Cerbung Cerita Bersambung Dewasa : PAB 2

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerbung Cerita Bersambung Dewasa : PAB 2
Cerbung Cerita Bersambung Dewasa : PAB 2
"Sebagai orang yang hidup dalam dunia yang keras, sekali berbuat kesalahan, akibatnya bisa menjadi fatal. Kali ini urusan hilangnya pedang, seharusnya tidak perlu terjadi kalau kau bisa mengendalikan perasaanmu. Seharusnya kekalahanmu sebelumnya kamu jadikan pelajaran untuk memperbaiki diri. Kebencianmu pada pemuda itu sungguh tidak ada gunanya."
Fu Tsun pun segera pergi untuk mengambil kuda dan tidak lama kemudian sudah dalam perjalanan menuju ke Wuling.
Sementara itu Wang Dou memberikan nasihat-nasihat pada puteranya. Tentang pedang pusaka yang hilang, ketiga orang itu masih menyimpan harapan besar untuk memperolehnya kembali.
Menanti malam tiba, kedua ayah beranak berusaha menampilkan wajah yang tenang meskipun hati mereka tidak sabar menantikan datangnya malam, meskipun pedang itu dengan aman tersembunyi di dalam sumur, tapi sebelum
104
pedang itu berada di tangan kembali, hati mereka tidak bisa tenang.
Terhadap anggota rombongan yang lain, Wang Dou menjelaskan bahwa dirinya merasa sedikit lelah setelah perjalanan ke Wuling dan ingin beristirahat beberapa hari sebelum kembali ke rumah.
Meskipun ada yang bertanya-tanya dalam hati, tidak ada yang berani menanyakan keheranan mereka pada Wang Dou. Yang bertanya-tanya ini, cukup cerdik untuk mengerti bahwa jika pun memang ada alasan tertentu, tentu ada pula alasannya sehingga Wang Dou tidak memberitahu mereka.
--------- o ---------
Gu Tong Dang tidak bisa tidur dengan tenang malam itu. Dia sendiri tidak tahu dengan jelas apa yang menyebabkan dirinya susah untuk tidur.
Seakan-akan ada sesuatu yang terlupakan dan sekarang otaknya berusaha untuk mengingat-ingat apa ada yang dia lupa untuk kerjakan hari itu. Maklum umurnya sudah bertambah tua.
105
Perlahan-lahan, ditelusurinya apa saja yang dia kerjakan hari itu, tapi tidak juga teringat apa yang sebenarnya mengganggu perasaannya malam itu.
Kerja otak memang aneh, tidak jarang kita melupakan nama seseorang dan ketika kita berusaha keras untuk mengingatnya, ingatan itu tidak juga kembali. Terasa oleh kita bahwa di suatu tempat di dalam otak kita, tersimpan nama orang itu, tapi dengan cerdiknya ingatan itu bersembunyi dari kita.
Demikian pula keadaan Gu Tong Dang waktu itu, dia tahu bahwa ada sesuatu yang penting yang terlupa olehnya, tapi apakah itu?
Hal itu sangat mengganggu tidurnya dan seperti yang sering kita alami, saat kita sudah hampir menyerah tiba-tiba ingatan itu pun muncul. Seperti seorang anak nakal yang bermain petak umpet.
Untuk sesaat Gu Tong Dang tersenyum lebar menunjukkan giginya yang masih lengkap terawat di umur yang sudah begitu lanjut, merasa senang karena ingatan yang dikejar-kejarnya itu akhirnya tertangkap juga.
106
Tapi tidak lama kemudian, alisnya berkerut dan wajahnya mengunjuk rasa kuatir, teringatlah kejadian saat Wang Chen Jin berbisik pada Ding Tao dan wajah Ding Tao tampak menegang. Tentu ada suatu yang penting yang dibisikkan, demikian pikir Gu Tong Dang.
Beberapa lama guru tua itu termangu, tiba-tiba dikepalkannya tangan dan dengan gerakan yang gesit dia meloncat berdiri, ―Hmm… dipikirkan ke sana ke mari, kalau tidak ditanyakan langsung pada orangnya mana bisa aku tahu? Sebaiknya aku pergi menemui Ding Tao sekarang juga untuk menanyakannya, kalau tidak, sampai matahari terbit pun, mata tua ini tidak akan juga bisa terpejam.‖
―Moga-moga Ding Tao bisa memahami kekuatiranku, dan tidak memandangku terlalu cerewet.‖
Sambil berlalu menuju kamar tempat Ding Tao tinggal, diapun berpikir dalam hati, ―Apakah memang semakin tua aku jadi semakin bawel?‖
Terkekeh geli sendiri guru tua itu membayangkan bagaimana dirinya setelah tua menjadi seorang nenek yang bawel, tanpa terasa teringatlah dia terhadap mendiang isterinya.
107
Mendesah dia mengingat kenangan manis di masa lalu, sayang mereka berdua tidak kunjung diberkati keturunan.
Dengan mengenang masa lalu sampailah guru tua itu di depan kamar Ding Tao, perlahan-lahan diketuknya pintu kamar itu dan dipanggilnya murid kesayangannya.
Setelah beberapa lama dia mengetuk tidak juga mendapat jawaban, hati guru tua itupun menjadi semakin gelisah. Dicobanya untuk mendorong pintu ke dalam dan dengan mudah pintu itu terbuka, karena tidak ada orang di dalam untuk memasang palang pintunya.
Diamat-amatinya keadaan kamar itu, guru tua itupun berusaha mengambil kesimpulan, ―Hmmm… ada apa ini? Sudah lewat tengah malam, namun Ding Tao tidak ada di sini, bahkan tempat tidurnya pun masih rapi, seakan-akan dari tadi sore tidak pernah sesaatpun dia ada di sini. Apakah Ding Tao pergi untuk menemui pemuda itu? Dengan membawa pedangnya pula. Apakah tadi siang itu Wang Chen Jin menantangnya untuk bertarung?‖
―Jika iya, kira-kira di mana tempatnya?‖
108
―Tidak di dalam kota karena akan menarik perhatian dan jika di luar kota, tentu di sebelah utara, karena dari arah itulah yang terdekat untuk putera Wang Dou itu.‖
Begitu guru tua itu sampai pada kesimpulan, guru tua itu tidak mau membuang-buang waktu dengan percuma. Segera dia pergi ke arah gerbang utara kota.
Gu Tong Dang sudah banyak pengalaman, untuk keluar dari gerbang kota dengan diam-diam mungkin cukup menyulitkan, tapi Gu Tong Dang tidak perlu keluar dengan diam-diam, ditemuinya penjaga pintu gerbang, dengan sedikit uang dan kedudukannya sebagai pengajar di rumah Tuan besar Huang, tanpa banyak kesulitan penjaga pintu gerbang membukakan jalan lewat sebuah pintu kecil yang biasa digunakan mereka atau orang lain yang memerlukan untuk keluar masuk kota di malam hari.
Begitu sampai di luar gerbang kota, Gu Tong Dang berusaha mengamati keadaan di sekitarnya.
Sayup-sayup, telinganya yang tajam masih mampu mendengar suara tapak kaki kuda yang dipacu orang.
109
Dengan bergegas dia pergi ke arah suara itu dan ditemukannya jejak-jejak yang masih baru. Ada yang mengarah dari utara ke arah kota dan yang lebih baru dari arah kota menuju ke utara.
Gu Tong Dang bisa membayangkan bagaimana Wang Chen Jin memacu kudanya dari tempat dia menginap di perjalanan menuju ke Wuling, bertanding dengan Ding Tao dan kemudian memacu kudanya untuk kembali diam-diam.
―Hmmm… Wang Dou mempunyai banyak kepentingan dengan kami, sudah tentu dia tidak menginginkan ada perselisihan di antara kami. Tapi pemuda itu masih pendek pikirannya dan pula dia beradat tinggi. Semoga anak Ding tidak mengalami celaka.‖
Buru-buru guru tua itu menelusuri jejak kaki kuda yang mengarah ke kota, meskipun dengan susah payah, akhirnya sampai juga dia di tempat Ding Tao dan Wang Chen Jin bertemu.
Menelusuri jejak itu, sampai pula guru tua itu di tempat mereka bertarung.
Hatinya berdebar-debar melihat ceceran darah di sekitar tempat itu.
110
Jejak dari pertarungan itupun akhirnya membawa guru tua itu sampai di bibir sumur dan di situlah jejak pertarungan mereka berakhir.
Dengan jantung berdebar dia berusaha melihat ke dalam sumur, tapi sumur itu terlalu gelap, lagipula hari belumlah terang. Cahaya obor yang dibawanya tidak sampai ke dasar sumur.
Kesedihan memenuhi hati orang tua itu, dengan sedih dia berusaha memanggil, meskipun harapannya sudah demikian tipis.
―Ding Tao… anak Ding… apakah kau ada di sana?‖
III. Nasib baik, nasib buruk.
Saat tendangan Wang Chen Jin mampir di dadanya, seketika itu pula nafas Ding Tao menjadi sesak dan pandang matanya pun menjadi gelap.
Entah untuk berapa lama dia tidak sadarkan diri.
111
Begitu badannya menyentuh air sumur yang dingin, tersadarlah Ding Tao, meskipun dia belum teringat akan pertarungannya barusan, tapi tubuhnya dengan sendirinya bergerak, berusaha mengapung ke permukaan.
Tanpa sadar dia berusaha menusukkan pedangnya ke dinding sumur sebagai tempat bagi tangannya untuk bergantung.
Nasib baik masih melindungi Ding Tao, pedangnya menyangkut di sebuah retakan di dinding sumur dan menancap cukup dalam untuk menahan tubuh Ding Tao. Lagipula tubuhnya masih berada di dalam air, sehingga tidak terlalu banyak beban yang ditanggung pedangnya.
Dengan pedang menahan tubuhnya agar tidak tenggelam, perlahan-lahan kesadaran Ding Tao pun kembali, teringatlah dia akan pertarungannya barusan.
Teringat pada pertarungan itu, teringat pula dia pada pedang Wang Chen Jin yang mampu mengiris-ngiris pedang bajanya seperti mengiris kayu saja. Ketika dia melihat padang pusaka yang tajam luar biasa itu, masih terjepit oleh pedang bajanya, dengan rasa takjub pemuda itupun meletakkan pedang itu dalam genggamannya.
112
Lalu dengan satu sentakan dicabutnya pedang itu dari pedang bajanya.
Untuk sesaat diapun lupa pada rasa sakit di badannya, atau rasa lemas yang sebenarnya masih menguasainya.
Dipandanginya pedang itu dengan rasa takjub, masih bergantung pada pedang miliknya sendiri dengan satu tangan, dengan tangan yang lain dicobanya untuk memainkan pedang pusaka itu.
Semangatnya jadi terbangun saat merasakan betapa pas pedang itu di tangan. Tidak terlampau ringan tidak juga terlampau berat, keseimbangannya membuat mudah digerakkan sesuai dengan keinginan.
Tapi kegembiraannya itu tidak berlangsung lama, semangatnya mungkin tinggi, tapi tenaganya sudah semakin melemah, pada satu saat, hampir saja pedang itu lepas dari genggamannya. Beruntung dia masih bisa mengerahkan tenaga untuk menggenggamnya kuat-kuat, hingga pedang itu tidak sampai terlepas.
Dengan gugup, Ding Tao berusaha menusukkan pedang itu di sebuah retakan yang dilihatnya.
113
Hatinya merasa sedikit lega saat melihat pedang itu tertancap dengan aman di situ.
Setelah memastikan pedang itu aman di tempatnya, mulailah dia mengamati keadaan di sekelilingnya. Dia dapat merasakan kakinya sudah mulai lemah tak bertenaga, demikian juga tangannya yang berpegangan pada pedang.
Hawa dingin menjalari tubuhnya.
Akhirnya diapun pasrah pada keadaan, tenaganya begitu terkuras hingga tidak mungkin baginya untuk memanjat ke atas. Dengan pengetahuannya yang serba terbatas mengenai jalan darah, dia berusaha menotok jalan darahnya, memperlambat darah yang mengucur dari luka di dadanya. Entah darahnya sudah terlalu banyak terkuras atau tutukannya tepat menghambat jalan darah di beberapa titik.
Darah yang mengucur tidaklah sederas sebelumnya.
Setelah semua itu selesai dilakukan, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Satu-satunya yang bisa dia lakukan sambil menunggu, hanyalah mengatur nafas dan berusaha mengalirkan hawa murni untuk menghangatkan tubuh.
114
Dalam hal ini dia mendapatkan satu kejutan yang menyenangkan hatinya, salah satu jalur hawa murni, yang mengalirkan hawa murni dari tantien ke telapak tangan ternyata berhasil ditembusnya dengan mudah.
Untuk menghabiskan waktu, jalur yang sudah ditembus itu pun dicobanya perlahan-lahan.
Pertama dicobanya untuk mengambil hawa murni yang tersimpan dan dialirkan ke kedua telapak tangannya. Mengalir melalui titik di daerah ulu hati naik ke arah pundak dan menuju ke titik di tengah-tengah telapak tangan.
Didorongnya terus mengaliri pedang yang ada di genggamannya.
Setelah dia merasakan hawa murninya mengalir hingga ke ujung pedang, perlahan-lahan ditariknya kembali untuk disimpan ke bawah pusarnya.
Kemudian berganti dia mencoba menarik hawa murni yang ada di sekitarnya lewat telapak tangannya, perlahan-lahan dialirkan menuju ke pusar. Ditahannya di sana untuk beberapa saat, lalu perlahan-lahan dialirkan ke bawah pusar dan disimpan.
115
Tidak lupa dia mengatur nafas dan mengalirkan hawa murni menyebar ke seluruh tubuhnya, memberikan rasa hangat yang menyebar dan menjaga agar dia tidak mati kedinginan.
Membiarkan hawa murni menyebar dengan sendirinya, jauh lebih mudah daripada mengatur hawa murni itu untuk terkonsentrasi pada tempat tertentu, lebih sulit lagi untuk mengalirkan hawa murni itu sesuai kemauan mengikuti jalur tertentu.
Apalagi jika jalur-jalur tersebut belum masih terkunci dan belum bisa ditembus.
Dan justru penggunaan hawa murni yang terkonsentrasi dan terarah inilah yang memungkinkan seseorang untuk melakukan suatu kemampuan di luar kemampuan umum.
Sungguh beruntung Ding Tao salah satu jalur tersebut tertembus dengan tidak sengaja saat dia menghadapi bahaya maut melawan Wang Chen Jin.
Dengan keadaannya yang sekarang ini, dia mampu mengalirkan hawa murni dengan bebas melalui kedua tangannya. Bahkan mengaliri senjata yang ada dalam
116
genggamannya. Dengan demikian Ding Tao sudah dapat mulai menjajaki kemungkinan untuk menyatu dengan pedangnya.
Jika hawa murni sudah dapat mengaliri senjata, pada satu tahapan tertentu, senjata pun menjadi bagian dari tubuh. Seuntai cambuk bisa bergerak mengikuti keinginan pemegangnya, seperti ekor singa bergerak mengikuti kemauan pemiliknya.
Kain bisa menjadi sekeras besi dan besi bisa menjadi selentur kain.
Bila sudah sampai pada tahap demikian bahkan ranting pohonpun bisa menjadi senjata yang berbahaya, terlebih lagi sebatang pedang pusaka.
Ding Tao bukannya tidak pernah mendengar hal semacam ini, dalam hatinya timbul satu harapan. Sebelumnya tidak pernah terbayang dalam benaknya, bahwa dia akan mampu menjadi seorang pendekar besar. Tapi hari ini dalam waktu yang bersamaan, dia berhasil menembus salah satu jalur tenaga yang penting dalam tubuhnya, sekaligus menemukan sebatang pedang pusaka.
117
Tiba-tiba saja Ding Tao tidak sabar untuk dapat mempelajari seluruh jurus-jurus pedang keluarga Huang. Bahkan bukan saja jurus pedang keluarga Huang, dia ingin bisa melihat semua jurus pedang yang ada di dunia.
Di hati pemuda yang sederhana itu, tiba-tiba timbul keiginan untuk menjadi pendekar pedang nomor satu di dunia.
Lalu setelah itu diraihnya…
Ya setelah itu diraihnya, dia akan dapat datang pada nona muda yang cantik itu dengan dada tengadah.
Bukan lagi Ding Tao si tukang kebun, tapi Ding Tao pendekar pedang nomor satu di dunia.
Jantungnya berdebaran dan mukanya semburat merah, membayangkan dirinya bersanding dengan nona muda keluarga Huang. Membayangkan pipi yang putih dan halus bagaikan batu pualam, tapi hangat dan lembut seperti roti yang baru dipanggang.
Bibir mungil merah yang suka mencibir itu, mata jeli dan bulu mata yang lentik.
118
Pikirannya pun merantau ke mana-mana dan hawa panas yang liar menjalari tubuhnya. Ding Tao yang berangan-angan, tidak merasa kedinginan meskipun saat itu dia tidak sedang mengatur nafas dan mengumpulkan hawa murni.
Sesungguhnya dalam hati yang terdalam Ding Tao sudah kehilangan asa, sebagian dirinya merasa bergairah terhadap penemuannya, tapi sebagian dirinya yang lain memandang betapa keberuntungannya dalam ilmu silat ini sama semunya dengan embun pagi.
Dia merasakan tenaganya melemah dan tidak lama lagi dia harus pasrah tenggelam ke dalam air tanpa mampu banyak berbuat sesuatu.
Mungkin masih beberapa lama lagi sebelum ada ramai orang beraktivitas, jikapun demikian, belum tentu ada yang memakai sumur ini. Kalaupun ada yang memakai sumur itu, apakah pada waktu itu dia masih ada tenaga untuk berteriak minta tolong?
Baru kali itulah, Ding Tao bersikap sinis pada kehidupan. Dia merasa betapa kejamnya hidup, di satu sisi nasib sudah membukakan sebuah pintu yang menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi
119
di saat yang sama, nasib hanya memberikan waktu yang sangat terbatas sebelum dia sampai pada kematian.
Betapa getir perasaan pemuda ini mungkin sulit dibayangkan. Sedari kecil hidupnya serba terbatas, tidak seperti pemuda lain, dia terlalu sadar akan kedudukannya dan selamanya memaksa dirinya untuk memendam hasrat dan cita-cita.
Ketika tiba-tiba kesempatan itu baru saja terbuka bagi dirinya, sejak dari kelulusannya, hingga sekarang ketika dia dengan tidak sengaja mendapatkan sebuah pedang pusaka dan terobosan dalam pengenalannya akan ilmu.
Ketika mimpinya baru mulai terkembang, tiba-tiba dia sudah dihadapkan pada kematian.
Tanpa terasa timbul kemarahan dalam hatinya, kemarahan pada kehidupan, pada langit yang dipandangnya tidak memiliki belas kasihan.
Sepanjang hidupnya, diturutnya nasihat-nasihat orang tua, sepanjang hidupnya dia menjaga diri dari segala perbuatan yang melanggar susila. Sepanjang hidupnya dia berusaha untuk mengikuti nilai-nilai dan tatanan yang ada.
120
Namun langit seperti buta terhadap semuanya itu, langit seakan-akan memandangnya seperti bahan lelucon untuk ditertawakan, untuk dibuai dengan mimpi lalu dihempaskan dengan tragedi.
Ding Tao yang sedang marah, tidak lagi mempedulikan susila. Angan-angannya tentang nona muda keluarga Huang tidak berhenti pada kenangan akan wajah dan senyumannya. Gairah yang dipendam selama ini seperti tertumpah tanpa dapat dibendung. Meskipun dalam hati yang terdalam dia justru merasakan pedih yang tak terkira, karena kematian sudah membayang dan angan-angannya selamanya hanyalah angan-angan.
Di saat seperti itu, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil.
Mendengar suara itu, Ding Tao seperti merasa diguyur air dingin, kesadarannya tergugah dan ditajamkannya telinga.
Benar, ada suara memanggil namanya. Suara guru tua yang dikasihinya.
Matanya nyalang memandang ke atas, dan dilihatnya bayang wajah gurunya yang menjenguk ke dalam sumur, diterangi cahaya obor yang menari-nari.
121
Dengan penuh haru diapun berusaha menjawab, ―Guru… ini aku… tolong aku guru..‖
Kuatir suaranya tidak cukup keras, dipukul-pukulkannya kedua bilah pedang yang ada di tangan, sehingga sebentar kemudian, terdengar riuh suara berdenting, menggema di sumur yang gelap itu.
Mata Gu Tong Dang yang tadinya sayu, terbelalak lebar saat dia mendengar riuh denting pedang dari dalam sumur. Semangatnya yang sudah layu jadi mengembang kembali. Matanya cepat melihat ke sekitarnya.
Ketika dia menemukan tali dan ember untuk mengambil air dari sumur, cepat dia memeriksa kekuatan tali itu.
Merasa puas dengan kekuatan tali itu, tanpa membuang-buang waktu lagi diikatkannya tali itu di sekeliling pinggangnya, lalu dengan lincah dia melompat masuk ke dalam sumur.
Kaki dan tangannya dengan cepat mengembang ke kiri dan kanan, mendorong dinding sumur, menahan laju turun tubuhnya.
122
Segera setelah tubuhnya terhenti, dilepaskannya tangan dan kakinya dari dinding, sehingga tubuhnya kembali meluncur turun, dan ketika dirasa tubuhnya sudah meluncur terlalu cepat, kembali dia mengembangkan tangan dan kaki untuk menahan laju jatuhnya.
Dengan cara itu, tidak lama kemudian Gu Tong Dang sudah sampai ke permukaan air sumur.
Kakinya basah oleh air dan Gu Tong Dang pun tahu jika dia telah sampai di bawah, dengan setengah berbisik dipanggilnya Ding Tao, ―Ding Tao…‖
―Guru… aku di sini.‖
―Kemarilah, apa kau terluka? Bisakah kau menjangkauku?‖
―Sedikit terluka guru, tapi sepertinya untuk sedikit bergerak masih tidak ada masalah.‖
―Bagus, sekarang cepatlah berpegangan padaku, pegang apa saja yang paling mudah untuk kau jadikan pegangan.‖
Ding Tao sebenarnya sudah merasa sangat lemah, tapi melihat ada kesempatan hidup, semangatnya bangkit berkali-kali lipat.
123
Sekuat tenaga dia melemparkan tangannya untuk meraih tubuh gurunya, saat terpegang kaki gurunya, maka dicengkeramnya kuat-kuat, takut bahwa pegangannya akan terlepas dan dia tidak akan ada tenaga lagi untuk menjangkaunya kembali.
Pedang hadiah kelulusannya terpaksa ditinggalkannya tertancap di dinding sumur. Tapi pedang pusaka milik Wang Chen Jin tidak lupa untuk dibawanya. Dengan sebelah tangan dia merangkul kaki Gu Tong Dang dan dengan tangan yang lain dia mencengkeram pedang itu kuat-kuat.
Gu Tong Dang yang merasakan rangkulan Ding Tao pada kakinya, segera mulai menarik tali yang diikatkannya di pinggang hingga tali itu berhenti terulur, sepenuhnya terjulur ke bawah, sementara ujung yang lain terikat kuat di tempatnya.
Ding Tao yang merasakan adanya tali dapat mengerti rencana Gu Tong Dang, dia berusaha sebisa mungkin memudahkan Gu Tong Dang yang berusaha mengikatkan tali itu ke badannya.
Setelah tubuh Ding Tao terikat kuat dengan tali, berbisiklah Gu Tong Dang, ―Sekarang kau bisa lepaskan peganganmu pada kakiku, aku kan naik ke atas dan menarikmu naik dari sana. Kuatkan hatimu, tinggal sebentar lagi dan kau akan aman.‖
124
―Baik guru… terima kasih guru… sungguh… aku…‖
―Sudahlah, simpan tenagamu baik-baik, jangan banyak berbicara, kau masih bisa berterima kasih padaku, nanti setelah kita sampai di atas.‖
Bergantungan pada tali, Ding Tao hanya bisa mengamati gurunya yang perlahan-lahan merayap ke atas.
Gu Tong Dang tidak berani memanjat ke atas dengan menggunakan tali itu, karena dia tidak tahu apakah tali itu akan kuat menahan tubuhnya dan tubuh Ding Tao sekaligus. Bahkan kalau dia mau jujur, dalam hatinya diapun masih ada keraguan apakah tali itu akan kuat untuk dipakai menarik tubuh Ding Tao ke atas.
Tapi dia tidak ada pilihan lain lagi, terlampau lama jika dia harus pergi mencari tali yang kuat untuk menolong Ding Tao.
Seperti saat turun ke bawah, Gu Tong Dang menggunakan kedua kaki dan tangannya untuk menahan tubuhnya di dinding sumur. Dengan cara demikian, perlahan-lahan Gu Tong Dang merayap naik ke atas.
125
Bagi keduanya waktu terasa berjalan begitu lama, tapi Gu Tong Dang sudah cukup umur dan pengalaman, pengalaman mengajarkannya lebih baik bekerja dengan lambat namun pasti, daripada terburu-buru dan mengalami kegagalan yang fatal.
Apalagi kesempatannya untuk menolong Ding Tao tidak banyak.
Bagi Ding Tao yang menunggu di bawah, waktu serasa berjalan begitu lambat, tapi dengan adanya gurunya di situ, harapannya untuk hidup kembali timbul. Teringatlah dia akan caci makinya pada raja langit dan para dewa.
Wajahnya bersemu merah, merasa malu akan perbuatannya beberapa saat yang lalu. Dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh rasa penyesalan diapun berdoa, berdoa memohon ampun dan maaf. Teringat akan angan-angannya tentang nona muda Huang, jantungnya berdebar-debar, cepat-cepat diusirnya segala bayangan yang menggoda itu dari hati dan pikirannya.
126
Tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya, ketika dia selalu memendam perasaannya pada si nona muda. Kali ini Ding Tao berani untuk bermimpi.
Bukan mimpi dan angan-angan liar seperti saat dia putus asa, tapi mimpi dan angan-angan untuk memenangkan hati nona itu, membangun sebuah keluarga, menghabiskan sepanjang waktu dalam hidupnya, bersama orang yang dikasihinya.
Tidak akan diserahkannya nona muda itu kepada Wang Chen Jin yang licik, bahkan tidak pada siapapun juga. Karena sekarang dia bukan lagi tukang kebun biasa. Dari segi ilmu dia masih berada di atas Wang Chen Jin, dan mungkin kemampuannya tidaklah serendah yang selama ini dia bayangkan.
Apalagi dengan pedang pusaka di tangan dan penemuannya yang baru dengan pengolahan hawa murni dalam tubuhnya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Ding Tao berani menggantungkan cita-citanya setinggi langit.
Waktu yang serasa berjalan begitu lambat, diisinya dengan bayangan akan masa depan yang lebih baik, terkadang membantunya mengisi waktu, tapi di saat yang lain membuat
127
Gu Tong Dang seperti merayap semakin lambat, karena Ding Tao sudah tidak sabar untuk segera sampai di atas. Menginjakkan kakinya di tanah yang padat.
Menantikan Gu Tong Dang sampai di atas, barulah separuh penantian Ding Tao. Karena sesampainya di atas, Gu Tong Dang tidak terburu-buru menarik Ding Tao ke atas.
Gu Tong Dang terlebih dahulu meregangkan otot-ototnya yang baru saja dipaksa bekerja keras setelah terbiasa hidup enak. Diaturnya dulu nafasnya yang memburu, kemudian barulah dia perlahan-lahan menarik Ding Tao ke atas.
Saat Ding Tao merasakan tubuhnya ditarik ke atas, hatinya merasa gembira, tapi tidak untuk waktu yang terlalu lama, karena Gu Tong Dang menarik tali itu dengan sangat hati-hati.
Ding Tao memang masih muda dan dengan cepat merasa Gu Tong Dang terlalu lambat dalam bekerja, tapi pemuda ini bukan pemuda yang tidak tahu terima kasih, lagipula dia sadar bahwa terlalu cepat menariknya bisa membuat tali itu terlalu bekerja keras dan putus.
Sebisa-bisanya dia menyabarkan diri.
128
Luka di dadanya semakin perih, demikian juga kulitnya yang diikat erat dengan tali, tangannya sudah tidak kuat lagi untuk berpegangan di tali dan menahan agar sebagian berat tubuhnya tidak sepenuhnya menggantung pada tali yang kasar.
Hanya pedang itu saja yang tetap digenggamnya erat-erat.
Perlahan namun pasti, langit pagi juga sudah mulai berubah warna saat Ding Tao merebahkan diri di atas tanah. Nafasnya lemah, paru-parunya berontak meminta udara, namun rasa sakit sekarang menguasai sekujur tubuh.
Gu Tong Dang berlutut di sebelahnya, dengan lembut melepaskan ikatan tali dari tubuhnya, ―Anak Ding, bagaimana keadaanmu?‖
Ding Tao hanya bisa menjawab dengan seulas senyum yang lemah.
Gu Tong Dang mengangguk paham, ―Baguslah, tidak usah banyak bicara.‖
Ketika dia hendak mengangkat tubuh Ding Tao, perhatiannya pun jatuh pada pedang yang digenggam terus menerus oleh pemuda itu.
129
Alisnya terangkat, hendak bertanya, tapi ketika pandangan matanya jatuh pada wajah Ding Tao yang pucat, diapun batal untuk bertanya.
Dengan hati-hati namun cepat, dipapahnya Ding Tao menjauh dari tempat itu. Sebentar lagi akan banyak orang berdatangan dan Gu Tong Dang tidak ingin terjebak dengan pertanyaan mereka.
Dibiarkannya saja Ding Tao terus menggenggam erat pedang itu. Tanpa bertanya pun dari sikap Ding Tao dia mengerti tentu pedang itu sangat berarti untuknya.
Gu Tong Dang tidak segera kembali ke rumah keluarga Huang, sebaliknya dia pergi ke sebuah pondokan di luar perkampungan keluarga Huang. Pondokan itu sudah lama dia miliki, seringkali dipakainya untuk melepas lelah ketika dia pergi untuk kepentingannya pribadi.
Di dalam pondokan itu tersedia tempat tidur yang sederhana, makanan kering, alat untuk memasak dan obat-obatan secukupnya.
130
Setelah membaringkan tubuh Ding Tao di atas pembaringan, Gu Tong Dang dengan cekatan menyalakan api dan memasak air.
Dengan telaten dirawatnya luka di atas dada Ding Tao, dibersihkan, dibaluri dengan obat lalu dibalut dengan kain bersih. Obat penambah tenaga dimasak di atas sebuah api yang dijaga nyalanya. Dalam waktu singkat, roti kering yang sudah dibasahi teh manis hangat disuapkan perlahan-lahan kepada Ding Tao, sebelum obat yang sudah matang diminumkan.
Sebagai orang yang pernah berkecimpung dalam dunia persilatan, Gu Tong Dang tidak asing dengan hal-hal tersebut.
Dalam hal kemampuan memang Gu Tong Dang masih berada di bawah para tokoh-tokoh dalam keluarga Huang, namun dalam hal pengalaman justru dia lebih banyak.
Tidak berapa lama kemudian, nafas Ding Tao sudah kembali teratur. Beruntung tubuhnya kuat dan hawa murninya terpupuk dengan baik. Gu Tong Dang dengan sabar membiarkan saja pemuda itu beristirahat, beberapa saat lamanya.
131
Desah nafasnya teratur dan pemuda itu tertidur lelap, merasa aman dalam penjagaan orang yang dipercayainya.
Menunggui Ding Tao yang sedang tidur, perhatian Gu Tong Dang jatuh pada pedang yang sejak tadi dibawa-bawa oleh pemuda itu.
Dihunusnya pedang itu di tangan dan dimainkannya beberapa jurus menggunakan pedang itu. Hatinya pun jadi terkagum-kagum dengan kualitas pedang itu. Dalam hati dia jadi menduga-duga, pedang pusaka dalam dunia persilatan tidak banyak jumlahnya.
Meskipun banyak pedang kenamaan, tidak jarang pedang itu mendapatkan nama mendompleng dari kehebatan pemiliknya. Seandainya pemakainya bukan pemain pedang kenamaan, pedang itu sendiri tidaklah cukup berarti untuk disebut pedang pusaka.
Tapi ada juga, sejumlah pedang, yang justru kehebatannya mampu mengangkat nama pemakainya.
Gu Tong Dang yakin pedang yang ada di tangannya termasuk dari segelintir yang ada. Dengan memainkan pedang itu saja, dia bisa merasakan keyakinannya bertambah. Belum pernah
132
dia merasakan sebuah pedang yang terasa begitu pas di tangannya.
―Apakah pedang ini…‖
Sebuah dugaan yang muncul dalam hatinya, dengan hati berdebar diambilnya pisau dapur yang ada dalam pondokan itu lalu ditancapkannya kuat-kuat ke atas sebuah meja kayu. Hatinya berdebar, namun tangannya menggenggam pedang dengan mantap.
Tidak terlalu kencang karena tegang, tidak pula lemah hingga pedang akan terlepas dengan sedikit benturan. Terdengar desingan mengiris, saat pedang itu berkelebat menabas mata pisau.
Seperti membelah kayu, pedang itu memotong pisau tadi dengan mudahnya.
Terkesiap hati Gu Tong Dang, meskipun dia sudah menduga sebelumnya, tapi ketika melihat sendiri hasil percobaannya itu, tidak urung hatinya tergetar, ―Pedang Angin Berbisik…‖
Dipandanginya pedang itu, tidak terasa tangan yang memegang ikut gemetar. Dengan hati-hati, ditaruhnya kembali
133
pedang itu di samping tubuh Ding Tao, dan secara reflek cepat-cepat tangannya menjauh segera setelah pedang itu tergeletak di tempatnya, seperti meletakkan seekor ular berbisa.
Pikiran guru tua itupun dipenuhi kekalutan. Permasalahan Ding Tao bukan lagi sekedar perkelahian antara dua anak muda yang tidak bisa mengendalikan diri.
Pondok itupun diliputi suasana sepi, sementara di luar justru kesibukan sudah dimulai. Di dekat sumur sana, Fu Tsun, paman Wang Chen Jin, salah seorang kepercayaan Wang Dou, memperhatikan keributan yang timbul saat penduduk melihat ceceran darah dan bekas pertarungan di sekitar sumur.
Dengan lagak bersahabat dia mendekat dan ikut dalam pembicaraan mereka, ―Wah, sepertinya habis ada kejadian di sini?‖
Seorang tua yang berada di situ menengok padanya dan dengan ramah menjawab, ―Iya, coba saja lihat, ada semak dan kayu yang terpotong, seperti bekas ditabas pedang. Lalu lihat bekas ceceran darah di mana-mana.‖
―Benar-benar, lalu apa kemarin tidak ada yang mendengar ribut-ribut ini?‖
134
―Ada juga, sekitar lewat tengah malam kemarin, memang terdengar suara-suara orang bertarung. Tapi tidak ada yang berani menengok.‖
―Memang benar pak, daripada jadi sasaran pedang nyasar.‖
―Iya, kita semua juga berpikir begitu.‖
―Apa urusannya tidak disampaikan pada petugas?‖
―Justru itu, ada yang bilang sebaiknya dilaporkan, tapi ada jug ayang mengatakan lebih baik diam-diam saja. Serba salah memang, lapor salah, tidak lapor juga salah.‖
Fu Tsun mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan orang tua itu, dengan berpura-pura ikut prihatin dia menjawab, ―Sebaiknya mungkin memang diam-diam saja pak, melihat dari bekasnya, yang berkelahi bukan orang sembarangan. Kalau bapak melapor, salah-salah malah membuat musuh dengan orang yang sakti.‖
Beberapa orang yang berada di situ, ikut tertarik dengan jawaban Fu Tsun, salah seorang yang masih muda ikut bertanya, ―Menurut saudara yang berkelahi di sini, orang-orang dunia persilatan?‖
135
Fu Tsun merasa senang karena ada yang menanyakan pendapatnya, dengan menegakkan dada dia menjawab, ―Dari yang kulihat sepertinya demikian, lagipula kalau yang berkelahi penduduk daerah sini juga, bukankah sekarang sudah ketahuan siapa orangnya?‖
Mereka yang mendengar mengangguk-angguk tanda setuju.
―Kemudian lihat bekas goresan di tanah itu, goresan itu cukup dalam dan tipis. Jelas tergores benda tajam sejenis pedang, tapi lihat betapa dalam goresannya. Jika orang biasa saja, mana mampu membuat goresan sedalam itu dengan pedang yang tipis?‖
Kembali mereka yang berkumpul menganggukkan kepala.
―Itu sebabnya kalau menurut pendapatku, paling baik didiamkan saja, kalau bisa kita bersihkan bekas-bekas yang ada supaya tidak timbul pertanyaan dari petugas yang mungkin lewat.‖
Salah seorang tua di situ ikut menimbrung, ―Nah, betul tidak perkataanku, sedari tadi sudah kubilang paling baik kita diam-diam saja, sebisa mungkin kita bersihkan tempat ini dari bekas-bekas yang ada.‖
136
Seorang dari mereka yang tampaknya tidak setuju menyanggah, ―Kalau sampai ada kejadian yang meninggal bagaimana? Apa kita nanti tidak disalahkan petugas karena tidak membuat laporan?‖
Fu Tsun-lah yg menjawab. ―Urusan orang dunia persilatan, sudah pasti tidak akan sampai ke telinga petugas, yang kehilangan saudara tidak nanti akan melapor. Tapi pembunuhnya, kalau sampai mendengar ada yang lapor, bisa jadi akan menuntut balas.‖
Mendengar itu mereka semua sama mengangguk-angguk, sejenak mereka berpandangan, salah seorang dari mereka menegaskan, ―Jadi bagaimana? Kita diamkan saja?‖
Yang lain saling memandang lalu mengangguk dan gumaman terdengar, ―Ya…‖
―Baiknya begitu.‖
―Sudah tentu.‖
Salah seorang tua dari antara mereka berkata, ―Ayolah kita kembali bekerja kalau begitu.‖
137
Satu per satu mereka berpamitan pada Fu Tsun dan meninggalkannya, kembali pada kesibukan mereka masing-masing.
Termangu Fu Tsun berpikir untuk mengorek lebih banyak lagi keterangan.
Ketika orang terakhir sudah hendak berpamitan pula, Fu Tsun bertanya, ―Sobat, perkelahian kemarin malam, apakah memang sepertinya berakhir dengan kematian?‖
Sejenak orang yang ditanya itu menggaruk-garuk kepalanya, ―Entahlah, ada yang bilang pada saat terakhir dari pertarungan itu sempat terdengar suara orang tercebur ke dalam sumur itu.‖
Uraian itu sesuai dengan cerita dari Wang Chen Jin. Menengok ke arah sumur yang ditunjuk Fu Tsun lanjut bertanya, ―Lalu apakah tidak ada yang berusaha melihat ke dalam sumur itu? Maksudku, apakah benar ada yang terjatuh ke dalamnya.‖
―Memang begitulah yang kami lakukan, karena jika benar ada mayat di dalamnya, tentu sebaiknya dikeluarkan secepatnya. Atau lebih baik lagi kami timbuni saja sumur itu dengan batu-batu dan menggali sumur yang baru.‖
138
Mendengar itu timbul keraguan dalam hati Fu Tsun, ―Lalu?‖
―Begitu hari sudah mulai terang, beberapa menengok ke dalam sumur itu, tapi tidak terlihat apa-apa dari atas. Jadi kami berpikir, mungkin kami hanya salah dengar.‖
Tercengang Fu Tsun mendengar hal itu, tapi sebisa mungkin ia menutupi kekagetannya, ―Aneh sekali, lalu suara apa yang kalian dengar malam itu?‖
Orang yang ditanya hanya bisa mengangkat bahunya, ―Entahlah, mungkin kami salah dengar, mungkin bukan orang yang jatuh ke dalam sumur sana. Atau mungkin dia masih hidup dan berhasil keluar kembali.‖
Kacaulah perasaan Fu Tsun mendengar pernyataan orang itu, tapi pada dasarnya dia adalah orang yang teliti dalam menghadapi setiap persoalan, itu sebabnya Wang Dou menganggap dia sebagai salah satu orang kepercayaannya. Bukan hanya karena Fu Tsun masih memiliki hubungan keluarga dengan dirinya, tapi juga karena ketelitiannya.
―Apakah ada yang turun ke dalam sumur itu untuk memeriksa? Ataukah kalian hanya melihat dari atas saja?‖
139
―Kami hanya melihat dari atas, tapi air sumur itu cukup bening. Jika memang ada mayat di dalamnya, meskipun hanya bayang-bayang saja, tapi kami tentu bisa melihatnya. Lagipula bukankah biasanya mayat mengapung di dalam air?‖
Fu Tsun menggosok-gosok dagunya, berpikir.
―Tidak juga, di dasar sumur mungkin berlumpur, tentu tidak terlihat dari atas. Tapi bisa jadi tubuh itu tenggelam ke dasar karena di tubuhnya ada yang memberati ke bawah. Lalu di bawah sana dia tertutup oleh lumpur di dasar sumur.‖
Menengok ke arah orang yang diajak bicara Fu Tsun berkata, ―Cerita kalian membuatku tertarik, aneh sekali jika kalian mendengar suara orang tercebur ke dalam sumur, tapi tidak ada mayat di dalam sana. Kalau kalian mau membantu, biarkan aku turun ke dalam sana untuk memeriksa.‖
Terangkat alis orang yang diajak bicara, heran, ―Sobat, kau benar-benar mau turun ke dalam sumur itu untuk memeriksa?‖
Fu Tsun tertawa menutupi rasa galau di hatinya, ―Ya begitulah, sudah sedari aku kecil, selalu tertarik dengan hal-hal yang aneh seperti ini. Kalau tidak turun ke bawah dan memeriksa dengan
140
teliti, aku tidak akan bisa tidur nyenyak berhari-hari memikirkan hal itu.‖
Yang diajak berbicara menggeleng-gelengkan kepala, tapi akhirnya diapun mengangguk, ―Baiklah, memang kalau ada yang mau turun dan memeriksa sudah tentu lebih baik lagi. Ayolah, akan kuajak beberapa temanku untuk berjaga dan membantumu turun ke bawah.‖
Tidak lama kemudian orang-orang itu kembali berkumpul, sekali ini mereka tertarik untuk melihat Fu Tsun yang akan menuruni sumur.
Sebuah tali yang kuat diikatkan ke tubuh Fu Tsun, beberapa orang membantu menahan tali itu agar Fu Tsun dapat turun ke dalam sumur itu dengan aman.
Fu Tsun turun ke bawah dengan membawa sebuah obor di tangan, karena di atas ada orang-orang yang menahan tali dan perlahan-lahan menurunkannya ke bawah, Fu Tsun pun bisa mengamati keadaan sumur itu dengan mudah.
Hatinya berdebar saat samar-samar dia dapat melihat bekas-bekas tapak kaki dan tangan di beberapa tempat. Sebelum dia
141
sampai ke bawah, dia sudah dapat membayangkan apa yang terjadi malam itu.
Meskipun jejak yang tertinggal tidaklah jelas dan ada kemungkinan bukanlah bekas kaki dan tangan, tapi jejak itu memberikan jawaban atas hilangnya mayat Ding Tao dari dalam sumur. Setelah dia sampai ke permukaan air dari sumur itu makin yakinlah Fu Tsun akan dugaannya.
Pedang Ding Tao yang ditusukkan ke dinding sumur dan dipakainya sebagai pijakan masih tertinggal di sana.
Demikian juga bekas kaki Gu Tong Dang terlihat cukup jelas, karena saat Gu Tong Dang mengikatkan tali di tubuh Ding Tao kakinya menjejak lebih kuat ke dinding sumur, hingga di bagian itu dinding sumur sampai berlekuk ke dalam oleh tekanan kaki Gu Tong Dang.
Pertama karena Ding Tao saat itu berpegangan pada tubuhnya hingga kakinya harus menjejak lebih kuat untuk menahan tubuh mereka berdua. Dan yang kedua karena saat itu kedua tangannya sibuk mengikatkan tali pada tubuh Ding Tao sehingga beban itu sepenuhnya ditanggung kedua kaki Gu Tong Dang.
142
Tidak cukup melihat bekas yang ada dan mereka kembali kejadian malam itu, Fu Tsun mengamati dengan hati-hati ke bawah dasar sumur dengan air yang memang bening itu. Setelah benar-benar yakin bahwa tidak ada mayat Ding Tao ataupun pedang Wang Dou di bawah sana, dia menarik tali dua kali sebagai tanda agar mereka yang di atas menarik tubuhnya kembali ke atas.
Sepanjang perjalanan otak Fu Tsun berputar keras, dari apa yang dia lihat dan dengar, jelaslah Ding Tao belum mati saat dia terjatuh ke dalam sumur. Lebih jauh lagi, ada seseorang yang telah menolongnya keluar dari sumur itu dan pedang pusaka Wang Dou ada di tangan mereka.
Dengan gigi gemeretak Fu Tsun oleh marah Fu Tsun berusaha menebak-nebak siapakah orang yang telah menolong Ding Tao dan menguasai pedang pusaka itu. Kecurigaannya yang terbesar tertuju pada keluarga Huang, meskipun dia tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang secara kebetulan melihat pertarungan itu.
Bukan hal yang aneh jika ada tokoh persilatan yang usil dan mengikuti jalannya pertarungan antara kedua pemuda itu. Untuk kemudian menolong Ding Tao yang jatuh ke dalam
143
sumur. Entah karena tertarik dengan pedang yang jatuh atau sekedar ingin menolong pemuda itu.
Sesampainya di atas, raut wajah Fu Tsun sudah normal kembali, dengan lagak tawa dia menjelaskan penemuannya di bawah sana.
Setelah beberapa saat berbasa-basi, tanpa membuang lebih banyak waktu lagi dia berusaha meneliti jejak yang mungkin tertinggal di sekitar sumur itu. Jejak yang bisa membantu dia untuk menemukan Ding Tao, penlongnya dan pedang pusaka Wang Dou.
Tapi kegiatan penduduk di sekitar tempat itu dan kehati-hatian Gu Tong Dang telah menghapuskan jejak-jejak yang mungkin saja tertinggal. Dengan hati galau, Fu Tsun memacu kudanya untuk menemui Wang Dou dan melaporkan hasil temuannya.
Sementara itu pada saat yang sama Ding Tao telah sadar dari tidurnya. Bau sop kaldu ayam yang menyebar memenuhi pondok kecil itu.
Dikejap-kejapkannya matanya, sambil menyeringai menahan sakit dia berusaha bangkit, luka di dadanya terasa sedikit nyeri,
144
demikian juga memar-memar yang ada di tubuhnya. Perlahan-lahan ingatannya kembali.
Teringatlah kembali dia akan pertarungan yang terjadi di malam sebelumnya, bagaimana dia terjatuh ke dalam sumur dan akhirnya ditolong oleh Gu Tong Dang.
Diedarkannya pandangannya ke seluruh ruangan, saat tidak menemukan Gu Tong Dang, dia berusaha bangkit berdiri.
Tanpa sengaja tersentuhlah olehnya pedang pusaka milik Wang Dou.
Melihat pedang itu dan teringat akan keistimewaan pedang itu, Ding Tao tidak ingin meninggalkan pedang itu tergeletak begitu saja. Sambil menjinjing pedang itu di tangan, diapun berjalan dengan sedikit tertatih-tatih untuk mencari Gu Tong Dang.
Gu Tong Dang yang saat itu berjaga-jaga di luar mendengar suara tempat tidur yang berderik-derik. Dengan tangkas guru tua itupun, bangkit dan memasuki kamar tempat dia merawat Ding Tao.
145
Saat Ding Tao melihat Gu Tong Dang, cepat pemuda itu hendak berlutut untuk mengucapkan terima kasihnya. Tapi Gu Tong Dang dengan cepat menahan tubuh pemuda itu.
―Guru… ―
―Ah, tubuhmu masih lemah, sebaiknya beristirahat saja di tempat tidur.‖
―Guru… terima kasih guru… jika bukan karena pertolonganmu, tentu…‖
―Hahaha, sudahlah, tak usah kau pikirkan, saat ini yang harus kau lakukan adalah beristirahat untuk memulihkan kondisimu.‖
Dengan berhati-hati dipapahnya Ding Tao kembali ke tempar tidur yang ada. Kemudian dibawakannya semangkuk sop ayam yang sudah dia sediakan.
―Ini makanlah dulu, setelah itu bermeditasilah untuk mengatur dan mengumpulkan hawa murni di tubuhmu.‖
―Baik guru, terima kasih guru.‖
Perlahan-lahan Ding Tao menyeruput sop ayam yang masih mengepul.
146
Gu Tong Dang menarik sebuah bangku dan duduk di hadapan muridnya itu, ―Ding Tao, sambil kau makan, aku hendak berbicara denganmu.‖
Ding Tao dengan sedikit berdebar menganggukkan kepala, ―Baik guru… ―
―Kemarin saat kita mengantarkan keluarga Wang pulang ke rumah mereka, sempat kulihat Wang Chen Jin membisikkan sesuatu padamu, apakah itu yang menyebabkan engkau pergi diam-diam keluar kota untuk bertemu dengannya?‖
―Benar guru…, dia, dia mengatakan ada satu urusan penting yang bersangkut paut dengan nona muda Huang.‖
Gu Tong Dang mengangguk-anggukkan kepalanya, ―Hmmm…, jadi begitu rupanya. Di dalam hatinya dia masih mendendam padamu dan dengan alasan itu dia berusaha menjebakmu lalu membunuhmu.‖
―Sepertinya demikian guru…‖
Sejenak lamanya Gu Tong Dang memandangi muridnya itu dan memikirkan sifat muridnya yang lugu, ―Ding Tao, hendaknya pengalaman ini kau ingat baik-baik dalam hati. Hidup dalam
147
dunia persilatan, janganlah mudah percaya perkataan orang. Ketahuilah bahwa aku sudah merasakan satu kejanggalan sejak aku melihat dia berbisik diam-diam padamu.‖
―Ketika aku berusaha mencarimu di kamarmu, ternyata engkau tidak ada di sana. Secepatnya aku berusaha mencarimu, sayang aku datang terlambat.‖
―Tidak terlambat guru, seandainya guru terlambat tentu murid sudah pergi meninggalkan dunia ini. Budi guru tidak akan pernah murid lupakan, bukan hanya berhutang pelajaran, murid bahkan berhutang nyawa.‖
―Hehehe, sudahlah, seandainya aku datang lebih cepat tentu keadaanmu tidak separh sekarang ini. Tapi sekarang semua itu tidaklah penting, ada hal yang lebih penting yang harus kusampaikan padamu.‖
Wajah Gu Tong Dang menjadi lebih serius dan Ding Tao yang melihat perubahan pada wajah gurunya itupun jadi terdiam dan menebak-nebak.
―Anak Ding, tahukah kamu pedang apa yang dipakai Wang Chen Jin itu?‖, tanya Gu Tong Dang sambil menunjuk ke arah pedang yang ada di samping Ding Tao.
148
Karena tidak tahu dan juga yakin bahwa gurunya tentu mengetahui keberadaan dan latar belakang pedang yang berhasil direbutnya dari Wang Chen Jin, Ding Tao menggelengkan kepala, sambil seluruh perhatiannya menantikan kata-kata selanjutnya dari Gu Tong Dang.
―Hmm…, kau tentu sudah mengetahui bahwa pedang itu sangatlah berharga, hingga dalam keadaan yang sangat payah pun pedang itu masih kau genggam erat. Mungkin saat bertarung dengan Wang Chen Jin, kau dapati pedang baja putih milikmu dengan mudah bisa dipotong-potong oleh pedang itu.‖
―Nah Ding Tao, sekarang dengarkanlah baik-baik apa yang akan aku katakan mengenai pedang itu. Jika aku tidak salah, pedang yang sekarang ada padamu itu adalah Pedang Angin Berbisik, milik mendiang pendekar pedang kenamaan Jin Yong yang sering juga dijuluki Raja Pedang dari Emei.‖
Mendengar itu mata Ding Tao terbelalak, siapa yang tidak pernah mendengar nama besar Jin Yong, siapa pula yang tidak pernah mendengar kisah pedang miliknya yang hilang tidak tentu rimba saat pendekar itu meninggal. Kira-kira 12 tahun
149
yang lalu pendekar besar itu mati diracun dan pedangnya tidak ditemukan pada mayatnya.
Sejak saat itu sudah ada beberapa pendekar pedang yang dikabarkan berhasil memiliki pedang pusaka itu, namun umur mereka tidaklah panjang.
Dalam waktu yang kurang dari 10 tahun, entah sudah ada berapa pendekar yang meninggalkan dunia fana, untuk memperebutkan pedang pusaka itu, sampai beberapa tahun yang lalu ketika pedang itu benar-benar lenyap tanpa kabar.
Siapa sangka, rupanya pedang itu sudah jatuh ke tangan keluarga Wang.
Gu Tong Dang dengan arif membiarkan Ding Tao mencerna kenyataan yang baru didengarnya. Beberapa saat kemudian diapun melanjutkan, ―Menurut pendapatku, Wang Dou entah dengan cara bagaimana mendapatkan pedang itu. Namun dia cukup cerdik untuk menyadari kelemahannya dan menyimpan pedang itu tanpa menggunakannya.‖
―Melihat gagang kayu pedang itu, menurutku dia tentu menyembunyikan pedang itu ke dalam sebuah tongkat kayu.
150
Karena pada bentuk aselinya, gagang pedang itu terbuat dari besi yang sama dengan mata pedangnya.‖
Sambil merenungi mangkok di tangannya, Ding Tao melanjutkan kata-kata Gu Tong Dang, setengah berbisik, ―Dan Wang Chen Jin yang sangat mendendam padaku, meminjam pedang ayahnya dengan diam-diam.‖
―Ya, kurasa itulah yang terjadi. Wang Dou yang sudah bersabar selama bertahun-tahun menyimpan tanpa sekalipun menggunakan pedang itu, tentu tidak akan meminjamkannya pada anaknya hanya untuk membalas dendam. Orang itu memiliki ambisi yang besar, jika dia belum berhasil meyakinkan ilmu pedangnya, tidak akan dia memunculkan pedang itu.‖
Dengan sabar Gu Tong Dang menghentikan penjelasannya, dan diamatinya wajah Ding Tao. Ding Tao yang merenung-renungkan perkataan Gu Tong Dang tiba-tiba memucat wajahnya. Tangannya bergetar hingga beberapa tetes kaldu ayam tercecer ke atas pembaringannya.
Gu Tong Dang yang melihat itu, menutup matanya dan mendesah.
151
―Guru… jika demikian keadaannya… tentu… tentu… Wang Dou akan mencari dan berusaha mendapatkan kembali pedang itu dengan segala cara. Dan tempat pertama yang dia tuju…‖
Mendesah Gu Tong Dang melanjutkan kata-kata muridnya, ―Ya… tempat pertama yang diselidikinya sudah tentu adalah kediaman keluarga Huang.‖
―Guru... menurut guru, apakah sebaiknya yang harus kulakukan?‖
Untuk beberapa saat Gu Tong Dang terdiam, baginya berat untuk mengatakan apa pendapatnya.
―Hehh…., ini tidaklah mudah. Anak Ding, menurut pendapatku, tidak ada jalan lain, kau harus pergi meninggalkan kota secepatnya. Dan jangan pernah lagi kembali sebelum kau bisa meyakinkan ilmu pedangmu.‖
―Kau harus memutuskan hubunganmu dengan keluarga Huang, hanya dengan cara itu kau bisa membersihkan nama keluarga Huang dari urusan ini.‖
Wajah Ding Tao yang pucat semakin pucat, ―Guru… apakah tidak ada jalan lain? Bagaimana kalau pedang ini aku berikan
152
saja pada Tuan besar Huang atau mungkin aku kembalikan lagi pada Tuan Wang Dou?‖
Dengan berat hati Gu Tong Dang menggelengkan kepalanya,‖ Anak Ding, cobalah pikirkan dengan hati yang jernih. Jika kau kembalikan pedang itu pada Wang Dou, nyawamu pasti hilang. Karena bagi Wang Dou bukan saja kembalinya pedang itu yang penting, tapi juga keberadaan pedang itu padanya haruslah menjadi satu rahasia.‖
―Dan untuk menjaga rahasia itu, siapapun yang mengetahui bahwa dia memiliki pedang itu harus dibinasakan. Jika kau kembali, keluarga Huang pun akan ikut terseret dalam permasalahan ini.‖
Sambil menggigit bibir Ding Tao menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hatinya dia masih belum bisa menerima kenyataan. Sudah sejak dia masih kanak-kanak dia tinggal bersama keluarga Huang. Sejak menginjak remaja hatinya sudah tertambat pada nona muda Huang. Dan baru saja dia memiliki keberanian untuk berharap untuk bisa mendapatkan hati nona muda pujaannya.
153
―Guru, apakah Wang Dou kebih kuat dari keluarga Huang, jika kuberikan pedang ini pada Tuan besar Huang, tidakkah keluarga Huang menjadi kuat karenanya?‖
―Anak Ding, ilmu pedang dan kekuatan keluarga Huang secara keseluruhan, mungkin masih berimbang dengan kekuatan Wang Dou dan kelompoknya. Tapi jangan lupa, dunia persilatan penuh dengan tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian bagaikan dewa. Jika bukan karena keberadaan mereka, tentu Wang Dou tidak perlu merahasiakan keberadaan pedang itu.‖
―Wang Dou mungkin saja tidak berani merebut pedang itu, tapi jika demikian, maka tidak ada pula alasan baginya, untuk tidak menyiarkan berita bahwa keluarga Huang telah mendapatkan pedang itu dan aku mengenal tabiat Tuan besar Huang, dia tidak akan melepaskan pedang itu begitu saja.‖
―Meskipun telah beberapa generasi kita lebih berkonsentrasi pada usaha dagang. Namun aku tahu dengan pasti, bahwa dalam hatinya, ambisi untuk merajai dunia persilatan itu pun ada. Mungkin sekarang dia memendamnya tapi jika dia sampai memiliki pedang ini, ambisi yang terpendam itu akan berkobar dan api kobarannya bisa membakar kedamaian keluarga Huang.‖
154
―Anak Ding, keberadaan pedang itu, akan mengundang bencana bagi keluarga Huang. Jika kau tidak ingin melihat kedamaian yang ada pada keluarga Huang sekarang ini hilang, kau harus membawa pergi pedang itu jauh-jauh dari mereka.‖
Ding Tao meletakkan mangkok yang dipegangnya, ditangkupkannya kedua tangannya yang gemetar menahan perasaan.
Perlahan-lahan dia berusaha bernafas dengan lambat dan teratur, dipikirkannya kedudukannya saat itu dengan cermat. Menutup kedua matanya, dia menghela napaf dan berusaha menyingkirkan perasaan-perasaan yang akan mengganggunya dalam berpikir.
Pemuda itu bisa membayangkan reaksi Wang Dou apabila tokoh tua itu mendapati pedangnya hilang bersamaan dengan hilangnya dirinya.
Yang pertama-tama dia lakukan tentu memeriksa sumur tempat dia terjatuh, ketika didapatinya Ding Tao sudah menghilang bersamaan dengan pedang itu, maka kecurigaan akan dialihkan pada orang-orang dalam keluarga Huang.
155
Apabila dirinya masih sempat datang kembali ke kediaman keluarga Huang setelah kejadian itu, tentu Wang Dou akan memiliki pemikiran bahwa mungkin saja pedang itu berada dalam kekuasaan keluarga Huang. Meskipun Ding Tao kemudian pergi dari rumah keluarga Huang, kecurigaan itu tidak akan hilang begitu saja.
Baginya tidak ada pilihan lain kecuali dengan segera meninggalkan kota, tanpa berpamitan pada siapapun juga.
Akan tetapi kondisi tubuhnya saat di dalam sumur sangatlah buruk, tidak mungkin dia keluar tanpa bantuan dan bila Wang Dou cukup teliti, tentu akan diketahui pula bahwa gurunya Gu Tong Dang sempat meninggalkan kediaman keluarga Huang pada malam itu.
Ding Tao membuka matanya dan menatap sosok kakek tua yang ada di hadapannya. Diperhatikannya keriput di wajah tua itu dan senyum yang tidak lepas juga meskipun menghadapi kejadian yang mengejutkan, ―Guru, jika demikian pemikiran guru, itu berarti, guru pun tidak bisa pulang kembali.‖
Guru tua itu mengangguk-angguk dengan sabar, ―Ya, sepertinya kau sudah mengerti. Mungkin banyak orang akan
156
memandang kita sebagai orang yang tidak mengenal arti kata setia dan tidak tahu membalas budi.‖
―Tapi jika kita tidak mau membawa kesulitan masuk ke dalam keluarga Huang, justru inilah yang harus kita lakukan.‖
Ding Tao mengangguk, meskipun terasa pahit baginya, tapi diapun tidak melihat jalan lain.
Gu Tong Dang mendesah sedih, guru tua itu bukannya tidak tahu bagaimana perasaan Ding Tao terhadap nona muda Huang. Dengan perlahan dia bangkit berdiri lalu menepuk-nepuk pundak Ding Tao, ―Bersabarlah, dalam dua tahun, jika kau rajin berlatih, tentu kepandaianmu bisa meningkat pesat dan pada saat itu, tidak perlu kau takut pada Wang Dou. Pada saat itu, dengan pedang Angin berbisik di tanganmu, tidak banyak yang dapat menandingimu.‖
Ding Tao berusaha tersenyum dan mengangguk, meskipun hatinya masih terlalu pedih untuk mengucapkan apa-apa.
Gu Tong Dang bisa menyelami perasaan muridnya, ―Sudahlah, aku akan menyiapkan bekal bagi perjalanan kita, percayalah, aku akan berusaha membantumu sekuat tenaga.‖
157
Gu Tong Dang meninggalkan ruangan itu dan tinggallah Ding Tao sendiri. Pemuda itu menatap langit-langit kamar, terbayang di pelupuk matanya, senyum manis nona muda Huang.
Terbayang pula betapa terkejutnya mereka sekeluarga ketika mendapati dirinya dan gurunya hilang begitu saja. Saat mereka mendapati keduanya pergi dengan keinginan sendiri, betapa mereka akan mencaci maki dan memandang rendah.
Ding Tao mendesah, matanya dipejamkan dan keluhan pendek keluar dari mulutnya.
Beberapa lamanya dia berdiam, ketika matanya membuka, wajahnya tidak lagi dihiasi kerisauan, melainkan ada kemauan yang kuat terpancar di sana.
Ding Tao bukan seorang pemuda yang keranjingan ilmu silat, jika dia berlatih dengan tekun, itu adalah karena dia ingin menyenangkan hati nona muda Huang. Jika dia pernah bermimpi menjadi jagoan pedang, itupun karena dia ingin memenangkan hati nona muda Huang.
Sekarang nasib sudah memaksa dia untuk mengambil jalan yang akan dipandang rendah oleh nona muda itu. Tapi Ding Tao bertekad untuk menggembleng dirinya dengan tekun,
158
sehingga satu saat nanti dia bisa kembali, untuk meluruskan kesalah pahaman ini dan menghapuskan segala kesan buruk yang ada dalam benak nona muda Huang terhadap dirinya.
IV. Kembali ke Wuling
Panas terik membakar permukaan bumi dan penghuninya. Hari belumlah mencapai tengah hari tapi panasnya sudah mebuat keringat bercucuran. Mereka yang berduit lebih memilih menggunakan kereta atau tandu.
Yang tidak berduit, terpaksa berjalan kaki saja dengan menggunakan topi lebar untuk menudungi kepala mereka dari teriknya matahari.
Tapi ada saja orang muda, utamanya para laki-laki yang berjalan dengan dada tengadah tanpa tudung kepala. Buat mereka ini panasnya matahari masih tidak sepanas darah yang mengalir di tubuh mereka. Kulit mereka berwarna tembaga, karena begitu seringnya terbakar matahari.
Atau juga mereka yg masih remaja dan anak-anak, yang bermain tanpa mempedulikan panasnya matahari. Karena
159
semangat mereka yg meledak-ledak tidak bisa dipadamkan dengan sedikit panas atau hujan.
Beruntung negara yang terisi dengan pemuda-pemuda seperti ini, tapi sungguh celaka jika negara seperti ini dipimpin oleh pemimpin yang malas dan picik. Sehingga bibit-bibit di masa depan, harus mati tertindas atau teracuni oleh keserakahan pemimpinnya.
Salah satu dari mereka yang berjalan tanpa tudung kepala adalah seorang pemuda yang sangat menonjol perawakannya.
Wajahnya lebar dan kesan jujur terpancar di sana. Senyum yang sopan tidak pernah lepas dari bibirnya. Sebenarnya tidak bisa dikatakan tampan, meskipun juga bukan seorang buruk rupa, yang menarik dari wajah pemuda itu adalah ekspresi yang ada di sana. Sekilas orang memandang, mereka bisa merasa bahwa pemuda ini dapat dipercaya.
Tinggi badannya melampaui orang-orang di sekitarnya, sehingga ke mana dia berjalan, tanpa terasa orang akan memandang ke arahnya.
Pemuda itu berjalan sambil menengok ke kanan dan ke kiri, diam-diam bergumam seperti sedang mengenangkan masa
160
lalu, ―Ah, toko uwak Hong itu masih ada, semakin ramai saja kelihatannya.‖
Atau
―Lho, toko kain yang di ujung pasar sekarang sudah berubah jadi kedai makan. Di mana ya bibi tua yang baik hati itu sekarang.‖
Orang lewat yang sempat mendengar itu bisa menarik kesimpulan bahwa pemuda ini dulunya pernah tinggal di kota itu dan sekarang kembali setelah meninggalkan kota itu untuk waktu yang cukup lama.
Ketika pemuda itu melewati sebuah rumah makan bertingkat dua, maka tanpa disadarinya ada 3 pasang mata yang mengamati keberadaannya. Ketiga orang itu berduduk di tingkat 2, sehingga dengan mudah mereka mengamati pemuda itu tanpa terlihat olehnya.
Ketiganya duduk dalam satu meja yang sama, buntalan yang diletakkan di atas meja mengesankan bahwa ketiganya, seperti sedang mengadakan perjalanan jauh. Sebilah pedang tergantung di pinggang, jika itu tidak cukup, maka tatapan mata yang tajam, urat yang bertonjolan di tangan dan kulit tangan
161
yang mengeras di tempat-tempat tertentu menunjukkan bahwa ketiganya adalah orang-orang yang sudah cukup lama bergelut dengan pedang.
Tentu saja, tidak berarti bahwa ketiganya adalah jago pedang.
Salah seorang yang termuda di antara mereka berbisik pada yang lain, ―Apakah benar dia? Sepertinya benar dia, tapi juga rasanya berbeda. Lebih… lebih…‖
Dengan nada yang ragu dia meneruskan, ― … lebih gagah, lebih berwibawa.‖
Yang tertua di antara mereka menyipitkan matanya, berusaha menangkap lebih jelas raut wajah pemuda yang sedang mereka amati, ―Mataku sudah tidak seawas biasanya, tapi dari dulu pun tubuhnya sudah lebih tinggi dari kebanyakan orang biasa. Dalam dua tahun, bukan tidak mungkin dia bertambah tinggi lagi.‖
Orang ketiga berkata pula, ―Mataku masih cukup awas dan menurutku, itu memang dia. Tentu saja ada perubahan-perubahan, ketika dia menghilang dulu dia masih berumur 18 tahun. Masih dalam masa pertumbuhan. Kalau kuingat sewaktu dia kecil dulu justru dia yg terpendek di antara yang lain dan
162
baru menginjak usia 15-an tubuhnya bertumbuh dengan cepat. Rasanya itu memang dia.‖
Tapi cepat-cepat dia menambahkan, ―Meskipun demikian, kalau hendak memastikan, sebaiknya kita lihat saja dari dekat.‖
Yang paling tua di antara mereka berpikir sejenak, tampaknya dialah yang menjadi pemimpin dalam kelompok ini, itu sebabnya ketika mengajukan pendapat, kedua orang yang lain selalu memandang ke arahnya.
―Hmm… kurasa sebaiknya begitu.‖
Yang termuda di antara mereka tampak ragu, ―Tapi kita sedang mengemban tugas penting, apakah memang pemuda itu begitu pentingya? Jika terlambat hanya gara-gara pemuda itu, bukankah kita bisa kena semprot Tuan besar Huang nantinya?‖
Dua orang lain yang lebih tua umurnya saling berpandangan. Seperti saling mengerti tanpa kata-kata keduanya perlahan-lahan mengangguk.
Kemudian yang tertualah yang menjawab, ―Dibilang penting sekali juga tidak. Tapi memastikan identitas pemuda itu tidaklah
163
begitu susah dan memakan waktu, nanti setelah memastikan dirinya kita bisa memutuskan langkah selanjutnya.‖
Yang termuda pun terpaksa mengangguk, dia bisa merasakan ada ketegasan dalam jawaban itu. Meskipun demikian dalam hati dia bertanya-tanya, ada apa di balik pemuda itu? Seorang tukang kebun yang menghilang bersamaan dengan hilangnya seorang guru tua dua tahun yang lalu. Apakah ada satu misteri yang penting di balik menghilangnya mereka?
Dengan hati bertanya, diapun mengikuti kedua orang yang lebih tua dari dirinya.
Bergegas mereka keluar, untuk mengikuti pemuda tadi, pemilik rumah makan itu tampaknya sudah mengenal baik mereka bertiga, sehingga tanpa banyak pertanyaan dibiarkannya saja, ketiganya berlalu.
Dengan setengah berbisik, ia memanggil pelayan yang melayani meja mereka bertiga, ―Hei, kau catat saja dulu pesanan mereka, kalau mereka tidak kembali kita tagihkan saja ke rumah Tuan besar Huang.‖
Meragu sejenak dia menambahkan, ―Sementara ini, biarkan saja meja mereka, siapa tahu nanti mereka kembali.‖
164
Ketiga orang itu berlalu tanpa berpamitan, tidak sulit untuk mengikuti pemuda yang mereka cari, tubuhnya yang jauh lebih tinggi dibanding orang di sekitarnya memudahkan mereka.
―Sepertinya dia pergi menuju ke tempat kediaman keluarga Huang. Apa yang sebaiknya kita lakukan?‖
Berkerut alis pemimpin dari rombongan kecil itu, ―Kalau dia memang pergi untuk menemui Tuan besar Huang, tidak perlu kita mengikuti dia seperti ini.‖
―Kakak, rasanya memang benar tentu dia itu Ding Tao, sedari dulu sifatnya jujur dan setia. Menghilangnya dia dua tahun yang lalu, tentu karena terpaksa dan sekarang dia hendak kembali untuk datang dan meminta maaf pada Tuan besar Huang, telah pergi tanpa berpamitan.‖
―Aku rasa kamu benar. Meskipun demikian…‖
Kedua orang yang mengikut menunggu dengan tegang, menanti pimpinan mereka memberikan keputusan.
―Huang Lui, sekarang sebaiknya kau kembali ke rumah, mendahului pemuda itu. Entah dia benar Ding Tao atau bukan,
165
menurutku ada baiknya pamanmu, Tuan besar Huang, sudah bersiap terlebih dahulu sebelum dia sampai.‖
Pemuda itu memandang dengan alis terangkat, seperti hendak memastikan. Dalam hatinya ada seikit rasa kecewa, ini adalah pertama kalinya, dia dikirim keluar kota untuk menyelesaikan suatu urusan.
Ketika dilihatnya perintah itu sudah pasti dan tidak akan berubah, diapun mengangguk dengan sedikit enggan, ―Baiklah paman.‖
Pemimpin rombongan itu bisa membaca kekecewaan di wajah Huang Lui, sambil tersenyum dia menambahkan, ―Aku dan adik Lin, akan menyelesaikan makan di rumah makan Hoa sebelum melanjutkan kembali perjalanan. Kalau kau cepat-cepat melapor dan kembali, kau bisa menyusul kami sebelum kami meninggalkan kota. Kalaupun kami sudah tidak ada di sana, kau bisa mencari kami di Penginapan Bunga Seroja.‖
Wajah pemuda itupun menjadi cerah kembali, ―Baiklah paman, aku akan secepatnya melapor pada Paman Huang Jin.‖
Kedua orang yang lain mengangguk, kemudian sambil menunggu pemuda itu menghilang, mereka terus mengamati
166
pemuda yang mereka sangka sebagai Ding Tao, tukang kebun keluarga Huang yang menghilang dua tahun yang lalu.
Mata keduanya masih mengikuti pemuda tinggi tegap itu, sampai dia menghilang di sebuah persimpangan.
―Sepertinya dia memang mengambil jalan menuju kediaman keluarga Huang, meskipun dia mengambil jalan yang sedikit lebih panjang.‖
―Hmm, benar, mungkin dia sedang mengenangkan kota ini. Dua tahun waktu yang cukup panjang dan ada banyak perubahan di sana sini. Menurutmu apa perlu kita mengikutinya lebih jauh?‖
Orang yang ditanya merenung sejenak, ―Kurasa tidak perlu. Penilaian kita rasanya tidaklah salah, sudah 18 tahun hidup mengenalnya, rasanya waktu yang 2 tahun tidak akan banyak mengubah wataknya itu. Lagipula jika benar pemuda itu Ding Tao dan dia ingin menghindari kita orang-orang keluarga Huang, tentu dia tidak akan kembali ke kota ini.‖
Orang yang tertua, yang menjadi pimpinan itu termenung sejenak sebelum mengangguk dan berbalik kembali ke arah rumah makan Hoa.
167
Sambil berjalan kembali dia mendesis, ―Tapi jika benar kecurigaan Tuan besar Huang tentang sebab musabab, menghilangnya dia 2 tahun yang lalu…‖
Kata-kata itu tidak dilanjutkannya, teman seperjalanannya pun tidak bertanya lebih jauh, keduanya berjalan sambil termenun membayangkan peristiwa yang akan terjadi. Tiba-tiba yang lebih muda pun bergumam, ―Sialan, kalau dipikir-pikir lebih lama, aku jadi menyesal sudah menerima penugasan ini.‖
Rekannya yang lebih tua tersenyum dan tidak lama kemudian menyahut, ―Kalau aku, aku justru bersyukur menerima penugasan ini. Urusan ini…‖ Setelah terhenti sebentar dia mendesah lalu melanjutkan, ―Hahh…. Sebenarnya aku akan tidur lebih nyenyak seandainya Tuan besar Huang tidak ikut campur dalam urusan yang terkutuk ini.‖
Rekannya yang lebih muda termangu sejenak, kemudian sambil memukul bahu rekannya yang lebih tua dengan bercanda dia menyahut, ―Itu karena tulangmu sudah mulai keropos dimakan usia dan terlalu banyak kawin. Jangan-jangan nyalimu pun ikut menjadi ciut setelah binimu ada dua.‖
168
Demikian sambil bercanda keduanya berlalu, tapi di dalam hati mereka, tidak bisa disangkal ada degup-degup ketegangan.
Jadi apakah benar adanya, bahwa pemuda tadi itu adalah Ding Tao?
Coba mengikuti kembali pemuda tinggi tegap itu, wajahnya memang serupa benar dengan Ding Tao, tentu saja dia itu Ding Tao, jika tidak untuk apa kedatangannya perlu diceritakan di sini.
Meskipun matanya jauh lebih tajam mencorong dibanding dua tahun yang lalu, tubuhnya tumbuh jauh lebih tinggi dari sebelumnya, dia tetap Ding Tao.
Seperti yang dikatakan oleh anggota termuda dari rombongan kecil itu, dia tampak lebih gagah dan berwibawa. Jika dua tahun yang lalu Ding Tao seorang pemuda yang jujur, rendah hati dan tampak canggung di sekitar orang lain.
Ding Tao yang sekarang tampak lebih percaya diri, meskipun sorot matanya yang jujur masih ada di sana, diapun masih seorang pemuda yang sopan dan rendah hati, terlihat dari cara dia mengangguk dan membungkuk pada orang yang
169
bersimpangan jalan dengan dirinya, seraya memberikan jalan terlebih dahulu pada mereka.
Cara dia berjalan sungguh jauh berbeda dengan dua tahun yang lalu.
Kalau dipikirkan memang betapa ajaib, betapa cara seseorang memandang nilai dirinya sendiri bisa mengubah penampilan seseorang begitu banyak. Meskipun dari fisik dan wajah tidaklah berbeda, tapi dari cara berjalan dan berlaku, dari sorot mata dan ekspresi wajah, seseorang yang memiliki keyakinan pada dirinya seringkali memancarkan kharisma yang berbeda.
Ding Tao yang saat itu terhanyut dalam kenangannya pada kota tempat dia lahir dan dibesarkan, sesungguhnya tidak kalah tegang dengan kedua orang dari keluarga Huang yang melihatnya tadi.
Setiap langkah dia semakin dekat pada kediaman keluarga Huang, semakin dekat, semakin kencang pula debaran di jantungnya.
Bagaimana tanggapan Tuan besar Huang nantinya? Apa yang harus dia ceritakan tentang kejadian dua tahun yang lalu?
170
Apakah Tuan besar Huang akan marah kepadanya? Percayakah mereka pada ceritanya?
Dan tidak terucapkan bahkan dalam benaknya, tapi seperti arwah penasaran terus menghantui di belakang layar, bagaimana tanggapan Nona muda Huang kepada dirinya sekarang ini?
Ketika akhirnya dia sampai di ujung jalan tempat di mana kediaman keluarga Huang berada, tanpa terasa kakinya berhenti berjalan. Gerbang rumah sudah terlihat dari kejauhan, tinggal beberapa langkah lagi dia akan sampai di sana. Tapi yang beberapa langkah itu rasanya jauh lebih berat dari ribuan li yang sudah dia tempuh berhari-hari sebelumnya.
Tanpa terasa dia teringat pada pembicaraannya dengan Gu Tong Dang beberapa minggu yang lalu, sebelum dia pergi untuk menengok kembali keluarga Huang.
-------------- o ---------------
Saat itu Gu Tong Dang tampak jauh lebih tua dan lemah dari Gu Tong Dang dua tahun yang lalu. Berdua mereka hidup dengan sangat sederhana dalam suasana yang penuh
171
keprihatinan. Mereka sadar mereka harus baik-baik dalam menyembunyikan diri.
Jika sebelumnya mereka sudah terbiasa hidup serba berkecukupan dalam naungan keluarga Huang, sekarang mereka harus bekerja keras sebagai buruh kasar hanya untuk makanan secukupnya. Tidur di tanah yang keras dengan hanya beralaskan selembar kain tipis dan kasar.
Bagi Ding Tao yang masih muda hal itu tidak banyak mengganggu kesehatannya, bahkan kerja keras dan latihan-latihan yang dia jalani, justru membuat tubuhnya makin sehat dan kuat.
Tapi bagi Gu Tong Dang yang sudah berumur, kehidupan itu sedikit banyak menurunkan kesehatannya. Meskipun tidak sampai jatuh sakit, namun kekuatan fisiknya jauh lebih menurun dibandingkan dua tahun yang lalu. Lagipula guru tua itu sungguh-sungguh memperhatikan kemajuan dan kesehatan muridnya. Tidak jarang guru tua ini, mengurangi jatah makannya sendiri agar Ding Tao yang masih bertumbuh dapat makan dengan layak.
172
Pemuda itupun sesungguhnya berusaha menolak, namun Gu Tong Dang berkeras hati, sehingga akhirnya diapun menerimanya, meskipun dengan hati yang merasa bersalah dan sangat terharu oleh kebaikan guru tua itu.
Dan saat hendak meninggalkan gurunya ini, pemuda itu mau tidak mau kembali tersentuh perasaannya, melihat kondisi Gu Tong Dang yang tiba-tiba saja seperti bertambah 10 tahun usianya.
Terenyuh, pemuda itu hanya bisa menyampaikannya dengan kata-kata yang pendek, ketika dia berusaha membicarakan dengan Gu Tong Dang mengenai keinginannya untuk menengok kembali keluarga Huang dan meluruskan kesalah-pahaman yang mungkin timbul 2 tahun yang lalu.
Guru tua itu medengarkan penjelasan Ding Tao yang terbata-bata dengan sabar. Lama dia tidak menjawab, Ding Tao pun hanya bisa menunggu sambil terdiam.
Ketika akhirnya dia menjawab, dia terlebih dahulu menepuk-nepuk pundak pemuda itu dengan rasa sayang, ―Ding Tao, muridku. Sepertinya aku tidak akan bisa mencegah lagi kepergianmu. Bekalmu pun kupandang sudah cukup banyak.
173
Hanya saja, sebelum engkau pergi, dengarkan dulu penjelasan gurumu ini.‖
―Ding Tao apakah kamu percaya dengan perkataan gurumu ini? Apakah kamu percaya dengan ketulusan gurumu ini? Bahwasannya, setiap nasihatku adalah untuk kebaikanmu?‖
Ding Tao mengangguk dengan tegas, ―Tentu guru, budi guru tidak akan pernah kulupakan. Kebaikan guru akan selalu kuingat.‖
Gu Tong Dang terkekeh mendengar jawaban Ding Tao, ―Anak bodoh, bukan itu yang kutanyakan. Tentang hal itu aku tidak ragu. Namun yang aku tanyakan, bisakah kau mempercayai dan melakukan setiap nasihat yang akan kuberikan ini?‖
Dengan alis terangkat Ding Tao balik bertanya, ―Tentu saja guru. Apalah ada bedanya? Budi guru setinggi langit, murid tidak akan lupa. Bagaimana mungkin murid akan meragukan nasihat guru atau melanggar nasihat guru? Kalau guru meragukan kesetiaanku sebagai murid, biarlah murid bersumpah.‖
174
Cepat-cepat Gu Tong Dang mengulapkan tangannya, menghentikan Ding Tao yang saat itu hendak mengucapkan sumpah, ― Jangan, jangan kau bersumpah apapun anakku.‖
―Sudahlah, kalau aku belum mengatakannya, mungkin sukar bagimu untuk memahami permintaanku ini. Baiklah biar aku katakan saja, lagipula aku tidak ingin mengikatmu dengan sumpah apapun, karena aku tahu sifatmu. Aku tidak ingin kau terikat dengan satu sumpah, hingga kau melakukan sesuatu yang kau benci.‖
―Tapi dengarkanlah perkataanku baik-baik. Simpanlah dalam hatimu sebagai satu pertimbangan dalam kau mengambil keputusan. Terutama dalam masalah kedudukanmu saat ini dalam dunia persilatan.‖
Tercenung Ding Tao mendengar perkataan gurunya, tapi dengan patuh dia menganggukkan kepala dan menanti nasihat dari gurunya itu. Gu Tong Dang yang mengerti benar sifat dari muridnya itu merasa cukup puas dengan anggukan kepala. Berhadapan dengan orang yang jujur, satu anggukan kepala atau kesediaan sudah cukup. Namun dengan orang yang curang hatinya, sumpah atas nama kakek moyang sampai tujuh turunan pun bukanlah satu jaminan.
175
―Nah dengarkanlah riwayat dari pedang yang sekarang menjadi milikmu itu.‖
―Seperti yang sudah pernah kukatakan padamu, pedang itu bernama Pedang Angin Berbisik, pertama kali muncul dalam dunia persilatan, kurang lebih 15 tahun yang lalu. Pemiliknya seorang pendekar pedang kenamaan dari Emei. Kurasa tentang hal ini kaupun sudah cukup tahu, karena nama pendekar itu dan kisah kematiannya sangatlah dikenal orang.‖
―Tapi mungkin yang belum benar-benar kau sadari adalah arti dari pedang itu bagi orang-orang dalam dunia persilatan.‖
―Sebenarnya, sebelum kematiannya yang misterius, banyak orang menaruh harapan pada pendekar pedang Jin dari Emei itu. Sudah berpuluh-puluh tahun ini, para pendekar aliran lurus dalam dunia persilatan seperti hidup di atas panggangan api.‖
―Kau tentu pernah mendengar pula nama Pendekar Ren Zuocan, dari sekte sesat Bulan dan Matahari, yang pusat kekuatannya berada di luar perbatasan. Ilmunya tinggi dan organisasinya pun teratur rapi. Ambisinya melebihi tingginya Gunung Himalaya. Jika bukan karena keberadaan Biksu Kongzhen dari Shaolin yang menguasai Telapak Buddha dan
176
Pendeta Tao Chongxan dari Wudang dengan ilmu pedang Taiji-nya, mungkin sudah lama dia meluruk ke dalam perbatasan.‖
―Tapi bahkan kedua tokoh itupun tidak mampu mengalahkan Ren Zuocan, Ren Zuocan memiliki satu ilmu kebal yang aneh, mungkin setingkat dengan ilmu baju besi milik ketua Shaolin di generasi sebelumnya, atau bahkan lebih. Selain itu, Shaolin dan Wudang yang berlandaskan agama, tidak mau mengambil tindakan menyerang, karena Ren Zuocan pun masih menahan diri dan tidak dengan terang-terangan menunjukkan ambisinya.‖
―Dengan demikian, orang-orang persilatan di daratan pun merasa hidup di atas panggangan api. Semua bisa merasakan ada bahaya yang mengancam, tapi tidak ada kekuatan untuk melawan.‖
―Perguruan-perguruan lain selain Shaolin dan Wudang sedang meredup bintangnya, sementara dua perguruan yang bisa diharapkan itu, justru memilih sikap bertahan. Dengan cemas mereka hanya bisa melihat Sekte Bulan dan Matahari tumbuh semakin kuat, beberapa rumor mengatakan bahwa di dalam daratan sendiri sudah ada beberapa perguruan yang berjanji setia kepada sekte Matahari dan Bulan secara diam-diam.‖ ―Kaupun tentu pernah mendengar bahwa 5 tahun sekali, Ren
177
Zuocan mengadakan pertemuan persahabatan antar pendekar dunia persilatan. Di luaran dia memberikan alasan, pertemuan itu diadakan untuk saling kenal dan melakukan pertandingan persahabatan demi kemajuan ilmu bela diri. Yang sesungguhnya, itu hanyalah suatu cara untuk menjajagi tingkat kekuatan pendekar-pendekar silat di daratan.‖
―5 kali sudah pertemuan itu dilakukan, hingga saat terakhir Biksu Kongzhen dan Pendeta Chongxan masih mampu menunjukkan bahwa kekuatan mereka tidaklah di bawah Ren Zuocan dan dengan demikian secara tidak langsung sudah membendung ambisi Ren Zuocan yang meluap-luap bak air bah.‖
―Tapi semua orang pun sadar, umur Biksu Kongzhen dan Pendeta Chongxan sudah hampir memasuki usia lanjut. Ilmu mereka sudah sulit lagi untuk ditingkatkan, sementara fisik mereka justru mulai menurun. Ren Zuocan di pihak lain, masih berada dalam usia puncaknya dan dengan sabarnya dia menunggu saatnya tiba. Banyak orang berpendapat, pada pertemuan lima tahunan yang berikutnya, kedua tetua itu sudah akan berada di bawah tataran Ren Zuocan.‖
178
―Penilaian ini bukannya tidak beralasan, pada pertemuan 5 tahunan yang terakhir, yaitu 3 tahun yang lalu. Secara perseorangan kekuatan kedua tetua itu sudah seusap di bawah kekuatan Ren Zuocan. Hanya saja bila keduanya maju bersamaan tentu Ren Zuocan masih bukan tandingan mereka berdua.‖
Ding Tao yang ikut hanyut dalam penjelasan gurunya tanpa terasa berbisik, ―Tapi jika tahun depan mereka bertemu kembali…‖
Gu Tong Dang mengangguk setuju, ―Ya, benar. Pada pertemuan tahun depan, mungkin bahkan secara bersamaan pun kedua tetua itu bukan lagi tandingan dari Ren Zuocan.‖
―Guru, apakah seluruh daratan hanya bergantung pada kedua tetua itu? Tidak adakah pengganti mereka dari generasi yang lebih muda?‖
―Tentu saja ada, tapi Ding Tao, mengenai ilmu bela diri, seperti juga mengenai keahlian lain, seringkali permasalahannya bukan hanya terletak pada ketekunan seseorang, tapi juga bakat dan nasib baik.‖
179
―Itu sebabnya dalam ratusan tahun sejarah sekte Wudang, hanya ada satu Zhang Sanfeng.‖
―Aku pribadi tidak setuju dengan pendapat banyak orang, bahwa seorang murid tidak akan lebih maju dari gurunya. Ilmu bela diri, seperti juga ilmu dan keahlian yang lain, berasal dari sumber yang asali, yang hakekatnya jauh lebih besar dari manusia yang manapun. Dan mereka yang berbakat serta mencapai pencerahan sesungguhnya belajar lewat sumber yang satu ini. Dengan demikian mereka ini akan mampu melampaui guru pengajarnya, karena sesungguhnya guru pengajar mereka adalah sumber yang tidak terbatas ini.‖
―Setiap beberapa masa selalu saja muncul tokoh-tokoh yang mampu menggali lebih dalam ilmu yang sudah ada dan menggapai tingkatan yang jauh lebih tinggi dari tokoh-tokoh yang hidup sebelum dirinya. Mereka ini yang menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.‖
―Tapi sebagaimana hal-hal lain dalam dunia ini, ilmu bela diri pun mengalami pasang surutnya. Ada masanya tokoh-tokoh berbakat bermunculan, tapi ada juga masanya ketika tingkatan murid selalu saja berada di bawah gurunya dan ilmu bela diripun dari tahun ke tahun semakin merosot nilainya.‖
180
―Dan sekarang ilmu bela diri di daratan sedang mengalami masa surutnya.‖
Ding Tao dengan alis berkerut bertanya pada Gu Tong Dang, ―Guru, sebenarnya apa masalahnya kalaupun Ren Zuocan lebih kuat dari tokoh-tokoh bela diri dari daratan, apa pula masalahnya kalau dunia persilatan dikuasainya? Bukan maksudku tidak cinta pada negara, tapi asalkan urusan dunia persilatan tidak melebar ke masalah pemerintahan, bukankah rakyat masih bisa hidup tenang. Paling-paling yang berbeda, kalau dulu bayar pajak keamanan di dunia hitam pada orang sendiri, sekarang bayar pajak keamanan pada orang luar.‖
Gu Tong Dang menggeleng dengan sabar, ―Sedikit banyak sebenarnya pertanyaanmu itu sendiri sudah mengandung jawaban. Pertama-tama ini masalah harga diri bangsa, jika orang dunia persilatan dari luar perbatasan menginjak-nginjak kita, adalah satu ketidak-setiaan jika kita berdiam diri.‖
―Tapi yang lebih penting lagi adalah, sebuah negara menjadi kuat adalah dari kekuatan setiap rakyatnya. Sebagai golongan orang yang mementingkan ilmu bela diri dalam hidupnya, bisa dikatakan, golongan kita-kita ini memegang peranan penting dalam pertahanan bangsa. Jika Ren Zuocan berhasil
181
menguasai kita, bukan tidak mungkin hal itu merupakan batu loncatan bagi suku di luar perbatasan untuk menyerang pemerintahan kita.‖
Suasana di dalam ruangan itu menjadi begitu sepi, ketika kedua orang dengan umur yang berbeda sedang merenungi masa depan yang tampak suram.
Adalah Ding Tao yang pertama kali memecahkan suasana, ―Guru, tadi guru hendak menjelaskan hubungan pedang ini dengan nasib dunia persilatan.‖
Gu Tong Dang terhenyak kembali dari lamunannya, matanya pun bersinar nakal, ―Heheheh, ya, ya, bicara ke sana ke mari, otakku yang pikun jadi lupa dengan masalah yang penting.‖
―Nah, kau tadi bertanya tentang generasi baru yang mampu menggantikan kedua tetua itu. Sesungguhnya tokoh itu sempat muncul. Yaitu kira-kira pada 15 tahun berselang.‖
Berhenti pada pernyataan itu, Gu Tong Dang memandangi Ding Tao, menanti pemuda itu sampai pada kesimpulan yang diinginkannya. Otak Ding Tao berputar dengan cepat, dari pandangan gurunya dia bisa menangkap bahwa sesungguhnya setiap informasi sudah diberikan dan dia harus dapat menarik
182
kesimpulannya. Bukan seperti kanak-kanak yang harus selalu disuapi nasi, tapi Ding Tao sudah harus bisa menganalisa sendiri informasi yang ada.
Tidak butuh waktu berapa lama Ding Tao sudah sampai pada kesimpulan, dengan hati-hati di abertanya, ―Guru, apakah yang guru maksudkan adalah Pendekar pedang Jin Yong dari aliran Emei?‖
―Hmm… memang dia orangnya. Hampir setiap orang menanti-nantikan pertemuan lima tahun yang akan diadakan waktu itu. Tidak kurang Biksu Kongzhen dan Pendeta Chongxan sendiri yang memberikan penilaian. Umurnya memang masih terpaut jauh dengan kedua tetua itu dan juga dengan Ren Zuocan, dengan sendirinya dari segi tenaga dalam dan kematangan ilmu masih ada selisih yang cukup jauh.‖
―Tapi Pendekar pedang Jin Yong memiliki bakat yang bagus dan pemahaman yang dalam serta otak yang encer. Lebih penting lagi, dia bernasib baik sehingga Pedang Angin Berbisik ini jatuh ke dalam tangannya.‖
―Ding Tao, sekarang coba aku tanya kepadamu, dalam berkelahi menggunakan pedang, manakah yang lebih penting,
183
antara kekuatan atau keuletan, pemahaman akan limu bela diri dan kecepatan atau kelincahan?‖
Ding Tao menggosok dagunya dengan jari, kemudian menjawab, ―Hmm… dengan tangan kosong kekuatan dan ketahanan tubuh akan berpengaruh banyak. Tapi dengan menggunakan senjata tajam, tubuh yang seliat apapun akan bisa dilukai dengan ujung besi yang tajam. Dari ketiganya, pemahaman akan ilmu bela diri dan kelincahan lebih berpengaruh. Dan dari kedua hal itu, kelincahan, baik dalam bereaksi maupun dalam beraksi akan lebih menentukan.‖
Gu Tong Dang mengangguk-angguk, ―Ya, benar perkataanmu. Dengan bertambahnya usia, himpunan tenaga dalam seseorang bisa jadi bertambah mapan, wawasan dan pengalamanpun akan semakin dalam. Tapi ketika pertarungan dilakukan dengan menggunakan senjata tajam, dua hal itu kalah pengaruhnya dengan kecepatan. Mungkin dengan pengalaman yang matang seseorang bisa mengambil keuntungan, tapi seperti yang kukatakan tadi Pendekar pedang Jin, adalah seseorang yang berbakat dan berotak encer.‖
―Dan yang lebih penting, dia memiliki Pedang Angin Berbisik, sebilah pedang yang teramat tajam dan ulet. Ren Zuocan boleh
184
membanggakan ilmu kebalnya ketika menghadapi senjata-senjata yang lain, tapi di hadapan Pedang Angin Berbisik, ilmu kebalnya boleh dikatakan mati kutu.‖
Sejenak wajah Ding Tao menjadi cerah, tapi secepat itu pula wajahnya kembali kelam, ―Ah… sayang, seribu sayang. Guru siapa orangnya yang begitu culas hingga meracun Pendekar pedang Jin? Apakah orang ini tidak mengerti bagaimana boleh jadi nasib seluruh bangsa tergantung di atasnya?‖
Gu Tong Dang menggeleng dengan sedih, ―Entahlah, siapa yang tahu. Sejak dulu ada saja orang dengan hati serakah dan berjiawa pengkhianat. Yang demi keuntungannya sendiri rela menjual saudara-saudaranya.‖
Ding Tao tiba-tiba seperti teringat pada sesuatu, ―Guru, tapi sekarang pedang ini ada di tangan kita, mengapa tidak kita berikan pedang ini pada Biksu Kongzhen atau Pendeta Chongxan?‖
―Muridku, apakah kau lupa yang tadi kukatakan, kedua tetua ini mengabdikan dirinya untuk menjalani hidup beragama. Meskipun pedang ada di tangan mereka, tidak nanti mereka akan menggunakannya untuk mengambil nyawa atau melukai
185
Ren Zuocan. Tidak akan, selama Ren Zuocan masih bersikap dengan cerdik seperti saat ini. Lalu setelah kedua tetua itu semakin menurun kemampuannya, dengan atau tanpa pedang, mereka bukanlah tandingan Ren Zuocan. Rencanamu itu hanya akan memperpanjang nafas selama beberapa tahun. Pendekar sehebat apapun, akhirnya harus takluk pada usia.‖
―Celaka, celaka, apa gunanya pedang ini ada, jika tidak ada pemilik yang tepat. Malah yang timbul bencana demi benacana, sesama saudara sebangsa saling membunuh demi sebilah pedang.‖, tanpa terasa Ding Tao mengeluh menyayat hati. Dengan geram dia memandangi pedang yang sekarang ada di tangannya, terbayang betapa gara-gara pedang itu Pendekar besar Jin Yong mati diracun, kemudian tidak terbilang tokoh-tokoh dunia persialtan yang mati memperebutkan pedang itu.
Dan gara-gara pedang itu pula, hidupnya jadi terlunta-lunta dan terpisah dari orang yang dikasihi, dengan hati geram dia berucap, ―Guru! Sebaiknya pedang ini aku tenggelamkan saja di lautan luas atau lebih baik lagi aku ceburkan dalam kawah gunung berapi, biar dia hancur lebur tak berujud.‖
Gu Tong Dang yang kaget membelalakkan matanya, ―Anakku, anakku… bagaimana mungkin kau berpikir seperti itu. Tokoh
186
pencipta pedang itu tentunya menciptakannya dengan seluruh bakat, pengetahuan dan tenaga yang dia miliki. Dosa besar pada leluhur jika kita menghancurkannya. Terlebih lagi sikap berputus asa, bukanlah sikap lelaki sejati.‖
Ding Tao dengan lemas memandangi pedang di tangannya, kemudian mengalihkan pandangannya itu pada gurunya, seakan bertanya, lalu apa yang bisa kita perbuat?
―Anakku, kau tadi mengatakan satu kesia-siaan bahwa pedang ini ada, karena pedang ada tapi pemilik yang tepat tidak ada. Tapi anakku, sesungguhnya aku sudah menemukan pemilik yang tepat bagi pedang itu.‖
Mendengar itu wajah Ding Tao menjadi cerah, ―Ah, bagus sekali kalau begitu. Guru sebutkan namanya dan di mana dia tinggal, murid akan menghantarkan pedang ini ke tangannya, murid akan tunjukkan bahwa tidak sia-saia guru mengajar murid. Walaupun harus memakai taruhan nyawa pedang ini akan murid pastikan sampai di tangan yang tepat.‖
Meilhat kesungguhan Ding Tao, tanpa terasa Gu Tong Dang tertawa terbahak-bahak, geli campur kagum, terharu juga bersyukur. Ding Tao yang melihat gurunya tertawa terbahak-
187
bahak, menjadi serba salah, mau ikut tertawa dia tidak tahu apa yang membuat gurunya tertawa. Akhirnya dia berdiam diri sambil menantikan gurunya berhenti tertawa, mungkin gurunya tertawa melihat kesombongannya yang begitu yakin bisa menjaga dan mengantar pedang itu sampai pada pemilik yang tepat. Atau mungkin gurunya tertawa karena bangga pada kemauannya yang kuat.
Tapi apa yang dikatakan gurunya setelah itu, membuat Ding Tao bagai tersambar petir.
―Anak bodoh, jika mataku tidak salah, kaulah pemilik yang paling tepat dari pedang itu.‖
Melengong Ding Tao memandangi gurunya, pakah dia sedang bercanda? Atau sedang mempermainkan dirinya? Yang terlihat adalah pandangan penuh kasih dari seorang tua, yang sudah lama tidak dia rasakan sebagai seorang yatim piatu.
―Guru… apa guru bercanda? Apa guru tidak salah menilai? Aku tahu guru mengasihiku seperti mengasihi putera sendiri, apa guru yakin tidak salah menilaiku?‖
Gu Tong Dang mengangguk puas, bagi guru tua ini, kerendahan hati bukanlah kekurangan, karena Ding Tao
188
memiliki karakter yang kuat, baginya kerendahan hati adalah sebuah modal untuk maju.
―Ding Tao, bukan tanpa alasan aku mengatakan hal ini. Bakatmu dalam memahami ilmu bela diri, mungkin bisa disandingkan dengan Pendekar besar Jin Yong. Sekarang coba aku tanya, saat kau pertama kali bertarung dengan Wang Chen Jin, apa yang kau rasakan? Dan apa pula yang kau rasakan saat mulai mempelajari jurus-jurus lanjutan?‖
Dengan berkerut alis Ding Tao mencoba mengingat kembali pertarungan dua tahun yang lalu, ―Murid merasa, jalan pikiran murid jadi terbuka luas. Apa yang tadinya hanya murid bayangkan dalam pemikiran, hanya murid pahami dalam teori, pada saat itu rasanya… rasanya murid baru benar-benar memahaminya. Sulit diungkapkan dengan kata-kata, perasaan itu… itu seperti seekor ikan yang dilepaskan ke dalam air, seperti burung yang sedang terbang.‖
―Kemudian saat murid mulai mempelajari jurus-jurus lanjutan, banyak pertanyaan yang semakin jelas terjawab. Dan murid merasa lebih yakin pada pemahaman murid akan jurus-jurus dasar yang sudah murid pelajari, karena nyata kesimpulan murid terhadap jurus-jurus dasar itu sebenarnya tidak jauh
189
meleset. Pikiran murid juga semakin terbuka dan terkadang ketika mempelajari jurus yang baru, hal itu terasa mudah, karena sebelum guru mengajarkannya, hal yang sama sudah murid pikirkan.‖
Mendengar itu Gu Tong Dang tersenyum senang.
―Hmmm, ketahuilah, banyak orang mempelajari ilmu bela diri tanpa pernah menyelami hakekat dari setiap gerakan yang mereka lakukan. Bagi orang-orang semacam ini, ilmu bela diri mereka tidak akan pernah maju melampaui kecekatan dan kekuatan. Pemahaman mereka, hanyalah menyentuh kulitnya saja.‖
―Sebagian yang lain berotak lebih terang, bukan hanya mereka mampu menggunakan gerakan-gerakan itu dalam sebuah perkelahian, mereka mampu memahami lebih dalam, hakekat dari tiap-tiap gerakan. Maksud dan tujuan dari setiap jurus. Mereka-mereka ini yang memiliki kesempatan untuk maju dalam ilmu bela diri.‖
―Tapi dari sekian banyak orang itu, seberapa jauh pemahaman mereka, dan seberapa jauh mereka bisa menerapkan pemahaman mereka dalam pertarungan yang sesungguhnya,
190
itulah yang akan membedakan jagoan kelas satu dengan jagoan kelas dua. Antara seorang Maha guru dengan seorang ahli biasa.‖
―Ding Tao, anakku, dua tahun yang lalu, pemahamanku dalam ilmu bela diri, mungkin masih berada di atasmu. Tapi dalam penerapannya di dalam pertarungan yang sesungguhnya aku masih jauh berada di bawahmu. Itu sebabnya Tuan besar Huang, mempercayaiku untuk menjadi guru, tapi tidak untuk menjadi orang-orang kepercayaannya.‖
Ding Tao yang mendengarkan penjelasan itu pun terdiam, ada sebagian dari dirinya yang merasa berbangga mendengarkan hal itu, tapi ada pula bagian dirinya yang masih bertanya-tanya, tidak mampu menerima penjelasan itu, baginya gurunya sudah tentu masih lebih hebat dari dirinya.
―Ding Tao, tidakkah kau sadari, bahwa pada 1 tahun terakhir ini, ketika semua ilmu keluarga Huang yang kuketahui, aku ajarkan padamu, aku tidak lagi mengajarimu teori apapun. Yang kulakukan adalah mengajukan pertanyaan padamu.‖
Memerah muka Ding Tao, karena seakan-akan dia merasa gurunya hendak mengatakan bahwa sejak saat itu dirinya
191
sudah lebih pandai dari gurunya, ―Itu… itu tentu bukan karena guru tidak mengerti, tapi karena guru ingin melihat aku belajar menganalisa setiap persoalan secara mandiri. Seperti dahulu saat guru memaksaku untuk merenungkan jurus-jurus dasar yang ada.‖
Perlahan-lahan Gu Tong Dang menggeleng, ―Muridku, biarlah kukatakan yang sejujurnya. Sesungguhnya pada waktu itu, pemahamanmu sudah jauh lebih mendalam dari pemahamanku. Bahkan dari uraian jawabanmu, bisa kupahami sekilas, jurus-jurus rahasia simpanan keluarga Huang. Aku berani bertaruh, bahkan kakek buyut Tuan besar Huang sendiripun pemahamannya tidak sampai ke taraf itu.‖
Pucat wajah Ding Tao mendengar perkataan gurunya, mulutnya membuka hendak menyangkal, tapi wajah gurunya begitu bersungguh-sungguh. Dan di kedalaman hatinya, dia mengakui kebenaran sebagian dari kata-kata gurunya. Sesuai benar pemikiran itu ttg pemahaman dan penggunaan sebuah jurus dalam pertarungan yang sesungguhnya, dengan hasil perenungannya.
Melihat Ding Tao terdiam, Gu Tong Dang melanjutkan uraiannya, ―Muridku, mungkin saja aku salah. Tapi aku orang
192
tua ini, yang menjadi gurumu, dan sesuai perkataanmu sudah menanamkan budi baik yang setinggi langit padamu, percaya sepenuhnya pada bakat dan sifat yang ada padamu.‖
―Dan dengan sepenuh hati, aku berpendapat, bahwa engkau adalah pemilik yang paling tepat dari pedang itu. Karena itu pesanku yang pertama kepadamu, apapun yang terjadi, jangan biarkan pedang itu jatuh ke tangan orang lain.‖
―Kita sudah sama-sama merenungkan keadaan negara kita saat ini, dan kita sama-sama sampai pada satu kesimpulan bahwa harus ada orang yang mengalahkan dan kalau perlu mengenyahkan Ren Zuocan sebagai ancaman besar, bukan hanya bagi orang di dalam dunia persilatan tapi juga bagi negara ini. Kita juga sudah sama-sama sampai pada kesimpulan bahwa pedang ini, bisa menjadi kunci yang memecahkan persoalan besar yang kita hadapi, asalkan pedang ini ada di tangan yang tepat.‖
―Dan sebagai gurumu, aku mengatakan, kaulah pemilik yang tepat bagi pedang ini. Kehilangan pedang ini, berarti kau menjerumuskan negaramu dalam bahaya, kau gagal menunjukkan baktimu, baktimu sebagai seorang murid kepada
193
guru, baktimu sebagai seorang rakyat pada negaranya dan tentu saja baktimu sebagai seorang anak pada leluhurmu.‖
Lemaslah lutut Ding Tao, perkataan gurunya bagaikan gunung runtuh membebani pundaknya. Pemuda itu bersujud di depan gurunya, sambil membentur-benturkan kepala ke lantai dia mengeluh dengan hati pedih, ―Murid tidak berani… sungguh murid tidak berani guru.‖
Tiba-tiba Gu Tong Dang yang selalu tampil dengan kesabaran yang seperti tidak pernah habis, meloncat berdiri dan menendang muridnya hingga berguling-guling. Wajahnya membara, dengan mata melotot dia menggeram, ―Murid bodoh !!! Apakah gurumu ini membesarkan seorang pengecut? Apakah hidupku ini sudah kusia-siakan dengan membesarkan anak ayam !!! Bangkit kau kalau kau memang laki-laki!!!‖
Betapa terkejut hati Ding Tao tidak bisa dilukiskan, inilah kakek tua yang selalu tersenyum dan bersabar, membimbing dan mengajarnya. Selalu bersabar menanggapi kebebalannya.
Tapi kejutan itu juga menyadarkan pemuda ini, bahwa dia adalah seorang rakyat yang memiliki kewajiban, seorang murid,
194
seorang anak yang memiliki kewajiban untuk berbakti pada guru dan orang tuanya.
Bahkan jika dia tidak memiliki ilmu bela diri secuilpun, bahkan jika yang ada di tangannya adalah cangkul dan bukan pedang, tidak sepantasnya dia lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki.
Menyadari kesalahannya, Ding Tao dengan cepat berlutut kembali, menunjukkan rasa hormat dan memohon ampun atas kesalahan sebelumnya. Berlutut boleh sama, tapi Ding Tao yang berlutut sekarang berbeda dengan Ding Tao yang berlutut beberapa saat yang lalu.
Dengan bergetar dia berkata, ―Guru… sungguhpun aku belum percaya bahwa aku orang yang pantas memiliki pedang ini. Tapi demi rasa baktiku pada guru, pada leluhur dan pada negara. Tidak akan murid lari dari musuh setangguh apapun , tidak akan lepas pedang ini dari tangan murid jika nyawa masih ada di badan. Dan dengan restu guru dan para leluhur, dengan segenap kekuatan dan pengetahuan yang sudah dikaruniakan pada murid, murid akan berusaha mempertahankan negara ini dari setiap musuh, pun jika harus mengorbankan nyawa untuk itu.‖
195
Perlahan-lahan wajah Gu Tong Dang melembut, ditariknya pemuda itu bangkit berdiri.
―Satu hal lagi, kutahu kau tidak dapat ditahan untuk pergi menemui Tuan besar Huang. Sifatmu yang tahu membalas budi ini baik adanya. Tapi ingatlah perkataanku, baik buruk seseorang, baru terlihat saat dia dihadapkan pada bahaya besar atau keuntungan besar. Pergilah tapi berhati-hatilah, bukan tanpa alasan banyak orang terbunuh demi pedang ini. Setiap orang yang memiliki bakat cenderung berpikir bahwa dirinyalah penyelamat dan pahlawan yang ditunggu-tunggu dunia. Tidak semua orang, atau kalau boleh kukatakan, tidak ada orang lain yang seperti dirimu, yang rela menyerahkan pedang pusaka ini demi kepentingan orang banyak.‖
―Sampai pada waktunya pertemuan lima tahunan yang berikutnya, jaga dirimu baik-baik. Perdalam pemahamanmu, perluas pengalamanmu. Aku titipkan segenap usahaku sebagai seorang yang harus berbakti pada negaranya ke atas pundakmu.‖
―Dan sebagai gurumu, kepada siapa engkau tadi bersumpah, aku perintahkan, cabutlah sumpahmu itu. Sebagai gurumu, aku nyatakan kepadamu, sumpahmu tadi tidak aku terima. Jangan
196
bodoh dan takabur, pedang itu mungkin pedang pusaka yang bisa menyelamatkan dunia persilatan, tapi pedang itu adalah benda mati, kegunaannya terletak pada siapa pemakainya. Sementara orang adalah hidup, tanpa pedangpun, orang bisa melakukan hal-hal besar.‖
―Jika aku mengatakan padamu bahwa kaulah orang yang layak untuk memiliki pedang itu, itu berarti dirimu sebagai manusia, jauh lebih berharga dari pedang itu. Jangankan dirimu yang belum berpengalaman. Jin Yong yang gagah perkasa itupun dapat jatuh dalam jebakan orang dan kehilangan nyawa sekaligus pedangnya. Jika pada satu posisi kau harus memilih antara nyawamu atau pedang itu. Pilihlah nyawamu, dan dengan kehidupan yang ada padamu, usahakanlah untuk memenuhi permintaanku, mengabdi pada negara, berbakti pada guru dan leluhurmu, tanpa pedang itu.‖
Dengan menahan haru Ding Tao mengangguk, itulah kenangan terakhir Ding Tao akan gurunya sebelum pergi meninggalkannya.
Sekarang di depan gerbang rumah keluarga Huang, kenangan itu menghantui dirinya. Akankah Tuan besar Huang menginginkan pedang itu? Jika pedang itu diminta, apa pula
197
yang harus dia lakukan atau katakan? Jika mereka hendak menggunakan kekerasan, dapatkah dia melawan dan mempertahankan pedang itu? Atau nantinya dia harus lari dan merelakan pedang itu di tangan keluarga Huang?
Satu per satu Ding Tao melangkah, setiap langkah diikuti dengan pertanyaan dan setiap pertanyaan tidak juga dia menemukan jawaban yang memuaskan.
Seandainya tidak ada seorang gadis yang sudah menawan hatinya di rumah itu, seandainya tidak ada Huang Ying Ying di sana, kaki Ding Tao akan membawanya berlari ribuan li, menjauh dari rumah itu.
Ding Tao seorang pemuda yang mengenal dengan sungguh-sungguh akan tanggung jawab dan kewajiban. Dia tahu, jika pada saatnya dia harus memilih antara cinta dan kewajibannya pada negara, walaupun pedih dia akan memilih yang kedua.
Tapi Ding Tao juga adalah seorang pemuda yang sedang di mabuk cinta. Otaknya membenarkan kekhawatiran Gu Tong Dang gurunya, tapi hatinya membisikkan harapan.
Meskipun dalam hati ada ketakutan seperti gunung yang menindih seisi dadanya, bahwa kedatangannya hanya akan
198
membawa benih permusuhan antara dirinya dengan gadis yang dicintainya.
Tapi harapan bahwa yang dikhawatirkan itu tidak terjadi, bahwa kedatangannya akan diterima dengan tangan terbuka, memberikan kekuatan baginya untuk melangkah.
Jarak yang ditempuh bukanlah jarak yang tidak terbatas jauhnya, meskipun setiap langkah yang diambil begitu berat, akhirnya sampai juga Ding Tao di depan pintu gerbang keluarga Huang.
Penjaga pintu bukannya tidak mengenali pemuda itu, namun roman wajah Ding Tao dan juga perubahan yang sekarang ada padanya, membuat mereka ragu untuk menegur pemuda itu. Meskipun tidak ada kata-kata yang terucapkan, melihat raut wajah pemuda itu yang tegang, hati kedua penjaga pintu keluarga Huang ikut menjadi muram.
Setelah mereka berhadapan muka, barulah Ding Tao tersadar akan keadaan mereka saat itu. Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya ditepisnya jauh-jauh semua kekhawatiran.
199
Tersenyum ramah dia membungkuk dengan hormat, ―Saudara Ling, saudara Bu, ini aku Ding Tao.‖
―Ah… oh…. ah Ding Tao, jadi benar ini Ding Tao. Ya ya, kami pun tadi merasa mengenalimu, tapi kau sudah jauh berbeda sampai kami pangling karenanya.‖
―Ya, ya benar, sekarang kau jadi jauh lebih tinggi lagi dari kami.‖
Sambutan kedua penjaga pintu yang ramah membantu Ding Tao untuk menyingkirkan keraguannya. Hatinya yang memang jujur, mudah sekali bersih dari kecurigaan. Jika tadi dia masih canggung, jawaban kedua penjaga pintu itu menghilangkan kecanggungannya. Sambil menggaruk kepala dia tertawa.
―Ya, entah kenapa badanku ini terus saja bertambah tinggi, terkadang aku khawatir dia tidak berhenti bertambah tinggi dan suatu hari nanti aku harus tidur di atas dua tempat tidur yang disusun berjajar.‖
Kewajaran sikap Ding Tao membantu kedua teman lamanya menghilangkan kecanggungan dalam hati mereka, dengan tertawa mereka memukul dada Ding Tao, ―Wah bukan hanya
200
bertambah tinggi, tampaknya kaupun bertambah liat. Sebenarnya apa yang terjadi dua tahun yang lalu?‖
―Benar, kami semua dibuat bingung oleh ulahmu, apa benar kau melarikan anak gadis orang?‖, goda salah seorang dia antara mereka sambil memutar-mutar bola matanya.
Dengan wajah kemerahan Ding Tao membalas pukulan mereka, ―Jangan menyebar gosip sembarangan.‖
Kemudian dengan nada yang lebih serius dia melanjutkan, ―Kedatanganku hari ini justru ingin menghadap pada Tuan besar Huang Jin, untuk memohon maaf sekaligus menjelaskan alasan kepergianku dua tahun yang lalu.‖
―Hemm, sepertinya misterius sekali, apa kau tidak mau membagikannya pada teman lamamu ini?‖
Sambil tersenyum sopan Ding Tao menjawab, ―Saudara Ling, bukannya aku tidak percaya mulutmu yang bocor itu. Cuma memang masalahnya sedikit peka, lebih baik aku membicarakannya dahulu dengan Tuan besar Huang Jin.‖
Sambil tertawa bergelak kedua penjaga itu akhirnya mengijinkan Ding Tao untuk masuk menemui Tuan besar
201
Huang Jin, ―Cari saja dia di bangunan utama, tadi kulihat dia berjalan ke arah sana bersama dengan beberapa tetua serta anak-anaknya.‖
Dengan hati yang jauh lebih ringan Ding Tao melangkahkan kaki menuju ke arah bangunan utama. Setiap kali dia bertemu dengan kenalan lama tentu tidak lupa dia mengangguk dan menyapa.
Saat dia sampai di depan bangunan utama, hatinya sudah lapang dan bersih dari segala kekhawatiran. Yang terbayang adalah senyum bahagia nona muda Huang, mungkin sedikit marah dan beberapa pukulan, tapi setiap pukulan justru akan membuatnya lebih bahagia.
Dengan senyum mengembang di bibirnya, Ding Tao mengetuk pintu.
V. Emas palsu atau emas tulen?
Akhirnya setelah dua tahun berlalu, Ding Tao menginjakkan kaki kembali di rumah kediaman keluarga Huang. Tempat dia
202
dilahirkan dan dibesarkan, tempat di mana dia belajar arti kata persahabatan dan untuk pertama kalinya mengenal cinta.
Ketika dia dipersilahkan masuk ke dalam bangunan utama, Ding Tao sedikit berdebar karena di hadapannya telah berduduk para tetua dan orang penting dalam keluarga Huang. Rupa-rupanya kedatangannya bertepatan dengan salah satu pertemuan penting dalam keluarga Huang. Ding Tao pun jadi merasa tidak enak hati dan malu, karena dengan tidak sengaja sudah merecoki satu pertemuan yang sepertinya cukup penting.
Cepat-cepat dia membungkukkan badan dalam-dalam dan memberi hormat, ―Tuan besar Huang Jin, para tetua, maafkan jika hamba sudah mengganggu pertemuan yang penting.‖
Tuan besar Huang Jin yang sebelumnya sudah mendapatkan kabar tentang kedatangan Ding Tao dari salah seorang keponakannya, telah bersiap-siap untuk menemui Ding Tao.
Meskipun di luaran, dia berlagak terkejut dan tidak menyangka akan kedatangan Ding Tao, dengan cepat dia berdiri dari tempat duduknya dan bangkit untuk menyambut Ding Tao yang masih membungkuk hormat.
203
―Astaga, Ding Tao. Benarkah engkau itu nak? Jangan sungkan-sungkan, pertemuan kami sebenarnya sudah hampir selesai. Nah sekarang duduklah bersama kami, kedatanganmu ini tentu membawa satu cerita yang luar biasa. Dengan tiba-tiba kau menghilang dua tahun yang lalu bersamaan dengan Pelatih Gu, kami semua mencemaskan kalian dan terus terang merasa penasaran.‖
Ding Tao merasa bersyukur, segala kekuatirannya ternyata tidak beralasan, Tuan besar Huang Jin, bukan saja tidak mencurigainya, Tuan besar Huang Jin bahkan menyambutnya seperti menyambut seorang anak yang hilang.
Membasah mata Ding Tao dengan suara sedikit serak menahan haru dia menjawab, ―Tuan besar Huang, sungguh kami bersalah, tapi ada alasan kuat mengapa aku dan guru terpaksa pergi diam-diam.‖
Dengan arif Tuan besar Huang Jin menepuk-nepuk pundak pemuda itu, ―Tenangkanlah hatimu, terhadap kesetiaanmu dan kesetiaan pelatih Gu, sedikitpun aku tidak ragu. Sejak dari awal aku sudah tahu, jika kalian berdua sampai menghilang begitu saja, tentu ada alasan yang kuat.‖
204
Sembari membimbing Ding Tao untuk ikut duduk dalam meja pertemuan, Tuan besar Huang Jin memberi tanda pada salah satu pelayan kepercayaan yang hadir untuk menghidangkan minuman dan makanan.
Ding Tao yang merasa sebagai seorang pelayan dalam keluarga Huang tentu saja makin merasa rikuh dan sungkan, menerima merasa tidak layak tapi menolak pun berarti sudah bersikap tidak sopan. Tuan besar Huang Jin tentu saja dapat menangkap kecanggungannya, dengan tawa ramah dia membesarkan hati pemuda itu.
―Ding Tao, janganlah terlalu sungkan, dua tahun ini tentu sudah banyak yang terjadi pada dirimu. Dari caramu berjalan dan sorot matamu, bisa kutebak, ilmumu tentu sudah maju jauh. Hari ini aku anggap kau sebagai tamu, entah apakah nanti kau akan kembali menjadi anggota keluarga Huang atau tidak, tapi aku harap antara keluarga Huang dengan dirimu bisa terjalin satu hubungan yang baik.‖
―Tuan besar Huang, hal itu… sungguh terlalu besar kehormatan yang Tuan besar Huang berikan, hamba ini lahir sebagai pelayan tuan. Setelah berkelana dua tahun pun, dalam hati
205
hamba masih memandang Tuan besar Huang sebagai tuan saya.‖
―Heh… anak Ding, perkataanmu itu sungguh tidak bisa aku terima. Siapa itu Liu Bei? Bukankah asalnya hanya seorang penjual sepatu jerami? Atau siapa itu Liu Bang yang menjadi pendiri Kekaisaran Han? Bukankah awalnya dia hanya seorang petani? Pahlawan lahir dari golongan mana saja, yang terpenting bagi seorang laki-laki adalah kepribadiannya.‖
―Pujian Tuan besar Huang terlalu berat untuk kuterima. Hamba ini cuma orang biasa, tentu tidak bisa dibandingkan dengan pahlawan-pahlawan dari masa yang lalu.‖
Ding Tao seorang yang rendah hati, tapi seorang yang rendah hati pun akan merasa senang jika dipuji, meskipun hatinya merasa sangat malu dengan sikap Tuan besar Huang Jin yang memperlakukannya dengan sangat baik, di lain pihak ada juga rasa bangga yang tersisip di dalamnya.
Mendengar jawaban dan sikap Ding Tao yang malu-malu, mereka yang berduduk di sana pun tertawa bergelak, bagaimana pun juga, sebagian besar dari mereka masih ingat dengan pemuda yang dungu tapi setia dan sopan itu.
206
―Sudahlah, yang penting hari ini, lupakan kedudukanmu dahulu sebagai pelayan dalam keluarga Huang, sekarang ini kamu menjadi tamu bagi kami dan jangan lupa kau masih berhutang penjelasan kepada kami. Aku yakin, ceritamu pastilah sangat menarik.‖, kata salah seorang di antara mereka setelah tawa mereka mereda.
Yang lain pun menggangguk setuju dan saling mendorong Ding Tao untuk cepat-cepat mengisahkan kejadian dua tahun yang lalu.
Ding Tao yang merasa diterima dengan baik menjadi lenyap tak berbekas segala ketakutannya, dengan suara yang cukup jelas dan lancar dia mulai menceritakan kejadian dua tahun yang lalu. Dimulai dari pesan Wang Chen Jin yang disampaikan secara diam-diam, hingga pertarungan di antara mereka berdua.
Seruan kaget dan marah terdengar dari beberapa orang, sementara wajah Tuan besar Huang Jin pun menjadi keruh saat mendengar akan kelicikan Wang Chen Jin, dengan geram dia memukul meja.
207
―Hmph!! Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anakany licik sama seperti bapaknya, wajahnya boleh jadi mirip Guan Yu, tapi hatinya persis Tsao Tsao.‖
Yang mendengar makian Tuan besar Huang Jin ikut mengangguk setuju, hanya Ding Tao yang tidak berani terlalu banyak berkomentar, sejenak dia berdiam diri, menunggu Tuan besar Huang Jin menyuruh dia melanjutkan cerita.
Tidak lama setelah memaki-maki Wang Dou dan anaknya, kembali mereka memandang Ding Tao, ―Lalu, kurasa Pelatih Gu-lah yang akhirnya menolongmu keluar dari sumur itu, karena malam itu kalian berdua menghilang bersamaan. Apakah benar demikian?‖
―Iya, benar sekali pengamatan Tuan besar Huang. Malam itu jika tidak ada guru, tentu umur hamba berhenti sampai di situ saja.‖
―Hmmm… tapi kami masih belum mengerti dengan jelas, jika demikian, lalu apa alasannya kalian menghilang? Seandainya malam itu dengan tidak sengaja kamu membunuh Wang Chen Jin, mungkin masih bisa kumengerti. Kalian mungkin memutuskan untuk menghindari pembalasan dendam Wang
208
Dou tanpa menarik keluarga kami ke dalam pertikaian itu. Tapi malam itu kaulah yang kalah dan jatuh ke dalam sumur, tidak ada alasan kuat bagi kalian untuk menghilang. Wang Dou dan anaknya justru berada di pihak yang bersalah.‖
Perasaan Ding Tao cukup peka, sejak tadi dia bisa merasakan bahwa Tuan besar Huang Jin telah menarik garis pemisah antara dirinya dengan keluarga Huang. Beberapa kali dia menyebut keluarga Huang sebagai kami dan Ding Tao dengan sebutan kamu.
Tapi menilik cara mereka yang menerima dirinya dengan bersahabat, Ding Tao mengerti bahwa yang dilakukan Tuan besar Huang Jin itu justru adalah demi kebaikan dirinya. Dengan demikian dalam pembicaraan itu, Ding Tao bukanlah berdiri sebagai seorang pelayan keluarga Huang, melainkan sebgai seorang tamu dan sahabat yang sederajat.
Tidak terkira rasa syukur dan terima kasih pemuda itu. Bicaranya pun semakin lancar dan segala ganjalan di hatinya hilang tak berbekas. Bahkan harapannya akan hubungan yang lebih baik dengan nona muda Huang menjadi semakin besar.
209
Karena itu tanpa ada yang ditutup-tutupi, diapun menceritakan bahkan menunjukkan Pedang Angin Berbisik yang ada di tangannya.
Sekilas hatinya terkesiap karena untuk sekejap dia bisa melihat perubahan di wajah Tuan besar Huang Jin dan mereka semua yang hadir. Tapi ketika kemudian mereka bersikap wajar dan terbuka, hatinya pun kembali menjadi tenang.
Setelah mendengar seluruh kisah Ding Tao, semua yang hadir di sana mengangguk-angguk dengan puas.
―Adik Huang, menurutku, tidak ada salahnya kalau Ding Tao menginap di sini selama beberapa hari sebagai tamu kita. Aku yakin banyak teman lama yang ingin ditemuinya.‖, ujar salah seorang kakak sepupu Huang Jin.
―Ya, aku setuju sekali dengan pendapat Engkoh Tiong, Ding Tao, bagaimana menurutmu? Kuharap kau tidak keberatan untuk menginap beberapa malam di rumah kami. Aku yakin ceritamu akan sangat menarik hati buat anak-anak muda di sini. Jangan sungkan, meskipun sekali lagi aku katakan, aku sudah mengambil keputusan untuk menganggapmu bukan bagian dari
210
keluarga ini lagi. Tapi tetap aku berharap antara keluarga Huang dan dirimu bisa terjalin hubungan yang baik.‖
Dengan muka memerah Ding Tao mengangguk setuju, ―Kalau Tuan besar Huang mengundang, tentu hamba tidak berani menolak, tapi kalau kamar yang dulu masih kosong, biarlah hamba beristirahat di situ saja.‖
Tentu saja pada awalnya Tuan besar Huang tidak setuju jika Ding Tao hendak tidur di kamarnya yang dulu, di bagian tempat para pelayan dalam. Tapi karena Ding Tao berkeras, akhirnya Tuan besar Huang pun menyetujuinya.
Tapi sebelum Ding Tao beristirahat di sana, Tuan besar Huang terlebih dahulu memerintahkan pelayan-pelayannya untuk membersihkan ruangan itu dan mengisinya dengan perabot-perabot yang lebih baik.
Ding Tao sedang mengamati kamarnya yang lama dengan rasa haru, berbagai kenangan baik yang pahit maupun yang manis singgah di benaknya. Setelah selesai melewati tanya jawab dengan Tuan besar Huang Jin, sebuah beban yang berat dirasanya lepas dari pundaknya.
211
Apa yang dikhawatirkan ternyata tidak terjadi, kesalah pahaman dua tahun yang lalu bisa diluruskan dengan mudah, bahkan bila menilik sikap dan perkataan Tuan besar Huang Jin, kesalah pahaman itu sendiri tidaj pernah ada.
Tiba-tiba barulah terasa, betapa penat tubuhnya. Melihat kasur yang empuk timbul keinginannya. Sudah dua tahun dia tidur hanya beralaskan kain, jangankan dengan kasur baru yang disiapkan Tuan besar Huang Jin, kasur kerasnya yang lama pun sudah jadi satu kemewahan. Dengan satu hembusan nafas lega dia menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
Terbayang kehidupan gurunya yang tua, Gu Tong Dang, yang saat ini tentu masih saja tidur beralaskan kain dan beratap ilalang. Dalam hati Ding Tao berjanji sesegera mungkin dia harus memberi kabar pada gurunya itu, seandainya saja dia bisa meyakinkan gurunya agar kembali pada keluarga Huang, tentu hidupnya akan jauh lebih baik dan tidak terlunta-lunta di usia tuanya.
Tapi untuk saat ini, lelah dan penat yang dirasakan mengalahkan segala macam pikiran yang ada. Sebentar memejamkan mata Ding Tao segera terlelap dalam tidur.
212
Entah untuk berapa lama dia terlelap, tiba-tiba saja kesadarannya dihentakkan kembali ke alam sadar dengan suara gedoran di pintu kamarnya disertai suara yang sudah sangat dikenalnya, ―Ding Tao! Ding Tao! Ayo buka…‖
―Ssst.. Adik Ying, jangan teriak-teriak. Bagaimana kalau dia sedang tidur, mungkin sebaiknya kita kembali saja nanti.‖
―Huuhh… jam segini tidur? Dulu dia tidak pernah malas, dua tahun keluyuran apa sekarang dia jadi pemalas?‖
Sekali lagi pintu kamarnya digedor dengan keras, ―Ding Tao! Baaanguuuuun !!!!‖
―Astaga … orang mati pun bisa bangun lagi kalau teriakanmu seperti itu.‖
―Bagus malah, memang aku mau membangunkan Ding Tao yang tidur setengah mampus.‖
―Aih… Adik Ying.‖
Kemudian terdengar ketukan yang lebih perlahan dan panggilan yang jauh lebih sopan, ―Saudara Ding, apa kau sudah bangun? Ini aku Huang Ren Fu dan Ying Ying.‖
213
Senyum lebar terbit di wajah Ding Tao, sudah sejak tadi, mendengar percakapan mereka di luar hatinya merasa geli sekaligus bahagia. Bisa dibayangkannya bagaimana Huang Ren Fu mati kutu mennghadapi adiknya yang nakal itu.
Secepat mungkin dia membenahi pakaiannya dan menjawab panggilan Huang Ren Fu, ―Sebentar Tuan muda Huang, aku akan sedikit beberes.‖
Ketika dibukanya pintu maka yang pertama kali menyambutnya adalah sebuah cubitan yang keras dari Huang Ying Ying, ―Bagus ya, sedari tadi kupanggil tidak kau jawab. Begitu Kakak Ren Fu yang memanggil kau bukakan pintu.‖
―Aduh… aduh nona, maafkan aku. Tadi memang aku sedang tertidur pulas, baru saja tersadar saat mendengar suara Tuan muda Huang.‖
―Huhh… jangan banyak alasan.‖
Sambil tersenyum kecut Ding Tao memberikan hormat pada kedua kakak beradik itu.
214
―Tuan muda Huang, nona muda Huang, senang sekali bertemu kalian lagi. Maafkan aku kalau sudah membuat keluarga kalian banyak susah.‖
Huang Ren Fu yang memang terbuka tabiatnya dengan bercanda memukul dada Ding Tao, ―Nah, apa sampai sekarang pun kau masih memanggil kami dengan sebutan tuan muda dan nona muda? Sedikit-sedikit sudah kudengar kisahmu dari ayah, sekarang kau menjadi tamu kami, jangan lagi panggil tuan dan nona, panggil saja Saudara Fu dan Adik Ying.‖
―Itu… sepertinya kurang sopan.‖, dengan sungkan Ding Tao bergumam.
―Kurang sopan apanya, Ding Tao apa kau mau kucubit lagi.‖, ancam Ying Ying dengan nada menggoda.
Huang Ren Fu yang melihat gaya adiknya tertawa, ―Benar Ding Tao, kalau kau masih juga sungkan-sungkan, jangan salahkan aku kalau nanti tubuhmu memar-memar. Adik Ying setelah mulai belajar ilmu pedang jadi tambah galak saja.‖
Dengan muka bersemu merah Ding Tao tertawa, ―Eh… baiklah, jadi nona muda… maksudku Adik Ying sekarang juga belajar ilmu pedang keluarga Huang?‖
215
―Hmmm… heran ya? Makanya sekarang kau mesti lebih hati-hati kalau berbicara denganku. Aku ini kan gadis berbakat, belajar apa saja tentu bisa. Jangan kau samakan dengan dirimu. Jurus dasar sudah aku selesaikan dalam 3 bulan pertama dan sekarang jurus lanjutan sudah hampir selesai kupelajari.‖
―Adik Ying, jangan menyombong, apa tidak kau dengar kata ayah, dalam dua tahun ini Ding Tao sudah mendapat banyak kemajuan.‖, kata Huang Ren Fu yang merasa geli terhadap kesombongan adiknya.
Peringatan kakaknya itu hanya dijawab dengan cibiran saja oleh Huang Ying Ying. Tapi baik Ding Tao maupun Huang Ren Fu tidak merasa terganggu oleh ulah gadis muda itu, mereka mengenal dengan baik adat Ying Ying yang suka mengoceh dan berulah tapi hangat dan bersahabat.
―Kakak Fu, aku sebenarnya ragu apa benar kata ayah, yang kuihat sih Ding Tao Cuma bertambah tinggiiii saja. Benar tidak Ding Tao?‖, ujar Huang Ying Ying dengan kerling menggoda.
Ding Tao pun menggaruk kepalanya sambil tertawa geli, kemudian sahutnya dengan sopan, ―Sebenarnya memang aku
216
sendiri meskipun merasakan adanya kemajuan tapi tidak begitu yakin juga dengan kemampuan yang sebenarnya.‖
―Apa sewaktu dalam perjalanan kau tidak pernah bertemu dan berkelahi dengan penjahat Ding Tao?‖, tanya Ying Ying dengan penuh rasa keingin tahuan.
―Tidak, tidak juga, biasanya aku berpergian dalam satu rombongan besar, beramai-ramai dengan para pedagang dan orang lain. Mereka ini biasanya sudah menyewa pengawal, jadi sepanjang perjalanan tidak banyak halangan.‖
―Aduh… membosankan sekali…‖, keluh Huang Ying Ying dengan manja, mulutnya cemberut, tapi bagi Ding Tao justru membuat gadis itu makin menggemaskan.
Huang Ren Fu tertawa mendengar keluhan adiknya itu, ―Jangan konyol, memangnya kaupikir setiap hari penjahat selalu bermunculan di jalanan seperti dalam cerita silat yang kau baca?‖
―Huuh, kalau tidak berkelahi lalu untuk apa belajar silat, membosankan sekali. Kalau tidak menghajar pantat penjahat-penjahat, lalu siapa yang harus kuhajar? Bukankah antara satu
217
kota dengan kota yang lain masih banyak hutan dan gunung yang terpencil?‖
―Hehehe, mungkin kau hajar saja pantatmu sendiri. Adik Ying, di tempat yang terpencil seperti itu memang terkadang ada saja gerombolan penjahat, tapi biasanya kelompok pengawalan sudah menyiapkan pajak khusus buat mereka.‖
―Maksud Kakak, seperti ayah yang mengirimkan uang untuk Wang Dou itu ya?‖
―Ya begitulah, Paman Wang Dou memiliki pengaruh yang cukup besar di sisi utara sungai, hampir setiap kelompok di sana tidak ada yang berani macam-macam dengannya. Asalkan kita menjalin hubungan baik dengannya, kiriman barang melewati daerah itu tentu akan aman-aman saja.‖
―Huh.. pengaruh apanya, maksud kakak, dia itulah gembong penjahatnya, kakek moyang maling dan perampok di sana.‖
Membicarakan Wang Dou, Huang Ying Ying jadi teringat cerita ayahnya tentang Ding Tao dan Wang Chen Jin, berbalik melihat Ding Tao diraihnya tangan pemuda itu lalu dengan sungguh-sungguh dia berkata, ―Ding Tao, aku sudah mendengar cerita ayah tentang Wang si keparat itu. Sungguh
218
kalau aku tahu dia selicik itu, tidak akan aku menerima persahabatannya.‖
Tangan Huang Ying Ying yang lembut dan hangat membuat Ding Tao berdebar-debar. Sambil berpura-pura tidak merasakan apa-apa, dia berusaha menjawab, ―Jangan berkata begitu nona… eh… Adik Ying. Aku sendiri tidak menduga dia akan menyerangku secara demikian. Lagipula, mungkin itu terdorong oleh rasa…‖
Tersadar Ding Tao bahwa dia hendak mengatakan,‖… terdorong oleh rasa cemburunya.‖
Tapi cepat-cepat dia menghentikan kata-katanya, jangan-jangan nanti dia dianggap tidak tahu diri. Kalau bilang cemburu, bukankah itu berarti Ding Tao menafsirkan kebaikan Huang Ying Ying sebagai tanda cinta.
Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu justru tidak menangkap apa-apa dari perkataan Ding Tao, Ding Tao sendirilah yang terlalu banyak berpikir dan merasa. Huang Ying Ying yang mendengar Ding Tao tidak menyalahkan dirinya tersenyum gembira.
219
―Terima kasih Ding Tao, aku tahu sifatmu tidak picik dan suka mendendam. Tapi saat kudengar cerita dari ayah aku jadi merasa bersalah sudah berteman dengan si licik Wang cilik itu.‖
―Aku juga Ding Tao, aku pun menyesal tidak bisa melihat kelicikan dalam diri pemuda itu.‖, sahut Huang Ren Fu dengan sungguh-sungguh.
―Tapi kata ayah, dari peristiwa itu, kau justru mendapat keberuntungan. Apa benar pedang pusaka milik keluarga Wang jatuh ke tanganmu?‖, tanya Huang Ren Fu yang teringat lagi dengan cerita ayahnya.
Huang Ying Yiing yang juga merasa penasaran dengan kisah Ding Tao ikut mendesaknya. Tidak berapa lama kemudian, tiga orang muda itu pun larut dalam percakapan yang seru. Atas desakan kedua bersaudara itu, Ding Tao sempat pula memamerkan kehebatan Pedang Angin Berbisik yang bisa dengan mudahnya memotong kayu setebal paha orang dewasa.
-------------- o ---------------
Mereka bertiga tidak sadar, beberapa pasang mata sedang mengamat-amati ketiganya. Mereka itu adalah Huang Jin, Tuan
220
besar Huang Jin, kepala keluarga besar Huang. Tiong Fa, sepupu jauhnya yang sering dimintainya nasihat. Huang Ren Fang, putera pertama Huang Jin dan penerus yang diharapkan. Serta Huang Yunshu, paman Huang Jin, satu-satunya saudara ayah Huang Jin yang masih hidup.
―Kalian lihat pedang itu? Menurut kalian apakah benar dugaan Gu Tong Dang bahwa pedang itu adalah Pedang Angin Berbisik?‖, tanya Huang Jin dengan suara rendah.
Tiong Fa yang seringkali bertindak sebagai pencari berita bagi keluarga Huang mengangguk dengan yakin, ―Aku cukup yakin, pedang itu adalah Pedang Angin Berbisik. Karena menurut penyelidikanku pedang itu memang pada saat terakhir jatuh ke tangan Wang Dou. Sayang belum sempat kita mengatur jerat di sekitarnya, justru anak Wang Dou merusakkan setiap rencana kita dan menghadiahkan pedang itu pada si dungu itu.‖
―Hmph… benar-benar gemas aku kalau mengingat hal itu. Sungguh langit tidak punya mata, sekian tahun kita bekerja keras, anak dungu itu justru mendapatkannya tanpa usaha.‖
Huang Jin meremas sekuntum bunga yang kebetulan ada di dekatnya sampai hancur lumat, wajahnya tidak lagi terlihat
221
ramah dan arif. Wajah ke empat orang yang lain tidak kalah menakutkan.
Lucu memang bila dipikirkan, sepertinya langit yang dipandang adil, menurut pandangan mereka haruslah adil dalam cara yang sesuai dengan kepentingan mereka. Tidak teringat bahwa Ding Tao hampir mati malam itu. Tidak teringat pula alasan Ding Tao menemui Wang Chen Jin malam itu adalah karena kesetiaannya pada keluarga Huang.
―Menurut Paman Yunshu, sebaiknya apa yang kita lakukan pada Ding Tao?‖
―Hmm… tidak salah kita memilih Gu Tong Dang menjadi pelatih bagi bibit-bibit muda. Orang itu memang punya mata yang jeli. Si dungu itu punya bakat yang bagus. Siang tadi saat aku memperhatikan cara dia berjalan memasuki ruangan, cara dia berdiri tegap dan imbang di atas kedua kakinya. Anak dungu itu kukira cukup berisi.‖
―Jadi maksud paman, kita tarik saja dia kembali dalam keluarga Huang?‖
222
Berdiam diri sejenak Huang Yunshu yang sudah memutih semua rambutnya itu perlahan-lahan menggeleng, ―Tidak semudah itu, anak itu… anak itu… terlalu lurus.‖
Sepertinya kata lurus itu berat sekali keluar dari mulutnya, sampai mati pun keluarga Huang memandang dirinya sebagai aliran yang lurus. Menyebut Ding Tao sebagai orang yang lurus dan tidak bersesuaian dengan keluarga Huang, terasa seperti memaksakan posisi sebagai penjahat pada keluarga Huang.
Karena itu diapun melanjutkan, ―Sifatnya yang lurus terkadang tidak sesuai dengan keadaan. Untuk menggapai tujuan besar, seseorang harus memiliki keteguhan hati untuk mengorbankan sesuatu. Bersikap cerdik di waktu yang dibutuhkan dan anak itu tidak memilikinya sama sekali.‖
Tiong Fa ikut memberikan pendapat, ―Bisa saja dia ditarik menjadi anggota keluarga Huang, tapi pedang itu harus diserahkan pada kita. Tidak boleh kita menjadikan anak itu sebagai andalan. Karena selalu ada kemungkinan dia justru akan bangkit melawan kita kalau dilihatnya ada yang tidak sesuai dengan nuraninya.‖
223
Huang Jin mengelus-elus kumisnya yang tebal, ―Hmmm… apakah menurutmu itu mungkin? Ding Tao menyerahkan pedangnya dengan suka rela hingga kita bisa menariknya ke keluarga kita, sekaligus mendapatkan pedang itu?‖
Sambil memandang ke arah Ding Tao di kejauhan, Tiong Fa tersenyum melecehkan, ―Pemuda itu begitu dungu, saat ini dia memandang keluarga Huang seperti memandang sekumpulan orang suci. Jika kita bisa memberikan alasan yang mulia, dia akan menyerahkan pedang itu tanpa segan-segan sedikitpun.‖
Huang Ren Fang yang sedari tadi berdiam diri menyambung, ―Selain itu, kulihat pemuda dungu itu jungkir balik jatuh cinta dengan Adik Ying.‖
Huang Jin yang mendengar hal itu melirik tajam ke arahnya, bagaimanapun Huang Ying Ying adalah puteri satu-satunya, ―Maksudmu kita mengumpankan adikmu untuk mendapatkan pemuda dungu itu?‖
Dengan dingin Huang Ren Fang mengangkat bahunya, ―Setiap perjuangan butuh pengorbanan, lagipula jika anak muda itu sudah seperti mabok arak hanya karena tangannya menggenggam tangan Adik Ying, kukira bila kita memberikan
224
harapan lebih baginya, jangankan pedang, nyawanya pun mungkin akan diberikan.‖
Merasakan ayahnya kurang suka dengan pendapatnya itu, dia menambahkan, ―Ayah tidak perlu cemas, belum tentu kita perlu menikahkan Adik Ying dengan dirinya, cukup kita berikan dia harapan saja tanpa janji yang pasti.‖
Huang Yunshu yang mendengarkan pendapat cucunya dengan tenang ikut menyambung, ―Sebagai seorang suami pun, pemuda dungu itu tidaklah buruk, bakatnya bagus dan sifatnya, seperti yang sudah kukatakan, jujur dan setia.‖
Huang Jin yang mendengar pendapat pamannya itu mau tidak mau harus menerimanya, dengan mendesah dia pun setuju, ―Hahhh…. Ya sudahlah, moga-moga saja anaknya tidak sedungu bapaknya. Tapi bagaimana jika dia masih menolak juga?‖
Sejenak ketiga orang yang diajaknya berbicara itu saling melihat, lalu satu pikiran mereka mengangguk, ―Tidak ada jalan lain, dia harus dibunuh, apa pun caranya.‖
Hening sejenak sebelum Tiong Fa berkata, ―Tapi aku yakin, lidahku ini sudah cukup untuk membuat pemuda itu
225
menyerahkan pedangnya. Serahkan saja semuanya padaku saat jamuan makan malam nanti.‖
--------------------- o ----------------------
Jamuan makan malam dilakukan dengan cukup sederhana, namun hampir seluruh anggota keluarga Huang diundang di sana. Tidak kurang dari 30 orang ikut makan bersama, untuk itu sebuah meja yang panjang dan lebar sudah disediakan, di bagian kepala meja tentu saja duduk Tuan besar Huang Jin. Di kiri dan kanannya adalah Tiong Fa dan Huang Yunshu, kemudian menyusul berturut-turut orang-orang kepercayaan Huang Jin.
Semakin jauh dari bagian kepala meja, semakin rendah dan muda dari segi umur yang duduk di sana. Ding Tao tidaklah berada di ujung yang satu tapi tidak pula dekat dengan posisi Huang Jin. Tapi Ding Tao tidak merasa tersinggung, justru dia merasa senang karena di dekatnya adalah orang-orang yang hampir seumuran dengannya.
Tepat di sisi kanannya adalah Huang Ying Ying yang berceloteh tiada henti. Entah apa saja yang dibicarakan, tapi
226
buat telinga Ding Tao setiap cerita atau gurauan yang dilontarkan sangatlah menarik dan lucu.
Sepanjang acara makan bersama itu, senyum dan tawa tidak pernah lepas dari bibirnya.
Tentu saja hal itu tidak lepas dari perhatian Huang Jin, dalam hati dia terpaksa mengakui kebenaran kata-kata Huang Yunshu dan putera sulungnya Huang Ren Fang. Hatinya sedikit terhibur melihat Huang Ying Ying sendiri tampaknya menyukai Ding Tao dan sepanjang acara itu Ding Tao bersikap sangat sopan terhadap puterinya.
Karena itu diapun tidak terlalu gusar saat dia mendengar putera sulungnya menggoda Huang Ying Ying, ―Adik Ying, kulihat Ding Tao itu orang yang sopan sekali, bisa dibilang cocok untuk menjadi suami seorang gadis sepertimu yang punya sifat bengal.‖
Godaan Huang Ren Fang itu kontan saja membuat muka Ding Tao memerah seperti kepiting rebus, Huang Ying Ying yang biasanya tidak ambil peduli pendapat orang itu pun, entah kenapa malam itu sedikit berbeda. Meskipun mulutnya terbuka
227
tapi gadis nakal yang biasanya bisa cepat membalas godaan orang itu kali ini mati kutu.
Tentu saja melihat reaksi keduanya, orang-orang di sekitarnya pun jadi ikut menggoda.
Acara makan itu pun menjadi semakin meriah, tentu saja bukan melulu menggoda sepasang muda-mudi itu, soal lain pun ikut dibahas. Antara lain tentang pengalaman Ding Tao selama dua tahun itu. Beberapa kali pemuda itu harus mengulangi cerita yang sama tentang pertarungannya dengan Wang Chen Jin dan bagaimana Gu Tong Dang menyelamatkan nyawanya di saat yang paling kritis.
Ketika Tiong Fa melihat bahwa hampir semua orang sudah berhenti makan, dia berdeham sejenak untuk menarik perhatian.
Saat perhatian semua orang tertuju padanya Tiong Fa menoleh ke arah Ding Tao dan dengan nada yang bersungguh-sungguh dia bertanya, ―Ding Tao, sebenarnya aku tidak ingin untuk menanyakan hal ini. Tapi sedari tadi siang, aku berpikir-pikir, tentang pedang itu. Apakah tidak lebih baik kau serahkan pedang itu pada keluarga Huang kami?‖
228
Ruangan yang tadi riuh dengan percakapan tiba-tiba menjadi sepi, senyum lebar di wajah Ding Tao menghilang digantikan wajah yang memucat.
Seandainya saja pertanyaan diajukan tadi siang, saat dia baru bertemu dengan Tuan besar Huang Jin, mungkin Ding Tao tidak sekaget sekarang.
Bukan hanya Ding Tao yang terkejut, banyak orang muda yang ada di ruangan itu pun sama terkejutnya. Urusan ambisi keluarga Huang dalam dunia persilatan dan sangkutannya dengan Pedang Angin Berbisik memang urusan yang dijaga rahasianya baik-baik oleh Huang Jin dan orang-orang kepercayaannya.
Tiong Fa yang cerdik tentu saja sudah memperhitungkan hal ini. Sedari awal keluarga Huang memandang dirinya sebagai bagian dari aliran yang lurus, jika sekarang Tiong Fa mengatakan dia ingin meminta pedang itu dari Ding Tao tanpa bisa memberikan alasan yang kuat, tentu seluruh tokoh dunia persailatan akan memandang mereka sebagai sampah.
Termasuk orang-orang dalam keluarga Huang sendiri, utamanya mereka yang masih berusia muda dan idealis.
229
―Ding Tao, janganlah kau salah mengerti, pendapatku ini bukanlah didasari ambisi pribadi.‖
Berdiam diri sejenak Tiong Fa memandang ke sekeliling ruangan, ―Aku lihat di sini yang ada di sini, semuanya adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Aku juga yakin Ding Tao cukup bijaksana untuk merahasiakan tentang keberadaan pedang yang ada di tangannya itu.‖
Setiap orang menatap ke arah Tiong Fa dengan wajah serius, hanya seorang yang sedikit berbeda, yaitu si nakal Huang Ying Ying. Mukanya sedikit memerah sambil menggigit bibir bawahnya.
Bagaimana tidak malu, gadis nakal ini yang paling susah menahan bicara, dalam hati dia bersyukur, untung tadi siang saat hendak menemui pengasuhnya dan menceritakan tentang pengalaman Ding Tao, ayahnya keburu memanggil dia ke ruang latihan. Coba kalau tidak, pasti dia sudah menceritakan soal pedang itu pada bibi pengasuhnya, yang tidak kalah bawel dan suka bergosip.
Dalam keadaan seperti itu, wajah gadis itu sendiri sebenarnya jadi semakin manis dan menggoda, sayang tidak seorangpun di
230
ruangan itu tidak sempat mengaguminya. Apalagi Ding Tao yang saat itu merasa seperti sedang ditodong dengan pedang tepat di atas jantungnya.
―Tapi satu hal yang perlu diingat, serapat apapun rahasia itu ditutup, satu saat akan terbongkar juga. Ding Tao tidak tahukah dirimu ada berapa banyak tokoh dalam dunia persilatan yang berusaha mengendus jejak dari pedang di tanganmu itu?‖
―Selama kau memegang pedang itu, selama itu pula nyawamu terancam. Tapi itu bukan satu-satunya alasanku untuk memintamu meninggalkan pedang itu dalam pengawasan keluarga Huang.‖
―Alasan lainnya adalah masalah Sekte Matahari dan Bulan yang diketuai Ren Zuocan. Mungkin kau belum tahu, satu-satunya yang membuat takut iblis itu adalah pedang di tanganmu itu, sebelum dia berhasil memusnahkan atau mendapatkan pedang itu dia tidak akan bisa beristirahat dengan tenang.‖
―Kekuasaannya dan kekuatannya secara pribadi semakin meningkat dari tahun ke tahun. Banyak anggota dunia persilatan yang diam-diam sudah bersumpah setia kepadanya.
231
Bukan hanya dunia persilatan yang berada dalam bahaya, tapi juga negara kita secara keseluruhan. Bayangkan saja jika dedengkot barbar itu berhasil menguasai dunia persilatan daratan, berapa lama sebelum pasukan mereka akan menyeberangi perbatasan dan menjarah rumah-rumah kita?‖
Mendengar kata-kata Tiong Fa yang penuh semangat patriotisme, wajah-wajah yang sebelumnya mengerutkan alis sekarang mengangguk-angguk setuju.
Termasuk Ding Tao sendiri.
―Karena itu Ding Tao, dengan berat hati dan memendam rasa malu, aku memintamu untuk menyerahkan pedang itu ke dalam pengawasan keluarga Huang. Bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena rasa sayangku padamu dan juga kewajibanku pada negara dan tanah air.‖
Hebat benar lidah licin Tiong Fa, sudah dari jaman dulu kala, ada saja orang-orang yang berlidah licin selicin ular, yang dengan kemampuannya berbicara dan bersandiwara mampu memikat hati pendengarnya. Apalagi pemuda-pemuda yang tidak berpengalaman itu. Apalagi yang mengucapkan adalah orang yang mereka hormati di hari-hari biasa, tidak sebetik pun
232
terlintas dalam pikiran mereka bahwa kata-kata yang manis dan penuh semangat itu, tidak lebih dari arak wangi yang menyembunyikan amisnya racun keji.
Begitu hebatnya kata-kata, bahkan yang mengucapkan sendiri ikut terbuai olehnya. Dalam bayangan Huang Jin dan orang-orang kepercayaannya, ada sebagian dari diri mereka yang menghibur hati dengan pembelaan itu, Meskipun jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka tahu bahwa ambisi pribadi dan keserakahan adalah motivasi penggeraknya.
Padahal mereka semua adalah orang yang mengerti bahkan beberapa di antaranya sangat taat dalam beragama. Ada yang menekuni agama Buddha ada pula yang menekuni ajaran Konfusius. Lalu mengapa keserakahan masih menguasai hati mereka? Mengapa mereka tega untuk mengorbankan orang lain demi ambisi pribadi mereka?
Bagaimana bisa seorang tabib menyembuhkan si sakit, jika si sakit itu sendiri tidak mau menyadari sakitnya?
Sungguh celaka orang yang sudah menipu dirinya sendiri, sesungguhnya kecerdikan mereka justru menjadi jerat bagi jiwanya sendiri.
233
Perhatian setiap orang sekarang beralih pada Ding Tao, Ding Tao yang merasakan tatapan setiap orang pada dirinya menjadi salah tingkah. Teringatlah dia pada kata-kata gurunya, pada sumpah yang pernah dia ucapkan, meskipun gurunya membatalkan sumpah itu. Pemuda ini tidak meragukan sedikitpun ketulusan Tiong Fa, bahkan dalam hatinya dia justru meragukan kemampuannya sendiri.
Seandainya saja malam itu Gu Tong Dang tidak memberikan nasihat dan perintah demikian, mungkin saat itu juga, Pedang Angin Berbisik sudah diserahkannya pada Tiong Fa.
Beruntung bagi Ding Tao, gurunya bukan orang yang masih hijau, gurunya cukup mengenal orang-orang yang ada dalam kelompok pimpinan keluarga Huang. Sehingga sebagai bekal bagi Ding Tao, telah dinasihatkannya dengan sungguh-sungguh pada pemuda itu untuk mempertahankan kepemilikannya atas pedang itu.
Gu Tong Dang sadar dia tidak bisa menahan Ding Tao untuk tidak menemui keluarga Huang tanpa membuat getir hati muridnya dan dia cukup bijaksana untuk memahami bahwa seorang guru ataupun orang tua, pada satu titik tidak bisa lagi terus menerus melindungi anak atau muridnya.
234
Ada saatnya rajawali muda harus belajar terbang dan mencari makan sendiri, meskipun untuk itu dia bisa saja terluka atau bahkan mati di dunia yang keras.
Karena itu dilepaskannya Ding Tao pergi ke sarang serigala, segala bekal yang bisa dia berikan sudah diberikan, sisanya ada pada diri Ding Tao sendiri dan kehendak langit.
Diam-diam nun jauh di sana, guru tua itu berdoa dengan khusyuknya, demi keselamatan murid yang dia kasihi, tidak ada lain lagi yang bisa dia lakukan sekarang.
Dengan suara sedikit gemetar Ding Tao menjawab, ―Maafkan aku Tetua Tiong, tapi dengan sesungguhnyalah aku tidak bisa memberikan pedang ini kepada keluarga Huang?‖
Suara bisik-bisik pun memenuhi ruangan itu, mereka yang tadinya tidak puas pada permintaan Tiong Fa, sekarang berbalik tidak puas pada jawaban Ding Tao. Tapi pemuda itu bukanlah Tiong Fa yang pandai bersilat lidah, dengan wajah merah padam dia hanya bisa berdiam diri dan menekuri pedang yang ada di hadapannya.
Tiong Fa pun berkerut alisnya, jawaban Ding Tao sedikit di luar dugaannya, namun Tiong Fa yang cerdik ini yakin sepenuhnya
235
pada kemampuannya menilai seseorang, karena itu dia tidak cepat menjadi gugup atau marah.
―Anak Ding, mengertikah kau dengan uraianku sebelumnya? Sebenarnya apa yang kau cari dengan pedang itu? Apakah kau menginginkan ketenaran? Kekayaan?‖
Menggeleng Ding Tao mendengar pertanyaan itu, ―Bukan Tetua Tiong, sungguh bukanlah demikian maksudku. Sebenarnya sebelum aku pergi, guru, telah menceritakan hal ihwal pedang ini terhadapku dan pesannya yang selanjutnya adalah agar aku mengemban tugas, melenyapkan Ren Zuocan dengan menggunakan pedang ini.‖
Atas jawaban Ding Tao ini bermacam-macam reaksi yang muncul. Ada sebagian yang mengagumi kegagahan pemuda itu, apalagi mereka sudah mengenal kejujuran Ding Tao dan tanpa ragu lagi meyakini ketulusan kata-katanya.
Tapi ada juga mereka yang menjadi kurang puas dan merasa pemuda itu terlalu sombong atau setidaknya sudah salah menilai dirinya sendiri.
Tiong Fa tersenyum dalam hatinya, mendengar jawaban Ding Tao, maka jelas baginya, tidak ada kesalahan dalam
236
penilaiannya atas diri pemuda itu. Diam-diam dia memaki kelicinan Gu Tong Dang.
Siapa sebenarnya yang licin Gu Tong Dang atau dirinya? Tentu saja buat Tiong Fa, Gu Tong Dang-lah yang licin dan licik, sedangkan dirinya adalah cerdik dan bijak. Tapi dia tetap tertawa dalam hati, menertawakan kebodohan Gu Tong Dang, karena sekarang dia melihat sebuah celah yang bisa dimasukinya.
―Ding Tao, sungguh aku hargai keberanian dan tekadmu, tapi tahukah kau siapa itu Ren Zuocan? Mungkin kau pikir satu-satunya ilmu andalan Ren Zuocan itu adalah ilmu kebalnya dan dengan pedang di tanganmu itu kau akan mampu menembusnya.‖
―Jangan salah nak, bukan hanya ilmu kebal, tapi Ren Zuocan itu gudangnya ilmu. Dia memiliki ilmu pukulan, tenaga dalam dan ilmu tombak yang tidak kalah menggiriskannya dari ilmu kebalnya yang terkenal. Jika bukan demikian, tentu orang dunia persilatan tidaklah begitu gentar padanya.‖
Wajah Ding Tao yang sudah merah, semakin memerah, tentu saja dia mengetahui semua hal itu. Sekali lagi jika bukan
237
karena pesan gurunya tentu pedang itu sudah dia serahkan sekarang, tapi terngiang-ngiang di benaknya perkataan gurunya, ―Kaulah yang pantas menjadi pemilik pedang itu.‖
Tiong Fa yang melihat bahwa kata-katanya sudah mulai menjerat Ding Tao melanjutkan, ―Nak, mungkin saja kau tidak takut kehilangan nyawa dalam usahamu untuk menggenapi tugas yang diberikan oleh Pelatih Gu padamu, tapi tidakkah kau bayangkan, apa yang akan terjadi jika kau gagal? Bukan saja kau akan kehilangan nyawa, tapi pedang itu akan jatuh ke tangan Ren Zuocan, bagaikan harimau tumbuh sayapnya. Jika sekarang saja kita harus bersusah payah untuk membendung ambisinya, kalau pedang itu sampai jatuh ke tangannya, apa yang bisa kita lakukan?‖
―Apakah kita semua haris beramai-ramai menyerahkan nyawa padanya?‖
Ding Tao pun semakin terdesak oleh argumentasi Tiong Fa, sampai akhirnya dengan terbata-bata dan suara yang hampir-hampir tidak terdengar dia berkata, ―Tapi… tapi… ah… ―
238
―Tapi menurut guru, aku bisa melakukannya dan… kemampuanku sudah cukup untuk mempertahankan pedang ini.‖
Setelah berkata demikian pemuda itu menundukkan kepala, tidak berani untuk melihat ke kiri dan kanan. Tak sampai hati dia untuk berkata bahwa Gu Tong Dang percaya bahwa dari antara seluruh tokoh dunia persilatan, dialah yang pantas memiliki pedang itu. Tapi perkataannya tadi itupun sudah cukup menyiratkan hal itu.
Ruangan itupun jadi penuh dengan suara riuh rendah, mereka yang tadinya bersimpati pada Ding Tao pun merasa bahwa pemuda itu sudah keterlaluan memandang tinggi dirinya. Apalagi mereka yang sejak tadi sudah merasa tidak puas dengan sikap Ding Tao, tanpa segan-segan mereka mengemukakan pendapatnya.
Ding Tao yang menunduk, semakin saja menunduk. Entah apa di antara pembaca pernah merasakan hal yang demikian, merasa melakukan sesuatu yang memalukan di hadapan banyak orang. Sampai rasanya ingin bumi terbelah menjadi dua dan menelan kita lenyap dari permukaan bumi.
239
Yang seharusnya merasa malu tidak merasa malu, bahkan bersorak dalam hati. Yang tidak perlu merasa malu justru merasa malu.
Dalam keadaannya yang serba getir itu, tiba-tiba Ding Tao merasakan satu sentuhan lembut pada tangannya yang tersembunyi di bawah meja.
Terkejut dia menoleh sekilas ke arah Huang Ying Ying dan dilihatnya gadis itu memandang dirinya penuh simpati, terasa pula bagaimana tangan gadis itu meremas tangannya, seakan memberikan semangat baginya untuk bertahan.
Ding Tao merasa sedikit keberaniannya kembali muncul, tidak lagi dia merasa sesengsara seperti tadi. Meskipun dia masih merasa malu kepada anggota keluarga Huang yang lain.
Tiong Fa membiarkan saja keriuhan itu terjadi, dibiarkannya keadaan itu mengendap dalam perasaan setiap orang.
Setelah dia merasa cukup menanamkan racun itu di hati setiap orang, dia mengangkat tangannya, ―Tahan sebentar, cobalah tenang. Kita harus menghargai sikap Ding Tao, sebagai salah seorang tetua dalam keluarga Huang, aku berharap setiap
240
generasi muda dalam keluarga Huang mengambil sikap Ding Tao terhadap perintah gurunya itu sebagai satu teladan.‖
Inilah hebatnya Tiong Fa, dengan satu kalimat dia berhasil menampilkan dirinya sebagai seorang yang arif, bijak dan barhati besar. Bahkan memenangkan hati Ding Tao yang sebenarnya justru sudah menjadi korban lidahnya yang beracun.
Menunggu suasana mereda, Tiong Fa sekali lagi mengajak Ding Tao berbicara, ―Anak Ding, sebenarnya aku merasa malu untuk mengajukan usul ini. Orang mungkin akan menganggap aku sebagai golongan yang lebih tua menekan yang muda.‖
Tentu saja sebenarnya memang itu yang sedang dia lakukan, tapi setelah kata-katanya yang sebelumnya siapa dalam ruangan itu yang berpikir demikian?
―Tapi karena rasa kewajibanku pada bangsa dan negara, mau tidak mau aku mengajukan usul ini. Kau berteguh hati hendak mempertahankan pedang itu karena gurumu telah berpesan bahwa kau memiliki kesanggupan untuk melindungi pedang itu. Jika hal itu benar, tentu akupun tidak berkeberatan. Tapi bagaimana jika dia salah menilai dirimu?‖
241
―Karena itu bagaimana kalau sekarang kita melakukan saut pertandingan persahabatan, antara dirimu, dengan orang-orang dalam keluarga Huang. Jika kau berhasil mengalahkan kami, maka itu berarti kau memang memiliki kemampuan yang lebih dari kami untuk melindungi pedang itu. Tapi jika tidak, kukira kaupun tidak berkeberatan untuk mempercayakan pengawasan pedang itu pada keluarga Huang.‖
Sebenarnya usulan Tiong Fa ini tentu saja jauh dari adil. Untuk membuktikan dirinya Ding Tao tentu harus melayani orang-orang dari keluarga Huang sendirian. Di mana letak keadilannya? Tapi bila mengikuti argumentasi Tiong Fa, tentu saja orang jadi dibuat setuju oleh pendapatnya.
Dengan menggigit bibir akhirnya Ding Tao pun mengangguk setuju, ―Tetua Tiong, sebenarnya aku merasa malu, tapi kurasa itulah jalan yang terbaik. Sehingga jika nanti kuserahkan pedang ini ke dalam pengawasan keluarga Huang, bukan berarti aku melanggar pesan guruku. Namun memang keluarga Huang lebih pantas untuk menyimpannya.‖
Demikianlah dengan kelicinan lidahnya Tiong Fa berhasil mengatur panggung sandiwara, di mana setiap orang berhasil dimainkan menurut kemauannya.
242
Huang Jin, Huang Yunshu dan Huang Ren Fang, serta beberapa orang kepercayaan keluarga Huang yang lain, yang mengetahui tentang rencana ini, mengangguk-angguk dengan puas. Dalam hati mereka bersyukur ada orang macam Tiong Fa dalam keluarga mereka. Bersyukur tapi juga bergidik, ketika membayangkan bila Tiong Fa justru berdiri di pihak lawan.
V. Emas palsu atau emas tulen?
Akhirnya setelah dua tahun berlalu, Ding Tao menginjakkan kaki kembali di rumah kediaman keluarga Huang. Tempat dia dilahirkan dan dibesarkan, tempat di mana dia belajar arti kata persahabatan dan untuk pertama kalinya mengenal cinta.
Ketika dia dipersilahkan masuk ke dalam bangunan utama, Ding Tao sedikit berdebar karena di hadapannya telah berduduk para tetua dan orang penting dalam keluarga Huang. Rupa-rupanya kedatangannya bertepatan dengan salah satu pertemuan penting dalam keluarga Huang. Ding Tao pun jadi merasa tidak enak hati dan malu, karena dengan tidak sengaja sudah merecoki satu pertemuan yang sepertinya cukup penting.
243
Cepat-cepat dia membungkukkan badan dalam-dalam dan memberi hormat, ―Tuan besar Huang Jin, para tetua, maafkan jika hamba sudah mengganggu pertemuan yang penting.‖
Tuan besar Huang Jin yang sebelumnya sudah mendapatkan kabar tentang kedatangan Ding Tao dari salah seorang keponakannya, telah bersiap-siap untuk menemui Ding Tao.
Meskipun di luaran, dia berlagak terkejut dan tidak menyangka akan kedatangan Ding Tao, dengan cepat dia berdiri dari tempat duduknya dan bangkit untuk menyambut Ding Tao yang masih membungkuk hormat.
―Astaga, Ding Tao. Benarkah engkau itu nak? Jangan sungkan-sungkan, pertemuan kami sebenarnya sudah hampir selesai. Nah sekarang duduklah bersama kami, kedatanganmu ini tentu membawa satu cerita yang luar biasa. Dengan tiba-tiba kau menghilang dua tahun yang lalu bersamaan dengan Pelatih Gu, kami semua mencemaskan kalian dan terus terang merasa penasaran.‖
Ding Tao merasa bersyukur, segala kekuatirannya ternyata tidak beralasan, Tuan besar Huang Jin, bukan saja tidak
244
mencurigainya, Tuan besar Huang Jin bahkan menyambutnya seperti menyambut seorang anak yang hilang.
Membasah mata Ding Tao dengan suara sedikit serak menahan haru dia menjawab, ―Tuan besar Huang, sungguh kami bersalah, tapi ada alasan kuat mengapa aku dan guru terpaksa pergi diam-diam.‖
Dengan arif Tuan besar Huang Jin menepuk-nepuk pundak pemuda itu, ―Tenangkanlah hatimu, terhadap kesetiaanmu dan kesetiaan pelatih Gu, sedikitpun aku tidak ragu. Sejak dari awal aku sudah tahu, jika kalian berdua sampai menghilang begitu saja, tentu ada alasan yang kuat.‖
Sembari membimbing Ding Tao untuk ikut duduk dalam meja pertemuan, Tuan besar Huang Jin memberi tanda pada salah satu pelayan kepercayaan yang hadir untuk menghidangkan minuman dan makanan.
Ding Tao yang merasa sebagai seorang pelayan dalam keluarga Huang tentu saja makin merasa rikuh dan sungkan, menerima merasa tidak layak tapi menolak pun berarti sudah bersikap tidak sopan. Tuan besar Huang Jin tentu saja dapat
245
menangkap kecanggungannya, dengan tawa ramah dia membesarkan hati pemuda itu.
―Ding Tao, janganlah terlalu sungkan, dua tahun ini tentu sudah banyak yang terjadi pada dirimu. Dari caramu berjalan dan sorot matamu, bisa kutebak, ilmumu tentu sudah maju jauh. Hari ini aku anggap kau sebagai tamu, entah apakah nanti kau akan kembali menjadi anggota keluarga Huang atau tidak, tapi aku harap antara keluarga Huang dengan dirimu bisa terjalin satu hubungan yang baik.‖
―Tuan besar Huang, hal itu… sungguh terlalu besar kehormatan yang Tuan besar Huang berikan, hamba ini lahir sebagai pelayan tuan. Setelah berkelana dua tahun pun, dalam hati hamba masih memandang Tuan besar Huang sebagai tuan saya.‖
―Heh… anak Ding, perkataanmu itu sungguh tidak bisa aku terima. Siapa itu Liu Bei? Bukankah asalnya hanya seorang penjual sepatu jerami? Atau siapa itu Liu Bang yang menjadi pendiri Kekaisaran Han? Bukankah awalnya dia hanya seorang petani? Pahlawan lahir dari golongan mana saja, yang terpenting bagi seorang laki-laki adalah kepribadiannya.‖
246
―Pujian Tuan besar Huang terlalu berat untuk kuterima. Hamba ini cuma orang biasa, tentu tidak bisa dibandingkan dengan pahlawan-pahlawan dari masa yang lalu.‖
Ding Tao seorang yang rendah hati, tapi seorang yang rendah hati pun akan merasa senang jika dipuji, meskipun hatinya merasa sangat malu dengan sikap Tuan besar Huang Jin yang memperlakukannya dengan sangat baik, di lain pihak ada juga rasa bangga yang tersisip di dalamnya.
Mendengar jawaban dan sikap Ding Tao yang malu-malu, mereka yang berduduk di sana pun tertawa bergelak, bagaimana pun juga, sebagian besar dari mereka masih ingat dengan pemuda yang dungu tapi setia dan sopan itu.
―Sudahlah, yang penting hari ini, lupakan kedudukanmu dahulu sebagai pelayan dalam keluarga Huang, sekarang ini kamu menjadi tamu bagi kami dan jangan lupa kau masih berhutang penjelasan kepada kami. Aku yakin, ceritamu pastilah sangat menarik.‖, kata salah seorang di antara mereka setelah tawa mereka mereda.
247
Yang lain pun menggangguk setuju dan saling mendorong Ding Tao untuk cepat-cepat mengisahkan kejadian dua tahun yang lalu.
Ding Tao yang merasa diterima dengan baik menjadi lenyap tak berbekas segala ketakutannya, dengan suara yang cukup jelas dan lancar dia mulai menceritakan kejadian dua tahun yang lalu. Dimulai dari pesan Wang Chen Jin yang disampaikan secara diam-diam, hingga pertarungan di antara mereka berdua.
Seruan kaget dan marah terdengar dari beberapa orang, sementara wajah Tuan besar Huang Jin pun menjadi keruh saat mendengar akan kelicikan Wang Chen Jin, dengan geram dia memukul meja.
―Hmph!! Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anakany licik sama seperti bapaknya, wajahnya boleh jadi mirip Guan Yu, tapi hatinya persis Tsao Tsao.‖
Yang mendengar makian Tuan besar Huang Jin ikut mengangguk setuju, hanya Ding Tao yang tidak berani terlalu banyak berkomentar, sejenak dia berdiam diri, menunggu Tuan besar Huang Jin menyuruh dia melanjutkan cerita.
248
Tidak lama setelah memaki-maki Wang Dou dan anaknya, kembali mereka memandang Ding Tao, ―Lalu, kurasa Pelatih Gu-lah yang akhirnya menolongmu keluar dari sumur itu, karena malam itu kalian berdua menghilang bersamaan. Apakah benar demikian?‖
―Iya, benar sekali pengamatan Tuan besar Huang. Malam itu jika tidak ada guru, tentu umur hamba berhenti sampai di situ saja.‖
―Hmmm… tapi kami masih belum mengerti dengan jelas, jika demikian, lalu apa alasannya kalian menghilang? Seandainya malam itu dengan tidak sengaja kamu membunuh Wang Chen Jin, mungkin masih bisa kumengerti. Kalian mungkin memutuskan untuk menghindari pembalasan dendam Wang Dou tanpa menarik keluarga kami ke dalam pertikaian itu. Tapi malam itu kaulah yang kalah dan jatuh ke dalam sumur, tidak ada alasan kuat bagi kalian untuk menghilang. Wang Dou dan anaknya justru berada di pihak yang bersalah.‖
Perasaan Ding Tao cukup peka, sejak tadi dia bisa merasakan bahwa Tuan besar Huang Jin telah menarik garis pemisah antara dirinya dengan keluarga Huang. Beberapa kali dia
249
menyebut keluarga Huang sebagai kami dan Ding Tao dengan sebutan kamu.
Tapi menilik cara mereka yang menerima dirinya dengan bersahabat, Ding Tao mengerti bahwa yang dilakukan Tuan besar Huang Jin itu justru adalah demi kebaikan dirinya. Dengan demikian dalam pembicaraan itu, Ding Tao bukanlah berdiri sebagai seorang pelayan keluarga Huang, melainkan sebgai seorang tamu dan sahabat yang sederajat.
Tidak terkira rasa syukur dan terima kasih pemuda itu. Bicaranya pun semakin lancar dan segala ganjalan di hatinya hilang tak berbekas. Bahkan harapannya akan hubungan yang lebih baik dengan nona muda Huang menjadi semakin besar.
Karena itu tanpa ada yang ditutup-tutupi, diapun menceritakan bahkan menunjukkan Pedang Angin Berbisik yang ada di tangannya.
Sekilas hatinya terkesiap karena untuk sekejap dia bisa melihat perubahan di wajah Tuan besar Huang Jin dan mereka semua yang hadir. Tapi ketika kemudian mereka bersikap wajar dan terbuka, hatinya pun kembali menjadi tenang.
250
Setelah mendengar seluruh kisah Ding Tao, semua yang hadir di sana mengangguk-angguk dengan puas.
―Adik Huang, menurutku, tidak ada salahnya kalau Ding Tao menginap di sini selama beberapa hari sebagai tamu kita. Aku yakin banyak teman lama yang ingin ditemuinya.‖, ujar salah seorang kakak sepupu Huang Jin.
―Ya, aku setuju sekali dengan pendapat Engkoh Tiong, Ding Tao, bagaimana menurutmu? Kuharap kau tidak keberatan untuk menginap beberapa malam di rumah kami. Aku yakin ceritamu akan sangat menarik hati buat anak-anak muda di sini. Jangan sungkan, meskipun sekali lagi aku katakan, aku sudah mengambil keputusan untuk menganggapmu bukan bagian dari keluarga ini lagi. Tapi tetap aku berharap antara keluarga Huang dan dirimu bisa terjalin hubungan yang baik.‖
Dengan muka memerah Ding Tao mengangguk setuju, ―Kalau Tuan besar Huang mengundang, tentu hamba tidak berani menolak, tapi kalau kamar yang dulu masih kosong, biarlah hamba beristirahat di situ saja.‖
Tentu saja pada awalnya Tuan besar Huang tidak setuju jika Ding Tao hendak tidur di kamarnya yang dulu, di bagian tempat
251
para pelayan dalam. Tapi karena Ding Tao berkeras, akhirnya Tuan besar Huang pun menyetujuinya.
Tapi sebelum Ding Tao beristirahat di sana, Tuan besar Huang terlebih dahulu memerintahkan pelayan-pelayannya untuk membersihkan ruangan itu dan mengisinya dengan perabot-perabot yang lebih baik.
Ding Tao sedang mengamati kamarnya yang lama dengan rasa haru, berbagai kenangan baik yang pahit maupun yang manis singgah di benaknya. Setelah selesai melewati tanya jawab dengan Tuan besar Huang Jin, sebuah beban yang berat dirasanya lepas dari pundaknya.
Apa yang dikhawatirkan ternyata tidak terjadi, kesalah pahaman dua tahun yang lalu bisa diluruskan dengan mudah, bahkan bila menilik sikap dan perkataan Tuan besar Huang Jin, kesalah pahaman itu sendiri tidaj pernah ada.
Tiba-tiba barulah terasa, betapa penat tubuhnya. Melihat kasur yang empuk timbul keinginannya. Sudah dua tahun dia tidur hanya beralaskan kain, jangankan dengan kasur baru yang disiapkan Tuan besar Huang Jin, kasur kerasnya yang lama
252
pun sudah jadi satu kemewahan. Dengan satu hembusan nafas lega dia menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
Terbayang kehidupan gurunya yang tua, Gu Tong Dang, yang saat ini tentu masih saja tidur beralaskan kain dan beratap ilalang. Dalam hati Ding Tao berjanji sesegera mungkin dia harus memberi kabar pada gurunya itu, seandainya saja dia bisa meyakinkan gurunya agar kembali pada keluarga Huang, tentu hidupnya akan jauh lebih baik dan tidak terlunta-lunta di usia tuanya.
Tapi untuk saat ini, lelah dan penat yang dirasakan mengalahkan segala macam pikiran yang ada. Sebentar memejamkan mata Ding Tao segera terlelap dalam tidur.
Entah untuk berapa lama dia terlelap, tiba-tiba saja kesadarannya dihentakkan kembali ke alam sadar dengan suara gedoran di pintu kamarnya disertai suara yang sudah sangat dikenalnya, ―Ding Tao! Ding Tao! Ayo buka…‖
―Ssst.. Adik Ying, jangan teriak-teriak. Bagaimana kalau dia sedang tidur, mungkin sebaiknya kita kembali saja nanti.‖
―Huuhh… jam segini tidur? Dulu dia tidak pernah malas, dua tahun keluyuran apa sekarang dia jadi pemalas?‖
253
Sekali lagi pintu kamarnya digedor dengan keras, ―Ding Tao! Baaanguuuuun !!!!‖
―Astaga … orang mati pun bisa bangun lagi kalau teriakanmu seperti itu.‖
―Bagus malah, memang aku mau membangunkan Ding Tao yang tidur setengah mampus.‖
―Aih… Adik Ying.‖
Kemudian terdengar ketukan yang lebih perlahan dan panggilan yang jauh lebih sopan, ―Saudara Ding, apa kau sudah bangun? Ini aku Huang Ren Fu dan Ying Ying.‖
Senyum lebar terbit di wajah Ding Tao, sudah sejak tadi, mendengar percakapan mereka di luar hatinya merasa geli sekaligus bahagia. Bisa dibayangkannya bagaimana Huang Ren Fu mati kutu mennghadapi adiknya yang nakal itu.
Secepat mungkin dia membenahi pakaiannya dan menjawab panggilan Huang Ren Fu, ―Sebentar Tuan muda Huang, aku akan sedikit beberes.‖
254
Ketika dibukanya pintu maka yang pertama kali menyambutnya adalah sebuah cubitan yang keras dari Huang Ying Ying, ―Bagus ya, sedari tadi kupanggil tidak kau jawab. Begitu Kakak Ren Fu yang memanggil kau bukakan pintu.‖
―Aduh… aduh nona, maafkan aku. Tadi memang aku sedang tertidur pulas, baru saja tersadar saat mendengar suara Tuan muda Huang.‖
―Huhh… jangan banyak alasan.‖
Sambil tersenyum kecut Ding Tao memberikan hormat pada kedua kakak beradik itu.
―Tuan muda Huang, nona muda Huang, senang sekali bertemu kalian lagi. Maafkan aku kalau sudah membuat keluarga kalian banyak susah.‖
Huang Ren Fu yang memang terbuka tabiatnya dengan bercanda memukul dada Ding Tao, ―Nah, apa sampai sekarang pun kau masih memanggil kami dengan sebutan tuan muda dan nona muda? Sedikit-sedikit sudah kudengar kisahmu dari ayah, sekarang kau menjadi tamu kami, jangan lagi panggil tuan dan nona, panggil saja Saudara Fu dan Adik Ying.‖
255
―Itu… sepertinya kurang sopan.‖, dengan sungkan Ding Tao bergumam.
―Kurang sopan apanya, Ding Tao apa kau mau kucubit lagi.‖, ancam Ying Ying dengan nada menggoda.
Huang Ren Fu yang melihat gaya adiknya tertawa, ―Benar Ding Tao, kalau kau masih juga sungkan-sungkan, jangan salahkan aku kalau nanti tubuhmu memar-memar. Adik Ying setelah mulai belajar ilmu pedang jadi tambah galak saja.‖
Dengan muka bersemu merah Ding Tao tertawa, ―Eh… baiklah, jadi nona muda… maksudku Adik Ying sekarang juga belajar ilmu pedang keluarga Huang?‖
―Hmmm… heran ya? Makanya sekarang kau mesti lebih hati-hati kalau berbicara denganku. Aku ini kan gadis berbakat, belajar apa saja tentu bisa. Jangan kau samakan dengan dirimu. Jurus dasar sudah aku selesaikan dalam 3 bulan pertama dan sekarang jurus lanjutan sudah hampir selesai kupelajari.‖
―Adik Ying, jangan menyombong, apa tidak kau dengar kata ayah, dalam dua tahun ini Ding Tao sudah mendapat banyak
256
kemajuan.‖, kata Huang Ren Fu yang merasa geli terhadap kesombongan adiknya.
Peringatan kakaknya itu hanya dijawab dengan cibiran saja oleh Huang Ying Ying. Tapi baik Ding Tao maupun Huang Ren Fu tidak merasa terganggu oleh ulah gadis muda itu, mereka mengenal dengan baik adat Ying Ying yang suka mengoceh dan berulah tapi hangat dan bersahabat.
―Kakak Fu, aku sebenarnya ragu apa benar kata ayah, yang kuihat sih Ding Tao Cuma bertambah tinggiiii saja. Benar tidak Ding Tao?‖, ujar Huang Ying Ying dengan kerling menggoda.
Ding Tao pun menggaruk kepalanya sambil tertawa geli, kemudian sahutnya dengan sopan, ―Sebenarnya memang aku sendiri meskipun merasakan adanya kemajuan tapi tidak begitu yakin juga dengan kemampuan yang sebenarnya.‖
―Apa sewaktu dalam perjalanan kau tidak pernah bertemu dan berkelahi dengan penjahat Ding Tao?‖, tanya Ying Ying dengan penuh rasa keingin tahuan.
―Tidak, tidak juga, biasanya aku berpergian dalam satu rombongan besar, beramai-ramai dengan para pedagang dan
257
orang lain. Mereka ini biasanya sudah menyewa pengawal, jadi sepanjang perjalanan tidak banyak halangan.‖
―Aduh… membosankan sekali…‖, keluh Huang Ying Ying dengan manja, mulutnya cemberut, tapi bagi Ding Tao justru membuat gadis itu makin menggemaskan.
Huang Ren Fu tertawa mendengar keluhan adiknya itu, ―Jangan konyol, memangnya kaupikir setiap hari penjahat selalu bermunculan di jalanan seperti dalam cerita silat yang kau baca?‖
―Huuh, kalau tidak berkelahi lalu untuk apa belajar silat, membosankan sekali. Kalau tidak menghajar pantat penjahat-penjahat, lalu siapa yang harus kuhajar? Bukankah antara satu kota dengan kota yang lain masih banyak hutan dan gunung yang terpencil?‖
―Hehehe, mungkin kau hajar saja pantatmu sendiri. Adik Ying, di tempat yang terpencil seperti itu memang terkadang ada saja gerombolan penjahat, tapi biasanya kelompok pengawalan sudah menyiapkan pajak khusus buat mereka.‖
―Maksud Kakak, seperti ayah yang mengirimkan uang untuk Wang Dou itu ya?‖
258
―Ya begitulah, Paman Wang Dou memiliki pengaruh yang cukup besar di sisi utara sungai, hampir setiap kelompok di sana tidak ada yang berani macam-macam dengannya. Asalkan kita menjalin hubungan baik dengannya, kiriman barang melewati daerah itu tentu akan aman-aman saja.‖
―Huh.. pengaruh apanya, maksud kakak, dia itulah gembong penjahatnya, kakek moyang maling dan perampok di sana.‖
Membicarakan Wang Dou, Huang Ying Ying jadi teringat cerita ayahnya tentang Ding Tao dan Wang Chen Jin, berbalik melihat Ding Tao diraihnya tangan pemuda itu lalu dengan sungguh-sungguh dia berkata, ―Ding Tao, aku sudah mendengar cerita ayah tentang Wang si keparat itu. Sungguh kalau aku tahu dia selicik itu, tidak akan aku menerima persahabatannya.‖
Tangan Huang Ying Ying yang lembut dan hangat membuat Ding Tao berdebar-debar. Sambil berpura-pura tidak merasakan apa-apa, dia berusaha menjawab, ―Jangan berkata begitu nona… eh… Adik Ying. Aku sendiri tidak menduga dia akan menyerangku secara demikian. Lagipula, mungkin itu terdorong oleh rasa…‖
259
Tersadar Ding Tao bahwa dia hendak mengatakan,‖… terdorong oleh rasa cemburunya.‖
Tapi cepat-cepat dia menghentikan kata-katanya, jangan-jangan nanti dia dianggap tidak tahu diri. Kalau bilang cemburu, bukankah itu berarti Ding Tao menafsirkan kebaikan Huang Ying Ying sebagai tanda cinta.
Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu justru tidak menangkap apa-apa dari perkataan Ding Tao, Ding Tao sendirilah yang terlalu banyak berpikir dan merasa. Huang Ying Ying yang mendengar Ding Tao tidak menyalahkan dirinya tersenyum gembira.
―Terima kasih Ding Tao, aku tahu sifatmu tidak picik dan suka mendendam. Tapi saat kudengar cerita dari ayah aku jadi merasa bersalah sudah berteman dengan si licik Wang cilik itu.‖
―Aku juga Ding Tao, aku pun menyesal tidak bisa melihat kelicikan dalam diri pemuda itu.‖, sahut Huang Ren Fu dengan sungguh-sungguh.
―Tapi kata ayah, dari peristiwa itu, kau justru mendapat keberuntungan. Apa benar pedang pusaka milik keluarga Wang
260
jatuh ke tanganmu?‖, tanya Huang Ren Fu yang teringat lagi dengan cerita ayahnya.
Huang Ying Yiing yang juga merasa penasaran dengan kisah Ding Tao ikut mendesaknya. Tidak berapa lama kemudian, tiga orang muda itu pun larut dalam percakapan yang seru. Atas desakan kedua bersaudara itu, Ding Tao sempat pula memamerkan kehebatan Pedang Angin Berbisik yang bisa dengan mudahnya memotong kayu setebal paha orang dewasa.
-------------- o ---------------
Mereka bertiga tidak sadar, beberapa pasang mata sedang mengamat-amati ketiganya. Mereka itu adalah Huang Jin, Tuan besar Huang Jin, kepala keluarga besar Huang. Tiong Fa, sepupu jauhnya yang sering dimintainya nasihat. Huang Ren Fang, putera pertama Huang Jin dan penerus yang diharapkan. Serta Huang Yunshu, paman Huang Jin, satu-satunya saudara ayah Huang Jin yang masih hidup.
―Kalian lihat pedang itu? Menurut kalian apakah benar dugaan Gu Tong Dang bahwa pedang itu adalah Pedang Angin Berbisik?‖, tanya Huang Jin dengan suara rendah.
261
Tiong Fa yang seringkali bertindak sebagai pencari berita bagi keluarga Huang mengangguk dengan yakin, ―Aku cukup yakin, pedang itu adalah Pedang Angin Berbisik. Karena menurut penyelidikanku pedang itu memang pada saat terakhir jatuh ke tangan Wang Dou. Sayang belum sempat kita mengatur jerat di sekitarnya, justru anak Wang Dou merusakkan setiap rencana kita dan menghadiahkan pedang itu pada si dungu itu.‖
―Hmph… benar-benar gemas aku kalau mengingat hal itu. Sungguh langit tidak punya mata, sekian tahun kita bekerja keras, anak dungu itu justru mendapatkannya tanpa usaha.‖
Huang Jin meremas sekuntum bunga yang kebetulan ada di dekatnya sampai hancur lumat, wajahnya tidak lagi terlihat ramah dan arif. Wajah ke empat orang yang lain tidak kalah menakutkan.
Lucu memang bila dipikirkan, sepertinya langit yang dipandang adil, menurut pandangan mereka haruslah adil dalam cara yang sesuai dengan kepentingan mereka. Tidak teringat bahwa Ding Tao hampir mati malam itu. Tidak teringat pula alasan Ding Tao menemui Wang Chen Jin malam itu adalah karena kesetiaannya pada keluarga Huang.
262
―Menurut Paman Yunshu, sebaiknya apa yang kita lakukan pada Ding Tao?‖
―Hmm… tidak salah kita memilih Gu Tong Dang menjadi pelatih bagi bibit-bibit muda. Orang itu memang punya mata yang jeli. Si dungu itu punya bakat yang bagus. Siang tadi saat aku memperhatikan cara dia berjalan memasuki ruangan, cara dia berdiri tegap dan imbang di atas kedua kakinya. Anak dungu itu kukira cukup berisi.‖
―Jadi maksud paman, kita tarik saja dia kembali dalam keluarga Huang?‖
Berdiam diri sejenak Huang Yunshu yang sudah memutih semua rambutnya itu perlahan-lahan menggeleng, ―Tidak semudah itu, anak itu… anak itu… terlalu lurus.‖
Sepertinya kata lurus itu berat sekali keluar dari mulutnya, sampai mati pun keluarga Huang memandang dirinya sebagai aliran yang lurus. Menyebut Ding Tao sebagai orang yang lurus dan tidak bersesuaian dengan keluarga Huang, terasa seperti memaksakan posisi sebagai penjahat pada keluarga Huang.
Karena itu diapun melanjutkan, ―Sifatnya yang lurus terkadang tidak sesuai dengan keadaan. Untuk menggapai tujuan besar,
263
seseorang harus memiliki keteguhan hati untuk mengorbankan sesuatu. Bersikap cerdik di waktu yang dibutuhkan dan anak itu tidak memilikinya sama sekali.‖
Tiong Fa ikut memberikan pendapat, ―Bisa saja dia ditarik menjadi anggota keluarga Huang, tapi pedang itu harus diserahkan pada kita. Tidak boleh kita menjadikan anak itu sebagai andalan. Karena selalu ada kemungkinan dia justru akan bangkit melawan kita kalau dilihatnya ada yang tidak sesuai dengan nuraninya.‖
Huang Jin mengelus-elus kumisnya yang tebal, ―Hmmm… apakah menurutmu itu mungkin? Ding Tao menyerahkan pedangnya dengan suka rela hingga kita bisa menariknya ke keluarga kita, sekaligus mendapatkan pedang itu?‖
Sambil memandang ke arah Ding Tao di kejauhan, Tiong Fa tersenyum melecehkan, ―Pemuda itu begitu dungu, saat ini dia memandang keluarga Huang seperti memandang sekumpulan orang suci. Jika kita bisa memberikan alasan yang mulia, dia akan menyerahkan pedang itu tanpa segan-segan sedikitpun.‖
264
Huang Ren Fang yang sedari tadi berdiam diri menyambung, ―Selain itu, kulihat pemuda dungu itu jungkir balik jatuh cinta dengan Adik Ying.‖
Huang Jin yang mendengar hal itu melirik tajam ke arahnya, bagaimanapun Huang Ying Ying adalah puteri satu-satunya, ―Maksudmu kita mengumpankan adikmu untuk mendapatkan pemuda dungu itu?‖
Dengan dingin Huang Ren Fang mengangkat bahunya, ―Setiap perjuangan butuh pengorbanan, lagipula jika anak muda itu sudah seperti mabok arak hanya karena tangannya menggenggam tangan Adik Ying, kukira bila kita memberikan harapan lebih baginya, jangankan pedang, nyawanya pun mungkin akan diberikan.‖
Merasakan ayahnya kurang suka dengan pendapatnya itu, dia menambahkan, ―Ayah tidak perlu cemas, belum tentu kita perlu menikahkan Adik Ying dengan dirinya, cukup kita berikan dia harapan saja tanpa janji yang pasti.‖
Huang Yunshu yang mendengarkan pendapat cucunya dengan tenang ikut menyambung, ―Sebagai seorang suami pun,
265
pemuda dungu itu tidaklah buruk, bakatnya bagus dan sifatnya, seperti yang sudah kukatakan, jujur dan setia.‖
Huang Jin yang mendengar pendapat pamannya itu mau tidak mau harus menerimanya, dengan mendesah dia pun setuju, ―Hahhh…. Ya sudahlah, moga-moga saja anaknya tidak sedungu bapaknya. Tapi bagaimana jika dia masih menolak juga?‖
Sejenak ketiga orang yang diajaknya berbicara itu saling melihat, lalu satu pikiran mereka mengangguk, ―Tidak ada jalan lain, dia harus dibunuh, apa pun caranya.‖
Hening sejenak sebelum Tiong Fa berkata, ―Tapi aku yakin, lidahku ini sudah cukup untuk membuat pemuda itu menyerahkan pedangnya. Serahkan saja semuanya padaku saat jamuan makan malam nanti.‖
--------------------- o ----------------------
Jamuan makan malam dilakukan dengan cukup sederhana, namun hampir seluruh anggota keluarga Huang diundang di sana. Tidak kurang dari 30 orang ikut makan bersama, untuk itu sebuah meja yang panjang dan lebar sudah disediakan, di
266
bagian kepala meja tentu saja duduk Tuan besar Huang Jin. Di kiri dan kanannya adalah Tiong Fa dan Huang Yunshu, kemudian menyusul berturut-turut orang-orang kepercayaan Huang Jin.
Semakin jauh dari bagian kepala meja, semakin rendah dan muda dari segi umur yang duduk di sana. Ding Tao tidaklah berada di ujung yang satu tapi tidak pula dekat dengan posisi Huang Jin. Tapi Ding Tao tidak merasa tersinggung, justru dia merasa senang karena di dekatnya adalah orang-orang yang hampir seumuran dengannya.
Tepat di sisi kanannya adalah Huang Ying Ying yang berceloteh tiada henti. Entah apa saja yang dibicarakan, tapi buat telinga Ding Tao setiap cerita atau gurauan yang dilontarkan sangatlah menarik dan lucu.
Sepanjang acara makan bersama itu, senyum dan tawa tidak pernah lepas dari bibirnya.
Tentu saja hal itu tidak lepas dari perhatian Huang Jin, dalam hati dia terpaksa mengakui kebenaran kata-kata Huang Yunshu dan putera sulungnya Huang Ren Fang. Hatinya sedikit terhibur melihat Huang Ying Ying sendiri tampaknya menyukai Ding Tao
267
dan sepanjang acara itu Ding Tao bersikap sangat sopan terhadap puterinya.
Karena itu diapun tidak terlalu gusar saat dia mendengar putera sulungnya menggoda Huang Ying Ying, ―Adik Ying, kulihat Ding Tao itu orang yang sopan sekali, bisa dibilang cocok untuk menjadi suami seorang gadis sepertimu yang punya sifat bengal.‖
Godaan Huang Ren Fang itu kontan saja membuat muka Ding Tao memerah seperti kepiting rebus, Huang Ying Ying yang biasanya tidak ambil peduli pendapat orang itu pun, entah kenapa malam itu sedikit berbeda. Meskipun mulutnya terbuka tapi gadis nakal yang biasanya bisa cepat membalas godaan orang itu kali ini mati kutu.
Tentu saja melihat reaksi keduanya, orang-orang di sekitarnya pun jadi ikut menggoda.
Acara makan itu pun menjadi semakin meriah, tentu saja bukan melulu menggoda sepasang muda-mudi itu, soal lain pun ikut dibahas. Antara lain tentang pengalaman Ding Tao selama dua tahun itu. Beberapa kali pemuda itu harus mengulangi cerita yang sama tentang pertarungannya dengan Wang Chen Jin
268
dan bagaimana Gu Tong Dang menyelamatkan nyawanya di saat yang paling kritis.
Ketika Tiong Fa melihat bahwa hampir semua orang sudah berhenti makan, dia berdeham sejenak untuk menarik perhatian.
Saat perhatian semua orang tertuju padanya Tiong Fa menoleh ke arah Ding Tao dan dengan nada yang bersungguh-sungguh dia bertanya, ―Ding Tao, sebenarnya aku tidak ingin untuk menanyakan hal ini. Tapi sedari tadi siang, aku berpikir-pikir, tentang pedang itu. Apakah tidak lebih baik kau serahkan pedang itu pada keluarga Huang kami?‖
Ruangan yang tadi riuh dengan percakapan tiba-tiba menjadi sepi, senyum lebar di wajah Ding Tao menghilang digantikan wajah yang memucat.
Seandainya saja pertanyaan diajukan tadi siang, saat dia baru bertemu dengan Tuan besar Huang Jin, mungkin Ding Tao tidak sekaget sekarang.
Bukan hanya Ding Tao yang terkejut, banyak orang muda yang ada di ruangan itu pun sama terkejutnya. Urusan ambisi keluarga Huang dalam dunia persilatan dan sangkutannya
269
dengan Pedang Angin Berbisik memang urusan yang dijaga rahasianya baik-baik oleh Huang Jin dan orang-orang kepercayaannya.
Tiong Fa yang cerdik tentu saja sudah memperhitungkan hal ini. Sedari awal keluarga Huang memandang dirinya sebagai bagian dari aliran yang lurus, jika sekarang Tiong Fa mengatakan dia ingin meminta pedang itu dari Ding Tao tanpa bisa memberikan alasan yang kuat, tentu seluruh tokoh dunia persailatan akan memandang mereka sebagai sampah.
Termasuk orang-orang dalam keluarga Huang sendiri, utamanya mereka yang masih berusia muda dan idealis. ―Ding Tao, janganlah kau salah mengerti, pendapatku ini bukanlah didasari ambisi pribadi.‖
Berdiam diri sejenak Tiong Fa memandang ke sekeliling ruangan, ―Aku lihat di sini yang ada di sini, semuanya adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Aku juga yakin Ding Tao cukup bijaksana untuk merahasiakan tentang keberadaan pedang yang ada di tangannya itu.‖
Setiap orang menatap ke arah Tiong Fa dengan wajah serius, hanya seorang yang sedikit berbeda, yaitu si nakal Huang Ying
270
Ying. Mukanya sedikit memerah sambil menggigit bibir bawahnya.
Bagaimana tidak malu, gadis nakal ini yang paling susah menahan bicara, dalam hati dia bersyukur, untung tadi siang saat hendak menemui pengasuhnya dan menceritakan tentang pengalaman Ding Tao, ayahnya keburu memanggil dia ke ruang latihan. Coba kalau tidak, pasti dia sudah menceritakan soal pedang itu pada bibi pengasuhnya, yang tidak kalah bawel dan suka bergosip.
Dalam keadaan seperti itu, wajah gadis itu sendiri sebenarnya jadi semakin manis dan menggoda, sayang tidak seorangpun di ruangan itu tidak sempat mengaguminya. Apalagi Ding Tao yang saat itu merasa seperti sedang ditodong dengan pedang tepat di atas jantungnya.
―Tapi satu hal yang perlu diingat, serapat apapun rahasia itu ditutup, satu saat akan terbongkar juga. Ding Tao tidak tahukah dirimu ada berapa banyak tokoh dalam dunia persilatan yang berusaha mengendus jejak dari pedang di tanganmu itu?‖
―Selama kau memegang pedang itu, selama itu pula nyawamu terancam. Tapi itu bukan satu-satunya alasanku untuk
271
memintamu meninggalkan pedang itu dalam pengawasan keluarga Huang.‖
―Alasan lainnya adalah masalah Sekte Matahari dan Bulan yang diketuai Ren Zuocan. Mungkin kau belum tahu, satu-satunya yang membuat takut iblis itu adalah pedang di tanganmu itu, sebelum dia berhasil memusnahkan atau mendapatkan pedang itu dia tidak akan bisa beristirahat dengan tenang.‖
―Kekuasaannya dan kekuatannya secara pribadi semakin meningkat dari tahun ke tahun. Banyak anggota dunia persilatan yang diam-diam sudah bersumpah setia kepadanya. Bukan hanya dunia persilatan yang berada dalam bahaya, tapi juga negara kita secara keseluruhan. Bayangkan saja jika dedengkot barbar itu berhasil menguasai dunia persilatan daratan, berapa lama sebelum pasukan mereka akan menyeberangi perbatasan dan menjarah rumah-rumah kita?‖
Mendengar kata-kata Tiong Fa yang penuh semangat patriotisme, wajah-wajah yang sebelumnya mengerutkan alis sekarang mengangguk-angguk setuju.
Termasuk Ding Tao sendiri.
272
―Karena itu Ding Tao, dengan berat hati dan memendam rasa malu, aku memintamu untuk menyerahkan pedang itu ke dalam pengawasan keluarga Huang. Bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena rasa sayangku padamu dan juga kewajibanku pada negara dan tanah air.‖
Hebat benar lidah licin Tiong Fa, sudah dari jaman dulu kala, ada saja orang-orang yang berlidah licin selicin ular, yang dengan kemampuannya berbicara dan bersandiwara mampu memikat hati pendengarnya. Apalagi pemuda-pemuda yang tidak berpengalaman itu. Apalagi yang mengucapkan adalah orang yang mereka hormati di hari-hari biasa, tidak sebetik pun terlintas dalam pikiran mereka bahwa kata-kata yang manis dan penuh semangat itu, tidak lebih dari arak wangi yang menyembunyikan amisnya racun keji.
Begitu hebatnya kata-kata, bahkan yang mengucapkan sendiri ikut terbuai olehnya. Dalam bayangan Huang Jin dan orang-orang kepercayaannya, ada sebagian dari diri mereka yang menghibur hati dengan pembelaan itu, Meskipun jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka tahu bahwa ambisi pribadi dan keserakahan adalah motivasi penggeraknya.
273
Padahal mereka semua adalah orang yang mengerti bahkan beberapa di antaranya sangat taat dalam beragama. Ada yang menekuni agama Buddha ada pula yang menekuni ajaran Konfusius. Lalu mengapa keserakahan masih menguasai hati mereka? Mengapa mereka tega untuk mengorbankan orang lain demi ambisi pribadi mereka?
Bagaimana bisa seorang tabib menyembuhkan si sakit, jika si sakit itu sendiri tidak mau menyadari sakitnya?
Sungguh celaka orang yang sudah menipu dirinya sendiri, sesungguhnya kecerdikan mereka justru menjadi jerat bagi jiwanya sendiri.
Perhatian setiap orang sekarang beralih pada Ding Tao, Ding Tao yang merasakan tatapan setiap orang pada dirinya menjadi salah tingkah. Teringatlah dia pada kata-kata gurunya, pada sumpah yang pernah dia ucapkan, meskipun gurunya membatalkan sumpah itu. Pemuda ini tidak meragukan sedikitpun ketulusan Tiong Fa, bahkan dalam hatinya dia justru meragukan kemampuannya sendiri.
274
Seandainya saja malam itu Gu Tong Dang tidak memberikan nasihat dan perintah demikian, mungkin saat itu juga, Pedang Angin Berbisik sudah diserahkannya pada Tiong Fa.
Beruntung bagi Ding Tao, gurunya bukan orang yang masih hijau, gurunya cukup mengenal orang-orang yang ada dalam kelompok pimpinan keluarga Huang. Sehingga sebagai bekal bagi Ding Tao, telah dinasihatkannya dengan sungguh-sungguh pada pemuda itu untuk mempertahankan kepemilikannya atas pedang itu.
Gu Tong Dang sadar dia tidak bisa menahan Ding Tao untuk tidak menemui keluarga Huang tanpa membuat getir hati muridnya dan dia cukup bijaksana untuk memahami bahwa seorang guru ataupun orang tua, pada satu titik tidak bisa lagi terus menerus melindungi anak atau muridnya.
Ada saatnya rajawali muda harus belajar terbang dan mencari makan sendiri, meskipun untuk itu dia bisa saja terluka atau bahkan mati di dunia yang keras.
Karena itu dilepaskannya Ding Tao pergi ke sarang serigala, segala bekal yang bisa dia berikan sudah diberikan, sisanya ada pada diri Ding Tao sendiri dan kehendak langit.
275
Diam-diam nun jauh di sana, guru tua itu berdoa dengan khusyuknya, demi keselamatan murid yang dia kasihi, tidak ada lain lagi yang bisa dia lakukan sekarang.
Dengan suara sedikit gemetar Ding Tao menjawab, ―Maafkan aku Tetua Tiong, tapi dengan sesungguhnyalah aku tidak bisa memberikan pedang ini kepada keluarga Huang?‖
Suara bisik-bisik pun memenuhi ruangan itu, mereka yang tadinya tidak puas pada permintaan Tiong Fa, sekarang berbalik tidak puas pada jawaban Ding Tao. Tapi pemuda itu bukanlah Tiong Fa yang pandai bersilat lidah, dengan wajah merah padam dia hanya bisa berdiam diri dan menekuri pedang yang ada di hadapannya.
Tiong Fa pun berkerut alisnya, jawaban Ding Tao sedikit di luar dugaannya, namun Tiong Fa yang cerdik ini yakin sepenuhnya pada kemampuannya menilai seseorang, karena itu dia tidak cepat menjadi gugup atau marah.
―Anak Ding, mengertikah kau dengan uraianku sebelumnya? Sebenarnya apa yang kau cari dengan pedang itu? Apakah kau menginginkan ketenaran? Kekayaan?‖
276
Menggeleng Ding Tao mendengar pertanyaan itu, ―Bukan Tetua Tiong, sungguh bukanlah demikian maksudku. Sebenarnya sebelum aku pergi, guru, telah menceritakan hal ihwal pedang ini terhadapku dan pesannya yang selanjutnya adalah agar aku mengemban tugas, melenyapkan Ren Zuocan dengan menggunakan pedang ini.‖
Atas jawaban Ding Tao ini bermacam-macam reaksi yang muncul. Ada sebagian yang mengagumi kegagahan pemuda itu, apalagi mereka sudah mengenal kejujuran Ding Tao dan tanpa ragu lagi meyakini ketulusan kata-katanya.
Tapi ada juga mereka yang menjadi kurang puas dan merasa pemuda itu terlalu sombong atau setidaknya sudah salah menilai dirinya sendiri.
Tiong Fa tersenyum dalam hatinya, mendengar jawaban Ding Tao, maka jelas baginya, tidak ada kesalahan dalam penilaiannya atas diri pemuda itu. Diam-diam dia memaki kelicinan Gu Tong Dang.
Siapa sebenarnya yang licin Gu Tong Dang atau dirinya? Tentu saja buat Tiong Fa, Gu Tong Dang-lah yang licin dan licik, sedangkan dirinya adalah cerdik dan bijak. Tapi dia tetap
277
tertawa dalam hati, menertawakan kebodohan Gu Tong Dang, karena sekarang dia melihat sebuah celah yang bisa dimasukinya.
―Ding Tao, sungguh aku hargai keberanian dan tekadmu, tapi tahukah kau siapa itu Ren Zuocan? Mungkin kau pikir satu-satunya ilmu andalan Ren Zuocan itu adalah ilmu kebalnya dan dengan pedang di tanganmu itu kau akan mampu menembusnya.‖
―Jangan salah nak, bukan hanya ilmu kebal, tapi Ren Zuocan itu gudangnya ilmu. Dia memiliki ilmu pukulan, tenaga dalam dan ilmu tombak yang tidak kalah menggiriskannya dari ilmu kebalnya yang terkenal. Jika bukan demikian, tentu orang dunia persilatan tidaklah begitu gentar padanya.‖
Wajah Ding Tao yang sudah merah, semakin memerah, tentu saja dia mengetahui semua hal itu. Sekali lagi jika bukan karena pesan gurunya tentu pedang itu sudah dia serahkan sekarang, tapi terngiang-ngiang di benaknya perkataan gurunya, ―Kaulah yang pantas menjadi pemilik pedang itu.‖
Tiong Fa yang melihat bahwa kata-katanya sudah mulai menjerat Ding Tao melanjutkan, ―Nak, mungkin saja kau tidak
278
takut kehilangan nyawa dalam usahamu untuk menggenapi tugas yang diberikan oleh Pelatih Gu padamu, tapi tidakkah kau bayangkan, apa yang akan terjadi jika kau gagal? Bukan saja kau akan kehilangan nyawa, tapi pedang itu akan jatuh ke tangan Ren Zuocan, bagaikan harimau tumbuh sayapnya. Jika sekarang saja kita harus bersusah payah untuk membendung ambisinya, kalau pedang itu sampai jatuh ke tangannya, apa yang bisa kita lakukan?‖
―Apakah kita semua haris beramai-ramai menyerahkan nyawa padanya?‖
Ding Tao pun semakin terdesak oleh argumentasi Tiong Fa, sampai akhirnya dengan terbata-bata dan suara yang hampir-hampir tidak terdengar dia berkata, ―Tapi… tapi… ah… ―
―Tapi menurut guru, aku bisa melakukannya dan… kemampuanku sudah cukup untuk mempertahankan pedang ini.‖
Setelah berkata demikian pemuda itu menundukkan kepala, tidak berani untuk melihat ke kiri dan kanan. Tak sampai hati dia untuk berkata bahwa Gu Tong Dang percaya bahwa dari antara seluruh tokoh dunia persilatan, dialah yang pantas
279
memiliki pedang itu. Tapi perkataannya tadi itupun sudah cukup menyiratkan hal itu.
Ruangan itupun jadi penuh dengan suara riuh rendah, mereka yang tadinya bersimpati pada Ding Tao pun merasa bahwa pemuda itu sudah keterlaluan memandang tinggi dirinya. Apalagi mereka yang sejak tadi sudah merasa tidak puas dengan sikap Ding Tao, tanpa segan-segan mereka mengemukakan pendapatnya.
Ding Tao yang menunduk, semakin saja menunduk. Entah apa di antara pembaca pernah merasakan hal yang demikian, merasa melakukan sesuatu yang memalukan di hadapan banyak orang. Sampai rasanya ingin bumi terbelah menjadi dua dan menelan kita lenyap dari permukaan bumi.
Yang seharusnya merasa malu tidak merasa malu, bahkan bersorak dalam hati. Yang tidak perlu merasa malu justru merasa malu.
Dalam keadaannya yang serba getir itu, tiba-tiba Ding Tao merasakan satu sentuhan lembut pada tangannya yang tersembunyi di bawah meja.
280
Terkejut dia menoleh sekilas ke arah Huang Ying Ying dan dilihatnya gadis itu memandang dirinya penuh simpati, terasa pula bagaimana tangan gadis itu meremas tangannya, seakan memberikan semangat baginya untuk bertahan.
Ding Tao merasa sedikit keberaniannya kembali muncul, tidak lagi dia merasa sesengsara seperti tadi. Meskipun dia masih merasa malu kepada anggota keluarga Huang yang lain.
Tiong Fa membiarkan saja keriuhan itu terjadi, dibiarkannya keadaan itu mengendap dalam perasaan setiap orang.
Setelah dia merasa cukup menanamkan racun itu di hati setiap orang, dia mengangkat tangannya, ―Tahan sebentar, cobalah tenang. Kita harus menghargai sikap Ding Tao, sebagai salah seorang tetua dalam keluarga Huang, aku berharap setiap generasi muda dalam keluarga Huang mengambil sikap Ding Tao terhadap perintah gurunya itu sebagai satu teladan.‖
Inilah hebatnya Tiong Fa, dengan satu kalimat dia berhasil menampilkan dirinya sebagai seorang yang arif, bijak dan barhati besar. Bahkan memenangkan hati Ding Tao yang sebenarnya justru sudah menjadi korban lidahnya yang beracun.
281
Menunggu suasana mereda, Tiong Fa sekali lagi mengajak Ding Tao berbicara, ―Anak Ding, sebenarnya aku merasa malu untuk mengajukan usul ini. Orang mungkin akan menganggap aku sebagai golongan yang lebih tua menekan yang muda.‖
Tentu saja sebenarnya memang itu yang sedang dia lakukan, tapi setelah kata-katanya yang sebelumnya siapa dalam ruangan itu yang berpikir demikian?
―Tapi karena rasa kewajibanku pada bangsa dan negara, mau tidak mau aku mengajukan usul ini. Kau berteguh hati hendak mempertahankan pedang itu karena gurumu telah berpesan bahwa kau memiliki kesanggupan untuk melindungi pedang itu. Jika hal itu benar, tentu akupun tidak berkeberatan. Tapi bagaimana jika dia salah menilai dirimu?‖
―Karena itu bagaimana kalau sekarang kita melakukan saut pertandingan persahabatan, antara dirimu, dengan orang-orang dalam keluarga Huang. Jika kau berhasil mengalahkan kami, maka itu berarti kau memang memiliki kemampuan yang lebih dari kami untuk melindungi pedang itu. Tapi jika tidak, kukira kaupun tidak berkeberatan untuk mempercayakan pengawasan pedang itu pada keluarga Huang.‖
282
Sebenarnya usulan Tiong Fa ini tentu saja jauh dari adil. Untuk membuktikan dirinya Ding Tao tentu harus melayani orang-orang dari keluarga Huang sendirian. Di mana letak keadilannya? Tapi bila mengikuti argumentasi Tiong Fa, tentu saja orang jadi dibuat setuju oleh pendapatnya.
Dengan menggigit bibir akhirnya Ding Tao pun mengangguk setuju, ―Tetua Tiong, sebenarnya aku merasa malu, tapi kurasa itulah jalan yang terbaik. Sehingga jika nanti kuserahkan pedang ini ke dalam pengawasan keluarga Huang, bukan berarti aku melanggar pesan guruku. Namun memang keluarga Huang lebih pantas untuk menyimpannya.‖
Demikianlah dengan kelicinan lidahnya Tiong Fa berhasil mengatur panggung sandiwara, di mana setiap orang berhasil dimainkan menurut kemauannya.
Huang Jin, Huang Yunshu dan Huang Ren Fang, serta beberapa orang kepercayaan keluarga Huang yang lain, yang mengetahui tentang rencana ini, mengangguk-angguk dengan puas. Dalam hati mereka bersyukur ada orang macam Tiong Fa dalam keluarga mereka. Bersyukur tapi juga bergidik, ketika membayangkan bila Tiong Fa justru berdiri di pihak lawan.
283
VI. Pertarungan demi pertarungan.
Pertandingan persahabatan itu dilakukan di ruang latihan, selain mereka yang hadir pada jamuan makan malam itu, tidak ada yang lain yang hadir di sana.
Tiong Fa sendiri sudah mengatur siapa-siapa yang hadir dalam jamuan makan malam itu. Selain putera dan puteri Huang Jin, anak-anak muda yang lain adalah bibit-bibit muda yang berbakat dari keluarga Huang. Lalu kemudian mereka yang sudah berpengalaman di dunia persilatan dan merupakan orang pilihan dalam keluarga Huang. Dan kelompok terakhir tentu saja Huang Jin dan orang-orang kepercayaannya.
Pendek kata, tanpa disadari orang lain, Tiong Fa sudah mengatur agar segenap kekuatan keluarga Huang berkumpul malam itu.
Huang Ying Ying mungkin bisa dijadikan perkecualian, tapi bahkan kehadirannya sebagai puteri Huang Jin pun bisa dimanfaatkan Tiong Fa sebaik-baiknya. Dalam rencana yang ada di angan-angannya sudah terbayang, bagaimana Ding Tao
284
akhirnya akan tunduk di tangan salah satu jagoan keluarga Huang.
Dia sudah membayangkan kata-kata penghiburan yang akan diucapkan, lalu dengan sedikit dorongan dia akan menempatkan Huang Ying Ying sebagai penghibur dan perawat Ding Tao. Dalam sekali jerat, bukan hanya pedang didapatkan tapi keluarga Huang pun akan mendapatkan satu kekuatan lagi.
Tentu saja, kalau nanti ternyata Ding Tao keok di tangan anggota terlemah yang hadir malam itu, Tiong Fa akan membalikkan keadaan. Si cantik Huang Ying Ying, baginya terlalu berharga jika hanya digunakan untuk menggaet jagoan kelas kambing.
Suasana di ruang latihan itu jadi sedikit menegangkan, meskipun tadinya banyak yang memandang Ding Tao sudah terlalu sombong setelah dua tahun menghilang. Setelah mereka siap untuk berhadapan dalam satu pertarungan, mau tak mau mereka mulai bertanya-tanya, apakah bukan mereka yang kelewat tinggi menilai diri sendiri.
285
Ding Tao sendiri justru mendapatkan ketenangannya di ruang latihan itu. Baginya tidak ada masalah apakah dirinya akan menang atau kalah saat itu.
Ding Tao yang sudah dibuat percaya penuh pada kemuliaan hati para pemimpin keluarga Huang, tidak melihat adanya masalah jika pedang itu jatuh ke tangan mereka. Jika sampai dirinya yang memenangkan pertandingan itu…
Yah, sejujurnya Ding Tao sendiri tidak pernah berpikir bahwa dia akan memenangkan pertandingan itu, meskipun dia berharap juga bahwa setidaknya dia bisa memenangkan beberapa pertarungan agar gurunya tidak menjadi malu sudah mendidik dia sebagai murid.
Inilah pertarungan yang pertama sejak dua tahun yang silam. Ada juga dalam hatinya rasa penasaran dan ingin menguji, sebenarnya sudah sejauh mana kemajuannya dalam menekuni ilmu bela diri.
Karena itu wajah-wajah yang tegang dari orang-orang muda dalam keluarga Huang, tampak begitu kontras dengan wajah Ding Tao yang tenang, dan penampilannya yang tenang ini
286
tentu saja membuat banyak perasaan yang hadir di situ semakin bergetar.
Terutama mereka yang belum mempunyai keyakinan penuh atas kemampuannya sendiri.
Perlahan-lahan Tiong Fa mengedarkan pandangannya ke sekeliling arena. Kali ini Tiong Fa memang berperan sebagai sutradaranya, bahkan Huang Jin yang menjadi kepala dari keluarga Huang pun tidak ikut memberikan masukan sedikitpun, karena dua alasan.
Yang pertama, dia percaya penuh pada kelicinan Tiong Fa, dalam hatinya Huang Jin mengakui bahwa kecerdikan orang kepercayaannya ini ada di atas kecerdikannya sendiri. Seandainya pernah timbul sedikit saja kecurigaan dalam hatinya atas kesetiaan Tiong Fa, Huang Jin tidak akan segan-segan untuk menghabisi nyawanya.
Tapi baik Tiong Fa maupun Huang Jin cukup cerdik untuk mengetahui bahwa mereka berdua saling membutuhkan. Tiong Fa membutuhkan kekuatan Huang Jin dan Huang Jin membutuhkan kecerdikan Tiong Fa, kesadaran inilah yang
287
membuat keduanya bisa berjalan dengan penuh ―persahabatan‖ hingga puluhan tahun berselang.
Alasan yang kedua adalah, seandainya ada kesalahan perhitungan, apa pun itu, Huang Jin tidak mau namanya ikut jadi tercemar. Pada saat terakhir dia masih bisa melemparkan kesalahan itu pada pundak Tiong Fa, meskipun tidak seluruhnya.
Pandangan mata Tiong Fa jatuh pada seorang anak muda yang menjadi juara dalam ujian kelulusan 6 tahun yang lalu. Dengan anggukan kepala dia memberikan perintah pada anak muda itu untuk maju ke depan, menjadi kelinci percobaan untuk menguji sejauh mana kemajuan ilmu Ding Tao.
Feng Xiaohong nama anak itu, dalam umur 12 tahun dia berhasi lulus sebagai peserta terbaik, otaknya encer dan cepat menyerap setiap pelajaran.
Kalau ada kekurangannya, maka itu terletak pada sifatnya yang cepat puas diri. Guru-gurunya harus menyesuaikan kecepatan pelajaran yang baru dengan kemampuannya menyerap pelajaran. Mungkin ini salah satu kelemahan orang yang
288
berotak encer, justru karena dia lebih cepat dalam memahami sesuatu, maka cepat pula dia ingin mempelajari yang baru.
Berbeda dengan Ding Tao yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyelami kegunaan beberapa jurus hingga ke dasar-dasarnya. Feng Xiaohong ini melahap ratusan jurus dalam waktu yang sama.
Tiong Fa tentu saja tahu kelemahan Feng Xiaohong, tapi seperti biasa otaknya yg cermat selalu bekerja tidak tanggung-tanggung, dua sasaran yang dia inginkan. Melihat tingkat kemajuan Ding Tao, dan itu dapat dinilainya dengan menghadapkan Ding Tao dengan Feng Xiaohong yang berpengetahuan luas meskipun agak dangkal.
Dan sasaran yang kedua, adalah menyadarkan Feng Xiaohong akan perlunya menekuni dan menyelami jurus-jurus yang sudah dia pelajari.
Dua pemuda itu pun mulai berhadapan, Feng Xiaohong bukan orang bodoh, dia sempat melihat pertarungan antara Wang Chen Jin dengan Ding Tao, di mana variasi serangan Wang Chen Jin akhirnya berhasil dimentahkan oleh balasan Ding Tao yang sederhana namun tepat.
289
Bahkan pertarungan itu sempat membangkitkan minatnya untuk kembali menelaah setiap jurus yang sudah dia pelajari.
Tapi ibaratnya jika Ding Tao menyelam sampai ke dasar lautan dan mengamati seluruh isinya. Feng Xiaohong sudah merasa puas, ketika dia merasa sudah melihat dasarnya.
Sebuah jurus yang indah segera dilancarkan oleh Feng Xiaohong, pedang kayunya bergerak membuat lingkaran serangan. Dengan cerdiknya disisakannya lubang di antara serangan itu.
Jika Ding Tao bergerak menghindar maka serangan susulan akan terus menerus mengikutinya. Jika Ding Tao termakan siasat itu dan berusaha membalas menyerang menggunakan lubang pertahanan yang sengaja disisakan, maka sebuah serangan mematikan sudah disiapkan oleh Feng Xiaohong.
Pedangnya akan berbalik mengurung jalan keluar Ding Tao sementara pukulan tangannya akan melancarkan serangan yang mematikan.
Ini adalah salah satu jurus tingkat tertinggi yang boleh dipelajari oleh orang yang tidak berhubungan darah dengan keluarga Huang. Tiong Fa merasa puas melihat keputusan Feng
290
Xiaohong, dia sendiri tentu saja akan mampu memecahkan kepungan itu, terutama berlandaskan himpunan tenaganya yang sudah terpupuk jauh lebih lama.
Tapi apakah Ding Tao mampu memecahkan jurus serangan itu?
Pada gebrakan pertama Ding Tao bergerak menyurut ke belakang, mereka yang sedang mengamati pertandingan itu melihatnya dengan berbagai tanggapan. Bagi mereka yang berada di tingkat terbawah, jurus yang dikeluarkan Feng Xiaohong adalah jurus pamungkas dari bagian lanjutan yang diajarkan pada mereka yang tidak memiliki pertalian darah dengan keluarga Huang.
Sudah tentu, bagi mereka jurus ini adalah jurus yang tidak terpecahkan, bagi mereka Ding Tao yang belajar dari Gu Tong Dang adalah sama dengan mereka. Bagi Ding Tao tentulah jurus ini adalah jurus serangan yang pamungkas, tidak terpecahkan.
Bagi mereka, masalahnya hanyalah siapa yang lebih cepat mengambil inisiatif, siapakah yang lebih mahir dalam menyerang dan siapakah yang lebih kuat.
291
Dia yang lebih cepat mengambil inisiatif akan mengambil keuntungan, dia yang lebih mahir akan lebih sedikit menyisakan lubang kelemahan dan dia yang lebih kuat akan memiliki kemungkinan untuk mengacaukan jebakan yang disusun lewat adu kekuatan.
Bagi mereka yang setingkat di atasnya, mereka yang sudah berpengalaman dan sedikit banyak mencicipi satu atau dua jurus simpanan keluarga Huang. Jurus serangan Feng Xiaohong bukanlah jurus yang tidak terpecahkan.
Setelah mengikut sekian lama dan berkelana sekian lama di dunia persilatan, akhirnya mereka pun bisa melihat dan menilai jurus pamungkas yang menjadi milik mereka selama dalam pelatihan. Mereka ini sudah banyak yang mengembangkan sendiri jurus-jurus yang ada berdasarkan apa yang mereka lihat dan alami.
Tentu dengan warna dan bentuknya masing-masing, sesuai dengan bakat dan pengalaman yang unik dari tiap orang. Mereka ini memandang dengan waspada dan penuh rasa ingin tahu, apakah Ding Tao pun sudah berhasil memecahkan jurus itu? Kalau iya, dengan cara apa pemuda itu akan melakukannya?
292
Lalu bagi mereka yang memiliki pertalian darah dengan keluarga Huang serta telah menamatkan keseluruhan ilmu keluarga Huang, kelemahan dan pemecahan jurus serangan Feng Xiaoho sudahlah jelas dan bagi mereka itulah cara yang terbaik. Dengan pandangan dingin mereka menunggu untuk melihat sejauh mana Ding Tao berhasil mendalami jurus-jurus keluarga Huang yang sempat dia pelajari lewat Gu Tong Dang.
Terutama mereka yang dekat dengan para pimpinan, karena menghilangnya Ding Tao sudah menjadi salah satu perhatian mereka, Tiong Fa yang menyebarkan para mata-matanya dengan yakin menyatakan bahwa jejak Ding Tao tidak ditemui di perguruan silat atau tokoh persilatan yang mana pun. Itu berarti satu-satunya sumber Ding Tao adalah ilmu bela diri keluarga Huang.
Permasalahannya tinggal sejauh mana pemuda itu mampu mendalami dan mengembangkannya. Ini sangat menarik bagi mereka, karena dari sini mereka bisa menilai seberapa tinggi bakat yang dimiliki Ding Tao.
Tapi gerakan Ding Tao yang berikutnya membuat semua orang terpana. Seperti yang sudah diduga, bila Ding Tao bergerak menghindar, maka itu akan berarti gerakan pedang Feng
293
Xiaohong akan mengejar dan berusaha membuat kedudukan Ding Tao semakin buruk.
Bila pada gebrakan pertama Ding Tao bergerak menyurut mundur, demikian pula pada gebrakan kedua dan ketiga. Tapi menginjak serangan ketiga dan seterusnya, pedang Ding Tao ikut bergerak bersamaan dengan gerak mundurnya.
Gerakan pedang Ding Tao tidaklah cepat atau kuat, tapi tepat seirama dengan gerakan pedang Feng Xiaohong, dalam beberapa gebrakan yang terjadi mengejutkan setiap orang, pedang Ding Tao bagaikan menempel pada pedang Feng Xiaohong.
Tidak ada yang lebih jelas tentang apa yang dilakukan Ding Tao selain Feng Xiaohong sendiri. Jika pedang Feng Xiaohong bergerak ke kanan, maka pedang Ding Tao akan tepat mendorong pedang Feng Xiaohong lebih jauh ke kanan. Jika bergerak ke kiri maka demikian pula pedang Ding Tao seakan menempel dan ikut mendorong pedangnya ke kiri.
Dalam waktu singkat gerakan Feng Xiaohong menjadi kacau balau, keringat dingin keluar, pedang Ding Tao bagaikan bayangan hantu. Bahkan ketika dia berusaha melepaskan diri
294
dengan mundur, pedang itu terus mengikutinya. Menempel dan tidak pernah lepas.
Kali ini Feng Xiaohong-lah yang bergerak mundur dan menghindar, sementara Ding Tao bagaikan lintah melekat erat atau bagai hantu dan arwah yang membayangi Feng Xiaohong.
Memucat wajah setiap orang yang menyaksikan hal itu, tidak seorangpun dari mereka yang bisa membayangkan hal itu akan terjadi. Bukan kenyataan bahwa Ding Tao bisa mengalahkan Feng Xiaohong, akan tetapi cara Ding Tao mengalahkan Feng Xiaohong yang jauh di luar dugaan mereka.
Tidak lama setelah Ding Tao berhasil menggerak Feng Xiaohong mundur, Ding Tao berhasil menekan pedang Feng Xiaohong hingga terlepas dari tangannya, ujung pedang Ding Tao pun berakhir di depan tenggorokan Feng Xiaohong.
Tidak perlu juri untuk menentukan siapa pemenangnya, bahkan tidak perlu menunggu pedang Ding Tao mengancam tenggorokan Feng Xiaohong untuk tahu siapa pemenangnya, sejak Ding Tao berhasil menempel pedang Feng Xiaohong akhir dari pertandingan itu sudah bisa ditebak.
295
Dengan muka merah dan pucat berganti-ganti Feng Xiaohong pun mengakui kekalahannya dengan badan lemas bercampur kagum, ―Aku mengaku kalah… Ding Tao…‖
―Jangan dipikirkan Saudara Feng, hanya sedikit keberuntungan di pihakku. ―, hibur Ding Tao sambil balas membungkuk dengan hormat.
Cara Ding Tao mengalahkan Feng Xiaohong, ucapannya, bisa saja ditangkap sebagai kesombongan atau penghinaan, tapi bila melihat ekspresi wajahnya yang tulus dan jujur. Dari tiap kata dan gerak-geriknya bisa tertangkap ketulusan dan niat yang bersahabat.
Feng Xiaohong pun tersenyum, pemuda ini memang sering memandang tinggi dirinya sendiri, tapi dia bukan pula orang yang sempit hatinya. Dia memang tidak sungkan-sungkan untuk mengunggulkan bakatnya dibandingkan bakat orang lain, tapi tidak malu-malu juga untuk mengagumi orang lain yang lebih berbakat dari dirinya.
―Jangan bodoh, kalah dengan cara begini sudah tentu bukan masalah keberuntungan. Selamat Saudara Ding, tidak
296
kusangka ada juga cara seperti itu.‖, ujarnya dengan sungguh-sungguh dan senyum di bibir.
Senyum pun merekah di wajah Ding Tao, alangkah menyenangkan bisa melakukan pertandingan persahabatan, menguji diri sendiri, menambah pengalaman, mencoba hal-hal yang baru dan lebih-lebih lagi mendapatkan sahabat baru.
Dia pernah hidup selama 18 tahun di keluarga Huang, sudah tentu cukup lama juga dia mengenal Feng Xiaohong. Tapi Feng Xiaohong yang tinggi hati ini tidak memandang sebelah mata pada dirinya yang dianggapnya dungu. Bukan menghina, hanya seakan-akan tidak ada orang yang bernama Ding Tao di dunia Feng Xiaohong.
Tapi kali ini Feng Xiaohong memandang dirinya dengan penuh persahabatan.
Tiong Fa yang sempat terkejut melihat cara Ding Tao mengalahkan Feng Xiaohong dengan cepat menguasai hatinya. Otaknya berputar cepat, bakat Ding Tao jelas berada di luar dugaannya, tapi dia masih yakin pada akhirnya Ding Tao akan kalah. Permasalahannya sekarang siapa yang harus ditunjuknya.
297
Jika orang berikutnya kalah dengan cara yang sama mengenaskannya, moral dari keluarga Huang bisa semakin terpuruk. Tapi jika terlalu cepat dia mengajukan jago-jago keluarga Huang, dia akan kehilangan keuntungan yang dia miliki dari segi jumlah.
Sebisa mungkin Tiong Fa ingin agar tenaga Ding Tao terkuras saat harus menghadapi lawan yang sesungguhnya. Tadinya dia berpikir salah satu dari mereka yang bertahun-tahun malang melintang di dunia persilatan dapat melakukan hal itu.
Mungkin Wei Mo yang sering bertugas mengawal barang-barang kiriman keluarga Huang ke daerah yang berbahaya, sudah beberapa kali jagoan itu bersama dengan rekan-rekannya menghadapi pentolan penjahat yang punya nama.
Atau Zhang Zhiyi yang seringkali dia percayai untuk memata-matai perguruan-perguruan besar di daerah selatan ini.
Dari segi pengalaman bertarung Wei Mo yang menonjol, dari segi pengetahuan dan kecerdikan Zhang Zhiyi yang lebih menonjol. Sudah ada rencana untuk mengikat hubungan kekeluargaan dengan keduanya. Wei Mo yang lebih tua,
298
rencananya salah satu puterinya akan dilamar oleh salah satu cucu Huang Yunshu.
Untuk Zhang Zhiyi yang masih muda dan belum menikah, sedang dicarikan salah satu anak gadis keluarga Huang yang dirasa cocok.
Tapi melihat cara Ding Tao mengalahkan Feng Xiaohong, mau tidak mau Tiong Fa harus berpikir ulang.
―Mungkin nantinya harus aku sendiri yang turun tangan.‖, demikian dia berpikir dalam hati.
Melihat tingkat Ding Tao, sudah sepantasnya jika Tiong Fa menunjuk Wei Mo atau Zhang Zhiyi, tapi bukan Tiong Fa namanya jika melakukan sesuatu hanya berdasarkan kepantasan. Setelah mengerutkan alis sejenak dia memandang ke salah seorang murid yang dilatihnya sendiri.
―Zhu Lizhi, coba kau maju.‖
Pemuda yang dipanggil merasa sedikit terkejut, pameran keahlian yang ditunjukkan Ding Tao sudah membuat dia merasa takluk. Tapi dengan mengeraskan hati dia maju ke
299
depan dan dengan gagah membungkuk memberi hormat pada Ding Tao.
―Sepertinya kali ini aku yang mendapat berkah untuk menerima pelajaran darimu Saudara Ding.‖
―Sama-sama Saudara Zhu.‖
―Awas serangan!‖
Kali ini serangan yang dilakukan Zhu Lizhi adalah serangan yang sederhana saja, mengambil pelajaran dari Feng Xiaohong tadi, Zhu Lizhi tidak ingin kena tempel oleh pedang Ding Tao, karenanya dia justru mengutamakan kecepatan dan kekuatan dengan jurus-jurus yang sederhana yang lebih berkonsentrasi pada pertahanan.
Murid Tiong Fa tentu bukan orang sembarangan, sesuai sifatnya yang cermat, Tiong Fa pun menekankan kecermatan dan kecerdikan pada murid-muridnya dalam satu pertarungan.
Karena itulah Tiong Fa memilih Zhu Lizhi, dia tidak berharap Zhu Lizhi memenangkan pertandingan ini, harapannya hanya agar Zhu Lizhi dapat mengambil pengalaman yang akan menguntungkan dia dlam perkembangan ilmu silatnya,
300
sekaligus karena dia yakin Zhu Lizhi akan dapat bertahan cukup lama dan sedikit banyak membantunya menguras tenaga Ding Tao.
Sesuai harapannya pertandingan kali ini berlangsung cukup seru. Serangan Zhu Lizhi tidaklah serumit jurus yang dilancarkan Feng Xiaohong. Tapi jurus yang sederhana dilancarkan dengan cermat dan tepat, sebaliknya pertahanan Zhu Lizhi sangatlah rapat, sehingga meskipun mudah bagi Ding Tao untuk mematahkan serangan Zhu Lizhi, tidaklah demikian untuk mengalahkannya.
Melihat jalannya pertandingan, diam-diam Tiong Fa mendesah lega. Mungkin penilaiannya terhadap Ding Tao tadi terlalu tinggi, mungkin Feng Xiaohong yang terlalu terburu-buru.
-------------------------- o --------------------------- 20 jurus sudah berlalu dan Ding Tao belum membuat gebrakan yang berarti.
Bahkan Feng Xiaohong pun mengerutkan alisnya, bagi seseorang yang sudah pernah menghadapi Ding Tao secara langsung, hal ini menimbulkan keheranan dalam dirinya.
301
Sebenarnya Ding Tao memang belum mengerahkan segenap kemampuannya, jika tadi dia menjadi terbangkit kegembiraannya saat dipaksa menghadapi jurus pamungkas yang dikeluarkan Feng Xiaohong. Saat dia menghadapi Zhu Lizhi perasaannya sudah sedikit mengendap. Tadinya dia sempat khawatir Feng Xiaohong akan merasa tersinggung dikalahkan dengan cara demikian, betapa lega hatinya saat Feng Xiaohong ternyata bisa menerima kekalahan dengan hati terbuka.
Oleh karena itu saat menghadapi Zhu Lizhi, Ding Tao tidak terburu-buru mendesak lawannya.
Meskipun dengan mudah dia mematahkan serangan Zhu Lizhi tapi dia tidak mendesak Zhu Lizhi terlalu hebat. Sekali dua kali dia mendesak dan berhasil menempatkan Zhu Lizhi di posisi, di mana dalam benaknya terbayang bagaimana dia akan mengakhiri perlawanan Zhu Lizhi, tapi pada dua atau tiga langkah terakhir dengan sengaja dilepaskannya Zhu Lizhi.
Keputusan Zhu Lizhi untuk lebih mementingkan pertahanan, memberikan Ding Tao ruang gerak yang leluasa untuk mengembangkan permainan. Dengan tidak adanya desakan-
302
desakan yang berarti dari Zhu Lizhi, Ding Tao jadi bebas untuk mencoba-coba, jurus-jurus yang sudah dia pelajari selama ini.
Meskipun demikian Ding Tao melakukannya dengan sangat berhati-hati, karena dia tidak ingin membuat Zhu Lizhi merasa dipermainkan. Karena itu bagi mereka yang menyaksikan, pertandingan itu tampak berimbang.
Setelah 30 jurus berlalu barulah Ding Tao memutuskan untuk mengakhiri perlawanan Zhu Lizhi. Bukan dengan pameran kekuatan atau keahlian seperti yang dia lakukan pada pertarungan pertama. Tapi justru dengan serangan-serangan yang wajar, tapi setiap serangan memiliki tujuan.
Tanpa terasa Zhu Lizhi digiring oleh serangan-serangan Ding Tao untuk sampai pada jurus tertentu dan posisi tertentu. Ketika Zhu Lizhi menyadari bagaimana posisi di dadanya terbuka lebar dari sudut tempat pedang Ding Tao mengincar, barulah dia sadar telah masuk dalam jebakan Ding Tao.
Dalam waktu yang sekejapan itu, tiba-tiba pertarungan mereka yang sebelumnya seperti tampak jelas dalam ingatan Zhu Lizhi dan sadarlah dia, bahwa sejak tadi Ding Tao sudah melakukan hal yang sama.
303
Bahkan sebelum dia merasakan hantaman pedang kayu itu di dadanya, Zhu Lizhi sudah memejamkan mata mengakui kekalahan dirinya.
Dua orang sudah berhasil dikalahkan, seperti juga Feng Xiaohong Zhu Lizhi menerima kekalahannya dengan lapang dada. Apalagi di saat terakhir dia tersadar bahwa Ding Tao sudah banyak mengalah padanya dalam pertandingan tadi.
Dengan setulusnya pemuda itu membungkuk hormat pada Ding Tao, ―Selamat Saudara Ding, ilmumu ternyata sudah maju jauh melampaui kami semua yang seangkatan dengan dirimu.‖
―Ah Saudara Zhu terlampau memuji, ketatnya pertahanan Saudara Zhu sungguh membuatku kagum.‖, jawab Ding Tao dengan ramah.
Sekilas Zhu Lizhi mengamati wajah Ding Tao, sempat timbul pertanyaan dalam hatinya apakah orang di hadapannya ini sedang hendak menyindirnya. Maklum gurunya adalah Tiong Fa yang licin, tapi ketika terpandang wajah Ding Tao yang bersih dari segala tipu daya, senyum persahabatan pun mengembang di wajah Zhu Lizhi.
304
Dalam hati dia merasa takluk luar dalam pada Ding Tao, baik pada ilmu pedangnya, maupun pada watak dan karakter dari pemuda itu. Apalagi ketika dia terbayang sifat gurunya yang seringkali membuat dia selalu menebak-nebak, ada apa di balik wajah agung sang guru.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerbung Cerita Bersambung Dewasa : PAB 2 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 06 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments