Cerita Romantis Sedih Banget : PAB 10

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Romantis Sedih Banget : PAB 10
Cerita Romantis Sedih Banget : PAB 10

―Tapi seperti yang guru katakan, jumlah mereka begitu banyak, lalu siapa yang harus kita awasi terlebih dahulu? Atau di wilayah mana kita beroperasi?‖, tanya Huang Ren Fu sambil mengerutkan alis.
―Heheheheh, tentang hal itu, kita harus sadar bahwa kita hanyalah manusia biasa bukan dewa yang bisa melihat segala sesuatunya secara bersamaan dari satu tempat. Baiklah kita memilih salah satu kota di mana Partai Pedang Keadilan memiliki cabangnya. Kemudian kita akan tinggal di sana sebagai salah satu penduduk dari kota itu, sambil hidup seperti biasa, kita buka mata dan telinga kita lebar-lebar.‖, ujar Hua Ng Lau dengan ringan.
1716
Hua Ying Ying pun ganti mengerutkan alis, ―Ayah… kenapa kedengarannya apa yang kita lakukan tidak ada bedanya dengan biasanya?‖
―Heheheheh, apakah kau memiliki saran yang lebih baik?‖, Hua Ng Lau ganti bertanya.
Hua Ying Ying pun terdiam, tadinya dia membayangkan bisa melakukan sesuatu yang besar, namun penjelasan Hua Ng Lau mengenai kebesaran Ding Tao saat ini menyadarkan dirinya. Demikian juga Huang Ren Fu, meskipun usulan Hua Ng Lau tidaklah tepat benar di hatinya yang muda dan penuh semangat, namun diapun tidak menemukan usulan lain yang lebih bagus.
―Janganlah hal ini membuat kalian kecil hati, sekarang yang penting, sekecil apa pun kita bisa ikut menyumbangkan tenaga dan pikiran demi kebaikan negeri ini. Asalkan kalian tekun berlatih, dalam hitungan tahun kalian pun akan memiliki tingkatan yang patut diperhitungkan dan bisa lebih banyak berbuat.‖, ujar Hua Ng Lau yang bisa melihat keraguan akan diri sendiri membayangi perasaan Huang Ren Fu.
1717
Huang Ren Fu menganggukkan kepala dengan tekad yang kuat. Saat ini dia tertinggal jauh dengan Ding Tao yang sudah terlebih dahulu melesat melebihi dirinya. Namun dia berjanji dalam hati, akan bekerja keras untuk menutup ketertinggalannya itu dan suatu saat dia pun bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi negerinya dan mengharumkan nama keluarganya. Hua Ying Ying sendiri tidak terlalu memikirkan masalah itu, dia lebih berpikir tentang hubungannya dengan Ding Tao. Memang benar dia sudah memutuskan untuk meninggalkan kehidupannya yang lama sebagai Huang Ying Ying, namun melihat Ding Tao meskipun hanya dari kejauhan membuat dia kembali mempertanyakan keputusannya. Logika dan hatinya saling bertentangan, menurut akal sehatnya inilah jalan yang terbaik, tapi hatinya masih sulit untuk menerima.
Diam-diam Hua Ng Lau memperhatikan sikap Hua Ying Ying dan berusaha meraba perasaan gadis itu. Mulutnya sempat terbuka hendak bertanya, namun setelah berpikir sejenak lamanya, dia memutuskan untuk membiarkan Hua Ying Ying merenungkan sendiri masalahnya.
Dalam benaknya Hua Ng Lau sudah merencanakan banyak hal untuk kedua anak muda yang ada di hadapannya itu. Mereka berdua adalah generasi penerus yang akan meneruskan nama
1718
besar Hua dalam dunia persilatan. Sungguh ajaib memang, bagaimana sebuah tujuan bisa membuat seseorang lebih bersemangat dalam menjalani hidup.
Hua Ng Lau bertiga akhirnya memutuskan untuk tidak menunggu sewa kamar mereka habis sebelum mereka pergi dari Jiang Ling. Ketiganya sudah tidak sabar untuk mengerjakan apa yang sudah mereka rencanakan. Malam itu juga mereka sudah menentukan kota tujuan mereka berikutnya dan pagi-pagi benar. Orang tua dan dua orang anak muda itu sudah mengosongkan kamar dan pergi meninggalkan Jiang Ling. Mereka bertiga pergi ke kota Gui Yang, cabang ke-7 dari Partai Pedang Keadilan baru saja didirikan di sana. Dengan pertimbangan bahwa di cabang yang baru dibentuk, tentu lebih banyak hal yang perlu diluruskan, dibandingkan dengan cabang yang sudah mapan, mereka bertiga pun memutuskan untuk membantu Ding Tao secara diam-diam, mengawasi perilaku pengikut Partai Pedan Keadilan yang ada di Gui Yang.
Dua bulan lagi, pemilihan Wulin Mengzhu akan dilakukan. Waktu dua bulan memang terhitung singkat, Hua Ng Lau sendiri tidak yakin apakah yang mereka kerjakan akan meberikan pengaruh besar pada jalannya pemiihan. Tidak seperti Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu yang bersemangat
1719
untuk melakukan sesuatu, meskipun kecil, untuk membantu Ding Tao menyelesaikan tugas-tugasnya. Hua Ng Lau sebenarnya lebih berpikir demi kedua orang anak muda itu. Harapannya adalah di sisa umurnya dia bisa mewariskan sebanyak mungkin ilmu yang dia miliki pada dua orang anak muda itu.
―Ren Fu, gerakan kakimu kurang mengalir, terlalu kaku, dengan demikian ada waktu yang terbuang saat dirimu berpindah dari satu kedudukan ke kedudukan yang lain. Ingat, dalam penggunaan jurus ini, kaki harus bergerak dengan cepat tanpa mengerahkan tenaga secara berlebihan.‖, seru Hua Ng Lau setelah Huang Ren Fu dan Hua Ying Ying selesai mempraktekkan jurus-jurus dari ilmu yang sedang dia ajarkan.
―Sedangkan kau Ying Ying, gerakan tubuh bagian atas, kurang serasi dengan gerakan tubuh bagian bawah. Akibatnya pada saat perpindahan dari satu kedudukan ke kedudukan yang lain, banyak lubang kelemahan yang terbuka dan dapat diserang lawan. Bagaimana, kalian mengerti?‖, tanya Hua Ng Lau setelah menjelaskan pada dua orang muridnya.
Huang Ren Fu dan Hua Ying Ying menjawab hampir bersamaan.
1720
―Kami mengerti ayah‖
―Kami mengerti guru‖
―Bagus, kalau begitu coba ulangi sekali lagi gerakan kalian. Kali ini cobalah melakukannya dengan lebih perlahan, sebisa mungkin lakukan dahulu gerakannya dengan benar, baru kemudian kita coba melakukannya lebih cepat.‖
―Baik ayah‖
―Baik guru‖
Sekali lagi kedua orang anak muda itu bergerak, memperagakan ilmu yang sedang diajarkan Hua Ng Lau. Keduanya termasuk cerdas dan cepat sekali dalam menghafalkan jurus-jurus yang diajarkan. Demikian juga dengan teori yang melatar belakangi setiap gerakan, sehingga dalam waktu yang beberapa bulan mereka sudah mampu menghafalkan dengan lengkap ilmu langkah ajaib yang hendak diwariskan Hua Ng Lau. Tinggal bagaimana mereka berlatih agar tubuh mereka mengingat setiap gerakan dengan tepat, sehingga dalam pertarungan yang sengit pun secara otomatis mereka akan bergerak dengan sempurna.
1721
Sambil memperhatikan gerakan kedua orang muda itu, Hua Ng Lau sesekali memberikan petunjuk.
―Jangan berlebihan dalam memperhatikan bagian tubuh tertentu. Perhatian kalian harus luas dan tidak terbatas. Ying Ying, tanganmu terlambat bergerak.‖
Tidak berapa lam kemudian, ganti Huang Ren Fu yang mendapatkan teguran, ―Ren Fu, gerakan kakimu sudah cukup mengalir, namun sekarang kau ketularan Ying Ying. Awasi gerakan tubuh bagian atas.‖
Sebagai seorang guru Hua Ng Lau berlaku tegas dan keras, kedua orang anak muda itu digemblengnya tanpa ampun. Sepanjang perjalanan dari Jiang Ling ke Gui Yang, di setia ptempat yang memungkinkan dia akan memerintahkan keduanya untuk berlatih. Dengan sengaja Hua Ng Lau memilih jalan yang melewati hutan belukar, gunung dan sungai-sungai yang deras. Fisik kedua anak muda itu pun jadi terlatih oleh kondisi alam yang sulit. Otot-otot kaki mereka menjadi kokoh, keseimbangan mereka pun jadi semakin baik.
Setelah sampai di Gui Yang pun, Hua Ng Lau tidak membuang-buang waktu, saat mereka belum mendapati tempat tinggal
1722
yang cocok, dia memilih untuk tinggal jauh di luar di perbatasan kota. Di tempat yang sepi itu dia lebih bebas untuk melatih kedua tanpa takut terlihat orang.
Segera setelah dia mendapatkan tempat yang cocok untuk ditinggali dan juga berlatih, barulah mereka tinggal di dalam kota Gui Yang.
Hua Ng Lau yang terlihat sederhana rupanya memiliki simpanan uang yang cukup banyak. Hal ini tidaklah aneh, kepandaiannya dalam mengobati orang tentu saja membuat dia mudah untuk mengumpulkan uang. Pada pasien yang miskin memang dia lebih suka memberikan pengobatan secara Cuma-Cuma, dengan imbalan seikhlas pasiennya. Namun terhadap orang yang kaya, Hua Ng Lau tidak sungkan-sungkan untuk membebankan biaya yang cukup mahal. Sementara Hua Ng Lau sendiri hidup secara sederhana. Dengan sendirinya setelah bertahun-tahun, uang simpanannya pun jadi lumayan besar. Kali ini demi menggunakan waktunya yang tersisa dengan sebaik-baiknya, Hua Ng Lau tidak segan-segan menghabiskan uang simpanannya untuk membeli sebuah rumah yang cukup besar. Rumahnya sendiri sederhana, namun ada pekarangan dan ruangan yang luas untuk dia menanam tanaman obat-obatan dan melatih Huang Ren Fu dan Hua Ying Ying.
1723
Demikianlah di kota Gui Yang muncul satu toko obat yang baru. Selain menjual obat, Hua Ng Lau pun membuka pemeriksaan gratis. Demi menjaga kerahasiaan, Hua Ng Lau mengganti namanya jadi Lau Peng, Hua Ying Ying pun jadi bernama Lau Hoa dan Huang Ren Fu sekarang dikenal sebagai Lau Pai.
Agar tidak terlalu mencolok, Hua Ng Lau sebisa mungkin menyembunyikan kepandaiannya baik dalam hal ilmu bela diri maupun dalam hal pengobatan. Tidak jarang dia harus menelan rasa bersalah dengan menolak pasien yang sakitnya sudah cukup berat. Meskipun dia bisa menyembuhkan pasien itu, namun Hua Ng Lau tahu, jika dia menyembuhkan pasien dengan penyakit seberat itu, namanya akan dikenal orang dengan cepat. Untuk mengurangi rasa bersalahnya, Hua Ng Lau diam-diam menguji tabib-tabib yang ada di Gui Yang, terkadang dengan menyamar sebagai seorang pasien. Ada kalanya dia berpura-pura bertanya sebagai rekan seprofesi. Dengan cara itu, Hua Ng Lau pun tidak sekedar menolak pasien dengan penyakit yang berat, tapi dia juga bisa mengarahkan mereka untuk menemui tabib-tabib yang cukup pandai untk menyembuhkan penyakit mereka.
Berbeda dengan Huang Ren Fu yang lebih sering mengurung diri di ruang latihan dan rajin berlatih ilmu bela diri, Hua Ying
1724
Ying yang juga mempelajari ilmu pengobatan lebih sering terlihat bersama Hua Ng Lau di tokonya. Penampilannya yang menarik, meskipun telah dipermak sedemikian rupa oleh Hua Ng Lau, membuat toko Hua Ng Lau cukup laris, terutama laris didatangi oleh anak-anak muda yang tertarik dengan Hua Ying Ying atau sekarang dikenal sebagai Lau Hoa. Hua Ng Lau tentu saja tahu bahwa hati Hua Ying Ying beum bisa melupakan Ding Tao sepenuhnya, oleh karena itu Hua Ng Lau pun memasang aksi sebagai seorang ayah yang galak.
Terkadang saat mereka bertiga makan malam bersama, cerita lucu mengenai pemuda yang dibuat lari ketakutan oleh kegalakan Hua Ng Lau membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Hal-hal kecil seperti ini tanpa terasa membuat Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu terhibur, sehingga mereka melewati hari-hari di Gui Yang dengan gembira. Tanpa terasa hampi satu bulan mereka sudah tinggal di Gui Yang, di sela-sela pekerjaan dan latihan mereka, seperti yang sudah direncanakan, mereka pun memasang mata dan telinga, mengawasi gerak-gerik orang-orang Partai Pedang Keadilan yang ada di Gui Yang. Sebenarnya jika tidak diingatkan oleh murid dan anak angkatnya, mungkin Hua Ng Lau tidak akan terpikir untuk melakukan hal itu. Tapi hari-hari mereka berlalu tanpa ada
1725
kejadian penting. Nama besar Partai Pedang Keadilan rupanya memberikan pengaruh yang cukup besar di Gui Yang. Tidak ada tokoh persilatan yang berani mencari perkara di kota itu. Di lain pihak, mereka yang bernaung di bawah panji-panji Ding Tao pun tidak banyak berulah. Reputasi Chou Liang dan jaringan mata-matanya membuat mereka berpikir dua kali untuk mencatut nama Partai Pedang Keadilan demi keuntungan sendiri.
Semuanya berjalan dengan baik dari hari ke hari, sampai satu hari di mana Hua Ng Lau, puteri angkat dan muridnya sedang berjalan-jalan melepaskan lelah di kota.
Pagi hari itu Hua Ng Lau bangun dengan perasaan yang ceria. Selesai membersihkan diri, seperti biasa dia duduk di teras, menghadap ke pekarangan yang besar dan mulai dipenuhi tanaman obat-obatan. Sambil menyeruput teh hangat, tabib tua itu menikmati segarnya udara pagi.
―Hmmm… langit begitu cerah, udara juga terasa lebih segar daripada hari-hari biasanya. Rasanya sayang kalau harus menghabiskan waktu di toko yang pengap dan bau obat.‖, gumam Hua Ng Lau sambil menyandarkan tubuhnya di kursi
1726
tua yang sudah reyot, yang berkeriyut-keriyut setiap kali Hua Ng Lau mengubah posisi tubuhnya.
Semakin dipikir, semakin Hua Ng Lau ingin berjalan-jalan menikmati hari dan beristirahat sejenak dari kesibukan yang rutin mereka lakukan setiap harinya.
―Kalau diingat-ingat, sejak tinggal di Gui Yang, kami belum pernah berjalan-jalan di kota. Huang Ren Fu menghabiskan waktunya untuk berlatih sedangkan Ying Ying jika tidak berlatih atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tentu akan membantu di toko.‖, gumam tabib tua itu, mengingat-ingat kegiatan mereka sehari-hari.
Memikirkan hal itu, diapun melompat bangun dan bergegas menuju ke dapur, di waktu pagi seperti ini Hua Ying Ying tentu sedang memasak di sana.
―Ying Ying… Ying Ying… apakah kau ada di dapur?‖, seru tabib tua itu saat dia sudah hampir sampai di sana.
Tergopoh-gopoh, Hua Ying Ying pun berlari keluar, ―Ya ayah… aku ada di sini. Ada apa?‖
1727
Hua Ng Lau tidak menghentikan langkahnya, ―Hahaha, rajin benar anak ayah yang satu ini. Apakah kau tahu di mana kakakmu berada?‖
Sembari bertanya Hua Ng Lau terus berjalan menuju ke dapur diikuti oleh Hua Ying Ying yang masih belum mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh ayah angkatnya itu. Kebetulan Huang Ren Fu juga sedang berada di dalam dapur, membantu adiknya meniup kayu bakar agar cepat menyala. Mendengar suara gurunya, pemuda ini pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Saat Hua Ng Lau sudah di depan pintu, Huang Ren Fu pun sudah siap untuk keluar menyambut,
―Hoo, rupanya kau di sini juga. Bagus, jadi laki-laki memang harus ringan tangan dan tidak segan-segan membantu di mana pun itu dilakukan.‖, ujar Hua Ng Lau dengan senyum lebar.
―Ah, selamat pagi guru, ada apakah gerangan? Tidak biasanya pagi-pagi begini guru mencari-cari kami.‖, jawab Huang Ren Fu sambil tidak lupa memberikan hormat pada gurunya.
Sikap Huang Ren Fu terhadap Hua Ng Lau memang lebih formal dibandingkan Hua Ying Ying, jangankan Hua Ng Lau yang penyabar, terhadap ayah kandungnya sendiri Tuan besar
1728
Huang Jin yang cenderung keras terhadap anak-anaknya pun, dia satu-satunya yang bisa bersikap manja tanpa mendapat teguran.
―Hehehe, hari ini kalian jangan bekerja, Ying Ying tidak perlu memasak, Ren Fu tidak perlu berlatih. Cepatlah mandi dan merapikan diri, kita akan berjalan-jalan di kota. Melihat-lihat pasar dan keramaian. Aku akan membelikan dua setel baju baru. Kemudian kalau lapar kita mampir ke rumah makan.‖ , ujar Hua Ng Lau dengan penuh semangat.
―Wah… ada apa dengan ayah? Mengapa tiba-tiba jadi suka pelesiran begini?‖, ujar Hua Ying Ying tidak bisa menyembunyikan keheranannya, meskipun dia ikut bersemangat dan merasa senang dengan ajakan Hua Ng Lau.
―Hahaha, tidak ada apa-apa, hanya saja saat bangun tadi pagi perasaanku terasa sangat baik dan aku teringat, semenjak kita tinggal di Gui Yang belum pernah sekalipun kita berjalan bersama-sama, sekedar mencari kesenangan tanpa banyak memikirkan pekerjaan.‖, jawab Hua Ng Lau.
―Ehmm… guru, apakah guru tidak keberatan jika aku tinggal saja di rumah?‖, tanya Huang Ren Fu hati-hati.
1729
―Tinggal di rumah? Kenapa?‖, tanya Hua Ng Lau.
―Aku masih ingin melatih kembali ilmu yang baru guru ajarkan. Ada beberapa bagian dari teori yang guru ajarkan, yang masih belum bisa kupahami dengan sempurna.‖, jawab Huang Ren Fu.
―Hmm… tidak bisa, tidak bisa. Kalian berdua harus ikut. Dengar Ren Fu, bukan tanpa alasan aku mengajak kalian berdua untuk bertamasya. Kalian perlu ingat, baik tubuh maupun pikiran, keduanya memiliki batas-batas kekuatan. Jika terus menerus dipaksa bekerja, hasilnya justru akan menjadi buruk. Seperti kapak yang sudah tumpul dipakai untuk menebang kayu. Hari ini mari kita mengistirahatkan pikiran dan tubuh kita dari rutinitas sehari-hari.‖, kata Hua Ng Lau menjelaskan.
―Hmm… baiklah guru, aku mengerti.‖, jawab Huang Ren Fu.
―Nah kalau begitu, pergilah kalian bersiap-siap.‖, ujar Hua Ng Lau untuk kemudian meninggalkan dapur dan kembali menikmati teh hangatnya.
Akhirnya mereka bertiga pun berkeliling di kota Gui Yang dengan santai. Puas melihat-lihat berbagai keramaian, Hua Ying Ying seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
1730
Beda dengan Hua Ying Ying, Huang Ren Fu hanya tertawa geli mengamati tingkah laku adiknya, tanpa benar-benar menikmati perjalanan mereka.
―Hee… sepertinya kau tidak terlalu senang.‖, tanya Hua Ng Lau.
―Tidak juga guru, aku cukup menikmati, sesekali melihat keramaian di luar setelah begitu lama mengurung diri dalam ruang yang tertutup rasanya cukup menyenangkan juga.‖, jawab Huang Ren Fu sambil tersenyum.
―Ah… syukurlah kalau begitu‖, ujar Hua Ng Lau.
―Cuma memang aku lebih suka bertamasya di alam bebas dengan pemandangan yang indah, daripada berjalan-jalan di tengah kota.‖, ujar Huang Ren Fu.
―Kalau begitu lain kali, kita sempatkan waktu u ntuk melihat-lihat Danau Baihua, bagaimana?‖
―Boleh juga guru‖, jawab Huang Ren Fu.
Begitulah guru dan murid itu bercakap-cakap sendiri, sementara Hua Ying Ying melihat-lihat barang dagangan yang
1731
dijual di sebuah toko kain yang terbesar di kota Gui Yang. Huang Ren Fu hanya tertawa lebar saat akhirnya Hua Ying Ying keluar dengan membawa beberapa gulung kain.
―Hei… jangan hanya tertawa-tawa, bantu aku membawa barang-barang ini.‖, seru Hua Ying Ying yang kesulitan membawa semua barang yang dia beli.
Selesai menemani Hua Ying Ying memuaskan dirinya, mereka bertiga pun pergi ke salah satu rumah makan yang cukup terkenal di kota itu. Hua Ng Lau dengan royal memesan berbagai macam masakan yang mahal. Sambil menunggu pesanan mereka datang, ketiga orang itu pun bercakap-cakap ringan di antara mereka sendiri. Di saat mereka bersenda gurau, tiba-tiba wajah Hua Ng Lau berubah. Perubahan itu sendiri tidak terlalu kentara, namun Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu yang sudah mulai mengenal tokoh tua ini dengan dekat melihatnya.
―Ayah, ada apa?‖, tanya Hua Ying Ying dengan suara perlahan.
―Hmmm… ini sedikit aneh…, jika tidak salah yang barusan masuk dan duduk di sana itu adalah salah seorang pendekar Kunlun dan di sebelahnya bukankah dia salah seorang
1732
pimpinan Partai Pedang Keadilan di Kota Gui Yang ini.‖, jawab Hua Ng Lau dengan suara setengah berbisik.
―Dari mana guru bisa tahu bahwa orang yang datang itu adalah murid Kunlun?‖, tanya Huang Ren Fu ingin tahu.
―Kalian perhatikan gagang pedang yang dia bawa, lihat bentuk dan simbol yang ditatahkan di ujungnya. Itulah pedang milik perguruan Kunlun, yang membawanya kemungkinan besar adalah anak murid perguruan Kunlun.‖, jawab Hua Ng Lau.
Huang Ren Fu menganggukkan kepala tanda mengerti, selintas dia mencoba memperhatikan gagang pedang orang yang baru datang diam-diam. Setelah beberapa kali mencuri pandang, dapatlah dia melihat ciri-ciri yang membedakan gagang pedang milik murid Kunlun dengan gagang pedang pada umumnya.
Pada umumnya perguruan-perguruan yang cukup besar dengan jumlah murid yang sudah lewat lebih dari dua generasi dengan perguruan yang lebih dari satu cabang, memang membuat tanda-tanda semacam ini. Tanda-tanda ini dibuat dengan maksud untuk memudahkan mereka saling mengenal saat berkelana dalam dunia persilatan. Tentu saja ada kemungkinan orang luar dengan sengaja meniru-niru tanda
1733
tersebut. Itu pula sebabnya dalam setiap perguruan selalu ada orang-orang yang khusus ditugaskan untuk menjadi penegak peraturan. Selain untuk mengamati murid-murid sendiri agar tidak berbuat onar di luar, mereka juga bertugas untuk memastikan tidak ada orang yang memalsukan tanda perguruan mereka dan merusak nama perguruan. Mereka ini keras bertindak pada murid perguruan yang berbuat onar, tapi lebih keras lagi pada orang luar yang berani memalsukan tanda perguruan mereka. Kalaupun orang itu dibiarkan hidup, tentu sudah dalam keadaan cacat dan jadi orang yang tidak berguna. Satu-satunya kegunaannya adalah untuk memberi tahukan pada orang lain, betapa mengerikannya hukuman buat orang yang memalsukan ciri perguruan itu.
―Apa yang aneh dengan pertemuan mereka itu? Bukankah sejak beberapa bulan yang lalu, Kunlun sudah menjadi sekutu Partai Pedang Keadilan?‖, tanya Huang Ren Fu.
―Memang begitu yang terjadi, namun bukankah dari kabar yang beredar, hal itu terjadi karena mereka terpaksa, terikat oleh satu kesepakatan yang merugikan mereka. Tapi sekarang kita lihat seorang pendekar Kunlun bercakap-cakap akrab dengan seorang dari Partai Pedang Keadilan.‖, jawab Hua Ng Lau.
1734
―Memang agak mencurigakan… apakah menurut guru ada kemungkinan orang-orang Kunlun berusaha membuat rusuh Partai Pedang Keadilan dari dalam, dengan menarik orang-orang penting di dalamnya ke pihak mereka?‖, tanya Huang Ren Fu.
―Hmm… apakah tidak mungkin , mereka ini kebetulan saja bersahabat? Atau mungkin Kunlun benar-benar berusaha menjalin hubungan yang lebih baik dengan Partai Pedang Keadilan?‖, Hua Ying Ying menyela.
―Bisa jadi hal itu terjadi, tapi bayangkan sebuah perguruan ternama dengan sejarah ratusan tahun seperti Kunlun harus mengakui kekalahan di tangan sebuah partai yang baru muncul. Mengenal sifat-sifat orang di dunia persilatan yang mengagungkan nama baik, apakah menurutmu mereka akan menerima hal itu begitu saja?‖, tanya Huang Ren Fu pada adiknya.
―Hmmm….kalau begitu apa yang akan kita lakukan?‖, tanya Hua Ying Ying.
―Sebaiknya kita amati saja dulu mereka, sebisa mungkin aku akan berusaha mendengarkan isi pembicaraan mereka. Kalian
1735
berdua bersikaplah yang wajar agar tidak menarik perhatian.‖, bisik Hua Ng Lau.
Menguping pembicaraan orang memerlukan ketrampilan tersendiri, apalagi di tempat keramaian. Yang jadi masalah bukanlah suara orang yang terlalu pelan, tapi bagaimana memisahkan satu suara dengan suara yang lain. Hua Ng Lau yang sejak muda berkelana sendirian terbilang ahli dalam bidang menguping pembicaraan orang. Bukan hanya membedakan suara, dia juga bisa membaca gerak bibir. Ketika suara tidak terdengar, maka mata yang menjadi telinga. Dengan dua keahlian itu, maka Hua Ng Lau pun mampu mengikuti pembicaraan kedua orang yang ada di hadapannya, meskipun hanya sepotong-sepotong saja.
―…kenapa terlambat? … persediaan di rumahku sudah hampir habis…‖
―…ada kesulitan… kurasa dia anak buah Chou Liang…‖
―… sudah curiga…‖
―Tidak… masih aman… berhasil kukecoh…‖
―…perlu tambahan…‖
1736
―… ada rekan lain ... tapi akhirnya berhasil kubujuk juga …‖
―… bagus, ketua pasti akan senang mendengarnya …‖
Mereka masih bercakap-cakap untuk beberapa lama, namun dari potongan yang dia dengar sampai saat ini Hua Ng Lau sudah bisa mendapatkan gambaran dari keadaan yang terjadi di Gui Yang. Huang Ren Fu dan Hua Ying Ying yang bercakap-cakap dengan riang, sebenarnya juga ikut berusaha mendengarkan. Kesulitan mendengarkan, mereka hanya bisa mengamati raut wajah Hua Ng Lau. Melihat wajah Hua Ng Lau yang makin lama makin tegang, dengan sendirinya mereka pun ikut merasa tegang.
―Sebaiknya kita keluar sekarang‖, ujar Hua Ng Lau mengambil keputusan.
Tanpa menunggu jawaban dari anak angkat dan muridnya, dia menggamit seorang pelayan yang kebetulan melewati meja mereka, ―Pelayan, tolong bungkus sisa makanan yang belum habis.‖
Sambil menyisipkan uang tips buat pelayan tersebut Hua Ng Lau menambahkan, ―Cepat ya, aku sedang ada urusan penting.‖
1737
Uang memang jadi raja buat sebagian besar manusia, kebetulan pelayan tersebut termasuk salah satu di antaranya, bergegas dia membungkuk-bungkuk hormat dan menjawab, ―Baik tuan, baik, tunggu di sini sebentar.‖
Sambil menunggui pelayan itu membereskan meja dan membungkus makanan mereka, setiap kali ada kesempatan, Hua Ng Lau serba sedikit memberi tahukan apa yang sudah dia dengar pada Huang Ren Fu dan Hua Ying Ying. Tidak lama mereka menunggu, semua makanan yang belum habis sudah selesai dibungkus rapi. Hua Ng Lau bertiga pun meninggalkan rumah makan itu, setelah berada di luar barulah Huang Ren Fu berani bertanya.
―Guru, lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?‖, tanya pemuda itu.
―Pertama, kita pastikan dulu bahwa benar yang datang itu adalah anak murid perguruan Kunlun. Untuk itu aku butuh kau untuk mencari perkara dan bergebrak beberapa jurus dengannya. Tapi ingat, kau berkelahi untuk mengingat-ingat jurus yang dia pakai, bukan untuk mencari kemenangan. Jangan segan untuk mengalah dan merendahkan diri.‖, jawab Hua Ng Lau
1738
―Lalu bagaimana dengan aku ayah? Apakah ada tugas juga untukku?‖, tanya Hua Ying Ying dengan perasaan harap-harap cemas.
―Ya, tugasmu membawa barang-barang yang kaubeli dan makanan yang sudah dibungkus ini ke rumah‖, jawab Hua Ng Lau sambil menyengir.
―Ah ayah…, jangan bercanda yah‖, keluh Hua Ying Ying.
―Hehe, tapi tidak juga, untuk sementara ini kukira hanya itu yang bisa kau lakukan, tidak mungkin aku mengajakmu untuk menguntit lawan misalnya dengan bawaan yang banyak itu. Jangan memikirkan besar kecilnya tugas, tapi lakukan saja apa yang menjadi tugasmu dengan sebaik-baiknya.‖, Hua Ng Lau terkekeh melihat Hua Ying Ying kecewa.
―Ya sudahlah, lalu ayah sendiri, apa yang akan ayah lakukan?‖, tanya Hua Ying Ying.
―Aku akan mencoba mengikuti orang Partai Pedang Keadilan dari kejauhan, jika dia bilang ada rekannya yang berhasil dibujuk, mungkin dia akan menemui rekan barunya ini untuk membicarakan hasil pertemuannya. Mungkin juga tidak, tapi siapa tahu?‖, jawab Hua Ng Lau pula.
1739
―Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau aku mengawasi Kakak Ren Fu dari kejauhan, siapa tahu nanti dia butuh bantuan. Mungkin saja anak murid Kunlun yang datang ini termasuk berdarah panas dan tidak mau berhenti sebelum melihat darah tertumpah, aku kan bisa membantu melerai mereka.‖, ujar Hua Ying Ying.
―Hmm.. boleh juga demikian. Ren Fu, kau ingat baik-baik ya, kau mencari perkara hanya untuk menyelidiki asal-usul orang itu saja. Setelah kau merasa cukup meilhat jurus-jurusnya, segera mengalah saja dan sebisa mungkin merendahkan diri supaya dia puas dan berhenti. Jangan terlampau jauh mendesak lawan, kita tidak ingin memancing kecurigaan lawan-lawan kita.‖, ujar Hua Ng Lau.
―Aku mengerti guru.‖, jawab Huang Ren Fu.
―Baiklah kalau begitu, kita mencari tempat untuk menunggu mereka keluar dari rumah makan tanpa terlihat.‖, ujar Hua Ng Lau.
Akhirnya ketiga orang itu berhenti di sebuah toko yang menjual berbagai macam hiasan rumah. Hua Ying Ying kembali sibuk melihat-lihat, sementara Huang Ren Fu dan Hua Ng Lau
1740
memperhatikan pintu keluar rumah makan yang baru saja mereka tinggalkan. Sembari menunggu Hua Ng Lau pun membisikkan nasihat-nasihat untuk Huang Ren Fu.
―Pada saat berkelahi gunakanlah gerakan kaki yang baru saja aku ajarkan pada kalian, tapi kombinasikan dengan ilmu pukulan keluarga Huang. Keduanya memiliki sumber yang sama dengan ilmu Lohan Chuan dari Shaolin. Meskipun merugikan dirimu karena kelebihan dari kedua ilmu itu jadi berkurang faedahnya tapi dengan menggabungkan kedua ilmu itu, akan sedikit mengaburkan ilmu apa sebenarnya yang kau pakai.‖
―Aku mengerti guru, tugasku untuk menyelidiki asal usul ilmu lawan dan jangan sampai lawan bisa meraba asal-usulku sendiri.‖
―Benar, ingatlah hal itu baik-baik. Demikian juga sewaktu membuntuti lawan, bila kau lihat tiba-tiba orang yang kau ikuti itu berhenti, kemungkinan besar dia sedang mengamati apakah ada orang yang mengikutinya. Jika dua atau tiga kali dia berhenti dan dia melihat orang yang sama sedang berhenti beberapa jauh darinya, maka tahulah dia bahwa dia sedang diikuti.‖
1741
Sejenak Huang Ren Fu memikirkan hal itu sebelum mengangguk dengna bersemangat, ―Ya, aku mengerti. Cara itu bagus sekali, lain kali jika aku dalam perjalanan yang penting, cara itu bisa kugunakan.‖
―Hehehe, itu baru cara paling umum untuk memeriksa apakah kita sedang diikuti orang atau tidak‖, ujar Hua Ng Lau sambil tertawa terkekeh.
Ketika hendak bertanya lagi, Huang Ren Fu melihat dua orang yang hendak mereka kuntit keluar dari rumah makan.
―Guru mereka sudah keluar‖, ujarnya.
―Pergilah kau mengikuti mereka, aku akan menyusul beberapa saat lagi‖, jawab Hua Ng Lau.
―Baik guru‖, jawab Huang Ren Fu dan dia pun bergegas mengikuti mereka diam-diam.
Hua Ng Lau sendiri terlebih dahulu mengabari Hua Ying Ying sebelum diam-diam mengikuti. Hua Ying Ying sesuai pesan Hua Ng Lau, menunggu beberapa saat sebelum menitipkan barang-barangnya dan ikut keluar mengikuti Huang Ren Fu. Kedua orang yang diikuti itu berpisah dan mengambil jalan
1742
yang berbeda segera setelah mereka sampai di satu persimpangan. Sejak keluar dari rumah makan pun keduanya sudah bersikap seperti orang yang tidak saling mengenal. Karena sudah membagi tugas sebelumnya, maka tanpa banyak cakap, Huang Ren Fu mengikuti orang yang dicurigai merupakan anak murid perguruan Kunlun, sementara Hua Ng Lau mengikuti yang seorang lagi.
Huang Ren Fu sambil terus mengikuti orang yang ada di depannya, terus berpikir bagaimana caranya dia hendak mencari perkara dengan orang itu. Ketika dia melihat orang yang diikutinya berhenti sebentar di seorang penjual kipas dan macam-macam kerajinan tangan lainnya, Huang Ren Fu teringat dengan nasihat Hua Ng Lau.
‗Hmm… apakah dia sedang melihat ke sekelilingnya? Mengingat-ingat orang-orang yang ada di sekitarnya, jika aku menunggu sampai dia memeriksa keadaan untuk kedua kalinya, bukankah ada kemungkinan dia akan mencurigaiku?‘, pikir Huang Ren Fu.
‗Tunggu dulu… bukankah tugasku sekarang ini bukan membuntuti dia, tapi mencari perkara dan menguji ilmu
1743
silatnya?‘, berpikir demikian Huang Ren Fu pun membuat keputusan.
Pemuda itu terus saja berjalan, tidak berusaha bersembunyi tidak pula ikut berhenti menunggu. Dia berjalan saja tenang-tenang, padahal seluruh panca inderanya bekerja dengan tajam. Pemuda itu mengamati keadaan di sekelilingnya, apa yang dilakukan orang-orang di sekitar itu, terutama mengamati juga gerak-gerik orang yang sedang dia incar. Dia pun menyesuaikan gerakannya dengan gerakan mereka. Hal ini sulit tapi masih dalam kemampuan Huang Ren Fu, karena mereka yang bergerak pun sedang bergerak dengan normal dan sesuai dengan yang diinginkan Huang Ren Fu, dirinya pun berjalan melintas murid Kunlun yang sedang dia incar, menubruk orang di depannya dan terpental menabrak murid Kunlun tersebut.
―Hei !‖
―Hei, hati-hati!‖
Brak! Krak… suara meja yang tertumbuk dan barang terinjak.
Suasana pun jadi ricuh dan pedagang yang merasa dirugikan pun meminta ganti rugi. Murid Kunlun yang ditumbuk Huang
1744
Ren Fu tentu saja tidak mau tubuhnya didorong-dorong orang seenaknya, dengan sebelah tangan dia menangkis tubuh Huang Ren Fu yang terhuyung ke arahnya. Huang Ren Fu yang mencari perkara mandah saja didorong, malah dia menjatuhkan diri ke arah dagangan orang. Pedagang yang barang dagangannya terinjak sudah tentu tidak mau rugi, cepat-cepat dia meraih baju Huang Ren Fu dan menahannya.
―He.. anak muda jangan ngacir dulu, kau harus ganti barang daganganku!‖, seru pedagang itu sambil meraih lengan baju Huang Ren Fu.
Pemuda itu pun mengibaskan tangannya, ‖He bukan aku yang salah!‖
Bergegas dia menghadang jalan anak murid Kunlun yang rupanya juga tidak berniat cepat-cepat pergi seakan pencuri yang takut ditangkap orang. Berdiri dengan tenang dia menunggu kericuhan itu selesai. Huang Ren Fu cepat-cepat menghadang di depan murid Kunlun itu dan berkacak pinggang.
1745
―Hei kau yang mendorongku ke arah barang dagangan orang itu! Apa sebenarnya maumu?‖, tegur dia dengan telunjuk terarah ke depan wajah lawan.
Melihat sikap orang demikian kurang ajar, tentu saja wajah pendekar dari Kun Lun tersebut berubah angker oleh rasa marah, ―Hmph! Dirimu sendiri yang tidak berjalan dengan hati-hati mengapa menyalahkan orang lain?‖
―Terserah apa katamu, kalau menurut kataku, kaulah yang salah dan kau yang harus mengganti kerugian orang itu.‖, ujar Huang Ren Fu dengan tandas.
―Hahahaha, tidak disangka ada anak ayam berani mengaum, bukankah kau harusnya berciap-ciap. Hei anak muda, dengar baik-baik, sedari tadi tanganku sudah gatal ingin menghajarmu, tapi baik kuberi kau kesempatan sekali lagi untuk bertobat.‖, ujar pendekar Kunlun tersebut sambil tertawa mengejek.
Orang-orang yang berada di sekitar mereka dengan cepat menjauh begitu menyadari kejadian tersebut. Dari lagak lagu mereka berdua, sudah jelas keduanya adalah orang dunia persilatan atau setidaknya seorang dari mereka berdua adalah pendekar pedang. Daripada jadi sasaran mata pedang yang
1746
lewat lebih baik mundur menjauh dan menonton dari jarak yang aman. Sementara itu Huang Ren Fu yang berhadapan muka dengan lawannya sekarang bisa mengamati lawannya lebih jelas. Wajah orang itu terbakar matahari, matanya tajam dengan urat kening menonjol, menurut taksirannya usia lawan tentu sudah mendekati 30 akhir atau awal 40-an. Melihat dari gerak-gerik orang dan keyakinan orang itu pada dirinya sendiri, pemuda itu yakin orang di hadapannya itu tidak bisa diremehkan. Jika dia belum pernah mempelajari ilmu dari Hua Ng Lau, jelas dia sama sekali bukan tandingan orang tersebut. Namun Hua Ng Lau sudah memberinya tugas, Huang Ren Fu pun yakin tentu gurunya sudah punya pertimbangan yang cukup mantap. Dengan kepercayaan pada gurunya, hati Huang Ren Fu pun jadi lebih mantap.
―Hah! Karena kau membawa-bawa pedang sikapmu jadi sombong, tapi apa kau berani adu kepalan denganku?‖, jengek Huang Ren Fu.
―Anak muda, biar kuperingatkan dirimu sekali lagi, aku ini salah seorang murid perguruan Kunlun, sedikit ilmu silat yang mungkin pernah kau pelajari dari guru di kota ini atau dari orang tuamu, jangan kau pandang terlalu tinggi.‖, ujar pendekar dari Kunlun itu sekali lagi, meskipun hatinya sudah panas ingin
1747
menghajar Huang Ren Fu, dia masih mengingat derajatnya sebagai murid perguruan ternama dan tak hendak sembarangan menghajar orang.
―Hahaha… kau bilang murid Kunlun? Aku pernah pula bertemu orang yang mengaku pernah belajar ilmu dari Kunlun, nyatanya dia jatuh terjungkal terkena bogem tanganku. Jangan-jangan kau inipun sejenis jadi-jadian seperti dia, membawa-bawa pedang tapi hanya dipakai untuk menggertak orang.‖, jawab Huang Ren Fu dengan kurang ajar.
―Anak tidak tahu diri, rupanya tuan besarmu harus memberi sedikit hajaran sebelum kau mau bertobat.‖, dengus pendekar Kunlun itu dengan menahan geram.
Sadar lawan tidak bisa diremehkan dan di saat yang sama dia harus bertarung sambil menyamarkan sumber ilmunya sendiri, Huang Ren Fu memutuskan untuk mengambil inisiatif terlebih dahulu.
―Jangan banyak bicara, makan saja kerasnya kepalan tanganku!‖, seru Huang Ren Fu sambil meloncat maju ke depan dan mengirimkan sebuah pukulan.
1748
Jarak antara Huang Ren Fu dan pendekar dari Kunlun itu masih ada beberapa langkah, tapi jarak itu ditutup dengan satu lompatan yang sangat cepat. Inilah hasil latihan yang diberikan oleh Hua Ng Lau, ilmu Hua Ng Lau adalah ilmu warisan keluarga Hua yang bersumber dari dua orang tokoh silat besar di masa lampau, yaitu Huang Shi Zhou dan Feng Mianwu, yang seorang adalah tokoh dari partai pengemis dan yang seorang lagi adalah ahli silat Lohan Chuan dari Shaolin. Tapi kedua tokoh ini bukan menurunkan ilmu yang mereka pelajari dari guru mereka, melainkan bersama-sama menciptakan satu ilmu baru berdasarkan apa yang mereka pelajari dan pengalaman mereka selama berkelana di dunia persilatan.
Lahirlah sebuah ilmu dengan gerak kaki mengikuti aturan Bagua dan gerakan atas menyesuaikan dengan kedudukan bagian bawah tubuh. Keturunan Hua Tuo memulai pelajarannya di umur yang tidak muda namun dia memiliki kelebihan berupa otaknya yang cerdas, untuk itu kedua tokoh itupun menciptakan ilmu yang mengandalkan kecepatan dan kerumitan, untuk mengalahkan lawan yang memiliki hawa murni lebih kuat. Ilmu keluarga Hua ini pun lebih menitik beratkan pada pergerakan untuk memasuki kelemahan lawan, cepat masuk ke dalam jarak serang, cepat menyerang dan cepat pula
1749
keluar dari jarak serang. Huang Ren Fu sudah melatih ilmu ini lebih dari setengah tahun lamanya dan pemuda ini pun berlatih dengan tekun dan pikiran yang tidak bercabang. Keluarganya sudah tidak ada, harta kekayaan tidak ada, bagi pemuda ini, satu-satunya jalan yang terbuka bagi dia untuk menjejakkan kakinya di dunia adalah ilmu ajaran Hua Ng Lau ini. Ditunjang dengan bakat yang cukup baik, maka perkembangannya dalam menjalani ilmu ini sangatlah pesat. Memang Hua Ng Lau selalu saja menemukan kekurangan dalam apa yang dia lakukan, namun hal itu muncul karena Hua Ng Lau menanggapi semangat yang terpancar dari diri Huang Ren Fu dengan menuntut kesempurnaan dari muridnya itu. Hua Ng Lau sendiri merasakan usia yang sudah makin menggerogoti dirinya dan tidak ingin meninggalkan muridnya dengan ilmu yang setengah matang. Itu sebabnya Hua Ng Lau tidak mau menyibukkan Huang Ren Fu dengan ilmu obat-obatan, hal itu bisa dipelajari Huang Ren Fu nanti setelah ilmunya lengkap. Kalaupun Hua Ng Lau keburu meninggal sebelum hal itu terjadi, Huang Ren Fu masih bisa mempelajarinya dari Hua Ying Ying dan buku yang akan diwariskan Hua Ng Lau nanti.
1750
Demikian cepat gerak tubuh Huang Ren Fu hingga pendekar Kunlun yang sudah kenyang makan asam garam itu pun terkejut dibuatnya.
‗Celaka… apakah dia murid orang ternama?‘, pikir pendekar Kunlun itu sambil buru-buru menghindar ke belakang tanpa sempat berpikir panjang.
Sejenak setelah dia bergerak, menyesallah pendekar Kunlun tersebut karena sadar gerak menghindarnya menyisakan terlampau banyak lubang dalam pertahanan dan merugikan dia dan mengeluh dalam hati, ‗Kalau sampai aku terjungkal di bawah kepalan anak muda ini, bisa jatuh nama Kunlun oleh perbuatanku.‘
Tapi saat dia melihat serangan yang dilontarkan, pikirannya pun berubah,‘ Hei… mengapa dia menyerang dengan serangan setengah matang? Hmm… mungkin aku menilai pemuda ini terlalu tinggi. Biarlah aku mengalah dulu beberapa kali untuk melihat lebih jauh.‘
Maka dalam beberapa jurus selanjutnya pendekar Kunlun itu pun tampak terdesak hebat oleh serangan Huang Ren Fu. Meskipun sudah berniat hanya untuk mengamati saja, namun
1751
gerak kaki Huang Ren Fu memang cepat dan mengejutkan, sehingga beberapa kali jalan mundur pendekar Kunlun itu pun terpotong dan dia harus menangkis atau ganti menyerang untuk membuka jalan. Pertarungan pun jadi seru untuk dilihat.
‗Hmm… rupanya ilmu pemuda ini lebih mengandalkan kecepatan kakinya saja, serangannya sendiri tidak perlu ditakutkan. Tapi sungguh gerak kakinya sangat cepat, tidak heran dia menjadi besar kepala.‘, pikir pendekar Kunlun itu dalam hati.
Di lain pihak Huang Ren Fu berpikir berbeda, ‗Sejak tadi belum bisa kudesak dia untuk mengeluarkan ilmu-ilmu andalannya, apakah sebaiknya kutingkatkan kecepatan dan kerumitan gerak tubuhku? Namun jika aku meningkat pada jurus langkah tingkat dau atau tiga maka dia akan bisa meraba asal-usulku. Bagaimana baiknya ini?‘
Sedang Huang Ren Fu masih menimbang-nimbang, pendekar Kunlun itu telah sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada lagi yang bisa dilihat dari serangan Huang Ren Fu yang telah beberapa kali mengulang jurus yang sama.
1752
‗Rupanya gerak kaki berdasarkan Bagua, pemuda ini cukup rajin berlatih hingga gerak kakinya cepat dan mengalir, sayang perkembangannya terlalu sedikit dan sederhana. Belum sampai 30 jurus sudah bisa kuperhitungkan setiap kombinasi yang dia miliki. Baiklah kukira ini waktunya bagiku untuk menghajar adat anak ini‘, pikir pendekar Kunlun tersebut.
Setelah berpikir demikian, mulailah pendekar Kunlun itu bergerak menyerang dengan jurus-jurus andalannya. Ilmu perguruan Kunlun memiliki latar belakang Taoism yang kental, Bagua justru berasal dari Kunlun, itu sebabnya menilik gerakan Huang Ren Fu yang mengambil inspirasi dari Bagua, pendekar dari Kunlun ini dapat dengan cepat memecahkan gerak kaki Huang Ren Fu.
―Hah! Anak muda berbekal sedikit pengetahuan tentang Bagua kau mau membangga-banggakan ilmu warisanmu. Cobalah rasakan pukulanku ini Qian Long Xi Kong Quan.‖, seru pendekar Kunlun itu.
Tubuhnya tiba-tiba melambung ke atas, pukulannya bagaikan memenuhi udara di sekitar Huang Ren Fu mengurung pemuda itu dari segala penjuru. Qian Long Xi Kong Quan atau Tinju Ribuan Naga Bermain di Udara sungguh tepat penamaan jurus
1753
itu. Menggabungkan gerakan langkah yang mengurung ke delapan penjuru lawan, tinju bergerak menyerang dan menutup ruang gerak lawan. Jurus ini tepat sekali mematikan langkah Huang Ren Fu yang lincah. Segera saja tubuh Huang Ren Fu menerima pukulan lawan di berbagai tempat.
Sambil menggertakkan gigi Huang Ren Fu menyilangkan tangan di atas kepala dan di depan dada, mengerahkan hawa murni untuk melindungi tubuhnya dari pukulan lawan yang jatuh seperti cucuran air hujan.
―Luo Yan Zhang!‖, seru pendekar Kunlun itu dengan suara menggelegar.
Seketika itu juga pandangan Huang Ren Fu berkunang-kunang, kepalanya seperti dijatuhi batu seberat ratusan kati. Meskipun sudah melindungi dirinya dengan hawa murni tidak urung keseimbangannya tergoncang hebat. Bagusnya reaksinya tidaklah lambat, sepersekian detik begitu lawan berseru, dia merasakan ancaman di bagian ubun-ubun kepalanya, buru-buru pemuda itu menghentakkan hawa murninya ke bagian punggung dan menyembunyikan kepalanya di antara dua tangan dan punggungnya, Dai Ji Dun atau Tameng tempurung kura-kura, ilmu melindungi tubuh ciptaan Hua Ng Lau.
1754
Dipandang sekilas tidak ubahnya anak kecil yang ketakutan dan menutupi kepalanya dengan dua belah tangan. Namun jurus yang tidak sedap dipandang ini sudah menyelamatkan nyawa Huang Ren Fu. Luo Yan Zhang atau Tapak Jatuh Burung Bangau, adalah sebuah pukulan dengan telapak tangan terbuka, memukul dari atas ke bawah dengan seluruh kekuatan terpusat pada telapak tangan. Pukulan khas Kunlun ini memiliki daya hancur yang kuat.
Pendekar Kunlun itu dengan cerdiknya mengurung Huang Ren Fu hingga tak dapat berkisar dari tempatnya dengan Qian Long Xi Kong Chuan sebelum memberikan pukulan akhir dengan pukulan andalannya Luo Yan Zhang.
Sesosok tubuh tiba-tiba menyibakkan kumpulan penonton yang melingkar di sekitar arena pertarungan.
―Kakak !!!‖, jerit Hua Ying Ying sambil menghambur ke depan, menghampiri tubuh kakaknya yang sudah tak berdaya.
Huang Ren Fu jatuh dengan kedua kaki dalam posisi bertelut, menengkurap di tanah dengan tangan menutupi kepalanya, tidak bergerak-gerak lagi. Warna kemerahan terlihat mewarnai permukaan tanah di sekitar kepala Huang Ren Fu. Pendekar
1755
Kunlun itu berdiri diam di tempatnya, Hua Ying Ying yang memeluk tubuh Huang Ren Fu dan menangis menggerung-gerung, dan keyakinannya terhadap keampuhan pukulannya yang mematikan, membuat dia diam di tempatnya. Ketika melihat tangis Hua Ying Ying tidak juga berhenti, pendekar Kunlun itu pun memutuskan untuk pergi. Bisa dia bayangkan nona muda itu sudah mendapati kakaknya tidak bernafas lagi.
Sebelum pergi, pendekar dari Kunlun itu melontarkan sebuah keping emas pada Hua Ying Ying dan berkata, ―Nona, dunia persilatan adalah dunia yang keras. Saudaramu sudah menantangku untuk bertarung dan kerasnya kepalan tangan atau tajamnya pedang adalah resiko yang harus kami terima sebagai orang yang hidup dalam dunia persilatan yang keras. Ku akui kegagahan saudaramu, kau pakailah uang ini untuk mencari tabib yang baik dan merawatnya. Kuharap hari ini saudaramu belajar untuk lebih berhati-hati dengan mulutnya.‖
Selesai berkata-kata dia pun pergi, melanjutkan kembali perjalanannya. Tidak ada seorangpun yang berani menahan kepergiannya. Lagipula awal pertarungan itu dimulai sendiri oleh Huang Ren Fu yang sekarang terbaring tak bergerak.
1756
Sambil berbisik-bisik dan bergumam tak jelas, satu per satu dari mereka yang tadi berkerumun mulai bubar. Takut berurusan dengan yang berwajib, mereka pun meninggalkan tempat itu. Yang berdagang cepat-cepat membereskan barang dagangannya, yang berencana untuk membeli cepat-cepat pergi ke pasar yang lain dan yang sekedar lewat cepat-cepat melanjutkan kembali perjalanannya, meninggalkan Hua Ying Ying sendirian menangisi kakaknya yang tengkurap mencium tanah dan tidak bergerak-gerak lagi. Mereka yang merasa kasihan pada gadis itu hanya bisa menepuk pundaknya, ada juga yang menjatuhkan beberapa keping uang atau sekedar berbisik menghibur gadis yang menangis tanpa henti itu, sebelum pergi menghilang, tak ingin tersangkut paut dengan sebuah pembunuhan.
Ketika keadaan sepi, perlahan-lahan Hua Ying Ying berbisik, ―Semua orang sudah pergi…‖
―Uuhh… kepalaku seperti terbelah dua…‖, keluh Huang Ren fu dengan suara berbisik.
―Salahmu sendiri kurang hati-hati…‖, bisik Hua Ying Ying.
―Kau memang adik yang kejam…‖, keluh Huang Ren Fu.
1757
―Hmm… memangnya kau pikir aku tidak mengenal ilmu kura-kura mu itu?‖, balas Hua Ying Ying.
―Hei… berani kau menghina ilmu ciptaan guru?‖, tanya Huang Ren Fu sambil perlahan-lahan menegakkan kepala.
Hua Ying Ying hanya meleletkan lidah sebagai jawaban, sebenarnya gadis ini juga merasa khawatir dengan keadaan kakaknya.
―Apa kakak bisa berjalan atau harus merangkak seperti kura-kura?‖, ujarnya menggoda.
―Hmph…! Tentu saja berjalan, aku toh masih seorang manusia‖, jawab Huang Ren Fu sambil berusaha bangkit berdiri.
Kakinya goyah dan cepat-cepat Hua Ying Ying bergerak untuk menyangga supaya dia tidak sampai jatuh. Perlahan-lahan sambil dipapah oleh adiknya Huang Ren Fu menjauh dari tempat itu, masuk ke sebuah gang sempit dan sepi yang mereka temui pertama kali. Perlahan-lahan mereka menyusuri jalan yang kecil itu, sebelum kemudian menemukan sebuah tempat yang lebih tersembunyi lagi. Huang Ren Fu menggamit tangan adiknya dan memberi tanda untuk berhenti. Hua Ying
1758
Ying segera berhenti dan perlahan-lahan mendudukkan Huang Ren Fu di tanah. Tanpa banyak bicara Huang Ren Fu segera memejamkan mata dan bersila. Pemuda itu pun mulai mengerahkan dan menggerakkan hawa murni dalam tubuhnya untuk menyembuhkan luka-luka dalam yang dia derita. Hua Ying Ying dengan cekatan segera menajamkan panca inderanya dan berjaga, memastikan bahwa kakaknya tidak terganggu.
Cukup lama Huang Ren Fu bersila dan mengatur hawa murni sebelum tubuhnya mulai mendapatkan kembali keseimbangannya. Ketika dia membuka mata, wajahnya sudah tampak lebih segar. Hua Ying Ying dengan segera mengangsurkan sebuah pil buatan Hua Ng Lau.
―Ini kak, obat untuk melindungi kepala dari cedera yang berbahaya.‖
Tanpa banyak cakap Huang Ren Fu menelannya, baru setelah itu dia berkata, ―Ayolah kita cepat kembali ke rumah, meskipun sekarang terasa jauh lebih baik, aku tidak ingin berkelahi untuk beberapa waktu.‖
1759
Cepat-cepat kakak beradik itupun mencari jalan pulang, beberapa kali mereka salah mengambil jalan dan butuh waktu beberapa saat sebelum mereka menemukan jalan yang mereka kenal. Meskipun menghabiskan banyak waktu, akhirnya mereka pun sampai di rumah. Hua Ng Lau yang menantikan kedatangan mereka dengan cemas, segera menyambut kedua kakak beradik itu dengan penuh rasa syukur.
―Ren Fu… bagaimana keadaanmu? Ying Ying, kau tidak apa-apa kan?‖
―Aku tidak apa-apa ayah, tapi Kakak Ren Fu menderita luka dalam yang cukup berat.‖, jawab Hua Ying Ying sambil memapah Huang Ren Fu ke sebuah bangku dibantu oleh Hua Ng Lau.
―Tidak apa-apa guru, memang kepalaku masih terasa sedikit pusing tapi kukira tidak terlalu parah, sebelum telapak tangannya menghajarku, aku masih sempat mengurangi kerasnya benturan dengan melengkungkan badan, sehingga sebagian tumpuan telapak tangannya tertahan oleh punggungku.‖, ujar Huang Ren Fu berusaha menenangkan Hua Ng Lau.
1760
Memang tepat sekali jika Huang Ren Fu menggunakan ilmu Dai Ji Dun untuk menahan Luo Yan Zhang milik pendekar dari Kunlun itu. Dalam Luo Yang Zhang, yang menjadi ujung penggada adalah telapak tangan, pangkal serangan yang menjadi sumber kekuatan ada di panggul dan bahu, sementara lengan menjadi perpanjangan. Dengan melengkungkan punggung sehingga sebelum telapak tangan lawan sampai di tujuan, lengan sudah terlebih dahulu tertahan oleh punggung Huang Ren Fu, sehingga tenaga yang tersalurkan ke telapak tangan jadi berkurang jauh. Selain itu gerakan punggung yang melengkung, seperti gerakan memutar, sehingga tenaga yang jatuh ke bawah, sebagian lagi digeser arahnya ke depan. Dengan demikian, saat telapak tangan lawan membentur tangan Huang Ren Fu yang disilangkan di atas kepala, tenaganya sudah jauh berkurang dan hanya sebagian kecil saja yang berhasil menerobos masuk menghantam kepala Huang Ren Fu.
Tapi yang sedikit itu pun sudah cukup untuk mengguncang isi kepala Huang Ren Fu. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika pukulan itu dengan telak menghantam Huang Ren Fu, mungkin tengkorak kepalanya sudah remuk dan isi otaknya berhamburan keluar.
1761
―Hmm… anak pintar…‖ ucap Hua Ng Lau sambil meraba denyut nadi di pergelangan tangan Huang Ren Fu.
Jarinya yang peka bisa mengamati keadaan tubuh Huang Ren Fu hanya lewat denyut nadi yang dia rasakan.
―Hmm…. Kejam sekali… Apa saja yang kau lakukan hingga dia semarah ini?‖, tanya Hua Ng Lau pada Huang Ren Fu.
Huang Ren Fu pun hanya bisa tersenyum kecut sambil mengangkat bahu. Hua Ng Lau menepuk-nepuk pundak pemuda itu dengan rasa sayang. Bisa dia bayangkan pertarungan yang terjadi, muridnya yang satu ini selalu mengerjakan tugasnya dengan kesungguhan yang sulit ditemui. Hua Ng Lau merasasakit melihat luka-luka yang dialami pemuda itu, tapi di saat yang sama merasa bersyukur bahwa dia tidak salah memilih pewaris.
―Coba ceritakan pertarungan itu sendiri‖, ujar Hua Ng Lau sambil bang kit berdiri.
Beberapa saat kemudian Huang Ren Fu menceritakan jalannya pertarungan itu, sementara Hua Ng Lau dibantu Hua Ying Ying, sibuk menyiapkan obat-obatan untuk merawat luka Huang Ren Fu.
1762
―Qian Long Xi Kong Chuan… dan Luo Yan Zhang…, tidak diragukan lagi dia seorang murid dari perguruan Kunlun.‖, gumam Hua Ng Lau.
―Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Ayah?‖, tanya Hua Ying Ying.
―Pertama aku harus memastikan dahulu, bungkusan apa yang diberikan pendekar Kunlun itu pada orang dalam Partai Pedang Keadilan. Menilik pembicaraan mereka, kukira obat itu tentu adalah sejenis obat penakluk jiwa. Setelah itu, hasil temuan itu sebaiknya aku sampaikan pada Bai Chungho, Ketua dari Partai Pengemis.‖, ujar Hua Ng Lau setelah berpikir beberapa saat.
―Mengapa tidak langsung ayah sampaikan saja pada Kakak Ding Tao?‖, tanya Hua Ying Ying.
Hua Ng Lau memandang puteri angkat dan muridnya dengan penuh kasih lalu menjawab, ―Aku sudah tua, sebisa mungkin aku tidak ingin lagi terlibat dengan urusan dunia persilatan. Lagipula Bai Chungho memiliki hubungan yang baik dengan Ding Tao, tentu Ding Tao akan lebih mudah mendengarkan dia daripada mendengarkan pendapat orang yang baru dia kenal.‖
1763
―Oh begitu… lalu apa rencana ayah untuk mengetahui isi bungkusan itu?‖, Hua Ying Ying mengangguk-angguk, namun dengan cepat kembali bertanya.
―Aku sudah mengikuti orang itu diam-diam, sampai di rumah kediamannya. Nanti malam aku akan mencoba menyatroni rumahnya dan mencuri sedikit dari isi bungkusan itu.‖, jawab Hua Ng Lau.
―Tapi guru, apakah hal itu tidak terlampau sulit? Pertama guru tidak tahu di mana bungkusan itu disembunyikan. Setelah menemukan obat-obatan dalam rumah itu pun, guru belum tahu pasti apakah obat itu yang dibawa oleh pendekar dari Kunlun tersebut.‖, ujar Huang Ren Fu sambil mengerutkan alis.
―Memang… sudah kupikir-pikirkan sejak tadi. Tadinya aku berharap bisa mengutil sedikit isi bungkusan itu saat menguntit orang itu. Siapa sangka, orang itu sangat waspada, tidak kutemukan kesempatan semacam itu.‖, jawab Hua Ng Lau sambil menghela nafas.
Mereka bertiga pun terdiam, tiba-tiba Hua Ying Ying memecahkan suasana, ―Ayah, bagaimana kalau kita culik saja orang itu, kemudian kita paksa dia memberikan keterangan.‖
1764
Huang Ren Fu ikut memandang Hua Ng Lau penuh harap, namun Hua Ng Lau hanya tersenyum lemah, ―Cara itu kurang baik, dengan cara apa kita memaksa dia memberikan keterangan? Dengan ancaman? Dengan siksaan? Apakah kita bisa yakin bahwa keterangan yang diberikan itu benar atau sekedar untuk menyelamatkan dirinya saja? Lalu apa yang akan kita lakukan setelah dia memberikan keterangan? Apakah kita akan membebaskan dia? Bagaimana jika dia membocorkan keberadaan kita pada orang-orang Kunlun. Bukankah usaha kita akan jadi sia-sia?‖
―Tidak sia-sia begitu saja guru, setidaknya setelah mendapatkan bukti-bukti yang kuat, kita bisa meyakinkan Ding Tao dan para pengikutnya untuk mewaspadai orang-orang Kunlun.‖, jawab Huang Ren Fu.
―Hee… janganlah terlalu memandang rendah Ding Tao dan pengikutnya. Mereka bisa bekerja bersama, mendirikan satu partai yang besar dalam waktu yang relatif sangat singkat. Bukankah di antara mereka ada Pendeta Liu Chun Cao yang sudah terkenal berkelana, malang melintang di dunia persilatan sendirian. Ada juga yang disebut titisan Zhuge Liang, si Penasihat Chou Liang, ada juga Sun Liang yang bijaksana dan masih ada orang-orang lain yang menonjol. Mereka ini orang
1765
yang teliti dan berpengalaman, aku yakin mereka sudah tahu dan mewaspadai persekutuan mereka dengan orang-orang Kunlun.‖, ujar Hua Ng Lau dengan sabar.
―Jika demikian, bagaimana bisa orang-orang Kunlun mendekati pengikut Kakak Ding Tao yang ada di kota Gui Yang ini? Bahkan siapa tahu hal ini terjadi bukan hanya di Gui Yang.‖, tanya Hua Ying Ying penasaran, karena ayah angkatnya selalu saja merendah.
Hua Ng Lau pun menjawab dengan sabar, ―Jika kalian ingat apa yang aku ceritakan mengenai percakapan kedua orang itu. Bukankah pendekar dari Kunlun itu sempat bercerita bahwa ada orang Chou Liang yang berusaha mengikuti jejaknya? Tapi tampaknya orang-orang yang dilatih Partai Pedang Keadilan masih kalah pengalaman dengan orang-orang dari Kunlun. Kalaupun ada orang-orang yang berpengalaman, jumlah mereka tidak seimbang dengan besaran dari partai mereka. Akibatnya orang-orang Kunlun bisa dengan mudah menemukan celah dalam organisasi mereka. Hal ini memang sulit diatasi, tidak seperti Kunlun dan perguruan besar lainnya yang memiliki puluhan bahkan ratusan tahun untuk menata diri, partai bentukan Ding Tao dan sahabat-sahabatnya, meningkat pesat dalam waktu kurang dari 1 tahun.‖
1766
―Hmm… guru, bukankah seperti dalam berlatih ilmu bela diri yang pernah guru jelaskan. Peningkatan kemampuan yang tidak mempertimbangkan keseimbangan keseluruhan, justru merugikan.‖, ujar Huang Ren Fu yang sejak tadi mendengarkan dengan tekun.
―Murid pintar, murid pintar‖, ujar Hua Ng Lau dengan mata penuh rasa sayang, ―Benar, seperti seorang yang sangat kuat namun tidak luwes. Atau yang memiliki banyak jurus namun melupakan kekuatan.‖
―Ayah…, jika Chou Liang benar-benar titisan Zhuge Liang, masa dia tidak menyadari hal sesederhana ini? Bukankah itu artinya ayah masih lebih bijaksana dari dia?‖, tanya Hua Ying Ying.
Hua Ng Lau mengelus rambut gadis manja itu dan menjawab, ―Kupikir bukan demikian yang terjadi, mereka pun tentunya menyadari hal ini, namun waktu yang tidak berpihak pada mereka. Mereka dipaksa berpacu dengan waktu jika ingin berpartisipasi dalam pemilihan Wulin Mengzhu.‖
―Huuh… apa sih pentingnya kedudukan itu? Mengapa setiap orang begitu menginginkannya? Sampai-sampai Kakak Ding
1767
Tao pun ikut-ikutan mengejar kedudukan dan nama.‖, dengus Hua Ying Ying dengan kesal.
―Hahahaha, kau ini kadang-kadang seperti anak kecil saja. Kedudukan itu sangat berarti jika Ding Tao ingin berhadapan dengan Ren Zuo Can dan sesuai ceritamu, bukankah itu adalah salah satu tugas yang dibebankan oleh Guru Ding Tao kepadanya?‖, jawab Hua Ng Lau merasa geli.
―Guru benar Ying Ying, kurasa Ding Tao melakukan ini semua bukan karena keinginannya pribadi dan itulah perbedaan Ding Tao dengan orang-orang lain yang memburu kedudukan itu.‖, ujar Huang Ren Fu.
―Benar juga sih… Kalau dipikir-pikir Paman Gu Tong Dang memberi tugas kok keterlaluan ya?‖, ujar Hua Ying Ying dengan bibir mengerucut.
Hua Ng Lau tersenyum lebar dan dalam hati merasa terenyuh karena dia sadar bahwa dalam hatinya yang terdalam Hua Ying Ying masih mencintai Ding Tao, ―Anak Ying… kukira guru Ding Tao melihat potensi yang ada dalam diri anak muda itu, demikian juga sifatnya yang tidak mementingkan diri sendiri. Itu
1768
sebabnya dia memberikan tanggung jawab yang sedemikian besar padanya.‖
Mendengar jawaban Hua Ng Lau, Hua Ying Ying mengangguk-angguk puas. Puas karena ayah angkatnya sudah memuji pemuda idamannya. Di lain pihak Huang Ren Fu menundukkan kepala dan tercenung, sikap Huang Ren Fu ini tidak lepas dari perhatian Hua Ng Lau. Orang tua yang bijak ini dengan cepat memahami isi hati murid satu-satunya itu.
Dengan penuh rasa sayang dia menepuk pundak Huang Ren Fu, ―Jangan salah paham, kau pun adalah pemuda pilihan. Jika tidak masakan aku akan mempercayakan ilmu warisan keluarga Hua turun temurun kepadamu dengan hati mantap? Jika saat ini aku masih menahan semangatmu yang meluap, maka kau pun harus ingat, saat Ding Tao sudah merasakan pahitnyakehidupan dan menempa dirinya kau masih tinggal dalam lindungan keluargamu. Dia sudah mendahuluimu beberapa tahun, karena itu janganlah membandingkan dirimu dengan dirinya.‖
Hati Huang Ren Fu merasa terhibur oleh ucapan Hua Ng Lau dengan lirih dia menjawab, ―Terima kasih guru, atas
1769
kepercayaan guru. Aku berjanji akan berusaha agar tidak membuat kecewa guru.‖
Hua Ng Lau mengangguk-angguk puas dan menjawab, ―Aku percaya padamu, aku bahkan sudah melihat hasilnya hari ini. Memang hari ini kau kalah melawan pendekar dari Kunlun itu, tapi coba perhitungkan dalam syarat-syarat yang kutetapkan dan mengekang dirimu untuk bertarung dengan sepenuh hati. Di lain pihak pendekar Kunlun itu tanpa ragu menggunakan ilmu-ilmu simpanannya untuk melawanmu. Jika pertarungan itu dilakukan tanpa batasan, aku yakin kau bisa memenangkannya.‖
―Guru terlalu memuji‖, ujar Huang Ren Fu dengan wajah memerah.
―Hahaha baiklah aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi, aku yakin kau tidak akan lupa diri oleh sedikit pujian. Kau juga tidak akan patah semangat karena merasa kalah dibandingkan orang lain. Teguhkan saja tekadmu, satu saat nanti kau akan berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh nomor satu dalam dunia persilatan.‖
Wajah Huang Ren Fu memerah oleh rasa bangga. Seandainya bisa malam itu pun dia ingin memulai berlatih kembali, tapi dia
1770
tidak berani melanggar perintah gurunya untuk beristirahat 2-3 hari lamanya. Hua Ying Ying pun meremas tangan kakaknya itu dengan hangat, gadis ini turut merasa bahagia melihat kepercayaan ayah angkatnya pada kakak satu-satunya itu.
Hua Ng Lau melanjutkan, ―Pada saat itu, maka satu saja pesanku. Jangan lupa dengan apa yang terjadi saat manusia mementingkan segala cara untuk meraih tujuannya. Keluargamu sudah ikut menyaksikan apa yang terjadi saat hal itu terjadi.‖
Huang Ren Fu dan Hua Ying Ying tercenung beberapa lama, kemudian dengan khidmat Huang Ren Fu menjawab, ―Kami mengerti guru…, kami akan mengingat baik-baik petuah guru.‖
Hua Ying Ying ikut mengangguk, mengiyakan.
―Baguslah, aku percaya dengan kalian. Jawabanmu itu membaut hatiku merasa tenang‖, jawab Hua Ng Lau.
―Ayah… lalu bagaimana dengan rencana ayah untuk menyatroni rumah orang itu?‖, tanya Hua Ying Ying.
―Aku akan mulai menyelidiki keadaan rumah mereka malam ini. Waktu memang mendesak tapi aku tidak mau bekerja dengan
1771
serampangan. Sebisa mungkin aku ingin mendapatkan kepastian tanpa membiarkan mereka sadar bahwa rencana mereka sudah terbongkar.‖, jawab Hua Ng Lau.
―Guru, apakah yang akan guru lakukan setelah mendapatkan obat itu? Apa saja yang bisa kita dapatkan dari contoh obat itu?‖, tanya Huang Ren Fu ingin tahu.
―Aku tahu apa yang bisa dilakukan dengan obat itu‖, ujar Hua Ying Ying tiba-tiba.
―Oho, bagus coba katakan pada kami, apa saja yang bisa kita lakukan dengan obat itu di tangan kita?‖, ujar Hua Ng Lau tertarik.
―Kita bisa meneliti obat itu dan mencari pemunahnya, dengan begitu kita bisa membebaskan mereka yang sudah terlanjur jatuh dalam pengaruh obat itu.‖, jawab Hua Ying Ying.
―Hmmm boleh juga… tapi ada hal lain yang lebih penting. Coba pikirkan apa hal itu?‖, tanya Hua Ng Lau lebih lanjut.
Huang Ren Fu yang tidak terlalu mengerti masalah obat-obatan hanya mendengarkan saja, sementara Hua Ying Ying berpikir keras, ‗Mendapatka pemunah obat itu memang hanya
1772
memecahkan sebagian masalah saja. Mereka yang jatuh dalam pengaruh obat itu, pada dasarnya adalah orang yang kurang setia pada Kakak Ding Tao…‘
Berpikir demikian, tiba-tiba terbukalah pikiran gadis itu sambil tersenyum lebar dia menjawab, ―Nah… aku tahu apa yang akan guru lakukan setelah mendapatkan contoh obat itu.‖
―Hahaha, sepertinya kau yakin sekali, baiklah apa coba katakan.‖, ujar Hua Ng Lau.
―Ayah akan meneliti obat itu, melihat apa pengaruhnya pada tubuh manusia, kemudian ayah akan tahu dengan cara bagaimana ayah bisa membedakan, siapa yang sudah meminum obat itu dan siapa yang belum jatuh dalam pengaruh obat itu. Dengan cara itu, ayah dapat memberi tahukan pada Kakak Ding Tao, bagaimana caranya dia bisa tahu, siapa orang dalam partainya yang bekerja sama dengan orang-orang Kunlun dan siapa yang setia padanya.‖, jawab Hua Ying Ying dengan nada menang.
―Hahahahaha, benar sekali. Kau memang puteri ayah yang cerdas‖, puji Hua Ng Lau sambil tertawa berkakakan.
1773
Jawaban Hua Ying Ying rupanya tepat kena sasaran, menghadapi pengkhianatan dari dalam, adalah penting bagi Ding Tao dan para pimpinan Partai Pedang Keadilan untuk mengetahui siapa-siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak bisa dipercaya. Selain itu dengan mengenali sifat dari obat yang mereka minum, Hua Ng Lau ingin tahu apa yang membuat mereka jatuh dalam pengaruh obat itu. Apakah mereka meminumnya dengan suka rela, ataukah mereka jatuh dalam jebakan dan terpaksa mengkonsumsi obat itu untuk menyambung hidup. Obat yang digunakan untuk membuat seseorang tunduk pada orang lain sangat banyak macamnya. Partai Matahari dan Bulan yang diketuai Ren Zuocan terkenal dengan cara-cara sesat mereka, salah satunya adalah obat atau lebih tepatnya racun yang digunakan untuk memastikan kesetiaan seseorang. Hua Ng Lau dengan pengalamannya yang luas, mengenal beberapa macam racun atau obat perampas jiwa yang mereka gunakan. Jika obat yang diberikan oleh pendekar Kunlun itu termasuk obat-obatan yang dipakai oleh Partai Matahari dan Bulan, maka ada bukti kuat bahwa mereka sudah menjalin hubungan dengan Ren Zuocan. Bukti ini juga bisa dipakai untuk menelusuri lebih jauh, siapa-siapa saja yang sudah jatuh di bawah pengaruh Ren Zuocan.
1774
Salah satu hal yang mencemaskan di dunia persilatan saat ini adalah adanya kabar burung bahwa Ren Zuocan telah berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh besar dalam dunia persilatan di daratan. Tapi siapa saja mereka itu dan dengan cara bagaimana mereka jatuh dalam pengaruh Ren Zuocan? Mereka semua masih berada dalam kegelapan dan keragu-raguan dan timbulnya kecurigaan di antara orang sendiri bisa dikatakan merupakan kerugian yang terbesar bagi mereka. Sejak mendengar percakapan pendekar Kunlun dengan orang Partai Pedang Keadilan itu, muncul kecurigaan dalam hati Hua Ng Lau bahwa Ren Zuocan melakukannya lewat obat perampas jiwa yang dimilikinya. Hua Ng Lau pun melihat dengan cara bagaimana dia dan murid-muridnya bisa menyumbangkan kepandaian mereka bagi keselamatan banyak orang. Hua Ng Lau bertekad untuk membongkar rahasia bungkusan yang disebarkan orang Kunlun secara diam-diam kepada para pengikut Partai Pedang Keadilan.
Setelah dia mempelajari dan mengetahui apa yang diakibatkan obat itu pada tubuh manusia, barulah Hua Ng Lau berani meminta bantuan tokoh-tokoh lain dalam dunia persilatan. Karena jika tidak, Hua Ng Lau khawatir dia akan mempercayakan rahasia itu pada orang yang salah. Jika
1775
perguruan yang terkenal lurus dan bergengsi tinggi seperti Kunlun bisa jatuh dalam pengaruhnya, lalu siapa yang bisa dipercaya?
Itu sebabnya meskipun di luaran Hua Ng Lau masih tampak tenang dan tertawa-tawa, sesungguhnya isi dadanya bergemuruh. Perasaannya saat ini, mirip dengan apa yang dia rasakan saat hendak menghadapi pertarungan hidup mati dengan lawan yang kuat.
Apakah Hua Ng Lau akan berhasil membongkar rahasia tersebut? Waktu terus berjalan, tidak menunggu Hua Ng Lau memecahkan rahasia tersebut lebih dahulu. Ding Tao dan pengikut-pengikutnya pun harus terus berjalan menghadapi pemilihan Wulin Mengzhu yang semakin dekat tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi dalam tubuh partai mereka.
-------------------------------- o ---------------------------------
Hari pemilihan Wulin Mengzhu itu pun akhirnya datang. Siap atau tidak siap waktu terus berjalan tanpa menanti satu orangpun. Mereka yang menyadari bagaimana waktu berjalan tanpa pernah menengok kembali ke belakang, memanfaatkan
1776
waktu sebaik-baiknya. Mereka tidak menyesali masa lalu, tapi belajar dan mengambil hikmah dari kesalahan di masa lalu. Mereka tidak larut dalam impian akan masa depan, tapi bertekun dalam membangun masa depan mereka.
Ding Tao dan sahabat-sahabatnya adalah manusia-manusia serupa itu, mereka tidak mengangankan masa depan tanpa bekerja. Cita-cita yang tinggi di masa depan, mereka raih dengan membangun di masa sekarang. Mereka tidak patah arang oleh seberapa tinggi apa yang mereka capai, dibandingkan dengan seberapa tinggi yang ingin mereka raih. Keyakinan mereka adalah apa yang mereka bangun sekarang tidak akan hilang sia-sia. Kalaupun mereka tidak nanti menggapainya saat maut menjemput, mereka percaya ketulusan mereka akan menyentuh hati seseorang yang akan meneruskan perjuangan mereka. Bukan soalan jika mereka tidak pernah menikmati masa indah yang mereka cita-citakan, karena masa indah yang mereka cita-citakan itu bukanlah demi kesenangan pribadi mereka sendiri.
Hari itu mereka semua bersiap untuk berangkat menuju ke kaki gunung Songshan, tempat pemilihan Wulin Mengzhu akan diadakan. Gunung Songshan adalah pusat utama perguruan Shaolin, lepas dari keadaan dunia persilatan yang diselimuti
1777
oleh kabut keraguan dan ketidak percayaan, nama besar Shaolin tidak tergoyahkan. Bukan hanya reputasi akan kekuatan mereka tapi juga keberadaan Shaolin sebagai sebuah biara, tempat berkumpulnya bhiksu-bhiksu yang lurus dan tidak tergoda oleh gemerlapnya dunia. Shaolin juga terkenal sebagai tempat yang melahirkan patriot-patriot bangsa. Jika ada yang mengatakan bahwa Shaolin menjadi penkhianat bangsa dan menjadi sekutu Partai Matahari dan Bulan, maka tidak ubahnya dia mengatakan matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur. Tidak akan ada seorang pun yang percaya.
Ding Tao berdiri tegap, memandangi orang-orang yang berdiri, berkumpul di hadapannya. Wajah-wajah yang sudah dia kenal dalam waktu yang cukup lama, tapi lebih dari sekedar lamanya waktu, mereka inilah orang-orang yang dia percayai sepenuh hati.
Rencananya sebelum mereka berangkat bersama-sama, Ding Tao akan memberikan sepatah dua patah kata sebagai penyemangat dan pengantar. Namun sekarang saat berhadapan dengan mereka, tiba-tiba semua kata-kata yang sudah dia persiapkan terasa hambar di hatinya. Sebaliknya dalam diam, hati mereka berpaut menjadi satu. Tanpa kata mereka bisa merasakan semangat yang sama yang bergelora
1778
dalam dada mereka masing-masing. Itu sebabnya Ding Tao pun terdiam, hanya berdiri dan saling menatap.
―Ayolah kita berangkat‖, akhirnya dia berkata.
Tiga kata yang pendek itu tentu saja tidak cukup untuk menggambarkan apa yang mereka rasakan, apa yang sudah mereka kerjakan, apa yang akan mereka pertaruhkan hari ini dan apa yang ingin mereka capai. Tapi ribuan kata pun tidak mampu menjabarkannya. Yang tidak dikatakan, yang dirasakan, saling pengertian yang terbangun, mengubah tiga kata yang pendek itu menjadi kata sakti. Tiga kata saja dikatakan, balasannya bahkan lebih pendek lagi. Bukan kata, hanya dengusan dalam dada dan pandang mata yang menyala. Rombongan itu pun berangkat dalam segala kemegahannya. Kemegahan yang terbangun dari perlengkapan dan jumlah mereka yang cukup besar, hanyalah kulit yang tidak berarti. Tapi kemegahan yang bisa dirasakan setiap orang yang berpapasan dengan mereka, kemegahan yang terbangun dari semangat berkobar puluhan orang dengan satu cita-cita itu, yang membubung tinggi ke atas langit, yang menusuk dalam kalbu, itu yang menyilaukan mata mereka yang bertemu pandang dengan mereka.
1779
Sesungguhnya ada banyak yang bisa diceritakan mengenai keberangkatan mereka kali ini. Di mata umum, Partai Pedang Keadilan adalah partai yang kuat dengan dukungan dari beberapa perguruan ternama. Seakan-akan tidak ada yang perlu mereka khawatirkan dalam pemilihan Wulin Mengzhu ini. Bahkan ada sebagian orang yang berpendapat, bahwa bagi Ding Tao, kedudukan itu tidak ubahnya seperti buah yang tinggal dipetik.
Berbeda dengan pendapat umum, mereka yang menjadi pimpinan-pimpinan dalam Partai Pedang Keadilan justru memahami benar betapa istana megah yang mereka bangun sesungguhnya adalah istana dari kaca.
Bayangan gelap yang menyelimuti dunia persilatan belum lagi berhasil mereka bongkar. Beberapa kegiatan dari perguruan Kunlun yang sempat tertangkap oleh mata mereka justru membangkitkan kecurigaan, meskipun belum ada bukti kuat yang mereka dapat. Dengan berbagai pertanyaan ini, dengan persekutuan yang meragukan, mereka berangkat ke kaki Gunung Songshan. Itu sebabnya mereka pun membuat perhitungan mereka sendiri dan akhirnya diputuskan, seluruh anggota yang dapat dipercaya benar akan diajak untuk ikut menyertai Ding Tao menuju ke kaki Gunung Songshan.
1780
Keputusan ini diambil karena mereka tidak ingin memecah kekuatan inti mereka.
Apa yang terjadi bila ternyata yang dianggap sekutu adalah musuh dalam selimut. Bagaimana jika di dalam partai mereka sendiri telah menyusup musuh-musuh yang menyamar? Jika benar demikian, maka yang berangkat ke kaki Gunung Songshan akan berada dalam bahaya. Mereka yang ditinggalkan pun akan berada dalam bahaya. Jika memang harus membuat pertaruhan dengan nyawa, biarlah mereka semua maju bersama. Demikianlah yang mereka pikirkan, semua yang ikut dalam perjalanan ini menyadari keadaan tersebut. Namun resiko yang sedang mereka hadapi, mereka hadapi dengan dada tegak. Niat mereka sudah teguh tercacak, tidak goyah oleh segala kemungkinan.
Keluarga-keluarga yang ditinggalkan sudah pula diamankan di tempat-tempat rahasia yang memang disiapkan. Beserta mereka adalah orang-orang yang bekerjanya memang di bawah bayangan. Di luar dua kelompok ini pun masih ada kelompok Guru Chen Wuxi, Fu Tong dan Song Luo yang dilarang untuk memunculkan dirinya. Mereka inilah yang menjadi kekuatan tersimpan, yang akan menjaga bara api cita-cita mereka, seandainya Ding Tao dan mereka yang
1781
mengikutinya binasa dalam usaha mereka merebut kedudukan Wulin Mengzhu.
Sedemikian cermat Chou Liang mengatur segala sesuatunya, sehingga tiap-tiap kelompok tidak mengetahui di mana kelompok yang lain bersembunyi. Dengan demikian, seandainya ada satu tempat yang bocor ke telinga lawan, tidak akan mudah bagi lawan untuk menelusuri dan menangkap kelompok-kelompok yang lain.
Ketegangan mewarnai perjalanan itu, bukan hanya mereka yang melakukan perjalanan saja. Ketegangan yang sama bahkan mungkin lebih, mewarnai perasaan mereka yang ditinggalkan.
Sudah beberapa lama kelompok itu berjalan dalam diam, hanya sesekali terdengar gumaman dan kalimat-kalimat pendek diucapkan. Tanpa terasa mereka pun sudah meninggalkan ramainya kota Jiang Ling. Berjalan menderap tanpa henti, sebuah desa kecil yang berbatasan dengan Jiang Ling baru saja mereka tinggalkan. Di kiri dan kanan jalan yang mereka lewati, terlihat pepohonan yang tumbuh jarang-jarang, di antara lebatnya rumput liar. Tidak ada satu pun rumah terlihat lagi, jika mereka tetap berjalan dengan kecepatan yang sama, baru
1782
tengah hari nanti mereka baru akan menjumpai desa yang lain. Rasa tegang bercampur semangat semakin menekan mereka yang sedang berjalan. Terutamanya mereka yang belum matang, baik dalam kehidupan ataupun dalam ilmu bela diri yang menuntut pengendalian diri. Di saat seperti itu, tiba-tiba terdengar seorang muda menyeletuk, pemuda itu adalah Qin Baiyu.
―Saudara Sun Gao, lihatlah langit begitu cerah‖, katanya sambil menghirup udara dalam-dalam.
Kedua orang muda yang dengan cepat menjadi sahabat yang tak terpisahkan itu pun menengadahkan kepala, memandangi langit biru dan luas.
―Ya… sungguh hari yang menyenangkan untuk memulai satu perjalanan.‖, jawab Sun Gao.
Keduanya berpandangan sejenak dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sambil saling memukul bahu, ―Sahabat baik! Hari yang baik!‖
Dengan beberapa kata itu, ketegangan kedua orang muda itu tiba-tiba menjadi cair. Meskipun dengan suara setengah berbisik, kedua orang muda itu mulai bercanda dan bercakap-
1783
cakap dengan bebas. Ketegangan yang sempat mewarnai hati mereka hilang sirna begitu saja. Tinggal semangat, gurauan, ketertarikan pada segala hal khas orang muda yang meluap-luap.
Beberapa orang saling pandang dan bertanya-tanya, namun ketika mereka mulai saling memandang perlahan-lahan mereka pun mulai bisa memahami apa yang terjadi. Merasakan hal yang sama yang dirasakan oleh Sun Gao dan Qin Baiyu. Mereka yang lebih matang hanya tersenyum maklum.
Apa yang sebenarnya mereka rasakan?
Dari persiapan yang dilakukan, dari cara para pimpinan mereka menyampaikan, mereka pun bisa meraba-raba keadaan yang akan mereka hadapi. Dengan demikian merekapun mulai berhitung dan menyadari apa yang sudah disadari terlebih dulu oleh para pimpinan mereka. Jumlah mereka yang sungguh-sungguh bida dipercaya dan sekarang diajak ikut serta ke kaki Gunung Songshan tidak sampai 100 orang. Jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan murid-murid 6 perguruan utama. Bahkan jika dibandingkan dengan nama-nama besar dari keluarga yang turun temurun memiliki reputasi di dunia persilatan, jumlah tersebut bukanlah satu jumlah yang
1784
bisa dibanggakan. Memang benar Perguruan Kunlun sudah menjanjikan dukungan mereka, tapi apakah perkataan mereka bisa dijadikan sandaran? Sedangkan tadinya mereka datang untuk menundukkan Partai Pedang Keadilan. Bagaimana dengan Perguruan Hoasan? Dengan mereka pun ada ganjalan yang tidak mudah dihilangkan yaitu hilangnya nyawa Pan Jun ketua mereka yang terdahulu di tangan Ding Tao. Lebih-lebih lagi jika mereka memperhitungkan Perguruan Kongtong, yang diam-diam sudah dipandang oleh setiap orang, ikut bertanggung jawab dalam pembantaian di Wuling. Memang wibawa Shaolin bisa jadi jaminan bagi berjalannya pemilihan dengan aman dan lancar. Tapi siapa tahu lawan di mana dan kapan lawan akan menyerang?
Dengan demikian, jika mereka harus berhitung dengan cermat, kartu yang bisa mereka andalkan tidaklah banyak. Kepergian mereka ini tidak ubahnya sebuah perjudian dengan maut. Bisa jadi satu langkah mudah meraih apa yang berusaha diraih, tapi bisa juga satu perjalanan bunuh diri.
Jika yang terburuk terjadi, maka bukan tidak mungkin mereka pergi untuk menghadapi kegagalan dan banyak kehilangan. Untuk kembali pulang dan mendapati rumah mereka pun sudah direbut orang.
1785
Memang tekad yang teguh dan tidak tergoyahkan sudah terpatri di dalam dada mereka. Tapi sebagai manusia mereka pun tidak lepas dari perasaan tertekan. Setiap kali satu langkah menapak ke depan, mereka merasa satu tapak lebih dekat dengan kematian. Tidak heran perlahan-lahan suasana jadi semakin menekan. Tawa Sun Gao dan Qin Baiyu menyadarkan mereka.
Memandang ke kiri dan kanan mereka melihat orang-orang yang mereka percayai dengan sepenuh hati. Melihat ke depan, mereka melihat orang-orang yang mereka kagumi. Ada berbagai cara untuk mati, mati dalam perjuangan bersama orang yang kau kagumi dan sahabat yang kau percayai adalah kematian yang jauh lebih menyenangkan dibandingkan puluhan cara mati yang lain. Memikirkan hal itu, langit memang terlihat lebih cerah, hati pun hangat oleh persahabatan yang mengelilingi mereka. Suasana perjalanan yang penuh ketegangan itu pun tersapu pergi.
Tanpa terasa satu hari pun berlalu, tidak banyak yang terjadi selama satu hari perjalanan mereka itu, informasi-informasi baru berkenaan dengan pemilihan Wulin Mengzhu tidak pernah berhenti datang, Setiap kali Chou Liang mendapatkan berita baru, tentu dia akan menyampaikannya pada Ding Tao dan
1786
yang lain lewat seorang pembawa pesan. Berita itu bisa sampai dengan relatif cepat untuk keadaan di jaman itu. Hal itu bisa terjadi karena sejak memulai membangun jaringan, Chou Liang sudah menyiapkan orang-orang yang memelihara merpati pos untuk mengirimkan berita dengan cepat. Tidak diijinkan oleh Ding Tao untuk ikut serta, Chou Liang akhirnya memilih untuk menyumbangkan tenaganya dengan sebisa mungkin menyediakan berita terbaru pada mereka yang pergi. Di tempat lain Tabib Shao Yong memilih untuk menemani Murong Yun Hua dan Murong Huolin. Tabib tua itu bertekad untuk menggunakan sisa hidupnya memastikan keselamatan keluarga dan terutama putera Ding Tao, seandainya terjadi sesuatu dengan Ding Tao dan rombongannya.
Dari berita yang dikirimkan Chou Liang, Ding Tao dan yang lain mendengar majunya seorang pendekar pedang terkenal dari utara yang mendapatkan dukungan dari banyak pendekar di daerah bagian utara untuk maju menjadi Wulin Mengzhu, namanya Huang Zhuyu. Di pihak lain, justru dari ke enam perguruan terbesar tidak ada seorangpun yang mengajukan diri untuk menjadi Wulin Mengzhu.
1787
―Menurut kalian, apakah berita ini bisa dipercaya? Mengapa tidak satu pun dari enam perguruan besar mengajukan diri?‖, tanya Ding Tao.
Saat itu Ding Tao dan pimpinan lain Partai Pedang Keadilan berkumpul di satu ruangan yang cukup besar di rumah yang mereka sewa.
―Kalau tidak salah ayah Huang Zhuyu dulu pernah juga menjadi murid Perguruan Kunlun, sebelum kemudian mendirikan perguruannya sendiri.‖, ujar Wang Xiaho.
―Bisa jadi, tapi dari berita yang disampaikan Chou Liang, dia maju sebagai pribadi, tidak membawa nama Kunlun‖, sahut Tang Xiong.
―Kukira mereka sadar bahwa pemilihan Wulin Mengzhu ini adalah sebuah perjudian. Tidak ada yang bisa memastikan siapa menang siapa kalah. Katakanlah kita yakin dengan kemampuan kita, bukankah orang lain pun terus mengasah kemampuannya?‖, jawab Liu Chun Cao.
―Benar, untuk mengetahui tingkatan tokoh-tokoh dalam dunia persilatan bukan barang yang mudah. Kebanyakan dari mereka yang sudah memiliki nama dan reputasi, tidak lagi mencari-cari
1788
pertarungan, mereka hanya bertarung ketika ada yang menantang.‖, ujar Wang Xiaho.
―Tentu saja mereka enggan bertarung jika tidak terdesak, kalau kalah bukankah reputasi yang dibangun dengan susah payah akan runtuh seketika itu juga? Ke enam perguruan besar pun tidak ada bedanya dengan mereka, jika mereka ikut maju dan kalah dalam pemilihan Wulin Mengzhu ini, bukankah akan menjatuhkan reputasi yang sudah dibangun?‖, ujar Ma Songquan.
―Aku tidak akan heran, jika nanti salah satu dari mereka tiba-tiba akan ikut mengajukan diri setelah semua calon yang datang saling bertarung.‖, tiba-tiba Sun Liang memberikan pendapat.
―Ya… mereka akan menunggu sampai mereka melihat ringan beratnya lawan yang akan dihadapi, hanya jika mereka memiliki keyakinan bahwa mereka bisa menang barulah mereka mengajukan diri.‖, gumam Sun Gao puteranya.
―Kalau begitu, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama?‖, tanya Qin Baiyu.
1789
―Dalam hal ini, nama besar yang sudah dipupuk selama ratusan tahun memberikan mereka kelebihan dibanding tokoh-tokoh di luar ke enam perguruan tersebut. Kita yang terhitung baru ini, tentunya harus membuktikan diri terlebih dahulu sebelum dianggap layak untuk ikut dalam pertarungan. Sedangkan mereka, cukup dengan sejarah yang mereka bawa, sudah membuat mereka berada dalam posisi yang layak pilih.‖, ujar Liu Chun Cao.
Dalam benak Qin Baiyu pun terbayang, bagaimana Ding Tao dan tokoh-tokoh lain yang maju dalam pemilihan bertarung habis-habisan. Kemudian saat tenaga mereka terkuras dan tubuh sudah dihiasi luka-luka, tiba-tiba salah seorang dari enam perguruan ternama itu bangkit berdiri dan berkata, ―Aku kecewa dengan kemampuan mereka yang maju dalam pemlihan Wulin Mengzhu ini. Tadinya aku berharap bisa melihat orang yang layak maju memimpin kita tapi menilik kemampuan kalian, terpaksa aku mengajukan diriku sendiri.‖
Membayangkan hal itu emosi Qin Baiyu jadi meluap dan dengan kesal dia menggeram, ―Tidak adil…‖
Ma Songquan tersenyum dan berkata, ―Sejak kapan dunia persilatan mengenal kata keadilan?‖
1790
Ding Tao mengerutkan alis dan berkata, ―Apakah benar demikian? Menilik apa yang dilakukan Ketua Guang Yong Kwang beberapa bulan yang lalu, aku bisa membayangkan dia atau Ketua dari Kontong melakukannya, tapi kurasa tokoh-tokoh lain seperti Biksu besar Khongzhen, Pendeta Chongxan, Tetua Xun Siaoma yang bisa dipercaya.‖
Beberapa dari mereka menganggukkan kepala setuju, tapi ada juga beberapa yang lain yang hanya diam dan menyimpan pendapat mereka sendiri. Ma Songquan dan Chu Linhe yang bermasa lalu gelap, hanya tersenyum sinis, jelas buat mereka semua orang dari perguruan besar sama busuknya. Kalau dipikirkan, sebenarnya sepasang kekasih ini sudah jauh lebih baik, setidaknya ada orang-orang yang mereka percayai, Ding Tao dan yang lain, sementara dulu satu orang pun tidak. Ding Tao yang barusan berkata, melihat reaksi mereka yang berbeda-beda hanya bisa menghela nafas.
―Sudahlah, apa pun yang harus kita hadapi, kita hadapi. Kalaupun harus berhadapan dengan seluruh tokoh dalam dunia persilatan, bukankah kita sedang berusaha melakukan apa yang benar menurut hati nurani kita?‖, kata Ding Tao pada akhirnya.
1791
―Ya, kukira, dipikirkan pulang pergi pun tidak akan ada banyak gunanya. Sejak awal kita sudah bersiap untuk menghadapi apapun juga, pun jika tidak ada pihak lain yang berdiri bersama kita.‖, ujar Ma Songquan.
Kali ini semuanya menganggukkan kepala, mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu memang tidak ada gunanya. Yang terpenting mereka tahu untuk tujuan apa mereka pergi ke kaki Gunung Songshan. Setelah bercakap-cakap lagi untuk beberapa lama, membahas ini dan itu, baik masalah dunia persilatan maupun soalan lain sebagai sesama teman, akhirnya mereka pun pergi beristirahat. Selama beberapa hari tidak banyak peristiwa penting yang dapat diceritakan. Yang cukup mengejutkan adalah jumlah nama orang yang berangkat untuk ikut terjun dalam pemilihan Wulin Mengzhu ternyata bertambah dengan cepat dari hari ke hari.
Mungkin karena mereka yang tadinya ragu untuk maju, mendengar bahwa jumlah mereka yang maju mencalonkan diri sebagai Wulin Mengzhu tidaklah banyak, juga dari ke-enam perguruan besar tidak ada yang mencalonkan diri. Ada juga yang memang tadinya kurang terdengar karena mereka maju hanya dengan mengandalkan kepandaian semata tanpa menggalang dukungan dari pihak lain. Dalam 4 hari saja,
1792
jumlah mereka yang dikabarkan ingin mencalonkan diri sebagai Wulin Mengzhu sudah menjadi 20-an orang jumlahnya. Itu baru dari berita yang ditangkap Chou Liang, belum mereka yang luput dari pengamatannya. Setiap ada berita baru dari Chou Liang akan jadi bahan pembicaraan. Nama-nama yang muncul ada yang memang banyak dikenal, ada pula yang sudah lama menghilang dari dunia persilatan. Ada pula nama-nama baru dari generasi seumuran Ding Tao. Demikianlah mereka menghabiskan hari-hari itu, semakin lama semakin dekat pada tujuan.
Mereka baru saja meninggalkan propinsi Hubei dan memasuki Hunan, ketika mereka melihat 18 orang bhiksu menghadang jalan mereka.
D
elapan belas orang bhiksu menghadang jalan mereka, berdiri di depan mereka seorang Bhiksu bertubuh tinggi besar dengan senyum ramah. Dari kejauhan pun Ding Tao dan para pengikutnya dengan cepat melihat mereka. 18 orang berpakaian khas bhiksu dengan kepala yang licin berkilauan berdiri berjajar tentu saja sangat menyolok. Di lain pihak Ding
1793
Tao berjalan diiringi sejumlah orang yang jumlahnya hampir 100 orang juga merupakan rombongan yang mencolok.
Mereka masih berada di jalan antara satu propinsi dengan propinsi yang lain, tempat yang dipilih ke 18 bhiksu itu untuk menghadang, adalah sebuah tempat yang lapang. Tidak ada bangunan di kiri dan kanan mereka, bahkan tidak tampak ada rumah sejauh mata memandang. Ketika rombongan Bhiksu itu melihat hadirnya rombongan Ding Tao, mereka segera bergerak menyambut.
Melihat orang datang mendekat, hati Ding Tao dan yang lainnya jadi bertanya-tanya. Siapakah mereka? Apa tujuan mereka? Apakah mereka memang sengaja menunggu di sana?
―Amitaba, Salam saudara, apakah benar saudara adalah Ketua Ding Tao dari Partai Pedang Keadilan?‖, ucap Bhiksu yang bertindak sebagai pemimpin dari ke-18 orang bhiksu tersebut sambil merangkapkan tangan di depan dada, memberi salam, bukan hanya pada Ding Tao tapi juga mengangguk ke kiri dan ke kanan, kepada mereka yang mengikuti Ding Tao.
Ding Tao yang ditanya dengan sopan merangkapkan tangan di depan dada, membalas salam mereka dan menjawab, ―Benar,
1794
nama siauwtee Ding Tao, boleh tahu siapa nama bapak Bhiksu yang terhormat dan bolehkah tahu ada urusan apa?‖
―Hmm… bukankah dia itu keledai gundul yang bernama Bhiksu Pu Jit? Hei Pu Jit, apa kabarmu, jangan pura-pura lupa dengan Liu Chuncao‖, tiba-tiba Liu Chuncao yang tadinya berada di tengah barisan untuk bercakap-cakap dengan para pengikut mereka maju ke depan dan berdiri di samping Ding Tao.
Beberapa orang dari jajaran pimpinan yang tadinya membaur di tengah barisan turut maju ke depan dan sekarang berjajar di belakang Ding Tao. Bhiksu Pu Jit yang disapa Liu Chuncao tidak marah oleh panggilan keledai gundul, senyumnya justru makin lebar.
―Oho… rupanya Tosu bau Liu Chuncao juga ada di sini, memang sudah kudengar kalau kau mengikuti Ketua Ding Tao, hanya saja tadi tidak kulihat dirimu. Sebenarnya sejak mendengar kabar itu aku ingin bertanya, ada apa dengan tosu bau macam dirimu ini, sehingga tiba-tiba ikut pula masuk dalam satu partai, bukankah dulu kau lebih suka berkelana sendirian?‖, olok-olok Pu Jit membalas Liu Chuncao.
1795
―Hee, jangan samakan aku dengan dirimu, aku mengikut Ketua Ding Tao karena hal itu sesuai dengan nuraniku. Jika hatiku bilang ke kiri ya aku ke kiri, ke kanan ya ke kanan. Bukan seperti dirimu yang untuk kentut pun harus minta ijin pada pimpinanmu.‖, jawab Liu Chuncao sambil menyengir lebar.
―Wah, benar-benar tosu bau, tak kusangka mulutmu tidak kalah baunya dengan kentutku‖, ujar Pu Jit disambung tawa berkakakan mereka berdua.
Bhiksu-bhiksu Shaolin yang datang bersama Pu Jit, juga orang-orang Partai Pedang Keadilan saling berpandangan keheranan. Tidak menduga Pu Jit dan Liu Chun Cao yang setiap harinya terlihat serius dan pendiam, ternyata bisa juga jadi urakan. Kedekatan mereka berdua memang jarang diketahui orang, tapi sebenarnya dua orang ini bersahabat cukup dekat. Belasan tahun yang lalu keduanya sempat bertarung akibat satu kesalah pahaman. Pu Jit yang jarang turun berkelana di dunia persilatan, bertemu dengan lawan tangguh untuk pertama kalinya. Ilmu keduanya hampir berimbang dan selama ratusan jurus bertarung tanpa ada yang mampu meraih kemenangan. Kelelahan dan kehabisan tenaga, barulah mereka berbicara dan sadar telah terjadi kesalah pahaman di antara mereka
1796
berdua. Akhirnya dari bertarung mati-matian, keduanya justru jadi sahabat dekat.
Saat tawanya mereda Liu Chuncao pun bertanya, ―Keledai gundul, jadi apa maumu menghadang kami di sini?‖
―Haha… bagaimana ya? Kalian tahu tidak berapa jumlah orang persilatan yang datang ke kaki Gunung Songshan dengan tujuan untuk ikut serta berupaya merebut kedudukan Wulin Mengzhu?‖, ujar Pu Jit dengan senyum serba salah.
―Hmm…kami mendengarnya… sudahlah cepat jelaskan saja apa maksudmu menghadang kami, tidak usah cengar-cengir begitu.‖, ujar Liu Chuncao.
―Kuharap kalian tidak salah paham, ketua kami Bhiksu besar Khongzhen berpendapat bahwa kami harus melakukan sesuatu dan memutuskan bahwa mereka yang ingin maju menjadi calon Wulin Mengzhu harus diuji terlebih dahulu. Mereka ini harus dapat melewati barisan kami dan mendapatkan medali ini sebagai bukti.‖, jawabPu Jit sambil menunjukkan sebuah medali dari giok.
―Hmm… jadi maksud Bhiksu Pu Jit, jika siauwtee ingin maju menjadi calon Wulin Mengzhu di pertemuan kaki Gunung
1797
Songshan nanti, maka siauwtee harus membuktikan diri dengan menghadapi barisan kalian?‖, ujar Ding Tao yang sejak tadi mengikuti pembicaraan mereka.
―Benar sekali Ketua Ding Tao, kuharap ketua mengerti, dengan cara ini diharapkan pada pertemuan nantinya tidak terlalu banyak calon dan menghabiskan banyak waktu. Selain itu ujian yang diberikan oleh ketua kami, hanya terbatas sampai calon yang diuji dapat menerobos keluar dari kepungan kami, sehingga diharapkan tidak ada korban yang jatuh. Dibandingkan jika terjadi pertarungan untuk mencari menang dan kalah, antara dua calon di atas arena.‖, jawab Pu Jit menjelaskan.
―Itu ide yang bagus, tentu saja aku akan mengikuti ketentuan ini.‖, jawab Ding Tao dengan antusias.
―Syukurlah kalau ketua merasa demikian‖, jawab Pu Jit dengan rasa lega.
Liu Chuncao mengerutkan alis dan berkata, ―Hmm… apa bukannya kalian sedang menunjukkan pada dunia persilatan akan kekuatan kalian?‖
1798
―Apa maksud Saudara Liu Chuncao?‖‖, tanya Pu Jit sambil tersenyum kecil.
―Hmph, dasar keledai gundul, jumlah mereka yang datang ke kaki Gunung Sonshan ada berapa orang. Ada berapa jumlah jalan yang bisa ditempuh seseorang untuk bisa sampai ke sana. Ada berapa jumlah Bhiksu petarung yang kalian tugaskan untuk menjaga jalan?‖, tanya Liu Chuncao dengan gemas.
―Oh soal itu… hehe, terakhir kali kami mendengar berita, setidaknya ada 20-an orang yang pergi ke kaki Gunung Songshan dengan keinginan untuk ikut maju dalam pemilihan Wulin Mengzhu. Untuk masuk ke propinsi Henan, setidaknya ada 34 jalan masuk yang bisa dipilih. Ada 18 kali 34 orang Bhiksu yang dikirimkan secara berkelompok untuk menjaga 34 jalan masuk ke propinsi Henan, dan 6 kali 18 orang yang meronda berkeliling untuk memastikan tidak ada pengunjung yang terlewat.‖, jawab Pu Jit dengan senyum yang tak menyembunyikan rasa bangganya terhadap perguruan tempat dia dibesarkan.
Tidak salah memang jika Liu Chuncap mengatakan Shaolin sedang melakukan pameran kekuatan. Dalam segi jumlah Bhiksu petarung yang diturunkan Shaolin saja, tidak sampai 10
1799
perguruan atau partai yang bisa meyamainya, 18 kali 40, berarti ada 640 orang Bhiksu yang dikirimkan Shaolin. Lagipula ke 640 orang yang dikirim tersebut, tentu bukan orang sembarangan. Shaolin tentu saja tidak hendak mempermalukan diri sendiri dengan mengirimkan Bhiksu petarung tingkatan rendah. Liu Chuncao sendiri cukup maklum seberapa tinggi ilmu Bhiksu Pu Jit yang pernah dia hadapi dalam satu pertarungan. Selain itu, Gunung Songshan sendiri tentu saja tidak mungkin ditinggalkan kosong tanpa ada yang menjaga. Umumnya ketika seorang pendekar menyerang dalam satu pertarungan, maka setidaknya selalu ada 4 bagian tenaga yang disimpan untuk bertahan. Dengan perhitungan kasar yang sama, seharusnya masih ada 400-an bhiksu dengan tingkatan ilmu setara dengan mereka yang dikirimkan keluar yang berjaga di Gunung Songshan. Bagaimana dengan Bhiksu lain, baik mereka yang berada dengan tingkat di bawah ke 1000 orang bhiksu tersebut, juga mereka yang lebih tinggi tingkatnya?
Dengan cepat mereka yang mendengar jawaban Bhiksu Pu Jit berhitung dalam hati dan diam-diam meleletkan lidah dengan dada bergemuruh membayangkan kekuatan Shaolin.
Ding Tao pun mendesah sambil menggelengkan kepala, ―Sungguh kekuatan Shaolin bukan nama kosong, jika ketua
1800
kalian mau maju dalam pemilihan Wulin Mengzhu, aku bisa kalah dengan hati lega.‖
―Ketua Ding Tao terlalu memuji, tentang pemilihan Wulin Mengzhu, ketua kami sudah dengan jelas mengatakan bahwa beliau tidak akan turut serta dalam pencalonan. Hanya saja, apakah Shaolin akan ikut bersumpah setia di bawah pimpinan Wulin Mengzhu yang terpilih nanti atau tidak, belumlah ditentukan.‖, jawab Pu Jit.
Sejenak Ding Tao terdiam memikirkan jawaban-jawaban Pu Jit. Ding Tao yang tidak menyimpan kecurigaan terhadap Biksu Khongzhen menanggapi keputusan Bhiksu Khongzhen itu dengan baik. Bhiksu Khongzhen yang tidak ingin ikut memperebutkan kedudukan Wulin Mengzhu, tidak ingin pula mengikatkan dirinya di bawah otoritas tokoh yang tidak bisa dia percaya. Mungkin itu pula sebabnya Bikshu Khongzhen menunjukkan kekuatan Shaolin di depan seluruh dunia persilatan. Sebuah pesan yang cukup jelas, Shaolin ingin bersahabat, namun jangan pula berusaha memaksa Shaolin untuk melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan.
1801
Berpikir demikian, tercetuslah satu pertanyaan, ―Bhiksu Pu Jit, apakah sesungguhnya Bhiksu besar Khongzhen tidak setuju dengan diadakannya pemilihan Wulin Mengzhu ini?‖
Pu Jit memandang Ding Tao untuk beberapa lama, dia tidak mendapati perasaan tidak menyenangkan dari pemuda ini. Meskipun umurnya terbilang masih sangat muda namanya sudah terkenal, namun hal itu tidak membuat pemuda ini menjadi seorang yang besar kepala. Sikapnya pada Pu Jit selalu sopan dan tidak mudah pula tersinggung. Seseorang yang tidak mudah tersinggung biasanya adalah seorang yang rendah hati. Karena dia tidak menganggap kedudukan dirinya sendiri tinggi, dengan sendirinya sikap orang lain selalu dianggap sesuatu yang wajar bagi dia. Beda dengan seseorang yang memandang dirinya lebih tinggi dari orang lain, orang yang demikian biasanya menuntut orang lain bersikap sesuai dengan kedudukannya yang tinggi. Jika ada orang yang meragukan mereka, itu adalah satu penghinaan yang besar. Apalagi Ding Tao memiliki kedudukan sebagai ketua dari satu partai, perkataan Pu Jit bahwa dirinya akan menguji kepandaian Ding Tao bisa dipandang sebagai satu penghinaan. Namun perasaan yang demikian, tidak tampak pada diri Ding Tao.
1802
Dengan cepat Pu Jit menyukai pemuda itu, apalagi sahabat yang dia percaya benar kepribadiannya memilih untuk menjadi pengikut dari pemuda itu. Rasa sukanya semakin besar, karena dari nada dia bertanya, alih-alih menjadi marah, Ding Tao justru memiliki pandangan yang baik terhadap Shaolin, yang kali ini dengan sengaja menghadang dia dan berniat untuk menguji dirinya.
Sebuah senyum terbentuk di wajahnya dan dengan pandangan yang baru pada pemuda itu dia menjawab,‖Memang sebenarnyalah demikian, sebelum mengirimkan kami semua untuk tugas ini, beliau sempat menyampaikan pandangannya atas diadakannya pemilihan Wulin Mengzhu ini. Menurut beliau ada beberapa keberatan, yang pertama kedudukan Wulin Mengzhu dalam sejarah dunia persilatan, adalah kedudukan yang mengikat seluruh anggota dunia persilatan dan memberikan kekuasaan yang terlampau besar pada satu orang atau kelompok. Padahal kekuasaan yang terlampau besar, seringkali merusak watak seseorang.‖
―Keberatan yang kedua adalah kemungkinan munculnya konflik-konflik dan permusuhan baru dalam persaingan untuk merebut kedudukan Wulin Mengzhu ini. Jika tidak berhati-hati dan jika tidak muncul tokoh yang bisa diterima semua pihak,
1803
pemilihan ini justru bisa jadi bumerang yang membuat dunia persilatan semakin terpecah-pecah. Seharusnya tanpa adanya satu sosok pimpinan pun, tanpa adanya seorang Wulin Mengzhu pun, jika setiap orang mau meletakkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, persatuan dan kesatuan yang kuat akan terbentuk.‖
―Keberatan yang ketiga, lebih merupkan keberatan yang muncul dari pilihan hidup beliau sebagai manusia yang mementingkan jalan spiritual. Menurut beliau, ancaman yang muncul dari Ketua Partai Bulan dan Matahari, tidaklah perlu dihadapi melulu dengan kekerasan. Dengan menyatukan seluruh dunia persilatan untuk menghadapi Partai Bulan dan Matahari, tidak ubahnya menambahkan kayu pada api, menang jadi arang kalah jadi abu. Jalan yang terbaik adalah merangkul dan berusaha membangun saling pengertian di antara dua pihak yang bersebarangan.‖
―Namun karena tuntutan dari sebagian besar masyarakat dunia persilatan, termasuk beberapa perguruan besar lainnya, akhirnya setelah berdiskusi dengan ketua dari lima perguruan besar yang lain, beliaupun memutuskan untuk mendukung diadakannya pemilihan Wulin Mengzhu tersebut. Dengan dua permintaan, yang pertama yaitu agar Shaolin dipercaya untuk
1804
mengatur pengadaannya. Yang kedua, bahwa Shaolin minta agar 5 perguruan yang lain tidak memaksa Shaolin untuk tunduk dan bersumpah setia pada Wulin Mengzhu yang terpilih.‖, ujar Pu Jit menjelaskan panjang dan lebar tentang pendangan Bhiksu Khongzhen terhadap pemilihan Wulin Mengzhu ini. Mereka yang mendengarkan penjelasan Bhiksu Pu Jit pun bisa memahami kedudukan Bhiksu Khongzhen. Jika ada yang tadinya merasa penasaran karena pihak Shaolin mengirimkan orang untuk menguji Ding Tao, setelah mendengar penjelasan itu jadi teredam kekesalannya.
Apalagi Ding Tao yang sejak awal tidak merasa tersinggung oleh perlakuan Pu Jit, pemuda itu mengangguk-anggukkan kepala, merasa kagum pada Bhiksu Khongzhen, katanya, ―Sungguh aku kagum pada ketua kalian. Sayangnya aku sendiri berada pada kedudukan, di mana aku mengambil keputusan untuk mengikuti pemilihan Wulin Mengzhu ini. Baiklah sekarang, kita mulai saja ujian yang harus kulewati untuk mendapatkan medali giok tersebut.‖
―Jika Ketua Ding Tao sudah siap, marilah kita mulai.‖, jawab Bhiksu Pu Jit.
1805
―Baik, mari kita mulai. Saudara-saudara yang lain harap mundur dan memberikan tempat.‖, ucap Ding Tao.
Dalam waktu singkat sebuah ruangan yang cukup besar pun disediakan bagi Ding Tao dan ke-18 orang bhiksu Shaolin untuk bertarung. 18 orang bhiksu tersebut dengan cepat mengepung Ding Tao dalam sebuah barisan. Pengikut Ding Tao yang jumlahnya mendekati seratus, berdiri di jarak yang cukup jauh dan mengamati pertarungan yang akan segera terjadi. Suasana pun jadi sunyi sepi, sehingga suara burung-burung di kejauhan terdengar jelas.
―Apakah kalian sudah siap?‖, tanya Ding Tao pada Pu Jit.
―Kami sudah siap, silahkan Ketua Ding Tao memulai, asalkan ketua bisa menerobos barisan kami, maka medali giok itu menjadi hak Ketua Ding Tao, sebagai tanda bahwa ketua lulus ujian kami.‖, jawab Pu Jit dengan tegas.
―Baik, hati-hatilah kalian, aku akan memulai.‖, ujar Ding Tao.
―Silahkan…‖, sekali lagi Pu Jit mempersilahkan, urat syaraf setiap orang pun menegang, menantikan dimulainya gebrakan pertama antara dua pihak yang berhadapan.
1806
Ding Tao tidak terburu-buru bergerak, seperti juga yang pernah dilakukan Guang Yong Kwang saat dikepung oleh barisan ciptaan para pimpinan Partai Pedang Keadilan, Ding Tao dengan tenang menguji reaksi dari barisan yang dia hadapi terhadap gerakan-gerakan kecil yang dia lakukan. Memang pertarungan kali ini pun memiliki syarat yang mirip dengan pertarungan saat itu. Karena barisan lawan hanya bertujuan untuk mengurung dan bukan melumpuhkan, maka yang terkurung memiliki ruang dan waktu yang lega untuk mengamat-amati barisan lawan. Alangkah jauh berbeda jika barisan lawan bukan hanya diam mengurung tapi juga bergerak untuk menyerang. Dari sini bisa dilihat bahwa bhiksu-bhiksu dari Shaolin ini memang hanya berniat menguji, bukan berniat untuk melukai ataupun menghinakan lawan.
Mereka yang mendukung Ding Tao dan tadinya sempat merasa sebal dengan perlakuan orang-orang dari Shaolin yang seakan meremehkan keberadaan mereka, sehingga untuk datang ke kaki Gunung Songshan sebagai calon Wulin Mengzhu, mereka harus terlebih dahulu mereka uji. Bukankah yang menguji pada umumnya bertingkat lebih tinggi daripada yang diuji? Dengan demikian bukankah Shaolin merasa lebih hebat, lebih tinggi dan berpengetahuan dari mereka?
1807
Beruntung rasa penasaran mereka yang umumnya masih muda-muda dan berjiwa panas bisa diredam oleh mereka yang lebih tua dan lebih tenang dalam menghadapi masalah. Mungkin hanya Ma Songquan dan Chu Linhe dari para pimpinan yang ikut sewot seperti mereka yang masih berumur muda terhadap penghadangan Shaolin ini. Jika mengikuti kata hati dan sifat liar mereka yang dulu, mungkin sebelum Ding Tao menyediakan dirinya untuk diuji, mereka berdua sudah menghambur ke depan dan menggebrak lawan terlebih dahulu. Bukan hanya untuk menerobos tapi untuk melampiaskan kekesalan mereka dan melukai sebanyak-banyaknya lawan.
Sedikit dari mereka yang mengetahui latar belakang kedua orang itu, merasa sangat kagum dengan perubahan yang terjadi pada diri mereka. Rasa kagum dan heran ini akhirnya berujung pada rasa kagum pada Ding Tao, sebagai orang yang berhasil menjinakkan sepasang iblis muka giok yang ditakuti oleh hampir semua tokoh dalam dunia persilatan. Bahkan mereka yang berkemampuan tinggi pun merasa gentar jika harus membuat permusuhan dengan mereka berdua. Bukan karena takut kalah, terluka atau terbunuh dalam pertarungan, tapi takut oleh keberingasan lawan dan sikap yang tidak peduli dengan aturan. Bermusuhan dengan sepasang iblis itu sama
1808
saja artinya, setiap kali makan harus memeriksa apakah makanan dan minumanmu bersih dari racun. Setiap tidur harus tetap menajamkan panca indera, siapa tahu sepasang iblis itu berusaha menyusup ke dalam rumah saat engkau tidur. Bermusuhan dengan mereka artinya, jika orang-orang dekat tidaklah berilmu tinggi, sebaiknya mereka selalu berada dekat dan bisa ditolong setiap saat. Hidup seperti itu bagaikan hidup di neraka dan sedikit kelengahan bisa berarti fatal.
Reputasi sepasang iblis itu sendiri juga terlalu dibesar-besarkan dan juga dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk menyembunyikan jejak kejahatan mereka. Berencana membunuh saingan tanpa diketahui orang lain? Berpura-puralah jadi sahabatnya, kemudian setelah kau bunuh dia, salahkan saja sepasang iblis itu. Sepasang iblis itu sendiri tidak pernah keberatan dengan fitnah yang mereka terima, semakin menakutkan nama mereka di dunia persilatan semakin senanglah mereka berdua. Ketika muncul keinginan untuk meninggalkan jalan yang lama, nama mereka sudah terlampau hitam. Itu sebabnya mereka memilih untuk menyamar dan mengganti nama saat mereka hendak bergabung dengan Ding Tao, supaya hitamnya nama mereka tidak menjatuhkan Ding Tao yang baru saja tumbuh.
1809
Kembali lagi pada Ding Tao, dalam waktu yang terhitung singkat, pemuda itu sudah mulai menyusun rencana untuk bebas dari kepungan barisan lawan. Dia sudah menguji bagaimana barisan itu bereaksi terhadap gerakannya, menilik reaksi mereka, yakinlah Ding Tao bahwa barisan mereka sudah pernah dia pelajari dari salah satu kitab yang dibawa Murong Yun Hua. Kalaupun ternyata dia salah, tidak menjadi soal, dia masih bisa mundur dan memikirkan rencana lain. Pemuda itu yakin, bahwa bhiksu-bhiksu dari Shaolin ini sungguh-sungguh hanya ingin menguji dirinya, bukan untuk mencelakainya. Setelah memikirkan hal ini, dengan mantap Ding Tao mulai bergerak sesuai dengan rencana yang sudah terpeta di benaknya.
Ding Tao bergerak limbung, dengan langkah terhuyung-huyung, inilah jurus pendekar mabuk. Ada beberapa macam jurus mabuk yang dia pelajari dalam kitab-kitab milik Murong Yun Hua, saat dia berpikir tadi tampaknya beberapa dari gerakan-gerakan tersebut sesuai sekali untuk menghadapi barisan dari Shaolin yang mengurungnya. Tanpa pernah melatih ilmu itu sebelumnya Ding Tao mencoba untuk bergerak sesuai teori yang dia baca.
1810
Gerakannya tidak seluwes mereka yang sudah melatih jurus-jurus tersebut selama bertahun-tahun, tapi tidak menjadi masalah, barisan Shaolin bereaksi sesuai perhitungannya. Semakin lama, gerakan Ding Tao semakin cepat. Barisan dari Shaolin pun ikut bergerak semakin cepat. Nyata beda tingkatan dari orang-orang Ding Tao yang melatih ilmu barisan Partai Pedang Keadilan dengan tingkatan bhiksu-bhiksu Shaolin ini. Jika barisan yang dihadapi Guang Yong Kwang menunjukkan kelamahannya karena perbedaan kemampuan antara seorang dengan seorang yang lain, maka barisan ini tidak menunjukkan kelemahan yang sama. Kecepatan, kekuatan dan pemahaman tiap-tiap bhiksu dalam barisan itu sama kuatnya. Per orangan, mereka tidak bisa dibandingkan dengan Ding Tao, bersama-sama mereka merupakan tandingan yang cukup kuat. Seandainya saja Ding Tao belum pernah mempelajari ilmu barisan itu, tentu dia tidak akan bisa memikirkan rencana yang saat ini sedang dia jalankan. Ding Tao harus menggunakan kekerasan untuk menerobos barisan itu.
Sangat berbeda apa yang dilakukan Guang Yong Kwang kala itu dengan apa yang dilakukan Ding Tao saat ini. Rencana Ding Tao tidak bergantung pada perbedaan kemampuan mereka yang menjalankan ilmu barisan itu. Rencana yang ada dalam
1811
benak Ding Tao disusun berdasarkan teoridari ilmu barisan itu sendiri.
Awalnya mereka yang melihat pertarungan itu tidak mengerti apa rencana Ding Tao, setelah beberapa jurus berlalu, mereka mulai melihat bagaimana barisan itu perlahan-lahan tersibak dan Ding Tao bergerak melalui celah yang terbentuk. Barisan itu berusaha menutup gerakan Ding Tao, namun setiap usaha mereka hanya membuat kepungan mereka atas Ding Tao semakin longgar. Barisan yang bertarung melawan Ding Tao sendiri tidak dapat melihat bagaimana reaksi mereka terhadap gerakan Ding Tao hanya membuat lubang-lubang dalam barisan mereka semakin lebar.
―Cukup!‖, tiba-tiba Bhiksu Pu Jit berseru dengan kerass.
Dengan penuh disiplin 17 orang bhiksu yang lain dengan cepat berlompatan dan berbaris rapi di belakang Bhiksu Pu Jit. Butuh beberapa jurus berlalu sebelum Bhiksu Pu Jit menyadari bahwa ding Tao sudah berhasil memegang kunci kelemahan barisan yang mereka gunakan. Sadar bahwa jika pertarungan itu diteruskan pada akhirnya Ding Tao akan berhasil lepas dari kepungan, Bhiksu Pu Jit pun memilih untuk menghentikan pertarungan itu. Pada dasarnya tujuan mereka adalah untuk
1812
menguji Ding Tao dan dari apa yang dia lihat Bhiksu Pu Jit sedikit banyak sudah bisa meraba seberapa tinggi ilmu Ding Tao. Selain itu dia juga bisa melihat kepribadian pemuda itu. Meskipun tidak ada larangan untuk saling menyerang, Ding Tao tidak berusaha untuk bebas dari kepungan dengan melumpuhkan lawan. Ding Tao memilih jalan yang lebih sulit, yaitu dengan cara berusaha memahami teori ilmu barisan lawan dan kemudian memikirkan cara untuk menerobosnya tanpa kekerasan.
Mau tidak mau Bhiksu Pu Jit harus mengakui keenceran otak dan luasnya pengetahuan Ding Tao. Jika tidak bagaimana mungkin pemuda itu bisa menemukan kelemahan dari barisan yang dia hadapi dan menggunakan ilmu barisan itu untuk mengalahkan dirinya sendiri?
Ilmu barisan itu sendiri diciptakan salah seorang Tetua Shaolin yang banyak mempelajari pergerakan benda-benda di langit Terinspirasi oleh gerakan planel-planet yang mengelilingi matahari dan berbagai macam bentuk rasi bintang, tetua Shaolin itu akhirnya menciptakan ilmu barisan yang sekarang mereka gunakan untuk mengurung Ding Tao. Dalam sangkaan Bhiksu Pu Jit, Ding Tao adalah seorang pendekar yang bukan saja mempelajari ilmu-ilmu bela diri tapi juga faham ilmu militer,
1813
ilmu alam dan macam-macam pengetahuan lainnya. Sehingga ketika Ding Tao menguji barisan itu, dia mengenali ilmu perbintangan yang menjadi dasar-dasar pergerakan mereka. Tapi mengenali ilmu barisan itu sendiri barulah setengah dari pekerjaan yang harus dilakukan Ding Tao. Memikirkan cara untuk memecahkan ilmu barisan itu berdasarkan apa yag dia ketahui dua kali lebih sulit daripada memahaminya dan Ding Tao berhasil melakukan hal itu.
Di bagian yang pertama, yaitu memahami ilmu barisan itu, tentu saja Ding Tao banyak dibantu oleh kitab-kitab koleksi keluarga Murong. Namun untuk bagian kedua, bisa dikatakan sebagian besar adalah dari kecerdasannya sendiri.
Bhiksu Pu Jit menunggu semua saudara perguruannya sudah berbaris rapi di belakangnya, sebelum kemudian dia maju dan mengangsurkan medali giok yang menjadi bukti bahwa Ding Tao sudah lolos ujian dari Shaolin dan dipandang layak untuk mengajukan diri sebagai calon Wulin Mengzhu.
―Benar-benar, reputasi dan kehebatan Ketua Ding Tao bukanlah nama kosong.‖, puji Bhiksu Pu Jit.
1814
―Ah… hanya kebetulan saja, kebetulan aku mengenali dasar-dasar ilmu barisan tersebut dari sebuah kitab yang pernah kubaca.‖, jawab Ding Tao, merasa malu karena dia merasa sudah berbuat curang untuk menang dari ujian ini.
―Hahaha… sungguh tidak kusangka, Ketua Ding Tao bukan hanya seorang yang ahli bela diri, tapi juga seorang yang ahli dalam ilmu perbintangan pula.‖, ujar Bhiksu Pu Jit yang menyangka tebakannya tepat.
Ding Tao yang dipuji jadi semaki malu saja, mengertilah dia sekarang bahwa gerakan-gerakan tersebut rupanya diinspirasikan oleh pergerakan benda-benda di langit, ―Bhiksu, anda terlalu memuji, aku hanya sedikit tahu saja, tidak bisa dikatakan sebagai seorang ahli.‖
―Ketua Ding Tao terlalu rendah hati, memahami ilmu barisan itu sendiri baru setengah dari apa yang Ketua Ding Tao tunjukkan pada kami hari ini. Medali giok ini sudah sepantasnya berada di tangan ketua, aku justru merasamalu sekarang sudah berani-beraninya menguji ketua.‖, ujar Bhiksu Pu Jit sambil mengangsurkan medali giok yang ada di tangannya.
1815
―Ketua Ding Tao, aku mohon maaf sudah berani menguji dirimu, terimalah medali ini‖, ujar Bhiksu Pu Jit.
―Tidak ada yang perlu dimaafkan, kami mengerti kebijakan Bhiksu besar Khongzhen dan sama sekali tidak merasa keberatan dengan diadakannya ujian ini‖, jawab Ding Tao sambil mengambil medali giok yang diangsurkan Bhiksu Pu Jit.
Alangkah kagetnya Ding Tao ketika dia merasakan sebuah hawa panas yang tajam meruak keluar dari medali itu melalui jari-jarinya, tepat pada saat jari-jarinya memegang sebagian dari medali tersebut. Hawa panas itu bergerak melalui jalur energi yang ada di sepanjang lengnnnya, hendak menyerang jantungnya. Dengan cepat Ding Tao mengerahkan hawa murninya untuk melindungi jantungnya dari serangan hawa panas tersebut. Baru setelah berhasil menahan hawa panas yang menyerang dirinya, dia memandang ke arah Bhiksu Pu Jit dengan pandangan bertanya.
―Maaf Bhiksu… apa maksudnya ini…?‖, tanya pemuda itu.
―Apakah… ini pun sebuah ujian?‖, tanyanya sekali lagi.
Bhiksu Pu Jit tidak bisa menjawab, karena saat itu dia sedang berjuang untuk menekan hawa murni Ding Tao yang
1816
melindungi titik-titik energi dalam tubuhnya. Hawa panas yang menyerang Ding Tao adalah hawa murni milik Bhiksu Pu Jit yang berusaha menyerang jantung Ding Tao, Bhiksu Pu Jit berusah menyusupkannya melalui persentuhan jari-jari mereka. Tapi sekali lagi Bhiksu Pu Jit harus mengakui kelebihan Ding Tao, bukan saja pemuda itu bisa dengan cepat mengerahkan hawa murninya dan menahan hawa murni Bhiksu Pu Jit yang menyerang. Himpunan hawa murni yang dimiliki Ding Tao bahkan lebih kuat dari yang dia miliki. Terbukti, saat Bhiksu Pu Jit harus bersusah payah untuk mengerahkan hawa murninya menyerang Ding Tao. Ternyata Ding Tao masih bisa mengajak Bhiksu Pu Jit berbicara.
Bhiksu Pu Jit pun harus mengakui kekalahan untuk kedua kalinya dan perlahan-lahan dia menarik serangannya. Dia pun menjadi kagum, ketika merasakan bahwa hawa murni Ding Tao tidak berbalik menyerang dirinya. Sangkanya Ding Tao menahan serangan hawa murninya dengan cara mendorong hawa murni itu mundur kembali ke arah dirinya. Umumnya demikianlah yang dilakukan, dua orang ahli tenaga dalam saling mendorong dengan hawa murni mereka, yang kalah akan terpukul oleh hawa murni lawan.
1817
Tapi bukan demikian yang dilakukan Ding Tao, yang dilakukan pemuda itu adalah membangun benteng di sekitar jalur-jalur energi yang hendak digunakan Bhiksu Pu Jit untuk menyerang. Tekanan yang dirasakan Bhiksu Pu Jit muncul karena dia berusaha mendorong hawa murni yang melindungi tubuh Ding Tao. Tapi saat dia mengendurkan serangan, dengan sendirinya dia juga merasakan tekanan hawa murni Ding Tao pada dirinya berkurang.
Kalau hendak digambarkan, hal ini serupa seperti saat kita mendorong sebuah tembok yang kokoh. Aksi kita mendorong temboklah yang melahirkan reaksi dorongan ke arah sebaliknya yang kita rasakan. Dorongan itu muncul sebagai reaksi atas dorongan kita, bukan berarti tembok itu yang mendorong kita. Hal itu hanya bisa dilakukan Ding Tao jika himpunan hawa munrni yang dia miliki jauh lebih kokoh dari hawa murni milik lawan dan itulah yang dipikirkan oleh Bhiksu Pu Jit. Namun tidaklah persis seperti itu yang terjadi. Hawa murni ada di sekeliling kita, ada di udara, di tanah, ada di air, di mana-mana. Sejak berlatih ilmu tenaga dalam inti bumi, pemuda itu mulai bisa merasakan tenaga yang terimpan di dalam bumi. Dalam ilmu hawa murni inti bumi yang dia pelajari, untuk mengumpulkan hawa murni, dia menghisap hawa murni dari
1818
bumi dan perlahan-lahan mengolahnya kemudian menyimpannya dalam Dan Tian. Dalam perkembangannya semakin lama, semakin mudah bagi Ding Tao untuk menghisap tenaga dari dalam bumi untuk dia olah dan gunakan. Meskipun kapasitas Dan Tian dalam dirinya sebagai manusia, tidak memungkinkan dia untuk menyimpan seluruh hawa murni yang bisa dia hisap dari dalam bumi, pemuda itu sudah terlatih untuk menghisap dan menggunakan tenaga dari bumi sesuka hatinya. Sehingga saat Bhiksu Pu Jit menyerangnya, sebenarnya yang dilakukan Ding Tao tidak lebih hanyalah bersandar bumi yang kokoh untuk menahan serangan Bhiksu Pu Jit.
Ketika sadar Ding Tao seoenuhnya dapat menguasai hawa murninya dan tidak ada resiko untuk menarik hawa murninya sendiri, Bhiksu Pu Jit pun merasa lega. Dengan segera dia menarik kembali serangannya.
Sedikit malu-malu, Bhiksu Pu Jit melepaskan medali itu, menggaruk-garuk kepalanya yang gundul, dan menjawab, ―Hehe.. ah maafkan aku, adalah tugasku untuk menguji diri ketua dan… yah… sudah jelas Ketua Ding Tao sangat pantas untuk menjadi calon Wulin Mengzhu.‖
1819
Saat Bhiksu Pu Jit menghentikan barisan Shaolin dan mendekat pada Ding Tao untuk memberikan medali, orang-orang Partai Pedang Keadilan sudah berjalan mendekat sambil bersorak. Mereka menyangka ujian sudah selesai dan Ding Tao sudah melewatinya. Hampir semua orang terkejut, saat tiba-tiba mereka melihat gerakan Ding Tao terhenti dengan tiba-tiba. Ketika mereka sadar bahwa Bhiksu Pu Jit sudah menyerang dengan diam-diam, rasa terkejut itu pun berubah jadi rasa marah dan khawatir. Rasa khawatir mereka hilang saat Ding Tao mulai bertanya-tanya pada Bhiksu Pu Jit. Melihat Ding Tao masih bisa dengan bebas berkata-kata, membuktikan bahwa keadaannya tidaklah begitu berbahaya. Mereka pun menunggu-nunggu dengan cemas, tidak ingin bergerak sembarangan dan mengakibatkan kecelakaan yang fatal, pada dua orang yang sedang mengadu tenaga dalam.Baru setelah Bhiksu Pu Jit melepaskan pegangannya pada medali giok dan meminta maaf pada Ding Tao, barulah mereka datang mendekat dengan cepat.
Liu Chuncao yang merasa sangat kesal pada Bhiksu Pu Jit berada paling depan. Ma Songquan dan Chu Linhe yang sangat marah justru tidak ikut maju ke depan. Ma Songquan begitu marahnya hingga tangannya gemetaran. Chu Linhe yang
1820
sudah sangat paham akan sifat ma Songquan, buru0buru menahan tubuh suaminya itu dan berbisik.
―Ketua Ding Tao sudah aman, jangan merusak suasana dengan kemarahanmu…‖ bisik Chu Linhe.
Ma Songquan hanya menggeram saja, tapi dia tidak melawan, dia sadar Chu Linhe benar. Ding Tao sudah berhasil mendapatkan medali giok sebagai tanda bahwa dia dapat maju sebagai calon Wulin Mengzhu, mengumbar kemarahannya dan menyerang Bhiksu Pu Jit hanya akan membuat suasana menjadi buruk.
Sementara itu Liu Chuncao dengan cepat mendekat dan sebelum ada yang bisa bertindak dia sudah mendorong bahu Bhiksu Pu Jit dengan keras.
―Keledai gundul, apa kau hendak mencari perkara denganku! ?Apa kau sudah bosan hidup!? Hah?‖, serunya dengan mata melotot.
Bhiksu Pu Jit yang bisa memahami kekesalan orang-orang Ding Tao tidak melawan balik, dia hanya membungkuk dalam-dalam dan berkata, ―Maafkan aku, aku hanya menjalankan tugas saja. Tidak lebih, tidak kurang.‖
1821
Sebelum Liu Chuncao sempat memaki dan menyerang Bhiksu Pu Jit untuk kedua kalinya, tangan Ding Tao sudah memegang bahunya.
―Pendeta Liu…, tenanglah… Jika Bhiksu Pu Jit benar-benar hendak menyerangku dengan sungguh-sungguh, tentu salah seorang di antara kami sudah terkapar di tanah saat ini.‖, ujarnya berusaha menenangkan Pendeta Liu Chuncao.
Bhiksu Pu Jit dengan malu-malu menjawab, ―Ketua Ding Tao benar, bukannya aku ingin membela diri, bukan pula maksudku untuk menjilat, namun himpunan hawa murni Ketua Ding Tao terlampau kuat. Seranganku dengan cepat membentur satu tembok yang kokoh dan terpental balik. Jika aku menyerang dengan kekuatan penuh, mana bisa aku menguasainya dan menariknya perlahan-lahan.‖
Kemarahan Liu Chuncao sudah agak surut karena Ding Tao menahannya, namun rasa penasaran dan kesalnya belum hilang, ―Memang tidak terjadi apa-apa, karena hawa murni Ketua Ding Tao jauh lebih kuat dari hawa murni milikmu. Tapi seandainya tidak demikian, bukankah saat ini Ketua Ding Tao akan mengalami luka dalam oleh seranganmu?‖
1822
―Aku tidak menyangkal, hal itu tentu saja akan terjadi. Tapi dia tidak akan sampai mati oleh seranganku, hanya sedikit luka dalam.‖, jawab Biksu Pu Jit sambil menghela nafas.
―Sedikit luka dalam katamu? Dan apakah dia harus bertarung dan bersaing dengan calon-calon Wulin Mengzhu yang lain dalam keadaan terluka di dalam?‖, geram Liu Chuncao.
Wajah Bhiksu Pu Jit terlihat suram, dengan berat dia menjawab. ―Jika demikian, bukankah itu artinya dia tidak pantas untuk ikut dalam pemilihan Wulin Mengzhu ini?‖
Pucat pias oleh rasa marah, Liu Chuncao dengan terbata-bata bertanya, ―Bhiksu… Pu Jit… katakanlah muka dengan muka, apakah nuranimu tidak meneriakkan kata curang saat kau melakukannya?‖
Bhiksu Pu Jit tidak mengucapkan apa-apa untuk waktu yang lama. Beberapa orang bhiksu Shaolin yang berdiri di belakangnya menunjukkan ekspresi wajah bersalah. Ketika akhirnya Bhiksu Pu Ji menjwab, dia hanya bisa berkata, ―Aku hanya menjalankan tugas…‖
―Pendeta Liu… sudahlah, aku tidak terluka apa-apa, Bhiksu Pu Jit tidak berniat buruk. Sudahalh, mari kita lanjutkan saja
1823
perjalanan.‖, ujar Ding Tao sambil menepuk-nepuk pundak Liu Chuncao.
Kemudian pemuda itu berbalik ke arah Bhiksu Pu Jit dan merangkapkan tangan di depan dada, ―Bhiksu Pu Jit, terima kasih, biarlah kami melanjutkan perjalanan. Aku mohon pamit lebih dulu.‖
―Tentu saja ketua…, tentang hal itu… aku…‖
―Sudahlah, sesama saudara, ada sedikit salah paham mengapa harus diingat-ingat? Lain kali kalau bhiksu berkunjung ke Jiang Ling, jangan lupa mampir menemuiku, kita bisa keluar makan-makan, aku tahu rumah makan barang tak berjiwa yang lezat di sana.‖, jawab Ding Tao dengan ramah, pemuda itu merasa kasihan juga melihat Bhiksu Pu Jit yang disiksa oleh perasaan bersalah.
Bhiksu Pu Jit melihat ketulusan di mata Ding Tao dan merasa terharu oleh kebesaran jiwa pemuda itu. Dia hanya bisa menganggukkan kepala, ―Tentu saja… tentu saja…‖
―Bagus kalau begitu, aku tunggu kunjungan bhiksu di Jiang Ling. Baiklah, sekarang kami akan melanjutkan perjalanan.‖, Ding Tao pun berpamitan sekali lagi sebelum melangkah pergi,
1824
diikuti oleh para pengikutnya yang memandang dengan gemas ke arah Bhiksu Pu Jit dan saudara-saudara seperguruannya.
Ma Songquan dan Chu Linhe sudah lama menghilang, mendahului rombongan mereka jauh di depan. Liu Chuncao yang terakhir pergi, dia masih mematung beberapa lama, merasa kecewa dengan orang yang dipandangnya sebagai seorang sahabat.
Sebelum dia pergi, tiba-tiba dia berkata, ―Bhiksu Pu Jit, jika lain kali kita bertemu, jangan sekali-kali kau panggil aku tosu bau.‖
Bhiksu Pu Jit hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban. Entah untuk ke berapa kalinya dia mendesah dan berkata dalam hati, ―Aku hanya menjalankan tugas.‖
Di lain tempat, jauh dari hamparan tanah yang dijalani Ding Tai dan para pengikutnya, di sebuah jalan menuju ke Kota Chang Sha, terlihat tiga orang sedang memacau kuda dengan cepat.
―Perlambat kuda-kuda kalian, sebentar lagi kita akan mulai memasuki Luo Yang, jalan-jalan akan mulai lebih ramai dengan orang.‖, ujar seorang tua yang berkuda paling depan.
―Baik guru‖
1825
―Aku mengerti ayah‖
Jawab dua orang muda yang mengikuti di belakang. Siapa lagi mereka jika bukan Hua Ng Lau, Huang Ren Fu dan Hua Ying Ying.
―Moga-moga kita tidak terlambat‖, ujar Hua Ng Lau.
―Hari diadakannya pemilihan Wulin Mengzhu sudah makin dekat, jika Tetua Bai Chungho ingin menghadirinya, tentu beliau sudah berangkat ke Gunung Songshan jauh-jauh hari.‖, ujar Huang Ren Fu dari atas kudanya.
Hua Ng Lau mendesah, lama tidak ada yang berkata-kata.
‗Apakah mereka sudah terlambat?‘, pertanyaan itu muncul di benak mereka bertiga.
Hua Ng Lau mendesah sekali lagi, dengan hati berat dia berkata, ―Aku terlalu lama menganalisa obat itu… kecil sekali kemungkinan bahwa Bai Chungho masih ada di Chang Sha.‖
Sudah hampir seminggu lamanya, ketiga orang ini berada dalam perjalanan untuk menemui Ketua Kaypang, Bai Chungho. Segera setelah mendapatkan kepastian tentang obat
1826
yang disebarkan oleh salah seorang anak murid Kunlun pada para pengikut Ding Tao di Gui Yang, Hua Ng Lau dengan segera mencari tahu tentang keberadaan Bai Chungho. Hal ini tidaklah mudah, pengikut Kaypang tersebar hampir di seluruh daratan. Di tiap-tiap kota selalu saja ada cabang dari partai pengemis. Masih beruntung Hua Ng Lau sebagai pewaris keluarga Hua di masa ini, memiliki hubungan yang baik dengan partai pengemis, melanjutkan hubungan baik dari generasi-generasi sebelumnya. Tanpa kesulitan dia mendapatkan kabar terakhir tentang Bai Chunho yang diketahui oleh anggota partai pengemis yang dia temui. Meskipun tidak semua pengikut partai pengemis pernah bertemu dengan Hua Ng Lau, tapi Hua Ng Lau sudah mendapatkan satu kata sandi khusus untku dirinya. Asalkan dia membacakan sebaris bait sandi tersebut, maka setiap pengikut Kaypang, akan mengenali dia sebagai pewaris keluarga Hua yang harus dibantu.
Meskipun demikian, mencari jejak Bai Chungho tetap saja jadi satu pekerjaan yang sukat. Berita dari satu cabang ke cabang yang lain harus melalui jarak yang jauh dan menyebar dengan lambat. Kabar terakhir yang mereka dapatkan mengenai Bai Chungho selalu saja terlambat beberapa hari.
1827
―Apakah kita tidak sebaiknya, segera ikut pegi ke kaki Gunung Song Shan?‘, tanya Hua Ying Ying setelah mereka bertiga terdiam cukup lama.
―Kurasa itu jalan yang terbaik… Chang Sha akan jadi kota terakhir yang kita kunjungi. Lagipula tampaknya sudah hampr pasti, bahwa Bai Chungo akan ikut datang saat pemilihan Wulin Mengzhu nanti.‖, ujar Hua Ng Lau dengan pahit.
Lama mereka bertiga kembali diam, tiba-tiba Huang Ren Fu berkata, ―Semoga kita tidak terlambat menemui Tetua Bai Chungho. Tapi kalaupun demikian yang terjadi, kukira kita tidak ada yang bersalah dalam hal ini. Guru sudah berusaha sekuat tenaga bahkan sampai kurang tidur berhari-hari lamanya. Hanya memang waktu tidak menjadi sahabat kita kali ini.‖
―Kakak benar ayah… ayah sudah berusaha sebaik mungkin. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.‖, ujar Hua Ying Ying berusaha menghibur ayahnya.
Hua Ng Lau merasa terharu, dia tahu kedua orang muda itu berkata demikian untuk menghibur dirinya, orang tua itu tersenyum dan lambat-lambat menjawab. ―Sudahlah… aku
1828
tahu, pada kenyataannya inilah yang harus terjadi… Kenyataan tidak selalu terjadi sesuai yang kita inginkan.‖
―Tapi ayah tidak perlu khawatir, Kakak Ding Tao bukan orang yang mudah jatuh oleh kelicikan lawan. Memang tampilannya seringkali seperti orang bodoh dan lugu. Namun sebenarnya otaknya itu sangat cerdas, jika ada kekurangannya, maka itu adalah hatinya yang lemah dan terlalu mudah percaya.‖, ujar Hua Ying Ying yang selaluu bersemangat jika membicarakan kelebihan Ding Tao.
―Hahaha, ya aku yakin dia orang yang seperti demikian. Lagipula dia berangkat bersama-sama dengan segenap orang kepercayaannya, kukira, mereka pun tahu bahwa tidak ada sekutu mereka yang bisa dipercaya sepenuhnya.‖, kata Hua Ng Lau sambil memperlambat laju derap kudanya.
Beberapa puluh langkah di depan mereka mulai terlihat orang berlalu lalang. Kedua orang muda yang berada di belakangnya dengan sendirinya turut pula memperlambat laju kuda mereka. Semakin lama semakin lambat, dan akhirnya ketika jalan kuda mereka sama lambatnya dengan berjalan kaki, Hua Ying Ying melompat turun ke bawa.
1829
―Aduh… pantatku sudah pegal-pegal, alangkah nikmatnya bisa berjalan kaki‖, keluh gadis itu sambil melompat turun.
Huang Ren Fu dan Hua Ng Lau tersenyum lebar mendengar keluhan gadis itu dan ikut pula melompa turun. Bukan hanya Hua Ying Ying yang merasakan pinggul dan pantatnya pegal setelah melakukan perjalanan panjang di atas punggung kuda.
―Bayangkan saja berendam di air yang hangat setelah kita mendapatkan tempat untuk menginap nanti.‖, ujar Huang Ren Fu pada Hua Ying Ying.
―Waah… nikmatnya….‖, jawab Hua Ying Ying sambil memejamkan mata, membayangkan berendam di satu bak penuh air hangat.
Hua Ng Lau hanya tertawa terbahak-bahak saja melihat kelakuan dua orang muda itu, ―Ayolah kita mencari penginapan dulu dan beristirahat sebentar. Mendengar percakapan kalian tiba-tiba seluruh tulang-tulangku terasa ngilu-ngilu dan ingin berendam dalam satu bak penuh air panas.‖
―Asyikkk… ayah memang ayah yang paling pengertian.‖, seru Hua Ying Ying sambil melompat-lompat.
1830
―Hmm… lihatlah Adik Ying Ying ayah, sepertinya dia tidak merasa lelah sama sekali. Mungkin sebaiknya kita pergi mencari orang-orang Kaypang dulu sebelum mencari penginapan… aduh aduh aduh‖, ujar Huang Ren Fu menggoda dan terputus kata-katanya karena Hua Ying Ying segera saja mencubit pinggang kakaknya itu.
Hua Ng Lau pun jadi tertawa terbahak-bahak lagi oleh ulah kedua orang itu. Sebenarnya jika ada yang merasa khawatir dengan nasib mereka setelah mendapati temuan di Gui Yang, orang itu adalah Hua Ying Ying. Namun Hua Ying Ying yang ramai di luar, tapi lembut di dalam, melihat perasaan Hua Ng Lau yang galau oleh apa yang mereka temukan. Tabib tua itu rupanya sempat merasa bersalah karena kurang cepat dalam bekerja, sehingga dia baru berhasil ketika pemilihan Wulin Mengzhu sudah hampir dilaksanakan. Meskipun sebenarnya, apakah dengan temuan itu mereka bisa mengubah keadaan atau tidak, juga sebenarnya diragukan. Tapi ada perasaan tanggung jawab untuk bisa menyampaikan temuan mereka ini secepatnya. Menimbang perasaan Hua Ng Lau itu, Hua Ying Ying pun berusaha untuk menyembunyikan rapat-rapat perasaan khawatirnya.
1831
Ketiga orang itu pun akhirnya mencari rumah penginapan lebih dahulu. Tapi segera setelah mereka mendapatkan tempat menginap, Hua Ng Lau segera berpamitan pergi untuk mencari anggota partai Kaypang di kota itu.
―Kalian tidak usah pergi, sebaiknya kalian beristirahat saja dahulu. Ini bukan pekerjaan besar, cukup satu orang saja yang melakukannya.‖, ujar Hua Ng Lau pada puteri angkat dan muridnya.
―Kalau tahu begini, aku tidak akan minta beristirahat lebih dahulu. Bagaimana mungkin bisa beristirahat dengan tenang sementara ayah masih bekerja?‖, keluh Hua Ying Ying.
―Guru, biarlah aku menemani guru mencari, aku masih belum terlalu lelah.‖, ujar Huang Ren Fu.
Hua Ng Lau tertawa saja, ―Sudahlah, sebelum bertemu dengan kalian aku sudah malang melintang di dunia persilatan seorang diri, tidak pernah mengandalkan orang lain. Ren Fu, kau tunggulah di sini bersama adikmu, jika kau ikut denganku, justru aku merasa tidak tenang dalam bekerja karena meninggalkan Hua Ying Ying sendirian.‖
―Jangan lama-lama Yah…‖, ujar Hua Ying Ying.
1832
―Ya.., sudahlah kalian tunggu saja dengan sabar. Gunakan waktu untuk beristirahat sebaik mungkin. Aku pergi tidak akan lama.‖, ujar Hua Ng Lau sembari membuka pintu kamar.
Hua Ng Lau pun meninggalkan kedua orang kakak beradik itu dan pergi sendirian. Sembari berjalan, tiba-tiba Hua Ng Lau merasa hatinya disergap kesepian. Entah sejak kapan, keberadaan kakak beradik itu sudah mengisi hati yang tua dan kosong. Hua Ng Lau, seperti yang dia katakan pada mereka sebelum pergi, adalah orang yang biasa malang melintang dalam dunia persilatan tanpa seorang kawan pendamping. Hua Ng Lau sering membantu orang, namun dia tidak suka bersandar pada orang lain, semua yang dia butuhkan dia kerjakan sendiri. Hua Ng Lau, hadir dalam banyak kehidupan orang lain sebagai penolong, namun hatinya sendiri tertutup rapat dari sentuhan kehangatan manusia lain. Baru setelah kedua orang kakak beradik itu hadir dalam hidupnya, dia bisa merasakan nikmatnya menerima kasih sayang orang lain.
Ketika berjalan sendirian dalam keramaian seperti yang biasa dia lakukan di masa lalu, Hua Ng Lau tiba-tiba saja merasakan kerinduan pada celoteh dua orang anak muda itu. Pendekar tua itu pun tiba-tiba teringat dengan uluran persahabatan atau bahkan kasih sayang yang ditawarkan padanya, yang
1833
semuanya itu dia tolak dengan sopan. Pengalaman pahit di masa dia remaja membuat hatinya tertutup bagi manusia lain. Hua Ng Lau memang banyak menanamkan budi kebaikan pada orang lain, namun semuanya dia lakukan sebagai keawjiban, bukan karena hatinya tergerak oleh belas kasihan.
‗Hehh… rupanya semakin tua, hatiku justru jadi semakin lemah…‘, pikir pendekar tua itu dalam hatinya.
Ya… bagi sebagian orang, hati yang diam, tenang, tak tersentuh dipandang sebagai satu kekuatan tersendiri. Bukankah air harus terlebih dahulu diam dan tenang sebelum isinya telrihat dengan jernih? Benarkah demikian? Tiba-tiba pendekar tua itu tercenung memikirkan hal ini. Sesuatu yang sudah dia pandang sebagai kebenaran selama berpuluh-puluh tahun, tanpa pernah mempertanyakannya. Tapi jika hal itu benar, mengapa justru dia merasa lebih hidup saat ini?
Hua Ng Lau tidak sempat merenungkan hal itu lebih lama, matanya yang tajam melihat seorang pengemis dengan tanda-tanda pengikut Partai Kaypang. Segera saja Hua Ng Lau datang mendekat.
1834
Pendekar tua itu membungkukkan badan, berpura-pura meletakkan sekeping uang sebagai sedekah, di saat yang sama dia membisikkan sebaris bait yang menjadi tanda pengenal bagi dirinya di antara para pengikut Partai Kaypang.
―Hati-hati dengan si tua Hua‖ ―Tingkahnya persis seperti kura-kura‖ ―Jika kau panggil, dia sembunyi kepala‖ ―Jika kau lari ke selatan, dia pergi ke utara‖ ―Tapi saat tidak kau cari, ― ―Justru dia menampakkan batang hidungnya‖
Bait itu dibuat oleh Ketua partai pengemis di masa yang dulu, untuk mengolok-olok para keturunan Tabib Hua Tuo yang sejakmemiliki ilmu bela diri, seringkali sulit ditemukan jejaknya tapi akan muncul dengan tiba-tiba pada saat dibutuhkan. Pada awalnya tidak ada bentuk perjanjian khusus antara Partai Kaypang dengan keturunan pewaris Tabib Hua Tuo. Pada perkembangannya, sejak pewaris ilmu pengobatan Hua Tuo mahir ilmu silat dan mulai terjun dalam dunia persilatan, Tabib dewa Hua jadi tidak gampang dipegang ekornya, maklum saja, mereka sekarang sudah ahli ilmu meringankan tubuh dan juga ilmu menyamar. Lagipula kebanyakan pewaris keluarga Hua, memiliki dua perasaan yang bertentangan berkenaan dengan
1835
dunia persilatan. Mereka mengagumi keahlian para pendekar yang merupakan hasil dari latihan yang tekun selama bertahun-tahun. Di lain pihak sebagai orang yang hidupnya dibaktikan bagi pengobatan, mereka juga merasa ngeri pada kekerasan dunia persilatan.Pertentangan ini seringkalu membuat sikap para keturunan Tabib Hua Tuo dipandang aneh oleh tokoh-tokoh lain dalam dunia persilatan.
Pengemis yang mendapatkan sedekah dari Hua Ng Lau itu pun membelalakkan matanya, tidak percaya, bahwasannya dia yang hanya pengikut kelas rendahan justru mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan tokoh yang sulit ditemui ini.
―Te..tet..Tetua Hua..?‖, ujarnya terbata-bata.
―Ya, benar ini aku, tolong antarkan aku pada pemimpin di cabang kota Chang Sha ini.‖, ujar Hua Ng Lau dengan sabar.
―Baik … baik Tetua Hua…‖, dengan tergopoh-gopoh, pengemis itu pun buru-buru membereskan tikarnya dan mengantarkan Hua Ng Lau ke markas besar Partai Kaypang di kota Chang Sha.
Sejak kekuatan parati Kaypang menurun, Bai Chungho membuat kebijakan baru, di mana markas besar Kaypang di
1836
setiap kota, selalu berpindah-pindah setiap waktu tertentu. Keuntungan mereka sebagai para pengemis, salah satunya adalah tidak memerlukan bangunan yang megah sebagai markas. Yang disebut markas besar itu bisa saja perkampungan kumuh, kawasan lampu merah, atau di tengah-tengah pasar sekalipun, bisa menjadi merkas besar mereka. Asalkan ketua cabang di kota tersebut mangkal di sana, jadilah tempat itu sebagai markas besar.
Kedatangan Hua Ng Lau, ternyata menimbulkan kehebohan kecil, pengemis yang mengantarkan Hua Ng Lau beberapa kali bertemu dengan anggota lain dari partai Kaypang, ketika mereka bertanya siapa yang sedang dia antarkan, dengan tidak ragu-ragu pengemis itu pun mengatakannya. Yang mendengar jawabannya, pun ikut-ikutan terbelalak seperti dia dan kemudian ikut pula mengantarkan Hua Ng Lau menuju ke markas besar mereka. Itu sebabnya saat Hua Ng Lau akhirnya sampai di ―markas besar‖ mereka, jumlah pengemis yang mengantarkannya sudah ada belasan orang.
Karuan saja pimpinan cabang Partai Kaypang di Kota Chang Sha itu melotot, ―He apa-apaan kalian ini?‖
1837
―Tunggu sebentar Tetua Li… ini ada tamu penting…‖, ujar pengemis yang mengantar Hua Ng Lau setengah berbisik.
Yang dipanggil Tetua Li melirik ke arah Hua Ng Lau dan bertanya-tanya dalam hati, siapa orangnya yang dipanggil tamu penting ini.
―Maaf, siapa nama tuan yang terhormat?‖, ujarnya dengan sopan namun berwibawa.
Tidak malu Partai Kaypang punya nama besar, meskipun bintang mereka sedang meredup, namun orang-orangnya tetap punya karakter pahlawan. Bukan hanya tinggi rendahnya ilmu yang membuat sebuah partai disegani lawan. Tapi kegagahan dan keberanian mereka bisa menutupi kekurangan mereka dalam hal jumlah orang-orang berilmu. Agak disayangkan memang, Partai sebesar Kaypang bisa kekurangan bakat dari generasi yang sekarang. Namun yang kurang itu ditutupi Bai Chungho dengan menekankan perlunya disiplin, rasa bangga terhadap partai mereka dan keberanian. Itu sebabnya Tetua Li ini sedikit heran, mengapa ada tamu yang dipandang sedemikian tinggi oleh anak buahnya.
1838
Hua Ng Lau tersenyum, ―Sungguh, Saudara Bai Chungho benar-benar mampu mendidik orang, sehingga nama Partai Kaypang tidak dilupakan orang. Namaku Hua Ng Lau..‖
Kemudian dia pun membacakan kembali bait puisi olok-olok yang telah dipakai turun temurun untuk memperkenalkan diri, dari pewaris keluarga Hua pada penerus Partai Kaypang. Begitu mengenali puisi yang dibacakan itu , muka Tetua Li berubah dengan cepat.
―Ah.. rupanya Tetua Hua, maafkan aku, tapi bisakah tetua bacakan bait yang kedua?‖, ujar Tetua Li sambil berjalan mendekat dan mendekatkan telinganya.
Hua Ng Lau pun membisikkan bait yang kedua, para pengemis yang lain hanya berdiri di tempatnya dan menunggu-nunggu dengan penasaran. Apakah terbukti yang datang ini benar-benar pewaris keluarga Hua. Rupanya puisi olok-olok untuk mengenalkan diri itu terdiri dari beberapa bait. Jika bait yang pertama bisa digunakan untuk meyakinkan mereka dari tingkatan paling rendah, maka di tingkatan yang lebih tinggi akan dibutuhkan dua bait. Demikian seterusnya sampai 5 bait dan satu tanda pengenal, untuk memperkenalkan diri pada Ketua partai Kaypang di masanya. 5 bait dan satu tanda
1839
pengenal ini nantinya akan diperlukan Hua Ying Ying jika suatu saat nanti dia ingin meminta bantuan dari Ketua Partai Kaypang di masa itu. Hua Ng Lau sendiri, asalkan sudah bertemu Bai Chungho, tidak perlu lagi membacakan ke 5 bait tersebut, karena Hua Ng Lau sudah beberapa kali bertemu dengan Bai Chungho.
Setelah mendengar bait yang kedua, Tetua Li cepat mundur selangkah kemudian menjura memberi hormat, ―Ah… sungguh beruntung bisa bertemu dengan Tabib Dewa Hua, tidak kusangka orang rendahan macam diriku ternyata bisa bertemu dengan Tabib Dewa Hua. Entah apakah ada yang bisa kami lakukan untuk tuan?‖
―Tidak perlu terlalu sungkan. Sebenarnya aku datang ingin bertemu dengan ketua kalian. Sebelumnya aku sudah mencari di beberapa kota, terakhir aku dengar dia akan menyambangi cabang di Chang Sha dulu sebelum pergi ke Gunung Songshan di Propinsi Henan.‖, ujar Hua Ng Lau dengan ramah.
―Memang benarkabar itu, tapi sayang Tabib Hua terlambat dua hari. Ketua Bai Chungho sudah berangkat dari Chang Sha dua hari yang lalu.‖, jawab Tetua Li dengan sedih, dalam hatinya dia berharpa bisa membantu Hua Ng Lau.
1840
Nama keturunan Hua Tuo memang melekat di hati setiap pengikut Partai Kaypang, hubungan yang sudah terjalin selama beberapa generasi tidaklah merenggang. Justru kisah-kisah petualangan kedua aliran tersebut, di mana mereka saling membantu dan menolong, membuat hubungan itu semakin erat. Hua Ng Lau pun mendesah penuh sesal, tapi segera dia berbalik ke arah Tetua Li dan menepuk bahunya.
―Sudahlah, tak usah dipikirkan, adalah salahku jika aku tidak bisa bertemu dengannya. Apakah Ketua Bai Chungho akan langsung menuju ke kaki Gunung Songshan? Ataukan dia akan mampir ke tempat lain lagi?‖, ujar Hua Ng Lau dengan ramah.
―Beliau tidak akan mampir ke cabang lain lagi, waktunya sudah terlalu mepet untuk itu. Beliau berkata akan langsung menuju ke Gunung Songshan. Sebenarnya ada masalah apa, jika aku boleh tahu?‖, ujar Tetua Li.
Hua Ng Lau memandangi Tetua Li beberapa lama, kemudian dia berkata, ―Bolehkah aku memeriksa nadimu sebentar?‖
Meskipun merasa keheranan Tetua Li segera mengajukan pergelangan tangannya dan berkata, ―Tentu saja, tidak ada masalah.‖
1841
Hua Ng Lau pun menyentuh pergelangan tangan Tetua Li, ringan saja, namun jari-jari yang peka bisa melihat banyak lewat sentuhan yang ringan itu. Hua Ng Lau memejamkan mata beberapa lama, menajamkan perasaannya. Setelah beberapa lama memeriksa, barulah dia membuka mata dan tersenyum.
―Hmmm.. baguslah, kukira tidak ada seorang pun pengikut partai kalian yang jatuh dalam cengkeraman obat iblis itu.‖, ujar Hua Ng Lau dengan lega.
―Tabib Dewa Hua, ada apa sebenarnya?‖, tanya Tetua Li penasaran.
―Hmm… aku tidak bisa mengatakan banyak saat ini, masih ada beberapa hal yang terasa gelap. Namun yang pasti, aku menemukan ada orang-orang Partai Pedang Keadilan di Gui Yang yang sudah mengkonsumsi semacam obat atau racun. Obat ini memiliki pengaruh pada susunan syaraf dan kerja otak, siapapun yang meminumnya akan mendapati dirinya tergantung pada obat ini agar bisa bekerja secara normal dan merasa tersiksa saat berhenti meminum obat ini.‖, ujar Hua Ng Lau menjelaskan.
1842
Tetua Li dan mereka yang mendengarnya terkejut oleh berita itu.
―Ah… apakah benar demikian? Berarti Partai Pedang Keadilan berada dalam bahaya.‖, ujar Tetua Li.
―Benar…, untuk itu aku ingin mengabarkan berita ini pula pada ketua kalian. Aku dengar Saudara Bai Chungho memiliki penilaian yang baik terhadap Ketua Ding Tao dan sekarang ini partai kalian berhubungan dekat dengan Partai Pedang Keadilan.‖, jawab Hua Ng Lau.
―Berita yang Tabib Dewa Hua dengar itu benar. Bahkan salah satu tujuan Ketua Bai Chungho mengunjungi beberapa cabang Kaypang yang ada di sekitar wilayah selatan, adalah untuk meminta setiap pengikut Partai Kaypang, untuk mengawasi dan membantu keamanan cabang-cabang dari Partai Pedang Keadilan yang saat ini kosong dari para pengikut utamanya.‖, jawab Tetua Li.
―Hmm… benar, itu pula yang kudengar di cabang-cabang lain sebelum sampai ke Chang Sha ini. Kukira orang-orang dari Partai Pedang Keadilan pun sadar bahwa tidak seluruh anggotanya bisa dipercaya dan mereka berniat untuk
1843
melemparkan kartu terbaik mereka di satu tempat.‖, ujar Hua Ng Lau.
―Begitulah pendapat Ketua Bai Chungho, beliau pun berpendapat bahwa hal itu lebih baik daripada membagi kekuatan di banyak tempat dan mendapati seluruhnya habis dibabat lawan karena terlampau lemah untuk menghadapi lawan. Namun Ketua Bai Chungho tidak ingin pula, kesempatan ini digunakan oleh lawan-lawan Partai Pedang Keadilan untuk mengambil keuntungan dari mereka. Itu sebabnya dia memerintahkan agar sebisa mungkin kami membantu keamanan Partai Pedang Keadilan, meskipun tetap harus mengukur kekuatan kami sendiri.‖, jawab Tetua Li.
―Lalu bagaimana rencana Tabib Dewa sekarang?‖, tanya Tetua Li dengan simpatik.
Hua Ng Lau berpikir sejenak kemudian menjawab, ―Kukira tidak ada jalan lain kecuali pergi ke kaki Gunung Songshan. Meskipun sedikit terlambat, setidaknya aku berharap kami masih bisa melihat acara utamanya.‖
1844
―Baiklah kalau begitu keinginan Tabib Dewa, namun jika ada yang bisa kami bantu, jangan ragu untuk memintanya dari kami.‖, ujar Tetua Li.
Hua Ng Lau pun berkata, ―Terima kasih banyak untuk persahabatan kalian, kukira apa yang kuminta tidak jauh berbeda dari psan ketua kalian sendiri. Hanya saja setelah mengetahui berita yang kubawa ini, kuharap kalian lebih bisa memikirkan situasi dari Partai Pedang Keadilan.‖
―Ya, kami mengerti, bukan hanya ancaman dari luar, dari dalam partai pun ada banyak musuh yang bersembunyi.‖, ujar Tetua Li yang mengeluh dalam hati, karena tugas yang diberikan oleh Bai Chungho rupanya lebih sukar daripada yang dikiranya.
―Baiklah, kalau begitu aku pamit dahulu.‖, ujar Hua Ng Lau bersiap-siap pergi.
―Ah.. mengapa tidak mampir sedikit lebih lama, biar kami bisa menjamu tuan.‖, ujar Tetua Li buru-buru, ketika menyadari Hua Ng Lau hendak pergi.
―Lain kali saja, kali ini aku pergi bersama beberapa orang teman. Mereka sedang menungguku.‖,jawab Hua Ng Lau.
1845
―Baiklah kalau begitu… tapi lain kali…‖, sedikit terbata Tetua Li berkata.
―Ya, lain kali tentu aku akan mampir ke Chang Sha untuk menikmati jamuan yang kau siapkan.‖, ujar Hua Ng Lau sambil tersenyum.
Wajah Tetua Li dan mereka yang hadir di situ jadi cerah. Hua Ng Lau kemudian bergegas kembali ke penginapan, sepanjang perjalanan otaknya berputar, memikirkan rute terdekat untuk sampai di kaki Gunung Songshan sebelum acara utama dimulai. Apakah keberadaannya di sana masih memberikan satu arti atau tidak, tabib tua itu sendiri tidak merasa yakin. Tapi kabar yang mengatakan bahwa Ding Tao pergi ke kaki Gunung Songshan dengan seluruh kekuatan intinya, bersama-sama seluruh orang-orangnya yang bisa dia percaya, membuat hati Hua Ng Lau sedikit lebih tenang. Keputusan para pemimpin Partai Pedang Keadilan itu menunjukkan bahwa mereka juga tidak buta sama sekali dengan keadaan di dalam partai mereka.
Saat sampai di penginapan, Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu sudah menunggu. Begitu melihat pandangan mata mereka
1846
yang bertanya-tanya, Hua Ng Lau menggelengkan kepala. Kedua kakak beradik itu pun mendesah lelah.
―Kali ini pun kita terlambat, Ketua Bai Chungho sudah berangkat ke kaki Gunung Songshan dua hari yang lalu.‖, ujar Hua Ng Lau.
―Sebenarnya, akulah yang salah perhitungan. Kalau dipikir baik-baik ,memang wajar jika Ketua Bai Chungho berhenti hanya sebentar saja di Chang Sha. Waktu diadakannya pemilihan Wulin Mengzhu sudah semakin dekat, jika tidak buru-buru pergi, maka tidak akan ada waktu lagi untuk mempersiapkan diri di kaki Gunung Songshan.‖, lanjut Hua Ng Lau.
―Apakah sebaiknya kita pergi sekarang juga?‖, tanya Huang Ren Fu.
Sekilas Hua Ng Lau memeriksa isi kamar dan dilihatnya, meskipun kedua kakak beradik itu sudah berganti pakaian dan tampak segar, buntalan pakaian dan bekal yang mereka bawa belum dibuka. Nampaknya kedua kakak beradik itu sudah siap untuk berangkat sewaktu-waktu.
1847
―Tidak usah, sebaiknya malam ini kita beristirahat sebaik-baiknya. Sudah beberapa hari kita harus tidur di alam terbuka, tidak ada salahnya malam ini kita tidur dengan atap di atas kita dan kasur empuk di bawah kita.‖, ujar Hua Ng Lau.
―Bagaimana dengan waktunya diadakan pemilihan Wulin Mengzhu?‖, tanya Hua Ying Ying.
―Tidak banyak yang bisa kita lakukan saat ini. Kalaupun kita mengejar mereka tanpa menghitung waktu, paling cepat kita akan sampai di sana 1 hari sebelum Wulin Mengzhu dilaksanakan. Dalam waktu yang 1 hari itu, sudah tidak ada waktu untuk memeriksa siapa-siapa yang meminum obat itu dan siapa yang tidak.‖, ujar Hua Ng Lau.
Hua Ying Ying tertunduk sedih, Huang Ren Fu yang melihat itu dengan perlahan membelai-belai punggung adiknya itu.
Melihat itu Hua Ng Lau berusaha menghibur mereka, ―Dari yang kudengar, sepertinya baik Ketua Ding Tao maupun Ketua Bai Chungho, sudah bersiap-siap terhadap apa yang kita khawatirkan. Kemungkinan besar, mereka sudah dapat merasakan adanya gerakan yang tidka wajar, hanya bentuk pastinya saja yang belum bisa mereka lihat. Itu sebabnya Ketua
1848
Ding Tao berangkat bersama seluruh kekuatan intinya, sementara Ketua Bai Chungho sudah berpesan pula kepada hampir seluruh cabang Partai Kaypang yang ada di selatan untuk ikut mengawasi dan mengamankan cabang-cabang Partai Pedang Keadilan yang bisa dikatakan ditinggalkan dalam keadaan kosong.‖
―Semoga saja Kakak Ding Tao bisa melewati kesulitan-kesulitan yang harus dia hadapi…‖, gumam Hua Ying Ying.
Huang Ren Fu menepuk bahu adiknya dan berkata, ―Sudahlah tidak perlu dirisaukan lagi. Ding Tao toh seorang lelaki sejati, tak kan patah oleh kesulitan, melainkan tumbuh semakin besar setiap kali melewati kesulitan-kesulitan.‖
Hua Ng Lau mengangguk setuju, ―Sudahlah, sebaiknya kita beristirahat baik-baik, beberapa hari ke depan kita tidak akan sempat mendapatkan istirahat yang cukup. Aku ingin kita bisa sampai di kaki Gunung Songshan, setidaknya satu hari sebelum puncak acara dimulai. Dengan begitu, kita masih memiliki waktu untuk memulihkan tenaga.‖
Jika beberapa tokoh besar masih berada dalam perjalanan menuju kaki Gunung Shongsan, Ding Tao dan kelompoknya
1849
saat itu sudah memasuki Kota Dengfeng, tempat Gunung Songshan berada. Dengan jumlah pengikut yang hampir mencapai 100 orang lebih, bukan perkara mudah untuk mengurus akomodasi mereka. Tindakan Ding Tao ini sempat juga jadi bahan pembicaraan tokoh-tokoh lain, yang jumlah rombongannya tidaklah sebesar mereka. Namun Ding Tao dan pengikutnya menutup telinga terhadap pembicaraan orang. Lagipula Chou Liang dan orang-orangnya sudah mengaturkan semuanya, jauh sebelum perjalanan dimulai. Sehingga setidaknya sudah tersedia satu tempat yang cukup untuk menampung mereka yang ikut dalam perjalanan tersebut. Mereka tidak sampai harus berebutan dengan tokoh-tokoh lain yang mencari penginapan.
Untuk menghindari terjadinya bentrokan yang tidak diinginkan, akibat salah perkataan atau darah panas yang mudah sekali terpicu dalam suasana yang penuh persaingan antara pendukung calon yang berbeda, Ding Tao memberikan perintah agar tidak ada anggota Partai Pedang Keadilan yang keluar dari tempat mereka tinggal. Hanya sebagian kecil saja yang bisa keluar masuk, itu pun sekedar untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari. Mereka yang dipilih untuk tugas ini adalah
1850
anggota yang sudah matang dan cukup umur, dipimpin oleh Qin Hun.
―Wah… bosan sekali…‖, ujar Qin Baiyu sambil menatap langit yang cerah.
―Sabarlah… tinggal satu hari lagi, besok kita bakal melihat keramaian.‖, sahut Sun Gao yang ikut bermalas-malasan di halaman rumah tempat mereka tinggal di kota Dengfeng.
―Menurutmu, ada berapa banyak orang yang berhasil mendapatkan medali giok yang dikeluarkan Shaolin sebagai tanda lulus ujian?‖, tanya Qin Baiyu.
―Hmmm… ada pendekar Lei Jianfeng dari utara itu, yang terkenal dengan Luo Yan Zhang-nya, berasal dari Kunlun tapi kemudian mengembangkan ilmunya sendiri. Tong Baidun, wakil dari keluarga Tong dengan senjata rahasianya. Deng Songyan, pendekar dari keluarga Deng dengan ilmu tombak warisan keluarga. Shan Zhengqi, satu jari, satu propinsi, memiliki ilmu totok yang disegani lawan dan kawan. Bai Shixian, dengan pukulan petir, pernah menghajar habis satu gerombolan penyamun seorang diri. Lu Jingyun, si empat kaki, terkenal dengan ilmu meringankan tubuhnya, namun juga disegani
1851
karena permainan sepasang pedangnya. Ximen Lisi, permata dari Shanxi, wajah tampan, ahli sastra dan ilmu pedang, dalam satu bulan berhasil membunuh 16 kepala geng utama di Shanxi dan menyatukan mereka semua di bawah kendalinya.‖, jawab Sun Gao sambil menghitung dengan jarinya, ―Jadi seluruhnya ada 7 orang, 8 orang dengan Ketua Ding Tao.‖
―Hmm… bagaimana dengan Li Nan Hun dengan kipas besinya?‖, tanya Qin Baiyu.
―Kurasa dia tidak akan lolos ujian, ilmunya tergolong kelas atas. Namun dia terlalu gemar arak dan perempuan, sejak namanya terangkat setelah mengalahkan Meng Xin pendekar pedang dari Hoasan, tidak pernah terdengar lagi prestasi yang menonjol.‖, jawan Sun Gao.
―Tapi mengapa kau masukkan juga Lu Jingyun, bukankah dia juga seorang yang suka pelesiran dan bermain perempuan?‖, tanya Qin Baiyu.
―Lu Jingyun mungkin yang terlemah ilmu silatnya dibandingkan 7 orang yang lain. Tapi dia punya kelebihan dalam ilmu meringankan tubuh, hal ini menguntungkan dia dalam menghadapi ujian yang ditetapkan Shaolin. Kalau dia orang
1852
yang tahu diri, dia akan mundur sebelum pertandingan dimulai.‖, ujar Sun Gao menjelaskan perhitungannya.
―Bagaimana dengan Zhu Jiuzhen, mengapa dia tidak masuk dalam perhitunganmu? Bukankah dia terkenal dengan 64 langkah ajaibnya?‖, tanya Qin Baiyu.
―Zhu Jiuzhen, menurutku bisa lolos melewati ujian yang ditetapkan oleh Shaolin. Tapi bila tidak salah perhitunganku, segera setelah dia mendengar Lei Jianfeng dan Ximen Lisi ikut pula dalam pertandingan ini, dia akan mengundurkan diri.‖, ujar Sun Gao.
―Mengapa demikian?‖, tanya Qin Baiyu.
―Lei Jianfeng berasal dari Kunlun, menguasai pula dasar-dasar langkah Bagua, 64 langkah ajaib sebenarnya berdasarkan pula perhitungan I Ching. Melawan Lei Jianfeng, 64 langkah ajaib-nya tidak akan banyak berguna, di saat yang sama Lei Jianfeng masih memiliki pukulan mematikan Luo Yan Zhang, kabarnya sejak dikembangkan oleh Lei Jianfeng, Luo Yan Zhang milik Kunlun di tangannya memiliki 18 perkembangan dan 27 bentuk baru, nama Luo Yan Zhang tetap dipakai sebagai bentuk penghargaan. Kebanyakan anak murid Lei Jianfeng
1853
menyebutnya Luo Yan Zhang keluarga Lei.‖, Sun Gao menguraikan alasannya.
―Lalu apa hubungannya pula dengan Ximen Lisi?‖, tanya Qin Baiyu.
―Dengan Ximen Lisi, Zhu Jiezhen memiliki hubungan yang unik, keduanya sempat mengangkat saudara sebelum Ximen Lisi menjadi orang pertama di propinsi Shanxi. Ada yang mengatakan, kerja Ximen Lisi membunuhi ke 16 kepala geng itu, tidak lain untuk membalaskan sakit hati sahabatnya Zhu Jiezhen. Namun karena suatu sebab, persahabatan mereka merenggang, sejak Ximen Lisimenjadi kepala organisasi di Shanxi.‖, jawab Sun Gao.
―Wah… Sun Gao, pengetahuanmu banyak sekali…‖, ujar Qin Baiyu.
―Hehehehe… jangan salah. Itu semua ayahku yang mengatakan, semalam aku menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang kau tanyakan.‖, jawab Sun Gao disambut tawa terbahak-bahak dari Qin Baiyu.
Setelah tawa mereka mereda, Qin Baiyu pun bertanya, ―Apakah semalam kau sempat bertemu ayahmu? Bukankah sekalian
1854
paman, sedang membantu Ketua Ding Tao mematangkan latihannya?‖
―Benar, mereka bergantian berlatih tanding melawan Ketua Ding Tao, kemarin ayah minta ijin untuk menengok diriku sebentar. Tidak masalah, toh masih ada Paman Ma Songquan, Paman Pendeta Liu Chuncao dan yang lainnya.‖, jawab Sun Gao.
―Oh… begitu. Apakah ayahmu bercerita tentang latih tanding mereka? Ayahku sendiri tidak banyak bercerita, dia hanya mengatakan padaku untuk menyaksikannya sendiri pada saat pemilihan nanti.‖, jawab Qin Baiyu.
―Sama saja dengan ayahku, katanya ilmu rahasia, lagipula dijelaskan juga belum tentu mengerti. Begitu kata ayah.‖, sahut Sun Gao.
―Daripada bermalas-malasan di sini, bagaimana kalau kita mengisi waktu dengan berlatih bersama saudara-saudara yang lain?‖, tanya Qin Baiyu.
―Boleh juga.‖, jawab Sun Gao sambil bangkit berdiri.
1855
Diam di dalam rumah selama beberapa hari, tanpa pernah berjalan-jalan di luar memang membosankan, tapi sekian hari berlalu, tidak ada yang berpikir untuk melanggar. Bukan takut untuk melanggar, tapi memang tidak ingin melanggar. Mereka memilih untuk mencari-cari kegiatan sendiri yang bisa dilakukan di dalam rumah yang cukup besar itu. Dengan jumlah yang hampir mencapai 100 orang, tidak sulit untuk mencari-cari kegiatan untuk menghabiskan waktu. Ada yang memilih berlatih bersama, tapi tidak jarang juga mereka menghabiskan waktu dengan permainan-permainan.
Bukan hanya pihak Ding Tao saja yang bersikap menahan diri, dari pengikut calon lain pun bersikap demikian pula. Jika ada perkelahian, justru biasanya terjadi di antara mereka yang datang untuk menjadi penonton, tanpa memiliki ikatan khusus dengan calon-calon tertentu.
Dengan banyaknya orang-orang dunia persilatan yang datang, Kota Dengfeng pun jadi ramai dengan pengunjung-pengunjung yang berwajah keras dan kepalan tangan yang tidak kalah keras. Keberadaan mereka menguntungkan pemilik penginapan dan rumah makan, tidak sedikit pula penduduk yang secara dadakan menyewakan rumah mereka sebagai tempat penginapan. Rasa was-was yang sempat muncul
1856
menghilang setelah mereka melihat bagaimana cekatannya bhiksu-bhiksu Shaolin yang tersebar membantu para penjaga keamanan untuk menghentikan pertarungan dan kericuhan yang terjadi. Apalagi jika ada orang dunia persilatan yang hendak memaksakan kehendak pada penduduk sekitarnya. Bukan berarti setelah itu tidak ada pertarungan antar orang dunia persilatan sendiri, hanya saja jika mereka hendak bertarung, mereka melakukannya di luar Kota Deng feng sehingga tidak mengganggu penduduk yang tidak tahu menahu.
Tentu saja bukan hanya dari anak murid Shaolin yang menjaga ketertiban selama diadakannya pemilihan Wulin Mengzhu. Di kota-kota lain di sekitar Kota Dengfeng, anak-anak murid 5 perguruan besar yang lain ikut pula meronda dan menjaga keamanan.
Kesibukan ini tentu saja menarik banyak perhatian dari penduduk di sekitar Kota Dengfeng dan pada saat hari yang ditentukan, bukan hanya orang-orang dari dunia persilatan yang datang. Banyak juga mereka dari khalayak umum yang datang hanya untuk melihat keramaian. Bisa dibayangkan berapa puluh ribu orang berkumpul di sana. Panggung yang luas sudah disiapkan di kaki Gunung Songshan. Bhiksu-bhiksu
1857
Shaolin, bercampur bersama beberapa anak murid dari Wudang, Kunlun, Hoasan, Enmei dan Kongtong berjaga di sana. Seberapa luas tempat yang disediakan sulit digambarkan. Itu pun banyak sekali yang tidak mendapatkan tempat. Mereka ini harus puas untuk berada di kejauhan, sekedar mendengar berita dan menyaksikan tokoh-tokoh dunia persilatan yang lalu lalang di depan mereka. Banyak juga mereka yang pekerjaannya sebagai pendongeng mencari sekeping dua keping uang dengan menjual cerita.
Di tempat pemilihan itu sendiri, sudah berkumpul 6 orang ketua dari enam perguruan besar yang duduk di kursi kehormatan di atas panggung. Di sisi kiri dan kanan panggung sudah disediakan pula 9 buah kursi, 4 buah kursi di sisi kiri dan 5 buah kursi di sisi kanan. 9 kursi tersebut disediakan bagi 9 orang yang memegang medali giok sebagai tanda lulus ujian, menerobos barisan yang dijalankan oleh bhiksu-bhiksu Shaolin. Sudah ada 8 kursi yang diduduki. Di belakang ke 8 kursi yang sudah diduduki, berdiri berjajar beberapa orang terpercaya dari calon Wulin Mengzhu yang duduk di sana. Di belakang Ding Tao berdiri Ma Songquan, Chu Linhe, Pendeta Liu Chuncao, Wang Xiaho, Tang Xiong dan Li Yan Mao. Sementara 7 orang yang lain adalah tepat sesuai tebakan Sun Gao. Mereka itu
1858
adalah Lei Jianfeng, Tong Baidun, Deng Songyan, Shan Zhengqi, Bai Shixian, Lu Jingyun dan Ximen Lisi.
Di kursi-kursi yang disediakan bagi ketua 6 perguruan besar, duduk Ketua Shaolin Bhiksu besar Khongzhen, Ketua partai Wudang Pendeta Chongxan, Ketua Partai Enmei Bhiksuni Huan Feng, Ketua Partai Kongtong Zong Weixia, Ketua Partai Kunlun Guang Yong Kwang dan di kursi untuk perguruan Hoasan duduk Tetua Xun Siaoma.
Untuk beberapa lama tidak ada yang terjadi, ke-enam ketua perguruan besar saling berbicara di antara mereka sendiri. Calon-calon yang ada diam dan saling pandang, sesekali terlihat mereka berbisik-bisik dengan orang kepercayaannya yang berdiri di belakang mereka. Acara belum bisa dibuka, karena kursi ke-9 masih kosong dan tidak diduduki oleh orang yang seharusnya duduk di sana.
Sementara lapangan yang luas, perlahan-lahan makin penuh oleh orang yang datang. Bahkan di tempat-tempat yang jauh pun orang berusaha mencari tempat yang strategis untuk melihat. Di bagian terdekat dari panggung itu sendiri, sudah disediakan ratusan kursi, namun hanya orang-orang tertentu yang bisa duduk di sana. Terutamanya mereka yang
1859
mendapatkan undangan resmi. Ada pula mereka yang tempatnya tidak jelas sehingga tidak bisa dikirimkan undangan khusus, namun memiliki nama besar yang patut diperhitungkan. Kursi-kursi ini diperuntukkan bagi tokoh-tokoh tersebut, orang pada umumnya sudah maklum akan hal ini, sehingga meskipun melihat ada kursi-kursi yang masih kosong, mereka cukup tahu diri untuk tidak maju dan duduk di sana. Ada saja orang yang memandang diri terlalu tinggi dan maju untuk duduk di kursi tersebut. Namun orang semacam ini harus siap-siap merasa malu, karena mereka yang bertugas akan menanyakan siapa nama mereka, jika nama mereka tidak terdapat pada daftar yang dibawa oleh petugas, maka dengan sopan mereka akan dipersilahkan meninggalkan tempat. Jika tidak bisa diusir dengan kata-kata, tanpa ragu petugas yang ada akan mengusir mereka dengan kekuatan.
Mereka yang bertugas untuk menjaga tidak bisa dibuat main-main, karena seluruhnya adalah murid-murid utama dari ke-enam perguruan besar. Ada saja mereka yang berusaha mendapatkan nama dengan sengaja mencari perkara. Adu tenaga dalam atau adu kelincahan, antara petugas dengan mereka yang demikian ini cukup menjadikan suasana tidak membosankan bagi para penonton di sekitar tempat tersebut.
1860
Meskipun demikian, jarang terjadi sampai harus mencabut senjata atau beradu pukulan.
Kejadian-kejadian seperti ini tentu saja sudah diperhitungkan, jumlah kursi yang disediakan pun memang disediakan lebih banyak daripada jumlah tamu dalam daftar. Sesekali ketika petugas mendapati tokoh tidak ternama, namun memiliki tingkatan yang cukup tinggi, pada akhirnya mereka dipersilahkan untuk duduk di sana. Ketika peristiwa itu terjadi, tentu saja, nama mereka yang berhasil duduk ini dengan segera menjadi bahan pembicaraan di antara orang-orang persilatan yang lain.
Matahari beranjak semakin ke tengah, namun kursi ke-9 tidak juga diisi, suasana mulai ramai oleh bisik-bisik orang tentang kursi ke-9 tersebut. Di saat yang sama, orang-orang yang diminta atau berusaha, duduk di kursi-kursi, di sekeliling panggung sudah tidak bertambah lagi jumlahnya. Bisa dikatakan, seluruh orang-orang dunia persilatan yang hendak mengikuti pemilihan Wulin Mengzhu itu sudah hadir di sana. Seluruhnya kecuali, calon Wulin Mengzhu ke-9 beserta pendukungnya. Kursi yang kosong itu membuat tanda tanya besar di benak banyak orang. Dengan melihat pengaturan yang ada dan siapa saja yang duduk di 8 kursi yang lain, mudah
1861
diduga bahwa dari sekian banyak tokoh dunia persilatan yang datang dan ingin menjadi calon Wulin Mengzhu, hanya ada 9 orang yang lolos dari ujian yang diadakan Shaolin.
8 orang yang duduk di sana, sudah banyak dikenal, lalu siapa orang ke-9 yang ditunggu-tunggu ini. Setiap orang mulai berhitung dan saling berdiskusi. Namun dari sekian banyak nama yang mereka ketahui, tidak seorang pun yang bisa menjadi orang ke-9 tersebut, sehingga kursi yang kosong menimbulkan misteri tersendiri.
Bhiksu besar Khongzhen menebarkan pandangan matanya ke sekeliling lapangan, akhirnya dia berkata pada ketua perguruan besar yang lain, ―Orang ke-9 tidak perlu ditunggu lagi, jika keadaan dibiarkan berlarut-larut hanya akan mengundang pertanyaan banyak orang. Apa yang akan terjadi, biarlah terjadi dan kita hadapi nanti.‖
Pendeta Chongxan mengangguk setuju, ―Kurasa Bhiksu Khongzhen benar, jika orang itu memang hendak menimbulkan kericuhan, biarlah kita hadapi pada saat dia muncul nanti.‖
Tetua Xun Siaoma bertanya, ―Apakah orang yang diutus untuk menyelidiki masalah ini belum juga muncul?‖
1862
Bhiksu Khongzhen menggelengkan kepala, ―Belum ada kabar, pagi ini sudah kukirimkan pula kelompok yang kedua, namun belum ada kabar juga dari mereka.‖
―Aku lihat ada awan gelap sedang menaungi Shaolin hari-hari ini, semoga kebesaran Bhiksu Khongzhen mampu mengusirnya‖, ujar Zhong Weixia dengan nada serius dan prihatin.
Bhiksu Khongzhen melirik tidak senang pada ketua Partai Kongtong tersebut dan menjawab dengan sabar, ―Kuharap tidak terjadi apa-apa dengan mereka, tapi kalaupun terjadi sesuatu, Shaolin bukan perguruan yang baru terbentuk tahun kemarin, besar kecil, segala macam kesulitan sudah pernah kami hadapi.‖
Pendeta Chongxan yang melihat Zhong Weixia hendak menjawab lagi, buru-buru menyela sebelum Zhong Weixia sempat berkata-kata, ―Jadi kita semua setuju agar acara segera dimulai saja. Bagaimana?‖
―Kita mulai saja sekarang‖, ujar Bhiksuni Huan Feng sambil melirik Zhong Weixia dengan tajam.
1863
―Aku menurut saja pendapat kalian‖, jawab Guang Yong Kwang yang paling muda di antara mereka.
―Kurasa jalan itu yang terbaik‖, ujar Tetua Xun Siaoma dari Hoasan.
―Apakah Saudara Zhong Weixia punya pendapat lain?‖, tanya Bhiksu Khongzhen sambil menatap tajam.
Zhong Weixia hanya tersenyum sinis dan menjawab, ―Kalau 4 orang sudah memberikan suara, apa artinya suaraku seorang? Sudah tentu aku setuju dengan kalian semua.‖
―Baiklah kalau begitu aku akan buka acara hari ini‖, ujar Bhiksu Khongzhen sambil bangkit berdiri.
Suasana yang tadinya ramai oleh bisik-bisik ribuan orang, tiba-tiba jadi sunyi senyap ketika mereka melihat Bhiksu Khongzhen bangkit berdiri. Setiap orang memasang telinga untuk mendengarkan. Saat yang ditunggu-tunggu tampaknya sudah tiba. Bhiksu Khongzhen sudah berumur lanjut, gerak-geriknya tidak lincah bersemangat layaknya seorang muda. Tapi juga tidak terlihat dia bergerak tertatih-tatih seperti orang tua yang sakit sendi-sendinya. Melihat Bhiksu Khongzhen bergerak, seperti melihat gerakan sungai yang dalam, terlihat tenang,
1864
tidak beriak, namun menyembunyikan kekuatan yang besar. Bhiksu tua itu tidak berperawakan tinggi besar seperti Bhiksu Pu Jit, tingginya mungkin hanya setinggi pundak Ding Tao, tapi dari tubuh kecil itu terasa perbawa yang besar.
Berjalan ke tengah panggung, bhiksu tua itu merangkapkan tangan di depan dada dan memberikan hormat ke segenap penjuru.
―Kuucapkan selamat datang di kaki Gunung Songshan pada segenap saudara sekalian. Harap maafkan kami jika ada kesalahan yang tidak disengaja yang kami lakukan sebagai tuan rumah.‖, ujar Bhiksu Khongzhen sebagai pembukaan, suaranya terdengar jelas sampai jauh.
Semua orang mendengarkan dengan khidmat, Bhiksu Khongzhen bisa dikatakan sudah mendekati tataran legenda hidup. Xun Siaoma yang seumur dengannya pun menghormati bhiksu tua ini sebagai tokoh pilih tanding. Satu-satunya tokoh yang bisa menyamai bhiksu tua ini bisa dikatakan hanya ada seorang, yaitu sahabatnya juga, Pendeta Chongxan. Ren Zuocan boleh saja semakin menanjak ilmunya, bahkan diperhitungkan akan menyamai atau melebihi Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pada pertemuan 5 tahunan
1865
berikutnya, namun hal itu tidak lepas dari bertambahnya usia kedua tokoh legendaris itu. Jika ada cacat atau kekurangan pada kedua tokoh ini, maka hal itu adalah sikap mereka yang sangat pasif dalam menjalani keberadaan mereka sebagai seorang tokoh dalam dunia persilatan. Jika tidak demikian, mana mungkin Zhong Weixia yang cenderung kejam dan angin-anginan bisa malang melintang? Atau sikap sombong ketua Perguruan Kunlun Guang Yong Kwang, yang meskipun termasuk golongan lurus, namun tidak segan-segan menindas yang lemah. Atau tokoh sesat macam Sepasang Iblis Muka Giok, yang sudah beberapa bulan ini lenyap dari dunia persilatan. Selain sepasang iblis itu masih ada, bayangan darah Zhang Yip Ling, tokoh sesat dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tanpa tanding, Raja perompakYue Changling dan beberapa nama lain yang tampaknya tidak muncul pada pertemuan pemilihan Wulin Mengzhu kali ini.
Sebelum adanya pertemuan lima tahunan yang diadakan Ren Zuocan, tidak banyak orang yang tahu akan tinggi rendahnya ilmu kedua orang ini. Banyak yang beranggapan, adalah nama besar Shaolin dan Wudang saja yang membuat dua perguruan besar itu bertahan. Baru setelah Ren Zupcan menantang tokoh-
1866
tokoh persilatan daratan untuk mengadu ilmu, nama kedua tokoh itu berkibar sebagai penyelamat muka mereka.
Itu pun menanti tidak ada seorangpun yang dapat menandingi Ren Zupcan, barulah mereka berdua maju ke depan. Bergantian mengalahkan Ren Zuocan dalam sebuah pertandingan yang adil.
Bisa dikatakan sikap mereka yang menyembunyikan kekuatan ini adalah salah satu penyebab Ren Zupcan salah perhitungan dan muncul terlalu cepat untuk menantang tokoh-tokoh dalam dunia persilatan di daratan. Dalam perhitungannya tidak ada seorangpun yang dapat menandinginya, sementara Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan dikenal orang sebagai dua orang ketua perguruan besar yang kurang mahir dalam ilmu bela diri dan lebih bertekun pada ilmu agama.
―Seperti yang kalian semua ketahui, dengan tujuan untuk mempersingkat waktu, juga mengurangi terjadinya bentrokan antar saudara sendiri. Kami dari pihak Shaolin, secara sepihak telah mengadakan satu ujian bagi mereka yang ingin datang ke kaki Gunung Songshan ini untuk maju sebagai calon Wulin Mengzhu. Dari sekian banyak orang, telah lulus 9 orang.‖
1867
―8 orang dari mereka bisa saudara sekalian lihat di atas panggun ini. Sedangkan orang ke-9 telah ditunggu-tunggu kedatangannya dan belum juga muncul sampai sekarang. Keberadaannya memang misterius dan sedikit mengkhawatirkan, karena ke-18 orang bhiksu yang kami utus untuk menguji tidak juga kembali. Demikian juga beberapa orang saudara yang pergi untuk memeriksa keberadaan mereka.‖
― Apakah ada orang ke-9 itu, ataukah yang terjadi adalah satu serangan dari pihak luar, tidak dapat kami katakan. Namun pemilihan Wulin Mengzhu ini, tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Apabila memang ada pihak-pihak yang hendak mengganggu, biarlah mereka datang, kami enam perguruan besar, sebagai penyelenggara pemilihan Wulin Mengzhu ini akan menjadi penanggung jawab atas berjalannya acara ini.‖, ujar Bhiksu Khongzhen menjelaskan keadaan terakhir, tidak ada yang dia tutupi, tidak pula dengan hilangnya 18 orang anak murid dari Shaolin.
Bagi beberapa orang ketua perguruan besar, mengakui hal seperti itu bisa dipandang sebagai suatu kotoran yang mencoreng kebesaran perguruan mereka. Tapi tidak bagi Bhiksu Khongzhen, kalah atau menang, menurutnya wajar saja.
1868
Bila ada orang yang mengalahkan ilmu perguruan Shaolin, hal itu tidak membuat mereka malu, yang memalukan adalah, apabila ada anak murid perguruan Shaolin yang melanggar hukum Buddha. Sikap yang hampir sama ada pula pada diri Pendeta Chongxan, ini juga menjadi salah satu alasan mengapa sebelum Ren Zuocan mengadakan pertemuan 5 tahunan, Wudang dan Shaolin dianggap sudah meredup bintangnya. Selama kepemimpinan dua orang itu, sudah terjadi beberapa kali berita orang mengalahkan anak murid perguruan Shaolin dan Wudang. Bahkan ada yang berani menantang ke perguruan mereka dan kedua orang ketua perguruan ini tidak sedikitpun turun tangan. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk mengakui kelebihan orang. Betapa malu mereka yang dulunya membanggakan diri, saat kedua orang ketua itu akhirnya terpaksa menunjukkan kelebihannya, demi mempertahankan nama baik dunia persilatan di daratan.
Suasana yang tadinya senyap, mulai ramai kembali setelah mereka mendengar penjelasan dari Bhiksu Khongzhen. Bhiksu Khongzhen sendiri berdiri dengan tenang, membiarkan mereka semua yang ada di sana, mencerna dahulu berita yang baru saja dia sampaikan. Perlahan-lahan suasana kembali tenang, setelah hilang rasa terkejut mereka dan puas membicarakan
1869
berita yang baru mereka dengar, satu per satu, perhatian setiap orang kembali diarahkan pada Bhiksu Khongzhen. Menanti suara riuh ramai itu mulai surut, Bhiksu Khongzhen kembali membuka mulut.
―Dengan demikian untuk sementara ini, orang ke-9 kita lupakan dan kita anggap ada 8 orang calon Wulin Mengzhu. Nama besar mereka ber-delapan, luasnya pengaruh dan prestasi yang pernah mereka capai, setiap orang di sini tentu sudah pernah mendengarnya. Di antara mereka ber-delapan, bisa dikatakan tidak ada yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.‖
―Setelah membicarakan dengan saudara-saudara yang lain, kami berkesimpulan, tinggal satu jalan untuk menentukan siapa yang akan menjadi Wulin Mengzhu…‖, sampai di sini Bhiksu Khongzhen berhenti sejenak.
―… Yaitu, dengan adu kepandaian.‖, demikian Bhiksu Khongzhen menyelesaikan ucapannya dan sekali lagi suasana pun pecah dengan riuh rendah suara orang yang menyaksikan.
Maklum saja, mereka yang datang untuk menyaksikan, memang sudah menunggu-nunggu untuk melihat keramaian. Termasuk mereka yang datang untuk bersumpah setia pada
1870
Wulin Mengzhu yang baru, mereka ini pun mengharapkan orang dengan ilmu tertinggi untuk menjadi Wulin Mengzhu dan hanya satu cara yang paling tepat untuk menentukannya adalah adu kepandaian. Adu kepalan, adu jotos, adu pedang, adu kecerdikan atau apapun itu, pada intinya, yang terkuatlah yang menang. Dunia persilatan sudah berjalan ratusan tahun, namun satu hal ini tidaklah berubah, bukan benar dan salah yang menjadi tolok ukur utama, namun kuat dan lemah. Menyaksikan hal ini diam-diam Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan menghela nafas. Zhong Weixia yang mendengar helaan nafas mereka hanya tersenyum sinis. Bhiksuni Huan Feng yang sama juga menekuni jalan keagamaan, lebih sepaham dengan dua orang tersebut dan diam-diam merenung. Xun Siaoma yang bisa mengerti namun tidak sepenuhnya sepaham hanya menundukkan kepala saja. Guang Yong Kwang yang lebih sepaham dengan Zhong Weixia, namun tidak berani untuk menunjukkannya secara terang-terangan, menjaga raut mukanya tetap dingin.
Sikap semua orang ini tidak luput dari mata-mata yang awas, setidaknya 8 orang calon Wulin Mengzhu bisa melihatnya dan cukup peka dan tajam panca indera dan rasa hatinya untuk menangkap gejolak hati masing-masing orang. Diam-diam
1871
mereka pun sudah mulai membuat perhitungan bagi dirinya sendiri.
Saat suasana kembali mereda, Bhiksu Khongzhen tiba-tiba memberikan satu pengumuman yang cukup menggemparkan, ―Sebelum pertandingan antara satu calon dengan calon yang lain dimulai. Kami dari pihak Perguruan Shaolin ingin memberikan satu pengumuman. Bahwasannya, hasil dari pertandingan ini tidak menentukan pendirian Shaolin. Sejak awal kami tidak menyetujui diadakannya pemilihan Wulin Mengzhu, terlebih jika pilihan itu didasarkan pada kekuatan. Namun karena keinginan dari pihak banyak, hal ini tidak mungkin dihindarkan lagi.‖
―Bagaimana pun juga Perguruan Shaolin tidak ingin melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya, sehingga kami berkeputusan akan bersumpah setia pada Wulin Mengzhu yang baru, hanya bila orang tersebut sesuai dengan keyakinan hati nurani kami. Bila hasil dari adu kepandaian ini, tidak sesuai dengan apa yang kami yakini, dengan terpaksa kami menolak untuk bersumpah setia.‖ , ujar Bhiksu Khongzhen dengan tegas.
1872
Suasana yang baru saja mereda pun jadi kembali gempar, bagaimanapun juga kedudukan seorang Wulin Mengzhu menjadi kedudukan yang istimewa, karena kedudukan tersebut menjamin pemegangnya sebagai pemimpin dari segenap tokoh dalam dunia persilatan. Jika seseorang memegang gelar tersebut, namun ada tokoh-tokoh dunia persilatan yang menolak untuk tunduk pada perintahnya, maka apa artinya gelaran tersebut? Biasanya jika ada yang membangkang pada perintah seorang Wulin Mengzhu, itu sama artinya tokoh tersebut harus menghadapi segenap kekuatan dunia persilatan yang berdiri di belakang sosok Wulin Mengzhu, adanya resiko ini saja sudah membuat setiap orang berpikir ribuan kali untuk membangkang pada perintah seorang Wulin Mengzhu dan pada akhirnya seluruh tokoh akan tunduk di bawah perintahnya. Tapi jika sekarang yang menyatakan diri tidak tunduk pada Wulin Mengzhu tersebut adalah sebuah perguruan sebesar Shaolin, maka apa yang akan terjadi?
Jika Wulin Mengzhu yang terpilih berkehendak agar Shaolin tunduk pada dirinya, bukankah itu artinya banjir darah antara saudara-saudara sendiri?
Pernyataan Bhiksu Khongzhen itu begitu pentingnya, hingga seseorang di antara mereka yang duduk di tempat kehormatan
1873
tiba-tiba berdiri dan bertanya dengan lantang. Suaranya menggaung mengatasi riuhnya orang berbicara dan berdebat, menandakan ilmu tenaga dalamnya tidaklah rendah.
Itulah Bai Chungho Ketua Partai Kaypang, ―Jika boleh, aku pengemis yang rendah ini ingin bertanya pada sekalian ketua enam perguruan besar.‖
Belum melihat siapa yang berbicara, baru mendengar gaung suaranya, setiap orang sudah menahan diri untuk berbicara, terlebih ketika mereka melihat siapa yang berbicara. Setiap orang memilih untuk menutup mulut dan menyiapkan telinga.
―Ah, kiranya Saudara Bai Chungho, tentu saja silahkan bertanya.‖, ujar Bhiksu Khongzhen dengan ramah.
―Jika pendirian Shaolin sudah teguh, untuk memiliki pandangannya sendiri mengenai pimpinan yang diinginkan. Bagaimana dengan pendirian 5 perguruan yang lain? Bagaimana jika pada akhirnya dia yang memenangkan adu kepandaian ini tidak sesuai dengan pilihan Shaolin, apakah tidak ada kekhawatiran, bakal terjadi bentrokan antara Shaolin dengan pihak-pihak lain yang memilin untuk mendukung Wulin Mengzhu?‖, tanya Bai Chungho.
1874
Banyak orang ikut menganggukkan kepala dan menatap Bhiksu Khongzhen serta 5 ketua perguruan besar yang lain. Pertanyaan Bai Chungho cukup mewakili kegalauan hati mereka. Apa gunanya memilih seorang Wulin Mengzhu jika kemudian terjadi bentrokan antara mereka yang mendukung Wulin Mengzhu tersebut, dengan mereka yang tidak mendukung Wulin Mengzhu? Jika Shaolin menolak untuk bersumpah setia, bisa dipastikan akan ada banyak tokoh yang ikut berdiri, mengikuti apa yang dilakukan oleh perguruan Shaolin.
Bhiksu Khongzhen tidak segera menjawab pertanyaan Bai Chungho, melainkan dia menengok ke belakang, ke arah sahabatnya Pendeta Chongxan. Pendeta Chongxan pun maklum apa maksud hati Bhiksu Khongzhen, dia bangkit berdiri lalu berjalan ke sisi Bhiksu Khongzhen, kemudian dengan suara yang lemah lembut namun berwibawa dia menjawab.
―Pendirian Saudara-saudara dari Shaolin sudah disampaikan kepada 5 perguruan yang lain, jauh-jauh hari sebelum kami mengambil keputusan untuk mengadakan pemilihan Wulin Mengzhu ini.‖, ujar Pendeta Chongxan membuka penjelasannya.
1875
―Meskipun kami berbeda pandangan namun kami bisa memahami sepenuh hati, alasan di balik keputusan itu. Berkenaan dengan dukungan atas Wulin Mengzhu, 5 perguruan yang lain memutuskan untuk tetap mendukung Wulin Mengzhu yang terpilih dalam pemilihan ini.‖
―Berkenaan dengan sikap dari perguruan Shaolin, 5 perguruan menyatakan tidak akan menghalangi keputusan mereka. Dalam pembicaraan kami, Shaolin sendiri telah menyatakan bahwa dirinya tidak akan berdiri menentang keputusan-keputusan dari Wulin Mengzhu, apabila keputusan itu dinilai tidak merugikan negara dan rakyat. Dan hal ini jelas tidak bertentangan dengan tujuan kita semua untuk memilih seorang Wulin Mengzhu. Kita memilih seorang Wulin Mengzhu karena kita ingin munculnya satu pemimpin yang menyatukan kita melawan musuh dari luar. Oleh sebab itu, kami dari 5 perguruan besar, menerima sikap Shaolin dan yakin bahwa keputusan ini tidak akan menimbulkan bentrokan antar saudara sendiri.‖, ujar PendetaChongxan menjelaskan.
Sebagian orang yang mendengarkan mengangguk lega, tapi ada pula yang menggelengkan kepala dengan hati kurang puas. Memang jika memandang setiap orang sama baiknya dengan seorang nabi, ucapan Pendeta Chongxan itu bisa
1876
diterima. Tapi kenyataannya bukan hanya sedikit saja orang yang memiliki niat baik, bahkan menurut pandangan mereka, setiap orang menyembunyikan maksud hatinya sendiri. Dalam pemilihan Wulin Mengzhu ini, siapa yang mengajukan diri, 9 dari 10 orang tentulah maju karena memiliki ambisi pribadi. Menjadi raja di atas segenap kekuatan dunia persilatan, adalah kekuasaan yang besar. Secara perorangan ilmu bela diri dari tokoh-tokoh persilatan tingkat menengah ke atas yang ada, bisa disetarakan dengan ratusan tentara kerajaan. Jika anak murid dan bawahan mereka dihitung, jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu bahkan mendekati seratus ribu orang. Kekuatan itu bukanlah kekuatan yang kecil, bala tentara yang tersimpan di tiap-tiap propinsi pun tidak mencapai jumlah tersebut. Hingga sulit dibayangkan seseorang maju untuk menjadi calon Wulin Mengzhu tanpa memiliki ambisi untuk menggunakan kekuatan yang besar tersebut.
Di lain pihak, keputusan Shaolin justru bisa menjadi pengimbang keadaan, jika benar-benar terjadi, Wulin Mengzhu yang terpilih itu menggunakan kekuasaannya untuk ambisi pribadi dan bukan untuk menghadapi kekuatan Ren Zuocan, pemimpin dari Partai Matahari dan Bulan. Dengan demikian, mendengar penjelasan Pendeta Chongxan, terjadilah diskusi
1877
dan perdebatan yang sengit di antara para pendekar yang datang untuk melihat pemilihan Wulin Mengzhu ini.
Ada yang menyesali keputusan Shaolin yang seakan-akan membuat kekuatan mereka terpecah belah, bahkan mengundang resiko terjadinya bentrokan di antara tubuh sendiri. Tapi ada pula yang memuji kebijaksanaan Bhiksu Khongzhen yang mampu melihat jauh ke depan dan mengambil langkah-langkah pencegahan. Ada pula yang menduga-duga, mengapa Pendeta Chongxan yang bersahabat dekat dengan Bhiksu Khongzhen tidak mengambil langkah yang sama, mengapa justru berdiri di pihak yang berlawanan? Macam-macam pendapat dan dugaan ini pun jadi ramai diperdebatkan.
Di saat orang ramai berdebat itu, kembali Bai Chungo mengangkat suara, ―Bhiksu Khongzhen, maaf jika aku ingin bertanya sekali lagi. Jika benar demikian keputusan dari 6 perguruan besar, maka aku pun ingin tahu, dari 8 calon Wulin Mengzhu yang ada saat ini, apakah ada satu atau dua orang yang sesuai dengan pilihan dari pihak Shaolin? Jika ada maka siapakah calon-calon tersebut?‖
Sekali lagi banyak orang mengangguk setuju dengan pertanyaan Bai Chungho itu. Jawaban Bhiksu Khongzhen tentu
1878
saja sangat berpengaruh, jika dari ke-delapan calon tidak seorang pun sesuai dengan pilihan hati perguruan Shaolin, bukankah artinya terpecahnya dunia persilatan daratan menjadi dua kelompok besar itu pasti terjadi? Sebaliknya jika ada yang disetujui oleh Shaolin, berarti masih ada harapan. Bahkan ada yang berpendapat, jika memang Shaolin sudah setuju dengan satu atau lebih calon, mengapa tidak dicoret saja mereka yang berada di luar pilihan Shaolin? Dengan begitu bukankah perpecahan sudah pasti tidak akan terjadi?
Karena Bhiksu Khongzhen yang ditanya maka Bhiksu Khongzhen pula yang menjawab, ―Saudara Bai Chungho, sebenarnya di antara ke delapan pahlawan di sini, sudah tentu semuanya adalah orang-orang pilihan dan pantas untuk menduduki kedudukan Wulin Mengzhu tersebut. Bila ada seorang atau dua yang lebih sesuai dalam hati kami, kami pun tidak bisa menyebutkannya. Jika sampai terjadi demikian, bukankah akan timbul ketidak adilan?‖
Banyak orang mengangguk setuju, terutama para pendukung calon Wulin Mengzhu yang merasa Shaolin tidak bakalan menyetujui orang yang mereka dukung itu. Ramainya suara di bawah,tidak diimbangi dengan mereka yang di atas panggung. Bagi mereka yang di atas panggung, menyimpan perhitungan
1879
sendiri dan menyerap sebanyak mungkin reaksi tiap-tiap orang lebih penting.
Bai Chungho pun berkata kembali, ―Bhiksu Khongzhen, daripada sesama saudara terpecah menjadi dua golongan. Jika memang ada satu atau dua orang yang sesuai dengan pilihan dari perguruan Shaolin, apakah tidak lebih baik Bhiksu Khongzhen utarakan saja siapa-siapa orang itu. Biarlah mereka yang tidak disebutkan namanya mengundurkan diri dengan suka rela demi kebaikan bersama.‖
Pada saat Bai Chungho selesai berkata-kata, tiba-tiba Ding Tao bangkit berdiri, memberi hormat pada Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan serta semua yang hadir di atas panggung, dan berkata, ―Tetua sekalian, Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan, Tetua Xun Siaoma dan saudara-saudara sekalian ketua, ijinkanlah siauwtee berbiacara.‖
Bangkitnya Ding Tao yang tiba-tiba itu membuat perhatian setiap orang dengan cepat tertuju pada pemuda itu.
Setelah memberi hormat, Ding Tao pun menghadap ke arah Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan serta berkata, ―Tetua berdua dan saudara sekalian, kuharap usulan Tetua Bai
1880
Chungho itu sebaiknya dipertimbangkan baik-baik. Jika memang demi bersatunya dunia persilatan, biarlah aku jadi orang pertama yang mundur dari pencalonan ini. Atau yang lebih baik lagi, mengapa tidak Bhiksu Khongzhen atau Pendeta Chongxan saja yang menduduki kedudukan ini? Siauwtee yang rendah, berjanji dengan sepenuh hati akan mendukung kepemimpinan kalian berdua. Sesungguhnya berhadapan dengan sekalian ketua dan tetua, siauwtee merasa diri sangat kecil dan tidak pantas. Bukankah di sini sudah ada Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, siapa yang tidak mengenal reputasi mereka? Apa perlunya lagi diadakan pemilihan ini? Bukankah pemimpin yang tepat sudah ada di sini?‖
Betapa terkejutnya banyak orang ketika mendengar perkataan Ding Tao tersebut, termasuk para pengikutnya yang berdiri di belakang pemuda ini. Bagaimana bisa pemuda itu tiba-tiba bangkit berdiri dan berkata-kata demikian? Apakah dia sudah lupa dengan perjuangan sekalian rekan-rekannya untuk membawa dia sampai di tempat ini?
Perlu diketahui, sejak mulai duduk di atas panggung tersebut, Ding Tao sudah mulai kambuh penyakit rendah dirinya. Bagaimana tidak kambuh, jika di atas panggung yang sama duduk pula tokoh-tokoh legendaris seperti Bhiksu besar
1881
Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Apalagi ketika dia membayangkan, bahwa kedudukan yang dia incar, adalah kedudukan yang membuat kedua tokoh besar itu harus tunduk pula pada dirinya. Apakah itu bukan suatu kekurang ajaran yang keterlaluan? Sebelumnya hal ini tidak pernah terpikirkan oleh pemuda itu. Dengan kedudukan Wulin Mengzhu dia berharap bisa menyatukan dunia persilatan dan menghadapi ancaman dari Ren Zuocan. Tapi sekarang ketika di hadapannya hadir dua tokoh besar itu, tiba-tiba saja pemuda itu merasa dirinya sungguh kecil di hadapan mereka berdua. Segala percakapannya dengan rekan-rekannya di masa lalu mengenai perebutan kursi Wulin Mengzhu, hilang lenyap tak berbekas. Pemuda itu duduk di kursinya dengan tidak nyaman, merasa sudah terlampau jauh meninggikan dirinya, di hadapan dua orang tokoh besar.
Pergolakan hati pemuda ini, tentu saja tidak ada seorang pun yang tahu. Pada saat Bhiksu Khongzhen maju dan menyatakan keputusan perguruan Shaolin, maka dalam hati pemuda itu bersorak kecil dan berharap Pendeta Chongxan mengambil sikap serupa. Tapi pertanyaan-pertanyaan Bai Chungho, membuka pikirannya terhadap kemungkinan dan resiko yang muncul akibat keputusan Bhiksu Khongzhen dan Shaolin.
1882
Pemuda itu pun kembali menjadi risau perasaannya. Tapi kerisauannya itu seperti mendapatkan jawaban ketika Bai Chungho mengucapkan pernyataannya yang terakhir. Begitu girangnya dia, merasa bahwa Bai Chungho sudah membukakan jalan dari persoalan yang dia hadapi, sehingga dengan serta merta pemuda itu pun bangkit berdiri untuk menyatakan perasaannya.
Ding Tao baru saja duduk, ketika Ximen Lisi ganti bangkit berdiri dan memberikan hormat ke segenap penjuru.
Ximen Lisi dengan suara yang lembut yang sesuai benar dengan wajah tampannya berkata, ―Perkataan Saudara Ketua Ding Tao ini sungguh tepat, siauwtee pun ingin mengikuti teladannya yang baik. Biarlah siauwtee mengundurkan diri dari pencalonan ini, jika perguruan Shaolin merasa tidak suka apabila siauwtee menjadi Wulin Mengzhu, dengan demikian persatuan di antara kita bisa tetap terjaga.‖
Belum sempat Ximen Lisi duduk kembali di tempatnya Bai Shixian sudah bangkit berdiri, orang ini perawakannya tinggi besar, wajahnya lebar dan suaranya menggelegar, ―Ucapan saudara cilik tadi sangat tepat, apa perlunya diadakan pemilihan Wulin Mengzhu lagi? Bukankah sudah ada Bhiksu
1883
Khongzhen dari Shaolin dan Pendeta Chongxan dari Wudang yang pantas untuk menjadi pimpinan kita semua? Jika salah seorang dari mereka mau mengajukan diri, maka aku Bai Shixian akan mendukung mereka dengan sepenuh hati. Siapa yang tidak setuju, boleh berhadapan dengan dua kepalanku ini!‖
Merah wajah beberapa orang calon Wulin Mengzhu yang lain mendengar ucapan Bai Shixian. Watak orang ini rupanya sama kerasnya dengan tinjunya. Mudah panas dan tidak sabaran, main hantam jika bertemu dengan orang yang tidak sesuai dengan dirinya. Lima orang calon Wulin Mengzhu yang lain jadi serba salah, dalam hati memaki-maki tiga orang calon Wulin Mengzhu yang bangkit dan berbicara. Ucapan ketiga orang calon Wulin Mengzhu itu sendiri mengundang berbagai macam perasaan dan dugaan dari tiap-tiap orang yang mendengarnya. Ada yang tergerak dengan perkataan mereka yang tidak mementingkan diri sendiri. Di pihak lain ada yang melihatnya sebagai satu kecerdikan dalam menanggapi situasi. Bagi lima calon lain yang mereka memaki-maki kelicinan lawan.
Kenapa mereka menganggapnya sebagai satu kelicinan? Licin karena mereka dengan sengaja menampilkan satu peranan untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang
1884
maju sebagai calon demi kepentingan bersama dan bukan demi kepentingan pribadi. Dalam benak mereka yang berpikiran demikian, 8 orang calon itu seluruhnya tentu maju demi kepentingan pribadi. Jika ada seorang yang menyarankan Bhiksu Khongzhen dan 5 orang ketua perguruan besar yang lain untuk mengikuti saran Bai Chungho, tentu akan ada 7 orang lain yang menolaknya. Dengan demikian, usulan Bai Chungho itu dengan sendirinya akan gagal, sementara yang maju dan menyatakan setuju pada usulan Bai Chungho akan mendapatkan nama baik, tanpa harus melepaskan ambisinya untuk merajai dunia persilatan. Ximen Lisi sendiri termasuk orang yang berpikiran demikian, tapi pikirannya justru bekerja lebih cepat dibandingkan 6 orang calon Wulin Mengzhu yang lain.
Begitu Ximen Lisi ―menyadari kecerdikan‖ Ding Tao, dia pun cepat berpikir, kalaupun ada 2 orang calon Wulin Mengzhu yang mendukung usulan Bai Chungho, masih akan ada 6 orang calon Wulin Mengzhu yang menolaknya. Sebelum ada yang sempat sampai pada pemikiran dengan demikian, maka dia pun secepatnya mengambil keuntungan.
Bagaimana dengan Bai Shixian? Banyak orang memandang Bai Shixian sebagai pendekar angin-anginan, mudah tergerak
1885
dan tidak memiliki prinsip yang teguh. Sulit dimengerti mengapa dia berbuat demikian atau demikian. Karena mendengar segerombolan penyamun menganiaya sepasang pengantin baru, dia pun berangkat untuk menghajar mereka semua, padahal kenal pun tidak. Di lain hari dia menghajar pula seorang pemilik rumah makan, hanya gara-gara pemilik rumah makan itu memandanginya. Dibilang lurus tidak, sesat pun tidak, sikap dan perbuatan Bai Shixian sulit dimengerti orang. Namun secara keseluruhan mereka memandang Bai Shixian sebagai orang yang jujur dan terbuka. Kemungkinan besar dia ikut berdiri dan mendukung Ding Tao serta Ximen Lisi karena tergerak hatinya oleh ucapan mereka berdua. Ada pun dia menjadi orang ketiga yang menyatakan persetujuannya, adalah satu kebetulan. Setelah Bai Shixian, calon Wulin Mengzhu yang lain tidak berani mengikuti apa yang dilakukan oleh Ximen Lisi dan Bai Shixian. Jika ada seorang lagi yang mendukung, bukankah jadi 4 suara melawan 4 suara, bisa-bisa Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan benar-benar mengubah pendirian mereka. Lagipula setelah 3 orang memberikan suara, kalaupun mereka ikut berdiri dan memberikan suara, tentu nilainya sudah jauh berbeda. Nilai yang tertinggi tentu bagi yang berdiri pertama kali, semakin lama nilainya semakin rendah.
1886
Tinggal ke 5 orang calon Wulin Mengzhu yang tidak cukup cepat untuk angkat bicara, berdiam diri dengan perasaan serba salah dan wajah yang tidak enak untuk dilihat.
Sementara di bawah panggung suara orang bergumam sudah seperti sekumpulan lebah yang mendengung. Perdebatan antara mereka yang menyukai Ding Tao, Ximen Lisi dan Bai Shixian dengan mereka yang menganggap perbuatan mereka tidak lebih dari sebuah peran untuk memenangkan hati orang lain.
Beruntung mereka tidak perlu berada dalamkeadaan serba salah terlampau lama. Bhiksu Khongzhen dengan cepat mengatasi keadaan. Bhiksu tua itu mengangkat tangannya.
―Harap tenang‖, ujar Bhiksu tua itu, suara yang disertai pengerahan tenaga dalam, mampu menggetarkan hati setiap orang dan membuat suasana menjadi tenang.
Setelah semua orang tenang, baru Bhiksu Khongzhen melanjutkan, ―Tentang pemilihan Wuling Mengzhu ini dan pendirian Shaolin, sudah dibicarakan panjang lebar sebelum akhirnya diambil satu keputusan. Tentu saja, apa yang dinyatakan oleh Ketua Bai Chungho, Ketua Ding Tao, Saudara
1887
Ximen Lisi dan Saudara Bai Shixian, adalah sesuatu yang baik. Namun yang baik itu belum tentu bisa dijalankan tanpa adanya kesalah pahaman dan pertentangan pendapat dengan semua pihak.‖
―Setelah memikirkan hal ini secara mendalam, memang rasanya tidak ada jalan lain kecuali lewat adu kepandaian. Bagaimanapun juga yang hendak dipilih adalah pemimpin bagi dunia persilatan. Jika dipilih mengikuti perasaan satu orang atau satu perguruan, bagaimana pun juga tentu akan mudah timbul kecurigaan atau perkataan-perkataan yang tidak enak didengar, yang dengan mudah bisa menyulut pertikaian di antara saudara sendiri. Beda bila pemilihan ini didasarkan pada adu kepandaian yang adil dan disaksikan oleh kita semua.‖, ujar Bhiksu Khongzhen menjelaskan.
Penjelasan ini nyata membuat banyak orang merasa puas, lepas dari kenyataan bahwa Shaolin sudah menyatakan diri akan menolak calon-calon tertentu, pun seandainya apabila mereka berhasil menunjukkan kelebihan mereka dibandingkan calon-calon yang lain. Banyak orang menunggu Bai Chungho untuk kembali bertanya atau mengajukan keberatan, namun Ketua dari Partai Kaypang itu memilih diam setelah mendengar penjelasan Bhiksu Khongzhen.
1888
Setelah menunggu beberapa lama tidak ada yang mengajukan keberatan lebih lanjut, Bhiksu Khongzhen pun berkata, ―Baiklah, kukira semua yang hadir di sini bisa menerima tata cara yang hendak kita pakai untuk menentukan siapa yang pantas menjadi Wulin Mengzhu. Jika demikian, aku minta tiap-tiap calon Wulin Mengzhu memperhatikan medali giok masing-masing. Di atas medali tersebut, telah tertulis angka-angka, seluruhnya ada 64 medali giok yang disiapkan. 9 tidak pernah kembali, 8 di antara 9 itu ada di tangan kalian. Berdasarkan angka yang tertera di medali giok akan kita tentukan bagaimana pertandingan ini dilaksanakan, siapa akan melawan siapa, sampai pada akhirnya tersisa 1 orang pemenang.‖
Masing-masing calon pun mulai melihat medali giok yang mereka pegang. Beberapa calon yang lebih teliti sudah terlebih dahulu memeriksa medali giok yang mereka pegang, jauh-jauh hari dan sudah tahu angka yang tertera di sana. Satu per satu mereka menyampaikan angka pada medali giok mereka, sementara Bhiksu Khongzhen dibantu seorang anak murid Shaolin mencatatnya dalam sebuah lembaran sutra. Di atas lembaran itu sudah tergambar peta kompetisi dalam pemilihan Wulin Mengzhu ini, tinggal mengisikan nama sesuai dengan urutan angka yang tertera di medali giok masing-masing.
1889
Di saat kesibuka itu terjadi, Ma Songquan sedari tadi justru tidak memperhatikan kegiatan di sekelilingnya, matanya menatap tajam ke arah Guang Yong Kwang. Sejak Bhiksu Khongzhen mengatakan bahwa pemilihan Wulin Mengzhu akan dilakukan berdasarkan adu kepandaian, demi memenuhi rasa keadilan seluruh anggota dunia persilatan, Ma Songquan mengarahkan pandangan matanya ke arah Guang Yong Kwang. Lama kelamaan Guang Yong Kwang tentu saja sadar dengan tatapan tajam dari Ma Songquan. Ketua Partai Kunlun yang masih muda itu pun wajahnya mulai memerah, awalnya dia berusaha menatap balik, namun yang ditatap balik tidak juga menunjukkan perubahan apa-apa. Adu melotot ini terjadi cukup lama, namun perlahan-lahan tentu saja orang di sekeliling mereka mulai menyadari ada yang aneh dengan mereka berdua.
Bhiksuni Huan Feng yang ada di sebelah Guang Yong Kwang pun menggamit tangan anak muda itu dan bertanya, ―Ketua Guang Yong Kwang, apakah ada masalah?‖
Sadar dirinya mulai menjadi perhatian banyak orang Guang Yong Kwang pun jadi salah tingkah, cepat-cepat dia mengalihkan pandangan dan menggelengkan kepala, ―Ah tidak ada apa-apa. Benar tidak ada apa-apa.‖
1890
Demikian dia berujar, meyakinkan orang di kiri dan kanannya, saat dia melirik ke arah Ma Songquan, pendekar itu sudah mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Dengan santainya dia bercakap-cakap dengan Chu Linhe dan Wang Xiaho yang ada di dekatnya.
―Kakak, kenapa kau iseng memelototi bangsat itu?‖, tanya Chu Linhe pada Ma Songquan.
―Hemm… biar dia sedikit tahu rasa, seenaknya saja mau bermain-main dengan kita.‖, jawab Ma Songquan.
―Saudara Ma Songquan benar, melihat dia salah tingkah hatiku sedikit puas. Bayangkan saja, dari perkataan Bhiksu Khongzhen, sudah jelas mereka memutuskan untuk melakukan pemilihan Wulin Mengzhu lewat adu kepandaian. Tapi dia menyatroni partai kita dengan alasan untuk mencari dukungan, seakan-akan pemilhan dilakukan berdasarkan besarnya pengaruh tiap-tiap tokoh. Lebih lagi dia berani menjanjikan dukungannya untuk Ketua Ding Tao. Dukungan macam apa coba yang bisa dia berikan?‖, gerutu si tua Wang Xiaho.
―Jika dipikir memang rasanya tidak mungkin dia menyatroni tempat kita untuk mencari dukungan, kukira yang lebih tepat
1891
adalah dia ingin menyingkirkan saingan dari temannya si Lei Jianfeng itu.‖, sahut Tang Xiong setengah berbisik sambil melirik ke arah Lei Jianfeng yang duduk di ujung kiri deretan kursi, di seberang mereka.
―Hmm… tindakan yang merugikan Kunlun… Kalau Saudara Chou Liang justru berpendapat, bahwa orang yang menggerakkannya adalah otak di balik pembantaian di Wuling yang nyata mampu menggerakkan pula Ketua dari Hoasan.‖, gumam Li Yan Mao.
―Akhir-akhir ini aku justru berpikir sedikit berbeda dan dari tindakan pencegahan yang diambil oleh Saudara Chou Liang, kukira dia juga mencurigai hal yang sama‖, ujar Tang Xiong.
―Maksudmu bagaimana?‖, tanya Wang Xiaho.
―Itu… markas di Jiang Ling bisa dikatakan kosong dari orang-orang lama Partai Pedang Keadilan, bahkan keluarga Ketua Ding Tao juga disembunyikan. Bukankah Saudara Chou Liang mengkhawatirkan ada musuh di dalam?‖, tanya Tang Xiong.
―Memang beberapa gerakan orang-orang Kunlun sejak mereka gagal menyatroni kita cukup mencurigakan. Namun itu terjadi setelah penyerangan mereka, jadi bagaimana hal itu mengubah
1892
pemikiranmu tentang alasan serangan mereka?‖, tanya Li Yan Mao heran.
―Hmm… akhir-akhir ini aku mulai berpikir, bahwa serangan mereka terlalu tepat waktunya.‖, ujar Tang Xiong.
―Terlalu tepat?‖, sekali lagi Li Yan Mao bertanya.
Tapi kali ini Ma Songquan yang menjawab, ―Mereka datang kira-kira 3 minggu setelah Ketua Ding Tao mulai mengurung diri. Jika ada orang yang memberi kabar tentang hal itu, setidaknya akan memberi kabar setelah Ketua Ding Tao 2-3 hari mengurung diri. Dengan berjalan cepat dari Jiang Ling ke pusat Perguruan Kunlun kurang lebih makan waktu 7 hari, membuat rencana bisa makan waktu 1-2 hari, bagaimana pun resiko dari penyerangan itu cukup besar. Dari rombongan itu berangkat hingga sampai ke Jiang Ling, makan waktu 7-8 hari, ditambah waktu untuk memastikan berita 1-2 hari.‖
―Seandainya Saudara Ma Songquan dan Chu Linhe terlambat 1 hari saja atau Guang Yong Kwang lebih cepat 1 hari saja, hasilnya mungkin akan berbeda.‖, sambung Tang Xiong.
Lama mereka semua terdiam, membayangkan apa yang terjadi jika apa yang diaktakan Tang Xiong benar terjadi, tiba-tiba Li
1893
Yan Mao kemudian menghembuskan nafas panjang dan berujar, ―Bagus juga Saudara Chou Liang berhasil memonopoli penggunaan burung merpati sebagai pembawa pesan di sekitar kota-kota tempat kita menancapkan kekuasaan.‖
Chu Linhe tersenyum kecil dan berkata, ―Benar…, bukan saja menambah pemasukan kita dari orang-orang pemerintahan dan orang kaya yang ingin mengirimkan pesan memakai merpati. Tapi kita juga bisa mengawasi setiap pesan-pesan yang keluar masuk daerah kita. Lawan pun dipaksa untuk mengirimkan kabar dengan pengirim pesan yang lebih lambat dibandingkan memakai merpati.‖
Wang Xiaho tersenyum lebar, ―Aku ingat sewaktu Saudara Chou Liang baru saja berhasil mendapatkan persetujuan dari pejabat negara untuk mengatur lalu lintas pengiriman pesan dengan merpati pos. Hehe, beberapa orang nekat mengirimkan merpati-merpati pos mereka sendiri dan selama beberapa hari aku dan anak buahku setiap hari makan merpati panggang.‖
Tawa kecil pun menyebar di antara pengikut Ding Tao, hanya Ding Tao yang menghela nafas, meskipun dia juga ikut geli membayangkan Wang Xiaho yang berpesta panggang merpati. Tapi helaan nafas Ding Tao mengingatkan pengikutnya bahwa
1894
Ding Tao sebenarnya kurang setuju dengan tindakan yang diambil Chou Liang. Meskipun akhirnya dia menyerah, setelah Chou Liang mengajukan argumentasinya, dan terbukti memang monopoli iut menguntungkan mereka. Meskipun beberapa partai lain kemudian melakukan hal yang serupa dengan mereka, tapi dengan meluasnya pengaruh Partai Pedang Keadilan di bagian selatan, pada akhirnya bisa dikatakan seluruh cabang-cabang mereka bisa terhubung dengan baik lewat merpati pos, sementara lawan mereka jadi kesulitan untuk mengirimkan berita keluar dari wilayah mereka.
Pengikut Ding Tao pun terdiam beberapa lama sampai kemudian Tang Xiong kembali memecahkan kediaman mereka, ―Yang jadi pemikiran sekarang ini, jika memang ada kebocoran di Jiang Ling, lalu siapakah orangnya? Dan siapakah penghubungnya di luar?‖
―Sekarang tidak perlu dipikirkan lagi, kita sudah sampai di sini‖, jawab Wang Xiaho dengan tenang.
Untuk beberapa lama Tang Xiong memikirkan perkataan Wang Xiaho, akhirnya dia menganggukkan kepala. Untuk sementara ini hal itu harus dilupakan, daripada pikiran bercabang dan tidak
1895
ada satu pun pekerjaan yang selesai, lebih baik selesaikan saja satu per satu.
‗Lagipula bukankah masih ada Chou Liang yang memang khusus berurusan dengan hal-hal yang demikian?‘, pikir Tang Xiong dalam hati.
Perhatian mereka pun kembali kepada Bhiksu Khongzhen yang tengah mengumumkan urutan pertandingan.
Hasil dari undian adalah sebagai berikut: Di putaran pertama, Ding Tao akan melawan Bai Shixian; Shan Zhengqi akan melawan Tong Baidun; Lei Jianfeng akan melawan Deng Songyan; Ximen Lisi akan melawan Lu Jingyun. 4 pemenang dari putaran pertama akan saling bertanding dan dua pemenang dari putaran kedua akan bertarung untuk memperebutkan kursi Wulin Mengzhu. Sederhana saja, tidak ada yang terlalu rumit. Sederhana, bisa dimengerti dan bisa diterima semua orang.
Setelah urutan pertandingan dibacakan, maka panggung pun dikosongkan dan tinggal dua orang yang berdiri di sana. Di tengah panggung, Ding Tao dan Bai Shixian saling berhadapan. Bai Shixian bertubuh tinggi besar, biasanya dia
1896
selalu menatap mata lawannya dari ketinggian. Hari ini dia bertemu lawan yang sama tinggi dengan dirinya. Bedanya tubuh Ding Tao terlihat lebih padat dan lentur. Jika sekilas dilihat maka Ding Tao berhadapan dengan Bai Shixian, seperti sebatang pohon yang sudah tumbuh tinggi berhadapan dengan sebongkah batu raksasa. Sama tingginya, namun yang seorang mengesankan kecepatan, kelenturan dan keseimbangan, sedangkan yang seorang lagi, mengesankan kekuatan yang tak tergoyahkan.
Suasana berubah sunyi senyap begitu dua tokoh yang berada pada satu tingkatan yang sama itu, berdiri berhadapan.
Ding Tao yang pertama-tama merangkapkan tangan di depan dada dan menyapa lawan, ―Saudara Bai Shixian, senang bertemu, sudah lama siauwtee mendengar nama besar tinju petir Bai Shixian.‖
Bai Shixian menyeringai lebar dan balik menjawab sambil merangkapkan tangan di depan dada, ―Heehee.. nama Ketua Ding Tao pun sudah kudengar. Ketua Partai Pedang Keadilan dalam waktu kurang dari 1 tahun sudah merajai daerah selatan.‖
1897
―Ah… itu semua berkat kerja keras saudara-saudara yang lain.‖, jawab Ding Tao merendah.
―Ha ha ha …, kerendahan hati Ketua Ding Tao juga sudah kudengar, ternyata bukan hanya omong kosong. Entah bagaimana dengan ilmu pedang Ketua Ding Tao, apakah juga setinggi apa yang dikatakan orang. Aku bukan orang yang pandai bicara, lebih suka aku menggunakan kepalan tanganku. Nah mari kita mulai saja sekarang.‖, ujar Bai Shixian untuk kemudian dengan segera mengambil kuda-kuda dengan kedua tinju petirnya siap melontarkan serangan.
―Baiklah, apakah Saudara Bai Shixian tidak menggunakan senjata?‖, tanya Ding Tao ragu-ragu.
―Huhh! Bertahun-tahun yang kuandalkan adalah sepasang tinjuku ini, bagaimana mungkin sekarang aku menggunakan senjata. Kudengar kau seorang pendekar pedang, tidak usah ragu, cabut saja pedangmu dan aku dengan dua kepalanku ini‖, jawab Bai Shixian dengan gusar.
Ding Tao pun mengerutkan alisnya, memang ada benarnya jika seseorang sudah melatih tinjunya sekian puluh tahun, bisa dikatakan, menggunakan senjata justru akan mengurangi
1898
kedahsyatan serangannya. Di lain pihak, bagaimana pun juga besi tentu lebih keras dari otot dan tulang, pedang tentu lebih tajam dari kepalan, karena itu Ding Tao merasa ragu untuk mencabut pedangnya
―Tunggu apa lagi?!‖, tanya Bai Shixian dengan gusar.
―Silahkan Saudara Bai Shixian yang mulai lebih dahulu‖, jawab Ding Tao sambil mengambil kuda-kuda, namun pedang tidak juga dia cabut dari sarungnya.
―Hmph! Terserah apa katamu!‖, gerung Bai Shixian sambil melompat ke depan mengirimkan tinju petirnya.
Tinjunya benar-benar seperti petir, orang yang melihat besar tubuhnya seringkali terkejut oleh kecepatan serang Bai Shixian. Tubuhnya yang tinggi besar itu tiba-tiba terihat kabur oleh kecepatan geraknya yang sukar ditangkap oleh mata. Bahkan oleh mata para pendekar yang sudah terlatih untuk menangkap gerak cepat lawan yang ada di hadapannya. Lebih lagi bagi orang-orang biasa yang melihat di kejauhan, Bai Shixian terlihat seperti antara ada dan tidak ada. Dikatakan menghilang bukan menghilang, karena mata mereka masih menangkap sosok
1899
tubuhnya, namun otak mereka tidak dapat mencerna apakah Bai Shixian ada di sana atau di sana.
Dalam keadaan masih bergerak maju, tinjunya sudah bergerak memukul ke depan. Pergerakannya tepat benar, kapan dia maju menutup jarak antara dirinya dengan Ding Tao, kapan kakinya menghentak di lantai panggung, untuk kemudian kekuatan yang dibawa itu menggerakkan tubuh, mengalirkan tenaga dari kaki, panggul, bahu sampai pada kepalan tangannya yang melayang bagai petir menggelegar. Orang yang hanya pernah mendengar cerita akan Bai Shixian, jadi terbuka matanya. Kisah Bai Shixian menghabiskan satu gerombolan penyamun seorang diri, hanya berbekal dua kepalan tangannya memang sulit dipercaya.
Jika Bai Shixian menggunakan senjata mungkin masih bisa dimengerti, karena setiap orang yang jatuh tentu tidak akan bisa berdiri lagi. Tapi hanya dengan dua kepalannya saja, bagaimana dia bisa menghabiskan satu gerombolan penyamun? Yang jatuh masih ada kesempatan untuk bangkit karena rekannya akan membuat repot Bai Shixian sehingga dia tidak sempat memberikan pukulan kedua. Sehingga satu gerombolan itu akan jadi jumlah yang tak terbatas. Ada pula yang berpikir bahwa Bai Shixian menggunakan ilmu totok atau
1900
ilmu kuncian untuk mematahkan persendian lawan. Dengan demikian setiap kali ada yang jatuh oleh serangannya, tidak akan bangkit kembali untuk kedua kalinya. Atau jika tidak, gerombolan penyamun itu tentu segerombolan penyamun rendahan yang tidak mengerti ilmu bela diri.
Sekarang setelah melihat sendiri seperti apa tinju petir Bai Shixian, dengan sendirinya cerita itu jadi mudah untuk dipercaya. Tinju petir Bai Shixian terlontar dalam hitungan kurang dari sekejap mata. Tenaga tinju petirnya tidak berada di bawah kecepatannya, orang yang terkena tinju petir itu sudah pasti tidak akan sanggup berdiri lagi.
Tinju itu bergerak dengan cepat, kurang dari sekejapan mata tinju itu sudah sampai di depan dada Ding Tao. Jadi apakah nasib Ding Tao sama dengan nasib segerombolan penyamun itu? Terlempar jatuh dan tidak bangkit lagi oleh satu pukulan saja?
Sudah tentu tidak, Ding Tao toh tidak selemah atau selamban gerombolan penyamun itu, jika tidak mana mungkin dia bisa mengalahkan Pan Jun dengan pedang kilatnya?
1901
Jika tinju petir Bai Shixian tidak bisa menjatuhkan Ding Tao, apakah itu artinya kali ini Bai Shixian yang jatuh tersungkur atau setidaknya dipukul mundur dalam keadaan terluka? Jika tinju petir senjata andalannya bisa dihindari, bukankah ganti kedudukan Bai Shixian yang terancam? Tunggu dulu, jika semudah itu mengalahkan Bai Shixian, sejak dulu tentu sudah banyak orang yang mengalahkannya.
Tinju petir Bai Shixian sungguh cepat. Bukan hanya cepat, tinju itu juga menyimpan banyak perubahan. Bukan hanya cepat dan menyimpan banyak perubahan saja, tinju itu juga menyimpan kekuatan penghancur yang mengerikan. Jangankan Ding Tao yang menjadi sasaran, beberapa orang penonton yang duduk di barisan terdepan pun bisa merasakan hawa panas yang mengikuti tinju tersebut. Jadi apa yang terjadi dengan Ding Tao? Atau lebih tepatnya apa yang terjadi dengan dua orang yang sedang berhadapan itu?
Mata Ding Tao yang tajam membuat pemuda itu mampu melihat kerumitan tinju petir Bai Shixian yang terlihat sederhana. Perasaannya yang peka bisa melihat kerumitan yang tak tertangkap oleh matanya, mata hatinya merasakan kengerian maut yang membayang dari tinju petir Bai Shixian. Tinju itu sendiri datang dengan kecepatan kilat, tidak mungkin
1902
Ding Tao mampu meraba seluruh perubahan yang ada dan menentukan gerakan apa yang harus dia lakukan dalam waktu yang sesingkat itu. Dalam waktu yang singkat itu Ding Tao dipaksa untuk memutuskan cara terbaik untuk lolos dari serangan tinju Bai Shixian. Akankah dia menghindar? Jika menghindar, ke mana dia harus menghindar? Ataukah dia sebaiknya menangkis serangan Bai Shixian? Jika ditangkis, hendak ditangkis seperti apa? Tinju Bai Shixian ada dua, yang satu sedang menyerang, lalu tinju yang satunya lagi akan melakukan apa? Jika terlalu banyak berpikir, belum sempat bertindak tinju itu tentu sudah menghajar dadanya terlebih dahulu. Di sini pengalaman sangat berpengaruh, setidaknya Ding Tao sudah memiliki pengalaman bahwa berpikir terlalu panjang akan merugikan dalam pertandingan di mana semuanya berlangsung dalam hitungan kejapan mata.
Dalam waktu yang singkat itu, Ding Tao mengambil keputusan, sejak dari dia menangkap gerakan Bai Shixian sampai dia mengambil keputusan, jedanya sepersekian dari kecepatan tinju Bai Shixian yang kurang dari sekejapan mata. Gerakan pembelaan dirinya lebih merupakan reaksi yang dipicu oleh kengerian yang muncul dari tiju petir itu. Ding Tao pun bergerak mundur, sambil menjaga kedudukan tangan dan tubuh tetap
1903
seperti semula. Tujuannya hanya dua, mengurangi kekuatan tinju yang datang dan memberi dia kesempatan untuk berpikir dan mengamati jurus serangan Bai Shixian sejenak lebih lama.
Di saat yang dirasa tepat Ding Tao pun mengerahkan tenaga, tangan kirinya menyilang di depan dada, dengan hawa murni disalurkan sepenuhnya untuk menahan serangan lawan. Tangan kanan bergerak pula menahan tangan kiri yang sudah disilangkan, selain memperkuat pertahanan, gagang pedang juga teracung ke arah lawan, siap melancarkan serangan bilamana dimungkinkan. Kakinya sendiri dibiarkan dalam keadaan melayang dan bukan dengan kuda-kuda tertancap kuat di tanah. Dalam sekejapan dua kekuatan saling berbenturan. Dalam sekejapan mata, Bai Shixian harus menentukan langkah apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Gagang pedang teracung ke arah kepalanya, Ding Tao yang tidak sempat atau tidak mau mencabut pedang dari sarungnya, memilih menggunakan gagang pedang yang terbuat dari baja untuk mengancam lawan. Apakah Bai Shixian berani mencoba meneruskan serangan kedua yang sudah disiapkan? Ataukah dia sebaiknya mundur dahulu dan merencanakan serangan kedua perlahan-lahan?
1904
Jika gerakan Bai Shixian yang menyerbu ke depan itu cepat, gerakan Ding Tao yang mundur ke belakang juga tidak kalah cepat. Jarak antara serangan Bai Shixian dimulai sampai benturan tenaga itu terjadi sepersekian saja lamanya.
Yang terlihat oleh penonton adalah dua bayangan yang saling beradu untuk kemudian diam.
Ya. Diam.
Sesaat setelah benturan terjadi bukan hanya Bai Shixian yang dihadapkan pada pilihan-pilihan. Ding Tao pun dihadapkan pada pilihan-pilihan. Dia bisa menggunakan tenaga pukulan Bai Shixian untuk mendorong dirinya lebih jauh lagi ke belakang. Dia bisa pula menghentakkan kakinya ke bawah dan ganti mendorong Bai Shixian mundur, sembari pedangnya menyerang begitu ada jarak yang tepat di antara mereka berdua.
Atau bisa pula dia melakukan seperti apa yang dia lakukan sekarang.
Ding Tao memilih menggunakan tangannya sebagai peredam pukulan Bai Shixian, tanpa memanfaatkannya untuk melontarkan diri ke belakang, tidak pula balas mendorong ke
1905
depan. Keputusannya cukup tepat, seandainya dia melontarkan diri ke belakang, Bai Shixian sudah siap untuk menyusulkan tinju petir yang kedua. Seandainya dia mendorong Bai Shixian mundur, maka Bai Shixian sudah bersiap untuk menggunakan dorongan itu, untuk mendorong dirinya sendiri lebih jauh ke belakang. Tujuannya agar Ding Tao kehilangan momentumnya untuk menyerang dengan pedang, di saat yang sama Bai Shixian kembali mendapatkan jarak yang tepat untuk melontarkan tinju petirnya.
Tapi keputusan Bai Shixian yang selanjutnya tidak kalah pula tepatnya, begitu menyadari apa yang hendak dilakukan Ding Tao. Bai Shixian tidak ingin dirinya jatuh dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Jika Ding Tao tetap rapat dalam jarak yang sama, maka gagang pedang Ding Tao yang lebih unggul dari tinju petirnya. Karena untuk mencapai serangan puncak tinju petir dia justru membutuhkan jarak yang lebih panjang dibandingkan Ding Tao yang menggunakan senjata. Tinju petir adalah tinju yang menggunakan seluruh pegas dalam tubuh untuk melontarkan serangan terkuatnya, dimulai dari kaki menjejak, pergelangan kaki, lutut, panggul, pinggang, bahu, siku sampai ke pergelangan tangan, ditambah dengan kecepatan tubuh saat awal dia melontarkan tubuhnya
1906
memperpendek jarak dengan lawan. Dalam jarak dekat, justru tinju petir kehilangan puncak kekuatannya. Sementara serangan seperti apa yang akan digunakan Ding Tao dia belum bisa meraba karena Ding Tao belum menyerang. Yang pasti Ding Tao yang memegang senjata berada dalam keadaan yang lebih menguntungkan. Kerasnya gagang pedang yang dari baja itu sudah pasti lebih keras dari batok kepala Bai Shixian. Atau jika Ding Tao cukup kejam, bisa juga mengarah pada mata.
Di saat yang sekejap mata itu pula Bai Shixian mengambil keputusan untuk melontarkan seluruh tenaganya ke tinju yang sedang menyerang. Tidak ada tenaga yang disimpan untuk mengeluarkan tinju yang kedua. Benturan antara dia tenaga raksasa pun terjadi. Mereka yang berdiri di barisan terdepan masih bisa merasakan ledakan udara yang terjadi akibat benturan tersebut, p adahal mereka masih berjarak beberapa kaki dari dua orang jagoan itu.
Gerakan kedua orang itu seperti badai yang tiba-tiba mengamuk dan tiba-tiba berhenti. Mereka yang menyaksikan hatinya dibuat terbang dan tercekam. Terbang nyalinya saat melihat kecepatan dan dahsyatnya benturan. Tercekam karena saat yang diam ini, hanyalah sesaat sebelum badai mengamuk kembali.
1907
Dua orang itu berdiri berhadapan. Ding Tao berdiri tegak, sementara Bai Shixian berdiri dalam posisi tubuh jauh condong ke depan dengan tangan terulur lurus, menempel pada tangan kiri Ding Tao yang bersilang. Melihat kedudukan Bai Shixian yang terlalu condong ke depan, sementara Ding Tao masih berdiri dengan berimbang, jika dilihat di permukaannya saja, maka ini adalah saat yang paling tepat bagi Ding Tao untuk menyerang. Kenyataannya Ding Tao sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menyerang.
Begitu Bai Shixian memutuskan untuk mengerahkan seluruh tenaganya di tinju yang pertama, Ding Tao merasa seluruh tubuhnya dilanda hempasan gelombang air pasang dan dipaksa untu menggunakan segenap tenaganya untuk menahan. Jangankan menyisakan tenaga untuk balas menyerang, untuk menahan serangan pun Ding Tao sudah kewalahan. Itu sebabnya meskipun kedudukan Bai Shixian tampaknya kurang baik, Ding Tao tidak memiliki tenaga yang dia yakini cukup besar untuk menyerang Bai Shixian tanpa membahayakan diri sendiri.
Baik Ding Tao maupun Bai Shixian dipaksa untuk menghempaskan hampir seluruh tenaga mereka dalam serangan yang lamanya hanya sekejap mata itu. Sehingga
1908
untuk sesaat mereka pun seperti kehilangan tenaga untuk bergerak.
Terkejut juga Bai Shixian melihat tenaga simpanan Ding Tao, alis matanya naik ke atas dan memandangi pemuda itu dengan pandangan yang baru. Bai Shixian yang mengagung-agungkan sepasang kepalan tangannya, memandang pendekar lain yang menggunakan senjata sebagai jagoan yang setengah matang, karena mereka menyandarkan diri pada sebentuk senjata. Siapa sangka, ternyata ada juga pendekar pedang yang memiliki tenaga setara dengan dirinya. Tentu saja hal ini tidak tepat benar, karena sebelum berbenturan, Ding Tao terlebih dahulu menghindar ke belakang, sehingga tenaga Bai Shixian sudah susut beberapa bagian sebelum mereka mulai beradu tenaga.
Sebaliknya Ding Tao sendiri juga menatap kagum pada lawan yang ada di hadapannya. Tidak pernah terpikirkan olehnya ada manusia yang memiliki kekuatan keras sebesar ini. Jika dia beradu keras lawan keras sudah tentu dia akan terlempar ke belakang dan menderita kerugian. Sekarangpun saat dia memilih untuk menggunakan kelembutan untuk menahan serangan lawan, tangan kirinya yang beradu dengan tenaga lawan terasa nyeri dan pegal-pegal. Dalam satu gebrakan ini
1909
Ding Tao harus mengaku kalah satu pukulan. Untungnya Bai Shixian tidak tahu hal ini dan Ding Tao cukup cerdik pula untuk tidak memperlihatkan rasa nyeri yang dia rasakan.
Dua orang jagoan yang sedang bertarung itu, untuk sesaat lamanya saling berpandangan. Melihat pandang mata Ding Tao yang penuh kekaguman, Bai Shixian tiba-tiba merasa geli, begitu dia mendapat tenaga untuk melompat mundur raksasa ini pun tidak membuang waktu.
Bai Shixian pun melompat ke belakang sambil tertawa berkakakan, ―Bagus! Bagus! Tidak rugi dirimu jadi jagoan pedang yang menaklukkan 6 propinsi di bawah kekuasaanmu.‖
―Saudara Bai Shixian terlalu berlebihan‖, ucap Ding Tao merendah.
Namun Bai Shixian bukan hanya melompat ke belakang sembarangan, dia melompat untuk mendapatkan jarak yang tepat untuk menyerang kembali. Begitu kata-katanya selesai, dia pun kembali menggunakan tinju petirnya untuk menyerang. Tapi Ding Tao yang menjawab juga tidak kehilangan kewaspadaannya, sembari berbicara dia pun dengan gesit melompat menghindar. Kali ini Ding Tao sudah bisa meraba ke
1910
mana dia harus menghindar dan bagaimana dia harus membalas serangan lawan. Meskipun dia belum bisa menangkap seluruh perubahan yang ada dalam tinju petir Bai Shixian, tapi menghadapi jurus yang sama untuk kedua kalinya, Ding Tao tidak merasakan kengerian yang sama seperti saat menghadapi jurus itu untuk pertama kalinya. Bagaimana pun juga dia sudah sempat melihat dan merasakan satu kali jurus serangan lawan. Selain itu, tangan kirinya masih terasa nyeri dan dia tidak yakin bisa menghadang serangan Bai Shixian untuk kedua kalinya. Serangan Bai Shixian sendiri kali ini dilepaskan dengan sedikit persiapan, lebih mengutamakan kecepatan dan kejutan. Bai Shixian juga maklum bahwa Ding Tao sudah sempat merasakan tinju petirnya dan tidak berharap terlalu banyak bahwa Ding Tao akan termakan pukulannya. Dengan sendirinya dia menyiapkan pula tenaga untuk bertahan dan menyarangkan serangan susulan.
Kedua orang itu pun mulai saling menyerang dan bertahan dengan lebih hati-hati.
Belasan jurus pun dengan cepat berlalu, benturan dahsyat di saat awal pertarungan justru tidak terjadi untuk kedua kalinya. Baik Ding Tao maupun Bai Shixian masih tidak ingin berbenturan dengan segenap tenaga mereka, untuk kedua
1911
kalinya. Keduanya memilih bertarung dengan mengandalkan kecepatan dan kerumitan jurus-jurus mereka.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis Sedih Banget : PAB 10 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 06 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments