Cerita Cinta Remaja ABG : PG 3

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Cinta Remaja ABG : PG 3
Cerita Cinta Remaja ABG : PG 3


Nyo Wan sempat melompat pergi karena tenaga dorongan itu, menyusul ia terus kabur dengan
ginkangnya yang tinggi.
Melihat ginkang orang itu barulah To Liong tahu siapakah prajurit samaran itu, segera ia bermaksud
mengejar, tapi Ci in-hong keburu mendekatinya dan memegang bahunya sambil berkata: “Maaf,
mengapa tenaga pukulan salah mengenai kau malah?”
Malu dan dongkol pula To Liong, terpaksa ia berseru: “Jangan urus aku, bekuk dulu budak itu!”
Dia, dia itu Nyo Wan adanya!”
“Baiklah, marilah kita lekas mengejarnya!” ujar In-hong.
Akan tetapi saat itu Nyo Wan sudah lari keluar hutan bwe. Tiba2 tergerak pula hatinya, timbul rasa
sangsinya: “Aneh, dengan kepandaian Ci In-hong mustahil dia tidak mampu merobohkan aku,
sebaliknya salah menyerang To Liong? Tenaga pukulannya tadi se-akan2 membantu aku malah?”
Tapi tiada waktu baginya untuk memikirkan lebih lanjut, ia harus segera menyiarkan suasana yang
gawat itu agar orang2 be ramai2 menangkap mata2 musuh. Segera ia berlari ketempat yang tinggi,
lalu berteriak dengan suara yang dikasarkan: “Tangkap mata2 musuh! Ci In-hong adalah mata2
musuh! To Liong juga mata2 musuh! Mereka bersekongkol! Jangan sampai mereka lolos!”
Setelah berteriak dengan lwekangnya yang cukup kuat sehingga cukup jelas didengar orang2
sekitarnya, lalu ia mengeluyur kembali kepondoknya dan tidak muncul lagi.
Dalam sekejap saja terdengarlah tanda2 bahaya dibunyikan riuh rendah, dimana2 orang sibuk
mencari mata2 musuh. Setelah ribut2 sekian lamanya barulah suasana reda kembali. Nyo Wan tidak
keluar lagii dari pondoknya sehingga tidak tahu apakah Ci In-hong dan To Liong kena dibekuk atau
tidak.
Besok paginya waktu Nyo Wan berdinas jaga, diam2 Ciok Bok datang mencarinya digardu
penjagaan.
Nyo Wan bergirang, katanya: “Memangnya aku hendak mencari kau, tapi kau sudah datang lebih
dulu.”
“Yang berteriak tangkap mata2 musuh semalam kau bukan?” tanya Ciok Bok.
“Benar, aku telah mendengar perundingan gelap mereka dihutan bwe sana,” jawab Nyo Wan.
“Bahwasanya To Liong adalah mata2 musuh tidak mengherankan, tapi Ci In-hong juga mata2
musuh, inilah yang diluar dugaan kita.”
“Memangnya, waktu itu akupun hampir2 tidak percaya kepada telingaku sendiri,” kata Nyo Wan.
“Ada lagi seorang yang juga datang sebagai mata2 musuh ……..”
“Kau maksudkan utusan dari Hui-liong-san itu bukan? Dia diperintahkan Toh An-peng untuk
menyampaikan berita palsu bukan?”
“Surat apa?” Nyo Wan ter heran2.
“Surat yang diketemukan dikamarnya Li Su-lam ini menyingkap tipu muslihat Hui-liong-san.
Kukira kau yang tulis surat ini, mengapa kau sendiri tak tahu? Rupanya aku telah salah duga.”
Nyo Wan tambah heran. Ia coba minta lihat surat yang dikatakan itu. Ternyata isi surat itu tiada
banyak bedanya daripada apa yang ingin ditulisnya, gaya tulisannya indah, hanya goresannya rada
kaku, terang tulisan orang lelaki yang hendak menirukan gaya tulisan orang perempuan.
“Benar2 aneh,” ujar Nyo Wan dengan tertawa. “Terus terang semula aku memang hendak
menyampaikan suratku yang isinya tidak banyak berbeda dengan surat ini, tapi tadi malam aku
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tidak sempat menaruh suratku kedalam kamarnya Su-lam. Ini, suratku masih berada disini.”
Setelah membandingkan isi kedua surat iu, Ciok Bok juga sangat heran. Katanya kemudian: ‘Jadi
kau melihat Ci In-hong menyelinap keluar dari tempat Li Su-lam? Apakah, apakah mungkin pula
dia adalah mata2 musuh.”
“Ya, makanya akupun sangat heran,” kata Nyo Wan. “Jelas Ci In-hong dan To Liong saling
berhubungan dengan kode rahasia mereka sendiri, menyusul mereka berunding pula cara merebut
kekuasaan Sanceh ini. Ketika kulihat Ci In-hong muncul dari tempat Li Su-lam, tadinya aku
mengira dia hendak berbuat apa2 yang tidak menguntungkan kita. Tapi melihat surat ini sekarang
aku menjadi sangsi kepada dugaanku semula.”
“Bisa juga surat ini ditulis oleh orang lain?” ujar Ciok Bok.
“Ci In-hong dan To Liong apakah sudah kena bekuk?” tanya Nyo Wan.
“Tidak semuanya dapat kabur.”
“Jika Ci In-hong bermaksud membantu kita, kenapa dia tidak bicara hal yang terjadi sebenarnya
dan buat apa mesti lari?”
“Benar, akupun berpikir begitu.”
“Urusan ini kelak pasti akan menjadi jelas persoalannya, sementara ini kita kesampingkan dulu,”
ujar Nyo Wan. “Apakah surat ini telah dilihat engkoh Lam dan nona To?”
“Sudah, mereka sudah melihat semua.”
“Lalu bagaimana rencana kalian untuk menghadapi muslihat mereka?”
“Tetap melanjutkan rencana semula, Li Su-lam dan Beng Tayhiap akan berangkat ke Hui-liongsan.”
“Kan sudah tahu disana terpasang jebakan, mengapa tetap dituju?” tanya Nyo Wan.
“Rencana semula tetap kita laksanakan, Cuma cara bertindak rada diubah,” tutur Ciok bok.
“Rencana semula adalah Li Su-lam berangkat ke Hui-liong-san bersama utusan yang datang itu, tapi
sekarang yang berangkat hanya Li-bengcu bersama Beng-tayhiap saja. Utusan itu sudah kita tahan,
namun dia tetap tidak mau mengaku tipu muslihat yang telah mereka atur itu.”
Baru sekarang Nyo Wan tahu duduk perkara. Katanya: “Jadi keberangkatan engkoh Lam ini
bertujuan menyelidiki kebenaran muslihat musuh.”
“Ya, sebagai bengcu baru tentu Li-heng takkan dikenali orang Hui-liong-san. Kalau disana ia dapat
memegang bukti persekongkolan Toh An-peng dengan pihak Mongol, sebagai bengcu dengan
sendirinya beliau berhak mengambil keputusan seketika. Dia dibantu pula oleh Beng tayhiap, tentu
Toh AN-peng tidak sukar diatasi.
“Jika demikian akupun tak perlu kuatir lagi,” kata Nyo Wan.
“Malahan akan kuberitahukan lagi sesuatu dan akan membuat kau lebih2 tidak perlu kuatir,” kata
Ciok Bok dengan tertawa. “Aku sudah omong2 dengan Li-heng, ternyata cintanya padamu benar2
sangat mendalam, ketika dia mengetahui penderitaanmu, sungguh dia sangat menyesal dan sedih,
bahkan dia menyatakan akan mencari kau untuk minta maaf.
“Wajah Nyo Wan menjadi merah, katanya: “Aku sudah dengar percakapan kalian, tapi saat ini aku
masih tidak ingin bertemu dengan dia.”
“Baiklah, boleh juga kalian bertemu nanti kalau dia sudah pulang dari Hui-liong-san. Jangan2 dia
takmau lagi berangkat jika mengetahui kau berada disini,” kata Ciok Bok dengan tertawa.
Pada saat itu juga tiba2 terdengar suara Bing-sia sedang memanggil: “Ciok-toako! Ciok-toako!”
Nyo Wan terkejut, dengan suara tertahan katanya terhadap Ciok Bok: “Celaka! Hendaknya kau
meng aling2i rahasia diriku.”
Ciok Bok mengangguk, lalu ia berseru menjawab: “Aku berada disini!”
Maka muncullah Bing-sia, katanya: “Segera Su-lam akan berangkat. Apakah kau telah menemukan
sesuatu tanda tentang surat kaleng itu?” ~ Ia menjadi heran ketika meliha yang sedang bicara
dengan Ciok Bok adalah seorang prajurit biasa yang dinas jaga. Mendadak tergerak pula hatinya
karena merasa prajurit itu seperti sudah pernah dilihatnya, hanya sudah lupa entah dimana?
Maklumlah, meski dalam penyamaran, namun perawakannya tak bisa diubah, biji matanya yang
hitam indah itupun pernah memberi kesan yang mendalam kepada Bing-sia setelah pertemuan
mereka dahulu.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Siapakah namamu?” tanya Bing-sia kemudian. “Apakah Ciok-thauleng yang memasukkan kau
kesini?”
Nyo Wan sembarangan mengatakan suatu nama palsu dan menerangkan baru datang beberapa hari
yang lalu.
“Akulah yang terima dia ketika dia baru datang, ilmu silatnya lumayan juga stelah diuji, maka
kutugaskan dia mengawasi pos penjagaan ini,” kata Ciok Bok.
“Orang yang dipuji Ciok-toako tentulah tidak salah,” ujar Bing-sia. Diam2 ia pikir bila senggang
nanti akan dicobanya kepandaian orang, maka katanya pula: ‘Bila nanti habis tugas, harap mencari
aku kemarkas pusat, aku dan To-cecu ingin tahu kepandaianmu. Masa sekarang kita memang perlu
orang pandai sebanyak mungkin, bila kau punya kepandaian sejati tentu kau akan diberi tempat
yang sesuai dengan dirimu.”
Setelah Bing-sia pergi bersama Ciok Bok, diam2 Nyo Wan merasa ragu2, melihat gelagatnya,
agaknya Bing-sai sudah menaruh curiga padanya. Mungkin suker baginya untuk menetap lebih
lama di Sanceh ini.
Setelah pikir lagi berulang, akhirnya Nyo Wan ambil keputusan harus angkat kaki. Ia pikir mengapa
dirinya tidak berangkat juga ke Hui-lionh-san? Dalam keadaan menyamar sekarang rasanya Li Sulam
sukar juga mengenalnya, asal menguntitnya secara hati2 mungkin takkan ketahuan dan bila
perlu akan memberi bantuan pula.
Segera Nyo Wan menulis sepucuk surat mohon diri, dengan alasan minta cuti, diserahkan teman
jaga agar bila Ciok-thauleng mencarinya hendaklah surat tersebut diserahkan kepada Ciok-tahuleng.
Habis itu diam2 ia meninggalkan Long-sia-san.
Jilid 08 bagian kedua
Ketika Bing-sia dan Ciok Bok sampai diruang besar, dilihatnya Li Su-lam dan To Hong sedang
menantikan kedatangannya.
“Kemana kau pergi, Ciok-suko, semua orang sedang menunggu kau untuk memberi selamat jalan
kepada Li-toako,” omel To Hong.
“Dia sedang mengobrol dengan seorang prajurit, kalau tidk kudesak, mungkin dia belum mau
kembali,” sela Bing-sia dengan tertawa. “Menurut Ciok-toako, katanya kepandaian prajurit itu
lumayan juga, dari sinar matanya memang tampaknya rada luar biasa. Malahan aku merasa seperti
sudah pernah mengenalnya.”
“Apa betul?” kata To Hong. “Wah, seorang Ci In-hong yang tak diketahui asal usulnya sudah cukup
membikin panik kita, jangan lagi sampai ada Ci In-hong kedua. Siapakah prajurit itu, apakah sudah
lama berada disini?”
“Ciok-toako sudah kenal dia, rasanya To-cici tak perlu kuatir,” ujar Bing-sia.
“Akupun tidak terlalu jelas tentang dia,’ kata Ciok Bok. “Yang jelas dia anak yatim piatu yang perlu
dikasihani, sebab itulah iapun mengabungkan diri dengan pasukan pergerakan kita. Tentang
kepandaiannya masih boleh juga. Bagaimanapun juga Beng-lihiap telah perintahkan dia
menghadap, kalau perlu nanti kalian boleh tanya dia lebih jelas.
Ciok Bok sengaja mengatakan kepandaian Nyo Wan hanya lumayan saja agar tidak menimbulkan
curiga To Hong dan Bing-sia, soal besok kalau Nyo Wan diperiksa oleh mereka, tentu Nyo Wan
akan berbua menurut keadaan dan bila dia mau mengaku terus terang siapa dirinya, maka urusan
akan menjadi selesai.
“Dan orang yang berteriak adanya mata2 musuh semalam itu, apakah sudah diketahui siapa
gerangannya?” tanya Su-lam.
“Belum tahu,” jawab Ciok Bok.
“Silahkan kau berangkat ke Hui-liong-san, urusan disini kau tak perlu kuatir , tentru akan kuusut
hingga jelas,” kata To Hong.
“Aku tidak kuatir, hanya kejadian2 yang berturut turut ini rada mengherankan aku,” kata Su-lam.
“Siapakah yang menulis surat kaleng itupun belum diketahui sampai sekarang.”
Tiba2 Beng Siau-kang berkata: “Ciok Bok, coba serahkan surat itu padaku,” ~ Setelah terima surat
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kaleng itu, Siau-kang membacanya dengan teliti, kemudian seperti merenungkan sesuatu, agak lama
kemudian barulah ia simpan kembali surat itu.
“Apakah Beng-pepek melihat sesuatu yang janggal?” tanya To Hong.
“Gaya tulisannya mirip seorang sahabatku, Cuma orang ini sudah lama mengasingkan diri, tidak
mungkin dia datang kesini,” jawab Beng Siau-kang.
“Biarlah surat ini kusimpan sementara, bila sempat ketem sobatku iu akan kutanya dia.” “Siapakah
dia?” tanya To Hong.
“Seorang Locianpwe yang tindak tanduknya aneh dan namanya tak mau diketahui orang,” sahut
Beng Siau-kang. “Menurut pendapatku, agaknya Ci In-hong juga belum pasti adalah mata2 musuh.”
“Darimana ayah dapat menarik kesimpulan demikian?” ujar Bing-sia.
“Kalau dia mata2 musuh, setelah mendapat kepercayaan kita karena telah mengalahkan Tun-ih Ciu,
masakah dia mau pergi dari sini dengan begitu saja?” ujar Beng Siau-kang.
“Tapi mengapa orang yang ber-teriak2 mata2 musuh itu menghubungkan nama To Liong dan Ci Inhong,
mungkin dia melihat mereka berada bersama,” kata Bing-sia.
“Biar begitu juga takbisa menjawab kesangsianku tadi,” kata sang ayah. “Sudah jelas dia telah
mendapat kepercayaan kita, buat apa pada malam pertama juga dia mengadakan pertemuan dengan
To Liong? Tidakkah lebih baik dia menunggu aku dan Su-lam berangkat ke Hui-liong-san saja, kan
segala gerak geriknya akan lebih leluasa dijalankan? Kukira soal ini tak perlu dirisaukan, hanya saja
kalian disini suka waspada saja menghadapi segala hal.”
Habis itu Li Su-lam dan Beng Siau-kang lantas berangkat sehingga Ciok Bok dan Bing-sia tidak
sempat bicara dengan Su-lam.
Petangnya ternyata Nyo Wan tidak datang, Bing-sia menjadi curiga dan segera mencari Nyo Wan
ditempat penjagaan. Ketika tanya pada prajurit yang dinas jaga, ternyata Nyo Wan sudah
menghilang, hanya sepucuk surat permohonan cuti yang katanya ditujukan kepada Ciok-hucecu.
Bing-sia lantas terima surat itu dan berjanji akan diteruskan kepada Ciok Bok. Lalu ia
meninggalkan pos penjagaan itu untuk mencari Ciok Bok. Dari Tulisan diatas sampul surat dapat
dilihat jelas bahwa penulisnya pasti seorang perempuan. Hal ini mengingatkan dia pula akan
perawakan serta sorot mata ‘prajurit’ yang aneh itu. Makin dipikir makin terasa ‘prajurit kecil’ itu
memang tidak memper seorang lelaki.
“Pantas waktu itu Ciok Bok tampaknya rada gelisah, kiranya diam2 ia menyembunyikan anak
perempuan,” demikian pikir Bing-sia. Tapi segera terpikir pula: “Ah, rasanya tidak bisa jadi, Ciok
Bok cukup prihatin, teman To Hong sejak kecil, mana mungkin dia ganti pacar dengan begitu saja?
Pasti dibalik persoalan ini ada sesuatu yang luar biasa.”
Begitulah dengan penuh tanda tanya dalam benaknya Bing-sia pergi mencari Ciok Bok, kebetulan
Ciok Bok juga sedang mencari Nyo Wan, maka bertemulah mereka ditengah jalan.
Begitu melihat Ciok Bok terus saja Bing-sia menjengek: “Ciok-toako, bagus sekali perbuatanmu!”
“Apa yang kau maksudkan nona Beng?” sahut Ciok Bok melengak.
“Kau tak perlu membohongi aku, segala urusan sudah kuketahui,” kata Bing-sia. “Siapakah
perempuan itu? Mengapa kau menutupi penyamarannya?”
Baru sekarang Ciok Bok tahu yang dimaksudkan Bing-sia adalah urusan Nyo Wan, ia menjadi
heran darimana Bing-sia mendapat tahu?
Bing-sia lantas perlihatkan surat yang dibawanya dan berkata: “Inilah surat yang dia tinggalkan
untukmu, bacalah sendiri. Hm, urusan ini sebaiknya kau bicara terus terang saja daripada nanti
diketahui To Hong tentu akan ………”
“Jangan salah paham, nona Beng,” Cepat Ciok Bok menerangkan dengan muka merah. “Ai,
terpaksa keberitahukan duduknya perkara padamu. Dia ….. Dia adalah Nyo Wan.”
“O, jadi dia masih hidup?” seru Bing-sia terkejut. Tapi segera iapun sadar: “Pantas aku merasa
sudah kenal dia, kiranya dia adalah nona Nyo.”
Sambil membaca isi surat berkatalah Ciok Bok dengan nyengir: “Kiranya ada dal2 yang sukar
dikatakannya karena dia tidak ingin diketahui oleh Li Su-lam dan kau. Akupun tidak mengira dia
akan meninggalkan sanceh ini secara mendadak. Beng-lihiap, harap maaf, urusan ini ……………”
“Tak perlu kau katakan lagi, aku ah hu!” sela Bing-sia terus tinggal pergi.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Hati Ciok Bok menjadi tidak enak bagi Bing-sia. Pikirnya: “Urusan begini memang sulit, selalu
harus ada seorang yang menderita. Kalau mengetahui persoalannya lebih dini rasanya akan lebih
baik bai Bing-sia.”
Begitulah dengan hati bimbang Bing-sia pulang sendirian, ia harus memikirkan persoalan ini secara
mendalam karena urusan ini sama sekali diluar dugaannya. Makin dipikir makin kusut dan tidak
enak diri, tapi bagi Nyo Wan malah. Ia pikir sebabnya Nyo Wan minggat jelas karena kesalah
pahaman nona itu padanya. Maka aku harus mencari dia untuk menyatakan pendiriannya. Demikian
ia ambil ketetapan.
To Hong menjadi heran ketika melihat Bing-sia mencarinya dengan sikap yang aneh. “Ada urusan
apa? Sudahkah kau menemui prajurit penjaga itu?” tanyanya.
“Dia bukan lain ialah Nyo Wan, dia sudah pergi.” Jawab Bing-sia. “Makanya sekarang juga aku
ingin mohon diri padamu.”
To Hong melengak kaget. “Dia …….dia Nyo Wan adanya? Kau hendak pergi mencarinya?”
Bing-sia mengangguk, katanya: “Ya, hanya dengan cara demikian barulah dapat mempersatukan
kembali mereka suami istri.”
“Enci Sia, semua orang menyangka nona Nyo sudah meninggal, meski apa yang akan kau lakukan
adalah baik, tapi kau sendiri yang akan menderita,” kata To Hong.
Bing-sia mengerut kening, katanya dengan tersenyum getir: “Rupanya kaupun sama dengan Ciok
Bok dan mengira aku mencintai Li Su-lam? Teman karib sebagai kaupun salah sangka padaku,
pantas Nyo Wan juga berpikir demikian.”
To Hong kenal Bing-sia yang tidak pernah berdusta, ia menjadi heran, katanya: ‘Maaf, kukira kau
dan Su-lam cocok satu sama lain, tentu kau akan suka padanya.”
“Suka dan suka ada dua,” jawab Bing-sia. “Aku memang suka padanya. Tapi ‘suka’ ini tidak sama
dengan ‘suka’mu kepada Ciok Bok. Aku memandangnya sebagai kawan baik saja, pahamkah kau?”
Bing-sia adalah gadis yang dapat berpikir, apa yang dia katakan itu memang timbul dari lubuk
hatinya yang murni. Dia mempunyai kesan baik terhadap Li Su-lam, kalau tiada terselip Nyo Wan
ditengah, bisa jadi perasaan mereka akan berkembang menjadi pasangan asmara. Tapi pada saat
sekarang hubungan mereka memang baru mencapai tingkat sahabat baik saja.
Baiklah jika demikian hatiku lega juga,” kata To Hong dengan tertawa. “Nona Nyo itupun rada
sempit pikiran, kenapa dia mesti mengelak buat bertemu dengan kita? Padahal segala kesalah
pahaman akan menjadi jelas dengn cepat bilamana dia mau memperlihatkan dirinya.”
Tak bisa menyalahkan dia, dia berasal dari keluarga bangsawan, dengan sendirinya mempunyai
jalan pikiran yang berbeda pula dengan kita,” kata Bing-sia. Cuma Nyo Wan harus dikasihani juga,
dia pernah mengalami malapetaka dan beruntung dapat menyelamatkan diri, keluarganya telah
tewas semua, tinggal dia sebatang kara, kini satu2nya sanak keluarga hanya Li Su-lam seorang.
Maka takbisa menyalahkan dia yang merasa kuatir kehilangan orang satu2nya yang menjadi
sandarannya itu, dengan sendirinya macam2 pikiran cemburu dan curiga akan berkecambuk dalam
benaknya.
“Enci Sia, aku paling kagum pada jiwa besarmu, selalu bepikir bagi kebaikan orang lain,” kata To
Hong. “Nah, urusan disini boleh kau tinggalkan sasja, semoga kau berhasil menemukan nona Nyo.”
Besok paginya Bing-sia lantas berangkat. Ia dapat meraba isi hati Nyo Wan, maka ia yakin Nyo
Wan takkan pergi ke-mana2 selain mengintil Li Su-lam secara diam2. Begitulah Bing-sia lantas
menuju ke Hui-liong-san juga. Sepanjang jalan ia tidak lupa tanya2 apakah ada seorang yang
bermuka “buruk” lewat disitu.
Suatu hari sampailah dia disuau kota, waktu itu sudah petang, ia lantas cari rumah penginapan
didalam kota.
Tak terduga beberapa hotel yang didatanginya ternyata menyatakan kamar penuh. Bing-sia menjadi
heran. Padahal kota itu boleh dikata kota mati, lalu lintas sepi, suasana perang membikin orang
menjadi takut keluar rumah, manabisa semua hotel disitu penuh terisi. Apakah barangkali mereka
tidak mau terima tamu perempuan? Akan tetapi adat istiadat didaerah utara berbeda dengan selatan,
kedudukan kaum wania tidak banyak berbeda dengan kaum pria. Maka kaum wanita yang
mengadakan perjalanan sendirian adalah umum, walaupun tidak terlalu banyak.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Bing-sia coba mendapatkan hotel terakhir, jelas tertampak hotel itu sangat sepi, banyak pegawainya
tampak menganggur, tapi ketika ditanya sipengurus juga menyatakan kamar penuh. Kejutan Bingsia
sangat mendongkol. Ia coba minta keterangan, apakah kuatir tidak bayar sewa kamar, takut asal
usulnya tidak jelas atau sebab2 lain? Sudah terang banyak kamar kosong, mengapa bilang penuh?
Bila perlu biarlah kubayar sewanya dua kali lipat. Demikian Bing-sia menyatakan.
Namun pengurus hotel menjawab: “Bayar berapapun kamar tetap tidak disewakan padamu.”
“Sebab apa? Coba terangkan!” seru Bing-sia dengan menahan marahnya.
“Tidak sebab apa2, hanya tidak disewakan kepada tamu perempuan!” sahut si pengurus.
Hampir meledak amarah Bing-sia. Tapi hatinya lantas tergerak. Semua hotel menolak terima tamu
perempuan, tentu ada alasannya. Agaknya mereka takut kepada sesuatu yang tidak dijelaskan
padanya.
Timbul rasa ingin tahu Bing-sia, tanpa omong lagi ia tinggalkan hotel itu. Ia pikir paling perlu
makan kenyang dulu, hotel urusan belakang. Segera ia mendatangi sebuah restoran, ia pikir bisa
jadi disitu akan dapat diperoleh keterangan tentang sebab2nya hotel tidak terima tamu perempuan.
Tak terduga baru saja ia menginjak pintu restoran itu sipengurus sudah memapaknya dan berkata:
“Maaf, disini tidak melayani tamu perempuan!”
Tidak kepalang dongkolnya Bing-sia jengeknya: “Hm, aturan manakah ini? Sudah banyak tempat
yang kujelajahi, selamanya tidak pernah dengar tamu perempuan dilarang masuk restoran.”
“Ditempat lain tidak ada aturan demikian, disinilah yang ada,” kata sipengurus. “jika tidak percaya
boleh kau coba daang ke restoran lain.”
Bing-sia tidak ingin ribut2, terpaksa ia meninggalkan resoran itu. Makin dipikir makin heran.
Betapapun persoalan ini harus diselidiki hingga jelas. Tapi kepada siapa ia dapat mencari
keterangan. “Sungguh sial, jangan2 malam ini aku harus kelaparan!”
Selagi Bing-sia meragukan apa yang harus dihadapinya nanti, tiba2 seorang kakek mendekati dia
berkata setengah berbisik padanya: “Jangan sedih nona, apakah kau tidak punya sanak famili di
kota ini?” Orang tua ini bicara dengan nada gugup dan takut2.
Bing-sia masih ingat kakek ini tadipun sedang minum minum direstoran, segera ia menjawab: “Bila
punya sanak famili disini kan aku tidak perlu mencari pondokan dan rumah makan. Aku kebetulan
lewat disini saja dalam perjalanan ke Lengbu.”
“O, sebaiknya kau jangan melanjutkan perjalanan,” ujar kakek itu.
“Kenapa?” tanya Bing-sia
“Disini bukan tempat bicara yang baik” kata kakek itu. “Sungguh kasihan kau, sudah malam begini.
Jika kau suka, biarkan kau bermalam saja dirumahku.”
“Semua hotel dan restoran menolak diriku, tentu mereka ada alasannya, apakah kau tidak takut
tersangkut urusan?” kata Bing-sia.
“Aku hanya punya seorang teman tua, semuanya sudah berumur, takut apa lagi?” ujar sikakek.
Watak Bing-sia memang tidak suka pura2, segera ia menyatakan terima kasih dan terima baik
ajakan dikakek.
Begitulah setelah membelok beberapa jalanan akhirnya sikakek membawa Bing-sia sampai
dirumahnya. Diam2 Bing-sia heran, tampaknya sudah tua, tapi langkah kakek itu ternyata sangat
gesit.
“Hai, kawan tua, lekas buka pintu, ada tamu!” seru sikakek setelah menutup pintu.
Maka keluarlah seorang nenek, heran juga dia melihat Bing-sia, katanya: “Nona ini…….”
“O ya, belum lagi mengetahui nama nona yang terhormat,” kata si kakek.
Segera Bing-sia memberitahukannya.
“Nona ini hendak pergi ke Lengbu dan lewat disini, tapi sukar mendpatkan rumah penginapan,”
tutur si kakek.
“Aku sangat berterima kasih atas budi baik bapak, tapi kalau sampai bikin susah kalian tentu
akupun tidak enak, biarlah aku mencari tempat lain saja,” kata Bing-sia.
“Nona jangan salah paham, kami hanya kuatir terjadi apa2 atas dirimu sehingga bikin susah
padamu,” kata si nenek.
“O, rasanya kalian tidak perlu kuatir terhadap diriku,” kata Bing-sia. “Entah yang dikuatirkan nenek
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
itu urusan apa?”
Baru nenek mau menutur, sikakek sudah menyela:”Nona belum lagi makan malam, buatkan sedikit
daharan dulu, aku saja yang ceritakan padanya.”
Begitulah sinenek lantas sediakan makanan bagi Bing-sia, sedang si kakek lantas menutur:”Aku she
Ho, nomor sembilan dalam urutan saudaraku, maka aku dipanggil Ho Kiu, yang menghormati aku
suka menambahkan lagi panggilan engkong sehingga biasa mereka panggil aku Ho Kiu-kong. Aku
tidak punya anak cucu, maka maaf, dirumahku akan kupandang nona sebagai cucuku sendiri. Aku
tidak sungkan2, kaupun jangan malu2. Tentang suasana genting dikota ini, soalnya akhir2 ini telah
berjangkit “Jay-hoa-cat” (maling tukang petik bunga, penjahat pemerkosa).
“Aneh, hanya seorang Jay-hoa-cat saja mengapa setiap orang menjadi ketakutan sehingga tamu
wanita ditolak di mana2?” ujar Bing-sia.
“Soalnya Jay-hoa-cat itu sangat kejam,” tutur Ho Kiu-kong. “Dia telah banyak berbuat kejahatan
dilain tempat, akhir2 ini baru melakukan kejahatan dikota ini. Pertama kali yang menjadi korban
adalah anak perawan dari keluarga Sun. Hartawan Sun hanya punya seorang putri tunggal, umurnya
baru delapan belas, sudah dekat hari nikahnya. Keluarga Sun juga banyak memakai jago pengawal,
siapa duga suatu malam telah digerayangi Jay-hoa-cat. Beberapa jago pengawal itu telah dibunuh
dan dilukai, sedang anak gadis Sun tetap dibawa lari. Peristiwa kedua terjadi dua hari yang lalu,
kediaman komandan militer kota sendiri atas diri anak menantu perempuannya, lantaran menantu
bapak komandan tidak mau menurut, akhirnya telah dicekik mati oleh penjahat itu. Padahal
disekitar kediaman pembesar kota itu sendiri ada be ratur2 prajurit penjaga, meski jay-hoa-cat itu
dihujani anak panah, dia masih mampu lolos.”
“Macam apakah Jay-hoa-cat itu. Tentu ada yang pernah melihatnya bukan?” tanya Bing-sia.
“Kabarnya pemuda yang baru berumur lima atau enam likuran, berperawakan tinggi, ada andeng2
ditengah jidatnya,” kata Ho Kiu-kong.
Sejak kecil Bing-sia sudah ikut ayahnya berkelana didunia kangouw, maka macam2 tokoh
persilatan sudah dilihat dan didengarnya. Tapi keterangan Ho Kiu-kong tentang Jay-hoa-cat itu
sungguh sangat diluar dugaannya, sebab gambaran Jay-hoa-cat itu ternyata mirip Ci In-hong, baik
umur maupuh perawakan, begitu pula andeng2 ditengah jidat adalah ciri2 khas Ci In-hong.
Tapi waktu kejadian terang tidak cocok, ada kemungkinan perbuatan dirumah komandan kota itu
dilakukan oleh Ci In-hong, tapi kejadian pertama pasti bukan, sebab waktu itu terang Ci In-hong
masih belum kabur dari Long-sia-san.
Bing-sia menjadi sangsi, ia coba tanya: “Apakah kedua peristiwa itu dilakukan Jay-hoa-cat yang
sama?”
Tampaknya Ho Kiu-kong rada heran, jawabnya: “Mengapa nona menyangsikan Jay-hoa-cat itu ada
dua orang? Satu saja sudah kalang kabut, kalau dua kan lebih celaka lagi. Tapi akupun tidak tahu
dengan pasti, sebab dari prajurit2 dirumah komandan kota dan para jago pengawal dirumah
hartawan Sun tiada keterangan yang menyatakan penjahat yang mereka hadapi itu ada
persamaannya.”
Bing-sia merasa kecewa karena tidak mendapat keterangan yang memuaskan. Tapi sekarang iapun
tahu duduknya perkara, kiranya ditolaknya dia menginap dihotel dan makan direstoran adalah
karena orang2 itu takut ikut tersangkut oleh urusan Jay-hoa-cat, sebab siapa tahu bila malamnya
sang tamu lantas diculik oleh penjahat itu.
“Makanya nona cantik sperti kau hendaklah hati2, nona Beng,” kata Ho Kiu-kong pula. “Tapi
tampaknya kau seperti tidak takut terhadap hali begitu?”
“Aku justru berharap Jay-hoa-cat itu menyantroni diriku,” sahut Bing-sia. “Kiu-kong, tampaknya
kaupun seorang yang berisi, rupanya aku salah lihat tadi.” ~ Berbareng itu sebelah tangannya terus
mencengkeram kepundak Ho Kiu-kong.
Kakek itu terkejut, dengan sendirinya ia berusaha menangkis. Akan tetapi pergelangan tangannya
lantas kena dipegang Bing-sia. Sekali pegang segera Bing-sia dapt menjajaki tinggi rendahnya
kepandaian orang, ternyata tidak seperti dugaannya semula.
“Jangan bergurau, nona, tulang2 tua bisa retak semua,” seru Kiu-kong.
Bing-sia melepaskan cekalannya dan berkata: “Maaf Kiu-kong. Terpaksa aku menjajal engkau
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
supaya kau perlihatkan dirimu yang sebenarnya.”
“Ai, sudah tua, hanya beberapa jurus cakar kucing saja juga tak berguna,” kata Kiu-kong. “Aku
malah tidak menyangka kepandaian nona yang hebat ini, tampaknya akupun tidak perlu kuatir lagi.”
“Ah, kau terlalu memuji,” kata Bing-sia. “apakah Kiu-kong pernah menyelidiki jejaknya Jay-hoacat
itu, kalau ada tanda2 yang dapat dicari akupun ingin coba2 menghadapi dia.”
“Terus terang Jay-hoa-cat itu terlalu lihay, hanya dengan beberapa jurus kepandaianku ini mana aku
berani mencari perkara padanya?” sahut Ho Kiu-kong.
Menurut penilaian Bing-sia, memang ucapan Ho Kiu-kong itu cukup beralasan.
Didengarnya kakek itu berkata pula: “Nona Beng, maafkan bila aku berbicara terus terang. Jay-hoacat
itu sesungguhnya terlalu lihai, betapapun juga seorang diri bagi nona sukar menghadapi dia.
Sayang aku sudah tua bangka, kepandaianku juga tidak dapat membantu banyak pada nona. Tapi
aku ada suatu pikiran, entah dapat dijalankan atau tidak.”
“Silahkan Kiu-kong bicara, coba kita rundingkan lebih lanjut,” ujar Bing-sia.
“Cecu dari Long-sia-san terkenal suka membantu yang lemah dan memberantas kejahatan, namanya
termashur di segenap penjuru. Cuma sayang kabarnya cecu tua sudah meninggal, entah cecu
penggantinya masih tetap baik atau tidak. Kalau mereka bersedia membantu, seorang Jay-hoa-cat
tentu tidak perlu ditakuti. Hanya tidak tahu cara bagaimana kita dapat minta bantuan kesana
walupun jaraknya tidak terlalu jauh dari sini.”
“Jika Kiu-kong bermaksud minta bantan ke Long-sia-san adalah putri cecu lama, adalah temanku
yang paling karib. Aku sendiri akan menyelidiki dua-tiga hari dulu disini, bila tidak menemukan
sesuatu, nanti akan kutulis sepucuk surat padamu untuk dibawa ke Long-sia-san.”
“Wah, sungguh segenap penduduk kota ini harus berterima kasih kepada nona,” kata Ho Kiu-kong
dengan girang. Pada saat itu juga si nenek telah muncul pula, segera si kakek berseru: “He, kawan
tua, tentu kau tidak mengira bahwa nona Beng sebenarnya adalah teman karib cecu baru Long-siasan
dan telah menyanggupi akan bantu kita menumpas Jay-hoa-cat itu.”
Si nenek tampaknya rada sangsi, katanya dengan tertawa: “O, baik sekali kalau begitu. Cuma
sebelum terjadi sesuatu, sebaiknya nanti malam nona harus hati2. Sungguh tk terduga nona adalah
tamu agung, maaf kalau kami tak dapat menyuguhkan daharan enak dan Cuma semangkok mie
kuah saja.”
“Ah, nenek terlalu baik hati,” jawab Bing-sia sambil menerima semangkok mi godok yang
disodorkan. “Jika tiada bantuan kalian, tentu malam ini aku akan kelaparan, bahkan tiada tempat
buat bermalam.”
Kemudian ia menghabiskan semangkok mie itu, ia merasa mi tersebut adalah makanan paling enak
yang pernah ia rasakan selama hidup ini. Diam2 ia merasa geli dan mengakui kebenaran tentang
orang lapar tentu tidak pilih makanan, bahkan terasa paling lezat setiap makanan yang diperoleh
pada saat kelaparan.
Selesai makan, si nenek menyilahkan Bing-sia mengaso dan membawanya ke kemar yang telah
disediakan. Sebelum tinggal pergi nenek itu memberi pesan pula agar Bing-sia ber-hati2 tengah
malam nanti, bila mendengar apa2 boleh berteriak agar mereka suami-isteri tua dapat memberi
bantuan seperlunya.
Bing-sia mengucapkan terima kasih. Namun diaas tempat tidurnya ia tak dapat pulas. Pikirannya
bergolok, kalau menurut gambaran si kakek, ciri2 Jay-hoa-cat itu mirip dengan Ci In-hong, apakah
mungkin pemuda itu melakukan perbuatan terkutuk ini? Ia menjadi teringat kepada kelakuan Ci Inhong
yang aneh serta nada ucapan ayahnya tempo hari tentang diri pemuda itu, walaupun tidak
tegas2 mengatakan terus terang, namun ayahnya seperti menaruh kepercayaan penuh kepada pribadi
Ci In-hong.
Begitulah dengan penuh tanda tanya ia berbaring tanpa buka pakaian, sampai jauh malam tetap tak
bisa pulas. Entah berapa lama, akhirnya Bing-sia mulai lelah dan ngantuk.
Tiba2 terdengar suara “kletik” sekali, seperti suara orang menyeletik pelahan di daun jendela. Suara
pelahan itu seketika membikin rasa ngantuk Bing-sia lenyap seluruhnya, semangatnya terbangkit:
“Jangan2 yang datang benar2 si dia!” demikian pikirnya.
Diam2 ia pegang pedangnya dan pura2 tidur nyenyak untuk menantikan segala kemungkinan.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Tak terduga setelah suara kletik pelahan tadi, daun jendela ternyata tidak dibuka orang, sebaliknya
telinga Bing-sia seperti mendengar suara orang memanggilnya: “Jangan bersuara nona Beng, aku Ci
In-hong adanya, aku ingin bicara dengan kau, harap kau bicara sebentar!”
Suara itu sangat lirih, tapi cukup jelas. Terang yang digunakan adalah semacam Lwekang yang di
sebut “Thoan-im-jip-bit” (dengan gelombang suara), yang dapat dengar hanya orang memiliki
Lwekang tinggi, kalau tidak biarpun di sebelah Bing-sia juga takkan mendengar.
Bing-sia menjadi ragu2, ia pikir mungkin Ci In-hong memang bukan Jay-hoat-cat seperti
disangkanya. Tapi segala apa lebih baik ber-jaga2 sebelumnya. Segera ia melompat keluar melalui
jendela dengan pedang terhunus. Dibawah sinar bulan yang remang2 dilihatnya diatas wuwungan
ada sesosok bayangan. Rupanya Ci In-hong juga sudah menduga dirinya akan dicurigai, maka
sudah menyingkir ke tempat yang jauh lebih dulu. Segera Bing-sia melompat ke atas wuwungan
pula.
Rumah penduduk disitu sebenarnya tidak terlalu tinggi, dengan Ginkang Bing-sia sebenarnya
dengan mudah dapat melompat ke atas. Ak terduga ketika dia kumpulkan tenaga, mendadak bagian
dada terasa rada kemeng, kakinya menjadi berat dan hampir2 menginjak pecah genting rumah
ketika melayang keatas wuwungan. Untung Ci In-hong lantas menariknya sehingga tidak sampai
menerbitkan suara.
Ci In-hong terkejut, tanyanya dengan suara tertahan: “Apakah kau merasa ada sesuatu yang tidak
beres?”
Bing-sia tahu maksud baik orang, ia coba bernapas dalam2 dan terasa tiada sesuatu gangguan,
jawabnya kemudian: “Tidak ada apa2.”
“Baiklah, kalau begitu lekas kita pergi dari sini,” ajak In-hong.
“Apakah kau maksudkan tuan rumah disini bukan orang baik2?” tanya Bing-sia.
“Kurang terang, yang pasti dia berasal dari kalangan Hek-to dan tidak begitu baik namanya,” sahut
In-hong. “Daripada terjadi apa2 diluar dugaan, kukira lebih baik pergi saja dari sini.”
“Darimana kau mengetahui aku berada disini?” tanya Bing-sia pula.
“Ketika kau keluar dari restoran itu siang tadi, aku telah melihat kau,” jawab In hong.
“Tentunya kaupn sudah tahu bahwa ada orang menyamar sebagai dirimu dan melakukan perbuatan
terkutuk disini?”
“Ya, tahu. Kedatanganku kesini justru untuk persoalan ini.”
“Kau sengaja datang kesini?” Bing-sia melengak. “Jadi kau menyangsikan Ho Kiu-kong bisa jadi
sekomploan dengan Jay-hoa-cai itu?”
“Memang kusangsikan demikian,” kata In-hong. “Sebab itulah kuanjurkan kau pergi dari sini saja.”
“Tapi katanya kau ingin mencari Jay-hoa-cat itu? Jika betul Ho Kiu-kong sekomplotan dengan
penjahat itu, bukankah tempat ini paling tepat untuk menunggu kedatangannya?” ujar Bing-sia.
“Akupun belum yakin benar akan tepatnya dugaanku,” kata In-hong. “Tapi kau jangan lupa, kita
hanya berdua dan mereka bertiga.”
Baru saja Bing-sia hendak menerangkan kepandaian Ho Kiu-kong yang tak berarti itu, tiba2 Inhong
mendesis: “Wah, sudah terlamba. Keparat itu sudah keburu datang!”
Waktu Bing-sia memandang kesana, dilihatnya sesosok bayangan sedang melayang tiba secepat
terbang. Cepat In-hong menarik Bing-sia sembunyi di balik wuwungan rumah sambil berbisik:
“Jangan sembarangan bertindak dulu, kita harus mengikuti permainan apa yang akan mereka
lakukan!”
Tidak lama kemudian sesampai dirumah Ho kiu-kong, “krek”, segera Jay-hoa-cat itu terlalu
sembrono, kalau mendadak dari dalam kuserang dia tentu dia akan terluka parah andaikan tidak
mampus.
Sejenak kemudian, terdengar Jay-hoa-cat itu bersuara heran didalam kamar sambil menggumam:
“He, kemana perginya anak dara itu!?”
Menyusul lantas terdengar suara bentakan Ho Kiu-kong: “Maling, cabul jahanam, berani kau
menjatroni rumahku!”
“Hm, tua bangka yang tak tahu diri, apa kau minta mampus? Lekas serahkan anak dara itu!”
damperat si maling perusak perawan.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Lalu terdengar suara gedebrakan orang bertempur dibawah. Bing-sia segera bermaksud menerjang
kebawah. Tapi keburu ditahan Ci In-hong dan menyuruhnya tunggu sebentar lagi.
Tidak lama kemudian suara benturan senjata sudah reda, sebaliknya dari rumah lantas dinyalakan
pelita. Rupanya Ho Kiu-kong telah dirobohkan oleh Jay-hoa-cat. Dengan sinar lampu lampu iu
maksud Jay-hoa-cat hendak mencari dimana sinona cantik disembunyikan.
Kemudian terdengar suara sinenek memohon dengan suara gemetar: “Ampun Tay-ong (raja
besar,sebutan kepada para bandit), kamu hanya orang tua berdua, tidak punya anak perempuan.”
“Kurangajar! Kau berani membohongi aku? Kau tidak punya anak perempuan, tapi dimana itu anak
dara yang mondok ditempamu kemarin? Dimana kau sembunyikan dia, lekas mengaku!” bentak
Jay-hoa-cat itu.
“Jangan bicara, teman tua, biarpun mati juga jangan kita mengorbankan anak perempuan yang tak
berdosa itu! Seru sikakek Ho. “Hm,boleh kau bunuh saja kami!”
“Hm, kau tidak mengaku, apa aku tak bisa mencarinya?” jengek si maling. “Keparat benar, agaknya
kalian tua bangka ini perlu dihajar adat supaya tahu rasa!”
Habis itu agaknya maling cabul itu lentas meringkus Ho Kiu-kong dan isterinya, menyusul
terdengarlah suara “plak-plok” yang keras, tentu suami-isteri tua itu sedang dihajar. Sikakek masih
bisa bertahan tapi sinenek lantas merintih kesakitan.
Hati Bing-sia menjadi ikut perih merasakan penderitaan sinenek, ia tidak tahan lagi, mendadak ia
menerjang kebawah sambil mengertak.
Jay-hoa-cat itu melengak melihat Bing-sia menerjang masuk. Tapi segera ia bergelak tertawa dan
berkata: “hahahaaah! Tak tersangka seorang nona yang pintar main senjata pula! Sungguh
kebetulan, boleh kau menjadi isteriku yang resmi saja, kita…..”
“Tutup kacotmu!” bentak Bing-sia, pedangnya terus menusuk.
Dibawah cahaya lampu, ia lihat perawakan dan wajah Jay-hoa-cat itu benar2 memper Ci In-hong,
ditengah jidatnya juga ada andeng2. Tapi begitu pandang segera Bing-sia mengetahui juga bahwa
andeng2 itu buatan saja, bukan asli. Jadi air muka Jay-hoa-cat itu adalah samaran belaka untuk
menyamai muka Ci In-hong.
Bahwa Jay-hoa Cat itu sengaja menyamar sebagai Ci In-hong sudah dalam dugaan Bing-sia.
Anehnya, biarpun penjahat itu telah menutupi wajah aslinya, namun kesan Bing-sia adalah orang itu
seperti sudah pernah dikenalnya. Hanya mendadak tidak ingat dimana ia pernah melihatnya.
Dalam pada itu Jay-hoa-cat sudah lantas mengelak sambil hendak merebut pedang Bing-sia
sehingga si nona tidak sempat berpikir lebih banyak, ia tidak berani sembrono, cepat pedangnya
memutar dan segera menusuk lagi dari samping.
Namun Jay-hoa-cat itupun sangat cepat, ia menggeser mundur dan segera balas menusuk. Ketika
Bing-sia menangkis, se-konyong2 lawan terus menubruk maju, tangan terpentang dan bermaksud
mencengkeram k epundak Bing-sia dengan menyeringai.
Bing-sia belum sempat menarik kembali pedangnya dan tampaknya sukar mengelak cengkeraman
itu. Pada saat itulah mendadak terdengar suara “blang”, pintu didobrak orang, sesosok bayangan
menerjang masuk. Kiranya Ci In-hong adanya. Belum dekat orangnya segera Ci In-hong
menghantam dari jauh, tenaga pukulannya mendorong Bing-sia ke belakang, menyusul In-hong
terus menubruk ke arah Jay-hoa-cat.
Begitu pukulan kedua orang beradu dan menerbitkan suara keras, Jay-hoa-cat itu terhuyung
kebelakang beberapa tindak.
“Kiranya kau!” bentak Ci In-hong.
“Memangnya mau apa?” jengek si Jay-hoa-cat. “Hm, dihadapanku kau berani kurang ajar?”
“Hm, jangan kau salah lihat, memangnya kau sangka aku ini apa?” jawab In-hong dengannn
tertawa. “Kau berani memalsukan diriku untuk melakukan kejahatan, bukan saja aku harus ajar kau,
bahkan akan kubunuh kau.”
“Kaupun salah sangka,” jengek si maling cabul. “Aku memalsukan namamu karena sssudah lama
kukkkenal kau bukan orang baik2. Sungguh menggelikan kau malah mengira aku yang salah
pandang dirimu?”
Kedua orang saling adu mulut, tapi adu senjata juga tetap berlangsung, di tengah ucapan2 mereka
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
itu belasan jurus sudah berlangsung.
Dalam pada itu Bing-sia telah menyingkir ke pinggir, ia merasa jantungnya berdetak keras dan
napas memburu, ia terkejut dan heran mengapa keadaannya bisa berubah begitu runyam? Ia
mendengar si nenek lagi merintih kesakitan sehingga membikin Bing-sia tambah kacau pikirannya.
Pertarungan Jay-hoa-cat dengan Ci In-hong ternyata semakin sengit, sedikit saja meleng tentu akan
mandi darah. Karena itu tiada seorangpun berani bicara lagi, keduanya sama2 memusatkan
perhatian untuk bertempur . Cuma tertamapak keadaan Ci In-hong rada unggul sedikit.
Setelah tenangkan diri, sebenarnya Bing-sia bermaksud membantu In-hong. Keika didengarnya si
nenek lagi merintih kesakitan pula, ia pikir seharusnya menolong dulu kedua orang tua itu, maka
cepat ia mendekati si nenek untuk membuka tali ringkusannya.
Nenek itu diikat berduduk di atas kursi, selagi Bing-sia sibuk memotongi tali pengikatnya,
sekonyong-konyong terdegar suara mendesir, suara angin menyamber dari belakang. Semacam
senjata sebangsa rujung yang lemas atau cambuk tahu2 mneyabet dari belakang.
Bing-sia terkejut. Untung dia sudah cukup pengalaman, biarpun kejut tidak menjadi bingung, cepat
ia melompat ke samping, maka melesetlah sabetan cambuk itu. Namun begitu tidak urung
punggungnya juga keserempet sehingga sakit pedas.
Berbareng Bing-sia ayun pedangnya ke belakang “sret”, cambuk lawan terpapas sebagian. Waktu ia
berpaling, ia menjadi melongo kesima setelah mengetahui siapa penyerang gelap itu.
Siapakah penyerang gelap itu? Kiranya tak lin tak bukan adalah tuan rumah yang baik itu itu , Ho
Kiiu-kong adanya.
Rupanya Ho Kiu-kong telah melepaskan diri dari tali ringkusannya dan mengunakan tali panjang
itu untuk menyerang Bing-sia. Tali yang panjang itu memangnya mirip benar dengan cambuk.
Bahkan Bing-sia tambah kaget pula ketika mendadak pundaknya terasa kesakitan, ia ter-huyung2
dan hampir roboh. Didengarnya si nenek lagi berkata dengan menyeringai: “Nona Beng, kau telah
masuk perangkap kami!”
Baru sekarang Beng-sia percaya bahwa Ho Kiu-kong dan isterinya itu ternyata benar komplotan si
maling cabul perusak gadis itu. Keadaan loyotan si nenek itu hanya pura2 saja, sebenarnya dia
cukup kuat, bahkan ilmu silatnya terhitung lihay pula. Lebih2 kepandaian Ho Kiu-kong jelas sekali
jauh diatas penilaian Bing-sia semula.
Kejut dan gusar pula Bing-sia, sungguh tidak nyana kepalsuan manusia sampai sedemikian rupa.
Kini pundah kanannya sudah kena dicengkeram oleh sinenek, untung tulak pundaknya tidak sampai
cidera. Namun sebelah lengan terasa kaku kesemutan. Saking gemasnya Bing-sia pindahkan pedang
ke tangan kiri, segera ia menggertak: “Tua bangka keparat, keji amat muslihat kalian! Kalian harus
tebus dosamu dengan nyawa kalian!”
“Hahaha! Apakah nona bermaksud mengadu jiwa dengan kami? Hm,kukira kau Cuma napsu besar
tenaga kurang! Kalau tidak percaya boleh kau coba!” jengek Ho Kiu-kong.
Waktu pedang Bing-sia menusuk benar juga, tenaganya tidak mau mengikuti hasratnya. Mestinya
serangannya itu akan susul menyusul tiga kali, akan tetapi baru menusuk satu kali saja rasanya
sudah kehabisan tenaga.
Sebaliknya Ho Kiu-kong lantas putar talinya itu sebagai cambuk, terdengar suara “plak-plok”,
kembali Bing-sia kena disabet dua kali.
“Haha! Bagaimana? Betul tidak?” jengek pula si kakek.
Mengapa keadaan Bing-sia bisa begitu? Kiranya Ho Kiu-kong dan isterinya telah mengerjai nona
itu dengan menaruh semacam bubuk obat didalam mi kuah yang disuguhkannya itu. Bubuk itu
berkasiat membikin otot lemas dan tulang linu, waktu dimakan tidak terasa, tapi satu jam kemudian
barulah obat itu mulai bekerja.
Melihat si nona terdesak, cepat Ci In-hong berseru: “Tahan nona Bing, harus bersabar!” Berbareng
itu “sret”, pedang lantas menusuk, mengarah mata si Jay-hoa-cat.
Cepat Jay-hoa-cat itu mengegos terus balas menyerang dengan jurus “Ki-hwe-liau-thian” (angkat
obor menjuluh langit), pedang menusuk perut Ci In-hong.
Namun pada saat lawan sedang mengegos tadi segera Ci In-hong melompat ke samping, “bret”,
ujung bajunya terobek oleh pedang si Jay-hoa-cat, sebaliknya Ci In-hong sendiri sudah melompat
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
sampai disebelah Bing-sia. Dan begitu tiba segera Ci In-hong memutar pedangnya, sekaligus ia
menyerang tiga tempat Hiat-to penting di tubuh si nenek.
Keruan nenek itu terkejut, terpaksa ia dijatuhkan diri dan menggelinding ke sana seperti bola,
dengan demikian barulah jiwanya dapat diselamatkan.
“Bocah kurang ajar, jangan temberang!” bentak Ho Kiu-kong sambil memburu maju.
“Tua bangka, kaupun rasakan kelihaianku!” balas Ci In-hong, secepat kilat ia paksa di nenek
menjatuhkan diri, menyusul ia terus menerjang ke tengah lingkaran cambuk panjang si kakek.
Di tengah sinar pedang dan bayangan tali, tertampaklah se-potong2 benda hitam terbang bertebaran
kiranya dalam sekejap itu tali yang dipakai sebagai sejata oleh Ho Kiu-kong yang panjangnya
beberapa meter itu elah dipapas oleh pedang Ci In-hong dan menjadi belasan potong kecil2, sisanya
tidak lebih Cuma satu meteran saja.
Ho Kiu-kong menggunakan tali panjang itu sebagai cambuk, kini tinggal sepotong saja tentu tak
berguna lagi, kalau dia tidak lekas2 tarik tangannya mungkin jari tangan akan terpapas pula oleh
pedang Ci In-hong.
Keruan kejut Ho Kiu-kong tak terkatakan, lekas2 ia melompat minggir. Pada saat itulah Jay-hoa-cat
baru menyusul tiba. Sambil menangkis segera Ci In-hong menarik Bing-sia dan diajak lari. “Trang”,
pedang Ci In-hong tersampuk ke samping, pundaknya tergores pedang lawan.
Sebenarnya kepandaian Ci In-hong setingkat lebih unggul daripada si maling cabul itu. Tapi dia
harus membagi perhatiaannya unuk membantu Bing-sia melarikan diri, dalam hal demikian ia
menjadi lena.
Namun demikian pergelangan tangan si Jay-hoa-cat juga hampir2 terpapas oleh pedang Ci In-hong,
iapun terkejut sehingga tidak sempat menyusulkan serangan lain, maka dapatlah Ci In-hong
membawa Bing-sia menerjang keluar rumah.
Setelah keluar pintu, mendadak Ci In-hong mendak sambil merangkul pinggang Bing-sia yang
ramping itu.
Karena rangkulan yang mendadak, Bing-sia menjadi tercengang. Tapi Ci In-hong sudah lantas
mendempelkan punggungnya, Bing-sia terus digendongnya sambil berseru: ”Pegang erat2
pundakku!”
Bing-sia baru tahu maksud Ci In-hong hendak menggendongnya kabur. Memangnya Bing-sia
adalah nona yang berjiwa maju, berwatak seperti laki2. Kini iapun merasa dirinya tidak sanggup
menggunakan ginkang untuk melarikan diri, karena keracunan, terpaksa ia tidak benyak berpikir
lagi tentang sirikan antara laki2 dan perempuan. Padahal selama hidupnya belum pernah ia
berdekatan begitu dengan seorang laki2, keruan mukanya menjadi merah dan jantungnya berdebar
keras menggemblok di punggung Ci In-hong.
Luka di pundak kiri Ci In-hong itu hanya luka lecet saja, tidak berhalangan,hanya saja darah
bercucuran. Bing-sia tidak berani memegang pundak yang terluka itu, maka yang dipegang hanya
pundak sebelah lain. Hatinya sangat berterima kasih dan kikuk pula.
Sementara itu si Jay-hoa-cat sudah memburu keluar, sambil menggendong Bing-sia baru saja Ci Inhong
melompat keatas genting rumah.
“Mau lari kemana?” bentak Jay-hoa-cat. “Turun saja!” ~~ Berbareng ia terus menghantam dari
jauh, maksudnya hendak memaksan lawan turun kembali dengan pukulannya yang dahsyat.
“Kau punya Thian-lui-kang masih kurang sempurna, pulang saja dan berlatih lagi dua tahun!”
jengek In-hong. Dari atas rumah iapun sambut lawan dengan pukulan yang sama. Karena gempuran
tenaga pukulan yang hebat itu, wuwungan rumah sampai ambrol dan berhamburan pecahan genting.
Namun Ci In-hong tidak jatuh kejeblos, ia masih sempat melompat ke rumah penduduk di sebelah
sana.
Sebaliknya Jay-hoa-cat itu yang tergentak mundur beberapa tindak, dadanya seperti kena digodam
keras2 dan hampir2 roboh. Keruan ia terkejut, pikirnya: “Thian-lui-kang keparat ini memang benar
lebih lihai daripada diriku, meski dia sudah terluka, kalau kukejar dia sendirian mungkin sukar
mengalahkan dia.” ~ Rupanya ia insaf Ho Kiu-kong dan istrinya tiada berguna diharapkan
bantuannya untuk mengejar Ci In-hong diatas genting. Dan karena rasa jerinya itu, terpaksa Jayhoa-
cat itu harus menyaksikan Ci In-hong kabur begitu saja dengan menggendong Bing-sia.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Sambil menggemblok diatas punggung Ci In-hong dengan suara terharu Bing-sia berkata: “Citoako,
sungguh aku tidak pantas mencurigai kau, ternyata kau adalah orang yang sangat baik hati.”
“Kini belum waktunya bicara, lekas pegang kencang pundakku,” sahut In-hong. Meski musuh tidak
berani mengejar, namun ia harus ber-jaga2 segala kemungkinan.
Setelh lari keluar kota, melihat musuh tidak mengejar, legalah hati mereka. Ci In-hong
menggendong Bing-sia kedalam sebuah hutan yang rindang, lalu diturunkan dan duduk mengaso di
situ.
Bing-sia lantas mengeluarkan obat untuk dibubuhkan diatas luka Ci In-hong. Ia merasa tidak enak
ketika melihat jidat in-hong penuh keringat, katanya: “Ci-toako, aku hanya bikin susah padamu
saja. Badanku masih terasa lemas, tulang juga linu, bagaimana baiknya sekarang?”
“Aku masih ada sisa Siau-hoan-tan pemberian Siau-lim-si kepada Suhuku, coba nona minum pil ini,
nanti kubantu melancarkan darah untuk mengembalikan tenagamu, dengan demikian engkau tentu
dapat pulih dalam waktu tidak lama,” kata In-hong.
Lwekang yang dilatih Ci In-hong memang sudah sangat tinggi, setelah minum Siau-hoan-tan, Bingsia
mendapat bantuan pula saluran tenaga dalam pemuda itu sehingga tiada satu jam semangat
Bing-sia sudah segar kembali, ia coba gerak2 kali dan tangannya, ternyata tenaga sudah pulih
sebagian besar.
“Sungguh hebat lwekangmu, nona, kau tidak malu sebagai putrinya Beng-tayhiap,” puji In-hong.
“Bila orang lain, setelah kena racun pelemas tulang musuh tentu tak dapat disembuhkan dalam
waktu sesingkat ini.”
“Ah, yang harus dipuji adalah kau, sebaliknya kau malah memuji diriku.” Jawab Bing-sia dengan
tertawa. “Sekarang agaknya kita mesti bicara urusan yang penting. Aku ingin tanya padamu,
pertama:siapakah Jay-hoa-cat itu? Nampaknya kau sudah cukup kenal siapa dia bukan?”
“Tidak Cuma kenal saja, malahan dia adalah saudara seperguruan kami,” kata Ci In-hong.
“Ayahnya adalah Toasupekku.”
“Siapakah Toasupekmu?” tanya Bing-sia.
“Yang Thian-lui, yang menjabat Koksu (imam negara) dinegeri Kim sekarang,” tutur Ci In-hong.
“Hah, kiranya Yang Thian-lui adanya!” seru Bing-sia kaget. “Pembunuh gelap To Pek-seng sudah
diselidiki dengan baik oleh to Hong, pembunuh itu justru Yang Thian-lui. Apakah hal inipun
diketahui olehnya?”
“Tahu, bahkan akupun mengetahui disamping menjadi koksu kerajaan Kim, berbareng dia
bersekongkol dengan pihak Mongol pula. Tahun yang lalu ia pernah mengirim putra satu2nya ke
Mongol. Putranya itu bernama Yang Kian-pek, yaitu Jay-hoa-cat yang kau lihat semalam itu.”
“O, pantas makanya aku merasa seperti pernah kenal dia,” ujar Bing-sia.
“Kau pernah melihat dia?” In-hong menegas dengan heran.
“Ketika Yang Kian-pek itu pulang kesini bukankah dia ditemani oleh seorang busu bangsa
Mongol?” tanya Bing-sia.
“Benar, busu Mongol itu bernama USa, terhitung satu diantara ke-36 jago kemah emas yang
dibanggakan Jengis Khan. Ketika kuterima kabar demikian, pernah aku mengikuti jejak mereka.
Cuma sayang aku rada lengah sehingga ditengah jalan aku kehilangan jejak arah tujuan mereka.”
“Betul jadinya kalau begitu,” ujar Bing-sia.
“Dimana kau pergoki mereka?” tanya In-hong.
“Di kampung halaman Li-bengcu (Li Su-lam).”
“O, tahulah aku. Sesudah Li-bengcu melarikan diri dari Holon, tentu mereka diperintahkan Jengis
Khan untuk menyusul dan membereskan jiwa Li-bengcu.”
“Menurut cerita Li-bengcu, katanya Busu Mongol itu bermaksud mencuri sejilid kitab pusaka di
rumahnya,adapun maksud tujuan Yang Kian-pek kurang jelas. Yang terang pada malam itu secara
diam2 busu Mongol itu telah menyusup masuk kerumah keluaraga Li, sedang YangKian-pek
mengawasi diluar rumah. Kebetulan pada malam itu juga aku pun pergi mencari Li-bengcu, tengah
malam buta aku telah bergebrak dengan dia didakam hutan dan hampir2 aku dikalahkan. Untung
Li-bengcu telah merobohkan busu mongol itu dan keburu tiba sehingga Yang Kian-pek dibikin
ngacir. Akan tetapi busu Mongol yang roboh karena Hiat-to tertotok oleh Li-bengcu itupun sempat
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kabur.”
Mendengar sampai disini, In-hong ter-heran2, ia menyela: “Aneh, sebagai murid Kok-tayhiap dari
Siau-lim-pay yang termashur itu, ilmu Tiam-hiat Siau-lim tentunya lain daripada yang lain,
mengapa Usa yang tertotok oleh li-bengcu itu mampu kabur?”
“Hal inipun mengherankan aku,” jawab Bing-sia. “Menurut keadaan waktu itu, terang Yang Kianpek
tidak mungkin sempat menolong Usa.”
“Kalau kepandaian Usa sendiri rasanya juga tidk mampu membuka Hiat-to sendiri yang tertotok,”
kata In-hong. “Apakah mungkin ada orang ketiga yang menolongnya?”
Teringat kepada kejadian malam itu, hati Bing-sia menjadi rada kesal, terutama kesalahan paham
Nyo Wan justru berpangkal pada kedatangannya ke rumah Li Su-lam pada malam itu. Maka ia tidak
meneruskan lagi, tapi lantas tanya: ”kini giliranmu untuk bercerita.”
“Ai, cerita ini sangat panjang kalau diuraikan,” ujar In-hong sambil menghela napas. “Kakek
guruku mempunyai empat murid. Yang Thian-lui adalah murid pertama, jadi dia adalah Toasupek.
Jisupek sudah meninggal waktu muda, beliau tidak mempunyai pewaris. Sisusiok menghilang pada
belasan tahun yang lalu dan tidak diketahui dimana berada sekarang. Suhuku adalah murid ketiga,
boleh dikata satu2nya Sute Yang Thian-lui,”
“Ayah Yang Thian-lui adalah orang Han, ibunya orang Kim, pantasnya dia terhitung bangsa Han
karena mengikuti nama keluarga ayahnya. Akan tetapi dia kemaruk pada kedudukan, dia lebih suka
mengaku sebagai bangsa Kim pada waktu itu dan mengabdikan tenaganya bagi Kim, berkat ilmu
silatnya yang memang tinggi, setiap tahun dia naik pangkat, akhirnya pada tiga tahun yang lalu dia
diangkat sebagai Koksu baru untuk menggantikan koksu lama yang menjadi gurunya itu.
“Sudah tentu, cita2 yang berbeda menyebabkan renggangnya hubungan, sejak Toasupek menjual
tenaganya kepada kerajaan Kim, guruku lantas mengasingkan diri dipegunungan sepi dan jarang
mengadakan hubungan dengan Toasupek. Hanya terkadang saja Toasupek dalam kedudukannya
yang agung itu suka mengirim anak muridnya kerumah suhu dan sekalian bermaksud mengundang
guruku datang kekota raja Kim untuk membantunya, namun guruku selalu menolakk dengan halus.
“Guruku suka mengatakan padaku bahwa dua tahun permulaan beliau masuk perguruan,
Toasupeklah yang mewakilkan kakek guru mengajarkan ilmu padanya. Orang persilatan kita paling
mengutamakan budi perguruan, sebab itulah guruku tidak dapat putuskan hubungan sama sekali
dengan Toasupek. Selain itu guruku juga mempertimbangkan kemungkinan pembalasan dari
Toasupek yang terkenal kejam dan keji itu bila terang2an menolakmaksudnya, sebab itulah guruku
selalu bersabar dan menyepi hingga sekarang.”
Baru Bing-sia mengetahui bahwa guru Ci In Hong sukar memutuskan hubungan dengan sesama
saudara seperguruan sendiri meski tidak dapat membenarkan perbuatannya. Dengan hambar iapun
berkata: “Tapi sekarang kau telah terang terangan bergerak dengan putra Yang Thian Lui, apakah
kau tidak kuatir bikin susah pada gurumu?”
“Sekarang keadaan sudah lain, hendaklah kau dengarkan pula uraianku,” jawab Ci In Hong dengan
tertawa. “Tiga tahun yang lalu Toasupek telah menjadi koksu kerajaan Kim, maka iapun makin
mendesak dan memancing dengan berbagai janji muluk2 kepada guruku agar mau membantunya.
Paling akhir Toasupek sendiri berkunjung ketempat kediaman guru dan bertanya secara tegas apa
maksud guruku sesungguhnya, mengapa selalu menolak untuk membantunya? Lantaran terdesak,
terpaksa Suhu menggunakan siasat mengulur waktu, pura2 menyatakan akan mempertimbangkan
undangannya, tapi sebelum berangkat masih ada urusan2 rumah tangga yang perlu dibereskan dulu.
Setelah Toasupek memberikan batas tempo tertentu, kemudian beliau baru angkat kaki.
“Setelah Toasupek pergi, Suhu telah mengeluarka nisi hatinya padaku, katanya: ”Kita sama2 orang
Han, sebaliknya Toasupekmu sekarang telah menjadi Koksu negeri Kim dan secara kejam
membunuh pahlawan2 bangsa yang menentang Kim, kejahatannya makin lama makin menyolok,
aku tak sudi mementingkan hubungan baik pribadi dan melupakan kepentingan negara dan bangsa.
Sesungguhnya sudah lama aku ingin melabrak dia, tapi pertama karena kekuatanku tidak dapat
menandingi dia, kedua kepandaianmu juga belum sempurna, bila kuadu nyawa dengan dia akan
berakhir ilmu perguruan kita akan putus ditanganku, sebaliknya tinggal Yang Thian-lui saja yang
monopoli kepandaian perguruan kita, hal ini aku merasa berdosa kepada leluhur perguruan, sebab
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
itulah aku bersabar sampai sekarang. Beberapa tahun terakhir ini kupercepat memberi petunjuk
ilmu silat padamu, sementara dapat menghindari perpecahan dengan Yang Thian-lui, aku harap kau
dapat memahami jerih ayahku ini. Tapi kini aku tak dapat main ulur waktu lagi, boleh kau
melarikan diri keselatan saja.”
“Sejak kecil aku sudah piatu dan dibesarkan Suhu, budi kebaikan perguruan melebihi ayah-bunda
sendiri. Dengan sendirinya aku tidak membiarkan Suhu sendiri yang menghadapi kesukaran. Aku
mengusulkan agar diriku saja yang pergi melakukan pembunuhan gelap terhadap Yang Thian-lui,
tapi Suhu tidak mengizinkan. Sebelum mengambil keputusan apa2, sementara itu batas waktu yang
diberikan Yang Thian-lui sudah hampir tiba. Syukur pada saat itu seorang sobat baik Suhu telah
datang, pembicaraan sang tamu itulah yang telah menyelesaikan persoalan rumit kami. Coba kau
terka, siapakah sang tamu itu?”
Bing-sia melengak, jawabnya kemudian: “Darimana aku bisa tahu?”
“Ialah ayahmu, Beng-tayhiap?” kata In-hong dengan tertawa.
“O, kiranya ayah dan gurumu adalah kawan kawan baik, pantas saja!” kata Bing-sia.
“Pantas apa?” tanya In-hong dengan heran.
“Sebentar akan kuceritakan, kini kau meneruskan dulu kisahmu,” kata Bing-sia.
“Waktu ayahmu datang kebetulan aku tidak dirumah, maka apa yang dikatakan ayahmu hanya
kudengar dari uraian guruku saja. Lebih dulu ayahmu tanya guruku apakah beliau akan pergi
kekotaraja Kim untuk menantang bertempur secara terang2an kepada Yang Thian-lui. Guruku
menjawab memang begitulah maksudnya, sebab sudah kepepet, selain jalan demikian rasanya tiada
jalan lain lagi. Namun ayahmu mengoyang kepala, beliau menyatakan tidak setuju. Guruku lalu
minta pendapat ayahmu. Menurut ayahmu, lebih baik suruh aku yang mewakilkan guruku dan
pura2 bekerja bagi Yang Thian-lui. Ayahmu mengatakan: Kejahatan Yang Thian-lui yang paling
menyolok tidak hanya menghianati perguruan saja, tapi adalah perbuatannya yang membantu pihak
yang lalim, membantu kim membunuhi pahlawan2 yang menentaang musuh itu. Maka tujuan
mengirim diriku ketempat Yang Thian-lui sesungguhnya sebagai mata2 saja. Cara demikian akan
jauh lebih berguna daripada melakukan pembunuhan gelap terhadap Yang Thian-lui yang juga
belum tentu berhasil.
“Guruku merasa usul yang cukup bagus, Cuma dikuatirkan Yang Thian-lui tidak mau menerima
diriku sebagai pengganti Suhu. Sebaliknya ayahmu berpendapat Yang Thian-lui akan menilai diriku
lebih berharga daripada guruku datang sendiri, sebab Yang Thian-lui cukup mengetahui guruku
tidak mempunyai anak, selamanya aku disayang lebih daripada anak kandung sendiri. Apalagi ilmu
silatku sudah memperoleh ajaran Suhu seluruhnya, tentu Yang Thian-lui lebih suka memakai tenaga
muda daripada orangtua yang bandel sebagai guruku.”
“Pantas Yang Kian-pek itu memaki kau, tentunya kau telah berbuat menurut rencana yang sudah
diatur itu,” ujar Bing-sia tertawa.
“Memang betul.” Kata In-hong. “Aku telah melaksanakan usul ayahmu itu dan pergi menemui
Yang Thian-lui, benar juga dia lantas menerima diriku sebagai wakilnya Suhu, bahkan aku diberi
pangkat sebagai jago pengawal kelas dua. Lebih dua tahun aku berkecimpung dimarkasnya,
banyakjuga berita penting yang kuperoleh, beberapa kali dia mau menangkap pahlawan2 penetang
kim, untung sebelumnya kuberikan kabar kepada kawan seperjuangan itu sehingga mereka dapat
lolos dengan selamat. Kaypang cabang Taytoh (Ibukota Kim, Peking sekarang) ada hubungan gelap
dengan aku, maka setiap kali berita rahasia selalu kukirim melalui kaum pengemis itu, aku sendiri
tidak pernah memperlihatkan diriku.”
“Tapi kejadian begitu kalau terlalu sering, tentu Yang Thian-lui akan curiga bukan?” ujar Bing-sia.
“Benar dugaanmu,” sahut In-hong. “Dan inilah sebabnya aku harus angkat kaki dari sana. Semula
aku tak dicurigai sehingga tidak sedikit orang yang mati penasaran terbunuh olehnya, tapi lamban
laun akulah yang dicurigai. Aku merasa tidak enak, maka sebelum dia turun tangan, pada suatu
malam aku lantas kabur dengan membawa surat tugas palsu.”
“Setelah lari keluar dari Taytoh, apakah kau langsung menuju ketempat To Hong sana? Apa kau
sudah mengetahui ayahku bakal datang pula?” tanya Bing-sia.
“Bukan. Hanya tentang Tun-ih Ciu dan To Liong bersekongkol dengan pihak Mongol, hal inilah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
yang kuketahui malah.”
“Jika begitu, jadi maksudmu datang ke Long-sia-san hendak membongkar rahasia mereka itu?”
Ci In-hong mengangguk, sambungnya pula: “Namun semula aku tidak tahu jiwa To Hong yang
sebenarnya, aku kuatir dia membela kakaknya sendiri, makanya aku tidak berani bicara
sembarangan melaporkan rahasia busuk kakaknya itu padanya. Hanya tiga hari setibaku di Longsia-
san lantas ketemukan siang pleno kaum persilatan disana itu. Dengan adanya sidang itu barulah
aku mengetahui To Hong adalah seorang ksatria sejati, seorang pahlawan yang bijaksana, rasa
sangsiku padanya lantas lenyap. Tapi tatkala itu tidak perlu lagi lagi kulaporkan rahasia yang
kuketahui, sebab kau dan Li bengcu sudah keburu membongkar perbuatan mereka yang khianat
didepan sidang.
“Jika begitu, mengapa pada malam itu kau tidak hadir dalam pesta perayaan?” tanya Bing-sia.
“Soalnya ketika di Taytoh aku pernah melihat wakil Toh-cecu dari Hui-liong-san datang
mengunjungi Tang Thian-lui, maka aku menjadi curiga jangan2 Hui-liong-san juga sekomplotan
dengan mereka, hanya belum mendapatkan buktinya. Aku pikir kalau curigaku itu memang betul,
tentu To Liong mengetahui latar belakang kedatangan utusan Hui-liong-san yang minta datang
minta bantuan To Hong itu, juga ingin tahu tipu muslihat apa yang mereka atur terhadap Long-siasan,
makanya aku harus mencari kesempatan untuk mengadakan pertemuan rahasia dengan To
Liong. Dan kalau aku hadir dalam pesta kalian itu akan berarti rencanaku gagal total.”
“Surat kaleng yang kau tinggalkan dikamar Li Su-lam tentunya kau pula yang tulis bukan?” tanya
pula Bing-sia.
“Benar, Cuma sayang pertemuanku dengan To Liong telah dipergoki nona Nyo. Keadaan pada
waktu itu serta seluk beluk dan lika likunya tidak memungkinkan aku memberi penjelasan serta
membela diri, maka terpaksa aku harus menyingkir untuk sementara.”
“Ya, tempo hari hari akupun mengira kau adalah mata2 musuh,” ujar Bing-sia dengan tertawa.
“Malahan ayahku seperti tahu akan dirimu, beliau suruh kami jangan suka curigai orang baik
sebelum segala sesuatunya menjadi terang.”
“Sungguh aneh, padahal tempo hari ayahmu belum melihat diriku,andaikan melihat juga belum
tentu kenal aku, sebab waktu ayahmu datang ketempat guruku dua tiga kali dahulu aku masih anak
kecil, juga tidak pakai nama seperti sekarang ini.”
“Bolehkah aku mengetahui nama gurumu yang terhormat?”
Ci In-hong lantas katakan nama gurunya. “O, kiranya adalah Hoa Thian-hong locianpwe,” ujar
bing-sia. “Ayah memang sering menyebut nama gurumu, katanya gurumu seorang yang
berpengetahuan luas, serba pandai dalam macam2 ilmu. Mungkin kau sudah banyak memperoleh
kepandaian gurumu itu. Antara lain tentu kau banyak belajar ilmu kesusasteraan dari beliau,
tulisanmu tentunya mirip tulisan gurumu bukan?”
Tiba2 In-hong merasa paham duduknya perkara, serunya: “Ah, tentu ayahmu telah membaca surat
yang kutulis untuk Li Su-lam itu, dari tulisan surat itu beliau menduga akan asal usulku tentunya.”
“Kukira begitulah adanya,” kata Bing-sia. “Sebab itu ayahpun tidak berani yakin pasti kau adanya.
Tidak nyana disinilah dapat kujumpai dirimu, kelak bila kau ketemu ayah, tentu beliau akan sangat
senang. Sudah berapa lama kau berada disini? Apakah kau datang kesini karena mengetahui dirimu
dipalsukan orang?”
Muslihat busuk apa dibalik pemalsuan Yang Kian-pek atas diri Ci In-hong?
Dapatkah Nyo Wan menyusuk Li Su-lam ke Hui-liong-san dan peristiwa apalagi yang akan terjadi?
Jilid 09 bagian pertama
Ci In-hong membenarkan pertanyaan Bing-sia tentang maksud kedatangannya kekota kecil ini,
katanya: “sebenarnya sebelumnya aku sudah menduga siapa yang telah memalsukan diriku.
Mungkin sekali Yang Kian-pek sudah mengetahui lolosnya diriku dari Taytoh, bisa jadi ayahnya
yang menyuruh dia berbuat seperti begini.”
“Ya, dari nada ucapannya agaknya dia sudah mengetahui tentang pembangkangan mu terhadap
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
ayahnya,” kata Bing-sia. “Maka dengan sendirinya dia sangat benci padamu. Cuma aku tidak
paham mengapa dia membikin susah padamu dengan cara serendah itu? Sebagai koksu negeri Kim,
tentunya anak buah Yang Thian-lui yang lihai tidaklah sedikit. Untuk membekuk kau cukup dia
kerahkan anak buahnya dan tidak perlu memakai cara yang kotor.”
“Nona Beng didunia ini masih banyak manusia yang berjiwa rendah dan kotor, untuk mencelakai
orang lain mereka tidak segan2 menggunakan cara licik,” kata Ci In-hong. “Menurut perkiraanku
pertama, sekarang Yang Thian-lui menginjak dua perahu, disatu pihak dia bersekongkol dengan
tartar Mongol, hal ini dengan sendirinya tidak boleh diketahui jago2 kerajaan Kim, dengan begini
orang yang dia utus untuk memburu diriku tentu terbatas dan orang yang paling dapat dipercaya
adalah putranya sendiri. Kedua, Tang Kian-pek sengaja memalsukan namaku untuk berbuat
kecabulan, dengan merusak nama baikku, dengan sendirinya aku akan dibenci oleh kaum pendekar
dunia persilatan sehingga aku tidak punya jalan untuk menggabungkan diri dengan kaum
pergerakan itu. Ketiga, jika aku tidak terima namaku tercemar, dengan sendirinya aku akan muncul
untuk mencari perhitungan dengan maling cabul itu, dengan begini tanpa susah2 mereka akan dapat
menemukan diriku. Yang Kian-pek itu sangat takabur, dalam pertarungan tadi, apalagi dia dibantu
pula oleh tua bangka Ho Kiu-kong dan istrinya.”
“Dan sekarang setelah kau mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, lalu bagaimana tindakanmu
selanjutnya?” tanya Bing-sia.
“Setelah kejadian semalam, terang bangsat she Ho itu akan pindah tempat, andaikan kita
menemukan mereka juga kita berdua belum tentu sanggup melawan mereka yang berjumlah lebih
banyak. Maka sementara itu akupun tidak punya pendapat yang baik.”
“Memang, kau terluka, akupun masih lemah, untuk bertempur lagi memang tidak menguntungkan
kita. Kukira urusan ini ditunda saja sampai kita bertemu dengan ayahku.”
“Nona Beng, mengapa pula kau meninggalkan Long-sia-san sendirian?” Mestinya kau hendak
kemana?”
“Aku ingin mencari ayah ke Hui-liong-san.”
“Li-bengcu berangkat bersama ayahmu, masakah kau masih kuatir?” ujar In-hong dengan tertawa.
Wajah Bing-sia berubah merah, iapun rada mendongkol karena orang rupanya juga salah terka
sebagaimana anggapan To Hong tentang hubungannya dengan Li Su-lam.
Melihat airmuka Bing-sia yang kurang senang itu barulah Ci In-hong menyadari ucapannya keliru,
namun menyesalpun sudah terlambat. Tapi dia lantas merasa aneh pula terhadap dirinya sendiri
mengapa bisa mengucapkan kata2 begitu, padahal mereka baru saja kenal, apakah diluar sadarnya
dalam hati kecilnya juga menaruh cemburu kepada Li Su-lam.
Dengan hambar kemudian Bing-sia menjawab: “Ilmu silat Li Su-lam sangat hebat, orangnya juga
cerdik, rasanya aku tidak perlu kuatir baginya. Yang kukuatirkan adalah seorang lain lagi.”
“O, maaf,” kata Ci In-hong. “Soalnya Li-bengcu memikul tanggung jawab yang berat sehingga aku
rada2 menguatirkan dia. Dan entah siapa pula yang dikuatirkan nona Beng itu?”
“Tunangan Li-bengcu,” sahut Bing-sia.
Ci In-hong menjadi melengak, ia menegas dengan heran: “O, jadi li-bengcu sudah bertunangan?
Dimanakah bakal istrinya itu sekarang? Mengapa kau merasa kuatir baginya?”
“Malam itu, orang yang berteriak tangkap mata2 musuh itulah bakal istri Li Su-lam,” kata Bing-sia.
“Waktu itu dia menyamar sebagai prajurit biasa.”
“Hah, mengapa dia perlu menyamar segala?” In-hong tambah heran.
“Urusan pribadi orang tak perlu kita cari tahu lebih jauh,” ujar Bing-sia dengan tertawa. “Yang pasti
tunangan Li-bengcu itu kini juga sedang menempuh perjalanan kejurusan ini pula. Karena
pengalamannya yang masih cetek, maka aku merasa kuatir.”
“O, jadi maksudmu hendak melindungi dia secara diam2,” kata In-hong.
Bing-sia enggan mebceritakan seluk beluknya, terpaksa menjawab seadanya: ‘Ya, boleh dikatakan
demikian.”
In-hong menjadi tertawa tidak kepalang, pikirnya: “Tadinya kukira nona Beng jatuh hati kepada Li
Su-lam, tak tahunya aku telah salah wesel. Ya, asalkan benar demikian, buat apa aku mencari tahu
urusan pribadi prang lain?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Maka Ci In-hong segera mengajak berangkat menuju Hui-luong-san. Yang dia harapkan sekarang
asalkan dapat berada bersama Beng Bing-sia, tentang urusan Li Su-lam dan Nyo Wan dia merasa
tidak perlu tanya lagi.
Sesudah Bing-sia memberitahukan persoalan Nyo Wan kepada Ci In-hong, kemudian terpikir pula
olehnya bahwa apa yang diucapkannya itu tidak pada tempatnya, ia merasa heran terhadap dirinya
sendiri sebagaimana Ci In-hong tadi. Begitulah kedua muda mudi itu tanpa terasa telah sama2
menemukan rahasia isi hati sendiri.
Kembali pada Nyo Wan dengan hati bimbang ia menempuh perjalanan sendirian. Ia menyamar
sebagai anak muda yang bermuka jelek sehingga tidak menarik perhatian, oleh karena itu tidak
mengalami hal2 yang mengesalkan hati seperti pengalaman Bing-sia. Ditengah jalan iapun
mendengar tentang peristiwa maling cabul segala, tapi karena dia sendiri ada urusan, maka terpaksa
ia tidak sempat menyelidiki kejahatan itu. Sementara itu berita tentang penyerbuan pasukan Mongol
ke selatan sudah tersiar, maka semakin keutara semakin sepi orang berlalu lalang.
Lantaran ingin buru2 sampai di Hui-liong-san, tanpa merasa Nyo Wan melampaui tempat
bermalam, ketika hari sudah gelap baru dia sadar, namun sukar lagi mencari pondokan.
Hawa daerah utara jauh lebih dingin daripada daerah selatan, saat itu baru permulaan musim semi,
begitu cahaya sinar matahari hilang dan hari mulai gelap, maka dinginnya menyerupai musim
dingin, bunga salju mulai bertebaran pula.
Karena hati menanggung asmara, tanpa terasa terkenang oleh Nyo Wan akan masa dahulu. Pernah
dia dan Su-lam dalam perjalanan pulang ke kampung halaman juga mengalami malam bersalju
seperti sekarang ini, namun waktu itu mereka berkumpul dengan mesra, penuh harapan dan bahagia
kepada masa yang akan datang. Akan tetapi kini keadaan telah berubah menjadi pahit getir, Nyo
Wan menempuh perjalanan sendirian dan kedinginan. Apakah engkoh Lam masih ingat padaku?
Ah, dia sudah punya orang baru, manabisa ingat kepada orang lama? Demikian pikirnya.
Ketika mendongak, tiba2 dilihatnya di depan sana ada sebuah kelenteng kuno. Ia pikir kebetulan
sekali, biarlah malam ini kulewatkan di kelenteng itu saja.
Ketika melangkah masuk pintu kelenteng itu, dilihatnya diatas tanah ada segundukan api unggun,
kayu bakar sudah hampir menjadi abu, tapi masih menganga dengan api yang sebentar2 memanjang
keatas.
Ketika itu ternyata tiada penghuninya. Ia pikir yang membuat api unggun itu bisa jadi adalah kaum
pengungsi yang kebetulan lewat disitu, mungkin pula kaum pengemis. Tapi setelah membuat api,
malam2 begitu meapa mereka tinggal pergi?
Karena tidak dapat menerka dengan pasti, sekenanya Nyo Wan menambahkan beberapa batang
kayu bakar sehingga api kembali berkobar lagi.
Dengan pakaianku yang kotor dan rombeng ini, tampaknya akupun mirip kaum pengungsi.
Seumpama nanti ada orang datang rasanya akupun tidak perlu menghindari.
Suasana malam sunyi demikian mirip sekali dengan malam di rumah gilingan bersama Li Su-lam
dahulu itu, bedanya dahulu itu adalah rumah gilingan dan sekarang adalah kelenteng. Selain itu
didampingnya sekarang juga kekurangan seorang Li Su-lam.
Selagi ngelamun, tiba2 Nyo Wan mendengar tiga kali suara tepukan tangan, suara itu datang dari
arah pintu kelenteng sana. Menyusul dari kanan kiri juga ada suara jawaban tepukan tangan tiga
kali.
Se-dikit2 Nyo Wan sudah punya pengalaman Kangouw, ia tahu sedikit2 tangan itu tentu tanda
rahasia diantara orang2 itu. Ia terkejut: ‘Kiranya kelenteng ini akan dipakai tempat pertemuan orang
Hek-to (kalangan hitam).”
Bila yang datang adalah kaum pengungsi tentu Nyo Wan tidak perlu menghindari, tapi yang datang
adalah kaum Hek-to, mau tak mau Nyo Wan harus menyingkir dari siu. Maklum, orang Hek-to
paling pantang bila rahasia mereka diketahui orang luar.
Kelenteng kuno itu sudah cukup bobrok, tapi altar tempat pemujaan masih cukup baik, patung
diatas altar tingginya menyerupai manusia, bahkan ada aling2 kelambu tua. Lantaran tiada tempat
sembunyi yang baik, terpaksa Nyo Wan menyingkap kelambu altar itu dan sembunyi di belakang
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
patung.
Baru selesai sembunyi, terdengar suara tindakan orang sudah memasuki pintu kelenteng. Waktu
Nyo Wan mengintip, dilihatnya pendatang itu adalah tiga orang laki2 kekar. Seorang yang jalan
ditengah mukanya codet, bekas luka. Terdengar orang ini bersuara heran: “He, apakah tadi kalian
sudah datang kesini?”
Orang yang berada di sebelah kanan menjawab: “Tidak, ada apa Kim-toako?”
“Aku ingat waktu pergi tadi tidak menambah kayu bakar, mengapa api unggun ini menyala sebesar
ini,” kata orang bermuka codet yang dipanggil Him-toako itu.
“Mungkin Ho Kiu-kong telah datang kesini,” ujar orang sebelah kiri. “Dia dan kau kan sama2 tuan
rumah disini.”
Him-toako itu mengangguk, sahutnya: “Ya, tentu Kiu-kong yang datang kemari.”
“Entah ada urusan apa Kiu-kong mencari kita?” tanya orang sebelah kanan tadi.
Sebelum yang dipanggil Him-toako membuka suara, orang sebelah kiri sudah berseru: “Itu dia,
Kiu-kong sudah datang!”
Ternyata Ho Kiu-kong juga datang bersama dua orang. Ketiga orang yang datang lebih dulu tadi
memberi hormat, lalu dua diantaranya bertanya: “Dan dimana Ho-toanio?”
“O, semalam rumah kiu-kong telah kedatangan tamu agung, apakah kalian berdua belum lagi
tahu?” ujar orang she Kim dengan tertawa.
“Tamu agung siapa?” tanya kedua orang tadi.
Sebentar akan kuceritakan,” kata Ho Kiu-kong. “Him-lotoa, apakah sudah kau beritahukan urusan
malam nati kepada mereka?”
“Thio-thocu dari Im-ma-jwan dan Ciok-pangcu dari Ya-ti-lim sudah mengetahui, hanya belum
diberitahukan kepada Him-cengcu dari Tay-him-ceng yang baru saja datang kemari,” sahut laki2
yamh bermuka codet.
Kedua orang yang datang bersama Ho Kiu-kong itupun bicara: ‘Kami juga baru saja tiba, entah ada
urusan apakah Kiu-kong menyampaikan undangan kilat?”
“O, aku hanya dimintai bantuan orang agar mohon saudara2 sudi memberi bantuan pula,” kata Ho
Kiu-kong. “Sebenarnya juga tiada urusan maha besar apa2, hanya mina saudara2 bantu menyelidiki
jejak dua orang.
“Apakah kedua orang itu adalah musuh temanmu?” tanya Thio-thocu dari Im-ma-jwan.
“Ya, juga musuhku,” sahut Ho Kiu-kong sambil mengangguk.
“Haha, jika begitu urusan menjadi gampang,” Kata Him-cengcu dari Tay-him-ceng dengan tertawa.
“Begitu kami melihat jejak kedua orang itu segera kami bekuk mereka dan diserahkan kepada Kiukong.
Silahkan Kiu-kong memberi keterangan ciri2 kedua orang itu dan kami segera berangkat
mencarinya.”
Orang yang dipanggil Ciok-pangcu agaknya lebih bisa berpikir, ia tahu kepandaian Kiu-kong tidak
rendah, tapi untuk menghadapi dua orang saja perlu mengerahkan kawan sebanyak itu, pasti dapat
diperkirakan orang2 yang dimaksud pasti bukan orang sembarangan. Maka dengan hati2 ia
bertanya: “Siapakah kedua orang itu?”
“Terdiri dari laki2 dan perempuan,” sahut Kiu-kong. “Yang laki berumur 20-an dan yang
perempuan lebih muda sedikit.”
“Haha, kiranya Cuma dua anak muda ingusan saja, apa susahna membekuk mereka,” Him-cengcu
melatah pula. “Siapa nama kedua bocah itu?”
“Ci In-hong dan yang perempuan Beng Bing-sia,” tutur Kiu-kong.
Ciok-pangcu terkejut, ia menegasi: “Beng Bing-sia? Bukankah dia puteri Beng Siau-kang,
Kanglam-tayhiap yang termashur itu?”
“Benar,” sahut Kiu-kong.
Him-cengcu juga terkejut, seketika ia tidak dapat tertawa lagi. Katanya kemudian dengan ragu2:
“Kabarnya Ci In-hong adalah anak buah kepercayaan Yang Thian-lui, Koksu kerajaan Kim, entah
sama tidak orangnya?”
“Benar, memang dia itulah,” sahut Kiu-kong pula. “Bukan saja dia anak buah Yang Thian-lui,
bahkan Sutitnya.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Ucapan ini membikin semua orang saling pandang, kata Ciok-pangcu: “ Mengapa anak perempuan
Beng-tayhiap bisa berada bersama Sutit Yang Thian-lui, sungguh aneh sekali. Untuk ini harap Kiukong
sudi memberi penjelasan.”
Nyo Wan yang bersembunyi dibelakang patung itu pun ter-heran2. Pikirnya: “Orang she Ci itu
ternyata benar mata2 musuh. Tapi Beng Bing-sia yang bertemu dengan dia seharusnya
melabraknya, entah mengapa mereka malah melanjutkan perjalanan bersama. Dan kenapa tua
bangka she Ho ini hendak menangkap Bing-sia dan Ci In-hong berdua? Sebenarnya gerombolan
orang she Ho ini membantu pihak mana?”
Dalam pada itu terdengar Ho Kiu-kong telah berkata dengan tertawa: “Urusan ini sedikitpun tidak
perlu dibuat heran. Soalnya kalian belum tahu persoalannya. Dahulu Ci In-hong memang jagoan
kerajaan Kim. Tapi itu sudah lalu. Kini dia sudah selisih paham dengan Yang Thian-lui. Maka
kalian tidak perlu kuatir terhadap Yang Thian-lui, bahkan bila berhasil membekuk Ci In-hong kita
akan mendapat hadiah malah.”
“Supaya kalian tidak sangsi, aku dapat memberitahu pula sesuatu,” sela laki2 bermuka codet tadi.
“Tadi Kiu-kong menyatakan dimintai bantuan orang, coba kalian terka siapa orang yang
dimaksudkan?” ~ Orang ini bernama Him Cong, adalah pembantu Ho Kiu-kong.
“Saudara sanak, harap kau bicara terus terang saja, jangan main teka teki,” kata Him-cengu. Kedua
orang sama2 she Him, termasuk sesama kerabat.
Dengan pelahan Him Cong lalu menutur: “Orang yang dimaksud Kiu-kong adalah putra Yang
Thian-lui sediri, tuan muda Yang Kian-pek. Yaitu Jay-hoa-cat yang akhir2 ini membikin geegr
seluruh kota itu.
Semua orang merasa bingung dan bertanya mengapa Yang Kian-pek tidak tinggal dikotaraja Kim,
sebaliknya keluyuran kemari dan menjadi Jay-hoa-cat.
“Hal ini ada hubungannya dengan Ci In-hong,” kata Ho Kiu-kong. “Diwaktu melakukan perkara,
Yang Kian-pek menyamar sebagai Ci In-hong.”
“O, barangkali sengaja memancing munculnya Ci In-hong?” kata Thio-thocu.
“Memang tepat dugaan Thio-thocu,” kata Ho Kiu-kong dengan tertawa. “Cuma sayang, Ci In-hong
sudah terpancing keluar, kemudian kabur pula.” ~ Lalu diceritakannya kejadian semalam sehingga
tahulah semua orang akan duduk perkaranya.
Nyo Wan juga terkejut dan malu pula pada dirinya sendiri mendengar cerita itu. Ia pikir terlalu
sembrono, belum2 sudah anggap Ci In-hong sebagai mata2 musuh hanya berdasar apa yang
dilihatnya pada malam itu. Pantas waktu itu dia seperti sengaja membiarkan aku kabur. Tapi entah
mengapa dia bersekongkol pula dengan To Liong secara diam2.
Meski dia masih bingung akan persoalannya, tapi sedikit banyak ia sudah dapat memperkirakan
duduknya perkara. Ia yakin dibalik semua itu tentu ada sebab2nya. Ci In-hong pasti bukan satu
aliran dengan To Liong, kalau tidak mana bisa Beng bing-sia menggabungkan diri dengan dia.
“Dan sebenarnya yang kuharapkan hanya berita tentang jejak musuh saja,” kata Ho Kiu-kong lebih
jauh. “Asal jejak mereka diketahui, hendaklah segera kalian mengirimkan berita, lalu Yang-kongcu
sendiri yang akan menghadapi mereka. Apalagi anak dara she Beng itu sudah kena dilolohi obat
istriku.”
“Baik, urusan jangan terlambat, segera kita pulang dan menyebarkan orang untuk mencari jejak
musuh,” kata Ciok-pangcu.
Kiranya orang2 yang dikumpulkan Ho Kiu-kong ini adalah benggolan kaum Hek-to didaerah sini.
Dengan perintahnya ini berarti seluas beberapa ratus li telah terpasang jaring yang rapat.
Meski Nyo Wan tidak berkesan baik terhadap Bing-sia, tapi demi mendengar ia kena cidera, diam2
iapun kuatir baginya. Ia pikir cara bagaimana aku dapat membantu mereka? Cara paling baik
sekarang ialah sekaligus binasakan orang2 yang hendak memusuhinya sekarang ini. Tapi Ho Kiukong
dan begundalnya itu berjumlah enam orang, bagaimana kepandaian mereka juga belum
dikenal, bila nanti tidak sanggup melawan mereka kan urusan bisa menjadi runyam malah.
Selagi ragu2, terdengar Ho Kiu-kong telah memberi aba2 pertemuan telah selsai dan masing2
bolehj bubar.
Tiba2 Nyo Wan mendapat akal, tampaknya Ho Kiu-kong adalah kepala mereka, bila sebentar
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
mereka bubar dan berpencar, sebaiknya kukuntit tua bangka itu dan membinasakan dia. Tentang
jejak Ci In-hong dan Bing-sia menurut perhitungan hanya ada dua kemungkinan: “Pulang ketempat
To Hong atau menuju ke Hui-liong-san. Jika jalan pertama yang ditempuh, maka rasanya mereka
akan mendapat bantuan orang2nya To Hong dan tidak perlu dikuatirkan. Bila jalan belakangan yang
diambil, kebetulan jurusan mereka sama dengan aku, asalkan sepanjang jalan aku pasang mata dan
telinga, mungkin akan dapat menjumpai mereka. Demikina setelah ambil keputusan, Nyo Wan
menjadi tidak sabar dan ingin Ho Kiu-kong dan begundalnya itu lekas2 pergi.
Tak terduga, selagi orang2 itu be-kemas2 hendak pergi, mendadak Him Cong, itu pembantu Ho
Kiu-kong, bicara: “Tunggu sebentar saudara2, ada sesuatu urusan perlu dibikin terang dahulu.”
“Ada urusan apalagi?” tanya Ho Kiu-kong kurang senang.
“Tentang urusan tadi, apakah tadi Ho Kiu-kong atau lainnya sudah datang kemari?” tanya Him
Cong.
“Tidak! ~ Belum!” sahut orang2 itu.
“Ada apa kau tanyakan hal ini?” tanya Ho Kiu-kong.
“Tadi waktu aku keluar memapak kalian, aku ingat betul lupa menambahkan kayu bakar pada api
unggun ini, tapi aneh, ketika kembali api unggun justru sedang berkobar. Malahan kami sangka Ho
Kiu-kong sendiri telah datang kemari.”
Ho Kiu-kong terkejut, serunya: “Hah, jika demikian tentu ada orang luar telah datang kesini.”
“Benar, hal ini tidak perlu disangsikan lagi,” ujar Ciok-pangcu. “Entah orangnya sudah kabur atau
belum.”
Him Cong memang berwatak tidak sabaran, segera ia berteriak: “Mungkin masih bersembunyi
didalam kelenteng, hayolah kita memeriksanya.’
Dengan hati ber-debar2 Nyo Wan memegang gagang pedangnya, asal mereka menyingkap kelambu
altar segera ia akan menerjang musuh.
Tampaknya Him Cong segera akan memulai memeriksa ruangan kelenteng, tiba2 Ho Kiu-kong
berkata: “Tidak, kukira orangnya tentu sudah pergi. Ruangan kelenteng sekecil ini, mana mungkin
dapat dibuat sembunyi. Lebih baik kita keluar mencarinya, mungkin masih dapat membekuknya
kembali.”
Hati Nyo Wan rada lega mendengar itu dan anggap kawanan penjahat itu terlalu goblok. Dari
tempat sembunyinya apa yang dapat diintipnya hanya terbatas saja, ia tidak tahu saat itu Ho Kiukong
sedang mengedipi kawan2nya, segera orang2 itupun tahu maksud Ho Kiu-kong, mereka
adalah kawakan Kangouw semua, sama sekali tidak goblok sebagaimana sangkaan Nyo wan.
Ho Kiu-kong berlagak hendak pergi, tapi mendadak ia memutar balik, sebelah tangannya terus
menghantam kearah altar sambil membentak: ‘Keluar, bangsat cilik!”
Pukulan cukup dahsyat itu telah membikin patung yang dipakai aling2 Nyo Wan itu roboh kesana
sehingga menindih ketubuh sinona.
Kiranya ruangan kelenteng itu tiada barang2 lain kecuali altar pemujaan itu. Dasar Ho Kiu-kong
memang licin dan licik, ia yakin bila ada orang sembunyi di dalam kelenteng, maka tiada tempat
lain kecuali dibelakang patung. Sebab itulah ia pura2 hendak melangkah pergi, tapi mendadak
lantas menyerang.
Untung Nyo Wan memiliki ginkang yang hebat, pada saat patung ambruk ke arahnya, sebelah
tangannya sempat menahan dan mendorong ke samping, terdengar suara gemuruh, patung roboh
dan Nyo Wan keburu melompat pergi, berbareng pedang dilolos pula.
Him-cengcu ter-bahak2,serunya: “Kiu-kong memang maha pintar, bangsat cilik itu kena di pancing
keluar. Setan cilik, jangan kau harap bisa lari, lekas mengaku siapa yang ………. “ belum habis
ucapannya, se-konyong2 sinar pedang berkelebat, tahu2 pedang Nyo Wan sudah menyamber tiba.
Diantara beberapa orang itu ilmu silat Him-cengcu terhitung paling rendah, sudaah tentu serangan
kilat Nyo Wan itu sukar dielakkan baginya. “Krek”, dua jarinya tertabas kutung. Saking kesakitan
Him-cengcu sampai ber-kaok2, tiba2 ia merasa enteng, tubuhnya terlempr pergi beberapa meter
jauhnya. Kiranya melihat gelagat jelek dengan cepat Ciok-pangcu keburu melemparkan kawan
sendiri dari ancaman pedang musuh.
Karena jatuh terkapar dengan kesakitan, Him-cengcu menjadi gusar dan mendamprat: “Ciok-losam,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
mengapa kau menyerang kawan sendiri?”
“Hm, kalau bukan tindakan Ciok-losam itu mungkin alat makan nasimu suah terpisah dengan
tubuhmu,” jengek Ho Kiu-kong.
Him-cengcu tercengang sejenak, kemudian iapun sadar apa yang terjadi, rupanya Ciok-pangcu
justru telah menyelamakan jiwanya dari samberan pedang sinona.
Ciok-pangcu itu memakai sepasang Boan-koan-pit, kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada Himcengcu,
dalam pada itu dia sudah menempur Nyo Wan dengan sengit.
Nyo Wan bertempur dengan cepat dan lincah, sekaligus ia telah melancarkan belasan jurus serangan
sehingga Ciok-pangcu terdesak mundur ber-ulang2, namun sepasang Boan-koan-pit nya juga dapat
bertahan dengan rapat sehingga sukar pula bagi Nyo Wan untuk melukainya.
“Kurang ajar, bangsat cilik ini boleh juga,’ seru Him-cengcu. “Ciok-losam, biar kubantu kau.
Bangsat cilik ini menabas kutung dua jariku, aku harus balas kutungi dua lengannya.”
Habis berkata ia terus menyiapkan goloknya yang tebal, tapi sebegitu jauh ia tidak lantas maju.
Tupanya ia sudah jeri setelah kedua jarinya ditabas putus oleh Nyo Wan, dia gembar gembor hanya
untuk menutupi rasa malunya saja.
“Tidak perlu berkaok,” kata Ho Kiu-kong. “Silahkan Him-cengcu melihat keluar apakah ada
begundal bangsat cilik ini atau tidk, urusan disini serahkan padaku saja.”
Sudah tentu hal ini kebetulan sekali buat Him-cengcu, segera ia mengiakan terus lari keluar.
Ho Kiu-kong lantas mengeluarkan cambuknya, serunya: “Kepung dia, tamgkap hidup2!” ~
berbareng cambuknya lantas berputar dengan kencang, segera ia mendahului menerjang maju untuk
membantu Ciok-pangcu sebelum kawan2nya mengerubut maju.
Saat itu Ciok-pangcu lagi kelabakan dibawah serangan Nyo Wan yang gencar dan tak bisa
menghindar lagi, terdengar suara “trang”, senjata kedua orang kebentur, lelatu api meletik, Boankoan-
pit Ciok-pangcu tergumpil, bahkan pedang Nyo Wan terus melingkar balik untuk memapak
cambuk Ho Kiu-kong yang menyamber tiba, “krek’, ujung cambuk lawan tertabas sepotong.
Kiranya pedang yang digunakan Nyo Wan ini adalah pedang pusaka pemberian putri Minghui,
tajamnya dapat memotong besi seperti merajang sayur.
Keruan Ho Kiu-kong terkejut, serunya: “Kau terhitung kawan dari garis mana? Lekas katakan
supaya tidak bikin susah sendiri!” ~ Karena melihat seorang bocah ingusan yang bermuka buruk
bisa memiliki pedang pusaka sebagus itu dengan ilmu pedang yang hebat pula, maka ia menjadi
curiga dan tidak dapat meraba asal usul Nyo Wan.
Lebih dulu Nyo Wan menyerang tiga kali, habis itu baru menjawab: “Aku adalah putra ibu pertiwi
sejatai, kaum pengkhianat seperti kalian jangan harap akan berkawan dengan diriku.”
“Kurangajar!” damprat Ho Kiu-kong dengan gusar. “Anak ingusan macam kau, memangnya kau
kira aku jeri padamu.”
Permainan cambuk Ho Kiu-kong cukup lihai juga, setelah kecundang satu kali, kini ia putar
cambuknya dengan lebih hidup laksana ular, maka sukar bagi Nyo Wan untuk menabas cambuknya
pula. Apa lagi sekarang kawan2nya juga mengerubut maju, mereka telah mengepung dari berbagai
jurusan, dengan satu lawan lima, Nyo Wan menjadi kerepotan.
Untung pedang Nyo Wan cukup membikin jerio Ho Kiu-kong, kalau tidak melalui Ho Kiu-kong
dan ciok-pangcu berdua saja sudah cukup untuk mengalahkan Nyo Wan.
Melihat gelagat jelek, segera Nyo Wan ganti siasat bertempur, ia keluarkan ilmu pedang yang sukar
diduga musuh, mendadak serang sini, lalu tusuk sana, ia sengaja membikin bingung musuh agar
mereka harus berjaga diri masing2.
Dengan cara begitu untuk sementara Nyo Wan dapt bertahan. Akan tetapi lama2 ia menjado lemas,
maklum satu lawan lima.
Ditengah pertarungan sengit itu, tiba2 terdengar suara “cret”, baju Thio-thocu telah robek tertusuk
oleh pedang nyo Wan. Tapi Thio-thocu bergelak tertawa malah, katanya: “Anak manis, kau tidak
kuat main pedang lagi, berikan saja pedangmu kepadaku!”
Rupanya pedang Nyo Wan itu meski menusuk robek baju Thio-thocu, tapi tidak kuat mencapai
tubuhnya sehingga Thio-thocu tidak sampai terluka, sebab itulah kepayahan Nyo Wan lantas
ketahuan .
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Ditengah gelak tertawanya Thio-thocu terus menerjang maju, dengan bertangan kosong segera ia
hendak merebut pedang pusaka Nyo Wan. Sementara itu cambuk Ho Kiu-kong juga sudah
menyambar datang kearah kaki si nona, tampaknya pedang Nyo Wan pasti akan terampas dan
orangnya juga akan tertawan.
Pada saat berbahaya itulah se-konyong2 terdengar him-cengcu yang disuruh berjaga diluar
kelenteng itu sedang mem bentak2: “Siapa itu? Tak boleh masuk!” ~ menyusul lantas terdengar
suara gedebukan , suara orang jatuh. Lalu suara Him-cengcu ber-kaok2 pula: “Kurang ajar, berani
kau memukul aku!” ~ Belum lenyap suaranya, tahu2 seorang telah menerjang kedalam kelenteng.
Biarpun tidak becus, paling tidak Him-cengcu itu juga tergolong kawakan kangouw, tapi hanya
sekali gebrak saja sudah kena dijungkalkan oleh pendatang itu, keruan Ho Kiu-kong dan lain2
sama2 terkejut.
“Berhenti semua!” terdengar pendatang itu berteriak.
Ho Kiu-kong lebih hati2 daripada kawan2nya, ia menegur lebih dulu: “Saudara dari garis mana,
harap perkenalkan diri dahulu!”
Sebaliknya Thio-thocu lebih berangasan, tanpa pikir ia lantas menyambitkan senjata rahasia sambil
membentak: “Kurang ajar! Ada kepandaian apa. Bocah macam kau jug aberani campur tangan
urusan orang lain!”
Senjata rahasia Thio-thocu adalah sejenis Thi-cit-le (biji besi berduri) yang cukup berat bobotnya,
tak terduga, baru sampai tengah jalan sudah terdengar suara nyaring dibentur oleh sebuah piay emas
lawan.
“Hm, kepandaianku sih tidak seberapa, hanya piau ini saja hendaklah kalian mau berkenalan
dengan aku,” sahut orang itu dengan tak acuh.
Senjata rahasia piau adalah senjata yang terlalu umum, tapi piau dari emas adalah jarang.
Pengalaman Ho Kiu-kong lebih luas, tiba2 teringat olehnya kepada seseorang, hatinya tergetar dan
cepat berteriak: ‘Berhenti dulu, berhenti! Jangan sembrono!”
Piau emas tadi setelah membentur jatuh Thi-cit-le, bahkan masih melayang cepat jedepan dan
menancap dipilar. Dalam sekejap itu semua orang sama mengendus bau amis, barulah mereka tahu
bahwa piau itu bykan Cuma piau emas yang jarang terlihat, bahkan juga piau berbisa.
Kalau Ho Kiu-kong dan begundalnya sama terperanjat, maka tidak kepalang pula kejut Nyo Wan.
Sebelum nampak siapa pendatang itu tadinya Nyo Wan menyangka yang datang adalah
penolongnya, adalah kawan sendiri. Siapa tahu yang muncul sebaliknya adalah mush malah, musuh
yang jauh lebih kejam dan culas daripada Ho Kiu-kong dan begundalnya, bahkan musuh yang
paling dibenci oleh Nyo Wan.
Diam2 Nyo Wan membatin: ‘hari ini jiwaku pasti melayang, daripada mati konyol, paling tidak aku
harus berusaha gugur bersama dengan bangsat jahanam itu.”
Setelah membikin Ho Kiu-kong dan begundalnya keder, lalu pendatang tadi berkata: “Nama Tokliong-
piau tentunya telah kalian kenal bukan?”
“Mohon tanya, saudara pernah apanya mendiang To-tayhiap, Lok-lim bengcu yang lalu?” tanya Ho
Kiu-kong.
“Haha, tajam juga pandanganmu,” sahut orang itu dengan tertawa. “Terus terang kukatakan,
mendiang To-bengcu tak lain tak bukan adalah ayahku.”
Kiranya pendatang ini bukan lain daripada To Liong adanya.
Legalah hati Ho Kiu-kong, segera iapun bergelak tertawa: “Aha, kiranya To-kongcu adanya. Ini
namanya air bah melanda segara,orang sendiri tidak kenal pada orang sendiri.”
Sebenarnya Ho Kiu-kong belum pernah kenal To Liong, Cuma dari Yang Kian-pek pernah
didengarnya bahwa To Liong juga salah seorang yang telah berkomplot dengan pihak Mongol,
hanya saja To Liong adalah kelompoknya Tun-ih Ciu dan bukan orangnya Yang Thian-lui dan
Yang Kian-pek. Walaupun begitu tujuan mereka adalah sama, yaitu bekerja sama bagi pihak
Mongol.
“O, barangkali kalian adalah bawahan Yang-koksu kiranya?” tanya To Liong, rupanya iapun dapat
menduga siapa Ho Kiu-kong dan kawan2nya itu.
“Secara resmi kami belum beruntung menjadi anak buah Yang-koksu, Cuma putra beliau telah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
menyanggupi akan menerima tenaga kami.” Kata Ho Kiu-kong. “Terus terang berkumpulnya kami
sekarang ini hendak melaksanakan sesuatu perintah Yang-kongcu tapi kebetulan rahasia kami
didengar oleh bocah yang sembunyi disini, maka kami harus bereskan dia, entah mengapa Tokongcu
hendak membela dia malah?”
“Hahaha! Rupanya kalian telah salah lihat,” seru To Liong dengan tertawa. “Bocah ini
sesungguhnya bukan lelaki, tapi dia adalah istriku.”
Ucapan To Liong itu membikin kawanan bandit itu ter-heran2, Ho Kiu-kong memang lebih ahli
daripada kawan2nya, sedikit diperhatikan segera ia menemukan sesuatu kelainan pada diri Nyo
Wan, yang paling menyolok ialah pada leher Nyo Wan tiada biji leher yang menonjol, itulah ciri
khas kaum wanita.
Namun Ho Kiu-kong tetap heran mengapa To Liong terima ambil istri seorang bermuka buruk. Pula
budak ini jelas mencaci maki persekongkolan kami dengan Mongol, mengapa mau menjadi istri To
Liong yang juga bekerja bagi negeri musuh itu?”
Agaknya To Liong dapat membaca pikiran Ho Kiu-kong, segera ia berkata pula: “Istriku telah
disesatkan orang sehingga melarikan diri dengan cara menyamar, pantas kalau saudara2 bertengkar
dengan dia. Tapi mengingat dia adalah istriku, harap kalian suka memberi muka padaku, biar aku
sendiri yang menyelesaikan urusannya.”
Ho Kiu-kong menaksir dibalik urusan ini tentu ada apa2 lagi, iapun tidak tanya lebih lanjut, dengan
tertawa ia menjawab: “Haha, cekcok antara suami istri adalah kejadian biasa. Urusan rumah tangga
To-kongcu sudah tentu kami tidak ikut campur.” ~ Lalu ia berpaling dan memberi hormat kepada
Nyo Wan, katanya: “Maaf, kami tidak tahu engkau adalah nyonya To.”
Habis itu Ho Kiu-kong dan kawan2nya lantasmenyingkir ketepi untuk melihat apa yang akan
dilakukan To Liong terhadap ‘istrinya’.
Sejak tadi Nyo Wan menahan perasaannyadan sedang mengumpulkan tenaga, maka terhadap
tingkah laku mereka yang meng-olok2 dianggapnya tak didengarnya.
To Liong mengira Nyo Wan tidak dapat lolos lagi dari cengkeramannya, maka sinona sudah mau
menyerah, ia menjadi kegirangan, ia melangkah maju dan berkata: “Nona Nyo, hendaklah kau
pikirkan kembali, aku takkan mempersoalkan urusan yang telah lalu, aku akan tetap cinta padamu.”
“Kentut anjingmu!” bentak Nyo Wan sambil menusuk dengan pedangnya. “Pendek kata hari ini kau
yang mampus atau aku yang hidup.
”Karena tidak menduga-duga akan serangan Nyo Wan itu, lekas2 To Liong mendak ke bawah
sambil mengebut dengan lengan bajunya. Memangnya Nyo Wan sudah kehabisan tenaga karena
pertarungan sengit tadi, meski ilmu pedangnya cukup lihai, tapi tenaga kebutan To Liong itu telah
membikin pedangnya menceng ke samping, “bret”, hanya lengan baju lawan saja yang tertusuk
robek.
To Liong melihat pedang yang digunakan Nyo Wan adalah pedang pusaka, diam2 ia merasa
beruntung, kalau saja pedang Nyo Wan terus diputar keatas, maka tentu tangannya akan buntung
tertabas.
Ho Kiu-kong juga terkejut, serunya: “To-kongcu, istrimu sedang marah2, kau mesti hati2, janggan
sampai terluka olehnya!”
Untuk menjaga gengsi, To Liong berlagak seperti tidak apa2, sahutnya: “Wahai istriku yang baik,
pertengkaran antara suami istri kan tidak perlu main senjata segala. Coba, sampai para kawan sama
mentertawakan. Tapi, aku tahu hatimu tetap cinta padaku, betapapun kau pasti tidak tega melukai
aku.”
“Belum habis ucapannya “sret-sret-sret,” kembali Nyo Wan menusuk tiga kali secara berantai,
setiap serangan selalu mengincar tempat yang berbahaya ditubuh To Liong.
Dasar Him-cengcu memang rada dungu, tanpa terasa ia berteriak: “Wah, tampaknya rada tidak
benar, To-kongcu! Istrimu tidak saja mau melukai kau, malahan hendak mencabut jiwamu!”
Kini To Liong telah siapkan goloknya dan segera mematahkan serangan Nyo Wan, lalu berseru:
‘Jangan kuatir kawan2, istriku tampaknya saja rada keras diluar, tapi sebenarnya halus didalam, dia
Cuma pura2 hendak melabrak aku. O, istriku yang manis, kaupun agak keterlaluan sehingga
ditertawai teman2ku. Lekas kau taruh senjatamu, kalau tidak terpaksan aku akan bikin susah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
padamu.”
Mestinya To Liong bermaksud menawan hidup2 Nyo Wan, tapi dibawah serangan sinona yang
gencaR, terpaksa ia meninggalkan niatnya itu. Pikirnya: “Jika dia tidak mau menuruti keinginanku,
terpaksa aku akan bereskan dia agar Li Su-lam juga tidak berhasil mempersunting dia.”
Berpikir demikian, rasa cemburunya seketika membakar, napsu membunuhnya timbul segera.
Goloknya diputar dengan kencang, iapun melancarkan serangan2 berbahaya.
Memangnya kepandaian To Liong lebih tinggi setingkat daripada Nyo Wan, kini menang pula
dalam hal tenaga, maka hanya belasan jurus saja dia sudah di atas angin. Untung Nyo Wan
memakai pokiam, pedang pusaka, betapapun To Liong harus berpikir dua kali pada setiap
serangannya. Apalagi Nyo Wan sudah nekat, biarpun terdesak iapun melancarkan serangan2 maut.
To Liong menjadi kalap juga, serangannya tambah gencar, setiap serangan selalu mengarah tempat
lawan yang mematikan.
“Ini manabisa disebut pertengkaran antara suami istri, tapi lebih mirip pertarungan mengadu jiwa!”
demikian Him-cengcu yang dungu menggerundel sendiri.
Ho Kiu-kong mengedipinya agar jangan sembarangan buka bacot. Soalnya To Liong sudah
menyatakan orang lain jangan ikut campur. Pula Ho Kiu-kong dan lain2 juga sudah melihat jelas
bahwa keadaan Nyo Wan sudah payah, akhirnya pasti kalah, maka merekapun lebih suka menonton
saja daripada ikut turun tangan.
Begitulah To Liong menyerang semakin gencar, tiba2 suatu jurus serangan golok diikuti dengan
pukulan tangan, bentaknya: ‘Lepas pedangmu!” ~ Berbareng itu goloknya terus menabas miring
dari atas.
Saat itu pedang Nyo Wan masih belum sempat digunakan menangkis, kalau tidak lekas tarik
senjatanya tentu sebelah lengan itu akan tertabas buntung.
Pada saat berbahaya itulah tiba2 seorang membentak dengan suara halus nyaring: ‘Berhenti!”
Begitu terdengar suara bentakan itu, berbareng pula seorang busu yang berhidung besar dan
bermata cekung melangkah masuk pintu kelenteng. Padahal suara bentakan itu jelas suara kaum
wanita, tapi yang masuk ternyata seorang busu Mongol. Keruan Ho Kiu-kong dan lain2 sama2
tercengang.
Him-cengcu berjaga di pintu kelenteng, melihat seorang busu Mongol menerobos masuk, selagi
ragu2 apakah mesti merintangi atau tidak, mendadak busu itu telah membentak: ‘Minggir!” ~
Berbareng tangannya menyengkelit, dengan cepat luar biasa tahu2 Him-cengcu jatuh terjungkal,
cara bagaimana orang membuatnya terjungkal sampai Him-cengcu sendiri tidak tahu.
Golok To Liong tadi sedang menabas, ketika mendengar suara bentakan halus nyaring itu, hatinya
memjadi tergetar,se konyong2 teringat satu orang olehnya, tapi ia tidak berani percaya bahwa orang
itu bisa mendadak muncul disini.
Pada saat To liong merasa sangsi itulah dan goloknya belum ditabaskan kebawah, saat mana juga
Him-cengcu disengkelit terjungkal oleh si busu Mongol, dengan gusar busu itu membentak pula:
‘Kau berani membangkang perintah tuan putri!” ~ Serrr, seutas tali dilemparkan ke depan To Liong,
sebelum To Liong sempat berkelit, tahu2 goloknya terbelit oleh ujung tali sehingga goloknya
terbetot lepas dan jatuh dilantai.
Waktu To Liong hendak menabas tadi, Nyo Wan tidak rela menarik kembali pedangnya, ia sudah
nekat biarpun sebelah lengan akan terkutung, tapi tangan lain iapun balas menghantam. Tak terduga
ada perubahan mendadak, golok To Liong kena dirampas oleh tali yang dilemparkan si busu
Mongol, keruan to Liong yang menjadi konyol, ia kena ditempeleng dengan keras oleh Nyo Wan
sehingga mukanya bengap.
Ho Kiu-kong dan Ciok-pangcu terkejut, cepat mereka memburu maju untuk melindungi To Liong.
Nyo Wan tahu kepandaian kedua orang itu tidak lemah, maka iapun tidak menyerang lebih lanjut, ia
kembalikan pedang ke dalam sarungnya, dengan kegirangan ia lantas menemui si busu Mongol
yang baru datang itu, sapanya: “Akai, kiranya kau yang datang!”
Kiranya busu Mongol itu bukan lain daripada Akai, teman baik Nyo Wan dan Li Su-lam. Nyo Wan
pernh menyelamatkan jiwa tunangan Akai,kemudian Akai juga pernah membantu Nyo Wan
menyelundup kedalam pasukan Mongol ketika hendak menyergap musuhnya.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Belum habis ucapannya, tertampak dua nona muda melangkah masuk bersama. Nona yang jalan di
depan memakai mantel bulu, sikap agung, ternyata memang benar Putri Minghui adanya. Nona
yang ikut di belakangnya berdandan secara sederhana, tapi cantik molek,ialah tunangan Akai ,
Kalusi.
Sementara itu Him-cengcu telah merangkak bangun sambil meraba jidatnya yang benjol dan
menggerundel sendiri: “Tadi datang seorang To-kongcu yang mengaku sebagai suami orang dan
menyengkelit jatuh diriku, sekarang muncul lagi seorang tuan putri apa segala dan membikin aku
terjungkal. Ai, sungguh sial tiga turunan!”
Ho Kiu-kong dan lain2 juga tercengang oleh kegesitan Akai tadi, apalagi didengar mereka bahwa
yang datang adalah tuan putri apa, keruan mereka tambah jeri, mereka Cuma saling pandang saja
dan tidak berani buka suara.
To Liong pernah datang ke Mongol, pernah menjadi tamu bangsawan Mongol serta pernah ikut
dalam perburuan kaum bangsawan itu, maka dia kenal putri Minghui. Ia tahu Minghui adalah putri
terkecil dan tersayang Jengis Khan, adik perempuan Mangkubumi Mongol yang sekarang, yaitu
Dulai. Cuma sama sekali tak diduganya bahwa mendaak Minghui bisa muncul disini, keruan ia
menjadi bingung dan kejut, cepat ia menjura kepada Minghui dan berkata; ‘Maaf, kami tidak tahu
akan kedatangan Tuan Putri kesini.” ~ Sudah tentu Ho Kiu-kong dan lain2 juga lantas ikut berlutut.
“Mengapa kau menyakiti nona Nyo ini?” tanya Minghui dengan ketus.
Keruan To Liong merasa heran, dimana putri Mongol itu bisa kenal dengan Nyo Wan. Sudah tentu
tidak tahu kisah hidup Nyo Wan di Mongol dahulu. Ketika untuk pertama kalinya Nyo Wan
berkenalan dengan Minghui bahkan juga berdandan sperti sekarang ini.
Tapi ia tidak berani sembarangan omong di hadapan Minghui, terpaksa ia menjawab: ‘Tuan putri
sudah kenal nona Nyo ini, tentunya sudah tahu pula dia adalah bakal istri Li Su-lam. Bukankah Li
Su-lam justru adalah buronan yang sedang dicari oleh negeri Tuan Putri?”
Dasar dungu, tanpa pikir Him-cengcu terus menimbrung: ‘Lho, katanya dia adalah istrimu,
mengapa dia dikatakan bakal istri orang she Li apa segala?”
“Hm,” Minghui menjengek. Rupanya kau sendiri mengincar nona Nyo, tapi pakai alasan hendak
berbuat pahala bagi kami.”
To Liong menjadi ketakutan dan ber-ulang2 menjura jawabnya: ‘Mohon Tuan Putri maklum,
hamba benar2 setia kepada Khan agung dan mengabdi dengan sepenuh hati.”
Kembali Minghui menjengek: ‘Hm, Khan agung memburu kembalinya Li Su-lam justru hendak
memakai tenaganya apakah kau tahu?”
“Tapi mungkin Li Su-lam tak bisa dipakai lagi tenaganya,” ujar To Liong sambil menjura pula.
“Sekarang dia sudah menjadi Bengcu dari pasukan sukarela bangsa Han.”
“Tidak perlu kau banyak mulut tentang buronan yang kami inginkan,” omel Minghui. Lekas
kalianenyah dari sini.”
Dengan rasa takut To Liong mengiakan, lalu bersama Ho Kiu-kong dan lain2 melangkah pergi.
Nyo Wan mengusap keringat dingin yang telah membasahi dahinya, lalu memberi hormat dan
terima kasih atas pertolongan Minghui. Kemudian Nyo Wan bertanya: ‘Mengapa Tuan Putri tidak
berada di Holin, sebaliknya datang kesini?”
“Kini aku sudah bukan Tuan Putri lagi, bangsat tadi tidak tahu hal ikhwal diriku, makanya masih
kena kugertak pergi,” kata Minghui.
Nyo Wan terkejut. “Mengapa Tuan Putri berkata demikian?” ia menegas.
“Karena kepergianku dari Holin adalah melarikan diri,” kata Minghui.
“Bukankah Dulai pernah berjanji akan membela kau. Apakah pangeran Tin-kok membikin susah
padamu?”
“Kau tidak paham akan kesukaranku Nyo-cici,” kata Minghui. Hidup sebagai Tuan Putri
sesungguhnya paling tidak beruntung. Lahirnya saja mewah, agung, padahal segala sesuatu harus
menurut peraturan, harus didalangi orang lain. Diantara saudara2ku meski Dulai paling baik
padaku, tapi menghadapi pilihan antara untung dan rugi, iapun sama seperti ayahku, ia lebih suka
mengorbankan diriku demi untuk mempertahankan kekuasaannya.
“Menurut tradisi kami, pengganti Khan agung harus diangkat oleh sidang besar Kurultai. Dalam
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
sidang ini para panglima yang memegang kekuasaan tentara besar sekali pengaruhnya. Dalam
perebutan kedudukan Khan Agung, peran utamanya adalah Cahatai dan Ogotai. Dulai mendukung
Ogotai, maka Ogotai berjanji akan memberikan kekuasaan militer kepada Dulai bilamana dia
diangkat menjadi Khan Agung. Akan tetapi para panglima lain lebih banyak yang mendukung
Cahatai.
“Tin-kok adalah salah seorang panglima tentara diantara keempat angkatan, demi untuk
memperoleh dukungannya Ogotai bersedia menerima syarat yang dia minta. Maka Tin-kok telah
emngajukan syarat utama diriku harus kawin dengan dia, syarat kedua harus mengangkat dia
sebagai wakil panglima besar angkatan perang. Karena ambisi Dulai hanya kekuasaan militer yang
diincar, sedangkan Tin-kok rela menjadi wakilnya, dengan sendirinya tukar menukar syarat itu
lantas disetujui bersama. Sungguh celaka aku sama sekali tidak mengetahui tipu muslihat mereka,
dimulut Dulai menyatakan membela diriku, tapi diam2 membiarkan Tin-kok melaksanakan maksud
kejinya atas diriku. Untung Akai mendengar berita buruk ini, diam2 aku diberitahu, berkat
bantuannya akhirnya aku dpat kabur dari Holin.”
‘Apa yang kulakukan adalah demi kebahagiaanku dengan Kalusi,” Akai menambahkan. “Aku
sendiri dudah bosan dengan peperangan, terutama aku menyaksikan keganasan yang telah
dilakukan oleh prajurit2 kami, belumlagi para perwiranya. Aku pernah berpikir seumpama ada
orang yan hendak merebut Kalusi yang kucintai dari tanganku, lalu apa yang harus kulakukan?”
Menyusul Akai berkata pula: “Sebenarnya sangat berbahaya bagi kami yang melarikan diri kenegeri
musuh. Syukur dandanan kami tidak menimbulkan curiga orang. Wajahku jelas bukan bangsa Han,
tapi rada mirip dengan orang Kim yang dibesarkan di utara. Untung aku fasih bicara bahasa Nuchen
(kerajaan Kim diperintah oleh suku bangsa Nuchen) maka sepanjang jalan kami seringkali disangka
bangsawan kerajaan Kim malah bila ketemu prajurit dan perwira Kim. Beberap kali kami
ketemukan juga kawanan bandit rendahan saja, beberapa kali hantam saja sudah bikin mereka
ngacir.
Meski kami dapat mengelabui mata prajurit dan pembesar Kim, tapi dinegeri musuh, terutama
orang penting sebagai Tuan Putri, betapapun kami harus hati2. Maka sepanjang jalan, kami sudah
biasa jalan malam dan siang mengaso. Beberapa hari yang lalu kami mendengar didaerah ini terjadi
peristiwa2 pemerkosaan, tadi waktu kami lewat dibawah gunung, kami melihat kelenteng ada
cahaya lampu,terdengar pula suara teriakan kaum wanita, semula kusangka disini terjadi pula
peristiwa gangguan pada kaum waniya, tapi kemudian kamipun dapat mengenali suaramu.”
“Kepandaianmu sudah banyak maju, syukur kau telah berhasil merampas golok bangsat tadi,” puji
Nyo Wan.
‘Ah, kepandaian apa, itu Cuma kepandaianku yang biasa, mencari sesuap nasi saja,” kata Akai
dengan tertawa. “Aku hidup sebagai pemburu, seringkali menggunakan tali laso untuk menangkap
binatang buas. Padahal kalau berhantam sungguhan, aku pasti bukan tandingan bangsat tadi.”
Kaupun tidak perlu rendah diri, kepandaianmu bergulat dikalangan busu Mongol kita jarang ada
tandingannya,” ujar Minghui.
Tiba2 Kalusi tertawa, katanya: ‘Nona Nyo, malam ini kalau kami tidak bersama Tuan Putri
mungkin aku tidak mengenali kau lagi, mengapa kau berubah menjadi begini?”
Kiranya setelah bertempur sengit, Nyo Wan menjadi mandi keringat sehingga penyamarannya
tampaknya menjadi aneh, polesan mukanya banyak yang luntur sehingga kelihatan sangat lucu.
Segera kalusi mengeluarkan kantong air dan diberikan kepada Nyo Wan agar mencuci muka
dahulu. Orang Mongol sudah biasa membawa kantong air dalam perjalanan, meski mereka datang
kedaerah selatan yang tidak kekurangan air, namun kebiasaan mereka tidak berubah.
Setelah bertempur, memangnya Nyo Wan sangat letih, setelah mencuci muka ia menjadi segar
kembali.
“Mimpipun kami tidak menduga akan bertemu kau disini,” kata Kalusi pula. “Coba kau terka
mengapa Tuan Putri tidak pergi ketempat lain, justru kesini?”
Nyo Wan sudah dapat meraba tujuan Minghui, tapi ia pura2 tidak tahu, jawabnya: ‘Ya, memang
aku hendak bertanya Tuan Putri hendak pergi kemana?”
Minghui menghela napas, katanya: “ Sekarang aku benar2 tidak punya tempat berteduh,ada rumah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tak bisa pulang, ada negeri tak bisa kembali. Kini aku bergelandangan dirantau orang, tiada sanak
tiada kadang, kemana aku harus pergi? Eh, ya, bagaimana dengan Li, Li-kongcu?” ~ Sejak tadi Nyo
Wan tidak sebut2 Li Su-lam, terpaksa Minghui yang bertanya.
Kalusi yang suka bicara blak2an segera menambahkan: ‘Nona Nyo, hendaknya maklum, Tuan Putri
kami tiada sanak pamili dinegeri kalian ini, yang dikenal beliau Cuma kalian berdua saja, maka
beliau benar2 anggap kalian sebagai sanak saudaranya. Sekali ini beliau justru datang buat mencari
kalian. Kabarnya kampung halaman Li-kongcu adalah kota Bu-seng di Soatang, maka kami
bermaksud pergi kesana, tidak nyana disinilah kami ketemukan kau. Haya, nona Nyo, mengapa kau
berada disini sendirian. Li-kongcu sekarang berada dimana?”
Nyo Wan menjadi murung mendengar mereka menyinggung diri Li Su-lam.
Minghui slah paham malah dan menyangka Nyo Wan masih merasa sirik padanya dan tidak ingin
dia datang ketempat Li Su-lam, segera ia berkata: “Nona Nyo, kami ingin mencari kalian, tapi
akupun tahu kalian tidak leluasa menerima kami, sebab itu aku tidak ingin mengganggu
ketentraman kalian, kau jangan kuatir. Bangsa Mongol kami sudah biasa hidup berkelana, kami
adalah suku bangsa yang hidup tidak menentu tempat tinggalnya, negeri Tiongkok seluas ini,
kebetulan kami ada kesempatan untuk menjelajahi tempat2 yang terkenal. Bila suatu waktu kami
sudah bosan, mungkin kami akan mencari suatu tempat menetap yang tenang. Aku membekal
sedikit benda mestika yang berharga, rasanya tidak menjadi soal bagi biaya hidup kami.”
Nyo Wan sangat terharu, tanpa terasa airmatanya berlinang, ia genggam kencang tangan Minghui
dan berkata: “Kau salah paham, Tuan Putri. Kau sangat baik padaku, sekalipun badanku hancur
lebur juga sukar membalas budimu. Hanya saja Su…… Su-lam ……..”
Melihat Nyo Wan menangis, Minghui menjadi terkejut, ceopat ia bertanya: ‘kenapa dengan Li Sulam?”
Setelah mengusap airmatanya, lalu Nyo Wan menjawab dengan menahan perasaannya: ‘Dia tidak
apa2, Cuma dia sudah berpisah dengan aku.”
“Mengapa begini?” tanya Minghui bingung.
Nyo Wan tidak ingin menceritakan kisah sedihnya, secara singkat ia menjawab: “Tempo hari kami
kepergok oelh pemanah sakti negerimu yang terkenal, yaitu Cepe, ditengah pertempuran gaduh
itulah kami telah terpencar.”
Minghui merasa lega, katanya dengan tertawa: “O, kiranya demikian, kusangka kalian berdua telah
bertengkar. Nyo-cici, sungguh aku merasa malu, bangsaku yang telah membikin susah padamu
sehingga suami istri kalian tercerai berai, yang memberi perintah penangkapan kalian juga ayahku.
Cuma kau boleh tak usah kuatir, jika Li-kongcu sampai tertangkap atau mengalami sesuatu yang
tidak baik, tentu Cepe akan menyampaikan laporan kepada kakakku yang keempat. Namun selama
aku di Holin tidak pernah mendengar sesuatu berita tentang diri Li Su-lam.”
“Dan sekarang nona Nyo sudah mendapatkan berita tentang Li-kongcu belum?” tanya Kalusi.
Setelah ragu2 sejenak, kemudian Nyo Wan baru menjawab: “Belum!”
“Kepandaian Li-kongcu sangat tinggi, aku yakin dia pasti akan aman dan selamat,” ujar Kalusi.
“Pantas juga kau merasa sedih, ketika aku berpisah dengan Akai dahulu, siang malam akupun
senantiasa terkenang kepadanya.”
“kalau aku sih tidak terkenang padanya,” kata Nyo Wan.
Melihat sikap Nyo Wan yang sungguh2 dengan ucapannya itu, Kalusi menjadi tercengang, katanya
kemudian dengan tertawa: ‘Memangnya kau sudah tahu dalam hati Li-kongcu hanya ada engkau
seorang, tentu saja kau tidak perlu kuatir atas dirinya.” ~ Kata2 Kalusi ini berbalik menyinggung
perasaan duka Nyo Wan malah.
Dengan hambar Nyo Wan berkata pula: “Dijaman kekacauan begini, berita kedua pihak terputus,
bilamana dia ketemukan gadis yang lebih baik daripada diriku, bukan mustahil dia akan berubah
pikirannya.”
“Tanggung tidak,” kata Minghui. “Orang lain tidak tahu betapa mendalamnya cintanya padamu,
tapi aku cukup tahu. Jangankan kau adalah wanita yang serba baik, sekalipun ada perempuan lain
yang cantik laksana bidadari turun dari kayangan, aku berani menjamin Li-kongcu pasti takkan
goyah imannya. Aku percaya penuh padanya, masakah kau malah tidak mempercayai dia?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Akai dan kalusi tidak tahu bahwa Minghui pernah menyukai Li Su-lam, hanya Nyo Wan saja yang
mengerti, maka ia menjadi sangat terharu mendengar ucapan Minghui itu. Pikirnya: ‘Ya, demi
membela diriku,Su-lam tidak segan2 membangkang perintah Jengis Khan, demi diriku dia lebih
suka meninggalkan segala kemewahan dan kedudukan yang dapat diperolehnya dengan mudah.
Minghui bukanlah wanita biasa, kecantikannya jarang ada bandingannya. Kalau engkoh Lam
seorang laki2 yang rendah imannya tentu sejak dulu2 ia telah menjadi menantu Jengis Khan.” ~
Berpikir sampai disini, biarpun rasa cemburunya terhadap Minghui belum lenyap sama sekali, tapi
rasa kepercayaannya terhadap Li Su-lam telah bertambah banyak.
Setelah mengucapkan kata2 tadi, tanpa terasa Minghui jadi terkenang kepada kejadian dimasa
lampau dan merisaukan nasibnya sendiri, ia menjadi muram.
Kalusi menjadi bingung, katanya: “He, apa2an kalian berdua ini? Nona Nyo agaknya Cuma
bergurau, sebaliknya Tuan Putri malah menasehati dia dengan sungguh2.”
Untuk menutupi kekikukan kedua pihak, segera Nyo Wan berkata dengan tertawa: “Benar, aku
Cuma omong kelakar saja. Banyak terima kasih atas perhatian Tuan Putri. Kini bicara urusan yang
betul saja. Kukira bukanlah cara yang baik bilamana kalian terluntang luntung didunia kangouw.
Sebenarnya aku ada suatu tempat bagus, Cuma entah Tuan Putri sudi kesana atau tidak?”
“Yang kuharap hanya tempat meneduh saja, masakah pakai sudi atau tidak?” kata Minghui.
Jilid 09 bagian kedua
“Aku ada seorang teman karib, dia adalah Cecu suatu pangkalan pegunungan, jika Tuan Putri mau
bernaung kesana, rasanya pasti akan aman,” kata Nyo Wan.
Minghui menjadi ketarik, pikirnya: ‘Ceceu bukankah nama lain daripada kepala bandit?” ~ Ia coba
tanya: “ Cecu itu laki2 atau perempuan?”
Nyo Wan dapat menerka pikiran Minghui, sahutnya dengan tertawa: ‘Perempuan. Meski dia
seorang perempuan kalangan Lok-lim, tapi sama sekali berbeda daripada kawanan bandit
umumnya. Mungkin anak buahnya jauh lebih berdisiplin daripada prajurit2 kalian.”
“Jika ada seorang ksatria wanita begini hebat, baik juga aku berkenalan dengan dia,” ujar Minghui
dengan tertawa.
“Supaya Tuan Putri maklum , kawnku ini bernama To Hong, dia adalah putri To Pek-seng, Totayhiap
yang terkenal itu,” tutur Nyo Wan. “Mungkin Tuan Putri pernah mendengar nama Totayhiap
bukan?”
Minghui terkejut, sahutnya: ‘Setahuku, To-tayhiap pernah membikin geger negeri Kim, kemudian
lari ke Mongol, koksu kerajaan Kim, yaitu Yang Thian-lui sendiri telah meng-uber2nya kenegeri
kami. Waktu itu kami belum perang dengan Kim, maka Yang Thian-lui mendapat bantuan busu
ayah baginda dan To Pek-seng telah dibinasakan dipadang pasir. Kalau nona To itu nanti
mengetahui diriku adalah putri Mongol, mungkin dia akan anggap aku sebagai musuhnya.”
“Nona To itu cukup bijaksana dan dapat membedakan dengan jelas antara kawan dan lawan,” kata
Nyo Wan. “Yang membunuh ayahnya adalah Yang Thian-lui serta jago2 kemah emas kalian, aku
berani menjamin dia pasti takkan memusuhi Tuan Putri yang tiada sangkut pautnya dengan
tewasnya ayahnya. Untuk ini Tuan Putri tidak perlu kuatir.”
“Kuatirnya bawahannya tidak seluruhnya sebijaksana dia.’ Ujar Minghui.
Nyo Wan berpikir sejenak, katanya: ‘Begini saja; Sementara ini Tuan Putri tidak perlu terangkan
asal usul dirimu, biar kubawakan sepucuk surat, aku Cuma mengatakan kalian adalah sobat2ku saja.
Cuma ada suatu hal yang pernah kukatakan, mereka adalah kaum pergerakan, bila pasukan Mongol
kalian menyerbu kemari, pasukan mereka pasti akan berbangkit untuk melawan.
Minghui menjadi serba susah, katanya kemudian: “Aku tahu prajurit kami mendatangi tempat
kalian untuk perang, kesalahan ini terletak dipihak kami. Jika nanti terjadi kenyataan demikian, aku
akan menyingkir saja ketempat lain. Nyo-cici, harap kau memahami kesulitanku. Aku sendiri tidak
setuju rencana ayah mengirimkan tentaranya menjajah negeri kalian, tapi akupun tidak dapat
bermusuhan dengan ayah dan negaranya sendiri.”
Nyo Wan mengangguk, katanya: ‘Aku paham akan soal ini.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Didalam kelenteng itu masih ada sisa kerta yang disediakan bagi tamu yang ingin menuliskan
sedekah, maka Nyo Wan lantas robek secarik kertas itu buat menulis sepucuk surat. Katanya
kemudian: ‘Setiba kalian di Long-sia-san, lebih dulu kalian mencari wakil cecu yang bernama Ciok
Bok, dia ini yang akan membawa kalian menemui nona To.”
Maklumlah, di Long-sia-san itu hanya Ciok Bok seorang saja yang tahu jelas akan diri Nyo Wan,
dengan To Hong persahabatan Nyo Wan belum dapat dikatakan karib, sebab itu Nyo Wan minta
bantuan Ciok Bok untuk menerima Minghui bertiga.
Minghui simpan surat itu, katanya dengan tertawa: “Tempo hari kau melarikan diri ke tengah
markas pasukan Mongol kami, sekarang aku minta perlindungan di sanceh bangsa Han kalian, ini
benar2 sangat kebetulan dan setimpal.”
“Hari sudah terang, sinar sang surya gilang gemilang, hari ini tentu bercuaca bagus,” kata Akai
sambil mendongak.
“Banyak terima kasih Nyo-cici, hari sudah terang, sudah waktunya kita berpisah,” kata Minghui.
“Nyo-cici, semoga kau lekas berjumpa kembali dengan Li-kongcu untuk berkumpul selamanya dan
tidak terpisahkan lagi seperti aku dan Akai,” kata Kalusi. “Engkau adalah penolong kami, sayang
kami tidak dapat membantu ap2 padamu.”
Melihat Kalusi membawa Tombra (sebangsa alat petik) , Nyo Wan jadi ingat Kalusi adalah
biduanita terkenal di mongol, katanya dengan tertawa pilu: “Semoga demikianlah harapanku, hanya
saja aku mungkin tidak seberuntung kau. Eh, Kalusi, suara nyanyianmu sangat merdu, apakah kau
dapat menyanyi dan memetik tombra sekali bagiku?”
“Baik, akan kunyanyikan suatu lagu rakyat padang rumput kami sebagai doa kami agar engkau
lekas bertemu kembali dengan kekasihmu,” kata Kalusi dengan tulus hati.
Kemudian Kalusi menarik Akai, katanya: ‘Marilah kita nyanyi bersama!” ~ Segera ia memetik
tombra dan mulai menyanyikan suatu lagu rakyat yang peuh perasaan sehingga Nyo Wan
terkesima.
“Banyak terima kasih, Kalusi, hebat sekali nyanyianmu,” puji Nyo Wan.
Belum lenyap suaranya, tiba2 ada orang menyambung: ‘Ya, sungguh nyanyian yang merdu,
memang tidak omong kosong ‘si kenari dari padang rumput.’ Lalu seorang lagi berkata: ‘Mereka
ternyata masih disini.’
Maka masuklah empat orang, kepalanya adalah Ho Kiu-kong, orang kedua adalah wanita tua, orang
ketiga busu Mongol, yaitu orang yang memuji nyanyian Kalusi tadi, dan orang yang jalan paling
belakang adalah pemuda berusia likuran. Melihat orang terakhir ini, Nyo Wan terperanjat.
Kiranya pemuda ini bukan lain daripada Yang Kian-pek, putera Yang Thian-lui daripada kerajaan
Kim.
Pada malam itu Yang Kian-pek dan seorang busu Mongol mendatangi rumah Li Su-lam buat
mencuri kitab pusaka, kebetulan Bing-sia jug adatang kesana hendak mencari Li Su-lam,
dibelakang kediaman keluarga Li itulah kedua orang kepergok dan terjadi pertempuran sengit,
Bing-sia hampi2 kalah, untung Li Su-lam dapat mengalahkan busu Mongol dan kemudian
membantu Bing-sia membikin Yang Kian-pek ngacir.
Malam itu kebetulan Nyo Wan juga sampai disana, ia sembunyi didalam semak2 pohon sehingga
dapat menyaksikan semua kejadian itu. Maka Nyo Wan dapat mengenali Yang Kian-pek, menyusul
iapun dapat mengenali busu yang datang bersama Ho Kiu-kong sekarang ini juga sama dengan busu
Mongol tempo hari itu.
Keempat orang yang datang itu ada tiga orang dikenal Nyo Wan, hanya istri Ho kiu-kong saja ia
belum mengenalnya. Keruan ia terkejut, pikirnya: “Ho Kiu-kong datang kembali, tentu dia ada
maksud buruk. Kepandaian Yang Kian-pek ini tidak lebih rendah daripada engkoh Lam, aku sendiri
pasti bukan tandingannya. Ho Kiu-kong dan busu Mongol itupun tidak lemah, ditambah lagi
seorang nenek yang belum diketahui betapa tinggi ilmu silatnya, mungkin Akai juga belum mampu
melawannya.”
Belum lenyap pikirannya, busu Mongol itu sudah berdiri berhadapan dengan Minghui, dia memberi
hormat dan berkata: ‘Khan agung Ogotai dan Mangkubumi Dulai mengharapkan pulangnya Tuan
Putri!”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Aku ingin pesiar ke daerah Tionggoan sini untuk menghibur hati masgul, sementara initidak ingin
pulang,” kata Minghui.
“Harap Tuan Putri mengingat keselamatanmu yang berharga, tidaklah aman berada terlalu lama di
negeri musuh,” kata busu itu. “Nanti bila kita sudah basmi negeri Kim dan Song, setelah seluruh
Tionggoan dipersatukan, saat mana barulah Tuan Putri pesiar lagi kesini sepuasnya.”
“kau berani merintangi keinginanku, Busa,” damprat Minghui dengan gusar.
“Hamba tidak berani, hamba hanya melaksanakan perintah Khan Agung saja,” sahut busu itu yang
bernama Busa, dia termasuk salah satu busu, jagoan pilihan diantara ke-18 jago kemah emas yang
terkenal. Ilmu silanya tidak terlalu hebat, tapi dia adalah orang kepercayaan Dulai. Sebab itulah
Dulai menyuruh dia mengiringi Yang Kian-pek kembali ke Tionggoan dengan tugas mengawasi
gerak gerik Yang Kian-pek dan ayahnya, selain itu Dulai juga memberi beberapa tugas rahasia lain.
Minggatnya putri Minghui dari Mongol terjadi sesudah Yang Kian-pek kembali ke Tionggoan, tapi
DUlai segera mengutus orang untuk memberitahukan kepada Busa, baru tiga hari yang lalu Busa
menerima perintah dari Dulai itu agar mengawasi jejak Minghui.
Dirumah Ho Kiu-kong itulah Busa berjumpa dengan Yang Kian-pek, kebetulan Ho Kiu-kong juga
lari pulang dan menyampaikan pengalamannya bahwa dikelenteng bobrok inilah dia ketemukan
Putri Minghui bersama dengan seorang nona she Nyo. Sudah tentu hal ini sangat kebetulan bagi
Yang Kian-pek dan Busa, segera mereka buru2 datang kembali ke kelenteng ini.
To Liong bukan satu komplotan dengan Yang kian-pek, bahkan ayahnya dibunuh oleh ayah Yang
Kian-pek, maka sesungguhnya mereka adalah musuh, biarpun To Liong sudah bertekad menjual
diri kepada musuh, soal sakit hati kematian ayahnya sudah dikesampingkan, tapi secara terang2an
ia masih sungkan bergaul dengan pihak musuh, sebab itulah semalam To Liong sudah berangkat
pergi sendirian.
Yang Kian-pek adalah manusia bangor yang suka main perempuan, ketika dia mendengar tunangan
Li Su-lam yang bernama Nyo Wan juga berada dikelenteng bobrok itu, diam2 ia bergirang,
pikirnya: “Sudah lama kudengar nona Nyo itu berasal dari keluarga ternama, cantik dan pintar,
dengan macam2 tipu daya To Liong tidqak berhasil mendapatkan diri sijelita, tidak tersangka
sekarang kepergok olehku, mana boleh kulepaskan kesempatan bagus ini.” ~ Begitulah maka
malam2 mereka lantas memburu kelenteng itu. Tentang Him-cengcu dan lain2 sudah lebih dahulu
disuruh kembali kepangkalan masing2 dengan tugas mengawasi jejak Ci in-hong dan Beng bing-sia
sesuai rencana Yang Kian-pek semula.
Begitulah Minghui menjadi marah kepada Busa dan mendamprat: ‘Jangan kau menggertak aku
dengan nama Khan, kau pulang saja dan katakan padanya bahwa aku tidak ingin menjadi Tuan Putri
segala, sejak kini aku tidak dibawah perintah mereka dan merekapun tidak perlu urus diriku.”
Busa memperlihatkan sikap serba susah, katanya: ‘Tuan Putri boleh membangkang perintah Khan
Agung, tapi hamba betapapun tidak berani.”
“Lalu kau mau apa?” jengek Minghui.
“Harap Tuan Putri pulang saja!” kata Busa sambil melangkah maju, segera ia bermaksud menarik
Minghui.
“Kau berani kurangajar!” bentak minghui.
Dengan cepat luar biasa, mendadak terdengar suara “bluk” yang keras, tahu2 Busa telah kena
dibanting oleh Akai.
Busa tahu Akai adalah ahli gulat terkemuka di Mongol, sebenarnya dia sudah siap2, tapi tetap tak
terhindarkan bantingan Akai itu.
Setelah merangkak bangun dengan gusar Busa membentak: “Rupanya kalian berdua ini yang telah
menyelewengkan Tuan Putri, kalian harus digiring pulang juga!” ~ Sekali putar segera ia
menerjang, tapi yang diarah ternyata Kalusi.
Akai telah memakai peraturan gulat dikalangan jago Mongol, ia pentang kedua tangan dan
menantikan serangan balasan Busa, siapa tahu yang diterjang Busa justru adlah Kalusi, hal ini
sungguh tak terduga oleh Akai.
Syukur Nyo Wan keburu mengebut dengan lengan bajunya sambil membentak: ‘Bangsat tidak tahu
malu, rebahlah!” ~ Dibawah lengan bajunya jarinya terus menotok pula hiat-to dibawah iga lawan.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Meski kepandaian Busa tidak lebih tinggi daripada Nyo Wan, tapi dia tergolong jago kemah emas,
dengan sendirinya tidak lemah kepandaianny. Dia memiliki ilmu Tiat-poh-sam, ilmu kekuatan otot
dan kulit, meski Hiat-to ditotok, dia hanya merasakan kesemutan saja dan tidak sampai roboh.
Dalam pada itu Akai sudah lantas menubruk maju, dampratnya dengan gusar: ‘Percuma kau sebagai
jago kemah emas, kalau berani bertandinglah dengan aku, mengapa menyerang seorang perempuan
yang lemah?” ~ Belum lenyap suaranya dia sudah bergebrak beberapa kali denganBusa.
Karena rasa kesemutan dan ilmu totokan Nyo Wan tadi belum lenyap, kepalan Busa menjadi
kurang kuat, ia berhasil menghantam dua kali ditubuh Akai, tapi dirasakan sebagai pijatan saja bagi
Akai. Sebaliknya mendadak kaki Akai menjegal terus membanting pula, kembali Busa mencium
tanah.
“Awas!” se-konyong2 Nyo Wan berteriak.
Tiba2 Akai merasa angin menyamber dari belakang, ia tahu ada orang menyergapnya. Segera ia
mendak kebawah, tangan mencengkeram kebelakang. Inilah salah satu jurus bantingan yang
menjadi kebanggaan Akai dalam ilmu gulatnya.
Tak terduga, cengkeramannya tidak mengenai sasarannya, sebaliknya tangan Akai kena dipegang
oleh penyergap itu. Lekas2 Akai membungkuk kedepan sambil membetot sekuatnya, seorang kena
ditarik melompat kedepan, kiranya penyergap itu adalah Yang Kian-pek.
Yang Kian-pek tidak mau melepasan pegangannya atas pergelangan tangan Akai, ketika dia ditarik
sekuatnya, setengak badan Akai menjadi lemas dan sukar mengeluarkan tenaga, lekas2 ia balas
menjotos kedagu lawan.
Namun Yang Kian-pek sempat mendoyong kebelakang sehingga kepalan Akai melayang lewat
diatas mukanya. Dalam pada itu dengan cepat luar biasa NYo Wan juga telah menusuk dengan
pedangnya, terpaksa Yang Kian-pek melepaskan Akai sambil melompat kesamping untuk
menghindarkan serangan Nyo Wan itu.
“Hebat benar ilmu pedangmu, nona Nyo,” seru Yang Kian-pek dengan tertawa. “Cuma sayang
tenagamu sudah kurang, mungkin tak bisa menandingi aku. Nona manis sebagai kau tentunya aku
tidak tega melukai kau, bagaimana kalau kau ……… “
“Jangan banyak bacot, lihat pedang!” bentak Nyo Wan, secepat kilat ia memberondongi lawan
dengan beberapa kali serangan, semuanya menuju tempat2 berbahaya.
Yang Kian-pek sempat menangkis sampai serangan terakhir, mendadak terdengar “krek” sekali,
pedang Yang Kian-pek tergempil oleh benturan pedangNyo Wan. Maklum pedang yang digunakan
Nyo Wan adalah pedang pusaka, meski tenaga Nyo Wan tidak cukup, tapi bila kedua senjata
kebentur, tentu pedqaang biasa tak bisa menahan tajamnya pedang pusaka.
Keruan Yang Kian-pek terkejut, seketika ia cep-klakep, tak bisa tertawa dan tak bisa membual lagi.
Segera Nyo Wan menyerang dengan lebih gencar, “sret”, ia menusuk tenggorokan lawan.
Sekuatnya Yang Kian-pek menangkis. “Trang”, kembali kedua pedang kebentur sehingga pedang
Yang Kian-pek gempil lagi, Cuma sekali ini tidak sama dengan tadi, Nyo Wan tergetar oleh tenaga
dalam lawan yang kuat, tangannya kesakitan, hampir2 tidak kuat menggenggam senjatanya, ia
terkejut dan lekas2 melangkah mundur.
Karena yakin akan lebih unggul, kembali Yang Kian-pek tertawa senang, katanya: “Nona Nyo,
biarpun kau punya pedang pusaka juga tak bisa meng apa2 kan diriku, kalau tidak percaya boleh
kau coba lagi.”
Nyo Wan percaya tenaga dalam lawan lebih kuat, melulu mengandalkan ketajaman pedang pusaka
tak dapat sekaligus mengutungi senjata lawan, bergebrak keras lawan keras akhirnya diri sendiri
juga akan kewalahan. Maka dengan mengertak gigi ia melancarkan serangan pula dengan cara
lincah sehingga dalam waktu singkat Yang Kian-pek tidak mampu mengalahkan sinona, terpaksa
hanya dapat bertahan saja.
Akai melihat tangan sendiri yang dipegang Yang Kian-pek tadi ada guratan merah seperti kena
tanggam. Dengan gusar ia melepaskan tali yang melibat dipinggangnya,ia putar tali itu hingga
menerbitkan angin terus menjirat ke leher Yang Kian-pek.
Ho Kiu-kong juga tidak tinggal diam, ia menyangka Akai sudah terluka, maka dengan cambuknya
iapun menyabet ke bagian kaki Akai.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Busa juga tidak mau menganggur, ia mengeluarkan senjatanya, yaitu sepasang roda, diangkat
tinggi2 kedua roda itu untuk meng-aling2i Yang Kian-pek dari serangan tali Akai tadi. Roda yang
digunakan Busa itu bergigi tajam, jika tali Akai sampai kejepit, kalau tidak putus tentu juga akan
kecundang.
Disinilah kelihatan ketangkasan Akai, talinya seperti ular hidup saja, ditengah udara mendaak tali
itu memutar ke arah lain dan cepat menahan sabetan cambuk Ho Kiu-kong.
Tali dan cambuk menjadi satu, tali lebih panjang daripada cambuk, ujung tali yang berlebihan itu
menjulur kebawah, ketika Akai menyendal sekuatnya, bagian ujung tali itumendadak menegak,
“plok”, dengan tepat tulang kaki Ho Kiu-kong tersabet.
Mestinya Ho Kiu-kong hendak menghajar Akai yang disangkanya kalah kuat dalam hal tenaga
dalam, tak disangka dia sendiri malah kena disabet, keruan kaki kesakitan, tanpa kuasa tubuhnya
ikut doyong kedepan, malahan akan terseret oleh tali Akai itu.
Untung bininya keburu menolongnya, dengan tongkat kepala naga segera Ho-popoh mencungkil
bagian tengah tali lawan. Saat itu tali yang panjang itu sedang tertarik dengan kencang sebagaimana
talibusur yang dipentang, ketika dicukil tongkat Ho-popoh, ternyta tali itu lantas terpental lepas,
tidak urung tangan sineenk tergetar kesakitan. Berkat bantuan istrinya itu barulah cambuk Ho kiukong
dapat terlepas dari libatan tali lawan dan dapat berdiri tegak lagi.
Kiranya Akai tidak pernah berlatih lwekang, tapi tenaga pembawaannya sangat kuat. Dia sudah
biasa hidup sebagai pemburu, menangkap binatang buas dengan tali adalah kepandaiannya yang
khas. Talinya itu terbuat dari kulit kerbau yang diuntir, jadi tidak ubahnya seperti cambuk yang
lemas. Kepandaiannya memainkan tali secara khas itu boleh dikata lebih lihai daripada permainan
cambuk Ho Kiu-kong.
Segera Busa putar kedua rodanya dan menerjang Akai. Ia cukup kenal kepandaian teman
sejawatnya itu, rodanya yang bergigi tajam itu memang merupakan senjata anti tali Akai yang lihai
itu.
“Hm, percuma saja kau menjadi jago kemah emas, terhitung orang gagah macam apa, berani main
keroyok?” jengek Akai.
“Aku ingin menangkap pengkhianat, kau adalah buronan Khan Agung sekarang, siapa sudi bicara
tentang peraturan busu segala dengan kau?” jawab Busa.
“Baik, biarpun kau main kerubut, memangnya aku takut?” kata Akai dengan gusar. Segera ia putar
talinya dengan kencang dan lincah sebagai ular naga, dengan satu lawan tiga ia tetap lebih banyak
melancarkan serangan daripada bertahan.
Talinya yang panjang itu dapat mencapai sejauh beberapa meter, dibawah putaran Akai yang
bertenaga raksasa, lingkaran talinya makin lama makin meluas, Busa dan lain2 terdesak sampai
hampir2 tidak sanggup menancapkan kaki didalam kelenteng.
Diam2 Busa mengakui kehebatan Akai, pantas pangeran Tin-kok juga segan padanya.
Di lain pihak Yang Kian-pek yang berkepandaian lebih tinggi dari kawan2nya, ia sudah diatas
angin dalam pertarungannya melawan Nyo Wan, hanya saja dibawah ancaman tali Akai itu, banyak
kesempatan baik terpaksa harus di-sia2kan. “Hm, permainan orang kampung juga berani pamer
disini,” jengek Yang Kian-pek. “Jangan kuatir, Kiu-kong, akan kubereskan keparat ini!”
Mendadak ia melompat maju, secepat kilat pedangnya menabas. Segera Akai menarik talinya, tapi
kalah cepat, tahu2 talinya sudah terkutung sebagian.
Nyo Wan lantas menusuk, dia paksa Yang Kian-pek harus menjaga diri, benar juga Yang Kian-pek
lantas memutar balik dan kembali menghadapi serangan Nyo Wan.
Akai memiliki tenaga sakti pembawaan, Cuma sayang tidak pernah belajar lwekang, dalam hal
pemakaian tenaga menjadi tidak semahir Yang Kian-pek. Di tengah pertarungan sengit itu,
bilamana ada kesempatan Yang Kian-pek lantas melompat kesana untuk menabas tali Akai. Karena
itu, lamban-laun tali Akai yang panjang itu sudag tertabas beberapa kali, tali yang panjangnya
beberapa meter itu sekarang tinggal tidak lebih dari tiga meteran saja.
Nyo Wan menyadari bila terjadi apa2 atas diri Akai, maka keselamatan sendiri juga sukar
dipertahankan. Ia menjadi nekat dan melancarkan serangan cepat untuk menahan Yang Kian-pek
agar tidak sempat memotong tali Akai lagi. Mestinya ilmu pedang Nyo Wan mengutamakan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kecepatan dan kegesitan, tapi lantaran kalah tenaga, kini keadaannya sudah payah sehingga gerak
pedangnya berbalik tidak secepat lawannya.
Kembali Yang Kian-pek berhasil mengutungi tali Akai dua kali lagi, dia yakin pasti menang, maka
dengan bergelak tertawa ia berkata: ‘Nona Nyo, asal kau mau menurut padaku, tentu aku takkan
bikin susah kau. Orang liar ini bukan sanak kadangmu, buat apa kau mengurus dia. Hehe, Kiu-kong,
kukira kalian tidak perlu lagi bantuanku bukan?”
“Orang liar ini kini sudah seperti ikan didalam jala, tentu saja akan kami bekuk dengan mudah,
Yang-kongcu tidak perlu pikirkan sebelah sini, silahkan curahkan perhatianmu untuk meladeni
sicantik saja,” kata Busa dengan cengar cengir.
“Ya, kaupun tekun sedikit membereskan lawanmu dan sicantik dari padang rumput tentu pula akan
menjadi milikmu. Kita seorang dapat satu, adil bukan,” sahut Yang Kian-pek dengan tertawa.
Selama hidup Akai paling hormat dan mencintai istrinya, Kalusi. Keruan ia menjadi murka karena
istrinya ikut di-olok2. Namun talinya kini sudah tinggal dua meteran panjangnya, dengan sendirinya
daya serangnya telah banyak berkurang, banyak tipu2 serangan yang khas sukar dilontarkan pula.
Tapi Akai pantang mundur,ia tetap bertempur dengan mati2an.
Dilain pihak serangan Ho Kiu-kong tambah bersemangat, cambuknya menjulur mengkeret dengan
lincah, selalu mengarah bagian kaki Akai. Sebaliknya tongkat Ho-popoh juga selalu mengancam
bagian perut dan pinggangnya, sedangkan Busa dengan senjata rodanya terus menyamber di bagian
atas. Tadi mereka bertiga dihajar Akai sehingga kalang kabut, kini berkat bantuan Yang Kian-pek
mereka berbalik dipihak penyerang malah, dengan sendirinya sekarang mereka ingin membalas
dendam.
Dalam keadaan demikian, biarpun tenaga Akai sangat kuat, dibawah kerubutan tiga musuh,
akhirnya ia hanya sanggup berkelit kesini an menghindar kesana saja.
Keadaan nyo Wan lebih2 payah, hendak menangkis serangan lawan saja rasanya sulit. Untung
Yang Kian-pek bertekad hendak menawannya hidup2, maka terhadap cara bertempur Nyo Wan yan
gnekat itu mau tak mau ia rada2 repot.
Lama2 keadaan Nyo Wan tambah lemah, ia pikir: ‘Betapapun aku tidak boleh jatuh ditangan
bangsat ini!”
Selagi ia bermaksud membunuh diri saja, se-konyong2 terdengar Yang Kian-pek membentak:
“Siapa itu?” ~ Berbareng terdengar Busa juga berseru kaget.
Agaknya Yang Kian-pek sedang ter-heran2, setelah mendesak mundur Nyo Wan, segera ia tarik
ekmbali pedangnya dan berpaling mengawasi gerak gerik seseorang.
Melihat ada orang datang dan belum diketahui kawan atau lawan, dengan sendirinya Nyo Wan
mengurungkan niatnya membunuh diri.
Tertampak pendatang itu memakai kedok kain hitam, hanya sepasang biji matanya yang menyorot
tajam sedang menatap keadaan sekeliling ruangan kelenteng, pe-lahan2 orang itu mendekati Busa,
tapi sepatah katapun tidak buka suara.
Sungguh kejut Nyo Wan tak terkatakan setelah mengenali orang berkedok ini. Sebab orang ini
sudah pernah dilihatnya tempo hari.
Malam itu ketika dia sembunyi didalam hutan dan menyaksikan Busa ditotok roboh oleh Li Su-lam,
lalu Su-lam buru2 pergi membantu Beng bing-sia menempur Yang Kian-pek. Selagi Nyo Wan
hendak mengikuti pertarungan Li Su-lam melawan Yang Kian-pek, tiba2 muncul seorang berkedok
sehingga Nyo Wan tidak jadi keluar dari tempat sembunyinya.
Dilihatnya orang berkedok itu menyeret bangun Busa, dengan cepat membuka Hiat-to yang tertotok
Li Su0lam tadi. Orang dapat membuka totokan Li Su-lam yan gkhas itu, hal ini membuat Nyo Wan
ter-heran2. Bahkan sesudah itu orang berkedok itu lantas tinggal pergi sebelum Busa sempat
mengucapkan terima kasih padanya.
Kemudian sesudah Li Su-lam dan Bing-sia mengalahkan Yang Kian-pek, mereka menjadi heran
dan bingung karena Busa sudah melarikan diri, siapa yang membuka hiat-to orang Mongol itu tidak
diketahui mereka.
Teka teki ini hanya Nyo Wan saja yang tahu, tapi juga tidak jelas seluruhnya, sebab ia sendiri tidak
tahu hubungan apa antara orang berkedok itu dengan Busa. Jika suatu komplotan, pantasnya tidak
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
lantas tinggal pergi setelah menolongnya. Tapi apapun juga dia adalah penolong Busa, seumpama
bukan sekomplotan, tentu juga satu haluan. Dan kini orang yang baru datang ini adalah orang
berkedok yang dilihat Nyo Wan dahulu itu.
Sebenarnya Nyo Wan menaruh harapan semoga yang datang ini adalah kaum ksatria, siapa tahu
yang datang kembali adalah musuh. Keruan Nyo Wan sangat kecewa dan cemas.
Dalam pada itu terdengar Busa telah berseru dengan girng; ‘He, bukankah engkau adalah tuan
penolongku tempo hari itu?” Terima kasih atas pertolonganmu.”
“Persetan kau,” tiba2 orang berkedok itu mendamprat dengan nada sepat.
Keruan ucapan ini membikin kaget kedua pihak. Dengan heran Busa berkata pula: ‘He, mengapa
tuan penolong …………. “ belum lenyap suaranya mendadak orang itu mencengkeram Busa terus
dilemparkan keluar kelenteng seperti lempar bola saja.
“kau tidak mau enyah, biar kuenyahkan kau!” kata orang itu dengan dingin.
Perubahan hebat ini sama sekali diluar dugaan orang banyak. Ho Kiu-kong dan istrinya berdiri
disebelah Busa, tapi mereka toh tidak keburu menolongnya. Dengan terkejut Ho Kiu-kong lantas
membentak: ‘Keparat darimana kau, berani menyakiti orang?” ~ segera cambuknya menyabet.
Orang itu ternyata tidak berkelit dan tidak menghindar, ketika cambuk Ho Kiu-kong menyamber
tiba, dengan gerakan “Yu-liong-tam-jiau” (naga meluncur main cakar), dua jarinya mendadak
menjepit seperti gunting tajamnya, “cret”, tahu2 cambuk Ho kiu-kong itu telah dipotong menjadi
dua bagian.
Dalam pada itu dengan cepat sekali tongkat Ho-popoh juga lantas mengemplang dari depan.
“Hm, pasangan suami istri bangsat seperti kalian ini juga lekas enyah saja dari sini!” jengek
orangberkedok. Berbareng itu dengan cepat luar biasa, bagaimana caranya sampai Ho-popoh sendiri
tidak jelas, tahu2 tongkatnya sudah dirampas lawan.
Ketika orang berkedok itu menggertak sekali, tertampak tongkat rampasan itu sudah menancap
kedalam tanah, hampir2 masuk seluruh batang tongkat itu. Keruan sukma Ho Kiu-kong dan istrinya
hampir terbang ke awang2 saking kagetnya, tanpa pamit lagi mereka terus kabur menyelamatkan
diri.
“Sungguh perkasa!” puji Akai setelah menyimpan kembali talinya yang tinggal separoh itu.
“kau sanggup satu lawan tiga, kau juga sangat perkasa!” balas orang berkedok itu dengan
tersenyum.
Dalam sekejap saja orang berkedok itu telah melemparkan orang, memotong cambuk dan
merampas tongkat, ber-turut2 tiga jagoan kena dibikin keok, betapa tinggi ilmu silatnya membikin
Yang Kian-pek rada terkejut juga. Tapi keadaan Nyo Wan dan Akai kini sudah sangat payah,
asalkan dia mampu mengalahkan orang berkedok itu, kemenangan tetap akan dipihaknya, sebab itu
meski rada terkejut ia tetap ingin mempertahankan kemenangannya itu.
Kemudian orang berkedok itu berpaling dan menatap Yang Kian-pek dengan sinar mata yang tajam,
katanya: ‘Perbuatanmu yang kotor dan rendah, apakah kau tidak kuatir menodai nama baik
perguruan?” ~ Dibalik ucapannya itu se-akan2 dia sudah tahu jelas perbuatan cabul Yang Kian-pek
yang banyak memperkosa gadis2 itu.
Tergetar juga hati Yang Kian-pek. “Siapa kau sebenarnya?” tanyanya.
“kau tidak perlu tanya. Jika kau tetap tidak mau menyadari kejahatanmu, maka aku adalah rasul
pencabut nyawamu!” sahut orang berkedok itu dengan tenang.
Yang Kian-pek menjadi murka, bentaknya: ‘Bagus, kau berani bermulut besar, aku menjadi ingin
coba2 kepandaianmu. Lihat saja nanti apakah kau mencabut nyawaku atau aku yang bikin jiwamu
melayang!”
Baru selesai ucapannya, mendadak ia meloncat keatas, dengan gerakan “Ngo-eng-bok-tho” (elang
lapar menyamber kelinci), orangnya berikut pedangnya terus menusuk dari atas.
Namun orang berkedok itu cepat menunduk sambil mengegos, berbareng ia sudah lolos pedangnya
dan balas menyerang, kedua pedang kebentur, “trang”, Yang Kian-pek melayang kesamping,
sedangkan orang berkedok mundur dua tindak.
Gebrakan pertama in boleh dikata sama kuat, tiada seorangpun menarik keuntungan. Tapi orang
berkedok melolos pedang setelah lawan menyerang, maka kalau bicara kegesitan jelas ia lebih
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
unggul daripada Yang Kian-pek.
Nyo Wan menjadi ragu2 dan heran menyaksikan pertarungan itu. Ia sedang meng-ingat2 kembali
ilmu pedang orang berkedok ini, sebab ia merasa seperti pernah melihatnya. Tiba2 ia teringat,
bukankah ilmu pedang yang dimainkan oleh Ci in-hong tempo hari.
Tempo hari, waktu Li Su-lam berebut Bengcu dengan Tun-ih Ciu, mendadak muncul Ci in-hong
yang mewakilkan Li Su-lam untuk bertanding dengan jago pedang lawan Liu Tong-thian,
pertandingan berakhir dengan seri, hal ini membikin para ksatria ter-heran2. Nyo Wan sendiri
berada diantara para penonton itu, kesannya cukup mendlam terhadap ilmu pedang Ci In-hong yang
aneh dan hebat itu.
Kini Nyo Wan menjadi ragu2 apakah orang berkedok ini adalah samaran Ci in-hong, tapi kalau
mlihat perawakan dan suaranya terang tidak sama.
Belum habis berpikir, se-konyong2 terdengar Yang Kian-pek membentak: “Ci In-hong, kau jangan
main sandiwara segala!” ~ Maklum, baik suara maupun perawakan, bila cara menyamarnya pintar
juga dapat berubah, Yang Kian-pek sendiri adalah ahli dalam ilmu menyamar, maka ia anggap
orang berkedok ini pasti Ci in-hong adanya.
Selagi Nyo Wan tertegun oleh gertakan Yang Kian-pek itu, tak terduga orang berkedok itu berbalik
tanya: ‘Ci In-hong itu siapa?”
“kau masih tidak mengaku!” jengek Yang Kian-pek terus menerjang pula, dibawah serangan
pedangnya disertai pula pukulan yang dahsyat.
Orang itu menggunakan pedang untuk menangkis pedang dan tangan lai menghadapi pukulan,
“blang”, Yang Kian-pek berbalik tergetar mundur.
“Baik, apakah kau Ci In-hong atau bukan, yang pasti kau sengaja memusuhi aku, “ bentak pula
Yang Kian-pek.
Adu pukulan tadi, yang digunakan kedua orang ternyata sama”Thian-lui-kang. Ilmu pukulan
“Thian-lui-kang adalah kepandaian khas perguruan Yang Kian-pek, hanya tokoh terkemuka
perguruannya saja yang mahir menggunakan ilmu pukulan itu. Setahu Yang Kian-pek, selain
ayahnya dan paman guru Hoa Thian-hong, angkatan yang lebih muda hanya ia sendiri dan Ci Inhong
saja yang berhasil meyakinkan ilmu pukulan itu. Dengan sendirinya orang berkedok ini
bukanlah paman gurunya, lalu siapa lagi kalau bukan Ci In-hong?
Setelah tergeliat dan berdiritegak lagi, orang berkedok tadi lantas berkata: ‘O, pahamlah aku.
Mungkin Ci in-hong yang kau maksudkan adalah murid Hoa Thian-hong bukan? Tentunya dia tidak
cocok dengan perbuatan kalian, betul tidak?”
Dengan percobaan pukulan tadi Yang Kian-pek telah dapat menguji Thian-lui-kang lawan tidak
banyak selisih jauh dengan kepandaian sendiri, rasanya malah lebih rendah sedikit daripada Ci inhong.
Tapi cara pihak lawan menyambut pukulannya tadi ternyata cukup lihai. Yang Kian-pek
menjadi ragu2 apakah benar orang ini adalah Ci in-hong seperti sangkaannya?
“Seorang laki2 tidak perlu main sembunyi2, jika kau bukan Ci In-hong, lalu siapa kau? Katakan
saja!” bentak Yang Kian-pek.
“Hm, kau sendiri berbuat hal2 yang kotor,apakah kau ingin kubongkar tingkah lakumu yang busuk
itu?” jawab orang itu. “Sekarang aku tidak ingin beritahukan siapa diriku, soalnya aku belum mau
membinasakan kau. Kelak kau sendiri tentu akan paham. Kini aku Cuma ingin tanya padamu, kau
mau enyah dari sini atau tidak? Kalau tidak jangan kau salahkan tanganku yang tidak kenal ampun
ini!”
Dari malu Yang Kian-pek menjadi murka, bentaknya pula: ‘Jika kau adalah murid perguruan kita,
kau seharusnya tahu ayahku adalah ciangbunjin, kau berani bersikap kurang ajar padaku?”
“Hm, kau masih berani bicara tentang perguruan segala,” jengek orang itu. “Coba kau jawab dulu,
bagaimana bunyi pasal pertama daripada peraturan rumah tangga perguruan kita?”
Menurut peraturan rumah tangga yang ditetapkan oleh cikal bakal perguruan Yang Thian-lui
dahulu, diantara sepuluh pasal itu pasal pertama itu menyatakan bahwa setiap orang yang
mengkhianati negara dan takluk pada musuh, maka setiap anak murid perguruan boleh
membunuhnya. Pasal kedua juga menyatakan siapa yang mengkhianati perguruan dan
membangkang perintah guru dihukum mati. Dengan pertanyaan orang berkedok tadi, jelas dia
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
memang benar orang seperguruan dengan Yang Kian-pek.
Yang Kian-pek menjadi lebih malu dan tambah gusar pula, sahutnya: “Peraturan apa segala,ayahku
adlah pejabat ketua sekarang, apa yang dia ucapkan adalah peraturan. Kau berani menggertak aku
dengan peraturan perguruan apalagi?”
“Tutup bacotmu!” bentak orang itu dengan sinar mata yang tajam. “Kalian ayah dan anak menjual
negara untuk kepentingan pribadi, mengkhianati perguruan dan lupa pada ajaran orang tua, masakah
kau punya harganya buat bicara sesama perguruan dengan aku?”
Sudah tentu Yang Kian-pek tidak mau tunduk, apa lahi dia sudah biasa malang melintang, segera ia
menubruk maju pula dengan menggerang murka.
Diantara angin pukulan dan samberan pedang, mendadak Yang Kian-pek mencengkeram kepundak
lawan. Tapi orang berkedok sempat mengegos terus balas memukul.
“Blang”, kembali kedua tangan beradu, sekali ini Yang Kian-pek tergetar mundur lebih jauh lagi.
Tanpa ayal orang berkedok itu lantas menubruk maju pula, karena kerepotan melayani berondongan
serangan lawan, terpaksa Yang Kian-pek mengadu tangan lagi.
Pukulan orang berkedok itu sebagai geledek, samberan pedang sebagai kilat, dalam sekejap saka
sudah beradu tangan delapan kali dengan Yang Kian-pek, suara nyaring benturan pedang
mendering panjang, entah berapa kali pula kedua pedang berbenturan.
Setelah mengadu tangan delapan kali, Yang Kian-pek merasa dadanya sesak, keringat dingin
mengucur, jantung ber-debar2.
Sebenarnya kekuatan kedua orang adalah sembabat, tapi lantaran kemarin malam Yang Kian-pek
sudah mengadu “Thian-lui-kang” dengan Ci In-hong, banyak tenaga murninya terbuang dan belum
dapat pulih dengan segera. Sebab itulah ia merasa kewalahan menghadapi Thian-lui-kang orang
berkedok ini.
Tidak dapat mengalahkan orang berkedok itu, ditambah lagi Nyo Wan juga siap menghadapinya
disamping, mau tak mau Yang Kian-pek menjadi gugup, ia pikir kalau terjadi kerubutan, mungkin
dirinya sukar meloloskan diri. Paling selamat sekarang kabur saja lebih dulu.
Begitulah segera ia pura2 menyerang, habis itu mendadak ia melompat mundur terus melarikan diri.
“Hm, hari ini biarlah aku mengampuni kau, semoga kau pulang kerumah merenungkan kembali
perbuatanmu yang durhaka itu!’ jengek orang berkedok.
Setelah musuh lari, Nyo Wan dan Akai lantas maju mengucapkan terima kasih.
“Sesama orang persilatan, adalah pantas kalau saling membantu,” kata siorang berkedok dengan
rendah hati.
“Oran gagah, sungguh orang gagah!” puji Akai sambil mengacungkan ibu jarinya. “Pembesar kami
seringkali mengatakan orang Han licik, ternyata kami telah tertipu. Baru sekarang aku mengetahui
bahwa orang Han adalah sahabat baik sejati. Padahal kita tidak pernah saling kenal, tapi kau telah
sudi menyelamatkan jiwaku.”
Untuk menghilangkan curiga orang, segera Nyo Wan menambahkan: “Sobat ini meski kawan dari
Mongol, tapi dia tidak sudi jual nyawa bagi Khan Mongol, dia lebih suka lari kesini.”
“Aku tahu,” kata orang berkedok. “Percakapan kalian dengan kedua bangsat tadi sudah kudengar
semua. Orang Mongol juga sama dengan orang han kita, ada orang baik dan ada orang jahat.”
Akai sangat senang, serunya pula: ‘orang gagah, apakah kau sudi bersahabat dengan diriku?”
“tentu saja, mengapa tidak,’ sahut orang berkedok.
“Aku bernama Akai dan kau siapa?” tanya Akai.
“Nama Cuma sebagai tanda pengenal, boleh kau panggil aku orang berkedok saja,” ujar orang itu.
“Yang pasti, biarpun namaku si kucing atau si anjing tentu pula kau sudi bersahabat dengan aku
bukan?”
Setelah berkelana sekian lamanya, Nyo Wan tahu sedikit pantangan2 orang kangouw, ia menduga
orang berkedok ini tentu ada urusan yang sukar diterangkan, makanya tidak mau memberitahukan
namanya kepada orang lain.
Akai tampak manggut2, katanya: ‘Benar juga ucapanmu. Banyak orang Mongol kami yang
berpangkat pakai nama yang indah didengar, tapi sembilan diantara sepuluh orang adalah orang2
busuk.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Kalusi mengerut melihat Akai ajak bicara terus menerus dengan orang, segera ia membisiki Akai:
‘Nona Nyo ingin bicara dengan dia, jangan kau menimbrungnya.”
Begitulah Nyo Wan lantas membuka suara pula: ‘O, kiranya kau telah mendengar percakapan kami
tadi, jika begitu tidak perlu kuterangkan lagi. Aku sendiri bernama Nyo Wan.”
“Nona Nyo, aku ingin tanya padamu tentang diri seseorang,” kata orang berkedok.
“Siapa? silahkan bicara,” sahut Nyo Wan.
“Seorang nona yang berusia sebaya dengan kau, namanya Beng Bing-sia, putri Kanglam-tayhiap
Beng Siau-kang,’ tutur orang itu. Lalu sambungnya pula dengan tertawa: “Semula aku menyangka
dirimu adalah nona Beng, ternyata aku telah salah kuntit. Tapi kesalahan ini membawa kebaikan
pula.”
“Ah, kiranya engkau adalah sahabat nona Beng,’ seru Nyo Wan dengan girang.
“Tak dapat dikatakan sebagai sahabat,” kata orang itu. “Cuma aku kenal baik dengan ayahnya,
sebaliknya Cuma ketemu satu dua kali dengan nona Beng. Apakah engkau kenal dia?”
“Tidak Cuma kenal saja, bahkan beberapa hari yang lalu kami malah berada bersama. Sekarang dia
dan ayahnya sudah berangkat ke Hui-liong-san. Apakah engkau hendak mencari mereka ayah
beranak?”
“Bukan maksudku sengaja hendak mencarinya,” kata orang berkedok. “Bila bertemu harap engkau
suka menyampaikan salamku saja kepada Beng-tayhiap, katakan pernah bertemu dengan seorang
macamku ini dan Beng-tayhiap tentu akan tahu.”
Nyo Wan merasa serba susah, sebab ia tidak ingin mengunjuk diri di hadapan Beng bing-sia, tapi ia
merasa akhirnya toh mesti bertemu kembali dengan Li Su-lam dan dengan sendirinya juga tak dapat
mengelabui Bing-sia. Agar tidak membikin kecewa siorang berkedok, maka ia lantas menyanggupi
permintaannya.
Setelah diam sejenak, lalu Nyo Wan bertanya pula: ‘tadi engkau bilang salah menguntit, sebenarnya
apa yang telah terjadi?”
“Kemarin malam nona Beng pernah uncul dikota ini dan malam itu juga di dalam kota terjadi
peristiwa pemerkosaan, cuma sayang aku tidak ketemukan kejadian itu,” kata orang berkedok.
“Tapi seluk beluk kejadian itu dapat kudengar cukup jelas. Kejadian berlangsung di rumah Ho Kiukong.
She Ho ni adalah bandit besar yang sengaja menyembunyikan diri, iapun benggolan utama
dari kalangan hitam di sekitar beberapa kota ini, sudah banyak kejahatan yang dia lakukan, maka
dapat diduga apa yang yang terjadi itu tentu adalah perangkap yang dia pasang. Hanya saja akhir
kejadian itu kabarnya pihak Ho Kiu-kong dan Jay-hoa-cat bersangkutan yang kecundang, tamu
perempuan yang bermalam di rumah Ho kiu-kong itu telah mendapat pertolongan seorang pendekar
muda tak dikenal dan berhasil terhindar dari ancaman Jay-hoa-cat, sebaliknya Jay-hoa-cat itu malah
kena dihajar hingga kabur, Ho Kiu-kong sendiri juga melarikan diri ketempat lain dan tidak berani
pulang lagi kerumahnya.”
‘Aneh juga kejadian itu,” ujar Nyo Wan.
‘Aneh tentang apa?” tanya orang berkedok.
‘kalau yang perempuan sekiranya Beng-lihiap adanya, lalu pendekar muda itu siapa.
“Menurut nada Yang Kian-pek tadi, agaknya pendekar muda itu adalah orang yang bernama Ci Inhong.
Kalau tidak tentu Yang Kian-pek takkan salah sangka terhadap diriku sebagai Ci In-hong.
Dibalik ucapannya tadi agaknya iapun pernah telan pil pahit dari pemuda she Ci itu.
“Ya, akupun berpikir demikian, makanya merasa heran,” ujar Nyo Wan.
“Mengapa begitu? Apakah ada sesuatu yang tidak betul antara nona Beng dengan orang she Ci itu?”
“Setahuku, agaknya Ci In-hong dan Beng Bing-sia bukanlah orang sehaluan.”
“O, habis siapakah orang she Ci itu, tentu kau mengetahuinya.”
“Sedikitpun aku tidak tahu asal usulnya,” sahut Nyo Wan. “Cuma beberapa hari yang lalu di Longsia-
san pernah terjadi dua peristiwa yang ada sangkut pautnya dengan orang she Ci. Tindak
tanduknya sangat aneh, semua orang mencurigai dia sebagai mata2 yang bekerja bagi Mongol.”
‘Mata2 Mongol? Rasanya tidak! Apakah dapat kau jelaskan kedua peristiwa itu?”
“Begini, beberapa hari yang lalu di atas Long-sia-san diadakan suatu pertemuan besar para tokoh
kalangan Lok-lim untuk memilih Bengcu ………….. “
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Hal ini sudah kuketahui,” sela orang berkedok, “kabarnya disatu pihak mencalonkan pendekar
muda Li Su-lam yang baru terkenal di kalangan Bu-lim dan dilain pihak menjagoi tokoh Lok-lim
angkatan tua Tun-ih Ciu.”
“Ya, ketika pertandingan sedang berlangsung, tiba2 muncul Ci In-hong yang tidak dikenal asal
usulnya, tapi dia membantu pihak Li Su-lam mengalahkan seorang jago pihak lawan, menyusul ia
bertanding sama kuatnya dengan ahli pedang Liu Tong-thian dari pihak lawan. Berhasilnya Li Sulam
menduduki jabatan Bengcu harus diakui tidak sedikit memperoleh bantuan dari Ci In-hong.”
“Jika begitu Ci In-hong jelas juga dari kalangan pendekar ksatria, mengapa kau bilang dia tidak
sehaluan dengan nona Beng?”
“Soalnya pada malam itu juga dia mengadakan pertemuan rahasia pula dengan To Liong,
sedangkan To Liong sudah etrbukti adalah mata2 pihak Mongol. Secara tidak sengaja malam itu
aku dapat mencuri dengar percakapan mereka, bahkan mereka merencanakan hendak merebut
kedudukan cecu Long-sia-san. O, ya, supaya kau maklum, To Liong adalah kakak To Hong, Cecu
perempuan Long-sia-san sekarang. Mereka kakak beradik mempunyai haluan yang berbeda.”
“Jika begitu memang benar2 rada aneh,” kata orang itu. “Cuma bisa jadi Ci In-hong sengaja hendak
emmancing rahasia To Liong. Sebab kalau dia benar2 mata2 musuh, tentunya kemarin malam dia
takkan bergebrak dengan Yang Kian-pek, apalagi dari nada Yang Kian-pek terang sedemikian
bencinya terhadap Ci In-hong, hal inipun membuktikan dia bukan mata2 musuh.”
“Tindak tanduk CiIn-hong yang penuh rahasia itu sukar juga untuk diraba, apakah kau perlu ke
Long-sia-san untuk menyelidiki sejelasnya?”
“Aku memang ingin mencari tahu seluk beluk tentang diri Ci In-hong, kemarin karena aku hendak
mencari dia, makanya salah kuntit. Cuma pada waktu ini aku belum dapat pergi ke Long-sia-san.
Kupikir Ci In-hong dan nona Beng juga belum pasti akan kembali kesana.”
Orang itu manggut2, katanya: “Banyak terima kasih atas keterangan2 mu, nona Nyo. Kukira sudah
waktunya aku harus berangkat. Sampai berjumpa pula kelak.”
Tiba2 Akai mendekati orang itu, katanya: “Sungguh aku sangat senang dapat bersahabat dengan
kau, bila sudi, haraplah kau suka menerima sedikit tanda terima kasihku ini.” ~ Ternyata Akai telah
menyerahkan saputangan sutera putih.
Orang berkedok itu tahu apa yang dimaksudkan Akai itu adalah suatu adat istiadat orang Mongol,
memberi tanda mata saputangan disebut “mempersembahkan harta” yaitu suatu tanda hormat dan
penghargaan terhadap kawan karib.
Maka dengan tulus orang berkedok itupun menjawab: “Kau adalah sahabat Mongol pertama bagiku,
sudah tentu akupun sangat senang mempunyai kawan segagah kau. Cuma sangat menyesal,aku
tidak punya hadiah apa2 yang dapat kuberikan padamu.”
Habis itu, sesuai dengan adat Mongol, ia menerima saputangan itu sambil berpelukan dengan Akai.
Tapi mendadak orang berkedok itu lantas berseru: ‘He, apa yang kau lakukan?” ~ Berbareng itu ia
mendorong pergi Akai yang dipeluknya itu.
Kiranya pada waktu mereka berpelukan, se konyong2 Akai menarik kedok orang itu. Sama sekali
tak terduga oleh siapapun juga bahwa Akai yang ke-tolol2an itu dapat berbuat demikian secara
mendadak.
Setelah kedok terbuka, terdengar Kalusi dan Minghui menjerit kaget berbareng. Akai juga melongo
terkejut. Hanya Nyo Wan saja yang tiak berteriak kaget, tapi demi melihat wajah asli orang itu, mau
tak mau ia merasa ngeri juga.
Betapa jelek muka orang itu sungguh diluat dugaan siapapun juga. Pada wajah orang itu tertampak
beberapa jalur bekas luka yang malang melintang mirip simpang empat dari jalan kereta api.
Lantaran bekas luka itu benjal benjol tidak rata, maka kulit daging pada mukanya juga berkerutan
disana sini, begitu buruk mukanya hingga terasa seram bagi siapapun yang melihatnya.
Semula Nyo Wan masih rada menyangsikan dia adalah amaran Ci In-hong, tapi sekarang setelah
melihat wajahnya, yakinlah dia dugaannya tadi tidak betul. Berbareng Nyo Wan juga paham apa
sebabnya orang memakai kain kedok. “Rupanya dia kuatir menakuti orang lain dan bukan sengaja
merahasiakan wajah sendiri bagi Yang Kian-pek,” demikian pikir Nyo Wan.
Setelah terdorong mundur, Akai tertegun sekian lamanya, kemudian baru berkata dengan terKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
gagap2: ‘Ma …..maaf, aku …….aku tidak tahu, tidak tahu sebab cara bersahabat orang Mongol
kami memang …….. memang begini dan ………..” dia memang tidak pandai bicara, maka kini ia
tambah bingung entah cara bagaimana baru dapat menunjukkan rasa menyesalnya.
Rupanya Akai berjiwa polos dan berpikiran sederhana, ia beranggapan kalau sudah bersahabat
masakah tak boleh mengetahui bagaimana wajah asli sang kawan. Terhadap musuh boleh
merahasiakan muka sendiri, terhadap sahabt tentunya tidak perlu. Begitu saking senangnya
mendapat sahabat baru, berdasarkan jalan pikiran sendiri itulah Akai terus menarik kedok orang.
Ternyata orang berkedok itupun tidak marah, dengan tersenyum getir ia berkata: “Tidak apa2, aku
tidak menyalahkan kau. Padahal buat apa kau harus malu pada kejelekan sendiri? Wajahku yang
begini bukanlah pembawaan sejak lahir, tapi kalau sekarang sudah berubah begini, apa halangannya
diperlihatkan kepada orang lain? Nah, Akai apakah kau takut kepada wajahku yang jelek ini?”
Dengan tulus Akai menjawab: “Meski wajahmu jelek, tapi hatimu baik. Aku justru sangat suka
padamu, masakah takut?”
Orang itu menengadah dan bergelak tertawa, serunya dengan rasa puas: “Apa artinya bermuka
cakap, paling penting persahabatan yang kekal. Kau tidak mencela kejelekan mukaku, sungguh aku
sangat gembira!”
Melihat orang tidak menyesali perbuatannya tadi, legalah hati Akai, dengan ke-tolol2an iapun
berseru: “Kau tidak marad padaku, akupun sangat gembira!”
Sedangkan Nyo Wan sendiri lagi membatin: “Wajah asli orang ini tentulah seorang pemuda cakap.
Meski ucapannya tadi kedengaran wajar, tapi sesungguhnya dia merasa kesal akan perubahan wajah
sendiri itu.”
Kemudian orang berkedok itu berkata pula sambil menghela napas: “Tapi banyak manusia didunia
ini lebih mengutamakan muka yang bagus, rasanya tidaklah banyak orang yang tidak takut kepada
mukaku yang jelek ini seperti kalian. Maka biarlah aku tetap menjadi orang berkedok saja!” ~ Habis
berkata kembali ia pasang kain hitam dimukanya, ditengah suara tawanya yang panjang nyaring
dengan cepat ia melangkah pergi.
Sesudah orang itu menghilang, dengan tertawa Minghui berkata: “Kukira Tin-kok adalah lelaki
paling jelek mukanya didunia ini, siapa tahu masih ada orang yang lebih jelek daripada dia. Cuma
orang inipun rada istimewa. Aneh juga, kepandaiannya begitu tinggi, entah cara bagaimana
mukanya dirusak orang?”
“Ini namanya tinggi gunung masih ada gunung yang lebih tinggi,” ujar Nyo Wan.
“Tapi orang yang merusak mukanya itu pasti juga orang jahat,” kata Minghui. “Orang jahat
berkepandaian setinggi itu, sungguh bukan hal yang baik.”
“Ya, ucapan Tuan Putri memang tidak salah,’ kata Nyo Wan. Tiba2 ia teringat kepada Li Su-lam.
Sekarang ia sudah tahu Yang Kian-pek adalah putra Yang Thian-lui dan juga orang yang hendak
menyergap Li Su-lam pada malam itu.
Mau tak mau terpikir pula oleh Nyo Wan: ‘Sungguh tidak sedikit orang jahat yang hendak
mencelakai engkoh Lam dan semuanya berkepandaian tinggi pula. Kepergian ke Hui-liong-san
mungkin juga sangat berbahaya walaupun dia ditemani Beng-tayhiap.
Berpikir sampai disini, sungguh kalau bisa Nyo Wan ingin terbang ke Hui-liong-san dalam waktu
singkat, biarpun takdapat membantu banyak pada Li Su-lam, sedikitnya akan dapat membagi
kesukarannya.
Begitulah segera ia berkata kepada Minghui bertiga: “Hari sudah terang tanah, aku harus berangkat
sekarang, kalian boleh pergi ke Long-sia-san, tunggulah aku disana!”
“Semoga kau lekas berjumpa dengan Li-kongcu dan sampaikan salamku kepadanya,” kata Minghui.
Lalu keduanya berpisahan dengan rasa berat.
Nyo Wan berangkat sendirian menuju utara, makin jauh makin sedikit orang yan berlalu lalang. Ia
mwnjadi teringat kepada cerita orang berkedok itu bahwa semalam Beng Bing-sia kepergok keparat
Yang kian-pek, sedangkan Ci In-hong telah membantu Bing-sia mengalahan Yang Kian-pek. Bila
benar hal ini, maka sungguh diluar dugaan. Entah mereka melanjutkan perjalanan bersama atau
tidak? Ci In-hong itu kawan atau lawan masih belum jelas. Cuma, diharap saja sebagaimana
dikatakan orang berkedok itu, semoga Ci In-hong adalah orang baik.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Begitulah dalam lubuk hati Nyo Wan sedikit banyak masih menaruh cemburu dan sirik kepada
Bing-sia, sebab itu dia berharap Ci In-hong adalah orang baik, semoga mereka menempuh
perjalanan bersama, lalu bibit asmara keduanya bersemi.
Hari itu hawa sangat dingin, habis saja turun salju, didepan hanya nampak pemandangan salju yang
putih buram, diatas tanah salju tiada satupun bekas tapak kaki binatang, jangankan tapak kaki
manusia. Dalam hati Nyo Wan membatin pula: “Mungkin mereka bukan menuju ke Hui-liong-san.
Tapi kalau benar mereka dalam perjalanan bersama, aku menjadi tidak perlu rikuh lagi bertemu
dengan Bing-sia.”
Nyo Wan tidak tahu bahwa saat ini Bing-sia juga sedang mencarinya. Bahkan hasrat Bing-sia ingin
bertemu dengan dia jauh lebih bernapsu daripada Nyo Wan sendiri.
Malam itu setelah Bing-sia dan Ci In-hong lolos dari rumah Ho Kiu-kong, setelah Ci In-hong
menyembuhkan luka Bing-sia, sebelum pagi tiba mereka sudah lantas melanjutkan perjalanan.
Ci In-hong cukup cerdik, ia menduga Yang Kian-pek dan Ho Kiu-kong tentu masih ada begundal
lain, setelah kecundang tentu mereka akan mengerahkan kawan2ny untuk mengejar. Meski luka
Bing-sia sudah baik, tapi tenaga belum pulih, ada lebih baik ber-hati2 dan waspad. Sebab itulah
mereka tidak mengambil jalan besar, tapi memilih jalan kecil, jalan pegunungan yang sepi untuk
menghindari pencarian musuh.
Walaupun waktu itu sudah permulaan musim semi, namun salju yang menyelimuti lereng
pegunungan masih belum cair, sepanjang perjalanan, masih sedikit sekali orang lalu, apalagi jalan
pegunungan lebih2 sepi.
Perangai kedua muda mudi itu hampir sama, dalam perjalanan itu tanpa terasa mereka menjadi
seperti sahabat lama saja, tanpa canggung2 lagi satu sama lain.
Melihat Bing-sia seringkali memeriksa tanah salju apakah ada bekas tapak kaki orang sambil
merenungkan sesuati, dengan heran Ci In-hong lantas bertanya: “Adakah sesuatu yang kau pikirkan,
nona Beng?”
“Aku ingin mencari seorang teman, yaitu prajurit yang berteriak tangkap mata2 musuh pada malam
itu,” kata Bing-sia.
“Benar, kau pernah mengatakan bahwa prajurit itu adalah bakal istri Li Su-lam, betul tidak?” kata
Ci In-hong dengan tertawa. “Malam itu aku bermaksud memancing rahasianya To iong, tapi telah
membikin nona itu salah sangka akan diriku. Maka akupun berharap lekas bertemu dengan dia
untuk memberi penjelasan padanya.”
“Besar kemungkinan dia sedang menuju ke Hui-liong-san untuk menyusul Li Su-lam, tutur Bingsia.
“Aku justru kuatirkan dia akan kepergok oleh rombongan Yang Kian-pek, tentu dia bisa celaka.
Sekarang kita mengambil jalanan kecil ini , mungkin sukar bertemu dengan dia.”
“Yang diincar Yang Kian-pek adalah nona jelita seperti kau, bila nona Nyo itu masih tetap dalam
samarannya sebagai prajurit, tanggung takada bahayanya,” ujar Ci In-hong dengan tertawa.
“Ai, orang gelisah, kau justru berkelakar denganku,’ omel Bing-sia. “Dia sendirian, betapapun
hatiku baru lega bila sudah berjumpa dengan dia.”
“Jika betul dia menuju ke Hui-liong-san, lambat atau cepat tentu akan berjumpa , gelisah juga tiada
gunanya,’ kata Ci In-hong. “Tampaknya kau bersahabat sangat baik dengan nona Nyo itu bukan?”
Dapatkah Bing-sia berjumpa dengan Nyo Wan dalam suasana yang akrab?
Siapakah orang berkedok itu? Ada hubungann apa antara dia dengan Ci In-hong dan Yang Kian-pek
pula?
Jilid 10 bagian pertama
Pertanyaan Ci In-hong tentang hubungan Bing-sia dengan Nyo Wan menimbulkan kecemasan
Bing-sia pula terhadap keselamatan Nyo Wan, terpaksa ia hanya mengangguk saja karena tidak
enak untuk menceritakan hal likhwal kesalah pahaman Nyo Wan itu.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Terdengar Ci In-hong berkata pula: “Nona Beng, engkau simpatik sekali terhadap teman!”
“Kau sendiri juga,” sahut Bing-sia dengan tersenyum. “Coba kau tidak membantu aku, saat ini
manabisa terjadi aku dalam perjalanan bersama kau, tentu sejak tadi2 diriku sudah diringkus oleh
Yang Kian-pek.”
“Ah, kembali kau sungkan2 lagi padaku,” ujar In-hong dengan rasa hangat. “Eh kembali turun salju,
kau dingin tidak?”
“Memangnya kau anggap aku sebagai putri pingitan yang tak tahan angin?” sahut Bing-sia dengan
tertawa. “Pemandangan salju justru sangat menarik bagiku, dingin sedikit, apa halangannya?”
“Aku dibesarkan di daerah utara sehingga pemandangan seperti ini sudah biasa bagiku,” kata Inhong.
“Sebaliknya aku belum pernah ke Kanglam, terhadap pemandangan Kanglam yang indah
sudah lama aku ingin menikmatinya.”
“Untuk itu adalah mudah sekali, asal kau menjadi tamu kerumahku, aku bersedia menjadi petunjuk
jalan bagimu untuk pesiar ke seluruh Kanglam,” kata Bing-sia.
“Apa betul? Jika demikian aku harus berterima kasih lebih dulu padamu. Semoga hari yang kuharap2kan
itu lekas tiba.”
Mendengar ucapan orang yan gmengandung arti tertentu itu, tanpa terasa air muka Bing-sia menjadi
merah.
“Eh, kau sedang bikin apalagi?” tanya Ci In-hong dengan tertawa.
“Aku Cuma menguatirkan nona Nyo, apalagi yan gkupikirkan? Sebaliknya isi hatimu sendiri belum
dikatakan padaku.”
Tergetar hati Ci In-hong, hampir2 ia membeberkan perasaannya terhadap sinona. Tapi perkenalan
mereka baru beberapa hari saja, sudah tentu ia tidak berani menyatakan perasaannya secara
gegabah. Ia coba tenangkan diri, lalu berkata dengan tertawa: ‘Aku memang ada sesuatu isi hati,
entah kau dapat membantu aku atau tidak?”
“Apa yang kau inginkan bantuanku?” tanya Bing-sia dengan berdebar hati.
“Aku ingin bantuan kalian ayah dan anak untuk mencari kabar seseorang,” kata In-hong.
Bing-sia tidak menyangka bahwa yang dikatakan In-hong adalah urusan mencari orang, maka
perasaannya menjadi rada tenang, tapi juga rada kecewa. Segera iapun bertanya: ‘Siapakah
gerangan yang kau cari?”
“Seorang Susiokku,” kata Ci In-hong. “Beliau sudah menghilang hampir 20 tahun, kabarnya lari
kedaerah Kanglam, selama ini tiada kabar beritanya. Diantara sesama saudara perguruan, Suhu
paling baik dengan dia, maka Suhu sangat merindukannya. Ayahmu adalah Kanglam-tayhiap yang
termashur, pergaulannya luas, maka aku minta bantuanmu.”
“Siapakah nama Susiokmu itu?” tanya Bing-sia.
“Angkatan yang setingkat dengan Suhu semuanya memakai nama “Thian”, maka Sisusiok yang she
Kheng itu bernama Thian-hong.”
“Kheng Thian-kong?” Bing-sia mengulangi nama itu sambil merenung sejenak. “Rasanya belum
pernah kudengar nama demikian.”
“Bisa jadi Kheng-susiok sudah ganti nama,” kata Ci In-hong. “Tapi sebagai seorang jago kelas
wahid, asalkan beliau pernah perlihatkan sejurus dua tentu akan diketahui oleh orang persilatan.
Sebagai tokoh utama didaerah Kanglam, bila ada jagoan dari luar, tentu ayahmu akan diberi
laporan. Maka dari itu coba nona ingat2 kembali, adakah pernah mendengar seoran gjago silat uang
demikian ini?”
“Jago dari utara memang ada, tapi asal usul mereka cukup dikenal ayah, rasanya tidak cocok
dengan paman-guru yang kau katakan itu.” Lalu Bing-sia menguraikan beberapa nama, umur dan
aliran. Memang benar bukanlah Kheng Thian-hong yang dimaksudkan Ci In-hong.
“Padahal ayahku kenal gurumu, tentang menghilangnya susiokmu tentu diketahui pula oleh ayah.
Tapi selama ini ayah tidak pernah mengatakan hal ini padaku,” kata Bing-sia pula.
“Apa sebabnya Kheng-susiok menghilang selamanya guruku juga tidak pernah ceritakan padaku,”
tutur Ci In-hong. “Aku Cuma tahu tidak lama Kheng-susiok meninggalkan perguruan lantas
menghilang jejaknya. Maka bisa jadi ayahmu juga tidak mengetahui akan kejadian itu.”
Tiba2 Bing-sia ingat sesuatu dan bertanya: “Semalam ketika kau bergebrak dengan Yang Kian-pek,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
agaknya dia terkejut ketika mengadu tangan dengan kau. Lalu kau mengejek kepandaiannya belum
sempurna. Kepandaian yang kau sebut itu kalau tidak keliru dengar agaknya bernama Thian
……..Thian-lui-kang, apa betul?”
“Ya, memang tidak salah,’ sahut In-hong. “Ini adalah ilmu pukulan istimewa dari perguruan kami,
menyerupai kehebatan Kim-kong-ciang dari Siau-lim-pay. Tapi jarang sekali orang yang mampu
menyakinkannya dengan sempurna.
“Namanya Thian-lui-kang,apakah diciptakan oleh Yang Thian-lui?” tanya Bing-sia.
“Buakn,” jawab In-hong. “Thian-lui-kang diciptakan oleh cikal bakal perguruan kami. Perguruan
kami terkenal dengan dua macam ilmu yang khas, yakni ilmu pedang dan ilmu pukulan Thian-luikang.
Tapi lebih diutamakan adalah Thian-lui-kang. Diantara keempat saudara seperguruan Suhuku,
Yang Thian-lui adalah murid paling sempurna meyakinkan Thian-lui-kang, sebab itulah kakek guru
mengangkat dia sebagai ahli warisnya. Kebetulan angkatan setingkatannya memakai nama “Thian”,
maka kakek guru menganugerahi sekalian nama “Thian-lui” padanya, sebenarnya ini merupakan
kebanggaan baginya, tak terduga harapan kakek guru atas dirinya ternyata sia2, bukannya
mengembangkan nama baik perguruan, bahkan menjual negara demi kepentingan diri sendiri.”
“Banyak melakukan kejahatan pasti akan mati sendiri, betapapun tinggi kepandaian Yang thian-lui
belum tentu segala sesuatu akan terkabul dengan leluasa,” kata Bing-sia. “Gurumu sendiri tidak
dapat membiarkan dia berbuat se-wenang2, tentu pula ayahku takkan tinggal diam.”
“Benar katamu, banyak melakukan kejahatan akhirnya Yang Thian-lui pasti akan menerima
akibatnya,” kata In-hong. “Hanya saja guruku ingin membersihkan perguruan sendiri, maka beliau
ingin mencari bantuan tenaga dari Sisusiok.”
Menurut peraturan dunia persilatan, untuk mengadakan pembersihan perguruan hanya boleh
dilakukan oleh orang2 dari perguruan sendiri, orang luar tidak boleh diminta bantuannya.
“Untuk sementara kita kesampingkan dulu persoalan YangThian-lui,” tiba2 Bing-sia berkata: “Inhong,
aku menjadi ingin lihat sekali lagi kau punya Thian-lui-kang.”
“Thian-lui-kang yang kulatih baru mencapai enam-tujuh bagian, menghadapi Yang Kian-pek
semalam aku menggunakannya, buat apa kau suruh aku pamer lagi?”
“Janganlah kau rendah hati, coba perlihatkan padaku, gunakan pohon ini sebagai percobaan,” kata
Bing-sia.
“Atas permintaan Siocia, terpaksa aku main2 sedikit,” kata In-hong dengan tertawa. Segera telapak
tangannya memutar suatu lingkaran, terdengar suara menderu yang dijangkitkan tenaga pukulannya
itu, menyusul ia terus menghantam batang pohon.
Pohon itu cukup besar, tampaknya tidak bergoyah sedikitpun, tapi selang sebentar terdengarlah
suara krak_krak yang ramai, berpuluh tangkai pohon sama patah dan rontok jatuh. Daun pohon
yang memang sudah rontok, kini pohon itu menjadi tinggal batangnya saja yang gundul.
“Jika guruku yang menggunakan Thian-lui-kang ini, sekali hantam pohon ini akan dirobohkan,
kepandaianku sendiri memang masih selisih jauh,” kata In-hong.
Hati Bing-sia terkesiap mengingat kepandaian Yang thian-lui masih lebih tinggi daripada guru Ci
In-hong sebagaimana dikatakan pemuda itu tadi.
Melihat Bing-sia seperti ngelamun, In-hong bertanya: ‘Sebab apa tampaknya kau sangat menaruh
minat terhadap Thian-lui-kang?”
Bing-sia tidak lantas menjawab, sejenak kemudian ia seperti menggumam sendiri: ‘Ya, memang
betul, gayanya dan kelihaiannya sama, terang pasti Thian-lui-kang adanya.”
“Kau bilang apa?” tanya In-hong heran.
“Aku pernah melihat seorang yang juga mahir menggunakan Thian-lui-kang,” sahut Bing-sia.
“Apa betul? Siapakah dia? Dimana?” tanya In-hong pula dengan tidak sabar.
“Kulihat orang itu kira2 empat tahun yang lalu, tatkala mana dia Cuma seorang pemuda berusia
duapuluhan, dengan sendirinya dia bukan Sisusiokmu,” jawab Bing-sia. Tapi karena mahir Thianlui-
kang, bisa jadi dia adalah anak murid Sisusiokmu itu.”
Maka terbayanglah dalam benak Bing-sia suatu adegan dimasa lampau.
Empat tahun yang lalu, ketika itu Bing-sia baru berumur 17, ilmu silat keluarganya baru saja tamat
dipelajarinya.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Tahun itu ayahnya berangkat ke utara untuk menemui seorang kawan, lantaran kepandaian Bing-sia
masih cetek, kuatir terjadi apa2, maka Beng Siau-kang tidak membawa serta putrinya itu.
Beng Siau-kang mempunyai seorang taci anak paman yang menikah dengan Giam Seng-to, seorang
pendekar besar di Sucwan barat. Giam Seng-to, punya seorak anak perempuan bernama Giam Wan
dan berguru kepada Bu-siang Sin-ni dari Go-bi-pay. Usia Giam Wan lebih tua dua tahun daripada
Bing-sia, sudah tamat belajar ilmu silat dan sedang menjadi gadis pingitan yang menantikan jodoh.
Kuatir anak perempuannya kesepian dirumah, Beng Siau-kang lantas suruh Bing-sia pergi kerumah
Giam Seng-to sekalian menyambangi Piauci (taci misan) yang belum pernah dikenalnya itu.
Setiba dirumah sang bibi, sudah tentu suasana sangat menggirangkan pertemuan antara bibi dan
keponakan itu. Cuma Bing-sia menjadi heran ketiga sang paman dan taci misan tidak nampak
menyambut kedatangannya. Syukur sebelum dia bertanya, sang bibi sudah lantas menyuruh pelayan
pergi memanggil sang Siocia (putri).
“Apakah paman tidak dirumah,” tanya Bing-sia kemudian.
“Tadi baru kedatangan seorang tamu, tamu itupun kenalan Piaucimu, maka anak Wan lagi
mengiringi ayahnya menemui tamu,” tutur bibinya.
“Jika begitu, biarlah bila tetamu sudah pergi baru kutemui Piauci,” ujar Bing-sia.
“Tamunya seorang lelaki, sebagai anak perempuan, Piaucimu hanya sekedar menemuinya saja dan
segera akan mengundurkan diri, tentu sebentar saja kewajibannya sudah selesai,” tutur sang bibi.
Bing-sia sendiri sudah biasa hidup bebas, ia menjadi heran keluarga sang bibi ternyat masih begini
kolot.
Tidak lama benar juga Giam Wan sudah muncul, sudah lama sesama saudara misan mengenal nama
saja, untuk pertama kalinya sekarang mereka bertemu muka.
Waktu itu Bing-sia belum lagi kenal To Hong, belum punya teman yang sebaya, maka ia menjadi
sangat senang melihat sang Piauci serba cantik dan pintar serta tinggi pula ilmu silatnya. Dalam
waktu singkat saja kedua saudara misan menjadi sangat akrab. Giam Wan tampaknya sangat
senang, cumaterkadang pikirannya seperti rada bimbang, se-akan2 terganggu oleh suatu urusan.
Meski waktu itu Bing-sia belumpaham soal2 kehidupan, tapi iapun dapat menduga sang Piauci
tentu punya ganjelan hati apa2, hanya saja baru bertemu untuk pertama kali ia merasa tidak enak
untuk cari tahu.
“Pagi2 tadi kudengar suara burung kutilang berkicau, benar saja kita kedatangan dua tamu,” kata
sang bibi kepada putrinya, “lebih2 piaumoaymu datang dari jauh, kebetulan bagimu mendapatkan
teman baru sehingga kau tidak perlu banyak tingkah lagi. Bing-sia, ketahuilah bahwa Piaucimu ini
terlalu liar, selalu minta aku meluluskan dia berkelana di dunia kangouw. Padahal anak perempuan
sepantasnya berdiam di rumah , selalu menonjolkan diri diluar bukanlah hal2 yang baik.”
Bing-sia tidak berani mendebat sang bibi, tapi iapun berkata dengan tertawa: ‘Sifatku juga suka
keliaran, sejak kecil ayah sudah biasa membawa aku berkelana kian kemari, malahan aku menjadi
uring2an ketika sekali ini beliau tidak membawa serta diriku ke daerah utara.”
Sang bibi mengerut kening, katanya: ‘Usiamu masih kecil, tidak menjadi soal keliaran didepan
umum. Tapi dua tahun lagi kukira ayahmu sudah waktunya membatasi gerak gerikmu.”
“Eh, ibu ini memangnya kenapa? Piaumoay baru saja datang dan engkau sudah menghajar adat
padanya,’ ujar Giam Wan dengan tertawa.
“Ya, ya, aku tahu anak muda seperti kalian ini tentu anggap kami yang tua ini suka bawel, cerewet
melulu. Tapi ketahuilah bahwa justru karena sayang padamu, makanya terpaksa aku harus banyak
omong,” kata sang bibi dengan tertawa. “Bing-sia meski aku bukan saudara sekandung ayahmu,
tapi sanak-pamiliku hanya dia saja seorang yang setingkatan dengan aku, makanya aku anggap kau
seperti anak perempuanku sendiri, tentu kau takkan menganggap bibimu ini cerewet.”
Sesungguhnya dalam hati Bing-sia merasa tidak sepaham, tapi terpaksa menjawab: “Ya, banyak
terima kasih atas petuah bibi.”
Sebenarnya sang bibi hendak buka suara pula, tapi tiba2 terdengar suara langkah orang, kiranya
Giam Seng-to sedang mengantar keberangkatan tamu.
Ketika Bing-sia memandang keluar melalui balik jendela, dilihatnya tamu itu adalah seorang
pemuda yang gagah dan cakap. Saat itu Giam Wan tertampak juga menggeser mendekati jendela
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dan memandang keluar dengan ter-mangu2.
“Anak Wan, ambilkan secangkir the,” tiba2 Giam-hujin, ibunya berseru.
Wajah Giam Wan menjadi merah dan cepat mengiakan.
Padahal tidak sedikit pelayan yang menunggu perintah, Giam-hujin tidak menyuruh pelayan
sebaliknya menyuruh anak perempuannya, terang hanya sebagai alasan belaka untuk
menyingkirkan anak perempuannya dari situ.
Selesai antar tamu, Giam Seng-to lalu datang menemui Bing-sia.
“Apakah tamunya sudah pergi?” tanya Giam-hujin.
“Ya, aku tidak menahan dia, rupanya dia sendiri merasa kikuk duduk terlalu lama, terpaksa mohon
diri,” ujar Giam Seng-to. Setelah menghela napas, lalu katanya pula: “Kalau dibicarakan
sesungguhnya aku masih utang budi padanya, tapi apa boleh buat, tiada jalan lain.”
Bing-sia merasa bingung oleh kata2 itu, ia heran sikap sang paman itu, katanya utang budi pada
orang, tapi mengapabersikap begitu tawar terhadap tamunya itu? “Apa boleh buat”, entah apa
artinya istilah ini?”
Dalam pada itu Giam Wan telah keluar lagi membawakan the buatn ibunya, tanyanya: “Ayah, tamu
datang dari jauh, mengapa tidak suruh dia tinggal barang satu dua hari disini?”
“di rumah banyak anggota keluarga perempuan, tidak pantas menerima tamu,” jawab Giam Seng-to
dengan hambar.
Diam2 Bing-sia anggap sang paman juga berpikiran kolot, benar2 pasangan setimpal dengan sang
bibi.
“Apakah orang ini adalah pemuda yang kalian kenal di Siau-kim-jwan dahulu itu?” tanya Giamhujin.
“melihat usianya masih sangat muda, tak nyana dia memiliki kepandaian begitu hebat.”
“Ya, kalau tidak mendapat bantuannya, waktu itu aku pasti akan dikalahkan Tin-lam-jit-hou
walaupun jiwaku dan keselamatan anak Wan bisa diselamatkan,” kata Giam Seng-to.
Bing-sia menjadi heran dan kejut, ia tahu pamannya itu terkenal sebagai Cwan-se-tayhiap (pendekar
Sucwan barat), betapa tinggi ilmu silatnya tidak perlu dijelaskan. Tapi kedengarannya hampir2 dia
sukar menyelamatkan diri bilamana tidak ditolong oleh pemud yang bertamu tadi.
Tiba2 terdengar Giam Seng-to bertanya: ‘Bing-sia, kau sudah bertunangan belum?”
Airmuka Bing-sia menjadi merah, sahutnya dengan kikuk: “usiaku masih terlalu muda, selamanya
ayah juga tak pernah bicarakan soal ini denganku.”
“Apakah kau bermaksud menjadi comblang bagi Bing-sia?” sela Giam-hujin dengan tertawa.
“Benar,” sahut Giam Seng-to. “Kebetulan sekarang ada seorang calon yang setimpal, Cuma sayang
entah kapan barulah Siau-kang dapat pulang, mungkin aku sendiri tiada tempo buat mengunjungi
dia di Kanglam.”
“Tidak, tidak, aku akan mengawani ayah untuk selama hidup,” kata Bing-sia dengan muka merah
jengah.
“Ah, omongan anak kecil saja,” goda Giam-hujin. “Tapi usia Bing-sia memang benar masih terlalu
kecil, maka persoalan ini boleh dibicarakan lagi kelak. O, ya, akupun tidak tahu maksud kedatangan
orang itu. Apakah dia inginkan sesuatu berhubung dia merasa pernah menolong kau?”
“terkaanmu benar separo saja,” jawab Giam Seng-to.
“Paman,sudilah kau menceritakan kisahmu dahulu?” tiba2 Bing-sia menyela.
“Benar, ada baiknya juga kuceritakan padamu agar angkatan muda seperti kalian ini bisa lebih tahu
betapa culasnya orang kangouw pada umumnya, bahwasanya diatas langit masih ada langit, orang
pandai masih ada yang lebih pandai,” kata Giam Seng-to. “Permulaan tahun ini aku membawa anak
Wan pergi ke Siau-kim-jwan untuk menemui seorang Supeknya, guru Wan-ji adalah Bu-siang Sinni,
ketua Go-bi-pay sekarang, tapi paman gurunya itu tinggal mengasingkan diri di Jing-tiok-lim
didaerah Siau-kim-jwan.
“Keberangkatanku itu tidak terjadi apa2, tapi waktu pulang, ketika lewat di Jing-liong-kang yang
tempatnya berbahaya itu telah ketemu dengan Tin-lam-jit-hou (tujuh harimau dari Tin-lam (Yunan)
Selatan). Ketujuh orang itu adalah bandit terkenal didaerah Tin-lam, mereka angkat saudara dan
menyebut diri mereka sebagai tujuh harimau. Entah mengapa merekapun datang ke Siau-kim-jwan
dan kebetulan kepergok ditengah jalan.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“aku memang ada sedikit perselisihan denganToan Tiam-jong, kepala dari Tin-lam-jit-hou itu, kini
kepergok ditengah jalan sudah tentu sukar menghindarkan pertarungan sengit. Aku sudah melukai
dua orang diantara mereka, sebaliknya kena disambit senjata rahasia berbisa oleh Toan Tiam-jong,
dibawah kerubutan mereka, akhirnya aku terkepung dan sukar meloloskan diri. Pada saat yan gawat
itu, aku sudah nekat akan mengadu jiwa dengan mereka, tiba2 terdengar suara derapan kaki kuda,
datanglah seorang penolong ksatria muda yang bernama Kok Ham-hi, yaitu tamu yang datang tadi.”
“Kok Ham-hi?” diam2 Bing-sia mengulangi nama itu didalam hati. “Aneh, belum pernah terdengar
nama ini. Mengapa seorang ksatria muda begini tak pernah kudengar dari cerita ayah? Apakah ayah
juga tidak mengenalnya?”
“Ilmu silat pemuda she Kok itu sangat hebat,” demikian Giam Seng-to melanjutkan, “Dengan ilmu
pedang dan pukulannya dia melukai pula dua orang diantara Tin-lam-jit-hou, jadi sudah lebih
separo diantara ketujuh orang itu sudah terluka, sisanya merasa tidak sanggup melawan lebih jauh,
terpaksa mereka melarikan diri dengan membawa kawan2nya yang luka. Ai, sungguh memalukan
jika dipikir. Aku sudah malang melintang seumur hidup di dunia kangouw, siapa tahu diwaktu tua
harus menerima budi pertolongan dari seorang muda.”
“Bagaimana asal usul orang itu?” tanya Bing-sia.
“Waktu itu aku terluka senjata rahasia berbisa sehingga tidak sempat bicara dengan dia,” sahut
Giam Seng-to. “aku Cuma tanya namanya, lalu mengundangnya kemari untuk bertemu kembali.
Kedatangannya hari ini adalah untuk ememnuhi undanganku itu.”
“Ya, akupun ingin tanya padamu, apakah kini kau sudah tahu asal usulnya?” sela Giam-hujin. “Dan
apa pula maksud tujuan kedatangannya hari ini? Inginkan balas budi darimu atau ada kehendak
lain?”
“Semula anak Wan ikut hadir, kuatir timbulkan salah paham, aku meras tidak enak untuk tanya asal
usulnya,” tutur Giam Seng-to. “Kemudian setelah Wan-ji mengundurkan diri, dalam pembicaraanku
dengan dia, rasanya kurang cocok, tidak lama kemudian iapun ter-buru2 mohon diri, maka kembali
aku tidak sempat menanyai dia.”
Dengan rasa ingin tahu Bing-sia menyela pula: “Jika orang ini pernah membantu kesukaran paman,
pada saat berbahaya, mengapa dalam pembicaraan kalian terasa tidak cocok pula?”
“Sebagai seorang yang merasa hutang budi, undanganku padanya agar berkunjung kesini adalah
karena aku ingin tahu apakah diapun ingin bantuanku untuk menyelesaikan sesuatu,” tutur Giam
Seng-to. “Tak kuduga, setelah mengetahui maksud tujuan kedatangannya, aku sendiri menjadi serba
susah. Terpaksa aku memberi gambaran secara samar2 bahwa persoalan yang dia inginkan terpaksa
takbisa kuterima.”
“Dia inginkan apa darimu?” tanya Giam-hujin.
“Dia tidak langsung memohon padaku,soal demikian memangnya jugatidak leluasa dikatakan
langsung padaku olehnya sendiri,” sahut Giam Seng-to dengan ogah2an untuk menjelaskan
persoalan yang sebenarnya.
“Sesungguhnya urusan apa? Yang hadir disini toh tiada orang luar, boleh terangkan saja,” ujar
Giam-hujin.
“Dia membawa surat dari tokoh Jing-sia-pay Giok-hong Totiang, isi suratnya ada maksud
melamar,” tutur Giam Seng-to.
Sejak tadi Giam Wan ikut mendengarkan dengan prihatin, mukanya menjadi merah ketika
mendengar ayahnya bilang “melamar”, sebab sudah jelas yang dilamar adalah dia.
“O, kiranya Giok-hong Totiang mendak menjadi perantara bagi Piauci, kan baik sekali urusan ini?”
ujar Bing-sia. Dalam anggapannya, pemuda she Kok itu berilmu tinggi, cakap pula serta pernah
menolong pamannya, kalau dijodohkan sang Piauci jelas adalah pasangan yang sangat setimpal.
Tapi sekilas dilihatnya air muka sang paman rada masam2, hal ini membuatnya bingung juga.
Giam-hujin telak meliriki Bing-sia, agaknya merasa sinona terlalu banyak ikut bicara, dengan
hambar nyonya rumah itu berkata padanya: “Piaucimu sudah punya tunangan.”
Keruan Bing-sia menjadi kikuk, cepat ia berkata: ‘O, jika begitu aku harus ucapkan selamat kepada
piauci, maafkan aku tidak tahu sebelum ini. Siapakah tunangan Piauci?”
“Putera seorang pamanmu, anak murid Bu-tong-pay, Thio Goan-kiat namanya,” kata Giam-hujin.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Kemudian Giam Seng-to menutur pula: “Setelah membaca surat Giok-hong Totiang, aku tidak
memberi komentar apa2. Setelah mengobrol sejenak barulah aku beritahukan kepada tamu kita
bahwa tanggal delapan bulan dua tahun depan nanti diharap dia dan Giok-hong Totiang sudi hadir
meramaikan perjamuan yang akan kita adakan. Hah, demi mendengar ucapanku itu, air mukanya
sebentar merah dan sebentar lagi pucat, lalu mohon diri padaku. Aku merasa tidak enak, tapi apa
boleh buat. Jika urusan lain, biarpun masuk lautan api juga akan kulakukan untuk membalas
budinya.”
“Anak Wan,” Giam-hujin berkata dengan nada dingin, “Kau adalah gadis yang hampir menikah,
selanjutnya tingkah-lakumu harus dijaga sebaiknya. Meski orang itu ada budi terhadap kita, namun
kau sudah menjumpainya sekali sebagai tanda terima kasih padanya, selanjutnya kau jangan
berhubungan lagi dengan dia.”
“Jika ibu mencurigai aku, boleh aku ditutup saja didalam kamar,” sahut Giam Wan. “Hm, ada
hubungan apa antara dia dengan aku? Jika ayah tidak suruh aku menemuinya masakah aku tahu
siapa tamu kita tadi?”
“Aku Cuma mengingatkan kebaikan bagimu saja untuk menjaga segala kemungkinan, mengapa kau
uring2an padaku?” kata Giam-hujin.
“Sudahlah, urusan sudah lalu tak perlu dipikirkan lagi,” sela Giam Seng-to. “Kukira selanjutnya
diapun takkan datang lagi kesini.”
“Aku memang tidak perlu pikir lagi, tapi bagaimana kau bisa melupakan dia?” ujar Giam-hujin.
“Kau telah utang budi padanya, sebelum membalas kebaikan orang apakah hatimu bisa tenteram?”
“kau memang istriku yang sejati,” sahut Giam Seng-to dengan tertawa. “Aku memang tidak biasa
menerima kebaikan dari orang lain, apalagi kebaikan dari anak muda, mau tak mau aku harus
mencari jalan untuk membalasnya. Cuma sayang kita tidak mempunyai anak perempuan yang lain.”
Giam-hujin memandang sekejap kepada Bing-sia, lalu bertanya: “Anak Sia, bagaimana pendapatmu
tentang pemuda she Kok itu?”
“Aku tidak kenal dia, darimana bisa tahu?” sahut bing-sia. “Cuma dia mampu menolong paman,
tentu ilmu silatnya sangat tinggi.”
“Ya, orangnya juga cakap,” sambung Giam-hujin. “Hanya asal usulnya saja yang tidak jelas. Tapi
soal inipun gampang, Giok-hong Totiang adlah teman baik pamanmu, kelak kita dapat mencari
keterangan kepada Giok-hong Totiang.”
Betapapun bodoh Bing-sia juga tahu apa maksud sang bibi itu, apalagi dia adalah gadis cwerdik,
hanya usianya masih kecil, dalam soal laki2 dan perempuan belum pernah terpikir olehnya. Namun
kini iapun sadar akan kata2 paman dan bibinya itu, pikirnya: “Pantas berulang paman menanyai aku
sudah tunangan belum, kiranya dia bermaksud menggunakan diriku untuk membalas budi kebaikan
orang. “Hm, padahal yang disukai orang itu adalah Piauci, masakah aku yang hendak dijadikan
pengganti, sungguh paman dan bibi terlalu menilai rendah dan tidak menghormati diriku.”
Sebagai seorang nona yang berhati polos bersih, krena hatinya kurang senang, pada wajahnya lantas
kelihatan. Maka ia tidak memberi reaksi apa2 lagi dan membiarkan paman dan bibinya bicara
sendiri.
Rupanya Giam Wan dapat merasakan suasana yang kurang harmonis itu. Segera ia mohon diri dan
mengajak Bing-sia kembali kekamarnya.
Setelah masuk kamar dan tutup pintu, dengan tertawa Giam Wan lantas berkata kepada Bing-sia:
“Memang begitulah sifat ibu, sungguh akupun ikut rikuh. Tentunya Piaumoay merasa kepala pusing
oleh kata2nya tadi bukan?”
“kalau tabiat ayahku cukup dapat mengikuti pikiran anak muda,” ujar Bing-sia. “Tapi biarpun bibi
rada keras terhadapmu, betapapun juga timbul dari kasih sayang seorang ibu yang ingin kan
kebaikan anaknya.”
“Aku sangat iri mempunyai baik seperti kau.” Kata Giam Wan. “malahan ibuku juga sangat sayang
padamu, kau paham tidak, beliau tadi bermaksud menjadi comblang bagimu, dan bagaimana
dengan pendapatmu?”
“Yang dilamar adalah kau, bagaimana pendapatmu sendiri belum lagi kau katakan padaku,” kata
Bing-sia dengan tertawa.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Tiba2 airmuka Giam Wan berubah masam, matanya menjadi merah basah. Bing-sia menjadi
menyesal akan ucapannya itu, cepat ia menambahkan: ‘Maaf, Piauci aku sembarangan omong dan
melupakan kau akan menikah beberapa bulan lagi. Bakal Piaucihu (kakak ipar) adalah anak murid
aliran ternama, ilmu silatnya tentu pilihan. Apakah kalian sudah pernah bertemu muka?”
“Kami dipertunangkan sejak kecil,” sahut Giam Wan. “Dia pernah kemari, tapi aku tak pernah
menjumpai dia. Sudahlah, kita jangan bicara soal ini lagi. Bagaimana kalau kau mengajarkan
beberapa jurus ilmu pedang ajaran ayahmu yang terkenal sakti itu?”
Bing-sia menduga tentunya Giam Wan tidak begitu suka kepada calon suaminya itu. Maka iapun
tidak tanya lebih jauh, segera mereka bicara urusan ilmu silat masing2 dan saling tukar pikiran,
karena perangai keduanya hampir sama, maka satu sama lain merasa saling mencocoki.
Malamnya Bing-sia tidur sekamar dengan Giam Wan. Sebelum tidur Giam Wan menyalakan dupa
kayu wangi disuatu anglo kecil, katanya: “Bau kayu cendana yan harum mempunyai kasiat
menenangkan pikiran, maka aku menjadi biasa tidur dengan membakar dupa ini.”
Bing-sia coba menghirup bau harum itu, tanpa terasa ia menguap ngantuk, katanya: “Ya, sedap
sekali baunya, aku menjadi ingin tidur juga.”
“kau tentu sangat lelah dalam perjalanan, memangnya kau perlu tidur dengan senyenyaknya,” kata
Giam Wan dengan tertawa.
Semalaman tiada kejadian apa2, besok paginya ketika Bing-sia mendusin, ia melihat matahari sudah
terbit tinggi diangkasa, ternyata bangunnya justru Giam Wan yang memanggilnya. Bing-sia
mengira badannya terlalu capek sehingga tidurnya begitu lelap, maka iapun tidak menaruh
perhatian apa2.
Sejak itu, setiap hari selalu begitu saja, bila iseng, kedua saudara misan lantas berlatih silat ditaman
bunga. Melihat keakraban kedua nona itu, Giam Seng-to suami istri juga sangat senang. Lantaran
urusan tempo hari suasana menjadi kurang menyenangkan, maka baik Giam-hujin maupun Bing-sia
selalu menghindarkan persoalan yang menyangkut “si dia” bagi Giam Wan itu.
Selama tinggal dirumah sang bibi, selain terkadang merasa sang bibi agak cerewet, tapi pada
umumnya Bing-sia merasa kerasan tinggal disitu. Cuma setelah lewat beberapa hari, ada sesuatu
yang membuat Bing-sia rada heran, yaitu setiap pagi hari terjadi seperti pagi hari kedua ketika dia
datang, selalu Giam Wan yang membangunkan dia, kalau tidak mungkin sekali Bing-sia akan
tertidur sampai siang hari.
Setiap malam sebelum tidur, seperti biasa Giam Wan pasti menyalakan dupa wangi. Lewat
beberapa hari, mau tak mau tombul curiga Bing-sia. Pikirnya didalam hati: “Malam pertama itu bisa
jadi aku terlalu lelah sehingga tidurnya lupa daratan. Tapi sesudah sekian hari, mengapa tidurku
masih tetap begini lelap? Biarpun dupa wangi ini mempunyai kasiat menenangkan pikiran, rasanya
toh tidak sampai lup bangun terus2an?”
Ayah Bing-sia adalah seorang kangouw kawakan, pada umumnya orang yang biasa berkelana di
kangouw tentu membekal beberapa macam obat2an, seperti obat luka dan obat penawar racun.
Beng Siau-kang mempunyai obat penawar bikinan sendiri, namanya Giok-loh-wan, pil embun
putih, sangat mujarab untuk menyegarkan pikiran bila terkena obat bius. Maka bila keluar rumah
Bing-sia sendiri juga membawa beberapa macam obat itu sebagaimana ayahnya sering memberi
pesan agar siap sedia bagi segala kemungkinan, terutama menghadapi orang kangouw yang culas
dan jahat.
Sudah tentu Bing-sia percaya Giam Wan takkan membikin celaka padanya, yapi ia menyangsikan
dupa cendana yang dibakar sang piauci itu apakah obat tidur? Kalau tidak mengapa tidurnya begitu
lelap sehingga waktu pagi selalu mesti dibangunkan?
Karena itu, malamnya Bing-sia telah minum obat penawar lebih dulu serta memperhatikan setiap
gerak gerik sang piauci. Kira2 mendekati tengah malam, didengarnya ada suara kresak kresek,
kiranya diam2 Giam Wan telah bangun dan ganti pakaian. Dari cahaya bulan yang menembus
masuk melalui jendela samar2 terlihat Giam Wan mengganti pakaian hitam mulus, yaitu pakaian
peranti keluar malam.
Baru sekarang Bing-sia paham duduknya perkara: “Kiranya setiap malam piauci selalu keluar
kamar dengan mengelabui diriku. Dan kemanakah dia pergi?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Dasar usianya masih muda, hakikatnya dia tidak pikir bahwa sang piauci sengaja keluar rumah
malam2 diluar tahunya, maka sepantasnya dia mesti menghindari mencari tahu rahasia sang piauci.
Karena rasa ingi ntahu, ia berbalik menguntit dibelakang giam Wan secara diam2.
Ginkang Bing-sia jauh lebih tinggi daripada Giam Wan, apalagi sudah beberapa malam Giam Wan
melihat Bing-sia tidur seperti babi, mimpipun ia tidak menyangka bahwa malam ini bisa terkecuali,
sebab itulah sedikitpun ia tidak curiga diiukuti Bing-sia.
Dibawah sinar bulan yang remang2, Bing-sia menguntit masuk hutan cemara dibelakang rumah
keluarga Giam itu. Tiba2 didengarnya sang Piauci bertepuk tangan pelahan tiga kali, menyusul
didalam hutan ada orang membalas tepuk tangan tiga kali pula. Baru sekarang Bing-sia tahu sang
Piauci ada perjanjian bertemu dengan orang, ia menjadi menyesal telah menguntit datang, sungguh
tidak pantas dia mengintip rahasia orang.
Akan tetapi sudah terlambat biarpun ia bermaksud memutar balik, terpaksa Bing-sia melompat
keatas pohon yang rindang agar tidak diketahui orang yang akan ditemui Giam Wan itu.
Baru saja Bing-siamenyembunyikan diri, tiba2 sesosok bayangan sudah melayang tiba.
Ketika Bing-sia memandang dari atas, ternyata pendatang ini adalah pemuda cakap she Kok yang
bertamu kerumah Giam Wan itu. Keruan ia terkejut, kiranya orang ini belum pergi, tapi setiap
malam mengadakan pertemuan rahasia dengan Piauci disini. Ai, sungguh berani dia, begitu pula
Piauci, kalau diketahui oleh paman dan bibi entah akan bagaimana akibatnya?
Dalam pada itu terdengar Kok Ham-hi lagi berkata: “Adik Wan, malam ini mungkin adalah
pertemuan kita yang terakhir, maka aku datang untuk mohon diri padamu.”
Rupanya Giam Wan terkejut, tanyanya: “Apa kau, kau akan pergi?”
“benar,” sahut Kok Ham-hi. “Besok juga aku pulang. Cara kita in ikukira bukan cara yang baik.
Aku selalu kuatir bagi dirimu yang keluar menemui aku setiap malam. Kata peribahasa: “Terlalu
sering naik gunung akhirnya pasti kepergok harimau. Pada suatu hari perbuatan kita ini pasti akan
diketahui oleh ayah bundamu. Padahal ayah-bundamu begitu keras, mungkin kau akan dianggap
merusak nama baik keluarga dan takkan mengampuni dirimu.”
“kau jangan kuatir tentang ini, ayah-ibuku pasti takkan tahu,” kata Giam Wan dengan tertawa.
“Berdasar apa kau begitu yakin?” tanya Kok Ham-hi.
“Sebab dirumahku telah datang seorang tamu,” tutur Giam Wan.
“O ya, tempo hari kau dipanggil pelayan, katanya ada tamu yang datan gdari jauh, hal mana belum
kutanyakan padamu sampai sekarang. Siapakah gerangan tamu itu? Tapi apa sangkut pautnya
dengan persoalan kita ini?”
“Kau pasti sudah kenal nama ayah tamu kami itu, dia adalah putri kesayangan Kanglam-tayhiap
Beng siau-kang, terhitung Piaumoayku pula.”
“O, kiranya Kanglam-tayhiap Beng Siau-kang adalah pamanmu, ya, memang sudah lama aku
mengagumi namanya. Cuma dengan kedatangan Piaumoaymu itu, bukankah kau bertambah satu
rintangan, mengapa kau malah anggap lebih leluasa untuk menemui aku?”
“Jika aku sendirian, mungkin sekali ibu akan mengawasi aku dengan se-keras2nya. Tapi kini
Piaumoayku datang dantidur sekamar dengan aku, betapapun ibu pasti tidak menyangka aku selalu
keluar menemui kau setiap tengah malam.”
“Apakah kau telah menceritakan persoalan kita kepada Piaumoaymu dan sudah bersekongkol
dengan dia agar menutupi rahasiamu?”
“Tidak,” kata Giam Wan. “Setiap malam aku mencampurkan sesuatu wewangian dikala membakar
dupa gaharu, namanya Hek-kam-hiang, kasiatnya sama seperti dupa pembius, setiap orang yang
menyedot bau harum dupa itu tentu akan tertidur nyenyak sampai pagi, bahkan takkan mendusin
bila tidak dibangunkan.”
Kok Ham-hi tampak geleng2 kepala, katanya: “Cara begini hanya bisa langsung untuk sementara
saja dan tidak bisa berlangsung selamanya. Bahwa rasanya juga tidak pantas memperlakukan
Piaumoaymu secara demikian.”
“Aku terpaksa,” kata Giam Wan. “Mestinya aku ingin minggat bersama kau, tapi kau tidak mau.
Coba katakan,apakah kau punya akal baik bagi hari depan kita?”
“En …….. entahlah, akupun tidak tahu,” sahut Kok Ham-hi dengan menghela napas. “Tapi aku
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tahu musim semi tahun depan kau akan menikah, ayahmu sendiri yang memberi tahukan hal ini
padaku. Maka aku tak dpat merusa nama baik dan kesucian dirimu.”
“O, jadi kau anggap persoalan kita sudah tak bisa diubah, makanya ingin pergi saja dan habis
perkara?”
“Ti ………… tidak, tidak, aku bukan manusia demikian, hendaklah kau jangan salah paham,” cepat
Kok Ham-hi menjawab. “Tapi, ai, entah apa yang harus kukatakan, aku sendiri belum ada akal yang
baik, Cuma, Cuma ……………”
Tiba2 Giam Wan mengikik tertawa, katanya: ‘Aku malah mempunyai pendapat yang baik.”
“Pendpat baik apa?” tanya Ham-hi.
“Tentang Piaumoayku,” sahut Giam Wan. “Baik wajahnya maupun ilmu silatnya adalah kelas
pilihan, hanya sayang usianya masih sedikit muda.”
Mendengar dirinya disinggung, diam2 Bing-sia mengomeli kebrengsekan sang Piauci.
Tapi Kok Ham-hi lantas berkata dengan sikap sungguh2: “Adik Wan, jangan kau sembarangan
bergurau. Dalam hatiku hanya ada kau seorang, masakah kau masih tidak percaya padaku? Pendek
kata, hubungan kita andaikata takbisa berlangsung maka selama hidup ini akupun takkan menikah.”
“Memangnya kau bertekad begitu, apakah aku takkan sama?” ujar Giam Wan. “Betapa nama
baikku akan rusak seperti katamu, bila kita berdua tak bisa terikat menjadi suami istri, masakah aku
mau dinikahkan dengan orang lain?”
“Bukan maksudku hendak meninggalkan kau dan habis perkara, aku Cuma ingin pulang untuk
berunding dengan Giok-hong Totiang, ingin kuminta beliau memikirkan akal yang baik bagi kita
berdua. Begitu pula disini kaupun dapat berdaya upaya dengan segala usaha …………. “
“Aku bisa berdaya apa? Kukira tiada jalan lain kecuali minggat bersama!”
“Tapi, tapi kau masih dapat membujuk ibumu, anak perempuan tentu lebih leluasa bicara dengan
ibu sendiri. Kau jangan malu, ceritakan terus terang saja pada ibumu bahwa orang yang kaucintai
adalah diriku, mohon beliau menyempurnakan jodoh kita ini, kukira bibi tentu akan meluluskan
permintaanmu.”
Giam Wan menggeleng, katanya dengan menghela napas: “Biarlah kukatakan terus terang
kepadamu, seperti mimpi saja jika kau ingin aku minta bantuan ibu. Watak ibu lebih sukar didekati
daripada ayah. Sedikitnya ayah masih ingat kepada budi pertolonganmu dan menyatakan akan
membalas kau. Sebaliknya ibu malah melarang aku bertemu lagi dengan kau. Setiap hari dia selalu
mengajar aku agar taat kepada tata adat, sedapat mungkin aku akan dipingit dan harus menuruti
jalan pikirannya. Coba, cara bagaimana aku harus bicara dengan dia?”
“Jika demikian mohon saja kepada ayahmu, mungkin ada harapan?” kata Ham-hi.
Kembali Giam Wan menghela napas, katanya: “Keluarga Thio adalah kawan baik ayah, dia pasti
tidak mengizinkan dibatalkannya perjodohanku. Meski sifat ayah tidak sekukuh ibu, tapi beliau juga
seorang yang suka menjaga nama baik, hal2 yang dianggapnya akan merusak kehormatan keluarga
betapapun takkan dilakukannya. Dengan bantuanmu kepada ayahku di Siau-kim-jwan, tadinya
kukira urusan kita akan ada perubahan, siapa tahu masih tetap begini. O ya, aku menjadi ingin tanya
padamu, mengapa tempo hari sedemikian kebetulan sehingga kau memergoki kejadian itu?”
“Bukan kebetulan, tapi aku sengaja mengikuti kalian,” sahut Kok Ham-hi tertawa. “Kau
mengatakan akan mengadakan perjalanan ke Siau-kim-jwan, maka aku sudah menunggu hampir
sebulan dijalanan sana, malahan Tin-lam-jit-hou baru datang kemudian.”
Sampai disini baru Bing-sia tahu duduknya perkara, sang Piauci dan Kok Ham-hi sudah lama kenal,
jadi bukan sekali melihat lantas jatuh cinta.
“Sungguh sayang, jerih payahmu ternyata sia2 belaka,” kata Giam Wan. “Maksudmu akan pulang
berunding dengan Giok-hong Totiang kukira takbisa banyak menolong persoalan kita. Biarpun
Giok-hong Totiang adalah orang yang dihormati ayahku, tapi lebih penting adalah kehormatan
keluarga, betapapun ayah takkan sudi punya anak perempuan yang membatalkan pertunangan yang
dia tetapkan sendiri.”
“Jika begini, jadi kita benar2 tidak punya akal lagi?” kata Ham-hi.
“Dengan caraku, kau sendiri tidak setuju,” ujar Giam Wan sambil menghela napas.
“Minggat maksudmu?” Ham-hi menegas.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“benar. Selain minggat masakah masih ada jalan lain?”
“Apakah takkan membikin murka ayah-bundamu nanti? Aku kuatir kau takkan tahan omongan
iseng orang luar, kelak kau akan malu didepan umum, kau bisa menyesal.”
“Sudah kupikirkan sebelumnya, memang kepergian kita begini saja tentu akan membikin ayah ibu
marah besar, tentu aku takkan diakui lagi sebagai anak. Tapi selang tiga atau lima tahun lagi bila
ayah ibu sudah tambah tua, tentu mereka akan merindukan diriku. Tatkala mana kita dapat mohon
ampun kepada mereka, kukira beliau2 itu besar kemungkinan akan menerima kembali kita.
Mengenai omongan iseng orang luar hakikatnya tidak menjadi soal bagiku. Ini adalah urusan
pribadi kita berdua, asalkan kita bahagia, peduli apa dengan omongan orang lain?”
Mendengarkan sampai disini, diam2 Bing-sia memuji akan tekad sang Piauci yang teguh itu,
sebagai lelaki tampaknya Kok Ham-hi malahan penakut. Sebenarnya Bing-sia sendiri semula tidak
dapat menyetujui cara minggat sang Piauci itu, tapi sekarang tanpa terasa ia menjadi terpengaruh
oleh keberanian Giam Wan itu dan berbalik kuatir kalau Kok Ham-hi tidak berani menerima ajakan
Giam Wan.
Pada saat itulah ada angin meniup semak2 rumput berkeresekan, lantaran sedang mendengar
denganpenuh perhatian, sama sekali Bing-sia tidak tahu bahwa suara desiran angin itu rada2 luar
biasa.
Tiba2 terdengar Kok ham-hi berkata dengan tegas: “Baik, jika kau tidak takut apalagi yang
kutakuti? Apakah kau perlu pulang dulu kemasi barang2mu?”
“Tidak, aku Cuma inginkan kau, lain2 aku tidak perlu lagi,” ujar Giam Wan dengan tertawa girang.
“baik, sekarang juga kita lantas berangkat!” ajak Ham-hi.
Tapi mendadak suara seorang menjengeknya: “Hm, berangkat? Apakah begitu gampang
sesukamu?”
Menyusul dari semak2 rumput sana se-konyong2 melompat keluar lima orang, yang bersuara itu
adalah seorang pemuda berumur likuran, tangan memengang pedang, mukanya bersengut, terang
menahan gusar yang tak terhingga.
Keruan Kok Ham-hi terkejut. “Kau …..kau si …….. “ belum lagi habis kata “Siapa” terucapkan
dalam hati ia sudah paham beberapa bagian sehingga tidak jadi tanya lebih lanjut.
Pemuda tadi menjengek pula: “Hm, orang she Kok, mungkin kau tidak kenal aku, tapi perempuan
hina itu tentu kenal diriku.”
Seorang laki2 jangkung yang mengikut disebelahnya lantas mendengus pula: “Nah, sudah
kukatakan bakal binimu bergendakan dengan orang lain, tapi kau tidak percaya, sekarang kau
menyaksikannya sendiri bukan? Tangkap maling tangkap bukti, tangkap perjinahan tangkap
dua2nya, sekarang mereka tertangkap basah, bukti sudah nyata, buat apa kau banyak cingcong lagi
dengan mereka.”
Kiranya pemuda tadi adalah bakal suami Giam Wan, yaitu Thio Goan-kiat. Dia pernah berkunjung
kerumah Giam Seng-to beberapa kali, meski Giam Wan tidak pernah menemuinya, tapi pernah juga
mengintip dari balik kerai, maka kenal padanya.
Tiga orang lainnya juga dikenali Giam Wan sebagai saudara seperguruan Thio Goan-kiat, hanya
laki2 jangkung itu saja tidak diketahui siapa gerangannya.
Dengan nada dingin Giam Wan lantas menanggapi: “karena kau sudah menyaksikan sendiri,
makaakupun tidak perlu mendustai kau. Yang kusukai adalah dia, aku tidak mau menikah padamu.
Perjodohan ini ditentukan oleh ayahku, maka boleh kau mencari ayah untuk membatalkan
pertunangan kita.”
Jilid 10 bagian kedua
Ucapan Giam Wan ini benar2 sangat mengagetkan. Maklumlah, pada jaman dinasti Song itu, pada
umumnya orang sangat mengutamakan tata krama, taat pada adat istiadat, soal jodoh anak berada
ditangan orang tua, dengan perantara comblang juga sudah umum. Sungguh bakal suami Giam Wan
itu mimpipun tidak menduga tunangannya dapat mengucapkan kata2 demikian, saking gusarnya
sampai sekijur badannya terasa dingin semua.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Perempuan hina dina,” segera Kiau Goan-cong, Toasuheng Thio Goan-kiat mendamprat,
“Sungguh berani kau mengucapkan kata2 begitu! Thio-sute, kau tidak tega turun tangan biar aku
yang mewakilkan kau!”
Habis berkata serentak kelima jarinya sebagai kaitan telah mencengkeram kepundak Giam Wan
dengan Kim-na-jiu-hoat yang lihai. Bila sampai terpegang, tulang pundak Giam Wan pasti akan
remuk.
Sudah tentu Kok Ham-hi tidak tinggal diam, melihat bahaya mengancam Giam Wan itu, segera ia
melompat maju, sekali tangkis ia bikin Kiau Goan-cong tergetar mundur.
Rupanya Goan-cong dapat merasakan kelihaian lawan, dengan gusar ia berseru: ‘Ki-sute dan Niosute,
kalian bekuk perempuan hina itu. Thio-sute, bocah keparat ini telah merebut bakal istrimu,
apakah kau telan mentah2 penghinaan demikian dan terima menjadi pengecut?”
Kiranya Hiau Goan-cong biarpun terhitung Toa-suheng, tapi diantara anak murid Bu-tong-pay
angkatan kedua yang paling tinggi ilmu silatnya adalah Thio Goan-kiat, smsutenya, sebab itulah
Kiau Goan-cong sengaja membikin murka sang sute untuk membantunya karena dia sendiri merasa
bukan tandingan Kok Ham-hi.
Thio Goan-kiat tertegun sejenak, lalu sepeerti tersadar dari impian buruk,namun bakal istrinya
bergendakan dengan pemuda lain adalah kenyataan dan bukan khayal belaka. Seketika timbul napsu
membunuhnya, demi mendengar olok2 sang Toasuheng tadi, dengan murka ia terus melolos pedang
dan menubrk kearah Kok Ham-hi sambil membentak: “Kperata, biar aku mengadu jiwa padamu
saja!”
Disebelah lain Jisuhengnya, Ki Goan-lun dan Si-sutenya, Nio Goan-hian, keduanya juga sudah
lolos pedang mengerubuti Giam Wan.
Dengan gusar Giam Wan lantas mendamprat: “Sebenarnya aku tidak ingin gubris kalian mengingat
hubungan ayah dengan Bu-tong-pay kalian, tapi kalian sengaja menista diriku dan main kekerasan,
memangnya kau sangka aku Giam Wan boleh sembarangan disakiti?
Berbareng itu pedangnya lantas bekerja, dengan dua jurus kekanan dan kekiri, sekaligus ia patahkan
serangan kedua pengeroyoknya. Menyusul ia berseru pula: ‘Kok-toako,orang tidak sungkan
padamu, buat apakah kau segan kepada mereka?”
Kepandaian Thio Goan-kiat memang benar hebat diantara anak murid Bu-tong-pay angkatan muda,
meski di tengah kemurkaan dia masih dapat menyerang dengan sangat lihai, sekali sinar pedang
berkelebat, tahu2 ujung pedangnya sudah sampai didepan tenggorokan Kok Ham-hi, hampir
berbareng dengan itu kedua telapak tanagn Kiau Goan-cong juga menyerang sekaligus, tangan kiri
menyodok kedada dan tangan kanan menabok batok kepala Kok Ham-hi.
Kedua saudara seperguruan itu menyerang bersama, serangan mereka sekaligus hendak mematikan
lawannya. Dalam keadaan demikian betapapun sabarnya Kok Ham-hi juga tidak tahan lagi.
Pikirnya: “Sekalipun kau dendam karena aku merebut tunanganmu, tidak seharusnya kau
menyerang aku secara begitu keji.” ~ dengan gusar iapaun tidak sungkan2 lagi, segera iapaun balas
menyerang.
Ditengah bayangan pukulan dan sinar pedang terdengarlah suara mendering nyaring memekak
telinga. Kiranya sekejap itu Kok ham-hi juga sudah mengeluarkan pedangnya, dengan pedang
melawan pedang dan tangan lain melawan pukulan musuh, ber-turut2 ia gempur mundur Thio
Goan-kiat dan Kiau Gioan-cong berdua.
Kepandaian Thio Goan-kiat lebih tinggi dari Suhengnya, dalam sekejap saja ia sudah menyerang
delapan kali, sebab itulah benturan kedua senjata menerbitkan suara mendering yang mengerikan.
Pada jurus serangan kesembilan, “sret”, baju Thio Goan-kiat tertusuk oleh pedang Kok Ham-hi,
keruan Thio Goan-kiat terkejut dan lekas2 melompat jesamping. Sedangkan Kiau Goan-cong hanya
sanggup menerima tiga kali pukulan Ham-hi, lebih dari itu ia sudah tidak kuat, darah dalam rongga
dada terasa bergolak hebat, terpaksa ia melompat mundur untuk ganti napas.
Dengan xcepat sekali Kok ham-hi menangkis, menghindar dan balas menyerang sehingga kedua
jago muda Bu-tong-pay pilihan itu kena didesak mundur, mereka menjadi jeri dan tidak berani
menerjang maju lagi.
“Hm, jika kalian mau bicara pakai aturan, maka aku bersedia minta maaf, namun urusanku dengan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
nona Giam kalian tidak boleh ikut campur,” kata Ham-hi. “Bila kalian hendak main kerubut, jiwa
orang she kok hanya satu, kalau mampu boleh coba kalian merengutnya dariku.”
Rupanya Kiau Goan-cong sudah merasa jeri, ia tidak berani maju lagi. Pada saat itulah tiba2
terdengar suara mendesir ramai, kiranya laki2 jangkung tadi melakukan serangan gelap kepada Kok
Ham-hi dengan senjata rahasia Tau-kut-ting (paku penembus tulang). Tiga buah paku tajam itu
terbagi dari atas-tengah-bawah masing2 mengarah tenggorokan, perut dan bagian selangkangan.
Ketiga tempat ini adalah bagian2 mematikan, kalau salah satu paku itu kena sasarannya, andaikan
Kok ham-hi tidak lantas binasa tentu juga akan terluka parah.
Mengendus bau amis yang menyamber tiba, Ham-hi tahu senjata rahasia musuh berbisa, maka ia
tidak berani ayal, segera ia putar pedangnya dengan cepat, “tring-tring” dua kali, paku2 yan
gmengarah bagian perut dan selangkangan itu kena disampuk hingga terpental balik. Menyusul
Ham-hi mendakkan kepalanya sehingga paku yang mengarah tenggorokan juga kena dielakkan.
Baru Ham-hi hendak bersuara, terdengar sijangkung telah menjengek: ‘Hm, tangkap perjinahan
masakah perlu bicara tentang peraturan kangouw segala?” ~ Berbareng orangnya lantas menerjang
maju, dibawah tabasan goloknya, tangannya yang lain juga ikut menghantam.
Memangnya Thio Goan-kiat sangat gusar, kini melihat sijangkung telah ikut turn tangan, diam2 ia
merasa tidak pantas kalau dirinya tidak menerjang maju lagi, sedangkan orang luar saja sudah turun
tangan membantunya. Bila tidak balas sakit hati direbutnya bakal istrinya, lalu kemana lagi
mukanya akan disembunyikan?
Karena itu, dengan nekat ia menerjang maju lagi sambil membentak: ‘Anak keparat, bisa saja kau
membela diri, bagiku hanya bikin kotor telingaku saja, yang kuinginkan hanyalah jiwamu.”
“bagus, memangnya sudah kukatakan tadi, bilamana mampu bolehlah kau renggut jiwaku ini,”
jawab Kok Ham-hi.
Kiau Goan-cong cukup kenal kepandaian laki2 jangkung, semangatnya menjadi terbangkit setelah
sijangkung ikut turun tangan . Segera ia membentak lagi: “Baik, keparat ini ingin mengadu jiwa,
biarlah kita memenuhi saja harapannya.”
Serentak kiau Goan-cong, Thio Goan-kiat dan si jangkung menerjang dari tiga jurusan. Namun
gerak tubuh Kok ham-hi cepat luar biasa, mendadak ia melayang kesana melalui sela2 dua pohon
cemara tua, maksudnya hendak begabung dengan Giam Wan.
Tak terduga sijangkung juga tidak kalah cepatnya, bahkan dia dapat mendahului selangkah
sehingga menhadang didepan Ham-hi, jengeknya: “Eh, bukankah kau hendak mengadu jiwa,
mengapa mau kabur?”
Begitulah sijangkung lantas menyerang, golok menabas dari atas kebawah, sedangkan tangan yang
lain memutar satu lingkaran, dari kiri ditarik kekanan terus disodok kedepan. Golok dan tangan
menyerang berbareng secara rapi sekali.
Mau tak mau hati Kok ham-hi terkesiap, diam2 ia mengakui kepandaian sijangkung tidaklah lemah
dan tidak boleh dipandang enteng. Yang lebih mengejutkan Kok ham-hi bahkan adalah sinar golok
yang dijangkitkan oleh samberan golok lawan yang melengkung itu, sinar golok yang gemerdep
menyilaukan itu membawa samberan angin yang berbau amis.
Sebagai seorang ahli silat segera Kok ham-hi menyadari bahwa golok yang digunakan sijangkung
itu adalah golok berbisa, bahkan pukulannya juga pukulan berbisa.
Tiada waktu berpikir lagi bagi Kok ham-hi, “sret”, segera pedangnya menusuk, serangan ini
sebenarnya hanya untuk menjaga diri, lihainya luar biasa, yang dia arah adalah tenggorokan lawan,
seketika bacokan sijangkung dapat dipatahkan, sebab musuh terpaksa memutar balik goloknya
untuk menangkis pedang Ham-hi.
Namun demikian pukulan berbisa lawan sukar untuk ditangkis begitu saja, sedangkan sodokan
telapak tangan sijangkung itu sudah tiba, dalam keadaan begitu rasanya tiada jalan lain bagi Ham-hi
kecuali harus menangkis dengan tangan.
Diam2 sijangkung merasa girang, ia yakin bila sampai terjadi adu tangan, biarpun dirinya akan
menanggung sedikit luka dalam, tapi bocah ini terkena pukulanku yang berbisa, rasanya tiada jalan
lain kecuali menuju akhirat alias jiwa pasti melayang.
Selagi orang itu merasa senang, tiba2 dilihatnya Kok ham-hi menjulurkan jari tengah, ujung jari
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tepat mengarah “Lau-kiong-hiat” ditengah telapak tangannya. Keruan sijangkung terkejut, lekas2 ia
menarik kembali tangan sendiri. Sebab kalau tengah telapak tangan sampai tertotok, bukan mustahil
ilmu pukulannya yang berbisa itu akan buyar dan untuk berlatih sedikitnya diperlukan waktu
sepuluh tahun.
Setelah membikin keder lawan dengan totokannya, diam2 Kok ham-hi besyukur bahwa pihak
musuh tidak berani keras lawan keras, sebab kalau sampai terkena pukulan berbisa lawan, biarpun
tidak sampai binasa, sedikitnya akan terluka parah dan pasti sukar lolos dari cengkeraman musuh
yang jumlahnya lebih banyak.
Dalam pada itu ber-turut2 Kiau-Goan-cong dan Thio Goan-kiat lantas menubruk maju lagi. Kok
ham-hi sendiri belum sempat menjaga diri karena baru saja mendesak mundur sejangkung, “bret”
pedang Thio Goan-kiat menyerempet lewat dibahu kirinya sehingga terluka dan berdarah.
“Bocah ini sudah terluka!” seru Kiau Goan-cong dengan girang.
Giam Wan menjadi kuatir, serunya: “Koko-toako, lekas kau melarikan diri, tak perlu memikirkan
diriku!”
Ia tahu kepandaian Kok ham-hi cukup tinggi, kalau satu lawan satu pasti lebih unggul dari
lawan2nya, asalkan Kok ham-hi mau menerjang pergi tentu sukar dirintangi oleh para pengerubut
itu.
Begitulah Kiau Goan-cong lantas mengejek: “Coba saja lari?”
Sedangkan Goan-kiat tambah murka melihat bakal istrinya itu tetap condong kepada “gendak” nya.
Dengan penuh rasa dendam segera ia putar pedangnya semakin kencang. Sementara itu sijangkung
juga sudah menerjang maju lagi. Dengan tenaga tiga orang segera Kok ham-hi terkepung lagi
ditengah.
Disebelah sana kedua anak murid Bu-tong-pay yang lai njuga sedang mengerubut Giam Wan.
Mereka menyerang dengan ganas, Cuma mengingat Giam Wan adalah putri pendekar ternama
didaerah Sucwan barat, betapapun mereka tidak berani mencelakainya, serangan mereka hanya
untuk menggertak saja supaya sinona menyerah.
Sudah tentu Giam Wan tidak terima dihina, “sret sret” dua kali, ia balas menyerang dengan tidak
kurang ganasnya. Karena tak ter-daga2, Ki Goan-lun hampir2 tertusuk mukanya, untung dia sempat
mengegis sehingga kopiahnya saja yang tersampuk jatuh.
Sebagai murid Bu-tong-pay dan terdorong oleh darah muda, tentu saja Ki Goan-lun menjadi murka.
“Perempuan hina, memangnya kau sangka aku takut padamu!” ~ Dengan kalap segera ia
melancarkan serangan tanpa ampun lagi.
Bu-tong-pay terkenal dengan 72 jurus “Lian-goan-toat-beng-kiam-hoat”, ilmu pedang pencabut
nyawa yang hebat, apalagi sekarang mereka berdua menghadapi Giam Wan seorang, betapapun
mereka menang dalam hal tenaga, maka tiada lama Giam Wan sudah mulai terdesak dan tak
sanggup balas meneyrang lagi.
Panca indra Kok Ham-hi sangat tajam, melihat Giam Wan terdesak, tiba2 ia endengus: ‘Hm,
sekarang biarpun kalian mohon kepergianku juga aku tidak sudi.” ~ Se-konyong2 ia meloncat
keatas, sinar pedang berkelebat, langsung ia menerjang kearah Thio Goan-kiat.
Goan-kiat sudah merasakan kelihaian orang, lekas2 ia palangkan pedang untuk menangkis, diluar
dugaan tampaknya Kok Ham-hi menerjang ke arah Goan-kiat, tapi sebelah tangan terus
menggablok kebelakang, maka terdengarlah suara “plak” yang keras tanpa ampun Kiau Goan-cong
yang bermaksud menyergap dari belakang itu kena gampar sekali, akan tetapi punggung Ham-hi
sendiri juga kena oleh pukulan Goan-cong.
Lwekang Ham-hi cukup tinggi, pukulan yang mengenai punggung itu tidak jadi soal baginya. Tidak
demikian dengan Goan-cong, mukanya seketika bengap kena gamparan Ham-hi itu. Rupanya Hamhi
benci kepada mulutnya yang kotor, maka sengaja hajar adat padanya.
Melihat suhengnya kecundang, Goan-kiat menjadi kuatir, cepat ia menusuk untuk mencegah
serangan lebih lanjut kepada sang suheng. Tusukannya cukup lihai dan memaksa musuh harus
menjaga diri lebih dulu. Tak terkira Kok Ham-hi ternyata lebih cepat daripadanya, tusukan Goankiat
itu mengenai tempat kosong dn tahu2 Ham-hi telah melayang lewat sebelahnya.
Sudah tentu Goan-kiat menginsyafi bahaya yang mengancam, tidak memalukan juga sebagai murid
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Bu-tong-pay yan tangguh, mendadak ia mendak kebawah, pedang menangkis keatas untuk
melindungi kepala. Maka terdengarlah suara “trang” yang nyaring, kedua pedang beradu, tangan
Goan-kiat terasa kesakitan, hampir2 pedang terlepas dari cekalan.
Terdengar Kok Ham-hi mendengus sekali, tahu2 sudah berada dua tiga meter didepan sana dan
telah bergebrak dengan si jangkung.
Wajah Goan-kiat menjadi merah, diam2 ia merasa malu dan bersyukur. Maklumlah tadi sebenarnya
Kok ham-hi sudah ada kesempatan untuk menyerangnya terlebih gencar, kalau benar Ham-hi
melancarkan jurus serangan maut, mustahil jiwa Goan-kiat tak melayang seketika. Akan tetapi hal
itu ternyata tidak dilakukan oleh Kok Ham-hi.
Dalam keadaan demikian, biarpun Goan-kiat sangat dendam kepada Kok Ham-hi juga cukup tahu
diri, timbul juga rasa herannya: “Jelas ia tahu aku hendak membinasakan dia, mengapa dia malah
bermurah hati padaku?”
Dalam pad itu terdengar sijangkung sedang membentak: “Jangan temberang, keparat! Hadapi aku
dahulu!” ~ berbareng goloknya lantas menabas dari samping disertai pukulan pula. Baik golok
maupun tangan musuh adalah berbisa, meski kepandaian Kok Ham-hi lebih tinggi dari lawannya
juga sukar mematahkan serangan campuran itu dalam keadaan, apalagi dia harus memikirkan racun
pada senjata dan tangan musuh.
Di sebelah sana, Kiau Goan-cong yang merasakan gamparan Kok Ham-hi tadi, seketika timbul
napsu membunuhnya, dengan murka ia membentak: “Keparat, hari ini bukan kau yang mampus
biarlah aku yang mati!” ~ dengan muka berdarah, seperti kerbau gila saja ia terus menerjang ke arah
Kok Ham-hi.
Thi- Goan-kiat tertegun sejenak, menyusul iapun menyerang maju pula. Gebrakan tadi disadari
Goan-kiat bahwa pihak lawan sengaja bermurah hati padanya, tapi sang tunangan direbut orang,
dendam ini mana bisa dikesampingkan, pula sang suheng sedang bertempur mati2an, mana boleh
dia tinggal diam? Sebab itulah ia harus menempur lagi dengan sengit.
Dengan satu lawan tiga sedikitpun Kok Ham-hi tidak gentar, masih lebih banyak menyerang
daripada diserang. Cuma bahu kirinya sudah terluka,setelah beberapa puluh jurus gerak geriknya
mulai lamban.
Keadaan Giam Wan disebelah sana lebih gawat daripada Ham-hi sendiri, dibawah keroyokan Ki
Goan-lun dan Nio Goan-hian, semula Giam Wan masih sanggup bertahan, tapi setelah puluhan
jurus, lamban laun ia menjadi kewalahan, sampai akhirnya untuk menangkis saja sudah susah.
Pertarungan sengit ini membikin Bing-sia yang mengintip diatas pohon itu ikut ber-debar2. Ia
menjadi ragu2 apakah perlu ikut didalam pergolakan itu atau tidak. Dalam pada itu dilihatnya Giam
Wan sedang menghadapi serangan musuh yang berbahaya, baru saja Bing-sia bermaksud melompat
turun untuk membantu sang Piauci, tiba2 terdengar bentakan Kok Ham-hi yang menggelegar.
Karena gertakan itu, hati Goan-kiat tergetar dan tanpa terasa mundur dua tindak, Goan-cong juga
terdesak mundur oleh pukulan Ham-hi, berbareng itu Ham-hi terus menerjang keluar kepungan
sambil berteriak: “Berhenti dulu, dengarkan kataku!”
“Hm, begini bagus perbuatanmu ini, kau masih mau bilang apa lagi?” jengek sijangkung.
“Hehe, kukira siapa, kiranya kau tak lain adalah Sutenya Ca-ih-hou Toan Tiam-jong!” kata Ham-hi
sambil tuding si jangkung.
“Jadi dia adalah Hui-pah-cu?” seru Giam Wan.
“Benar, Sutenya Ca-ih-hou adalah Hui-pah-cu Ci Jing-san!” kata Ham-hi.
Kiranya “Ca-ih-hou Toan Tiam-jong, di harimau bersayap, adalah kepala dari Tin-lam-jit-hou.
Dahulu waktu Giam Seng-to dikerubut Tin-lam-jit-hou didaerah Siau-kim-jwan, luka yang
dideritanya adalah perbuatan Toan Tiam-jong.
Hui-pah-cu Ci Jing-san, simacan tutul terbang, tidak termasuk dalam Tin-lam-jit-hou, tapi
kepandaiannya lebih tinggi daripad ketujuh orang itu termasuk suhengnya sendiri si harimau
bersayap Toan Tiam-jong.
Karena permusuhan Giam Seng-to dengan Tin-lam-jit-hou, untuk menjaga bila Vi Jing-san
membantu suhengnya, maka Seng-ti pernah menceritakan simacan tutul terbang ini kepada anak
perempuannya, bahkan memperingatkan agar hati2 bila berkelana di dunia kangouw. Sungguh tidak
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
terduga bahwa Hui-pah-cu yang disebut ayahnya itu sekarang juga datang bersama tunangannya.
Tapi Giam Wan lantas paham juga persoalannya, pikirnya: “Rupanya Ci Jing-san ini yang
menyampaikan kabar tentang diriku dan membawa Goan-kiat kesini untuk membuktikan
“perjinahan”ku. Bisa jadi secara diam2 Ci Jing-san telah menyelidiki gerak gerikku sehingga
hubunganku dengan ham-hi diketahui olehnya.”
Begitulah Ci Jing-san menjadi tercengang, tapi segera ia bergelaktertawa seperti tidak terjadi apa2,
katanya: “Saudara benar awas sekali sehingga dapat mengenali diriku. Memang benar, aku adalah
Hui-pah-cu Ci Jing-san, lalu kau mau apa?”
Kok Ham-hi tidak menjawabnya, tapi terus berseru kepada pihak Thio Goan-kiat: “Coba, kalian
adalah anak murid Bu-tng-pay yang terkenal, mengapa kalian bergaul dengan orang yang terkenal
kejahatannya dikalangan Hek-to seperti dia ini, apakah kalian tidak tahu malu? Apakah kaliantidak
tahu bahwa Tin-lam-jit-hou justru adalah musuh Cwan-say-tayhiap Giam-locianpwe?”
“Orang she Kok, jangan kau mencampur adukkan dua urusan yang tiada sangkut pautnya satu sama
lain,” jengek Goan-kiat. “Yang jelas, kau, kau telah mencemarkan tunanganku, betapapun aku tidak
bisa melepaskan kau.”
“Sungguh aku menyesalkan dirimu, mungkin kau telah tertipu oelh orang jahat,” kata Ham-hi.
“Kau tidak perlu pura2 baik hati!” bentak Goan-kiat dengan gusar. “pendek kata, aku takkan
percaya kepada ocehanmu.”
Kiau Goan-cong juga ikut menjengek: “kau sendiri juga orang jahat yang tidak tahu malu, masakah
kau malah menuduh orang lain? Apapun mengenai Ci-toako, yang penting dia adalah saksi yang
akan kami temukan kepaa Giam-locianpwe. Kami justru kuatir kau sendiri tiada muka buat bertemu
dengan Giam-locianpwe.”
“Buat apa banyak omong dengan dia!” jengek Ci Jing-san.
“benar!” sahut Kiau Goan-cong, berbareng ia terus menubruk maju, kembali ia hantam pula
kemuka Kok Ham-hi dengan murka.
Maklumlah, sebagai jago muda dari Bu-tong-pay, mukanya telah digampar Kok Ham-hi hingga
bengap dan berdarah, sekarang kemenangan pihaknya kelihatan didepan mata, sudah tentu ia ingin
membalas sakit hati tamparan tadi.
Melihat sang suheng sudah turun tangan, tanpa pikir Goan-kiat juga menusuk dengan pedang.
Mereka berdua sudah biasa “maindobel”, ilmu pedang diserta I ilmu pukulan, kerja sama mereka
sangat rapat, lebih2 serangan pedang Tio Goan-kiat, lihai luar biasa. Sedangkan Ci Jing-san juga
tidak mau ketinggalan, iapun menerjang maju.
Walaupun terluka tidak parah, tapi Kok Ham-hi merasa tidak sanggup bertempur lebih lama lagi, ia
tahu bila terkepung sekali lagi oleh ketiga musuh itu untuk meloloskan diri terang tidaklah mudah.
Segera ia keluarkan jurus aneh, dengan tangan menghadapi pedang dan dengan pedang menusuk
tangan lawan.
Saat itu Kiau Goan-cong sedang menghantam dengan pukulan yang dahsyat, tapi tahu2 ia dipapak
oelh ujung pedang Kok Ham-hi, lekas2 ia tarik kembali tangannya. Dalam pada itu dengan cepat
luar biasa telapak tangan kiri Kok Ham-hi telah memotong kedada Thio Goan-kiat. Baru saja Goankiat
bermaksud menangkis dengan pedang, tahu2 pergelangan tangan terasa kesemutan, edang telah
kena dirampas oleh Kok Ham-hi.
Dengan kepandaian Goan-kiat sebenarnya tidak segampang itu pedangnya dapat dirampas orang,
soalnya cara bertempur Kok Ham-hi sangat aneh, kelihatan menyerang Goan-cong, tahu2
menghantam pula kearahnya sehingga pertahanan bersama antara Goan-cong dan Goan-kiat
menjadi bobol, pula Goan-kiat sama sekali tidak menyangka lawan berani merampas pedangnya
dengan bertangan kosong, sebab itulah secara tak terduga pedangnya lantas berpindah tangan.
“Ini terima kembali!” bentak ham-hi sambil melemparkan pedang rampasan kearah Ci Jing-san.
Ci Jing-san merasa tidak sanggup menerima pedang itu, lekas2 ia mengelak kesamping.
Melihat gerak lemparan pedang Kok Ham-hi itu adalah gaya ilmu silat Bu-tong-pay yang disebut
“Jong-liong-tiau-bwe” (naga tua memutar ekor), Goan-cong menjadi kaget dan sangsi pula.
Terpaksa ia meloncat keatas, tangannya meraup, dengan gaya indah ia tangkap kembali pedang
sutenya itu.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Sementara itu Kok Ham-hi sudah membobol kepungan dan lari kehutan didepan sana. Tapi entah
mengapa, ia tidak terus kabur, sebaliknya lantas berhenti dibawah pohon.
“Kok-toako,lekas pergi, jangan pikirkan aku, mereka tidak berani mengganggu diriku!” seru Giam
Wan dengan girang.
Tapi ia lantas kelabakan lagi karena diserang oleh Ki Goan-lun dan Nio Goan-hian dengan gencar
“trang”, tusuk kondainya kena ditabas oleh pedang Goan-hian.
“Hm, memang kami tak berani mengganggu kau,” jengek Goan-lun. “Tapi akan kami bekuk kau
untuk dihadapkan kepada ayahmu, coba dimana pamor Cwan-say-tayhiap akan disembunyikan bila
mengetahui putri hina dian macam kau ini.”
Setelah Goan-cong mengembalikan pedang kepada Goan-kiat, dengan muka bersengut ia berkata:
“hendaklah sute jangan lupa akan pesan suhu ketika menyerahkan pedang padamu. Nama baik
perguruan sekarang terletak diatas bahu kita.”
Hendaklah diketahui bahwa Bu-tong-pay termashur karena ilmu pedang dan lwekang. Dikala setiap
anak murid tamat belajar, pada upacara pemberian pedang oleh sang guru selalu diberi pesan bahwa
“pedang ada orang hidup, pedang hilang orang mati.” Sebab itulah setiap murid Bu-tong-apy
memandang pedang sendiri sebagai jiwanya sendiri pula.
Sekarang pedang Goan-kiat kena direbut oelh Kok Ham-hi, biarpun dapat disamber kembali oleh
sang suheng, tapi hal ini sudah merupakan penghinaan besar bagi Goan-kiat, jauh lebih memalukan
daripada tamparan yang diderita Goan-cong tadi. Sebab itulah Goan-cong sengaja mengungkit
pesan sang guru diwaktu memberikan pedang, artinya Goan-kiat harus berani mengadu jiwa demi
kehormatan perguruan.
Sambil terima kembali pedangnya, muka Goan-kiat sebentar merah sebentar pucat, katanya dengan
mengertak gigi: “Mati atau hidup adalah urusan kecil, kehormatan perguruan lebih penting, tanpa
peringatan suheng juga siaute tahu cara bagaimana harus bertindak!”
Begitulah kedua orang lantas menerjang maju kesana, yang satu hendak menuntut balas tamparan,
yang lain hendak membalas sakit hati direbutnya pedang.
Sebenarnya Kok Ham-hi dengan leluasa dapat melarikan diri, tapi dia malah berhenti didepan hutan
sana. Keruan Giam Wan merasa kuatir dan ber-ulang2 mendesak sang kekasih lekas kabur.
Tampaknya Goan-cong dan Goan-kiat sudah memburu tiba. Ci Jing-san juga sudah mencegatnya
dari jurusan lain, namun Kok Ham-hi tetap tenang2 saja, se-konyong2 ia menggertak: “Ini, biar
kalian kenal kelihaianku!” ~ Berbareng itu telapak tangannya lantas memotong kebatang pohon
disampingnya. Serentak bergemuruhlah suaranyam pukulannya ternyata membawa suara menderu
sebagai guntur ditengah halilintar.
Terdengar suara gemuruh dan berderak patahnya ranting kayu yang ertebaran, pohon itupun tergetar
se-akan2 tumbang. Pada saat itulah diatas pohon mendadak muncul sesosok bayangan orang,
laksana burung saja, orang itu lantas melayang kebawah.
Kiranya Bing-sia kebetulan sembunyi diatas pohon itu. Mendadak Kok Ham-hi menggunakan
Thian-lui-kang untuk menghantam pohon itu, karena tergetar dengan hebat, hampir2 saja Bing-sia
terjungkal dari atas pohon, untung ginkangnya sangat tinggi, waktu jatuh kebawah ia sempat
menutul kakinya sehingga tubuhnya melayang kesan dan tepat jatuh dekat Giam Wan.
Tadi Kok Ham-hi belum mau mengeluarkan Thian-lui-kangnya yang ampuh, soalnya ia belum tahu
asal usul Ci Jing-san, pula merasa tidak enak hati merebut tunangan orang, sebabitulah ia ingin
mengalah sedapat mungkin. Kini setelah terpaksa barulah ia perlihatkan Thian-lui-kang untuk
menakuti lawan2nya. Diluar dugaan pukulan pameran itu malah “menjatuhkan” Bing-sia pula dari
atas pohon.
Kejadian tak ter-sangka2 itu membikin terkejut juga anak murid Bu-tong-pay dan Ci Jing-san.
“Nah, siapa diantara kalian inginkan jiwaku boleh silahkan maju!” seru Ham-hi kemudian. “Cuma
kalian harus tahu, akupun tidak sungkan2 lagi untuk membalas kalian dengan cara yang sama.”
Ci Jing-san menjadi jeri melihat kehebatan Thian-lui-kang anak muda itu, ia pikir pantas sehengnya
bertujuh sampai kecundang, nyatanya anak muda itu memang memiliki kepandaian sakti.
Kiau Goan-cong dan Thio Goan-kiat juga saling pandang dengan keder. Tapi mereka berdua sama2
terhina, mana mereka rela menyerah mentah2. Tiba2 Goan-cong berseru: “Tangkap dulu
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
perempuan hina itu!”
Dalam pada itu ketika mendadak Bing-sia melompat turun dari atas pohon dan tepat berdiri
didekatnya, Giam Wan menjadi terkejut dan heran, serunya: “Kiranya kau, Piaumoay! Apakah ibu
menyuruh kau kesini?”
Semula Ki Goan-lun dan nio Goan-hian juga tercengang ketika tiba2 melihat seorang melayang
turun dari atas pohon, tapi demi mendengar seruan Goan-cong, serentak mereka menyerang lagi
kearah Giam Wan.
Memangnya Giam Wan sudah kewalahan menghadapi mereka, kini diserang lagi secara mendadak,
tahu2 ujung pedang Goan-hian yang gemilapan sudah menyamber tiba didepanleher. Sebisanya
Giam Wan menangkis dengan pedangnya, namun pedang Goan-lun juga sudah menusuk tiba
kepergelangan tangan, bila Giam Wan tidak lepaskan pedang akan berarti tangannya harus terluka.
Tapi kalau lepas padang berarti pula dia akan tertawan.
Melihat Giam Wan terancam bahaya, Kok Ham-hi menjadi kuatir, segera ia bermaksud menerjang
kesana membantu, tapi segera ia dirintangi Goan-kiat dan Goan-cong dengan serangan2 lihai.
Syukurlah pada saat gawat itu, Bing-sia yang berdekatan dengan Giam Wan itu sudah dengan
sendirinya tidak tinggal diam, cepat Bing-sia membentak: “Lepas pedang?”
Saat itu Goan-lun mengira tusukannya pasti akan berhasil, tak terduga mendadak selarik sinar perak
berkelebat, bukan pedang Giam Wan yang terlepas , sebaliknya pedang Goan-lun sendiri yang
harus dilepaskan.
Rupanya Goan-lun dan Goan-hian tidak begitu menghiraukan seorang nona cilik sebagai Bing-sia
itu walupun tahu anak dara itu berada didekat Giam Wan situ. Tak tersangka kepandaian Bing-sia
bahkan lebih lihai daripada Giam Wan, tahu2 Bing-sia sudah menubruk tiba dengan lihai luar biasa,
seketika pedang Goan-lun kena direbutnya.
“Kau tidak mahir menggunakan pedang, biar pedangmu pinjamkan aku saja,” ejek Bing-sia dengan
tertawa. Memangnya ia tidak membawa senjata, sama sekali ia tidak tahu pantangan orang Bu-tongpay
bila kehilangan pedang berarti guurnya pemilik pedang. Bahkan setelah merampas pedang
Goan-lun itu segera ia gunakan menusuk kearah Goan-hian sambil berkata: “Pedang suhengmu
sudah kurampas, bila pedangmu tidk kuambil pula rasanya kurang adil!”
Ilmu pedang Bing-sia aneh sekali, betapapun Goan-hian bukan tandingannya, apalagi saat itu dia
sedang menghadapi Giam Wan, ketika tiba ia terkejut tahu2 pergelangan tangan kesemutan, pedang
jatuh ketanah.
Dengan senang Bing-sia mengejek: “ Ini namanya senjata makan tuan, makanya kalian jangan
coba2 memaksa piauciku melepaskan pedangnya!”
Disebelah sana Goan-cong bertiga sudah mulai mengerubuti Kok Ham-hi pula, Melihat Giam Wan
sudah terbebas dari bahaya, hati Kok Ham-hi menjadi lega, rasa dongkol tadi segera
dilampiaskannya terhadap ketiga orang lawan, yang pertama menjadi sasaran adalah Kiau Goancong,
begitu kedua tangan beradu ”blang” kontan Goan-cong terlempar pergi beberapa meter
jauhnya.
Ilmu pukulan Kok Ham-hi itu dilontarkan secara berantai, tangan kanan membikin Goan-cong
terpental, tangan kiri dengan dahsyat juga menuju Thio Goan-kiat.
Dengan mata merah berapi Goan-kiat sudah kalap juga, dengan murka ia membentak: “Biar kuadu
jiwa dengan kau!” ~ Ditengah berkelebatnya sinar pedang dan samberan angin pukulan, tusukan
Goan-kiat ternyata mengenai tempaty kosong,sebaliknya tubuhnya terasamengapung, iapun kena
dilemparkan Kok Ham-hi.
Ditengah udara Goan-kiat sempat berjumpalitan, ketika turun kebawah, darah dirongga dada terasa
bergolak, Cuma lukanya ternyata tidak seberat sangkaannya semula. Meski napasnya sesak tidak
sampai terluka dalam, hanya sebuah tulang rusuknya saja patah. Lukanya tidak seberat Kiau Goancong
yang sampai muntah darah.
Rupanya terhadap Thio Goan-kiat memang Kok Ham-hi tidak tega turun tangan keji, soalnya meras
telah merebut tunangan orang, kalau membinasakannya pula dalam hati nurani rasanya tidak enak.
Sebab itulah tenaga pukulannya tadi hanya tiga bagian saja yang ditujukan kepada Goan-kiat.
Sudah tentu Goan-kiat bukan anak bodoh, setelah tertegun sejenak, segera ia membangunkan sang
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
suheng. Seketika ia menjadi bingung apa yang mesti dia lakukan.
Dalam pada itu Ci Jing-san sudah bergebrak tiga kali dengan Kok Ham-hi. Sampai gebrakan
keempat, segera Kok Ham-hi mengeluarkan Thian-lui-kng. Ketika kedua tangan beradu,
terdengarlah suara keras. Ci Jing-san ter-huyung2 mundur beberapa langkah. Tapi dia malah meras
girang tampaknya, setelah berdiri tegak segera ia berseru dengan tertawa: “Bocah ini sudah payah,
kawan2 hayolah maju ber-sama2!”
Setelah membikin lawannya ter-huyung2 mundur, Kok Ham-hi sendiri merasa dadanya rada sakit
dan tangannya juga gatal2 pegal. Rupanya Thian-lui-kang yang dia latih belum mencapai tingkatan
yang paling sempurna, ketika dia tidak tega membinasakan Thio Goan-kiat dan menarik ekmbali
tenaganya, dalam keadaan ter-buru2 kembalian tenaga itu menggetar badan sendiri sehingga
kekuatan sendiri banyak berkurang. Agaknya Ci Jing-san dapat melihat kelemahan Kok Ham-hi itu,
makanya berani mengadu pukulan dengan dia, biarpun adu pukulan itu dimenangkan Kok Ham-hi,
tapi pukulan berbisa Ci Jing-san juga mengenai Kok Ham-hi dan keracunan. Dalam keadaan
demikian ia harus mengerahkan tenaga untuk melawan menjalarnya racun, bila Goan-cong dan
Goan-kiat maju lagi mengerubut bersama Ci Jing-san, sebentar lagi tentu celaka bagi Kok Ham-hi.
Untung Goan-cong terluka cukup parah, maksudnya juga mau bertempur lagi, tapiu apa daya, hati
tak sampai. Dengan sendirinya Goan-kiat tidak berani sembarangan bertindak mengingat lawan
sudah dua kali bemurah hati padanya.
Keruan Ci Jing-san tidak berani menyerang lagi dengan sendirian. Sebaliknya Kok Ham-hi lantas
melotot padanya dan membentak: “Ci Jing-san, hayolah maju!”
“Kalian ini bagaimana?” jengek Ci Jing-san terhadap Goan-cong dan Goan-kiat. “Bocah ini adalah
musuhmu, sekiranya kalian terima dihina, biarlah aku segera angkat kaki dari sini daripada ikut
menanggung malu.”
Terpaksa Goan-cong mengisiki sutenya agar maju membantu. Terpaksa Goan-kiat mengiakan, ia
meninggalkan sang suheng, segera ia putar pedangnya hendak menerjang maju lagi.
Kok Ham-hi sudah kena racun, iapun insyaf bila pertempuran dilanjutkan terpaksa tidak kenal
ampun lagi, segera ia kumpulkan tenaga dan menarik napas panjang2, ia siap untuk bertempur
mati2an.
Tampaknya pertarungan mati2an segera akan berlangsung, se-konyong2 suara seorang tua
membentak: “Siapa berani bikin gara2 didekat rumahku sini, berhenti semuanya!”
Suaranya berkumandang dari jauh, jelas orang itu memiliki ilmu lwekang “Thoan-im-jip-bit”
(mengirimkan gelombang suara). Padahal didaerah ini tiada orang kosen lain kecuali Cwan-saytayhiap
Giam Seng-to sendiri.
Benar juga belumlenyap kumandang suaranya, menyusul Giam Seng-to sudah muncul juga, bahkan
tidak sendirian, dia datang bersama istrinya malah.
Goan-kiat urung menerjang maju, segera ia berseru: “Kebetulan sekali kedatangan Gakhu-tayjin
(bapak mertua terhormat).”
Giam-hujin tertampak gusar sekali, bentaknya dengan suara ter-engah2: “Budak ingin mampus, aku
bisa mati kaku karena perbuatanmu. Bing-sia tak kusangka kau bersekongkol dengan piaucimu dan
mengelabui aku. Hayo lekas kalian berhenti semua!” Kiranya saat itu Ki Goan-lun dan Nio Goanhian
masih bernapsu hendak merebut pedang mereka dan masih mengerubuti Bing-sia.
Sekali mencungkit dengan ujung kaki, Bing-sia membikin sebatang pedang yang jatuh ditanah tadi
melayang kearah Goan-hian. Menyusul pedang yang dipegang lantas dibalik, gagang pedang
disodorkan kepada Ki Goan-lun sambil berkata: “ini, terimalah kembali pedangmu!”
Dengan rada bingung Goan-lun lantas pegang pedang itu, habis itu baru ia tersadar perbuatannya
benar2 memalukan, segera ia berkata: “Utangmu ini kucatat didalam hati, mengingat kedatangan
Giam-tayhiap, sementara ini kutunda perhitungan kita ini.”
Dilain pihak, Goan-hian juga sudah menangkap kembali pedang yang melayang kearahnya itu,
dengan pedang terhunus ia melototi Bing-sia dengan gusar.
Giam-hujin cukup kenal peraturan Bu-tong-pay, dari gusar ia menjadi terkejut pula, katanya dengan
membanting kaki: ‘kalian ………. Kalian berdua budak ini benar2 terlalu kurang ajar! Kalian
benar2 ingin membikin aku mati kaku!”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Soal ini tiada sangkut pautnya dengan Piauci, kata Bing-sia. “Akulah yang merebut pedang
mereka. Habis mereka mengeroyok Piauci seorang. Coba apakah pantas perbuatan mereka? Bibi,
kau jangan kuatir, ada akibat apa2 biar aku yang bertanggung jawab. Nah, dengarkan kalian, aku
bernama Beng Bing-sia, ayahku Beng Siau-kang namanya, ada urusan apa2 boleh cari aku di
Sohciu.”
Giam-hujin menjadi serba geli dan mengkal, tapi kini yang membuatnya kuatir adalah urusan anak
perempuannya yang memalukan itu, sebab itu untuk sementara ia tidak sempat menggubris Bingsia.
Setelah kedua pihak sudah berhenti bertempur, dengan pelahan barulah Goan-kiat bicara: “Gakhutayjin,
apa yang terjadi ini sudah engkau saksikan sendiri, rasanya tidak perlu kuterangkan lagi.
Maka urusan yang lebih jelas silahkan tanya sendiri kepada putrimu.”
“Ayah, engkau sendiripun menyaksikan bahwa orang itu adalah Hui-pah-cu Ci Jing-san, sute Toan
Tiam-jong, musuh besar kita,” demikian Giam Wan juga mengadu. “Tapi anak murid Bu-tong-pay
sengaja datang bersama dia, jelas mereka memang ingin mencari perkara kepada kita.”
“Dengan tenag Ci Jing-san memberi hormat kepada Giam Seng-to, lalu berkata: “Ya, memang
betul, Suhengku ada sedikit perselisihan dengan Giam-tayhiap, tapi sama sekali tiada sangkut
pautnya dengan persoalan malam ini. Terus terang Giam-tayhiap, biarpun terjungkal ditanganmu,
namun suhengku sebenarnya sangat kagum padamu, yang membikin dia penasaran adalah campur
tangan bocah ini sehingga engkau sendiripun terhina. Hehe, soal ini mestinya tidak perlu kukatakan
sebab Giam-tayhiap sendiri sudah melihatnya. Bocah ini bukan saja sudah lama kenal putrimu,
bahkan ada hubungan gelap diluar tahumu. Masakah nama baik Giam-tayhiap sudi dinodai begitu
saja olehnya? Terus terang kedatanganku ini ingin membantu engkau agar persengketaan kita bisa
diselesaikan secara diam2, dengan demikian peristiwa malam inipun dapat ditutupi sehingga takkan
membikin malu masing2 pihak.
Memang Giam Seng-to paling mengutamakan kehormatan, sekarang anak perempuannya
tertangkap basah sedang main pat-pat-gulipat dengan gendaknya, sudah tentu hal ini membuatnya
sangat malu. Maka ia menjadi bungkam, mukanya membeku menakutkan.
Biarpun dia tidak segera mengumbar perasaannya, tapi setiap oran tahu itulah tanda2 akan
datangnya angin badai, maka tiada seorangpun berani membuka suara, keadaan menjadi sunyi tapi
tegang. Termasuk Goan-kiat, iapun ber-debar2, sebab tidak tahu dengan cara bagaimana Giam
Seng-to akan menyelesaikan anak perempuannya.
“Ayah,” kata Giam Wan dengan tabahkan diri, “Anak tidak berbakti, mohon …… “
“Tutu mulut!” bentak Giam Seng-to mendadak. “Bagus benar perbuatanmu, masih ada muka kau
memanggil ayah padaku?” ~ Ia terus melangkah maju, tangan terus hendak menghantam keatas
kepala Giam Wan.
Giam Wan sudah menyadari keadaan buruk itu, tapi tak disangka olehnya sang ayah akan
membinasakannya begitu saja tanpa tanya persoalan yang lebih jelas. Seketika itu ia menjadi
ketakutan sehingga tertegun ditempatnya tanpa pikir buat menyelamatkan diri.
Untung Bing-sia sudah siap sedia, pada detik berbahaya itu secepat kilat ia menubruk maju, sebelah
tangannya mendorong tubuh Giam Wan sambil berseru: “Lekas lari Piauci!”
Melihat Bing-sia merintanginya, terpaksa Seng-to menarik kembali tangannya.
Karena dorongan Bing-sia tadi, Giam Wan benar2 lolos dari renggutan elmaut, dia baru sadar
bahwa jiwanya hampir saja melayang. Ia menyadari ayah ibunya suda htidak bisa mengampuninya
lagi, ia harus mengadakan pilihan diantara kekasih dan orang tua.
Pilihan demikian merupakan pilihan yang maha sulit karena menyangkut kepentingan selama
hidupnya. Bila urusan belum betbuka, mungkin ayah-ibunya masih dapat mengampuninya. Tapi
kini apa yang terjadi disaksikan orang luar, betapappun ayahnya tidak dapat menanggung rasa malu
demikian dan pasti akan membinasakannya, untuk minta ampun rasanya sukar. Tapi kalau tinggal
pergi, padahal ayah-ibu hanya mempunyai anak perempuan dia satu2nya, apakah tega
meninggalkan mereka dan membikin mereka merana selamanya? Demikian Giam Wan menjadi
bingung karena pertentangan batin itu. Akhirnya ia mengambil keputusan dan bertekad penuh, ia
terus berlari menuju kearah Kok Ham-hi.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Girang dan kejut pula Kok Ham-hi, ia pentang kedua tangannya menyambut kedatangan Giam
Wan. Dengan erat sinona genggam kedua tangan kekasihnya itu sambil berkata pelahan: ‘Kokoako,
hanya engkau satu2nya sandaran bagiku sekarang. Marilah engkau membawa serta diriku,
kita pergi saja!”
Bing-sia merasa lega melihat sang piauci telah berlari kepada Kok Ham-hi. Ia pikir pemuda itu
pernah menolong pamannya, betapapun rasanya sang paman tidak sampai membalas budi dengan
benci. Asalkan sang paman tidak melabrak Kok Ham-hi, dengan gabungan kekuatan Kok Ham-hi
dan Giam Wan tentunya takdapat dihalangi oleh rombongan Kiau Goan-cong.
Sebenarnya tindakan Bing-sia menyelamatkan Giam Wan juga sangat berbahaya, untung ilmu
pukulan Giam Seng-to sudah terlatih sempurna dan dapat ditarik kembali seketika, kalau tidak pasti
Bing-sia sudah terbinasa oleh pukulannya tadi.
Setelah tenangkan diri, kemudian Bing-sia berkata: ‘Harap paman jangan marah dahulu, segala
sesuatu hendaknya dibicarakan secara baik2.”
Pada saat itulah Goan-cong tampil kemuka dengan berlumuran darah, katanya dengan dingin:
“Orang tua Thio-sute tidak berada disini, sebagai suheng terpaksa aku mengambil keputusan
baginya. Tentang perjodohan ini jelas kami tidak berani meng-harap2kan lagi. Tentang bocah ini
akan membawa kabur putrimu, boleh atau tidak adalah urusan Giam-tayhiap sendiri.”
“Bocah she Kok itupun tidak jelek,” Ci Jing-san ikut mengejek. “Giam-tayhiap, selamat engkau
telah mendapat menantu lagi.”
Giam-hujin merasa malu dn gemas pula, amarahnya lantas ditumplekkan kepada Bing-sia,
dampratnya sambil menarik Bing-sia kesamping: “Disini bukan tempatmu untuk ikut bicara, kau
tidak boleh campur urusan orang.”
Dengan wajah guram Giam Seng-to lantas membentak: “Kok Ham-hi, lepaskan dan tinggalkan
anak perempuanku!”
“Ayah, boleh anggap saja diriku sudah mati.” Kata Giam Wan dengan air mata ber-linang2.
“Maafkan anakmu yang tidak berbakti ini, anak sudah bertekad akan ikut pergi bersama dia.”
“Budak hina dina, sungguh kau tidak tahu malu,” damprat Giam-hujin dengan gusar. “Pendek kata
betapapun aku melarang kau pergi bersama dia, kecuali aku sudah mati.”
Giam Seng-to tidak urus anak perempuannya, tapi bicara langsung kepada Kok Ham-hi: “Koksiauhiap,
kau pernah menolong aku, budi ini takkan kulupakan selama hidup. Tapi kau hendak
membawa lari putriku dan membikin malu keluargaku, hal ini se-kali2 tak boleh terjadi. Orang she
Giam selamanya tegas membedakan antara budi dan dendam, jika kau bertekad akan berbuat
demikian, terpaksa aku akan membereskan sekalugus dengan membalas budi dan membalas
dendam disini dengan kau.”
Mendengar ucapan sang paman yang berarti hendak mengajak “duel” Kok Ham-hi Bing-sia
menjadi terkejut dan kuatir. Sebaliknya Goan-cong dan Goan-kiat merasa girang. Sedangkan Ci
Jing-san setengah girang dan setengah mendongkol, sebab Giam Seng-to mengaku pernah utang
budi kepada Kok Ham-hi hal ini berti dia tetap anggap Tin-lam-jit-hou sebagai musuh dan menolak
tawaran damai dari Ci Jing-san tadi.
Dengan mata melotot Giam Seng-to menyambung pula: “Ilmu silat Kok-siauhiap sangat hebat,
umpama aku mati ditanganmu adalah pantas. Jiak beruntung tidak mati dan berbalik aku
mencelakai kau, maka akupun pasti membunuh diri untuk membalas budi pertolonganmu kepadaku
dahulu itu.”
Baru sekarang semua orang paham apa yang dikatakan Giam Seng-to tentang membalas budi dan
membalas dandam sekaligus tadi. Semua orang menjadi tercengang akan tekad yang luar biasa ini.
“Wanpwe se-kali2 tidak berani bergebrak dengan Giam-tayhiap,” kata Kok Ham-hi.
“Baik, jika demikian boleh kau pergi saja sendirian, dalam sepuluh tahun selangkahpun kau tidak
boleh menginjak wilayah Sucwan barat sini,” kata Giam Seng-to pula. “Tapi bila kau ada urusan
memerlukan tenagaku, silahkan memberi kabar dan aku segera akan memenuhi panggilan siang dan
malam menuju ketempat yang kau tunjuk.”
Pengusiran sudah dikeluarkan, jika Kok Ham-hi tidak pergi akan berarti harus bertarung melawan
Giam Seng-to. Dan sekali bertarung, baik kalah ataupun menang Giam Seng-to harus menebus
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dengan jiwanya. Dalam keadaan demikian mana bisa Kok Ham-hi membawa pergi anak perempuan
orang setelah membikin mati ayahnya.
Dalam sekejap itu perasaan Kok Ham-hi benar2 bagai di-sayat2, timbul macam2 pikiran dalam
benaknya, akhirnya ia berkata dengan penuh rasa duka: “Adik Wan, rupa2nya hidup kita ini
ditakdirkan begini, hendaklah selanjutnya jangan kau pikirkan diriku lagi.”
Cara penyelesaian Kok Ham-hi ini benar2 diluar dugaan semua orang. Goan-kiat menjadi gemas
dan dendam, pikirnya: ‘Perempuan yang sudah tidak suci masakan dapat kuterima kembali? Tapi
bocah ini sama2 tidak mendpatkan perempuan hina itu, rasanya terlampias juga dendamku ini.”
Kalau Kok Ham-hi lantas pergi tentunya urusan akan menjadi beres, tak terduga mendadak Giam
Wan berseru: “nanti dulu, Kok-toako!”
“Urusan sudah begini, terpaksa kita berpisah, apa mau dikata lagi?” sahut Ham-hi sambil menoleh
dengan wajah sedih.
“Urusan ini timbul dari diriku, maka biar aku pula yang menyelesaikannya sendiri untuk
menghilangkan persoalan,” kata Giam Wan. “Ayah, hendaklah kau jangan marh kepada Kok-toako,
sesudah aku mangkat harap engkau menganggapnya sebagai puteramu!”
“Apa katamu?” seru Giam Seng-to terkejut.
Belum lenyap suaranya tertampak Giam Wan mendadak melolos pedang terus menikam kedada
sendiri. Pada saat yang sama, terdengar pula jeritan ngeri Kok Ham-hi.
Dibawah sinar bulan yang remang2, tertampak wajah Kok Ham-hi penuh darah, bajunya juga
berlumuran titik2 merah, mukanya yang putih cakap itu kini bersilang oleh dua goresan luka.
Menyusul itu terdengarlah suara “trang”, pedang yang dipegang Giam Wan terlepas dan jayuh
ketanah.
Kiranya muka Kok Ham-hi itu dilukai oleh pedang Thio Goan-kiat, sedangkan pedang Giam Wan
dipukul jatuh oleh ibunya.
Rupanya rasa cemburu Thio Goan-kiat benar2 seperti api disiram minyak, ketika melihat bakal
istrinya telah jatuh kedalam pelukan lelaki lain, saking tak tahan ia terus menyerang tanpa pikir.
Meski ia tahu kepandaian Kok Ham-hi jauh lebih tinggi, tapi dibawah pengaruh rasa cemburu, ia
menjadi mata gelap dan tanpa pikir panjang lagi. Walaupun demikian iapun tidak lupa bahwa dua
kali Kok Ham-hi telah bermurah hati kepadanya, sebab itulah sergapannya ini ditujukan kemuka
Kok Ham-hi dan tidak sengaja hendak membinasakan lawan asmara itu.
Agaknya Goan-kiat merasa rendah harga diri karena kecakapan Kok Ham-hi itu, maka ketika
menyergap tela htimbul pikirannya buat merusak muka yang bagus itu andaikan tidak jadi
menewaskannya.
Saat itu Kok Ham-hi sedang berduka lantaran keputus asaannya gagal mempersunting Giam Wan,
sama sekali ia tidak menduga Goan-kiat akan meneyrgapnya. Sedangkan serangan Goan-kiat itu
sangat cepat lagi tepat, ketika Kok Ham-hi merasa mukannya dingin disertai rasa kesakitan, tahu2
wajahnya yang cakap itu sudah digores seperti huruf X.
Ketika goan-kiat menyergap Kok Ham-hi adalah tepat saat giam Wan sedang melolos pedang
hendak bunuh diri. Ketika mendengar jeritan Kok Ham-hi, Giam Wan terkesiap sehingga tanpa
terasa ujung pedang yan hampir menancap ulu-hati sendiri itu terhenti sejenak. Pada saat itulah
Giam-hujin sempat menyambitkan sebuah cincin sehingga pedang giam Wan terbentur jatuh selagi
anak dara itu tertegun oleh wajah Kok Ham-hi yan gterluka itu.
Sambil menutup muka sendiri, konta Kok Ham-hi balas menendang sehingga Goan-kiat terjungkal,
bilamana dia mau menambahi tendangan sekali lagi jiwa Goan-kiat pasti akan melayang. Untung
baginya tiba2 timbul pikiran Kok Ham-hi yan ganeh, karena sudah tak dapat memperistri Giam
Wan, buat apa mesti membunuh bakal suaminya itu? Maka sambil menutup mukanya Kok Ham-hi
lantas berlari pergi.
Sungguh mimpipun Goan-kiat tidak menyangka sergapannya akan berhasil secara begitu lancar
menghadapi lawan yang berkepandaian jauh lebih tinggi, sebenarnya ia sudah bernekad mengadu
jiwa, tapi sekarang jiwanya selamat, bahkan berhasil melukai muka musuh, biarpun kena dibalas
sekali tendangan rasanya cukup berharga juga baginya. Tapi aneh juga, waktu ia merangkak
bangun, sedikitpun tiada rasa puas dan senang dalam hatinya, sebaliknya ia merasa hampa.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Giam Wan juga tertegun sejenak, kemudian sepeerti tersadar dari impian segera memburu kearah
Kok Ham-hi. Akan tetapi baru saja melangkah beberapa meter jauhnya, tiba2 tangannya terasa
kencang, ternyata ibunya telah menyeretnya kembali …….
Begitulah Bing-sia dan Ci In-hong melanjutkan perjalanan ditanah bersalju, ketika hujan salju
berhenti ternyata cerita Bing-sia belum lagi selesai. Sampai disini Bing-sia rada menggigil.
“Apakah kau kedinginan?” tanya In-hong.
“Badanku tidak dingin, hatiku yang merasa dingin, karena ngeri kepada kejadian dahulu itu,” sahut
Bing-sia.
“Benar, ceritamu belum tamat, kemudian bagaimana?” tanya In-hong.
“Memang cerita ini adalah suatu cerita yang belum dapat diketahui bagaimana akhirnya,” ujar Bingsia.
“Yang kuketahui hanya Kok Ham-hi terluka parah, tapi luka hatinya mungkin jauh lebih parah
daripada luka tubuhnya. Piauci telah diseret pulang oleh bibi dan ikatan mereka berdua telah
dipisahkan secara paksa. Ai, tentu kau belum pernah melihat Kok Ham-hi, sebenarnya dia adalah
pemuda yang sangat cakap, tapi mukanya telah digores oleh pedang Goan-kiat yan gtajam, kula
yang bersilang itu, sungguh , ai, aku tidak tega untuk bercerita lagi.”
Bing-sia memejamkan mata se-akan2 teramat ngeri membayangkan wajah Kok Ham-hi yang sudah
rusak dan mnyeramkan itu.
Dalam hati Ci In-hong juga merasa pedih bagi Kok ham-hi. Selang sejenak barulah ia berkata:
“Boleh bercerita tentang piaucimu saja. Menuruti watak piaucimu, dia pasti tidak mau menikah
dengan Thio Goan-kiat bukan? Lalu bagaimana dia kemudian? Masakah dia terima dikurung
selamanya di rumah?”
“Dengan sendirinya dia takkan menjadi istri Thio Goan-kiat,” kata Bing-sia. “Dia punya Toasuheng
sudah secara resmi membatalkan pertunangan Goan-kiat dan piauciku dihadapan paman dan bibi,
setelah bibi menyeret pulang piauci, anak murid Bu-tong-pay dan Ci Jing-san juga lantas pergi
semua.”
“Dan kau sendiri bagaimana wakt uitu?” tanya In-hong.
“Menuruti watakku sebenarnya akupun tidak mau tinggal lebih lama lagi di rumah bibi, tapi
mengingat piauci, aku tetap ikut mereka pulang kerumah. Bibi telah mengurung Piauci di suatu
kamar gudang, semula aku dilarang menjenguknya, tapi kemudian Piauci mogok makan, ber-turut2
beberapa hari dia tidak mau makan. Terpaksa bibi pura2 tidak tahu ketika aku mengantar daharan
kepada piauci dan membujuknya supaya berpikir panjang, kukatakan Kok ham-hi toh belum mati,
jika dia mati tidak makan dan diketahui Kok Ham-hi, tentu pemuda itupun akan menghabisi jiwa
sendiri, dengan begitu berarti kedua orang akan mati sia2. Padahal kalau keduanya sama2 beriman
teguh, asal jiwa tetap selamat, bukan mustahil kelak masih ada kesempatan bertemu kembali. Piauci
mau terima bujukanku, tapi dia minta bantuanku agar menolong dia melarikan diri. Meski tahu
kelihatan paman dan bibi, tapi demi kebahagiaan piauci, secara berani aku telah terima
permintaannya. Diluar dugaan urusan ternyata berjalan dengan sanga lancar. Malam itu juga aku
berhasil membuka pintu gudang dan membebaskan piauci, lalu kami berdua melarikan diri bersama
tanpa diketahui oelh paman dan bibi. Ya, barangkali mereka tah tapi pura2 tidak tahu karena
sengaja hendak melepaskan anak perempuan mereka.”
Ci In-hong manggut2, katanya: “memang di dunia ini tiada ayah-bunda yang tidak sayang kepada
putra-putrinya. Aku yakin setelah kejadian malam itu, betapapun Giam Seng-to dan istrinya pasti
merasa menyesal juga.”
“Setelah berpisah dengan piauci, selama ini aku tidak pernah menerima beritanya, entah dia berhasil
menemukan Kok ham-hi tidak,” sambung Bing-sia.
“Apakah kau telah beritahukan ayahmu tentang peristiwa itu?” tanya In-hong.
“Sebelum tiba dirumah ayah sudah mengetahui lebih dulu,” shut Bing-sia. “Hubungan ayah dengan
Bu-tong-pay cukup erat, karena itulah maka Kiau Goan-cong dan para sutenya tidak berani
merecoki ayah, tapi tak urung aku telah didamprat oleh ayah, bahkan ayah sendiri datang ke Tutong-
san untuk meminta maaf kepada guru Kiau Goan-cong dan Thio Goan-kiat, dengan demikian
barulah urusan terselesaikan.””Sebenarnya ayah juga menaruh simpatik terhadap Kok Ham-hi.”
Kata Bing-sia lebih lanjut. “Cuma sayang, tiak lama pulang segera ayah mengadakan perjalanan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
pula ke utara, maka beliau tidak sempat pergi ke Sucwan barat untuk mencari tahu asal usul Kok
Ham-hi kepada Giok-hong Totiang.”
In-hong ter-mangu2 sejenak, katanya kemudian: “Jika menurut ceritamu tenaga pukulan yang
digunakan Kok ham-hi untuk menggetarkan pohon itu memang Thian-lui-kang adanya.Berdasarkan
kejadian itu, besar kemungkian dia adalah murid Sisusiok.”
“Jika demikian kan berarti pula dia adalah saudara seperguruanmu,” Bing-sia menambahkan.
“Cuma sayang aku tidak kenal dia punya Thian-lui-kang. Setelah mendengar ceritaku, ayah juga
menyangka dia adlah jago muda yang belum terkenal, siapa tahu dia adalah anak murid dari
aliranmu ini. Kalau tahu,tentu sejak dulu ayah mencarinya atau meminta bantuan teman untuk
mencarinya, mengingat persahabatan ayah dengan gurumu.”
“banyak terima kasih atas ceritamu ini,” kata In-hong. “Sudah sekian lamanya guruku sangat rindu
kepada sisusiok, selama berpuluh tahun tiada sedikitpun memperoleh berita tentang diri sisusiok,
kini sedikit tanda2 jejaknya telah ditemukan. Cita2 guruku selama ini adalah menemukan sisusiok,
bersama sisusiok diharapkan mereka berdua akan berhasi membikin pembersihan perguruan dan
meenyapkan Yang Thian-lui yang durhaka dan khianat itu. Kupikir bila guruku mendapat kabar
tentu beliau akan berkunjung sendiri ke daerah Kanglam untuk mencari jejak mereka (Kok ham-hi
dan gurunya).
“Ya, semoga gurumu berhasil menemukan mereka, akupun sangat ingin tahu bagaimana
kesudahannya antara Piauci dengan Kok Ham-hi,” ujar Bing-sia.
“Semoga ceritaku ini akan ditutup dengan ‘akhir bahagia.’
Sudah tentu Bing-sia tidak tahu bahwa pada saat itu Kok Ham-hi juga sedang mencari dia, bahkan
juga sangat mengharapkan dapat bertemu dengan Ci In-hong. Bing-sia tidak tahu dimana beradanya
Kok Ham-hi, sebaliknya Ham-hi tahu Bing-sia dan Ci In-hong sedang berada dalam perjalanan ini.
Kiranya Kok Ham-hi bukan lain daripada orang yang berkedok yang dijumpai Nyo Wan dan Putri
Minghui di kelenteng kuno itu.
Kok Ham-hi juga sedang merasakan kosongnya perasaan dalam perjalanan di tanah bersalju yang
mulus laksana kaca raksasa yang bersih tanpa cacat dibawah sinar bulan yang remang2. Tapi hati
Kok Ham-hi sudah terluka dan menetekan darah, banyak kenangan lam, baik pahit-getir maupun
manis kecut dan suka-suka serentak bergejolak dalam benaknya.
Setelah mengalami istirahat empat tahun, sang waktu memang adalah tabib yan gpaling baik, luka
lahir dan batinnya sudah sembuh semua. Luka pada wajahnya sudah lama sembuh semua. Luka
batin juga sudah dia tutupi dengan perasaannya yang dingin dan hampa.
Akan tetapi malam ini luka batinnya kembali kambuh oleh sentuhan Akai dan Nyo Wan, sebab Nyo
Wan telah menyebut namanya Bing-sia dan Akai telah menyingkap kain kedoknya ae-akan2
mengingatkan dia bahwa dia adalah seorang laki2 yang bemuka jelek. Ia tidak tahu bahwa Giam
Wan sedang merana dan mencarinya, tapi ia memang sengaja menyembunyikan diri menghindari
Giam Wan. Selama empat tahun nian di tidak pernah mencari tahu jejak Giam Wan, juga tidak
mendapat kabar apa2 tentang nona itu.
Sungguh tidak nyana perasaan yang aman tenteram selama empat tahun itu kini telah bergelombang
lagi, karena ditimpuk sepotong batu kecil oleh ucapan Nyo Wan. Nona ini telah memberitahukan
padanya bahwa Bing-sia juga berada dalam perjalanan ke arah yang sama ini. Berita inilah
merupakan ‘batu’ yang menimbulkan gelombang perasaannya.
Bing-sia berada dalam arah perjalanan ini, lalu dimana lagi Giam Wan?
Kok Ham-hi pikir Bing-sia adalah adik misan Giam Wan, bila berjumpa dengan Bing-sia tentunya
akan bisa diperoleh kabarnya Giam Wan. Sudah tentu ia tidak tahu bahwa setelah Bing-sia
membantu kaburnya sang piauci dari rumah, habis itu mereka berdua saudara misan juga putus
kabar berita selama empat tahun.
Selama empat tahun ini meski dia sengaja menghindari Giam Wan , tapi sesungguhnya betapa pula
ia mengharapkan berita tentang diri si nona.
Harus pergi mencari Bing-sia dan coba tanya padanya tentang diri Giam Wan atau tidak?
Pertanyaan inilah yang menggelora didalam hati Kok Ham-hi. Jantungnya berdebar, luka
dimukanya juga seperti sedang terbakar. Tanpa terasa ia membuka kain kedoknya, maka
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
terbayanglah suatu wajah yang jelek pada tanah bersalju yang putih licin laksana cermin itu. Ia
tersenyum getir sendiri, pikirnya: “Dengan wajahku ini masakah ada nilainya menerima cinta
seorang gadis? Apalagi diantara diriku dan Giam Wan terdapat banyak rintangan. Kami harus
berpisah, ini sudah suratan nasib. Sekalipun dia tidak mencela mukaku yang buruk ini seperti Akai,
tapi akupun tidak tega membuatnya berduka lagi. Aku tidak ingin bertemu lagi dengan dia, lalu buat
apa membuatnya mengetahui aku masih hidup didunia ini?” ~~ Berpikir demikian, hampir2 ia
membatalkan niatnya mencari Bing-sia untuk minta keterangan padanya tentang diri Giam Wan.
Akan tetapi selain Bing-sia masih ada lagi seorang yang sangat ingin dijumpainya, yaitu teman
seperjalanan Bing-sia , Ci In-hong.
Setelah mendengar kata2 Yang Kian-pek tempo hari ia sudah yakin bahwa Ci In-hong pasti adalah
saudara seperguruannya. Bahkan Ci In-hong juga memusuhi Yang Thian-lui. Yang Kian-pek dan
sebangsanya.
Tiba2 Kok Ham-hi terkenang kepada kejadian dimasa lalu yang membuatnya sangat terharu
………. “
Dahulu, sesudah dia dipaksa berpisah dengan Giam Wan, dalam keadaan terluka batin, ia menjadi
putus asa dan pulang beristirahat selama lebih tiga tahun lamanya, luka tubuhnya sudah lama
sembuh, tapi luka hatinya sungguh sukar disembuhkan, seorang pemuda yang tadinya gagah
ganteng telah berubah menjadi lesu, pendiam dan patah semangat.
Pada suatu malam mendadak gurunya, Kheng Thian-hong, bertanya padanya: “Kau mengetahui
gurumu ini bukan orang Kanglam, tapi apakah kau tahu sebab apa Suhu meninggalkan kampung
halamannya dan menyingkir kedaerah Kanglam yang jauh ini?”
Selamanya Kok Ham-hi memang tidak pernah mendengar sang guru bercerita tentang asal usul
sendiri, sekarang gurunya menyinggung sendiri hal demikian dengan sendirinya ia ingin tahu sebab
musababnya.
Dengan sorot mata yang tajam Kheng Thian-hong lantas bercerita: “Sebab musababnya sangat
sederhana, yaitu karena aku tidak pernah melupakan bahwa diriku adalah bangsa Han, aku tidak
tahan berada dibawah penjajah bangsa lain, makanya aku mencari kebebasan. Kakek gurumu adalah
seorang pendekar besar yang mengasingkan diri, selama hidup beliau senantiasa berjuang bagi
kepentingan bangsa. Cuma sayang diantara muridnya terdapat seorang pengkhianat. Bahkan ilmu
silat murid durhaka itu paling tinggi, sudah memperoleh seluruh ajaran beliau dan menjadi murid
pertama ahli waris.”
“Barangkali kakek guru kurang bijaksana, mengapa mengangkat murid durhaka begitu sebagai ahli
waris?” ujar Kok Ham-hi.
Orang itu memang sangat pintar ber-pura2, kemunafikannya memang sangat sukar diketahui,” tutur
Keng Thian-hong pula. “Waktu masih berada dalam perguruan sedikitpun dia tidak memperlihatkan
jiwanya yang khianat. Bukannya Kakek guru kurang bijaksana, tapi beliau terlalu sayang kepada
murid yang berbakat. Apalagi dia adalah murid pertama, paling giat belajar, cerdas pula orangnya,
paling sempurna pula meyakinkan “Thian-lui-kang” kebanggaan perguruan kita, sebab itulah ia
berhasil mengelabui kakek guru, lalu dia diangkat sebagai ahli warisnya.”
“Sesudah kakek guru wafat, secara terang2an dia lantas menyerah kepada musuh. Dikatakan
menyerah kepada musuh sebenarnya tidak benar seluruhnya, sebab ayahnya adalah bangsa Han,
sedangkan ibunya bangsa Kim. Setelah kakek gurumu wafat, dia lantas anggap dirinya sebagai
orang Kim. Bisa jadi dia adalah mata2 yang diselundupkan bangsa Nuchen kedalam perguruan kita,
artinya dia memang musuh kita, hanya dia pandai menutupi gerak geriknya sehingga kita kena
dikelabui.”
“Jika begitu tinggi ilmu silat orang itu, setelah menyerah kepada pihak Kim tentunya tenaganya
sangat dihargai. Siapakah gerangannya?” tanya Kok Ham-hi.
“Dia adalah Yang Thian-lui, koksu kerajaan Kim sekarang ini.” Sahut Kheng Thian-hong. Yang
Thian-lui terkenal sebagai jago nomor satu dinegeri Kim, kebusukan namanya sudah bukan rahasia
lagi, maka Kok Ham-hi juga pernah dengar namanya, Cuma tidak menyangka dia justru Toasupek
(paman guru paling tua) sendiri. Maka dengan tegas ia berkata: “Sungguh suatu noda besar bagi
perguruan kita. Suhu, jangan2 engkau terpaksa menyingkir karena perbuatan pengkhianat itu?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Ya, sudah tentu dia termasuk salah satu sebabnya, sehingga aku terpaksa menyingkir jauh kesini,”
sahut Kheng Thian-hong. “Cuma yang memaksa aku meninggalkan kampung halaman terutama
adalah pemerintah penjajah Kim itu. Biarlah malam ini akan kuceritakan seluruh kisahku, aku ingin
kau melakukan sesuatu tugas penting untuk memenuhi cita2ku yang belum terlaksana. Kau harus
ingat betul2 ceritaku malam ini. Jangan melupakan pesanku ini!”
Melihat gurunya bicara dengan sungguh2 dan prihatin, cepat Kok Ham-hi menjawab: “Tecu
dibesarkan oleh Suhu, budi ini melebih ayah-ibu, maka ada urusan apa silahkan Suhumemberi
pesan.”
“Ketahuilah bahwa kakek gurumu mempunyai empat murid,” tutur Kheng Thian-hong lebih lanjut.
“Aku adalah murid buncit. Diantara ketiga suhengku, Jisuheng Hoa Thian-hong paling cocok
dengan aku. Sedangkan Toasuheng adalah murid durhaka Yang Thian-lui. Ketika masih sama2
berada dalam perguruan, meski gerak gerik durhaka Yang Thian-lui belum nampak jelas, namun
aku sudah merasa tidak cocok dengan dia. Waktu itu secara diam2 aku sudah masuk barisan
pergerakan dan hal ini hanya diketahui oleh Suhu saja. Sebenarnya urusanku itu dapat
kuberitahukan kepada Jisuheng, tapi lantaran Jisuheng mempunyai kelemahan, meski orangnya
jujur, tapi wataknya lemah, menghadapi sesuatu urusan tidak dapat mengambil keputusan tegas.
Karena itu aku tidak ingin memaksa dia ikut dalampergerakan, aku ingin dia menyatakan
pandangannya sendiri barulah akan kuberitahukan rahasiaku padanya.
“Setelah Suhu meninggal dunia, tahun kedua Yang Thian-lui lantas secara terang2an menjadi budak
pemerintah Kim. Mendapat kabar itu segera aku menemui Jisuheng, maksudku hendak mengajak
dia mengadakan pembersihan dalam perguruan sendiri. Siapa tahu Jisuheng ternyata takut kena
perkara, ia tidak berani melawan Toasuheng, sebelum aku datang dia sudah menyingkir entah
kemana.
“Aku merasa kepandaianku selisih sangat jauh dengan Yang Thian-lui, bila menghadapi dia seorang
diri pasti tiada harapan, sebabitulah disatu pihak aku giat meyakinkan ilmu dengan lebih sempurna,
dilain pihak aku mencari jejak Jisuheng, aku berharap dapat menemukan dia, akan kurunding dan
bujuk dia agar suka bekerja sama dan bersatu padu dengan aku.
“Di rumahku sendiri aku masih ada ibu yang sudah tua, aku sudah bertunangan, bakal istriku adalah
Piaumoayku sendiri yang sejak kecil tinggal dirumahku, untunglah Piaumoay yang telah
mewakilkan aku menjaga ibu dengan baik sekali. Maksud ibu menunggu setelah aku tamat belajar
dan pulang menikah dengan Piaumoay. Aku sendiri karena tidak berhasil menemukan Jisuheng,
akupun berpikir kawin dulu, urusan lain terpaksa ditunda, maka aku lantas pulang ke rumah.
“Akupun tahu Yang Thian-lui pasti takkan melepaskan diriku, kalau tidak memaksa aku mengekor
padanya tentu akan membinasakan aku. Aku mengira dia tidak tahu rahasiaku dalam barisan
pergerakan, kutaksir dia takkan buru2 mencari perkara padaku, akupun tidak pernah berpikir bahwa
dia akan menggunakan cara yang licik dan kotor untuk membikin susah ibu dan bakal istriku. Sudah
sekian lamanya aku berpisah dengan ibu dan tunangan, kini menghadapi saat2 bahagia perkawinan,
sudah tentu hatiku diliputi rasa girang dalam perjalanan pulang kerumah itu.
“Siapa tahu ketika sampai dirumah, demi melihat keadaan rumah, seketika aku seperti diguyur air
dingin, rasa girangku yang meliputi seluruh benakku itu serentak terhanyut seluruhnya. Kulihat di
daun pintu rumahku telah disegel oleh pembesar setempat, ibu dan piaumoay telah ditangkap,
dimana mereka ditahan juga tidak diketahui.
“Selagi aku terkesima menghadapi rumahku yang tertutup rapatitu, seorang tua tetanggaku telah
menarik aku kedalam rumahnya dan memberitahukan apa yang terjadi. Maka barulah aku
mengetahui bahwa keparat Yang Thian-lui sendirilah yang memimpin pasukan petugas ke rumahku
untuk menangkap ibu dan bakal istriku, bahkan meninggalkan sepucuk surat kepada paman tua
tetangga itu agar disampaikan kepadaku bila aku pulang.”
“Bangsat Yang Thian-lui itu benar2 manusia berhati binatag,” kata Kok Ham-hi dengan gemas dan
sedih pula bagi nasib sang guru. “Sungguh tidak tahu malu dia. Apa saja yang dia katakan didalam
surat itu?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Dapatkah cinta Kok Ham-hi dan Giam Wab terjalin kembali dan bagaimana pula kisah guru Kok
Ham-hi yang mengharukan itu?
Cara bagaimana Ci In-hong dan Beng Bing-sia mencapai Hui-liong-san dan melabrak musuh
bersama Nyo Wan dan Li Su-lam?
Jilid 11 bagian pertama
Kheng Thian-hong menutur pula: “Isi suratnya cukup ramah tamah dan bicara tentang persaudaraan
segala, katanya ibuku sama dengan ibunya,istriku juga iparnya, maka dia sengaja memindahkan ibu
dan istriku ke Taytoh untuk dirawat. Dalam suratnya samar2 ia mengancam dan hendak menjadikan
ibu dan istriku sebagai sandera.
“Aku menjadi serba salah, akhirnya aku mengambil keputusan, betapapun aku harus bertemu dulu
dengan ibu dan istri. Maka berangkatlah aku ke Taytoh. Dengan segala jalan Yang Thian-lui coba
merangkul diriku, dia sambut kedatanganku dengan mesra, mengadakan perjamuan bagiku, tapi
tidak mempertemukan diriku dengan ibu dan istriku. Aku tidak sudi makan daharan yang dia
sediakan dan buka kartu. Dia membujuk aku dengan macam2 perkataan yang enak didengar, tapi
aku tidak tergoyah sedikitpun. Akhirnya dia mengemukakan dua syarat, pertama aku harus tinggal
disana dan menjadi begundalnya, kedua, aku harus membeberkan segala rahasia pasukan
pergerakan yang kuketahui. Dua urusan satu tujuan, yang jelas aku diharuskan berkhianat dan
membantu dia untuk naik pangkat dan hidup lebih saja.
“Sungguh aku tidak tahan lagi. Tapi apa daya, aku harus memikirkan keselamatan ibu dan istri,
untuk sementara terpaksa aku harus bersabar. Aku tidak menyatakan setuju atau menolak
bujukannya, aku hanya minta diberi kesempatan bertemu dengan ibu dan istri. Ia mengira
bujukannya akan berhasil, maka dia lantas memenuhi permintaanku. Terus terang, waktu itu aku
sendiripun bingung, ibu dan istriku tidak paham ilmu silat, setelah bertemu dengan mereka, lalu apa
yang dapat kuperbuat? Sungguh tidak nyana, setelah bertemu mereka, justru kesulitanku ini telah
dibereskan oleh mereka secara mudah.”
Sampai disini, Kok Ham-hi merasa heran sekali. Bahwasanya ibu dan bakal istri sang guru tak
paham ilmu silat, lalu dengan cara bagaimana mereka dapat menyelamatkan diri?
Mendadak ia terperanjat ketika melihat air mata sang guru ber-linang2, maka tahulah bahwa
dugaannya justru keliru sama sekali. Kesulitan sang guru dapat dibereskan oleh ibu dan bakal
istrinya itu tidak berarti mereka dapat lolos dari bahaya.
“Engkau kenapa suhu?” tanya Kok Ham-hi kemudian.
Kheng Thian-hong seperti tersadar dari impian buruk, jawabnya kemudian: “Ya, aku ingat dahulu
akupun pernah tanya seperti ini kepada ibu, sebab waktu beliau bertemu dengan aku, tertampak air
muka ibu lain daripada biasanya. Kata ibu: “Aku tidak apa2, yang kunantikan adalah pertemuan kita
sekali ini. Cuma,seharusnya kau jangan datang kemari. ~ Aku menjawab: “ Tapi ibu dan piaumoay
berada disini semua, mana boleh aku tidak datang kesini?” ~ Ibu berkata pula: “Aku tahu akan
kebaktianmu kepadaku, tapi apakah kau tidak tahu tugas seorang laki2 adalah kepentingan negara
diatas kepentingan pribadi?” ~ Aku menjawab: “Ya, anak tidak pernah melupakan ajaran ibu.”
“Mendadak ibu menatap diriku dengan tajam katanya: ‘Katakan terus terang padaku, apakah kau
telah berjanji kepada Yang Thian-lui untuk berbuat sesuatu?” ~ Aku menjawab: ‘tidak, anak belum
sampai terjebak olehnya.” ~ Ibu tampaknya rada lega, katanya pula: ‘bagus sekali jika kau tidak
tertipu olehnya. Tapi keadaanmu sekarang tentu serba sulit, Yang Thian-lui telah mengancam kau
denganibu dan istrimu sebagai sandera, rupanya kau tidak mau menyerah, tapi juga bingung cara
bagaimana kau harus bertindak, begitu bukan?” ~ Karena isi hatiku tepat dibongkar oleh ibu,
terpaksa aku terdiam.
“Ibu menghela napas, lalu berkata pula: “Aku justru kuatir imanmu kurang teguh dan mencemarkan
nama baikmu. Sebab itulah aku telah tertekad akan menyelesaikan kesulitanmu ini asalkan kau
jangan lupa kepada apa2 yang barusan kukatakan padamu.” ~ Berkata sampai disini, tiba2 air muka
bersemu hitam, suaranya juga serak. Aku terkejut, aku merangkul ibu dengan kencang dan kembali
bertanya: “Engkau kenapa ibu?” ~ Ibu tampak tersenyum, katanya: “Waktu kau datang tadi, dalam
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
mulutku sudah kukumur sebutir obat. Aku merasa tidak mampu membantu kesulitanmu, tapi juga
tak boleh menjadi rintangan bagimu. Maka dari itu aku hendak mangkat lebih dulu menyusul
ayahmu. Sekarang kau lekas menerjang keluar, seumpama tidak berhasil, biarpun mati juga kau
adalah putraku yang sejati, putraku yang gagah perkasa. Tapi sekali2 kau jangan mencari jalan
pendek dengan membunuh diri.” ~ Suara ibu makin lama makin lemah, tapi setiap katanya laksana
bunyi guntur yang menggoncangkan hatiku. Aku baru mengetahui bahwa ibu telah minum racun
demi diriku. Aku bermaksud menolong ibu, namun sudah kasep, obat racun itu sudah masuk perut
beliau, dalam sekejap saja beliau sudah tewas keracunan.
“Aku terkesima saking kagetnya sehingga lupa bahwa istriku masih berada disisiku. Tiba2 ia
berkata: ‘Apakah kau sudah lupa akan pesan ibu? Untuk apa kau menjublek saja disini?” ~ Aku
tersadar seketika dan melonjak bangun, aku bertanya: ‘Dan kau bagaimana?” ~ Piaumoay atau
bakal istriku itu menjawab: ‘Ibu adalah seorang ibu teladan, masakah menantunya mesti tamak
hidup sendiri?” ~ Habis berkata mendadak ia meloncat kebawah loteng, aku tidak keburu
menariknya, maka tubuhnya terbanting diatas batu gunung2an dan mengeluarkan suara jeritan yang
mengerikan. Waktu aku menyusul kebawah melompat kebawah, aku masih sempat mendengar
ucapannya yang terakhir kepadaku: “Toako, maafkan aku takdapat mendampingi kau lagi, sebab
………. Sebab aku tidak ingin membikin susah padamu.”
“Sebenarnya aku pulang kerumah dengan tujuan hendak menikah, tak terduga hanya dalam waktu
singkat itu ibu meninggal, bakal istri juga mati. Tapi ucapan piaumoay memang tidak salah,
kematian mereka tidaklah sia2. aku tidak perlu berduka bagi mereka, aku harus menuntut balas bagi
mereka.”
Kok Ham-hi ikut tegang mendengarkan cerita itu, pikirnya: “kuanggap nasibku malang, siapa tahu
nasib suhu jauh lebih malang lagi. Keadaan yang dia hadapi waktu itu mungkin jauh lebih
berbahaya daripada pengalamanku pada malam itu.”
Maka Kheng Thian-hong menyambung pula ceritanya: ‘Keadaan waktu itu tidak memberi
kesempatan kepadaku untuk berduka, begundal Yang Thian-lui siap mengawasi diriku dibawah
loteng, begitu aku meloncat turun segera mereka merubung maju. Entah darimana datangnya
kekuatanku pada waktu itu, dalam pertarungan sengit itu sekaligus aku telah membinasakan tujuh
tokoh pilihan musuh, bahkan Yang Thian-lui sendiri juga kutandangi mati2an hingga berakhir
dengan kedua pihak sama2 terluka parah. Padahal kepandaianku sebenarnya tidak dapat menandingi
Yang Thian-lui, ber-turut2 tiga kali aku menyambut pukulannya yang dahsyat, aku sudah terluka
dalam dengan parah sekali, tapi dibawah gempuran balasanku, dia juga terkena dua kali pedangku.
Sebab itulah dia tidak berani mengejar lagi. Aku menyembunyikan diri dipegunungan sunyi untuk
menyembuhkan diriku, untuk itu badanku baru sehat kembali setahun kemudian. Akan tetapi luka
dalam yang kuderita itu sampai saat ini masih belum sembuh seluruhnya.”
“Sudah lewat 20 tahun, sampai sekarang masih belum sembuh?” Ham-hi menegas dengan terkejut.
“Jangan kuatir, betapapun luka dalam yang belum sembuh ini tidak banyak mengganggu
kesehatanku,” sahut Kheng Thian-hong. “Hanya saja ilmu silat keturunan kakek guru tak dapat
kuyakinkan lagi melainkan hanya dapat kuajarkan padamu. Sebab itulah makanya selama aku
tinggal didaerah Kanglam tak pernah kuperlihatkan ilmu silatku didepan orang lain. Setelah aku
takdapat meyakinkan ilmu yang tinggi, yang lebih menyesalkan adalah situasi diutara tambah
buruk, hubunganku dengan pihak pasukan pergerakan menjadi terputus.
“Namaku sudah masuk daftar buronan kerajaan Kim, luka Yang Thian-lui yang lebih ringan itu
sudah lama sembuh, dia telah pimpin sendiri anak buahnya mencari jejakku kesegenap pelosok.
Tentu saja tiada tempat berpijak lagi bagiku didaerah utara. Apa boleh buat, terpaksa aku kabur
kedaerah selatan. Waktu itu usiaku masih muda, meski ilmu silatku terganggu, namun semangatu
masih me-nyala2. Kupikir aku masih dapat berjuang dibarisan kaum ksatria pemerintah Song, tapi
setiba di Lim-an (kini hangciu, ibukota Song selatan waktu itu) barulah aku mengetahui akan
kebobrokan pemerintahan Lim-an, dari rajanya sampai bawahannya rata2 hanya cari selamat
sendiri2, ada beberapa orang pemimpin yang berjiwa patriotik, tapi mereka bukannya mendapat
pujian, sebaliknya mereka digeser atau difitnah dan akhirnya dibunuh oleh kaum pembersar dorna.
Aku menjadi putus asa, terpaksa ganti nama dn tukar she serta berkelana di dunia kangouw.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Akan tetapi aku dibebani tugas menuntut balas dendam negara dan sakit hati keluarga, aku tidak
rela diriku akan tenggelam begitu saja. Aku menyadari selama hidupku ini mungkin tak dapat
membunuh musuh dengan tanganku sendiri, sebab itulah ke-mana2 aku berusaha mencari murid
yang berbakat, dengan harapan melalui muridku itu nanti akan terlaksana cita2ku yang belum
terkabul itu. Selama sepuluh tahun aku mencari calon murid, akhirnya aku mendapatkan kau
sebagai muridku. Sejak itu aku telah mencurahkan segenap tenaga dan pikiranku atas dirimu.”
Kok Ham-hi sangat terharu, katanya: “Sungguh tecu merasa malu, sedikitpun tecu tidak menyadari
betapa engkau menaruh harapanmu atas diriku dengan segenap jerih payah suhu selama ini.”
“Leluhurmu sebenarnya juga orang utara,” tutur Kheng Thian-hong lebih lanjut, “Kakekmu ikut
hijrah keselatan bersama kerajaan Song, akhirnya menetap didaerah dini. Dalam pelarian ayahmu
juga sangat menderita, dia harus menjaga kakekmu dan mesti menjaga pula anaknya yang masih
kecil, dengan susah payah keluargamu akhirnya mengungsi keselatan dengan selamat, tapi tiada
setahun kemudian kakekmu lantas meninggal karena sakit, dua tahun kemudian ayahmu yang juga
sakit2an itupun mangkat meninggalkan kau. Sebab itu, bicara tentang asal usul dirimu
sesungguhnya kaupun mempunyai permusuhan yang tak terukur dalamnya dengan bangsa
Kim,hendaklah kau camkan.”
Dengan air mata berlinang Kok Ham-hi menjawab: “Murid pernah mendengar penuturan Giokhong
Totiang, maka murid tidak berani melupakan sakit hati leluhur dan negara.”
Kiranya setelah Kok Ham-hi menjadi piatu, untung dia diterima mondok disuatu kuil yang
berdekatan, ketua kuil itu adalah seorang murid keponakan Giok-hong Tojin, tokoh terkemuka Jingsia-
pay. Beberapa bulan Kok Ham-hi menjadi kacung dikuil itu, ketika Giok-hong Tojin satang,
demi nampak bakat sianak ini sangat bagus, pula asal usulnya harus dikasihani, maka Giok-Hong
Totiang lantas mengambilnya sebagai murid dan dibawa pulang ke Jing-sia-san. Giok-hong Tojin
adalah sahabat baik Kheng Thian-hong, ia tahu kepandaian Thian-hong jauh lebih tinggi daripada
dia, diketahui pula Thian-hong sedang mencari murid yang berbakat, maka dengan sekarela Giokhong
lantas menyerahkan muridnya kepada Thian-hong.
Begitulah Kheng Thian-hong merasa puas akan jawaban Ham-hi tadi, katanya: ‘Ehm, bagus sekali
jika kau tidak lupa. Diantara tokoh2 kangouw dan dunia persilatan hanya Giok-hong Totiang saja
yang kenal asal usulku. Dia yakin kau adalah anak yang berbakat, makanya kau dikirim kepadaku
agar aku menerima kau sebagai murid. Hal ini memang baik, kau harus dipupuk menjadi orang
yang berguna, selain itu Giok-hong Totiang ingin membantu terkabulnya cita2ku dalam hal mencari
murid. Pandangan Giok-hong ternyata tidak salah, kau memang punya bakat bagus untuk belajar
silat, bakatmu jauh lebih baik daripada diriku. Sedikit kuberi petunjuk segera dapat kau tangkap dan
pahami dengan baik. Bukan aku sengaja memuji kau, dengan kepandaianmu sekarang kau sudah
melebihi diriku ketika belum terluka parah dahulu. Akan tetapi meski bakatmu bagus, ternyata telah
mengecewakan harapanku. Orang muda gagal dimedan cinta memang sukar terhindar daripada rasa
duka, tapi aku tidak menyangka hanya karena seorang perempuan kau jadi patah semangat. Urusan
sudah lalu hmpir tiga tahun,kaumasih tetap lesu. Ai, sungguh sangat mengecewakan aku!”
Kok Ham-hi menjadi berkeringat dingin dan menunduk, cepat ia menjawab: “Ya, murid pantas meti
karena telah mengecewakan harapan guru atas diriku.”
Thian-hong tersenyum, katanya: ‘Aku hanya ingin kau bangkit kembali, kini kau menyadari akan
kesalahanmu, tentu saja belum terlambat, Jiwamu hendaklah kau pertahankan untuk dipertukarkan
dengan musuh negara saja.”
“Guru atas perintah apapun murid tidak menolak biarpun mati seribu kali,” sahut Kok Ham-hi.
“Baik, kau sekarang sudah pulih kembali, maka besok juga kau boleh berangkat menuju keutara,”
kata Thian-hong. “Aku ingin kau mewakilkan aku mengadakan pembersihan perguruan.”
Ham-hi menjadi bersemangat dan merasa kuatir pula, katanya: “Banyak terima kasih atas
kepercayaan Suhu terhadap diriku dengan menyerahkan tugas seberat ini kepadaku, biarpun hancur
lebur badan murid juga akan kulaksanakan sekuat tenaga. Hanya saja murid kuatir tak sanggup
menyelesaikan tugas ini sehingga sia2 saja tugas yang kuterima ini.”
“Ilmu silatmu sudah terhitung paling menonjol diantara angkatan muda umumnya, tapi untuk
menghadapi Yang Thian-lui memang kau masih kurang kuat. Tapi kaupun jangan kuatir, sebab
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dalam perguruan kita masih ada angkatan tua yang lain, urusan pembersihan perguruan yang maha
berat ini tentunya takkan dibebankan kepadamu seorang.”
“Apakah suhu maksudkan Samseek Hoa Thian-hong?” Kok Ham-hi menegas.
“Benar, meski dia rada penakut, tapi tergolong kaum ksatria yang berjiwa besar. Dahulu dia jeri
terhadap Yang Thian-lui dan entah menyembunyikan diri dimana. Tapi menurut dugaanku Yang
Thian-lui pasti takkan tinggal diam, selama 20-an tahun ini Sam-suekmu itu tentu juga banyak
emndapat tekanan dari Yang Thian-lui. Aku cukup kenal pribadi Sam-supekmu, kalau menurut
perhitungannya sukar mengalahkan Yang Thian-lui, mungkin sekali dia Cuma main kucing2an saja,
tapi bila sudah terpaksa dan tidak tahan lagi, psti dia akan berbangkit untuk melawannya.
“Makanya setiba diutara nanti kau harus berusaha mencari tahu dimana beradanya Hoa-supek.
Meski urusan ini rada sukar, tapi bukannya tiada harapan sama sekali, menurut perkiraanku, dalam
hal membikin bersih perguruan kita tentu Hoa-supek sama juga seperti ku, senantiasa tak pernah
lupa, aku ingin mencari dia untuk tujuanyang sama. Maka setiba diutara, pada saat2 tertentu boleh
ku sengaja pamerkan sedikit ilmu silat perguruan kita agar berita tentang dirimu tersiar sampai
ditelinganya, andaikan kau tak dapat menemukan dia, tentu dia yang akan mencari padamu.”
Habis berkata lalu Kheng Thian-hong menulis sepucuk surat dan diserahkan kepada Kok Ham-hi.
Dengan tugas berat dari sang guru itulah kemudian Kok Ham-hi menyeberangi Tiangkang menuju
keutara, tanpa terasa setahun sudah lewat. Didalam setahun ini orang dari perguruan sendiri yang
pertama diketemukan adalah putranya Yang Thian-lui yaitu Yang Kian-pek. Semula ia tidak tahu
asal usul Yang Kian-pek, malahan secara diam2 ia pernah membantunya, tapi kemudian dia
mengetahui duduknya perkara dan tahu telah salah bantu, ia menjadi masgul dan kecewa, sampai
malam tadi barulah dia merasa terlampiaskan kemasgulannya itu setelah mengalahkan Yang Kianpek
dikuil kono itu.
Yang membuatnya bergirang pula adalah waktu mengalahkan Yang Kian-pek, berbareng itu
diperoleh pula berita tentang saudara seperguruan kedua secara tanpa sengaja. Yakni dia telah
disangka sebagai Ci In-hong oleh Yang Kian-pek, maka dia yakin Ci in-hong itu pasti orang dari
perguran sendiri yang musuhi Yang Kian-pek dan ayahnya.
“Orang she Ci ini pasti murid Hoa-supek, bila bertemu dengan dia tentu dapat pula mengetahui
dimana beradanya Hoa-supek, mengapa aku mesti ragu2 lagi?” demikian pikirnya.
Ci In-hong dalam perjalanan bersama Beng Bing-sia, saudara misan Giam Wan, agar tidak
menyinggung perasaan yang pernah terluka, makanya ia tidak ingin Giam Wan mengetahui dia
masih hidup didunia ini, sebab itulah ia merasa ragu2.
Kini ia menjadi ingat kepada tugas berat yang diserahkan oleh sang guru. Pikirnya: “Suhu telah
memperingatkan diriku agar jangan bikin runyam urusan hanya karena persoalan cinta, tapi kini aku
demi menghindari Giam Wan dan tidak mau mencari Ci In-hong, bukanlah ini berarti membikin
urusan penting ikut terbengkalai?”
Berpikir demikian, segera ia mengambil keputusan tegas, ia percepat langkahnya menuju kejurusan
Hui-liong-san untuk menyusul Ci In-hong.
Sementara itu hujan salju sudah mereda, ditengah malam buta suasana pegunungan sunyi senyap,
berjalan diatas tanah bersalju perasaan Kok Ham-hi yang masgul tadi kini telah lenyap seluruhnya,
pikirannya terasa segar.
Tiba2 terdengar suara “sret-sret” yang sangat pelahan, suara sayup2 itusukar terdengar kalau tidak
dalam suasana sunyi senyap di tengah malam.
Sebagai seorang ahli silat segera Kok Ham-hi tahu apa artinya itu, ia terkejut, pikirnya: “Kedua yaheng-
jin (orang berjalan malam) ini sungguh hebat ginkangnya.”
Saat itu ia berada disuatu tempat ter-aling2 oleh semak2 pohon dan diapit oleh dua potong batu
cadas yang menegak tinggi, ditengah sela2 batu itu kebetulan dapat dipakai menyembunyikan diri,
terutama sebelum mengetahui siapakah gerangan kedua orang pendatang itu.
Baru saja Kok Ham-hi bersembunyi, tertampaklah dua sosok bayangan orang muncul didepannya,
orang yang berada dibelakang berkata: “Loh-heng, kepandaianmu “menginjak salju tanpa bekas” ini
sungguh tidak bernama kosong, aku benar2 kagum padamu dan menyerah, kita tidak perlu
berlomba lagi. Marilah kita mengaso dulu!”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Orang yang berada didepan menjawab dengan tertawa: ‘Ciu-heng, kau punyalwekang akupun
sangat kagum. Bicara ginkang mungkin aku lebih unggul sedikit darimu, tapi soal kekuatan
lwekang sungguh aku harus mengaku kalah. Bila kita berlari lebih dari 50 li, betapapun aku pasti
sukar mengikuti langkahmu. Hanya saja aku tidak sengaja hendak berlomba dengan kau, soalnya
kita harus berjalan cepat, kita harus mencapai Hui-liong-san dalam batas waktu yang telah
ditetapkan.”
“Dengan cara berjalan kita, besok lusa pasti dapat mencapai Hui-liong-san,” kata orang she Ciu,
“Maka kukira takkan terlambat datang kesana. Soalnya cara kita berjalan cepat ini sungguh aku
rada2 kewalahan.”
“Baiklah, jika begitu kita boleh mengaso dan tidur sepuasnya disini, biarlah kita berjaga secara
bergiliran,” ujar seorang she Loh.
“kau sudah biasa hidup ditanah bersalju, aku sendiri tidak sanggup meniru kau untuk tidur pulas
diatas tanah salju,” kata orang she Ciu dengan tertawa. “Maka tak perlu kau menguji lagi padaku,
biarlah kita mengobrol saja. Tentang urusan kita ini sungguh rada2 diluar dugaanku, aku tidak
nyana bahwa Toh-cecu dari Hui-liong-san adalah kawan kita sendiri.”
“Lahirnya Toh An-peng itu tampak kasar, tapi sebenarnya seorang yang licin dan dapat berpikir
panjang,” kata orang she Loh. “Jangan kau mengira dia suka bergaul dengan orang2 yang mengaku
dari kaum pendekar dan anggap Loh An-peng adalah golongan mereka. Dia berbuat begitu
sebenarnya bekerja secara diam2 bagi koksu kita.”
Kok Ham-hi terkejut, pikirnya: “Kiranya kedua orang ini adalah anak buah Yang Thian-lui. Entah
apa maksud tujuan mereka pergi ke Hui-liong-san. Baiklah biar aku mendengarkan apa yang akan
mereka bicarakan.”
Maka terdengar orang she Loh lagi berkata: “urusan sering2 terjadi diluar dugaan. Seperti sekali ini
kita tak dapat menemukan Yang-kongcu, bukankah hal yang aneh?”
“Iya,” sehut orang she Ciu, “kan sudah berjanji akan bertemu dirumah Ho Kiu-kong, tapi Ho Kiukong
sendiri juga menghilang, dia sudah pindah rumah sehari sebelum kita tiba, entah apa yang
telah terjadi?”
“Eh, Loh-toako, ginkangmu dikalangan kita terhitung nomor terkemuka, entah bagaimana kalau
dibandingkan Yang-kongcu?” tiba2 orang she Ciu bertanya.
“Bukan maksudku mengumpak Yang –kongcu, tapi aku sendiri merasa bukan tandingannya,” sahut
orang she Loh. “Aku berjuluk “menginjak salju tanpa bekas” padahal masih jauh untuk bisa
menerima gelar kehormatan ini. Pernah satu kali aku dan Yang-kongcu pergi berburu di Swat-san
(pegunungan saju), kulihat caranya Yang-kongcu memburu ayam salju, kepandaian ginkangnya
itulah baru sesuai disebut sebagai menginjak salju tanpa meninggalkan bekas. Dan Ciu-toako punya
lwekang entah bagaimana kalau dibandingkan Yang-kongcu?”
“Sama juga, masih jauh kalau dibandingkan beliau,” sahut orang she Ciu. “Suatu hari aku dan
beliau coba2 menguji pukulan masing2, dengan tenaga sakti Thian-lui-kang sekali pukul beliau
telah menghancurkan tumpukan 12 potong ubin hijau yang amat keras, aku sendiri cuma sanggup
menghancurkan enam buah ubin saja.”
“koksu kita bergelar jago nomor satu dinegeri Kim memang tidak bernama kosong.” Ujar orang she
Loh dengan gegetun, “Kepandaian kita sudah lumayan dikalangan kangouw, tapi dibandingkan
puteranya saja masih selisih jauh.
“Maka dari itu aku bilang kita tak perlu kuatir, seumpama terjadi apa2, masakah Yang-kongcu yang
begitu tangguh sampai mengalami sesuatu?” kata orang she Ciu.
“Aku tidak menguatirkan terjadi apa2 atas diri Yang-kongcu, aku Cuma kuatir urusan Hui-liong-san
bisa menjadi runyam,” ujar orang she Loh.
“O ya, aku ingin tanya kau,” kata orang she Ciu. “Koksu suruh kita menggabungkan diri dengan
yang-kongcu dan pergi ke Hui-liong-san, sebenarnya untuk urusan apa?”
“Pernahkah kau mendengar nama Li Su-lam?” tanya orang she Loh.
“Li Su-lam? Seperti sudah kukenal nama ini. Ah, tidak salah lagi, beberapa hari yang lalu pernah
kudengar cerita dari kawan kalangan Hek-to bahwa Bengcu baru kalangan Lok-lim yang baru
dipilih itu kalau tidak salah bernama Li Su-lam sebagaimana kau sebut ini.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Benar, justru Koksu menyuruh kita pergi ke Hui-liong-san untuk membantu Toh-cecu menhadapi
bocah she Li itu.”
“Ada permusuhan apa antara bocah she Li itu dengan Koksu kita?”
“Tidak ada, sejak dulu maupun sekarang Koksu kita tiada permusuhan apa2 dengan dia.” “Lalu
mengapa beliau berdaya upaya hendak melenyapkan bocah itu?”
“Ini menyangkut suatu urusan yang maha rahasia. Tak menjadi soal bila kuceritakan padamu, tapi
jangan se-kali2 kau ceritakan pula kepada orang lain!”
“Ai, Loh-toako ini kenapa sih? Kita sudah bekerja sama selama sekian tahun, masakah kau masih
tidak mempercayai aku? Engkau adalah orang kepercayaan Koksu, tapi akupun sudah cukup lama
mengabdi kepada Koksu.”
“Justru Koksu mengetahui kesetiaanmu, makanya beliau suruh kau bersama aku menyelesaikan
tugas ini. Sebenarnya Koksu kita tiada permusuhan apa2 dengan Li Su-lam, tapi bocah she Li itu
adalah buronan Khan Agung Mongol sekarang, yaitu Ogotai. Sekarang kau paham tidak
persoalnya?”
“O, kiranya begitu. Sungguh kita harus kagum terhadap siasat yang diatur Koksu serta
perhitungannya yang jauh.”
“memangnya kau baru tahu, disatu pihak beliau adalah Koksu negeri Kim, dilain pihak dia
bersekongkol lagi dengan Khan Mongol. Dikemudian hari tak perduli pihak mana yang menang,
yang pasti kedudukan beliau takkan goyah sama sekali.”
“Hahahaha, makanya aku bilang langkah yang diambil Koksu kita ini sungguh tepat,” ujar orang
she Loh dengan bergelak tawa.
“Jika begitu, jadi Li Su-lam adalah ikan besar yang hendak dikail Koksu kita,” ujar orang she Ciu.
“Tapi ada sesuatu hal yang kurang jelas bagiku, sebagai Lok-lim Bengcu yang baru, seharusnya Li
Su-lam tidaklah bodaoh, mengapa dia sampai kena dikail?”
“Ikan besar ini terkail secara tidak sengaja,” tutur orang she Loh. “Orang yang hendak dikail oelh
Toh-cecu dari Hui-liong-san semula adalah To Hong, putri kesayangan mendiang To Pek-seng.
Kebetulan Li Su-lam itu baru menjabat Lok-lim bengcu, mungkin dia bermaksud menarik Toh Anpeng
kepihaknya, makanya dia mewakilkan To Hong datang ke Hui-liong-san. Biarpun dia bukan
orang bodoh, tapi darimana dia mengetahui bahwa Toh An-peng sudah mengekor kepada Koksu
kita?”
“Kabarnya To Hong terkenal karena kecantikannya, jangan2 Toh An-peng penujui dia, makanya
mengatr prangkap hendak menawannya. Tapi kini yang masuk jaring adalah Li Su-lam, bukankah
hal ini akan mengecewakan Toh An-peng?”
“Ai, dasar Ciu-heng ini orang yang mata keranjang, pantas kau berpikir kearah sana. Cara
berpikirmu inilah terlalu menyimpang.”
“O, apa barangkali masih ada persoalan lain?” orang she Ciu menegas.
“Apakah kau tidak tahu bahwa sepak terjang To Hong sama sekali berbeda dengan kakaknya yang
bernama To Liong? Meski To Liong sakit hati kepada Koksu kita karena membunuh ayahnya, tapi
jalan yang mereka tempuh adalah satu arah, To Liong itu juga sudah lama kena dikail pihak
Mongol. Lain halnya dengan To Hong, bukan saja dia bertekad akan membalas sakit hati kematian
ayahnya, bahkan dia adalah pemimpin pasukan pergerakan. Bila Toh An-peng dapat menangkap To
Hong, disatu pihak dia akan mendapat mengambil hatinya To Liong, dilain pihak berarti
menghapus suatu rintangan besar bagi pasukan Mongol. Satu kali kerja dua hasil, bukankah sangat
menguntungkan? Akan tetapi yang terkail sekarang adalah Li Su-lam, hal ini menjadi lebih
menguntungkan daripada ToHong. Makanya dia pasti akan lebihgirang, manabisa merasa kecewa?”
Tempat sembunyi Kok Ham-hi itu terletak tidak jauh daripada tempat bicara orang she Loh dan Ciu
itu, mendengar sampai disini, tidak kepalang gusar Kok Ham-hi, pikirnya: “Sungguh suatu tipu
muslihat yang keji. Urusan ini jauh lebih penting daripada mencari Ci-suheng, mana boleh
kubiarkan dia masuk perangkap musuh. Tampaknya ilmu silat orang2 She Ciu dan she Loh ini tidak
lemah, entah aku mampu mengalahkan mereka atau tidak? Tapi sekalipun kubunuh mereka toh
bukan jalan keluar yang terbaik.”
Dalam pada itu terdengar orang she Loh sedang bicara pula: “Toh-cecu sudah menyediakan sejenis
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
obat tidur yan tanpa warna dan tanpa rasa, asalkan Li Su-lam tiba, segera obat itu akan dicampur
dalam arak yang disuguhkan kepadanya. Hehe, bila arak itu masuk tenggorokannya, tanpa susah
lagi dia akan tertangkap.”
“Jika begitu, mengapa mesti mengerahkan orang banyak dan jauh2 kita disuruh pergi kesana untuk
membantunya?” tanya orang she Ciu.
“Li Su-lam adalah buronan Khan Mongol, urusan ini lain daripada yang lain. Sebab itu segala
kemungkin harus diperhitungkan, seumpama nanti dia tidak mau minum arak, maka terpaksa mesti
pakai kekerasan.”
“Bagaimana keadaan orang she Li itu?” tanya orang she Ciu.
“Dia mampu menduduki kursi ketua umum kaum Lok-lim, dengan sendirinya memiliki kepandaian
yang tidak lemah. Sebab itu pula Koksu kuatir kita tidak mampu menghadapinya dan perlu minta
Yang-kongcu ikut tampil kemuka.”
“Kabarnya orang she Li itu baru berusia likuran, aku tidak percaya kepandaiannya dapat melebihi
Yang-kongcu.”
“Tapi sekarang Yang-kongcu tak dapat diketemukan, terpaksa kita harus melayani dia.”
“Bicara tentang kepandaian, meski kita tak dapat mengungkuli Yang-kongcu, tapi kalau kita
bergabung belum tentu tidak lemah daripada beliau.”
“Benar, kalau kita berdua bergabung rasanya akan lebih kuat daripada Yang-kongcu.”
“Jika begitu mengapa mesti jeri terhadap bocah she Li itu? Apalagi Toh An-peng juga terhitung
jago Lok-lim terkemuka. Rasanya Koksu rada memandang rendah terhadap kita.”
“Menilai lawan lebih baik diberi kelonggaran, apa lagi Li Su-lam tidak mungkin datang sendirian.”
“Sejak To Pek-seng mati, diantara tokoh2 Lok-lim, kecuali Tun-ih Ciu ayah beranak dan To Liong
paling2 ditambah dengan Liu Tong-thian, ke-empat orang inilah mungkin lebih unggul daripada
kita. Tapi yang lain, haha, bukan aku membual, sesungguhnya tak kupandang sebelah mata kepada
mereka.”
“Ciu-toako, rasanya kau lupa kepada seorang lagi, kalau kukatakan mau tak mau kau harus
meninjau kembali ucapanmu tadi.”
“O, siapakah dia? Coba katakan!”
“Orang ini bukan tokoh kalangan Loi-lim, tapi adalah sobat baik mendiang To Pek-seng, dia ada
hubungan baik dan erat dengan pihak Long-sia-san.”
“Hah, apakah yang kaumaksudkan adalah Beng Siau-kang yang berjuluk Kanglam-tayhiap itu?”
orang she Ciu menegas dengan suara keder. “Apakah dia juga datang kesini?”
“Ya, memang tidak salah, iapun datang,” sahut orang she Loh.
“Wah, kalau begitu dia menemani Li Su-lam ke Hui-liong-san, biarpun kita berdua ditambah lagi
Yang-kongcu rasanya juga bukan tandingan mereka.”
“Kau tidak perlu takut, tua bangka Beng Siau-kang akan dihadapi oleh orang lain lagi, kita sendiri
tidak perlu susah. Toh An-peng hanya minta kita menghadapi Li Su-lam saja.”
“Siapa lagi yang mampu melayani Beng Siau-kang?”
“Tak dapat dilawan dengan kekuatan, masakah tak bisa dirobohkan dengan akal?”
“Oya, tadi kaumengatakan Toh-cecu telah menyediakan sejenis obat bius …….”
“Yang kumaksudkan akal tidak melulu menggunakan obat saja. Cuma saja segala kemungkinan
memang perlu dijaga sebelumnya, kalau tidak buat apa koksu minta kita bergabung dengan Yangkongcu
dan pergi kesana bersama.”
“Loh-toako, sebenarnya kal apalagi yang telah diatur, lekas kau ceritakan.”
“Mengapa ter-buru2, sabar sedikit, dengarkan uraianku. Lebih dulu ingin kutanya kau, apakah kau
tahu seorang yang bernama Giam Seng-ti yang bergelar Cwan-tang-tayhiap?”
Agaknya orang she Ciu itu terkejut, katanya: “Kabarnya Giam Seng-to itupun tokoh terkemuka dnia
persilatan, tapi selamanya dia tak pernah melintasi Tiangkang, masakah sekarang iapun
menyeberang ke utara sini?”
“Giam Seng-to sendiri tidak datang ke sini, tapi anak perempuannya yang telah tiba.”
“Barangkali kau tidak tahu bahwa Giam Seng-to adalah saudara iparnya Beng Siau-kang? Maka
dari itu, hehe, untuk melayani Beng Siau-kang terpaksa harus menggunakan diri anak dara she
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Giam itu.”
Mendengar sampai disini, terkejut pula Kok Ham-hi. Selama tiga tahun ini dia selalu menghindari
Giam Wan, tak tersangka kini nona itupun berada didaerah utara sini. Ia heran mengapa ayahbundanya
mengizinkan anak dara itu berkelana sendirian menuju kedaerah musuh? Apa barangkali
nona itu sudah bersuami? Tapi tidak mungkin, pasti tidak! Setelah kejadian malam itu, manabisa
nona itu menikah lagi dengan Thio Goan-kiat? Atau bisa jadi nona itu mendengar berita tentang
diriku, maka jauh2 melarikan diri dari rumah orang tua untuk mencar diriku? Demikian pikirnya.
Begitulah karena pikiran kusut, tanpa sadar Kok Ham-hi bernapas rada keras. Mendadak terdengar
orang she Loh tadi membentak: “Siapa itu?”
Kok Ham-hi kaget dan mengira kedua orang itu telah mengetahui jejaknya. Baru saja ia bermaksud
melompat keluar, tiba2 terdengar seorang lagi menjawab dengan mendengus: “Hm, kalian berdua
apa sudah pangling padaku?”
Waktu Kok Ham-hi mengintip kesana melaui celah2 batu, dilihatnya di tanah bersalju sana muncul
seorang laki2 dan seorang perempuan. Yang perempuan itu jelas Beng Bing-sia adanya. Seketika
timbil pikiran dalam benak Kok Ham-hi: ‘Yang laki2 ini tentu Ci In-hong. Sungguh tidak nyana aku
dapat berjumpa dengan dia disini.”
Belum lagi lenyap pikirannya, benar juga terdengar kedua orang tadi telah membentak berbareng:
‘Kiranya kau siburonan ini! Hm, ternyata tidak kecil juga nyalimu!”
Ci In-hong dan Bing-sia berdua sebenarnya dalam perjalanan didepan, tapi lantaran Bing-sia belum
sembuh seluruhnya, ginkangnya terpengaruh sebab itulahmereka berbalik ketinggalan dibelakang.
Ketika melihat bekas kaki kedua orang itu diatas salju, Ci In-hong terus mengikui jejak mereka dan
kebetulan kepergok disini. Dia adalah orang yang dibenci dan hendak dibekuk oleh Yang Thian-lui.
Sebab itulah biarpun tahu ilmu silatnya cukup lihai, kedua orang itu merasa kuat untuk
melawannya.
Begitulah Ci In-hong lantas menjengek: “Hm, kau memaki aku sebagi pengkhianat? Aku ingin
tanya kalian ini bangsa Han atau bangsa Kim?”
Dari malu kedua orang itu menjadi gusar, mereka membentak: ‘Tak perlu banyak omong, marilah
kita tentukan dengan pukulan.”
“memangnya kau sangka aku gentar padamu,” jawab Ci In-hong. Lalu ia berkata pula kepada Bingsia
ketika melihat nona itu telah melolos pedangnya dan siap tempur: “nona Beng, silahkan kau
menonton dulu, bisa jadi mereka ada begundal yang lain. Bila aku tidak sanggup melawan mereka
barulah kau nanti ikut maju.”
Ia tahu kedua lawan adalah jago terkemuka yang dipercaya oelh Yang Thian-lui, ilmu silat mereka
tentu tidak lemah. Kalau satu lawan satu Ci In-hong yakin dapat mengalahkan salah satu diantara
mereka, tapi kalau satu lawan dua sukar meramalkan kesudahannya nanti. Beng Bing-sia sendiri
kesehatannya belum pulih seluruhnya, maka In-hong rada kuatir bila nona ini ikutb bertempur.
Bing-sia tidak membantah, dengan pedang terhunus ia berjaga disamping. Dalam pada itu dengan
cepat luar biasa kedua orang itu sudah mulai menyerang dari kiri dan kanan.
Segera Ci In-hong angkat sebelah tangannya, sedikit berputar terus menghantam kearah orang she
Ciu disebelah kiri sambil membentak, diantara guncangan angin pukulaannya yang dahsyat itu
menerbitkan pula suara gemuruh.
Kok Ham-hi dapat melihat jelas “Thian-lui-kang” yang dimainkan Ci In-hong itu, ia terkejut dan
bergirang pula, pikirnya: ‘dia ternyat betul adalah murid Sam-supek, biarlah aku melihat lebih jauh
untuk mengetahui apakah ilmu yang dia pelajari sama tidak dengan aku.”
Belum lenyap pikirannya, terdengar suara “blang” yang keras, orang she Ciu tadi tampak
sempoyongan dan mundur beberapa tindak. Sebaliknya pedang ditangan kanan Ci In-hong yang
berbareng ditusukkan kepada orang she Loh disebelah kanan juga mengenai tempat kosong. Tahu2
orang she Loh yang bersenjatakan sepasang cakar baja telah menggeser kebelakang Ci In-hong
sambil balas menyerang, cepat Ci In-hong memutar pedang kebelakang “trang”, cakar baja lawan
tersampuk dan terpapas putus sebuah giginya, berbareng terdengar “bret” pula, baju Ci In-hong
terobek oelh cakaran senjata musuh.
Kiranya kedua orang she Ciu dan she Loh itu masing2 mempunyai kemahiran ilmusilat sendiri2,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
orang she Ciu mahir lwekang, meski tidak selihai Thian-lui-kang Ci In-hong, tapi masih cukup kuat
untuk emnandinginya. Sedangkan orang she Loh mahir ilmu ginkang, dia selalu menyerang dari
samping dengan cara2 yang aneh dan cepat, karena itu Ci In-hong menjadi kerepotan melayani dua
lawan yang tangguh.
Tidak lama kemudian baju Ci In-hong telah kena diakar tiga tempat oelh senjata orang she Loh,
untung tidak terluka tubuhnya.
Melihat Ci In-hong terancam bahaya, Bing-sia tidak tahan lagi, segera ia menerjang maju ikut
bertempur.
“Nona Beng, kau lekas pergi saja!” seru Ci In-hong.
“Tidak, hidup atau mati bersama, ada kesukaran biarlah ditanggung berbareng,” sahut Bing-sia.
Maklumlah jiwanya pernah diselamatkan Ci In-hong, mana dia mau membiarkan pemuda itu
melawan musuh tangguh sendirian? Sebab itulah iapun memperlihatkan tekadnya akan bertempur
bahu membahu bersama Ci In-hong. Tapi setelah mengucapkan kata2 tadi barulah dia menyadari
telah terlanjur omong. Kata2 “hidup atau mati bersama” tidaklah pantas diucapkan diantara teman
biasa. Tanpa terasa wajahnya menjadi merah.
Maka orang she Loh tadi lantas menjengek: “Hehe, anak dara ini rupanya cinta amat padamu. Cuma
sayang, sungguh sayang!”
“Sayang apa?” orang she Ciu sengaja pura2 bertanya.
“Sayang bocah she Ci ini sudah tidak dapat menikmati hidup bahagia lagi,” sahut orang she Loh.
“Ya, kecuali kalau dia brubag pikiran dan mau inaf, kalau dia mau ikut kita pulang kekotaraja dan
minta ampun kepada Koksu, kalau tidak tentu jiwanya sukar dipertahankan, cara bagaimana pula
dia dapat merasakan hidup bahagia disamping sicantik?”
“Omong seperti kentu!” bentak Bing-sia dengan gusar. “Sret”, segera pedangnya menusuk.
Hati Ci In-hong teras syur juga oleh ucapan Bing-sia tadi, seketika semangatnya terbangkit, berturut2
ia melancarkan serangan beberapa kali sehingga kedudukannya dapat diperbaiki.
Cuma sayang kesehatan Bing-sia belum pulih, meski ilmu pedangnya sangat bagus, namu
tenaganya kurang. Rupanya orang she Ciu melihat akan kelemahannya ini sehingga serangannya
terus diarahkan kepada sinona dengan gencar.
Dengan demikian Ci In-hong perlu membagi perhatiannya pula untuk emnjada Bing-sia, posisi
yang telah diperbaikinya itu hanya sebentar saja sudah berubah lagi, kembali ia terdesak dibawah
angin. Tapi majunya Bing-sia juga telah membantu sedikit kerepotannya, yaitu ikut menanggung
daya serangan musuh sehingga Ci In-hong tidak terlalu payah seperti tadi. Sebab itulah ikut
tempurnya Bing-sia itu boleh dikata ada untung dan ada ruginya bagi Ci In-hong.
Di tempat sembunyinya Kok Ham-hi melihat dan mendengarkan apa yang terjadi tadi, pikirnya:
“Dalam sekejap saja beberapa tahun sudah lewat dan si nona cilik beng Bing-sia ini ternyata sudah
punya kekasih pula. Entah Giam Wan tahu tidak akan hal ini? Ilmu pedang keluarga Beng sangat
terkenal, kepandaian Bing-sia tampaknya jauh lebih maju daripada dulu. Cuma tampaknya
tenaganya rada kurang , apakah barangkali dia terluka dalam?”
Baru saja Kok Ham-hi bermaksud keluar untuk emmbantu, tiba2 terdengar Ci In-hong membentak,
berbareng tampak dia mengalingkan tubuhnya didepan Bing-sia, kedua tangannya memukul berturut2
sehingga orang she Ciu tadi digempur mundur. Kiranya waktu itu Bing-sia sedang
menhadapi serangan berbahaya lawan, pedangnya telah kena dicakar oleh senjata siorang she Loh.
Karena harus menolong Bing-sia dan terlalu banyak megeluarkan tenaga, ternyat Ci In-hong sudah
mandi keringat. Tapi dia massih berkata: ‘Adik Sia, boleh kau mengaso dulu di pinggir,sebentar kau
boleh maju lagi.”
Untuk pertama kalinya ini dia memanggil “adik: kepada Bing-sia selama mereka bergaul sekian
hari, tanpa terasa Bing-sia merah jengah pula mukanya mendengar panggilan itu, namun tak
terkatakan rasa manis di dalam hati.
Setelah ikut bertempur sejenak saja Bing-sia sendiri sudah merasakan tenaga sendiri memang masih
lemah. Diam2 ia menimbang anjuran Ci In-hong itu, ia pikir daripada akhirnya gugur bersama Citoako,
ada lebih baik ganti cara bertempur saja, siapa tahu akan dapat mengubah keadaan yang
berbahaya ini.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Perlu diketahui bahwa ilmu Am-gi (senjata rahasia) keluarga Beng terhitung juga kepandaian yang
khas di dunia persilatan, soalnya Bing-sia berwatak jujur dan suka blak2an, ia merasa melukai
orang dengan senjata rahasia kurang gemilang, makanya ia tidak suka menggunakannya. Kini
dalam keadaan terpaksa barulah terpikir olehnya akan menggunakan Am-gi. Cara menggunakan
senjata rahasia keluarga Beng tidak pasti dalam bentuknya, yang diutamakan adalah caranya yang
istimewa,benda apapun yang dipegang setiap saat dapat digunakan sebagai senjata rahasia.
Waktu itu orang she Loh lagi digempur oleh Thian-lui-kang Ci In-hong, dadanya laksana digodam,
isi perutnya se-akan2 terkocok, seketika ia tidak berani mengerahkan tenaga murni untuk melawan.
Sebab itulah biarpun dalam keadaan payah Ci In-hong masih dapat bertahan dengan satu lawan dua.
Bing-sia lantas mundur kesamping dan menjemput batu kecil di tanah, dengan cara “Thian-li-sanhoa”
(bidadari menabur bunga) ia sambitkan batu2 itu secara tepat kearah hiat-to berbahaya ditubuh
kedua musuh tanpa salah melukai Ci In-hong.
Dengan lwekangnya yang kuat, orang she Ciu itu mengayun kedua tangannya sehingga angin keras
terjangkit, batu yang disambitkan Bing-sia itu terguncang jatuh sebelum tiba pada sasarannya.
Sedangkan orang she Loh yang mahir ginkang hanya dapat main mengegos saja, dengan caranya
“mendengarkan angin membedakan arah” dia mengetahui darimana batu yang disambitkan
kepadanya itu.
Tak terduga cara Bing-sia menggunakan senjata rahasia sungguh lain daripada yang lain. Orang she
Loh itu sempat mengelakkan beebrapa biji batu, ia merasa bangga dan bermaksud men-olok2 Bingsia.
Tapi belum sampai bukamulut, tiba2 terdengar suara mendesingnya batu menyamber ke “Ih-gihiat”
dibawah iga kiri. Cepat ia mengegos kekanan. Tak tahunya sekaligus Bing-sia menyambitkan
dua potong batu, waktu mendekati sasarannya kedua batu itu mendadak saling bentur terus
berpencar dan ganti arah. Secara tak ter-duga2 tepat mengenai Koh-cing-hiat dibahu kanan orang
she Ciu.
Cuma sayang tenaga Bing-sia sudah lemah, meski batu itu kena Koh-cing-hiat musuh, tapi Cuma
membikin orang she Cu itu merasa pegal dan kaku, tenaga yang kurang itu kehilangan daya
memukul Hiat-to yang dapat membikin lumpuh itu.
Karena mendapat malu di depan temannya, orang she Ciu itu menjadi murka, jengeknya: “Bagus,
kau mau main Am-gi, akan kulayani kau. Ini,kaupun coba2 aku punya!”
Tiba2 orang she Loh berseru: “Ciu-heng, gunakan senjata yang tak berbisa, pertahankan jiwa anak
dara itu!”
“Eh, rupanya Loh-heng juga gemar akan paras elok,” si orang she Ciu ter-bahak2.
“Orang yang gemar paras elok adalah orang lain dan bukan aku,” ujar she Loh dengan tertawa.
“Apakah kau telah lupa kepada Yang-kongcu kita?”
“Oya, kalau kita persembahkan si cantik ini kepada Yang-kongcu pasti akan mendapat pahala
besar,” sahut si orang she Ciu. Berbareng itu ia terus menghamburkan tiga biji gundu besi tak
berbisa.
Lihai juga kepandaian menggunakan Am-gi si orang she Ciu, tiga biji gundu besi itu sekaligus
mengarah tiga tempat hiat-to ditubuh Bing-sia. Akan tetapi dalam pandangan sinona hujan senjata
rahasia itu hanya permainan sepele saja.
“Huh, mainan anak kecil saja juga dipamerkan disini!” jengek Bing-sia. Berbareng satu potong batu
kecil terus diselentik kedepan dan membentur gundu besi yang tengah, batu dan gundu itu mencelat
kesamping kanan dan kiri sehingga membentur pula kedua gundu besi dikanan-kiri. Hanya dengan
satu potong batu saja sekaligus ketiga biji gundu besi itu telah dipukul jatuh ketanah.
“Awas adik Sia, ada orang!” Tiba2 Ci In-hong berseru.
Semula Bing-sia mengira In-hong memperingatkan dia agar awas terhadap senjata rahasia musuh,
tapi ketika mendengar “ada orang”, dia baru terkejut dan cepat berpaling maka tertampaklah
seorang berkedok sedang melompat keluar dari balik batu besar sana.
Cepat sekali datangnya orangberkedok itu, baru lenyap suara Ci In-hong tahu2 orang itupun sudah
berada di depan Bing-sia.
Keruan tak terkatakan Bing-sia, pikirnya: “Mereka ternyata ada begundal lain lagi, betapapun harus
kurintangi agar tidak dapat maju membantu kawan2nya sekalipun jiwaku akan melayang.” ~ Kedua
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
pengerubutnya itu, kini ditambah lagi seorang. Ia tahu keadaan Ci In-hong sudah payah menghadapi
kedua pengerubutnya itu, kini ditambah lagi seorang berkedok ini, melulu dari kecepatan
ginkangnya saja sudah dapat dinilai kepandaiannya pasti diatas she Ciu tadi, maka dari itu Bing-sia
bertekad akan merintanginya agar mengurangi beban Ci In-hong.
Begitulah segera Bing-sia mendahului menyerang, “sret”, pedangnya lantas menusuk orang
berkedok itu. Dalam pada itu tiga gundu besi untuk kedua kalinya disambitkan orang she Ciu tadi
kini kebetulan juga menyamber tiba.
Saat itu siorang berkedok berdiri didepan Bing-sia, jadi senjata rahasia siorang she Ciu se-akan2
menyamber dari belakangnya, sedangkan dari depan pedang Bing-sia mengancam pula, jadi orang
berkedok itu berada dalam posisi diserang dari muka dan belakang.
Disinilah tertampak kepandaian sejati siorang berkedok, dia tidak ambil pusing terhadap samberan
Am-gi dari belakang, tapi ia menyelentik pelahan pedang bing-sia yang menusuknya itu, menyusul
terdengarlah suara”plok-plok-plok” tiga kali, ketiga gundu besi yang disambitkan orang she Ciu
seluruhnya mengenai tubuhnya dan tepat kena pula pada hiat-to, tapi sedikitpun orang berkedok itu
seperti tidak berasa, bahkan tubuhnya terhuyungpun tidak.
Tiba2 orang berkedok itu berkata dengan suara tertahan kepada Bing-sia: “Nona Beng, akaulah
adanya! Masih ingat padaku? Aku adalah orang yang pernah datang kerumah bibimu pada empat
tahun yang lalu itu.”
Untuk sejenak Bing-sia tertegun, habis itu iapun berseru: “He, kau kiranya! Kau adalah Kok Hamhi!”
~ Sungguh mimpipun dia tidak menyangka akan bertemu dengan Kok Ham-hi disini.
Dalam paa itu Kok Ham-hi sudah lantas meninggalkan Bing-sia dan bwerlari kesan sambil berseru:
“Ci-suheng, Lui-tian-kau-hong!”
“Lui-tian-kau-hong” (kilat dan halilintar menggelegar) adalah satu jurus mematikan dalam Thianlui-
ciang, jurus pukulan ini harus dilakukan sekaligus dengan dua tangan, tangan yang satu laksana
guntur dan tangan yang lain seperti sambaran kilat, cepat dan dahsyat luar biasa. Lantaran
kedahsyatan jurus pukulan ini, maka bila tenaga dalam kurang, untuk menggunakan jurus ini
diperlukan tenaga dua orang, kalau tidak tentu akan berbalik merugikan diri sendiri. Orang yang
mampu menggunakan jurus “Lui-tian-kau-hong” pada jaman ini hanya Yang Thian-lui serta guru Ci
In-hong saja, Ci In-hong sendiri masih perlu berlatih dua tiga tahun lagi untuk bisa menggunakan
jurus pukulan sakti itu.
Begitulah ketika mendadak orang berkedok itu memanggil “Ci-seheng” padanya, menyusul
terdengar disebutnya jurus “Lui-tian-kau-hong” pula, keruan Ci In-hong terperanjat dan ter-heran2
pula. Dalam pada itu Kok Ham-hi sudah melancarkan pukulan yang diserukan tadi, tangan kirinya
memutar setengah lingkaran terus dipukulkan kedepan dengan pelahan, sedangkan tangan kanan
menjulur dengan tiga jari menegak seperti unjung pedang, gerakannya jauh lebih cepat daripada
tangan kiri. Jelas inilah gerak serangan jurus ”Lui-tian-kau-hong”.
Dalam batin Ci In-hong sudah dapat menerka beberapa bagian apa artinya itu, tanpa pikir lagi ia
terus melancarkan jurus serangan itu sebagaimana diserukan orang berkedok itu, meski serangan
bersama itu sedikit berselisih waktu sehingga tidak dapat menarik manfaat sepenuhnya, namun
kedua orang she Ciu dan she Loh itu sudah tidak tahan lagi, terdengar suara “blang-blang” dua kali,
kedua orang terguling berbareng. Orang she Ciu terkena pukuln itu tepat dari depan, lukanya lebih
parah, ia menggeletak tak berkutik dengan mengeluarkan darah dari mata-hidung-mulut dan telinga,
tampaknya jiwanya pasti akan amblas. Sedangkan orang she Loh itu masih m-ronta2 sekarat diatas
tanah, tapi jelas tak bisa bangun lagi.
Ci In-hong tidak sangsi2 lagi, segera ia menyapa: “Apakah saudara ini Kok-suheng murid Khengsusiok?”
“Benar, siaute memang Kok Ham-hi adanya,” sahut orang berkedok itu.
“Kebetulan sekali, memangnya aku sedang mencari kau,” kata In-hong dengan girang.
“Akupun sedang mencari kau,” ujar Kok Ham-hi dengan tertawa.
Dalam pada itu orang she Loh yang me-lonjak2 sekarat itu segera akan dibinasakan Bing-sia
lantaran kata2nya yang kurang ajar tadi, syukur sebelum sinona ayun pedangnya, tiba2 terdengar
seruan Kok Ham-hi: ‘Tahan dulu, nona Beng!”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Lalu Kok Ham-hi berkata pula kepada In-hong: “Ci-suheng, sebentar kita bicara lagi, kini ada
sesuatu yang penting mesti kutanyakan kepada keparat ini.” ~ Ia terus seret bangun orang she Loh
itu, kemudian bertanya: “Dimana anak perempuan Giam Seng-to saat ini, kalian telah mengapakan
dia,lekas mengaku!”
Bing-sia menjadi terkejut, cepat ia bertanya: “Apa katamu, piauci juga datang disini! Dia jatuh
ditangan musuh?”
“Aku telah mencuri dengar percakapan mereka tadi, mereka hendak memperalat Giam Wan untuk
mengancam ayahmu, mungkin sekali dia tertawan oleh mereka,” sahut Kok Ham-hi.
Tiba2 orang she Loh itu merintih dan berseru menahan sakit: ‘Ya, aku toh sudah hampir mati, buat
apa mesti aku bicara padamu.”
“Asal kau mengaku terus terang jiwamu akan kuampuni, malahan akan kuberi obat padamu,” kata
Kok Ham-hi.
“Apa betul, kau tidak bohong?” orang she Loh menegas.
“Sekali bicara pasti pegang janji, orang she kok selamanya tidak pernah mencla mencle,” kata Kok
Ham-hi pula.
“Baiklah, akan kukatakan padamu,” tutur orang she Loh. “Dia …… Dia berada di Oh ……Oh-ciok
……… “
Selagi orang she Loh itu bicara sekuatnya dengan naps ter-sengal2, sampai disini se-konyong2 ia
menjerit, sebelum ucapannya lebih lanjut napasnya sudah putus.
Tiba2 terdengar orang she Ciu yang tadi nampaknya tidak berkutik itu berkata dengan menyeringai:
“Coba kau bocorkan rahasia lagi!”
“Kurang ajar! Biar kumampuskan kau!” bentak Kok Ham-hi dengan gusar.
Tapi sebelum Kok Ham-hi turun tangan,orang she Ciu itu sudah lebih dulu menggigit lidah sendiri
dan binasa seketika.
Kiranya orang she Ciu itu memiliki sejenis senjata rahasia jarum berbisa jahat, biarpun dia terluka
parah, tenaga untu menjentik jarum kecil itu masih ada. Ia tahu kepandaian Kok Ham-hi dan Ci Inhong
yang tidak dapat dilukai oleh jarumnya, tapi kawannya she Loh itu dalam keadaan sekarat,
untuk menyerangnya dengan jarum boleh dikata terlalu mudah. Ia menyadari jiwa sendiri yang
tidak dapat tertolong lagi, ia menjai sirik pula bila teman sendiri dapat menyelamatkan diri, sebab
itulah dengan tenaga terakhir ia turun tangan keji membinasakan teman sendiri. Karena Kok Hamhi
dan lain2 asyik mengikuti pengakuan orang she Loh itu, mereka menjadi tidak menduga akan
serangan gelap siorang she Ciu.
“Kematian kedua orang itu tidak perlu disayangkan, yang harus disesalkan adalah sedikit
keterangan yang hampir kudapatkan ini telah kena dibuyarkan oelh keparat she Ciu ini. Sekarang
kemana aku harus mencari Giam Wan?” ujar Kok Ham-hi dengan gegetun.
Jilid 11 bagian kedua
“Jangan kuatir , Kok-toako,” kata Bing-sia. “Kalau mereka benar hendak menggunakan Piauci
sebagai sandera, setibanya di Hui-liong-san tentu kita akan mendapatkan keterangan tentang dia.”
“kau tentu kenal watak piaucimu, masakah dia mau menyerah berada didalam cengkeraman
musuh?” Mungkin sebelum tiba di Hui-liong-san dia sudah bunuh diri,” kata Kok Ham-hi.
Ci In-hong tidak ikut bicara, dia berdiri diam disamping seperti sedang merenungkan sesuatu. Kok
Ham-hi menghela napas, teringat olehnya pesan sang guru agar lebih mengutamakan kepentingan
negara daripada urusan pribadi. Katanya kemudian: “Ya, urusan sudah begini, tiada gunanya
merasa gelisah. Masih ada urusan penting yang perlu kita selesaikan. Nona Beng, apakah kau dan
Ci-suheng hendak menuju Hui-liong-san?”
“Benar,” sahut Bing-sia sambil mengangguk.
“Mengapa kau tidak berangkat bersama ayahmu?” tanya Kok Ham-hi. “Dari percakapan mereka
kudengar katanya ayahmu sudah berangkat ke Hui-liong-san bersama seorang ksatria she Li yang
baru menjabat Lok-lim Bengcu.”
“Ya, panjang juga kalau kuceritakan hal ini,” kata Bing-sia. “Mestinya ayah tidak memerlukan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
keberangkatanku, aku pergi kesana dengan tujuan mencari satu orang. Cuma, lebih baik bicara
tentang dirimu saja, darimana kau mengetahui aku berada disini dan bagaimana pula kau
mengetahui Ci-toako adalah suhengmu?”
“Semalam akupun ketemukan satu orang, orang inilah yang memberitahukan padaku,” sahut Kok
Ham-hi.
“Siapakah gerangan orang itu?” tanya Bing-sia heran.
“Seorang nona she Nyo,” tutur Kok Ham-hi.
“Hah, jadi kau bertemu dengan Nyo Wan? Akupun hendak mencari dia. Apakah dia tahu akan
tujuanku ini?” tanya Bing-sia dengan terkejut dan girang.
“Semalam dia dikerubut oleh Yang Kian-pek, Ho Kiu-kong dan begundalnya disuatu kelenteng
kuno, kebetulan aku lewat disana dan berhasil membantunya, dari pihak Ho Kiu-kong itulah nona
Nyo mendapat tahu pengalamanmu yang berbahaya kemarin malam itu,” tutur Kok Ham-hi pula.
“Kemudian ketika aku bergebrak dengan Yang Kian-pek, dia telah sangka aku sebagai Ci-suheng,
sebab itulah aku menduga orang yang menolong kau dari rumah Ho Kiu-kong itu pasti Ci-suheng
adanya. Apakah dia mengetahui kau sedang mencarinya, hal ini aku tidak jelas.”
“Apa2 lagi yang telah diceritakan nona Nyo padamu?” tanya Bing-sia.
“Dia bilang kenal padamu, tapi dia juga heran mengapa Ci-suheng bisa berada bersama dengan
kau,” kata Kok Ham-hi.
“Pantas juga kalau dia merasa heran, aku sendiri juga baru kemarin malam mengenal jelas akan
siapa diri In-hong,” kata Bing-sia dengan tertawa. “Kukira nona Nyo sampai saat ini mungkin
masih menyangsikan dia sebagai agen rahasia negeri Kim.”
Lalu Bing-sia menceritakan apa yang terjadi di Long-sia-san tempo hari, kini Kok Ham-hi baru tahu
seluk beluk persoalan mereka.
“Apakah dia juga hendak pergi ke Hui-liong-san?” kembali Bing-sia bertanya.
“Dia tidak memberitahukan padaku hendak kemana dia, Cuma dia berada bersama dengan beberapa
orang Mongol itu,” tutur Ham-hi. “Satu diantara busu Mongol itu bernama Akai malah busu
Mongol itu telah mengikat persahabatan dengan aku. Dua orang Mongol yang lain adalah anak
perempuan, tampaknya seperti majikan dan pelayan. Putri Mongol itu tampaknya sangat agung dan
berwibawa, jelas bukan anak perempuan keluarga biasa.”
Kok Ham-hi tidak tahu bahwa “putri Mongol” itu justru adalah putri Jengis Khan yang termashur
itu, sedangkan Bing-sia pernah mendengar dari Li Su-lam tentang putri Minghui itu, maka dia yakin
putri Mongol yang dimaksudkan Kok Ham-hi itu tentu Minghui adanya.
Diam2 Bing-sia juga merasa heran Nyo Wan bisa berkumpul dengan Minghui, entah mengapa putri
Mongol yang diagungkan itu mendadak bisa berada di tionggoan. Tapi kalau Nyo Wan berada
bersama dia, rasanya pasti takkan pergi ke Hui-liong-san.
Dugaan Bing-sia sekali ini hanya tepat separohnya saja, sudah tentu Putri Minghui takkan pergi ke
Hui-liong-san, tapi Nyo Wan masih tetap akan pergi kesana.
“Rupanya kepergianmu ke Hui-liong-san adalah hendak mencari nona Nyo itu?” tanya Ham-hi
kemudian. “Semula kukira tujuanmu kesana adalah urusan dengan Bengcu she Li itu.”
Wajah Bing-sia menjadi merah, pikirnya: “Apa barangkali Nyo Wan telah ceritakan persoalan
segitiga kami kepadanya? Tapi mereka baru berkenalan masakah sudah bicara sejauh itu?”
Maka ia coba bertanya: “Mengapa kau bisa berpikir demikian?”
“Dari kedua keparat itu tadi kudengar sesuatu rahasia, katanya Toh-cecu dari Hui-liong-san itu
adalah begundalnya Yang Thian-lui, sekali ini mereka sengaja mengatur perangkap untuk emnjebak
Li-bengcu,” tutur Ham-hi. “Maka aku menyangka kau dan Ci-suheng juga sudah mendapat berita
tentang rahasia ini dan buru2 menuju Hui-liong-san untuk membongkar tipu muslihat musuh.”
“O, kiranya yang kau maksudkan adalah rahasia ini,” ujar Bing-sia. “Ya, memang benar, kami
sudah tahu akan rahasia ini, malahan Ci-suhengmu inilah yang memberitahukan padaku.”
Ci In-hong lantas menyambung. Lantaran Thian-lui-kang guru belum terlatih sempurna dan tidak
sanggup bertarung dengan Yang Thian-lui. Ketika Yang Thian-lui paksa Suhu keluar
membantunya, terpaksa Suhu menyuruh aku pura2 menurut perintah Yang Thian-lui. Sebagai wakil
Suhu aku lantas bekerja bagi Yang Thian-lui, tapi sebenarnya aku juga memberi berita rahasia bagi
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
pihak pasukan pergerakan. Beberapa bulan yang lalu perbuatanku menimbulkan curiga Yang Thianlui.
Terpaksa aku melarikan diri dari taytoh dan secara terang2an mengkhianati dia. Kini dia sedang
meng-uber2 diriku dengan menyebarkan tidak sedikit begundalnya.
“Kiranya demikian, pantas keparat Yang Kian-pek itu terus mencaci maki diriku sebagai orang
yang khianat, kiranya dia telah salah sangka diriku sebagai Ci-suheng,” kata Ham-hi.
“Kau telah menimbulkan salah sangka Yang Kian-pek, akupun pernah menimbulkan salah paham
nona Nyo itu,” ujar Ci In-hong dengan tersenyum kecut.
“Jika begitu setelah ayah nona Beng mengetahui tipu muslihat musuh, mengapa tetap meneruskan
perjalanan kesarang musuh?” kata Ham-hi.
“Ya, hal ini memang disengaja oleh Li-bengcu itu,” tutur Bing-sia. “Beliau mengatakan kalau tidak
masuk sarang macan mana bisa mendapat anak macan. Maka tipu musuh itu sengaja dipakai
sebagai tipu kita pula untuk membongkar muslihat musuh dengan harapan anak buah Toh An-peng
nanti dapat kita ambil alih. Dosa Toh An-peng takbisa diampuni, tapi anak buahnya toh masih dapat
kita pakai tenaganya.”
“Li-bengcu itu sungguh bijaksana, tidak sia2 kalian mendukung sia sebagai Bengcu,” ujar Kok
Ham-hi.
“Dia bernama Li Su-lam, pernah melakukan hal2 yang mengguncangkan tartar Mongol. Dia adalah
tunangan nona Nyo itu. Kok-suheng, setiba di Hui-liong-san tentu kau dapat bertemu dengan dia.
Orang seperti dia cukup berharga untuk dijadikan sahabat.”
“Ayahmu dan LI-bengcu adalah orang2 yang ingin kutemui,” kata Ham-hi setelah merenung
sejenak. “Cuma mereka kini sudah pergi kesana dengan siap siaga, aku menjadi tidak perlu terburu2
kesana. Ai, sayang keterangan yang kucari sekarang putus tengah jalan, entah kemana aku
harus mencari piaucimu?”
“Kok-suheng, boleh coba kau mencari kesuatu tempat,” kata CiIn-hong tiba2. “Menurut keterangan
orang she Loh yang setengah2 tadi, nama ‘Oh-ciok’ yang dia sebut itu tentu menyangkut nama
orang atau nama setempat. Nama tempat Oh-ciok-ceng, setahuku kira2 tiga ratus li di selatan Huiliong-
san ada sebuah desa bernama Oh-ciok-ceng, selain itu ada seorang bandit besar, seorang tosu,
gelarnya Oh-ciok Tojin, Cuma jejak Oh-ciok Tojin ini sukar dicari, tak menentu tempat tinggalnya.
Maka menurut pendapatku, sebaiknya Kok-suheng coba2 menyelidik ke Oh-ciok-ceng saja.”
“Banyak terima kasaih atas keterangan Ci-suheng,” kata Kok Ham-hi. Entah di Oh-ciok-ceng itu
apakah ada tokoh bulim yang mencurigakan?”
“Di Oh-ciok-ceng ada seorang hartawan besar berjuluk ‘Hoat-giam-lo’ (raja akhirat hidup), tapi aku
tidak tahu apakah dia mahir ilmu silat atau tidak? Tutur In-hong.
“Baiklah, dengan keterangan ini aku harus coba mencarinya kesana,”kata Ham-hi.
“Kok-toako, buknakah kau takut bertemu dengan piauciku?” tanya Bing-sia mendadak.
“Dari mana kau mendapat tahu?” balas Kok Ham-hi.
“Aku tahu selama ini dia senantiasa mencari kau, tapi sudah lewat empat tahun kalian masih tidak
pernah berjumpa, tentunya kau yang selalu menghindari dia,” ujar Bing-sia.
Lantaran isi hatinya tepat kena dikorek, terpaksa Kok Ham-hi menunduk sebagai tanda
membenarkan. Selang sejenak barulah ia menghel anapsa dan berkata: “Sebenarnya aku tidak mau
berjumpa lagi dengan dia, tapi kini dia dalam bahaya, mana boleh aku tinggal diam?”
“Kau tidak mau berjumpa dengan dia, hal ini kukira tak pantas,” kata Bing-sia dengan sungguh2.
“Apakah kau tahu betapa piauci ingin bertemu dengan kau? Demi untuk bisa bertemu dengan kau
diatidak segan minggat dari rumahnya, coba katakan apakah kau tidak perlu bertemu lagi dengan
dia?”
Lalu Bing-sia menceritakan apa yang terjadi dahulu sesudah Giam Wan pulang kerumah pada
malam itu, Kok Ham-hi menjadi terharu sehingga mencucurkan airmata.
“Nona Beng,” kata Kok Ham-hi kemudian, “Aku tahu demi untuk diriku dia tidak sayang
mengorbankan segalanya, tapi kau tidak tahu bahwa …………… “
“Aku tahu sebabnya kau tidak berani bertemu dengan dia adalah karen alukamu yang belum
sembuh,” tiba2 Bing-sia menyela. “Malam itu kau telah dilukai pedang Thio Goan-kiat, peang itu
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tidak menusuk pada mukamu, tapi menusuk dilubuk hatimu.”
“Benar, mungkin luka hatiku yang belum sembuh,” jawab Kok Ham-hi karena kembali isi hatinya
kena dikatai pula. “Tapi bila kau sudah melihat wajahku, mungkin kaupun akan terperanjat.”
“Yang dia sukai adalah dirimu, pribadimu, mana dia mempersoalkan wajahmu segala?” kata Bingsia.
“Kau terluka demi dirinya, tentu dia akan lebih suka, lebih cinta padamu. Tapi kalau lantaran itu
kau justru menghindari dia, ini berarti kau terlalu meremehkan dirinya.”
Sakit jiwa harus diobati dengan kejiwaan, kata2 Bing-sia itu sepeerti kemplangan yang tepat
mengenai kepla Kok Ham-hi, seketika terbukalah pikirannya, tanpa pikir ia menyingkap kain
kedoknya dan berkata: ‘Benar, seorang laki2 sejati kenapa mesti takut memperlihatkan wajah
sebenarnya kepada orang lain!”
Mendadak melihat wajah Kok Ham-hi yang menyeramkan itu, dalam hati Bing-sia sebenarnya rada
takut juga. Tapi ia lantas bergelak tertawa dan berkata : “Kok-toako, dlama pandanganku kau masih
tetap sama seperti dahulu.”
“Apa betul masih tetap sama seperti dahulu?” Kok Ham-hi menegas.
“Ya, dahulu kau adalah seorang pendekar yang suka membela keadilan, sekarang kau adalah
seorang pahlawan pembela negara yang tidak segan2 masuk sarang musuh,” sahut bng-sia. “Maka
dari itu, sesungguhnya dirimu yang sekarang ini jauh lebih mengagumkan daripada dirimu yang
dahulu itu.”
“Banyak terima kasih kau telah membuka batinku yang tertekan selama ini, semoga aku sesuai
sebagaimana kau katakan tadi,” kata Kok Ham-hi dengan tertawa.
Lalu ia mengadakan perjanjian akan bertemu lagi dengan Ci in-hong di hui-liong-san kelak, habis
itu ia melangkah pergi, pada saat itu subuh hampir tiba.
“Tidak nyana ksatrian sebagai Kok-suheng juga bisa tergoda oleh persoalan yang sebenarnya sepele
itu,” kata In-hong dengan tertawa.
“Maklumlah dahulu dia memang seorang pemuda yang cakap,” kata Bing-sia. “Tapi, setiap orang
sedikit banyak tentu juga mempunyai sesuatu pikiran, hanya dia sendiri saja tidak mengetahui.”
Ci Ih-hong seperti menyadari sesuatu, katanya: “Kiranya nona Nyo itu adalah tunangan Li Su-lam,
kalau tadi kau tidak menerangkan tentu sampai saat ini aku belum lagi mengetahui.”
“Ini adalah urusan orang lain yang tidak begitu penting, tahu atau tidak ada sangkut-paut apa
dengan kau?” ujar Bings-ia dengan tertawa.
“Tidak ada apa2. Hanya ada satu hal yang aku tidak paham, mengapa dia sengaja menyamar
sebagai laki2 dan tidak ingin orang lain mengetahui keadaannya? Sekarang dia berangkat sendirian
pula sehingga kau ikut repot pergi mencari dia?”
Bing-sia tertawa, katanya: “Aku tidak percaya kau masih tidak paham, kau ini sudah tahu tapi pura2
tanya?”
Semula Bing-sia tidak ingin Ci Ih-hong mengetahui persoalan salah paham antara dia dan Nyo
Wan, tapi setelah berkumpul sekian lamanya, kedua orang sudah cocok dan dapat menyesuaikan
diri satu sama lain, maka Bing-sia merasa tidak perlu menutupi kejadian itu lagi. Apa yang dia
katakan kepada Kok Ham-hi tadi sebenarnya juga sengaja diperdengarkan kepada Ci Ih-hong.
Ci Ih-hong sendiri juga sudah dapat menerka hal itu, pikirnya: “Bing-sia adalah nona yang
berpikiran terbuka, buat apa aku menahan perasaan sendiri,” Segera iapun berkata dengan tertawa:
‘Apakah barangkali nona Nyo itupun punya ganjelan hati?”
Bing-sia mengangguk dengan wajah bersemu merah.
“Sakit pikiran Kok-suheng telah kau sembuhkan, sakit pikiran nona Nyo mungkin juga perlu
penyembuhanmu. Bing-sia, sungguh tidak nyana kau adalah seorang tabib sakti pengobatan sakit
batin.”
“Jangan kau meng-olok2 aku, In-hong,” kata Bing-sia dengan pura2 mengomel.
“Aku justru sangat berterima kasih padamu, mana bisa meng-olok2 kau.”
“Terima kasih padaku? Terima kasih tentang apa?”
“Terima kasih padamu karena kau juga telah menymbuhkan sakit pikiranku!”
Seketika Bing-sia menjadi bingung, tanyanya: “Apa maksudmu?”
“Terus terang, semula aku sendiripun mempunyai sakit pikiran serupa nona Nyo, aku …….. aku
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
menyangka kau ……………… “
Kata2 selanjutnya tak perlu diucapkan Ci Ih-hong dengan sendirinya sudah diketahui oelh bing-sia.
Lantaran In-hong salah sangka Bing-sia jatuh cinta kepada Li Su-lam, maka dia tidak berani
mengatakan isi hatinya kepada si nona.
“Tapi sekarang kau sudah tahu jelas bukan?” ujar Bing-sia dengan wajah merah.
“Ya, sudah jelas seluruhnya,” kata In-hong. “Sekarang aku boleh merasa lega benar2, Bing-sia.”
“Ai, kau ini memang bodoh!” kata Bing-sia dengan mengikik tawa. Bayangan gelap yang tadinya
masih menyelimuti perasaan masing2 kini sudah tersapu bersih oleh tertawa mereka yang gembira
sekarang.
“Semoga semua kekasih di dunia ini dapat menjadi suami-istri yang bahagia, hendaklah kepergian
Kok-suheng inipun akan datang kembali dengan membawa piaucimu,” bisik In-hong.
Kembali kepada Kok Ham-hi, setelah berpisah dengan Ci In-hong dan Bing-sia, sendirian ia
melanjutkan perjalanan ke timur, menuju ke Oh-ciok-ceng yang terletak 300 li ditenggara Huiliong-
san untuk emncari Giam Wan.
Di suatu kota kecil ia membeli sebuah kotak obat dan beberapa jenis bahan obat2an yang biasanya
sering digunakan, dengan menggendong peti obat itulah dia menyamar sebagai tabib kelilingan,
pedangnya disimpan di dalam peti obat.”
Siang hari kedua Kok Ham-hi sudah sampai ditempat tujuan. Sepanjang jalan beberapa kali Kok
Ham-hi ketemu orang berkuda dilarikan melampauinya, penunggang2 kuda itu sama membawa
senjata, jelas orang kangouw. Paling akhir kira2 belasan li sebelum Oh-ciok-ceng ia melihat pula
dua orang penunggang kud, yakni dua perwira.
Dengan perasaan heran Kok Ham-hi masuk sebuah warung di tepi jalan untuk minum sambil
mencari sedikit kabar tentang seluk-beluk Oh-ciok-ceng.
Melihat seorang laki2 bengis berwajah codet memasuki warungnya, pemilik warung menjadi kaget,
dengan gugup lekas2 ia menyuguhkan teh. Habis minum Kok Ham-hi meogoh saku bermaksud
membayar, tapi pemilik warung tiba2 berkata: “Ini …… ini adalah suguhan sekadarnya saja,
bilamana engkau ingin dahar, silahkan pesan saja.”
“ah, mana boleh, kau jualan kecil2an, masakah minum gratis,” kata Kok Ham-hi sambil
menyodorkan dua buah uang ketip perak dan paksa si pemilik warung menerimanya.
Padahal harga semangkuk the paling2 Cuma satu sen tembaga saja, dua ketip uang perak cukup
untuk embeli seekor ayam panggang dan sepoci arak.
Dengan sikap serba susah si pemilik warung berkata: “Warungku yang kecil ini hanya sedia sedikit
dendeng sapi dan makanan kecil lain, makanan enak lain tidak ada lagi. Bila engkau mau minum
arak dan satu kati dendeng mungkin masih sedia.”
“Aku tidak lapar, hanya haus saja, kau tidak perlu repot2,” sahut Kok Ham-hi dengan tertawa.
“Habis minum, sekarang aku akan berangkat.
Se pemilik warung menjadi tercengang, katanya: “Tapi tuan telah membayar dua ketip …..”
“Ya, maaf, aku tidak mambawa uang receh, maka kau tidak perlu memberi kembaliannya, sisanya
buat kau,” kata Kok Ham-hi.
Sipemilik warung masih taku2 dan enggan menerima, tapi setelah dipaksa dan melihat sikap Kok
Ham-hi yang ramah tamah,akhirnya diterimanya juga. Pikrinya: “Tadinya kukira dia orang dari
kalangan hita, tidak tahunya dia adalah orang baik meski mukanya jelek dan bengis.”
Setelah mengucapkan terima kasih, kemudian pemilik warung itu bertanya: “Sebenarnya tuan tamu
hendak pergi kemana?”
“Kabarnya didesa tempat kalian sini ada seorang hartawan besar, entah dimana kediamannya?”
tanya Kok Ham-hi.
Air muka sipemilik warung tampak berubah, tapi lantas menjawab: “O, kiranya tuan juga akan
menghadiri pesta dirumah Seng-toacaycu ( hartawan Seng), maafkan, maafkan bila pelayananku
kurang sempurna!”
“O, tidak, tabib kelilingan semacam aku manabisa bersahabat dengan Seng-toacaycu?” lalu Kok
Ham-hi menahan suaranya dan menyambung pula denga tertawa: “Terus terang, aku kesana hanya
untuk cari2 untung saja, eh, barangkali laku obatku ini.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Tampaknya pimilik warung itu merasa lega, katanya kemudian: “Jika begitu aku ingin nasehatkan
sebaiknya kau batalkan niatmu ini.”
“Sebab apa?” tanya Kok Ham-hi.
Dengan suara tertahan sipemilik warung berkata: “Saudara adalah orang dari daerah lain, maka aku
tidak kuatir untuk emmberitahukan padamu. Seng-toacaycu ini adalah seorang hartawan yang culas
dan judas, orang memberi julukan padanya sebagai ‘Hoat-giam-lo’. Kalau dia tidak mengincar
orang miskin sebagai kita sudah untung, masakah kau malah ingin mengincar hartanya ? Kalau
sampai obatmu diketahui palsu, Wah, sedikitnya kau akan menjadi kuli kontrak tiga tahun baginya
tanpa dibayar.”
“Wah, masakah begitu hebat? Kata Kok Ham-hi sengaja meleletkan lidahnya.
“Kalau tidak hebat masakah berjuluk ‘Hoaat-giam-lo’ ?” ujar pemilik warung.
“sebenarnya keluarga Seng ada kerja hajat apa? Sepanjang jalan kulihat banyak penunggang kuda,
apa barangkali tamu2 undangannya?”
“Hari ini dia mengawinkan puteranya. Selama dua hari memang tidak sedikit tamu2 yang lewat
diwarungku ini, sebab itulah tadi akupun mengira engkau hendak kondangan kesana.” Sampai disini
sipemilik menahan suaranya pula dan berbisik: “Perkawinan ini adalah cara paksa!”
“Kawin paksa?” Kok Ham-hi menegas dengan terkejut.
“Ya, perempuan yang harus dikasihani itu malahan juga orang dari daerah lain!” kata pemilik
warung.
Kok Ham-hi tambah terkejut, ia pikir2 jangan2 dia inilah Giam Wan adanya?
“Saat ini upacara mungkin sedang berlangsung,” kata sipemilik warung pula. “ai, anak perempuan
itu sungguh kasihan ……….”
Baru saja ia hendak bercerita tentang anak perempuan itu, tiba2 Kok Ham-hi mengucapkan terima
kasih padanya, lalu berangkat dengan ter-buru2.
Menurut jalan pikiran Kok Ham-hi, dengan kepandaian Giam Wan tidaklah pantas jatuh kedalam
cengkeraman seorang hartawan kampungan, tapi siapa tahu kalau terjadi sesuatu diluar dugaan
sehingga anak dara itu tertawan. Ia pikir tak peduli anak perempuan itu Giam Wan atau bukan, yang
pasti dirinya harus ikut campur terhadap kawin paksa itu.
Saat itu tepat lohor, menurut pemilik warung tadi katanya upacara kawin sedang berlangsung, kalau
upacara selesai dan kedua mempelai masuk kamar pengantin, untuk emnolong dan bawa lari
pengantin penrempuan tentu akan lebih sulit. Karena pikiran demikian, segera Kok Ham-hi percepat
langkahnya dan berlari memasuki Oh-ciok-cecng. Benar juga, lantas didengarnya suara alat
tetabuhan yang ramai, ia terus berlari menuju kearah suara ramai2 itu tanpa menghiraukan
pandangan orang2 ditepi jalan yang ternganga melihat cara berlarinya yang kesetanan itu.
Jurusan yang dia tempuh tidak keliru, hanya sebentar saja Kok Ham-hi sudah berada didepan rumah
Seng-toacaycu. Sambil melangkah maju pelahan ia pikir dengan cara bagaimana akan menyusup
kedalam gedung hartawan itu. Ia merasa kalau kepepet, terpaksa harus menerjang kedalam secara
kekerasan.
Belum lenyap pikirannya, tiba2 terdengar suara kuda meringkik, ada empat penunggang telah
datang sekaligus, tapi keempat tamu ini agaknya bukan satu rombongan, yang jalan didepan adalah
tiga laki2 berbaju hitam, seorang yang menyusul dari belakang adalah pemuda berjubah putih.
Wajah pemuda jubah putih inipun cakap dan putih, kuda tunggangannya juga putih mulus,
tampaknya lebih ganteng dan gagah.
Seketika perhatian Kok Ham-hi menjadi tertarik oleh pemuda ini, bukan tertarik oleh karena
kecakapannya, tapi adalah kuda putih tunggangannya. Rupanya Kok Ham-hi m,ahir memilih kuda,
sekali pandang ia lantas tahu kuda putih itu adalah kuda bagus yang sukar dicari.
Melihat pemudajubah outih itu, tertampak ketiga laki2 baju hitam tadi rada terkejut dan girang pula,
mereka lantas menyapa: ‘Eh, Pek-kongcu juga hadir? Apakah ayahmu Pek-locianpwe baik2 saja?”
Melihat sikap hormat ketiga orang itu, agaknya pemuda she Pek ini adalah orang yang punya
kedudukan dan disegani.
Dalam pada itu Pek-kongcu itu sedang membalas hormat dan menjawab: ‘Eh, kiranya kalian Cioksi-
sam-hiong (tiga jagoan keluarga Ciok) juga berada disini. Selamat bertemu. Ayahku seringkali
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
bicara tentang kalian kepadaku.”
Sementara itu penyambut tamu keluarga Seng lantas maju memapak para tamunya, terhadap
pemuda she Pek itu tampaknya menaruh hormat lebih tinggi.
Setelah melompat turun dari kudanya, Pek-kongcu itu lantas berkata: “harap kuda ini diberi
perawatan yang baik, setelah mengikuti upacara segera aku akan berangkat.”
“Ai, kenapa ter-buru2, silahkan Pek-kongcu tinggal barang dua-tiga hari lagi agar majikan kamu
sempat melakukan kewajiban sebagai tuan rumah yang layak,” kata penyambut tamu keluarga Seng
tadi.
“Sebenarnya aku ada urusan harus pergi ke Sohciu, kebetulan lewat sini dan mendengar tuan muda
kalian menikah, maka sengaja mampir buat memberi selamat,” kata Pek-kongcu.
“Jika begitu, baiklah kami pasti akan menjaga kuda tuan yang baik,” kata penyambut tamu itu.
Sambil ikut dibelakang mereka segera Kok Ham-hi bermaksud masuk kedalam, tapi penyambut
tamu itu telah berkata: ‘Pek-kongcu, Ciok-toako, apakah sobat ini adalah rombongan kalian?”
“Siapa tahu dia siapa? Tak kenal,” kata slah seorang laki2 berbaju hitam yang dipanggil sebagai
Ciok-toako itu dengan angkuh.
Sebaliknya sipemuda baju putih memandang sejenak kepada Kok Ham-hi, ia rada heran dan
menjawab: “Akupun tidak kenal. Numpang tanya, siapakah nama saudara yang terhormat ini?”
Rupanya dari sorot mata tajam itu ia dapat melihat Kok Ham-hi bukanlah sembarangan tamu, sebab
itulah ia berbicara dengan cukup ramah.
“Ah, aku hanya seorang tabib keliling saja, namaku yang rendah tiada harganya untuk diketahui,”
sahut Kok Ham-hi.
Mendengar Kok Ham-hi tiada sangkut pautnya dengan para tamunya, para penjaga keluarag Seng
itu lantas maju menghalanginya. Sementara itu Pek-kongcu dan ketiga saudara Ciok sudah tinggal
masuk kedalam tanpa pedulikan Kok Ham-hi lagi.
“Persetan, kau ini pengemis dari mana, berani main gila kesini?” demikian para budak keluarga
Seng lantas mem-bentak2.
”Eh, majikan kalian sedang pesta-pora, aku datang memberi selamat, kenapa kalian tidak
mengizinkan aku masuk?” ujar Kok Ham-hi.
Ketika itu Pek-kongcu dan Ciok-si-sam-hiong yang sudah masuk keruangan dalam itu sedang
bicara dengan para kenalan yang menyongsong kedatangan mereka. Tiba2 dari percakapan mereka
sayup2 Kok Ham-hi mendengar ada kata2 “kawin paksa”, ia tergerak dan cepat pasang telinga.
Kiranya Ciok-loji, yaitu orang kedua dari Ciok-si-sam-hiong itu sedang berbicara dengan seorang
temannya dipojok pintu masuk. Dengan ketajaman pendengaran Kok Ham-hi, samar2 ia masih
dapat mengikuti percakapan mereka itu.
Terdengar Ciok-loji sedang tertawa dan berkata: “Wah, sungguh kejadian sama yang sangat
kebetulan!”
Saat itu para budak keluarga Seng sedang memaki dan menghalangi Kok Ham-hi sehingga satu
kalimat pembicaraan mereka itu tak terdengar jelas. Tapi menyusul terdedngar lagi orang itu lagi
berkata: “O, kiranya disana juga terjadi peristiwa yang sama.”
“Ya, Seng-cengcu berarti juga Oh-ciok-cengcu, makanyaaku bilang kejadian serupa yang sangat
kebetulan!” terdengar Ciok-loji menanggapi.
Dalam pada itu kawanan budak keluarga Seng menjadi murka melihat Kok Ham-hi tidak gubris
kepada mereka, dengan bengis mereka memaki: “Keparat, apakah kau berlagak dungi? Lekas
enyah,” ~ Berbareng itu seorang lantas hendak mendorong Kok Ham-hi.
Tak terduga yang didorong tidak apa2, sebaliknya budak itu sendiri lantas jatuh terjungkal.
Rupanya melihat keadaan sudah gawat, Kok Ham-hi telah ambil keputusan akan masuk kedalam
secara paksa saja. Maka dengan sedikit sengkelit saja budak yang hendak mendorongnya itu sudah
dibikin terguling.
Sambil menggeletak dilantai, budak garang itu masih memaki: “Keparat, kau berani memukul
orang!”
“Jangan kuatir, bila kau terluka, sebentar akan kuberi obat,” kata Kok Ham-hi dengan tertawa.
Ketika kedua tangannya bekerja pula, kembali beberapa orang budak dibikin terjungkal, lalu ia
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
menerobos kedalam. Budak2 yang lain menjadi jeri dan tidak berani mendekat, mereka hanya berteriak2
saja, tapi tidak berani mengejarnya.
Kebetulan saat itu lantas terdengar riu hramai petasan, ruangan upacara juga bergema suara musik,
sepasang mempelai sedang melakukan upacara nikah.
Karena itu suara ribut2 didepan menjadi tenggelam oleh suara petasan dan bunyi musik, orang
didalam tidak tahu apa yan gterjadi diluar, disangkanya cuma urusan kecil saja, maka tiada orang
yang keluar mengurusnya.
Ditengah suara riuh ramai dan mengepulnya asap petasan, segera Kok Ham-hi menyusup diantara
orang banyak dan mendesak sampai di ruangan upacara, ia coba mencari Ciok-loji, tapi tidak
kelihatan, hanya terdengar Ciok-lotoa sedang berkata: “Kita datang tepat pada waktunya, malahan
tadi aku kuatir terlambat.”
“Sebenarnya upacarasudah harus berlangsung tepat lohor tadi, kabarnya pengantin perempuan tidak
mau keluar, maka tertunda sampai sekarang,” terdengar seorang menimbrung disampingnya.
Diam2 Kok Ham-hi membatin: “Pengantin perempuan mau keluar melakukan upacara nikah, besar
kemungkina bukanlah Giam Wan. Tapi sudah terlanjur datang kesini, betapapun urusan ini harus
kuselidiki hingga jelas.”
Belum lenyap pikirannya, tertampak sepasang pengantin baru sudah keluar bersama, pengantin
perempuan diapit oleh dua perempuan pengiring dari kanan kiri, jelas dipapah keluar secara paksa.
Maka pembawa acara mulai berseru menyebutkan upacara nikah, sepasang mempelai diharuskan
berlutut dan menyembah. Sampai disini, mendadak suara seruannya berubah menjadi suara jeritan
aget, rupanya Kok Ham-hi telah melompat keluar dari tengah2 tetamu, secepat kilat ia menyelinap
ke-tengah2 pasangan pengantin itu.
Pembawa acara itu adalah seorang guru sekolah desa yang sudah tua, ketika mendadak melihat
wajah Kok Ham-hi yang seram itu, tanpa dipukul dia sudah jatuh pingsan.
Setelah berdiri di tengah2 pasangan pengantin itu, sebelah tangan Kok Ham-hi mencengkeram
pengantin laki2, tangan lain terus menarik kain kerudung pengantin perempuan dengan hati berdebar2.
Tapi setelah kerudung pengantin perempuan itu tersingkap, ia menjadi sangat kecewa,
ternyat pengantin perempuan itu memang bukan Giam Wan.
Ketika mendadak melihat wajah Kok Ham-hi yang menakutkan itu, pengantin perempuan itu juga
menjerit kaget dan muka pucat, hanya saja dia sudah kenyang tersiksa selama beberapa hari ini,
perasaannya sudah beku, biarpun takut juga tidak sampai pingsan seperti si guru sekolah yang tua
itu.
Kok Ham-hi lantas berkata kepadanya: ‘kau jangan takut,aku datang untuk menolong kau.
Rumahmu berada dimana? Apakah kau masih punya ayah-ibu?”
“Hayo,lekas kalian bekuk ……….. “ dengan kejut dan gusar Seng-cengcu lantas membentak, tapi
mendadak teringat putra kesayangannya berada dalam cengkeraman penyatron itu, terpaksa ia harus
pikir dua kali dan cepat ganti suara memohon: ‘Eh, tahan dulu, sobat, tahan dulu,kau menginginkan
apa, silahkan bicara saja, asalkan jangan bikin susah puteraku itu.”
“Sebenarnya aku hendak binasakan putramu ini,” kata Kok Ham-hi. “Jika kau ingin kuampuni
jiwanya, maka kau harus tunduk kepada perintahku!”
“Ba …..ba……..baiklah, silahkan tuan bicara dan tentu akan kuturuti,” jawab Seng-cengcu dengan
gugup.
“Memangnya kau berani membangkang!” jengek Kok Ham-hi. Baru saja ia hendak menguraikan
syaratnya, se-konyong2 ada angin tajam menyamber dari belakang. Kiranya dua orang telah
menyambitkan senjata rahasia ke arahnya, sebuah Tau-kut-ting (paku penembus tulang_ dan sebuah
Oh-tiap-piau (piau kupu2) berbareng menghantam Hiat-to bagian punggungnya.
Tapi punggung Kok Ham-hi laksana punya mata, tanpa menoleh, mendadak tangan menyelentik
kebelakang, terdengar suara “crang-creng” dua kali, kedua senjata rahasia itu menyambe balik
kesana dan kontan senjata makan tuan. Tau-kut-ting menancap dibatok kepala orang. Oh-tiap-piau
juga bersarang di batok kepala seorang lagi, tanpa ampun kedua penyerang gelap itu terbinasa oleh
senjata rahasianya sendiri.
“Hayolah, siapa yang sudah bosan hidup boleh coba2 lagi!” seru Kok Ham-hi dengan mendengus.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Keluarga hartawan Seng itu biasanya sangat ditakuti didaerah kekuasaannya, sebab Seng-cengcu itu
mempunyai hubungan rapat dengan pejabat setempat dan bergaul pula dengan tokoh2 kalangan
hitam. Sekarang diantara tamu2 undangannyasebagian besar juga mahir ilmu silat. Tapi demi
nampak betapa lihainya Kok Ham-hi semuanya menjadi kuncup dan ketakutan. Yang bisa menahan
diri masih coba berdiam di situ untuk menanti perkembangan selanjutnya. Tapi ada sebagian tamu
yang bernyali kecil sudah lantas berebut melarikan diri keluar.
Di tengah suasana ribut itu, Kok Ham-hi mendengar suara seorang menjengek: ‘hm, memaksa
orang dengan sandera, terhitung orang gagah macam apa?” ~ Pembicara ternyata bukan lain
daripada si pemuda she Pek tadi. Kok Ham-hi balas menjengek, se-konyong2 ia dorong pergi si
pengantin laki2, lalu ia melayang cepat kesana untuk mengadang di depan orang banyak, ia berdiri
ditengah ambang pintu. Kebetulan saat itu ada dua perwira yang sedang lari keluar ruangan, kedua
tangan Kok Ham-hi bergerak dari jauh, ia kerahkan “Thian-lui-kang” yang dahsyat, terdengar suara
“blang-blang” dua kali kedua perwira itu kontan terguling ke bawah undak2an gedung dan
menggeletak tak berkutik lagi. Tanpa ampun mereka telah binasa oleh tenaga pukulan Kok Ham-hi
dari jauh itu.
Sambil mengadang diambang pintu, lalu Kok Ham-hi membalik tubuh, kedua tangan nya
mencengkeram dengan cepat dan dilemparkan ber-turut2 sepeti elang menyambar anak ayam saja,
satu tangan satu orang, orang2 yang ber-jubel2 diambang pintu hendak melarikan diri itu telah
dilemparkan kembali kedalam ruangan, dalam sekejap saja sudah belasan yang dilemparkan secara
demikian.
“Satupun tidak boleh lari!” bentak Kok Ham-hi. “Siapa yang berani lari , kedua perwira itu adalah
contoh kalian!”
Melihat keperkasaan Kok Ham-hi, yang lain2 menjadi ketakutan dan terpaksa mencari tempat
sembunyi disana sini.
“Hm, hendak lari saja tidak boleh, sungguh terlalu,” kata pemuda she Pek tadi.
“Memang, belum pernah kulihat orang segarang dia, marilah kita maju berbareng untuk bereskan
bocah itu,” ajak Ciok-lotoa dengan gusar.
Akan tetapi banyak diantara hadirin itu sudah jeri dan pecah nyalinya oleh ketangkasan Kok Hamhi
itu, maka tiada seorangpun yang menanggapi ajakan Ciok-lotoan itu. Bahkan pemuda she Pek
yang dianggap berkepandaian paling tinggi itupun tidak memberi sambutan atas usul Ciok-lotoa itu,
soalnya diapun merasa mengalahkan Kok Ham-hi jika satu lawan satu, sebaliknya kalau main
kerubut sebagaimana ajakan Ciok-lotoa itu ia merasa akan menurunkan derajatnya, maka dari itu ia
anggap tidak dengan kata2 Ciok-lotoa tadi, sebaliknya ia mendekati pengantin laki2 yang dilempar
pergi oleh Kok Ham-hi tadi dan berusaha membuka hiat-to yang tertotok. Tak terduga totokan Kok
Ham-hi itu adalah cara perguruannya yang khas, betapapun pemuda she Pek itu tidak mampu
membuka hiat-to yang tertotok itu.
Setelah tiada seorangpun yang berani terima tantangannya, lalu Kok Ham-hi mendekat sipemuda
she Pke,katanya: ‘Hm, kau anggap aku terlalu garang dan menggunakan tawanan untuk
emnggertak, sekarang tawananku telah berada ditanganmu, mengapa kau tidak mampu
menyelamatkan dia?”
“Apa maksudmu?” jawab pemuda she Pek itu terpaksa.
“Cobalah pukulanku ini!” bentak Kok Ham-hi sambil sebelah tangannya menolak kedepan.
Cepat pemuda she Pek mengerahkan segenap tenaganya dan menangkis dengan kedua tangan. Akan
tetapi mana dia sanggup menahan kekuatan Thian-lui-kang yang dahsyat itu, ketika tenaga kedua
pihak kebentur, Kok Ham-hi tidak goyah sedikitpun, sebaliknya pemuda she Pek tanpa kuasa
tergentak sempoyongan kebelakang beberapa langkah.
Melihat lawannya tidak tergetar jatuh, diam2 Kok Ham-hi mengakui kekuatan lawan itu tidaklah
lemah. Kalau bertambah lagi seorang lawan yang sama kuatnya seperti itu mungkin akan sukar
dilayani nanti.
Sebaliknya setelah menyambut tenaga Thian-lui-kang secara paksa, dada pemuda she Pek itu seakan2
digontok oleh palu raksasa, untuk sejenak ia tidak berani buka suara dan maju lagi.
Melihat gelagat jelek, Seng-cengcu, tuan rumahnya, hampir2 menangis ketakutan, ber-ulang2 ia
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
minta ampun: ‘Orang gagah, harap sudi memneri kelonggaran, janganlah kami dipukul lagi. Apa
yang tuan kehendaki pasti akan dituruti.”
“Dari mana kau menculik nona ini, aku ingin segera kau memulangkan dia,” kata Kok Ham-hi.
“Baiklah, ayahnya sekarang juga berada disini, segera kusuruh dia membawanya pulang,” kata
Seng-cengcu.
DAlam pada itu sipengantin perempuan telah dapat tenangkan diri, ia merasa bersyukur setelah
mengetahui Kok Ham-hi bermaksud menolongnya, cepat ia memberi hotmat dan mengucapkan
terima kasih. Dari tengah2 orang banyak lantas tampil juga seorang tua dengan air mata berlinang2,
melihat orang tua itu, sipengantin perempuan lantas memburu maju dan merangkulnya
sambil berseru: “Ayah” ~ Kedua ayah beranak itu seketika salaing berpelukan dan menangis sedih.
“Sudahlah kalian jangan menangis lagi,” seru Kok Ham-hi. “Kalian berasal dari mana, mengapa
anak perempuan kena dogondol kesini olehnya?”
“Aku adalah seorang siucay miskin, berasal dari Jingjiu, bersama anak perempuanku sebenarnya
kami bermaksud mencari kerjaan ketempat sanak pamili di Sohciu, tak terduga sampai disini kami
telah diculik oleh mereka, bahkan aku dipaksa membikin surat penjualan anak perempuanku,”
demikian tutur orang tua itu.
Dengan gusar Kok Ham-hi lantas berkata: “Nah bangsat she Seng, sekarang juga kau kembalikan
bukti kontrak penjualan anak perempuannya itu, selain itu kau harus memberi ganti rugi sepuluh
tahil emas kepada mereka.”
“Baik, baik tuan,” sahut Seng –cengcu, lekas2 ia perintahkan pembantunya melaksanakan apa yang
diminta oleh Kok Ham-hi itu.
“Aku tidak ingin emasnya, hanya ingin kembalinya anak perempuanku,” kata orang tua tadi.
“Harta yang tidak halal, apa halangannya diambil, boleh kau menerimanya buat modal usaha
kelak,” kata Kok Ham-hi. Habis itu, ia coba periksa sekeliling ruangan itu, pelahan2 ia mendekati
meja sembahyangan yang terletak di-tengah2 ruangan besar itu.
Diatas meja sembahyang itu tersulut sepasang lilin besar, banyak barang2 sesajian pula, sekaligus
Kok Ham-hi menyapu barang2 sesajian itu sehingga jatuh berserakan memenuhi lantai, lilin
dicabutnya dan dibuang, lalu ia angkat sebelah tangannya dan berkata: ‘Bangsat tua she Seng, coba
pentang matamu lebar2, lihatlah yang jelas ini!”
Ketika tangan memukul, terdengar suara gemuruh meja yang terbuat dari kayu cendana yang keras
itu tidak bergerak. Hal ini rada diluar dugaan orang padahal sekali hantam saja tadi Kok Ham-hi
telah membinasakan dua perwira, sekarang hantamannya ternyata tak bisa menghancurkan meja.
Belum habis pikir, tiba2 terdengar suara gemeretak yang ramai, mendadak meja sembahyang tadi
roboh verserakan menjadi keping2an kecil.
Kiranya Kok Ham-hi telah menghantam meja itu dengan Thian-lui-kang yang ampuh, tenaga
pukulannya menjalar sekeliling meja secara bergelombang, sebab itulah meja itu baru hancur
sejenak kemudian. Keruan semua orang ternganga dan ketakutan.
“Nah, bangsat she Seng, sudah lihat jelas tidak. Sekiranya kau berkepala batu juga tak lebih keras
daripada meja ini,” jengek Kok Ham-hi. “Selanjutnya jika kau berani membikin susah lagi kepada
mereka ayah beranak, maka aku pasti hancurkan kepalamu, bahkan kubabat habis seluruh anggota
keluargamu tanpa kecuali.”
Dengan ketakutan Seng-cengcu lantas berlutut dan menyembah, katanya: “Tidak berani, pasti tidak
berani!”
“Memangnya kau berani?” jengek Kok Ham-hi. “Sekarang buka pintu lebar dan antar
keberangkatan mereka ayah beranak!”
Setelah orang tua itu dan anak perempuannya pergi, lalu Kok Ham-hi berkata pula: ‘Kekayaanmu
kau peroleh secara tidak halal, kau suka meninda rakyat jelata, mestinya aku binasakan kau, tapi
sementara ini biarlah kuampuni kau, kau dihukum memberi sedekah kepada fakir miskin tiga ribu
tahil perak, dalam waktu tiga hari hal ini harus kau laksanakan, bilamana kau tidak menurut maka
jiwamu akan segera melayang.”
Ber-ulang2 Seng-cengcu menjura dan menyatakan akan taat kepada perintah itu.
Selesai menjatuhkan hukuman kepada Seng-cengcu, kemudian Kok Ham-hi bicara kepada para
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tamu: “Sekarang kalian boleh pergi. Cuma ada seorang diantara kalian harus tetap tinggal disini!” ~
Mendadak ia mendelik dan menuding seorang yang berdiri di pojok sana dan berkata pula: ‘Ciokloji,
kau yang tinggal disini,aku ingin tanya sesuatu padamu.”
Rupanya tujuan Kok Ham-hi melarang keluarnya para tamu ituadalah kuatir Ciok-loji melarikan
diri dalam kekacauan tadi. Keruan Ciok-si-sam-hiong menjadi terkejut dan mendongkol pula,
mereka tidak tahu apa maksud Kok Ham-hi dengan menahan Ciok-loji disitu.
Tetamu lain segera berebut meninggalkan tempat pesta itu, tiada seorangpun yang ambil pusing
kepada ketiga saudara she Ciok itu.
Tiba2 pemuda she Pke tadi berkata: ‘Ciok-toako, kita ada untung dirasakan bersama, ada malang
dipikul bersama.
Maklumlah, ayah pemuda she Pek itu adalah seorang tokoh yang ternama didunia persilatan,
dirumahnya dia sudah biasa disanjung puji, kini kena dihajar oleh Kok Ham-hi sudah tentu ia tidak
rela dihina mentah2. Ia pikir Ciok-si-sam-hiong meski bukan jago kelas satu,tapi kalau mereka
bertiga mau membantunya mungkin akan mampu menandingi orang galak bermuka buruk ini.
Begitulah Kok Ham-hi lantas menanggapi: “Aku hanya ingin tanya sesuatu kepada Ciok-loji, tapi
kalau kalian bermaksud menantang berkelahi padaku, maka akan kugunakan kesempatan ini untuk
menghajar ada kepada kalian. Nah, majulah lekas tidak perlu banyak omong!”
Karena Kok Ham-hi telah menyatakan hendak menghajar adat kepada mereka, dalam keadaan
kepepet terpaksa Ciok-si-sam-hiong menerima tantangan itu. Segera mereka berdiri sejajar, Cioklotoa
lantas berkata: ‘Manusia punya muka, pohon punya kulit, saudara sesungguhnya terlalu
menghina orang, memangnya kami bertiga lantas takut padamu. Namun kita selamanya tiada
permusuhan apa2, bilamana kami kalah, bolehlah kau tanya apa yang kau kehendaki, sebaliknya
kalau saudara kalah,kamipun takkan bikin susah padamu, hanya urusan kami hendaklah kau jangan
ikut campur!” ~ Biarpun keras mulutnya, namun nadanya lemah dan hati sudah jeri.
Kok Ham-hi bergelak tertawa, katanya: “Baik, baik! Kalian mengaku sebagai sam-hiong, aku justru
ingin tahu apakah kalian benar2 jagoan atau betina. Nah, mulai!”
Baru saja Kok Ham-hi mengucapkan “mulai”, berbareng ketiga saudara Ciok itu lantas menerjang
maju. Tiga buah toya dan tiga buah gelang emas menghantam sekaligus kearah Kok Ham-hi.
Toya dan gelang adalah senjata has yang dilatih dengan tekun dan selama ini digunakan Ciok-sisam-
hiong untuk malang melintangdi daerahnya. Tangan kiri gelang besar dan tangan kanan
memegang toya, kedua macam senjata yang berbeda jauh itu dapat bekerja sama dengan rapat
sekali, benar2 sejenis ilmu silat yang lain daipada yang lain.
Melihat dua macam senjata yang aneh itu, mau ta mau Kok Ham-hi terkesiap juga, diam2 ia
waspada da tidak berani meremehkan lawan.
Sedangkan pemuda she Pek tadi juga tidak tinggal diam, bahkan ia lebih licik daripada Ciok-sisam-
hiong, Ketika Kok Ham-hi bicara tadi,diam2 ia sudah siap siaga. Begitu Ciok-si-sam-hiong
mulaui bergerak,berbareng iapun menggertak sambil menggeser kebelakang Kok Ham-hi dengn
cepat, dengan jurus “Yu-liong-tam-jiau” (naga meluncur menjulur cakar), kelima jarinya yang mirip
kaitan terus mencengkeram ke Tay-cui-hiat dipunggung Kok Ham-hi. Hiat-to ini kalau sampai
tercengkeram, betapapun lihai ilmu silatnyajuga akan lumpuh dan tidak bisa berkutiklagi.
Akan tetapi Kok Ham-hi tidak gampang kecundangbegitu saja, ditengah samberan angin pukulan
dan bayangan toya, tiba2 terdengar suara “blang” yang keras, Kok Ham-hi mendak kebawah,peti
obat yang digendongnya itu terus melayang satu kitaram diatas kepala, tiga buah toya Ciok-si-samhiong
kena mengemplang diatas peti obat sehingga pti itu hancur.
Sedangkan cengkeraman pemuda she Pek tadi tampaknya sudah hampir kena sasarannya, tahu2
Kok Ham-hi mendak kebawah sehingga cengkeramannya Cuma selisih beberapa senti saja. Dalam
pada itu dengan cepat luar biasa Kok Ham-hi sudah membaliki sebelah tangannya terus menangkap
pergelangan tangan lawan, mau tak mau pemuda she Pek melompat mundur kalautidak mau
tertawan.
Setelah peti obat pecah, pedang Kok Ham-hi yang tersimpan didalam peti lantas jatuh kelantai,
sekali kaki Kok Ham-hi mencungkit, pedang itu mencelat keatas dan tepat kena ditangkapnya,
sebelum pedang dilolos dari sarungnya, segera ia gunakan dulu untuk menangkis ketiga toya lawan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
yang sementyara itusudah menyerang pula.
Sementara itu sipemuda she Pek sudah mengeluarkan senjatanya sejenis golok tebal, serunya:
‘Baiklah, akan kucoba lagi ilmu pedangmu!” ~ Rupanya ia sudah jeri terhadap ilmu pukulan Kok
Ham-hi tadi, kini ia berharap dapat memperoleh kemenangan dalam hal ilmu gogloknya yang sudah
terlatih.
Sudah tentu Kok Ham-hi tidak gentar, dengan tertawa ia lantas lolos pedangnya, sekali putar,
seketika sinar perak gemerdep menyilaukan mata, Ciok-si-sam-hiong dan pemuda she Pke itu
sama2 mundur satu tindak karena merasakan sinar perak yang tajam itu.
Diam2 pemuda she Pek itu rada mengkeret, sungguh tidak nyana ilmu pedang lawan juga sehebat
ini. Lekas2 ia menggunakan kelincahan tubuhnya untuk berkelit, menubruk, lalu menggeser lagi
kesamping, ia terus melompat kesana sini, bila ada kesempatan baru balas menyerang, sedapat
mungkin ia menghindari gebrakan langsung dengan Kok Ham-hi.
Ilmu golok pemuda she Pek disebut “Yu-sin-pat-kwa-to”, ilmu golok Pat-kwa, permainan ilmu
golok ini mengutamakan kecepatan dan kegesitan. Sebenarnya ilmu pedang Kok Ham-hi juga
terkenal gerak serangan yang aneh, tapi ber-turut2 beberapa kali serangannya ternyata dapat
dihindarkan pemuda itu. Diam2 Kok Ham-hi berpikir harus ganti siasat, lebih dulu Ciok-si-samhiong
dibereskan baru nanti melayani lagi pemuda she Pek itu.
Sekali bersuit panjang, mendadak ia menerjang kearah Ciok-si-sam-hiong secara menbadai, tanpa
menghiraukan lagi pemuda she Pek. Begitu keras serangan pedangnya sehingga beberapa bagian
kekuatan Thian-lui-kang sudah tersalur keujung pedangnya, maka ketika golok sipemuda she Pek
mencapai lingkaran sinar pedangnya lantas terguncang pergi.
Kok Ham-hi menambah tenaga dalamnya, gerak pedangnya dari cepat menjadi lambat, ujung
pedang se-akan2 diganduli benda berat, sebentar menusuk kekanan dan lain saat menabas kesini,
tampaknya tidak selihai permulaan, tapi kekuatannya bertambah lipat ganda, asal kebentur ujung
pedangnya tentu tangan tergetar dan napas sesak.
Dengan tiga toya mereka, Ciok-si-sam-hiong bertahan dengan rapat, namun kerja sama mereka
yang bagus itu ternyata tidak tahan oleh terjangan tenaga dalam Kok Ham-hi. Tidak antara lama
ketiga saudara itu sudah mandi keringat dan naps ter-engah2.
Melihat sudah tiba waktunya, se-konyong2 Kok Ham-hi membentak: “Kena!” ~ Tahu2 pedangnya
menusuk masuk ketengah gelang emas Ciok-loji dan tepat mengenai pergelangan tangannya.
“Trang”, gelang emas yang besar itu jatuh kelantai, Ciok-lotoa dan Ciok-losam terkejut, sepasang
gelang dan dua toya mereka segera menyerang berbareng, akan tetapi barisan serangan mereka sudh
kehilangan sebuah gelang emas, mana mampu menahan serangan Kok Ham-hi yang dahsyat itu.
Terdengar suara “crat-cret” ber-ulang2, sekali menabas, kontan pedang Kok Ham-hi membikin
kedua toya lawan terkutung. Menyusul jarinya menotok secepat kilat, hanya sekejap saja hiat-to
ketiga orang lawan sudah tertotok.
Pemuda she Pek tadi sungguh sangat licin, begitu melihat gelagat jelek, segera ia menerjang keluar
pintu, setelah dipelataran luar ia lantas berseru: “Ilmu pedang saudara sungguh hebat, aku sangat
kagum! Mohon tanya siapa nama saudara yang terhormat?”
Rupanya pemuda itu mengira setelah lari keluar pintu, Kok Ham-hi yang sibuk membereskan Cioksi-
sam-hiong tentu tidak keburu mengejarnya, maka dia pura2 tanya nama orang segala untuk
menutupi kekalahannya.
Tak terduga, cara Tiam-hiat Kok Ham-hi cepat luar biasa, begitu Ciok-si-sam-hiong ditotok roboh,
baru saja pemuda she Pek itu lari keluar, tahu2 iapun sudah mengejar tiba.
“Hehe, untuk apa kau tanya namaaku, maksudmu hendak menuntut balas di kemudian hari bukan?
Haha, tidak perlu repot2, sekarang juga aku sudah datang kepadamu!” jengek Kok Ham-hi ebgitu
muncul di depan pintu.
Keruan kejut pemuda she Pek tak terhingga, tak tersangka olehnya Kok Ham-hi bisa datang
sedemikian cepat. Semula ia bermaksud lari kekandang kuda untuk mencari kuda sendiri, tapi kini
ia tidak sempat lagi. Melihat datangnya Kok Ham-hi, lekas2 ia cemplak keatas seekor kuda yang
berada disitu terus dilarikan secepatnya.
Agaknya saking banyaknya tetamu, kandang kuda keluarga Seng menjadi penuh dan tidak muat,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
banyak kuda para tamu terpaksa ditambat dipelataran depan, sebab itulah pemuda she Pek sempat
melarikan diri dengan seekor kuda rampasan.
Kok Ham-hi bergelak tertawa melihat pemuda itu melarikan diri dengan seekor kuda jelek, maka
iapun tidak mengejer lebih jauh melainkan berseru: “Kau minta tanya namaku, tapi aku cukup
minta kau tinggalkan kudamu saja!”
Rupanya ia telah penujui kuda putih sipemuda she Pek yang bagus itu, maka sengaja pura2
mengejar keluar untuk menakut2i saja. Kini ia perlu kembali kedalam untuk menanyai keterangan
Ciok-loji, sudah tentu ia tidak ingin mengejar sipemuda she Pek.
Setiba kembali di ruangan tengah, Ciok-si-sam-hiong sedang me-rintih2 payah. Ciok-lotoa
memohon dengan suara lemah: ‘maafkan atas kecerobohan kami, ampuni kesalahan kami, orang
gagah!”
“Sudah tentu aku mau mengampuni kalian, Cuma seperti kataku tadi, aku hanya ingin minta
keterangan kepadamu, apa yang kutanya kalian harus katakan sejujurnya, tidakboleh bohong atau
kubinasakan kalian!” kata Kok Ham-hi.
“Silahkan tuan tanya, kami pasti akan bicara sejujurnya,” sahut Ciok-lotoa.
Setelah membuka Hiat-to ketga tawanan itu, lalu Kok Ham-hi bertanya: “Ciok-loji, tadi kau bicara
dengan kawanmu tentang sesuatu kejadian yang sangat kebetulan dan serupa, apa maksudnya
kejadian serupa itu?”
Ciol-loji terkejut, pikirnya: “Aneh, obrolanku dengan si Han kuda cepat dengan suara pelahan tadi
kenapa bisa didengar olehnya?”
Mestinya peristiwa itu tidak boleh dikatakan kepada sembarang orang, tapi dibawah ancaman Kok
Ham-hi, terpaksa Ciok-loji harus cari selamat lebih dulu. Setelah tenangkan diri barulah ia berkata:
“Ya, dijalanan utara antara Hopk dan Soasay juga terjadi suatu peristiwa yang serupa dengan
kejadian disini.”
“seorang kawan kalangan hek-to disana juga telah berhasil merampas seorang perempuan,” Ciokloji
menambahkan.
“Siapakah kawan kalangan hitam yang kau maksudkan itu?” tanya Kok Ham-hi.
“Seorang Tosu,” tutur Ciok-loji. “Dia juga biasa melakukan perdagangan tanpa modal dikalangan
Hek-to seorang diri.”
Apa yang dia maksudkan adalah perbuatan merampok, membegal, artinya Tosu yang dikatakan itu
adalah seorang bandit.
“Oh-ciok Tojin bukan maksudmu?” tanya Kok Ham-hi. Nama ini didengarnya dari Ci In-hong.
“Benar, memang Oh-ciok Totiang adanya,” sela Ciok-losam. “Apakah tuan kenal dia?” Ia
menyangka Kok Ham-hi ada hubungan baik dengan Oh-ciok Tojin, diam2 ia merasa girang.
Tapi Kok Ham-hi lantas menjengek, sahutnya: “Ya, memang aku kenal dia, aku sedang mau cari
dia!”
Melihat air muka Kok Ham-hi yang berubah itu, Ciok-lotoa tahu gelagat jelek, cepat ia
menyambung: “Tosu bau busuk itu memang suka berbuat sembrono, kami sering mengutuk
perbuatannya. Seperti sekali ini, ia menggondol lari anak perawan orang, perbuatannya ini terang
tidak pantas.”
Ciok-losom yang lebih muda dan ke-tolol2an itu belum mengetahui akan maksud ucapan
saudaranya itu, dia malah merasa tidak adil bagi Oh-ciok Tojin, segera ia berkata: “Meski Oh-ciok
Tojin suka berbuat se-wenang2, tapi biasanya dia bukan manusia yang suka kepada perempuan.
Konon menurut apa yang kudengar, katanya perempuan yang dia rampas itu bukan untuk diri
sendiri melainkan akan dipersembahkan kepada orang lain. Orang yang inginkan perempuan itupun
tidak bermaksud hendk mencemarkan kehormatan tawanannya itu.”
“Pendek kata seorang Tosu betapapun tidak pantas berbuat begitu,” ujar Ciok-lotoa sambil melototi
saudaranya.
“Sudahlah, kalian hanya perlu katakan apa saja yang kalian tahu, tak perlu urus baik buruk
pribadinya Oh-ciok Tojin,” sela Kok Ham-hi dengan tidak sabar. “Nah, Ciok-losam, coba kau saja
yang bicara. Oh-ciok Tojin merampas perempuan itu untuk dipersembahkan kepada siapa?”
“Kabarnya hendak disumbangkan kepada Toh-cecu di Hui-liong-san,” jawab Ciok-losam.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Diam2 Kok Ham-hi terperanjat. Segera iapun berkata dengan suara keras: “Perempuan itu she Giam
bukan?”
“O,kiranya engkau sudah tahu juga,” ujar Ciok-losam.
“Memangnya kau kira aku tidak tahu?” kata Kok Ham-hi. “Aku cuma ingin tahu apakah pengakuan
kalian ini cocok tidak dengan apa yang kuketahui. Aku ingin tahu apakah kalian berbohong atau
tidak.”
“Ya, ya,” sahut Ciok-losam dengan ter-sipu2. “Konon perempuan itupun orang dunia persilatan,
putri Cwan-say-tayhiap Giam Seng-to.”
Dari tadi Kok Ham-hisebenarnya sudah menduga perempuan yang dimaksudkan itu pasti giam Wan
adanya, kini keterangan itu ternyata cocok dan tidak urung iapun terkejut pula, tanpa terasa ia
bertanya: “Cara bagaimana dia sampai tertawan oleh Tosu keparat itu.”
“ya, mula2 Oh-ciok Tojin bahkan hampir kecundang oleh nona itu, kemudian dia menggunakan
senjata rahasia pembius barula nona Giam kena tertawan,” tutur Ciok-loji.
Ciok-lotoa memang pintar melihat gelagat, dari sikap Kok Ham-hi yang terkejut dan cemas itu ia
dapat menduga Kok Ham-hi pasti mempunyai hubungan akrab dengan nona itu, demi untuk
mengambil hati Kok Ham-hi, segera ia berkata: “Kemarin dulu kami bertemu dengan Oh-ciok Tojin
diluar kota Sohciu, dia mengatakan hendak mengantar perempuan itu ke Hui-liong-san untuk
diberikan kepada Toh-cecu. Kalau disusul dari sini dengan kuda yang baik rasanya masih dapat
menyusulnya sebelum dia mencapai Hui-liong-san. Biarpun teman sendiri, sebenarnya kamipun
tidak menyetujui perbuatan terkutuk seperti dia itu. Cuma sayang kepandaian kami selisih jauh
dengan dia, kalau tidak tentu akupun akan memebri hajaran padanya.”
“Biar dia sudah sampai ujung langit juga akan kususul dia,” kata Kok Ham-hi dengan mengertak
gigi.
“bagus, sungguh seorang pendekar sejati, jika engkau menyusulnya sekarang tentu masih keburu
mencegatnya ditengah jalan. Eh, Seng-cengcu, lekas kau siapkan seekor kuda pilihan bagi tuan ini!”
seru Ciok-lotoa. Bicaranya seperti memuji Kok Ham-hi, ia sendiri lupa bahwa kedatangannya ini
justru menghadiri pesta perkawinan paksa dengan pengantin perempuan berasal dari rampasan.
Ciok-losam yang ke-tolol2an itu mendadak berseru: “He, Lotoa, mengapa kau bicara begitu,
sebagai teman tentu kita kenal pribadi Oh-ciok Tojin, meski dia yang menangkap nona Giam itu,
tapi biangkeladinya adalah Toh-cecu dari Hui-liong-san. Tuan pendekar budiman, aku ingin mohon
sesuatu padamu.”
“Tak perlu kau buka mulut, aku tahu kau ingin minta aku mengampuni Tosu busuk itu bukan?
Tidak bisa, takkan kululuskan permintaanmu!” kata Kok Ham-hi. Meski dia gemas terhadap Ohciok
Tojin, tapi dalam hati rada suka kepada Ciok-losam yang ke-tolol2an tapi polos itu.
Mengapa Giam Wan sampai tertawan oleh Oh=ciok Tojin dan bagaimana nasibnya nanti setiba di
Hui-liong-san?
Cara bagaimana Kok Ham-hi menyusul ke Hui-liong-san dan menolong Giam Wan?
Jilid 12 bagian pertama
Ciok-losam berhati lebih polos, katanya pula: “Betapapun harus kukatakan bahwa Oh-ciok Tojin
se-kali2 pasti bukan orang yang suka merusak kaum wanita. Kalau terjadi apa2 paling2 ia hanya
sebagai pelaku saja, tapi dibelakangnya tentu ada biang keladinya. Terus terang, pribadi Oh-ciok
paling tidak akan lebih baik daripada kami bertiga.”
“Tosu jahat itu masakah kau mintakan ampun baginya?” bentak Ciok-lotoa. “Adikku ini rada
sembrono, harap Hiapsu (pendekar) maafkan dia.”
“Peduli amat dengan kalian, yang pasti biarpun jiwa imam keparat itu dapat kuampuni, sedikitnya
ilmu silatnya juga akan kupunahkan,” kata Kok Ham-hi.
Melihat Kok Ham-hi ber-gegas2 mau pergi, dengan ter-gopoh2 Seng-cengcu berkata: “Tuan yang
perkasa, kuda pilihan buat engkau sudah tersedia, sebentar akan dituntun kesini.” ~ Sembari berkata
iapun memberi isyarat kepada seorang pembantunya. Segera pembantu itu maju kedepan dengan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
membawa senampan uang perak, katanya: “Majikan kami persembahkan sedikit tanda mata ini,
mohon Tuan yang perkasa sudi menerimanya.”
Seketika mata Kok Ham-hi mendelik, ia bermaksud melemparkan hadiah yang lebih mirip uang
sogok itu. Tapi segera timbul suatu pikiran dalam benaknya, katanya kemudian: “baik juga, karen
ahartamu ini toh diperoleh secara tidak halal. Janganlah kau mengira dengan uangmu lantas kau
dapat berbuat apapun juga sesuka hatimu. Yang pasti, bilamana kau tidak melaksanakan perintahku
tadi, kelak aku pasti akan bikin perhitungan padamu.”
Melihat Kok Ham-hi mau menerima sumbangannya, Seng-cengcu merasa lega, cepat ia
menyatakan pasti akan melaksanakan kehendak Kok Ham-hi tadi dalam waktu tiga hari. Tapi
kemudian dia ternyata tidak pernah melakukannya sehingga kelak iapun mendapat ganjarannya
setelah Kok Ham-hi datang kembali dan mengusut perbuatannya itu.
Sementara itu kuda putih yang diminta Kok Ham-hi telah disiapkan, segera Kok Ham-hi
mencemplak keatas kuda itu. Tapi sebelum dilarikan, tiba2 ia ingat sesuatu, ia menoleh dan
bertanya kepada Ciok-losam: “Siapakah orang she Pek itu dimana tempat tinggalnya?”
“Dia bernama Pek Jiang-seng, ayahnya bernama Pek Ban-hiong, seorang bekas gembong Lok-lim
yang kini cuci tangan alias pensiun, tempat tinggalnya di Pek-gui-teng dikota Jongciu. Pek Banhiong
adalah saudara angkat Tun-ih Ciu, Tun-ih Cecu yang namanya termashur itu, dia ………”
“Sudahlah, aku sudah tahu,” sela Kok Ham-hi tak sabar sambil melarikan kudanya secepat terbang
kedepan.
Setelah Kok Ham-hi pergi barulah ketiga saudara she Ciok bertengkar sendiri, Ciok-lotoa
menyalahkan Ciok-losam terlalu banyak omong, sebaliknya Ciok-losam anggap Ciok-lotoa tidak
pantas menjual kawan dan meng-olok2 Oh-ciok tojin.
“Hm, kau tahu apa? Aku sengaja mengatur tipu mengadu domba ini dan hailnya tentu akan
menguntungkan kita sendiri, kau goblok, tidak paham maksudku,” kata Ciok-lotoa.
“Ya, aku goblok, memangnya kau yang pintar!” jawab Ciok-losam dengan penasaran.
Segera Ciok-loji menengahi, katanya: “Masakah Samte masih tidak paham tujuan toako? Oh-ciok
Tojin telah banyak merebut rejeki kita dikalangan Hek-to, kalau laki2 bermuka buruk itu nanti
ketemu dia dan saling genjot, tentu diantara mereka akan jatuh korban slah satu, bila laki2 muka
buruk itu mampus, hal ini sama dengan Oh-ciok Tojin telah membalaskan sakit hati kita.
Sebaliknya kalau Oh-ciok Tojin yang mampus, hal inipun bermanfaat bagi kita. Hehehe, sekarang
kau paham tidak?”
Otak Ciok-losam yang memang rada beabl itu melongo sejenak, kemudian barulah berseru: “Ha,
pahamlah aku! Jadi kalian sengaja mengadu domba mereka agar mampus salah satu diantaranya, ini
namanya pinjam golok membunuh musuh.”
Ciok-lotoa dan Ciok-loji manggut2, lalu bergelak tawalah mereka bertiga.
Kiranya ilmu golok Oh-ciok Tojin terkenal hebat juga didunia persilatan, sudah lama Ciok-si-samhiong
merasa sirik karena pekerjaan begal mereka mendapat saingan berat, tapi tak bisa berbuat
apa2 karena mereka tidak sanggup melawan Oh-ciok. Kini Ciok-lotoa sengaja membocorkan apa
yang diketahuinya tentang tertawannya Giam Wan oleh Oh-ciok dengan harapan Kok Ham-hi akan
terus menyusul kesana, paling baik kalau mereka bertempur mati2an dan akhirnya kedua orang
sama2 mampus.
Dan benar juga, Kok Ham-hi telah mengarahkan kudanya tanpa berhenti menuju kearah yang
dikatakan Ciok-lotoa. Sepanjang jalan ia jarang berhenti kecuali untuk tangsal perut dan tanya arah
kepada orang ditepi jalan. Sehari dua malam ia maburkan kudanya tanpa tidur sekejap.
Pada pagi hari ketiga, ia sudah sampai disuatu tempat yang jaraknya kira2 lima atau enampuluh li
dari Hui-liong-san. Dari seorang penjual wedang ditepi jalan diperoleh keterangan bahwa dilihatnya
ada sebuah kereta keledai lalu disitu, kusir kereta adalah seorang Tosu, sedangkan didalam kereta
ada penumpangnya atau tidak tak diketahui oleh sipenjual wedang.
Mendapat berita jelas itu, semangat Kok Ham-hi terbangkit, segera ia mengejar kearah yang
ditunjukkan penjual wedang itu. Kebetulan pagi ini baru saja turun hujan, bekas2 roda kereta
dijalanan cukup jelas, hal ini sama dengan petunjuk jalan baginya menuju kearah yang tepat.
Dengan mengikuti bekas roda kereta itu, sampailah Kok Ham-hi di tepi sebuah hutan dan disitulah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
bekas roda kereta itu menghilang. Keruan Kok Ham-hi ter-heran2, masakah Tosu jahat itu
menghalau keretanya ke dalam hutan, apa maksudnya hendak berbuat tidak senonoh terhadap
tawanannya?
Segera Kok Ham-hi melarikan kudanya menyusuri hutan itu dengan hati ber-debar2. Segera Giam
Wan akan dapat diketemukan, sekali ini harus menemuinya atau tidak? Hm, kalau Tosu keparat itu
berani mengganggu seujung rambutnya pasti akan kucincang tubuhnya hingga hancur lebur.
Demikian pikirnya.
Memang tidk salah, didalam kereta keledai yang dihalau Oh-ciok itu memang berisi Giam Wan.
Tapi urusan telah berubah sama sekali diluar dugaan Kok Ham-hi. Untuk ini baiklah kita tinggalkan
dulu Kok Ham-hi, marilah mengikuti pengalaman Giam Wan.
* * *
Setelah minggat dari rumah Giam Wan berusaha mencari berita Kok Ham-hi ke-mana2 tempat,
tanpa terasa tiga tahun telah lalu, seluruh kanglam telah dijelajahinya, tapi jejak Kok Ham-hi tetap
tak diketemukan.
Tiba2 ia teringat kepada cerita Kok Ham-hi bahwa pemuda ini adalah pengungsi dari daerah utara,
bukan mustahil sekarang pemuda itu pulang kampung. Begitulah Giam Wan lantas meneyberangi
Tiangkang mencari ke utara.
Tak terduga pada suatu hari ditengah perjalanan ia kepergok oleh Oh-ciok Tojin dan kena ditawan
oleh tosu itu dengan menggunakan dupa pembius. Waktu Giam Wan sadar, ia merasa dirinya sudah
terbaring didalam sebuah kereta keledai.
Dupa pembius Oh-ciokTojin itu mempunyai khasiat pelemas tulang dan mengendorkan otot, meski
sudah sadar, namun Giam Wan merasa sekujur badan lemas lunglai, sedikitpun tak bertenaga,
hanya badan terasa baik2 saja, tiada sesuatu tanda yang merugikan, rada legalah hatinya.
Tapi ia lantas mencaci-maki Oh-ciok Tojin, tekadnya sudah bulat, ada lebih baik terbunuh saja
daripada nanti tersiksa dan ternoda badannya.
Tak tahunya Oh-ciokTojin ternyat tidak marah, ia membuka tirai kereta dan menyapa: ‘O, kiranya
kau sudah mendusin?”
“Tosu keparat, kau hendak mengapakan diriku?” damprat Giam Wan.
“ah, tidak apa2, aku hendak memberi makanan padamu, ini, dua buah bakpau,” sahut Oh-ciok
dengan tertawa. “Kau sudah tidur seharian, kini tentu sudah lapar.”
Benar juga, setelah melemparkan dua potong bakpau, lalu Oh-ciok berpaling kedepan lagi, satu
jaripun tidak menyentuhnya.
Tercengang juga Giam Wan, makinya pula: “Tosu bangsat, mengapa kau tidak membunuh aku
saja? Ketahuilah, ayahku adalah Cwan-say-tayhiap Giam Seng-to, putrinya tidak boleh
sembarangan dihina orang. Kalau sekarang kau tidak bunuh aku, pada suatu hari kelak tentu aku
yang akan membunuh dirimu.”
“Apa mau dikata, terpaksa harus kulakukan untuk membalas budi orang,” sahut Oh-ciok.
“Membalas budi orang? Jadi kau gunakan diriku untuk membalas budi? Siapakah orang yang kau
maksudkan?” tanya Giam Wan.
“Tak dapat kuberitahukan,” sahut Oh-ciok. “Yang pasti, keselamatanmu dapat kujamin, tanggung
orang itu takkan menodai kau.”
“Huh, kawanan bangsat macam Tosu busuk kau ini masakah punya maksud baik,” caci Giam Wan.
“Percaya atau tidak terserah kau. Tapi ingin kuperingatkan, jika kau mencaci maki lagi terpaksa
akupun tidak sungkan2 padamu. Setiap kali kau memaki, setiap kali kutempeleng kau!”
Hendak bunuh diri, senjatanya ternyata sudah dirampas, dalam keadaan lemas, sukar juga sekalipun
ingin bunuh diri. Kalau Tosu itu benar2 menempelengnya tentu tak bisa melawan. Terpaksa Giam
Wan tak bersuara lagi. Ia ingin mencari kesempatan, bila nanti tenaga pulih sedikit barulah bikin
perhitungan dengan Tosu itu. Begitulah ia lantas jemput bakpau yang dilemparkan oelh Oh-ciok
tadi dan dimakan dengan lahapnya saking laparnya.
Habis makan dua potong bakpau itu ,rasanya tenaga pulih sedikit. Tapi ketika ia mencoa
mengerhkan tenaga dalam, tiba2 dada terasa sakit. Maka sadarlah kekuatan obat Tosu itu tidak
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dapat punah dalam waktu singkat, terpaksa ia harus bersabar.
Tampaknya Oh-ciok memang cukup sopan padanya meski sikapnya dingin2 saja, tapi dengan
demikian kedua pihak menjadi tenteram untuk sementara. Setiap hari Oh-ciok memberikan
makanan dan air minum kepada Giam Wan dengan sopan. Diwaktu mengaso dan tidur selalu Ohciok
menyingkir jauh daripada si nona.
Hari ini mereka telah sampai di suatu tempat yang jaraknya kira2 seratus li dari Hui-liong-san,
samar2 puncak pegunungan yang tinggi itu sudah kelihatan dari jauh. Hati Oh-ciok merasa lega, ia
menggumam sendiri: “syukurlah tinggal satu hari lagi saja sudah dapat mencapai tempat tujuan.”
“Apakah kau hendak mengantar aku ke Hui-liong-san?” tanya Giam Wan.
“Benar,” sahut Oh-cik. “Kini boleh kuberitahukan Toh-cecu dari Hui-liong-san itulah yang suruh
aku membawa kau kesana.”
“Siapa itu Toh-cecu, selamanya aku tidak kenal dia!” kata Giam Wan.
“Untuk apa dia ‘mengundang’ kau, aku sendiripun tidak tahu. Yang jelas Toh-cecu adalah seorang
laki2 gaagh perkasa di kalangan Lok-lim, kukira betapaapun dia takkan bikin susah padamu.”
Setelah bekumpul selama beberapa hari, walaupun dapat bersikap sopan padanya, hal ini rada
menimbulkan kesan baik baginya, walaupun begitu iapun belum mau mempercayai seluruh
omongannya.
Pada dasarnya watak Giam Wan sangat keras dan kepala batu, sekalipun dibawah tekanan ayahibunya
juga tidak mau tunduk, tak tersangka kini ia harus mudah dipermainkan orang, ia menjadi
kheki dan kesal, tanpa terasa teringatlah dia kepada Kok Ham-hi. Terpikir olehnya ketika dia dan
ayahnya kepergo Tin-lam-jit-hou dahulu, untung Kok Ham-hi datang menolong mereka. Tapi kini
pemuda itu entah berada dimana?
Belum lenyap pikirannya, tiba2 terdengar suara berderapnya kaki kuda, seorang pengunggang kuda
sedang datang dari depan sana. Hati Giam Wan berdebar, ia pikir apakah benar2 Thian
mengabulkan harapanku dan Kok-toako kinipun datang menolong aku!”
Suara derapan kuda itu mendadak berhenti, orang itu berseru kaget tercampur girang: “Eh, Oh-ciok
Totiang, kiranya kau sudah datang! Aku justru hendak pergi mencari kau!”
Ternyata bukan suaranya Kok Ham-hi. Hati Giam Wan kembali cemas, impiannya telah buyar
seluruhnya. Ia coba menyingkap ujung tirai kereta, dilihatnya pendatang itu adalah seorang laki2,
mukanya kurus dan matanya kecil, wajah buruk yang menjemukan bagi siapa saja yang melihatnya.
Setelah meng-ingat2 akan orang yang menegurnya itu, kemudian Oh-ciok Tojin berkata: “O, kau ini
Toh Bong bukan?”
Kiranya Toh Bong adalah keponakan Toh-cecu, Toh An-peng dari Hui-liong-san, termasuk orang
kepercayaannya.
Melihat Oh-ciok dapat mengenal namanya, Toh Bong sangat senang, katanya: “Syukur Totiang
masih ingat padaku, memang aku ini Toh Bong adanya. Paman menyuruh aku memapak
kedatanganmu.”
“Rupanya pamanmu pandai juga menujum, cara bagaimana ia mengetahui akan kedatanganku?”
ujar Oh-ciok tertawa.
“Beberapa hari ini paman merasa tidak sabar karena belum ada berita pengantaran anak dara
keluarga Giam kesini, kukatakan pada paman bahwa yang sanggup melaksanakan urusan ini
rasanya Cuma Oh-ciok Totiang saja, yang lain kiranya tidak mampu. Paman dapat menerima
ucapanku itu, dia lantas suruh aku memapak kedatanganmu dan benar juga, dugaanku ternyata jitu,
sekarang juga Totiang sudah kujumpai disini.”
Kiranya Toh An-peng telah minta jasa2 baik kawan kangouw agar mereka membantu
menangkapkan Giam Wan, diantara kawan2 itu termasuk Oh-ciok Tojin. Sebenarnya Toh Bong
disuruh mencari berita keberbagai tempat dan secara kebetulan saja ketemu dengan Oh-ciok Tojin,
apa yang dia ucapkan tadi tidak lebih hanya untuk mengumpak Oh-ciok belaka.
Manusia pada umumnya memang senang dipuji, hal ini Oh-ciok juga tidak terkecuali. Ia menjadi
senang mendengar kata2 Toh Bong tadi, dengan berlagak tertawa dia berkata: “Pandanganmu
ternyata jitu benar, Toh Bong. Anak perempuan Giam Seng-to memang betul ada didalam keretaku
ini. Cuma kau harus tahu diri sedikit, jangan kau membikin takut dia. Betapapun ayahnya adalah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
seorang pendekar yang ternama, kau harus pegang adat.
Mestinya Toh Bong sudah menjulurkan tangan hendak meraih tirai kereta, maksudnya ingin tahu
bagaimana macamnya Giam Wan, tapi karena kata2 Oh-ciok itu, mukanya menjadi merah dan
tangan lekas2 ditarik kembali.
“Dengan segala daya-upaya pamanmu ingin mendapatkan anak dara ini, sebenarnya apa gunanya,
apakah kau tahu, coba ceritakan padaku?” tanya Oh-ciok kemudian.
“He, jadi Totiang belum tahu?” kata Toh Bong. “Menurut paman, katanya anak dara ini diperlukan
untuk menghadapi Beng Siau-kang.”
“Beng Siau-kang? Apakah orang yang berjuluk Kanglam-tayhiap itu?” Oh-ciok menegas.
“Mengapa untuk menghadapi Beng Siau-kang diperlukan anak dara ini?”
“Soalnya Giam Seng-to adalah ipar Beng Siau-kang, bila putri satu2nya ini jatuh ditangan kita, mau
tak mau Beng Siau-kang harus berpikir dua kali sebelum meusuhi paman,” tutur Toh Bong.
Oh-ciok mengerut kening, ia kenal Toh An-peng adalah seorang laki2 perkasa dikalangan Hek-to,
tapi perbuatannya ini rada rendah dan kotor rasanya.
Kiranya dahulu Oh-ciok Tojin pernah ditolong oleh Toh An-peng, karena itu kedua orang telah
mengangkat saudara. Sebab itulah ketika dia menerima permintaan bantuan Toh An-peng agar
menawan Giam Wan yang diketahui sedang ter-lunta2 dirantau itu, tanpa pikir iapun melaksanakan
permintaan saudara angkat itu sebagai balas budinya. Tapi setelah tahu duduknya perkara, ia merasa
perbuatan Toh An-peng ini agak kotor dan kurang ksatria.
“Menurut berita yang telah kami terima, dalam beberapa hari ini Beng Siau-kang pasti akan datang
ke Hui-liong-san, maka paman benar2 merasa cemas dan gelisah,” kata Toh Bong pula.
“Sebenarnya ada permusuhan apa antara pamanmu dengan Beng Siau-kang, mengapa aku tidak
pernah mendengar ceritanya? Tanya Oh-ciok.
“Selamanya paman tiada permusuhan dan sengketa apa2 dengan si tua she Beng. “Ya rahasia
urusan inihanya akulah yang mengetahui. Karena Totiang bukan orang luar, tiada halangannya
kuceritakan. Terus terang, orang yang paling gelisah menghadapi kedatangan Beng Siau-kang
sebenarnya bukanlah pamanku.”
“Habis siapa?” tanya Oh-ciok Tojin.
“Yang Thian-lui!”
“Yang Thian-lui ? Bukankah dia sudah menjadi Koksu kerajaan Kim ?”
“Benar, sedikitpun tidak salah. Tak terduga oleh Totiang bukan?”
Diam2 Oh-ciok terkejut, seketika pikirannya menjadi kacau dan tidak tahu apa harus dikatakannya.
Segera Toh Bong menyambung: “Totiang tentunya sudah paham bahwa To Pek-seng dan Beng
Siau-kang adalah dua musuh besar Yang Thian-lui. Tahun lalu To Pek-seng telah terbunuholeh
gabungan Yang Thian-lui bersama jago2 kemah emas Jengis Khan dipadang pasir Mongol, kini
hanya tinggal Beng Siau-kang belum lenyap, tentu dia tidak akan tidur dengan nyenyak.”
Sedapat mungkin Oh-siok menenangkan diri, tapi ia pura2 mengunjuk rasa bingung, lalu tanyanya
pula: “Sungguh aku tidak menduga, mulai kapan pamanmu berhubungan baik dengan Yang Thianlui.”
“Sebenarnya paman tiada hubungan apa2 dengan Yang Thian-lui, tapi kini sudah orang2 satu garis,
dengan sendirinya harus menghadapi musuh bersama.”
“O, jadi secara diam2 pamanmu sudah mengabdi kepada pemerintah (Kim) ?”
“Bukan begitu. Soalnya keruntuhan negeri Kim sudah didepan mata, sampai Yang Thian-lui sendiri
juga terpaksa mencar majikan baru, masakah paman tidak tahu gelagat, dan malah mengabdikan
diri kepada pemerintah ?”
“Ah, tahulah aku, apakah barangkali pamanmu sudah ada kaitan dengan orang Mongol ?”
“Ya, begitulah, tepat sekali dugaan Totiang. Malahan dapat kuberitahukan suatu rahasia lain, kini
biarpun resminya Yang Thian-lui adalah Koksu negeri Kim, tapi sebenarnya dia sudah putar haluan
menurut arah angi,diam2 sudah sering berhubungan dengan utusan gelap pihak Mongol.”
“O, kiranya begitu, pantas mereka berdua bergabung untuk menghadapi Beng Siau-kang. Tapi
mengapa Beng Siau-kang akan datang ke Hui-liong-san ? Apa mungkin dia sudah mengetahui
rahasia itu dan sengaja hendak mencari perkara kepada pamanmu?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Tidak betapapun lihainya si tua she Beng itu juga takkan mengetahui rahasia ini, kedatangannya
kali ini terang dia akan masuk jaring sendiri,” tutur Toh Bong dengan tertawa. Lalu iapun
menceritakan cara bagaimana Toh An-peng mengatur perangkap dan memancing kedatangan Loklim
Bengcu yang baru Li Su-lam.
“Kedatangan Beng Siau-kang resminya mendampingi Li Su-lam.” Tutur Toh Bong lebih lanjut.
“Sebab itulah paman terpaksa membikin repot Totiang agar membawakan anak dara she Giam ini
ke Hui-liong-san kita.”
Sudah tentu Toh Bong tidak tahu bahwa Beng Siau-kang dan Li Su-lam justru sengaja menurut tipu
daya mereka dan membiarkan diri mereka masuk perangkap. Hal ini tanpa sengaja telah kena
diterka oleh Oh-ciok malah.
Keruan Oh-ciok sangat terkejut, urusan ini benar2 jauh diluar dugaannya. Tapi dia tak dapat
mengutarakan isi hatinya kepada Toh Bong, terpaksa ia tahan perasaannya, dengan pura2 tertawa ia
berkata: “Hah, tak kusangka pamanmu ternyata seorang pahlawan yang dapat melihat gelagat.”
Toh Bong mengira Oh-ciok adalah orang sendiri, tak tahunya kini dalam hati Oh-ciok telah timbul
rasa menyesal akan bantuannya menawankan Giam Wan.
Dengan cengar cengir Toh Bong berkata pula: “Kini paman sedang gelisah menantikan antaran
anak dara ini, apakah Totiang boleh serahkan saja anak dara ini padaku, akan kuantar kesana secara
kilat.”
Dalam hati Oh-ciok menggerutu ia pikir kalau tidak mengingat Toh An-peng, tentu sejak tadi
kumampuskan kau bocah ini. Tapi apapun juga Toh An-peng pernah menanam budi padaku, mau
tak mau Hui-liong-san harus kudatangi. Hanya anak dara ini cara bagaimana harus kuatur? Apakah
benar2 kuserahkan kepada Toh An-peng? Jika kulakukan hal ini, andaikan Beng Siau-kang tidak
menuntut balas padaku, tentu pula aku akan dihina oleh setiap pahlawan di dunia ini.
Begitulah terjadi pertentangan batin Oh-ciok Tojin. Sebenatr kemudian barulah ia ambil keputusan,
tiba2 ia berkata: “ Toh Bong, aku belum pernah melihat kepandaianmu, sekarang coba kau
membacok aku dengan golokmu.”
Toh Bong menjadi bingung dan terkejut. “Apa artinya ini, Totiang?” tanyanya.
“Sebentar akan kuterangkan,” sahut Oh-ciok tak acuh. “Hayolah, jangan takut, bacoklah sekuatmu.”
“Tidak, hamba tidak berani,” kata Toh Bong.
“Kenapa tidak berani, aku sendiri yang suruh kau membacok,” ujar Oh-ciok. “Rasanya kaupun
tidak mampu melukai aku. Seumpama kau dapat melukai aku juga takkan kusalahkan kau.”
Toh Bong kenal watak Oh-ciok yang enggan perintahnya dibantah orang, meski merasa takut2,
akhirnya ia pegang juga goloknya dan berkata: “Jika begitu, harap maaf atas kesembronoanku.”
Habis berkata, seperti sungguhan, ia ayunkan goloknya, tapi tidak lantas dibacokkan.
“Hayo lekas! Bacok yang keras, memangnya kau anggap aku tidak mampu menghindari
seranganmu?” omel Oh-ciok.
“Baik ……. Baiklah! Hamba akan membacok!” kata Toh Bong sambil pejamkan mata goloknya
lantas dibacokkan.
Menunggu mata golok baru saja menyamber tiba, cepat sekali Oh-ciok menggunakan kedua jarinya
untuk menjepit berbareng lantas didorong kedepan, kontan Toh bong jatuh terjengkang dan batok
kepala belakang terbentur benjut.
Toh bong merangkak bangun, dengan rasa malu dan mendongkol ia berkata: “Hamba memang tidak
becus, tapi entah mengapa Totiang bergurau dengan hamba?”
“Hm, baru sekarang kau tahu sendiri kepandaianmu tidak becus?” jengek Oh-ciok. Terus terang
kepandaian anak dara ini tidak dibawahku, dibagian utara sini banyak pula kawan2 baik ayahnya,
jika kau yang menggiring dia ke Hui-liong-san, apakah ditengah jalan tak bakal terjadi apa2? Hm,
untung sekarang kau Cuma jatuh terjungkal saja, tapi kalau terjadi apa2 atas diri anak dara ini,
mungkin alat makan nasimu juga sukar diselamatkan.
Wajah Toh Bong menjadi merah, katanya dengan malu2: “Ya, ya, kiranya Totiang bermaksud baik
menjajal kepandaianku. Baiklah, sekarang juga hamba kembali lebih dulu untuk menyampaikan
berita kedatangan Totiang.”
“Ya, lekas kau berangkat dulu,” sahut Oh-ciok.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Dalam hati Toh Bong menggerutu karena merasa dirinya telah dipermainkan, ia menjadi dendam
dan akan membalas sakit hatinya kelak bila ada kesempatan.
Mendengar apa yang dipercakapkan Toh Bong tadi, didalam kereta Giam Wan menjadi girang dan
terkejut pula. Merasa girang karena mendapat kabar tentang kedatangan pamannya, yaitu Beng
Siau-kang, dan terkejut karena mengetahui dirinya hendak digunakan sebagai alat pemerasan
terhadap sang paman itu.
Pikiran Giam Wan menjadi kusut, ia pikir adik Bing-sia entah ikut datang bersama paman atau
tidak. Mereka sudah berpisah empat tahun, entah Bing-sia pernah bertemu dengan Kok Ham-hi atau
tidak?
Ia yakin pula sang paman pasti akan menolongnya bilamana mengetahui keadaannya, Cuma dirinya
berada dalam cengkeraman musuh, paman tentu akan serba susah, bahkan mungkin akan membikin
celaka padanya malah. Padahal urusan paman menyangkut pergerakan musuh negara yang maha
penting, bila lantaran diriku hingga urusan menjadi runyam, maka dosaku sungguh tak terhingga
besarnya.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Cinta Remaja ABG : PG 3 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments