapanmu?‖, kejar Hu Ban belum puas, sementara lima orang yang lain ikut mendengarkan dengan penuh perhatian.
―Hehe, sebenarnya murid tidak yakin, tapi murid berharap setidaknya ada salah seorang dari guru sekalian yang bertugas mengawasi gerakan murid. Karena setelah murid teringat peringatan guru itu, murid pun mulai memikirkan sepak terjang murid selama ini. Beberapa kejanggalan dan kebetulan, yang membantu murid berhasil membalaskan dendam ayah, juga menjadi kepala di daerah Shanxi pun jadi muncul dalam ingatan.‖, jawab Wang Shu Lin.
―Hahaha, dasar murid nakal, jadi sebelumnya kau menganggap semua itu hasil pekerjaanmu sendiri ya. Wah, besar juga kepalamu.‖, ujar Pang Boxi sambil tertawa terbahak-bahak.
Wang Shu Lin pun meleletkan lidah dan menjawab, ―Hee… mengingat hal itu murid benar-benar menjadi malu, tapi itulah kehebatan guru sekalian, bisa berbuat di belakang layar tanpa ada yang menyadari peran serta guru ber-enam.‖
―Baguslah kalau kau merasa malu, mulai sekarang ingatlah baik-baik, untuk tidak terlalu yakin pada kemampuanmu sendiri.‖, ujar Khongti menyahut.
2413
―Baik guru, tentu akan murid ingat-ingat. Setiap kali murid dalam kesulitan, murid akan menghadap ke barat dan murid sebut nama Guru Khongti keras-keras sambil menghentakkan kaki tiga kali ke atas tanah.‖, jawab Wang Shu Lin sambil tersenyum jenaka.
―Haa haa haa, kau kira gurumu ini dewa tanah atau dewa gunung? Dasar murid nakal, gurunya pun dibuat bahan bercanda.‖, ujar Khongti sambil tertawa terbahak-bahak.
―Eh Shu Lin, kau memang sudah menjawab banyak pertanyaan, tapi kau belum jawab, dari mana kau bisa yakin, kami akan keluar setelah mendengar lagumu itu?‖, setelah tawanya mereda, Hu Ban bertanya kembali sambil menyusut air mata yang keluar karena tertawa.
―Hmm.. tentu saja karena Shu Lin tahu, bahwa hatiku selalu rindu dengan saudara-saudara di Gunung Wudang. Dia tentu sering melihat atau pernah melihat, aku pergi diam-diam untuk meminum arak sendirian dan melagukan syair itu di tengah padang.‖, ujar Zhu Yanyan menjawab, sebelum Wang Shu Lin sempat menjawab.
2414
Wang Shu Lin pun terdiam dan dengan suara perlahan dia berkata pada Zhu Yanyan, ―Maafkan aku guru, bukan maksudku membuat guru sekalian bersedih. Dalam keadaan terjepit, murid terpaksa melakukan hal ini.‖
Zhu Yanyan tersenyum sabar, sambil mengelus kepala Wang Shu Lin dia menjawab, ―Hahaha, tidak apa-apa, bukan sesuatu yang sangat menyedihkan juga. Justru aku menikmati sedikit bernostalgia mengenang masa lalu.‖
Untuk sesaat tidak ada seorangpun yang berbicara, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri sebelum akhirnya Hu Ban kembali memecahkan kediaman mereka, ―Shu Lin, kau bilang kau sedang berada dalam keadaan terjepit, masalah apa yang sebenarnya sedang kau hadapi? Kami diam-diam selalu mengamati gerak-gerikmu dari jauh, masakan kau ada dalam masalah dan kami bisa tidak tahu?‖
―Hmm… aku sendiri belum yakin, apakah akan terjadi sesuatu atau tidak. Tapi guru tentu tahu, kemarin aku sempat bentrok dengan Ketua Partai Kongtong, Zhong Weixia.‖, jawab Wang Shu Lin.
2415
Ke-enam orang guru Wang Shu Lin pun menganggukkan kepala dan Hu Ban bertanya, ―Lalu…?‖
―Sebelum Zhong Weixia pergi meninggalkan tempat, dia sempat menegur dan berkata, bahwa waktunya sudah semakin dekat, anak murid Kongtong tidak diperbolehkan lagi meninggalkan tempat dan membuat masalah. Tidakkah guru merasa ucapan itu aneh?‖, tanya Wang Shu Lin.
Pang Boxi yang paling kenal sifat Zhong Weixia, otomatis mata setiap orang pun sekarang tertuju padanya. Pang Boxi pun mengerutkan dahi dan berpikir keras, ini bukan kebiasaannya, namun beban yang dibawa setiap sorot mata itu membuat dia, mau tidak mau, harus berpikir keras sebelum menjawab.
―Hmm…, ya…‖, ucap Pang Boxi kemudian diam.
―Hmm.. hmm… kupikir…‖, sekali lagi Pang Boxi terdiam, padahal setiap orang sudah ingin mendengar apa jawabnya.
―Ya… jadi kukira…‖, lagi-lagi Pang Boxi tampak ragu-ragu untuk mengutarakan pendapatnya.
Segera saja Shu Sun Er yang sudah tidak sabar menyergah, ―Hah! Katakan saja apa pendapatmu, jangan kau gantung lagi
2416
kami dengan ah… oh… hmm…, seperti wanita sedang dilamar saja.‖
Karuan saja mereka semua yang mendengar sergahan Shu Sun Er tertawa geli sementara Pang Boxi wajahnya bersemu merah.
Khong Ti yang nakal dengan cekatan menyahut, ―Eh adik Sun Er, kok kau bisa tahu seperti apa wanita yang dilamar orang, siapa di antara kami yang sudah melamarmu? Apa jawabmu?‖
Sekali lagi mereka semua tertawa geli dan gantian Shu Sun Er yang wajahnya bersemu merah, ―Eh keledai gundul, hati-hati kalau bicara. Coba saja kalau ada orang yang berami melamarku, boleh coba rasakan berapa tajam pedang Shu Sun Er.‖
Khong Ti tidak kehabisan akal, dia pun menepuk-nepuk pundak Chen Taijiang dan berkata, ―Ah tahulah aku sekarang kenapa Adik Chen Taijiang selalu bersedih … Adik Tai Jiang, tak perlulah bersedih seperti itu, asalkan kau mau bersabar tentu Adik Sun Er lama kelamaan akan berubah pikiran.‖
2417
Dengan wajah sedihnya Chen Taijiang menjawab, ―Keledai gundul, janganlah kau buat bahan bercanda, wajah pemberian ayah ibuku ini.‖
Pecahlah tawa mereka semua, termasuk juga Chen Taijiang sendiri, meskipun pada saat tertawa wajahnya tetap saja terlihat sedih. Menunggu tawa mereka mereda, Shu Sun Er pun bertanya untuk kedua kalinya pada Pang Bo Xi.
―Jadi bagaimana? Sudahkah Kak Boxi mengambil kesimpulan?‖, tanya Shu Sun Er.
Pang Boxi pun menjawab, ―Ya, menilik sifatnya, kukira anak Shu Lin punya alasan kuat untuk menduga bahwa Zhong Weixia tentu sedang memiliki rencana besar yang rahasia sifatnya. Jika tidak mana mungkin dia melepaskan Shu Lin dengan begitu mudahnya. Tadinya aku berpikir dan berharap bahwa sifatnya memang sudah banyak berubah, tapi jika kupikirkan secara lebih obyektif, kukira dugaan Shu Lin jauh lebih mungkin terjadi daripada kemungkinan Zhong Weixia berubah sifat. Hukumannya pada Adik Lau Wan Kiet menunjukkan hal itu.‖
2418
―Tapi siapa yang menjadi sasarannya?‖, Zhu Yanyan mengajukan pertanyaan itu dengan dahi berkerut.
Wang Shu Lin tanpa ragu menjawab, ―Jika dia mengatakan waktunya sudah dekat, kemungkinan besar yang menjadi sasaran adalah Wulin Mengzhu yang terpilih, Ding Tao. Bukankah acara pernikahannya tinggal beberapa minggu lagi?‖
―Hmm…‖, Hu Ban bergumam, berpikir sambil diam-diam mengawasi murid terkasih mereka itu.
―Shu Lin, yang kau katakan itu ada kemungkinannya juga, tapi sungguh berani Zhong Weixia jika dia berpikir hendak mengusik Ding Tao di hari pernikahannya. Meskipun suasananya memang cenderung membuat orang lengah, tapi jika melihat para undangan yang datang… Memangnya seberapa besar kekuatan Zhong Weixia?‖, ujar Hu Ban dengan hati-hati, tak ingin menyinggung Pang Boxi yang masih satu seperguruan dengan Zhong Weixia.
―Jutru itu aku berpikir untuk meminta bantuan guru sekalian, jika Ketua Zhong Weixia benar-benar hendak melakukan sesuatu terhadap Ketua Ding Tao, tentu dia tidak sendirian, tentu ada
2419
banyak kekuatan lain yang berdiri di belakangnya.‖, ucap Wang Shu Lin dengan sungguh-sungguh.
Tapi guru-gurunya tidak serta merta memberikan jawaban yang memuaskan, mereka terdiam dan saling pandang. Melihat guru-gurunya diam saja, Wang Shu Lin mulai berputus asa, perlahan-lahan air mata mulai mengembeng.
―Guru… apakah guru sekalian akan diam saja?‖, keluhnya sambil menggebrakkan kakinya ke tanah.
Zhu Yanyan yang menjadi saudara tertua dari enam orang sahabat itu pun mendekati gadis itu dan dengan lembut menepuk-nepuk pundaknya, ―Anak Shu Lin…, sudah tentu kami tidak akan berdiam diri… tapi jika benar apa yang kau katakan, lalu apa arti kita berenam ini…? Sementara terhadap urusan dunia persilatan, sebenarnya kami sudah merasa tawar…‖
―Lagipula, kekhawatiranmu itu belum tentu terjadi, di pernikahan Ding Tao nanti tentu hadir juga Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, serta tokoh-tokoh besar lainnya. Mereka ini tidak bisa diremehkan.‖, sambung Hu Ban berusaha menghibur Wang Shu Lin.
2420
―Apakah guru tidak merasa ikut bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada Ding Tao, sementara kita mengetahuinya namun berdiam diri saja?‖, tanya Wang Shu Lin.
Justru Pang Boxi yang masih memiliki kaitan dengan Kongtong yang mendukung Wang Shu Lin, ―Kukira perkataan Anak Shu Lin perlu kita pertimbangkan. Justru karena pada pesta pernikahan itu ada begitu banyak tokoh besar yang diundang. Bisa jadi yang menjadi sasaran bukan Ding Tao tapi salah satu dari tamu yang diundang. Bagaimana jika sasaran mereka adalah orang-orang dari Shaolin atau Wudang? Aku pribadi sebagai bekas murid Kongtong, tidak rela jika Kongtong yang sekarang mencederai perguruan atau partai lain. Apalagi jika mereka yang dicederai itu memiliki hubungan dekat dengan sahabat-sahabat yang bahkan lebih dekat dari saudara kandungku sendiri.‖
Tidak biasanya Pang Boxi berbicara panjang lebar, namun kali ini dia berbicara sedemikian panjang. Mendengar perkataan Pang Boxi itu Wang Shu Lin merasa sangat berterima kasih, meskipun dia tahu, bahwa Pang Boxi tidak seperti dirinya yang mengkhawatirkan Ding Tao. Yang dikhawatirkan Pang Boxi justru para tokoh dari lima perguruan besar yang lain.
2421
―Ucapan Saudara Bo Xi itu benar, jika Kongtong hendak melakukan pekerjaan besar, kukira yang akan diajak ikut serta kemungkinan besar adalah Guang Yong Kwang dari Kunlun. Keponakan muridku itu memang punya ambisi yang besar dan seperti yang kita lihat pada waktu pemilihan Wulin Mengzhu di kaki Gunung Songshan, mereka berdua terlihat sepikiran. Aku mengerti benar perasaan Saudara Bo Xi, kuharap kalian berempat mengerti pula perasaan kami berdua.‖, ujar Chen Taijiang dengan mimik wajahnya yang sedih, semakin sedih memikirkan polah laku dari keponakan muridnya yang sekarang sudah menjadi ketua dari perguruan Kunlun.
Dua dari mereka berenam sudah berbicara, bagaimana pun juga perasaan empat orang yang lain ikut tergerak. Apalagi jika berpikir, ada kemungkinan orang-orang yang dekat dengan masa lalu mereka, akan menjadi korban dalam permainan Kongtong dan sekutunya. Meskipun dugaan Wang Shu Lin bukanlah satu kepastian, jika mereka berpangku tangan, untuk kemudian mengetahui bahwa dugaan Wang Shu Lin itu benar adanya, betapa akan menyesal mereka semua. Apalagi mereka yang di masa lalunya memiliki kaitan dengan pelaku kejahatan itu.
2422
Zhu Yanyan pun menganggukkan kepala, ―Baiklah, kukira masalah ini memang tidak bisa dihindarkan. Meskipun kita berenam sudah memutuskan untuk cuci tangan dari urusan dunia persilatan, namun memikirkan kepentingan yang lebih besar, juga perasaan kita masing-masing, memang yang terbaik, kita harus ikut campur dalam masalah ini.‖
Mendengar keputusan Zhu Yanyan sebagai orang tertua dari mereka berenam, Wang Shu Lin pun meneteskan air mata haru dan berkata, ―Ah… guru sekalian, terima kasih… sungguh kalian sangat baik terhadapku. Ampuni murid yang selalu saja menyusahkan guru sekalian.‖
Shu Sun Er tersenyum sambil memelu gadis itu dia menjawab, ―Jangan bodoh, toh kami melakukan ini, juga karena kepentingan kami sendiri. Justru kau harus merasa bangga, bahwasannya kau memiliki rasa keadilan yang besar, sehingga tergerak untuk bekerja meskipun persoalan ini tiada hubungannya dengan dirimu pribadi.‖
Dengan wajah tersipu Wang Shu Lin hanya bisa mengangguk dalam pelukan gurunya itu. Tentu saja dalam hati dia harus mengaku bahwa tidak demikian yang sebenarnya. Seandainya dia tidak jatuh cinta pada Ding Tao, akankah dia ikut campur
2423
dalam urusan itu? Dia sendiri tidak berani menjawab dengan pasti. Khongti mengerling ke arah Shu Sun Er yang sedang memeluk Wang Shu Lin, mulutnya sudah terbuka hendak menggoda gadis itu, namun Shu Sun Er diam-diam menggelengkan kepala dan Khongti pun batal membuka mulutnya. Runyam memang kisah cinta gadis ini, guru-gurunya pun hanya bisa mengawasi agar dia tidak memilih jalan yang sesat demi emosi sesaat.
Hu Ban pun berucap, ―Kalau memang sudah diputuskan demikian, langkah selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah mengawasi tiap pergerakan orang-orang Kongtong yang ada di Jiang Ling ini. Satu-satunya jejak dan petunjuk yang kita dapati adalah mereka, kecuali jika muncul petunjuk lainnya.‖
Zhu Yanyan menganggukkan kepala tanda setuju, ―Benar…, untuk sementara tidak ada petunjuk lain, yang ada pada kita hanyalah mereka, namun Zhong Weixia dan orang-orang kepercayaannya tidak boleh dibuat main-main. Demikian pula jika mereka memiliki sekutu, tentu bukan orang sembarangan. Karena itu, kuminta supaya siapa pun yang sedang bertugas mengawasi gerak-gerik mereka, jangan terlalu gegabah. Jangan mengambil resiko terlalu besar, jumlah kita hanya sedikit, jangan sampai yang sudah sedikit ini semakin
2424
berkurang kekuatannya, disebabkan oleh kepercayaan diri yang terlalu tinggi.‖
Hu Ban mengangguk dan menambahkan, ―Terutama kau Shu Lin, aku tahu kau memiliki perasaan yang kuat mengenai masalah ini, namun janganlah hal itu membuatmu jadi gegabah. Kita bukan sedang bermain-main dengan tokoh kelas dua atau tiga.‖
Secara tersirat Hu Ban menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak sepenuhnya buta akan perasaan Wang Shu Lin terhadap Ding Tao. Jika sekarang mereka sudah setuju untuk memenuhi kehendak Wang Shu Lin, maka harapannya Wang Shu Lin pun harus bertindak hati-hati. Dengan wajah tersipu Wang Shu Lin menganggukkan kepala.
―Hmm.. baguslah kalau kita semua sudah sepaham. Malam ini biarlah aku dan Chen Taijiang yang mendapatkan giliran pertama untuk mengawasi gerak-gerik mereka. Untuk selanjutnya kalian atur siapa yang akan menggantikanku. Tentang kode dan sandi, biarlah kita pakai seperti biasa, kalian ajarkan pula kode dan sandi yang biasa kita pakai pada Anak Shu Lin.‖, ujar Zhu Yanyan sambil mengebaskan jubahnya, bersiap untuk pergi mengintai lawan.
2425
―Guru… hati-hatilah‖, ujar Wang Shu Lin dengan penuh haru.
―Hahaha, gurumu ini sudah banyak makan asam garam, kau tidak perlu kuatir, sekarang pergilah beristirahat dahulu. Besok tentu kau pun akan mendapat giliran berjaga. Petunjuk kita hanya satu, sesaatpun tidak boleh luput dalam mengawasi mereka.‖, ucap Zhu Yanyan sambil tertawa.
Tanpa banyak cakap lagi, Zhu Yanyan dan Chen Taijiang pun segera berkelebat pergi, menggunakan kegelapan malam, menyembunyikan gerakan mereka yang selincah kucing dan seringan burung. Wang Shu Lin dan guru-gurunya yang lain pun segera membereskan sisa-sisa makan dan minum mereka, untuk kemudian pergi beristirahat. Kamar yang disewa Wang Shu Lin tidak terlampau besar, namun sudah terbiasa hidup di alam yang keras, hal itu tidak menjadi halangan sedikitpun. Mendekati dini hari barulah mereka menyebar pergi, ke tempat persembunyian masing-masing. Wang Shu Lin sendiri tidur hingga jauh siang, setelah semalaman memeras otak untuk menghafal kode dan sandi yang biasa digunakan oleh guru-gurunya, tahu bahwa tenaganya perlu disimpan baik-baik.
Mengintai orang bukanlah pekerjaan yang menyenangkan, seperti juga memancing ikan, mengintai orang butuh
2426
kesabaran, lebih-lebih Wang Shu Lin dan guru-gurunya tidak menyediakan umpan untuk menjebak lawan, semata-mata hanya mengawasi mereka dari kejauhan, menunggu lawan membuat gerakan. Keberadaan mereka, diharapkan belum menjadi terang buat lawan, segala upaya pun dilakukan, termasuk menyulap penampilan Wang Shu Lin, yang sekarang sudah menjadi seorang wanita setengah baya yang bekerja di sebuah toko kain tidak jauh dari penginapan tempat orang-orang Khongtong menginap. Pemilik toko kain itu sendiri adalah Zhu Yanyan, toko itu sendiri sudah dibelinya sebulan yang lalu, ketika mereka melihat arah perjalanan Wang Shu Lin yang menuju ke Kota Jiangling, maka Zhu Yanyan mendahului Wang Shu Lin dan menetapkan sebuah tempat bagi mereka berenam.
―Dari mana guru sekalian bisa tahu aku akan pergi ke Jiang Ling?‖, tanya Wang Shu Lin saat dia mengetahui keberadaan toko kain itu.
―Semut mendatangi gula, kejadian besar apalagi yang ada di dunia persilatan sekarang, jika bukan kabar pernikahan Wulin Mengzhu yang ketiga kalinya.‖, ujar Hu Ban dengan ringan.
―Jika ternyata murid bukan pula pergi ke Jiang Ling?‖, tanya Wang Shu Lin penasaran.
2427
―Tidak masalah, toh masih ada lima orang yang mengikutimu, biar saja seorang dari kita menjalankan toko kain ini selama beberapa bulan. Menunggu pasti dirimu tidak pergi ke Jiang Ling, toko ini dijual juga kita bisa dapat untung.‖, jawab Hu Ban ringan.
―Heheh, sejak bekerja membuntutimu, kami berenam punya kesenangan baru, membeli usaha orang, membesarkannya lalu menjualnya. Lumayan, semakin hari uang di kantong semakin tebal saja.‖, ujar Khongti sambil menepuk-nepuk kantung uangnya.
Sambil terkekeh geli Wang Shu Lin berujar, ―Tidak sangka, guru sekalian ternyata punya bakat jadi pedagang.‖
Demikianlah dengan segenap upaya, Wang Shu Lin dan ke-enam orang gurunya bekerja dengan rahasia, ditambah pula dengan jumlah mereka yang tidak terlalu besar dan keberadaan mereka yang memang bisa dikatakan tidak terlalu penting dalam dunia persilatan, sehingga mereka bisa bekerja tana diketahui lawan. Ke-enam orang itu, sudah belasan tahun dianggap hilang dari dunia persilatan, sementara di mata dunia persilatan Wang Shu Lin atay Ximen Lisi, dianggap masih berada di Shanxi. Di lain pihak orang-orang Khongtong sendiri
2428
tidak ada yang berani melanggar perintah Zhong Weixia, seperti yang sudah diperintahkan, selama berhari-hari mereka tidak keluar dari penginapan. Sesekali ada yang keluar untuk sekedar membeli berbagai keperluan, mengintai mereka pun lama-kelamaan jadi membosankan. Di sini keuletan ke-tujuh orang itu terlihat benar, meskipun berulang kali pergerakan lawan ternyata tidak memiliki arti penting, tidak juga mereka menjadi lengah. Meskipun berhari-hari tidak terjadi sesuatu yang menarik, semangat mereka tidak juga menurun.
Kata orang, nasib baik terjadi, bagi mereka yang bertekun dalam usahanya. Ke-tujuh orang ini pun mengalaminya hari itu. Hari sudah mulai gelap, ketika dua orang murid Khongtong keluar dari penginapan, tidak ada tanda-tanda dia akan melakukan satu pekerjaan khusus. Berulang kali di hari-hari sebelumnya, mengikuti mereka ini terbukti tidak menuntun pada petunjuk yang lebih jauh, namun tetap saja Khongti yang hari itu bertugas bersama dengan Shu Sun Er bergegas mengikuti orang itu dengan diam-diam. Sementara Shu Sun Er mengirim kabar secara berahasia, Chen Taijiang yang menjadi perantara antara mereka yang bertugas dengan mereka yang sedang tidak berjaga, tanpa bermalas-malasan segera pergi memberi kabar. Tidak lama kemudian, Hu Ban sudah menggantikan
2429
posisi Khongti yang sedang bergerak menguntit dua orang anak murid Partai Khongtong.
Menguntit orang ada juga seninya, jika menguntit sendirian akan terlampau mudah ketahuan oleh lawan yang dikuntit. Segera setelah Chen Taijiang memberi kabar, Zhu Yanyan sudah bergerak mencari-cari tanda yang ditinggalkan Khongti. Setelah menemukan tanda tersebut, Zhu Yanyan pun segera tahu ke arah mana dua orang murid Khongtong itu bergerak, tanpa banyak kesulitan, mengikuti beberapa tanda yang ditinggalkan Khongti, Zhu Yanyan pun akhirnya melihat dua orang anak murid Khongtong itu. Khongti yang melihat Zhu Yanyan dari kerumunan orang tempat dia membaurkan diri, segera menghentikan kuntitannya atas dua orang anak murid Khongtong itu. Mencari tempat untuk mengganti penyamaran, ganti dia yang kemudian mengikuti jejak Zhu Yanyan.
Zhu Yanyan sedang melihat-lihat barang dagangan orang, sembari matanya yang tajam mengikuti gerak-gerik orang yang dia ikuti, ketika Khongti berdiri sejajar dengan dirinya, ikut melihat pula barang dagangan yang sedang dijajakan orang.
―Hmm… jadi orang tua memang susah, anak kecil ada saja kemauannya‖, gumam Khongti menarik perhatian Zhu Yanyan.
2430
Zhu Yanyan pun menengok dan dengan ringan menjawab, ―Heheh, sudah wajar, nanti toh bergantian, kalau kita sudah tua, mereka yang repot mengurus kita.‖
Khongti tertawa sebelum mengangguk dan meninggalkan tempat itu, menggantikan Zhu Yanyan menguntit dua orang anak murid Partai Khongtong. Demikian dua orang itu bekerja sama, bergantian mengikuti gerak-gerik buruan mereka. Anak murid Khongtong bukannya tidak waspada terhadap kuntitan orang, sesekali mereka berhenti untuk melihat ke sekeliling mereka, adakah orang yang sedang mengikuti gerak-gerik mereka? Namun karena Zhu Yanyan dan Khongti bekerja sama dengan apiknya, maka dua orang itu pun tidak sadar bahwa gerak-gerik mereka sedang diikuti orang. Penguntitan menjadi lebih sulit, ketika akhirnya dua orang itu keluar dari Kota Jiang Ling. Zhu Yanyan dan Khongti pun tidak berani mengikuti dari jarak dekat, terpaksa mereka membiarkan dua orang buruan mereka berada jauh di depan. Ketika di satu kelokan keduanya tiba-tiba menghilang dari jalan utama, dua orang bersahabat itu pun berunding sejenak.
―Menurutmu ke mana dua orang itu pergi?‖, tanya Zhu Yanyan.
2431
―Heh… kiri dan kanan kita diapit hutan yang tidak terlalu lebat, jalan utama hanya ada bercabang dua. Jika mereka tidak mengambil tikungan ini, tentu mengambil tikungan yang satunya, atau bisa juga mereka masuk ke dalam hutan.‖, jawab Khongti.
―Menurutmu, apa kira-kira mereka sedang bersembunyi dan mengamat-amati keadaan, berjaga jika ada orang yang membuntuti mereka?‖, tanya Zhu Yanyan.
―Bisa jadi‖, jawab Khongti singkat, sementara matanya yang tajam melihat ke sekelilingnya.
Untuk beberapa lama dua orang itu mengamati keadaan di sekitar mereka, kemudian Khongti berkata lagi, ―Biarlah kita bagi tugas, aku akan menilik tikungan yang satu lagi, sementara kakak bisa mencari-cari di sekitar tempat mereka terakhir kali terlihat.‖
―Kurasa sebaiknya begitu, kau hati-hatilah di jalan, siapa tahu mereka sudah tahu sedang dikuntit dan sedang mencari cara untuk memisahkan kita, sehingga lebih mudah dihadapi.‖, ujar Zhu Yanyan mengingatkan.
―Hmm‖, jawab Khongti singkat sambil menganggukkan kepala.
2432
Tidak menunggu lagi Khongti pun segera berlari cepat, menyusuri jalan ke arah yang berbeda. Sebaliknya Zhu Yanyan tidak tergesa-gesa bergerak, sambil menarik nafas perlahan-lahan, dia kembali mengamati keadaan di sekelilingnya. Dengan pikiran yang tenang, Zhu Yanyan menyusuri jalan yang sudah mereka lalui, baik sisi kiri maupun sisi kanan jalan. Setelah mendapati beberapa tempat yang terlihat biasa dilalui orang untuk masuk ke dalam hutan, Zhu Yanyan pun menimbang-nimbang, akhirnya dia memilih salah satu jalan setapak yang terlihat seperti baru saja dilewati orang. Baru saja dia memasuki hutan, telinganya yang tajam menangkap suara langkah orang di depan, cepat-cepat pendekar tua inipun menyembunyikan diri di balik pepohonan yang ada di dekatnya.
Ternyata Zhu Yanyan tidak salah memilih jalan, salah satu dari dua orang yang dia ikuti sedang berjalan keluar melalui jalan setapak yang sedang dia telusuri.
Dengan jantung berdebar sedikit lebih kencang, Zhu Yanyan, mendekam saja di tempatnya. Yang dia khawatirkan bukan dirinya, tapi Khongti yang sedang memeriksa jalan utama, bisa jadi saat ini Khongti justru sedang kembali untuk mencari dirinya. Dengan jantung berdebar, Zhu Yanyan terus menunggu, hingga suasana kembali sunyi dan orang itu jauh
2433
pergi. Barulah perlahan dia bergerak ke arah orang itu pergi, sampai ke jalan utama. Dari tempatnya dia bersembunyi dia bisa melihat orang itu berjalan sendirian, kembali ke arah Kota Jiang Ling. Sambil menghembuskan nafas lega, karena orang itu tidak bertemu dengan Khongti, dia pun mengedarkan matanya melihat ke sekeliling.
Tidak menunggu berapa lama, Khongti muncul dari kejauhan sambil bersiul pelan. Zhu Yanyan membalas siulan Khongti. Kedua orang sahabat itu pun berkumpul kembali.
―Tidak kudapat jejaknya di jalan sana‖, ujar Khongti menyampaikan.
―Hm, barusan sudah kudapat jejaknya di dalam hutan, yang seorang tampaknya tinggal dan yang lain kembali ke Jiang Ling, mungkin untuk memberi kabar.‖, kata Zhu Yanyan memberitahukan penemuannya.
―Oh demikian rupanya… Jadi bagaimana, apa kita coba cari ke dalam hutan atau kita kembali ke Jiang Ling dulu?‖, tanya Khongti.
Zhu Yanyan terdiam sejenak kemudian menjawab, ―Biar aku sekali lagi coba melihat ke dalam, sementara kau ikuti orang
2434
yang satunya lagi, pastikan apakah memang dia kembali melapor atau pergi ke tempat lain lagi. Setelah ada kepastian, kalian jangan buru-buru bergerak beri aku waktu sampai malam. Kecuali jika selewat malam aku belum kembali, bolehlah kalian datang mencari.‖
Khongti menepuk pundak Zhu Yanyan, ―Baiklah aku pergi, kakak sendiri hati-hati dalam bergerak.‖
―Aku tahu‖, jawab Zhu Yanyan singkat sambil tersenyum menenangkan.
Tanpa banyak cakap mereka berdua pun pergi ke arah masing-masing. Zhu Yanyan menghilang ke dalam hutan, sementara Khongti bergerak kembali ke Jiang Ling. Di lain tempat ada pula kejadian penting yang terjadi. Kali ini bukan Wang Shu Lin dan enam orang gurunya yang berperan, namun Huang Ren Fu yang akhirnya berkumpul kembali dengan orang-orang sisa keluarga Huang. Sejak dia tinggal di Jiang Ling, pemuda ini pun menjadi sibuk. Terutama dengan keinginan sebagian besar bekas pengikut keluarga Huang, yang ingin membangun kembali Wuling. Hal ini cukup wajar, kebanyakan dari mereka masih memiliki pertalian darah dengan keluarga Huang atau sudah mengikuti keluarga Huang selama beberapa generasi.
2435
Ketika tidak ada satu pun keturunan keluarga Huang yang tersisa, Ding Tao menjadi suar tumpuan harapan mereka. Namun sekarang pewaris sah dari keluarga Huang ternyata masih hidup dan kembali bersama mereka.
Apakah itu yang membuat wajah pemuda ini guram? Sepertinya bukan, karena jauh-jauh hari, pemisahan yang terjadi di dalam tubuh Partai Pedang Keadilan itu sudah disetujui oleh Ding Tao sendiri. Pula Huang Ren Fu yang bersahabat akrab dengan Ding Tao sudah berjanji akan menjadi sekutu dari Partai Pedang Keadilan. Memang segala sesuatunya berubah, namun seharusnya perimbangan kekuatan dalam dunia persilatan tidaklah bergerak banyak.
Apa benar demikian? Tentu saja benar, bukankah Huang Ren Fu adalah sahabat baik Ding Tao? Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan persahabatan mereka?
Beberapa bulan ini, dengan kesibukannya dan persiapan pernikahan Hua Ying Ying, Huang Ren Fu semakin jarang bertemu dengan guru dan adiknya. Disengaja atau tidak, Huang Ren Fu lebih sering berkumpul dengan bekas-bekas pengikut keluarga Huang, mengatur urusan mengenai pemulihan kantor keluarga Huang di Wuling, sementara Hua Ng
2436
Lau lebih sering bersama Hua Ying Ying dan Tabib Shao Yong. Tabib yang menyandang nama tabib dewa itu tampak kagum dengan kebun obat-obatan milik Tabib Shao Yong, demikian juga usaha toko obat-obatan dan pertabiban Partai Pedang Keadilan yang semakin hari semakin maju. Jika tidak sedang bersama mereka, tentu dia akan ditemukan sedang bersama-sama Bai Chungho dan Xun Siaoma, tiga tokoh tua dari generasi yang sejaman ini makin hari makin akrab bersahabat.
Meskipun demikian, tak pernah Huang Ren Fu terlihat muram, seperti hari ini. Pemuda itu justru tampak bersemangat, sahabatnya hendak menikah dengan adiknya, lalu dia akan kembali ke Kota Wuling dan membangun kembali sisa warisan milik keluarganya.
Bolak-balik dia berjalan mondar-mandir di salah satu selasar gedung Partai Pedang keadilan di Jiang Ling, sesekali dia celingukan bila mendengar suara orang berjalan mendekati tempat dia berada, lalu bergegas pergi menghilang untuk kemudian kembali beberapa saat kemudian setelah suasana kembali sunyi. Agaknya dia sedang menunggu kedatangan seseorang dan tidak ingin ada orang lain yang melihatnya ada di sana.
2437
Siapa gerangan yang sedang ditunggu pemuda ini?
Sekali lagi terdengar suara langkah kaki orang, diiringi desir suara gaun bergesekan. Sekali lagi Huang Ren Fu bergegas mengintip siapa yang datang. Kali ini dia tidak pergi menghilang, melainkan berdiri menanti. Gaun sutra berwarna merah muda, bau harum samar-samar tercium, yang datang tentu seorang wanita, apa pemuda ini sedang jatuh cinta? Memang kadang jatuh cinta menyebabkan orang menderita, tidak aneh jika dia bermuram durja.
―Yun Hua…‖, bisik Huang Ren Fu terbata-bata saat sosok itu berjalan semakin dekat.
Seperti baru sadar bila ada Huang Ren Fu ada di sana, Murong Yun Hua terhenti begitu mendengar suara pemuda itu, wajahnya pucat dan bibirnya gemetar, setetes air mata jatuh menuruni pipinya sebelum dia cepat-cepat membalikkan badan, hendak pergi dari sana. Huang Ren Fu dengan sigap mendekat dan menangkap lengan nyonya yang cantik itu.
―Yun Hua… tunggu dulu, marilah kita bicara…‖, bisik pemuda itu dan dengan sedikit memaksa menyeret Yun Hua masuk ke
2438
sebuah ruangan tak jauh dari sana, sebelum kemudian menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya dari dalam.
Murong Yun Hua tampak lemah dan menurut saja, perlahan terdengar isak tangis tertahan, sambil menghela nafas, Huang Ren Fu mendekap lembut Murong Yun Hua.
―Diamlah… jangan menangis… apa yang terjadi semuanya memang salahku…‖, ujar pemuda itu sambil membelai rambut Murong Yun Hua yang hitam tebal.
―Tidak….tidak…. jangan kakak berkata demikian…‖ ujar Murong Yun Hua sambil berusaha membebaskan diri dari pelukan Huang Ren Fu.
Namun demikian lemah tenaganya, sehingga tidak lebih hanya menggeser-geserkan tubuhnya pada tubuh pemuda itu saja, tanpa berhasil lepas dari pelukannya. Semakin dia bergerak, semakin Huang Ren Fu mengetatkan pelukannya, semakin pula dia liar bergerak untuk melepaskan diri dan semakin tubuh mereka saling menyentuh. Jantung Huang Ren Fu toba-tiba berdebaran saat dia menyadari apa yang sedang dia rasakan, dengan wajah merah padam dia hendak melepaskan pelukan. Siapa sangka, di saat dia hendak melepaskan Murong Yun
2439
Hua, justru nyonya itu akhirnya menyerah dan justru menyandarkan kepalanya di dada Huang Ren Fu sambil menangis tertahan. Sambil menahan nafsu yang sempat menggelora, pemuda itu pun menyediakan dadanya untuk menjadi tempat Murong Yun Hua menangis, melepaskan kesedihannya.
Kesedihannya? Ya, memang buat pembaca yang sudah mengenal siapa Murong Yun Hua, akan berkata dengan sinis memikirkan Murong Yun Hua sedang bersedih lalu membiarkan diri tenggelam dalam pelukan Huang Ren Fu. Tapi Huang Ren Fu tidak tahu apa yang kita tahu, pula seorang pemuda yang sedang jatuh cinta, apakah dia bisa menilai dengan benar orang yang dicintainya?
Dengan perasaan hancur berderai, Huang Ren Fu membelai-belai rambut Murong Yun Hua dan mengeluarkan kata-kata untuk menghibur nyonya cantik itu.
Ketika isak tangis Murong Yun Hua mulai mereda, Huang Ren Fu berkata, ―Dengar…, memang apa yang kita lakukan tidak bisa dibenarkan… tapi jangan menyalahkan dirimu terlampau keras. Saat itu kau sedang bersedih, sedang lemah
2440
menghadapi kenyataan tentang diri Ding Tao yang sebenarnya. Harusnya aku yang lebih tenang bisa menahan diri…‖
Murong Yun Hua menggelengkan kepalanya dengan lemah dalam pelukan pemuda itu.
―Ya seharusnya aku dapat menahan diri… namun aku tak mampu… Yun Hua… Yun Hua… aku mencintai dirimu… jika ada yang harus dipersalahkan, maka orang itu adalah aku…‖, keluh Huang Ren Fu.
―Kakak… benarkah itu? Benarkah apa yang kakak katakan itu?‖, tiba-tiba Murong Yun Hua bertanya, dengan nada terkejut bercampur bahagia yang tertahan.
―Ya… benar. Aku mencintaimu, aku menginginkanmu.‖, jawab Huang Ren Fu dengan lembut namun tegas.
Murong Yun Hua mengeluh panjang, untuk sesaat tubuhnya terasa lemas dalam pelukan Huang Ren Fu, kemudian samar-samar terdengar Murong Yun Hua berbisik, ―Aku bahagia… aku bahagia… karena aku pun… aku pun mencintaimu…‖
Mendengar bisikan Murong Yun Hua, Huang Ren Fu pun mengendurkan pelukannya, memegang kedua lengan nyonya
2441
cantik itu dengan lembut dan menatapnya lurus, ―Yun Hua… tidak salahkah pendengaranku?‖
Tersipu malu Murong Yun Hua tak menjawab, sungguh hebat cara dia bersandiwara, wajahnya tampak memerah karena malu, membuang muka tak hendak menjawab sambil tersipu-sipu, dia tampak makin memikat. Dengan lembut Huang Ren Fu yang merasa dadanya membuncah dengan rasa bahagia, menyentuh pipi Murong Yun Hua dan menggerakkan wajah gadis itu agar menatap lurus ke arahnya. Sesaat lamanya pandang mata mereka bertemu, ribuan kata terucapkan dalam keheningan.
―Yun Hua…, benarkah yang kudengar itu? Benarkah kau mencintaiku, seperti aku mencintaimu?‖, tanya Huang Ren Fu dengan lembut.
Ditanya demikian, makin tersipulah Murong Yun Hua, merasa malu dan tak mampu menatap pemuda itu lebih lama, dia memejamkan matanya dan berusaha melepaskan diri dari pandang mata Huang Ren Fu yang menyelidik. Betapa menggoda apa yang dia lihat saat ini, Huang Ren Fu tanpa ragu dengan sedikit bernafsu, menundukkan wajahnya dan mencium Murong Yun Hua dengan mesra. Murong Yun Hua
2442
pun menggeliat berusaha lepas, tapi apa artinya tenaga lemah yang dia gunakan, ketika dibandingkan dengan tenaga pemuda itu? Usaha melepaskan diri yang setengah-seengah itu, hanya membuat darah Huang Ren Fu semakin membara, apalagi ketika tidak berapa lama kemudian, Murong Yun Hua menyerah pasrah, bahkan memberikan tanggapan. Untuk beberapa lama, yang terdengar hanya erangan tertahan, desahan nafas memburu dan desir-desir sutra bergesekan.
Berhadapan dengan Ding Tao yang malu-malu dan ragu, dia tampil agresif. Berhadapan dengan Chou Liang, dia tampil tegas dan penuh pertimbangan. Berhadapan dengan Huang Ren Fu yang bersifat terbuka dan penuh percaya diri, dia tampil lemah dan malu-malu. Tidak salah jika ada yang mengatakan, Murong Yun Hua adalah wanita paling memikat di masanya.
Di antara desahan dan erangan, terdengar Murong Yun Hua berkata, ―Kakak… jangan sekarang… jangan di sini…‖
Nafas Huang Ren Fu masih memburu, matanya menatap nanar, seluruh tubuhnya menguarkan hawa panas.Baju bagian atasnya sudah terbuka, menggantung di pinggang, dadanya yang bidang dibasahi keringat, meskipun sibuk dengan berbagai urusan tak pernah dia melupakan latihan, terlihat dari
2443
otot-ototnya yang terbentuk. Dalam pelukannya ada Murong Yun Hua, tubuh atas nyonya yang cantik ini pun sudah tidak ditutupi sehelai benangpun, nafasnya sama memburu, membuat sepasang bukit yang ranum itu bergerak naik dan turun.
―Nanti ada yang menemukan kita…‖, bisik Murong Yun Hua menghapuskan sisa kabut yang masih menutupi pikiran Huang Ren Fu.
Nafasnya masih terengah-engah, namun pikirannya sudah jauh lebih jernih, tersipu malu Huang Ren Fu mengendurkan pelukannya. Untuk beberapa lamanya dia diam memandangi wajah cantik yang balik menatapnya dengan mesra itu, deburan jantung di dadanya perlahan mengendap seiring dengan usahanya mengatur nafas dan mengumpulkan semangat.
―Maaf…‖, ujarnya sambil melepaskan Murong Yun Hua.
―Tidak…, tidak ada yang perlu dimaafkan…‖, ujar Murong Yun Hua sambil menundukkan wajahnya dan memperbaiki pakaiannya yang sudah terbuka ke mana-mana, hanya ikat pinggangnya saja yang masih menahannya agar tidak meluncur jatuh ke atas lantai.
2444
Huang Ren Fu mengalihkan pandangannya ke arah lain, melihat Murong Yun Hua membenahi pakaiannya tidak kalah menggoda dibandingkan melihat dia melepaskan pakaiannya.
Mendesah panjang dia memikirkan keruwetan hubungan asmaranya dengan Murong Yun Hua. Sejak pertemuan mereka yang pertama kali, ketika Murong Yun Hua dan Murong Huolin datang menyambut kedatangan mereka dari kaki Gunung Songshan dia sudah mengagumi nyonyda muda itu. Apalagi ketika dia mendengar dari Hua Ying Ying, bagaimana nyonya muda itu membujuk dia untuk menikahi Ding Tao. Dalam hatinya dia ragu bahwa kejadiannya persis sama seperti yang diceritakan Murong Yun Hua. Dalam hatinya dia yakin bahwa Murong Yun Hua sengaja mengarang cerita itu untuk menutupi kekurangan Ding Tao dan membujuk adiknya untuk menerima cinta Ding Tao. Tentu saja dia tidak mengatakan dugaannya itu pada siapapun. Tapi dari sikap Hua Ng lau, dia menangkap bahwa gurunya pun berpendapat sama, meskipun seperti dia, gurunya itu tidak mengatakan apa-apa.
Bagaimana pun juga, sulit buat Huang Ren Fu untuk menyalahkan Ding Tao jika pemuda itu sampai terpikat pada Murong Yun Hua, meskipun pandangannya atas sifat pemuda itu tentu saja mengalami sedikit perubahan, karena jika
2445
dihitung-hitung itu artinya Ding Tao sudah berhubungan dengan Murong Yun Hua sebelum pemuda itu mendengar kabar tentang pembantaian di Wuling. Setelah sampai di Jiang Ling, Ding Tao menjadi sibuk dengan persiapannya untuk menghadapi Ren Zuocan, juga kesibukannya sebagai ketua partai dan Wulin Mengzhu yang baru. Tidak seperti saat perjalanan dari kaki Gunung Songshan ke Jiang Ling, kedua sahabat itu hampir-hampir tidak memiliki waktu untuk bertemu.
Kemudian mulailah muncul kabar dan cerita tentang Ding Tao yang memperbesar retakan kecil yang baru saja timbul. Kisah-kisah itu utamanya datang dari bekas-bekas pengikut keluarga Huang yang memiliki tempat tersendiri dalam hati Huang Ren Fu. Di lain pihak, dalam berbagai kesempatan yang tidak disengaja, Huang Ren Fu sering bertemu dengan Murong Yun Hua. Awalnya hanya sekedar demi sopan santun mereka bersakap-cakap. Tapi tanpa dia sadari, Huang Ren Fu mulai merindukan pertemuan-pertemuan itu. Murong Yun Hua adalah seorang wanita dengan pengetahuan yang sangat luas, pandangannya terhadap suatu masalah sangat mendalam, terkadang tanpa ragu nyonya muda itu mengambil pendirian yang berbeda dengan umumnya orang, tapi bukannya tanpa dasar, melainkan dengan pemikiran yang kuat.
2446
Saat dia mulai menyadari perasaannya pada Murong Yun Hua, perasaannya pada Ding Tao mulai getir oleh berbagai kabar yang dia dengar. Di saat-saat seperti itulah, tiba-tiba Guang Yong Kwang menemui dia dan datang kabar yang menjungkir balikkan pendapatnya tentang Ding Tao.
Guang Yong Kwang memberikan kabar bahwa Shao Wang Gui yang ditahan di Shaolin memberikan pengakuan bahwa Ding Tao adalah satu di antara lima orang yang memimpin penyerbuan Wuling.
―Pengakuan iblis kecil itu memang bisa jadi benar, bisa jadi salah, aku sendiri ragu apakah harus menyampaikan hal ini kepadamu atau tidak. Tapi mengingat adikmu hendak menikah dengannya, akhirnya aku memberanikan diri untuk menyampaikan kabar ini padamu.‖, demikian kata Guang Yong Kwang saat itu.
Huang Ren Fu tidak lah mudah menerima berita begitu saja, meskipun dadanya bergemuruh, karena memang benih-benih itu sudah tertanam, tapi di luar dia tetap tenang, ―Hmm… terima kasih ketua sudah banyak memikirkan tentang keluarga kami, tapi seperti yang ketua katakan, ucapan iblis itu tidak bisa dijadikan pegangan yang kuat. Bisa jadi dia sengaja berucap
2447
demikian karena merasa sakit hati atas kekalahannya di kaki Gunung Songshan. Atau ada orang-orang yang tidak puas dengan hasil pemilihan itu yang mendorong dia untuk membuat pengakuan seperti itu.‖
Merasa tersindir wajah Guang Yong Kwang sedikit memerah, namun demi berjalannya rencana, dia menahan diri dan tetap bersikap sopan, ―Aku mengerti, aku mengerti…, aku pun merasa berita ini tentu sulit diterima, tapi di lain pihak aku juga merasa berkewajiban untuk menyampaikan berita ini pada Saudara Huang Ren Fu sebagai satu-satunya pewaris sah Keluarga Huang.‖
Percakapan mereka singkat saja, setelah Guang Yong Kwang berpamitan, Huang Ren Fu pun segera pergi ke ruang latihan dan menumpahkan segala kegalauan hatinya di sana. Dengan hati panas dan keringat bercucuran, pemuda itu berusaha merunutkan setiap kabar yang dia dengar tentang Ding Tao hingga hari ini. Dalam hatinya yang terdalam, ada pertentangan batin yang sangat hebat. Di satu sisi ada bagian dari dirinya yang masih mengingat sifat-sifat Ding Tao yang pernah dia kenal dan menolak kemungkinan yang dikatakan Guang Yong Kwang. Di sisi lain ada bagian dari dirinya yang justru berharap, Ding Tao adalah si jahat dalam kisah ini, dan dia akan menjadi
2448
pahlawan yang membunuh naga dan membebaskan sang puteri.
Tak ada yang tahu, isi pergolakan dalam dada pemuda itu, berkutat dengan apa yang dia ketahui dari berbagai pihak, mulailah dia berusaha memilah dan menyusun kembali segala apa yang dia ketahui mengenai Ding Tao dan kejadian di Wuling. Satu titik penting adalah apa yang terjadi setelah Ding Tao melarikan diri dari kediaman keluarga Huang. Jika benar cerita Ding Tao, bahwa dia menghabiskan waktu beberapa bulan setelah pertemuannya dengan Murong Yun Hua untuk menyembuhkan diri, maka tidak mungkin dia terlibat dalam pembantaian keluarga Huang di Wuling. Namun apakah benar cerita Ding Tao itu? Satu-satunya saksi yang menguatkan kisah Ding Tao adalah Ma Songquan dan Chu Linhe, namun dari Li Yanmao dan Tang Xiong, Huang Ren Fu mendapatkan informasi bahwa mereka berdua sesungguhnya adalah tokoh sesat dunia hitam, sepasang iblis muka giok, bisakah kesaksian mereka dipercaya? Kedekatan mereka dengan Ding Tao justru mengukuhkan kecurigaan Huang Ren Fu, namun pemuda itu bukan orang yang dengan mudah mengambil kesimpulan, tanpa melakukan penyelidikan yang mendalam.
2449
Dan Huang Ren Fu memiliki banyak kesempatan untuk itu, hubungannya dengan Murong Yunhua semakin akrab. Tidak jarang mereka hanya berduaan dan bercakap-cakap untuk waktu yang lama. Meskipun demikian, ada keraguan dalam hati Huang Ren Fu untuk menanyakan apa yang ingin dia tanyakan. Sesungguhnya Huang Ren Fu adalah seorang pemuda yang memiliki kelembutan hati, lepas dari keinginannya untuk memiliki Murong Yun Hua, lepas dari kecurigaannya pada Ding Tao, ada rasa tak tega untuk merusak kebahagiaan mereka, seandainya benar Ding Tao tersangkut dengan pembantaian keluarga Huang di Wuling.
Peperangan batin yang begitu hebat terjadi di balik penampilannya yang selalu tenang dan ceria, di luar sadarnya, yang sedang bertarung bukan hanya keinginan dan nilai-nilai dalam dirinya. Murong Yun Hua pun dengan kecerdikannya sedang memintal jaring-jaring halus untuk memerangkap dirinya. Dengan lembut mengarahkan Huang Ren Fu pada jalan yang dia kehendaki. Seperti seorang pengail yang dengan sabar, mempermainkan umpan atau menarik ulur kailnya, perlahan namun pasti ikan gemuk itu pun masuk ke dalam perangkap.
2450
Pemenang dalam peperangan batin Huang Ren Fu pun pada akhirnya diputuskan. Hari itu untuk ke sekian kalinya Huang Ren Fu dan Murong Yun Hua mendapatkan kesempatan untuk bercakap-cakap berdua saja. Benak Huang Ren Fu sudah mantap dengan apa yang hendak dia lakukan, pemuda itu sudah terlalu lelah, terombang-ambing dengan segala pertentangan batin yang dia hadapi. Dia ingin mendapatkan kepastian, dia ingin mendapatkan kejelasan.
Setelah berbasa-basi beberapa saat, Huang Ren Fu pun mulai bertanya-tanya, ―Adik Yun Hua, sebenarnyaaku selalu penasaran, bagaimana awalnya kau bisa bertemu dengan Ding Tao?‖
Murong Yun Hua pun dengan sedikit tersipu, bercerita bagaimana dia dan adiknya melihat Ding Tao yang sedang terluka, dikejar-kejar oleh sepasang iblis muka giok.
―Oh… begitu…, kapankah kejadian itu terjadi?‖, tanya Huang Ren Fu lagi.
Murong Yun Hua tampak menjebikan bibirnya yang mungil, mencoba mengingat-ingat kapan tepatnya dia bertemu Ding Tao, tanggal sekian dan bulan sekian, demikianlah jawabnya.
2451
Di luaran Huang Ren Fu tidak terlihat tegang, tapi jika mata orang cukup awas akan terlihat tangannya bergetar. Pura-pura menghirup arak, Huang Ren Fu berusaha mengatur perasaannya.
Ketika dia kembali bertanya, suaranya sudah terdengar wajar, ―Ah… demikian rupanya. Ding Tao berkata dia berhutang budi pada kalian berdua, karena berkat kalian berdualah luka dalamnya bisa disembuhkan. Sebenarnya apa yang terjadi?‖
―Ah tidak ada hal hebat apa yang kami lakukan. Kebetulan koleksi buku keluarga Murong sangatlah banyak dan bervariasi, termasuk di dalamnya mengenai obat-obatan, di salah satu buku kami menemukan cara pengobatan terhadap luka dalam Kakak Ding Tao.‖, jawab Murong Yun Hua.
―Ohh begitu, tapi luka Ding Tao begitu berat, tentu kalian berdua harus bekerja keras untuk menyembuhkannya.‖, ujar Huang Ren Fu sambil menuangkan arak untuk Murong Yun Hua.
Arak terus mengalir, membuat kata-katanya lebih mudah mengalir, demikian pikir Huang Ren Fu dan demikianlah sepertinya yang terjadi. Kata-kata keluar dari bibir mungil
2452
Murong Yun Hua seperti air mengalir. Hanya sayang, aliran air ini membawa racun yang memahitkan hati Huang Ren Fu.
―Hihihi, tidak juga, kalau sudah tahu caranya, luka itu pun mudah disembuhkan. Kami tinggal membeli ramuan yang sesuai seperti yang tertera dalam buku itu. Tidak sampai hitungan minggu, luka Kak Ding Tao sudah sembuh.‖, jawab Murong Yun Hua ceria.
Kali ini butuh waktu lebih lama bagi Huang Ren Fu untuk meredakan ketegangan perasaannya, karena berdasarkan pengakuan Murong Yun Hua, itu artinya ada banyak waktu antara setelah Ding Tao sembuh dari lukanya dan sebelum terjadinya penyerbuan di Wuling. Hal ini berbeda dengan kisah Ding Tao, seperti yang kita ketahui, setelah menyembuhkan lukanya dan menguasai isi kitab tenaga inti bumi, hanya beberapa hari dia lewatkan di kediaman Murong Yun Hua untuk kemudian bergegas pergi ke Wuling. Di tengah perjalanan barulah dia mendengar tentang apa yang terjadi di Wuling. Perbedaan waktu yang mencolok ini tentu saja besar sekali artinya. Berapa cangkir arak pun mengalir lewat tenggorokannya, sementara Murong Yun Hua dengan senyum tak berdosa mengiringi, secawan demi secawan.
2453
―Ah… tentu Ding Tao merasa sungkan untuk tetap tinggal di tempat kalian setelah lukanya pulih.‖, ujar Huang Ren Fu melanjutkan.
―Ya…, tapi ingat, di luar sana masih ada orang-orang seperti sepasang iblis muka giok yang mengincar dirinya, tapi seperti yang sudah kukatakan, kumpulan buku keluarga Murong sangatlah banyak. Bukan hanya ilmu pengobatan, ilmu silat pun banyak ada di sana. Adikku Huolin suka mempelajarinya namun bakatnya jauh di bawah Ding Tao, itu sebabnya dia sangat merasa kagum melihat bakat Ding Tao yang cepat sekali memahami setiap kitab yang dia baca.‖, ujar Murong Yun Hua panjang lebar.
Sebuah ingatan melintas di benak Huang Ren Fu, Ding Tao memang berbakat, tapi pemuda itu membutuhkan belasan tahun untuk mematangkan ilmu keluarga Huang, dari mana sekarang Murong Yun Hua bisa mengatakan, Ding Tao mampu melahap habis berbagai macam kitab dalam waktu singkat?
―Wah, tak kusangka Ding Tao demikian berbakat‖, puji Huang Ren Fu.
2454
Wanita mana yang tak suka suaminya dipuji, Murong Yun Hua pun tampaknya demikian, setidaknya itu yang diperlihatkan dan dilihat oleh Huang Ren Fu. Dada Huang Ren Fu di luar maunya merasa sesak oleh cemburu.
Tanpa ragu Murong Yun Hua mulai bercerita panjang lebar, sesekali terlihat Murong Yun Hua mengerutkan alis mengingat-ingat apa yang tepatnya terjadi saat itu, ―Awalnya tidak demikian…, ya seingatku bukan dari awal seperti itu. Hmm… sepertinya Kak Ding Tao menemukan satu kitab ilmu, entah apa, yang pasti setelah dia meyakinkan isi kitab itu, tiba-tiba kemampuan belajarnya meningkat dengan pesat.‖
Mendengar itu, tentu saja kecurigaan Huang Ren Fu semakin kuat, apalagi temuan gurunya tentang obat perebut sukma beberapa waktu yang lalu, mengindikasikan efek yang serupa. Apakah Ding Tao sudah terjerat dalam kekuasaan seseorang? Jika benar demikian, siapa orang itu? Apakah Ren Zuocan? Tapi Murong Yun Hua mengatakan, perubahan itu terjadi setelah Ding Tao mempelajari satu kitab tertentu. Mungkin dia salah, mungkin sebuah ilmu yang memberikan efek serupa obat temuan gurunya. Atau jangan-jangan di dalam kitab yang dipelajari itu, tertulis cara untuk membuat ramuan obat tersebut.
2455
Berbagai kemungkinan berkelebatan dalam benak Huang Ren Fu.
―Itu kitab yang sangat menarik, bolehkah aku meminjamnya?‖, tanya Huang Ren Fu dengan ringan.
―Tentu saja‖, jawab Murong Yun Hua dengan bersahabat, namun sejurus kemudian dia mengerutkan alis dan berkata pula, ―Hmm… selama ini aku yang selalu membereskan dan memelihara setiap kitab-kitab itu, namun baru sekarang aku ingat, sejak Kak Ding Tao membacanya, tak pernah lagi aku melihat kitab itu di antara kitab-kitab yang lain. Mungkin Kak Ding Tao yang menyimpannya…‖
―Ah, kalau begitu sepertinya kitab itu tentu sangat penting untuk Ding Tao, biarlah aku tak usah meminjamnya. Apa Adik Yun Hua sendiri sama sekali tidak memiliki bayangan, apa isi kitab itu?‖, sahut Huang Ren Fu.
Murong Yun Hua tertawa geli, ―Tidak, setahuku kitab itu, sebuah kitab tidak keruan yang dibawa ayahku, di dalamnya bercampur baur antara ilmu obat-obatan, perbintangan dan segala macam lainnya. Pernah sekilas kubaca, namun tidak
2456
tertarik untuk membacanya lebih lanjut, karena kebanyakan isinya ngawur dan tidak jelas.‖
―Hahaha, ya, kukira Ding Tao memiliki ketelitian melebihi kebanyakan orang. Jadi setelah sembuh dari lukanya, dia menghabiskan waktu beberapa bulan di kediaman keluarga Murong sambil memperdalam ilmunya?‖, tanya Huang Ren Fu tidak sabar ingin menegaskan kecurigaannya.
―Tidak…, beberapa kali dia pergi dan kembali. Pernah satu kali dia pergi cukup lama, hampir seminggu lamanya.‖, jawab Murong Yun Hua dengan alis berkerut dan nada suara berhati-hati.
Setelah beberapa lama menunggu dan tidak ada reaksi dari Huang Ren Fu, Murong Yun Hua pun bertanya, ―Saudara Ren Fu, sebenarnya ada apakah? Aku merasa pertanyaan-pertanyaan barusan, bukanlah pertanyaan biasa… apakah… apakah ada sesuatu dengan Kak Ding Tao?‖
Wajah Huang Ren Fu sudah merah padam, senyum yang tadinya masih bisa dipaksakan sudah lama tak muncul di wajahnya. Entah sudah berapa cangkir arak masuk ke dalam perutnya, berusaha menenangkan hati dan memunculkan
2457
kembali senyum di wajahnya. Tapi semakin banyak arak yang dia minum, semakin gelap hatinya. Jika tadi otaknya masih bisa diajak berpikir, memikirkan pembelaan bagi Ding Tao, sekarang pikirannya sudah gelap, semakin lama semakin yakin bahwa Ding Tao sudah mempermainkan perasaan adik satu-satunya, mengkhianati keluarganya dan ikut seta dalam membantai habis seluruh keluarganya. Tidak lagi ada ingatan tentang sifat-sifat Ding Tao yang baik. Justru sekarang Huang Ren Fu semakin yakin bahwa tentu semua itu hanyalah sandiwara belaka. Berusaha merebut hati adiknya, berambisi untuk mendapatkan kedudukan dalam keluarga Huang. Sayang datangnya Wang Chen Jin mengganggu rencana Ding Tao, tapi di saat yang sama dia mendapatkan pedang angin berbisik. Tidak puas dengan pedang itu, setelah beberapa tahun lewat, dia kembali berusaha mendekati Huang Ying Ying. Siapa sangka pedang itu justru menjadi penghalang. Dalam pelarian, kembali Ding Tao melihat kesempatan kali ini pilihannya jatuh pada keluarga Murong. Demikianlah segala kisah yang membusukkan Ding Tao mulai terangkai dalam benak Huang Ren Fu.
Betapa mudah memang pikiran kita melakonkan suatu cerita, tidak gampang untuk memahami sesuatu secara terang,
2458
perasaan hati tentu berpengaruh pada apa yang kita pikirkan. Itu sebabnya perasaan rendah diri sama buruknya dengan tinggi hati. Orang yang rendah diri akan merasa tawa orang sebagai tawa menghina. Jika melihat orang sedang berkumpul bercakap-cakap, dalam hati kemudian berpikir, jangan-jangan membicarakan keburukanku. Begitu juga dengan hati yang kotor juga cenderung melihat orang lain sesuai dengan kekotoran hatinya. Jika ada orang bekerja dengan jujur dan rajin, dikatakannya sedang mencari muka. Jika orang menolak suap, dianggapnya pengecut dan munafik. Melihat wanita tersenyum dianggapnya menggoda.
Jadi siapa yang sebenarnya jadi tuan, hati atau pikiran?
Lepas dari itu semua, Murong Yun Hua yang melihat wajah Huang Ren Fu semakin gelap, bertanya dengan nada takut, ―Kak Ren Fu, apakah aku ada salah bicara?‖
Emosi melonjak tak tertahankan, cawan arak yang ada di tangan pun pecah berkeping-keping, dengan nada tinggi dia berkata pada Murong Yun Hua, sembari berdiri dan menunjuk-nunjuk nyonya muda itu, ―Apa yang salah katamu! Butakah matamu?! Sudah tumpulkah otakmu!? Bukankah suamimu yang kau puja dan banggakan itu adalah penjahat paling keji ?!!
2459
Wanita bodoh, apakah kau begitu hausnya laki-laki, hingga otakmu tidak bisa bekerja lagi?!‖
Pucat pasi wajah Murong Yun Hua dimaki-maki demikian, terhuyung dia bangkit berdiri dan mundur menjauh dari Huang Ren Fu, ―Kak Ren Fu, sadarlah, apa maksudmu? Apa maksudmu?‖
Melihat Murong Yun Hua ketakutan, bukannya reda kemarahan dalam hati Huang Ren Fu, justru kemarahannya makin menggelora, dia pun maju mendesak Murong Yun Hua dan berkata, ―Pikirkan lagi, laki-laki jujur mana yang akan menggoda dan meniduri seorang wanita, sementara dia sudah memiliki kekasih hati yang menunggu kedatangannya? Pikirkan, wanita macam apa yang selalu dia dekati? Wanita dengan kekayaan yang tidak dia miliki.‖
―Tidak… tidak… engkau salah…‖, ujar Murong Yun Hua dengan suara bergetar.
―Salah? Ketika dia pergi dari kediamanmu, bukankah dia sedang mengumpulkan kawan-kawannya dan kemudian pergi untuk membantai habis keluargaku? Katanya dia menderita luka berat selama berbulan-bulan, sehingga tak seorangpun
2460
mencurigai dirinya, nyatanya sesuai jawabmu, lukanya sembuh dalam waktu yang lebih singkat.‖, ujar Huang Ren Fu dengan memburu.
―Tidak mungkin… tidak mungkin…‖, ujar Murong Yun Hua dengan air mata berlinangan, punggungnya membentur dinding dan tak bisa lari lagi.
―Tidak mungkin? Apa masih kurang bukti lagi? Kau bilang sepasang iblis muka giok mengejar-ngejarnya, jika demikian kenapa sekarang sepasang iblis itu justru bekerja untuk dirinya? Bukankah itu artinya pengejaran itu hanya sandiwara saja, sandiwara untuk menipu dua orang wanita bodoh yang haus cinta!‖, bentak Huang Ren Fu sambil mendesak Murong Yun Hua hingga tak bisa bergerak, wajahnya hanya beberapa cun jauhnya dari wajah Murong Yun Hua, kedua tangannya memegang tembok, di kiri dan kanan Murong Yun Hua.
Dengan wajah sudah penuh air mata, Murong Yun Hua menangis tersedu sambil menggelengkan kepalanya dengan lemah, ―Tidak… kau bohong… siapa sepasang iblis itu? Tak ada …‖
2461
―Hehh, kau memang benar-benar buta, tidak tahukah kau bahwa Ma Songquan dan Chu Linhe adalah sepasang iblis muka giok yang sedang menyamar?‖, jawab Huang Ren Fu sambil tertawa sinis.
Tak lagi bisa menjawab, Murong Yun Hua hanya bisa menangis sesenggukan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh mengenaskan keadaan Murong Yun Hua saat ini. Sementara kemarahan Huang Ren Fu mulai mereda, namun dalam keadaan begitu dekat dengan Murong Yun Hua, satu perasaan yang berbeda mulai muncul dari dalam hatinya. Sama panasnya dengan kemarahan yang mulai mereda, api nafsu perlahan mulai membakar hati pemuda itu. Di saat itu, tiba-tiba Murong Yun Hua melorotkan tubuhnya, dan berusaha menyelinap lari dari bawah tangan Huang Ren Fu. Kemarahann yang mulai mereda, tiba-tiba kembali mengglora, secara refleks tangan Huang Ren Fu bergerak hendak menangkap, tapi yang terpegang adalah baju Murong Yun Hua di bagian pundak. Yang satu meronta lepas, yang satu menarik dengan kasar, baju Murong Yun Hua terbuat dari kain sutra yang halus dan mahal, dengan suara keras baju Murong Yun Hua pun terobek lepas.
2462
Murong Yun Hua terjatuh dengan bagian atas tubuhnya tersibak bebas, dengan sia-sia tangannya berusaha menutupi dadanya yang terbuka, bukannya berhasil menutupi justru membuat dadanya yang montok seperti meronta keluar di sela-sela jari tangan dan lengannya yang bersilang menutupi dada.
Api membakar Huang Ren Fu, dibantu dengan arak yang sudah bekerja sejak tadi, api nafsu pun membakar habis, menghabiskan seluruh sisa pikiran sehat dan sopan santunnya. Apa yang terjadi hari itu bisa dibayangkan sendiri oleh pembaca. Ketika api sudah puas membakar, yang tersisa hanyalah penyesalan. Hari-hari penuh penderitaan, didera perasaan berdosa tapi juga rindu, antara ingin bertemu dengan rasa malu untuk bertemu. Sejak hari itu, baru hari inilah keduanya kembali bertemu.
------- o -------
Murong Yun Hua sudah selesai membenahi pakaiannya, perlahan dia menyentuh lengan Huang Ren Fu, menyadarkan pemuda itu dari lamunannya.
―Dengar… Ding Tao sudah mempermainkan kita semua. Tapi lebih dari itu, kekuasaan seorang Wulin Mengzhu tidak boleh
2463
berada di tangan orang seperti dia. Demi kebaikan banyak orang, kita tidak boleh ragu. Orang mungkin akan menilai sinis kita berdua, mempertanyakan motivasi kita…‖, ujar Murong Yun Hua dengan suara sedikit bergetar.
Kemudian dia pun menjatuhkan diri dalam pelukan Huang Ren Fu, dengan sendu dia memohon, ―Kakak… lindungi aku… beri aku kekuatan.‖
Salah satu cara menaklukkan lelaki, adalah dengan membuat dia merasa jadi seorang pahlawan. Semakin wanita tampak tak berdaya, lelaki pun semakin berdiri gagah berusaha membela. Semakin cantik wanita itu, semakin tuluslah dia berusaha membela. Semakin tangguh wanita yang memohon perlindungan padanya, semakin berbesar hatilah dia. Di masa itu, di antara sekian wanita Murong Yun Hua yang dipandang tercantik. Di antara sekian banyak wanita, Murong Yun Hua yang dikenal paling bijak dan kuat. Dan sekarang dia tampil lemah tak berdaya, memohon perlindungan pada Huang Ren Fu. Siapa bisa menyalahkan Huang Ren Fu, bila dia lupa pada persahabatan? Jika rasa percaya sudah hilang, persahabatan pun mati dengan cepat. Bila wanita sudah terlibat, tidak jarang lelaki lupa pada sahabat.
2464
Jauh di sana, di luar kota Jiang Ling, seorang lelaki yang rasa persahabatannya sudah teruji oleh waktu dan tantangan hidup, sedang bergerak dengan hati-hati, menggunakan lebatnya pepohonan dan rimbunnya dedaunan, untuk bergerak dalam bayang-bayang, menjelajahi isi hutan. Zhu Yanyan bergerak dengan sangat hati-hati, sebelum dia bergerak, terlebih dahulu dia akan memastikan tidak ada orang di sekitarnya, tidak ada orang yang akan melihat gerakannya menuju ke tempat persembunyiannya yang berikutnya.
Bergerak seperti itu tentu saja menghabiskan waktu yang sangat lama. Antara mereka yang tersebar, berjaga-jaga di tempat yang tersembunyi, beradu kesabaran dengan dia yang bergerak perlahan, menembus penjagaan.
Mungkin umur Zhu Yanyan yang sudah matang, membuat dia lebih sabar dibanding lawan-lawannya. Sebuah pertarungan tanpa jurus, tanpa pedang, namun setiap saat nyawa bisa melayang. Beberapa kali kesabaran Zhu Yanyan membuahkan hasil, matanya yang tajam mengawasi keadaan menangkap gerakan dari mereka yang berjaga. Mungkin pinggul yang pegal, pantat yang terasa tebal, mungkin ada serangga yang menggigit atau sekedar bosan diam berjaga. Tapi gerakan
2465
mereka itu membuat keberadaan mereka tertangkap oleh mata Zhu Yanyan yang tajam.
Semakin lama, penjagaan semakin rapat, hingga akhirnya pada satu titik, Zhu Yanyan pun dipaksa untuk menyerah. Tidak dilihatnya jalan untuk masuk lebih dalam lagi tanpa membunuh beberapa penjaga, sementara dia tidak ingin keberadaannya diketahui orang. Zhong Weixia tidak boleh tahu jika ada orang yang sedang mengamati gerak-geriknya. Sadar akan hal itu, Zhu Yanyan pun diam-diam menghela nafas dan memuaskan dirinya dengan mengamati apa yang bisa diamati.
Menjelang tengah hari, satu per satu orang mulai berdatangan. Dari tempatnya yang tersembunyi, Zhu Yanyan pun mulai menghitung dan mencatat.
Pertemuan ini begitu rahasia, penjagaannya begitu ketat, mereka yang datang, entah sendirian atau dalam kelompok kecil semuanya punya nama dalam dunia persilatan. Sebelum Zhong Weixia sendiri muncul sudah ada belasan orang yang datang. Jangan dilihat jumlahnya yang sedikit lebih dari jumlah jari tangan, karena setiap orang memiliki pengaruh yang besar dan bisa menggerakkan puluhan hingga ratusan orang. Keringat dingin pun membasahi punggung Zhu Yanyan. Tapi
2466
kejutan belum habis smpai di situ, seperti yang sudah mereka duga, Zhong Weixia datang bersama dengan Guang Yong Kwang, artinya jelas keduanya bekerja sama. Kejutan terbesar justru datang, setelah kedatangan mereka berdua. Sekelompok bhiksu Shaolin datang sembari mengawal Shao Wang Gui yang terikat erat di tengah mereka. Kemudian tiga orang Bhiksuni dari Enmei menyusul datang.
Dua orang tetua dari Hoasan, dengan kedudukan hanya selapis di bawah Xun Siaoma turut pula datang, Menyusul tiga orang tetua partai pengemis. Tampaknya hanya dari pihak Wudang saja yang tidak seorangpun diundang dalam pertemuan ini. Bukan hanya berkeringat dingin, sekarang Zhu Yanyan dibuat menjadi pening melihat siapa-siapa yang hadir dalam pertemuan ini.
Dan dua orang terakhir yang menghadiri pertemuan rahasia itu, lebih-lebih lagi membuat dia tak mengerti, Huang Ren Fu dan Murong Yun Hua. Sebenarnya apa yang terjadi, jangan-jangan, orang yang mengumpulkan mereka semua ini sesungguhnya adalah Ding Tao sendiri. Apa yang terjadi dalam pertemuan itu sendiri, Zhu Yanyan tidak bisa tahu. Tempatnya terlalu jauh dari pertemuan diadakan dan penjagaan terlalu ketat untuk menyusup diam-diam. Zhu Yanyan hanya bisa menunggu
2467
pertemuan itu bubar, sembari bertanya-tanya dalam hati. Masakan Ding Tao hendak menggerakkan orang melawan Wudang? Tapi jika tidak demikian, mengapa di antara sekian banyak undangan, hanya Wudang yang tidak mendapatkan undangan? Jika pertemuan ini begitu penting, mengapa Ding Tao sendiri tidak hadir? Atau jangan-jangan orang-orang terpenting, seperti Tetua Xun Siaoma, Ketua Bai Chungho, Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan dan Ding Tao sendiri sedang membahas soalan ini. Atau mungkin sengaja tidak bergerak untuk mengelabui mata orang?
Begitu banyak pertanyaan, pada akhirnya Zhu Yanyan sampai pada satu pemikiran. Yaitu menemui saudaranya yang telah lama tidak dia temui. Pendeta Chongxan mungkin bisa memberikan jawabannya. Setidaknya, dengan bertemu, ada beberapa kemungkinan yang bisa dicoret, sekaligus dia bisa memberikan peringatan seandainya benar Wudang-lah yang menjadi sasaran.
Menunggu mereka bubar, ternyata membutuhkan kesabaran yang jauh lebih besar. Apalagi dengan pertanyaan dan kekhawatiran yang muncul, perasaan bahwa dirinya sedang berpacu dengan waktu, membuat dia semakin sulit bersabar. Namun Zhu Yanyan memiliki watak dasar yang penyabar,
2468
ditambah ketekunan berlatih untuk menahan diri dan menjaga semangat selama puluhan tahun, meskipun hatinya penuh dengan kekhawatiran, Zhu Yanyan tetap bersembunyi dengan sabar.
Pertemuan itu berlangsung cukup lama, dengan pendengarannya yang tajam Zhu Yanyan bisa mendengar beberapa kali ada sorakan yang cukup keras, meskipun hanya sayup-sayup sampai di telinganya. Dari suara yang dia dengar Zhu Yanyan pun bisa memperkirakan di mana pertemuan itu dilaksanakan. Meskipun demikian apalah gunanya bagi dia, toh tetap saja dia tidak bisa pergi mendekat dan ikut mendengarkan dengan jelas isi pertemuan itu. Matahari pun sudah condong ke arah barat, ketika satu per satu, peserta pertemuan itu pergi meninggalkan tempat. Zhu Yanyan pun mendekam saja di tempat dia bersembunyi, apalagi dia sadar orang-orang macam Zhong Weixia ada di sana. Ketahuan sama artinya dengan kematian. Setelah seluruh peserta pertemuan itu pergi menghilang, Zhu Yanyan masih mendekam tidak bergerak. Benar saja, menunggu beberapa lama, sekali lagi serombongan orang pergi dari hutan itu, melewati tempat persembunyiannya, mereka ini tentulah orang-orang yang ditugaskan untuk berjaga tadi. Setelah hutan kembali sepi, Zhu
2469
Yanyan masih menunggu beberapa lama lagi. Menjelang sore hari, barulah dia berani bergerak, sedemikian berhati-hatinya dia, itulah Zhu Yanyan, orang pertama dari enam sahabat pengikat enam perguruan besar.
―Hmm.. tentu yang lain sudah mulai berkhawatir‖, pikir Zhu Yanyan.
Teringat dengan saudara-saudara dan muridnya, maka dia pun bergegas pergi, bergerak dengan ringan, berkelebatan di antara pepohonan. Zhu Yanyan masih bergerak ke arah lain beberapa lama, sebelum mengambil arah menuju ke jalan besar. Muncul di titik lain dari jalan besar itu, barulah dia berjalan cepat dengan langkah panjang-panjang menuju ke Jiang Ling. Tidak berapa lama kemudian, mereka bertujuh pun sudah berkumpul di sebuah ruangan kecil, di dalam toko yang mereka beli beberapa bulan yang lalu. Dengan mendetail Zhu Yanyan menyampaikan apa yang dia lihat dan dengar. Tidak banyak memang, tapi apa yang dilihat Zhu Yanyan memberikan gambaran, tentang skala gerakan yang sedang mereka hadapi ini.
Dengan wajah sedikit pucat Chen Taijiang menggelengkan kepala tak percaya dan berujar, ―Mendengar penuturan
2470
Saudara Yanyan, seakan-akan seluruh tokoh dunia persilatan tertumpah di Jiang Ling.‖
―Lebih ngerinya lagi, tidak akan ada orang yang merasa aneh melihat hal itu, mengingat pesta pernikahan Wulin Mengzhu, Ding Tao akan diadakan dalam waktu dekat ini.‖, sambung Hu Ban dengan wajah serius.
―Aku akan pergi menemui Chongxan diam-diam,masalah ini harus secepatnya dibuat terang, jika tidak aku tidak akan bisa tidur dengan tenang.‖, ucap Zhu Yanyan menyampaikan pemikirannya.
Ke enam orang yang lain pun mengangguk setuju, Wang Shu Lin sejak tadi sudah kehilangan kekuatan untuk mengucapkan sepatah kata pun. Apa yang diceritakan Zhu Yanyan, jelas di luar perkiraannya. Gerakan yang dilakukan Zhong Weixia sungguh terlampau besar, melampaui kekhawatiran-kekhawatirannya selama ini. Usul Zhu Yanyan untuk menemui Pendeta Chongxan memberi dia satu harapan baru.
―Hmm… menurutku, ada kemungkinan besar Ketua Khongzhen juga tidak mengetahui hal ini. Shaolin memang terlihat besar dan kokoh dari luar. Tapi sesungguhnya yang ada di dalam
2471
tidaklah seharmonis apa yang terlihat di luar. Justru jumlah anggota yang terlalu besar ini, menimbulkan adanya fraksi-fraksi dalam Shaolin. Berbeda dengan Wudang yang lebih kecil, namun lebih kuat kekeluargaannya.‖, ujar Khongti sambil berpikir.
―Saudara Yanyan, jika kau pergi menemui Pendeta besar Chongxan, aku pun akan pergi menemui Bhiksu besar Khongzhen.‖, sambung dia setelah berpikir sejenak.
―Kukira kau benar. Semoga saja pergerakan rahasia ini sepengetahuan Ding Tao dan mereka berdua. Jika demikian beres sudah urusannya. Tapi bila tidak…‖, ujar Zhu Yanyan menggantung, tak sanggup membayangkan apa yang terjadi jika tidak demikian halnya.
―Perasaanku tidak tenang…, besar kemungkinan semuanya ini terjadi di luar tahu mereka‖, ucap Shu Sun Er sambil menghela nafas berat.
Tidak ada yang menjawab ucapan Shu Sun Er, mereka semua termenung dengan dada terasa sesak ditekan oleh ketegangan dan perasaan buruk oleh peristiwa yang akan datang.
2472
―Kapan kalian berdua akan pergi menemui Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan‖, tiba-tiba Pang Boxi bertanya, memecahkan keheningan.
Khongti dan Zhu Yanyan saling berpandangan beberapa saat, kemudian Zhu Yanyan menjawab dengan tegas, ―Malam ini juga.‖
Dengan tiga kata itu, selesailah pertemuan mereka. Meskipun tidak juga membubarkan diri, namun tidak ada pula yang mengucapkan sepatah kata pun. Mereka bertujuh sudah kehilangan nafsu untuk berbicara ataupun untuk makan. Tidak lama kemudian Zhu Yanyan menutup mata dan mulai bermeditasi. Segera yang lain pun berturut-turut mengikuti apa yang dilakukan Zhu Yanyan. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu malam tiba dan hati mereka terlalu kisruh untuk memikirkan langkah-langkah lain yang pelru dilakukan. Apalagi mengingat jumlah kekuatan mereka yang terlalu kecil jika dibandingkan dengan persekutuan yang dibangun oleh Zhong Weixia.
Malam pekat, bulan sabit hanya seleret tipis, bintang-bintang pun ditutupi awan, ketika Khongti dan Zhu Yanyan bergerak diam-diam mendekati penginapan tempat Rombongan dari
2473
Shaolin dan Wudang menginap. Sebagai tokoh besar, tentu saja Partai Pedang Keadilan menyediakan tempat yang terbaik bagi tokoh-tokoh enam perguruan besar. Sebuah penginapan terkenal di Jiang Ling disewa seluruh kamarnya, untuk menyediakan tempat bagi rombongan dari enam perguruan besar. Tapi dari enam perguruan hanya empat yang menempati penginapan tersebut, Khongtong dan Kunlun memilih tempat penginapannya sendiri. Tempat yang kosong akhirnya disediakan bagi partai pengemis dan beberapa tokoh kenamaan lain.
Suasana begitu sunyi, tapi samar-samar terdengar suara orang membaca sutra Buddha. Khongti memberi tanda pada Zhu Yanyan, suara Khongzhen tentu sangat dia kenal, belasan tahun hidup bersama di biara, ada selirit rasa rindu, tapi urusan besar sedang menunggu. Perlahan dia bayangan itu pun bergerak mendekati sumber suara pelantun sutra Buddha. Kamar Bhiksu besar Khongzhen terletak di utara bangunan dengan jendela menghadap ke jalan besar. Setelah sampai di depan jendela, mereka berdua pun berdiri diam, ragu-ragu untuk sesaat lamanya. Khongti baru saja hendak mengetuk daun jendela ketika dia mendengar Bhiksu besar Khongzhen
2474
berhenti melantunkan sutra. Gerakan tangannya pun terhenti, sekali lagi ragu hendak mengetuk atau tidak.
Dari dalam terdengar suara Bhiksu Khongzhen, ― A Yung, A Man, kalian berdua, pergilah berjaga di depan pintu.‖
Dua orang bhiksu muda yang disuruh keluar oleh Bhiksu Khongzhen itu pun slaing berpandangan, bertanya-tanya dalam hati, namun dengan patuh mereka pergi keluar meninggalkan Bhiksu Khongzhen sendirian di kamar. Bhiksu Khongzhen mengikuti kepergian mereka dengan senyum dikulum, keduanya adalah generasi baru yang berbakat, juga berkepribadian baik. Dia memaruh harapan yang besar pada dua orang itu. Setelah pintu kamar ditutup rapat, Bhiksu Khongzhen pun dengan tenang mengambil dua buah cangkir dan menuangkan teh, kemudian duduk bersila dengan tenang di salah satu kursi yang ada.
Kemudian dengan suara lembut menelusup telinga dia memanggil Zhu Yanyan dan Khongti yang berada di luar, ―Sahabat di luar, jika hendak berkunjung, kenapa tidak segera masuk, dua cawan teh manis sudah kusediakan untuk kalian berdua?‖
2475
Mendengar suara Bhiksu besar Khongzhen itu, Zhu Yanyan dan Khongti saling berpandangan dengan senyum dikulum. Tanpa ragu lagi, mereka berdua mendorong daun jendala yang tak terkunci dan masuk ke dalam.
―Kakak…‖, ujar Khongti dengan suara tertahan.
―Ketua Khongzhen‖, ujar Zhu Yanyan dengan sopan sembari memberi penghormatan.
Melihat mereka berdua, tak urung Bhiksu besar Khongzhen yang sudah matang dalam olah batin itu terguncang juga. Bukan oleh rasa takut dan khawatir, tapi oleh rasa rindu dan sayang pada saudara mudanya yang telah lama menghilang.
―Ah… kalian berdua… tentu ada masalah yang penting hingga kalian datang menemuiku. Baiklah, cepat duduk dan ceritakan masalah kalian.‖, ujar Bhiksu besar Khongzhen, meskipun suaranya sedikit bergetar namun dengan cepat dia berhasil menguasai perasaannya.
Mendengar penjelasan Khongti dan Zhu Yanyan yang secara bergantian menyampaikan penemuan mereka, wajah Bhiksu besar Khongzhen pun sedikit menegang. Hatinya merasa tidak enak, sebuah bayangan buruk melintas di benaknya.
2476
―Saudara Yanyan…, Adik Khongti… berita yang kalian sampaikan ini sungguh mengejutkan. Apalagi ada anak murid Shaolin yang berani membawa keluar Shao Wang Gui di luar tahuku. Menurutku dugaan Adik Khongti ada benarnya, diam-diam di dalam Shaolin ada yang bekerja untuk orag luar. Ini sungguh memalukan dan mencemaskan.‖, ujar Bhiksu besar Khongzhen dengan hati rawan.
―Lalu apa yang harus kita lakukan kak?‖, tanya Khongti pada Bhiksu besar Khongzhen.
―Kalian tunggu di sini sebentar, aku akan meminta A Man memanggil kakakmu Pendeta Chongxan ke mari.‖, ujar Bhiksu besar Khongzhen pada Khongti dan Zhu Yanyan.
―A Man kau dengar pembicaraan kami?‖, tanya Bhiksu Khongzhen pada A Man yang berjaga di depan pintu.
―Dengar guru‖, jawab A Man.
―Bagus, pergilah.‖, ucap Bhiksu besar Khongzhen singkat saja.
―Menurut kakak, apa tujuan gerakan ini sebenarnya?‖, tanya Khongti.
2477
―Tunggu, biarlah kita tunggu sampai Saudara Chongxan datang‖, ujar Bhiksu besar Khongzhen.
Khongti pun terpaksa menahan diri, baik dia dan Zhu Yanyan tidak berani mengajak Bhiksu besar Khongzhen bicara lagi, karena Bhiksu besar Khongzhen tampaknya juga larut dalam perenungannya. Tidak menunggu berapa lama, Pendeta besar Chongxan pun masuk ke dalam ruangan. Dari wajahnya terlihat dia pun mendapatkan perasaan yang tidak enak dari kejadian malam ini.
―Ah… Adik Yanyan, Saudara Khongti… angin apa yang membawa kalian ke mari?‖, sapanya dengan senyum lembut di wajah, meskipun disertai selapis kekhawatiran.
―Ceritakan semuanya…‖, ujar Bhiksu besar Khongzhen sebelum kembali diam dalam renungannya.
Khongti dan Zhu Yanyan pun kembali mengulang apa yang tadinya mereka sampaikan pada Bhiksu besa Khongzhen sebelumnya. Pendeta Chongxan pun mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak sedikitpun dia meragukan keterangan-keterangan yang diberikan kedua orang itu. Setelah mereka berdua selesai bercerita, Pendeta Chongxan tidak segera
2478
memberikan tanggapan, seperti juga Bhiksu besar Khongzhen dia justru larut dalam pemikirannya sendiri. Khongti dan Zhu Yanyan hanya bisa saling berpandangan dan menunggu. Mereka pun menaruh kepercayaan penuh pada dua orang itu. Alis keduanya ikut berkerut, mencoba ikut merenung, namun beban yang menekan perasaan mereka cukup berat membuat keduanya sulit berpikir. Tapi keduanya sudah cukup matang pula, melihat apa yang dilakukan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, membuat mereka sadar. Persoalan boleh besar, tapi perasaan harus dapat dikendalikan, pikiran harus dapat ditenangkan, dengan demikian baru bisa berpikir jernih. Kesadaran tidak boleh goyah, pun bila dalam merenungkan persoalan tentu muncul kekhawatiran. Menghela nafas dalam-dalam keduanya berusaha menenangkan hati dan ikut berpikir.
Cukup lama mereka berempat duduk dalam diam, ketika Bhiksu Khongzhen menegakkan badan dan menghela nafas, hampir berbarengan Pendeta Chongxan, Zhu Yanyan dan Khongti melakukan hal yang serupa. Wajah mereka tampak kelam, tidak ada senyuman di sana, jelas situasinya sangatlah buruk dalam pandangan mereka berempat.
―Bagaimana menurut Ketua berdua?‖, tanya Khongti pada akhirnya.
2479
Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan saling berpandangan sejenak, Bhiksu Khongzhen yang kemudian menjawab lebih dahulu, ―Delapan dari 10 bagian tentu Wuling Mengzhu, Ketua Ding Tao yang menjadi sasaran.‖
―Zhong Weixia dan orang-orangnya menyembunyikan hal ini dari kami berdua, tentu dia memiliki rencana yang tidak baik, tapi bagaimana dia bisa membuat orang dari berbagai golongan bergerak bersama, kukira ada pegangan yang kuat.‖, sambung Pendeta Chongxan.
―Sementara dari pihak kita sendiri, hanya segelintir kecil yang benar-benar bisa dipercaya.‖, ujarnya lagi.
Khongti dan Zhu Yanyan mengangguk setuju.
―Waktunya begitu dekat, sementara apa sebenarnya rencana mereka belum begitu jelas, apa yang bisa kita lakukan?‖, tanya Khongti.
―Melihat keadaannya, persiapan mereka tentu sudah sangat matang, meskipun ketua berdua ikut campur pun…‖, Zhu Yanyan ragu untuk melanjutkan.
2480
―Tidak apa, kenyataannya memang demikian, jika mereka sudah berani bergerak, tentu kekuatan kami berdua pun sudah diperhitungkan. Artinya entah mereka memiliki siasat untuk mengikat tangan kami berdua, atau jumlah kekuatan di sisi mereka, jauh lebih besar dari yang ada di pihak kita.‖, lanjut Bhiksu Khongzhen dengan tenang.
―Jadi… bagaimana…?‖, kembali Khongti bertanya.
―Hmm… kita harus bersikap waspada namun luwes, siap menghadapi segala perubahan keadaan dan tidak terpaku pada rencana tertentu.‖, jawab Bhiksu Khongzhen.
―Ada satu hal yang bisa kita persiapkan dari sekarang.‖, ujar Pendeta Chongxan.
―Benar‖, jawab Bhiksu Khongzhen pula.
Zhu Yanyan dan Khongti hampir bersamaan berkata, ―Persiapan untuk melarikan diri….‖
―Benar…, keadaan jelas tidak menguntungkan, kemungkinan besar, apa yang akan kita hadapi nanti berada di luar jangkauan kita. Jika itu benar, kita harus menyiapkan jalan
2481
mundur dari sekarang.‖, kata Bhiksu Khongzhen dengan satu kepastian.
Persoalan besar belum hilang, tapi setidaknya sekarang ada pegangan tentang apa yang bisa dan harus mereka berbuat. Perasaan Zhu Yanyan dan Khongti pun jadi jauh lebih mantap. Mereka berempat pun kemudian sibuk membahas lebih jelas mengenai persoalan yang ada di depan dan persiapan menjelang pernikahan Ding Tao.
―Yang membuat bertanya-tanya dan membuat kita semakin sulit menentukan siapa lawan dan siapa kawan, adalah kehadiran isteri dan sahabat Ding Tao dalam pertemuan rahasia itu.‖, ujar Khongti.
―Benar…, untuk memberi kisikan pada Ding Tao pun jadi tidak mudah. Jika kita memberikan kisikan tanpa memberi tahu keterlibatan isterinya, maka ada kemungkinan dia akan menyampaikan masalah ini pada isterinya sehingga lawan tahu rahasianya telah bocor. Di lain pihak jika kita berkata bahwa isterinya terlibat, tentu dia tidak percaya pada perkataan kita.‖, keluh Zhu Yanyan.
2482
―Hmm… tampaknya jalan Ding Tao tidak akan mudah… semoga kita bisa membantunya melewati kesulitan ini. Adik Yanyan, kau ingat baik-baik, jika keadaan sangat buruk dan baik Wudang maupun Shaolin tidak bisa bergerak bebas, kau antarkanlah Ketua Ding Tao ke sebuah desa di luar perbatasan. Nama desa itu, Desa Hotu, kemudian carilah seorang tabib di desa itu, ceritakan apa yang terjadi di sini.‖, ujar Pendeta Chongxan sebelum mereka berpisah.
―Aku mengerti…, apakah ada petunjuk lain?‖, jawab Zhu Yanyan.
―Tidak ada, hanya sekali lagi ingat baik-baik, bawa dia ke desa itu, hanya jika Shaolin dan Wudang tidak bisa bergerak bebas. Aku berharap Shaolin dan Wudang bisa mengimbangi gerakan tersembunyi ini, tapi aku kuatir…, bila dugaanku benar, tidak akan banyak yang bisa kami lakukan.‖, ujar Pendeta Chongxan sambil menghela nafas.
―Baiklah kalau begitu kami pamit pergi dahulu.‖, ujar Zhu Yanyan kemudian memberi hormat, demikian juga Khongti.
Pendeta Chongxan pun menepuk-nepuk pundak Zhu Yanyan, ―Adik, hati-hatilah dalam bertindak, meskipun mati sebagai
2483
pahlawan berarti hidup tidak sia-sia. Namun hidup tetaplah sesuatu yang lebih berharga daripada kematian. Jika ada waktu, kalian datanglah ke Gunung Wudang, ada tempat untuk kalian berenam di sana.‖
―Tentu saja….‖ Jawab Zhu Yanyan dengan tenggorokan tercekat.
―Kakak, aku pergi …‖, ujar Khongti.
―Hmm… pergilah, tampaknya kehidupan di luar biara lebih sesuai untuk dirimu‖, ujar Bhiksu Khongzhen sambil tersenyum simpul.
Khongti membelai rambutnya yang panjang dan menyengir lebar, ―Hehe, ya… entah apa aku akan tahan jika harus kembali dalam biara.‖
―Hm..hm.., yang penting adalah batin yang bersih. Daripada terlampau sibuk memperhatikan aturan untuk tubuh tapi lupa menjaga kejernihan hati. Boleh saja sekarang kau berhenti jadi seorang biarawan, hanya kuharap jangan lupa pada hal-hal yang prinsip.‖, nasehat Bhiksu Khongzhen pada Khongti.
2484
Khongti pun mengangguk dengan serius, ―Nasihat kakak, tentu akan selalu kuingat.‖
―Hahaha, sebenarnya kurasa tidak perlu aku menasihatimu. Aku percaya akan kebersihan hatimu, sungguh aku sebenarnya rindu dengan kekonyolanmu, Shaolin jadi terlalu sepi tanpa lawakanmu. Tapi sudahlah, tidak ada gunanya membicarakan masa lalu, tentang masa depan, kukira undangan Saudara Chongxan perlu kalian pikirkan, hatiku mengatakan, awan gelap akan menyelimuti dunia persilatan. Bahkan Shaolin pun tampaknya tidak luput darinya.‖, ujar Bhiksu Khongzhen sambil mendorong pergi Khongti dengan lembut.
Mendengar ucapan Bhiksu Khongzhen itu, suasana hati Zhu Yanyan dan Khongti pun jadi sendu.
―Baiklah kami pergi‖, ucap mereka berdua.
Dalam sekejap, bayangan mereka pun sudah ditelan kegelapan malam. Setelah mereka berdua pergi, Bhiksu Khongzhen berpandangan dengan Pendeta Chongxan.
―Sahabat…, tampaknya sosok gelap yang menghantui tidur kita akhirnya muncul juga.‖, ujar Bhiksu Khongzhen dengan nada sedih.
2485
―Ya…, pada kejadian di kaki Gunung Songshan, aku sempat berharap semuanya tuntas sudah, tapi bahkan pada waktu itu pun, perasaan bahwa ada kegelapan yang sedang menunggu dan menjalin jaring-jaringnya tidak hilang dari hatiku.‖, jawab Pendeta Chongxan.
―Perasaanku semakin kuat, bahwa semua kejadian beberapa puluh tahun terakhir, mulai dari isu-isu mengenai ambisi Ren Zhuocan, munculnya pedang angin berbisik, menghilangnya Jinyong, kematian beberapa orang tokoh, bersatunya Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui, semuanya berkutat dan berpusar pada satu orang atau satu organisasi saja.‖, kata Bhiksu Khongzhen.
―Apakah Bhiksu Khongzhen setuju, bila kukatakan bahwa sosok itu sepertinya berasal dari keluarga Murong?‖, tanya Pendeta Chongxan.
―Demikiankah perasaan Pendeta?‖, tanya Bhiksu Khongzhen.
―Ya…, saat ini tidak ada pegangan yang pasti tapi perasaanku berkata demikian.‖, jawab Pendeta Chongxan.
Beberapa lama Bhiksu Khongzhen diam, kemudian berujar, ―Sepertinya perasaan Pendeta benar, jika Murong Yun Hua kita
2486
letakkan di posisi itu, maka banyak kejadian aneh dalam dunia persilatan yang bisa dijelaskan. Entah sudah berapa lama dia membangun jaring di sekitar kita, bahkan Shaolin pun tidak luput darinya. Semakin lama aku memikirkannya, hatiku semakin ngeri untuk menghadapi hari-hari di depan.‖
―Heh… golok di depan mata mudah dihindari, panah gelap dari belakang lebih berbahaya‖, ujar Pendeta Chongxan singkat.
Demikianlah, maka di luar tahunya Ding Tao dan Hua Ying Ying, menjelang pernikahan mereka berdua, sebuah jebakan sedang disiapkan. Sedangkan di luar tahunya mereka yang sedang membangun jebakan itu, ada pula kekuatan yang mencoba menggagalkan rencana mereka. Namun Murong Yun Hua, Zhong Weixia dan Guang Yong Kwang, terbukti memang pantas jadi orang-orang nomor satu dalam dunia persilatan. Rencana mereka matang dan teliti, serta dilaksanakan dengan sangat berhati-hati. Akhirnya tiba juga hari yang dinanti-nanti oleh banyak orang, masing-masing dengan tujuannya sendiri.
Pagi itu Ding Tao sudah berdandan rapi, meskipun ini adalah kali kedua dia menikah, dengan isteri yang ketiga, tetap saja jantungnya sedikit berdebar menanti datangnya waktu untuk bertemu pengantin wanita. Di kamar dia berdua saja dengan
2487
Tabib Shao Yong yang hari ini menjadi wali bagi dirinya. Beberapa pengikutnya yang lain baru saja keluar menuju gedung tempat akan diselenggarakannya pernikahan Ding Tao. Memandangi Ding Tao yang sudah tumbuh dewasa dan sekarang menjadi orang nomor satu dalam dunia persilatan, berbagai macam perasaan berkecamuk dalam hati Tabib Shao Yong.
―Tabib Shao, mengapa kau melamun saja, harusnya justru aku yang banyak melamun hari ini‖, ujar Ding Tao menggoda Tabib Shao Yong ketika dilihatnya tabib tua itu menatap dirinya dengan pandangan entah ke mana.
Mendengar ucapan Ding Tao, tabib tua itu pun tersenyum, ―Hahaha… aku hanya membayangkan, betapa cepat waktu berlalu, rasanya baru kemarin aku menyuruhmu mencari akar-akaran.‖
Sambil mengangkat tangannya setinggi pinggang dia menyambung, ―Tinggimu baru segini, tiba-tiba sekarang kau sudah jauh lebih tinggi dari kebanyakan orang.‖
Tiba-tiba Tabib Shao Yong tampak sedih dan terdiam.
2488
Melihat itu Ding Tao jadi terharu, dia berpikir, tentu Tabib Shao Yong teringat oleh keadaannya yang tidak berputera, ―Tabib Shao, hari ini kau menjadi waliku, tapi sejak dulu, dalam hati kau memang sudah kupandang sebagai pengganti orang tuaku.‖
Mendengar perkataan Ding Tao, mata Tabib Shao Yong membasah, dengan sedih dan haru dia mengelus kepala pemuda itu. Ding Tao tentu saja merasa heran, namun juga terharu melihat perhatian orang begitu besar pada dirinya. Tiba-tiba Tabib Shao Yong mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan memberikannya pada Ding Tao.
―Simpan ini baik-baik, jangan sampai ada orang yang melihatmu menyimpannya.‖, ujarnya dengan sungguh-sungguh.
―Tabib Shao… apa ini?‖, tanya Ding Tao ingin tahu dan juga heran.
―Anak Tao, kau bilang kau anggap aku ini ayahmu‖, ujar Tabib Shao Yong.
―Ya…, benar, Tabib Shao, percayalah aku tidak bermain-main saat mengatakan itu‖, ucap Ding Tao tulus.
2489
―Aku percaya, kalau benar demikian, lakukanlah apa yang aku suruh ini, simpan baik-baik bungkusan ini, mungkin bisa membantumu.‖, sekali lagi Tabib Shao Yong berkata dengan sungguh-sungguh.
Meskipun masih merasa heran, Ding Tao pun segera menyimpan bungkusan itu di bagian dalam bajunya tanpa banyak bertanya lagi. Melihat Ding Tao sudah menyimpan bungkusan itu, Tabib Shao Yong tampak sedikit lega.
―Ayolah, sudah waktunya kita pergi. Jika tidak para tamu tentu akan terlalu lama menunggu‖, ujar Tabib Shao Yong dengan senyum di wajah.
Melihat Tabib Shao Yong terlihat lebih ceria, hati Ding Tao pun jadi lega, ―Tabib Shao benar, ah… dadaku jadi berdebar-debar… Tapi ayolah.‖
Diiringi dengan tawa dari Tabib Shao Yong, mereka pun pergi menuju ke gedung tempat pernikahan akan dilaksanakan.
Sembari berjalan terlihat ada pikiran yang membebani hati Tabib Shao Yong, baru beberapa langkah mereka berjalan, ketika di sekitar mereka sepi dari orang tiba-tiba Tabib Shao Yong berkata, ―Anak Tao…, seandainya aku memintamu,
2490
melepaskan kedudukanmu sebagai Wulin Mengzhu dan pergi membawa Ying Ying pergi ke desa kecil, jauh dari kota, hidup sederhana sebagai seorang petani, apakah kau akan mendengarkan permintaanku itu?‖
Ding Tao melihat ke arah Tabib Shao Yong dengan alis terangkat, ―Tabib Shao…, kenapa bertanya demikian?‖
Ditanya demikian, Tabib Shao Yong tergagap, ―Eh… ah… tidak apa, hanya ingin tahu saja, dulu kehidupan seperti itulah yang kubayangkan ketika kau beranjak dewasa.‖
Ding Tao merenung sejenak kemudian menjawab, ―Seandainya bisa, tentu aku akan memilih jalan itu. Tapi sejak aku secara tidak sengaja, menemukan Pedang Angin Berbisik, tampaknya jalan hidupku sudah ditentukan akan menjadi beda dengan keinginanku. Awalnya demi mengemban tugas dari guru. Semakin lama, semakin banyak jerat hutang budi dan harapan orang, yang tidak mungkin aku lepaskan begitu saja. Bukan karena aku menginginkannya, tapi aku tak mungkin mengkhianati cita-cita bersama demi keinginanku pribadi.‖
Tabib Shao Yong mendesah sedih dan Ding Tao pun ikut mendesah sedih. Kaki Tabib Shao Yong terasa berat, apa yang
2491
akan dihadapi Ding Tao dia sudah tahu. Tentu saja dia tahu, bukankah dia termasuk orang kepercayaan keluarga Murong yang disusupkan ke dalam keluarga Huang? Bahkan disusupkan sejak dia masih muda. Kepada keluarga Murong dia terikat oleh hutang budi, bahkan berhutang nyawa. Kepada Ding Tao dia merasakan kasih seorang ayah kepada anaknya. Sejak dia bekerja dalam keluarga Huang, dia sudah menjaga hatinya dari segala perasaan simpati kepada orang-orang dalam keluarga Huang. Meskipun dia bersikap baik kepada setiap orang, tapi dalam hatinya dia sudah membangun sebuah tembok bagi mereka. Tak akan dia menangisi kepergian mereka. Tapi Ding Tao berbeda, tak pernah dia berpikir Ding Tao kecil akan menjadi seorang tokoh besar dalam dunia persilatan, seorang tokoh besar yang punya arti untuk dimanfaatkan dan harus disingkirkan jika menjadi berbahaya. Itu sebabnya tidak ada tembok terbangun di antara dirinya dan Ding Tao.
Setiap manusia membutuhkan hangatnya kasih sayang, entah lewat hubungan keluarga atau persahabatan. Tabib Shao Yong menutup pintu itu terhadap semua orang, jauh dalam hatinya tentu saja dia menderita. Hingga hadir Ding Tao kecil, seorang anak yatim piatu yang dididik dengan keras oleh orang tuanya
2492
untuk mengerti budi dan kewajiban. Tabib Shao Yong jatuh hati pada pandangan pertama. Hatinya yang kosong tiba-tiba terisi dengan kehangatan. Dia bukan seorang peramal, tak dapat dia tahu, bahwa pada akhirnya dia harus ditempatkan di situasi yang memilukan hatinya.
Bukan hanya kesetiaan pada keluarga Murong yang menahan lidah Tabib Shao Yong, tapi juga betapa rapat dan betapa kuat sesungguhnya keluarga Murong. Sungguhpun dia ingin melepaskan Ding Tao, dia juga tidak melihat jalannya. Jika Ding Tao melawan, maka setitik kecil harapan dia untuk menyelamatkan Ding Tao mungkin akan hilang pula. Sebuah bungkusan dia berikan pada Ding Tao, segenap harapannya agar pemuda itu selamat, ada dalam bungkusan itu. Selama hari ini bisa dilewati tanpa Ding Tao mati oleh pedang, pemuda itu masih punya harapan. Dengan pemikiran ini, langkah kaki Tabib Shao Yong jadi lebih mantap. Segenap yang dia bisa lakukan, sudah dia lakukan.
―Anak Tao, tersenyumlah sedikit, jika tidak nanti Ying Ying kira kau bersedih menikah dengannya. Atau jangan-jangan memang benar demikia? Kata orang satu isteri saja sudah cukup untuk membuat pusing seorang laki-laki dan sekarang
2493
kau malah hendak menikahi isteri yang ketiga.‖, ujar Tabib Shao Yong ketika melihat wajah sedih Ding Tao.
Digoda demikian, Ding Tao pun tersipu malu, ―Tabib Shao…, kau bisa saja.‖
Malu, tapi setidaknya sekarang wajahnya sudah ceria kembali. Dengan senyum di wajah, Ding Tao berjalan menuju ke gedung tempat perayaan akan dilakukan. Jauh sebelum memasuki gedung, dia disambut oleh para tamu, menerima ucapan selamat, membalas salam dan segala keramaian yang biasa ditemukan dalam perayaan pernikahan. Di antara puluhan pengunjung yang tidak mendapatkan tempat di dalam gedung, terselip tujuh orang yang mengawasi kedatangan Ding Tao dengan hati berdebar. Mengkhawatirkan nasib dari pemuda itu, juga nasib Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang berada di dalam gedung. Meskipun dua orang itu memiliki ilmu silat tanpa tanding, tapi di dalam sana, ada berapa jumlah lawan dan ada berapa jumlah kawan semuanya masih gelap.
Setelah melewati sekian banyak orang, akhirnya sampai juga Ding Tao di ruang utama, kedatangannya segera disambut oleh orang-orang terdekatnya. Mereka yang sudah berjuang sejak awal hingga sampai kedudukan Ding Tao yang sekarang ini.
2494
―Mana, pengantin wanitanya, apakah sudah tiba?‖, tanya Wang Xiaho dengan wajah memerah sudah terlalu banyak minum arak.
―Hahaha, masa Ketua Ding Tao yang hendak menikah, Tetua Wang yang lebih dahulu tidak sabar untuk bertemu dengan pengantin wanitanya.‖, sahut Fu Tong sambil tertawa terbahak-bahak.
Chou Liang hanya menggelengkan kepala melihat itu semua, ada sedikit rasa iri dalam hatinya, tapi yang sedikit itupun cepat-cepat dia singkirkan. Bagaimanapun juga, jika tidak ada Ding Tao, sampai sekarang mungkin dia masih menelusuri gang-gang sempit di Wuling dengan hati acuh tak acuh melihat orang-orang di sekelilingnya.
Demikian Ding Tao merasa berbahagia, dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya, satu pandangan, satu cita-cita. Ada Chou Liang, Pendeta Liu Chuncao, Ma Songquan dan Chu Linhe, Wang Xiaho, Chen Wuxi, Fu Tong, Sun Gao dan Sun Liang, Qin Baiyu dan ayahnya Qin Hun dan masih ada puluhan orang lainnya lagi yang berkumpul di sekeliling Ding Tao. Untuk beberapa lamanya mereka tertawa riang, sebelum perlahan-lahan sadar, betapa senyap suasana dalam gedung itu. Hanya
2495
mereka saja yang terdengar suara tawanya. Kesadaran itu datang perlahan, diikuti dengan perasaan seram yang merayapi hati mereka sedikit demi sedikit. Tanpa ada yang mengatur, setiap orang berdiri membentuk lingkaran, menghadap keluar, memandangi wajah-wajah dingin yang mengepung mereka. Tidak semuanya mengepung mereka, setidaknya ada sekelompok kecil, yaitu mereka yang datang dari Wudang dan Shaolin, tapi sisanya memandang mereka seperti sekelompok serigala memandangi mangsanya.
Suara Bhiksu Khongzhen yang berwibawa, seketika itu juga terdengar bergaung rendah memenuhi ruangan, ―Ada apa ini? Sudahkah kalian semua kehilangan akal? Mengapa sikap kalian tiba-tiba berubah dalam sekejap mata? Atau jangan-jangan kalian semua sudah merencanakan sesuatu?‖
Zhong Weixia sebagau orang yang paling senior dalam kumpulan itu maju ke depan dan menjawab pertanyaan Bhiksu Khongzhen, ―Bhiksu Khongzhen, tidak salah kalau kau mengatakan kami sudah merencanakan ini semua. Memang kami sudah berencana untuk menangkap seorang pengkhianat, penipu, pembunuh anak-anak dan orang tua, seorang bertopeng kebaikan namun busuk di dalam. Orang ini sangat
2496
berbahaya bagi dunia persilatan, oleh karena itu kami semua sepakat untuk menangkapnya.‖
―… sebenarnya kami ingin membunuhnya, tapi karena seseorang, kami memutuskan, cukup asalkan orang ini ditahan sehingga tidak bisa lagi membahayakan orang lain.‖, sambung Zhong Weixia setelah berhenti sejenak.
Begitu mendengar perkataan Zhong Weixia, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pun bisa meraba apa yang akan terjadi sebentar lagi, tapi dua tokoh itu memang sudah matang batinnya, tak mudah tergoncang dengan berbagai macam bahaya. Suara Bhiksu Khongzhen pun tetap tenang saat bertanya dan menegur Zhong Weixia.
―Ketua Zhong Weixia, siapa orangnya yang kau maksudkan? Kuharap kalian tidak sembarangan menuduh orang, tanpa bukti yang jelas.‖, ujar Bhiksu Khongzhen dengan tegas.
Mendengar ketegasan dalam suara Bhiksu Khongzhen itu, beberapa orang tokoh yang sudah memberikan kata setuju pada Zhong Weixia tampak meragu. Terlihat dari cara mereka menengok ke arah Zhong Weixia, mencari kepastian dari Ketua Kongtong tersebut. Zhong Weixia hanya tersenyum sinis,
2497
melihat keraguan mereka, membuat mereka itu menundukkan wajah tersipu malu.
―Bhiksu Khongzhen…, jika kami tidak memiliki bukti yang kuat, mana mungkin kami berani bergerak, karena orang yang hendak kami tangkap tersebut adalah Wulin Mengzhu, Ketua Partai Pedang Keadilan, Ketua Ding Tao.‖, tegas Zhong Weixia menjawab tanpa keraguan sedikitpun, membuat beberapa orang yang tadinya terombang-ambing kembali yakin dengan keputusan mereka.
―Bagus… kalau memang kau memiliki bukti yang kuat, mari kita adakan pengadilan terbuka sekarang juga. Jika tidak jangan harap, kami dari Shaolin dan Wudang berdiam diri saat kalian hendak melaksanakan rencana keji kalian!‖, geram Pendeta Chongxan membuat beberapa orang mundur beberapa tindak.
Wibawa dua orang tokoh besar itu memang sulit ditandingi di masanya, bahkan Ding Tao yang menjadi Wulin Mengzhu pun belum sempat menancapkan wibawa dan reputasi seperti dua orang tokoh besar itu dalam dunia persilatan. Jika tidak, mana mungkin ada begitu banyak orang yang sanggup dihasut oleh Zhong Weixia untuk berbalik memusuhi Ding Tao setelah beberapa bulan sebelumnya mereka bersumpah setia pada
2498
Ding Tao. Murong Yun Hua memang bergerak cepat atau nasib yang mempermainkan Ding Tao? Kemunculan dua bersaudara Huang dan gurunya Hua Ng Lau, memaksa Murong Yun Hua memainkan kartu ini. Seandainya tidak, tentu Murong Yun Hua akan terus membantu Ding Tao memupuk namanya, sembari kuku-kukunya semakin dalam mencengkeram. Apakah ini nasib baik? Ataukah ini nasib buruk? Baikkah bila namanya terus membubung tinggi, namun satu hari dia bangun dan tersadar seluruh hidupnya berada di bawa permainan orang lain? Burukkah nasibnya, karena sebentar lagi seluruh pekerjaannya yang dibangun dengan susah payah akan hancur dalam semalam, namun di saat yang sama dia lepas dari rencana orang untuk menjadikan dia seorang kaisar boneka?
Di saat yang genting itu, muncul dua orang sosok masuk ke dalam ruangan, dengan senyum kemenangan Zhong Weixia memandang ke arah mereka berdua, ―Bhiksu Khongzhen… Pendeta Chongxan… orang bilang kemampuan kalian dalam menilai seseorang tidak tertandingi. Kuharap mulai hari ini kalian lebih rendah hati. Bukti yang kalian minta, bukan aku yang akan membeberkan… ada yang lebih pantas, biarlah mereka berdua yang menjelaskan semuanya.‖
2499
Dengan sendirinya mata setiap orang mengikuti arah pandangan Zhong Weixia dan jatuh ke arah dua orang tersebut, Huang Ren Fu dan Murong Yun Hua. Melihat kehadiran Huang Ren Fu dan Murong Yun Hua berbagai macam perasaan bergejolak dalam hati Ding Tao dan kawan-kawannya.
―Zhong Weixia, kau jelaskan sekarang juga, apa maksudmu ini? Atas dasar apa kau menuduhku? Atas kejahatan apa kau hendak menangkapku?‖, suara Ding Tao menggelegar memenuhi ruangan.
―Ding Tao! Masihkah kau mau berpura-pura ? Jangan mengelak lagi, kaulah yang ada di belakang pembunuhan keluarga Huang di Wuling!‖, ujar Huang Ren Fu dengan suara tidak kalah kerasnya, telunjuknya menunjuk lurus ke arah Ding Tao.
Dengan bibir menggeletar menahan emosi Ding Tao menjawab, ―Ren Fu, sungguh aku memang tidak mengerti … aku tidak percaya… perkataan bohong apa yang sudah disampaikan orang bermarga Zhong itu padamu? Yun Hua… kenapa kau juga ikut percaya?‖
2500
Murong Yun Hua tampak terhuyung lemas, untung Huang Ren Fu dengan cepat menangkap tubuhnya. Bersandar beberapa lama pada Huang Ren Fu, tampak Murong Yun Hua mendapatkan kembali kekuatannya, dengan suara yang sedikit bergetar namun dengan kalimat yang tertata rapi, dia menjawab pertanyaan Ding Tao.
―Ding Tao…, dari penuturan Saudara Huang Ren Fu, menurut kisahmu kau sedang menyembuhkan lukamu saat pembunuhan itu terjadi. Namun aku tahu sendiri, pada saat itu lukamu telah sembuh. Beberapa kali kau datang dan pergi ke kediaman kami, kepergianmu justru tepat sekali waktunya dengan terjadinya pembunuhan di Wuling.‖
―Kedua, saat bertemu denganku, kau mengaku sedang dikejar oleh sepasang tokoh dari aliran sesat, yaitu mereka yang dikenal sebagai Sepasang Iblis Muka Giok, jadi bagaimana penjelasanmu, jika sekarang ternyata mereka bekerja di bawah perintahmu?‖
―Ketiga, aku sudah memeriksa salah satu kitab yang dulu pertama kau pinjam dari perpustakaan keluarga Murong, di dalamnya aku melihat ada cara pembuatan Obat Dewa Pengetahuan. Apakah kau akan menyangkal bahwa kau sudah
2501
menggunakan obat itu untuk meningkatkan kemampuanmu dalam menyerap ilmu-ilmu yang ada?‖
―Dan yang lebih keji, setelah kau menyadari, adanya efek samping yang membuat orang ketagihan terhadap obat itu, kau dengan sengaja menyebarkannya pada anggota-anggota baru Partai Pedang Keadilan yang kau ragukan kesetiaannya!‖
Ding Tao tentu saja tidak mengerti semuanya ini, dengan wajah pucat pias dia menggelengkan kepala dan menjawab, ―Yun Hua, kau salah, kau… bagaimana kau bisa berkata demikian? Aku… bukankah…‖
Sebelum Ding Tao sempat membela diri sendiri, beberapa orang sudah maju ke depan, mereka adalah orang-orang Partai Pedang Keadilan di cabang Gui Yang yang mengkonsumsi Obat Dewa Pengetahuan.
―Ding Tao, jangan lagi menyangkal, lihat, mereka ini telah mengakui sendiri, bagaimana kau sudah mempengaruhi mereka untuk mengkonsumsi obat sesat itu.‖, ujar Murong Yun Hua dengan keras.
Belum ladi Ding Tao membuka mulut, maju pula ke depan beberapa orang anak murid Perguruan Kunlun dan kali ini
2502
Guang Yong Kwang yang berkata dengan suara menggelegar, ―Bukan saja anak murid partaimu sendiri, kau bahkan mempengaruhi pula anak murid perguruan kami!‖
Belum mereda gema suara Guang Yong Kwang, maju lagi, kali ini dari perguruan Hoasan dan Tetua Xun Siaoma yang berkata dengan lantang, ―Ding Tao! Tadinya aku percaya kau lelaki sejati, namun apa yang kudapat, kau sudah menyusupkan obat sesatmu itu pada anak murid perguruan Hoasan. Sudahkah kau lupa pada budi baik perguruan kami padamu, ketika kau baru saja belajar berdiri?!‖
Dan sebagai penutup, majulah adik seperguruan Bhiksu Khongzhen, Biksu Khongbu, bersama empat orang bhiksu shaolin, menyeret Shao Wang Gui yang tertatih-tatih mengikutinya dari belakang, ―Jika Ketua Ding Tao merasa masih mau mengelak dari kenyataan, maka apa Ketua Ding Tao masih mau mengelak lagi, lhat setan inipun sudah mengakui siapa orang ke-lima yang memimpin penyerbuan keluarga Huang di Kota Wuling.‖
Dengan sedikit keras dia mendorong Shao Wang Gui ke depan, sehingga setan tua kecil itu pun jatuh terhuyung-huyung, kemudian dengan suara parau Shao Wang Gui pun
2503
berkata,‖Ding Tao…, Ketua Ding Tao-lah yang menjadi dalang di belakang kejadian itu. Pan Jun dari Hoasan sama sekali tidak terlibat, justru dia hendak membongkar topeng Ketua Ding Tao. Hanya saja, keburu Ketua Ding Tao berhasil menutup mulutnya. Orang-orang keluarga Huang yang terbunuh oleh Pan Jun adalah mereka yang sudah berkomplot dengan Ketua Ding Tao, menghianati keluarga Huang.‖
Suasana pun jadi semakin riuh ramai dengan pengakuan Shao Wang Gui tersebut. Selain pihak Shaolin dan Wudang ada cukup banyak tamu yang tidak tahu menahu, tidak termasuk pada pihak Shaolin, tidak juga mengikut pihak Khongtong, mereka inilah yang sekarang riuh ramai, mulai mencaci maki Ding Tao dan pengikut setianya. Orang-orang yang berada di pihak Khongtong dan sudah mendengarkan kesaksian-kesaksian ini dari pertemuan rahasia yang diadakan Zhong Weixia, ikut pula menambahi bumbu-bumbu dalam cerita yang disampaikan. Sebagian memang karena merasa dengki pada Ding Tao, tapi tidak sedikit pula yang memang mengira bahwa kesaksian itu benar adanya. Dan kenapa tidak, mereka yang maju memberi kesaksian adalah anak murid perguruan ternama seperti Kunlun dan Hoasan. Bahkan isteri Ding Tao yang
2504
terkenal setia pun ikut memberikan kesaksian yang memberatkan Ding Tao.
Bhiksu Khongbu pun memberi hormat pada Bhiksu Khongzhen dan berkata pula, ―Ketua…, seperti yang ketua lihat, Ketua Ding Tao tidak bisa dipercaya. Maafkan kami jika baru menyampaikannya sekarang. Iblis tua itu baru membuka mulut setelah Ketua pergi menuju ke Jiang Ling. Mendengar pengakuannya, kami pun, sesegera mungkin berusaha menyusul ketua, namun masih juga terlambat, sehingga setelah perayaan dilakukan baru kami sampai di Jiang Ling. Tapi langit benar tidak buta, sehingga meski kami terlambat tapi sudah ada banyak saudara lain yang menyibak topeng Ketua Ding Tao.‖
Ucapan ini tentu saja tidak benar, seperti yang sudah kita ketahui mereka sudah sampai sebelumnya. Tapi mereka yang mengetahuinya pun tidak berani membuka mulut, meskipun ada pula yang bertanya-tanya dalam hati, apakah ada perpecahan dalam Biara Shaolin sendiri?
Bhiksu Khongzhen yang tidak mau membocorkan keberadaan enam orang sahabat pengikat enam perguruan besar dan Wang Shu Lin pun berpura-pura menerima penjelasan Bhiksu
2505
Khongbu, ―Hmm… baguslah kalau benar yang adik katakan, sehingga Shaolin tidak sampai membela orang yang bersalah. Tidak perlu menyesal karena datang terlambat, karena bukankah sebenarnya kalian tidak terlambat? Kalaupun tidak ada saudara lain yang bersaksi, bukankah kedatangan kalian masih tepat waktunya?‖
Bhiksu Khongbu mendengarkan dengan hati berdebar, apa ada maksud terselubung di balik jawaban Bhiksu Khongzhen itu?
―Terima kasih ketua, tapi memang sepertinya kedatangan kami tidak banyak berarti…‖, jawabnya berpura-pura rendah hati, meskipun jantungnya belum mau diminta tenang.
―Hmm.. sudahlah, sekarang mari kita dengar apa jawab Ketua Ding Tao terhadap tuduhan-tuduhan ini.‖, ujar Bhiksu Khongzhen dengan berwibawa.
Bhiksu Khongbu pun menghela nafas lega karena Bhiksu Khongzhen tidak memperpanjang lagi masalah kedatangannya dan dengan perkataannya itu, perhatian setiap orang sekarang beralih pada Ding Tao.
―Ketua Ding Tao… ada begitu banyak orang datang dengan tuduhan padamu. Apakah kau memiliki pembelaan atas
2506
tuduhan mereka?‖, tanya Pendeta Chongxan setelah suasana mereda.
Chou Liang yang sudah mulai bisa berpikir lebih tenang, sejak tadi mengerutkan alis dan berpikir dengan keras, ketika suasana mulai tenang dan semua orang menantikan jawaban dari Ding Tao, berkatalah dia kepada Ding Tao, ―Ketua Ding Tao, kita tahu semua tuduhan itu adlah bohong belaka. Hanya saja mengapa sampai nyonya ikut pula menuduh ketua demikian, ini yang tidak masuk akal. Yang lain tentulah kesaksian palsu saja, tapi bagaimana mungkin Nyonya Murong Yun Hua ikut pula di dalamnya. Tentu ada yang memaksanya. Coba lihat, di mana Murong Ding Yuan? Di mana Nyonya Murong Huolin? Demikian juga Nyonya Hua Ying Ying dan gurunya, waktu sudah berjalan sedemikian lama, tak seorang pun terlihat. Jangan-jangan ada orang menyekap mereka dan memaksa Nyonya Murong Yun Hua dan Tuan muda Huang Ren Fu untuk bersaksi melawan ketua.‖
Ucapan Chou Liang itu ditujukan kepada Ding Tao saja, tapi suaranya disengaja cukup keras sehingga setiap orang yang hadir di ruangan itu bisa mendengarnya. Di mata Chou Liang Murong Yun Hua adalah seorang dewi dari kahyangan. Sehingga menilik dari situasi yang terjadi, itulah yang
2507
terpikirkan olehnya. Pikiran yang sama bukannya tidak lewat di benak Ding Tao, tapi justru hal itu membuat Ding Tao tidak berani membuka mulutnya, karena mengkhawatirkan mereka yang menjadi sandera. Tidak demikian bagi Chou Liang, yang terpenting justru nama Ding Tao dan keselamatannya. Lagi pula dengan membuka kemungkinan tersebut, Ding Tao dan mereka yang berada di pihaknya justru memiliki kebebasan untuk bertindak dan membebaskan Murong Yun Hua dari paksaan lawan. Akibat dari perkataan Chou Liang itu, suasana kembali menjadi ramai, mereka yang tidak berada di pihak Zhong weixia kembali meragu dan memandang ke arah Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang dari sikapnya terlihat condong membela Ding Tao.
Dalam hati Murong Yun Hua dan Zhong Weixia memuji kecerdikan Chou Liang, hanya dengan beberapa kalimat, orang itu bisa membalikkan kembali keadaan.
Zhong Weixia pun dengan segera angkat bicara sebelum keadaan berubah menguntungkan Ding Tao lebih jauh lagi, ―Hmph! Kau bisa berkata macam-macam, kenyataannya orang-orang yang kau sebutkan itu berada dalam keadaan baik-baik saja. Mereka tidak datang karena masih sulit menerima kenyataan dan tidak tega melihat kebusukan Ketua Ding Tao
2508
dibongkar. Jika memang dikehendaki, biarlah dari pihak Shaolin menjemput mereka di tempat mereka berada sekarang ini. Jangan kami yang menjemput, supaya jangan pula orang mengira kami sedang mengancam mereka.‖
―Tadpi ada dua kesaksian penting yang bisa dibuktikan dengan jelas tanpa kehadiran mereka. Benarkah Ketua Ding Tao menggunakan obat sesat untuk meningkatkan ilmunya? Untuk membuktikan ini, Tabib dewa Hua Ng Lau bisa dipanggil untuk memeriksa nadinya dan memberikan keterangan. Yang kedua, benarkan dua iblis sesat, sepasang kekasih cabul, iblis muka giok bekerja untuk Ketua Ding Tao? Bukankah mereka berdua sekarang ini ada di sini pula, meskipun dengan samaran. Apakah perlu kami menunjuk muka, atau mereka mau maju sendiri ke depan?‖, sambung Zhong Weixia penuh kemenangan.
―Ketua Ding Tao, apa jawabmu terhadap dua hal itu?‖, tanyanya dengan seringai mengejek di wajahnya.
Terhadap pertanyaan Zhong Weixia itu, termangu-mangu Ding Tao tak bisa menjawab. Tentang obat dewa pengetahuan, memang dia pernah meminumnya. Meskipun dia tidak sadar, bahwa selama ini dia masih terus menerus mengkonsumsi obat
2509
itu lewat berbagai cara, tapi ragu juga dalam hatinya apakah efek dari obat itu tidak tersisa dan terdeteksi oleh Hua Ng Lau. Apalagi ketika ditanya mengenai sepasang iblis muka giok. Selagi dia termangu, Ma Songquan dan Chu Linhe pun berkata dengan lantang.
―Memang kami berdua, sepasang iblis muka giok telah lama mengikut Ketua Ding Tao. Tapi hal ini adalah di luar tahunya, bukankah kalian semua tidak akan pernah tahu siapa kami ini dengan samaran yang kami pakai sekarang? Jadi bagaimana Ketua Ding Tao bisa tahu siapa kami ini sebenarnya?‖, demikian ucap Ma Songquan membuat geger suasana.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Cinta Romantis Filipina : PAB 13 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 06 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments