Cersil Stefanus : Pendekar Naga dan Harimau 1

AliAfif.Blogspot.Com -
Cersil Stefanus : Pendekar Naga dan Harimau 1
Cersil Stefanus : Pendekar Naga dan Harimau Tamat
Langsung saja disimak kisahnya namun ada iklan yang mau lewat dulu
-
jilid 1___________________
Awan mendung yang kelabu dan sarat dengan air hujan itu tergantung rendah di atas
sebuah padang luas di wilayah Hun-lam. Wilayah itu adalah wilayah yang paling selatan dari
Kemaharajaan Manchu yang luas itu, dan wilayah itu berbatasan dengan kerajaan-kerajaan
kecil Annam dan Birma. Angin bertiup kencang di padang ilalang itu, membawa hawa panas
yang lembab, menandakan bahwa tidak lama lagi hujan akan turun.
Dalam cuaca yang sama sekali tidak nyaman itu, ada tigapuluh orang lelaki
penunggang kuda yang semuanya bertubuh tegap dan berseragam prajurit-prajurit Kerajaan
Manchu.
Jaman itu memang jaman berkuasanya wangsa Manchu (Jing), wangsa yang
menggantikan wangsa Beng (Ming) yang runtuh tahun 1644 Masehi itu. Di antara masa
berkuasanya wangsa Beng dengan wangsa Manchu, sempat diselingi dengan sebuah
pemerintahan yang sangat pendek, yaitu pemerintahannya Li Cu-seng si pemberontak yang
menumbangkan wangsa Beng, namun kemudian dalam waktu kurang dari dua bulan
pemerintahan Li Cu-seng juga roboh karena diserang balatentara Manchu. Dengan demikian
dinastinya Li Cu-seng merupakan dinasti yang paling pendek umurnya dalam sejarah Cina.
Prajurit-prajurit Manchu yang tengah berpacu di tengah padang terpencil itu semuanya
memakai seragam ringkas warna hitam, dengan lengan baju yang bergaris-garis melintang
berwarna putih, dan pada dada mereka tersulamlah gambar seekor naga yang perkasa sedang
terbang di langit. Kepala mereka yang dikuncir itu tertutup dengan topi bulu binatang
berwarna hitam, dihiasi dengan benang-benang merah. Penampilan mereka nampak perkasa
dan tangguh. Merekalah prajurit-prajurit dari sebuah pasukan yang ternama, pasukan yang
bernama Hui-liong-kun (Pasukan Naga Terbang). Sebuah pasukan penggempur yang sangat
garang, pasukan penggempur Kerajaan Manchu yang paling ditakuti lawan. Pasukan itu
jarang sekali keluar dari ibukota Kerajaan di Pak-khia, namun jika mereka keluar dari Pakkhia
maka mereka tentu sedang memikul tugas penting.
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 2
Prajurit-prajurit itu memacu kuda-kuda mereka ke arah matahari tenggelam. Hari
sudah sore dan terancam pula oleh hujan lebat, namun prajurit-prajurit itu bergerak terus
pantang mundur. Baik jasmani maupun semangat mereka tidak menunjukkan adanya
kelelahan, mereka memang prajurit-prajurit gemblengan. Demi kehormatan negara dan
pasukan mereka, mereka siap menerjang bahaya yang bagaimanapun besarnya. Dan kali ini
tugas mereka ialah memburu sekelompok yang berbahayabagi Kerajaan Manchu.
Di antara prajurit-prajurit itu, ternyata ada seorang prajurit yang seragamnya agak
berbeda, agaknya ia bukan berasal dari kesatuan yang sama dengan ke dua puluh sembilan
orang rekannya. Tampangnyapun ternyata juga lain sendiri. Ia berkulit agak gelap dan
rahangnya lebar, itulah tampang khas orang-orang suku Biao (Meo), sebuah suku yang hidup
terpencil di daerah perbatasan antara negeri Cina dengan Birma. Orang-orang lelaki dari suku
Biao biasanya merupakan ahli-ahli dalam hal melacak jejak, itulah sebabnya prajurit suku
Biao ini dibawa untuk menjadi penunjuk jalan. Apalagi padang ilalang itu memang termasuk
daerah tempat berkeliarannya orang-orang Biao.
Prajurit suku Biao yang berkuda paling depan itu matanya terus menerus
memperhatikan tanah. Suatu saat ia tiba-tiba mengangkat tangannya dan memberikan isyarat
agar rombongan berhenti. Lalu ia sendiri melompat turun dari kudanya, dan berjongkok di
tanah sambil memeriksa rerumputan di sekitar tempat itu dengan cermatnya.
Pemimpin dari rombongan prajurit-prajurit itu adalah seorang yang masih muda,
berusia kira-kira duapuluh lima tahun, bertubuh ramping tegap, berkulit putih dan bermata
coklat, tampang seorang berdarah Manchu asli. Alisnya yang tebal itu menaungi sepasang
mata yang bersinar tajam, memancarkan keberanian dan kekerasan hati yang luar biasa.
Sejenak ia memperhatikan prajurit suku Biao yang tengah mengamat-amati rerumputan itu,
lalu tanyanya, “Bagaimana ?..Kita tidak kehilangan jejak mereka bukan ?”..
Sahut prajurit suku Biao itu, “Kita belum kehilangan jejak para pembakang itu. Di
sini agaknya mereka membelok ke selatan dan tidak melanjutkan ke arah barat. Agaknya
mereka sadar, kalau sampai terus ke barat dan melintasi perbatasan Se-cuan atau Kui-ciu akan
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 3
sama saja dengan segerombolan ikan yang masuk ke dalam jaring. Sebab daerah itu adalah
kekuasaan Peng-se, orang yang dijaga kuat”.
Panglima Manchu yang masih muda itu tidak sabar mendengarkan ocehan penunjuk
jalannya itu, ia mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar prajurit suku Biao itu diam, lalu
katanya, “Mereka adalah buruan yang membahayakan Kerajaan, karena itu biarpun mereka
kabur ke istananya Giam-lo-ong (Raja Akherat), kita tetap akan mengejar dan meringkus
mereka. Demi Negara dan Kaisar !”
Tapi prajurit suku Biao itu nampaknya menjadi ragu-ragu untuk ikut terus dalam
rombongan itu. Katanya, “Ciangkun (Panglima), aku ..... aku minta ijin untuk menunjukkan
jalan sampai di sini saja, dan kembali ke pasukanku di Kun-beng .....”
“Heh, kenapa dengan dirimu ?”
Prajurit suku Biao itu kebingungan sejenak, tapi akhirnya ia memutuskan untuk
berkata terus terang, “Ciangkun, sebelum Ciangkun memutuskan untuk mengejar ke arah itu,
harap Ciangkun membuat pertimbangan lagi yang lebih masak”.
“Pertimbangan apa lagi ? Apakah di selatan sana ada hutan golok atau lautan
pedang ?”..
“Panglima, kekuatan yang kita bawa saat ini terlalu kecil untuk menerjang ke wilayah
selatan sana. Di sana keadaannya sangat rawan, karena di kawasan itu bercokol tiga macam
gerombolan yang kuat dan berbahaya”.
Panglima Manchu itu agaknya mulai tertarik oleh penjelasan prajurit suku Biao itu.
Tanyanya, “Gerombolan apa saja ?”..
“Ketiga macam gerombolan itu agaknya berdiri sendiri-sendiri, bahkan kabarnya tidak
rukun antara satu dengan lainnya. Tapi dalam ketidakrukunan mereka itu ada juga
kesamaannya, yaitu ….. maaf, Ciangkun, mereka sama-sama membenci orang Manchu seperti
Ciangkun ini”.
Panglima Manchu itu mendengus dingin, “Hemm, daerah ini masuk kekuasaan Pengse-
ong Bu San-kui, apakah Peng-se-ong mendiamkan saja daerahnya ini menjadi sarang
pengacau ?”
Prajurit suku Biao itu menyahut, “Bukannya Peng-se-ong membiarkan mereka, tetapi
beliau memang belum berani gegabah bertindak dengan menggerakkan tentara. Gerombolangerombolan
itu sangat lincah, begitu digempur mereka menghilang dan kemudian tiba-tiba
muncul di daerah lain untuk mengacau lebih hebat. Selain itu, Peng-se-ong
mempertimbangkan bahwa daerah itu dekat dengan perbatasan negeri tetangga Birma yang
hubungannya cukup baik dengan negara kita. Kalau kita menggerakkan tentara di dekat
perbatasan, kuatir memperburuk hubungan antara kedua negara”.
Panglima Manchu itu mengerutkan alisnya, “Hemm, banyak alasan, tetapi kau belum
menceritakan gerombolan apa saja yang bersembunyi di kawasan selatan itu !”..
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 4
“Baik, Ciangkun, akan aku jelaskan. Gerombolan yang paling banyak anggautanya
dan juga paling teratur susunannya adalah gerombolan yang dipimpin Tiang-hong, seorang
bekas Panglima Kerajaan Beng yang fanatik. Anggauta gerombolannya sebagian besar juga
bekas prajurit-prajurit Kerajaan Beng, ditambah dengan orang-orang yang belakangan
menggabungkan diri dengan mereka. Jumlah anak buahnya kira-kira seribu orang, mendapat
latihan keprajuritan yang teratur. Mereka juga menguasai beberapa desa terpencil yang
dijadikan sumber perbekalan pangan mereka”.
Panglima Manchu itu tertawa mengejek mendengar cerita itu, “Mereka mimpi di siang
hari bolong. Kerajaan Manchu sudah menguasai seluruh daratan ini dan mendapat dukungan
dari sebagian besar rakyat, mana mungkin Li Tiang hong berhasil melawan kami, apalagi
untuk mendirikan kembali wangsa Beng yang dibenci rakyat itu ? Bukankah di jaman Kaisar
Cong-ceng dari dinasti Beng itu rakyat kecil malah sengsara hidupnya ? Mana mungkin
rakyat mau menerima ketidak becusan dalam mensejahterakan rakyat ?”....
Semua prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala menyetujui pendapat
Panglima Manchu itu. Kemudian Panglima Manchu itu bertanya lagi kepada prajurit suku
Biao itu, …..”Dan gerombolan-gerombolan lainnya ?”
Prajurit suku Biao itu melanjutkan keterangannya, “Di jaman Kerajaan Beng dulu ada
sebuah perkumpulan yang bernama Hwe-liong-pang (Perkumpulan Naga Api) yang bersarang
di puncak Tiau-im-hong di pegunungan Bu-san di wilayah Se-cuan. Perkumpulan itu dibagi
dalam delapan kelompok yang diberi nama menurut warna benderanya masing-masing, yaitu
putih, kuning, hijau, biru, merah, coklat, hitam dan ungu. Nah, kelompok yang bersarang di
selatan sana adalah salah satu kelompok dalam Hwe-liong—pang yang dulu disebut Jai-kitong
(Kelompok Bendera Coklat). Dalam masa pemberontakan Li Cu-seng terhadap dinasti
Beng dulu, banyak orang-orang Hwe-liong-pang yang mendukung pemberontakan Li Cuseng,
sehingga kelompok Jai-ki-tong ini sekarang kurang rukun dengan kelompoknya Li
Tiang-hong yang setia kepada Kerajaan Beng itu”.
“Bagaimana kekuatan mereka ?”..
“Pemimpin Jai-ki-tong bernama Ma Hiong dan berjuluk Siau-lo-cia (Dewa Lo-cia
Cilik), ilmunya cukup tangguh. Anak buahnya diperkirakan hanya tigaratus orang, namun
sulit digempur karena sangat lincah. Mereka mahir dalam hal menyergap, menyelundup,
menyusup, meracun,merusak,membunuh secara gelap dan sebagainya. Mahir bertempur
dengan memanfaatkan keadaan alam untuk menyebak lawan. Saat ini Peng-se-ong sedang
menyelidiki gerak-gerik mereka sebelum melancarkan sebuah serangan mematikan buat
mereka”.
“Huh, dari dulu Bu San-kui selalu akan menggempur dan akan menggempur, tapi
kenyataannya sampai sekarang dia belum bertindak dan para pengacau masih berkeliaran di
daerah tanggung jawabnya. Percuma saja Sri Baginda menghadiahinya dengan wilayah yang
seluas dan sesubur ini, ternyata ia tidak becus untuk mengurus dan mengamankannya”.
Sebenarnya orang Biao itu adalah prajurit bawahan Peng-se-ong Bu-San-kui yang
diperbantukan pada rombongan kecil itu sebagai penunjuk jalan. Ia menjadi kurang senang
juga mendengar Panglima Manchu itu terus menerus mencerca Peng-se-ong, namun sebagai
prajurit rendahan tentu saja ia tidak berhak membantah sepatah katapun. Ia tahu bahwa
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 5
Panglima Manchu itu adalah seorang yang cukup berpengaruh di Pak-khia di kalangan pucuk
pemerintahan.
Peng-se-ong Bu San-kui sendiri tidak berani bersikap kurang ajar kepada Panglima
yang masih muda ini.
Sementara itu, Panglima itu agaknya masih saja menggerutu, entah ditujukan kepada
siapa, “Bu San-kui memang berjasa kepada Kerajaan Manchu, ketika balatentara kita
menggempur ke selatan, Bu San-kui inilah yang menyerahkan kota San-hai-koan sehingga
kita dapat menyerbu tanpa rintangan. Tetapi pengangkatannya sebagai Peng-se-ong adalah
hadiah yang terlalu besar bagi jasanya yang hanya kecil saja itu, apalagi diberi kekuasaan atas
wilayah Se-cuan yang paling subur di negeri ini. Ia bukan seorang yang dapat dipercaya
sepenuhnya, pendiriannya mudah goyah dan kesetiaannya mudah berganti kiblat. Sejak
semula aku sudah memberi pertimbangan kepada Sri Baginda agar jangan menyerahkan
wilayah Se-cuan kepadanya, tapi agaknya Sri Baginda lebih mengindahkan pertimbangan
orang lain dan kurang menghiraukan aku”.
Setelah merasa agak lega karena menumpahkan uneg-unegnya, Panglima itu bertanya
kepada prajurit suku Biao itu,…”Jika antara kelompok Li Tiang-hong dengan kelompok Jaiki-
tong pecahan Hwe-liong-pang itu tidak rukun, bukankah itu sangat menguntungkan kita ?”
Orang Biao itu menarik napas, ...”Ya, seharusnya begitu. Tapi anehnya biarpun
mereka bermusuhan, tapi jika salah satu diserang oleh pasukan kita, yang lainnya membantu.
Hubungan mereka dingin tapi saling membantu. Mereka punya wilayah sendiri-sendiri dan
saling segan untuk melanggar daerah orang lain”.
“Kelompok orang-orang gila. Kalau begitu, suruh Bu San-kui untuk menggempur saja
kedua-duanya. Ataukah Bu San-kui masih merasa tidak tega karena Li Tiang-hong adalah
sesama bekas Panglima Kerajaan Beng ?”
“Bukan begitu, Ciangkun, aku kira kesetiaan Peng-se-ong kepada Kerajaan Manchu
tidak usah disangsikan lagi, meskipun dia adalah bekas Panglima Kerajaan Beng. Tapi untuk
menggempur kedua gerombolan pengacau itu memang dibutuhkan rencana yang matang,
tidak asal menyerang saja. Aku kira Peng-se-ong sudah memikirkannya”.
“Sudah, kau dari tadi membela Peng-se-ong saja. Sekarang bagaimana dengan
kelompok yang ketiga ?”
Sahut si prajurit suku Biao, “Kelompok ini adalah sukuku sendiri, suku Biao, yang
telah mendiami wilayah ini turun temurun sejak jaman kuno. Mereka tidak akan menyerang
jika tidak diganggu. Sejak dulu, di daratan Cina berganti pemerintahan entah berapa ratus
kali, tapi suku Biao tidak tunduk kepada pemerintahan yang manapun juga. Mulai jaman
Kerajaan Tong, lalu Song dan Lam-song, pemerintahan Mongol, lalu Beng dan Manchu
sekarang ini. Berpuluh Kaisar naik dan turun dari singgasana, suku Biao tidak peduli.
Mereka hanya menganggap kepala suku mereka sendiri sebagai pemimpin. Namun banyak
juga laki-laki suku Biao yang masuk menjadi tentara di negeri Cina atau Birma, atau negeri
lain seperti Nepal”.
“Bagaimana kekuatan perang mereka ?”
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 6
Prajurit suku Biao itu agaknya mendapat kesempatan untuk membanggakan sukunya
sendiri. Maka jawabnya dengan dada membusung, ..”Orang-orang suku Biao yang laki-laki,
dari remaja sampai kakek-kakek yang hampir masuk liang kubur, semuanya dapat bertempur
dengan cukup baik, tidak kalah dari para prajurit. Mereka yang tua-tua umumnya juga ahli
dalam menembakkan sumpit beracun, ahli menenung dan menyihir sehingga musuh mati
dengan penyakit aneh. Tempat tinggal mereka terpencar di beberapa buah desa, tapi dengan
sebuah isyarat yang dibunyikan dari desa induk, dalam sekejap semua laki-laki akan
berkumpul dengan senjata siap di tangan”.
Panglima Manchu itu ternyata mengangguk-anggukkan kepalanya dan
memuji,…”Kesigapan yang mengagumkan. Tadi kau bilang bahwa mereka tidak tunduk
kepada Kaisar dinasti apapun, apakah itu juga berarti mereka tidak tunduk kepada Sri Baginda
Sun-ti yang sekarang bertahta ?”
“Soal ini …..aku ….. aku kurang paham, Ciangkun”.
“Kenapa tidak paham ? Bukankah kau orang suku Biao pula ?”
“Ciangkun, sejak aku masuk tentara di bawah Peng-se-ong Bu San-kui, aku belum
pernah pulang kampung, sehingga tidak tahu bagaimana sikap sukuku terhadap Sri Baginda
Sun-ti”.
Panglima Manchu itu tidak mendesak lebih lanjut, wajahnya berubah agak lunak, dan
sambil menepuk-nepuk pundak prajurit itu ia berkata, “Sekali waktu kelak kau harus pulang
kampung, dan kau harus bisa menerangkan pada orang-orang sesukumu bahwa bangsa
Manchu tidak menjajah tetapi mempersatukan ratusan suku-suku di daratan besar ini agar
bersatu menjadi negara yang kuat. Membentang dari Tibet sampai Korea. Hanya orangorang
berpandangan piciklah yang merasa dijajah, misalnya saja para pengikut fanatik dinasti
Beng itu. Padahal ketika dinasti Beng masih berkuasa rakyat malahan menderita gara-gara
Cong-ceng tidak becus mengendalikan negara. Kalau mereka tidak becus, kenapa kami tidak
boleh mengambil alih untuk memperbaikinya ?”
Prajurit suku Biao itu memang kurang berminat akan seluk beluk urusan
pemerintahan, tahunya ia cuma memutar golok menjalankan perintah atasan, maka penjelasan
Panglima Manchu itu ditanggapinya hanya dengan mengangguk-angguk, entah mengerti
betul-betul entah tidak. Sementara Panglima Manchu itu telah berkata pula,…”Kita sudah
tahu keadaan medan yang kita hadapi, tapi kita akan menerjangnya demi keberhasilan tugas
kita. Malam hampir tiba, namun gelapnya malam justru akan mempermudah sergapan kita
agar tidak diketahui lebih dulu oleh musuh”.
Maka rombongan itupun bergerak kembali. Seperti yang diucapkan oleh Panglima
mereka tadi, tidak peduli ke istana Raja Akheratpun mereka akan memburu musuh-musuh
mereka, demi negara dan Kaisar. Itulah semangat prajurit-prajurit Hui-liong-kun. Sedangkan
prajurit suku Biao itu sebenarnya agak ketar-ketir juga berjalan serombongan dengan prajuritprajurit
yang tidak menghiraukan nyawa sendiri itu, namun ia menyembunyikan jauh-jauh
rasa cemasnya agar tidak diketahui oleh rekan-rekan seperjalanannya. Agaknya prajurit suku
Biao itu masih juga punya harga diri, dan ingin menjaga nama baik kesatuannya agar tidak
ternoda.
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 7
Sementara itu mataharipun telah tenggelam di ufuk barat. Mendung semakin tebal dan
semakin rendah, akhirnya titik-titik airpun berjatuhan satu demi satu, semakin lama semakin
deras sampai akhirnya air hujan begitu rapatnya sehingga mirip sebuah tirai putih. Sepuluh
langkah di depan sudah tidak kelihatan apa-apa lagi.
Tetapi sekelompok prajurit yang bertubuh baja dan bersemangat baja itu terus
bergerak maju di bawah pimpinan langsung Panglimanya sendiri. Bahkan air hujan yang
dingin itu malah terasa menyegarkan kembali tubuh mereka yang sudah kelelahan karena
sehari suntuk melakukan pengejaran itu.
Prajurit suku Biao yang tetap bertindak sebagai pemandu jalan itu agaknya betul-betul
seorang yang mahir dalam bidangnya. Biarpun hari telah menjadi gelap dan air hujanpun
telah mengaburkan jejak kaki-kaki kuda beruan mereka, namun berdasarkan pengamatannya
yang cermat atas rumput-rumput yang patah, dia tetap dapat menuntun rombongannya ke arah
yang tepat. Dengan keahlian dan pengalamannya, ia dapat membedakan antara rumput yang
rebah karena terinjak kaki kuda dengan yang disebabkan hembusan angin.
Dalam pada waktu itu, jauh di depan prajurit-prajurit yang gigih itu, ada sebuah
kelenteng kosong yang dulunya disebut (Kelenteng Malaikat Gunung) yang terletak di kaki
sebuah bukit kecil. Dulu, ketika di sekitar tempat itu masih ada pemukiman penduduk,
kelenteng itu cukup ramai dan terawat, tapi setelah penduduk mengungsi karena daerah itu
menjadi rawan akibat peperangan, maka kelenteng itupun tak terawat lagi. Malahan kata
penduduk yang tinggal agak jauh dari tempat itu, kelenteng itu sekarang duhuni hantu-hantu
yang suka menganggu manusia.
Malam itu, di bawah hantaman hujan lebat yang bagaikan melecur bumi dengan
pongahnya, dari dalam kelenteng yang sudah lama tak terjamah manusia itu tiba-tiba
kelihatan ada cahaya api. Cahaya api itu bukan hantu penunggu kelenteng, melainkan api
unggun yang dibuat oleh sekelompok kecil manusia yang agaknya telah memanfaatkannya
bangunan kosong itu untuk berteduh. Ada lima orang lelaki yang duduk di sekitar api unggun
itu. Semuanya berpakaian kotor, berwajah keras karena tempaan keadaan, dan mata mereka
selalu memancarkan kecurigaan kepada keadaan-keadaan di sekitar mereka. Rahang dan
janggut mereka kelihatan sudah berhari-hari tidak tersentuh pisau cukur, dan untuk
melengkapi tampang-tampang dekil mereka, di sekitar tempat mereka duduk itu
bergeletakanlah senjata-senjata mereka yang setiap saat siap untuk melawan musuh.
Salah seorang dari lelaki-lelaki di kelenteng itu mengeliat sambil menggerutu,
“Mudah-mudahan malam ini tidak ada gangguan sehingga kita dapat tidur nyenyak.
Semalampun cukup untuk memulihkan tenaga kita. Bangsat-bangsat Manchu itu benar-benar
gila, mereka sudah mengejar kita dua hari dua malam tanpa berhenti. Mereka dapat berganti
orang, tapi kita ?.......... Huh ....., pinggangku mau patah rasanya.”
“Ya..... dan terpaksa kita telah menjadi perampok di jalan demi mendapatkan kudakuda
yang segar untuk menggantikan kuda-kuda kita yang kelelahan.”
Yang menggerutu tadi adalah seorang yang berkepala gundul licin, bertubuh gemuk
pendek dan berotot gempal. Ia memaki jubah kuning seperti umumnya pendeta Budha, tapi
jubahnya itu sudah kotor tak keruan dan robek di sana-sini, bahkan ada noda darah kering
yang berwarna kecoklat-coklatan. Di pinggangnya terselip sebatang golok tanpa sarung yang
juga bernoda darah kering. Sambil menggerutu ia mengunyah sepotong roti yang sudah
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 8
berjamur, namun makanan basi itu dinikmatinya seolah sedang menikmati makanan yang
paling enak di dunia ini.
Dengan mulut masih mengunyah, ia tidak berhenti menggerutu, .....”Bangsat-bangsat
berkuncir itu memang edan semua. Entah dari siapa mereka tahu akan rencana perjalanan kita
ini, sehingga mereka dapat menyergap kita di tempat-tempat yang tak terduga. Mungkin ada
pengkhianat yang sengaja memberitahu bangsat-bangsat itu.”
Si pendeta gemuk itu agaknya masih akan menggerutu lagi, tetapi seorang temannya
yang bermuka berewokan telah meremas pundaknya sambil berbisik, .....”Ssst....., jangan ribut
terus dengan suaramu yang seperti gembreng pecah itu. Biarkan Pangeran tidur dengan
nyenyak, beliau juga sangat lelah.”
Pendeta gemuk itu menahan suaranya dan ia hanya menjawabnya dengan anggukkan
satu kali. Sekilas ia melirik ke arah orang yang disebut Pangeran itu, yang duduknya agak
jauh dari keempat orang lainnya.
Pendeta gemuk itupun menarik napas sambil berkata perlahan, “Kasihan ..... Pangeran
....., seharusnya ia berada di istana, tidak di tempat yang sunyi, dingin dan kotor seperti ini...”
Tapi temannya yang berewokan itupun menyahut, “Pangeran adalah seorang pejuang
pula seperti kita, penderitaan ini akan membuatnya semakin tangguh dan bukannya semakin
cengeng.”
Yang disebut Pangeran itu ialah seorang lelaki berusia kira-kira tigapuluh lima tahun.
Sebenarnya pada dasarnya ia berwajah cukup tampan, tetapi dengan pakaian yang dekil dan
berbau serta wajah tak bercukur selama berhari-hari, maka penampilannya saat itu tidak mirip
seorang Pangeran sedikitpun. Ia lebih mirip seorang gelandangan di pojok-pojok jalan.
Ia duduk dengan punggung bersandar dinding kuil yang berlumut, tidak peduli
pakaiannya menjadi kotor atau tidak. Matanya terpejam seolah ia tiduran, namun sebenarnya
ia tidak tidur, hatinya tengah bergejolak mengenang masa lalu dirinya, masa lalu kejayaan
keluarganya, masa lalu negerinya ……….!
Bayangan-bayangan masa lalu tergambar jelas di pelupuk matanya, seakan sengaja
dipertunjukkan kembali kepadanya, seperti sebuah cermin yang memantulkan baik buruknya
diri sendiri.
Pada masa yang hanya tinggal kenangan itu, Kerajaan Beng masih berdiri dengan
wilayahnya yang membentang luas, sebuah kemaharajaan raksasa yang pengaruhnya terasa
sampai ke negeri-negeri seberang lautan. Namun kemegahan yang hanya nampak luarnya itu
tidak seimbang dengan keadaan dalam pemerintahan yang sangat bobrok. Masa
pemerintahan Kaisar Cong-ceng adalah suatu masa yang sangat buruk dalam sejarah.
Keadaan negeri kacau balau, rakyat menderita dan kebingungan tanpa pelindung, sebab para
pejabat yang bertugas mengabdi rakyat telah lupa akan tugasnya dan sibuk baku hantam satu
sama lain untuk berebut kedudukan dan kekayaan. Para menteri, rajamuda atau panglima
yang benar-benar mengabdi kepada negara dan rakyat, malahan tersingkir dari tubuh
pemerintahan, tidak sedikit yang dihukum mati dengan tuduhan yang direka-reka oleh kaum
dorna. Pemerintahan diduduki orang-orang yang pandai menjilat dan membuat laporan palsu,
sambil menyikut kiri kanan dan menyebar fitnah. Biang keladi semua kebobrokan itu adalah
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 9
seorang menteri berhati iblis bernama Co Hua-sun, seorang kebiri yang sangat dipercaya oleh
Kaisar Cong-ceng, dan akhirnya kekuasaannya malah melebihi kekuasaan Kaisar sendiri.
Ketidak puasan di dalam negeri makin meluas. Lalu meletuslah pemberontakan rakyat di
bawah pimpinan seorang petani bernama Li Cu-seng. Pemberontakan tidak dapat
dipadamkan dan bahkan makin luas dan mendapat banyak dukungan, sehingga terbentuklah
suatu lascar rakyat yang berjumlah amat besar. Perlawanan meletus di mana-mana. Tahun ke
tujuhbelas dari masa bertahtanya Kaisar Cong-ceng, bulan ketiga tanggal sembilanbelas,
ibukota Kerajaan jatuh ke tangan pemberontak. Pertempuran berlangsung sengit di jalanjalan,
di lorong-lorong, halaman-halaman rumah sampai ke halaman istana, mayat
bergelimpangan di seluruh penjuru kota. Beberapa Panglima serta bangsawan yang setia
kepada Kerajaan Beng telah bertahan dengan gigihnya di istana, sampai titik darah terakhir.
Boleh dikata Li Cu-seng merebut jengkal demi jengkal tanah istana dengan taruhan nyawa
laskarnya. Namun di samping Panglima-panglima dan para bangsawan yang bertahan secara
kesyatria itu, lebih banyak lagi yang menjadi pengecut dengan melarikan dirisambil
membawa keluarga dan harta benda mereka, tak sedikitpun tersisa kesetiaan mereka. Kaisar
Cong-ceng sendiri telah merasa bahwa singgasananya tidak terselamatkan lagi, lalu
menggantung dirinya di bukit Bwe-san. Li Cu-seng memenangkan perang dan mengangkat
dirinya sendiri sebagai Kaisar dari sebuah dinasti baru.
Sementara itu, di sebuah kota kecil bernama San-hai-koan ada seorang Panglima
Kerajaan Beng yang belum ditaklukkan oleh Li Cu-seng. Panglima di San-hai-koan itu
bernama Bu San-kui. Meskipun yang dikuasainya hanya sebuah kota kecil, tapi San-hai-koan
penting, sebab kota itu merupakan “Pintu Timur” dari Tembok Besar yang tak dapat ditembus
musuh-musuh dari luar perbatasan itu. Keruntuhan Kerajaan Beng membuat Bu San-kui
terjepit, dari dalam negeri ia terancam oleh Li Cu-seng, si penguasa baru, dari luar ia
terancam oleh Kerajaan Manchu yang senantiasa mengincar untuk merebut San-hai koan
sebagai kunci untuk merebut daratan Cina, Li Cu-seng menekan Bu San-kui dengan jalan
menghentikan semua perbekalan menuju San-hai-koan, sebaliknya bangsa Manchu dengan
cerdik menggunakan kesempatan itu untuk merangkul Bu San-kui ke pihaknya. Dan Bu Sankui
akhirnya benar-benar terpikat oleh pihak Manchu. Pintu San-hai-koan di buka,
balatentara Manchu dipersilahkan masuk, maka menyerbulah mereka bagaikan air bah,
menggoncangkan kedudukan Li Cu-seng yang baru bertahta selama setengah bulan itu.
Pasukan Li Cu-seng yang kalah terlatih dan masih kelelahan setelah mengalahkan tentara
Kerajaan Beng itu, kini tidak sanggup menahan laju pasukan Manchu yang berjumlah besar,
bersenjata lengkap dan terlatih baik itu. Orang-orang lelaki bangsa Manchu adalah orangorang
yang sejak kecil telah ditempa oleh kerasnya alam berupa padang-padang salju yang
dingin, naluri untuk bertempur dan menang sudah tertanam sejak kecil. Maka pada tanggal
duabelas bulan empat tahun itu juga, balatentara Manchu telah terbaris di ambang pintu
Kotaraja Pak-khia. Dan akhir bulan itu juga Li Cu-seng dipaksa angkat kaki dari Pak-khia
dalam keadaan kocar-kacir, lalu kabar beritanya menghilang begitu saja. Dengan demikian
dalam waktu kurang dari dua bulan telah terjadi dua kali perpindahan kekuasaan, dan ibukota
Kerajaan mengalami dua kali pertempuran dahsyat. Kerajaan Beng diruntuhkan oleh Li Cuseng,
kemudian Li Cu-seng dikalahkan Kerajaan Manchu sebagai pemenang terakhir. Bu
San-kui yang oleh Kerajaan Manchu dianggap sangat berjasa karena seolah membukakan
pintu bagi masuknya tentara Manchu ke bagian dalam Tembok Besar, lalu mendapat anugerah
sebagai Rajamuda di wilayah Se-cuan dan bergelar Peng-se-ong. Istananya do kota Jing-toh,
ibukota wilayah Se-cuan.
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 10
Setelah membayang-bayangkan kejadian-kejadian masa lalu, maka Pangeran yang ada
di kelenteng kosong itupun tiba-tiba mengepalkan tinjunya dan menghantam lantai sambil
menggeram dengan gemasnya ....., “Bu San-kui ..... Bu San-kui ..... tak terpikir olehku bahwa
kau akan ..... berbuat demikian tololnya, menyerahkan negerimu sendiri kepada bangsa
Manchu. Seburuk-buruknya Li Cu-seng ia masih sesama bangsa Han.”
Keempat orang pengikut Pangeran itu terkejut ketika melihat junjungan mereka tibatiba
mengeram sambil memukul lantai.
Si pendeta gemuk itu agaknya dapat menebak apa yang sedang dirisaukan oleh
junjungannya itu. Sebisa-bisanya ia menghibur.., “Pangeran jangan disesali lagi masa lalu
yang tak mungkin kembali lagi. Kita sekarang harus menatap ke masa depan dengan tabah,
yang kita pikirkan adalah langkah-langkah selanjutnya. Suatu saat, entah lambat entah cepat,
kita akan mengusir bangsa Manchu dari tanah air kita dan mendirikan kembali dinasti Beng
kita yang jaya.”
Pangeran itu tersenyum pahit kepada pendeta gemuk itu. Katanya sambil menarik
napas……….”Seharusnya mendiang ayahhanda Kaisar merasa beruntung karena memiliki
Panglima-panglima setia seperti kalian ini. Andaikata orang-orang berjiwa bersih seperti
kalian yang duduk sebagai pengendali pemerintahan saat itu, tentu negeri ini tidak begini
jadinya. Sayang sekali, pada waktu ayahanda masih berkuasa, orang-orang setia seperti
kalian malahan tersingkir dari istana dan tidak dipedulikan sama sekali dalam pengambilan
keputusan-keputusan penting. Bahkan kalian ditugaskan ke tempat-tempat yang jauh dari
ibukota supaya tidak dapat merintangi sepak terjang para dorna yang mengelilingi ayahanda
Kaisar pada waktu itu. Ah ……….dasar nasib negeri ini memang buruk ……….”
“Sudahlah, Siau-ong-ya (Pangeran), jangan membiarkan pikiran berangan-angan yang
bukan-bukan, hanya akan menggelisahkan hati dan merusak kesehatan saja. Kami tidak
merasa sakit hati kepada mendiang Sri Baginda, sebab sudah menjadi kewajiban seorang
prajurit untuk taat kepada rajanya. Apalagi kami juga tahu bahwa sebenarnya Sri Baginda
tidak jahat, yang jahat adalah dorna-dorna yang mengelilingi dan mempengaruhi Sri Baginda
itu, terutama si Co Hua-sun keparat itu. Mudah-mudahan saat ini ia sedang dibakar di api
neraka yang paling bawah …..!”
Namun agaknya Pangeran yang sedang bergejolak itu tidak dapat dicegah untuk
berbicara terus ….., “Jangan cegah aku untuk menumpahkan isi hatiku kepada kalian yang
dulu berada di dekat ayahanda Kaisar, tentu negara tidak bobrok dan rakyat tidak menderita.
Pemberontakan Li Cu-seng takkan ada, dan bangsa Manchu takkan mendapat peluang untuk
melintasi Tembok Besar melalui San-hai-koan. Tetapi semuanya terlambat untuk disadari.”
Pangeran menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutup wajahnya dan
bahkan meremas-remas rambutnya sendiri. Suaranya semakin lambat dan bahkan bercampur
dengan isak-tangisnya ……….”Terlambat ….. terlambat ….. kini orang Manchu sudah
mengangkangi negara kita dengan kuatnya. Semoga arwah ayahanda Kaisar dapat melihat
siapa hamba-hambanya yang benar-benar setia dan siapa yang hanya pandai berbicara saja
untuk menfitnah kiri kanan. Kalian yang dulu tersingkir, kini malahan rela menanggung lapar
dan haus, mempertaruhkan nyawa menempuh bahaya maut untuk berjuang kembali merebut
tanah air. Orang-orang yang dulu hanya pandai bicara muluk-muluk di hadapan ayahanda
Kaisar, sekarang ada di mana ? Mereka hidup mewah tanpa rasa risi sedikitpun di bawah
telapak kaki orang Manchu …..!”
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 11
Begitulah, kalimat demi kalimat meluncur dari bibir Pangeran itu, makin lama makin
tinggi nadanya, menyalurkan gejolak jiwanya yang selama ini terpendam tanpa sempat
dilontarkan keluar.
“Dan ………. yang paling gila adalah Bu San-kui itu. Di mana otaknya ketika ia
memutuskan untuk menyerahkan kota San-hai-koan kepada orang Manchu ?”
Sementara itu, salah seorang dari pengikut Pangeran itu menundukkan kepalanya
dengan hati yang pedih, setiap kali mendengar nama Bu San-kui di caci maki. Bu San-kui
adalah saudara angkatnya. Dulu ia dan Bu San-kui pernah bekerja sama di San-hai-koan,
bahu membahu menanggulangi bahaya Manchu.
Suka dan duka dirasakan bersama. Keduanya saling mengagumi kegagahan masingmasing
dan akhirnya memutuskan untuk menjalankan upacara angkat saudara. Ketika cahaya
bulan tengah membulat sempurna di atas kota San-hai-koan, maka kedua orang itupun naik
keatas benteng kota, disaksikan oleh bulan purnama mereka bersumpah sebagai saudara
angkat. Bersumpah pula untuk sama-sama mengabdi kepada Kerajaan Beng sampai titik
darah yang penghabisan. Suatu ketika kedua saudara angkat itu harus berpisah. Saudara
angkat Bu San-kui yang bernama Kongsun Hui itu harus ditarik ke tempat lain bersama
pasukannya untuk membendung lascar pemberontak yang mulai mengancam ibukota
Kerajaan. Tapi Kongsun Hui dan pasukannya gagal membendung lascar pemberontak yang
jauh lebih kuat. Panglima-panglima Kerajaan Beng yang lainpun tidak berhasil. Bahkan ada
Panglima yang menyerang ke pihak Li Cu-seng. Maka Kongsun Hui dan pasukannya yang
tinggal sedikit lalu meneruskan melawan Li Cu-seng dengan cara bergerilya, sementara
perang semakin berkecamuk, keadaan makin kacau, dan hubungan Kongsun Hui dengan
saudara angkatnya yang di Sang-hai-koanpun terputus sama sekali kabar beritanya. Sampai
suatu saat Kongsun Hui dengan setengah tak percaya mendengar berita bahwa Kotaraja telah
jatuh ke tangan Li Cu-seng, dan tak lama kemudian ada berita yang lebih mengejutkan lagi
bahwa Bu San-kui telah menyerah kepada bangsa Manchu, bahkan membawa balatentara
Manchu untuk masuk ke daratan Cina. Memang berhasil mengusir Li Cu-seng, tapi apa
gunanya kalau kemudian hanya digantikan oleh kekuasaan asing ?..
Mengenang semuanya itu, Kongsun Hui menggertakkan giginya dan mengepalkan
tinjunya dengan geram. Ia mengutuk di dalam hatinya .....”Bu San-kui, aku telah bertindak
tolol dengan mengangkat saudara denganmu, ...aku bersumpah akan menuntut
pengkhianatanmu atas sumpah suci kita yang kita ikrarkan di atas benteng kota San-hai-koan
itu.
Meskipun kau beralasan membalaskan dendam dinasti Beng terhadap Li Cu-seng,
tetapi tidak dengan cara membawa bangsa asing untuk menjajah negeri sendiri. Aku lebih
rela jika negeri ini diperintah oleh Li Cu-seng daripada oleh orang Manchu.
Demikianlah suasana dalam kelenteng kosong yang menjadi tempat perteduhan orangorang
sisa-sisa dinasti Beng itu. Meskipun orang-orang itu lebih banyak diamnya daripada
bicaranya, namun sebenarnya gejolak jiwa mereka adalah melebihi gejolak samudera yang
dihembus taufan. Berjuta kalimat tidak akan cukup untuk mewakili gejolak perasaan mereka
itu. Tetapi kini senjata adalah “bahasa” satu-satunya untuk berhubungan dengan orang
Manchu. Memang begitulah umat manusia, jika mulut sudah kehilangan peranan untuk usaha
perdamaian, senjatalah yang berperan. Namun perjuangan akan panjang sekali, sebab orangorang
Manchu juga bersenjata dan tidak akan menyerahkan leher mereka begitu saja untuk
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 12
digorok. Mereka juga memperjuangkan kebenaran menurut sudut pandangan mereka sendiri,
dengan pendirian yang sama teguhnya dengan pendirian lawan-lawan mereka. Itulah
sebabnya perangpun berkepanjangan.
Malam semakin larut dan udara dingin rasanya bagaikan mencekam tulang. Beberapa
orang di antara mereka mulai membaringkan diri di lantai yang dingin dan keras, dan mereka
mencoba untuk tidur sekejap agar tenaga mereka bisa dipulihkan untuk menghadapi
tantangan-tantangan selanjutnya. Si pendeta gemuk itu masih saja duduk sambil mengunyah
rotinya yang sudah mengeras itu, sementara di luar kuil hujan masih turun dengan derasnya,
diselingi suara petir yang bersambung di udara.
Di luar kuil yang suasananya gelap dan berkabut itu, tiba-tiba terlihat ada puluhan
sosok bayangan hitam yang berjalan merunduk-runduk mendekati kuil dengan senjata-senjata
terhunus. Salah seorang dari bayangan-bayangan hitam itu memberi isyarat dengan gerakangerakan
tangannya, lalu bayangan-bayangan hitam itupun memencar mengepung kuil itu.
Bayangan hitam yang memberi isyarat itu lalu berkata dengan suara yang agak keras
untuk mengalahkan suara air hujan yang gemerasak .., “Para prajurit berjaga di luar, keempat
perwira ikut aku untuk menyerbu ke dalam, tapi hati-hatilah, di antara buruan-buruan itu ada
beberapa orang yang berilmu tinggi pula.”
“Baik….., Ciangkun,” jawab keempat orang perwira itu.
Sementara itu, di dalam kuil si pendeta gemuk yang nampaknya hanya asyik dengan
rotinya itu ternyata juga tidak lengah. Kupingnya yang tajam segera menangkap suara-suara
mencurigakan di luar kuil, meskipun suara-suara itu tersamar oleh suara hujan. Cepat-cepat
pendeta gemuk itu membuang sisa roti yang masih di tangannya, detikberikutnya ia sudah
melompat berdiri dengan sigapnya sambil menggenggam erat goloknya. Teriaknya
…..,”Pangeran dan teman-teman, musuh datang!”
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 13
Pangeran dan pengikut-pengikutnya, baik yang sudah tidur maupun baru setengah
tidur, segera berlompatan bangun sambil menyambar senjatanya masing-masing dan siap
bertempur.
Masing-masing memegang senjata yang berbeda-beda sesuai dengan keahliannya
sendiri-sendiri. Pangeran itu sendiri menghunus sebatang pedang. Kongsun Hui bersenjata
sepasang Kong-pian (Ruyung Baja), si berewokan memegang tombak panjang, dan seorang
lagi bersenjata pedang bermata dua seperti Pangeran sendiri. Suasana tegang bukan main
menunggu datangnya musuh.
Orang-orang yang mengepung kuil itu agaknya tahu bahwa buruan mereka sudah
terbangun semuanya, tidak ada gunanya lagi bergerak dengan mengendap-endap seperti
maling. Bahkan kemudian dari luar kuil itu terdengar suara tertawa terbahak-bahak seolah
mengejek kesiap-siagaan Pangeran dan pengikut-pengikutnya. Suara tertawa itu semakin
lama semakin keras, sampai akhirnya begitu kerasnya sehingga membuat dada terasa sesak
dan telinga berdenging hampir pecah. Beberapa pengikut Pangeran yang berilmu kurang
tinggi segera merasa kaki mereka lemas dan terhuyung-huyung hampir roboh.
Si pendeta gemuk agaknya adalah orang yang ilmunya tertinggi di antara rombongan
Pangeran itu, namun toh ia tetap harus mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk dapat
tetap harus mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk dapat tetap berdiri tanpa roboh.
Geram si pendeta gemuk. “Hebat tenaga dalam orang ini. Jika selama beberapa hari ini kita
hanya menghadapi anjing-anjing Manchu yang tak seberapa kepandaiannya, agaknya malam
ini kita akan bekerja lebih keras dari hari-hari kemarin. Jauh lebih keras !”
Ucapan si pendeta gemuk merupakan peringatan bagi teman-temannya bahwa musuh
yang datang kali ini benar-benar seorang musuh yang tangguh bukan kepalang.
Sementara suara tertawa yang bagaikan menghentak-hentak jantung itu perlahan-lahan
mereda, lalu sesosok bayangan hitam meluncur dari luar kuil. Tembok halaman kuil setinggi
tiga tombak itu dilompatinya dengan ringan, seperti gerakan sesosok hantu saja, dan
kemudian bayangan hitam itu dengan ringannya mendarat di hadapan Pangeran bersama
pengikut-pengikutnya yang sudah siap-siaga di dalam kuil itu.
Bayangan hitam itu ternyata adalah seorang pemuda bertampang Manchu asli, berusia
kira-kira duapuluh lima tahun, berwajah cukup tampan namun sorot matanya angker dan
dingin. Pakaiannya hitam dan ringkas, namun pada pakaiannya yang sederhana itu kelihatan
beberapa tanda-tanda yang menunjukkan bahwa pangkatnya cukup tinggi dalam susunan
ketentaraan.
Tadi pemuda itu sudah menunjukkan kehebatan tenaga dalamnya lewat suara
tertawanya yang menggoncangkan jantung itu, dan sekarang begitu kakinya menginjak lantai
kuil, kembali ia menunjukkan kehebatannya. Ketika ia masuk tadi pakaiannya masih basah
kuyup karena air hujan, namun tiba-tiba terlihatlah uap panas mengepul dari ujung topinya
sampai ujung sepatunya, dalam waktu sekejap saja seluruh titik air yang menempel di tubuh
dan pakaiannya telah menguap menjadi uap air yang membumbung ke atas. Dan keringlah
sluruh pakaiannya tanpa bekas kehujanan sedikitpun, hanya dalam waktu beberapa kejapan
mata saja.
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 14
Pangeran dan pengikut-pengikutnya dengan tegang melihat pameran kepandaian oleh
pemuda Manchu tersebut. Si pendeta gemuk yang berpengetahuan luas dalam masalah dunia
persilata, segera dapat menebak siapakah gerangan anak muda Manchu itu. Ia menganggukanggukkan
kepala gundulnya sambil berkata, “Ilmu Hwe-lion-sin-kang (Ilmu Sakti Naga
Api) dari kuil Thian-liong-si di Tibet yang tiada duanya. Anak muda, kau tentunya Panglima
dari Hui-liong-kun yang bernama Pak-kiong Liong dan berjuluk Naga dari Utara itu bukan ?”
Anak muda Manchu itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada pendeta
gemuk itu. “Pandanganmu cukup tajam. Tetapi akupun kenal siapa dirimu meskipun kau
coba-coba sembunyi di balik jubah pendeta itu. Kau adalah Tio Tong-hai yang berjuluk Peklek-
jiu (Si Tangan Petir), di jaman Kerajaan Beng dulu kau menjabat sebagai Panglima Lweteng-
wi-su, Pasukan Pengawal Istana yang kemudian dipindahkan jauh ke kota perbatasan
Gan-bun-koan karena menentang para dorna di Istana.......... benar..... bukan ?”
Ketika melihat pendeta gemuk itu menjawab dengan anggukkan kepalanya maka anak
muda Manchu yang bernama Pak-kiong Liong itu menarik napas sambil berkata, “Pantas
orang-orangku yang terdahulu telah gagal menangkap kalian, bahkan pulang dalam keadaan
berantakan, kiranya si Tangan Petir ada di tengah-tengah rombongan ini ..........”
Lalu Pak-kiong Liong menyapukan pandangannya kepada Pangeran dan pengikutpengikutnya
yang lain, ketika tatapan matanya membentur Kongsun Hui, maka Pak-kiong
Liong menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah, seolah bertemu dengan seorang
teman lama.
“Ah ..... , ternyata di sini aku juga bertemu dengan teman lamaku, Kongsun Ciangkun
yang pernah kukenal di medan perang San-hai-koan dahulu. Apa kabar ....., Kongsun
Ciangkun ? Jika Kongsun Ciangkun dapat bertindak bijaksana seperti saudara angkatmu itu,
maka kita tidak akan bermusuhan .......... tapi menjadi sahabat baik .....!”
Ucapan Pak-kiong Liong yang menyentuh luka hati Kongsun Hui itu dijawab dengan
geraman sengit oleh Kongsun Hui .......... “Jangan sebut-sebut lagi nama Bu San-kui di
hadapanku. Si pengkhianat tolol itu bukan saudara angkatku lagi ………. Aku sudah muak
mendengar namanya.”
Alis Pak-kiong Liong sedikit berkerut mendengar jawaban Kongsun Hui yang keras
itu, tapi sikapnya masih saja tenang dan bahkan tersenyum-senyum. “Terserah kepadamu,
tetapi kedatanganku kali ini masih tetap membawa uluran tangan persahabatan dari Sri
Baginda kepada kalian. Sri Baginda sesungguhnya sangat mengagumi kalian sebagai orangorang
yang berani, tapi juga menyayangkan bahwa kegigihan kalian itu berada di jalan yang
keliru. Bagaimanapun kalian berjuang hanya kekacauan yang akan kalian timbulkan, tapi …..
tidak mungkin merobah keadaan yang sudah seperti ini. Thian sudah mentakdirkan bangsa
Manchu kami untuk memimpin suku-suku lainnya, bersatu padu dalam sebuah negara yang
kuat, bersama-sama menikmati kejayaan dan kesejahteraan. Maka Sri Baginda sekali lagi
menawarkan kepada kalian untuk meletakkan senjata dan bergabung dengan kami. Kita akan
menjadi teman seperjuangan untuk membuat negeri ini menjadi besar seperti di jaman Jengis
Khan dulu.”
Pangeran Kerajaan Beng yang bernama Cu Hin-yang itu menjawab dengan sengit.
“Negaramu menjajah negaraku .......... bagaimana mungkin kami dapat bekerja sama dengan
pihak yang telah menganiaya rakyat kami ?”
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 15
Dengan tetap berkepala dingin Pak-kiong Liong menjawab ....., “Pangeran ..... istilah
menjajah serta menganiaya itu terlalu kasar. Lebih tepat jika disebut mempersatukan
negeri dan bukankah Kaisar-Kaisar terdahulu juga enggan disebut sebagai penjajah ? Tidak
perduli Kaisar bangsa Mongol atau Han ..... Kaisar bangsa Han yang bernama Li Si-bin dari
dinasti Tong pernah mengirim tentara untuk menaklukkan Korea dan Se-liau ? .....Dan Kaisar
Yung-lo dari dinasti Beng kalian bukankah pernah juga mengirim armada laut ke kepulauan
selatan sana, sehingga bentrok dengan mahluk-mahluk aneh berambut kuning bermata biru
yang datang dari benua barat ? .......... Bagaimanapun juga bangsa Manchu dan bangsa Han
adalah serumpun .......... akankah kita baku hantam sendiri hanya untuk mempersoalkan siapa
memerintah siapa ? Sementara ancaman dari luar semakin terasa .......... Orang-orang bule
bermata biru itu sekarang sudah bersekutu dengan Kaisar di Jepang, dengan alasan berdagang
dan menyebarkan agama baru. Tapi ancaman mereka itu sebenarnya ditujukan kepada kita
………. Jika kita lengah, suatu ketika orang-orang asing itu akan merapatkan kapal-kapal
meriamnya ke pantai-pantai kita dan menancapkan bendera mereka di tanah kita. Bangsa Han
dan bangsa Manchu harus bersatu menghadapi ancaman ini, begitu pula suku-suku serumpun
lainnya seperti Mongol, Uigur, Tibet, Korea dan lainnya. Kau paham ….. Pangeran ?”
Tapi Pangeran Cu Hin-yang tertawa sinis ………., “Tidak paham sedikitpun …..
Omonganmu manis tetapi penuh perangkap. Jika Kaisarmu ingin bekerja sama dengan tulus
dengan kami, bawa keluar semua tentara kalian dari negeri kami dan biarkan kami
membangun negeri kami sendiri. Jika Kerajaan Beng telah bangkit kembali, tidak ada
salahnya bekerja sama dengan Kerajaan Manchu untuk menghadapi persekutuan Jepang
dengan orang-orang bule itu. Tetapi kerja sama kita kelak adalah kerja sama sederajat antara
dua negara yang sama-sama berdaulat .......... bukan yang satu memerintah yang lainnya.”
“Wah ....., pintar bicara juga kau, Pangeran. Tetapi usulmu itu tidak bisa jadi. Jika
kita yang terdiri dari macam-macam suku ini ingin berdiri sendiri-sendiri, maka akan
bermunculan banyak negara kecil-kecil. Kita akan kembali ke jaman Liat-kok (Enam Negara)
sebelum dipersatukan oleh Cin-si-ong (Chin-shih-huang, dari kata “Chin ini muncul sebutan
“China sampai sekarang ini). Kita satu persatu akan dipatahkan oleh musuh, Kau sadari itu
tidak ? ….. Dan tentang robohnya wangsa Beng jangan menyalahkan kami yang
membalaskan dendam wangsa Beng dengan mengusir Li Cu-seng dari singgasananya !”
“Hemm ….., kalian bukan membalaskan dendam kami kepada Li Cu-seng, melainkan
memanfaatkan kesempatan selagi kami lelah karena perang saudara di dalam negeri. Dengan
licik kalian merangkul Bu San-kui untuk membukakan pintu San-hai-koan bagi balatentara
kalian. Pak-kiong Liong ………., jangan coba-coba menutup-nutupi nafsu serakah dari
Kaisarmu yang ingin mengangkangi dunia. Kalian sudah lama menyiapkan penyerbuan ke
negeri kami. Bahkan sebelum Li Cu-seng memberontak, kalian sudah menyiapkan tentara
berjumlah besar di sepanjang perbatasan kami. Untuk apa itu ??..... Kau kira kami akan
berterima kasih kepadamu karena kalian telah mengusir Li Cu-seng dari Pak-khia ??..........
Huh ….., kami agaknya lebih rela diperintah oleh Li Cu-seng daripada oleh orang Manchu !”
Sesabar-sabarnya Pak-kiong Liong ia mulai jengkel juga melihat kekerasan hati
Pangeran Cu Hin-yang itu. “ Aku bermaksud baik dengan jalan ingin menyadarkan kalian
dari mimpi kalian yang tak bakal terwujud itu. Kenyataannya kerajaan Beng yang kalian
impikan itu sudah ambruk terkubur sejarah. Li Cu-seng yang diharapkan untuk memerintah
dengan baik ternyata juga tidak becus, kenapa bukan kami yang mengambil alih
Pemerintahan ?..... Pemerintah sah atas negeri ini sekarang adalah wangsa Manchu ……….,
Habis perkara.”
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 16
“Tidak perduli kau membujuk atau menggertak, kesetiaan kami kepada dinasti Beng
tak akan goyah !” sahut Pangeran Cu Hin-yang dengan hati yang semakin panas.
Pak-kiong Liong tertawa keras dengan nada mengejek ….., “Ha – ha – ha ..........
kalian agaknya sangat bangga dengan dinasti kalian itu, tapi adakah kalian juga berani
melihat bahwa dinasti kalian itu adalah dinasti yang bobrok ? Lihat saja Kaisar Cong-ceng,
ayahmu itu, patutkah orang seperti itu menjadi Kaisar yang disujuti jutaan orang ? Seorang
yang tidak punya semangat sama sekali ………. Ketika laskar Li Cu-seng menyerbu Istana,
selagi semua prajurit Beng bertempur mati-matian mempertahankan istana, apa yang
diperbuat ayahmu ?..... Dia lari secara pengecut dan menggantung diri di Bwe-san. Huh …..!
Ada satu contoh lagi, tentang kerabatmu sendiri yang bernama Cu Yu-long, dengan tidak tahu
diri ia mencoba mendirikan kembali dinasti Beng dengan modal secuil tanah yang
dikuasainya. Ketika tentara kami menggempurnya ………., apa yang terjadi ? ….. Cu Yulong
dan pengikutnya lari terbirit-birit dengan konyolnya, bahkan larinya sampai ke negeri
Birma. Untung Raja Birma bersikap bersahabat dengan Sri Baginda kami, sehingga Cu Yulong
diserahkannya kepada kami ………., Pangeran ……….! keluarga seperti inikah yang
mengimpikan untuk kembali ke singgasana dan menentukan nasib jutaan orang rakyat ??
Kalau begitu, keluarga Cu (keluarga yang turun-temurun menguasai pemerintahan dinasti
Beng) kalian ini sungguh mementingkan diri sendiri. Hanya ingin merasakan enaknya duduk
di singgasana tanpa mau merasakan penderitaan rakyat yang sengsara di bawah pemerintahan
kalian !”
“Tutup mulutmu, anjing Manchu !” bentak Pangeran Cu Hin-yang dengan muka yang
merah padam karena marahnya. Ia tidak tahan lagi mendengar Pak-kiong Liong mencerca
keluarganya. Bagi Pangeran Cu Hin-yang, Kaisar Cong-ceng bukan Cuma seorang raja tapi
juga seorang ayah, seorang yang menjadi lantarannya untuk keberadaannya di dunia ini.
Meskipun Pangeran Cu Hin-yang hanyalah seorang yang dilahirkan dari selir Kaisar yang
berasal dari rakyat jelata. Pangeran Cu Hin-yang mengakui dalam hatinya bahwa Kaisar
Cong-ceng memang bukan pemimpin yang baik, seorang raja yang berhati lemah dan mudah
dipengaruhi oleh menteri-menteri jahat, namun kupingnya tidak tahan mendengar Pak-kiong
Liong mencaci ayahnya setajam itu.
Sementara itu, Pak-kiong Liong pun sudah kehikangan sikap ramahnya. Senyumnya
sudah menghilang dari wajahnya dan sikapnyapun semakin keras. “Kalian memang berhak
memilih kematian atau kekayaan. Mati konyol seperti Cu Yu-long atau berkesempatan
mengabdi negara seperti Bu San-kui……….! Pilih yang mana ?”
Dengan geram Pangeran Cu Hin-yang menudingkan ujung pedangnya ke wajah Pakkiong
Liong sambil berkata, “Kami memilih mati mempertahankan tanah air daripada
menjilat pantat Kaisarmu !!”
Pak-kiong Liong mendengus, ……….”Baik, kalian memilih mati maka akupun tidak
keberatan menunjukkan jalan ke neraka kepada kalian !”
Lalu Pak-kiong Liong berseru keluar kuil ....., “Pembicaraan gagal ! Kalian boleh
masuk sekarang untuk menangkap pemimpi-pemimpi ini !”
Begitu selesai kalimat Pak-kiong Liong, pintu kuil yang tebal dan kuat itu telah
gemuruh karena dihantam dari luar sehingga jebol. Lalu masuklah yang pertama kali seorang
bertampang bangsa Mongol namun berpakaian prajurit Manchu. Orang Manchu menguncir
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 17
rambutnya dalam satu jalur, sedang orang Mongol menguncir rambutnya menjadi dua jalur
yang ujungnya diikatkan satu sama lain. Ketika pasukan Manchu menyerbu ke bagian selatan
dari Tembok Besar, banyak orang Mongol yang membantunya dan kini banyak orang Mongol
berhasil mencapai pangkat perwira dalam ketentaraan Kerajaan Manchu.
Orang Mongol berpangkat perwira ini melangkah masuk bagaikan seekor beruang.
Tubuhnya tegap dan besar, lengannya besar berotot dan meskipun ia tidak membawa senjata
tetapi sepasang tangannya itu nampak lebih berbahaya dari senjata jenis apapun.
Pak-kiong Liong memperkenalkan perwira bawahannya itu kepada Pangeran Cu Hinyang
dan musuh-musuhnya. “Perwiraku ini bernama Ha To-ji, punya julukan Tay-mo-him
(Beruang Gurun). Ia akan mematahkan tubuh-tubuh kalian semudah mematahkan ranting
kering.”
Pangeran dan pengikut-pengikutnya tidak menjawab gertakan itu. Namun mereka
sama-sama mengakui bahwa Ha To-ji ini memang bukan lawan ringan. Caranya menjebol
pintu kuil yang tebal dan kuat itu saja sudah menunjukkan betapa ia memiliki kekuatan yang
luar biasa.
Kemudian ternyata Ha To-ji tidak sendirian saja, berturut-turut muncul tiga orang
lainnya. Semuanya berpakaian seragam perwira Kerajaan Manchu. Sikap merekapun mantap
dan penuh rasa percaya diri. Jelaslah bahwa merekapun merupakan perwira-perwira berilmu
tinggi yang mungkin bobotnya tidak kalah dari Ha To-ji.
Pak-kiong Liong tersenyum ketika melihat wajah Pangeran dan pengikutnya itu
menjadi tegang. Seolah-olah sengaja menggertak musuh-musuhnya. Pak-kiong Liong
memperkenalkan perwira-perwiranya itu satu persatu.
“Yang paling depan itu Han Yong-kim, ahli pedang nomor satu di Korea, pernah
berkelana di Jepang dan menguasai Kenjitsu (Ilmu Pedang Jepang) dengan sempurna. Lalu
Tokku Yan si Harimau dari Gunung Tiang-pek-san yang dengan pedang lengkungnya
seorang diri ia pernah mengobrak-abrik sarang penyamun di Tiang-pek-san. Ia orang Manchu
asli. Nah .........., yang terakhir ini orang Han, namun orang Han yang berpandangan luas dan
tidak sempit pikiran seperti kalian. Namanya Le Tong-bun, murid terbaik dari perguruan
Heng-san-pay dan julukannya adalah Tiat-cui-eng (Elang Berparuh Besi).”
Seperti pemain-pemain sandiwara yang diperkenalkan kepada penontonnya, maka
setiap kali Pak-kiong Liong menyebut sebuah nama, si pemilik nama itu mengangguk kepada
Pangeran sambil tersenyum. Sikap itu jelas menandakan bahwa perwira-perwira Pak-kiong
Liong itu merasa yakin akan memenangkan pertempuran, dan tidak memandang sebelah
matapun kepada Pangeran Cu Hin-yang dan pengikutnya.
Hampir meledak rasanya dada Pangeran melihat sikap perwira-perwira Kerajaan
Manchu itu, namun si pendeta gemuk yang ternyata adalah bekas seorang Panglima Kerajaan
Beng itu lalu membisiki ketelinga Pangeran. “Jangan terpancing oleh akal busuknya,
Pangeran. Pak-kiong Liong sengaja memanasi hati kita agar kita menjadi kurang cermat
dalam tindakan kita.”
Pangeran menganggukkan kepalanya tanda mengerti, lalu si pendeta gemuk yang
bernama Tio Tong-hai itu menjawab dengan sinis. “Bukan main ..... agaknya Pak-kiong
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 18
Ciangkun ingin menunjukkan kepada kami bahwa pemerintahan Manchu telah berhasil
mempersatukan negerinya sehingga perwira-perwiranyapun terdiri dari macam suku. Tapi
dalam pandanganku mereka tidak mewakili sukunya masing-masing, melainkan menjadi
anjing penjilat yang gila uang dan kedudukan !”
Jilid 2__________________________
Perwira-perwira bawahan Pak-kiong Liong itu seketika menjadi merah padam
wajahnya. Dengan gigi gemeretak mereka telah siap menggerakkan senjata mereka, tinggal
menunggu aba-aba dari Panglima mereka untuk turun tangan.
Kongsun Hui yang pendiam itu agaknya pernah saling mengenal dengan perwira Han
yang bernama Le Tong-bun itu. Iapun ikut menyindir, “Dan kudengar Heng-san-pay adalah
sebuah perguruan yang terhormat, bahkan gunungnyapun dijuluki sebagai Lam-gak (Gunung
Suci di Selatan). Tapi sungguh tak terduga bahwa gunung suci di selatan itupun dapat
menelurkan sebutir telur busuk semacam Le Tong-bun ..........”
Wajah Le Tong-bun yang sudah kelam itu berubah menjadi semakin kelam. Sahutnya,
“Apa jeleknya menjadi prajurit Kerajaan Manchu ? Negara membutuhkan tenaga dan aku
mengabdikan tenagaku, itu lebih baik daripada kalian yang hanya bermimpi tentang masa lalu
sambil mengacau di sana-sini. Aku berpijak kepada kenyataan, kalian berpijak kepada anganangan
kosong.”
Begitulah, suasana menjadi sangat tegang. Sambil mulut mereka saling mencaci
lawan mereka masing-masing, maka tanga mereka yang sudah gatal itupun telah
menggenggam senjata semakin erat, siap diayunkan untuk membelah kepala musuh. Tanpa
prajurit-prajurit Manchu yang hanya ditugaskan berjaga di luar kuil, maka pihak Pak-kiong
Liong hanya lima orang termasuk dirinya sendiri, begitu pula pihak Pangeran juga berjumlah
lima orang. Dari segi jumlah memang seimbang, entah bagaimana kemampuan manusianya ?
Masing-masing menyadari betapa beratnya lawan masing-masing.
Pak-kiong Liong sudah memesan para perwiranya agar berhati-hati, sebab yang
mereka hadapi itu adalah bekas Panglima-panglima Kerajaan Beng dari pasukan-pasukan
terbaiknya. Yang juga harus diperhitungkan adalah juga bahwa mereka itu tentu akan
berkelahi seperti orang mabuk, karena fanatik membabi-buta kepada dinasti Beng. Tapi Pakkiong
Liong pun telah berpesan kepada anak buahnya bahwa malam itu tidak boleh gagal
meringkus mereka, sebab jika sampai lolos lagi mereka masih akan bisa menimbulkan
kekacauan di mana-mana.
Sebaliknya Pangeran dan pengikut-pengikutnya pun sadar bahwa yang mereka hadapi
bukanlah prajurit-prajurit biasa, melainkan Panglima Hui-liong-kun didampingi perwiraperwira
pilihannya. Prajurit-prajurit Hui-liong-kun sudah terkenal bukan saja sebagai prajurit
yang bekerja demi mencari upah, melainkan sebagai prajurit-prajurit yang memiliki kesetiaan
sangat tinggi kepada Negara dan Kaisar, tanpa kenal gentar terhadap apapun juga. Hui-liongkun
boleh disebut sebagai Pasukan berani matinya Kerajaan Manchu, kedahsyatannya di
medan laga sudah menjadi buah bibir orang banyak.
Kini masing-masing pihak segera menempatkan dirinya masing-masing untuk memilih
lawannya masing-masing.
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 19
Si pendeta gemuk Tio Tong-hai yang sadar bahwa ilmunya adalah yang paling tinggi
dalam rombongannya, segera menempatkan dirinya untuk melawan Pak-kiong Liong yang
juga orang terkuat di pihaknya lawan. Dalam keadaan seperti ini tidak dapat digunakan siasat
“kuda musuh yang terbaik dilombakan dengan kuda kita yang terjelek” yang tertulis dalam
Kitab perang Sun Pin. Sebab kepandaian Pak-kiong Liong jauh lebih tinggi dari kawankawan
Tio Tong-hai lainnya, sehingga dalam waktu singkat lawan Pak-kiong Liong tentu
akan kalah dan Pak-kiong Liong akan bisa malang-melintang di arena untuk menjatuhkan
korban lain. Yang terkuat di pihak lawan harus dilawan oleh yang terkuat di pihaknya sendiri,
meskipun Tio Tong-hai tidak yakin dapat mengalahkan lawannya namun ia akan mencoba
bertahan sekuat tenaga sampai salah seorang kawannya bisa membereskan lawan dan
kemudian membantunya untuk mengeroyok Pak-kiong Liong. Demikianlah perhitungan Tio
Tong-hai sebagai bekas seorang Panglima yang sudah biasa menghitung kekuatan musuh dan
kekuatannya sendiri.
Karena itu, ketika dilihatnya Pangeran sudah berhadapan dengan Pak-kiong Liong,
maka Tio Tong-hai dengan tergesa-gesa mendekatinya sambil berkata, “Siau-ong-ya, biarkan
aku yang menghadapi Pak-kiong Liong Ciangkun yang perkasa ini, sambil mencicipi ilmu
Hwe-liong-sin-kang nya yang hebat itu.”
Pangeran yang cukup tahu diri bahwa dirinya bukan tandingan Pak-kiong Liong,
segera menyingkir ke samping. Sedangkan Pak-kiong Liong sendiri membiarkan lawannya
berpindah-pindah tempat seperti di atas papan catur saja, dan bahkan sempat mengejek,
“Bagus, Tio Ciangkun, rupanya kau khawatir kalau boneka kesayanganmu itu rusak oleh
tanganku maka kau suruh dia menyingkir lebih dulu. Kebetulan akupun sudah lama ingin
menjajal kehebatan Tangan Petirmu yang sudah lama terkenal sampai ke luar Tembok Besar
itu.”
Tio Tong-hai menggeram, “Bukannya Pangeran takut kepadamu, tetapi ia sebagai
seorang bangsawan berderajat tinggi adalah tidak pantas untuk bertanding denganmu yang
hanya seorang hamba dari Kaisar busukmu itu !”
Pak-kiong Liong tertawa ………., “Ya ….. kau boleh mengarang alasan apapun, tapi
jangan kau kira aku tidak tahu isi otakmu. Kau tahu bahwa Pangeran-mu itu sama sekali
bukan lawanku, dalam waktu kurang dari sepuluh juruspun dia akan terjungkal di tanganku.”
“Kau sombong sekali,” desis Tio Tong-hai.
Sahut Pak-kiong Liong kalem ….., “Karena aku berilmu tinggi, sombong dikit boleh
juga bukan ?”
Sebenarnya Tio Tong-hai merasa agak tegang juga menghadapi Pak-kiong Liong yang
bernama besar itu. Tapi ia tidak gentar. Dalam hatinya ia sudah pasrah nasib, andaikata
dirinya harus gugurpun rela asalkan Pangeran dapat lolos dari situ dan melanjutkan
perjuangan mereka untuk menegakkan kembali Kerajaan Beng.
Sementara itu, orang lain sudah mulai berkelahi. Kongsun Hui sudah mulai
menyerang dengan tombaknya kepada Si Beruang Gurun Ha To-ji. Baik Kongsun Hui
maupun Ha To-ji merupakan jago-jago dalam hal Gwa-kang (Tenaga Luar), maka keduanya
seakan-akan telah menemukan lawan yang setimpal. Dengan bentakan keras Kongsun Hui
menggerakkan sepasang ruyung bajanya dengan serempak. Ruyung kiri menghantam ke
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 20
pinggul musuh, ruyung kanan menghantam ke pundak, semuanya adalah serangan
berkekuatan besar yang dapat meremukkan tulang belulang musuh.
Orang yang bertubuh besar biasanya dianggap berkekuatan hebat namun kurang gesit,
tapi anggapan ini tidak berlaku untuk Ha To-ji. Si Beruang Gurun ini ternyata memiliki
kegesitan dan kelenturan badan yang tinggi, cepat sekali ia bergeser ke samping, dan sepasang
tangannya dengan jari-jari terbuka seperti kuku elang telah berusaha mencengkeram ke arah
siku dan pergelangan tangan kanan Kongsun Hui. Jika kedua sasarannya kena, biasanya lalu
siku dan pergelangan tangan itu akan doputar dengan arah berlawanan sehingga tangan musuh
patah, bahkan Ha To-ji pernah membuat lengan musuhnya copot dari pundaknya.
Cengkeramannya ini berdasarkan ilmu Eang-jiau-kang yang dilatihnya sejak kecil dengan
cara memuntir-muntir segebung potongan bambu.
Melihat gerakan Eng-jiau-kang (Ilmu Cakar Elang) musuhnya itu, Kong-sun Hui cepat
meloncat mundur dan berkata, “Bagus. He, orang Mongol, kau kelihatannya adalah murid
dari Eang-jiau-bun (Perguruan Cakar Elang). Apakah kau punya hubungan dengan Bok Lausiang
yang berjuluk Tiat-jiau-sing-eng (Elang Sakti Berkuku Besi) yang menjadi ketua Engjiau-
bun yang sekarang ini ?”
Ha-To-ji menegaskan, “Mau apa kau tanyakan Suhengku itu ?”
Kongsun Hui mengerut kening .........., “Kakak seperguruanmu ? Dia adalah seorang
pendekar yang gigih menentang bangsa Manchu, kenapa kau sebagai adik seperguruannya
malah berpihak kepada bangsa Manchu ? Tidakkah ini akan merusak nama baik
perguruanmu ?”
Sahut Ha To-ji, “Jalan hidup setiap orang ditentukan oleh pribadinya masing-masing,
tidak ada aturannya kalau orang seperguruan harus berpandangan sama pula dalam segala hal.
Suhengku menuduh aku gila uang dan kedudukan, aku tidak peduli. Tapi hati kecilku sendiri
tahu bahwa aku tidak gila uang dan kedudukan, aku bukan orang serendah itu, aku hanya
mengimpikan kejayaan masa lalu seperti di jaman Jengis Khan. Derap kaki kuda pasukan
kami akan membikin orang-orang benua barat menggigil ketakutan, dan kapal-kapal kami
akan mengarungi jauh ke seberang lautan dan membuat kapal-kapal bangsat bule bermata biru
itu menjadi penghuni dasar lautan. Itu cita-citaku. Aku mengabdi kebesaran Negara, bukan
mengabdi kepada segelintir manusia yang kebetulan merupakan keluarga istana seperti kalian
ini.”
“Oohhh, rupanya kau juga sudah terbius oleh ucapan orang Manchu yang mulukmuluk
itu. Namun sebenarnya mereka itu perampok-perampok yang akan memeras orang
Han, Mongol, Uigur dan lain-lainnya sampai kering darahnya. Mereka perampok dan kau ini
anjing-anjingnya perampok, sama sekali tidak pantas mengaku sebagai laki-laki Mongol.
Banyak kukenal laki-laki Mongol yang berdarah panas dan berwatak kesyatria, tapi kau ini
benar-benar tak berguna.”
Muka Ha To-ji berkerut geram mendengar cacian yang pedas itu. Selama ini ia yakin
bahwa ia menjadi prajurit Kerajaan Manchu karena cita-citanya untuk mengembalikan
kebesaran Jengis Khan di benua maha luas ini, bukan karena pangkat atau hadiah. Ucapan
Kongsun Hui itu melukai pendiriannya dan membuat hatinya tersinggung. Maka begitu bibir
Kongsun Hui terkatup rapat, Ha Toji telah menyerang dengan gerakan Hui-tui-hoan-ciang
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 21
(Menekuk Lutut Sambil Menyodok) yang dilakukan dengan sepenuh tenaga. Desir angin
yang kuat menyertai gerakannya ini, menandakan betapa hebat tenaganya.
Kongsun Hui yang tidak kehilangan kewaspadaan itu segera melangkah surut
selangkah untuk mendapat ruang gerak bagi ruyungnya. Tapi Ha To-ji yang tidak memegang
senjata itu tidak ingin terlibat dalam perkelahian jarak panjang yang akan menguntungkan
lawannya. Begitu musuh mundur dan sodokannya luput, diapun mendesak dengan cepat
sambil menggunakan kedua tangannya untuk merangkul dan menangkap pinggang Kongsun
Hui.
Sekali lagi Kongsun Hui surut selangkah, namun kali ini ia berkesempatan untuk
mengayunkan ruyungnya untuk menghantam kening Ha To-ji.
Ha To-ji yang tengah meluncur maju itu terkejut, tak sempat mundur lagi iapun hanya
memiringkan kepalanya untuk menghindari hantaman ruyung baja itu. Keningnya memang
luput, tapi pundaknya kena. Ha To-ji merasakan pundaknya bagaikan tertimpa reruntuhan
bukit batu sehingga pundaknya pegal bukan main, tak kuasa menahan diri lagi iapun
terhuyung mundur selangkah.
Tapi yang tidak kurang terkejutnya adalah Kongsun Hui sendiri. Hantaman ruyung
bajanya tadi seharusnya dapat meremukkan pundak lawan dan sekaligus mengakhiri
pertempuran, namun ternyata lawan hanya terdorong selangkah, bahkan ruyung baja Kongsun
Hui rasanya bagaikan menghantam selapis papan besi dan terpental balik, hampir saja
membenjolkan kepalanya sendiri.
Kini Kongsun Hui menyadari betapa tangguh lawannya itu .........., “Kiranya orang ini
bukan cuma mahir dalam cengkeraman Eng Jiau-kang tapi juga cukup matang dalam latihan
ilmu kebal Kim-ciong-toh (Perisai Lonceng Emas) dan terkamannya ke arah pinggang tadi
juga menandakan keahliannya dalam gulat Mongol. Tiga macam ilmu dikuasainya,
kelihatannya ia malah lebih tangguh dari kakak seperguruannya. Jika semua perwira Huiliong-
kun berkepandaian setingkat dengan dia, memang harus diakui betapa dahsyatnya
pasukan itu.”
Kini semua orang yang berada di dalam kuil itu sudah mendapatkan lawan masingmasing.
Untunglah bahwa Pekkiong Liong tidak mengikut-sertakan prajurit-prajuritnya, dan
mereka hanya disuruhnya untuk berjaga-jaga di luar kuil. Agaknya Pekkiong Liong
menyadari jika prajurit-prajuritnya diikut-sertakan maka akan jatuh korban di antara prajuritprajuritnya,
meskipun mungkin penangkapan akan berjalan cepat. Namun Pekkiong Liong
selalu berpendirian bahwa sebisa-bisanya jangan ada korban satupun di pihaknya, tidak peduli
itu adalah prajurit rendahan. Pakkiong Liong menghargai nyawa orang lain seperti nyawanya
sendiri, meskipun dalam tugasnya kadang-kadang tak terhindarkan ia menjadi seorang
pembunuh.
Di dalam kuil itu, perkelahian yang paling seru adalah perkelahian antara orang-orang
terkuat dari masing-masing pihak. Pertarungan antara Pakkiong Liong si Panglima Hui-liongkun,
melawan Tio Tong-hai si bekas Panglima Kerajaan Beng yang dalam perjuangan bawah
tanahnya kini ia menyamar sebagai seorang rahib itu. Masing-masing memiliki nama julukan
yang menggambarkan kehebatan mereka masing-masing. Pakkiong Liong adalah Naga dari
Utara dan Tio Tong-hai adalah si Tangan Petir.
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 22
Menghadapi golok Tio Tong-hai yang menyambar-nyambar dengan hebatnya itu,
ternyata Pekkiong Liong masih belum juga menghunus pedang yang tergendong di
punggungnya itu. Ia masih tetap bertangan kosong.
Tapi dengan telapak tangannya itu ternyata Pekkiong Liong adalah seorang yang
benar-benar berbahaya, sebab dari sepasang telapak tangannya itulah terpancar hawa panas
yang semakin lama semakin meningkat sehingga akhirnya hampir-hampir tak tertahan lagi
oleh Tio Tong-hai, tidak peduli Tio Tong-hai memiliki tenaga dalam yang cukup tangguh.
Itulah ilmu Hwe-liong- sin-kang, ilmu kaum Lama Tibet di kuil Thian-liong-si yang hanya
diturunkan kepada murid-murid terbaiknya. Pekkiong Liong adalah murid terkasih dari Hoatbeng
Lama, rahib tua penghuni kamar belakang Thian-long-si yang kepandaiannya begitu
tinggi sehingga dikabarkan konon sudah menjadi setengah dewa. Semua ilmu milik gurunya
sudah diserap habis oleh pemuda Manchu ini, maka Pekkiong Liong sering diolok-olok oleh
teman-temannya sendiri sebagai “seperempat dewa” karena murid dari si “setengah dewa”.
Malam itu udara basah diguyur air hujan, hawa udara sebenarnya dingin menggigit
tulang, apalagi karena kuil itu terletak di dataran tinggi dekat pegungan Tiam-jong-san. Tapi
setelah ilmu Hwe-liong-sin-kang dikeluarkan, maka suhu dalam kuil itu mulai meningkat dan
akhirnya panas luar biasa seperti dalam tanur peleburan logam. Dalam jarak lima atau tujuh
langkah dari tubuh Panglima itu, udara terasa menghanguskan kulit, sehingga baik kawan
maupun lawan lebih suka menjauhkan diri dari Panglima yang hebat itu. Merela lebih suka
menjauhkan diri dari Panglima yang hebat itu. Mereka lebih suka turun ke halaman kuil dan
bertempur di bawah siraman hujan lebat !!
Jika orang-orang yang berjarak beberapa langkah saja tidak tahan oleh hawa panas itu,
apalagi Tio Tong-hai yang menjadi lawan langsung dari Pekkiong Liong. Menjadi sasaran
langsung dari ilmu yang luar biasa itu. Tetapi Tio Tong-hai tidak akan mundur, dengan nekad
dikerahkannya seluruh daya tahan tubuhnya dan ilmunya untuk bertempur habis-habisan.
Di dalam hatinya Tio Tong-hai sudah punya rencana untuk mengorbankan diri demi
keselamatan Pangeran dan rekan-rekan seperjuangannya. Terutama Pangeran Cu Hin-yang
sendiri, sebab ia adalah keturunan Kaisar Cong-seng meskipun hanya dilahirkan oleh seorang
selir yang tersingkir dari istana. Tio Tong-hai telah berani memilih Pak-kiong Liong sebagai
lawannya, berarti iapun siap menerima akibat apapun dari pilihannya sendiri itu. Asal ia
dapat menjadikan Pekkiong Liong luka parah, Pangeran dan teman-temannya akan punya
kesempatan besar untuk lolos. Tanpa Pak-kiong Liong yang bagaikan malaikat utusan neraka
itu, maka perwira-perwira Manchu lainnya bisa ditembus meskipun harus dengan perjuangan
berat pula.
Dengan tekad berkorban itulah maka Tio Tong-hai menemukan kekuatan dalam
jiwanya, sehingga diapun sanggup meladeni Pak-kiong Liong bertempur dengan gigih luar
biasa. Golok di tangannya berputar kencang bagaikan baling-baling yang terhembus oleh
badai yang maha dahsyat, sementara tangan kirinyapun setiap ada kesempatan selalu
melepaskan pukulan-pukulan Pek-lek-jiu yang kehebatannya menyaingi guntur yang
bersambung di udara.
Pak-kiong liong juga tidak berani meremehkan lawannya. Meskipun Panglima itu
yakin bahwa kemenangan tetap akan diraihnya, tapi ia tidak mau terburu-buru dan
menimbulkan kekeliruan bertindak. Lawannya bukan lawan empuk. Lawannya berilmu
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 23
tinggi, gigih dan bahkan nekad, sehingga Pak-kiong Liong harus sangat berhati-hati dalam
menghadapinya.
Bila perkelahian di kuil itu dilihat secara keseluruhan, nampaklah bahwa pihak
Manchu lebih unggul. Yang kelihatan seimbang hanyalah Kongsun Hui melawan Ha To-ji.
Teman-teman Kongsun Hui lainnya, termasuk Pangeran Cu Hin-yang sendiri, agaknya benarbenar
terdesak oleh lawannya masing-masing. Keadaan benar-benar gawat bagi para
pengikut setia dinasti Beng itu.
Tio Tong-hai sudah mulai terdesak oleh Pak-kiong Liong meskipun Pak-kiong Liong
belum mencabut pedangnya. Pangeran Cu Hin-yang yang memainkan ilmu pedang dari Hoasan-
pay itu juga terdesak oleh Le Tong-bun yang memainkan ilmu pedang Heng-san-pay
dengan tangkasnya.
Seorang pengikut Pangeran yang bertubuh tegap dan bersenjata tombak panjang,
agaknya mengalami kesulitan ketika menghadapi Tokko Yan, si perwira bangsa Manchu yang
bersenjata pedang melengkung yang tajamnya seperti pisau cukur itu. Sedang Tokko Yan
sendiri adalah seorang yang lincah, suiatu saat ia berlincahan seperti seekor kupu-kupu, di lain
saat ia menerkam seperti seekor harimau kelaparan. Pengikut Pangeran itu sudah luka-luka di
seluruh tubuhnya. Tapi orang itu terus berkelahi seperti orang kesurupan setan, tanpa peduli
darah yang terus menetes dari tubuhnya. Kesetiaannya kepada junjungannya telah membuat
orang itu mata gelap.
Sementara itu perwira Kerajaan Manchu lainnya, Han Yong-kim, memegang
pedangnya yang bertangkai panjang itu dengan dua tangan. Ia pernah berguru di Jepang dan
cara memainkan pedangnyapun seperti gaya para samurai di kepulauan seberang sana.
Jepang memang dekat letaknya dengan Korea, negeri asal Han Yong-kim.
Lawan Han Yong-kim adalah seorang pengikut Pangeran yang bersenjata pedang pula,
namun nampaknya tenaganya sudah hampir habis karena kelelahan. Setiap kali ia harus
menangkis pedang samurai Han Yong-kim yang digerakkan dengan disertai bentakanbentakan
menggelegar yang menciutkan nyali, dan pengikut Pangeran itu sudah merasa
tangannya pegal bukan main sebab tenaga Han Yong-kim ternyata dahsyat sekali.
Suatu ketika Han Yong-kim mengangkat tinggi-tinggi pedangnya dan
menyabetkannya bagaikan gunung runtuh, pengikut Pangeran itu mencoba menangkis dengan
sisa-sisa tenaganya, tapi pedangnya segera terpental jatuh karena kalah kuat. Buru-buru
pengikut Pangeran itu melompat hendak menjemput pedangnya kembali, tapi Han Yong-kim
telah menendang pinggangnya sehingga terhuyung-huyung, lalu tanpa kenal ampun pedang
samurainya menyabet mendatar dan membelah perut pengikut Pangeran itu. Pengikut
Pangeran itu ambruk, darahnya bercampur dengan air hujan, meresap ke bumi yang
dibelahnya.
Pangeran Cu Hin-yang dan lain-lainnyapun mendengar jerit kematian rekan mereka
itu. Dan jerit kematian itu tak ubahnya lonceng kematian bagi pihak mereka. Kekalahan
sudah jelas, cepat atau lambat. Han Yong-kim yang kehilangan lawan itu tentu tidak akan
menganggur saja, dengan demikian Pangeran dan pengikut-pengikutnya itu tinggal menunggu
untuk dibantai satu persatu.
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 24
Han Yong-kim memang tidak mau tinggal diam. Dilihatnya pertarungan antara
Pakkiong Liong dan Tio Tong-hai berlangsung seperti naga dan harimau. Tio Tong-hai
terdesak namun masih melawan dengan gigih. Han Yong-kim tidak bermaksud mencampuri
pertarungan itu, sebab selain merasa ilmunya masih belum pantas untuk ikut salam
pertarungan ilmu tingkat tinggi itu, ia juga tidak mau Pakkiong liong menjadi tersinggung
karena dibantu.
Lalu Han Yong-kim melihat pertempuran antara Ha To-ji dan Kongsum Hui masih
berlangsung dengan seimbang, tanpa diketahui siapa yang akan menang dan siapa yang akan
terkapar seperti bangkai di kuil terpencil itu. Maka Han Yong-kim lalu mengambil keputusan
untuk lebih dulu membantu Ha To-ji membereskan Kongsun Hui.
Kini Kongsun Hui harus melawan dua orang sekaligus, dan ini tentu saja sangat
memberatkannya. Melawan Ha To-ji saja ia hanya bisa seimbang, apalagi kini ditambah
dengan Han Yong-kim yang kepandaiannya setarap dengan Ha To-ji. Sabetan-sabetan
pedang samurai Han Yong-kim begitu deras, cepat dan mengincar tempat-tempat yang
mematikan. Itulah ciri-ciri seni pedang Kenjitsu dari Jepang. Gerakan-gerakannya serba
sederhana, cepat kuat dan terarah, didukung dengan langkah-langkah yang pendek-pendek.
Kini Kongsun Hui dipaksa untuk bertahan saja dengan rapatnya, sambil menantikan
kekeliruannya sekecil apapun di pihak lawan yang bisa dimanfaatkannya.
Di bagian lain, meskipun Tio Tong-hai menghadapi keadaan gawat, tapi ia
menyempatkan diri untuk melirik dan menilai keadaan seluruh arena. Ia melihat bahwa
orang-orang di pihaknya mulai terhimpit kesulitan besar. Hal itu membuat Tio Tong-hai
mengertakkan giginya dan semakin bulatlah tekadnya untuk mengorbankan diri. Ia harus bisa
membunuh Pakkiong Liong tewas atau paling tidak luka parah, dan diharapkannya jatuhnya
Pakkiong Liong akan meruntuhkan semangat anak buahnya, sehingga Pangeran dan pengikutpengikutnya
sempat meloloskan diri.
Ketika itu Pakkiong Liong melancarkan sebuah jurus yang disebut Tui-jong-bong-goat
(Mendorong Jendela Memandang Rembulan). Kedua telapak tangannya yang panas itu
melakukan gerakan berputar berlawanan arah, lalu “menggunting” lambung Tio Tong-hai
dari kiri dan kanan. Segulung hawa panas bergulung kencang ke tubuh Tio Tong-hai dari kiri
dan kanan. Telapak tangan Pakkiong Liong itu bukan saja berbahaya karena udara panasnya,
tapi juga mengandung kekuatan yang sanggup membelah batu sebesar anak kerbau. Tubuh
Tio Tong-hai bukan hanya terancam hangus tapi juga terancam rontok seluruh tulangbelulangnya.
Demikian dahsyat serangan Pakkiong Liong itu.
Hampir saja Tio Tong-hai mundur karena tekanan kekuatan yang seolah dari dasar
neraka itu. Tapi tiba-tiba Tio Tong-hai teringat akan tekadnya, dan di dalam hatinyapun dia
berkata, “Saat pengorbanan telah tiba. Pangeran junjunganku dan sahabat-sahabatku, selamat
tinggal dan selamat berjuang !”
Dengan tekad seperti itu di dalam hatinya, ia mendapat kekuatan untuk tidak mundur
setapakpun. Kedua telapak tangan musuh yang memukul lambungnya tidak dipedulikannya
lagi, malahan dibarenginya dengan bacokan jurus Te-lai-hong-sing (Gempa Menimbulkan
Badai) ke leher Pakkiong Liong, sementara tangan kirinyapun tak ketinggalan menghantam
sekuat tenaga ke ulu hati Pakkiong Liong dengan ilmu Pek-lek-jiu. Inilah serangan yang
mengajak lawan untuk gugur bersama.
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 25
Ternyata Pakkiong Liong sendiri terkejut melihat sikap nekad lawannya itu.
Bukannya Panglima Manchu ini takut mati, tapi sebagai pihak yang sudah di ambang pintu
kemenangan tentu saja ia enggan diajak mati bersama seperti itu. Itu berarti keuntungan buat
lawannya. Tapi Pakkiong Liong berilmu tinggi dan kaya dengan pengalaman, pada detikdetik
membahayakan itu ia dengan tangkasnya menyurut mundur sambil mengubah jurusnya
menjadi Hun-im-ki-giat (Memisah Mega Merebut Rembulan), sebuah gerakan bertahan,
kedua telapak tangan berputar kencang saling melindungi, membentuk perisai tubuh yang
rapat. Namun dibalik kerapatan pertahanannya itu tersembunyi jurus serangan balik yang
setiap saat bisa dilontarkan keluar. Sekali lagi udara sepanas api neraka bagaikan berpusar
kencang, enam atau tujuh langkah di sekitar tubuh kedua orang yang bertempur itu udara
panas tak tertahankan lagi, kecuali oleh Tio Tong-hai yang tidak lagi memikir nyawanya itu.
Tio Tong-hai mengertakkan giginya. Jurusnya sama sekali tidak dirubah, malahan
kekuatannya ditambah dan dibarengi dengan loncatan ke depan bagaikan harimau lapar.
Bagaimanapun Pakkiong Liong berusaha menghindari adu nyawa itu, tapi ia Cuma
berhasil sebagian saja, lawannya terlalu nekad. Detik-detik terakhir sebelum golok Tio Tonghai
mengenai lehernya, Pakkiong Liong sempat memiringkan tubuh sambil mencondongkan
tubuhnya sedikit ke belakang, sehingga golok Tio Tong-hai Cuma menancap di pundaknya.
Tapi tinju kiri Tio Tong-hai berhasil “menggendor” dada Pakkiong Liong meskipun tidak
terlalu telak pula karena gerakan miring Pakkiong Liong itu. Sebaliknya telapak tangan
kanan Pakkiong Liong yang bagaikan besi merah membara itu berhasil memukul telak dada
Tio Tong-hai karena Tio Tong-hai sendiri yang meloncat maju itu.
Terlihat Pakkiong Liong berdesis menahan sakit sambil terhuyung-huyung beberapa
langkah ke belakang. Golok Tio Tong-hai masih terjepit di daging pundaknya, sementara
dengan muka pucat pasti ia memuntahkan segumpal darah hitam dari mulutnya. Namun
ketangguhan Pakkiong Liong terlihat, ia tidak roboh dan masih tetap berdiri tegak dengan
garangnya.
Sebaliknya Tio Tong-hai yang terhantam pleh telapak tangan yang berisi Hwe-liongsin-
kang itu, tubuhnya terpental ke belakang bagaikan dilemparkan oleh sebuah tangan
raksasa maha kuat. Tubuhnya terbanting di lantai berlumut dengan derasnya. Ia hanya
terlihat menggeliat sedikit, mencoba meronta dari terkaman malakulmaut, namun sia-sia,
sebab sang maut benar-benar telah menjemputnya. Bagian dadanya terlihat hangus seperti
terbakar, bukan saja pakaiannya telah menjadi abu, bahkan dagingnyapun nyaris menjadi
arang dengan tulang-belulang yang hancur lebur. Itulah kehebatan pukulan Hwe-liong-sinkang
yang mengangkat Pakkiong Liong sebagai tikoh puncak dunia persilatan.
Untuk sesaat orang-orang yang berkelahi itu menjadi terhenti, suasana sunyi seperti di
kuburan. Baik kawan maupun lawan sama-sama membutuhkan waktu untuk menenangkan
debaran jantung mereka setelah melihat adu ilmu yang luar biasa itu.
Pihak Pangeran Cu Hin-yang kini mulai menilai diri sendiri. Pihaknya sudah
berkurang dua orang, bahkan termasuk Tio Tong-hai yang dianggap sebagai tulang punggung
kekuatan mereka itu. Sebaliknya pihak lawan belum berkurang seorangpun. Pakkiong Liong
luka namun tidak mati, dan agaknya masih akan mampu bertempur meskipun tidak sepenuh
tenaga. Sementara di bagian luar kuil itu masih ada puluhan prajurit Manchu yang belum
digerakkan. Jadi Pangeran dan sisa-sisa pengikutnya sudah seperti ikan di dalam bubu, tidak
ada lagi kesempatan untuk lolos kecuali terjadi suatu keajaiban.
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 26
Dengan menggerakkan giginya Pakkiong Liong masih mencabut golok Tio Tong-hai
yang masih hinggap di pundaknya, lalu dengan sebelah tangan ia menaburkan obat bubuk
pemampat luka, dan dibantu oleh Han Yong-kim ia membalut luka-luka itu dengan robekan
bajunya sendiri. Dan setelah lukanya dibalut, Pakkiong Liong masih saja nampak tangguh,
meskipun mukanya agak pucat.
Menggunakan kesempatan selagi perkelahian terhenti, Pakkiong Liong berkata kepada
Pangeran, “Pangeran Cu, terimalah kenyataan bahwa perlawanan kalian tidak akan ada
gunanya lagi kecuali untuk bunuh diri. Aku tawarkan lagi satu kesempatan untuk bertindak
bijaksana, kalian menyerah dan memberi kesempatan kepada pemerintah kami untuk
memikirkan kesejahteraan rakyat, bukan cuma disibukkan oleh pembangkang-pembangkang
seperti kalian ini. Jika kalian menyerah, kami akan memperlakukan kalian sebagai keluarga
istana, meskipun dinasti kalian itu sudah tidak ada lagi. Kami bukan orang-orang kejam yang
memperlakukan tawanan seenaknya sendiri saja.”
Pangeran melirik ke arah mayat Tio Tong-hai yang hangus itu dengan gejolak
perasaannya yang hampir tak terkendali. Ia berbisik lirih seolah hanya untuk didengarnya
sendiri, ..........”Lagi-lagi seorang prajurit sejati telah gugur membela pendiriannya.
Arwahnya pasti akan mencaci-maki aku jika aku menghentikan perjuangan ini, dan hati
nuranikupun akan selalu mendakwa aku seumur hidupku ..........!”
Meskipun kata-kata itu setengah berbisik, namun karena suasana kuil itu sangat sunyi
maka Pakkiong Liong mendengar juga. Sahutnya sambil tertawa dingin ..........”Ini adalah
masalah antara kenyataan yang benar-benar ada dengan angan-angan kosong, tidak ada
sangkut pautnya dengan hati nurani segala. Di satu pihak ada kenyataan yang tak dapat
diganggu-gugat bahwa Kerajaan Manchu sudah berdiri kokoh kuat, tak akan tergoyahkan lagi
untuk ratusan tahun. Di lain pihak adalah mimpi kosong belaka untuk mendirikan Kerajaan
Beng yang sudah diruntuhkan oleh rakyatnya sendiri itu. Jalannya sejarah tidak mungkin
diputar balik lagi .........., Pangeran, coba gunakan akal sehatmu !”
Pangeran Cu Hin-yang tidak menjawab perkataan Pakkiong Liong itu, ia hanya
mendengus dengan hidungnya. Ia menoleh kepada Kongsun Hui dan seorang sisa
pengikutnya yang masih hidup .........., “Kalian dengar tawaran orang Manchu ini ? Kalian
ingat sumpah kalian ketika masuk menjadi anggauta gerakan bawah tanah kita ?”
Kongsun Hui dan seorang temannya itu bagaikan terbakar hatinya, mereka serentak
mengangkat senjata mereka dan berteriak serempak mengulangi sumpah mereka dulu
..........”Seng-wi-beng-jin, Si-wi-beng-kui (hidup sebagai rakyat Kerajaan Beng, mati menjadi
hantu Kerajaan Beng) !”
Wajah Pangeran ikut memerah, serunya ..........”Bagus, kita akan bertempur sampai
titik darah terakhir demi cita-cita kita !”
Meskipun Pekkiong Liong berwajah dingin-dingin saja melihat sikap orang-orang
dinasti Beng itu, namun dalam hatinya timbul rasa hormat akan keteguhan hati orang-orang
itu. Ia merasa sayang akan kematian orang-orang itu, namun demi tugasnya ia harus
menumpas mereka sebab orang-orang itu jika dibiarkan lolos akan mengacau lagi di tempat
lain ….., “Baiklah, kalian memang keras kepala. Aku sudah menawarkan jalan lain yang
lebih baik daripada mati konyol. Jika kalian memilih menjadi hantu Beng daripada rakyat
Manchu, kamipun akan berbaik hati untuk membunuh kalian, biar arwah-arwah kalian
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 27
menghuni kuil kosong ini sebagai hantu-hantu penasaran. Kelak penduduk di sekitar sini
akan bercerita kepada anak-cucu mereka bahwa di kuil ini ada hantu-hantu konyol Kerajaan
Beng !”
Para perwira Kerajaan Manchu itupun segera mempersiapkan diri untuk menuntaskan
tugas mereka. Karena mereka yakin bahwa kemenangan sudah pasti di pihak mereka, maka
ketegangan mereka agak menendor. Bahkan si perwira Manchu Tokko Yan sempat membuat
lelucon ....., “Kawan-kawan, malam ini kita mendapat pekerjaan yang aneh ..........”
“Pekerjaan apa ?” tanya Han Yong-kim.
“Membuat hantu,” sahut Tokko Yan. “Bahan-bahan mentahnya sudah tersedia di
depan kita. Ayo cepat-cepat kita kerjakan !”
Perwira-perwira lainnyapun tertawa mendengar senda-gurau rekan mereka itu, namun
mereka dengan waspada tetap memperhatikan ketiga orang calon korban mereka itu.
Meskipun tinggal tiga orang, jika nekad mengadu nyawa akan cukup berbahaya juga.
Di pihak pengikut dinasti Beng, karena merekapun sudah pasrah nasib untuk mati,
maka ketegangan merekapun justru mengendor pula, bahkan Kongsun Hui kemudian
membalas ejekan musuhnya, “Barangkali kuil ini akan dihuni beberapa hantu Beng,
melainkan juga beberapa hantu Manchu dan penjilat-penjilatnya.”
Kemudian kedua belah pihak kembali terlibat dalam pertempuran yang singit. Tapi
dengan keseimbangan tiga lawan lima, maka pangeran dan pengikut-pengikutnya rupanya
betul-betul akan menjadi hantu-hantu gentayangan. Pakkiong Liong yang terluka itupun tidak
tinggal diam, ia ikut berkelahi juga meskipun harus memainkan pedangnya dengan tangan
kiri, sebab pundak kanannya sudah luka oleh bacokan Tio Tong-hai tadi. Gerak-geriknya
juga tidak setangkas semula, sebab isi dadanya masih terasa nyeri.
Tengah baku hantam itu meningkat semakin sengit dan kedua belah pihak semakin
nekad, tiba-tiba dari luar kuil itu terdengar suara ribut-ribut, teriakan saling memaki dan
bahkan juga suara gemerincing senjata berbenturan. Terdengar sebuah bentakan yang
menggelegar ………., “Bangsat-bangsat Manchu, kalian berani berkeliaran di tempat ini
berarti menyetorkan nyawa kalian !”
Di dalam kuil, wajah Pakkiong Liong dan perwira-perwiranya berubah hebat ketika
mendengar seruan yang nadanya bermusuhan dengan pihak pemerintah itu. Tentu ada
sekelompok penentang pemerintah, entah dari kelompok yang mana, telah datang ke tempat
itu dan langsung bentrok dengan prajurit-prajurit yang bertugas menjaga di luar kuil. Pemadu
jalan suku Biao sudah menceritakan tentang adanya tiga kelompok penentang pemerintah
Manchu yang bersarang di kawasan ini, sekarang yang datang ini entah kelompok yang
Mana ?
Sementara suara pertempuran di bagian luar itu masih kedengaran dan malahan
semakin seru. Agaknya jumlah penyerang cukup banyak, tetapi prajurit-prajurit bawahan
Pakkiong Liong melawan dengan gigihnya. Teriakan saling memaki terdengar dari kedua
belah pihak. Jika satu pihak memaki “Penjajah Manchu” maka pihak lainnya membalas
dengan “Pengacau Liar”.
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 28
Wajah Pakkiong Liong berkerut menghadapi perkembangan yang sama sekali tidak
diharapkannya itu. Geramnya ………., “Entah gerombolan liar dari mana ini, yang berani
menentang hamba-hamba negara yang tengah mengemban tugas. Ha To-ji, coba kau lihat
keluar dan kemudian laporkan secepatnya kepadaku”
“Baik, Ciangkun !” sahut Ha To-ji mantap, lalu iapun meloncat keluardari arena dan
kemudian melangkah keluar dengan langkah lebar.
Namun sebelum orang Mongol itu melangkahi ambang pintu kuil yang tadi
dirobohkannya, maka di ambang pintu kuil itu telah muncul tiga orang seolah-olah muncul
begitu saja dari kegelapan malam karena pakaian mereka yang berwarna gelap.
Disorot cahaya api unggun yang masih menyala di dalam kuil, nampaklah orang yang
berdiri di tengah itu bertubuh agak gemuk dan berkulit putih, wajahnya tidak menakutkan,
bahwa pipinya kemerah-merahan seperti bayi. Namun sinar matanya justru tajam menusuk.
Pakaiannya serba hitam, di pinggangnya tergantung sepasang senjata yang langka di dunia
persilatan, yaitu sepasang roda yang disebut Jit-goat-siang-lun (Sepasang Roda Matahari dan
Rembulan).
Dua orang lelaki yang berdiri di kiri kanannyapun menunjukkan sikap yang
menandakan bahwa merekapun orang yang cukup tangguh dalam ilmu silat. Yang satu
menenteng toya Ce-bi-kun (Toya Setinggi Alis) yang agaknya terbuat dari baja karena
berwarna kehitam-hitaman. Satunya lagi memanggul sebuah golok bertangkai panjang,
sepanjang tangkai tombak, yang dikenal dengan nama golok koan-to, karena golok itu jaman
dulu merupakan senjata dari tokoh sejarah di jaman Sam-kok, yaitu Koan In-tiang alias Koan
Kong. Hanya saja, jika golok Koan-to umumnya tebal dan berat, maka golok Koan-to yang
dipanggul orang itu agak kecil dan nampaknya ringan, sehingga memungkinkan untuk
dimainkan dengan lebih lincah.
Ha To-ji yang tak pernah gentar kepada siapapun itu, kini membentak ketiga orang
yang menghadang di pintu kuil itu, “Kami adalah prajurit-prajurit pemerintah yang tengah
mengemban tugas, melawan kami berarti melawan Kerajaan dan Kaisar, ancamannya
hukuman mati. Minggir kalian !”
Lelaki berwajah “bayi sehat” yang tengah-tengah itu tertawa lebar dan menjawab,
“Jangan menakut-nakuti kami dengan menyebut nama Kaisar berkuncirmu itu. Kami
anggauta-anggauta Hwe-liong-pang tidak gentar kepada kalian ! Jadi kalian sajalah yang
menyerah untuk kami adili !”
Ha To-ji mengerutkan alisnya, tiba-tiba ia ingat akan keterangan penunjuk jalan suku
Biao tadi tentang kelompok Hwe-liong-pang ini. “He, jadi kalian dulu adalah pendukungpendukung
Li Cu-seng dalam pemberontakannya melawan Kerajaan Beng ?”
Sahut si lelaki gemuk itu ………., “Ya, dulu kami mendukung Li Cu-seng karena
tindakannya sejalan dengan cita-cita kami yang ingin membebaskan rakyat dari tindasan
Kaisar lalim. Dulu rakyat ditindas Kaisar Cong-ceng dari dinasti Beng, sekarang ditindas
Kaisar Sun-ti dari dinasti Manchu, maka perjuangan kami belum selesai.”
Ha To-ji tertawa ………., “Kalian orang-orang gunung ini memandang perubahanperubahan
tata pemerintahan menurut selera kalian sendiri saja. Kerajaan Manchu justru
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 29
membebaskan rakyat Han dari kesengsaraan akibat pemerintahan Cong-ceng dan Li Cu-seng
yang sama-sama tidak becus memerintah itu. Jika kalian benar-benar pembela rakyat, lihatlah
ke dalam kuil, di sana ada pengikut-pengikut Cong-ceng yang sampai sekarangpun masih
suka mengacau dan menakut-nakuti rakyat yang sebenarnya sudah tenteram di bawah
kekuasaan yang sekarang. Merekalah musuh kalian. Bukannya kami yang justru selalu
berusaha menegakkan ketertiban ini.”
Tapi orang yang membawa toya baja Ce-bi-kun itu tiba-tiba tertawa geli, sehingga Ha
To-ji membentaknya, “He, apa yang kau tertawakan ?”
Jawab orang itu ………., “Aku mentertawakan kau. Orang bertampang mirip kerbau
dogol seperti kau ini ternyata berani bicara panjang lebar tentang urusan negara pula, malah
kau juga pintar bersilat lidah untuk mengadu domba orang. Agaknya tadi aku terlalu
memandang rendah tampang keledaimu ..........!”
“Kurang ajar !” bentak Ha To-ji marah. Secepat burung elang menyambar, dia telah
meloncat maju dan dengan sepasang tangannya yang mencengkeram ia hendak membanting
roboh orang yang telah mengejeknya itu.
Namun orang-orang yang mengaku sebagai orang-orang Hwe-liong-pang
(Perkumpulan Naga Api) itupun segera melompat berpencaran begitu melihat Ha To-ji
bergerak. Masing-masing menampakkan kegesitan gerakannya, menandakan mereka cukup
terlatih baik.
Namun Ha To-ji bukannya kelas kambing, biarpun tubuhnya besar tapi tidak
mengganggu kelincahannya. Begitu serangannya menemui tempat kosong, dengan sigap ia
menghentikan luncuran tubuhnya dan sekaligus memutar pinggangnya, berganti arah
menyerang lelaki yang di pinggangnya membawa sepasang roda Jit-goat-siang-lun itu. Kedua
tangannya mencoba meraih pinggang untuk kemudian dipatahkannya sesuai dengan jurus
gulat Mongolnya.
Tapi lelaki itupun percaya kepada kekuatannya, meskipun badannya tidak sebesar Ha
To-ji. Dengan kuda-kuda yang kuat menancap tanah, ia menyongsong serangan Ha To-ji
tanpa sedikitpun berusaha menghindarinya, tanpa ragu-ragu ia mementang kedua tangannya
ke kiri dan kanan untuk membentur kedua lengan Ha To-ji secara keras lawan keras.
Diam-diam Ha To-ji bersorak di dalam hati melihat sikap lawannya itu, dianggapnya
lawannya telah berbuat kelenahan yang akan memberi peluang kepadanya. Jika dua pasang
tangan berbenturan, aku akan mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan langsung
memuntirnya patah, demikian rencana Ha To-ji di dalam hatinya.
Namun kesudahannya ternyata di luar perhitungan Si Beruang Gurun itu. Tangantangan
maha kuat dari si Beruang Gurun itu ternyata membentur sepasang tangan yang tidak
kalah kuatnya, bahkan Ha To-ji terdorong mundur tiga langkah. Ha To-ji terkesiap, tapi lelaki
baju hitam itupun juga terkesiap karena kekuatan lawannya mampu membuat lengannya linu
untuk sesaat.
Setelah pulih ketenangannya, Ha To-ji bertanya, “Kau ………. kau pemimpin
pecahan Hwe-liong-pang yang bernama Ma Hiong dan berjulukan Siau-lo-cia (Si Dewa Locia
Kecil) itu ?”
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 30
Lelaki baju hitam itu menyahut, “Bagus kalau anjing-anjing Kaisar seperti kalian
mengenal aku. Kelak arwah kalian tidak akan bergentayangan mengganggu manusia jika tahu
siapa yang membunuh kalian.”
Baik pihak Pakkiong Liong maupun pihak Pangeran Cu Hin-yang segera menyadari
bahwa kekuatan baru yang tengah memasuki arena itu adalah kekuatan yang tidak dapat
dianggap remeh. Masing-masing pihak sudah pernah mendengar nama besar Siau-lo-cia Ma
Hiong sebagai pentolan Hwe-liong-pang yang ditakuti. Apalagi kini Siau-lo-cia Ma Hiong
datang dengan membawa sejumlah anak buahnya yang tangguh pula.
Pakkiong Liong maupun Pangeran Cu Hin-yang mempunyai sikap tertentu terhadap
orang-orang Hwe-liong-pang yang dulunya merupakan pendukung-pendukung Li Cu-seng,
si pemberontak terhadap dinasti Beng itu.
Pakkiong Liong selalu berpendapat bahwa kelompok Hwe-liong-pang sama
berbahayanya dengan kelompok-kelompok penentang pemerintah Manchu lainnya sehingga
suatu saat kelak kelompok ini harus ditumpas pula. Sebaliknya Pangeran Cu Hin-yang dan
pengikut-pengikutnya sebagai orang-orang dinasti Beng tentu sulit melupakan bahwa orangorang
Hwe-liong-pang adalah musuh besar mereka. Ketika laskar pemberontak Li Cu-seng
menyerbu Istana Kerajaan Beng dulu, orang-orang Hwe-liong-pang ini menjadi ujung tombak
dari serbuan itu, sehingga seolah senjata orang-orang Hwe-liong-pang belum kering dari
darah para prajurit Beng dan keluarga Istana Beng yang waktu itu mempertahankan Istana
dengan mati-matian.
Tapi pihak Hwe-liong-pang sendiri tidak akan melupakan betapa banyak teman-teman
mereka yang mati di penjara karena disiksa oleh prajurit-prajurit Beng semasa masih
berkuasa. Dan lebih banyak lagi teman mereka yang gugur di luar kota Pak-khia ketika
membendung serbuan balatentara Manchu.
Dengan demikian, di dalam kuil itu sekarang ada tiga pihak berdiri berhadapan dengan
kekuatannya masing-masing, dan juga dengan pendirian teguhnya masing-masing. Jika
masing-masing pihak tetap berdasarkan sejarahnya masing-masing, maka akan terjadi
perkelahian segi tiga di kuil itu. Tidak ada satu pihakpun yang akan mau bersekutu dengan
pihak lainnya untuk memukul sisanya.
Sementara pengawalnya yang bersenjata toya baja Co-bin-kun itu telah mengawal
Siau-lo-cia Ma Hiong masuk ke dalam arena yang tegang itu, maka seorang anakbuah Ma
Hiong yang bergolok koan-to itu telah berkelahi melawan Ha To-ji dengan sengitnya.
Ma Hiong menyapukan pandangannya kepada wajah-wajah di dalam kuil itu, sambil
tertawa dingin ia berkata ………., “Sejak kalian masuk Wilayah Hun-lam ini aku sudah tahu
siapa kalian, dan napas kalian yang busuk penuh ketamakan itu telah membuat udara
pegunungan ini jadi busuk pula. Yang satu pihak adalah anjing-anjing Kaisar Manchu yang
memburu korban dengan rakusnya, yang lain adalah pengikut-pengikut setia si tolol Congceng
yang merasa bahwa negeri ini adalah milik mereka, padahal mereka pernah
menjerumuskan negeri ini ke jurang kemelaratan. Hemm, memuakkan sekali. Seperti dua
ekor anjing berebut tulang. Berebutan tahta, tapi rakyat yang paling berkepentingan justru
tidak kalian pedulikan pendapatnya sama sekali !”
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 31
Baik Pakkiong Liong maupun Pangeran Cu Hin-yang sama-sama menjadi merah
padam mukanya ketika mendengar caci-maki Ma Hiong yang pedas itu. Tapi Pangeran yang
merasa bahwa pihaknya yang terlemah dalam permusuhan segitiga itu, berusaha untuk
menahan diri dan bersikap lebih cerdik, apalagi ia mengemban tugas dari kakaknya, Pangeran
Cu Leng-ong, untuk menghubungi semua gerakan yang melawan Manchu, tidak peduli
bagaimanapun kiblat mereka di masa lalu. Entah bekas pengikut Li Cu-seng, entah bekas
pengikut Pangeran-pangeran Beng lainnya seperti Cu Yu-long dan Cu Gi-yap, entah gerakan
yang berdiri sendiri-sendiri, semuanya harus dihubungi dan diajak bersatu dalam satu barisan
besar. Pokoknya bangsa Manchu harus lebih dulu terusir dari tanah air, begitu pesan
Pangeran Cu Leng-ong masih jelas terngiang di telinga Pangeran Cu Hin-yang. Dan
kelompok sisa-sisa Hwe-liong-pang yang bertebaran di mana-mana dan menjadi kelompok
sendiri-sendiri itu, termasuk dalam daftar yang harus dirangkul untuk dijadikan teman.
Karena tujuan yang lebih besar itulah maka Pangeran tidak membalas caci-maki Ma
Hiong itu, ditekannya perasaannya yang bergejolak. Malah dengan sikap sopan ia memberi
hormat kepada Ma Hiong sambil berkata, “Saudara ini tentunya adalah Ma Hiong dari Hweliong-
pang yang terkenal sebagai pembela rakyat kecil. Memang harus diakui bahwa
ayahanda Cong-ceng adalah seorang Kaisar yang lemah, namun kesalahannya yang
bertumpuk-tumpuk itu sudah ditebusnya dengan kematiannya yang hina, yang tidak sesuai
dengan martabat seorang raja, yaitu menggantung diri. Saudara, maukah memaafkannya ?
Dan tentang orang-orang Manchu ini, berhakkah mereka menyerbu negeri kita dengan senjata
dan kemudian mengaturnya sesuai dengan kehendak mereka sendiri ??”
Sikap Pangeran itu di luar dugaan Ma Hiong, sesaat ia terpaku tak dapat menjawab,
tapi akhirnya iapun menganggukkan kepalanya sedikit untuk membalas penghormatan
Pangeran Cu Hin-yang itu. Sahutnya, “Bagus, kau adalah bangsawan Kerajaan Beng yang
dengan jantan berani melihat keburukan diri sendiri, itu jarang ada. Biasanya para pengikut
Kerajaan Beng selalu enggan melihat diri sendiri, tapi lebih suka mencari kambing hitam ke
kanan kiri, menganggap diri mereka sendiri paling benar. Ambruknya Kerajaan Beng
dibebankan kesalahannya kepada Li Cu-seng, Co Hua-sun, Bu San-kui dan entah siapa lagi,
tapi tidak menyadari bahwa yang menyebabkan ambruknya negara adalah mereka sendiri
yang menjadi cengeng karena hidup mewah dan tak becus mengurus negara. Tapi kau
agaknya lain dari mereka. Nah, untuk sementara kita bisa bertempur bersama-sama untuk
mengusir anjing-anjing Manchu ini !”
“Bagus !” sahut Pangeran. “biarpun kita pernah bermusuhan di masa lalu, tapi
sebagai sesama anak negeri ini, kita harus melupakan permusuhan kita dan menghadapi
musuh kita bersama !”
Sedang Pakkiong Liong dan perwira-perwiranya merasa bahwa pekerjaan mereka akan
bertambah berat dengan terjadinya persekutuan antara Pangeran dan orang-orang Hwe-liongpang
itu, namun mereka tidak takut dan tetap merasa yakin akan dapat menyelesaikan tugas
yang betapapun beratnya.
Pakkiong Liong tertawa mengejek ………., “Hemm, kalian hanya berlagak rukun di
hadapan kami, tapi siapa yang tak tahu bahwa kalian masing-masing sama-sama bernafsu
untuk merebut tahta bagi kepentingan golongan kalian masing-masing ? Dan, andaikata
kalian benar-benar bersatu, kalian kira kalian akan bisa menumbangkan pemerintahan sah
yang sudah berakar kuat di benua ini ? Itu hanya mimpi di siang bolong !”
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 32
Ma Hiong menjawab, “Jangan membual, orang Manchu. Aku memang pernah
mendengar betapa perkasanya Panglima Hui-liong-kun yang berjuluk Naga Utara, yang
dengan telapak tangannya saja dapat melumerkan logam. Tapi jangan mimpi akan dapat lolos
dari tangan kami, kau sudah hampir mampus karena luka-lukamu, dan anak buahmu yang
berada di luar itupun akan mampus oleh anak buahku.”
Pakkiong Liong tidak mau kalah gertak, kepada perwira-perwiranya yang masih utuh
ia berkata, “Tunjukkan kepada mereka bagaimana seorang perwira Hui-liong-kun
bertempur”
Han Yong-kim dengan pedang samurainya menyambutnya, “Ciangkun, ijinkan aku
menyumbat mulut orang-orang busuk Hwe-liong-pang ini !”
“Lakukan !” perintah Pakkiong Liong.
Baru saja bibir Pakkiong Liong terkatup, Han Yong-kim telah meloncat bagaikan
harimau menerkam, pedangnya diangkat tinggi-tinggi dengan kedua tangannya lalu
dibacokkan turun bagaikan gunung runtuh ke batok kepala Ma Hiong. Gerakan ini mirip
dengan jurus Tay-san-ap-teng (Gunung Tay-san ambruk ke kepala) dalam ilmu silat
Tiongkok, namun cara memegang pedangnya berbeda. Ilmu pedang Jepang yang disebut
Kenjitsu ini sudah terkenal keampuhannya dan keganasannya.
Ma Hiong sendiri tidak berani gegabah melihat serangan sedahsyat itu, tapi Ma Hiong
sendiri berilmu tinggi dan tidak mudah menjadi gugup dalam bahaya apapun. Dia pernah
menjadi salah seorang dari delapan orang Tong-cu yang ditakuti oleh pemerintah Beng dulu,
dengan demikan ilmunyapun tidak rendah. Dengan demikian ilmunyapun tidak rendah.
Dengan gerakan yang sangat cepat, tahu-tahu sepasang roda Jit-goat siang-lun yang tadinya
tergantung di pinggang telah dipegang dengan kedua tangannya. Roda kiri menangkis ke atas
rodak kanan menyodok ke rusuk lawannya.
Han Yong-kim si orang Korea ini agaknya meniru kebiasaan para pendekar Jepang
dalam bertempur, ia berteriak keras. Serangan Ma Hiong ke rusuknya hampir tidak
dipedulikannya, ia justru mengangkat tubuhnya ke atas sambil menambah tenaga ayunan
pedangnya. Dengan demikian ayunan pedangnya bertambah hebat beberapa kali lipat karena
ditambah dengan berat badannya sendiri.
“Hebat !” desis Ma Hiong yang rupanya agak terkejut juga melihat cara bertempur
seperti badak dari perwira Kerajaan Manchu ini. Untuk menanggulangi gempuran pedang
musuh itu ia tidak dapat mengandalkan tangan kirinya saja, maka roda di tangan kanannyapun
ikut diangkat untuk menangkis ! Benturan dahsyat antara dua jenis senjata yang sama-sama
terbuat dari baja pilihan dan sama-sama digerakkan oleh kekuatan dahsyat pula. Si orang
Korea yang kakinya tak menginjak tanah itu sempat terpental ke belakang, namun kemudian
berputar di udara dengan manisnya, dan menjejakkan kaki di tanah seringan seekor kucing.
Ma Hiong tergeliat pinggangnya dan mundur selangkah.
Diam-diam pentolan Hwe-liong-pang itu membatin .........., “Pantas kalau Hui-liongkun
merupakan pasukan kebanggaan Manchu, bahkan melebihi pasukan Pat-ki (Delapan
Bendera) yang dipimpin oleh para Pwe-lek (Pangeran Bangsa Manchu) itu. Perwira yang satu
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 33
ini saja amat tangguh, padahal entah terdapat beberapa puluh orang perwira setingkat ini di
dalam pasukan itu !”
Tapi Ma Hiong tidak menjadi kecut hatinya, semakin tangguh lawannya malahan akan
semakin mengobarkan semangat tempurnya. Bekas tokoh Hwe-liong-pang ini kemudian
mencoba memaksakan suatu pertempuran jarak dekat yang menguntungkan buat senjatanya
yang pendek itu. Begitu Ma Hiong membentak sambil menggerakkan sepasang tangannya,
maka tiba-tiba di sekitar tubuhnya muncullah puluhan pasang roda Jit-goat siang-lun yang
bergerak serempak dengan hebatnya. Kini Ma Hiong seolah punya puluhan pasang tangan
yang bergerak sekaligus, bagaikan hujan deras menghambur ke tubuh Han Yong-kim.
Tapi orang Korea itupun cukup keras kepala untuk mundur begitu saja, pedangnyapun
berubah menjadi bayangan yang berpuluh-puluh batang banyaknya. Maka kedua itu segera
terlibat dalam pertempuran yang sangat seru.
Sementara itu, Pangeran Cu Hin-yang bersama dengan sisa-sisa pengikutnya telah
bangkit kembali semangat tempur mereka. Kalau tadi mereka sudah pasrah nasib menunggu
kematian saja, kini timbul kembali harapan untuk tetap hidup dan memperjuangkan cita-cita
mereka. Biarpun kini harus bekerja sama dengan bekas pendukung-pendukung si
pemberontak Li Cu-seng, mereka tidak peduli lagi.
Pangeran Cu Hin-yang bertempur melawan Pakkiong Liong, tapi Pakkiong Liong
yang kekuatannya sudah agak susut. Namun demikian Pangeran tetap tidak boleh lengah
menghadapinya, sebab meskipun luka, si Naga Utara itu tetap seorang yang berbahaya.
Tangan kirinya masih merah membara seperti mulut seekor naga yang menyemburkan api,
dan tangan kanannya yang memegang pedang itu memainkan senjatanya dengan lincah. Jika
Pangeran lengah sedikit saja, bisa jadi ia akan mengalami nasib seperti Tio Tong-hai, mati
dengan tubuh yang habis hangus.
Sementara itu di luar tembok kuil kosong itu telah berlangsung pertempuran sengit
antara prajurit-prajurit anak buah Pakkiong Liong melawan orang-orang Hwe-liong-pang
anak buah Ma Hiong.
Para prajurit Manchu hasil gemblengan Pakkiong Liong itu merupakan orang-orang
pilihan yang terkenal ketangguhan dan keberaniannya. Manusia-manusia yang bertubuh dan
bersemangat baja. Maka anak buah Ma Hiong tidak dapat segera mendesak lawannya.
Tapi anak buah Ma Hiong-pun bukannya orang-orang bernyali tikus yang gampang
menjadi ketakutan melihat kegarangan lawan mereka. Dulu mereka adalah anggautaanggauta
Hwe-liong-pang yang terkenal gagah berani, biarpun mereka tidak pernah terlatih
sebagai prajurit, namun mereka telah tertempa oleh ganasnya peperangan selama bertahuntahun
dan juga ganasnya hutan-hutan lebat dan alam pegunungan yang penuh bahaya.
Dengan demikian, baik anak buahnya Pakkiong Liong maupun anak buah Ma Hiong
telah ketemu tandingannya masing-masing. Kedua belah pihak sama-sama terbentur lawan
keras. Anak buah Ma Hiong yang sering dengan mudahnya dapat menjebak dan
mengalahkan prajurit-prajurit bawahan Peng-se-ong bu San-kui tadinya mengira dalam waktu
singkat akan segera mengalahkan lawan mereka. Tapi kini mereka terkejut menemui
ketangguhan lawan.
pendekar Naga dan Harimau > karya STEFANUS S.P. > pubished by buyankaba.com 34
Sebaliknya prajurit-prajurit anak buah Pakkiong Liong tidak kalah terkejutnya ketika
menghadapi gempuran-gempuran dahsyat orang-orang Hwe-liong-pang itu. Prajurit-prajurit
pakkiong Liong itu sadar bahwa mereka adalah prajurit-prajurit pilihan kebanggaan Kerajaan
Manchu, punya keunggulan dibandingkan pasukan-pasukan lainnya. Tiap kali mereka turun
ke medan tempur musuh akan dibuat kocar-kacir atau menggigil karena gentar. Tetapi
sekarang mereka telah kebentur orang-orang Hwe-liong-pang yang sama tangguhnya dan
sama nekadnya dengan mereka sendiri.
Hati kedua pihak yang bertempur semakin lama semakin panas, mengalahkan
dinginnya malam. Setelah keringat membasahi baju, masing-masingpun kian beringas.
Beberapa orang sudah roboh di tanah yang becek oleh air hujan. Tapi korban-korban yang
jatuh tidak membuat mereka yang masih hidup menjadi jera, malahan membuat hati semakin
panas dan semakin bulat tekadnya untuk menuntut balas. Tapi lawan juga ingin berbuat
serupa.
Jilid 3________________

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cersil Stefanus : Pendekar Naga dan Harimau 1 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 06 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments