Cerita Dewasa Amoy China : Sian Li Engcu 3

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Dewasa Amoy China : Sian Li Engcu 3

„Kalau begitu, lihatlah ilmu pedangku ini, totiang!” seru In Hong sambil tertawa.
Wu Wi Thaysu melihat sinar terang meluncur cepat. Ia tidak mengenal pedang pusaka Liong-gan-kiam, karena setelah mencuri pedang itu dari istana, Hek Moli tidak pernah mempergunakannya dan memberikan pedang itu kepada In Hong.
Dengan penuh perhatian Wu Wi Thaysu menghadapi ilmu pedang dari gadis itu yang juga amat ganas, cepat dan kuat sekali gerakannya. In Hong tidak takut bahwa tosu ini akan mengenal ilmu pedangnya, karena ia tahu bahwa gurunya, yakni Hek Moli, selalu mempergunakan tongkat sebagai senjata, dan ilmu tongkat dari gurunya itulah yang digubah menjadi ilmu pedang untuknya. Biarpun gerakan-gerakannya sama, namun ilmu tongkat tak dapat disamakan derigan ilmu pedang dan dengan hati besar gadis ini lalu mengerahkan kepandaiannya untuk mendesak Wu Wi Thaysu.
Akan tetapi, ia harus mengakui kelihayan tosu ini dalam ilmu pedangnya. Ilmu pedang Go-bi-pay amat kuat dalam pertahanannya dan pedang di tangan tosu itu berputar-putar cepat sekali merupakan tembok baja yang kuat dan
205
kokoh melindungi tubuhnya sehingga sukar ditembus oleh pedang di tangan In Hong.
Makin terkejutlah hati Wu Wi Thaysu. Tidak saja ia belum pernah melihat ilmu pedang yang amat aneh dan kuat ini, juga untuk mengalahkan gadis ini dalam permainan pedang saja, agaknya akan memakan waktu lama sekali baginya. Bukan main indah dan ganasnya ilmu pedang yang dimainkan oleh nona Kwee ini sehingga tubuh nona itu lenyap terbungkus oleh sinar pedang yang berkilauan.
Ia sudah mencoba untuk mendobrak dan membalas serangan In Hong, namun sia-sia belaka karena ia kalah cepat. Dan dengan pengerahan tenaga dan pencurahan perhatian untuk mengalahkan ilmu pedang gadis ini, ia makin sukar mengenal ilmu pedang itu.
3.2. Hukuman Murid Berdosa
Sepuluh jurus lewat amat cepatnya, dan terdengar tosu itu berkata dengan suara keras:
„Kwee-lihiap, terus terang saja aku belum mengenal ilmu pedangmu. Aku takkan menarik janji, dan kau boleh minta apa saja nanti, akan tetapi teruskan permainanmu sampai sepuluh jurus lagi, kiranya pinto akan dapat menduga dari siapa kau memperoleh semua ilmu yang aneh ini!”
In Hong makin gembira. Terdengar ia tertawa nyaring dan kini ilmu pedangnya makin hebat. Sengaja gadis ini mengerahkan tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling lihay dari ilmu pedangnya yang dinamai Toat-beng-
206
kiam-hoat (Ilmu pedang mencabut nyawa) oleh gurunya! Tidak saja ia hendak membikin tosu itu menduga-duga dengan bingung, akan tetapi juga darah mudanya membuat ia mempunyai keinginan mengalahkan tosu ini dalam ilmu pedang!
Dalam jurus keduapuluh, In Hong mempergunakan ilmu pedangnya dengan gerak tipu yang paling lihay, yakni yang disebut Tho-sim-toat-beng (Mencuri hati mencabut nyawa). Pedangnya berputar dan berkelebatan seperti seekor rajawali hendak menyambar korban, sukar sekali diduga kemana arah yang hendak dilalui, dan tiba-tiba, tanpa terduga-duga, pedang ini menyambar dengan tusukan kilat ke arah hati atau dada kiri lawannya!
Wu Wi Thaysu berseru keras dan cepat ia menggerakkan pedang melindungi dada, karena untuk mengelak sudah tidak ada waktu lagi! Dua pedang bertemu, menempel keras dan tak dapat dilepaskan lagi. Kalau Wu Wi Thaysu tidak menang dalam tenaga lweekang, tentu ia tak keburu melindungi dadanya dan ujung pedang In Hong hanya terpisah setengah dim saja dari bajunya.
Akan tetapi, berkat tenaga lweekangnya yang masih lebih kuat daripada In Hong, ia dapat mendorong gadis itu dan sambil mengerahkan tenaga ia berseru keras. In Hong terhuyung mundur dan terpental seakan-akan tertiup angin badai!
Gadis ini pucat, akan tetapi merasa lega bahwa ia tidak terluka. Kiranya Wu Wi Thaysu memang tidak bermaksud buruk dan ia tadi hanya mengerahkan khikang untuk
207
membikin gadis itu terpental. Kalau ia mau mempergunakan lweekang sekuatnya, pasti In Hong akan terluka di dalam tubuhnya.
„Siancay, siancay……, ilmu pedangmu benar-benar hebat, Kwee-lihiap,” kata-kata ini memang sejujurnya, karena ia yang sudah memiliki delapan bagian atau hampir seluruhnya dari Go-bi-kiam-hoat, dalam duapuluh jurus tidak dapat mengalahkan ilmu pedang gadis itu, bahkan hampir saja ia menjadi korban.
Kemenangannya tadi bukan karena ilmu pedang, melainkan karena ia memiliki tenaga lweekang yang lebih kuat. Maka ia merasa penasaran dan juga kagum sekali, akan tetapi ia sekarang teringat. Yang dapat menghadapi Go-bi-kiam-hoat dari suhunya yang tua, yakni Tek Eng Thaysu ketua Go-bi-pay, adalah Hek Moli, Iblis Wanita hitam itu. Biarpun Hek Moli mainkan tongkat, namun keganasan dan kecepatannya hampir sama dengan gerakan gadis ini.
„Kwee-lihiap, kalau kau bukan murid Hek Moli, aku si tua bangka tidak mampu menerka lagi murid siapakah kau ini.”
In Hong menjura. „Wu Wi Thaysu, tebakanmu yang tepat ini menambah kekagumanku atas ilmu pedang Go-bi-kiam-hoat yang benar-benar indah dan luar biasa. Aku terima kalah.”
208
„Kau pandai bersombong dan pandai merendah. benar-benar kau seperti gurumu. Eh, sekarang aku harus bayar hutang. Kau hendak bertanya tentang Tek Seng Cu?”
„Benar, totiang,” In Hong menjadi gembira dan menyimpan Liong-gan-kiam.
„Dia sudah tewas!”
In Hong melengak.
„Jadi subo yang……”
„Ya benar, mendiang gurumu yang menewaskannya.”
„Apa katamu, totiang?” In Hong menjerit. „Guruku……??”
„Gurumu juga tewas dalam pertempuran itu.”
Tiba-tiba In Hong mencabut pedangnya dan cepat menusuk dada Wu Wi Thaysu. Tosu ini cepat menangkis dengan pedang yang masih dipegangnya.
„Sabar, jangan kau tiru keganasan gurumu itu. Keganasan tanpa perhitungan dan tanpa dipertimbangkan lebih dulu adalah kesesatan dan hanya akan membawa kau ke dalam lembah kehancuran!”
In Hong sadar kembali. Memang amat tidak baik kalau tiba-tiba menyerang atau membunuh orang tanpa mengetahui persoalannya dengan jelas, hanya timbul dari persangkaan belaka.
209
„Guruku tewas? Tentu kalau bukan olehmu, oleh Pek Eng Thaysu, siapa lagi yang dapat menewaskannya? Tek Seng Cu manusia sombong itu? Hah, jangan kau mencoba untuk menyangkal, Wu Wi Thaysu!” Dada gadis itu berombak, mukanya merah, sepasang matanya seperti berapi.
Wu Wi Thaysu menggeleng kepalanya. „Sayang bukan! Kalau aku yang menewaskannya, itu tanda bahwa ilmu silatku mendapat banyak kemajuan. Padahal semenjak aku kalah olehnya di puncak Go-bi dahulu, harus ku akui bahwa ilmu silatku banyak mundur!”
„Jadi kalau begitu Pek Eng Thaysu yang menewaskan guruku?”
„Juga bukan, Kwee-lihiap. Suhu sudah terlalu tua untuk mengurus segala macam persoalan dunia, mana suhu mau membunuh orang?”
„Wu Wi Thaysu, kau tadi sudah berjanji hendak memenuhi semua permintaanku. Apakah sekarang kau hendak memutar balik omongan dan untuk pertanyaan ini saja kau tidak mau mengaku? Siapakah yang telah membunuh guruku?”
Pada saat itu, Yo Kang yang semenjak pertandingan pedang tadi hampir tak berani bernapas, buru-buru datang menghampiri mereka.
„Adikku In Hong, harap kau bersabar dan berlaku tenang. Tidak baik mendesak-desak Wu Wi Locianpwe.
210
In Hong berpaling kepada Yo Kang. „Yo-twako, urusanmu sudah selesai, dan sekarang aku minta supaya kau pulang lebih dulu. Aku ada banyak sekali urusan yang harus kuselesaikan. Harap kau jangan membantah lagi!” Di dalam kata-kata ini terkandung suara yang dingin dan ketus sehingga Yo Kang tak berani membantah. Ia hanya menarik napas panjang, lalu berkata:
„Baiklah, Hong-moy dan tentang mencari ibumu……” Ia berhenti karena teringat bahwa kini tidak ada artinya lagi membantu gadis yang ternyata memiliki kepandaian jauh lebih lihay daripada kepandaiannya sendiri itu. „Ah..... orang macam aku ini mempunyai kegunaan apakah? Biarlah, aku hanya akan mencoba mendengar-dengar dimana adanya ibumu, Hong-moy.”
In Hong terharu juga. Ia tahu akan isihati pemuda ini.
„Bantuanmu masih amat kuperlukan, Yo-twako. Nah, selamat berpisah dan mudah-mudahan tak lama lagi kita akan dapat bertemu pula.”
Yo Kang memberi hormat kepada Wu Wi Thaysu, lalu melompat ke atas kudanya dan membalapkan kuda itu pulang ke See-ciu. Ia benar-benar merasa terpukul dan malu kepada diri sendiri dan semenjak saat itu, ia melempar jauh-jauh julukan Bu-tong Sin-to dan bahkan tidak mau lagi bicara tentang ilmu silat!
Setelah Yo Kang pergi, In Hong berkata lagi kepada Wu Wi Thaysu: „Bagaimana, totiang, apakah kau masih tidak mau menolongku? Ingat janjimu tadi. Pantaskah seorang
211
tokoh kedua dari Go-bi-pay menarik kembali janjinya? Ingat, aku tidak akan segan-segan untuk mengabarkan hal ini di dunia kang-ouw!”
Wu Wi Thaysu kewalahan dan menarik napas panjang dengan sikap duka.
„Baiklah, Kwee-lihiap. Ada orangnya yang tahu betul akan hal itu, bahkan yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketika gurumu tewas. Dia itu adalah muridku sendiri yang bernama Wi Tek Tosu, guru dari Tek Seng Cu. Aah, kami harus menanggung seluruh dosa yang dilakukan oleh Tek Seng Cu. Marilah, mari kita menemui Wi Tek Tosu yang berada di tempat tidak jauh dari sini.”
Setelah berkata demikian, Wu Wi Thaysu menggerakkan kedua kaki dan mengibaskan tangan, maka melesatlah tubuhnya karena ia sudah mempergunakan ilmu lari cepat. In Hong tidak mau tertinggal dan cepat mengejar. Dalam hal ilmu lari cepat, ia tidak kalah lihay oleh tosu tua dari Go-bi-pay ini maka ia dapat mendampinginya.
Ternyata Wu Wi Thaysu tidak membawanya pergi jauh, hanya kurang lebih tigapuluh lie dari dusun tadi. Mereka tiba di sebuah dusun yang sunyi di lereng gunung kecil dan Wu Wi Thaysu mengajak In Hong menuju ke sebuah kelenteng bertembok kuning yang berdiri di lereng itu.
„Disinilah tempat pinto untuk sementara waktu kalau pinto turun dari Go-bi-san,” kata tosu itu setelah mereka berjalan memasuki pekarangan kelenteng. „Di dalam sebuah kamar di kelenteng ini kau akan bertemu dengan
212
orang yang telah menyaksikan sendiri bagaimana gurumu itu tewas. Mari kau ikut pinto!”
Hati In Hong berdebar keras. Suhunya sudah tewas dan ia akan bertemu dengan orang yang dapat menceritakannya tentang kematian gurunya itu. Ia harus membalas dendam dan kalau ia sudah tahu siapa yang membunuh gurunya, ia takkan berhenti sebelum dapat membalas sakit hati ini.
Wu Wi Thaysu berhenti di depan sebuah kamar. Kamar ini kecil saja, paling besar dua meter persegi. Daun pintunya tertutup dan di antara dua daun pintu ditempeli kertas biru yang ada tulisannya:
Tempat hukuman murid berdosa.
Kalau pintu itu dibuka, tentu tempelan ini akan rusak dan robek. Di dekat pintu itu terdapat sebuah jendela tak berdaun, atau lebih tepat disebut lubang angin karena tingginya satu kaki dan lebarnya tidak ada satu kaki. Inipun di tengah-tengahnya masih ada sebatang rujinya sehingga tak mungkin orang dapat keluar dari lubang itu tanpa merusaknya.
Karena Wu Wi Thaysu mengajak In Hong berhenti di depan lubang itu, tampaklah oleh In Hong seorang tosu setengah tua duduk bersila menghadapi tembok di dalam kamar itu. Tosu ini duduk bersamadhi di atas sebuah pembaringan kayu yang kasar, tak bergerak seperti sebuah arca. In Hong tidak mengenal tosu ini dan belum
213
pernah melihatnya, maka ia memandang kepada Wu Wi Thaysu dengan mata bertanya.
„Dia adalah Wi Tek Tosu, muridku, dan guru dari Tek Seng Cu,” katanya perlahan, kemudian, melalui lubang itu ia berkata kepada tosu yang sedang bersamadhi:
„Wi Tek, nona Kwee In Hong murid Hek Moli sudah datang dan kau harus menceritakan semua peristiwa itu sejelasnya kepada Kwee-lihiap.”
Tanpa menoleh, tosu itu berkata: „Suhu, teecu sudah berdosa, sudah melanggar pantangan sucouw, dan teecu sudah menerima hukuman suhu, bersedia untuk dikurung disini selama lima tahun. Bahkan teecu rela andaikata suhu mengurung teecu disini sampai mati. Akan tetapi, apa perlunya teecu bicara dengan murid Hek Moli? Teecu sudah kehilangan tiga orang sute, sudah kehilangan murid, semua gara-gara Hek Moli, jangan-jangan kalau melihat murid Hek Moli, teecu akan lupa diri dan melakukan pelanggaran lagi!”
„Wi Tek, pinto sudah berjanji kepada Kwee-lihiap dan pinto sudah kena dikalahkan dalam pertandingan. Ini sebuah perintahku dan kau tidak boleh melanggar!” Wu Wi Thaysu membentak.
Wi Tek Tosu memutar tubuhnya dan memandang kepada In Hong. Ia kelihatan heran sekali melihat seorang nona begini muda. Betulkah suhunya kalah oleh nona ini? Benar-benar luar biasa dan hampir tak mungkin ia percaya. Akan tetapi ia tidak berani membantah kehendak
214
suhunya, maka dengan muka merengut dan tanpa menatap wajah In Hong, ia lalu menuturkan peristiwa pertempuran dengan Hek Moli secara singkat:
„Aku dengan tiga orang suteku, Wi Kong Tosu, Wi Jin Tosu dan Wi Liang Tosu, dan muridku Tek Seng Cu, dibantu pula oleh tiga orang tokoh Kun-lun-pay, Cu Sim San-lojin, Kim Sim San-lojin, dan Sun Sim San-lojin menantang Hek Moli mengadakan pertandingan di puncak O-mei-san. Hek Moli datang dan kami mengeroyoknya. Tiga orang suteku dan muridku tewas, akan tetapi syukur aku dan tiga San-lojin dari Kun-lun-pay berhasil membikin mampus iblis wanita itu. Nah, kau sudah mendengar penuturanku!”
Setelah berkata demikian, Wi Tek Tosu memutar tubuhnya kembali, mengha-dapi tembok dan bersamadhi untuk melanjutkan hukumannya!
Sepasang alis In Hong berdiri dan sekali gadis ini menggerakkan tangan, terdengar suara keras dan ruji baja dilubang itu telah patah! Ia mencabut pedangnya dan berseru:
„Bagus, kau seorang di antara pembunuh-pembunuh guruku, kau harus mampus sekarang juga!”
Akan tetapi Wu Wi Thaysu cepat menghadang di depan jendela itu dan menggeleng-geleng kepalanya.
„Kwee-lihiap, kau benar-benar tidak adil. Coba kau berpikir dengan tenang. Peristiwa permusuhan ini yang
215
menjadi biangkeladi adalah gurumu sendiri. Kalau gurumu dahulu tidak naik ke Go-bi-pay mengajak pibu, tentu Tek Seng Cu tidak akan buntung tangannya, dan muridku ini bersama saudara-saudaranya tidak akan menaruh hati dendam. Ketua kami sudah melarang dia mencari permusuhan, akan tetapi diam-diam ia tidak dapat memadamkan api dendamnya sehingga ia menantang Hek Moli. Kemudian akibatnya lebih hebat lagi, karena kami kehilangan empat orang murid Go-bi-pay. Biarpun gurumu tewas, akan tetapi empat orang murid kami juga tewas, dan kau lihat buktinya sendiri, Wi Tek Tosu sudah kami hukum untuk lima tahun di kamar ini. Apakah kau masih penasaran? Bukankah kematian gurumu sudah terbalas lebih dari cukup?”
„Guruku tewas akibat pengeroyokan yang curang dan licik. Kalau murid-muridmu tidak curang dan mengeroyoknya, mana bisa guruku tewas? Sungguh tak tahu malu, tujuh orang mengeroyok seorang lawan!” In Hong marah sekali, juga berduka mendengar akan nasib gurunya.
„Kwee-lihiap, gurumu memang berkepandaian tinggi, sehingga ketua kami barulah dapat mengimbanginya. Biarpun dikeroyok oleh empat orang murid Go-bi-pay, mana bisa dia kalah? Buktinya, dibantu oleh tiga tokoh Kun-lun, masih saja tiga orang murid kami tewas. Pinto sendiri tidak akan menang dari gurumu, mana bisa orang seperti muridku ini menewaskan gurumu? Hanya karena ketiga San-lojin dari Kun-lun-pay, maka akhirnya gurumu tewas. Pihak Go-bi-pay sudah menebusnya dengan empat nyawa dan bahkan seorang dihukum lima tahun,
216
ini sudah lebih dari cukup. Sebaliknya, pihak Kun-lun-pay, yang tidak kehilangan seorangpun murid, telah menjatuhkan gurumu. Maka kalau kau merasa penasaran, mengapa mencari disini?”
Wu Wi Thaysu memang cerdik. Tidak saja kata-katanya memang beralasan, akan tetapi ia sengaja hendak mengadu gadis ini dengan pihak Kun-lun-pay. Ia dapat melihat bahwa gadis ini berwatak ganas seperti Hek Moli, dan sukarlah menundukkannya apabila kelak gadis ini menjadi jahat dan ganas.
Hanya pihak Kun-lun-pay yang memiliki banyak orang berkepandaian tinggi kiranya dapat mengalahkan gadis ini. Gurunya sendiri, Pek Eng Thaysu, tidak mau turun gunung lagi, maka sebaiknya menyuruh gadis ini menyerbu ke Kun-lun!
In Hong dapat menerima alasan ini, maka dengan gemas ia berkata: „Kalau aku tidak dapat menewaskan tiga San-lojin Kun-lun-pay yang telah membunuh guruku, aku bersumpah tidak mau jadi orang lagi!”
Setelah berkata demi¬kian, In Hong berkata kepada Wi Tek Tosu melalui jendela yang sudah rusak itu: „Aku memandang muka Wu Wi Thaysu dan mengampunimu. Akupun menghabiskan permusuhan antara aku dan Go-bi-pay. Harap kau suka katakan bagaimana selanjutnya dengan jenazah guruku.”
Namun Wi Tek Tosu tidak menjawab, diam saja tidak bergerak sedikitpun. Wu Wi Thaysu tidak enak melihat ini,
217
karena ia maklum bahwa betapapun juga di dalam hati Wi Tek Tosu masih terkandung kebencian terhadap Hek Moli.
„Kwee-lihiap, muridku sudah bercerita kepadaku bahwa jenazah gurumu itu dikubur baik-baik oleh pendekar gagah yang bernama Ong Tiang Houw. Kau tentu kenal padanya, bukan?”
In Hong mencatat nama ini dan merasa berterima kasih sekali. „Aku sudah mendengar namabesarnya akan tetapi belum mendapat kehormatan bertemu muka dengan orangnya. Kelak aku akan mencarinya dan menghaturkan terima kasih. Nah, selamat tinggal, totiang.”
Setelah berkata demikian, In Hong melompat keluar dari kelenteng itu dan pergi dengan cepat sekali. Hatinya penuh kemarahan terhadap Kun-lun-pay dan ia mengambil keputusan untuk menunda usahanya mencari ibunya, dan hendak langsung menyerbu ke Kun-lun-pay, membalas dendam gurunya kepada ketiga Kun-lun San-lojin!
◄Y►
Kun-lun-pay atau partai persilatan cabang Kun-lun adalah sebuah di antara lima partai persilatan terbesar di Tiongkok. Tidak saja terbesar karena banyak memiliki anak murid, akan tetapi juga besar namanya karena anak-anak murid keluaran Kun-lun-pay merupakan jago-jago silat dan pendekar-pendekar yang disegani.
218
Pegunungan Kun-lun-san yang amat besar, seperti halnya pegunungan Go-bi-san, menjadi tempat pelarian para pertapa. Oleh karena letaknya di Tiongkok Barat, maka selain pertapa-pertapa bangsa Tiongkok sendiri, banyak juga bangsa-bangsa lain dari barat yang meyakinkan kehidupan mistik dan memilih jalan menjadi pertapa, datang ke puncak gunung ini untuk memilih tempat yang permai, indah, bersih dan menenangkan hati.
Kedatangan para pertapa dari luar inilah yang menimbulkan pelbagai macam ilmu silat, karena sudah menjadi kelajiman bahwa para perantau dan pertapa itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Memang ilmu silat tak dapat di-pisah-pisahkan dengan ilmu batin, keduanya merupakan cabang dari satu sumber, sungguhpun ilmu silat diumpamakan kembangnya, ilmu batin adalah tangkainya.
Maka tidak heran apabila Kun-lun-pay menurunkan banyak murid dengan pelbagai macam kepandaian, ada ahli pedang, ahli golok, ahli tombak, bahkan di antara anak murid yang sudah pandai terdapat pula ahli-ahli silat yang mempergunakan senjata-senjata aneh seperti poan-koan-pit (alat menulis), hud-tim (kebutan pendeta), ikat pinggang, ujung lengan baju, senjata roda dan lain-lain. Memang partai persilatan Kun-lun-pay amat kaya dengan perkembangan ilmu silatnya.
Kun-lun-pay membuka cabang di banyak tempat, akan tetapi pusat atau sumbernya tetap saja di puncak sebuah gunung di pegunungan Kun-lun-pay. Di tempat ini
219
didirikan sebuah kelenteng besar dan disinilah tinggalnya guru-guru besar dari partai Kun-lun. Disini pula anak-anak murid yang akan mewakili dan menjadi pengurus cabang digembleng dengan ilmu silat dan ilmu batin.
Pada waktu itu, yang menjadi ciang-bun-jin atau ketua dari Kun-lun-pay adalah Pek Ciang San-lojin, seorang kakek yang usianya sudah hampir tujuhpuluh tahun. Sebetulnya dalam urutan, baik usia maupun tingkat kepandaian, Pek Ciang San-lojin tak dapat dikatakan paling tinggi. Akan tetapi, pengangkatan ciang-bun-jin oleh guru besar bukanlah semata-mata berdasarkan usia dan kepandaian, melainkan sifat dan watak calon ketua itu.
Pek Ciang San-lojin mempunyai watak tegas dan kebijaksanaan, maka ia terpilih oleh mendiang gurunya. Masih ada sute (adik seperguruan) dan bebe-rapa orang suheng (kakak seperguruan) yang biarpun memiliki kepandaian yang tidak kalah olehnya, namun hanya menjadi pembantu-pembantu biasa saja, bahkan di antaranya ada yang memilih tugas sebagai tukang masak dan tukang kebun!
Akan tetapi oleh karena sifat pekerjaan mereka dan juga watak mereka amat sederhana dan tidak pernah memperlihatkan diri di dunia kangouw, mereka yang tidak menduduki tempat penting ini tentu saja tidak dikenal orang. Yang terkenal di dunia kangouw pada waktu itu, selain Pek Ciang San-lojin sendiri, adalah Kun-lun Sam-lojin (Tiga orangtua Kun-lun), yakni tiga orang murid Pek
220
Ciang San-lojin, yang bernama Cu Sim San-lojin, Kim Sim San-lojin, dan Sun Sim San-lojin.
Mereka bertiga ini adalah mereka yang dulu membantu tokoh-tokoh Go-bi-pay menewaskan Hek Moli. Mereka juga menduduki tempat penting di Kun-lun-pay. Cu Sim San-lojin yang memiliki kebijaksanaan menjadi wakil dari Pek Ciang San-lojin dan agaknya dia inilah yang menjadi calon ciang-bun-jin kelak.
Kim Sim San-lojin mendapat tugas sebagai kepala bagian penjaga keamanan karena ia berdisiplin dan keras, maka dahulu belasan tahun yang lalu ketika Hek Moli menyerbu ke Kun-lun-pay, dia inilah yang menghadapinya langsung dan akhirnya kena dikalahkan oleh Hek Moli.
Sun Sim San-lojin, murid ketiga dari Pek Ciang San-lojin, orangnya berbakat mengajar, pandai sekali menerangkan tentang teori persilatan, maka oleh gurunya ia diangkat menjadi wakilnya dalam memberi pelajaran kepada semua anak murid Kun-lun-pay.
Dahulu ketika Wi Tek Tosu dari Go-bi-pay datang minta bantuan untuk mengalahkan Hek Moli, tiga orang tokoh Kun-lun-pay ini hanya mau pergi setelah mendapat perkenan dari Pek Ciang San-lojin. Wi Tek Tosu secara pandai telah menghasut dan memanaskan hati tokoh-tokoh Kun-lun-pay dengan menyatakan bahwa Hek Moli amat ganas dan kejam, merupakan bahaya di dunia kangouw.
221
Pek Ciang San-lojin memang mempunyai watak yang tegas dan paling benci akan kejahatan. Mendengar penuturan Wi Tek Tosu itu, ia lalu memberi ijin kepada tiga orang muridnya untuk membantu pendeta Go-bi itu untuk melenyapkan seorang berbahaya dan jahat seperti Hek Moli. Maka, sekembali mereka dari O-mei-san, tiga orang tokoh Kun-lun ini tidak mengkhawatirkan sesuatu dan menganggap bahwa kematian Hek Moli sudah semestinya sebagai hukuman atas semua kejahatan dan keganasan yang telah dilakukannya.
Akan tetapi, pada suatu hari, dari bawah gunung yang dijadikan pusat oleh Kun-lun-pay itu, berkelebat bayangan yang gesit sekali gerakannya. Bayangan ini bukan lain adalah In Hong yang sengaja datang ke Kun-lun untuk menuntut balas atas kematian gurunya.
Kun-lun-pay bukan partai persilatan yang ternama dan besar kalau gerakan In Hong ini tidak diketahui oleh para penjaga. Sebelum gadis itu tiba di depan kelenteng, Kim Sim San-lojin sudah siap-sedia menyambut kedatangan orang yang mencurigakan ini!
Setelah kelenteng itu kelihatan menjulang tinggi di dekat puncak, In Hong menahan gerakan kakinya dan berjalan biasa menghampiri kelenteng itu. Di depan kelenteng terdapat sebuah pekarangan yang amat lebar.
Dari jauh sudah kelihatan para pendeta sibuk bekerja, ada yang memikul kayu, ada yang berjalan membawa keranjang daun obat, ada pula yang sedang menyapu daun-daun kering membersihkan pekarangan. Kelihatan
222
tenteram dan damai sehingga tak enak jugalah hati In Hong.
Namun ia berjalan terus, memasuki pintu gerbang pekarangan yang luas itu. Betapapun juga, gurunya telah ditewaskan oleh tiga orang tokoh Kun-lun-pay yang tinggal di kelenteng itu dan ia harus menuntut balas! Dengan langkah lebar dan gagah gadis ini maju terus, tidak perdulikan pandangan mata beberapa orang tosu yang berada di pekarangan itu. Bahkan ia tidak perduli kepada seorang tosu tua berkepala botak yang menyapu daun-daun kering sambil bernyanyi kecil, diseling ketawa-tawa seperti seorang yang miring otaknya.
Ketika ia tiba di tengah pekarangan, seorang tosu berjenggot panjang hitam menghadangnya. Tosu ini memandang tajam, lalu menjura dan berkata:
„Nona, kami tidak pernah menerima tamu wanita dan tidak seorangpun wanita diperkenankan memasuki kelenteng. Kalau nona ada keperluan, katakan saja kepada pinto, nona ini siapa dan ada keperluan apakah datang di tempat ini?”
Tanpa memberi hormat dan dengan sikap ketus, In Hong menjawab: „Namaku Put Hauw Li dan aku datang perlu bertemu dan bicara dengan Pek Ciang San-lojin.”
Memang gadis ini ingin bertemu dengan ketua Kun-lun-pay untuk menegur tentang pengeroyokan atas diri gurunya. Betapapun juga, gurunya pernah menuturkan kepadanya bahwa Kun-lun-pay adalah partai persilatan
223
besar dan kuat, maka dalam urusan ini tidak baik bersikap sembrono dan lebih baik kalau langsung berhadapan dengan ketuanya untuk minta pertanggungan jawabnya.
„Suhu sedang bersamadhi dan tidak boleh diganggu. Kalau nona ada urusan, harap disampaikan kepada pinto dan pinto akan melaporkan ke dalam,” kata pula Kim Sim San-lojin dengan suara sabar.
„Tidak bisa disampaikan kepada orang lain. Suruh Pek Ciang San-lojin keluar menjumpaiku, atau aku akan masuk saja langsung menemuinya.”
Kim Sim San-lojin mulai marah dan ia memandang kepada gadis itu dengan kening berkerut.
„Nona, kau dilarang keras memasuki kelenteng. Kalau kau tidak mau menyampaikan kepada pinto, maaf, harap kau kembali saja. Belum pernah ada wanita diperkenankan memasuki kelenteng, itu aturan kami.”
In Hong tersenyum mengejek. „Ketika wanita-gagah Hek Moli datang kesini, apakah dia juga tidak masuk ke dalam?”
Kim Sim San-lojin terkejut mendengar ini, akan tetapi ia masih dapat menekan perasaannya dan sebagai seorang pendeta yang banyak pengalaman dan banyak menghadapi orang-orang bermacam sifat, ia dapat berlaku tenang dan sabar.
224
„Biarpun Hek Moli sendiri ketika datang kesini, tidak diperbolehkan masuk ke dalam,” jawabnya.
In Hong menjadi naik darah. Ketika tadi mendengar bahwa tosu ini menyebut guru kepada Pek Ciang San-lojin, ia sudah dapat menduga bahwa tosu ini tentulah seorang di antara Kun-lun Sam-lojin (Tiga kakek Kun-lun), atau seorang di antara tiga tokoh Kun-lun yang menewaskan gurunya. Akan tetapi ia tidak mau turun tangan dulu sebelum bicara dengan ketua Kun-lun-pay.
„Kalau begitu, biarlah aku sekeluarga mematahkan pantangan itu,” katanya dan secepat kilat tubuhnya berkelebat melewati sebelah tosu itu, hendak berlari memasuki kelenteng.
„Perlahan dulu, nona!” Kim Sim San-lojin menggerakkan tangan dan ujung lengan bajunya menyambar dengan totokan ke pundak In Hong untuk mencegah gadis itu melanjutkan niatnya.
Tosu itu melihat jelas betapa ujung lengan bajunya mengenai pundak In Hong, akan tetapi bukan main terkejut dan herannya ketika ia melihat gadis itu seakan-akan tidak merasai totokannya dan berlari terus cepat sekali! Memang In Hong sengaja tidak mau menangkis atau melayani tosu ini karena ia bermaksud untuk mencari Pek Ciang San-lojin sebelum bertanding dengan tokoh-tokoh Kun-lun.
Gadis yang cerdik ini tahu bahwa kalau ia menangkis, tentu ia akan terlibat dalam pertempuran, maka ketika ia
225
merasa datangnya hawa pukulan, ia dapat menahan totokan itu. Cepat ia mengerahkan hawa lweekang yang disalurkan ke pundak menutupi jalan darah dan ia berhasil menolak serangan itu.
3.3. Tukang Sapu Kun Lun Pay
Kim Sim San-lojin tadi tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Pendeta ini walaupun tahu bahwa gadis yang naik ke gunung dengan mempergunakan ilmu lari cepat yang luar biasa ini tentu memiliki kepandaian, namun ia tidak tega untuk menjatuhkan tangan besi. Dikiranya bahwa totokannya tadi yang disertai tenaga setengah bagian saja sudah cukup untuk menghalanginya masuk kelenteng.
Tidak tahunya totokannya seakan-akan tidak terasa oleh In Hong! Baru ia maklum bahwa gadis yang demikian mudanya itu ternyata seorang ahli silat yang pandai.
Akan tetapi, gadis itu sudah memasuki kelenteng dan Kim Sim San-lojin tersenyum. Ia tidak mengejar, karena malu baginya kalau berkejar-kejaran dengan seorang demikian muda. Sungguhpun gadis itu agaknya tidak mengandung maksud baik, namun ia tidak khawatir. Di dalam kelenteng masih banyak kawan-kawan yang akan dapat menghalangi gadis itu.
Dengan tenang iapun berjalan memasuki kelenteng, sedangkan tosu-tosu lain melanjutkan pekerjaan mereka seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu. Tosu tua yang botak dan menyapu daun-daun kering tadi, tertawa-tawa
226
kecil, menghentikan nyanyinya dan berkata-kata seorang-diri:
„Nona kecil berbakat sekali, sayang terdidik oleh tangan yang ganas……” Ia lalu melanjutkan pekerjaannya.
Adapun In Hong, ketika tiba di ruangan depan kelenteng itu, terheran-heran melihat kelenteng itu sunyi saja. Yang ada hanya tiga orang tosu setengah tua yang sedang bersembahyang. Selain ini, tidak ada siapa-siapa lagi dan keadaannya sunyi mengandung rahasia. In Hong tidak berani mengganggu tosu-tosu yang sedang bersembahyang itu, maka ia lalu berjalan terus masuk ke sebelah dalam.
Ternyata di sebelah dalam kelenteng ini amat besar dan luas. Kelihatan bangunan-bangunan kecil di sana sini, lorong-lorong yang lebar sehingga ia menjadi bingung. Ia tidak tahu dimana adanya Pek Ciang San-lojin, maka ia lalu memasuk lorong sebelah kiri yang menuju ke sebuah ruangan terbuka.
Tanpa mengetahui bahwa semua gerak geriknya diikuti oleh banyak pasang mata, In Hong maju terus. Ia memasuki ruangan terbuka yang berada di tengah-tengah. Ruangan ini adalah ruangan tempat belajar atau berlatih ilmu silat yang disebut lian-bu-thia.
Lebar sekali tempat ini, karena selain dipergunakan untuk tempat berlatih silat, juga di tempat inilah biasa diadakan pertemuan antara tosu-tosu dan anak-anak murid Kun-lun-pay yang banyak jumlahnya. Di tempat ini, beberapa
227
bulan sekali, ciang-bun-jin dari Kun-lun-pay, yakni Pek Ciang San-lojin, dihadap oleh puluhan orang anggauta Kun-lun-pay, memberi pelajaran tentang ilmu batin dan menguraikan ujar-ujar kuno dari kitab-kitab agama To.
Ketika In Hong tiba di ruangan ini, keadaan disitu sunyi belaka, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara di belakangnya. Ketika ia menengok, ia melihat seorang tosu tua telah duduk di atas bangku bundar, bersila dan memegang sebuah kitab sambil membacanya perlahan-lahan.
In Hong terkejut dan kagum. Tadi ketika masuk ia tidak melihat kakek ini, akan tetapi bagaimana tiba-tiba bisa berada disitu? Terang bahwa tosu ini memiliki ginkang yang sudah tinggi sekali sehingga gerakannya amat ringan dan cepat. Ia mendengar tosu itu membaca ayat-ayat dari kitab To Tek Keng tentang sifat air menurut pandangan filsafat besar Lo Cu:
„Tiada kelembutan melampaui air. Namun dalam menanggulangi kekerasan Tiada kekuatan di dunia dapat melebihinya, Karenanya tiada yang dapat menggantikannya.
Kelemahan mengalahkan kekuatan, Kelembutan mengalahkan kekerasan. Namun tiada yang dapat mengetahuinya, Tiada yang dapat menjalankannya.”
228
Tosu itu hendak melanjutkan bacaannya yang memang masih ada lanjutannya, akan tetapi ia dipotong oleh In Hong yang bersajak dengan suara keras mengejek:
„Lidah memang tak bertulang Mudah saja setiap orang menggoyang, Tapi, biarpun lidah pendeta suci Mana bisa mencerminkan isi hati?
Air bersifat lembut, kuat, dan jujur Mana sama dengan hati tosu-tosu terkebur? Kalau tidak dikeroyok tosu-tosu ganas Tak mungkin wanita gagah Hek Moli tewas!”
Ketika berguru kepada Hek Moli, In Hong hanya sedikit saja mendapat pelajaran ilmu membaca dan menulis. Akan tetapi gurunya itu pandai sekali bernyanyi, nyanyian dari Nepal yang dinyanyikan dalam bahasa Han, dan nyanyian ini terisi yang bersajak indah. Oleh karena amat tertarik dan suka sekali akan nyanyian-nyanyian ini, maka In Hong yang berotak cerdas itu pandai membuat sajak.
Sekarang mendengar ayat-ayat kitab To Tek Keng yang tidak pernah didengarnya, sekali mendengar saja maklumlah ia bahwa tosu itu menyindirnya dan memperingatkannya. Akan tetapi, sebagai balasan, sekaligus ia dapat mengucapkan sajak yang membalas sindiran itu, benar-benar gadis ini berotak cerdik sekali.
Ketika tosu itu mendengar sajak ini, ia berdiri dan tersenyum, lalu menjura kepada In Hong.
229
„Nona, ketika tadi bertemu dengan suhengku Kim Sim San-lojin, kepala penjaga, kau menyebut-nyebut nama Hek Moli. Sekarang, dihadapan pinto, Sun Sim San-lojin, kaupun kembali menyebut nama Hek Moli. Kau masih ada hubungan apakah dengan Hek Moli dan apakah kehendakmu datang disini?”
„Dia adalah guruku, yang telah kalian bunuh dengan cara amat curang! Mana Pek Ciang San-lojin? Suruh dia keluar dan mempertanggung jawabkan perbuatan yang amat rendah dan curang daripada murid-muridnya!”
„Nona, kau mengaku bernama Put Hauw Li (Anak perem¬puan Tidak Berbakti), sungguh sebuah nama yang tidak harum! Apalagi kalau ditambah dengan sepak terjangmu ini, sungguh sayang sekali pinto terpaksa menyatakan bahwa masa -depanmu tidak begitu terang. Insaflah bahwa disini bukan tempat dimana kau boleh berbuat sesukamu. Kalau kau ada urusan, boleh katakan di depan pinto dan akan pinto pertimbangkan.”
„Tosu bau! Kaukira aku takut padamu? Kalau aku menurutkan hawa nafsu dan tidak mengindahkan Kun-lun-pay, apa kaukira aku perlu bertemu dengan ciang-bun-jin dari Kun-lun-pay? Tak usah banyak cakap dan jangan mencoba untuk memanaskan hatiku, lekas panggil keluar ciang-bun-jin dari partaimu!”
„Nona, pinto disini dan pinto menjadi wakil ciang-bun-jin Kun-lun-pay!” tiba-tiba terdengar suara yang halus dan berpengaruh dan tahu-tahu disebelah kiri telah berdiri
230
seorang tosu lain yang usianya sebaya dengan pembaca kitab tadi.
Kembali In Hong harus mengaku bahwa gerakan tosu inipun amat ringan dan cepat, maka diam-diam ia berlaku waspada dan insaf bahwa ia berada di tempat yang berbahaya, dimana terdapat banyak sekali lawan yang amat lihay.
„Nona Put Hauw Li, pinto Cu Sim San-lojin mewakili suhu untuk menanyakan maksud kedatanganmu,” kata pula tosu ini.
In Hong menahan kemarahannya. Sekarang ia sudah melihat tiga orang tosu yang telah menyebabkan kematian gurunya, dan sebelum ia menjawab, seorang tosu berjalan masuk melalui pintu depan dengan tindakan perlahan. Ketika In Hong melirik, ternyata bahwa tosu ini adalah Kim Sim San-lojin yang tadi ia jumpai di luar.
Sekarang lengkaplah tiga orang tosu pembunuh gurunya! Namun, In Hong masih menahan kemarahannya dan tidak akan turun tangan sebelum ia men-dengar jawaban dari ketua Kun-lun-pay, yakni Pek Ciang San-lojin.
„Kalian bertigaah yang bersekongkol dengan pendeta-pendeta busuk dari Go-bi, yang secara curang telah menewaskan guruku! Bagaimana aku sudi bercakap-cakap dengan kalian? Lekas minta keluar gurumu, Pek Ciang San-lojin, kalau tidak, terpaksa aku akan masuk dan mencarinya sendiri!”
231
Sikap In Hong ini membikin marah kepada Cu Sim San-lojin yang biasanya amat sabar dan ramah.
„Nona, harap kau jangan keterlaluan, jangan mendesak secara kurangajar. Guruku mana bisa keluar dari tempat samadhi sebelum waktunya, apalagi untuk menemui seorang anak kecil seperti kau? Tidak, nona, lebih baik kau ber-urusan dengan kami saja, dan segala apa akan beres.”
„Kalau aku memaksa masuk, kalian mau apa?”
„Tak mungkin, kami seluruh anak murid Kun-lun-pay takkan membiarkan kau bertindak sewenang-wenang dan sesuka hati disini,” kata Cu Sim San-lojin dan tiga kali ia bertepuk tangan, maka dari segala jurusan muncullah tosu-tosu bermacam bentuk dan usia dan sebentar saja tempat itu telah penuh oleh tosu yang jumlahnya tidak kurang dari tujuhpuluh orang!
In Hong yang berhati keras dan tabah sekali, tidak menjadi gentar, sungguhpun ia tahu bahwa tak mungkin ia dapat menghadapi sekian banyaknya lawan yang rata-rata memiliki kepandaian silat tinggi.
„Hm, nama besar Kun-lun-pay tidak tahunya hanya kesombongan palsu dan kosong belaka. Siapa orangnya di dunia kangouw mau percaya bahwa ratusan orang tosu Kun-lun-pay hendak mengeroyok dan menakut-nakuti seorang gadis yang usianya baru sembilanbelas tahun?”
232
Kata-kata ini ia ucapkan dengan suara keras sekali karena ia sengaja mengerahkan sinkangnya dan ia sengaja pula melebih-lebihkan dengan menyebut ratusan orang tosu, padahal sebenarnya iapun tahu tidak ada begitu banyak.
Pada saat itu, terdengar suara halus suara dan lambat seperti suara seorang anak kecil: „Ada apakah ribut-ribut ini? Aah, dalam kelenteng pun masih saja pinto tak dapat mengaso tenteram!”
Cu Sim San-lojin dan kedua sutenya, juga semua tosu yang berada di lian-bun-thia itu, menjadi kaget sekali mendengar ini. Mereka semua lalu mengundurkan diri, berdiri di pinggiran sambil menundukkan kepala membungkukkan pinggang. Beberapa orang tosu yang tadi berdiri membelakangi sebuah pintu, cepat-cepat pergi dari situ dan segera terbuka sebuah jalan.
Didahului oleh suara berketuknya tongkat di lantai, muncullah seorang tosu yang bertubuh tinggi besar, berwajah angker berpengaruh, usianya enampuluh tahun lebih, jubahnya lebar dan kepalanya memakai topi yang jarang sekali kelihatan dipakai oleh tosu, sedangkan di punggungnya tergantung sebuah pedang pendek yang sarungnya indah sekali.
Setelah tiba disitu, tosu tua ini menyapu seluruh yang hadir dengan sepasang matanya yang tajam. Tak seorangpun tosu disitu berani bergerak atau mengangkat kepala. Kemudian pandangan mata tosu itu melirik ke arah In Hong. Ia nampak tak senang, mengerling tajam ke
233
arah Cu Sim San-lojin dan berkata, suaranya tidak halus dan lambat lagi, melainkan nyaring dan tajam menusuk:
„Cu Sim, kau tidak memenuhi tugasmu dengan baik. Bagaimana ada seorang nona dapat memasuki lian-bu-thia?”
Cu Sim San-lojin menjadi merah mukanya dan ia memandang kepada In Hong dengan mata marah.
„Suhu, dengan halus teecu sekalian sudah mencoba untuk mencegahnya masuk, akan tetapi nona ini berkeras hendak bertemu dengan suhu. Mohon suhu sudi memaafkan teecu sekalian,” katanya dengan nada suara merendah.
Mendengar kata-kata Cu Sim San-lojian ini, In Hong tidak ragu-ragu lagi. Inilah orangnya yang menjadi ketua Kun-lun-pay, yang bernama Pek Ciang San-lojin. In Hong melirik ke arah kedua tangan yang memegang tongkat dan benar saja seperti yang dituturkan oleh gurunya dahulu, kedua tangan tosu tua ini putih sekali seakan-akan tidak ada darah pada telapak tangan dan jari-jari itu. Inilah pula mengapa ia bernama Pek Ciang San-lojin (Kakek Gunung bertangan putih).
„Apakah kau yang menjadi ciang-bun-jin Kun-lun-pay dan bernama Pek Ciang San-lojin?” tanya In Hong kepada tosu tua itu.
Semua tosu menjadi marah sekali karena sikap gadis ini benar-benar keterlaluan dan dianggap amat kurangajar.
234
Pek Ciang San-lojin memutar tubuh menghadapi In Hong, sepasang alisnya yang tebal itu bergerak dan matanya memandang tak senang.
„Kau siapakah?” bentaknya.
„Suhu, dia mengaku bernama Put Hauw Li, murid dari iblis wanita Hek Moli,” kata Cu Sim San-lojin.
„Pantas, pantas…… Orang seperti dia mana bisa mempunyai murid yang tahu aturan? Nona, kau sudah melakukan pelanggaran besar, memaksa masuk ke dalam kelenteng kami. Kau berkeras hendak bertemu dengan pinto, ada urusan apakah?”
Melihat sikap ketua Kun-lun-pay yang keras ini, hati In Hong sudah menjadi mendongkol sekali, maka iapun tidak memperlihatkan sikap merendah, suaranya terdengar kering dan ketus ketika menjawab:
„Totiang, aku datang kesini untuk menuntut agar kau sebagai ciang-bun-jin di Kun-lun-pay, mengadili murid-muridmu yang secara curang telah membunuh guruku Hek Moli. Kalau aku tidak memandang muka perkumpulan dan ketuanya, apakah aku perlu susah-susah bertemu denganmu? Aku tidak ingin turun tangan sendiri dan menyerahkan hukuman kepada tiga orang muridmu yang curang dan licik itu ke dalam tanganmu sendiri.”
235
Pek Ciang San-lojin tiba-tiba berubah air mukanya, tidak keren dan mengeras seperti tadi, kini ia tersenyum, agaknya geli mendengar kata-kata ini.
„Nona, kalau tidak melihat bahwa kau masih begini muda, masih terhitung anak-anak hijau, tentu ucapanmu ini akan menimbulkan sangkaan bahwa kau sudah gila. Kaupikir kau ini siapakah dapat memerintah pinto dan kami sekalian anak murid Kun-lun-pay untuk berbuat apa yang kau kehendaki? Gurumu Hek Moli bukanlah orang baik-baik, dia yang mencari keributan disini. Kemudian, iapun menyerbu pelbagai partai persilatan dan sudah melukai serta membunuh entah berapa banyak orang. Akhir-akhir ini, dalam sebuah pibu ia tewas, hal sudah sewajarnya. Mengapa kau penasaran?”
„Akan tetapi guruku tewas karena keroyokan tiga orang muridmu. Apakah perbuatan ini pantas? Bukankah itu perbuatan yang pengecut sifatnya?”
Pek Ciang San-lojin mengerutkan keningnya dan suaranya keren lagi seperti tadi:
„Hek Moli jahat, jahat dan ganas, mencoba untuk menjatuhkan nama Go-bi-pay dan Kun-lun-pay dengan mengandalkan kepandaiannya. Biarpun dia berkepandaian tinggi, kalau dia jahat sudah menjadi kewajiban Kun-lun-pay untuk membasminya. Di dalam sebuah pibu tanpa perjanjian, se¬orang menghadapi banyak lawan bukanlah hal aneh. Empat orang Go-bi-pay tewas dan sebaliknya Hek Moli juga tewas, apa anehnya dalam sebuah pibu ada akibat terluka ataupun tewas?
236
Sekarang kau sebagai murid Hek Moli, sudah melaku-kan pelanggaran, memasuki kelenteng secara kasar dan seperti orang yang memancing permusuhan. Akan tetapi oleh karena pinto mempertimbangkan bahwa kau masih muda sekali, biarlah kali ini pinto memberi ampun dan kau boleh lekas-lekas enyah dari sini!”
In Hong marah sekali dan ia membanting-banting kakinya dengan gemas sebelum menjawab: „Pek Ciang kau terlalu menghina guruku dan aku sendiri! Kau anggap bahwa guruku sudah tewas dalam sebuah pibu, baik. Sekarang aku muridnya pun datang untuk menantang pibu kepada kau dan siapa saja tokoh Kun-lun-pay, hendak kulihat sampai dimana kepandaiannya maka berlagak sombong. Kalian mau maju seorang lawan seorang boleh, mau maju semua mengeroyokku pun baik, aku menyediakan nyawaku untuk membalas sakit hati guruku!” Setelah berkata demikian, In Hong mencabut pedang Liong-gan-kiam dan bersiap-sedia menghadapi lawan!
„Perempuan liar, jangan kurangajar!” bentak Sun Sim San-lojin yang menjadi marah sekali melihat sikap dan mendengar kata-kata In Hong terhadap suhunya. Ia menyerang dengan hud-timnya dan ujung kebutan itu meluncur ke arah pundak In Hong untuk menotok jalan darah, sedangkan tangan kirinya bergerak hendak merampas pedang. Tosu ini sudah tahu akan kelihayan Hek Moli, akan tetapi terhadap murid Hek Moli, seorang gadis yang masih begitu muda, tentu saja ia memandang ringan.
237
Akan tetapi, dilain saat tosu ini mencelat mundur dengan muka pucat. Kebutannya telah terbabat putus oleh pedang nona itu dan kalau tadi ia tidak lekas-lekas mempergunakan gerakan Pek-liong-hoan-sin (Naga putih membalikkan tubuh) dan melompat ke belakang, tentu tangan kirinya akan terbabat putus pula! Demikian cepat dan ganasnya gerakan pedang di tangan gadis itu.
„Begitu sajakah kelihayan tosu Kun-lun-pay?” In Hong yang tidak mengejar, tersenyum mengejek dengan sikap menantang. „Hayo siapakah lagi yang mau main-main?”
Cu Sim San-lojin dan Kim Sim San-lojin marah sekali dan mereka sudah siap untuk turun tangan dan senjata mereka sudah disiapkan pula. Akan tetapi Pek Ciang San-lojin berkata:
„Biar pinto sendiri memberi hajaran kepada nona yang kejam dan ganas ini!” Guru besar ini dari gerakan tadi sudah maklum bahwa ilmu pedang dari In Hong amat ganas dan cepat, dan kiranya kepandaian nona ini sudah mengimbangi kepandaian Hek Moli. Kekalahan Sun Sim San-lojin dalam segebrakan tadi biarpun terjadi karena Sun Sim San-lojin kurang berhati-hati dan memandang terlampau rendah kepada lawan, namun sudah merupakan hal yang amat memalukan.
Kalau kedua muridnya yang lain maju kemudian kalah oleh nona yang masih ini, bukankah itu akan mencemarkan nama baik Kun-lun-pay? Maka, dalam penasaran dan malunya, Pek Ciang San-lojin sampai melupakan kedudukannya yang tinggi dan mau turun
238
tangan sendiri menghadapi seorang lawan yang patut menjadi murid cucunya.
Mendengar ucapan Pek Ciang San-lojin, In Hong juga berlaku waspada. Memang kepandaiannya sudah hampir menyamai kepandaian gurunya, bahkan dalam kecepatan ia mungkin masih menang, sungguhpun tenaga lweekangnya memang masih jauh daripada memuaskan. Dahulu gurunya baru roboh setelah dikeroyok tiga oleh Kun-lun Sam-lojin dengan bantuan tosu-tosu Go-bi-pay pula, maka sekarang menghadapi tiga orang tokoh Kun-lun-pay itu ia tidak takut sama sekali, biarpun andaikata akan dikeroyok tiga.
Akan tetapi sekarang Pek Ciang San-lojin sendiri yang akan maju. Menghadapi-nya dan inilah lain lagi! Sebagai ketua partai Kun-lun-pay, In Hong percaya bahwa kepandaian tosu tua ini pasti luar biasa sekali, maka ia harus menghadapinya dengan hati-hati. Diam-diam tangan kiri gadis ini merogoh segenggam pasir hitam, senjata rahasianya yang disebut toat-beng-hek-kong (sinar hitam pencabut nyawa)!
Pada saat itu terdengar suara „sreeek…… sreeek…… sreeek……!” dan masuklah seorang tosu tua sambil menyeret sapunya yang menerbitkan suara itu ke dalam ruangan lian-bu-thia. Dia ini bukan lain adalah tosu tua tukang menyapu pekarangan depan yang tadi bekerja sambil bernyanyi-nyanyi dan tertawa-tawa seorang diri seperti orang gendeng.
239
Kini, tosu yang lebih tua dari Pek Ciang San-lojin ini, yang sudah tujuhpuluh tahun lebih usianya, menghampiri In Hong sambil menyeret sapunya.
„Tugasku sebagai tukang sapu disini, membersihkan segala kekotoran. Kalau masih ada aku disini, mengapa ciang-bun-jin harus turun tangan sendiri menyapu sehelai daun muda yang melayang turun mengotori ini? Biarkan aku tua bangka mengerjakannya.”
Pek Ciang San-lojin tadi sudah siap dengan tongkatnya untuk memberi hajaran kepada In Hong. Melihat datangnya tosu tua ini, ia segera melangkah mundur dan mukanya bero¬bah merah. Baru ia insaf bahwa tadi ia terlalu terburu nafsu dan hampir saja ia merendahkan nama Kun-lun-pay.
Bagaimana akan kata orang-orang kangouw kalau mereka mendengar betapa untuk mengusir seorang gadis muda yang datang mengacau, ciang-bun-jin dari Kun-lun-pay sendiri sampai turun tangan? Hal ini sama saja dengan mengaku kepada dunia bahwa Kun-lun-pay sudah kehabisan orang pandai!
“Susiok (paman guru) memperingatkan teecu dan datang membantu, itulah bagus sekali!” kata Pek Ciang San-lojin dengan wajah berseri.
Tidak saja ia terbebas dari keadaan yang memalukan dan merendahkan kedudukannya, juga kalau kakek tua ini maju, pasti segalanya akan beres. Andaikata paman gurunya ini sampai kalah oleh In Hong, maka kiranya
240
tidak ada orang lain disitu yang akan dapat memenangkannya!
Tosu tua tukang sapu itu lalu membalikkan tubuh menghadapi In Hong, tersenyum-senyum dan matanya yang sipit itu berkejapan aneh. „Kau murid Hek Moli? Mari kuantar kau keluar kembali, tak baik berada disini, di antara puluhan orang pria, sedangkan kau seorang gadis muda. Ha, ha, ha!”
Kata-kata ini diterima oleh In Hong sebagai penghinaan maka ia menjadi marah sekali.
„Tosu bau yang berotak miring. Kau juga ingin mampus? Lihat pedang!” seru In Hong marah dan pedangnya cepat sekali menusuk ke arah leher tosu tua itu.
Gerakan serangan ini luar biasa cepatnya sehingga diam-diam Pek Ciang San-lojin terkejut. Benar-benar seorang gadis yang lihay sekali, pikirnya, dan baiknya yang menghadapinya adalah susioknya. Maka ia tidak merasa khawatir sedikitpun, tahu akan kelihayan susiok itu.
Sebaliknya, In Hong terkejut bukan-main ketika tiba-tiba ujung pedangnya itu telah „ditangkap” oleh sapu. Sapu itu membelit ujung pedangnya dan betapapun ia membetot, tak berhasil ia melepaskan pedang dari libatan ini. Ia tahu bahwa tenaga lweekangnya jauh lebih rendah daripada tenaga kakek aneh ini, maka diam-diam ia merasa gelisah sekali.
241
„Lepaskan pedang!” serunya dan kaki kirinya menendang ke arah gagang sapu lawannya.
Tosu tua itu menangkis dengan tangan kiri dan begitu kaki itu bertemu dengan lengan si kakek, In Hong terhuyung-hujung dan saat itu dipergunakan oleh tosu itu untuk menarik sapunya dengan tenaga lweekang yang hebat sekali sehingga In Hong tak dapat menahan dan pedangnya terampas!
Bukan main marahnya gadis ini, sedangkan para tosu disitu tersenyum-senyum girang. Juga Pek Ciang San-lojin tersenyum girang dan diam-diam memuji kelihayan susioknya yang aneh ini. Akan tetapi kegirangan mereka itu terganti dengan kekagetan hebat ketika tiba-tiba tangan kiri In Hong yang marah menyambar dan sinar hitam menyambar ke arah tubuh tosu tua tadi.
Tosu ini nampak terkejut, mengayun sapu dan lengan baju untuk menyampok pasir beracun itu. Akan tetapi, biarpun sebagian besar pasir itu dapat ditangkis, masih ada yang menembus ujung lengan baju dan melukai lengannya. Untuk beberapa detik tosu tua ini terhuyung-uyung dengan muka pucat!
Akan tetapi, dilain saat, tosu itu mengeluarkan seruan keras, tubuhnya melayang ke arah In Hong dan sapunya menyambar. In Hong mengelak, namun kakinya masih terlibat oleh sapu dan tubuh gadis ini terguling! Dilain saat, kakek tua ini sudah mengempit tubuhnya dan sambil membawa tubuh gadis itu keluar, ia tertawa-tawa dan berkata:
242
„Biar aku melempar keluar daun ini, ha, ha, ha!”
Semua tosu menarik napas lega, akan tetapi diam-diam Pek Ciang San-lojin menjadi gelisah sekali. Ciang-bun-jin dari Kun-lun-pay ini maklum bahwa susioknya telah terkena sambaran senjata rahasia yang amat lihay. Ia pernah mendengar bahwa Hek Moli memiliki senjata rahasia toat-beng-hek-kong dan kiranya tadilah senjata rahasia itu, diperlihatkan oleh muridnya dan benar-benar hebat sekali sehingga susioknya yang berilmu tinggi masih terkena juga.
„Cu Sim, kau lihatlah keadaan susiok-couwmu itu dan kalau ia terluka, lekas memberi laporan agar dapat berusaha mengobatinya!”
Cu Sim San-lojin menyatakan baik lalu keluar dari ruangan itu. Tosu-tosu lain lalu bubaran, melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. Memang mereka sudah amat terlatih, cepat berkumpul apabila dibutuhkan dan tenang kembali setelah peristiwa selesai.
Betapapun In Hong meronta dan mengerahkan tenaga, ia tidak mampu melepaskan diri dari kempitan lengan tosu tua itu yang setelah keluar dari kelenteng, berlari cepat sekali sehingga sebentar saja sudah tiba di lereng gunung. Kemudian ia melepaskan nona itu sambil tersenyum dan berkata:
„Nona, kalau tidak teringat akan mendiang gurumu, siapa sudi menolongmu dan rela membiarkan lenganku terkena toat-beng-hek-kong?” katanya dan dari dalam saku
243
bajunya ia mengeluarkan sebungkus obat, terus mengobati luka yang diakibatkan oleh pasir-pasir hitam.
Melihat obat ini, In Hong terkejut. Itulah obat pemunah pasir hitam yang dibuat oleh gurunya sendiri, yang juga berada di dalam bungkusan pakaiannya. Darimana tosu ini mendapatkan obat itu?
„Gurumu adalah sahabat baikku, dan karena aku pernah ditolong olehnya, maka tadi melihat kau menghadapi Pek Ciang San-lojin, aku sengaja datang untuk menyeretmu keluar dari lembah maut. Kalau tidak aku keburu datang, apa kaukira sekarang kau masih bernyawa? Hm, biarpun ilmu silat dan ilmu pedangmu lihay, mana kau dapat menghadapi tokoh-tokoh Kun-lun-pay? Lweekangmu masih amat rendah dan kalau kau bertanding melawan Pek Ciang, kau tentu akan terluka dan binasa.”
Mendengar semua kata-kata ini, maklumlah In Hong bahwa kakek aneh ini bermaksud baik dan bahkan telah menolongnya, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut.
„Locianpwe, banyak terima kasih atas pertolonganmu. Akan tetapi teecu Kwee In Hong tidak takut mati. Untuk membalas budi mendiang guruku, teecu harus berani berkorban nyawa. Teecu harus membalas dendamnya atas pengeroyokan tosu-tosu Kun-lun-pay.”
„Ha, ha, ha, inilah namanya anak kerbau tidak takut hari¬mau. Dengan tenaga lweekangmu serendah itu, biar sepuluh tahun lagi tak mungkin kau dapat mengalahkan
244
kami. Kecuali kalau kau bisa mendapatkan kitab Tat Mo I-kin-keng dari Siauw-lim-si dan mempelajarinya sampai tamat, baru ki¬ranya kau akan dapat menghadapi kami! Nah, kau pergilah, aku bicara semua ini bukan terhadapmu, melainkan terhadap arwah gurumu!” Setelah berkata demikian, sambil menyeret sapunya tosu tua itu berjalan pergi.
„Tahan dulu, locianpwe, mohon tahu nama locianpwe yang mulia.”
3.4. Murid Pewaris I-Khi-keng
Tanpa menoleh tosu itu herkata: „Siang-te Lo-koay hanya tukang sapu di kelenteng Kun-lun, tidak ada harganya untuk diingat lagi.” Kakek itu mempercepat larinya dan sebentar saja telah naik kembali ke bukit itu.
In Hong menarik napas panjang. Ia kagum sekali kepada kakek ini, yang biarpun ilmu silatnya tidak amat tinggi, namun ginkang dan lweekangnya sudah sampai di puncak yang tak dapat diukur tingginya sehingga ia merupakan seorang anak kecil yang tidak berdaya terhadapnya. Ia pikir bahwa betul sekali apa yang diucapkan oleh kakek itu. Kepandaiannya, atau lebih tepat ilmu lweekangnya, masih terlampau rendah sehingga kalau ia nekad membalas dendam ke Kun-lun-pay, hal itu bukan berarti kegagahan, melainkan ketololan besar. Sakit hati gurunya takkan terbalas, sebaliknya ia seperti mengantarkan nyawa secara sia-sia belaka.
245
Tat Mo I-khi-keng dari Siauw-lim-si! Kata ini terukir di dalam hatinya. Apa artinya semua kepandaiannya kalau ia tidak dapat memiliki lweekang yang tinggi? Ia pernah mendengar dari gurunya bahwa dalam pertandingan menghadapi tokoh lihay memang tenaga lweekang amat penting. Dan gurunya pernah mengaku bahwa dalam hal lweekang, masih kalah oleh partai-partai besar, apalagi partai silat Siauw-lim-si yang amat mengutamakan ilmu lweekang ini.
„Aku harus mendapatkan kitab Tat Mo I-kin-keng dari Siauw-lim-si, biarpun harus menjadi pencuri!” Pikiran ini menjadi keputusan di dalam hati gadis yang masih penasaran itu, dan sekali mengambil keputusan, ia tidak mau menunda-nunda lagi, maka begitu turun dari Kun-lun-san, ia langsung menuju ke Siauw-lim-si.
◄Y►
Berbeda dengan partai persilatan Kun-lun-pay, Siauw-lim-pay adalah partai persilatan dari penganut-penganut agama Buddha. Kelenteng Siauw-lim-si adalah sebuah kelenteng yang besar sekali, di kelilingi oleh tembok yang tebal dan tinggi. Di antara semua partai persilatan yang besar, nama Siauw-lim-pay sudah amat terkenal. Setiap orang hwesio, atau anak murid Siauw-lim-pay yang berada di luar kelenteng, sudah dapat dipastikan memiliki ilmu kepandaian tinggi, karena kalau belum tamat belajar mencapai tingkat tertentu, murid Siauw-lim-si tidak boleh meninggalkan perguruan!
246
Setiap orang anak murid yang tamat harus menempuh ujian, yakni melalui sebuah lorong yang sudah disiapkan untuk menguji si murid. Lorong ini penuh dengan alat-alat rahasia dan si murid akan menghadapi serangan-serangan berbahaya, baik yang dilakukan dengan alat-alat rahasia itu maupun oleh guru-gurunya sendiri.
Kalau ia berhasil menembusi lorong inti, ia dianggap cukup cakap untuk keluar dari Siauw-lim-si. Akan tetapi kalau dalam menghadapi ujian ini ia gagal, harus belajar lebih giat lagi. Atau kalau sam¬pai ia tewas dalam ujian ini, itu sudah menjadi nasibnya!
Oleh karena ada aturan dan disiplin yang keras ini, maka selamanya Siauw-lim-pay dapat menjaga nama dan anak-anak murid keluaran Siauw-lim-pay dapat menjunjung tinggi nama perguruan itu.
Pada waktu itu, yang menjadi ketua dari Siauw-lim-pay adalah Bu Kek Tianglo, seorang hwesio yang usianya sudah hampir delapanpuluh tahun. Selama berpuluh tahun hwesio ini memegang pimpinan Siauw-lim-pay dan boleh dibilang ia berhasil dalam memajukan partai persilatan ini. Akan tetapi hatinya tidak puas. Ada hal yang amat mengganjel hatinya dan kalau ia teringat akan hal ini, diam-diam ia menarik napas seorang diri dan berbisik:
„Apakah akan jadinya dengan Siauw-lim-pay? Tat Mo Couwsu pasti arwahnya akan mengutukku kalau aku tidak bisa mendapatkan seorang ahliwaris yang baik.”
247
Yang menjadikan kakek hwesio ini berduka adalah karena selama ini, ia tidak bisa mendapatkan seorangpun murid yang berbakat dan yang akan dapat mewarisi kepandaian aseli dari Tat Mo Couwsu. Ilmu silat peninggalan guru besar Tat Mo Couwsu, yang disebut Tat Mo Kun-hoat, terdiri dari bermacam-macam ilmu silat.
Memang semua anak murid Siauw-lim-pay mempelajari ilmu silat ini, akan tetapi tingkat mereka yang paling tinggi hanya sampai enam bagian saja. Yang sudah mewarisi ilmu silat ini sampai sembilan bagian hanyalah Bu Kek Tianglo seorang, karena untuk berhasil mewarisi seluruh pelajaran yang amat sukar dari ilmu silat itu, dibutuhkan bakat luar biasa serta kebersihan batin, hawa dalam tubuh, dan darah.
Sampai sebegitu jauh, tak seorangpun anak murid yang sanggup menerima latihan I-kin-keng, yakni latihan ilmu lweekang yang tertinggi. Hanya Bu Kek Tianglo sendiri yang berhasil, akan tetapi ia sudah terlalu tua. Usianya takkan lama lagi mempertahankan hidupnya dan sebelum mati, hwesio tua ini ingin sekali mendapatkan seorang murid yang dapat mewarisi I-kin-keng dan ilmu silat tertinggi dari Tat Mo kun-hoat.
Bu Kek Tianglo sudah hampir putus asa sampai datangnya seorang hwesio Siauw-lim-si yang membawa seorang pemuda dan seorang bocah perempuan ke kelenteng itu. Hal ini terjadi lima tahun yang lalu. Hwesio yang datang ini adalah murid kepala dari Bu Kek Tianglo yang bernama Ceng Seng Hwesio.
248
Ceng Seng Hwesio berlutut menghadap ketua Siauw-lim-pay itu dan disebelahnya, pemuda dan anak perempuan itupun ikut berlutut dengan penuh penghormatan.
„Muridku yang baik, tiga bulan lamanya kau meninjau keadaan di luar, bagaimanakah khabarnya dengan para anak murid kita yang berada di luar?”
„Mereka baik-baik semua, suhu, dan tak seorangpun yang melakukan pelanggaran, kesemuanya patuh akan pelajaran dan larangan Siauw-lim-pay,” jawab Ceng Seng Hwesio.
Jawaban ini kelihatannya amat menyenangkan hati Bu Kek Tianglo, karena kakek ini memang selalu merasa gelisah kalau ia teringat betapa banyaknya murid-murid Siauw-lim-pay berada di luar kelenteng sehingga ia tidak kuasa untuk mengawasi tingkah laku mereka. Ia selalu khawatir kalau-kalau ada anak murid yang melakukan perbuatan jahat, melanggar larangan Siauw-lim-pay dan di dunia luar merusak nama baik Siauw-lim-pay. Oleh karena ini, seringkali ia mengutus murid-muridnya untuk meninjau keadaan di dunia kangouw dan memberi wewenang kepada murid-muridnya ini apabila mendengar anak murid Siauw-lim-pay yang menyeleweng, untuk menangkap dan menyeretnya ke Siauw-lim-pay!
„Siapakah orang muda dan nona cilik ini?” kemudian kakek itu bertanya sambil memandang kepada pemuda dan anak perempuan yang berlutut di dekat Ceng Seng Hwesio.
249
„Di dalam perantauan, teecu bertemu dengan mereka ini, dikeroyok oleh perampok di dalam hutan. Teecu amat tertarik melihat ilmu silat pemuda ini berdasarkan ilmu silat Siauw-lim-si, akan tetapi gerakannya sudah menyeleweng jauh. Setelah teecu mengajak mereka bercakap-cakap, ternyata bahwa mereka ini masih cucu murid dari supek Bu Sek Tianglo!”
Bu Kek Tianglo nampak tercengang dan memandang kepada pemuda itu dengan penuh perhatian.
„Anak muda, siapa namamu? Dan kau murid siapakah?” tanya Bu Kek Tianglo.
Pemuda itu mengangkat mukanya yang tampan dan membayangkan kedukaan, memandang kepada tosu tua itu kemudian menunduk kembali dan menjawab, suaranya halus dan sopan:
„Susiok-couw, teecu bernama Ong Teng San, dan ini adik teecu bernama Ong Lian Hong. Teecu berdua menerima pe¬lajaran ilmu silat dari ayah teecu sendiri yang bernama Ong Tiang Houw, murid dari sucouw Bu Sek Tianglo. Kebetulan sekali teecu berdua yang sengsara bertemu dengan supek Ceng Seng Hwesio, maka apabila susiok-couw tidak berkeberatan, teecu berdua mohon diterima menjadi murid di Siauw-lim-si, karena teecu berdua sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi.” Suara pemuda itu menjadi perlahan dan ia kelihatan berduka sekali.
250
„Hm, mengapa kalian pergi dari rumah? Dimana ayahmu? Biarpun ayahmu tidak langsung menjadi murid Siauw-lim-pay, akan tetapi sudah lama pinceng (aku) mendengar akan sepak terjangnya yang patut dihargai sebagai seorang pendekar yang gagah. Agaknya mendiang suhengku Bu Sek Tianglo tidak terlalu salah menerima murid sungguhpun dia sendiri telah meninggalkan Siauw-lim-pay.”
Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba Teng San terisak menangis! Hati pemuda ini bersedih sekali kalau ia teringat akan ayahnya yang dianggap telah melakukan perbuatan yang amat memalukan dan tidak berbudi.
Melihat pemuda ini menangis, Bu Kek Tianglo wajahnya tiba-tiba berseri. Di dalam hatinya ia berkata: „Aha, anak inilah yang kiranya akan dapat mewarisi I-kin-keng, hatinya perasa sekali dan perasaan yang halus inilah yang amat dibutuhkan untuk bisa mempelajari I-kin-keng dengan sempurna.” Akan tetapi di luarnya, ia berkata dengan suara tegas:
„Teng San, tidak patut seorang pemuda mengalirkan airmata. Ada urusan, boleh kau beritahukan kepada pinceng dengan terus terang, boleh jadi pinceng akan dapat mencarikan jalan terang bagimu.”
Teng San menekan perasaan sedihnya, kemudian ia dengan terus-terang menceritakan bagaimana ayahnya telah membunuh seorang hartawan muda bernama Kwee Seng, kemudian mengambil isteri hartawan itu sebagai isterinya. Hal ini dianggapnya amat menyakitkan dan
251
memalukan hati, apalagi karena Teng San sudah menganggap ibu tiri itu sebagai ibunya sendiri, bahkan sudah berkali-kali berjanji kepada ibu tirinya untuk membalaskan dendam atas terbunuhnya suami yang dahulu dari ibu tirinya itu. Tidak disangka-sangkanya bahwa pembunuhnya adalah ayahnya sendiri!
Mendengar penuturan ini, Bu Kek Tianglo mengerutkan keningnya dan beberapa kali ia menggeleng-geleng kepalanya yang gundul.
„Omitohud, bagaimana ada kejadian seperti itu? Pinceng sudah mendengar tentang ayahmu yang memimpin pasukan Kay-sin-tin membasmi orang-orang hartawan dan bangsawan. Perjuangan memperbaiki nasib kaum jembel memang baik, bahkan semenjak dahulu dipelopori oleh orang-orang gagah sedunia yang tidak suka melihat sesama hidup bersengsara dan melihat keganjilan di dunia ini, dimana yang hidup kaya sampai berlebihan dan yang hidup miskin sampai tidak bisa makan. Akan tetapi, setiap perjuangan memperbaiki nasib haruslah dilakukan dengan hati-hati dan waspada, karena hampir selalu ada bahaya kemasukan anasir-anasir buruk dan sifat-sifat yang tidak baik. Ayahmu terlampau dikuasai oleh nafsunya, nafsu dan dendam karena kematian isterinya, yaitu ibumu, dan orang yang sudah dikuasai oleh nafsu dan dendam, tiada ubahnya seperti binatang buas yang tidak memilih bulu, siapa saja diterkamnya. Orang gagah harus dapat berlaku adil, menghukum mereka yang bersalah dan menolong mereka yang tergencet. Secara membuta tuli saja membasmi orang-orang hartawan dan bangsawan, adalah perbuatan yang amat keliru, karena
252
tak mungkin seluruh hartawan dan bangsawan itu jahat belaka. Karena kekeliruan ayahmu itu, sekarang ia harus memetik buahnya yang amat pahit. Bagaimana dengan ayahmu sekarang?”
„Teecu tidak tahu, susiok-couw. Entah bagaimana dengan ayah, dan kalau teecu teringat akan ibu……” Sampai disini terdengar suara tangisan Liang Hong.
„San-ko, aku mau pulang, mau menjaga ibu……,” anak ini menangis.
Bu Kek Tianglo adalah seorang yang hatinya penuh welas asih, sesuai dengan penganut agama Buddha, maka ia amat terharu melihat keadaan dua orang anak itu. Apalagi kalau ia melihat Teng San, diam-diam ia memuji ketajaman mata muridnya, karena pemuda ini benar-benar memiliki bakat yang luar biasa. Oleh karena itu, ia menerima Teng San dan Lian Hong menjadi murid Siauw-lim-si, dan menyerahkan pendidikan mereka kepada Ceng Seng Hwesio. Akan tetapi, terhadap Teng San ia turun tangan sendiri memberi pelajaran ilmu silat tinggi sehingga pemuda itu mendapatkan kemajuan yang amat pesat.
Selama lima tahun Teng San dan Lian Hong dilatih di dalam kelenteng Siauw-lim-si dan Teng San kini benar-benar telah mewarisi ilmu-ilmu silat tertinggi dari Siauw-lim-pay. Akan tetapi, tetap saja ia masih mengalami kesukaran untuk mewarisi I-kin-keng dan setelah lima tahun, baru ia mulai mendapat penjelasan tentang ilmu lweekang tertinggi dari Siauw-lim-pay ini. Juga Lian Hong
253
merupakan murid yang amat memuaskan hati Ceng Seng Hwesio, karena dalam usia empatbelas tahun, gadis cilik ini telah mampu melewati lorong ujian dengan selamat dan tidak terluka sedikitpun!
Pada waktu inilah ketika Siauw-lim-si mendapat serbuan yang menggemparkan kelenteng besar itu, serbuan yang dilakukan oleh Kwee In Hong, gadis murid Hek Moli yang amat berani dan keras hati itu!
Waktu itu tepat tanggal limabelas, bulan bersinar terang dan hawa malam itu dingin bukan main, tanda bahwa musim panas sudah mulai bertukar musim. Tak seorangpun di kelenteng Siauw-lim-si yang menduga bahwa malam itu tempat mereka yang disegani dan ditakuti oleh semua orang kangouw akan menerima tamu tak diundang yang amat berani. Memang sudah berpuluh tahun tidak ada orang yang berani memusuhi Siauw-lim-si, apalagi datang sebagai seorang tamu malam tak diundang yang bermaksud jahat. Maka para hwesio enak-enak saja dan tidak menyangka buruk.
Apalagi karena In Hong memasuki tempat itu dengan mempergunakan ginkangnya yang sudah tinggi tingkatnya. Hanya bayangannya saja yang berkelebatan ketika ia mendaki bukit itu menuju ke kelenteng. Kemudian, dengan amat mudahnya ia melompat pagar tembok yang tinggi, yang mengelilingi semua bangunan kelenteng dan rumah tinggal para anak murid Siauw-lim-pay.
254
Kalau orang melihat In Hong melompat-lompat di dalam sinar bulan purnama, tentu ia akan mengira bahwa gadis ini seorang bidadari yang turun dari bulan. Memang gadis ini amat cantik, lincah, dan pakaiannya yang serba ringkas membayangkan potongan tubuhnya yang langsing.
In Hong merasa agak heran ketika melihat keadaan di dalam pagar tembok itu sunyi saja, tidak kelihatan penjaganya. Begini sajakah keadaan Siauw-lim-si yang tersohor kuat itu? Ia merasa lega dan setelah meneliti bahwa keadaan di dalam benar-benar aman, ia lalu melayang turun dari pagar tembok dengan gerakan ringan seakan-akan seekor burung walet menyambar. Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara ketika ia tiba di atas tanah dalam sebuah pekarangan yang lebar.
Sambil menyelinap dan bersembunyi di dalam bayang-bayang pohon dan tembok yang gelap, gadis yang berani ini maju terus. Tiba-tiba ia melihat seorang hwesio cilik membawa lampu berjalan perlahan. Sambil berjalan, hwesio cilik ini mulutnya berkemak-kemik mengeluarkan suara seperti orang berdoa, agaknya ia sedang menghafal ayat-ayat suci yang baru dipelajarinya siang hari tadi.
In Hong cepat bersembunyi ke dalam tempat gelap dan ketika hwesio kecil itu lewat, ia melompat dan pedangnya sudah menempel pada leher hwesio ini. Alangkah heran dan kagumnya hati In Hong ketika melihat betapa hwesio cilik ini sama sekali tidak terkejut.
255
Jangankan berteriak minta tolong atau melepaskan lampunya, bahkan ia memandang sambil tersenyum! Ketenangan hwesio cilik ini membuat In Hong menjadi kagum dan malu kepada diri sendiri, maka ia menjauhkan pedangnya dari leher anak yang sudah menjadi calon pendeta itu.
„Siauw-suhu, aku tidak berniat buruk kepadamu, hanya aku harap kau suka memberitahu kepadaku dimana adanya kamar penyimpanan kitab Siauw-lim-si!” bisiknya.
Memang aneh sekali Hwesio cilik ini sambil tersenyum lalu menuding ke arah kiri. „Kau hendak mencari kamar penyimpanan kitab? Lihat, bangunan di sudut kiri yang jendelanya kuning itulah tempat penyimpanan kitab.”
In Hong tertegun. „Kau tidak bohong, siauw-suhu?”
Hweesio cilik itu tersenyum dan menggeleng kepalanya yang gundul kelimis. „Kalau orang masih suka berbohong apa gunanya berada disini? Tidak, disini kau tidak bertemu dengan orang yang suka membohong.”
In Hong menggerakkan tangan hendak menotok hwesio cilik ini agar jangan dapat bergerak atau berteriak, akan tetapi melihat muka yang jujur dan polos serta senyuman yang terbuka itu, ia menahan tangannya.
„Aku takkan mengganggumu, akan tetapi kau harus berjanji takkan memberitahukan kepada siapapun juga akan kedatanganku ini.”
256
Kembali hwesio cilik itu tertawa. „Lihiap, tentang kedatanganmu, siapakah yang tidak tahu? Para suhu disini sudah tahu semua, untuk apa diberitahukan lagi?” Setelah berkata demikian, hwesio cilik ini berjalan terus dengan lambat, lampu di tangannya bergoyang-goyang.
Untuk sejenak In Hong berdiri terpaku. Keterangan terakhir ini mengejutkan hatinya. Akan tetapi, betulkah itu? Kalau para tokoh Siauw-lim-pay sudah mengetahui kedatangannya, mengapa mereka tidak muncul? Betapapun juga, aku sudah sampai disini dan harus kucoba mendapatkan kitab I-kin-keng, pikirnya. Tanpa ragu-ragu lagi In Hong lalu melompat cepat ke kiri, menuju ke bangunan berjendela kuning yang ditunjuk oleh hwesio kecil tadi.
Untuk sampai di tempat itu, ia harus melalui beberapa ruangan dan di sana sini terdapat arca-arca Buddha sebesar orang sehingga kadang-kadang gadis ini terkejut karena dari jauh arca-arca ini seperti seorang hwesio sedang duduk bersamadhi. Akhirnya ia sampai di sebuah ruangan dan di dekat ruangan terbuka inilah adanya kamar yang berjendela kuning. Hatinya berdebar girang dan dengan hati-hati ia mendekati kamar itu.
Di ujung ruangan itu, dekat dengan pintu kamar, ia melihat punggung sebuah patung lagi yang sebesar manusia, patung seperti arca-arca lain yang dilihatnya tadi. Maka ia tidak menaruh perhatian. Dengan langkah lebar In Hong menghampiri jendela kuning dari kayu dan sekali mencongkel dengan pedang-nya, jendela itu terbuka tanpa menerbitkan suara apa-apa.
257
Kamar ini luas sekali dan diterangi oleh lampu besar. Ia melihat lemari-lemari yang penuh dengan buku-buku kuno dan di tengah kamar ini ia melihat seorang laki-laki sedang duduk membaca buku. Laki-laki itupun bersila dan biarpun kedua tangannya memegang sebuah kitab terbuka, namun ia tidak bergerak sama sekali. Agaknya seluruh perhatiannya dicurahkan untuk membaca isi kitab, maka ia tidak memperdulikan lain hal yang terjadi disekelilingnya.
In Hong tercengang dan ia memandang dengan mata terbelalak. Kalau ia melihat laki-laki itu seorang hwesio gundul, ia takkan terheran. Akan tetapi laki-laki ini bukan seorang hwesio, melainkan seorang pemuda yang tampan dengan pakaian serba putih. Ia hendak menerjang masuk, akan tetapi menarik diri kembali dan bersembunyi ketika melihat pemuda itu menggerakkan leher dan menengok ke arah jendela.
„Sampai berani merusak jendela, inilah keterlaluan sekali!” kata pemuda itu dan ketika In Hong hendak memandang ke dalam, tiba-tiba jendela itu sudah tertutup! In Hong meraba penutup yang kini berwarna hitam itu dan ternyata bahwa yang menutup jendela secara aneh itu adalah besi yang tebal dan dingin!
Ia mencoba mendorong, namun sia-sia karena besi penutup jendela itu kokoh kuat. In Hong penasaran dan sekali ia melompat, ia telah naik ke atas genteng kamar itu. Namun, ketika ia membuka genteng, ternyata bahwa dibawah genteng juga tertutup oleh lapisan besi yang tak mungkin ditembus!
258
„Kurangajar!” ia memaki perlahan dan melayang turun kembali, kini ia menghampiri pintu. „Kaukira aku tidak berani menerjang dari pintu?” pikirnya.
Akan tetapi, sebelum ia membuktikan ancamannya ini, arca yang tadi ia lihat punggungnya, tiba-tiba bergerak dan sudah berdiri di belakangnya.
„Nona, tak seorangpun boleh memasuki pintu ini!”
In Hong sampai mencelat setombak lebih saking kagetnya. Tidak disangkanya bahwa yang dikira arca itu ternyata seorang hwesio gundul tua yang agaknya duduk bersamadhi di depan pintu itu!
Pada saat itu, terdengar suara kelenengan perlahan yang sambut menyambut di seluruh tempat itu, maka tahulah In Hong bahwa ia sudah terkepung. Pintu kamar itu terbuka dan pemuda yang tadi dilihatnya membaca kitab, sudah ber-diri dengan pedang di tangan, sedangkan daun pintu itu tertutup sendiri dengan suara keras dan nyaring yang menyatakan bahwa daun pintu inipun terbuat daripada besi atau baja!
Gagal dan aku harus cepat melarikan diri, pikir In Hong dengan kecewa.
„Nona, jalan masuk ke Siauw-lim-si amat mudah, namun jalan keluarnya tidak semudah kaukira,” hwesio tadi berkata dengan nada mengejek.
259
„Minggir kau!” bentak In Hong sambil mempergunakan tangan kirinya mendorong.
Hwesio itu tidak mau mengelak, sebaliknya menyambut dengan tangan kanannya. Tubuh In Hong terpental ke belakang, demikian kerasnya tenaga dorongan hwesio itu.
In Hong terkejut sekali. Lihay betul lweekang dari hweesio ini, pikirnya, maka ia tidak berani memandang ringan. Baru seorang hwesio saja begini lihay, kalau mereka semua muncul, ia tentu takkan mampu melawan mereka semua. Cepat ia hendak lari, akan tetapi hwesio itu sudah menghadangnya sambil tertawa:
„Coan Sim Hwesio menjaga kamar kitab takkan membiarkan kau pergi, nona,” katanya dan tangannya menyambar hendak menangkap lengan In Hong yang memegang pedang. Nona ini menjadi marah dan cepat ia menggerakkan pedang hendak membacok lengan hwesio itu. Lawannya ternyata memiliki gerakan yang gesit juga, karena sudah dapat menarik lengannya dan membalas dengan tendangan loan-hoan-twi, yakni tendangan berantai yang dilakukan bertubi-tubi.
In Hong cepat melompat tinggi ke belakang, dan sambil memutar tubuhnya, pedangnya menusuk dada hwesio itu. Gerakannya demikian ringan dan cepat sehingga hwesio ini mengeluarkan seruan kaget dan cepat mengelak sambil melompat ke belakang. Namun In Hong tidak memberi kesempatan padanya dan terus menyerang. Pedangnya kini merupakan sinar dan bergulung-gulung
260
menyerang hwesio itu yang menjadi kewalahan, melompat dan mengelak ke sana ke mari.
„Pencuri nekat jangan kau kurangajar!” tiba-tiba pedang In Hong tertangkis oleh pedang lain dan ternyata bahwa yang menangkis oleh pedang lain dan ternyata bahwa yang menangkis pedangnya adalah pemuda yang tadi membaca kitab. „Murid termuda Siauw-lim-si Ong Teng San takkan membiarkan pencuri pergi!”
In Hong menjadi marah. Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi ia lalu memutar pedangnya secepatnya, menyerang pemuda itu dengan jurus ilmu pedangnya yang paling lihay. Pemuda itu terkejut sekali dan buru-buru ia menangkis sambil melangkah mundur, karena serangan ini benar-benar merupakan desakan yang masih berbahaya kalau hanya ditangkis saja.
In Hong penasaran. Serangannya tadi amat lihay dan kalau lawan tidak memiliki ilmu silat tinggi tak mungkin dapat menghindarkan diri. Namun pemuda itu masih dapat mengelak dan menangkis. Selagi ia hendak mendesak terus, dari samping Coan Sim Hwesio kembali mengulur tangan mendorongnya dan kembali angin dorongan itu membuat In Hong terhuyung.
Celaka pikirnya. Tidak menguntungkan kalau ia melawan terus, maka sekali kakinya dienjotkan, ia telah melayang naik ke atas genteng. Coan Sim Hwesio dan pemuda yang bukan lain adalah Ong Teng San itu, tidak mau mengejarnya. Mereka maklum bahwa gadis itu takkan
261
mungkin dapat keluar dari kepungan para hwesio Siauw-lim-si.
Betapapun juga mereka tidak mau tinggal diam dan keduanya lalu pergi mela-kukan penjagaan di lain tempat, hwesio itu lari ke kanan untuk membantu penjagaan di tembok sebelah kanan, sedangkan Teng San melompat naik ke atas genteng melakukan penjagaan di atas.
In Hong berlari terus, menuju keluar. Maksudnya hendak lekas-lekas pergi dari tempat itu, apalagi setelah ia melihat dari atas betapa banyak hwesio-hwesio menjaga di sana sini. Tempat yang ketika ia datang nampak sunyi itu sekarang sudah berobah sama sekali. Di setiap sudut terdapat lampu penerangan.
Selagi ia mencari tempat yang dapat dilaluinya untuk melarikan diri, tiba-tiba terdengar bentakan:
„Nona tak tahu aturan, tidak lekas-lekas menyerah?”
In Hong memutar pedangnya untuk menangkis ketika merasa sambaran angin datang dari sebelah kanan. Terdengar suara keras dan ujung sebatang toya terbabat putus oleh pedang Liong-gan-kiam. Hwesio yang menyerangnya berseru kaget, akan tetapi dua orang kawannya lagi maju menubruk untuk menangkap In Hong.
Nona ini melihat dirinya dikeroyok tiga orang hwesio, tidak mau melayani dan secepat burung terbang, ia melompat turun lagi dari atas genteng. Kemudian ia berlari terus ke
262
depan dan anehnya, tiga orang hwesio itupun tidak mau mengejarnya.
Begitu kedua kaki In Hong menginjak tanah, ia dikejutkan oleh bentakan mengguntur: „Penjahat wanita yang berani mati mengacau Siauw-lim-si, lebih baik kau menyerah untuk pinceng ikat kaki tanganmu!”
In Hong melihat seorang hwesio tinggi besar yang memegang sebatang rantai baja panjang. Darahnya naik mendengar bentakan itu. Masa ia hendak diikat dengan rantai baja yang lebih pantas untuk mengikat gajah itu? Tanpa mengeluarkan suara, pedangnya membabat dan secepat kilat ia telah melakukan serangan ke arah perut hwesio itu dengan tusukan maut.
„Siancay…… ganas betul kau!” Hwesio itu menggerakkan rantainya dan hampir saja pedang In Hong terlepas dari pegangannya ketika dua senjata itu bertemu dengan kerasnya.
Diam-diam In Hong amat terkejut. Biarpun gerakan para hwesio di Siauw-lim-si ini tidak terlalu cepat, namun ia harus akui bahwa mereka rata-rata memiliki tenaga yang besar. Telapak tangannya sampai terasa pedas ketika gagang pedangnya tergetar dalam pertemuan senjata itu. Ia cepat menarik pedang dan kembali melakukan tiga jurus serangan bertubi-tubi. Namun dengan pemutaran rantai sehingga merupakan kitiran baja yang tangguh, semua serangannya gagal.
263
„Suheng, jangan lepaskan dia!” terdengar suara hwesio lain membentak dan In Hong menjadi gemas sekali melihat datangnya dua orang hwesio lain yang memegang toya. Melayani si tinggi besar dengan rantai ini saja belum tentu ia akan dapat menang secara cepat, apalagi sekarang datang pula dua orang pengeroyok. Dan ia maklum bahwa senjata toya bagi Siauw-lim-si merupakan senjata yang ampuh dan ilmu toya Siauw-lim-si amat terkenal ketangguhannya.
„Kalian memaksakan dan tidak mau membiarkan aku pergi? Baik, kalian rasakan ini!” bentaknya marah sekali dan tiba-tiba, ketika tangan kiri In Hong bergerak, sinar hitam menyambar ke arah tiga orang hwesio itu. Inilah Toat-beng-hek-kong yang luar biasa. Pasir hitam halus yang mengandung racun itu sukar sekali dihindarkan, apalagi dipergunakan di waktu malam.
3.5. Adik Tiri Yang Hilang
Biarpun tiga orang hwesio itu cepat-cepat mengelak, namun masih saja mereka terkena samberan pasir dan segera terdengar suara mengaduh-aduh dari tiga orang ini.
In Hong mempergunakan kesempatan ini untuk berlari terus. Akan tetapi karena ia tidak kenal jalan dan tempat itu ternyata amat luasnya, ia tidak tahu harus mengambil jalan mana dan berlari saja dengan membuta. Ia tiba di sebuah ruangan lain yang amat terang dan ditengah-tengah ruangan ini ia melihat seorang hwesio tua, bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam, tengah duduk
264
bersamadhi. Sebatang toya besar menggeletak di dekatnya.
Melihat sikap yang angker dan muka yang memancarkan cahaya kelembutan itu, In Hong hendak menghindari hwesio ini dan hendak keluar lagi dari ruangan itu untuk mengambil jalan lain. Akan tetapi, tiba-tiba hwesio bermuka hitam itu membuka matanya dan berkata dengan suara lemah lembut.
„Nona, kau sudah memasuki Siauw-lim-si secara menggelap, jangan kau harap akan dapat keluar lagi. Lebih baik kau mengakulah kepada pinceng, siapa namamu dan apa keperluanmu datang ke tempat kami ini. Ketahuilah bahwa pinceng adalah Ceng Seng Hwesio dan pinceng memimpin para anak murid Siauw-lim-si. Pinceng bukan seorang yang berhati kejam, dan kalau sekiranya menurut pertimbangan pinceng, dosamu tidak terlalu besar, tentu kau akan pinceng lepaskan.”
Mendengar ini, In Hong memasuki ruangan itu. Lebih baik mengakui terus terang, pikirnya. Kalau dia diampuni dan dibolehkan pergi tanpa gangguan, itu baik sekali. Sebaliknya kalau tidak diampuni, daripada menghadapi keroyokan semua hwesio di Siauw-lim-si, lebih baik terlebih dulu ia menggempur hwesio pemimpin ini!
Kalau saja ia bisa membikin hwesio ini tidak berdaya, ia dapat mempergunakan sebagai perisai untuk keluar melarikan diri. Setelah berpikir demikian, In Hong lalu menghadapi Ceng Seng Hwesio dan berkata, pedangnya melintang di depan dada:
265
„Losuhu, terus terang saja, kedatanganku disini bukannya mengandung maksud buruk. Aku bernama Kwee In Hong dan aku adalah murid dari Hek Moli.”
„Sudah pinceng duga, melihat gerakan pedangmu yang ganas dan melihat Toat-beng-hek-kong tadi. Teruskan, nona, kau bilang tidak bermaksud buruk, apakah maksud kedatanganmu malam-malam di Siauw-lim-si?” hwesio itu memotong.
In Hong terkejut. Hwesio ini tadi duduk bersemadhi saja, bagaimana bisa ketahui semua perbuatannya? Akan tetapi ia tidak gentar, dan melanjutkan kata-katanya:
„Guruku tewas oleh keroyokan orang-orang Kun-lun-pay dan aku telah naik ke Kun-lun-san untuk membalas dendam. Akan tetapi aku dikalahkan oleh tenaga lweekang mereka, oleh karena itu, kedatanganku di Siauw-lim-si ini hanya untuk meminjam kitab I-kin-keng.”
„Meminjam kitab suci Tat-mo I-kin-keng?” Ceng Seng Hwesio benar-benar terkejut dan heran. „Untuk apakah?”
„Untuk kupelajari isinya dan kelak tentu akan kukembalikan dengan pernyataan terima kasihku. Bahkan, kalau dengan I-kin-keng aku berhasil membalas sakit hati guruku, aku kelak sambil mengembalikan kitab, rela menerima segala hukuman dari Siauw-lim-si. Harap kau orang tua suka mempertimbangkan dan meluluskan permintaanku.”
266
Mendengar ini, Ceng Seng Hwesio bangkit berdiri dan tertawa bergelak. „Lucu, lucu……! Kau anggap begitu mudah meminjam I-kin-keng? Ha, ha, nona, tidak sembarang manusia di kolong langit ini dapat mempelajari Tat-Mo I-kin-keng, apalagi dalam waktu singkat. Ini masih belum penting, yang terutama sekali, siapapun juga di dunia ini tidak dibolehkan menjamah kitab suci itu tanpa perkenan dari suhu, ketua Siauw-lim-si. Apalagi kau datang dengan maksud hendak mencuri kitab itu. Ah, ini sebuah kedosaan besar sekali, nona. Kalau Hek Moli yang datang kesini melakukan perbuatan ini, pinceng masih dapat memakluminya, akan tetapi kau…… benar-benar kebetulan dan aneh sekali……”
In Hong tidak mengerti apa maksud kata-kata terakhir itu, akan tetapi ia sudah tidak sabar lagi dan berkata keras sambil menggerak-gerakkan pedangnya:
„Losuhu, bagaimana keputusanmu, boleh atau tidak?”
„Nona, kau bilang tidak bermaksud buruk, akan tetapi kau telah melukai tiga orang murid Siauw-lim-si dengan toat-beng-hek-kong.”
„Aku tidak sengaja, aku terpaksa karena didesak dan untuk menyelamatkan diri. Aku menyesal sekali dan inilah obat penawar untuk mereka!” kata In Hong sambil merogoh sakunya.
„Tak perlu, nona. Orang lain boleh menakuti toat-beng-hek-kong, akan tetapi Siauw-lim-si tidak. Kami ada obat penawar sendiri untuk senjata rahasiamu yang ganas itu.
267
Dan tentang peminjaman kitab suci itu, tentu saja tidak mungkin!”
„Pinjam kitab tidak boleh dan sekarang akupun tidak boleh keluar? Begitukah kebijaksanaan Siauw-lim-si?” In Hong sudah siap sedia untuk mengamuk.
„Tentang hal kedua, kau sudah melakukan dosa besar, sudah melakukan pelanggaran dan oleh karena itu, kau harus ditangkap dan dihadapkan ketua Siauw-lim-si. Hanya suhu yang berhak memberi keputusan. Oleh karena itu, harap kau suka menyerah.”
„Orang tua, kau sama saja dengan yang lain! Aku harus menyerah? Terimalah ini!” Tangan kiri In Hong bergerak dan sinar hitam menyambar ke arah Ceng Seng Hwesio!
Hwesio ini mengebutkan ujung lengan bajunya dan semua pasir hitam yang menyerangnya runtuh. Sebelum In Hong sempat melompat keluar, hwesio ini sudah menyambar dengan toyanya, menyerampang kaki gadis itu. In Hong cepat melompat ke atas dan membalas serangan lawan dengan tusukan pedangnya. Tak lama kemudian keduanya sudah bertanding dengan hebatnya.
In Hong maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan berat, maka ia tidak berlaku sungkan lagi. Pedangnya bergerak cepat sekali sehingga berubah menjadi segulung sinar yang berkilauan, menyambar-nyambar dan berbahaya sekali. Ia mengerahkan seluruh kepandaiannya dan kini terlihatlah ilmu pedang yang ia
268
warisi dari Hek Moli, ilmu pedang yang amat aneh gerakannya dan amat ganas sifatnya.
Menghadapi ilmu pedang ini, diam-diam Ceng Seng Hwesio kagum sekali. Tidak heran banyak orang roboh karena ilmu pedang yang hebat ini dari Hek Moli, pikirnya. Ia sudah memiliki banyak sekali pengalaman dan sebagai murid kepala dari Bu Kek Tianglo, tentu saja hwesio ini memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi, belum pernah ia bertemu dengan lawan yang memiliki ilmu pedang sehebat ini, maka ia menjadi kewalahan juga menghadapinya.
Baiknya, dalam hal tenaga lweekang, In Hong masih kalah jauh sekali sehingga tiap kali toya membentur pedang, gadis itu merasa telapak tangannya seperti dibeset kulitnya, perih dan sakit bukan main. Maka ia selalu menghindari bentrokan senjata dan inilah kelemahannya sehingga ia tidak dapat mendesak lawannya. Sebaliknya, sambaran toya di tangan Ceng Seng Hwesio mengeluarkan angin yang amat kuat.
In Hong maklum bahwa kalau dilanjutkan, ia akhirnya akan kalah juga, maka lagi-lagi tangan kirinya bergerak dan dari jarak dekat sekali, pasir hitamnya menyambar ke arah muka Ceng Seng Hwesio.
„Ganas sekali……!” seru hwesio ini yang terpaksa melompat ke belakang sambil mengibas dengan lengan bajunya agar terlepas daripada serangan maut ini. Ketika ia melihat lagi, nona itu sudah lari memasuki ruangan di sebelah kiri.
269
Ceng Seng Hwesio tidak mengejar, bahkan tertawa:
„Ha, ha, nona yang ganas. Kau memasuki Ngo-heng-thia (Ruangan Ngo-heng), biarlah kau mencoba kepandaianmu dengan tempat ujian Siauw-lim-pay yang paling sulit!” Setelah berkata demikian, hwesio ini berdongak ke atas dan berkata keras:
„Sute, kau jagalah dimulut Ngo-heng-thia dan cegat dia kalau keluar!”
Ong Teng San memang sejak tadi berdiri di atas genteng menonton pertempuran. Ia tadi mendengar semua kata-kata yang diucapkan oleh In Hong dan wajahnya berubah pucat. Nona itu bernama Kwee In Hong, pikirnya, tidak salah lagi, dia itulah anak perempuan dari ibu tirinya yang dikabarkan lenyap! Pikiran Teng San menjadi tidak karuan sehingga ia kurang hati-hati dan kakinya yang menginjak genteng menerbitkan suara, maka Ceng Seng Hwesio mengetahui kehadirannya. Mendengar suara suhengnya, ia menjawab:
„Baik, suheng……” Cepat ia melompat turun dan berlari untuk menjaga di pintu keluar ruangan Ngo-heng-thia itu. Dadanya masih berdebar-debar. Apakah yang harus ia lakukan terhadap gadis itu?
Teringatlah ia kepada ibu tirinya dan teringat pula ia akan penuturan ibu tirinya bahwa adik tirinya yang bernama In Hong ini lenyap ketika terjadi keributan, ketika terjadi pembunuhan atas diri suami ibu tirinya itu oleh……
270
ayahnya! Jadi, gadis ini adalah kurban daripada ayahnya juga!
Iapun mendengar kata-kata In Hong tadi bahwa guru In Hong yang bernama Hek Moli telah terbunuh dan kini gadis ini datang untuk mencuri kitab I-kin-keng, untuk memperdalam ilmu silat dan kelak membalas dendam atas kematian gurunya itu. Hal ini dapat ia maklumi. Bukankah semenjak kecil gadis ini kehilangan ayah bundanya dan menganggap gurunya sebagai pengganti orang tua? Sekarang gurunya terbunuh orang, tidak terlalu mengherankan apabila gadis itu mengerahkan seluruh usaha untuk membalas dendam.
Demikianlah, dengan hati tidak karuan rasa, Teng San dengan pedang di tangan menjaga di pintu keluar Ngo-heng-thia, dan diam-diam ia berkhawatir sekali akan keselamatan In Hong! Ia tahu bahwa Ngo-heng-thia adalah ruangan untuk menguji para murid tingkat tinggi, dan merupakan tempat yang amat berbahaya. Dia sendiri baru beberapa bulan yang lalu diuji di dalam Ngo-heng-thia, dan biarpun ia dapat keluar dengan selamat, namun ia masih terluka pundaknya.
Bagaimana dengan keadaan In Hong? Gadis yang pemberani ini memasuki ruangan Ngo-heng-thia tanpa curiga sedikitpun. Ia tidak tahu bahwa tempat itu adalah tempat untuk menguji kepandaian murid yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya, maka ia berjalan terus dengan cepat. Namun ia tetap waspada, karena ia menduga, di ruangan inipun ia tentu akan menemui lawan.
271
Ia melihat ruangan itu hanya memiliki sebuah lorong yang lebarnya kurang lebih sepuluh kaki dan agak gelap. Tanpa curiga ia masuk ke dalam lorong ini. Alangkah kagetnya ketika ia masuk baru beberapa langkah, ia mendengar suara keras di belakangnya dan pintu lorong itu tertutup dari atas, tertutup oleh lapisan besi! Keadaan menjadi remang-remang dan tidak ada jalan kembali lagi.
„Tempat apa ini?” tanyanya seorang diri sambil berdiri diam. Ia harus membiasakan pandangan matanya di dalam tempat yang setengah gelap ini, kemudian dengan berani ia melangkah maju perlahan-lahan.
Baru kurang-lebih lima langkah ia maju, tiba-tiba dari kiri terasa sambaran angin ke arah kepalanya. Cepat In Hong mengelak dengan menggerakkan kepala ke belakang sambil membabat dengan pedangnya. Terdengar suara keras dan pedangnya bertemu dengan sebuah lengan yang terbuat dari pada baja! Lengan inilah kiranya yang tadi memukulnya secara tiba-tiba, keluar dari dinding!
„Ah, kiranya tempat rahasia!” pikirnya setelah melihat lengan itu lenyap kembali. „Aku harus hati-hati sekali……”
Kembali ia melangkah maju. Tiba-tiba dari atas meluncur besi yang beratnya ratusan kati. Kalau orang tertimpa besi ini, pasti kepalanya akan hancur. In Hong mengelak cepat ke kiri, akan tetapi kembali dari kiri keluar bayangan yang menubruknya! Pada saat itu, besi yang tadi menimpa, telah tertarik dan naik kembali, karena besi itu ternyata tergantung pada sehelai tali baja yang kuat.
272
Karena serangan bayangan yang menubruknya itu amat tidak terduga dan cepat, In Hong terpaksa mempergunakan gerakan Trenggiling-menggelundung-dari-bukit untuk mengelak. Ia menjatuhkan diri di atas lantai dan menggelinding sambil tidak lupa membabat dengan pedangnya ke arah bayangan yang menyerangnya tadi.
Ternyata bahwa bayangan itu adalah sebuah orang-orangan dari besi pula, yang digerakkan dengan alat dan keluar sendiri dari dinding kiri. Setelah tidak berhasil menubruk mangsanya, orang-orangan ini bergerak sendiri mundur dan masuk ke dalam dinding.
In Hong melompat berdiri dan duduk beberapa lama ia termenung. Benar-benar berbahaya, pikirnya. Tempat agak gelap dan semua serangan terjadi tiba-tiba, tidak dapat diduga dari¬mana akan muncul orang-orangan itu. Dengan pedangpun tidak berguna menghalau bahaya, karena orang-orangan dari baja ini tidak terluka oleh pedang.
Ia lalu berpikir. Gerakan orang-orangan dan juga lengan yang menyerangnya tadi adalah gerakan ilmu silat, bukan penyerangan biasa. Untuk menghadapi serangan-serangan itu bahkan lebih baik kalau ia bertangan kosong, agar ia dapat mempergunakan kegesitannya untuk mengelak.
Dengan pikiran ini, In Hong lalu menyimpan pedangnya, kemudian ia melangkah maju dengan hati tabah, matanya tajam memandang ke depan dan seluruh urat syarafnya
273
menegang, waspada menghadapi segala kemungkinan. Tidak ada jalan lain baginya, harus maju terus karena jalan belakang sudah tertutup.
Ia melangkah maju lagi dan melihat bahwa lorong itu membelok ke kiri. Baru saja ia tiba di tikungan itu, tiba-tiba ia tnelihat sebuah orang-orangan tinggi besar yang terus saja menyerangnya dari depan. Serangan dengan jurus-jurus ilmu silat yang datangnya bertubi-tubi! Mula-mula orang-orangan ini menjotos ke arah lehernya, lalu tiba-tiba merendahkan diri dan menendang.
In Hong mempergunakan kegesitannya. Ia mengelak ke kanan dan miringkan tubuh sambil menyampok dengan telapak tangannya ketika kaki orang-orangan ini menyambar. Akan tetapi, orang-orangan ini tidak berhenti sampai disitu saja. Seperti bernyawa, orang-orangan ini terus melakukan serangan dan tiga jurus terus-menerus!
In Hong menjadi marah. Ketika orang-orangan itu menggunakan lengan besi untuk mencengkeram kepalanya, ia mengelak ke kiri dengan cepat sekali dan menggunakan telapak tangannya untuk mendorong dada patung itu. Akan tetapi, ternyata bahwa orang-orangan itu tidak dapat didorong jatuh. bahkan sebaliknya kini kedua tangan orang-orangan itu memeluknya dengan gerakan tangan dari kanan kiri, cepat bukan main! In Hong hampir mengeluarkan teriakan terkejut, namun gadis ini memang memiliki kegesitan luar biasa, maka ia cepat merosot atau merendahkan diri, hampir berjongkok untuk menghindarkan diri dari pelukan, kemudian dari bawah ia mendorongkan kedua tangannya ke arah tubuh orang-
274
orangan itu sekuat tenaga. Kali ini ia berhasil karena orang-orangan itu terjengkang dan roboh mengeluarkan suara hiruk-pikuk!
Bagaikan seekor burung, In Hong melompati patung itn dan baru saja kakinya menginjak lantai, dari kanan kiri, yakni keluar dari dinding kanan kiri, meluncur pedang tajam yang menusuknya dari kanan kiri. In Hong tidak mau mundur, bahkan ia maju selangkah dan mendengar desir angin dari kanan kiri, ia cepat membalikkan tubuhnya untuk menghadapi dua orang-orangan yang memegang pedang!
„Setan!” makinya. „Kalian kira aku takut?”
Sambil berkata demikian, ia cepat mengelak dari sambaran pedang yang dilakukan oleh orang-orangan sebelah kiri. Pedang ini menyambar ke arah lehernya dan gerakan orang-orangan ini memang gerakan serangan ilmu silat pedang yang lihay. Dilain saat, In Hong sudah harus menghadapi serangan bertubi-tubi dari dua orang-orangan itu. Baiknya gin-kang dari gadis ini sudah tinggi. Sekali mengenjot tubuhnya, ia telah melompat naik dan dengan sebelah kakinya, ia berdiri di atas kepala orang-orangan yang di kiri!
Dengan hati geli gadis ini melihat betapa dua orang-orangan itu terus saja bergerak-gerak menyerang dengan pedang, kemudian setelah habis jurus-jurus itu dimainkan, dua orang-orangan itu tiba-tiba bergerak kembali ke dinding di kanan kiri! In Hong cepat melompat turun dan melanjutkan perjalanannya.
275
Hatinya mulai gembira, karena di tempat yang aneh ini ia mendapat kesempatan untuk menguji kepandaiannya, sungguhpun ujian seperti ini bukannya tidak berbahaya! Serangan dari alat-alat rahasia itu merupakan serangan sungguh-sungguh dan ia terlengah berarti ia akan tewas di tempat setengah gelap ini!
In Hong maklum bahwa ilmu silat yang digerakkan dengan perantaraan orang-orangan itu adalah ilmu silat Siauw-lim-si yang amat lihay dan setiap pukulan orang-orangan besi itu tentu saja amat kuat. Baiknya, dari Hek Moli ia pernah mendapat tahu biarpun serba sedikit tentang ilmu-ilmu silat tinggi dari partai-partai persilatan besar, dan pula, nona ini sudah memiliki ginkang yang hampir sempurna, maka mengandalkan ginkangnya, ia tidak merasa gelisah. Ia maju terus dan sebentar saja berturut-turut ia harus menghadapi keroyokan orang-orangan yang berjumlah tiga orang, kemudian empat buah orang-orangan.
Dengan amat susah payah, akhirnya berhasil juga nona ini melewati rintangan-rintangan ini, ia merasa lelah sekali dan juga agak pening karena apa yang ia alami benar-benar amat berbahaya. Ketika ia melewati empat orang-orangan yang mengeroyoknya tanpa terluka, tiba-tiba ketika ia melangkah ke depan, kakinya terjeblos lubang!
Kalau bukan In Hong, tentu akan terjeblos terus ke bawah. Baiknya nona ini memang amat gesit. Dengan sebelah kaki terjeblos lubang sehingga tubuhnya sudah ma¬suk sebagian, tangannya dapat menepuk lantai di
276
pinggir lubang dan sambil mengerahkan ginkangnya, ia dapat melompat tinggi melewati lubang itu!
In Hong berdiri dengan muka pucat dan keringat dingin membasahi lehernya. Ia menghapus keringat itu dengan saputangan, menenteramkan hatinya sambil beristirahat, kemudian ia maju lagi. Dari jauh ia sudah melihat pintu lorong itu terbuka lebar, maka hatinya menjadi girang sekali.
Akan tetapi, sebelum tiba dipintu itu, ia melewati sebuah ruangan yang berbentuk bundar dan lebih luas daripada lorong yang dilaluinya tadi. Dan di ruangan itu, berdiri lima buah orang-orangan sebesar manusia, kesemuanya orang-orangan seperti hwesio yang memegang toya! Ia melihat bahwa pada dada setiap orang-orangan terdapat tulisan huruf besar. Yang pertama dadanya ada tulisan KIM (emas), kedua BOK (kaju), ketiga SUI (air), keempat HO (api) dan kelima TOUW (logam tanah). Inilah Ngo-heng-tin (Barisan Ngo-heng) yang merupakan inti daripada lorong Ngo-heng-thia itu. Di ruang Ngo-heng-thia inilah barisan Ngo-heng-tin telah menanti untuk melakukan ujian terakhir, ujian yang paling berat.
Lima orang-orangan itu digerakkan oleh alat-alat rahasia yang amat luar biasa sehingga gerakan mereka teratur seperti gerakan lima orang ahli silat Ngo-heng-kun dari Siauw-lim-si! Disini pula hanyak anak-anak murid Siauw-lim-pay yang pandai gagal dalam ujian, bahkan belum lama ini Ong Teng San yang kepandaiannya sudah tinggi, masih mendapat luka di pundaknya ketika ia berusaha melewati rintangan terakhir ini.
277
Namun In Hong tidak tahu akan lihaynya lima orang-orangan ini. Bahkan ia tertawa mengejek.
„Dilihat dari jauh, benar-benar seperti hwesio-hwesio tulen! Benar-benar Siauw-lim-si pandai menakut-nakuti orang!” Ia berjalan masuk ke dalam ruangan itu dengan waspada. Baru saja kedua kakinya menginjak lantai, otomatis lima orang-orangan itu mulai bergerak. Mereka bergerak dan sebentar saja mereka itu mengurung In Hong. Ketika gadis ini memindahkan kakinya, otomatis lima orang-orangan itu mulai menyerang!
Orang-orangan itu diperlengkapi dengan alat-alat dari per dan kawat-kawat halus dan di lantai itulah pusat pergerakan mereka. Setiap kali lantai terinjak, pasti mengakibatkan gerakan mereka yang berubah-ubah, tergantung dimana orang yang dikeroyok bertindak!
Rintangan terakhir ini memang berat. Setiap gerakan orang-orangan itu adalah penyerangan senjata toya yang sesuai dengan ilmu silat Ngo-heng-kun yang luar biasa. Biarpun orang-orangan tidak mengenal ilmu lweekang, namun gerakan me¬reka amat kuat, sedikitnya setiap sambaran toya itu mengan¬dung tenaga tigaratus kati! Lima batang toya menyambar-nyambar dan menyerang In Hong dari segala jurusan, dan gadis ini sebentar saja menjadi terdesak hebat dan kewalahan. Akhirnya ia menjadi nekat dan marah. Dicabutnya pedang Liong-gan-kiam dan diputarnya untuk melindungi dirinya.
Berbeda dengan rintangan-rintangan yang tadi, orang-orangan yang menye-rangnya selalu akan mengundurkan
278
diri sendiri setelah pe¬nyerangan habis. Akan tetapi, barisan Ngo-heng ini tidak de¬mikian. Selama orang yang dikepung mereka masih berada di ruangan itu, lima orang-orangan ini masih akan menyerang terus, karena seperti telah dituturkan tadi, pergerakan mereka ber-pusat pada per-per di bawah lantai sehingga kalau ada orang menginjak lantai, per-per bekerja dan otomatis orang-orangan itupun bergerak menyerang dengan ilmu toya Ngo-heng-kun dari jurus-jurus yang paling lihay.
In Hong tidak melihat jalan keluar. Beberapakali ia mencoba untuk menerobos kepungan itu dan melarikan diri, namun sia-sia. Datangnya toya-toya itu amat cepat dan amat berbahaya sehingga lagi-lagi usahanya menerobos gagal karena ia harus menyelamatkan diri dari sambaran toya. Pedangnya mengeluarkan bunyi „trang-tring-trang!” berkali-kali ketika bertemu dengan toya-toya yang mendesaknya. Tubuhnya lincah bergerak kesana kemari, karena tak mungkin baginya untuk menghindarkan diri dengan jalan menangkis saja.
Kulit telapak tangannya sampai lecet-lecet dan napasnya mulai memburu. Keringat memenuhi jidatnya dan In Hong merasa lelah bukan-main. Ia telah maklum bahwa takkan dapat mempertahankan lebih lama. Akan tetapi sama sekali ia tidak takut, bahkan merasa penasaran dan marah sekali. Beberapa kali ia menyebar pasir hitamnya ke arah lima orang-orangan itu seakan-akan ia menghadapi lawan terdiri dari manusia-manusia biasa. Orang-orangan itu tentu saja tidak merasakan sesuatu dan melanjutkan penyerangan mereka.
279
Beberapa kali In Hong mem¬bacok dan mengenai tubuh orang-orangan, namun hanya bunga api yang berpijar. Ia mencoba untuk menendang, mendorong, tetap sia-sia. Lima boneka besar ini benar-benar kuat sekali.
Limapuluh jurus lebih In Hong mempertahankan diri. Ia demikian sibuk menghadapi keroyokan lima orang-orangan ini sehingga ia tidak merasa bahwa sejak tadi ada sepasang mata mengintai dari luar pintu ruangan itu dengan pandang mata kagum. Pengintai ini adalah Teng San. Pemuda ini memang benar-benar kagum bukan main melihat cara In Hong menghadapi barisan Ngo-heng. Hebat, pikirnya.
Gadis itu belum pernah mengenal Ngo-heng-tin, dan belum pernah mempelajari Ngo-heng-kun sehingga tentu saja tidak dapat menduga datangnya serangan-serangan toya itu. Namun, bukan saja dapat mempertahankan diri selama limapuluh jurus dengan baiknya tanpa terluka sedikitpun, bahkan masih dapat menendang, memukul dan mendorong patung-patung hidup itu!
„Sayang lweekangnya kurang kuat,” pikir Teng San. „Kalau ia berhasil mencuri kitab I-kin-keng dan mempelajarinya, ia akan menjadi lihay sekali dan biarpun suhu sendiri agaknya akan sukar menghadapinya.”
Semenjak tadi Teng San memang menunggu di luar pintu. termenung dan memikirkan keadaan gadis yang dikejar-kejar, gadis yang sebetulnya masih adik tirinya sendiri. Ia makin berduka kalau mengingat kembali kepada ibu tirinya yang amat disayangnya seperti ibu
280
sendiri. Timbul rasa kasihan di dalam hatinya terhadap In Hong, terhadap adik tirinya. Kalau sampai adik tirinya ini mengalami malapetaka disini, bukankah ibu tirinya akan berduka sekali?
Kemudian ia mendengar suara pedang beradu dengan toya-toya itu, maka cepat ia mengintai ke dalam dan dapat menyaksikan kelincahan In Hong. Ia menjadi kagum dan makin sayang, tidak tega membiarkan In Hong mengalami kebinasaan disitu. Setelah melihat betapa keadaan gadis itu mulai payah dan kelelahan, Teng San cepat melompat ke dalam ruangan Ngo-heng-thia itu. Ia lari kedinding sebelah kiri, menekan beberapa kenop dan lima orang-orangan itu tiba-tiba terdiam, tidak dapat bergerak lagi!
In Hong cepat memutar tubuh menghadapi Teng San. Pedangnya siap menyerang karena ia mengira bahwa pemuda yang tadi dilihatnya membaca kitab ini akan menangkapnya. Akan tetapi, ia melihat pemuda itu tidak memegang senjata, bahkan kini ia tahu bahwa pemuda inilah yang menghentikan pengeroyokan orang-orangan itu.
„Nona, kalau kau ingin keluar dengan selamat, lekas kau lari keluar dari ruangan ini, membelok ke kanan, terus saja sampai kau tiba di pagar tembok dan melompati pagar itu. Aku akan mengejarmu dari belakang dan kau jangan melayani semua rintangan.
4.1. Pengejaran Hwesio Siauw-lim-pay
281
In Hong tertegun. Ia tidak tahu mengapa pemuda yang tampan dan halus sekali gerak geriknya ini berusaha menolongnya, sedangkan tadi menyerangnya dengan sungguh-sungguh! Ia juga masih belum percaya betul-betul, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, tidak ada jalan lain kecuali menurut nasihat ini. Ia hanya menganggukkan kepala dan segera melompat keluar.
Betul saja, di depan pintu ruangan Ngo-heng-thia ini terdapat tiga jalan simpangan, satu lurus ke depan, kedua membelok ke kiri dan ketiga membelok ke kanan. Ia mengambil jalan ketiga ini, menikung ke kanan dan terus berlari cepat, pedangnya masih siap di tangan dan pasir hitam di tangan kiri.
Ketika In Hong menengok, ia melihat pemuda tadi benar-benar mengejarnya dengan ilmu lari cepat yang tinggi pula. Dan kini pemuda itu telah memegang sebatang pedang!
„Kau hendak lari kemana?” pemuda itu membentak sambil mengejar terus.
Dari depan mendatangi tiga orang hwesio gundul yang bertugas menjaga disitu. Mereka ini memegang toya dan melihat kedatangan In Hong, mereka langsung menyerang dengan gerakan kilat. In Hong mengelak sambil memutar pedang, terdengar suara „cring, traang!” dan ujung sebatang toya kena dibikin buntung!
Namun, taat akan nasihat pemuda tadi, In Hong tidak melayani terus dan cepat melompat tinggi dan
282
melanjutkan larinya lurus ke depan. Ia tidak menengok lagi dan hanya mendengar suara pemuda tadi berkata keras:
„Sam-wi takusah mengejar, biarkan siauwte yang menangkapnya!”
In Hong berlari terus dan sekali lagi ia menengok, ia melihat pemuda itu masih terus mengejarnya dengan pedang di tangan! Ia tidak mengerti akan sikap pemuda ini. Mengapa ia hendak menolongnya, pikir In Hong. Akan tetapi pada saat seperti ini, tidak ada waktu lagi baginya untuk menyelidiki hal itu. Ia sudah amat lelah, kedua kakinya sudah mulai gemetar dan kedua tangannya lemas. Juga kedua telapak tangannya lecet-lecet mengeluarkan darah.
Malam sudah lewat dan pagi mulai menampakkan diri. Setengah malam lamanya In Hong berputaran di dalam kurungan Siauw-lim-si ini! Setengah malam lamanya ia bertemu dengan lawan berganti-ganti, melakukan pertempuran puluhan kali banyaknya.
Kembali lima orang hwesio mencegat di depan. In Hong mengeluh. Celaka aku sekarang, pikirnya. Lima orang hwesio itu adalah hwesio-hwesio tua dan mereka semua memegang sebatang toya dengan cara seperti yang dilakukan oleh lima orang-orangan tadi! Baru menghadapi keroyokan lima orang-orangan saja, ia sudah hampir celaka, apalagi sekarang kalau harus menghadapi keroyokan lima orang hwesio tulen sedangkan
283
keadaannya sudah amat lelah, sudah dapat dibayangkan akibatnya!
Lima orang hwesio itu menghadang dan melihat nona yang dikejar-kejar itu datang, seorang di antaranya berkata dengan bengis:
„Jangan harap bisa lari sebelum menghadapi Ngo-heng-tin dari Siauw-lim-si!”
In Hong terkejut. Apa yang ia takuti memang benar-benar. Lima orang hwesio tua ini tentu sama dengan lima orang-orangan tadi. Ia masih ingat huruf-huruf yang merupakan Ngo-heng pada dada orang-orangan tadi. Kalau Ngo-heng-tin (barisan Ngo-heng) boneka saja sudah demikian lihaynya, apalagi sekarang Ngo-heng-tin tulen.
Namun In Hong tak dapat memikirkan jalan lain. Diam-diam ia mendongkol sekali dan merasa ditipu oleh pemuda itu. Sudah terang bahwa pemuda itu sengaja menggiringnya supaya menghadapi Ngo-heng-tin yang tangguh ini. Jadi pemuda itu tak lain hanya memancingnya, agar ia mudah ditawan dengan bantuan Ngo-heng-tin. Kurangajar!
In Hong marah sekali dan ia sudah siap hendak mempergunakan toat-beng-hek-kong, pasir-hitamnya. Akan tetapi, tiba-tiba ia mendengar suara halus dari belakang, suara yang dibisikkan dengan penyaluran tenaga khikang sehingga yang dapat mendengar hanya dia sendiri, tidak sampai terdengar oleh lima orang hwesio yang berada jauh di depan itu:
284
„Nona, jangan menggunakan hek-kong!”
Selagi In Hong termangu-mangu dan ragu-ragu, terdengar pemuda itu berkata dengan lantang:
„Ngo-wi suheng, harap membuka jalan, biarkan siauwte menangkapnya sendiri. Ini merupakan ujian bagi siauwte dan demikian pula perintah twa-suheng!”
Lima orang hwesio itu ketika mendengar suara Teng San, tidak ragu-ragu lagi. Mereka semua maklum bahwa ilmu kepandaian Teng San, sute mereka yang termuda ini, sudah amat tinggi, bahkan akhir-akhir ini, Teng San mendapat kepercayaan untuk menerima ilmusakti I-kin-keng! Maka mereka tersenyum dan melompat minggir sehingga ketika In Hong yang berlari cepat menerobos masuk, mereka tidak mengganggu. Bayangan In Hong berkelebat cepat di depan mata mereka, disusul oleh bayangan Teng San yang tak kalah cepatnya.
„Siauw-sute, hati-hatilah, dia lihay dan ganas sekali!” kata seorang hwesio kepada Teng San.
„Baik, suheng…..”
Kejar mengejar ini berjalan terus dan tanpa ada perintang lagi, In Hong akhirnya tiba di bawah pagar tembok. Gadis ini telah berdebar hatinya, ia merasa malu kepada diri sendiri yang tadi menyangsikan kebaikan hati pemuda ini. Ah, siapakah dia dan mengapa ia benar-benar berusaha menolongku? Terang dia seorang murid Siauw-lim yang
285
lihay, mengapa ia tidak menawanku, bahkan menolongku melarikan diri?
Namun In Hong terus saja melompat ke atas tembok. Tiba-tiba ia melihat seorang gadis cilik nongkrong di atas pagar tembok itu dan memujinya: „Cici, kau lihay sekali ilmu ginkangmu, juga kau cantik sekali seperti bidadari!”
In Hong tercengang. Bagaimana seorang gadis cilik semuda ini dapat naik ke atas pagar tembok?
Biarpun In Hong amat tertarik melihat seorang gadis cilik yang duduk di atas pagar tembok, namun ia tidak berani berlaku lambat. Yang amat menarik hatinya adalah wajah gadis yang cantik itu seakan-akan ia pernah mengenal-nya, bahkan seakan-akan gadis itu seringkali dilihatnya.
Akan tetapi dimana? Ia hanya tersenyum manis kepada gadis yang usianya paling banyak empatbelas tahun itu, lalu melompat turun keluar pagar tembok sambil berkata:
„Adik yang manis, hati-hati jangan sampai kau jatuh dari atas!”
In Hong masih mendengar pemuda yang bernama Ong Teng San dan yang secara aneh sekali telah menolongnya melarikan diri itu berkata kepada gadis cilik di atas tembok:
„Lian Hong, turun kau!”
286
„Koko, orang lain semalam suntuk bermain-main dengan cici yang gagah itu, apakah aku tidak boleh menonton?” jawab gadis cilik itu, akan tetapi selanjutnya In Hong tidak mendengar apa-apa karena ia sudah lari jauh.
Sementara itu Teng San dan Lian Hong yang sudah berdiri di atas pagar tembok, tidak melanjutkan pengejaran. Teng San menarik napas lega karena melihat In Hong berhasil melarikan diri.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan:
„Siauw-sute, bagaimana kau berani melepaskan pengacau itu? Apakah kau tidak takut mendapat marah dari suhu?”
Lima bayangan orang berkelebat dan lima orang hwesio yang tadi membentuk Ngo-heng-tin telah berdiri di atas tembok menghadapi Teng San! Gerakan mereka demikian cepat dan ringan ketika melompat ke atas sehingga dari gerakan ini saja sudah dapat diukur akan tingginya tingkat kepandaian mereka.
Teng San tidak berani membohong. Sambil menundukkan kepalanya ia menjawab:
„Suheng sekalian, nona itu sudah cukup terhukum, semalam suntuk telah diserang, didesak, bahkan telah pula berkenalan dengan Ngo-heng-thia sehingga ia kehabisan tenaga dan mungkin menderita luka-luka. Biarpun ia telah melakukan dosa dengan mengacau dan akan melakukan pencurian, akan tetapi belum ada
287
sesuatu yang tercuri. Siauwte menganggap bahwa ia sudah cukup terhukum. Untuk ini siauwte mengaku salah dan bersedia diberi hukuman.”
„Sute, bukan kau dan juga bukan pinceng sekalian yang berhak memutuskan hukuman, melainkan suhu sendiri. Lebih baik kau membantu kami mengejarnya.”
Pada saat itu, berkelebat bayangan lain yang luar biasa cepatnya, disusul suara Ceng Seng Hwesio:
„Suhu memberi perintah agar supaya bocah pengacau itu ditangkap dan dihadapkan kepada suhu untuk diperiksa!”
Tanpa berhenti di atas tembok, tubuh Ceng Seng Hwesio sudah melesat lewat. Lima orang hwesio itupun tanpa berkata apa-apa lagi cepat mengejar twa-suheng (kakak seperguruan tertua) mereka.
Teng San menjadi serba salah, akan tetapi karena pengejaran sekarang ini adalah atas perintah suhunya, iapun tidak berani tinggal diam.
„Adik Lian Hong, kau kembalilah ke kamarmu.”
„Tidak, aku ikut mengejar!” seru gadis cilik itu yang mendahului kakaknya melompat keluar tembok dan menyusul para hwesio yang sudah berlari cepat. Dalam hal ilmu, ginkang, Lian Hong tidak ketinggalan jauh. Memang gadis cilik ini memiliki gerakan lincah sekali, maka setelah dengan tekun mempelajari ilmu silat di
288
Siauw-lim-si selama kurang lebih tujuh tahun, ia dapat mempergunakan ilmu lari cepat yang cukup hebat.
Lian Hong berwatak periang dan biasanya penurut, akan tetapi sekali gadis cilik ini mempunyai kehendak, sukar dihalangi. Teng San mengetahui baik akan watak adiknya itu, maka ia tidak mencegah ketika Lian Hong ikut melakukan pengejaran. Demikianlah, pada saat matahari mulai muncul, di luar kelenteng Siauw-lim-si, terjadi kejar mengejar yang tentu akan mengherankan orang luar.
In Hong sudah lelah sekali, maka larinya tidak begitu cepat lagi. Selain ini, ia juga tadinya mengira bahwa ia sudah terlepas daripada ancaman orang-orang Siauw-lim-pay yang ternyata luar biasa lihaynya itu. Dengan jengkel dan kecewa ia berlari terus, tidak begitu cepat, memasuki sebuah hutan yang liar.
Akan tetapi, tengah ia berlari itu, terdengar bentakan nyaring dari belakang:
„Bocah setan, kau hendak lari kemana?”
In Hong menengok kagetlah ia. Lima orang hwesio yang dikenalnya sebagai barisan Ngo-heng-tin, dikepalai oleh hwesio tangguh yang pernah ia rasai kelihayannya dan keunggulannya bermain toya, yakni Ceng Seng Hwesio. Dan di belakang rombongan ini, ia melihat pula pemuda Ong Teng San dan adik perempuannya!
„Kalian mendengar? Baik, aku Kwee In Hong tidak takut mati!” katanya gemas sekali dan begitu rombongan itu
289
datang dekat, In Hong lalu menyerang mereka dengan Toat-beng-hek-kong, pasir hitam beracun yang amat lihay itu.
Akan tetapi, semua pasir hitam ini dapat dikibas runtuh oleh ujung lengan baju Ceng Seng Hwesio yang segera memberi komando:
„Tangkap bocah ganas ini!”
Ngo-heng-tin bergerak dan dilain saat, In Hong sudah dikurung di tengah-engah! Ngo-heng-tin sudah hebat, apalagi ditambah oleh Ceng Seng Hwesio, maka kini enam buah toya dipalangkan, mengurung dan menutup semua jalan keluar.
Teng San dan Lian Hong yang sudah tiba di tempat itu hanya berdiri menonton. Lian Hong biarpun belum tahu bahwa In Hong adalah kakak tirinya, namun bocah ini merasa suka sekali kepada In Hong dan karenanya ia tidak mau membantu pengepungan itu.
„Kalian hendak menangkapku? Boleh, kalau aku sudah menjadi mayat!” bentak In Hong yang cepat mengerjakan Liong-gan-kiam, menyerang membabi-buta.
Akan tetapi kali ini ia menghadapi lawan yang terlampau kuat. Baru menghadapi seorang Ceng Seng Hwesio saja, belum tentu ia menang. Kini masih ada Ngo-heng-tin yang demikian kuatnya, maka sebentar saja ia sudah lelah sekali.
290
Semua serangan pedangnya membentur toya yang amat kuat. Lweekang dari enam orang hwesio itu rata-rata lebih tinggi dari pada tenaganya sendiri, maka sebentar saja tangan kanannya menjadi lelah bukan main. Gadis ini menggigit bibir dan memindahkan pedang di tangan kiri, lalu mengamuk lebih hebat lagi.
Berkali-kali Ceng Seng Hwesio memperingatkan lima orang sutenya agar jangan melukai In Hong dan agar menawan gadis itu tanpa melukainya. Hal inilah yang menolong In Hong, karena kalau tidak demikian, kiranya sebentar saja ia akan roboh terpukul toya. Menangkap In Hong hidup-hidup tanpa melukainya masih jauh lebih sukar daripada menangkap seekor harimau betina yang mengamuk ganas.
Malihat ini, Ceng Seng Hwesio menjadi penasaran dan malu. Benar-benar memalukan sekali kalau dilihat oleh orang-orang kangouw. Enam orang tokoh besar Siauw-lim-si masih tidak mampu membekuk seorang gadis muda setelah pertempuran demikian lama?
„Nona, lebih baik kau menyerah untuk kami hadapkan kepada ketua Siauw-lim-pay agar kau dapat diadili. Kalau tidak, terpaksa pinceng melukai kakimu agar kau dapat ditawan!” katanya.
In Hong tertawa mengejek. „Hwesio bau! Kaukira aku gentar mendengar ancaman dan gertak sambalmu? Mau pu¬kul boleh pukul, mau bunuh boleh bunuh, siapa takut?”
291
„Bagus, kau memang tiada bedanya dengan Hek Moli, siluman wanita itu. Rebahlah!” Setelah berkata demikian Ceng Seng Hwesio merobah gerakan toyanya, demikian pula barisan Ngo-heng-tin. Sebentar saja keadaan berobah.
Kalau tadi In Hong yang selalu menyerang dan membentur benteng toya, kini semua toya menyerangnya dan ia sibuk menangkis dan mengelak. Akhirnya, toya Ceng Seng Hwesio mengenai paha kirinya!
In Hong menggigit bibir menahan keluhan, sehingga dari mulutnya tidak terdengar suara. Padahal rasa sakit di pahanya sampai menembus ke tulang sungsum. Biarpun ia dapat mempertahankan diri dan tulang pahanya tidak patah, namun urat dan daging pahanya telah terluka sehingga rasanya sakit bukan main.
Tadi Ceng Seng Hwesio masih menaruh hati kasihan sehingga pukulan itu dilakukan dengan tenaga sepertiga saja. Kalau hwesio ini berlaku kejam, pasti tulang paha gadis ini telah patah-patah.
Pada saat itu, In Hong masih bertahan, bahkan mengamuk dengan nekad. Tiba-tiba telinga gadis ini mendengar suara halus, seakan-akan ada orang berbisik didekat telinganya:
„Murid Hek Moli, kau larilah ke kiri dan masuk ke dalam gua yang terletak di dekat pohon pek!”
292
In Hong heran sekali, akan tetapi ia menurut nasihat ini. Dengan putaran pedangnya ke kiri secara hebat dan ganas, ia dapat membuat para pengepung yang berada di sebelah kiri melompat minggir. Cepat ia menerobos bagian ini sambil memutar pedang dan tangan kirinya menyebar toat-beng-hek-kong, kemudian sambil menyeret kaki kirinya, ia terpincang-pincang melarikan diri ke sebelah kiri.
Ceng Seng Hwesio diam-diam merasa kagum sekali melihat daya tahan yang luar biasa dari gadis itu. Orang lain, biar laki-laki gagah sekalipun, kalau sudah terluka seperti itu, pasti akan menyerah. Apalagi menyerah bukan untuk dibunuh musuh, hanya untuk diadili oleh ketua Siauw-lim-pay yang terkenal adil dan penuh welas asih hatinya. Mengapa gadis ini begitu keras-kepala?
„Nona, laripun takkan ada gunanya. Lebih baik kau menyerah!” katanya sambil mengejar bersama lima orang sutenya.
Teng San juga ikut mengejar. Maka pemuda ini pucat sekali dan di dalam hatinya ia mengeluh. Ia merasa kasihan sekali kepada gadis yang dikaguminya. Ingin ia membantu dan menolong, akan tetapi tentu saja ia tidak berani menghianati suheng-suhengnya. Juga Lian Hong diam saja dan gadis cilik inipun merasa kasihan kepada In Hong.
„Koko, mengapa cici itu begitu nekat? Kalau ia menurut saja dengan baik-baik dibawa menghadap suhu, tentu ia tidak mengalami luka dan dikejar-kejar.”
293
„Diamlah, Lian Hong. Mari kita lihat saja bagaimana akhirnya. Kalau nona itu hendak dibunuh oleh para suheng kita harus mencegah dan mintakan ampun.”
Lian Hong menoleh dan memandang wajah kakaknya yang pucat. Ia tidak tahu mengapa kakaknya begitu menaruh perhatian kepada gadis yang dimusuhi oleh Siauw-lim-pay itu, akan tetapi ia sendiripun takkan rela kalau suheng-suhengnya membunuh gadis itu.
In Hong berlari sambil terpincang-pincang. Tak jauh dari situ memang terdapat pohon pek yang besar. Ketika tiba dibawah pohon, ia sudah hampir tidak kuat menahan rasa sakit di pahanya. Kepalanya sudah pening dan tenaganya sudah hampir habis. Alangkah girangnya ketika ia melihat bahwa betul saja, tak jauh dari pohon itu, terdapat sebuah gua yang besar dan di depan gua penuh oleh rumput alang-alang.
Gua itu nampak menyeramkan dan hanya patut menjadi tempat bersembunyi binatang-binatang buas. Akan tetapi In Hong tidak ambil perduli dan tidak berpikir panjang pula, cepat ia melompat masuk ke dalam gua. Kakinya terlibat rumput alang-alang dan ia jatuh menggelinding ke dalam gua dan baru berhenti ketika tubuhnya tertahan oleh sesuatu.
Hampir saja gadis yang tabah ini mengeluarkan teriakan kaget ketika ia membuka matanya dan melihat bahwa ia telah tertahan oleh tubuh seorang kakek yang menyeramkan sekali. Kakek ini nampak tua, kurus seperti tengkorak, hanya tulang terbungkus kulit saja. Yang
294
kelihatan hidup hanya sepasang matanya yang lebar dan bergerak-gerak mengeluarkan cahaya ber-pengaruh.
Yang lebih menyeramkan lagi, kakek ini sudah buntung semua kaki tangannya. Kedua lengan buntung sebatas pergelangan tangan, sedangkan kedua kakinya buntung sebatas lutut! Pakaiannya compang-camping dan kakek ini duduk melonjorkan kedua paha yang tidak berkaki lagi, kedua tangannya bersedekap kelihatan mengerikan karena tidak ada tangannya.
Sebelum In Hong sempat membuka mulut, kakek itu bertanya dengan suara halus, suara yang dikenal oleh In Hong karena tadi yang berbisik didekat telinganya juga suara ini:
„Benarkah kau murid Hek Moli? Siapa namamu?”
In Hong ingat akan pesan gurunya bahwa di dunia ini memang ada orang berilmu tinggi yang lweekangnya sudah demikian hebat sehingga dapat mengirim suara dari jauh, ditujukan kepada orang yang dimaksud saja sehingga suara itu hanya terdengar oleh orang itu dan tidak terdengar oleh lain orang. Kakek ini tentu seorang berilmu tinggi, pikirnya.
„Teecu bernama Kwee In Hong, memang betul teecu murid tunggal dari Hek Moli.”
„Mengapa kau dikejar-kejar oleh para hwesio Siauw-lim-pay?”
295
„Guru teecu tewas dalam tangan orang-orang Kun-lun-pay, ketika teecu hendak membalas dendam disana, teecu kalah oleh tokoh-tokoh Kun-lun-pay. Karena itu teecu datang ke Siauw-lim-si untuk mencuri kitab I-kin-keng karena teecu hanya kalah dalam tenaga lweekang. Teecu hendak mempelajari isi kitab itu dan kelak hendak membalas dendam lagi. Tak tahunya teecu bukan saja tidak berhasil, bahkan dikalahkan oleh para hwesio Siauw-lim dan hendak ditawan.”
Kakek itu tertawa, suara ketawanya aneh menyeramkan, jauh bedanya dengan suara halus ketika ia bicara.
„Jangan takut, duduklah di depanku dan kalau mereka datang, kau lawanlah sambil duduk.”
In Hong menurut dan bangun karena tadi ia masih setengah rebah, tubuhnya lemas bukan main. Ia duduk dengan kaki gemetar dan mencoba bersila.
„Locianpwe, dengan berdiri dan mengeluarkan seluruh kepandaian saja teecu masih tak sanggup menang, bagaimana locianpwe menyuruh teecu melawan mereka sambil duduk?” tanyanya dengan penasaran dan juga jengkel, mengira kakek ini main-main.
„Kau keras kepala seperti gurumu! Jangan kau banyak membantah kalau ingin selamat! Hayo bersiap, kalau mereka menyerang, kau menangkis dan balas menyerang dengan pedangmu!”
296
Setelah berkata demikian, tiba-tiba In Hong merasa punggung dan lehernya tersentuh oleh ujung lengan buntung itu. Ia merasa geli karena lengan buntung itu lunak sekali, akan tetapi tiba-tiba ada hawa yang panas memasuki tubuhnya dari punggung dan leher dan seketika itu juga rasa sakit-sakit dan lelah ditubuhnya terusir pergi!
„Bocah ganas, kau hendak sembunyi kemana? Lebih baik menyerah saja agar kami tak usah mempergunakan kekerasan!” terdengar suara Ceng Seng Hwesio yang memasuki gua itu, diikuti oleh lima orang sutenya.
Di belakang sekali Teng San dan Lian Hong, akan tetapi dua orang muda ini tidak ikut masuk, hanya menanti di luar. Gua itu amat besar maka enam orang hwesio Siauw-lim-pay dapat masuk berbareng dan mereka segera berhadapan dengan In Hong.
Tubuh kakek itu tidak kelihatan, tertutup oleh tubuh In Hong. Biarpun kakek itu sebenarnya lebih jangkung, akan tetapi entah bagaimana, setelah enam orang hwesio itu masuk gua, tubuh kakek itu mengecil dan teraling oleh tubuh In Hong sehingga tidak kelihatan oleh para hwesio.
Melihat In Hong duduk bersila dengan pedang di tangan kanan dan mata memandang tajam, Ceng Seng Hwesio tercengang. Ia menduga bahwa gadis itu tentu menderita kesakitan hebat pada pahanya, akan tetapi benar-benar tidak disangkanya bahwa setelah kini lumpuh, gadis itu masih menanti dengan pedang di tangan sambil duduk bersila, nampaknya tenang dan menantang!
297
4.2. Kakek Bhutan Koay-jin
„Nona, sudah lama pinceng hidup, sudah banyak pinceng menjumpai orang-orang gagah, akan tetapi baru sekali ini pin¬ceng bertemu dengan seorang muda yang keraskepala seperti kau! Gurumu sendiri, Hek Moli, agaknya tidak demikian keras kepala. Mengapa kau mempersukar kami? Lebih baik kau menyerah dan dengan sukarela. Ikut dengan kami ke kuil untuk menghadap guru kami. Kau sudah bersalah, mengacau Siauw-lim-si, mengapa untuk menghadap suhu dan menerima salah saja kau enggan?”
„Hm, setan-setan gundul bau busuk! Kalian ini orangtua-orangtua tak tahu malu semalam suntuk sudah mengurung, mengeroyok dan mendesak aku. Sekarang aku sudah berada disini, tak dapat lari lagi, kalian mau apa? Jangan harap akan dapat memaksaku ikut dan minta-minta ampun, kalau kalian mau bunuh, boleh maju, aku tidak takut!”
„Ah, benar-benar siluman betina! Nona kecil bernyali siluman! Liok-sute, kau tangkap dia,” seru Ceng Seng Hwesio marah.
Orang kelima dari barisan Ngo-heng-tin yang disebut Liok-sute (adik seperguruan keenam) melangkah maju, toyanya digerakkan. Ia tidak mau menyerang tubuh In Hong, hanya mengerahkan tenaga untuk memukul pedang di tangan nona itu agar terlepas dari pegangan, karena kalau pedang itu sudah terlepas, akan lebih mudah menawannya.
298
In Hong maklum bahwa pukulan toya itu keras dan hebat sekali dan tadi sudah dirasai kelihayan tenaga para hwesio ini. Tenaganya sendiri sudah hampir habis dan kalau tadi menangkis pukulan toya ini, pasti pedangnya akan terlepas dari pegangannya. Akan tetapi, kali ini ia tidak bisa seperti tadi mempergunakan kelincahannya mengelak, maka terpaksa ia mengangkat pedang menangkis toya itu.
Terdengar suara keras dan hampir berbareng enam orang hwesio itu mengeluarkan seruan kaget. Juga In Hong merasa heran sekali akan kesudahan dari benturan senjata ini.
Ia merasa seakan-akan ada dorongan tenaga dari belakang dan tenaga ini merupakan hawa hangat yang menjalar sampai ke tangan kanannya yang memegang pedang. Ketika senjatanya menangkis toya, ia hanya merasa getaran hebat, akan tetapi tidak terpengaruh apa-apa, pedangnya tidak terlepas bahkan membuat keras sehingga toya itu menjadi patah! Potongan toya melayang ke atas dan menancap pada dinding gua sedangkan hwesio itu sendiri tertolak ke belakang dan jatuh bergulingan seperti daun tertiup angin! Tentu saja hal ini mengagetkan semua orang.
Dua orang hwesio menjadi penasaran dan berbareng mereka maju dengan toya digerakkan. Toya pertama datang dari arah kiri, menghantam pedang di tangan In Hong dengan gerakan menyamping, sedangkan toya dari hwesio kedua me-luncur ke arah pundak kanan In Hong dengan maksud menotok jalan darah atau melukai
299
pundak sehingga boleh dibilang kedua serangan ini bermaksud sama, yakni merampas senjata nona itu.
Melihat serangan dari kanan kiri ini, In Hong terkejut sekali. Pedangnya cepat membentur toya dari kiri, akan tetapi pada saat itu, toya dari kanan telah menotok pundaknya. Kembali terjadi keanehan yang sukar dipercaya.
Toya dari kiri itu terkena sampokan pedang, biarpun tidak putus akan tetapi terlepas dari pegangan dan membalik lalu memukul hwesio itu sendiri, tepat kena kepalanya yang gundul sehingga menimbulkan suara keras dan kepala itu timbul benjol sebesar kepalan tangan! Adapun toya yang menotok pundak kanan In Hong, seakan-akan mengenai karet saja dan toya ini membal kembali.
Hwesio yang menotoknya berseru keras karena tenaga totokannya kembali dan menyerang tangannya sendiri sehingga ia terpaksa melepaskan toyanya dan melompat ke belakang dengan muka pucat. In Hong sendiri tidak merasa apa-apa, seakan-akan pundaknya dilindungi oleh baja yang kuat.
Dua orang hwesio lagi menjadi marah. Sambil berseru keras toya mereka bergerak, kini tidak sungkan lagi dan bukan hanya hendak merampas pedang karena toya ini yang satu mengemplang kepala In Hong sedangkan yang kedua menusuk ke arah uluhati. Pendeknya, kedua toya ini mengirim serangan maut!
300
Ceng Seng Hwesio mengeluarkan seruan kaget, mencegah kedua sutenya melakukan serangan keji itu, akan tetapi terlambat karena toya itu sudah menyambar laksana dua ekor harimau menubruk.
Melihat serangan ini, biarpun In Hong berkepandaian tinggi dan bernyali besar, tetap saja gadis ini merasa ngeri dan putus asa. Ia hanya melakukan gerakan pedang melindungi diri, memutar pedang itu untuk menjadi perisai. Ia maklum bahwa gerakannya ini lemah saja dan tak mungkin dapat menghalangi dua senjata lawan yang mengarah nyawanya.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Amoy China : Sian Li Engcu 3 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments