Cerita Romantis 20 Selingkuh : Iblis Sungai Telaga

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Romantis 20 Selingkuh : Iblis Sungai Telaga

Cerita Romantis 20 Selingkuh : Iblis Sungai Telaga
supaya ia bisa mencari dan menemui
kakaknya bocah itu. Ia ingin melihat si nona, yang ia juga
mesti cantik wajahnya.
Demikianlah sudah terjadi. Karena mendengar suara siulan,
Tonghong Liang kabur meninggalkan si nikouw atas mana
Hong Kun pun lantas lari menyusul padanya.
Tujuannya Tonghong Liang ialah pinggang gunung. Kesana
ia lari keras sekali.
Ketika Hong Kun hampir menyandak, dia menjadi heran
sekali. Dia mendapatkan bocah itu mendadak saja berhenti
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
berlari lalu berdiri tegak. Kemudian ia menghunus pedangnya
guna menghadang di tengah jalan !
"Hai, kau bertindak bagaikan memedi. Apakah maksudu ?"
demikian bocah itu menegur. "Kenapa tadi kau bersembunyi
dan sekarang kau menguntit aku ?"
Hong Kun berhenti berlari. Ia tertawa.
"Adik kecil" katanya. "toh dapat aku pun mengambil jalan
disini ?"
Tonghong Liang mengawasi dengan mata menjublak.
Agaknya ia dibingungkan pertanyaan itu. Di tempat umum,
memang siapa pun dapat berjalan.
Hong Kun melihat kesempatan. Dia tertawa pula.
"Sebenarnya, saudara kecil. Ingin sekali aku melihat wajah
cantik kakakmu !" kata dia terus terang. "Dan aku juga
memikir buat mencoba ilmu pedangnya ! Itulah sebabnya
kenapa sekarang aku menyusul kau ! Aku tidak berbuat salah,
bukan ?"
Kata-kata itu membuat si bocah merasa akan kelirunya
menghadang orang tanpa sebab.
"Jika kau ingin mengadu silat dengan kakakku, kau mesti
dengar kata-kataku !" katanya kemudian.
Hong Kun maju satu tindak. Dia tertawa.
"Apakah syaratmu itu, adik kecil ?" tanyanya ramah.
"Silahkan kau sebutkan ! Buat aku, asal aku dapat melihat
kakakmu apa juga yang kau kehendaki, akan aku turut !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tonghong Liang mengibaskan pedangnya.
"Bukankah tadi telah aku jelaskan ?" katanya. "Untuk dapat
melihat kakakku, kau mesti menangkan pedangku ini !"
Hong Kun menjublak.
"Senjata tajam tidak ada matanya, kau tahu !" katanya.
"Aku khawatir tangan kita tak dapat dikendalikan ! Itulah tak
baik. Itu dapat merusak persahabatan. Adik kecil, bukankah
dapat kita tak usah mengadu pedang ?"
Matanya si bocah dibuka lebar. Tampak dia tidak senang.
"Beranikah kau memandang ringan padaku ?" tegurnya.
"Kalau begitu, tidak ada halangannya buat kau menyambut
aku barang satu jurus !"
Tanpa menanti suaranya berhenti mendengung, Tonghong
Liang sudah berlompat maju dengan satu tikamannya !
Hong Kun tidak sempat menghunus pedangnya. Keduanya
berdiri terlalu dekat satu dengan lain. Tanah disitu pun tidak
rata, banyak batunya. Pula bergeraknya si bocah terlalu gesit.
Walaupun demikian, dia tak sampai menjadi korban pedang.
Dia bermata awas dan bertubuh lincah. Pengalamannya
bertempur juga banyak sekali. Maka dia lantas menjatuhkan
diri, buat seterusnya bergulingan menyingkir jauh tak peduli
tanah tak rata. Itulah jurus silat "CaCing Bergulingan di Pasir".
Selekasnya sudah terpisah cukup jauh, dia berloncat bangun
bagaikan ikan meletik buat terus mencabut pedangnya, buat
tanpa istirahat lagi dia maju kepada kacung itu !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tonghong Liang tidak mengejar orang. Ia hanya berdiri
tegak mengawasi sambil menantikan gerak gerik si anak
muda. Pedangnya dipasang dengan sikap "It Cu Keng Thian--
Sebatang Tiang Menunjang Langit".
Dengan satu lompatan tinggi, Hong Kun mencoba
menyerang. Karean ia berlompat, ia jadi turun dari atas ke
bawah.
Tonghong Liang tidak merubah sikapnya. Dengan sikapnya
itu ia menyambut lawan.
Itulah bahaya buat kedua belah pihak. Siapa gagal
menyerang atau gagal menangkis, dia bakal menjadi korban
ujung pedang.
Hong Kun terkejut. Kalau kedua senjata mereka beradu.....
Maka ia lantas bergerak cepat. Di samping pedangnya, ia
membarengi menggunakan kakinya, mendupat sikutnya
kacung itu !
"Mundur !" tiba-tiba terdengar satu seruan nyaring halus !
Berbareng dengan itu, tubuhnya Tonghong Liang mendak
terus berlompat mundur karena ia berkelit dengan jurus "Hie
Yauw Kim Po -- Ikan Menerjuni Gelombang Emas". Hingga ia
bebas dari tendangan dan lolos dari ujung pedang lawan.
Sebaliknya adalah dengan Gak Hong Kun. Dia bergerak
bagaikan ditengah udara. Dengan dua-dua tangan dan
kakinya mengenakan sasarannya, dia kehilangan
keseimbangan tubuhnya. Tidak ampun lagi, dia jatuh ke tanah
dimana dia mesti menggulingkan diri kalau dia tidak mau
terbanting keras. Di saat itu, telinganya pun mendengar suara
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
nyaring yang menyusul : "Orang she Gak, jika kau tidak puas,
kau datanglah ke Kin Kiok Hoa Kee !"
Bukan main menyesalnya murid dari It Yap Tojin ini. Ia
tidak kalah dari Tonghong Liang tetapi ia toh kecele. Karena
melayani seorang bocah, ia tidak dapat berbuat banyak.
Lekas-lekas ia berlompat bangun. Lantas ia menghadapi bocah
itu seraya berkata : "Aku terima tantangan ! Inilah kata-kata
janjiku !"
Biar bagaimana juga, Hong Kun penasaran sebelum melihat
Tonghong Kiauw Couw atau bertanding dengan nona itu yang
ia percaya pasti sangat cantik. Sedangkan si nona pun
memiliki Keng Hong Kiam, pedangnya It Hiong yang lenyap
itu.
"Apakah kau tak takut bakal roboh pula ?" tanya si kacung,
atas mana tanpa menanti jawaban lagi lantas dia memutar
tubuh dan ia pergi mendaki bukit !
Hong Kun mendongkol. Tajam kata-katanya si kacung yang
bernada mengejek. Ia menahan sabar tetapi matanya
mendelong mengawasi bocah nakal itu yang lekas juga
tampak mirip bayangan saja.......
"Ah," katanya sambil menyeringai. Ia jengah sendirinya.
Tengah berdiri diam itu, mendadak si anak muda kaget.
Ada tangan yang menekan bahunya. Hanya belum sempat ia
menoleh, jalan darah Yauwhiat-nya terasa tertotok. Karena
itu, tubuhnya menjadi lemas terus ia roboh tak berdaya. Di
saat lainnya, ia merasa ada orang memeluk pinggangnya buat
diangkat terus dibawa lari menaiki gunung !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun tertotok tanpa pingsan. Maka itu walaupun ia
mati kutunya, otaknya tetap sadar. Maka ia tahu, ia telah
dikuasai Peng Mo, si Bajingan Es. Ia mendongkol tak
terkirakan. Saking tidak berdaya, ia berdiam saja.
"Saudara yang baik, jangan kau bergusar padaku."
kemudian Hong Kun mendengar suara yang manis. "Kakakmu
sangat mencintai kau, kau tahu ?"
Berbareng dengan itu, Hong Kun merasai pipinya dicium. Ia
memejamkan mata. Ia menggigit rapat giginya atas dan
bawah. Saking gusar, ia mencoba menyabarkan diri.
Sementara itu, hidungnya mencium bau yang harum sekali
dan pipinya terus merasai tekanan pipi yang halus. Dasar ialah
seorang pemogor, tanpa merasa napsu birahinya telah
terbangun.
Peng Mo -- demikian orang yang menawan si anak muda--
lari terus sampai diatas gunung Hek Sek San. Disitu tanpa
memikir-mikir lagi, dia memasuii sebuah rumah batu, terus
kedalam sebuah kamar yang sunyi tetapi cukup
perlengkapannya.
"Sungguh tepat !" kata si nikouw girang tak kepalang.
"Inilah waktu yang baik dan ini pula tempat yang cocok ! Ya,
inilah kamar pengantin kita !'
Segera Peng Mo menutup pintu, kemudian ia meletakkan
tubuhnya Hong Kun diatas pembaringan. Sesudah itu ia
menubruk tubuh orang, untuk dirangkul dan dipeluk terus !
Hong Kun tidak berdaya. Untuk diajak pelesiran, totokan
pada jalan darah Yauwhiat telah dibebaskan. Sebaliknya, ia
ditotok pula jalan darah bengbun. Karena itu, ia tetapi mesti
manda dipermainkan nikouw murtad itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kedua orang itu lupa daratan. Maka juga mereka tidak tahu
bahwa diluar kamar ada orang yang mengintainya. Bahkan
dengan satu timpukan dua butir batu kerikil kecil, yang
mengenakan maisng-masing jalan darahnya, lantas saja
mereka rebah tanpa berkutik. Orang telah menggunakan "Bie
Liap Ta-hoat", ilmu timpukan "Sebutir beras."
Menyusul itu, dari luar kamar itu terdengar satu suara
tajam ini : "Dua orang manusia tak tahu malu ! Nah, kalian
bercinta-cintaanlah sampai tiga hari lima malam !"
Lalu terdengar suaranya seorang kacung : "Bagus kakak !
Timpukanmu jitu sekali !"
Habis itu, sunyilah rumah batu itu.
Demikianlah lakon Hong Kun bersama Peng Mo ketika
mereka dipergoki Kiauw In dan Ya Bie. Hampir saja Nona Cio
menyangka Hong Kun itu It Hiong adanya. It Hiong yang
tengah disusul si nona berdua.
Waktu Hong Kun menggunakan kesempatannya
mengangkat kaki, di luar rumah ia justru bertemu dengan Ek
Jie Biauw, nona yang kedua dari Cit Biauw Yauw Lie.
"Berhenti !" demikian si Nona Ek yang kedua membentak si
anak muda.
Hong Kun kaget sekali. Ketika itu dia memang sedang
sangat bingung. Hatinya seperti runtuh. Dia mengira Kiauw In
yang menyusulnya, dengan lantas ia menghentikan
langkahnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Nona Cio, jangan......" katanya seraya mengawasi orang
yang menegurnya itu. Diantara sinar rembulan yang lemah, ia
mendapat kenyataan orang bukannya Kiauw In. Maka juga ia
menghentikan kata-katanya itu setengah jalan.
Ek Jie Biauw pun segera mengenali pemuda she Gak itu.
Orang yang membuat hatinya goncang. Maka itu ia sudah
lantas merubah suaranya yang bengis. Ia tertawa dan kata :
"Ah, kau! Kau kenapakah ? Mengapa kau menyebut-nyebut
Nona Cio ? Kau sangat prihatin terhadap nona itu ya ?"
Juga Hong Kun dengan cepat mendapat pulang
ketabahannya. Ia pula telah bebas dari Thay-saing Hoan Hun
Tan. Sebagai seorang yang berpengalaman, lekas sekali ia
dapat menggunakan otaknya. Maka ia pun tertawa.
"Oh, Nona Ek !" katanya. "Kiranya kau ! Kau membuatku
kaget !"
Hong Kun tidak merasa cinta sedikit juga pada Nona Ek
tetapi si nona sebaliknya. Jie Biauw justru sangat terjatuh hati
terhadapnya ! Hanya dia pandai sekali membawa tingkahnya,
terutama terhadap seorang nona. Walaupun demikian, selama
di dalam lembah Kian Gee Kiap, semua gaya menggairahkan
dari Nona Ek, dia tidak tahu menahu karena ketika itu dia
masih terpengaruhkan Thay-siang Hoan Hun Tan. Sekarang
dia mengerti yang si nona tergila-gila padanya, lantas dia mau
membawakan lakonnya pula. Buat dia, bermain asmara ada
untungnya tak ada ruginya.
Satu hal Hong Kun tidak insaf. Selagi dia telah sembuh dari
Thaysiang Huan Hun Tan dari Im Ciu It Mo, maka sekarang
dia terpengaruhkan pil hitam dari Gwa To Sin Mo. Itulah pil
untuk menambah atau untuk membangunkan napsu birahi.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hingga dengan demikian dia pun menjadi menampak bencana
asmaranya yang sesat !
Lantas Hong Kun bertindak mendekati Nona Ek.
"Seseorang tak dapat melakukan sesuatu yang tak benar."
kata Jie Biauw. "Kau kata barusan aku membuatmu kaget.
Kenapakah ?"
Hong Kun insaf bahwa barusan ia telah keliru bicara, maka
ia harus perbaiki itu.
"Nona, keangkeranmu membuatku jeri. Begitulah
mendengar bentakanmu, aku jadi kaget......." demikian ia
bermain sandiwara.
Ek Jie Biauw mengawasi, bibirnya dicibirkan.
"Benarkah itu ?" tanyanya.
"Benar, nona !" sahut Hong Kun cepat. "Tidak berani aku
mendustaimu !"
Sebenarnya Jie Biauw mau lantas menggunakan
kesempatannya atau rasa hormat dirinya membuat ia berpikir
harus bersabar.
"Masa bodoh kau berdusta atau tidak !" katanya manja.
"Namun kau harus ketahui, aku bukanlah si tolol !"
Hong Kun tertawa.
"Terhadap nona pintar sebagai kau, Nona Ek, aku mau
mendusta pun tak dapat !" katanya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Senang Jie Biauw mendengar pujian itu. Toh ia masih
berpura bersikap tawar.
"Sudah, jangan bicara saja !' katanya. "Sekarang aku mau
tanya kau ! Tadi selagi malam gelap dan sunyi, kenapa kau
kabur dengan meloncati jendela ?"
Hatinya Hong Kun bercekat. Itulah pertanyaan yang sulit
untuk dijawabnya sebab ia justru berada dalam kedudukan
seperti terdakwa yang lagi menanti hukuman. Tak sudi ia yang
rahasianya nanti terbuka. Tapi ia tidak kekurangan akal.
Setelah berdiam sejenak, ia memperlihatkan wajah lesu dan
terus ia menarik napas panjang.
Ek Jie Biauw heran. Dia menatap. Sebaliknya dari pada
bercuriga atau menanya lebih jauh, dia justru berkhawatir si
anak muda menjadi tidak senang hati. Maka dia tertawa dan
kata : "Eh, kau kenapakah ? Aku paling tidak menyukai orang
yang saban-saban menarik napas panjang pendek...."
Hong Kun puas mendengar kata-kata si nona. Kembali ia
ketahui kelemahan nona itu.
"Kau tidak tahu, adik !" katanya yang terus merubah
panggilan dari nona menjadi adik. "Tadi itu aku kabur
melewati jendela sebab aku bertemu dengan musuh. Ah !" ia
berhenti sejenak, baru ia menambahkan : "Tidak kusangka di
Hek Sek San ini, suatu tempat yang tertutup, orang toh berani
mendatanginya ! Aku maksudkan musuhku !"
"Siapakah yang kau ketemukan itu ?" Jie Biauw tanya. Dia
tertarik hati.
"Dialah Cio Kiauw In dari Pay In Nia." Hong Kun menjawab
terus terang. Ia mengasi lihat tampang masih jeri.....
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Jie Biauw tertawa.
"Ah, kenapa kau begini takuti dia ?"
Mukanya Hong Kun merah, separuh benar-benar malu,
separuh berpura.
"Itulah sebab dia datang bukan sendiri saja." sahutnya.
"Dia datang entah bersama berapa banyak kawan.."
Jie Biauw mengawasi. Mau ia percaya yang pemuda ini
takut benar-benar. Karena ini, ia lantas tertawa. Ia tertawa
terpingkal-pingkal. Ia tahu halnya It Hiong berdua Ya Bie
membantu Kiauw In dan malah ia pernah menempur pemuda
itu yang tadinya ia sangka Hong Kun adanya ! Ia tertawa
sebab ia pikir inilah saatnya untuk menarik hati orang agar
orang roboh dalam rangkulannya !
Hong Kun mengawasi. Ia mau menangkap hati orang. Jie
Biauw bersungguh-sungguh atau berpura-pura. Ia bersangsi
sebab ia ingat ia sendiri paling bisa membawa lagak.
Si puteri malam terus bergesr ke arah barat. Makin laru
malam, makin bersinar cahanya yang indah. Kedua muda
mudi ini bermandikan cahayanya si puteri ini. Suasana di
sekitar mereka sangat sunyi. Itulah saat paling tepat buat
bermain asmara.
Tiba-tiba Jie Biauw yang lagi tertawa, menghentikan
tawanya itu.
"Siapa ?" bentaknya, matanya mengawasi ke samping
dimana terdapat sebuah pohon.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tidak ada jawaban, hanya tampak sesosok tubuh bagaikan
bayangan berlompat turun dari atas pohon itu terus dia berdiri
sejauh dua tombak dari hadapan si muda mudi. Tetap dia
tidak bersuara. Gerakan gesitnya itu membuat Hong Kun dan
Jie Biauw heran.
Hong Kun berlaku tenang mengawasi orang itu yang
mengenakan pakaian warna gelap dan potongannya singsat.
Rambutnya dikundiakan tinggi, punggungnya menggendolkan
sebatang pedang. Yang menyulitkan ialah separuh mukanya
ditutup jalan hingga tampak alis dan matanya saja. Jelas
dialah seorang wanita. Dan jelas pula, dia bermuka potongan
telur serta tubuhnya langsing, tinggi dan rendahnya sedang
sekali....
Hong Kun melengak, hingga ia hampir lupa segala apa.
Wanita itu terus mengawasi Ek Jie Biauw terus kepada si
pemuda dan dia mengawasi si anak muda sekian lama.
Sikapnya itu segera membangkitkan jelusnya Jie Biauw hingga
dia ini lantas menghunus pedangnya.
"Hei, budak hina. Darimanakah kau datang ?" demikian
tegurnya. "Lekas kau sebutkan she dan namamu ! Di Hek Sek
San ini tak dapat kau banyak tingkah !"
"Hm !" terdengar suara perlahan dari wanita itu yang terus
menengadah langit, mengawasi si puteri malam. Kemudian dia
menambahkan : "Kiranya Tio It Hiong yang namanya
menggetarkan dunia Kang Ouw toh dapat secara diam-diam
melakukan ini macam perbuatan buruk yang memalukan !"
Kata-kata itu disusul dengan gerakannya mencabut
pedangnya juga hingga pedangnya itu bergemerlapan diantara
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
sinar rembulan. Sebab pedang itu ialah pedang Keng Hong
Kiam kepunyaannya Tio It Hiong !
Dua-dua Ek Jie Biauw dan Gak Hong Kun mundur beberapa
tindak.
Si nona mengawasi lagak orang, dia tertawa.
"Kalian takut ?" katanya. "Apa yang harus ditakuti ?
Nonamu tak sudi bertempur dengan kalian!"
Suara itu terang dan jelas, polos nadanya. Habis itu, si
nona memasuki pula pedangnya ke dalam sarungnya.
Mungkin dia lupa bahwa sikapnya ini sikap yang kurang tepat.
Suatu pantangan dalam kalangan persilatan. Itulah sikap
memandang rendah !
Hong Kun dan Jie Biauw merasa tersinggung. Barusan
mereka bukannya takut hanya ragu-ragu. Sekarang mereka
bergusar. Si pemuda sudah lantas menghunus pedangnya.
"Tutup bacotmu !" bentaknya.
Si nona mengawasi pemuda itu. Ia tertawa.
"Pedangmu itu apa khasiatnya ?" tanyanya. "Bahkan
dihunusnya itu membuat orang tertawa. Memalukan saja !
Mana dapat pedangmu itu dibandingkan dengan pedangnya
nonamu ini ?"
Memang nona itu ialah nona Tonghong Kiauw Couw. Dia
menghunus Keng Hong Kiam bukan untuk menantang
berkelahi. Dia sengaja memperlihatkan pedangnya itu guna
menguji si anak muda itu siapa sebenarnya. Kalau dia Tio It
Hiong, melihat pedangnya sendiri pasti Tio It Hiong tertarik
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dan akan menanya atau meminta pulang pedang mustikanya
itu. Siapa tahu, Hong Kun berdiam saja mengenai pedang itu,
bahkan dalam murkanya dia menghunus pedangnya sendiri.
Di luar dugaan Nona Tonghong, kata-katanya itu membuat
muda mudi di depannya menjadi gusar sekali. Secara
mendadak, si nona maju untuk menebas pinggangnya.
Saking mendongkol, Ek Jie Biauw berniat mengutungkan
pinggang orang. Maka juga dia menyerang secara tiba-tiba itu.
Memangnya dia bersama-sama enam saudaranya tersohor
telengas. Mereka kaum sesat.
Tonghong Kiauw Couw melihat datangnya serangan.
Dengan mudah saja ia berlompat mundur. Berlompat seraya
memutar tubuh. Ia tidak menghunus pedangnya, tak mau ia
membalas menerjang. Ia malah tertawa.
"Sungguh telengas !" katanya singkat.
Belum berhenti kata-kata itu mendengung atau satu
serangan lainnya. Kali ini dari Hong Kun sudah menyusul.
Sinar pedangnya berkelebat diantara cahaya rembulan. Itulah
tikaman ke arah dada.
Manis sekali Nona Tonghong berkelit pula. Ujung pedang
lewat disisi iganya. Masih ia tidak mau membuat perlawanan.
Karena gerakannya muda mudi itu, dengan sendirinya
mereka menjadi berada di depan dan belakangnya nona yang
mereka serang itu. Karena serangan mereka gagal, lantas
mereka mengulanginya. Kali ini si nona menjadi terkepung di
dua arah. Dan kali ini, bangkit jugalah hawa amarahnya. Ia
menganggap orang keterlaluan. Ia bersilat dengan ilmu silat
warisan, namanya "Loan Hoa Kong Sie -- Bunga Berserabutan,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sutera Awut-awutan". Ia bergerak sangat gesit dan lincah.
Tubuhnya bagaikan gerakan ular diantara pelbagai tikaman.
Sementara itu, ia pun berpikir: "Kenapa pemuda ini begini
membenci aku ? Apakah ini disebabkan aku telah curi
pedangnya ? Ah, mungkinkah dia benar Tio It Hiong ?"
Mengingat pemuda she Tio ini, otak si nona menjadi
bekerja keras sekali. Dialah seorang nona muda belia yang
baru mulai mengenal asmara, maka dia cuma mengenal cinta,
lainnya tidak. Dia tak tahu cinta itu banyak liku-likunya, lebih
banyak duka cintanya daripada suka cintanya....
Justru karena berpikir demikian, tanpa merasa Kiauw Couw
berayal sendirinya. Dan justru begitu, pedangnya Hong Kun
meluncur hebat padanya ! Itulah ancaman maut !
Bukan main kagetnya Nona Tonghong. Syukur ia tidak
menjadi gugup. Sambil memaksa berkelit, ia membarengi
menghunus pedangnya dengan apa ia menyampok pedang
lawan hingga pedang mereka beradu keras hingga percikan
apinya beterbangan. Di lain pihak, saking kerasnya bentrokan,
mereka sama-sama terhuyung mundur setengah tindak
masing-masing !
Tonghong Kiauw Couw menjadi heran hingga ia mengawasi
pedang si anak muda. Bukankah ia menggunakan pedang
mustika Keng Hong Kiam ? Kenapa pedang lawan tidak
terbabat kuntung ? Maka itu, tentunya pedang lawan pun
pedang mustika.
"Benarkah dia Tio It Hiong ? Kalau benar, darimana ia
memperoleh lain pedang mustika pula ?" demikian si nona
berpikir. Ia ingat ketika ia mencuri pedang dengan
membiuskan It Hiong sampai It Hiong tak sadarkan diri.
Sekarang ternyata, kepandaiannya It Hiong ini pun lihai. Dia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
melihat pakaian, raut muka dan potongan tubuh yang tak
berbeda....
"Aneh !" demikian pikirnya, pusing. Ia pun orang asing
untuk dunia Kang Ouw, maka ia kurang pengalamannya. Pasti
ia tidak ketahui yang pedangnya Hong Kun ialah pedang
mustika Kie Koat Kiam kepunyaannya Teng It Beng si sahabat
yang mengolah wajah orang hingga menjadi sangat sama
dengan wajahnya It Hiong. Ia boleh cerdas dan cerdik tetapi
dalam hal ini, kecerdasannya tak menolong padanya.
Selagi orang berdiam itu, Ek Jie Biauw maju menyerang.
Tonghong Kiauw Couw melihat tibanya serangan, ia
berkelit. Ia tidak memikir akan melayani nona itu. Ia hanya
ingin menempur Hong Kun guna ia mencari kepastian tentang
dirinya si anak muda. Tapi Jie Biauw mendesaknya, terpaksa
ia meladeni juga. Disamping itu, Hong Kun juga maju lagi.
Segera setelah Nona Tonghong mendongkol sekali, Jie
Biauw tidak dapat bertahan lama. Dengan satu tebasan,
pedangnya kena terbabat kuntung atau babatan lainnya
membuat ia memegangi saja gagang pedangnya ! Baru
sekarang dia kaget dan lompat mundur, keringat dingin
membasahkan tubuhnya.
Sementara itu Hong Kun yang cerdik lantas dapat menerka
siapa nona ini. Ia pun mengenali pedang orang. Maka
akhirnya ia tertawa terbahak-bahak.
"Oh, nona. Adakah kau Nona Tonghong Kiauw Couw ?"
sapanya. "Maaf, nona, maaf. Aku telah berlaku kurang hormat
!"
Kiauw Couw heran. Ia lantas mengawasi.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kau siapakah ?" tanyanya saking herannya itu.
Hong Kun tertawa.
"Akulah aku, nona !" sahutnya. "Nona sudah tahu, buat apa
nona menanyakannya ?"
Ek Jie Biauw heran menyaksikan dua orang itu berbicara.
Sejak tadi dia berdiam saja sebab kutungnya pedangnya.
Sekarang dia dibingungkan gerak geriknya dua orang itu.
Mengenai Hong Kun, dia mendapat kesan kurang baik. Hong
Kun tidak membantu dia hanya Bicara sambil tertawa-tawa.
Tiba-tiba saja muncul iri hatinya.
Jilid 57
"Cis !" serunya, membentak si nona. "Budak hina dina !
Bagaimana kau berani datang ke Hek Sek San ini guna
memancing laki-laki ? Sungguh perempuan lacur tidak punya
muka !"
Tonghong Kiauw Couw heran, dari heran ia menjadi
mendongkol.
"Kenapa kau menggunakan kata-kata kasarmu ?" tegurnya.
"Bukankah kita sama-sama wanita?"
Jie Biauw tidak mempedulikannya.
"Kalau kau bukan hendak mencuri laki, buat apa malammalam
kau datang kemari ?" dia balas bertanya.
Hatinya Nona Tonghong menjadi panas.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Siapa kesudiaan bicara denganmu !" bentaknya. "Kau
mementang dan menutup mulut, selalu kau menyebut-nyebut
orang laki-laki ! Bagaimana hebat kau memfitnah orang !"
Jie Biauw tertawa kering berulang kali. Dia menunjuk Hong
Kun.
"Kau tentunya menganggap dirimu putih bersih !" katanya.
"Tetapi kenapa kau justru hendak menculik pria ini ?"
"Maksudku tak lain tak bukan hendak aku mendapat
kepastian tentang diri dia !" sahut Nona Tonghong. "Aku ingin
ketahui, dia Tio It Hiong atau bukan !"
Segera Hong Kun mendahului Jie Biauw.
"Akulah Tio It Hiong !" katanya nyaring. "Nona Tonghong,
ada apakah petunjukmu untukku ?"
Belum lagi Tonghong Kiauw Couw memberikan jawabannya
atau mengatakan sesuatu, tiba-tiba seseorang telah
menyelanya, menyela dengan suaranya yang nyaring : "Oh,
kakak Hiong. Kiranya kau disini ! Kau membuat aku bersusah
payah mencarimu !"
Dan orangnya pun segera muncul. Seorang Nona Tanggung
yang tangannya memegangi seekor ular hidup, sebab dialah
Ya Bie !
Gak Hong Kun dan Nona Tong Hong menjadi dibuat heran
karenanya. Keduanya lantas berpaling, mengawasi nona yang
baru tiba itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ya Bie tidak menghiraukan sikap orang, habis mengawasi
ketiga orang disitu, ia bertindak maju ke arah Jie Biauw dan
Kiauw Couw terus ia menatap mereka, untuk akhirnya berkata
: "Kiranya kamulah berdua yang selalu mengikat kakak Hiong
!" Kemudian ia bertindak ke arah Hong Kun.
Kiauw Couw heran sekali. Ia tak kenal Nona Tanggung itu
hingga ia tak tahu orang dari kalangan mana. Ia pun heran
karena melihat si nona dapat menjinakkan ular beracun. Maka
selama itu, ia mengawasi dan mendengari saja kata-kata
orang.
Tidak demikian dengan Ek Jie Biauw. Tidak saja ia tahu
nona itu bahkan ia mengenalinya. Sebab selama di ruang
besar dari kamar batu di Kian Gee Kiap, berdua mereka
pernah bertempur hingga ia mengerti baik juga lihainya si ular
hijau di tangannya si nona cilik ! Walaupun demikian, hatinya
telah panas. Ketika itu saatnya ia untuk dapatkan Hong Kun
guna mempuasi hatinya. Siapa tahu sudah muncul Nona
Tonghong. Sekarang muncul juga ini bekas lawan. Ia jadinya
sangat terganggu. Sikapnya Ya Bie pula membuat
kegusarannya meluap, hingga timbullah niatnya
membinasakan nona itu. Beberapa kali ia memperdengarkan
suara tawar "Hm !" dan matanya mengawasi tajam.
Ya Bie tidak menerka apa yang orang pikir, ia maju
mendekati.
Jie Kiauw menanti sampai orang sudah datang dekat sekali.
Mendadak ia mengayun sebelah tangannya, menyerang
dengan serangan tipu Tauwlo-ciang, mengarah jalan darah
sin-ciang dari si nona !
Mereka berdua berada dekat sekali satu dengan lain,
seranganpun serangan bokongan yang hebat. Bahkan Ya Bie
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tidak menyangka sama sekali. Walaupun ia sangat gesit, ia tak
sempat berkelit. Maka kagetlah ia, hingga sendirinya ia
memperdengarkan jeritannya yang halus tapi tajam dan
panjang yang membuat hati orang goncang.
Itulah suara dahsyat bagaikan burung malam yang
memperdengarka suaranya selagi terbang di tengah udara.
Dengan sendirinya, jeritan itu merupakan jeritan ilmu Hoan
Kan Bie Cin dari Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie.
Tak pernah Jie Kiauw mendengar suara seperti itu, hatinya
goncang seketika. Bahkan matanya pun menjadi seperti kabur.
Ia melihat tubuhnya Ya Bie tercipta menjadi sebuah batu
besar dan serangannya mengenai batu besar itu. Ia kaget
hingga ia mengawasi dengan melengak ! Tangannya pun
sudah lantas ditarik pulang.
Ya Bie mundur tiga kaki untuk berkelit. Dengan begitu,
bebaslah ia dari serangan maut itu. Tapi itu belum semua,
jeritannya itu seperti juga ia memanggil kawannya yaitu So
Hun Cian Li, si orang utan yang besar.
Tonghong Kiauw Couw heran hingga dia mementang lebarlebar
matanya menyaksikan gerak gerak aneh dari Ya Bie....
Ek Jie Kiauw penasaran. Habis melengak ia maju pula akan
mengulangi serangannya. Maka Ya Bie melayaninya. Begitulah
mereka berdua bertempur di depannya Hong Kun. Demikian
juga Nona Tonghong jadi turut menonton.
Jie Kiauw repot juga ketika Ya Bie menggunakan ularnya
sebagai senjata. Tak berani ia menangkis dengan tangannya
sedangkan ia berkelahi tanpa genggaman. Terpaksa ia main
berlompatan ke kiri dan kanan atau mencelat mundur. Hingga
ia menjadi pihak yang terdesak.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Karena ia menang di atas angin, Ya Bie tidak mau berlaku
sungkan lagi. Ia mendesak hebat, ularnya mengangkat
kepalanya dan mengulur-ulurkan lidahnya yang tajam dan
beracun. Sedangkan matanya yang merah bersinar bengis
menakutkan ! Setiap saat lidah itu dapat memagut
sasarannya.........
Oleh karena ia terus main mundur, sendirinya Jie Kiauw
mendekati Hong Kun. Ia menerka, pastilah si anak muda bakal
turun tangan membantunya. Atau sedikitnya anak muda itu
bakal menyela disama tengah, guna memisahkan mereka
berdua.
Tapi Hong Kun berpikir lain. Dia justru lagi memperhatikan
Tonghong Kiauw Couw. Kecantikan nona tiu dan tubuhnya
yang ramping sangat membuatnya kesengsam. Ia pula sangat
mengagumi ilmu pedang nona itu. Mak itu, ia seperti tidak
dengar atau melihat jalannya pertempuran diantara kedua
nona itu....
Untuk selalu mundur, Jie Kiauw mundur memutarkan Hong
Kun. Ia heran bukan main mendapat kenyataan si anak muda
tidak menghiraukannya. Bahkan ia tidak menjadi puas waktu
ia mendapat kenyataan pemuda pujaannya itu justru sedang
asyik memperhatikan Nona Tonghong !
Dalam bingungnya, Jie Kiauw berpeluh pada dahinya. Ia
jadi berpikir keras sekali. Dasar ia cerdik, tiba-tiba ia ingat
sesuatu. Begitulah ketika Ya Bie menyerang pula, ia berlompat
kepada Hong Kun. Itulah loncatan "Rase Lompat dari
Sarangnya".
ketika itu Hong Kun yang lagi mengawasi si nona Tonghong
sudah menurunkan pedangnya hingga ujung pedang nempel
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
pada tanah di kakinya. Itulah pedang yang diarah Nona Ek,
yang mau merampasnya guna membela diri, buat melawan
terus musuhnya dan kedua membikin si pemuda kehilangan
pedangnya hingga mungkin dia terkejut.
Pemuda she Gak itu kaget sekali ketika tahu-tahu
pedangnya telah kena orang rampas, karenanya ia sadar dari
lamunannya. Ia lantas mengenali Jie Biauw, siapa dengan
bersenjatakan pedang lantas tak main mundur pula, malah dia
mencoba akan balik mendesak Ya Bie.
"Tahan !" teriak si anak muda.
Jie Biauw tidak menghiraukan teriakan itu. Ia memang lagi
panas hati. Ia pula ingin membinasakan Ya Bie. Ia tidak tahu,
orang tak mungkin mendesaknya kalau tadi ia tidak
menggunakan Tauwlo-ciang guna menjatuhkan lawannya itu.
Pertempuran selanjutnya menjadi hebat sekali. Jie Biauw
penasaran dan dengan bersenjatakan pedang, dia hendak
mengumbar kemarahannya. Lantas dia mendesak.
"Tahan !" kembali Hong Kun berteriak dengan cegahannya.
Kali ini suaranya mendengung laksana genta. Sayang,
suaranya itu didengar tetapi tidak dihiraukan. Suara itu lenyap
dibawa sang angin.
Justru Hong Kun berseru itu, justru dia seperti membuka
rahasianya sendiri. Kalau dia selalu memperhatikan nona
Tonghong, nona itu pun sebaliknya. Sebab si nona ingin
memperoleh kepastian, pemuda itu Hong Kun atau It Hiong.
Sekarang ia merasa si anak muda bukannya Tio It Hiong.
Maka lantas ia menghela napas. Ia menyesali dirinya yang tak
berpengalaman hingga mudah saja ia menaruh hati terhadap
seseorang yang belum dikenal. Karena ini dengan diam-diam
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
ia mengangkat kakinya, meninggalkan tempat pertempuran itu
serta ketiga orang muda mudi, menghilang di dalam rimba
yang gelap.
Hong Kun sementara itu menjadi panas hati. Sia-sia belaka
teriakannya untuk menghentikan pertempuran. Sedangkan ia
ingin sekali mendapat pulang pedangnya. Ia berduka
menyaksikan Kiauw Ciauw meninggalkannya pergi. Nona itu
tanpa melirik pula padanya bahkan cuma menghela napas.
Untuk menyerbu merampas pulang pedangnya dari tangannya
Jie Kiauw, ia pun ragu-ragu. Dua orang itu lagi bertempur
hebat dan kepandaian mereka berdua agak berimbang.
Pemuda she Gak ini menjadi serba salah. Ingin ia menyusul
nona Tonghong tetapi ia memberati pedangnya. Senjata itu
bukan saja perlu terutama itulah pedang mustika. Kalau ia
berati senjatanya, si nona mungkin keburu lenyap hingga tak
dapat disusul lagi....
Selagi bingun dengan hatinya pun panas, tiba-tiba Hong
Kun melihat Ya Bie berhasil melibat Kie Koat Kiam, pedang
ditangannya Jie Biauw dengan ular hijaunya.
Gerakannya Ya Bie gerakan sederhana saja. Kalau toh ia
menjadi lihai, itulah sebab ia dapat mewarisi ilmu cambuk dari
Kip Hiat Hong Mo.
Jie Biauw sendiri berasal murid Ceng Khia Pay. Hanya
belum sampai ia sempurna mempelajari ilmu pedang kaum
itu, ia sudah memisahkan diri. Sebabnya ialah ia lebih suka
mempelajari ilmu yang menggunakan racun. Begitulah ia pergi
pada Im Ciu It Mo dan menjadi muridnya Bajingan itu hingga
ia menjadi berkawan bersama enam saudari seperguruannya.
Ia berhasil mendapatkan dua ilmu tongkat Tauwlo Tiang dan
pukulan tangan kosong Tauwlo-ciang. Kalau ia toh dapat
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menggunakan pedang, itulah karena ia sudah mempunyai
dasar dan kemudian menggunakan ilmu tongkat sebagai
gantinya. Lebih dahulu dia dan kawan-kawannya mempelajari
Barisan rahasia Cit Biauw Tin, baru ia menggunakan ilmu
tongkatnya. Sekarang ia menghadapi Ya Bie, yang
genggamannya luar biasa. Walaupun keduanya seimbang, ia
toh repot. Maka diakhirnya itu, pedangnya kena terlibat ular
hijau. Ia menjadi kaget sekali.
Senjatanya Jie Biauw adalah cambuk lunak yang berupa
ikat pinggang, namanya cambuk Kim-tay Piancu. Tapi
senjatanya itu ia tidak bawa. Kesatu disebabkan ia terlalu
mengandalkan racunnya. Kedua karena kepalanya besar, suka
menang sendiri. Ia sangat suka bertindak "semau gue". Di lain
pihak, ia sedang gila asmara. Maka juga ia gilai Hong Kun
selekasnya ia melihat anak muda itu. Dalam hal mana ia
sampai tak menghiraukan yang Hong Kun tidak
memperhatikannya, lebih-lebih disaat si anak muda masih
terpengaruhi obat Thaysiang Hoan Hun Tan. Ia suka
mengeluh sendirinya kapan ia ingat Hong Kun acuh tak acuh
terhadap dirinya, sedangkan ia sendiri sudah menggunakan
segala dayanya guna menarik perhatian orang hingga ia
mengeluarkan lagak centilnya.
Begitulah sekarang, ia terpaksa mesti melayani Ya Bie
sendiri saja. Bukan main kagetnya mendapati pedangnya kena
dilibat. Ia menjadi bingung sekali.
Justru orang bingung itu, justru Hong Kun maju. Baru
sekarang dia mendapatkan kesempatan akan merampas
pulang pedangnya. Dengan meluncurkan sebelah tangannya,
dia henda menyerang senjata istimewa dari Ya Bie atau dia
membatalkan serangannya itu selagi Ya Bie terperanjat.
Lantas ia bersenyum terhadap Nona Tanggung itu, seraya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
berkata : "Adik Ya Bie, sudahlah ! Buat apa kau mengotot
melayani dia ?"
Dengan kecerdikannya, Hong Kun membawa aksinya It
Hiong supaya Ya Bie kena diakali. Dan ia berhasil.
Ya Bie pun tertawa.
"Baik, kakak Hiong. Akan aku dengar perkataanmu !"
demikian jawabnya. Lantas nona cerdik tetapi polos ini
melepaskan libatan ularnya pada pedang Kie Koat Kiam terus
ia mundur satu tindak.
Hatinya Jie Biauw lega berbareng girang yang akhirakhirnya
Hong Kun toh datang sama tengah. Tapi ia terus
ingin menguji anak muda itu. Sampai di detik penghabisan ini,
ia masin belum memperoleh kepastian, It Hiong inii Hong Kun
atau Hong Kun sebenarnya It Hiong. Ia terus bersenyum
menatap anak muda itu.
"Oh, kau kenal budak ini !" demikian katanya. "Kiranya
kalian ada dari satu kalangan ! Nah, lihatlah jurusku !"
Berkata begitu mendadak nona Ek menyerang si anak
muda. Ia membacok ke arah kepala. Gerakanya itu sangat
cepat tetapi ia tidak menggunakan tenaga keras......
Hong Kun berkelit ke samping, bukannya dia mundur, dia
justru maju setengah tindak. Dengan tangannya, dia pun
menyangga lengan orang yang memegang pedang, hingga di
lain detik mudah saja dia dapat merampas pulang pedangnya
itu. Sembari mengambil alih senjatanya itu, ia kata : "Oh,
adikku yang baik ! Terhadapku juga kau masih bersikap begini
telengas ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Menutup kata-katanya itu, mendadak Hong Kun berlompat
pergi akan lari masuk ke dalam rimba buat menyusul
Tonghong Kiauw Couw !
Dua-dua Ya Bie dan Jie Biauw heran. Terutama Nona Ek,
dia bingung sekali. Kiranya dia telah kena orang permainkan !
Memang, Hong Kun bertindak secara licin sekali.
Justru itu terdengarlah suara berPekik dua kali, lantas
tampai sesosok tubuh besar dan hitam lari berlompatan ke
arah Ya Bie. Tiba di depan si nona, dengan tangannya dia
menunjuk ke arah rumah batu. Sebab dia So Hun Cian Li yang
tadi mendengar seruan si nona. Dia nampak girang sekali,
sedangkan petunjuknya itu cuma si nonalah yang mengerti.
Ketika itu, dengan berjalannya sang waktu sudah lewat jam
empat. Ketika itu pula, di dalam rumah batu sedang terjadi
pertempuran seru, umpama kata "Naga bergulat, harimau
bertarung".
Im Ciu It Mo itu, diatas gunung Hek Sek San sudah
membuat rumah batunya yang istimewa itu yang dilengkapi
dengan pelbagai pesawat rahasia. Kesanalah It Hiong masuk.
Ia mendahului Kiauw In dan Ya Bie kira setengah jam. Hanya
ketika ia masuk, alat-alat rahasia sudah lantas bekerja.
Karenanya ia menjadi terpisah dari Nona Cio dan Ya Bie.
Kiauw In dan Ya Bie tidak menghadapi sesuatu rintangan.
Mereka justru mempergoki Peng Mo bersama Hong Kun !
It Hiong sebaliknya, dia menghadapi ancaman malapetaka !
Selekasnya tiba di dalam, It Hiong lantas melihat sebuah
ruang yang besar tetapi kosong tanpa perlengkapan kursi
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mejanya. Ada juga perlengkapan lainnya tetapi membuat
halaman itu lebih mirip ruang piranti berlatih silat.
Di dalam ruang itu ada sebuah pembaringan model
pembaringan selir raja. Di kiri dan kanannya terdapat parapara
senjata. Lainnya tiada. Pada dinding di empat penjuru
nampak sinar hijau berkilauan, sinar itu menerangi seluruh
lantas dan lantainya licin. Sulit menaruh kaki disitu. Anehnya
pintu cuma satu dan jendela tak ada barang sebuah juga.
cahaya terangpun tak tembus dari luar. Maka ruang diterangi
hanya sinar hijau itu.
Suasana ruang yang aneh itu dapat mendatangkan rasa
jeri.....
Ketika It Hiong baru memasuki ruangan, pintu di
belakangnya sudah lantas tertutup sendirinya. Sedangkan di
dalam ruang terus tampak sebuah sinar hijau yang keras
sekali. Ia bernyali besar, ia tidak takut. Sebaliknya, ia terus
mengawasi tajam ke empat penjuru dinding, guna mencari
jalan keluar terutama buat mencari musuh.
Ketika kemudian matanya menuju kepada pembaringan, di
atas itu tampak rebah sesosok tubuh manusia yang tidur
miring madap ke tembok. Kepalanya tertutup dengan kopian
pelajar sebagaimana jubahnya jubah pelajar juga. Kedua
kakinya tubuh itu tertekuk sampai tubuh melengkung. Di
ujung jubah tampak dasar sepatu.
Orang itu rebah tanpa berkutik, napasnya pun tidak
terdengar. Hingga tak dapat dipastikan dialah seorang hidup
atau mayat atau dia manusia benar atau boneka saja.......
It Hiong sudah berpengalaman. Ia tidak menjadi jeri
karenanya. Hal itu justru membuatnya bertambah berhati-hati.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ia hanya menerka disitu mesti terdapat banyak pesawat
rahasia, peranti mencelakai orang. Itulah yang mesti dijaga.
Setelah mengawasi tubuh yang rebah di atas pembaringan
itu, It Hiong bertindak perlahan mendekatinya. Ia ingin
memperoleh kepastian, orang atau mayat siapa itu adanya.
Baru beberapa tindak, ia sudah berhenti. Lantas ia merogoh
sakunya dan mengeluarkan peles hijau akan menuang enam
butir obatnya yang terus ia telan. Itulah Wan Ie Jie, pil peranti
memunahkan racun, pemberiannya pendeta dari biara Bie Lek
Sie. Setelah itu, ia maju pula.
Tiba di depan pembaringan, anak muda kita menyiapkan
tangan kirinya didadanya.
"Sahabat, bangun ! Tio It Hiong datang untuk belajar !'
Tidak ada jawaban dari orang yang lagi tidur itu, pun tidak
waktu teguran diulangi sampai beberapa kali, hingga akhirnya
anak muda kita mendongkol juga. Maka ia terus berkata
nyaring : "Sahabat, Tio It Hiong tidak mau membokong. Maka
juga lebih dahulu aku menyapamu ! Aku mau berlaku hormat
terhadapmu ! Sahabat, kau bangunlah ! Mari kita bicara.
Sahabat, jika benar-benar kau tidak tahu selatan, jangan kau
sesalkan aku !"
Kata-kata itu ditutup dengan dihunusnya pedang !
Tetap saja tubuh diatas pembaringan itu tidak berkutik.
Tetapi baru lewat sedetik maka dengan sekonyong-konyong
dari bantal, kepalanya tahu-tahu menyembur asap hijau yang
makin lama makin banyak, makin tebal hingga lekas sekali
asap sudah beruap seperti awan yang bergulung-gulung
hingga di lain saat kecuali tubuh orang bahkan
pembaringannya pun tak tampak lagi sebab tertutup asap itu !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong waspada. Matanya tajam. Ia dapat lihat
mengepulnya asap. Lantas dia lompat mundur beberapa
tindak, untuk seterusnya mengawasi lebih jauh. Tengah ia
memasang mata itu tiba-tiba ia mendengar suara anginnya
senjata menyambar di belakang kepalanya. Tanpa berpaling
pula, ia berkelit ke samping guna menyelamatkan diri. Belum
lagi ia berdiri tegak, senjata sudah datang pula. Sekarang
sempat ia menangkis dengan pedangnya hingga senjata gelap
itu dapat dihalau.
Anak muda kita yang telah memutar tubuh dapat melihat
penyerangnya itu. Seorang dengan tubuh besar dan kekar,
pipinya berewokan, alisnya tebal, matanya gede dan bengis
sorotnya. Dia berumur setengah tua, mulutnya lebar, kulit
mukanya hitam. Pakaiannya singsat sekali. Senjatanya ialah
siang-koay, sepasang tongkat. Dia agak melongo setelah
serangannya tidak ditangkis.
It Hiong rasa ia seperti kenal orang itu. Hanya ia lupa
dimana orang pernah diketemukan atau siapa nama atau
gelarannya.
Orang itu bersikap gagah, melainkan matanya yang kurang
bercahaya. Mengawasi pemuda kita, dia memperdengarkan
suara tak jelas hingga terdengar bagaikan menggerutu.
Melihat mata orang itu, It Hiong segera insaf. Orang itu
mesti seorang jago rimba persilatan golongan lurus tetapi
karena sesuatu dia kena dipengaruhkan Im Ciu It Mo.
Rupanya dia telah diberi makan obat yang melemahkan urat
syarafnya hingga selanjutnya dia kena dipakai sebagai
perkakas hidup !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Hai, sahabat !" ia lantas menyapa. "Sahabat, kenapa kau
membokong aku ? Bukankah perbuatanmu ini perbuatan
rendah ? Apakah kau tak kuatir nanti ditertawakan orang
sesama kaum Kang Ouw ?"
Ditegur begitu, orang itu nampak terkejut. Air mukanya pun
berubah.
"Hm !" dia mengasi suara di hidung.
It Hiong percaya terkaannya tepat. Maka ia lantas berkata
pula : "Sahabat, apakah nama dan gelarmu ? Bagaimanakah
aku harus berbahasa terhadapmu ?"
Orang itu melihat ke empat penjuru. Agaknya ia menjerikan
sesuatu. Habis itu barulah dia menjawab perlahan : "Akulah
Boan Thian Ciu Kim Tay Liang...."
It Hiong merasa gelaran dan nama itu asing baginya. Ia
tetap percaya orang bukannya kaum sesat atau dari kalangan
pancalongok. Maka ia lantas tanya pula : "Sahabat, kau asal
manakah ? Apakah kau murid dari lembah Kian Gee Kiap ?"
Kim Tay Liang menggeleng kepala, terus dia menghela
napas.
"Tahukah kau akan perkampungan Kim-kee-chung di kota
Haphui ?" tanyanya.
Mendengar disebutnya nama Haphui itu, hati It Hiong
menggetar. Darahnya terus bergolak. Ia telah diingatkan pada
sesuatu yang sukar dilupakan. Karena urusan itu mengenai
soal minatnya menuntut balas serta jodohnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ketika dahulu hari Tio It Hiong berguru pada Tek Cio Tojin,
di dalam waktu tujuh tahun ia telah berhasil memperoleh
kepandaian yang berarti. Maka guna mencari musuhnya, ia
minta ijin turun gunung. Ia menuju ke Haphui mencari Sanbu
Ong Pa guna membuat perhitungan. Karena turun gunung itu,
ia telah bertemu Nona Pek Giok Peng dari Lek Tiok Po hingga
ia disukai si nona hingga ia dibantu si nona waktu malam itu ia
menyerbu gedung musuhnya. Setelah itu, berdua mereka
melakukan perjalanan bersama sampai mereka singgah dan
bermalam di Kim kee-chung. Kebetulan sekali pemilik dari
perkampungan itu, Kim Tay Liang menjadi sahabatnya Pek Kiu
Jie dari Lek Tiok Po. Begitulah, It Hiong jadi bersahabat
bersama chungcu itu bahkan ia berdiam beberapa hari di
rumah orang she Kim itu. Sekarang secara kebetulan ia
bertemu Tay Liang didalam keadaan Tay Liang yang tak wajar
itu, maka ingatlah ia akan persahabatan mereka dahulu.
Lekas-lekas ia memberi hormat.
"Kiranya kaulah Kim Jie-ko, chungcu dari Kim kee-chung !"
katanya. "Selamat berjumpa !"
Di luar dugaan adalah penyambutannya Kim Tay Liang.
Mendadak ia tertawa dingin dan kata bengis : "Kalau kau telah
ketahui nama dari Kim Jieko mu ini, kenapakah kau tidak mau
lantas manda kasih dirimu ditelikung ? Kau mau tunggu apa
lagi ?"
It Hiong tercengang. Orang bicara tidak karuan.
"Benarlah dia telah terpengaruhkan obat." pikirnya
kemudian. Maka tak sudi ia melayani chungcu dari Kim keechung
itu, sebaliknya ia menjadi sangat membenci Im Ciu It
Mo !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tay Liang melihat si anak muda berdiam, dengan keras dia
menegur : "Sebenarnya siapakah kau ? Kenapa kau lancang
memasuki Kian Gee Kiap, lembah terlarang ini ? Apakah kau
tidak takut nanti kehilangan nyawamu ?"
Habis berkata itu, tanpa menanti jawaban, dia tertawa
bergelak sendirinya.
It Hiong tidak menjadi kurang senang. Bahkan sebaliknya ia
menjadi masgul. Ia menyesali dan mendukakan kesesatannya
chungcu itu. Maka ia memikir buat menolong mengobati. Ia
ingat obatnya yang mujarab.
Tiba-tiba saja sebelum It Hiong memberikan obatnya, dari
belakangnya ia mendengar teguran nyaring dan bengis ini :
"Manusia tak tahu mati tidak tahu hidup !"
Entahlah teguran itu ditujukan kepada Kim Tay Liang atau
terhadapnya tetapi It Hiong sudah lantas memutar tubuhnya
hingga ia mendapat lihat si penegur ialah seorang pelajar
sebagaimana terlihat dari kopiah dan jubahnya. Bahkan dialah
si pelajar yang tadi rebah tak berkutik di atas pembaringan
yang kemudian lenyap di dalam kegelapannya sang asap tebal
!
Ketika itu asap sudah buyar seluruhnya dan pembaringan
pun kosong.
Dengan sabar anak muda kita mengawasi si pelajar. Dia itu
dengan tenang bertindak menghampiri, kedua tangannya
digendongan di punggungnya. Nyatanya muka dia itu sudah
keriputan. Akan tetapi sepasang matanya sangat berpengaruh.
Dialah Ie Tok Sinshe, si ahli racun yang bernama Kan Tie Uh si
murid murtad dari Siauw Lim Pay telah menyerbu Siauw Lim
Sie.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tuan, kau bergerak gerik laksana bajingan. Apakah kau
tidak takut perilakumu ini nanti menurunkan derajatmu ?"
kemudian It Hiong menegur. Suaranya keras tetapi sikapnya
tenang dan pedangnya dibawa ke depan dadanya.
Si pelajar keriputan mengangkat kepalanya memandangi
langit-langit rumah. Tanpa menoleh atau melirik si anak muda,
dia kata perlahan : "Kau telah mengenali lohu. Apakah kau
masih tidak mau tunduk untuk memohon ampun ? Kalau
benar, itu artinya kau tidak tahu hidup atau mati !'
Jawaban itu sangat tak sedap untuk telinga.
Sepasang alisnya It Hiong terbangun. Dia gusar.
"Tok Mo, jangan kau bertingkah dengan usia lanjutmu !"
tegurnya. "Pendekar ini biasa dipakai menaklukan siluman dan
membela keadilan ! Yang aku hormati ialah tertua rimba
persilatan yang lurus dan sadar. Sebaliknya penjahat-penjahat
perusak negara, pengacau dunia Bu Lim, tak peduli dia siapa,
dengannya aku tak sudi hidup bersama di kolong langit ini !"
Begitu gagah It Hiong bicara. Si pelajar menjadi terperanjat
dan air mukanya pun berubah sejenak. Selekasnya dia sadar,
dia batuk-batuk lalu terus berseru. "Kim lo-jie, kau bekuk
bocah ini!"
"Ya !" menjawab Kim Tay Lian yang lantas turut berubah
sikapnya. Dengan sepasang kaitannya segera ia menyerang
anak muda kita.
Tidak ada niatnya It Hiong melukai Tay Liang. Atas
serangan itu ia berkelit dengan satu gerakan Tangga Mega.
Karena itu ia pun bepikir : "Apakah Ie Tok ini palsu atau si
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tulen ? Perlu aku menyelidikinya lebih dahulu agar dapat aku
mengenalinya benar-benar....."
Menurut pantasnya, tidak dapat Ie Tok Sinshe berada di
Hek Sek San untuk bekerja sama dengan Im Ciu It Mo.
Biasanya orang-orang sebangsa mereka itu -- meski samasama
kaum sesat -- tak sudi mengalah satu dari lain. Mareka
biasa berjumawa dan pikirannya cupat dan juga kejam.
Pepatah pun berkatai : "Dua jago tak dapat berdiri bersama --
Sebuah gunung sukar menempatkan dua ekor harimau." Dan
kalau benar dugaannya, orang ini adalah Tok Mo, maka ia
harus bersedia mengorbankan jiwanya guan
menyingkirkannya.
Selagi It Hiong memikir, Tay Lian sudah menyerang pula
padanya. Dia jadi hebat sekali.
Tetapi si anak muda melayani dengan kelincahannya. Ia
selalu berkelit. Namun, setelah lewat sekian lama ia masih
diserang pulang pergi, mendadak ia berseru : "Tahan ! Kita
mesti bicara dahulu biar jelas !'
Kim Tay Liang telah bernapas mendesak, dahinya penuh
peluh.
"Apa ?" tanyanya. Nyatanya ia masih dapat mendengar
kata-kata orang.
It Hiong tidak menjawab orang she Kim itu. Ia hanya
menoleh kepada si pelajar yang lagi berjalan mundar mandir.
"Tuan !" sapanya. "Bagaimana emas murni tidak takut api,
demikian juga dengan kau ! Kalau kau menghargai derajat
kehormatanmu, maukan kau memberitahukan aku nama dan
gelaranmu?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Pelajar keriputan itu menghentikan langkahnya. Agaknya
dia berpikir.
"Kau ingin ketahui nama lohu ?" sahutnya kemudian. Ia
menyebut diri lohu, si orang tua. "Apakah kau tak takut
nyalimu nanti rontok ?" Ia berhenti sejenak, baru ia
menambahkan : "Siapa yang ketahui nama lohu, dia biasanya
tak akan berjiwa pula ! Apakah kau masih memikir buat
menarik pulang perkataanmu ini ? Masih ada waktunya !"
It Hiong membuka mata lebar-lebar hingga tampak
sinarnya berkelebat.
"Jangan banyak tingkah, tuan !" tegurnya. "Kau cuma tahu
menggertak orang, sama sekali kau tidak berani menyebutkan
nama dan gelarmu ! Rupanya kaulah si manusia palsu yang
banyak orang nanti datang untuk membuat perhitungan
denganmu !'
Si pelajar keriputan tertawa dingin. Tak sedap suara
tawanya itu, yang dapat membuat orang jeri. Habis tertawa,
dia mengawasi Kim Tay Liang, untuk membentaknya : "Kim
Lojie ! Kau perlihatkan dia benda kepercayaan lohu !"
Habis berkata, dia terus menengadah dan berjalan pula
pelan-pelan.
Kim Tay Liang menyahuti, terus ia lari ke pembaringan.
Dari situ ia mengambil sehelai bendera kecil warna merah
darah untuk terus dikibarkan.
Bendera itu kecil tetapi ada empat buah hurufnya yang
bersinar hijau, bunyinya "Giok Hauw Kip Ciauw" artinya
"Panggilan kilat ke neraka".
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Begitu melihat lencana itu, It Hiong mengerti. Lantas ia
ingat halnya dahulu hari di Tay Hong Poo Tian dari Siauw Lim
Sie waktu ia terkena racun hingga dia pingsan. Yang beda
ialah sekarang ini bendera kecil sedang dahulu sehelai kertas
benang sutera, sementara hurufnya sama, empat huruf serta
bersinar hijau.
Lantas juga Kim Tay Liang mau menyimpan bendera itu
atau mendadak si pelajar mengulur tangannya dan
menjambretnya.
It Hiong tertawa. Kata dia : "Bendera kecil itu milik siapa,
aku tidak tahu. Sebab pendengaran dan penglihatanku belum
banyak ! Sebenarnya bagaimanakah asal usulnya itu ?"
Pelajar keriputan itu menjadi gusar.
"Benar kau mau tahu juga ?" tanyanya bengis. "Nah,
serahkanlah jiwamu !"
It Hiong tak gentar akan ancaman itu. Sahut dia sabar :
"Tuan, kau sebutkan dahulu nama dan gelaranmu. Setelah itu
baru kau ambil jiwaku ! Umpama berdagang, kita harus
berlaku jujur satu pada lain. Kau toh tahu aturan itu, bukan ?"
"Hm !" si pelajar keriputan memperdengarkan ejekannya.
"Orang tak tahu mati atau hidup !" Lantas ia menyentilkan
jeriji tangannya membuat bendera kecil itu melesat ke arah
pemuda kita !
Hebat sentilan itu, sebab bendera melesat keras sekali
sampai terdengar suaranya. Tetapi kira-kira ditengah jalan,
mendadak lajunya menjadi kendor seperti ada tangan yang
menarik menahannya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong mengawasi tajam. Ia mengerti si pelajar tengah
menunjuki kepandaiannya. Maka itu diam-diam ia menyiapkan
pedangnya, bersedia buat sesuatu kejadian. Ia pun berdiri
tegak, tak berkisar dari tempatnya.
Kapan bendera itu sudah sampai di depannya It Hiong
tinggal lagi satu kaki, tiba-tiba dia mundur lagi tiga kaki. Habis
mana, terus dia maju dan mundur pula. Gerak geriknya mirip
dengan lidah ular yang dikeluar masukkan. Dan itu berjalan
sekian lama, tak mau lantas berhenti !
It Hiong heran berbareng mendongkol. Tapi ia dapat
mengendalikan diri. Hanya ia lantas berpikir : "Siapa mau
membekuk penjahat, dia harus membekuk dahulu
pemimpinnya ! Demikian kali ini. Baiklah aku tak pedulikan dia
Tok Mo yang tulen atau yang palsu. Akan aku singkirkan lebih
dahulu ! Tidak nanti aku keliru membinasakan orang baik-baik
! Dengan begini pula aku jadi lantas dapat bukti kenyataan !"
Lantas secara diam-diam anak muda kita mengumpul
tenaga dalamnya, membuat Sian Thian Hian bun Khie-kang
menjalar ke seluruh tubuhnya. Setelah itu ia membungkuk
seraya kedua kakinya dimendakkan sedikit, guna
mempersiapkan loncatan "Rase loncat dari lubangnya". Habis
mana mendadak saja tubuh bersama pedangnya mencelat
kepada si pelajar keriputan !
Di luar dugaan, tubuhnya si pelajar lenyap secara
mendadak !
Dengan serangannya tanpa mengenai sasarannya,
tubuhnya anak muda kita jadi meluncur terus. Karena
serangannya dilakukan dengan ilmu Gie Kiam Sut, maka itu
supaya ia tak usah membentur dinding dengan lantas ia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menolakkan tangan kirinya. Selekasnya ia berdiri diam, segera
ia memutar tubuh melihat ke belakang terus ke kiri dan kanan.
Benar-benar si pelajar keriputan telah lenyap dari dalam
kamar itu. Bahkan bersamanya hilang juga Kim Tay Lian,
chungcu dari Kim kee-chung itu !
Sementara itu barusan karena bertolak tangan kirinya anak
muda kita, dinding bersuara nyaring dan sinar hijaunya buyar.
Syukur dinding itu kokoh kuat hingga tak usah terhajar
tergempur. Sinar hijau itu membayang-bayang, mirip kunangkunang.
Menyusul itu, ruang pun menjadi sebentar gelap dan
sebentar terang. Entah apa yang menyebabkannya.
Selagi It Hiong memasang mata dan telinga, dari satu
ujung kamar ia mendengar ini suara parau : "Bocah she Tio,
kau untung bagus sebab kau masih mempunyai daya untuk
menyelamatkan dirimu sendiri dari serangannya sinar beracun
! Pernahkah kau merasai racun itu ? Maukah kau merasainya
?"
It Hiong mendongkol. Tanpa mengatakan sesuatu, ia
menyerang ke pojok itu !
Kembali serangan itu gagal, kembali cuma sinar hijau yang
runtuh. Terus runtuhannya melayang berhamburan.
Kali ini terdengar pula suara parau tadi, didahului dengan
tawa dinginnya.
"Oh, manusia tak tahu mampus atau hidup !" demikian
ejekan itu. "Apakah kau berniat menempur aku ? Baiklah, lohu
tak akan membuatmu kecewa ! Nah, kau lihatlah !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mendadak saja, tembok terdengar berbunyi bagaikan pintu
menjublak hingga terlihatlah sebuah renggangan besar dari
mana muncul kepalanya satu orang, ialah kepalanya si pelajar
keriputan !
It Hiong sangat cerdik. Segera ia menerka kepada kepala
dari sebuah boneka. Ia tidak jeri sama sekali. Menuruti
amarahnya, lantas ia serang kepala itu !
Bagaikan sebuah kepala hidup, kepala itu dapat membuat
main alis dan matanya. Dia tampak seperti merasa nyeri habis
dihajar, bahkan terdengar juga suara kesakitannya ! Kepala itu
dapat merasai nyeri tetapi tidak rusak !
Serangannya It Hiong ada serangan pukulan Han Long Hok
Houw--Menaklukan Naga, Menundukkan Harimau. Suatu ilmu
silat ajarannya Pat Pie Sin Kay In Gwa Siau sedangkan
tenaganya berpokok pada tenaga dalam Hian-bun Sian Thian
Khie-kang. Maka aneh sekali kepala itu dapat bertahan, tak
terluka atau remuk !
Biar bagaimana It Hiong menjadi penasaran. Terang ia
tengah dipermainkan. Karena ini, ia memikir menggunakan
pedangnya.
Bertepatan dengan itu, dari belakangnya pemuda kita
lantas mendengar suara yang merdu bagaikan nyanyinya
seekor burung kenari. Kata suara itu : "Ayo ! Buat apa kau
bergusar tidak karuan ! Bukankah itu tak menarik hati, tak ada
artinya ? Bagaimana jika kau main-main saja denganku ?"
It Hiong terkejut berbareng redalah hawa amarahnya.
Inilah sebab ia heran mengetahui orang mempunyai
kepandaian ringan tubuh yang istimewa hingga ia tak
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menyadari akan kehadiran orang di dalam kamar itu. Celaka
andiakata oang membokongnya. Ia melindungi diri dengan
satu gerakan pedang "Hoat Kong Hok Te". Pedang berputar
kilat di seputar tubuhnya yang terkurung pedangnya itu.
Berbareng dengan mana ia memutar diri untuk dapat melihat
wanita yang menyapanya itu.
Dekat pada dinding, di sana tampak seorang nona usia
enam atau tujuh belas tahun dengan seluruh pakaiannya
berwarna hijau. Tangan bajunya singsat, ujung sepatunya
lancip dan pinggangnya terlilitkan sabuk sulam. Nona itu
menguraikan rambutnya ke punggung dan kedua belah
bahunya. Alisnya lentik, matanya tajam. Dia memiliki muka
yang bulat, yang memakai pupur dan yancie hingga tersiar
keras baunya yang harum, yang menggiurkan hati....
Melihat si anak muda menggunakan pedang menjaga diri,
nona itu tertawa geli.
"Itulah berlebihan !" katanya manis. "Jika nonamu mau
membokongmu, mana sempat kau membela dirimu ?"
"Sungguh mulut besar !" si anak muda menanggapi.
Nona berbaju hijau itu bersenyum. Dia menatap tajam.
"Nonamu tidak berminat mengadu mulut denganmu !"
katanya. "Nonamu cuma memikir aka menyaksikan ilmu
silatmu yang sejati !"
Alisnya It Hiong terbangun. Ia mengawasi tajam.
"Bagaimana kalau kau dipadu dengan Im Ciu It Mo atau Ie
Tok sinshe ?" tanyanya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Nona itu tertawa pula, alisnya memain.
"Itulah tak dapat dibanding dan disamakan !" sahutnya.
It Hiong heran juga.
"Kau jelaskanlah !" pintanya.
Kembali matanya si nona memain manis sekali. Kembali dia
tertawa.
"Apakah kau masih belum mengerti ?" dia balik bertanya.
"Kalau orang-orang rimba persilatan mengadu kepandaiannya,
tak peduli dia dari tingkat tua atau tingkat muda, bukankah
mereka semuanya mengandalkan senjatanya masing-masing ?
Atau kalau menggunakan tangan kosong, mereka sekalian
mengadu tenaga dalamnya ! Benar, bukan ?"
"Habis kau mempunya cara lainnya apa lagi ?" tanya It
Hiong.
Nona itu memiringkan kepalanya, ia melirik. Ia pun
menyingkap rambutnya.
"Kamilah orang perempuan." katanya kemudian. "Laginya
aku adalah seorang wanita yang masih muda sekali. Untuk
kami mencoba kepandai kau bangsa pria, jalan atau
macamnya banyak sekali ! Kalau kau mau, kau cobalah !"
Lantas nona itu mengangkat langkahnya menghampiri si
anak muda. Ia berjalan dengan perlahan, tubuhnya bergerakgerak
halus sekali. Ia sangat menggairahkan.
Hatinya It Hiong goncang. Sungguh lagak orang sangat
menggiurkan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bagaikan tertiup angin, bau harum semerbak mendesak
makin keras ke hidungnya si anak muda. Itulah karena si nona
telah mendatangi semakin dekat.
Hatinya It Hiong berdebaran. Ia tidak menolak orang, ia
pun tidak mundur. Ia berdiri seperti menjublak saja. Tak ada
suaranya sama sekali.
Segera juga si nona datang dekat sekali sampai sebelah
tangannya di ulur ke jalan darah hongku di bahu si anak
muda, lalu dengan suaranya yang merdu ia kata : "Kakak
yang baik, kau sempurnakanlah keinginannya adikmu ini.......
Kakak, aku ingin sekali mencoba-coba kepandaianmu yang
sejati......"
Baru saja tangan nona itu menyentuh bajunya, It Hiong
sudah lantas mengelit bahunya itu. Tubuhnya pun mundur
sekalian. Ia menatap tajam si nona.
"Kau mau apa ?" tanyanya.
Si nona menunda langkahnya. Ia menatap si anak muda.
"Hatinya seorang anak perempuan," katanya. "Kau
mengerti atau tidak...."
"Aku mengerti maksudmu !" kata It Hiong. "Kau menjual
lagak, lalu secara diam-diam kau hendak membokong !"
Nona itu melengak. Hanya sedetik, dia tertawa.
"Kaulah orang Kang Ouw, jago Bu Lim !" katanya. "Sudah
sewajarnyaitu kalau kau berhati-hati menjaga dirimu dari
perbuatan curang ! Dalam hal itu, nonamu tidak mau
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menyesalkanmu. Aku pun tidak akan menjadi kurang senang.
Akan tetapi, hendak aku memberitahukan kau dalam hal
meramalkan orang, penglihatanmu keliru !" Ia berdiam
sesaaat, lalu ia menambahkan : "Apa juga yang kau kehendaki
dari nonamu, akan nonamu iringi ! Aku cuma ingin kau...."
Mendadak alisnya si anak muda terbangun, matanya pun
mendelik.
"Tutup multu !" bentaknya.
Karena kata-katanya dirintangi bentakan itu, si nona
tampak kurang puas. Nyata wajahnya menunduk. Dia
menyesal dan penasaran. Tapi dia tidak bergusar. Terus ia
menatap muka si anak muda.
"Kau tunggulah aku sampai aku bicara habis, baru kau
bicara." katanya agak penasaran.
Berkata begitu, mendadak matanya si nona berlinang air.
Dua butiran matanya lantas menetes jatuh..
It Hiong melihat wajah orang serta air matanya itu, ia pun
mendengar suara yang halus dan bernada sedih itu. Ia
menyesal, tanpa merasa muncullah kesannya yang baik. Ia
tunduk lalu menghela napas dan berkata : "Apa yang kau
hendak utarakan itu, telah aku ketahui !"
Si nona sudah berpaling ke arah lain. Lantas ia menoleh
pula. Ia mengawasi si pemuda. Air matanya masih meleleh
tetapi ia toh tertawa.
"Jika kau sudah mengerti, nah, kau hiburlah hatiku !"
katanya. "Aku ingin hatiku dilegakan ! Kau menerima baik,
bukan ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sembari berkata begitu, si nona maju mendekati.
Tetapi It Hiong mengulapkan tangan.
"Kau pergilah !" katanya.
Nona itu cerdik. Ia menerka bahwa hatinya si pemuda
sudah menjadi lunak.
"Jika aku pergi, apakah kau tidak bakal menyesal ?"
tanyanya, tetap dengan gerak geriknya yang menggiurkan.
"Kau telah keliru melihat orang, nona !" kata It Hiong
sungguh-sungguh. "Tidak, aku Tio It Hiong. Aku tidak bakal
menyesal !" Ia berhenti sejenak. "Aku tidak berniat
membinasakanmu ! Kau pergilah !"
Si nona berbaju hijau mencibir, dia tertawa.
"Kau mirip seorang beribadat !" katanya. "Kau tidak kenal
asmara, benarkah ? Aku rasa mulutmu lain dari pada hatimu !"
Ia maju setindak mendekati, ia mengeluarkan sapu
tangannya. Agaknya ia hendak menyusut air matanya tetapi
tahu-tahu sapu tangan itu dikebutkan ke mukanya si pemuda !
Hanya sekejap, tersiarlah bau harum yang sangat keras.
It Hiong terkejut. Inilah ia tidak sangka. Karena mencium
bau itu yang tersedot masuk ke dalam hidungnya terus ke
otaknya, mendadak ia merasai sesuatu yang luar biasa. Tanpa
tahunya, napsu birahinya telah terbangun, karena mana
hatinya pun goncang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Si nona berbaju hijau sudah lantas berada di sisinya si anak
muda kita. Agaknya dia hendak melemparkan tubuhnya ke
dalam rangkulan orang. Sedang matanya bersinar kecentilan
dan wajahnya tersungging satu senyuman manis sekali.
Semua tampang dan gerak geriknya sangat menggiurkan hati.
Di matanya It Hiong, nona itu sangat menarik hati, sangat
menggairahkan. Ia mengawasi dengan hatinya terus
memukul. Ia menatap terus-terusan. Hingga sinar mata
mereka beradu satu dengan lain.
Dadanya kedua muda mudi itu segera juga mau bertemu
satu dengan lain. Tidak cuma dada si pemuda, juga dada si
pemudi bergolak.
Ruang besar itu sunyi sekali. Cahaya hijau membuat
suasana sangat sejuk hingga sarang bajingan itu bagaikan
suatu rumah pelesiran. Kedua tubuh pun hampir saja
bersentuhan.....
Segera tibalah saat yang paling genting. Kedua tangannya
si nona sudah lantas merangkul tubuh orang dan kedua
tangannya si pemuda membalasnya. Ketika itu digunakan si
nona akan menekan jalan darah bwe-in dari It Hiong untuk
dengan jalan itu menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam
tubuh si anak muda !
Di luar sangkanya si nona, totokannya itu mendapat
perlawanan yang kuat. Ia memang tidak tahu yang It Hiong
mempunyai tenaga dalam yang istimewa tangguh. Pertamatama
si anak muda berbakat, lalu dia telah makan darahnya
belut emas yang berkhasiat luar biasa. Kemudian dia sudah
melatih diri dengan ilmu Hian-bun Sian Thian Khie-kang yang
istimewa yang mana diperkuat dengan latihan Gie Kiam Sut,
ilmu pedang mirip terbang melayang. Si nona sebaliknya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Usianya masih terlalu muda dan dia cuma mengandalkan
paras eloknya serta obat biusnya itu. Ketika ia mencoba
mengerahkan tenaga dalamnya, akan menekan lebih keras,
dia lantas merasai sesuatu yang membuatnya kaget.
Tenaga kokoh kuat dari It Hiong telah menolak tekanan itu
! Si nona tidak melainkan merasa tangannya tertolak keras.
Bahkan dia pun merasai hawa panas terasalurkan ke jalan
darahnya ! Dia kaget, tak dapat dia mempertahankan diri.
Celakanya, ketika dia hendak menarik pulang tangannya itu,
tiba-tiba saja tenaganya habis. Tangannya menjadi kaku dan
tak dapat digerakkan........
"Celaka !" serunya di dalam hati dan ia menjadi sangat
kaget dan takut.
It Hiong di lain pihak sudah lantas berhasil menekan
hatinya hingga di lain saat ia memperoleh kembali ketenangan
dirinya. Tak lagi ia terganggu napsu birahinya. Dengan telah
makan obat kay-tok-wan dari pendeta dari Bie Lek Sie, ia
memang sukar terserang pelbagai macam racun.
Di saat si anak muda sadar, tubuhnya masih dipeluji si
nona berbaju hijau. Sedangkan kedua tangannya pun belum
dilepaskan hingga mereka berdua saling rangkul....
"Kau bikin apa, eh ?" It Hiong menegur.
Dengan perlahan si nona mengangkat kepalanya, akan
menatap si anak muda.
"Kau lihatlah !" katanya perlahan. "Sebenarnya akulah yang
membuat kau tak sdar atau kaulah yang membikin aku tak
ingat akan diriku...."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong membuka kedua tangan orang dan menolak
tubuhnya dia itu.
"Kau lihat !" tegurnya. "Apakah kau tidak malu ? Lepaskan
tanganmu !"
Nona itu menggeleng kepala, wajahnya menjadi suaram.
"Aku sudah kalah, aku menyerah......" katanya lemah. "Aku
suka mati ditanganmu....... Inilah lebih baik daripada aku
terbinasa tersiksa hebat ditangan guruku......"
"Apakah kau masih mau main gila ?" It Hiong membentak.
"Masihkah kau hendak merayu aku ? Tak nanti aku terkena
akal muslihatmu ! Baiklah kau tahu diri !"
Air matanya si nona turun meleleh. Dia menangis.
"Aku....." katanya. "Aku.........."
Dengan perlahan It Hiong menolak bahu orang.
"Mengingat usiamu yang masih terlalu muda, suka aku
memaafkan kau." kata It Hiong. "Aku percaya segala
perbuatanmu masih belum berbau darah. Aku tahu
perbuatanmu sekarang ini disebabkan orang telah
menyesatkanmu. Karena kau terpaksa. Karena itu, suka aku
membukakan satu jalan hidup ! Sekarang pergilah kau, untuk
kau kembali ke jalan yang lurus !"
Nona itu mengangguk. Agaknya dia sangat tertarik hati.
"Tuan Tio," katanya. "Kau telah tidak membunuhku,
budimu ini akan aku ingat baik-baik. Nasihat emasmu juga aku
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
nanti ukir di dalam hati sanubariku. Cumalah aku....
aku........."
"Sudah !" kata It Hiong yang ingat sesuatu. "Tak usah kau
bicara lagi. Kau pergilah !" Lantas ia menotok jalan darah Pekjie
nona itu hingga lengan kanannya jadi dapat digeraki pula
dengan bebas. Tadi, tanpa merasa ia kena totok jalan darah
itu.
Dengan sinar mata bersyukur --bukan lagi sinar mata
centil-- nona itu mengawasi si anak muda. Sedangkan lengan
kanannya itu digerak-geraki guna membikin pulih jalan
darahnya. Kemudian dengan suara berbisik ia kata : "Tempat
ini tempat berbahaya. Maka itu tuan, baiklah kau lekas-lekas
mundur teratur. Nah, kau berhati-hatilah tuan ! Sampai jumpa
pula !"
Nona itu memberi hormat terus ia memutar tubuh
bertindak ke arah pojok kamar dari mana tadi ia muncul.
Tiba-tiba saja terdengarlah satu siulan sangat nyaring dan
tajam yang memekakkan telinga. Suara itu pun sangat seram.
Mendengar suara itu, si nona berhenti melangkah dan
tubuhnya lantas menggigil. Mukanya terus menjadi pucat.
It Hiong turut terkejut, apa pula kapan ia melihat si nona.
Tetapi cuma sedetik, lantas ia mengerti. Perubahan nona itu
tentulah disebabkan dia telah makan Thay-siang Hoan Hun
Tan, obat pengganggu syaraf yang lihai itu.
Menyusul itu dari pojokan terdengar suara yang sayupsayup,
suara musik yang merdu. Sebentar rendah, sebentar
tinggi. Suara itu bagaikan dibawa datang oleh sang angin.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mendengar suara itu, si nona mendadak meloloskan ikat
pinggangnya yang terasalut benar emas. Selekasnya dia
mengibaskan tangannya, ikat pinggang itu menjadi panjang
dua atau tiga tombak hingga tampak warnanya.
Mengikuti irama musik itu, si nona berbaju hijau lantas
menggerak-geraki kedua tangannya membuat main ikat
pinggangnya itu yang terus berkelebatan. Kedua kakinya pun
turut bergeraka akan mengimbangi gerakan tangannya dan
tubuhnya. Dia nampak seperti orang yang lagi menari. Gerak
geriknya itu cepat dan perlahan menuruti irama. Bahkan terus
ia mengitari si anak muda. Hingga karenanya, It Hiong mesti
turut berputaran untuk memasang mata.
Sebenarnya anak muda kita sudah memikir mencari jalan
keluar guna pergi turun gunung. Siapa tahu ia telah
menyaksikan gerak gerik si nona yang terang sudah
menarikan tarian "Thian Mo Biauw Bu -- tari Bajingan Langit".
Untuk meloloskan diri, ia tidak menghiraukan tarian itu. Terus
ia pergi kepojok guna mencari pintu rahasia. Hanya dalam
usahanya itu, ia terintang si nona yang terus saja menari-narik
memutarinya. Kalau dia sadar akan dirinya, sekarang terang
nona itu telah terjatuh di bawah pengaruh orang. Ya, dibawah
pengaruh obat yang mengacaukan urat syarafnya itu ! Dia
bergerak-gerak secara indah dan menarik hati.
It Hiong mencari terus di sekitar dinding. Ia tidak
memperoleh hasil. Maka juga kemudian ia berdiri diam.
Matanya diarahkan ke empat penjuru kamar. Selagi
mengawasi, otaknya tak henti-hentinya bekerja.
Si nona dengan tarian ikat pinggang itu masih terus
mengganggu seperti juga mengganggunya lagu yang merdu
itu yang entah dari mana datangnya. Halus sekali gerak gerik
pinggang langsing dari nona itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hatinya It Hiong goncang ketika ia mengawasi si nona.
"Oh, kakak yang baik," kemudian nona itu kata, matanya
mengawasi tajam. Sinar matanya memain. "Kakak, kalau kau
ketarik dengan tarianku ini, Bajingan Langit, maka kau
tentulah tertarik juga mendengari nyanyianku, yaitu lagu
Daging Sakti...... Benar bukan ?" Dan si nona tertawa manis.
Tanpa menanti jawaban si naak muda, nona itu lantas
mulai dengan nyanyiannya :
Kekasihku -- diujung langit....
Kekasihku -- di dalam istana rembulan........
Kekasihku -- di dalam hatiku....
Bukan, bukan ! Hanya di depanku !
Lagi menantikan kasihnya daging sakti.......
Nyanyian itu sangat halus dan merdu. Sangat sedap untuk
telinga, sedangkan tubuh si nona bergerak-gerak halus
merayu sang mata. Sinar matanya pun sangat menawan
hati......
Masih berputaran dengan ikat pinggangnya itu, si nona
mendesak si anak muda. Dengan sinar matanya memain, ia
bernyanyi pula :
Kekasihku -- dialah jago di selalu tempat !
Kekasihku -- adalah ahli asmara !
Kekasihku -- dialah bangsawan halus Pekertinya !
Bukan, bukan ! Dialah orang gagah.
Dialah laki-laki sejati !
Dan kau, kaulah adanya. Lekaslah !
Kenapa kau tak mau merangkul aku ?....
Kenapa kau tak mau menerima cintaku ?.......
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ya, cintaku........
Tetap lagu itu sangat merdu, sangat sedap untuk telinga.
Yang bernyanyi sudah menutup multnya tetapi suara nyanyian
masih seperti terdengar di telinga.
Baru setelah dia berhenti menyanyi, maka berhenti juga si
nona menari. Hanya sekarang dengan tindakan halus, dia
menghampiri si anak muda. Ia menatap dan tertawa manis.
"Oh, kakak. Kakak yang baik. Kau kenapakah ?" demikian
sapanya lemah lembut. "Seharusnya orang yang berhati besi
atau batu pun hatinya akan tergerak ! Maka itu, mari aku
tanya, hatimu tergerak atau tidak ?"
"Hm !" It Hiong memperdengarkan jawabannya. "Toh
kepandaianmu cuma sebegini saja. Apakah masih ada yang
lainnya ? Coba kau keluarkan ! Tak ada halangannya, akan
aku mengujinya.
Matanya si nona memain galak.
"Baik, baik !" sahutnya. "Kaulah arhat besi, kakak. Kaulah
arhat tembaga, pendekar sejati. Tetapi hendak aku coba !
Lihatlah !"
Si nona bertindak ke tengah ruang. Sembari berjalan ia
melirik. Tubuhnya melangkah lemas dan menarik hati. Kata
dia : "Kau lihat, kakak. Adikmu akan memberikan pula
pertunjukannya yang jelek......"
Segera nona itu bersilat dengan ikat pinggangnya itu. Ia
bagaikan tengah menari. Hebat ikat pinggang itu dapat ia
geraki dalam pelbagai gerakan. Ikat pinggang berputar-putar,
bergulung-gulung.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong heran dan kagum. Nona itu diluar sangkaannya.
Dia masih muda tetapi ilmu silatnya sudah sedemikian lihai.
Karena ini, timbullah rasa kasihannya akan nasib orang yang
terjatuh di bawah pegnaruh manusia jahat.
Sesudah menonton sekian lama, diam-diam hatinya It
Hiong gatal. Maka ia pun hendak menunjuki kepandaiannya.
Demikianlah mendadak ia melonjorkan tangan kirinya,
diarahkan ke ikat pinggang si nona seraya ia menggapai.
Hanya sedetik itu, ikat pinggang telah tertarik ke dalam
genggamannya !
Mendapatkan ikat pinggangnya ditarik itu, si nona
bukannya gusar bahkan sebaliknya. Dia tertawa. Dia girang
luar biasa. Sembari tertawa dia kata : "Kakak, apakah kau
jemu melihatnya ?"
"Menurut aku, kepandaianmu ini sama saja dengan
pertunjukannya tukang jual silat yang mencari arak dan nasi !"
sahut It Hiong. "Tidak ada yang bagus dan menarik hati untuk
ditonton !"
Kedua biji matanya si nona berputar, dia nampak berpikir.
Kemudian dia tertawa dan kata : "Oh, kiranya bukanlah
permainan semacam ini yang kakak ingin lihat ! Kiranya itu !
Benar, bukan?"
"Apakah itu ?" si pemuda tanya. "Apakah artnya itu ? Ada
macam apakah lagi ?"
"Itulah bagian bawah dari tarian Bajingan Langit serta
Daging Sakti !" sahut si nona. "Aku jamin, melihat itu, kau
bakal menjadi sangat tertarik hati !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Begitu dia mengucap, begitu si nona menepuk tangannya
atas mana musik tadi berbunyi pula. Menyusul itu, ia pun
mengangkat kakinya serta menggerak-geraki kedua belah
tangannya untuk mulai menari, sedangkan mulutnya lantas
memperdengarkan nyanyiannya yang merdu :
Aku ada maksudku, tuan ada hatinya.
Bagaimana kalau Daging Sakti dirapatkan ?
Diatas semangat terbetot.
Dari air, dari tanah, itu dapat dicampur aduk.
Kalau baju dilolosi, kakak.
Hatimu pasti goncang !
Tak puas It Hiong mendengar kata-kata menyeleweng itu.
Justru ia lagi berpikir, si nona telah membuka baju hijaunya itu
hingga terlihat dadanya yang tertutup dengan semacam
kutang merah dadu. Sembari berbuat begitu, matanya
memain tak hentinya. Setelah itu, dia melanjuti nyanyiannya.
Kali ni nyanyiannya itu makin mendekati kecabulannya.
It Hiong menjadi tidak puas, apa pula ketika ia mendapat
kenyataan sembari bernyanyi itu tangan si nona pun bekerja
meloloskan pakaiannya hingga dia hampir telanjang hingga
berpetalah tubuhnya yang montok.
"Pergilah !" bentak anak muda kita yang menguatkan
hatinya untuk mencegah dirinya disesatkan si nona yang
benar-benar telah terjatuh ke dalam pengaruh sesat hingga
dia lupa malu.
Si nona tapinya tidak menghiraukan. Dia menari terus, dia
melanjuti nyanyiannya. Selalu dia melirik secara menggiurkan.
Memperlihatkan tubuh asli hadiah ayah dan ibu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Dari sana timbullah rasa sesar dan sadar !
Ah ! Cinta ? Penasaran ? Semangat ? Daging ?
Bagaimana ?
Semenjak dahulu hingga sekarang.
Orang menipu orang !
Habis menyanyi, si nona lari pada It Hiong, untuk
memeluknya. Sebelaum si anak muda tahu apa-apa, lehernya
telah dirangkul dan bibir dia itu telah nempel di pipinya hingga
disitu tertinggal bekas yancie dadu !
Bukan main terkejutnya si anak muda. Karena ia
berkasihan, tidak dapat dia menolak dengan kekerasan. Si
nona sebaliknya merangkul erat-erat. Lekas ia menjatuhkan
diri untuk duduk bersila ditanah guna mengheningkan cipta. Ia
bersemadhi !
Tidak lama maka merasalah si anak muda bahwa hatinya
tenang. Dengan demikian juga pulihlah ketenangan hatinya.
Ia sadar seluruhnya. Maka ia lantas dapat menggunakan
otaknya.
"Aku berkasihan, hampir aku celaka." pikirnya. "Hebat
pengaruh obatnya si jahat ! Sekarang bagaimana aku harus
bertindak terhadap nona ini yang menjadi lupa daratan karena
dia terpengaruh ?"
Perlahan-lahan It Hiong membuka matanya akan
mengawasi si nona yang masih saja merangkul lehernya.
Begitu ia melihat muka orang ia menjadi terkejut. Nona itu
menjadi pucat. Sinar matanya sayup-sayup. Yang hebat ialah
mulutnya mengeluarkan darah segar !
"Sungguh jahat !" seru It Hiong di dalam hati. "Sungguh
telengas !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tak tega ia membiarkan orang mati keracunan.
"Aku mesti tolong padanya !" pikirnya. Maka ia
mengeluarkan peles obatnya yang hijau, enam butir pil ia
jejalkan ke dalam mulut nona itu. Kemudian ia berbangkit
bangun sambil mengangkat juga tubuh si nona.
Nona itu lemas sekali. Tenaganya seperti telah habis.
Karena itu, ia dipondong dibawa ke pembaringan untuk
direbahkan di sana.
Lekas sekali bekerjanya obat. Belum lama jalan napasnya si
nona menjadi tak lemah seperti barusan, kemudian terdengar
dia merintih.
Menampak demikian, lega juga hatinya It Hiong. Jiwanya si
nona ada harapan akan tertolong. Dengan berdiri di depan
pembaringan, ia menguruti tubuh orang guna meluruskan
jalan darahnya. Tetapi melihat tubuh orang yang separuh
telanjang, ia jengah. Mana dapat ia meraba-raba tubuh nona
itu, malah nona yang tidak dikenal ? Sekian lama, ia
mengawasi saja muka orang.....
Si nona merintih semakin keras lalu dia bergulak gulik.
Terang dia tengah menderita. Racun dan obat pemunahnya
rupanya sedang bertarung. Itulah saat mati atau hidup..
It Hiong mendengar, ia berdiam saja. Hati nuraninya
sedang digempur. Ia membantu atau tidak. Kasihan nona itu.
Tak dapat ia dibiarkan tersiksa lama-lama. Giris hatinya
mendengari suara lemah orang !
Tanpa bantuan pengurutan, sulit nona itu tertolong. Obat
harus dibantu tenaga dari luar, baru bisa dapat dibasmi
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
seluruhnya. Bagaimana sekarang ? Dapatkah ia membiarkan
orang menghembuskan napasnya dihadapannya tanpa ia
berdaya ? Kalau si nona mati, bukankah seperti dialah yang
membiarkannya putus jiwa ?
It Hiong pula berada di dalam sarang penjahat, sarang
musuh. Bagaimana kalau ada musuh yang muncul ? Ia
terancam bahaya, ia pula dapat dituduh, difitnah secara tidaktidak
!
"Ha, kenapa hatiku menjadi begini lemah ?" pikirnya
kemudian. "Kemana semangat kegagahanku ? Aku mesti
mengambil keputusan !"
Sampai di situ anak muda kita lantas bertindak. Paling
dahulu ia masuki pedangnya ke dalam sarungnya. Ia pun
menjemput baju hijau si nona yang tadi dilemparkannya ke
lantai. Setelah itu ia kembali ke pembaringan.
Si nona masih merintih, darah dimulutnya berubah menjadi
hitam. Pembaringan kotor dengan darah itu.
Cepat sekali It Hiong membeber baju orang diatas tubuh
pemiliknya, menyusul itu ia mengerahkan tenaga Hian-bun
Sian Thian Khie-kang buat akhirnya mulai meraba tubuh orang
buat diuruti. Sebelah tangannya diletaki diatas jalan darah
tan-tian, buat menekannya guna menyalurkan tenaga
dalamnya.
Demikianlah pertolongan diberikan.
Lewat kira setengah jam, rintihan si nona lantas berkurang
bahkan terus berhanti. Tetapi sekarang tubuhnya lantas
bermandikan peluh. Malah peluh itu berbau tak sedap.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Rupanya hawa racun telah keluar dengan perantaraan peluh
itu.
Lega hatinya pemuda kita. Jiwa si nona sudah dapat
ditolong. Maka ia lantas menghentikan mengurutnya serta
juga mengangkat tangannya. Terus ia bangun berdiri. Atau
mendadak ada angin yang menyambarnya. Ia kaget sekali. Ia
mengerti itulah serangan gelap. Tidak ada waktu buat dia
menghunus pedang, maka terpaksa ia mengegos tubuh ke sisi
terus membalik badan dengan kedua tangannya segera
ditolakkan keras !
Kiranya serangan itu berupa tiga buah senjata rahasia Yan
bwe Hui-hoan Piauw, yaitu piauw yang dapat berputar dan
berbalik mirip bumerang. Dan ketika kena tertolak, piauw itu
tidak jatuh ke tanha hanya kembali ke arah dari mana
datangnya. Juga aneh, penyerangan bukan ditujukan kepada
si anak muda, hanya terhadap si nona !
Lantas It Hiong dapat menerka. Si orang jahat mau
membinasakan orang itu yang gagal dalam tugasnya.
Tentunya dengan maksud menutup mulut orang ! Sungguh
kejam !
Habis menghalau senjata rahasia, It Hiong menoleh kepada
si nona. Dia masih rebah, matanya sudah dibuka tetapi sinar
matanya itu sangat bodoh. Dia tampak seperti orang yang
baru sembuh dari penyakit berat. Kelihatannya dia tidak
bertenaga sama sekali. Walaupun demikian, dia memegangi
bajunya. Rupanya dia telah insaf akan keadaan tubuhnya itu.
Mulanya It Hiong memikir menganjurkan orang pergi kabur.
Akan tetapi melihat keadaannya dia itu, dia batal membuka
mulutnya. Dalam keadaan selemah itu, tidak nanti dia
mengangkat kaki.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Waktu It Hiong memandang muka orang, si nona justru
mengawasi padanya. Empat sinar mata lantas beradu !
Kesudahannya si nona lekas-lekas tunduk. Nampak dia sangat
likat. Telinga dan mukanya pun menjadi merah. Itulah
menyatakan dia sudah sadar dan malu sendirinya. Itu pula
menandakan yang dia belum tersesat. Dia hanya korban racun
yang lihai sekali.
Dalam malunya, si nona rebah tak berkutik. Tubuhnya
ditutupi bajunya. Dia pun terus membungkam. Kalau dia
membuka mulut, dia khawatir si anak muda nanti menoleh ke
arahnya....
Sementera itu, piauw bumerang itu masih berputaran.
Menyaksikan demikian, It Hiong menjadi panas hati. Itulah
berbahaya buat ia sendiri terutama buat si nona yang jiwanya
di arah. Maka ia lantas menghunus pedangnya terus ia
memutarnya dengan keras. Kesudahannya itu ialah ketiga
buah piauw runtuh, semua jatuh ke lantai.
Baru sekarang anak muda kita mendekati si nona seraya
berkata : "Nona, lekas kau mengenakan pakaianmu ! Lekas
kau menyingkir dari sini, guna membantu dirimu !"
Sembari berkata begitu dengan pedang ditangan, It Hiong
memasang mata ke sekitarnya buat menjaga kalau-kalau
datang pula serangan pengejut.
"Aku mengerti !" berkata si nona. Dia melihat si anak muda
membaliki belakang, hatinya lega. Segera ia membalik tubuh,
akan turun dari pembaringan buat berdandan dengan cepat.
Ia mengenakan pula pakaian hijaunya itu. Selesai merapikan
rambutnya yang panjang, ia maju ke muka si pemuda. Ia tidak
berani mengangkat kepala akan mengawasi anak muda itu,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
hanya sambil tunduk ia kata : "Tuan, kau telah membantu
jiwaku. Budi besarmu ini tak nanti kau lupakan selama aku
masih hidup."
Ia lantas menangis, akan tetapi ia menjura memberikan
hormatnya.
Inilah It Hiong tidak sangka, ia melengak. Biar bagaimana,
ia pun rada likat. Lalu ia kata : "Jangan mengucap terima
kasih, nona. Kita sama-sama orang Kang Ouw. Tak usah kita
memakai banyak ada peradatan."
Si nona menyusuti air matanya dengan ujung bajunya. Dia
menghela napas.
"Biar bagaimana, tuan, kau telah menolong jiwaku."
katanya. "Kaulah orang yang telah menghidupkan pula
nyawaku. Sekarang aku insaf, maka aku hendak menyingkir
dari jalan yang sesat ini. Akan aku menyingkir buat seterusnya
mengembalikan wajahku yang asli !'
"Nona, memang aku telah menolong kau. Tetapi sama
benarnya kau telah menyelamatkan dirimu sendiri." kata It
Hiong. "Kau tahu, aku telah memberikan kau obat guna
membasmi obat yang mengeram di dalam tubuhmu.
Selanjutnya tinggal kau beristirahat guna menjaga
kesehatanmu supaya tubuhmu bersih dari godaan napsu
hatimu."
Si nona mengawasi. Ia agaknya belum mengerti jelas katakatanya
si anak muda.
"Tuan." katanya. "Sekarang ini, apa juga nanti terjadi, aku
mengharapkan bantuanmu supaya aku dapat menyingkir dari
tempat ini. Aku ingin tidak lagi menjadi boneka orang hingga
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
aku dapat diperintah melakukan segala apa di luar
kesadaranku !"
"Tetapi nona," kata It Hiong, "bukan maksudku menyuruh
atau menganjurkan kau berdurhaka terhadap gurumu.
Aku......"
"Aku mengerti, tuan !" si nona menyela. "Akan tetapi,
apakah tuan tak sudi menolong aku dipermulaannya lalu terus
sampai di akhirnya ? Apakah tuan bermaksud menyuruh aku
tetap berdiam disini supaya aku menderita siksaan hebat ? Di
sini aku dapat dihukum picis......"
Lantas si nona menangis tersedu sedan, tubuhnya sampai
menggigil.
It Hiong terkejut. Tak dapat menerka kekejamannya guru si
nona.
"Baik, nona." katanya akhirnya. "Baik, akan aku melindungi
kau sampai kau lolos dari sini !"
Nona itu menahan tangisnya.
"Dengan kau menjanjikan aku untuk membantu aku keluar
dari sini tuan, itu berarti bahwa bagiku barulah terbuka
kesempatan buat hidup baru pula !" demikian katanya
bersyukur.
It Hiong berdiam sebentar, baru dia menanya : "Nona,
siapakah gurumu ? Apakah nama atau gelarannya ?"
Di tanya begitu, si nona melengak. Akan kemudian
menggeleng kepala.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Aku berada di sini bukannya karena aku mengangkat
orang menjadi guruku." sahutnya. "Di luar tahuku, orang telah
menculik dan membawaku kemari....."
It Hiong heran, sepasang alisnya bangkit berdiri.
"Nona, baiklah kau bicara secara terus terang saja."
katanya.
Nona itu menggeleng pula kepalanya.
"Tak sepatah kata juga aku mendusta !" bilangnya. "Aku
berani bersumpah !"
Berkata begitu, si nona nampak berduka pula dan air
matanya meleleh.
It Hiong lantas memperlihatkan pula wajah sabar.
"Kalau begitu, nona, selama dirumahmu, kau telah belajar
silat, bukan ?" tanyanya pula
Kembali si nona menggeleng kepala.
"Tidak." sahutnya.
It Hiong tertawa dingin. Dia tak percaya.
"Kalau begitu, sungguh aneh !" katanya keras. "Kau
sebenarnya orang golongan apa ?"
Si nona melengak. Dia menatap si anak muda. Agaknya dia
sadar.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Ya, tuan." katanya sabar. "Aku ini orang macam apakah ?"
Ia mengangkat kepalanya, agaknya dia berpikir keras akan
mengingat-ingat.
Nona itu menunjuki bahwa ia sudah keracunan hebat.
Walaupun dia telah mendapatkan obat mujarab, ingatannya
masih kurang sempurna. Ia belum sehat seluruhnya.
It Hiong menatap. Ia dapat melihat keadaan sebenarnya
dari nona itu. Jadi ia siapa telah tidak mendusta. Karena itu, ia
tidak mau mendengar.
Lewat sekian lama, si nona berkata pula.
"Aku ingat sekarang." bilangnya. "Pada tiga tahun yang
lalu, pada suatu malam, tengah aku tidur nyenyak ada orang
yang menculikku......"
It Hiong mengawasi, ia masih tidak mau menanyakan
sesuatu.
Si nona menambahkan : "Akulah anak dari seorang
gembala yang biasa hidup mengembara. Selama hidup kami,
kami berada di gurun pasir, memelihara kambing dan kuda.
Menyusuri tempat-tempat berumput dimana ada perairan.
Kami selalu berpindahan, dimana kami tiba, disitu kami
berkemah...". Ia berhenti pula sejenak, baru ia menambahkan
lagi : "Di rumahku, aku mempunyai ayah dan ibu serta kakak
laki-laki juga banyak kawan kerabat........"
"Sudah nona, tak usah kau bicaraterlalu banyak." It Hiong
memotong. "Yang aku ingin ketahui ialah ilmu silatmu.
Darimanakah kau pelajari itu ?"
Si nona berpikir pula.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Aku ingat sekarang." sahutnya. "Aku mempelajarinya dari
Paman Kim...."
"Siapakah paman Kim mu itu ?" It Hiong tanya. "Dia toh
gurumu ?"
Si nona melengak.
"Paman Kim tidak ada namanya. Dia juga bukannya
guruku."
It Hiong heran.
"Bagaimana caranya pamanmu itu mengajari kau ilmu silat
?"
"Panjang buat kau menutur, tuan." sahut si nona. "Apakah
tuan tidak sebal kalau aku bercerita panjang lebar ?"
"Bukannya aku sebal mendengarnya, nona." sahut It Hiong.
"Hanya sekarang ini kita berada di dalam sarang bajingan. Ini
bukannya tempat memasang omong. Baiklah nona
menjelaskan yang paling penting saja !"
Nona berbaju hijau itu mengangguk.
"Aku ingat." demikian ia mulai dengan keterangannya.
"setelah aku siuman, aku mendapatkan yang aku bukan
berada di rumahku lagi. Yaitu bukannya kemah dimana
terdapat kambing dan kuda kami. Aku justru berada di dalam
gua yang sunyi senyap ! Di situ pula tidak ada seorang lain
juga kecuali seorang yang berewokan dan kulit mukanya
hitam. Baru belakangan aku mendapat tahu dialah orang yang
dipanggil Paman Kim......"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lantas si nona memperlihatkan tampang sangat berduka.
"Mulanya aku menangis terus, aku merengek minta
diantarkan pulang." kemudian ia meneruskan ceritanya.
"Lantas paman Kim memberi aku makan sebutir pil. Habis
mana selanjutnya aku tidak ingat apa-apa lagi, kecuali sampai
sekarang ini......."
"Apakah kau pernah dengar namanya Im Ciu It Mo ?"
"Tidak."
"Apakah kau pernah melihat seorang pelajar tua yang
mukanya keriputan ?"
Si nona membuka matanya lebar-lebar. Matanya itu
dikesap-kesipkan.
"Sudah, sudah !" sahutnya.
"Apakah namanya si pelajar tua itu ? Apakah dia yang
mengajari kau ilmu silat ?"
"Namanya dia itu belum pernah aku dengar. Tapi
sehabisnya Paman Kim mengajari ilmu silat, lantas ada orang
yang bicara disebelah tembok yang mengajari aku ilmu secara
lisan."
"Aneh !" pikir It Hiong. "Ada biasa saja kalau orang
mengajar silat tetapi dia tidak sudi dianggap sebagai guru.
Yang aneh ialah kalau dia tidak mau memberitahukan she dan
namanya juga wajahnya ! Apakah yang terkandung di dalam
hatinya orang itu ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Dengan begitu, nona." ia lantas berkata pula. "Ilmu silat
kau jadi diajari oleh Paman Kim yang berewokan itu.
Sedangkan orang disebelah tembok itu mengajarkan kau ilmu
tenaga dalam. Benar begitu, bukan ?"
Si nona mengangguk.
"Benar." sahutnya. Dia mengangkat kedua tangannya, akan
menyingkap rambutnya. Kemudian dia menengadah langitlangit
rumah untuk melanjuti berkata sabar : "Secara
demikian, tiga tahun sudah aku belajar ilmu silat ini. Selama
hari-hari dan bulan-bulan yang dilewati itu, sudah berapa
banyak gunung dan rimba yang kami telah pergikan, berapa
banyak rumah batu yang kami diamkan, sampai paling
belakang ini kami tiba dan berdiam disini......"
"Sudah berapa lama kalian tinggal disini ?"
Nona berbaju hijau itu berpikir.
"Sudah berapa lama kami tinggal disini, itulah aku tidak
ingat." sahutnya kemudian. "Menurut perasaanku, itulah
rasanya baru kemarin....."
"Apakah si pelajar tua yang bermuka keriputan itu datang
bersama Paman Kim mu itu ? Apakah ada orang lainnya lagi ?"
Si nona melengak, matanya menatap si anak muda.
Kemudian dengan polos dia tertawa.
"Eh, eh, kenapakah kau menanya begini banyak ?" dia balik
bertanya. "Selama beberapa tahun ini aku cuma berada
bersama Paman Kim, belum pernah ada orang lain....."
Si anak muda memperlihatkan tampang sungguh-sungguh.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Nona." katanya pula buat kesekian kalinya. "Bukankah
barusan nona berkatai aku bahwa nona pernah melihat si
pelajar tua yang bermuka keriputan itu ? Kenapa sekarang
nona bilang tidak pernah ada lainnya orang ?"
Di tanya begitu, nona itu bungkam. Ia berpikir keras.
"Heran, apa kataku barusan ?" katanya. "Kenapa aku jadi
bicara tidak ketentuan, tidak jelas......."
It Hiong menghela napas.
"Mungkinkah barusan nona keliru bicara ?" ia
mengingatkan.
Nona itu tidak menjawab hanya dia terus bicara seorang
diri : "Sungguh menyesalkan ! Semakin dipikir otakku semakin
tumpul !"
It Hiong tidak menanya lagi, ia hanya mengawasi. Ia tahu
orang keracunan hebat, karena mana kesadarannya yaitu
tenaga ingatannya tidak mudah segera pulih. Kalau dia
ditanya terus menerus, pikirannya Bisa menjadi kacau.
Nona itu beberapa kali hendak menggerakkan bibirnya,
saban-saban dia gagal. Ia agaknya tengah berpikir keras guna
memberikan jawabannya.
Lewat sekian lama, baru ia berkata pula.
"Pelajar tua yang keriputan mukanya itu, memang benar
pernah aku melihatnya." demikian katanya. "Hanya kesanku
mengenai dia bagaikan impian saja. Di dalam impian itu,
rasanya dia pernah mengajari aku beberapa jurus ilmu silat,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
antaranya ilmu silat yang menggunakan senjata tajam, juga
bertangan kosong dan ilmu ringan tubuh serta latihan
pernapasan... Hanya selekasnya aku mendusin, aku cuma
melihat Paman Kim sendiri....."
Aneh si nona, tetapi melihat lagak polosnya orang mesti
percaya. Maka itu It Hiong menganggap tidak bisa lain dia itu
belum sadar seluruhnya, ingatannya masih lemah. Di lain
pihak, ia tertarik hati.
"Selama dalam keadaan seperti bermimpi itu, selama kau
berlatih," ia tanya sambil tertawa. "bagaimana kalian
berbahasa satu pada lain ? Dan apakah kalian tidak bicara
juga tentang lain-lain partai persilatan ?"
Si nona juga rupanya merasa aneh, bahwa ia bergembira.
Karenanya ia tertawa.
"Tuan, kau sangat cerdik !" katanya. "Bagaimana kau dapat
ingat urusan selama aku seperti bermimpi itu dan
menanyakan justru urusan yang aku ingin menyebutkannya ?"
Ia berdiam sejenak, lalu melanjuti : "Di dalam hatiku melihat
orang tua itu, hatiku jeri berbareng jemu. Akan tetapi aku
tidak berani mengutarakan apa juga terhadapnya. Asal aku
bertemu dengannya, lantas aku belajar silat, ak melatih
pelajaranku ! Aku tidak tahu menahu tentang nama partai !"
It Hiong tertawa. Ia mau menahannya tetapi tidak dapat. Si
nona agak jenaka.
"Selagi kau belajar silat atau berlatih itu," ia tanya pula,
"apakah kalian tetap tidak memanggil atau membahasakan
satu pada lain ? Tak sepatah kata juga ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Itulah bukannya. Aku memanggil dia paman dan dia
memanggil aku A Hoa -- si Hoa. A Hoa itu aliasku”
Dengan "paman" si nona maksudkan "piehu" paman yang
terlebih tua.
"Apakah pamanmu itu tidak menyuruh kau memanggil guru
padanya ?"
"Rasanya dia pernah berkatanya. Katanya sesudah aku
belajar sempurna, baru aku memanggil dia guru. Dia pula
membilangi aku, buat aku turut perintahnya. Yaitu aku
diharuskan membunuh dahulu seratus orang ! Bahkan orang
yang aku tidak niat bunuh, juga dia mestikan aku
membinasakannya ! Itulah syaratnya buat mengangkat dia
menjadi guru !"
"Habis, apakah kau telah lakukan kemestian itu ?"
Nona itu nampak masgul.
"Pasti tidak aku lakukan." sahutnya. "Kenapa aku mesti
membunuh orang ? Apa pula membinasakan seratus orang
dengan siapa kau tidak bermusuhan atau bersakit hati ? Lagi
pula, kenapa aku mesti mengangkat seorang yang aku paling
jemu menjadi guruku ?"
It Hiong berpikir, lalu berkata : "Jika kau tidak menerima
baik syaratnya itu, itu tandanya kau merenggangkan diri dari
dianya ! Itulah suatu tanda bahwa kau terancam bahaya !"
"Kau benar, tuan." kata si nona. Agaknya dia hendak
mengajukan pengaduan atau mengutarakan kesukarannya itu.
"Orang tua itu telah menyuruh Paman Kim berkatai aku, jika
aku tidak meluluskan kehendaknya buat aku membunuh
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
seratus orang, dia hendak membinasakan aku. Dia pula
menyuruh aku memilih kematian macam apa ! Katanya itulah
kemurahan darinya maka dia memberi aku kebebasan
memilih............."
"Apakah orang sekejam dia masih mempunyai kemurahan
hati ?"
Si nona mengangguk.
"Itulah kemurahannya yang dia menyuruh aku memilih.
Dari pada disiksa, lebih baik mati wajar saja......."
It Hiong menghela napas.
"Jadi kau memilih yang belakangan itu ?"
Mukanya si nona menjadi merah.
"Biar bagaimana, aku hendak berdaya meloloskan diri dari
tangannya dia itu !" katanya. "Aku tidak sangka bahwa dia
justru memerintahkan aku melakukan apa yang aku telah
berbuat atas dirimu ini!"
"Sudah, jangan kau sebut pula urusan kita barusan !" It
Hiong mencegah. "Sekarang mari bicara tentang dirimu ! Kau
tahu, kau masih tetap terancam maut. Tidak nanti mereka
madah saja membebaskanmu !"
Nona itu memperlihatkan tampang duka tetapi ia
menggertak gigi dan berkata dengan keras. "Mereka boleh
menebas kutung tubuhku menjadi dua potong ! Mereka boleh
berlaku itu sembarang waktu ! Aku tidak takut !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kata-kata bersemangat itu membangunkan juga
semangatnya si anak muda. Dia kagum sekali yang seorang
nona bernyali demikian besar. Bukankah nona itu tak usah
kalah dari kebanyakan pria ? Maka ia lantas berkata sungguhsungguh
: "Nona, telah aku bilang hendak aku membantu kau
! Akan kau membantu kau lolos dari tangannya si bajingan
jahat ! Sekarang aku ketahui bahwa kaulah orang baik-baik
yang telah terjatuh ke dalam tangan orang jahat. Maka akan
kau lakukan segala apa guna membuktikan janjiku ! Tak nanti
aku hiraukan ancaman golok atau kapak di batang leherku !"
Si nona nampak senang sekali mendengar janji itu. Tetapi
di saat ia hendak memberikan jawabannya, tiba-tiba terdengar
suara parau yang datangnya dari pojok ruang, disusul dengan
tawa dingin serta kata-kata ini : "Di depan seorang wanita,
kau bicara enak saja ! Bocah she Tio, apakah kepandaianmu ?
Cara bagaimana kau dapat membantu jiwanya budak hina
dina itu ?"
It Hiong mendongkol sekali.
"Aku bukannya orang yang berjumawa dengan
kepandaianku !" sahutnya nyaring. "Akan tetapi menghadapi
bangsa sesat dan jahat, aku bersumpah tak akan hidup
bersama-sama dengannya !"
Suara parau di pojok itu terdengar pula. Kali ini nadanya
dingin : "Murid yang dididik Tek Cio si imam tua sungguh
bersemangat ! Melihat kau, lohu senang sekali ! Maka itu
mengingat akan kepandaianmu, suka aku memberi ampun
padamu ! Supaya kau dapat hidup terus. Kau tahu diri atau
tidak ?"
Suara itu terdengar tegas tetapi wujud orangnya tidak
tampak.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Saking murka, It Hiong mendelik mengawasi ke pojok. Kata
dia bengis : "Sudah, jangan kau bicara seenaknya saja ! Jika
kau berani, kau keluarlah ! Kenapa kau membawa lagak
bajinganmu, main sembunyi di tempat gelap ? Kenapa kau
takut dilihat orang ?"
Orang dengan suara parau itu terdengar pula suaranya.
Nyatanya dia tidak mendongkol atau gusar walau It Hiong
telah mendampratnya. Ketika dia berkata pula, suaranya tetap
perlahan, tetap dingin.
"Apa yang lohu bilang menyayangi kau." demikian katanya.
"Itu bukan berarti aku menyayangi kepandaianmu, aku hanya
menyayangi keberanianmu ! Kau bersemangat, itulah
menyenangi aku!"
It Hiong sangat mendongkol. Ia meluncurkan tangannya ke
pojok tembok itu. Itulah serangan di udara terbuka. Maka
gempurlah sinar-sinar hijau yang nempel ditembok itu.
"Oh, orang tak tahu mati atau hidup !" terdengar pula
suara parau, datangnya dari pojok yang lainnya. "Kau baik
dengar dahulu aku bicara sampai habis. Baru kau umbar
napsu amarahmu ! Belum terlambat, bukan ?
It Hiong segera memutar tubuh tanpa berkata apa-apa. Ia
hendak menyerang pula ke arah pojok dinding itu, atau
mendadak ia membatalkannya karena ia insyaf, ia berada di
tempat terbuka dan terang. Sebaliknya musuh tidak dikenal itu
di tempat gelap. Itulah berbahaya untuknya. Laginya, dengan
mengumbar hawa amarahnya, ia menjadi membikin keruh
otaknya sendiri. Itulah satu pantangan besar kaum rimba
persilatan ! Maka juga dengan hati bercekat, ia lantas
menyabarkan diri.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kau hendak bicara apa ?" kemudia ia menegur, sabar.
"Bicaralah, akan aku mendengarnya !"
"Oh, bocah she Tio." kata suara itu. "Bagus sekali. Disaat
bergusar kau dapat menentramkan hatimu ! Hanya sayang
kau telah keliru berguru hingga kau tidak dapat mempelajari
ilmu yang luar biasa mujizatnya. Dengan apa kau dapat
membunuh orang tanpa orang dapat melihatmu !"
It Hiong menahan marah hingga tubuhnya menggigil. Ia
memang paling benci mendengar orang menghina gurunya. Ia
mengepal keras kedua tangannya. Ia terus berdiri diam, cuma
matanya dipasang, telinganya siap sedia.
Si suara parau itu tertawa dingin berulang-ulang. Lagi-lagi
dia memperdengarkan suaranya yang tidak sedap : "Kau tahu,
kau beruntung sekali yang kau telah berhasil melintasi
benteng-bentengku, benteng tarian bajingan langit dan
nyanyian daging sakti..."
Mendengar suara itu, mukanya si nona menjadi pucat. Ia
tidak berkata apa-apa. Tetapi dia menarik ujung bajunya si
pemuda, membuat si anak muda datang dekat satu tindak
padanya.
It Hiong membiarkan nona itu.
"Kau telah bicara habis atau belum ?" tanyanya pada si
suara parau yang orangnya tak nampak itu.
Si parau tidak menjawab. Dia hanya melanjutkan katakatanya
: "Untung bagus kau ini bocah she Tio. Itu adalah
pemberian orang lain ! Itulah bukan disebabkan kepandaian
tenaga dalammu yang mahir......"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Manusia pengecut !" It Hiong mendamprat. "Kau takut
bertemu orang, maka juga cuma suaramu saja yang terdengar
! Itu pula kata-kata yang takut menemui orang ! Apakah
artinya tarian Bajingan Langit dan nyanyian Daging Sakti ?
Pengaruh apakah keduanya memiliki ? Apakah kau sangka
tarian dan nyanyian itu dapat merintangi aku ? Hm !"
Mendengar suaranya si anak muda, si nona diam-diam
mengangguk sendirinya. Ia menganggap anak muda ini gagah
dan laki-laki sejati. Bicaranya terus terang. Pemuda itu pun
tidak cabul. Ia menjadi sangat mengaguminya.
"He, bocah !" kata pula si parau itu. "Apakah kau masih
tidak mengenal budi ? Bagaimana aku telah memberi hadiah
padamu ? Kau rupanya telah melupakan diri dan menjadi
takabur sekali !"
"Apakah artinya kata-katamu ini, sahabat ?" It Hiong tanya.
"Siapa bilang aku mendapat hadiah? Aku bebas dari tarian dan
nyanyianmu karena kepandaianku sendiri ! Tidak ada orang
yang membantui dan menolongku ! Kau bicaralah !"
Tiba-tiba si nona berbisik : "Itulah gurumu, tuan !" Habis
itu dia pun tertawa.
It Hiong tidak berkatai apa-apa, ia hanya mengangguk.
"He, bocah. Kau rupanya sudah lupa !" terdengar pula si
parau itu. "Kau tahu nama lohu ?" Dia terus menyebut dirinya
lohu, si tua yang harus dihormati. "Namaku itu pada beberapa
puluh tahun dahulu sudah menggetarkan rimba persilatan !
Itulah sebab lihainya obat yang aku buat ! Ketika itu, tidak ada
seorang juga yang dapat menentang aku. Kalau toh ada satu
orang, dialah si keledia gundul bernama Pek Yam dari kuil Bie
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lek Sie ! Dan itu peles hijau kecil ditubuhmu, itu tentulah obat
Wan Ie Jie miliknya keledia botak itu ! Maka juga, untuk
bagusmu hari ini adalah untung bagus hadiah dari si keledia
gundul Pek Yam itu ! Nah, kau mengaku atau tidak ?"
It Hiong telah bertemu dengan pendeta dari biara Bie Lek
Sie itu. Ia pula telah diberikan itu satu peles obat pemunah
racun yang mustajab. Walaupun demikian, ia masih belum
ketahui namanya si pendeta. Karena sang alim tidak mau
menyebutkan namanya, ia juga tidak berani menanyakannya.
Sampai di sini si parau itu menyebutkan nama orang !
Di dalam kalangan Siauw Lim Pay atau biara Siauw Lim Sie,
pendeta tingkat tua dari turunan huruf "Pek" sudah tinggal
beberapa orang lagi saja. Maka itu, Pek Yam ini mestinya
saudara seperguruan dari Pek Cut Taysu. Mungkin dia suheng
atau sute, kakak atau adik seperguruan ketua Siauw Lim Sie
itu.
Mengetahui namanya si pendeta yang telah melepas budi
padanya itu, It Hiong girang sekali. Sendirinya ia lantas
menaruh hormat. Setelah itu ia kata pada si parau : "Memang,
aku lolos dari bahaya tarian dan nyanyian karena
pertolongannya obat LoSiansu Pek Yam dari Bie Lek Sie itu.
Akan tetapi gelarannya loSiansu, tidak aku tahu. Karena ia
belum pernah menyebutkannya. Kau ketahui gelerannya
loSiansu, cianpwe ? Bagaimana sebabnya itu ? Maukah kau
memberi keterangan padaku ?"
Karena orang menyebut namanya Pek Yam, It Hiong jadi
memanggil cianpwe -- orang dari tingkat tua -- pada si parau
ini.
Si parau tertawa secara jumawa.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Eh, bocah. Berapa luaskah pengetahuanmu ?" tanyanya.
"Bagaimana sekarang kau berani menantang lohu ?"
It Hiong tidak puas. Ia menanya kemana, dijawabnya
kemana. Maka itu, dengan sungguh-sungguh, dengan suara
nyaring ia kata : "Cianpwe, si sesat dengan si lurus tidak dapat
berdiri atau hidup bersama ! Aku Tio It Hiong, memang aku
tidak memiliki kepandaian yang berarti. Akan tetapi tetap
hendak aku membasmi kawanan bajingan guna menegakkan
keadilan ! Pendeknya, tidak dapat aku menahan sabar
membiarkan orang-orang yang biasa menggunakan racun
secara sewenang-wenang hidup malang melintang di dalam
dunia Kang Ouw ini !"
Si parau bersuara pula, agaknya dia gusar.
"Sudah, jangan mengoceh tidak karuan." dia membentak.
"Aku tanya kau, bagaimana kepandaianmu dibanding dengan
si rahib tua Tek Cio ?"
Kembali It Hiong menjadi mendongkol. Tek Cio Siangjin,
gurunya itu, disebut secara demikian memandang rendah !
Bukankah gurunya itu menjadi salah satu dari Sam Kie, tiga
orang berilmu dijamannya itu ?
"Sudah !" bentaknya. "Sekarang mari kau coba ilmu Hianbun
Patkwa Kiam dari guruku itu !"
Lantas It Hiong menghunus pedangnya untuk diputar.
Si parau menyambut dengan tawa dingin.
"Lohu tidak memikir menurunkan derajatnya dengan
melayani menempur kau si orang muda dari tingkat rendah !"
demikian katanya mengejek. "Aku pula tidak memikir akan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bicara lebih banyak pula denganmu ! Sekarang aku
membiarkan kau dapat hidup lebih lama sedikit. Nah, kau
larilah ke belakang untuk melihat-lihat di sana !"
Habis si parau berkata, maka sunyilah ruang itu. Sebaliknya
lewat sedetik, maka di sebuah pojok tampak terpentangnya
sebuah pintu yang kecil.
Melihat pintu itu, It Hiong segera berpaling pada si nona
berbaju hijau. Agaknya ia ingin bicara atau menanya. Akan
tetapi ia ragu-ragu.
Nona itu melihat gerak geriknya si anak muda, dia cerdik,
dia lantas mengerti. Maka ia lantas berkata : "Di belakang
ruang itu ada sebuah lorong yang menembus sampai ditanah
datar di kaki puncak. Mungkin itulah jalan untuk turun gunung
!"
Alisnya si anak muda bangkit.
"Kita jangan hiraukan itu !" katanya nyaring. "Mari kita
maju !"
Dengan tangan kanan bersiap dengan pedangnya dan
tangan kiri mencekal tangan halus lembut si nona, It Hiong
lantas berjalan berendeng menghampiri pintu kecil itu untuk
memasukinya. Ia melihat suatu tempat mirip gua dimana
terdapat sinar terang yang lemah. Segala sesuatu tampak
cukup nyata. Ke empat dinding temboknya tidak rata dan ada
celah-celah atau renggangan dimana molos sinar terang. Di
atas --pada langit-langit-- terlihat stalakmit yang merakar ke
bawah, panjang dan pendeknya tidak rata. Tempat itu demek
dan mendatangkan rasa dingin. Jadi tempat itu beda seperti
langit dan bumi dibanding dengan ruang besar tadi.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Nona, pernahkah kau datang kemari ?" tanya It Hiong
selekasnya kakinya melangkah masuk.
Si nona bukannya menjawab, dia justru menjerit. Eh,
kenapa dapat berubah begini ? Kenapa berubahnya begini
cepat ?"
Mendengar itu, insaflah It Hiong yang mereka sudah kena
perangkap. Maka segera ia memutar tubuh atau ia menjadi
kaget ! Pintu yang barusan itu sudah lenyap ! Pintu tertutup
tanpa suara apa-apa !
Si nona sebaliknya kaget hingga dia menjerit. Maka tahulah
si anak muda yang nona ini masih hijau pengalamannya. Maka
ia lantas menghibur dengan suara perlahan : "Jangan takut,
nona ! Di dalam keadaan seperti ini hilang jiwa juga jangan
kita gentar ! Segala apa sudah terlanjur, kita harus besarkan
hati ! Apakah yang harus ditakuti ? Walaupun pesawat mereka
lihai, mereka tak akan dapat berbuat apa-apa terhadap
pedangku ini ! Seluruh tubuh kita adalah jadi merah !"
Dengan memasang matanya, It Hiong segera mengawasi
tajam ke empat penjuru. Ia tidak percaya ruang itu tidak
mempunyai jalan keluar. Di lain saat maka ia melihat sesuatu
yang mencurigai. Di dinding tampak menonjol sepotong
rebung batu warna hijau. Besarnya seperti jeriji tangan.
Biasanya batu semacam itu tidak akan menarik perhatian,
tidak demikian bagi pemuda kita.
Juga si nona baju hijau yang turut memasang mata melihat
batu itu. Ia pula melihat perhatiannya si anak muda.
"Tuan, apakah tuan hendak mengambil batu itu ?"
tanyanya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong menjawab perlahan sekali. "Mungkin batu itu
alatnya pesawat rahasia..... Mungkin juga orang telah
menaruh racun hingga tak dapat orang merabanya...."
Si nona mengawasi tajam.
"Nanti aku coba." katanya. "Kita tak dapat terlalu lama
berdiam disini."
Berkata begitu, si nona melepaskan tangannya dari cekalan
It Hiong. Terus ia berduduk bersila di tanah untuk
bersemadhi. Kedua matanya dipejamkan.
It Hiong berdiri di sisi si nona. Ia pun memusatkan
perhatiannya. Ia meluruskan otot-ototnya. Ia bernafas dengan
perlahan-lahan. Satu kali ia ingat Kiauw In dan Giok Peng,
tiba-tiba saja pikirannya menjadi terganggu. Ia tak tahu
bagaimana dengan mereka itu. Ingat Giok Peng, terus ia ingat
Hauw Yan, puteranya. Karena pikirannya tidak tenang itu,
lantas ia teringat juga kepada Tan Hong dan Ya Bie...
Syukur Tan Hong dan Ya Bie dapat kembali ke jalan
lurus.... demikian pikirnya.
Lalu ia ingat juga Hong Kun. Hebat kawan itu yang menjadi
saingan dalam asmara hingga mereka berdua menjadi musuh
satu dengan lain. Atau tegasnya, Hong Kun yang
memusuhkannya hingga ia mau dibikin celaka.
"Dia tersesat, dia harus dibinasakan." pikirnya lebih jauh.
"Tapi dialah bekas sahabatku, pantas kalau dia diberi maaf."
Kemudian It Hiong ingat gerakan Bu Lim Cit Cun. Itulah
pergerakan besar dan berbahaya yang dapat merusak dunia
Kang Ouw atau Bu Lim. Saatnya pertemuan sudah mendatangi
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
semakin dekat. Sebaliknya pedang Keng Hong Kiam masih
juga belum di dapat pulang. Pedang itu sangat perlu guna
menaklukan para pengacau sungai telaga itu....
"Dan sekarang aku lagi menghadapi Tok Mo yang lihai
ini......" pikirnya pula.
Tanpa merasa, anak muda kita menghela napas dalamdalam.
Karenanya pemusatan pikirannya menjadi buyar.
"Ah !" serunya kemudian.
Tengah bermasgul itu, It Hiong lantas merasai hawa rada
hangat. Segera ia sadar pula. Maka ingatlah ia yang tidak
dapat berdiam lebih lama pula di dalam sarang lawan.
Kemudian It Hiong menoleh kepada si nona berbaju hijau.
Nona itu masih terus duduk bersila tanpa bergeming. Matanya
terus dipejamkan. Terang nona itu tengah memusatkan
perhatiannya. Melihat keadaan si nona, ia merasa berpikir....
Ingat akan keadaan dirinya, It Hiong lantas memikir jalan
buat meloloskan diri. Pertama-tama ia melihat dua jalan. Satu
ialah menggempur pintu atau tembok buat keluar dengan
paksa. Satu lagi ialah mencari dan menemukan pintu rahasia.
Pintu rahasia sukar dicari. Pintu batu itu mestinya sangat
tangguh hingga tak mudah didobrak dengan kekuatan
tenaga......
Sesudah berpikir keras sekian lama, It Hiong bertindak
menghampiri batu menjol itu. Ia sudah mengulur tangannya
akan memegang batu itu atau segera ia menarik pulang
tangannya itu. Tiba-tiba ia ingat kalau-kalau batu itu ada
racunnya. Kalau ia terkena racun, bisa-bisa ia roboh atau
mungkin jiwanya akan melayang pergi.....
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sesaat itu, It Hiong lupa yang ia telah menelan Wan Ie Jie,
obat si pendeta dari biara Bie Lek Sie.
Tapi sehabis menarik tangan kirinya, It Hiong sebaliknya
meluncurkan pedangnya di tangan kanan. Ujung pedang
disentuhkan kepada batu itu. Nyata batu itu nancap keras,
pedang tak dapat membuatnya bergeming. Batu itu pula licin
seperti memangnya sudah lama berada disitu. Hanya adakah
itu batu wajar dan bukannya dipasang oleh tangan manusia ?
Di awasi sekian lama, batu itu tidak memperlihatkan
sesuatu yang mencurigai.
"Mungkinkah ini bukannya alat rahasia ?" pikir anak muda
kita. Ia agak menyesal. Tapi ia penasaran. Ia mengawasi lebih
jauh. Formasi batu luar biasa sekali. Tak mungkin batu itu
wajar saja berada disitu ! Batu lainnya tidak ada yang seaneh
itu !
Lalu dengan ujung pedangnya, It Hiong membentur batu
itu pergi dan pulang, ke kiri dan ke kanan, dari perlahan
sampai keras. Masih batu rebung tetap tak berkutik !
Kemudian It Hiong menekan batu dengan ujung pedang,
dari perlahan sampai keras. Maka itu dengan sendirinya ujung
pedang melesak ujungnya sedikit ke dalam batu. Karena itu,
terdengarlah suara batu tergorok pedang.
Anak muda kita bercuriga, telinganya pun terang sekali.
Kapan ia mendengar suara goresan itu, kecurigaannya
menjadi bertambah. Maka akhirnya ia mau percaya, batu itu
memang pesawat rahasia. Hanyanitu alat ini terpasang
dengan kuat sekali hingga tak mudah tergoyah.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tidak bersangsi pula, It Hiong mengerahkan tenaga
dalamnya, lengan kanan. Ia tidak mau berlaku sembrono.
Tenaganya ditambah sedikit demi sedikit. Tak lama maka
terdengarlah satu suara keras, suara menjublaknya pintu
rahasia. Maka dihadapan mereka berdua terbentanglah
sebuah pintu !
It Hiong girang bukan main. Mau ia memanggil si nona
berbaju hijau yang sejak tadi duduk bersila terus. Justru ia
berpaling, justru si nona maju padanya hingga mereka hampir
saling bertabrakan, muka mereka hampir menempel satu
dengan lain !
Dua-dua muda mudi itu terkejut, mereka melongo saling
mengawasi. Mulut mereka tertutup rapat. Barusan si nona
mendengar suara menjublak, dia membuka matanya. Melihat
pintu rahasia, dia girang tak terkirakan. Lantas dia berlompat
bangun dan lari pada si anak muda, justru anak muda itu
berpaling hingga hidung mereka hampir beradu !
It Hiong lekas juga menentramkan hati. Ia pun dengan
berani lantas memutar tubuh pula. Buat bertindak masuk ke
dalam pintu rahasia itu.
Si nona mengikuti tanpa berkata apa-apa.
Keduanya berlaku waspada.
It Hiong mendapatkan dirinya berada di dalam sebuah
kamar yang empat penjuru dindingnya berbatu granit. Kedua
sisi tembok tidak ada jendelanya. Ruang pun kosong, bahkan
tanpa kursi atau meja. Cuma nempel pada tembok terdapat
sebuah pembaringan yang hitam mengkilat, entah terbuat dari
kayu atau semacam logam. Di atas pembaringan itu duduk
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
numprah seorang tosu, rahib Agama To, melihat siapa anak
muda kita menjadi heran hingga ia terus menatap.
Tosu itu sudah berusia lanjut. Dia mengenakan jubah putih,
tubuhnya tegak, mukanya merah segar, rambutnya sudah
putih seluruhnya sedangkan alisnya panjang. Ketika itu dia
duduk samil memejamkan mata.
Yang membuat It Hiong heran ialah ia kenali tosu itu
adalah Tek Cio Siangjin, gurunya sendiri !
Maka anehlah yang gurunya berada di tempat itu hingga ia
terus mengawasi dengan dadanya bergelombang sebab
jantungnya memukul keras. Sudah banyak tahun karena
perantauannya, ia tak bertemu gurunya itu hingga ia pun tidak
tahu gurunya berada dimana. Segera timbul rasa hormatnya,
tanpa ragu pula ia menekuk lutut di depan tosu itu untuk
memberi hormat seraya ia memanggil perlahan : "Suhu !" Pula
tanpa merasa, saking gembiranya, air matanya turun meleleh.
Tetapi aneh adalah si guru. Beberapa kali dia dipanggil
muridnya itu, dia berdiam saja. Dia duduk tidak bergeming.
Dia seperti tidak mendengar suara orang atau kehadirannya
orang lain di dalam kamar itu.
Si nona berbaju hijau berdiri di sisinya It Hiong. Ia pun
mengawasi saja si tosu hingga ia melihat dan mendengar
dengan nyat. Karena si tosu berdiam saja, timbullah rasa
anehnya. Sendirinya ia menjadi bercuriga.
"Kakak." katanya pada It Hiong sesudah ia menantikan
sekian lama pula. "Kakak, coba kau perhatikan ! Coba kakak
lihat, tosu itu masih hidup atau sudah mati !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tidak cuma berkata, si nona pun memegang lengannya si
anak muda buat diangkat dikasih bangun terus ia berkata pula
: "Kakak, apakah kakak tidak merasa aneh ? Bukankah guru
kakak seorang pertama yang lurus ? Kenapa ia justru datang
kemari dan berdiam disini ?"
It Hiong menepas air matanya. Ia lantas berpikir. Benar
kata-kata si nona. Gurunya itu bersikap aneh. Tak biasanya
gurunya pendiam sedangkan ia tahu benar, biasanya guru itu
ramah tamah.
"Kau benar juga, nona....." katanya perlahan.
Sambil mengawasi tajam, It Hiong menghampiri gurunya
itu lebih dekat. Ia meneliti rambut dan muka orang. Ia merasa
tak salah lagi, tosu itu benar gurunya.....
"Suhu !" ia memanggi pula. Kembali ia menekuk lutut.
"Suhu, maafkan muridmu ! Aku telah mengganggu pertapaan
suhu ! Suhu, tolong suhu membuka matamu, melihat pada
muridmu ini....."
Kembali si murid menangis, walau tanpa suara.
Si tosu terus duduk bagaikan patung. Ia tak bergerak, tak
membuka matanya, tak mengatakan sesuatu. Dia bagaikan
tak mempunyai perasaan.
Dari berlutut It Hiong mendekam di lantai. Ia bingung. Ia
juga lantas ingat segala sesuatu yang telah berlalu selama ia
berdiam di Pay In Nia melayani gurunya itu pada siapa ia
belajar silat dan surat. Guru itu menyayang dia sebagai juga ia
adalah seorang anak. Guru itu keras mendidiknya tetapi belum
pernah ia ditegur atau dirotani. Maka heran sekarang,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menghadapi murid kesayangannya, guru itu berdiam saja
sebagai patung.
"Mungkinkah suhu tengah bersemadhi sampai di bagian
yang paling genting ?" demikian si murid berpikir. "Kalau
benar, kalau kena terganggu, suhu bisa celaka karena
kegagalannya. Inilah berbahaya......"
Diam-diam It Hiong mengeluarkan peluh dingin, hatinya
berdebaran.
It Hiong menyesal sekali, maka ia terus mendekam tanpa
berkutik. Tapi pikirannya terus kacau. Ia heran dan bingung,
ia ragu-ragu...
Karena semua orang berdiam, kamar menjadi sunyi seperti
semula tadi.
Si nona berbaju hijau berdiri mematung, matanya
mengawasi It Hiong. Ia pun heran hingga ia berpikir keras.
Dengan lewatnya sang waktu, It Hiong mulai dapat
berpikir. Ia ingat kata-kata si nona yang meragukan gurunya
itu. Memang, kenapa gurunya bertapa di tempat rahasia itu
yang menjadi sarang si bajingan ? Itulah tak mungkin, bukan
? Hek Sek San bukan tempat yang cocok dimana orang dapat
mensucikan diri. Bukankah Kiu Hoa San jauh terlebih baik ?
Saking heran, pikirannya si anak muda menjadi kacau.
Hingga ia mau menerka, pa-apa yang tak menjadi, lantaran
kejujurannya, gurunya itu telah kena orang akali hingga dia
kena makan racun dan karenanya menjadi terpengaruhkan
orang jahat.
Giris memikir demikian, It Hiong menggigil saking berkuatir.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tidak ! Tidak mungkin !" ia berseru tanpa disengaja.
"Tidak mungkin !"
Kembali murid ini mengangkat kepalanya, mengawasi
gurunya itu. Kembali air matanya menetes jatuh !
Si nona berbaju hijau terperanjat.
"Kakak !" serunya. "Kakak, kau kenapakah ?"
Si nona kaget karena menyaksikan lagak orang serta
mendengar seruannya itu.
Segera It Hiong berlompat bangun, matanya mengawasi ke
seluruh kamar. Sekarang ia telah berpikir tetap. Matanya pun
bersinar berapi.
"Jahanam yang malu bertemu orang !" demikian katanya
keras. "Kenapa kau bersembunyi saja? Kalau kau benar
mempunyai kepandaian, perlihatkan dirimu ! Mari kau
bertempur denganku, Tio It Hiong !"
Nadanya itu mengandung penasaran.
Segera terdengar jawaban parau yang dingin : "Kepandaian
? Kau mau bertempur ? Hm ! Oh, bocah tak tahu hidup atau
mati ! Memangnya kau sudah bosan hidup ?" Suara itu
mendengung di dalam kamar itu. Baru suara itu lenyap, lantas
terdengar pula sambungannya : "Bocah ! Kau telah melihat
tegas atau tidak ? Kau mau menempur aku ? Hm ! Lihat
gurumu itu, Tek Cio si hidung kerbau ! Dia tersohor kosen
tetapi dia toh tak mampu lolos dari tanganku ! Telah aku
tahan dia, telah kukurung disini ! Bagaimana kepandaian
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
gurumu ? Jangan kau membuat lohu gusar, itu cuma berarti
kau meminta mampusmu saja !"
Suara tak sedap itu ditutup dengan suara batuk-batuk
kering !
Bukan kepalang gusarnya It Hiong. Dadanya bergolak,
matanya berapi, alisnya pun berdiri.
"Jika kau benar berani, muncullah !" bentaknya. "Kalau kau
berani bertanding hidup mati denganku, barulah kau benarbenar
mempunyai kepandaian !"
"Hm ! Hm !" demikian suara mengejek tawa, jawaban
lainnta tidak ada. Baru lewat sejenak, si parau itu berkata :
"Kau mau menempur aku ? Hm ! Kau tahu, hari ini aku mau
berurusan dengan Tek Cio si hidung kerbau ! Kau mengerti !"
"Iblis !" seru It Hiong. "Iblis !"
"Bocah, kau harus mengerti !" kata si suara parau. "Kau
tahu bocah, aku minta keadilan !"
"Kau mengoceh saja !" bentak It Hiong. "Keadilan apa yang
kau minta ?"
Si parau tertawa. Tapi kemudian dia menghela napas.
"Buat aku menjelaskan bocah, itulah suatu cerita panjang."
katanya. "Kalau aku tidak menuturkan kau tentunya tidak
tahu. Itulah satu peristiwa yang menyedihkan. Karena itu,
keadilan pun telah terpendam......"
"Jangan kau mengoceh saja !" It Hiong membentak. "Lekas
kau perlihatkan dirimu. Lekas kau beri keterangan padaku !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ingat, Tio It Hiong dapat menggempur kamar ini dan
menginjak rata sarangmu !"
Dalam sengitnya, si anak muda menikam kepada dinding
hingga batu granitnya gempur dan rontok.
"Jangan galak, bocah !" kata si suara parau. "Kau dengar
dulu ceritaku ! Di saat aku bercerita habis, itu pula saatnya
jiwamu lenyap !"
Mendengar itu, si nona berbaju hijau menarik ujung
bajunya si anak muda terus dia berbisik : "Kakak, tidak ada
halangannya untuk mendengarkan ceritanya......."
"Hm !" It Hiong perdengarkan suara tawar, lantas ia
berdiam. Cuma pedangnya yang disiapkan.
Kembali terdengar suara parau tadi.
"Nah, dengan berlaku begini barulah artinya kau tahu
selatan !" demikian katanya. "Kalau kalian mengerti ceritaku,
itu pun ada baiknya....
It Hiong berdiam saja, juga si nona. Si anak muda
menyabarkan diri.
Suara parau itu terdengar pula, nadanya sedikit lain. Suara
itu lebih keras.
"Cerita yang hendak aku tuturkan ini adalah peristiwa pada
empat puluh tahun dahulu !" demikian si parau mulai. "Itulah
cerita yang menyedihkan dan hebat. Maka itu lohu demi
pembalasan dendam sudah membunuh juga membinasakan
beberapa orang Kang Ouw. Semua itu guna meminta keadilan
! Kau tahu, perbuatanku itu telah menarik perhatiannya apa
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
yang dinamakan kaum sadar dan lurus ! Mereka para ketua
dari sembilan partai besar. Mereka itu mencari dan mengejarngejar
lohu, yang mereka hendak binasakan ! Di antara
mereka itu terhitung juga Tek Cio si hidung kerbau, gurumu
itu bocah !"
Dia berhenti sebentar, terdengar dia menghela napas.
"Ketika itu," begitu dia melanjuti. "Lohu berada seorang
diri. Tidak dapat lohu melawan mereka. Kau tahu, jumlahnya
mereka belasan dan semuanya orang-orang tersohor !
Seorang diri lohu diperhina mereka itu ! Apa juga mau
dibilang, buatku ialah lohu mesti melindungi diriku. Karenanya
lohu selalu membela diri sambil mundur setapak demi setapak.
Tapi mereka itu telengas sekali, terus-terusan lohu dikejar
mereka. Akhirnya lohu telah di desak sampai di tepi jurang es
di gunung Thian San. Adalah gurumu, si hidung kerbau itu
yang mengandalkan ilmu pedangnya yang lihai telah memaksa
aku mundur ke tepi jurang itu. Disitulah kesembilan ketua
partai tidak lagi menghormati sopan santun kaum Kang Ouw.
Berbareng mereka menyerang lohu dengan pengerahan
tenaga dalam mereka. Tak lagi lohu berdaya. Maka robohlah
lohu ke dalam jurang ! Dasar orang baik dilindungi Tuhan,
lohu tak mati walaupun lohu telah terlempar ke dalam jurang
itu. Lohu roboh terasangkut di sebuah pohon besar dan lebat,
dimana selembar jiwaku ketolongan........."
lagi si parau berhenti sebentar. Lewat sejenak baru ia mulai
pula. "Sejak itu lohu hidup di dalam penderitaan. Lohu
mencari hidupku dan ilmu kepandaian pula. Lewat belasan
tahun, barulah lohu muncul pula dalam dunia Kang Ouw.
Demikianlah kali ini, lohu berhasil membekuk Tek Cio si hidung
kerbau dan mengurungnya disini. Meski begini, lohu tidak
menghendaki jiwanya. Lohu menaruh belas kasihan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
terhadapnya. Sebaliknya, lohu mau mencari penggantinya dari
siapa lohu hendak meminta keadilan ! Dan itulah kau !"
Kembali dia berhenti, lalu batuk-batuk. Agaknya dia puas
sudah dapat menutur lakonnya itu. Dia pun mengeluarkan
napas lega. Setelah itu dia kata pula : "Nah, bocah.
Bagaimana pikirmu sesudah kau mendengar peristiwa hebatku
ini ? Sekarang ini maksudku yang utaman yang ingin lekaslekas
aku lakukan ialah membalas sakit hati itu. Dan itu
mungkin soal paling menyedihkan untukmu ! Bocah,
bagaimana kau pikir andiakata kita balik keadaan kita ini ? Kau
menjadi aku dan aku menjadi kau. Bagaimana kau hendak
bertindak ?"
It Hiong mendongkol sekali.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis 20 Selingkuh : Iblis Sungai Telaga ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 27 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments