Cerita Silat Online Terbaik terbaru : Jinsin Tayhiap 3

Cerita Silat Online Terbaik terbaru : Jinsin Tayhiap 3
Cerita Silat Online Terbaik terbaru : Jinsin Tayhiap 3

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Silat Online terbaru : Jinsin Tayhiap 3 - Cerita Silat Online Terbaik terbaru : Jinsin Tayhiap 3

baca juga:
Hoa-mei ambruk ketanah, dan lima lawanya segera memburunya dengan pukulan dan senjata, hoa-moi tersudut bersandar dipohon “kreeek……kreekkkk..berhentiii……!” suara teriakan seekor rajawali yang disusul sebuah teriakan luar biasa membuat lima lawan itu bergetar sehingga terjungkal, namun sebuah jarum tok-lian yang meluncur menembus betis hao-mei sementara yang jarum yang lain rontok, dalam sekejap burung rajawali melintas dan sebuah tubuh manusia meluncur luar biasa ke arah pertempuran, Kwaa-han-jin berdiri tegak membekangi hoa-mei, enam lawan itu langsung melarikan diri setelah menyadari siapa yang datang, Kwaa-han-jin menghadap Hoa mei yang lemah tersandar, mata keduanya saling bertatapan, Kwaa-han-jin yang berkebetulan menuju Wuhan untuk menemui enciknya Hoa-mei, melihat pertempuran menjelang akhir itu dari atas, sama hal dengan rajawalinya, sehingga rajawali itu memekik yang disusul teriakan Kwaa-han-jin.
Kwaa-han-jin sebagaimana kita ketahui berada di Taiyuan bersama enciknya swat-hong, kehidupan Bao-san berubah drastis, saat umur kandungan swat-hong sembilan bulan, ia melahirkan anaknya di rumah baru dan megah dengan
201
beberapa pembantu, kelahiran bayi laki-laki disambut oleh Bao-san dengan tangis bahagia, Swat-hong ternyata selamat melahirkan bayinya walaupun umurnya saat itu lima puluh tahun, Bao-san menciumi istrinya, sementara Kwaa-han-jin sedang berada disalah satu toko Bao-san dikawasan selatan, saat sore hari Kwaa-han-jin disambut Bao-san dengan wajah gembira “Jin-te..cepat keponakanmu sudah lahir tadi siang, ayok..” seru Bao-san, secercah senyuman menghias wajah Han-jin, dengan hati bahagia ia mengikuti Bao-san kedalam kamar
“jin-te ..” seru swat-hong memanggil adiknya saat muncul dipintu, Han-jin mendekati kakaknya “bagaimana keadaanmu cici, baik-baik, bukan ?” tanya Han-jin sambil memegang jemari kakaknya “berkat doamu adikku, aku baik dan selamat.” Jawab Swat-hong dengan berkaca-kaca “hehehe….hehhee..syukurlah cici, aih kepoanakan..” ujar han-jin sambil merengkuh keponakannya yang tidur disamping swat-hong “laki-laki apa perempuan cici ?” tanya Han-jin “keponakanmu laki-laki jin-te.” sela Bao-san dengan senyum “hahaha..heheh..hmh…harumnya keponakanku.” ujar Han-jin sambil memnciumi keponakannya
“jin-te keponakanmu belum diberi nama, saya dan encikmu sepekat supaya kamu menamainya.” ujar Bao-san. “aku yang akan memberi nama twako ?”
202
“benar jin-te, siapakah nama keponakanmu ?” sela Swat-hong :hmh…sebentar aku pikir saat aku mandi.” sahut Han-jin memberikan bayi pada Bao-san, lalu ia pergi keluar dan mandi, setelah mandi Han-jin datang lagi “sudah kamu dapat nama keponakanmu jin-te ?” tanya swat-hong “sudah cici, aku sudah dapat nama untuk keponakanku.” “siapakah namanya Jin-te ?” sela Bao-san “namanya adalah Bao-jin-han.” jawab Han-jin “hehehe….hahaha…nama yang bagus jin-te, itu serapan dari namamu sendiri yang dibalik.” ujar Bao-san, Han-jin mengangguk sambil senyum.
Keesokan harinya Kwaa-goat-niu dan suaminya Tang-tihu datang menjenguk kelahiran adik misannya, “jin-siok…! seru goat-niu ketika melihat paman mudanya sedang bicara dengan pelayan “hehehe..goat-niu kalian sudah datang. “benar siok, bagaimana keadaan bibi hong ?” tanya goat-niu “keadaan bibimu baik, dia sedang berada dikamar beserta pamanmu Bao-twako.” sahut Han-jin, Goat-niu adalah putri sulung dari dai Kwaa-kun-bao di pulau kura-kura, suaminya Tang-yuan adalah tihu kota itu, suami istri itu masuk dan melihat bibi dan pamannya didalam kamar “kalian sudah datang yuan-ji !?” sapa Ba-san “benar san-siok.” sahut Tang-yuan, Goat-niu langsung mendekati bibinya swat-hong dan menggendong adik misannya “siapa nama adikku bibi-hong ?” tanya Goat-niu
203
“pamanmu han-jin memberi nama pada adikmu Bao-jin-han.” Jawab Swat-hong sambil senyum.
Tang-yuan setelah lewat siang kembali kerumah “jin-siok, kapan ke pulau kura-kura menemui ayah ?” tanya goat-niu “secepatnya paman akan kesana, dan paman masih akan berada disini setelah jin-han berumur sebulan.” sahut Han-jin “jika paman menemui ayah, sampaikan paman bahwa keadaan kami baik-baik saja.” ujar Goat-niu “tentu niu-ji, apakah kalian akan pulang ?” “benar jin-siok, kami pulang dulu.” sahut Goat-niu “baik, hati-hati dijalan yuan-ji.” ujar Han-jin, lalu tang-yuan dan goat niu masuk kekereta kuda.
Kebahagiaan Bao-san dan istri semakin semarak, harta melimpah, dan juga mendapatkan anak sebagai anugrah, Kwaa-han-jin bersyukur mendapatkan kakaknya memperoleh nikmat yang luar biasa., dan sebulan kemudian, Kwaa-han-jin pemit pada Bao-san dan swat-hong untuk berangkat ke lokyang, dengan hati bahagia Swat-hong melepas adiiknya “Jin-te, sampaikan salam rindu dariku untuk liong-te, mei-cici, bao-te dan peng-te.” “baik cici, aku akan sampaiakan jika bertemu mereka.” sahut Han-jin, kemudian ia pun meninggalkan kota Taiyuan.
204
Dua hari kemudian Han-jin sedang melintasi sebuah lembah, dan suara teriakan datang dari angkasa, Han-jin mengongak ternyata rajawali miliknya, dengan suitan ia memanggil rajawali, rajawali itu turun mendekat, Han-jin melompat dan naik keatas punggung rajawali “bagaimana keadaanmu pek-thouw ?” sapa Han-jin dekat kepala pek-thouw “kreek..krekkkk…” pekik pek-thouw nyaring, kelihatan rajawali itu senang bertemu majikannya, dia membumbung tinggi dan meliuk-likkan terbangnya menunjukkan kegembiraannya, dengan tertawa Han-jin menciumi kepala rajawali.
“pek-thouw kita kesebelah sana !” ujar Han-jin sambil menunjuk kearah selatan, burung itu meliuk kearah selatan melintasi hutan, lembah dan bebukitan, dua hari kemudian perkotaan nampak dari atas “kita kesana Pek-thouw.” ujar Han-jin sambil menjuk kota dibawah, disebuah hutan Han-jin turun “pek-thouw kamu jangan jauh dari kota ini, aku akan memanggilmu kembali..!” teriak Han-jin “krekkk..” sahut pek-thouw sambil membumbung tinggi, Han-jin berlari kearah kota yang dia lihat dari atas, dan ternyata kota yang besar itu adalah Lokyang, dengan hati senang Han-jin memasuki kita dan menuju selatan kota
“lopek boleh aku bertanya ?” tanya Han-jin “ada apa anak muda ?” sela lelaki tua penjual buah “dimanakah disini kediaman kwaa pedagang obat ?” tanya Han-
205
jin “ooh..she-taihap,, kamu lurus terus jalan ini, nah.., gang kedua setelah tikungan ada rumah bertingkat, itu rumah she-taihap.” jawab orang tua itu “baik, terimakasih lopek, oh iya tolong buah leci dan melonya dibungkus lopek.” ujar han-jin, sipedagnag dengan senyum membungkus buah leci dan melon “berapa lopek ?” “empat ketip saja anak muda.” sahut penjual “kalu begitu tolong dibuat jadi satu tahil tembaga.” ujar Han-jin, pedagang itu lalu membungkus lagi buah melon dan leci.
Han-jin berjalan sambil menenteng kantong berisi buah, tidak berapa lama ia pun sampai didepan rumah Kwaa-sin-liong, seorang pemuda tampan hampir sebaya dengan Han-jin datang menyambut, dia adalah Kwaa-tan-bouw “sicu siapa ? dan hendak bertemu siapa ?” tanya Kwaa-tan-bouw “maaf apakah ini rumah kwa-sin-liong ?” tanya Han-jin “benar sicu, dan sicu ini siapa ?” tanya Tan-bouw “aku kwaa-han-jin ingin bertemu.” Jawab Han-jin “oh..marilah masuk, saya akan memanggil ayahku.” ujar Tan-bouw sambil mempersilahkan tamunya masuk, Han-jin masuk dan duduk diberanda rumah
Tidak lama Kwaa-sin-liong dan istrinya muncul bersama Tan-bouw, Kwaa-han-jin berdiri menyambut kedatangan kakaknya dengan senyum, Kwaa-sin-liong menatap tamu mudanya
206
“Liong-ko mungkin heran dengan kedatanganku.” ujar Han-jin, mendengar panggilan pemuda itu padanya, membuat suami istri itu heran “siapakah kamu anak muda ?” “saya adalah adikmu liong-ko, nama saya Kwaa-han-jin.” Jawab Han-jin “bagaimana bisa jin-sicu, ayahku menjadi kakakmu ?” sela Tan-bouw heran “karena Kwaa-han-bu adalah ayahku.” jawab Han-jin “hah..ayah…oh…benarkah ?” sela Sin-liong pucat “benar liong-ko, aku adikmu yang lahir dimasa tua ibu kwee-kim-in.” “oh adikku. Han-jin…mari..mari jin-te bagaimanakah keadaan ayah ?” ujar Sin-liong sambil menarik adiknya masuk kedalam
“tan-bouw terkesima, demikian juga dengan ibunya “liong-ko, ibu sudah meninggal saat melahirkan aku, dan ayah juga menyusul lebih setahun yang lalu.” ujar Han-jin, kwaa-sin-liong menunduk dan terdiam sesaat sambil memejamkan mata, kemudian mata dan pipinya yang basah diusapnya dan menatap adiknya yang masih muda itu “jin-te kedatanganmu sungguh membuat aku dan keluarga bahagia, bouw-ji beri hormat pada siokmu !” ujar Sin-liong “siok ! aku tan-bouw memberi hormat dan maaf atas kelancangan tecu.” ujar Tan-bouw sambil berlutut “hehehee.. bangkitlah bouwji, tidak ada yang perlu dimaafkan, kakakmu gan-bao juga sudah bertemu denganku.”
207
“kamu sudah bertemu dengan keponakanmu gan-bao, Jin-te ?” sela Sin-liong “sudah liong-ko, bahkan dengan kwaa-hong dan Kwaa-yang-bun.” sahut Han-jin imana kalian bertemu jin-te ?” tanya Kwaa-hujin “kami bertemu di hutan kongciak soso, dan mereka telah saya bawa ketempat ayah dan ibu dimakamkan.” Jawab Han-jin “dimanakah itu jin-te ?” tanya Sin-liong “di Qingdao tepatnya di goat-kok.” jawab Han-jin “berapa umurmu sekarang Jin-te ?” tanya sin-liong “saat ini aku sudah berumur delapan belas tahun, aku sudah menemui eng-cici dan keluarga di Sinyang, dan aku juga sudah bertemu dengan Hong-cici dan keluarga di Taiyuan, dan setelah dari sini aku akan ke Wuhan atau ke pulau kura-kura, atau ke shanghai.” “hehehe..hahaha..syukurlah jin-te, perjalanan muhibah ini tentu sangat mencengangkan saudara-saudaramu yang tidak menduga keberadaan dirimu.” ujar Sin-liong. Han-jin menganguk dan tersenyum
“soso aku tadi beli buah .” ujar Han-jin sambil memberikan kantong yang ada ditangannya “hi..hi…mana jin-te, biar dibawa kebelakang.” sahut istri sin-liong, sambil tersenyum, kedatangan Han-jin sangat menyenangkan hati sin-liong dan keluarga, malam itu mereka bercerita banyak hingga larut malam, keesokan harinya Tan-bouw membawa pamannya jalan-jalan dikota lokyang, bahkan esoknya lagi Sin-liong mengajak adiknya untuk berlatih, hal
208
yang sama dirasakan Yo-seng, dirasakan Sin-liong, dan rahasianya pun dia dapat tahu setelah diberitahu Han-jin, hari keempat Kwaa-tan-bouw juga tidak mau ketinggalan, mengajak pamannya latihan.
Hari kelima Han-jin pun pamit untuk melanjutkan perjalanan, Han-jin dilepas kakaknya dengan senyuman arif, Han-jin meninggalkan kota Lokyang, dan menurut saran kakaknya sin-liong ia menuju Wuhan, Han-jin pun memenuhi saran itu, sesampai dihutan dipinggir kota lokyang, Han-jin bersuit memanggil pek-thouw, rajawali raksasa itu pun datang melintasi hutan, beberapa warga yang melihat rajawali itu berteriak-teriak melihat rajawali raksasa itu, Han-jin dari kerimbunan hutan melenting ke atas dan duduk di punggung rajawali, sekilas ia melihat kebawah bebrapa warga yang sedang menggarap sawah di pinggir hutan itu melampai padanya karena takhubnya, Han-jin membalas sambil senyum
“pek-thouw kita kesana !” ujar Han-jin sambil menunjuk ke arah selatan dari kota lokyang, ia tahu dari kakaknya bahwa Wuhan ada di wilayah barat, dengan kecepatan luar biasa pek-thouw melesat ke wilayah barat, pekikannya yang luar biasa nyaring merobek angin dan awan yang mengambang, seminggu kemudian pada saat pagi, Han-jin melintasi hutan dimana Hoa-mei dalam pertarungan yang akan menewaskannya.
“bagaimana keadaanmu nyonya ?” tanya Han-jin pada Hoa-mei “keadaanku cukup parah taihap, dan terimakasih telah
209
menyelamatkanku.” Jawab Hoa-mei “dua mayat itu siapakah nyonya ?” tanya Han-jin “yang itu mayat suamiku, aku sampai kesini untuk mencarinya, namun ternyata suamiku sudah jadi mayat, hiks..hiks..” sahut Hoa-mei dengan hati pilu dan ia pun terisak sendu, Han-jin melangkah mendekati mayat Jun-bao, dan mengangkatnya kedepan Hoa-mei yang sesugukan, lalu dengan sebuah kayu, Han-jin masuk kedalam hutan dan mencongkel tanah, dalam wakti singkat ia menggali lobang, kemudian mengangkat mayat tai-twi dan menguburkannya.
Hal itu dikerjakannya sepanjang Hoa-mei terisa, menangisi mayat suaminya “nyonya dimanakah suami nyonya akan dikubur ?” “taihap bawalah kami kedalam kota, kami tinggal disana, aku harus menyemayamkan suamiku beberapa hari dirumah.” sahut Hoa-mei “marilah kegendong nyonya.” ujar Han-jin mendekati Hoa-mei, hoa-mei menatap pemuda belia itu “kamu sungguh baik hati taihap, siapakah namamu ?” “namaku Han-jin, nyonya.” jawab Han-jin “she-han ?” tanya Hoa-mei “bukan, tapi she-kwaa.” sahut Han-jin “bagaimana caramu membawa kami taihap ?” tanya Hoa-mei “nyonya naiklah keatas punggungku dan suami nyonya akan kubopong.” jawab Han-jin, Hoa-mei ngangkat tangannya, dan Han-jin menariknya dengan lembut dan Hoa-mei pun sudah berada dipunggung Han-jin.
210
Kwaa-han-jin membopong mayat Jun-bao dan bergerak dengan cepat, lari Han-jin amat mengejuitkan hati hoa-mei, lari yang dilakukan Han-jin tidak berbeda dengan larinya, Hoa-mei diam memeluk leher Han-jin, hatinya berdegup kencang merasakan hangatnya aura pemuda yang menggendongnya “kita terus keselatan taihap, rumahku ada disana.” bisik Hoa-mei, Han-jin melintasi kota diatas atap-atap rumah penduduk, dipagi hari yang cerah karena matahari baru saja terbit, dan kemudian Han-jin sampai kedepan rumah Hoa-mei A-meng yang gelisah disepan rumah terkejut dan berlari mendapatkan Han-jin yang menggendong tuannya “hujin apa yang terjadi ?” tanya A-meng “sediakan air untuk minum taihap, kita masuk kedalam taihap,” ujar Hao-mei, Han-jin memasuki rumah, lalu meletakkan mayat Jun-bao di ranjang dan menurunkan Hoa-mei.
Dua jarum yang menancap di kaki Hoa-mei membuat dia tidak bisa tidak bisa bergerak “nyonya, siapakah tabib yang harus saya temui untuk menyembuhkan luka nyonya.” “kamu minum dulu taihap, biar A-meng yang melakukannya.” ujar Hoa-mei, tidak berapa lama ah-cen pembatu rumah Hoa-mei membawa sepoci air teh hangat dan tiga cangkir, dia terkejut bahwa loya nya sudah terbujur tewas “tuangkanlah minumnya ah-ceng dan katakana kepada A-meng untuk menemui Wan-sinse.” ujar Hoa-mei “baik hujin.” sahut Ah-ceng dengan buru-buru
211
“minumlah taihap, aku hendak bersiulian sebentar.” ujar Hoa-mei, Han-jin demikian salut melihat ketenangan Hoa-mei menghadapi hal yang dialaminya, namun rasa kagum itu berubah dengan rasa terkejut, karena siulian yang dilakaukan Hoa-mei itu persis sama dengan apa yang dimilikinya, letak posisi dan semua cara menarik nafas yang terangkum dalam ilmu siu-to-po-in, Han-jin terenyuh melihat wajah yang mulai menua itu, Han-jin sudah memastikan inilah enciknya Hoa-mei, Han-jin diam membiarkan enciknya bersiulian, sementara ia membersihkan mulut kakak iparnya yang penuh bercak racun.
Bahkan ia keluar menggendong jun-bao dan memanggil Ah-ceng untuk membawakan air hangat, lalu ia menngosok bercak darah dan kotoran pada tubuh jun-bao, Ah-ceng membawakan baju bersih dan memberikannya kepada Han-jin, Han-jin membuka baju Jun-bao yang penuh noda darah, dan menggantinya dengan baju bersih, wajah pucat jun-bao sudah bersih, bebrapa tetangga datang menayakan hal apa yang terjadi, beberapa ibu-ibu terisak menangis sedih.
“paman…aku butuh peti mayat, diamanakah bisa aku dapatkan ?” tanya Han-jin pada seorang lelaki tetangga kakaknya “oh..aku akan segera mengambilnya ketempat tukang peti.” sahut lelaki itu, lalu ia dan seorang lelaki lain berlari-lari keluar, saat peti datang, A-meng dan Wan-sinse pun tiba, Han-jin meletakkan mayat kakak iparnya didalam peti, dan bebrapa tetanggapun masuk untuk menyalakan dupa di atas altar
212
Kwaa-han-jin dan A-meng membawa Wan-sinse kekamar, Hoa-mei baru saja selesaia dengan siulian nya dan berbaring, “wan-sinse, terimaksih telah datang “ahh..kwee-hujin, itu sudah tugasku, mana aku periksa dulu,” sahut Wan-sinse sambil mendekati ranjang, Wan-sinse terperangah ketika melihat dua jarum yang tertancap dip aha dan betis hoa-mei. “bagaimana keadaanku wan-sinse ?” tanya Hoa-mei “tubuhmu sepertinya sudah tida berhawa racun lagi, namun luka akibat jarum ini akan membusuk dalam tiga hari dan akan mengerogoti tubuhmu kwee-hujin.” jawab wan-sinse “apakah ada obatnya wan-sinse ? tanya Hoa-mei “itulah yang membuatku cemas hujin, obatnya hanya darah katak putih, sementara katak itu tidak saya miliki.” sahut Wan-sinse “dimanakah kita mendapatkan katak putih sinse ?” sela Han-jin, Hoa-mei dan Wan-sinse menatap Han-jin “anak muda, katak putih ada di “kongciak-kok” (lembah merak) sebelah barat kota Kangshi, perjalanan kesana memakan waktu paling cepat dua puluh hari bolak balik.” ujar Wan-sinse. “jika terjadi pembusukan apakah katak itu masih berhasiat ?” tanya Han-jin “masih berhasiat anak muda, tapi dua puluh hari itu sama artinya tubuh hujin sudah membusuk setengah.” jawab Wan-sinse “lalu seberapa besar pengaruh katak putih saat sudah membusuk setengah “hasiatnya cukup ampuh, hanya jika darah kataknya dapat
213
banyak, tapi apakah hujin bertahan sampai saat itu aku tidak tahu” sahut Wan-sinse “berapa katak yang diperlukan jika untuk tubuh yang busuk setengah ?” “tiga puluh ekor lebih dari cukup, terlebih kalau dapat bunga teratai putih.” sahut Wan-sinse “dimana dapat bunga teratai putih, wan-sinse ?” “dua puluh li dari gerbang kota utara ada lembah berawa, disana ada teratai putih.” sahut Wan-sinse
“baik, aku akan berangkat ke kangsi dan tolong wan-sinse jaga encikku.” sahut Han-jin dan menghilang dari kamar itu, hanya Hoa-mei yang menangkap gerakan Han-jin, hatinya berdegup, dia tidak mengenal pemuda belia ber she-kwaa itu, namun ia dipanggil dengan encik, dia yakin mereka punya pertalian setidaknya hal ilmu, Hoa-mei mencoba mengingat semua anak-anak saudaranya, dan tidak ada yang bernama Han-jin, perkiraan yang ada hanya sekitar saudaranya, karena pat-hong-heng-te tidak akan menguasai “goat-koan-sim-hang” (menunggang sukma menutup rembulan).
Kwaa-han-jin menuju gerbang selatan, dan siutannya terdengar bergema, tidak lama pek-thouw memekik diudara, Han-jin langsung melenting keudara saat pek-thouw terbang mendekatinya. “kita kearah sana pek-thouw !” ujar Han-jin menunjuk kedepan, pek-thouw memekik serombongan piauwkiok yang menruni bukit terkejut, namun burung rajawali melintas dengan cepat
214
dan membumbung tinggi, besok paginya Han-jin sudah sampai dikangshi, untungnya dari atas ia melihat seekor meraj di dahan katu disebuah lembah, Han-jin turun kelembah itu. “kita mengitari lembah ini pek-thouw, pek-thouw pun terbang rendah, Han-jin mengawasi dengan tajam kebawah, dan disebuah rawa dia lihat banyak katak putih melompat. “kita kesana pek-thouw..” ujar Han-jin, lalu rajawali itu berputar, dan Han-jin melompat dan mendarat di tepi rawa, sesaat ia memperhatikan katak-katak putih yang berenang di permukaan air.
Kwaa-han-jin melompat dan menyambar dua katak putih yang berkejaran, lalu dia masukan kedalam keranjang yan ia sediakan, lalu han-jin duduk lagi dan mengawasi rawa, empat ekot katak muncul dan berenang beriring, Han-jin melompat dan menyambar dengan cepat, empat katak dapat ditangkapnya, lalu ia mengintai lagi, tiga puluh katak ia dapatkan sebelum siang hari.
Kwaa-han-jin bersuit memanggil rajawali yang mengitari lembah itu, pek-thouw mendekat, “kita kembali pek-thouw !” ujar Han-jin, rajawali itu memekik nyaring dan membumbung tinggi dan kemudian meluncur melintasi awan, esok paginya Han-jin sudah sampai di kota Wuhan, kita kesana dulu pek-thouw.” ujar Han-jin menunjuk kesebelah utara kota wuhan, dan dari ketinggian ia melihar rawa yang dimaksud Wan-sinse, dan ketika rajawali terbang rendah, Han-
215
jin melihat teratai dengan bunga putih sedang mekar, Han-jin turun dan memetik lima bunga teratai putih, lalu ia kembali kepunggung rajawali dan berpatah bali kekota wuhan, sesampai dihutan dimana enciknya bertempur Han-jin turun
“Pek-thouw. istirahatlah !” ujar Han-jin, rajawali memekik dan membumbung tinggi, Han-jin bergerak cepat, saat matahari naik sepenggalah dari ufuk timur, Han-jin sudah tiba di rumah kakaknya, para tetangga masih banyak yang melayat A-meng menyambutnya di halaman rumah “bagaimana taihap ?” tanya A-meng “aku sudah dapatkan, apa Wan-sinse ada dirumah.” “beliau sudah kerumahnya taihap ?” “kalau begitu pergilah panggil lagi.” perintah Han-jin “baik taihap aku akan segera kesana.” sahut A-meng dan langsung berlari.
Han-jin memasuki kamar Hoa-mei, Hoa mei menatap Han-jin, paha dan betisnya sudah berair dan membusuk “mei-cici, aku sudah kembali dengan membawa obatmu.” ujar Han-jin “hiks..hiks…uuuu..uuuu…siapakah kamu taihap ? “aku adikmu cici, ayah kita Kwaa-han-bu dan ibuku kwee-kim-in “ayah…ibu….ibu…ibu….” jerit memanggil ibunya, “jin-te ceritakanlah padaku dengan baik dan jelas !” ujar Hoa-mei
216
“cici, aku adikmu yang dilahirkan ibu kwee-kim-in dalam usia tua, ibu meninggal saat melahirkan ku, dan ayah kita juga sudah meninggal setahun lebih yang llalu, dari tiga keponakan kita kwaa-hong, gan-bao dan yang-bun aku mengetahui keberadaan kalian, aku sudah menemui eng-cici, hong-cici dan liong-ko, dan dari lokyang aku datang untuk menemuimu cici.” ujar Han-jin “jin-te…hiks..mendekatlah adikku.” ujar Hoa-mei, Han-jin mendekat, Hoa-mei memeluk adiknya dan menciuminya, saat aku kau gendong adikku, aku merasakan detakan luar biasa, tidak kusangka detakan itu hentakan darah yang bertemu, auramu demikian dekat rasanya, ternyata engakau adalah adikku sendiri.” ujar Hoa-mei masih mengecup pipi dan kening adiknya.
“bagaimana keadaan diluar adikku ?” tanya Hoa-mei “kwee-twako masih disemayamkan, apakah cici hendak melihat twako ?” “aku sudah berada diruang altar semalam, sebaiknya aku disini, karena kaki ku sudah basah dan membusuk.” ujar Hoa-mei “jangan cemas cici, A-meng tadi sudah saya suruh menemui Wan-sinse dan obat cici sudah didapatkan.” ujar Han-jin, Hoa-memoleh dan melihat keranjang kantong dan bunga teratai putih “bagaimana secepat itu adikku, hanya dua hari kamu bolak balik dari sini ke khangsi ?” tanya Hoa-mei takjub pada adiknya “aku berangkat bersama pek-thouw cici.” “pek-thouw ? siapa pek-thouw ?” tanya Hoa-mei
217
“pek-thouw rajawali peliharaan ayah cici.” jawab Han-jin “oh..apakah ia ada disekitar kota ini ?” “benar cici, dia saya suruh istirahat disebelah utara kota.” “ibu…ibu…apa yang terjadi ibu…uuu..uuu…” tiba-tiba teriakan histeris datang dari luar, Kwee-lin datang mendapatkan ibunya.
Kwee-lin memeluk ibunya dengan uraian air mata, saat ia mendengar musibah semalam, langsung tengah malam itu ia dan suaminya berangkat ke wuhan, hanya dia yang dekat dengan ibunya, hanya perjalanan setengah hari dari kota wuhan “lin-ji jangan histeris begitu, tidak baik.” tegur ibunya, Kwee-lin sesugukan dan kemudian menghapus air matanya, Han-jin menatap keponakannya yang juga menatapnya “lin-ji beri hormat pada pamanmu Kwaa-han-jin !” perintah Hoa-mei “paman ? “ serunya meragu menatap ibunya “benar, segeralah memberi hormat !” perintah Hoa-mei “aku kwee-lin memberi hormat pada siok-siok.” ujar Kwee-lin sambil berlutut, saat itu Zhang-feng dan Wan-sinse masuk kekamar, Kwee-lin melampabai suaminya dan mengajaknya berlutut “ini suami saya siok-siok.” ujar Kwee-lin “saya zhang-feng memberi hormat pada siok-siok.” sela Zhang-feng bersujud tiga kali
“bangkitlah feng-ji, dan lin-ji, paman senang kalian telah datang.” ujar Han-jin, keduanya pun bangkit
218
“taihap bagaimana bisa secepat itu ?” tanya Wan-sinse heran dan tidak percaya “nanti saya ceritakan Wan-sinse, sekarang ini lah obat encikku.” sahut Han-jin sambil memberikan kantong keranjang dan bunga teratai putih, Wan-sinse melihat katak putih yang banyak, kepalanya menggeleng-geleng tidak percaya, lalu dia pun mulai menggodok darah katak putih, dalam wajan obatnya, dia hanya memerlukan tiga ekor katak putih untuk mengobati luka Hoa-mei, darah yang sudah diramu dengan obat bubuknya dan bunga teratai putih disiramkan keluka Hoa-mei, suara bersesis terdengar, darah itu menggelembung seperti air yang baru mendididih.
“besok pagi darah ini disiramkan lagi sebagian, dan besoknya lagi sebagian, setelah itu kaki kwee-hujin akan sembuh total, seharusnya seminggu baru luka ini mongering, namun karena darah ini telah dicampur bunga teratai putih, saya yakin tiga hari sembuh.” ujar Wan-sinse “terimakasih Wan-sinse.” sahut Hoa-mei “baik , lalu bagaimana dengan suamimu hujin ?” tanya Wan-sinse “karena lin-ji sudah datang, maka suamiku akan dikebumikan menjelang sore.” ujar Hoa-mei “dan katak ini masih tersisa banyak wan-sinse tentu sinse memerlukannya.” sela Han-jin sambil memberikan kantong keranjang dan dua siung bunga teratai. “hehehe…benar sekali taihap, terimakasih atas pemberian luar biasa ini.” sahut Wan-sinse.
219
Jasad Jun-bao pun dikebumikan pada waktu sore, setelah itu Hoa-mei yang digendong adiknya Han-jin meninggalkan pemakaman dan kembali kerumah, para tetanggapun kembali kerumah masing-masing, dan memang benar perkiraan Wan-sinse, pada hari keempat luka itu sudah hilang tidak berbekas, Zhang-feng dank wee-lin kembali kerumahnya didesa Yulan, dan hoa-mei ditemani adiknya Han-jin.
Enam orang hek-to melarikan diri, mereka tidak berani kembali kedalam kota, dan lansung saja meninggalkan kota Wuhan “apa menurutmu she-taihap akan tewas “dia akan tewas dengan tubuh membusuk, kalau tidak diobati.” sahut Tok-lian “aku heran bagaimana ia bisa demikian kuat menahan pukulan-pukulan kita.” sela ang-mou-kuibo. “satu dari kita tewas dan belum tentu she-taihap tewas.” sesal kui-peng “mau bagaimana lagi, jin-sin-taihap tiba-tiba datang, kalau tidak kita sudah dapat membunuhnya.” sela kwi-tiuaw-eng.
Lima hari kemudian mereka melihat seorang pemuda beristirahat disebuah hutan “itu nampaknya she-taihap.” bisik tok-lian “benar dia salah seorang yang melawan dua cianpwe.” sela Kwi-tiuaw-eng, lalu mereka mendekati pemuda yanag ternyata Kwaa-yang-bun yang hendak menuju Wuhan “she-taihap bersiaplah untuk mampus !” teriak lam-kek, lalu enam orang itu menyerang Kwaa-yang-bun
220
“kalian siapa ? kenapa tiba-tiba menyeraang ?” tanya Kwaa-yang-bun sambil bergerak gesit “kami adalah musuhmu dan akan membunuhmu.” teriak kui-peng, serangan meraka datang bertubi-tubi, Kwaa-Yang-bun harus mengerahkan kegesitannya, im-yang-sian-sin-lie di mainkan dengan gesit dan kuat.
Enam hek-to itu memulai lagi trik serangan sebagaimana pada Hoa-mei, kali ini yang menintai adalah tok-lian dengan Ang-mou-kuibo, sementara giam-ci, lam-kek, kwi-tiuaw-eng dan kui-peng menghadapi jurus kwaa-yang-bun, tekanan enam hek-to luar biasa, dan Kwaa-yang-bun pada jurus keseratus lima puluh sudah menerima pukulan yang dikirim Ang-mou-kuibo, Kwaa-yang-bun, sama hal dengan bibinya Hoa-mei, pendekar ini dengan tenang dan telaten menghadapi enam pengeroyoknya, jurus Im-yang-bun-sin-im-hoat dikeluarkan dengan gesit, enam lawannya mendapat perlawanan berat.
Pertempuran berlansung ketat dan kuat, berkurangnya satu dari rekan mereka merupakan hal yang merugikan untuk menghadapi she-taihap, perlawanan ini berlaku a lot, terlebih dari siang sampai hampir pagi pertempuran itu masing berlansung dengan seru, Yang-bun dengan siu-to-po-in dan tin-liong-siulian bergerak dengan luwes walaupun serangan enam lawannya menderu-deru, namun untuk membuat lawan muda ini keok sangat sulit, demikian juga sebaliknya Yang-bun harus membagi kekuatanya untuk dua ilmu pertahanannya sambil menyerang dengan sebagian sin-kang.
221
Siang pun sudah datang, pertempuran sudah sehari semalam, nafas enam hek-to sudah empis-empisan, dan Yang-bun juga tidak demikian kuat untuk merobohkan lawan-lawannya, Yang-bun melihat kesempatan setelah menjelang sore, dengan pukulan im-yang-pat-sin-im-hoat tingkat delapan, dua pukulan luar biasa itu bersarang di tubuh kui-peng dan giam-ci, namun dua jarum dari Tok-lian tidak bisa dihindarkan, dan menancap di bahu dan dadanya, untungnya siu-to-po-in masih punya daya tahan, lain hal dengan kui-peng dan giam-ci, mereka tewas seketika, tubuh kui-peng membiru dingin, sementara giam-ci tubuhnya gosong terbakar.
Ang-mou-kwi dan Tok-lian segera lari setelah melihat kedua rekannya mati, Lam-kek dan kwi-tiauw-eng masih berusah melepaskan diri dari desakan jurus Yang-bun yang luar biasa, dan sunggu mereka tidak dapat melepaskan diri dari kurungan luar biasa jurus Im-yang-pat-sin-im-hoat “buk…buk…dess..desss..” Yang-bun menghadiahkan masing-masing lawannya satu pukulan dan satu tendangan, akibattnya kwi-tiauw eng muntah darah dan mati seketika karena tubuh atasnya gosong dan tubuh bawahnya menghijau dingin, sebaliknya lam-kek tubuh atasnya membiru dingin sementara bagian bawahnya gosong terbakar.
Yang-bun duduk memenangkan diri, hal itu diperlukannya sehingga pagi hari, dengan luka jarum di pundaknya ia berjalan meninggal;kan hutan, namun baru setengah hari bahunya terasa berdenyut
222
“kreekkkk…..” terdengar pekikan dari atas, Yang-bun mendongak, lalu melambai-lambai “pek-thouw….pek-thouww..” teriak Yang-bun, pek-thouw kenal dengan Yang-bun karena yang paling lama di goat-kok adalah Yang-bun, dan bebrapa kali ia menunggangi rajawali sebelum ia meninggalkan lembah itu,
“pek-thouw apakah jin-siok disekitar sini ?” “kerekk..krekkkk” pekik pek-thouw, yang-bun makin merasa nyeri, dan mukanya meringis, pek-thouw mendekat seakan mengajak yang-bun naik, yang-bun mengerti lalu ia melompat ketasa rajawali, pek-thouw terbang menuju kota wuhan, rajawali itu mengirai kota sambil memekik kuat, Han-jin dan hoa-mei mendengar pekikan yang merobek angkasa kota wuhan, Han-jin keluar dan mendongak ke atas lalu ia bersuit, rajawali meliuk setelah melihat Han-jin.
Rajawali terbang begitu rendah membuat warga terpana dan terkejut sehingga mereka keluar dari rumah, rajawali menjatuhkan tubuh Yang-bun yang lemah, Han-jin yang melihat tubuh manusia jatuh dari punggung rajawalinya, segera menyambut dengan lompatan luar biasa, dan menagkap tubuh itu “jin-siok..” seru Yang-bun pingsan, Han-jin turun dan segera masuk kedalam “itu siapa Jin-te ?” tanya Hoa-mei “ini keponakan kita Yang-bun anak peng-ko.” sahut Han-jin “ah..dia terkena jarum wanita itu.” ujar Hoa-mei
223
“kita harus membawanya ketempat Wan-sinse cici.” ujar Han-jin, “cepat ikuti saya, kita akan kesana.:” sahut Hoa-mei, dua she-taihap bergerak cepat menuju tempat wan-sinse
“taihap…kwee-hujin ada apakah !?” tanya wan-sinse yang kebetulan menjemur ramuan obat di halaman rumahnya “wan-sinse tolong keponakanku dia terkena jarum yang sama denganku.” ujar Hoa-mei “oh..cepat bawa kedalam, biar aku godok obatnya .” sahut Wan-sinse, Han-jin merobek baju Yang bun, Wan-sinse mambawa obat darah katak putih yang dengan cekatan ia godok dengan teratai putih, jarum sudah dikeluarkan Han-jin, luka itupun diolesakan keluka, suara mendesis terdengar, namun hanya sebentar, setelah itu Yang-bun sadar “jin-siok..! panggilnya lemah “aku disini bun-ji bagimana ? apa yang kamu rasakan ?” “dia tidak apa-apa lagi taihap, untungnya kalian she-taihap memiliki hal-hal yang menakjubkan.” sela Wan-sinse.
“tapi kenapa keponakanku pingsan Wan-sinse ?” tanya Hoa-mei “karena luka ini dekat sekali dengan jantung, dan nyeri akibat mau pembusukan membuat degup jantung itu kencang dan membuat darah cepat mengalir menembus syaraf di otak, kalian tenang saja, bawalah ia kembali dia sudah tidak apa-apa.” sahut Wan-sinse “terimakasih wan-sinse.” ujar Hoa-mei, lalu Yang-bun pun
224
dibawa pulang, menjelang malam mereka sampai dirumah Hoa-mei, Yang-bun dibaringkan diranjang. “jin-siok kita dimanakah ?” tanya Yang-bun “kita di tempat bibimu Hoa-mei.” Jawab Jin-sin “bibi mei, syukurlah aku bertemu juga dengan bibi.” ujar Yang-bun menjura pada bibinya “bibi juga merasa senang dengan kedatanganmu bun-ji.” sahut Hoa-mei
“bagaimana keadaan ayah dan ibumu ?” “ayah dan ibu baik-baik bibi, dimanakah paman dan saudara-saudara misanku ?” “saudara-saudara misanmu sudah berumah tangga semua bun-ji, dan tentang pamanmu, kita baru-baru ini mengalami musibah, pamanmu sudah meninggal.” sahut Hoa-mei “oh, bagaimana paman meninggal bibi ?” “nantilah kita bercerita, mari kita makan dulu.” sahut Hoa-mei, lalu merekapun menuju ruang makan.
Ah-ceng menghidangkan makanan, lalu ketiganya makan “bagaimana engkau bertemu dengan perempuan itu bun-ji ?” tanya Hoa-mei “perempuan ? perempuan yang mana maksud bibi ?” “perempuan yang mencelakaimu dengan jarum.” Jelas Hoa-mei “ooh, saya sedang istirahat di sebuah hutan, lalu enam orang yang mengaku hek-to datang dan tiba-tiba menyerang saya.” “apa alasan mereka menyerangmu ?” sela Han-jin
225
“tidak jelas juga, hanya dari seorang dari mereka berkata karena saya she-taihap.”
“bibimu juga baru beberapa hari yang lalu bertemu dengan mereka di hutan sebelah utara, mereka telah membunuh pamanmu dan melukai bibimu.” Ujar Han-jin “terus bagaimana luka bibi ?” tanya Yang-bun “luka bibi sudah sembuh dua hari yang lalu, untung pamanmu Han-jin datang, kalau tidak, mungkin bibi akan mengalami hal yang sama dengan pamanmu.” jawab Hoa-mei “jadi paman dibunuh oleh mereka ?” tanya Yang-bun “benar bun-ji, awalnya pamanmu diajak untuk mengobati pasien oleh wanita bejarum teratai itu, tapi rupanya itu hanya tipu daya, karena sampai malam pamanmu tidak datang maka saya cari keutara kota, dan mendapatkan pamanmu sudah tewas dan digantung disebuah pohon.”
“mereka itu siapakah sebenarnya bibi ?” tanya Yang-bun “bibi juga tidak tahu, namun seperti katamu mereka dari aliran hek-to dan akan membunuhi she-taihap, awalnya mereka bertujuh, dan sebelum bibi kepayahan, bibi berhasil membunuh seorang dari mereka, namun saat paman mu Han-jin datang mereka langsung melarikan diri.” sahut Hoa-mei. “apakah jin-siok pernah bertemu mereka ?” tanya Yang-bun pada Han-jin “paman rasa tidak pernah bertemu mereka.” jawab Han-jin “hmh…kalau mereka tidak pernah bertemu paman, berarti mereka pernah melihat paman.” gumam Yang-bun
226
“tentunya demikianlah bun-ji, paman yakin mereka melihat paman di hutan kongciak saat pertemuan disana.” “benar saya yakin juga mereka melihat paman disana, dan dari mereka bertujuh, sekarang mereka tinggal berdua.” ujar Yang-bun
“apakah kamu berhasil mengalahkan mereka ?” sela Hoa-mei “benar bibi, empat dari mereka berhasil saya bunuh dan dua perempuan dari rekanan mereka melarikan diri.” jawab Yang-bun “bagaimana cara mereka menghadapimu bun-ji ?” tanya Hoa-mei “formasi mereka mengeroyok sangat bagus, empat orang mengeroyokku, dan dua yang lain mengintai menyerang dari sela-sela empat rekannya.” “hal yang sama juga mereka melakukan saat menghadapi bibi.” gumam Hoa-mei “kalau ditelusuri dari cara kerja mereka, mereka ini telah merencanakan dengan baik, dan kalau tujuan mereka she-taihap bisa jadi tujuh orang itu satu kelompok dari banyak kelompok yang dibentuk.” ujar Han-jin “benar jin-te, saya juga berpikiran demikian, dan juga mereka telah membaca kekeuatan dari seorang she-taihap, sehingga mereka membunuh tawakomu dulu baru menghadapi saya.” sela Hoa-mei.
“apakah menurut jin-siok ini hubungannya dengan pertemuan di hutan kongciak ?” sela
227
Yang-bun “apa yang terjadi di hutan kongciak bun-ji ?” tanya Hoa-mei “saya dan dua misan saya menghadapi enam orang luar biasa yang mengaku hek-to dan sangat memusuhi kita, pada saat itu memang kami terdesak hebat oleh serangan enam orang itu, dan untungnya jin-siok datang, sehingga kami pun selamat.” “hmh..jadi mereka mengetahui kekuatan seorang she-taihap pada saat itu, dan mereka semua hadir dan menyaksikan, sehingga mereka membuat formasi seperti itu.” gumam Hoa-mei “siapa-siapakah enam orang itu bun-ji ?” tanya Hoa-mei “yang paling hebat diantara enam orang itu ada dua orang cianpwe, dan julukannya kalau tidak salah adalah kwi-ban-ciang dan kwi-sian-hengcia.” “lalu yang empat orang lagi ?” sela Han-jin “yang empat orang lagi adalah lam-liong-sian, pak-giamli-sianli, kui-thian dan kui-tee.” “apakah salah satu dari mereka berenam ada diantara tujuh orang yang datang kesini ?” tanya Hoa-mei “tidak ada bibi.” Jawab Yang-bun “kalau begitu tujuh orang ini benar satu kelompok yang sasarannya adalah saya, dan kelompok yang lain bergerak ketempat keluarga kita yang lain.” “perkiraan bibi mungkin benar sekali.” sahut Yang-bun “dan melihat bahwa mereka melarikan diri ketika jin-te datang, namun menyerang tiba-tiba kepadamu bun-ji, berarti kelompok yang lain akan ke lokyang dan shanghai.” ujar Hoa-mei. “kenapa hanya lokyang dan shanghai bibi ?” sela Yang-bun
228
“karena hanya she-taihap yang lok-yang dan shanghai yang mampu mereka perkirakan bisa dikalahkan, sebagaimana yang saya alami.” sahut Hoa-mei “di lokyang ada ada liong-pek, Tan-bouw dan Gan-bao, di shanghai ada ayah dan bi-moi.” “benar, tapi mereka akan mudah melakukan hal yang sama, yaiitu memancing she-taihap untuk keluar dan dikeroyok bersama-sama.” ujar Hoa-mei.
“kalau bagitu bagaimana menurut bibi ?” tanya Yang-bun “sebaiknya besok kamu berangkat persama pamnmu Han-jin ke shanghai, semoga saja kalian belum terlambat, dan ayahmu belum didatangi kelompok dari mereka.” “bagaimana menurut jin-siok ?” tanya Yang-oun menoleh pada Han-jin “jika perkiraan cici benar sebaiknya memang begitu, namun lebih baik jika cici juga ikut dengan kami ke shanghai” ujar Han-jin. “benar bibi, ikutlah ke shanghai, karena memang itulah yang terbaik melihat situasi kita yang genting.” sela Yang-bun “baiklah kalau begitu, besok kita akan berangkat.” sahut Hoa-mei.
Keesokan harinya Hoa-mei memerintahkan A-meng tetap membuka toko, selama ia tidak ada “jika siocia atau kongcu datang saya harus jawab apa hujin ?” “katakan pada mereka, saya sedang ke shanghai dan mungkin akan lama berada di pulau kura-kura.” sahut Hoa-mei
229
“baiklah saya akan ingat pesan hujin.” ujar A-meng, lelu ketiga she-taihap meninggalkan kota Wuhan, sesampai di gerbang selatan, Han-jin bersuit, dan tidak lama pekkan rajawali merobek angkasa, rajawali terbang rendah, lalu Han-jin menngandeng cic dan keponakannya melenting keudara dan mendarat di punggung rajawali “perjalanan kita akan lebih cepat dengan ini cici.” ujar Han-jin “inikah peliharaan ayah jin-te ?” sela Hoa-mei haru “benar cici, bun-ji sudah menungganginya.” sahut Han-jin “benar bibi, bahkan selama sebulan aku bersamanya di qingdao.” sela Yang-bun, pemandangan bumi dari atas sungguh menakjubkan hati Hoa-mei.
Mari kita melihat keadaan di kota shanghai, kota shanghai adalah kota yang besar dan dihuni banyak penduduk dari berbagai etnis dan bangsa, hal ini karena kota shanghai adalah kota pesisir pantai, kota Shanghai juga banyak disinggahi kapal-kapal besar, sehingga kota itu memiliki pelabuhan yang besar dan megah, dipadati banyak kuli dan pekerja, kapal-kapal itu kebanyakan adalah kapal milik orang asing yang juga berdiam di kota shanghai, seperti orang jepang, turki ataupun orang eropa, suasana ramai dan hiruk pikuk sangat terasa dikota itu.
Siang itu enam orang kalangan rimba hijau memasuki kota Shanghai, mereka itu adalah kelompok kedua dalam misi pelenyapan she-taihap yang dipimpin oleh Lam-liong-sian, Lam-liong-sian membawa lima rekannya untuk memasuki
230
likoan, “selamat datang di shanghai tuan, silahkan duduk dan mencicipi menu yang kami sediakan.” Sambut seorang pelayan “pelayan hidangkanlah makanan dan menu terlezat kalian, dan juga siapkan tiga kamar besar untuk kami.” Ujar Lam-liong-sian “baik kongcu, menu terlezat akan segera kami hidangkan, dan pesanan kamar juga akan kami persiapkan.” sahut pelayan dan segera meninggalkan mereka.
Tidak lama kemudian hidangan pun datang, bermacam jenis ikan dengan beraneka macam masakan dihidangkan, setelah semuanya dihidangkan, enam orang pesilat tangguh itu makan dengan lahap, setelah selesai makan, kemudian mereka masuk kekamar masing-masing, Lam-liong-sian sekamar dengan tung-mo-san, dua she-gui satu kamar, see-bi-kui dengan pak-giamlo-sianli satu kamar, mereka melewatkan siang hari itu dengan istirahat dan tidur untuk mengilangkan kepenatan dari perjalanan jauh.
See-bi-kui setelah makan tidak bisa tidur, lalu ia keluar untuk menikmati keramaian kota, beberapa pekerja kasar bersuit menggodanya, see-bi-kui yang bagor senyum nakal, sehingga membuat para kuli makin blingsatan, “eh..eh..kerja..kerja..!” teriak sang mandor namun matanya juga tidak lekang dari wajah cantik see-bi-kui yang mempesona, si mandor yang berusia tiga puluh lima tahun itu mendekat “hehehe..maaf siocia, mereka itu pantang melihat wanita cantik.” ujar si mandor senyum cengengesan, see-bi-kui
231
menunduk “kalau tuan bagaimana ? apa pantang juga melihat wanita cantik ?” tanya see-bi-kui sambil melirik nakal.
“hehehe…” simandor nyengir kuda sambil garuk kepala yang tidak gatal “hi..hi…tuan tentu capek kerja seharian yah ?” “yah namanya juga kerja tentu capek siocia.” sahut simandor “apakah siocia orang baru dikota ini sehingga tertarik datang kepelantaran pelabuhan ini ?” “benar tuan, aku baru saja datang, dan sangat suka melihat pemandangan laut “kenapa sendirian siocia, apa tidak dengan teman ?” “temanku kecapean dan tidur dipenginapan, jadi aku hanya sendirian, apa tuan mau menemani saya ?” sahut see-bi-kui sengan kerlingan dan senyum yang menggoda, simandor makin deg-deg kan “tentu aku mau menemani siocia, terlebih siocia sungguh cantik dan menawan.” sahut si mandor merayu “hihi..hi… tuan bisa saja, apakah tidak mengganggu pekerjaan tuan ?” “hehehe..hehehe… tentu tidak siocia, aku yang mengepalai pekerja itu, jadi aku ini sangat santai.” sahut si mandor membusungkan dada sambil senyum
“ooh, pantas kalau begitu, tuan disamping tampan juga berposisi tinggi.” ujar See-bi-kui, mendengar pujian wanita cantik itu si mandor senyum dan hidungnya kembang kempis
232
“siocia marilah kita masuk kedalam kapal, dari sana pemandangan lautnya lebih dekat dan juga kita bisa berteduh.” ujar simandor dengan senyum, see-bi-kui mengangguk lembut, si mandor dengan senang mengajak see-bi-kui masuk kedalam kapal besar “aku Gao-sang siocia, dan siapalah nama siocia ?” “aku Ma-bi-eng twako, hmhh….disini memang teduh dan melihat ombak dengan dekat sangat menyenangkan, hi..hi…” sahut see-bi-kui terlihat senang
“eng-moi apakah kamu hanya berkunjung kekota ini atau akan menetap ?” “aku hanya berkunjung sang-ko, emangnya kenapa ?” “ah..tidakapa eng-moi, kamu memang luar biasa cantik.” “hi..hi…kamu juga sang-ko, wajahmu tampan dan tubuhmu kekar.” “benarkah eng-moi ?” sela Gao-sang dengan senyum memikat, bi-eng mengangguk manja “sang-ko apakah ada orang mengintai kita ?” tanya bi-eng sambil mengedipkan sebelah matanya, gao-san clingak clinguk “tentu tidak, tidak ada yang berani masuk kesini tanpa seizinku.” Jawab Gao-sang, sambil meremas jemari bi-eng
Bi-eng merebahkan badannya sambil senyum menatap redup pada Gao-sang, gao-sang makin sesak “lakukan dengan pelan sang-ko.” bisik bi-eng, saat wajah Ga-sang mendekati wajahnya, perkataan itu menyalakan langsung birahi Ga-sang, dengan lembut ia mengecup dan melumat bibir
233
bi-eng, bi-eng mendesah dan membalas dengan hangat, Gaosang makin menuntut lebih, pakaian bi-eng dibuka seiring nafasnya yang menggebu, Bi-eng mengerang manja, selama dua jam mereka berada didalam kamar kapal bergulung-gulung menikmati amukan birahi yang panas.
“sang-ko kamu mau kan membantu saya ?” “tentu eng-moi sayang, aku akan siap membantumu.” “sang-ko kalau kamu orang lama disini, kamu kenal tidak dengan seorang bernama Kwaa-yun-peng ?” “tentu saja kenal, dia itu orang sakti yang terkenal di daerah ini, kenapa dengan she-kwaa itu eng-moi ?” “ceritakanlah padaku tentang she-kwa itu.” “hmh…dia adalah kauwsu pek-lek-twi, dan muridnya sangat banyak” “bagaimana dengan kelurganya ?” “saya dengar kauwsu itu hanya punya dua anak, boleh aku tahu kenapa eng-moi menayakan perihal pendekar itu ?” “dia ada hutang nyawa dengan saya, sang-ko.” sahut Bi-eng sambil mengelus-elus dada Gao-sang yang telanjang
“apakah kamu berniat membalas dendam padanya ?” tanya Gao-sang, Bi-eng mengangguk tegas “menurutmu sang-ko bagaimanakah cara membalas sakit hatiku supaya berhasil ?” ujar Bi-eng sambil mengecup dada Gao-sang “she-kwaa itu memang orang sakti, tapi saya yakin dia tidak akan melawan senjata api atau mesiu peledak.” sahut Gao-
234
sang “tapi dimana saya dapat senjata api atau mesiu peledak ?” “hehehe..hahaha…aku ka nada sayang, aku bisa memberimu mesiu peledak, majikanku orang eropa akan kukibuli untuk mendapatkan mesiu peledak itu untukmu.” ujar Gao-sang dengan tawa renyah “oh..benarkah sayang, cup..cup..” sela Bi-eng sambil mengecup pipi dan bibir Gao-sang, sesaat mereka saling pagut
“kapankah sang-ko dapat memberikan mesiu peledak itu padaku ?” “besok aku bisa dapatkan untukmu sayang.” sahut Gao-sang “mesiu peledak itu bagaimana cara kerjanya ?” “mesiu peledak itu hanya sebesar buah melon, dan jika pin nya ditarik dan dilemparkan, maka dimana ia jatuh tempat itu akan meledak penuh jilatan api yang menyambar, ledakannya akan merubuhkan bangunan.” “oh, sedemikian kuatkan peledak itu, san-ko sayang.” “benar sayang, datanglah lagi besok, aku akan berikan padamu satu peti yang isinya seratus peledak.” “terimaksih sayang, aku besok akan datang lagi, ahh..aku senang sekali akan dapat membalaskan sakit hatiku selama ini.” ujar Bi-eng, lalu merekapun kembali diamuk nafsu sehingga kembali keduanya mendaki berpacu hentakan birahi.
Menjelang sore Bi-eng kembali kepenginapan, ia mandi dan berganti pakaian, dan saat malam mereka berenam berkumpul dikamar Lam-liong-sian
235
“hal yang pertama kita lakukan adalah mengetahui kediaman she-taihap dan sekaligus menyelidiki keadaannya.” ujar Lam-liong-sian “aku sudah mengetahui keadaan she-taihap.” sela Bi-eng “eh sudah ? kalau begitu katakanlah see-bi-kui, sehingga kita dapat menyusun rencana selanjutnya.” ujar Lam-liong-sian “she-taihap tinggal di sebelah barat kota, dia seorang kauwsu dari perguruan pek-lek-twi dengan murid yang sangat banyak.‟ “berapa she-taihap yang ada di dalam rumah itu ?” sela Pak-giamlo-sianli “ada tiga she-taihap.” jawab see-bi-kui
“hmh..kalau begitu kita harus memancing satu-satu supaya kita dapat menghadapinya.” ujar tung-mo-san “saya puny aide yang lebih baik.” sela see-bi-kui “apa idemu itu ?” tanya thian-kui “bagaimana kalau kita menggunakan peledak untuk membunuh she-taihap “peledak ? dimana kita dapatkan peledak ?” sela tee-kui “saya punya teman yang bisa memberikan peledak itu pada saya besok.” “peledak ini bagaimana kerjanya ?” tanya lam-liong-sian “katanya sangat mudah, karena peledak ini besarnya haya sebesar buah melon, dan kita hanya melemparkannya setelah kawat pinnya dilepas.” “lalu kekauatannya bagaimana ?” sela Pak-giamlo-sianli “kekuatannya sangat besar, karena bisa merubuhkan bangunan.” sahut See-bi-kui
236
“berapa banyak yang akan kamu dapatkan dari temanmu itu ?‟ “aku akan dapatkan satu peti berisi seratus peledak.” sahut see-bi-kui
“dengan bahan peledak itu bagaimana strategi kita untuk membunuh she-taihap ?” “saya kira walaupun kita bahan peledak, kita harus melihat peluang dimana she-taihap tidak siap.” ujar tung-mo-san “benar dan itu hanya saat mereka tidur.” sela see-bi-kui “baiklah kalau begitu, besok bawalah peledak itu see-bi-kui, sehingga kita dapat beraksi pada malamnya.” ujar Lam-liong-sian, see-bi-kui mengangguk, lalu merekapun bubar dan kembali kekamar masing-masing
“siapa temanmu itu see-bi-kui ?” tanya pak-giamlo-sianli sambil membuka bajunya dan memakai gaun tidur yang tipis “dia seorang mandor dipelabuhan dan bekerja dengan orang berambut perak.” Sahut See-bi-kui sambil memakai gaunnya, lalu keduanya baring diranjang “kamu nampaknya baru dapat itu yah ?” goda suma-hoa “hi…hi…mandor itu luar biasa,” sahut bi-eng “apakah mandor itu tampan ?” tanya suma-hoa penasaran “lumayan tampan, ototnya kuat walaupun sudah berumur “hi..hi..justru yang sudah berumur itu yang bikin blingsatan.” sela suma-hoa “apakah kamu mau ikut besok ?” “hihihi….hihihihi..kalau bisa kenapa tidak.” sahut suma-hoa
237
cekikikan, lalu merekapun tidur sambil membicarakan hal-hal yang mengundang birahi.
Keesokan harinya Ma-bi-eng dan suma-hoa pergi kepelabuhan, para pekerja makin riuh rendah menggoda kedua wanita cantik itu, saat Ga-sang datang semuanya diam, namun seorang dari mereka nyelutuk “Gao-kongcu membuat iri saja, kemarin satu, hari ini dua, cantik-cantik pula itu.” “hehehe..hehehe..kalian ini rebut saja, ayok kembali bekerja “eh..gao-kongcu mau kemana, ? hahaha..hahaha…” tanya seorang pekerja dan disambut tawa yang lain “hehehe…aku lagi ada pekerjaan, kalian kerja dan jangan malas-malas.” ujar Ga-sang sambil melangkah mendekati Bi-eng dan suma-hoa
“sang-ko, ini suma-hoa temanku, aku datang untuk barang yang koko janjikan.” ujar Bi-eng dengan senyum manja “mari kita kedalam kapal, disana kita bicara dengan enak.” ujar Gao-sang, lalu ketiganya masuk kedalam kapal “kamu baik sekali pada bi-eng sang-ko.” puji suma-hoa “hehehe…aku senang bisa membantu wanita-wanita cantik seperti kalian.” “hi..hi..apakah aku juga cantik Sang-ko.” tannya suma-hoa mengerling manja dan senyum menggoda, “hehehe..kalian memang cantik dan seksi.” “kami ingin mengucapkan terimakasih atas kebaikan hati sang-ko.” ujar Bi-eng dengan manja sambil mengecup bibir Ga-sang.
238
Gao-sang bergetar, terlebih tangannya diraih suma-hoa dan meletakkan didadanya yang lembut, kontan jemari Gao-sang meremas bendak lunak milik Suma-hoa, Gao-sang terangsang tanpa kendali, kedua wanita itu juga sangat menginginkannya, kekuatan Gao-sang diuji, kedua wanita itu siap digilir oleh gao-sang, gao-sang merasa tertantang, dengan hentakan laksana gelombang badai menunggangi kedua gadis seksi dan cantik itu, erangan keduanya membuat birahi Gao-sang meledak-ledak tanpa henti.
Setelah pesta mesum itu mereda, ketiganya terkapar dilantai kapal, Gao-sang merasakan lelah yang melelapkan, setelah nafasnya tenang. “sang-ko apakah peledak itu bisa kami ambil ?” “bisa eng-moi, itu peti dibawa kursi itu bahan peledaknya.” sahut Gao-sang “ah..sang-ko kamu memang baik dan sangat menyenangkan.” sela Suma-hoa sambil mengelus-elus Gao-sang, elusan dan rabaan itu memancing kembali rangsangan birahi Gao-sang, Suma-hoa dengan pandainya mengambil posisi diatas dan membuat Gao-san merem melek kenikmatan, dua wanita sakti tanpa harga diri itu sangat berpengalaman dalam hal-hal mesum seperti itu, sehingga ketika mereka keluar dari kapal, Gao-sang tidak ikut keluar bersama mereka, suma-hoa dan Ma-bi-eng dengan gerakan kilat meninggalkan pelabuhan, sementara Gao-sang yang masih terduduk telanjang tidak bisa berdiri sangking capeknya.
239
Kwaa-yun-peng sebagaimana biasa mengawasai murid-muridnya yang sedang berlatih, tiba-tiba putrinya kwaa-han-bi muncul “ayah, hari ini kita jadi kerumah hui-siok,?” “jadi, apa ibumu sudah siap ?” “sudah ayah, dan tinggal menunggu ayah saja.” “baiklah kalau begitu, ayah akan bersiap-siap.” ujar Kwaa-yun-peng dan masuk kedalam rumah, hari itu Bao-hui, kakak dari Bao-ci-lan istrinya sedang mengadakan ulang tahun ke lima puluh lima, dan mereka diundang untuk merayakannya.
Tamu-tamu di rumah Bao-hui sudah banyak yang berdatangan, Bao-hui dan istri menyambut tamu dengan senyuman dan limpahan ucapan terimaksih, kedatangan adik iparnya Kwaa-yun-peng disambut dengan pelukan “kalian sudah datang kwaa-te, bagaimana dengan bun-ji ? apakah ia belum kembali ?” “belum hui-ko.” “eh..padahal sudah tiga tahun Kwaa-te.” “benar hui-ko, mungkin masih kerasan berkelana dan singgah dirumah saudara-saudaraku.
“hehehe..marilah kwaa-te, silahkan duduk.” ujar Bao-hui membawa adik iparnya ketempat duduk yang telah disediakan, lalu seorang tamu lagi datang, ia adalah kam-sin-bu, wakil kungcu kota shanghai, ia datang bersama anak dan istrinya, Bao-hui dengan ramah menyambutnya dan mempersilahkan duduk berdekatan dengan meja Kwaa-yun-peng
240
“hehe..she-taihap ternyata sudah datang.” sapanya dengan ramah “benar kam-sicu, dan kami juga baru tiba.” sahut Kwaa-yun-peng “ini putra sulungku Kam-kui, ayok kui-ji, beri hormat pada kwee-taihap.” “saya Kam-kui memberi hormat pada paman-kwaa.” “hehehe.. duduklah anak baik, kui-ji sudah berapa usiamu ?” tanya Kwaa-yun-peng “tahun ini aku genap dua puluh dua tahun paman.” sahut Kam-kui “dan dia sudah lulus ujian negara dan tinggal menunggu penempatan.” sela Kam-sin-bu “ohh, syukurlah kalau begitu, apa keahlianmu Kui-ji ?” “aku belajar hukum dan tata negara paman.” jawab Kam-kui
Tiba-tiba Kwaa-hang-bi datang mendekati ayahnya “eh…paman kam, terimalah hormat dari saya, paman.” Ujar Kwaa-hang-bi sambil menjura “hehehe..anak baik, baru setahun tidak lihat, ternyata kamu sudah besar bi-ji, kamu darimana tadi ?” “hihi..aku tadi menemui kakak misan dibelakang paman.‟ “oh..begitu, oh-ya ini Kam-kui anak paman.” ujar Kam-sin-bu “selamat bertemu kuo-twako, aku kwaa-hang-bi.” “selamat bertemu bi-moi.” sahut kam-kui balas menjura, lalu terdengar suara Bao-hui berbicara, Hang-bi segera duduk dekat ibunya.
241
“terimakasih kepada para sicu dan kaum kerabat yang telah sudi memenuhi undangan pesta ulang tahun saya yang kelima puluh lima.‟ Kionghi..kionghi..” sahut para undangan serempak “terimakasih, dan untuk memeriahkan acara ini kami akan mengadakan pementasan drama.” ujar Bao-hui, lalu layar pun dibuka, disambut tepuk tangan para undangan, pimpinan drama muncul dari balik layar “sicu yang terhormat dan para undangan sekalian, pertama saya ucapkan selamat kepada Bao-wangwe yang sedang berulang tahun yang kelima puluh lima puluh lima, semoga panjang umur dan diberi rezeki yang melimpah.” ujar pimpinan drama, dan Bao-hui mengangguk dengan senyum
“sicu sekalian, untuk memeriahkan suasana pesta, kali ini kami akan mementaskan drama yang berjudul perjalanan kebarat, dan selamat menikmati.” ujar pimpinan drama dan disambut tepuk riuh rendah dari para undangan, pimpinan kembali kebalik layar, dan tidak berapa lama layar pun dibuka, seorang pemain berlakon sebagai biksu tang sedang duduk berliankem, lalu muncul seorang dewi dari atas, dan mengamanatkan sesuatu pada biksu-tang, alur cerita yang demikian apik ditampilakan para pemain, para undangan sangat antusias menikmati alur cerita dalam drama sambil makan dan minum.
Tiga jam kemudian pementasanpun selesai, dan acara musik dan nyanyianpun berkumandang, pesta Bao-hui sangat semarak hingga akhir acara, tengah malam acara itu selesai,
242
lalu para undangan pun berpamitan pada Bao-hui dan istri untuk pulang kembali “ayah…aku besok pagi saja pulang, hui-cici memintaku tadi untuk menginap disini.” ujar Hang-bi “baiklah kalau begitu, ayah dan ibu duluan pulangnya.” sahut Kwaa-yun-peng, hang-bi mengangguk dan berlari kebelakang bersama kakak misannya Bao-bi-hui, sementara Kwaa-yun-peng dan istrinya naik kedalam kereta kuda dilepas oleh Bao-hui.
Sesampai dirumah, suami istri itupun istirahat, mereka tertidur pulas, tidak lama enam orang mendekati rumah Bao-yun-peng dengan mengendap-endap, lalu melemparkan bahan peledak ke arah rumah bao-yun-peng “tak” suara benda keras jatauh menimpa atap, Kwaa-yun-peng terduduk “dhuar…dhuar…dhuar…dhuar..dhuar…dhuar…” ledakan pertama menghancurkan atap kamar kwaa-yun-peng, refelek gerakan she-taihap melompat dari atas ranjang kearah pintu kamar, hatinya terkejut ketika melihat istrinya sontak bangun dan tiba-tiba lima ledakan susul menyusul membuat kamar itu luluh lantak, tubuh Bao-ci-lan hancur, karena dua buah peledak jatuh diranjangnya dan meledak, Bao-yun-peng pada ledakan berikutnya menjebol daun pintu kamarnya, namun lima ledakan itu melemparkan tubuhnya keluar dan tubuhnya dijilat api.
Bao-yun-peng berlari keluar dan melompat kekolam, sementara rumahnya terus meledak puluhan kali, bahkan tiga rumah
243
disamping rumahnya terdengar juga ledakan, api kian menyala dan melalap rumah disekitarnya, jerit histeris terdengar dirumah yang tidak dilalap api, sebagian besar tubuh Bao-yun-peng terbakar, bahkan matanya sebelah kena serpihan sehingga mata itu keluar dari rongganya, Bao-yun-peng masih hidup walaupun dia mengambang di permukaan kolam, tidak ada orang yang berani memasuki areal bangunan yang sudah luluh lantak dan menyisakan api yang masih berkobar.
Seratus peledak telah dihabiskan oleh enam hek-to, dan dengan gesit mereka meninggalkan keterkejutan dan kepanikan warga, sampai pagi hari orang-orang masih berkerumun dari kejauhan, polisi datang untuk mengamankan area, saat matahari terbit Bao-hui dan Hang-bi datang, Hang-bi dengan gerakan luar biasa melintasi diatas kepala kerumunan orang, Coa-ciangbu tidak bisa menahan tindakan Hang-bi, Hang-bi memanggil-manggil ayah dan ibunya, namun hanya kresek bangunan yang dimakan api yang menjawabnya, ketika dia berdiri dipagar rumah tetangganya yang sudah runtuh, ia melihat jasad mengambang dikolam, dengan sigap laksana wallet ia berpoksai dan mendarat ditepi kolam.
Hang-bi menjerit histeris melihat ternyata jasad itu jasad ayahnya yang sudah hitam gosong, Hang-bi mengangkat tubuh ayahnya dari kolam, lalu memegang nadi ayahnya, dan dia merasakan masih berdenyut, lalu Hang-bi segera menggendong ayahnya dan keluar dari tumpukan bangunan, Coa-ciangbu berlari menyambut Hang-bi
244
“aduhhh..she-taihap..” keluhnya “apakah ayahmu masih hidup bi-ji ?” sela Bao-hui “masih paman.” jawab Hang-bi “kalau begitu cepat kerumah Lou-sinse.” sela Bao-hui sambil berlari, Hang-bi segera mengikuti pamannya, menuju tempat Lou-sinse, Hang-bi jauh lebih dulu sampai dari pamannya. Lou-sinse langsung memeriksa denyut nadi Kwaa-yun-peng, lalu memberinya pel dan memaksa masuk ketenggorokan Kwaa-yun-peng, kemudian Lou-sinse menarik pecahan kayu pada mata kanan Kwaa-yun-peng, setelah itu ia mengambil lipatan penyimpanan jarumnya, dan menusuk beberapa bagian dikepala Kwaa-yun-peng, Kwaa-yun-peng tidak lama siuman, sebelah matanya terbuka, namun semuanya kabur dan tidak jelas “diamanakah aku ?” “ayah..ayah..uuu…uuuu…” seru hang-bi sambil menangis “oh…bi-ji, kita dimana ini ?” “dirumah Lou-sinse ayah.” “oh…lou-sinse..terimakasih.” ujar Kwaa-yun-peng
“syukurlah she-taihap kamu masih bisa bertahan, sekarang jangan banyak pikiran, aku akan mengobati luka tubuhmu yang terbakar.” sahut Lou-sinse “baiklah sinse, bi-ji kamu keluarlah dan jangan larut dalam kesedihan.” ujar Kwaa-yun-peng, Hang-bi keluar dan duduk dikursi “bagaimana bi-ji ?” sela suara dari luar, ternyata Bao-hui sudah sampai
245
“ayah sedang diobati lou-sinse paman.” “apakah ayahmu sudah siuman ?” “sudah paman dan ayah sudah bicara denganku, dan sepertinya mata ayah yang sebelah tidak berfungsi.” “ah…apa sebenarnya yang terjadi, apa ayahmu ada masalah dengan orang-orang asing?” “setahuku tidak ada paman.” “baiklah bi-ji kamu tunggulah ayahmu, paman akan bicarakan ini kepada pejabat kam.” ujar Bao-hui, Hang-bi mengangguk, lalu Bao-hui meninggalkan rumah Lou-sinse.
Kasus peledakan kediaman Kwaa-yu-peng marak dibicarakan, para pejabat turun untuk menyaksikan tempat kejadian, dua hari kemudian Kwaa-yang-bun memasuki gerbang kota shanghai bersama paman dan bibinya, mereka terkejut melihat arela perumahan mereka hanya tinggal tumpukan hitam “apa yang terjadi ?” gumam Hoa-mei, Yang-bun menanyakan oarng-orang yang masih banyak menyaksikan reruntuhan bangunan, seorang tetangga mereka mendekat “kamu sudah datang bun-ji.” “paman kao apa yang terjadi dan bagaimana dengan keluargaku ?” “ayahmu saya dengar selamat, sekarang ia berada di rumah pamanmu Bao-hui.” “oh..baik dan terimakasih paman kao, kami akan segera kerumah paman.” sahut Yang-bun. Yang-bun mengajak Han-jin dan Hoa-mei ketempat Bao-hui
246
Kwaa-hang-bi yang melihat kakaknya datang lansung berlari sambil menangis dan memeluk kakaknya “ada apa bi-moi, apa yang terjadi ?” “rumah kita diledakkan orang, ibu tidak selamat dan enam puluh murid ayah tewas, dan dua puluh orang luka terbakar.” “bun-ji kamu sudah datang !?” “benar paman, bagaimana dengan ayah ?” “masuk dan temuilah ayahmu.” sahut Bao-hui, lalu merekapun masuk dan menuju kamar dimana Kwaa-yun-peng terbaring, badan dan mukanya dilamuri dengan obat berwarna putih. sebelah matanya masih rabun dan bergerak ketika merasakan kehadiran orang “ayah…” seru Yang-bun mendekat “kamu sudah datang bun-ji.” “benar ayah, aku bersama bibi hoa dan paman Han-jin.” sahut Yang-bun, sebelah mata Kwaa-yun-peng tiba-tiba mengambang air mata “cici..! aku tidak menyambutmu dengan layak.” “tidak mengapa adikku, musibah yang menimpamu sungguh luar biasa adikku, bisakah kamu ceritakan bagaimana kejadiannya ?”
“cici malam itu sepulang dari sini, saat kami tertidur ada orang yang melemparkan bahan peledak kedalam rumah, kejadiannya sangat cepat, aku berlari dan pingsan di dalam kolam, hanya itu yang saya tahu cici” “baiklah, lalu matamu itu apakah dapat melihat feng-te ?” “semuanya masih rabun cici, wajahmu masih bayang-bayang,
247
tapi siapakah bayangan yang satu lagi ?” “dia datang khusus untuk mengunjungi kita adikku.” “siapakah dia cici ?” “kamu tentu terkejut, karena dia adalah adik bungsu kita yang dilahirkan ibu kwee-kim-in “aoh..adikku…!” seru Yun-peng “benar peng-ko, aku Kwaa-han-jin datang menemui Peng-ko.” sela Kwaa-han-jin “jin-te bagaimana dengan ayah dan ibu ?” “ayah sudah meninggal demikian juga dengan ibu, peng-ko.”
“jin-te, aku tidak menyambutmu dengan hangat, rasanya aku ingin memelukmu.” “tidak mengapa Peng-ko, kita sudah bertemu tentunya hati kita sudah bertaut dengan erat, peng-ko.” “benar adikku, bagaimanakah wajah adik kita ini cici ?” “ingat saja wajah ibu kwee-kim-in, hidung dan matanya sama, tapi dagunya seperti ayah,” sahut Hoa-mei “kamu istirahatlah peng-te, kami akan keluar dan beramah tamah dengan keluarga abang iparmu.” ujar Hoa-mei “baiklah cici.” sahut Kwaa-yun-peng, lalu merekapun keluar.
“bagaimana hasil penyelidikan selama dua hari ini, sudah adakah petunjuk tenyang pelakunya ?” tanya Hoa-mei “belum ada she-taihap, polisi baru semalam memulai pengusutan.” “jin-te kita akan coba bantu penyelidikan pelaku peledakan ini.” “tentu cici, apakah cici punya ide kita mulai dari mana ?
248
“dikota ini banyak orang asing, dan yang getol dengan senjata api dan bahan peledak adalah orang asing berambut perak, apakah bao-sicu tahu ada berapa orang berambut perak yang terkenal dikota ini dan punya hubungan baik dengan pejabat pemerintah.” “setahu saya ada tiga orang she-taihap.” “siapakah mereka dan dimana kediamannya ?” “tuan Edmundo, tuan Fendrix dan tuan Alfonso, ketiganya berada di timur kota dekat pelabuhan” “pergilah jin-te kesana dan selidiki ihwal mereka sampai pada anak buahnya “baik cici, saya akan segera menemui mereka.” “sebaiknya saya ikut she-taihap.” sela Bao-hui “demikian lebih baik bao-sicu.” sela Hoa-mei, lalu Han-jin dan Bao-hui berangkat menuju timur kota.
Bao-hui menuju rumah Alfonso seorang pedagang asing, dua orang pribumi yang menjaga rumahnya mendekat “ada kepeluan apa kalian datang kemari ?” tanya seorang diantaranya “apakah tuan alfonso ada dirumah ?” “beliau sedang istirahat dan tidak boleh diganggu.” “kapan dia boleh ditemui ?” sela Han-jin “nanti sore mungkin bisa, ada urusan apa ?” “masalah peledakan perguruan pek-lek-twi, tentu anda sudah dengarkan ?” sahut Bao-hui “apakah kalian mencurigai tuan kami pelakunya ?” “benar, kami mencurigai tuanmu pelakunya.” sahut Bao-hui
249
“jangan sembarangan menuduh !” “oleh karena itu maka kami perlu bertemu tuanmu, tapi nanti sore saja kami datang lagi, dan kami permisi” sela Han-jin, lalu Bao-hui menuju rumah Edmundo.
“kalian ini siapa ?” tanya penjaga rumah tuan Edmundo “kami keluarga korban peledakan dua hari yang lalu.” “kenapa kalian datang kemari ?” “untuk bertemu dengan tuan Edmundo, apakah ia ada ?” “tuan Edmundo sudah sebulan tidak disini.” “tuanmu pergi kemana ?” sela Han-jin “tuan sedang berlayar ke Taiwan.” Jawab penjaga itu “baik, kami permisi dan terimakasih atas waktunya.” sela Han-jin, kemudian mereka melanjutkan kerumah tuan Fendrix
“bao-twako, orang ketiga ini pekerjaannya apa ?” “tuan fendrix seorang pedagang, sama dengan tuan Alfonso.” “lalu kalau tuan Edmundo ?” “tuan Edmundo seorang pelayar penangkap ikan, memang kenapa she-taihap ?” “melihat dari pekerjaan yang mereka lakukan disini, sebaiknya kita kita fokus pada tuan Edmundo.” “kenapa demikian she-taihap ?” “karena menurut saya, orang yang cendrung memiliki bahan peledak dalam jumlah yang banyak adalah tuan Edmundo.” “jadi kalau begitu bagaimana menurut she-taihap ?” “kita kembali ke tempat tuan Edmundo.” sahut Han-jin
250
“baiklah kalau begitu, marilah !” ujar Bao-hui, lalu keduanya kembali kerumah tuan Edmundo
“eh..kalian, ada apa lagi ?” tanya penjaga “jika tuan Edmundo tidak berada ditempat, siapakah yang berwenang ?” tanya Han-jin “putranya, tuan Richard de mundo.” “dapatkah kami bertemu dengannya ?” “tidak bisa, karena tuan sedang istirahat.” “lalu kapan kami bisa bertemu ?” tanya Bao-hui “kalian harus buat janji dulu dengannya, baru bisa bertemu.” “kalau begitu laporkanlah kepadanya bahwa nanti sore kami akan kesini menemuinya.” “tidak bisa, karena nanti sore, tuan ada acara, lalu malamnya juga ada acara.” “baiklah kalau begitu, kami permisi dulu, ayok Bao-twako” ujar Han-jin, lalu keduanya pergi
“kenapa she-taihap mengajak saya pergi, padahal kita belum tahu jelas kapan bisa bertemu.” “adat orang berambut perak ini luar biasa, jadi menurut saya Bao-twako kembali saja kerumah, biar saya urus hal ini, semoga nanti sore saya sudah dapat petunjuk.” ujar Han-jin “begitukah menurutmu she-taihap ?” “benar twako, tentu twako tidak keberatan kan ?” “baiklah kalau begitu, kami akan menunggu she-taihap dirumah.” sahut Bao-Hui, lalu merekapun berpisah, saat Bao-
251
hui menoleh kebelakang Kwaa-han-jin sudah raib entah kemana.
Kwaa-han-jin dengan ilmu “goat-koan-sim-hang” memasuki rumah tuan Edmundo, didalam rumah putra Edmundo sedang mengatur anak buahnya mengangkati peti kedalam sebuah lorong, Richard de mundo seorang lelaki tampan berumur dua puluh tiga tahun ”Gao-sang cepat kalian masukkan semua keruang bawah tanah.” “tenang tuan Richard, kita pasti aman dari penyelidikan polisi.” sela Gao-sang “yang didalam kapal juga sudah diamankan Gao-sang ?” “sudah tuan Richard, hehehe..hehehe..” “baagus kalau begitu, setelah ini kalian boleh libur selama tiga hari, sehingga ketika polis datang, saya bisa mengajukan bahwa kalian libur, jangan ada yang berada di sekitar pelabuhan.” ujar Richard
“sebelum libur saya ingin menemui semua anak buah tuan Richard.” sela suara, dan tiba-tiba Han-jin sudah berdiri disamping Richard “eh..si..siapa kamu ?” seru Richard terkejut dan muka pucat “saya Kwaa-han-jin, keluarga korban peledakan dua hari yang lalu.” “ke..kenapa kamu bi..bisa masuk kesini !?” “tidak perlu tuan Richard ketahui bagaiaman saya bisa ada disamping tuan, sekarang perintahkan semua anak buahmu
252
berkumpul.” sahut Han-jin “a..apa yang mau kamu lakukan ?” “menanyakan kepada mereka sehubungan dengan peledakan itu.” “kami tidak hubungan dengan itu.” bantah Richard “kalau tidak ada hubungan, kenapa peti-peti itu disembunyikan ? apakah isi peti itu ?” “apa isinya tidak perlu kamu tahu !” “tuan Richard harus bantu saya, saudaraku dan dua puluh muridnya terbaring dengan tubuh terbakar, kakak iparku tewas bersama enam puluh muridnya, apakah tuan Richard tidak perduli dengan korban-korban itu ?”
“saya tidak bisa bantu, itu urusan polisi untuk mengusutnya.” “benar tuan Richard, tapi anda berusaha untuk menipu polisi dengan menyembunyikan peti-peti ini, kenapa kamu lakukan hal itu tuan ?” tanya Han-jin, “ayo..kalian semua kumpul dan berbaris !” perintahnya, sambil mengatur empat puluh orang yang berada di ruangan itu, Gao-san menyelinap melarikan diri, ketika dia sampai dihalaman, Han-jin sudah berdiri didepannya “hah…kamu manusia apa setan ?” “hehehe..hehehe….aku bukan setan sicu, eh…kenapa kamu lari ?” “ti..ti..tidak apa-apa , a..a..aku hanya mau buang air besar.” Jawab Gao-sang terbata-bata, dan tiba-tiba orang dari dalam berserabutan keluar, namun mereka berhenti saat melihat Han-jin berhadapan dengan Gao-sang, mereka terkejut melihat Han-
253
jin menghilang, lalu semua bubar dari barisan dan berlari keluar, tidak terkecuali Richard pun lari menuju keluar.
“kalian mau kemana ?” tanya Han-jin “eh..kapan kamu masuk ?” tanya panjaga itu heran dan wajah pucat “nanti saya ceritakan, sekarang kamu bariskan semuanya termasuk tuan Richard.” sahut Han-jin, penjaga itu membariskan semua, Han-jin juga menyuruh Gao-sang masuk barisan “tuan Richard, saya menghormati anda sebagai tamu dirumah kami, namun apa yang kamu bawa kerumah kami ini membuat kerusakan yang luar biasa ditempat kami, jadi sekali lagi saya minta supaya anda sedikit peduli dengan yang terjadi akibat apa yang kamu miliki.” “sa..saya tidak tahu menahu dengan peristiwa peledakan.” sahut Richard “lalu siapa yang tahu ?” “Gao-sang yang tahu dengan semua itu.” jawab Richard, Gao-sang terkesiap dan tubuhnya menggigil, ketika Han-jin mendekatinya
“pantas kamu lari Gao-sicu, sekarang ceritakanlah tentang peledakan itu !?” “bu..bukan saya yang meledakkan rumah she-taihap.” “lalu siapakah yang melakukannya ?” “ada dua orang wanita yang bertemu dengan saya, mereka merasa sakit hati dengan she-taihap.”
254
“siapa nama dua perempuan itu ?” “namanya Ma-bi-eng dan Suma-hoa.” Jawab Gao-sang “kamu tahu mereka akan mencelakakan orang, lalu kenapa kamu berikan bahan peledak kepada mereka ? apakah kamu juga sakit hati dengan saudaraku ?” “ti..tidak taihap, a..a..aku hanya suka pada mereka.” “enam puluh orang tewas karena rasa sukamu pada mereka, sepadankah Gao-sicu ?” “a..a..aku sangat menyesal taihap.” “baguslah kalau begitu, tapi hukum tetap akan ditegakkan, jadi saya minta tuan Richard dan Gao-sicu ikut saya menemui pejabat yang berwenang.”
“taihap urusan ini jangan sampai pada polisi, dan kami akan menggati rugi rumah taihap dan biaya pengobatan yang terluka” sela Richard “kenapa demikian tuan Richard, anda ini tamu dirumah kami, lalu kenapa anda takut untuk menemui kepala rumah tangga rumah kami, tamu macam apakah anda ini ?” “masalahnya taihap, ayah saya tidak ada disini.” ujar Richard “tuan berani memutuskan mengganti rugi tanpa keberadaan ayah tuan disini, lalu kenapa tuan mengharapkan ayah anda untuk urusan menghadap pada yang berwenang?” “urusan ganti rugi saya bisa mempertanggung jawabkannya pada ayah saya, tapi urusan hukum saya tidak bisa.” “apakah tuan Richard sudah tahu, apa hukum yang akan menimpa tuan jika menemui yang berwenang ?” “saya tidak tahu.”
255
“kalau begitu kenapa takut, mari tuan Richard !” ujar Han-jin, namun Richard tetap berdiri ditempatnya dan mencabut senjata api dibalik bajunya “dor…augh..dor…heghh…” Richard menembak kearah Han-jin, Han-jin yang waspada telah melihat gerakan tangan Richard yang masuk kedalam baju, dan ketika senjata itu keluar dan diarahkan, ia cepat bergerak mengjilang, malang Gao-san kena sasaran, sehingga ia ambruk dan tewas seketika, karena bahu dan kepalanya kena tembus peluru panas.
“augh…” jerit Richard karena tiba-tiba tangannya terkulai lemas, dan senjata apinya lepas dan jatuh, tiba-tiba dia melayang, karena tubuhnya di panggul Han-jin dan berlari dengan gesit, semua mata melonggo “habislah kita, berani main-main dengan she-taihap.” Keluh seorang “ini semua gara-gara pecundang satu ini.” sela yang lain sambil menunjuk mayat Gao-sang. “saya yakin kita juga akan mendapat imbas dari kepemilikan bahan peledak ini.” “saya harap tidak, karena saya lihat pendekar itu sangat cakap hal keadilan, jiwa keadilannya yang penuh rasa kasih, lebih besar dari emosi dan dendam, walaupun yang jadi korban itu keluarganya sendiri.‟ “eh..apakah itu Jin-sin-taihap yang kita dengar di Hopei.” “oh..iya benar sekali, itu pasti Jin-sin-taihap.” sela yang lain.
256
Kwaa-han-jin sampai dirumah Bao-hui, kedatangannya disambut Bao-hui dan Hoa-mei “bagaimana she-taihap ?” tanya Bao-hui “saya sudah dapatkan siapa pelakunya twako, dan ini tuan Richard harus segera dihadapkan pada yang berwenang, tuntutuannya adalah membunuh orang dan menyembunyikan bahan peledak yang sangat banyak diruang bawah tanah didalam rumahnya.” “baik akan segera saya bawa dia ke pejabat yang berwenang.” “oh ya twako, akibat hokum yang mungkin diterima tuan Richard ini akan menelantarkan empat puluh buruh kasarnya, semoga pejabat yang memutuskan dapat berlaku adil pada mereka.” “hmh..saya akan sampaikan rekomendasi jin-te pada beliau.” sahut Bao-hui, lalu Bao-hui menggiring Richard kepolisi.
“bagaimana hasil penyelidikanmu Jin-te ?” “dugaan cici memang benar, ini kelompok lain yang hendak melenyapkan kita.” “siapa kelompok ini Jin-te ?” “mereka dua orang wanita dan nama keduanya adalah Ma-bi-eng dan suma-hoa, dan sepertinya kelompok ini lebih dari dua, karena kedua wanita ini hanya alat untuk mendapatkan bahan peledak.” “hmh…ini hari ketiga Jin-te, dan jika mereka melarikan diri pada malam meledakkan kediaman peng-te, bagi kita itu belum jauh, jadi sebaiknya bawalah pek-thouw untuk melacak keluar kota, dan bun-ji akan melacak didalam kota.” ujar Hoa-mei
257
“baik cici, saya akan berangkat sekarang.” sahut Han-jin, setelah Hana-jin berangkat, Hoa-mei menyuruh Kwaa-yang-bun untuk melacak didalam kota, terutama tempat penginapan.
Enam hek-to setelah meledakkan kediaman Kwaa-yun-peng, mereka kembali kepenginapan. “apakah kita akan langsung meninggalkan kota ?” tanya tung-mo-san “tidak usah, kita dengar dulu bagaimana hasilnya.” sahut Lam-liong-sian, merekapun menunggu sampai pagi, paginya dipenginapan heboh membicarakan ledakan dikediaman she-taihap “ada apa sicu ?” tanya lam-liong-sian pura-pura “rumah she-taihap diledakkan orang.” “lalu bagaimana ?” tanya Lam-liong-sian “tidak tahu, orang lagi berbondong-bondong kesana, aku juga hendak melihatnya.” “aku ikutlah sicu, mari kita kesanan melihatnya.” sahut Lam-liong-sian.
Lam-liong-sian bersama tamu yang lain pergi ke lokasi, Lam-liong-sian sampai ditempat saat Kwaa-hang-bi membawa ayahnya ketempat lou-sinse “bagaimana apa yang terjadi dengan she-taihap sicu ?” tanya Lam-liong-sian kepada orang yang terlebih dahulu datang “kata putrinya ayahnya masih hidup dan sekarang hendak dibawa ketempat lou-sinse.” ujar orang itu, lalu Lam-liong-sian mengikuti Bao-hui yang mengikuti Kwaa-hang-bi, di berhenti
258
digang masuk areal perumahan Lou-sinse, dia tidak berani mendekat, takut diketahui Hang-bi, tidak lama ia menunggu, tiba-tiba Bao-hui muncul “bagaimana keadaan she-taihap sicu ?” “syukurlah ia selamat dan sekarang sedang diobati lou-sinse, eh anda siapa sicu ?” “aku keluarga dari tetangga she-taihap yang rumahnya ikut diledakkan.” “oh..bagaimana dengan keluargamu sicu ?” “tidak ada yang selamat sicu.” sahut Lam-liong-sian “ah kasihan sekali dan sungguh sadis orang yang melakukan peledakan itu, baiklah sicu aku lagi buru-buru hendak menemui kepala polisi.” ujar Bao-hui.
“baiklah sicu, semoga aparat cepat bertindak.” sahut Lam-liong-sian, lalu keduanya berpisah, Lam-liong-sian kembali kepenginapan “sial kita gagal, she-taihap tidak mati.” keluh Lam-liong-sian gemas “lalu apa yang akan kita lakukan ? tanya tung-mo-san “sebaiknya kita meninggalkan kota hari ini.” sela see-bi-kui “tidak, kita harus berusaha membunuh she-taihap, dimana dia sekarang ?” tanya thian-kui “dia bersama putrinya di tempat seorang tabib.” sahut Lam-liong-sian “bagus kalau begitu, ini kesempatan kita untuk membunuhnya. “tunggu dulu, kalau kita pergi sekarang, kita akan dicurigai,
259
para polisi banyak yang berpatroli, nanti kita dicurigai.” sela Lam-liong-sian.
“jadi kapan kita akan bertindak ?” tanya Tee-kui “nanti malam baru kita bertindak.” sahut lam-liong-sian, semuanya mengangguk, lalu siang itu mereka lewatkan sambil mendengar berita dari mulut para tamu, setelah makan malam mereka keluar menuju kediaman Lou-sinse, namun mereka tidak menduga, bahwa menjelang sore Kwaa-yun-peng sudah dibawa kerumah Bao-hui, mereka kembali kepenginapan “bagaimana sekarang lam-liong-sian ?” tanya see-bi-kui “besok kita tanya pemilik likoan dimana kediaman saudara she-taihap itu, dan pagi itu juga kita bertindak.” sahut Lam-liong-sian.
Pagi-pagi sekali Lam-liong-sian menemui tan-wangwe “loya bagaimana kabar ledakan itu ?” “saya dengar sudah diusut oleh polisi.” sahut tan-wangwe “kasihan sekali she-taihap ya loya, dimana ia tinggal jika rumah sudah luluh lantak seperti itu.” “sementara mungkin ia akan dirumah kakak iparnya Bao-hui di selatan kota.” “ohh..untunglah ternyata she-taihap masih ada saudara yang menampung.” Ujar Lam-liong-sian “benar sicu, sicu mau pesan apa ?” “oh iya, kami minta sarapan bubur loya.” jawab Lam-liong-sian, lalu meninggalkan tan-wangwe.
260
Lima rekannya turun dan Lam-liong-sian telah duduk menunggu mereka “setelah sarapan kita akan keselatan kota.” ujar Lam-liong-sian, tanpa menyahut lima rekannya menikmati sarapan bubur, setelah selesai mereka keluar, dan lam-liong-sian terkesiap berhenti demikian juga lima rekannya, karena mereka melihat Kwaa-han-jin lewat bersama Hoa-mei dan Kwaa-yang-bun “ini tidak baik sebaiknya kita menyingkir dari sini.” ujar Lam-liong-sian, pagi itu juga mereka melarikan diri lewat gerbang timur.
Enam rekanan itu berlari cepat seakan dikejar setan, mereka istirahat setelah lewat siang disebuah hutan. “apakah menurut kalian kita sudah aman ?” tanya see-bi-kui “tentu sudah, jadi mari kita cari hewan buruan untuk mengganjal perut.” sahut thian-kui “menurut saya kita hanya istirahat dulu, nanti malam baru kita mengisi perut.” sela tung-mo-san “saya sependapat dengan tung-mo-san.” ujar see-bi-kui, akhirnya mereka sepakat untuk hanya istirahat, lalu setelah itu mereka melanjutkan pelarian, kecepatan lari mereka tidak diturunkan, mereka seperti berlomba lari melintasi hutan dan lembah.
Malamnya mereka istirahat disebuh lembah dekat sebuah sungai, tung-mo-san dan tee-kui memburu binatang untuk pengganjal perut, see-bi-kui menyalakan api, tidak lama tee-kui dan tung-mo-san membawa seekor babi hutan, pak-giamlo-
261
sianli menguliti babi hutan dan membersihkannya, setelah itu panggang babi guling pun di jerang diatas bara api.
“kreeekkk” sebuah teriakan datang dari atas, enam rekanan itu mendongak, dan mereka terperanjat ketika melihat Jin-sin-taihap sudah berdiri didepan mereka, Kwaa-han-jin yang mengitari luar kota shanghai hingga sore hari, namun tidak ada gerakan yang mencurigakan dibawah sana, akhirnya malam pun tiba, Han-jin memutuskan untuk kembali, baru saja Han-jin melintasi sebuah bukit, disebuah lembah ia melihat cahaya api, lalu Han-jin turun dan mendapatkan enam rekanan itu terkejut.
“ternyata kalian, selamat bersua kembali sicu.” sapa Han-jin “apa maksudmu datang kemari jin-sin-taihap ?” tanya lam-liong-sian “mungkin aku sedang mencari kalian liok-sicu.” “kenapa kamu mancari kami ?” sela pak-giamlo-sian-li, Han-jin menatap mata suma-hoa dan bergantian menatap wajah Ma-bi-eng “bukankah kalian pacarnya si Gao-sang ?” tanya Han-jin, suma-hoa dan bi-eng saling pandang “kami bukan pacarnya !” sahut keduanya serempak “hehehe..liok-sicu kalian luar biasa sadis telah meledakkan keluargaku di shanghai, kenapa bertindak sepengecut itu ?” “taihap, apa saja boleh dilakukan untuk menggapai keinginan, itu satu kewajaran dalam rimba persilatan, seraaang..!”: sela Thian-eng sambil menyerang, tiga orang rekannya mengikuti
262
perintah itu, namun tung-mo-san dan see-kui-bi ragu, sehingga keduanya berdiri saja
Kwaa-han-jin bergerak gesit, diantara deru serangan empat lawannya, ilmu im-yang-sian-sin-lie digerakkan oleh she-taihap dengan indah, sampai tujuh puluh jurus Han-jin belum memberikan perlawanan berarti, namun setelah itu, Han-jin mengeluarkan kipas hadiah dari suhengnya Yo-seng, dengan Im-yang-bun-sin-im-hoat ujung kipas itu digerakkan, gerakan melukis dan menulis kata-kata itu demikian indah dan kokoh, gerakannya yang rumit dan penuh gerakan-gerakan tidak terduga membuat empat lawannya kalang kabut “see-bu-kui, apa lagi yang kamu tunggu, ayok maju !” teriak suma-hoa, lalu kedua rekannya bergerak dan ikut masuk dalam pertempuran, Han-jin bergerak cepat menyambut kedua orang terlemah diantara rekanan ini.
Baru dua puluh jurus see-kui-bi masuk “tuk….” Gagang kipas han-jin sudah mengenai lambungnya, see-bi-kui merasa perutnya mual, hawa dingin menyetrum tubuhnya hingga menggigil, dia terpaksa berlutut Manahan nyeri dan rasa dingin, dan tidak lama kemudian “wuut…tuk..auh,,auhh…panas…” sambaran kipas membuat tung-mo-san terperanjat dan disusul tiba-tiba gagang kipas mengetuk punggungnya, tung-mo-san muntah darah, tubuhnya merah saga menahan hawa panas yang menyetrum tubuhnya, ia menggelepar seperti cacing kepanasan sambil menjerit kepanasan.
263
Empat lawannya makin ciut, namun untuk mundur mereka tidak punya kesempatan, akhirnya mereka nekat untuk bertarung mati-matian, dengan segala ilmu yang mereka miliki dikerahkan dengan sepenuh sing-kang yang ada, namun sampai ratusan jurus keadaan makin berbahaya bagi mereka, mereka sudah terdesak hebat, kurungan Im-yang-bun-sin-im-hoat membuat mereka bingung “kita hantam dengan pukulan sakti !” teriak thian-kui, lalu empat tenaga pukulan luar biasa kuat dari empat penjuru menuju Han-jin “dhuar…dhuar….” Dua ledakan keras membuat lembah itu bergetar, empat rekanan itu melayang laksana layangan putus, thian-kui melabrak pohon hingga tumbang, lam-liong-sian jatuh menimpa sebuah batu di tengah sungai, lam-liong-sian dan thian-kui langsung tewas seketika, suma-hoa dan tee-kui memuntahkan darah segar.
Tubuh suma-hoa pucat kedinginan, sementara tee-kui merah kepanasan, keduanya sama-sama diujung maut, sementara Han-jin berdiri dengan tenang, akhirnya suma-hoa diam tidak bergerak, karena ajalnya menyusul dua rekannya, sementara tee-kui masih menggelepar dengan darah yang terus muncrat laksana dipompa dari dalam, dan tidak lama setelah suma-hoa tewas tee-kui pun nyawanya terbang, see-bi-kui dan tung-mo-san menyaksikan semua itu dengan rasa takut dan ngeri disamping nyeri yang mereka derita “kalian ini akan sembuh jika mendapatkan pengobatan yang tepat, tapi jika kalian aku obati aku kasihan pada kalian, tapi
264
aku lebih kasihan jika kalian mati tanpa bisa memperbaiki diri.” ujar Han-jin, kemudia dia menotok punggung tung-mo-san dan menotok lambung bi-eng.
Tubuh keduanya hangat seketika, Han-jin kemudian bersuit, saat bayangan besar turun, Han-jin melenting dan naik ke atas rajawali, Han-jin sampai ke shanghai hampir pagi,kedatangannya disambut Hoa-mei yang tidak tidur menunggu adiknya “bagaimana jin-te ? apa yang kamu dapatkan ?” “aku sudah menemui mereka cici, dan kenekatan empat orang dari mereka telah berakhir pada kebinasaan, dan dua semoga dapat berubah dengan mengambil hikmah dari peristiwa yang mereka alami.” “kalau begitu kamu istirahatlah Jin-te.” “cici juga belum tidur, sebaiknya istirahat juga.” “benar jin-te, cici juga akan tidur sebentar.” sahut Hoa-mei. Keduanya pun istirahat
Selama tiga hari pengadilan menggelar pengadilan untuk Richard, semua bukti di sita oleh pengadilan berupa ratusan peti bahan peledak, sehingga diputuskan menghukum mati Edmundo dan Richard de mundo, kemudian memberi ganti rugi pada she-taihap dan tiga rumah rumah lainnya, rumah she-taihap pun kembali dibangun, Kwaa-yun-peng sendiri, setelah seminggu luka bakarnya sudah mulai mengering, dan sebelah matanya sudah normal kembali.
265
:”Peng-te, saya dan jin-te akan pergi ke lokyang untuk melihat situasi disana, serangan pada kita ini telah terencana oleh kelompok hek-to, saya yakin telah terjadi sesuatu pada liong-te sebagaimana yang terjadi pada saya dan kamu.” ujar Hoa-mei “baiklah cici, semoga saja liong-ko baik-baik saja, kapan cici dan jin-te berangkat ?” “hari ini kami akan berangkat peng-te.” Jawab Hoa-mei “jin-te jaga cici baik-baik dan lain kali berkunjunglah kesini, saya masih ingin berlama-lama denganmu.” “baik peng-ko, lain kali saya akan mengunjungi peng-ko kembali.” sahut Kwaa-han-jin. Kemudian Hoa-mei dan Han-jin meninggalkan kota shanghai.
Sudah tiga hari lokyang diguyur hujan lebat, jalanan becek dan tergenang, para warga lebih memilih menghangatkan diri didalam rumah daripada keluar, menjelang sore hujan reda seperti kemarin, namun saat tengah malam hujan turun lagi, sore itu beberapa warga keluar untuk menyelesaikan urusannya, ditengah jalan berbecek dua orang kakek dan dua orang lelaki paruh baya melintasijalan menuju sebuah likoan, empat orang itu adalah kelompok ketiga dalam misi pelenyapan she-taihap, dua cianpwe adalah kwi-ban-ciang dan kwi-sian-hengcia, sementara dua lelaki paruh baya adalah koai-ma dan mo-miauw
“bur..bur….” koai-ma menggedor pintu penginapan, seorang pelayan membukakan pintu “hari ini kami tidak menerima tamu.” ujar pelayan
266
“kalau tidak menerima tamu, kami juga tidak sebagai tamu, melainkan pemilik penginapan ini, jadi kamu dan tuanmu cepat keluar dari sini.” “maaf tuan, lo-ya sedang sakit.” ujar pelayan “eh..tengik kamu sampaikan pada tuanmu, dia memilih keluar dari sini atau melayani kami.” sela kwi-ban-ciang “b..b..baik cianpwe.” sahut pelayan dengan wajah pucat ketakutan, lalu ia menemui tuannya “sim-loya, empat orang ada diluar dan memaksa masuk.” “sial..kamu usir dan katakana kita tidak menerima tamu.” “sudah saya katakan tuan, namun mereka katakan, kita pilih keluar dari sini atau tetap melayani mereka.”
“masa bodo. pergi usir mereka, aku makin pusing mendengarmu.” “hehehe..hehehe sekalian saja kamu mampus ! plak…prak…” sela kwi-ban-ciang yang muncul tiba-tiba dan menampar kepala sim-loya hingga remuk, sim-loya tewas diiringi jerit histeris istri mudanya, rambut sim-hujin ditarik kwi-ban-ciang “hehehe..lumayan cantik, ditengah hawa yang sejuk dan dingin begini, tentu enak kelonan sama perempuan muda, hehehe.,.hehehe..” mendengar kata-kata kakek tua itu sim-hujin makin ketakutan.
Kwi-ban-ciang menendang mayat sim-loya sehingga menjebol pintu dan jatuh dilantai bawah, kemudian menarik sim-hujin keatas ranjang, sementara pelayan masih berlutut ketakutan sambil menundukkan kepala
267
“eh,,,kamu kenapa masih disitu, mau nonton kami yah, enak saja kamu nonton tidak pake bayar, pergi sana..! siapkan makanan untuk kami..” bentak kwi-ban-ciang, pelayan itu keluar terbirit-birit “eh pelayan cepat hidangkan arak untuk kami !” teriak mo-miauw “b..b..baik tuan.” sahut pelayan berlari kedapur untuk menyiapkan arak, lalu dengan tubuh mengggil ia mengidangkan seguci arak dan tiga cangkir “makanan apa yang ada ?” tanya koai-ma “hanya nasi dan goreng ayam sambal, tuan.” “goblok, cepat bawa kesini !” bentak koai-ma “b..baik tuan.” Sahut pelayan dan segera berlari untuk mengambil makanan dan menghidangkan dimeja.
Kwi-ban-ciang turun dengan senyum cengegesan “hengcia, ada yang enak dikamar, dan sangat hangat di tengah cuaca begini, kamu mau menghangatkan tubuh tidak ?” “jelas mau dong ban-ciang.” sahut kei-san-hengcia dan segera naik keatas dan masuk kamar, Sim-hujin terpaksa melayani nafsu kwi-sian-hengcia, setelah merasa puas kwi-san-hengcia meninggalkan kamar, koai-ma langsung lari kekamar dan menuntaskan birahinya pada sim-hujin, demikian juga dengan mo-miauw.
“koai-ma pergi buang mayat ini jauh-jauh !” perintah kwi-ban-hengcia “baik cianpwe !” sahut Koai-ma, lalu dia membungkus mayat
268
sim-loya dengan tikar, dan membawanya keluar kota lokyang, setelah itu ia kembali dengan buru-buru karena hujan lebat turun lagi, sesampai di likoan bajunya sudah basa kuyup, segera ia ganti dengan pakaian sim-loya. “hehehe…pas benar.” Pikirnya, lalu ia menatap sim-hujin yang meringkuk di bawah ranjang dengan wajah pucat “eh…bagaimana menurutmu, bukankah aku lebih gagah dari suamimu yang tua itu ? hehehe..hehehe..” ujar koai-ma, sim-hujin hanya diam dan memeluk lutut.
Koai-ma turun kelantai bawah “koai-ma panggil pelayan dan si nyonya itu kemari !” ujar kwi-ban-ciang, koa-ma kembali naik keatas dan menyeret sim-hujin, sementara mo-miauw juga telah membawa pelayan dan mendudukkan didepan dua cianpwe, sim-hujin duduk disamping pelayan, keduanya sama-sama takut dan pucat pias “kalian kenal she-taihap yang ada di kota ini !?” tanya Kwi-san-hengcia “ke..kenal loya.” sahut pelayan “bagus siapa namamu ?” ujar kwi-ban-ciang “a..aku A-liok loya.” “nah..A-liok kamu ceritakan tentang she-taihap dan keluarganya.” “she-taihap termasuk orang penting di kota ini, karena mereka adalah orang baik dan terkenal kesaktiannya, she-taihap membuka toko obat di pusat kota, dan rumahnya berada sebelah timur kota.” “berapa orang anaknya ?” tanya kwi-ban-ciang
269
“anak she-taihap ada dua, kwaakgan-bao dan kwaa-tan-bouw “apakah kedua anaknya ada sekarang ?” “sepertinya anaknya Tan-bouw yang ada, sementara yang sulung sudah lama tidak disini.”
“hmh…bagus kalau begitu, besok kamu pergi ke toko obat she-taihap, beli obat luka dan kamu minta tolong kepada salah seorang she-taihap supaya datang kesini, katakana bahwa rumah majikanmu diancam penjahat, dan penjahatnya akan datang besok siang kerumah majikanmu, mengerti !?” ujar kwi-san-hengcia “me…mengerti loya.” sahut A-liok “bagus, sekarang kamu pergilah kembali kedapur.” ujar kwi-ban-ciang, A-liok segere bangkit dan meninggalkan ruangan “dan kamu manis, dengan siapa kamu tidur malam ini ?” tanya kwi-ban-ciang “hehehe…hahaha…hahaha…” suara tiga rekannya meledak “kita harus cabut undi, yang muncul pilihannya menang, dari dari kita memilih satu pilihan, saya genap.” sela kwi-san-hengcia sambil mengambil dadu diatas meja kasir “saya juga genap.” Sela mo-miauw “baik kami berdua ganjil.” ujar kwi-ban-ciang, lalu dadu pun dilempar, ternyata ganjil “hahaha..hahaha kami menang ujar kwi-ban-ciang “kamu milih apa koai-ma ?” tanya kwi-ban-ciang “aku milih ganjil cianpwe.” sahut koai-ma, lalu kwi-ban-ciang melempar dadu, dan ternyata ganjil “hehehe..hahaha..mari manis malam ini kita akan tidur
270
bersama.” ujar koai-ma sambil menarik sim-hujin yang sudah pasrah dan ketakutan.
Keesokan harinya A-liok mendatangi toko obat Kwaa-sin-liong, A-sung seorang pegawai kwaa-sin-liong melayaninya “sicu cari obat apa ?” tanya A-sung “aku mencari obat luka twako.” “luka senjata tajam, luka terbakar atau luka pukulan ?” tanya A-sung “luka kena senjata tajam twako.” sahut A-liok, A-sung menarik sebuah laci “twako she-taihap belum datang ?” tanya A-liok “belum, mungkin sebentar lagi.” sahut A-sung “ini harganya lima ketip sicu.” ujar A-sung, A-liok membayar, dan dia masih tetap berdiri didepan toko.
“apa lagi sicu ?” tanya A-sung heran “aku hendak menunggu she-taihap, twako.” sahut A-liok “ooh, kalau begitu masuklah kesini, dan sicu bisa duduk sambil menunggu.” ujar A-sung “terimakasih twako.” sahut A-liok, lalu ia pun masuk dan duduk, agak sepemimum teh Tan-bouw datang “kongcu sudah udah datang sicu.” ujar A-sung pada A-liok, A-liok bangkit dari duduknya “ini obat yang di bawa ayah semalam, tolong paman A-sung pilah-pilah.” ujar Tan-bouw sambil menyerahkan buntalan yang ia bawa. “baik kongcu, oh sicu ini mau ketemu dengan kongcu.” sahut A-
271
sung “oh-ya paman siapakah ?” tanya Tan-bouw “aku A-liok she-taihap.” jawab A-liok “ada apa paman A-liok ? apa yang bisa saya Bantu ?”
“begini taihap, majikan saya diancam seseorang, dan dia akan datang lepas siang.” “eh yang mengancam siapa paman ?” “majikan saya tidak kenal, jadi majikan saya teringat she-taihap dan minta tolong supaya taihap datang ke tempat majikan saya.” “dimana tempat majikan paman ?” “majikan saya im-loya, pemilik likoan yang ada diselatan, kalau bisa kita sekarang kesana taihap.” ujar A-liok “baiklah paman, mari kita ketempat majikan paman.” sahut Tan-bouw “oh ya paman A-sung, jika ayah datang dan saya belum tiba, katakan saya ke likoan sim-loya disebelah selatan kota.” ujar Tan-bouw :baik kongcu, hati-hati.” sahut A-sung.
A-liok dan Tan-bouw menuju likoan sim-loya diselatan kota, sesampai di likoan “kenapa kalian tutup paman A-liok ?” tanya Tan-bouw “sim-loya ketakutan, jadi menutup likoan.” jawab A-liok sambil membuka pintu likoan “silahkan duduk taihap ! saya akan menemui loya.” ujar A-liok langsung segera kedapur
272
“hehehe…hehehehe…hahaha….hahaha…..” she-taihap mari kuantar keneraka.” Sela suara dan tiba-tiba kwi-ban-ciang dan kwi-san-hengcia muncul, Tan-bouw sudah dari tadi mendengar gelagat tidak baik sudah siap dan waspada “kalian ini siapa ?” tanya Tan-bouw “baik kami saya adalah kwi-ban-ciang dan kwi-san-hengcia, puas ! dan sekarang mampuslah !” sahut kwi-ban-ciang, lalu kedua cianpwe itu menyerang tan-bouw, she-taihap dengan tenang menghadapi dua lawan kosen ini, benturan tenaga yang disatukan menekan sin-kang tan-bouw membuat tan-bouw bergetar.
Koai-ma dan mo-miauw muncul dan bergerak sambil menonton pertandingan, mereka siap dengan pukulan gelap yang mengintai tan-bouw, sesuai aba-aba dari kedua cianpwe, Tan-bouw mengerahkan im-yang-sian-sin-lie, gerakan luar biasa dan indah menyapu segala tekanan dua cianpwe, namun lama kelamaan, Tan-bouw makin merasa tertekan dengan serangan yang bertubi-tubi dari kedua lawannya yang luar biasa, baru menginjak juru keseratu Tan-bouw sudah meningkatkan daya serangnya untuk mengurangi tekanan dengan Im-yang-bun-sin-im-hoat, gerakan ini sedikit banyaknya mengurangi tekanan, terlebih suara gemerisik menawarkan benatakan-bentakan magis dari kwi-san-hengcia.
Pertempuran pun kian seru dan sudah pindah dari ruangan ketaman belakang likoan, serangan dan pukulan kedua iblis itu mengurung jurus melukis she-taihap, setiap serangan yang
273
dilakukan patah ditengah jalan karena kecepatan rekanan iblis itu saling membantu mengancam dengan pukulan berbahaya, sehingga pada satu kesempatan “tuk…buk…” ketukan pukulan im-yang-bun-sin-im-hoat mengenai lambung kwi-ban-ciang, lalu tan-bouw menerima pukulan kuat dari kwi-san-hengcia, kwi-ban-ciang merasa nyeri dan hawa dingin merasuki tubuhnya, namun hanya sebentar karena sin-kangnya masih dapat mengimbangi kekuatan hawa yang masuk.
pukulan sakti kwi-san-hengcia juga tidak mempengaruhi kehebatan dan kegesitan she-taihap berkat ilmu “siu-to-po-in” kedua cianpwe itu merasakan kejanggalan itu, lalu trik kedua mereka jalankan, mereka mendesak secara bersamaan, sehingga seat tan-bouw mundur, dan “buk.dess..” dua pukulan tidak terduga menghantam punggungnya dan tidak bisa dielakkan Kwaa-tan-bouw, untungnya siu-to-po-in masih ampuh, dan Tan-bouw terpancing menyerang koai-ma dan mo-miaw, kedua orang ini langsung lari menjauh ementara dua pukulan telak dari kedua cianpwe menghantam pundak dan lambungnya, she-taihap masih prima dengan seabrek ilmu rahaia yang diwariskan padanya..
Waktu sudah sore, namun she-taihap masih alot dan kuat, walaupun beberapa pukulan sudah ia terima dari keempat lawannya, dua iblis mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mempercepat daya serangan, tan-bouw sudah mengeluarkan ilmu im-yang-pat-sin-im-hoat, pukulan tingkat delapan sudah
274
beradu membuat suara gemuruh pertempuran, dan satu saat “dhuar…..crak..crak…” suara ledakan dahsyat terdengar membuat likoan itu bergetar hebat, Tan-bouw bergetar sesaat dan tiba-tiba kedua tangannya putus dibacok koai-ma dan mo-miauw, pengaruh kekuatan ledakan yang luar biasa itu sudah di antisipasi sebelumya dengan menutup lobang telinga mereka dengan kapas, dan saat ledakan tersebar mereka menunggu saat tubuh she-taihap bergetar dan menyerang sehingga mereka berhasil membuntungi tangan she-taihap, tanpa bersambat dua iblis memyusulkan sebuah serangan ganda, berupa dua kekuatan pukulan yang disatukan “des..buk…cras…prok..” kaki tan-bouw menghantam paha kwi-an hengcia, namun dua kekuatan ganda terus menghantam lambung tan-bouw, pedang kwi-ban-ciang merobek bahu kanan tan-bouw dan hudtim kwi-sian-hengcia menghantam belakang kepala tan-bouw, biji hudtim itu jatuh berserakan.
Kwaa-tan-bouw terjerembab kedepan, koai-ma dan mo-miauw meluncur dengan ayunan pedang “crak..crak…” pinggang tan-bouw robek besar dan lehernya juga robek besar, she-taihap yang masih berumur sembilan belas tahun ini menghembuskan nafa terakhir pada saat pergantian malam itu, kwi-san-hengcia langsung duduk untuk memulihkan kakinya yang tiba-tiba kejang, saat dia berdiri “bouw-ji..!” terdengar suara panggilan, dua iblis tanpa bersuara melarikan diri diikuti oleh koai-ma dan mo-miauw, mereka lari sekencang-kencangnya.
275
Kwaa-sin-liong membuka pintu likoan, sim-loya…! Bouw-ji…!” panggil kwaa-sin-liong, kwaa-sin-liong menunggu dagangan hingga sore hari bersama A-sung, ketika malam tiba mereka menutup toko “A-sung, bouw-ji kok belum pulang ?” “tidak tahu juga loya, saya jadi cema.” Sahut A-sung “hmh..kamu pulanglah duluan, aku akan melihat bouw-ji ditempat sim-loya.” ujar Kwaa-sin-liong, lalu sin-liong menuju likoan sim-loya, karena pintunya tertutup dia memanggil nama anaknya dan didengar oleh kedua iblis, sehingga mereka lari.
Kwaa-sin-liong terus masuk kedalam, dan akhirnya sampai ketaman belakang, melihat pakaian mayat yang tergeletak tengkurap kwaa-sin-liong memejamkan mata, air matanya bercucuran dan ia duduk disaamping maya anaknya yang bersimbah darah, Kwaa-sin-liong tertunduk mengerahkan kekuatan indra pendengarannya, dilikoan itu tidak ada orang selain mayat anaknya, A-liok dan sim-hujin ternyata sejak terjadi pertempuran ditaman belakang sudah melarikan diri lewat pintu depan.
Kwaa-sin-liong mengangkat mayat anaknya, ia keluar dari likoan sim-loya dan begerak cepat menuju rumahnya dikeremangan malam, sesampai di rumah istrinya dengan tangis pilu menangisi mayat anaknya, selama dua hari mayat Kwaa-tan-bouw disemayamkan, sementara empat rekanan sedang mengatur rencana dipinggir kota
276
“setelah memulihkan tenaga selama dua hari kita akan kembali berusaha membunuh he-taihap.” ujar kwi-ban-ciang “bagaimana strateginya cianpwe ?” sela Mo-miauw “sebaiknya kita kirim surat tantangan padanya untuk datang kesini.” sela kwi-san-hengcia “cianpwe, dari pengalaman pertempuran kita dengan putranya, menurut saya kita harus menambah trik jebakan.” sela Mp-miauw “trik jebakan bagaimana maksudmu ?” tanya kwi-san-hengcia “kalau kita mengundangnya kesini, maka pada arena pertarungan harus kita pasang beberapa jebakan.” “jebakan apa yang ada dalam pikiranmu mo-miau?” sela kwi-ban-ciang “kita buat beberapa lobang yang didalamnya kita pasang pasak bambu runcing.” “baik kalau begitu, kalian kerjakan dan haru selesai dalam dua hari.” ujar kwi-ban-ciang.
Koai-ma dan mo-miauw kerja dengan cepat, enam lobang dengan kedalaman dua tombak selesai digali, lalu menancapkan beberapa bambu runcing didasar lobang, kemudian lobang itu ditutup dengan semak dan rerumputan hutan “sudah selesai cianpwe, dan sekarang kita bisa mengundang she-taihap kesini, dan saat pertarungan berlangsung, dua cinpwe mendesak she-taihap sehingga tersudut kedalam jebakan, dan jika dia terjebak maka mudah bagi kita untuk membantainya dengan pukulan atau senjata, untuk
277
memastikan kematiannya.” ujar mo-miauw “kalau begitu pergilah kalian bawa surat ini dan berikan pada she-taihap.” ujar Kwi-ban-ciang, koai-ma dan mo-miauw berangkat kedalam kota.
Ketika mereka lewat rumah Kwaa-sin-liong mereka melemparkan surat dengan sebilah pisau dan menancap ditiang teras rumah Kwaa-sin-liong, A-sung yang masih menemani majikannya mendapatkan surat tantangan itu, lalu ia cepat laporkan pada Kwaa-sin-liong, Kwaa-sin-liong membaca surat
“she-taihap ! jika engkau mau memperhitungkan kematian putramu, datanglah ke hutan sebelah selatan ! Kwi-ban-ciang
“apakah liong-ko akan memenuhi tantangan ini ?” tanya Kwaa-hujin “benar wei-moi, jadi tabah dan sabarlah.” sahut Kwaa-sin-liong “saya tidak khawatir liong-ko, tapi hati-hatilah, anakku tewas karena kecurangan.” sahut Kwaa-hujin “ya..saya akan hati-hati.” Ujar Kwaa-sin-liong, lalu Kwaa-sin-liong menuju hutan sebelah selatan “hahaha..hahaha…bagus ternyata kamu datang juga untuk menjemput kematian.” “jangan sesumbar orang tua, untuk hal-hal yang bukan wewenangmu !”
278
“hehehe..haha…. hengcia mari kita serang !” seru kwi-ban-ciang.
Pertempuran seru berlangsung dengan cepat, Kwaa-sin-liong langsung mengeluarkan ilmu Im-yang-bun-sin-im-hoat, Kwi-ban-ciang mengeluarkan dua jurus andalannya “liang-jiu-po” (pelukan tangan sukma) dan “liang-lo-kiam” (pedang pengacau sukma), sementara Kwi-san-hengcia dengan dua juru andalannya “jiangshi-lek-kun” (pukulan gaib mayat hidup) dan “jiangshi-Hudtim” (kebutan mayat hidup).
Kwaa-sin-liong dengan tenang dan gesit menghadapi dua iblis luar biasa ini, puluhan jurus telah berlalu, kedua iblis itu belum dapat mendesak Kwaa-sin-liong pada lobang jebakan, dua pukulan koai-ma dan mo-miauw belum pernah dapat kesempatan untuk memukul, dua ratus jurus berlalu keadaan masih imbang, dua iblis tidak kenal lelah, mereka yakin bahwa she-taihap sudah dalam tekanan yang kuat dari serangan mereka, sehingga dengan perpaduan dua pukulan mereka mencoba menguji she-taihap “dhuar….” ledakan dahsyat membuat area itu bergetar “buk…” pukulan koai-ma menghantam lambung Kwaa-sin-liong, namun tidak mempengaruhi Kwaa-sin-liong.
Mo-miauw jengkel karena jebakannya, sepertinya tiada guna, sehingga dia nekat menyerang, saat kedua cianpwe menghantam dua pukulan dahsyat, Kwaa-sin-liong menyambut pukulan
279
“dhuar….” Untuk kesekian kalinya ledakan dua pukulan menggetarkan hutan, “buk..” mo-miuaw memeluk tubuh kwa-sin-liong dan mendorong dengan kekuatan penuh, Kwaa-sin-liong masih tidak bergeming, namun saat dua pukulan dua iblis menghantam, kuda-kuda sin-liong bergeser dan tepat pada jebakan, Kwaa-sin-liong reflek menggerakkan badan namun karena tubuh mo-miauw yang mati kaku memeluknya menghalangi usaha Kwaa-sin-liong, dan malang tiga pukulan datang menghantam.
“dhuar…” tubuh Kwaa-sin-liong melesak kebawah, namun luar biasanya kwaa-sin-liong refelek memutar tubuh sehingga dia terhempas telungkup, dan mayat mo-miuaw jadi perisai dari tusukan bambu runcing, tubuh Kwaa-sin-liong selamat dari tusukan bambu, namun, tiga rekanan itu tidak mau sudah, dengan pukulan andalan masing-masing membombardir tubuh kwaa-sin-liong yang telungkup didalam lobang, ledakan dahsyat berkali terdengar membuat muncrat semburan tanah dari dalam, setelah lobang itu longsor dan menutupi lobang, koai-ma dan dua iblis meninggalkan hutan.
Hutan itu lengang, pertempuran luar biasa hanya menyisakan gelondongan pohon yang tumbang, malam pun merayap, sura burung hantu memecah keheningan malam, sementara di rumah she-taihap, kwaa-hujin gelisah, suami tercinta sampai tengah malam belum pulang, dia hanya bersama A-sung dan beberapa pelayan “A-sung kita harus kehutan sebelah selatan kota.” ujar Kwaa-
280
hujin “baik hujin.” sahut A-sung dan segera membawa lampu, lalu mereka menaiki kereta kuda yang dikusuri sendiri oleh A-sung.
Asung menghentikan kereta di pinggir hutan “loya…!” seru A-sung sekuat-kuatnya ke arah hutan, namun yang menjawab hanya gema suaranya, dengan tertatih-tatih keduanya masuk kedalam hutan, sehingga mereka sampai di temoat dimana banyak pohon yang tumbang “liong-ko..! liong-ko….” “loya…..!” hanya gema suara yang menjawab seruan itu “liong-ko…!” kembali menyeru suaminya, hatinya sendu dan rasa iba muncul menyesakkan dadanya “liong-ko…hiks..hiks…liong-ko…uuu..uuuu….uuuu…liong-ko kamu dimana !?” seru Kwaa-hujin dengan tangis pilu, malam kian larut dan angin berhembus kencang menerpa rerimbunan pohon, suara gemerisik pepohonan makin riuh, lalu hujan lebat pun turun diselingi tiupan angin kencang.
“hujin, marilah kita pulang, besok kita lanjutkan mencari loya.” ujar A-sung, KWaa-hujin berdiri dengan dibantu A-sung, suara isaknya masih terdengar tertelan suara derunya hujan, keduanya dengan basah kuyup keluar dari hutan, A-sung membantu majikannya masuk kedalam kereta, dengan cepat ia memutar arah kuda dan memacu kuda menuju kedalam kota, sesampai di rumah, dua pelayan wanita segera membantu Kwaa-hujin yang ternyata pingsan didalam kereta, mereka
281
segera membawanya kekamar dan membuka baju kwaa-hujin dan mengeringkan tubuhnya, kemudian mereka mengganti pakaian yang baru dan kering, lalu menyelimutinya dengan selimut.
Tidak lama kemudian Kwaa-hujin bangkit dan bersin-bersin, lalu seorang pelayan memberikan obat untuk diminum kwaa-hujin, lalu kemudian Kwaa-hujin tertidur, malam pun terus merayap menyisir derunya hujan yang turun hingga pagi, susana dirumah she-taihap sunyi, taman halaman yang penuh aneka bunga bermekaran ditengah kesejukan pagi yang dingin, aromanya yang harum menyeruak saat angin berhembus.
Seorang pemuda memasuki halaman, dia adalah Kwaa-gan-bao yang baru pulang kerumahnya dari perjalanan panjang, kesunyian itu membuat hatinya heran, karena biasanya ayah dan ibunya sudah bangun dari sejak dini hari “ayah…! Ibu….!” serunya sambil menaiki tangga, namun tidak ada jawaban “ibu…! serunya sekali lagi sambil mengetuk pintu, tidak lama daun pintu terbuka, A-sung yang membuka pintu “oh..kongcu sudah datang.” serunya sendu “paman A-sung ibu dimana ?” “hujin ada dikamar, dan sedang sakit.” sahut A-sung “oh…sakit ..!?” serunya terkejut, lalu Gan-bao langsung menuju kamar ibunya, dan membuka daun pintu
282
“ibu ..!?” panggilnya, suara itu membangunkan Kwaa-huji dan menoleh yang datang, melihat anak sulungnya tangisnyapun pecah “bao-ji..uuu..uuu..bao-ji…” serunya sambil merenggangkan tangan ke arah anaknya, Gan-bao langsung mendekati ibunya dan memeluknya lembut “aku sudah datang bu, apakah yang terjadi ibu ?” “hmh….bao-ji penjahat telah membunuh adikmu, ayahmu entah dimana sekarang.” “ibu…bouw-te…tewas..” serunya ngambang terkejut, hatinya bergejolak, adiknya yang periang telah meninggalkan mereka, desakah rasa sedih menjulang dadanya sehingga memuntahkan deraian air mata bercampur isak.
“lalu ayah kemana, ibu ?” tanya Gan-bao setelah mengusap air matanya “ayahmu pergi kehutan selatan memenuhi tantangan orang yang membunuh adikmu.” jawab ibunya “ibu aku akan segera kesana.” ujar Gan-bao, kemudian ia dengan cepat keluar dari rumah dan berlari menembus dinginnya pagi yang basah menuju hutan sebelah selatan, Gan-bao berdiri tegak diantara reruntuhan pohon yang tumbang, ia tahu pertempuran terjadi ditempat itu “ayah…” seru Gan-bao dengan lantang sehingga seluruh rerimbunan hutan bergema dan suara burung-burung sontak terdengar karena kaget, namun sampai tiga kali Gan-bao menyeru ayahnya, tidak ada jawaban.
283
Gan-bao duduk di batang kayu yang tumbang sambil berpikir, seharusnya ayahnya sudah pulang, jika ayahnya menang dalam pertempuran itu, ayahnya tidak mungkin mengejar lawan yang melarikan diri, jika ayahnya terluka tidak mungkin tidak menyahut panggilannya yang menembus seluruh pedalaman hutan, hanya satu jawaban dari semua kejanggalan ini, yakni ayahnya kalah dan tewas dalam pertempuran, pikirnya, lalu Kwaa-gan-bao mengangkat dan melemparkan pepohonan yang tumbang laksana mematahkan dan melemparkan sebuah ranting.
Areal pertempuran itu pun bersih, bahkan dia menemukan tiga lobang yang dasrnya dipenuhi cagak bambu runcing, melihat keadaan tempat itu, Gan-bao mengitari arena dan menemukan dua lobang yang sama persis, dan melihat tata letak lobang yang melingkar matanya menatap satu-satu lobang, hingga sampai pada sebuah reruntuhan tanah yang liat, Gan-bao mendekari reruntuhan itu dan menginjaknya dan terasa lembut seperti tanah urukan, Gan-bao langsung menggali tanah dan dia dapatkan bekas lobang, dengan kekeuatan dan kecepatan luar biasa Gan-bao mengali, dan dalam sekejap dia mendapatkan tubuh terbungkus pakaian.
Kwaa-gan-bao membawa tubuh itu keatas dan hatinya tersedak melihat ayahnya yang dingin dan kaku terbujur, perut dan dada ayahnya penuh luka berlobang ditembus sesuatu, lalu Gan-bao menyentuh urat nadi ayahnya, dan hatinya menangis matanya melimpah air mata sesugukannya terdengar sambil mencium
284
ayahnya, she-taihap Kwaa-sin-liong telah tewas dengan mengenaskan, Kwaa-gan-bao mengangkat tubuh ayahnya dan menuju sumber air, Gan-bao membersihkan tubuh ayahnya dari lumpur yang melekat.
Kwaa-gan-bao masuk kedalam kamarnya dengan diam-diam, ia mengeringkan tubuh ayahnya dan menyelimuti dengan selimutnya, setelah itu ia keluar dan menemui ibunya “bao-ji kamu sudah pulang, apakah kamu menemukan ayahmu ?” tanya ibunya lemah “ibu...Thian menetukan taqdir manusia, dan manusia tunduk pada taqdir itu, bouw-ji sudah meninggal sesuai taqdirnya, dan ayah juga demikian ibu.” “oh….uuu..uuuu…liong-ko….” jerit ibunya “bao-ji…dimanakah jasad ayahmu nak !” seru KWaa-hujin disela tangisnya. “marilah ibu saya gendong, dan kita melihat jasad ayah.” ujar Gan-bao sambil merengkuh tubuh ibunya, lalu Gan-bao membawa ibunya kekamar, jerit histeris ibunya makin pilu ketika melihat wajah suaminya yang membiru kaku.
“ibu…ayah dan adik telah pergi, maka aku sangat membutuhkan ibu disisiku, demikian sebaliknya keberadaanku sangat ibu butuhkan, ibu mesti sabar dan tabah, sebagaimana ayah sering ajarkan pada kita.” sela Gan-bao, raungan tangis Kwaa-hujin mereda mendengar perkataan anaknya, dengan mengangkat kepala dari tubuh suamianya ia mengusap air matanya,
285
“aku tidak boleh larut dalam musibah ini, aku adalah istri she-taihap, dan aku telah melahirkan dua she-taihap, tidak…aku harus kuat, aku akan tabah suamiku…aku akan sabar duhai sayang” pikirnya dengan limpahan air mata yang membanjir tanpa isak dan raungan.
A-sun dan dua pelayan berdiri dibelakang Gan-bao “Bao-ji semayamkan ayahmu di altar ruang tengah, dan A-sung beri tanda kemalangan kita ini kepada para tetangga, dan dapatkan peti untuk loya” ujar Kwaa-hujin, A-sung langsung keluar dan memberi tanda musibah dan segera menuju tempat pembuat peti mati, para tetanggapun datang menjenguk kemalangan yang menimpa keluarga she-taihap, asap dupa binting mengepul diluar dan diatas meja altar, jasad she-taihap diletakkan didalam peti, dua she-taihap tewas dalam jangka empat hari, membuat kota lokyang menjadi sendu, sesendu mendung yang mulai mengarak saat sore itu.
Dua tamu datang memasuki halaman, Hoa-mei matanya berkaca-kaca mendapatkan rumah adiknya bertanda kemalangan “Jin-siok…!” seru Gan-bao ketika melihat Han-jin masuk dan mendekat kemeja altar, Han-jin yang sudah melihat Gan-bao mendekatinya “jin-siok ayah dan adikku sudah meninggal.” bisiknya dengan sendat tertahan “bao-ji, jika Thian berkehendak, maka hanya kehendak itu yang akan terjadi.” sahut Han-jin memeluk keponakannya.
286
“Wei-cici, saya dan mei-cici datang disaat musibah ini menimpa kita.” Tang-bi-wei menatap Han-jin yang baru dua minggu yang lalu berada bersama mereka, lalu menatap Hoa-mei, matanya berkaca-kaca, Hoa-mei memeluk adik iparnya, deraian air matapun bercucuran. “mei-cici, liong-ko..” “benar adikku, musibah ini memang beruntun menimpa kita, tidak cuma disini, di wuhan, dan di shanghai, cobaan datang menguji kita, kita mesti kuat adikku, sabar dan tabah dalam meghadapinya, tunduk dengan ketentuan yang, lapang dada dalam mengecap pahit getirnya musibah yang datang.” sahut Hoa-mei.
Sore itu di tengah mendung yang mengarak diangkasa, Kwaa-sin-liong dimakamkan, setelah pemakaman selesai, hujan rintik-rintik pun turun, para tetangga dan pelayatpun buru-buru meninggalkan pemakaman, Han-jin dan ketiga keluarganya kembali kerumah, kesunyian hati KWaa-hujin mencekik hatinya, namun ia harus telan dengan hati lapang, dia harus kuat untuk anak sulungnya.
Dua hari kemudian keluarga itu dan para pembantu berkumpul “wei-moi ceritakanlah bagaimana kejadian dari hal yang kita hadapi ini !” ujar Hoa-mei “awalnya seorang she-sim pemilik likoan diselatan kota meminta bantuan bouw-ji untuk menghentikan ancaman dari seseorang, Bao-ji pergi kesanan, lalu liong-ko mendapatkannya malam itu sudah meninggal, dua hari setelah bouw-ji
287
dimakamkan sebuah surat kami dapatkan atas nama kwi-ban-ciang menyatakan bahwa ia bertanggung jawab atas kematian Bouw-ji, lalu liong-ko memenuhi tantangan surat itu dan pergi ke hutan sebelah selatan, malamnya aku kesana bersama A-sung untuk mencari liong-ko namun tidak berhasil, lalu kami pulang, esoknya Bao-ji baru datang, dan segera hutan sebelah selatam dan menemukan ayahnya.” ujar Kwaa-hujin menutup ceritanya
“bagaimana ayahmu kamu temukan Bao-ji ?” tanya Hoa-mei “aku menemukan ayah tertimbun didalam sebuah lobang jebakan yang dipenuhi cagak bambu, melihat arena pertarungan, saya yakin ayah dikeroyok Kwi-ban-ciang berasama rekan-rekannya.” sahut Gan-bao “hal itu benar bao-ji, apa kamu kenal dengan kwi-ban-ciang ?” “saya dan jin-siok pernah bertemu mereka di hutan kongciak, dan kwi-ban-ciang salah satu lawan yang sangat tangguh ketika kami menghadapinya.” sahut Gan-bao “jika Bao-ji pernah bertarung dengan kwi-ban-ciang, maka siapakah kawan-kawannya ?” “saya yakin kwi-ban-ciang dibantu kwi-san-hengcia, kedua ini merupakan cianpwe dari hek-to yang getol menantang kita saat di hutan kongciak.” sahut Gan-bao “bagaimana menrutmu Jin-te ?” “saya akan segera mencari kwi-ban-ciang dan kwi-san-hengcia.” “baik, kamu besok berangkat Jin-te, aku akan disini beberapa hari, dan jika engakau datang kesini dan aku tidak ada lagi,
288
berarti aku sedang atau sudah berada di pulau kura-kura.” ujar Hoa-mei “baiklah cici, besok saya akan berangkat.” sahut Han-jin.
Kwi-ban-ciang mengajak kedua rekannya menuju kota Huangsan, dimana ia selama ini bertempat tinggal, ketiganya menunggu hasil dari tugas kelompok lain, lalu menjelang pertemuan kedua di Guangdong, tiba-tiba dua orang wanita datang, dan keduanya adalah tok-lian dan ang-mou-kuibo. “eh..kenapa kalian hanya datang dua orang ?” “misi membunuh she-taihap gagal, karena jin-sin-taihap tiba-tiba muncul.” “apa kalian berhadapan dengan jin-sin-taihap ?” “tidak, tapi kami bertemu dengan she-taihap yang lain, salah satu pemuda yang berada di hutan kongciak. “lalu apa yang terjadi ?” tanya kwi-sian-hengcia
“kami hanya tinggal enam orang, karena tai-twi mati ditangan she-taihap yang di wuhan, dan dengan berenam ternyata kami masih kalah, sehingga empat orang dari kami tewas ditangan she-taihap “sialan..! she-taihap..” sumpah Kwi-ban-ciang “lalau bagaimana dengan kelompok kedua yang dipimpin oleh lam-liong-sian ?” “kami belum mendengarnya cianpwe.” “apakah mungkin mereka langsung ke tempat lam-liong-sian ?” sela Koai-ma “mungkin jadi mereka langsung kesana.” sahut kwi-sian-
289
hengcia “kalau begitu kita kesana saja cianpwe.” sela ang-mou-kuibo. “baik, kalian istirahatlah dan besok kita akan ke Huangdong.” ujar kwi-ban-ciang.
Keesokan harinya kwi-ban-ciang dan empat rekannya berangkat ke Guangdong, perjalanan dilakukan dengan cepat, sesampai di Guangdong mereka langsung menuju kediaman llam-liong-sian, namun ternyata mereka tidak lam-liong-sian tidak ada ditempat, lalu mereka menginap disebuah likoan. “bagaimana cianpwe, apa yang harus kita lakukan ? tanya Tok-lian “jika dua hari lagi mereka tidak muncul, maka kita bicarakan rencana selanjutnya.” sahut kwi-ban-ciang, selama dua hari mereka menunggu namun lam-liong-sian dan kelompoknya tidak ada satupun yang muncul.
“bagaimana koai-ma ?‟ tanya kwi-ban-ciang “saya sudah pergi kerumahnya dan Lam-liong belum juga datang,” sahuit koai-ma “baik, kalau begitu, mari kita bicarakan rencana kita.” ujar Kwi-ban-ciang, lalu merekapun mengitari meja “bagaimana menurutmu hengcia ?” tanya kwi-ban-ciang “melihat dari hasil yang kita raih pada rencana awal ini, tidak ada gunanya kita membicarakan rencana kedua.” sahut kwi-sian-hengcia “jadi kalau begitu apa yang mau kita bicarakan ?” tanya kwi-
290
ban-ciang “kita membicarakan ketuntasan rencana yang pertama.” “maksudmu bagaimana hengcia “dari tiga kelompok yang kita bentuk hanya kelompok kita yang berhasil membunuh she-taihap, dan dua kelompok gagal.”
“lalu apa kita akan menuntaskan bagian yang gagal ?” sela kwi-ban-ciang “benar, kita harus tuntaskan bagian yang gagal, jadi kita ke shanghai dank e wuhan untuk melenyapkan she-taihap di dua tempat itu.” ujar kwi-san-hengcia. “bagimana menurut kalian bertiga ?” tanya kwi-ban-ciang “saya setuju pendapat kwi-ban-ciang-cianpwe.” sela tok-lian “saya juga setuju menuntaskan pekerjaan yang terbengkalai.” sela koai-ma, ang-mo-kuibi mengangguk.
“baik mari kita tuntaskan, dan kita bicarakan strategi yang lebih matang untuk membunuh she-taihap.” ujar kwi-ban-ciang “cianpwe, strategi kami ketika menghadapi she-taihap empat orang berhadapan langsung dan dan tiga orang menyerang secara menggelap.” “hal itu juga sudah dilakukan oleh koai-ma dan mo-miuaw, tapi cukup sulit juga untuk menghadapi she-taihap. sahut kwi-san-hengcia “saya kira kali ini, seorang she-taihap akan mudah kita kalahkan.” ujar tok-lian “kenapa engkau berpikir seperti itu ?” tanya kwi-ban-ciang “jika yang penyerang gelap melakukan dengan pukulan sakti.
291
Menurut saya tidak berguna, karena she-taihap memiliki daya tahan yang tidak lumrah, jadi trik yang paling tepat jika penyerang gelap itu menyerang dengan senjata rahasia, itu lebih merepotkan she-taihap.” ujar tok-lian
“hahaha..hehehe… pemikiranmu hebat juga tok-lian, dan apa yang kamu katakan itu benar, bahwa kalau pukulan sakti, she-taihap tidak akan terpengaruh.” sela kwi-ban-ciang “terus bagaimana formasi serangan yang tepat menurutmu tok-lian?” sela kwi-san-hengcia “jika melihat formasi kami di wuhan rasanya lumayan, yakni empat dan tiga, hasil yang kami capai mutlak cianpwe, hanya gagal karena jin-sin-taihap, jadi coba cianpwe bayangkan jika cianpwe dibantu dua orang dari kita menghadapi langsung she-taihap, dan tiga orang pelempar senjata rahasia mengintai.”
“hahaha..hahaha..benar..benar sekali tok-lian, aku sudah dapat membayangkan hasilnya yang luarbiasa.” sela kwi-san-hengcia tertawa senang. “kalau begitu, siapa menurutmu tiga pengintai yang kita butuhkan.” sela ang-mou-kwi “yang kita butuhkan hanya dua orang lagi disamping saya sendiri, dan dalam hal ini saya merekomendasikan dua nama kepada cianpwe.” “siapa dua orang itu tok-lian ?” sela kwi-ban-ciang “yang pertama “shantung-tok-piauw” (pisau beracun dari shantung) dan kui-ting-lo-tong” (bocah tua paku siluman).” sahut tok-lian
292
“dimana kita menemukan mereka ?” tanya ang-mou-kuibo “kita harus ke shantung, karena merekan berdua ada dipropinsi tersebut.” sahut tok-lian.
“baiklah kalau begitu, kita akan ke shantung untuk menemui keduanya.” “sebentar cianpwe, bagaimana menurut cianpwe ide dari mo-miauw, karena hasil pemikirannya kelompok kita berhasil baik.” Sela koai-ma “hal itu juga kita lakukan, jika keadaannya memungkinkan.” sahut kwi-san-hengcia, koai-ma mengannguk mengerti, llau mereka bubar dan beristirahat, keesokan harinya lima rekanan itu meninggalkan kota Guangdong, mereka menuju propinsi shantung.
Kota shantung termasuk kota besar dan padat penduduk, siang itu hawanya luar biasa panas, sehingga membuat gerah para pedagang jalanan, seorang pedagang buah berumur dua puluh lima tahun yang akrab disebut A-bing, setelah melayani beberapa orang pembeli, A-bing mengipas badannya yang kepanasan dengan topi bututnya, A-bing terkenal dikalangan orang-orang pasar karena ia memiliki istri berparas cantik, yang membuat iri para lelaki, terutama para hartawan hidung belang, sejak suami istri itu datang kekota shantung dua tahun yang lalu, pasangan ini sudah jadi buah bibir para hartawan, istrinya yang berparas cantik bernama He-yin dan akrab dipanggil yin-yin membuat gemes empot-empotan hati lelaki yang melihatnya.
293
Setelah lewat siang He-yin berangkat kepasar membawa makanan untuk suaminya A-bing, beberapa lelaki pengangguran bersuit-suitan menggoda yin-yin yang sedang berjalan, demikian juga para pedagang yang lain tidak melewatkan kesempatan untuk cuci mata menatap wajah Yin-yin “yin-moi, seharusnya kamu tidak datang!” tegur A-bing merasa risih dengan pandangan beberapa pedagang di sekitar tempat itu “tapi bing-ko makan siangmu lupa kamu bawa karena buru-buru tadi pagi.” sahut yin-yin maklum dengan kerisihan suaminya, Yin-yin sudah lebih enam bulan tidak pernah lagi kepasar membantu suaminya, untuk menghindari godaan dan canda ceriwis para lelaki yang menatapnya, namun karena tadi pagi, A-bing sudah berangkat kepasar sebelum matahari terbit, dan melupakan bekal makan siangnya.
A-bing membuka bekal makan siangnya, lalu dengan lahap ia makan karena memang sudah merasa lapar, tiba-tiba seorang lelaki paruh baya yang tampan dengan menunggang kuda yang berjalan congklang berhenti didepan dagangan A-bing, dan Yin-yin pun berdiri untuk melayani penunggang kuda tersebut, penunggang kuda itu salah seorang dari orang kaya di kota shantung, bahkan lelaki pamogaran ini, disamping orang kaya, juga seorang kalangan kangowu yang berhati bengis, dia adalah sim-wangwe, dan dikalangan lioklim dia disebut dengan shantung-tok-piauw.
294
Shantung-tok-piauw baru pulang dari pengembaraannya yang sudah hampir tiga tahun, hari itu ia baru kembali kekotanya, dan berkebetulan ia melihat yin-yin yang sedang duduk melayani A-bing yang sedang makan, orang-orang yang tadi cuci mata melihat paras yin-yin cepat-cepat menyingkir, karena kemunculan shantung-tok-piauw, A-bing dan yin-yin yang tidak tahu siapa shantung-tok-piauw tenang-tenang saja, karena shantung berhenti didepan dagangan, Yin-yin berdiri dengan senyum ramah “apa tuan mau membeli buah ?” “buah apa saja yang kamu punya ?” tanya sim-wangwe sambil menatap tajam pada gundukan buah dada yin-yin, Yin-yin terperangah dan mukanya merah karena jengah dan risih merasakan pandangan yang begitu melekat pada dadanya.
Yin-yin segera menutup dadanya dengan kain pembungkus bekal makan suaminya yang berkebetulan ditangannya “ada leci, melon, pisang dan semangka, tuan hendak beli yang mana ?” tanya Yin-yin “hehehe..hahaha…apakah kalian orang baru dikota ini ?” “benar tuan, kami baru dua tahun disini.” Sela A-bing berdiri karena sudah menyelesaikan makannya, dan cepat menggantikan istrinya melayani Sim-wangwe “hehehe..hahaha…buahmmu tidak menarik hatiku, namun buah yang ada dibelakangmu sangat mengiurkan.” ujar Sim-wangwe, A-bing tahu bahwa yang dimaksud pembeli ini adalah istrinya yang sedang mengemasi makannya dibelakang.
295
“tuan ! jika memang tidak tertarik, tidakkah sebaiknya tuan pergi daripada berdiri dibawah panas terik matahari ?” “bangsat tidak tahu diri, kamu kira kamu bicara dengan siapa !? hah..!” bentak Sim-wangwe “memang kami tidak mengenal tuan, jadi maafkan saya dan tolong tinggalkanlah kami.” “sialan…! tidak ada yang berani menantang perkataanku, apa kamu mau mampus !?” “saya tidak mementang tuan, dan saya hanya minta tolong supaya meninggalkan kami.” sahut A-bing, tiba-tiba sim-wangwe menarik tali kekang kudanya, sehingga kuda itu meringkik dan mengangkat kaki tinggi-tinggi dan menghantam meja dagangan A-bing hingga hancur, dan buah dagangannya berserakan.
A-bing mundur dan istrinya yin-yin dengan wajah cemas dan takut memegang pundak A-bing, A-bing melihat sekitarnya, dan orang-orang hanya menonton dari kejauahan “kalau kamu mau hidup berikan wanita itu padaku !” “jangan tuan, dia adalah istriku.” bantah A-bing “hehehe..hahaha….walaupun dia istrimu, kamu harus serahkan padaku.” ujar sim-wangwe, A-bing menarik lengan istrinya dan mengajaknya lari dari tempat itu, sambil tertawa sim-wangwe mengejar dengan kudanya, A-bing dan istrinya memasuki sebuah gang dan bersembunyi didalam sebuah bangunan yang hampir rubuh, Sim-wangwe memasuki gang terebut, dan dengan suara hentakan kaki kuda yang menelusuri jalan gang, membuat suami istri saling berpelukan dan meringkuk ditempat
296
persembunyian, sim-wangwe memasuki bangunan tidak terpakai itu, meja-meja dan tiang yang malang melintang didalam bangunan di perhatikan dengan awas untuk menemukan suami istri itu
“hahaha..hahaha…aku tahu kalian ada didalam,jadi sebaiknya kalian keluar sebelum aku marah dan membunuh kalian.” ancam sim-wangwe sambil tertawa, A-bing dan Yin-yin tetap diam dan saling berpelukan, tiba-tiba sim-wangwe memukul atap rumah dengan pukulan sakti, sehingga membuat genteng rumah berjatuhan kebawa, suara jeritan kecil Yin-yin membuat sim-wangwe mengetahui keberadaan mereka, lalu dengan gesit sim-wangwe melompat kea rah suara, dan berdiri angker dia hadapan A-bing dan Yin-yin yang pucat ketakutan.
“tu…tu…tuan ! kami ini orang lemah, jadi tolong jangan berbuat aniaya pada kami.” pinta A-bing “hehehe..hahhaa…segala sesuatu yang diinginkan shantung-tok-piauw harus didapatkan.” ujar sim-wangwe sambil mencengkram bahu Yin-yin dan menariknya dari pelukan A-bing, “ti..tidak..! lepaskan aku, tolong lepaskan aku…!” jerit Yin-yin memelas dengan wajah pucat ketakutan “tidak cantik…kamu demikian memepesona, aku tidak akan melepaskanmu, kamu harus menjadi penghuni rumahku yang megah, hahaha..hahaha…” sahut Sim-wangwe sambil memanggul tubuh Yin-yin dan melangkah keluar bangunan.
297
A-bing nekat melompat dan mengejar sim-wangwe, dia berusaha memukul tubuh Sim-wangwe dari belakang, namun serangan itu luput, karena Sim-wangwe sudah terbang ke punggung kudanya, dan memacu kudanya, A-bing berlari mengejar, Sim-wangwe yang tahu ia dikejar tertawa-tawa, lari kudanya disengaja lambat dan berputar-putar di tengah pasar, orang-orang yang berada dipasar menyaksikan A-bing mengejar-ngejar Sim-wangwe yang tertawa sambil memanggul Yin-yin.
A-bing terduduk dengan nafas tersegal-segal dan mandi keringat di tengah sengatan terik matahari, Sim-wangwe berhenti sambil tertawa mencemooh pada A-bing “kenapa berhenti, lari dan rebutlah istrimu, hahahha..hahaha…” “tuan tolonglah berbaik hati, kembalikanlah istriku.” pinta A-bing dengan memelas sedih “hahaha..heehehe..hahaha..tidak akan kuserahkan, kamu bisa apa pemuda tolol !?” sahut Sim-wangwe, tiba-tiba seorang wanita cantik muncul dengan langkah tenang dan wibawa yang agung, pakaiannya yang ringkas menunjukkan ia seorang dari kalangan kangowu, dia adalah she-taihap Kwaa-hong yang hendak pulang kembali ke kekaifeng dan berkebetulan lewat kota shantung, Kwaa-hong yang baru masuk dari gerbang kota sebelah timur melihat kejadian dan mendengar percakapan keduanya
“sungguh tidak berbudi merebut istri orang dengan paksa dan mempermainkannya suaminya menjadi tontonan orang banyak,
298
ini kelakuan rasa tekebur yang melewati takaran” tegur kwaa-hong, melihat wanita cantik dengan sabuk warna kuning keemasan yang tersampir di bahunya dan melingkar di lehernya yang jenjang, membuat hatinya kecut, apalagi ia pernah melihat Kwaa-hong di hutan konciak apakah kamu she-taihap “kim-kin-sianli” (dewi bersabuk emas) ?” “benar, apakah menurutmu aku tidak boleh ikut campur dengan yang terjadi dihadapanku ini ?” sahut Kwaa-hong, mendengar jawaban Kwaa-hong “sudahlah ! aku kembalikan ia pada suaminya.” ujar Sim-wangwe sambil menurunkan Yin-yin dari kudanya, Yin-yin berlari sambil terisak mendapatkan suaminya,
Sim-wangwe hendak pergi meninggalkan tempat itu “tunggu dulu ! saya ingin mendengar cerita saudara ini, tentang apa yang kamu lakukan.” sela Kwaa-hong. “saya hanya mengambil istrinya dan sekarang istrinya sudah kukembalikan.” sahut Sim-wangwe “melihat kelakuanmu yang manjadikan saudara ini menjadi tontonan orang banyak, apa hak mu sehingga menjadikan saudara ini jadi permainanmu ? apakah cukup mengembalikan istrinya dan kamu tidak meminta maaf pada mereka ?” sahut Kwaa-hong dengan sorotan matanya yang tajam, Sim-wangwe tertunduk dengan wajah pucat
“sicu, ceritakan padaku ! apa yang telah ia perbuat pada kalian !” ujar Kwaa-hong
299
“terimakasih lihap, cukuplah ia mengembalikan istriku dan tidak menggangu kami lagi.” sahut A-bing “hmh…jadi menurutmu sicu, dia tidak harus minta maaf pada kalian ?” tanya Kwaa-hong “tidak perlu lihap.” sahut A-bing menunduk “boleh tahu alasannya ?” tanya Kwaa-hong, A-bing terkesiap mendengar pertanyaan yang dilontarkan Kwaa-hong “a..a…aku ti..tidak mau berurusan dengannya.” “sicu tidak mau berururusan dengannya, tapi apakah ia sama tidak mau berurusan denganmu ? istrimu sangat cantik sicu, jika kamu merasa cukup, maka kita cukupkan.” ujar Kwaa-hong lembut, A-bing tertunduk dan menatap istrinya
“lihap a.aku mau ia minta maaf dan berjanji tidak akan menggangu kami lagi, dan mengganti rugi dagangan kami” sela Yin-yin “kamu dengar itu sicu !?” ujar Kwaa-hong sambil menatap Sim-wangwe, Sim-wangwe mau marah tapi tidak berani, nyalinya sudah ciut, urusannya terjadi didepan she-taihap, Sim-wangwe akhirnya turun dari kudanya dan melangkah mendekati suami istri itu “maafkan kelakuanku tadi dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, dan saya akan mengganti rugi dagangan kalian.” ujar Sim-wangwe sambil memberikan dua tahil emas pada A-bing. A-bing termenung sambil menerima dua tahil emas yang lebih dari cukup sebagai ganti rugi dagangannya, orang yang tadinya menonton semua terperangah melihat hartawan bengis itu meminta maaf pada A-bing
300
“terimakasih sicu, kamu ternyata bisa diajak berunding, dan orang banyakpun menyaksikan bahwa kamu meminta maaf pada sicu ini, dan urusan pun selesai sampai disini.” ujar Kwaa-hong, lalu Sim-wangwe segera meninggalkan tempat itu “terimakasih lihap, dengan kemunculan lihap yang luar biasa telah menyelamatkan kami dari aniaya orang itu.” ujar Yin-yin “sudahlah nyonya, sekarang kembalilah ketempat kalian, dan hati-hatilah menjaga istrimu sicu.” sahut Kwaa-hong “baik lihap kami permisi dan sekali lagi terimakasih.” ujar A-bing, lalu merekapn kembali ketempat dagangan dan mengemasi barang dagangan yang masih bagus, lalu kembali kerumah, Kwaa-hong menuju sebuah likoan untuk menginap semalam dikota Shantung.
Sim-wangwe dengan hati jengkel dan malu kembali kerumahnya, delapan selirnya yang hangat menyambutnya menjadi hambar rasanya karena gejolak amarah yang membakar hatinya, amarah ia itu tertelan sendiri karena mau bagaimana melampiaskan amarah pada she-taihap yang jelas ia tidak mampu menghadapinya, sehingga karena itu membuat sim-wangwe uring-uringan hingga tiga hari lamanya, pada malam keempat rumahnya kedatangan lima tamu “siapakan kalian dan hendak apa kesini ?” tanya penjaga “sampaikan pada tuanmu, seorang kenalannya datang hendak berjumpa.” sahut Tok-lian, penajaga itupun masuk kedalam
“tuan ! ada lima orang tamu hendak bertemu.” “siapa mereka !?” tanya Sim-wangwe ketus
301
“seorang dari mereka kenalan baik wangwe.” Sahut penjaga “heh..kenalanku !?” gumam Sim-wangwe sambil berdiri dan segera keluar “eh..hahaha..hehehe..engkau rupanya bian-moi, eh…dua cianpwe juga ikut mari..silahkan masuk.” ujar Sim-wangwe, lalu kelima tamunya pun masuk “hehehe,,hahaha,,angin apa yang membuatmu menemuiku Bian-moi dan bahkan dua cianpwe juga besertamu ?” tanya sim-wanngwe “aku ada perlu denganmu kuang-ko, dan amat penting sekali.” sahut Tok-lian, yang nama sebenarnya adalah Lu-ci-bian
“hal apakah yang amat penting itu bian-moi ?” “kenalkan dulu, ini cianpwe kwi-ban-ciang dan kwi-san-hengcia, lalu ini ang-mou-kuibo dan koai-ma.” “ya dua cianpwe saya pernah lihat saat di hutan kongciak, lalu ada apakah cianpwe ?” sahut sim-kuang “begini shantung-tok-piauw, kami membutuhkan keahlianmu dalam berpartispasi untuk membunuh she-taihap.” “membunub she-taihap ? maksudnya bagaimana cianpwe ?” “kami punya misi untuk membunuh semua she-taihap, dua she-taihap di lokyang sudah berhasil kami bunuh.” “oh..benarkah ? wah luar biasa kalau bisa dibunuh semua.” sela Sim-kuang “makanya kami perlu kau ikut dalam misi ini kuang-ko.” sela Tok-lian “tentu aku sangat bersedia ikut bian-moi, lalu bagaimana cianpwe ?”
302
“baguslah kalau kamu ikut bergabung, dan kita akan ke shanghai menuntaskan kerjaan yang belum selesai, namun kita masih butuh seorang lagi.” “butuh seorang lagi ?” “benar kuang-ko, kita butuh kui-ting-lotong, apakah kuang-ko tahu dimana dia ?”
“si lotong biasanya berada di lembah sungai huangho.” jawab sim-kuang “kita harus menjumpai dia, setelah itu kita akan beraksi.” Sela kwi-ban-ciang “baiklah cianpwe, besok kita akan ke lembah huangho, dan sekarang marilah kita keruang makan, dan saya akan menjamu cianpwe dan teman-teman sekalian.” ujar Sim-kuang, lalu merekapun makan dan minum, Tok-lian dan shantung-tok-piauw mempunyai hubungan mesra mempunyai acara sendiri, dua cianpwe dilayani empat selir sim-kuang, ang-mou-kuibo dan koai-ma juga mengambil kamar untuk bercinta.
Keesokan harinya shantung-tok-piauw membawa kelima rekannya kelembah sungai huangho, sungai huangho yang membentang dari pegunungan kwen-lun di Tibet dan bermuara diteluk Tsii-li laut kuning, sungai ini mengalir melalui pegunungan utara cina, dan membentuk dataran indah dan subur, disebuah lembah yang bernama “ui-kok” (lembah kuning) dari sebuah pondok mengepul asap menandakan penguhuninya sedang beraktivitas didapaur rumah itu.
303
Seorang lelaki tua bertubuh kate sedang mengaduk air dalam wajan besar, kumisnya yang tebal berwarna putih melambai-lambai sat ia meniup perapian untuk memperbesar nyala api, ia adalah tokoh kenamaan dalam dunia kangowu dari aliran hek-to, namanya adalah Lu-mou dan dikenal dengan julukan kui-ting-lotong, hari itu ia sedang merebus paku yang merupakan senjata andalannya yang luar biasa, paku yang direbus bersama daun beracun sudah berjalan tiga hari tiga malam, sekarang hari keempat, dan pagi itu dia kembali memperbesar api, lalu mengambil sebuah keranjang besar yang ternyata isinya adalah lima ekor ular beracun, dengan cekatan tangannya menangkap kepala ular dan memicit kepala ular, kemudian menancapkan taring ular pada sebuah cawan yang ditutup dengan kulit, bisa ular keluar mengalir kedalam cawan, setelah bisa kelima ekor ular itu dikeluarkan, Lu-mou memasukkan bisa ular kedalam wajan, lalu mengaduk sehingga air rebusan yang tadinya hijau, berubah jadi hitam pekat.
Lu-mo keluar dari pondoknya menuju desa huain, desa huaian tiga hari yang lalu menguburkan perempuan hamil yang tewas mendadak, kejadiannya seminggu yang lalu, Bao-can sebagaimana biasa menggarap dua petak sawah warisan orang tuanya, biasanya ia bersama Can-hui istrinya, namun saat hamil Can-hui berusia enam bulan, Can-hui tidak lagi menemani suaminya kesawah “besok kita akan panen, jadi saya sudah minta bantuan pada pada A-gou dan A-sin untuk membantu saya memanen padi kita.” ujar Bao-can sambil baring diranjang
304
“kalau begitu saya akan memasak makan siang untuk koko dan dua teman koko.” sela Can-hui dan baring disamping suaminya “benar hui-moi, dan masaklah yang istimewa.” “kira-kira apa yang akan saya besok koko ?” “kamu masaklah ayam goreng dan sayur capcai dan gulai kacang tauco.” sahut Bao-can, Can-hui mengangguk, lalu suami istri itupun tidur.
Keesokan harinya Bao-can berangkat kesawah dengan dua temannya A-gou dan A-sin, sementara Can-hui menemui tetangganya untuk membeli dua ekor ayam, Can-hui membuat masakan istimewa, sebagaimana pesan suaminya, pekerjaannya selesai menjelang siang, setelah Can-hui menyiapkan segalanya, lalu Can-hui berkemas untuk mengantarkan makan siang untuk suaminya, dengan langkah ringan can-hui meninggalkan rumah menuju areal persawahan dibalik hutan kira-kira satu li dari desanya.
Can-hui memasuki hutan dengan tidak menduga apa-apa, walaupun sudah dua bulan ia tidak melewati hutan itu, lalu tiba-tiba ia dikejutkan dengan munculnya seorang lelaki tua bertubuh kate, dia adalah Lu-mo “hehehe…mau kemana nyonya ?” sapa Lu-mo “ih…lopek mengejutkan saya saja.” teriak Can-hui, Can-hui tanpa menggubris melewati Lu-mo, Lu-mo dengan muka nyengir mengikutinya dari belakang “eh-lopek, kenapa kamu mengikuti saya ?” “hehehe…” Lu-mo hanya tertawa dan tidak menjawab, Can-hui
305
jadi takut “mungkin orang ini orang gila.” Pikirnya “pergi kamu ! jangan mengikutiku !” bentaknya “hehehe…” melihat tawa itu makin merinding bulu roma Can-hui, lalu ia berbalik dan berlari “ihh..orang gila…setan…to…tuk..” Can-hui terkejut ketika si tubuh kate sudah berdiri dengan berkacak pinggang didepannya, lalu ia menjerit dan mau minta tolong, namun tiba-tiba tubuhnya lemas dan lidahnya kelu.
Can-hui dengan pandangan takut melihat Lu-mo yang tertawa sambil mondar mandir disampingnya, lalu tiba-tiba Lu-mou membuka bajunya sehingga telanjang didepan Can-hui, jantung Can-hui makin berdetak kencang karena saking takutnya “hehehe..hehehehe…manis….kamu nikmati yah hehehe..hehehe…” ujar Lu-mo sambil mengelus-elus wajah Can-hui, can-hui menjerit namun tidak ada suara yang keluar, tubuhnya sudah diremas-remas oleh tangan kasar dan pendek Lu-mo, lalu mempreteli pakainnya, Can-hui makin lemas dan jantungnya makin kencang berdetak saking takutnya akan hal yang menimpa dirinya, tangan kasar Lu-mo mengangkat kakinya yang telanjang dan merejangnya dengan brutal, Lo-mou meremas-remas perut Can-hui yang hamil yang berpacu dengan birahi iblisnya, Can-hui tidak berdaya, rasa takutnya sekarang bercampur dengan rasa sakit dan nyeri pada perutnya.
306
Lu-mo melakukannya hingga ia merasa puas, dan sadisnya Lu-mo baring diatas perut buncit Can-hui, rasa sakit dan nyeri yang luar biasa mendera urat syaraf Can-hui, terlebih saat Lu-mo bangkit dari baringnya dan duduk diatas perutnya serta bergoyang sambil meremas-remas dadanya dengan nyengir gemas, rasa sakit yang melebihi takaran fisiknya membuat Can-hui mati dengan mulut menganga sesak dan mata yang berair karena pedih dan nyeri yang bersangatan. “hehehe..hahaha…” Lu-mo meninggalkan mayat Can-hui yang mati mengenaskan sambil tertawa.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Silat Online Terbaik terbaru : Jinsin Tayhiap 3 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Rabu, 12 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments