Cerita Cinta Sedih Galau Terbaru 2017 : PG 5 Tamat

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Cinta Sedih Galau Terbaru 2017 : PG 5 Tamat
Cerita Cinta Sedih Galau Terbaru 2017 : PG 5 Tamat


Khing-koh memandangi Ci In-hong dengan ter-mangu2, sejenak kemudian dia baru
berkata: “Lari ? Lari bersama kau ?”
“Sudah tentu bersama Ci-toako,” kata si Kemala dengan tertawa. “Ci-toako pernah tinggal disini,
dia cukup apal jalanan disini, kepandaiannya tinggi pula, dia pasti dapat membawa kau lolos
ketempat yang aman.”
“Malam gelap dan hujan begini adalah kesempatan yang sangat baik,” kata In-hong. “Silahkan kau
ganti pakaian si Kemala,akupun tukar pakai jago pengawalini, kuyakin dapat lolos dengan selamat.
Kim-pay itu boleh kausimpan untuk digunakan bila kepepet, apa pulang atau ketempat kakakmu,
boleh sesukamu.”
Dibalik kata2 itu In-hong hendak menunjukkan bahwa Lau Khing-koh bebas untuk memilih apa
yang dikehendaki, sebab In-hong mengira ucapan sinona tadi bermaksud tidak sudi berangkat
bersama dia. Tak terduga apa yang dimaksudkan Khing-koh sebenarnya bukan bgitu.”
“Dan orang ini bagaimana?” tiba2 si Kemla menunjuk jago pengawal yang menggeleak tak berkutik
itu. Sudah tentu ia kuatir nanti orang itu membongkar kepalsuannya bila tersadar kembali.
“Soal ini mudah,” kata In-hong. Mendadak ia gablok kepala orang itu dan berkata pula: “Budak
macam begini biarpun dibinasakan juga jauh dari pantas.”
Si Kemala terperanjat. Dilihatnya orang itu sudah binasa tanpa bersuara sedikit[un tidak nampak
ada tanda terluka.
“To Liong kenal aku punya Thian-lui-kang,” kata In-hong pula. “Dengan membunuh orang ini,
selain memberi contoh kepada kaum pengkhianat lain, dapat pula membanu kau terhindar dari
tuduhan. Kau boleh mengaku bahwa kau terancam olehku dan terpaksa membawa aku kesini.”
Setelah mengatur segala sesuatu, baru saja In-hong hendak menyingkir agar mereka dapat tukar
pakaian, tiba2 Khing-koh berkata: “Ci-toako, banyak terima kasih atas maksud baikmu, tapi aku
takkan melarikan diri dari sini.”
In-hong tercengang. “Kenapa ?” tanyanya.
“Nona Lau, masakan kau tidak percaya keterangan kami dan masihtidak tega meninggalkan orang
macqm To Liong itu? “kata si Kemala tanpa pikir.
“Betapa benciku padanya, kalau bisa aku ingin makan dagingnya dan beset kulitnya,” kata KhingKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
koh dengan mengertak gigi.
“Habis kenapa enkau tidak mau melarikan diri ?”tanya si Kemala.
“Laki2 membalas dendam biarpun tunggu sepuluh tahun juga belum terlambat,” demikian Ci Inhong
menyitir pribahasa. “Nona Lau, hendaklah kau jangan bertindak secara gegabah.”
In-hong cukup berpengalaman dan dapat berpikir, lapat2 ia menduga Lau Khing-koh pasti ingin
membunuh To Liong dengan tangan sendiri untuk melampiaskan dendam karena dirinya kena
ditipu.
“Ci-toako,” jawab Khing-koh. “Kau salah duga. Memang aku bertekad akan membalas dendam,
tapi saat ini aku masih belum dapat meninggalkan keparat ini.”
In-hong menjadi bingung, katanya: “Jika tidak ingin balas dendam sekarang, mengapa tidak pergi
saja dari sini?”
“Tadi Ci-toako bilang kedatanganmu ini ada urusan lain pula, apakah dapat memberitahukan
padaku tentang urusan itu ?” tanya Khing-koh.
Hati In-hong tergerak, ia pikir jangan2 sinona telah mendengar kabar2 apa2 dari To Liong. Maka ia
lantas memberitahukan terus terang maksudnya hendak menolong Li Su-lam.
Khing-koh terkejut. “Apakah Li Su-lam Bengcu pasukan pergerakan didaerah utara itu? Ia
menegaskan. Biarpun tinggal dipegunungan, namun Khing-koh dan ayahnya juga mendengar nama
Li Su-lam yang baru saja dipilih sebagai bengcu itu.
“Benar,” jawab In-hong. “Apakah To Liong pernah bicara sesuatu tentang dia?”
“Tidak pernah,” kata Khing-koh. “Cuma, bila aku lari dari sini tentu lebih sukar untuk mencari
beritanya.”
“Tapi aku dapat mencari jalan lain, sebaliknya keadaanmu tentu tambah bahaya jika tetap tinggal
disini,” ujar Ci In-hong. “Maka lebih baik …..he, kau , kau ………..”
Kiranya mendadak dilihatnya Lau Khing-koh mencabut belatinya dan menusuk tubuh sendiri. Cepat
Ci in-hong merebut belati sinona, namun tidak urung lengannya sudah tergores luka sepanjang
beberapa senti.
“Aku akan pura2 terluka akibat melawan kau,” kata Khing-koh kemudian. “Kukira To Liong takkan
curiga, paling baik kalau kau serang aku pula dengan Thian-lui-kang, asal tidak mati saja akupun
terima.”
Ci In-hong sangat terharu, tentu saja tidak tega menyerangnya lagi dengan Thian-lui-kang, katanya:
“Nona Lau, engkau tidak malu disebut pendekar wanita sejati, aku benar2 kagum dan menghormat,
Cuma …… “
“Kau tidak perlu kuatir bagiku,” kata Khing-koh. “Aku sudah terluka, tentu dia takkan paksa aku
lagi. Apalagi menyelamatkan Li-kongcu adalah urusan maha penting, biarpun mengorbankan jiwa
juga aku rela. Aku sudah berbuat salah ijinkanlah aku menebus dosaku. Sekarang terpaksa si
Kemala juga mesti menderita sedikit.” Habis berkata ia terus totok Hiat-to si Kemala hingga tidak
bisa berkutik.
Tahu tekad sinona sudah bulat, Ci In-hong berkata: “Baiklah, harap nona Lau menjaga diri baik2
dan semoga usahamu berhasil. Aku mohon diri sekarang.
“Begitu aku mendapat sesuatu berita segera akan kusampaikan melalui ayah si Kemala,” kata
Khing-koh . “Harap kau berikan alamatmu saja.”
Segera In-hong memberitahukan nama anggota Kay-pang yang berada didalam istana Yang Thianlui
ini, dipesannya kalau ada berita boleh suruh ayah si Kemala meneruskan kepada anggota Kaypang
tsb. Habis itu ia lantas memberi hormat kepada Lau Khing-koh, dilihatnya airmata sinona berlinang2.
In-hong tidak berani menoleh lagi dan terus melangkah pergi.
Sekeluarnya dari rumah itu , In-hong mendengar kentongan tukang ronda sedang dipalu tiga kali
tepat lewat tengah malam.
Mengingat Kok ham-hi tentu sedang menungu kembalinya segera Ci In-hong bermaksud
meninggalkan taman itu. Tapi kembalai didengarnya suara orang yang seperti sudah dikenalnya.
Suara itu datang dari rumah2 disebelah timur dibalik pagar tembok taman sana. Waktu Ci In-hong
mendekati dan pasang kuping, didengarnya suara orang itu lagi berkata: “Han-goya, kartuku sudah
kusampaikan kepada Koksuya belum? Dihadapan Koksuya mohon engkau suka banyak2 memberi
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
suara dukungan.”
Ci In-hong terkejut mndengar suara orang itu. Kiranya pembicara itu adalah Loh Hiang-ting, itu
agen rahasia yang diketahui berada di Su-ke-ceng tempo hari, dia inilah yang memasukkan Cing
Cin kedalam perguruan Su-loenghiong.
Diam2 Ci In-hong mengakui kelicinan Loh Hiang-ting, dengan aman dia dapat menyusup kedalam
istana Yang Thian-lui tanpa diketahui orang2 Kay-pang.
“Han-goya” yang disebut iu juga salah seorang jago pengawal bangsa Han didalam istana koksu,
namanya Han Ciau, ahli Eng-jiau-kang, waktu Ci In-hong masih bekerja disini telah berhubungan
erat dengan dia.
Begitulah terdengar Han Ciau menjengek atas permintaan Loh Hiang-ting tadi, katanya: “Hm,
kenapa ter-buru2? Baru datang dua hari kau lantas ingin menghadap Koksuya?”
“soalnya ada urusan maha penting, maka mohon Han-goya suka membantu,” kata Loh Hiang-ting.
“Urusan penting apa? Apakah tidak dapat berita bukan kepada kami?” sahut Han Ciau dengan sikap
dingin. “Hm, kukira Koksuya tidak ada tempo buat terima kalian.”
Terdengar suara seorang muda ikut bicara: “Harap Han-goya menyampaikan kepada Koksuya
bahwa kami adalah murid Su Yong-wi, mungkin Koksuya mau terima kami.”
Baru diketahui Ci In-hong bahwa Ting Cin ternyata berada disini juga, sungguh kebetulan, pikirnya.
Perlu diketahui bahwa datangnya Loh Hiang-ting dan Ting Cin berdua ke taytoh ini adalah ingin
membongkar rahasia Liu Tong-thian, kini kebetulan kepergok Ci In-hong, sudah tentu takkan
dibiarkan begitu saja.
Terdengar Han Ciau lagi menjengek pula: “Hm, biarpun murid Su Yong-wi lantas mau apa? Tidak
sedikit tamu2 agung lain yang sedang menunggu giliran buat ketemu Koksuya, kalian tahu tidak?”
Tiba2 terdengar suara orang tertawa seorang jago pengawal bangsa Han yang lain, katanya: “Goko,
jangan kau goda lagi mereka, hampir2 saja mereka menyembah dan minta pertolonganmu.
Sekarang biar kukatakan terus terang, tadi To Liong juga dipanggil menghadap, kami sudah suruh
dia menyampaikan juga persoalan kalian kepada Koksuya.”
Juga pengawal ini bernama Jiau Pa, jiwanya rendah, suka menjilat, sudah lama Ci In-hong benci
padanya.
Agaknya Loh Hiang-ting menjadi girang, katanya: “Bukankah To-kongcu dipanggil Sihongcu
Dulai?”
“Beanr, tapi Koksuya kita tentunya juga hadir disitu,” kata Jiau Pa.
“Jiau Pa, kau bicara terlalu banyak,” omel Han Ciau.
“Ah, sama2 orang sendiri, kukira Goko tidak perlu kuatir,” ujar Jiau Pa dengan tertawa.
Meski kedua orang sama2 menjadi si-wi datau jago pengawal, tapi kedudukan Han Ciau lebih
tinggi setingkat, sebab itulah Jiau Pa harus mengindahkan Han Ciau, sebaliknya iapun ingin
mendapatkan keuntungan dari pihak Loh Hiang-ting, makanya dia berusaha menjilat kesana dan
kesini.
“Hm, kalau Loh-samya ini anggap kita sebagai orang sendiri, buat apa dia bersikeras harus
menghadap Koksuya.” ~ Jengek Han Ciau pula; “Sudahlah, kalau tidak mau bicara sudahlah, hm,
kini kau belum lagi menghadap Koksuya.” Nadanya jelas mengandung ancaman.
Loh Hiang-ting juga orang licin dengan sendirinya ia paham pada ucapan Han Ciau itu, diam2 ia
merasa kuatir dan serba susah. Tujuannya hendak menjual rahasianya kepada Yang Thian-lui agar
dirinya dapat diterima bekerja disitu, bila rahasianya tersiar lebih dulu akan berarti tidak berharga
lagi, bahwa orang lain mungkin yang akan menarik keuntungan dari rahasia yang akan diceritakan
sekarang. Tapi kalau tidak diceritakan, jelas Han Ciau telah mengancam, jangan2 dia akan
merintangi permohonannya untuk bertemu dengan Yang Thian-lui. Dalam keadaan kepepet,
terpaksa Loh Hiang-ting mengalah, Cuma iapun licin, ia pikir kalau kuberitahukan setengah2 saja
tentu takkan bermanfaat baginya.
Tapi sebelum Loh Hiang-ting bicara, tiba2 terdengar Han Ciau membentak: “Siapa itu?” ~
Berbareng itu seseorang mendadak menerobos kedalam.
Tak perlu diceritakan lagi orang itu terang Ci In-hong adanya. Dalam seragam jago pengawal, Loh
Hiang-ting mengira pendatang adalah teman Han Ciau sendiri, tak terduga Ci In-hong terus
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
melompat kedepannya terus menghantam.
Ilmu silat Loh Hiang-ting mestinya tidak lemah, tapi sama sekali dia tidak menyangka akan
diserang mendadak oleh seorang si-wi dari pihak sendiri. Keruan tanpa ampun dia kena dihantam
dengan tepat, “krek-krek”, kontan tulang iganya patah dua.
Kontan Loh Hiang-ting lantas roboh sembari menjerit: “Dia Ci In-hong, dia dan ……” nyata dari
pukulan Thian-lui-kang itu segera dikenalnya sipenyerang itu sebagai Ci In-hong. Akan tetapi
sebelum ucapannya lanjut, pukulan Ci In-hong yang kedua sudah menyusul tiba, tanpa berkutik lagi
jiwa Loh Hiang-ting lantas melayang.
Diam2 Ci In-hong bersyukur bahwa ucapan Loh Hiang-ting tidak sampai lanjut, terang orang she
Loh itu hendak berkata: “ Dia dan Liu Tong-thian adalah satu komplotan.”
Maka terdengarlah Jiau Pa membentak: “Berani benar kau, Ci In-hong !” ~ Berbareng itu goloknya
lantas membacok.
Sekali ayun tangannya. “creng”, Ci In-hong menjentik kesamping golok lawan, bentaknya: “Kalian
juga bangsa Han, mengapa terima mengekor kepada pihak yang lalim?”
“Lekas maju Goko!” seru Jiau Pa kepada Han Ciau.
“Ci In-hong,” segera Han Ciau membentak. “Mengingat sesama teman lama, lekas kau menyerah
saja daripada tunggu aku turun tangan!”
“Hm, kukira kau masih punya akal sehat, tak tahunya kaupun rela menjadi begundal mereka!”
teriak Ci In-hong dengan gusar.
Si-wi bangsa Han didalam istana Koksu itu pada umumnya rata2 memiliki kepandaian yang tinggi,
karena Thian-lui-kang yang dilancarkan Ci In-hong bersendirian hingga daya pukulnya kauh lebih
lemah daripada kalau bergabung dengan Kok Ham-hi dalam jurus pukulan “Lui-tian-kau-hong”.
Maka ketika pukulan kedua orang beradu, Han Ciau tergeliat mundur, namun segera ia menggesar
kesamping terus menubruk lagi, dengan tipu serangan “Yu-liong-tam-jiau” (naga meluncur
menjulur cakar), segera ia mencengkeram pundak Ci In-hong.
Ci In-hong kenal Eng-jiau-kang yang menjadi kemahiran Han Ciau itu memang cukup lihai, ia tidak
berani gegabah, cepat ia mendak kebawah terus menyikut. Namun Han Ciau cepat mengegos
kesamping meski cengkeramannya luput. Sementara itu golok Jiau Pa menyamber tiba pula, sambil
mengelak Ci In-hong balas menendang sehingga Jiau Pa dipaksa melompat mundur.
Dengan satu lawan dua Ci In-hong pikir pasti takkan kalah, tapi untuk menang sedikitnya juga
diperlukan 50 jurus lebih. Padahal tidak sedikit jago pengawal didalam istana itu, sebentar lagi pasti
akan datang bala bantuan musuh. Maka ia tidak berani terlibat lebih lama dalam pertarungan itu,
setelah berhasil mendesak mundur Jiau Pa, “blang”, segera ia mendobrak daun jendela hingga
hancur terus melompat keluar.
“Lari kemana!” bentak Jiau Pa sambikl mengejar keluar, goloknya lantas membacok pula.
Pada saat yang sama Ting Cin juga berlari keluar melalui pintu sembari ber-etriak2 minta bala
bantuan untuk menangkap penyatron.
Ci In-hong terkesiap, ia pikir betapapun keparat Ting Cin itu tidak boleh sampai lolos, sebab selain
Loh Hiang-ting, juga Ting Cin mengetahui rahasia rencana Liu Tong-thian itu, kalau Cuma Loh
Hiang-ting saja yang dibunuh, rahasianya tetap akan bocor melalui Ting Cin.
Dalam pada itu Jiau Pa sedang ber-kaok2 minta bantuan “Han-goko, lekas kemari!”
“Aku sudah datang!” sahut Han Ciau dan tahu2 ia sudah mengadang jalan lari Ci In-hong.
Sementara itu dari jauh terdengar suara seruan orang: “Siapa penyatronnya? Cegat dulu, biar
kebekuk dia!” ~ Nyata itulah suara To Liong yang baru kembali dan mendengar teriakan Ting Cin
tadi.
Dari suaranya itu agaknya To Liong masih berada ratusan meter jauhnya dan terhalang oleh dua
gunung2an palsu, orangnya belum nampak dan Cuma terdengar suara nya. Namun dengan
ginkangnya jarak sejauh itu tentu dapat dicapainya dalam sekejap.
Dengan atu lawan dua, kalau ditambah lagi To Liong, terang Ci In-hong sukar buat lolos. Saking
senangnya Jiau Pa bergelak tertawa. Sebaliknya Ci In-hong menjadi gemas, baru saja ia bermaksud
labrak lawannya yang jumawa itu, tiba2 suatu kejadian yang tak ter-duga2 telah timbul. Sekonyong2
Han Ciau mencengkeram ke kuduk Jiau Pa, “krak,” kontan tulang leher Jiau Pa dipuntir
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
patah.
Menyusul terdengar Han Ciau berkata dengan suara tertahan: “Persahabatan kekal abadi, menikmati
bahagia bersama. Nah, lekas lari!”
Ci In-hong terkejut, tercampur girang, baru sekarang ia tahu Han Ciau adalah seorang yang punya
hati nurani baik, mungkin sengaja menghamba dibawah Yang Thian-lui untuk maksud tujuan
tertentu. Tapi apa artinya kalimat2 yang diucapkannya tadi seketika tak dapat dipahami Ci In-hong,
dalam saat demikian juga tiada waktu buat direnungkan. Maka dengan suara pelahan Ci In-hong
hanya mengucap terima kasih, habis itu ia terus melompat pewat pagar tembok. Pada saat itulah
terdengar suara jeritan minta tolong Lau Khing-koh di rumah sebelah barat tadi.
Suara pertempuran di rumah sebelah timur sini sebenarnya sudah didengar oleh To Liong, tapi yang
lebih penting baginya sudah tentu menolong Lau Khing-koh, soalnya bukan karena dia benar2 cinta
pada Khing-koh, tapi karena intriknya yang belum terlaksana itu memerlukan tenaga nona itu.
Begitulah segera To Liong berlari ke sebelah barat, dia pikir di sebelah timur sana ada Han Ciau
dan Jiau Pa, sementara tentu tidak perlu bala bantuan. Karena itulah jurusan yang dia ambil menjadi
berlawanan dengan jurusan larinya Ting Cin.
Memangnya Ci In-hong lagi kuatir kepergok To Liong, kini melihat bayangan To Liong putar
haluan kejurusan lain, ia menjadi girang, segera dengan ginkang yang tinggi ia melintasi gunung2an
palsu taman itu untuk memburu Ting cin.
Ditengah malam gelap, ditambah hujan rintik2 pula, sama sekali Ting Cin tidak tahu yang memburu
dibelakangnya adalah Ci In-hong, sebaliknya ia menyangka bala bantuan yang datang, segera ia
berseru agar orang memburu ke timur.
Akan tetapi Ci In-hong lantas membentaknya dengan suara tertahan: “Keparat, coba lihat yang
jelas, siapa aku ini?”
Dan baru saja Ting Cin sempat menoleh, tahu2 Ci In-hong sudah menggunakan pukulan Thian-luikang,
kontan jiwa Ting Cin melayang ke akhirat.
Dalam pada itu didalam taman tertampak bayangan orang berseliweran disana sini, itulah kawanan
si-wi yang memburu tiba karena mendengar teriakan Ting Cin tadi.
Diam2 Ci In-hong mengeluh, cepat ia meraup segenggam tanah dan diusapkan di muka sendiri,
terpaksa untung2an, semoga tidak dikenali musuh.
Belum jauh ia menyusur ke depan, tiba2 kepergok seorang busu bangsa Kim, entah lantaran melihat
bentuknya mencurigakan atau sebab lain, busu itu terus memapak kearahnya sambil berseru:
“Persahabatan kekal abadi!”
Yang diucapkan busu itu adalah bahasa Nuchen, yaitu suku yang memerintahkan Kim, meski Inhong
paham, namun seketika tak dapat menagkap maksud ucapan itu.
Melihat Ci In-hong diam saja tanpa menjawab, busu itu lantas berteriak: “Disini mata2 musuh ……
“ belum lanjut ucapannya secepat kilat Ci In-hong sudah melolos pedang dan menusuknya, kontan
tubuh busu itu berlubang dan terjungkal.
Sejenak barulah Ci In-hong menyadari kata2 busu itu, rupanya kedua kalimat “persahabatan kekal
abadi, menikmati bahagia bersama” adalah kode pada malam ini yang sengaja diucapkan untuk
mengambil hati utusan Mongol. Dalam kegelapan cukup dengan mengucap kode saja tanpa
perlihatkan Kim-pay akan segera diketahui kawan atau lawan. Diam2 In-hong bersyukur Han Ciau
telah memberitahukan kode itu.
Maka dengan tabah sekarang Ci In-hong terus berlari ke depan, bila ketemu orang segera
mendahului berseru: “Persahabatan kekal abadi!” ~ Benar juga, pihak lawan selalu menajwab
dengan kalimat: “”Menikmati bahagia bersama.”
Dalam kegelapan dengan sendirinya tidak jelas terlihat, asal kode cocok tentu saja disangka kawan
sendiri, maka dengan mudah saja Ci In-hong dapat lolos keluar dari tempat bahaya itu.
Sementara itu dengan ter-gesa2 To Liong telah berlari memasuki rumah tempat tinggal Lau Khingkoh,
ketika melihat pakaian sinona berlepotan darah, sedang jago pengawal dan si Kemala
menggeletak dilantai, keruan kejut To Liong tak terperikan. Cepat ia bertanya: “Ada apa? Siapa
yang datang kesini?”
“O, matilah aku ! Sakit, sakit sekali, berikan obat luka padaku!” demikian Lau Khing-koh pura2
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
merintih.
To Liong merasa lega melihat jiwa Khing-koh tidak berbahaya, ia pura2 bersikap sangat
memperhatikan keadaan Khing-koh, ia tanya ini dan tanya itu lalu membubuhkan obat pada luka
sinona.
Habis itu barulah Khing-koh berkata: “Begitu datang orang itu lantas mencaci maki dan hendak
menculik diriku. Ilmu silanya sangat tinggi, ketika pengawal itu hendak menolong aku, baru saja
sekali gebrak sudah kena dihantam roboh. Akupun melawan mati2an sehinga tertusuk pedangnya.
Si Kemala me-narik2 kakinya, dia juga menjadi korban keganasannya.”
To Liong menjadi terperanjat, dari penuturan itu ia menduga pendatang pasti Ci In-hong. Sebagai
jago silat kenamaan, setelah memeriksa luka jago pengawal itu segera ia menarik kesimpulan
kematian pengawal itu adalah akibat Thian-lui-kang.
Waktu periksa si Kemala, berkata: “Budak ini tidak terluka apa2.”
“O, syukurlah,” ujar Khing-koh. “Setelah mati2an budak itu membela diriku, kukira dia telah
terbunuh pula. Lekas kau menyadarkan dia, sungguh harus dipuji kesetiaan budak ini kepada
majikannya.”
Dalam hati To Liong dapat memahami sebabnya seorang ksatria sebagai Ci In-hong tidak
membunuh budak cilik itu, tapi mengapa Khing-koh tidak digondol lari atau mestinya dibunuh juga.
Ia pikir mungkin suara kedatanganku telah didengar oleh Ci In-hong sehingga tidak sempat baginya
untuk bertindak lebih lanjut terhadap Khing-koh.
To Liong anggap rekaannya itu masuk diakal, maka sama sekali tidak mencurigai Khing-koh,
bahkan diam2 bergirang, disangkanya sinona sudah bertekad bulat akan ikut dengannya.
Begitulah To Liong lantas membuka hiat-to si Kemala yang tertotok dan tanya padanya siapa
penyerangnya tadi, dari gambaran si Kemala dia menjadi lebih yakin lagi yang datang itu memang
Ci In-hong adanya.
Selagi To Liong keluar hendak pergi mencari kabar lain, tiba2 Han Ciau berlari datang dan
memberitahukan: “Wah celaka Jiau Pa terbunuh oleh orang itu!”
“Ci In-hong juga muncul disana?” To Liong menegas dengan heran
Dasar Han Ciau cukup cerdik, segera ia menjawab: “Bukan Ci In-hong, tapi memang aneh, gaya
ilmu silatnya memang serupa Ci In-hong, juga dapat menggunakan Thian-lui-kang.”
“Ya, tahulah aku, Ci In-hong memang datang bersama sutenya Kok Ham-hi, oran yang kau pergoki
tentu Kok Ham-hi adanya,” kata To Liong.
“Diluar sedang geger tentang mata2 musuh, apakah kita perlu membantu mereka?” tanya Han Ciau.
Rasanya Ci In-hong berdua takkan berani masuk kesini lagi, boleh kau keluar memberitahukan
mereka, jangan sampai busu bangsa Nuchen masuk kemari,” kata To Liong.
“Aku paham,” sahut Han Ciau. “Jika orang Nuchen masuk kesini tentu rahasia kita akan diketahui
nona Lau.”
Begitulah setelah Han Ciau dan si Kemala pergi kembali To Liong merasa sangsi kalau2 Ci In-hong
mengatakan apa2 kepada Lau Khing-koh tentang tempat tinggalnya sekarang ini. Maka dengan
perasaan tidak tentram ia kembali kekamarnya Khing-koh, dilihatnya nona itu sedang membalut
luka, kening berkerut seperti menahan sakit.
“Darah sudah tidak keluar lagi, apa masih sakit?” tanya To Liong. “Sudahkah kau siapkan suratmu
itu?”
“Yang kau pikirkan hanya surat saja, coba lukaku begitu parah, apakah aku dapat menulis lagi?”
sahut Khing-koh dengan menyeringai.
To Liong menjadi gelisah, tapi tidak berani unjuk rasa kurang senangnya itu, terpaksa pura2 bicara
halus: “Khing-koh. Hampir2 kau korban jiwa, bagiku, masalah aku tidak sayang dan kasihan
padamu? Hanya saja surat ini menyangkut kepentingan kita bersama, maka aku berharap suratmu
dapat lekas2 dikirim kepada kakakmu. Apakah kau takdapat menulis sama sekali dengan tanganmu
yang terluka itu? Kalau pakai tangan kiri dapat tidak?”
“Kau tentu tahu aku ini gadis desa yang tidak banyak bersekolah, tulis dengan tangan kanan saja
tidak keruan, apalagi pakai tangan kiri, tentu tulisanku lebih2 takkan dikenal kakak, jangan2 akan
membikin urusan kita tambah runyam,” demikian Khing-koh memberi alasan.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Memang masuk diakal juga pikir To Liong, terpaksa ia menyatakan akan memanggilkan tabib buat
mengobati luka Khing-koh agar lekas sembuh. Sebaliknya bagi Khing-koh hal ini mungkin sekakli
akan membongkar rahasia pura2nya. Maka cepat ia berkata pula: “Begini saja. Kau yang
mewakilkan aku menulis sirat.”
“Cara bagaimana aku dapat meniru gaya tulisanmu?” ujar To Liong.
“Kenapa kau bilang begitu?” ujar Khing-koh. “Gaya tulisan dapat ditiru, tapi nada dan inti daripada
pikiran pengirim surat masakah dapat ditiru? Dalam suratku nanti boleh kau tuliskan beberapa
kalimat dan kata2 yang hanya diketahui olehku dan kakak, bila membaca isi suratku, masakah
kakak takkan percaya?”
“Ya, masuk diakal juga,” kata To Liong. Lalu ia menyiapkan kertas surat dan alat tulis, kemudian ia
menulis surat menurut apa yang didiktekan oleh Khing-koh.
Diam2 Khing-koh berpikir bila suratnya diterima sang kakak tentu akan segera diketahui surat ini
palsu adanya sebab isi surat itu banyak yang tidak cocok dengan adat kebiasaan mereka kakak dan
adik. Akan tetapi To Liong sama sekali tidak curiga, sebaliknya ia merasa senang sebab mengira
Khing-koh benar2 jatuh hati bahis2an padanya. Maka setelah menulis surat itu dengan ber-seri2 ia
lantas membawa surat itu kepada Yang Thian-lui.
Sementara itu suasana ribut2 diluar sana sudah mulai mereda, namun perasaan Khing-koh masih
belum tenang kembali. Ia sudah ambil keputusan akan berbuat sesuatu bagi pihak pasukan
pergerakan meskipun untuk itu harus korbankan jiwa sendiri. Apalagi iapun merasa malu untuk
bertemu dengan ayah dan kakaknya, ada lebih baik mati berbakti daripada hidup menanggung malu.
Diam2 iapun menyesali dirinya sendiri, mestinya dirinya akan mempunyai suatu perjodohan yang
bahagia, tapi kini telah hancur segalanya. Semoga saja Ci In-hong dapat meloloskan diri dengan
selamat, demikian dia berdoa.
Saat itu dengan selamat Ci In-hong memang sudah lolos keluar istana Koksu. Kalau Lau Khing-koh
terkenang padanya, maka Ci In-hong juga teringat kepada Khing-koh. Sudah tentu pikiran kedua
orang ber-beda2, Ci In-hong merasa sayang bagi sinona tapi tidak punya perasaan menyesal dan
kecewa atas diri nona itu.
Sesudah keluar dari istana Yang Thian-lui itu, sementara sang dewi malam sudah condong kebarat.
Ia pikir Kok-sute tentu sudah lama menunggu dengan gelisah, kini sudah jauh lewat tengah malam,
entah dia masih menunggu dirumah makan itu atau tidak?
“Marilah sekarang kita bercerita tentang Kok Ham-hi. Dia minum sendirian dirumah makan itu
menunggu kembalinya Ci In-hong, tanpa terasa sudah tengah malam, dirumah makan itu tertinggal
beberapa orang tamu saja, namun Ci In-hong masih belum nampak datang, diam2 Kok Ham-hi
merasa cemas, jangan2 terjadi apa2 atas diri sang suheng.
Pada umumnya rumah makan dikotaraja itu sama tutup pintu bila hari sudah gelap. Tapi rumah
makan ini lain daripada yang lain, selalu terbuka sampai jauh lewat tengah malam. Maklumlah,
rumah makan ini khusus melayani tamu penjudi, sebab disekitar situ terdapat beberapa rumah
penjudian yang cukup ramai.
Selagi Kok Ham-hi merasa terlalu iseng, tiba2 dilihatnya dua orang laki2 bertopi memasuki rumah
makan itu. Topi kedua orang itu sengaja dipakai miring, lagaknya mirip bajingan tengik.
Karena hujan,mestinya pengurus rumah makan itu hendak menutup pintu bila beberapa orang
tamunya sebentar lagi pergi. Kini melihat datangnya kedua orang itu, dengan iringan senyum ia
mendekati dan menyapa: “Tuan tamu mau minum apa? Besok kalian datang harap jangan terlalu
malam.”
Mendadak kedua orang itu membanting topi mereka diatas meja dan menjawab dengan suara keras:
“Kurang ajar! Memangnya kau takut kami tidak bayar ? Kami justru ingin minum sampai pagi,
kalau kau mau mengaso boleh suruh binimu melayani kami.”
Melihat kekurangajaran kedua bajingan itu diam2 Kok Ham-hi merasa gusar. Coba kalau tiada
urusan tentu kedua orang itu dihajarnya. Cuma dengan keonaran yang dibikin kedua bajingan itu
menjadi ada baik baginya, sebab dengan demikian rumah makan itu akan terpaksa dibuka terus, hal
ini berarti iapun dapat duduk lebih lama disitu untuk menunggu Ci In-hong.
Rupanya pengurus rumah makan itu rada jeri terhadap kedua orang itu, dengan tertawa terpaksa ia
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
minta maaf dan membawakan minuman yang diminta tetamunya.
Dengan lagak tuan besar kedua bajingan itu lantas makan minum, ketika mereka melihat Kok Hamhi,
tiba2 kedua orang ber-bisik2 sejenak, lalu salah seorang berbangkit dan mendekati Kok Ham-hi.
Kok Ham-hi melototi orang itu sekejap, ia masih tetap minum sendiri tanpa peduli, hanya diam2 ia
waspada terhadap tingkah laku orang.
Dengan cengar cengir bajingan itu lantas menegur: “He, lauhia (saudara), apakah kau kalah judi,
tampaknya mukamu bersungut sejak tadi.”
“Kalah atau menang peduli apa dengan kau?” sahut Kok Ham-hi dengan ketus.
“Haha, bukan begitu soalnya,” kata orang itu dengan tertawa. “Begini, Lauhia, jika sekiranya kau
kalah main, aku ada cara yang dapat membantu kau menarik ekmbali kekalahanmu. Marilah kau
ikut kami, ada suatu tempat judi yang etrbuka sepanjang malam, boleh kau ikut kami kesana.” ~
Sembari bicara, seperti dengan kenalan lama saja sebelah tangannya lantas memegang pundak Kok
Ham-hi.
Semula Kok Ham-hi mengira kedua bajingan itu adalah kaum calo rumah perjudian, tapi ketika
tangan orang itu menyentuh pundaknya segera ia merasa terkesiap. Sebab tempat yang dipegang
orang itu ternyata tepat bagian tulang pundak, yaitu bagian yang lemah.
Kok Ham-hi menyangka orang sengaja hendak menjajalnya, maka tanpa pikir segera ia
mengerahkan tenaga dalam. Karena tergetar, kontan bajingan itu tergeliat ke samping dengan
sempoyongan, untung ia keburu memegangi sebuah meja sehingga tidak terjatuh.
Keruan orang itu menjadi marah dan mendamprat: “Setan, aku bermaksud baik, mengapa kau main
kasar, apa kau mencari mampus?” ~ Dia berjingkrak dan acungkan kepalan, tapi tidak berani maju,
sedangkan kawannya tadi sudah mengeluyur pergi.
“kau jatuh terpeleset sendiri, sangkut-paut apa dengan aku?” sahut Ham-hi. Dalam hati iapun sudah
tahu bahwa bajingan tengik itu pernah berlatih silat dan bukan bajingan biasa, hal ini terbukti dia
tidak terbanting jatuh tadi, jangan2 bajingan ini adalah kaki tangan pemerintah setempat dan
kawannya yang mengeluyur pergi itu sedang memanggil bala bantuan.
Ternyata orang itu masih mencaci maki terus, ketika Kok Ham-hi mendelik padanya, ia mundur2
dua tiga tindak seperti ketakutan, tapi masih mengoceh tak keruan tanpa lari. Melihat gelagatnya dia
sengaja hendak mengulur waktu untuk menunggu sesuatu.
Kok Ham-hi juga tidak ambil pusing lagi, ia tetap makan minum sendiri.
Benar juga, tidak lama kemudian tertampak bajingan yang mengeluyur pergi tadi muncul kembali
dengan dua orang lain. Begitu masuk rumah makan itu lantas tunjuk Kok Ham-hi dan berkata:
“Bocah itulah dia!”
Hanya tambah dua orang lawan sudah tentu tidak digubris oleh Kok Ham-hi, tapi ketika ia
berpaling dan melihat jelas siapa kedua orang , yang baru datang itu , ia menjadi terkejut. Kiranya
kedua orang itu adalah Toan Tiam-jong dan Ci Jing-san, dua dari Tin-lam-jit-hou yang menjadi
musuh Kok Ham-hi.
Dahulu Kok Ham-hi membantu ayah Giam Wan, yaitu Giam Seng-to, yang waktu itu dikerubut
oleh Tin-lam-jit-hou. Akhirnya Tin-lam-jit-hou dikocar kacirkan, tapi Giam Seng-to terkena sebuah
senjata rahasia Toan Tiam-jong, sebaliknya Toan Tiam-jong juga terluka oleh pedang Kok Ham-hi.
Setengah tahun kemudian Ci Jing-san menghasut tunangan Giam Wan, yaitu Thio Goan-kiat
beserta saudara seperguruannya dari Bu-tong-apy untuk mencari perkara kepada Kok Ham-hi
sehingga terjadi peristiwa tergores rusaknya muka Kok Ham-hi sebagaimana dikisahkan
dipermulaan cerita ini. Kalau diusut, sumber keonaran daripada apa yang terjadi itu adalah karena
perbutan Toan Tiam-jong dan Ci Jing-san ini.
Kini meski Kok Ham-hi dalam keadaan menyamar, tapi codet bekas luka di mukanya tak dapat
ditutup2i, maka begitu melihat lantas dikenali oleh Toan Tiam-jong dan Ci Jing-san. Dengan
tertawa Toan Tiam-jong lantas berkata: “Bedebah, akhirnya kau masuk perangkap sendiri kesini.
Disini buakn Siau-kim-jwan, jangan harap kau dapat lolos lagi!”
Kiranya Toan Tiam-jong dan Ci Jing-san baru2 saja menggabungkan diri kepada Yang Thian-lui
dan diterima sebagai jago pengawal bangsa han secara rahasia.
Sekali ini berhubung Dulai tinggal didalam istananya, pula Li Su-lam dan Nyo Wan juga dikurung
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
disitu, maka Yang Thian-lui telah menambah penjagaan lebih ketat, selain pengawal tetap seperti
biasa, setiap malam ditugaskan pula kaki tangannya yang masih belum dikenal oleh kalangan umum
untuk meronda dan sebagian disebarkan pula kesegenap pelosok kota, dan diantaranya termasuk
Toan Tiam-jong dan Ci Jing-san bersama dua “bajingan” tadi.
Musuh lama kepergok lagi, sudah tentu mata kedua pihak sama2 merah. “Bagus, memang akupun
ingin cari kalian buat bikin perhitungan!” bentak Kok Ham-hi, “blang” kontan ia tendang meja
didepannya kearah Toan Tiam-jong. Menyusul kepalan bekerja, ia hantam hancur daun jendela
terus melompat keluar.
Dengan sekali hantam Toan Tiam-jong juga bikin hancur meja yang menerjang kearahnya itu,
sedang Ci Jing-san segera melolos senjata dan membentak: “Bocah she Kok mau lari kemana?”
“Marilah kita bertempur diluar sini!” seru Kok Ham-hi.
“Memangnya kau mampu lari lagi? Berhantam dimanapun boleh saja!” seru Toan Tiam-jong
dengan tertawa. Segera mereka berdua mengejar keluar.
Ci Jing-san menggunakan golok dan Toan Tiam-jong memakai pedang, selain itu merekapun main
pukulan dengan tangan kiri masing2, segera mereka mengerubuti Kok Ham-hi tanpa kenal ampun.
Namun Kok Ham-hi juga sudah siap, ia keluarkan segenap tenaga Thian-lui-kang untuk menghajar
kedua orang itu.
Kekuatan Toan Tiam-jong dan Ci Jing-san berdua ternyata cukup kuat. Sebagai kepala dari Tinlam-
jit-hou, ilmu pedang Toan Tiam-jong memang lain daripada yang lain, iapun mahir
menggunakan senjata rahasia. Bicara kepandaian sejati memang dia belum dapat menandingi Kok
Ham-hi, tapi selisihnya juga tidak jauh. Sedangkan Ci jing-san memiliki lwekang yang kuat, bahkan
lebih kuat daripada sang suheng, maka gabungan mereka berdua cukup tangguh untuk menghadapi
Kok Ham-hi, apalagi Kok Ham-hi harus was2 pula kalau2 pihak lawan kedatangan pula bantuan.
Dalam pertarungan sengit itu, tiba2 tertampak sesosok bayangan melayang tiba dengan sangat
cepat, Kok Ham-hi terkesiap dan mengeluh, sebab mengira bala bantuan pihak lawan telah datang.
Terdengarlah seruan orang itu: “Kok Sute, kau tidak apa2 bukan?”
Itulah suaranya Ci In-hong yang baru kembali. Keruan Kok Ham-hi menjadi girang, segera ia
menjawab: “Aku tidak apa2. Bereskan dulu kedua bangsat ini. Ci-suheng, Lui-tian-kau-hong!”
Serentak kedua orang menghantam berbareng, jurus “Lui-tian-kau-hong” memangnya adalah jurus
paling lihai dari Thian-lui-kang, ditambah lagi mereka berdua telah mendapat petunjuk dari Beng
Siau-kang dan Hoa Thian-hong, keruan daya serangan mereka sekarang berlipat dahsyatnya.
Betapapun tinggi tenaga dalam Toan Tiam-jong berdua juga tidak sanggup bertahan. Maka
terdengarlah suara “krak-krek”, tulang iga Ci Jing-san patah dua-tiga batang dan terpental mencelat
beberapa meter jauhnya. Sedangkan tenaga dalam Toan Tiam-jong lebih lemah dari sutenya, ia
jatuh terjungkal dan mati seketika.
Sudah tentu kedua bajingan tadi menjadi ketakutan, mereka berlari sipat kuping sambil berteriak
teriak minta tolong. Dari jauh Ci In-hong menghantam, tenaga pukulannya masih keburu mencapai
sasarannya, walaupun tidak binasa , tapi juga membikin kedua orang itu jatuh semaput. Namun
begitu dua kelompok anak buah Yang Thian-lui sudah mendengar suara geger2 itu dan memburu
tiba.
Ci Jing-san sangat kepala batu, meski terluka parah, ia masih berusaha melarikan diri. Tapi baru
saja berlari beberapa tindak ia sudah disusul oleh Kok Ham-hi. Karena gemas terhadap Ci jing-san
yang telah banyak membikin susuh padanya, tanpa ampun lagi Kok Ham-hi menusuk dengan
pedangnya dan binasalah Ci Jing-san.
Segera Ci In-hong melompat keatas rumah penduduk disitu,ia ambil satu tumpukan genting terus
disambitkan kebawah, pecahan genting yang bertaburan itu membikin kepala dan muka rombongan
anak buah Yang Thian-lui itu babak belur dan tidak berani mengejar lebih jauh. Tidak lama
kemudian Ci In-hong dan Kok Ham-hi sudah meninggalkan tempat itu dengan ginkang mereka
yang tinggi sehingga wajah merekapun tidak terlihat oleh kawanan pengejar tadi.
Ketika mereka pulang kemarkas cabang Kay-pang, sementara itu fajar sudah hampir menyingsing.
Mereka tidak ingin membikin kaget orang, maka diam2 mereka melintasi taman belakang untuk
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kembali kekamar mereka. Tak terduga baru saja mereka melompat masuk taman, mendadak mereka
dipegang oleh seseorang.
Jilid 16 bagian kedua
Keruan mereka terkejut, baru saja mau meronta dan melawan, tiba2 terdengar orang itu berkata
dengan tertawa: “Mengapa sekarang kalian baru pulang? Kemana kalian pergi? Lekas mengaku
terus terang!” ~ Kiranya orang ini adalah Liu Tong-thian.
“Hahaha, kau membikin kaget kami,” ujar Ci In-hong dengan tertawa.
“Sudah lebih dua jam kutunggu kalian disini, ada tiga orang tamu ingin bertemu dengan kalian,”
kata Liu Tong-thian.
“Tiga orang tamu? Siapakah mereka dan ada urusan apa?” tanya In-hong heran.
“Ya, tiga orang tamu, tamu yang tidak ter-duga2 olehmu,” sahut Liu Tong-thian. Kalau sudah
bertemu nanti tentu kau akan tahu sendiri siapa mereka dan urusannya.”
“Ah, kau memang suka jual mahal,” omel In-hong dengan tertawa.
Lalu mereka ikut Liu Tong-thian keruangan tengah. Sebelum masuk sudah terdengar suara ketua
Kay-pang Liok Kun-lun sedang berkata: “Nona Beng jangan kuatir, aku sudah mengirim orang
pergi mencari mereka, sebentar lagi tentu ada kabar.”
Melengak juga Ci In-hong mendengar kata2 “nona Beng” apakah Beng Bing-sia yang dimaksud?
Demikian pikirnya.
Benar juga lantas terdengar suara Bing-sia sedang berkata: “Bukannya aku kuatir, namun tempat
tujuan mereka adalah istana Yang thian-lui yang berbahaya itu, harap ayah …… “
Tunggu saja sampai pagi nanti, bila tetap diada kabar, tentu Beng-tayhiap diharap bantuannya ikut
keluar mencari mereka,” kata Liok kun-lun.
Maka dari luar Liu Toong-thian menanggapi: “Tidak perlu Beng-tayhiap turun tangan, aku saja
sudah sanggup membawa mereka pulang kesini!” ~ Lalu ia menoleh dan berkata kepada In-hong
berdua: “Nah, aku tidak dusta bukan? Mereka kan tamu2 yang tidak kau duga bukan?”
Kiranya ketiga orang tamu yang dimaksud Liu Tong-thian itu selain Beng Siau-kang dan putrinya,
orang ketiga adalah Giam Wan. Sudah tentu Ci in-hong dan Kok Ham-hi tidak menduga bahwa
kedua nona itu akan datang bersama Beng Siau-kang. Keruan pertemuan ini membikin mereka
sama kegirangan.
Dengan tertawa kemudian Ci In-hong berkata: “Dugaanmu memang tidak salah. Bing-sia, aku
memang baru saja kembali dari tempat Yang Thian-lui.
Beng Siau-kang meng-geleng2 kepala, katanya: “Kaupun terlalu gegabah, In-hong. Kabarnya
Koksu Mongol Liong-siang Hoat-ong juga berada disana. Orang ini terkenal sebagai jago nomor
satu di Mongol, kepandaiannya bahkan diatas Yang Thian-lui, jangan sampai kau kepergok
olehnya.”
“Untung tidak,” sahut Ci In-hong. “Kalau sampai kepergok, apakah aku dapat pulang lagi?”
“Apakah kau menemukan sesuatu tanda akan jejak Li-bengcu? Tanya Liok Kun-lun.
“Belum,” sahut Ci In-hong. “Cuma ditempat Yang Thian-lui itu aku menemukan satu orang yang
sama sekali tak pernah kubayangkan.”
“Siapa dia?” tanya Liok kun-lun.
“To Liong!” jawab Ci In-hong.
Liok Kun-lun menghela napas gegetun, katanya: “Sungguh tidak nyana ksatria dan pahlawan
bangsa sebagai To Pek-seng melahirkan putra yang khianat begitu. Namun To Liong sudah rela
terjerumus semakin dalam, maka tidak perlu heran kalau sekarang dia lari ketempat yangthian-lui
dan mengaku musuh sebagai bapak.”
“Masih ada lagi seorang yang berada bersama To Liong, inilah yang lebih2 harus disesalkan,” kata
Ci In-hong.
“Manusia berkumpul menurut sukunya, binatang berkumpul menurut jenisnya,” kata Liok kun-lun.
“Temannya To Liong tentunya adalah sebegundal dengan dia, buat apa disesalkan?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Bukan begitu maksudku,” kata Ci In-hong. “Orang ini justru tertipu oleh To Liong. Dia adalah
anak perempuan Lau Han-ciang, adik Lau Tay-wi yang bernama Khing-koh.
“Anak perempuan Lau-loenghiong kena ditipu To Liong kesana? Mengapa bisa terjadi begitu?”
tanya Liok Kun-lun terkejut.
Lalu Ci In-hong menceritakan secara ringkas pertemuannya dengan Lau Khing-koh, hanya bagian
yang menyangkut perjodohannya tidak dikatakan. Namun hal itupun sudah cukup membuat semua
orang tercengang dan gegetun.
“Nona Lau itu masih terlalu muda hingga gampang tertipu, tapi jiwanya yang keras dan tegas itu
harus dipuji. Kita tidak boleh membiarkan dia tewas disarang iblis itu,” kata Beng Siau-kang.
“Ya, segera aku akan mengirim orang memberitahukan kakaknya di Pak-bong-san,” kata Liok Kunlun.
“Biar kita bertindak dua jurusan,” ujar Beng Siau-kang. “Besok boleh silahkan Liu-hiantit
memenuhi janji pertemuan dengan Yang Thian-lui.”
“Ya, besok adalah satu hari sebelum janji pertemuanku dengan Yang Thian-lui, akau akan pergi
kesana, Cuma kita masih harus berunding lagi secara lebih masak,” kata Liu Tong-thian.
Setelah berunding, akhirnya diambil keputusan untuk tetap melaksanakan rencana semula, yakni Ci
In-hong dan Kok ham-hi menyamar sebagai pengikut Cui Tin-san. Diwaktu lohor mereka akan
bersama berangkat untuk menemui Yang Thian-lui. Sedangkan Beng Siau-kang dan Han Tay-wi
akan menyelundup ketempat musuh pada paginya dengan bantuan pihak Kay-pang, dengan begitu
mereka dapat bertindak menurut keadaan. Sudah tentu mereka harus berani menyerempet bahaya,
tapi mengingat kesaktian Beng Siau-kang berdua, biarpun terjadi apa2 rasanya mereka masih
sanggup menghadapi.
Tidak lama kemudian fajarpun tiba. Segera mereka melaksanakan tugas masing2 menurut rencana.
Sekarang kita kembali kepada Lau Khing-koh dan To Liong. Seperginya Ci In-hong dan
membereskan surat yang ditulis To Liong, pada waktu To Liong mengantar surat itu keluar, pikiran
Lau Khing-koh lantas bergolak, dan baru saja ia ambil keputusan tetap tentang apa yang akan
dilakukannya nanti, sementara itu tampak To Liong telah datang kembali dengan membawa satu
poci arak.
“apakah kedua pengacau itu sudah tertangkap?” tanya Lau Khing-koh.
“Tidak, mereka keburu lolos, tapi tentu mereka sudah kapok dan tidak berani datang lagi,” kata To
Liong.
“Tadi kudengar suara tindakan orang banyak diluar, agaknya tidak sedikit kawanmu,” kata Lau
Khing-koh.
Diam2 To Liong bersyukur kawanan busu Nuchen tidak dilihat oleh sinona, maka jawabnya: “Ya,
kemarin baru saja datang beberapa orang teman sehaluan, merekapun bermaksud menggabungkan
diri dengan pasukan pergerakan, makanya tadi aku mendesak kau menulis surat.”
Dalam hati Lau Khing-koh memaki kepalsuan To Liong, namun ia tetap bersikap tenang, tanyanya:
“Apa surat tadi sudah dikirim?”
“Ya, baru saja suruh orang berangkat mengantar,” sahut To Liong. “Maka sekarang aku sengaja
kembali kesini untuk minum arak bersama kau.”
“Engkoh Liong, banyak terima kasih atas perhatianmu kepadaku,” kata Lau Khing-koh dengan
tersenyum manis. Lalu ia menuang penuh satu cawan arak dan berkata pula: “Sekarang biarlah aku
menyuguh dulu tiga cawan padamu.”
“Mestinya aku yang menyuguh kau lebih dulu sebagai tanda cintaku padamu,” kata To Liong. “Tapi
sebentar lagi kita sudah menjadi suami istri, rasanya tidak perlu saling sungkan. Baiklah, akan
kuminum suguhanmu.”
Rupanya To Liong sengaja hendak mencekoki Lau Khing-koh agar mabuk, lalu akan diperkosanya.
Dalam keadaan “beras sudah jadi nasi” tentu Lau Khing-koh tidak berdaya lagi dan terpaksa
menurut segala kehendaknya.
Arak yang dibawanya itu memang arak simpanan, rasanya manis, tapi sangat keras kadar
alkoholnya. Hanya saja To Liong tidak menaruh obat tidur didalamnya, sebab ia menyangka Lau
Khing-koh pasti tidak tahan minum tiga cawan, maka tidak perlu obat tidur lagi.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
To Liong tidak tahu bahwa kekuatan minum arak Lau Khing-koh sangat kuat, ayahnya terkenal
sebagai jago minum arak, maka dirumah seringkali Lau Khing-koh ikut minum dan hal ini sudah
bukan sesuatu yang luar biasa baginya.
Begitulah maka Lau Khing-koh pura2 tidak sanggup minum, ia sengaja main roman dengan To
Liong secara mesra, ditengah bujuk rayu itu tanpa terasa To Liong sudah dicekoki beberapa cawan
pula. Lau Khing-koh merasa lega karena yakin didalam arak itu tidak dicampur sesuatu, maka iapun
mengiringi minum tiga cawan suguhan To Liong, sebaliknya To Liong sudah dicekoki 12 cawan.
Melihat wajah Lau Khing-koh mulai merah, mata sayu, jelas sudah terpengaruh oleh minuman
keras itu. To Liong pikir sudah tiba waktunya, maka ia mulai bertindak, katanya: “Khing-koh, kau
mengaso saja.” ~ Lalu ia mendekati sinona hendak memajangnya keatas tempat tidur.
Lau Khing-koh pura2 mendelik dan mengoceh mirip orang mabuk: “Tidak ….. tidak, aku tidak
apa2, aku ingin berlomba minum dengan kau. Hayo, kenapa kau tidak minum lagi. Ah, aku tahu
sebabnya kau tidak berani minum lagi, kau kuatir mabuk dan membocorkan isi hatimu. Ada suatu
urusan kau tidak beritahukan padaku. Hal ini kedengar dari orang sehe Ci itu.”
Keruan To Liong terkejut, namun iapun bersyukur bahwa dalam keadaan mabuk sinona telah
membongkar rahasianya sendiri, segera ia bertanya: “Urusan apa? Bagaimana orang she Ci itu
berkata padamu?”
“ah, takkan kukatakan,” sahut Lau Khing-koh dengan mendongak dan menghembuskan naps yang
berbau arak. “Kau anggap aku sudah mabuk, kau harus didenda minum lagi tiga cawan, kalau tidak
takkan kuceritakan.”
Sebenarnya To Liong sendiri sudah setengah abuk, tapi demi untuk mengetahui rahasia sinona,
segera ia menjawab: “Baik, baik,aku akanminum tiga cawan lagi.”
Setelah itu Lau Khing-koh lantas menuangkan satu cawan lagi untuk dirinya sendiri dan berkata
pula: “Sekarang kau harus mengiringi pula tiga cawan dengan aku!”
“Kau jangan minum lagi, lekas bicara saja,” ujar To Liong.
“Tidak, kau larang aku minum, maka kau harus dihukum pula tiga cawan, jadi total kau mesti
minum enam cawan lagi, habis itu baru akan kuceritakan,” kata sinona.
Kuatir sinona melantur, terpaksa To Liong minum pula enam cawan sekaligus, dengan demikian To
Liong sendiri sudah mabuk sembilan bagian. Sambil menyengir lalu ia berkata: “Nona manis,
sekarang ceritakanlah padaku!”
Tiba2 Lau Khing-koh menatapnya dengan tajam, lalu bertanya: “Orang macam apakah Li Su-lam
itu?”
Dalam keadaan sinting To Liong terkejut juga oleh pertanyaan itu, segera ia menjawab: “Untuk apa
kau tanya dia?”
“Dia dikurung disini bukan?” tanya Lau Khing-koh pula.
“Siapa ….. siapa yang bilang padamu?” sahut To Liong dengan gugup. Dari nada dan sikapnya
yakinlah Lau Khing-koh bahwa apa yang dikatakan Ci In-hong itu memang tidak dusta.
“Orang she Ci itu yang bilang,” kata Lau Khing-koh kemudian.
“Dia …. Dia memberitahukan siapa adanya Li Su-lam?” To Liong menegas.
“Jika dia sudah memberitahu, buat apa kutanya pula padamu,” sahut Lau Khing-koh. “Begitu
datang orang she Ci itu lantas bilang mau cari Li Su-lam, aku menjawab tidak tahu, karena itulah
alu dilukai oelhnya.”
Hati To Liong rada lega. Ia pikir kiranya kedatangan Ci In-hong adalah untuk mencari Li Su-lam,
jadi hanya secara kebetulan saja Lau Khing-koh kepergok disini. Untung Lau Khing-koh belum
mengetahui siapa Li Su-lam yang sebenarnya.
Begitulah ia lantas bergelak tertawa dan berkata: “Hahaha, sekarang bocah she Ci itu benar2
kelihatan belangnya!”
“Kelihatan belangnya apa maksudmu?” tanya Lau Khing-koh.
“Dahulu aku mendengar dia telah bersekongkol dengan pihak Kim, sekarang dia mencari Li Su-lam
kesini, hal ini membuktikan kbar itu memang tidak salah,” kata To Liong.
“Jadi Li Su-lam adalah ….. “
“Dia menjadi jago pengawal istana Kim,” kata To Liong. Dasar pembohong yang ahli biarpun
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dalam keadaan mabuk ia tetap pandai berdusta.
“O, kalau begitu Li Su-lam benar2 telah kalian tawan disini?” tanya Khing-koh pula.
“Ya, dia berusaha mencari rahasia kami, kemarin dulu ia berani menyusup kesini da telah ditangkap
oleh kawanku,” sahut To Liong.
“Dia dikurung dimana, dapatkah kau membawa aku melihatnya? Ah, agaknya kau tidak sungguh2
sayang padaku!” Khing-koh sengaja berlagak sebagaimana perempuan yang aleman dalam keadaan
mabuk.
“Baiklah, besok akan kubawa kau kesana. O, manis jangan ribut lagi, tidurlah sekarang!” bujuk To
Liong. Dalam hati ia sudah berpikir pada besoknya akan memperlihatkan seorang Li Su-lam palsu,
malahan sesudah sadar besok pagi mungkin sinona sudah melupakan apa yang dimintanya sekarang
ini.
Khing-koh pura2 menguap dan berlagak tak tahan lagi, katanya: “Baik, baik, pergilah kau, pergi!
Aku mau tidur!”
Dengan cengar cengir To Liong malah mendeka dan berkata: “Biar aku menunggu kau tidur.” Dan
belum lagi ia memegang sinona, mendadak iganya terasa kesemutan,nyata ia punya hiat-to teleh
ditotok Khing-koh.
Kalau melulu kepandaian Khing-koh saja sebenarnya bukan tandingan To Liong, bila pemuda itu
tidak dalam keadaan mabuk pasti serangan Khing-koh itu takkan berhasil.
Pada saat Khing-koh menotok To Liong itulah, tiba2 diluar jendela seperti ada orng bersuara keheran2an.
Keruan Khing-koh terkejut, cepat ia melolos golok dan membentak: “Siapa itu?” ~ Segera iapun
berlari keluar, namun yang tertampak hanya bulan sabit menghias tengah cakrawala dan tidak
kelihatan bayangan seorangpun.
Khing-koh menjadi ragu2 apakah pendengar sendiri tadi keliru? Segera ia masuk kembali kedalam
kamar.
Sementara itu To Liong yang tertotok hiat-to bagian lemas menjadi takbisa berkutik, dengan suara
rada gemetar ia berkata: “Khing-koh, kau berkelakar apa?”
Akan tetapi dengan mata melotot Khing-koh mengancam dada To Liong dengan ujung golok,
sahutnya dengan ketus: “Siapa berkelakar dengan kau? Hayo bawa aku pergi menemui Li Su-lam!”
Sungguh kejut To Liong tidak kepalang, rasa mabuknya seketika hilang beberapa bagian, katanya
dengan suara tergagap: “Kau ….. Kau …. “
“Pentanglah matamu yang lebar, kenali siapa aku ini!” sahut Khing-koh. “Jangan kau sangka aku
adalah perempuan desa yang mudah ditipu olehmu? Aku adalah putri keluarga Lau yang tegas
melawan Kim, kakakku Lau Tay-wi adalah pemimpin pasukan pergerakan yang etrkenal!”
“Jadi, jadi kau sudah ….. sudah tahu semuanya?” kata To Liong dengan gemetar.
“Benar, aku sudah tahu semua! Tempat ini adalah istana Koksu, apa kau hendak tipu aku? Hm,
hayo lekas jalan!” bentak Khing-koh.
“Khing-koh, harap ingat hubungan baik kita yang lalu,” pinta To Liong.
“Hm, kalau tidak ingat kebaikan yang lalu tentu jiwamu sudah kubereskan,” sahut Khing-koh.
“Sekarang kalau ingin selamat, kau harus tunduk kepada perintahku dan jangan banyak omong.”
“Tapi diluar sana banyak penjaga lain, kalau kubawa kau pergi mencari Li Su-lam tentu mengalami
berbagai pertanyaan, mungkin baru keluar sini saja kita sudah akan dihalangi,” ujar To Liong.
“Bukankah kau adalah tamu terhormat ditempat Koksu ini? Biasanya kaupun sok pintar, kenapa
sekarang kau pura2 bodoh? Pendek kata, jika kau tidak dapat membawa aku ketempat tahanan Li
Su-lam, biarlah kita mati bersama saja disini,” habis berkata Khing-koh lantas jojohkan ujung
goloknya lebih kencang higga kulit daging To Liong terasa sakit.
To Liong sekarang sudah tahu watak Khing-koh yang keras, ia pikir kalau tidak menurut mungkin
sinona benar2 akan membinasakan dia. Terpaksa ia menyanggupi sambil memikirkan jalan lolos,
katanya: “Baiklah, demi kau aku rela berkorban, Cuma untuk kesana kau harus membuka aku
punya hiat-to yang tertotok ini.”
Khing-koh menotok “Goan-tiau-hiat” dibagian dengkul To Liong, menyusul menjojoh dengan agak
keras di “Ih-hi-hit” bagian perutnya, lalu berkata: “Nah, sekarang kau sudah dapat berjalan, bawalah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
aku kesana! Setelah bertemu Li Su-lam tentu akan kubuka seluruh hiat-to yang kutotok ini.”
Kiranya tadi Khing-koh hanya membuka hiat-to bagian membikin lemas yang ditotok semula, tapi
jojoh keras bagian perut barusan ini jauh lebih lihai daripada hiat-to yang membikin lemas itu,
meski To Liong dapat berjalan, namun tenaga sukar dikeluarkan, maka keadaannya akan serupa
dengan orang biasa yang tidak pandai ilmu silat.
Malahan Khing-koh masih memegangi tangan To Liong, lalu berjalan keluar bersama, dengan suara
pelahan Khing-koh memperingatkan pula agar pemuda ini jangan main gila. Tiga buah jari Khingkoh
memang tepat memencet urat nadi pergelangan tangan To Liong yang dipegangnya.
Keruan To Liong mati kutu, katanya dengan menyengir: “Ai, kau terlalu banyak curiga, Khing-koh,
betapapun aku tetap suka padamu meski kau selalu curiga padaku.”
Begitulah ketika mereka sampai dihalaman luar, benar juga segera mereka dipapak dan ditegur oleh
dua jago pengawal. Rupanya kedua orang ini memang ditugaskan disitu untuk mengawasi gerak
gerik mereka.
“Kami hendak pergi menemui Koksuya kalian,” kata To Liong kepada pengawal2 itu.
Jawaban itu rupanya cukup kena sehingga kedua penjaga itu tidak menaruh curiga dan membiarkan
mereka lalu.
Dalam hati To Liong menggerutu akan kegoblokan kedua pengawal itu. Semula ia berharap mereka
akan menanya dengan pelit sehingga tujuan Khing-koh akan gagal, tapi harapannya ternyata sia2.
Sambil berjalan diam2 To Liong me-nimang2 dan akhirnya mendapat satu akal lagi. Pikirnya:
“Kenapa aku tak membawanya menemui Yang Thian-lui. Dengan kepandaian dan kecerdikan Yang
Thian-lui, bila melihat gelaat tidak beres tentu dia sanggup menolong diriku!”
Padahal tempat tinggal Yang Thian-lui justru berlawanan arah dengan tempat tahanan Li Su-lam,
yang satu disebelah timur dan yang lain disebelah barat. Baru saja To Liong melangkah kesebelah
timur, tiba2 sepotong batu menyamber tiba dan menyerempet lewat dibatok kepala To Liong.
Kini To Liong sudah tiada kemampuan melawan serangan senjata rahasia, namun berdasarkan
pengalaman, dari suara samberan batu itu dapat diketahui kekuatannya cukup membikin kepalanya
berlubang, ia yakin bila orang mau mengambil jiwanya tentu batu itu takkan meleset. Dengan kuatir
cepat ia berseru: “Persahabatan tetap abadi ….. “
Sebagaimana diketahui kalimat itu adalah kode rahasia yang berlaku didalam istana Yang Thian-lui
malam ini, bila ketemu orang sendiri kalimat itu tentu akan dijawab dengan ucapan “Menikmati
rejeki bersama”. Rupanya To Liong menyangka yang menyambitkan senjata rahasia itu adalah
jagoan pengawal yang tidak kenal kawan sendiri dalam kegelapan, maka cepat ia menyerukan kode.
Tak terduga pihak sana tetap tidak memberi jawaban, bahkan kembali sepotong batu menyamber
tiba pula, Cuma sekali ini arahnya berlainan dengan tadi, melayang kesebelah barat, yaitu arah yang
menunjukkan tempat tahanan Li Su-lam.
To Liong tambah kaget, ia cukup cerdas sehingga dapat menduga beberapa bagian apa artinya itu,
diam2 ia merasakan gelagat tidak menguntungkan, sebab ia menduga orang yang tidak kelihatan itu
pasti bukan lagi jago pengawal yang disangkanya semula.
“Kawan dari manakah yang berkelakar dengan aku?” seru ToLiong dengan suara tertahan.
Lau Khing-koh tidak tahu duduk perkaranya, iapun terkejut dan heran. Segera ia pegang lebih
kencang urat nadi To Liong sambil mengancam dengan suara pelahan: “Jangan sembarangan
bersuara dan bergerak!”
Pada saat itulah tiba2 dari balik semak2 sana muncul seorang gadis cilik, To Liong dan Khing-koh
sama terkejut dan berseru berbareng: “He, kiranya kau?” ~ Gadis kecil itu ternyata si Kemala
adanya.
“Nona Lau,” demikian sahut si Kemala cilik. “Aku disuruh orang agar memberitahu padamu bahwa
tempat yang akan kau tuju adalah Cui-gwe-tong, tuan To tahu dimana tempat itu, Cuma entah
mengapa arah yang kalian tuju ini ternyata keliru.”
Kejut To Liong tak terhingga, katanya: “Kemala, kau, kau siapa? Dan siapa pula orang itu …. “
“Peduli apa?” sahut Kemala. “Yang penting aku sudah menyampaikan pesannya, setiap gerak
gerikmu selalu diawasi beliau, maka hendaklah kau jangan main gila bila ingin selamat.”
“O, tentu, tentu,” cepat To Liong menjawab. Tapi didalam hati ia menggerutu akan kekurang ajaran
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
si Kemala cilik itu.
Sementara itu sudah sekian lamanya hiat-to yang tertotok itu, dengan lwekangnya yang cukup kuat,
lamban laun rasa lemas To Liong tadi sudah mulai berkurang, diam2 iapun mengerahkan tenaga,
sedikit demi sedikit ia himpun hawa murni dalam tubuhnya, soalnya disamping mengerahkan
tenaga itu ia harus berjalan pula, maka untuk sementara hiat-to yang tertotok itu belum dapat
dilancarkan, akan tetapi sekarang hanya soal waktu saja, maka disamping mengerahkan tenaga
iapun memikirkan cara meloloskan diri.
Dalam pada itu si Kemala telah menyusup kembali ketengah semak2, dilihatnya To Liong tidak
berani main gila lagi dan telah putar haluan kearah Cui-gwe-tong, maka si Kemala baru berpaling
dan berkata dengan suara tertahan: “Han-sioksiok, sekarang aku boleh pulang ya?”
Dari atas pohon meloncat turun satu orang dan berkata: “Kau jangan pulang rumah, mumpung hari
baru terang lekas kau melarikan diri saja. Aku sudah memberitahukan ayahmu agar menunggu kau
dipintu belakang, penjaga pintu adalah temanku, kau boleh bawa Kim-pay ini , bila ditanya boleh
kau menjawab aku yang suruh kalian keluar untuk sesuatu urusan!” ~ Kiranya orang ini adalah Han
Ciau, itu jago pengawal bangsa Han yang ditugaskan oleh Yang thian-lui untuk mengawasi To
Liong dan Lau Khing-koh.
Sama halnya seperti Ci In-hong, Han Ciau juga seorang pahlawan yang bekerja dibawah tanah
untuk melawan kerajaan Kim. Agar bisa menyusup kesarang musuh, dengan menanggung resiko
dia pura2 bekerja bagi Yang Thian-lui. Hanya saja dia bertindak sendirian, selama ini belum sempat
berhubungan dengan pihak pergerakan. Selama beberapa tahun disarang musuh ini dia belum berani
mengutarakan isi hatinya kepada siapapun juga termasuk Ci In-hong yang pernah bertugas bersama
disitu, walaupun sebenarnya diapun sudah mencurigai Ci In-hong adalah kawan sepahamnya.
Kini Ci In-hong sengaja menyerempet bahaya dan berusaha menolong Li Su-lam, perbuatan ini
telah sangat mengharukan dia. Sebab itulah diam2 dia membantu Ci In-hong meloloskan diri,
bahkan ia bertekad akan melaksanakan cita2nya selama ini andaikan jiwanya harus berkorban iapun
tidak sayang lagi.
Sementara itu To Liong mendapatkan akal licik lagi, ia pura2 jalan tidak leluasa karena hiat-to
tertotok, sebentar2 ia berhenti. Sebaliknya Lau Khing-koh tidak dapat menyeretnya berlari, pula
tidak berani membuka hiat-to yang ditotoknya tadi, diam2 ia merasa tidak sabar,tapi terpaksa tak
dapat berbuat apa2.
Waktu itu hari sudah terang benderang, terpaksa Han Ciau hanya dapat menguntit dari jauh dan
tidak berani terang2an menghadapi To Liong. Untung jago2 pengawal yang tugas jaga ditaman itu
itu semuanya kenal To Liong, sedangkan Han Ciau disangka oleh pengawal2 itu sebagai kawan
sendiri yang sengaja ditugaskan mengawasi To Liong, tidak ada yang menduga bahwa Han Ciau
sudah mengkhianati Yang Thian-lui.
Begitulah To Liong sengaja mengulur waktu, diam2 ia menghimpun tenaga untuk membuka Hiat-to
yang tertotok. Samapi lama sekali akhirnya mereka sampai ditempat tahanan Li Su-lam, sementara
itu tenaga To Liong sudah mulai terkumpul, kekuatannya sudah mulai pulih.
Sementara itu Ci In-hong dan Kok ham-hi yang menyamar sebagai pengiring Liu Tong-thian serta
Cui Tin-san, menjelang lohor merekapun memasuki istana Koksu. Dalam keadaan menyamar
ternyata tiada orang mengenali Ci In-hong lagi.
Yang Thian-lui menerima Liu Tong-thian dan Cui Tin-san disuatu kamar rahasia, tapi Ci In-hong
dan Kok Ham-hi dilarang ikut masuk, mereka diharuskan menunggu diluar. Pada kamar rahasia itu
terpasang satu pintu angin yang diatasnya terbingkai sebuah cermin tembaga yang mengkilap, dari
cermin itu Yang Thian-luui dapat melihat orang diluar kamar, sebaliknya orang diluar tidak dapat
melihat keadaan didalam.
Ketika melihat Ci In-hong, hati Yang Thian-lui tergerak, ia merasa perawakan orang ini sudah
pernah dikenalnya. Maklumlah, Yang Thian-lui pernah susiok Ci In-hong dan telah mengenalnya
sekian lama, sebab itulah dari perawakan Ci In-hong saja sudah lantas menimbulkan curiganya.
Maka ketika sudah berada didalam kamar rahasia dan duduk berhadapan dengan Liu dan Cui
berdua, segera Yang Thian-lui bertanya: “Siapakah kedua orang pengikutmu itu?”
“Ah, hanya dua Thaubak kecil kami, karena tenaganya cekatan, maka kami membawa mereka
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
sebagai persuruh kalau perlu,” kata Liu Tong-thian.
“Thaubak kecil? Kukira tidak betul. Jika begitu halnya, maka kalian yang telah salah menilai
mereka,” ujar Yang Thian-lui dengan tertawa.
Diam2 Liu Tong-thian berkeringat dingin, ia pikir bangsat she Yang ini sungguh lihai, belum lagi
berhadapan dengan Ci In-hong berdua sudah mengetahui ketidak beresan penyamaran mereka.
Maka dengan pura2 gugup Liu Tong-thian menjawab: “Entah apa maksud Koksu, sudilah kiranya
memberi penjelasan.”
“Kedua Thaubak kalian ini memiliki lwekang yang tidak rendah, sebab itulah kukatakan kalian
telah salah menilai kemampuan mereka bila betul kalian kerjakan mereka sebagai Thaubak biasa,”
kata Yang Thian-lui. Rupanya dari cermin rahasia dapat dilihatnya kedua pelipis Ci In-hong dan
Kok ham-hi rada menonjol, hal ini adalah tanda orang yang memiliki dasar lwekang yang kuat.
Keruan Liu Tong-thian tambah terkejut, katanya: “Pandangan Koksu yang tajam sungguh
mengagumkan, sama sekali kami tidak tahu kemampuan mereka, jika benar, maka kami benar2
berpandangan picik.”
Yang Thian-lui menjadi sangsi pula, tapi berlagak sayang kepada orang yang pandai, segera ia
berkata pula: “Orang berbakat tidak pantas kalau terpendam, akupun tidak berani yakin
pandanganku pasti jitu, paling baik suruhlah mereka masuk ekmari, biar kulihat mereka lebih jelas.”
Kejut dan girang pula Liu Tong-thian, pikirnya: “Peduli apakah rahasia penyamaran mereka berdua
telah diketahui atau tidak, kalau sudah berhadapan nanti toh pasti akan labrak dia habis2an.” ~
Maka ia lantas memanggil Ci In-hong dan Kok Ham-hi masuk kedalam kamar.
Ucapan Yang Thian-lui tadi didengar juga oleh pengawal2 yang berjaga di luar, mereka ter-heran2
bahwa kedua pengiring rendahan itupun akan diterima oleh Koksuya mereka, terpaksa tak dapat
merintangi lagi.
Setelah masuk, Yang Thian-lui mengamati Ci In-hong sekejap, lalu bertanya:” Siapa gurumu?
Dengan kepandaianmu ini, mengapa kau terima menjadi Thaubak kecil saja?”
Ci In-hong menyebut suatu nama samaran sebagai gurunya dan menyatakan kepandaiannya tidak
berarti apa2, bahkan sangat terima kasih atas kesudian Liu-cecu menerimanya sebagai Thaubak.
Dengan sorot mata yang tajam, sinar mata Yang Thian-lui berlaih dari Ci In-hong kepada Kok
Ham-hi. Diam2 Kok ham-hi kabat kebit kalau2 Yang Thian-lui akan mengajukan pertanyaan apa2
kepadanya.
Ternyata Yang Thian-lui juga sudah kenal nama Kok Ham-hi, maka sekarang iapun menaruh
curiga, hanya saja ia belum berani memastikan bahwa laki2 bermuka buruk di hadapannya sekarang
ini adalah Kok ham-hi.
Sebagaimana diketahui Yang Kian-pek, putra Yang Thian-lui itu sudah pernah bertarung dengan
Kok Ham-hi, selama itu Kok Ham-hi memakai kedok, maka Yang Kian-pek hanya yakin kalau Kok
ham-hi adalah orang seperguruannya, tapi belum pernah melihat wajah aslinya.
Pulangnya Yang Kian-pek telah melaporkan pengalamannya kepada sang ayah, setelah diselidiki
akhirnya Yang Thian-lui mendapat tahu namanya Kok Ham-hi dan diketahui pula ia mempunyai
muka yang buruk. Sekarang meski Kok Ham-hi telah merias mukanya sedemikian rupa toh tetap
sukar menghilangkan codet pada mukanya itu.
Karena itulah Yang Thian-lui menjadi curiga, ia pikir kalau simuka buruk ini adalah Kok Ham-hi,
maka yang seorang lagi pasti Ci In-hong adanya. Pantas perawakannya tampak sudah pernah
dikenalnya.
Tiba2 Yang Thian-lui mendapat suatu akal, ia sengaja menjabat tangan Ci In-hong sebagai tanda
orang tua menghargai orang muda, tapi sebenarnya ia hendak menjajalnya dengan Thian-lui-kang.
Ci In-hong melihat maksud Yang Thian-lui itu, ia terkejut, tanpa pikir lagi segera ia menggertak,
“Lui-tian-kau-hong!”
Serentak Kok Ham-hi mengiakan, kedua orang menghantam berbareng, dengan gabungan mereka
telah adu pukulan satu kali dengan Yang Thian-lui. Terdengarlah suara gemuruh yang keras. Ci Inhong
dan Kok ham-hi tergetar mundur tiga tindak, Yang Thian-lui juga tergeliat, Cuma tidak
sampai menggeser langkah.
Keruan terkejut juga Yang Thian-lui, ia merasa dengan gabungan kedua anak muda itu untuk
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
mengalahkan sedikitnya juga perlu ratusan jurus lagi.
Dalam pada itu, dengan cepat luar biasa Liu Tong-thian dan Cui Tin-san juga lantas turun tangan.
Sekaligus pedang Liu Tong-thian menusuk beberapa tempat berbahaya ditubuh Yang Thian-lui,
sedangkan Cui Tin-san menghantam dengan tenaga dahsyat.
Yang Thian-lui benar2 lihai luar biasa, cepat sekali ia menggeser dan ganti tempat, sekali lengan
bajunya mengebas, ujung pedang Liu Tong-thian tersampuk menceng, berbareng telapak tangan kiri
menghantam sehingga Cui Tin-san dipaksa melompat mundur. Untung dia baru saja beradu tenaga
pukulan dengan Ci In-hong berdua, kalau tidak Cui Tin-san pasti terluka parah andaikan tidak mati.
Berbareng Ci In-hong dan Kok Ham-hi membentak: “Yang Thian-lui, kau mengkhianati perguruan,
hari ini kami mewakilkan guru kami mengadakan pembersihan perguruan!” ~ Ditengah bentakan
mereka kembali suatu jurus “Lui-tian-kau-hong” dilontarkan.
Meski kepandaian Yang Thian-lui sangat tinggi, namun sekaligus menghadapi empat lawan
tangguh, mau tak mau ia merasa kewalahan juga. Terpaksa ia sambut pula serangan Ci In-hong
berdua,terdengar suara gemuruh lagi, berbareng terdengar juga suara “bret”, Kok Ham-hi dan Ci Inhong
kembali tergetar mundur, tapi lantaran tidak sempat menghadapi lawan lain, maka lengan baju
Yang Thian-lui terpapas juga oleh pedang Liu Tong-thian, hampir2 saja jarinya ikut terkutung.
“Pek-lotoa, keluar kau!” teriak Yang Thian-lui. Serentak para busu diruangan luar dan prajurit yang
memang sudah disembunyikan didalam ruangan lantas membanjir keluar semua.
“Tidak perlu orang banyak!” Seru Yang Thian-lui pula. “Cukup Pek-lotoa dan anak Kian yang
tinggal disini, yang lain mundur keluar semua, jaga rapat kalau mereka membawa begundal yang
lain.”
Ditengah suara teriakan Yang Thian-lui itu, seorang tua berwajah merah mendadak menubruk
kearah Cui Tin-san, disamping sana seorang pemuda baju putih juga menerjang kearah Liu Tongthian
dengan pedang terhunus.
Kiranya orang tua berwajah merah itu adalah Pek ban-hiong, sesudah Pek-keh-ceng diobrak abrik
oleh Li Su-lam, segera ia bersama putranya, yaitu Pek Jian-seng, melarikan diri ketempat Yang
Thian-lui ini. Sedangkan pemuda baju putih itu takp erlu diterangkan lagi,dia adalah putra Yang
Thian-lui, Yang kian-pek adanya.
Yang Thian-lui cukup kenal kepandaian keempat lawannya yan ghebat, bertarung didalam kamar,
bila terlalu banyak orang malah mengganggu dan kurang leluasa, sebabitulah ia suruh orang2nya
keluar semua, hanya tertinggal Pek ban-hiong dan Yang Kian-pek yang cukup kuat membantunya.
Dengan kedua pembantu ini Yang Thian-lui yakin kemenangan pasti akan dipegangnya.
Yang Kian-pek sudah pernah merasakan kelihaian Ci In-hong dan Kok ham-hi, maka sekarang ia
lebih suka ayahnya yang menghadapi kedua musuh tangguh itu, ia sendiri mengadu ilmu pedang
dengan Liu Tong-thian. Sebab dikiranya akan mendapat lawan yang lebih empuk. Tak tahunya Liu
Tong-thian juga seorang ahli ilmu pedang, kelihaian ilmu pedangnya masih jauh diatas Yang Kianpek.
Maka hanya beberapa jurus saja Yang Kian-pek sudah lantas tahu rasa, ujung pedang Liu
Tong-thian se-akan2 menyamber didepan mukanya, sinar pedang menyilaukan mata. Keruan ia
terkejut, lekas2 ditengah samberan pedangnya ia selingi pukulan pula dengan tenaga “Thian-luikang”.
Tiba2 langkah Liu Tong-thian rada sempoyongan, nyata dia telah mengeluarkan ilmu pedang “Cuipat-
sian” (delapan dewa mabuk), langkahnya seperti tidak tetap bagai orang mabuk, tapi setiap
gerak pedangnya selalu mengincar tempat lawan yang berbahaya.
Karena bingung menghadapi tipuan serangan yang aneh itu, Yang Kian-pek menjadi kelabakan,
hanya sanggup menangkis dan tidak mampu balas menyerang. Sebaliknya karena Liu Tong-thian
harus menghadapi juga tenaga pukulan Thian-lui-kang lawan, maka beberapa kali serangan maut
gagal setengah jalan, tetap tak dapat membinasakan lawan meskipun kedudukannya tetap diatas
angin.
Disebelah lain, dengan kekuatan Pek Ban-hiong yang terlatih berpuluh tahun, keadaannya lebihkuat
dibandingkan murid Siau-lim-pay seperti Cui Tin-san.
Ilmu pukulan “Tay-lik-kim-kong-ciang” Cui Tin-san memang keras, tapi kurang mantap. Pek Banhiong
telah melawannya dengan Bian-ciang yang lemas ditambah dengan Eng-jiau-kang, tenaga
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
cakaran yang liahi, dalam sekejap saja Cui Tin-san sudah terkurung ditengah pukulan dan
cakarannya. Hanya Pek ban-hiong juga rada jeri terhadap ketangkasan Cui Tin-san, maka ia snegaja
main tenang dan mantap, kalau tenaga Cui Tin-san sudah terkuras habis barulah akan diberesi.
Disebelah sana Yang Thian-lui melawan Ci In-hong dan Kok Ham-hi, kedua pihak sama2
mengeluarkan segenap kemahiran Thain-lui-kang masing2, angin pukulan merdu gemuruh, dimana
angin pukulan menyambar daun jendela tergelepar dan tiang tergetar, atap rumah berkeriutan.
Sebagian Busu yang berkepandaian lemah sejak tadi sudah menyingkir keluar.
Melihat gelagat kurang menguntungkan, seorang busu berseru: “Apakah perlu mengundang Liongsiang
Hoat-ong?”
“Tidak perlu!” bentak Yang Thian-lui dengan gusar. “Jika takut enyah dari sini!”
Menurut taksirannya, Yang Kian-pek cukup kuat untuk menahan Liu Tong-thian hingga ratusan
jurus, sedangkan Pek Ban-hiong sudah pasti lebih unggul daripada Cui Tin-san. Dalam keadaan
demikian asalkan salah seorang, Pek Ban-hiong atau Yang Thian-lui sendiri dapat mengalahkan
lawan dalam waktu singkat, maka dengan segera mereka dapat membantu Yang Kian-pek
membereskan Liu Tong-thian, jadi jelas pihak Yang Thian-lui menduduki posisi yang lebih
emnguntungkan, apalagi dia adalah koksu negeri Kim, sedangkan Liong-siang Hoat-ong adalah
Koksu Mongol, kedudukan kedua orang sederajat, mana sudi dipandang rendah dengan minta
bantuan kepada tamunya itu.
Se-konyong2 Ci In-hong pura2 memukul, berbareng lantas membentak: “Lihat pedang!” ~ Cepat
sekali pedangnya lantas menusuk.
Dalam pada itu Kok Ham-hi juga sudah melolos pedangnya, ditengah pukulannya iapun
melancarkan tusukan, nyata kerja sama mereka berdua sangat rapi.
Menghadapi serangan dari muka dan belakang dengan angkuh Yang Thian-lui masih menjengek:
“Hm, berani pamer kepandaian yang telah kalian pelajari, keluarkan saja seluruhnya !”
Belumlenyap suaranya pedang Ci in-hong menyamber tiba didepan dahinya, hampir2 saja batok
kepalanya trertabas. Menyusul Kok Ham-hi juga menusuk pula dengan cara tak ter-duga2. Segera
Yang Thian-lui mengebas dengan lengan bajunya. Tak terduga ujung pedang Kok Ham-hi
mendadak memutar kesamping dan kembali menyerang dari arah yan gtak terpikirkan olehnya.
Terdengarlah suara “bret” yang panjang, hampir setengah lengan baju Yang Thian-lui terobek
menjadi potongan kecil2.
Kiranya gerakan pedang Kok ham-hi diserta dengan puntiran sehingga kain baju itu seperti digiling
saja. Keruan Yang Thian-lui terkejut dan gusar pula. Mendadak ia membentak, kedua telapak
tangan menghantam sekaligus, dengan jurus “Ya-ma-hun-cong) (kuda liar menyeruduk dua jurusan)
ia paksa Ci In-hong berdua mundur.
“Hm, kiranya kalian berhasil meyakinkan pula ilmu pedang perguruan kita, tapi kalian mampu
mengapakan diriku?” jengek Yang Thian-lui. Walaupun begitu katanya, tapi timbul juga rasa
jerinya. Diam2 ia berpikir tentang saudara seperguruannya, yaitu Hoa Thian-hong yang
mengasingkan diri selama belasan tahun, kiranya diam2 sedang meyakinkan ilmu pedang yang
hebat ini dan diajarkan kepada muridnya untuk kemudian hendak menghadapinya. Tampaknya ilmu
pedang yang dimainkan Ci In-hong sekarang bahkan lebih hebat daripada kakek gurunya dahulu.
Yang diutamakan Yang Thian-lui adalah lwekang dan kurang mahir ilmu pedang, maka kedua
pihak sekarang menjadi sama2 menggunakan kemahiran masing2 untuk menyerang kelemahan
lawan. Dengan begini Yang Thian-lui hanya dapat menandingi Kok Ham-hi dan Ci in-hong dengan
sama kuat saja, untuk menarik keuntungan menjadi tidak mudah baginya.
Sebaliknya disebelah sana Cui Tin-san yang menempur Pek Ban-hiong dengan sengit, akhirnya ia
menjadi payah. Sedang partai lain tampak Liu Tong-thian lebih unggul daripada YangKian-pek,
hanya dalam waktu singkat iapun belum dapat mengalahkan pemuda itu.
Diam2 Ci In-hong menjadi gelisah, pikirnya: “Mengapa Beng-tayhiap dan Han-locianpwe belum
nampak muncul?”
Tentang Beng Siau-kang dan Han Tay-wi, sejak pagi2 mereka sudah berhasil meyusup kedalam
istana Yang Thian-lui itu, mustahil suara pertempuran yang ramai itu tak didengar oleh mereka.
Sebab itulah Ci In-hong menjadi kuatir jangan2 terjadi apa2 atas diri kedua pendekar tua. Tapi
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dengankepandaian mereka yang tinggi, rasanya tiada sesuatupun yang dapat menghalangi mereka.
Tapi mengapa sampai saat ini mereka masih belum muncul?”
Begitulah lantaran bala bantuan yang di-tunggu2 belum datang, Ci In-hong berdua menjadi cemas,
maka posisi yang sama kuat tadi hanya sebentar saja telah berubah pula, Yang Thian-lui kembali
diatas angin dan melancarkan serangan gencar pula.
Sekarang marilah kita mengikuti keadaan Li Su-lam, selagi duduk tenang dan mengerahkan tenaga
ditemoat tahanannya, dalam kegelapan iapun tidak tahu siang hari atau sudah malam. Tiba2
didengarnya ada suara tindakan dua orang menuju kearahnya. Se-konyong2 suara percakapan kedua
orang itupun dapat didengarnya. Seketika Li Su-lam terperanjat. Sebab suara itu sudah dikenalnya
dengan baik, jelas itulah suara To Liong.
Terdengar To Liong sedang berkata: “Penjaga ini tidak paham bahasa Han, akan kuminta kuncinya,
lalu sengaja kusingkirkan dia ketempat lain, cara ini baik tidak?”
“Hendaklah kau jangan main gila, apakah betul2 Li-bengcu ditahan disini?” demikian terdengar
suara perempuan muda menanggapi.
Li Su-lam menjadi heran, siapakah perempuan itu? Dari nada ucapannya agaknya dia sengaja
datang buat menolong diriku? Mengapa To Liong mau menuruti perintahnya, sungguh aneh!
Demikian pikir Su-lam.
Dari suara mereka itu Li Su-lam menaksir jarak mereka dari kamar tahanan itu masih dua-tiga
puluh langkah lagi, agaknya suara perempuan itu diucapkan dengan setengah berbisik ditepi telinga
To Liong.
Dalam pada itu mereka sudah samapi didepan kamar tahanan itu. Penjaga disitu adalah seorang
busu Mongol yang sudah kenal To Liong, tapi belum kenal Lau Khing-koh. Maka ia merasa sangsi
melihat To Liong datang bersama seorang perempuan muda.
Namun belum dia menegur, To Liong sudah lantas mendahului membuka suara dlam bahasa
Mongol: “Berikan kunci palsu padaku, cepat kau pergi mengundang Liong-siang Hoat-ong! Tidak
perlu tanya lagi, lekas berangkat! Aku berada dalam ancaman orang ini!” ~ Rupanya busu Mongol
itu tidak dapat bicara bahasa Han, tapi sedikit2 dapat mendengar artinya. Sebab itulah To Liong
mendahului bicara bahasa Mongol dengan dia.
Saat itu tidak terpikir oleh To Liong bahwa meski Lau Khing-koh tidak paham bahasa Mongol, tapi
Li Su-lam yang terkurung didalam penjara itu fasih bahasa asing itu. Kini Li Su-lam sudah yakin
Lau Khing-koh datang untuk menolongnya, walaupun belum jelas siapa nona itu, namun tiada
kesempatan berpikir lagi baginya, segera ia berteriak: “Lekas turun tangan, bunuh penjaga itu!”
Belum lenyap suaranya, ternyata busu Mongol itu sudah menerjang lebih dulu kerah Lau Khing-koh
sambil memaki: “Budak busuk, berani benar kau!” ~ Dia menggunakan bahasa Han yang kaku,
namun hal itupun membuktikan dia bukannya sama sekali tidak paham bahas Han sebagai
dikatakan To Liong tadi.
Dengan gesit Khing-koh mengegos kesamping, berbareng ia terus melolos goloknya, edngan jurus
“Liong-hui-hong-bu” (naga terbang burung ho menari), konta ia mambacok lawannya. Sebelah
tangannya mestinya mencengkeram kencang urat nadi tangan To Liong, tapi kini ia harus
menghadapi busu Mongol itu, terpaksa ia lepaskan To Liong.
Penjaga itu adalah busu bawahan Dulai yang mahir ilmu gulat ala Mongol, dalam hal pertarungan
dari jarak dekat justru adalah kemahirannya. Ketika bacokan golok Khing-koh mengenai tempat
kosong, segera busu Mongol itu menubruk maju dengan sebelah tangan ia tahan lengan sinona yang
bersenjata itu, sedang sebelah kaki lantas menjegal, maksudnya hendak merobohkan Khing-koh.
Tapi ilmu golok Khing-koh juga sangat ganas, cepat ia berputar, goloknya ikut menyamber keatas
da nkebawah, kekanan dan kekiri, dengan demikian, biarpun lawan menyerang dari arah manapun
pasti akan terkena goloknya.
Cara bergulat orang Mongol meski berbeda dari pada “Kim-na-jiu-hoat”, tapi dasarnya sama, maka
dalam hati Khing-koh merasa senang karena pihak lawan yang menyodorkan kaki dan tangannya
untuk ditabas. Tak terduga baru saja goloknya bekerja, tiba2 dari belakang angin keras menyamber
kepalanya, kiranya To Liong telah menghantamnya dari belakang.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Ketika Khing-koh sedikit menunduk kedepan, punggungnya yang kesakitan kena pukulan, hanya
saja tidak terluka. Rupanya saat itu baru saja To Liong dapat melancarkan hiat-to yang tertotok,
tenaganya baru pulih satu-dua bagian saja.
Dengan gemas Khing-koh terus menghantam kebelakang hingga To Liong kontan terjungkal,
sedangkan golok ditangan kanan masih terus bekerja seperti tadi. Tapi lantaran perhatiannya
terpencar, dengan sendirinya putaran goloknya menjadi kurang sempurna.
Kemahiran jago gulat adalah pandai melihat titik kelemahan musuh, begitu melihat kesempatan
baik segera diterjangnya. Ketika golok Khing-koh menyamber lewat samping kepala busu Mongol
itu dan tidak mengenai sasaran, seketika busu itu maju, sekali pegang dan sekali putar ,kontan
Khing-koh dibanting kebalik pundaknya.
“Haha, nona cilik, aku menjadi tidak tega membinasakan kau!” seru busu itu dengan bergelak
tertawa. Dan baru saja ia hedak menubruk maju untuk menangkap Khing-koh, se-konyong2
sepotong batu kecil menyamber tiba dan tepat mengenai hiat-to dibagian dengkulnya, seketika busu
itu roboh terguling.
Dengan gerakan “Li-hi-tah-ting” (ikan lele melejit), cepat Khing-koh melompat bangun, ketika
dilihatnya busu Mongol itu sudah menggeletak, maka tahulah dia ada orang telah membantunya
secara diam2. Tanpa pikir lagi goloknya lantas menabas untuk habiskan nyawa busu Mongol itu.
“Lekas lari, Khing-koh!” segera To Liong berseru. “Demi kebaikanmu makanya tadi aku mencegah
kau membunuh busu itu. Sekarang sudah kau lakukan, bila tidak lekas lari tentu kau sendiri akan
celaka. Disekitar sini masih banyak musuh, bila diketahui tentu sukar bagimu untuk lolos. Tentang
menolong Li Su-lam boleh serahkanp padaku saja, kau sendiri lekas lari!”
“Jangan percaya ocehannya, dia menipu kau!” demikian Li SU-lam juga berseru.
“Jangan percaya kata 2berbisa orang lain, Khing-koh!” kata To Liong dengan suara rada gemetar.
“Betapapun kita sudah pernah sumpah setia.”
Mendengar itu, Su-lam menjadi bingung. Ia heran ada hubungan apakah antara wanita ini dengan
To Liong ? Jangan2 seperti halnya Nyo Wan juga terpikat oleh kata2 manisnya?
Dalam pada itu pikirannya Khing-koh menjadi kacau, bentaknya: “Tutup mulutmu! Saat ini aku
belum ada tempo untuk membunuh kau!”
Seorang gadis betapapun tetap sukar melupakan kekasihnya yang pertama, sebab itulah biarpun dia
amat benci kepada To Liong, namun tidak tega membunuhnya. Dalam keadaan pikiran kacau tak
teringat olehnya To Liong dapat bergerak bebas lagi, padahal hiat-to telah ditotoknya.
Khing-koh berhasil menemukan kunci dalam baju busu penjaga tadi, segera ia hendak membuka
pintu kamar tahanan. Tetapi mendadak angin berkesiur dari belakang, seorang telah menubruknya
dan kukunya yang tajam telah membikin lecet pundaknya.
Keruan Khing-koh terkejut, cepat ia mengegos untuk menghindarkan cengkeraman musuh. Waktu
ia menoleh, dilihatnya penyerangnya ternyata bukan To Liong, tapi seorang wanita berambut
terurai.
Kiranya wanita itu adalah istri penjaga tadi yang bertugas menjaga penjara wanita. Nyo Wan dan
Han Pwe-eng dikurung dikamar tahanan sebelah menyebelah dengan Li Su-lam.
Sambil menghadapi wanita itu, sedapat mungkin Khing-koh menggunakan sebelah tanganya untuk
membukagembok kamar tahanan. Syukurlah gembok itulantas terbuka dan jatuh kelantai dimana
pintu kamar tahanan terpentang tertampaklah Li Su-lam melangkah keluar.
Meski dalam keadaan kalap, wanita itu pun tahu akibatnya kalau tahanan penting itu sampai lolos.
Maka cepat ia ber-teriak2 minta tolong begundalnya. Menyusul ia lantas meninggalkan Khing-koh
terus menerjang Li Su-lam.
Langkah Su-lam tampak sempoyongan, ia melangkah kesamping hingga mengelakkan terjangan
lawan itu. Ketika wanita itu akan menubruk maju lagi, tiba2 sepotong batu kecil menyamber tiba
dan tepat mengenai hiat-to dibagian punggungnya, kontan wanita kalap itupun roboh terguling
senasib dengan sang suami.
Melihat itu To Liong menjadi girang, diam2 ia menduga Li Su-lam pasti dikerjai sesuatu oleh
Liong-siang Hoat-ong, kalau tidak, dengan kepandaian Li Su-lam mustahil jeri terhadap seorang
wanita tak terkenal itu.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Dalam pada itu Li SU-lam lantas berseru kepada Khing-koh: “Banyak terima kasih nona, orang ini
adalah ….. “
“Ya, baru sekarang aku mengetahui dia adalah pengkhianat bangsa,” sela Khing-koh. “Li-bengcu,
cara bagaimana engkau hendak selesaikan dia boleh terserah padamu.”
Su-lam tahu nona ini tidak tega membunuh To Liong, maka iapun berkata: “Orang berdosa pasti
akan menerima ganjarannya! Hari ini nona ini mengampuni jiwamu, hendaklah kau dapat sadar dan
kembali kejalan yang baik, kalau tidk kalimat2 tadi pasti akan terbukti atas dirimu!” ~ Sambil
berkata, dengan sikap dingin ia melangkah lewat disamping To Liong, lalu berseru: “Adik Wan !
Adik Han !”
“Engkoh Lam, baik2kah kau?” terdengar Nyo Wan menjawab. “Aku dan enci Eng …………..”
“Ya, aku tahu, aku sudah bebas sekarang ditolong oleh seorang ksatria wanita …….” Sampai disini
ia melirik kearah Lau Khing-koh, cepat nona itu memberitahukan namanya dengan suara perlahan
dan katakan pula nama kakaknya serta kedudukannya didalam pasukan pergerakan, iapun
memberitahu bahwa Ci In-hong juga sudah datang buat menolongnya, maka Li Su-lam lantas
melanjutkan: “Ksatria wanita, nona Lau yang telah menyelamatkan diriku. Ci In-hong katanya juga
sudah berada di Taytoh sini. Hendaklah kalian tunggu sebentar lagi,setelah aku menemukan
kuncinya segera kubebaskan kalian.”
Disebelah sana, Han Ciau yang masih sembunyi disekitar situ menjadi melengak juga dan timbul
rasa sangsinya demi mendengar percakapan Su-lam dan Nyo Wan itu. Han Ciau adalah orang
cerdik dan cermat, timbul rasa sangsinya mengapa Nyo Wan per-tama2 menanyakan keadaan Li
Su-lam baik2 tidak, padahal kedua suami istri penjaga itu sudah dirobohkan semua, masakah Nyo
Wan tidak mengetahui kalau Li Su-lam berada dalam keadaan sehat? Sebaliknya Li Su-lam
mengapa menjawab “Ya, aku tahu”. Tahu apa yang dimaksudkannya? Jangan2 ada sesuatu dibalik
ucapan2 itu? Wah, celaka, jangan2 ………….. demikian kesangsian pikiran Han Ciau.
Han Ciau merasa ada sesuatu yang tidak beres, tidak sempat lagi baginya untuk berpikir lebih
banyak, segera iapun keluar dari tempat sembunyinya dan memburu kesana.
Waktu itu Li Su-lam baru lewat disamping To Liong untuk mendekati sipenjaga wanita tadi, ia
sedang berjongkok mencari kunci dibajunya, pada saat itulah mendadak To Liong melompat
bangun sambil menjengek: “Hm, impian muluk kalian masakah gampang terlaksana?” ~ Berbereng
itu sebuah Tok-liong-piau lantas ia sambitkan kearah Li Su-lam.
“Bangsat. Berani kau berbuat keji!” bentak Han Ciau, sekaligus ia menyambitkan tiga potong batu
kecil, sepotong menghantam Tok-liong-paiu, batu yang lain mengarah hiat-to ditubuh To Liong.
“Trang”, Tok-liong-piau terbentur tepat oleh batu itu, tapi Tok-liong-piau Cuma terbentur menceng
sedikit dan masih terus menyamber kearah Li Su-lam, sebaliknya batu terpental balik malah oleh
benturan itu. Menyusul terdengar pula suara “tring-tring” dua kali, kedua batu yang mengarah To
Liong telah diselentik jatuh semua dengan tenaga jari yang kuat. Kiranya pada saat yang tepat itu
tenaga To Liong juga telah pulih, Hiat-to yang tertotok tadi telah pula punah seluruhnya.
Untung Tok-liong-piau yang agak menceng itu hanya menyamber lewat atas kening Li Su-lam,
akan tetapi dengan sendirinya ia berusaha menghindar ketika serangan itu tiba, ia melompat
kesamping, tapi terlalu keras menggunakan tenaga hingga ia sendiri jatuh terguling.
Nyata, diluar tahu Li Su-lam, secara diam2 Dulai telah memerintahkan penjaga2 disitu untuk
menaruh racun “Soh-kut-san” (bubuk pelemas tulang) sehingga Su-lam, Nyo Wan dan Han Pweeng
mati kutu, betapapun tinggi ilmu silat mereka sukar lagi digunakan.
Dengan jatuhnya Li Su-lam itu, hal ini membuktikan tenaga dalam Li Su-lam takdapat digunakan
lagi, To Liong bergelak tertawa senang karena apa yang diduganya ternyata benar. Segera ia
berteriak: “Li Su-lam, hari ini sudah tiba ajalmu!” ~ Menyusul dua buah Tok-liong-piau segera
disambitkan pula, yang satu menimpuk Han Ciau, yang lain mengincar Li Su-lam.
Hebatnya kedua Tok-liong-piau itu menyamber kearah yang berlawanan karena tempat Han Ciau
berdiri jauh disebelah sana. Tapi kepandaian menggunakan senjata rahasia To Liong itu sungguh
lihai, baik sambitan membalik maupun kedepan, semuanya menyamber dengan keras dan tepat.
Namun kepandaian Han Ciau terhitung kelas satu dikalangan jagoan Pengawal bangsa Han, dengan
goloknya yang tebal ia menyampuk, “trang”, Tok-liong-piau itu disampuk jatuh. Segera hidungnya
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
mengendus bau amis yang memuakkan, kepalanya menjadi pusing, diam2 ia mengakui kelihaian
Tok-liong-piau itu, cepat ia tenangkan diri dan menghirup napas segar, lalu menerjang maju lagi.
Kalau Han Ciau dapat menahan piau berbisa itu, Li Su-lam yang tak bertenaga itu menjadi mati
kutu, saat itu dia belum lagi merangkak bangun dari jatuhnya tadi dan tahu2 Tok-liong-paiu sudah
menyamber tiba. Terkesiap juga hati Li Su-lam, pikirnya: “Sungguh tidak terduga jiwaku harus
melayang ditangan bangsat ini!”
Pada saat itu Han Ciau sedang memburu tiba, tapi jaraknya masih belasan meter jauhnya dari
tempat Li Su-lam untuk menyelamatkan jiwa Li Su-lam jelas tidak dapat. Diluar dugaan, pada saat
yang gawat itu, tiba2 seorang menubruk keatas tubuh Li Su-lam, orang ini bukan lain daripada Lau
Khing-koh.
Dengan mati2an Lau Khing-koh bermaksud menyelamatkan Li Su-lam, dengan sendirinya iapun
berusaha agar Tok-liong-piau tidak sampai mengenai dia, maka ketika menubruk diatas tubuh Li
Su-lam, berbareng goloknya juga disambitkan kesana hingga dapat membentur Tok-liong-piau,
Cuma sayang tenaganya selisih jauh dengan tenaga dalam To Liong, meskipun saling bentur, tapi
goloknya kalah kuat dan jatuh kesamping, sedangkan Tok-liong-paiu masih terus meluncur
kedepan.
Li Su-lam mengerahkan segenap tenaganya yang ada dengan maksud membalik keatas untuk
menahan Tok-liong-paiu. Akan tetapi sudah terlambat, Tok-liong-piau menyerempet lewat diatas
pundak Lau Khing-koh dan membuat kulit lecet. Untung terjadi gerakan meronta Li Su-lam itu
kalau tidak Tok-liong-paiu itu tentu sudah menacap di tenggorokan Lau Khing-koh.
Keganasan Tok-liong-paiu itu laur biasa, asal kena darah seketika korbannya takdapat bernapas lagi
dan binasa. Dengan suara serak Lau Khing-koh berteriak: “ To Liong, keji amat kau!” ~ Menyusul
iapun menjatuhkan diri dan menggelinding kepinggir . Li Su-lam melengak juga setelah berdiri
kembali.
“Khing-koh, kau tak dapat menyalahkan aku,” jengek To Liong. “kau sendiri yang rela
mengorbankan jiwa sendiri untuk membela bocah itu. Mangkatlah kau dengan baik2, biar kubunuh
pula bocah ini agar dapat menjadi kawan seperjalananmu menuju akhirat.”
Li Su-lam masih berdiri tertegun, ia baru sadar ketika To Liong menubruk kearahnya. Dengan gusar
ia lantas mendamprat: “To Liong, gagah benar kau ! Sungguh hebat! Saat ini aku bukan
tandinganmu, boleh kau bunuh saja diriku!”
“apa susahnya jiwa kau ingin mampus?” jengek To Liong. “Tapi saat ini aku belum mau
membunuh kau!”
Maklum Li Su-lam adalah orang penting yang hendk ditawan Dulai, sudah tentu To Liong tidak
berani membunuhnya sungguh2. Justru lantaran iniah, sedikit ragu2 saja sudah memberi
kesempatan kepada Han Ciau untuk menyusul tiba.
Kuatir kalau Li Su-lam dicelakai To Liong, dari jauh Han Ciau menyambitkan lebih dulu sebutir
batu. Akan tetapi sekali sampuk dengan pedang yang telah dilolosnya, To Liong bikin batu itu
mencelat balik ke arah Han Ciau. Habis itu To Liong lantas ber-teriak2 minta bantuan.
Batu yang disampuk mencelat kembali itu ternyata menyamber dengan kencang ke arah Han Ciau
sendiri, cepat ia menunduk tidak urung kopiah busu yang dipakainya tersamber jatuh.
“Sekarang baru kau kenal kelihaianku!” kata To Liong dengan tertawa. “Nah, kalau ingin mampus,
biarlah aku bereskan kau sekalian!”
Dengan kalap Han Ciau balas membentak: “Tidak perlu banyak bacot, bangsat! Hari ini kalau
bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati!” ~ “Sret”, kontan goloknya membacok ke arah To
Liong, meski menyadari bukan tandingan To Liong, tapi Han Ciau sudah nekat, kalau bisa ia siap
untuk gugur bersama musuh.
Cepat To Liong putar pedangnya dan dengan mudah saja ia patahkan serangan Han Ciau itu.
Namun dengan mati2an Han Ciau menyerang pula kedua dan ketiga kalinya tanpa kenal takut.
Karena caranya yang nekat itu, To Liong menjadi rada kelabakan.
“Hayo kawan2, tangkap mata2, lekas keluar!” teriak To Liong ber-ulang2 memanggil bala bantuan.
Diam2 ia bersyukur sudah kehilangan tenaganya, untuk lari terang tidak mampu lagi.
Tempat tahanan Li SU-lam itu sangat dirahasiakan dan merupakan tempat terlarang bagi prang
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
yang tak berkepentingan, maka mseti mereka sudah bertempur sekian lamanya dan To Liong juga
berteriak2, namun tetap tiada nampak munculnya orang lain. Cuma Han Ciau juga menyadari bila
para busu Mongol mendengar suara teriakan To Liong itu nanti tentu ada yang memburu kemari.
Maka dengan mati2an Han Ciau melancarkan serangan lebih gencar sambil berkata dengan suara
berat: “Li-bengcu, harap kau cari tempat sembunyi dulu!”
Li Su-lam menyesal dirinya, tak dapat emmbantu Han Ciau, kini disuruh sembunyi, tentu saja ia
tidak mau.Segera ia mendekati Khing-koh dan bertanya: “Nona Lau, apakah kau membawa obat
luka?”
Wajah Khing-koh tampak pucat, dengan suara parau ia menjawab: “Jangan pikirkan diriku, lekas
buka pintu tahanan sana, lepaskan dulu kawan2mu itu! Anak perempuan tukang kebon disini
bernama si Kemala adalah orang kita.” ~ maksud Khing-koh agar Li Su-lam mengajak Nyo Wan
dan Pwe-eng melarikan diri dan mencari tempat sembunyi yang baik, kalau perlu cari si Kemala. Ia
tidak tahu waktu itu si Kemala sudah lari dari situ bersama ayahnya.
Melihat keadaan Khing-koh yang payah itu, Su-lam tahu nona itu sukar diselamatkan lagi, dengan
rasa pedih ia bertanya: “Nona Lau, adalah sesuatu pesanmu yang perlu kulaksanakan?” ~
Maksudnya minta Khing-koh memberi pesan terakhir.
“Harap kau sampaikan kepada Ci In-hong akan kematianku, tentu dia dapat mengurus diriku. Aku
bersalah padanya, tapi aku sudah berusaha baginya sekuat tenagaku,” kata Khing-koh.
Sudah tentu Li Su-lam tidak tahu seluk beluk hubungan Khing-koh dengan Ci In-hong, ia hanya
mengangguk menyanggupi pesan itu, lalu berpaling dan mencari kunci pada tubuh penjaga wanita
tadi, kemudian ia berlari kesebelah sana untuk membuka pintu penjara.
Melihat itu, cepat To Liong mendesak mundur Han Ciau, lalu memburu kearah Li Su-lam sambil
mencengkeram dari belakang sembari membentak: “Matilah kau, Li Su-lam!”
Tapi mendadak terasa angin keras menyamber dari belakang, dengan mati2an Han Ciau telah
menerjangnya pula.
“Bedebah! Apa kau sudah bosan hidup?” jengek To Long dengan gemas. Sedikit mengegos,
berbareng pedangnya lantas menusuk. Gerakan ini tepat pada waktunya, maka terdengarlah suara
benturan pedang dengan golok, tangan Han Ciau kesemutan, goloknya terlepas dari cekalan. Tanpa
pikir lagi To Liong lantas mendepak sehingga Han Ciau terguling.
Pada saat itulah terdengar suara tindakan orang yang riuh, ada beberapa orang busu Mongol telah
memburu tiba. To Liong kenal dua diantaranya adalah Abul dan Hulita, kedua murid Liong-siang
Hoat-ong yang tangguh itu, ia menjadi girang, ia pikir dengan datangnya kedua orang itu biarpun
Nyo Wan masih lihai seperti dulu juga tak dapat lolos lagi.
Dapatkah Li Su-lam meloloskan diri bersama Nyo Wan dan Han Pwe-eng?
Cara bagaimana Li Su-lam, Beng Siau-kang dan kawan2nya mengobrak abrik sarang Yang Thianlui
secara besar2an?
Jilid 17 bagian pertama
Waktu itu Han Ciau yang terguling oleh tendangan To Liong tadi baru saja melompat bangun, tahu2
Abul sudah menubruk pula kearahnya. Cepat Han Ciau berseru: “Lekas lari Bengcu!” ~ Mendadak
ia menyemburkan darah segar kearah Abul sehingga muka kepalanya basah kuyup.
Abul terkejut, tapi segera Han Ciau menubruknya dan merangkulnya kencang2 sambil mengerang,
Han Ciau kerahkan segenap sisa tenaganya. Tanpa ampun lagi Abul menjerit ngeri, tulang rusuknya
telah dipatahkan dua-tiga tempat dan jatuh semaput. Tapi Han Ciau sendiri juga tergetar oleh tenaga
Liong-siang-sin-kang, lukanya bertambah parah, darah tersembur lagi dari mulutnya, akhirnya
iapun roboh menghembuskan napas penghabisan.
Melihat pertarungan maut itu, para busu Mongol sama melongo kesima, Hulitu terkejut dan kagum
pula terhadap keperkasaan Han Ciau. Cepat pula ia periksa keadaan sang suheng dan membubuhkan
obat, untuk sementara ia menjai tidak sempat tanya To Liong apa yang terjadi itu.
Pada saat itulah terdengar Lau Khing-koh berseru dengan suara parau: “Engkoh Liong, aku …….
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Aku tidak tahan lagi, aku ….. aku ingin bi … bicara padamu!”
To Liong yakin Li Su-lam dan lain2 sukar untuk kabur, ia pikir Khing-koh masih ingat padanya,
entah apa yang hendak dibicarakannya, tampaknya lukanya yang terkena Tok-liong-piau tak bisa
ditolong lagi, mungkin ada sesuatu pesan terakhir yang akan diucapkannya. Karena itu ia coba
mendekati , ia berjongkok tanpa prasangka apa2 sambil berkata: “Ada apa adik Khing, katakanlah
apa yang kau inginkan. Kau jangan kuatir, nanti akan kuberikan obat penawar racun paamu.”
Diluar dugaan, se-konyong2 Khing-koh melompat bangun, “bles”, tahu2 Tok-liong-piau yang
mengenai Khing-koh tadi ditikamkan kedada To Liong. Nyata dengan tekad matipun harus
membinasakan musuh yang telah menipunya itu, Khing-koh memancing To Liong kedekatnya dan
menikamnya dengan Tok-liong-piau. Tepat ulu hati To Liong tertancap Tok-liong-piau itu. Keruan
To Liong binasa seketika, begitu pula Khing-koh juga lantas menggorok tenggorokan sendiri
dengan golok yang masih dipegangnya.
Saat itu Li Su-lam baru saja membuka pintu kamar penjara, Nyo Wan dan Han Pwe-eng juga baru
saja melangkah keluar dan kebetulan mereka menyaksikan adegan yang tragis itu. Tanpa
menghiraukan busu2 Mongol yang mengepung disitu, Nyo Wan lantas menubruk keatas mayat Lau
Khing-koh dengan air mata bercucuran dan berseru: “Enci yang baik, kau telah membalaskan sakit
hatiku, tapi aku tidak dapat brbuat apa2 lagi atas kebaikanmu!” ~ Habis itu ia menengadah dan
berkata pula kepada Li Su-lam: “Engkoh Lam, kita tidak dapat melarikan diri, daripaa teraniaya,
biarlah kita mencontoh enci yang agung ini!” ~ Segera ia ambil golok Lau Khing-koh tadi dan
hendak membunuh diri.
“Jangan!” cepat Li Su-lam berseru mencegah. “Biarpun kita tidak dapat melawan musuh, tapi
kitapun jangan sekali2 membunuh diri. Enci yang baik ini mengorbankan diri setelah dia
membunuh To Liong lebih dulu, maka kalau mau meniru harus ikut caranya ini, bunuh diri boleh
asalkan sudah membinasakan musuh pula.”
Seruan Li Su-lam ini menyadarkan Nyo Wan, golok yang sudah terangkat tadi diturunkan pula,
katanya dengan suara lemas: “Engkoh Lam, kaum lelaki seperti kau tentu dapat mengadu jiwa
dengan musuh. Tapi aku tidak ingin tertawan konyol ditangan musuh!”
Melihat itu, Hulitu menjadi tidak sabar, mendadak ia membentak: “Tangkap mereka!” ~ Serentak
para busu Mongol mengerubut maju hendak membekuk Li Su-lam bertiga.
Pada saat itulah se-konyong2 terdengar suara bentakan orang yang keras: “Siapa berani menganiaya
putriku!” _Berbareng itu dua sosok bayangan orang melayang turun dari atas laksana dua ekor
burung raksasa.
Kedua orang yang melompat turun dari wuwungan rumah itu, yang satu berdandan sebagai koki,
yang lain seperti kaum hamba istana Koksu, tapi ilmu silat mereka sungguh luar biasa. Begitu orang
yang berdandan seperti koki itu sampai disamping Han Pwe-eng, sekali kedua tangannya bekerja,
kontan dua busu Mongol yang menubruk kearahnya itu dipegang seperti orang menangkap anak
ayam saja, menyusul ia putar kencang kedua tawanannya terus dilemparkan, keruan kedua busu
Mongol yang besar itu jatuh terguling dengan kepala dan muka babak belur.
Busu ketiga menjadi kaget, cepat ia hendak mundur teratur, tapi sudah kasip, iapun terpegang dan
kena dilempar pergi.
Dalam pada itu Hulitu telah menerjang pendatang yang berdandan sebagai kaum hamba itu, begitu
mendekat segera ia menghantam dengan Liong-siang-sin-kang.
“Hm, hanya ukuranmu saja belum perlu tanganku ikut bergerak,” jengek orang itu tanpa menangkis.
Maka terdengarlah suara “bluk” yang keras, pukulan Hulitu itu tepat mengenai tubuh sasarannya,
suaranya seperti mengenai kulit tambur, yang roboh bukan orang yang berdandan sebagai budak itu,
tapi Hulitu sendiri yang terpental dan terguling tak bangun lagi. Keruan kejut busu2 yang lain tak
terkatakan, tiada seorangpun yang berani maju pula.
“He, engkaupun datang kesini, Beng-tayhiap! Seru Li Su-lam terkejut tercampur girang.
Sementara itu Han Pwe-eng juga sedang melapor kepada orang yang berdandan sebagai koki
tadi:”Ayah, kami telah dicekoki entah racun apa, yang jelas tenaga kami menjadi sirna sama
sekali!”
Kiranya orang yang berdandan sebagai koki itu adalah ayahnya, Han Tay-wi, sedang orang yang
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
berdandan sebagai budak itu adalah Kanglam-tayhiap Beng Siau-kang. Sudah lama mereka
menyusup kedalam istana Yang Thian-lui itu dengan menyamar.
“Apakah kalian dapat berjalan? Tanya Han Tay-wi kemudian.
“Dapat,” jawab Han Pwe-eng.
“Baiklah, ikut saja bersama kami, siapa lagi yang berani merintangi kita?” ujar Han tay-wi.
“Aku yang akan merintangi kalian!” tiba2 suara orang yang rada kaku berbahasa Han
menanggapinya. “Hm, asalkan aku berada disini, betapapun kalian tidak dapat lolos!”
Suara itu tidak terlalu keras ,tapi menggetarkan anak telinga. Han tay-wi terkesiap, waktu ia
memandang kesana, tertampaklah seorang Lama berjubah merah sedang mendatangi dengan iringan
empat busu Mongol.
Han Tay-wi menduga Lama ini pasti Liong-siang Hoat-ong adanya, segera ia membentak: “Hm,
apakah kau inilah Koksu dari tartar Mongol? Baiklah mari kita coba2.”
“Supaya menghemat waktu dan tenaga, boleh kalian berdua maju sekaligus!” sahut Liong-siang
Hoat-ong.
Tidak kepalang gusarnya Han Tay-wi, tiba2 ia bergelak tertawa malah, katanya: “Sudah sekian
puluh tahun hidupku ini, tapi belum pernah kulihat manusia takabur semacam kau. Baiklah, kau
ingin hemat waktu dan tenaga, kami juga ingin lekas2 selesai. Kalian berjumlah berapa boleh maju
saja serentak, berapapun jumlah kalian tetap akan kami layani dengan berdua!”
Tapi Liong-siang Hoat-ong lantas menyuruh keempat muridnya mundur kesamping dan memberi
pesan agar jangan ikut turun tangan. Dipihak lain Beng Siau-kang juga lantas berkata kepada Han
Tay-wi agar memberi kesempatan lebih dulu kepadanya untuk menempur Koksu Mongol itu.
Mendengar permintaan Beng Siau-kang itu, Han tay-wi tersadar, ia pikir ilmu pedang Beng Siaukang
lebih lihai daripadaku, kalau dia yang menempur musuh tangguh itu rasanya akan lebih
meyakinkan, sedangkan kau menjadi sempat memberi pertolongan lebih dulu kepada Pwe-eng dan
lain2.
Dalam pada itu Beng Siau-kang sudah melangkah maju, katanya dengan acuh tak acuh kepada
lawannya: “Sudah lama aku mendengar koksu adalah jago nomor satu didaerah barat, maka
sekarang aku orang she Beng sengaja minta belajar kenal. Bila aku kalah selanjutnya aku akan
menghilang dari dunia persilatan, sebaliknya kalau aku beruntung menang, lalu bagaimana dengan
dirimu, Koksu yang terhormat?”
“Aha, nama kebesaran Beng-tayhiap juga sudah lama kudengar,” jawab Liong-siang Hoat-ong
dengan sikap congkak. “Sama halnya dengan kau, jika aku kalah, selanjutnya akupun malu untuk
menginjakkan wilayah Tionggoan lagi.”
“Bagus,” kata Beng Siau-kang. “Lalu bagaimana pula sikapmu bila nanti aku membawa pergi
anak2 muda itu?”
“Hahaha!” Aku kan sudah berjanji, jika aku kalah, selanjutnya aku takkan menginjak wilayah
Tionggoan lagi dan dengan sendirinya aku takkan ikut campur urusan kalian ini. Cuma ucapanmu
ini rasanya terlalu ter-buru2 dikemukakan sekarang ini.”
“Bangsa Han kami paling mengutamakan pegang janji, maka ada lebih baik aku bicarakan
sebelumnya,” sahut Beng Siau-kang.
Baiklah, apa yang kau kemukakan kuterima semuanya, sekarang silahkan lolos pedang dan
menyerang saja!” kata Liong-siang.
Namun Beng Siau-kang tidak lantas mengeluarkan pedangnya, hanya saja siap memegang gagang
pedang yang masih bersarang disarung pedangnya, kakinya paang kuda2 dan mata menatap tajam
kearah lawan.
Liong-siang Hoat-ong terkesiap, diam2 ia mengakui kehebatan lawan itu. Segera iapun
menghimpun tenaga dan mencurahkan pikiran, kedua matanya juga menatap Beng Siau-kang.
Seperti ayam jago aduan saja, sebelum bergebrak, kedua orang saling menatap pihak lawan dengan
sorot mata yang tajam.
Rupanya kedua orang sama2 menyadari hebatnya pertarungan yang akan terjadi, mereka tahu yang
dihadapinya sekarang adalah lawan tangguh yang belum pernah dijumpainya selama hidup ini.
Sebab itulah kedua orang sama2 tidak berani gegabah, sama2 menunggu detik yang paling
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
menguntungkan untuk mendadak melancarkan serangan.
Dalam pada itu Han Tay-wi, sedang memegang nadi putrinya, lalu berkata: “Kau telah dicekoki
Soh-kut-san (bubuk pelemas tulang), tapi jangan kuatir, ayah dapat memulihkan tenagamu.”
“Ayah jangan mengobati aku dulu, aku ingin menyaksikan pertandingan paman Beng melawan
paderi asing itu,” kata Pwe-eng. Kiranya sinona secara tidak langsung ingin ayahnya memulihkan
dulu tenaga Li Su-lam.
Segera Han Tay-wi sadar, ia pikir Li Su-lam memikul tanggung jawab yang berat, memang
sepantasnya menyembuhkan dia terlebih dahulu, tapi sekarang aku hanya memikirkan anak
perempuan sendiri, sungguh memalukan. Karena itu segera ia memegang kedua tangan Su-lam dan
berkata: “Tempelkan telapak tanganmu dengan tanganku, tutup mata dan himpun tenaga. Jangan
gubris terhadap apapun yang terjadi disekitarmu.”
Mestinya Li Su-lam menolak, tapi sudah lantas terasa suatu arus tenaga panas menyalur masuk
kedalam tubuhnya melalui telapak tangan. Terpaksa ia menuruti petunjuk Han Tay-wi, ia duduk
bersila, memusatkan pikiran dan menghimpun tenaga.
“Anak Eng,” dengan suara pelahan Han Tay-wi berkata kepada putrinya, “didalam bajuku ada
sebuah botol kecil, didalamnya ada tiga biji Pek-ling-tan, keluarkan semua pil itu , kalian bertiga
kebetulan seorang minum satu biji.”
Kiranya Han tay-wi tidak Cuma lwekangnya sangat kuat, dalam hal pengetahuan obat2an iapun
mahir, Pek-ling-tan adalah buatannya sendiri yang sangat mujarab untuk memunahkan racun.
Walaupun pil ini bukan obat khusus terhadap Soh-kut-san yang meracuni Li Su-lam bertiga, tapi
dengan bantuan saluran lwekang yang kuat dari Han Tay-wi, dalam waktu singkat dapatlah tenaga
korban dipulihkan.
Setelah Han Pwe-eng menemukan obat yang disebutkan ayahnya, ia berikan dua biji kepada Nyo
Wan, katanya dengan tertawa: “Silahkan melayani Li-toakomu.”
Tanpa ragu2 Nyo Wan menjejalkan sebiji pil itu kedalam mulut Li Su-lam, dengan hati ber-debar2
ia pandang pemuda itu. Diam2 ia bersyukur tadi tidak jadi bunuh diri, kalau tidak tentu sekarang
Su-lam tak bisa tentram menerima penyembuhan dari Han-locianpwe ini, demikian pikirnya.
Kedua muda mudi itu mempunyai persentuhan jiwa, Li Su-lam juga merasakan kehangatan atas
perawatan Nyo Wan itu, seketika semangat terbangkit, dalam sekejap saja tenaga sudah terhimpun
dan mulai dapat dikerahkan.
Sementara itu Beng Siau-kang dan Liong-siang Hoat-ong masih berdiri berhadapan dan saling
menatap tajam. Se-konyong2 Liong-siang Hoat-ong membentak keras, kedua orang sama2
menubruk maju.
Gerakan Beng Siau-kang cepat luar biasa, tahu2 pedang sudah dilolosnya, sinar pedang menyamber
secepat kilat ke Soan-ki-hiat di dada lawan, menyusul terus Kui-cong-hiat bagian perut dan Ih-gihiat
dibagian iga. Sekali menyerang tiga tempat, inilah jurus serangan istimewa kebanggaan Beng
Siau-kang,asalkan salah satu tempat itu tertusuk pedangnya, andaikan tidak mampus tentu juga
Liong-siang Hoat-ong akan terluka parah.
Namun Liong-siang juga tidak kalah lihainya, dia bertangan kosong tanpa membawa senjata, tapi ia
lantas mengunakan jubah merah yang semampir diatas pundaknya itu sebagai senjata, sekali Kasa
atau jubah merah itu mengebas, seketika segumpal awan merah bergulung menyamber kearah Beng
Siau-kang.
“Bret”, ujung pedang menembus kasa, tapi kasa merah itu Cuma tertusuk suatu lubang kecil saja,
kalau tidak diperiksa dengan teliti sukar diketahui. Ternyata serangan maut Beng Siau-kang itu
telah kena dipatahkan oleh Liong-siang hanya dengan suatu gerakan enteng saja.
Keruan Beng Siau-kang terkejut, ia pikir pantas hwesio gede ini bersikap congkak, nyatanya
memang memiliki kepandaian sejati, tampaknya kemurnian lwekangnya jarang ada tandingannya di
jaman ini.
Kalau Beng Siau-kang terkejut, ternyata Liong-siang Hoat-ong juga tidak kurang kagetnya.
Jubahnya itu adalah benda pusaka yangterbuat dari sutera istimewa, yakni dari ulat sutera yang
Cuma hidup di Puncak Thay-san (gunung Altai), uletnya sukar dilukiskan. Dengan senjata kasa itu
selama ini entah betapa banyak musuh tangguh yangtelah dikalahkan, selama itupun jubah itu
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
belum pernah terusak sedikitpun. Sekarang meski Cuma berlubang kecil saja, tapi sebelumnya sekali2
tak pernah terduga olehnya.
Karena itu diam2 Liong-siang juga kagum terhadap Beng Siau-kang, pantas namanya termashur di
Tionggoan, nyatanya ilmu pedangnya memang lain dari pada yang lain. Kalau aku tidak
melayaninya sepenuh tenaga mungkin sukar memperoleh kemenangan. Demikian pikir Liong-siang
hoat-ong.
Begitulah kedua pihak sama2 timbul rasa waswas, kedua orang sma2 mengeluarkan segenap
kemahiran masing2. Tertampaklah gumpalan awan merah berlibatan dengan sianr perak yang berputar2
dan menyamber kian kemari menyilaukan mata. Tapi jubah merah yang diputar Liong-siang
Hoat-ong itupun terpentang kuat sebagai layar perahu yang makan angin, benda yang elmas itu
seketika berubah laksana benda yang beribu kati beratnya, menghadapi tekanan berat itu, tokoh kuat
sebagai Beng Siau-kang juga merasakan napas sesak.
Cepat Beng Siau-kang ganti permainan pedangnya secara gesit, serangannya tambah kencang,
walaupun segera terguncang kesamping bila ujung pedangnya menyentuh kasa lawan, tapi Liongsiang
sendiri terpaksa juga harus bertahan mati2an karena kuatir kebobolan.
Disebelah lain Han Tay-wi dan Li Su-lam masih duduk bersila dengan telapak tangan menempel
telapak tangan, kedua orang sama2 mengerahkan tenaga dalam tanpa menghiraukan apa yang
terjadi disekitar mereka.
Selang tak lama diatas kepala Han Tay-wi mulai mengeluarkan kabut tipis, air muka Li Su-lam juga
mulai bersemu merah.
Rupanya keempat murid Liong-siang Hoat-ong juga bukan jago murahan, merekapun tahu Han taywi
sedang memulihkan tenaga Li Su-lam dan keadaan kedua orang itu sedang berada pada detik
yang paling gawat. Diam2 keempat orang itu berunding. Mereka anggap perintah guru agar tidak
ikut campur tadi hanya dimaksudkan agar tidak ikut bertempur tadi hanya dimaksudkan yang lain
tentu tidak termasuk dalam larangan itu. Terutama mengingat Li Su-al adalah Bu-lim Bengcu, kalau
tenaganya nanti sudah pulih pasti sukar dilawan, mumpung sekarang dia masih lemah, sebaiknya
diringkus saja dahulu. Begitulah keputusan mereka akhirnya.
Melihat keempat busu Mongol itu kasak kusuk sendiri, Han Pwe-eng menjadi kuatir dan menduga
kemungkinan apa yang akan terjadi, cepat ia peringatkan ayahnya: “Awas ayah, mungkin mereka
akan ……..” Benar saja, belum lenyap ucapannya keempat busu itu sudah menerjang tiba.
Sebagai tokoh silat kelas tinggi, pancaindra Han Tay-wi dengan sendirinya sangat tajam, tanpa
melihat kebelakang iapun mendengar suara angin yang menyamber, maka ketika busu2 itu sudah
mendekat, tanpa menoleh sebelah tangannya terus menghantam kebelakang.
Maka terdengarlah suara “blang”, yang keras, kedua busu paling depan juga menghantam dengan
keempat tangan mereka, akan tetapi mereka toh tergetar mundur oleh pukulan Han Tay-wi. Kedua
busu yang lain yang satu memakai pedang dan yang satu lagi memakai golok, serentak mereka
menerjang maju dari kanan kiri, tapi senjata mereka juga terguncang menceng kepinggir oleh angin
pukulan Han Tay-wi, keruan mereka kaget dan tidak berani sembarangan menyerang pula.
Han Tay-wi sendiri juga terkejut, ia mengira tenaga pukulannya itu dapat merobohkan satu-dua
orang lawan, tak terduga keempat orang itu hanya tergetar mundur beberapa langkah saja. Padahal
saat itu ia masih membagi tenaganya untuk menahan telapak tangan Li Su-lam, kalau terlalu banyak
menggunakan tenaga untuk menghadapi keempat musuh, tentu akan membikin susah pula kepada
Li Su-lam.
Kiranya keempat busu itu adalah murid kesayangan Liong-siang Hoat-ong, ilmu silat mereka rata2
masih diatas Hulitu dan Abul, dengan gabungan mereka berempat, apalagi Han Tay-wi harus
memikirkan Li Su-lam, maka sukarlah baginya untuk mengalahkan mereka, terpaksa ia harus main
bertahan. Untuk sementara keempat busu Mongol juga tak dapat membobol pertahanan Han Taywi.
Tiba2 salah seorang busu itu mendapat akal, katanya: “Kedua anak dara itupun buronan yang harus
ditangkap, biar kubekuk mereka lebih dulu.” ~ Habis berkata ia terus menubruk kearah Han Pweeng.
Cepat Han Pwe-eng menghindar, tapi “bret” bajunya terjambret robek, untung dia cukup gesit,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
meski ilmu silatnya sukar dikeluarkan, tapi langkahnya masih cepat hingga keburu menghindar
pada saat yang tepat.
Nyo Wan tidak tinggal diam, cepat ia ayun golok tinggalan Lau Khing-koh tadi. Busu itupun tahu
kedua nona itu sudah kehilangan tenaga dalam, tapi iapun terkejut ketika mendadak sinar golok
menyamber lehernya, lekas2 ia mengelak kebelakang.
Karena tidak bertenaga lagi, badan Nyo Wan menjadi lemas, serangannya mengenai tempat kosong,
ia sendiri lantas sempoyongan dan hampir jatuh.
Tiba2 busu itu ingat sesuatu, serunya denga tertawa: “Hahaha, nona manis, kau jangan kuatir,
pangeran keempat kami sangat suka padamu, aku pasti takkan melukai kau, maka kaupun tidak
perlu melawan aku dengan mati2an.”
Baru saja busu itu akan menubruk maju lagi, se-konyong2 ia ditolak oleh suatu arus tenaga kuat,
seketika ia tergetar mundur dua-tiga tindak.
Kiranya tenaga itu datang dari tenaga pukulan jarak jauh yang dilontarkan Han Tay-wi. Sekali ini ia
menggunakan lebih separoh kekuatannya sehingga dapat memaksa mundur busu itu dari jarak
beberapa meter jauhnya.
Saat itu Li Su-lam sedang menghimpun tenaga kepusarnya, ketika mendadak bantuan tenaga dari
luar menjadi surut, seketika hatinya tergetar, perhatiannya terpencar, didengarnya suara jerit kuatir
Nyo Wan,keruan ia terkejut dan berteriak: “Kenapa kau Adik Wan?”
“Lekas kau sembunyi kesini!” cepat Han Tay-wi berseru kepada Nyo Wan sambil menghantam tiga
kali ber-turut2 sehingga keempat busu itu didesak mundur beberapa meter kebelakang. Kesempatan
itu tidak di-sia2kan oleh Nyo Wan dan Pwe-eg, segera mereka berlri mendekati Han Tay-wi.
“Tenanglah Su-lam,” kata Han tay-wi dengan suara tertahan. “Bila perhatianmu terpencar, tidak
saja kau sendiri akan celaka, bahkan juga akan bikin susah nona Nyo.”
Sementara itu keempat busu Mongol telah maju lagi, satu diantaranya yang menjadi Toasuheng
membuka suara dengan menyeringai: “Tua bangka, she Han, betapapun lihai kepandaianmu juga
sukar melindungi semua kawanmu. Sebaiknya lekas kau menyerah saja, kalau tidak kau pasti akan
menyesal nanti.”
Han tay-wi tidak berani gusar, ia menahan perasaannya dan melayani musuh dengan sebelah
tangan. Ia harus membantu Li Su-lam menghimpun tenaga dan mesti melindungi pula Nyo Wan
berdua, keadaan memang kewalahan dan payah.
Diam2 Nyo Wan mendekati Su-lam dan menempelkan tubuhnya diatas pundak pemuda itu, ia
sudah bertekad akan melindungi Li Su-lam, andaikan keduanya harus mati biar aku mangkat lebih
dulu. Demikian pikir Nyo Wan.
Meski Nyo Wan hanya menempel pelahan diatas bahu Li Su-lam, tapi pemuda itu sudah merasakan
kehangatan badan sinona. Kedua orang mempunyai persentuhan kiwa, Li Su-lam sangat terharu
oleh tindakan Nyo Wan itu, timbuk semangatnya untuk pantang menyerah, aku harus lekas
mengembalikan tenagaku, se-kali2 aku takkan mati konyol disini. Demikian tekadnya.
Karena dorongan tekad itu, pikirannya lantas tenang kembali, segera ia memusatkan tenaga pula
dan tidak menghiraukan lagi keadaan sekitarnya.
Di sebelah sana pertarungan Beng Siau-kang dan Liong-siang Hoat-ong masih sama kuatnya.
Ketika melihat Han Tay-wi dan Li Su-lam berada dalam keadaan terancam, mau tak mau Beng
siau-kang menjadi kuatir. Padahal jago silat kelas wahid diwaktu bertempur mana boleh pikiran
terganggu. Sedikit meleng saja segera ia kena didahului oleh Liong-siang Hoat-ong, jubah merah
berkelebat, laksana gumpalan awan terus mengurung dari atas.
Beng Siau-kang putar pedangnya kesana kesini, sinar perak menyamber kian kemari, tapi tetap
sukar menembus gumpalan awan itu.
Ketika Han Tay-wi melirik ke arah Beng Siau-kang, sekilas dilihatnya kawan itupun terdesak
musuh, diam2 ia menghela napas, pikirnya: “Sungguh tidak nyana hari ini aku dan Beng-tayhiap
harus mati konyol disini, bahkan ikut membikin celaka Li Su-lam. Daripada mati konyol,lebih baik
mencari hisup sebisa mungkin.” ~ Tapi segera terpikir pula olehnya bila dirinya berbangkit, tentu Li
Su-lam akan mati, bahkan anak perempuannya dan Nyo Wan juga sukar lolos dari cengkeraman
musuh.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Saat itu Han Tay-wi benar2 sudah kewalahan dan payah, dia harus mengadakan pilihan antara mati
dan hidup. Selagi ragu2, tiba2 dilihatnya Li Su-lam telah membuka mata sambil mengeluarkan
suara siulan panjang, hawa yang menyesakkan dada telah dihembus keluar, habis itu segera ia
menarik kedua tangannya yang menempel tangan Han Tay-wi itu, lalu berbangkit dan berseru
lantang: “Cukup sudah, Han-locianpwe, silahkan engkau menyembuhkan putrimu saja!”
Dari suara siulan Li SU-lam yang panjang nyaring penyh tenaga itu, tahulah Han Tay-wi bahwa
lwekang pemuda itu benar2 telah pulih, saking girangnya ia menjawab: “Baiklah, lebih dulu
kubantu kau satu kali pukul!” ~ Berbareng kedua tangannya terus menghantam kearah musuh
dengan tenaga dahsyat.
Keruan keempat busu Mongol terkejut, cepat mereka menangkis dengan Liong-siang-sin-kang,
dengan gabungan tenaga mereka berempat toh tetap tergetar mundur ber-ulang2.
“Han-locianpwe, hematlah tenagamu untuk menyembuhkan putrimu,”seru Li Su-lam.
“Adik Wan, berikan golokmu itu kepadaku.”
Setelah menerima golok yang diminta itu, segera Li Su-lam menerjang maju dan melabrak keempat
busu itu.
Sesudah menenangkan diri, lalu Han Tay-wi berkata kepada putrinya: “Kalian berdua duduk saja
disini!”
Pwe-eng dan Nyo Wan menurut, mereka duduk berjajar. Segera Han Tay-wi menjulurkan kedua
telapak tangannya, sekaligus ia mengerahkan tenaga dalam untuk menyembuhkan Nyo Wan berdua
yang terserang racun Soh-kut-san itu.
Keempat busu tadi menginsyafi keadaan tambah gawat bagi mereka, segera mereka menghadapi Li
Su-lam dengan sepenuh tenaga.
Memang kurang leluasa bagi Li Su-lam dalam permainan Tat-mo-kiam-hoat dengan golok, namun
daya serangnya juga tidak ringan, ketika seorang busu mendadak melompat lewat sisinya,kontan Li
Su-lam menggertak sambil menghantam dengan sebelah tangannya. Lekas2 busu yang lain
menangkis pukulan itu dengan kedua tangan, akan tetapi lantas terdengar busu itu mendehem
tertahan, darah segar lantas menyembur pula dari mulutnya.
Rupanya Liong-siang-sin-kang busu itu sudah mencapai tingkatan yang lumayan, dengan
sendirinya pukulannya juga cukup dahsyat, akan tetapi masih kalah kuat daripada tenaga dalam
Siau-lim-pay yang diyakinkan Li Su-lam itu sehingga muntah darah. Sebaliknya Li Su-lam yang
baru saja pulih tenaganya juga merasakan hebatnya tenaga sakti Liong-siang-sin-kang lawan, berulang2
ia harus menghadapi serangan dahsyat pula dari busu2 yang lain.
Kalau keadaan Beng Siau-kang dan Li Su-lam disini dalam keadaan gawat, adapun dikamar rahasia
Yang Thian-lui sana keadaan Ci In-hong, Kok Ham-hi, Liu Tong-thian dan Cui Tin-san berempat
lebih2 berbahaya, mereka sudah berada dalam keadaan payah.
Ci In-hong dan Kok Ham-hi berdua bergabung telah mengeluarkan segenap tenaga “Yhian-luikang”
mereka, akan tetapi kepandaian mereka memang kalah setingkat, sesudah berlangsng lima
puluh jurus lebih, sudah belasan kali Ci In-hong berdua menggunakan jurus “Lui-tian-kau-hong”,
namun setiap kali menggunakan jurus itu berarti setiap kali pula memeras tenaga, kedua orang
sudah mandi keringat, kepala merekapun mengepulkan uap panas.
Sedang keadaan Cui Tin-san yang menempur Pek Ban-hiong lebih2 berbahaya lagi, ke-72 jurus
Eng-jiau-kang yang dilatih Pek Ban-hiong sudah berpuluh tahun lamanya dan sudah mencapai
tingkatan yang sempurna, setiap gerak serangannya dalam gaya apapun selalu mengincar tempat
mematikan di tubuh musuh, meski Tay-lik-kim-kong-ciang yang diyakinkan Cui Tin-san juga ilmu
pukulan dahsyat terkenal dari Siau-lim-pay, namun dia tetap kalah kuat, lewat 50 juruss lebih
keadaannya sudah tampak payah, tenaganya sudah terkuras separoh lebih, bukan saja tidak sanggup
balas menyerang, bahkan untuk bertahan saja susah. Maka keadaannya jauh lebih buruk dari pada
posisi Ci In-hong dan Kok Ham-hi.
Hanya partai antara Liu Tong-thian melawan Yang Kian-pek saja tampaknya berada diatas angin,
tapi karena keadaan kawan2nya tidak menguntungkan, betapapun mempengaruhi pikiran Liu Tongthian,
karena itu lamban-laun Yang Kian-pek dapat mengubah keadaan menjadi sama kuat.
Ci In-hong dan Kok Ham-hi berdua telah bersuit panjang beberapa kali ber-turut2, tapi mereka
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tidak mendapat suara jawaban, diam2 mereka heran kemanakah Beng Siau-kang saat itu, mengapa
tidak muncul atau tidak mendengar suara suitannya itu?
“Tidak perlu bersuara seperti setan, tidak ada orang yang mampu menolong kalian,” dengan tertawa
Yang Thian-lui meng-olok2. “Sekarang kalian tinggal pilih saja, ingin hidup atau mati? Masakah
kalian tidak tahu artinya?”
Ci In-hong berdua diam2 saja, dengan mati2an mereka bertahan. Ber-turut2 mereka melontarkan
lagi dua kali jurus “Lui-tian-kau-hong”, akan tetapi tak membawa hasil apa2. Sebaliknya Yang
Thian-lui terus meng-olok2 dan menyerukan agar kedua lawannya menyerah saja.
Sebenarnya YangThian-lui sendiri, juga kuatir kalau sebegitu lama masih belum dapat mengalahkan
lawan2 itu. Thian-lui-kang paling makan tenaga, ia kuatir andaikan nanti kedua murid keponakan
itu berhasil dibinasakan, rasanya ia sendiri juga payah, sedikitnya ia akan jatuh sakit keras, hal ini
berarti merusak himpunan tenaga latihan selama sepuluh tahun, bahkan kalau kurang benar
perawatannya mingkin juga membahayakan jiwanya. Karena itu diam2 ia berharap Liong-siang
Hoat-ong bisa lekas2 datang membantunya, kalau tidak kedua pihak pasti akan sama2 konyol
jadinya.
Begitulah kedua pihak sama2 mengharapkan datangnya bala bantuan, yang satu berharap
munculnya Liong-siang Hoat-ong, yan glain mengharapkan datangnya Beng Siau-kang, akan tetapi
kedua pihak sama2 meras kecewa karena yang diharapkan datang tidak nampak muncul.
Pada saat lain, tiba2 terdengar sayup2 pertempuran di luar sana, baik Yang Thian-lui maupun Ci Inhong
telah mendengar juga suara itu.
Yang Thian-lui terkejut kuatir, tiba2 terlihat seorang pengawal berlari masuk dan berseru melapor:
“Beng Siau-kang dan Han Tay-wi berusaha membobol penjara, kini mereka telah terkepung oleh
Liong-siang Hoat-ong, hendaklah Koksu jangan kuatir.”
“Bagaimana dengan Li Su-lam?” tanya Yang Thian-lui.
“Dia tidak akan dapat lolos, ia sedang dikerubut keempat murid Liong-siang Hoat-ong, mungkin
saat ini sudah tertangkap kembali.
Diam2 Ci In-hong mengeluh, sungguh runyam Beng-tayhiap yang diharapkan datang membantu itu
ternyata terhalang pula oleh musuh tangguh, yang lebih celaka lagi adalah keselamatan Li Su-lam
yang tak dapat lolos itu.
“Murid2 keponakanku yang baik, lebih baik kalian mengnyerah saja, mau tunggu kapan lagi?”
jengek Yang Thian-lui dengan tertawa.
“Cis, tidak tahu malu, siapa sudi menjadi murid keponakanmu?” damprat Ci In-hong. “Hari ini
kalau kami tidak dapat membinasakan kau demi nama baik perguruan kita, maka biarlah kami mati
saja disini.”
“Ya, jika bukan kau yang mampus biarlah kami yang mati saja, tidak perlu banyak omong!” bentak
Kok Ham-hi. Kedua orang sudah bertekad untuk ber-tempur mati2an, biarpun tenaga sudah lemah,
tapi semangat mereka tidak menjadi surut.
Dalam pertempuran itu terdengar oleh Yang Thian-lui suara pertempuran diluar itu seperti datang
dari belakang taman yan gmasih jauh. Mendengar suara ramai itu, diam2 ia heran darimana
datangnya musuh sebanyk itu, apakah Liong-siang Hoat-ong dapat menguasai keadaan atau tidak?
Ditinjau dari suara pertempuran yang riuh itu jaraknya rada jauh dari pada tempat tahanana Li Sulam,
jelas yang bertempur itu pasti bukan rombongan yan gdatang bersama Beng Siau-kang.
Mestinya keadaan Yang Thian-lui berada diatas angin, tapi karena perhatiannya sedikit terpencar,
segera Ci in-hong berdua dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik daripada tadi.
Sebaliknya pada saat itu keadaan Li Su-lam sedang menghadapi bahaya. Seorang diri ia harus
melayani kerubutan keempat murid Liong-siang Hoat-ong, karena adu pukulan dengan salah
seorang lawan tadi, dia merasa napas sesak dan darah bergolak dalam rongga dadanya.
“Bocah ini berani melawan mati2an, tidak perlu pikir lagi, binasakan saja dia,” seru busu pertama
tadi.
Tenaga Li Su-lam yang baru pulih, pula senjata yang digunakan kurang cocok, dibawah kerubutan
keempat lawan, setindak demi setindak ia terdesak mundur terus sehingga tanpa teras sudah dekat
dengan tempat Han Tay-wi.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Saat itu Han Tay-wi sedang menggunakan tenaga murninya untuk menghalau racun
sertamelancarkan jalan darah Nyo Wan dan Han Pwe-eng. Lwekang kedua nona itu lebih lemah,
dengan sendirinya cara penyembuhan untuk mereka memakan waktu lebih lama, saat itu keadaan
mereka sedang mencapai titik paling penting, sedikitpun tidak boleh terganggu. Maka Han tay-wi
menjadi serba susah, jika ia membantu li Su-lam ada kemungkinan kedua nona itu akan celaka.
Dalam pada itu Li Su-lam yang sudah dekat dengan mereka mendadak menyadari akan keadaan
mereka, segera ia berseru: “Jangan kuatir, Han-locianpwe, aku masih sanggup bertahan!” ~ Diam2
ia bertekad mengulur waktu selama mungkin, asalkan tenaga mereka sudah pulih, tentu adik Wan
ada harapan buat menyelamatkan diri.
Karena itu keempat busu tadi menjadi terhalang oleh perlawanan Su-lam itu. Busu Kedua memaki
dalam bahasa Mongol sambil menerjang dari samping, senjata yang dipakai adalah golok sabit yang
melengkung, ujung golok sempit tajam laksana kaitan, mendadak ia menyerang tempat yang tidak
ter-duga2 oleh Li Su-lam.
Terdengar “crit” satu kali, golok Li Su-lam menyambar lewat samping jidat busu itu sehingga
kopiahnya terpapas jatuh. Akan tetapi lengan kiri Su-lam sendiri juga tersayat ujung golok lawan
yan gtajam itu hingga mencucurkan darah walaupun lukanya tidak parah.
Menyusul itu Li Su-lam harus mengadu suatu pukulan pula dengan busu pertama yang telah
menyerang dari kiri, musuh dapat dipaksa mundur, tapi Li Su-lam sendiri juga menahan sakit
sekuatnya, ber-ulang2 ia tergetar oleh tenaga Liong-siang-sin-kang, dada terasa sesak, isi perut
serasa terjungkir balik, terpaksa ia mundur dua tindak.
Dilain pihak busu yang kedua yang jidatnya merasakan samberan angin tajam dan kopiahnya
terpapas jatuh,keruan ia ketakutan dan cepat melompat mundur untuk menghindarkan serangan lain.
Diam2 Li Su-lam berdyukur bahwa busu itu menjadi takut, kalau saja dia menyerang maju lagi
bersama temannya,pasti Li Su-lam tidak sanggup menangkisnya lagi. Karena itu Li Su-lam yang
tergetar mundur mendapat kesempatan untuk ganti napas dan kumpul tenaga, dalam sekejap saja
semangatnya pulih kembali,langkahnya tegap lagi. Ketika keempat musuhnya menerjang maju
segera dihadapinya dengan mati2an.
Ditengah pertarungan sengititu, sayup2 Li Su-lam mendengar dikejauhan ada suara gemerincing
beradunya senjata, ia pikir apakah barangkali Ci In-hong dan lain2 telah datang? Entah berhasil
tidak usaha mereka?
Disebelah sana Beng Siau-kang sedang putar pedangnya secepat kilat, serangan nya tidak pernah
kendur, tapi dibawah kurungan tenaga pukulan Liong-siang Hoat-ong, keadaan mereka hanya sama
kuat saja, maksud Beng Siau-kang hendak menembus kurungan tenaga pukulan musuh buat
membantu Li Su-lam menjadi gagal.
Tiba2 terdengar suara orang bergelak tertawa: “Hahaha! Su-lam anda, aku tidak bermaksud jahat
kepadamu, asalkan kau menerima syaratku, kau mau tinggal disini boleh kita hidup bahagia
bersama, jika kau mau pergi, akupun akan mengantar sendiri keberangkatanmu. Buat apa kau mesti
bergurau dengan jiwa sendiri?”
Nyata yang muncul ini adalah pangeran keempat dari Mongol, Dulai adanya.
“Hm, seorang laki2 kenapa mesti takut mati?” jengek Li Su-lam. “Boleh kau perintahkan ana
buahmu membunuh aku saja, buat apa kau pura2 baik hati?”
“ai, aku menjadi serba susah karena kau tidak mau terima nasehatku,” ujar Dulai dengan
menggeleng kepala. “Ya, apa boleh buat, terpaksa aku memenuhi kewajiban sebagai bekas
kawanmu dan mengantar kau kedunia Nirwana.”
Habis itu Dulai berpaling kepada Liong-siang Hoat-ong dan para busu, serunya nyaring: “Ada
beberapa pengacau berhasil meyusup kedalam Kok-suhu (istana Koksu), kini mereka telah dikurung
didalam kamar rahasia oleh Yang Thain-lui, rasanya sukar lolos bagi mereka sekalipunbersayap.
Maka kalian jangan ragu2, berlombalah dengan mereka, coba busu Mongol kita atau nusu bangsa
Nuchen mereka yang lebih dulu berhasil membekuk musuh.”
“Lapor Tuanku,” seru seorang busu Mongol “Yang berpedang ini adalah jago pedang terkenal di
daerah Kanglam, namanya Beng Siau-kang. Sedang si tua yang duduk disana itu bernama Han taywi,
juga seorang tokoh terkenal didunia persilatan Tionggoan.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“silahkan Tuanku menonton sebentar, dalam waktu singkat akan kubekuk jago pedang nomor satu
didaerah kanglam ini, seru Liong-siang Hoat-ong.
Beng Siau-kang menjadi gusar, dampratnya:”Bedebah, jangan omong besar, boleh coba cara
bagaimana kau akan membekuk diriku?” ~ Sret, pedangnya menyambar terlbih kencang sehingga
menimbulkan sianr perak yang menyilaukan. Dulai sampai terkejut dan tanpa terasa mundur dua
tigatindak.
Namun Liong-siang Hoat-ong juga telah putar jubahnya dengan kencang sehingga mirip layar yang
makan angin, sinar pedang Beng Siau-kang itu selalu tergulung dan menghilang oleh gumpalan
awan merah itu. Memang Liong-siang Hoat-ong sengaja memancing kegusaran Beng Siau-kang,
seorang jago silat kalau sampai naikdarah, maka pemusatan pikirannya menjad terganggu, inilah
yang diharap2kan Liong-siang Hoat-ong dari lawannya, makanya ia yakin dalam waktu singkat
akan dapat mengalahkan Beng Siau-kang.
“Bagus, bagus!” demikian Dulai menanggapi dengan tertawa. “Semakin kuat musuhmu, semakin
kelihatan ketangkasan jago Mongol kita. Orang she Beng ini biar dibereskan oleh Liong-siang
Hoat-ong sendiri, yang lain2 boleh bekuk saja kedua anak dara itu.”
“Siapa berani?” bentak Su-lam mendadak. “Ini mati dulu diujung golokku!”
Dengan memutar goloknya Li Su-lam bertahan mati2an di depan Han Tay-wi, setiap kali pihak
musuh mendesak maju selalu kena dipaksa mundur lagi oleh cara pertarungan nya yang nekat.
“Ai, Li Su-lam, mengapa kau melawan mati2an begitu? Terpaksa aku tidak sungkan2 lagi
kepadamu,” kataDulai, dengan gegetun. Lalu ia berseru kepada para busu Mongol: “Baiklah, kalau
tak dapat menawannya hidup2 boleh kalian binasakan dia saja!”
Serentak para busu Mongol itu mengiakan, segera murid pertama Liong-siang Hoat-ong tadi
mendahului membuka serangan sekali pukul dengan telapak tangannya, kontan mengenai
pergelangan tangan Li Su-lam sehingga goloknya terlepas dari cekalan.
Pada saat itulah tiba2 terdengar suara ribut2,ada seorang sedang membentak: “Akai, kau berani
membangkang perintah atasan? Kau dilarang masuk kesana!” ~ Lalu seorang lagi berseru: “He,
Tuan Putri juga datang! berhenti dulu, berhenti dulu!”
Suara2 bentakan dan seruan tadi bercampur aduk,menyusul terdengar pula suara gedebukan dua
kali, agaknya dua orang telah dibanting terguling oleh Akai.
Dulai terkejut, waktu ia memandang ke sana dilihatnya Minghui bersama Akai dan istrinya telah
menerjang masuk, Akai berada paling depan sebagai pembuka jalan dengan mengayun tali yang
panjang.
Hal ini benar2 tak pernah diduga oelh Dulai sehingga ia berseru heran: “Mengapa kaupun datang
kesini, Minghui?”
Diluar sana tiada seorangpun yang berani merintangi Minghui, sedangkan didalam Li Su-lam masih
dikerubut oleh keempat busu, pertarungan antara Liong-siang Hoat-ong melawan Beng Siau-kang
juga belum berhenti. Saat itu Li Su-lam sedang menghadapi serangan maut, melihat itu Minghui
tidak sempat menjawab teguran Dulai, tapi cepat ia melolos sebatang pedang dan dilemparkan ke
tengah kalangan pertempuran sambil berseru: “Tangkap pedang ini!”
Ketika itu golok Li Su-lam baru saja jatuh terpukul oleh murid pertama Liong-siang Hoat-ong tadi,
tapi pukulannya kebelakang berhasil emnggempur mundur murid Liong-siang Hoat-ong yang
kedua, dalam pada itu murid Liong-siang Hoat-ong ketiga telah membacok dengan goloknya.
Waktu mendengar seruan Minghui tadi, dengan cepat Li Su-alm lantas melopat keatas dan
menangkap pedang yang dilemparkan kearahnya itu, mendapatkan senjata yang cocok seketika
seperti harimau tumbuh sayap saja, segera pedangnya berkelebat, golok sabit busu ketiga yang
membacok itu kontan tertangkis pergi, bahkan ujung golok yang melengkung tertabas kutung.
Kiranya pedang ini adalah pedang Minghui yang pernah dihadiahkan kepada Nyo Wan itu, sesudah
Nyo Wan tertawan, pedang itu dirampas Dulai. Tapi waktu Minghui bertiga datang ke tempatYang
Thian-lui, dari pelayan Dulai mereka mendapat tahu bahwa Dulai sedang memeriksa penjara karena
disana ada tawanan yang berusaha lari. Minghui terkejut dan kuatir, cepat ia ambilpedang yang
terdapat dikamar Dulai itu terus memerintahkan anak buah Dulai membawanya kekamar tahanan Li
Su-lam.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Pedang yang dilemparkan kepada Li Su-lam itu sangat tajam, dengan senjata yang menjadi
kemahirannya itu u-lam mengeluarkan Tat-mo-kiam-hoat dari Siau-lim-apy yang hebat, sinar
pedang kemilauan menyamber kian kemari, seketika para busu terdesak mundur.
Dulai menjadi murka, bentaknya: “Minghui,apa apaan kau? Apa kau sudah lupa akan siapa dirimu?
Mengapa kau membela orang luar?”
“Aku justru tidak lupa bahwa aku adalah putri Jengis Khan, makanya aku bertindak demikian,”
Sahut Minghui. “Apalagi Li Su-lam adalah saudara angkatmu, mengapa kau melupakan hubungan
baik saudara angkat sendiri?”
“Hubungan baik pribadi tidak boleh melampaui kepentingan dinas,” kata Dulai. “Kecuali kau dapat
mengubah pikiran Li Su-lam agar suka membantu aku mengamankan daerah Tionggoan sini.”
“Aku tidak paham urusan kenegaraan, yang jelas bagiku ialah negeri Mongol kita cukup luas,rakyat
kita hidup aman dengan ladang peternakan yang tak terbatas, buat apa kita harus menduduki negeri
orang lain dan mengadakan perang hingga mengakibatkan jatuh korban yang tidak sedikit dengan
meninggalkan anak yatim dan janda2 yang tak berdosa?”
“Minghui, kau berani bicara seperti ini?” bentak Dulai dengan gusar. “Jika kau bukan adik
perempuanku, seketika juga aku membinasakan kau.”
“Memangnya akau sudah bosan dengantindak perbuatan kalian, tidak usah kau membinasakan aku,
bila perlu aku sendiripun ingin mati saja,” sahut Minghui.
“Minghui, sebenarnya apa kehendakmu? Jika aku membebaskan dia , apakah kau akan ikut pulang
dan tidak boleh bikin onar lagi,” kata Dulai dengan menahan gusarnya.
“Baik, aku menurut padamu,” sahut Minghui.
Segera Dulai membentak agar para busu yang mengerubut Li Su-lam itu mundur semua, juga
Liong-siang Hoat-ong dan Beng Siau-kang sama2 melompat mundur dari kalangan pertempuran.
Waktu Liong-siang Hoat-ong mengenakan kembali jubahnya, tertampak jubah itu banyak berlubang2
kecil seperti sarang tawon, diam2 ia terkesiap, pikirnya: “Orang ini berjuluk pedang sakti,
ternyata tidak bernama kosong. Jika pertarungan ini diteruskan, bukan mustahil aku sendiri akan
celaka bila meleng sedikit saja.”
Sambil menyimpan kembali pedangnya Beng Siau-kang juga darah masih bergolak di rongga
dadanya, kepala terasa pusing, diam2 iapun terkesiap dan berpikir:”Jika ber tempur lebih lama lagi,
andaikan aku dapat melukai dia, tapi aku sendiri juga pasti akan jatuh sakit berat, karena terlalu
banyak memeras tenaga.”
Dalam pada itu Minghui telah melepaskan sarung pedangnya kepada Li Su-lam dan berkata:” LIkongcu,
sayang aku tidak sempat ikut minum arak pesta nikahmu. Pedang inimestinya kuberikan
kepada enci Wan, sekarang barang kembali kepada pemiliknya lagi, boleh anggap saja sebagai kado
yang kusumbangkan kepada kalian.”
Su-lam memasukkan pedang ke dalam sarungnya, ketika menengadah,dilihatnya kedua mata putri
Minghui ber-linang2 dengan air mata yang hampir menetes, ia menjadi terharu dan merasa pilu pula
bagi putri Mongol itu, seketika ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya.
Di sebelah sana Han Tay-wi telah menghembuskan napas sambil menarik kembali kedua
tangannya, katanya: Cukuplah!”
Segera Nyo Wan melompat bangun dan berlari ke arah Minghui sambil berseru: “Enci Minghui,
engkau teramat baik kepadaku, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus membalas? Akupun
merasa kuatir bila engkau pulang ke Mongol sana.”
Setelah NYo Wan mendekat, tiba2 dua busu Mongol menghalanginya dengan tombak panjang.
Minghui lantas berkata dengan hamabr: “Ada waktunya manusia bekumpul dan ada masanya pula
harus berpisah. Bangsa Han kalian juga ada pepatah yang mengatakan di dunia ini tiada perjamuan
yang tidak bubar. Sebagai orang Mongol sekarang akupun harus pulang kandang, maka engkau
tidak perlu sedih bagiku. Mudah2an saja kalian hidup bahagia sampai hari tua.”
“Sudahlah, mari berangkat, Minghui,” kata Dulai.
“Nanti dulu,” sahut minghui. “Leih baik hendaknya kau menarik pasikan panah yang kau
sembunyikan itu.”
Kiranya pada waktu terjadi pertempuran sengit tadi, Mufali telah mengumpulkan semua busu
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
pengiring Dulai. Para busu itu pernah mendapat latihan memanah dari Mufali sendiri yang terkenal
sebagai “Pemanah Sakti”. Sejak tadi Mufali dan regu pemanah itu sudah bersembunyi di sekeliling
situ, asalkan ada perintah dari Dulai,serentak mereka akan menghamburkan anak panah.
Dulai memperhitungkan umpama dia melepaskan Li Su-lam dan kawan2nya, toh di tengah jalan
sana mereka akan dicegat oleh Yang Thian-lui dan anak buahnya. Maka dengan bergelak tertawa
iapun berkata: “Kau terlalu banyak curiga, Minghui. Aku sudah berjanji melepaskan Su-lam Anda,
masakah aku menjilat kembali ludahku sendiri?” ~ Habis itu ia lantas menyerukan agar Mufali
membubarkan pasukan panahnya.
Minghui merasa lega, tapi sayup2 didengarnya pula suara pertempuran ditempat lain, kembali ia
merasa sangsi, katanya: “Selama masih ditempat ini, aku masih tetap tidak percaya.”
“Tapi aku sendiri adalah tamu, aku tidak dapat ikut campur urusan dinegeri orang,” kata Dulai.
“Karena itu aku hanya menjamin jago2 Mongol takkan mengganggu orang2 Han ini, soal mereka
mampu menerobos keluar istana Koksu ini atau tidak tentunya adalah urusan mereka sendiri.”
Li Su-lam menjadi gemas, dengan alis menegak segera ia menanggapi: “Ya, istana Koksu juga
bukan sarang harimau atau kubangan naga, kalau kami masih sanggup masuk kesini tentu pula
mampu keluar lagi. Banyak terima kasih atas kebaikan tuan Putri, semoga engkau menjaga diri
baik2 dan tidak perlu kuatir lagi bagi kami.”
“Bagus, itu namanya laki2 sejati,” seru Dulai. “Nah, Minghui, orang sudah menyatakan
pendiriannya, sekarang kau boleh berangkat bersamaku.”
“Nanti dulu,” sahut Minghui. Lalu ia berpaling memanggil Akai dan kalusi, katanya kepada
mereka: “ Selama kalian ikut padaku, telah banyak suka duka yang kita rasakan bersama. Sekarang
aku harus ikut kakak pulang ke Mongol. Maka terpaksa kita harus berpisah disini. Jika kalian ingin
pulang atau kemanapun, silahkan kalian berangkat saja lebih dulu.”
Kiranya Minghui cukup kenal watak Dulai, luarnya Dulai memang tampak murah hati dan tulus,
tapi sebenarnya jiwanya sempit, suka curiga. Minghui yakin bila Akai dan istrinya ikut pulang ke
Mongol, kelak pasti akan mendapat susah. Sebab itulah Minghui sengaja memberangkatkan mereka
lebih dulu.
Akai yang berwatak jujur itu tidak paham maksud Minghui, tapi kalusi dapat menyelami pikiran
sang Putri, segera ia berkata: “Baiklah, banyak terima kasih atas budi kebaikan Tuan Putri. Marilah
kita berangkat lebih dulu, Akai!” ~ Sambil berkata ia remas tangan sang suami satu kali. Maka
sadarlah Akai, dengan mencucurkan air mata terharu iapun menghaturkan terimakasih dan mohon
diri kepada Minghui.
Sesudah Akai berdua pergi, dengan menahan airmata Nyo Wan juga mohon diri kepada Minghui,
hati masing2 sama paham bahwa perpisahan ini adalah perpisahan terakhir. Nyo Wan berkata:
“Semoga Tuan Putri selamat sampai dirumah dan hidup bahagia. Aku akan selalu ingat padamu,
hanya saja mungkin aku tidak dapat lagi membalas budi kebaikanmu.”
“Persahabatan kita terukir mendalam di hati, rasanya tak perlu kukatakan lagi,” ujar Minghui.
“Nona Beng dan nona To tentu akan datang juga kesini, bila ketemu mereka tolong sampaikan
salamku dan permintaan maaf kepada mereka berhubung aku tidak sempat mohon diri lagi. Nah,
aku berdoa semoga kalian suami istri hidup bahagia sampai hari tua dan tidak perlu lagi
memikirkan diriku.”
Sampai disini tiba2 terkenang olehnya pergaulannya yang mesra dengan Li Su-lam ketika di
Mongol dahulu, ia tidak berani berpaling kearah Li Su-lam lagi, dengan menahan airmata segera ia
berangkat bersama Dulai.
Setelah rombongan busu Mongol itu ikut pergi bersama Dulai, segera suatu rombongan busu
kerajaan Kim mengerubung tiba sambil ber-teriak2.
“Hm, biar kalian kenal akan kelihaianku,” jengek Beng Siau-kang. Berbareng itu ia terus menerjang
maju sambil putar pedangnya dengan kencang, seketika sinar perak berkelebat, menyusul
terdengarlah jerit mengaduh disana sini tak ber-henti2, dalam sekejap saja belasan busu Kim itu
telah roboh terjungkal, tapi mereka Cuma roboh tak bisa berkutik saja dan tiada yang mengalirkan
darah. Rupanya Cuma hiat-to mereka saja yang tertotok oleh ujung pedang Beng Siau-kang.
“Beng-heng berikan juga kesempatan padaku untuk mengendurkan ototku,” kata Han Tay-wi
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dengan tertawa.
Tadi ia dikerubut oleh kawanan busu Mongol dan belum sempat mengeluarkan kemahirannya, kini
rasa dongkolnya itu segera dilampiaskan atas diri kawanan busu Kim .
Begitulah ber-ulang2 tangannya bekerja, dengan gaya menangkap dan membanting seperti elang
menerkam kelinci saja, dalam sekejap saja berpuluh busu itu telah kena dipegang terus
dilemparkan. Masih sisa sebagian kecil busu Kim itu menjadi ketakutan dan be-ramai2 ngacir.
“Celaka!” tiba2 Su-lam menggumam.
“Ada apa?” tanya Nyo Wan heran.
“Mengapa ditempat Yang Thian-lui ini tiada orang kosen, masakah Cuma jago2 kelas rendahan
begini?” ujar Su-lam.
Pada saat itulah Beng Siau-kang seperti mendengar suara2 pertempuran di tempat agak jauh,
katanya cepat: “Disebelah timur laut sana seperti ada orang bertempur, bahkan kedengaran dibaratdaya
sana juga ada suara pertempuran.”
“Tentunya yang disebelah barat-daya itu adalah Ci In-hong dan lain2, sedangkan pertempuran di
timur laut sana mungkin anak murid Kay-pang,” ujar Han tay-wi. “Biarlah aku dan anak Eng pergi
membantu Kay-pang, Beng-heng dan Li-hiantit silahkan coba2 mengadu kekuatan dengan Yang
Thian-lui.”
Li Su-lam menjadi kuatir akan keselamatan Ci In-hong dan lain2 cepat ia menjawab: “Baiklah,
segera kita menuju jurusan masing2, setelah membobol kepungan musuh, nanti kita bergabung
kembali disebelah timur laut sana.”
Saat itu Ci In-hong dan Kok Ham-hi sedang bertempur sengit dengan Yang Thian-lui memang
sedang menghadapi saat gawat. Ber-ulang2 Yang Thian-lui mengejek dan menyerukan lawan2nya
menyerah saja. Akan tetapi Ci In-hong berdua tetap bertahan mati2an.
Suatu ketika, mendadak Yang Thian-lui melancarkan pukulan dahsyat, suatu pukulan maut yang
memakan seluruh tenaganya.
Menghadapi serangan maut itu, Ci In-hong menjadi nekat, ia gigit lidah sendiri hingga
menyemburkan darah, kedua mata Kok Ham-hi juga merah membara, kedua orang sama
menyambut serangan lawan dengan jurus “Lui-tian-kau-hong” yang terakhir dari segenap kekuatan
mereka.
Sama sekali Yang Thian-lui tidak menduga bahwa dengan menggigit lidah sendiri Ci In-hong masih
sanggup menghimpun dan mengerahkan segenap sisa tenaganya untuk mengadu pukulan terakhir,
ditambah lagi seorang Kok Ham-hi yang masih kuat, maka “Lui-tian-kau-hong” yang dilontarkan
ini sungguh luar biasa.
Yang Thian-lui terkejut dan terpaksa berpikir bila pukulannya itu diteruskan dan berhasil
membinasakan kedua lawan umpamanya, tapi dia sendiri tentu juga akan jatuh sakit parah dan itu
berarti himpunan tenaga selama sepuluh tahun akan terbuang percuma.
Yang Thian-lui menjadi bimbang, akan tetapi keadaan waktu itu sudah mirip anak panah yang telah
terlepas dari busurnya, siapapun takdapat menghindari pukulan lawan yang dahsyat.
Tampaknya kedua pihak pasti akan sama2 konyol dan Ci In-hong berdua juga pasti akan terluka
parah. Justru pada detik yang menentukan itu tiba2 pandangan mereka menjadi silau oleh
berkelebatnya sinar perak, sesosok bayangan melayang tiba secepat terbang. Yang datang ini
ternyata bukan lain daripada Kanglam-tayhiuap Beng Siau-kang.
Begitulah cepat datangnya Beng Siau-kang, tahu2 ia sudah menyelip di-tengah2 medan
pertempuran itu, “sret”, segera pedangnya menusuk Yang Thian-lui, sedangkan tangan lain dengan
pelahan, dengan tenaga yang sangat tepat ia dorong Ci In-hong kepinggir, berbareng pula sebelah
kakinya mengayun sehingga tenaga tendangan itu membikin Kok Ham-hi tergetar mundur dan
terlepas dari ancaman pukulan Yang Thian-lui.
Terdengarlah suara keras, Beng Siau-kang terhuyung mundur beberapa tindak, sedangkan lengan
baju Yang Thian-lui terpapas sebagian dan betebaran menjadi potongan kecil2.
Meski Yang Thian-lui tidak kecundang, bahkan tampaknya lebih unggul, tapi iapun terkesiap
melihat kehebatan Beng Siau-kang itu. Diam2 iapun bersyukur datangnya Beng Siau-kang itu tepat
pada waktunya sehingga adu serangan maut yang terakhir dengan Ci In-hong berdua tadi dapat
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dipisahkan.
Dalam pada itu ditengah jerit ngeri kawanan busu diluar sana, tertampaklah Nyo Wan dan Li Sulam
juga sudah menerjang tiba. Kedua pedang muda mudi itu bergabung, laksana kilat terus
menusuk Yang Thian-lui.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, Yang Thian-lui pikir paling selamat harus melarikan saja.
Setelah ambil keputusan demikian, segera kedua tangannya memukul sekaligus, dengan membawa
deru angin yang keras, pedang Li Su-lam dan Nyo Wan terguncang kesamping, berbareng itu Yang
Thian-lui lantas melangkah mundur dan menarik diri, segera terdengar pula suara gemuruh yang
sangat keras, ternyata tembok dibelakangnya telah kena dihantam bolong oleh pukulan Thian-luikang
yang dahsyat, ditengah berhamburnya debu pasir itu tahu2 Yang Thian-lui sudah melompat
keluar.
Jilid 17 bagian kedua ( TAMAT )
Dengan cepat Beng Siau-kang lantas memburu keluar. Untuk sejenak Ci In-hong Kok Ham-hi rada
melengong oleh kehebatan Yang Thian-lui mengetahui Yang Thian-lui hendak melarikan diri.
Waktu itu didalam rumah masih ada dua partai yang sedang bertempur, yang satu partai adalah Liu
Tong-thian melawan Yang Kian-pek, keadaan Liu Tong-thian tampak lebih unggul. Sedangkan
partai lainnya adalah Cui Tin-san melawan Pek Ban-hiong, agaknya keadaan Cui Tin-san rada
payah.
Melihat itu Li Su-lam tidak jadi mengejar Yang Thian-lui, tapi memburu kearah Pek Ban-hiong,
kontan pedangnya lantas menusuk sambil membentak: “Bangsat tua, bagaimana janjimu dahulu
ketika kau minta jiwamu diampuni? Mengapa sekarang kau datang kesini membantu pihak yan
gjahat?”
Pek Ban-hiong menjadi ketakutan, mendadak ia melancarkan serangan maut kepada Cui Tin-san, ia
pikir bila orang ini dapat dibekuk, tentu Li Su-lam harus berpikir dua kali sebelum mencelakainya.
Tak diduganya bahwa tindakan Li Su-lam jauh lebih cepat, sebelum ia sempat melaksanakan
maksud jahatnya, lebih dulu ujung pedang Li Su-lam sudah menembus tulang pundaknya. Kontan
Pek Ban-hiong roboh terguling.
“Jiwamu kuampuni lagi, hendaknya selanjutnya kau hidup prihatin,” bentak Su-lam. Ia pikir tulang
pundak Pek Ban-hiong sudah putus, ilmu silatnya sudah punah, sudah menjadi orang cacat yang tak
berguna lagi.
Disebelah sana Nyo Wan juga sudah bertindak terhadap Yang Kian-pek. Ia pernah menderita akibat
perbuatan Yang Kian-pek, kini berhadapan dengan musuh, tentu saja Nyo Wan sangat gemas, tanpa
ampun lagi ia melancarkan serangan2 mematikan.
Memangnya Yang Kian-pek sudah kewalahan menghadapi Liu Tong-thian,apalagi sekarang
ditambah seorang Nyo Wan, hanya beberapa gebrakan saja, “krek”,kontan kelima jari kiri Yang
Kian-pek terpapas kutung oleh pedang sinona.
Sambil menjerit Yang Kian-pek terus sambitkan pedangnya, cepat Liu Tong-thian menyampuk
jatuh pedang itu, ketika ia hendak menamatkan jiwa Yang Kian-pek, namun pemuda itu keburu lari
keluar. Berbareng itu kawanan busu Kim juga lantas merubung maju untuk merintangi Liu Tongthian
dan Nyo Wan berdua.
Ketika Yang Thian-lui sudah berada diluar rumah dengan membobol tembok, tiba2 datang seorang
perwira meberi lapor: “Diluar ada dua kelompok penyerang, suatu kelompok dikenal sebagai
kawanan pengemis dari Kay-pang, kelompok lain tidak dikenal kesatuannya, mohon koksu
memberi petunjuk lebih lanjut?”
“Jangan kuatir, aku sendiri segera akan menghadapi mereka,” kata Yang Thian-lui dengan terkejut
karena laporan itu.
Tapi belum lenyap suaranya, se-konyong2 dari balik semak2 sana melompat keluar seorang
pengemis tua sambil membentak: “Kau tidak perlu buang2 tenaga, pengemis tua sudah menunggu
kau disini!”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Segera Yang Thian-lui mengenali pengemis tua itu adalah Liok Kun-lun, Pangcu Kay-pang yang
termashur. Dengan gusar Yang Thian-lui membentak :”Pemerintah memberi kebebasan kepada
kaum pengemis kalian untuk bercokol di taytoh sini, sekarang kalian berani memberontak?”
“Kentut makmu !” damprat Liok Kun-lun. “Ini, berkenalan dulu dengan Pak-kau-pang (pentung
pemukul anjing) ini !”
Ketika Yang Thian-lui memukul dengan telapak tangannya, Liok Kun-lun juga menyambutnya
dengan pukulan disertai hantaman pentung, Pukulan menuju dada lawan dan pentung menghantam
betis.
Maka terdengarlah suara “blang” dan “plok” satu kali, kedua tangan beradu, Liok Kun-lun tidak
sanggup menahan kekuatan Thian-lui-kang yang dahsyat sehingga tergetar mundur dua-tiga meter
jauhnya. Sebaliknya “Pak-kau-pang-hoat” (ilmu permainan pentung pemukul anjing) adalah
kepandaian yang menjadi kebanggaan setiap ketua Kaypang, tanpa ampun betis Yang Thian-lui
terketok satu kali oleh pentung bambu Liok Kun-lun.
Pada saat itulah tampak datang bala bantuan sepasukan pemanah, segera Yang Thian-lui memberi
perintah agar melepaskan panah. Seketika terjadilah hujan panah.
Segera Beng Siau-kang, Li Su-lam dan lain2 memutar senjata mereka dengan kencang untuk
menghalau hujan panah itu dan menerjang kesana untuk bergabung dengan Liok Kun-lun.
Dimanakah Han-toako dan putrinya?” tanya Beng Siau-kang.
“Entah, tidak ketemu,” sahut Liok Kun-lun, “anak buahku terhalang diluar sana, aku sendiri yang
menyerbu kesini.”
Menurut rencana sebenarnya pihak kay-pang ingin menghindari pertempuran langsung dengan
pihak musuh, tapi sampai magrib Beng Siau-kang dan lain2 belum pulang, maka Liok Kun-lun
menjadi kuatir dan terpaksa mengerahkan anak buahnya. Akan tetapi setiba ditempat Yang Thianlui
itu anggota2 Kay-pang lantas terkepung oleh pasukan pengawal, hanya Liok Kun-lun saja yang
menerobos kedalam dengan mati2an, maksudnya hendak menolong Li Su-lam.
Begitulah setelah bergabung, serentak mereka menerjang ke arah barat sana. Tidak jauh
tertampaklah sepasukan pengawal kerajaan sedang berhadapan dengan anak buah Kay-pang,
pertempuran terjadi sangat sengit,tapi jumlah musuh jauh lebih banyak, maka dipihak Kay-pang
sudah jatuh korban tidak sedikit. Munculnya Li Su-lam telah memberi dorongan semangat kepad
anggota Kay-pang, serentak mereka bersorak menyambut kedatangan sang Bengcu. Dengan
gempuran luar dan dalam, dapatlah Su-lam dan anggota Kay-pang itu menerjang keluar dari
kepungan musuh.
Segera Su-lam minta Liok Kun-lun memberi perintah mundur kepada anak buahnya. Karena
dipihak pasukan pengawal kerajaan juga banyak jatuh korban, mereka menjadi kapok dan tidak
berani mengejar lebih jauh.
Sesudah mundur keluar Kok-suhu, segera Li Su-lam dihampiri seorang laki2 kekar beralis tebal dan
bermata besar, orang itu memberi hormat dan menyebut dirinya bernama Lau Tay-wi. Dengan
gembira Ci In-hong juga lantas mendekati mereka dan memperkenalkan Lau Tay-wi kepada Li Sulam,
karena itu barulah diketahui bahwa Lau Tay-wi ini adalah kakak kandung Lau Khing-koh.
Dengan menahan rasa sedih Li Su-lam lantas mengucapkan terima kasihnya serta rasa menyesal
atas pengorbanan Lau Khing-koh. Kemudian iapun menuturkan apa yang terjadi atas diri nona itu.
“Ya, sebelum mangkat nona Lau minta aku menyampaikan pesan padamu bahwa dia tidak sampai
merendahkan martabat keluarga Lau dan minta engkau suka memaafkannya, iapun minta aku
menyampaikan salam kepada Ci-toako. “Demikian Nyo Wan juga menutur dengan mengucurkan
airmata.”
Lau Tay-wi membanting kaki menyatakan rasa penyesalannya karena datangnya terlambat. Kiranya
Lau Tay-wi telah menerima surat tulisan Khing-koh yang isinya mencurigakan itu. Maka Lau Taywi
segera membawa suatu regu anak buahnya memburu ke Taytoh sini. Untung juga datangnya bala
bantuan ini sehingga anggota Kay-pang yang terkepung itu tidak sampai habis ditumpas musuh.
Dengan rasa sedih Ci In-hong juga minta maaf dan menyesal karena tidak berhasil menyelamatkan
Lau Khing-koh. Lau Tay-wi mencucurkan airmata sedih, tapi iapun menyatakan rasa bangganya
atas jiwa ksatria adik perempuannya yang pada saat terakhir masih sempat membunuh musuhnya
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dengan tangan sendiri.
“Saudara2, paling penting kita harus menerjang keluar kota raja, habis itu baru kita mencari jalan
untuk menuntut balas bagi nona Lau serta saudara2 kita yang menjadi korban,” kata Liok Kun-lun.
Maklumlah, setelah geger2 ini tentulah Kay-pang tidak dapat bercokol lagi di ibukota Kim ini.
Untunglah pasukan kerajaan sama sekali tidak menduga akan terjadinya serangan mendadak itu,
maka waktu pasukan besar dikerahkan untuk mengejar, namun pihak Kay-pang sudah sempat
menerjang keluar kota melalui pintu timur.
Kira seratus li diluar kotaraja Kim itu adalah sebuah kampung yang disebut “Wi-tiok-kang” (dusun
bambu kuning), disitu ada ranting Kay-pang dan sepi tempatnya, maka rombongan Kay-pang dari
taytoh untuk sementara lantas mondok disitu.
Besoknya Lau Tay-wi lantas memimpin anak buahnya pulang ke Pak-bong-san, begitu pula Han
Tay-wi dan anak perempuannya juga mohon diri menuju ke Yangciu.
Li Su-lam berunding dengan Beng Siau-kang apakah mereka juga mesti pulang saja ke Long-siasan,
tapi tiba2 Nyo Wan ingat sesuatu, katanya: “Sebelum berangkat Putri Minghui mengatakan
bahwa Beng-cici dan To-cici juga akan datang ke Taytoh sini, bolehlah kita tinggal beberapa hari
lagi disini agar kedua pihak tidak berselisih jalan.”
“Wah, bisa celaka kalau begitu,” seru Ci In-hong. “Jika mereka datang, tentu mereka akan mencari
akan mencari kabar tentang diri kita ke markas Kay-pang di tay-toh, bukankah itu berarti mereka
akan masuk ke perangkap yang dipasang musuh?”
“Jangan kuatir,” kata Liok Kun-lun, “biarpun anak buah Kay-pang telah mundur seluruhnya keluar
Taytoh, tapi kita masih mempunyai banyak kawan2 seperjuangan disana, aku akan mengadakan
kontak dengan mereka dan minta bantuan mereka untuk menjadi mata2 kita. Bila nona Beng dan
nona To datang tentu mereka akan dihubungi kawan2 kita.”
Karena tiada jalan lain, terpaksa apa adanya. Akan tetapi beberapa hari telah lalu dengan cepat dan
masih tiada kabar berita tentang To Hong dan Beng Bing-sia.
Sampai hari ketujuh, akhirnya masik suatu berita yang dibawa oleh seorang tabib kelilingan yang
ada hubungan dengan orang2 Kay-pang. Ada seorang laki2 yang memberi persen sepuluh tail perak
kepada tabib kelilingan itu agar menyampaikan kabar kepada orang Kay-pang bahwa ada tiga orang
nona jelita minta rombongan Beng Siau-kang dan Li Su-lam supaya bertemu dengan nona2 itu di
Jing-liong-kau (mulut naga hijau) yang terletak dilereng Pi-thian-keh (karang pembelah langit).
Menurut keterangan tabib itu, katanya ketiga nona itu masing2 she To, Beng dan Giam.
Dengan tertawa Ci In-hong lantas bersorak: “Kok-sute, kau tentu akan gembira, nona she Giam itu
pasti Giam Nio adanya.”
“Dimanakah Jing-liong-kau dan Pi-thian-keh itu? Nama tempat2 itu kedengaran sangat berbahaya,
mengapa mereka minta kita menemui mereka disana?” kata Kok Ham-hi.
“Berita ini tidak perlu disangsikan lagi, memang tempat2 itu sangat curam dan berbahaya,” kata Li
Su-lam. “Letak tempat2 itu adalah di suatu pegunungan di perbatasan negeri Kim dan Mongol.
Dibalik gunung sana adalah gurun Gobi yang luas, dibalik gunung sini adalah lereng2 gunung Kilian-
san yang memanjang kedaerah pedalaman. Dari negeri Kim ke Mongol harus melalui Jingliong-
kau diselat Pi-thian-keh itu.”
“Ya, Bing-sia dan To Hong pernah pergi ke Mongol, selain mereka rasanya tiada yang kenal nama
tempat itu,” ujar Beng Siau-kang.
Kok Ham-hi merasa sangsi, katanya: “Mengapa mereka tidak datang saja kesini, sebaliknya minta
kita menemui meeka di perbatasan Mongol itu?”
“Liok-pangcu,” kata Beng Siau-kang, “bukankah kemarin kalian mendapat kabar bahwa dalam
waktu singkat ini utusan Mongol akan pulang ke negerinya dan Yang Thian-lui akan ikut mereka ke
Mongol sebagai kunjungan balasan pihak Kim?”
“Benar, kabar ini kuterima dari orang kita yang berkerja di Kok-suhu, rasanya dapat dipercaya,”
kata Liok Kun-lun.
“Ah, tahulah aku, tentu mereka bermaksud menggempur musuh di tempat berbahaya itu,” kata Ci
In-hong.
“Ayah nona To terbunuh oleh Yang Thian-lui, anak murid Liong-siang Hoat-ong juga tersangkut
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dalam pembunuhan itu, mungkin merekapun mendapat tahu akan keberangkatan Yang Thian-lui ke
Mongol itu, makanya mereka hendak mencegat musuh ditempat berbahaya itu untuk menuntut
balas,” kata Su-lam.
“Tapi masih ada sesuatu yang aku merasa tidak paham, darimana mereka mendapat tahu kabar
keberangkatan Yang Thian-lui itu, siapa pula orang yang menyampaikan berita mereka kepada kita
melalui tabib kelilingan itu?” kata Kok Ham-hi.
“Ya, mungkin orang kosen yang tidak mau unjuk diri didepan umum, bisa jadi dia adalah
sahabatku, ketika mengetahui Bing-sia dan kawan2nya mau pergi ke Taytoh, maka di tengah jalan
orang kosen itu mencegah Bing-sia agar mengurungkan perjalanannya, lalu memberi saran agar
mencegat musuh di tempat yang disebutkan itu,” demikian kesimpulan Beng Siau-kang.
“Jika betul demikian halnya, wah, orang kosen itu sungguh2 misterius,” ujar Su-lam dengan
tertawa.
“Aku juga Cuma menerka saja, duduk perkara yang sebenarnya baru diketahui bila kita sudah
berada di Pi-thian-keh nanti,” kata Beng Siau-kang.
Sesudah berunding, diputuskan yang akan berangkat ke Pi-thian-keh hanya Beng Siau-kang, Liok
Kun-lun, Li Su-lam, Nyo Wan, Ci In-hong dan Kok Ham-hi berenam saja. Besoknya be-ramai2
mereka lantas berangkat.
Tempo hari sesudah melepaskan Li Su-lam, Dulai tidak bersemangat lagi untuk tinggal lebih lama
di taytoh, cepat2 ia mengakhiri perundingannya dengan pihak Kim, lalu delegasinya berangkat
kembali ke Mongol. Untuk menyatakan kesungguhannya, raja Kim sengaja mengutus “koksu”
Yang Thian-lui ikut Dulai ke Mongol sebagai kunjungan balasan.
Sepanjang jalan tidak terjadi apa2, suatu hari sampailah dikaki gunung itu, bila menengadah sudah
tertampak Pi-thian-keh (karang pembelah langit) yang curam itu. Dulai memberi perintah berkemah
dikaki gunung.
Esok harinya Minghui sudah ber-kemas2 untuk berangkat, tapi setelah di-tunggu2 tanpa terasa
matahari sudah menggantung tinggi di tengah langit, keadaan masih sunyi saja. Padahal menurut
kebiasaan pagi2 sekali sebelum sang surya menongol diufuk timur pasukan Mongol sudah
berangkat, petangnya sesudah matahari terbenam barulah pasukan beremah pula. Sekarang hari
sudah hampir siang, mengapa keadaan masih tenang2 saja?
Segera pula ia tertawai diri sendiri, pikirnya: “Buat apa aku gelisah tentang keberangkatannya?
Ayah sudah meninggal, kampung halaman sudah tiada artinya lagi bagiku, hidupku selanjutnya
hanya mirip sepotong kapas saja yang terombang ambing tak menentu, lebih cepat sampai di
kampung halaman tentu akan lebih cepat pula menderita.”
Begitulah selagi Minghui merasa kesal, tiba Dulai masuk kekemahnya dan menegur dengan
tertawa: “Adikku yang manis, sesudah melintasi pegunungan ini akan tibalah negeri Mongol kita.
Kau senang atau tidak?”
“Aneh, mengapa kau menjadi memperhatikan diriku? Aku tidak lebih hanya seperti boneka saja,
masakah aku berhak menentukan senang atau tidak?” jawab Minghui.
“Jangan bicara demikian, adikku,” kata Dulai dengan tertawa. “Diantara saudara2 kita, biasanya
akulah yang paling baik kepadamu, masakah aku takkan memperhatikan dirimu lagi sekarang?”
“Itukan dulu, sekarang yang kau perhatikan hanyalah kedudukan dan kekuasaanmu saja, kalau tidak
tentu kau takkan paksa aku pulang kesini,” jengek Minghui.
Tampaknya Dulai rada kikuk, dengan menyengir segera ia berkata pula: “Aku tahu, kau tentu lagi
terkenang kepada Su-lam Anda, bukan?”
“Jangan ngaco belo, aku tidak suka mendengar kata2mu yang tidak keruan,silahkan pergi saja jika
tiada urusan lain,” kata Minghui dengan muka cemberut.
“Baik, kita bicara urusan yang oenting,” kata Dulai. “Sesudah di rumah nanti, kukira soal
pernikahanmu tak bisa di-tunda2 lagi. Kau suka menikah dengan pangeran Tin-kok?”
“Suka atau tidak suka, memangnya mau apa lagi? Masakah aku berhak menyatakan pendirianku?”
ujar Minghui.
Dulai tercengang, semula ia menduga Minghui pasti akan tegas2 menolak kawin dengan Tin-kok,
tak tersangka sinona hanya pasrah nasib saja. Maka dengan tertawa Dulai berkata pula: “Sekali ini
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kau salah sangka, adikku. Maksudku mengajak kau pulang justru hendak memberikan hak pilih
bagimu.
Minghui diam saja tidak memberi tanggapan, dalam hati ia pikir urusan sudah begini masakah kau
masih hendak mendustai aku.
Namun Dulai lantas menyambung lagi: “Aku tahu kau memang tidak suka kepada Tin-kok. Bicara
sejujurnya, jika kau menjadi istrinya memang mirip setangkai bunga indah menancap di atas
seonggok tahi kerbau. Sesungguhnya akupun tidak ingin membikin penasaran padamu. Maka aku
hendak memenuhi harapanmu, Cuma saja kau harus tunduk kepada kata2ku.”
Minghui tetap diam saja, maka Dulai lantas melanjutkan: “Sebentar Tin-kok akan datang
menyambut kau, hendaklah kau bersikap rada ramah padanya, dengan demikian barulah aku dapat
membantu kehendakmu.’
“Selamanya aku tidak tahu cara membikin senang hati orang,” sahut Minghui dengan dingin.
“Bukan maksudku menyuruh kau munduk2 padanya, cukup kau bersikap lebih lunak daripada
biasanya,” ujar dulai. “Hanya saja nanti bila dia datang, harap kau ikut keluar menyambutnya,
sedikitnya biar dia melihat wajahmu.”
Dengan tidak sabar Minghui menjawab: “Sudahlah memangnya aku adalah bonekamu, apa
kehendakmu akan kulakukan saja, supaya kau puas.”
Dulai geleng kepala, baru mau bicara lagi, tiba2 terdengar suara pengawal melapor di luar:
“Pangeran Tin-kok sudah tiba!”
“Berapa banyak pengikut yang dia bawa?” tanya Dulai.
“Kira2 beberapa pulauh orang,” sahut pengawal itu.
“Baiklah, suruh panglima Mufali meladeni pengiring2 Tin-kok,” seru Dulai. Lalu katanya kepada
Minghui: “Adikku yang manis. Sekarang marilah ikut kekuar!”
Memangnya Minghui sudah bertekad akan membunuh diri bilamana dipaksa kawin dengan Tinkok,
sebab itu tanpa membantah iapun ikut Dulai keluar menyambut tin-kok.
Kelihatan Pangeran tin-kok sedang menuruni bukit di kejauhan sana, agaknya dari jauh iapun dapat
melihat putri Minghui berdiri berjajar dengan Dulai dibawah panji Mongol yang berkibar itu. Tinkok
sangat girang, ia pikir Dulai ternyata tidak berdusta dan betul2 telah dapat membujuk Minghui
untuk pulang menikah dengan aku.
Segera Tin-kok melarikan kudanya ke depan Dulai dan Minghui, dengan tertawa ia menyapa:
“Selamat datang, selamat pulang ke tanah air, tuan putri!”
Melihat Minghui diam saja, sikapnya dingin, tapi juga tidak unjuk rasa gusar, legalah hati Dulai,
segera ia mewakilkan menjawab: “Adikku telah banyak bergaul dengan wanita Han sehingga
ketularan rasa malu2. Tapi selanjutnya kita adalah orang sekeluarga, marilah kita masuk kedalam
untuk minum barang beberapa cawan.”
Senang sekali Tin-kok mendengar kata2 “Selanjutnya kita adalah orang sekeluarga” itu, ia
menyangka Dulai akan bicara tentang pelaksanaan nikahnya dengan Minghui, maka tanpa curiga
apa2 ia lantas ikut Dulai ke dalam kemah dan meninggalkan pengiringnya di luar yang segera
dilayani pula oleh Mufali dengan anak buahnya.
Setiba didalam kemah, tin-kok berusaha mengajak bicara dengan Minghui, tapi sang putri ternyata
acuh tak acuh, bila perlu hanya menjawab ala kadarnya saja.
“Minghui, boleh kau menyuguh satu cawan kepada pangeran, lihatlah betapa ia memperhatikan dan
sayang padamu,” demikian kata Dulai.
“Ah, tidak usah, tidak usah!” kata Tin-kok dengan tertawa sehingga mulutnya yang lebar itu
menjeplak seperti mulut barongsay.
“Harus, harus!” seru Dulai.
Tapi Minghui tetap diam2 saja, maka Dulai menambahkan: “Ah, mengapa kau masih malu2
terhadap orang sendiri? Baiklah, biar aku mewakilkan kau menyuguh satu cawan kepada pangeran.”
~ Lalu ia menyodorkan cawan arak ke hadapan Tin-kok.
Terpaksa Tin-kok rada kecewa karena Minghui tidak mau menyuguh arak padanya, maka dengan
mengerut kening ia menolak suguhan Dulai itu, katanya: “AH, mana aku berani menerima
suguhanmu!”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Dilaur dugaan, se-konyong2 Dulai membanting cawan arak itu ketanah sambil membentak: “Baik,
jadi kau tidak sudi minum arak suguhan , tapi lebih suka kepada arak paksaan!”
Belum lenyap suaranya, mendadak dari kedua samping kemah menerjang masuk dua orang busu
yang telah siap sejak tadi, yang satu terus mencekik leher Tin-kok dari belakang, yang lain
memegani kedua tangannya.
Tenaga pembawaan Tin-kok sangat hebat, sekali kedua tangannya merontak, “krak” kontan tangan
busu yang memegangnya itu keseleo sendiri. Akan tetapi Tin-kok sendiri juga merasa tangannya
kesakitan hingga tenaga sukar dikeluarkan lagi. Dalam pada itu busu yang mencekik leher Tin-kok
itu makin keras meremaskan jari2nya yang kuat, lamban-laun lidah Tin-kok menjulur keluar,
tubuhnya menjadi lemas, napaspun putus, matilah Tin-kok seketika.
Kiranya sesudah Dulai membantu kakak ketiganya yaitu Ogotai, merebut kedudukan Khan agung,
lalu Dulai berhasil memegang kekuasaan militer seluruhnya, begitu besar kekuasaannya sehingga
hampir melampau Khan sendiri. Maka satu2nya orang yang disirikinya hanya pangeran Tin-kok
saja. Sebab Tin-kok adalah salah satu panglima yang mempunyai pasukan terkuat, suku yang
dipimpinnya juga terkenal suku yang paling gagah berani di medan perang. Semula Dulai
bermaksud memperalat adik perempuannya untuk merangkul Tin-kok kepihaknya, tapi pertama
Minghui belum pasti mau menurut padanya, pula Tin-kok juga seorang yang punya ambisi dan
ingin kuasa. Dulai kuatir kalau usaha merangkulnya tidak berhasil, sebaliknya akan membikin
urusan menjadi runyam, karena itu ia pikir lebih baik binasakan Tin-kok saja untuk melenyapkan
lawan kuat selamanya, babat rumput harus sampai akar2nya.
Waktu itu pasukan Tin-kok berkedudukan digurun Gobi yang berbatasan dengan negeri Kim yang
dipisahkan oleh sebuah gunung. Untuk membunuh Tin-kok tentunya tidak dapat dilaksanakan di
tengah2 pasukannya, maka Dulai sengaja memancing Tin-kok ke dalam kemahnya dengan minghui
sebagai umpan.
Kedua busu yang membantu Dulai itu adalah murid2 kesayangan Liong-siang Hoat-ong, yaitu Abul
dan Hulitu. Betapapun kuat tenaga pembawaan Tin-kok juga sukar melawan Liong-siang-sin-kang
yang dikeluarkan oleh kedua busu itu.
Abul sendiri karena tangannya keseleo, segera Dulai menghiburnya, dan menjanjikan akan diberi
hadiah yang pantas, lalu suruh Hulitu membawa kawannya itu ke belakang kemah untuk diberi
pengobatan seperlunya. Kemudian Dulai memerintahkan pula untuk memanggil Mufali, Liong0-
siang Hoat-ong dan Yang Thian-lui.
Sesudah mengatur segala sesuatu, lalu Dulai berkata kepada Minghui dengan tertawa: “Adikku
yang manis, pernah kukatakan akan memenuhi keinginanmu agar kau tidak jadi menikah dengan
manusia buruk ini, lihatlah sekarang, bukankah aku tidak berdusta padamu?”
Sebenarnya Minghui juga sangat benci kepada Tin-kok, tapi menyaksikan betapa kejinya cara Dulai
membereskan saingannya itu, mau tak mau Minghui merinding juga.
Selang tak lama datanglah Mufali, Liong-siang Hoat-ong dan Yang Thian-lui. Segera Mufali
melaporkan bahwa belasan bahwa belasan orang pengiring Tin-kok juga telah dikubur hidup2
setelah lebih dulu dicekoki arak hingga mabuk.
“Bagus!” puji Dulai. “Sekarang kita harus pikirkan pula pasukan Tin-kok yang berjumlah puluhan
ribu dan berkemah dibalik gunung sana. Menurut pendapatmu, cara bagaimana harus kita selesaikan
urusan ini.”
“menurut pendapat hamba, belasan pengiring Tin-kok itu mudah dibereskan seluruhnya, tapi
pasukan yang berjumlah puluhan ribu prajurit itu harus ditaklukkan dengan akal dan cara damai,”
kata Mufali.
“Benar, aku sependapat dengan kau,” kata Dulai. “Tapi kita harus memasuki cara yang taktis dan
mengatasi mereka secara kilat. Kau berangkat ketengah pasukan Tin-kok itu bersama Hoat-ong dan
Yang-koksu dengan membawa kepala Tin-kok, setiba di-tengah2 perwira2 pasukannya itu barulah
kau perlihatkan kepalanya Tin-kok, tentu anak buah Tin-kok itu akan melengong, disitulah kau
harus ambil tindakan cepat, gunakan cara halus dengan membujuk mereka dan pakai kekerasan pula
dengan menggertak, dengan demikian anak buah Tin-kok itu pasti akan mati kutu, maka kau perlu
bertindak pula secara bijaksana dengan menghibur mereka, siapa yang tunduk kepadaku diberi
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kenaikan pangkat satu tingkat dan tiap2 prajurit diberi hadiah sepuluh tahil perak, yang
membangkang boleh dibunuh ditempat. Dengan demikian tentu mereka takkan berani
memberontak. Dibawah pengawalan Hoat-ong dan Yang-koksu, kukira keselamatanmu akan
terjamin dengan baik. Cuma Yang-koksu adalah tamu kita, rasanya tidak enak bila beliau harus ikut
menempuh bahaya.”
Mufali mengiakan ber-ulang2. Sedang Liong-siang Hoat-ong lantas bergelak tertawa dan berkata:
“Ah, tuanku terlalu banyak memuji. Sesungguhnya dengan bantuan Yang-koksu, memang tiada
sesuatu persoalan yang perlu kita takuti.”
Begitu pula Yang Thian-lui juga lantas berkata: “Atas kepercayaan yang mulia, sudah tentu hamba
akan berbuat sekuat tenaga, memang inilah kesempatan baik bagiku untuk berbakti kepada Khan
Agung.”
“Baiklah. Boleh kalian berangkat saja,” kata Dulai.
Begitulah Mufali bertiga lantas menuju kepangkapan pasukan Tin-kok itu. Diam2 Mufali berkuatir
bahaya apa yang akan dihadapinya nanti. Ia tidak tahu tempat yang berbahaya justru bukan ditengah
pasukan Tin-kok, tapi adalah di Pi-thian-keh, disana Beng Siau-kang, Li Su-lam dan lain2 sedang
menantikan mereka.
Rombongan Li Su-lam itu sudah sampai di Pi-thian-keh kemarin malam, Cuma mereka belum dapat
menemukan sampah diatas gunung, maka sayup2 suara ringkik kuda dapat terdengar. Karena hari
sudah gelap, pula pegunungan sesunyi itu tidak leluasa untuk mengeluarkan suara buat memanggil,
sebab cara demikian pasti akan diketahui musuh. Maka mereka lantas bermalam disitu. Besoknya
menjelang lohor, belum lagi rombongan Bing-sia kelihatan, sebaliknya rombongan Liong-siang
Hoat-ong bertiga yang hendak melintasi selat pegunungan itu dipergoki mereka lebih dulu.
Su-lam bergirang, katanya: “Aneh, mengapa Cuma mereka bertiga saja, sedang pasukan Dulai tidak
bergerak? Sungguh kesempatan yang bagus bagi kita untuk menuntut balas.’
“Entah mengapa Beng-cici dan To-cici masih belum datang,” kata Nyo Wan.
“Keadaan sudah mendesak, terpaksa tidak lagi menunggu mereka,’ ujar Ci In-hong yang lebih
mementingkan soal pembersihan perguruan. “Kepandaian memanah Bengcu sangat hebat, bila
mereka sudah berada dalam jarak panah, harap Bengcu suka memanah dulu kuda tunggangan
mereka.”
Li SU-lam setuju atas saran itu, segera ia siapkan busur dan tiga batang anak panah. Busur dan
panah itu adalah hadiah Jengis Khan dahulu, busur terbuat dari baja, daya bidiknya jauh lebih kuat
daripada busur biasa. Dalam jarak ratusan langkah pasti mati sasarannya bila terbidik. Untuk
membinasakan tokoh kelas wahid sebagai Liong-siang Hoat-ong dan Yang Thian-lui memang tidak
gampang, tapi untuk memanah kuda tunggangan mereka kiranya tidak sulit bagi Li su-lam.
Begitulah selagi suasana tegang mulai memuncak,keadaan sunyi senyap, tampaknya Mufali bertiga
sudah memasuki jarak panah, pada saat LI Su-lam mulai angkat busurnya, se-konyong2
terdengarlah suara gemuruh yang menggetarkan lembah gunung, dua potong batu besar sebesar
meja tahu2 menggelinding dari atas kebawah gunung. Menyusul dari atas gunung sana muncul tiga
sosok tubuh wanita muda.
“Ha, Bing-sia, kalian sudah datang!” seru Ci in-hong.
Ketiga wanita muda itu memang benar adalah Beng Bing-sia, To Hong dan Giam-wan, Agaknya
merekapun sejak tadi sembunyi disitu, hanya sebelum jejak musuh kelihatan jelas mereka tidak mau
tampilkan diri.
Beng Siau-kang cukup mengenal kepandaian ketiga nona itu, diam2 ia menjadi heran melihat kedua
potong batu besar yang menggelinding dari atas gunung itu, padahal berat batu itu masing2
sedikitnya beribu2 kati, dengan gabungan tenaga ketiga nona itupun belum tentu dapat bikin batu
besar itu bergeser, apa mungkin ada orang kosen yang diam2 membantu nona itu?
Begitulah kedua potong batu raksasa itu masih menggelundung kebawah dengan membentur tebing
karang disana sini hingga menerbitkan suara gemuruh. Liong-siang Hoat-ong dan Yang Thian-lui
melarikan kuda mereka berjalan didepan Mufali, maka mereka yang harus menghadapi bahaya
lebih dahulu. Meski ilmu silat mereka sangat tinggi juga mesti berusaha menghindari terjangan
batu2 besar itu. Tapi jalan pegunungan itu rada sempit untuk menghindarpun sukar.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Cepat Liong-siang Hoat-ong melompat dari atas kudanya, ketikabatu besar menyambar tiba, ia
mengelak kesamping sambil kedua tangannya menaympuk, kontan arah batu besar itu dibelokkan,
maka terdengarlah suara gemuruh pula, batu itu jatuh kedalam jurang disebelah sana. Batu raksasa
yang lain juga kena disampuk jatuh oleh tangan sakti Thian-lui-kang yang dikeluarkan Yang Thianlui,
batu itupun meng-gelinding2 kebawah gunung dengan menerbitkan suara gemuruh.
“Budak2 kurangajar, berani main gila terhadap kita!” bentak Liong-siang gusar.
“Biar kuhabisi nyawa mereka,’ kata Mufali. Sebagai ahli pemanah yang sama terkenalnya seperti
Cepe, segera Mufali pentang busur dan sekaligus melepaskan tiga buah anak panah.
“Bagus, coba aku adu kepandaian pemanah dengnan kau!” bentak Su-lam. Segera iapun
membidikkan tiga batang panah, terdengarlah suara gemerincing tiga kali, enam batang panah telah
saling tumpuk ditengah udara dan jatuh semua kebawah.
Tidak Cuma beguitu saja, bahkan Li Su-lam lantas membidikan dua panah pula kearah kuda2
tunggangan Liong-siang Hoat-ong dan Yang Thian-lui. Saat itu kedua ekor kuda itu sudah
ditinggalkan oleh tuannya dan sedang lari ketakutan oleh suara gemuruh jatuhnya batu2 raksasa
tadi, yang satu lari ketimur dan yang lain kebarat. Tapi ilmu memanah Li Su-lam benar2 luar biasa,
kedua kuda itu ber-turut2 kena dipanah roboh. Diam2 Mufali terkejut menyaksikan kepandaian
memanah Li Su-lam itu dan merasa dirinya masih kalah setingkat.
Dalam pada itu Beng Siau-kang dan rombongan sudah lantas unjuk diri. Dengan cepat Beng Siaukang
dan Liok Kun-lun menerjang kedepan.
“Liong-siang Hoat-ong, tempo hari urusan kita belum selesai, biarlah sekarang saja kita pastikan
kalah atau menang,” teriak Beng Siau-kang.
“Yang thian-lui, marilah ku-coba2 lagi pukulanmu!” demikian Liok Kun-lun juga lantas
menantang.
Melihat jumlah lawan jauh lebih banyak, terkesiap juga hati Liong-siang Hoat-ong. Segera ia lantas
membentak: “Beng Siau-kang, jika berani hayolah kita satu lawan satu!”
“Hm, memangnya kau kira orang she Beng ini biasa main kerubut?” sahut Beng Siau-kang dengan
tertawa. Berbareng pedangnya lantas mendahului menusuk kedada lawan.
“Bagus!” sambut Liong-siang Hoat-ong sembari angkat tongkatnya, “trang”, pedang Beng Siaukang
tertangkis kesamping.
Dalam pada itu Yang Thian-lui juga lantas menjengek: “Hm, pengemis tua bangka macam kau juga
berani menempur aku satu lawan satu?” ~ Sekali pukul, kontan Liok Kun-lun tergetar mundur
beberapa tindak.
Sementara Ci In-hong dan Kok Ham-hi juga sudah menyusul tiba, seru mereka: “Liok-pangcu,
keparat ini adalah murid murtad perguruan kami, harap engkau serahkan dia kepada kami saja!”
Tenaga dalam Liok Kun-lun memang kalah kuat daripada Yang Thian-lui, dadanya sesak oleh
getaran Thian-lui-kang tadi, terpaksa mundur teratur dan memberi kesempatan kepada Ci In-hong
berdua untuk mengadakan pembersihan perguruannya.
Disebelah lain Mufali yang cerdik itupun tidak tinggal diam, ia pikir daripada aku tinggal disini
yang toh tidak dapat membantu bertempur, lebih baik aku kabur kembali kesana untuk minta bala
bantuan. Karena itu sesudah panahnya terbentur jatuh oleh panah Li Su-lam tadi, segera ia memutar
kudanya terus dilarikan.
Li Su-lam sadar akan akibatnya bila Mufali sampai lolos, cepat ia pentang busur pula dan sekaligus
membidikan tiga buah anak panah. Namun kepandaian memanah Mufali selisih tidak banyak
dengan dia, segera ia sambut serangan itu dengan tiga buah anak panah, dua panah masing2 saling
bentur dan jatuh ditengah jalan, panah ketiga Li Su-lam berhasil menyambar kesasarannya, tapi
sempat dihindarkan Mufali dengan memberosotkan dirinya kebawah pelana kuda. Waktu Li Su-lam
melepaskan anak panah keempat, namun sudah tidak keburu lagi, Mufali sudah melarikan kudanya
secepat terbang.
Sekali ini Liong-siang Hoat-ong menempur Beng Siau-kang dengan menggunakan tongkat besar,
dalam hal senjata ia tidak rugi lagi seperti tempo hari dia hanya menggunakan jubahnya saja
sebagai senjata.
Tongkat paderi yang digunakan Liong-siang itu terbuat dari baja murni dengan bobot yang berat,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
apalagi lwekangnya memang lebih tinggi setingkat, dengan sendirinya pedang Beng Siau-kang
tidak mampu menabasnya. Akan tetapi ilmu pedang Beng Siau-kang mengutamakan kegesitan
dengan macam2 variasi, be-runtun2 ia menyerang belasan kali sehingga Liong-siang Hoat-ong rada
kerepotan, namun setiap kali tongkatnya berputar kencang, “trang”, sekali kedua senjata terbentur,
kontan Beng Siau-kang merasakan tangannya kesemutan, maka pertarungan sengit berlangsung
pula dengan cepat.
Melihat pertempuran yang seru itu, Li SU-lam sampai menahan napas, tapi ketika ia menoleh
kesana, dilihatnya Ci In-hong dan Kok Ham-hi yang menempur Yang Thian-lui ternyat lebih2
mendebarkan hati. Tiga sosok bayangan orang berkelebat kian kemari, terkadang saling gebrak, lalu
sama melompat mundur, angin pukulan men-deru2 laksana bunyi guruh.
Kiranya sesudah pertarungan di Kok-suhu tempo hari, kedua pihak telah sama2 berlatih lebih giat
dan menyelami cara baru untuk emngatasi musuh. Sebagai seorang mahaguru, dapatlah Yang thianlui
menemukan suatu cara mengalahkan musuh dengan cepat, yakni menggempur musuh secara
satu2, artinya kedua musuh itu tidak diberi kesempatan untuk bergabung dan melancarkan jurus
“Lui-tian-kau-hong” bersama.
Yang Thian-lui tidak tahu bahwa selama belasan hari ini Ci In-hong telah banyak mendapat
petunjuk2 dari Beng Siau-kang, lwekangnya telah banyak maju pula. Apalagi ilmu pedang Ci inhong
dan Kok Ham-hi adalah ajaran langsung dari Hoa Thian-hiong, jadi ditengah pukulan mereka
terseling pula serangan pedang yang belum pernah dikenal oleh Yang Thian-lui, karena itu kekuatan
kedua pihak tetap seimbang.
Cuma dalam hal keuletan dan pengalaman jelas Yang Thian-lui lebih menang, maka dapat diduga
bila pertarungan sengit itu berlangsung hingga ratusan jurus, akhirnya Yang Thian-lui akan dapat
membinasakan kedua lawannya, tapi dia sendiri juga akan kehilangan banyak tenaga dan pasti akan
jatuh sakit berat.
Menghadapi kenyataan itu, Ci In-hong berdua menyadari cita2 mereka hendak mengadakan
pembersihan perguruan sendiri sukar terlaksana, terpaksa mereka harus bertempur mati2an. Begitu
pula dengan Yang Thian-lui, diam2 iapun mengeluh dan kuatir kalau2 kedua pihak akan sama2
celaka.
Melihat keadaan Ci In-hong berdua yang kewalahan itu, diam2 Li Su-lam juga kuatir, ia sudah
merencanakan, bila perlu terpaksa iapun akan terjun kekalangan pertempuran tanpa menghiraukan
peraturan kangouw algi.
Pada saat itulah tiba2 terdengar Nyo Wan berseru: “Kebetulan sekali kedatangan kalian, Beng-cici,
lekas kalian membantu Ci-toako!”
Kiranya saat itu Beng Bing-sia, To Hong dan Giam Wan baru berlari datang dari atas gunung.
Terkesiap juga Yang Thian-lui, ia benar2 kuatir kalau pihak musuh main kerubut, segera ia
menejngek: “Hm, bolehlah kalian maju pula. Memangnya aku sudah tidak berpikir untuk pergi dari
sini dalam keadaan hidup, kebetulan aku dapat mencari beberapa teman keliang kubur.”
“Yang Thian-lui !” teriak To Hong dengan penuh rasa dendam. “Kau telah membunuh ayahku,
betapapun aku harus menuntut balas!”
“Ya, terhadap bangsat tua itu, peduli apa tentang peraturan kangouw segala, hantam saja dia !” kata
Bing-sia.
“Tunggu sebentar, nona To,” cepat Ci In-hong berseru, “Nanti kalau kalah menang kami sudah jelas
barulah silahkan kau mengadakan perhitungan dengan bangsat tua ini. Bing-sia, urusan perguruan
kami inipun hendaklah kau jangan ikut campur.”
Sebabnya In-hong tidak mau dibantu, pertama ia tidak ingin orang luar ikut campur dalam hal
pembersihan perguruan sendiri; kedua, iapun kuatir kalau nona itu cedera oeh pukulan Yang Thianlui
yang dahsyat. Sebabitulah ia lebih suka mengadu jiwa dengan Yang Thian-lui, habis itu barulah
To Hong turun tangan pada kesempatan yang baik nanti.
Selagi keadaan semakin tegang, tiba2 terdengar suara bentakan dua orang: “In-hong, Hm-hi,
mundur kalian!” ~ Yang Thian-lui, pentanglah matamu, lihatlah yang jelas siapa kami ini?” ~
Berbareng dengan lenyapnya suara itu, muncul pula dua orang tua.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Tidak kepalang kejut dan girang Ci In-hong dan Kok Ham-hi, sebab kedua orang tua ini tak lain tak
bukan adalah guru mereka, Hoa Thian-hong dan Kheng Thian-kong.
Yang Thian-lui juga terperanjat luar biasa, munculnya Hoa Thian-hong tidak mengherankan dia,
yang tak terduga olehnya adalah Kheng Thian-kong ternyata masih hidup di dunia ini. Tapi
mengingat kepandaian kedua sute itu jauh dibawahnya, apalagi Kheng Thian-kong dahulu pernah
dihantamnya hingga terluka parah, walaupun tidak mati, tentu pula tenaga dalam semula sukar
dipulihkan kembali. Maka dengan menyeringai ia lantas menanggapi: “Hehe, bagus sekali
kedatangan kalian,aku justru hendak minta pertanggungan jawab kalian yang tidak becus mendidik
murid ini. Nah, apa katamu, apakah kalian juga akan menentukan mati hidup dengan aku?”
“Yang Thian-lui,” teriak Kheng Thian-kong dengan mata merah menghadapi musuh besar itu, “Kau
telah mencelakai istriku, mengakibatkan pula kematian ibuku, akupun kau hantam hingga hampir2
menjadi cacat untuk selamanya, apakah kau masih ingat hutangmu yang sudah lama ini?”
“Kau tidak mampus oleh pukulanku sudah terhitung beruntung, sekaranag kau mau apa?” jawab
Yang Thian-lui ketus.
“Aku mau mengunyah dagingmu, membeset kulitmu, untuk membalas dendam istriku dan ibuku,”
teriak Kheng Thian-kong. “Hoa-suheng, biar aku yang maju lebih dulu!” ~ Habis berkata demikian
ia menubruk maju.
“Bagus!” sambut Yang Thian-lui, kontan kedua tangannya menghantam dengan jurus Lui-tian-kauhong
yang dahsyat, ia mengira sekali pukul saja jiwa Kheng Thian-kong pasti akan melayang. Tak
terduga Kheng Thian-kong juga lantas memapaknya dengan pukulan kedua telapak tangan, “blang”,
tangan beradu tangan, Kheng Thian-kong tergeliat dan melompat kesamping dengan air muka yang
tidak berubah sedikitpun. Nyata setelah berlatih puluhan tahun, kini lwekang Kheng Thian-kong
sudah cukup kuat untuk menghadapi pukulan Yang Thian-lui yang dahsyat itu.
“Yang Thian-lui selama 20an tahun aku terpaksa mengasingkan diri karena kekejamanmu, utangmu
itu biarlah sekarang juga hendak kutagih padamu!” demikian Hoa Thian-hong juga lantas
membentak. “sret”, pedangnya lantas menusuk.
Diantara saudara2 seperguruan, ilmu pedang Hoa Thian-hong terhitung paling hebat, setelah berltih
pula 20an tahun, sudah tentu ilmu pedangnya bertambah hebat dan banyak jurus2 baru telah
diciptakannya. Ber-ulang2 Yang Thian-lui mematahkan belasan jurus serangan Hoa Thian-hong
tanpa terasa ia sudah mandi keringat, apalagi dia masih harus menghadapi Kheng Thian-kong.
Melihat kemenangan sudah pasti dipihak Hoa Thian-hong berdua, legalah hati Li Su-lam, sekarang
dia baru sempat mendekati dan menyapa To Hong dan lain2.
“Untung ditengah jalan Beng-cici ketemu Hoa-locianpwe sehingga kami tidak sampai masuk
perangkap musuh,” kata To Hong dengan tertawa.
“Kiranya kalian ketemu kedua locianpwe ini, makanya aku heran siapakah tokoh kosen yang berdiri
dibelakang kalian,” ujar Su-lam dengan tertawa.
Kiranya Kheng Thian-kong telah berhasil menyakinkan lwekang yang tinggi, lalu ia mencari
Suhengnya di Pak-bong-san, kemudian mereka berdua berangkat ke Taytoh untuk mencari Yang
Thian-lui. Sayang kedatangan mereka terlambat sehari sesudah Beng Siau-kang dan lain2 membikin
geger Kok-suhu. Merekapun lantas mendapat kabar keberangkatan Yang Thian-lui ke Mongol,
setelah berunding akhirnya Hoa Thian-hong dan Kheng Thian-kongh merencanakan pencegatan di
Pi-Thian-keh sini. Setelah meninggalkan Taytoh, ditengah jalan kebetulan mereka bertemu dengan
To Hong bertiga.
Begitulah Nyo Wan juga berkata dengan tertawa: “Kok-toako, Gia-cici sengaja menyusul kemari,
mengapa kau tidak mengajaknya bicara?”
Giam Wan menjadi ter-sipu2. Tapi Kok Ham-hi lantas berkata: “Ya, aku tidak menduga akan
kedatanganmu, adik Wan. Banyak sekali kejadian yang hensdak kubicarakan padamu, biarlah kita
bicarakan nanti saja.”
Kedua kekasih yang telah mengalami suka duka dan macam2 penderitaan, kini bertemu kembali
ditempat berbahaya pula, meski menghadapi kemungkian mengalirnya darah, namun semuanya itu
telah berubah menjadi rasa bahagia bagi mereka.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Ditengah pertarungan sengit itu, sayup2 Yang Thian-lui mendengar dibawah gunung ada suara
gerakan pasukan berkuda yang ramai, dalam hatinya bergirang, ia pikir sebentar lagi bila bala
bantuan sudah tiba tentu tak perlu takut lagi kepada jumlah lawan yang lebih banyak itu. Mendadak
ia gigit ujung lidah sendiri dan menyemburkan darah segar, ia himpun sisa tenaganya untuk
bertahan, ber-turut2 ia melancarkan serangan pula beberapa kali, kekuatan Thian-lui-kangnya
ternyata bertambah hebat.
Disebelah lain Liong-siang Hoat-ong juga sedang menempur Beng Siau-kang dengan tidak kurang
dahsyatnya, kekuatan kedua orang masih seimbang, tapi bila salah seorang meleng sedikit pasti
akan binasa.
Saat itu barisan depan dari pasukan berkuda Mongol sudah mulai menerjang keatas gunung.
Dengan kuatir Bing-sia lantas menyerukan Li Su-lam dan lain2 agar ambil tindakan cepat untuk
membereskan musuh bila mereka sendiri tidak mau terkepung oleh pasukan musuh.
“Kok-sute, mari kita membantu suhu,” kata In-hong kepada Kok Ham-hi.
Namun Kheng Thian-kong lantas membentak mereka agar jangan ikut maju, sedangkan Hoa Thianhong
mendadak juga membentak: “Kena !” ~ Berbareng itu sinar pedang berkelebat, tusukan Hoa
Thian-hong telah mengenai Hiat-to didengkul Yang Thian-lui.
Tapi Yang Thian-lui masih sempat meloncat tinggi keatas, mendadak kedua tangannya
menghantam kebawah. Sambil mengertak Kheng Thian-kong pasang kuda2 dengan kuat,kedua
tangannya memapak hantaman musuh, terdengarlah suara benturan keras, tubuh Yang Thian-lui
yang besar itu mencelat beberapa meter jauhnya.
Rupanya keadaan Yang Thian-lui sudah payah, mirip pelita yang kehabisan minyak, waktu ia
menggigit ujung lidah dan menyemburkan daraj adalah untuk menghimpun sisa tenaga dengan
tujuan mengadakan gempuran terakhir. Tak terduga Hiat-to didengkulnya tertusul pedang lebih
dulu, tenaga murninya buyar, karena itu adu pukulannya dengan Kheng Thian-kong menjadi
kecundang, tubuhnya mencelat pergi dan jatuhnya kebetulan berada disamping To hong.
Melihat kesempatan bagus untuk membalas dendam, segera To Hong menubruk maju sambil
membentak: “Mampus kau sekarang, bansgat tua!”
Yang Thian-lui menjadi murka, dengan menggerung seperti harimau gila, mendadak ia melompat
tinggi keatas sambil membentak: “Budak busuk, kaupun berani menghina aku!” ~ Dengan pentang
kedua tangannya segera ia menubruk kebawah.
“Celaka !” seru Nyo Wan kuatir, bersama Li Su-lam mereka lantas memburu maju.
Akan tetapi, sebelum mereka mendekat, tiba2 terdengarlah jeritan yang menyayat hati, Yang Thianlui
telah berjumpalitan diatas udara untuk kemudian jatuhnya kebawah kebetulan ditepi jurang, baru
kakinya menempel tanah, mendadak tergelincir kesana terus jatuh kebawah jurang. Selang tak lama,
terdengarlah suara jeritan ngeri yang berkumandang dari dasar jurang, menyusul terdengarlah suara
teriakan kaget yang ramai daari prajurit2 Mongol atas kematian Yang Thian-lui.
Setelah membinasakan Suheng perguruan sendiri yang khianat itu dan menyaksikan adegan yang
menyeramkan itu, mau tak mau Kheng Thian-kong dan Hoa Thian-hong juga merasa sedih dan
menyesalkan bekas suheng yang berbakat itu, Cuma sayang tersesat kejalan yang jahat dan akhirnya
mesti menerima ganjarannya yang setimpal dengan perbuatannya.
Dengan tangan sendiri To Hong juga berhasil membalas dendam kematian ayahnya, namun tidak
urung iapun berkeringat dingin atas serangan kalap Yang Thian-lui tadi.
Kiranya sebelumnya To Hong telah menyiapkan sebuah Tok-liong-piau, ketika Yang Thian-lui
kecundang dan mencelat kesampingnya, mendadak Yang Thian-lui berniat menangkap To Hong
sebagai sandera waktu dilihatnya sinona juga akan menyerangnya. Seketika itu ia lupa bahwa To
Hong adalah putri kesayangan To Pek-seng yang terkenal dengan senjata rahasia Tok-liong-piau.
Maka begitu ia menubruk kearah To Hong, kontan iapun kena dimakan oleh senjata rahasia berbisa
yang tidak kenal ampun itu. Untung juga To Hong cukup cekatan dan menyambitkan Tok-liongpiau
tepat pada waktunya, kalau tidak tentu akan terjadi pergulatan lebih jauh.
Barisan prajurit Mongol yang menerjang keatas gunung itu menjadi ketakutan pula melihat Yang
Thian-lui sudah mati terjerumus kedalam jurang, seketika merekapun menjadi panik.
Pada saat itulah tiba2 terdengar suara gemuruh yang menggetar bumi, batu2 besar yang tak
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
terhitung banyaknya serentak berhamburan dari atas, seorang perwira Mongol kontan tertimpa batu,
menyusul beberapa prajurit berkuda lain juga terguling oleh hujan batu itu, semuanya tergelincir
masuk kedalam jurang berikut kudanya, jeritan ngeri berkumandang disana sini. Sisa prajurit
lainnya terus saja memutar haluan kuda mereka dan kabur ter-birit2.
Habis itu, dipuncak gunung lantas muncul tiga orang, satu hwesio, satu Tosu dan seorang lagi
adalah laki2 baju hitam berumur setengah abad.
Li Su-lam melenggong melihat ketiga orang itu, ia hampir2 tidak percaya kepada matanya sendiri,
sejenak kemudian barulah ia dapat berseru: “Suhu, Suhu ! Engkaupun datang kesini.”
Kiranya Hwesio itu adalah gurunya, Kok Peng-yang. Sebenarnya Kok Peng-yang adalah murid
Siau-lim-pay dari keluarga preman, entah mengapa sekarang telah menjadi Hwesio.
Giam Wan juga merasa seperti dalam mimpi saja, setelah tertegun sejenak barulah ia berteriak:
“Ayah, ayah ! Apakah aku sedang mimpi? Benar2 engkau yang datang ini?”
Rupanya laki2 berbaju hitam itulah ayah Giam Wan ~ Cwan-say-tayhiap Giam Seng-to.
Sedangkan Kok Ham-hi juga terbelalak matanya dengan perasaan ragu2, pikirnya: “Mengapa
gurunya Thio Goan-kiat datang bersama ayah Giam Wan, apa barangkali mereka datang untuk
merintangi pula perjodohanku dengan adik Wan?”
Ternyata guru Thio Goan-kiat yang dimaksud ialah si tosu, yaitu ketua Bu-tong-pay sekarang,
Giok-hi Tojin.
Disebelah sana Liong-siang Hoat-ong dan Beng Siau-kang masih saling labrak dengan sengit, yang
satu bertenaga dalam maha kuat, yang lain berilmu pedang maha hebat, masing2 memiliki
keunggulan sendiri2 sehingga pertarungan sukar ditentukan kalah atau menang dalam waktu
singkat. Namun sekarang Yang Thian-lui sudah binasa, dipihak lawan muncul pula tiga tokoh baru,
sedangkan prajurit Mongol telah digempur oleh hujan batu yang jelas dilakukan oleh pihak lawan
pula. Dalam keadaan demikian, betapapun lihai kepandaian Liong-siang Hoat-ong juga merasa
bingung.
Ditengah berkelebatnya sinar pedang dan menderunya angin tongkat, tiba2 terdengar suara “bret”
satu kali, jubah Liong-siang Hoat-ong telah ditembus oleh pedang Beng Siau-kang. Tapi dengan
menggerung keras, tongkat Liong-siang Hoat-ong juga telah menyampuk pedang Beng Siau-kang
kesamping,lalu Liong-siang Hoat-ong melompat keluar kalangan pertempuran, jengeknya: “Hari ini
bukan waktunya kita bertempursecara mati2an. Yang jelas kau berjuluk jago pedang nomor satu
didaerah Kanglam,ilmu pedangmu memang hebat, tapi boleh kau tanya kepada dirimu sendiri,
apakah kau mampu mengalahkan aku? Hehe, bila kau masih ingin bertanding lagi, marilah kita
mencari suatu tempat dan menentukan waktu lain. Tapi kalau kau takut kalah, bolehlah kalian main
kerubut saja sekarang, biarpun mati, aku tetap tidak menghargai ilmu silat didaerah Tionggoan
sini.”
Meski omongnya besar dan sikapnya tetap angkuh, tapi sebenarnya sudah kentara rasa jerinya.
Beng Siau-kang menjadi tidak tega terlalu mendesak lawannya, dengan tertawa ia menajwab: “Ya,
aku memang tidak dapat mengalahkan kau, tapi kau pun tidak mampu mengalahkan diriku,
bertempur sepuluh kali lagi juga tetap begitu, apa perlu bertempur pula. Aku tahu maksudmu,
jangan kuatir, boleh kau pergi saja, tak nanti kuhalangi kau!”
Dengan girang segera Liong-siang Hoat-ong hendak angkat kaki, tiba2 seorang membentak nya:
“Nanti dulu!” ~ Kiranya Kok Peng-yang telah mencegat didepannya.
Liong-siang Hoat-ong tidak percaya bahwa di Tionggoan masih ada jago silat yang melebihi Beng
Siau-kang, maka dengan mata melotot ia bertanya: “Apakah kaupun ingin coba2 diriku?”
“Ya, asal aku mampu menyambut satu kali genrak dariku, baik kau kalah atau menang tetap aku
akan lepaskan kau pergi sesukamu, dengan demikian kau tak dapat menuduh aku tidak ingin
membikin susah orang dalam keadaan payah,bukan?” Kata Kok Peng-yang, tujuannya jelas hanya
ingin memberi ajar-adat saja kepada lawan yang angkuh itu.”
“Baik, jangankan Cuma sekali gebrak, sepuluh gebrakan juga akan kulayani,” sahut Liong-siang
Hoat-ong dengan gusar.
Karena Kok Peng-yang tidak menggunakan senjata, maka Liong-siang Hoat-ong hanya
menggunakan sebelah tangan saja, sekali menggerung, segera ia menghantam dengan Liong-siangKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
sin-kang.
“Bagus!” sambut Kok Peng-yang, dengan pelahan iapun memukulkan sebelah tangan kedepan
dengan ilmu sakti Kim-kong-ciang yang terkenal dari Siau-lim-pay. Tenaga sakti Kim-kong-ciang
adalah tenaga pukulan paling dahsyat, tampaknya pelahan saja, tapi membawa tiga gelombang
tenaga yang hebat.
Nyata kedua pihak sama2 menggunakan tenaga pukulan dahsyat, maka terdengarlah suara gemuruh
keras, Liong-siang Hoat-ong mundur tiga langkah ber-turut2 baru dapat berdiri tegak lagi, tapi baru
tegak tiba2 dirasakan suatu arus tenaga mendesak datang pula, namun Kok Peng-yang tampak
masih berdiri ditempatnya tanpa menyerang. Nyata arus tenaga itu datangnya tanpa suara da tanpa
tanda2. Karena itu Liong-siang Hoat-ong tergetar mundur tiga tindak lagi. Tak terduga, belum
berdiri tegak, lagi2 suatu arus tenaga yang sama menolak tiba pula dan kembali ia terdesak mundur
tiga tindak. Jadi seluruhnya mundur sembilan tindak baru dia dapat berdiri tegak dan tidak
merasakan lagi dorongan tenaga pukulan lawan.
Disinilah kelihatan betapa hebatnya tiga gelombang tenaga yang terkandung dibalik pukulan Kimkong-
ciang yang dilontarkan Kok Peng-yang tadi. Keruan muka Liong-siang Hoat-ong menjadi
merah, diam2 ia mengakui, andaikan tadi belum bertempur dengan Beng Siau-kang juga Liongsiang
Hoat-ong sendiri tidak dapat menandingi tenaga pukulan Kim-kong-ciang.
Diam2 Kok Peng-yang juga memuji kelihaian Liong-siang Hoat-ong yang tidak sampai terguling
oleh tenaga pukulannya itu. Maka ia lantas menjengek: “Nah, bagaimana ilmu silat di Tionggoan
menurut penilaianmu sekarang? Seperti kataku tadi, jika mau pergi boleh silahkan saja?”
“Benar, memang tenaga pukulanmu lebih kuat dariku, tapi kelak bila ada kesempatan lagi aku
masih ingin belajar kenal dengan kepandaianmu dalam hal senjata,” kata Liong-siang Hoat-ong
dengan lesu.
Tiba2 ketua Bu-tong-pay, Giok-hi Tojin maju ke depan sambil berkata: “Selamanya Kok-tayhiap
tidak pernah bersenjata, tapi tidaklah sulit bila kau ingin belajar kenal dengan ilmu silat Tionggoan
dalam permainan senjata.”
Wajah Giok-hi Tojin rada pucat kurus, tampaknya juga tidak bersenjata, hanya seuah kebut saja
tersandang dipunggung. Karena tidak tahu Giok-hi adalah ketua Bu-tong-pay, sudah tentu Liongsiang
Hoat-ong tidak pandang sebelah mata padanya, dengan menjinjing tongkatnya segera ia
menanggapi: “Jika Totiang juga ingin menjajal diriku, baiklah silahkan keluarkan senjatamu!”
“Inilah senjataku,” kata Giok-hi sambil menarik kebutnya dari punggung. “Nah,silahkan Toahweso
mulai dulu.”
Melihat lawan berani menghadapinya dengan sebuah kebut yang lemas saja, Liong-siang Hoat-ong
tidak berani memandang enteng lagi, diam2 ia mengerahkan Liong-siang-kang ke ujung tongkat,
sembari menggertak satu kali, segera tongkatnya menyapu kali Giok-ki Tojin, menyusul ujung
tongkat memutar balik terus menyodok “Giok-hu-hiat” yang mematikan didada ketua Bu-tong-pay
itu.
“Bagus!” bentak Giok-hi, dengan tenang ia ayun kebutnya dan mengebut pelahan, kontan tongkat
lawan sudah disampuk kesamping. Inilah apa yang disebut “Empat tahil menyampuk seribu kati
atau pinjam tenaga lawan untuk menghantam lawan.”
Keruan Liong-siang terkejut, tak terduga Tosu kurus ini memiliki lwekang sehebat ini. Tapi iapun
tidak malu sebagai jago kelas satu, baru saja tongkatnya tersempuk kesamping, mendadak senjata
itu membalik pula terus mengemplang dari atas. Serangan ini jauh lebih dahsyat daripada tadi.
Mau tak mau Giok-hi harus kagum terhadap tenaga lawan yang hebat. Segera iapun ayun kebutnya
untuk menangkis kemplangan tongkat lawan, menyusul ia terus melancarkan serangan, kebutnya
menyabet kemuka lawan. Tapi Liong-siang sempat mendoyongkan tubuh kebelakang, habis itu
mendadak tongkatnya menghantam pula dari samping.
“Kena!” tiba2 Giok-hi membentak, kebutnya menyabet kebawah dengan cepat luar biasa, tahu2
ujung tongkat telah terlibat oleh ujung kebut yang lemas itu. Biarpun Liong-siang memiliki tenaga
maha kuat ternyata tidak mampu berkutik sedikitpun.
Dengan senyum Giok-hi lalu mengendurkan dan menarik kembali kebutnya sambil berkata:
“Apakah Toahwesio ingin coba2 lagi?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Kontan Liong-siang terhuyung ke depan karena kehilangan imbangan badan. Dengan wajah merah
dan lesu seperti ayam jago aduan yang sudah keok, ia menjawab: “Ya, baru sekarang aku
mengetahui betapa dalamnya ilmu silat Tionggoan memang sukar diukur. Sebelum ini diriku mirip
katak dalam sumur saja yang tidak tahu luasnya jagat.’
Habis berkata, dengan menyeret tongkatnya Liong-siang Hoat-ong lantas melangkah pergi dengan
lesu.
Kemudian Li Su-lam, Kok Ham-hi, Giam Wan dan lain2 lantas menemui guru dan ayah masing2.
Sambil memegang tangan putrinya dan Kok Ham-hi, Giam seng-toh merasa girang dan rada kikuk
pula.
“Ayah, engkau dapat memaafkan kami bukan?” kata Giam Wan, saking girangnya sampai
mencucurkan air mata.
“Ya, seharusnya aku yang mesti minta maaf kepada kalian, akulah yang berkeras memisahkan
kalian,” jawab Giam Seng-toh.
Giok-hi Tojin juga lantas minta maaf kepada Kok Ham-hi atas perbuatan muridnya, yaitu Thiao
Goan-kiat.
Rupanyasesudah kehilangan putrinya, Giam Seng-toh sangat menyesal. Untung Kheng Thian-kong
yang mengetahui seluk beluk persoalan itu, ia telah mengundang seorang teman yang kenal baik
dengan Giam Seng-toh dan Giok-hi Tojin untuk mendamaikan. Sebagai seorang imam yang
bijaksana, Giok-hi tahu soal jodoh tidak dapat dipaksakan, maka sebagai guru Thio Goan-kiat ia
rela membatalkan ikatan pertunangan Goan-kiat dengan Giam Wan.
Begitulah Kok Ham-hi lantas mengucapkan terima kasih kepada Giok-hi serta memberi hormat
kepada bakal mertua.
“Hahaha! Bagus sekali, kekasih akhirnya terlaksana menjadi suami istri, maka persoalan yang
sudah lalu tak perlu dibicarakan kembali,’ kata Beng Siau-kang dengan bergelak tertawa.
“Awas, pasukan musuh datang lagi, lekas kita pergi dari sini!” kata Liok Kun-lun.
Benar juga, tertampak debu mengepul dibawah gunung, dari selat gunung sana menerjang tiba suatu
pasukan berkuda yang berjumlah beberapa ribu orang.
Tapi mendadak Li Su-lam berseru heran: “He, aneh, mengapa mereka saling bunuh sendiri!”
Kiranya pasukan yang menyerbu mendadak ini adalah pasukan yang lebih dulu telah diatur oleh
pangeran Tin-kok, biarpun Tin-kok seorang yang kasar, tapi iapun mempunyai pembantu yang
pintar, apalagi iapun tahu Dulai sirik kepada kekuasaan militer yang dipegangnya. Sebab itu
sebelum memenuhi undangan Dulai, lebih dulu ia menyembunyikan suatu pasukan kuat di lembah
gunung situ dengan pesan bikla besoknya dia tidak pulang, maka pasukannya harus bergerak
menyerbu pasukan Dulai. Cuma saja Tin-kok dan pembantunya telah salah hitung juga, mereka
mengira Dulai paling2 Cuma menahannya saja untuk memaksa dia menyerahkan kekuasaannya, tak
tahunya secara kejam Dulai telah membunuhnya.
Pasukan Tin-kok itu terdiri dari suku bangsanya, ketika sampai batas waktunya tidak nampak Tinkok
kembali, serentak pasukan berjumlah tiga-empat ribu orang itu menyerbu pasukan Dulai yang
jumlahnya paling2 seribu orang saja. Ditengah pertempuran gaduh itu, Minghui juga terkepung oleh
pasukan musuh. Seorang perwira bawahan Tin-kok segera berusaha mendekat untuk
menangkapnya. Dulai sendiri juga terkepung oleh pasukan musuh sehingga tidak sempat lagi
melindungi Minghui.
Menyaksikan itu dari atas gunung, Li Su-lam dan lain2 menjadi kuatir, tapi apa daya, hendak
menolong juga tidak keburu lagi, padahal pasukan musuh sedemikian banyaknya, menyerbu kesana
juga akan berarti masuk jaring belaka.
Selagi keadaan menguatirkan itu, tiba2 beberapa prajurit berkuda didepan sana pada jatuh
terjungkal, seorang penunggang kuda secepat terbang menerjang tiba sambil memutar kencang
seutas tambang, setiap kali tambangnya menyamber kedepan,kontan seorang prajurit musuh lantas
terjirat lehernya, seprti anak ayam saja terus dilemparkan hanya dalam sekejap saja belasan orang
sudah dibikin terjungkal termasuk perwira yang hendak menangkap Minghui tadi.
“Itulah dia Akai!” seru Su-lam girang.
Akai adalah jago gulat terkenal di Mongol, melihat ketangkasannya, prajurit2 lain menjadi
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
ketakutan dan berlari menyingkir.
“Ikutlah padaku, Tuan Putri!” seru Akai kepada Minghui sesudah dekat. “Kalusi sedang menunggu
kita disana, amrilah ikut padaku. Cuma selanjutnya Tuan Putri tidak dapat pulang lagi ke Holin,
apakah engkau rela?”
“Kalau dapat menggembala biri di padang rumput bersama kalian dan hidup merdeka, itulah yang
ku-harap2kan selama ini,” kata Minghui.
Sasaran pokok pasukan Tin-kok adalah Dulai, maka larinya Minghui tidak mendapat perhatian
mereka. Serentak pasukan itu mengalihkan kekuatannya terhadap Dulai.
“Dulai, jika kau tidak bebaskan pangeran kami, jangan harap kau dapat lolos dari sini!” seru
komandan pasukan itu. Tapi belum lenyap suaranya, mendadak sebuah anak panah menembus
tenggorokannya.
Sesudah komandan pasukan musuh terpanah mati, segera Dulai suruh Mufali mengerek kepala Tinkok
di ujung tombak dan diangkat tinggi2 ke atas sambil membentak: “Dengarkan kalian, Tin-kok
bermaksud mengacau, dia telah kubunuh. Asal kalian mau menyerah padaku, semuanya akan
kuampuni. Kalau tidak tentu anggota keluarga kalian akan ikut dihukum mati!”
Sebagian besar prajurit2 itu meninggalkan keluarga mereka di rumah, maka ancaman Dulai itu
membikin mereka ketakutan. Serentak sebagian besar meletakkan senjata dan menyerah. Sebagian
kecil lain lantas bubar melarikan diri.
Ketika Li Su-lam dan rombongannya melintas kebalik gunung sana, terlihatlah Minghui bersama
Akai dan istrinya dengan menungang kuda sedang menuju ke utara ditengah gurun yang luas,
makin lama makin jauh hingga berubah menjadi tiga titik hitam untuk akhirnya lenyap dari
pandangan mata.
“Baik juga, semoga dia hidup sejahtera sampai hari tua,” kata Nyo Wan dengan gegetun. “Cuma
sayang dia tidak melihat kita disini.”
Ia tidak tahu bahwa sejak tadi Minghui sudah melihat dia dan Su-lam, malahan saat itu didalam hati
Minghui juga sedang berdoa bagi kebahagiaan mereka ……….
TAMAT
T A M A T

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Cinta Sedih Galau Terbaru 2017 : PG 5 Tamat ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments