Cerita Mesum Bersambung Dewasa : PAB 5

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Mesum Bersambung Dewasa : PAB 5
Cerita Mesum Bersambung Dewasa : PAB 5
―Aku…, meskipun demikian, … bagaimana perasaan Adik Ying Ying jika dia tahu…‖, dengan suara bergetar Ding Tao masih coba bertahan, tapi antara tubuhnya dengan otaknya sudah tidak sejalan.
―Jika kau tidak mengatakannya dan aku tidak mengatakannya, darimana dia bisa tahu?‖, bisik Murong Yun Hua.
―Tapi dalam hati ini, hati nuraniku akan terus menuntut kejujuran dariku. Menyalahkanku karena telah bertindak tidak adil terhadap Adik Ying. Aku bisa bersembunyi dari manusia, tapi tidak dari hatiku sendiri.‖, jawab Ding Tao mengeluh.
―Adik Ding, pikirkanlah dia mencintaimu, akupun mencintaimu dan kau mencintai kami berdua. Hanya karena permainan nasib, kau bertemu dengannya terlebih dahulu. Di mana letak keadilannya? Kau mengatakan hatimu akan tersiksa, tapi bagaimana dengan hatiku…?‖
702
Meskipun di mulut dia hendak menolak, tapi tubuhnya tidak kuasa untuk mendorong Murong Yun Hua pergi. Jangan lupa juga, khasiat dari Obat Dewa Pengetahuan, obat ini berkhasiat meningkatkan kerja otak dan susunan syaraf. Berkat obat itu panca indera Ding Tao menajam, kepekaannya meningkat dan otaknya bekerja menerima masukan dari luar dengan lebih terperinci.
Jadi bayangkan saja, jika sebelumnya sewaktu Murong Yun Hua hendak memaksa Ding Tao menerima warisan keluarga Murong, Ding Tao sudah mengalami kesulitan untuk menolaknya. Apalagi sekarang, ditambah lagi dengan jaminan bahwa Murong Yun Hua tidak akan menuntut apa-apa darinya.
―Enci, apakah ini cinta namanya? Apakah ini bukannya nafsu belaka?‖, ujar Ding Tao dengan memejamkan mata, berusaha untuk bertahan dari rangsangan yang dia rasakan.
―Akupun tak tahu, apakah ini cinta atau nafsu, yang aku tahu, jika kau melakukannya aku akan sangat berbahagia. Sepanjang sisa hidupku, dengan mengenangkan malam ini, aku akan mendapatkan kekuatan untuk hidup berjauhan darimu…‖
703
Dan tanpa menunggu jawaban dari Ding Tao, Murong Yun Hua mencium bibir pemuda itu. Ciuman itu hanya sekilas saja, bibir mereka bersentuhan dengan lembut untuk sesaat lamanya lalu berpisah. Tapi sentuhan yang perlahan itu membuat kepala Ding Tao terasa ringan melayang.
Ding Tao sudah pernah berciuman dengan Murong Yun Hua sebelumnya, tapi pada saat itu Murong Yun Hua memaksakan dirinya pada Ding Tao. Ciuman yang berikutnya, berbeda dengan yang pernah Ding Tao rasakan sebelumnya. Ciuman ini milik bersama, ciuman yang diinginkan kedua pihak, seperti yang dia lakukan bersama Huang Ying Ying. Tapi saat itu keduanya sama-sama belum berpengalaman. Saat Ding Tao mencium Murong Yun Hua, bibirnya sedikit terbuka, dan dia merasakan lidah Murong Yun Hua menyusup ke dalam, menyapu bibirnya dan menyentuh ujung lidahnya.
Kepala Ding Tao berdenyut keras, tiba-tiba muncul keinginan untuk menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Murong Yun Hua, memeluk tubuhnya, merasakan kulit mereka bersentuhan, menyatukan tubuhnya dan tubuh Murong Yun Hua. Sesaat lamanya mereka berciuman dengan hangat, Murong Yun Hua tiba-tiba mundur, mendorong Ding Tao untuk menjauh. Ketika Murong Yun Hua mundur menjauh, Ding Tao berusaha
704
mendekat. Tapi jari Murong Yun Hua yang lentik menyentuh bibir Ding Tao, menghentikannya, dengan suara berbisik penuh gairah dan nafas sedikit terengah dia berkata, ―Jangan di sini, mari, kita ke kamarku.‖
Wajahnya yang cantik bersemu merah, beberapa helai rambutnya lepas dari ikatan, jubah luarnya sedikit tersingkap, memamerkan pundak yang putih halus. Meskipun tampak acak-acakan, hal itu hanya membuat Murong Yun Hua tampak semakin cantik. Seperti kerbau dicocok hidungnya, Ding Tao mengikuti Murong Yun Hua.
Ketika pintu kamar sudah ditutup, tiba-tiba Ding Tao berdiri termangu, meragu. Ragu akan apa yang harus dia lakukan, namun tangan Murong Yun Hua menyentuh pipinya, dengan lembut dia menarik Ding Tao ke arah dirinya dan mereka kembali berciuman. Kali ini Ding Tao tidak menunggu, saat dia merasakan bibir Murong Yun Hua terbuka, lidahnya menyelusup ke dalam bertemu dengan lidah Murong Yun Hua. Dengan lembut ditariknya Murong Yun Hua ke dalam pelukannya. Tubuh Murong Yun Hua terasa begitu lembut dan rapuh dalam pelukannya.
705
Baju sutranya berdesir lembut saat Ding Tao memeluk sambil membelai punggungnya, menyentuh pinggulnya, meremas lembut pantatnya. Mendesah Murong Yun Hua membelai lengan dan punggung Ding Tao, merasakan otot-ototnya yang keras dan bertonjolan.
Perlahan tangan Murong Yun Hua merengkuh kepala Ding Tao dengan kedua tangannya, lalu dengan lembut mengarahkannya ke arah lehernya yang jenjang. Saat bibir Ding Tao mengecup lehernya, tanpa bisa ditahan Murong Yun Hua mengerang nikmat.
Erangan Murong Yun Hua membuat Ding Tao merasa bergairah, bibirnya menciumi leher Murong Yun Hua, mendengarkan erangan Murong Yun Hua lembut penuh kenikmatan, ciumannya merayap semakin ke bawah hingga sampai di pundak Murong Yun Hua yang tertutup jubah luarnya.
Murong Yun Hua mendekap kepala Ding Tao ke dadanya, jantungnya yang berdenyut-denyut terasa nyaman dengan kepala Ding Tao menyandar di sana. Sesaat kemudian Ding Tao merasa tangan Murong Yun Hua melepaskan kepalanya, saat dia menengadahkan kepalanya, dilihatnya Murong Yun
706
Hua memandang dirinya mesra, tangannya sedang melepaskan ikat pinggang yang mengikat jubah luarnya. Tidak lama kemudian jubah itu sudah terlepas, dengan pandang mata penuh gairah Ding Tao memandanginya, kedua pundak Murong Yun Hua yang putih halus dan belahan dadanya.
Ding Tao kembali menundukkan kepala, menciumi kedua pundak Murong Yun Hua yang halus. Di tengah erangan Murong Yun Hua, terdengar desir kain yang jatuh ke lantai dan tangan Murong Yun Hua menarik tangannya, meletakkannya ke sepasang dadanya yang sudah terbuka tidak ditutupi selembar kainpun.
Ding Tao mengangkat kepalanya, memandangi Murong Yun Hua yang sudah telanjang tanpa ada satupun bagian dari tubuhnya yang ditutupi kain.
Tersipu malu Murong Yun Hua bertanya, ―Apakah kau menyukainya…?‖ Buah dadaku… buah dadaku terlalu kecil…‖
Ding Tao menggelengkan kepala, seakan pikiran itu sangat tidak masuk akal, ―Payudaramu indah sekali… tubuhmu… sempurna…‖
707
―Benarkah ?‖, Murong Yun Hua merasa terbuai oleh jawaban Ding Tao.
Dan sebagai jawaban Ding Tao merengkuh buah dada Murong Yun Hua. Jari-jari Ding Tao menelusuri setiap jengkal buah dada Murong Yun Hua, kemudian dengan lembut dia meremasnya.
―Perlahan…‖, desis Murong Yun Hua saat Ding Tao mulai membelai kedua payudaranya. Dan dengan lembut Ding Tao mengecup pucuk dada Murong Yun Hua dan Murong Yun Hua pun mengerang dan mengejang oleh rasa nikmat. Erangan Murong Yun Hua menyulut gairah Ding Tao, dengan lembut dia menciumi kedua payudara Murong Yun Hua, tangannya menjelajahi lekak-lekuk tubuh Murong Yun Hua. Sensasi yang dirasakan Murong Yun Hua tak tertahankan, gairahnya menyala-nyala, bagian bawah tubuhnya, miliknya yang paling pribadi berdenyut-denyut menginginkan Ding Tao, merasakan Ding Tao menyatu dengannya.
Dengan suara parau, Murong Yun Hua meminta, ―Buka bajumu… aku ingin merasakan tubuhmu…‖
708
Ding Tao melucuti pakaiannya dengan cepat, melepaskan sepatunya kemudian celananya. Kemudian direngkuhnya Murong Yun Hua dan didukungnya ke atas pembaringan. Tubuhnya tegap dengan otot bertonjolan. Segera setelah tubuh Murong Yun Hua terbaring di atas pembaringan, Ding Tao kembali menciumi dan menjelajahi tubuh Murong Yun Hua dengan kedua tangannya.
Gairah Murong Yun Hua yang sempat mereda, kembali menyala, seluruh tubuhnya berdenyut menginginkan Ding Tao. Tangannya menelusuri garis tubuh Ding Tao, dengan lembut menyapu perut Ding Tao, menyusup ke bawah dan menemukan kejantanannya yang menegang keras, panas.
Dibelainya batang kejantanan Ding Tao beberapa saat, pemuda itu melenguh nikmat. Kemudian dengan hati-hati Murong Yun Hua mengarahkan kejantanan Ding Tao ke daerah kewanitaannya. Ding Tao berhenti bergerak dan menatap mata Murong Yun Hua dengan lembut dan penuh cinta, menanti jawaban. Murong Yun Hua tersenyum dan memejamkan matanya.
Sesaat kemudian Murong Yun Hua merasakan Ding Tao perlahan memasukinya, tanpa bisa dicegah dia melenguh
709
nikmat, didekapnya pemuda itu kuat-kuat saat dirasakannya tubuh Ding Tao menindih dirinya, dan bergerak perlahan, berirama.
Tubuh Ding Tao yang menindihnya rapat, menekan buah dadanya dan setiap kali dia bergerak, sekujur tubuh Murong Yun Hua dijalari kenikmatan, dari daerah kewanitaannya, dari dadanya yang sensitif. Kamar itupun dipenuhi suara erangan penuh kenikmatan.
Setiap kali keduanya bersatu, dalam tiap erangannya Murong Yun Hua menyebut-nyebut nama Ding Tao.
Bab XV. Mendapatkan sahabat.
Berat bagi Ding Tao untuk meninggalkan kediaman keluarga Murong setelah apa yang terjadi di malam sebelumnya. Pagi itu, Ding Tao dan Murong Yun Hua bercinta sekali lagi. Ding Tao meninggalkan kediaman Murong saat matahari sudah tinggi di langit.
Selain memberikan bekal makanan dan pakaian, Murong Yun Hua memberikan lagi sejumlah pil Obat Dewa Pengetahuan
710
untuk dibawa Ding Tao, karena obat itu tidak boleh dihentikan penggunaannya dengan tiba-tiba, melainkan harus dikurangi secara bertahap. Murong Yun Hua juga coba memberikan sejumlah uang pada Ding Tao, namun pemuda itu menolak dengan keras.
Langkah kakinya berat melangkah menyusuri jalan, padahal baru kemarin dia menyusuri jalan yang sama dengan semangat berkobar. Tidak heran jika banyak dari mereka yang menekuni jalan pedang memilih untuk tidak terikat dengan cinta. Tapi sejak awal Ding Tao sudah terlanjur jatuh dalam jerat cinta dan sekarang benang-benang cinta yang menjeratnya semakin rumit dengan kehadiran Murong Yun Hua. Perjalanannya kembali ke Wuling ini justru berjalan dengan lancar. Setidaknya ada dua sebab, yang pertama, sejak pertarungan Ding Tao dengan kelompok Fu Tsun, Xiang Long dan akhirnya Sepasang Iblis muka Giok, nama Ding Tao mulai dikenal orang sebagai seorang jagoan muda yang berbakat.
Gerombolan bandit seperti gerombolan Laba-laba kaki tujuh atau gerombolan Wang Dou, merasa jerih terhadap pemuda ini.
Sebab kedua, yang lebih penting adalah, banyak yang meragukan rumor tentang Ding Tao memiliki Pedang Angin
711
Berbisik. Kenyataannya Ding Tao tidak menggunakan pedang itu, bahkan ketika dia harus bertarung mempertaruhkan nyawa melawan Sepasang Iblis Muka Giok. Apalagi ketika berita tentang pecahnya hubungan antara keluarga Huang dengan salah seorang kepercayaan mereka, Tiong Fa, karena Tiong Fa lah yang malam itu melakukan kejahatan di kediaman keluarga Huang. Menghubung-hubungkan kedua berita ini, dugaan orang, tentang siapa pemilik Pedang Angin Berbisik saat ini, segera tertuju pada Tiong Fa. Maka mempertimbangkan dua hal itu, banyak yang merasa suatu kebodohan untuk mengambil resiko dengan menanam bibit permusuhan dengan Ding Tao, sementara kemungkinan besar Pedang Angin Berbisik yang diincar justru berada di tangan Tiong Fa.
Itu sebabnya perjalanan kembali ke Wuling dilalui dengan lancar, meskipun Ding Tao melakukan perjalanan tanpa penyamaran. Benak pemuda itu lebih banyak terikat pada apa yang sudah dia lakukan dengan Murong Yun Hua dan apakah dia akan mengatakan sejujurnya pada Huang Ying Ying atau menyimpan rahasia itu.
Dan di luar sepentetahuan pemuda itu, Sepasang Iblis Muka Giok, mengikuti dirinya, sebelum Ding Tao memasuki kota, maka mereka akan mendahului pemuda itu dan meninggalkan
712
pesan disertai lambang pengenal mereka pada orang-orang yang kemungkinan besar akan menyusahkan pemuda itu.
Tapi kisah pertarungan Ding Tao telah mengundang perhatian dalam bentuk yang berbeda. Meskipun tanpa penyamaran, Ding Tao memilih berjalan bersama rombongan pedagang yang hendak pergi ke kota Wu Ling. Selain mendapatkan teman di sepanjang perjalanan, Ding Tao mendapatkan sedikit yang dengan janji untuk ikut membantu mengawal barang mereka sepanjang perjalanan nanti. Sesampainya mereka di kota Jiang Ling, Ding Tao pun berpamitan. Kepala dari pengawalan yang sebenarnya, seorang berumur 50 tahunan, dengan sebelah daun telinga terpotong setengah, bernama Wang Xiaho, menghitung sejumlah yang dan menyerahkannya pada Ding Tao.
―Terimalah ini adik kecil, 10 keping, tidak buruk heh?‖, ujarnya sambil tersenyum, memamerkan beberap giginya yang hilang.
Ding Tao mengangguk sambil tersenyum sopan, ―Ya, lumayan, terima kasih banyak paman.‖
―He, kau tahu tidak, dua hari lagi rombongan ini akan kembali ke membawa barang dagangan dan hasil penjualan mereka di
713
sini ke Xiang Yang. Jika kau mau, kau bisa kembali ikut bersamaku. Orangku tidak terlalu banyak dan perjalanan ke Xiang Yang melewati beberapa tempat yang sedikit lebih rawan, aku akan senang mendapat bantuan tenaga beberapa orang lagi.‖, ujar pengawal tua itu dengan sungguh-sungguh.
―Maaf paman, tapi aku harus pergi ke Wuling, ada urusan yang harus kuselesaikan di sana.‖
―Hmm… dari caramu bergerak dan berlatih dengan tekun, kutahu kau pasti keluaran dari perguruan ternama. Mungkin kau merasa malu untuk mengikut denganku, bagaimana kalau kau kuanggap sebagai rekanan saja?‖
―Ah, bukan itu paman, menjadi anak buahmupun tak apa. Hanya saja aku memang ada urusan penting di Wuling.‖
―Benar begitu? Ya sudahlah kalau begitu, he tapi kalau urusanmu di Wuling sudah selesai dan kau butuh pekerjaan, datang saja ke kantor pusat biro pengawalanku. Kau masih ingat kan?‖
―Ya, tentu saja aku ingat paman, Biro Pengawalan Golok Emas di kota Yong An.‖, jawab Ding Tao sambil tersenyum sopan,
714
selama perjalanan, dia belajar untuk menyukai paman tua ini dengan kisah-kisahnya.
―Hehehe, baguslah kalau begitu, biro pengawalanku memang bukan biro pengawalan besar, tapi aku tidak pernah menerima barang kawalan dari pejabat korup atau tuan tanah yang kejam. Ingat itu baik-baik. Lagipula aku tidak menawarimu untuk jadi orangku, aku menawarimu untuk jadi rekananku.‖, ujar pengawal tua itu dengan senyum gigi ompongnya yang membuat dia terlihat lucu danramah.
―Tentu paman, aku akan ingat hal itu.‖, jawab Ding Tao sambil tertawa.
―Baiklah, kita berpisah sampai di sini, aku masih harus mengawal mereka sampai di penginapan. Ingat jangan lupa, kalaupun kau dapat tawaran yg lebih bagus, sekali-sekali mampirlah.‖, ujar pengawal tua itu sambil berlalu pergi.
Ding Tao melambaikan tangannya pada pengawal tua dan rombongannya. Mereka membalas dengan bersahabat, Ding Tao teman seperjalanan yang menyenangkan, tidak pernah rewel dengan pembagian tugas sehari-hari, bahkan seringkali dia menawarkan bantuan tanpa diminta.
715
Jauh dari jangkauan pendengaran Ding Tao sekelompok kecil pengawal itu membicarakan Ding Tao.
―Ketua Wang, bukankah menurutmu setidaknya kita akan berjumpa dua atau tiga kali dengan kelompok begal di sepanjang perjalanan?‖, tanya anggota termuda dari biro pengawalan Golok Emas.
―Ketua Wang benar, kita sudah melalui jalur itu beberapa kali dan setidaknya ada tiga kelompok begal yang berkuasa di sepanjang jalur itu. Tapi besaran tarif pajaknya kita juga sudah tahu and Ketua Wang sudah menyiapkannya.‖, jawab seorang di antara mereka.
―Kakak Ho, kalau begitu kenapa kali ini tidak satupun yang kita jumpai? Apakah menurut Kakak Ho itu ada hubungannya dengan Ding Tao berjalan bersama kita?‖
―Entahlah, bisa jadi kelompok begal itu sedang punya masalah dalam kelompok mereka. Tapi kukira kemungkinan paling besar, hal itu ada hubungannya dengan Ding Tao, karena untuk mengawasi jalan dan menarik pajak, paling hanya butuh 2-3 orang. Jika ada yang menolak, biasanya mereka tidak langsung
716
bertindak, tapi kembali untuk menghubungi ketuanya, lalu beramai-ramai menyerang kita.‖
―Tapi tidak kulihat ada yang istimewa dengan Ding Tao, memang badannya tinggi dan berotot, tapi umurnya kurasa tidak jauh berbeda dariku. Aku juga belum pernah mendengar namanya disebut-sebut.‖
―Hmmm… memang aneh jika 3 kelompok begal takut dengan orang yang tidak bernama. Tubuh tinggi berotot jelas tidak akan menakuti mereka. Biasanya jika mereka tidak berani mengganggu itu karena orang itu memiliki nama besar. Menurut Ketua Wang bagaimana?‖
―Kukira, Ding Tao sedikit banyak tentu sudah membuat nama. Melihat umurnya, kejadian itu mungkin baru-baru ini saja terjadi. Cukup lama kita tidak pergi ke daerah selatan, sehingga berita itu belum sampai ke telinga kita. Dengar, setelah selesai mengantar kita mampir ke rumah Guru Chen Wuxi, dia sahabat baikku yang membuka perguruan di kota ini. Telinganya cukup panjang, jika dugaanku benar, tentu dia sudah mendengar sedikit tentang Ding Tao.‖, jawab Ketua Wang yang tampaknya cukup penasaran juga dengan Ding Tao.
717
Begitu urusan mereka dengan rombongan pedagang yang menyewa jasa mereka selesai. Anggota yang termuda dari Biro Pengawalan Golok Emas, mengingatkan Wang Xiaho, ―Ketua Wang, kita pergi ke rumah Guru Chen sekarang?‖
Pertanyaannya itu disambut tertawa keras oleh anggota yang lain, ―Hehehehe, A Sau, kau sudah tidak sabar rupanya.‖
―Hah, tertawa saja semau kalian, aku memang sudah tidak sabar. Bayangkan saja kalau dugaan Ketua Wang benar, Ding Tao umurnya tidak jauh berbeda denganku. Kalau dugaan Ketua Wang benar, wah itu hebat sekali. Apakah kalian tahu, sepanjang perjalanan Ding Tao sempat memberi beberapa petunjuk padaku dan A Chu.‖, jawab A Sau sambil memonyongkan mulutnya.
―Hahaha, asal kau jangan bermimpi jadi jagoan saja, jagoan pedang sering-sering berumur pendek, kau tahu itu? Ibumu bisa marah-marah kalau kau berpikir begitu.‖, jawab Wang Xiaho.
―Iya A Sau, lagipula jadi jagoan pedang tidak gampang, butuh guru yang baik, bakat yang baik dan ketekunan.‖
718
―Ah kalian ini, jangan dikira aku ini bodoh, aku juga tahu. Akupun tidak bermimpi jadi jagoan pedang, nanti kalau upahku sudah terkumpul aku akan membeli tanah dan bertani.‖, jawab A Sau.
―Hmm…, itu rencana yang bagus, akupun kalau sudah mulai berumur akan jadi petani saja. Sayang upahku lebih sering kuhabiskan di pelacuran.‖, ujar salah seorang yang agak tua.
Ucapan itu tentu saja disambut tertawa oleh yang lain.
―Heheheheh, dasar kau Xiang Lo, ya, ya, pada akhirnya kalian semua nanti akan meninggalkan aku menjalankan biro pengawalan ini sendirian.‖, ujar Wang Xiaho sambil tertawa.
―Ketua Wang, apa tidak punya rencana untuk pensiun juga?‖, tanya A Sau.
―Tidak, tidak. Aku tidak punya keahlian apa-apa kecuali berkelahi. Sejak kecil aku sudah belajar ilmu silat dan aku tidak tahu tentang hal yang lain.‖, jawab Wang Xiaho dengan wajah sedikit suram.
Yang lain jadi tidak berani bertanya lebih lanjut, karena melihat ekspresi sedih dari Wang Xiaho. Salah satu dari mereka tiba-
719
tiba berkata, ―Ketua Wang Xiaho tidak akan sendirian, aku pun tidak ingin ganti pekerjaan, sama seperti Ketua Wang.‖
―Ah Beng, kaukah itu? Hehe, umurmu masih muda, tunggu saja sampai kau bertemu seorang gadis. Mungkin kau akan berubah pikiran.‖, jawab Wang Xiaho dengan tertawa, wajahnya sudah kembali seperti semula.
―He, itu benar, kalau ada yang mau bekerja dengan Ketua Wang sampai mati, itu tentunya aku. Sudah setua ini aku belum juga berkeluarga.‖, ujar Xiang Lo.
―Hahaha, makanya jangan terlalu sering main ke pelacuran.‖, ujar Wang Xiaho sambil tertawa terbahak-bahak.
Susul menyusul, satu per satu, anggota biro pengawalan itu menyampaikan keinginan mereka untuk terus mengikut Wang Xiaho. Wang Xiaho adalah seorang pimpinan yang mampu menumbuhkan rasa setia dari pengikutnya. Sambil bercakap-cakap, Wang Xiaho membawa mereka untuk bertemu dengan Guru Chen. Chen Wuxi seorang ahli silat jurus bangau, perguruan yang dia buka tidak terlalu besar, tapi Chen Wuxi memiliki banyak kenalan di dunia persilatan. Sifatnya terbuka dan murah hati, tidak ragu untuk membantu teman yang
720
sedang kesusahan. Melihat Wang Xiaho datang bersama rombongan, cepat Guru tua ini memerintahkan muridnya untuk menyiapkan hidangan dan minuman.
Tubuhnya kurus kering tidak mengesankan sebagai seorang ahli silat, Chen Wuxi lebih menekankan pada penggunaan tenaga lembut daripada tenaga keras.
Setelah berbasa-basi Wang Xiaho pun bercerita tentang Ding Tao, ―Jadi Saudara Chen, melihat keadaan pemuda ini, aku jadi penasaran, masa dia belum punya nama di dunia persilatan. Kukira karena umurnya yang masih muda, bisa jadi dia baru-baru ini saja membuat berita. Karena aku sudah cukup lama tidak berjalan-jalan ke selatan aku tidak sempat mendengar namanya. Tapi aku yakin kau pasti tahu tentang kabar-kabar terbaru di selatan sini.‖
―Hmm… kau bilang dia bernama Ding Tao, badan tinggi besar, wajah lebar cerah dengan garis rahang yang tegas dan mata tajam. Hmm .. Hmm… sulit juga kalau tidak lihat orangnya langsung, tapi kukira Ding Tao yang kau ceritakan ini adalah Ding Tao yag baru saja bikin geger di kota Wuling dan di sebuah kota kecil di sebelah barat Chai Sang―, ujar Chen Wuxi sambil meniup-niup tehnya yang masih panas.
721
―Ah, jadi benar di usia begitu muda, dia sudah bikin nama di dunia persilatan. Bisakah Saudara Chen cerita sedikit tentang dia?‖, tanya Wang Xiaho dengan hati tertarik.
Anak buahnya yang ikut mendengarkan tidak bisa menyembunyikan rasa tertarik mereka, meskipun mereka tidak berani ikut buka mulut. Hanya bisa memasang telinga baik-baik sambil menikmati penganan kecil yang disediakan.
Mata Chen Wuxi yang tajam tentu saja melihat rasa tertarik mereka, dengan sengaja berlambat-lambat dia meniup-niup tehnya, menyeruputnya sedikit demi sedikit. Ketika dilihatnya rasa penasaran mereka sudah mencapai puncaknya, mulailah dia membuka mulutnya.
―Orang bilang dia dulunya adalah tukang kebun di kediaman keluarga Huang…‖, demikian Chen Wuxi mulai membuka cerita tentang Ding Tao.
Chen Wuxi adalah seorang yang pandai bercerita, saat bercerita tangan dan wajahnya akan ikut bercerita, dengan ahli mengatur irama cerita, kapan dia harus berhenti untuk menyeruput tehnya, kapan dia bercerita dengan lambat atau dengan bersemangat. Chen Wuxi selalu saja membuat
722
perhatian pendengarnya terpaku padanya. Ini adalah salah satu sebab orang suka bertandang ke rumah Chen Wuxi, sebagai guru silat dia biasa-biasa saja, tapi sebagai pendongeng bisa dikatakan dia ini Biksu Khongzhe-nya dari pendongeng.
Tanpa terasa ada pendengarnya yang sebegitu tegangnya sampai tidak menyentuh sama sekali makanan dan minuman yang dihidangkan. Tapi ada juga pendengarnya yang saking tegangnya, sampai tanpa terasa menghabiskan makanan kecil yang dihidangkan.
Melihat anak buahnya terpukau mendengarkan cerita Chen Wuxi, Wang Xiaho tertawa terkekeh-kekeh, ―A Sau, lihat-lihat kalau makan, masa jatah saudaramu kau habiskan juga, hehehehe.‖
Gurauan Wang Xiaho disambut tawa semua yang ada dalam ruangan, A Sau yang jadi pusat perhatian hanya bisa menyengir sambil garuk-garuk kepala, tidak berani menjawab.
Setelah kenyang tertawa Chen Wuxi dengan nada yang serius bertanya pada Wang Xiaho, ―Saudara Wang, kau bilang Ding Tao ini, berkata hendak pergi ke Wuling?‖
723
―Ya, begitulah yang dia katakan, melihat sifatnya yang jujur dan terbuka, kukira dia tidak berbohong. Mendengar ceritamu, kupikir dia hendak kembali menemui keluarga Huang, mungkin hendak meluruskan salah paham yang terjadi.‖
―Hmm…, kalau begitu dia akan menemukan kejutan yang tidak menyenangkan.‖, ujar Chen Wuxi dengan ekspresi serius, tangannya mengelus-elus janggut panjang yang hanya beberapa helai saja.
―Saudara Chen, apa maksudmu dengan kejutan yang tidak menyenangkan, apa kau mendengar berita baru dari Wuling yang menyulitkan Ding Tao? Kukira tadi kau mengatakan, permasalahannya sudah jelas dengan pemberontakan Tiong Fa beberapa bulan yang lalu. Apakah berita itu kauragukan kebenarannya?‖
―Hmm…, berita itu sudah kudengar dari beberapa saudara yang berbeda, jadi kuyakin berita itu sudah benar. Tapi ada berita terbaru yang sedikit tidak jelas…‖
―Apa maksud Saudara Chen dengan tidak jelas? Berita apa?‖
Mengembuskan nafas panjang Chen Wuxi memandangi tamunya, ―Hahhh… bagaimana ya, aku sendiri masih agak ragu
724
dengan berita yang terbaru ini, jika dikatakan mungkin hanya membuat orang berkuatir tanpa alasan. Tapi kalau sampai benar, lebih baik Ding Tao tahu sebelum dia sampai ke Wuling.‖
―Saudara Chen, jangan bicara berputar-putar lagi, katakan saja berita yang kau dengar itu.‖, ujar Wang Xiaho tidak sabar, entah kenapa jagoan tua ini menyukai kesederhanaan Ding Tao dan ikut berkuatir dengan nasib pemuda itu.
―Nah, akan kukatakan berita itu, tapi sekali lagi kuingatkan, aku sendiri belum yakin dengan kebenarannya.‖
―Ya, ya, ya, sudah berkali-kali kau katakan itu, sekarang katakan saja apa beritanya.‖, ujar Wang Xiaho tidak sabar.
Dasar bawaan dari orok suka mendongeng, Chen Wuxi tidak langsung mengatakannya, tapi dengan pandang mata misterius dia memandangi wajah-wajah menanti di sekelilingnya, kemudian dengan suara rendah berbisik yang membuat setiap orang merasa tegang, dia berkata, ―Berita yang kudengar…‖
Sekali lagi dia menunggu saat yang tepat, ―… ada yang menyerang dan membunuh seluruh anggota keluarga Huang yang ada di Wuling dalam semalam.‖
725
―Apa?? Saudara Chen kau jangan bercanda, Wuling adalah pusat kekuatan keluarga Huang, setidaknya ada seratusan orang laki-laki yang terlatih dan tiga ratusan bila dihitung dengan anak-anak dan wanita. Kaubilang ada yang membunuh mereka semua dalam waktu semalam? Apa kau gila?‖
―Nah, nah, bukankah sudah kubilang berita ini sulit dipercaya.‖, jawab Chen Wuxi menegakkan badan sambil pura-pura marah.
―Hehehe, kawan lama, jangan mudah marah begitu. Tapi dari berita yang berhasil kau dengar kira-kira berapa bagian kau yakin akan kebenaran berita ini?‖, Wang Xiaho bertanya.
―Hmmm… memang sejak timbul kabar ditemukannya lagi jejak Pedang Angin Berbisik, banyak orang sudah merasakan bakal ada mala petaka lagi yang menimpa dunia persilatan kita. Jika kabar-kabar itu dikaitkan dengan orang-orang yang berhubungan dengan keluarga Huang, mulai dari Ding Tao, lalu Tiong Fa. Tidak aneh jika kemudian ada orang coba menyatroni rumah keluarga Huang.‖, dengan alis berkerut Chen Wuxi berusaha menimbang-nimbang.
726
―Mungkin saja ada orang menyelusup masuk untuk mencari tahu, tapi dari kabarnya bukankah yang mereka cari harusnya adalah Tiong Fa?‖, Wang Xiaho ikut berpikir.
―Tapi coba pikirkan lagi, ketika Tiong Fa ditemukan berkhianat, keluarga Huang mengumpulkan orang-orangnya untuk membersihkan rumah. Meskipun Tiong Fa lolos, ada kemungkinan Pedang Angin Berbisik, lepas dari tangannya. Bukan tidak mungkin justru karena pedang itu dianggap lebih penting dari Tiong Fa, makanya Tiong Fa bisa lolos dari sergapan keluarga Huang.‖
―Ah, ya, benar, benar, Saudara Chen, uraianmu sungguh masuk akal. Tapi tetap saja, kalaupun keluarga Huang menyimpan pedang itu. Bila ada yang berusaha mencuri masih bisa kuterima dengan akal sehat. Tapi jika kau bilang, ada yang membasmi habis seluruh isi rumah dalam semalam… hee… bukan saja terlampau kejam, tapi terlampau sulit untuk dilakukan.‖, ujar Wang Xiaho sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Mereka yang mendengar cerita Chen Wuxi ikut larut dalam kesedihan, membayangkan perasaan Ding Tao jika cerita itu benar.
727
―Saudara Wang, soal kejam, kukira ada banyak tokoh yang cukup kejam untuk melakukannya. Orang-orang yang sudah terlampau sering melihat darah, hingga nyawa orang tidak ada bedanya dengan harga seekor ayam. Cuma soal terlampau sulit, justru itu yang membut orang berpikir keras dan bergidik. Coba kau katakan, dari organisasi yang kau tahu, menurutmu ada berapa yang mungkin melakukannya?‖, tanya Chen Wuxi pada Wang Xiaho.
―Hmm… kukira Kunlun, Hoasan, Shaolin dan Wudang tidak mungkin terlibat urusan busuk macam begini. Kongtong lebih mungkin, tapi Kongtong yang sekarang tidak punya kekuatan sebesar itu. Kalau mereka mengerahkan seluruh kekuatannya pun, kukira keluarga Huang masih mampu menandinginya, apa lagi keluarga Huang berada di kandang sendiri. Apakah mungkin Tiong Fa sendiri yang menyerang?‖
―Tiong Fa bisa saja bekas orang dalam keluarga Huang dan tahu banyak kelemahan mereka. Tapi dia baru saja terusir dari keluarga Huang dan harus memupuk kekuatan dari bawah, mana mungkin dia bisa? Jangan lupa juga, kediaman keluarga Huang ada di tengah kota.‖
728
―Ya…, lalu organisasi apa yang cukup kuat dan gila untuk melakukan pembasmian di tengah kota semacam itu?‖
―Dari beberapa orang yang kuajak bicara, ada kekuatiran yang sama…‖, ujar Chen Wuxi sambil mengamat-amati Wang Xiaho dengan pandangan yang seakan berkata, ayolah pikirkan lagi, harusnya kau bisa menebaknya.
Melihat pandang mata Chen Wuxi, Wang Xiaho berpikir lebih keras sampai tiba-tiba satu pikiran melintas, ―Astaga… apakah mungkin benar kabar angin yang mengatakan bahwa Ren Zuocan berhasil melebarkan sayapnya ke dalam perbatasan secara diam-diam?‖
Chen Wuxi menganggukkan kepala, ―Justru itu kekuatiran yang kami rasakan saat ini. Sekte Matahari dan Bulan menyimpan jagoan-jagoan kelas satu.Menurut kabar angin ada banyak organisasi dan perguruan yang diam-diam sudah bersumpah setia pada Ren Zuocan. Dari segi harta kekayaan Sekte Matahari dan Bulang memiliki harta yang tak terhitung jumlahnya. Pejabat bisa disuap, soal suap-menyuap, meskipun keluarga Huang sangat kaya, tidak mungkin keluarga Huang bisa menandingi Ren Zuocan.‖
729
―Ren Zuocan tidak perlu mengirim banyak orang, cukup kirim 4 atau 5 jagoan kepercayaannya. Kemudian sebagian besar justru orang-orang dari dalam perbatasan, dia bisa memakai orang-orang dari dalam perbatasan sendiri. Bukan tidak mungkin sejak berita tentang Pedang Angin Berbisik tercium, dia sudah mulai menanamkan orangnya di sekitar kota Wuling. Begitu dia mendapat kepastian, saat itu juga mereka bergerak.‖
Wang Xiaho merasa tenggorokannya kering, ketika dia mengangkat cangkir the untuk diminum, baru dia sadar, bahwa tangannya gemetaran. Melihat tangannya gemetaran, cepat-cepat diletakkannya cangkir kembali ke meja, sambil menunggu hatinya tenang. Chen Wuxi berpura-pura tidak melihatnya, dia bisa membayangkan perasaaan Wang Xiaho saat itu. Dirinya pun sampai sekarang masih susah makan dan tidur bila teringat penyerangan atas keluarga Huang.
―Saudara Wang, sudah beberapa hari ini, sejak mendengar kabar itu dan mencapai kesimpulan yang sama, tidak bisa tidur nyenyak dan makan dengan nikmat. Meskipun bukti-buktinya belum cukup kuat, tapi jika berita pembasmian keluarga Huang itu benar, berarti Ren Zuocan sudah masuk dalam rumah kita, bukan hanya sekedar menunggu di depan halaman.‖
730
Wang Xiaho yang sudah bisa menenangkan diri, perlahan menyeruput the yang dihidangkan, ―Saudara Chen, berita itu sendiri apakah tidak ada yang coba memastikan?‖
―Berita itu pertama kali, aku dengar dari salah seorang saudara seperguruanku, Wang Ming, dia mendengar kabar itu dari salah seorang rekannya. Beberapa hari kemudian, beberapa saudara yang lain tanpa sengaja berkumpul di sini karena mendengar berita yang sama. Kesimpulan kami sama seperti kesimpulanmu barusan. Untuk meyakinkan, dua dari mereka bersedia pergi ke Wuling untuk memastikan kabar. Harusnya dalam 2-3 hari ini mereka akan mampir ke mari untuk menyampaikan hasil penyelidikan mereka.‖
―Siapa yang pergi ke Wuling?‖, tanya Wang Xiaho, teh hangat yang manis tidak lagi terasa nikmat, meskipun hatinya sudah jauh lebih tenang tapi perasaan akan adanya bahaya yang datang mengancam tidak juga hilang.
―Fu Tong si tongkat besi dan Pendeta Tao pengelana, Liu Chuncao.‖
―Hmm, mereka orang-orang yang teliti, kukira, kabar yang nanti kita dapatkan, tentu akan lebih cermat lagi.‖
731
―Saudara Wang, bagaimana kalau kalian menginap saja di sini sambil menunggu kedatangan mereka? Aku pun rasanya tidak bisa tenang memikirkan hal ini sendirian.‖, Chen Wuxi dengan ramah menawarkan.
Wang Xiaho berpikir sebentar kemudian menggelengkan kepala, ―Berita ini benar-benar membuat hati orang jadi tidak tenang. Kupikir biarlah aku sendiri dan dua-tiga orang kepercayaanku ikut menunggu berita itu. Sisanya akan kukirim pulang untuk meningkatkan kewaspadaan.‖
―Hee, bukankah kau berencana untuk mengawal barang lagi dua-tiga hari ke depan?‖, tanya Chen Wuxi.
―Tadinya begitu, tapi mendengar kabar ini, seleraku jadi hilang. Saudara Chen, jujur saja, tiba-tiba aku merasa ketakutan. Kupikir sebaiknya segenap orangku berkumpul saja di pusat biro pengawalan kami. Segera setelah medengar kepastiannya dari Fu Tong dan Liu Chuncao, akupun akan kembali ke markas dan mengambil keputusan.‖
―Hmm… aku mengerti, aku sendiri sudah memulangkan beberapa muridku yang kunilai belum siap untuk ambil urusan di luaran. Murid baru aku tidak terima, sedangkan murid yang
732
sudah lama belajar dan sedang berada di luaran, aku undang untuk datang kemari.‖, ujar Chen Wuxi sambil menghela nafas.
―Ya… badai mau datang, rumah-rumah baiknya diperkuat.‖, ikut-ikut menghela nafas, Wang Xiaho kemudian memandang anak buahnya.
―Kalian mengerti maksudku?‖, tanyanya pada mereka.
Dengan jantung berdebaran mereka mengangguk. Beberapa yang masih muda justru perasaannya bercampur antara cemas dan bergairah. Yang lebih tua apalagi yang berkeluarga, pikirannya lebih tenang dan bisa menimbang dengan baik, mereka lebih berpikir untuk menghindar, hanya saja untuk meninggalkan Wang Xiaho sendirian mereka tidak tega.
Melihat kecemasan di wajah pengikutnya Wang Xiaho menjadi jatuh kasihan, ―Kalian tidak perlu terlalu kuatir, biro pengawalan kita, bisa dibilang hanya lalat kecil saja di depan orang-orang macam mereka. Tidak nanti mereka mengganggu kita, setelah aku mendapatkan kepastian, aku akan memutuskan. Kukira tidak ada salahnya Biro Pengawalan Golok Emas, dibubarkan untuk sementara waktu.‖
733
Mendengar perkataan Wang Xiaho beberapa orang terlihat akan mendebat keputusannya, tapi Wang Xiaho cepat mengangkat tangan, memberi tanda agar mereka tidak berbicara, ―Dengar, mungkin kalian tidak ingin membubarkan Biro Pengawalan yang sudah kita rintis selama bertahun-tahun. Tapi sebaiknya kita tahu diri, jika badai itu benar-benar datang, apalah artinya kita ini? Aku tidak ingin di antara kalian ada yang jatuh korban sia-sia. Biarlah kita menunggu keadaan tenang, baru kita pikirkan kemudian.‖
―Bagaimana dengan Ketua Wang sendiri?‖, tanya A Sau.
Lama Wang Xiaho tidak menjawab, ―Hmm… aku sudah tua, tidak ada anak, tidak ada isteri, orang tua sudah lama meninggal, saudara sudah lama tidak berjumpa. Kalau aku ada sedikit tenaga untuk disumbangkan pada negara, apalah artinya Wang Xiaho, tidak mati oleh pedangpun, paling-paling umurku tinggal beberapa tahun saja.‖
Anggota Biro Pengawalan Golok Emas yang mendengar hal itu, menundukkan kepala dengan susah hati. Beberapa orang yang sama seperti Wang Xiaho, tidak ada keluarga yang menjadi tanggungan, dalam hati sudah membuat keputusan, ke mana Wang Xiaho pergi, mereka akan mengikut ketua mereka itu.
734
Suasana di ruangan itu pun menjadi sendu, meskipun belum berpisah, tapi rasanya perpisahan itu sudah tidak bisa dihindari lagi. Beberapa anggota yang muda, lebih-lebih lagi merasa demikian, karena sebagian besar dari mereka, mempelajari ilmu silat dari Wang Xiaho. Bagi mereka Wang Xiaho bukan hanya seorang pimpinan tapi juga guru. Chen Wuxi hanya bisa menghela nafas, perguruannya sendiri pun menghadapi persoalan yang sama. Anak isterinya sudah dia ungsikan ke rumah mertua. Di perguruan hanya tinggal mereka yang sudah kenyang asam garamnya dunia persilatan.
―Saudara Wang, tadi kaubilang Ding Tao ada di kota ini, menurutmu apakah baiknya kita undang dia kemari?‖, ujar Chen Wuxi memecahkan keheningan.
―Apa? Oh ya, benar, ah semakin tua aku jadi semakin pikun. Kenapa sampai lupa dengan pemuda itu, berita ini entah benar entah tidak, sebaiknya dia ikut tahu. Bukan tidak mungkin orang-orang Ren Zuocan masih ada yang berkeliaran di Wuling. Bila tidak berhati-hati nasibnya bisa jadi sama seperti Pendekar besar Jin Yong.‖, sambil menepuk kepala Wang Xiaho memaki dirinya sendiri.
735
―A Sau, kau dan A Chu, cepat cari Ding Tao, kalau ketemu ajak dia kemari.‖, perintahnya pada dua anggota termuda dalam kelompoknya, karena persamaan umur, keduanya yang paling akrab dengan Ding Tao selama perjalanan.
Bergegas dua orang pemuda itu berpamitan lalu pergi mencari Ding Tao di kota. ------------------------------ o ------------------------------
Ding Tao sedang makan di sebuah rumah makan kecil di kota Jiang Ling, bekal uangnya masih cukup, tapi pemuda itu tidak suka menghamburkan uang. Membantu Wang Xiaho mengawal barang, pemuda itu justru jadi berminat untuk mengumpulkan uang sebisa mungkin. Tawaran Wang Xiaho membekas kuat dalam benak pemuda itu.
Dia pun sudah membayangkan akan mengembangkan Biro Pengawalan Golok Emas milik Wang Xiaho. Selama ini dia belum pernah berpikir, apa yang akan dia kerjakan selain berusaha menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Gu Tong Dang. Tapi setelah berkelana beberapa lamanya, melihat penghidupan yang ada, apalagi setelah hubungannya dengan Huang Ying Ying berkembang, pemuda inipun mulai memikirkan akan penghidupannya di masa depan.
736
Tidak pernah lewat dalam benak pemuda ini untuk mendompleng kekayaan keluarga Huang, ataupun memanfaatkan kekayaan keluarga Murong. Ding Tao punya harga diri, sebagai laki-laki dia ingin bisa berdiri di atas kedua kakinya sendiri, bukan bersandar pada kesuksesan orang lain.
Itu sebabnya pemuda ini berniat untuk berhemat dan mengumpulkan uang dalam perjalanannya. Supaya nanti jika dia datang untuk memenuhi tawaran Wang Xiaho, dia tidak datang dengan tangan kosong, sekedar memanfaatkan kebaikan orang. Tidak terpikir oleh Ding Tao, betapa besar artinya ilmu silat yang dia miliki bagi Biro Pengawalan Golok Emas milik Wang Xiaho, berkali-kali lipat dari uang yang berhasil dia kumpulkan.
Ding Tao sedang menikmati semangkuk mie, ketika A Sau dan A Chu menemukannya. Sudah cukup lama mereka berputar-putar di kota, keringat sudah membasahi baju mereka dan tenggorokan mereka sudah mulai merasa haus. Ding Tao yang duduk menghadap jalan, melihat mereka lebih dahulu. Keduanya sudah menjadi teman akrab buat Ding Tao, karenanya tanpa banyak berpikir Ding Tao menghampiri mereka.
737
―Hei, A Sau, A Chu, sedang mencari siapakah?‖, panggil Ding Tao sambil melambaikan tangan dari pintu rumah makan.
Mendengar panggilan Ding Tao, keduanya dengan perasaan senang bergegas menemui pemuda itu.
―Saudara Ding, akh, akhirnya ketemu juga.‖, sapa A Sau sambil menepuk bahu Ding Tao.
―Saudara Ding, Ketua Wang meminta kami untuk mencarimu ada hal penting yang perlu disampaikan.‖, sambung A Chu.
―Ah, ada urusan apa ya?‖, tanya Ding Tao sedikit heran.
Raut wajah A Sau dan A Chu jadi sedikit berubah, diingatkan kembali tentang urusan pelik yang mereka hadapi.
―Sebaiknya Ketua Wang saja yang bicara Ding Tao, daripada kami kesalahan bicara.‖, jawab A Sau dengan serius.
Melihat keseriusan wajah A Sau, Ding Tao merasakan bahwa urusan yang akan dibicarakan tentu bukan masalah kecil. Tapi melihat keduanya basah oleh keringat, hatinya jadi tak tega.
738
―He, aku sedang makan waktu melihat kalian, bagaimana kalau kuselesaikan makanku dulu, sembari kalian memesan minuman?‖
―Wah, boleh juga, sudah sejak tadi kami berputar-putar mencarimu, tenggorokan kami sampai terasa kering.‖, ujar A Chu yang kemudian tanpa sungkan-sungkan memanggil pelayan dan memesan minuman.
―Dasar gembul, kau pesan minuman apa kau bawa uang?‖, tanya A Sau.
Diingatkan A Sau, A Chu pun jadi teringat, keduanya tidak membawa uang sedikitpun. Dengan pandangan bersusah hati A Chu menoleh pada Ding Tao, ―Ya… ―
Ding Tao tertawa melihat pandangan mata A Chu yang memelas, ―He, hari ini aku yang bayari minuman kalian. Ketua Wang membayarku cukup banyak. Ayo tidak usah sungkan.‖
―Nah itu baru saudara yang baik.‖, ujar A Chu sambil cengengesan.
―Jangan banyak-banyak, perutmu nanti kembung.‖, sahut A Sau sambil menendang pantat A Chu.
739
Melihat tingkah mereka berdua Ding Tao tertawa geli, sebenarnya mie yang sudah dia pesan sudah hampur habis, tapi dimakannya perlahan-lahan sambil menunggu sampai minuman yang dipesan datang.
―Eh, apakah kalian mau makan mie juga?‖, tawar Ding Tao.
Cepat-cepat A Sau membuka mulut sebelum A Chu sempat menjawab, ―Sudah-sudah, kami sudah makan di tempat orang tadi. Cuma sedikit haus saja karena berkeliling mencari dirimu. Kalau kau sudah selesai makan, baiknya kita cepat-cepat kembali.‖
A Chu sudah membuka mulutnya untuk protes, tapi lirikan dari A Sau membuat dia tidak jadi berkata apa-apa. Cepat-cepat minuman yang sudah disediakan diminum oleh A Chu, pikirnya, lebih cepat kembali ke rumah Guru Chen, lebih baik karena lebih banyak hidangan di sana.
Dalam waktu singkat ketiga pemuda dengan umur yang hampir sama itu sudah berjalan menuju ke rumah Chen Wuxi. Di jalan A Sau dan A Chu tidak henti-hentinya bertanya tentang pengalaman Ding Tao sebelum bertemu mereka. Benarkah Ding Tao pernah bertarung dengan Sepasang Iblis muka Giok?
740
Seperti apa bentuknya Pedang Angin Berbisik itu? Apa benar ada yang merebut Pedang Angin Berbisik dari Ding Tao? Apakah sekarang Ding Tao pergi ke Wuling untuk merebut kembali pedang itu? Mengapa sebelumnya Ding Tao pergi dari Wuling? Dsb.
Ding Tao pun jadi kerepotan menjawab pertanyaan mereka. Pada dasarnya dia tidak pandai menyembunyikan sesuatu, apalagi di hadapan mereka yang dipandangnya sebagai sahabat. Meskipun Ding Tao berusaha menutupi sebagian dari kisahnya, sedikit banyak gambaran yang lebih jelas terbentuk dalam angan-angan A Sau dan A Chu. Menimbulkan kekaguman yang lebih mendalam di hati kedua pemuda itu.
Sambil bercakap-cakap, perjalanan jadi terasa singkat. Tiba-tiba mereka sudah sampai di gerbang rumah Peguruan Bangau Putih milik Chen Wuxi.
Kedatangan mereka segera disambut oleh beberapa orang murid Perguruan Bangau Putih dan orang Biro Pengawalan Golok Emas.
741
―He, A Sau lama sekali kau pergi, ayo cepat masuk ke dalam, Ketua Wang sudah menunggu lama.‖, ujar salah seorang dari mereka.
―Ya, ya, kau kira gampang mencari orang di kota sebesar ini.‖, sahut A Sau, ―Ayo Ding Tao, kita masuk ke dalam.‖
Ding Tao mengangguk sopan pada setiap orang yang dia temui. Bagi anak-anak murid perguruan Bangau Putih, kesan yang diperlihatkan Ding Tao membuat mereka ragu, apakah ini Ding Tao yang sama dengan Ding Tao yang diceritakan guru mereka. Penampilan Ding Tao memang tidak terlampau meyakinkan untuk disebut sebagai jago pedang. Tubuh tinggi dan berotot, tentu bukan jaminan, apalagi bagi murid-murid Perguruan Bangau Putih yang mementingkan tenaga lembut. Meski mereka tetap bersikap sopan, tidak urung ada pandangan-pandangan mata yang ―keaslian‖ Ding Tao yang datang berkunjung ini.
Berbeda dengan orang-orang Biro Pengawalan Golok Emas yang sempat beberapa hari mengadakan perjalanan bersama Ding Tao. Kesan rendah hati dan keramahan pemuda itu sudah membuat mereka bersimpati, sebelum mereka mulai mendengar kisah pertarungan Ding Tao. Meskipun demikian
742
dalam hati mereka terselip juga keraguan yang sama. Tapi keraguan itu segera saja tertutupi oleh sikap baik Ding Tao pada mereka selama ini. Apalagi ketika A Sau dan A Chu bercerita tentang penjelasan Ding Tao di sepanjang perjalanan.
Dengan berbagai macam gambaran yang berbeda tentang diri pemuda ini, mereka sama-sama masuk menemui Wang Xiaho dan Chen Wuxi.
Segera saja Ding Tao dipersilahkan untuk duduk di meja utama bersama Chen Wuxi dan Wang Xiaho. Dengan sungkan Ding Tao memberi hormat pada kedua orang tua itu sebelum dia duduk satu meja.
Setelah berbasa-basi sebentar, Chen Wuxi yang juga merasakan keraguan pada diri pemuda itu berkata, ―Ding Tao, setelah kudengar dari beberapa kawan yang menyaksikan ilmu pedangmu, aku jadi tertarik untuk melihat sedikit demonstrasi. Bagaimana menurutmu?‖
―Ah, tapi ilmuku belum begitu matang…‖, ujar Ding Tao sambil menggaruk kepala.
―Hahaha, Ding Tao apa benar kau sempat berhadapan dengan Sepasang Iblis Muka Giok?‖, tanya Wang Xiaho sambil tertawa.
743
―Ya, begitulah, tapi tidak bisa terlalu dibanggakan, akhirnya tidak ada keputusan yang jelas siapa menang dan siapa yang kalah. Malah di pertarungan kami yang pertama, siauwtee harus lari terbirit-birit bila tidak mau jatuh ke tangan mereka.‖, jawab Ding Tao sambil cengar-cengir malu.
―Hoo… maksudmu kau sempat bertemu dan bertarung dengan mereka sebanyak dua kali?‖, tanya Chen Wuxi menegas, maklum pertarungan kedua antara Ding Tao dan Sepasang Iblis Muka Giok belum ada yang tahu sampai sekarang.
―Eh, iya.. begitulah.‖, jawab Ding Tao serba salah.
―Ha, apa kau tidak tahu, bisa lolos dari tangan mereka saja sudah terhitung jempolan, apalagi dua kali kau pecundangi mereka. Ding Tao, tidak perlu sungkan-sungkan, aku juga sudah tidak sabar ingin melihat ilmu silatmu.‖, desak Wang Xiaho dengan bersemangat.
―Iya Ding Tao, peragakan saja beberapa jurus.‖, sahut beberapa orang anak buah Wang Xiaho.
Setelah didesak beberapa kali, akhirnya Ding Tao menyerah, ―Baiklah kalau kalian ingin melihatnya, aku akan coba memperagakan sejurus dua jurus yang aku punya.‖
744
Chen Wuxi jadi bersemangat, sambil menepuk pahanya dia berkata, ―Bagus, anak muda memang harus punya semangat. Ruang ini kecil, baiknya kita pindah ke halaman belakang.‖
Rupanya halaman belakang rumah Chen Wuxi berfungsi juga sebagai tempat latihan murid-muridnya. Ada rak-rak senjata kayu untuk latihan, ada pula boneka kayu dan berbagai alat latihan lainnya. Halaman itu cukup luas, di satu sisi yang beratap, ada sebuah meja dan beberapa bangku. Wang Xiaho dan Chen Wuxi duduk di sana, sementara murid-murid Chen Wuxi berdiri berjajar di sebelah Chen Wuxi dan orang-orang Biro Pengawalan Golok Emas di sisi yang lain.
Setelah membungkuk hormat pada Wang Xiaho dan Chen Wuxi, mulailah Ding Tao memainkan jurus-jurus yang dia pelajari dari keluarga Huang. Wang Xiaho dan Chen Wuxi yang punya pengalaman yang luas, dengan segera bisa mengenali ciri khas ilmu keluarga Huang dari jurus-jurus yang dimainkan Ding Tao. Dengan sendirinya ini sudah cukup membuktikan kalau memang benar ini Ding Tao yang sama dengan Ding Tao yang mereka dengar dari berita.
Tapi baik Wang Xiaho dan Chen Wuxi kurang puas dengan peragaan yang mereka lihat. Meskipun cara Ding Tao
745
menjalankan jurus-jurus itu memang tepat dan cepat, tapi mereka tidak bisa melihat di mana kelebihannya. Wang Xiaho yang mulai paham sifat rendah hati dari Ding Tao masih dapat memahami hal ini, berbeda dengan Chen Wuxi. Dalam benak Chen Wuxi timbul keraguan apakah benar Ding Tao mampu menghadapi jagoan sekelas Sepasang Iblis Muka Giok.
Setelah peragaan jurus-jurus itu selesai, anggota Biro Pengawalan Golok Emas, terutama yang masih muda, segera saja bertepuk tangan memuji Ding Tao dengan hati yang tulus. Tapi yang lain, terutama murid-murid Chen Wuxi, bertepuk tangan hanya sekedar menghormati tamu saja, karena dalam hati mereka timbul pertanyaan yang sama, mengapa hanya begini saja.
Karena tidak puas, Chen Wuxi pun memutar otak, bagaimana caranya dia bisa mengorek lebih banyak tentang tingkatan Ding Tao, akhirnya dia berkata, ―Ding Tao, murid-muridku ini kurang berpengalaman di luar. Meskipun mungkin ada satu-dua yang sudah cukup lama berguru, bagaimana kalau kau bertanding dengan mereka? Sekedar meluaskan pengalaman dan menjalin persahabatan, bagaimana?‖
746
Ding Tao sedikit mengerutkan alis, tapi teringat dengan pertandingan persahabatan melawan keluarga Huang beberapa waktu yang lalu, pemuda itu jadi bersemangat. Sedikit banyak Ding Tao bisa merasakan bahwa tuan rumah ingin menjajaki ilmu silatnya dan ada juga keinginan untuk sedikit unjuk gigi.
―Baiklah, kalau Guru Chen berpendapat demikian.‖
―Bagus, ayolah segera kita mulai kalau begitu.‖, ajak Chen Wuxi sambil bangkit berdiri lalu pergi ke arah murid-muridnya berkumpul.
Chen Wuxi memilih dua orang murid utamanya dan membisikkan sesuatu pada mereka.
Saat Ding Tao sudah berdiri di tengah arena, perhatian semua orang tertuju pada dua murid utama dari Perguruan Bangau Putih, rupanya Chen Wuxi tanpa ragu-ragu mengutus dua orang muridnya sekaligus untuk melawan Ding Tao. Beberapa orang jadi berbisik-bisik melihat hal itu, tapi Wang Xiaho yang cukup paham dan percaya pada sahabatnya ini diam saja menonton.
747
Ding Tao juga sedikit terkejut melihat lawan ada dua orang, Chen Wuxi buru-buru menjelaskan agar tidak ada salah paham, ―Ding Tao, terus terang saja, aku ingin melihat sampai di mana kemampuanmu. Jika kau mampu bertahan melawan sepasang iblis itu, maka jujur saja, sebenarnya akupun bukan tandinganmu. Itu sebabnya sekaligus aku mengirim dua orang muridku untuk bertanding denganmu.‖
―Ah Guru Chen, waktu berhadapan dengan sepasang iblis itu aku memang sedang beruntung saja.‖
―Tidak masalah, pertandingan inipun hanya pertandingan persahabatan. Kuharap kau mau menunjukkan sejurus dua pada kedua muridku ini, supaya mereka boleh menambah pengalaman juga.‖
Melihat dia akan menghadapi dua orang lawan, Ding Tao jadi teringat pada jurus yang baru dia ciptakan. Hingga saat ini Ding Tao belum berkesempatan untuk mencoba jurus itu dalam pertarungan yang sesungguhnya. Teringat jurus itu, terbetiklah keinginan dalam hatinya untuk menguji jurus yang dia ciptakan itu.
748
―Baiklah Guru Chen, moga-moga aku tidak sampai mengecewakan.‖, jawab Ding Tao dengan sopan.
Jawaban Ding Tao menumbuhkan perasaan suka dalam hati Chen Wuxi, dia juga mulai memahami mengapa Wang Xiaho memiliki perhatian yang besar pada pemuda itu.
‗Hmmm… kepribadiannya sungguh baik, semoga saja kepandaiannya tidak mengecewakan‘, batin guru tua itu.
―Mulai !‖, ujarnya memberikan aba-aba.
Ding Tao berdiri dengan tenang menghadapi kedua lawan tandingnya. Jika sebelumnya kedua lawannya itu meragukan kepandaian Ding Tao, sekarang begitu mereka berhadapan, tiba-tiba hati mereka disusupi oleh keraguan. Berhadapan dengan Ding Tao yang berdiri dengan tenang dan sikap yang kokoh, tiba-tiba saja mereka merasa seperti sedang berhadapan dengan gunung karang yang menjulang tinggi di hadapan mereka. Belum juga mereka bertanding mengerahkan jurus, tapi wibawa Ding Tao sudah mendesak mereka sedemikian hebat.
Begitu hebatnya hingga, nafas mereka pun tiba-tiba memburu dan keringat dingin membasahi punggung mereka.
749
Bagi yang menonton di lapangan, mereka tidak ikut merasakan tekanan yang dirasakan oleh kedua orang itu. Tapi pandangan mata yang tajam dari Chen Wuxi dan Wang Xiaho segera saja menangkap gelagat yang timbul. Mereka sudah cukup sering melihat duel antara dua orang jagoan pedang. Bukan sekali dua, mereka melihat bagaimana perbawa dari seorang yang sungguh-sungguh kosen bisa membuat lawan kalah sebelum bertanding.
Meskipun keduanya sudah membayang-bayangkan tingkat ilmu Ding Tao, apa yang terjadi sekarang sungguh di luar dugaan mereka. Dalam usia yang masih begitu muda, Ding Tao sudah memiliki kepercayaan diri dan perbawa yang sedemikian hebat. Keduanya saling berpandangan, Chen Wuxi tersenyum kecut.
―Saudara Wang, sepertinya jika mau coba menjajagi ilmu pemuda itu, harus kita berdua yang maju ke sana.‖, ujar Chen Wuxi dengan suara rendah.
―Heheh, sepertinya begitu. Betapa menyenangkan, tidak kusangka, di usia yang sekarang ini aku bisa merasakan berhadapan dengan tokoh sekosen ini.‖, jawab Wang Xiaho.
750
―Hahaha, benar juga, ini namanya kesempatan seumur hidup. Belum tentu ada kesempatan kedua untuk merasakan nikmatnya berhadapan dengan seorang jagoan kosen.‖, sambil tertawa Chen Wuxi menjawab dengan bersemangat.
Tidak aneh jika dua orang tua ini merasakan demikian, keduanya memang bukanlah orang yang memiliki nama besar dalam dunia persilatan. Jagoan-jagoan kelas satu sudah tentu tidak pandang mata terhadap mereka, jangan harap mereka dapat kesempatan berlatih tanding. Bisa saja karena suatu sebab mereka berhadapan dalam pertarungan yang sesungguhnya, tapi kalau itu terjadi sudah bisa dipastikan nyawa mereka bakal melayang. Padahal bagi orang yang menekuni ilmu silat, berhadapan dengan jagoan yang tingkatannya lebih tinggi selalu menguntungkan, itu adalah salah satu cara untuk memperdalam pemahaman sendiri, megenali kelemahan diri sendiri dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa dikembangkan.
Akan tetapi karena sifat dunia persilatan yang tidak kenal ampun, cara tersebut jadi sulit dilakukan. Seorang guru tidak akan dengan mudahnya mau memberikan petunjuk pada orang luar, jangankan pada orang luar, pada murid sendiri pun tidak jarang masih ada jurus simpanan yang dirahasiakan. Itu
751
sebabnya tidak jarang setelah tamat belajar, seseorang pergi berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari lawan, menambah pengalaman dan memperdalam ilmu.
Beruntung mereka yang mendapatkan bimbingan dari perguruan-perguruan ternama. Sebaliknya untuk orang-orang seperti Wang Xiaho dan Chen Wuxi, sulitlah untuk mengembangkan ilmu lebih jauh lagi.
Keduanya memilih senjata kesukaan masing-masing, Wang Xiaho mengambil sebuah golok kayu yang besar. Chen Wuxi sudah mengambil sepasang pedang. Perbuatan mereka tentu saja menarik perhatian, apalagi ketika mereka ikut melangkah masuk dalam arena.
―Ding Tao, aku sudah bersalah padamu, terlampau memandang rendah dirimu, sepertinya tidak cukup jika hanya dua orang muridku yang maju jika kami ingin melihat kemampuanmu.‖, ujar Chen Wuxi menjelaskan.
Halaman itu pun dipenuhi suara berbisik, tidak seorangpun yang menyangka kedua jagoan tua itu akan ikut turun ke tengah arena. Dan ini bukannya menyuruh dua orang yang sudah ada mundur, tapi mereka maju untuk menambah jumlah
752
lawan Ding Tao. Melihat Ding Tao yang meragu, Wang Xiaho cepat memberikan penjelasan susulan.
―Ding Tao, percayalah, tidak ada maksud buruk dalam hati kami. Tapi sungguh kami akan berterma kasih jika kau mau bermurah hati memberi satu atau dua petunjuk untuk meningkatkan ilmu kami.‖
―Ah, Paman Wang, siauwtee jadi merasa tidak enak.‖
―Heh, terhadap kawan sendiri masa aku akan memusingkan segala nama atau menyelamatkan muka. Ding Tao apa kau sungguh-sungguh tidak mau menyenangkan hati orang tua ini?‖, desak Wang Xiaho.
―Bukan begitu paman, hanya saja kupikir paman terlalu memandang tinggi diriku. Tapi marilah, aku pun ingin menambah pengalaman.‖, jawab Ding Tao mengambil keputusan, setelah berpikir sejenak.
Pemuda itu melihat sifat Wang Xiaho yang terbuka, Chen Wuxi yang bersahabat dengannya tentu punya sikap yang sama. Teringat pengalamannya, di mana lewat pertandingan bisa menjadi sahabat erat, Ding Tao pun tidak ragu lagi. Begitu
753
pemuda itu mengambil sikap, ke empat lawannya kembali merasakan tekanan yang hebat.
Dalam hatinya Chen Wuxi merasa kagum, jika tadi dia sempat merasa kecewa pada kedua murid utamanya. Sekarang rasa kecewa itu hilang, karena dia merasakannya sendiri, perbawa yang keluar dari Ding Tao. Hawa pedang yang tebal, terasa menyelimuti sekujur tubuhnya, membuat dia merasa sulit untuk menyerang. Bagi Ding Tao sendiri ini adalah pengalaman baru, jurus yang baru saja dia ciptakan, belum pernah dipakainya dalam satu pertarungan.
Baru kali ini dia coba menerapkannya, Ding Tao sendiri tidak sadar apa akibat dari jurus yang diciptakannya itu pada lawan. Perbawa yang kuat menekan, menyulitkan lawan untuk mengembangkan serangan. Satu jurus yang menutup jalan serangan lawan, mengancam setiap lubang pertahanan, tanpa keinginan untuk membunuh atau menghabisi lawan. Tujuan utamanya, memaksa lawan menyerah tanpa harus terjadi pertumpahan darah. Jurus ini tercipta dari sari pati setiap jurus dan pengalaman yang didapatkan Ding Tao, dilambari dengan dua macam hawa murni yang berbeda sifat dan dihasilkan dari pemikiran yang dibantu ketajamannya oleh obat sakti dewa pengetahuan.
754
Mungkin jurus ini bila sudah sepenuhnya digali dan dikembangkan, bisa disejajarkan dengan jurus-jurus legendaris dari perguruan besar, ciptaan para guru besar yang sudah tiada.
Begitu hebatnya perbawa jurus ini, hingga jagoan tua seperti Chen Wuxi bisa terpaku di tempatnya. Wang Xiaho yang sudah sering mengadu nyawa pun merasakan tekanan itu. Tapi dua jagoan tua itu tidak menjadi beku ketakutan di tempatnya seperti dua orang murid Chen Wuxi yang belum sematang gurunya. Sambil menenangkan hati, perlahan-lahan dua orang jagoan tua itu mulai membajakan semangatnya yang terserang oleh perbawa jurus milik Ding Tao. Beruntung bagi mereka, ini hanyalah pertandingan persahabatan dan Ding Tao tidak berniat untuk menyerang lebih dulu. Hingga mereka punya cukup waktu untuk menenangkan hati sendiri.
Mereka yang menonton di pinggir, meskipun tidak berhadapan langsung, semakin lama mengamati, semakin bisa meresapi perbawa yang dikeluarkan oleh jurus Ding Tao. Pada awalnya mereka bertany-tanya mengapa tidak ada yang menyerang. Kemudian mereka mulai mengamati kedudukan dan sikap yang diambil Ding Tao. Otak mereka mulai mereka-reka dan menganalisa alasan mengapa tidak ada seorang pun yang
755
memulai serangan. Mulailah mereka merasakan sentuhan-sentuhan dengan jurus yang disiapkan Ding Tao. Sehingga meskipun hanya sebagian kecil dari perbawa jurus itu yang mereka rasakan, mereka mulai bisa membayangkan lawan seperti apa yang harus dihadapi oleh guru, pimpinan dan saudara mereka.
Jantung setiap orang seperti ditekan oleh bukit batu, berdebar, menanti ... dan bagaikan pecah saat tiba-tiba Wang Xiaho berteriak mengiringi ledakan serangan yang disertai segenap semangat yang berhasil dia kumpulkan. Hebat sungguh serangan Wang Xiaho, perbawa dari jurus Ding Tao adalah ibarat tali yang mengikat ujung selang, sementara usaha Wang Xiaho untuk mengumpulkan semangat adalah ibaratnya terus menerus memompakan air ke dalam selang itu. Hingga pada satu waktu, semangatnya berhasil mengatasi perbawa jurus Ding Tao dan seperti air bah yang memancar dari bendungan yang pecah, serangan Wang Xiaho membadai, meluncur ke arah Ding Tao.
Wang Xiaho melompat bergulingan rendah di tanah, golok yang terbuat dari kayu bergerak membelah bagai kilat, mengincar kuda-kuda Ding Tao. Di saat yang sama, Chen Wuxi berteriak dengan keras, melompat tinggi ke atas, pedang di tangannya
756
bergetar, mengincar setiap lubang kelemahan yang ada pada bagian atas tubuh Ding Tao.
Tapi Ding Tao tidak menjadi gugup, kakinya dengan lincah dan mantap menghindari serangan golok Wang Xiaho tanpa kehilangan keseimbangan. Pedangnya bergerak menutup serangan Chen Wuxi. Saat perhatian Ding Tao teralihkan oleh serangan Wang Xiaho dan Chen Wuxi, tekanannya pada dua murid Chen Wuxi jadi berkurang. Terbebas dari perbawa jurus Ding Tao, kedua orang itu segera mengumpulkan semangat dan melompat untuk menyerang Ding Tao.
Sebilah golok, tiga bilah pedang, satu sasaran, bekerja sama menyerang dari empat penjuru. Bagaimana cara Ding Tao menghadapinya?
Bab XVI. Berita mengejutkan
Tingkatan Wang Xiaho, Chen Wuxi dan dua orang muridnya, mungkin bisa dijajarkan dengan Fu Tsun dan Xiang Long. Jika Fu Tsun dan Xiang Long yang dibantu belasan anak buahnya tidak mampu mengalahkan Ding Tao, kesempatan apa yang dimiliki Wang Xiaohu dan Chen Wuxi.
757
Dengan gerakan kaki yang tepat, Ding Tao menyelusup keluar dari kepungan mereka berempat. Dengan serangan pedangnya dia memaksa dua orang di sisi terluar bergerak ke tengah.
Setelah sasaran terkumpul dalam satu tempat, jurus pamungkas pun dikeluarkan. Jika sedang Ding Tao bersiap mengembangkan jurus saja, ke empat orang itu jatuh dalam perbawanya. Apalagi sekarang saat Ding Tao mengembangkan jurusnya untuk menyerang. Tidak ada yang bisa melihat dengan jelas gerakan Ding Tao, tapi semua bisa merasakan hawa pedang yang meliputi seluruh halaman, bahkan mereka yang berada di pinggir arena, tidak luput dari pengaruh hawa pedang.
Setiap lubang dan celah tertutup oleh hawa pedang Ding Tao, ke empat lawannya terpaku di tempat. Tidak tahu harus bergerak ke mana, tidak bisa berpikir harus menyerang dengan jurus apa, tidak mampu pula memutuskan harus bertahan dengan cara apa. Setiap cara yang dipikirkan, selalu terasa salah, sementara pedang Ding Tao bergerak dengan cepat tanpa ampun menghajar seorang demi seorang.
Sekilas tidak jauh bedanya dengan jurus pamungkas keluarga Huang di mana serangan pedang bergulung menyerang lawan.
758
Tapi jurus Ding Tao tidak menyisakan tempat untuk melarikan diri, tidak ada jebakan di balik serangan. Jika hendak lari tidak ada jalan. Jika hendak melawan, hawa pedang Ding Tao terlampau jauh di atas kekuatan mereka. Selain itu hawa pedang Ding Tao tidak diikuti hawa pembunuh, sehingga serangan Ding Tao tidak membangkitkan naluri bertahan hidup dari lawan. Semangat untuk melawan dengan sendirinya jadi melemah, karena tidak ada kemungkinan untuk menang, tapi kalah pun tidak menakutkan.
Dalam jurus ini, Ding Tao bukan hanya memikirkan bagaimana caranya menggunakan hawa pedang untuk menyerang dan menutup jalan lawan. Tapi Ding Tao juga memperhitungkan keadaan mental lawan.
Karena itu Ding Tao juga mencari cara menghilangkan hawa pembunuh dalam jurus serangannya. Seekor tikus yang sudah terpojok akan menggigit, meskipun tikus itu tahu dia tidak punya kesempatan untuk menang. Mengapa? Karena dia merasakan adanya bahaya, nalurinya untuk bertahan hidup, membuat dia mencari jalan kehidupan, saat semua jalan buntu, maka terpiculah sifat agresifnya.
759
Demikian juga saat Ding Tao bertarung dengan lawannya, lewat jurus-jurus yang dia miliki dan kecerdikannya, dia mampu memojokkan lawan sampai lawan berdiri di posisi tidak bisa lari lagi. Tapi hal itu tidak membuat lawan menyerah, karena lawan merasakan hawa pembunuh yang keluar dari jurus serangan Ding Tao. Sehingga di posisi itu tidak ada pilihan lain kecuali membunuh atau terbunuh. Ding Tao yang merasa muak dengan pembunuhan demi pembunuhan yang harus dia lakukan, akhirnya mendapatkan inspirasi untuk menghilangkan hawa pembunuh itu dari jurus serangannya.
Sehingga lawan berada di posisi tidak mungkin menang, tapi kalaupun kalah, hal itu tidak membahayakan nyawa mereka.
------------------ o -------------------
Inspirasi yang sama bisa ditemukan dalam kisah tiga negara, dalam percakapan antara Liu Bei dengan Zhu Jun. Pada saat itu Jendral besar pasukan kerajaan Han, Zhu Jun dan Liu Bei berhasil mengepung pemberontak di kota Wang Cheng. Pemberontak ikat kepala kuning, yang kehabisan bahan makanan, mengirimkan kurir menyampaikan tawaran untuk menyerahkan diri.
760
Namun Zhu Jun menolak penyerahan mereka itu, mendengar sikap Zhu Jun, Liu Bei bertanya, ―Mengingat pendiri Dinasti Han, Nenek Moyang kita yang besar, Liu Bang, mengampuni orang-orang yang mau menyerah padanya, kenapa kita menolak penyerahan ini?‖
―Kondisi saat itu dan sekarang berbeda,‖ jawab Zhu Jun. ―Di masa itu kekacauan terjadi secara menyeluruh dan tidak ada seorang pimpinan yang tetap. Itu sebabnya mereka yang mau menyerah diterima dengan baik, untuk mendorong lebih banyak lagi orang bergabung dan mempercepat penyatuan negara.‖
―Sekarang negara sudah bersatu, dan pemberontakan Zhang Jiao adalah satu-satunya penyebab kekacauan. Memberikan pengampunan tidak akan mendorong perbuatan yang baik. Mengijinkan pemberontakan saat mereka berhasil, akan membuat mereka semakin banyak meminta. Memberikan mereka pengampunan saat mereka gagal, hanya akan memberikan keberanian untuk memberontak. Rencanamu untuk mengampuni mereka, bukanlah rencana yang baik.‖
Liu Bei pun menjawab, ―Tidaklah masalah jika kita tidak memberikan pengampunan. Tapi saat ini kota sudah terkepung dengan ketat. Jika kita menolak memberikan pengampunan,
761
maka para pemberontak akan menjadi putus asa dan akan bertempur sampai mati. Korban yang berjatuhan dari pihak kita akan sangat besar, belum lagi terhitung penduduk sipil yang tinggal di dalam kota. Karena itu baiklah kita melonggarkan penjagaan di satu sisi dan menyerang dari sisi yang lain. Mereka pasti akan melarikan diri dan kehilangan keinginan untuk bertempur. Saat itulah kita akan menghabisi mereka.‖
Taktik Liu Bei berjalan dengan baik, pemberontak yang melihat ada jalan untuk lari di satu sisi dan pasukan kerajaan yang sangat besar di sisi lain, kehilangan semangat untuk bertempur dan melarikan diri dari kota, di mana pasukan kerajaan yang lain sudah siap untuk membantai mereka.
------------------------ o -----------------------
Ding Tao bukan Zhu Jun, pendiriannya lebih condong pada pendirian Liu Bei, yaitu untuk memberikan pengampunan pada lawannya. Jurus Ding Tao tidak sepenuhnya sesuaii dengan taktik Liu Bei. Tapi ide dasar dari taktik ini, yaitu memberikan jalan penghidupan pada lawan demi melemahkan semangat bertempur lawan, tidaklah berbeda. Sedikit berbeda dengan kisah tiga negara di atas, yang dilakukan Ding Tao adalah serupa dengan bagaimana Zhu Jun dan Liu Bei berhasil
762
mengepung lawan. Tapi jika Zhu Jun tidak bersedia memberikan pengampunan, Ding Tao memilih untuk memberikan pengampunan, dengan demikian pertarungan dapat diselesaikan tanpa ada korban yang jatuh.
Tentu saja bisa diperdebatkan, apakah pilihan Ding Tao ini tepat atau tidak, karena tidak semua lawan Ding Tao akan bertindak seperti sepasang iblis muka giok. Akan ada mereka yang menggunakan kesempatan itu untuk memupuk kembali kekuatan dan mencoba menantang atau mencelakakan pemuda ini di kemudian hari. Seperti kata Zhu Jun, memberikan pengampunan di situasi yang tidak tepat, seringkali justru mendorong lebih banyak pelanggaran.
Tapi Ding Tao bukanlah Zhu Jun.
Jika serangan Ding Tao hendak dijabarkan dalam kata-kata, bisa berlembar-lembar habis untuk menjelaskan. Jika dilihat, hanya sekejap mata saja kejadiannya.
Dalam sekejap setelah Ding Tao berhasil mengumpulkan lawan di satu tempat, pedang dan golok berjatuhan di lantai. 4 orang lawan, 4 wajah pucat pasi dan 4 pasang tangan terkulai lemas.
763
Tidak ada yang membuka mulut, peristiwa itu terlalu mengejutkan.
Ding Tao merasa tidak enak, cepat-cepat meletakkan pedangnya kemudian pergi untuk menyapa ke empat lawannya, ―Paman, Guru Chen, saudara berdua, kalian tidak apa-apa bukan? Maaf jika aku kelepasan tangan.‖
Sikap Ding Tao yang rendah hati dan dengan tulus mengkhawatirkan keadaan lawannya, mencairkan keadaan. Ke empat lawannya yang sedang tercekam oleh jurus Ding Tao, tiba-tiba merasa bisa bernafas dengan lega kembali. Demikian juga mereka yang menonton di tepi arena, merasakan ketegangan yang tadinya menyelimuti mereka mencair. Berbisik-bisik mereka membicarakan apa yang baru mereka lihat dengan orang di kiri dan kanan mereka.
Chen Wuxi menggeleng-gelengkan kepala tak percaya dengan apa yang barusan dia alami, ―Astaga, tidak kukira ada jurus semacam itu. Sungguh beruntung sudah setua ini masih sempat menyaksikan bahkan merasakan dahsyatnya jurus tuan pendekar.‖
764
―Guru Chen, jangan memanggilku begitu, bukankah umurku jauh berada di bawah Guru Chen, panggil saja namaku Ding Tao seperti biasa.‖, ujar Ding Tao merasa tidak enak dipanggil tuan.
―Hah, apa artinya umur, di dunia kita, tingkatan diukur bukan dari umur tapi dari kemampuan. Apa kata orang jika mereka tahu aku memanggilmu dengan nama, orang bisa mengatakan aku tidak tahu diri, bukankah demikian Saudara Wang?‖
―Ya benar sekali itu, hmm, kalau aku teringat sudah menawarimu menjadi rekanan dalam Biro Pengawalanku, betapa malu rasanya. Heh, benar-benar makin tua makin pikun, tidak lihat ada Gunung Thaisan di depan mata.‖, jawab Wang Xiaho sambil memandang pemuda itu penuh rasa kagum.
Ding Tao menggeleng-gelengkan kepala dan menggoyang tangan menolak, ―Paman, mana boleh begitu? Di antara sahabat, mana ada pandang tingkatan-tingkatan. Jika aku menghormat pada yang lebih tua itulah yang wajar.‖
―Hmm… baiklah kalau memang itu maumu.‖, akhirnya Chen Wuxi pun mengalah, dalam hati tumbuh perasaan kagum dan hormat yang lebih dalam lagi terhadap Ding Tao.
765
Ding Tao memandang guru tua itu dan Wang Xiaho. Memandang berkeliling pada orang di sekitarnya, terasa cara mereka memandangnya jadi berubah.Mereka memandangnya sepertinya dia seorang tuan tanah atau seorang pendekar besar, tidak lagi sedekat sebelumnya. Dalam hati Ding Tao merasa sedikit sedih, meskipun juga bercampur rasa bangga. Ding Tao bertekad tidak akan mengubah sikapnya terhadap mereka, berharap, perlahan-lahan mereka akan menerima dirinya kembali sebagai teman segolongan tanpa ada sekat atau batasan.
―Ding Tao, ayo, kita kembali ke ruang tamu.‖, ajak Chen Wuxi setelah dia selesai menyimpan senjata latihan dan merapikan pakaiannya.
Bersama-sama mereka berjalan kembali. Ding Tao, Wang Xiaho dan Chen Wuxi berjalan di depan. Yang lain mengikut di belakang, dengan telinga dipasang baik-baik, ikut mendengarkan percakapan mereka.
Di luar sepengetahuan mereka sepasang mata mengikuti jalannya pertarungan itu dari tempat yang tersembunyi.. Siapa lagi jika bukan sepasang iblis muka giok. Memang tepat kalau julukan iblis itu disematkan pada sepasang kekasih ini.
766
Meskipun ilmu silat mereka belum tergolong nomor satu, tapi ilmu meringankan tubuh, penyamaran dan juga cara mereka datang dan pergi ke tempat yang mereka tuju tanpa diketahui orang, benar-benar nomor satu.
Setelah semua orang pergi, dengan suara perlahan mereka bercakap-cakap, ―Kakak, kau benar, jurus Ding Tao hebat sekali, tidak kusangka bisa sedemikian hebatnya saat digunakan.‖
―Hmm… apakah kau tidak melihat kekurangan?‖
―Apakah ada kekurangannya?‖, tanya iblis betina kemudian terdiam sejenak untuk berpikir.
Lama dia berpikir, kemudian mendesah sayang dia berkata, ―Ya.. kakak benar, jurus itu belum sempurna benar. Menurut kakak bagaimana caranya menutupi kekurangan dari jurus itu?‖
―Heh, soal itu biarkan saja jadi urusan Ding Tao, adik, mari kita menyusup mendekat, coba mencuri dengar pembicaraan mereka di ruang dalam.‖
767
Dengan gerakan gesit dan ringan keduanya menyusup ke dalam rumah, seperti sepasang arwah gentayangan, tanpa suara, tanpa terlihat orang-orang yang ada di dalam rumah.
Sementara itu Wang Xiaho yang penasaran sekaligus terkagum-kagum dengan kekalahannya tadi bertanya pada Ding Tao, ―Ding Tao, kalau boleh tahu, apa nama jurus yang tadi kau pakai untuk melawan kami tadi?‖ ―Ehm… entahlah Paman Wang, siauwtee belum sempat memikirkan nama untuk jurus itu, lagipula apalah artinya sebuah nama.‖, jawab Ding Tao sambil tersenyum.
Wang Xiaho dan Chen Wuxi yang mendengar jawaban pemuda itu pun melengak keheranan. Karena itu berarti jurus ini adalah ciptaan Ding Tao sendiri. Tahu bahwa pemuda itu tidak suka disanjung-sanjung, dua orang tua itu pun menahan diri untuk tidak mengucapkan apa-apa. Tapi dalam hati mereka sudah membuat keputusan. Mereka yang berjalan di belakang ketiga orang itu tidak berani banyak bersuara, mendengar jawaban Ding Tao mereka hanya saling berpandangan, dengan wajah menyatakan keheranan dan kekaguman.
A Sau dan A Chu yang sempat mendapatkan beberapa petunjuk dari Ding Tao menjadi sangat bersemangat. Mereka
768
sudah tidak sabar ingin cepat melatih kembali jurus-jurus pedang mereka.
Saat mereka tiba di ruang tamu, hari sudah menjelang sore, Chen Wuxi memerintahkan murid-muridnya untuk menyiapkan makan malam. Sambil menunggu, Chen Wuxi dan Wang Xiaho berniat untuk menyampaikan buah pikiran mereka pada pemuda itu.
―Ding Tao, kudengar dari Saudara Wang, kau sedang dalam perjalanan menuju ke Wuling, benarkah itu?‖, tanya Chen Wuxi.
―Iya, benar sekali Guru Chen.‖
―Bolehkah aku tahu apa tujuanmu pergi ke kota Wuling?‖, tanya Chen Wuxi kembali.
Ding Tao merasa agak ragu untuk menjawab, karena sepanjang sepengetahuannya urusan pengkhianatan Tiong Fa masih merupakan urusan dalam keluarga Huang dan belum tersiar keluar.
Melihat pemuda itu ragu untuk menjawab Chen Wuxi coba menjelaskan, ―Apakah salah tebakanku, jika kubilang tujuanmu
769
pergi ke kota Wuling ada hubungannya dengan Tiong Fa yang mengkhianati keluarga Huang dan Pedang Angin Berbisik?‖
―Ah, jadi Guru Chen sudah tahu rupanya?‖, tanya Ding Tao.
―Hmm, tahu persis juga tidak tapi sedikit banyak aku mendengar berita-berita dari saudara yang lain. Ding Tao jika aku tidak salah kau sempat menghilang kira-kira 5 bulan, sejak kau berhasil keluar dari Wuling. Apakah selama itu kau mendengar kabar, tentang apa yang terjadi di Wuling?‖
Ding Tao menggelengkan kepala, ―Tidak paman, saat itu aku sedang menyepi untuk mengobati tubuhku dari luka dalam, sekaligus memperdalam ilmu. Setelah selesai aku segera melakukan perjalanan ke Wuling, belum pernah sepanjang perjalan mendengar kabar apapun dari sana.‖
Melihat wajah Chen Wuxi dan Wang Xiaho yang serius, perasaan Ding Tao mengatakan ada kejadian yang tidak beres, dengan nada kuatir dia bertanya, ―Paman, apakah terjadi sesuatu di kota Wuling?‖
Sejenak Chen Wuxi berpandangan dengan Wang Xiaho.
770
―Baiknya Saudara Chen saja yang menyampaikan, aku orang tua ini kurang pandai dalam menyampaikan sesuatu.‖, ujar Wang Xiaho menyerahkan pada Chen Wuxi.
Chen Wuxi menghela nafas, kemudian dengan lebih singkat dan serius dia sampaikan berita tentang kehancuran keluarga Huang, ceritanya runut dimulai dari sejak berpisahnya Tiong Fa dari keluarga Huang, sampai berita terakhir tentang pembunuhan besar-besaran atas segenap anggota keluarga Huang yang tinggal di Wuling. Mendengar cerita Chen Wuxi, wajah Ding Tao berubah jadi pucat pasi. Jantungnya berdebar dan dadanya terasa sesak, begitu Chen Wuxi selesai bercerita, pemuda itu bangkit berdiri dan membungkuk memberi hormat, berpamitan.
―Paman Chen, Paman Wang, maafkan aku tidak dapat tinggal lebih lama. Aku harus segera pergi ke Wuling.‖, ujar Ding Tao berpamitan dengan suara bergetar.
Reaksi Ding Tao membuat Wang Xiaho yang melihatnya menjadi cemas, ―Tunggu dulu Ding Tao, apakah tujuanmu ke Wuling hendak mencari jejak Pedang Angin Berbisik dan merebutnya kembali? Karena jika demikian, mengapa tidak menunggu barang dua hari, ada dua orang sahabat yang pergi
771
untuk mengendus-endus berita dari Kota Wuling. Dalam 2 atau 3 hari ini mereka tentu sudah sampai kemari dan kau bisa berangkat dengan persiapan yang lebih mantap.‖
Baik Wang Xiaho maupun Chen Wuxi sudah bangkit berdiri, berusaha menahan pemuda yang jelas-jelas sedang kalut pikirannya itu.
―Maaf paman, tapi ini… ini bukan hanya soal pedang…‖
―Ding Tao, setidaknya tenangkanlah dulu hatimu, jika kau pergi dalam keadaan seperti sekarang, hanya akan mengundang banyak bencana bagi dirimu. Jika bukan soal pedang soal apa? Apakah ada sahabatmu di antara keluarga huang? Jika demikian berita itu tentu bisa kaudengar setelah dua orang sahabat kami kembali.‖, ujar Chen Wuxi berusaha menenangkan pemuda itu.
Jika dalam keadaan yang biasa mungkin Ding Tao akan kesulitan bicara, tapi hatinya saat ini sedang kalut, mana terpikir tentang malu dan sebagainya, ―Maaf paman, aku mencintai puteri keluarga Huang, Huang Ying Ying. Aku harus pergi ke Wuling untuk memeriksa keadaannya. Maafkan aku, harap paman jangan berusaha menahan, aku tahu maksud baik
772
paman sekalian, namun kali ini aku terpaksa harus menolaknya.‖
Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang itu, Ding Tao mengundurkan diri, dengan beberapa kali lompatan, pemuda itu sudah sampai di depan pintu dan berlari dengan cepat menuju ke Wuling, sebentar saja pemuda itu hilang dari pandangan mereka. Mereka yang ada di sana, hanya bisa memandangi kepergiannya dengan hati cemas. Tidak ada yang tega untuk mencegah, meskipun tahu dalam keadaan pikiran yang terganggu seperti saat ini, tentu tidak baik melakukan perjalanan jauh. Apalagi jika hendak dipikir dengan kepala dingin, Wuling sudah jelas tidak akan bisa dicapai dalam semalam. Kalaupun Ding Tao hendak memaksa pergi ke sana, bukankah lebih baik menunggu semalam, lalu besok pagi-pagi tuan rumah bisa meminjamkan seekor kuda untuk mempercepat perjalannya ke Wuling.
Tapi melihat kecemasan yang terpampang di wajah Ding Tao, Chen Wuxi pun tidak mampu mengatakan apa-apa. Dua orang tua itu hanya bisa menghela nafas panjang.
773
―Astaga, urusan asmara memang membuat orang muda hilang akal… seorang berbakat pun tidak lepas dari jerat asmara…‖, keluh Chen Wuxi sambil menggelengkan kepala.
Wang Xiaho tiba-tiba memukul meja, ―Hah, sudah hidup begini lama, masakan tidak memiliki guna. Saudara Chen bisakah kau meminjamiku dua ekor kuda? Aku akan berusaha menyusul Ding Tao, sekuat apapun anak itu, akan lebih cepat jika menunggang seekor kuda.‖
―Hemm, tentu saja, apakah kau akan ikut pergi ke Wuling?‖, tanya Chen Wuxi.
―Ya, kupikir sebaiknya begitu, pikirannya sedang kalut, meskipun ilmu silatku tidak ada seujung kukunya, dalam keadaan begini kepalaku lebih dingin.‖, Wang Xiaho mengangguk dengan tegas.
Menoleh pada orang-orangnya, Wang Xiaho meninggalkan pesan, ―Kalian segera kembali ke kantor kita, sesegera mungkin aku akan kembali, tapi jika sampai 3 bulan tidak ada kabar dariku, kalian bagikan saja uang yang ada dan bubarkan Biro Pengawalan Golok Emas, untuk sementara jangan ikut
774
campur urusan dunia persilatan. Tidak usah merasa sayang, jika memang masih ada umur, kita akan bertemu lagi.‖
Sementara Wang Xiaho memberi pesan pada orang-orangnya, salah seorang murid Chen Wuxi sedang bergegas menyiapkan kuda. Chen Wuxi bukan orang yang kaya, di rumahnya hanya ada 3 ekor kuda. Tapi 2 yang terbaik dia siapkan untuk Wang Xiaho dan Ding Tao. Inilah kelebihan Chen Wuxi, tidak pernah banyak berhitung jika itu untuk membantu teman. Dengan sendirinya banyak orang merasa suka menjadi sahabatnya. Orang pun jadi segan untuk mencari urusan dengan guru tua ini.
Matahari sudah mulai tenggelam dan langit mulai gelap, saat Wang Xiaho memacu kudanya sepanjang jalan menuju Wuling, kira-kira 3-4 li di luar kota, barulah dia menyusul Ding Tao yang berlari dengan cepat di depannya.
Ding Tao memang cepat, tapi kuda yang ditunggangi Wnag Xiaho lebih cepat. Begitu melihat sosok Ding Tao di depannya, Wang Xiaho tanpa ragu berteriak memanggil, ―Ding Tao… Ding Tao… tunggu sebentar!‖
775
Mendengar suara Wang Xiaho, Ding Tao memperlambat larinya, keringat sudah bercucuran membasahi pakaiannya. Suara derap kaki kuda makin mendekat, saat suara itu sudah sangat dekat Ding Tao berhenti berlari dan menanti Wang Xiaho.
―Ada apa paman? Jangan kuatir, aku memang mencemaskan keadaan Adik Ying, tapi sambil berlari pikiranku sudah mulai tenang. Meskipun hatiku tetap meronta untuk secepatnya sampai ke Wuling.‖, ujar Ding Tao saat mereka sudah bertatapan muka.
―Hemm, kalau mau ke Wuling secepatnya, lebih baik pakai kuda, nah kau naiklah kuda ini, aku akan menyertaimu sampai ke Wuling.‖ Jawab Wang Xiaho sambil menyerahkan tali kekang pada Ding Tao.
Ding Tao memandang Wang Xiaho dengan pandangan terkejut campur berterima kasih. Wang Xiaho melihatnya dan tertawa, ―Hahaha, jangan terlalku sungkan denganku, ini bukan kuda milikki, kedua kuda ini milik guru Chen.‖
―Paman berdua sungguh terlalu baik‖, jawab Ding Tao sambil melompat ke atas pelana.
776
―Hahaha, bukankah katamu di antara sahabat tidak usah banyak perhitungan. Ayo, marilah kita lanjutkan perjalanan, mumpung langit cerah.‖
―Baiklah paman, mari.‖, jawab Ding Tao.
Wang Xiaho tidak banyak bicara, diamatinya saja Ding Tao yang kelihatan jelas pikirannya sedang terpaku di kota Wuling. Tapi jagoan tua itu merasa lega, karena kekuatiran Ding Tao itu tidak mengabutkan penalaran anak muda itu. Ding Tao merasa cemas itu sudah jelas, tapi Ding Tao tidak kehilangan akal sehatnya, bukannya memacu kudanya secepat mungkin, pemuda itu memacu kudanya secukupnya saja, sehingga kuda tunggangannya tidak cepat lelah. Setelah yakin bahwa akal sehat Ding Tao berjalan dengan baik, Wang Xiaho membuka mulutnya.
―Ding Tao, perjalanan ke kota Wuling tidaklah dekat, bagaimana dengan rencana perjalananmu?‖
―Ya, dengan berjalan kaki terus menerus, kutaksir butuh waktu setidaknya 1 minggu, beruntung Paman Wang menyusulku dengan membawa kuda. Jika kita bisa menjaga agar kuda kita tidak cepat lelah, sesekali menunggang kuda, sesekali berjalan.
777
Lalu beristirahat secukupnya saja, aku berharap bisa menyingkatkan waktu jadi 3-4 hari saja.‖
―Hmm… kita langsung saja masuk ke kota?‖
―Tidak, kupikir begitu kota Wuling sudah tinggal setengah hari perjalanan, sebaiknya kita beristirahat dengan sebaik-baiknya, sehingga tubuh dan pikiran kita segar sewaktu memasuki kota Wuling.‖
Wang Xiaho mengangguk puas, ―Ding Tao, sebenarnya selain ingin berkenalan dan juga berbagi kabar tentang kejadian di Wuling ada hal lain yang aku dan Guru Chen ingin sampaikan. Apa kau tidak keberatan jika kita membicarakan hal ini di perjalanan?‖
Ding Tao menoleh, memandang wajah Wang Xiaho dan meminta maaf, ―Maafkan sikapku yang kurang sopan paman, sungguh hatiku sangat kacau mendengar berita itu. Itu sebabnya tanpa mendengarkan penjelasan paman berdua lebih lanjut, aku berpamitan untuk pergi. Kuharap Paman Wang dan Guru Chen tidak merasa tersinggung oleh perbuatanku.‖
―Tidak masalah, kami pun pernah muda, berita itu berkaitan erat dengan orang yang kau kasihi, sudah tentu kau ingin
778
secepat mungkin pergi ke Wuling untuk melihat keadaan. Tidak usah kaupikirkan lagi.‖
―Tentang persoalan yang ingin Paman Wang katakan, tentu saja tidak ada salahnya jika kita bicarakan sepanjang perjalanan. Mungkin lebih baik begitu, supaya pikiranku tidak terlalu keruh, mengkhawatirkan sesuatu, yang atasnya aku tidak bisa berbuat apa-apa.‖, ujar Ding Tao sambil menghela nafas.
―Hmm.. ―, jawab Wang Xiaho pendek.
Untuk beberapa lama mereka menunggang kuda dalam keheningan, hanya suara derap kaki kuda yang terdengar.
―Ding Tao, tentang penyerbuan terhadap keluarga Huang, menurut pendapatmu, siapakah yang mungkin melakukannya?‖, tanya Wang Xiaho membuka percakapan.
Ding Tao mengerutkan alis, cukup lama pemuda itu berpikir, namun akhirnya dia menggelengkan kepala, ―Entahlah Paman Wang, aku tidak bisa membayangkan siapa orangnya yang tega dan memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu.‖
779
―Hmm… ada cukup banyak orang yang tega melakukan hal itu, demi mendapatkan Pedang Angin Berbisik.‖
―Jika hanya ingin mendapatkan Pedang Angin Berbisik, bukankah lebih baik mencari cara untuk mencurinya diam-diam daripada melakukan pembunuhan besar-besaran?‖, tanya Ding Tao.
―Ya, justru itulah, aku dan Guru Chen berpendapat, di balik pembunuhan ini ada masalah yang lebih besar daripada Pedang Angin Berbisik itu sendiri.‖
Dengan sabar Ding Tao menanti penjelasan Wang Xiaho.
―Ding Tao, kau pernah hidup dalam keluarga Huang cukup lama, menurutmu berapa banyak orang yang dibutuhkan untuk melakukan pembasmian terhadap keluarga Huang yang ada di Wuling?‖, tanya Wang Xiaho, tidak sadar bahwa pertanyaannya membut jantung Ding Tao serasa tertusuk.
Berusaha mengendalikan perasaan Ding Tao memaksa dirinya untuk berpikir, ―Setahuku di Wuling sendiri ada sekitar 80 sampai 90 orang yang benar-benar bisa diandalkan dalam satu pertempuran. jika seluruh laki-laki yang bisa mengangkat senjata dihitung, jumlahnya bisa mencapai 120 orang lebih.
780
Tapi yang benar-benar patut diperhitungkan kurasa tidak lebih dari 3 atau 4 orang, Tuan besar Huang Jin, Tetua Huang Yunshu, Huang Ren Fang putera sulung Tuan besar Huang Jin dan Wei Mo. Kemudian kira-kira ada 30-an orang yang jika bekerja sama akan bisa merepotkan seorang jagoan kelas atas.‖
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Ding Tao memberikan jawaban, ―Mungkin 20-an orang dengan tingkatan setingkat Sepasang Iblis Muka Giok.‖
―Hmm… mencari 20 orang setingkat sepasang iblis itu, yg mau bekerja sama bukan pekerjaan gampang. Kau sudah pernah bertemu sepasang iblis itu, sedikit banyak kau bisa meraba sifat mereka, bisakah kaubayangkan orang-orang dengan harga diri setinggi itu mau bekerja sama? Bahkan dalam perguruan besar seperti Shaolin dan Wudang, mungkin hanya ada 5 atau 6 orang yang setingkat dengan mereka.‖
―Maksud paman, salah satu atau lebih dari satu perguruan besar bekerja sama, melakukan hal ini?‖, tanya Ding Tao.
―Justru itu yang membuatmu bingung bukan? Perguruan semacam Shaolin, Wudang atau Hoasan punya reputasi yang
781
baik, rasanya tidak masuk akal jika mereka melakukan hal semacam ini. Lebih tidak terbayangkan lagi jika mereka bekerja sama untuk melakukannya. Siapapun yang memimpin dan merencanakan penyerangan ini pastilah seorang tokoh yang sulit dicari tandingannya.‖
Wang Xiaho diam menunggu Ding Tao sampai pada kesimpulannya sendiri, Ding Tao yang mengikuti uraian Wang Xiaho bisa merasakan itu, jadi daripada bertanya dia memilih memikirkannya sendiri.
―Ren Zuocan, ketua sekte Matahari dan Bulan?‖, tebak Ding Tao.
―Itulah kesimpulanku dan Guru Chen, demikian juga kesimpulan para sahabat yang membicarakan hal ini. Kekhawatiran kami yang paling besar adalah, bahwa kabar angin yang mengatakan ada perguruan dan orang-orang dalam perbatasan yang diam-diam bersumpah setia padanya, adalah benar. Tapi hanya itu yang bisa menjelaskan penyerangan atas keluarga Huang.‖
―Karena Ren Zuocan menginginkan Pedang Angin Berbisik dan dia sekaligus bisa menguji kesetiaan orang-orang yang sudah
782
bersumpah setia padanya.‖, bisik Ding Tao dengan kemarahan yang tersembunyi.
―Ya, dan kukira bukan hanya itu saja, tapi sekaligus merupakan peringatan bagi mereka yang coba-coba menentang mereka. Keluarga Huang mungkin bukan organisasi terkuat dalam dunia persilatan, reputasi mereka masih di bawah perguruan seperti Kunlun, Hoasan dan Kongtong. Tapi juga tidak bisa diremehkan begitu saja. Tepatnya, mereka memiliki besaran kekuatan yang pas untuk dijadikan contoh bagi orang-orang dalam dunia persilatan.‖
―Jika hal itu benar…‖, Ding Tao tidak melanjutkan kata-katanya, tapi tidak ada rasa takut atau cemas pada wajahnya, yang terlihat adalah kegeraman dan kemarahan yang ditahan.
Ekspresi Ding Tao itu membawa rasa bangga dan lega di hati Wang Xiaho. Dengan jujur dalam hati dia mengaku bahwa ketika dia mengambil kesimpulan yang sama, yang dia rasakan adalah kengerian. Memang umur Ding Tao yang masih muda, berpengaruh dengan cara dia memandang segala sesuatu. Tapi Wang Xiaho sudah merasakan kehebatan Ding Tao dan diapun meletakkan harapannya pada diri pemuda itu.
783
Menyaksikan wajah Ding Tao yang bersemangat, dia semakin yakin bahwa pilihan dirinya dan Chen Wuxi tidaklah salah.
―Ding Tao, kukira tentang siapa Ren Zuocan dan apa bahayanya orang itu bagi kita tidak perlu lagi kuutarakan. Demikian juga dengan kekuatan yang berhasil dia kumpulkan, satu orang sendirian bukanlah tandingan bagi dirinya.‖, ujar Wang Xiaho.
―Ya, paman benar, dia memiliki anak buah yang ribuan jumlahnya. Di antara mereka banyak jagoan-jagoan kelas atas. Tapi aku akan mencoba peruntunganku di pertemuan 5 tahunan, itu adalah salah satu tugas yang dibebankan oleh guruku.‖, jawab Ding Tao.
―Nah, apa yang aku dan Guru Chen ingin sampaikan padamu berkaitan erat dengan masalah ini.‖
Ucapan Wang Xiaho berhasil mendapatkan perhatian Ding Tao.
―Beberapa sahabat, mengatakan bahwa mulai ada gerakan dari berbagai golongan dalam dunia persilatan kita. Ada rencana untuk mengadakan pertemuan besar sebelum pertemuan 5 tahunan, yang tujuannya untuk mempersatukan kita semua di
784
bawah satu pimpinan. Pemilihan Wulin Mengzhu, sudah terlalu lama kedudukan itu kosong, dalam keadaan kritis seperti sekarang, inilah waktu yang tepat untuk mengadakannya. Bagaimana menurut pendapatmu?‖
Ding Tao memukul pahanya, ―Wah, tepat sekali ide itu Paman Wang. Jika seluruh dunia persilatan mau bersatu, maka Ren Zuocan pun bukan apa-apa. Seharusnya dari dulu hal ini dilakukan.‖
―Heheh, memang seharusnya begitu, tapi kau tahu sendiri sifat keras kepala dan betapa susahnya orang-orang dalam dunia persilatan untuk menundukkan kepala pada orang lain. Tapi dengan semakin bertambahnya usia Biksu Khongzhe dan Pendeta Chongxan, dan dengan kejadian yang menimpa keluarga Huang…‖
Mata Ding Tao mencorong tajam, suaranya dingin sewaktu berkata, ―Hmm… kali ini Ren Zuocan salah perhitungan, maksudnya menakut-nakuti, tapi justru gertakannya membuat kita semua bersatu… dan akan kupastikan dia menyesali perbuatannya.‖
785
‖Bagus, bagus, memang anak muda harusnya bersemangat seperti itu. Hahaha, aku dan Guru Chen sudah sepakat, jika pemilihan Wulin Mengzhu itu benar akan diadakan, kami akan mendukungmu untuk merebut kedudukan itu.‖, ujar Wang Xiaho sambil tertawa gembira.
Wajah Ding Tao pun jadi pucat karena kaget mendengar ucapan Wang Xiaho, ―Tunggu dulu paman, apa maksud paman? Aku tidak ada keinginan untuk menjadi Wulin Mengzhu. Seharusnya lebih pantas jika yang diangkat itu Biksu Khongzhe dari Shaolin atau Pendeta Chongxan dari Wudang. Bukan aku.‖
―Hoho, tadi kau penuh semangat, kenapa sekarang jadi malu-malu seperti perawan yang mau dikawinkan?‖, tanya Wang Xiaho geli.
Merah muka DIng Tao digoda demikian, ―Paman Wang jangan salah paham, tidak pernah aku berpikir untuk menduduki kedudukan sebagai Wulin Mengzhu, tadi aku berkata demikian, maksudku aku akan mengerahkan segenap kemampuanku untuk membantu Wulin Mengzhu yang terpilih dalam melawan keganasan Ren Zuocan.‖
786
―Oh, kalau begitu menurutmu siapa yang paling tepat untuk menduduki kursi Wulin Mengzhu?‖
―Ada Biksu Khongzhe dan ada juga Pendeta Chongxan, keduanya mungkin adalah pendekar terhebat di masa ini. Juga dari segi kebijaksanaan dan kebaikan, keduanya tidak perlu diragukan.‖
Wang Xiaho menggeleng, ―Keduanya tidak akan bisa menjadi Wulin Mengzhu, kau tahu kenapa?‖
Ditanya demikian Ding Tao menggelengkan kepala.
―Pertama-tama, keduanya adalah tokoh agama yang menghindari kedudukan duniawi. Jangankan tidak ada yang meminta atau mendukung mereka untuk mengambil kedudukan itu. Seandainya kita meminta atau mengajukan mereka pun, belum tentu mereka bersedia untuk mengajukan diri untuk menjadi calon Wulin Mengzhu.‖, dalam hatinya Wang Xiaho menambahkan, ‗Sedikit mirip dengan dirimu‘.
―Kedua, kedua tetua itu mengepalai dua aliran besar dalam dunia persilatan, sementara sebagai Wulin Mengzhu justru dituntut adanya perlakuan yang adil dan merata pada seluruh golongan dan aliran. Hal ini bisa menjadi ganjalan, bila ada
787
kebijakan yang merugikan kelompok tertentu, hal itu bisa diungkit-ungkit sebagai satu ketidak adilan hingga meretakkan persatuan yang hendak dibangun.‖
―Dan yang ketiga, adalah masalah ambisi-ambisi pribadi dari tokoh-tokoh dunia persilatan. Memang dengan adanya ancaman dari luar, sepertinya akan timbul satu persatuan. Tapi persatuan ini adalah persatuan yang rapuh, mereka bersatu hanya untuk melindungi diri sendiri. Itu sebabnya dalam memilih Wulin Mengzhu pasti setiap orang akan menjagokan golongannya masing-masing.‖
―Terutama dari kelompok perguruan-perguruan besar lainnya, seperti Kunlun, Kongtong dan Hoasan. Jika Shaolin atau Wudang yang terpilih, mereka akan kuatir bahwa wibawa mereka akan semakin turun saja. Dengan demikian ketiga perguruan besar lainnya ini pasti mati-matian akan menentang pencalonan Biksu Khongzhe atau Pendeta Chongxan.‖
―Paman Wang, kalau demikian sulitnya, mengapa Paman Wang berpikir bahwa aku memiliki kesempatan untuk maju dalam pemilihan itu?‖, tanya Ding Tao sambil tersenyum berpikir bahwa Wang Xiaho mengajukan dirinya menjadi calon Wulin Mengzhu tanpa alasan yang jelas.
788
―Tunggu dulu, sebelum kujelaskan apa yang kubicarakan dengan Guru Chen ketika kami menunggu A Sau dan A Chu mengantarkanmu. Aku ingin bertanya dulu, bagaimana?‖
―Silahkan Paman Wang bertanya, aku tentu akan menjawab pertanyaan paman dengan sejujurnya.‖ Jawab Ding Tao, hatinya mulai tertarik oleh uraian Wang Xiaho.
―Bagus! Sekarang aku hendak bertanya, jika kami bisa membuktikan bahwa kau adalah salah satu orang yang sesuai untuk menduduki kursi Wulin Mengzhu itu, maukah kau menerima dukungan kami dan maju dalam pencalonan Wulin Mengzhu?‖, tanya Wang Xiaho.
―Selama aku tidak melihat ada calon lain yang lebih tepat dari diriku, ya, aku akan maju dalam pencalonan itu.‖, jawab Ding Tao dengan tegas.
―Kau tidak akan lari dari tanggung jawab?‖
―Tidak, aku tidak menginginkan kedudukan itu, tapi aku juga tidak akan lari dari tanggung jawab, bila hal itu dipercayakan padaku.‖
789
Puas mendengar jawaban Ding Tao, Wang Xiaho mengangguk senang sambil tersenyum, ―Baguslah kalau begitu. Sekarang coba dengar uraianku.‖
―Tadi sudah kusinggung masalah tentang posisi Wuin Mengzhu yang harus bisa berdiri tanpa ikatan dengan satu aliran pun di dunia persilatan. Agar keputusannya tidak disangkut pautkan dengan hubungan dekatnya pada aliran tertentu. Jika itu terjadi, maka hanya akan menimbulkan bibit perpecahan di tengah persatuan yang rapuh. Dalam hal ini, dirimu memenuhi persyaratan ini. Benar tidak?‖, tanya Wang Xiaho setelah menguraikan panjang lebar.
Ding Tao berpikir sejenak, kemudian mengangguk menerima pendapat Wang Xiaho, ―Ya, dalam hal itu paman benar. Tapi seorang pemimpin juga perlu memiliki pengalaman dan kebijaksanaan dalam hal ini umurku yang masih muda tidaklah sesuai untuk kedudukan tersebut. Lagipula persyaratan ini tidaklah mengikat, meskipun ikut mempengaruhi pertimbangan dalam memilih seseorang.‖
Wang Xiaho terkekeh geli, ―Hehehehe, di sini engkau setengah benar, setengah salah, jangan kau nilai semua orang sama seperti dirimu. Dalam pemilihan Wulin Mengzhu nanti, berani
790
bertaruh 100 tael emas, yang terpenting bukanlah kebijaksanaan seseorang, melainkan tinggi rendah ilmu silatnya.‖
―Ah tidak juga paman, dari guruku aku tahu ada pula Wulin Mengzhu di masa lalu yang tingkatan ilmunya bukan yang tertinggi, tapi masih juga terpilih sebagai Wulin Mengzhu oleh karena sifat-sifatnya yang baik.‖, jawab Ding Tao sambil menggeleng.
―Ho ho, memang benar, meskipun ilmu silatmu bukan yang tertinggi, asalkan memiliki dukungan yang cukup kuat dan calon-calon lain setuju, kau akan bisa diangkat jadi Wulin Mengzhu. Tapi sekarang kutanya, menurutmu ada berapa banyak tokoh dunia persilatan yang menginginkan kedudukan sebagai Wulin Mengzhu?‖
―Mungkin ada banyak, tapi yang tidak memiliki dukungan di belakangnya tentu tidak akan berani mengajukan diri. Jika apa yang paman katakan tentang Biksu Khongzhe dan Pendeta Chongxan benar, berarti setidaknya ada 3 orang calon, masing-masing dari perguruan Kongtong, Kunlun dan Hoasan. Di luar mereka mungkin ada 2 atau 3 orang lagi pendekar yang mendapatkan dukungan dari para sahabat.‖
791
―Hoho, bagus-bagus, cara berpikir yang bagus sekali. Nah, katakanlah ke-enam orang itu maju sebagai calon, dengan cara bagaimana kita akan memilih? Apakah dengan cara bertanding di atas panggung?‖, tanya Wang Xiaho.
―Hmm… mungkin…‖, jawab Ding Tao ragu-ragu, karena jika dikatakan ya, berarti masalah pengalaman dan kebijakan tokoh yang bersangkutan tidaklah penting, tidak seperti yang dia katakan sebelumnya.
―Hehehe, jadi kau setuju bahwa tidak ada urusannya dengan pengalaman atau kebijaksanaan orangnya, tapi yang penting tinggi-rendahnya ilmu silat?‖, desak Wang Xiaho.
―Tunggu dulu paman, umurku masih muda jadi tidak banyak yang aku tahu. Tapi adalah kenyataan bahwa tidak selamanya seorang Wulin Mengzhu adalah orang yang tertinggi ilmu silatnya. Kalau memang pada akhirnya urusannya jatuh dalam masalah tinggi rendah ilmu silat, lalu bagaimana mereka dulu bisa terpilih?‖, tanya Ding Tao penasaran.
―Hemm… akupun baru belum pernah melihat pemilihan Wulin Mengzhu tapi dari yang kudengar, ada beberapa kejadian di mana, nama dan reputasi tokoh tersebut memang sudah
792
sangat dikenal orang, sehingga saat namanya diajukan, hampir semua yang datang menyetujuinya. Ada juga terjadi tokoh ini mendapat dukungan dari tokoh-tokoh sakti lainnya sehingga saat namanya diajukan tidak ada yang berani untuk maju dan menguji ilmunya.‖, jawab Wang Xiaho.
Mendengar jawaban Wang Xiaho itu, senyum di wajah Ding Tao melebar, ―Nah paman dari dua kemungkinan itu, diriku ini masuk kemungkinan yang keberapa?‖
―Hehehe, jangan kau pikir bisa lolos begitu saja. Pada saat pemlihan nanti, bila kami berhasil mendapatkan cukup dukungan untuk mengajukan dirimu sebagai calon Wulin Mengzhu, kuyakin yang pertama-tama diuji adalah ilmu silatmu. Kau tahu kenapa?‖, tanya Wang Xiaho.
Ding Tao merenung sejenak baru menjawab, ―Kukira itu karena umurku masih muda, jadi banyak orang akan meragukan kemampuanku. Satu-satunya cara yang paling mudah untuk mengujinya adalah lewat pertarungan.‖
―Ya, selain itu calon yang lain, akan memandang sebelah mata padamu, sehingga berpikir itulah kesempatan paling mudah untuk menyingkirkan dirimu.‖, lanjut Wang Xiaho
793
―Bisa jadi mereka benar paman, dari segi pengalaman aku memang masih jauh di bawah saudara-saudara yang lain. Kalau dihitung baru beberapa bulan saja aku mulai mengembara di dunia persilatan. Jika dihitung jumlah pertarungan, mungkin baru dua atau tiga kali saja bertarung sungguh-sungguh.‖, dengan sabar Ding Tao menjelaskan, takut mengecewakan Wang Xiaho yang kelihatan berapi-api dalam mengajukan dirinya sebagai Wulin Mengzhu.
―Hmm… apakah kau tidak percaya dengan penilaianku dan penilaian Guru Chen?‖, tanya Wang Xiaho pura-pura sedikit tersinggung.
―Bukan begitu Paman Wang… Tapi di atas gunung ada gunung, di atas langit ada langit. Baru keluar perguruan masa siauwtee berani berpikir demikian?‖
―Heh, rendah hati itu memang sifat yang baik Ding Tao, tapi kau juga harus bisa menilai dengan lebih seimbang. Jangan kemudian terlampau rendah menilai diri sendiri. Sekarang aku hendak bertanya padamu, semenjak kau keluar berkelana, apakah kau pernah kalah dalam satu pertarungan?‖
794
―Eh…, satu kali, sewaktu pertama kali melawan Sepasang Iblis Muka Giok.‖, jawab Ding Tao dengan ragu-ragu, karena dalam hati kecilnya dia harus mengakui bahwa dirinya tidak merasa kalah melawan sepasang iblis itu.
―Hmm… sepasang iblis itu termasuk jagoan juga, tidak banyak yang bisa menghadapi mereka saat mereka bertarung berpasangan. Lagipula, bukankah waktu itu engkau dikeroyok oleh banyak orang?‖, tanya Wang Xiaho menyelidik.
―Tidak juga paman, sewaktu melawan sepasang iblis itu, yang lain sudah pada menyingkir.‖
―Oh begitu, tapi itu terjadi saat kau menderita luka dalam, bukankah begitu?‖, ujar Wang Xiaho teringat cerita Ding Tao tentang apa yang dia lakukan beberapa bulan ini.
―Eh, ya, begitulah paman.‖
―Lalu di pertemuan yang kedua kalinya melawan sepasang iblis itu, keduanya tidak bisa mengalahkanmu. Ding Tao jangan kau sembunyikan sesuatu, katakan dengan jujur, bukankah sebenarnya di pertarungan yang kedua ini, kau yang memenangkannya?‖
795
Melihat cara Wang Xiaho memandang dirinya Ding Tao jadi merasa tidak enak kalau hendak membohong, pada saat yang sama hendak mengatakan dirinya menang juga serasa seperti menyombong, akhirnya dengan hati berat dia menjawab sederhana, ―Ya… bisa dibilang begitu Paman Wang.‖
―Hehehe, tidak perlu malu, aku tahu kau yang memenangkan pertarungan itu, karena jika sepasang iblis itu berada di atas angin, masa mereka mau melepaskanmu untuk kedua kalinya?‖, tertawa terkekeh Wang Xiaho berujar.
Ding Tao mengangguk-angguk saja sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
―Nah, begitu lebih baik, jadi jagoan tua ini tidak jadi rendah diri. Jelek-jelek belajar bertahun-tahun masa kecundang begitu memalukan di tangan orang yang mengalahkan sepasang iblis itu saja tidak mampu.‖, dengan puas Wang Xiaho berujar.
―Menurut paman apa ilmuku sudah tinggi sekali? Bukankah masih ada para ketua dari perguruan seperti Kongtong, Kunlun dan Hoasan.‖, tanya Ding Tao menegas.
―Hmm… aku juga belum pernah melihat langsung kehebatan mereka. Tapi kalaupun kau tidak bisa mengalahkan mereka
796
setidaknya kau akan sanggup bertahan menghadapi gempuran mereka. Kuyakin jika kau sempat maju untuk menunjukkan kemampuanmu dalam satu pertadingan banyak orang akan kagum, mengingat dirimu bukan berasal dari perguruan besar dan umurmu yang masih muda. Jadi kaulihat, kurangnya pengalamanmu justru menjadi satu keuntungan di sini.‖
―Mungkin saja begitu tapi rasanya siauwtee tidak bakal bisa menang kalau lawannya tokoh-tokoh seperti yang Paman Wang sebutkan.‖, jawab Ding Tao dengan ragu.
―Belum tentu juga, meskipun aku juga kesulitan untuk coba menjajagi kemampuan mereka. Tapi ada keuntungan lain dari kurangnya pengalamanmu. Coba pikir, jika kau ingin menduduki kedudukan itu, tapi sudah yakin tidak bisa menang dalam perebutan, siapa yang akan kau dukung? Orang yang licin, berpengalaman dan punya kekuasaan. Atau seorang pemuda lugu, yang belum berpengalaman dan pendukung yang tidak seberapa?‖, mata Wang Xiaho bergerak-gerak, seakan bertanya, nah apa kataku.
Muka Ding Tao memerah dengan agak kesal dia menjawab, ―Paman Wang, daripada aku hanya jadi Wulin Mengzhu boneka, lebih baik aku tidak jadi Wulin Mengzhu sekalian.‖
797
―Hoo, tunggu dulu anak muda, jangan terburu-buru marah. Coba pikir, setelah kedudukan itu ada di tanganmu, apakah kau mau jadi boneka atau tidak, bukankah itu terserah padamu? Yang penting di sini adalah keteguhan hati dan ketelitianmu. Hmm.. bagaimana?‖, jawab jago tua itu dengan senyum dikulum.
Mendengar jawaban itu Ding Tao jadi sadar sudah terlalu cepat menghakimi orang, ―Maafkan aku paman, tadi tidak sampai terpikir seperti itu.‖
―Jadi bagaimana menurut pendapatmu?‖, tanya Wang Xiaho.
Mendapat pertanyaany itu, Ding Tao berpikir sangat lama. Permasalahannya bukan masalah kecil, menjadi Wulin Mengzhu tentu sangat membantu dirinya untuk menyelesaikan tugas dari Gu Tong Dang. Membantu dia jika dia ingin menuntut keadilan bagi keluarga Huang. Teringat keluarga Huang, hatinya terasa perih, pikirannya melayang pada nasib Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu, keluarga Huang Jin yang lain, serta sahabat-sahabatnya sekalian. Menduduki jabatan Wulin Mengzhu, jelas akan memberikan banyak kegunaan bagi dirinya. Tapi di saat yang sama, tanggung jawab yang besar sudah menanti.
798
Untuk tugas yang diberikan Gu Tong Dang saja, Ding Tao tidak merasa yakin bisa memenuhinya atau tidak. Apalagi untuk menjadi Wulin Mengzhu.
Perlahan pemuda itu menggeleng, ―Maafkan aku Paman Wang, jujur aku merasa tidak layak menerima kepercayaan itu. Bagaimana kalau aku melakukan kesalahan? Bagaimana kalau aku salah mengambil keputusan dan karenanya banyak orang menderita?‖
―Ding Tao, kalau kau merasa demikian, aku justru merasa semakin mantap. Tidak tahukah dirimu? Banyak dari mereka yang nantinya akan mengajukan diri, bukan saja tidak takut membuat orang lain menderita, bahkan mereka siap untuk membuat orang lain menderita demi kepentingan pribadi.‖, ujar Wang Xiaho sambil memandang jauh ke depan.
―Ding Tao, orang-orang seperti aku dan Guru Chen, hanya ikan teri saja di dunia Wulin yang luas ini. Tapi kami ini sudah sering melihat, tingkah laku mereka yang berada di atas. Jangan kaukira tutur kata yang halus sebagai tanda orang berbudi. Tidak sedikit, mereka sampai di puncak, bermodalkan hati yang bengis, otak yang licin dan tangan yang berlumuran darah.‖
799
Dalam diam Ding Tao membayangkan Tiong Fa dan kelicikannya. Teringat pada perbuatannya sendiri saat menggunakan siasat untuk mengadu domba Fu Tsun, Xiang Long dan Sepasang Iblis muka Giok. Teringat pada kesedihan yang terpancar dari sorot mata sepaasng iblis yang kejam. Pembantaian keluarga Huang yang baru saja didengarnya.
Ya dunia persilatan penuh dengan darah, dendam, kekejian dan kebencian.
―Kau yang masih bersih ini, mendatangkan harapan bagi kami semua. Mungkin kedatanganmu bisa membawa sedikit angin segar di dunia persilatan yang makin sumpek ini. Aku tidak akan memaksamu lagi tapi kuharap kau pertimbangkan perkataanku baik-baik.‖, ujar Wang Xiaho.
―Aku mengerti paman.‖, jawab Ding Tao dengan suara lirih.
Hampir semalaman mereka berkuda, menjelang fajar baru keduanya beristirahat sejenak, sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Tidak ada yang menyinggung-nyinggung lagi masalah Wulin Mengzhu atau pembantaian keluarga Huang. Tapi pikiran-pikiran itu masih tergantung-gantung di benak keduanya.
800
Ding Tao juga manusia biasa, mendengar pujian-pujian Wang Xiaho tentu saja hatinya merasakan kebanggaan. Tapi bayangan akan tanggung jawab dan pengharapan yang begitu besar, yang hendak dibebankan di pundaknya, membuat pemuda ini gentar. Ditambah lagi dengan cara berpikirnya yang cenderung terlalu banyak menimbang-nimbang. Ketika dia mulai mengambil keputusan untuk menerima tawaran Wang Xiaho, maka muncullah pertanyaan, benarkah dia dengan tulus menerima tanggung jawab itu? Ataukah dia menerimanya demi keuntungan pribadi?
Sebaliknya ketika hendak menolak, bertanya pula pemuda itu dalam hati. Apakah itu memang oleh kerendahan hatinya, apakah itu pertimbangan yang sejujurnya? Ataukah dia hanya ingin lari dari tanggung jawab?
Wang Xiaho yang mengerti bahwa pemuda itu sedang mencoba merenungkan perkataannya, tidak berani mengganggu Ding Tao. Dibiarkannya saja pemuda itu diam dan berpikir. Dalam hatinya Wang Xiaho berdoa, agar pemuda itu mau menerima tawarannya. Sempat juga terbayang, betapa membanggakan kalau Ding Tao berhasil menjadi Wulin Mengzhu dan dia akan dikenal sebagai orang yang mempelopori membentuk barisan pendukung Ding Tao. Tapi
801
jago tua itu segera saja memaki diri sendiri dalam hati dan membuang pikiran itu jauh-jauh.
Bab XVII. Apakah Huang Ying Ying selamat?
Mereka hanya beristirahat kira-kira sepeminuman teh, matahari masih baru saja terbit ketika mereka memulai perjalanan lagi. Setelah beristirahat sejenak, Ding Tao merasa tubuhnya jauh lebih segar. Berbeda dengan Wang Xiaho yang sudah mulai berumur, pantatnya masih pegal-pegal setelah semalaman menunggang kuda tanpa henti.
Ding Tao yang menyadari hal ini, mengajak Wang Xiaho untuk berjalan kaki perlahan-lahan saja. Selain untuk menghemat tenaga kuda mereka, dia juga ingin memberi kesempatan bagi Wang Xiaho untuk melemaskan kaki.
Belum lama mereka berjalan, mereka melihat debu mengepul di depan sana dan mendengar suara derap kaki kuda. Hari masih begitu pagi, siapa yang sudah memulai perjalanan jauh sepagi itu? Jalan ini jauh dari kota maupun desa, jika penunggang kuda di depan sudah melewati jalan ini di waktu sepagi ini, berarti mereka sudah berangkat sejak matahari masih belum terbit.
802
Seperti saling berjanji, tanpa kata-kata, keduanya menepi. Wang Xiaho menggeser letak goloknya yang tergantung di pinggang, sehingga dia bisa mudah menariknya jika diperlukan. Ding Tao berdiri diam tidak melakukan persiapan, namun matanya tajam menatap ke arah penunggang kuda yang datang mendekat, telinganya memperhatikan suara derap kuda di depan dengan sebaik-baiknya.
―Dua orang…‖, ujar Ding Tao.
Wang Xiaho ikut menajamkan mata, tapi penunggang kuda itu belum terlihat, kemudian diperhatikannya suara derap kuda baik-baik dan akhirnya diapun mengangguk setuju.
―Hmm. Dua kuda.‖, jawabnya singkat.
Tidak lama kemudian yang mereka nantikan muncul juga di garis pandang mereka. Wang Xiaho yang sudah tua, matanya tidak setajam Ding Tao, tapi dia merasa sudah mengenali kedua penunggang kuda itu. Ditungguhnya beberapa lama hingga kedua penunggang kuda itu makin dekat, saat dia yakin dengan identitas keduanya, seulas senyum muncul di bibirnya.
803
―Teman baik, tidak usah kuatir, mereka itu dua orang yang kuceritakan padamu.‖, ujarnya sambil menepuk lengan Ding Tao.
―Oh, Pendekar Fu Tong dan Pendeta Pengelana Liu Chuncao.‖
―Ya, mari kita tunggu saja di sini.‖, ujar Wang Xiaho sambil melambaikan tangan ke arah kedua penunggang kuda yang mendekat dengan cepat.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menunggu Fu Tong dan Liu Chuncao, tapi yang sesaat itu terasa bertahun-tahun lamanya untuk Ding Tao. Sejak dia mendengar berita itu dari Chen Wuxi, sebuah bayangan yang menakutkan mengendap-endap masuk ke dalam hatinya. Sepanjang perjalanan dia mengucap doa, sepanjang perjalanan dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa masih ada kemungkinan bahwa berita yang diterima Chen Wuxi tidak tepat benar. Tapi sekeras apapun dia berusaha membunuh ketakutan yang menyelinap dalam hatinya, dia tidak mampu. Ketakutan itu tidak kalah liciknya dengan Hawa liar Tinju 7 Luka yang sempat merusak tubuhnya dari dalam.
804
Itu sebabnya Ding Tao memaksa untuk segera pergi ke Wuling, meskipun logikanya bisa menerima pendapat Wang Xiaho dan Chen Wuxi untuk menanti kedatangan Fu Tong dan Liu Chuncao. Tapi Ding Tao tidak mampu bertahan menghadapi ketakutannya itu, dia memilih lari dari ketakutan itu. Dengan berlari, dengan melakukan sesuatu, dia ingin agar pikiran itu tidak menghantuinya.
Untuk beberapa saat dia berhasil menyingkirkan ketakutan itu di sudut pikirannya yg terjauh. Sekarang saat dia harus menghadapi berita itu, Ding Tao merasa tidak siap. Perutnya terasa mengejang, seluruh isi perutnya seperti berbalik-balik di dalam.
Akhirnya keduanya sampai juga, dengan gerakan yang ringan keduanya melompat turun dari kuda dan menyapa Wang Xiaho serta mengangguk pada Ding Tao.
Fu Tong si tongkat besi, disebut demikian karena senjata andalannya adalah sebuah tongkat dari besi. Tapi Ding Tao sedikit curiga bahwa bukan itu satu-satunya alasan dia dipanggil tongkat besi. Fu Tong berbadan kurus tinggi dengan otot yang terlihat bagai dipahat dari batu padas, singkat kata, Fu Tong tampak seperti terbuat dari tongkat besi.
805
Liu Chuncao sebaliknya bertubuh sedikit gemuk dengan lemak menutupi tubuhnya, sebilah pedang diikatkan di punggungnya. Dari sorot mata yang tajam dan gerakan yang lembut dan ringan, Ding Tao menduga pendeta ini tentu lebih mendalami penggunaan hawa murni daripada melatih tenaga luar.
―Halo Saudara Wang, tidak disangka kita bertemu di sini.‖, sapa Fu Tong si tongkat besi, Liu Chincao memilih diam dan memasang senyum ramah.
―Hehe, aku baru saja dari kediaman Guru Chen dan kudengar berita tentang keluarga Huang di Wuling.‖, sahut Wang Xiaho.
―Ah… begitu ya, jadi kau putuskan untuk pergi ke sana dan memeriksa kebenaran berita itu?‖
―Sebenarnya aku hanya menemani sahabat muda di sini.‖, ujar Wang Xiaho sambil menunjuk ke arah Ding Tao.
―Ah, boleh aku tahu nama saudara kecil ini?‖, jawab Fu Tong sambil sedikit membungkuk ke arah Ding Tao, diikuti Liu Chuncao.
Cepat Ding Tao membalas menghormat, tapi Wang Xiaho lah yang memperkenalkan dirinya, ―Namanya Ding Tao.‖
806
―Ding Tao?‖, tanya Fu Tong menegas, sementara Liu Chuncao memandangi pemuda itu dengan pandangan tertarik.
―Benar paman.‖, jawab Ding Tao singkat, ingin bertanya tapi takut mendengar jawabannya.
Wang Xiaho yang ingin menjelaskan keadaannya supaya Fu Tong dan Liu Chuncao tidak salah omong, cepat-cepat menyambung, ―Ding Tao dan aku sedang dalam perjalanan ke Wuling untuk mencari kabar tentang keadaan keluarga Huang. Adik Ding Tao ini memiliki hubungan baik dengan nona muda puteri Huang Jin.‖
―Ah.. begitu..‖, ujar Fu Tong sedikit terkejut, wajahnya menampilkan rasa kasihan pada Ding Tao.
Melihat itu tentu saja Ding Tao jadi merasa tidak tenang, jelas berita yang dibawa Fu Tong bukanlah berita baik. Jika berita baik, tidak nanti dia akan melihat ke Ding Tao dengan cara seperti dia memandang Ding Tao sekarang.
―Paman, ceritakan saja hasil penyelidikan paman‖, ujar pemuda itu dengan suara bergetar menahan perasaan, mukanya pucat dan tubuhnya terasa dingin.
807
Liu Chuncao yang memperhatikan Ding Tao sejak tadi, membuka mulutnya sebelum yg lain sempat mengatakan apa-apa, ―Sebaiknya kita cari tempat untuk duduk-duduk dengan nyaman.‖
Fu Tong mengangguk sambil berujar, ‗Ya, ya, ceritanya akan cukup panjang, marilah kita cari tempat untuk beristirahat dulu.‖
Wang Xiaho menepuk punggung Ding Tao sambil berjalan menyusul kedua orang itu, ―Ayo Ding Tao.‖
―Mari Paman.‖, sambil mengambil nafas dalam-dalam Ding Tao mengikuti ketiga orang tersebut.
Setelah mengikat kuda di sebatang pohon, mereka duduk tidak jauh dari sana dan untuk beberapa saat tidak ada seorangpun yang bicara. Fu Tong berpandangan dengan Liu Chuncao, Liu Chuncao mengangkat bahu dan tangannya bergerak, memberi tanda pada Fu Tong bahwa sebaiknya dia yang mulai bercerita.
Fu Tong terdiam, menghela nafas lalu mulai bercerita, ―Kami sampai di kota Wuling kira-kira 4 hari yang lalu. Begitu kami sampai, yang pertama kami lakukan adalah pergi melewati bangunan tempat kediaman keluarga Huang dan kami lihat seluruh bangunan sudah menjadi puing-puing bekas terbakar.‖
808
Pucat pasi wajah Ding Tao, mengeluh panjang pemuda itu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
―Banyak anggota keluarga Huang yang menjadi korban malam itu, banyak dari mayat yang berhasil diselamatkan, tidak bisa dikenali karena sudah hangus terbakar bersama kediaman keluarga Huang. Tapi masih ada beberapa yang berhasil selamat.‖, ujar Fu Tong sambil memandang Ding Tao.
―Masih ada yang selamat, maksud paman, berita yang mengatakan seluruh anggota keluarga Huang di Wuling terbunuh tidaklah tepat benar?‖, tanya Ding Tao dengan secercah harapan terpancar dari wajahnya.
―Ya, Ding Tao, itu benar, tentang siapa saja yg benar-benar terbunuh malam itu, tidak mudah untuk diketahui karena penyerang membakar kediaman keluarga Huang. Dari beberapa orang yang berhasil lolos dari penyerangan itu, kami berhasil mengetahui bahwa penyerangnya adalah Tiong Fa. Kami yakin bahwa tidak mungkin Tiong Fa bekerja sendiri tapi dari para saksi, bisa dipastikan dia ikut dalam penyerangan itu. ‖, lanjut Fu Tong.
―Tiong Fa…‖, desis Ding Tao.
809
―Ya, Tiong Fa, beberapa orang yang selamat sempat melihatnya ikut dalam penyerangan itu, selain itu, penyerang masuk lewat jalan rahasia yang hanya bisa diketahui oran-orang penting dalam keluarga Huang. Tapi kami yakin hanya dengan bantuan dari luar dia bisa berhasil dalam penyerangan itu.‖
―Bagaimana dengan nasib Tuan besar Huang Jin dan keluarganya?‖, tanya Ding Tao.
―Tuan besar Huang Jin, pamannya Huang Yunshu dan putera sulungnya sudah bisa dipastikan gugur dalam pernyerangan itu, karena masing-masing berhadapan satu lawan satu dengan tiga orang dari pihak penyerang dan cukup banyak saksi yang melihat bagaimana ketiga orang itu akhirnya gugur dalam perlawanan. Anggota keluarga yang lain tidak begitu jelas nasibnya, kamipun tidak bertanya lebih lanjut dengan mereka yang lolos. Karena kami memang hanya berusaha mencari kepastian tentang kejadian ini, tidak lebih dan tidak kurang.‖, kali ini Liu Chuncao yang menjelaskan.
Ding Tao menoleh pada Wang Xiaho, ―Paman, kupikir aku akan melanjutkan perjalanan ke Wuling, masih ada hal yang harus kupastikan.‖
810
Wang Xiaho mengangguk, ―Tentu saja, aku mengerti, aku akan ikut denganmu.‖ Wang Xiaho menoleh pada Fu Tong dan Liu Chuncao, ―Bagaimana dengan kalian?‖
Fu Tong terdiam dan berpikir, adalah Liu Chuncao yang pertama kali memutuskan, ―Aku akan ikut dengan kalian. Aku dan Fu Tong sudah tahu beberapa orang yang selamat dalam penyerangan itu dan kami tahu di mana mereka tinggal sekarang, Akan jauh lebih mudah bagi kalian kalau salah satu dari kami ikut dengan kalian ke Wuling.‖
―Hmm, baiklah kalau begitu, kurasa sudah diputuskan aku akan memberi kabar pada Guru Chen, sementara kalian melanjutkan perjalanan ke Wuling. Tapi ingat, aku akan menunggu kabar dari kalian di rumah Guru Chen, jangan lupa untuk mampir ke sana.‖, ujar Fu Tong.
―Hahaha tentu saja, kita perlu membicarakan lebih lanjut tentang desas-desus akan diadakannya pemilihan Wulin Mengzhu sebelum pertemuan 5 tahunan berikutnya.‖, sahut Wang Xiaho.
811
―Tentu saja, ayolah kita mulai perjalanan sekarang, semakin cepat kalian sampai di kota Wuling tentu lebih baik. Akupun tidak sabar ingin beristirahat dengan nyaman di rumah Guru Chen.‖, ujar Fu Tong sambil tersenyum lebar.
Ke empat orang itupun kemudian berpamitan dan berpisah jalan, Fu Tong memacu kudanya sendirian ke arah perguruan Guru Chen, Ding Tao bertiga memacu kudanya berderap menuju kota Wuling.
Sepanjang perjalanan tidak lupa Wang Xiaho berserita tentang pertandingan yang mereka lakukan di perguruan Guru Chen dan bagaimana Ding Tao mengalahkan mereka berempat dengan satu jurus saja. Liu Chuncao sangat tertarik pada cerita itu dan meminta Wang Xiaho untuk menceritakan kembali bersama dengan detail-detailnya.
Ding Tao hanya bisa menjawab dengan tersipu dan merendah.
Semakin Ding Tao merendah semakin seru pula Wang Xiaho bercerita, membuat Liu Chuncao semakin penasaran. Setiap orang yang gemar bersilat tentu saja suka mendengar kisah-kisah pertarungan antara dua orang jagoan. Bukan hanya mendengar saja, lama-lama Liu Chuncao pun akhirnya jadi
812
gatal-gatal ingin mencoba kemampuan Ding Tao. Liu Chuncao tidak sabar ingin melihat jurus Ding Tao yang berhasil mengalahkan Guru Chen, dua orang murid utamanya dan Wang Xiaho, empat orang dengan satu jurus serangan saja.
Ketika kurang dari 1 hari perjalanan mereka akan sampai di Wuling, seperti rencana Ding Tao dan Wang Xiaho sebelumnya, mereka memilih untuk beristirahat sehari penuh sebelum memasuki kota. Pada saat mereka makan pagi bersama, Liu Chuncao pun mengungkapkan keinginannya untuk bertarung dengan Ding Tao.
Bubur dan bakpau yang dihidangkan sudah habis, ketiganya sedang meniup-niup dan menyeruput teh panas yang dihidangkan ketika Liu Chuncao mengungkapkan keinginannya itu.
―Ding Tao, kuharap kau tidak merasa tersinggung, tapi buatku sulit untuk menerima cerita Sahabat Wang Xiaho sebelum merasakannya sendiri.‖, ujar Liu Chuncao sambil menikmati teh yang dihidangkan.
―Maksud Paman Liu..‖, tanya Ding Tao berhati-hati.
813
―Hehehehe, maksudnya dia mau menantangmu bertarung.‖, sahut Wang Xiaho sambil tertawa.
―Ding Tao sebaiknya kau turuti saja, kalau tidak pendeta gelandangan ini tidak akan bisa tidur nyenyak dan makan enak. Tulang-tulangnya bakal linu-linu kalau tidak kau beri sedikit hajaran.‖, tambahnya lagi.
Mendengar gurauan Wang Xiaho, Liu Chuncao tertawa dan berucap pada Ding Tao, ―Benar Ding Tao, jangan kau tolak permintaanku ini. Hitung-hitung buat menambah pengalaman seta melemaskan otot.‖
―Baiklah kalau paman berpendapat begitu, di mana kita akan melakukannya?‖, jawab Ding Tao tersenyum melihat kelakuan kedua orang gila silat itu, dirinya pun termasuk orang yang gila silat, jadi dia bisa mengerti apa yang dirasakan Liu Chuncao.
―Hmmm… di pelataran belakang penginapan ini kurasa tidak ada masalah. Kebetulan mereka sepi pengunjung hari ini. Lagipula ini hanya pertandingan persahabatan saja, jadi kita bisa mengira-ngira jangan sampai merusakkan barang mereka.‖, jawab Liu Chuncao setelah berpikir sejanak.
814
―Baiklah, apakah akan kita lakukan sekarang?‖, tanya Ding Tao sambil bangkit berdiri.
Sambil menenggak habis teh yg masih tersisa di cangkirnya, Liu Chuncao ikut bangkit berdiri dan menjawab, ―Ya, ayolah kita lakukan sekarang, mumpung udara masih sejuk.‖
Dengan menenteng senjata di tangan, ketiganya pergi ke pelataran belakang penginapan kecil itu. Sesampainya di sana, tanpa banyak basa-basi, Liu Chun Cao berjalan ke tengah pelataran dan mencabut pedang dari sarungnya.
Ding Tao sudah berpikir tentang pertarungan ini dalam perjalanan, dia tidak ingin menggunakan jurus yang sama, yang dipakainya untuk melawan Wang Xiaho. Dalam percobaan pertama, jurus itu memberikan hasil yang memuaskan. Jurus itu mewakili apa yang dia inginkan dari sebuah jurus pedang, kemenangan tanpa menyakiti lawan, tapi jurus itu masih jauh dari sempurna.
Saat menggunakannya melawan Wang Xiaho dan Chen Wuxi, Ding Tao menjadi sadar pada kelemahan jurus yang dia ciptakan itu. Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi berkelebatan dalam benaknya. Satu-satunya alasan mengapa
815
jurus itu bisa berhasil saat itu, adalah karena perbedaan tingkatan Wang Xiaho dan Chen Wuxi berada jauh di bawah tingkatan yang dia capai saat ini.
Jurus Ding Tao menyebar bagai jala, berusaha menutupi setiap lubang yang ada. Dengan sendirinya tenaga Ding Tao terbagi, terbagi sebanyak lubang yang hendak dia tutup. Ketika tenaga terfokus pada titik tertentu, akan ada titik-titik di mana kekuatan menjadi lemah. Ketika tenaga dibagi pada semua titik, maka kekuatan di setiap titik menjadi lemah. Apa yang tidak disadarinya sewaktu menciptakan jurus itu, menjadi jelas baginya saat lawan ada di hadapannya. Meskipun waktu itu ke-empat lawannya kalah dengan mengenaskann dan semua orang memuji dirinya, di balik apa yang terlihat oleh orang, Ding Tao meneteskan keringat dingin.
Dia membayangkan jika dia menggunakan jurus itu melawan lawan sekelas sepasang iblis muka giok, apalagi sekelas Ren Zuocan. Atau lawan yang menggunakan pedang pusaka seperti Pedang Angin Berbisik, jurusnya akan dirobek2 seperti sebilah pedang dengan mudah merobek jaring laba-laba, yang rapat tapi rapuh.
Belum lagi perasaan lemas setelah mengerahkan jurus itu.
816
Ding Tao sadar, jika jurus itu mau jadi jurus yang berguna, harus ada perubahan pada jurus itu. Pilihan yang lain adalah Ding Tao harus meningkatkan himpunan dan kekuatan hawa murninya.
Cara kedua sulit sekali untuk berhasil, kecuali jika Ding Tao memiliki kesempatan untuk bertahun-tahun menghimpun hawa murni. Kenyataannya waktu tidak berpihak pada Ding Tao. Pilihan Ding Tao tinggal satu, dia harus bisa menyempurnakan jurus itu sebelum berhadapan dengan Ren Zuocan.
Hanya saja Ding Tao mengalami jalan buntu ketika berusaha memikirkan cara untuk menutupi kelemahan jurus buatannya, tanpa mengorbankan sifat dari jurus itu sendiri.
Ding Tao ingin melihat lebih banyak lagi ilmu silat yang ada, Ding Tao merasa perlu untuk menambah banyak perbendaharaan pengetahuan dan pengalaman yang dia miliki. Saat Liu Chuncao menantangnya bertarung, Ding Tao tidak menolaknya, karena dia sendiripun membutuhkan pertarungan dengan sebanyak mungkin lawan. Dan buat Ding Tao tidak ada yang lebih baik daripada sebuah pertandingan persahabatan.
817
Dengan semangat yang mantap pemuda itu maju berhadapan dengan Liu Chuncao, setelah membungkuk dengan hormat, Ding Tao mengambil kuda-kuda dan menunggu.
Liu Chuncao tidak menunggu lama, melihat Ding Tao tidak berniat menyerang lebih dulu, pendeta pengelana itu segera menyerang. Ilmu pedang Liu Chuncao berasal dari Wudang, sempat menjadi murid Wudang selama sepukuh tahun, Liu Chuncao memutuskan untuk menjadi pendeta pengelana dan mengembangkan sendiri ilmu-ilmunya. Serangannya mengutamakan kecepatan dan ketepatan. Dalam pertahanan dia mengutamakan, melawan yang keras dengan yang lembut.
Seperti air yang berusaha mencari celah-celah di antara pertahanan Ding Tao yang kokoh, pedang Liu Chuncao mengancam bahkan retakan yang terkecil sekalipun dalam pertahanan Ding Tao.
Baik ujung pedang yang tajam, maupun pangkal pedang yang tumpul, pukulan dan tendangan. Serangan Liu Chuncao bervariasi dan tidak menekankan pada penggunaan pedang saja. Tapi serangan-serangan itu membentur pertahanan Ding Tao yang kokoh. Belasan jurus berlalu dan Liu Chuncao belum berhasil menerobos pertahanan Ding Tao.
818
Liu Chuncao semakin penasaran dan mulai mengerahkan segenap kemampuan yang dia miliki. Wang Xiaho yang memperhatikan dari samping, jadi bertanya-tanya, mengapa Ding Tao tidak segera menyelesaikan pertarungan. Pada jurus ke 35, tiba-tiba mata kedua orang itu pun terbuka lebar. Ding Tao mulai menyerang, tapi bukan dengan jurus serangannya sendiri, melainkan menggunakan jurus serangan milik Liu Chuncao.
Serangan itu mengagetkan Liu Chincao, karena Ding Tao menggunakan jurus serangan miliknya sendiri, selain kaget Liu Chuncao pun merasa sedikit marah. Bagaimanapun juga jurus itu sudah menjadi jurus andalannya selama bertahun-tahun, apakah Ding Tao mengira dia bisa menguasainya dalam sekejapan saja? Apalagi jurus itu digunakan untuk melawan pemilik asli dari jurus itu.
Karena sudah sangat mengenal jurus itu maka dengan mudah Liu Chuncao menghindarinya. Susul menyusul tiga jurus dilepaskan Ding Tao, semuanya adalah jurus serangan milik Liu Chuncao, tapi pada jurus yang ketiga, terkejutlah Liu Chuncao karena perkembangan yang di luar dugaannya.
819
Tergetar hati Liu Chuncao, tidak pernah menyangka bahwa jurusnya bisa juga digunakan dengan cara demikian. Terjebak oleh pengetahuannya sendiri Liu Chuncao harus membuang diri berguling-guling untuk melepaskan diri dari serangan Ding Tao. Saat itu Liu Chuncao sudah hendak mengaku kalah dan menyudahi pertarungan, ketika tiba-tiba Wang Xiaho melompat masuk dan menyerang Ding Tao dengan serangannya yang khas, posisi tubuh yang sangat rendah, terkadang bergulingan dengan serangan mengarah ke tubuh dari sudut yang rendah atau mengarah ke lutut dan kaki lawan.
―Sahabat Liu, ayo coba kita keroyok dia!‖, teriaknya sambil menyerang Ding Tao.
Wang Xiaho yang berada di luar bisa mengamati pertarungan dengan pendangan yang lebih obyektif. Dia melihat serangan Ding Tao meskipun memiliki kesamaan dengan jurus serangan Liu Chuncao sebenarnya tidaklah persis sama. Jurus Ding Tao memiliki ciri khas sendiri, Wang Xiaho yang sudah pernah merasakan kehebatan jurus ciptaan Ding Tao, bisa merasakan semangat yang sama mewarnai jurus yang dilancarkan Ding Tao.
820
Untuk sesaat lamanya jagoan tua itu bertanya-tanya, apa yang sedang dilakukan Ding Tao saat ini. Mengapa jauh berbeda dengan saat Ding Tao melawan dirinya berempat dengan Chen Wuxi dan murid-murid Chen Wuxi?
Meskipun Wang Xiaho tidak bisa menemukan kelemahan dalam jurus ciptaan Ding Tao, tapi dia bisa meraba bahwa saat ini Ding Tao sedang menambah pengetahuan dan mencoba mengembangkan ilmu ciptaannya sendiri. Pada dasarnya Wang Xiaho sangat simpti pada pemuda ini, melihat semangat dan bakat pemuda itu, semangatnya pun terbangkit. Dengan ikut maju dalam pertandingan, Wang Xiaho berharap dirinya bisa ikut membantu, menyumbangkan sedikit pengetahuan yang ada padanya untuk menyempurnakan ilmu ciptaan Ding Tao.
Tanpa segan-segan lagi jago tua itu mengerahkan segenap jurus yang dia miliki, satu per satu dia menggunakannya untuk menyerang dan bertahan melawan Ding Tao. Liu Chuncao yang tadinya sudah hendak mengaku kalah, terpaksa kembali ikut menyerang Ding Tao. Sebenarnya ada perasaan tidak rela dalam hati pendeta pengelana ini, karena dia sadar Ding Tao secara tidak langsung sedang menyadap ilmunya.
821
Tapi di saat yang sama, dia pun tertarik untuk melihat bagaimana Ding Tao mengembangkan ilmu yang disadap dari dirinya. Dalam hatinya dia mengaku, pertarungan ini, memberikan dia masukan dan pelajaran yang sangat berarti. Selama ini ilmunya sudah mandeg dan tidak mengalami kemajuan. Latihannya hanyalah pengulangan dan pengulangan. Berusaha meningkatkan ketepatan, kecepatan, daya tahan dan kekuatan, sementara dari sisi teknik tidak ada kemajuan yang berarti.
Pertarungan dengan Ding Tao telah membukakan jalan baru bagi pengembangan ilmunya. Oleh karena itu, yang awalnya meragu, lama-lama terbawa oleh semangat Wang Xiaho dan Ding Tao, Liu Chuncao pun akhirnya tidak segan-segan untuk mengeluarkan segenap ilmu simpanannya.
Puluhan jurus telah lewat, sampai akhirnya Wang Xiaho melompat ke belakang dan berteriak sambil terengah-engah, ―Sudahlah, sudah, heh, seluruh ilmuku sudah kukuras habis. Kukira Sahabat Liu pun demikian.‖
―Ya, ilmuku pun sudah kukuras habis.‖, sahut Liu Chuncao dengan senyum kecil sambil menyeka keringat yang membasahi dahinya.
822
Liu Chuncao yang sedikit lebih muda dari Wang Xiaho dan memiliki himpunan hawa murni yang lebih baik, masih dapat bernafas dengan teratur, meskipun keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya. Ding Tao yang merasa mendapatkan banyak pelajaran dari pertarungan mereka, dengan tulus membungkuk memberi hormat pada dua orang itu.
―Terima kasih banyak paman, banyak sekali yang siauwtee pelajari dari paman berdua hari ini.‖, ujarnya hormat.
―Hehehe, asal kau ingat-ingat saja Ding Tao, apa yang kau serap hari ini, kuharap kau pakai untuk kebaikan banyak orang.‖, sahut Wang Xiaho.
Mendengar jawaban Wang Xiaho, Liu Chuncao jadi sadar bahwa jago tua itu memang sengaja membuka dirinya, menunjukkan seluruh ilmu yang dia miliki demi perkembangan ilmu pemuda yang tidak ada hubungan apa-apa dengan dirinya. Diam-diam Liu Chuncao merasa malu, merasa kalah dalam hal kepribadian jika dibandingkan dengan Wang Xiaho. Melihat sikap Wang Xiaho, pikiran Liu Chuncao jadi lebih terbuka. Sebelum berangkat ke Wuling, Liu Chuncao, Fu Tong dan Chen Wuxi sudah pula berdiskusi tentang desas-desus akan diadakannya pemilihan Wulin Mengzhi. Sekarang setelah
823
bertemu Ding Tao dan melihat bakat serta kepribadiannya. Pikiran yang sama dengan Wang Xiaho dan Chen Wuxi, muncul di benaknya.
―Ayolah kita masuk ke dalam, pakaian kita basah semua oleh keringat.‖, ujarnya ringan, sementara otaknya masih memikirkan tentang Ding Tao dan pemilihan Wulin Mengzhu.
Bertiga mereka masuk kembali ke penginapan, Liu Chuncao mengusulkan agar mereka sebaiknya berganti pakaian sebelum duduk-duduk di teras depan. Mereka bertiga menyewa satu kamar saja, dengan menambah dipan, ketiganya sudah biasa hidup tanpa terlalu rewel dengan kenyamanan.
Tidak lama kemudian, ketiganya sudah duduk-duduk di teras penginapan itu. Liu Chuncao yang sudah berpikir sejak mereka selesai bertanding, membuka percakapan, ―Saudara Wang, apakah sudah sempat berbicara dengan Guru Chen tentang pemilihan Wuling Mengzhu?‖
Ding Tao mendengar perkataan Liu Chuncao merasa tidak enak hati, teringat dengan pemintaan Wang Xiaho terhadap dirinya, agar dia sudi mencalonkan diri sebagai Wulin Mengzhu, ikut dalam pemilihan yang akan diadakan. Wang Xiaho
824
sebaliknya bersemangat mendengar perkataan Liu Chuncao, dia sudah berketetapan hati untuk mendukung Ding Tao mencalonkan diri sebagai Wulin Mengzhu, setiap ada kesempatan untuk membicarakan pemilihan itu tentu disambut baik olehnya.
―Tentu, tentu, bahkan kami sudah membicarakan calon yang baik untuk kedudukan itu.‖, jawab Wang Xiaho.
―Hmmm…, kupikir aku tahu siapa yang ada dalam pikiran Saudara Wang. Tapi yang ingin kubicarakan adalah perlu atau tidaknya diadakan pemilihan Wulin Mengzhu ini.‖, ujar Liu Chuncao dengan hati-hati.
―Hee.., pendeta bau, apa maksudmu dengan perkataan itu?‖, tanya Wang Xiaho dengan penasaran.
―Ya, kulihat kau sama seperti Guru Chen dan Tongkat Besi itu. Kalian begitu bersemangat dengan adanya seorang Wuling Mengzhu. Apa kalian tidak ingat, alasan sehingga kedudukan itu kosong dalam waktu yang cukup lama?‖, tanya Liu Chuncao.
―Hmmm…. jangan kau anggap aku pikun, saat itu aku masih sangat muda, tapi aku masih ingat dengan jelas Tsao Yun yang
825
kehilangan akal dan ingin menjadi kaisar. He, kau sudah lihat pemuda ini, apa kau pikir dia ada potongan seperti itu?‖, tanya Wang Xiaho dengan alis berkerut.
Liu Chuncao memandang ke arah Ding Tao yang memilih untuk memperhatikan taman kecil di pelataran penginapan itu daripada ikut dalam percakapan.
―Tidak, tentu saja Ding Tao nampaknya bukan orang seperti itu, tapi tidak ada jaminan bahwa dia tidak akan berubah seperti itu. Tsao Yun pun pada awalnya seorang yang dikenal rendah hati dan terbuka terhadap semua pihak. Itu sebabnya dia terpilih. Kekuasaanlah yang membuatnya menjadi lupa diri.‖, ucap Liu Chuncao sambil memperhatikan baik-baik wajah Wang Xiaho, dia tahu Wang Xiaho suka pada Ding Tao.
Benar saja, muka Wang Xiaho jadi sedikit kemerahan menahan marah, ―Hmm. Dan kira-kira menurutmu siapakah yang pantas menduduki kedudukan itu? Apakah dirimu pendeta bau?‖
Liu Chuncao tidak tersinggung dengan jawaban Wang Xiaho yang pedas, dia menjawab dengan tersenyum, ―Sudah tentu bukan diriku, Saudara Wang kau melewatkan sesuatu dari apa yg kukatakan. Bukan aku tidak setuju Ding Tao maju sebagai
826
calon, yg kukatakan adalah pemilihan Wuling Mengzhu ini yang seharusnya dibatalkan.‖
Wang Xiaho mengerutkan alis dan berusaha menenangkan diri sebelum menjawab, ―Aku tidak mengerti, dengan ancaman dari Ren Zuocan, bukankah adanya Wulin Mengzhu membuat kita menjadi lebih kuat?‖
―Inilah perbedaan pendapat antara aku dan kalian. Menurutku kedudukan Wulin Mengzhu yang mengikat setiap orang dalam dunia persilatan memberikan kekuasaan yang terlalu besar kepada pemegangnya. Apalagi kedudukan itu sifatnya seumur hidup. Kekuasaan sebesar itu, dipercayakan pada seseorang, menurutku mengundang bahaya yang lebih besar daripada keberadaan Ren Zuocan.‖, jawab Liu Chuncao sambil menghela nafas.
―Hmm.., kenyataannya kekuasaan Ren Zuocan sudah mulai menyusup ke dalam perbatasan, jika kita tidak menggalang kekuatan, menyatukannya di bawah pimpinan satu orang akan sulitlah untuk meredam ambisinya.‖
―Sebenarnya menggalang kekuatan tidak harus dengan mengadakan kembali kedudukan Wulin Mengzhu, bisa kita
827
coba dengan menggalang persekutuan yang sementara saja sifatnya, dipimpin oleh satu dewan yang diisi oleh ketua-ketua dari perguruan besar.‖
―Hehehe, dan apa yang kauharapkan dari dewan yang seperti itu? Masing-masing membawa egonya, masing-masing membawa kepentingan golongannya sendiri. Kujamin dalam hitungan bulan mereka akan bertengkar di antara mereka sendiri, tanpa menghasilkan apa-apa bagi kita.‖, ujar Wang Xiaho dengan sinis.
―Hahh… sesungguhnya aku bukannya tidak menutup mata terhadap kemungkinan itu, tapi jika memang bahaya sudah di depan mata, masakan mereka masih berkukuh pada kepentingan golongan sendiri?‖, kesedihan tampak membayang di wajah Liu Chuncao.
Melihat wajah Liu Chuncao yang sedih, Wang Xiaho tidak tega untuk mendesak lebih lanjut, hiburnya, ―Kurasa tidak semua orang seperti itu, yang kita bisa yakin dengan pasti adalah Kepala Biara Shaolin, Biksu Khongzhe dan Pendeta Chongxan dari Wudang akan bersedia bekerja sama, mereka berdua sudah lama bersahabat. Kemudian Ketua baru dari Hoasan, Pan Jun, kulihat juga orang yang terbuka pikirannya hanya
828
sayang wataknya sedikit lemah dan kurang berwibawa. Tapi sisanya…‖
―Sisanya adalah ketua Kongtong yang punya watak kejam, Chong Weixia dan ketua baru Kunlun, Wu Liang, yang ambisius. Ketua Hoasan, Pan Jun, bisa dipastikan akan seperti pohon bergoyang-goyang diterjang angin, tidak bisa menentukan sikap antara mendukung Pendeta Chongxan dan Biksu Khongzhe atau Chong Weixia yang bisa dipastikan akan bekerja sama dengan Wu Liang demi mengimbangi pihak yang lain.‖, ucap Liu Chuncao melanjutkan.
―Jangan lupa masih ada ketua partai pengemis, Bai Chungho, meskipun kekuatan partai pengemis banyak merosot, tapi nama dan peranan mereka di masa lalu tidak bisa diremehkan.‖, ujar Wang Xiaho, jika tadi dia menentang pemikiran Liu Chuncao justru sekarang dia sepertinya berusaha mendukung pemikiran Liu Chuncao.
Bantuan Wang Xiaho itu ditanggapi dengan senyum pahit oleh Liu Chuncao, ―He, aku tahu apa yang ada dalam otakmu, jika kita minta Bai Chungho untuk dimasukkan ke dalam dewan maka keluarga Tong akan minta satu wakil masuk pula ke dalamnya. Jika wakil dari Keluarga Tong masuk ke dalam
829
dewan, maka Keluarga Deng yang menjadi saingan Keluarga Tong turun temurun akan menuntut pula posisi dalam dewan tersebut. Jika keluarga Huang masih ada, mereka pun akan ikut menuntut masuk dalam dewan.‖
―Dan semakin banyak isinya, semakin banyak pula kepentingan yang berebut keuntungan di dalamnya. Keadaan akan jauh lebih buruk daripada sebelumnya.‖, ujar Wang Xiaho menutup uraian Liu Chuncao dengan sebuah kesimpulan.
Liu Chuncao memandang ke arah Ding Tao, memandangi punggung pemuda itu, yang sedang bermain dengan seekor anak anjing peliharaan pemilik penginapan.
―Apakah kita memang sebebal itu? Kadang-kadang kupikir ada baiknya Ren Zuocan datang dan menggebug kepala-kepala batu itu dengan kepalannya. Aku akan pergi berkelana ke gunung-gunung yang tinggi dan hutan-hutan yang terpencil.‖, ujar Liu Chuncao dengan sedih.
―Tapi kau tak akan lari meninggalkan sahabat-sahabatmu. Jadi kau terpaksa menunggu bersama kami dan mengadu nyawa bersama.‖, ujar Wang Xiaho sambil menepuk pundak sahabatnya yang lebih muda itu.
830
Liu Chuncao tersenyum pahit, ―Ya… begitulah, aku tidak tahu sebenarnya apa ada harganya mati bersama orang-orang semacam kalian ini.‖
―Hehehehe, tidak usah berpikir terlalu jauh, segera kita kembali ke rumah Guru Chen, kita bisa bersantai-santai menghabiskan persediaan araknya. Kalau mau pergi juga belum terlambat.‖, jawab Wang Xiaho sambil tertawa.
Liu Chuncao ikut tertawa, untuk sekejap kesedihan tersaput bersih dari wajahnya. Puas tertawa dengan wajah yang lebih serius dia berkata, ―Jika memang pemilihan Wulin Mengzhu tidak bisa dihindarkan, kukira Ding Tao memang pilihan yang terbaik. Chong Weixia dan Wu Liang sudah bisa dipastikan akan ikut dalam pemilihan. Tapi siapapun dari perguruan besar yang menang, maka empat perguruan besar yang lain kemungkinan besar tidak akan bersedia untuk bersumpah setia.‖
―Ya, begitu juga pemikiranku dan Guru Chen.‖
―Tapi yang jadi masalah adalah pengalaman dan ilmu silat Ding Tao. Aku yakin pada akhirnya akan berujung pada adu
831
kekuatan. Apakah menurutmu Ding Tao bisa menghadapi ketua-ketua dari perguruan besar?‖, tanya Liu Chuncao.
―Tadinya aku masih ragu, tapi setelah pertarungan kita pagi ini, ada satu pikiran, bagaimana jika kita membukakan pada anak itu seluruh ilmu yang kita miliki. Dengan kemampuannya untuk menyerap dan mengamati, jelas dia berkembang dalam setiap pertarungan. Kitapun ikut juga mendapatkan pemikiran baru dan kemajuan dalam ilmu kita.‖
―Heh, entahlah, jika semua pendukungnya mau melakukan hal itum sedikit banyak tentu akan menambah pengalaman dan pendalaman pemuda itu terhadap ilmu yang dia miliki. Tapi apakah ada banyak yang mau membuka ilmu perguruannya kepada orang luar?‖, tanya Liu Chuncao.
―Bertanding saja dengan pemuda itu, kalau perlu kita berkeliling, memperkenalkan diri dan menantang dari satu perguruan ke perguruan lain.‖
―Menantang? Apakah tidak justru akan menumbulkan permusuhan?‖
―Tidak perlu menantang, cukup kita antar dia dan kita katakan bahwa kita berniat untuk mendukung dia mencalonkan diri
832
dalam pemilihan Wulin Mengzhu, aku yakin 9 dari 10 orang akan menantangnya bertarung.‖, jawab Wang Xiaho dengan yakin.
Liu Chuncao coba membayangkan hal itu sebentar, kemudian tertawa, ―Hehehe, benar-benar, makin tua makin banyak akalnya. Ya kupikir cara itu pasti akan berhasil. Selain mendapatkan dukungan kita juga akan menambah pengalaman pemuda itu.‖
―Tentu saja ilmu mereka tidak bisa dibandingkan dengan ilmu rahasia dari perguruan besar, tapi setidaknya kesempatan Ding Tao untuk memenangkan kedudukan Wulin Mengzhu akan jadi semakin besar.‖
―Tidak masalah, jika kita sudah memilih satu jalan, tidak ada jalan lain kecuali berusaha sebaik-baiknya, tentang hasil, biarlah kita serahkan pada Thian saja.‖
―Bagus, jawaban yang bagus. Ding Tao kau dengar apa kata Pendeta liu tadi?‖, tanya Wang Xiaho pada Ding Tao.
Perlahan Ding Tao membalikkan badan, wajahnya tampak serius dan tegas, tidak tersenyum, tidak tersipu malu atau salah tingkah seperti biasa. Lama dia terdiam, lalu dengan perlahan-
833
lahan tapi jelas dan tanpa keraguan dia menjawab, ―Paman sekalian memmpercayakan tanggung jawab yang berat ke atas pundakku. Jika mengikuti keinginanku sendiri siauwtee tidak akan bersedia mengajukan diri. Namun demi kepentingan yang lebih besar siauwtee menerimanya.‖
―Bagaimana dengan masalah keluarga Huang? Maafkan aku Ding Tao, jika pertanyaanku ini terdengar tidak berperasaan bagimu. Namun ada kemungkinan besar, nona muda keluarga Huang tidak selamat dalam penyerangan itu. Jika hal itu terjadi, masih dapatkah kau berdiri dengan tegar dan memberikan jawaban yang sama?‖, tanya Liu Chuncao dengan berhati-hati.
Wang Xiaho mengerutkan alisnya, teringat bagaimana gugupnya Ding Tao saat mendengar berita tentang penyerangan atas keluarga Huang. Wang Xiaho kuatir, Ding Tao akan kembali kehilangan kontrol dirinya. Tapi dia tak sampai hati menyampaikan kekuatirannya itu.
Namun pemuda itu ternyata cukup tegar, meskipun kesedihan tidak dapat disembunyikan dari raut wajahnya, suaranya terdengar tegas saat dia menjawab, ―Kepentingan umum harus diletakkan di atas kepentingan pribadi. Apapun hasil dari penyelidikan kita di Wuling, paman sekalian tidak perlu kuatir,
834
orang She Ding tidak akan lari dari kepercayaan yang kalian berikan.‖
Liu Chun Cao memandangi pemuda itu dalam-dalam, sebagai seorang yang sering berkelana dan bertemu berbagai macam orang, Liu Chun Cao cukup yakin akan kemampuannya mengenali sifat-sifat seseorang. Sambil menghembuskan nafas akhirnya dia berkata, ―Aku percaya padamu…‖
Wang Xia Ho tersenyum, Liu Chun Cao mungkin bukan pendekar pedang nomor satu, tapi tidak pernah dia bertemu orang yang berhati seteguh Liu Chun Cao. Sedikit ada kemiripan dengan Ding Tao, tapi Liu Chun Cao bukan orang yang naif, yang tidak pernah melihat sisi buruk dari kehidupan tokoh-tokoh yang disanjung puja dalam dunia persilatan. Liu Chun Cao adalah orang yang cenderung kritis, bahkan sinis jika harus berurusan dengan tokoh-tokoh penting dalam dunia persilatan. Jika orang berkata-kata tentang Liu Chun Cao, baik dengan nada hormat maupun dengan nada menghina, Pendeta Pengelana Liu Chun Cao selalu dikatakan, pikirannya lurus, selurus pedang miliknya, tapi pendek sependek gagang pedangnya.
835
Perkataan ini dimaksudkan untuk menunjukkan, kejujuran dan sifat Liu Chun Cao yang tidak bisa dikompromikan.
Itu sebabnya adalah sangat berarti jika Liu Chun Cao sampai bersedia mendukung Ding Tao.
―Ding Tao, hendaknya kau mengerti, dunia persilatan, idealnya didirikan berdasarkan Yi dan Xin, kebenaran dan kehormatan. Kita hidup dalam dunia kita sendiri, bebas dari aturan dan kekuasaan pemerintahan yang korup, hidup bersandar pada kebenaran dan kehormatan. Kenyataannya kebenaran dan kehormatan, seringkali hanyalah kata-kata, yang bersandarkan pada kekuatan seseorang untuk mengartikannya. Mengandalkan pedang di tangan, menegakkan kebenaran dan keadilan. Kebenaran menurut siapa dan keadilan untuk siapa? Pada akhirnya kita yang berdiri di jalan pedang, bukanlah manusia yang berbeda dengan manusia lainnya.‖, kata Liu Chun Cao dengan sungguh-sungguh.
―Hmm… benar, ilmu pedang saja tidak akan mengubah watak dasar seseorang. Hanya karena mempalajari ilmu silat, bukan berarti menjadi orang yang mengerti kebenaran dan kehormatan.‖, sahut Wang Xiaho.
836
―Tidak ada bedanya dengan keadaan pemerintahan yang menyimpan pejabat-pejabat korup. Dunia persilatan pun dihuni oleh orang-orang dengan sifat serakah yang sama. Meskipun di luar dia berlaku seperti seorang yang terhormat, di baliknya tersimpan siasat licik, keegoisan yang mengorbankan orang lain demi diri sendiri.‖
―Tentu saja paman, hal itu tidak bisa dihindari dan tugas seorang pendekar yang sejati adalah menegakkan kebenaran dan menjunjung tinggi kehormatan.‖, jawab Ding Tao.
―Idealnya seperti itu Ding Tao, tapi tidaklah mudah untuk memisahkan mana yang bisa disebut seorang pahlawan dan mana yang bisa disebut penjahat. Tidak jarang mereka yang dipanggil sebagai seorang pahlawan dalam dunia persilatan adalah seorang penjahat yang sesungguhnya. Tidak lepas pula kemungkinan mereka yang dianggap golongan sesat, hanyalah seorang pahlawan yang kalah kuat dan tersisih.‖, ujar Liu Chun Cao dengan mendesah sedih.
Dalam benak Ding Tao terbayang kesedihan yang terpancar dari sorot mata Sepasang Iblis Muka Giok. Dengan tegas dia menjawab, ―Harus ada yang bersedia untuk meluruskan kesalahan-kesalahan tersebut.‖
837
Dengan senyum kecut Liu Chun Cao balik bertanya, ―Dengan apa seorang pendekar hendak meluruskan ketidak adilan itu?‖
Ding Tao terdiam sejenak sebelum dengan berat hati menjawab, ―Lewat kemampuannya dalam ilmu bela diri…‖
―Ya, atas dasar kekuatan pedang dan senjata. Cepat atau lambat, mereka akan menyadari bahwa sendirian dia tidak berarti. Untuk membuat perubahan, dia harus mengumpulkan kekuatan, dia perlu dukungan dari pendekar-pendekar lain. Kemudian demi mendapatkan kekuatan untuk membersihkan dunia dari kejahatan, mereka pun jatuh ke dalam kubangan yang sama.‖ Sambil menggertakkan gigi Ding Tao menjawab, ―Harus ada bedanya, kebenaran dan keadilan tidak boleh berganti arah hanya melihat siapa kuat siapa lemah. Mereka yang ingin dirinya dipanggil pahlawan akan tetap berdiri di pihak yang benar meski dirinya lebih lemah. Karena kebenaran dan kehormatan adalah prinsip dasarnya, kemampuan bertarung hanyalah alatnya. Jika kemampuan bertarung diletakkan di tempat yang lebih penting, maka itulah suatu kesalahan.‖
―Bagaimana jika berpegang teguh pada kebenaran dan kehormatan berarti maut dan celaka? Bukan hanya untuk
838
dirimu tapi juga bagi orang-orang yang dekat denganmu?‖, kejar Liu Chun Cao.
Mulut Ding Tao sudah terbuka untuk menjawab, tapi tertutup kembali ketika dia berpikir lebih jauh. Jika bahaya itu hanya untuk dirinya tentu tidak jadi masalah, tapi jika ancaman itu datang pada orang-orang yang dekat dengannya, orang-orang seperti gurunya Gu Tong Dang, Huang Ying Ying, Murong Yunhua atau Murong Huolin, masih bisakah dirinya mengatakan hal yang sama. Tiba-tiba dia menangkap dan merasakan kepahitan dalam ekspresi wajah Liu Chun Cao. Kesedihan yang bisa dia rasakan, terpancar pula dari sinar wajah Sepasang Iblis Muka Giok.
Dalam hati terbetiklah pertanyaan, ‗Apakah dia juga…, jangan-jangan Pendeta Liu menghadapi hal yang serupa. Itu sebabnya dia jadi begitu dingin dan sinis dalam menilai polah laku orang-orang dalam dunia persilatan.‘
Perlahan Ding Tao menggelengkan kepala, diapun tidak bisa menjawab dengan tegas untuk hal yang terakhir itu, ―Entahlah paman, tapi sekali memutuskan sebuah jalan, maka segala pahit manisnya harus diterima. Seorang diri siauwtee bisa
839
menjawab dengan yakin bahwa ancaman terhadap diriku akan siauwtee hadapi dengan dada tengadah…‖
―Aku mengerti…‖, sahut Liu Chun Cao tersenyum pahit.
―Ding Tao, bukan berarti kau tidak mampu berbuat apa-apa untuk membasmi yang jahat, menolong yang lemah, menegakkan kebenaran dan berlaku sesuai kehormatan dirimu. Hanya saja seberapa jauh kau bisa melangkah, akhirnya akan tergantung pada seberapa besar kekuatanmu, baik sendiri maupun dilihat dari jumlah pendukungmu‖, ujar Wang Xiaho, tidak ingin Ding Tao terpengaruh oleh pandangan Liu Chun Cao yang cenderung pesimis memandang hidup ini.
Merenungi perkataan Wang Xiaho, Ding Tao jadi mengerti apakah yang menjadi keberatan Liu Chun Cao. Otaknya cukup encer untuk melihat hubungan antara satu hal dengan hal yang lain. Jika seseorang terobsesi untuk melakukan perubahan dan menyadari bahwa dirinya membutuhkan kekuasaan untuk melakukan perubahan, maka bukan tidak mungkin orang tersebut akan terjerumus dalam pengejaran akan kekuasaan, hingga lupa akan motivasinya yang mula-mula. Bahaya yang kedua datang adalah ketika dia berhasil mendapatkan kekuasaan yang besar, yang dia butuhkan untuk melakukan
840
perubahan, akankah dia tetap teguh pada pendiriannya yang semula? Apakah dia tidak akan tergoda untuk memanfaatkan kekuasaan itu demi kepentingannya sendiri?
Ding Tao juga mengerti pengharapan yang diletakkan oleh Wang Xiaho pada pundaknya. Ding Tao merasa sangat berterima kasih oleh penghargaan dan kepercayaan yang diberikan Wang Xiaho pada dirinya. Tapi secara logika Ding Tao justru lebih setuju pada Liu Chun Cao.
Sambil menghela nafas pemuda itu akhirnya berkata, ―Paman Wang, Pendeta Liu, kurasa siauwtee sudah mengerti sekarang. Entah siauwtee menjadi Wulin Mengzhu atau tidak. Entah siauwtee menjadi yang terkuat atau tidak. Satu hal siauwtee bisa katakan, siauwtee berjanji untuk berdiri teguh di atas dasar kebenaran dan kehormatan.‖
Menoleh pada Liu Chun Cao, sambil membungkuk memberi hormat dia berkata, ―Pendeta Liu, terima kasih sudah mengingatkan siauwtee pada prioritas utama dalam hidup seorang manusia.‖
Liu Chun Cao mengangguk puas. Wang Xiaho sebaliknya merasa sedikit kuatir dan cepat-cepat menambahkan, ―Ding
841
Tao bukan berarti kau boleh asal-asalan dalam berusaha mendapatkan gelar Wulin Mengzhu.‖
―Ya siauwtee mengerti, siauwtee akan berusaha sekuatnya untuk mencapai kekuatan dan kekuasaan yang diperlukan untuk mengadakan perubahan. Di saat yang sama akan selalu mengingat apa yang mendasari pengejaran itu. Tapi ketika pengejaran itu mengarah pada hal-hal yang menyalahi prinsip-prinsip yang justru sedang diperjuangkan, itu artinya sudah waktunya untuk berhenti dan mencari jalan yang lain.‖
Wang Xiaho awalnya merasa tidak puas dengan jawaban Ding Tao, berbeda dengan Liu Chun Cao yang semakin mantap untuk mendukung Ding Tao. Tapi ketika Wang Xiaho merenungkan lebih jauh lagi jawaban Ding Tao itu, pada akhirnya Wang Xiaho pun mengangguk setuju. Karena apa artinya dia mendukung Ding Tao menjadi Wuling Mengzhu, jika pada akhirnya Ding Tao tidak membawa perbaikan, jika Ding Tao berubah menjadi seorang munafik, seorang egois dan licik yang bertopengkan kehormatan? Lebih penting dari apa yang dapat dicapai pemuda itu, adalah keteguhan dari wataknya.
―Ya, akhirnya aku pun bisa mengerti…‖ ujar Wang Xiaho sambil memandang Ding Tao dan Liu Chun Cao dengan senyum arif.
842
Liu Chun Cao merasa puas dengan perbincangan mereka itu, semangatnya yang dulu sempat layu selama bertahun-tahun, kini bangkit kembali.
―Ding Tao, aku tidak malu untuk mengatakan, bahwa selama ini kemajuan ilmuku tidak ubahnya berjalan di tempat saja. Tapi sejak pertarungan di antara kita, baru mataku mulai terbuka, jika kau tidak keberatan, bantu aku untuk menguraikan ilmuku lebih jauh lagi.‖, ujarnya penuh semangat.
―Heh, aku juga. Ding Tao bagaimana jika kita isi hari ini dengan diskusi tentang ilmu kami masing-masing?‖, sambung Wang Xiaho.
―Baik, bagaimana kalau kita kembali ke pelataran belakang?‖, jawab Ding Tao dengan bersemangat, terbawa oleh semangat kedua orang di depannya.
Sepanjang hari itu, ketiganya larut dalam pembahasan mengenai ilmu mereka dan kemungkinan-kemungkinan pengembangannya. Baik yang masih harus dilatih lebih jauh, tapi juga yang bisa segera digunakan. Bagi Wang Xiaho dan Liu Chun Cao, mereka merasa disegarkan kembali, sudah bertahun-tahun lamanya bagi mereka latihan-latihan yang
843
dilakukan menjadi rutinitas yang mati. Dengan terbukanya pikiran mereka oleh masukan-masukan Ding Tao, maka kegairahan yang dulu mereka rasakan saat mulai mempelajari ilmu silat kembali lagi.
Bagi Ding Tao sendiri, dengan keterbukaan Wang Xiaho dan Liu Chun Cao terhadap ilmu mereka, membantunya untuk menyelami lebih dalam lagi makna dan hakekat dari jurus-jurus milik kedua orang tersebut, membantunya dalam melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada.
Ketika keesokan harinya mereka memasuki Kota Wuling, ketiganya mengawali perjalanan dengan semangat yang tinggi. Sebuah tujuan terbentuk dalam benak ketiganya. Bukan berarti Ding Tao tidak merasakan kekuatiran akan nasib Huang Ying Ying dan keluarga Huang yang lain. Tapi Ding Tao akhirnya menemukan satu pegangan, apapun hasil penyelidikan mereka hari ini, Ding Tao sudah punya satu tujuan, yaitu bekerja untuk menempatkan dirinya pada posisi di mana dia bisa memastikan tidak ada kejadian seperti yang menimpa pada keluarga Huang. Jika hal itu sudah terjadi, maka diapun ingin berada pada posisi di mana dia bisa memberikan keadilan pada korban dan meluruskan pelakunya.
844
Dalam semangat yang meluap ini, Ding Tao jadi semakin paham pula apa yang menyebabkan Liu Chun Cao tidak setuju dengan Wang Xiaho mengenai pemilihan Wulin Mengzhu. Semakin pula pemuda itu berhati-hati dalam setiap dia berlaku dan berpikir. Ding Tao berniat untuk menyisakan waktu di setiap harinya untuk kembali merenungi apa-apa yang sudah dia lakukan dan putuskan, agar jangan sampai dia terjebak pada kehinaan.
Tidak butuh lama bagi mereka bertiga untuk menemukan pengikut keluarga Huang yang berhasil lolos dari bencana. Liu Chun Cao yang sudah pernah menemukan mereka sebelumnya dengan mudah menemukan mereka kembali. Beberapa di antara mereka menetap di tempat yang sama, yang sudah berpindah pun, setidaknya Liu Chun Cao sudah memiliki pegangan di mana harus mulai mencari jejak mereka. Pertemuan yang mengharukan terjadi saat mereka bertemu dengan Ding Tao.
Setelah menghadapi bencana yang mencengkam jantung mereka dan meninggalkan mereka dalam ketakutan. Bertemu dengan Ding Tao yang mereka kenal selama bertahun-tahun membuat mereka merasakan sedikit kelegaan. Apalagi ketika Wang Xiaho menceritakan akan kehebatan Ding Tao sekarang
845
ini. Mereka yang merasakan seluruh sendi-sendi kehidupan mereka runtuh bersamaan dengan runtuhnya keluarga Huang, mendapatkan kekuatan baru.
Perlahan-lahan rombongan Ding Tao menjadi semakin besar, belasan orang sisa keluarga Huang yang mereka temui, memilih untuk menyertai Ding Tao dalam perjalanannya. Ding Tao merasakan keharuan melihat sikap mereka, seperti anak-anak ayam yang kehilangan induknya. Tapi hatinya juga semakin kuatir akan nasib Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu, karena sejauh ini mereka yang dia temui tidak ada yang tahu pasti nasib kedua orang itu.
―Tinggal dua orang lagi.‖, kata Liu Chun Cao.
Ding Tao hanya mengangguk saja tanpa mengatakan apa-apa, jantungnya berdebaran. Apakah akan ada berita yang jelas dari dua orang yang tersisa ini?
―Inilah tempatnya, jika mereka masih belum pindah tempat.‖, ujar Liu Chun Cao sambil menunjuk sebuah gang kecil di samping kedai minuman.
―Silahkan paman berjalan lebih dulu.‖, jawab Ding Tao.
846
Dengan Liu Chun Cao di depan, rombongan kecil itu bergerak melewati gang-gang yang sempit dan rumah yang berdesakan. Saat mereka melihat seorang laki-laki sedang duduk berjemur sambil mengurut kaki, merekapun tahu pencarian mereka hari ini sudah berakhir. Karena wajah orang itu sudah mereka kenal baik. Ding Tao buru-buru maju dan menyapa orang yang ada di depan.
―Tabib Shao Yong, apa kabar?‖
―Ding Tao, engkaukah itu?‖, ujar laki-laki tua itu sambil bangkit berdiri, cepat-cepat menyambut kedatangan Ding Tao.
―Tabib Shao, syukurlah kaupun lepas dari bencana.‖, jawab Ding Tao.
―Astaga, Chu Xiang, A Tong, Lu Feng, kalian juga selamat.‖, ujar Tabib Shao Yong sambil mengucurkan air mata penuh haru, satu per satu disapanya mereka yang datang bersama Ding Tao.
Belasan anggota keluarga Huang yang selamat dan berketetapan untuk mengikut Ding Tao, disapanya satu per satu. Rumah yang kecil itu dengan cepat menjadi sesak.
847
Ding Tao menunggu sampai mereka selesai menumpahkan perasaan mereka yang tertekan selama berhari-hari sejak kehancuran keluarga Huang. Beberapa kali Ding Tao menghembuskan nafas panjang-panjang, berusaha mengurangi ketegangan yang menghimpit dadanya. Salah seorang dari mereka melihat itu dan menggamit lengan temannya yang masih saja bicara. Sebentar saja mereka semua terdiam dan menunduk. Mengikuti pandangan mata mereka, Tabib Shao Yong berbalik ke arah Ding Tao.
―Anak Ding, apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?‖, tanya Tabib Shao Yong dengan lembut.
―Oh, Tabib Shao…, tahukah kau bagaimana dengan keadaan adik…maksudku Nona muda Huang?‖, terbata Ding Tao bertanya.
Bab XVIII. Jawaban akan nasib Huang Ying Ying.
Tabib Shao Yong terdiam, dipandanginya wajah Ding Tao lama-lama. Lidahnya terasa kelu. Dengan berat hati dia mengerahkan tenaga untuk menjawab pendek, ―…sudah meninggal.‖
848
Pendek saja apa yang diucapkan Tabib Shao Yong, tapi besar akibatnya. Sebelum tiba di tempat Tabib Shao Yong menyembunyikan diri, Ding Tao sudah bertemu dan bertanya hal yang sama pada setiap sisa anggota keluarga Huang yang dia temui. Saat Ding Tao bertanya, mau tidak mau, mereka yang mengikutinya ikut berdebar menunggu jawaban.
Sulit dibayangkan, bagaimana rasanya, dalam sehari harus berulang kali menanyakan satu pertanyaan yang membuat beku perasaan setiap saat menunggu jawabnya. Saat akhirnya jawaban itu didengar, yang mereka dengar justru jawaban yang paling dia takutkan. Semua orang diam, semua orang ikut merasakan, ada keinginan untuk menghibur Ding Tao, tapi lidah mereka pun jadi kelu saat melihat kepedihan yang terpancar dari wajah pemuda itu.
Sakitnya perasaan Ding Tao tidak bisa dibayangkan oleh siapapun saat itu. Bukan hanya sakitnya karena kehilangan gadis yang dia kasihi. Ding Tao juga dikejar perasaan bersalah, terbayang saat dirinya bersama dengan Murong Yun Hua, di saat Huang Ying Ying dan keluarganya menghadapi bencana, dia justru sedang bersenang-senang, mengkhianati janji setianya. Tidak ada yang tahu akan hal itu, kecuali diri Ding Tao sendiri.
849
Angin berhembus meniup debu-debu, berputaran di antara jalan-jalan yang sepi. Di pelataran belasan laki-laki berdiri termangu, membeku dengan perasaannya sendiri-sendiri. Wajah Ding Tao menyiratkan penderitaan yang tak terkatakan, Liu Chun Cao, Wang Xiaho dan Tabib Shao Yong tidak mampu mengeluarkan kata-kata untuk menghibur hati pemuda ini. Setiap dari mereka berpikir akan kesetiaan hati pemuda ini dan betapa dalam kasihnya pada Huang Ying Ying. Sekilas pandang Ding Tao dapat menangkap apa yang tersirat dari pandang mata mereka, dan hatinya yang pedih semakin pedih, karena dia bukan seorang kekasih yang sungguh-sungguh setia. Hatinya sudah mendua, ingin dia berteriak mengakui apa yang telah dia lakukan. Tapi tidak sampai hati dia jika dia harus merusak nama Murong Yun Hua hanya untuk membuat hatinya sedikit lebih lega.
Seulas senyum pahit berkembang di wajahnya, mungkin ini hukuman yang harus dia pikul, untuk pengkhianatan yang telah dia lakukan pada Huang Ying Ying. Sekarang, seumur hidup dia akan terus menanggung beban dosa ini dalam hati.
Ding Tao menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan air mata yang sudah hendak tumpah. Dia memejamkan mata dan mengatur nafas. Perasaannya yang galau ditekannya kuat-kuat.
850
Perlahan-lahan Ding Tao membuka matanya dan bertanya, ―Tabib Shao Yong, bisakah kau ceritakan kejadiannya?‖
Tabib Shao Yong terdiam, ragu-ragu, apakah harus dia ceritakan atau tidak. Liu Chun Cao lah yang kemudian berkata, ―Tabib Shao, lebih baik diceritakan saja, apa yang sudah Tabib lihat. Biarlah Ding Tao menilai sendiri keadaannya. Apakah nasib Nona muda Huang sudah dapat dipastikan atau tidak, berdasarkan cerita Tabib Shao.‖
Liu Chun Cao berpendapat, inilah ujian terakhir bagi Ding Tao, sejak Wang Xiaho berhasil meyakinkan dirinya, Liu Chun Cao menaruh harapan yang besar pada Ding Tao. Tapi inilah saat yang mendebarkan bagi Liu Chun Cao, ujian terakhir bagi Ding Tao, layakkah dia untuk didukung menjadi seorang Wuling Mengzhu. Karena sebagai pimpinan, bukan hanya dibutuhkan orang yang berperasaan halus, sehingga bisa bersimpati pada mereka yang dipimpinnya, tapi ada saatnya pula seorang pimpinan harus menunjukkan keteguhan hatinya. Jika seorang pimpinan hanya dipermainkan perasaan, tanpa memiliki keteguhan hati untuk mengambil keputusan, maka kacaulah barisan.
851
Tabib Shao Yong memandang Ding Tao, lalu beralih memandang Liu Chun Cao dan Wang Xiaho. Dua orang yang belum dia kenal, tapi dia lihat cukup akrab dan memperhatikan keadaan Ding Tao. Liu Chun Cao sekali lagi menganggukkan kepala, mendorong Tabib Shao untuk menceritakan saja apa yang sudah dia lihat.
Akhirnya dengan suara serak, tercekat oleh kesedihan, Tabib Shao mulai bercerita.
Hari itu tidak ada seorangpun dalam keluarga Huang yang menyadari adanya bahaya sedang mengintai keluarga mereka. Kejutan yang ditimbulkan oleh pengkhianatan Tiong Fa sudah mulai memudar. Kegiatan berlanjut seperti biasa.
Saat malam tiba, penjagaan pun sudah tidak seketat beberapa minggu sebelumnya. Tabib Shao Yong baru saja hendak beristirahat ketika mulai terdengar jeritan suara disusul bel tanda alarm dipukul bertalu-talu. Mulai dari sejak itu, kekacauan pun meningkat dengan cepat. Rupanya lawan sudah masuk ke dalam kediaman keluarga Huang melalui jalan rahasia. Jalan rahasia yang seharusnya hanya diketahui oleh orang-orang penting dalam keluarga Huang.
852
Secara diam-diam, pembunuh-pembunuh ini pun menyebar dan mulai melumpuhkan para penjaga. Saat ada penjaga yang berhasil melawan sebelum terbunuh dan sempat berteriak mengingatkan penjaga yang lain, lawan sudah berhasil menyebar ke seluruh penjuru kediaman keluarga Huang.
Sesuai dengan cerita belasan orang sebelumnya, jumlah lawan tidaklah terlalu besar, kira-kira 20-30 orang, mereka terbagi menjadi 6 kelompok.
Salah satunya dipimpin oleh Tiong Fa.
―Tiong Fa? Tabib Shao apa kau yakin Tiong Fa adalah salah satu yang ikut dalam penyerangan malam itu?‖, tanya Ding Tao dengan wajah kelam dan tersisip nada bengis penuh amarah dalam pertanyaannya.
Bulu kuduk Tabib Shao Yong mengkirik, mendengar nada suara Ding Tao. Sudah belasan tahun dia mengenal pemuda itu, sejak pemuda itu masih kanak-kanak hingga dia dewasa, belum pernah Tabib Shao Yong mendengar kemarahan dalam nada suaranya.
Sambil menelan ludah tabib tua itu mengangguk, ―Ya…, saat itu aku sedang bersembunyi di dekat gedung utama keluarga
853
Huang. Dekat gedung tempat beristirahat Tuan besar Huang Jin sekeluarga.‖
―Saat mendengar ada penyerangan, sebisa mungkin aku hendak pergi ke tempat Tuan Besar huang Jin, melihat apakah ada yang harus kukerjakan di sana sebagai tabib keluarga Huang. Sambil bersembunyi aku perlahan-lahan mencari jalan. Saat itu aku sedang lewat dekat kamar Nona muda Huang Ying Ying, bersembunyi di taman, di depan kamarnya…‖, lanjut Tabib Shao Yong.
Untuk sesaat Tabib Shao Yong terdiam, tangannya telrihat sedikit gemetar, terkenang oleh peristiwa malam itu.
―Dan kulihat… Tiong Fa keluar dari kamar Tuan muda Huang Ren Fu yang tidak jauh dari situ, sambil menenteng pedang yang berlumuran darah. Kemudian muncul seorang tokoh bertopeng yang bertanya pada Tiong Fa.‖, lanjut Tabib Shao Yong sambil menutup mata.
―Orang bertopeng itu badannya tinggi besar, rambutnya panjang lebat terurai lepas tanpa diikat. Suaranya berat mengguruh saat dia bertanya pada Tiong Fa. ----------------------------------------
854
―Sudahkah kau bunuh anak-anak Huang Jin yang menjadi bagianmu?‖, tanya orang itu.
―Sudah, kecuali yang sulung tidak bisa kutemukan di kamarnya‖, jawab Tiong Fa.
―Hmph, anaknya yang sulung sedang bertarung bersama beberapa anak buahnya, menghadapi pimpinan pertama. Kau selesaikan pekerjaanmu di sini. Aku akan pergi membantu mereka.‖, ujar orang itu. ----------------------------------------- ―Kemudian dengan gerakan yang cepat dan langkah kaki panjang-panjang, orang itu meninggalkan tempat, menuju ke tempat suara pertarungan yang sedang terjadi dengan sengit. Sesaat kemudian Tiong Fa dan anak buahnya membakar gedung utama. Aku… aku… tidak berani beranjak dari tempatku bersembunyi. Lama… lama setelah mereka pergi baru aku berani keluar. Aku pergi membongkar puing-puing yang tersisa… dari setiap kamar kutemukan mayat-mayat yang terbakar….‖, Tabib Shao Yong bercerita dengan suara tersendat-sendat, air mata mengembeng di pelupuk matanya.
―Maafkan aku Ding Tao… aku tidak punya keberanian… hanya setelah mereka pergi baru aku berani keluar… terlalu lambat
855
untuk menolong seorang pun. Mereka semua sudah hangus terbakar…‖, dengan suara lirih Tabib Tua itu jatuh bersimpuh di depan Ding Tao, air matanya mengalir tanpa bisa dibendung lagi. Ding Tao berlutut di sebelahnya, menepuk-nepuk pundak Tabib Shao Yong, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Apa artinya kata-kata penghiburan, saat kesedihan datang, saat hati dipenuhi beban?
Belasan orang laki-laki dewasa yang pantang meneteskan air mata, tapi kali ini, tenggorokan mereka pun tercekat, ingin menangis, ikut merasakan kesedihan yang ada, meski mata mereka tetap kering dan pandang mata mereka dingin tanpa menyiratkan perasaan apa pun.
Cukup lama mereka terdiam dan hanya terdengar isakan Tabib Shao Yong yang meratapi ketidak mampuannya. Tentu saja tidak ada seorangpun dari mereka yang menyalahkan tabib itu. Pada dasarnya Tabib Shao Yong memang bukan orang persilatan, Tabib Shao Yong hanya seorang tabib. Beda dengan Tabib Dewa yang selain pandai ilmu pengobatan, ahli juga dalam ilmu silat.
856
Saat isak tangis Tabib Shao Yong berkurang, Ding Tao berkata, ―Tabib Shao, kami semua mengerti keadaanmu, tidak ada yang menyalahkanmu. Karena itu, jangan pula hatimu menuduh diri sendiri terus menerus.‖
Tersenyum lemah Tabib Shao menjawab, ―Aku mengerti, tapi tetap saja hati ini merasa malu dan sedih. Pikiranku mengatakan hal yang sama, sudah pasti dengan kemampuanku dalam ilmu bela diri, tidak ada yang dapat kulakukan kecuali bersembunyi. Tapi hati ini tidak bisa menipu, ketakutan yang mencengkam, ketakutan yang timbul karena keegoisan….‖
Ding Tao tersenyum balik dan menjawab, ―Kita semua pernah berbuat salah. Tapi siauwtee bersyukur Tabib Shao masih hidup sampai sekarang. Tabib Shao, siauwtee mau bertanya, dari cerita Tabib Shao, Tabib Shao tidak melihat sendiri terbunuhnya anak-anak Tuan besar Huang Jin, melainkan hanya mendengar dari perkataan Tiong Fa semata. Benarkah demikian?‖
Tabib Shao Yong berpikir sejenak sambil mengusap bekas-bekas air mata di pipinya dengan lengan baju, ―Setelah semua berakhir, aku masih menyempatkan diri bersama dengan
857
beberapa warga dan aparat di kota Wuling, menyingkirkan puing-puing rumah yang terbakar dan mencari-cari orang di bawahnya.
―Di kamar Nona muda Huang, kutemukan sesosok tubuh wanita seumuran dengan Nona muda Huang, wajahnya tidak bisa dikenali lagi karena sudah hangus terbakar. Tapi perawakannya sungguh mirip dengan Nona muda Huang. Demikian juga di tiap-tiap kamar yang lain. Memang keadaan mayat mereka sudah hangus terbakar hingga sulit dipastikan. Namun jika seluruh potongan disatukan, aku sampai pada kesimpulan bahwa memang demikianlah keadaannya.‖
Ding Tao menghela nafas, dipalingkannya wajah ke luar, berpikir, adakah kemungkinan bahwa Huang Ying Ying masih hidup? Ataukah dia hanya mempermainkan diri sendiri dengan mengangankan hal itu?
―Tabib Shao… setelah kejadian ini, apa rencana Tabib Shao untuk kehidupan Tabib Shao selanjutnya?‖, tanya Ding Tao, mengalihkan pikirannya dari ingatan akan Huang Ying Ying dan nasib keluarga Huang.
858
Tabib Shao Yong menoleh pada mereka yang mengikuti Ding Tao, ―Kalian, bagaimana dengan kalian, apa rencana kalian?‖
Mereka yang ditanya saling berpandangan, lalu dengan sedikit ragu-ragu salah seorang dari mereka menjawab, ―Rencana kami sebenarnya adalah mengikuti Ding Tao, kami dengar dari Tuan Wang Xiaho dan Pendeta Liu Chun Cao, Ding Tao berniat untuk ikut maju dalam pemilihan Wulin Mengzhu. Kami ingin menyumbangkan sedikit yang kami bisa untuk mendukung Ding Tao dalam usahanya.‖
Terkejut Tabib Shao Yong berbalik melihat Ding Tao, ―Anak Ding, benarkah itu?‖
Ding Tao tersipu malu mendengar pertanyaan itu, tapi hendak menghindar juga tidak bisa, dia sudah menyanggupi permintaan Wang Xiaho dan Liu Chun Cao. Untuk berbohong tentu saja dia tidak bisa. Dengan berat hati dia pun menganggukkan kepala.
―Anak Ding…, bagaimana dengan luka dalam tubuhmu?‖
―Sudah sembuh Tabib Shao.‖
859
―Benarkah? Bagaimanakah terjadinya?‖, tanya Tabib Shao dengan heran.
Sesaat lamanya Ding Tao tidak tahu harus menjawab apa, dia melihat berkeliling dan sadar bahwa belasan orang bekas pengikut keluarga Huang sedang melihat ke arahnya, tertarik untuk mendengar penjelasannya. Sadar bahwa dia tidak bisa mengelak, akhirnya Ding Tao menceritakan dengan singkat, bagaimana dia mendapatkan pinjaman sebuah kitab dari keluarga Murong. Usahanya untuk mempelajari isi kitab itu yang berujung pada penguasaannya akan dua jenis hawa murni dalam tubuhnya.
Meskipun Ding Tao hanya menceritakan garis besar dari pengalamannya saja, itu pun sudah mengundang decak kagum dari mereka yang mendengarnya. Belasan orang yang berkeinginan menjadi pengikut Ding Tao, semakin yakin dengan keputusan mereka itu.
Selain itu sekilas mereka menangkap ada sesuatu yang disembunyikan Ding Tao tentang hubungannya dengan keluarga Murong. Satu kitab yang penting, mengapa bisa dipinjamkan dengan mudah pada seseorang yang baru dikenal? Tentu ada sesuatu dibalik itu, namun melihat Ding Tao
860
tidak bersedia menceritakannya, mereka pun tidak mendesak. Apalagi keluarga Murong terdiri dari dua orang gadis muda.
Mereka yang ada di sana, semuanya laki-laki, sehingga dengan mudah menerima kemungkinan adanya hubungan antara Ding Tao dengan salah seorang gadis dari keluarga Murong, apalagi Ding Tao adalah pemuda yang belum menikah. Memang samar-samar Ding Tao menyinggung akan hubungannya dengan Huang Ying Ying, tapi mereka hanya bisa menggelengkan kepala dalam hati, betapa pusingnya berurusan dengan cinta. Ada pula yang diam-diam justru ingin pula bisa merasakan keberuntungan Ding Tao, bisa mendapatkan hati beberapa orang gadis.
―Jika begitu Anak Ding Tao, jika kau mengijinkan, biarlah aku ikut membantumu pula dalam usahamu itu. Sedikit kebisaanku dalam pengobatan, tentu akan dapat terpakai pula.‖, ujar Tabib Shao Yong setelah mendengarkan cerita Ding Tao.
Ucapan Tabib Shao Yong, disambut dengan sorakan dari belasan orang yang sudah lebih dahulu menyatakan akan menjadi pengikut Ding Tao.
―Bagus Tabib Shao !‖
861
―Haha, begini baru seru!‖
―Tabib Shao, kami mengandalkanmu!‖
Ding Tao tersenyum, meskipun senyuman itu terasa dipaksakan. Saat sorakan sudah mulai mereda dengan bersungguh-sungguh Ding Tao bertanya pada Tabib Shao Yong, pertanyaan yang sama yang dia ajukan pada sisa-sisa anggota keluarga Huang yang lain.
―Tabib Shao, apakah kau sudah pikirkan baik-baik keputusanmu itu? Kau tahu, tidak seperti keluarga Huang, aku tidak memiliki apa-apa kecuali sedikit kemampuan untuk bermain pedang. Bagaimana dengan penghidupan kalian nantinya?‖
Dengan cepat Tabib Shao Yong menjawab, ―Hal itu sudah kupikirkan pula Anak Ding, sebagai seorang tabib, aku justru bisa membantumu pula dalam hal itu, aku bisa membuka praktek pengobatan yang penghasilannya dipakai untuk membiayai hidup kita semua. Dengan belasan orang yang ada di sini, kita juga bisa memulai mengumpulkan tanaman obat-obatan lalu sekaligus membuka toko obat-obatan.‖
862
Mendengar rencana Tabib Shao Yong, mereka jadi bersemangat, kenyataannya memang pertanyaan Ding Tao cukup menghantui mereka, karena meskipun pertanyaan Ding Tao tidak mempengaruhi keinginan mereka untuk menjadi pengikut Ding Tao, tapi pertanyaan Ding Tao adalah pertanyaan yang tidak bisa dihindari. Meskipun mungkin pada awal-awalnya mereka bisa saja mendapat bantuan dari pendukung Ding Tao yang sudah mapan seperti Wang Xiaho atau Chen Wuxi, tentu tidak mungkin jika untuk seterusnya mereka menumpang pada orang lain. Wang Xiaho sudah menawarkan mereka untuk ikut bergabung dalam biro pengawalan miliknya, namun tetap saja bukan keputusan yang bisa diterima dengan hati yang lapang, dalam hati kecil mereka ingin membentuk satu kelompok yang mandiri.
―Tabib Shao, itu sungguh rencana yang bagus. Mengapa tidak kaulakukan saja bersama dengan saudara-saudara yang lain saja? Kalian tidak perlu menjadi pengikutku. Bukankah rencana itu lebih baik daripada kalian ikut terjun dalam carut marutnya dunia persilatan? Mulailah hidup yang baru dan tenang‖, bujuk Ding Tao yang tiba-tiba melihat jalan yang lebih baik bagi mereka, lebih baik daripada mengikuti dirinya yang tidak bisa memberikan apa-apa bagi mereka.
863
―Anak Ding…‖, menghela nafas Tabib Shao berusaha merangkum apa yang dia rasakan, ―Anak Ding, mengertilah, mengikutimu adalah satu-satunya jalan bagiku untuk memberi ketenangan pada hati nuraniku. Hatiku merasa bersalah, setiap kali teringat betapa aku tidak bisa berbuat apa-apa saat seluruh isi keluarga Huang dibantai orang. Selama ini aku mendapat penghidupan dari keluarga Huang, tapi saat bencana datang ternyata aku tidak dapat berbuat apa-apa.‖
Mengambil nafas sejenak dia melanjutkan, ―Aku percaya jika engkau berhasil menjadi Wulin Mengzhu, bukan hanya engkau akan mengusahakan keadilan bagi keluarga Huang tapi juga kau akan mengusahakan dunia persilatan yang lebih baik. Dengan membantumu, dengan menjadi pengikutmu, aku ingin ikut ambil bagian dalam semuanya itu. Menebus kediamanku saat terjadinya pembantaian di depan mataku tanpa aku dapat berbuat apa-apa.‖
Ketika dia melihat Ding Tao hendak menjawab, cepat-cepat Tabib Shao Yong menambahkan, ―Jangan cegah aku lagi Anak Ding, tekadku sudah bulat. Tidak tahukah dirimu, setiap malam kuhabiskan, berpikir untuk membunuh diri oleh karena rasa malu. Memang saat melihat pembunuhan-pembunuhan itu, tubuhku dicengkam oleh rasa takut. Tapi setelah akhirnya rasa
864
takut itu hilang, tinggallah rasa malu, malu karena tidak berbuat sesuatu.‖
Seorang yang lain menyahuti, ―Itu benar sekali Ding Tao, hal itu juga aku rasakan dan kurasa setiap saudara yang ada di sini merasakannya pula. Itu sebabnya kami berketetapan hati untuk menjadi pengikutmu. Jika kami harus kehilangan nyawa oleh karena keputusan ini, maka kami dapat mati dengan senyum lega. Setidaknya kami mati dalam melakukan sesuatu yang baik daripada kami hidup diliputi rasa malu karena tidak bisa membalas budi keluarga Huang terhadap diri kami.‖
Gumaman membenarkan pernyataan kedua orang itu pun bersahut-sahutan terdengar dari belasan orang yang lain. Mendengar itu tentu saja Ding Tao tidak sampai hati untuk menolak keinginan mereka.
Menghela nafas dia bertanya, ―Bagaimana dengan anak cabang keluarga Huang yang ada di kota lain?‖
Salah seorang di antara mereka mendengus dengan marah, ―Huh! Berita ini tersebar sudah begitu lama dan sampai sekarang tidak ada seorangpun di antara mereka yang muncul untuk menengok keadaan kita. Kaulah yang lebih dahulu
865
datang Ding Tao dan setelah mendengar ceritamu, kami pun bisa mengerti mengapa kedatanganmu tertunda. Bukan karena kau tidak peduli atau takut, tapi karena memang kau belum mendengar berita itu.‖
―Ya benar, jika mereka yang di cabang masih peduli dengan keadaan keluarga Huang yang menjadi tempat mereka bergantung selama ini, tentu sudah ada yang menengok. Kenyataannya tidak seorang pun ada yang datang.‖
Alis Ding Tao berkerut, ―Apakah terjadi sesuatu juga dengan anak cabang keluarga Huang?‖
Liu Chun Cao menggeleng dan menjawab, ―Tidak kami dengar sedikitpu tentang hal itu. Jika memang ada kejadian demikian, tentu beritanya akan menyebar cukup cepat, menilik pusat keluarga Huang baru saja diserang habis. Serangan susulan tentu akan menarik perhatian orang banyak. Sebenarnya aku sendiri juga cukup heran dengan kejadian ini.‖
―Tidak ada yang perlu diherankan, kukira mereka semua lupa daratan dan tiba-tiba menjadi raja kecil di tempatnya masing-masing‖, desis seseorang dengan kesal.
866
―Hmmm… kukira tentang hal itu perlu dipastikan lebih dulu.‖, ujar Ding Tao perlahan.
Menoleh pada Liu Chun Cao dia bertanya, ―Pendeta Liu, tinggal satu orang terakhir, apakah sebaiknya kita pergi ke sana hari ini juga?‖
―Kukira lebih baik begitu, dengan demikian malam ini tidak ada lagi ganjalan dan kita secepatnya bisa mulai membuat rencana, apa yang akan kita lakukan berikutnya‖, jawab Liu Chun Cao.
―Baiklah, mari, silahkan Pendeta Liu yang menunjukkan jalan. Saudara-saudara yang lain boleh ikut atau mungkin hendak menunggu di sini?‖, kata Ding Tao sambil menengok ke belasan pengikutnya yang baru.
―Kami akan ikut denganmu Anak Ding, kurasa kami semua ingin melihat saudara lain yang berhasil selamat dari pembantaian malam itu.‖, ujar Tabib Shao Yong mewakili teman-teman yang lain, didukung dengan anggukan kepala oleh mereka semua.
―Baiklah, kita pergi beramai-ramai.‖, jawab Ding Tao pendek.
867
Hari sudah siang, matahari sudah mulai condong ke barat. Perut beberapa orang sudah mulai lapar, tapi semangat mereka masih berkobar, meskipun matahati panas membakar. Melewati gang-gang sempit Liu Chun Cao memimpin mereka menuju keluar kota Wuling, ke sebuah desa kecil di barat kota Wuling.
―Pendeta Liu, apakah dia tinggal di luar kota?‖, tanya Ding Tao.
―Ya, saat itu kebetulan saja aku menemukannya. Baru saja selesai menyelidiki urusan di Wuling, aku dan Saudara Tong Fu ingin mengambil jalan sedikit memutar. Saat kami beristirahat di sebuah kedai teh kecil, kami bertemu dengannya. Saudara Tong Fu yang melihat bekas luka terbakar di lengan orang itu bertanya sambil lalu. Ketika dia nampak ketakutan, kami pun mulai bertanya lebih teliti. Mungkin karena baru saja mengadakan penyelidikan di Wuling hingga pikiran kami jadi lebih mudah curiga daripada biasanya.‖, jawab Liu Chun Cao menceritakan pertemuannya dengan orang terakhir yang akan mereka temui hari ini.
―Ah.. paman berdua sungguh teliti.‖, puji Ding Tao.
868
―Jika mereka tidak terkenal dengan ketelitiannya tentu Guru Chen tidak akan meminta bantuan mereka berdua untuk mencari informasi ke kota Wuling‖, sahut Wang Xiaho.
―Hmph, jangan terlalu memuji, aku tahu kau dari tadi mengincar arak simpananku‖, sahut Liu Chun Cao sambil mengerling ke arah Wang Xiaho, disambut tawa oleh yang bersangkutan.
Ding Tao tersenyum melihat tingkah laku kedua orang tua itu. Sesungguhnya mereka semua mengkhawatirkan keadaan Ding Tao. Pukulan yang dirasakannya akibat bencana yang menimpa Huang Ying Ying tentu tidaklah kecil. Cerita Tabib Shao Yong semakin membuat mereka yakin bahwa nona muda itu tidak selamat dari pembantaian yang terjadi malam itu. Pertemuan dengan orang terakhir yang mungkin bisa memberikan mereka informasi lebih tentang nasib nona muda itu, terasa seperti menunggu ketukan palu dari hakim, setelah sebelumnya sang hakim menyatakan keputusannya.
Itu sebabnya sepanjang perjalanan, ada saja yang mencoba membuat suasana jadi lebih ringan.
Mendekati kedai kecil tempat Liu Chun Cao menemukan orang yang mereka cari, Liu Chun Cao bertanya pada Ding Tao, ―Hari
869
sudah siang, bagaimana kalau kita beristirahat sebentar dan mengisi perut sejenak?‖
Menengok ke arah yang lain Ding Tao jatuh kasihan dan menjawab, ―Baiklah, mari kita beristirahat sebentar.‖
Kedai kecil itu segera saja jadi penuh oleh kedatangan mereka, beberapa orang tidak mendapatkan tempat duduk dan memilih untuk mencari tempat yang teduh di luar sambil menunggu mie dan the pesanan mereka. Ding Tao melihat semuanya itu dengan hati yang tidak enak. Ingin rasanya dia ikut duduk di luar, tapi dia sadar bahwa tindakannya itu justru akan membuat yang berada di dalam merasa sungkan. Bisa-bisa mereka semua akan duduk di luar, bahkan Tabib Shao Yong yang tertua dan terlemah di antara mereka.
Oleh karenanya dengan mengeraskan hati dia duduk juga di dalam. Setelah itu pun, persoalan belum selesai. Hendak makan dan minum tentu harus membayar, bagusnya selama dalam perjalanannya Ding Tao hidup berhemat, bekal uang yang didapatnya dari Huang Ren Fu hampir-hampir tak tersentuh.
870
Tapi untuk memastikan bahwa uangnya cukup, diam-diam Ding Tao membuka kantung uangnya dan menghitung.
Gerakan Ding Tao itu tentu tidak lepas dari mata Wang Xiaho dan juga yang lain. Wang Xiaho pelan-pelan menepuk pundak pemuda itu dan sambil tersenyum berbisik, ―Hee… makan kita kali ini, biar aku saja yang membayar.‖
Tersipu malu Ding Tao sadar perbuatannya diperhatikan orang, cepat-cepat dia menjawab, ―Ah, jangan paman, bukankah mereka sudah menjadi pengikutku, biarlah aku yang membayar makanan kali ini. Masih ada cukup uang untuk membayar, tidak ada masalah. Sungguh tidak ada masalah.‖
Wang Xiaho hendak membujuk pemuda itu untuk menerima saja pemberiannya, namun pengikut baru Ding Tao rupanya cukup cepat tanggap pula. Ketika ada yang melihat perbuatan Ding Tao memeriksa kantung uangnya, orang itu dengan cepat menggamit bahu temannya lalu berbisik. Tidak lama kemudian, beberapa orang di sekitarnya mengumpulkan uang masing-masing. Uang yang terkumpul itu dibawanya pada Ding Tao.
―Ding Tao, kita sudah berniat untuk bersumpah janji menjadi satu saudara, segolongan satu perkumpulan. Soal makan dan
871
minum, soal penghidupan tentu kita tanggung bersama pula, ini, ambillah saat ini kita hanya mengumpulkan seadanya saja. Untuk selanjutnya mungkin kau perlu memilih seseorang untuk menjadi bendahara dan mengurus soal keuangan kita.‖, ujarnya sambil mengulurkan sekantung kecil penuh uang.
Tentu saja berat bagi Ding Tao untuk menerima uang itu, tapi ketika dia membuka mulut hendak mengucap, cepat Wang Xiaho memotong, ―Ding Tao, jangan kau tolak pemberian itu. Jika kau menolak, sama saja kau meragukan kesungguhan mereka, meragukan kehormatan mereka, dan itu akan menyakitkan hati mereka.‖
Akhirnya dengan terharu Ding Tao berdiri lalu membungkuk pada semua orang yang mengikutinya itu, ―Terima kasih saudara sekalian, paman sekalian, kepercayaan kalian padaku tidak akan aku sia-siakan. Masalah keuangan biarlah kuserahkan pada Tabib Shao Yong saja. Tabib Shao, tolong kau pegang uang kas kita ini.‖
Ding Tao pun mengulurkan kantung uang itu dan kantung uangnya sendiri pada Tabib Shao Yong. Tabib Shao Yong yang tidak menduga jadi tergopoh-gopoh menerimanya.
872
―Wah, apakah tidak sebaiknya kau simpan sendiri saja Ding Tao?‖
―Tidak Tabib Shao, lebih baik Tabib Shao Yong yang memegangnya, bukankah tadi pun Tabib Shao sudah memiliki rencana untuk membuka usaha yang nantinya akan jadi sumber pemasukan kita? Nah, kukira sudah jelas di antara kita semua Tabib Shao Yong yang paling tepat untuk mengurus soal keuangan perkumpulan kita ini‖, ujar Ding Tao sambil kembali mengangsurkan kantung-kantung uang tersebut.
―Hmm… baiklah kalau begitu, aku akan berusaha sebaik-baiknya untuk mengatur keuangan kita.‖, ujar Tabib Shao sambil menghembuskan nafas panjang-panjang.
Beberapa orang yang berada di dekat Tabib Shao menepuk-nepuk pundaknya memberi selamat.
Melihat suasana yang baik, Wang Xiaho mengambil keputusan, dia berdiri dan mengangsurkan kantung uangnya pada Tabib Shao Yong yang dengan heran menerima uang itu.
―Ketua Wang apakah ini maksudnya?‖, tanya Tabib Shao Yong.
873
―Paman Wang Xiaho, jangan begitu, paman membuatku merasa semakin sungkan saja. Persahabatan paman jauh lebih penting dari uang itu‖, ujar Ding Tao berusaha mengembalikan uang itu.
Tapi Wang Xiaho mengulapkan tangan, memberi tanda pada Tabib Shao Yong agar uang itu tetap dia pegang. Kemudian dengan bersungguh-sungguh dia berbalik lalu membungkuk hormat pada Ding Tao.
―Sudah sejak melihat kemampuanmu yang mampu mengalahkan aku dan Guru Chen bersama dua orang muridnya dengan satu jurus saja, aku memiliki keinginan untuk mendukung dirimu menjadi Wulin Mengzhu. Hari ini aku melihat ada belasan orang yang memiliki keinginan yang sama, telah mengambil keputusan untuk bersumpah setia, mendirikan satu perkumpulan di bawah pimpinanmu. Aku Wang Xiaho, jika kau tidak memandang rendah diriku, ingin memohon agar boleh diterima pula dalam perkumpulanmu.‖, ujar tokoh tua itu sambil membungkuk hormat, setelah selesai berkata-kata tidak juga dia menegakkan badannya melainkan menunggu jawaban dari Ding Tao.
874
Sebelum Ding Tao sempat menjawab, kejutan lain sudah menunggu dirinya. Liu Chun Cao yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba ikut berdiri dan membungkuk hormat pada Ding Tao, ―Orang she Liu merasa ketua Ding memegang nilai-nilai yang sejalan, memiliki keinginan yang sama. Dan akan bersumpah setia, selama Ketua Ding tetap teguh dalam kebenaran dan kehormatan.‖
Melihat itu, belasan orang yang lainnya bersama-sama dengan bersungguh-sungguh mengucapkan sumpah yang serupa. Ding Tao berdiri di tengah-tengah mereka, merasa canggung dengan keadaan saat itu, namun meresapi kesungguhan mereka, pemuda itu merasa terharu.
―Ding Tao tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan kalian semua. Aku menerima keinginan kalian dan berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan harapan kalian.‖
Seusai mengucapkan itu, Ding Tao membungkuk dengan hormat ke empat penjuru, mengangkat cangkir teh di tangannya kemudian dengan hikmat meminumnya, diikuti oleh yang lainnya. Meskipun hanya dengan teh dan diadakan di sebuah kedai kecil di pinggir jalan, tanpa upacara dan kata
875
pengantar yang panjang, segala sesuatunya berjalan dengan khidmat dan sungguh-sungguh.
―Saudara-saudara, silahkan duduk semua.‖, ujar Ding Tao dengan perlahan namun tegas, menutup mata terhadap pemilik kedai yang menyaksikan tingkah laku mereka dengan mulut terbuka.
Sesuatu yang tidak pada tempatnya sudah sewajarnya bila jadi terasa lucu dan konyol. Namun melihat kesungguhan mereka, mau tidak mau pemilik kedai teh itu pun jadi terdiam.
Sudah kepalang basah, Ding Tao sadar saat ini sudah tidak mungkin lagi mundur dari jalan yang dipilih bagi dirinya oleh orang-orang di sekitarnya. Jika dia harus menjadi ketua dari sebuah perkumpulan, maka dia berniat untuk melakukannya dengan sebaik mungkin. Pekerjaan yang setengah-setengah hanya akan mempersulit banyak pihak.
Ketika beberapa orang yang tidak mendapatkan tempat duduk hendak kembali keluar, Ding Tao cepat-cepat mencegah mereka, ―Jangan terlalu jauh, yang tidak mendapat tempat duduk, untuk sementara bisa berdiri di dalam.‖
876
Mendengar itu serentak mereka bergerak mendekat dan perhatian pun tertuju pada Ding Tao. Ketika Ding Tao melihat ke sekelilingnya dan mendapati wajah-wajah yang serius dan bersemangat, semangatnya jadi ikut bangkit. Meskipun bayangan kesedihan masih ada dalam hatinya, namun kesedihan itu tidak sampai membuat dirinya beku, tidak mampu untuk berpikir dan bertindak. Sejenak dia berpikir, kemudian dia pun menyampaikan apa yang ada dalam benaknya.
―Saudara sekalian, kita sudah sepenuh hati untuk membentuk satu perkumpulan. Sebuah organisasi, tentunya harus memiliki satu tujuan dan satu semangat yang sama jika kita menginginkan organisasi itu menjadi organisasi yang kuat. Jika sebuah organisasi tidak memiliki tujuan yang jelas, hanya berdasarkan pada arahan pemimpinnya, maka akan ada kecenderungan organisasi itu semata-mata menjadi perpanjangan tangan dari ambisi pribadi dari ketuanya.‖, ujar Ding Tao membuka penjelasannya.
―Dan siauwtee tidak menginginkan organisasi semacam itu. Di saat yang sama, siauwtee juga tidak menginginkan untuk menjadi ketua dari satu organisasi yang tujuannya tidak sejalan dengan pendirianku pribadi.‖
877
Ding Tao berhenti sejenak dan melihat ke sekelilingnya, mencoba meraba reaksi mereka yang mendengarkan. Ketika dilihat setiap orang masih mendengarkan dengan seksama, kalaupun ada beberapa yang nampak sedikit bingung ke mana arah pembicaraan Ding Tao, tapi tidak ada tanda-tanda ketidak sukaan.
―Karena itu pada awal pendirian organisasi baru kita, yang pertama hendak aku tegaskan adalah pendirianku, prinsip dasar dari organisasi yang kita bentuk dan tujuannya. Bila nanti ada yang merasa tidak setuju pada prinsip dasar dan tujuan dari organisasi ini, janganlah malu atau segan untuk mengundurkan diri. Hal itu lebih baik daripada disimpan dalam hati, kemudian menjadi batu sandungan di kemudian hari.‖
Beberapa wajah yang tadi tampak ragu dan bingung, sekarang mengangguk-anggukkan kepala. Tapi justru setelah mereka paham maksud perkataan Ding Tao, baru mulailah muncul pertanyaan dan keraguan dalam hati mereka.
Apa yang ada dalam pikiran Ding Tao saat ini? Tujuan dan prinsip dasar apa yang hendak ia bangun di atas organisasi yang baru mereka dirikan ini? Bagaimana jika apa yang
878
diserukan Ding Tao nanti tidak sesuai dengan keinginan mereka?
―Yang pertama, organisasi ini didirikan dengan tujuan untuk menciptakan keadaan yang damai dalam dunia persilatan. Hal ini dilakukan dengan cara, melindungi yang lemah, menegakkan kebenaran dan memberikan perlindungan bagi yang membutuhkan. Prinsip dasarnya adalah pengampunan, kebenaran dan kehormatan, dalam upayanya mencapai tujuan, prinsip-prinsip dasar ini tidak boleh dilanggar.‖
Pada awalnya ucapan Ding Tao itu dianggap biasa. Tidak ada yang aneh atau berbeda dengan ucapan-ucapan tokoh dunia persilatan pada umumnya. Tapi setelah kata-kata itu mulai meresap, baru muncul pertanyaan-pertanyaan dalam benak pendengarnya. Hanya Liu Chun Cao dan Tabib Shao Yong yang tampaknya mampu menangkap maksud Ding Tao dan menyetujuinya sepenuh hati.
Wang Xiaho sedikit banyak menangkap maksud Ding Tao, namun dia merasakan sedikit ganjalan dalam penerimaannya. Meskipun dalam hatinya, sebagai orang yang sudah berumur dia dapat menerima pemikiran Ding Tao itu. Hanya saja, tampaknya akan ada perbedaan antara jalan yang dipilih Ding
879
Tao dengan jalan yang biasa diambil oleh orang-orang dalam dunia persilatan.
Ketika Wang Xiaho melihat beberapa orang yang lain juga merasakan ganjalan terhadap pernyataan Ding Tao itu, Wang Xiaho memutuskan untuk menjadi perantara bagi mereka, ―Ding Tao, kukira secara umum, kita semua setuju dan sejalan dengan apa yang kau ungkapkan. Hanya saja, kata pengampunan mungkin terasa sedikit janggal bagi kita orang persilatan. Apakah maksudmu para pembuat onar akan diberikan kesempatan kedua? Bagaimana dengan pelaku kejahatan besar seperti, pembantaian atas keluarga Huang?‖
Ding Tao menghela nafas, dia sadar saat itu setiap orang di dalam kedai makan itu sedang menantikan jawaban darinya. Pada dasarnya Ding Tao tidak menginginkan kedudukan, oleh kerenanya tidak berat beban dalam diri Ding Tao untuk mengatakan apa yang ada dalam hatinya.
―Memang itu yang ada dalam pikiran siauwtee, tapi tentu saja, berat ringannya kejahatan, latar belakang, alasan mereka melakukan kejahatan, semuanya harus ikut menjadi bahan pertimbangan. Bila pelaku pembunuhan keluarga Huang misalnya, melakukan pembantaian itu karena tekanan dari
880
pihak lain. Tentu hukuman yang diberikan akan berbeda dengan apabila dia melakukannya hanya karena keserakahan semata‖, jawab Ding Tao atas pertanyaan Wang Xiaho.
Mendengar jawaban Ding Tao mulailah terdengar bisik-bisik tidak puas di antara mereka yang tadinya dengan bersemangat bersumpah setia untuk mengikut dan mendukung Ding Tao.
Wang Xiaho melirik ke arah Liu Chun Cao, dilihatnya pendeta itu sedikit mengangguk saat dia melihat Wang Xiaho melirik ke arah dirinya.
Wang Xiaho pun kembali bertanya pada Ding Tao, ―Ding Tao, jika seseorang membunuh, bukankah adil jika kita balas membunuhnya?‖
―Jika kemudian, saudara atau sahabat dari orang yang kita bunuh menggunakan penalaran yang sama, maka sampai kapan bunuh membunuh itu akan berakhir?‖, jawab Ding Tao.
―Jika demikian di manakah letaknya keadilan?‖, tanya Wang Xiaho.
―Jika berbicara keadilan, maka pertanyaannya, siapakah yang berhak mengadili? Adakah di antara kita yang tidak pernah
881
berbuat kesalahan? Dalam dunia di mana kekerasan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, ada berapa orang yang tangannya bersih dari kekerasan? Yang pasti bukanlah diriku, baru beberapa bulan yang lalu belasan nyawa orang melayang karena ulahku.‖
Mereka sudah mendengar tentang pertarungan Ding Tao dengan kelompok Fu Tsun dan Laba-laba kaki tujuh beberapa bulan yang lalu, sehingga cepat saja salah seorang dari mereka menjawab, ―Tidak bisa disamakan, waktu itu kau membunuh dalam upaya membela diri.‖
Ding Tao tersenyum, ―Setiap pembunuhan apapun alasannya, adalah tindakan yang menghilangkan nyawa sesama. Siauwtee masih muda, harus mengakui bahwa tentang kebenaran, kehormatan, keadilan, banyak hal yang tidak bisa kupahami. Namun dari sekilas pengalaman yang sudah siauwtee rasakan, ada satu keinginan untuk melihat dunia persilatan yang berbeda, bukan tempat yang dibayangi dendam dan kekerasan.‖
―Karena itu, dirimu memilih untuk memberi kelonggaran pada bakal lawanmu?‖
882
―Kurang lebih begitu, selain itu terkadang siauwtee merasa, banyak kejadian di mana, seandainya saja situasinya sedikit berbeda. Seandainya saja ada orang yang mau mencoba mengerti. Kebanyakan dari mereka yang kita katakan sebagai iblis, mungkin tidak sampai menjadi iblis‖, seulas senyuman mekar di wajah Ding Tao, teringat percakapannya Sepasang Iblis Muka Giok.
Ding Tao mengedarkan pandangan matanya ke orang-orang yang ada di sekitarnya, dia melihat ada beberapa orang yang tampak tidak puas dengan pandangannya, sebagian yang lain ada yang termenung memikirkan ucapannya, ada pula yang nampak mendukung pandangannya. Di antara mereka yang mendukung pandangannya adalah Tabib Shao Yong, Liu Chun Cao dan Wang Xiaho. Melihat mereka mendukung dirinya Ding Tao merasa berbesar hati.
Sekali lagi dia mengedarkan pandangan, ditatapnya tiap-tiap orang, kemudian dia berkata, ―Apa artinya kemenangan, apa artinya kemuliaan, jika kita harus hidup saling membenci, dihantui dendam yang berlanjut sampai keturunan-keturunan yang berikutnya?‖
883
―Kehormatan, keadilan, kebenaran, adalah nilai-nilai yang patut diperjuangkan demi menciptakan tatanan masyarakat yang harmonis, penuh kedamaian, kuat dan maju. Suatu masa depan yang lebih baik bagi generasi yang selanjutnya. Tapi jika atas nama kehormatan, keadilan dan kebenaran kemudian manusia saling bunuh, menanamkan dendam turun temurun. Bukankah perlu dipertanyakan, apakah tidak terjadi kesalahan dalam mengartikan nilai-nilai yang sedang diperjuangkan?‖
Ding Tao memandangi mereka yang sedang mendengarkan uraiannya, ―Memang benar, akan ada pihak-pihak yang tidak bersandar pada kebenaran dan kehormatan. Dan adalah tugas seorang pendekar untuk menentang kejahatan mereka. Tapi tujuannya adalah menghentikan proses perusakan tatanan masyarakat yang ada, bukan justru menambah kekacauan dengan tindakan balas dendam.‖
―Lalu sakit hati ini, apakah tidak akan dibalaskan?‖, tanya seseorang dengan nada sengit.
―Seseorang bisa dikatakan pahlawan jika tindakannya bukan semata-mata untuk memuaskan keinginan hatinya sendiri, melainkan untuk mencapai tujuan yang lebih besar bagi kemaslahatan banyak orang.‖
884
Orang yang bertanya itu berdiri dari tempat duduknya, pandang matanya menyorotkan kekesalan, bahkan mungkin kebencian, dengan kemarahan yang ditekan dia berkata, ―Hmph… perkataanmu terlampau tinggi, kukira aku tidak sesuai berada di sini. Maafkan aku Ding Tao, kukira kau tak ada bedanya dengan orang-orang di anak cabang keluarga Huang.‖
―Kau hanya bisa menutupi kepengecutanmu dengan kata-kata yang indah! Aku pergi!‖
Selesai bicara, tanpa menunggu jawaban dari Ding Tao, orang itu pergi meninggalkan kedai teh itu, berjalan kembali ke arah kota Wuling. Mengikuti kepergian orang itu, beberapa orang yang lain ikut berdiri, ada yang dengan ragu-ragu, tapi ada pula yang bersikap ketus seperti dia. Dalam waktu yang singkat, hanya tinggal 7 orang tersisa, 4 di antaranya adalah Ding Tao, Wang Xiaho, Liu Chun Cao dan Tabib Shao Yong. Tiga orang yang lain adalah seorang tua bernama Li Yan Mao, seorang berumur pertengahan tiga puluhan bernama Tang Xiong dan seorang muda yang bahkan lebih muda dari Ding Tao bernama Qin Bai Yu.
Li Yan Mao, mungkin adalah orang tertua yang bekerja pada keluarga Huang, umurnya sedikit lebih tua dari Huang Yun Shu,
885
paman Tuan besar Huang Jin. Seorang yang pendiam dan jarang berbicara, lebih suka menyendiri, mengerjakan tugasnya tanpa banyak berbicara. Bukan berarti Li Yan Mao seorang yang sombong karena Li Yan Mao suka sekali tertawa bahkan pada orang yang baru dikenalnya. Jika tertawa maka terlihatlah giginya yang sudah hampir habis. Anak-anak kecil, termasuk Ding Tao sewaktu masih kecil, suka menjulukinya Kakek berlidah ½ cun, karena saking pendiamnya dia.
Tang Xiong adalah sahabat dekat Wang Sanbo, jagoan tua yang pernah bertanding melawan Ding Tao. Seperti juga Wang Sanbo, Tang Xiong sering dikirim untuk menagih hutang. Tang Xiong lebih mirip juru bicara Wang Sanbo yang dingin dan pendiam jika mereka sedang bertugas bersama. Perawakannya sedang dengan wajah yang menyenangkan, seperti bumi dan langit dibandingkan Wang Sanbo yang terlihat galak. Jika dikatakan ada ciri-ciri yang menonjol dari Tang Xiong, maka itu adalah tidak adanya ciri-ciri yang menonjol. Perawakannya sedang, wajahnya tidak buruk tidak pula tampan. Dengan sedikit mengubah penampilan Tang Xiong bisa berubah menjadi orang yang berbeda dalam sekejap saja.
Qin Bai Yu, anak muda ini mulai tinggal dalam kediaman keluarga Huang sejak ujian ilmu silat, di mana Ding Tao lulus
886
sebagai peserta terbaik. Karena itu Ding Tao tidak begitu mengenal pemuda ini, hanya kenal nama dan tidak lebih dari itu. Wajahnya tampan, gerak-geriknya halus, tubuhnya sedikit mungil buat ukuran seorang anak laki-laki, ditambah lagi dengan kulit yang putih, jika didandani dengan baju perempuan, mungkin orang akan salah mengenalinya.
Ding Tao mengedarkan pandangan pada enam orang yang tertinggal, lalu dengan senyum kecut dia bertanya, ―Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian tidak ingin pergi juga?‖
Wang Xiaho tertawa dan menjawab, ―Banyak orang bilang aku ini orang keras kepala, jika aku sudah memutuskan sesuatu jangan harap bisa mengubah keputusanku.‖
Liu Chun Cao menghirup tehnya perlahan-lahan sebelum menjawab, ―Hmm… kukira keberadaanku di sini sudah menjadi jawaban buatmu.‖
Tabib Shao Yong mengangguk-angguk mendengar perkataan dua orang itu dan berkata, ―Pekerjaanku adalah seorang tabib, seorang tabib berusaha menyembuhkan manusia. Seorang tabib berusaha menyelamatkan jiwa manusia. Pandanganmu justru sangat mencocoki hatiku.‖
887
Li Yan Mao tersenyum lebar, mempertontonkan giginya yang sudah jarang-jarang, ―Heh, sebenarnya ada sedikit kesamaan antara apa yang kau utarakan dengan pandangan pendiri keluarga Huang. Itu salah satu sebab mengapa dia berpesan agar keluarga Huang lebih baik memilih penghidupan sebagai pedagang dan tidak terlalu banyak berurusan dengan dunia persilatan. Ayah tuan besar Huang Jin sangat patuh pada ayahnya dan tidak pernah melupakan pesan itu.‖
Giliran berikutnya adalah Tang Xiong, ―Mungkin Ding Tao dan yang lain juga tahu, aku ini sahabat dekat Wang Sanbo. Sejak pertandingan persahabatan melawan Ding Tao, Wang Sanbo jatuh hati pada sikap Ding Tao yang sederhana dan tulus. Tidak henti-hentinya dia memuji-muji dirimu saat kami sedang mengobrol. Hari ini kulihat kenyataannya, memang kau seorang pemuda yang memiliki sifat yang unik tapi terpuji.‖
Terdiam sejenak, mengenangkan sahabatnya yang sudah mendahului dia, Tang Xiong melanjutkan, ―Sebagai sahabat Wang Sanbo, aku bisa merasakan, bahwa jika saat ini dia yang berada di sini, dia akan berdiri di pihak Ding Tao. Sebagai sahabatnya, aku ingin mewakili dirinya mendukung Ding Tao mencapai cita-citanya.‖
888
Pandangan semua orang akhirnya tertuju pada Qin Bai Yu, Qin Bai Yu masih sangat muda dibandingkan yang lain, sebenarnya dia tidak ada cukup keberanian untuk ikut bicara, namun sekarang semua orang menanti perkataannya dengan terbata-bata akhirnya dia menjawab, ―Sejak melihat Kakak Ding Tao bertarung pada ujian kelulusan beberapa tahun yang lampau. Siauwtee sudah merasa sangat kagum.‖
Sesaat lamanya dia terdiam, tapi melihat yang lain masih menunggu dia melanjutkan jawabannya akhirnya dia berkata, ―Asalku dari kota Lu Jiang, di salah satu kantor cabang keluarga Huang, lulus dari ujian aku terpilih untuk meneruskan pelajaranku di bawah salah satu anggota keluarga Huang. Orang tua dan keluargaku masih ada di Lu Jiang. Aku tahu banyak yang penasaran karena tidak ada satu pun orang-orang dari anak cabang yang muncul.‖
―Banyak yang curiga dan segera menghakimi mereka. Tapi kakak Ding Tao tidak bersikap demikian. Kupikir, alangkah baiknya jika dunia persilatan seperti dalam bayangan Kakak Ding Tao, di mana orang tidak dengan mudahnya menghakimi orang lain dan darah bertumpahan hanya karena salah paham atau terlalu kukuh terhadap prinsip sendiri tanpa memandang kesulitan orang lain.‖
889
Liu Chun Cao mengangguk-angguk lalu bangkit berdiri dan menepuk pundak anak muda itu. Menoleh pada Ding Tao dia bertanya, ―Anak muda ini benar, urusan cabang-cabang keluarga Huang memang terasa janggal. Bagaimana dengan rencanamu, apakah kita akan ikut campur tangan untuk menyelidiki keadaan di tiap-tiap anak cabang?‖
Ding Tao menjawab, ―Ya, siauwtee kira sebaiknya begitu. Masalah itu sudah bisa dipastikan menyimpan satu rahasia. Tidak mungkin seluruh anak cabang lupa diri seperti yang disangka beberapa saudara yang lain. Tapi sebelumnya kita selesaikan dulu urusan di Wuling ini.‖
Kebetulan saat itu pemilik kedai sedang mengangkat beberapa mangkok mie, mengantarkan pesanan mereka. Liu Chun Cao menoleh dan menjawab, ―Ya, segera setelah kita makan, kita akan pergi ke sana. Lebih baik memikirkan urusan penting dengan perut kenyang.‖
Pemilik kedai yang menyajikan mie bawaannya, sebelum kembali ke dapur tiba-tiba berkata, ―Perkataan Pahlawan muda ini benar, aku bukan orang dunia persilatan, tapi kupikir jika pahlawan muda ini berhasil, kehidupan banyak orang pun akan merasakan perubahan yang baik.‖
890
Sekali lagi dia mengangguk hormat pada Ding Tao, lalu pada enam orang yang lain, kemudian pergi berlalu untuk kembali ke dapur.
―Hmm… jika orang awam bisa berkata demikian, kukira kita tidak perlu ragu, bahwa yang kita lakukan itu benar adanya. ―, ujar Liu Chun Cao sambil memandangi punggung pemilik kedai itu.
Mereka berenam melanjutkan makan dan minum mereka dalam diam. Masing-masing sedang merenungkan keputusan yang telah mereka ambil. Tidak perlu diragukan lagi, meskipun akan ada yang mendukung, akan ada banyak pula yang akan memandang rendah mereka.
Setelah mereka selesai makan, Tabib Shao Yong berdiri hendak memanggil pemilik kedai teh dan membayar. Namun Ding Tao yang merasa sebagai yang lebih muda, buru-buru menahannya dan pergi untuk membayar biaya makan dan minum mereka. Karena pemilik kedai tidak kunjung keluar dari dapur, Ding Tao pergi menyusulnya.
Ding Tao melongokkan kepala ke dalam dapur dan melihat pemilik kedai sedang berdiri menunggu kedatangannya. Pemilik
891
kedai itu menggamit Ding Tao untuk masuk ke dalam dapur, jauh dari pandangan mata orang lain. Dengan suara berbisik, pemilik kedai itu memperkenalkan dirinya dan membungkuk hormat pada Ding Tao.
―Tuan Ding Tao, perkenalkan namaku Song Luo, orang biasa memanggilku si tua Song. Sebelum membuka kedai teh ini aku hanya seorang pelayan di dapur sebuah rumah makan di kota Wuling. Suatu hari seorang yang tidak kukenal menawariku modal untuk membuka kedai di pinggir jalan ini, dengan satu syarat, yaitu agar aku selalu memperhatikan orang yang mampir dan lewat di jalan ini. Sesekali orang itu akan datang dan menanyakan sesuatu padaku.‖
Menelan ludah membasahi tenggorokan, si tua Song kembali bercerita, ―Dalam hati sebenarnya ada perasaan bersalah, karena aku pun tidak tahu, informasi yang kusampaikan itu apakah digunakan untuk mencelakai orang atau untuk kebaikan. Namun untuk menolak aku pun gentar jika memikirkan nasibku dan keluarga. Hari ini aku mendengar perkataan Tuan, hatiku jadi tergerak. Jika tuan bersedia, aku akan berhenti bekerja untuk orang itu, biarlah aku bekerja untuk tuan, menjadi mata dan telinga tuan di kedai ini. Meskipun tiada kepandaian, biarlah orang tua ini ikut pula menyumbang sedikit
892
yang ada untuk menciptakan keadaan yang seperti tuan impikan.‖
Ding Tao merasa terkejut mendengar pengakuan si tua Song, sekaligus merasa terharu bahwasannya orang tua yang tidak bisa bersilat ini memiliki keberanian untuk menentukan sikap, meskipun maut ancamannya.
―Bapak tua, sungguh bapak seorang yang pemberani‖, ujar Ding Tao dengan spontan.
Setelah berpikir sejenak, Ding Tao pun berkata, ―Bapak, apa yang bapak tawarkan sangatlah berharga. Memang, jika hendak melakukan pekerjaan besar, seseorang harus punya banyak mata dan telinga. Namun akupun tidak ingin bapak mengambil resiko yang terlalu besar. Dengarlah, aku ada akal yang baik. Biarlah bapak tetap memberikan informasi pada orang itu jika dia memintanya. Namun di saat yang sama, jika dia datang pada bapak dan menanyakan sesuatu, atau ada kejadian lain yang bapak rasa menarik segera bapak laporkan hal itu padaku juga.‖
Wajah pemilik kedai itu menjadi cerah, sebelumnya dia sudah membayangkan akan menyongsong kematian demi melakukan
893
sesuatu yang akan membersihkan hati nuraninya dari perasaan bersalah. Tapi apa yang diajukan Ding Tao, memberikan dia harapan bahwa dia bisa melakukannya tanpa terancam oleh kematian.
―Ah, terima kasih banyak atas perhatian tuan. Tapi dengan cara bagaimana saya menghubungi tuan?‖, tanyanya.
―Untuk masalah itu, biarlah siauwtee pikirkan lebih dahulu. Jika siauwtee mendapat cara yang baik, siauwtee akan menghubungi bapak‖, jawab Ding Tao sambil menepuk pundak pemilik kedai tersebut.
―Baiklah, aku akan menunggu kabar dari tuan‖, jawab pemilik kedai itu, lalu setelah meragu sejenak dia menambahkan, ―Tuan, jika bisa biarlah hal ini menjadi rahasia antara tuan dan saya, setidaknya pada orang-orang yang benar-benar bisa tuan percaya. Dari enam orang yang ada di luar, tampaknya ada beberapa yang baru hari ini menyatakan kesetiaan pada tuan. Saya harap tuan sadar ada kemungkinan orang yang jahat menyusup juga dalam organisasi bentukan tuan.‖
Ding Tao mengangguk, ―Ya.. siauwtee juga sadar akan hal itu, meskipun siauwtee berharap bisa mempercayai setiap orang
894
dalam organisasi ini nanti, tapi kemungkinan seperti itu tetap saja ada. Bapak jangan kuatir, sebelum siauwtee bisa percaya penuh pada seseorang, tidak akan siauwtee membocorkan rahasia yang menyangkut keselamatan orang lain.‖
―Terima kasih tuan, semoga apa yang tuan cita-citakan bisa berhasil. Dahulu banyak kisah tentang pahlawan yang berjuang dan berkorban demi kepentingan orang banyak. Hari ini banyak orang yang mengaku pahlawan, namun menindas yang lemah demi kepentingannya sendiri. Sungguh baik cita-cita tuan, orang seperti tuan dan mereka yang bersumpah setia pada tuan hari inilah yang sesungguhnya pantas disebut pahlawan‖, ujar pemilik kedai itu dengan nada prihatin.
Muka Ding Tao jadi memerah karena malu, ―Sudahlah paman, aku pun hanya orang biasa, bukan pahlawan. Ini pembayaran untuk makanan dan minuman yang kami habiskan.‖
―Eh, tidak perlu tuan, jangan, bukankah mulai hari ini, saya pun sudah termasuk menjadi pengikut tuan?‖, ujar pemilik kedai itu sambil berusaha mengembalikan uang yang diberikan Ding Tao.
895
―Ah kalau benar begitu, tentu bapak harus menurut pada keputusanku dan inilah keputusanku, bapak harus menerima pembayaran ini. Anggap saja, ini biaya bagi bapak untuk terus membuka kedai serta menyerap informasi bagiku‖, balas Ding Tao sambil tertawa.
Setelah beberapa kali didesak Ding Tao, akhirnya pemilik kedai itupun mau menerima uang yang diberikan Ding Tao. Ketika Ding Tao kembali ke mejanya, Wang Xiaho bertanya pula, ―Eh, kenapa begitu lama hanya untuk membayar makan dan minum? Apakah dia mempersulit kita?‖
―Bukan-bukan, justru dia hendak menolak pembayaran. Itu sebabnya siauwtee agak lama di sana, karena harus mendesak-desaknya lebih dahulu. Dia berkeras untuk memberi kita makan dan minum gratis, karena merasa bersimpati pada perjuangan kita‖, jawab Ding Tao dengan cerdik tanpa menceritakan alasan yang sesungguhnya.
―Hehe, kalau di setiap kedai dan rumah makan ada kejadian yang sama, boleh juga kita terima kebaikan mereka‖, sahut Li Yan Mao sambil tertawa.
896
Tawa Li Yan Mao menular pada yang lain, sambil tertawa bergelak mereka meninggakan kedai makan itu, mengikuti Liu Chun Cao yang memimpin di depan. Untuk sementara kabut yang membayang tersapu bersih dari hati dan pikiran, oleh tawa lepas yang mengiringi langkah kaki mereka.
Bab XIX. Lebih banyak lagi pembunuhan
Liu Chun Cao mengetuk pintu rumah tempat persembunyian orang yang mereka cari. Beberapa kali dia mengetuk namun tidak ada jawaban.
―Apakah dia sedang tidak ada di rumah?‖, tebak Qin Bai Yu.
Liu Chun Chao mengerutkan alisnya, ―Hmm… cobalah kau pergi tanyakan pada tetangga sebelah.‖
Qin Bai Yu mengangguk, Li Yan Mao mengikut di belakangnya sambil berkata, ―Mari kutemani engkau bertanya-tanya ke sekitar.‖
Ding Tao berlima sedang menunggu Qin Bai Yu dan Li Yan Mao, ketika seseorang berjalan melewati mereka. Lima orang
897
asing berkerumun di depan pintu rumah, tentu saja menarik perhatian. Orang itu menengok kemudian berhenti, sepertinya seikit ragu, tapi akhirnya dia menyapa dan bertanya, ―Apakah kalian sedang mencari Mao Bin?‖
Ding Tao berlima menoleh ke belakang, ke arah suara yang menyapa mereka. Penampilan orang itu sedikit aneh, pakaiannya sedikit compang camping tapi dipakai dengan sangat rapi. Orang itu berdiri dengan bersandar pada sebuah tongkat yang dia bawa-bawa. Meskipun tertutup oleh bajunya, tapi dari postur tubuhnya, terlihat salah satu kakinya lebih pendek dari kaki yang sebelah. Menilik pakaian yang dimiliki, tempat dia tinggal dan cacat di tubuhnya, wajarnya orang demikian tentu seorang yang rendah diri. Tapi orang ini justru tampi percaya diri bahkan cenderung bersikap seperti menantang orang lain untuk menghina dirinya. Pakaiannya yang sederhana dan sedikit compang camping dipakai dengan rapi dan teliti. Rambutnya disisir dan digelung dengan rapi, meskipun tali pengikatnya sudah pudar warnanya dan terlihat rapuh dimakan usia.
Dengan alis terangkat, Wang Xiaho menjawab, ―Ya, kami sedang mencari Mao Bin, apa kau tahu dia sedang ada di
898
mana? Ini benar rumahnya kan? Beberapa kali kami mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban.‖
―Ya memang benar ini rumahnya, aku pun tidak tahu dia ada di mana, tapi pagi tadi ada pula orang yang mencari dia dan bertanya di mana rumah Mao Bin. Mungkin mereka sedang ada di luar, entahlah.‖, jawab orang itu.
―Boleh kami tahu, seperti apa ciri-ciri orang itu?‖, tanya Liu Chun Cao.
Orang yang ditanya memandang mereka dengan tatapan ingin tahu, sejenak kemudian dia menjawab.
―Orang itu cukup tinggi, lebih tinggi daripada kebanyakan orang. Meskipun tidak setinggi tuan muda yang di sana.‖, katanya sambil menunjuk pada Ding Tao.
―Kupikir agak aneh menemukan orang seperti itu di daerah seperti ini. Kulitnya putih, alis berbentuk golok, kumisnya yang tipis dicukur dengan rapi. Giginya terlihat putih bersih. Meskipun potongan pakaiannya sederhana tapi kulihat terbuat dari bahan yang baik, lagipula terlihat bersih.‖
―Apa ada ciri-ciri yang tidak umum?‖, tanya Wang Xiaho.
899
―Ciri-ciri yang tidak umum? Hmm.. entahlah, aku tidak yakin, wajahnya tidak ada ciri khusus, tapi kupikir orang ini adalah seorang kidal yang sudah berlatih menggunakan tangan kanannya dengan baik.‖
―Hmm… dari mana kau bisa berpendapat demikian?‖, tanya Liu Chun Cao sambil memandang orang itu penuh selidik.
Sekilas mata orang itu berkilat nakal, jawabnya, ―Orang itu menenteng-nenteng pedang dan dari penampilannya sudah jelas dia orang yang memiliki cukup harta. Dia memakai pakaian yang sederhana jelas maksudnya hendak menutupi identitasnya. Namun orang itu juga terlalu yakin pada diri sendiri sehingga tidak mau bersusah payah untuk menyembunyikan wajahnya atau sedikit mengotori tangan dan tubuhnya.‖
―Tentu saja, hatiku jadi tertarik. Tanpa sengaja saat dia hendak berpamitan, tanganku hendak menggaruk punggungku yang gatal, tanpa sengaja menyenggol topi bambuku dan menyebabkannya terjatuh. Secara refleks orang itu membungkuk hendak mengambil topiku dengan tangan kirinya, terlihat dari tubuh sebelah kiri lebih condong ke depan, tapi
900
teringat tangan kirinya membawa pedang, dengan cepat tangan kanannya bergerak untuk menangkap topiku yang jatuh itu.‖
Mata Liu Chun Cao berkilat, dia mengamati orang yang di depannya itu dengan penuh rasa tertarik, ―Menarik sekali… lalu apa kesimpulanmu?‖
Bukan hanya Liu Chun Cao yang tertarik mendengar pengamatan orang itu, yang lain pun demikian juga. Tidak disangka hari ini mereka bertemu orang-orang yang menarik. Pertama pemiliki kedai yang tiba-tiba ikut berbicara memuji pandangan Ding Tao tentang dunia persilatan. Lalu sekarang, mereka bertemu orang yang punya pengamatan yang tajam dan rasa ingin tahu yang besar.
―Menurutku orang itu adalah seorang pendekar yang cukup punya nama dari sebuah perguruan atau kalangan yang terhormat. Terlihat dia berusaha menolong menangkap topiku yang jatuh. Dia hendak melakukan sesuatu yang tidak boleh diketahui orang lain, itu sebabnya dia menyamar. Tapi dia begitu yakin dengan kemampuannya sendiri sehingga dia pun tidak takut bila sampai ketahuan.‖
901
Selesai menguraikan kesimpulannya orang itu pun menatap mata mereka berlima dengan membusungkan dada. Tabib Shao Yong dan Liu Chun Cao mengamati orang di depannya itu dengan wajah heran dan tertarik. Sementara Wang Xiaho merasa sedikit kesal dengan sikap sombong orang itu tapi masih bisa menahan diri.
Adalah Tang Xiong yang membuka mulut lebih dulu, ―Sahabat, sungguh pandai benar dirimu. Membuat orang jadi heran, mengapa orang macam dirimu bisa tinggal di tempat kumuh seperti ini? Apakah kau ini seorang sastrawan yang gagal lulus ujian kenegaraan?‖
Kata-kata Tang Xiong dikeluarkan begitu saja tanpa pikir panjang, dimaksudkan untuk menyindir. Siapa tahu justru kata-kata itu kena tepat pada sasaran, wajah orang itu berubah dan dengan ketus dia menjawab, ―Hmph! Apakah yang bodoh menguji yang lebih pandai? Apakah yang korup menghakimi yang benar? Siapa sudi ambil pusing pada hasil ujian negara?‖
Mendengar jawaban orang itu tentu saja, mereka langsung tahu bahwa kata-kata Tang Xiong justru menebak dengan tepat keadaan orang itu saat ini. Tang Xiong baru saja hendak membuka mulut dan membalas dengan pedas sikap sombong
902
orang itu ketika dia merasakan tangan Ding Tao menggamitnya mundur ke belakang. Tang Xiong terkejut dan cepat-cepat menutup mulutnya yang usilan saat dia melihat Ding Tao membungkuk hormat pada orang cacat yang sombong di hadapan mereka itu.
―Ah, harap tuan memaafkan kami, tadinya sikap tuan yang sombong membuat kami merasa penasaran, tapi sebenarnya kalau dipikir, pengamatan tuan sungguh tajam. Tuan sombong bukan tanpa alasan yang jelas, tidak banyak orang dapat berpikir secerdik tuan ini. Bolehkah aku tahu nama tuan?‖
Sejak bertemu dan bercakap-cakap dengan pemillik kedai yang ternyata juga bertugas sebagai mata-mata seorang misterius, Ding Tao mulai sadar bahwa lawan-lawannya tidak bisa dikalahkan hanya dengan kepandaian ilmu silat saja. Dia bukan sedang berhadapan dengan satu atau beberapa orang lawan saja, yang menjadi lawannya adalah sebuah organisasi yang besar. Jika dia hendak mendirikan organisasinya sendiri, dia memerlukan orang dengan berbagai macam kepandaian dan bakat. Termasuk orang dengan kepandaian seperti orang yang ada di hadapannya saat ini.
903
Sikap Ding Tao yang demikian tiba-tiba mengejutkan banyak orang, termasuk pelajar cacat yang disapanya. Untuk sesaat sikap sombong yang dia tampilkan tampak goyah, tapi cepat dia pulih dari rasa kagetnya dan dengan nade sinis bertanya, ―Hmm… jika seseorang bersikap sopan padaku, biasanya itu karena dia ingin memanfaatkanku. Anak muda bukankah benar demikian?‖
Tang Xiong yang merasa kesal Ding Tao diperlakukan demikian sudah membuka mulut untuk menyergah, namun Liu Chun Cao cepat menggamit tangannya dan memberi tanda agar dia diam. Dengan terpaksa Tang Xiong hanya bisa memelototi orang yang sombong tersebut. Berbeda dengan Tang Xiong, Ding Tao justru bisa tertawa sopan mendapat dampratan dari orang tersebut, kemudian dia mengangguk membenarkan.
―Tidak bisa siauwtee pungkiri, kenyataannya memang siauwtee memerlukan bakat dan lemampuan tuan. Apakah siauwtee boleh tahu siapa nama tuan?‖, untuk kedua kalinya Ding Tao menanyakan nama pelajar cacat itu.
―Hmm… kau ini punya impian setinggi langit, tapi mengapa mandah saja aku hina?‖
904
―Siauwtee punya cita-cita yang tinggi, tuan punya kemampuan yang bisa membantu siauwtee meraih cita-cita itu, sedikit penghinaan, adalah harga yang murah.‖
―Jika aku memintamu untuk berlutut dan menghormat tiga kali sebelum aku mau membantumu apa yang akan kau lakukan?‖
Kali ini Ding Tao tidak memberikan jawaban dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatan, tanpa ragu pemuda itu berlutut dan hendak menghormat pada pelajar cacad yang sombong itu. Tapi segera saja pelajar itu menahan pundak Ding Tao dan dengan susah payah berlutut di depan pemuda itu lalu balik menghormatnya.
Ujar pelajar cacat itu, ―Bertahun-tahun belajar, tidak ada yang menghargai jerih payah dan segenap pengetahuan yang siauwtee kumpulkan, hari ini bisa bertemu dengan tuan sungguh merupakan keberuntungan. Sedikit yang siauwtee miliki, biarlah jadi kayu bakar bagi perjuangan tuan.‖
Perubahan sikap yang demikian tiba-tiba tentu saja membuat orang jadi melengak keheranan.
―Nama siauwtee adalah Chou Liang, ayah siauwtee pernah menjabat sebagai pejabat militer dan berharap agar siauwtee
905
mengikuti jejaknya mengabdi pada negara. Sayang saat masih kecil siauwtee terkena penyakit aneh, sehingga sebelah kaki siauwtee tidak tumbuh dengan semestinya. Untuk memenuhi harapan ayah, maka siauwtee menghabiskan waktu untuk mempelajari tulisan-tulisan orang bijak di masa lampau dan berniat untuk mengikuti ujian negara dalam bidang sastra.‖
―Tunggu, mari bangunlah, jangan berlutut seperti itu.‖, ujar Ding Tao sambil menarik berdiri pelajar cacat tersebut.
Tang Xiong yang tadinya ingin mendamprat dan mengolok-olok pelajar cacat itu, sekarang setelah terbukti perkataannya tepat mengena justru berdiam diri dan dalam hati menyesal sudah mengeluarkan kata-kata tersebut. Menanti pelajar cacat itu berdiri dan membenahi pakaiannya, barulah Ding Tao bertanya lebih lanjut.
―Saudara, silahkan lanjutkan ceritamu. O ya sebelumnya, perkenalkan nama siauwtee…‖
―Nama tuan adalah Ding Tao, lahir dan dibesarkan dalam keluarga Huang, kurang lebih 2.5 tahun yang lalu menghilang secara diam-diam bersamaan dengan menghilangnya salah seorang pelatih silat keluarga Huang, Gu Tong Dang. Saudara
906
yang lain, bernama Tang Xiong, Tabib Shao Yong, dan Pendeta Liu Chun Cao. Yang seorang lagi sepertinya baru kali ini datang ke Wuling karena aku tidak mengenalnya.‖, ujar Chou Liang memotong perkataan Ding Tao
―Heheh, namaku Wang Xiaho‖, jawab Wang Xiaho sambil sedikit membungkuk memberi hormat.
―Siauwtee Chou Liang‖, ujar Chou Liang, membungkuk membalas salam dari Wang Xiaho, sekalian dia memberi hormat juga pada yang lain.
―Kira-kira 6 bulan yang lalu, Tuan Ding Tao, kembali pula ke kota Wuling dan mengunjungi keluarga Huang. Kunjungan kali ini membawa bencana, setidaknya satu orang meninggal dan tuanpun terpaksa harus melarikan diri secara diam-diam. Kemungkinan besar dalam keadaan terluka. Sekarang tuan kembali untuk menyelesaikan urusan, entah apapun urusan itu, tapi di luar dugaan sebelum kedatangan tuan, justru keluarga Huang tertimpa bencana besar dan tuan pun berkeinginan untuk menyelidikinya‖, dengan lancar dia mengemukakan apa yang berhasil dia ketahui mengenai Ding Tao.
907
―Kurang lebih itulah yang siauwtee mengerti, tentu jika tuan berkenan untuk bercerita lebih lanjut, siauwtee akan bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan bisa memberikan pandangan-pandangan yang mungkin membantu tuan‖, ujarnya mengakhiri uraian yang cukup panjang.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Mesum Bersambung Dewasa : PAB 5 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 06 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments