Cerita Romantis Lama Bingit : Dendam Iblis Seribu Wajah 7

AliAfif.Blogspot.ComCerita Romantis Lama Bingit : Dendam Iblis Seribu Wajah 7
baca juga:
Cerita Romantis Lama Bingit : Dendam Iblis Seribu Wajah 7
Terdengarlah serentetan suara benturan logam, tubuh kedua orang itu kembali
mencelat mundur sejauh beberapa langkah. Pertarungan antara kedua orang itu baru
berlangsung beberapa jurus, tetapi orang-orang yang hadir di tempat itu dapat merasakan
bahwa perkelahian mereka sengit sekali. Keduanya telah mengerahkan segenap
kemampuan masing-masing. Tampaknya saja setiap jurus yang mereka mainkan tidak
mengandung keistimewaan apa-apa, tetapi sebetulnya justru serangan yang ditujukan
kepada lawannya sangat keji. Hidup dan mati bagai telur di ujung tanduk yang dapat
ditentukan setiap saat.
Wajah Kiau Hun yang tadinya tenang mulai kelihatan kelam. Dengan memusatkan
seluruh perhatiannya, dia berdiri tegak dengan pedang melintang di depan dada. Liang Fu
Yong juga berdiri di hadapannya kurang lebih lima langkah dengan sepasang mata
memperhatikan lawannya lekat-lekat. Sikapnya juga serius sekali dan tidak berani ayal
menghadapi musuh yang tangguh ini.
Rupanya gebrakan yang beberapa jurus itu, membuat keduanya sadar bahwa hari ini
masing-masing telah menemukan lawan yang seimbang. Seandainya tadi malam Liang Fu
Yong tidak mendapat warisan ilmu dari Tian Bu Cu yang membuat tenaga dalamnya
bertambah satu kali lipat dan jurus-jurus ilmu pedangnya jauh lebih matang, mungkin saat
ini dia sudah terluka parah di bawah pedang Kiau Hun.
Tempat yang luas itu menjadi sunyi senyap tanpa terdengar suara sedikitpun. Tan Ki
yang sejak tadi memperhatikan jalannya pertarungan juga mulai merasa gelisah. Hatinya
khawatir sekali. Tangan kirinya mengenggam Pedang Penghancur Pelangi erat-erat.
Keringat dingin terus mengucur membasahi keningnya.
Liang Fu Yong menarik nafas panjang-panjang, baru saja dia mengerahkan tenaga
dalamnya secara diam-diam dan siap melancarkan sebuah serangan, tiba-tiba telinganya
mendengar suara Kiau Hun yang merdu dan lembut.
“Kau sudah terluka oleh pukulan Telapak Dingin milikku. Kalau tidak cepat-cepat
mengerahkan hawa murni mendesak keluar racun dingin tersebut, dalam dua belas
kentungan seluruh urat darah dalam tubuhmu akan mulai membeku. Tidak sampai tiga
bulan racun dingin akan menyerang jantung dan jiwamu tidak akan tertolong lagi!”
Nada suaranya begitu dingin dan menyeramkan, membuat orang-orang yang
mendengarnya timbul perasaan tidak enak. Perasaan Liang Fu Yong sendiri sampai
tergerak mendengar suaranya. Dia mendongakkan kepalanya menatap gadis itu, tampak
Kiau Hun berdiri di hadapannya dengan tampang keren serta berwibawa bagai sebuah
patung dewi khayangan. Matanya memandang Liang Fu Yong lekat-lekat dan tidak
berkedip sedikitpun.
Pandangan mata mereka bertemu, tiba-tiba jantung Liang Fu Yong berdebar-debar.
Serangkum hawa dingin seperti merasuk dalam hatinya. Tanpa sadar tubuhnya menggigil
dan bulu kuduknya meremang semua.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Telinganya kembali terdengar suara yang dingin seperti es itu.
“Racun dalam tubuhmu parah sekali. Apabila kau tidak duduk dan mengerahkan hawa
murni secepatnya, dalam waktu dua kentungan, pasti kau akan merasakan penderitaan
yang hebat karena urat nadi dalam tubuhmu mulai membeku!”
Mendengar kata-katanya, tanpa sadar sekali lagi Liang Fu Yong mendongakkan
wajahnya menatap Kiau Hun. Dua pasang mata bertemu pandang, kembali jantungnya
berdebar-debar. Serangkum hawa dingin meluap dalam dadanya.
Tampak Kiau Hun tersenyum simpul. Namun di balik senyumannya terkandung
keseraman yang mengerikan. Saat itu juga seluruh tubuh Liang Fu Yong terasa lemas,
hatinya bergidik.
Tan Ki merasa sikap Liang Fu Yong semakin lama semakin kurang beres. Pandangan
mata perempuan itu begitu kosong seakan orang yang kesadarannya hilang. Namun dia
justru melotot tanpa berkedip sekalipun. Wajahnya menunjukkan keletihan yang tidak
terkirakan. Diam-diam dia mengerutkan sepasang alisnya. Kemudian dia mengerahkan
hawa murni dalam tubuhnya dan berteriak sekeras mungkin.
“Cici Liang!” suaranya begitu lantang sehingga menggelegar dan menggetarkan
gendang telinga bagi orang yang mendengarnya.
Pikiran Liang Fu Yong seperti tersentak, matanya yang mendelik lebar-lebar segera
dipejamkan. Dia mengatur pernafasannya untuk beberapa saat. Kemudian terdengar dia
membentak dengan suara nyaring. Pedangnya digerakkan, timbul bayangan bunga-bunga
dan cahaya dingin. Dengan cepat dia mengirimkan sebuah serangan.
Kiau Hun segera memainkan jurus Im dan Yang Berbalik Arah. Ditahannya serangan
Liang Fu Yong yang dahsyat, orangnya sendiri malah mencelat ke belakang. Matanya
mendelik ke arah Tan Ki lebar-lebar. Mulutnya kembali berbicara dengan nada dingin.
“Lukamu parah sekali. Kalau kau masih tidak mau mendengar nasehatku untuk duduk
dan beristirahat, jangan menyesal apabila sudah terlambat!”
Begitu mendengar nada suara yang menyeramkan itu, setiap patah katanya bagai
menggetarkan kalbu. Tiba-tiba seluruh kekuatannya lenyap. Otomatis serangan yang ia
lancarkan pun jadi melemah. Hatinya sadar bahwa Kiau Hun menggunakan semacam ilmu
untuk mempengaruhi pikirannya. Dia sendiri tidak sanggup memberontak, sedangkan
pengaruh suara itu semakin menjadi-jadi. Jantungnya berdebar-debar, tubuhnya lemas
sekali. Kapan waktu saja dia bisa terkena serangan Kiau Hun. Oleh karena itu dia segera
berteriak dengan gugup, “Adik Ki, cepat ke mari! Aku tidak sanggup lagi…!”
Belum lagi suaranya sirap, tiba-tiba dia melihat tubuh Kiau Hun berkelebat, dengan
kecepatan kilat lawannya itu menerjang ke arahnya. Pedang pendek di tangan Kiau Hun
menimbulkan cahaya kehijauan, serangannya digerakkan dari atas ke bawah. Belum lagi
pedangnya sampai, segulung demi segulung hawa dingin sudah menerpa wajah Liang Fu
Yong.
Sinar mata Kiau Hun yang aneh membuat tubuh Liang Fu Yong lemas dan tidak bisa
mengerahkan tenaga dalamnya sedikitpun. Serangan Kiau Hun yang dahsyat ini sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pasti dia tidak sanggup menahannya. Melihat cahaya hijau bertebaran dan memenuhi atas
kepalanya, tanpa sadar Liang Fu Yong menarik nafas panjang. Dia memejamkan matanya
menunggu datangnya dewa kematian. Justru pada saat yang kritis ini, terasa ada serangkum
angin kencang menerpa menerjang di sisi tubuhnya. Telinganya mendengar suara
benturan logam. Dalam waktu sekejap mata, angin tadi tidak terasa lagi dan keadaan
menjadi normal kembali. Begitu dia membuka matanya, Tan Ki sudah berdiri di
sampingnya dengan pedang terentang seakan melindungi dirinya.
Wajah Kiau Hun langsung berubah hebat. Dengan nada dingin dia berkata,
“Tampaknya kau memang selalu menghalangi apapun yang kuperbuat. Entah apa
maksudmu yang sebenarnya?”
Tan Ki menolehkan kepalanya dan berkata kepada Liang Fu Yong, “Lebih baik cici
beristirahat dulu, biar aku saja yang menghadapinya.”
Liang Fu Yong mengiakan dengan suara lirih. Perlahan-lahan dia mengundurkan diri
dari arena pertandingan.
Tan Ki menunggu sampai dia keluar dari arena tersebut, kemudian baru mendongakkan
wajahnya. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman.
“Tidak perlu berbicara hal yang tidak penting. Yang kita perebutkan adalah kedudukan
Bulim Bengcu, lebih baik diselesaikan secepatnya agar sama-sama merasa puas!’
Tiba-tiba Kiau Hun menyimpan pedang pendeknya ke dalam selipan ikat pinggangnya.
Bibirnya tersenyum manis.
. “Aku tidak ingin menggerakkan pedang atau golok dengan dirimu yang bisa
mengakibatkan terjadinya pertumpahan darah yang mengenaskan.”
Tan Ki sudah tahu bahwa pihak Lam Hay telah bergabung dengan pihak Si Yu dan akan
melakukan penyerangan sore nanti. Meskipun saat ini di bukit Tok Liong-hong telah
berkumpul dua ratusan tokoh hitam putih yang berilmu cukup tinggi, tetapi seekor ular
tidak mungkin hidup tanpa kepala. Kalau tidak cepat-cepat memilih seorang Bulim Bengcu,
kumpulan orang-orang itu bagai domba yang kehilangan gembalanya. Pasti mereka tidak
akan berhasil menahan datangnya serangan musuh. Begitu pikirannya tergerak, cepatcepat
dia memasukkan kembali Pedang Penghancur Pelangi-nya dan tersenyum simpul.
“Waktu sangat berharga. Setiap detik harus dipergunakan sebaik mungkin. Aku tidak
ingin berdebat dengan dirimu. Kalau kau memang tidak bersedia menggunakan pedang,
biar kita bertarung dengan tangan kosong saja!” seraya berkata, diam-diam dia
mengerahkan tenaga dalamnya kemudian tanpa menunda waktu lagi dia melancarkan
sebuah serangan. Serangkum angin yang tidak berwujud menerpa ke depan, orangnya
sendiri ikut melesat bagai kilat.
Kiau Hun mengira ucapannya tadi meskipun dikeluarkan dengan tenang tetapi
mengandung sindiran yang tajam, tentu dia berhasil mendesak Tan Ki sehingga kehabisan
alasan untuk bergebrak dengannya. Dengan demikian kedudukan Bulim Bengcu pasti
berhasil diraihnya dengan mudah. Dia tidak menyangka kalau Tan Ki malah menyimpan
pedangnya dan menyerangnya dengan tangan kosong. Untuk sesaat dia jadi termanguma-
ngu. Dia merasa ada hawa panas yang berkobar dalam dadanya. Hatinya merasa
marah sekali. Diam-diam dia berpikir: ‘Padahal aku hanya mengingat hubungan kita di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masa lalu. Oleh karena itu aku selalu mengalah kepadamu. Kau kira aku benar-benar takut
kepadamu?’
Sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas. Kedua tangannya langsung
dihantamkan ke depan, dengan keras dia menyambut datangnya angin serangan Tan Ki
yang dahsyat.
Tan Ki merasa getaran tenaga tolakan Kiau Hun begitu kuat, diam-diam hatinya merasa
kagum. ‘Tidak disangka dia juga mempunyai tenaga dalam yang begitu kuat, tidak heran
di depan Pek Hun Ceng dengan mudah dia dapat melukai Ciu Cang Po.’
Dia mendongakkan kepalanya memandang, tampak Kiau Hun sedang mendelikkan
sepasang matanya menatap ke arahnya lekat-lekat. Pandangan mata mereka bertaut,
tanpa dapat ditahan lagi hatinya tergetar.
Tan Ki merasa ada sesuatu yang aneh terpancar dari matanya. Begitu tajamnya
sehingga menusuk kalbu hatinya. Jantungnya langsung berdebar-debar, cepat-cepat dia
memejamkan dan mengerahkan hawa murninya agar dapat mempertahankan
kesadarannya.
Tenaga dalamnya kuat sekali, begitu hawa murni dalam tubuhnya dikerahkan, hatinya
menjadi tenang kembali. Diam-diam dia berpikir: ‘Ilmu apa ini? Apakah di dalam pelajaran
silat juga ada ilmu sihirnya?’
Tepat di saat pikirannya sedang tergerak, tiba-tiba dia merasa ada serangkum angin
yang kuat menerpa ke arah dadanya. Siapa kiranya Tan Ki itu, berkecimpung di dunia
Kangouw selama setengah tahun, dia sudah menggetarkan hati para jago. Nalurinya lebih
tajam dari orang biasa, tanpa sempat membuka sepasang matanya, dia langsung
mengambil posisi menahan di depan dada dan melancarkan sebuah serangan.
Meskipun rangkuman tenaga dalam Kiau Hun cukup dahsyat, tetapi ketika didorong
oleh tenaga dalam Tan Ki, ternyata serangannya memental kembali. Baru saja anak muda
itu bermaksud mengirim sebuah serangan kembali, tiba-tiba telinganya mendengar suara
tawa Kiau Hun yang merdu.
Suara itu merdu namun agak seram bila didengarkan lama-lama. Begitu dinginnya
sehingga mendirikan bulu roma dan menggetarkan jantung. Tubuh Tan Ki tampak
menggigil hebat saat itu juga.
Begitu suara tawa itu terhenti, kembali terdengar suara Kiau Hun berkata kepadanya.
“Tan Ki, aku mengingat ilmu silatmu didapatkan dengan cara yang tidak mudah. Oleh
karena itu aku tidak tega melukaimu. Kalau kau tidak cepat-cepat mengaku kalah, jangan
salahkan apabila aku menurunkan tangan ke-ji!”
Tan Ki terus memejamkan sepasang matanya. Dia tidak berani membukanya biar
sekejap saja. Hal ini disebabkan rasa terkejutnya melihat sinar mata Kiau Hun yang aneh.
Setiap kali bertemu pandang dengannya, hati Tan Ki langsung bergetar, tenaga dalamnya
seakan menjadi lemah. Siapa nyana biar dia memejamkan matanya, tetap saja dia merasa
gelisah mendengar suara Kiau Hun. Untuk sesaat dia merasa sulit mengendalikan
perasaannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Untung saja tenaga dalam Tan Ki sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Ketenangannya juga melebihi orang lain. Meskipun dia terpengaruh oleh suara gadis itu,
tetapi dia terus mempertahankan diri agar kesadarannya tetap terjaga. Cepat-cepat dia
mengerahkan hawa murninya dan mengedarkannya ke seluruh tubuh. Sementara itu
pikirannya terus berputar mencari jalan menghadapi situasi di hadapannya. Diam-diam dia
berpikir dalam hatinya: ‘Satu-satunya jalan yang bisa dilakukan saat ini, hanya
menyerangnya dengan gencar. Pokoknya tidak boleh memberi kesempatan sama sekali
baginya untuk membuka mulut.’
Pikirannya tergerak, diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya dan
menyalurkannya ke seluruh tubuh. Dia sengaja memperlihatkan tampang seperti orang
yang letih dan mengantuk. Dengan demikian dia berharap perhatian Kiau Hun akan
terpencar dan tidak dapat menduga apa yang akan dilakukannya.
Keadaan di seluruh arena itu menjadi demikian hening. Namun di balik kesunyian
tersebut terselip ketegangan yang tidak terkirakan. Telinganya kembali menangkap suara
Kiau Hun yang dingin seperti es.
“Tan Ki, apakah masih ada kata-kata yang ingin kau sampaikan untuk ter…”
Tiba-tiba Tan Ki mengeluarkan suara bentakan yang keras, dengan demikian kata-kata
Kiau Hun jadi terputus. Sepasang matanya membelalak lebar-lebar dan tahu-tahu
tubuhnya berkelebat menerjang ke depan!
Kiau Hun benar-benar tidak menyangka sama sekali tindakan Tan Ki ini. Sepasang
kakinya menutul di atas tanah, orangnya sendiri langsung mencelat ke udara dan
melompat mundur sejauh tiga langkah.
Sejak tadi Tan Ki sudah memperhitungkan semuanya dengan matang. Mana mungkin
dia membiarkan Kiau Hun menguras otaknya mencari akal licik lainnya. Sepasang
tangannya menghantam ke depan dengan tenaga dalam yang dahsyat. Dalam waktu yang
singkat secara berturut-turut dia melancarkan sepuluh pukulan.
Tiba-tiba diserang secara gencar oleh Tan Ki, Kiau Hun sampai kelabakan setengah
mati. Hampir saja dia tidak dapat menahan dirinya. Tubuhnya terhuyung-huyung mundur
ke belakang.
Sepasang mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam. Baru saja dia bermaksud
mengerahkan ilmu Tian Si Sam-sut dan Te Sa Jit-sut-nya yang hebat, sekonyong-konyong
terdengar suara siulan yang panjang. Begitu kerasnya sampai memekakkan telinga.
Tampak tiga batang senjata rahasia meluncur ke arahnya dengan kecepatan kilat.
Tan Ki segera membentak dengan suara keras, “Oey Ku Kiong, apakah kau juga ingin
main-main denganku?” hawa murni dalam tubuhnya segera dikerahkan. Sepasang telapak
tangannya menghantam ke depan. Tahu-tahu ketiga batang senjata rahasia itu telah
tersam-pok jatuh di atas tanah. Seiring dengan tenaga dalam yang dipancarkannya, tubuh
Tan Ki mencelat ke udara setinggi satu depaan. Laksana seekor elang yang mengincar
anak ayam, tubuhnya kembali menukik ke bawah dan mengirimkan sebuah serangan
kepada Kiau Hun yang baru saja berdiri tegak.
Dengan nama Cian Bin Mo-ong, Tan Ki telah menggetarkan dunia Kangouw. Otomatis
ilmu silatnya tidak dapat dibandingkan dengan tokoh Kangouw umumnya. Tubuhnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencelat dan menukik ke bawah dengan kecepatan yang tidak terkirakan. Meskipun Kiau
Hun tidak berniat bertarung dengannya dari jarak yang dekat, tetapi dalam keadaan
seperti ini, terpaksa dia mengerahkan tenaga dalamnya dan sepasang telapak tangannya
menghantam ke depan. Tidak ada waktu lagi baginya untuk menghindarkan diri. Pikirnya,
dia ingin menghentakkan tubuh Tan Ki ketika dia belum sempat mendarat di atas tanah.
Kemudian dengan jurus Suara Bergema Mengguncangkan Sukma, dia akan menghantam
dada Tan Ki sehingga terluka di bagian dalam.
Siapa nyana tubuh Tan Ki yang menukik ke bawah justru menggunakan sebuah jurus
yang paling hebat dari Te Sa Jit-sutnya. Baru saja telapak tangan Kiau Hun terulur ke
depan, tahu-tahu bayangan tubuhnya berkelebat, dari melancarkan serangan tiba-tiba dia
menarik kembali tubuhnya dan menjungkir balik satu kali di udara. Tanpa mendarat lagi di
atas tanah, tangannya langsung menerjang ke depan menyambut serangan Kiau Hun.
Perubahan jurus yang dikerahkannya begitu cepat sehingga sulit diuraikan dengan
kata-kata. Bahkan orang-orang yang hadir di tempat itu tidak satupun yang dapat
melihatnya dengan jelas. Hanya bayangan tubuh kedua orang itu yang berkelebat ke sana
ke mari, kemudian dua rangkum tenaga dalam saling beradu. Dalam waktu hanya
sekedipan mata saja, tubuh Tan Ki sudah mendarat turun pada jarak tujuh delapan
langkah. Wajahnya tampak merah padam, nafasnya tersengal-sengal dan keringat
membasahi keningnya, terus menetes ke wajahnya. Tubuh Kiau Hun justru terhuyunghuyung
kemudian tergetar mundur sejauh empat lima langkah. Dia seperti orang yang
baru saja minum arak dalam jumlah yang banyak. Kakinya tidak dapat berdiri dengan
mantap. Kemudian tampak mulutnya terbuka dan dia memuntahkan darah segar seperti
melesatnya sebatang anak panah.
Tidak syak lagi bahwa Tan Ki menggunakan ilmunya yang hebat untuk melukai Kiau
Hun. Tetapi dirinya sendiri juga kehilangan cukup banyak hawa murni dalam tubuhnya.
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang riuh memecahkan keheningan di seluruh
arena tersebut, seruan gembira dan pujian gegap gempita….
Kiau Hun memandang Tan Ki dengan termangu-mangu. Sesaat kemudian tampak
wajahnya menyiratkan dendam membara dan mata menyorotkan kebencian yang dalam.
Dia menghentakkan kakinya di atas tanah dan berkata dengan nada ketus, “Bagus sekali
perbuatanmu!”
Tanpa menunda waktu lagi dia segera membalikkan tubuhnya dan menghambur pergi
meninggalkan tempat tersebut. Ternyata pada saat terakhir, hanya karena satu jurus saja
dia berhasil dikalahkan oleh Tan Ki. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa kedudukan Bulim
Bengcu otomatis terjatuh ke tangan anak muda itu. Rencananya yang ingin menjadi matamata
bagi pihak Lam Hay jadi buyar seketika. Dia merasa kekalahan ini benar-benar
membuatnya kehilangan muka. Bahkan harga dirinya bagai tercampak…
Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan berkelebat dan mengejar ketat di belakang Kiau
Hun. Orang itu sudah pasti Oey Ku Kiong yang tergila-gila kepadanya. Kedua orang itu
berlari secepat kilat. Satu di depan dan yang lainnya di belakang. Mereka meninggalkan
arena yang bising itu sejauh-jauhnya.
****
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Angin pagi masih terasa sejuk, cahaya matahari tidak terlalu terik. Keadaan di bukit itu
masih sama seperti sediakala. Rumput-rumput melambai-lambai seakan menyambut
kedatangan setiap pengunjung. Tetapi pemandangan ini bagi penglihatan Kiau Hun
bahkan seperti sedang menertawakan dirinya. Hatinya merasa benci dan pedih. Semua
yang ada di hadapannya bagai benda-benda mati yang tidak mempunyai daya tarik sama
sekali.
Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya dan membentak, “Untuk apa kau
mengikuti diriku?”
Tampaknya dia ingin menumpahkan segala kekesalannya pada diri Oey Ku Kiong. Suara
bentakannya itu begitu ketus dan dingin. Boleh dibilang tanpa perasaan sama sekali.
Terdengar Oey Ku Kiong menyahut dengan suara gugup, “Aku hanya ingin melihat kau
tersenyum kembali kemudian…”
Kiau Hun langsung menukas dengan nada yang lebih dingin lagi.
“Kemudian apa? Kau toh tidak sanggup membantu aku meraih kedudukan Bulim
Bengcu. Dari pagi sampai malam seperti seekor anjing yang mengikuti majikannya ke
mana-mana. Namun apa yang bisa kau berikan kepadaku? Kecuali kesulitan dan
keruwetan… Hm… boleh dibilang seperti…”
Begitu kesalnya dia sampai kata-katanya tidak sanggup diteruskan lagi, tetapi Oey Ku
Kiong dapat membayangkan bahwa apa yang ingin diucapkannya pasti tidak enak
didengar. Oleh karena itu dia hanya tertawa sumbang dan berkata dengan nada perlahanlahan,
“Kiau Hun, asal aku dapat melihat senyumanmu seperti biasanya, meskipun harus
mati aku rela. Kalau kau merasa tidak senang, hatiku juga terasa sedih sekali.”
Kiau Hun sengaja memamerkan seulas senyuman. Namun suaranya tetap dingin seperti
es.
“Nah, aku sudah tertawa sekarang. Apakah kau sudah merasa senang?” selesai
berkata, kembali wajahnya cemberut dan datar seperti semula. Dia melanjutkan katakatanya
dengan nada yang ketus. “Laki-laki seperti engkau ini hanya mirip dengan
kumbang yang mencari bunga. Malah lebih menyebalkan dari pada kaum Jay Hwa-eat
(penjahat pemetik bunga). Kalau bukan disebabkan ayali angkatmu yang baru-baru ini ikut
bergabung dengan Lam Hay Bun, huh! Sekarang aku ingin menampar pipimu sampai
bengap!”
Kata-katanya itu bagai sebilah pisau yang tajam menikam hati Oey Ku Kiong, tetapi dia
menahan diri sebisanya dan menelan semua ucapan yang menyakitkan itu. Hanya
tubuhnya yang bergetar hebat dan perasaannya pedih sekali. Tetapi sejenak kemudian
kembali bibirnya tersenyum simpul. Perasaan hati seseorang memang demikian anehnya.
Apalagi cinta kasih antara pemuda dan pemudi, lebih sulit lagi diuraikan dengan tulisan
maupun kata-kata. Oey Ku Kiong bagai seekor kupu-kupu yang terjerat pada sarang labalaba.
Cinta kasihnya yang tulus dicurahkan pada diri Kiau Hun sehingga dia tidak sanggup
mengendalikan dirinya lagi. Semakin ketus sikap Kiau Hun kepadanya, hatinya semakin
mengkeret dan tidak berani membantah. Seorang laki-laki apabila jatuh cinta sampai
tahap seperti ini, sebetulnya patut dikasihani juga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, tiba-tiba terdengar suara tawa yang lantang dan panjang. Sumbernya
dari rumput ilalang yang tinggi. Sesosok bayangan berlari mendatangi bagai terbang.
Kemudian terdengar mulutnya berkata, “Nona Ceng harap jangan gusar. Apabila putraku
yang tidak berbakti itu berbuat kesalahan, bagaimana kalau lohu saja yang memintakan
maaf baginya?”
Setelah melihat jelas orang yang datang, Oey Ku Kiong segera menjatuhkan dirinya
berlutut di atas tanah. “Gi-hu.” panggilnya.
Oey Kang mengulapkan tangannya.
“Di hadapan Ceng Kouwnio tidak perlu kau bergaya lemah lembut seperti ini.
Bangunlah!”
Kiau Hun tersenyum simpul kepadanya.
“Kedatangan Oey Locianpwe di atas bukit Tok Liong-hong ini, pasti bukan tanpa sebab.
Mungkin Toa Tocu ada menitipkan pesan kepadamu?”
Oey Kang tertawa terbahak-bahak.
“Kecerdasan Ceng Kouwnio selalu dipuji oleh Toa Tocu. Tampaknya bukan hanya itu
saja, nalurimu juga jauh lebih tajam dari orang lain. Sekali lihat saja, semuanya dapat
diduga dengan tepat.”
Kiau Hun tertawa lebar mendengar pujiannya.
“Terima kasih, terima kasih. Entah apa pesan Toa Tocu kali ini?”
Oey Kang mengeluarkan sepucuk surat dari balik pakaiannya. Kemudian dari sakunya
dia mengambil sebuah botol sebesar jempol. Bentuknya seperti hiolo yang biasa
digunakan untuk mengisi arak.
“Keterangan selengkapnya ada di dalam surat. Yang penting kau mengikuti petunjuk
yang tertera di dalamnya saja. Apabila sudah berhasil nanti, Toa Tocu akan memberikan
hadiah besar untukmu!”
Kiau Hun mengulurkan tangannya menyambut surat dan botol tersebut. Tampaknya dia
tidak terlalu ambil hati karena dia sama sekali tidak meliriknya sekilaspun. Langsung saja
dimasukkannya ke dalam saku pakaian.
Oey Kang mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak.
“Oey Ku Kiong, kemarilah!” panggilnya.
Oey Ku Kiong segera mengiakan. Dia segera menghampiri ayah angkatnya itu. Oey
Kang mengulurkan tangannya menepuk-nepuk pundak putra angkatnya. Dengan nada
menghibur dia berkata, “Sejak kehilangan jejakmu di Pek Hun Ceng, ayah persis seperti
seekor anjing gila yang mencari ke mana-mana. Sementara itu ayah juga khawatir apabila
kau sampai dicelakai oleh orang atau dibunuh secara diam-diam. Hampir seluruh
perkampungan ayah kelilingi, setiap jengkal tanah ayah gali, tetapi tetap saja tidak
menemukan dirimu ataupun mayatmu. Ayah sama sekali tidak menyangka kalau kau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
demikian cerdik dan mempunyai pikiran yang luas sehingga bergabung lebih duluan
dengan pihak Lam Hay…”
Sepasang mata Oey Ku Kiong menatap wajah ayah angkatnya lekat-lekat. Tadinya dia
ingin mengatakan bahwa dia tidak memperdulikan segalanya karena jatuh cinta kepada
Kiau Hun. Itu pula sebabnya dia meninggalkan Pek Hun Ceng. Tetapi kata-katanya hanya
sampai di ujung bibir, akhirnya dia tidak sanggup juga mengucapkannya keluar.
Terdengar kembali suara tawa Oey Kang yang keras.
“Ceng Kouwnio merupakan selir kesayangan Toa Tocu, kau bisa mengikutinya ke manamana,
pasti merupakan suatu keberuntungan bagi dirimu. Lagipula sore nanti kita akan
menyerbu ke puncak bukit Tok Liong Hong ini, paling tidak kau harus memberikan
bantuan kepada Ceng Kouwnio dengan melihat-lihat situasi. Kesempatan yang bagus ini
harus kau pergunakan baik-baik. Jangan sampai membuat ayahmu ini kecewa.”
Seraya berkata, dia memberi salam kepada Kiau Hun kemudian membalikkan tubuhnya
meninggalkan tempat tersebut. Oleh karena itu, Kiau Hun dan Oey Ku Kiong pun kembali
ke ruang pertemuan di atas puncak bukit Tok Liong Hong.
Terdengarlah suara tawa yang keras dan dentingan cawan yang saling beradu. Suasana
di dalam ruang pertemuan itu bising sekali. Rupanya ketika Tan Ki berhasil merebut
kedudukan Bulim Bengcu, Liu Seng langsung menyatakan akan merayakannya saat itu
juga. Para hadirin minum arak dan makan hidangan yang disediakan dengan perasaan
gembira.
Begitu masuk, Kiau Hun melihat kesempatan untuk melaksanakan tugas dari Toa Tocu
sudah ada di depan mata. Tampak sepasang alisnya menjungkit ke atas dan menyiratkan
hawa pembunuhan yang tebal. Dia memberi isyarat kepada Oey Ku Kiong dengan
menganggukkan kepalanya. Kemudian berjalan menuju tempat duduk tamu-tamu wanita.
Di sekeliling meja yang paling depan saat itu duduk Ceng Lam Hong, Mei Ling, Liang Fu
Yong, Lok Ing serta dua orang gadis bercadar hitam. Semuanya berjumlah tujuh orang.
Tanpa sungkan lagi Kiau Hun langsung duduk di sebuah kursi yang masih kosong. Setelah
itu dia mengangkat cawan yang ada di hadapannya dan sekaligus meneguk sampai kering
arak yang terisi di dalamnya.
Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu sebagian besar merasa kagum juga
terhadap ilmu silat Kiau Hun yang tinggi. Melihat dia yang sudah pergi meninggalkan
tempat itu tahu-tahu balik kembali, tanpa dapat ditahan lagi kepala mereka semua
menoleh kepadanya dan ratusan pasang matapun terpusat pada dirinya. Tetapi Kiau Hun
justru seakan tidak melihat pandangan mata mereka, dia tidak melirik sekilaspun dan tetap
meneguk araknya dengan santai. Sikapnya yang membingungkan ini malah membuat
kaum wanita yang duduk di sekitarnya merasa tidak tentram.
Tan Ki yang duduk di bagian paling tinggi saat itu tiba-tiba bangkit berdiri. Kemudian
terdengar dia berkata dengan suara lantang.
“Saudara-saudara sekalian, mohon dengarkan perkataanku ini!”
Kata-kata ini diucapkan dengan mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya. Dengan
demikian suaranya menjadi lantang dan bergema ke seluruh tempat tersebut. Setiap patah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kata yang diucapkannya dapat terdengar dengan jelas dan suara bising yang memenuhi
tempat itu jadi tertutup oleh ucapannya. Dalam sekejap mata suara tawa terhenti dan
cawan-cawan arak diletakkan kembali ke atas meja masing-masing. Suasana jadi hening
seketika. Ratiisan pasang mata sekarang tertuju pada dirinya. Sikap mereka tampak serius
sekali seakan ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Tan Ki.
Terdengar lagi kumandang suara Tan Ki yang lantang.
“Aku mempunyai niat dalam hati yang sudah tersimpan cukup lama. Sekarang dengan
adanya kesempatan ini, ingin sekali kucetuskan agar dapat didengar oleh semuanya.
Tetapi entah saudara-saudara sekalian mempunyai kesabaran mendengarkannya atau
tidak?”
Terdengar sahutan dari orang-orang gagah yang berkumpul di tempat tersebut.
“Silahkan Bengcu katakan saja, kami sekalian bersedia mendengarkannya!”
Tan Ki menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Bagus! Kalau saudara-saudara sekalian demikian memandang tinggi diriku ini, maka
aku, Tan Ki akan mengatakannya terus terang!” matanya yang bersinar tajam menyapu ke
para hadirin yang berkumpul di tempat itu. Sesaat kemudian dia melanjutkan kembali
kata-katanya.
“Di dalam dunia Kangouw saat ini di mana-mana terjadi pembunuhan dan perampokan.
Sebelumnya tokoh-tokoh Bulim berpencaran di setiap daerah. Masing-masing menjagoi
wilayah sendiri-sendiri. Dengan demikian setiap orang bagai raja di wilayahnya dan banyak
yang bertindak semena-mena. Untung saja tidak sampai terjadi pertikaian besar-besaran.
Sekarang di puncak bukit Tok Liong Hong ini berkumpul para jago dari segala penjuru, dan
saat ini juga telah berhasil memilih seorang Bulim Bengcu. Sekarang setiap tokoh dari
manapun berdiri di bawah satu bendera yang sama. Yang perlu kita jaga adalah jangan
sampai terjadi perselisihan dan dapat bersatu menghadapi segala bencana…!”
Si pengemis sakti Cian Cong menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan
Tan Ki.
“Ucapan yang tepat sekali! Seandainya dunia Bulim dipimpin oleh seorang kepala yang
bijaksana, maka tidak akan terjadi keributan yang tidak diinginkan. Apabila tidak seperti
sekarang ini, seandainya terjadi pertikaian, tentu sulit diselesaikan dengan sempurna.”
Tan Ki tersenyum lembut.
“Selama ratusan tahun di dunia Bulim orang selalu menyelesaikan setiap peristiwa
dengan kekerasan. Budi dan dendam seakan tidak ada habis-habisnya. Apalagi kita yang
hidup sebagai orang-orang Kangouw, hal itu lebih menyolok lagi. Dengan demikian tanpa
terasa dunia Bulim kita terbagi menjadi dua golongan, yakni golongan lurus dan sesat.
Orang yang menggunakan ilmu kepandaiannya untuk melindungi rakyat kecil dan
membasmi kejahatan, serta memeras orang kaya yang lalim lalu dibagikan kepada kaum
fakir miskin, kita menyebutnya sebagai golongan lurus. Mereka selalu menganggap apa
yang mereka lakukan merupakan perbuatan yang mulia. Sedangkan golongan yang lain
adalah orang yang hidup dalam kekerasan, setiap perbuatan selalu diakhiri dengan
pertumpahan darah dan biasanya menguasai sebuah wilayah sebagai raja kecil. Mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahkan tidak segan-segan memperkosa ataupun merampok. Orang-orang ini disebut
sebagai golongan sesat atau golongan hitam. Hal ini merupakan ketentuan yang berlaku
bagi golongan lurus di dunia Bulim sejak ratusan tahun yang silam. Sebetulnya, perampok
pun mempunyai peraturannya sendiri. Asal apa yang dilakukan ada tujuannya, mengapa
tidak boleh dilakukan? Apakah yang tidak dilakukan manusia di dunia ini? Adakah manusia
yang tidak pernah berbuat dosa? Kebetulan aku, Tan Ki, mendapat perhatian serta kasih
sayang yang besar dari saudara-saudara sekalian sehingga mendapatkan jabatan Bulim
Bengcu hari ini. Aku merasa bahwa seseorang hidup di dunia ini, yang paling penting
harus berbuat segala macam hal dengan terang-terangan dan jangan menyimpang dari
kata hati sendiri. Dengan demikan hidup ini barulah ada gunanya dan tidak sia-sia. Demi
merubah pandangan orang-orang di dunia ini terhadap kehidupan tokoh-tokoh Kangouw
kita, demi mempertahankan kedudukan dunia Bulim kita yang telah berlangsung selama
ratusan tahun, hari ini Tan Ki ingin mempersatukan semua golongan di dunia ini untuk
menghadapi golongan pemberontak dari pihak Lam Hay serta Si Yu yang akan menyerbu
daerah kita. Setidak-tidaknya kita harus mempersiapkan diri dengan baik supaya jangan
sampai terjadi kekalahan di pihak kita. Oleh karena itu, meskipun aku Tan Ki bukan
manusia yang maha pintar, tetapi aku mencoba menentukan empat macam peraturan
yang harus ditaati semua kalangan…”
Untuk sesaat suasana menjadi hening mencekam. Beratus pasang mata terpusat pada
diri Tan Ki. Di seluruh tempat tersebut seakan ada terselip hawa ketegangan yang tidak
terkirakan. Selama hidupnya Tan Ki belum pernah menghadapi suasana seperti ini.
Otomatis hatinya jadi berdebar-debar.
Perlu diketahui bahwa sebagian besar orang-orang yang hadir di tempat tersebut
merupakan tokoh-tokoh yang mempunyai wilayah kekuasaan masing-masing. Dengan
demikian membunuh orang adalah pekerjaan mereka sehari-harinya. Mereka selalu
melakukan apa saja yang disenanginya. Selama ini belum pernah mereka diatur oleh
orang lain. Yang namanya hukum atau pengadilan boleh dibilang tidak dipandang sebelah
mata oleh mereka. Apabila secara tiba-tiba ada beberapa peraturan yang harus mereka
taati, mungkin hati mereka tidak dapat menerimanya dengan tulus. Bahkan bisa juga
terjadi perselisihan besar-besaran karena masalah ini. Mereka su-uah terbiasa berbuat
semaunya, apabila ada sedikit saja hal yang membuat mereka kurang senang, maka
pertemuan kali ini malah bisa berubah menjadi pertumpahan darah…
Tan Ki merenung beberapa saat. Dia berusaha memilih kata-kata yang tepat untuk
mencetuskan isi hatinya… sesaat kemudian terdengar dia tertawa keras-keras dan
melanjutkan ucapannya.
“Seandainya ada diantara kalian yang keberatan mengikuti peraturan tersebut,
sekarang masih ada waktu untuk mengundurkan diri. Sore nanti pihak Lam Hay sudah
akan menyerbu kita. Dengan demikian aku juga tidak berharap terjadinya pengorbanan
yang sia-sia!”
Beberapa kali berturut-turut dia mengajukan pertanyaan tersebut. Rupanya para hadirin
merasa takluk juga dengan kewibawaan yang diperlihatkannya. Oleh karena itu sampai
sekian lama tidak ada orang yang memprotes.
Wajah Tan Ki tampak serius sekali, sepasang matanya yang menyorotkan sinar yang
tajam. Dia mengedarkan pandangannya ke se keliling tempat tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Segala kejahatan di dunia ini perlu dibasmi. Cayhe merasa peraturan pertama yang
harus ditetapkan adalah tidak boleh menodai gadis keluarga baik-baik atau memperkosa
sampai terjadi jatuh korban jiwa. Sedangkan larangan membunuh orang yang tidak
berdosa dan berbuat tidak adil terhadap sesamanya merupakan peraturan yang kedua!”
Baru saja kata-kata ini diucapkan, ternyata ada reaksi dari para hadirin. Salah satu
orang di antara kerumunan tersebut segera berteriak dengan suara keras, “Apakah
peraturan Bengcu yang satu ini tidak terlalu keras? Kita merupakan orang-orang yang
sehari-harinya bergerak di dunia Kangouw. Kitapun mencari makan dari golok serta
pedang tajam. Kalau kita tidak membunuh lawan, mungkin diri kittalah yang akan
terbunuh secara mengenaskan.”
Belum lagi ucapannya selesai, sesosok bayangan langsung berkelebat datang dan
mengeluarkan suara tawa yang keras, “Maksud Bengcu, kita tidak boleh membunuh orang
yang tidak berdosa atau tidak sanggup memberikan perlawanan!” kata-katanya selesai,
orangnya pun mendarat di atas tanah, dia tidak bukan dan tidak lain dari Pendekar Baju
Putih, Oey Ku Kiong.
Tan Ki melihat orang itu hanya berjarak lima enam langkah dari dirinya, tetapi tiba-tiba
langkah kakinya berhenti. Meskipun hatinya mengandung kecurigaan, namun bibirnya
tetap mengembangkan seulas senyuman.
“Kedatangan Oey-heng sungguh kebetulan sekali. Silahkan duduk dan minum dulu
beberapa cawan arak.” katanya mempersilahkan.
Oey Ku Kiong juga memamerkan senyuman yang ramah. Dengan penuh hormat dia
membungkukkan tubuhnya. Kemudian mencari sebuah tempat yang kosong dan duduk di
sana.
Dengan wajah menyiratkan ketenangan, Tan Ki mengangkat cawan araknya. Setelah
itu dia berkata lagi dengan perlahan-lahan.
“Sebelum aku menentukan peraturan yang ketiga, ada beberapa patah kata lagi yang
ingin kusampaikan kepada saudara-saudara sekalian. Pertemuan di puncak bukit Tok Liong
Hong kali ini, khusus untuk melawan pihak Lam Hay dan Si Yu yang ingin berlaku semenamena
kepada pihak kita. Meskipun telah terpilih seorang Bulim Bengcu, tetapi kita tidak
mungkin tidak mempunyai sebutan. Dengan memberanikan diri, aku memberi nama
Perkumpulan Ikat Pinggang Merah kepada golongan kita ini. Setiap jago pedang tingkat
sembilan, harus mengenakan ikat pinggang merah setebal sembilan cun. Sedangkan
pendekar pedang tingkat delapan, memakai ikat pinggang merah setebal delapan cun dan
demikian seterusnya sampai tingkat kesatu. Dengan cara ini pula kita dapat menentukan
tingkatan masing-masing sekaligus merupakan tanda pengenal kita di hadapan orang
lain.” selesai berkata dia meneguk isi cawannya sampai kering.
Para hadirin langsung bertepuk tangan dengan gemuruh dan menyambut ucapan Tan
Ki dengan mengeringkan cawan masing-masing.
Si pengemis sakti Cian Cong terkenal sebagai setan arak. Cawan yang ada di tangannya
juga luar biasa besarnya dan jauh berbeda dengan orang-orang lainnya. Tampak dia
mendongakkan wajahnya dan meneguk isi cawannya sampai kering. Siapa nyana baru
saja arak tersebut masuk ke dalam perutnya, tampak kening orang itu langsung berkerut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Boleh dibilang Cian Cong adalah seorang peminum sejati. Selama puluhan tahun ini, di
sisinya selalu ditemani oleh sebuah hiolo arak.
Entah sudah berapa jenis arak yang pernah diisi dalam hiolonya itu. Terhadap keras
atau ringannya setiap jenis arak, boleh dibilang dia sudah hapal luar kepala. Saat ini,
begitu arak yang diminumnya masuk ke dalam perut, dia langsung merasa arak tersebut
keras sekali, malah ada sedikit keanehan yang mencurigakan.
BAGIAN XLIX
Tiba-tiba saja Cian Cong merasa ada yang tidak beres dalam arak itu. Tetapi melihat
Tan Ki sedang mengumumkan peraturan-peraturan yang harus ditetapkan oleh dirinya
sebagai seorang Bulim Bengcu yang baru terpilih, tentu saja dia merasa tidak enak
mengganggunya dengan kecurigaan yang tidak beralasan.
Apalagi para hadirin tampaknya sedang menyambut ucapannya dengan gembira.
Orangtua ini selalu melakukan segala hal dengan perhitungan yang matang. Oleh karena
itu, dia segera mengerahkan hawa murninya dan mendesak racun tersebut di ujung
tenggorokannya. Apabila Tan Ki sudah selesai bicaranya, baru dia mengemukakan
kecurigaannya itu.
Suasana di tempat itu terasa demikian hening dan mencekam. Wajah setiap orang
menyiratkan keseriusan yang tidak terkirakan. Mereka mendengar kelanjutan kata-kata
Tan Ki tentang peraturan yang ditentukannya.
“Meskipun cayhe sudah menentukan untuk memberi nama Perkumpulan Ikat Pinggang
Merah pada golongan kita ini, maka setiap anggota kita harus memakai sehelai ikat
pinggang berwarna merah sebagai tanda pengenal. Tetapi orang-orang kita sekarang ini
sudah tidak menghargai kepercayaan yang diberikan dan menganggap remeh sebuah
persahabatan. Dengan demikian, di antara satu orang teman dengan lainnya sering
menggunakan akal licik atau saling memanfaatkan. Mulut mengucapkan janji saja sering
diingkari tanpa merasa malu atau menyesal sedikitpun. Apabila bertemu dengan teman
lainnya yang dapat memberikan keuntungan lebih banyak, sering orang-orang dunia Bulim
kita mengkhianati persahabatan tanpa perduli apa yang akan terjadi dengan temannya itu,
yang akhirnya timbul perselisihan dan kemudian menjadi dendam. Oleh karena itu,
kepercayaan dan kesetiakawanan menjadi peraturan ketiga yang harus ditaati!”
Dia menghentikan kata-katanya sejenak, melihat tidak ada seorangpun yang
membantah, baru dia meneruskan kembali ucapannya.
“Di depan tadi telah kita tetapkan tiga buah peraturan. Satu, tidak boleh memperkosa
atau menodai gadis baik-baik. Kedua, tidak boleh membunuh orang yang tidak berdosa
ataupun tidak sanggup mengadakan perlawanan. Tiga, harus menghargai kepercayaan
seseorang dan tidak boleh mengkhianati persahabatan demi keuntungan diri sendiri.
Tetapi aku maklum bahwa dunia ini sangat luas. Negara kita saja mempunyai tiga belas
propinsi yang terbagi dari utara sampai selatan. Tempat yang begini luas tentu tidak
mudah untuk dipersatukan, apalagi takluk di bawah satu pimpinan. Seandainya ada satu
orang saja yang tidak mengikuti peraturan yang ditentukan, pasti yang lainnya akan
terpengaruh untuk melakukan hal yang sama. Apabila kita ingin menghindari
persengketaan yang sudah berlangsung di dunia Bulim selama ratusan tahun ini, maka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kita harus menghukum orang yang membangkang perintah dan ditentukan sebagai
peraturan keempat. Peraturan ini juga mencakup bahwa anggota kita tidak boleh
menghasut rekannya yang lain untuk berkhianat atau berpihak pada negara lain. Keempat
peraturan ini telah kupertimbangkan baik-baik sejak menjabat kedudukan sebagai Bulim
Bengcu, dengan harapan bahwa dapat disetujui oleh saudara-saudara sekalian. Tetapi
sebelum peraturan tersebut diresmikan, kalian, masih mempunyai kesempatan untuk
mempertimbangkannya. Tentu saja aku berharap tidak ada orang yang keberatan dan
bersedia bekerja sama dengan segenap kemampuan diri masing-masing!”
Tiba-tiba Oey Ku Kiong berdiri dari tempat duduknya.
“Dari keempat peraturan yang ditentukan oleh Bengcu, dapat diketahui bahwa beliau
mempunyai pengetahuan yang luas dan berpikir panjang demi dunia Bulim kita. Cayhe
adalah yang pertama-tama menyatakan kesetujuannya. Apabila saudara-saudara sekalian
juga mempunyai pikiran yang sama, mari kita minum arak ini sama-sama sebagai tanda
sepakat!” selesai berkata, dia mengangkat cawannya tinggi-tinggi lalu diedarkan ke
sekeliling kemudian meneguknya sampai kering.
Melihat gerak-geriknya yang sangat menghormati Bengcu mereka, para hadirin yang
lain segera mengangkat cawannya masing-masing dan meneguk arak di dalam cawan
sampai kering.
Cian Gong adalah manusia yang peka perasaannya dan pikirannya cerdas. Melihat Oey
Ku Kiong bertindak sebagai orang pertama yang mengajak orang lainnya meminum arak
sebagai tanda penghormatan, diam-diam dia sudah merasa aneh. Cepat-cepat dia
memalingkan wajahnya melihat ke arah Kiau H u r, sekilas. Tampak gadis itu mengangkat
cawannya ke atas tetapi untuk sekian lama dia tidak juga meneguk araknya, bahkan
bibirnya mengembangkan seulas senyuman licik. Pikirannya terus bergerak: ‘Kedua
manusia ini sangat licik. Tentunya mereka bersekongkol, tetapi entah apa yang mereka
rencanakan kali ini?’
Semakin dipikir, otaknya semakin ruwet. Dia tidak dapat menduga maksud hati Kiau
Hun dan Oey Ku Kiong. Tanpa dapat ditahan lagi sepasang matanya terus mengawasi
gerak-gerik kedua orang itu dengan seksama.
Kembali terdengar suara Tan Ki yang lantang.
“Apabila saudara-saudara sekalian tidak ada yang merasa keberatan, maka harap kalian
makan dan minum sepuasnya. Besok aku akan meresmikan peraturan yang telah kita
tentukan!”
Selesai berkata, kembali dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tampak orangorang
itu mengangkat cawannya masing-ma sing dengan wajah serius. Dia tahu bahwa
orang-orang ini sudah terbiasa hidup bebas tanpa kekangan orang lain. Seandainya dalam
sesaat ingin mereka mentaati berbagai peraturan, tentu bukan hal yang mudah. Sudah
pasti mereka ingin mempertimbangkannya baik-baik. Oleh karena itu, dia segera
mengembangkan seulas senyuman kemudian duduk kembali di atas kursinya.
Tan Ki baru saja berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu, dari luar tampangnya
memang tenang-tenang saja, tetapi sebetulnya dalam hati dia merasa tegang bukan main.
Seandainya keempat peraturan yang ditetapkan menimbulkan perasaan berontak dari
orang-orang ini, meskipun dia berhasil mendapatkan jabatannya ini dari menang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pertandingan, tetapi tetap saja sulit melawan demikian banyak orang yang memberontak.
Takutnya sebelum pihak Lam Hay dan Si Yu menyerbu nanti sore, di antara kalangan
sendiri telah terjadi bentrokan yang tidak kepalang besarnya.
Mengingat seriusnya masalah ini, hati Tan Ki semakin tertekan. Duduk salah berdiri pun
salah. Sepasang matanya menyorotkan kecemasan dan terus beredar ke para hadirin.
Diperhatikannya baik-baik reaksi yang mereka perlihatkan. Seandainya ada seseorang
yang memperlihatkan gerak-gerik mencurigakan, lebih baik ringkus dulu orang itu sebelum
dia berhasil menghasut yang lainnya.
Justru ketika hatinya masih merasa tegang menunggu reaksi dari para hadirin, tiba-tiba
telinganya menangkap suara jeritan yang menyayat hati. Begitu seramnya suara itu
sehingga membuat bulu kuduk jadi meremang.
Seiring dengan suara jeritan tersebut, tampaknya ada seseorang yang rubuh di atas
tanah. Boleh dibilang ketika suara itu baru sirap, dari timur barat dan utara kembali
terdengar suara jeritan lainnya yang serupa. Suara-suara itu bagai ratapan burung hantu
di malam hari. Dalam waktu yang bersamaan, tampak tujuh delapan orang bangkit dari
tempat duduknya dengan sepasang tangan menekan bagian perut. Mereka seperti sedang
menahan rasa sakit yang tidak terkirakan. Tetapi dalam sekejap mata, ketujuh delapan
orang itu rubuh di atas tanah dengan panca inderanya mengalirkan darah. Suara raungan
mereka semakin menggetarkan hati. Bahkan ada yang berguling-guling di atas tanah
sehingga meja serta bangku terbalik semua.
Meskipun Tan Ki mempunyai ketenangan yang luar biasa, namun menghadapi
perubahan yang tidak disangka-sangka ini, dia juga terkejut setengah mati sampai
wajahnya berubah hebat. Jantungnya berdebar-debar. Dalam keadaan yang menegangkan
ini tiba-tiba terjadi peristiwa yang demikian mengerikan, hal ini benar-benar membuat
mereka tercekat dan tidak sempat lagi memberikan pertolongan.
Tiba-tiba si pengemis sakti Cian Cong mengeluarkan suara tawa yang panjang. Dia
mendorong meja di hadapannya dan bangkit berdiri. Mulutnya terbuka dan segera terlihat
air arak memuncrat keluar bagai melesatnya sebatang anak panah. Arak beracun yang
sejak tadi ditahannya dalam tenggorokan sekarang dimuntahkannya. Kemudian terdengar
suara dengusan dari hidung Lok Hong, cawan araknya didekatkan ke bibir dan dia
mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya lalu ikut memuntarikan arak beracun yang baru
diminumnya tadi. Arak itu tertuang kembali ke dalam cawan.
Hal ini membuktikan bahwa tokoh tua yang menjabat sebagai pangcu Ti Ciang Pang ini
juga sudah tahu bahwa arak yang disediakan mengandung racun yang ganas. Sikapnya
dingin dan mimik wajahnya tidak enak dilihat. Hawa amarah dalam dadanya sudah
meluap-luap.
Tampak beberapa sosok bayangan berkelebat, secara berturut-turut beberapa orang
melayang keluar. Yibun Siu San, Cian Cong dan tokoh sakti Bu Tong Pai, Tian Bu Cu
menghambur ke arah orang-orang yang terserang racun. Pengetahuan ketiga tokoh ini
luas sekali. Pengalaman pun sudah banyak. Niat mereka sekarang sama, yakni ingin
melihat dengan jelas keadaan para korban. Ternyata orang-orang itu tidak sempat
mengerahkan hawa murninya untuk menunda beredarnya racun dalam tubuh dan mati
dalam sekejap mata. Racun apa sebetulnya yang dimasukkan dalam arak tersebut
sehingga daya kerjanya begitu keji?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terdengar suara gabrukan yang membisingkan pendengaran. Meja dan kursi terbalik di
sana-sini. Kembali beberapa orang rubuh di atas tanah. Begitu diperhatikan ternyata
semuanya mati dengan keadaan mengerikan. Darah terus mengalir dari ketujuh panca
indera mereka. Suasana di dalam arena tersebut menjadi demikian menyeramkan karena
banyaknya mayat yang bergelimpangan. Tampak Mei Ling, Liang Fu Yong dan kedua gadis
bercadar hitam segera menghambur ke dekat Tan Ki dan menanyakan apa yang
sebenarnya telah terjadi.
Meskipun warna pakaian yang dikenakan keempat orang perempuan itu berlainan
warnanya, tetapi sorot mata mereka semuanya mengandung perhatian yang sama
besarnya.
Tan Ki menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.
“Aku tidak apa-apa.” hatinya maklum bahwa kedua gadis becadar hitam itu adalah dua
kakak beradik, Cin Ying serta Cin Ie. Guna menghindari sorotan mata Kiau Hun yang
bertugas menjadi mata-mata, mereka sengaja menggunakan cadar hitam untuk menutupi
Wajah. Keadaan di depan mata demikian mengkhawatirkan, oleh karena itu Tan Ki tidak
ingin banyak bicara. Dia hanya mengucapkan kata-kata yang pendek itu saja.
Liang Fu Yong menarik nafas panjang dengan wajah sendu.
“Setegukan arak saja dapat menghancurkan jantung orang dan melumatkan usus. Kau
baru saja terpilih sebagai Bulim Bengcu, tanggung jawabmu berat sekali. Kau sama sekali
tidak boleh bertindak ceroboh sehingga menimbulkan bencana di kemudian hari. Meskipun
kau masih bisa bicara dengan santai, tetapi aku tetap mencemaskan dirimu. Ada baiknya
kau coba kerahkan hawa murni dalam tubuhmu dan lihat apakah merasakan sesuatu
kelainan…”
Tan Ki langsung menukas ucapannya dengan tersenyum.
“Arak ini hanya kutempelkan di ujung bibir sebagai syarat dan penghormatan bagi
tokoh-tokoh lainnya saja. Aku belum benar-benar meminumnya. Tetapi atas perhatian cici
yang besar, tetap saja aku merasa berterima kasih sekali.” selesai berkata dia
membalikkan tubuhnya dan berjalan ke sebelah kiri.
Tampak si pengemis cilik dan rekan-rekannya yang lain sedang mengerutkan sepasang
alis mereka dengan ketat. Gigi mereka diker-takkan erat-erat seakan sedang menahan
rasa sakit yang tidak terkirakan. Wajah mereka juga menyiratkan penderitaan yang dalam.
Tiba-tiba saja Tan Ki teringat beberapa hari yang lalu, kelima orang itu berlari ke sana ke
mari demi dirinya tanpa mengenal rasa lelah sedi-kitpun. Namun mereka tidak
menginginkan apapun, kecuali rasa persahabatan yang telah mereka bina selama ini.
Mereka membela dirinya tanpa memperdulikan situasi yang bagaimana gawatnya
sekalipun. Persahabatan yang dalam ini membuat Tan Ki terharu. Sekarang melihat
keadaan mereka yang demikian mengenaskan, seperti mengalami penderitaan yang tidak
terkirakan, hatinya menjadi pedih karena tidak sanggup mengulurkan tangan memberi
bantuan. Air mata tampak membasahi pelupuk matanya dan hampir saja menetes turun.
Tiba-tiba terdengar bentakan seseorang dari belakang punggungnya. “Berhenti!”
Suara itu bagai geledek yang menggelegar. Tan Ki yang mendengarnya sampai
tercekat. Tanpa terasa dia menghentikan langkah kakinya. Begitu kepalanya ditolehkan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia melihat Lok Hong sedang menatapnya dengan mata mendelik lebar-lebar. Sikap Lok
Hong itu membuat perasaan Tan Ki tergetar. Diam-diam dia mengerahkan hawa murni
dalam tubuhnya dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan, namun bibirnya tetap
mengembangkan seulas senyuman.
“Entah apa maksud Locianpwe memanggil cayhe?”
“Apakah pesta ini diurus oleh dirimu sendiri?” tanya Lok Hong.
“Yibun Sam-siok yang mempersiapkannya…” tiba-tiba saja kata-katanya terhenti. Dalam
benaknya terlihat suatu masalah yang rumit. Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alisnya
berkerut. Setelah sesaat dia baru bertanya, “Apakah Locianpwe mencurigai diri cayhe?”
Lok Hong tertawa dingin.
“Walaupun kau tidak melakukan hal ini, tetapi tetap saja sulit bagimu untuk
melepaskan diri dari tanggung jawab!”
Sepasang mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam menusuk. Tetapi sesaat
kemudian pulih kembali seperti biasanya. Bibirnya malah mengembangkan seulas
senyuman.
“Harap Locianpwe jangan memandang segala hal dari sudut mata orang yang jiwanya
rendah. Apabila cayhe memang berniat mencelakai orang, rasanya juga tidak perlu begitu
menyolok. Lagipula…” tadinya dia ingin mengatakan secara terus terang bahwa dirinya
pernah menggemparkan dunia Kangouw dengan nama Cian Bin Mo-ong, tetapi tiba-tiba
saja suatu ingatan melintas dalam benaknya. Tidak sepatutnya dia menceritakan hal
tersebut dalam keadaan seperti ini. Cepat-cepat dia menghentikan kata-katanya dan
membungkam.
Tampaknya kemarahan Lok Hong jadi terbangkit mendengar ucapannya. Dia langsung
memperdengarkan suara tawa terbahak-bahak. Nada suaranya bagai singa yang sedang
meraung, memekakkan telinga orang-orang yang mendengarnya.
Keadaan di tempat itu menjadi kacau balau. Para hadirin merasa cemas. Kecuali para
tamu wanita yang tidak minum arak, beserta beberapa orang lagi yang tenaga dalamnya
cukup tinggi, boleh dibilang hampir sebagian besarnya keracunan. Suasananya menjadi
tegang dan menyeramkan… namun di balik ketegangan serta keseraman pemandangan
yang terlihat di tempat tersebut, terselip rasa pilu dan mengenaskan melihat banyaknya
mayat-mayat yang mati secara mengerikan.
Walaupun orang-orang gagah yang hadir di tempat tersebut sadar bahwa dirinya
keracunan, tetapi melihat Tan Ki dan Lok Hong mulai bersitegang, mereka segera dapat
merasakan bahwa ada segelombang badai yang dahsyat akan melanda. Beratus pasang
mata serentak beralih pada diri kedua orang itu.
Sudah pasti Tan Ki maklum bahwa termangu-mangu terus juga tidak dapat
menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Biar bagaimana dia merupakan seorang
pemuda yang cerdas serta banyak akalnya. Setelah merenung sejenak, dia merasa bahwa
perdebatan dengan Lok Hong hanya menambah masalah yang sudah ada. Oleh karena itu,
dia langsung tersenyum simpul dan berkata dengan nada lembut…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Biarpun Cayhe mengerti bahwa telah terjadi kesalahpahaman dalam hati Locianpwe,
tetapi untuk sesaat juga tidak dapat dijelaskan. Lebih baik biarkan Boanpwe mencari jalan
agar dapat menemukan orang yang menyebarkan racun tersebut, bagaimana?”
Kata-kata ini diucapkan dengan nada wajar. Tidak sombong juga tidak merendahkan
derajatnya sendiri. Mendengar kata-katanya, Lok Hong jadi termangu-mangu untuk sekian
lama. Biar bagaimana dia merupakan seorang tokoh tua yang sudah mempunyai nama
besar. Tentu tidak enak baginya apabila terlalu mendesak tanpa bukti yang konkret.
Tiba-tiba terdengar desiran angin yang disebabkan oleh kibaran pakaian seseorang.
Kiau Hun bagai sekuntum bunga tho di bawah cahaya matahari berdiri di antara kedua
orang itu. Bibirnya mengembangkan senyuman.
“Berapa usia Locianpwe tahun ini?” tiba-tiba saja dia mengajukan pertanyaan kepada
Lok Hong.
Suaranya begitu merdu dan lembut sehingga membuat orang yang mendengarnya
merasa tidak enak hati apabila tidak memberikan jawaban. Demikian pula Lok Hong, dia
terpaksa menyahut pertanyaan gadis itu.
“Tahun ini Lohu berusia tujuh puluh enam tahun. Entah apa maksud nona menanyakan
hal ini?”
Kiau Hun tersenyum manis.
“Itulah, kalau usia Locianpwe sudah sedemikian tinggi, pengetahuan maupun
pengalaman pasti sudah luas sekali. Tetapi setelah bertemu sekarang, ternyata Locianpwe
masih kalah pintar dengan seorang gadis muda seperti diriku.”
Mendengar sindirannya, wajah Lok Hong langsung berubah. Perlahan-lahan dia
mendengus kemudian bertanya, “Hal apa yang membuat kepintaran nona melebihi lohu,
coba kaujelaskan secara terang-terangan!”
Kembali Kiau Hun memamerkan seulas senyuman. Dia menolehkan kepalanya
memandang Tan Ki yang berdiri di sampingnya dengan mata melotot serta sepasang alis
berkerut-kerut. Kemudian dia berkata dengan, tenang.
“Apabila Locianpwe seorang yang cerdas, tentu bisa mengetahui kata-kata yang
diucapkannya tadi rada kurang beres. Seandainya dia benar-benar ingin menyelidiki
masalah ini, entah darimana dia harus memulainya? Lagipula dia tidak memberikan batas
waktu yang tepat untuk membuktikan kata-katanya. Dengan demikian dia bisa mengulur
waktu sesuka hatinya sendiri. Apabila Locianpwe ingin mengetahui kejadian yang
sebenarnya, mungkin harus menunggu sampai tubuh membungkuk dan rambut menjadi
putih semua juga belum tentu ada hasilnya. Hal ini membuktikan bahwa dia sengaja
mempermainkan dirimu karena menganggap kau tidak tahu apa-apa. Bila orang lain dapat
dikelabuinya begitu saja, maka tidak begitu mudah kalau sasarannya diriku.”
Perlahan-lahan Lok Hong menepuk batok kepalanya sendiri.
“Betul juga apa yang kau katakan!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Mumpung orangnya masih ada di depan mata, mengapa Locianpwe tidak
menanyakannya sampai jelas sekarang juga?”
Lok Hong mendongakkan wajahnya kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Apa lagi yang perlu ditanyakan?” sebelah telapak tangannya terulur ke depan dan
langsung dihantamkan ke dada Tan Ki.
Tadinya Tan Ki bermaksud mengecilkan masalah sehingga tidak bertambah ruwet,
sehingga dia sengaja mengalah. Tiba-tiba Lok Hong melancarkan sebuah serangan yang
mengandung tenaga dahsyat serta menimbulkan suara angin yang menderu-dem, dia
segera sadar bahwa paling tidak orangtua itu menggunakan delapan bagian kekuatannya.
Oleh karena itu kegagahannya jadi terbangkit, dia segera mengeluarkan suara bentakan
yang lantang, tubuhnya memutar setengah lingkaran kemudian membalas sebuah pukulan
ke depan.
Serangannya begitu kokoh bagai gunung yang menjulang tinggi, dengan gerakan
laksana ombak yang bergulung-gulung menyapu ke arah Lok Hong. Terdengar orangtua
itu mengeluarkan suara tawa yang dingin.
“Bocah kemarin sore berani-beraninya memamerkan sedikit kepandaian yang tidak
berarti. Jangan kira baru mendapatkan jabatan Bulim Bengcu saja, aku akan mengkeret
menghadapimu!”
Sembari berkata, dalam waktu singkat dia melancarkan dua belas pukulan. Setiap jurus
yang dikerahkannya mengandung kekejian yang tidak terkirakan. Semuanya ditujukan ke
urat darah di tubuh Tan Ki yang penting.
Tan Ki baru saja menjabat sebagai Bulim Bengcu, mana mungkin dia sudi
memperlihatkan kelemahannya di hadapan orang banyak. Meskipun ilmu kepandaiannya
didapatkan dari hasil curian dalam goa makam para leluhur Ti Ciang Pang, tetapi dia sudah
menggabungkannya dengan ilmu yang diajarkan oleh Yi-bun Siu San dan mendapat
pengarahan pula dari si pengemis sakti Cian Cong. Dengan demikian kepandaiannya
sekarang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya.
Begitu dia mengerahkan ilmunya, tidak ada sejuruspun yang dimainkan sampai habis.
Hal ini dapat membingungkan lawannya karena dalam setiap jurus yang dijalankan,
kadang-kadang dia melancarkan pukulan kemudian tiba-tiba bisa berubah menjadi
totokan. Angin yang kencang terpancar dari serangannya sehingga bebatuan serta
rerumputan terpental dan melambai-lambai.
Pertarungan di antara mereka berlangsung sengit sekali. Yang satu adalah ketua Ti
Ciang Pang yang menguasai wilayah Sai Pak, sedangkan yang satunya merupakan
pendekar muda yang baru berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu. Meskipun baru kali
ini mereka benar-benar bergebrak, tetapi serangan yang dilancarkan menggunakan
kecepatan yang tidak terkirakan. Masing-masing pihak berusaha mendahului lawannya
mendapatkan peluang untuk menyerang terlebih dahulu. Dalam sepuluh jurus kemudian,
tampak bayangan pukulan berkibar-kibar, angin yang terpancar bagai auman seekor
harimau. Bayangan tubuh keduanya sulit lagi dibedakan. Apabila diperhatikan sepintas
lalu, gerakan tangan mereka bagai berubah menjadi ratusan pasang yang saling melilit
kemudian memencar kembali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ilmu silat Tan Ki merupakan hasil curian, sebelum bertarung saja hatinya sudah
berdebar-debar. Kadang kala dia sampai kalang kabut diserang oleh Lok Hong. Keadaan
dirinya sempat terperangkap dalam bahaya beberapa kali. Tetapi setelah lewat beberapa
jurus, dia melihat bahwa tenaga dalam Lok Hong tidak lebih tinggi dari dirinya sendiri.
Dengan demikian nyalinya jadi besar dan tiba-tiba dia membentak dengan suara keras.
Serangannya berubah menjadi gencar, secara berturut-turut dia membalas serangan Lok
Hong dengan empat lima jurus. Begitu hebatnya serangan Tan Ki sampai Lok Hong mulai
terdesak dan mencelat ke belakang sejauh tiga langkah. Lama kelamaan dia malah berada
di posisi yang semakin gawat.
Sekarang ini, Tan Ki mulai merasa bahwa ketakutannya terhadap Lok Hong di masa
yang silam benar-benar merupakan hal yang menggelikan. Dia sama sekali tidak sadar
bahwa Lok Hong bisa menjadi ketua sebuah perguruan dan menguasai wilayah Sai Pak
sekian lama, tentu bukan hal yang mudah. Tentu saja dia mempunyai ilmu yang sangat
tinggi. Hanya saja dia jarang berkecimpung di dunia Kangouw sehingga pengalaman
bertarungnya tidak cukup banyak. Lagipula sejak semula Tan Ki sudah merasa gentar
karena merasa ilmu yang dimilikinya berasal dari perguruan orangtua tersebut. Dengan
demikian jurus apapun yang dikerahkannya, tentu Lok Hong sudah paham sekali serta
tahu bagaimana menangkisnya. Oleh karena itu, sebelum bertarung saja hatinya sudah
gentar terlebih dahulu. Dalam keadaan gugup, otomatis ilmu seseorang tidak dapat
dikerahkan dengan lancar. Untung saja dia berhasil mendapat didikan dari Yibun Siu San
dan Cian Cong sehingga tenaga dalamnya jauh lebih kuat dan pikirannya juga jauh lebih
peka.
Melihat hasutannya membuahkan hasil, sudah barang tentu hati Kiau Hun gembira
bukan kepalang. Tetapi setelah memperhatikan sejenak, dia dapat melihat bahwa
meskipun tenaga dalam Lok Hong cukup hebat, namun apabila ingin melukai Tan Ki dalam
waktu yang singkat, bukan hal yang mudah. Matanya mengerling ke sana ke mari sejenak,
kemudian dia berteriak dengan nada lantang, “Lok Locianpwe, bagaimana kalau aku
membantumu?”
Sebetulnya dia tidak perlu mengucapkan kata-kata itu, karena pembicaraannya belum
selesai, tubuhnya sudah melesat ke depan tanpa rnemperdulikan Lok Hong akan setuju
atau tidak dengan tindakannya itu. Tampak cahaya hijau berkilauan, dia meluncurkan
serangannya ke arah telapak tangan Tan Ki yang sedang melesat datang.
Baru saja serangannya dilancarkan, tampak bayangan berkelebat, tahu-tahu Tan Ki
sudah mencelat mundur sejauh lima langkah.
Rupanya dia sadar bahwa pedang pendek di tangan Kiau Hun tajamnya bukan main.
Oleh karena itu dia tidak berani menyambut dengan kekerasan. Terpaksa dia
mengerahkan salah satu jurus dari ilmu Te Sa Jit-sut yang paling hebat dan menghindar
dari serangan Lok Hong. Dalam waktu yang bersamaan tubuhnya mencelat ke belakang,
tetapi sekonyong-konyong telinganya mendengar desiran angin yang menyapu lewat di
depan dadanya. Hatinya langsung tergetar. Melihat serangan Kiau Hun yang begitu keji,
dia segera sadar bahwa perempuan itu memang benar-benar ingin menghabisi nyawanya.
Hatinya tergerak, sepasang matanya langsung mendelik lebar-lebar.
“Kiau Hun, tindakanmu ini…!” dia tidak sanggup meneruskan kata-katanya, hatinya
terasa pilu dan gusar. Tubuhnya gemetar dan wajahnya merah padam. Tiba-tiba
terdengar lagi suara serangkum angin yang menerpa ke arahnya. Tan Ki tidak sempat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berpikir panjang lagi. Dia segera mengulurkan tangannya dan menyambut datangnya
serangan Lok Hong.
Kedua gulung tenaga yang dahsyat saling berbenturan, suaranya menggetarkan hati,
namun tampak kaki keduanya agak limbung dan tubuh merekapun sempoyongan. Untuk
beberapa saat mereka tidak sanggup berdiri dengan tegak.
Kiau Hun mendekat ke sampingnya dan berkata dengan suara yang lirih.
“Apabila dua negara berkecimpung, masing-masing berpihak pada rajanya sendirisendiri.
Tentu kau tidak dapat menyalahkan diriku bukan?”
Di saat berbicara, keduanya sudah saling melancarkan enam jurus serangan. Tampak
sinar berwarna hijau yang timbul dari pedang pendek Kiau Hun menyilaukan pandangan
mata. Begitu beradu selalu memencar kembali. Tidak ada sejuruspun yang tidak
mengandung kekejian. Orang-orang yang menyaksir kan jalannya pertarungan itu merasa
jantung-ihya berdebar-debar dan bahkan ada yang sampai menahan nafas.
Tan Ki merasa serangan yang dilancarkan gadis itu demikian gencarnya. Tiba-tiba dia
melihat Lok Hong maju selangkah ke depan dan ikut mengirimkan sebuah pukulan. Tan Ki
sadar bahwa serangan pukulan Lok Hong itu membawa serangkum angin yang tajam
sehingga belum tentu sanggup ditangkisnya. Tentu saja Tan Ki tidak mau mati konyol
begitu saja dengan mencoba-coba, terpaksa tubuhnya mencelat ke belakang dan
menghindarkan diri sejauh satu depa lebih.
Baru saja kakinya mendarat di atas tanah, Kiau Hun sudah menerjang datang lagi ke
arahnya, tampak cahaya hijau berkilauan dan menghunjam dari atas kepala ke bawah.
Entah siapa orangnya, justru pada saat itu ada yang menimpukkan tiga batang senjata
rahasia berwarna putih dan bersinar terang. Kecepatannya pun jangan ditanyakan lagi,
sasarannya adalah salah satu urat mematikan di tubuh Tan Ki. Gerakan ketiga batang
senjata rahasia itu begitu cepat, seakan mengimbangi serangan Kiau Hun yang dahsyat.
Baik saat maupun tenaga yang terkandung di dalamnya berpadu dengan kompak.
Mendapat serangan dari depan belakang, untuk sesaat Tan Ki merasa tidak sanggup
menahannya. Cahaya berwarna hijau melesat dari depan, sedang ketiga batang senjata
rahasia justru ditujukan ke bagian kanan, kiri dan tengah. Biar dia mengelak ke manapun,
tetap saja dirinya menjadi sasaran empuk. Tetapi karena keadaan sudah demikian
mendesak, Tan Ki terpaksa menempuh bahaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Sepasang tangannya merentang dan tubuhnya mencelat ke udara. Mula-mula dia
menghindar dari serangan bagian belakang tubuhnya.
Sebetulnya dia maklum bahwa dengan mencelat ke udara seperti itu, bagian tubuhnya
malah terbuka semua, seakan memberi peluang bagi musuh. Meskipun jurus yang
digunakannya saat itu merupakan salah satu jurus terhebat dari Tian Si Sam-sut, tetapi
dengan tangan kosong menyambut pedang pendek di tangan Kiau Hun adalah hal yang
gila bukan main. Oleh karena itu di tengah udara tiba-tiba ia merubah jurus serangannya
sehingga timbul banyangan pukulan yang tidak terkirakan banyaknya. Hal ini membuat
pandangan mata Kiau Hun jadi berkunang-kunang dan kebingungan. Di hadapannya tibatiba
saja seperti ada delapan sembilan Tan Ki yang menukik ke bawah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tadinya Tan Ki bermaksud memencarkan perhatian Kiau Hun sehingga lengan. Siapa
tahu tangan kanan gadis itu menggenggam pedangnya erat sedangkan jari tangan kirinya
menuding ke atas. Saat itu dia sedang menatap tubuh Tan Ki yang meluncur turun tanpa
mengedipkan matanya sekalipun. Sikapnya itu seakan tidak mengandung keistimewaan
sama sekali, tetapi sebetulnya merupakan gerakan seorang ahli pedang yang
menggunakan cara tingkat tinggi dalam menghadapi musuh.
Ketika pukulan kedua pihak hampir saling beradu, tiba-tiba Kiau Hun mengeluarkan
suara bentakan keras. Telapak tangan kirinya menghantam ke depan, dia mementalkan
kembali sebatang senjata rahasia yang dikibas Tan Ki yang kemudian malah meluncur ke
arah dirinya sendiri. Tampak pedangnya bergerak dan menimbulkan cahaya seperti
pelangi. Kebetulan tubuh Tan Ki sedang melesat ke arahnya dan dia menyerang bagian
pundak anak muda itu.
Gerakannya ini dari lambat tiba-tiba berubah menjadi cepat, persis seperti cahaya kilat
yang melintas. Begitu cepatnya sehingga orang-orang sulit melihat jurus apa yang
dikerahkannya. Mata mereka menjadi silau karena cahaya berkelebat.
Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga berturut-turut sebanyak beberapa
kali. Kemudian disusul dengan suara siulan yang panjang serta gerungan dalam waktu
yang bersamaan. Di tengah udara tubuh kedua orang itu bagai dua buah layangan yang
putus kemudian melayang turun di atas tanah satu per satu.
Begitu pandangan mata dialihkan, tampak pinggang kiri Tan Ki telah terkena goresan
pedang. Lukanya sepanjang tiga cun dan terus mengalirkan darah. Kiau Hun malah seperti
orang yang minum arak kebanyakan. Kakinya goyah kemudian terhuyung-huyung mundur
sejauh tiga empat langkah. Ternyata lengan kanannya terkena pukulan Tan Ki sehingga
pedang pendeknya terjatuh di atas tanah. Dia memegangi lengannya sambil mundur.
Tampaknya sampai saat ini dia baru sadar sampai di mana tingginya ilmu kepandaian Tan
Ki, matanya menatap Tan Ki lekat-lekat dengan wajah termangu-mangu. Untuk sekian
lama dia tidak mengucapkan sepatah katapun.
Kedua orang itu bergebrak di tengah udara dan boleh dibilang dalam waktu yang
singkat sama-sama terluka. Jurus serangan yang dilancarkan begitu cepat sehingga sulit
diikuti dengan pandangan mata. Dalam sekali bentrokan saja terselip bahaya yang
mengintai, orang-orang yang melihatnya diam-diam jadi memuji kepandaian kedua orang
itu.
Baru saja kaki Tan Ki mendarat di atas tanah dan bermaksud mengerahkan hawa
murninya agar darah yang mengalir dapat segera dihentikan, sekonyong-konyong dia
melihat Lok Hong menerjang ke arahnya dengan kecepatan yang tidak terkirakan. Telapak
tangannya terulur ke depan mengirimkan sebuah pukulan.
Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas. Tiba-tiba ingatannya melintas di
masa lalu ketika berkali-kali dirinya menerima hinaan dari Lok Hong. Entah berapa kali
pipinya ditempeleng oleh orang ini. Sekarang bukan saja sikapnya tidak berubah, tetapi
masih keras kepala seperti sediakala. Dia seakan ingin mendesak Tan Ki terus menerus.
Otomatis jiwa mudanya jadi tergugah dan rasa tidak ingin kalah ikut terbangkit. Tadinya
dia masih berharap Yibun Siu San, Cian Cong, Tian Bu Cu atau yang lainnya akan
menengahi masalah ini, tetapi sekarang dia tahu harapannya tidak mungkin terkabul.
Diam-diam dia berpikir dalam hati: ‘Kalau aku tidak menggunakan ilmuku yang sejati
untuk melawanmu, mungkin sampai tiga ratusan jurus, kau juga belum mau berhenti!’
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pikirannya tergerak, kegagahannya timbul. Sepasang lengannya satu per satu menjulur
ke depan dan mengirimkan serangan dengan gencar.
Gerakannya ini sungguh jarang terlihat di dunia Kangouw. Sepasang tangannya bukan
menghantam ke depan sekaligus, tetapi melancarkan serangan satu per satu. Tenaga
yang terkandung di dalamnya juga berbeda dan arahnya pun berlainan. Persis seperti dua
orang yang berilmu serupa dan melancarkan serangan dalam waktu yang bersamaan.
“Ilmu yang digunakan budak ini sungguh aneh, yang pasti bukan ilmu dari perguruan
lohu.” kata Lok Hong seperti kepada dirinya sendiri.
Lengan kanannya mengibas dan dengan jurus Lengan Baju Menyapu ke Wajah, dia
menyambut datangnya serangan Tan Ki.
Terdengar suara benturan yang memekakan telinga. Tiba-tiba Tan Ki mencelat munt
dur ke belakang sejauh lima langkah. Ternyata tenaga dalam Lok Hong begitu kuat. Ketika
beradu, Tan Ki langsung merasa tidak mudah menyambut pukulan lawannya dengan
kekerasan.
Lok Hong langsung tertawa dingin. Tubuhnya kembali mendesak ke depan, dengan
posisi tangan menahan di depan dada, dia melancarkan sebuah pukulan. Pertarungan
kedua orang itu baru berlangsung beberapa jurus, tetapi orang-orang yang melihatnya
dapat merasakan bahwa duel di antara mereka demikian sengit dan membahayakan.
Setiap serangan yang dilancarkan seperti ingin merenggut jiwa masing-masing lawan.
Pengetahuan Lok Hong sangat luas, dia tahu tenaga dalamnya lebih tinggi sedikit dari
pada Tan Ki. Justru jurus serangannya yang tidak dapat menandingi keanehan jurus-jurus
yang dikerahkan oleh Tan Ki. Lama kelamaan ada kemungkinan bahwa dia yang akan
terdesak oleh ilmu anak muda itu yang ajaib. Sejak semula hatinya sudah berniat untuk
menyelesaikan pertarungan secepatnya, kemudian meringkusnya untuk menanyakan dari
mana asalnya racun yang ada di dalam arak. Sekaligus dia juga ingin memamerkan
kehebatan ilmu Ti Ciang Pang agar orang-orang yang hadir di tempat itu merasa kagum.
Meskipun orangtua ini tidak berminat merebut kedudukan Bulim Bengcu, tetapi dia ingin
nama Ti Ciang Pang yang sudah terkenal sejak ratusan tahun yang lalu dapat
dipertahankan. Oleh karena itu pula, serangannya makin lama makin cepat, tenaga dalam
yang dipancarkan semakin lama semakin kuat, dia sengaja menambah, kelebihannya dan
menutupi kekurangannya. Dengan tenaga dalam yang lebih kuat dia berusaha mendesak
Tan Ki menyambut serangannya dengan keras.
Serangan yang cepatnya tidak terkirakan ini membuat Tan Ki tidak mempunyai waktu
lagi untuk menghindar. Terpaksa dia menggertakkan giginya erat-erat dan mengerahkan
seluruh tenaga dalamnya guna menyambut serangan Lok Hong dengan keras.
Dua rangkum tenaga dalam yang kuat saling beradu, timbullah gelombang angin yang
kencang. Kedua orang itu tergetar hebat sehingga pakaian yang mereka kenakan berkibarkibar
laksana air yang bergejolak.
Begitu beradu tenaga dalam dengan kekerasan, Tan Ki langsung merasa hawa murni di
dalam tubuhnya membuyar cukup banyak, tampak dadanya naik turun dan nafasnya
tersengal-sengal. Keringat mengucur dari keningnya bagai curahan air hujan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lok Hong memperdengarkan suara tawa yang dingin.
“Bagaimana kalau kau sambut lagi sebuah pukulan lohu ini?” terdengar suara angin
menderu dan rupanya orangtua itu benar-benar melancarkan sebuah pukulan lagi ke
depan.
Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat. Sepasang tangannya pun dihantamkan ke
depan. Meskipun dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang mengenaskan baik pada dirinya
sendiri atau pada diri Lok Hong, tetapi karena orangtua itu terus-terusan mendesaknya
sedemikian rupa, kesabarannya juga mulai habis. Begitu sepasang tangannya
menghantam keluar, secara diam-diam dia telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya
dan bersiap mengadu jiwa dengan Lok Hong.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari mulut seorang gadis, “Jangan berkelahi lagi!”
tubuhnya melesat dan ternyata dengan berani dia menerobos di antara kedua orang itu.
Tenaga dalam Lok Hong sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Pukulannya dapat
dilancarkan dan ditarik kembali sesuka hatinya. Melihat cucu kesayangannya secara
mendadak menghadang di depan mereka berdua dan mencegah mereka bertarung lebih
lanjut, hatinya tercekat bukan kepalang. Cepat-cepat dia menarik kembali tenaga dalam
yang terpancar pada telapak tangannya dan dengan susah payah mencelat mundur satu
langkah. Tetapi pukulan yang dilancarkan oleh Tan Ki justru digerakkan dalam keadaan
marah. Walaupun dia melihat dengan jelas Lok Ing menerobos datang dan menghadang di
hadapan mereka, tetapi untuk sesaat dia tidak sanggup menarik kembali serangannya.
Hatinya masih merasa terkejut setengah mati dan belum sempat memikirkan bagaimana
caranya mengatasi hal tersebut, telinganya sudah mendengar suara jeritan yang menyayat
hati. Rupanya pukulan yang ia lancarkan telah menghantam telak tubuh Lok Ing sehingga
gadis itu terpental melayang di udara sejauh tujuh delapan langkah.
Kali ini rasa terkejut di dalam hati Tan Ki jangan ditanyakan lagi! Dia seakan merasa
dadanya ditinju dengan keras oleh seseorang, tubuhnya bergetar hebat dan sekonyongkonyong
dia seperti orang yang kehilangan kesabarannya. Setelah mengeluarkan suara
teriakan yang keras, orangnya sendiri langsung menghambur ke depan.
Tiba-tiba terasa ada serangkum angin kencang yang menghadang di depannya.
Terpaksa Tan Ki menghentikan langkah kakinya.
Setelah melancarkan sebuah pukulan, Lok Hong segera membungkukkan tubuhnyamenggendong
Lok Ing. Begitu dia menundukkan kepalanya, dia melihat wajah Lok Ing
yang biasanya bersemu dadu kini menjadi pucat pasi seakan tidak ada darahnya. Bahkan
di sudut bibir terlihat darah segar mengalir turun membasahi pakaiannya. Tanpa perlu
memeriksa denyut nadinya, sekali lihat saja sudah dapat diduga bahwa setiap waktu
nyawanya bisa melayang.
Dalam usia tuanya, Lok Hong hanya mempunyai seorang cucu yang disayanginya
setengah mati. Dalam waktu yang singkat ternyata dia melihat dengan mata kepala sendiri
bahwa cucu kesayangannya mungkin tidak lama lagi akan meninggalkan dirinya, terasa
ada serangkum kepedihan yang menyelinap dalam hatinya. Dia memandang wajah Lok
Ing dengan termangu-mangu dan mulutnya seperti menggumam seorang diri.
“Anak bodoh, mengapa harus berbuat demikian? Benar-benar tolol, tolol sekali…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beberapa patah ucapan yang sederhana tercetus dari mulut orangtua itu, namun
makna yang terkandung di dalamnya justru seperti aliran air matanya dan ratapan hatinya
yang sedih tidak terkirakan. Orang-orang yang mendengarkannya ikut merasa pilu, hati
mereka terharu sekali sehingga untuk sesaat sampai lupa bahwa keadaan mereka sedang
menghadapi bahaya.
Tampak Yibun Siu San, Tian Bu Cu dan Cian Cong berjalan menghampiri. Ketiga orang
itu seakan dapat menduga apa yang akan terjadi. Mereka berhenti pada jarak kurang lebih
lima langkah dari tempat Lok Hong berdiri.
Mereka mengerti sekali apabila seseorang yang terkena pukulan bathin sedemikian
rupa, tetapi tidak menangis atau meraung-raung, berarti memendam kemarahan dan
kepedihannya dalam hati. Tetapi kalau sudah tidak tertahankan, maka endapan emosi
dalam dadanya langsung meluap keluar. Seandainya hal itu sampai terjadi maka dapat
dibayangkan bagaimana dahsyatnya, mungkin seperti gunung berapi yang meletus. Paling
tidak dia akan membunuh orang untuk melampiaskan kekesalan hatinya. Sedangkan saat
ini mereka justru sedang menghadapi pihak Lam Hay dan Si Yu yang akan menyerbu
datang sore nanti, mereka sangat memerlukan bantuan orang yang mempunyai ilmu tinggi
seperti Lok Hong. Oleh karena itu, ketiga orangtua itu takut Lok Hong akan melakukan
perbuatan yang bodoh karena perasaannya yang kelewat sedih. Mereka malah tidak
berani dekat-dekat dengan dirinya tetapi berdiri di sudut dan mengikuti perkembangan
yang akan terjadi.
Tiba-tiba sepasang mata Lok Hong mengalirkan dua bulir air mata. Sungguh
mengenaskan keadaan orangtua tersebut. Dia mendongakkan wajahnya mengeluarkan
suara siulan yang panjang, sekonyong-konyong tubuhnya mencelat ke depan dan dalam
sekejap mata dia sudah menghilang dari pandangan.
Yibun Siu San menarik nafas panjang-panjang.
“Anak Ki, kau benar-benar telah menimbulkan bencana…” wajah orangtua ini selalu
ditutupi sehelai cadar hitam. Tentu saja sulit melihat bagaimana mimik wajahnya saat itu.
Tetapi dari sorotan matanya, Tan Ki dapat melihat kepedihan yang tersirat di sana. Diamdiam
hatinya merasa tergetar… re “Keponakan melukainya tanpa sengaja. Dalam keadaan
seperti tadi, perasaan hati hanya ingin mengadu jiwa karena orangtua itu terus-terusan
mendesak. Namun keponakan sungguh tidak menyangka akhirnya bisa seperti ini.”
Yibun Siu San mendongakkan kepalanya sembari membentak, “Dengan tindak
tandukmu yang demikian ceroboh, mana pantas menjabat sebagai Bulim Bengcu. Apabila
tiga ratusan jiwa yang ada di puncak bukit Tok Liong-hong ini diserahkan kepada dirimu,
mungkin suatu hari nanti bisa menjadi korban karena keteledoranmu!”
Sebelumnya Tan Ki belum pernah melihat paman Yibunnya marah sedemikian rupa.
Untuk sesaat dia malah jadi termangu-mangu, kemudian kepalanya ditundukkan dalamdalam.
Dia tidak berani menyahut sepatah kata-pun.
Cian Cong mengeluarkan suara batuk-batuk kecil, kemudian terdengar dia menukas…
“Orangtua jangan mengumbar adat. Kakak beradik Cin Ying dan Cin Ie sudah mengejar
si keras kepala itu. Apakah persoalan ini akan menjadi budi atau dendam, mungkin segera
akan terlihat hasilnya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yibun Siu San menarik nafas panjang.
“Aku bukan takut menjadi perselisihan dengan Lok Hong. Tetapi justru memikirkan
kekuatan pihak kita. Di hadapan mata sekarang, sebentar lagi akan terjadi hujan badai.
Kita memerlukan orang yang mempunyai kepandaian tinggi seperti si tua bangka itu.
Dengan demikian kedudukan kita lebih kokoh dari sekarang ini…” tiba-tiba seperti ada
suatu ingatan yang melintas di benaknya, tampak dia menggeleng-gelengkan kepalanya
dan membungkam seribu bahasa.
“Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mendebatkan persoalan ini. Lebih baik kita
mencari akal menyelamatkan orang-orang yang keracunan!” tukas Tian Bu Cu yang sejak
tadi berdiri di sampingnya berdiam diri.
“Apa yang dikatakan oleh Totiang memang tepat sekali. Namun racun yang dimasukkan
dalam arak ternyata adalah Coa-cio (cairan ular) meskipun kita tahu cara menyelamatkan
mereka, namun dengan tidak adanya obat penawar, boleh dibilang sia-sia saja.”
Begitu kata-katanya tercetus keluar, Tian Bu Cu dan Cian Cong saling lirik sekilas serta
berdiam diri tanpa mengucapkan sepatah ka-tapun. Suasana menjadi hening seketika, hati
mereka sama-sama merasa tertekan.
Yibun Siu San menggapaikan tangannya kepada Tan Ki.
“Kau kembalilah ke kamar serta ajak Mei Ling untuk beristirahat. Biar aku yang
mengurus masalah di sini. Tetapi kalau kau sampai berbuat yang tidak-tidak. Aku tidak
segan-segan menghukum dirimu, mengerti?”
Tan Ki mengiakan dengan suara lirih kemudian meninggalkan tempat tersebut.
Sementara itu, si pengemis sakti Cian Cong memejamkan matanya sekian lama untuk
merenung. Beberapa saat kemudian mendadak dia membuka matanya kembali.
“Apabila ada sesuatu hal yang aneh terjadi, tentu ada sebab musababnya atau ada
dalang yang melakukannya. Seandainya orang itu menyusup di dalam orang-orang kita,
kemungkinan itu bisa saja terjadi. Apabila kita dapat meringkus orang itu, mungkin tidak
sulit bagi kita mendapatkan obat penawar tersebut.”
“Apakah kau sudah tahu siapa orang itu?” tanya Yibun Siu San.
Sinar mata Cian Cong menyapu sekilas kepada Kiau Hun yang sedang memungut
pedang pendeknya. Mulutnya tertawa ringan.
“Apa yang dipikirkan si pengemis tua hampir tidak berbeda dengan si bocah Tan Ki.
Perempuan itu tiba-tiba saja mempunyai ilmu yang tinggi, lagipula jurus serangannya
kebanyakan terdiri dari aliran sesat dan bukan dari daerah Tionggoan. Hal ini
mencurigakan sekali. Tetapi apabila kita menuduhnya sebagai orang yang memasukkan
racun, kita masih belum mempunyai bukti yang nyata. Tetapi dia memang tersangka
utama…”
Yibun Siu San merenung sejenak.
“Ini…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cian Cong jadi panik melihat sikapnya.
“Tua bangka jangan ini itu lagi. Sekarang ini waktu sangat berharga. Menunda sampai
siang nanti, kita harus merundingkan cara menghadapi pihak Lam Hay dan Si Yu yang
akan melakukan penyerbuan. Saat itu kita tidak mempunyai waktu lagi meringkus
perempuan ini.”
Yibun Siu San menarik nafas panjang, “Sikap Cian-heng seperti kuda liar yang lepas
kendali. Apa-apa maunya terburu-buru saja. Hengte sendiri juga ingin menyelesaikan
masalah ini secepatnya, juga ingin meringkus si penjahat itu. Tetapi…” dia menghentikan
kata-katanya sejenak, kemudian baru melanjutkan kembali ucapannya. “Keadaan sekarang
ini tidak dapat disamakan dengan kemarin-kemarinnya. Kau dan aku tidak bisa
sembarangan menurunkan perintah atau mengambil keputusan sendiri dalam suatu hal.
Perlu kau ketahui bahwa Tan Ki baru saja menjabat kedudukan Bulim Bengcu. Meskipun
kau dan aku merupakan angkatan tua baginya, tetapi tetap saja kita tidak boleh lancang
menentukan apa-apa. Biar bagaimana harus mendapat persetujuan darinya, baru kita
boleh bertindak. Dengan demikian kewibawaannya tidak jatuh di mata orang-orang
lainnya.”
Sepasang alis Cian Cong langsung berkerut mendengar ucapannya.
“Kalau ditilik dari ucapanmu, bagaimana kita harus menolong orang-orang yang
keracunan? Seandainya tidak cepat-cepat mendapatkan obat penawar atau meringkus
pelakunya, si pengemis tua tidak tahu lagi apa yang kau inginkan.”
Sepasang mata Yibun Siu San yang bersorot tajam seperti sengaja juga tidak, melirik
sekilas kepada Tian Bu Cu. Rupanya orang-orang yang hadir di tempat itu merupakan
tokoh-tokoh Bulim yang sudah berdiri di bawah kekuasaan Tan Ki. Hanya Tian Bu Cu
seoranglah yang tidak termasuk karena orangtua itu merupakan tokoh dari lima partai
besar. Hanya dia yang bukan termasuk anggota Perkumpulan Ikat Pinggang Merah.
Apabila ingin meringkus pelaku kejahatan tersebut, hanya dia seorang pula yang paling
cocok melaksanakan tugas tersebut. Tetapi bagaimanapun orangtua itu merupakan tamu
terhormat, tentu saja Yibun Siu San merasa tidak enak hati memintanya melakukan hal
tersebut. Oleh karena itu, dia terpaksa menyatakan maksudnya dengan lirikan mata yang
mengandung makna tertentu.
Mata Tian Bu Cu sangat tajam. Memangnya dia tidak mengerti maksud Yibun Siu San.
Hatinya merasa tidak enak menolak. Oleh karena itu dia segera mengembangkan seulas
senyuman.
“Nyawa manusia lebih penting daripada segalanya, hal ini Pinto maklum sekali. Maaf
kalau Pinto terpaksa mengunjukkan ilmu yang buruk.” sembari berkata, tiba-tiba dia
membalikkan tubuhnya. Gerakannya seperti awan yang berarak melesat ke arah Kiau Hun.
Kiau Hun melihat jubah orangtua itu berkibar-kibar dan menerjang datang ke arahnya.
Diam-diam hatinya menjadi tercekat.
“Apa yang ingin kau lakukan?”
Tian Bu Cu tertawa sumbang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hati-hati menyambut beberapa jurus serangan Pinto!” katanya.
Jubah tosunya dikibaskan, segera terasa ada serangkum angin yang kencang melanda
datang ke arah Kiau Hun.
BAGIAN L
Baru saja Kiau Hun menggerakkan pedangnya untuk menangkis, tahu-tahu serangan
Tian Bu Cu sudah ditarik kembali. Rupanya baru saja dia melancarkan serangan,
sekonyong-konyong dia mengingat bahwa dirinya merupakan seorang angkatan tua di
dunia Bulim sehingga rasanya tidak pantas melancarkan serangan terlebih dahulu kepada
seorang gadis dari generasi muda. Oleh karena itu, di tengah jalan dia menarik kembali
serangan yang telah dilancarkannya.
Kiau Hun justru menggunakan kesempatan itu baik-baik. Pedang pendeknya
digetarkan, sehingga menimbulkan cahaya seperti pelangi. Dengan kecepatan yang tidak
terkirakan dia segera mengirimkan sebuah tikaman ke depan.
Serangan itu tampaknya biasa-biasa saja dan tidak terlihat keistimewaan sedikitpun,
tetapi gerakannya begitu cepat dan pedangnya memancarkan hawa dingin yang menusuk.
Begitu dilancarkan timbul suara mendengung-dengung seperti ada sekelompok lebah yang
terbang memenuhi tempat tersebut. Hal ini membuktikan bahwa jurus yang digunakannya
benar-benar tidak dapat dianggap enteng.
Selama ini Tian Bu Cu mengasingkan diri di Yang Sim An. Waktunya kebanyakan
dihabiskan dengan bersemedi. Oleh karena itu, boleh dibilang lebih dari separuh hidupnya
dia jarang bertarung dengan orang. Tetapi karena keadaan yang mendesak di mana ada
tiga puluhan orang lebih yang keracunan hebat, maka mau tidak mau dia harus turun
tangan. Apalagi masalah ini menyangkut ketentraman dunia Bulim di masa yang akan
datang. Belum lagi sore nanti pihak Lam Hay dan Si Yu akan menyerbu tempat tersebut.
Dalam keadaan terpaksa, dia menawarkan diri meringkus orang pertama yang dicurigai.
Melihat serangan Kiau Hun begitu gencar dan mengandung kekejian, hati tosu tua ini
merasa tidak senang. Masih begitu muda saja sudah berwatak demikian licik dan jahat,
apalagi kalau usianya sudah lanjut dan ilmunya jauh lebih tinggi dari sekarang ini. Oleh
karena itu, terdengar dia menyebutkan pembukaan doa agama To kemudian mencelat
mundur sejauh enam langkah.
Kiau Hun membentak nyaring, pedangnya digetarkan kemudian mengejar ke depan.
Ketika tangannya bergerak, cahaya berwarna hijau langsung tampak memijar, persis
seperti sinar mentari yang baru terbit di ufuk timur, cahayanya memenuhi sekitar tempat
itu dan bagai titik hujan yang jatuh dari langit.
Sepasang lengan Tian Bu Cu direntangkan, seperti seekor walet yang ketakutan dia
mencelat ke samping sejauh lima enam langkah. Kiau Hun melihat orangtua itu
menghindarkan serangannya berkali-kali, diam-diam hatinya merasa heran. Kalau ditilik
dari namanya yang sudah menggetarkan kolong langit, tidak semestinya dia terus
mengundurkan diri seperti sekarang ini. Pikirannya tergerak, kembali dia melancarkan
sebuah serangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tampak Tian Bu Cu tetap tenang-tenang saja. Bibirnya malah menyunggingkan seulas
senyuman. Ketika pedang Kiau Hun sudah meluncur ke arahnya dan tinggal jarak
setengah meter, dan tidak mungkin bisa merubah jurusnya lagi, tiba-tiba lengan kirinya
bergerak dengan kecepatan kilat dan mengibas ke depan.
Kiau Hun merasa seperti ada serangkum tenaga tidak berwujud yang menahan ketika
serangan pedangnya meluncur ke depan. Bukan saja dia tidak sanggup meneruskan
serangannya tetapi menariknya kembali pun sulit. Hatinya terkejut bukan kepalang. Justru
ketika otaknya berputar mencari jalan keluar, tahu-tahu pundaknya terasa kesemutan,
seluruh tenaga dalamnya lenyap seketika. Setelah mengeluarkan suara keluhan, tubuhnya
terkulai di atas tanah. Terdengar suara berden-tangan, ternyata pedang pendeknya juga
terlepas jatuh.
Melihat keadaan itu, Yibun Siu San dan si pengemis sakti Cian Cong segera
menghambur datang. Dia segera menjura dalam-dalam sambil berkata, “Atas bantuan
Totiang meringkus perempuan ini, cayhe mengucapkan banyak terima kasih.”
Tian Bu Cu cepat-cepat membalas penghormatannya dengan rendah diri.
“Jangan sungkan terhadap orang sendiri.” sahutnya.
Semua kejadian ini tidak terlepas dari pandangan mata Oey Ku Kiong. Hatinya tercekat
sekali. Tanpa sadar dia langsung berdiri dari tempat duduknya. Namun sekejap kemudian
tampak dia duduk kembali seperti tidak merasakan apapun.
Anak muda ini mencintai Kiau Hun sejak lama. Melihat perempuan itu berhasil
diringkus, dia merasa terkejut sekali sehingga wajahnya langsung berubah. Hampir saja
dia berpikir untuk menerjang ke depan dan mengadu jiwa untuk menolongnya. Tetapi biar
bagaimana dia merupakan seorang manusia yang cerdas. Begitu memperhatikan sejenak,
dia langsung sadar bahwa situasi saat itu sangat tidak menguntungkan dirinya. Dengan
kekuatannya seorang diri, sudah pasti bukan tandingan ketiga orang Cianpwe tersebut.
Jangan kata menolong Kiau Hun, bisa-bisa selembar nyawanya terbuang secara percuma.
Begitu pikirannya tergerak, dia segera duduk kembali dan mengikuti perkembangan
selanjutnya sambil mencari akal menolong Kiau Hun.
m Tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah kaki yang mendatangi. Begitu
pandangan matanya dialihkan, tampak Liang Fu Yong berlari datang dengan langkah
tergesa-gesa.
Tampaknya ada suatu masalah yang sedang menggelayuti hatinya sehingga
tampangnya begitu gugup dan wajahnya penuh dengan keringat.
“Ada apa?” tanya Tian Bu Cu.
Wajah Liang Fu Yong tampak merah padam. Keringat membasahi keningnya dan masih
terus menetes turun. Tetapi setelah mendengar pertanyaan Tian Bu Cu, dia malah
menggelengkan kepalanya dan tidak menyahut sepatah katapun.
Tampaknya Tian Bu Cu melihat sesuatu pada dirinya. Sepasang matanya menyorotkan
sinar yang tajam serta dingin. Dia memandang Liang Fu Yong lekat-lekat. Tiba-tiba alisnya
yang panjang mengerut ketat, dia seakan ingin mengajukan pertanyaan tetapi akhirnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ditahan. Namun melihat tampangnya, hati Liang Fu Yong sudah berdebar-debar tidak
karuan.
Rupanya ketika Yibun Siu San menyuruh Tan Ki mengajak Mei Ling kembali ke kamar
untuk beristirahat, dia juga ikut serta. Kamar tidur yang disediakan untuknya memang
bersebelahan dengan kamar Tan Ki dan Mei Ling. Pada dasarnya Mei Ling memang istri
resmi Tan Ki, sedangkan dirinya hanya dijanjikan oleh Tan Ki kelak akan diangkat menjadi
selir.
Tentu saja janji semacam ini hanya dinyatakan dengan ucapan saja. Melihat sepasang
suami istri itu masuk ke dalam kamar, terpaksa dia kembali ke kamarnya sendiri untuk
beristirahat.
Tadinya dia ingin tidur sampai puas. Rasanya kelelahan selama beberapa hari itu ingin
dihilangkannya dengan tidur yang panjang. Tetapi entah mengapa, meskipun dia telah
bergulingan ke sana ke mari sekian lama, tetap saja matanya tidak mau dipejamkan.
Tiba-tiba telinganya mendengar suara tawa sepasang laki-laki dan perempuan. Hatinya
menjadi tergerak. Perasaan ingin tahunya terbangkit seketika. Setelah mendengarkan
dengan seksama, dia baru sadar bahwa suara tertawa itu terpancar dari kamar sebelah di
mana Tan Ki dan Mei Ling beristirahat.
Biar bagaimana Liang Fu Yong pernah menempuh kehidupan sebagai wanita jalang
yang tiap malam mencari seorang laki-laki untuk menemaninya. Bahkan dia mendapat
julukan Siau Yau Sian-li karena hal ini juga. Kemudian dia diberi nasehat oleh Tan Ki yang
akhirnya membuatnya berniat merubah kelakuannya serta menjadi orang baik-baik.
Akhirnya dia malah diterima sebagai murid tidak resmi oleh Tian Bu Cu yang maha sakti.
Tanpa menyayangkan hawa murni dalam tubuhnya yang terkuras banyak, dalam waktu
semalaman dia merubah Liang Fu Yong menjadi seorang tokoh berilmu tinggi. Namun
manusia mempunyai watak yang dibawa sejak lahir, pepatah mengatakan ‘Gunung bisa
dirubuhkan, namun hati manusia sulit dirubah’. Begitulah keadaan Liang Fu Yong, dari
seorang perempuan jalang tiba-tiba dia berubah jadi orang baik-baik. Meskipun hari demi
hari dilaluinya tanpa menemui kesulitan sedikitpun, tetapi kenangan masa lalunya sering
terbayang di depan pelupuk mata. Pada malam hari dia sering merasa kesepian. Seperti
sekarang ini, hatinya sedang merasa tertekan dan gundah, tiba-tiba telinganya menangkap
suara cekikikan sepasang suami isteri. Otomatis pikirannya melayang ke hal yang satu itu.
Suara itu hanya terdengar dalam waktu sekejap, kemudian ruangan sebelahnya kembali
sunyi senyap dan mencekam. Di depan pelupuk mata Liang Fu Yong seakan melintas
berpuluh-puluh pasangan laki-laki dan perempuan dalam keadaan telanjang bulat.
Bayangan yang tidak-tidak saat itu memenuhi seluruh benaknya.
Sesaat kemudian, dia merasa seluruh tubuhnya jadi panas membara. Gairah dalam
dadanya terbangkit. Seluruh tubuhnya gemetar hebat dan dengan keadaan hampir tidak
dapat menahan diri, dia melonjak bangun dari tempat tidurnya.
Bayangan masa lalu kembali menggelayuti pikirannya. Saat ini dia tidak sanggup lagi
mengerahkan lwekangnya untuk menahan hawa nafsu yang berkobar-kobar. Pandangan
matanya beredar ke sekeliling, begitu sepinya keadaan dirinya seakan di dalam dunia ini
hanya ada dirinya seorang yang masih hidup. Segulung harapan yang besar menutupi
kesadarannya, pikirannya mulai kacau. Dia hanya tahu bahwa dirinya saat ini hanyalah
seorang perempuan yang kesepian! Apabila di dalam kamar itu ada seorang laki-laki, tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perduli tua atau muda, mungkin dia langsung menerjang orang itu untuk menghilangkan
rasa dahaga dalam hatinya…
Meskipun dia telah bertekad untuk merubah dirinya menjadi orang baik-baik, tetapi
pada dasarnya bakat jalang di dalam dadanya masih sering bergejolak dengan kuat.
Sebelumnya dia bergolek di atas tempat tidur dengan gelisah. Begitu melonjak bangun,
tanpa memperdulikan apa-apa lagi, dia langsung melesat keluar dari kamarnya bagai
seekor kelinci yang tidak mempunyai pikiran.
Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat seorang bocah laki-laki berusia
kurang lebih empat belas tahunan sedang berjalan ke arahnya. Tampaknya bocah itu
bekerja sebagai pelayan yang menghantarkan hidangan atau arak bagi para tamu. Saat itu
tangannya membawa sebuah nampan dengan dua mangkok bubur di atasnya yang masih
mengepulkan asap. Rupanya dia hendak mengantarkan makanan untuk Tan Ki dan
istrinya.
Di pelupuk mata Liang Fu Yong terbayang langsung hal yang romantis. Tiba-tiba dia
menggertakkan giginya erat-erat dan melancarkan sebuah totokan ke arah punggung
bocah itu. Dalam waktu yang bersamaan tangannya yang sebelah lagi langsung
menyambut nampan yang hampir terlepas dari tangan bocah tersebut.
Mungkin bocah itu mimpipun tidak menyangka kalau Liang Fu Yong tiba-tiba akan
menyerangnya. Tiba-tiba dia merasa bagian punggungnya kesemutan dan tidak sadarkan
diri terkulai di atas tanah.
Sebelah tangan Liang Fu Yong langsung terulur meraih tubuhnya yang hampir jatuh.
Dia segera memondong tubuh bocah tersebut. Dia takut timbul suara yang akan
mengejutkan Tan Ki yang mempunyai pendengaran tajam. Baik melancarkan totokan,
menyambut nampan maupun meraih tubuh si bocah, semuanya dilakukan dengan hatihati.
Perlahan-lahan dia meletakkan nampan tadi di sebuah bangku rotan yang terdapat di
ujung koridor. Kemudian sepasang kakinya menutul dan dengan gerakan ringan dia
membawa bocah tersebut meninggalkan tempat itu. Sekali loncat saja, jaraknya mencapai
tiga de-paan. Dalam waktu sekejap mata dia sudah sampai di taman bunga. Harum bunga
semerbak terendus seiring dengan hembusan angin.
Setelah memperhatikan sekelilingnya, Liang Fu Yong baru merebahkan bocah itu di
balik sebuah gunung-gunungan yang dibuat sebagai dekorasi taman tersebut. Dia tahu
saat ini para hadirin sedang berkumpul di ruang pertemuan. Sedangkan sebagian yang
lainnya dikumpulkan dekat ruang peristirahatan karena terkena racun ganas. Dalam waktu
yang singkat tidak mungkin ada orang yang muncul di taman bunga ini.
Perlahan-lahan dia meletakkan bocah itu di atas tanah. Sepasang matanya yang jeli
menatap bocah itu lekat-lekat. Seakan sedang menilai setiap lekuk tubuh dan wajah anak
tersebut.
Perlu diketahui bahwa orang-orang zaman itu rata-rata bertubuh tinggi besar. Meskipun
pelayan itu baru berusia empat belas tahunan, tetapi karena tubuhnya yang bongsor, dia
jadi terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya. Apalagi wajahnya yang demikian putih
bersih. Benar-benar membuat orang yang melihatnya merasa gemas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jalan darahnya ditotok oleh Liang Fu Yong, dengan demikian kesadarannya hilang.
Dalam sekejap mata saja, pakaiannya sudah dibuka oleh gadis itu. Bentuk tubuhnya kekar,
wajahnya yang terlelap dalam tidur sungguh manis dipandang. Liang Fu Yong yang
memandangnya sampai merasa tegang. Keringatnya bercucuran. Tangannya gemetar dan
gairah dalam dadanya meluap-luap. Semacam perasaan yang aneh membaur dalam
hatinya. Sekian lama dia memandangi bocah itu dengan termangu-mangu. Tiba-tiba dia
melonjak bangun dan menindih tubuh anak itu. Kulit mereka saling bersentuhan. Dia
merasa seperti ada aliran semacam kilat yang menyambar dirinya. Sekonyong-konyong
tubuhnya menggigil dan pikirannya menjadi agak sadar. Dia langsung melonjak bangun.
Liang Fu Yong mengangkat tangannya dan menepuk kepalanya sendiri. Mulutnya
menggumam seorang diri.
“Mengapa aku demikian rendah? Bukankah aku bisa mencelakai seorang anak yang
baru tumbuh dewasa? Setelah mendapat nasehat dari adik Ki dan menerima warisan dari
suhu, ternyata aku masih belum berubah juga… Ya Tuhan, apakah aku Liang Fu Yong
sejak lahir memang telah ditakdirkan menjadi perempuan jalang?” air mata yang sebesar
kacang kedelai terus menetes membasahi pipinya.
Dia merasa apapun yang ada di hadapannya menjadi samar-samar. Tanpa sadar dia
teringat setengah bulan yang lalu sempat mengorbankan diri demi Tan Ki di taman bunga
keluarga Liu. Mengingat ketampanan dan kegagahan anak muda itu, hatinya kembali
tergetar. Dia merasa bingung dengan keadaannya sendiri. Padahal dia sempat tersadar
dan bertekad untuk berubah. Mengapa di saat seperti ini, hampir saja dia tidak dapat
menahan diri dan melakukan hal yang rendah itu?
Dengan demikian, pikirannya kembali melayang ke masa di mana dia bertualang
mencari kesenangan setiap malam. Perbuatannya begitu rendah. Meskipun di saat
menjalankannya dia sempat mendapatkan kepuasan lahiriah, tetapi setelah semuanya
berlalu, dia tetap merasa jiwanya kosong melompong. Dia malah merasa begitu kesepian
seakan dia tidak pernah mempunyai siapa-siapa di dunia ini.
Apabila saat ini dia tidak bisa mengendalikan hasrat dalam hatinya dan tetap melakukan
perbuatan yang rendah itu, setelah bocah itu tersadar, tentu seluruh bukit itu akan
gempar mendengar perbuatannya. Namun, haruskah demi kesenangan sekejap, dia musti
membunuh anak yang tidak berdosa itu agar tidak membuka mulut?
Semakin dipikirkan, Liang Fu Yong semakin bimbang. Semakin lama perasaannya juga
semakin takut. Untuk sesaat benci dan menyesal berbaur menjadi satu dalam hatinya. Dia
benci kepada dirinya sendiri yang masih belum berubah juga. Di samping itu dia juga
menyesali apa yang hampir dilakukannya. Tiba-tiba tangannya diangkat ke atas kemudian
dia menempeleng pipinya sendiri keras-keras. Angin bertiup semilir, air matanya yang
mengandung penyesalan tidak terkatakan terus mengalir membasahi pakaiannya. Dia juga
menghentakkan kakinya di atas tanah dengan kesal.
Setelah menangis beberapa saat, cepat-cepat dia mengenakan kembali pakaian si
pelayan cilik itu. Kemudian kakinya menendang membuka totokan pada jalan darahnya,
dalam waktu yang hampir bersamaan, tubuhnya berkelebat pergi secepat kilat.
Meskipun pikirannya sudah sadar kembaji, tetapi untuk sesaat dia masih merasa
bingung menentukan arah yang harus ditujunya. Hatinya juga merasa agak berat seakan
baru saja kehilangan suatu benda yang disukainya. Dengan perasaan hati yang galau,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tanpa sadar dia kembali lagi ke kamarnya sendiri. Tetapi dia seperti menghindarkan diri
dari sesuatu sehingga kamarnya sendiri pun tidak berani dimasukinya. Tanpa tujuan yang
pasti dia meneruskan langkah kakinya.
Ketika dia melewati kamar Tan Ki, tiba-tiba terdengar suara bisikan yang mesra, tidak
syak lagi sepasang suami isteri itu sedang bersenda gurau dengan gembira. Hatinya
kembali tergetar. Tiba-tiba saja dia mempercepat langkahnya dan lari meninggalkan
tempat itu.
Beberapa saat kemudian, dia sudah sampai di ruang pertemuan. Meskipun telah lewat
beberapa waktu, tetapi wajahnya masih merah padam. Tentu saja Tian Bu Cu tidak tahu
bahwa dia tadi sempat pergi kemudian kembali lagi, sedangkan keadaannya sudah
berubah banyak. Tetapi dia merupakan seorang tokoh yang sakti. Sejak melihat sepasang
alis Liang Fu Yong yang menunjukkan kegairahan yang berkobar-kobar, dia langsung tahu
bahwa perempuan itu sedang terbangkit nafsu birahinya. Namun wajah Liang Fu Yong
yang menyiratkan ketakutan dalam itu justru membuatnya bingung apa yang telah terjadi.
Sepasang matanya yang menyorotkan sinar tajam terus memandang diri Liang Fu Yong
lekat-lekat.
Melihat tampangnya yang berwibawa itu, jantung Liang Fu Yong semakin berdebardebar.
Perasaannya menjadi tidak tenang seperti orang yang menunggu jatuhnya
hukuman.
Tiba-tiba terdengar Yibun Siu San berkata, “Harap Totiang mengajak muridmu itu
kembali ke kamar. Sore nanti kita akan menguras banyak tenaga menghadapi golongan
Lam Hay dan Si Yu. Setidaknya kita perlu istirahat yang cukup agar semangat dapat
terjaga.”
Tian Bu Cu merangkapkan sepasang tangannya memberi salam. Kemudian dia
membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu. Justru karena perkataan Yibun Siu San,
Liang Fu Yong seakan terlepas dari intaian mata Tian Bu Cu yang tajam. Cepat-cepat dia
mengikuti di belakang suhunya pergi secepat kilat.
Cian Cong menatap bayangan punggung kedua orang itu sampai menghilang di
kejauhan. Kemudian dia berkata dengan suara lirih, “Tua bangka, bagaimana caranya
mengurus perempuan ini?” sembari bertanya, tangannya menunjuk kepada Kiau Hun.
“Sikap perempuan ini tenang sekali. Meskipun sudah terjatuh ke tangan kita, tetapi dia
bukan orang yang mudah dihadapi. Apalagi dia seorang perempuan, tentu tidak pantas
apabila kau atau aku menggeledah tubuhnya. Oleh karena itu, aku rasa sebaiknya kita
serahkan saja kepada Ciu Cang Po. Pokoknya dengan cara lembut atau keras, kita harus
berhasil mengetahui di mana dia menyimpan obat penawar racun itu. Ini merupakan satusatunya
jalan apabila kita ingin menolong orang secepatnya.”
Cian Cong langsung tertawa lebar mendengar ucapannya.
“Akal yang bagus!” katanya sembari berjalan ke arah Ciu Cang Po yang sedang
memejamkan matanya mengatur pernafasan.
Sejak jalan darahnya tertotok oleh Tian Bu Cu, Kiau Hun segera memejamkan matanya
dan mendengarkan pembicaraan orang-orang itu dengan seksama. Sikapnya begitu
tenang dan sejak awal hingga akhir dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia bukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saja tidak memperlihatkan tampang ketakutan, bahkan seakan tidak ambil perduli tentang
mati hidupnya sendiri.
Yibun Siu San dapat merasakan gadis itu sudah mengambil keputusan untuk tidak
memperdulikan mati hidupnya sendiri. Diam-diam dia merasa kagum sekali.
‘Tampangnya yang wajar dan tenang membuat orang tidak menduga bahwa dia sudah
bertekad menunggu datangnya malaikat el-maut. Meskipun seorang tokoh berilmu tinggi
atau pendekar yang gagah perkasa, biasanya juga merasa gentar apabila tahu dirinya
akan mendapat hukuman mati. Rasanya tidak mungkin ada yang sanggup memperlihatkan
ketenangan seperti gadis ini.’ pikirnya dalam hati.
Sesaat kemudian dia memanggil orang-orang yang tidak keracunan untuk mengangkat
mayat-mayat yang berserakan untuk dikuburkan secara layak. Sementara itu, dia
mengambil beberapa macam obat untuk menahan kerjanya racun agar jangan sampai
menyebar ke jantung.
Kurang lebih memakan waktu dua kentungan, semuanya baru berhasil dibersihkan dan
keadaan di tempat itu menjadi pulih kembali seperti sedia kala.
Tidak lama kemudian, kurang lebih dua puluh lebih tokoh-tokoh yang memegang
peranan penting dan sebagian lagi yang belum keracunan, termasuk Ceng Lain Hong dan
Oey Ku Kiong berkumpul lagi di ruang pertemuan.
Si pengemis cilik beserta rombongannya dari angkatan muda tetap berdiri di belakang
para Cianpwe masing-masing. Tampak wajah mereka serius sekali bahkan menyiratkan
ketegangan yang tidak terkatakan. Mereka seperti sedang menunggu suatu peristiwa
besar yang akan terjadi sebentar lagi.
Suasana di dalam ruangan itu menjadi demikian hening. Dua puluh lebih tokoh kelas
tinggi dunia Bulim duduk di tempat masing-masing dengan wajah kelam. Tampaknya
mereka merasa gelisah menunggu kehadiran Bengcu mereka.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, terdengar suara langkah kaki mendatangi.
Rupanya Tan Ki dan Mei Ling yang masuk ke dalam ruangan itu. Pada jarak lima langkah
dari meja bundar di depan, tiba-tiba Tan Ki menghentikan langkah kakinya, namun Mei
Ling tetap berjalan terus ke depan. Setelah mengitari sebuah meja, istrinya itu berdiri di
belakang Ceng Lam Hong. Sepasang matanya yang indah terus dipusatkan pada diri Tan
Ki.
Hatinya sadar, meskipun Tan Ki sudah meraih kedudukan Bulim Bengcu tetapi dia
masih harus melewati dua ujian lainnya, yakni kebijaksanaannya dalam memutuskan suatu
persoalan dan kecerdasan otaknya berpikir. Dengan demikian dia baru dinobatkan sebagai
Bulim yang resmi. Ujian-ujian ini mengandalkan daya pikir yang sempurna, tapi tampaknya
Mei Ling mempunyai keyakinan yang besar terhadap suaminya itu. Biar bagaimana
sulitnya persoalan yang diajukan nanti, Tan Ki pasti berhasil lulus dengan mudah. Oleh
karena itu, mimik wajahnya tidak menunjukkan kepanikan sama sekali. Dia malah
mengembangkan senyuman yang manis dan gayanya santai.
Terdengar suara Yibun Siu San yang berkata dengan nada rendah…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Dengan usiamu yang begitu muda, kau berhasil mengalahkan sejumlah tokoh-tokoh
kelas satu di dunia Bulim dan berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu. Oleh karena itu
orang-orang gagah yang hadir di puncak bukit Tok Liong-hong ini merasa kagum sekali
dengan ilmu pedangmu. Tetapi setelah aku perhatikan sepanjang hari, caramu menangani
persoalan terlalu ceroboh. Begitu menghadapi suatu masalah, kau tidak
mempertimbangkan segalanya dengan matang dan tidak menggunakan cara yang baik
untuk menyelesaikannya. Apabila membiarkan kau menjabat kedudukan penting ini dan
menyerahkan tanggung jawab yang besar terhadap dunia Bulim, mungkin akibat
perbuatanmu malah ribuan nyawa bisa menjadi korban. Apabila setiap tindak-tanduk yang
kau ambil tidak memakai akal sehat dalam menjalaninya, apakah kau dapat
membayangkan bencana apa yang akan terjadi?”
Tan Ki menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menyahut tidak tahu. Hatinya malah
diam-diam merasa heran. Biasanya paman Yi-bun justru khawatir kalau aku tidak berhasil
merebut kedudukan Bulim Bengcu, mengapa hari ini terus-terusan mempersalahkan
dirinya. Apabila dia bukan melakukannya dengan sengaja, Tan Ki benar-benar tidak
mengerti apa alasannya…
Baru saja pikirannya tergerak, tiba-tiba terdengar kembali suara Yibun Siu San…
“Demi kelangsungan hidup dunia Bulim kita yang akan datang, terpaksa aku menguji
kebijaksanaanmu dalam menyelesaikan persoalan. Tetapi dalam bidang yang satu ini, Kok
Hua Hong dan Ciong San Suarig Siu ketiga Cianpwe menjamin bahwa kau dapat
melewatinya dengan mudah. Aku juga menceritakan bagaimana kau melawan dua laki-laki
dan perempuan bercadar di dalam goa. Oleh karena itu mereka setuju untuk tidak menguji
kebijaksanaanmu…”
Mata Tan Ki mengesar ke sekeliling ruangan, kemudian mengembangkan seulas
senyuman.
“Mengenai kecerdasan pikiran, harap Siok-siok ungkapkan saja biar keponakan
mencobanya. Meskipun keponakanmu ini orang yang bodoh, tetapi ingin juga mencoba
peruntungan, siapa tahu Thian yang kuasa memberikan bantuan-Nya.”
“Tadinya aku sudah mempersiapkan dua persoalan mengenai kebijaksanaan dan
kecerdasan otak. Tetapi agar tidak dianggap memilih kasih, aku merundingkannya terlebih
dahulu dengan Tian Bu Cu, Lok Hong dan Cian Cong Locianpwe bertiga. Akhirnya kami
mengambil keputusan untuk tidak menguji kebijaksanaanmu lagi. Namun kecerdasan otak,
biar bagaimanapun kau harus berusaha melaluinya.”
“Apabila keponakan tidak sanggup menjawabnya dengan baik, apa yang akan terjadi?”
tanya Tan Ki.
“Mengikuti perkembangan dan mengambil keputusan secepatnya setiap kali
menghadapi masalah, merupakan tindak-tanduk orang yang bijak. Apabila kau tidak
sanggup melakukannya, hal ini bukan menyangkut dirimu saja, tetapi kesejahteraan
seluruh Bulim. Seandainya kau gagal dalam ujian ini, terpaksa kami memilih Bulim Bengcu
yang lain.”
Kata-katanya yang terakhir diucapkan dengan tegas. Hati orang-orang yang hadir
dalam ruangan itu sampai ikut tergetar. Semua menolehkan kepalanya melirik sejenak ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
arah Yibun Siu San. Tetapi karena wajah orang itu selalu ditutupi sehelai cadar, maka
orang-orang tidak dapat melihat bagaimana mimik perasaannya saat itu.
Tan Ki segera menjura dengan penuh hormat.
“Harap Siok-siok uraikan.”
“Kau harus mendengarkannya baik-baik! Aku hanya mengucapkannya satu kali saja dan
tidak akan mengulanginya kembali!”
“Aku mengerti!”
“Baik. Dengarkanlah. Beberapa hari yang lalu, ada seorang kakek penjual telur
melewati kota Tiang An. Tangan kanannya menjinjing sebuah keranjang sayur, entah
berapa banyak telur yang terisi di dalamnya. Kebetulan dia bertemu dengan seorang
nyonya muda. Perempuan itu membeli sebagian telurnya dan setengah butirnya lagi. Tidak
berapa lama kemudian dia bertemu lagi dengan seorang pelayan keluarga hartawan yang
kemudian membeli telurnya sebagian dan setengah butirnya lagi. Terakhir kembali ada
seorang tukang masak, orang itu juga membeli sebagian telurnya ditambah setengah butir
lagi. Sekarang coba kau tebak berapa butir jumlah telur yang ada dalam keranjang kakek
itu?”
Sepasang alis Tan Ki langsung berkerut mendengarnya. Dia menggaruk-garuk
kepalanya yang tidak gatal.
“Orang jual telur mana ada yang hanya setengah butir?”
Yibun Siu San tersenyum simpul.
“Anehnya justru terletak di bagian ini. Si kakek tua itu secara berturut-turut menjual
telurnya sebanyak tiga kali. Setiap kali dia menjual sebagian dan setengah butirnya lagi.
Kebetulan semuanya habis terjual.”
Orang-orang gagah yang mendengar ucapannya, diam-diam menggunakan hitungan
langit, bumi, manusia dan tumbuhan yang biasa terdapat dalam kitab-kitab zaman itu.
Setelah menghitung beberapa saat, tetap saja menemukan kesulitan. Mereka merasa
pertanyaan itu tidak terlampau sulit didengarnya, namun ternyata tidak mudah
dipecahkan. Sebetulnya merupakan sebuah soal yang tidak dapat dihitung dengan rumus
biasa.
Suasana semakin lama semakin menegangkan. Mereka menunggu dengan hati
berdebar-debar. Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, sepasang mata Tan Ki yang
tadinya terpejam merenung, tiba-tiba membuka kembali.
“Kalau menghitung telur, tidak mungkin ada setengah butir. Tampaknya di balik soal ini
terselip sesuatu…” sekonyong-konyong dia mengulurkan tangannya menepuk kepalanya
sendiri. Kata-katanya pun terputus. Rupanya saat itu, tiba-tiba suatu ilham muncul di
benaknya. Matanya terpejam kembali. Dengan hati-hati dia mengingat-ingat dalam
hatinya.
Sesaat kemudian tampak dia membuka matanya kembali dengan bibir mengembangkan
seulas senyuman.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Apabila ingin memecahkan soal ini, maka kita harus menghitungnya dengan rumus jari
tangan, yakni mulai dari angka satu.”
Yibun Siu San tertawa lebar mendengar ucapannya.
“Dengan demikian berarti kau sudah tahu rahasia soal ini.”
Begitu kata-katanya diucapkan, semua orang yang hadir di tempat itu lantas
memusatkan perhatian mereka pada diri Tan Ki.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Tan Ki…
“Aku berhasil menghitungnya! Jumlah telur yang ada dalam keranjang si kakek tua itu
semuanya ada tujuh butir!”
“Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa jumlahnya ada tujuh butir?”
Wajah Tan Ki merah jengah, dengan malu-malu dia menjawab pertanyaan Yibun Siu
San.
“Jawaban dari soal ini perlu dimengerti secara mendalam. Tidak mudah diuraikan
dengan kata-kata. Apabila Siok-siok menanyakan bagaimana keponakan dapat
mengetahuinya, mungkin tidak mudah menerangkannya secara jelas.”
“Jawabannya sudah benar, tetapi coba kau terangkan dengan cara…” baru saja
mengucapkan beberapa patah kata, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendatangi.
Dengan demikian kata-katanya jadi terhenti.
Begitu pandangan mata dialihkan, dia melihat seorang laki-laki kekar yang dikenalnya
sebagai salah seorang penjaga di depan masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. Pada jarak
lima langkah dari tempat Tan Ki, dia segera menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya
membungkuk dalam-dalam memberi hormat.
“Sute dari Kaucu Pet Kut Kau mohon bertemu di luar.”
Mendengar laporannya, wajah orang-orang yang hadir dalam ruangan itu langsung
berubah. Mereka saling lirik kemudian berbisik-bisik antara rekan masing-masing.
Sepasang alis Yibun Siu San langsung berkerut ketat.
“Persilahkan dia masuk!” katanya. Selesai berkata, dia langsung berdiri. Kemudian dia
menyodorkan tempat duduknya untuk Tan Ki dan tersenyum.
“Kau dapat menjawab soal tadi dengan baik, maka orang-orang yang hadir di sini juga
merasa puas telah memilih kau sebagai Bulim Bengcu. Harap mulai sekarang ini, dalam
menangani masalah apapun kau harus menggunakan akal sehat. Jangan memilih kasih,
serta tegas dalam memberikan hadiah maupun hukuman. Jangan sampai
menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan oleh saudara-saudara kita.”
Tan Ki segera menjawab dengan sopan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Anak Ki mempersembahkan diri ini untuk dunia Bulim. Rela berkorban jiwa dan raga
demi kelangsungan dunia Bulim. Apalagi dalam menghadapi pihak Lam Hay maupun Si Yu.
Anak Ki rela berkorban apapun asal mereka dapat terusir pulang ke negaranya sendiri!”
Yibun Siu San langsung tertawa lebar mendengar perkataannya.
“Sekarang Kim Yu datang menemui kita sebagai wali dari pihak Lam Hay. Ini
merupakan pertama kalinya kau bertemu muka dengan orang ini sebagai seorang
pimpinan. Kami semua ingin melihat bagaimana kau menghadapinya.”
Baru saja ucapannya selesai, tampak seorang laki-laki bertubuh kurus dan berpakaian
putih masuk ke dalam ruangan diiringi seorang pelayan tua. Tan Ki segera mengenali
orang tersebut sebagai adik seperguruan dari Kaucu Pek Kut Kau yang bernama Kim Yu.
Tampak sepasang tangannya memegang sehelai kartu seperti undangan yang berukuran
besar. Kepalanya tertunduk, namun langkah kakinya cepat sekali. Dalam sekejap mata dia
sudah berhenti pada jarak tiga langkah dari tempat Tan Ki.
Tan Ki melihat jubahnya berkibar-kibar seakan tidak membawa senjata apapun. Dia
segera mengembangkan seulas senyuman.
“Kambing masuk ke dalam goa harimau, apakah tidak takut mendapat hinaan?”
Sepasang mata Kim Yu yang tajam mengedar ke sekelilingnya sejenak. Kemudian dia
mengeluarkan suara tertawa terkekeh-kekeh.
“Kedatanganku saat ini merupakan utusan. Apabila saudara tidak takut ditertawakan
orang-orang sedunia, silahkan turun tangan sesuka hatimu!” sepasang tangannya terulur
ke depan, terasa ada serangkum tenaga yang kuat menekan datang ke arah Tan Ki.
Anak muda itu melihat dia mengerahkan tenaga dalamnya sambil menyodorkan surat
undangan di tangannya. Diam-diam dia merasa geli. Namun kedudukannya sekarang
adalah seorang Bulim Bengcu, perbuatan apapun yang dilakukannya harus serius dan
tidak boleh menunjukkan sikap kekanak-kanakan. Oleh karena itu bibirnya tetap
tersenyum lembut.
“Cayhe tidak berani menerima penghormatan sebesar ini.”
Tangan kanannya mengibas, gayanya seperti sedang meminta Kim Yu tidak perlu
banyak adat, tetapi sebetulnya dia telah mengerahkan tenaga dalamnya dan menyambut
datangnya kekuatan yang dilancarkan Kim Yu dengan keras.
Dua gulung tenaga yang dahsyat langsung beradu saat itu juga. Timbul angin yang
kencang dan menerpa ke sekitar kedua orang itu. Bahkan pakaian beberapa orang yang
duduk dekat dengan mereka langsung berkibar-kibar.
Setelah kedua gulung tenaga beradu, Tan Ki tetap duduk di tempatnya semula tanpa
bergeming sedikitpun. Sedangkan jubah Kim Yu melambai-lambai, kakinya goyah dan
tubuhnya terhuyung-huyung tiga kali. Sampai cukup lama dia tidak dapat menegakkan
tubuhnya. Keadaannya saat itu seperti orang yang baru minum arak dalam jumlah yang
banyak. Akhirnya tanpa dapat mempertahankan diri, dia tergetar mundur sejauh tiga
langkah. Tampak lantai batu di mana kakinya berpijak tadi, sekarang retak dan debu-debu
beterbangan ke mana-mana.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Baru saja mengadu kekuatan satu kali, hati Kim Yu sudah tercekat tidak kepalang.
Diam-diam dia berpikir: ‘Baru beberapa hari tidak bertemu, rasanya tenaga dalam orang
ini sudah bertambah hebat.’
Pikirannya tergerak, terdengar mulutnya berkata, “Usia saudara masih muda tetapi
tenaga dalam yang kau miliki ternyata sudah demikian tinggi. Benar-benar membuat hati
ini menjadi kagum.” dia segera menyodorkan surat di tangannya ke depan. Kemudian
terdengar dia melanjutkan kata-katanya. “Hengte mendapat perintah dari Suheng dan Toa
Tocu untuk mengantarkan surat ini. Harap saudara membacanya kemudian sekalian
mengirimkan balasannya.”
Tan Ki langsung menyambut surat itu. Dia melihat di bagian atasnya tertulis:
‘Menurut berita yang tersebar, saudara berhasil mengalahkan jago-jago lainnya dan
berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu. Hal ini benar-benar mengejutkan pihak kami.
Lagi pula kau langsung menyatakan tentang berdirinya Perkumpulan Ikat Pinggang
Merah…’
Membaca sampai di sini, Tan Ki langsung mengeluarkan suara tawa dingin.
“Cepat sekali berita ini tersebar!”
Selanjutnya dia membaca lagi isi surat tersebut:
‘Dengan demikian, kedua Bun Bu-siang serta tiga orang tongcu serta anggota dari
Kaucu Pek Kut Kau mengambil keputusan untuk mengunjungi bukit Tok Liong-hong sore
ini untuk melihat serta meminta pelajaran ilmu dari wilayah Tionggoan yang konon hebat
sekali. Karena takut mengganggu dan dianggap tidak sopan, maka kami sengaja mengirim
Kim Yu sebagai utusan untuk mengantarkan surat ini. Sekalian ingin menanyakan apakah
saudara setuju dengan, waktu dan tempat yang telah kami tetapkan?’
Di bawahnya tertera tanda tangan Toa Tocu dari Lam Hay dan Kaucu dari Pek Kut Kau.
Setelah membacanya sampai selesai, Tan Ki segera menyodorkan surat itu kepada
Yibun Siu San agar dibaca oleh orangtua itu. Bibirnya tetap tersenyum simpul.
“Kalau kalian sudah mengambil keputusan untuk menyerbu bukit Tok Liong-hong ini
sore nanti, buat apa membuat letih tangan sendiri dengan menulis surat ini? Apabila kalian
mempunyai kegembiraan seperti itu, tentu saja aku akan mengirimkan juga balasannya.”
Dia langsung memanggil seorang penjaga untuk mengambilkan alat-alat tulis. Tanpa
menunda waktu lagi dia langsung menggerakkan pit di atas kertas dan menjawab surat
yang dibawakan oleh Kim Yu itu.
‘Saudara sudi menempuh perjalanan yang demikian jauh untuk menyambangi para
tokoh dari Tionggoan kami, tentu saja pihak kami akan menyambut dengan senang hati.
Dengan demikian kami menyatakan bahwa kami tidak akan bergeser dari puncak bukit
Tok Liong-hong ini walau kapanpun kalian akan datang menyambangi.’
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kim Yu melihat tulisan tangan Tan Ki kokoh dan rapi. Namun isinya singkat saja. Dalam
waktu sekejap mata dia sudah selesai membacanya. Diam-diam dia memaki dalam
hatinya: ‘Sombong benar ucapan yang tertulis di dalamnya!’
Kim Yu merupakan manusia yang sangat licik. Meskipun hatinya mendongkol membaca
surat balasan Tan Ki, tetapi dari luar dia menampilkan sikap yang biasa-biasa saja. Namun
mata Tan Ki yang tajam sempat melihat perubahan wajahnya.
Tan Ki ingin menjaga sikapnya sebagai seorang Bulim Bengcu, diapun tidak ingin
mempermalukan orang ini di hadapan umum. Oleh karena itu dia pura-pura tidak tahu dan
tetap berkata dengan suara yang lembut.
“Dua negara berunding, tidak boleh melakukan kekerasan terhadap utusan yang
dikirimkan. Aku tidak ingin tersebar berita yang tidak enak didengar atau menyulitkan
dirimu. Sebaiknya kau pulang saja secepatnya dengan membawa surat balasan ini. Tetapi
apabila lain kali bertemu lagi, kita sama-sama telah menjadi musuh bebuyutan. Aku rasa
kau sendiri mengerti apa yang harus dilakukan.” Tan Ki melipat kertas surat itu kemudian
menyodorkannya ke hadapan Kim Yu.
Saat ini jarak antara keduanya hanya setengah depaan lebih. Dengan mengulurkan
tangan saja dapat mencapai tubuh lawannya. Kim Yu melihat Tan Ki mengulurkan
tangannya ke depan dengan wajar, seakan tidak berjaga-jaga sama sekali, hatinya
sekonyong-konyong tergerak. Cepat-cepat dia menarik nafas dan diam-diam mengerahkan
seluruh tenaga dalamnya. Dia berpikir ingin menggores tangan Tan Ki dengan jarinya yang
mengandung racun ketika menyambut surat balasan tersebut, Apabila berhasil, goresan
luka di tangannya pasti terkena racun dan dalam waktu yang singkat menyebar ke seluruh
tubuh serta mati seketika. Beberapa hari yang lalu, Kim Yu justru menggunakan jari
kukunya yang beracun itu melukai Tan Ki sehingga hampir saja nyawa anak muda itu
melayang.
Begitu pikirannya tergerak, tangannya segera terulur keluar menyambut surat tersebut,
sepasang matanya menatap Tan Ki lekat-lekat seakan ingin melihat perubahan wajah anak
muda itu. Kebetulan pada saat itu, pandangan matanya bertemu dengan sepasang mata
Tan Ki yang juga sedang menatap kepadanya.
Dua pasang mata bertemu pandang, Kim Yu segera merasa bahwa di dalam sinar
matanya terkandung kewibawaan yang dalam. Sorotannya tajam menusuk, seperti
mengandung pengaruh yang tidak dapat ditolak. Mimik wajah anak muda itu begitu
angker sehingga tanpa terasa hatinya berdebar-debar. Pikirannya yang jahat hilang
seketika, dia tidak berani meneruskan niat hatinya.
Tanpa berkata sepatahpun, dia langsung menerima surat balasan tersebut dan
memasukkan ke balik pakaian. Tetapi saat itu dalam hatinya telah timbul perasaan ngeri
sehingga dia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan ke depan beberapa langkah.
Tiba-tiba dia seperti teringat pada suatu persoalan yang besar sekali. Tanpa menghentikan
langkah kakinya dia menolehkan kepalanya dan mengedarkan pandangan matanya.
Sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas, wajahnya menyiratkan perasaan bimbang,
tetapi akhirnya dia meneruskan juga langkahnya meninggalkan tempat tersebut.
Rupanya ketika dia menolehkan kepalanya tadi, dia merasa tidak menemukan
bayangan Kiau Hun di antara para tokoh-tokoh yang hadir di tempat itu. Biar bagaimana
perempuan itu merupakan mata-mata yang dikirim pihak Lam Hay Bun untuk menyelidiki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perkembangan di daerah Tionggoan. Ilmunya sangat tinggi karena mendapat didikan
langsung dari Toa Tocu. Seandainya dalam pertandingan dia tidak sanggup merebut
kedudukan Bulim Bengcu, tetapi berdasarkan kepandaiannya, paling tidak perempuan itu
pantas menyandang gelar pendekar pedang tingkat sembilan. Kali ini orang-orang yang
hadir dalam ruangan merupakan anggota Perkumpulan Ikat Pinggang Merah, tetapi
sebagai salah seorang peserta pertandingan, seharusnya Kiau Hun juga termasuk anggota
perkumpulan itu, mengapa saat ini bayangannya malah tidak kelihatan?
Jangan kata orang itu pergi dengan hati bertanya-tanya, Tan Ki sendiri sudah dapat
memastikan bahwa dia akan menceritakan apa yang dilihatnya kepada Suheng serta sang
Tocu. Setelah Kim Yu meninggalkan tempat itu, Tan Ki segera berdiri dengan bibir
menyunggingkan senyuman.
“Saat ini waktu masih ada tiga kentungan sebelum sore hari. Sahabat-sahabat dari
perkumpulan kita ini sebagian sudah terserang racun. Mereka tentu saja tidak dapat
menghadapi musuh. Harap kalian menggunakan waktu yang singkat ini untuk beristirahat
agar semangat pulih kembali. Pertarungan yang akan berlangsung senja nanti menyangkut
nasib dunia Bulim kita. Cayhe hanya mengandalkan bantuan dari saudara-saudara
sekalian…”
Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba terdengar seseorang berteriak menukas,
“Bengcu tidak perlu rendah diri, pihak Lam Hay dan Si Yu bergabung untuk menyerbu kita,
cara mereka licik dan keji. Kitapun tidak perlu sungkan menghadapi manusia-manusia
seperti itu. Meskipun harus bertarung sampai titik darah penghabisan, pokoknya kita rela
mendengar perintah Bengcu. Tetapi, hamba mempunyai suatu masalah yang mengganjal
dalam hati, yang mungkin tidak enak didengar apabila diungkapkan…!”
Tan Ki melirik orang itu sejenak kemudian tersenyum ramah.
“Silahkan saudara katakan saja terus terang, siaute justru ingin mendengarnya.”
Orang itu merenung sesaat, seakan sedang mencari kata-kata yang tepat untuk
mengungkapkan isi hatinya. Beberapa waktu kemudian dia baru berkata dengan perlahanlahan…
“Meskipun di dalam dunia Bulim kita sering terjadi budi dan dendam yang berakhir
dengan pembunuhan, tetapi selama ratusan tahun boleh dibilang masih saling
memperhatikan. Setiap kabar berita cepat tersebar. Meskipun orangnya belum pernah
bertemu, kebanyakan namanya saja sudah pernah terdengar. Hamba sendiri seorang
pesilat kasar yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia Kangouw. Boleh dibilang
banyak hal yang sudah dialami ataupun dengar dari sana sini! Dalam pesta yang
berlangsung tadi, puluhan rekan kita mati secara mengenaskan karena terserang racun
yang dimasukkan dalam arak. Walaupun hamba tidak mempunyai hubungan apa-apa
dengan orang-orang itu, namun hati ini tetap merasa pedih melihat mereka mati dengan
cara demikian. Hamba merasa marah dan seakan menuntut keadilan bagi mereka. Oleh
karena itu, hamba memberanikan diri menanyakan kepada Bengcu, entah cara apa yang
akan diambil untuk menindak sang pelaku kejahatan tersebut?”
Mendengar ucapannya, untuk sesaat Tan Ki termangu-mangu. Kemudian dia malah
berbalik tanya kepada orang itu, “Bagaimana menurut pendapat saudara sendiri?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sepasang mata orang itu mengedar ke sekeliling ruangan dan melihat sekilas kepada
orang-orang yang hadir, kemudian dia baru berkata lagi dengan perlahan-lahan, “Apabila
orang itu memang pelaku kejahatan tersebut, harap Bengcu perintahkan orang untuk
membawanya keluar dan tentukan hukuman yang harus diterimanya di hadapan para
sahabat ini. Sekaligus menyelidiki di mana obat penawar racun itu disimpan sehingga kita
bisa memberi pertolongan lebih awal kepada rekan-rekan yang sekarat.”
Baru saja perkataannya selesai, terdengar suara-suara yang menyatakan kesepakatan
mereka. Melihat emosi para anggotanya sudah mulai terbangkit, sepasang alis Tan Ki
langsung menjungkit ke atas. Sejenak kemudian dia sudah pulih kembali seperti sediakala.
“Baiklah, saudara boleh persilahkan Ciu Cang Po membawanya keluar.”
Orang itu mengiakan kemudian langsung menghambur pergi.
Tidak lama kemudian, dia kembali lagi dengan diiringi oleh seorang nenek berambut
putih, yakni Ciu Cang Po yang menyeret seorang gadis berpakaian merah. Ketiganya
masuk ke dalam ruangan dan berhenti pada jarak lima langkah dari tempat duduk Tan Ki.
Pandangan mata anak muda itu segera dialihkan, dia melihat sepasang pipi Kiau Hun
yang biasanya mulus dan putih, sekarang sudah membengkak dan penuh dengan guratan
bekas tamparan jari tangan. Rambutnya acak-acakan. Walaupun belum sampai satu
kentungan dia dibawa oleh Ciu Cang Po, tetapi tampaknya mendadak saja dia menjadi
kurus banyak, wajahnya kuyu, langkah kakinya tertatih-tatih. Tidak diragukan lagi, bahwa
dia telah dihajar cukup keras oleh si nenek tua bekas gurunya itu.
Melihat keadaannya, hati Tan Ki terasa serba salah. Dia tidak dapat mengatakan
bagaimana perasaannya saat itu, entah pilu atau pedih. Dia menatap wajah Kiau Hun yang
bengap itu dengan termangu-mangu.
Kembali terdengar suara orang tadi berkata kepada Tan Ki, “Hamba menuruti perintah
Bengcu dan sudah membawa si tersangka utama ke dalam ruangan ini. Harap Bengcu
tentukan keputusannya.”
Saat itu Tan Ki sedang mengenang masa lalunya. Meskipun suara pembicaraan orang
itu sangat lantang, tetapi dia seperti tidak mendengarnya. Dia tidak mengucapkan sepatah
kata atau bergeming sedikitpun dari tempat duduknya.
Saat itu juga bayangan Kiau Hun yang menempuh bahaya menolong jiwanya bahkan
sampai diusir dari pintu perguruan seakan melintas di depan pelupuk matanya. Akhirnya
gadis itu terpaksa mencari jalan keluar sendiri untuk mengangkat derajatnya sehingga dia
rela menjadi selir Tocu Lam Hay Bun.
Dari awal sampai akhir, meskipun Kiau Hun telah salah langkah sehingga sekarang
memetik hasilnya sendiri. Tetapi kalau dipikirkan dengan seksama, semua ini timbul akibat
dirinya.
Perlu diketahui bahwa Tan Ki adalah seorang yang berwatak tinggi hati. Seorang diri
dia berkelana di dunia Kangouw dan selamanya tidak suka menerima budi orang lain.
Teringat olehnya cinta kasih Kiau Hun yang dalam dan budi yang tidak mudah dilunasi
olehnya. Hatinya menjadi tertekan. Dia merasa harus menolongnya satu kali ini agar
hutang piutang antara mereka menjadi impas. Tetapi kesalahannya justru berat sekali. Dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menggunakan racun yang ganas dan memasukkannya dalam arak sehingga begitu banyak
korban yang jatuh. Caranya ini memang terlalu keji. Meskipun Tan Ki berniat
menolongnya, tetapi mungkin dia tidak sanggup membendung kemarahan orang-orang
gagah yang hadir dalam ruangan itu. Bahkan kemungkinan masa depannya sendiri akan
hancur dan nama besar yang baru berhasil diraihnya jatuh seketika.
Semakin dipikirkan, hati Tan Ki semakin galau. Dia merasa serba salah, entah jalan
mana yang harus dipilihnya Oleh karena itu, meskipun orang tadi berkata dengan suara
lantang, di telinganya hanya bagai dengungan-dengungan yang tidak jelas. Apa yang
sebenarnya dikatakan oleh orang itu, dia benarbenar tidak tahu.
BAGIAN LI
Orang itu melihat sang Bengcu tidak memberikan jawaban sedikitpun dan tampangnya
seakan menyiratkan bahwa dia sedang menguras otaknya memikirkan suatu hal, maka
terpaksa dia mengulangi sekali lagi perkataannya.
Pikiran Tan Ki jadi tersentak sadar, mulutnya mengeluarkan suara desahan kemudian
dia mengulapkan sebelah tangannya.
“Kalian berdua harap duduk dulu.” sambil berkata, sepasang matanya menyapu ke arah
para hadirin sekilas. Tampak wajah mereka menyiratkan keseriusan yang tidak terkatakan.
Saat itu mereka juga sedang menatap kepadanya. Dia mengerti mereka ingin tahu
bagaimana Bengcu yang baru terpilih ini menyelesaikan masalah tersebut. Diam-diam
hatinya merasa tegang dan setelah menenangkan dirinya sejenak, dia mengeluarkan suara
batuk-batuk kecil.
“Apakah kau yang bernama Kiau Hun dan pernah melayani nona Mei Ling di keluarga
Liu?” tanyanya sebagai pembuka kata.
“Apakah kau ingin menyelidiki masalah ini atau ingin tahu duduk perkara yang
sebenarnya? Kalau kau memang ingin tahu siapa aku ini, baiklah. Aku akan mengatakan
terus terang bahwa aku memang seorang budak yang rendah dan dihina oleh setiap
orang!” kata-kata yang diucapkannya itu seperti ingin mengumbar kemarahan dalam
hatinya. Oleh karena itu, nada suaranya juga begitu ketus dan menusuk perasaan.
Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas, tiba-tiba nalurinya yang tajam
melintaskan sebuah pikiran. Terdengar dia berkata kembali…
“Baiklah. Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan lagi. Apabila benar, kau boleh
menganggukkan kepalamu sebagai pernyataan iya. Kalau tidak, kau gelengkan kepalamu.
Tetapi kau tidak boleh menyahut yang bukan-bukan atau mengoceh sembarangan.
Mengerti?”
Tanpa menunggu jawaban dari Kiau Hun dia segera melanjutkan lagi ucapannya.
“Tiga bulan yang lalu, demi menolong selembar nyawaku, kau sampai diusir oleh
gurumu dan meninggalkan gedung keluarga Liu. Karena kau seorang gadis yang sebatang
kara, seorang diri berkelana di dunia Kangouw, tentu pikiranmu menjadi gundah dan kau
menganggap hidup ini tidak berarti bukan?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kiau Hun merasa apa yang dikatakannya memang benar. Oleh karena itu dia
menganggukkan kepalanya.
Dia tidak tahu kalau Tan Ki berniat menolongnya. Di pihak yang satunya, dia ingin
menekan Kiau Hun dengan kata-kata agar dia tidak sembarangan mengoceh. Di pihak
yang lain dia ingin orang-orang yang hadir dalam ruangan itu merasa iba atas nasib Kiau
Hun. Apabila mereka sudah merasa kasihan terhadap nasib gadis itu yang malang,
meskipun seberapa berat dosanya, tentu tidak perlu sampai dihukum mati.
Ternyata setelah dia mengucapkan kata-katanya, perhatian para hadirin langsung
terpusat pada diri Kiau Hun.
Perlahan-lahan Tan Ki melanjutkan kata-katanya kembali…
“Seseorang yang dalam keadaan putus asa, baik pikirannya maupun keberaniannya jadi
melemah. Aku rasa dalam keadaan bingung kau bertemu dengan Toa Tocu, kemudian
dengan kata-katanya yang manis dia merayu dirimu agar kau terpengaruh untuk berpihak
padanya. Tentunya dalam keadaan seperti dirimu saat itu, tanpa berpikir panjang lagi kau
segera terbujuk untuk menuruti apa yang dikatakannya, betul bukan?”
Siapa nyana Kiau Hun malah tertawa sumbang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dalam keadaan sebatang kara dan tidak ada yang dapat diandalkan, mungkin orang
lain akan merasa putus asa dan memilih jalan pendek. Tetapi aku bukan orang seperti itu,
justru kemauanku untuk hidup semakin kuat, karena aku ingin membalas dendam. Apa
yang tidak dapat diperoleh oleh orang lain, aku malah harus mendapatkannya. Perlu kau
ketahui bahwa aku diusir dari pintu perguruan oleh Ciu Cang Po, justru karena derajatku
yang rendah dan tidak berharga setengah keping uangpun baginya. Dengan membawa
perasaan hati yang pesimis serta pedih, aku berkelana seorang diri. Diam-diam aku
bersumpah dalam hati bahwa aku rela mengorbankan apapun untuk mendapat kedudukan
yang tinggi dan harus sanggup mengangkat derajatku sendiri, agar orang-orang yang
pernah menghina aku atau orang yang menganggap rendah diriku tahu siapa diriku ini
sebenarnya. Ketika mula-mula bertemu dengan Toa Tocu dari Lam Hay Bun, aku hanya
mencoba-coba peruntunganku saja. Sebab aku tahu bahwa manusia seperti dia justru
merupakan pasangan yang paling ideal bagi diriku. Dia dapat memberiku segala hal yang
kuinginkan. Tetapi kejadiannya justru jauh berbeda dengan apa yang kau bayangkan.
Bukannya dia yang merayu diriku atau mempengaruhi diriku agar bersedia memihak
kepadanya. Malah aku yang bersandiwara di hadapannya sehingga dia menaruh perasaan
iba. Dengan tidak berpikir panjang, aku mengorbankan kecantikan serta kesucian-ku agar
dirinya terpikat. Akhirnya dia benar-benar tertarik pada diriku dan mengajarkan aku
berbagai ilmu yang tinggi dalam waktu tiga hari tiga malam. Belakangan aku malah
diangkat menjadi selir kesayangannya…”
Wajah orang-orang yang hadir di dalam ruangan itu langsung berubah hebat
mendengar keterangannya. Bahkan Tan Ki sendiri juga tidak menyangka dia akan seberani
itu mengatakan hal yang sebenarnya. Tidak dapat ditahan lagi dia jadi tertegun sekian
lama. Diam-diam dia merasa khawatir. Tampak orang-orang yang hadir di tempat itu
saling berbisik satu dengan lainnya. Suasana semakin tidak beres dan jauh dari
harapannya. Oleh karena itu dia segera menggebrak meja keras-keras, begitu kencangnya
sehingga meja bergetar hebat dan cawan-cawan yang ada di atasnya terbang melayang
tinggi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aku hanya menyuruh kau menganggukkan kepala dan menggeleng, tidak perlu banyak
omong. Sekarang kau malah berani mengoceh panjang lebar di hadapanku. Mana orang?
Harap beri tamparan dua kali biar dia tahu rasa!” bentaknya.
Wajah Kiau Hun semakin dingin mendengar ucapannya. Bibirnya malah mengeluarkan
suara tawa terkekeh-kekeh.
“Jalan darahku toh telah tertotok, tenaga dalam tidak dapat dikerahkan sedikitpun.
Jangan kata hanya ditampar, biar dibunuh sekalipun, aku juga tidak dapat memberikan
perlawanan. Memangnya kau kira perbuatanmu itu gagah sekali?”
Hati Tan Ki semakin tertekan melihat keberanian Kiau Hun. Tadinya dia memang
sengaja menyuruh orang menempeleng pipinya agar kemarahan para hadirin yang
mendengar ceritanya agak reda. Perlahan-lahan dia baru mencari akal menolong gadis itu.
Siapa sangka Kiau Hun sama sekali tidak mengerti maksud hati Tan Ki. Dia kira anak muda
itu sengaja menghinanya di depan orang banyak. Akhirnya Tan Ki jadi serba salah. Belum
lagi dia sempat mengatakan apa-apa, tiba-tiba telinganya mendengar suara dengusan
dingin. Kumandangnya menggidikkan hati sehingga orang yang mendengarnya seperti
diguyur air dingin. Begitu pandangan matanya beralih, dia melihat Ciu Cang Po melesat ke
depan secepat kilat dan berhenti di hadapan Kiau Hun.
“Kalau kau memang sudah kepingin mati, si nenek tua akan mengabulkan
permintaanmu!” bentaknya marah.
Lengannya yang kurus kering terjulur keluar dan sebuah pukulan dihantamkannya ke
dada Kiau Hun.
Tampak Kiau Hun memejamkan matanya menunggu kematian. Tiba-tiba dia merasa
ada serangkum angin yang kencang melanda sampingnya. Tahu-tahu pukulan yang
dilancarkan oleh Ciu Cang Po tertahan bahkan tubuhnya sampai tergetar oleh rangkuman
angin yang kencang tadi.
Telinganya mendengar suara seseorang yang bening dan lantang, “Harap Locianpwe
jangan turun tangan sembar angan!”
Hati Ciu Cang Po terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia menarik kembali serangannya
lalu mencelat mundur ke belakang. Dia menolehkan kepalanya melihat, rupanya orang
yang bersuara tadi justru Bengcu yang baru terpilih, Tan Ki.
Meskipun namanya sudah jauh lebih lama terkenal dari pada anak muda itu, tetapi dia
sadar bahwa Tan Ki menemukan berbagai keajaiban sehingga ilmunya tinggi sekali. Malah
kalau ditilik dari keadaannya sekarang, mungkin ilmu Tan Ki sudah jauh lebih hebat dari
dirinya. Meskipun wataknya sangat picik dan tidak pernah mau mengalah kepada
siapapun, tetapi untuk saat ini dia juga tidak berani mengumbar adatnya yang keras
kepala. Apalagi Tan Ki sudah menjabat sebagai Bulim Bengcu yang harus dihormati, oleh
karena itu tampak nenek tua itu tertawa sumbang lalu berkata, “Tindakan apa yang akan
diambil oleh Bengcu?”
Tan Ki tersenyum lebar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kita toh belum berhasil mengetahui di mana dia menyimpan obat penawar racun itu.
Harap kau jangan mengganggu dia lebih dahulu.”
Ciu Cang Po melihat Tan Ki dapat melancarkan serangan tetapi orangnya sendiri
langsung mengikuti di belakang pukulannya. Kecepatan serangan yang dilancarkan oleh
anak muda itu belum tentu dapat dilakukan orang lain. Diam-diam hatinya tergetar dan
kemudian mengundurkan diri dengan perasaan apa boleh buat.
Tan Ki melihat pandangan mata orang-orang gagah saat itu tertumpu pada diri Ciu
Cang Po, cepat-cepat dia berkata dengan suara lirih, “Apabila kau mempunyai obat
penawar itu, cepat keluarkan. Aku akan mencari akal menolongmu terlepas dari kesulitan
ini.”
Mata Kiau Hun menyorotkan kepedihan hatinya. Bibirnya mengembangkan seulas
senyuman yang pilu.
“Biarpun ada, asal kau membuka mulut memohon kepadaku, pasti akan kuserahkan
kepadamu.”
Tan Ki menghentakkan kakinya di atas tanah keras-keras.
“Aih, kau ini memang tidak mengerti perasaan orang…!” tiba-tiba suatu ingatan
melintas di benaknya. Dia segera merubah pokok pembicaraannya. “Aku tahu Oey Ku
Kiong sudah lama jatuh hati padamu, mungkin dia juga tahu persoalan ini dan merasa
sedih karenanya.”
Mendengar kata-katanya, bibir Kiau Hun mencibir seakan mengejek.
“Apapun yang dia lakukan, aku toh tidak pernah memaksanya. Tetapi perlu kau ketahui
bahwa aku tidak tertarik sedikitpun kepadanya, meskipun untuk mengambil hatiku dia rela
mengorbankan apa saja dan berani menempuh segala kesulitan serta selalu memikirkan
keselamatan diriku. Ditilik dari luar, dia memang seorang pemuda yang romantis.
Bodohnya sampai patut dikasihani, tetapi sebetulnya orang seperti dia itulah yang
dinamakan sudah tahu malah mencari kesulitan untuk diri sendiri. Aku justru memegang
kelemahannya dan memperalat dia untuk sementara waktu. Apabila pihak Lam Hay
berhasil menguasai Tionggoan, maka aku tidak memerlukan dirinya lagi, pada saat itu aku
akan menyepaknya jauh-jauh. Obat penawar dari racun Cairan Ular yang berharga itu,
mana mungkin aku serahkan kepada orang seperti dia?”
Hati Tan Ki sampai tercekat mendengar kata-katanya. ‘Sungguh keji perempuan
ini.’pikirnya diam-diam.
Kiau Hun melihat sepasang alis Tan Ki terus berkerut, dia mengira hati anak muda itu
sedih memikirkan obat penawar yang tidak berhasil didapatkannya. Oleh karena itu, dia
malah mengembangkan seulas senyuman yang santai.
“Bersedih terus juga percuma saja, obat penawar dari racun Cairan Ular hanya dimiliki
oleh Toa Tocu seorang, percuma kau menguras otakmu sedemikian rupa!”
Mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Biar bagaimana aku merupakan Bulim Bengcu zaman ini. Apakah aku melihat orangorangku
mati keracunan begitu saja tanpa berusaha sedikitpun?” bentaknya marah. Dalam
keadaan kesal, kesadarannya jadi terganggu, tanpa terasa kata-katanya itu diucapkan
dengan nada keras.
Diam-diam hati Kiau Hun tergetar. Dia seperti seorang yang menerima hinaan berat. Air
matanya langsung mengalir dengan deras.
“Orang-orang yang keracunan, tidak mungkin bisa bertahan sampai esok hari.
Meskipun sekarang ada orang yang berangkat ke Lam Hay secepatnya untuk mencuri obat
penawar itu, dalam satu hari juga tidak mungkin sanggup menempuh perjalanan sejauh
itu.”
Sepasang mata Tan Ki memandang Kiau Hun dengan mendelik. Setelah menatap
sekejap, tiba-tiba dia menarik nafas panjang. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Dia
bukan sedang memikirkan cara menyelamatkan orang-orang yang keracunan. Tetapi
merasa tidak berdaya menghadapi Kiau Hun yang keras kepala itu.
Justru ketika dia masih merasa serba salah, entah siapa tiba-tiba berteriak dengan
suara keras, “Kalau memang tidak dapat memperoleh obat penawar dari diri perempuan
itu, membiarkan dia hidup hanya meninggalkan bencana di kemudian hari. Lebih baik
bunuh saja sekalian membalaskan dendam kematian rekan-rekan kita!”
Seseorang yang lain langsung menukas ucapan orang yang pertama tadi…
“Watak perempuan itu sungguh keji. Dengan tenang dia sanggup meracuni orang
sebanyak ini. Benar-benar lebih beracun dari ular berbisa, lagipula membuat orang tidak
merasa iba sedikitpun terhadapnya. Cayhe mohon Bengcu mengambil keputusan yang
tegas, jangan sampai menimbulkan penyesalan di kemudian hari…!”
Satu dua orang buka mulut, yang lain ikut menyambar. Saat itu suasana di dalam
ruangan menjadi bising. Terdengar suara setuju dari kanan kiri.
Melihat keadaan ini, hati Tan Ki semakin tertekan. Dia mulai merasa bahwa keadaan
Kiau Hun semakin lama semakin membahayakan. Tanpa sadar dia memandang Yibun Siu
San, Cian Cong serta si tokoh sakti dari Bu Tong San, yakni Tian Bu Cu dengan mata
mengandung permohonan agar mereka memberikan jalan keluar kepadanya. Siapa nyana
mereka malah memejamkan matanya rapat-rapat seakan tidak bersedia ikut campur
dalam urusan ini. Oleh karena itu, dia segera menarik nafas panjang-panjang dan ikut
memejamkan matanya merenung.
Dia baru diangkat menjadi Bulim Bengcu, dengan demikian juga ia sadar bahwa dirinya
harus menggunakan akal sehat menangani masalah ini. Dia harus mengambil keputusan
tegas sehingga orang-orang yang hadir dalam ruangan itu dapat merasa puas.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, mendadak dia membuka matanya kembali,
sikapnya serius dan wajahnya tampak kelam. Dia menepukkan tangannya tiga kali agar
para hadirin menghentikan pembicaraan mereka. Kemudian tampak dia mengangkat
telapak tangan kanannya dan berhenti di atas kepala Kiau Hun kurang lebih tiga mistar.
Diam-diam dia telah mengerahkan dua bagian tenaga dalamnya dan siap-siap dilancarkan.
Tenaga dalam Tan Ki saat ini sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Asal menggunakan
sedikit kekuatannya saja, bagian otak Kiau Hun pasti akan tergetar dan mati seketika.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu melihat Tan Ki mengangkat tangannya dan berhenti di atas kepala Kiau Hun,
suara bisikan maupun pembicaraan berhenti seketika. Suasana menjadi hening serta
mencekam. Semua mata terpusat pada diri kedua orang itu dan menunggu dengan hati
tegang. Mereka membuka mata lebar-lebar seakan takut hilang kesempatan menyaksikan
kejadian besar ini. Bahkan saking tegangnya mereka sampai menahan nafas sekian lama.
Keringat dingin juga mulai membasahi wajah Tan Ki. Hatinya bimbang bukan main. Dia
merupakan seorang pemuda yang mempunyai sifat welas asih. Apabila orang meminta dia
membunuh seorang gadis yang tidak sanggup memberikan perlawanan, sebenarnya tidak
sampai hati dia melakukannya. Tetapi karena keadaan yang mendesak, lagipula sebagai
seorang Bengcu dia harus bertindak tegas, terpaksa dia harus turun tangan dengan keras
agar hati orang-orang yang hadir dalam ruangan itu merasa puas.
Dua macam pemikiran yang bertentangan terus berkecamuk dalam hatinya.
Perasaannya semakin lama semakin gelisah. Serangkum rasa pedih menyelinap dalam
kalbunya “dan untuk sesaat dia tidak sanggup turun tangan…
Tiba-tiba Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat. Hatinya dikeraskan dan siap-siap
turun tangan…
Sekonyong-konyong telinganya mendengar suara Kiau Hun yang sendu, “Tan Koko,
benarkah kau tega membunuh diriku?”
Beberapa patah kata yang tercetus dari mulutnya itu benar-benar keluar dari hatinya
yang tulus. Setiap kalimatnya diucapkan dengan nada yang panjang ditambah lagi dengan
wajahnya yang basah oleh air mata. Tampangnya sungguh mengenaskan dan
mengandung daya tarik seorang wanita yang dalam.
Setelah mendengar nada suaranya yang sendu, dadanya seperti ditinju keras-keras oleh
seseorang. Tubuhnya bergetar hebat sehingga tenaga dalam yang sudah dikerahkan serta
siap dilancarkan seakan tertahan oleh suatu kekuatan yang tidak berwujud. Tanpa terasa
telapak tangannya merenggang dan dia malah memandang Kiau Hun dengan termangumangu.
Suara Kiau Hun yang lembut kembali mendengung di telinganya…
“Boleh dibilang hari ini aku baru benar-benar mengenal siapa dirimu. Lucunya selama
ini aku terus mencintaimu dengan sepenuh hati. Sudah salah tafsir, masih begitu bodoh
sehingga apapun yang kau katakan, aku menaruh kepercayaan sepenuhnya.” suaranya
yang tadi begitu lembut semakin lama semakin dingin dan datar.
Perasaan Tan Ki jadi bergejolak mendengarkan kata-katanya, tanpa sadar dia malah
menarik kembali telapak tangannya.
Kiau Hun melihat Tan Ki mulai terpengaruh oleh kata-katanya, tentu saja diam-diam
merasa senang. Asal dia terus mempengaruhi anak muda itu, mungkin tidak sulit baginya
untuk meloloskan diri dari tempat tersebut.
Sayangnya seluruh tenaga dalamnya saat itu sudah lenyap sehingga dia tidak dapat
mengerahkan ilmu Pembetot Sukmanya untuk memikat Tan Ki…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Justru ketika pikirannya masih melayang-layang, tiba-tiba dia melihat wajah Tan Ki
perlahan-lahan mulai berubah. Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam. Tanpa
terasa hatinya jadi tercekat. Pada saat itu juga dia merasa ada serangkum tenaga yang
menekan dari atas kepala. Kali ini rasa terkejutnya benar-benar tidak terkirakan, tubuhnya
bergetar bagai disambar kilat dan bagian kepalanya langsung terasa gatal. Dia maklum
Tan Ki hanya mengerahkan dua tiga bagian tenaganya, tetapi apabila dihantam ke ubunubun
kepalanya, cukup untuk membuat jiwanya melayang. Apalagi jalan darahnya dalam
keadaan tertotok, tubuhnya tidak dapat bergerak sedi-kitpun. Oleh karena itu terpaksa dia
memejamkan matanya menunggu kematian.
Tiba-tiba telinganya mendengar suara benturan yang keras. Dua rangkum tenaga
beradu di atas kepalanya. Kekuatannya demikian dahsyat sehingga rambut Kiau Hun
terurai dan melambai-lambai.
Kemudian dia mendengar suara kibaran pakaian, tanpa dapat mempertahankan diri lagi
dia membuka sepasang matanya. Dia melihat Oey Ku Kiong tergetar oleh tenaga dalam
Tan Ki yang kuat sehingga kakinya menjadi goyah dan tubuhnya terhuyung-huyung
mundur ke belakang dua langkah.
Oey Ku Kiong tiba-tiba turun tangan menolong Kiau Hun, benar-benar merupakan hal
yang tidak diduga-duga oleh Tan Ki. Dia melihat wajah anak muda itu menyiratkan
kepedihan, namun tidak mengandung niat jahat sedikitpun. Kesannya terhadap Oey Ku
Kiong memang cukup baik. Setelah termangu-ma-ngu beberapa saat, ternyata dia tidak
sanggup marah kepada anak muda ini. Terdengar dia berbicara dengan nada yang berat,
“Apa yang dikatakan oleh perempuan ini tadi merupakan ucapan yang keluar dari hatinya
yang paling dalam. Dia begitu memandang rendah Oey Ku Kiong dan menghinamu
sedemikian rupa, mengapa kau masih berusaha menolong dirinya?”
Oey Ku Kiong langsung menjura dalam-dalam. Tampak dia tertawa getir.
“Perasaan cinta memang selalu menjerat manusia dalam perangkapnya. Sedangkan
orang yang sudah terjerat sulit lagi apabila ingin melepaskan diri. Karena hengte sudah
jatuh cinta kepadanya, terpaksa menerima dia apa adanya. Baik atau jahat, untuk
selamanya hati ini tidak akan berubah. Meskipun hente sudah tahu bahwa diri ini hanya
bertepuk sebelah tangan dan hanya menjadi permainannya saja, tetapi perasaan hati ini
tetap tidak bisa melupakan dirinya…” jiwanya bagai terkena pukulan bathin yang berat.
Kata-katanya lebih mirip gumaman. Rasanya apabila diteruskan hanya merendahkan
derajatnya sendiri. Oleh karena itu dia hanya tertawa sumbang dan membungkam seribu
bahasa.
Tampak Tan Ki menarik nafas dalam-dalam.
“Kau benar-benar bodoh sekali. Sudah tahu lubang di depan mata, masih rela terjun ke
dalamnya. Tampaknya sampai matipun perasaanmu tidak dapat dirubah lagi.”
“Pandangan hidup setiap orang memang berbeda-beda. Meskipun hengte bukan orang
baik-baik, tetapi mendengar ucapan Tan-heng tadi, hati ini benar-benar terhibur. Justru
karena kau sudi memaki diriku sedemikian rupa, hal ini membuktikan bahwa kau
menganggap aku seperti saudaramu sendiri.”
Tan Ki mengulapkan tangannya menghentikan kata-kata Oey Ku Kiong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Katakanlah apa yang tersimpan dalam hatimu sekarang ini.”
Rahasia hati Oey Ku Kiong bagai tersingkap oleh Tan Ki. Wajahnya menjadi merah
padam. Cepat-cepat dia mengangkat lengan bajunya menutupi mulut dan mengeluarkan
suara batuk-batuk kecil. Setelah itu dia baru berkata, “Tentunya Tan-heng sudah tahu
perasaan hati hengte yang masih mengkhawatirkan diri Ceng Kouwnio. Hengte rasa
apabila dia sanggup memasukkan racun ke dalam arak, tentu dia juga mempunyai akal
untuk mendapatkan obat penawarnya. Harap Tan-heng ajukan syarat sebagai
pembebasan dirinya, biar hente yang menggantikannya menjadi sandera Tan-heng.”
Mendengar kata-katanya, Tan Ki merasa tercekat. Diam-diam dia berpikir dalam
hatinya: ‘Apa maksud ucapannya ini? Terang-terangan kau ingin aku mewujudkan
harapanmu yang rela berkorban demi menukar selembar nyawa Kiau Hun. Apakah dia
akan kembali membawa obat penawar atau tidak, tentu kau tidak memusingkannya sama
sekali…’
Pikirannya bagai kincir angin yang terus berputar. Belum sempat dia membuka suara,
tiba-tiba tampak Liu Seng berdiri dari temoat duduknya kemudian menukas, “Dengardengar
kau adalah putra angkat Oey Kang, bukan?”
Oey Ku Kiong membalikkan tubuhnya dan menjura dalam-dalam.
“Boanpwe memang putranya.” sahutnya sopan.
Liu Seng mengeluarkan suara dengusan perlahan. Wajahnya menunjukkan perasaan
kurang senang.
“Apakah kau tahu jejak ayahmu akhir-akhir ini?”
Oey Ku Kiong menarik nafas panjang.
“Gi-hu mempunyai pandangan hidup tersendiri. Kalau tidak salah dia sudah bergabung
dengan pihak Lam Hay…”
“Itu dia…. kalau Oey Kang memegang peranan penting karena bergabung dengan Lam
Hay Bun, sedangkan kau mempunyai hubungan sebagai anak dan ayah dengannya. Tentu
dia tidak akan turun tangan keras terhadapmu. Apabila kau ingin menolong nona Ceng,
lebih baik kau saja yang diutus ke Lam Hay Bun untuk mendapatkan obat penawar.
Sebelum racun dalam tubuh rekan-rekan kami bereaksi, dan kau dapat kembali tepat pada
waktunya, selembar jiwa nona Kiau Hun pasti masih dapat dipertahankan. Apabila kau
ingin menggantikan kedudukan nona Kiau Hun, hal ini sama sekali tidak boleh terjadi!”
kata Liu Seng dengan nada tegas.
Kata-kata yang diucapkannya persis seperti sebatang paku yang dipantekkan dalamdalam
pada dinding batu. Biar bagaimana tidak bisa dirubah kembali. Diam-diam hati Oey
Ku Kiong tergetar. Dia menundukkan kepalanya merenung sejenak. Kemudian tampak dia
menggertakkan giginya erat-erat dan wajahnya menunjukkan bahwa dia sudah mengambil
keputusan yang bulat.
“Hengte rela menempuh bahaya mencobanya. Tetapi harap sebelum matahari terbit,
apabila aku berhasil, aku masih sempat melihat wajah nona Ceng dalam keadaan hidup!”
sembari berkata, matanya yang mengandung kasih sayang melirik Kiau Hun sekilas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian dia menghentakkan kakinya di atas tanah, kemudian membalikkan tubuh
meninggalkan tempat itu.
Kiau Hun melihat anak muda itu tidak memperdulikan mati hidupnya sendiri berusaha
menolong jiwanya. Hatinya merasa terharu sekali. Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin
memanggil Oey Ku Kiong untuk menghiburnya beberapa patah kata. Tiba-tiba dia seperti
mengingat suatu masalah yang penting sekali sehingga mendadak wajahnya berubah
datar dan mulutnya mengeluarkan suara tertawa dingin. Dia tidak jadi memanggil anak
muda itu.
Suasana di dalam ruangan itu semakin mencekam.
Liu Seng menunggu sampai bayangan punggung Oey Ku Kiong sudah menjauh, diamdiam
dia mempersiapkan sebatang pisau terbang dalam genggaman tangannya. Kemudian
terdengar dia memanggil, “Anak Ki, kemarilah sebentar.”
Tan Ki segera mengiakan dan berlari ke arahnya.
Baru saja kakinya maju ke depan beberapa langkah, sekonyong-konyong dia melihat
tangan kanan mertuanya mengibas keluar, cahaya dingin memijar sehingga membentuk
carikan sinar berwarna keputih-putihan dan melesat secepat kilat. Tanpa dapat ditahan
lagi dia jadi tertegun.
Justru ketika dia menolehkan kepalanya untuk melihat lebih jelas, tiba-tiba telinganya
mendengar suara jeritan yang menyayat hati. Dia melihat sepasang alis Kiau Hun
mengerut dengan ketat. Sepasang tangannya mendekap dada, wajahnya menyiratkan
penderitaan yang tidak terkirakan. Rupanya di tengah-tengah jantung Kiau Hun saat itu
sudah menancap sebatang pisau terbang. Yang terlihat hanya gagangnya yang berukuran
dua cun. Darah mengalir dengan deras dari tangkai pisau itu kemudian menetes
membasahi tanah.
Mula-mula Tan Ki terkejut setengah mati. Sesaat kemudian dia baru mengerti maksud
hati mertuanya. Rupanya orang itu takut tindakannya akan dicegah oleh Tan Ki apabila
anak muda itu tetap berdiri di samping Kiau Hun. Dengan ketinggian ilmu yang dimilikinya
saat itu, kemungkinan tersebut bisa saja terjadi. Oleh karena itu, dia pura-pura
memanggilnya. Ketika Tan Ki melangkah ke depan dan perhatiannya terpencar, dia
menimpukkan pisau terbang yang sudah dipersiapkannya dan dengan tepat menembus
jantung Kiau Hun. Melihat darah segar berceceran di atas tanah, hatinya merasa pedih
tidak terkatakan. Kalau kedudukannya sekarang bukan seorang Bulim Bengcu, rasanya dia
ingin menghambur ke dekat Kiau Hun dan menangis sepuas-puasnya. Hal ini bukan karena
Tan Ki menyayangkan kematian Kiau Hun.
Tetapi dia merasa bersalah terhadap Oey Ku Kiong, apalagi dia belum sempat
membalas budi yang ditanamkan gadis itu pada dirinya…
Dengan susah payah Tan Ki menahan air matanya yang hampir mengalir turun.
Orangnya sendiri seperti sebuah patung batu dan memandang Kiau Hun dengan
termangu-ma-ngu. Tidak sepatah katapun terucap dari mulutnya.
Saat itu wajah Kiau Hun sudah berubah pucat pasi, tubuhnya terhuyung-huyung. Dia
berusaha mempertahankan dirinya, tapi keadaannya sudah seperti lampu yang hampir
kehabisan minyak. Tan Ki melihat bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengatakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sesuatu. Namun dia sudah lemah sekali, untuk sesaat dia tidak sanggup membendung
keperihan hatinya, kakinya langsung melangkah ke depan menghampiri Kiau Hun.
Tangan kanan Tan Ki terulur ke depan meraih pinggang Kiau Hun. Dalam waktu yang
bersamaan dia berkata dengan suara lirih, “Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?”
Sepasang mata Kiau Hun yang mulai redup membuka dan menatapnya sejenak.
Kemudian dia memejamkan matanya kembali, bibirnya bergerak-gerak beberapa kali
akhirnya terdengar juga suaranya yang seperti dengungan nyamuk.
“Pertikaian Cin merupakan takdir, daun Tong rontok sedikit… de… mi… se… di… kit…”
entah apakah ucapannya hanya demikian saja atau masih ada kelanjutannya. Tetapi
kepala Kiau Hun tiba-tiba terkulai dan jiwanya pun melayang.
Dengan mata tidak berkedip sedikitpun Tan Ki melihat seorang gadis cantik mati dalam
pelukannya, tiba-tiba hidungnya terasa perih dan air matanya jatuh bercucuran.
Perlahan-lahan dia meletakkan mayat Kiau Hun di atas tanah, kemudian
membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Ini merupakan penghormatan dari hatinya yang
paling dalam sebagai tanda penyesalan dirinya.
Orang-orang yang hadir di dalam ruangan itu juga merasa iba melihat nasib gadis itu.
Wajah mereka tampak kelam. Perih dan sesal membaur dalam hati mereka. Bahkan Yibun
Siu San, Cian Gong serta Tian Bu Cu yang mempunyai kekerasan hati melebihi orang lain
juga berubah mimik wajah mereka. Suasana dalam ruangan itu demikian mencekam, kematian
Kiau Hun yang mengenaskan itu tampaknya menimbulkan kepiluan yang tidak
terkirakan.
Sekali lagi Tan Ki menarik nafas panjang. Baru saja dia ingin memanggil beberapa
orang untuk mencari tempat yang tenang untuk mengubur mayat Kiau Hun, tiba-tiba
suatu ingatan melintas di benaknya. Mendadak dia ingat bahwa kata-kata yang diucapkan
Kiau Hun menjelang akhir hidupnya pernah didengarnya dan juga merupakan syair yang
menghalau Cia Tian Lun pergi meninggalkan mereka. Hatinya sadar bahwa syair itu
merupakan pesan yang dititipkan kepada ibunya oleh kakak beradik Cin Ying dan Cin Ie.
Meskipun tidak persis sama, tetapi makna yang terkandung di dalamnya hampir serupa.
Tentu saja Tan Ki tidak mengerti apa maksudnya. Hanya hatinya merasa heran mengapa
menjelang akhir hidupnya Kiau Hun bisa mengucapkan kata-kata itu. Oleh karena itu,
pandangan matanya langsung ditujukan kepada kakak beradik Cin yang berdiri di belakang
ibunya. Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi kemudian
dibatalkannya kembali.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendatangi dengan tergesa-gesa. Seorang
penjaga menghambur masuk ke dalam ruangan dan berhenti di hadapan Tan Ki.
Kemudian orang itu menekuk sebelah kakinya dan memberikan laporan…
“Regu depan melaporkan, bagian timur dan selatan sudah terlihat munculnya jejak
musuh. Harap Bengcu segera menurunkan perintah!”
Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bagus sekali! Mereka tidak perlu makan dan beristirahat lagi langsung datang
menyerbu?” tangannya mengibas sebagai isyarat agar penjaga itu mengundurkan diri.
Kemudian dia berjalan perlahan-lahan ke tempat duduknya semula.
Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu melihat dia tidak mengucapkan sepatah
kata-pun dan menundukkan kepalanya merenung. Mereka tahu bahwa saat itu dia sedang
menguras otaknya memikirkan cara menghadapi musuh. Oleh karena itu, mereka
menahan nafas dan tidak berani bergerak sedikitpun. Mereka menunggu keputusan yang
akan diambil oleh Tan Ki. Orang-orang itu tahu bahwa Tan Ki mempunyai otak yang
sangat cerdas, tetapi kali ini mereka menghadapi musuh yang tangguh dari pihak Lam Hay
dan Si Yu. Seandainya terjadi kesalahan sedikit saja, maka seluruh pasukan akan
terpengaruh. Pertumpahan darah akan terjadi secara mengerikan. Hal ini menyangkut
seluruh dunia Bulim sehingga diam-diam hati mereka merasa tegang sekali.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, tiba-tiba Tan Ki mendongakkan wajahnya
dan menarik nafas panjang-panjang. Dia seakan melampiaskan kekesalan dan
kegundahan hatinya. Semangatnya seperti terbangkit kembali. Orangnya sendiri langsung
berdiri.
“Para Jendral di zaman dahulu mempunyai sebuah pedoman: ‘Air datang, tanah
menghadang. Prajurit datang, Jendral menantang!’ Perkumpulan Ikat Pinggang Merah
mewakili golongan hitam dan putih dari dunia Bulim. Dengan demikian kita harus
menghadapi gabungan pihak Lam Hay dan Si Yu. Meskipun kekuatan musuh di depan
mata lebih kuat dari kita, tetapi pertarungan ini menyangkut nasib seluruh Bulim kita. Aku
rasa saudara-saudara sekalian dapat bersatu menghadapi musuh-musuh yang tangguh
ini.”
Terdengar sahutan serentak dari orang-orang yang hadir di dalam ruangan tersebut.
“Kami rela menerima perintah Bengcu dan bersatu menghadap musuh-musuh yang
ingin menanamkan kekuasan di daerah Tionggoan kita.”
Tan Ki tertawa lembut.
“Kalau begitu hatiku baru merasa tenang. Meskipun kekuatan kita kalah banyak, tetapi
semangat kita jauh melebihi mereka. Demi kesejahteraan dunia Bulim kita di masa yang
akan datang, setiap tetes darah harus mengalir dengan imbalan yang sesuai.” dia
menghentikan kata-katanya sejenak, baru kemudian melanjutkan kembali. “Ada suatu
berita lainnya yang harus kusampaikan terlebih dahulu kepada saudara-saudara sekalian.
TianlBu Cu Locianpwe tadi mengatakan kepadaku bahwa lima partai besar sudah tahu
golongan sesat dari luar samudera akan menyerbu kita. Asal kita bersatu dengan segenap
kemampuan serta mempertahankan diri sampai besok siang, maka para ketua, pimpinan
maupun angkatan tua dari lima partai besar akan keburu sampai di sini memberikan
bantuan.” berkata sampai di sini, tiba-tiba suatu ingatan melintas di benaknya. Tanpa
sadar sepasang alisnya berkerut, ucapannya terhenti. Wajahnya menunjukkan
perasaannya yang gundah.
Tiba-tiba terdengar suara tambur dipukul bertalu-talu, kemudian disusul dengan
tepukan tangan yang riuh rendah. Rupanya orang-orang yang hadir menyambut ucapan
Tan Ki dengan riang gembira. Semangat mereka juga terbangkit seketika. Mereka malah
tidak memperhatikan mimik. wajah Tan Ki yang aneh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Liang Fu Yong mempunyai sepasang mata yang tajam. Dia sangat mencintai Tan Ki
sehingga selalu memperhatikan gerak-gerik anak muda tersebut. Melihat wajah anak
muda itu mendadak berubah kelam, dia langsung teringat suatu rahasia yang besar.
Ketika baru terjun ke dunia Kangouw, boleh dibilang secara berturut-turut Tan Ki
membunuh dua puluh tujuh tokoh hitam putih dunia Bulim. Kemudian dirinya malah
sempat bertikai dengan orang-orang dari pihak lima partai besar. Setelah lewat satu tahun
dia baru tahu bahwa pembunuh ayahnya yang sebenarnya adalah paman keduanya, Oey
Kang. Tetapi dia sudah terlanjur membunuh sekian banyak orang, hatinya menyesal
sekali. Orang-orang yang mati di tangannya hanya tahu bahwa dirinya adalah Cian Bin Moong,
si raja iblis yang menggemparkan dunia Kangouw.
Meskipun sampai hari ini rahasianya masih belum terbongkar, tetapi hati kecilnya terus
merasa bersalah. Dia selalu merasa tidak tenang. Oleh karena itu, setiap hal yang
dilakukannya selalu mengandung kebimbangan. Begitu tahu bahwa tidak lama lagi dia
akan berhadapan dengan orang-orang dari lima partai besar, hatinya menjadi agak kecut.
Apalagi dirinya terus digelayuti kisah asmara yang melibatkan beberapa orang gadis.
Meskipun Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, tetapi dalam waktu yang
bersamaan harus menghadapi begitu banyak persoalan, pikirannya menjadi galau juga.
Justru ketika pikiran Liang Fu Yong melayang-layang dan hatinya merasa gelisah. Tibatiba
telinganya menangkap suara Tan Ki yang sengaja dicetuskan seriang mungkin.
“Baru saja Perkumpulan Ikat Pinggang Merah kita didirikan, ternyata kita sudah harus
menghadapi cobaan yang demikian berat. Satu tangan tentu sulit melakukan pekerjaan
yang banyak. Aku harap saudara dapat bersatu menghadapi musuh, dengan demikian
baru kita menjadi kuat.”
Meskipun hatinya sedang gelisah, tetapi di hadapan sekian banyak anggota
Perkumpulan Ikat Pinggang Merah, dia terpaksa menunjukkan sikapnya yang optimis dan
gagali. Dia harus menjaga wibawanya sebagai seorang Bulim Bengcu. Selesai berkata, dia
langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
Terdengar suara dorongan meja dan kursi yang membisingkan telinga. Rupanya saat
itu orang-orang yang ada dalam ruangan berdiri dari tempat duduknya serentak dan
mengikuti Tan Ki berjalan keluar. Dalam waktu yang singkat, ruangan yang tadinya penuh
sesak jadi kosong melompong. Hanya ada sesosok mayat yang mulai mendingin
menggeletak di atas tanah…
Sukma seseorang telah meninggalkan raganya dan kembali ke alam asalnya. Orangorang
yang melihatnya segera timbul rasa pilu yang tidak terkirakan…
Beberapa saat kemudian, Tan Ki membawa orang orang yang terdiri sebagai anggota
perkumpulannya menuju pintu gerbang. Begitu pandangan matanya mengedar, dia
melihat suasana di sekitarnya sunyi senyap. Sama sekali tidak terlihat jejak musuh. Ketika
mengedarkan pandangannya, Tan Ki sempat melirik sekilas kepada Liu Seng.
Meskipun mulutnya tidak mengatakan apa-apa, tetapi diam-diam dia sudah mengambil
sebuah keputusan dalam hati. Dia seakan menyalahkan Liu Seng yang tanpa meminta
persetujuannya lagi langsung membunuh Kiau Hun dengan pisau terbang. Apabila Oey Ku
Kiong yang menempuh bahaya mengambil obat penawar dapat kembali tepat pada
waktunya dan berhasil, bagaimana dia harus menyatakan tanggung jawabnya?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika pertama-tama menerima jabatan sebagai Bulim Bengcu, dia sudah menentukan
bahwa ‘Harus menjaga kepercayaan orang lain dan menepati janji’ sebagai peraturan
ketiga yang tidak boleh dilanggar. Ternyata belum satu hari saja, Liu Seng sudah
melanggar peraturan tersebut. Hal ini justru membuat Tan Ki jadi serba salah dan tidak
tahu apa yang harus dilakukannya.
Perlu diketahui bahwa Tan Ki sekarang merupakan seorang Bulim Bengcu. Baik
perkataan maupun tindak tanduknya mempunyai pengaruh yang besar terhadap dunia
Bulim. Dia harus bersikap tegas agar para anggotanya benar-benar takluk dan tidak
memilih kasih. Sekarang dengan seenaknya Liu Seng melanggar peraturan yang
ditentukan. Sudah seharusnya Tan Ki memberi hukuman kepadanya agar yang lain tidak
ikut-ikutan melakukan hal yang sama. Tetapi justru hubungannya dengan orang itu
merupakan mertua dan menantu…
Semakin dipikirkan hati Tan Ki semakin kesal. Dia merasa pikirannya saat itu seperti
buntu dan tidak dapat menentukan jalan yang harus dipilihnya. Kalau Oey Ku Kiong tidak
berhasil mendapatkan obat penawar, mungkin urusannya tidak begitu rumit. Namun
nyawa para anggotannya yang sedang sekarat…? Mungkin lebih baik kalau Oey Ku Kiong
berhasil mendapatkan obat penawar tetapi waktunya lebih dari batas yang telah
ditentukan, dengan demikian dia masih dapat mengemukakan berbagai alasan…
Justru ketika pikirannya masih bergerak, tiba-tiba dari seberang bukit terdengar suara
siulan yang panjang. Kemudian disusul dengan belasan sosok bayangan yang muncul. Di
bawah cahaya matahari yang terik, tampak mereka melesat datang dengan cepat.
Mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam, tangannya terangkat ke atas dan
menggapai sebanyak dua kali. Orang-orang yang mengikutinya segera memencarkan diri
dan mengambil posisi melebar seperti sayap burung rajawali yang direntangkan. Gerakan
mereka sangat kompak seperti orang-orang yang sudah lama dilatih. Barisan mereka pun
teratur sekali.
Tiba-tiba tampak cahaya merah menerpa pandangan mata, rupanya secara diam-diam
orang-orang gagah itu sudah menyiapkan sehelai ikat pinggang merah untuk diri mereka
masing-masing dan saat itu langsung digunakan untuk mengikat pinggang mereka.
Panjang pendeknya tidak sama, mungkin karena diselesaikan dengan tergesa-gesa. Hanya
Tian Bu Cu seorang yang merupakan kekecualian. Dia tetap berdiri tidak bergerak di
tempatnya semula.
Baru saja mereka selesai mempersiapkan diri, pihak lawan sudah mencapai puncak
bukit Tok Liong-hong dan berdiri pada jarak tiga depa dari hadapan mereka.
Di sebelah kiri berbaris tiga orang, mereka adalah ketiga tongcu dari Lam Hay Bun,
yakni Ho Tiang Cun, Miao Siong Fei dan Tio Hui. Di belakang mereka berbaris lagi lima
atau enam belasan orang yang mungkin merupakan jago-jago dari pihak Lam Hay Bun.
Sedangkan di sebelah kanan dipimpin oleh Kaucu dari Pek Kut Kau, di sampingnya
berdiri tegak adik seperguruannya, Kim Yu. Kemudian berbaris di belakangnya sepasang
siluman berpakaian putih dan beberapa orang lainnya lagi.
Di tengah-tengah berdiri seorang pelajar berpakaian hijau, alisnya tebal berbentuk
melengkung seperti golok. Di pundaknya terselip sepasang pedang yang gagangnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berukuran tiga cun. Di pinggangnya menggantung sebuah kantong kulit yang biasa
digunakan untuk menyimpan senjata rahasia. Sikapnya tenang dan penampilannya keren.
Di sisi kiri kanannya berdiri kedua Bun Bu-siang, yakni Gia Tian Lun dan Tong Ku Lu.
Kedua orang itu seakan melindungi si pelajar tadi.
Melihat bentuk barisan pihak lawan, Ciu Cang Po benar-benar merasa di luar dugaan.
Terdengar mulutnya terus mengucapkan kata ‘Aneh…!’ berkali-kali.
Si pengemis sakti Cian Cong melirik kepadanya sekilas. Sepasang alisnya langsung
mengerut ketat.
“Apa sih yang mulutmu ocehkan itu?” tanyanya kesal.
Ciu Cang Po langsung tertawa dingin. “Si nenek tua mempunyai kegembiraan tersendiri.
Apapun yang ingin kulakukan, tidak perlu kau mengurusnya. Tiga bulan yang lalu, si nenek
tua menerima sebuah pukulan dari-mu, sampai sekarang masih belum dapat dilupakan.
Semoga dalam pertarungan kali ini, kaki atau tanganmu jangan sampai patah. Nanti kita
cari kesempatan untuk memperhitungkan hutang piutang kita.” sikap nenek ini benarbenar
keras kepala dan tidak pernah mengalah kepada siapapun.
Cian Cong tidak merasa aneh lagi dengan sikapnya itu. Dia mengembangkan seulas
senyuman yang lembut dan menyahut.
“Seandainya si pengemis tua beruntung tidak mati dalam pertarungan ini, kapan waktu
saja aku siap menyambut tantanganmu.”
Begitu pandangan matanya dialihkan, saat ini sikap kedua belah pihak sama-sama
serius dan tegang. Biar bagaimana kedua belah pihak mempunyai maksud hati tersendiri.
Yang satu ingin memamerkan kekuatannya dan berusaha menguasai dunia Bulim,
sedangkan pihak yang lainnya justru ingin mempertahankan kelangsungan dunia Bulim
agar tetap seperti sekarang ini. Dengan demikian, sebetulnya mereka tidak perlu
menggerakkan lidah karena masing-masing sudah maklum kehendak hati lawannya. Oleh
karena itu, sejak bertemu muka, tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun. Dari awal
hingga akhir mereka hanya saling menatap dengan mata mendelik lebar-lebar.
Tan Ki menjabat kedudukan sebagai Bengcu. Seorang diri dia mewakili seluruh Bulim di
daerah Tionggoan. Dia merasa dengan berdiam diri begini terus, tentu persoalan tidak
dapat diselesaikan. Oleh karena itu, dia segera membusungkan dadanya dan berjalan
keluar ke depan tiga langkah. Kemudian dia menjura kepada si pelajar berpakaian hijau
sebagai salam penghormatan. Terdengar suaranya yang bening dan lantang…
“Apakah saudara sendiri yang dipanggil sebagai Toa Tocu dari Lam Hay Bun?” Pelajar
berpakaian hijau itu memperlihatkan tawa yang datar.
“Nama saudara telah menggetarkan seluruh Tionggoan, ternyata pandangan matanya
demikian rabun!” setelah mengucapkan kata-katanya, dia tertawa terkekeh-kekeh dua kali.
Mendengar ucapannya, Tan Ki justru tertegun untuk beberapa saat, kemudian baru dia
melanjutkan kata-katanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kalau ditilik dari kata-katamu, tampaknya Toa Tocu sendiri masih belum muncul.
Cayhe sudah lama mendengar bahwa tocu tersebut berilmu sakti. Sekarang kesempatan
sudah ada, tetapi malah belum bisa bertemu muka, hati ini benar-benar merasa kecewa.”
Si pelajar berpakaian hijau tertawa lebar.
“Kau anggap siapa guruku itu? Mana mungkin dia sudi bergebrak dengan seorang
angkatan muda yang tidak berarti apa-apa seperti dirimu. Itulah sebabnya beliau
mengutus aku, Hua Pek Cing sebagai wakilnya mengunjungi kalian.”
Mendengar kata-katanya yang tajam menusuk, hati Tan Ki mulai merasa tidak senang
“Apapun yang dikehendaki oleh kita masing-masing tentunya kita sama-sama sudah
paham. Apabila pertumpahan darah memang tidak dapat dielakkan lagi, lebih baik secara
terang-terangan saja kita nyatakan cara bertarung yang akan dilangsungkan. Buat apalagi
kita berbicara panjang lebar?”
Bibir Hua Pek Cing tetap mengembangkan seulas senyuman.
“Apa yang saudara katakan memang tidak salah sedikitpun. Lebih baik kita langsung
bergebrak agar pihak mana yang unggul atau kalah akan segera ketahuan. Lihat siapa
yang berhak menguasai daerah seluas laksaan li ini!”
Mendengar sampai di sini, Tian Tai Tiau-siu Kok Hua Hong tidak dapat
mempertahankan kesabarannya lagi. Dia langsung membentak dengan suara keras,
“Kentut busuk!” tubuhnya melesat ke depan dan dia langsung mengirimkan sebuah
pukulan yang dahsyat.
Sikap Hua Pek Cing tetap tenang sekali. Tampaknya dia malah tidak perduli dengan
serangan Kok Hua Hong yang dahsyat itu. Kejadian itu berlangsung dengan cepat.
Serangan Kok Hua Hong yang sengit belum sempat mencapai tubuh Hua Pek Cing, tibatiba
telinganya mendengar suara bentakan marah, “Ilmu silat daerah Tionggoan hanya
omong kosong saja. Kau kira dirimu pantas bergebrak dengan Sau Tocu (Tocu muda)?”
Serangan yang meluncur datang ini mengandung kekuatan yang bukan main hebatnya.
Begitu beradu dengan pukulan Kok Hua Hong, segera terasa isi perut Kok Hua Hong
tergetar. Kakinya goyah dan ternyata dia tidak sanggup menahan serangan orang itu. Oleh
karena itu, dia cepat-cepat menarik nafas panjang dan mencelat ke belakang.
Baru saja kakinya berdiri dengan mantap, tiba-tiba tampak seorang kakek kurus
mengeluarkan suara tawa yang menyeramkan dan menerjang datang secepat kilat. Orang
itu adalah salah satu dari Bun Bu-siang pihak Lam Hay, yakni Tong Ku Lu. Telapak tangan
kirinya menjulur ke depan dan tangan kanannya menyusul mengirimkan sebuah serangan.
Dalam satu jurus, ternyata orang itu menggunakan dua macam gerakan.
Begitu tergetar mundur oleh rangkum angin yang kencang, Kok Hua Hong segera sadar
bahwa tenaga dalam lawannya tinggi sekali. Apalagi ilmu silat pihak Lam Hay kebanyakan
terdiri dari ilmu-ilmu golongan sesat. Meskipun gerakan tubuhnya sangat cepat, tetapi
tenaga dalam yang terpancar tidak seberapa terasa. Mana mungkin Kok Hua Hong berani
memandang ringan lawannya. Cepat-cepat dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya,
kemudian melancarkan pukulan dengan posisi mendorong dari arah dada.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
BAGIAN LII
Sepasang telapak tangan Kok Hua Hong menghantam ke depan dengan posisi
menahan di depan dada. Tadinya dia berpikir ingin menahan serangan Tong Ku Lu, oleh
karena itu tenaga dalam yang dikerahkannya dahsyat sekali. Tiba-tiba dia melihat Tong Ku
Lu menarik kembali sepasang lengannya, tubuhnya malah mendesak ke depan. Dengan
jurus Kerbau Menyeruduk Gunung, sekonyong-konyong dia menghantamkan pukulan ke
depan. Kok Hua Hong sudah mengerahkan segenap tenaga dalamnya, dia sama sekali
tidak menyangka kalau Tong Ku Lu mendadak merubah gerakannya dan meluncurkan
serangan kembali. Dalam keadaan panik dia tidak sempat mengganti jurusnya lagi, tanpa
dapat ditahan lagi hatinya tercekat. Cepat-cepat dia menggunakan jurus Ikan Lele
Melompat-lom-pat. Tubuhnya mencelat ke atas lalu berjungkir balik ke belakang.
Tong Ku Lu mengeluarkan suara bentakan yang keras, kaki kirinya mengirimkan sebuah
tendangan ke depan. Kok Hua Hong segera merasakan ada serangkum kekuatan yang
seperti batang besi membentur punggung sebelah kirinya. Tubuhnya langsung tergetar
kemudian menggelinding di atas tanah seperti sebuah hiolo. Sampai jarak dua belas
langkah, baru tubuhnya berhenti menggelinding. Kemudian dia membuka mulut dan
memuntahkan segumpal darah segar lalu jatuh tidak sadarkan diri.
Hanya dalam dua jurus saja Tong Ku Lu berhasil melukai dengan parah seorang jago
sedang tingkat delapan. Wajah Tan Ki beserta Rombongannya langsung berubah hebat.
Mereka merasa sedih dan marah.
Si pengemis cilik Cu Cia dan Goan Yu Liong segera menghambur ke depan dan
memapah Kok Hua Hong agar dapat segera diberikan pertolongan.
Hua Pek Cing melihat pihaknya berhasil meraih kemenangan dan pertama kali
bergebrak langsung mendesak pihak Tionggoan, diam-diam dia merasa puas sekali
sehingga tanpa sadar bibirnya menyunggingkan seulas senyuman. Dia mengibaskan
tangannya sambil berkata, “Tong Sian-sing, setelah berhasil lekas kembali ke tempatmu,
biar orang lain yang melayani babak berikutnya!”
Mendengar ucapannya, tanpa terasa sepasang alis Tong Ku Lu berkerut-kerut. Biar
bagaimana dia merupakan seorang Bun Bu-siang dari Lam Hay Bun, kedudukannya tinggi
sekali. Boleh dibilang hanya di bawah Toa Tocu seorang. Dia juga merupakan seorang
tokoh yang dihormati oleh seluruh kalangan di daerah Lam Hay. Bahkan Hua Pek Cing
seharusnya menyebut orangtua itu sebagai Supek, karena dia memang benar-benar
Suheng dari Toa Tocu. Tetapi Hua Pek Cing justru menyebutnya Sian-sing (Tuan) di
hadapan kedua belah pihak. Diam-diam dia merasa pamornya jatuh. Hatinya menjadi
kurang senang. Tetapi dia tahu bahwa Sutenya merupakan seorang tokoh yang selain
berilmu tinggi juga cerdas sekali. Setiap melakukan hal apapun selalu mempunyai
pertimbangan yang matang. Apabila dia rela menyerahkan tugas seberat ini kepada
muridnya, tentu saja dia mempunyai alasan yang kuat.
Begitu pikirannya tergerak, dia terpaksa menahan kemarahan dalam hatinya dan
mengundurkan diri ke tempatnya semula. Kemudian terdengar suara tongkat besi yang
dihentakkan di atas tanah. Dengungannya memekakan telinga. Seorang nenek tua
berjalan keluar ke tengah arena.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Si nenek tua sudah lama mendengar bahwa Lam Hay mempunyai ilmu yang sakti.
Entah apakah Hua Kongcu sudi memberikan pelajaran barang beberapa jurus?” sembari
berkata, sepasang matanya yang menyorotkan sinar tajam bagai kilat menatap diri Hua
Pek Cing lekat-lekat. Tidak syak lagi dia ingin membalas kekalahannya tempo hari!
Tiba-tiba Ho Tiang Cun yang menjabat sebagai Tongcu dalam Lam Hay Bun berkelebat
keluar. Bibirnya mengembangkan senyuman.
“Kau kira siapa adanya tocu muda kami?
Mana sudi dia turun tangan memberi pelajaran kepadamu. Aku Ho Tiang Cun, seorang
saja sudah cukup membuat kau mati dengan mata terpejam!”
Orang ini teria hi r dengan bibir sumbing dan mata sebelah. Lagi pula wajahnya penuh
dengan bekas bacokan golok. Jeleknya sungguh seimbang dengan Om Cang Po. Kalau
bukan dalam keadaan genting seperti ini, orang-orang lain pasti tertawa melihat kedua
orang sama jeleknya itu berdiri berhadapan.
Mendengar ucapannya, Ciu Cang Po gusar sekali. Dia langsung melonjak ke atas dan
mengirimkan sebuah pukulan. Dengan tangan kiri, Ho Tiang Cun menangkis serangannya,
dalam waktu yang bersamaan terdengar suara terkekeh-kekeh dari mulutnya.
“Kalau tidak mengingat bahwa kau pernah terluka di tangan Tocu muda kami, dengan
berani menampilkan diri menantang saja, kau sudah patut dihukum mati!”
Hawa amarah dalam dada Ciu Cang Po benar-benar meluap mendengar ucapannya.
“Kentut busuk!” tubuhnya berkelebat, telapak tangan kiri menghantam dan tongkat di
tangan kanannya mengibas ke depan. Dalam waktu yang singkat dia melancarkan tujuh
pukulan dan empat serangan tongkat. Tangan kanan Ho Tian Cun dibungkus de-ngan
sebuah sarung tangan besi. Tentu saja dia tidak gentar menghadapi senjata apapun,
Setelah menangkis sebuah serangan Ciu Cang Po, wajahnya berubah jadi serius. Kaki
tangannya segera bergerak cian melancarkan serangan dengan gencar.
Kedua orang ini merupakan tokoh-tokoh berilmu tinggi. Baru bergebrak beberapa jurus,
serangan yang dilancarkan semakin lama semakin keji. Tenaga dalam yang dipancarkan
pun semakin dahsyat. Angin yang terpancar dari serangan mereka menderu deru,
bayangan tongkat bagai layar yang berkibar-kibar. Masing-masing tidak ada yang sudi
mengalah. Sekejap mata saja mereka sudah bergebrak sebanyak empat puluh jurus. Tibatiba
tampak tongkat di tangan Ciu Cang Po melancarkan dua buah serangan. Setelah itu
tubuhnya mencelat mundur sejauh setengah depa, sekaligus telapak tangan kirinya
menghantam ke depan. Ho Tiang Cun tahu ke marahan, nenek itu telah berkobar,
serangannya mengandung tenaga dalam sepenuhnya seakan hendak mengadu jiwa
dengan dirinya. Dia juga langsung mengerahkan kekuatannya dan menyebarkannya ke
sepasang lengannya. Sebelah matanya menatap diri Ciu Cang Po lekat-lekat, dia sudah
bersiap-siap menyambut serangan nenek tua itu dengan kekerasan.
Mata kedua orang itu tampak garang sekali. Mereka menatap lawannya masing-masing
tanpa berkedip sekalipun. Keduanya saling menunggu. Hal ini malah membuat suasana
menjadi hening serta mencekam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, telapak tangan Ciu Cang Po telah menghantam ke depan. Ketika tangan
kirinya berputar, terasa ada serangkum angin yang kencang dan gencar melanda ke arah
Ho Tiang Cun.
Sejak semula Ho Tiang Cun sendiri sudah menunggu musuhnya, melihat nenek tua itu
melancarkan serangan, dia langsung mengerahkan tenaga dalam yang sudah
dipersiapkannya secara diam-diam dan didorongnya ke depan untuk menyambut serangan
Ciu Cang Po dengan kekerasan.
Dua gulung tenaga yang kuat langsung saling beradu. Kaki Ciu Cang Po terlihat goyah.
Dia tidak dapat berdiri dengan mantap, tubuhnya terhuyung-huyung beberapa kali
kemudian terpaksa mundur ke belakang kurang lebih tiga langkah.
Ho Tiang Cun sendiri juga tergetar oleh hantaman tenaga dalam nenek tua itu yang
kuat sehingga bagian tubuh sebelah atas limbung dan bergoyang-goyang. Jubahnya yang
panjang tampak berkibar-kibar.
Ciu Cang Po mengeluarkan suara dengusan dingin. Ternyata nenek tua itu memang
nekat sekali. Tanpa mengatur pernafasannya lagi, lengan kirinya berputaran dan sekaligus
dilancarkannya empat buah pukulan.
Ho Tiang Cun sendiri juga cukup keji. Dia tidak mengelak maupun menghindar, secara
berturut-turut disambutnya pukulan Ciu Cang Po yang empat kali itu dengan kekerasan.
Situasi jadi panas, angin yang terpancar dari pukulan mereka bergulung-gulung. Yang
seorang melancarkan empat pukulan, lawannya menyambut empat pukulan. Wajah
keduanya mulai berubah. Nafas Ciu Cang Po tersengal-sengal, sedangkan keringat telah
membasahi seluruh wajah Ho Tiang Cun.
Setelah menyambut empat kali pukulannya, Ciu Cang Po melihat keadaan Ho Tiang Cun
masih biasa-biasa saja. Hal ini benar-benar membuat kemarahannya meluap. Dia segera
membentak dengan suara keras, tubuhnya berkelebat ke depan dan langsung
dikerahkannya lwekang kelas tinggi serta melancarkan serangan dari atas.
Pengalaman Ho Tiang Cun sebagai salah seorang Tongcu di Lam Hay sudah banyak
sekali. Begitu melihat gerakan Ciu Cang Po, dia sadar nenek tua itu sudah mengerahkan
lwekang kelas tinggi seakan hendak mengadu jiwa dengannya. Tanpa terasa sepasang
matanya menyorotkan api amarah yang berkobar-kobar.
“Bagus sekali. Rupanya kau benar-benar hendak mengadu jiwa denganku?” teriaknya
dengan suara melengking tajam.
Tangan keduanya yang telah diisi dengan tenaga dalam sepenuhnya langsung
menghantam keluar menyambut serangan Ciu Cang Po yang dahsyat.
Cara bertarung yang menggunakan kekerasan ini benar-benar tidak dapat dianggap
main-main. Lagipula jauh berbeda dengan cara yang digunakan orang-orang biasanya.
Terdengar suara benturan yang menggelegar, baik Ciu Cang Po maupun Ho Tiang Cun
sama-sama tergetar mundur sejauh empat langkah. Tubuh keduanya sama-sama terkulai
di atas tanah kemudian memuntahkan segumpal darah segar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perubahan yang tidak disangka-sangka langsung terjadi, keduanya sama-sama rubuh di
tengah arena. Ciong San Suang Siu segera maju ke depan memapah tubuh Ciu Cang Po,
sedangkan di pihak lawan tampak Miao Siong Fei dan Tio Hui menghambur ke depan
membangunkan Ho Tiang Cun.
Terdengar Miao Siong Fei bertanya dengan suara rendah, “Ho Tongcu, bagaimana
keadaan lukamu?”
“Sejak semula aku sudah mengerahkan hawa mumi untuk melindungi isi perut. Darah
yang kumuntahkan tadi hanya karena tergetar oleh ilmu lwekangnya yang hebat sehingga
terdesak keluar. Apabila dia masih bisa melakukan penyerangan, mungkin aku akan mati
saat itu juga. Tetapi aku tahu bahwa dia sudah terhantam oleh lwekang yang
kupancarkan. Bukan saja dia tidak sanggup bertarung lagi, luka dalamnya bahkan jauh
lebih parah dari diriku.”
Selesai berkata, senyumannya ditarik kembali. Cepat-cepat dia menarik nafas panjang
satu kali kemudian melepaskan diri dari bim-bingan tangan Miao Fei Siong serta Tio Hui.
Dengan langkah lebar dia kembali ke tempatnya semula.
Hua Pek Cing melihat pihaknya secara berturut-turut telah menang di atas angin. Tetapi
salah satu jagonya yang paling diandalkan juga sempat terluka. Sepasang alisnya
langsung menjungkit ke atas, perlahan-lahan dia melangkah maju ke depan.
Para jago dari pihak Lam Hay melihat Tosu muda mereka tampil ke depan seakan ingin
turun tangan sendiri menghadapi lawan. Secara berbondong-bondong mereka juga
berebutan berjalan keluar. Bahkan Kaucu Pek Kut Kau dari Si Yu juga ikut-ikutan berjalan
keluar dari barisan mereka.
Para jago dari Perkumpulan Ikat Pinggang Merah takut pihak lawan akan menyerbu
secara mendadak, dengan demikian mereka tentu kewalahan menghadapinya. Cepatcepat
mereka mencabut senjata masing-masing dan menyongsong ke depan.
Para jago dari kedua pihak berbondong-bondong keluar, suasana menjadi tegang tidak
terkirakan. Tempat itu bagai telah ditanami puluhan mesiu yang siap meledak setiap saat.
Jarak antara kedua pihak semakin mendekat, tampaknya sebuah pertempuran besarbesaran
segera akan berlangsung di depan mata. Tiba-tiba Hua Pek Cing menghentikan
langkah kakinya serta mengibaskan tangannya.
“Kalian semua mundur!”
Kata-kata itu diucapkan dengan datar, namun pengaruhnya besar sekali. Para jago dari
pihak Lam Hay dan Si Yu ternyata langsung mengundurkan diri masing-masing. Hanya
Kaucu Pek Kut Kau saja yang masih berdiri di tempat semula.
Hua Pek Cing maklum bahwa orang itu menjaga gengsinya sehingga dia juga tidak
ambil hati, bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang datar. Kemudian dia
membalikkan tubuhnya kembali dan maju beberapa langkah lagi. Dia segera menjura
kepada Tan Ki dan berkata:
“Di dunia Bulim banyak sekali macam ragamnya. Sulit menentukan siapa yang benar
dan siapa yang salah. Masing-masing mempunyai pandangan hidup tersendiri. Guruku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang berbudi menyimpan harapan ingin menguasai dunia Bulim, sebetulnya bukan untuk
dirinya sendiri. Beliau ingin mempersatukan seluruh Bulim di bawah benderanya sehingga
tidak ada lagi yang mendirikan partai masing-masing. Oleh karena itu, tanpa
memperdulikan jalan apapun yang harus ditempuhnya, beliau ingin menciptakan
kebahagiaan untuk dunia Bulim sampai ratusan tahun yang akan datang. Tetapi ditilik dari
keadaan yang ada, ternyata niat ini malah menimbulkan persengketaan. Mungkin hanya
dengan ilmu kepandaian kita dapat menentukan siapa yang lebih kuat atau siapa yang
berhak hidup. Namun hal ini merupakan urusan kita berdua yang telah terpilih sebagai
pemimpin. Oleh karena itulah, segalanya kita yang berhak menentukan. Barusan telah
terjadi dua babak pertarungan, meskipun ada menang dan ada yang kalah, tetapi babak
ketiga ini lebih baik kita saja yang turun tangan sendiri agar urusan ini dapat diselesaikan
secepatnya!”
Dikiranya siapa Tan Ki itu, mana mungkin dia sudi menunjukkan kelemahannya. Pergelangan
tangannya memutar dan Pedang Penghancur Pelangi sudah tergenggam dalam
telapak tangannya. Segera terpancar hawa yang dingin dari pedang itu. Baru saja dia
hendak melangkah keluar. Liu Seng sudah mencelat ke depan dan menolehkan kepalanya.
“Kau merupakan Pangcu dari sebuah perkumpulan, jangan sembarangan turun tangan
kalau tidak mendesak sekali. Biar aku yang hadapi dulu babak ini, nanti baru lihat lagi
perkembangannya!”
Tan Ki agak bimbang sejenak, kemudian dia berpesan dengan suara rendah, “Ilmu silat
pihak Lam Hay selamanya terkenal ganas dan keji. Harap. Yok-hu berhati-hati.”
Liu Seng tersenyum sambil menganggukkan kepadanya. Dengan langkah lebar dia
berjalan ke hadapan Hua Pek Cing. Sembari berjalan, dia mengeluarkan pedang besinya
yang berat dan telah membuat namanya terkenal di dunia Kangouw.
Hua Pek Cing tersenyum simpul kepadanya.
“Rupanya Lok Yang Sin-kiam, tuan Liu, Hua Pek Cing sudah lama mengagumi dirimu.
Hari ini beruntung dapat bertemu muka, cayhe akan menghadapimu satu lawan satu
untuk melihat sampai di mama kedahsyatan ilmu silat daerah Tionggoan dengan tangan
kosong menemanimu bermain-main barang beberapa jurus!”
Mendengar sesumbarnya yang begitu besar, untuk sesaat Liu Seng tidak
menyangkanya sehingga termangu-mangu.
“Apa?” dia bertanya sekali lagi seakan tadi telinganya masih belum mendengar
ucapannya dengan jelas.
Hua Pek Cing tertawa lebar.
“Menghadapi seorang Cianpwe yang namanya sudah menjulang tinggi seperti dirimu
ini, rasanya kurang seru apabila menggunakan senjata. Seandainya tuan Liu dapat
bertahan dua puluh jurus bergebrak denganku, biarlah babak ini anggap dirimu yang
menang.”
Kata-kata yang diucapkannya ini terdengar biasa-biasa saja, tetapi makna yang
terkandung di dalamnya justru tajam menusuk. Sepasang alis Liu Seng sampai menjungkit
ke atas. Bahkan wajah para jago dari pihak Lam Hay dan Si Yu pun sampai berubah. Liu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seng sudah berkecimpung di dunia Kangouw kurang lebih tiga puluhan tahun. Sebatang
pedang besi yang beratnya mencapai dua belas kati itu pernah menggetarkan sungai
telaga. Mana boleh dia disamakan dengan tokoh sem-barangan. Sedangkan Hua Pek Cing
mengucapkan kata-kata yang sesumbar di hadapan para jago kedua belah pihak. Dengan
tangan kosong dia ingin menghadapi sebatang pedang tua Liu Seng, hal ini benar-benar
membuat orang merasa bahwa dirinya sudah lebih dari keterlaluan.
Perlu diketahui bahwa kedua Bun Bu-siang dan ketiga tongcu dari Lam Hay merupakan
orang-orang yang usianya sudah setengah baya bahkan ada yang sudah tua sekali.
Kedudukan mereka sangat tinggi dan sudah sejak lama nama mereka terkenal. Tiba-tiba
mereka disuruh menerima perintah dari seorang bocah yang baru menginjak dewasa,
meskipun mulut mereka tidak mengatakan apa-apa, tetapi dalam hati pasti merasa tidak
senang. Tetapi karena pengaruh tocunya yang terhormat, mereka tidak berani memprotes
secara terang-terangan.
Sedangkan Hua Pek Cing juga seorang pemuda yang cerdas. Dia maklum bahwa
dengan usianya yang begitu muda, sekarang dia harus mengendalikan para jago dari dua
partai, tentu sulit meminta mereka merasa takluk begitu saja. Oleh karena itu, dia sengaja
tidak mengijinkan para tongcunya turun tangan lagi. Dalam hatinya dia berniat melukai
beberapa jago dari pihak lawan agar nyali musuh tergetar lebih dahulu. Sekaligus
memamerkan sedikit ilmunya yang sejati agar para jagonya atau jago dari pihak Si Yu
tidak berani memandang remeh dirinya.
Sementara itu, Liu Seng yang mendengar kata-katanya, langsung memicingkan
matanya. Meskipun dia merupakan seorang tokoh yang sudah mengalami banyak hal,
tetapi saat itu hawa amarah dalam dadanya terasa meluap juga mendengar ucapan anak
kemarin sore yang begitu menyakitkan.
“Benar-benar mulut yang besar sekali! Lohu berkecimpung di dunia Kangouw selama
puluhan tahun, tetapi belum pernah bertemu dengan orang yang begitu menganggap
remeh orang lain seakan dirinya sendiri yang paling hebat!” pedang panjangnya diangkat
ke atas, dengan jurus Menggetarkan Lonceng Besar, dia menikam ke depan.
Hua Pek Cing tersenyum simpul. Tiba-tiba tubuhnya bergerak mendesak ke arah Liu
Seng, ketika pergelangan tangannya bergerak, dengan telak dia melancarkan sebuah
totokan ke salah satu urat darah Liu Seng yang mematikan.
Gerakan tubuhnya yang aneh itu mengandung kecepatan yang tidak terkirakan. Orangorang
yang hadir di tempat itu tercekat bukan kepalang. Liu Seng tidak sempat menarik
kembali serangannya, terpaksa dia mencelat mundur sejauh tujuh delapan langkah.
Sedangkan Hua Pek Cing masih berdiri di tempatnya semula. Dia tidak mengejar
lawannya.
Penampilannya tenang dan keren. Bibirnya mengulumkan seulas senyuman.
“Bagaimana kalau yang tadi itu dihitung sebagai jurus pertama?”
Kata-katanya itu bagaikan sebilah pisau yang menikam jantung Liu Seng. Dia
berkecimpung di dunia. Kangouw selama puluhan tahun, mana pernah dia menerima
hinaan sehebat ini? Begitu marahnya laki-laki setengah baya ini, sehingga dia langsung
meraung keras, secepat kilat dia menerjang lagi ke depan, pedang besinya digetarkan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Timbul angin yang kencang dan kilatan cahaya yang dingin. Serangannya kali ini hebat
bukan main.
Hua Pek Cing mengelakkan dirinya sedikit, tampaknya seperti menghindarkan serangan
musuh, tetapi sebenarnya dia malah balas menyerang. Jari tangannya meluncur ke depan
mengirimkan sebuah totokan.
Jurus yang dikerahkannya seakan mengandung keajaiban. Bukan saja dia berhasil
mengelak dari serangan Liu Seng, bahkan dalam waktu yang bersamaan dia mendesak
maju dan mengirimkan sebuah totokan. Begitu terdesaknya Liu Seng sehingga terpaksa’
mencelat mundur sejauh tiga tindak. Dengan demikian dia baru berhasil menghindarkan
diri dari serangan Hua Pek Cing yang dahsyat.
Dengan gaya yang bukan main santainya, Hua Pek Cing tertawa-tawa.
“Yang ini terhitung jurus kedua. Kau masih mempunyai kesempatan delapan jurus
untuk meraih kemenangan!” begitu selesai berkata, kembali dia tertawa lebar. Matanya
menyorotkan sinar yang bercahaya terang, tetapi dari sepasang alisnya justru tersirat
hawa pembunuhan yang tebal.
Mei Ling dan Tan Ki menyaksikan pertarungan di antara kedua orang itu dengan
seksama. Setelah lewat beberapa jurus, bukan saja mereka dapat melihat kelemahan
orang-tuanya, tetapi semakin lama justru semakin terdesak di bawah angin. Jangan kata
perbandingan tenaga dalam di antara keduanya, jurus-jurus yang dikerahkan Hua Pek
Cing demikian ajaib dan aneh sudah cukup membuat Liu Seng kalang kabut. Kalau dia
benar-benar bertarung dengan serius, mungkin dalam sepuluh jurus saja, Liu Seng sudah
rubuh di atas tanah bermandikan darah.
Ternyata sesumbar yang dicetuskan mulut Hua Pek Cing bukan sekedar bualan saja.
Tanpa dapat ditahan lagi hati sepasang suami isteri itu jadi mengkhawatirkan keadaan Liu
Seng. Secara diam-diam mereka mengerahkan tenaga dalamnya dan berjaga-jaga
terhadap segala kemungkinan. Apabila keadaan Liu Seng terlihat berbahaya, tentu mereka
akan segera turun tangan memberikan bantuan.
Terdengar Hua Pek Cing mengeluarkah suara tawa terbahak-bahak.
“Cayhe sudah lama mendengar bahwa pedang besi tuan Liu mempunyai jurus serangan
yang sakti dan dapat mengalahkan lawan sampai takluk. Tetapi apabila melihat kenyataan
hari ini, tampaknya berita itu terlalu dibesar-besarkan. Kalau pertarungan ini tetap
diteruskan, rasanya tidak seru lagi. Lebih baik tuan Liu mengundang beberapa rekan yang
lain agar cayhe merasa lebih puas melanjutkan pertarungan ini, bagaimana?”
Apabila kata-kata ini tercetus dari mulut orang lain, pasti orang-orang dari kedua belah
pihak merasa ucapan seperti itu keterlaluan dan tidak pantas diucapkan. Wajah Liu Seng
sampai merah padam mendengar perkataannya. Tiba-tiba dia meraung marah dan
tubuhnya mencelat ke udara, pedang besi yang be? ratnya mencapai dua belas kati itu
langsung melancarkan serangan yang tidak terkirakan dahsyatnya. Tampak pedangnya
laksana naga sakti yang meliuk-liuk di angkasa serta mengi baskan ekornya dengan
marah.
Serangannya kali ini dilancarkan dalam keadaan marah, dia sudah bertekad
menghabiskan nyawa Hua Pek Cing di bawah serangan pedangnya. Dengan demikian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hinaan yang diterima jadi terbalas. Oleh karena itu, setiap jurus yang dikerahkannya selalu
mengandung kedahsyatan yang luar biasa kejinya.
Hua Pek Cing tertawa panjang. Tubuhnya bergerak perlahan, jubahnya yang panjang
berkibar-kibar. Dia menerobos masuk ke dalam bayangan pedang yang bergulung-gulung.
Gerakan tubuhnya bagai seekor kupu-kupu yang menyelinap ke dalam gerombolan bunga.
Dia berkelebat ke sana ke mari dalam bayangan pedang Liu Seng.
Secara berturut-turut empat belas jurus telah berlalu. Sebatang pedang Liu Seng
seperti hujan yang diterpa angin kencang, melesat ke kiri dan kanan. Tetapi dari awal
hingga akhir tetap saja dia tidak sanggup menyentuh ujung pakaian Hua Pek Cing, apalagi
tubuh orang itu. Boleh dibilang dalam empat belas jurus tersebut, Hua Pek Cing hanya
menghindarkan diri saja. Dia tidak membalas serangan Liu Seng.
Setelah memperhatikan sejenak, orang-orang yang ada di tempat itu segera sadar
bahwa ilmu Tocu muda itu memang tinggi sekali…
Setelah empat belas jurus terlewatkan, tiba-tiba Hua Pek Cing tertawa panjang.
Sepasang lengannya berputaran secepat kilat dan menimbulkan angin yang kencang.
Sekonyong-konyong dia melancarkan serangan. Tampak gerakan tangannya begitu aneh
dan belum pernah dilihat selama hidupnya oleh Liu Seng. Untuk sesaat Liu Seng menjadi
kalang kabut dan bingung bagaimana harus menghadapi anak muda itu. Tahu-tahu salah
satu jalan darahnya telah tertendang oleh Hua Pek Cing. Tidak sempat mendengus
sekalipun, tubuhnya langsung terkulai dan jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah.
Gerakan Hua Pek Cing terlalu cepat. Meskipun Tan Ki sudah berjaga-jaga sejak tadi,
tetapi dia tetap tidak keburu memberikan pertolongan. Tanpa dapat ditahan lagi sepasang
alisnya menjungkit ke atas. Dia mendengus dingin satu kali kemudian berjalan keluar
perlahan-lahan dengan niat hendak menghadapi musuh itu dengan tangannya sendiri.
Tiba-tiba terasa ada serangkum tenaga yang kuat menahan tubuhnya. Begitu menolehkan
kepalanya, dia melihat Yibun Siu San memberikan isyarat dengan gerakan tangannya
mencegah tindakannya. Sepasang mata orangtua itu menyorotkan sinar yang penuh
perhatian “serta kasih sayang.
Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, tentu saja dia mengerti maksud hati
pamannya. Biar bagaimana sekarang kedudukannya merupakan Bulim Bengcu. Yibun Siu
San khawatir kalau dia sempat terluka parah di tangan Hua Pek Cing. Diam-diam Tan Ki
merasa terharu sekali. Setelah menarik nafas panjang-panjang. Dia segera menghentikan
langkah kakinya.
Hatinya sendiri sedang gundah. Mana mungkin dia tidak paham bahwa sebagai seorang
Bulim Bengcu, pertama kali bergebrak melawan musuh, apabila dirinya sampai mengalami
kekalahan, tentu nama besarnya akan hancur seketika. Kepercayaan yang diberikan oleh
para anggotanya juga sirna begitu saja. Dan yang paling parah, justru bisa mempengaruhi
seluruh Bulim di daerah Tionggoan yang pasti akan dihina secara habis-habisan. Tetapi
baru beberapa jurus ilmu yang dipamerkan oleh Hua Pek Cing, sudah membuktikan bahwa
kepandaiannya sudah mencapai taraf sedemikian tinggi sehingga sulit dibayangkan. Begitu
kuatnya sehingga di luar dugaan orang-orang dari kedua belah pihak.
Kalau ditilik dari kekuatan kedua belah pihak, hanya si pengemis sakti Cian Cong, Yibun
Siu San dan Tian Bu Cu yang ilmunya paling tinggi, sedangkan orang-orang seperti Ciong
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
San Suang Siu, Goan Siang Fei atau mertua Tan Ki sendiri, hanya termasuk pendekar
pedang tingkat delapan. Kalau Liu Seng tidak sanggup menghadapi Hua Pek Cing.
Mungkin hanya mengorbankan nyawa secara sia-sia apabila dipaksakan juga. Tetapi
Yibun Siu San dan Cian Cong merupakan angkatan tua bagi Tan Ki, sedangkan Tian Bu Cu
malah seorang tamu yang hadir atas kehendaknya sendiri. Tentu saja dia merasa tidak
enak hati meminta ketiga orang Cianpwe tersebut maju ke depan menghadapi musuh.
Setelah dipikir bolak-balik, mungkin kalau dirinya sendiri yang tampil menghadapi lawan,
baru bisa mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak lagi.
Hati Tan Ki sudah bertekad, apabila memang tidak ada harapan untuk memenangkan
pertarungan ini, paling tidak dia harus mati sebagai seorang pendekar sejati dan
meninggalkan nama yang harum bagi negaranya sendiri.
Justru ketika Tan Ki ingin maju menghadapi lawan dicegah oleh Yibun Siu San, tampak
Ciong San Suang Siu dan Mei Ling menghambur ke depan. Mei Ling segera mengangkat
tubuh ayahnya untuk memberikan pertolongan, sedang kedua orang Ciong San Silang Siu
langsung menerjang ke arah Hua Pek Cing. Baik telapak tangan maupun kipas yang
digunakan sebagai senjata oleh Yi Siu bergerak dalam waktu yang bersamaan.
Hua Pek Cing langsung memperdengarkan suara tertawa yang dingin.
“Apakah kalian ingin menggunakan cara bergiliran agar tenaga lawanmu terkuras
habis?”
Sembari berkata, tubuhnya bergeser ke samping. Dengan gesit dia menghindarkan diri
dari pukulan Cu Mei. Pergelangan tangan kanannya dalam waktu yang bersamaan
menjulur keluar, langsung terlihat bayangan jari tangan yang tidak terhitung jumlahnya. Yi
Siu menjadi terdesak sedemikian rupa sehingga terpaksa menarik kembali serangan
kipasnya, kemudian mencelat mundur sejauh tiga langkah.
Kali ini tampaknya Hua Pek Cing tidak sungkan lagi, tubuhnya bergerak ke depan,
tangan kanannya diangkat ke atas sedikit dan dilancarkannya sebuah totokan ke arah
teng-gorokan Yi Siu.
Si pendek gemuk Cu Mei melihat keadaan mulai tidak beres, cepat-cepat dia
mengeluarkan suara bentakan keras lalu menerjang ke punggung Hua Pek Cing. Lengan
kirinya berputar dan telapak tangan kanannya menghantam. Ternyata dalam satu jurus,
dia melancarkan dua buah serangan yang berbeda. Namun Hua Pek Cing seperti tidak
menyadari datangnya bahaya. Serangan yang ditujukan kepada Yi Siu masih tetap
meluncur. Ketika rangkuman angin yang terpancar dari pukulan Cu Mei mulai terasa,
lengan kirinya tiba-tiba ditarik kembali tanpa memalingkan kepalanya sedikitpun atau
melirik sekilaspun, seakan di punggungnya tumbuh sepasang mata saja. Dia dapat
mengetahui jarak Cu Mei dengan tepat. Kedua jari telunjuk dari jari tengahnya langsung
dijulurkan ke depan. Dalam waktu yang bersamaan, dia menundukkan kepalanya sedikit
sehingga pukulan yang dilancarkan Cu Mei lewat di atas kepalanya.
Tetapi Cu Mei sendiri justru terdesak sedemikian rupa sehingga terpaksa mencelat
mundur ke belakang.
Perubahan jurus yang dilancarkan sudah termasuk cepat, tetapi ternyata gerakan Hua
Pek Cing terlebih cepat lagi. Tangannya baru terlihat diangkat ke atas, ternyata urat darah
Yi Siu telah tertotok, dan hampir dalam waktu yang bersamaan, kakinya menindak mundur
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
setengah langkah kemudian berputar satu kali. Tubuh Cu Mei baru berdiri dengan mantap,
tahu-tahu dia melihat Hua Pek Cing sudah mendesak ke arahnya. Telapak kanan anak
muda itu langsung menepuk jalan darah yang terdapat di pundak Cu Mei. Tangan kirinya
membentuk cakar serta mencengkeram ke bawah pusar orang gemuk pendek itu.
Cu Mei langsung terdesak hebat oleh dua buah serangan yang dilancarkannya
sekaligus. Hatinya tercekat bukan kepalang, cepat-cepat dia mencelat mundur. Tetapi
gerakan tangan kanan Hua Pek Cing yang lambat tiba-tiba berubah menjadi cepat. Dalam
sekejap mata sudah mengejar di belakangnya. Kejadiannya berlangsung secepat kilat,
baru saja Cu Mei bermaksud mengundurkan diri tetapi tidak keburu lagi. Tahu-tahu dia
merasa pundaknya seperti kesemutan dan tenaganya lenyap seketika. Kontan tubuhnya
terjengkang ke belakang kemudian rubuh di atas tanah.
Dalam beberapa gebrakan saja ternyata Hua Pek Cing sanggup mengalahkan dua orang
pendekar pedang tingkat delapan. Semua orang yang hadir di tempat itu merasa terkejut
setengah mati. Bahkan kedua orang Bun Bu-siang dan ketiga orang tongcu dari Lam Hay
Bun sendiri sampai memandangnya dengan terpana. Perasaan merendahkan dan tidak
senang yang tadinya masih tersisip di sudut hati sekarang sirna seketika. Mereka malah
merasa malu, kagum dan aneh bukan kepalang.
Pada saat itu, orang yang paling merasa serba salah sudah tentu Tan Ki. Maju salah,
tidak maju salah. Dari awal hingga akhir hatinya terus dilanda kebimbangan. Melihat Hua
Pek Cing yang setelah mengalahkan Ciong San Suang Siu masih berdiri dengan
mengulumkan seulas senyuman, perasaannya semakin gundah. Pihak lawannya masih
begitu muda, ilmunya sudah mencapai taraf yang demikian tinggi. Setelah bertarung dua
kali, orangnya masih keren dan berwibawa. Tidak tampak wajahnya menyiratkan perasaan
lelah.
Bahkan saat itu Hua Pek Cing sedang menatapnya sembari tersenyum simpul.
Hal ini membuat hawa amarah dalam dada :Tan Ki jadi meluap. Dia menolehkan
kepalanya menatap Yibun Siu San sambil berkata dengan suara lirih.
“Keponakan tidak sanggup menahan kesabaran lagi. Harap Siok-siok mewakili aku
mengatur anggota yang lainnya.” sembari berkata, dia langsung melangkahkan kakinya
lebar-lebar dan dengan membusungkan dada berjalan keluar. Sebetulnya dia khawatir
Yibun Siu San akan mencegahnya lagi, oleh karena itu tanpa menunggu jawaban dari
pamannya itu, dia langsung berjalan ke depan. Terdengar suara tarikan nafas panjang dari
belakang punggungnya. Sudah tentu Yibun Siu San sedang menyesalkan dirinya sendiri
yang tidak keburu mencegah tindakan Tan Ki.
Hati Tan Ki jadi tertekan, sekonyong-konyong dia merasakan kegagahannya surut
secara tidak terduga. Oleh karena itu, dia segera mendongakkan wajahnya dan menarik
nafas dalam-dalam agar hatinya dapat tenang kembali.
Biar bagaimana dia merupakan seorang Bulim Bengcu. Pertarungan yang akan
dihadapinya ini, meskipun merupakan persoalan harga dirinya seorang, tetapi sebetulnya
menyangkut kesejahteraan dunia Bulim yang sudah berlangsung selama ribuan tahun.
Tampak wajah Tan Ki serius dan berwibawa. Perlahan-lahan dia melangkah ke depan.
Otomatis pandangan mata orang-orang dari kedua belah pihak segera terpusat pada
dirinya. Suasana semakin tegang dan mencekam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hua Pek Cing langsung tertawa lepas.
“Kalau saudara lebih cepat sedikit turun ke tengah arena, tentu mengurangi jumlah
anggotamu yang terluka. Cayhe sudah lama sekali mendengar kehebatan ilmu silat dari
daerah Tionggoan. Justru ingin sekali melihat dengan mata kepala sendiri seorang tokoh
yang benar-benar sakti!”
Tan Ki tidak menyahut sepatah katapun. Terhadap ucapan yang congkak itu, dia seperti
tidak mendengarnya sama sekali. Ketika jarak keduanya kurang lebih tinggal tujuh
langkah, tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya. Sepasang matanya menyorotkan
sinar yang berkilauan dan menatap Hua Pek Cing lekat-lekat.
Melihat sikapnya yang keren dan penuh wibawa, tanpa dapat ditahan lagi hati Hua Pek
Cing dilanda perasaan tegang.
Kurang lebih sepeminuman teh mereka saling menatap tanpa mengucapkan sepatah
ka-tapun. Hal ini malah membuat suasana yang hening semakin mencekam. Rasanya
udara begitu pengap sehingga nafas orang-orang yang berkumpul di tempat itu menjadi
sesak. Bahkan keringat dingin telah membasahi kening mereka.
Setelah menunggu beberapa saat, tampak kesabaran Hua Pek Cing mulai habis. Kaki
kirinya maju ke depan satu langkah. Perlahan-lahan dia mengangkat sepasang lengannya,
dia menggenggam gagang sepasang pedangnya yang disampirkan di belakang punggung.
Tetapi dia masih belum menghunusnya, matanya menatap Tan Ki sembari
mengembangkan seulas senyuman.
“Tampang saudara kurang segar, apakah semalam tidak dapat tidur dengan nyenyak?”
Untuk sesaat Tan Ki sempat tertegun. Tetapi tangan kanannya tetap menggenggam
pedang Penghancur Pelangi, tubuhnya tidak bergerak sedikitpun.
Kembali terdengar suara Hua Pek Cing berkata, “Pada saat ayahmu menemukan kematiannya
secara mengenaskan malam itu, mungkin kau sudah tahu gerak-gerik ibumu,
rasanya tidak perlu Cayhe menceritakannya lagi secara panjang lebar. Tetapi sebetulnya
ada orang yang pernah melihat ibumu bersandar dalam pelukan seorang laki-laki…”
Mendengar kata-katanya, tanpa dapat ditahan lagi sepasang alis Tan Ki menjungkit ke
atas. Baru saja dia ingin membantah kata-kata Hua Pek Cing, tiba-tiba suatu ingatan
melintas di benaknya. Dia teringat tulisan yang pernah dibacanya dalam sebuah kitab ilmu
silat: Apabila berhadapan dengan seorang musuh tangguh, biar lawanmu mengatakan hal
yang bagaimana menyakitkan hati, kau sama sekali tidak boleh menyahutnya. Kalau tidak,
begitu emosi dalam dadamu terbangkit, pasti lawanmu akan mempergunakan kesempatan
baik tersebut untuk melakukan penyerangan yang tidak terduga-duga!
Pikirannya tergerak, Tan Ki langsung mendengus dingin. Sepasang kakinya bagai
terpantek di atas tanah, sikapnya tetap menunggu dengan tenang dan perhatian serta
kewaspadaannya dibangkitkan.
Secara berturut-turut Hua Pek Cing mengeluarkan ucapan yang menyakitkan hati.
Tetapi sejak awal hingga akhir, Tan Ki tidak menyahut sepatah katapun. Bahkan dia tidak
menunjukkan reaksi apa-apa. Melihat Tan Ki tidak terpengaruh oleh kata-katanya, hati
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hua Pek Cing malah berbalik jadi tidak tenteram. Keringatnya mengucur deras bagai
curahan hujan.
Rupanya sikap Tan Ki yang berdiri tegak dengan menggenggam pedangnya erat-erat,
merupakan pembukaan jurus dari Kiam-sut tingkat tertinggi. Hal ini membuat orang yang
melihatnya merasa sikapnya itu demikian angker dan tidak mudah ditaklukkan.
Dalam suasana yang tegang dan mencekam, kedua orang itu masih saling menunggu
beberapa saat. Tetapi waktu yang tidak seberapa lama ini justru bagai berabad-abad bagi
keduanya. Serasa menit demi menit panjang sekali berlalunya.
Dalam keheningan, tiba-tiba Hua Pek Cing mengeluarkan suara bentakan keras,
sepasang pedangnya dihunus, tampak cahaya melesat bagai pelangi, serentak
dikirimkannya serangan ke depan.
Justru ketika dia mulai bergerak dari lambat berubah menjadi cepat, lengan kanan Tan
Ki tiba-tiba bergerak. Langsung terlihat kilatan cahaya berkilauan yang melesat keluar
dengan kecepatan tidak terkirakan, namun orangnya sendiri hampir dalam waktu yang
bersamaan, mencelat mundur ke belakang kurang lebih setengah kaki.
Serangan yang dilancarkan Tan Ki ini mengandung kecepatan yang sulit diuraikan
dengan kata-kata, begitu melancarkan serangan orangnya langsung mencelat ke
belakang. Dia berdiri tegak kembali dengan tangan menggenggam pedang Penghancur
Pelanginya erat-erat. Orang lain sama sekali tidak sempat melihat jurus apa yang
digunakannya barusan.
Kedua orang itu baru bergebrak satu jurus tiba-tiba memencar kembali, tetapi orangorang
yang hadir di tempat itu sudah dapat melihat bahwa mereka sama-sama
mengerahkan ilmu pedang tingkat tertinggi. Dan mereka saling melancarkan sebuah
serangan kepada lawannya masing-masing.
Begitu pandangan mata dialihkan, tampak pedang di tangan kiri Hua Pek Cing
merentang di depan dada, sedangkan pedang di tangan kanannya terangkat di atas
kepala. Nafasnya mulai tersengal-sengal, namun di kening sebelah kirinya justru terlihat
luka sepanjang jari tengah orang dewasa. Baik keringat dan darah mengucur deras dalam
waktu yang bersamaan.
Melihat keadaan yang berlangsung, terdengar Tian Bu Cu menarik nafas panjang.
“Pedang terhunus, darah mengalir. Ini benar-benar yang disebut ilmu pedang tingkat
tertinggi. Hari ini pandangan mata pinto mendapat pengalaman baru lagi!”
Si pengemis sakti Cian Cong mengejap-ngejapkan matanya. Mulutnya merekah tertawa
lebar.
“Untung barusan Tan Ki yang maju ke depan, kalau digantikan dengan si pengemis tua,
rasanya belum sanggup menghadapi ilmu pedang Hua Pek Cing yang sudah mencapai
taraf demikian tinggi. Apabila sampai turun tangan juga, sudah pasti pihak pengemis
tualah yang mengalami kekalahan. Tampaknya ilmu pedang benar-benar tidak ada
batasnya. Kedua bocah ini baru berusia dua puluhan, tetapi ilmu pedang mereka justru
sudah jauh lebih tinggi dari si pengemis tua.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sembari berkata, kembali dia menggelengkan kepalanya sambil menarik nafas panjang.
Namun wajahnya justru berseri-seri. Tokoh sakti yang sifatnya angin-anginan ini sangat
memperhatikan diri Tan Ki dan menyayanginya bagai putra kandung sendiri.
Begitu pandangan matanya beralih lagi ke tengah arena, dia melihat kedua orang itu
sudah bertarung kembali dengan sengit. Tampak secarik cahaya berwarna putih yang
berkilau-kilauan serta guratan sinar seperti pelangi yang berwarna kehijauan saling
berkelebat memenuhi angkasa. Demikian terangnya cahaya yang terpancar dari ketiga
batang pedang tersebut, sehingga tubuh keduanya bagai terbungkus rapat-rapat. Hawa
pedang menyelimuti sekitar mereka. Tetapi tidak terdengar suara benturan senjata
mereka sedikitpun.
Kurang lebih satu kentungan kemudian, tampak cahaya berwarna hijau semakin lama
semakin melebar. Tiba-tiba terdengar suara benturan logam yang nyaring dan membuat
gendang telinga serasa ngilu. Kemudian disusul dengan tubuh Hua Pek Cing yang rubuh di
atas tanah.
Tubuh Tan Ki sendiri terhuyung-huyung. Secara berturut-turut, kakinya tergetar
mundur sejauh lima langkah. Darah segar tampak mengalir dari bahu kirinya, jatuh
menetes membasahi tanah.
Bun Bu-siang Cia Tian Lun dan Tong Ku Lu segera menghambur keluar dari barisan
mereka. Dipondongnya tubuh Tocu muda mereka.
Di lain pihak Cian Cong dan Yibun Siu San juga berlari ke depan kemudian memapah
tubuh Tan Ki.
Tangan kanan Yibun Siu San langsung terjulur ke depan mengirimkan sebuah totokan
ke pundak Tan Ki agar darah yang mengalir dapat dihentikan. Kemudian dia mengeluarkan
obat luka dari balik pakaiannya dan diborehkannya ke luka Tan Ki. Terdengar dia berkata
dengan suara lirih, “Apakah kau masih sanggup bertahan beberapa saat?”
Tan Ki mengembangkan seulas senyuman yang sendu.
“Kalau aku tidak mempertahankan diri supaya jangan sampai terjatuh, bukan hanya
pamorku yang jatuh, tetapi akan mempengaruhi nama baik dunia Bulim kita. Pokoknya,
biarpun harus kehabisan darah, aku harus mempertahankan diri dan memenangkan babak
final ini!”
Yibun Siu San mengulurkan tangannya menggenggam siku Tan Ki erat-erat. Tampak
dia tertawa getir.
“Bagus sekali bila kau dapat memahami maksud hati pamanmu ini.” nada suara yang
tercetus dari bibirnya terdengar mengandung perhatian dan kasih sayang yang dalam.
Sementara itu, terdengar suara tertawa dingin dari mulut Tong Ku Lu. Dia berjalan keluar
dengan langkah lebar.
“Ilmu pedang saudara sungguh hebat sekali. Tenaga dalampun demikian tinggi
sehingga isi perut tocu muda kami sampai tergetar hancur. Biarpun orang she Tong ini
tidak becus, tetapi ingin sekali meminta pelajaran beberapa jurus dari saudara ini!”
“Apakah dia sudah mati?” tanya Tan Ki terkejut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tong Ku Lu mendengus satu kali.
“Kata-kata yang saudara ucapkan ini, tampaknya seperti sudah tahu tapi masih
bertanya juga. Apakah kau kira kami ini orang-orang bodoh yang tidak tahu apa
maksudmu? Tocu muda kami terkena serangan pedang saudara, meskipun dari luar tidak
terlihat luka yang berarti, tetapi sebetulnya hanya tinggal sedikit nafasnya, rasanya tidak
jauh lagi dari ambang kematian…!”
Tiba tiba saja ucapannya dihentikan. Dia merasa apabila ucapannya diteruskan, toh
hanya mencoreng muka pihak Lam Hay Bun sendiri. Setelah berhenti sejenak, maka dia
tidak meneruskan lagi kata-katanya tadi. Malah dia mengeluarkan suara batuk-batuk kecil,
sepasang pergelangan tangannya berputar. Terdengar suara dentingan logam, cahaya
berkilauan langsung menusuk pandangan mata. Tangannya sudah menggenggam
sepasang gelang baja. Terdengar dia berkata kembali, “Orang she Tong mohon petunjuk!”
Tiba-tiba Yibun Siu San maju ke depan dan menukas, “Jangan khawatir, biar cayhe saja
yang menemani!” pergelangan tangannya bergerak dan tahu-tahu pedang panjangnya
telah terhunus. Dengan cepat dia menyongsong ke depan.
Sepasang lengan Tong Ku Lu telah mengerahkan tenaga dalam, dengan sebuah jurus
yang keji dia melancarkan serangan.
Terdengar suara benturan logam yang memekakkan telinga. Timbul percikan api yang
memenuhi angkasa. Dalam waktu yang bersamaan kedua orang itu mencelat mundur dua
langkah.
Bergebrak satu jurus saja, mereka sama-sama menyadari bahwa telah menemukan
lawan yang seimbang. Wajah mereka tampak kelam. Keduanya berdiri tegak dan bersiapsiap
melancarkan serangan berikutnya.
Dengan mata saling mendelik, mereka berdiam diri beberapa saat. Sampai sekian lama
masih belum tampak salah seorang akan melakukan serangan. Suasana di sekitar tempat
itu bagai diliputi ketegangan yang tidak terkirakan. Setiap menit yang berlalu bagai
mengandung marabahaya yang tidak terkirakan…
Setelah menunggu lagi beberapa saat, tampaknya Yibun Siu San mulai merasa tidak
sabar. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara siulan yang panjang dan tubuhnya mencelat ke
udara. Orang berikut pedangnya membentuk cahaya putih yang melingkar, dengan sengit
dilancarkannya serangan dari atas ke bawah.
Melihat serangan yang dilancarkan Yibun Siu San begitu hebat, Tong Ku Lu semakin
waspada, dia tidak berani memandang ringan lawannya. Sepasang gelang bajanya
dibagikan ke tangan kiri dan kanan. Yang satu menangkis datangnya serangan dan yang
satu lagi langsung diluncurkan ke bagian yang penting di tubuh Yibun Siu San. Dalam
waktu yang bersamaan, sepasang gelang bajanya melakukan dua gerakan yang berbeda.
Gebrakan kedua orang itu kali ini saima-saraa menggunakan kecepatan yang tidak
terkirakan dan jurus-jurus maut. Masing-masing mencari peluang untuk mendahului
lawannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tampak cahaya pedang membentuk lingkaran dan menyilaukan mata. Semakin lama
pertarungan antara keduanya berlangsung semakin cepat. Setelah belasan jurus, sulit lagi
membedakan sosok tubuh keduanya.
Sejak Yibun Siu San dan Tong Ku Lu mulai bergebrak, sebelah tangan kanan Cia Tian
Lun terus menempel di punggung Hua Pek Cing. Dia bahkan tidak melirik sekalipun ke
arena pertarungan di mana rekannya sedang bertempur dengan sengit. Tampaknya
menang atau kalahnya babak pertarungan tersebut, sama sekali tidak ada sangkut
pautnya dengan dirinya sendiri.
Diam-diam si pengemis sakti memperhatikan keadaan kedua belah pihak. Dia
menimbang-nimbang kekuatan yang masih ada. Di antara ketiga orang tongcu dari pihak
Lam Hay Bun, sudah ada satu yang terluka. Sudah tentu Ho Tiang Cun tidak dapat
bertempur lagi untuk sementara ini. Sisa yang duanya lagi tidak terlalu mengkhawatirkan.
Sedangkan salah satu dari Bun Bu-siang saat ini sedang bertarung melawan Yibun Siu
San, sisanya yakni Cia Tian Lun sedang mengerahkan hawa murninya untuk
mempertahankan selembar nyawa tocu mudanya. Tentu dia tidak dapat memencarkan
dirinya untuk sementara waktu. Dari pihak lawan, tampaknya hanya sisa Kaucu Pek Kut
Kau yang agak telengas dan perlu dipertimbangkan. Apabila orang yang satu ini dapat
dikuasai, mungkin pihak mereka dapat meraih kemenangan…
Pikirannya bagai kincir angin yang terus berputar. Kemudian tampak dia membisikkan
beberapa patah kata di samping telinga Ceng Lam Hong, setelah itu dia mendongakkan
kepalanya tertawa terbahak-bahak. Dengan langkah lebar dia maju ke depan dan menjura
kepada Kaucu Pek Kut Kau.
“Setan keling, bagaimana kalau kita juga bermain-main beberapa jurus?” sembari
berbicara, tangannya sudah mengeluarkan pedang bambu yang terselip di pinggangnya.
Kaucu Pek Kut Kau mendengus dua kali. Tiba-tiba tubuhnya bergerak keluar perlahanlahan.
Wajahnya yang seram sungguh tidak enak dipandang. Dia malah tidak
mengucapkan sepatah katapun. Matanya yang memancarkan sinar dingin menatap Cian
Cong tanpa berkedip sekalipun.
Sepasang mata Cian Cong menyorotkan sinar tajam melihat sikapnya yang sedemikian
rupa, dia tahu lawannya secara diam-diam telab. mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya
dan siap melancarkan serangan. Tetapi dia tidak menunjukkan perasaan apa-apa,
mulutnya malah tertawa lebar.
“Aku ingat ketika di Pek Hun Ceng tempo hari, si pengemis tua bertarung secara konyol
dengan dirimu sampai kedua-duanya terluka. Saat itu masih belum sempat menentukan
siapa yang lebih unggul diantara kita. Kesempatan ini sulit ditemui, oleh karena itu jangan
sampai terlewatkan. Si pengemis tua ingin meminta petunjuk dari ilmu sakti keluarga
daerah Si Yu kalian!”
Sepasang mata Kaucu Pek Kut Kau terus mengejap-ngejap. Tiba-tiba dia mengeluarkan
suara tawa yang aneh dan mengilukan gendang telinga. Suaranya itu lebih mirip ratapan
setan gentayangan di tengah malam. Tanpa terasa hati Cian Cong jadi tergetar.
Perhatiannya jadi terpencar.
Justru ketika dia masih termangu-mangu, tiba-tiba Kaucu Pek Kut Kau menggunakan
kesempatan itu untuk melakukan penyerangan. Lengan kanannya diangkat ke atas,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
langsung terasa datangnya serangkum angin yang kencang sekali. Dengan gencar
serangannya meluncur ke depan.
Cian Cong mengulurkan tangannya menyambut, dalam waktu yang bersamaan, pedang
bambu di tangan kanannya menjulur ke depan. Dengan jurus Kura-Kura Mencari Mutiara,
dia langsung melancarkan tikaman ke bagian dada Kaucu Pek Kut Kau.
Terdengar mulut Kaucu Pek Kut Kau mengeluarkan suara tertawa terkekeh-kekeh
sebanyak dua kali. Tubuhnya memutar setengah lingkaran. Dielakkannya serangan Cian
Cong yang ditujukan ke bagian dada. Sekaligus tangan kanannya bergulung-gulung ke
depan, kadang-kadang menotok, kadang-kadang pula dia menepuk. Secara berturut-turut
dia mengerahkan delapan sembilan jurus.
Cian Cong mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan serangan yang
gencar itu. Hampir dalam waktu yang bersamaan dia melancarkan tiga jurus sebagai
balasan.
Meskipun Kaucu Pek Kut Kau mempunyai ilmu yang tinggi, tetapi pedang bambu di
tangan Cian Cong justru dilancarkan dengan tenaga lwekang murni. Setiap kali pedang
Cian Cong melancarkan sebuah serangan, ketajamannya tidak kalah dengan sebatang
pedang pusaka. Dalam sekejap mata, keduanya sudah mengerahkan segenap kepandaian
masing-masing. Serangan yang dilancarkan semakin lama semakin cepat. Tenaga dalam
yang terpancar semakin lama semakin dahsyat. Angin yang kencang segera menerpa
sampai sekitar sepuluh depaan.
Tan Ki memperhatikan dengan seksama keempat orang itu terbagi menjadi dua
kelompok dan bertarung dengan sengit. Dalam waktu yang singkat tampaknya sulit
menentukan siapa yang lebih unggul. Diam-diam sepasang alisnya mengerut, sembari
diam-diam dia memperhatikan kekuatan kedua belah pihak. Pikirannya bekerja memikirkan
cara memenangkan pertarungan ini.
Justru ketika dia masih termenung-menung, tiba-tiba dari sebelah timur terdengar
langkah kaki mendatangi. Perasaan Tan Ki sangat peka. Cepat-cepat dia menghentikan
lamunannya dan mengalihkan pandangan matanya. Tiba-tiba seluruh tubuhnya bergetar,
darah panas dalam dadanya seperti bergejolak. Hampir saja dia tidak dapat menahan
emosi di hatinya. Perasaannya ingin langsung menerjang ke depan. Tetapi akhirnya dia
menarik nafas panjang-panjang dan berdiri dengan tenang.
Tampak Oey Kang berlari menghampiri tempat itu dengan memondong seorang gadis
berpakaian merah. Di belakangnya mengikuti serombongan laki-laki kekar berpakaian
hitam. Jumlahnya mungkin mencapai tiga puluhan orang. Kalau ditilik dari langkah kaki
mereka yang ringan dan lincah, tampaknya orang-orang berpakaian hitam itu memiliki
ilmu kepandaian yang cukup tinggi.
Kalau dilihat dari arah datangnya, mungkin orang-orang itu baru saja keluar dari ruang
pertemuan dan saat ini menghambur ke sini untuk bergabung dengan pihak Lam Hay dan
Si Yu.
Menghadapi musuh besar pembunuh ayahnya, hati Tan Ki diliputi kegusaran yang tidak
terkatakan. Emosi dalam dadanya bergejolak. Tetapi dia merupakan seorang Bulim Bengcu
saat ini, biar bagaimana dia harus menjaga sikapnya dan menghadapi persoalan dengan
kepala dingin. Terpaksa cuma matanya saja yang mendelik memperhatikan Oey Kang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang melewati dua kelompok yang sedang bertarung dengan sengit kemudian berhenti di
hadapan Cian Tian Lun. Untuk sementara dia tidak dapat membalaskan kematian ayahnya
dan menyelesaikan dendam di antara mereka berdua.
Pada saat ini, tiba-tiba dia menyadari, meskipun kedudukan Bulim Bengcu sangat tinggi
dan setiap orang bermimpi untuk mendapatkannya, tetapi begitu berhasil diraihnya,
dirinya bagai dirantai oleh gembok yang besar dan gerak-geriknya jadi tidak bebas. Hal
apapun yang akan dilakukannya harus dipertimbangkan matang-matang…
Berpikir sampai di sini, tiba-tiba dia merindukan kembali kehidupannya di alam bebas.
Untuk sesaat pikirannya jadi melayang-layang. Diam-diam dia berjanji dalam hatinya
apabila dendam kematian ayahnya telah terbalaskan, dia ingin mencari tempat yang
terpencil dan tenang serta hidup mengasingkan diri sampai menjelang akhir hayatnya.
Orang-orang yang berkumpul di tempat tersebut saat ini sedang memperhatikan gerakgerik
Oey Kang, untuk sesaat mereka tidak melihat perubahan di wajah Tan Ki. Gerakan
tubuh Oey Kang bagai awan yang berarak menghambur ke tempat di mana Hua Pek Cing
berada.
BAGIAN LIII
Hua Pek Cing terkena serangan hawa pedang yang dilancarkan oleh Tan Ki. Hawa
murni dalam tubuhnya membuyar seketika, isi perutnya tergetar. Meskipun lukanya sangat
parah, tetapi setelah mendapat bantuan tenaga dari Cia Tian Lun, orangnya perlahanlahan
siuman dari pingsan. Ketika dia membuka sepasang matanya, dia melihat Oey Kang
berdiri di hadapannya dengan memondong seorang gadis berpakaian merah. Dia segera
mengembangkan seulas senyuman yang tipis.
“Bibikah yang kau pondong itu?” nada suaranya begitu dingin seakan tidak perduli
siapa-pun yang digendong oleh Oey Kang saat itu.
Oey Kang mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dia sudah mati.” sahutnya perlahan.
Hua Pek Cing tidak memberi komentar, matanya malah dialihkan ke arena
pertempuran. Tiba-tiba sikapnya menjadi sendu. Dia menarik nafas panjang sembari
berkata, “Dengan kekuatan yang besar dan nama yang menjulang tinggi menyerbu ke
daerah Tiong-goan, aku selalu beranggapan bahwa rencana ini akan berhasil dengan
gemilang dan wilayah Tionggoan dapat kita kuasai dengan mudah. Tetapi kalau ditilik dari
keadaan sekarang ini, tampaknya kekuatan tokoh-tokoh Tionggoan benar-benar tidak
dapat dipandang ringan. Seandainya kita ingin mencapai keuntungan, mungkin kita
terpaksa harus menggunakan cara yang licik.”
Oey Kang tersenyum simpul mendengar kata-katanya.
“Tiga puluh enam Jendral Langit lohu masih belum terjun ke lapangan, bagaimana kau
bisa mengatakan sulit menguasai daerah Tionggoan?”
Hua Pek Cing tertawa sumbang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kalau kau tidak mempunyai kesanggupan, terpaksa aku meminta suhu turun tangan
sendiri. Kita persiapkan diri kembali untuk melakukan penyerbuan berikutnya.” luka yang
dideritanya sangat parah. Setelah mengucapkan beberapa kalimat, seluruh anggota
tubuhnya terasa lemas, aliran darah dalam tubuhnya bagai tersumbat. Cepat-cepat dia
mempertahankan tubuhnya yang terhuyung-huyung kemudian bersandar pada pundak Cia
Tian Lun. Dengan demikian perasaannya menjadi lebih nyaman.
Diam-diam Oey Kang memaki dalam hatinya: ‘Mulut bocah ini sungguh sesumbar,
dikiranya siapa Oey Kang itu? Memangnya aku mendapatkan julukan si raja iblis dengan
begitu saja?’ tampak dia membalikkan tubuhnya dan meletakkan mayat Kiau Hun di atas
tanah, setelah itu dia berjalan sejauh delapan langkah. Sepasang matanya menyorotkan
sinar yang tajam. Sekonyong-konyong dia menggapai tangannya di atas kepala sebanyak
dua kali.
Tiga puluhan laki-laki kekar segera berpencaran keluar, mereka berdiri berbaris di
sudut. Entah sejak kapan, tahu-tahu tangan masing-masing orang itu sudah
menggenggam sebuah tabung emas yang ukurannya kira-kira tiga mistar. Pandangan
mata orang-orang’itu kosong melompong, mereka berdiri dengan kaku dan tidak pernah
mengucapkan sepatah katapun.
Diam-diam Tan Ki menghitung jumlah laki-laki kekar berpakaian hitam tersebut. Tidak
lebih tidak kurang, jumlah semuanya ada tiga puluh enam orang. Tampak posisi berdiri
mereka seakan tidak menentu dan tidak kentara perbedaan tinggi rendahnya kedudukan.
Tetapi gerak-gerik mereka begitu gesit dan tampaknya sudah mendapat latihan yang
matang. Di dalam perkampungan Pek Hun Ceng, Tan Ki sudah pernah bertemu dengan
barisan ini. Diam-diam hatinya tergerak: ‘Ini merupakan barisan Jendral Langit yang dibina
Oey Kang dengan segenap kemampuannya. Tampaknya tabung yang digenggam dalam
telapak tangan mereka merupakan Ban Hua-tong (Tabung selaksa bunga) yang dikatakan
oleh cici Liang…’
Pikirannya tergerak, sepasang matanya-pun menyorotkan cahaya yang berkilauan.
Matanya menatap lekat-lekat pada diri Oey Kang dan kewaspadaannya pun segera
ditingkatkan.
Oey Kang mengeluarkan suara tawa terbahak-bahak. Mendadak dia berteriak, “Liang Fu
Yong, cepat kau ke mari!”
Melihat si raja iblis itu tiba-tiba mengeluarkan suara teriakan, ingatannya, langsung
melayang ke peristiwa menyakitkan yang dialami oleh cici Liangnya. Wajahnya langsung
berubah hebat. Dia menolehkan kepalanya dan membentak, “Cici Liang, tidak usah
digubris ocehannya!” kakinya menghentak di atas tanah, tubuhnya pun melesat di udara.
Ketika dia mendarat kembali, jaraknya dengan Oey Kang tinggal empat lima tindak saja.
Gerakannya begitu pesat seperti lintasan cahaya kilat.
Tampaknya Ceng Lam Hong dan Mei Ling tidak menyangka kalau mendadak Tan Ki
akan menghambur ke depan. Untuk sesaat kedua-duanya jadi termangu-mangu. Mereka
tidak sempat lagi berteriak mencegahnya.
Liang Fu Yong terus berdekatan dengan suhunya. Hatinya tetap saja merasa khawatir.
Tanpa dapat ditahan lagi dia bertanya kepada Tian Bu Cu, “Suhu, coba kau lihat, apakah
Tan Ki sanggup melawan si raja iblis Oey Kang?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sepasang mata Tian Bu Cu memperhatikan sikap Tan Ki.
“Apabila Oey Kang bertarung dengannya dengan menggunakan ilmu yang sejati,
walaupun Tan Ki belum tentu menang, tetapi lebih dari cukup untuk menjaga dirinya
sendiri. Tetapi lawannya ini justru seorang manusia yang maha licik. Akal busuknya
banyak sekali. Takutnya dia menggunakan racun dalam menghadapi Tan Ki…”
Terdengar desahan dari mulut Liang Fu Yong. Wajahnya menyiratkan perasaan panik
yang tidak terkirakan.
Saat itu kembali Oey Kang memperdengarkan suara tawanya yang terbahak-bahak.
“Kau berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu yang mulia, hatiku ikut merasa
gembira. Apabila ayahmu yang ada di alam baka dapat mengetahui kejadian ini, tentu
arwahnya juga terhibur dan merasa bangga sekali…”
Tan Ki tertawa dingin. Dia segera menukas ucapan Oey Kang yang belum selesai.
“Kalau aku bisa melepaskan kepalamu dari batang lehermu itu, tentu almarhum ayahku
akan merasa lebih senang lagi…!”
Sepasang alis Oey Kang langsung menyiratkan hawa pembunuhan yang tebal. Sejenak
kemudian keadaannya sudah pulih lagi. Mendengar ucapan Tan Ki yang setiap patah
katanya mengandung kebencian yang tidak terkirakan, dia malah tertawa terbahak-bahak.
“Meskipun kita sudah pernah bergebrak, tetapi boleh dibilang belum sempat
mengerahkan kepandaian yang sejati. Seharusnya kita bertarung sengit untuk
menentukan siapa yang berhak hidup dan siapa yang harus terkapar di atas tanah. Saat ini
begitu banyak tokoh-tokoh persilatan yang hadir di tempat ini, bagaimana kalau kita
melanjutkan kembali pertarungan kita yang sempat tertunda tempo hari?”
Tan Ki mengeluarkan suara tertawa bebas. Tangannya bergerak menghunus pedang
penghancur pelanginya. Kemudian dia berkata dengan gagah, “Pertarungan kita hari ini,
kalau bukan jiwaku yang melayang maka engkau yang harus mati di bawah serangan
pedangku.” sembari berkata, kakinya melangkah mundur setengah tindak. Sikapnya begitu
angker dan berwibawa.
Oey Kang melihat dia berdiri tegak dengan pedang direntangkan di depan dada. Tanpa
dapat ditahan lagi hatinya jadi tergerak. Diam-diam dia berpikir, “Sikap yang
ditunjukkannya ini merupakan pembukaan gerak seorang tokoh pedang berilmu tinggi.
Rasanya aku tidak boleh memandang ringan bocah ini…’
Baru saja pikirannya masih tergerak, tiba-tiba dia melihat cahaya seperti pelangi
melintas di depan matanya, angin yang dingin menerpa wajah. Tiba-tiba Tan Ki
menjulurkan pedangnya melancarkan sebuah serangan. Terasa ada segulung hawa
pedang yang tajam melesat datang dengan gencar.
Kipas di tangan Oey Kang langsung direntangkan, tubuhnya bergerak cepat menerjang
ke depan. Baru setengah jurus dikerahkan, sekonyong-konyong dia menarik kipasnya
kembali. Rupanya mendadak dia ingat bahwa senjata di tangan lawannya menyinarkan
cahaya yang berkilauan. Hal ini membuktikan bahwa pedang anak muda tersebut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merupakan sebatang pedang pusaka. Dia takut kipasnya tidak sanggup beradu dengan
pedang tersebut sehingga ada kemungkinan patah. Oleh karena itu, baru mengerahkan
setengah jurus, mendadak dia menarik kembali kipasnya.
Tenaga dalam Tan Ki bukan saja ajaib, ilmu pedangnyapun demikian aneh sehingga
sulit ditahan. Melihat kesempatan yang baik ini, mana mungkin dia melepaskannya begitu
saja. Dengan demikian dia membentak dengan suara lantang, serangannya langsung
dilancarkan. Sekaligus lima enam tikaman dikerahkannya sehingga Oey Kang terdesak
mundur enam tujuh langkah. Untuk sesaat dia tidak mendapat kesempatan membalas
menyerang.
Kedua belah pihak yang berkumpul di tempat itu tidak ada satupun yang tidak
memperhatikan ilmu pedang Tan Ki dengan seksama. Mereka melihat bahwa setiap
perubahan jurus yang dikerahkannya mengandung keajaiban yang tidak terkirakan. Dilihat
sepintas lalu mirip dengan ilmu pedang Go Bi Pai ataupun Kun Lun Pai. Namun setelah
dilihat dengan teliti, ternyata bukan dari aliran keduanya. Ilmu pedang anak muda itu jauh
lebih dahsyat dari ilmu pedang keluaran kedua partai tersebut. Hal ini membuat mereka
hanya dapat meraba-raba dan tidak bisa mendapatkan kepastian. Diam-diam sebagian
besar merasa kagum sekali.
Oey Kang menahan serangan Tan Ki yang gencar, sekonyong-konyong dia melancarkan
serangan balasan. Tampak bayangan telapak tangannya bergulung-gulung. Kecepatannya
bagai lintasan kilat. Apabila dalam jangka waktu yang sama orang lain hanya dapat
mengerahkan satu jurus serangan, maka dia sudah melancarkan beberapa jurus.
Serangan yang bukan main gencarnya ini berbalik membuat Tan Ki terdesak dan
gerakan pedangnya jadi lambat. Tiba-tiba jurus yang dikerahkan kipas Oey Kang berubah,
dengan tidak terduga-duga dia melancarkan serangan. Jurus yang dikerahkannya sungguh
keji dan sanggup membunuh lawannya seketika.
Meskipun tangan Tan Ki menggenggam sebatang pedang pusaka, tetapi dia tidak
sanggup merebut kembali peluang untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu.
Lagipula jarak mereka sedemikian dekatnya sehingga dirinya terasa kalang kabut dan
banyak jurusnya yang aneh-aneh tidak sempat dimainkan. Dengan susah payah dia
menggerakkan pedangnya dengan sekuat tenaga, dengan demikian bagian dadanya jadi
terlindung dan dia-pun menggunakan kesempatan itu untuk mencelat mundur ke
belakang.
Baru saja dia menghindarkan diri sejauh beberapa depa, Oey Kang sudah berdiri tegak
kembali di tempatnya semula, dia sama sekali tidak mengejar Tan Ki.
Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara seperti gerangan, tangannya menjulur ke
depan menghantam. Serangannya kali ini mengandung tenaga dalam yang bukan main
dahsyatnya. Ilmu yang digunakannya justru sengaja diciptakan untuk menyerang musuh
dari jarak beberapa depaan.
Diam-diam hati Tan Ki jadi tercekat. Pedangnya digeser ke samping sedikit. Ternyata
dia berhasil menahan serangan Oey Kang yang hebat, tetapi tubuhnya tergetar
sedemikian rupa sehingga terhuyung-huyung kemudian terdesak mundur ke belakang
setengah langkah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam beberapa jurus yang berlangsung, kedua orang itu selalu saling menyerang
kemudian mencelat mundur. Tetapi orang-orang yang hadir di tempat itu dapat
merasakan bahwa dalam pertarungan itu selalu terselip bahaya yang mengintai setiap
saat. Perasaan mereka begitu tegang sehingga setiap orang menyaksikan jalannya
pertarungan dengan menahan nafas.
Terdengar Oey Kang berkata dengan suara yang tajam, “Ilmu pedangmu merupakan
hasil curian dari Ti Ciang Pang. Memang sangat hebat dan jarang ditemui. Tetapi kalau
ditilik dari tenaga dalam yang kau miliki, tampaknya kau masih belum sanggup mengadu
jiwa denganku…!”
Wajah Tan Ki menyiratkan keangkeran. Dia berdiri tegak dengan pedang merentang di
depan dada.
“Manusia she Oey, kau tidak perlu mengangkat-angkat dirimu sendiri. Orang lain boleh
mengatakan bahwa tenaga dalammu sudah mencapai taraf tertinggi, ilmu yang kau kuasai
keji sekali. Tetapi di bawah serangan pedangku yang gencar, suatu ketika keburuk-anmu
pasti akan terlihat!”
Mendengar nada kata-katanya yang sombong, Oey Kang mendongakkan wajahnya
tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba tubuhnya mendesak ke depan dan menerjang.datang.
Dengan jurus Pelangi Menghias Angkasa yang hebat, dia melancarkan sebuah totokan.
Pedang di tangan Tan Ki mengibas. Dengan keras dia menyambut jurus itu. Terdengar
suara benturan logam, pedang dan kipas sama-sama tergetar dan terhuyung-huyung
sebanyak dua kali.
Tan Ki melihat pedang pusaka di tangannya ternyata tidak sanggup mematahkan kipas
Oey Kang. Malah dirinya tergetar sehingga pergelangan tangannya terasa kesemutan serta
kakinya goyah. Hampir saja dia tidak dapat mempertahankan diri. Untuk sesaat dia malah
jadi termangu-mangu.
Oey Kang adalah seorang manusia yang bukan main liciknya. Melihat adanya
kesempatan bagus, mana mungkin dia sudi melepaskan begitu saja. Tiba-tiba mulutnya
mengeluarkan suara bentakan keras, tubuhnya merapat maju. Justru ketika pikiran Tan Ki
masih melayang-layang, dia sudah melancarkan serangan. Hatinya yaiig jahat berniat
menggunakan kesempatan itu untuk membunuh Tan Ki.
Tan Ki merasa serangannya yang gencar ini mengandung kekuatan yang dahsyat. Jurus
yang dikerahkan oleh kipasnya begitu ajaib sehingga sulit dihadapi. Dia bagai dikurung
dari delapan penjuru. Hatinya terkejut setengah mati. Terpaksa dia merentangkan
pedangnya untuk melindungi bagian dada dan dalam waktu yang bersamaan mencelat ke
belakang.
Kedua orang itu saling menyerang dan menahan. Yang satu maju yang lainnya pasti
mundur. Tampaknya dalam waktu yang singkat sulit menentukan siapa yang lebih unggul
dan siapa yang lebih lemah.
Orang-orang yang hadir di tempat itu melihat keduanya saling mengerahkan kelebihan
masing-masing dan menutupi kelemahan mereka. Setelah bergebrak beberapa jurus
kedudukan mereka masih seimbang. Dengan usianya yang masih begitu muda, Tan Ki
berhadapan dengan raja iblis nomor satu di dunia saat itu, keadaannya meskipun agak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terdesak tetapi sama sekali tidak memalukan. Diam-diam mereka bersyukur bahwa kelak
dunia Kangouw ada generasi penerus yang dapat diandalkan.
Tetapi hati Tan Ki justru tidak merasa gembira karena hal ini. Dia selalu mempunyai
pikiran: ‘Dendam selama berpuluh tahun terus terpendam. Sekarang musuh besar sudah
di depan mata, rasanya ingin sekali menikam jantungnya dalam sekali gerak agar mati
seketika. Tetapi setelah bergebrak beberapa jurus, bukan saja ilmu sejati pihak lawan
sudah terlihat jelas, rasanya dalam ribuan juruspun belum tentu dapat menentukan siapa
yang lebih unggul di antara kami berdua…’
Semakin dipikirkan hatinya semakin tertekan. Perasaannya demikian panik sehingga
keringat dingin mulai membasahi keningnya. Emosi dalam hatinya seakan terus
bergejolak.
Entah sejak kapan, tahu-tahu ketiga puluh enam laki-laki kekar berpakaian hitam sudah
mengambil posisi membentuk barisan dan mengurung Tan Ki di tengah-tengah.
Tian Bu Cu yang melihat keadaan itu segera merasakan situasi Tan Ki yang mulai
gawat. Dia langsung berteriak dengan suara lantang.
“Hati kiri kananmu!”
Justru ketika suara teriakannya baru terdengar, tiba-tiba bunga api berpijar dan
melesat keluar ke seluruh bagian tubuh Tan Ki.
Rupanya tabung yang digenggam ketiga puluh enam laki-laki bertubuh kekar itu
merupakan Ban Hua Hwe-tong yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Tabung api
selaksa bunga itu dapat menyemburkan asap beracun yang keji. Orang-orang yang
melihat api berwarna kehijauan melesat keluar, segera dapat merasakan betapa
berbahayanya senjata semacam itu. Dalam waktu yang bersamaan, mereka mengeluarkan
suara pekikan terkejut dan terasa seluruh bulu kuduk di tubuh mereka merinding.
Dengan segenap kemampuannya Tan Ki mencelat ke atas, jangkauan loncatannya
mungkin mencapai lima kaki lebih. Tetapi dirinya langsung terdesak oleh serangan Oey
Kang sehingga mau tidak mau dia berjungkir balik di udara dan mendarat kembali di atas
tanah.
Sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas. Matanya menyorotkan sinar yang
berkobar-kobar, mimik wajahnya menunjukkan perasaan yang gusar tidak kepalang.
Hampir saja dia membuka mulut memaki Oey Kang. Tetapi sekejap kemudian dia hanya
mendengus dengan berat dan mencelat ke samping sejauh tujuh tindak.
Baru saja kakinya berdiri dengan tegak, lima carik cahaya kehijauan melesat tiba di
tempatnya berdiri tadi. Seandainya Tan Ki tidak keburu menghindar, sungguh sangat ngeri
membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.
Panah api itu mengandung kekuatan yang dahsyat. Meskipun Tan Ki berhasil
mengelakkannya, namun percikan apinya mencapai jarak dua depaan, setelah itu baru
padam kembali. Namun tempat di mana api tersebut mendarat, baik rumput maupun
bebatuan langsung terbakar. Saat itu juga terendus bau bunga dan rumput yang terbakar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki berteriak dengan suara lantang, pedangnya digetarkan kemudian dihunjamkan
ke depan. Tampak secarik cahaya berkilauan yang mengiringi percikan darah, disusul
dengan rubuhnya seorang laki-laki berpakaian hitam. Tabung di tangannya menggelinding
di atas tanah dan segera ada beberapa batang panah api yang melesat keluar dan
membakar rerumputan, di mana senjata rahasia itu mendarat. Rumput-rumput yang
terbakar layu menguning seketika.
Hati Tan Ki diam-diam tercekat melihatnya. ‘Rupanya panah api yang menyembur
keluar dari tabung emas itu bukan saja mengandung kekuatan yang dahsyat tetapi juga
mengandung racun yang keji!’
Tiba-tiba tampak laki-laki berpakaian hitam itu memancarkan diri mereka. Tabung di
tangan mereka kembali digerakkan. Kali ini melesat keluar asap api berwarna kebirubiruan
yang kemudian bergabung menjadi satu seperti air terjun yang deras meluncur ke
arah Tan Ki. Rupanya di dalam tabung itu tidak hanya terisi panah api beracun, tetapi
berbagai jenis senjata rahasia beracun lainnya. Apabila setiap laki-laki kekar itu memakai
senjata rahasia yang berlainan untuk menghadapinya, entah bagaimana kelabakannya Tan
Ki menghadapi mereka. Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat. Sekonyong-konyong dia
menggerakkan pedang penghancur pelanginya lalu menerjang kepada laki-laki berpakaian
hitam yang ada di sebelah kiri. Dalam waktu yang bersamaan, dia mengibaskan
pedangnya ke sana ke mari untuk menangkis panah beracun yang melesat ke arahnya.
Tan Ki sadar panah-panah api yang melesat keluar dari tabung emas di tangan laki-laki
berpakaian hitam itu mengandung racun yang keji. Apabila dirinya sampai terkena, bukan
cuma daging serta kulit tubuhnya yang merasa sakit, sulit pula mencari obat penawarnya.
Oleh karena itu, dia tidak berani lengah sedikitpun. Tubuhnya berkelebat ke sana ke mari.
Tampak asap api dan panah beracun terus berkelebat lewat di samping tubuh dan atas
kepalanya. Dari jauh tampak segulungan asap yang besar membungkus tubuh anak muda
itu.
Namun ketiga puluh enam Jendral Langit asuhan Oey Kang ini bukan orang-orang
sembarangan. Mereka terbagi dalam tiga kelompok yang berjumlah masing-masing dua
belas orang. Sedangkan ketiga kelompok itu menggunakan jenis senjata rahasia yang
berlainan.
Tan Ki menerjang beberapa kali berturut-turut. Tetapi baru menerjang beberapa depa,
terpaksa dia berhenti lagi. Pedang penghancur pelanginya bergerak sehingga
menimbulkan lingkaran cahaya berkilauan yang mana melindungi seluruh tubuhnya.
Begitu gerakan tubuhnya terhenti, kembali panah beracun, asap beracun dan piau
beracun menyerang dirinya dari segala arah!
Kali ini keadaan dirinya benar-benar gawat, menangkis sulit, melancarkan serangan
tidak mungkin. Kedua belah pihak yang melihat keadaan diri, Tan Ki saat itu, dapat
merasakan bahaya yang mengintai dirinya setiap saat.
Sepasang mata Tian Bu Cu menyorotkan sinar yang berkilauan. Kakinya bergerak maju
setengah langkah. Diam-diam dia telah mengerahkan tenaga dalamnya sebanyak delapan
bagian dan siap dilancarkan apabila situasi sudah mendesak sekali.
Pandangan mata Yibun Siu San dan Cian Cong terus melirik ke sana ke mari, meskipun
sedang berhadapan dengan musuh, mereka tetap memperhatikan situasi di sekitar. Begitu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melihat ke arah Tan Ki, tentu saja mereka paham bahwa Tan Ki saat itu sudah terkurung
rapat dalam barisan Jendral Langit binaan Oey Kang dan sulit meloloskan diri.
Tetapi keadaan mereka sendiri saat ini sedang menghadapi lawan yang tangguh. Sudah
barang tentu Kaucu Pek Kut Kau dan Tong Ku Lu tidak memberi kesempatan kepada
mereka untuk menolong Tan Ki. Melihat keadaan anak muda itu yang sedemikian
berbahaya, tanpa dapat ditahan lagi keringat dingin mengucur membasahi kening kedua
orangtua tersebut. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Kadang-kadang malah
mereka terdesak oleh lawan masing-masing karena perhatian mereka yang terpencar serta
mengkhawatirkan keadaan Tan Ki.
Kedua tokoh ini merupakan orang-orang yang berpengetahuan luas. Mereka sadar
bahwa Ban Hua Hwe-tong yang ada di tangan ketiga puluh enam laki-laki berpakaian
hitam itu mempunyai pengaruh yang hebat. Jangkauannya jauh sekali, bahkan lebih kuat
satu kali lipat dari pukulan seorang pesilat biasa. Dalam waktu setengah kentungan saja
belum tentu apinya dapat dipadamkan. Kecuali kalau daya kerja senjata rahasia itu sendiri
yang sirna dengan sendirinya. Pokoknya hampir tidak ada jalan untuk menolong Tan Ki
keluar dari kesulitan tersebut.
Justru ketika kedua orang itu masih mengkhawatirkan keadaan Tan Ki, tubuh anak
muda itu telah dikelilingi kobaran api. Dalam jarak sepuluh depaan seperti terjadi
kebakaran hebat dan boleh dibilang tidak ada tempat kosong lagi bagi Tan Ki untuk
menghindarkan diri.
Tiba-tiba terdengar suara ratapan yang menyayat hati…
“Tan Koko! Adik Ki!” Mei Ling dan Liang Fu Yong langsung menghambur ke depan
dengan pipi berderai air mata.
Sementara itu, mendadak terdengar suara pekikan burung rajawali yang lantang sekali.
Seekor burung rajawali yang bentuk badannya besar sekali menukik ke bawah dengan
kecepatan yang tidak terkirakan. Timbul serang-kum angin yang kencang laksana badai
topan yang melanda. Demikian hebatnya kepakan sayap rajawali tersebut sehinga kobaran
api padam seketika dan asap putih kebiru-biruan memenuhi angkasa.
Hati Oey Kang langsung curiga. Cepat-cepat dia mendongakkan kepalanya. Tampak
segurat cahaya berwarna keputihan melesat dari punggung rajawali tersebut.
Kecepatannya bagai kilat. Baru saja Oey Kang berniat mengangkat kipasnya ke atas untuk
menangkis, tahu-tahu serangkum angin yang kencang menerpa wajahnya. Kipas di
tangannya sudah terkutung menjadi dua bagian.
Tampak cahaya putih berkelebat, tiba-tiba di samping tubuh Tan Ki telah berdiri
seorang gadis berpakaian putih.
Kecantikan gadis ini sungguh luar biasa. Sepasang matanya bening bagai air sungai di
musim semi. Alisnya lebat dan bentuknya indah. Wajahnya bersih terang mempesona.
Orang-orang yang ada di tempat itu seakan terpikat oleh kecantikannya yang bak dewi
kahyangan itu. Apalagi saat ini bibirnya merekah mengulumkan seulas senyuman yang
manisnya sulit diuraikan dengan kata-kata. Hal ini malah membuat sukma orang-orang itu
seperti melayang-layang di awang-awang. Serasa pandangan mata tidak bisa dialihkan ke
tempat lain.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sepasang mata gadis berpakaian putih yang indah itu mengedar ke sekeliling. Melihat
pandangan mata orang-orang di sana sedang menatap diri nya dengan terkesima, tanpa
dapat ditahan lagi pipinya menjadi merah padam. Cepat-cepat dia menundukkan
kepalanya rendah-rendah.
Terdengar suara desiran angin, hanya satu kali lalu berhenti. Di belakang gadis
berpakaian putih telah berdiri dua gadis cilik berusia empat belas atau lima belas tahunan.
Keduanya mengenakan pakaian hijau. Hanya yang satu hijau tua, sedangkan yang lainnya
hijau muda. Kedua gadis cilik ini juga mempunyai wajah yang rupawan sekali.
Begitu gadis berpakaian putih itu muncul di samping Tan Ki, boleh dibilang sebagian
besar tokoh daerah Tionggoan tidak ada yang mengenalinya. Tetapi orang-orang dari
pihak Lam Hay Bun serta rombongan Pek Kut Kau justru pada berubah hebat wajah
mereka. Tanpa dapat ditahan lagi kaki mereka tergetar mundur dua langkah. Seperti
mendadak melihat malaikat elmaut sehingga perasaan hati menjadi tidak tenang dan
jantung berdebar-debar.
Dalam satu jurus serangan saja, gadis berpakaian putih itu sanggup mematahkan kipas
yang biasa digunakan sebagai senjata oleh Oey Kang. Orangnya sampai berdiri termanguma-
ngu beberapa saat. Sejenak kemudian dia baru pulih kembali. Tetapi tampaknya dia
merasa takut sekali kepada si gadis berpakaian putih, dia tidak mengucapkan sepatah
katapun, hanya tangannya saja yang bergerak memberikan isyarat. Setelah itu dia
membalikkan tubuh dan menghambur pergi secepat kilat. Dalam sekejap mata
bayangannya sudah tidak terlihat lagi.
Melihat perubahan yang tidak terduga-duga ini, Mei Ling dan Liang Fu Yong jadi
tertegun. Beberapa saat kemudian mereka baru mengenali si gadis berpakaian putih.
Tanpa dapat ditahan lagi, bibir mereka mengembangkan senyuman dan tawa terkekehkekeh.
Kemudian keduanya menghambur ke depan untuk mengucapkan terima kasih atas
kedatangannya yang memberi pertolongan kepada Tan Ki.
Gadis berpakaian putih itu hanya tersenyum simpul. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan
tahu-tahu sudah menghilang dari pandangan.
Gerakan tubuhnya itu demikian cepat sehingga orang-orang yang hadir di tempat itu
tidak melihat bagaimana dia tahu-tahu sudah ada di samping Tong Ku Lu. Terdengar
suara gerungan pendek. Tubuh Tong Ku Lu terhuyung-huyung bagai orang mabuk
kemudian tergetar mundur sejauh lima enam langkah. Sebatang kipas di tangannya sudah
terkutung menjadi dua bagian. Begitu terkejutnya orang ini sehingga wajahnya berubah
pucat pasi seketika..
Dalam satu jurus serangan saja, gadis berpakaian putih itu kembali mendesak Cia Tian
Lun hingga mengundurkan diri, kemudian tampak dia berjungkir balik lalu melayang
datang bagai terbang. Tampak cahaya pedang berkilauan, Kaucu Pek Kut Kau yang sejak
tadi terus berkutat dengan si pengemis sakti Cian Cong mendadak mengeluarkan suara
raungan yang aneh. Sebelah tangannya mendekap pundak dan mundur dengan
terhuyung-huyung. Tanah di mana kakinya melangkah terdapat tetesan darah segar yang
mengalir dari pundaknya yang terluka. Wajahnya yang hitam malah berubah merah
padam.
Sekali turun tangan si gadis berpakaian putih langsung menyerang tiga tokoh paling
sakti di dunia saat ini. Ilmunya yang begitu ajaib serta gerakan tubuhnya yang demikian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cepat membuat orang-orang yang melihatnya sampai melongo dan mendelikkan mata
mereka lebar-lebar. Sampai sekian lama tidak ada seorangpun yang membuka mulut.
Hua Pek Cing sudah pernah kena batu di tangan pelayannya, Mei Hun. Sekarang dia
melihat gadis berpakaian putih itu menyerang tiga tokoh berilmu tinggi secara berturutturut
tanpa menemui kesulitan sedikitpun. Perasaannya menjadi kecut. Diam-diam dia
berpikir dalam hati: ‘Meskipun ditilik dari keadaan, pihak kami masih mempunyai jago-jago
yang dapat diandalkan, tetapi ilmu kepandaian gadis ini benar-benar hebat. Mungkin tidak
ada seorang pun yang sanggup menghadapinya.’
Begitu pikirannya tergerak, cepat-cepat dia memberi perintah kepada Cia Tian Lun
dengan suara lirih.
“Mundur!”
Begitu kata-katanya terucapkan, ternyata pengaruhnya masih demikian besar. Para
jago dari Lam Hay dan Si Yu serentak mengundurkan diri turun dari bukit tersebut. Dalam
waktu sekejap mata, semuanya sudah meninggalkan tempat itu. Hawa pembunuhan yang
tadinya menyelimuti seluruh bukit itu, saat ini menjadi buyar seketika.
Tan Ki menatap kepergian orang-orang itu sampai menghilang dari pandangan mata.
Dia tidak memerintahkan anggota perkumpulannya untuk mengejar. Dia tahu pihak Lam
Hay dan Si Yu hanya tergetar oleh ketinggian ilmu yang dimiliki oleh gadis berpakaian
putih. Bukan karena mereka sudah kalah. Kalau tanpa berpikir panjang lagi dia
memerintahkan orang-orangnya untuk mengejar, bisa-bisa pihak Lam Hay dan Si Yu
merasa terdesak sedemikian rupa sehingga nekat mengadu jiwa.
Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat wajah Yibun Siu San dan Cian Cong
menyiratkan perasaan ingin tahu, mata mereka menatap si gadis berpakaian putih itu
lekat-lekat. Tampaknya banyak perkataan yang ingin mereka ucapkan, namun terpaksa
ditahan. Mereka duduk bersila di atas tanah, kemudian memejamkan matanya rapat-rapat
untuk mengatur pernafasan.
Meskipun kedua Cianpwe itu tidak terluka sama sekali namun pertarungan yang
berlangsung tadi cukup membuyarkan hawa murni dalam tubuh mereka. Walaupun di
dalam hati banyak sekali perkataan yang ingin mereka ucapkan, tetapi mereka tidak berani
memencarkan perhatian untuk sementara. Akhirnya keduanya duduk bersila mengatur
pernafasan.
Begitu rombongan musuh meninggalkan tempat itu, para anggota perkumpulan Ikat
Pinggang Merah segera turun tangan membersihkan sisa-sisa pertempuran. Dengan
sepasang tangan menggenggam pedang, Tan Ki maju ke depan dan menjura dalamdalam.
“Pedang pusaka meskipun tajam dan sakti, tetapi hanya sesuai untuk orang yang
cocok. Dalam pertempuran di bukit Tok Liong-hong kali ini, cayhe sudah cukup
mengandalkan pedang ini untuk menghadapi musuh, tetapi cayhe merasa sulit menerima
pemberian dari nona ini.”
Gadis berpakaian putih tersenyum tipis.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Barang yang sudah dihadiahkan, tidak mungkin aku tarik kembali. Pedang Penghancur
Pelangi ini memang merupakan sebatang pedang kuno yang luar biasa tajamnya. Tetapi
aku sudah menghadiahkannya kepada Mei Hun. Barang ini sudah menjadi haknya. Kalau
dia ternyata menghadiahkannya lagi kepadamu, hal ini tidak ada sangkut pautnya lagi
dengan diriku.” suaranya begitu merdu sehingga orang yang mendengarnya sulit
membantah apapun yang dikatakannya.
Mendengar ucapannya, tanpa terasa sepasang tangan Tan Ki terkulai ke bawah. Tetapi
sesaat kemudian, dia mengangkatnya kembali.
“Apalagi pedang pusaka, seharusnya dimiliki oleh orang yang tepat. Cayhe adalah
seorang desa yang kasar. Seandainya membawa pedang ini, malah membuat orang tidak
percaya kalau pedang ini merupakan sebatang pedang pusaka. Kalau nona berkeras hati
tidak mau menerimanya kembali, namun cayhe juga enggan menggunakannya, lama
kelamaan malah menjadi barang rongsokan. Sebaiknya nona hadiahkan saja kepada orang
lain.”
Sepasang mata si gadis berpakain putih menatap diri Tan Ki lekat-lekat. Sejak muncul
di tempat itu bibirnya selalu mengembangkan senyuman. Tetapi setelah mendengar katakata
Tan Ki, matanya langsung menyorotkan cahaya seperti kilat. Tetapi sekejap kemudian
sudah pulih kembali. Namun senyuman yang diperlihatkannya sekarang ini tidak semanis
tadi lagi. Sepasang alisnya menyiratkan kemarahan yang terpendam. Perlahan-lahan dia
berkata lagi dengan nada sendu, “Kalau memang begitu kemauan siangkong, tentu aku
tidak enak hati mengatakan apa-apa lagi.” dia memalingkan wajahnya kemudian berkata
lagi, “Mei Hun, Ciu Goat, mari kita kembali ke Tian San!”
Ucapan ini seakan dicetuskan dengan tergesa-gesa. Tampaknya dia ingin terbang
meninggalkan tempat itu secepatnya. Mei Hun dan Ciu Goat yang mendengarnya jadi
tertegun. Entah mengapa majikan mereka yang datang dengan kegembiraan yang
meluap-luap, tiba-tiba merubah pendiriannya. Meskipun hati mereka merasa aneh, tetapi
keduanya tidak berani bertanya. Setelah saling’ lirik sekilas, mereka melesat naik ke atas
punggung rajawali.
Gadis berpakaian putih itu tidak melirik Tan Ki sekilaspun. Tangannya menyambut
pedang Penghancur Pelangi. Tidak terlihat jelas bagaimana tubuhnya bergerak, hanya
terendus serangkum bau harum yang menerpa hidung. Orangnya sendiri sudah melesat ke
atas punggung burung rajawalinya dan berdiri membelakangi Tan Ki.
Dengan termangu-mangu Tan Ki memandangi bayangan punggung ketiga gadis itu. Dia
tidak mengucapkan sepatah katapun. Orang lain juga tidak dapat menebak apa yang
dipikirkannya saat itu. Sebetulnya, bukan Tan Ki tidak mau berbicara, tetapi kedatangan
dan kepergian gadis berpakaian putih itu demikian tergesa-gesa. Meskipun di dalam
hatinya terdapat ribuan kata-kata yang ingin diucapkan, namun dia justru tidak tahu
bagaimana harus memulainya. Untuk sesaat, dia malah berdiri termangu-mangu tanpa
bergerak sedikitpun.
Tiba-tiba, kembali terendus serangkum bau yang harum menerpa datang. Tahu-tahu
Mei Hun sudah berdiri di hadapannya. Tampak sepasang alis gadis itu menjungkit ke atas
dan wajahnya menunjukkan perasaan tidak senang.
Tan Ki tertegun sesaat, kemudian menjura dalam-dalam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Entah ada petunjuk apa lagi yang ingin nona sampaikan?” tanyanya sopan.
Mei Hun mengeluarkan suara tertawa yang dingin.
“Kau memang pandai sekali menjadi orang!” apa yang dikatakannya malah tidak ada
hubungannya sama sekali dengan pertanyaan Tan Ki.
Mendengar ucapannya, sekali lagi Tan Ki tertegun. Hatinya merasa bingung.
“Harap nona tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati, entah Cayhe
berbuat kesalahan apa…”
Mei Hun segera menukas dengan nada yang dingin, “Kalau kau berbuat kesalahan
terhadap diriku, mungkin masih bisa dimaafkan, tetapi menyalahi nona kami, rasanya tidak
mungkin begitu mudah diselesaikan!”
Begitu kata-katanya terucap keluar, Yibun Siu San dan Cian Cong yang sedang
memejamkan mata mereka mengatur pernafasan, saat ini tiba-tiba membuka mata
serentak. Mereka melirik sekilas kepada Mei Hun, seakan ingin mengatakan sesuatu
namun membatalkannya, kemudian tampak mereka memejamkan matanya kembali.
Terdengar Mei Hun berkata lagi perlahan-lahan, “Barang yang aku hadiahkan
kepadamu, sama sekali tidak berniat diambil kembali. Kau justru tidak tahu kebaikan
orang, dengan keras kepala tetap ingin mengembalikannya kepada nona kami…”
Mendengar sampai di sini, perasaan hati Tan Ki semakin bingung. Tanpa dapat ditahan
lagi dia menukas, “Memang apanya yang salah?”
Mei Hun menghentakkan kakinya di atas tanah keras-keras.
“Apanya yang salah? Siapa kau kira nona kami itu? Kau kira dia sudi menjilat kembali
ludah yang telah dikeluarkan dari mulutnya? Meskipun pedang Penghancur Pelangi itu
adalah sebatang pedang pusaka yang harganya tidak ternilai, namun nona kami tidak
memandang sebelah matapun. Kau seenaknya saja mengembalikan barang yang sudah
dihadiahkan kepadamu, harga dirinya benar-benar bagai dicampakkan. Tadinya nona kami
sudah berniat masuk menjadi anggota perkumpulan Ikat Pinggang kalian, sekarang
keinginan itu jadi sirna. Apakah orang seperti dirimu ini pantas menjabat sebagai Bulim
Bengcu? Demi engkau, nona kami sampai…”
Berkata sampai di sini, tiba-tiba dia merasa ucapannya tidak patut diteruskan. Cepatcepat
dia membatalkannya dan membungkam.
Melihat sikapnya yang garang itu dan betul-betul marah, tampaknya Mei Hun bukan
sedang bergurau. Diam-diam dia juga mulai merasakan bahwa urusannya jadi tidak beres.
Sepasang tangannya saling meremas dengan gelisah. Hatinya panik sekali.
“Aku betul-betul tidak berniat melukai hati nonamu itu…”
Si budak Mei Hun sejak kecil hidup di pegunungan Ming San yang terpencil. Hatinya
masih polos sekali. Melihat keringat dingin membasahi kening Tan Ki dan bicaranya yang
gagap gugup, hatinya jadi melemah. Perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berusaha memikirkan jalan keluar bagi Tan Ki. Tiba-tiba dia mendengar suara teriakan Ciu
Goat yang tidak henti-hentinya.
“Cici Mei Hun, Siocia ingin kita berangkat secepatnya!”
Mei Hun mendongakkan wajahnya menatap sekilas ke arah si gadis berpakaian putih,
tiba-tiba dia menarik nafas panjang.
“Demi urusanmu, tanpa perdulikan segala macam penderitaan, nona kami menempuh
perjalanan jauh dari Ming San ke mari, lagipula dia menunjukkan wajah aslinya. Dia
membantumu menghalau musuh. Perasaan sayang yang begitu dalam, orang lain mungkin
ingin membalasnya masih belum sempat, kau malah mengucapkan kata-kata yang
menyakitkan hatinya. Seandainya dia merasa terhina lalu dengan perasaan kesal
menggabungkan diri dengan pihak musuh, aku benar-benar tidak tahu nasib
mempermainkan manusia atau kau memang sengaja mengharapkan kejadiannya jadi
demikian!”
Setelah memaki Tan Ki beberapa patah kata, tampaknya hati gadis cilik itu masih
dilanda kebimbangan. Selesai mengucapkan kata-katanya, dia mendelik sekali lagi kepada
Tan Ki’.
Tampak pundaknya bergerak sedikit, dengan kecepatan kilat dia sudah naik di atas
punggung burung rajawali.
Terdengar kembali suara pekikan burung itu yang memekakkan telinga. Kemudian
angin kencang laksana badai topan kembali memenuhi sekitar tempat tersebut. Debu dan
pasir-pasir beterbangan. Burung rajawali yang besar sekali itu sudah mengepakkan
sayapnya dan terbang ke atas. Dalam sekejap mata saja hanya terlihat sebuah titik hitam
di langit bagian barat daya. Lama kelamaan semakin mengecil dan menghilang dari
pandangan mata.
BAGIAN LIV
Tan Ki memandang kepergian majikan dan pelayannya yang dalam keadaan marah.
Hatinya seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Dengan termangu-mangu dia menatap
ke atas langit dan wajahnya tampak kelam sekali. Untuk sekian lama dia tidak
mengucapkan sepatah katapun.
Tiba-tiba dari belakang punggungnya terdengar suara tarikan nafas yang berat.
“Benar-benar seorang gadis sakti yang berwatak tinggi hati dan angkuh!”
Mendengar suara itu, Tan Ki segera menolehkan kepalanya. Entah sejak kapan, Yibun
Siu San dan si pengemis sakti Cian Cong sudah berdiri di belakangnya. Terdengar Cian
Cong melanjutkan kembali kata-katanya…
“Ilmu yang dimiliki gadis ini benar-benar sudah tidak terukur tingginya. Si pengemis tua
kagum bukan main. Tetapi karena sedikit salah paham langsung pergi tanpa berpikir
panjang lagi, tampaknya jiwa gadis ini kurang lapang.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki menarik nafas perlahan-lahan.
“Semuanya merupakan kesalahan anak Ki. Karena ulahku, perkumpulan Ikat Pinggang
Merah kembali kehilangan seorang tokoh sakti yang dapat diandalkan. Meskipun paman
dan Cian Locianpwe tidak mengatakannya secara terus terang. Hati anak Ki justru tambah
tertekan dan tahu telah berbuat kesalahan lagi.” sembari berkata, sepasang matanya
sudah mulai membasah. Setetes demi setetes air matanya jatuh di atas tanah.
Yibun Siu San segera tertawa lebar.
“Masih lumayan, dalam pertempuran kali ini, pihak kita tidak sampai mendapat kerugian
banyak. Meskipun dia sekarang pergi dalam keadaan marah, tetapi pasti ada saatnya
untuk bertemu lagi. Kau juga tidak perlu merasa menyesal dan menyalahkan dirimu sendiri
terus menerus. Jaga baik-baik sikapmu sebagai seorang Bulim Bengcu. Jangan sedikitsedikit
menangis seperti orang perempuan.”
Ketika mereka berbincang-bincang itulah, orang-orang gagah yang berkumpul di
tempat itu sudah membersihkan keadaan tempat itu yang kocar kacir. Bekas-bekas darah
disiram sampai bersih. Bekas kebakaran juga dirapikan, rumput-rumput yang hangus dan
layu dicabut sehingga semuanya kembali seperti sedia kala.
Tiba-tiba salah seorang anggota perkumpulan mereka berlari mendatangi dengan
tergesa-gesa. Sesampainya di hadapan Tan Ki, dia segera membungkukkan tubuhnya
dalam-dalam.
“Para ketua dari lima partai besar yakni Siau Lim, Bu Tong, Cing Ceng, Kun Lun dan Go
Bi Pai beserta sejumlah anak muridnya sudah hadir di kaki bukit. Mohon tanya
penyambutan bagaimana yang harus kita lakukan?”
Mendengar keterangannya, Tan Ki seperti orang terkena pukulan bathin berat.
Tubuhnya bergetar hebat tetapi sekejap kemudian dia sudah pulih kembali seperti
sebelumnya. Dia segera mengulapkan tangannya sambil berkata, “Lima partai besar
dengan perkumpulan kita sama-sama menegakkan keadilan bagi dunia Bulim. Tentu saja
kita harus menyambut mereka dengan penyambutan tamu agung yang terhormat!”
Liang Fu Yong mendadak menghampiri Tan Ki dan berkata kepadanya dengan suara
rendah.
“Adik Ki, tidakkah lebih baik kalau kau mengganti dulu pakaianmu?”
Rupanya dalam pertarungan tadi, Tan Ki diserang dengan gencar oleh tiga puluh enam
Jendral Langit asuhan Oey Kang. Meskipun orangnya sendiri tidak sampai terluka, tetapi
pakaiannya sudah bolong di sana sini terkena percikan api. Biar bagaimana dia adalah
seorang Bulim Bengcu yang disegani. Seandainya mengenakan pakaian yang koyak
menyambut tamu, rasanya kurang pantas. Liang Fu Yong selalu mengkhawatirkan nama
baik Tan Ki. Itulah sebabnya dia menanyakan persoalan itu.
Tan Ki menundukkan kepalanya dan memperhatikan keadaan pakaiannya. Dia langsung
memperlihatkan secercah senyuman yang getir.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Lima partai besar sudah dalam perjalanan menuju ke sini. Dengan demikian tidak ada
waktu lagi mengganti pakaian menyambut tamu agung. Lagipula saat ini yang kupikirkan
bukan masalah pakaianku yang pantas atau tidak…”
Mendengar nada suaranya yang begitu berat, seakan hatinya masih bimbang dan
terselip kegundahan yang besar, Liang Fu Yong segera teringat keadaannya saat ini.
Matanya menatap Tan Ki lekat-lekat dengan tertawa sendu.
Tan Ki dapat merasakan bahwa tawa yang diperlihatkan Liang Fu Yong seperti hendak
menghibur hatinya yang gelisah. Juga mengandung permintaan maaf yang tidak
terkirakan. Sebab, meskipun dia mengetahui isi hati Tan Ki seperti orang yang mengenali
jari tangannya sendiri, tetapi dia tidak dapat memberikan bantuan apa-apa…
Dalam keadaan yang hening dan mencekam, kedua orang itu saling pandang beberapa
saat. Tan Ki segera membangkitkan keberaniannya, kegagahannya tergugah. Dengan
demikian dia langsung mengibaskan tangannya dan berkata dengan suara lantang.
“Lima partai besar datang lebih awal ke markas kita di puncak bukit Tok Liong-hong ini.
Persahabatan yang tulus ini sungguh tidak mudah ditemukan. Harap saudara-saudara
sekalian menyambutnya sesuai dengan tingkatan masing-masing!”
Kemudian, dengan Tan Ki sebagai pimpinan, Yibun Siu San, Cian Cong dan Tian Bu Cu
mengiringi di belakang. Para anggota perkumpulan Ikat Pinggang Merah langsung
memencarkan diri dan berbaris menjadi dua kelompok. Sikap yang mereka tunjukkan
penuh hormat dan berdiri di tempat masing-masing dengan khidmat.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, dari batas puncak bukit tampak seseorang
berkepala botak berjalan mendatangi. Kemudian disusul dengan seseorang yang
mengenakan jubah pertapa berwarna abu-abu, lalu seorang laki-laki tinggi besar dan
gagah, serta berusia pertengahan abad. Lambat laun, yang menuju ke tempat mereka
semakin banyak. Sudah tentu yang berkepala pelontos tadi, ketua Siu Lim Pai sendiri,
yakni Pun Sang Taisu. Di belakangnya mengikuti kepala bagian hukuman Pun Bu Taisu
dan ketua pendopo Tat Mo-goan, Pun Sing Taisu dan beberapa murid lainnya dari
angkatan Pun.
Di sebelah kiri dipimpin oleh Ciang Bunjin (Ketua perguruan) Bu Tong Pai, Sia Hai Cinjin,
serta beberapa muridnya. Juga ketiga partai lainnya yang membawa sejumlah murid
berjalan mendatangi dengan langkah lebar. Jumlah mereka mencapai tujuh puluhan
orang. Ketika jarak di antara mereka tinggal beberapa depa, serentak mereka
menghentikan langkah kakinya. Gerakan kaki mereka demikian ringan dan berbaris rapi.
Dengan tampang berwibawa Tan Ki melangkah maju ke depan, kemudian
merangkapkan sepasang kepalan tangannya menjura.
“Baru saja terjadi pertempuran besar sehingga keadaan di tempat ini masih kacau
balau. Meskipun perkumpulan kami merupakan wadah bersatunya berbagai tokoh dari
dunia Bulim, tetapi tetap saja merasa kurangnya tenaga sehingga sulit menghadapi musuh
yang tangguh. Sekarang beruntung sekali kami mendapat bala bantuan dari pihak lima
partai besar. Ini yang dinamakan nasib baik bagi kami dan hari kiamat bagi para golongan
sesat.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sepasang alis Pun Sang Taisu yang panjang bergerak-gerak sedikit. Matanya
menyorotkan cahaya tajam dan berkilauan. Dia memperhatikan Tan Ki sejenak kemudian
menyebutkan nama Buddha dengan suara rendah.
“Apakah saudara ini yang menjabat sebagai Bulim Bengcu?”
Tan Ki tertawa lebar.
“Jangan sungkan.” sahutnya sopan.
Pun Sang Taisu mendadak memejamkan sepasang matanya dan menarik nafas
panjang.
“Dalam keadaan dilanda huru hara, apabila dunia Bulim dapat memperoleh seorang
pemimpin seperti saudara ini, persoalan apa lagi yang tidak bisa diatasi dan golongan
sesat mana yang tidak bisa terusir?”
Hwesio tua yang bijaksana dan berilmu tinggi ini sudah lama mendengar kegagaban
Tan Ki. Diapun tahu ilmu kepandaian Tan Ki sudah mencapai taraf sedemikian tinggi
balikan pernah menghalaujago-jago dari Lam Hay dengan sebatang pedang sulingnya.
Setelah bertemu muka, dia semakin merasa bahwa penampilan anak muda ini demikian
gagah. Wajahnya tampan dan tampangnya berwibawa. Hatinya yang sudah lama ingin
menjumpai tokoh muda ini, sekarang malah timbul kesan yang baik dan dalam. Dia benarbenar
kagum terhadap Tan Ki.
Tampak Tan Ki tersenyum simpul.
“Apabila kita ingin menghindarkan bencana bagi dunia Kangouw serta mengusir musuh
yang berniat menjajah kita, cayhe benar-benar mengharapkan uluran tangan tokoh-tokoh
seperti Taisu yang bersedia merasakan penderitaan bersama-sama.”
Pun Sang Taisu tersenyum lembut sembari memperkenalkan keempat Ciang Bunjin
lainnya kepada Tan Ki.
Sementara itu, Cian Bunjin dari Bu Tong Pai, sejak bertemu dengan Tan Ki langsung
melangkah maju beberapa tindak. Dia melewati samping anak muda itu kemudian terus
melangkah mendekati Tian Bu Cu.
Sepasang tangan Sia Hai Cinjin dirangkapkan di depan dada dan membungkuk sedikit
dengan hormat. Terdengar suaranya yang sopan dan mengandung keseganan yang
dalam.
“Semoga Susiok dalam keadaan baik-baik saja.”
Tian Bu Cu merasa tidak ada yang harus dikatakannya. Oleh karena itu dia hanya
menganggukkan kepalanya sedikit sambil tersenyum lembut, kemudian membalas
penghormatan yang diberikan sutitnya.
Tiba-tiba Sia Hai Cinjin menekan suaranya rendah-rendah dan berkata lagi, “Apakah
Su-siok tahu riwayat hidup dan asal-usul Bengcu yang baru terpilih ini?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tampak Tian Bu Cu tidak menyangkanyangka dia akan mengucapkan pertanyaan
seperti itu. Untuk sesaat dia jadi tertegun. Dia melihat wajah Sia Hai Cinjin kelam sekali,
sikapnya serius dan tidak mungkin mengajukan pertanyaan seperti itu apabila tidak ada
alasan yang kuat. Tanpa dapat ditahan lagi, malah dia balik bertanya…
“Apa maksud ucapan hiantit ini?”
“Pertama kali melihat Bulim Bengcu ini, hati sudah timbul kecurigaan. Sutit merasa
bahwa dia bukan orang yang berjiwa pendekar atau secara kasarnya bukan manusia baikbaik.”
Sepasang alis Tian Bu Cu langsung berkerut mendengar ucapannya.
“Kau menjabat sebagai Ciang Bunjin sebuah partai besar. Seharusnya menimbang
segala hal dengan akal sehat dan kebijaksanaan besar. Ditilik dari ucapanmu barusan,
sudah terbukti bahwa pandangan matamu demikian dangkal. Menilai seseorang hanya
berdasarkan tampang wajahnya saja, apakah tidak menjadi bahan tertawaan sahabatsahabat
di dunia?” suara pembicaraannya ditekan serendah mungkin, seakan takut
terdengar oleh orang lain. Juga menjaga pamor dari perguruannya. Tetapi nada yang
terkandung di dalamnya seakan menyalahkan Sia Hai Cinjin yang menilai orang secara
sembarangan.
Mendengar gerutuan orangtua itu, hati Sia Hai Cinjin merasa kurang senang. Tetapi dia
juga termasuk seorang yang keras kepala dan kukuh pendiriannya. Meskipun emosinya
agak bergejolak, tetapi dari luar dia mempertahankan ketenangannya.
“Kalau hanya menilai orang dari tampangnya, aku juga tidak pantas menjabat sebagai
Ciang Bunjin dari Bu Tong Pai, Bulim Bengcu yang ada di hadapan kita ini, mungkin hanya
murid keponakan partai kita yang dapat mengenali wajah aslinya.”
Tian Bu Cu melihat hati keponakannya ini seakan ada yang diandalkan sehingga terus
tidak mau menyudahi masalah ini. Tanpa dapat ditahan lagi dia jadi merenung beberapa
saat. Dia sadar bahwa urusan ini tidak main-main besarnya. Di antara kedua belah pihak
apabila terjadi kesalahan sedikit saja, kalau bukan perkumpulan Ikat Pinggang Merah yang
bubar, mungkin nama besar Bu Tong Pai yang akan tersapu bersih. Malah bisa terjadi
pertumpahan darah besar-besaran.
Setelah berpikir bolak-balik, Tian Bu Cu berkata lagi dengan suara rendah.
“Apakah kau benar-benar mempunyai bukti yang kuat? Perlu kau ketahui bahwa urusan
ini tidak boleh dijadikan permainan. Kalau sampai terjadi keributan, kita sama-sama
mendapatkan kesulitan yang tidak kepalang besarnya.”
Baru saja Sia Hai Cinjin ingin memberikan jawaban, tiba-tiba terdengar suara tawa yang
panjang.
“Bolehkah si pengemis tua ikut mendengarkan sedikit? Entah bukti apa yang
tergenggam dalam tangan si hidung kerbau?”
Sia Hai Cinjin sadar bahwa pembicaraan antara dirinya dengan sang Susiok sudah
tertangkap oleh telinga si pengemis sakti Cian Cong. Tanpa terasa wajahnya jadi merah
padam. Dia memaksakan dirinya untuk mengembangkan seulas senyuman.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ternyata Cian Locinpwe juga tertarik dengan urusan ini.”
Sepasang mata Cian Cong mendelik lebar-lebar. Dia membentak dengan suara keras.
“Cacing dalam perut si pengemis tua justru sedang kegatalan karena menagih arak.
Siapa yang sempat mencuri dengar pembicaraan orang lain? Siapa suruh kau berkasakkusuk
di samping si pengemis tua? Sekarang kau mengatakan bahwa kau tahu asal-usul
sebenarnya dari Bulim Bengcu kita, telinga si pengemis sakti justru sudah gatal ingin
mendengarkan!”
Sia Hai Cinjin mengira bahwa Cian Cong memang sengaja berteriak keras-keras agar
perhatian para anggota perkumpulan Ikat Pinggang Merah serta orang-orang yang hadir di
tempat itu jadi tertarik perhatiannya. Ternyata, orang-orang yang berkumpul di tempat itu,
tidak mengerti apa yang telah terjadi. Wajah mereka segera dipalingkan kepada ketiga
orang tersebut.
Sebetulnya bukan karena dia pernah bertarung tiga hari tiga malam dengan Tian Bu
Cu, maka si pengemis sakti ini sengaja mencari gara-gara. Tetapi karena dia terlalu
mengkhawatirkan Tan Ki. Setelah mendengar serentetan pembicaraan antara Susiok dan
Sutit itu, tanpa dapat menahan emosi dalam dadanya lagi, dia mengeluarkan kata-kata
dengan suara yang keras.
Dengan sikap panik Tan Ki berdiri di sudut. Kepalanya mendongak ke atas menatap
langit. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Tampangnya seakan orang yang
mendadak menemukan masalah besar namun tidak dapat dipecahkannya.
Terdengar suara Sia Hai Cinjin yang lantang.
“Ceng Hong, kemarilah!”
Dari rombongan Bu Tong Pai, keluar seorang Hwesio yang usianya masih muda.
Terdengar dia mengiakan satu kali kemudian menghambur ke depan. Gerakan tubuhnya
ringan dan gesit. Dalam sekejap mata dia sudah sampai di hadapan Sia Hai Cinjin dan
berdiri dengan sikap hormat.
Sia Hai Cinjin melihat pandangan mata orang-orang yang berkumpul di tempat itu
seluruhnya terpusat pada dirinya. Untuk sesaat dia malah dilanda ketegangan yang tidak
terkirakan. Kepercayaan dirinya menyurut. Dan dia bertanya kepada si Hwesio muda
dengan nada suara selirih mungkin.
“Coba kau perhatikan lagi baik-baik. Benarkah dia orang yang kau maksudkan?”
Dengan pandangan mata yang mengandung kebencian, Ceng Hong Hwesio melirik ke
arah Tan Ki sekilas.
“Meskipun dia sudah berubah menjadi seonggok tulang belulang, tecu masih dapat
mengenalinya…” nada suaranya demikian tegas sehingga tidak dapat diganggu gugat lagi.
Mendengar ucapannya, Sia Hai Cinjin baru sanggup menghembuskan nafas lega.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Orang ini pandai sekali ilmu menyamar. Dalam waktu yang singkat dia bisa berubah
menjadi orang yang tidak dikenali…”
Sepasang mata Ceng Hong Hwesio menyorotkan sinar yang tajam menusuk. Dengan
nada yang pasti terdengar dia berkata kembali, “Urusan ini menyangkut kesejahteraan
seluruh Bulim. Meskipun tecu mempunyai sepuluh nyawa, juga tidak berani bercanda di
hadapan tokoh-tokoh sakti ini. Atau semba-rangan mengoceh yang hanya akan
menjatuhkan nama baik partai kita sendiri.”
Sia Hai Cinjin mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.
“Bagus, kau memang tidak malu menjadi murid Bu Tong Pai…” perlahan-lahan dia
berjalan maju beberapa langkah. Kemudian berhenti di belakang punggung Tan Ki.
Menghadapi peristiwa yang tidak terduga-duga ini, orang-orang yang berkumpul di
tempat itu malah tidak ada yang membuka suara sedikitpun. Beratus pasang mata
tertumpu perhatiannya pada diri Sia Hai Cinjin. Suasana menjadi tegang tidak terkirakan.
Sia Hai Cinjin mengeluarkan suara batukbatuk kecil kemudian berkata dengan perlahanlahan.
“Apakah saudara ini Tan Sauhiap yang sekarang menjabat sebagai Bulim Bengcu?”
“Benar. Entah petunjuk apa yang ingin diberikan oleh Totiang. Silahkan cetuskan saja
semuanya dengan terus terang. Tetapi harap tidak usah bersikap misterius sehingga orang
lain menjadi penasaran.” meskipun mulutnya memberikan sahutan, tetapi dia tidak
membalikkan tubuhnya atau menolehkan kepalanya melirik Sia Hai Cinjin sekilas. Sikapnya
begitu dingin dan membawa keangkuhan yang besar.
“Kalau begitu kemauan saudara, pinto terpaksa berterus terang. Dan tidak perlu lagi
berbicara berbelit-belit!” tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya. Wajahnya tampak
serius. Kemudian terdengar dia melanjutkan kata-katanya dengan tajam…
“Setengah bulan yang lalu, saudara pernah menolong seorang perempuan siluman di
sebelah tenggara Pek Hun Ceng kurang lebih pada jarak enam puluh li, benar atau tidak?”
suaranya begitu ketus seakan sedang menanya kepada seorang pesakitan.
“Sama sekali tidak salah!”
“Hari itu saudara menunjukkan kehebatan ilmumu dengan seorang diri melawan tiga
orang. Setelah bergebrak beberapa jurus dengan murid Bu Tong Pai kami, kau malah
membunuh salah seorang murid partai kami yang bergelar Ceng Bok Hwesio, benar atau
tidak?”
“Kejadian ini memang benar demikian adanya!”
Sia Hai Cinjin melihat Tan Ki terus mendongakkan wajahnya menatap langit. Namun
mengakui semua yang ditanyakan olehnya. Nyalinya jadi besar dan melanjutkan kembali
kata-katanya.
“Ilmu saudara sangat tinggi. Dalam waktu yang singkat berhasil membunuh Ceng Bok
Hwesio, pinto hanya dapat menyalahkan murid kami sendiri yang tidak becus, serta tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dapat menjaga nama baik Bu Tong Pai kami. Tetapi ucapan yang kau keluarkan tempo
hari, benar-benar membuat pinto terkejut. Urusan ini menyangkut kesejahteraan seluruh
Bulim. Pinto terpaksa mementingkan kepentingan umum dan melupakan sejenak dendam
pribadi. Dengan demikian ingin mengungkit kembali persoalan lama!” dengan katakatanya
ini, dia ingin membuat perhatian para hadirin tergugah pada dirinya. Oleh karena
itu dia segera berkata dengan suara yang keras. Terdengar kumandang suaranya yang
lantang menyusup ke dalam gendang telinga.
Melihat sikap hwesio itu mengajukan pertanyaan demikian serius dan angker, biar
bagaimana Cian Cong merupakan seorang tokoh yang berpengetahuan luas dan sudah
banyak pengalaman. Lambat laun si pengemis sakti mulai merasakan gentingnya urusan
ini. Tetapi perasaan hatinya sangat mengkhawatirkan diri Tan Ki. Tanpa dapat ditahan lagi
dia bertanya:
“Ucapan apa sih yang dikatakannya hari itu, sehingga membuat kau begitu penasaran?”
Sia Hai Cinjin tertawa dingin.
“Nama Locianpwe sudah terkenal di seluruh dunia, sinar mata pun lebih tajam dari
orang lain. Ternyata selama ini tidak menyadari bahwa ada seorang penjahat atau iblis
yang selalu mendampingi di sisi tubuh. Benar-benar menggelikan!”
Untuk sesaat pikiran si pengemis sakti Cian Cong seakan menjadi buntu. Mendengar
sindirannya yang tajam, dia malah jadi termangu-mangu, tidak tahu apa yang harus ia
ucapkan. Dia sendiri tidak dapat mengatakan apakah saat ini hatinya merasa kesal atau
marah mendengar ucapan Sia Hai Cinjin itu.
Yibun Siu San dan Tian Bu Cu seperti menemukan suatu hal sehingga pandangan mata
mereka menatap diri Sia Hai Cinjin lekat-lekat. Keduanya berdiam diri tanpa ikut campur
dalam masalah ini. Tetapi wajah Tian Bu Cu mulai menyiratkan perasaan paniknya.
Sedangkan hati Yibun Siu San bukan main tegangnya.
Terdengar Sia Hai Cinjin kembali berkata dengan suara lantang.
“Hal yang membuat hati Pinto terkejut setengah mati adalah ucapan saudara tempo
hari yang mengaku diri sendiri sebagai Cian Bin Mo-ong yang tiba-tiba menghilang selama
beberapa bulan terakhir ini. Entah benarkah apa yang pinto ucapkan ini?”
Begitu ucapannya keluar dari mulut, segera timbul reaksi dari orang-orang gagah yang
berkumpul di tempat itu. Wajah mereka menunjukkan mimik terkejut yang tidak kepalang
besarnya. Diam-diam timbul kecurigaan di dalam hati mereka.
Beratus pasang mata terpusat pada diri Sia Hai Cinjin. Sejenak kemudian beralih pada
diri Tan Ki. Setelah itu kembali lagi menatap Sia Hai Cinjin. Demikian mereka mengalihkan
pandangan secara bergantian sampai beberapa waktu. Mereka seakan ingin menyelidiki
kebenaran dari mimik wajah kedua orang itu. Apakah pemuda yang sanggup menaklukkan
hati orang-orang gagah ini benar-benar si raja iblis Cian Bin Mo-ong? Atau Sia Hia Cinjin
yang mengada-ada?
Hati mereka diselimuti berbagai pertanyaan, mereka hanya dapat menduga-duga
menurut pandangan masing-masing. Begitu tegangnya suasana yang terasa di tempat itu
sehingga mereka menunggu jawaban Tan Ki dengan menahan nafas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan tubuh membelakangi orang-orang, Tan Ki seakan sedang memperhatikan
keadaan di sekitarnya secara diam-diam.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, baru terdengar Tan Ki berkata dengan
perlahan-lahan.
“Apa yang totiang katakan semuanya merupakan kenyataan. Cayhe memang Cian Bin
Mo-ong sebagaimana dugaanmu. Apa kiranya yang hendak totiang lakukan sekarang?”
Kata-kata ini diucapkan dengan nada yang panjangnya tidak terkirakan. Setiap kalimat
seakan mengandung kekuatan yang hebat.
Serta tajam bagai pisau. Sia Hai Cinjin yang mendengarnya, tanpa dapat ditahan lagi
meremang semua bulu kuduk di tubuhnya. Kakinya tergetar mundur satu langkah.
Perlu diketahui bahwa bagaimanapun Tan Ki sudah terpilih sebagai Bulim Bengcu saat
ini. Lagipula tokoh-tokoh yang bergabung di bawah benderanya terdiri dari berbagai
kalangan. Tidak sedikit yang berwatak kasar dan garang. Kalau hati merasa kurang
senang, kemungkinan bisa menebas lehermu dengan golok tanpa berpikir panjang lagi.
Pokoknya perintahmu langsung diabaikan oleh mereka. Tetapi apabila hati mereka sudah
takluk kepada seseorang, mereka tidak segan mengorbankan apa saja. Kesetiaan mereka
tidak perlu diragukan lagi. Kalau ditilik dari keadaan di depan mata, setelah mendengar
ucapan Tan Ki, mereka masih berdiri tegak dengan mata memperhatikan mereka berdua.
Bahkan sikap mereka seakan sedang menunggu sesuatu. Seandainya nafsu membunuh
dalam hati Tan Ki terbangkit, sekali menurunkan perintah, pasti dalam sekejap mata akan
terjadi pertumpahan darah besar-besaran.
Oleh karena itu, meskipun hati Sia Hai Cinjin merasa benci sekali kepada anak muda ini,
tetapi mau tidak mau dia harus mempertimbangkan situasi di sekelilingnya. Terdengar dia
mengeluarkan suara tawa yang kering.
“Kalau saudara sadar tanganmu berlumuran dosa, lebih baik kau lepaskan dirimu
secepatnya dari jabatan ini. Biar bagaimana pinto…”
Tiba-tiba tampak sesosok bayangan berkelebat keluar dari rombongan Tan Ki secepat
kilat. Dalam waktu yang bersamaan terendus segulung bau harum yang terpancar dari
tubuh seorang wanita.
Begitu dia mengalihkan pandangan matanya, ternyata Ceng Lam Hong yang
menghambur keluar dari rombongan orang banyak itu. Hatinya tercekat, tetapi sesaat
kemudian dia justru merasa lega. Karena Tan Ki adalah seorang pimpinan, kekuasaan di
tangannya besar sekali. Asal dia menurunkan perintah, para anggotanya pasti
berbondong-bondong keluar dengan senjata masing-masing di tangan. Lagipula
kedudukannya sebagai seorang Bulim Bengcu, memang hanya Ceng Lam Hong seorang
yang dapat mengendalikan dirinya…
Tepat ketika pikirannya masih melayanglayang. Tampak Ceng Lam Hong menggerakkan
pergelangan tangannya sambil memaki, “Anak tak tahu diri!” begitu kata-katanya
diucapkan, air matanya pun mengalir dengan deras. Hal ini membuktikan bahwa perasaan
wanita itu sedang dilanda kepedihan yang tidak terkirakan. Emosi dalam dadanya
bergejolak hebat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi pukulannya kali ini rupanya mengandung kekuatan yang cukup besar. Tampak
pipi kiri Tan Ki merah bengap dan tergetar mundur setengah langkah. Di sudut bibirnya
terlihat bekas darah.
Matanya mengejap-ngejap, seakan ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Tetapi
akhirnya dia menahan semuanya dalam hati. Sepasang kakinya ditekuk dan dia
menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ceng Lam Hong.
Melihat keadaan itu, sepasang alis si pengemis sakti Cian Cong langsung berkerutkerut.
Dengan langkah lebar dia berjalan menghampiri Ceng Lam Hong.
Sementara itu, baik Mei Ling maupun Liang Fu Yong langsung menghambur keluar.
Terdengar yang satu memanggil “Ibu!” dan yang satunya lagi menyebut “Pek Bo!”
keduanya berhenti di hadapan Ceng Lam Hong. Hati kedua perempuan ini sudah barang
tentu memihak kepada Tan Ki. Setelah saling melirik sekilas, keduanya serentak
menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ceng Lam Hong.
Liang Fu Yong menggigit bibirnya sendiri perlahan-lahan. Setelah merenung sejenak,
tampak dia mendongakkan wajahnya yang sudah penuh dengan deraian air mata.
Suaranya begitu pilu dan sendu.
“Apabila Pek Bo ingin menghukum adik Ki, lebih baik hajar saja keponakanmu ini
sebagai gantinya. Karena keadaan diri adik Ki sudah lama kuketahui, justru karena takut
hal ini akan mempengaruhi masa depan serta namanya yang mulai naik, selama ini aku
selalu ragu-ragu dan belum sanggup menyatakannya di hadapan umum…”
Mei Ling mengeluarkan tawa yang pilu. Dia langsung menukas perkataan Liang Fu
Yong.
“Sudah tahu salah tetapi berniat merubah, justru merupakan hal yang sulit dilakukan
orang lain. Meskipun Tan Koko mempunyai dosa yang besar, tetapi karena dia sudah
menyadari kesalahannya sendiri dan dengan berani merubah sikapnya, harap Ibu dapat
memaafkannya kali ini saja.”
Ceng Lam Hong adalah seorang wanita berhati lembut. Mendengar ucapan kedua
“perempuan itu, hatinya jadi melemah. Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang.
Kemudian terdengar dia berkata, “Apa yang kalian pikirkan dalam hati, aku mengerti
semuanya. Sayangnya bukan aku yang berhak memutuskan masalah ini. Apakah anak
yang tidak tahu diri ini harus mati atau dibiarkan hidup, terpaksa menyerahkan
keputusannya pada para sahabat yang hadir di tempat ini.”
Sembari berkata, dia membangunkan kedua perempuan itu. Kemudian kepalanya
menoleh kepada Sia Hai Cinjin dan menjura dalam-dalam.
“Totiang merupakan orang pertama yang berhasil mengungkap rahasia diri anak yang
tidak tahu diri ini. Dengan demikian, harap kau juga yang mengambil keputusan. Apapun
hukumannya, aku tidak akan turut campur.” selesai berkata, ternyata dia benar-benar
mengundurkan diri tiga langkah ke belakang. Dengan ucapan yang sederhana, dia sudah
menyerahkan seluruh tanggung jawab pada diri Sia Hai Cinjin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Matahari sudah di atas kepala. Begitu teriknya sehingga udara terasa sesak. Suasana di
tempat itu demikian mencekam. Hanya Tan Ki seorang yang menunggu hukuman dengan
berlutut di atas tanah tanpa bergerak sedikit-pun.
Sepasang mata Sia Hai Cinjin mengedar ke seluruh tempat tersebut. Tiba-tiba dia
tertawa dingin dan berkata dengan nada berat, “Ibumu menyerahkan tanggung jawab ini
kepada diri Pinto, sebetulnya merupakan urusan yang tidak mudah diselesaikan. Harap
saudara jangan melakukan perlawanan apapun. Mengingat kedudukan dirimu sebagai
seorang Bulim Bengcu, pinto hanya akan melenyapkan seluruh ilmu yang kau miliki…”

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis Lama Bingit : Dendam Iblis Seribu Wajah 7 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Jumat, 21 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments