Cerita Silat Kuna Cersil Antik : Bendera Maut

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Silat Kuna Cersil Antik : Bendera Maut - suatu terobosan eh bukan sebuah kenangan ketika kita baca cersil tapi pakai ejaan lama, kayak oe, tj, dj, j gantine y dan sebagainya. Ceritanya juga lumayan kuna, tapi ini langsung tamat saudara, maaf belum ada resensi cersil bendera mautnya, saya belum baca, hehehe

Baca Juga:
-


BENDERA MAUT
SAM GOAN LENG HUN HOAN
Oleh
Kwee Oen Keng
Mengundjungi Buli-buli kaju dirumah SIU TJIN WAN.
Tetapi sepandjang pendengaran mereka jang disebut Bok Ho-louw
itu badannja besar dan tinggi, rupanja gagah, wadjahnja seram
dan usianja belumlah tinggi. Padahal pendeta ini sndah tua,
berdjanggut pandjang dan wadjahnja merah. Hal ini menimbulkan
kebimbangan djuga bagi mereka. Tetapi mereka hanja berdasarkan
pada kenjataan, bahwa pendeta itu dapat menggunakan pukulan
Tjuat-Kin Kuat-Meh Tjhiu-Hoat.
Maka dengan penuh keragu-raguan bertjampur bimbang mereka
ngatjir meninggalkan Siu Tjin Wan dengan penuh kekesalan,
Pendeta tua itu melompat turun masuk kedalam Siu Tjin Wan dengan
wadjah jang menjeramkan.
Tadi dalam menghadapi serangan In Yang Siang Sat, satu tapakpun
ia tidak bergeser dari tempatnja.
Inilah suatu bukti bahwa pendeta itu memang benar2 tinggi ilmu
silatnja!
Keng In Wan pelan2 siuman kembali. Ketika ia membuka matanja,
bukan ia rebah dilantai begitu sadja, melainkan ia terbaring
didalam sebuah kamar jang tenang. Tampak olehnja bahwa hiasan
dalam kamar itu teratur rapih. Tempat itu agak luas dan terang.
Tjahaja masuk kedalam kamar itu melalui djendela. Dibawah
djendela terdapat medja ketjil. Kamar itu sedap dipandang mata,
bahkan se-olah2 tempat itu seperti tempat batjaan.
Diatas medja terletaklah pendupaan jang mungil dan mengepulkan
asap jang berbau harum dan menjegarknn kepada jang mentjiumnja.
Dalam terkenang itu Keng In Wan ingat akan permulaan deritanja.
Ia ingat bahwa ia telah menjerahkan sebuah kotak kepada pendeta
tua itu. Ia ingat pula bahwa ia siap untuk ditawan. Jang
mengerikan ialah bahwa terlukanja oleh sendjata musuh sehingga
hampir2 djiwanja melajang.
Ia termennng-menung dikamar itu sambil merasakan lukanja jang
sungguh parah itu. Tidurpun sukar baginja, bahkan ketika ia baru
membuka matanja, ia ragu2 apakah ia betul2 masih hidup. Tetapi
dengan rasa sakit jang ada, dan ternjata ia masih dapat
menjaksikan segala jang ada disekitarnja, maka sadarlah ia bahwa
ia masih hidup.
Siapakah sebenarnja jang telah menolonguja, sehingga ia sampai
terbaring didalam kamar jang tenang itu. Kemudian ia ingat akan
benda peninggalan Kiang Lo Tjian-pwee jang harus disampaikan
kepada Bok Lo Tjian-pwee... Ia mempunjai sifat jang baik, jaitu
selalu ingin mendapat kepertjajaan orang.
Waktu itu, pintu berbunji dan kemudian terbuka. Seorang anak
gadis jang sangat djelek wadjahnja, dengan rambut terurai masuk
kedalam kamar itu. Ia membawa sebuah nampan tembaga sematjam
baki, jang diatasnja terisi bermatjam-matjam makanan.
Nampak olehnja bahwa anak perempuan itu kurang lebih empat belas
atau lima belas tahun sadja usianja, wadjahnja sangat buruk,
namun ketika ditelitinja. kedua matanja memantjarkan sinar jang
tadjam. Keng In Wan achir-achir ini senantiasa menerima
perlakuan kedjam dari orang lain, maka terhadap orang atau
sesuatu hal, senantiasa ia mempunjai suatu prasangka buruk.
Terlebih pula semendjak ia memandjat puntjak Mauw Li Hong
digunung Hwa San dan masuk Siu Tjin Wan, serta-merta ia ditjatji
dan dihadjar orang dengan tidak ada sebab jang pantas. Sekalipun
tempat itu tidak dikenalnja, namun menurut taksirannja mestinja
masih berada disekitar puntjak Mauw Li liong.........
Anak perempuan ini buruk rupanja, dengan sendiri terhadap orang
tak akan berlaku baik, demikianlah pikir Keng In Wan. Tetapi
ketika anak perempuan itu menjaksikan sipemuda sudah bangun dari
pingsannja, tiba2 ia bersenjum lalu bertanja dengan sikap jang
penuh perhatian.
"Masih sakitkah?"
Hampir2 sadja Keng In Wan tidak pertjaja akan pendengar
telinganja sendiri.
"Oh, sudah tidak mengapa! Nona, numpang tanja, bagaimana aku
dapat berada disini? Siapakah jang menolong daku? Dan, tempat
apakah ini?"
Demikianlah setjara bertubi-tubi Keng In Wan mengadjukan
pertanjaan. Anak perempuan itu mesem: "Ajahku pernah mengatakan
bahwa bisa ulat sutera berapi itu hanja dapat disingkirkan
dengan ulat sutera berapi djuga. Mula-mula aku tidak pertjaja,
tetapi kenjataan sekarang ini membuktikan bahwa ajah memang
banjak pengetahuan serta pengalamannja. Disini ada berapa matjam
makanan, menurut kata ajah, djika dimakan amatlah berguna bagi
kesehatanmu. Hanja sadja tidak enak, maka kau paksakanlah makan
sedikit. Setelah sembuh nanti aku menjadjikan jang lain
.....................”
Apa jang dikatakan perempuan ini tiada sangkut pautnja dengan
pertanjaannja, namun sikap dan bahasanja sungguh meresap bagi
Keng In Wan. Sekalipun tidak mengatakan siapakah jang
menolongnja, namun dari kata-katanja itu orang dapat mengetahui
pasti bahwa penolongnja itu tidak lain dari pada ajah si gadis.
Tetapi siapakah ajahnja itu?
Keng In Wan segera bangun dan duduk, ketjuali tangan dan kakinja
masih lemas dan linu, bagian dadanja masih agak sakit rasanja.
Ia segera merangkap tanganja memberi hormat lalu hendak berdiri
menjambut nampan itu, namun anak perempuan itu tjepat2 berkata:
"Djangan berlaku sungkan2, kau belum sembuh betul! Bersandarlah.
Makanan ini kau makan sadja diatas tempat tidur, tidak usah kau
susah-susah!"
Keng In Wan melengak demi mendengar kata-kata itu, hatinja
tergerak, hampir sadja air matanja mengutjur karena rasa terharu
dan terima kasihnja.
Nampan tembaga itu sudah lantas dihantar kehadapannja. Keng In
Wan menjaksikan bahwa di atas nampan itu terdapat empat piring
ketjil dan semangkok bubur putih jang masih mengepul. Setelah
mengeluarkan kata-kata merendah sebagai mana lazimnja, iapun
segera menjerbu makanannja.
Namun demi masuk dalam mulut, bubur itu bukan main rasa getir
dan pedasnja! Baru sesuap ia sudah memperlihatkan wadjah monjet
makan terasi. Namun terdengarlah pula suara empuk njaring dan
jang mengandung rasa bersungguh-sungguh dan seolah-olah
mengandung sifat mengharap.
"Turutilah kataku! Makanlah, sedikitpun djangan ada jang
ketinggalan! Bubur ini sangat baik untukmu."
Demi mendengar kata-kata itu, tergerak hati Keng In Wan.
Ditatapnja muka anak perempuan itu, jang mengandung sikap
mengharap. Maka Keng In Wan tidak menghiraukan lagi rasanja
bubur dan sajur-sajur itu, dimakannja habis semuanja ketjuali
satu piring jang isinja ulat2 hitam!
Berapa kali ia menggerakan sumpitnja untuk mengambil, namun
batal ditengah djalan tidak sampai musuk kemulut. Sementara itu
sigadis terus mengawasinja dengan gelisah dan mengharap.
Terpaksa Keng In Wan berkata: "Nona........... aku
.............”
"Dengarkanlah perkataanku! Lekas kau makan ulat2 Kwee-Hiang ini
jang baik chasiatnja! Pertjajalah padaku,” Sigadis berkata
dengan sungguh-sungguh. Keng In Wan mengeraskan hatinja,
disapitnja ulat2 itu dan dimasukkannja kedalam
mulutnja..................
Sementara itu sigadis memperlihatkan senjuman jang menandakan
rasa leganja.
Senjuman anak perempuan jang rupanja buruk itu sangat memikat
hati Keng In Wan, sehingga lupalah ia apa jang dikunjahnja
didalam mulutnja itu. Tiba-tiba sadja suatu bebauan harum jang
bertjampurkan haruman bunga kwee Hwa tertjium dalam lubang
hidungnja, sementara dalam mulutnja terasa rasa makanan jang
gurih lezat. Makan seekor sadja semangatnja terbangun dan
mengertilah ia bahwa barang jang aneh ini sebenarnja makanan
jang chasiatnja luar biasa. Dan memang ia belum kenjang, maka
kinipun ulat2 itu diganjangnja habis sama sekali. Setelah itu
barulah sigadis mengambil pulang mangkok piring dan nampan
tembaga itu, dengan berseri-seri meninggalkan kamar itu. Sebelum
menghilang dibalik pintu masih ia bersenjum dan berpesan:
"Turutilah perkataanku! Tidur baik-baiklah, esok kau akan sembuh
sama sekali."
Bagaikan bajangan si gadis lenjap dari pandangan matanja.
Keng In Wan melamun seorang diri.
"Semendjak datangnja kemalangan terhadap keluargaku, senantiasa
aku dirongrong oleh pihak musuh. Hanja Kiang Liang Souw
lotjianpwee seorang jang bersikap manis kepadaku dan gadis ini."
Lambat laun tanpa terasa olehnja Keng In Wan tertidur, ia tidur
njenjak sampai pagi hari esoknja.
Matahari sudah mulai naik dan melantjarkan sinarnja kedalam
kamar. Keng In Wan bangun dan mentjoba mengerahkan tenaganja.
Sedikitpun ia tidak menemui suatu hambatan. Ha! Ia telah sembuh
seluruhnja! Disekitar tempat itu sunji-sunji sadja, tidak
terdengar suara manusia. Keng In Wan ingin memanggil orang,
siapakah namanja gadis itu? Diam2 ia menjesali diri sendiri
mengapa setelah menerima pertolongan orang, ia tidak menanjakan
siapa sigadis itu? Ia berpikir-pikir, achirnja ia mengambil
ketetapan untuk mengetahui dimanakah ia berada. Ia berdjalan
keluar kamar. Terkedjutlah hatinja. Karena tempat itu sebenarnja
ruang pendopo dari Siu Tjin Wan! Nampaklah patung Sam Tjin
Tjindjin berdiri dengan augkernja. Djuga ia melihat djendela
berbentuk pandjang, dengan tirai kain kuning ..........
Kesemuanja ini, ah! Teringatlah ia sekarang, ia telah ditolong
oleh pendeta bermuka merah itu! Tergeraklah hatinja. Kini nampak
pula olehnja, sapu jang dipakainja untuk menjapu pekarangan
masih tinggal terletak disudut sebelah kiri. Dengan tidak raguragn
lagi diambilnja sapu itu. disapunja ruang pendopo sampai
bersih lalu turun dan menjapu pekarangan. Baru sadja ia bekerdja
dengan giatnja atau tiba-tiba terdengar orang batuk-batuk.
Terkesiap ia berpaling. Nampak olehnja seorang tua jang
djanggutnja sudah putih semua, punggungnja bungkuk.
"Anak ketjil, untnk apakah kau datang disini? Datang untuk
mentjuri atau hendak djadi katjung?" orang tua itu tahu2
mendamprat.
Kini Keng In Wan mempunjai perasaan lain terhadap Siu Tjin Wan.
Ia segera teringat akan pengalamannja jang dahulu, teringat
bahwa djiwanja ditolong oleh pendeta tua dari Siu Tjin Wan
bersama anak perempuan itu. Oleh karena itu siapapun penghuni
didalam kuil, senantiasa ia harus berlaku hormat. Ia mendjawab
dengan tjermat dan hati-hati seperti berikut: "Lo tjianpwee, aku
jang rendah bernama Keng In Wan, berkat izin totiang aku numpang
tinggal disini untuk berapa hari, untuk mendjumpai Bok Ho-lauw
lotjianpwee. Totiang menjuruh aku menjapu pekarangan sini agar
diperkenankan numpang tidur............dan saja numpang tanja
bagaimanakah sebutan kau orang tua ini?"
Tiba-tiba orang tua itu tertawa njaring sekali lalu berseru:
"Omong kosong! Disini mana ada totiang segala ...... anak
ketjil, berterus teranglah! maksudmu sebenarnja datang disini?!"
Keng In Wan mendjadi bengong. Terang-terang ia pernah bertemu
berapa kali dengan pendeta bermuka merah itu, bahkan benda
pentingnja pernah dititipkan padanja.
"Lotjianpwee, aku pernah bertemu totiang itu berapa kali,
diambang pintu, dipekarangan dan diruang pendopo ......... oh,
ja! Masih ada seorang anak perempuan jang menolong aku
dari kematian.”
Terdengar pula suara tawa aneh dari orang tua itu. "Ha-ha-ha!
Kau telah bertemu dengan setan! Atau barangkali kau salah lihat
orang, salah djalan salah tempat!"
Keng In Wan tidak bisa bilang apa-apa, ia tjeritakan tentang
rupa pendeta bermuka merah itu.
Achirnja orang tua itu dengan sungguh-sungguh berkata: "Kau
telah tertipu. Pendeta tua itu hanja numpang tinggal disini.
Sudahlah, baiknja kau tidak hendak berbuat apa-apa, hal ini kau
anggap sadja soalnja sudah lewat. Tapi jang kau sebut Bok
Lotjian-pwee (Bapak kaju) atau Hwee Lotjianpwee (bapak-api) itu
bagaimana asal usulnja?”
"Apa? Ia hanja numpang tinggal disini! Kapankah ia pergi?"
”Baru sadja ia pergi!"
Tanpa ajal pemuda kita membuang sapu ditangannja dan berlari
keluar. Tidak sempat pula ia menanjakan kemana arah pergi
sipendeta, karena perhatiannja hanja tertudju kepada kotak itu
jang menurut pendapatnja tidak boleh dititipkan pada orang jang
salah.
Setelah lari sepintas tiba-tiba ia sadar bahwa ia tertipu!
Siapakah orang tua itu? Semendjak ia tiba di Siu Tjin Wan, telah
bertemu berapa orang jang tidak dikenalnja. Jang pertama-tama
ditemuinja orang tua she Sin, jang kedua pendeta tua bermuka
merah, jang ketiga seorang anak perempuan terachir orang tua
bungkuk berdjanggut putih ini. Tiap orang jang ditemuinja, satu
sama lain berlainan. Kesemuanja mengaku sebagai tuan rumah Siu
Tjin Wan, lebih-lebih si anak perempuan itu.
Orang tua itu ! Dia sangat mentjurigakan! Dengan gusar ia
putarkan tubuhnja dan lari kembali kearah Siu Tjin Wan. Sebentar
sadja ia sudah tiba diambang pintu. Didorongnja pintu itu dan
masuk kedalam. Pada saat itu djuga ia medjerit bahna kagetnja.
Darah segar mengambang diatas tanah!
Ia berteriak berulang-ulang. Tetapi tidak ada orang jang
menjahut. Ia berdjalan masuk keruang pendopo. Nampak pula orang
jang menggeletak diatas lantai dan disana sini darah
bertjetjeran. Ketika diawasinja orang itu dengan teliti, ia
meudjadi putjat. Orang itu bukan lain dari pada si orang tua
jang bungkuk punggungnja!
Tiba-tiba suatu benda menarik perhatiannja. Itulah sebuah bulibuli
ketjil berwarna merah. Hampir sadja Keng In Wan mendjerit!
Dan tepat pada waktu itu terdengar suara tertawa jang aneh.,
suara tertawa jang seram dan bersifat sedih.
Bagaikan kilat Keng In Wan menengok dari mana suara itu datang!
Tapi mendadak angin dingin menjambar kearahnja!
2. Tiga Ular Oh Leng Tjoa Sebagai Tanda Tjinta
Keng Iu Wan sadar bahwa didalam Siu Tjin Wan telah terdjadi
suatu peristiwa hebat. Maka ia berlaku waspada, siap menghadapi
segala kemungkinan. Ketika terdengar suara orang dan disusul
sambaran angin, tjepat2 ia menghantam untuk memunahkan serangan
gelap. Pandangan matanja mendjadi kabur.
Sambaran angin itu lewat didepan mukanja! Belum dapat ia melihat
muka orang itu, suara tertawa mengalun diangkasa dan menghilang
dari pandangan.
Keng In Wan insjaf bahwa orang itulah pembunuhnja. Ketika ia
menoleh dan memandang kebawah, tersiraplah darahnja. Majat orang
tua bungkuk itu sudah lenjap! Apakah majat dapat hidup kembali?
Aneh sekali, apa lagi dalam waktu sekedjap mata sadja dapat
menghilang.
Keng In Wan menenangkan hatinja, lalu berdjalan masuk kekamar
sebelah jang pernah ditidurinja. Ia melihat segala sesuatu tidak
berubah. Diatas medja tetap terdapat pedupaan ketjil jang
menjebarkau bau harum. Keadaan sunji2 sadja.
Keng In Wan termenung seorang diri. Dihadjar, ditjatji,
ditolong, dikibuli, lalu disuruh menjaksikan peristiwa berdarah
ini. Ia bingung dan tidak mengerti.
Tiba2 ia melihat sehelai kertas diatas medja, ditindih dengan
batu dan bergojang-gojang dihembus angin.
Dengan hati berdebar-debar Keng In Wan menghampirinja.
Kertas itu masih baru. Tulisannja terang dan kuat tetapi tidak
indah.
"Anak ketjil, besar sekali njalimu!
Kau berani menggunakan tipu daja untuk mentjelakai aku!"
Dibawahnja tidak dibubuhi tanda tangan, hanja terdapat lukisan
buli-buli merah jang dilukis Tjusee.
Hati pemuda kita bergontjang-keras. Setidak-tidaknja ia mengerti
bahwa tulisan ini ditinggalkan oleh Bok Holouw!
Bok Holouw pernah datang atau kalau tidak, beliau tidak pernah
pergi dari Siu Tjin Wan! Tetapi mengapa ia dituduh mentjelakai
Bok Holouw?
Keng In Wan mengeluh dengan sedihnja: "Ah. Aku difitnah!”
Sekonjong-konjong diambang pintu berdiri seorang tua djangkung
dan gagah, mukanja putih bagaikan batu kemala. Matanja bersinar
terang bagaikan bintang, bibirnja merah dan giginja putih
bersih. Badjunja hidjau dan pada ikat pinggangnja dari benang
emas tergantung buli-buli ketjil berwarna merah. Tangannja
menjangga sebuah kotak.
"Bok Lotjianpwee!" berseru Keng In Wan kegirangan demi melihat
orang itu.
Wadjah, sikap dan perawakan jang dilukiskan oleh Kang Liang Souw
tjotjok sekali.
"Lotjianpwee ............ Aku Keng In Wan datang kehadapanmu
memanggul tugas dari Kiang Lotjianpwee. Dengan pantang mundur
menghadapi segala bentjana dan derita, aku datang menghadap
untuk menjampaikan kotak itu."
"Djadi memang benar kau jang mengantarkan kotak ini! Tahukah
kau, apa jang ada didalamnja?” bertanja orang tua itu dengan
gusar.
Maka Keng In Wan memandang kepada kotak itu dengan pantjaran
wadjah kebodohan. Ia tidak tahu apa jang ada didalamnja. Orang
tua itu bersinar-sinar matanja.
Sekalipun bagaimana, Keng In Wan tak dapat menahan diri. Maka
dengan sungguh2 ia mendjawab: ”Bok Lotjianpwee! Apakah arti
kata2 Lotjianpwee itu? Sekalipun Kang Lotjianpwee bukan saudara
dan belum lama aku mengenalnja, tetapi ......... aku tahu benar
akan pribadinja. Mana mungkin ia berhati djahat ......"
"Djustru karena kebaikan hatinja itulah...... Ah, aku djuga
tidak hendak tjerita tentang segala ini. Aku hendak perhatikan
apa jang tersimpan dalam kotak ini padamu! Nanti kau akan tahu
sendiri...."
Orang tua berbadju hidjau itu mementjet tutup kotak.
"Tjepret!” Kotak itu terbuka lebar. Nampaklah seekor ular hitam
jang berbintik emas keluar dari dalam kotak itu, jang lantas
djatuh diatas lantai. Keng In Wan berseru kaget: "Oh Leng Tjoa!"
Orang tua itu agak berubah wadjah mukanja, lalu bertanja: "Kau
kenal ular berbisa ini?"
"Ular ini asalnja dari dalam kebun rumahku. Kiang Lotjianpwee
berkenalan denganku djuga oleh karena ular berbisa
ini............. Ah, kiranja dalam kotak itu tersembunji ular
berbisa ini ....."
Namun orang tua itu tidak berkata-kata lagi, ia menghampiri ular
itu. Ketika itu sang ular sudah berkeledjetan hampir mati.
Dipegangnja kepala ular itu lalu masukan kedalam kotak kembali.
Tiba2 air mata orang tua itu berketjutjuran...........
Keng In Wan tertjengang.
Orang tua itu menanja lirih: "Apakah Kiang Liang Souw sudah
mati?”
Keng In Wan menganggukan kepalanja. Orang tua itu bersedih
mukanja dan termenung beberapa saat lamanja. Kemudian ia
bertanja pula: "Apa kau mengerti maksudnja dengan menjuruh kau
mengantarkan ular ini ?”
"Tidak. Adapun hanja setelah Kiang Lo-tjianpwee datang kerumahku
untuk menangkap ular itu....... setengah tahun kemudian
keluargaku mengalami bentjana. Pendjahat she Cak dan kawanan
bangsatnja membunuh seluruh anggota keluargaku. Buku ilmu silat
ajahku dirampas dibawa pergi bersama duapuluh empat buah Tju-bo
Lian Mouw So dan sembilan stel Gin-Wan. Saja bersembunji didalam
gua gunung-gunung, hingga tidak sampai binasa. Belakangan ketika
aku masuk kedaerah pegunungan Tjin Nia, kawanan pendjahat itu
mengedjar beramai-ramai. Dalam pelarian itu aku djatuh kebawah
lamping gunung dan tertolong oleh Kiang Lotjianpwee. Tidaklah
aku ketahui bahwa Kiang Lotjianpwee mengandung bisa didalam
tubuhnja. Ia bertempur dengan pendjahat2 jang mengadjar diriku
itu, hingga menjebabkan ratjun ular didalam tubuhnja bekerdja."
Muka orang tua itu berubah, berbagai-bagai perasaan membajang
dengan djelas.
"Kiang Lotjianpwee memberikan pesan wasiat mendjelang wafatnja,
wanti-wanti menjuruh aku menjampaikan kotak ini kepada
lotjianpwee. Beliau merasa malu telah berkeras hati menuruti
napsunja sehingga membuat Lotjianpwee hidup menderita. Beliau
senantiasa menjintai lotjianpwee....."
Bok Holouw termanggu-manggu, achirnja ia bertanja dengan suara
parau.
"Apakah ia binasa didalam tangan kedjam pendjahat-pendjahat
itu?.........”
”Tidak, berapa pendjahat2 itu terluka olehnja, namun tenaganja
termakan ratjun ular itu dan tidak dapat bertahan terus. Semula
beliau ingin datang sendiri kemari, tetapi karena urusanku maka
djadi gagal. Beliau minta aku tunaikan pekerdjaan jang
tertinggal oleh beliau itu. Lotjianpwee................beliau
tidak mungkin mentjelakai dikau....”
Bok Holouw suram matanja....
Liang Souw.... Aku Sin Thian Ju membikin kau menderita. Dahulu
aku membentjimu tidak tahu urusan, melindungi keluarga sendiri
jang durdjana. Namun kau tinggal tetap hidup, hidup membiarkan
orang membentjimu. Mengapa mendjelang kematianmu kau masih
menanam budi kepadaku? Kau menghendaki aku mengingat kau selama
hidupku! Selama hidup mengingat akan kesalahanku
terhadapmu.............”
Tiba-tiba orang tua itu menatap Keng In Wan pula dan bertanja:
”Apakah ia menderita ketika menemui adjalnja?"
"Kiang Lo-tiianpwee duduk tenang dan mangkat sambil tersenjum.
Kata-kata terachir jang beliau utjapkan ialah sebagai berikut:
"Keng In Wan kau wakilkanlah aku uutuk menjelesaikan urusan ini,
biarlah Bok Holow menerima kotak ini. Ini sangat penting.
Bagikupun lebih penting..............."
Pemuda kita dengan penuh keharuan bitjara terus.
"Aku menundukan kepala dan bersumpah akan pasti melaksanakannja.
Beliau tersenjum, ia berkata: ”Aku merasa lega! Thian Ju! Aku
merasa lega!...................”
Demi mendengar tjerita itu, mendadak sadja Bok Holouw menutupi
air mukanja. Ia lari keluar setjepat terbang, hanja sekelebatan
sudah hilang bajangannja!
Pada saat bersamaan terdengarlah suara tangisan anak perempuan.
Keng In Wan tergerak hatinja, ia djalan menghampiri. Nampaklah
dua buah bajangan hidjau berkelebat melesat bagaikan anak panah
tjepatnja keluar pintu dan menghilang.
Keng In Wan berlari mengedjarnja, dipandjatnja pagar tembok.
Ditjarinja kesana sini, tapi tidak djuga diketemukannja. Tiada
ada djuga hal-hal jang mentjurigakan. Ingin ia mengedjar namun
kemana harus ia pergi? Mengedjar tanpa tudjuan adalah sia-sia
belaka. Ia merasa serba salah, tidak tahu apa jang harus
diperbuat. Maka achirnja ia lompat turun dari pagar tembok.
Diam2 pemuda kita memikirkan semua hal jang mengherankan ini.
Bok Holouw mengatakan tentang hal mentjelakai, dan mengaku
dirinja sebagai Sin Thian Ju. Kiang Liang Souw pun mengatakan
'Thian Ju, aku merasa lega!'
Tiba-tiba ia teringat kepada orang pertama jang ia temukan jang
mengaku she Sin dan buli-buli merah itu terdapat dipinggangnja.
Apakah mereka itu sebenarnja seorang belaka! Didalam dunia Kangouw
banjak sekali orang jang pandai dengan ilmu mengubah rupa.
Tapi suara dan perawakan berubah-ubah tidak sama; Apa kesemuanja
inipun mungkin terdjadi? Keng In Wan tidak dapat mendjawab
pertanjaan2 tersebut. Tapi Bok Holouw atau Sin Thian Ju itu
agaknja adalah suaminja Kiang Liang Souw, atau sahabat karibnja,
tetapi ular bisa jang disimpan didalam kotak itu, apakah
hubungannja?
Djika dikatakan hendak mentjelakai nampaknja tidak ada miripmiripnja.
Lagi pula djika Bok Holuw mestinja sangat bentji,
mengapa ia djustru menangisi dan memperlihatkan rasa tjinta?
”Sahabat! apa Bok Holouw ada dirumah?” Mendadak suara orang
membujarkan lamunan Keng In Wan! Suara jang serak serta
menjeramkan. Keng In Wan menoleh kearah dari mana suara itu
datang. Kelihatan seorang tosu jang mengenakan badju djubah Iesu
bertopi bintang, tangannja memegang Hudtim berdiri dengan
sikap jang sombong. Umurnja kurang lebih tiga-puluh tahun.
Keng In Wan tidak tahu tentang asal usulnja tosu ini, dikiranja
sahabat dengan Bok Holouw , maka ia merangkapkan kedua
tangannja.
”Bok Lo-tjianpwee baru sadja keluar..............."
Si tosu mengeluarkan suara tertawa dingin.
”Ha-ha-ha! Seorang lotjianpwee jang sudah tersohor namanja,
merasa takut orang mentjarinja dirumah! Apa ia menggunakan kau
sebagai malaikat penunggu pintu?”
Keng In Wan terkedjut Bok Holouw benar-benar tidak ada, mengapa
tosu ini demikian ngototnja sehingga mengeluarkan perkataan jang
demikian?
Maka dengan sikap bersungguh-sungguh ia mendjawab : ”Mengapa
totiang berkata demikian? Sesungguhnja Bok Lo-tjianpwee tiada
dirumah................”
Sekonjong-konjong segumpalan sinar menjapu kearah muka pemuda
kita. Terperandjat dan penuh kegusaran ia miringkan tubuhnja.
Bersamaan si tosu berteriak dengan njaring" "Bok Holouw kemarin
dulu masih melukai seorang saudara dari agamaku. Siapakah kau
ini? Aku bunuh kau, agar ia keluar dari tempat sembunjinja!”
Kini barulah Keng In Wan mengerti bahwa si Tosu tidak mengerti
akan keterangannja. Maka dengan gusar ia lompat madju dan
melantjarkan ilmu silat turunan dari keluarga Keng jang disebut
”Kiu Yang Tjiu-hoat” atau Tangan sembilan-daja matahari!
Tangannja melintang keatas dengan tipu Thian-goan Kiu-souw atau
Sembilan-angka-kesatuan alam!
Tetapi sitosu menjerang dengan makin ganas dan kedjam!
Kebutannja jang dari pada besi itu menjambar mendjadi segumpalan
sinar hitam, dalam waktu tiga djurus Keng In Wan sudah
kewalahan.
”Ha-ha-ha! Setelah kuhadjar kau, aku mau lihat apakah Bok Holouw
tidak muntjul.” Tosu itu tertawa mengedjek. Kebutan besi jang
digerakan dalam Soan Hong Tjiu-hoat atau Permainan angin pujuh
berkelebat diudara bagaikan angin badai dan hudjan keras. Keng
In Wan terkurung rapat! Ia hanja dapat mempertahankan diri
sadja, tidak dapat balas menjerang! Apa lagi untuk mentjapai
kemenangan.
”Masukan tanganmu kekiri, madjukan langkah berantai! Tiga kali
memukul dengan telapak tangan........................”
Sekonjong-konjong terdengar oleh Keng In Wan suara halus
ditelinganja. Itulah pukulan rahasia! Keng In Wan memang sedang
mengalami tekanan bebat. Pada saat itu Hudtim sedang menjapu
dari sebelah kanan, tangan kirinja sedang kosong, semestinja
membalikan tubuh lalu dengan telapak tangan memukul. Djika
masukan tangan kiri, bukankah djustru memberikan lowongan untuk
lawan? Keng In Wan kesima, ia membalikan telapak tangannja, tapi
sekalipun ia dapat menangkis kebutan lawan, namun ia tetap
terdesak.
Maka terdengarlah suara itu lagi, kali ini nadanja menganduug
kegusaran. ”Hei, botjah! Apakah kau sengadja mentjari nasi?”
Keng In Wan berkeringat dingin. Menjusul terdengar suara jaug
halus dan merdu. Itulah suara sigadis.
"Turutlah nasihat ajahku! Apa gunanja untukmu membangkang!” Keng
In Wan bingung sekali. Pada detik menjusul suara itu terdengar
lagi. "Putarkan tubuhmu! Pukul dengan telapak tangan kananmu
tiga kali! Kini pemuda kita menurut. Bagaikan kilat ia
memutarkan tubuhnja dan menghantam bertubi-tubi tiga kali!
Heran! Pada saat menjusul si Tosu mendjerit dan terpental
kebelakang. Namun lekas Tosu itu bangun, sekali bergerak,
tubuhnja melompat. Sekarang Keng In Wan mengetahui bahwa jang
bitjara tadi adalah Bok Holouw bersama anak perempuannja.
Hatinja merasa mantap. Oleh karena itu, dengan penuh semangat ia
mainkan ilmu silat Kiu Jang Tjhiu-hoatnja.
Sesungguhnja kepandaian Keng In Wan sekarang ini masih djauh
tingkatannja dibandingkan dengan Tosu itu, namun oleh karena Bok
Holouw setjara sembunji memberikan petundjuk, maka si Tosu itu
terdesak. Menurut aturan Tosu itu mestinja tahu gelagat dan
menjudahi pertempuran, karena sebetulnja ia hanja disuruh
menghantar surat.
Namun karena selama hidupnja Tosu ini belum pernah mengalami
kekalahan, dan ia tahu benar bahwa ilmu silatnja menang djauh
dari pada Keng In Wan, maka mana mau ia mengerti dan mundur? Si
Tosu tidak tahu bahwa ada orang lain jang setjara sembunji
memberikan petundjuk2 rahasia. Tiga kali si Tosu menerdjaug Keng
In Wan, tapi berturut-turut ia djatuh terpental. Bahkan tiap
kali djatuh, tiap kali lebih hebat sakitnja.
Tiba2 si Tosu merentjanakan suatu tipu jang djahat, malahan
kedji! Sambil menggertak giginja ia menjerang dengan tipu ”Ngo-
Kui Huan-Ju-Beng” atau Lima iblis memberontak dineraka! Hudtim
bersama telapak tangan menjerang berbarengan.
Keng In Wan menangkis dengan tipu "Hwee-Djit Eng Kong" atau
Sinar-bajangan-melingkari-matahari dari ilmu silat ”Kiu Jang
Tjiu-hoat tapi ia terdesak. Tetapi tepat pada waktu itu,
terdengar pula suara ditelinganja. ”Madju tiga tindak mundur
tudjuh tindak menjanggah pilar mengganti tihang Tjin San, Thee
Tjit, Tou Liong Hwan Tju.”
Keng In Wan kini sudah tunduk benar, tanpa pikir pandjang lagi
ia madju tiga tindak, lalu mundur tudjuh tindak.
Benar sadja, serangan2 jang ganas kedjam itu dapat dipunahkan!
si Tosu malahan berteriak bahna kagetnja ketika pinggangnja
ditangkap Keng In Wan. Tubuhnja diangkat dan dilempar bagaikan
orang melempar lembing. Namun baru sadja Keng In Wan merasa puas
hatinja, atau tiba2 tudjuh titik sinar menjambar kearah mukanja!
Sipemuda sedang lengah, maka tak sempat ia untuk berkelit!
Benar2 djiwanja terantjam. Tepat pada waktu itu, berkelebatlah
sesosok bajangan hidjau.
Terdengarlah suara gemerintjing dan semua titik bintang itu
lenjap diudara. Sementara itu, Keng In Wan sudah djatuh ketanah.
Bajangan hidjau itu tidak lain dari pada si anak perempuan jang
djelek rupanja.
Menjusul mana bajangan hidjau itu menubruk si Tosu. "Hun Kong
Tjui” atau Pasak-pembagi-sinar jang termasjur dikalangan hitam
maupun putih, dan si Tosu ketemu batunja.
Si Tosu bukan kepalang kagetnja. Maka ketika si gadis lompat
menjerang, tjepat2 ia bergulingan ditanah.
Namun sambaran angin tetap membajanginja. Ia mendjadi gelisah.
Disedotnja hawa Tjin-kie lalu bergulingan terus dengan
tjepatnja. Ilmu silatnja memang bagus dan tjara bergulingnja itu
merupakan sebuah tipu meloloskan diri diwaktu keadaan sangat
berbahaja. Ilmu itu disebut ”Tjie Djan Kut” atau Tikusmenjerobot-
setjara-litjin.
Tak heran djika dalam waktu singkat ia sudah mentjapai puluhan
tombak djauhnja. Sekalipun demikian, sigadis terus
membajanginja! Terpaksa si Tosu mengerahkan tenaga dalamnja dan
memukul dengan Hudtimnja! Inipun merupakan tipu istimewa untuk
mentjari hidup dalam bahaja kematian.
Tjelaka! pada saat itu djuga tenaga seberat ribuan kati menekan
tangannja!
”Krek!”
Tangan kanannja terasa sakit luar biasa, si Tosu mendjerit
kesakitan.
Terdengarlah suara membentak: "Hoo-Dji, djangan terlampau kedjam
kau turun tangan..............."
Bermandi air peluh karena menahan sakitnja, si Tosu berdiri
dangan gemetar, tangan kanannja terkulai patah. Tapi si Tosu
bersemangat besi, ia menggertak giginja dan tangan kiri merogoh
sakunja. Dikelurkannja pisau belati jang lantas diangkatnja dan
dikibaskannja!
Si Tosu memutus tangan kanannja jang patah. Darah mengutjur amat
derasnja. Wadjahnja putjat mengerikan, ia masukan tangan
sebelahnja kedalam saku, dan mengambil bungkusan obat. Dibukanja
bungkusan obat itu lalu diborehkannja obat itu pada lukanja.
Kemudian ia sobek lengan badjunja untuk membalut tangan kanannja
jang putus itu.
Barulah ia menengadah kedepan. Terlihat olehnja dihadapannja
berdiri seorang setengah tua, usianja kurang lebih empat puluh
tahun.
"Bedebah! Melihat tjara gerakan tanganmu, mestinja kau adalah
murid iblis tua dari Hoa-San-Pay! Apakah tua bangka itu tidak
tahu akan tabiatku dan menjuruh kau kemari untuk memantjing
kemarahanku? Hm, seandaikata aku tidak berhati belas kasihan,
tak akan kuizinkan kau turun dari puntjak Mao-Li-liong ini!"
Kini si Tosu betul2 tunduk.
"Sudahlah”, pikirnja, "Kuserahkan surat padanja, lain kali
dipikir lagi! Maka dibereskannja pakaiannja lalu memberi hormat
kepada orang dihadapannja itu.
"Pinto murid Thian Ie Siansu dari Hwa-San jang bernama Hie Siu
Tjeng berdjuluk Tiat Hut To-djin. Pinto membawa perintah suhu
datang kemari untuk menjampaikan surat, tidaklah kunjana
mengalami peristiwa seperti sekarang ini ........ Sesungguhnja
umpama kata dua negara bertengkar masing2 pihak, tidak boleh
melukai utusan, tetapi Pinto sebaliknja mengalami perlakuan jang
demikian..................”
"Kunjuk!! Kau sendiri jang petantang-petenteng mentjari ribut!
Kau tidak minta bertemu sebagai utusan djuga tidak mengeluarkan
surat. Kau mengandal pengaruh dan nama Thian Ie Siansu, berani
menjerang orang dihadapan kami. Djika kau tidak mengatakan hal
ini, aku tidak persalahkan dirimu. Tapi sekarang bukan sadja aku
tidak sudi menerima suratmu, bahkan kuusir kau turun dari gunung
ini! Djika hendak menjampaikau surat, Thian Ie Siansu harus
ganti orang lain! Pergilah kau dari sini!.....................”
Hie Siu Tjeng tak dapat menjelamatkun mukanja. Namun ia
bertabiat tidak suka mengalah, ia merogoh sakunja hendak
mengeluarkan surat untuk disampaikannja. Namun pada saat itu
djuga matanja mendjadi kabur. Tahu-tahu tubuhnja diangkat naik
dan terdengarlah orang tertawa dingin: "Kau berani main gila!!"
Tubuhnja melajang diudara bagaikan lajang-lajang putus talinja,
turun kebawah lamping gunung dan achirnja terguling-guling.
Berapa kali Hie Siu Tjeng hendak menahan tubuhnja namun tidak
berhasil. Baru setelah berada ditanah, tubuhnja berhenti
berguling. Dengan pakaian kojak2 dan badan kesakitan ia belari
terbirit-birit. Keng In Wan segera menghaturkan terima-kasihnja
kepada orang tua dan si gadis.
Ia bertanja: ”Lo tjian-pwee apakah kau bernama Bok Lotjianpwee?”
"Jang kau tjari siang-siang sudah kau temui. Kau telah melihat
empat buah buli-buli kaju. Hai, ajah mengatakan kau terlalu
bodoh. Tetapi inipun tidak djelek. Hanja ibuku itu,
ah.................."
Air mata sigadis ber-linang2.
Keng In Wan tertegun dihadapan "Siu Tjin Wan” empat buah buli2
kaju! Kata-kata ini, apakah maknanja? Hatinja bergerak! Kiranja
orang tua she Sin, pendeta bermuka merah, orang tua bungkuk dan
orang tua berbadju hidjau itu............. hanja seorang belaka!
Ah, apa Bok Lotjian-pwee memiliki kepandaian menjamar sedemikian
hebatnja?
"Tabiat ajah memang aneh. Ajah dan ibuku sudah berpisahan selama
dua belas tahun. Kau mengatakan bahwa kau disuruh ibu untuk
menemuinja. Demi mendengar nama ibu, ia djadi marah, namun
sebenarnja selama dua belas tahun ini, senantiasa ia
memikirkannja. Kau membawa barang titipan ibu, dan perintah
tinggulannja. Ajah mengira bahwa ibu mendustainja. Ajahpun
mengetahui bahwa kau baru sadja mengalami bentjana, dikirakan
bahwa kau pasti akan minta bantuannja. Ajah mengira diantara kau
dengan ibu terdapat hubungan jang akrab. Namun selama berapa
hari ini, kami dapat mengetahui bahwa kepribadianmu tidak
djelek......................... Achirnja, ketika diruang pendopo
kau serahkan kotak itu kepada ajahku, maka perasaan ajah makin
lunak. Ia keluar untuk menolongmu. Sekalipun anggota bagian
bawahnja tidak bisa bergerak namun rahasia pengerahan tenaga
dalamnja dari Sam Goan Kiong memang luar biasa. Karena musuh
terlampau kedjam, ajah mendjadi gusar. Dirampasnja benang ulat
sutra berapi itu, hingga ratjun jang mengeram didalam tubuhmu
itu dapat dipunahkanna.................."
Demi mendengar pendjelasan itu, Keng In Wan tambah terang
duduknja perkara. Ia merasa berterima kasih. Walaupun demikian,
ia masih belum mengerti tentang darah jang berlulahan didalam
ruang pendopo itu.
”Bodoh kau! Ajah sedang mengudji ketabahan hatimu. Boleh djadi
ajah hendak mengambil kau sebagai muridnja..................”
Keng In Wan tergerak hatinja.
Bok Holouw tersenjum mendengar itu. ”Djalan! Hajo masuk, nanti
bitjara dengan djelas,” ia berkata.
Ia berdjalan dan diikuti oleh kedua muda mudi ini masuk kekamar.
Keng In Wan berdiri dihadapannja dengan sikap hormat. Orang tua
itu kelihatan sedih. Ia memandang Keng In Wan, lalu bertanja:
"Dimana ia meninggal dunia?"
"Digua Thian Tju Tong digunung Tjinnia” djawab pemuda kita.
”Apakah kau jang merawatnja?”
”Ja!!"
"Nanti kau harua menemani kami untuk mengundjnngi tempat
kuburannja itu............... Ah, ia membuat aku hidup sangat
menderita............”
Orang itu lalu berpaling kebelakang dan berkata, "Hodjie,
semendjak kau berusia tiga tahun dan meninggalkan ibumu, selama
dua belas tahun ini, tiada seharipun kau tidak teringat padanja.
Tetapi, tidaklah kusangka bahwa sifatku jang keras kepala
achirnja membuat kau mengalami keadaan demikian menjedihkan.
Walaupun keenam pamanmu itu bukan orang baik baik, namun wanita
membela keluarganja memang hal jang wadjar. Apalagi aku pernah
bersumpah untuk tidak melukai seorangpun dari keluarganja. Namun
paman2-mu itu, djahat dan telengas. Mereka merusak anggota
bagian bawah tubuhku dengan Im Lim Teng (Paku Fosfor iblis) dari
Kui Ong Bun. Tetapi mereka lupa akan ilmuku Sam Goan Kiu Koan,
jang tiada taranja. Tak berhasil membinasakan aku, paman2-mu
jang sudah seperti orang gila itu, ingin membunuh kau. Inilah
jang memaksa aku menurunkan tangan kedjam sehingga lima pamanmu
binasa. Jang seorang lagi karena memandang muka ibumu baru
kuampuni. Siapa njana demi melihat majat2 saudaranja, ibumu
mendjadi kalap. Ibumu mendjerit-djerit, mentjatji aku kedjam
seperti binatang. Aku tak tahan lagi, aku membawa kau
meninggalkan rumah tangga. Kemudian aku datang kemari membangun
"Siu Tjin Wan" untuk mengasingkan diri, hidup menjepi! Maka
kedatangan Keng In Wan menimbulkan bentjiku kepada ibumu, jang
mula2 kukira tidak mau datang sendiri. Kukira ia masih dendam
dan bentji padaku.”
Keadaan sunji sedjenak.
"Tapi siapa tahu bahwa karena menangkap Oh Long Tjoa untukku,
ibumu kena rutjun. Sebetuluja ia hendak menggembleng ular itu
untuk dibawanja sendiri kemari, untuk kemudian dengan bantuanku
menghilangkan ratjun didalam tubuhnja dan memulihkan penghidupan
kekeluargaan kita jang bertjerai berai. Ah, sudah djalannja
karma! Keng In Wan jang di-kedjar2 musuh djatuh didepan gua
tempat tapanja. Ibumu bertempur dengan kawanan pendjahat itu,
hingga tenaga jang digunakan untuk mentjegah djalannja ratjun
itu mendjadi pudar. Segera ratjun mendjalar kedalam tubuhnja dan
menjerang djantungnja............”
Suara Bok Holouw makin lama makin sedih, achirnja ia terdiam.
Sin Thian Ju jang bergelar Bok Holouw adalah seorang tokoh utama
didalam dunia Kang Ouw, ilmu kepandaiannja sangat tinggi, dan
pengetahuan serta pengalamannja pun sangat luas. Karena
melakukan tugas penegak keadilan didunia Kang Ouw, maka ia
terlambat kawin. Achirnja ia berdjumpah dengan Kiang Liang Souw
jang bergelar Say Kuan Im, seorang pendekar wanita. Setelah
saling berkenalan dan bantu membantu, maka dua pendekar itu
djadi kawan seperdjuangan dan achirnja membentuk rumah tangga
bersama. Jang satu sudah berusia empat puluh tahun lebih, jang
lain pun sudah berusia tiga puluh satu tahun.
Kiang Liang Souw tersohor sebagai seorang wanita jang mendjaga
diri bagaikan menjajang batu mustika, pribadinja maupun ilmu
silatnja semua melebihi orang biasa. Namun lain halnja dengan
keenam adik laki2nja jang suka berbuat sewenang-wenang dan
malang melintang melakukan kedjahatan.
Kiang Liang Sonw diam2 kuatir suaminja bentrok dengan adik2nja.
Tombak dan golok tidak mempunjai mata, bilamana sampai ada
seorang dari adik-adikhja jang mati karena perkelahian dengan
suaminja, apa kata orang? Inilah hebat!. Oleh karena ini Kiang
Liang Souw membudjuk adik-adiknja agar mengubah kelakuannja jang
buruk, agar mendjadi orang baik2. Namun sia2 belaka.
Pada suatu hari adik Kiang Liang Souw jang ketiga, jaitu Kiang
Liang Kie dipergoki oleh Sin Thian Ju dalam perbuatannja
merampas wanita keluarga baik2. Sin Thian Ju mendjadi murka, ia
menjerang iparnja sampai babak belur. Sedjak itu Kiang Liang Kie
dan saudara2nja mendendam hati permusuhan terhadap Sin Thian Ju.
Tetapi nampaknja sudah ditentukan oleh Jang Maha Kuasa bahwa
diantara mereka jang djahat dan jang baik itu, mesti timbul
bentrokan! Kiang Liang Souw memperoleh Seorang putri dari
perkawinannja dengan Sin Thian Ju jang bernama Lok Ho. Ketika
Sin Lok Ho berusia tiga tahun, enam saudara Kiang itu berlagak
tobat dan mengubah kelakuan buruknja.
Mereka be-ramai2 membawa pelbagai mainan berkundjung kerumah Sin
Thian Ju. Melihat muka istrinja, Sin Thian Ju melajani mereka
dengan baik-baik. Kiang Liang Kouw, adik laki2nja jang kedua
pura2 mendukung Lok Ho sebentar setelah mana lalu diserahkannja
kembali kepada Sin Thian Ju.
Pada saat lengah itulah, Kiang Liang Kouw menjerang dengan dua
buah paku Im Lim Pek Kut Teng, sendjata-gelap dari Ju Leng Bun
jang terkenal keganasannja! Tapi Sin Thian Ju bukan sembarang
orang. Ia masih sempat menggeserkan tubuhnja sehingga paku itu
tidak mengenai djalan darah jang berbahaja namun tak urung
menghantam kedua lututnja! Hawa dingin lantas menjerang kakinja.
Bukan kepalang terperandjatnja Sin Thian Ju. Ia tertipu! Ia
menggerakan tenaga dalamnja untuk menutup djalan darah agar
ratjun tidak mendjalar. Kemudian sambil mendukung putrinja, ia
bertempur melawan keenam saudara2 itu. Sin Thian Ju mulai
beringas sorot matanja, ia gusar-bukan main. Apalagi keenam
orang itu senantiasa menjerang kearah putrinja! Inilah kedji
sekali!.
Sin Thian Ju mendjadi kalap! Ia berteriak mengguntur dan
menjerang dengan Sam Tjay Siang Tjan. (Penghantjuran-tiga-dunialangit
bumi dan manusia), lalu Sam Goan Un Hwee (Tiga tjara
pengerahan tenaga alam bumi dan manusia)! Tay Sam Seng Tjoat
Biat (Pemusnahan tiga bintang besar)! Keluarlah ilmu2 rahasia
jan djarang kelihatan didunia persilatan, dikerahkan dengan
tenaga Sam Goan Sin-kang!
Sekalipun keenam saudara Kiang itu memiliki kepandaian jang
tinggi, tapi mana dapat bertahan? Bahwa keenam saudara tidak
dapat meloloskan diri. Mereka bertempur sehingga satu hari satu
malam. Achirnja Kiang Liang Gie jang tertua, Kiang Liang Kouw
jang kedua, Kiang Liang Kie jang ketiga, Kiang Liang Sin jang
kelima, Kiang Liang Lin jang keenam, satu demi satu binasa dalam
telapak tangannja! Masih seorang lagi Kiang Liang Hoa, ketika
hendak dibunuhnja djuga, tiba2 teringatlah ia akan permohonan
istrinja: „Djangan sampai keluarga Kiang putus
turunan.............” perkataan itu mendengung ditelinganja.
Tangan Sin Thian Ju d jadi lemah. Kiang Liang Hoa hanja terluka
parah. Seraja menggertakkan giginja, Sin Thian Ju mengerahkan
tenaga dalamnja untuk membujarkan ratjun Im Lim Pek Kut Teng.
Tapi sajang sekali! Ratjun itu sudah masuk kedalam otot2-nja.
Berdjalan ia masih dapat, tetapi untuk berputar atau melompat,
banjak sekali makan tenaga. Djustru pada ketika itu, istrinja
pulang! Melihat majat2 saudaranja bergelimpangan, putjatlah
wadjahnja bahna kagetnja. Ia melihat pula roman suaminja jang
beringas menakutkan, ia lebih merasa sedih. Ia mengeluarkan
beberapa patah kata, lalu bertengkar mulut.
Sin Thian Ju beranggapan bahwa istrinja terlalu membela
keluarga. Tanpa banjak bitjara lagi, ia mendukung Sin Lok Ho,
lalu pergi dari rumah itu. Sedjak peristiwa ngeri jang timbul
itu, kedua suami istri tersebut tidak pernah bertemu lagi.
Malahan kini mereka tidak akan berdjumpa untuk selama2nja.
Sebenarnja tidak lama kemudian, Kiang Liang Souw mengerti
duduknja perkara. Ia sangat menjesal. Ia pergi menjerapi kabar
maka achirnja diketahuinja bahwa Sin Thian Ju membangun kuil Siu
Tjin Wan dan hidup menjepi dipuntjak Mao Li Hong. Ia telah
mengetahui djuga bahwa kaki Sin Thian Ju tjatjat.
Diam2 ia pergi kesegala pelosok untuk mentjari keterangan
tentang pengobatan kaki jang tjatjat demikian itu. Achirnja ia
mendapat petundjuk bahwa ratjun Im Leng Pek Kut Teng itu, hanja
dapat diobati dengan ratjun ular Oh Leng Tjoa jang diberi makan
tjusee bersama Hiat Djo (rumput darah). Oh Leng Tjoa itu harus
dipiara sampai kulitnja tumbuh titik2 berwarna kuning emas.
Kaki jang tjatjat harus digigitkan ular itu, agar ratjun ular
itu melawan bisa Im Leng Teng. Kiang Liang Souw mulai mentjari
ular Oh Leng Tjoa. Kemana-mana ia tjari namun tidak berhasil. Ia
tidak berputus asa. Gagal disini, ia tjari di lain tempat.
Kesungguhan dan kesabarannja memang dapat dipudji.
Achirnja dibelakang kebun rumah Keng Kong Tiat diketemukannja
seekor ular Oh Leng Tjoa jang ditjarinja. Susah pajah dan dengan
bantuan Keng In Wan jang masih pemuda remadja, maka berhasil
djuga ditangkap ular Oh Leng Tjoa itu. Dibawanja pulang ketempat
tinggalnja digunung Tjiong Lam San. Ular itu diberinja makan
Tjusee dan rumput Hiat Djo.........
Pada suatu hari karena lengah, Kiang liang Souw terpagut ular
berbisa! Tjepat ia mengerahkan tenaga dalamnja, menjalurkan
ratjun itu pada suatu tempat bagian tubuhnja.
Sebenarnja ia sudah dapat mengantarkan ular itu sendiri kegunung
Hwa San, namun kini ia mendjadi terlambat. Kebetulan pada saat
itu Keng In Wan sedang dikedjar2 musuhnja dan terdjatuh di depan
gua tempat tinggalnja. Terpaksa Kiang Liang Souw turun tangan
dan bertempur dengan pendjahat2 tersebut, hingga semuanja
terluka parah.
Namun karena mengerahkan tenaga terlampau banjak, ratjun ular
mendjadi bujar! Ratjun Oh Leng Tjoa mendjalar kedalam anggota2
tubuhnja...............
Selama belasan tahun, Kiang Liang Souw mengalami banjak pahit
getir, maka soal mati dan hidup sudah dianggapnja tidak begitu
penting. Tapi ia masih tidak dapat bebas dari gangguan asmara,
oleh karena ini maka ia minta Keng In Wan untuk mewakilinja
membawa ular Oh Leng Tjoa kegunung Hwa San untuk dipersembahkan
kepada suaminja.
Diwaktu hidupnja ia tidak berhasil melenjapkan kesalahfahaman,
maka diwaktu matinja ia harus melenjapkan kesalahfahaman ini.
Demikinlah achirnja Keng In Wan mentjapai djuga puntjak Mao Li
Hong digunung Hwa San. Sin Thian Ju menganggap istrinja sudah
hilang tjintanja, maka ia hidup menjepi digunung Hwa San.
Tidaklah disangkanja bahwa setelah lewat dua belas tahun,
istrinja mengutus Keng In Wan pemuda ini untuk menemuinja.
Bahkan mengatakan membawa perintah wasiat segala.
Sin Thian Ju mengira istrinja hendak menipu agar ia turun gunung
atau menghendaki supaja Keng In Wan diadjar ilmu kepandaian
sadja. Maka hendak diudjinja lebih dahulu sipemuda ini.
Berapa kali ia menjamar dan mempermainkan Keng In Wan. Tidaklah
di-sangka2 olehnja, bahwa sekalipun muda usianja, namun hatinja
tabah. Ketika mendengar perkataan Keng In Wan bahwa kotak jang
diserahkannja itu adalah kiriman istrinja, hatinja tergontjang
djuga. Ia buka tutupan kotak itu. Ular Oh Leng Tjoa jang sudah
lama dikurung didalam kotak itu, segera hendak keluar meloloskan
diri sambil memagut! Tambah pula oleh karena binatang itu makan
Tjusee dan rumput Hiat Djo, maka tenaganja hebat sekali.
Sin Thian Ju terperandjat luar biasa. Tjepat2 ia kakinja tidak
dapat bergerak leluasa, maka pahanja terpagut ular itu djuga.
Mula2 ia beranggapan istrinja hendak membalas dendam. Namun
tiba2 kakinja jang sudah hilang rasa itu mendjadi panas seperti
terbakar api. Kemudian terasa kesemutan. Hal ini belum pernah
dialaminja!
Tanpa ajal ia mengerahkan tenaga dalamnja! Kali ini tenaga dalam
dapat menembus kebagian kakinja tanpa sedikit mengalami
rintangan. Ia heran sekali.
Sementara Sin Lok Ho sudah menangkap ular Oh Leng Tjoa. Sin
Thian Ju memungut kotak itu dan melihat sehelai kertas tulisan.
Ketika dibatjanja, maka air matanja ber-linang2. Itulah pesanan
dari istrinja jang mengutarakan kemenjesalannja dan minta maaf.
Diuraikannja tentang kasiat ular Oh Leng Tjoa jang dapat
menghilangkan ratjun Im Leng Teng.
Achirnja diminta agar mendjaga Sin Lok Ho putri tunggalnja itu
baik2 dan mengenai Keng In Wan jang mempunjai dendam sakit hati.
Menggigillah sekudjur tubuh Sin Thian Ju, ia baru tahu bahwa
istrinja benar2 meninggal dunia.
Teringatlah ia kembali segala kedjadian pada masa jang lampau,
dan air matanja mengalir amat derasnja.
Ia menangis berhadap-hadapan dengan putrinja. Mereka menjesal,
namun sudah terlambat. Serta-merta Sin Thian Ju bertanja pada
Keng In Wan mengenai asal usul permulaannja. Keng Kong Tiat,
ajah Keng In Wan merupakan ahli Waris tunggal partai Heng-San
Pay. Ibarat pohon rindang mudah mendatangkan angin, banjak pula
orang2 jaug dengki kepadanja. Pada suatu hari ia mengawal barang
kiriman, ia kebentrok dengan kepala kepala kawanan perampok
didanau Tong Teng Ouw!
Adapun kepala perampok itu bernama Gak Tju Siang berdjuluk Hui
Thian Giok Liong (Naga kemala terbang) Dia kaja raja dan besar
pengaruhnja, anak buahnjapun tidak sedikit. Pergaulannja didunia
djalan hitam sangat luas.
Dengan be-ramai2 ia menjateroni rumah Keng Kong Tiat. Tidak
sadja seluruh isi rumah dibunuhnja bahkan kedelapan orang
muridnja djuga tiada seorang jang lolos dari djaring mautnja.
Bahkan Keng In Wan djika tidak kebetulan dapat kesempatan untuk
bersembunji didalam lubang gunung gunungan, iapun tak akan dapat
lolos. Achirnja ia berhasil bertemu dengan Kiang Liang Souw,
hingga ketulungan. So-konjong2 Keng In Wan mendjatuhkan diri
berlutut dihadapan orang tua itu sambil berkata.
"Lotjianpwee.................. Pendjahat Gak Tju Siang adalah
duri bagi rakjat djelata jang harus dibikin mampus.
Lotjianpwee,............ gemblenglah aku agar mendjadi
pandai. Aku hendak menghabiskan njawa djahanam itu, dengan
antek2nja sekaligus. Kiang Lotjianpwee mengatakan, bahwa hanja
kau, orang tua jang mempunjai kepandaian untuk
membunuhnja......"
Sin Thian Ju borpikir sebentar, kemudian berkata per-lahan2: „
Kepandainku tidak mudah ditjapai selain daripada harus sabar,
djuga harus mempunjai bakat. Tapi, ah! Tjoba sadja
peruntunganmu....."
Demikian semendjak hari itu, Keng In Wan mendjadi murid Sin
Thian Ju alias Bok Holouw.
Keesokan harinja ketika Sin Lok Ho tengah mengadjarkan Keng In
Wan ilmu mengatur djalan pernapasan, tiba2 terdengar suara orang
dari luar: „Mohon izin untuk menjampaikan surat!"
Sin Lok Ho berlari keluar bersama Keng In Wan. Ketika sudah
keluar, nampak oleh mereka seorang hwesio tua jang gagah keren
sikapnja, sedang membungkukkan tubuhnja.
Dari sekudjur tubuhnja sudah mengeluarkan asap berwarna putih.
Dihadapannja berdiri Sin Thian Ju, sedang merangkap tangannja
membalas hormat dengan sikap wadjar.
Mata Sin Lok Ho sangat tadjam, sekali lihat sadja ia tahu bahwa
ajahnja sedang menjerang dengan tenaga Bu Heng Tjin-kie (Tenaga
asli nan tak ber-bentuk2).
Hweesio itu bergulat mati2an mengerahkan tenaganja untuk
melepaskaskan diri. Namun Sam Goan Tjin-kie dari Sin Thian Ju
lebih hebat dibandingkan dengan Bu Heng Kang-kie jang
dimilikinja.
Malahan lebih hebat lagi! Karena djika hweesio itu kalah, maka
seluruh kepandaiannja akan hantjur sama sekali! Sin Lok Ho tak
tega hatinja, timbul belas rasa kasihannja. Karena ia melihat
bahwa hweesio itu sudah mengerahkan tenaga dalamnja sampai
puntjak penghabisan!
Djika diteruskan, tjelakalah dia! Maka gadis jang baik itu,
berseru dengan njaring.
„Hwesio tua, apakah kau masih tidak mau mengaku kalah?"
Sebetulnja hweesio itu bukan tidak tahu keadaannja, tapi ia
tidak punja muka untuk menjerah. Sebaliknja karena seruan Lok Ho
itu, Sin Thian Ju bersiul njaring. Pada detik itu djuga ia
mengibaskan tangannja dan hweesio itn terpental keatas udara
bagaikan diangkat angin.
„Djika bukan putriku berbelas kasihan aku pasti bikin kau turun
gunung dengan hantjur seluruh kepandaianmu, lekas serahkan
suratmu!”
Dengan sekudjur tubuh babak belur, hweesio itu merajap bangun.
Merah mukanja karena malu. Ia madju kedepan dengan likat sambil
mengangsurkan surat bersampul merah. Sin Thian Ju menjambutinja
dan tampaklah sebaris tulisan.
„Disampaikan kepada Sin Thian Ju, pendekar tersohor dari Ouw-
Hai". Dibawahnja tertera sipengirim „Hwa San Ngo Lo” atau Lima
orang tua dari gunung Hwa San.
Ketika dibukanja, didalam sampul itu terdapat surat menantang
mengadjak bertempur, jang kata2nja tidak teratur rapih. Hampir
sadja Sin Thian Ju tertawa karena gelinja. Setelah berpikir
pula, sambil bergeleng-geleng kepala ia berkata: „Baiklah aku
akan menepati djandji."
Hweesio itu manggut ber-ulang2 dan mundur. Setelah keluar dari
pintu Siu Tjin Wan, tanpa ajal ia melantjarkan kaki seribu lari
turun gunung.
„Oleh karena kita menghadjar si imam she Hi itu kini Hwa San Ngo
Lo mendjadi marah. Selama dua belas tahun aku sudah tidak
berurusan dengan dunia Kang Ouw. Dan buli2 merah dari suhuku
sudah banjak tahun tidak terlihat orang, nanti bulan tiga tahun
depan rupanja harus menemui mereka................" Sin Thian Jn
berkata kepada putrinja dan Keng In Wan.
Tanpa ajal pemuda kita mendjatuhkan dirinja berlutut: "Tidaklah
kunjana bahwa karena urusanku Insu djadi bermusuhan seperti
ini..................”
Sin Thian Ju tertawa tergelak-gelak: „Bulan tiga tahun jang akan
datang, setelah menemui Hwa San Ngo Lo, akupun harus menemani
kau menuntut balas. Harus diketahui bahwa djika istriku tidak
bertempur dengan kawanan pendjahat itu, tak nanti ia sampai mati
karena ratjunnja bekerdja. Inipun berarti diantara Gak Tju Siang
dengan aku, ada djuga sedikit hutang piutang jang harus
dibereskan. Muridku, melihat bakatmu dan pengadjaranku serta
kedua bendera Leng Hun Huan ini............kau pasti dapat
membunuh musuh2mu.”
Keng In Wan menjatakan terima kasihnja atas kemurahan hati orang
tua itu, namun didalam hatinja ia agak sangsi. Ia sangsi apakah
dapat berhasil mempeladjari Sam Goan Sin-Kang.
Hari pertama Lok Ho mengadjarkan teori, sekalipun dapat
menangkap sedikit artinja, namun untuk memahami seluruh arti
berapa patah kata-kata itu, tidaklah mudah. Namun ketika itu Siu
Thian Ju bersenjum.
"Asalkan kau beladjar dengan sungguh2, maka tidak ada hal jang
sukar didalam dunia ini. Lihat sadja
peruntunganmu..............."
Kata2 ini menjadarkan Keng In Wan dari alam mimpinja, maka
berpikirlah ia: „Untuk kepentingan membalas dendam, sekalipun
hantjur lebur tulang ragaku, aku tidak takut. Peri bahasa pun
ada jang mengatakan demikian, "Ketjuali mati tidak ada hal jang
terlampau sukar," maka asalkan aku beladjar dengan sungguh2 dan
tekun, apakah jang dapat menggagalkan
usahaku......................”
Semendjak hari itu. dibawah petundjuk Sin ThianJu, Keng In Wan
beladjar melatih Sin Kang dengan radjin serta tekunnja. Keng In
Wan seorang pemuda jang bersemangat me-njala2, ditambah pula
sangat menginginkan tjepat2 dapat membalas sakit hati
keluarganja, maka dalam latihannja ia tidak menghirauikan segala
kesukaran. Ia beladjar mati2an! Atjap kali sedari pagi sampai
malam terus menerus, atau dari malam terus hingga pagi, tidak
henti-hentinja ketjuali diwaktu tidur.
Siu Thian Ju menjaksikan muridnja jang luar biasa radjinnja,
dalam hatinja merasa lega dan puas. Sementara itu perhubungan
Sin Lok Ho dengan Keng In Wan mendjadi akrab. Sigadis semendjak
ketjilnja hanja hidup berduaan sadja dengan ajahnja, belum
pernah ada orang mengundjunginja.
Ketika pertama kali Keng In Wan datang kerumahnja, mula2 timbul
rasa simpati dalam hatinja akan nasib sipemuda jang buruk, tapi
lama kelamaan oleh karena bertjampur gaul terus menerus maka
timbullah perasaan tjinta pada sipemuda jang gagah-tampan.
Mulai hari ini, ia merawat tubuh dan mukanja, hingga lama
kelamaan mukanja jang dahulu hitam seperti pantat kuali,
mendjadi hitam manis. Bibirnja selalu menjadjikan senjuman jang
hangat dan menawan dan matanja berbinar tjahaja asmara.
Tjintanja pada Keng In Wan adalah murni dan indah.
Sin Lok Ho kini mulai mengetahui kebahagiaannja pertjintaan,
kurnia dari Thian kepada Machluknja.
Siu Tjin Wan jang tadinja sunji sepi berubah mendjadi taman
Surga dimana hawa asmara memenuhi udara. Sin Thian Ju diam2
mengetahui perhubungan sutji antara putrinja dengan Keng In Wan,
namun bukannja melarang, malahan ia bergirang hati. Keng In Wan
selain gagah tjakap, djuga berperibadi luhur dan bersikap
ksatrya.
Pada suatu malam, rembulan indah tjemerlang.
Tjahajanja jang bagaikan perak djatuh ber-limpah2 ditanah
sekitar kuil Siu Tjin Wan. Pemandangan indah sekali dan suasana
njaman dan segar. Dedaunun bergojang-gojang ditiup angin jang
meniup sepoi-sepoi, menghembus dari djauh nun disana, dimana
mata tak dapat memandang.
Tapi tersembunji dibelakang pohon2 bambu jang tipis, mengintip
dari sela2 daun jang kurang lebat, bertjanda dan berkasihkasihan
sepasang muda-mudi jaitu Keng In Wan dan Sin Lok Ho.
„Moay-moay jang tertjinta, dan tjantik seperti dewi Kahyiangan.
Aku datang dari rantau untuk memandang sinar matamu jang tadjam.
Dan aku bilang terus terang, bahwa sebelum dapat merebut dan
menguasai hatimu, aku tidak mundur, biar badan dan njawaku
hantjur."
Sang gadis tersenjum, ia pandai pula bermain dengan kata-kata.
„Tidak, pemuda asing. Tidak!" sahutnja menggoda.
„Aku tidak mempunjai hati! Dan seumpama kata ada, aku tidak
nanti berikan itu kepada hati jang buta. Kau salah mata.” Ia
mengangkat kepalanja dengan angkuh, sambil membereskan rambutnja
jang pandjang.
Keng In Wan memegang tangannja jang halus, dan dengan hati berdebar2
ia berkata: „Pantun jang bagus!" udjarnja. „Tetapi, moaymoay,
kau sendiri mendjustai hatimu. Kau melawan, kau menipu,
kau bunuh perasaanmu sendiri.”
„Salah pemuda. Dengarlah! Hati itu bagaikan kembang. Sebelum
datang musimnja, ia tidak akan bersemi. Hati manusia, kalau
dasarnja tidak ada, ia tidak bisa dipaksa datangnja menurut
kemauan orang. Djodoh kita tidak bertemu barangkali............”
Sin Lok Ho menutup omongannja dengan satu lirikan......
mengusir.
Rembulan diatas angkasa se-olah2 bermesem-simpul melihat tjumbu
raju sepasang muda-mudi itu jang sedang mengetjap kenikmatan
tjinta.
„Baunja kembang harum, durinja kembang tadjam. Sungguh manis
madu, sungguh pahit njali burung Hong..............." Sembari
berkata, Keng in Wan menarik tangan Sin Lok Ho kedekatnja dan
ketika muka mereka berhadap-hadapan, tak tahan lagi ia mongetjup
bibir sigadis dengan hangatnja.................
Berkat petundjuk dan pimpinan Sin Thian Ju jang maha sakti,
serta bakatnja sendiri jang memang sangat baik itu, ilmu
kepandaian Keng In Wan pesat madjunja.
Ditambah pula dengan ilmunja sendiri dari Heng San Pay jang
bernama Kiu Yang Tjhiu-hoat, maka sekalipun waktunja tidak
pandjang, hanja berapa bulan sadja, tapi ilmunja sudah djauh
berbeda dari pada ketika ia baru sadja naik kepnntjak Mao Li
Hong. Boleh diibaratkan seperti langit dan bumi.
Pada achir tahun ini, ketika Keng In Wan menggunakan tenaga
Thian Goan Kin, Sin Thian Ju mengadjarkan tjara penggunaan
sendjata bendera Leng Hun Huan jang dirampasnja dari Im Yang
Siang Sat.
Sin Thian Ju memang sangat gemar mempeladjari segala tjara
penggunaan sendjata, maka tak heran segala pedang golok dan
lain-lain sendjata banjak sekali terdapat didalam rumahnja.
Maka ketika melihat Im Yang Siang Sat menggunakan bendera Leng
Hun Huan, ia lantas mengetahui bahwa itulah merupakan sendjata
mustika. Djangan kata tentang bentuknja, hanja dipandang dari
benang ulat sutra berapi itu sadja sudah merupakan suatu benda
jang langka didunia. Oleh karena ini, maka tanpa ragu2
dirampasnja.
Kemudian ia mentjiptakan suatu ilmu baru, ditjampur dengan ilmu
silat Sam Goan Hun Hoa Tjhiu hoat.
Tidaklah dinjananja bahwa kelak kemudiau Keng In Wan dan Sin Lok
Ho berdua berkat ilmu penggunaan bendera tjiptaannja itu,
mendjadi termasjur diduuia Kang Ouw. Dengan Tjit Tjoat Leng Hun
Hoannja mereka berhasil mengalahkan tiga belas achli pedang Tong
Goan dan menggetarkan dunia Kang Ouw, baik dalam kaum djalan
putih maupun kaum djalan hitam.
Bulan berganti bulan dan waktu lewat dengan pesatnja. Dalam
waktu sekedjap mata sadja, tahu-tahu dua bulan telah terlampaui.
Sin Lok Ho bersama Keng In Wan berdua dibawah petundjuk Sin
Thian Ju telah paham menggunakan sendjata Leng Hun Huan.
Bahkan Sin Lok Ho dan Keng In Wan berhasil mentjiptakan suatu
tjara kerdja sama dalam bentuk terpetjah dalam persatuan. Debgan
tjara itu apabila dua orang sama2 madju, mereka dapat menggertak
disebelah timur sebaliknja menjerang disebelah barat, satu
mendjaga disebelah kiri, jang lain menjerang disebelah kanan.
Tjaranja sangat rapi dan rapat tiada lowongan atau kelemahan
jang dapat ditjari oleh lawannja. Tidak sadja dapat menjerang
tapi djuga dapat membela diri.
Demi menjaksikan ketjerdasan Keng In Wan sedemikian rupa ini,
Sin Thian Ju diam2 merasa girang.
Apalagi ketika Keng In Wan melakukan penjerangan, sentakan
tangan dan tikamannja adalah kuat dan tjepat.
Tubuhnja sangat lintjah dan gesit, segala sesuatu menundjukan
keluarbiasaannja. Dengan kepandaiannja jang sekarang ini sadja,
sudah dapat Keng In Wan bertempur dengan orang luar. Djika ada
waktu, maka Sam Goan Sin Kang akan mempunjai ahli warisnja.
Tak lama kemudian tahun telah berganti, tahu2 sudah tanggal
duabelas bulan tiga. Sin Thian Ju memanggil kedua anak muda mudi
itu kehadapannja. Diperintahkannja ber-kemas2 untuk berangkat ke
Hwa San memenuhi djandji Hwa San Ngo Lo.
Kedua bendera Leng Hun Huan disuruhnja dilipat menjerupai pedang
pandjang dan didukung dibelakang punggung.
Mendjelang berangkat diberi pula petundjuk-petundjuk sebagaimena
mestinja, lalu diberikannja doa restu untuk berdjalan.
Ketika Sin Thian Ju melangkah keluar pintu, maka kain kuning
dihadapan patung Sam Tjeng Tjin-djin tiba-tiba ditariknja.
Menjusul terdengarlah suara gemuruh. Sin Thian Ju tjepat2
melompat keluar pintu.
Tak lama kemudian, pintu rumah sutji itu rubuh kebelakang!
Pagarnja terbenam kebawah, ruang pendopo merapat djadi satu
kebawah. Nampak pula dari belakang terdapat sebuah panorama jang
bentuknja seakan-akan seperti tirai menutupi segala sesuatu.
Demikianlah rumah Sin Thian Ju ini tertutup oleh tanah gunung
jang penuh tnmbuh2an dan rumput, tidak kelihatan bekas jang
dapat ditjari orang.
Keng In Wan meleletkan lidahnja serta membuka matanja lebar2
bahna kagumnja, Sin Thian Ju tersenjum puas, kemudian bersama
Siu Lok Ho dan Keng In Wan ia berlalu pergi...
Bulan tiga tanggal tiga belas, Sang putri malam telah
memantjarkan tjahajanja ditjakrawala.
Dipuntjak Lok Goan Hong jang mendjadi sebuah Puntjak gunuug
diantara tiga puntjak Hwa San jang ternama, orang menjaksikan
bajangan orang jang berkelebatan. Seorang diantaranja adalah
orang tua jaug mengenakan pakaian serba hidjau, seorang lagi
pemuda gagah tampan dan seorang lagi wanita muda jang tjuga
berpakaian hidjau,
Setibanja dipuntjak gunung, si orang tua jang bukan lain dari
Sin Thian Ju memandang ke sekitarnja dengan penuh perhatian.
Setelah itu dengan tersenjum ia berkata: „Tanggal pertemuan
bulan tiga tanggal limabelas, kita datang kesini lebih dulu
untuk menjelidiki tentang keadaan musuh.
Apakah si tua bangka itu tidak mengatur djebakan atau barisan
maut dan sebagainja untuk mentjelakakan kita? Disini kulihat
tiga buah djalanan, kita harus mendjaganja setjara berpentjaran.
Seorang mendjaga sebuah djalanan, setelah itu kita berkumpul
menurut rentjana.
Djika ada sesuatu kedjadian, masing2 mengeluarkan suara
pertanda. Aku mempunjai peluit jang dapat mentjapai djarak
djauh, tidak terganggu oleh angin.
Tapi kalau tidak terlalu terpaksa, djanganlah digunakan agar
tidak sampai menjebabkan seperti kita memukul rumput untuk
mengedjutkan ular............”
Demikianlah setelah selesai berunding, ketiga orang itu lalu
berpentjaran.
Malam pertama tidak terdapat tanda apa-apa.
Hari kedua tanggal empat belas, ketika itu waktu kurung lebih
djam sebelas malam. Sin Thian Ju duduk bersila sambil meramkan
matanja mengheningkan tjipta. Tiba2 tertangkap olehnja suara
siulan njaring melengking diangkasa. Ia terkedjut. Dengan tjepat
ia bergerak, bagaikan burung raksasa berkelebat lari kearah
utara. Nampak olehnja sesosok bajangan hidjau berkelebat.
Sin Thian Ju jang sangat djeli matanja lantas tahu bahwa orang
itu tidak lain daripada putrinja sendiri
Ia lari mendahuluinja dan menoleh, lalu berbisik.
"Ho-djie, kau lupa menutupi mukamu!"
Mendengar teguran itu, Lok Ho berhenti: „Ajah, kau djalan
duluan."
Sin Thian Ju berlari terus, tjepat bagaikan melesatnja anak
panah. Sesaat kemudian ia tiba dilereng gunung sebelah utara.
Nampak olehnja bendera Leng Hun Huan ber-kibar2 mengeluarkan
suara angin jang men-deru2
Tiga bajangan orang bergerak mengitarinja. Sin Thian Ju lantas
tahu bahwa ketiga orang itu semua memiliki kepandaian tinggi,
lebih-lebih seorang tua jang mengenakan pakaian putih. Gerakan
tangan serta kakinja istimewa sekali! Sedang dua orang lain2nja
ialah Im Yang Siang Sat Ie Hong dan Yu Hun Liat. Rupanja ketika
melihat muntjulnja dua orang ini, Keng In Wan keluar menghadang
dan menjerang.
Sementara ketika melihat tjara Keng In Wan bertempur, Sin Thian
Ju diam 2 mengangguk-angguk kepalanja dengan puas. Tidak
mengetjewakan pimpinan, selama berapa bulan itu. Dibawah
pukulan2 bendera Leng Hun Huan jang ber-kelebat2 bagaikan
halilintar menurut djalannja ilmu silat Sam Goun Tjhiu Hoat
ketiga orang jang berilmu tinggi itu tidak dapat mendekati Keng
In Wan.
Sin Thian Ju sengadja berdiri berpeluk tangan membiarkan keadaan
tetap berlangsung. Ia menunggu kedatangan putrinja supaja
bersama muridnja menjerang bersama. Djika masih tidak dapat
mengalahkan barulah ia hendak turun tangan.
Sesaat kemudian dibelakangnja sudah terdengar suara orang
bergerak. Ia berpaling kebelakang. Putrinjalah jang tiba. Ia
memanggil putrinja dan memberikan kata2 petundjuk.
Sin Lok Ho sudah menjaksikan djalannja pertempuran, setelah
menerima pesan dari ajahnja, ia lompat madju kegelanggang
pertempuran. Sekali bergerak, ia mentjatji: „Tiga orang tua
menghina seorang pemuda! Apa tidak merasa malu! Aku datang!"
Demikianlah Sin Lok Ho tiba berbareng dengan suaranja, dan
bendera Leng Hun Huan berubah mendjadi tudjuh helai bajangan
tjahaja maut, berkibar-kibaran menjerang kepala si orang tua
jang berpakaian putih.
Orang tua ini tinggi kepandaiannja, ia dapat menghadapi
perubahan setjara teratur. Semula ia hanja menonton dipinggir
sadja, namun ketika menjaksikan Keng In Wan dalam waktu dua
tahun setelah keluarganja mengalami kebinasaan itu, kini sudah
memiliki Ilmu jang demikian hebatnja, bahkan Im Yang Siang Sat
jang merupakan pembantu utamanja masih tidak berdaja, bukan
kepalang terperandjatnja.
Djika tidak siang2 membinasakannja, maka kelak pasti akan
mendjadi bahaja besar.
Oleh karena demikian, iapun tidak lagi mengindahkan kehormatan
serta kedudukannnja didalam dunia Kang Ouw. Ia ikut mengerojok,
tiga orang melawan satu.
Keng In Wan sambil melawan Im Yang Sat, diam2 memperhatikan
orang tua badju putih itu. Ketika mengetahui orang tua ini ikut
turun tangan, bertekadlah hatinja. Ia tahu benar akan kelihayan
orang tua itu. Walaupun ia telah beladjar Sam Goat Sin-Kang,
belum tentu dapat mengalahkannja. Ditambah pula Im Yang Siang
Sat jang tinggi ilmunja ini, dengan satu melawan tiga bagaimana
ia dapat menang? Oleh karena itu ia meniup peluitnja. Sambil
menangkis serangan-serangan lawan2nja, dikeluarkannja seluruh
kepandaiannja. Bendera Leng Hun Huan ia putarkan menurut
petundjuk gurunja, diperkuatnja pertahanan dan segala lowongan
ditutupnja rapat-rapat untuk menanti datangnja bala bantuan.
Benar sadja Sin Lok Ho sudah tiba. Keng In Wan mendjadi besar
hatinja. Bendera Leng Hun Huan dimainkannja lebih bagus dan
lebih hebat. Sementara itu bendera Leng Hun Huan dari Sin Lok Ho
sudah lantas berkibar diudara menurut ilmu Sam Goan Siang Seng
Tjhiu Hoat, jaitu tjara permainan bekerdja sama jang mereka
berdua tjiptakan.
Sekali bendera Sin Lok Ho menjerang, bendera Keng In Wan lantas
mengimbanginja. Satu menggetar kebawah. satu lagi meninggal.
Tenaga raksasa lantas mengamuk.
Si orang tua berpakaian putih menghindarkan gelombang serangan
pertama, lalu menurunkan tangan berat. Ia keluarkan Liong Heng
Tjiang atau Telapak Tangan Naga Melingkar-lingkar. Ini hebat
sekali! Tubuhnja bergerak gesit-lintjah dan pukulannja tangkas.
Bajangan hidjau, memotong dan menghadang. Merampas!
Mentjengkeram didalam sambaran angin jang bergelombang bagaikan
taufan. Atjap kali muntjul Tjakar Naga! Orang tua itu hendak
merampas bendera maut!
Namun sekali orang tua itu menjerang, Keng In Wan sudah lantas
berteriak dengan gusar.
"Moay moay, pendjahat tua ini tidak lain dari pada Gak Tju
Siang. Rupanja ia disuruh malaikat atau ditarik iblis, sehingga
kini datang disini. Ganjang dia biar mampus!"
Sin Lok Ho berubah wadjah mukanja. "Apa? Pen-djahat tua ini
adalah Hui Thian Giok Liong? Mari bikin dia mampus!“
Bendera Leng Hun Huan sigadis menghantam dengan hebatnja, lalu
menaik dan mengibas bagaikan gunung-gunung ambruk!
Sementara itu Im Yang Siang Sat sudah bermandikan keringat
dingin. Mereka penasaran karena terang-terang bendera Leng Hun
Huan itu adalah sendjata miliknja serta tjiptaannja sendiri,
kini sebaliknja digunakan o'eh musuh untuk membunuhnja. Sendjata
makan tuan. Di-lain pihak Hui Thian Giok Liong Gak Tju Siang,
djuga gelisah luar biasa.
Mula2 ia besar hatinja karena dapat bersahabat dengan partai Hwa
San Pay. Terang-terang Hwa San Ngo Lo ilmu pedangnja lebih
tinggi setingkat daripada tokoh2 utama dunia Kang Ouw sekarang
ini. Apalagi menurut laporan putera dari Keng Kong Tiat telah
meloloskan diri kegunung Hwa San. Demikian kundjungannja ke Hwa
San kali ini dapat dikatakan sekali kerdja memperoleh hasil
banjak, pertama-tama ia dapat bersahabat dengan partai besar
jang sangat menguntungkan untuk pengaruhnja. Kedua dengan
perginja ke Hwa San ini sekaligus ia dapat membasmi keturunan
Keng Kong Tiat. Kini apa mau keadaan sangat kebetulan,
bertepatan dengan perkara Hwa San Ngo Lo jang hendak mengadu
kepandaian dengan Sin Thian Ju, untuk mengundjukan kemauan
baiknja, ia mengadjak Im Yang Siang Sat berkundjung ke Hwa San.
Ingin bertempur lebih dahulu dengan Sin Thian Ju!
Hal itu tepat seperti apa jang dipikir oleh Sin Thian Ju dengan
tibanja ke gunung Hwa San lebih dulu dari apa jang sudah
didjandjikan. Tidak tahunja belum sampai bertemu dengan tuan
rumah puntjak Lok Gan Hong, ditengah djalan ia sudah bertemu
dengan Keng In Wan.
Ia mendjadi girang sekali. Keng In Wan belum ditjari sudah masuk
perangkap sendiri, atau Sang mangsa mendatangi dihadapan mulut
harimau. Tetapi dengan keadaannja sekarang ini, malahan ia
sendiri jang masuk ke dalam perangkap!
Demikianlah ketiga orang djahat itu terkurung rapat2 dalam
serangan-serangan dua bendera Leng Hun Huan jang berkesiur-siur
laksana badai. Keng In Wan dan Sin Lok Ho terus mengepos
semangatnja, bertekad untuk menghabiskan njawa musuh2nja.
Ketjuali Hwa San Ngo Lo keburu datang, hingga pendjahat tersebut
pasti akan binasa.
Gak Tju Siang dan Im Yang Sat jang sudah banjak makan asam garam
dunia persilatan, setelah pertempuran berdjalan tiga puluh
djurus lebih, mereka insjaf akan bahaja. Mereka tahu bahwa
sekarang ini mereka ketemu dengan batunja. Mereka gelisah
sekali. Masing-masing bertempur mati-matian dan giat mentjari
djalan keluar. Pikirnja tak dapat menandingi musuhnja,
sedikitnja dapat mebloskan diri. Tetapi tepat pada ketika itu
djuga suatu bajang orang tua jang berpakaian hidjau sudah tiba
dan berkata lirih : "Ho-djie, mundur tiga bagi tudjuh In Djie
Goan Sun Huan...”
Mendengar petundjuk itu, maka kedua muda mudi lantas berputarputar
bagaikan tengloleng, sebentar-bentar bertukar tempat.
Bendera Leng In Huan dari Sin Lok Ho tiba-tiba memandjang, lalu
mengkerut pula. Dan bendera Keng In Wan bergerak membuat suatu
lingkaran.
Ketiga orang jang terkurung itu mendadak merasa tenaganja
bertambah, tanpa ajal mereka mengerahkan seluruh tenaganja. Gak
Tju Siang bergerak dengan tipu Sin Liong Hian atau Naga-saktimuntjulkan-
diri. Kedua telapak tangannja jang satu mengepal jang
lain melingkar, ia berontak melepaskan diri dari lingkaran
kurungan. Tjelaka! Tiba-tiba pandangan matanja mendjadi kabur!
Terdengar mendadak djeritan jang mengerikan.
Ie Hong kena pukulan Sam Hun Tiam atau Tutulan Tiga bagian jang
dilantjarkan oleh Sin Lok Ho dan tubuhnja lantas masuk kedalam
lingkungan penjerangan Keng In Wan! Seketika itu djuga tubuhnja
dilibat oleh bendera Leng Hun Huan dari Keng In Wan. Tubuhnja
terlempar diudara dan dengan mengeluarkan djeritan ngeri Ie Kong
mati seketika. Malaikat maut jang malang melintang selama banjak
tahun itu kini habis riwajatnja, mati dibawah sendjata
tjiptaannja sendiri.....
Bermatjam-matjnm perasaan mengaduk dalam pikiran Gak Tju Siang
dan Ju Hun Liat. Sedih, gusar, takut mati. Mereka bertempur
untuk menjelamatkan djiwanja. Semangat mereka sudah lemah.
Sebaliknja Sin Lok Ho bersama Keng In Wan besar hatinja atas
kemenangan jang pertama ini. Mereka bersiul njaring dan mendesak
lebih hebat pula. Angin menderu-deru bagaikan gelombang
menggempur partai menghantam kearah musuhnja. Gak Tju Siang
mimpipun tidak akan mengalami kesukaran jang sedemikian hebatnja
ini. Ingin kabur, namun djalan tidak ada, sudah tertutup.
Tiba-tiba terdengar pula Sin Thian Ju berseru: ”Ho-djie, lekas
lantjarkan pukulan Huan-Djit-Hong atau Bianglala memutarimatahari!”
Gak Tju Siang berteriak bahna kagetnja. Sinar bagaikan bianglala
melingkar turun kearah kedalamnja! Tjepat2 ia menolak keatas
bagaikan hendak mengangkat barang berat untuk menangkis pukulan
itu. Tjelaka! Pada saat itu djuga bahunja mendjadi kesemutan!
Ketiaknja terasa sakit. Bendera Sin Lok Ho menerobos, dan dengan
sekali menggulung, bahu sebelah kirinja terlibat. Bendera tiba2
ditarik, Gak Tju Siang tjepat2 hendak melompat mundur, namun
Keng In Wan sudah siap untuk melakukan balas dendam.
Sebuah tendanhan geledek lantas menjambar, menghantam perut
musuh-besarnja! Gak Tju Siang roboh terkulai.
Yo Hun Liat terkedjut bukan kepalang. Bersamaan sepasang mata
jang memantjarkan sinar beringas, penuh perasaan dendam menatap
padanja, menembus kedalam hatinja! Dilihatnja bahwa dalam sinar
mata itu membajang pula butir2 air mata.
Yu Hun Liat tergontjang. Disaksikannja pula air mata itu menetes
turun. Sekujdur tubuhnja mendjadi dingin. Namun ia tidak dapat
berpikir lama2, karena pada detik menjusul pinggangnja terlibat
bendera Sin Lok Ho. Ia berteriak kesakitan!
Dihadapan matanja bajangan bendera bergojang malang melintang,
dan tahu-tahu tubuhnja Sin Lok Ho dan Keng In Wan berdiri tegak
dengan semangat bergelora, mereka telah menang!
Namun sekonjong-konjong bentakan jang keras mendengung diudara!
Lalu sebuah bajangan berkelebat kearah sepasang muda-mudi itu.
Gerakan orang luar biasa tjepatnja! Terperandjat Sin Lok Ho dan
Keng In Wan lompat mundur untuk melihat pendatang itu setjara
tegas. Nampaklah seorang Tosu jang rambutnja putih bagaikan
saldju tapi wadjahnja merah bersemangat seperti anak muda.
Tangannja memegang sebilah pedang pandjang jang memantjarkan
sinar dingin. Matanja berapi-api melihat dengan melotot kearah
muda-mudi itu. Fadjar sudah menjingsing. Hari ini sudah tanggal
lima belas bulan tiga.
Dibelakang Tosu itu muntjul empat tosu lain jang perawakannja
satu sama lain berbeda-beda. Mereka semua memandang pada kedua
muda-mudi itu dengan tertjengang dan kagum. Sementara si Tosu
tua itu berteriak dengan suara gusar: ”Hai, botjah2 tjilik!
Sungguh tinggi ilmu kepandaianmu........ pinto datang terlambat,
hingga tiga orang sahabat baik telah binasa ditanganmu. Kini
kamu harus ganti djiwa!"
Kemudian tosu itu menjerang, udjung pedangnja bergerak turun
dengan hebatnja serangan jang ganas sekali. Pedang menjambarnjambar
laksana halilintar dengan menimbulkan suara alunan
angin. Sinar pedang bertitik-titik bagaikan bintang gemerlapan,
dan menusuk kearah Keng In Wan dan Sin Lok Ho.
Djarak antara mereka dengan si Tosu tua lebih dari tiga tombak,
namun pedang pandjang itu dapat menjerang dengan serempak.
Dapatlah pembatja bajangkan betapa hebatnja kepandaian si Tosu
itu.
Keng In Wan dan Sin Lok Ho tjepat2 lompat kesamping, namun
mereka njaris kena tusukan pedang! Kini terkedjutlah mereka
berdua.
Tanpa ajal mereka menjerang pula. Dua buah bendera jang masingmasing
mempunjai tudjuh helai pita bagaikan air hudjan
bergojang-gojang dan menggetar diudara. Namun tosu itu tidak
mengetjewakan namanja sebagai ahli pedang nomor satu dari gunung
Hwa San. Menghadapi Leng Hun Huan jang seganas itu, masih tegak
berdiri dengan agungnja. Pedangnja bergerak diantara barisan
lawan, bagaikan beribu-ribu ular jang turun menerdjun kedalam
sebuah lubuk.
Kedua muda mudi terpengaruh oleh kegembiraan akan kemenangannja,
tak berani gegabah lagi. Mereka saling memberi isjarat dengan
pandangan matanja dan mendadak mereka berteriak mengguntur lalu
menjerang dengan dahsjatnja. Pantang mundur, madju terus!
Demikianlah Sin Lo Ho menjerang dari kanan, pemuda kita jang
menghantam dari bawah. Keras lawan keras! Bendera menjambar
dengan suara angin jang bergelombang dan menderu.
Tosu tua jang bukan lain dari Thian Ie Siu Su itu tak berhasil
menundukkan lawan2nja jang bekerdja sama dengan mahirnja.
Thian Ie Siu Su dengan sengit melantjarkan pedangnja dalam
djurus-djurus Louw In Kiam-hoat atau ilmu pedang Menembus Awan.
Tiga belas pukulan2 dan sambaran2 rahasia ilmu pedang sedjati
keluar semua, namun kedua pemuda itu tetap melajaninja dengan
senjum, dua buah bendera jang bersifat lemas itu berkibar-kibar
dalam ilmu Sim-Goan-Kin setjara berpetjah dalam arti persatuan.
Keng In Wan betul2 telah berubah djauh kepandaiannja. Ia
bertempur tangkas laksana harimau, gesit bagaikan rusa.
Bila sigadis mundur maka Keng In Wan madju, satu menangkis jang
lain menjerang. Sedikitpun tak ada lowongan jang dapat ditjuri.
Thian Ie Siu Su tergerak hatinja, kagum bertjampur marah, ia
tidak hendak lekas-lekas mentjari kemenangan, karena dengan
bertempur lama, sekalipun pemuda pemudi ini berilmu tinggi namun
ketahanannja tidak terlalu baik, ia pertjaja pemuda-pemudi itu
akan habis tenaganja. Pada saat itu barulah ia akan membunuh
mereka satu-persatu.
Pertempuran makin berketjamuk amat hebatnja. Keng In Wan
mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnja jang paling tinggi,
hingga dilain saat hanja bajangannja sadja jang kelihatan.
Sekonjong-konjong suara tertawa jang njaring menggetarkan rimba
nan sunji dan sebuah bajangan orang jang mengenakan pakaian
hidjau dengan sekelebatan berdiri diantara bajangan bendera dan
pedang pandjang. Itulah Sin Thian Ju!
"Tosu tua tahan pedangmu!" Kemudian Sin Thian Ju berpaling
kebelakang dan berkata: ”Keng In Wan, Ho-djie, lekas
mundur........”
Sekali lompat sadja, pemuda dan pemudi kita mundur.
Keempat tosu lain dari Hwa San Ngo Lo madju kedepan.
Thian Ie Siansu menarik pedang pandjangnja dan memandang dengan
tadjam, ia tahu ia harus hati2.
Dengan senjum simpul Sin Thian Ju berkata: ”Tosu tua, djanganlah
terburu napsu. Puteriku dan muridku tidak mempunjai sangkut paut
dengan urusan kita berdua. Kalau mau bertempur, lawanlah aku.”
Tersindir oleh Sin Thian Ju setjara senda gurau, Thian Ie Siansu
bukan kepalang gusarnja.
"Bok Holouw, kau berulang-ulang menghina murid-murid Hwa San
Pay! Djika pinto tidak menghadjar kau ini.....”
Sin Thian Ju tertawa bergelak-gelak. ”Ha-ha-ha! Pelahanlahanlah..........
kini kita belum tahu siapa jang
menghadjar siapa. Tak usah marah-marah dulu. Aku hendak tanja,
bagaimana tjaranja mengadu kepandaian? Satu lawan satu, atau
lima lawan satu? Hanja segebrak sadja atau dua kali bertempur?”
Thian Ie Siansu membentak dengan marahnja: "Asalkan kau dapat
mengalahkan pedang pandjangku ini, maka partai Hwa San Pay
terhitung kalah didalam tanganmu!”
"Apa kata-kata ini sungguh-sungguh?”
"Baiklah, djika aku si orang tua kalah, aku aku bunuh diri
disini."
"Hm, djangan kata tentang kalah, tidak dapat mengambil
kemenangan dari kau boleh djuga dihitung kalah, djangan dihitung
seri. Bagaimana dengan sjarat ini?”
Mendengar kata-kata jang sangat sombong ini, Thian Ie siansu
makin gusar.
”Pendjahat tua jang sangat sombong. Lihatlah pedangku! Adjalmu
sudah tiba!"
Bianglala putih lantas melengkung-lengkung lalu menggetar
diudara mendjadi ratusan bintang. Getaran dan gerakan pedang
berubah mendjadi segumpal bajangan maut jang mengurung Sin Thian
Ju! Inilah djurus istimewa dan ilmu pedang Louw Hun Kiam (Pedang
Menusuk Roh) jang disebut Kui-Bok Ju-Kong atau Sinar Mata Iblis
Achirat! Serangan ini luar biasa dahsjatnja!
Tetapi Sin Thian Ju dengan tangan hampa, kelihatan tenang2
sadja.
Tidaklah disangka-sangka orang sama sekali bahwa tepat pada
waktu itu, terdengar suara tertawa njaring dan menjeramkan.
Menjusul itu Sin Thian Ju berteriak seperti geledek. Dalam
bajangan sinar jang bergulung-gulung itu sebuah bujangan putih
terpental keluar! Bajangan hidjau merampas pedang pandjang dari
tangan bajangan putih.
Untung walaupun masuk kedalam lingkaran tenaga Sam Goan Kin
Lang. sehingga tubuhnja terpental. Thian Ie Siansu tidak tinggal
diam begitu sadja. Begitu pedangnja dirampas, tjepat2 ia
menjerang dengan Liap-Tiat Siu Djiauw atau Tjakar Sakti
Menangkap Besi, ia lompat menubruk pedang pandjangnja dapat
dirampasnja kembali.
Dua orang berkepandaian tinggi bergebrak, walaupun waktunja
hanja sebentar sadja, namun sebenarnja mereka sudah bertempur
beberapa djurus. Sungguh hebat sekali! Kini pedang pandjang
sekalipun sudah pulang kembali dalam tangannja Thian Ie Siansu,
namun dalam pertempuran ini sesungguhnja ia sudah kalah.
Tanpa banjak bitjara pula Thian Ie Siansu menggerakkan tubuhnja,
bagaikan terbang berlari turun gunung, diikuti oleh keempat
kawan-kawannja.
Pertemuan digunung Hwa San puntjak Lok Gan Hong selesai.
Keng In Wan mendjatuhkan diri dan menangis kerena terharu dan
gembiranja, karena musuh2 besarnja jaitu Gak Tju Siang dan Im
Yang Siang Sat telah dibunuh olehnja.
Sin Lok Ho tarsenjum madu.
“Koko, marilah kita pulang,” bisiknja halus.
TAMAT

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Silat Kuna Cersil Antik : Bendera Maut ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments