Cersil Hora Romantis Ke 8 Iblis Sungai Telaga

AliAfif.Blogspot.Com - Cersil Hora Romantis Ke 8 Iblis Sungai Telaga
Cersil Hora Romantis Ke 8 Iblis Sungai Telaga
Dan dia lantas memutar tubuh, buat lari balik untuk keluar
dari mulut gua.
Tan Hong menyusul, disusul juga oleh It Hiong.
Di lain detik, ketiga orang itu sudah kembali ke dalam
terowongan. Masing-masing mencekal beberapa ikat bahan
api. Mereka menyalakan api dan menyulut obor istimewa itu
hingga terowongan terang dengan cahaya apinya. It Hiong
dan Tan Hong berjalan maju berendeng, obor di tangannya
senantiasa di goyang-goyang ke kiri dan ke kanan.
Hoay Giok berjalan di belakang, membawa cekalan obor
lainnya untuk menggantikan setiap obor yang sudah padam.
Cara itu memberi hasil. Melihat api dan mencium bau asap,
semua ular lantas bergerak. Semua berebut lari ke sebelah
dalam terowongan. Mereka itu ketakutan dan berlomba
keluar. Dengan ular itu berebutan lari, It Hiong dapat maju
dengan terlebih cepat.
Terowongan mungkin panjang tiga puluh tombak. Habis itu
terlihat gua merupakan ruang, ada pembaringan, kursi dan
mejanya. Semua terbuat dari adukan batu hancur. Hanya
ruang ini kosong, tidak ada penghuninya. Sampai disitu, entah
semua ular menghilang kemana.......
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Suhu ! Suhu !" Hoay Giok memanggil-manggil.
Tidak ada jawaban, cuma terdengar kumandang yang
keras. It Hiong dan Tan Hong mencoba turut memanggilmanggil
tetapi cuma kumandang menjadi jawabannya. Setelah
itu mereka berdiam, mata mereka dipasang ke seluruh ruang.
Mereka mengharapi melihat sesuatu.....
Tiba-tiba dari satu pojok, dimana tampak rebung batu
terdengar suatu suara perlahan.
"Ah !" seru Tan Hong tertahan, lalu terus ia menarik ujung
bajunya It Hiong. Anak muda itu memasang mata.
Tan Hong bukan cuma menarik. Ia juga bertindak. Maka
bersama-sama berdua mereka pergi ke pojok itu. Kiranya di
belakang rebung batu itu terdapat sebuah ruang kecil yang
penuh terhamparkan rumput kering. Di situ terdapat sesosok
tubuh orang yang rebah tak berdaya. Melihat orang itu, It
Hiong berlompat maju lantas ia mengangkat dan
memondongnya, dibawa ke dalam ruang buat diletaki dengan
hati-hati diatas pembaringan batu.
Orang itu ialah Beng Kee Eng, paman atau guru mereka.
Dia membuka matanya yang lemah, mukanya pucat pasi
dengan mata yang guram itu dia mengawasi tiga orang yang
berdiri terpaku di hadapannya. Inilah sebab tegangnya hati
mereka itu.
Akhirnya It Hiong mencekal lengan sang paman, air
matanya turun meleleh.
"Paman !" panggilnya. "Paman !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bee Kee Eng berdiam saja. Ia mendengar seperti tak
mendengar, melihat seperti tak melihat. Ia tetap hanya
mendelong ! Hoay Giok berlutut di depan gurunya itu. Air
matanya bercucuran.
"Suhu !" panggilnya. "Suhu, kau kenapa ? Kenapa suhu
berdiam saja ? Apakah suhu tidak mengenali kami ?"
Murid itu lantas menangis dan It Hiong turut terus
mengucurkan air matanya. Di dalam keadaan seperti itu,
mereka bingung hingga seperti tak dapat berpikir dengan
tenang. Keadaan Beng Kee Eng sungguh mengharukan,
pantas membuat orang tak berdaya. Tan Hong tidak kenal
Beng Kee Eng, ia tak bersitegang hati seperti kedua anak
muda itu. Mau juga pikirannya tetap tenang. Ia cuma terharu
dan merasa berkasihan. Ia tidak bingung. Ia dapat berpikir.
Melihat keadaannya pemuda yang seperti lumpuh itu, Tan
Hong berlaku mantap dan cepat. Paling dahulu ia menotok
kedua pemuda itu pada masing-masing jalan darah hek tiam.
Inilah guna menenangkan mereka itu supaya kesadaran
mereka mudah pulih. Hendak ia mengambil hatinya It Hiong
dengan melakukan sesuatu. Setelah menotok kedua anak
muda itu, lantas Tan Hong mengawasi Beng Kee Eng.
Bagaikan mayat, Beng Kee Eng rebah tak bergeming. Dia
tak dapat bicara. Melihat keadaannya mungkin itulah akibat
totokan lawan pada jalan darahnya. Karena itu Nona Tan
lantas memperhatikan seluaruh tubuh orang guna mencari
kebenaran dari dugaannya itu.
Tak sulit akan mendapat kenyataan kecuali telah ditotok
kedua jalan darah hun hiat dan ahiat yang menyebabkan
orang tak sadar dan gagu, Beng Kee Eng pun ditotok jalan
darah sinToan di punggung, jalan darah hoktouw di belakang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
pinggang juga jalan darah siang kiok di perut. Di semua
tempat tertotok itu terdapat tetesan darah.
Menyaksikan itu, Tan Hong sebal benar terhadap Kiu Lam It
Tok. Ia menganggap jago racun itu kejam sekali. Tapi ia harus
bekerja. Maka ia mengumpul tenaga dalamnya pada
tangannya, terus ia menepuk hun hiat dan hiat. Untuk tiga
jalan darah lainnya yang mengeluarkan darah ia menunda
sebab ia tidak mengerti dan kuatir nanti mencelakai jago itu.
Lewat sesaat, sadar sudah Beng Kee Eng. Hanya belum
dapat dia menggerakkan tubuhnya. Maka itu ia cuma bisa
mendelong mengawasi si nona yang dia tak kenal itu. Ia
merasa aneh.
"Locianpwe." Tan Hong lantas menyapa. "Kenalkah
locianpwe akan dua orang itu ?" Ia terus menunjuk kepada It
Hiong dan Hoay Giok yang lagi rebah di pembaringan batu itu.
Beng Kee Eng menoleh. Maka ia melihat keponakan dan
muridnya yang terasayang lagi tidur nyenyak. Ia
memperlihatkan rupa tak mengerti atau kaget, terus saja dia
menghela napas dan mengeluh. "Habislah........." Tapi sedetik
kemudian, mendadak tampangnya menjadi bengis.
"Siapakah kau ?" ia tegur Tan Hong, gusar.
Tan Hong girang mendapat jago itu sudah sadar benar.
Maka tanpa mau melayani teguran orang, justru pergi
menepuk-nepuk dahulu jalan darah It Hiong dan Hoay Giok
membuat kedua anak muda itu lantas mendusin setelah mana
ia menyesalkan si pemuda she Tio dengan mengatakan : "Adik
Hiong, mengapa nyalimu lemah tidak karuan ? Paling penting
ialah menolong dahulu Paman Beng !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong dapat dikasihh mengerti. Segera ia menahan sedih
hatinya. Ia berlompat bangun sambil memanggil keras :
"Paman !" Terus ia lari kepada paman itu memelukinya.
Beng Kee Eng heran dan girang sampai ia mengeluarkan air
mata.
"Aku tidak sangka bahwa aku masih dapat menemui kalian,
anak-anak....." katanya terisak-isak.
"Adik Hiong, jangan bicara saja !" Tan Hong menyela.
"Telah aku periksa tiga buah jalan darah penting dari Paman
Beng telah kena terpagut ular beracun. Maka itu paling perlu
ialah kau mengobatinya dulu."
Beng Kee Eng mendengar itu, dia menarik napas dalamdalam.
Lantas dia kata lemah : "Ketiga luka jalan darah itu
bukan karena totokan atau pagutan ular, hanya disebabkan
tusukan jarum emas yang ada racunnya. Sudah lama aku
ditusuknya dan racun sudah bekerja lama menyelusup ke nadi
maka juga walaupun ada obat mujarab mungkin waktunya
sudah terlambat......."
"Jangan kuatir suhu." berkata Hoay Giok. Ia pun
menghampiri gurunya itu. "Orang baik diberkahi Tuhan Yang
Maha Kuasa. Adik Hiong mempunyai obat pemunah racun
yang sangat mujarab. Walaupun racun ular jahat sekali, obat
masih dapat memunahkannya."
Bagaikan baru terasadar It Hiong segera merogoh ke dalam
saku bajunya. Ia mengeluarkan peles obatnya dan mengambil
enam butir diantara obat itu dan dengan lantas ia memasuki
obat ke dalam mulut pamannya untuk dikunyah dan ditelan
sedangkan tiga butir lainnya dihancurkan dengan air untuk
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dipakai memborehkan luka pada tiga jalan darah yang
membahayakan itu.
"Sabar Paman. Segera paman akan sembuh." ia menghibur
pamannya itu yang ia minta berdiam jangan bergerak guna
mengasi ketika obat berjalan dan bergerak.
Kee Eng menurut. Ia rebah dengan berdiam saja. Selang
satu jam ia bergerak karena mual. Ia muntah-muntah
mengeluarkan bau yang amis sekali. Bukan cuma itu saja,
juga ditempat yang luka lantas muncul kepalanya tiga batang
jarum ! It Hiong bertiga kaget berbareng girang. Hebat
obatnya si pendeta tua.
Tanpa ayal lagi pemuda she Tio itu menggunakan dua jari
tangannya akan menjepit dan mencabut ketiga jarum itu satu
demi satu, setelah mana lubang-lubang luka mengeluarkan
darah hitam. Jarum-jarum itu sendiri yang panjang tiga dim
bersinar kuning emas kebiru-biruan.
Kee Eng menarik napas dalam-dalam. Masih ia nampak
lesu. Masih dia berduka. Kata dia perlahan : "Semua jarum
telah keluar dan rasa nyerinya telah lenyap tetapi aku masih
sangat lemah, tenagaku tidak pulih. Tak dapat aku
menggunakannya. Nampaknya usaha kalian sia-sia
belaka........."
"Janganlah berkecil hati, locianpwe." Tan Hong menghibur.
"Jika benar-benar kami tidak berhasil menolong locianpwe,
akan kita bawa locianpwe turun dari gunung Ay Lao San ini
guna mencari tabib yang pandai guna menolong terlebih jauh
! Sekarang locianpwe sabar saja dan beristirahatlah dengan
tenang !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Beng Kee Eng dapat dibujuki. It Hiong dan Hoay GIok pun
membantunya.
Malam itu dilewatkan mereka berempat di dalam sarang
ular itu. Selama menantikan sang waktu, Kee Eng dibantu
dengan pengurutan seluruh tubuhnya. Hanya kali ini obat
belum juga bekerja. Sampai pagi, jago tua ini belum dapat
pulang tenaganya, tak dapat ia bangun sendiri.........
It Hiong semua bingung. Mereka berpikir keras sampai
mereka ingat kepada Kiu Lam It Tok. Bahwa mereka harus
mencoba mencari jago Kwieciu Selatan itu buat mendapatkan
pertolongan-nya walaupun secara paksa. Ada pepatah yang
berkata : "Buat membebaskan orang dari ikatan mesti dipakai
tenaganya orang yang mengikatnya”
"Beng Locianpwe." Tan Hong lantas tanya Kee Eng.
"Tahukah locianpwe dimana Sia Hong menyembunyikan
dirinya ?"
"Malam itu sepulangnya Sia Hong, dia repot mengobati
kedua muridnya." Kee Eng memberikan keterangan. "Habis itu
dia menotok dan menjarumi aku hingga aku tidak tahu apaapa
lagi.........."
Benar-benar sulit.
It Hiong bertiga menggeledah seluruh ruang itu untuk
mencari obat selama satu jam sia-sia saja. Mereka tidak
mendapatkan sesuatu tetapi pemuda she Tio itu penasaran,
dia mencari terus. Ia mengikuti setiap dinding. Akhirnya dia
menemukan sebuah lubang yang tertutup tapi didalam situ
tersembunyi sebuah kotak kecil terbuat dari kayu yang
atasnya berukiran tiga buah huruf, bunyinya "Kay Tok Tan"
artinya pil pemunah racun.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Aku berhasil !" ia berseru dalam girangnya. Lantas ia
membuka tutup kotak atau segera ia berdiri menjublak saja !
Kotak itu kosong melompong ! Ada juga segumpal kertas
kecil yang bertuliskan : "Racun ular pada tubuhnya si orang
she Beng dapat menyambung jiwanya sampai tiga bulan.
Sampai di Rapat di gunung Tay San. Jika kalian benar
mempunyai kepandaian, obat pemunahnya akan didapatkan.
Sia Hong."
Hoay Giok menggertak gigi saking mendongkol. Lantas ia
mencaci maki Kiu Lam It Tok yang dikatakan kejam dan licik.
Tak ada perasaannya sebagai orang Kang Ouw sejati !
"Si bajingan tukang main racun sudah kabur, percuma kita
mencaCinya." berkata Tan Hong. "Sekarang ini paling perlu
kita melindungi Beng Locianpwe berlalu dari gunung ini."
Itulah benar. It Hiong dan Hoay Giok pun dapat menyabari
diri.
"Kakak benar." kata It Hiong. "Kita terusl menuruti saja
suara hati kita hingga kita melupakan tugas kita."
"Si bajingan berkata kita masih mempunyai waktu tiga
bulan. Mungkin dia dapat dipercaya." kata Tan Hong pula.
"Syukur, waktu itu cukup lama. Maka yang penting sekarang
ialah kita harus menghadapi pihak Losat Bun. Setelah berhasil
meninggalkan gunung ini, selanjutnya pasti locianpwe akan
dapat ditolongi ! Nah, mari kita bekerja !"
Hoay Giok dan It Hiong setuju. Hoay Giok segera
menghampiri gurunya. Ia membuka ikat pinggangnya guna
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
memakai itu melibat tubuh sang guru yang ia angkat dan
gendong. Ia minta sang guru suka bersabar dan bertahan.
"Mari !" kata anak muda ini selesai berdandan. Goloknya ia
cekal di tangan kanan.
Tan Hong dan It Hiong mengikuti, tetapi It Hiong sambil
berkata : "Kakak Whie, kau jalan di muka. Aku telah berunding
dengan kakak Tan, ia akan ikut kau buat melindungi kalian.
Aku sendiri akan jalan di belakang buat menjaga kalau-kalau
musuh datang mengejar. Apa juga terjadi atas diriku, kau
jangan pedulikan. Kalian lari terus asal paman selamat !"
Itulah kata-kata mirip pesan terakhir.
Hoay Giok mengerti.
"Dimana nanti kita bertemu ?" tanyanya.
"Aku pikir tempat itu ialah Siauw Lim Sie di Siong San."
sahut It Hiong. "Di manapun ada ayah angkatku, itulah tempat
yang aman ! Nah, sampai kita berjumpa pula di gunung itu !"
"Tetapi aku....." tiba-tiba Tan Hong berkata, suaranya
tertunda.
"Memang kakak tidak dapat pergi ke Siauw Lim Sie."
berkata It Hiong. "Baik kakak mengantar paman sampai di
tempat yang aman. Selanjutnya terserah kepada kakak sendiri
! Kakak telah banyak melepas budi padaku. Aku, Tio It Hiong
akan aku ingat itu untuk membalasnya !"
Bukan main berdukanya Tan Hong. Ia mesti berpisah dari
adik itu sedang sampai sebegitu jauh mereka bertiga telah
seperti sehidup semati. Tapi ia tahu suasana. Itulah
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
perpisahan yang sukar dihindari. Dengan lesu, bahkan sedih ia
berkata : "Adik, kau memandang aku sebagai orang luar.
Dengan perpisahan ini, sampai kapan kita akan jumpa pula.
Entah aku masih mempunyai untung baik menemukan kau
pula atau tidak."
It Hiong melengak. Ia terharu. Hanya sekejap, terbangun
pula semangatnya. Lantas ia berkata sungguh-sungguh.
"Kakak, kau telah pertaruhkan jiwa ragamu membantu kami
mencari dan membantu Paman Beng, budimu yang sangat
besar itu tak nanti aku lupakan. Hanya sekarang, suasana
memaksa kita berpisah ! Kakak, biar kita berpisah buat
sementara waktu saja ! Jangan kakak bersusah hati !
Bukankah bakal lekas tiba saatnya Rapat Besar di gunung Tay
San ? Nah, waktu rapat itu ialah waktu pertemuan kita pula.
Bukankah itu bagus ?"
Tan Hong diingatkan akan rapat besar itu Tay San Tay
Hwe. Ia nampak girang.
"Bukankah rapat itu bakal diadakan nanti bulan delapan
tanggal lima belas ?" kata ia bertanya.
"Benar, kakak !" sahut It Hiong. "Sekarang sudah bulan
enam tanggal pertengahan, maka ini waktu perpisahannya
tidak lama lagi !"
Hoay Giok mendengari pembicaraan itu.
"Mari !" ia mengajak, sebab pembicaraan pun telah selesai.
Maka berlalulah mereka dengan cepat, meninggalkan
sarangnya Sia Hong itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Hoay Giok," kata Kee Eng selagi mereka menuju ke mulut
gua. "Di dasar terowongan ini ada jalan rahasia, jadi tak usah
kalian ambil jalan mulut gua yang sukar itu. Mari aku tunjuki
jalannya."
Itulah bagus. Maka orang menuruti kata-kata orang tua itu.
Lantas mereka mengubah tujuan ke dasar gua. Jalanan gelap
dan berliku-liku, sempit dan sulit sekali.
Tan Hong cerdik. Untuk mengatasi jalan yang gelap, ia
mengambil sebuah lentera dari dalam raung hingga
selanjutnya mereka memakai penerangan yang membuat
mereka dapat berjalan jauh terlebih cepat.
Lewat satu jam mereka lantas melihat cahaya matahari.
Bukan main leganya hati mereka. Telah mereka keluar dari
sarang ular. Matahari sudah berpindah ke barat. Ketika itu
kira-kira jam tiga atau empat lohor.
It Hiong memandang ke sekitarnya akan melihat arah buat
mencari jalan meninggalkan gunung itu. Ia lantas menuju ke
arah kiri, Hoay Giok dan Tan Hong mengikutinya. Terpaksa ia
yang mesti membuka jalan. Waktu mereka sampai di tempat
tadi malam mereka menempur Cian Piu Longkau Sutouw Kit,
mayatnya tongcu dari Losan Bun itu sudah tidak ada, tinggal
darahnya saja di atas rumput.
"Ah..." ia menghela napas. Terus ia bersiul buat melegakan
hatinya.
Baru berhenti siulannya anak muda ini atau dari suatu
pojok gunung, mereka melihat munculnya serombongan
orang, ialah serombongan orang berseragam topi dan
pakaiannya berkembang yang semuanya membekal golok.
Cepat sekali mereka itu sudah memegat jalan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kakak Hoay Giok !" berkata It Hiong. "Kakak Hong ! Kalian
teruslah tetapi kalian harus berhati-hati !"
Lantas anak muda ini dengan pedang terhunus berlompat
maju ke depan guna menghampiri orang Losat Bun itu, mau
membuka jalan supaya kedua kawannya dapat menerobos
rombongan penghadang itu guna pergi meloloskan diri. Ia
pula tahu karena lawan berjumlah besar, ia memerlukan
pertempuran dengan waktu singkat dan demi itu, mesti
bersikap telengas.
Kawanan Losat Bun itu berjumlah kira-kira tiga puluh
orang, mereka berbekal golok dan juga pedang. Yang menjadi
kepala tiga orang, berada paling muka. Yang satu ialah Lou
Hong Hui. Dari dua yang lain, merekalah seorang touwlo atau
rahib dan seorang tua. Si rahib yang kepala dan rambutnya
dilibat gelang emas bermata gede dan beralis gemplok, daging
di mukanya pada menonjol dan senjatanya ialah sebatang
tongkat kuningan. Dan si orang tua yang berkulit mukanya
gelap memiliki mata tikus yang bersinar tajam dan di
punggungnya tergemblok senjatanya, golok sepasang. Kiranya
mereka itulah murid-murid murtad dari Siauw Lim Sie : Tiat Lo
han Loe Liong dan Co siang Hui Kan Tie Uh.
Sebenarnya mereka itu berdua lagi melakukan perjalanan
mencari kawan guna menghadiri Tay Sam Tay Hwea. Mereka
main hasut sana dan hasut sini. Kebetulan mereka tiba di Ay
Lao San. Mereka menemui anaknya Sutauw Kit terbinasakan.
Lantas mereka menyatakan suka memberi bantuan buat
membalaskan kepada musuh terus mereka menemani Lou
Hong Hui.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lebih dahulu daripada itu, mata-mata Losat Bun telah
mencari tahu tentang rombongannya It Hiong itu. Maka
mudah saja mereka ini dipegat.
Karena kedua belah pihak sudah menjadi musuh yang
saling mengenal dengan yang lain, pertempuran segera
dimulai. Dimulai oleh Hong Hui yang memberi isyarat lirikan
mata kepada kedua kawannya hingga kedua kawan itu maju
dengan segera, menyerang kepada It Hiong.
It Hiong membentak : "Bagus kamu bertiga maju
berbareng !" Terus ia menggerakkan pedangnya dan
menyambut serangan. Lantas ia menggunakan Khie bun
Patkwa Kiam. Hanya kali ini ia bergerak ketiga arah sebab
musuhnya tiga orang !
Kee Liong sangat mengandalkan tenaga dalamnya yang
istimewa dan juga senjatanya yang berat. Dengan berani dia
menyambut It Hiong. Niatnya buat menyampok terpental
pedangnya pemuda itu.
Selekasnya kedua senjata beradu, percikan apinya
bermuncratan. Suaranya terdengar nyaring, lantas si rahib
menjadi sangat kaget. Gagal senjatanya yang dia buat
andalan itu bahkan tangannya yang kanan bergemetaran
hingga hilang tenaganya. Terpaksa dia mundur satu tindak.
Justru itu Kan Tie Uh berlaku licik. Dia justru menyerukan
mereka itu : "Saudara-saudara ! Kalian lihat bocah itu ! Aku si
tua hendak membereskan kawan-kawannya !" Terus dia
berlompat untuk Hoay Giok yang menggendong gurunya,
bahkan dia segera menyerang dengan bacokan yang hebat.
Sama-sama dari pihak Siauw Lim Sie, Hoay Giok kenal ilmu
silatnya rahib itu. Yang sulit untuknya ialah ia lagi
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menggendong gurunya hingga ia tak bebas menggunakan
goloknya. Tapi ia tidak putus asa. Ia tahu bagaimana harus
mengendalikan diri. Maka dia menjauhkan dirinya secara
lincah.
Kan Tie Uh penasaran. Dia mendesak terus. Sebentar saja
dia sudah membacok lima kali saling susul. Sampai di situ dia
barulah dihadang Tan Hong. Nona ini menghadang sambil
terus menusuk matanya dengan sanhopang. Dia terkejut. Dia
berkelit. Karenanya bebaslah Hoay GIok.
Kan Tie Uh berkelit dengan jurus silat "Jembatan Papan
Besi", hampir pipinya tersentuh ruyung. Tetapi toh ia merasai
giris. Ia menjadi kaget berbareng gusar. Karena ia kenal si
nona, ia lantas saja mendamprat : "Hai budak bau dari Hek
Keng To ! Kau hendak mencari laki ?
Muka Tan Hong menjadi merah. Ia dikatakan mencari laki !
Maka terbangunlah sepasang alisnya terus dia membentak :
"Siapakah yang menentang partai ? Kau toh tahu sendiri
bukan ? Bagus kau mempunyai muka akan menegur lain
orang ! Kau lihat senjataku !"
Nona ini tidak takut. Ia maju sambil menikam.
Kan Tie Uh memuat perlawanan. Dia menggunakan jurus
silat Lohan To, Golok Arhat yang dia robah menjadi ilmu golok
kaun Bwe Hoa Hun. Dia pula berlaku bengis. Dia sangat
membenci si nona dan berniat merampas jiwanya. Sesudah si
nona binasa, pikirannya mudah saja dia nanti merobohkan
Hoay Giok dan membekuk Beng Kee Eng.
Walaupun ia berani, Tan Hong tidak mau melawan keras
dengan keras. Ia insyaf bahwa ia kalah tenaga. Maka
sebaliknya ia melawan keras dengan kelunakan. Lekas-lekas ia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mengerahkan tenaga lunak dari Mo Teng Ka, ilmunya dari
pihak Hek Keng To, pulau ikan Lodan Hitam. Dengan
kelincahannya, ia seperti bersilat berputaran di sekitar lawan
ganas itu.
Tengah mereka berdua bertempur itu, mendadak mereka
dikejutkan satu jeritan yang menyayatkan hati. Tanpa merasa
keduanya berhenti berkelahi hampir berbareng. Mereka
berpaling ke arah dari mana jeritan itu datang.
Di sana tampak Kee Liong rebah mandi darah. Darah masih
menyembur keluar dari dadanya yang terkena padang Keng
Hong Kiam dari It Hiong. Sebab si anak muda tidak suka
memberi hati padanya dan merobohkannya dengan cepat.
Bahkan It Hiong berhasil juga membekuk Lou Hong Hui,
tangan siapa dicekal erat-erat hingga nyonya itu berdiam
sambil mukanya meringis menahan nyeri cekalan itu ! Dia pun
bermandikan peluh pada mukanya.
It Hiong menjadi sengit. Biar bagaimana ia mesti menolong
menyelamatkan pamannya. Maka itu ia tahu yang ia mesti
berkelahi cepat. Itu artinya ia mesti bersikap keras. Karena ini
dengan lantas ia menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga
Mega yang sangat diandali itu. Dengan begitu, ia bisa
bergerak dengan sangat gesit. Dengan begitu juga berhasil
mendesak lawan-lawannya. Dia selalu menggunakan tangan
kirinya akan menyerang dengan jurus-jurus Hong Liong Hok
Houw Ciang dari ayah angkatnya.
Kee Liong lihai, selain bekas orang partai Siauw Lim Pay, ia
pula ketua Tay Sora Ban dan latihannya latihan dari beberapa
puluh tahun. Dia termasuk orang kelas satu. Di lain pihak, dia
dibantu Lou Hong Hui, wanita kaum Kang Ouw ilmu silat
tangan kosong Im Yang Ciang, dia jadi berbesar hati. Hanya
sayang dia justru menghadapi muridnya Tek Cio Siangjin atau
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
anak pungutnya In Gwa Sian. Dia seperti bertemu binatang
pawangnya. Di lain pihak lagi It Hiong pula tak sudi
membuang-buang waktu yang berharga.
Begitulah kapan telah tiba saatnya senjata mereka beradu
setelah mereka bertempur lima puluh jurus lebih, It Hiong
menggunakan siasat membalas penyerangan dengan
penyerangan. Dengan keras ia menyampok tongkat lawan
hingga tongkat terpental, lantas ia meneruskan menikam ke
arah dada Kee Liong. Kee Liong mati daya, dadanya terkena
pedang yang tajam itu. Maka menjeritlah dia dan tubuhnya
roboh dengan bermandikan darah itu !
Hong Hui kaget menyaksikan kawannya roboh binasa,
tetapi ia tidak menjadi takut dan lari. Justru It Hiong belum
bersedia, dia membarengi menyerang dengan pukulan Im Yan
Ciang. Tak terkecewa dia digelarkan si kejam.
It Hiong menyambar pedangnya dari tubuhnya Kee Liong
ketika serangannya si nyonya itu tiba. Tidak dapat serang itu
ditangkis dengan senjata. Terpaksa ia berkelit terus tangan
kirinya dipakai membalas menyerang. Hanya mendadak ia
merubah serangannya menjadi tangkapan, ialah ia
menyambuti menangkap tangan si nona dengan jurus "Di
tengah Laut Menawan Naga". Ia berhasil dengan
tangkapannya itu. Ia berubah pikiran karena ia ingat belum
tentu Hoay Giok dapat lolos. Andiakan pemuda itu dan
gurunya kena ditawan Losat Bun, Hong Hui bisa dipakai
sebagai orang tukaran. Jika tidak, mudah saja ia merampas
nyawanya si nyonya nanti !
"He, murid murtad dari Siauw Lim Pay. Masihkah kau tidak
mau mengangkat kaki ?" bentak It Hiong melihat Kan Tie Uh
masih membandel. Ia menarik tangannya Hong Hui buat
diajak berjalan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kan Tie Uh takut sekali. Dua kawannya telah mati atau
tertawan. Tidak ayal sedetik juga, ia memutar tubuh dan lari
menghilang di dalam sebuah tikungan.
Jilid 24
Beberapa puluh orang berseragam itu kaget dan jeri hati,
lantas mereka berseru-seru saling mengisyaratkan. Mereka
juga lantas memutar tubuh dan lari menyelamatkan diri.
Sebaliknya It Hiong bertiga lantas berkumpul. Hoay Giok tidak
berlari terus karena musuh telah tumpas dan kabur.
Ketika itu sang magrib pun mulai tiba.
It Hiong menyuruh Hong Hui duduk ditanah. Ia
menotoknya membuat orang tak dapat bergerak, kemudian
baru ia masuki pedangnya ke dalam sarungnya. Baru sekarang
ia menghela nafas lega.
"Kakak Whie, bagaimana dengan Paman ?" tanyanya. Ia
lantas duduk untuk beristirahat.
Sunyi di sekitar mereka, cuma ocehan sang burung yang
terdengar.
"Guruku tak kurang suatu apa," Hoay Giok menjawab.
"Takut Nona Tan datang disaat yang tepat hingga aku bebas
dari ancaman si bajingan yang telengas sekali. Dia mendesak
hebat kepadaku !"
It Hiong berpaling kepada Tan Hong, wajahnya menunjuki
dia sangat bersyukur, hendak ia mengucapkan sesuatu tetapi
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dia batal. Inilah sebab dia bersangsi, tak berani dia sembarang
bicara. Dia takut dengan menghaturkan terima kasih, si nona
nanti tersinggung dan ia bakal bersusah hati. Hal itu pernah
terjadi beberapa kali. Maka itu, cuma sinar matanya yang
menunjukkan terang bahwa dia bersyukur sekali.
Selagi si pemuda mengawasinya, Tan Hong juga lagi
memandangi si anak muda itu. Dengan begitu sinar mata
mereka seperti bentrok satu dengan lain. Maka juga kontaklah
hati mereka. Keduanya sama-sama berdiam. Tan Hong
merasa hatinya sedap sekali, terpaksa, ia bersenyum.
Sungguh ia cantik manis.
Sementara itu Kee Eng telah menyaksikan apa yang terjadi.
Saking tidak berdaya, ia berdiam saja. Tenaganya telah hilang
dan belum mau pulih kembali. Melihat It Hiong menjadi
demikian gagah, ia kagum sekali, hatinya lega. Benar hebat
keponakan itu.
"Inilah yang dibilang gelombang sungai Tiang kang yang di
belakang mendorong ombak yang di depan." kata ia menghela
nafas saking kagumnya itu. "Kau telah memiliki ilmu silatmu
ini, anak Hiong. Di belakang hari apa yang diimpi-impikan
kelak kau pastilah akan memegang pimpinan rimba persilatan.
Dengan begitu maka saudaraku Siu Pek akan memperoleh
turunannya yang sejati !"
Saking lega hatinya jago tua itu meneteskan air mata
kegirangan. Di dalam hati It Hiong puas karena paman itu
memujinya, tetapi yang menggerakkan hatinya ialah disebut
nama "saudaraku Siu Pek" itu. Selama beberapa tahun belum
pernah ia mendengar lain orang menyebut nama ayahnya,
hanya kali ini oleh Kee Eng saking kagumnya. Justru ia
mendengar nama ayahnya itu, terbangunlah semangatnya. Ia
menjadi ingat punahnya keluarganya, peristiwa yang sangat
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menyedihkan dan menyakitkan itu. Ia telah berhasil menuntut
balas tetapi ia toh ingat halnya ia telah berpisah dari ayah
bundanya itu. Ia sadar tetapi ia lantas seperti membayangi
peristiwa terjadi. Ia menjadi bersedih, air matanya meleleh
tanpa merasa...
Berempat mereka berduduk di rumput, semuanya berdiam
saja. Mereka berpikir masing-masing. Selama berdiam, mereka
mengingat sesuatu. Angin magrib pun bershilir halus meniup
pergi hawa panas sang siang mendatangkan hawa nyaman.
Tan Hong melihat tibanya sang sore lantas ia mengeluarkan
rangsumnya dan membagi-bagikannya.
"Malam ini kita harus dapat turun dari Ay Lao San ini" kata
ia sembari tertawa. "Mungkin akan terjadi pula pertempuran
dahsyat. Maka itu perlu kita makan dengan cukup !"
Mendengar suaranya si nona, parasnya It Hiong berubah.
Selagi beristirahat buat sedetik ia seperti melupakan diri masih
berada di tempat berbahaya itu. Maka ia lantas berkata
memesannya: "Aku percaya Kwie Tiok Giam Po lihai sekali,
seandianya aku mesti bertempur dengannya asal kita
bergebrak, aku minta kakak bersama suheng lantas
melindungi paman menyingkir dari sini supaya lekas-lekas
kalian dapat turun gunung. Tentang bagaimana akan aku
meloloskan diri, jangan kalian pikirkan !"
"Aku mengerti adik," sahut Tan Hong mengangguk,
suaranya perlahan dan air matanya tergenang.
It Hiong makan dengan cepat, lantas ia bangun berdiri.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Sudah tiba saatnya !" berkata dia. "Mari kita turun gunung
!" Dia terus menotok Hong Hui buat membikin orang supaya
dapat bergerak, terus dia menuntunnya pergi berjalan.
Hoay Giok merapikan gendongan dan turut berangkat
diiringi oleh Tan Hong. Lari belum lama sampai sudah mereka
di depan sarangnya Losat Bun. Di sana tampak bayangan dari
banyak orang bergerak-gerak dan terlihat juga kilauannya
pelbagai macam senjata.
It Hiong membawa sikapnya seorang laki-laki sejati. Dia
tidak lantas maju untuk menyerang hanya dia berdiri di muka
pintu gerbang, untuk memperdengarkan suaranya yang
nyaring, "Kauwcu dari Losat Bun, mari kita membuat
pertemanan ! Sukalah kau memperlihatkan diri !"
"Tunggu !" berseru seorang Losat Bun yang menjaga pintu.
"Kenapa kita tidak mau menyerbu dan pergi selagi si nenek
tua belum muncul ?" tanya Tan Hong berbisik pada si anak
muda.
"Kau lihat itu di kiri dan kanan, kakak," berkata It Hiong
sambil tangannya menunjuk. "Aku percaya di sana telah
tersembunyikan banyak orang untuk memegat dan merintangi
kita. Lihat saja, mereka begini tenang. Mestinya mereka sudah
mengatur perangkap.
Tak nanti Kwie Tiok Giam Po demikian baik budi
membiarkan kita meninggalkan gunung dengan dia tak
mengambil suatu tindakan. Maka itu baik kita menemukan
dulu baru kita bertindak."
Selagi mereka bicara, diambang pintu gerbang sudah
bermunculan orang-orang Losat Bun, pria dan wanita semua
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
berseragam, senjatanya golok dan pedang dan sebelah
tangannya pada memegang obor terang-terang. Jumlah
mereka itu lima atau enam puluh orang. Langsung mereka
memasuki lapangan dimana mereka terus memecah diri di dua
Barisan kiri dan kanan. Obornya diangkat tinggi hingga seluruh
lapangan menjadi terang sekali.
Menyusul pasukan pertama itu muncul lagi seBarisan kecil
dari dua belas orang nona-nona, rambutnya yang terbuka
memakai ikat rambut berkembang. Semua mereka
mengenakan jubah panjang dengan kaki telanjang juga.
Sebagai senjata pedang panjang ditancap di punggung
mereka. Empat orang yang paling belakang membawa lentera
yang biasa dipakai di dalam istana raja-raja.
Merekalah yang mengiringi seorang wanita tua. Itulah si
nenek Kwie Tiok Giam Po, ketua dari Losat Bun.
"Cis" Tan Hong meludah. "Segala Losat Bun saja memakai
aturan bau semacam ini !"
Nona Tan sebal dan jumawa sekali.
Si nenek tua berjalan terus tanpa menghiraukan
rombongan It Hiong, setibanya ditengah lapangan, lantas ia
menjatuhkan diri untuk berduduk di atas kursi, yang terus ada
yang menyediakannya. Lantas empat pengiringnya
mendampingi di kiri dan kanan. Dan dua belas nona-nona
lainnya itu berkumpul ditengah lapangan itu, tapi hanya
sekejap, lantas mereka memecah ke empat penjuru, mengatur
diri tanpa bersuara.
Selesai itu dengan satu bentakan muncullah seorang
anggota Losat Bun pria. Dia bertindak maju untuk memberi
hormat kepada ketua atau raja agamanya. Habis itu dia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kembali, untuk menghampiri It Hiong. Sambil menuding dia
kata bengis pada si anak muda : "Kauwcu mengundang
engkau !"
It Hiong melirik Tan Hong dan Hoay Giok, lantas ia
serahkan Hong Hui pada Nona Tan. Ia sendiri bertindak maju,
mengikuti orang Losat Bun itu.
Diterangnya obor tampak wajahnya Kwie Tiok Giam Po
tidak memberi kesan lain kecuali dingin. Lantas dengan dingin
juga dia berkata keren : "Eh ! Bocah cilik. Inilah kau sendiri
yang lancang memasuki Ay Lao San, maka inilah saatnya kau
menerima hukuman mati ! Nah, ada apakah pesanmu yang
terakhir ?"
It Hiong tidak jeri sama sekali. Ia dapat mengerti sikap atau
adat luar biasa dari raja agama Losat Bun ini. Di dalam hati ia
merasa lucu dan tertawa karenanya. Dengan suara nyaring ia
menjawan : "Aku yang muda, aku biasa melakukan sesuatu
dengan tidak merembet-rembet lain orang, demikian juga kali
ini, akulah yang bertanggung jawab sendiri ! Katanya kau
lihai, kauwcu, aku bersedia akan belajar kenal dengan
kepandaianmu itu tetapi lebih dahulu hendak aku menanya
tegas-tegas kepadamu, bagaimana dengan sahabatku ini ?"
"Apakah mereka itu memikir akan turun dari gunung ini
dengan masih hidup ?" balik tanya si nenek.
Tapi It Hiong membentak : "Kauwcu ! Kaulah seorang tua
dan bekenamaan, kenapa sekarang sepak terjangmu ini tak
membedakan hitam dari putih dan putih dari hitam ? Apakah
kau tidak takut dunia rimba persilatan nanti mentertawakanmu
? Ingat kauwcu, jiwanya Lou Tongcu masih berada di
tanganku !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kauwcu itu berdiam. Dia berpikir keras. Lantas parasnya
nampak berubah. Ia tak sebengis semula.
"Kau mau berbuat apakah atas dirinya ?" tanyanya. "Kau
menghendaki apakah ?"
It Hiong menjawab cepat dan tegas, "Kau membiarkan
kawan-kawanku turun gunung dengan selamat, lantas aku
juga membebaskan tongcumu ini !"
Kwie Tiok Giam Po, si nenek tertawa.
"Jika aku menolak ?' tanyanya.
It Hiong menjawab nyaring : "Segera akan aku bunuh Lou
Hong Hui !"
Nenek itu menatap tajam si anak muda. Lantas ia menjadi
sabar.
"Bocah, kau bersemangat laki-laki !" katanya perlahan.
"Baiklah, aku terima baik keinginanmu itu !" Lalu terus ia
menggapaikan tangannya memanggil salah seorang
anggotnya kepada siapa ia bicara bisik-bisik atas mana
anggota itu segera berlalu pergi dengan berlari-lari !
Menyusul itu orang-orang Losat Bun lantas memisahkan diri
ke pinggiran, buat membuka jalan.
It Hiong segera berseru : "Kakak Whie ! Kakak Tan Hong !
Lekas kalian turun gunung, jagalah baik-baik Paman Beng !"
"Ya !" sahut Nona Tan yang lantas saja membuka
langkahnya turun dari gunung mendampingi Hoay Giok yang
menggendong gurunya. Sebagai seorang yang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
berpengalaman, tak mau ia melepaskan Hong Hui, tangan
siapa ia terus cekal erat-erat hingga mereka bisa berjalan
bersama-sama. Ia pula tidak mau berlari-lari, sebaliknya ia
berjalan dengan perlahan-lahan.
Setiba ditangan lapangan, Tan Hong berpaling kepada It
Hiong untuk berkata dengan suara sedih : "Adik Hiong, kau
berhati-hatilah. Kami berangkat lebih dahulu !"
It Hiong menghampiri akan menggantikan mencekal
tangannya Hong Hui....
"Paman Beng, pergilah turun gunung !" kata ia pada
pamannya. "Jangan takut apa-apa, tak usah menguatirkan
anak Hiong !"
Beng Kee Eng seorang laki-laki sejati, ia insyaf akan
gawatnya keadaan itu maka itu disaat seperti itu, tak sudi ia
menggempur semangatnya keponakan itu, maka ia jawab
dengan gagah : "Ya !" Kepada Hoay Giok ia kata : "Lekas
berangkat !"
Baru saja jauh setombak lebih Tan Hong sudah berpaling
pula. "Adik Hiong !" katanya. "Sampai kapan saja akan aku
menantikanmu !"
"Aku tahu kakak !" sahut si anak muda singkat. "Kakak
pergilah !"
Berkata begitu anak muda ini diam-diam mengawasi
kepergiannya tiga orang itu sampai mereka turun gunung dan
lenyap diantara gelapnya sang malam. Ia tahu bahwa katakatanya
Tan Hong itu mengandung makna terlebih dalam,
hingga tanpa terasa ia berpikir keras. Ia sadar ketika ia
merasa Hong Hui lepas dari cekalannya dan waktu ia melihat
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kesekitarnya ia mendapati ia sudah dikurung di empat penjuru
oleh orang-orang yang berseragam rambut panjang riapriapan
ke punggung dan bahunya serta dahinya dilibat dengan
semacam sabuk. Itulah serombongan dari dua belas orang
nona-nona, yang semua tangannya memegang pedang.
Cara berdirinya mereka itu menandakan bahwa mereka
telah mengatur diri dalam tiu, Barisan rahasia, Su Ciang Tiu
rangkap Pat Kwa Tiu. Ia insyaf akan ancaman itu maka ia
mengumpulkan semangatnya supaya pikirannya menjadi tetap
dan mantap.
Sekian lama anak muda itu berdiri tegak tetapi tenang, ia
melihat lawan belum bergerak sama sekali. Ia heran hingga ia
menerka-nerka.
"Entah mereka hendak menunggu apa ?" pikirnya. "Lebih
baik aku mendahului mereka. Aku harus mendahului keluar
dari kurungan tiu ini !"
Begitu ia berpikir begitu It Hiong menghunus Keng Hong
Kiam, hingga terdengar suara menyeresetnya yang nyaring
serta tampak sinarnya berkeredepan, begitu juga ia lantas
menyerang seorang nona yang berada di depannya sekali !
Hebat nona itu, luar biasa cepatnya dia berkelit. Dia
berlompat ke samping, pedangnya diputar melengkung.
Selekasnya It Hiong menarik pulang pedangnya, tempat
kosong nona itu sudah diisi seorang kawannya, sedangkan dia
sendiri menggeser mengganti tempat kawan itu Dan masih
mereka berdiam terus. Hingga tiu pun tetap diam tak
bergerak....
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Menyaksikan sikap orang itu, It Hiong tak mau banyak pikir
lagi. Sudah pasti keputusannya ! Keluar dahulu dari dalam
kurungan tiu itu !
Kali ini si anak muda tidak menyerang seperti tadi. Ia
menjejak tanah sambil berseru terus tubuhnya loncat
mencelat. Inilah sebab ia menggunakan ilmu ringan tubuh
Tangga Mega. Ia berlompat tinggi dua tombak, pedangnya di
depan dadanya. Ia berlompat ke arah Pat Kwa Tiu... Barisan
segi delapan. Setelah tubuhnya turun, baru ia menikam nona
di depannya. Asal si nona berkelit pikirnya mau ia menerobos
keluar !
Aneh si nona. Dia tidak mengikuti kawannya tadi. Dia
bukannya lompat ke samping hanya mundur empat tindak,
menyusul mana kawannya lantas menggantikan lowongannya
itu untuk dia sebaliknya terus mengisi lowangan si kawan.
Habis itu lagi-lagi mereka berdiam !
It Hiong mendongkol. Jadinya ia cuma hendak di kurung
bukan buat diserang dan dirobohkan atau ditawan. Hampir ia
menuruti hawa amarahnya dan menerjang pula, baiknya ia
ingat pantangan tak boleh keras hati dan sembrono atau ia
bakal kena dikalahkan lawan. Maka itu ia menenangkan diri
berdiri diam sambil tangannya memegangi gagang pedang
mustikanya, matanya melihat dan melirik ke segala arah.
Menyusul itu maka dari luar tiu terdengar suara bangsi
nadanya, mendesak keras, seumpama teriakan seekor kuda
tengah kabur berlari-lari, suaranya tajam membuat telinga
orang ketulian seperti berbunyi mengacau.
Mendengar it tahulah It Hiong bahwa itu ada suara bangsi
lagi "Cie Ciu Toan Hua" Menyesatkan Yang Asli, Memutuskan
Nyawa.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Pasti itulah lagunya Kwie Tiok Giam Po yang hendak
mengasih pertunjukan apa. Ia lantas merasakan hatinya
goncang dan darahnya bergolak. Lekas-lekas ia menenangkan
diri dengan Hian Bun Sian Thian Khie kang, mulutnya
berkelemik mengucapkan sesuatu hingga lekas juga ia
memperoleh ketenangannya kembali.
Suara bangsi sementara itu telah menyebabkan tiu
bergerak-gerak. Empat nona-nona dari Siu Cian Tiu lantas
berjalan pesat mengitari si anak muda, rambut mereka teriapriap.
Sang angin dan pedang mereka berkeredepan,
menyilaukan mata. Segera mereka itu ditelan oleh delapan
nona-nona dari Pat Kwa Tiu, yang merupakan kurungan luar,
hanya itu mereka itu berjalan berputaran dengan perlahanlahan
dan mutarnyapun dari arah yang berlawanan. Maka itu,
itulah gabungan tiu yang aneh.
Selagi It Hiong tetap berdiam, hatinya tenang dan terbuka
dan matanya berwaspada. Nona-nona dari Su Ciang Tiu
berputaran makin cepat makin cepar sampai tubuh mereka
tampak mirip bayangan saja, membuat mata kabur
melihatnya. Adalah di saat itu sekonyong-konyong ke empat
nona berseru dengan berbareng dan berbareng juga pedang
mereka berkelebat menyerang orang
yang dikurungnya !
It Hiong sudah siap sedia, ia tidak menjadi bingung,
dengan tak kurang cepatnya ia memutar pedangnya sambil
tubuhnya ikut berputar juga, membela diri dari pelbagai
tikaman itu. Oleh karena ke empat nona berputaran terus,
tikamannya juga datang bertubi-tubi tak hentinya. Hebatnya
ialah pedang mereka itu sukar dapat diatas pedang mustika
kalau tidak pastilah semua sudah kena dikutungkan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Pertempuran berlangsung terus. Tetap si anak muda
dikurung, saban-saban ia ditikam, selalu ia menangkis
menghindar diri dari bahaya. Belum berapa kali ia mencoba
membalas menyerang, senantiasa ia gagal. Nona-nona itu
sangat lincah.
Maka berlarut-larut pertempuran itu, tampak saja orang
berputaran dan sinar-sinar pedang berkelebatan. Rupanya si
anak muda mau dibikin letih. Tapi percobaan lawan gagal. Si
anak muda, berkat darah belut emas menjadi luar biasa.
Lewat sekian lama maka terlihatlah suatu perubahan. Gerak
geriknya nona-nona itu mulai menjadi kendor. Teranglah
bahwa mereka kalah kekuatan. Hal ini dapat dihati si anak
muda. Ia lantas menggunakan kesempatan. Maka lewat pula
beberapa waktu, keadaan lantas menjadi berbalik. Dari pihak
penyerang nona-nona itu menjadi pihak yang diserang.
Hingga mereka harus membela diri saja.
Selain kalah giat, nona itu juga kalah lihai dalam ilmu
pedang. Kalau tadi mereka menang diatas angin, itulah sebab
mereka mengandalkan kedudukan tiu serta tenaga kurungan,
mereka dapat bekerja sama dengan sempuna.
"Aduh !" mendadak ke empat nona-nona itu menjerit
dengan berbareng. Itulah sebab It Hiong menyerang dengan
tiba-tiba, membabat kutung ujung pedang mereka itu disaat
mereka repot mengurung diri. Dengan terpaksa mereka
melompat mundur empat tindak, kalaupun tidak, mereka bisa
menjadi korban ujunnya Keng Hong Kiam.
Selekasnya ke empat nona itu mundur maka delapan nona
dianara Pat Kwa Tiu lantas menggantikan tempatnya, terus
saja mereka itu maju mengurung sambil menyerang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Penyerangan teratur sama-sama seperti Su Ciang Tiu tadi.
Bahkan mereka berdelapan orang !
Menyusul pengepungan Pat Kwa Tiu itu suara bangsi
terdengar pula. Kembali Kwie Tiok Giam Po memperdengarkan
lagunya yang menggoncangkan hari itu, bahkan kali ini
nadanya berlainan dari tinggi dan keras menjadi halus dan
sedih, bagaikan kera-kera sesamputan di dalam lembah.
It Hiong telah mengerahkan tenaga dalamnya ia dapat
berlatih Hian Bun Sian Thian Khie kang dengan sempurna. Ia
tidak menghiraukan lagu yang hebat itu, ia hanya melayani
dengan seksama kedelapan lawannya.
Mereka itu tenaga-tenaga baru, mereka terlebih hebat dari
Su Ciang Tiu tadi.Kembali tak ada pedang yang bentrok satu
sama lain saking pandainya si nona menggunakan masingmasing
genggamannya.
Kembali yang tampak hanya bayang-bayangan yang
berkelebatan dan sinar-sinar pedang yang berkeredepan. It
Hiong dapat bertahan walaupun ia dikepung hebat.
Pedangnya lihai dan tenaganya cukup. Ia melayani dengan tak
kalah gesitnya.
Disamping itu suara bangsi masih tetap mengalun.
Rupanya Kwie Tiok Giam Po penasaran, dan mencoba terus
lagunya itu guna meruntuhkan semangat orang.
Belum terlalu lama atau seruan nyaring, merdu terdengar
riuh, lantas ke empat nona dari Su Ciang Tiu yang tadi
beristirahat maju pula guna membantui kawan-kawannya dari
Pat Kwa Tiu. Dengan demikian It Hiong menjadi dikepung
selusin nona-nona itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Pertempuran dahsyat itu membikin heran dan kagum
orang-orang Losat Bun yang berkumpul diluar tiu. Bahkan
Kwie Tiok Giam Po sendiri tidak menjadi kecuali hingga wajah
berkeriputannya menjadi semakin menjadi-jadi. Disatu pihak
dia ingin menjatuhkan si anak muda, di lain pihak dia
menyayangi kepandaian orang yang luar biasa itu tetapi
disebelah itu, dia pula sangat penasaran, sebab dia tidak
dapat segera merobohkan lawan itu. Dan sang penasaran
membuat hatinya panas. Hingga dia memikir buat
menggunakan lain macam ilmu kepandaiannya yaitu "Siu lo It
Khie kang" atau "Kekuatan Bajingan Asmara" Itulah suatu lagu
lain daripada "Bie Ciu Toan Hua" yang lihai tadi.
Ketika itu sang putri malam sudah bergeser ke tengahtengah
langit, cahaya putih peraknya memenuhi jagad hingga
segala apa di medan pertempuran dan sekitarnya itu tampak
terang sekali. Sudah begitu dari segala penjuru ada sinarnya
banyak obor.
Lagi-lagi It Hiong menghadapi kesukaran yang
membuatnya pening dan penasaran. Buat melindungi
keselamatan dirinya ia telah keluarkan kepandaian ajaran
gurunya dan juga yang dari kitab pusaka. Buat sementara ia
tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membela diri dengan
waspada.
Si nyonya tua agak bingung ketika dia memperoleh
kenyataan pengepungan kali ini jika tidak lantas memberikan
hasil bahkan ia kuatir kedua belas muridnya itu nanti keburu
kehabisan tenaga seperti empat muridnya yang pertama.
Kalau mereka itu gagal, itu semuanya sia-sia, berarti kedua
tiunya itu tak dapat ditambal lagi, bahkan akan musnah
karenanya hingga namanya bakal turut runtuh....
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Dengan tiba-tiba saja suara bangsi dihentikan, diakhirkan
dengan dua tekukan suara seperti suaranya burung bajingan.
Menyusul itu kedua belas nona-nona juga sudah lantas
berhenti bersilat secara berbareng, semua lantas berdiri diam
dalam kedudukannya masing-masing, tak bergerak, tak
bersuara.
It Hiong heran hingga ia pun berdiri diam bahkan
tercengang. Tak tahu ia lawan mau menggunakan cara apa
lagi. Sebenarnya ada niatnya akan menerobos tetapi ia raguragu
karena kuatir musuh nanti mempunyai perangkap
lainnya. Ia pula ingat walaupun ia tangguh, ia merasa letih
juga. Ia sudah berkelahi terlalu lama dan telah menggunakan
banyak sekali tenaga. Ia pula segera ingat pepatah yang
berupa pantangan kaum rimba persilatan : "Musuh tidak
bergerak, kita tidak bergerak. Kalau musuh mau bergerak, kita
harus mendahului". Maka tidak ayal lagi ia menjatuhkan diri
untuk duduk bersila guna meluruskan jalan nafasnya buat
beristirahat sambil mengumpulkan tenaganya, ia berwaspada
supaya ia tidak sampai dibokong lawan.
Begitulah, karena kedua belah pihak berdiam, sunyilah
medan pertempuran itu, kecuali siurannya sang angin malam.
Sinar rembulan membuat semua pedang kadang-kadang
berkilauan.
Lewat waktu sesantapan lamanya, tiba-tiba suara bangsi
terdengar pula. Kali ini suara itu tinggi dan tajam, tajam
seumpama kata dapat "Menjeblos mega dan memecah batu",
suara itu bagaikan mengalun naik ke langit. Siapa mendengar
lagu itu, telinganya terasa nyeri.
Sebagai susulan dari suara bangsi, pihak Losat Bun tidak
menggerakkan tiu-nya seperti semula tadi. Orang-orang Losat
Bun itu benar pada bergerak hanya bukan buat maju
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menyerang tetapi justru buat berbaris kembali ke sarang
mereka, bahkan Cie Ciu Koan In
Lau Hong Hui turut mundur bersama. Hingga di dalam
waktu yang pendek semua mereka tak nampak lagi
bayangannya. Kecuali kedua belas nona-nona dari Su Ciang
Tiu dan pat Kwa Tiu serta pemimpinnya si nenek keriputan
yang lihai itu. Tapi kedua belas nona itu pun tidak berdiri
seperti patung hanya mereka telah melepaskan ikat rambut di
dahi mereka akan memakai pengikat itu buat membungkus
kepala mereka berikut telinganya masing-masing rupanya
guna mencegah gangguan lagu aneh itu. Sebab mereka
menutup juga muka mereka, sekarang mereka nampak mirip
bangsa iblis.
Selagi kawanan Losat Bun membuat gerak gerik yang aneh
itu, It Hiong juga sudah selesai beristirahat, hingga pulihlah
kesegarannya. Ia mendapat lihat gerak gerik orang, ia heran.
Ia menerka mungkin bakal terjadi lagi sesuatu. Maka ia
bersiap sedia.
Hanya ia tidak bangun berdiri. Ia tetap duduk bersila.
Diam-diam saja ia memasang mata dan telinganya.
Lagu Siulo I Khie kang dari Kwie Tiok Giam Po jahat sekali.
Itu bukan lagu belaka, hanya racunnya dia telah sebar dengan
jalan lagunya itu. Siapa mendengar lagu itu, sendirinya ia
telah kemasukan racun tanpa ia merasa, riangnya orang bisa
menjadi kalap, hebatnya mati dalam waktu beberapa jam
kemudian, tanpa ada obatnya...
Mulanya lagu itu tak keras tak lemah, lembut bagaikan
nyanyian burung, mirip seumpama air mengalir atau mega
melayan-layang. lagu itu beda pula disambutnya oleh kedua
belas nona-nona tadi. Tiba-tiba mereka bergerak-gerak
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menurut lagu, mirip orang lagi menari sambil berlompatan,
untuk saling menukar kedudukan, seperti lawan kupu-kupu
terbang berpindahan, hanya setelah itu barulah mereka
berputaran memutari si anak muda. Pedang mereka
berkilauan tetapi mereka tidak menyerang si anak muda itu.
It Hiong menggunakan tenaga dari Hian Bun SIna Thina
Khie kang guna menentang lagunya si nenek keriput. Ia
berhasil menyelamatkan diri dari lagu beracun itu. Hanya ia
tidak tahu tentang bahanya itu sebab ia tak kenal akan ilmu
jahat si nenek bajingan. Terus ia berdiam, terus memasang
mata. Si nenek sebaliknya penasaran. Tiba-tiba dia telah
merubah nada lagunya itu menjadi keras sekali bagaikan
badai, bagaikan gelombang dahsyat seperti bergeraknya
tentara dari berlaksa jiwa.
Kali ini It Hiong terkejut. Hien Bun Sian Thian Khie kang
tangguh tetapi dalam halnya latihan, ia kalah lama daripada si
nenek. Lama-lama ada juga racun yang menyerang masuk ke
antara tiga puluh enam jalan darahnya. Tiba-tiba saja ia
merasakan kesehatannya terganggu dan jalan darahnya tak
lurus lagi, lalu sebelum ia tahu apa-apa, tubuhnya roboh tak
sadarkan diri !
Kwie Tiok Giam Po melihat lawan roboh, ia bersenyum iblis.
Sementara itu tapi juga kedua belas nona-nona muridnya
pada roboh sendirinya, semua pingsan seperti si anak muda.
Kapan dia melihat murid-muridnya itu, dia terperanjat.
"Ah !" sesalnya. "Karena aku hendak menempur bocah ini,
aku sampai melupakan semua muridku. Mana mereka dapat
bertahan dari laguku yang istimewa ?"
Lalu ia meninggalkan It Hiong, ia bertindak kepada sekalian
muridnya, ingin ia membantu mereka. Dengan menghampiri
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
murid itu si nenek mesti datang dekat kepada It Hiong yang
seperti terkurung para muridnya itu.
Perlahan-lahan majunya Kwie Tiok Giam Po justru ia baru
sampai pada murid-muridnya mendadak It Hiong berlompat
bangun, mukanya merah, matanya menyala, bersiul nyaring,
dia lompat menyerang musuh itu !
Si nenek terkejut, ia tidak tahu bahwa si anak muda sudah
terpengaruhkan lagunya. Berkat ketangguhannya Hian Bun
Sian Thian Khie kang serta khasiatnya darah belut emas, It
Hiong tidak lantas roboh terbinasa. Toh, dia itu semuanya
berada dalam keadaan separuh sadar separuh kalap. Justru ia
sedang sadar itu, ia menyerang musuhnya.
Kwie Tiok Giam Po terkejut tetapi ia masih mempunyai
kesehatan untuk berkelit, ia menggunakan tipu "Bayangan
setan", tubuhnya melejit babas dari ujung pedang mustika. Ia
berkelit sambil lekas-lekas menoleh akan melihat lawan itu
atau mendadak ia menjadi heran sekali.
Habis menyerang itu It Hiong bukan mengulangi
serangannya yang gagal, ia justru berlompat lari ke arah
dinding gunung !
"Kurang ajar" teriak si nenek saking gusar. Maka lupalah ia
pada murid-muridnya itu, terus ia lompat untuk lari menyusul
anak muda.
It Hiong kabur dengan merasakan tubuhnya panas seperti
bara, tetapi jantung dan nadinya belum kemasukan racun, ia
tetap sebentar sadar, sebentar kalap. Adalah diwaktu sadar ia
mengerti akan keadaan dirinya itu, maka ingat yang utama
ialah selekasnya bisa lari turun dari Ay Lao San, sebaliknya
disaat kalap dia lari terus ke dinding gunung diluar tahunya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Demikian tanpa merasa ia sampai ditepinya jurang, didalam
mana terdengar suara air mengerocok keras. Lantas ia ingat
untuk mandi guna menghilangi rasa panas hebat itu. Tanpa
berpikir lagi ia loncat ke dalam jurang itu sebab ia percaya
itulah tentu sebuah kali !
Kwie Tiok Giam Po dapat lari keras tetapi dia tidak sanggup
menyusul si anak muda, segera setelah satu tikungan ia
kehilangan si anak muda itu. terpaksa ia tidak bisa lari dan
mesti berjalan dengan perlahan-lahan guna mencari
musuhnya. Ia mengikuti tepian puncak, memasuki rimba dan
setiap gua besar atau kecil. Sia-sia saja ia mencari sampai
fajar tiba, hingga dengan mudah ia bisa melihat segala apa
dengan nyata disekitarnya itu.
"Hei, bocah !" katanya sengit. "Kau dapat lolos dari
tanganku tetapi tidak nanti dari racunku ! Apakah kau
menyangka kau masih dapat berlalu dengan masih hidup dari
gunungku ini ? Hm !"
Lalu dia tertawa berkakakan. Setelah itu dia ngeloyor pergi
untuk pulang ke sarangnya, markas Losat Bun.
Sekarang kita kembali dahulu pada Pek Giok Peng, habis ia
"membujuki" Gak Hong Kun agar pemuda she Gak itu mau
mencari Hauw Yan, anaknya yang diculiknya itu. Hong Kun
agak tenang, tetapi dia selalu mencari ketika akan terus
mendekati bekas kekasihnya itu. Sebaliknya ia mencoba selalu
menghindar diri dari Pek Thian Liong dan orangnya.
Pada suatu hari, waktu tiba disebuah tempat yang dipanggil
Liong poat diperbatasan kedua propinsi Ouwlam dan Ouwpak.
Mereka bertemu seorang setengah tua yang punggungnya
menggendol sepasang pukang, orang mana bukan lain
daripada Teng It Beng, saudara angkatnya Hong Kun. Dia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
baru kembali dari daerah perbatasan dan tengah mencari
saudara angkatnya ini.
Dari jauh-jauh, It Beng sudah dapat melihat rombongannya
Hong Kun itu. Hong Kun berdampingan dengan Giok Peng, di
belakang mereka turut pula seorang muda serta beberapa
pengiringnya yang berseragam hitam serta membekal golok.
Mereka ini ialah Thian Liong dan orang-orangnya itu.
"Adik Hong Kun ! Adik Hong Kun !" It Beng lantas
memanggil-manggi sambil dia berdiri ditepi jalan.
Hong Kun segera mengangkat kepalanya.
"Oo... Kakak It Beng !" serunya keras. "Kakak, kapan kau
kembali ?"
It Beng menjawab : "Sepulang dari daerah perbatasan aku
menuju langsung ke Heng San. Di sana aku menemukan
tempat kosong, adikku. Gurumu, It Yap Totiang telah turun
gunung. Tak kusangka disini aku bertemu denganmu "
Kemudian dia mengawasi Giok Peng, nampaknya dia heran,
terus dia tanya : "Adik, kau berdua bersama Nona Pek
sekalian, kemanakah kalian hendak pergi ?"
Hong Kun menghela nafas.
"Peruntunganku buruk." katanya masgul. "Aku gagal dalam
urusan asmara."
It Beng tertawa.
"Bukankah sekarang kau ada bersama Nona Pek ?"
tanyanya heran. Ada apakah diantara kalian berdua ?" terus ia
menatap si nona.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Alisnya Giok Peng terbangun. Tak puas ia dengan katakatanya
pemuda she Gak itu. Ia pula tak senang terhadap
gerak geriknya It Beng. Maka ia kata gusar : "Orang she Tang,
kalau kau bicara hargailah derajatmu. Kenapa kau bicara
sembarangan begini ? Apa kau tak takut nanti turun
derajatmu sebagai pahlawan istana ?"
It Beng heran, ia menerka kepada sesuatu yagn tak beres.
Maka lenyaplah tawa atau senyumnya itu. Ia pun segera kata
pada adik angkatnya itu : "Adik, mari turut aku mencari satu
tempat dimana kita bisa memasang omong semalam suntuk !"
Terus saja dia menarik tangan orang buat diajak pergi.
Giok Peng berlompat maju guna menghadang.
"Tahan !" bentaknya. Ia pun menghunus pedangnya.
It Beng menghentikan langkahnya dan menoleh ke
belakang.
"Apa ?" dia tanya.
"Tak dapat aku membiarkan Hong Kun pergi !" berkata si
nona keras. "Dia telah menculik anakku ! Tak boleh dia kabur
!"
Thian Liong dan orang-orangnya sudah lantas
menghampiri. It Beng heran hingga ia melengak. Lantas dia
mengawasi Hong Kun. Adik angkat itu tunduk dan bungkam,
tampangnya likat. Dia lantas menerka pada sesuatu. Maka dia
memberi hormat pada Giok Peng seraya berkata : "Nona, aku
minta sukalah kau memberi muka padaku ! Bagaimana kalau
urusan anakmu itu kau serahkan tanggung jawab padaku ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Nonamu tidak berurusan dengan siapa juga" sahut Giok
Peng kaku. "Selama dia belum mengembalikan anakku, Hong
Kun tidak dapat meninggalkan aku !"
Panas hatinya It Beng hingga ia menghunus pedangnya.
"Pek Giok Peng !" katanya sengit, "kau tanyaitu dirimu,
sanggupkah kau menentang pedangku yang panjang ini ?"
Giok Peng gusar hingga ia lantas menikam bekas pengawal
kaisar itu.
It Beng menangkis dengan keras, niatnya buat membikin
pedang si nona terpental guna memperlihatkan ilmu
pedangnya yang lihai.
"Trang !" demikian suara pedang beradu keras. Lantas It
Beng terperanjat. Ia melihat si nona mundur satu tindak tetapi
ia sendiri mundur satu tindak juga. Itulah bukti berimbangnya
tenaga mereka berdua. Sudah begitu, si nona sudah lantas
menikam pula !
"Tahan adik Peng !" Hong Kun berseru mencegah. "Baik
kau bunuh Hong Kun saja. Buat apa kau menjadi gusar begini
?" Dan ia lompat maju untuk menghadang pedang !
Tidak ada niatnya Giok Peng membinasakan pemuda itu. Ia
cuma ingin anaknya didapat pulang. Melihat orang
mengajukan tubuhnya, ia menarik pulang pedangnya.
"Tak kusangka kau begini hina dina !" bentaknya. "Kau
berani melindungi orang dengan jiwamu ! Hm !"
Tanpa merasa si nona meneteskan airmatanya saking
jengkelnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Teng It Beng berdiri menjublak, ia heran sekali
menyaksikan pemandangan di depan matanya itu.
Pek Thian Liong dan rombongannya pun terdiam. Tak ada
perlunya buat mereka campur bicara. Justru itu dari kejauhan
dari arah belakang mereka terlihat datangnya serombongan
penunggang kuda yang mendatangi secara cepat sekali.
Ketika Pek Thiang Liong mengawasi, ia mengenali adiknya
Siauw Houw datang bersama delapan orangnya yang semua
membekal golok. Segera ia lari menyambut.
"Ada kabar tentang Hauw Yan ?" kakak ini mendahului
menegur.
Siauw Houw mengawasi kepada Hong Kun, ia lantas
menarik tangan kakaknya itu, untuk dibisiki atas mana si
kakak memperlihatkan tampang senang.
"Adik !" ia lantas berkata pada Giok Peng. "Karena saudara
Teng ini suka bertanggung jawab terhadap anak Hauw Yan,
kau terimalah tawarannya ! Buat orang Kang Ouw sejati,
sepatah katanya berarti seribu kati emas ! Biarkan saudara
Gak turut padanya. Tak usah kita berbuat kerukunan kita
terganggu karenanya......" Kemudian mengawasi It Beng, ia
meneruskan :
"Saudara Teng, kaulah seoarang yang dapat dipercaya, aku
percaya kau tak bakal membuat adikku kecewa dan menyesal
! Nah, saudara Teng silakan !"
It Beng tidak dapat menerka kabarnya Siuaw Houw kabar
apa itu, tetapi ia lantas menjawab : "Akan aku membuat
penyelidikan, nanti pastilah aku akan datang memberi kabar.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Nah, maaf tak dapat aku menemani kalian terlebih lama pula
!"
Berkata begitu It Beng menarik tangannya Hong Kun buat
diajak berjalan dengan cepat.
Pemuda she Gak itu berpaling kepada Giok Peng, mau ia
bicara tetapi batal. Cuma wajahnya menunjukkan dia likat,
jengah sendirinya.
Giok Peng mengawasi orang berlalu. Ia membiarkan orang
pergi karena ia percaya Siauw Houw si kakak nomor dua
membawa berita baik. Bukankah Thian Liong nampak girang ?
Selekasnya It Beng dan Hong Kun sudah pergi jauh, Siauw
Houw mengajak kakaknya menghampiri Giok Peng si adik buat
menyampaikan beritanya. Itulah halnya ia yang mencari Houw
Yan si keponakan cilik setibanya di Siulam telah bertemu
dengan
Tan Hong si nona yang bersenjatakan sanho pang serta di
rumah makan dan penginapan bertemu dengan Whie Hoay
Giok, kakak seperguruannya It Hiong. Dia akhirnya ia kasih
tahu juga halnya Tan Hong mau menyerahkan Hauw Yan pada
It Hiong sendiri.
"Maka itu adik, perlu kau lekas menyusul mereka itu !" kata
Siauw Houw.
Sementara itu Giok Peng telah menerka bahwa orang yang
telah menculik Hauw Yan dari tangannya Hong Kun di rumah
makan adalah Tan Hong cuma ia belum mendapat kepastian.
Sekarang ia mendengar keterangannya Siauw Houw, ia
menjadi girang berbareng terkejut. Terkejut karena
kekuatiran...... Girang sebab berada ditangannya Tan Hong,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Houw Yan pasti tak kurang suatu apa. Yang ia kuatirkan ialah
Tan Hong nanti "merampas" It Hiong, sebab nona she Tan itu
pastilah demikian baik hati melulu guna mengambil hatinya si
pemuda. Maka itu, dengan rupa perasaan itu bercampur
menjadi satu, ia sampai tak dapat berkatai apa-apa atas
wartanya Siauw Houw itu....
"Adik" kata Thian Liong kemudian. "Nona Tan Hong itu
orang kaum sesat, dia baik dengan kau dan saudara It Hiong,
dapatkah kau menerka kalau-kalau tindakannya itu disebabkan
sesuatu maksud ?"
Ditanya kakaknya itu, Giok Peng bagaikan terasadar.
"Kakak, Hauw Yan tak akan kurang suatu apa" kata ia yang
tak mau menjawab pertanyaan orang, "meski demikian
hendak aku menemukan adik Hiong supaya hatiku menjadi
tenang. Baiklah kakak berdua pulang saja."
"Aku ingin menemani kau, adik" berkata Siauw Houw,
"supaya dimana yang perlu dapat aku membantumu. Aku pula
telah berjanji dengan saudara Whie Hoay Giok untuk bertemu
dikaki gunung Kiu Kiong San. Lebih daripada itu, hatiku baru
lega benar-benar, sesudahnya Hauw Yan kembali dalam
pelukanmu !"
Giok Peng tidak dapat menolak kakaknya itu, maka lantas
Thian Liong memberikan dua orang pengiring buat kedua adik
itu, ia sendiri terus pulang, bersama sekalian pengiringnya
adik.
Di hari besoknya Giok Peng dan rombongannya sudah
dalam perjalanannya ke Kiu Kiong San. Untuk girangnya ibu ini
telah bertemu dengan putranya yang ada bersama Kiauw In.
Cuma walaupun girang hatinya toh belum lega seluruhnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sebab ia masih pikirkan urusannya Tan Hong. Karena bujukan
hatinya sangat keras dengan mesti ia tanyakan Kiauw In
tentang Nona Tan dari golongan sesat itu....
Kiauw In tertawa.
"Adik Peng" katanya manis. "Kita kaum wanita, mata kita
harus dibuka sedikit lebih lebar, dengan cara demikian barulah
kita akan mendapati atau menikmati kebahagiaan yang sejati.
Kau sekarang berpikir begini rupa bukankah itu berarti kau
mencari keruwetan pikiranmu sendiri ? Kau kenal baik adik
Hiong, dia bukan pria yang kemaruk dengan bunga-bunga.
Kenapakah kau berpikir tidak karuan ?"
Giok Peng jujur, ia memiliki sifat laki-laki, mendengar
suaranya Nona Cio yang begitu sabar dan halus, ia jengah
sendirinya. Ia merasa bahwa ia sangat cupet kalau dipadu
dengan nona itu. Kiauw In polos dan hatinya lapang, ia
sebaliknya, ia suka merasa jelus hingga ia sudah
bercemburu....
"Kakak benar !' katanya kemudian tertawa sambil
mengawasi nona yang cantik luwes itu. "Kakak, kata-katamu
adalah kata-kata emas. Sungguh kaulah guruku yang pandai
!"
Kiauw In bersenyum.
"Adik, apakah kau ada menerima petunjuk dari Paman In ?"
tanyanya.
"Tidak" sahut Giok Peng cepat. "Apa kabar dari Paman In
?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Di tengah jalan, aku bertemu dengan pendeta murid
Siauw Lim Pay" kata Kiauw In. "Dia menyampaikan pesan lisan
dari Paman In, katanya karena saat pertemuan besar di Tay
San sudah mendatangi semakin dekat, maka kita bertiga
dianjurkan untuk lekas kembali ke Siauw Sit san. Tinggal
halnya adik Hiong. Ia pergi ke Ay Lao San, guna membantu
pamannya, entah bagaimana hasilnya, tak tahu ia bakal lekas
kembali atau tidak...."
Giok Peng berdiam, untuk berpikir, kemudian ia berkata :
"Kalau begitu, sekarang terserah kepada kau, kakak. Kita
berdua pulang dahulu ke Liok Tiok Po atau kita berangkat
langsung ke Siauw Sit San, atau kita menyusul ke Ay Lao San !
Bagaimana pendapat kakak ?"
Kiauw In berpikir keras.
"Sudah lama adik Hiong pergi ke Ay Lao San, kalau kita
menyusul ke sana, mungkin kita menyia-nyiakan waktu saja"
sahutnya kemudian. "Bagaimana kalau kita pergi dahulu ke
Siauw Sit San, untuk di sana kita mendengar apa katanya
Paman In ? Kitapun jadi tak usah membuat paman
mengharap-harap kita...."
"Mama !" Hauw Yan menyela, selagi ia dipeluk ibunya.
"Mama, mana nenek ? Aku pun ingin main-main bersama
kakak Kuil..."
Mendengar suaranya sang keponakan, Siauw Houw
mendapat pikiran.
"Adik" berkata dia, "saat ini saat banyaknya urusan kaum
Kang Ouw, dengan kau membawa-bawa Hauw Yan, mana
dapat kau menghadiri pertemuan di gunung Tay San itu ? Aku
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
pikir baiklah aku yang ajak Hauw Yan pulang, supaya ibu yang
merawatinya. Bukankah itu lebih sempurna ?"
"Begitu pun baik." sahut Giok Peng. Memang berasa akan
ia membawa-bawa anaknya itu, yang belum tahu apa-apa
tetapi waktu
ia menyerahkan anaknya itu, ia merasa berat. Kata ia pada
anaknya : "Hauw Yan, anak baik, pergilah kau pulang bersama
pamanmu ini, untuk menemui nenekmu dan kakak Kuil..."
Hauw Yan membuka matanya lebar-lebar. Ia mengasi
ibunya dan juga Kiauw In.
"Mama !" panggilnya. "Mama !"
Siauw Houw lantas menyambuti keponakannya itu, ia
mengucapkan selamat berpisah dari adiknya itu dan Nona Cio,
terus bersama dua orang pengiringnya, ia berangkat pulang.
Syukur keponakan itu mendengar kata dan tak ribut
memanggil ibunya.
Giok Peng berdua Kiauw In mengawasi sampai orang sudah
pergi jauh, baru mereka pun melanjuti perjalanan mereka
dengan tujuan Siauw Sit San.
Sementara itu Hong Kun, yang diajak It Beng, hari itu
setelah melakukan perjalanan belasan lie, baru mereka
mampir disebuah dusun, untuk mencari penginapan, buat
mandi, bersantap didalam kamar mereka, sembari mengisi
perut, mereka bicara banyak tentang masing-masing selama
perpisahan mereka berdua.
"Kita berpisah baru beberapa bulan, adik" berkata It Beng,
"sekarang aku melihat kesehatanmu seperti sangat terganggu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kau tak segagah dahulu ! Adik, itulah hebat asmara. Karena
itu, baiklah kau singkirkan itu dari hatimu ! Kau tahu sendiri,
sangat banyak nona-nona yang cantik !"
Hong Kun meletakkan cawan araknya. Dia menghela nafas.
"Aku bukannya setan paras elok, kakak !" katanya. "Cuma
cinta itu ada yang tunggal ! Sulit buat aku membebaskan diri
dari itu ! Aku pula tidak puas Tio It Hiong telah merampas
pacarku ! Inilah sebab yang membuat kesehatanku, lahir dan
batin menjadi begini rupa...."
"Tio It Hiong dan Pek Giok Peng telah menjadi suami isteri,
umum mengetahuinya" kata It Beng pelan. "Taruh kata
karena Giok Peng mengingatmu dan dia meninggalkan It
Hiong, masih tidak dapat kau menikah dengannya ! Itulah tak
dapat terjadi, saudaraku, Kalaupun berbuat demikian, nama
baikmu bakal menjadi runtuh ! Kenapa mesti menyiksa diri
sendiri ?"
Hong Kun berdiam. Dia mengangkat kepalanya, dia
meneguk araknya. Nampak dia jengah, malu sendirinya.
"Habis, kakak, kau ingin aku berbuat apakah ?" tanya dia.
Ditanya begitu It Beng melengak.
"Sekarang ini, adikku, kau lupakan dahulu soal asmaramu
ini." katanya kemudian. "Mari kita lakukan sesuatu, supaya tak
kecewa kepandaian kita ini !"
"Kau benar, kakak, ingin aku menuruti nasehatmu. Cuma
aku, Gak Hong Kun, aku dapat membedakan budi dan
penasaran ! Biar bagaimana, tak dapat aku lupakan halnya
pacarku telah dirampas orang !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Mari minum, adik !" kata It Beng yang mengangkat
cawannya. "Adik, asal kau dapat melupakan Pek Giok Peng,
aku mempunyai jalan buat kau melampiaskan penasaranmu
ini !"
Hong Kun agak tertarik hatinya.
"Benarkah itu, kakak ?" tanyanya.
It Beng tertawa.
Hong Kun melengak sejenak, lekas-lekas ia mengiringi
cawannya. Ia merasa sudah ketelepasan bicara. It Beng lakilaki
sejati, tidak nanti dia mendusta, apapula terhadap ia
sendiri.
It Beng mengawasi orang dengan tampang sungguhsungguh.
"Kita bagaikan saudara kandung satu dengan lain, tak nanti
bergurau denganmu, adik !" katanya kemudian. "Kau tahu,
dalam perjalananku kali ini aku berhasil mendapatkan serupa
ilmu untuk merubah wajah orang. Aku anggap ilmuku ini ada
faedahnya untukmu adik !"
Hong Kun nampak girang.
"Coba kau jelaskan, kakak" pintanya. "Apakah faedahnya
itu ?"
"Kau tahu saudaraku, kepandaianku ini jika kau gunakan,
faedahnya itu merupakan sebuah batu mendapatkan dua ekor
burung !" kata sang kakak angkat menjelaskan. "Percaya aku,
faedahnya akan bukan main besarnya !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lantas kakak angkat ini berbisik ditelinga adiknya itu.
Hong Kun bertepuk-tepuk tangan.
"Bagus ! Bagus sekali !" dia berseru kegirangan. "Sungguh
bagus akalmu ini, kakak. Hahaha !"
"Hanya adikku" berkata pula It Beng. "Jika kau hendak
melakukan itu, kau harus dengan tekad bulat, dengan rada
kejam ! Di sini bakal diadakannya pertemuan besar di gunung
Tay San itu, kau membuat kacau dunia rimba persilatan, kaum
sadar dan lurus setelah itu maka lantaslah Tio It Hiong,
lawanmu dalam laut asmara itu, bakal menjadi manusia yang
paling dibenci dan dikutuk laksaan orang selama ribuan tahun,
dia bakal menjadi orang berdosa besar kaum rimba persilatan
! Inilah pasti akan lebih memuaskan daripada turun tangan
sendiri menyingkirkan jiwanya...."
"Kakak" tanya Hong Kun setelah mengangguk-angguk.
"Berapa lamakah waktu yang dibutuhkan olehmu guna kau
membuat obatmu itu hingga dapat aku gunakan ?"
It Beng tertawa.
"Jangan tak sabaran, adikku !" katanya. "Kedua rupa bahan
obatnya telah aku sedia dan membuatnya pun mudah sekali."
Hong Kun girang tetapi toh ia mengerenyitkan sepasang
alisnya.
"Wajahku dapat aku rubah, tetapi bagaimana dengan
pedangku ?" tanya perlahan. "Pedangku tak dapat disamakan
pedang Keng Hong Kiam...."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Beng menghirup araknya, alisnya terbangun.
"Itupun mudah, saudaraku" katanya tertawa. "Dari daerah
perbatasan, aku telah memperoleh pedang Kia Koat, dapat
aku pinjamkan. Itu pedangmu. Pedang itu pedang tua dan
tajamnya luar biasa, pasti dapat dibandingkan dengan Keng
Hong Kiam. Melihat sinarnya saja orang sudah terkejut hingga
aku percaya tak mudah orang mengenalinya."
It Beng mengeluarkan pedangnya itu dan menghunusnya.
Benar-benar cahaya berkilau menyilaukan mata. Setelah
memasuki pedang kembali ke dalam sarungnya, ia serahkan
itu pada kawannya sambil bertanya, "Nah, saudara, apa lagi
yang kau kuatirkan ?"
Hong Kun menyambuti pedang, girangnya bukan buatan
hingga ia menjura dalam pada kakak angkat itu sambil berkata
: "Kalau nanti aku berhasil melampiaskan penasaranku, itulah
pemberian kau, kakak ! Aku tidak dapat mengucap terima
kasih padamu, maka kau terima saja hormatku itu !"
It Beng tertawa, kedua tangannya dipakai mengasi tangan
adik angkat itu.
"Kau sungkan, adik ! Sudah lama kita berpisah, mari kita
minum dahulu hingga puas !"
Hong Kun menerima baik undangan itu, maka mereka
mulai duduk pula, akan bersantap sambil minum sepuasnya.
Dalam girangnya, pemuda she Gak itu sampai bicara
seenaknya saja, hingga ia lupa bahwa mereka berada di
tempat minum. Mereka tidak ingat bahwa tembok pun ada
telinganya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tiba-tiba sesosok tubuh langsing dan lincah berkelebat
mengintai diluar jendela, dengan begitu dia dapat mendengar
semua pembicaraan diantara kedua saudara angkat itu.
Setelah merasa sudah mendengar cukup, orang itu lantas
mengangkat kaki !
Siapakah orang itu ? Baiklah kita meninggalkannya lebih
dahulu, buat mendahului menengok kepada Whie Hoay Giok
yang membawa pergi gurunya yang menjadi korban racun itu.
Bersama atau dibawah perlindungannya Tan Hong berhasil,
berhasil ia turun dari Ay Lao San. Rencana mereka adalah dari
propinsi Ouwlam baru ke Holam, akan pergi ke kuil Siauw Lim
Sie di gunung
Siong San, guna mencari Liauw In, kakak gurunya buat
minta tolong agar gurunya diobati. Justru baru mereka tiba
didekat perbatasan propinsi soecoan, mereka mendengar
berita yang mengherankan dan mengejutkan mereka. Itulah
kabar hebat sekali !
Bunyinya berita itulah begini :
Tio It Hiong, muridnya Tek Cio Siangjin sudah menyatroni
gunung Bu Tong San. Di sana Tio It Hiong sudah menyerang
dan membinasakan belasan murid Bu Tong pay serta
membakar vihara Sam Goan Kiong, sedangkan di Ouwpak
selatan, Tio It Hiong sudah membinasakan secara kejam
empat orang Siauw Lim Pay !
Jilid 25
Hebat pula peristiwa terhadap keluarga Liok diwilayah
sungai Siang Kang. Dan Beng Theng Liok Cim, orang Kang
Ouw kenamaan, yang sudah lama mengasingkan diri didalam
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
satu malam habis seluruh keluarganya yang terdiri dari
beberapa puluh jiwa! Penyerangnya menggunakan pedang
mestika dan piauw beracun. Cuma Liok Cim sendiri yang
selamat jiwanya tetapi sebelah lengannya terluka.
Berita itu sudah menggoncangkan dunia Kang Ouw. Ketua
Bu Tong Pay, Gouw Hian Tojin sudah lantas pulang dari kuil
Siauw Lim Sie di Siong San, guna mengurus pembunuhan para
murid-muridnya itu. Sedangkan ketua Siauw Lim Sie sendiri,
Pek Cut Taysu telah mengutus Ang Sian Taysu, adik
seperguruannya yang berkedudukan sebagai Ciang Ih, untuk
pergi merantau mencari Tio It Hiong untuk menyampaikan
surat yang ditulis oleh Pat Pie Sin Kit, In Gwa Sian.
Hubungan diantara Hoay Giok dan It Hiong luar biasa
kekalnya, maka juga ia mendengar berita tersebut. Anak
muda ini bingung bukan main. Itulah sangat aneh dan sukar
dipercaya! Toh berita ini agaknya sangat pasti. Tan Hong juga
goncang hatinya. Ia sangat menghargai dan mencintai It
Hiong. Dan ia kenal baik kegagahannya anak muda itu.
Sekarang tersiar berita hebat itu! Benarkah itu?
Karena ini, keduanya sambil melakukan perjalanannya itu
lantas mencoba melakukan penyelidikan. Mereka
menghendaki bukti yang nyata. Pada suatu hari Hoay Giok
tiba didusun Keng Liong tin ditepian propinsi Sucoan. Tiba-tiba
ia dan Tan Hong mendengar suara sangat berisik, terus
mereka menyaksikan orang lari serabutan, berebut saling
mendahului. Agaknya seperti ada bencana besar mengancam
mereka itu.
Tan Hong heran dia mencegat beberapa orang untuk
diminta keterangan. Ia mendapat jawaban berupa semua
orang yang ditanya bungkam, mereka cuma mengeluarkan
lidah dan menggeleng-gelengkan kepala!
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Gila!” teriak Tan Hong penasaran. “Kakak Whie tunggu
sebentar, aku akan pergi sebentar buat melihat apa yang
sebenarnya terjadi!”.
Hoay Giok memikir lain.
“Baik kita pergi kepasar untuk terus mencari tempat
istirahat,” katanya, Buat apa kita usil dengan orang lain?”
Belum lagi Tan Hong memberi jawaban, tampak seorang
pemuda yang punggungnya terikat pedang tampak lari cepat
sekali, bahkan dia lari disisinya si nona, sehingga nona itu
harus menyampingkan tubuhnya supaya tidak terlanggar dan
ketika ia melihat muka orang tersebut, iapun berpaling da
memanggil : “Adik Hiong! Adik Hiong!”
Anak muda itu terus lari bagaikan terbang, lekas sekali dia
menghilang disebuah gang. Tan Hong melengak hingga tak
ingat ia untuk menyusul, baru kemudian ia berkata : “Orang
itu mempunyai wajah sangat sama dengan adik Hiong! Hanya,
kalau dia benar adik Hiong, kenapa dia melihat kita bertiga
tapi dia kabur terus? Aneh!”
Hoay Giok tengah berjalan terus, ia tak sempat melihat
wajah orang, ia cuma melihat sesudah orang lari lewat. Maka
ia menjawab si nona, “Didalam dunia memang ada orang yang
segalanya mirip satu dengan lain Nona Tan, kau melihat hanya
sekelebatan, mana dapat kau mengenalinya dengan baik?”
Beng Kee Eng dipunggungnya Hoay Giok mendengar
pembicaraan muda-mudi itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Kau benar anak Giok, tapi Nona Tan benar juga,” katanya.
“Mari lekas kita cari tempat beristirahat, di sana baru kita
mencari keterangan….”
Tan Hong terdiam, ia hanya mempercepat langkah kakinya.
Setibanya dipasar maka di depan sebuah restoran ia melihat
seorang pria setengah tua sedang duduk ditanah sambil
memejamkan mata. Dia tengah mengatur pernapasannya,
baju didekat dadanya tampak berlumuran darah, tanda dari
sebuah luka. Di belakang dia terpisah kira-kira setombak lebih,
tiga orang roboh sebagai mayat….
Ketika Whie Hoay Giok sudah dapat menyusul Tan Hong,
hingga mereka datang dekat pada sekalian mayat itu, si anak
muda mengenali orang yang terluka itu ialah Go Tauw Kong,
murid ahli warisnya Pauw Pok Tojin dari partai Ceng Shia Pay.
Ia terkejut.
“Eh, cianpwe Go Tauw Kong!” sapanya, “Kau kenapakah?”
Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban, maka ia
mengulanginya namun orang masih berdiam saja, hingga
saking herannya, ia bertanya dan bertanya lagi.
Akhirnya orang itu membuka matanya, setelah melihat
Hoay Giok dia lantas berkata kasar dan sengit : “Tidak
kusangka, muridnya sebuah partai persilatan yang sangat
kenamaan tapi berprilaku kejam bukan main! Sudah dia
mencuri pedang pusaka Ceng Shia Pay, diapun membunuh
tiga orang adik seperguruan kami! Kau adalah manusia
sebangsa ular dan tikus, bagaimana kau masih dapat berpurapura
merasa kasihan dan menanyakan aku begini macam?
Hm!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Whie Hoay Giok melengak, terang itulah cacian atau
teguran untuk partainya, ia jadi berpikir, “ Benarkah semua
perbuatan busuk dan kejam itu perbuatannya adik Hiong,
ditengah jalan baru aku mendengar berita saja, tapi sekarang
aku mendapat buktinya. Mustahil Go Tauw Kong memfitnah?
Tak mungkin! Ah!.....” ia menghela napas.
Tapi iapun penasaran, ia berkata pula pada orang she Go
itu, “Cianpwe aku harap cianpwe jangan salah paham! Aku
mohon sukalah cianpwe membuat penyelidikan
dahulu…..menurut aku tak mungkin perbuatan ini
perbuatannya Tio It Hiong, adik perguruanku itu….”
Matanya Go Tauw Kong mendelik.
“Tutup bacotmu!” bentaknya gusar bukan kepalang. “Tak
dapat kau berpura-pura untuk mengibul orang! Apakah katakatamu
ini hanya untuk menutupi kejahatannya Tio It Hiong?
Apa yang telah dia lakukan atas kami ini telah didahului
dengan segala perbuatan keji dia yang lainnya! Dia sudah
membakar kuil Sam Goan Kiong! Dia telah membunuh murid
Siauw Lim Pay! Diapun telah membunuh keluarga Liok!
Sekarang mencuri pusaka kami, membunuh saudarasaudaraku
ini, juga melukai bahuku! Tak sempat aku bicara
denganmu, maka pergilah kau!”
Habis berkata begitu, dengan menahan nyerinya. Tauw
Kiong berjingkrak bangun terus dengan tubuh masih limbung
ia berjalan pergi dari situ!
Kembali Hoay Giok melongo, tak sempat ia bicara pula.
Lagipula apa yang dapat ia ucapkan? Ia Cuma bisa merasa
heran dan bingung. Ia hanya berjalan menggendong gurunya
menghampiri rumah penginapan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Di sana ia mendapati Tan Hong sedang menangis dengan
sangat sedih, mukanya penuh air mata….
Kee Eng dipunggung muridnya batuk-batuk perlahan.
“Kalian anak-anak muda, kalian tak dapat menguasai hati
kalian.” Katanya perlahan. “Hati kalian mudah sekali
tergoncang! Dengan kurangnya ketenangan, mana dapat
kalian hidup dalam dunia Kang Ouw? Untuk menghadapi
mereka yang licik dan jahat, orang membutuhkan
kesabaran….”
Kata-kata jago tua ini menyadarkan Hoay Giok dan Tan
Hong, bahkan si nona sudah lantas berhenti menangis.
Wajahnya Hoay Giok pun tak seseram semula.
“Locianpwe,” si nona lantas bertanya : “Bagaimanakah
pendapat locianpwe tentang peristiwa ini?”
“Jangan bingung nona,” berkata Kee Eng, “Kita bicara
sebentar didalam kamar.”
Tan Hong suka menyabarkan diri, aka Hoay Giok segera
memesan kamar. Mereka pun membersihkan tubuh, habis itu
duduk bersantap. Dengan cepat sang waktu lewat, meeka
baru dapat kesempatan bicara setelah tengah malam.
Tan Hong hampir hilang sabarnya. Ia sangat
mengkuatirkan keselamatan It Hiong. Kalau benar pacarnya
itu tersesat, sungguh hebat akibatnya nanti….
“Anak-anak mari kita bicara tenang,” kata Kee Eng sabar.
“Bukankah kita berpisah baru sepuluh hari lebih, bahkan
sekarang mungkin dia sedang melayani pihak Losat Bun
dengan Barisannya yang hebat! Dapatkah dia turun dari
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
gunung musuh itu? Kalau toh dia berhasil apa mungkin dalam
waktu sependek itu dia dapat melakukan semua perbuatannya
itu seperti berita yang tersiar diluaran. Menyerbu, merampas
dan membunuh orang? Lagi pula aku tahu baik sekali sifatnya
anak Hiong. Dia tulus dan jujur, dia sangat menghormati
gurunya, jadi aku tidak percaya dia dapat melakukan semua
perbuatan yang merusak namanya sendiri serta
perguruannya! Bukankah semua pihak yang bersangkutan itu :
Siauw lim Pay, Bu tong Pay, keluarga Liok dan lainnya semua
adalah kawan dan sahabat gurunya? Barusan kita melihat dia,
katanya dia merampas barang pusakanya Ceng Shia Pay serta
membunuh murid-muridnya. Walaupun demikian aku tetap
bersangsi! Kalau toh kita harus kuatir, kita justru
mengkuatirkan keselamatannya di Ay Lao san! Bagaimana
dengan pertempuran itu? Dia selama bertempur berhari-hari
menang atau kalah? Kalau dia menang dimana adanya dia
sekarang? Kalau dia kalah bagaimana dengan nasibnya? Maka
itu, kita baik kesampingkan soal lainnya….”
Hoay Giok membenarkan pandangan itu.
“Hanya suhu,” tanyanya, “Habis siapakah orang yang mirip
adik Hiong itu? Kenapa dua orang demikian mirip segalanya?”
“Jangan-jangan dialah musuhnya adik Hiong” berkata Tan
Hong. “ Kalau orang tadi benar adik Hiong, kenapa bertemu
dengan kita dia kabur terus? Ah, kalau saja aku sempat
bertemu pula dengan orang itu, pasti menanya tegas-tegas
kepadanya!”
Beng Kee Eng menarik napas dalam-dalam.
“Kau baik sekali teradap anak Hiong, Nona Tan,” katanya. “
Disamping itu aku minta sukalah kau bersabar dan berhati-hati
menghadapi manusia licik kita harus waspada. Menurut
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
perkiraanku, orang tadi bukan sembarang orang, dia pasti lihai
sekali. Sayang aku lagi keracunan hingga aku menjadi tak
punya guna apa-apa, jika tidak demikian akan kucari sampai
keujung langit guna menyingkirkannya!”
Tan Hong berdiam, begitupun Hoay Giok.
Ketika itu mungkin sudah jam tiga. Dari luar jendela,
sinarnya sang puteri malam tampak indah sekali, seluruh
penginapan sangat tenang.
Kee Eng menguap.
“Sudah jauh malam nona, silahkan kau kembali kekamarmu
dan beristirahat,” katanya.
Tan Hong berpaling ke arah jendela, ia melihat cahaya
rembulan. Justru itu, ia melihat bayangan orang berkelebat
hitam.
“Siapa?” tegurnya segera, sedangkan sebelah tangannya
dikebutkan pada lilin untuk memadamkannya. Dilain pihak ia
segera menyiapkan senjatanya dan tubuhnya bergerak gesit
untuk munduk dibawah jendela.
Hoay Giok dapat menerka apa artinya itu, dengan golok
ditangan ia menempatkan diri di depan pembaringan guna
melindungi gurunya.
Tiba-tiba berkilauan satu sinar pedang yang melesat
kedalam kamar dengan melintasi mulut jendela. Itulah sinar
pedang yang bergerak kedalam mendahului tubuh pemiliknya,
siapa telah berlompatan langsung ke arah Beng Kee Eng.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hoay Giok telah memasang mata, ia sudah siap sedia,
selekasnya ujung pedang meluncur ia menangkis dengan
goloknya. Tapi pedang itu mendadak ditarik pulang guna
menangkis ke belakang untuk menyelamatkan dirinya. Sebab
sama cepatnya seperti dia sendiri, Tan Hong berdiri dan
menyerang padanya!
Kedua senjata beradu keras tapi Sanho pang tak tertabas
kutung. Senjata itu licin dan pedangpun meleset karenanya.
Tapi sipemilik pedang menjadi sangat gusar. Dia merasa
bahwa dirinya dibokong, tanpa menyadari dialah yang lancang
masuk kedalam kamar orang serta terus menyerang ke arah
Kee Eng! Dia lantas menyerang kepada si nona.
Sudah tentu Tan Hong bersiap melayani karena ia hendak
melindungi Kee Eng. Disamping itu iapun merasa gusar karena
orang menyerang secara tiba-tiba dengan cara licik.
Penyerang itu tampaknya gusar sekali. Dia menyerang dengan
hebat, rupanya dia penasaran sebab maksudnya terhalang.
Sementara Hoay Giok masih tetap berjaga, dia tidak berani
menjauhkan diri dari pembaringan.
Didalam kamar demikian sempit, ada kursi dan meja
sehingga sipenyerang merasa tidak leluasa bergerak. Lagipula
lawannya pun dua orang. Setelah ia gagal menusuk
senjatanya ke arah Tan Hong, ia terus meloncat kejendela
untuk melarikan diri. Selama itu ia tak pernah membuka
mulutnya, sedang kamar gelap gulita karena lilin sudah
dipadamkan hingga mukanya tidak kelihatan. Apa yang bisa
diduga hanya itu potongan tubuhnya sama seperti potongan
tubuh It Hiong!
Tan Hong melompat keluar kamar untuk mengejar orang
itu. Ia penasaran sekali siapa penyerang gelap itu? Kalau
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
benar itu It Hiong, iapun ingin mengetahui apa sebabnya dia
menjadi berubah seperti itu.
Kedua orang berlari-lari dengan pesat, ilmu ringan tubuh
mereka tampaknya seimbang. Sesudah lari tujuh delapan lie,
mereka tiba disebuah bukit kecil. Disitu penyerang gelap itu
memperlambat larinya, dia lari keatas bukit itu.
Tan Hong mempunyai nyali yang besar, ia terus mengejar.
Ia pun mendaki bukit itu. Rembulan masih bersinar sehingga
ia bisa melihat orang itu berhenti berlari dan duduk dibawah
sebatang pohon cemara yang akarnya menonjol keluar. Dia
duduk dengan sebelah tangan dilututnya dan sebelah yang
lain pada dagunya, dilihat dari samping dia mirip It Hiong.
Selagi lari menghampiri, hatinya Tan Hong goncang, ia
menerka-nerka apa benar orang itu si adik It Hiong. Selagi
mendekati, ia berjalan perlahan matanya terus mengawasi
dengan tajam.
Siapakah orang itu kalau bukannya Tio It Hiong, pacar
idamannya yang tampan dan gagah? Iapun percaya akan
kilauan pedangnya si pemuda yang merupakan pedang
mestika. Ia maju sampai tinggal lima kaki dari orang tersebut,
dia masih duduk diam seperti tengah berpikir keras.
“Siapakah kau?” Tanya Tan Hong kemudian, “Kenapa kau
berdiam saja?”
Baru setelah ditegur orang itu mengangkat kepalanya
untuk memandang si nona, ia lantas menghela napas.
“Habis aku harus bilang apa?” sahutnya balik bertanya.
Tan Hong maju lagi dua tindak, ia menatap.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Ah……” serunya tertahan, orang itu It Hiong adanya.
Maka ia lantas bertanya pula : “Eh, kau kenapakah? Kau
memikirkan apa? Coba kau ceritakan itu padaku, maukah
kau?”
Mendengar suara lebih jauh dari si nona, orang itu berkata
: “Kakak, apakah kakak belum tahu bahwa aku telah
melakukan sesuatu yang merusak nama, yang aku lakukan
selama hatiku kacau?”
Tan Hong melengak, ia tampak sangat berduka.
“Kenapa kau lakukan perbuatan itu?” tanyanya pula.
“Apakah itu disebabkan kesadaranmu telah dikacaukan oleh
Kwie Tiok Giam Po?”
Tan Hong bertanya demikian karena goncangan hatinya itu,
tapi ia justru terperangkap. Sebab pemuda dihadapannya itu
bukannya It Hiong melainkan Hong Kun yang menyamar
dengan sempurna sekali. Pantas It Beng memuji tinggi
kepandaiannya menyamar itu, sampai Tan Hong sendiri kena
disesatkan.
Hong Kun tidak kenal nona ini, maka juga dia tak mau
sembarangan bicara karena si nona membahasakan diri kakak,
dia dapat menerka sedikit hubungan diantara It Hiong dan
nona ini, maka ia juga lantas mengikuti arah angina. “ Aku Tio
It Hiong, sejak aku memasuki dunia Kang Ouw belum pernah
aku melakukan sesuatu yang buruk, tapi setelah aku terkena
racunnya Kwie Tiok Giam Po, pikiranku menjadi kacau,
diwaktu begitu asal aku melihat orang, hendak aku menyerang
dan membunuhnya dan hatiku baru puas sesudah aku melihat
darah orang. Kakak kau tolonglah aku…..”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tan Hong mengawasi, ia heran.
“Adik Hiong,” tanyanya, “Bukankah kau membawa obat
hosing ouw serta pil mujarab dari pendeta tua dari Bie Lek
Sie? Kenapa kau tidak mau makan obat itu guna
menghilangkan pengaruh racun tersebut?”
Ditanya begitu Hong Kun melengak, tapi hanya sebentar,
dia lantas menjawab : “Selama aku tak sadar disebabkan
terkena racun, semua barangku telah dirampas, waktu sadar
hendak aku bunuh diri tapi aku batal Karena aku ingat kau
kakak. Sebenarnya aku mau denganmu menjadi sepasang
burung yang dapat terbang bersama untuk hidup didunia yang
bebas dan damai…
Hebat niatnya Hong Kun, ia tertarik dengan nona ini dan
ingin merampas milik orang yang paling berharga karena
dengan begitu iapun dapat membalas dendam terhadap It
Hiong. Sebenarnya ia juga membenci nona ini yang telah
mengerjainya itu. Kalau sudah kehormatan si nona diambil, ia
juga hendak merampas jiwanya.
Bagaikan orang buta Tan Hong percaya benar pemuda di
depannya adalah It Hiong yang asli. Hingga tak ada
kecurigaannya kepada si anak muda. Ia seperti lupa segala,
sambil tertawa ia bertanya : “Dapatkah kau melupai kedua
kakakmu Kiauw In dan Giok Peng?”
Orang yang ditanya tidak menjawab, hanya dia bangkit
mendatangi, kedua tangannya lantas meraba ketubuh orang.
“Kakak!” katanya manis.
Tan Hong terkejut, biar bagaimana ia adalah seorang nona,
ia mencintai It Hiong bukan Cuma disebabkan It Hiong
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tampan dan gagah, terutama gerak geriknya yang sopan
santun. Selama ia berkenalan dengan It Hiong, belum pernah
It Hiong berlaku kurang ajar atau ceriwis, tapi sekarang ini.
Mendadak Tan Hong ingat pesannya Beng Kee Eng utnuk
waspada. Mendadak saja ia sadar, maka segera ia
mengeluarkan senjatanya.
“Kau siapa?” tanyanya membentak. “Kenapa kau berlaku
begini kurang ajar?”
Sanho pang segera dilayangan ketubuh orang!
Hong Kun lihai, mudah saja ia berkelit, ia tidak marah
malah sebaliknya ia tertawa ceriwis.
“Eh kakak, apakah kau sudah menjadi gila?” tanyanya.
“Kau begini manis, kenapa kau tidak mengerti tentang
kelembutan dan kenikmatannya? Ah, jangan nanti kau
menyesal….”
Tan Hong mengawasi tajam. Sekarang ia percaya benar
bahwa orang ini It Hiong palsu. Pasti dialah yang merusak
namanya It Hiong, sang adik yang dicintai. Ia menjadi sengit,
ia hampir diperdayakan. Hampir ia mengulangi serangannya,
namun tiba-tiba ia ingat untuk membuka kedok orang dahulu.
Hong Kun mengawasi nona itu, menerka-nerka apa yang
lagi dipikirkannya. Hampir ia berkata pula namun ia pun ingat
nona di depannya ini adalah si nona yang dirumah makan di
Tiancu tiu yang sudah merampas Hauw Yan dari tangannya.
Ia tidak kenal Tan Hong namun pernah mendengar tentang
Nona Tan Hong dari Hek Keng To, bagaimana cantiknya dan
apa senjatanya. Maka itu mendadak timbullah rasa bencinya
serta keinginannya membalas sakit hati nya dahulu itu!
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Buat sesaat mata tajam Hong Kun meyala mengawasi nona
di depannya itu, tapi dasar cerdik dan licik masih dapat ia
menguasai dirinya. Begitulah dengan suara sabar ia berkata :
“Kakak, adikmu sungguh sangat bersyukur kepadamu sebab
dengan susah payah kau telah berhasil menolong Hauw Yan
dari tangan orang jahat. Kakak, dengan begitu kau membuat
aku bertambah cinta kepadamu. Itulah sebabnya kenapa
barusan aku berlaku sembrono, kakak kau maafkanlah
aku…..”
Didalam sekejap Hong Kun nampak lesu dan menyesal.
“Aneh!” pikir Tan Hong. “Dia benar-benar adik It Hiong
atau bukan? Kalau bukan, kenapa dia dapat bicara tentang
Hauw Yan?”
“Itulah tidak berarti….” Katanya, namun mendadak ia ingat
satu orang :”Ah! Apa bukannya Gak Hong Kun?” maka ia
segera membentak : “Gak Hong Kun! Jangan kau main gila!
Apa kau kira dapat mengelabuiku!” dan ia menatap tajam
sekali.
Hong Kun terperanjat, parasnya berubah dengan tiba-tiba.
Akan tetapi dia tabah dan cerdik, lantas dia mendapat akal.
Maka dia mengangkat kepalanya, menatap puteri rembulan,
habis itu ia berkata perlahan : “Gak Hong Kun adalah
musuhku dalam urusan asmara…..aku justru mau cari dia
guna membuat perhitungan, maka menyebut nama dia,
apakah dia muncul disini?”
Tan Hong tetap mengawasi, ia menjadi waswas : Hong Kun
atau It Hiong?
Gak Hong Kun juga mengawasi tajam, dia mengerti bahwa
orang telah mencurigainya, maka ia hendak mendahului turun
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tangan, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol
kecil, terus dibuka dan dikibaskannya, membuat isinya
tersebar sambil ia berkata nyaring : “Kakak, kau lihat harum
bau apa! Dapatkah kau menciumnya?”
Tan Hong terperanjat karena orang memanggilnya itu ,
ketika ia terperanjat justru hidungnya telah mencium bau
bubuk harum itu, terus ia berseru tertahan dan tubuhnya
roboh tidak sadar lagi!
“Hm!” Hong Kun tertawa iblis. “Sekarang baru kau tahu
rasa budak bau! Berapa kali sudah kau menjual jiwamu untuk
It Hiong, selalu menggagalkan usahaku maka sekarang
hendak aku memuaskan hatiku atas dirimu! “
Tanpa ayal pula si anak muda berjongkok
untukmengangkat tubuh orang, buat dipondong dan dibawa
lari ke arah bukit yang penuh dengan pepohonan dan
terdapat sebuah kali kecil. Dahan-dahan dan daun pohon
membuat tempat itu tak tembus oleh sinar rembulan.
Untuk girangnya si anak muda, dia justru melihat beberapa
buah gubuk ditepi kali itu. Tidak ada cahaya api didalam
gubuk tentu penghuninya sedang tidur pikirnya. Itulah yang ia
kehendaki, dia pikir, asal tuan rumah dapat dikekang dia pasti
bebas melakukan apa yang dia sukai.
Melihat cahaya rembulan, Hong Kun menerka waktu sudah
mendekati jam empat, ia menghampiri sebuah gubuk terus
menolak daun pntunya. Ia mendapat kenyataan pintu itu tak
terkunci. Tanpa pikir panjang lagi ia masuk kedalam rumah.
Lebih dahulu ia menyalakan api, hingga ia melihat sebuah
ruangan dengan segala perabotannya, kursi, meja dan lainnya
yang terbuat dari kayu dan bamboo dan semuanyapun bersih.
Terus ia menyulut lilin yang berada diatas meja, setelah itu ia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
letaki tubuh si nona diatas kursi bambu, ia sendiri duduk
dikursi satunya untuk beristirahat.
Sambil beristirahat itu, Hong Kun memandang kedinding,
maka ia melihat sebuah holouw atau buli-buli tergantung
didinding di depannya. Ia bangkit untuk menurunkan buli-buli
itu, waktu ia membukanya ia membaui arak yang harum.
“Sungguh menarik hati!” katanya dalam hati. “Sudah ada
wanita cantik, ada juga arak harum! Tak disangka Gak Hong
Kun , didalam rumah gubuk ini , kau bakal mendapat sesuatu
yang sangat nikmat!”
Mulut holouw lantas dibawa kemulutnya untuk ditegak
isinya dalam beberapa teguk. Terus Hong Kun duduk lagi,
tangan kirinya tetap memegang tempat arak, matanya
mengawasi si nona manis diatas kursi. Tanpa terasa pengaruh
arak membuat napsu birahinya tambah menyala….
“Inilah saatku…..” pikirnya. Maka ia bangun untuk
memondong nona guna dibaa masuk kedalam kamar di
depannya tanpa ia mau memeriksa terlebih dahulu kamar itu!
Saat si anak muda melewati ambang pintu, tiba-tiba
kepalanya terasa pusing, terus tubuhnya terhuyung-huyung
kemudian dia roboh bersama-sama nona yang dipondongnya1
Dia roboh tanpa ingat apa juga….
Berbareng dengan itu dari kamar terdengar suara tawa
nyaring yang sangat gembira, terus terlihat munculnya
seorang dengan sabuk hijau dan baju panjang hijau juga. Dia
beralis gomblok dan bermata bundar dan mukanya brewokan
tebal. Melihat tampangnya dia tentu berusia kira-kira lima
puluh tahun.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Hai tikus!” katanya sambil menunding tubuh Hong Kun.
“Dasar tikus rakus, tidak kuat minum, kau mencuri arak
orang!”
Lalu orang itu mengambil lilin dari atas meja buat dipakai
menerangi dua tubuh yang tak bergerak itu, hingga ia melihat
tegas sepasang muda-mudi tapi yang membuatnya terkejut
sampai ia berseru tertahan, ialah waktu ia mengenali si anak
muda Tio It Hiong adanya, ia melongo mengawasinya.
Ketika itu dari sebuah kamar lain, lari keluar seorang
perempuan muda dengan pakaian merah tua yang singsat,
rambutnya panjang turun kebahu dan punggungnya, rambut
dikepalanya dijepit dengan jepitan emas dengan gambar
burung hong terbang. Dia seorang nona yang manis. Dia
menghampiri si orang tua untuk terus mengawasi muda mudi
itu, ketika ia menatap si anak muda ia tampak girang, ia
menggertak gigi perlahan, setelah itu sambil menepuk bahu si
orang tua dia bertanya : “Jie Suheng, kau kenalkah pemuda
ini?”
Orang tua itu terkejut mendengar suara orang yang
dibarengi dengan tepukan tangan kepada bahunya itu. Ia
justru lagi meneliti sepasang muda mudi yang seperti lagi tidur
nyenyak itu. Si nona datang dengan cepat tapi hati-hati
hingga tak tahu orang sudah ada disisinya. Dan si nona yang
menjadi adik seperguruannya ini memang jail sekali.
“Ah, budak setan!” tegurnya sambil menoleh.
Kiranya orang tua itu adalah Jie Koay atau Jie Mo Lam
Hong Hoan si siluman atau bajingan nomor dua diantara Cit
Me tujuh bajingan dari To Liong To, pulau naga melengkung.
Sedangkan si nona adalah Cit Mo Siauw Wan Goat, bajingan
nomor tujuh atau sibungsu dari tujuh bajingan itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bersama kedua saudara seperguruan itu masih ada Ngo Mo
Bok Cou Lauw, bajingan nomor lima, sebab mereka bertiga
sedang menerima tugas dari pimpinannya, kakak
seperguruannya yang tertua, guna pergi keberbagai tempat
dan mengundang orang-orang kosen kaum sesat, agar
mereka itu nanti sama-sama menghadiri pertemuan besar
dunia persilatan digunung Tay san untuk membantu pihaknya.
Kebetulan saja mereka lewat ditempat itu. Siauw Wan Goat
tertarik dengan ketenangan tempat itu, dia mengajak kedua
saudaranya singgah disitu dengan menempati rumah gubuk
tersebut. Tidak tahunya yang punya rumah gubuk itu justru
Beng Leng Cinjin, ketua dari Hek Keng To. Karena mereka
sama-sama kaum sesat, Beng Leng Cinjin suka menerima
ketiga tamunya itu.
Sebenarnya ketika itu, Beng Leng Cinjin sudah berpikir
untuk mengundurkan diri dari dunia Kang Ouw akibat
serbuannya ke Siauw Lim Sie dimana diruang Lohan Tiong dia
kena dirobohkan Pek Cut Taysu yang mengalahkannya dengan
ilmu Tay Poan jiak atau Prajana Luhur yang membuatnya
sadar, begitulah akhirnya dia pilih tempat terpencil itu, sunyi
damai hingga dia menerima Lam Hong Hoan bertiga. Dia
mengalah dan pindah kegubuk paling belakang, disitu tetap
dia hidup menyendiri tak bergaul dengan bajingan-bajingan
dari To Liong To itu.
“Kakak,” kata Wan Goat sambil melirik It Hiong palsu.
“Pemuda ini apa bukannya Tio It Hiong murid dari Pay In Nia
yang kita temukan dibawah puncak Heng San?” dimulut si
nona bertanya, dihati ia girang bukan main. Ia menganggap
barang makanan mengantarkan diri….
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Bocah ini malang!” kata Lam Hong Hoan tertawa. “Dia
roboh oleh arak buatanku ini dengan begitu dengan sendirinya
berkurang musuh kita di Tay San nanti….”
Wan Goat tertawa dan berkata : “Sebenarnya aku matangi
arakmu ini buat membikin kau sinting lupa daratan, siapa tahu
bocah itu datang menggantikanmu. Dasar untungmu bagus,
sekarang kakak, apakah kau ingin menyingkirkan jiwanya ini?”
“Tentu saja!” sahut sikakak. “Cuma wanita ini kalau
melihat dari senjatanya, mestinya dia dari Hek Keng To,
mengenai dia kita harus teliti dahulu….”
Timbul segera rasa cemburu si nona.
“Seorang nona malam-malam berada bersama seorang
pria, apakah dia masih mempunyai muka?” tanyanya.
“Perempuan busuk ini buat apa kita pedulikan siapa adanya
dia? Baik sekalian saja kita bereskan!”
Berkata begitu nona siauw mengayun tangannya kekepala
Tan Hong. Lam Hong Hoan terkejut, dia menyampok
tangannya si nona, dengan begitu serangan itu menukar arah
mengenai pinggiran kursi hingga Cuma rambutnya Tan Hong
yang terkena anginnya.
Ketika Tan Hong terkena racun, ia hanya membaui sedikit.
Disamping itu dengan ilmu Mo Tang ka telah sempurna sekali
maka selang sekian lama tenaga dalamnya sendiri berhasil
mengusir racunnya Hong Kun. Selagi kesadarannya mau pulih
itu, ia justru tersampok angin pukulan Wan Goat hingga
kesadarannya dipercepat. Sekejap saja ia sudah melompat
bangun, matanya terus mengawasi Kam Hong Hoan dan Wan
Goat untuk sejenak rupanya ia merasa heran.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Hoan membawa lilin mendekati Nona Tan untuk
menatapnya.
“Nona?” tanyanya kemudian, “Bukankah kau Nona Tan
Hong dari Hek Keng To?”
Tan Hong mengawasi tajam, ia segera mengenali Hong
Hoan.
“Oh, Lam Cianpwe, sudah lama kita tak bertemu!”
sahutnya, “Memang aku yang muda Tan Hong adanya.”
Hong hoan trus menatap, tampak dia merasa heran sekali.
“Nona,” tanyanya pula sambil menunjuk Hong Kun.
“Kenapa nona ada bersama bocah ini?”
Tan Hong memandang ke arah yan ditunjuk itu. Ia melihat
pemuda yang lagi rebah itu mirip It Hiong. Ia bersangsi hingga
ia berdiri menjublak saja. Ia terus menggunakan pikirannya
untukmengingat-ingat.
“Dasar Jie Suheng tolol!” berkata Wan Goat menyelak.
“Orang toh berpasangan tengah malam buta, mereka lancang
memasuki tempat kita, apalagi maksudnya? Buat apa banyak
bicara? Mari aku mewakili kau menajwab : Pasti untuk
berpelesiran semalam suntuk1”
Tak cukup dengan ejekan itu, nona Siauw pun
memperdengarkan suara tawa dinginnya.
Tan Hong membuka lebar matanya, hatinya panas.
“Siauw Wan Goat mulutmu tidak bersih!” tegurnya. “Jangan
menghina orang lain jika kau tidak ingin dirimu dihina!
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bukankah kau juga seorang gadis remaja. Apa kau benar tak
tahu malu?”
Hong Hoan tertawa dan menyela : “Harap jangan gusar
nona! Sudah biasanya adikku ini suka berjumawa dan
bergurau menjaili orang! Eh nona, apakah kau datang kemari
buat mencari kakak seperguruanmu Beng Leng Cinjin?”
Sebagai orang cerdik bahkan licin, Hong Hoan tahu
bagaimana harus mengalihkan pembicaraan supaya kedua
nona itu tidak bentrok.
Benar, akhirnya Tan Hong menjadi sabar.
“Apakah kakak seperguruanku yang tertua berada disini?”
tanyanya.
“Beberapa buah gubuk ini semua milik kakak
seperguruanmu itu nona,” sahut Hong Hoan, “Inilah tempat
dimana dia tengah mengasingkan diri. Ketika kami kemarin
lewat disini, kami bertemu dengannya, maka kami lalu singgah
disini beberapa hari.
Tan Hong heran berbareng girang.
“Aku memang ingin menemui kakak seperguruanku itu,”
katanya. “Dimanakah adanya ia sekarang?”
“Kakak nona itu berada digubuk belakang.” Sahut Hong
Hoan,” Mari nona, mari aku yang tua memimpinmu kepada
kakakmu itu.”
Berkata begitu, orang she Lam itu melirik Hong Kun, terus
ia memesan Wan Goat setelah itu ia bertindak pergi mengajak
Nona Tan Hong. Ia membawa terus lilinnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Wam Goat menanti orang sudah berlalu, lantas ia
mengambil air dengan apa ia menyembur mukanya Hong Kun
hingga ia membuat It Hiong palsu lantas mendusin dari
pingsannya akibat keracunan arak istimewa itu. Ia mengawasi
heran kepada nona di depannya itu, sebab orang bukannya
Tan Hong, tapi ia cerdik sekali, tahu ia bagaimana
menghadapi seorang wanita.
“Kakak!” lantas ia memanggil dengan suara perlahan.
Luar biasa dua orang ini, Wan Goat mengenali It Hiong ,
maka ia menyangka pemuda di depannya ini It Hiong tulen
adanya. Hong Kun sebaliknya mengenali nona itu, Siauw Wan
Goat dari To liong To. Sewaktu berada ditengah jalan
dikecamaTan Hongbwe mereka pernah bertemu dan dia dicaci
maki nona itu. Dan itulah peristiwa yang masih diingatnya
dengan baik.
Wan Goat merasa manis dipanggil kakak, mukanya menjadi
merah.
“Kakak It Hiong1” berkata dia. “Apakah kau masih belum
mau berangkat pergi dari sini? Kalau sebentar kakakku yang
nomor dua keburu datang, pasti akan berabelah kau.”
Hong Kun bangkit untuk bangun.
“Tak dapat aku meninggalkan kau kakak,” katanya
perlahan. Mendadak ia menyambar tangan si nona.
Hatinya Wan Goat memukul, parasnya merah. Biarpun ia
centil,ia toh likat, ia melirik terus tunduk.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Kakak Hiong,” tanyanya perlahan, “Kau berniat berbuat
apa?”
Hong Kun mengawasi muka orang. Nona itu sedang
mengangkat mukanya, ia memberi isyarat supaya nona itu
mengikutinya. Nona itu kalah cerdik, iapun telah diganggu
ditarik, iapun turut berjalan keluar…..
Dibawah sinar rembulana mudi itu berjalan bagaikan
bayangan dibawah pepohonan. Mereka melangkah
disepanjang tepian kali, sampai mendekati sebuah desa.
Mereka mendengar ayam-ayam mulai berkokok
membangunkan orang tidur. Hanya Wan Goat yang belum
sadar dari mabuk asmaranya…..
Hong Kun mengajak orang berlari, ia tahu selekasnya
terang tanah, tak dapat ia mempuasi hatinya terhadap nona
siauw ini. Ia harus merebut waktu. Tegasnya ia mesti
memisahkan diri biar jauh dari gubuk si nona. Tak berani ia
kembali ke Liong peng, takut Tan Hong nanti menjadi
rintangan baginya.
Di depan mereka ada jalan pegunungan yang berliku-liku,
tanpa pikir panjang Hong Kun mengajakl Wan Goat lari
kesana.
Wan Goat berlari-lari disamping si anak muda, hatinya tidak
berpikir lainlagi kecuali tentang anak muda itu. Beberapa kali
ia meliriknya. Ia Cuma ingat Tio It Hiong.
Segera juga sang surya muncul dengan sinar paginya yang
indah. Masih Wan Goat mendampingi pemuda yang
diidamkannya itu. Ia tidak tahu bahkan tidak memikirkan
kemana ia sudah dibawa pergi.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kali ini karena sudah terpisah cukup jauh, Hong Kun tidak
berlari lagi, ia hanya mengajak nona disisinya berjalan
berputaran ditanah pegunungan itu, bagaikan orang tengah
berpesiar. Ia pandai membawakan dirinya membuat si nona
senantiasa merasa tenang dan tak curiga apa-apa. Baru
setelah magrib mulai tiba, ia mengajak nona itu turun dari
gunung yang tidak dikenal itu.
Hong Kun membawa orang kekecamatan Na Kue, ia
memasuki kota dan lantas mencari rumah penginapan. Ia
memesan barang hidangan dan arak untuk bersama Wan Goat
bersantap didalam kamar yang disewa itu.
Bukan main puasnya Hong Kun, kalau ia berhasil
mengganggu Wan Goat itu, berarti ia telah melampiaskan
kebenciannya terhadap kaum wanita. Wan Goat tidak
mencurigainya dan tidak menyangka apa-apa, bahkan ia
senang sekali berjamu bersama “kekasihnya” itu….
Sang waktu lewat dengan cepat tanpa terasa.
Ketika kentongan terdengar tiga kali, mukanya Wan Goat
sudah merah pengaruh air kata-kata. Ia justru semakin cantik
dan menggiurkan, saban-saban ia melirik “To It Hiong” dan
tersenyum manis.
“Kakak Hiong” katanya perlahan, “Sudah jauh malam, pergi
kau kekamarmu untuk beristirahat, aku sudah minum banyak,
kepalaku terasa pusing, akupun mau tidur…”
Berkata begitu lantas si nona bangun untuk pergi
kepembaringan dimana ia duduk disisinya, terus kepalanya
diletaki diatas bantal.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun tahu itulah kesempatan baik, ia lantas berpura
mulai mabuk dengan berjalan tak tetap ia menghampiri
pembaringan terus memegangi paha si nona.
“Adik Wan Goat, apakah kau sudah mabuk?” tanyanya
sengaja.
“Ah!” berkata si nona yang menolak tangan orang. “Kakak
Hiong jangan nakal!...”
Hong Kun menatap.
“Aku mau…..aku mau menungui kau, adik….” Katanya,
“Sesudah kau pulas barulah hatiku lega….”
Wan Goat tertawa, hatinya berdenyut kencang, ketika sinar
matanya beradu dengan si anak muda, ia lantas menoleh
kelain arah. Justru itu tiba-tiba ia ingat sesuatu.
“Apakah artinya ini?” demikian katanya dalam hati. Ia
melihat api lilin yang menyala. “Apakah artinya perbuatanku
ini? Bukankah adik Hiong bakal menganggap aku serupa
dengan bunga ditengah jalan? Oh, tidak, tidak!”
Tiba-tiba si nona turun dari pembaringannya, ia berbalik
memegang lengannya It Hiong tiruan.
“Kakak Hiong, kau juga sudah mabuk!” katanya, “Lekas
pergi kekamarmu! Kalau mau bicara, besok dapat kita
lanjutkan lagi.” Terus ia menarik orang kepintu dan menolak
tubuhnya hingga dilain saat ia sudah menutup pintu dan
memalangnya.
It Hiong palsu berdiri menjublak dibalik pintu, ia tersenyum
iblis.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Hm!” terdengar suaranya yang tawar dan perlahan, “Ah
budak bau, apa kau kira dapat mempermainkan tuan
besarmu? Tidak! Kau lihat saja nanti!” Maka ia lantas berkata
agak keras “Adik, kau tidurlah! Aku kekamarku!” lalu ia
sengaja memperdengarkan suara langkah yang berat.
Wan Goat menyahuti, terus ia padamkan api, habis
membuka bajunya ia naik pula keatas pembaringannya.
Sebenarnya ia sangat mencintai It Hiong. Rasa cinta itu
muncul semenjak pertemuan mereka berdua dikaki gunung
Heng San. Hanya sejak itu tak ada kesempatan buat ia
menemui pemuda yang cakap ganteng itu. Tapi sekarang
mereka dapat berkumpul bersama….
“Ah, mengapa aku menyuruhnya keluar?” pikir Wan Goat
sebelum ia pulas. “Ini adalah saat yang paling baik, kenapa
aku menyia-nyiakannya? Bagaimana kalau dia keliru
menyangka aku tidak mencintainya?...”
Letih si nona berpikir panjang, arak pun membuatnya
pusing. Diakhirnya tanpa terasa ia toh tidur pulas juga. Ia
tidur nyenyak sekali. Tak tahu ia telah tidur berapa lama.
Bahkan samara-samar ia bermimpi suatu kejadian yang belum
pernah ia mimpikan. Ia merasa sangat bahagia. Hanya itu
ketika kemudian ia mendusin dari tidurnya, ia telah berubah
menjadi bukan gadis lagi. Dari seorang nona ia menjadi
nyonya. Segera ia merasakan sesuatu yang tak biasanya.
Ketika ia melihat sinar matahari di jendela, ia bangkit untuk
bangun, namun ia heran karena tangannya merasa
memegang sesuatu. Ia membuka matanya, dari kedap kedip
menjadi lebar, lantas iapun terperanjat. Disisinya, diatas
pembaringannya, ia melihat sesosok tubuh pria tengah rebah
dan tidur menggeros. Ia pun kaget ketika mengenali orang itu
ialah si “Kakak Hiong”. Maka sadarlah bahwa ia bukannya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bermimpi, namun itulah kenyataan! Ia kaget berbareng
girang.
“Bangun!” katanya sambil meraba tubuh orang untuk
digoyang-goyang, ia terus menatap muka orang itu,
airmatanya sendiri berlinang karena bahagianya, “Telah aku
serahkan tubuhku yang putih bersih terhadapmu, maka
sekarang selanjutnya bagaimana kau hendak perlakukan
diriku?”
It Hiong palsu mengawasi nona itu. Si nona lembut dan
agak mendatangkan rasa kasihan. Tapi ia berpikir lain.
“Hm!” ia mengeluarkan suara dinginnya. “Hm, apa yang
ditangisi? Apakah kau tidak bunyi pepatah yang
mengharuskan wanita itu menurut dan bijaksana?”
Wan Goat heran.
“Kakak Hiong apa katamu?” ia bertanya.
Hong Kun menjawab dengan keras : “Sejak saat ini kau
harus mendengar dan menurut kata-katakku! Jika kau
membandel dan menantangnya, jangan heran kalau aku tidak
mengenal kasihan lagi padamu!”
Berkata begitu, pemuda itu turun dari pembaringan,
membetulkan pakaiannya dan memasang pedang Kie Koat
pada punggungnya.
Wan Goat terkejut, hatinya terasa nyeri. Hebat kata-kata
yang berupa seperti tikaman itu. Hampir ia pingsan
karenanya, ia pun turun dari pembaringan untuk merapikan
pakaiannya juga. Sambil berpakaian itu ia mengawasi tajam
muka orang, masih air matanya berlinang dikedua belah
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
matanya. Ia mendapat perasaan “Kakak Hiong” dari hari
kemarin beda dengan sekarang ini. Tapi ia berkata : “Tak
peduli keujung langit dan pojok laut, aku akan ikut kau!”
“Hahaha!” Hong Kun tertawa nyaring, “He, budak bau!
Siapakah yang menghendaki kau tergila-gila begini rupa? Tak
tahu malukah kau?”
Wan Goat melengak, ia heran sekali lalu hatinya menjadi
panas.
“Aku toh istrimu!” katanya keras, “Kenapa kau berubah
begini rupa?”
“Jangan rewel!” bentak Hong Kun, matanya melotot. “Inilah
kutukan atas dirimu sendiri! Inilah penyakit yang kau cari!
Siapa suruh kau mencintai aku hingga kau membuatku
berbahagia satu malam? Siapa yang harus dipersalahkan?”
Wan Goat gusar hingga tak tahu harus berbuat apa, ia
menubruk untuk memegang baju orang sambil ia menangis
terisak-isak.
Naik darahnya Hong Kun, sebelah tangannya melayang
menggaplok telinga orang hingga orang roboh, sambil
menunding ia berkata sengit : “Telah cukup aku dipermainkan
wanita! Hari ini ialah pembalasanku yang pertama! Maka kau,
hitung-hitung saja nasibmu yang lagi apes! Maka kau harus
menerima nasibmu!”
Habis berkata begitu, Hong Kun melompat keluar jendela,
buat kabur, tak mau ia berdiam lama-lama sebab itulah rumah
penginapan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Pikirannya Wan Goat kacau, ia pun melompat menyusul.
Celaka untuknya, begitu ia tiba, ia dipapaki satu hajaran
hingga ia menjerit, “Aduh!” tertahan. Terus ia roboh pula
pingsan. Sedangkan Hong Kun sudah lantas melenyapkan diri.
Sampai besok paginya barulah Wan Goat terasadar dari
pingsannya, ia rebah diatas pembaringan dan ada orang yang
tengah mengurusnya. Ketika ia mengawasi, ia kenali orang itu
adalah Tan Hong, si nona yang malam itu datang bersamasama
“It Hiong”. Lantas ia berpikir:”Nona ini datang bersama
“It Hiong”, dia mesti mempunyai hubungan erat luar biasa
dengan pemuda itu. Apakah itu seperti hubungan eratnya tadi
malam? Maka tiba-tiba timbullah cemburunya, sehingga
bukannya berterima kasih, ia justru menjadi gusar. Ia menolak
dengan kasar tangan Tan Hong, terus ia bangun untuk duduk
dan berkata dingin : “Kakak Hiong sudah pergi! Kau berbuat
begini baik hati, kepada siapa kau hendak pertontonkan itu?”
Tan Hong melengak, itulah teguran yang tak ia mengerti.
“Nona Siauw, apa kau kenal aku?” tanyanya, “Kenapa kau
terluka begitu parah?”
Suara nona itu perlahan dan prihatin, hatinya Wan Goat
menjadi tergerak. Ia lantas menangis, tapi ia memaksakan diri
untuk tertawa, hingga ia jadi tertawa sedih. Masih hatinya
panas, katanya dingin : “Kalau kau hendak susul dia, kau
susullah lekas! Tak usah kau berdiam lama disini berpura
bermurah hati!”
Bingung Tan Hong mendapat perlakuan itu. Biar
bagaimana, ia merasa kurang puas, akan tetapi masih ia dapat
menahan diri, ia melirik dan tertawa dengan paksa.
“Kau rupanya tidak mengerti maksud baikku,” katanya, “
aku melihat persahabatan antara partai kita, aku juga
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mengutamakan keharusan diantara sesame Kang Ouw untuk
saling tolong. Demikianlah ketika aku melihat kau rebah
pingsan sendirian saja, sedang kaupun terluka, mana dapat
aku berdiam saja tidak menolongmu? Begitulah aku lantas
tolong dirimu!”
Berkata begitu Tan Hong hening sejenak dan menatap
muka orang.
“Nona Siauw,” katanya kemudian. “Rupanya kau telah kena
tipu orang dan diperhina hingga kau menjadi penasaran sekali.
Namun kita adalah wanita Kang Ouw, buat apa kita membawa
diri seperti wanita kebanyakan? Itu artinya menyiksa diri
sendiri!”
Wan Goat menangis sedih, airmatanya bercucuran deras.
Sekian lama ia berdiam menenangkan diri, kemudian ia
menghapus air matanya. Msih ia sesegukan, ketika ia berkata
: “Kakak, kau toh tidak menggusari aku bukan?”
Tan Hong tidak menjawab, ia hanya merogoh obat pulung
dari dalam sakunya untuk dimasukkan kedalam mulut orang.
“Adik jangan kau menganggap aku sebagai orang asing.”
Katanya sabar. “Aku lihat kau tentu mempunyai suatu sebab,
maka kau menjadi berduka begini, tidak adik! Aku tak
menggusari kau.”
Perlahan-lahan Wan Goat dapat menguasai diri.
“Malam itu, kakak,” katanya bertanya, “Ketika kakak
bersama It Hong datang kegubuk kami, kalian datang dari
manakah?”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tan Hong dapat menerka orang mencintai It Hiong, bahwa
nona ini pasti telah kena tipu, maka ia lantas mengasi
keterangan halnya ia mengejar orang mulai dari rumah
penginapan di Liong peng sampai ia kena dibikin tak sadarkan
diri, hingga ia tak tahu apapun yang telah terjadi, sampai ia
tahu-tahu disadarkan oleh Lam Hong Hoan.
“Kalau aku melihat orang itu, perbuatan dia beda seperti
langit dan bumi dengan sifatnya Tio It Hiong,” ia
menambahkan kemudian, “Hanya sampai sekarang masih aku
belum memperoleh kepastian. Mungkin dialah Tio It Hiong
palsu, tapi kenyataannya?”
Mendengar keterangan itu, Wan Goat merasai tubuhnya
bagaikan tergetar dan menggigil keras, telinganya seperti
ditulikan guntur.
“Kakak,” tanyanya heran. “Apa kakak tidak mendustai aku?
Darimana kakak mendapat alasan dan menerka dialah Tio It
Hiong palsu.”
Tan Hong menatap nona ini.
“Ketika aku pertama kali bertemu dengannya, akupun
menerka dialah Tio It Hiong.” Ia menjawab kemudian, “Aku
baru menaruh curiga setelah aku mendengar penjelasan
Locianpwe Beng Kee Eng. Ketika kami meninggalkan gunung
Ay Lao San, adik Hiong masih berada diatas gunung tengah
melayani Kwie Tiok Giam Po. Karena itu, mana dapat ia telah
melakukan segala perbuatan busuknya itu dalam waktu yang
demikian pendek!”
“Tetapi, kakak,” kata Wan Goat, “Biarlah segala soalnya
kakak Hiong itu. Yang aku ingin tahu sekarang ialah apa yang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
membedakan yang tulen dengan yang palsu? Dapatkah kakak
menjelaskannya?”
Tan Hong mengawasi nona itu, ia tertawa.
“Bukankah diantara To Liong To dan Pay In Nia terdapat
permusuhan, kenapa adik nampaknya sangat bingung dan
begini mendesak ingin mengetahui bedanya It Hiong palsu
dan tulen?”
Wan Goat melengak, mukanya merah, tatap ia bersedih.
“Aku sama dengan kau, kakak.” Sahutnya, “Seperti kau,
aku juga ingin ketahui dia itu Kakak It Hiong atau bukan!....”
Kali ini Wan Goat menerka bahwa Tan Hong juga sudah
jadi korbannya si “Kakak Hiong” seperti dia sendiri.
Jilid 26
Tan Hong berpikir sebelumnya ia menjawab. Ia malu akan
menutur terus terang hal ikhwalnya dengan It Hiong palsu itu,
sebab ia hampir menjadi korban. Ia menghela nafas.
"Dalam hal memperhatikan adik Hiong, kita berdua sama
saja." sahutnya kemudian. "Cuma halnya dalam
keberuntungan aku kalah dari kau, adik. Kau berbahagia
sekali."
"Kakak" Wan Goat menyela, suaranya tajam. "Kakak, aku
minta sukalah kau bicara dengan sebenar-benarnya."
Tan Hong bersikap sungguh-sungguh.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Adik" sahutnya. "Kita ada sesama wanita, buat apa kau
sampai menegas begini ? Mana dapat aku mendustakan kau."
Wan Goat menjerit perlahan, dia menangis pula, air
matanya mengucur deras. Ia mendekam.
"Oh, aku mau mati !" katanya. "Mana ada muka aku hidup
didalam dunia ?"
Tan Hong menepuk-nepuk bahu orang.
"Anak tolol !" katanya. "Manakah semangatmu sebagai
wanita Kang Ouw ? Bukankah belum ada kepastiannya orang
ada It Hiong yang palsu atau yang tulen ? Apakah soalmu
dapat dibereskan dengan hanya menangis saja ?"
Bagaikan tersentak Wan Goat bergerak bangun untuk
berduduk.
"Kakak, kau ajarilah aku !" katanya, matanya masih penuh
air. "Hatiku sudah hancur. Bagaimana sekarang ?"
Tan Hong mengenggam tangan orang.
"Jika orang itu benar Tio It Hiong." kata ia sungguhsungguh,
"bukankah percuma kau mengucurkan air matamu
ini ? Kalau sebaliknya, dialah si manusia palsu, maka adalah
tugasmu untuk menuntut balas ! Maka itu sekarang mari kita
membuat perjalanan guna mencari dia buat menyelidiki hal
yang sebenarnya ! Buat apa berlaku tolol, bicara tentang mati.
Itu cuma bakal mendatangkan tertawaan orang !"
Nona Siauw melengak, lantas ia menghapus airmatanya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kakak benar !" katanya kemudian. "Ah, kenapa aku jadi
tolol begini ?" Ia menggerakkan tubuhnya akan turun dari
pembaringan. Selagi bergerak itu ia merasakan lengannya
masih sakit dan dadanya pun nyeri. Ia lantas menggosokgosok
dadanya. Ia merasa nyeri berbareng di hatinya dan
karena lukanya itu
"Siauw Wan Goat bersumpah tak akan menjadi manusia
kalau dia tak dapat membalas sakit hati ini !" demikian
katanya keras.
Tepat itu waktu, dari luar terdengar suara ketukan dengan
pintu disusul dengan datang masuknya dua orang, ialah Lam
Hong Hoan dan Bok Cee Lauw.
Malam itu Hong Hoan kaget, selekasnya dia melihat adik
seperguruannya lenyap, lantas dia menerka adik itu telah
diculik oleh si pemuda, sebab pemuda itu hilang juga. Maka
lantas ia ajak Cee Lauw pergi mencari hingga mereka mesti
berputaran, hingga baru sekarang mereka menemui adik itu.
Adanya Tan Hong bersama si adik membuatnya heran.
Melihat kedua saudara seperguruan itu, Wan Goat
menangis sebagai anak kecil. Ia menubruk dan merangkul
Hong Hoan, ia menangis bukan main sedihnya.
Tan Hong merasa bahwa tak dapat ia berdiam lebih lama
disitu, maka ia menghadapi Lam Hong Hoan dan berkata :
"Lam Cianpwe, sukalah kau menghiburi adikmu ini, haraplah
kau melindungi nama besar dari To Liong To ! Kebetulan
sekali cianpwe tiba disini ! Nah, ijinkanlah aku mengundurkan
diri !"
Tanpa menanti jawaban lagi, wanita jago dari Hek Keng To
itu lantas bertindak pergi.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lam Hong Hoan menerka kata-katanya Nona Tan itu mesti
ada artinya sebab adik seperguruannya itu menangis saja. Ia
rada gugup maka juga ia mendelong mengawasi orang pergi.
Bok Cee Lauw juga heran, hingga ia menggeleng-geleng
kepala.
"Cit-sumoay" tanyanya kemudian kepada adik
seperguruannya yang ketujuh itu yang bungsu, "apakah budak
Tan Hong berani main gila terhadapmu ?"
Wan Goat lagi menangis, tak dapat ia menjawab kakak
seperguruan itu.
"Adikku, kau bicaralah !" Cee Lauw mendesak.
Masih Wan Goat sesegukan saja.
"Hm !" Cee Lauw bersuara sengit. "Apakah bocah Tio It
Hiong itu kau jadi...."
Dia sebenarnya mau mengatakan "kau jadi bentrok dengan
Tan Hong" atau ia kena dicela si nona yang sudah lantas
mengangkat mukanya menoleh kepadanya.
"Cis" demikian nona itu. "Aku tak mempunyai kegembiraan
seperti kau yang gemar menggodia orang..."
Berkata begitu Wan Goat menekan dadanya. Ia merasa
nyeri.
Hong Hoan menerka adik itu terluka di dalam.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Hayo, kita pulang dulu !" ia mengajak. "Kita perlu lekas
mengobati adik kita ini !"
Habis berkata begitu, kakak seperguruan itu lantas
menggendong adiknya itu. Ia terus lari keluar. Maka Bok Cee
Lauw pun lari menyusulnya.
Sementara itu Gak Hong Kun si Tio It Hiong palsu sudah
menyingkarkan jauh-jauh dari tempat dimana ia hajar pingsan
Siauw Wan Goat. Ia puas sekali atas perbuatannya itu. Ia
mendapat dua rupa kepuasan, puas karena bisa
melampiaskan kebenciannya kepada wanita, puas karena
sudah mencicipi kenikmatan hidupnya dengan seorang nona
cantik. Kenyataan ini membuatnya ketagihan. Ia memikir buat
melanjutkannya perbuatannya serupa itu. Lalu ia memikirkan
siapa harus dijadikan korban nomor dua, wajar saja ia segera
ingat Pek Giok Peng pacarnya itu yang katanya sudah
dirampas Tio It Hiong. Ingat namanya Pek Giok Peng, Hong
Kun tertawa bergelak sendirinya.
"Sekarang aku mau melihat bukti penyamaranku ini !"
katanya hatinya puas. "Setelah melihat aku, ingin aku lihat dia
bakal terjatuh dalam rangkulanku atau tidak ! Pasti dia akan
menyerahkan dirinya dengan suka rela.....
Lantas ia pikirkan dimana adanya Giok Peng sekarang. Di
vihara Siauw Lim Sie atau di Lek Tiok Po ? Segera ia
mengambil keputusan. Ia terus menyewa perahu akan
berangkat ke timur dengan mengikuti sungai Tiang Kang, ia
melintasi Siangyang untuk tiba di Kayhong.
Di itu hari yang pemuda ini tiba di kota kayhong dimana ia
terus mengambil hotel, ia lantas mendengar halnya pelbagai
partai tengah membuat perjalanan atau penyelidikan guna
mencari Tio It Hiong. Ia mendengar berita itu dengan hati
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
puas. Hasil perbuatannya itu sudah menerbitkan kegemparan
dan Tio It Hiong telah menjadi hinaan orang banyak. Cuma
ada satu hal yang membuatnya sulit, ia masih menyamar
sebagai Tio It Hiong, karena Tio It Hiong lagi dicari, ia mudah
terlihat orang yang mengenalnya. Karena ini, diwaktu siang
tak mau ia keluar dari kamarnya, bahkan diwaktu malam ia
lebih sering berdiam didalam gelap. Ia mau menjaga jangan
sampai ada orang melihat dia.
Kekuatirannya Gak Hong Kun bukan tidak beralasan. Selagi
ia lewat di Siangyang, ia telah dapat dilihat oleh muridnya
seorang Bu Lim yang ternama. Jago Bu Lim itu ialah Koay To
Ciok Peng, si golok kilat yang pada tiga puluh tahun dulu
namanya menggemparkan kalangan rimba persilatan yang
disebelah selatan dan sebelah utara.
Bahkan dialah sahabat karib dari Bu Eng Thung Liok Cim.
Maka juga habis lolos dari bahaya maut, Liok Cim telah pergi
ke rumah sahabatnya itu, buat menumpang disitu hingga
kepada sang sahabat ia telah menuturkan malang yang
menimpa diri dan keluarganya itu.
Ciok Peng bersedia membantu sahabat itu serta
membalaskan sakit hatinya si saudara angkat. Maka dia telah
menanyakan terang-terang wajah dan potongan tubuhnya It
Hiong serta cara berpakaiannya, sesudah mana dia
menitahkan beberapa orang muridnya pergi membuat
penyelidikan.
Demikian itu hari, selekasnya ia menerima laporan salah
seorang muridnya, Ciok Peng lantas mengajak See Sie, murid
kesayangannya berangkat dari Siangyang, menyusul terus ke
Kayhong, lantas ia membuat penyelidikan yang tepat, sesudah
itu baru ia mengambil keputusan akan bertindak di waktu
malam.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Malam itu Hong Kun merebahkan diri sambil berjaga-jaga,
ia sudah pulas namun ia terasadarkan dengan kaget oleh satu
suara berkeresek pada daun jendela yang terus terpentang
terbuka. Justru ia kaget, justru ia mendengar bentakan
nyaring dari luar jendela, "Jahanam Tio It Hiong, kau keluarlah
untuk terima binasa !"
Tak mau Hong Kun memperdengarkan pula suaranya.
Diam-diam ia merosot turun dari pembaringannya, matanya
dipasang untuk melihat siapa orang diluar kamar itu.
Karena ia berdiam itu, ia mendengar pula suara diluar. "Tio
It Hiong, akulah Koay To Pang ! Aku tidak mau main
sembunyi-sembunyi maka juga aku memanggil kau keluar !
Mari kau harus membuat perhitungan buat Bu Eng Thung Liok
dan keluarganya ! Bangsat kau berdiam saja,
menyembunyikan diri apakah artinya itu ?"
Mulanya terkejut lantas hatinya Hong Kun menjadi panas.
"Tua bangka itu mencari mampusnya." pikirnya sengit. Ia
tidak takut. Dengan mencekal erat-erat pedangnya, ia
berlompat melewati jendela sebelum ia meletakkan kakinya
ditanah, pedangnya sudah diputar di depannya. Terus saja ia
berkata nyaring, "Hendak aku mencoba golok kilatmu dapat
bergerak bagaimana cepatnya !"
Ciok Peng dapat melihat sinar pedang orang. Ia tahu itulah
sebuah pedang mustika maka tak mau ia berlaku sembrono.
Bahkan ia lompat mundur dulu. Untuk berlaku lalai, ia kata,
"Koay Toa Ciok Peng tidak biasanya membinasakan setan
tanpa nama karena itu jahanam kau sebutkan dulu namamu !"
It Hiong palsu tertawa terkekeh.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tua bangka !" sahutnya. "Kau sendiri bilang kau belum
kenal aku, cara bagaimana kau dapat berkata bahwa kau
datang guna membuat perhitungan, buat membalaskan sakit
hati orang ? Tidakkah kau bakal ditertawakan kaum Kang Ouw
andiakata perbuatanmu sekarang ini sampai tersiar diluaran ?"
Ciok Peng merasai mukanya panas. Ia menyesal sudah
bicara seenaknya saja. Tapi ia tetap gusar, maka juga ia
berdiri sambil mengawasi tajam.
Tiba-tiba terdengar suara golok dihunus dan terlihat
sinarnya berkelebat, disusul dengan suara ini : "Suhu, jangan
layani dia ! Ijinkan muridmu yang mencoba jahanam itu !"
Kiranya itulah gerak-geriknya See Sie, sang murid, yang
panas hatinya sebab lawan sangat temberang. Dia maju terus
untuk menyerang It Hiong palsu.
Hong Kun tidak lantas menangkis, ia hanya berkelit. Masih
ia berkelit terus waktu serangan diulangi dan diulangi lagi.
Untuk sementara ia cuma melindungi saja tubuhnya. Sebegitu
jauh, pedangnya pun belum berhasil bentrok dengan goloknya
si penyerang.
"Aku mesti bertindak !" pikirnya selewat lagi beberapa
jurus. Ia tahu ia bisa terancam kalau Ciok Peng sendiri turun
tangan. Sambil menutup diri itu, diam-diam ia mengeluarkan
racun Hun Tok Han, racunnya yang dapat membuat orang
pingsan seketika, lantas sehabisnya itu, ia menanti
kesempatan. Begitu dia dapat angin, dia menyebar bubuknya
yang beracun !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ciok Peng dapat melihat gerakan tangan kiri musuh itu,
lekas-lekas ia menyerukan muridnya : "See Sie, lekas putar
golokmu ! Tutup napasmu dan mundur !"
See Sie mendengar dan lantas ia mundur dengan pesat
sekali, hingga ia berhasil membebaskan diri dari bubuk jahat
itu.
Tapi It Hiong palsu sangat cerdik dan licik, justru orang
lompat mundur, justru ia mencelat ke belakang, untuk lantas
lompat naik ke atas genting dimana ia menghilang dalam
gelap gulita. Maka wajar saja, selagi berlompat, ia tertawa
nyaring buat mengejek lawannya !
Lega hatinya Ciok Peng terhadap akan muridnya tidak
kurang suatu apa, karenanya terus ia lompat pula ke atas
genting guna mengejar pemuda itu. Atau ia segera
mendengar suara keras disebelah depannya : "Tio It Hiong !
Kau mau lari ? Lihat tanganku !"
Ia percepat larinya hingga ia melihat Tio It Hiong dihadang
seorang imam tua dengan janggut panjang dan punggung
tergemblokkan pedang. Beruntun tiga kali imam itu sudah
menyerang dan orang yang diserangnya senantiasa berkelit
walaupun dia memegang pedang, tak berani atau tak mau dia
menggunakan pedangnya itu.
Setelah datang dekat, Ciok Peng mengenali It Yap Tojin
dari Heng San.
Imam tinggal imam tetapi pikirannya It Yap Tojin pendek
dalam urusan muridnya dengan It Hiong yang dikalahkan It
Hiong itu dia tak puas bahkan dia membenci si anak muda she
Tio hingga timbul niatnya mengajar adat. Hanya mengingat
dia adalah pihak lebih tua dan dari tingkat lebih tinggi tak
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
berani dia sembarang turun tangan. Kebenciannya kepada It
Hiong bertambah setelah dia mendapat keterangan halnya It
Hiong sudah merampas Giok Peng pacarnya muridnya. Maka
baginya datanglah ketika yang baik, selekasnya dia
mendengar berita ramai tentang Tio It Hiong sudah berbuat
kejam dan busuk, hingga kemurkaan kaum Bu Lim telah
dibangkitkan karenanya. Maka bulatlah tekadnya akan
binasakan It Hiong buat membalaskan sakit hati muridnya itu.
Sungguh kebetulan bagi It Yap Tojin, malam itu ia berada
di tempat dan dapat melihat Ciok Peng lagi mengintil It Hiong
palsu. Terang ia tidak mengenali muridnya yang telah
merubah wajahnya itu justru orang kabur dan menghina Ciok
Peng, ia keluar dari tempatnya sembunyi dan lantas
menyerang hingga tiga kali serangan.
Hong Kun bingung mengenali penghadangnya itu adalah
gurunya sendiri. ia memberitahukan guru itu bahwa dia adalah
sang murid atau ia mesti membatalkan itu sebab Ciok Peng
keburu tiba. Ia repot sekali. It Yap sedang gusar dan semua
serangannya berbahaya.
Untungnya buat Hong Kun, ia sudah mewariskan
kepandaian gurunya itu hingga biar bagaimana sulit juga,
masih dapat ia menyelamatkan dirinya.
Ciok Peng terus berdiri menonton. Tak berani ia turun
tangan. Ia kuatir perbuatannya itu nanti menyebabkan
kemarahannya It Yap Tojin. Ia tahu jago dari Heng San ini
separuh sesat, separuh lurus. Ketika See Sie menyusul ia juga
melarang muridnya maju menyerang Hong Kun.
Beberapa kali Hong Kun mau membuka rahasia, sabansaban
ia membatalkannya. sebabnya itu ialah hadirnya Ciok
Peng serta murid disitu. Kalau ia membuka rahasia, habis
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
sudah nasibnya ! Gurunya mungkin mengerubutinya. Ia sudah
lantas bermandikan peluh. Tapi ia harus membela dirinya.
Diakhirnya ia mendapat satu akal. Demikian selagi menghindar
diri dari satu serangan, ia menghunus pedangnya, terus ia
menggerakkan tiga rupa gerakan ilmu pedang Heng San Pay
sembari berbuat berita, ia menatap gurunya. Sebenarnya
itulah satu isyarat kaum Heng San Pay dan artinya : "Aku
adalah Gak Hong Kun, murid Heng San Pay !"
Sementara itu It Yap Tojin telah menjadi sangat penasaran.
Ia telah menduga dengan tiga jurus saja ia bakal dapat
merobohkan pemuda itu, ia tidak menyangka bahwa orang
yang demikian lincah dan gesit dan bisa bertahan dari
pelbagai serangannya itu. Ketika ia melihat orang menghunus
pedang, tanpa merasa ia tertawa dingin dan kata di dalam
hatinya : "Kau mau mampus terlebih cepat, ya ?" Habis itu
lantas ia menjadi heran. Ia melihat orang memberi isyarat
cara Heng San Pay itu. Ia pula merasa aneh akan sinar
matanya orang itu. Tanpa merasa ia berlambat bergerak,
pedangnya juga bakal ia hunus.
It Hiong palsu sangat cerdik, ia tidak mau menyia-nyiakan
kesempatan yang paling baik itu. Justru sang guru berlambat,
justru ia lompat jauh dan terus kabur, untuk melenyapkan diri
dalam gelapnya sang malam.
"Ah !" berseru Ciok Peng, menyesal. Lantas ia lompat untuk
mengejar. Atau :
"Saudara Ciok, tahan !" demikian seru guru dari Heng San.
"Aku bercuriga terhadap bocah itu !"
Ciok Peng membatalkan niatnya untuk mengejar.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Apakah totiang mencurigakan bahwa bocah jahanam itu
bukannya Tio It Hiong dari Pay In Nia?" ia tanya.
It Yap Tojin tidak menjawab. TIba-tiba saja ia merasa
bahwa ia sudah keliru bicara. Lekas-lekas ia berpura batukbatuk.
"Aku si tua heran kenapa bocah itu tidak mau melawan
dengan menangkis pelbagai seranganku.." sahutnya
kemudian.
Ciok Peng tidak berkata apa-apa, tetapi ia heran yang lagak
si imam tak wajar dan kata-katanya itu sendiri bertentangan
dengan gerak geriknya semula.
"Sampai jumpa pula" kata ia yang terus memberi hormat
dan mengajak muridnya berlalu pergi. Ia pikir tidak ada
gunanya buat meminta keterangan imam itu.
It Yap Tojin membiarkan Koay Tong berlalu kemudian ia
pun berlalu meninggalkan tempat itu, ia hanya berlalu dengan
pikiran bekerja keras. Ia sudah mulai mendapat meraba-raba.
Biar bagaimana ia menyayangi muridnya dan sebaliknya
sangat membenci Tio It Hiong....
Hong Kun sementara itu sudah pergi dengan hatinya lega.
Ia lolos dari ancaman maut, tak lagi ia merasa takut. Ia pula
tidak menyesali semua perbuatannya itu. Sebaliknya, ia
memuji kecerdikannya sendiri, dapat mengelabui gurunya.
Sekeluarnya dari wilayah kayhong, ia menuju langsung ke
Siong San, guna mencari Giok Peng, sasarannya yang nomer
dua, supaya hancur lebur ikatan cinta kasih It Hiong dan
isterinya itu !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ketika itu gunung Siong San atau lebih tepat Siauw Lim Sie,
telah menjadi repot sekali. Telah datang tak sedikit orangorang
partai Rimba Persilatan yang menerima undangan,
sedang para murid yang bertugas merondia gunung bekerja
siang dan malam, sebab disamping penjagaan, mereka selalu
dapat menyambut tamu-tamu disembarang saat. Di pihak
dalam, semua murid Siauw Lim Pay dimasihkan berlatih
dengan keras terutama untuk melatih Lohan Tiu, Barisan
istimewanya. Pek Cut Taysu sendiri yang memimpin latihan
pasukan isitimewa itu.
Di lain pihak, Pek Cut sendiri selalu mengharap-harap lekas
tibanya pemuda Tio It Hiong, guna anak muda itu membantu
ia membebaskan Siauw Lim Sie atau Siauw Pay, dari ancaman
malapetaka. Sementara itu, satu hal pun membuatnya
Bingung dan juga kuatir. Itulah berita halnya Tio It Hiong
sudah melakukan pelbagai pembunuhan dan perampasan.
Mungkinkah itu ? Pula, beberapa orang muridnya yang diutus
ke pelbagai arah guna menyelidiki pemuda she Tio itu, belum
ada yang pulang dengan laporannya. Baru sesudahnya Cio
Kiauw In dan Pek Giok Peng tiba, ia mendengar halnya Tio It
Hiong masih berada di Ay Lao San, tengah menghadapi Kwie
Tiok Giam Po, si nenek lihai dengan bangsinya yang luar biasa
itu. Ia merasa aneh dan bercuriga, walaupun ia adalah
seorang pendeta tua dan beribadat, toh hatinya
terguncangkan juga.....
Kiauw In dan Giok Peng telah mengambil tempat di gubuk,
di gunung belakang. Mereka sangat mengharap-harap
kembalinya It Hiong. Buat menyambut pertemuan besar kaum
persilatan itu, mereka perlu lekas-lekas melatih ilmu silat
pedang Sam Cay Kiam. Ilmu mana tak dapat dipelajari tanpa
It Hiong. Sam Cay dari Sam Cay Kiam berarti langit, bumi dan
manusia, dan itu berarti pula tiga orang. Kiam ialah pedang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Pada suatu malam nan terang bulan, Giok Peng muncul di
muka jendela akan memandangi si putri malam yang tetap
permai, yang cahayanya terang bersih dan sinarnya lembut.
Seluruh daerah pegunungan tampak terang dan tegas,
suasana sunyi sekali. Justru itu, mendadak ia menarik napas
dalam-dalam dan terus meneteskan air matanya. Tak ada lagi
napsunya menikmati malam yang indah itu. Maka hendak ia
memutar tubuhnya buat meninggalkan jendela itu atau
mendadak ada orang yang menepuk bahunya.
"O, adik Peng...." demikian tiba-tiba suaranya Nona Kiauw
In. "Adik, kau kenapakah ? Apakah kau kuatir Tan Hong nanti
merampas adik Hiongmu ? Aku lihat kau selalu berduka...."
Giok Peng menepis air matanya.
"Oh, kakak tegakah dengan kata-katamu ini ?" ia balik
bertanya, "bukankah keselamatannya adik Hiong berarti
keselamatanmu juga ?"
Kiauw In sangat mencintai It Hiong dan senantiasa
memikirkannya tetapi ia sabar dan hatinya sangat tenang dan
mantap, tidak sebagai Giok Peng yang hatinya mudah
goncang itu. Mendengar pertanyaan itu, ia menghela nafas.
"Semoga adik Hiong dilindungi Tuhan supaya ia lekas
kembali !" katanya sungguh-sungguh. "Dengan kembalinya
adik Hiong maka akan terang jelaslah itu semua berita buruk
dan bebas !"
Giok Peng terdiam. Ia ada sangat berduka. Maka keduanya
jadi berdiam terus.
Lewat sekian lama, Kiauw In menarik tangan orang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Malam begini indah" katanya, "mari kita melatih Sam Cay
Kiam..." Dan tanpa menanti jawaban, ia sudah lantas
mengambil pedang meraka yang digantung ditembok untuk
dibawa keluar dari kamar, buat pergi ke Pekarangan yang luas
yang dikitari pagar pepohonan.
Giok Peng mengiringi kehendak kakaknya yang luwes itu,
maka dilain saat berdua mereka sudah mulai melatih ilmu
pedangnya itu menuruti ajarannya Tek Cio Siangjin selama
Kiauw In masih berada di gunungnya. Sayangnya kedudukan
huruf "Thian" Langit kosong, sebab tidak adanya It Hiong
hingga tinggal dua kedudukan "Tan" Bumi dan "Jia" Manusia.
Biarnya mereka dapat berlatih dengan baik, kekosongan itu
terasa sekali.
Tengah mereka berlatih itu mendadak terlihat satu
bayangan berlompat masuk dengan melewati pagar
pepohonan, lantas orang itu berdiri tegak di dalam
Pekarangan. Telihat sebatang pedang menggemblok pada
punggungnya.
Kiauw In dan Giok Peng berhenti berlatih dengan segera.
Tentu sekali berbareng mereka pun teruslah untuk mengawasi
dengan tajam.
"Siapa ?" tegur Nona Cio.
Mendadak saja Giok Peng menjadi sangat girang.
"Adik Hiong ! Kau pulang !" serunya seraya lantas ia
berlompat lari kepada suaminya itu !
"Adik Peng" balas memanggil orang itu, "kau.." Mendadak
dia berhenti berbicara terus, sebab tiba-tiba dia insyaf bahwa
dia telah salah menggunakan panggilan. Dia pun tidak berani
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
memanggil Kiauw In. Tapi dia masih ingat akan berpura
batuk-batuk sambil dia tunduk....
Giok Peng sudah lantas memegang lengan orang untuk
digoyang-goyang.
"Adik, kau kenapakah ?" tanyanya, agaknya sangat
menyayangi. "Ada apakah ? Mari kau turut pada kakakmu..."
Kiauw In sementara itu melengak. It Hiong memanggil adik
pada Giok Peng ! Ia tahu, panggilan itu biasanya ialah kakak.
Ia pula heran, kenapa It Hiong tidak menyapanya, ia selain
sangat mencintai, It Hiong pun sangat menghormatinya.
Kenapa sekarang adik atau adik tidak seperguruannya itu diam
saja ? Karenanya ia terus berdiri diam, matanya mengawasi
tajam, pada si anak muda. Terangnya sang rembulan
membuatnya dapat melihat orang dengan tegas.
Ketika itu It Hiong palsu telah berkata perlahan : "Selagi di
Ay Lao San, adikmu telah terkena racunnya Kwie Tiok Giam
Po. Syukur aku masih dapat melarikan diri. Sampai sekarang,
setiap dua hari sisanya racun masih tetap menganggu
kesehatanku dan setiap kali aku terganggu, kesadaranku
hilang, lantas aku menjadi kasar dan kalap kehendakku selalu
ingin menyerang dan membunuh orang-orang, habis itu baru
hatiku tenang pula. Aku sudah melakukan perbuatan keliru
dengan membinasakan beberapa orang...... ah !...."
Giok Peng terkejut, tetapi ia lantas ingat hosin ouw, obat
mujarab itu.
"Kau mempunyai hosin ouw, kau telah makan itu atau tidak
?" tanyanya. Ia meraba muka orang dengan perlahan sekali.
"Oh, kau menjadi terlebih kurus....". Berkata begitu mendadak
si nona ingat sesuatu, segera sambil mengawasi ia kata :
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Adik, kenapa kau tidak gunakan ilmu tenaga dalam Hian Bun
Sian Thian Khie kang guna mengusir racun di dalam tubuhmu
itu ?"
Prihatin suaranya si nona dan air matanya sudah lantas
menggenang.
It Hiong menengadah langit, ia berdiam saja. Itulah
caranya guna mengelakkan pertanyaannya Giok Peng, yang ia
tidak dapat jawab. Kalau ia menjawab sembarangan saja ia
kuatir nanti rahasianya terbuka. Ia tahu penyamarannya
sempurna tetapi ia berwaspada.
Selama itu, Kiauw In masih terus memasang mata. Ia
melihat It Hiong sebagai It Hiong yang tulen, cuma gerak
gerik orang yang berbeda. Ia menerka-nerka. Apakah itu
disebabkan racunnya Kwie Tiok Giam Po ?
It Hiong palsu menengadah langit tetapi diam-diam ia
melirik pada Nona Ciu. Ia merasa hatinya tidak tenang sebab
nona itu terus mengawasi padanya. Ia kuatir nona itu yang
sabar luar biasa, nanti mencurigainya. Ia pun lantas berpikir
apa yang ia harus lakukan supaya ia tak terus berada dalam
kekuatiran. Dengan lantas ia mendapat akal. Terus ia berpura
menggigil dan berkata dengan suara tak tegas, "Ah, ah, racun
dalam tubuhku mulai bekerja pula ! Kakak, tolong aku !"
Giok Peng kaget.
"Apa aku mesti perbuat, adik ?"tanyanya Bingung. "Aku
nanti lakukan segala apa katamu ! Bilanglah !"
Hong Kun memandang ke depan, kepada Kiauw In.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Ia ada di sana, aku tidak berani menyebutkannya..."
katanya perlahan sekali.
Benar-benar Giok Peng sangat bingung. Dia
terpengaruhkan sangat oleh ketakutan bahwa It Hiong nanti
bercelaka karena keracunannya itu. Dia sampai melupakan
segala apa, sampai lupa Kiauw In siapa. Dia juga menyangka
karena It Hiong mau bicara sendiri padanya, itu tentu
disebabkan si anak muda sangat mencintainya. Maka ia lantas
kata pada Kiauw In, "Kakak, racun dalam tubuh adik Hiong
bekerja pula, tolong kau pergi mengambil air dingin ! Maukah
kau ?"
"Apakah air dingin dapat melenyapkan racun ?" tanya
Kiauw In, lalu dengan perlahan-lahan juga ia bertindak
menghampiri.
Hong Kun bingung. Dia kuatir tipu dayannya itu gagal. Dia
mencoba menenangkan diri. Makin keraslah niatnya untuk
menyingkirkan nona Cio. Terpaksa ia berlaku sabar dan kata
perlahan : "Kakak, kenapa kakak tidak memperhatikan aku ?
Jiwaku bakal tak dapat bertahan lebih lama pula....Tegakah
kau kakak ?"
Kiauw In mengawasi tajam.
"Apakah kau sesalkan kakakmu ini tega, adik ?" tanyanya.
"Kaulah justru yang tega terhadap adik Peng !" Berkata begitu
ia maju pula dan tindak sinar matanya menatap muka orang.
Selagi berjalan tangannya si nona merogoh ke dalam sakunya
mengeluarkan sebutir obat pula, kemudian sembari
mengangsurkan itu, ia kata : "Apakah kau melupakan obat
pemunah racun yang mujarab dari Bie Lek Sie ? Nah, lekas
kau makan ini !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun tidak tahu tentang obat itu, tak berani ia banyak
bicara, tak berani ia menanya apa-apa. Ia menyambuti obat
itu dan memakannya.
Melihat orang makan obat itu, kecurigaannya Kiauw In
menjadi bertambah kuat. Obat Kay Tok Tan dari pendeta dari
Bie Lek Sie cuma ada pada It Hiong dan disimpannya di dalam
peles batu hijau, ia sendiri tidak memilikinya. Obatnya barusan
adalah obat biasa saja.
"Adik" ia berkata pula, "kau telah makan obat itu, lekas kau
duduk beristirahat untuk mengatur pernafasanmu. Kau
gunakan tenaga Hian Bun Sian Thian Khie kang guna
membikin obat bekerja ke seluruh anggota tubuhmu, supaya
racun dapat diusir keluar."
"Racun sudah menyerang ke tan-tian, tak dapat aku
meluruskan lagi pernafasanku..." sahut si licik.
Kiauw In berpikir keras.
"Adik" katanya pula, "kalau begitu cobalah kau berlatih diri
dengan ilmu silat Hang Liong Hok Houw Ciang hoat dari
Paman In. Ilmu itu dapat membikin darah mengalir dengan
baik..."
Hong Kun kaget bagai disambar guntur. It Hiong pandai
ilmu silat itu, tetapi ia sejuruspun ia tidak mengerti, mana
dapat ia menjalaninya ? Maka ia berpura terus, ia
mengernyitkan alis dan mengerutkan muka, nafasnya dibikin
memburu. Ia kata : "Sekarang..... ini..... tenagaku......
habis...... Apakah Pa..........man..... In.......... ada di dalam
.....?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ada maksudnya Hong Kun maka ia bertanya begitu. Ia
kuatir In Gwa Sian berada didalam gubuk itu. Itulah
berbahaya. Tapi justru karena ia menanya itu, ia telah
membuka rahasia. Orang menyebut Paman In, ia menyebut
paman pula ! In Gwa Sian adalah ayah angkatnya It Hiong
bukannya paman.
Mendengar itu bukan main panas hatinya Kiauw In. Ia telah
mendapat bukti bahwa It Hiong ini It Hiong palsu. Tapi ia
masih dapat mengendalikan hatinya. Maka ia dapat
memperlihatkan tampang muka yang sangat berduka dan
prihatin terhadap pemuda di depannya itu.
"Kau tidak dapat meluruskan nafasmu, adik. Kau juga tidak
bisa berlatih" katanya perlahan dan menyesal, sikapnya
menyayangi. "Kalau begitu marilah masuk ke dalam untuk
merebahkan diri buat beristirahat. Paman In tidak ada disini,
ia telah pergi ke Siauw Lim Sie untuk mendamaikan sesuatu,
mungkin ia tak sempat pulang. Adik Peng, kau payanglah dia
kedalam...."
Diam-diam Hong Kun bergirang mendengar kata-kata si
nona. Itulah yang ia kehendaki. Tidak adanya In Gwa Sian di
gubuk itu berarti ia dapat bergerak dengan bebas. Bukan saja
Giok Peng, mungkin Kiauw In juga bakal terjatuh ke dalam
pelukannya. Ia ada demikian girang hingga ia dapat jalan
setindak demi setindak sampai ia lupa bahwa ia baru berpura
sakit sekali.
Giok Peng memperpanjang orang sampai didalam kamar, ia
menggantung pedangnya si anak muda di dinding, ia
membantui juga membukai baju luarnya orang muda itu. Yang
ia rebahkan dengan berhati-hati diatas pembaringan.
"Adik Hiong, bagaimana kau rasai tubuhmu ?" tanyanya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun menggeleng kepala, mukanya meringis, ia malah
lantas merintih.
"Adik" berkata Kiauw In, "kalau racun bekerja hingga
kalapmu bakal kumat, hingga kau mau membunuh orang, kau
harus beritahukan itu kepada kami supaya kami bisa bersiap
sedia menyingkirkan diri."
"Jangan kau berkuatir kakak" sahut It Hiong palsu. "Habis
makan obatmu barusan aku merasa jalan darahku rada
longgar, aku merasa jauh lebih ringan."
Ia mengucap begini karena ia kuatir nona-nona itu nanti
meninggalkannya.
Giok Peng lantas menanyakan tentang pertempuran di Ay
Lao San, atas itu Hong Kun menjawab dengan isapan
jempolnya.
Selama itu Kiauw In duduk disisi, diam mendengari maka ia
dapatkan banyak keterangan yang mencurigakannya. Ketika si
anak muda berdiam sekian lama tiba-tiba ia campur bicara
dengan menanya, "Adik, setelah kau terkena racun, kau dapat
lari turun gunung, habis bagaimana dengan Paman Beng ?
Apakah pamanmu itu masih tetap terkurung di Ay Lao San ?"
Hong Kun telah melihat Kee Eng di Liong peng, ia
menjawab tanpa ragu : "Tidak ! Paman Beng sudah lolos dari
Ay Lao San !"
Kiauw In menanya pula : "Adik, kau tidak dapat melawan
racunnya Kwie Tiok Giam Po, habis bagaimana caranya kau
membantu Paman Beng ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun berpura mau muntah. Tak dapat ia menjawab
pertanyaan itu. Ia bergerak berbalik kedalam. Terus ia tidak
menyahuti.
Ketika itu Giok Peng melihat malam sudah lewat jauh.
"Sudah jam tiga kakak" kata ia pada Kiauw In. "Baik kakak
kembali ke kamarmu. Sesudah makan obat, aku rasa adik
Hiong sudah bebas dari ancaman racunnya. Aku kuatir kakak
nanti terlalu letih dan kantuk..."
Kiauw In menyahuti dengan perlahan, seperti perlahan juga
langkahnya. Katanya di dalam hati: "Adik Peng, kau terlalu
polos. Manusia palsu kau percaya sebagai suamimu, apakah
kau tak takut nanti kena terpedaya ? Baiklah hendak aku
saksikan kepandaiannya jahanam ini !"
Memasuki kamarnya yang berada disebelah kamarnya Giok
Peng, sengaja Nona Ciu memperdengarkan suara tertutupnya
pintu, terus dengan diam-diam ia kembali ke kamarnya sang
adik. Ia dapat menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega
hingga ia tidak memperdengarkan suara apa. Ia mendekam di
bawah jendela sambil mengintai ke dalam.
Sekian lama kamarnya Nona Pek tetap sunyi saja.
Ketika itu Hong Kun sudah menggerakkan tubuhnya buat
duduk, ia membawa jeriji tangannya ke bibirnya buat memberi
isyarat supaya Giok Peng jangan bersuara. Habis itu ia
menggapaikan.
Giok Peng duduk dikursi, ia berbangkit dan menghampiri
untuk duduk ditepi pembaringan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Bagaimana, adik ?" tanyanya perlahan. "Kau tak
merasakan apa-apa lagi ? Apakah kau ingin makan sesuatu ?"
Hong Kun tertawa, sebelah tangannya diletaki dibahu si
nona. Giok Peng melirik, ia tunduk.
Dengan telunjuknya, It Hiong palsu menolak dagu orang.
Dia tertawa.
"Kau menjadi terlebih kurus, adik Peng." katanya. "Ini tentu
disebabkan kau terlalu memikirkan aku...."
Giok Peng menolak tangan orang, ia melirik : "Adik,
tidurlah." katanya. "Besok akan aku mohon Paman In minta
obat dari Locianpwe Ngay Eng Eng. Jago tua itu kabarnya ahli
pemunah racun !"
Hong Kun tidak berkata apa-apa, hanya tangannya
merapah repeh. Ia bersenyum berseri-seri, kali ini disebabkan
kegirangannya yang sangat. Segera juga tiba saatnya ia akan
merasakan kenikmatan seperti disaat ia mempermainkan
Siauw Wan Goat...
Giok Peng merasa heran. Tak biasanya It Hiong berbuat
demikian. Mendadak ia berbangkit bangun, lalu memutar
tubuh dan menatap si anak muda.
"Adik" tanyanya, "dari mana kau pelajari cara ceriwismu ini
? Apakah kau tidak menyayangi dirimu ? Bukankah kau tengah
keracunan parah ?"
Habis berkata begitu, nona ini mau kembali ke kursi di
jendela.
Hong Kun kembali menarik tangan orang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kau gusar, adik Peng ?" tanyanya.
Giok Peng terperanjat. Orang memanggil dirinya "Adik Peng
!" Tadi pun ia mendengarnya tetapi ia tidak perhatikan. Kali ini
suara itu terdengarnya lain. Tapi tetap ia belum bercuriga.
"Adik" katanya, "apakah pikiranmu masih kacau ?
Bagaimana kau rasai tubuhmu ? Apa racun jahat itu bekerja
pula ?"
Hong Kun menarik kedua tangan orang, memaksa si nona
duduk pula. Ia bersenyum. Lantas ia kata : "Perpisahan tak
lama memang jauh daripada saat pengantin baru ! Adikku,
apakah kau berpura-pura saja ? Apakah kau tengah
mempermainkan aku ?"
Giok Peng tunduk, ia tidak mengatakan apa-apa hanya
tertawa perlahan. Ia seperti sudah mulai limbung dalam laut
asmara.....
Kiauw In diluar jendela telah melihat semua itu, ia merasa
saat sangat gawat sudah tiba, perlu ia bertindak. Dengan
lantas ia kembali ke kamarnya. Ia mengambil jinsom untuk
memeras itu lalu mengaduknya dengan air dingin di dalam
mangkuk, setelah mana ia lekas kembali ke kamarnya Nona
Pek. Ia telah mengetuk pintu sambil memanggil dengan
perlahan.
Giok Peng membukai pintu. Di dalam hati ia kurang puas.
Nona itu seperti menganggunya. Tapi ia lekas-lekas menanya :
"Ah, kakak ! Sudah jauh malam kenapa kakak masih belum
tidur ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Aku tak dapat tidur" sahut Kiauw In mendusta. "Aku selalu
memikirkan sakitnya adik Hiong, aku kuatir racunnya nanti
kumat. Diwaktu malam seperti ini dimana kita bisa dapatkan
obat pemunah racun ? Maka itu aku lantas membuatkan air
jinsom ini. Baik adik Hiong meminumnya buat menguatkan
tubuhnya..... "
Kiauw In tidak menyerahkan mangkuk obat kepada Giok
Peng, hanya ia menyerahkannya kepada Hong Kun, sembari ia
berkata : "Adik, habis minum ini kau singkirkan segala
pikiranmu yang tidak-tidak, kau beristirahatlah ! Kau tahu
sendiri kalau kau berfikir yang bukan-bukan, kesesatan bakal
membahayakan jiwamu !"
Kata-kata itu dapat diartikan dua maksudnya itu bisa
berupa juga nasihat berikut ancaman. Mendengar itu gentar
hatinya Hong Kun. Tidak demikian dengan Giok Peng. Nona
Pek menganggap Kiauw In berbuat baik demikian mungkin
disebabkan nona itu mengiri terhadapnya....
Hong Kun kuatirkan jinsom itu adalah racun atau obat
pingsan untuknya. Di dalam hati ia mengutuk Kiauw In :
"Budak bau, kau mau main gila ya ! Kau masih terlalu hijau
bagiku ! Kau kira dapat kau perdayakan aku."
Pemuda ini menyambuti mangkok, ia menggerakkan tubuh
buat duduk, sambil berbuat begitu ia membikin mangkok
terbalik maka tumpahlah air obat ke lantai, ia berpura-pura
kaget, lalu dengan tampang likat ia mengawasi Kiauw In dan
kata : "Maaf kakak, aku menyia-nyiakan capek lelahmu ini.
Dasar aku tidak punya rejeki...."
Tak puas Giok Peng, sengaja dia menyindir : "Kakak
bermaksud baik terhadapmu ! Aku tidak sanggup berbuat
seperti kakak ini."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kiauw In tidak memperdulikan suara kawan yang mudah
tersinggung itu, yang keras jelusnya. Ia justru berkata kepada
Hong Kun, "Adik, dimanakah kau taruh kitab Sam Cay Kiam
hadiah dari guru kita ? Mari kau keluarkan kasih pada aku,
dapatkah ?"
Hong Kun kaget, lekas-lekas dia tunduk dengan perlahan,
dia kata : "Menyesal kakak, kitab itu hilang di Ay Lao San
selagi aku melarikan diri...."
Giok Peng menyela : "Urusan kitab itu baik besok saja kita
bicarakan ! Kakak, jangan kau ruwetkan pikirannya adik Hiong
!"
Nona ini bertindak menghampiri pembaringan akan duduk
dipinggirannya.
Di waktu itu Hong Kun berpikir keras. Ia menerka Kiauw In
telah mencurigainya. Inilah berbahaya. Makin lama makin
mudah rahasianya terbuka. Celaka kalau kedoknya lucut. Maka
ia lantas bertindak. Dengan berpura-pura hendak pergi ke
kakus, ia turun dari pembaringannya, ia mengenakan baju
luarnya, setelah itu dengan tiba-tiba ia lompat ke dinding,
akan menyambar pedangnya kemudian dengan sama
cepatnya ia lompat balik kepada Giok Peng untuk menotok
jalan darah thay yang nona itu, buat membuatnya pingsan ! Ia
berniat memondong nona itu buat dibawa kabur seperti
dahulu hari dia melarikan Wan Goat.
Kiauw In tapinya sudah siap sedia.
Dengan tangan kirinya ia menolak Giok Peng sampai si
nona mundur dua tindak, dengan tangan kanannya dia
menyambuti tangan kanan pemuda itu yang dipakai
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menyerang Nona Pek. Ia menghajar dengan satu pukulan
sebuah jurus Hang Liong Giok Houw Ciang.
"Bangsat ! Kalau kau laki-laki, beritahukanlah namamu !"
bentaknya.
Pek Giok Peng kaget sekali, berbareng menjadi sangat
gusar. Ia lantas mengerti maksudnya Kiauw In dan tahu It
Hiong itu It Hiong palsu. Mukanya lantas jadi merah
sendirinya. Ia jengah kalau ia ingat bagaimana barusan ia
dipermainkan pemuda tak dikenal itu. Dengan alis berdiri dan
mata mendelik, ia menyambar sebuah kursi dan dipakai untuk
menghajar si orang busuk !
Tak sempat Hong Kun menghunus pedangnya, ia
menangkis dengan pedangnya yang masih bersarung itu,
hingga kursi pecah rusak. lalu kesempatan itu dipakai olehnya
buat berlompat keluar jendela. Setibanya diluar dengan berani
dia menantang : "Kalau kamu bernyali besar, mari keluar. Kita
bertempur buat beberapa jurus !"
Giok Peng gusar bukan main, ia lompat ke tembok akan
mengambil pedangnya, disaat ia mau lompat keluar jendela,
Kiauw In menarik ujung bajunya.
"Jangan menempur dia seorang diri !" kata kakak ini. "Dia
bukan sembarang orang. Mari kita melayaninya berdua buat
melihat asal usul ilmu silatnya !"
oooooOooooo
Giok Peng menurut. Ketika kemudian ia berdua Kiauw In
lompat keluar, si manusia jahat sudah hilang tak karuan pula.
Ia mendongkol sekali, mau ia pergi mencari.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Sudah adik !" berkata Kiauw In. Ia mencegah. "Kita cuma
berdua kalau kita mengejar, bagaimana andiakata dia
menggunakan tipu daya, memperangkap kita ? Bukankah itu
berbahaya? Buat membuat perhitungan, kita jangan tergesagesa......"
Dan kakak ini menarik adik itu masuk ke dalam gubuk
mereka.
Saking mendongkol, Giok Peng menangis, ia menjatuhkan
diri dalam rangkulannya Kiauw In. Ia menyesali dirinya.
"Dasar aku yang tolol !" katanya. "Kenapa aku tidak
mengenali orang ? Bagaimana nanti aku harus menemui adik
Hiong ?"
"Jangan berduka, adik" Kiauw In menghiburi. "Kau belum
menjadi korbannya jahanam itu ! Kau tahu setiap saat aku
berjaga-jaga terhadapnya. Tadi pun aku mengintai dari luar
jendela hingga aku melihat tegas sepak terjangnya. Tentang
kesucian dirimu adik, aku yang bertanggung jawab!"
Giok Peng menyusuti air matanya. Ia menarik napas
panjang.
"Aku yang harus mati !" katanya.
"Syukur ada kau, kakak, yang melindungi aku, kalau tidak
mana ada muka melihat orang-orang."
Kiauw In mengusap-usap rambut indah nona itu.
"Sabari hatimu adik, kau berlaku tenang." ia menghiburi
pula. "Bukankah kita sudah seperti saudara kandung ? Mana
ada perbedaan diantara kita ? Sebenarnya telah sekian lama
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
aku mencurigai orang itu tetapi karena aku ingin bukti, aku
bersabar terus, aku seperti membiarkan kau dijadikan korban.
Bukankah kau sudi memaafkan aku ?"
Giok Peng berbangkit akan merapihkan rambutnya.
"Mana berani aku menyesalkan atau menggusari kau, kakak
?" katanya.
"Aku justeru berterima kasih kepadamu ! Kakak, aku sangat
mengagumi kecerdikanmu !"
Lewat lagi sekian lama, barulah Giok Peng dapat
menenangi diri.
Sekarang ia dapat berpikir.
"Kakak" katanya, "bagaimana sebabnya maka kau
ketahuilah dialah adik Hiong palsu ?"
Kiauw In bersenyum.
"Siapa yang hatinya sedang sangat terpengaruhkan sesuatu
mungkin saja dia lupa segala apa." sahutnya. "Ketika itu orang
pintar bisa menjadi bodoh. Kau sangat memikirkan adik Hiong,
adik. Lantas mendadak kau melihat dia, maka itu juga
mendadak juga terbangunlah semangatmu. Kau menjadi
sangat girang secara mendadak sekali hingga kau tak sempat
berpikir lainnya. Di dalam keadaan seperti itu, mana dapat kau
berpikir jernih ?"
"Tetapi, kakak." kata pula nona Pek, "bukankah kau juga
memikirkan keras adik Hiong sebagaimana yang aku pikirkan ?
Inilah yang aku tidak mengerti !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Adik, aku harap kau tidak menerka keliru" berkata Nona
Cio sabar. "Siapakah orang yagn tidak mencintai suaminya ?
Bukankah setiap orang mencintainya ? Kita tapinya beda
daripada orang kebanyakan. Kitalah wanita Kang Ouw. Maka
kalau kita menghadapi sesuatu, harus kita bersikap lebih
tenang. Aku sudah merasa heran, selekasnya dia memanggil
kau 'adik Peng', maka diam-diam aku lantas perhatikan
padanya. Makin lama kecurigaanku makin bertambah. Dia
gagal memperlihatkan Hian Bun Sian Thian Khie kang dan
Hang Liong Hok Houw Ciang hoat. Itu masih tidak apa sebab
dia baru terkena racun, mungkin dia lemah tak berdaya.
Lantas hal obatnya pendeta dari Bie Lek Sie ! Bukankah obat
itu ada pada adik Hiong ? Obat yang aku berikan adalah obat
biasa saja, toh dia percaya ! Dengan begitu, dia seperti
membuka rahasianya sendiri......"
"Tetapi kakak," kata Giok Peng "toh benar kalau orang
terkena racun dia jadi lupa segala apa ? Ada kemungkinannya
bukan ?"
"Tetapi biasanya," Kiauw In menjelaskan lebih jauh, "siapa
terkena racun yang jahat, dia benar-benar melupakan segala
apa, matanya seperti buram, gerak geriknya tidak biasa pula.
Didalam keadaan begitu, mana orang dapat ingat akan
kesenangan hidup suami istri ?"
Mukanya Giok Peng merah.
"Tadi," Kiauw In tanya, "selama berduaan saja, apakah kau
tidak melihat sesuatu yang mencurigai ?"
"Ya, ada..." sahut Giok Peng, kembali mukanya merah.
Kiauw In tersenyum.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Itulah lucu adik ! Kenapa orang tak tahu kebiasaan
suaminya."
Giok Peng menubruk kakak itu, untuk mendekam
dibahunya.
"Ah, kakak, kau menggodia aku !" katanya. Ia malu tapi toh
ia tertawa.
Selagi kakak beradik itu bergurau, tiba-tiba ada asap
bertiup masuk dari luar jendela, hanya lantas asap itu buyar
kembali menyusul mana dari luar terdengar bentakan keras
suara yang nona-nona itu mengenali seperti suaranya In Gwa
Sian.
Kiauw In dan Giok Peng dapat mencium sedikit asap itu,
yang baunya harum tetapi lekas-lekas mereka menahan
napas, maka itu cuma pusing sedikit, mereka lantas pulih pula.
Lantas mereka saling memandang terus mereka berlompat
keluar jendela.
Tepat di dalam Pekarangan pagar, di sana tampak Pek Cut
Tasyu ketua Siauw Lim Pay tengah berdiri tegak.
Kedua nona datang menghampiri, buat mengunjuk hormat.
"Apakah loSiansu dapat melihat orang jelas ?" tanya
mereka.
Belum lagi pendeta itu menjawab atau Pat Pie Sie Kie
sudah tiba. Dia lantas tertawa nyaring dan kata : "Bangsat itu
memiliki dua buah kaki yang tak dapat dicela, dia berhasil
meloloskan diri dari tanganku !" Kemudian dia menoleh
kepada kedua nona dan kata sambil tertawa pula : "Kalian
berdua sangat temaha akan tidur nyenyak ! Kalau aku si tua
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bangka datang terlambat satu tindak saja, apakah itu bukan
artinya celaka ?"
"Ah, paman bisa saja !" berkata Giok Peng. Dia jengah
berbareng penasaran.
"Paman tahu, jahanam itu sudah datang sekian lama dan
datangnya dengan menyamar sebagai adik Hiong. Sesudah
sekian lama, baru kami ketahui dialah manusia palsu maka
kami mengusirnya ! Siapa sangka, dia bernyali sangat besar,
dia berani datang pula ! Bahkan dia menggunakan obat pulas
!"
Pek Cut memperdengarkan pujinya.
"Apakah tan wat berdua telah melihat tegas ?" tanyanya.
Kiauw In menjura dan menjawab, "Tampang dan pakaian
dia semuanya mirip dengan adik Hiong. Kami mengetahui
kepalsuannya setelah kami berbicara dengannya dan menguji
ilmu silatnya !"
"Habis kalian kena terpedayakan atau tidak ?" tanya In
Gwa Sian yang tiba-tiba, wajahnya jadi sungguh-sungguh.
"Tidak !" menjawab kedua nona, cepat dan bebareng.
Mendapat jawaban itu, mendadak wajahnya si pengemis
menjadi terang pula.
"Kalau begitu muridnya si hidung kerbau tak dapat dicela !"
katanya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Paman In" kemudian Kiauw In tanya, "ada urusan apa
malam-malam paman datang kemari ? Adakah ada didapat
sesuatu isyarat ?"
In Gwa Sian meloloskan buli-bulinya untuk menenggak
araknya. Ia mengusap-usap mulutnya.
"Adalah si pendeta yang menarik, membetot aku."
sahutnya kemudian, perlahan. "Nah, kau tanya saja padanya
!"
Pek Cut taysu bersenyum tanpa menanti sampai ditanya si
nona ia sudah lantas diberikan keterangan.
Sebenarnya beruntun-runtun ketua Siauw Lim Sie itu telah
menerima laporan Tio It Hiong sudah kembali ke Siauw Sit
San. It Hiong pernah menolong Siauw Lim Sie dari bencana
besar, setiap anggotanya kenal atau mengenalinya. Karena It
Hiong datang dengan jalan bertarung dalam hal ini ialah Hong
Kun yang menyamar It Hiong palsu, ia tidak ada yang hadang.
DI beberapa tempat penjagaan, dia dapat lewat dengan
bebas.
Pek Cut Taysu menerima semua laporan itu dengan girang.
Ia ingin segera menemui pemuda yang dianggapnya sebagai
penolong itu. Maka ia cari In Gwa Sian yang sudah datang
terlebih dahulu dan mengajaknya ke belakang gunung, ke
tempatnya Kiauw In dan Giok Peng. Tepat mereka datang
mendekati rumah gubuk, mereka dapat melihat satu bayangan
orang bergerak. Pendeta dan pengemis itu memang bermata
sangat celi, lebih-lebih Pat Pie Sin Kit si orang Kang Ouw
kawakan. Bahkan ia lantas dapat menerka maksud orang.
Tidak ayal lagi dia berlompat maju, menghampiri bayangan itu
dan menghajarnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Itulah saatnya Hong Kun menceploskan bubuk beracunnya
yang berupa seperti asap itu. Hebat muridnya It Yap Tojin ini.
Dia mendapat tahu ada serangan gelap. Dia menarik pulang
tangannya sambil berkelit, hingga dia lolos dari kejaran itu,
selekasnya dia mengenali si pengemis, dia kabur tanpa ragu
lagi. Demikian dia lolos dihutan lebat, dipuncak kemana dia
lari. Tak dapat In Gwa Sian menyusulnya. Itulah sebabnya,
waktu kedua nona lari menyusul, pertama mereka cuma
menemui ketua Siauw Lim Sie dan belakangan barulah si
Paman In muncul.
"Sesudah mendekati usia seratus tahun, baru inilah yang
pertama kali lociap menemui orang jahat yang melakukan
penyamaran dan melakukan kejahatan istimewa ini." Pek Cut
menambah-kan keterangannya. Kemudian ia berpaling kepada
In Gwa Sian, untuk berkata : "Kalau begini, In Sicu, terang
sudah bahwa Tio Tanwat telah orang fitnah dan si manusia
jahat adalah pemuda barusan !"
Matanya In Gwa Sian bersinar, kulit mukanya bergerakgerak,
terus ia mengangguk-angguk. Tapi ia tidak mengatakan
sesuatu.
Sampai disitu, Giok Peng memberi hormat kepada si
pendeta.
"Silahkan loSiansu dan Paman In mampir dahulu untuk
minum teh !" ia mengundang.
Pek Cut Taysu membalas hormatnya dengan sebelah
tangannya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Jilid 27
"Terima kasih !" bilangnya. "Lolap hendak lekas kembali ke
kuil akan membunyikan genta, isyarat serta menitahkan
murid-muridku segera mencari atau memegat orang jahat itu."
In Gwa Sian menengadah langit. Ia melihat fajar telah tiba.
"Pendeta tua, tak usah kau berbuat demikian lagi."
cegahnya. "Itulah percuma saja. Orang itu sangat sempurna
ilmu ringan tubuhnya, dia tentu sudah lama turun gunung.
Manusia jahat bakal menerima nasibnya sendiri, demikian
dengan penjahat tadi, tak nanti dia lolos dari hukumannya !"
Pek Cut mengangguk. Ia menggerakkan tangannya.
"Kedua tanwat, silahkan kembali untuk beristirahat" ia
mempersilahkan. "Lolap meminta diri !"
In Gwa Sian tampak berpikir, lalu dia kata kepada kedua
nona : "Nanti kalau sudah ada kesempatannya, aku si tua
akan menjenguk kalian berdua untuk membicarakan soal anak
Hiong. Sekarang kalian jangan banyak pikir, cuma akan
memusingkan kepala saja ! Paling benar biar rajinlah kalian
berlatih, bersiap sedia menyambut hari pertemuan besar nanti
!"
Habis berkata, ia lantas bertindak mengikuti ketua Siauw
Lim Sie itu.
Semenjak itu maka Pek Cut Taysu telah mengasi titah baru,
siapa pun datang ke Siauw Lim Sie, dia harus dilaporkan
dahulu dan tidak dapat dia dibiarkan masuk dengan bebas
seperti Tio It Hiong palsu itu. Penjagaan pun dipesan untuk
diperketat. Hong Kun sementara itu dapat keluar dengan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bebas dari pelbagai pos penjagaan Siauw Lim Sie, sebab ia
tetap masih menyamar sebagai Tio It Hiong dan diluar
pengejarannya In Gwa Sian, dia bersikap tenang-tenang saja.
Sampai jauh dari kaki gunung SiongSan, baru dia duduk diatas
sebuah batu untuk beristirahat, untuk sekalian menyesali
usahanya yang gagal itu. Ia menjadi mendongkol dan
penasaran sekali, hingga timbul niatnya untuk melakukan lain
pembunuhan guna melampiaskan kebusukan hati itu. Sekali
ia benar-benar menjadi seorang manusia sesat.
Selagi It Hiong palsu ini beristirahat itu, beberapa orang
rahib tampak tengah mendatangi. Waktu itu sudah fajar.
Mereka itu pada menggendol pedang dan mendatanginya
dengan berlari-lari. Merekalah rombongan Pauw Pok Tojin dari
Ciang Shia Pay bersama beberapa orang muridnya, yang
datang memenuhi undangan untuk pertemuan besar di
gunung Tay San nanti. Diantara murid-muridnya itu terdapat
Gu Tauw Kong yang baru sembuh dari lukanya. Dia ini melihat
Hong Kun, dia lantas mengenalinya, maka lantas saja ia
lompat maju, dia menghunus pedang sambil
memperdengarkan suara dingin tanpa mengucap sepatah kata
terus dia menyerang anak muda yang menjadi musuhnya itu.
Hong Kun lihai, dengan mudah dia lompat berkelit. Dia
menghunus pedangnya. Dia pula segera mengenali
penyerangnya itu ialah imam dari Ceng Shia Pay yang dia
telah lukakan di Liong peng.
"Hai, roh gelandangan diujung pedang !" dia membentak,
"masih berani kau datang menerima kebinasaanmu !" Lantas
dia maju untuk membalas menyerang. Bahkan dia mendesak,
menyerang terus hingga tiga kali !
"Tahan !" berseru Pauw Pok Tojin. "Tauw Kong, siapakah
orang ini ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tauw Kong berlompat mundur.
"Suhu, dia inilah yang melukakan murid serta
membinasakan bebeapa orang adik seperguruanku !"
sahutnya. "Dialah Tio It Hiong yang menyerbu gunung dan
mencuri pusaka kita !"
Pauw Pok segera berpaling kepada si anak muda. Ia ada
cukup besar, hendak dia menanyakan sesuatu, atau
mendadak serangannya si anak muda itu telah tiba. Terpaksa
ia menyampok dengan kebutannya sambil membentak :
"Manusia ganas ! Kau mengandalkan pedang mustikamu
dengan apa kau tak memandang orang ya ?"

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cersil Hora Romantis Ke 8 Iblis Sungai Telaga ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Rabu, 26 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments