Cerita Dewasa Bersambung : PAB 3

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Dewasa Bersambung : PAB 3
Berhadapan dengan Ding Tao, barulah Zhu Lizhi bisa merasakan seperti apa rasanya memiliki seorang sahabat yang bisa dipercaya.
Dua orang sudah dikalahkan oleh Ding Tao. Kemenangan yang kedua memang tidak segemilang kemenangan yang pertama, tapi sebagian besar dari mereka yang hadir tidak lagi memandang perkataan Ding Tao di jamuan makan sebelumnya sebagai satu kesombongan kosong dari seorang anak muda yang tidak tahu mengukur dirinya sendiri.
Dengan sendirinya mereka yang bersimpati pada Ding Tao dan sempat terganggu oleh jawabannya saat itu, kembali bersimpati padanya.
Apalagi si nona muda yang cantik Huang Ying Ying, seandainya saja suasana di ruang latihan itu tidak begitu
305
angkernya, mungkin sejak tadi dia sudah bersorak dan melompat-lompat mengelilingi ruangan itu.
Dalam hatinua timbul debaran-debaran aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Sejak dahulu dia sudah menyukai Ding Tao yang jujur dan sopan. Apalagi sebagai pelayan tentu saja saat bermain Ding Tao lebih sering mengalah pada Huang Ying Ying.
Menginjak remaja Huang Ying Ying bukannya tidak bisa merasakan pandangan kagum Ding Tao pada dirinya, tapi hal itu tidak mengganggunya, karena Ding Tao selalu bersikap sopan padanya. Kalaupun Ding Tao terkadang memandangi dirinya, itu dilakukan dengan sorot mata yang kagum dan bukan sorot mata yang kurang ajar.
Tentu saja siapa yang tidak senang menjadi pusat kekaguman seseorang? Dan bagi Huang Ying Ying, jadilah Ding Tao seorang pemuda yang disukainya, suka seperti seorang gadis menyukai bunga atau anjing kecil yang lucu. Kalau bunga yag indah layu atau anjing yang lucu itu terluka tentu gadis itu akan merasa sedih, tentu ada perasaan ingin melindungi atau ingin mengajak bermain anjing yang lucu itu.
306
Tapi perasaan yang dirasakan Huang Ying Ying pada Ding Tao sekarang sungguh jauh berbeda. Hal itu dirasakannya sejak Ding Tao kembali setelah menghilang selama dua tahun.
Lalu sekarang pemuda itu berdiri di sana, berdiri dengan tegap tapi luwes, dengan pedang di tangan. Tubuhnya yang tinggi, semakin terlihat tinggi ketika berdiri sejajar dengan pemuda lainnya, Feng Xiaohong yang bertubuh jangkung pun hanya setinggi puncak hidungnya. Apalagi berhadapan dengan Zhu Lizhi yang hanya setinggi bahunya.
Bahunya lebar, serasi dengan tinggi badannya, jika Feng Xiaohong yang jangkung seringkali dikatainya seperti tiang jemuran, tidak demikian dengan Ding Tao.
Pakaiannya yang sederhana dan sedikit terlalu sempit, justru menonjolkan otot-otot yang liat yang tersembunyi di balik bajunya.
Alisnya tebal, matanya memancarkan kepercayaan diri, garis rahang yang kuat dan senyum yang tulus menghiasi wajah pemuda itu. Tapi betapa wajah yang sama dengan mudahnya menjadi kemerahan karena tersipu malu. Memikirkan itu semua tanpa terasa gadis muda ini mendesah rindu.
307
Saat dia sadar mukanya pun terasa panas, dengan sedikit rasa khawatir dia menengok ke kiri dan ke kanan, hatinya sedikit lega ketika dilihatnya perhatian semua orang sedang tertuju pada Ding Tao dan tidak ada yang sempat memergoki gerak-geriknya.
Dengan hati berdebar dan wajah sedikit memerah, gadis ini bergerak menyurut mundur, bersembunyi di balik tubuh kakaknya.
Dari situ dia baru merasa bisa memandangi Ding Tao dengan aman. Memandangi? Apakah Ding Tao sebegitu menariknya untuk dipandangi? Tapi mengapa dia bisa merasa seperti itu?
Ah betapa hati gadis itu semakin berdegup kencang, dengan menggigit bibir dia memaki dirinya sendiri dalam hati. Tapi sesudah itupun tanpa sadar dia kembali mengintip Ding Tao yang sedang berhadapan dengan lawannya yang ketiga
Di hadapan Ding Tao berdiri seorang jago yang sudah cukup berumur, satu dua uban nampak mencuat dari rambutnya yang tidak terikat dengan rapi. Agak berbeda dengan penampilan tokoh-tokoh lain dari keluarga Huang ini, penampilan jagoan yang satu ini memang sedikit berantakan.
308
Kumisnya yang tumbuh jarang-jarang tapi tiap helainya tebal seperti kawat, dibiarkan saja bermunculan ke segala arah.
Ding Tao yang harus menghadapi orang yang jauh lebih tua, membungkuk dengan hormat yang dibalas dengan anggukan yang dingin.
Wang Sanbo, orang yang terkenal diam dan tidak banyak bicara. Dalam setiap urusan tidak pakai terlalu banyak basa basi, begitu juga gaya bertarungnya. Ketika dia melihat Ding Tao tidak kunjung juga menyerang, tanpa sungkan-sungkan dialah yang pertama kali menyerang.
Menurut kebiasaan, biasanya yang lebih tua memberi kesempatan yang muda untuk lebih dulu menyerang. Kali ini Ding Tao yang serba sungkan, tidak berani menyerang lebih dulu sebelum lawannya yang lebih tua menyuruhnya demikian. Sementara Wang Sanbo yang tidak peduli segala macam aturan, melihat Ding Tao berdiri menunggu tanpa banyak pertimbangan mendahului menyerang.
Buat Wang Sanbo tidak ada bedanya siapa yang menyerang lebih dulu, kalau Ding Tao kalah langkah karena terlambat mengambil inisiatif maka itu salah Ding Tao sendiri.
309
Dan tiba-tiba tanpa banyak ba bi bu, sebuah tendangan kilat dilemparkan, menggempur ke arah kaki Ding Tao. Begitu keras tendangan jago tua ini, hingga terdengar angin menderu-deru.
Setelah menghadapi dua lawan yang penuh sopan santun, tidak urung Ding Tao kaget juga saat tiba-tiba mendapatkan serangan. Gaya serangan Wang Sanbo justru lebih sederhana lagi dibandingkan jurus serangan Zhu Lizhi, tapi kecepatan gerak dan tenaga yang dibawanya berkali-kali lipat lebih mengerikan.
Untuk beberapa saat Ding Tao pun terdesak.
Gaya Wang Sanbo berkelahi memang seperti banteng ketaton, tidak jarang meskipun pedang Ding Tao mengancam tubuhnya, jago tua ini tidak juga menghentikan serangannya, malah dilontarkan serangan yang lebih hebat seakan mengajak Ding Tao mati bersama.
Diserang dengan gaya membabi buta ini, untuk beberapa saat Ding Tao jadi kewalahan. Antara memahami teori sebuah ilmu bela diri sudah tentu lebih sukar daripada menerapkan teori itu dalam pertarungan yang sesungguhnya.
310
Dalam sebuah situasi yang relatif tenang di ruang latihan dengan gerakan pelatih yang memang sengaja untuk melatih jurus yang sedang dipelajari, tentu sangat berbeda dalam pertarungan yang sesungguhnya, di mana lawan bergerak secepat mungkin dengan arah serangan yang tidak bisa diduga.
Kondisi inilah yang terbentuk ketika Ding Tao harus menghadapi Wang Sanbo, tidak seperti dua lawan sebelumnya yang benar-benar menyerupai sebuah pertandingan persahabatan.
Berbeda juga dengan perkelahiannya melawan Wang Chen Jin dua tahun yang lalu, karena saat itu Wang Chen Jin bukan menyerang bak orang kalap seperti yang dilakukan Wang Sanbo.
Melawan Wang Sanbo, Ding Tao dipaksa untuk bereaksi secepat mungkin, tanpa sempat menghitung-hitung rencana selanjutnya.
Ini pengalaman yang berharga buat Ding Tao, baru setelah lewat berpuluh jurus, barulah Ding Tao bisa menyesuaikan diri
311
dengan gaya permainan Wang Sanbo yang bagaikan angin puyuh, membadai tiada henti.
Perlahan-lahan Ding Tao kembali bisa menerapkan pemahamannya akan ilmu yang sudah dia pelajari dalam pertarungan yag dia jalani.
Seperti pada saat melawan Zhu Lizhi, sedikit demi sedikit Ding Tao mulai menebarkan perangkap bagi Wang Sanbo, bedanya dia tidak sempat berpikir terlalu panjang, dia dipaksa untuk menentukan sikap dalam hitungan kejapan mata. Beberapa kali sempat juga pukulan dan tendangan Wang Sanbo mampir di tubuhnya.
Karena pilihannya terkena pukulan atau terkena tusukan atau sabetan pedang dan Ding Tao memilih yang pertama. Sebenarnya akibat yang dihasilkan tidak jauh berbeda karena pedang yang mereka gunakan adalah pedang kayu, tapi dalam benak pemuda itu, pertandingan ini adalah bagian dari pembelajaran untuk menghadapi pertarungan yang sesungguhnya. Pertandingan dengan kayu ini adalah bagian dari ujian terhadap dirinya, apakah dia benar-benar mampu mengemban tugas gurunya untuk membinasakan Ren Zuocan.
312
Dan dalam pertarungan yang sesungguhnya jika dia harus memilih luka mematikan dari senjata tajam atau memar di tubuh, tentu dia memilih yang kedua.
Meskipun demikian tidak ada serangan Wang Sanbo yang benar-benar masuk dengan telak. Pukulan dan tendangan yang mampir di tubuh Ding Tao tidaklah telak mengenai daerah yang berbahaya seperti ulu hati atau jantung, yang bisa menimbulkan luka dalam.
Bahkan jika pertandingan ini adalah pertarungan yang sesungguhnya, dengan pedang baja yang tajam, mungkin sudah sejak beberapa waktu yang lalu jago tua ini mati oleh pedang Ding Tao.
Bagaimana tidak, entah sudah berapa sering Wang Sanbo meyerang tanpa mempedulikan ancaman pedang Ding Tao. Tidak seperti Ding Tao yang bersikap seakan-akan menghadapi pedang yang sesungguhnya, Wang Sanbo justru memanfaatkan kenyataan bahwa yang mereka pakai adalah pedang kayu. Bisa jadi akan membuat tulang retak atau patah, tapi Wang Sanbo masih cukup yakin pada keliatan tubuhnya yang ditopang hawa murni.
313
Bahkan untuk membuktikan hal itu ada satu dua kali, di mana ujung pedang Ding Tao sempat pula mampir di tubuh jago tua ini.
Jago tua ini bukannya tidak memahami hal ini, sebenarnya sudah sejak berapa jurus yang lalu, rasa kagum yang jujur muncul dari dalam hatinya. Hanya saja wataknya yang keras tidak mengijinkannya berhenti sebelum Ding Tao berhasil menjatuhkan dirinya dengan telak.
Tapi seperti Zhu Lizhi yang perlahan tapi pasti jatuh dalam permainan jurus Ding Tao, Wang Sanbo pun tanpa sadar telah masuk dalam perangkapnya.
Dalam gerak terakhirnya, Ding Tao telah berhasil menempatkan Wang Sanbo di posisi yang dia inginkan. Dengan sengaja sebuah lobanng pertahanan dia tunjukkan. Bagi Wang Sanbo sebenarnya tidak ada pilihan lain kecuali menyerang lobang pertahanan tersebut. Jika tidak maka dari posisi pedangnya yang sekarang Ding Tao bisa menyerang ubun-ubun jago tua itu.
314
Ibarat orang bermain catur, tinggal selangkah lagi dan Wang Sanbo terkena skak-mat. Apapun langkah yang dia pilih, tidak nanti dia bisa lepas dari serangan maut Ding Tao.
Wang Sanbo yang melihat lobang di pertahanan Ding Tao, memaksakan diri untuk menyerang, meskipun pada saat itu kedudukannya tidaklah menguntungkan. Untuk menyerang Ding Tao dia harus melakukan bergerak memutar dan untuk sekian kejap punggungnya akan terbuka lebar.
Tapi itulah yang dia lakukan, dengan sekuat tenaga jago tua itu mengemposkan seluruh tenaga simpanannya dan melakukan tendangan berputar.
Gerakannya sebat, kakinya menyambar bagai kilat, tapi sayang sasaran yang dituju tidak ada di sana. Dengan cepat Ding Tao maju untuk memotong gerakan Wang Sanbo dan dengan sebuah serangan yang cepat, 3 sabetan pedang mampir di tubuh jago tua itu.
Satu di punggungnya, satu di pundaknya dan yang terakhir dengan indahnya bergerak seperti seorang kekasih yang membelai leher jago tua itu dari kiri ke kanan.
315
Seandainya saja Wang Sanbo punya penyakit jantung, mungkin saat itu juga jantungnya berhenti berdetak. Ketegangan jago tua itu bagaikan meledak saat dia merasakan pedang Ding Tao membelai lehernya. Bisa dia bayangkan jika Ding Tao memegang pedang yang sesungguhnya, tentu lehernya sudah menggelinding di lantai.
Jagoan tua itu pun menutup matanya untuk sesaat, untuk menenangkan diri sekaligus mengatur kembali nafasnya yang sudah memburu.
Saat dibukanya mata, terlihatlah di hadapannya Ding Tao yang berdiri dengan serba salah.
―Paman Wang…uhm… maafkan anak Ding.‖
―Heh… kau menang.‖, ujar jago tua itu dengan singkat sebelum keluar dari arena pertandingan.
Untuk sesaat desahan nafas terdengar memenuhi ruangan itu, terutama dari mereka yang masih berumur muda. Rupanya pertandingan tadi telah menyita segenap perhatian mereka dan mencapai klimaksnya saat Ding Tao mengakhirinya dengan serangan yang mematikan.
316
Dari wajah-wajah mereka mudah saja dilihat siapa yang bersimpati dan sekarang menjagoi Ding Tao, dan siapa yang masih mengharapkan kemenangan dari keluarga Huang.
Anehkah jika sebagian besar generasi muda yang menyaksikan pertandingan itu mendukung Ding Tao dalam hati kecilnya? Ikut cemas saat Ding Tao sepertinya akan mengalami kekalahan dan bersorak dalam hatinya saat Ding Tao berhasil mengalahkan Wang Sanbo?
Lepas dari kesetiaan mereka terhadap keluarga Huang dan kelompok sendiri, saat ini Ding Tao mewakili perubahan, mewakili generasi mereka. Apalagi Ding Tao pernah 18 tahun hidup bersama mereka, sehingga tidaklah sulit bagi para orang muda ini untuk menerima Ding Tao sebagai sosok yang mewakili diri mereka.
Perlukah kita menengok pada Huang Ying Ying? Rasanya hal itu tidak diperlukan, kalau mereka yang memandang Ding Tao sebelah mata saja, sekarang ini terdorong untuk mengagumi bahkan mendukung pemuda itu, tentunya pembaca bisa membayangkan sendiri bagaimana perasaan Huang Ying Ying sekarang ini.
317
Tiga pertarungan sudah dilalui, masih berapa banyak lagi yang harus dia hadapi?
Tiong Fa yang bisa melihat bagaimana di setiap kemenangan, simpati kepada Ding Tao semakin bertambah, menggerutu dalam hatinya. Dengan perhitungan yang dingin, dia merasa sudah cukup mengetahui tingkatan Ding Tao. Cukup satu kali lagi pertandingan yang menguras tenaga dan dia akan maju sendiri untuk mengakhiri perlawanan anak muda itu.
------------------------ o -----------------------------
Zhang Zhiyi berdiri tidak jauh dari Tiong Fa, dengan sebelah tangannya Tiong Fa menggamit Zhang Zhiyi lalu menggerakkan kepalanya, memberi tanda pada Zhang Zhiyi untuk maju menghadapi Ding Tao.
Zhang Zhiyi bukanlah orang semacam Feng Xiaohong, Zhu Lizhi atau Wang Sanbo. Jika dia sering mendapat tugas menjadi mata-mata oleh Tiong Fa, sebabnya adalah kemampuan dia untuk mengamati keadaan serta mengambil kesimpulan.
Tidak seperti yang lain, Zhang Zhiyi tentu saja tidak termakan bualan Tiong Fa, dia tahu apapun yang terjadi dalam
318
pertandingan hari ini, pedang itu pasti akan lepas dari tangan Ding Tao.
Masalahnya hanyalah apakah Ding Tao akan menyerahkannya dengan suka rela atau dengan cara paksa.
Zhang Zhiyi juga pandai menilai tingkatan ilmu bela diri lawannya. Tahu keadaan lawan dan tahu keadaan sendiri, dengan sendirinya 100 kali bertempur 100 kali pula meraih kemenangan. Kalau Zhang Zhiyi masih hidup sampai sekarang melewati tugas-tugas berbahaya, itu bukan hanya karena kemampuan ilmunya yang tergolong sudah mapan, tapi dia juga tahu kapan harus berkelahi dan kapan dia harus lari.
Jika harus menghadapi Ding Tao dalam perkelahian hidup dan mati, Zhang Zhiyi akan lebih memilih lari, karena meskipun dia masih memiliki harapan untuk menang melawan Ding Tao tapi baginya saat ini seberapa dalam ilmu Ding Tao belum dapat dia pahami dengan benar. Dalam penilaiannya Ding Tao masih penuh dengan kejutan.
Sambil berjalan ke dalam arena otaknya berputar memikirkan siasat untuk melawan Ding Tao.
319
Berbeda dengan Wang Sanbo yang dingin, Zhang Zhiyi menyapa Ding Tao dengan senyum hangat, ―Heh, setelah dua tahun menghilang, kau tiba-tiba jadi makin hebat saja anak Ding, apa kau menemukan buah sakti atau obat dewa?‖
Matanya berputar dan mengedip dengan nakal pada Ding Tao. Ding Tao jadi tertawa geli dan menjadi jauh lebih rileks.
―Tidak Paman Zhang, hanya saja guru mengajarku baik-baik.‖
―Oh begitu, tapi kalau kau benar dapat obat dewa, jangan lupa kau bagi sedikit pada pamanmu yang tambah tua ini.‖
Sambil tertawa Ding Tao menjawab, ―Tentu paman, aku tidak akan lupa.‖
―Baiklah sekarang kita harus saling menguji kemampuan kita masing-masing. Sebagai yang lebih muda kau mulailah lebih dahulu.‖
―Baik paman.‖
Setelah mereka sama bersiap dan berhadapan, dengan sopan Ding Tao memulai, ―Awas serangan paman!‖
------------------ o -----------------
320
Siapa bilang yang mengambil inisiatif terlebih dahulu akan mengambil keuntungan darinya? Mungkin saja benar demikian, tapi tidak kali ini. Kalau Tiong Fa cerdik seperti musang, Zhang Zhiyi mungkin pantas dipanggil musang kecil.
Setelah beramah tamah dengan Ding Tao, diberinya kesempatan Ding Tao maju lebih dulu. Jika lawannya bukan Ding Tao, jika ini bukan pertandingan persahabatan, mungkin berbeda yang terjadi. Tapi yang kita bicarakan di sini ini adalah Ding Tao, bukan hanya lugu tapi juga sejak kecil sudah diajar untuk menghormati orang yang lebih tua.
Benar dia bergerak lebih dulu, tapi serangannya bukanlah serangan yang membahayakan Zhang Zhiyi, bukan pula serangan yang akan membuat Zhang Zhiyi terpaksa mundur ke posisi yang merugikan. Bukan juga bagian dari siasat untuk mendesak Zhang Zhiyi mengikuti permainan silat Ding Tao.
Serangan setengah matang semacam ini tentu saja tidak merugikan Zhang Zhiyi, justru serangan mentah ini menjadi kerugian buat Ding Tao. Perlu dipahami saat seseorang menyerang tentu ada bagian dari pertahanannya yang terbuka. Serangan bisa menjadi pertahanan yang baik, jika serangan itu dilancarkan dengan tepat. Kalaupun gagal mencapai hasil,
321
setidaknya serangan itu memaksa lawan untuk mundur atau menangkis serangan, sehingga tidak sempat memanfaatkan celah-celah yang timbul untuk balik menyerang.
Teori ini tentu saja dipahami dengan baik oleh Ding Tao, tetapi pemuda itu terlanjur terbawa oleh suasana persahabatan yang diumpankan oleh Zhang Zhiyi. Siapa sangka serangan Zhang Zhiyi justru telengas dan sebat, tak sepadan dengan senyum di wajahnya.
Dengan satu gerakan yang sama Zhang Zhiyi mudah saja menghindari serangan Ding Tao, sekaligus masuk ke dalam daerah pertahanannya. Tangannya pun cepat terjulur menghajar ke dada Ding Tao, sementara pedangnya mengayun menutup jalan mundurnya. Padahal di saat itu tangan Ding Tao yang memegang pedang sudah terlanjur maju dalam gerakan menyerang.
Untuk menarik serangannya jelas tidak sempat, tapi jika Ding Tao mengelak mundur maka pedang akan menghajar tubuhnya, mau tidak mau Ding Tao harus menerima hajaran Zhang Zhiyi.
322
Untung Ding Tao masih sempat menggeser posisi tubuhnya dan menyilangkan satu tangannya di depan dada. Meskipun tidak sepenuhnya dapat menahan serangan Zhang Zhiyi, setidaknya mampu mengurangi sebagian dari daya serangan itu yang mencapai jantungnya.
Tapi bahaya belum lewat sepenuhnya karena pedang di tangan Zhang Zhiyi sudah siap mengancam punggung Ding Tao.
Hebatnya Ding Tao, serangan yang di depan dia tahan, serangan yang dari belakang pun tidak lepas dari pengamatan. Pada saat yang bersamaan pedangnya sudah ditarik mundur, bergerak menyilang menjadi perisai bagi punggungnya.
Diam-diam Zhang Zhiyi memuji kecekatan anak muda itu, tapi kekagumannya tidak membuat dia menjadi bermurah hati pada pemuda itu. Tanpa mengendurkan sedikit pun serangan kali ini kakinya yang bergerak menendang ke depan.
Dalam beberapa gebrakan saja, Zhang Zhiyi sudah berhasil mendesak mundur Ding Tao. Bukan hanya itu saja, pemuda itu dapat merasakan betapa jantungnya tergetar saat telapak Zhang Zhiyi mampir di dadanya tadi. Rupanya tanpa sungkan-
323
sungkan Zhang Zhiyi sudah mengerahkan segenap hawa murni yang dia miliki dibalik pukulannya tadi.
Jika pemuda itu tidak rajin-rajin berlatih dan menghimpun hawa murni sejak dia mulai belajar, mungkin sekarang pemuda itu sudah tergeletak dengan jantung yang terluka parah.
Beruntung dia memiliki himpunan hawa murni yang cukup mapan, lagipula gerakannya menghindar dan melindungi dada, mengurangi sebagian lontaran tenaga Zhang Zhiyi.
Tapi tetap saja aliran tenaganya menjadi kacau, sementara serangan Zhang Zhiyi tanpa hentinya dilancarkan tanpa belas kasihan.
Baru kali ini Ding Tao menghadapi situasi di mana dia harus mati-matian menyelamatkan diri. Bahkan pada saat kekalahannya ketika melawan Wang Chen Jin, keadaannya masih jauh berbeda. Dia masih memiliki ruang untuk mengamati, berpikir dan merencanakan jurus yang harus dia lancarkan.
Tapi tidak kali ini, rasa nyeri di dadanya, ditambah lagi serangan Zhang Zhiyi yang bervariasi dan dilancarkan tanpa henti membuat dia tidak memiliki kesempatan untuk berpikir
324
sama sekali. Berbeda dengan serangan Wang Sanbo yang membadai tapi sederhana bentuknya.
Serangan Zhang Zhiyi selain dilambari dengan penggunaan hawa murni yang menggiriskan hati, setiap serangan tentu memiliki kerumitan di baliknya. Jika tadi Ding Tao membuat lawannya bergerak menuruti permainannya, kali ini Ding Tao jatuh dalam permainan Zhang Zhiyi.
Jangankan untuk melepaskan diri bahkan untuk bernafas pun hampir-hampir tidak.
Dengan cepat tenaganya terkuras, otaknya dipaksa berputar keras. Keadaan Ding Tao benar-benar bagaikan telur di ujung tanduk. Mereka yang bersimpati pada Ding Tao pun sama-sama mengalirkan keringat dingin.
Sementara seulas senyum terbentuk di wajah Tiong Fa dan para tokoh pimpinan keluarga Huang. Sudah terbayang kemenangan keluarga Huang di depan mata, apa lagi jika mereka membayangkan bahwa setelah ini mereka akan dapat menarik Ding Tao untuk memperkuat barisan.
Kekalahan Ding Tao melawan Zhang Zhiyi, tidaklah menurunkan harganya, di mata mereka yang berpengalaman
325
justru harga Ding Tao naik berkali lipat. Mereka sama-sama maklum akan sifat Ding Tao dan kecerdikan Zhang Zhiyi yang memanfaatkannya.
Tapi taktik licik seperti itu sudah terang tidak akan bisa dipakai untuk kedua kalinya. Kekalahan Ding Tao kali ini justru akan membuat pemuda itu jadi lebih berpengalaman dan waspada dalam bentrokan-bentrokan selanjutnya di masa depan. Jika Ding Tao diberi kesempatan untuk memulihkan diri, lalu melakukan pertandingan ulang melawan Zhang Zhiyi, mereka yakin sepenuhnya bahwa pemuda itu yang akan memenangkan pertandingan.
Bahkan Tuan besar Huang Jin yang tadinya tidak rela mengumpankan puterinya Huang Ying Ying untuk menikahi Ding Tao, sekarang ini berbalik merasa sayang jika Ding Tao sampai terluka parah. Dalam hati dia memaki Zhang Zhiyi yang terlampau keras melukai calon menantunya.
Tentu saja dia sadar bahwa Zhang Zhiyi memang harus berlaku demikian, jika tidak, belum tentu Zhang Zhiyi dapat memenangkan Ding Tao dalam pertandingan ini.
326
Melirik ke arah puterinya, Tuan besar Huang Jin jadi geli dan tertawa senang dalam hati. Sambil mengangguk-angguk, dia memuji kecerdikan Tiong Fa dan kejelian putera sulungnya. Sungguh-sungguh keluarga Huang mendapat untung besar kali ini. Teringat dia pada Gu Tong Dang, diapun berjanji dalam hati, setelah semua ini berakhir dia akan menjemput pelatih tua yang sudah banyak berjasa pada keluarga Huang.
Huang Ying Ying yang tadinya bersembunyi di belakang kakaknya, tanpa terasa bergeser maju ke depan. Wajahnya penuh kecemasan, air mata pun mengembeng di pelupuk matanya. Yang sempat melihat, tentu sudah bisa menebak isi hati gadis muda ini. Tapi selain ayahnya, tidak ada yang sempat melirik gadis itu. Perhatian setiap orang tertuju pada pertarungan antara Ding Tao dan Zhang Zhiyi.
Serangan Zhang Zhiyi yang membadai dan keuletan Ding Tao yang berusaha bertahan.
Setiap saat selalu saja mereka disuguhi dengan gebrakan yang mendebarkan hati. Entah sudah berapa kali mereka sempat berpikir, akhirnya, kalah juga pemuda itu, atau robohlah dia sekarang. Tapi dengan keras kepalanya pemuda itu masih sempat saja untuk meloloskan diri.
327
Yang tidak disangka semua orang adalah sebenarnya saat itu Zhang Zhiyi sudah hampir berputus asa.
Pengetahuannya yang luas dalam ilmu bela diri sudah diperasnya habis-habisan. Selain dari ilmu keluarga Huang, Zhang Zhiyi memiliki banyak simpanan ilmu yang didapatnya saat dia memata-matai perguruan besar yang ada di daratan. Tapi kali ini dia bertemu batunya, yaitu Ding Tao yang hanya mempelajari ilmu keluarga Huang tapi berhasil menangkap inti sari dari ilmu keluarga Huang.
Ding Tao memang belum berhasil menyelami hakekay ilmu bela diri sampai kedalaman yang terdalam, mendaki hingga puncak yang paling puncak. Di mana semua aliran yang berbeda itu bisa dipahami bersumber sari satu sumber yang sama. Di mana menguasai yang satu sama artinya dengan menguasai semua.
Tapi dia sudah menyelami ilmu keluarga Huang hingga tuntas, sehingga sedikit banyak, pemahaman itu sudah ada padanya, meskipun masih berupa bayangan yang tidak jelas. Itu sebabnya berhadapan dengan jurus serangan Zhang Zhiyi yang berbagai macam jenisnya, Ding Tao masih bisa
328
menyelamatkan diri. Bahkan sedikit demi sedikit, ruang geraknya menjadi semakin luas.
Zhang Zhiyi justru sebaliknya, semakin lama dia bisa merasakan genggamannya atas diri Ding Tao semakin melemah, ikan yang sudah terkail olehnya itu mulai melepaskan diri.
Mereka yang di luar pertarungan tentu saja tidak bisa memahami hal ini, karena sampai sekarang pun Ding Tao masih saja harus pontang panting menyelamatkan diri dari serangan Zhang Zhiyi.
Hingga terkejutlah mereka ketika melihat bagaimana pertarungan itu berakhir.
Saat itu Zhang Zhiyi sedang melancarkan satu tendangan ke arah Ding Tao yang sedang bergerak mundur. Seharusnya Ding Tao masih dapat menangkis serangan, tapi di luar dugaan mereka justru pemuda itu membiarkan perutnya terkena tendangan Zhang Zhiyi.
Bukan main hebatnya tendangan itu, meskipun Ding Tao sudah bersiap-siap dengan memusatkan hawa murninya di bagian itu,
329
tidak urung dia harus menggertakkan giginya kuat-kuat untuk meneruskan rencananya.
Sebenarnya Zhang Zhiyi sudah bersiap-siap dengan serangan yang berikutnya, tapi tindakan Ding Tao di luar dugaannya. Dengan menerima tendangan itu, Ding Tao meluncur lebih jauh lagi ke belakang, memberinya ruang untuk balik melancarkan serangan.
Tanpa memperbaiki posisi terlebih dahulu, tidak juga menghimpun dahulu tenaga yang membuyar. Ding Tao langsung melancarkan serangan. Serangan itu sederhana saja, tapi dilontarkan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya.
Zhang Zhiyi pun mundur untuk kemudian berbalik menyerang karena dia tahu, tentu himpunan tenaga Ding Tao belumlah sepenuhnya pulih setelah terkena tendangannya tadi.
Tapi ternyata serangan itu hanyalah gertakan saja, saat Zhang Zhiyi mundur, Ding Tao ikut menyurut mundur. Ketika Zhang Zhiyi sadar, dalam waktu yang singkat itu Ding Tao sudah berhasil mengatur kembali aliran hawa murni di tubuhnya dan sebelum Zhang Zhiyi sempat bereaksi dia sudah melancarkan serangan selanjutnya.
330
Itulah serangan yang dilancarkan oleh Feng Xiaohong sebelumnya, kali ini Ding Tao yang memainkannya dan perbawa jurus itu terasa jauh lebih hebat. Gulungan hawa pedang menyambar Zhang Zhiyi.
Sayang lawannya adalah Zhang Zhiyi, Zhang Zhiyi sudah lama merenungi jurus serangan ini dan sudah memegang cara untuk memecahkannya. Inti serangan jurus itu terletak pada jebakan yang siap menyambut lawan, saat lawan berusaha memanfaatkan celah yang sengaja dibuka.
Tapi jika lawan sudah bersiap terhadap jebakan itu, lalu apa artinya jebakan itu?
Muka Zhang Zhiyi yang sempat pucat saat dirinya salah memperhitungkan reaksi Ding Tao kembali berwarna. Dengan sigap dia menyerang melalui celah yang sengaja dibuka.
Ketika dilihatnya pukulan Ding Tao menyambar, dia sudah siap. Pedang yang menusuk hanyalah pancingan, dengan sebat gerakan itu berubah di tengah, berbalik hendak memangkas tangan Ding Tao yang maju menyerang.
Entah ada berapa banyak pasang mata yang terhenti nafasnya.
331
Tapi bukan tangan Ding Tai yang terpapas, sebaliknya justru pedang Ding Tao yang menempel pada leher Zhang Zhiyi. Rupanya pukulan Ding Tao itupun hanyalah serangan palsu. Dibalik muslihat, ada muslihat.
Serangan pedang yang seharusnya hanya merupakan pancingan justru menjadi serangan yang sesungguhnya. Pukulan yang tersembunyi ternyata hanya pancingan.
Pucat wajah Zhang Zhiyi, kejadian ini di luar dugaannya, tapi pedang sudah melintang di depan lehernya. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan kecuali mengakui kekalahannya.
Kali ini beberapa orang yang mendukung Ding Tao tanpa sadar bersorak, meskipun dengan cepat sorakan itu terhenti dan mereka yang bersorak cepat-cepat menunduk dengan wajah bersalah. Apalagi ketika mereka merasa pandangan mata para pimpinan keluarga Huang yang tajam menusuk, ditujukan pada mereka.
Untuk beberapa saat Zhang Zhiyi kehilangan kata-kata, ketika akhirnya dia membuka mulut nada suaranya terdengar lesu dan senyumnya terasa dipaksakan, ―Hehh… Anak Ding, rupanya aku pun harus mengakui kehebatanmu.‖
332
Nafas Ding Tao masih sedikit tersengal, banyak tempat di sekujur tubuhnya yang terasa sakit, tapi dikuat-kuatkannya juga untuk menjawab dengan sesopan mungkin, ―Maafkan aku Paman Zhang, hanya keberuntungan saja, kalau tidak tentu sudah sejak tadi aku terjungkal oleh pukulan dan tendangan paman.‖
Zhang Zhiyi mengangguk-angguk, kemudian menepuk pundak pemuda itu sebelum kembali ke pinggir arena.
Seperti saling berjanji, pandang mata setiap orang sekarang tertuju pada Tiong Fa, sudah jelas bahwa pertandingan ini dialah yang mengatur. Dalam hati setiap orang bertanya-tanya, siapa lagi yang akan diajukan oleh Tiong Fa, apakah belum cukup kemampuan yang ditunjukkan oleh Ding Tao?
Ketika Tiong Fa dengan langkah yang tenang berjalan ke tengah arena, tanpa terasa banyak dari mereka yang mendukung Ding Tao, menutup mata dan menghela nafas.
Pikir mereka, ―Sayang sekali, sebenarnya sungguh tidak adil, tapi kali ini habislah Ding Tao.‖
333
VII. Pedang pusaka lepas dari tangan.
Tiong Fa sudah ada di hadapan Ding Tao, wajahnya tenang tidak menunjukkan kekejian hatinya.
Ditampilkannya wajah menyesal dan berkata dia pada Ding Tao, ―Sebenarnya aku merasa malu, harus mendesakmu sedemikian rupa.‖
Ding Tao yang masih saja percaya pada Tiong Fa membalas dengan tidak kalah sopannya, ―Anak Ding mengerti hati Paman Tiong, apalagi justru ini menjadi pengalaman yang baik bagi anak. Tidak nanti akan menyalahkan paman.‖
―Hemm… terima kasih untuk pengertianmu Anak Ding. Aturlah dulu nafasmu, kapan kau siap, kau saja yang membuka dulu serangan. Aku orang tua sudah sepantasnya mengalah sejurus pada yang lebih muda.‖
―Terima kasih paman.‖, ujar Ding Tao yang sungguh-sungguh merasa berterima kasih.
Jauh di pinggir arena Zhang Zhiyi memaki Tiong Fa dalam hati. Selama apa Ding Tao hendak mengatur nafas? Luka yang
334
dideritanya sejak tadi melawan dirinya dan Wang Sanbo tentu tidak mudah hilang begitu saja.
Tapi Ding Tao yang tidak berpikir macam-macam, benar-benar menggunakan kesempatan itu untuk sebisa-bisanya mengumpulkan lagi hawa murni di tubuhnya. Perlahan-lahan dialirkan hawa murni mengitari seluruh tubuhnya, sekedar untuk meringankan kerusakan yang sudah terjadi.
Pemuda itu tidak terburu-buru melakukan serangan, sambil berusaha memulihkan diri dia berpikir keras, cara apa yang akan dia ambil untuk menghadapi Tiong Fa.
Tiong Fa yang tadi dengan murah hati memberikan waktu pada Ding Tao untuk memulihkan diri, diam-diam menjadi kesal. Tidak disangkanya pemuda itu benar-benar menggunakan waktu tanpa sungkan-sungkan.
―Dasar pemuda dungu tidak tahu malu.‖, makinya dalam hati.
Ding Tao sendiri sebenarnya merasa malu dan sungkan, karena membuat semua yang hadir di situ menunggui dirinya, tapi pemuda itu memandang tugas yang diberikan gurunya jauh lebih penting dari itu semua. Saat akhirnya dia bersiap untuk menyerang, tubuhnya sudah terasa jauh lebih segar, rasa nyeri
335
pada bagian-bagian tubuh yang terluka masih bisa ditahannya tanpa mengganggu jalannya hawa murni dalam tubuh.
―Maaf paman, jika terlalu lama menunggu.‖, ujarnya dengan muka sedikit memerah.
―Ah, tidak apa, tidak apa. Apakah kau sudah siap sekarang?‖
―Iya paman, aku akan memulai sekarang. Awas serangan!‖
Jurus yang dilancarkan Ding Tao adalah jurus ketiga dari 3 jurus dasar pedang keluarga Huang. Kali ini tidak berani dia melancarkan serangan yang setengah-setengah. Pengalamannya dengan Zhang Zhiyi sudah cukup mengajarinya untuk tidak bermain-main dalam setiap pertarungan. Siapa pun lawannya dan bagaimana pun keadaannya.
Tusukannya begitu cepat dan keras, hingga pedang kayunya pun berdengung.
Tiong Fa tidak menjadi gugup karenanya, dengan mudah serangan itu dia pecahkan. Menyusul berganti dia yang menyerang.
336
Dalam waktu singkat, berpuluh jurus sudah mereka lancarkan bergantian. Kedua pihak masih seimbang, baik Ding Tao maupun Tiong Fa masih saling menyerang dan bertahan dengan rapatnya. Tiong Fa yang mengharapkan tenaga Ding Tao sudah jauh melemah setelah pertarungan-pertarungan sebelumnya jadi mengeluh dalam hati, ketika menyaksikan keuletan pemuda itu.
Tapi Tiong Fa cukup sabar dan berpengalaman, tanpa terburu-buru dia dengan tenang berusaha menekan Ding Tao, sesekali menjauh sambil dibukanya celah untuk memancing Ding Tao melompat menyerang, agar tenaga pemuda itu semakin cepat habis.
Dua orang itupun seperti sedang melakukan tarian pedang, mengelilingi arena yang cukup luas.
Keringat Ding Tao yang baru saja mengering, dengan cepat mengalir kembali dengan deras. Nafasnya sedikit-sedikit mulai memburu. Baru pada saat itulah mulai Tiong Fa mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Ini adalah jurus-jurus rahasia, yang hanya diketahui oleh keluarga sendiri.
Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit Ding Tao mulai terdesak.
337
Tidak ada yang berpikir Ding Tao akan menang, dengan sendirinya jantung mereka yang melihat tidak berdebar sekeras pertandingan-pertandingan sebelumnya. Kebanyakan justru menggunakan kesempatan ini untuk sebanyak mungkin menangkap jurus-jurus rahasia keluarga Huang yang belum pernah mereka lihat.
Dengan hati yang jauh lebih tenang, pengamatan mereka pun jauh lebih cermat. Meskipun mereka mengagumi jurus-jurus yang diperagakan Tiong Fa, lebih kagum lagi mereka pada Ding Tao yang mampu bertahan sekian lama. Entah berapa kali mereka bertanya pada diri sendiri, seandainya mereka yang diserang dengan cara demikian, dapatkah mereka lolos dari serangan itu?
Tentu saja setelah melihat cara Ding Tao meloloskan diri, pemecahannya jadi bisa dimengerti dengan jauh lebih mudah. Tapi yang membuat mereka heran, bagaimana cara Ding Tao yang belum pernah mempelajari jurus rahasia itu, hingga anak muda itu bisa tahu cara pemecahannya?
Tiong Fa tidak kalah kagumnya dengan bakat pemuda itu, tapi kekagumannya berubah menjadi rasa iri dan dengki. Apa lagi ketika dia teringat rencana mereka untuk menarik pemuda itu
338
ke dalam keluarga Huang. Diam-diam dia justru merasakan kekhawatiran berkembang dalam hati kecilnya, apakah pemuda itu tidak akan membahayakan kedudukannya dalam keluarga Huang nanti?
Justru karena bakat pemuda itu yang terlampau besar.
Sebelum menghadapi pemuda itu secara langsung, hal ini tidak terbayang oleh Tiong Fa, tapi sekarang setelah dapat menyelami sendiri secara langsung bertarung dengan pemuda itu, mulailah keragu-raguan itu mengganggu hatinya.
Ding Tao memang selalu terlambat satu atau setengah langkah menghadapi jurus-jurus rahasia keluarga Huang. Tapi kenyataan bahwa pemuda itu mampu menghindarkan diri dan tidak sampai jatuh ke dalam permainan Tiong Fa, menunjukkan bahwa dalam waktu yang singkat itu, pemuda itu sudah mampu menangkap garis besar atau ide yang dibawa oleh jurus-jurus tersebut.
Jangankan Tiong Fa yang menghadapi pemuda itu secara langsung, bahkan Huang Jin yang menonton dari pinggir arena pun seperti tidak percaya pada penglihatannya.
339
Demikian juga tokoh-tokoh pimpinan yang lain, seperti Huang Yunshu dan Huang Ren Fang, terutama Huan Ren Fang yang tiba-tiba saja bisa merasakan kedudukannya sebagai calon utama pengganti ayahnya sedang digeser oleh tangan yang tak terlihat.
Ketakutan yang muncul di hati Tiong Fa juga muncul di hati mereka. Merekrut orang berbakat memang perlu, tapi jika orang itu jauh lebih berbakat dari mereka sendiri, apakah tidak seperti memelihara anak harimau, yang jika besar nanti malah membahayakan jiwa pemeliharanya?
Biasanya untuk memastikan bahwa anak murid yang ditarik masuk tidak akan membahayakan bagi dirinya, seorang guru akan menyimpan satu atau dua jurus pamungkas. Jurus yang nantinya akan bisa digunakan jika muridnya ternyata tidak setia pada perguruan.
Tapi hal itu tidak berlaku buat orang semacam Ding Tao, dengan bakatnya diberi tahu satu, dia sudah bisa mengerti dua dan tiga. Apalagi Ding Tao sudah mempelajari lengkap seluruh jurus dasar dan jurus lanjutan. Ibaratnya untuk memasuki satu ruangan, pintunya sudah ditemukan dan kuncinya sudah ada di
340
tangan. Tinggal satu langkah saja, segenap ilmu keluarga Huang akan dikuasainya.
Jika orang bermain kartu dan semua kartu As sudah ada di tangan, apakah akan dengan sengaja mau mengalah?
Orang mengukur orang lain dengan ukurannya sendiri, ketika melihat bakat Ding Tao keringat dingin mereka pun mengalir keluar.
Dengan menggertak gigi, dalam hati Tiong Fa memaki. Semakin lama, perlawanan Ding Tao justru semakin ulet. Menghadapi jurus rahasia keluarga Huang, justru pikiran pemuda itu jadi semakin terbuka. Bila orang bermain puzzle dan hampir seluruh puzzle-nya telah tersusun, maka makin mudah pula untuk menemukan tempat bagi sisa-sia potongan yang ada.
Demikian juga keadaan Ding Tao saat ini, jika dia tidak melihat dan mengalami sendiri jurus-jurus rahasia keluarga Huang, mungkin baginya perlu waktu satu atau dua tahun untuk mengembangkan apa yang sudah dia miliki hingga menguasai sampai pada puncaknya. Tapi serangan-serangan Tiong Fa
341
justru membuka matanya dan yang satu-dua tahun itu dengan mudah dikuasainya sekarang.
Meskipun penguasaannya tidak benar-benar sempurna, tapi untuk menahan serangan Tiong Fa, hal itu jauh lebih daripada cukup.
Penonton yang tadinya menyaksikan pertandingan itu tanpa perasaan, jadi tergerak melihat perlawanan Ding Tao yang semakin mantap. Apalagi ketika kedudukan keduanya jadi mulai berimbang.
Pembaca yang suka menonton pertandingan balap kuda mungkin bisa membayangkan perasaan mereka saat itu, bagaimana ketika kuda yang tidak dijagokan sebelumnya, tiba-tiba mulai mendekati kuda terdepan di putaran terakhir. Apalagi jika pembaca kebetulan sudah memasang taruhan pada kuda tersebut.
Sungguh celaka bagi Tiong Fa, semakin lama dia bertarung dengan Ding Tao, semakin cepat pula pemuda itu mematangkan penguasaannya.
Satu-satunya harapan Tiong Fa adalah tenaga pemuda itu yang sudah terlebih dahulu terkuras.
342
Yang tidak diduga oleh siapapun, adalah penemuan Ding Tao saat dirinya bertarung antara batas hidup dan mati melawan Wang Chen Jin.
Dan itulah yang terjadi sekarang, ketika Ding Tao sudah merasa mengerti semua kunci-kunci jurus rahasia keluarga Huang, mulailah dia mampu memberikan perlawanan. Sadar bahwa yang dia ketahui belum cukup untuk menggunakannya untuk menjebak Tiong Fa untuk jatuh dalam permainan pedangnya, terpikirlah Ding Tao untuk menggunakan kelebihannya tersebut.
Tenaganya mulai disalurkan pada pedang kayu yang ada di tangannya.
Pada mulanya Tiong Fa masih belum menyadarinya, baru setelah beberapa kali tangannya tergetar setiap kali pedang mereka berbenturan, sadarlah dia. Pucat wajah Tiong Fa ketika menyadari hal itu, keterkejutannya itu membuat lemah permainan pedangnya.
Untuk beberapa saat lamanya Ding Tao balik menggempur tokoh utama keluarga Huang tersebut.
343
Tapi Tiong Fa mendapatkan kepercayaan dari Huang Jin bukan tanpa alasan, dengan cepat dia berhasil menguasai perasaannya, diapun menyalurkan hawa murninya ke tangan sehingga pada setiap benturan yang terjadi tangannya tidak lagi tergetar dan pertarungan pun kembali menjadi seimbang.
Mengandalkan himpunan hawa murninya yang lebih mapan, Tiong Fa berusaha mendesak Ding Tao. Pertarungan pun menjadi semakin seru, hingga menginjak ratusan jurus yang sudah dikeluarkan. Gulungan pedang keduanya saling membelit dan berkitaran di tengah arena. Tidak satupun dari keduanya terdesak mundur dari kedudukan terakhir.
Pada saat yang makin menegangkan itulah, tiba-tiba terdengar suara pedang kayu yang berderak patah. Salah satu gulungan pedang yang berputaran di arena pertandingan menghilang.
Itulah pedang Tiong Fa yang patah jadi serpihan. Nyata bahwa meskipun himpunan hawa murni Tiong Fa lebih mapan, tapi penguasaan Ding Tao terhadap pengaturan hawa murninya justru lebih baik dan lebih menyatu dengan senjata di tangannya.
344
Nafas Ding Tao terdengar memburu di tengah ruang latihan yang sunyi.
Wajah Tiong Fa pucat lesi, meskipun keadaannya jauh lebih baik dari Ding Tao. Bahkan Tiong Fa yang terkenal cerdik pun kali ini kehilangan akalnya.
Pedang Ding Tao belum sampai mampir di tubuh Tiong Fa, pemuda itupun tidak menyerang, hanya mengambil posisi yang siap mengirimkan serangan. Jika patahnya pedang Tiong Fa tidak dihitung sebagai satu kekalahan, bukan tidak mungkin akhirnya Ding Tao akan kalah karena kehabisan nafas.
Tapi kedudukan Tiong Fa sebagai tokoh yang lebih tua, tentu membuat hal itu akan tampak sangat memalukan.
Adalah Tuan besar Huang Jin yang lebih dahulu pulih dari rasa kagetnya. Suara tepuk tangannya menyadarkan semua yang hadir di ruang latihan itu. Ketika mereka melihat Tuan besar Huang Jin-lah yang bertepuk tangan maka sorak sorai pun pecah memenuhi ruangan.
Mereka yang masih muda berlari mendekat untuk memberikan selamat pada Ding Tao, dengan tawa lebar mereka menepuk-
345
nepuk pundak pemuda itu. Ada pula yang dengan bercanda mendorong badan pemuda yang sudah kepayahan itu.
Huang Ying Ying yang tadi ikut bersorak, kali ini justru bersikap malu-malu, gadis itu hanya ikut tertawa dari kejauhan saja. Tuan besar Huang Jin diam-diam membisikkan sesuatu kepada putera sulungnya, kemudian dengan langkah yang tegap mendekati Tiong Fa dan Ding Tao.
Mereka yang melihat kedatangan Tuan besar Huang Jin, mundur keluar dan berbaris dengan rapi dan tertib di pinggir arena.
Menepuk-nepuk pundak Tiong Fa Tuan besar Huang Jin berkata, ―Pertandingan yang bagus, tidak perlu berkecil hati. Sudah jadi pepatah dunia persilatan, gelombang ombak yang baru selalu mendorong menggantikan yang lama.‖
Kemudian berbalik pada Ding Tao dia tersenyum lebar pada pemuda itu, ―Selamat Anak Ding, kemajuanmu dalam menguasai ilmu keluarga Huang sungguh di luar dugaan kami semua. Kecuali satu dua jurus pamungkas, yang memang hanya diturunkan pada kepala keluarga besar Huang, semuanya bisa kau kuasai.‖
346
―Benar-benar bakat yang luar biasa.‖
Ding Tao yang mendapat pujian sedemikian tinggi hanya bisa menggumamkan terima kasih sambil menundukkan kepala.
Mereka yang mendengar pujian Huang Jin pun semakin terheran-heran dan mengagumi bakat pemuda itu. Seandainya saja mereka tahu yang sesungguhnya tentu akan berkali-kali lipat pula rasa heran dan kagum mereka. Karena hanya bualan kosong belaka jika Tuan besar Huang Jin mengatakan, bahwa seolah-olah masih ada satu atau dua jurus pamungkas keluarga Huang yang belum dikuasai oleh Ding Tao.
Jangankan jurus pamungkas yang dikuasai oleh Tuan besar Huang Jin, bila diberikan waktu yang cukup buat Ding Tao, bukan tidak mungkin jurus pamungkas yang dikuasai oleh Tuan besar Huang Jin itu pun akan dapat disempurnakannya melebihi penguasaan Tuan besar Huang Jin sendiri.
Hanya saja kenyatan seperti itu sangat sulit diterima oleh akal, yang salah ternyata bisa jauh lebih masuk di akal dari kenyataannya. Karenanya dalam pikiran setiap orang, apa yang dicapai Ding Tao masih kalah seusap dengan tingkatan Tuan besar Huang Jin. Meskipun hal itu ada benarnya, tapi
347
sebenarnya yang seusap itu adalah masalah himpunan tenaga dalam Tuan besar Huang Jin yang jauh lebih mapan.
Bahkan dalam hal itu pun, tidak akan banyak membantu bila keduanya harus berhadapan dalam pertandingan yang sesungguhnya. Karena sebesar apa pun simpanan hawa murni yang berhasil dihimpun, penggunaannya masih sangat bergantung pada kemampuan pemiliknya untuk menguasai dan menyalurkan tenaga itu secara tepat.
Lebih lagi jika dipertimbangkan bahwa, hawa murni yang bisa membuat pemiliknya bergerak lebih ringan, lebih cepat dan lebih kuat itupun, dalam pengerahannya masih dibatasi juga oleh keterbatasan dari tubuh penggunanya.
Ding Tao yang lebih muda dan terlatih tubuhnya dibanding Tuan besar Huang Jin, memiliki kemampuan untuk menggunakan hawa murni yang lebih besar.
Bila hendak diibaratkan sebuah bendungan, maka himpunan hawa murni itu seperti air yang tertampung dalam bendungan, tubuh adalah saluran irigasi yang dilewati oleh air itu nantinya dan penguasaan akan hawa murni itu adalah pintu-pintu yang
348
mengatur besar kecilnya dan ke arah mana, air akan dilewatkan.
Jika saluran irigasi yang akan dilewati tidak kuat dan air yang lewat dipaksakan terlalu besar, maka hancurlah saluran-saluran itu dan air pun akan tumpah sebelum sampai pada tujuannya.
Demikian juga jika seseorang memaksakan diri untuk menggunakan hawa murni secara berlebihan, pada waktu yang singkat bisa jadi dia akan menghasilkan daya hancur yang besar, tapi daya hancur yang sama itu pula akan merusakkan tubuhnya.
Lagipula meskipun Tuan besar Huang Jin sudah bertahun-tahun lebih lama berlatih dan menghimpun hawa murni, tapi bukankah apa yang dia simpan itu dia gunakan pula? Entah dalam latihan atau dalam pertarungan yang sesungguhnya. Itu sebabnya bahkan keunggulan yang seusap itupun sebenarnya masih dapat diperdebatkan. Siapa yang sebenarnya lebih unggul, Ding Tao atau Tuan besar Huang Jin sebagai tokoh utama dalam keluarga Huang.
349
Tidak lama setelah Tuan besar Huang Jin berbasa-basi, Huang Ren Fang telah datang bersama seorang pelayan, membawa sebuah baki berisi dua cawan dan sebotol arak.
Tuan besar Huang Jin, mengisi kedua cawan itu lalu menyerahkan yang satu pada Ding Tao, kemudian sambil mengangkat cawan arak yang lain, dia berucap dengan sungguh-sungguh.
―Anak Ding, hari ini kau sudah membuktikan bahwa kau memang pemilik yang tepat dari pedang itu. Aku, mewakili keluarga Huang, mengucapkan selamat.‖
―Dan mengingat tugas yang kau pikul di pundakmu adalah tugas yang menyangkut kepentingan seluruh negeri, kami seluruh anggota keluarga Huang, dengan ini memberikan kesanggupan kami untuk berdiri di belakangmu dan membantumu sekuat tenaga kami, sampai kau berhasil menunaikan tugasmu itu.‖
―Sekali lagi aku ucapkan selamat!‖
Dan dengan satu tegukan Tuan besar Huang Jin menghabiskan arak di cawannya. Tepuk tangan dan sorak sorai pun memenuhi ruang latihan itu untuk kedua kalinya. Ding
350
Tao dengan mata yang basah oleh air mata, meneguk habis arak di cawannya.
Cepat Tuan besar Huang Jin menangkap pundak pemuda itu, ketika dia hendak bersoja di depannya, dengan kebapakan Tuan besar Huang Jin membimbing pemuda itu, ―Sudah, sudah, cukup, aku tahu ketulusanmu. Malam ini kau sudah banyak menguras tenaga, sebaiknya cepatlah beristirahat. Besok, kita akan bicarakan lebih jauh masalah tugas yang dibebankan oleh gurumu.‖
Menoleh ke salah satu anak muda yang ada di situ dia berpesan, ―Antar dia ke kamarnya, dan jangan habiskan waktu untuk mengobrol yang tidak perlu. Besok masih ada banyak waktu, malam ini biarkan Ding Tao istirahat sebaik-baiknya.‖
Dengan perkataan itu bubarlah mereka semua dari ruang latihan, masing-masing pergi ke ruangan mereka, beberapa orang mengantarkan Ding Tao yang sudah kelelahan ke kamarnya. Mereka pun menaati pesan Tuan besar Huang Jin, apalagi ketika melihat keadaan Ding Tao yang benar-benar terkuras tenaganya.
351
―Sampai besok Ding Tao, selamat atas kemenanganmu. Sekarang beristirahatlah baik-baik.‖, pamit mereka.
―Terima kasih atas perhatian kalian semua. Sampai besok.‖, jawab Ding Tao yang baru sekarang merasa betapa tenaganya benar-benar terkuras.
Segera setelah dia menutup pintu, Ding Tao merebahkan tubuhnya ke atas pembaringan. Seluruh tulang dan ototnya terasa lemas tak bertenaga. Untuk sesaat pemuda itu belum memejamkan mata, kejadian malam itu sungguh di luar bayangannya.
Meskipun Gu Tong Dang sudah berkali-kali meyakinkan pemuda itu bahwa ilmunya telah maju pesat, tak pernah terbayangkan olehnya bahwa dia akan dapat mengalahkan tokoh-tokoh yang lebih tua seperti Wang Sanbo, Zhang Zhiyi apalagi Tiong Fa. Bahkan Tuan besar Huang Jin pun mengakui bahwa sudah hampir seluruh ilmu keluarga Huang dikuasainya secara sempurna.
Mendesah bahagia pemuda itu merasa betapa lelahnya dia sekarang, matanya mulai mengantuk dan hampir saja dia
352
memejamkan mata ketika terdengar ketukan lembut di pintu kamarnya.
Dengan kemalasan pemuda itu bangkit, sejenak dipandanginya saja pintu kamarnya itu, berharap yang mengetuk pintu akan pergi setelah tidak dijawab beberapa lama.
Tapi harapannya itu tidak terpenuhi, malah setelah beberapa kali mengetuk tanpa dijawab, terdengar suara lirih memanggil, ―Ding Tao… Ding Tao… apakah kau sudah tidur?‖
Suaranya memang lirih saja, tapi suara yang lirih itu justru lebih berarti dari ketukan pintu sekeras apapun, karena suara itu ada suara Huang Ying Ying. Senyuman muncul dari wajah Ding Tao, segala rasa malas dan lelah sepertinya jadi hilang saat dia mendengar suara gadis itu. Malah sekarang dia takut kalau gadis itu benar-benar menyangka bahwa dia sudah tidur dan pergi.
Cepat-cepat dia menjawab, ―Tunggu, aku belum tidur.‖
Bergegas dia membukakan pintu, di depan Huang Ying Ying sudah menunggu dengan wajah cemberut manja, ―Hiih… kau bilang belum tidur, lalu kenapa tidak lekas kau buka pintunya.‖
353
Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Ding Tao menyahut, ―Ah… maafkan aku Adik Ying, aku tidak tahu kalau kau yang mengetuk pintu.‖
―Kalau kau tahu itu aku, apa langsung kau bukakan pintu?‖, tanya gadis itu dengan manja sambil menundukkan kepala dan wajah bersemu kemerahan.
―Tentu…‖
Sejenak keduanya berdiri terdiam dengan jantung berdebaran. Biasanya Huang Ying Ying lah yang berceloteh tanpa henti dan Ding Tao tinggal menimpali, tapi kali ini gadis itu tidak seramai biasanya.
Akhirnya Huang Ying Ying mengangkat wajahnya, dengan sorot mata prihatin dia bertanya, ―Ding Tao, bagaimana dengan lukamu?‖
Merasakan betapa besar perhatian Huang Ying Ying, setengah sakit yang dia rasakan sepertinya sudah sembuh, dengan menyengir kuda dia menjawab, ―Tidak terlalu masalah, hanya rasanya tubuhku sangat lelah itu saja. Tidur sedikit, besok juga sudah baikan.‖
354
―Huuh… kalian ini anak laki-laki, selalu saja menganggap enteng luka. Ini kubawakan obat untukmu, kau minum yang bungkusan ini, kemudian lakukan latihan pernafasan. Lalu setelah itu minum dari bungkusan yang satunya lagi sebelum tidur. Apa kau ada alat untuk memasak obat ini?‖
―Ada… ada…‖, jawab pemuda itu sambil menatap Huang Ying Ying dengan tatapan penuh kasih.
Betapa terharu hati Ding Tao melihat besarnya perhatian Huang Ying Ying, digenggamnya tangan gadis itu dan dengan penuh perasaan dia berterima kasih, ―Adik Ying… kau baik sekali.‖
Huang Ying Ying yang terpegang tangannya, menunduk malu, jantungnya berdebaran. Hendak menarik tangannya dan lari, tapi tubuhnya terasa lemas.
―Itu… itu… itu tadi pesan ayah padaku. Sudahlah aku harus cepat kembali.‖, katanya, ketika akhirnya dia berhasil menenangkan hatinya.
Ding Tao yang sadar sudah menggenggam tangan gadis itu cepat-cepat melepaskannya, ―Ah benar, hari sudah malam. Baiknya Adik Ying cepat kembali ke kamarmu.‖
355
―Sampai besok Kakak Ding.‖
―Ya, sampai besok.‖
Bercampur aduk perasaan keduanya, ada rasa senang, tapi juga ada rasa berat karena harus berpisah. Ding Tao berdiri saja menunggu di depan pintu sampai Huang Ying Ying menghilang di tikungan. Sebelum menghilang, gadis itu masih sempat berbalik sekali lagi kemudian melambaikan tangan.
Agak lama Ding Tao terpekur memandangi jalan yang kosong, ketika akhirnya dia menutup pintu dipandanginya bungkusan obat yang ada di tangannya.
Teringat tangan lembut Huang Ying Ying yang membawa bungkusan itu dengan sepenuh hati dia kemudian mendekap dan menghirup dalam-dalam wangi dua bungkusan obat itu.
Seandainya saja benar dua bungkusan obat itu berbau wangi, sewangi bau Huang Ying Ying, tapi yang namanya ramuan obat jarang-jarang yang berbau wangi. Dan dua bungkusan obat itu tidak satupun yang berbau wangi, bisa dibilang justru dua bungkusan itu contoh paling bau dari segala macam obat yang berbau.
356
Karuan saja Ding Tao hampir muntah-muntah dibuatnya.
Tapi bau obat itupun tidak bisa membuat pemuda itu berhenti tersenyum. Sambil menjerang air dan memasak obat itu, pemuda itu pun pelan-pelan menggumamkan lagu cinta yang sedang banyak dinyanyikan orang.
Saat obat yang satu telah siap dan habis diminum, dimasaknya pula bungkusan yang kedua.
Sambil menunggu obat itu siap, dia mulai bermeditasi, mengolah dan menghimpun hawa murni ditubuhnya. Obat yang diberikan Huang Ying Ying, benar-benar baik. Perlahan-lahan tubuhnya jadi semakin segar, aliran hawa murni dalam tubuhnya juga semakin lancar. Jika setelah benturan-benturan tadi aliran darahnya sempat terasa sedikit kacau dan terhambat, maka sekarang bisa dia rasakan aliran darahnya kembali pulih.
Hanya rasa lelahnya tidak kunjung hilang, meskipun merasa sedikit heran, Ding Tao menduga hal itu karena dia terlalu banyak memeras tenaga, jauh di luar pertimbangannya sendiri. Mungkin karena terbawa oleh suasana dan ketegangan, sehingga rasa lelah ini tidak dirasakannya sebelumnya.
357
Merasa semakin lama semakin sulit baginya untuk berkonsentrasi, pemuda ini akhirnya memilih untuk mengakhiri meditasinya, terlalu riskan jika dia memaksakan diri.
Akhirnya pemuda ini pun memilih termenung-menung, menatapi obat yang sedang dimasak. Beberapa kali kepalanya terangguk-angguk hampir tertidur, tapi mengenangkan kebaikan Huang Ying Ying yang diwakili oleh obat itu, jangankan sedikit kantuk, seandainya disuruh melatih kuda-kuda sambil menjinjing 2 ember air selama 2 batang hio pun mungkin akan dijalaninya.
Sambil tersenyum-senyum pemuda itu, menatap air yang mendidih dan bau khas obat ramuan yang teruar keluar dari dalam poci.
Akhirnya setelah menanti sekian lama, siap juga obat itu untuk diminum, dengan hati-hati, ditiup-tiupnya ramuan yang masih panas itu, lalu pelan-pelan diseruput. Sehabis meminum obat itu, maka tubuhnya merasa sangat nyaman dan kepala pun terasa semakin melayang.
Sambil menghempaskan diri ke atas pembaringan, Ding Tao bergumam, ―Rupanya obat supaya tidurku pulas.‖
358
Ding Tao benar-benar tertidur pulas. Saat pintu kamarnya diketuk perlahan-lahan dari luar, pemuda itu sedikitpun tidak terbangun. Bahkan ketika ketukan itu menjadi semakin keras, pemuda itu tidak juga terbangun.
Sebilah pedang tiba-tiba muncul di sela-sela antara daun pintu, dengan tebasan yang cepat pedang itu bergerak memotong palang pintu yang mengunci pintu dari dalam.
Secepat pedang itu menebas, secepat itu pula sebuah sosok melompat ke dalam dan menahan agar palang pintu yang sudah terpotong tidak jatuh bergelontangan ke lantai. Cahaya bulan yang samar tertutup awan hanya memperlihatkan dua sosok berkedok dan berbaju hitam.
Kedua sosok itu dengan cepat memeriksa isi dalam kamar, ketika mereka menemukan Pedang Angin Berbisik milik Ding Tao, keduanya saling berpandangan. Seorang di antara mereka jelas bertindak sebagai pemimpinnya, karena begitu kepalanya mengangguk, yang seorang lagi dengan segera menghadiahkan satu pukulan ke arah ulu hati Ding Tao.
Tinju 7 luka, sebuah ilmu pukulan yang sempat dia curi dari perguruan Kongtong dari Gunung Kongtong
359
Dengan telak pukulan itu menghajar ulu hati Ding Tao, begitu kerasnya hingga tempat tidur anak muda itu ikut patah menjadi dua. Darah pun menyembur dari mulutnya.
Tubuhnya bergulingan, seketika itu juga dia tersadar dari tidurnya yang lelap. Dadanya nyeri bukan kepalang, terasa anyir darah di mulutnya yang menggugah kesadarannya. Matanya terbelalak nyalang memandang ke arah dua orang berbaju dan berkedok hitam.
Dua orang itu tidak kalah kagetnya melihat pemuda itu belum mati terkena pukulan maut yang dilancarkan begitu telaknya.
Kesadaran Ding Tao dan kemauan dasarnya untuk bertahan hidup lebih cepat bereaksi dibandingkan kedua orang berkedok hitam, sekelam hati mereka. Melihat pintu yang terbuka lebar, pemuda itu mengemposkan tenaga melompat keluar.
Lagi-lagi hal ini berada di luar dugaan kedua orang itu, hingga untuk beberapa saat keduanya hanya saling berpandangan, sebelum seorang di antara mereka memaki, ―Goblok! Cepat kejar!!‖
Bergegas keduanya mengejar, tapi Ding Tao sudah menang waktu, dia juga tampaknya lebih paham lika-liku di kediaman
360
keluarga Huang bagian itu, dibandingkan dua pengejarnya. Beberapa kali keduanya kehilangan jejak saat pemuda itu menyusup masuk melewati celah-celah sempit atau gerumbulan semak yang menyembunyikan jalan setapak.
Untuk sesaat lamanya keduanya kehilangan jejak, rumah kediaman keluarga Huang sangatlah luas, mirip satu perkampungan sendiri. Kelompok-kelompok rumah para pelayan dan penjaga, taman dan kolam, bangunan tempat keluarga besar Huang tinggal dan bangunan utama. Apalagi di malam yang gelap.
Pembunuh yang gagal itu meneteskan keringat dingin, dipandangnya rekannya yang lain dengan sorot pandang mengiba, ―Tetua… aku sungguh… seharusnya pukulan itu…‖
Guram wajah yang seorang lagi, sambil menggigit bibir dia berpikir, akhirnya dia berkata, ―Kita pergi saja melaporkan hal ini pada Tuan Huang.‖
Rekannya yang masih gugup dengan segera menuruti perkataannya dan melangkah ke arah gedung utama di mana Tuan besar Huang Jin menunggu laporan mereka. Hatinya berdebar membayangkan kemarahan Tuan Huang. Tiba-tiba
361
dia merasakan hembusan angin menyentuh belakang lehernya, matanya melebar saat sadar apa artinya tiupan angin itu.
Tapi belum sempat dia berkata apa-apa, dirasakan dunia di sekitarnya berputaran, sekilas dilihatnya tubuhnya sendiri berdiri tanpa kepala, sebelum jatuh ke tanah, semakin lama semakin jauh dari dirinya. Telinganya masih sempat mendengar teriakan memanggil para penjaga.
Dalam waktu singkat gegerlah rumah kediaman keluarga Huang, bukan hanya kediaman keluaraga Huang yang geger, bahkan Kota Wuling pun ikut menjadi geger. Hampir setiap anggota keluarga laki-laki yang telah cukup umur, menenteng senjata, bergerak menggeledah ke seluruh penjuru rumah itu, bahkan beberapa telah memacu kudanya keluar untuk memeriksa ke sudut-sudut kota.
Dari mulut ke mulut beradar desas-desus yang mengatakan, Zhang Zhiyi telah memergoki Ding Tao sedang menyelinap ke dalam ruangan khusus milik Tuan besar Huang Jin, dan sedang berusaha melarikan diri sambil membawa kitab pusaka keluarga Huang yang hanya diwariskan pada pimpinan keluarga yang terpilih.
362
Zhang Zhiyi yang harus menghadapi pemuda itu dengan pedang pusakanya sangat kerepotan. Syukur saja Tiong Fa yang sedang kesulitan tidur, sempat mendengar suara perkelahian mereka dan memburu keluar.
Sayang Tiong Fa tidak keburu membantu Zhang Zhiyi menahan Ding Tao, tapi setidaknya sebelum pedang Ding Tao dengan kejamnya memotong leher anggota yang setia itu, Zhang Zhiyi masih sempat menjelaskan duduk perkaranya. Meskipun dengan penjelasan yang sepotong-sepotong dan dibayar dengan nyawa.
Ding Tao tidak lolos begitu saja, diapun terluka oleh pukulan Tiong Fa sebelum berhasil melenyapkan diri dalam kegelapan.
Tapi pemuda itu masih sangat berbahaya dengan Pedang Angin Berbisik di tangan, itu sebabnya setiap anggota keluarga Huang dan para penjaga yang menemukannya, diperintahkan untuk mengambil langkah sekeras mungkin. Tidak perlu menangkapnya hidup-hidup, bunuh dulu baru urusan lain belakangan.
Terang saja seisi kota jadi ikut geger, derap kuda membelah malam yang sepi. Tidak sedikit pula orang-orang keluarga
363
Huang yang ikut di tempatkan menjaga gerbang-gerbang kota Wuling. Entah berapa ratus orang yang mencari Ding Tao malam itu, tapi Ding Tao lenyap tanpa bekas. Bisik-bisik mengatakan bahwa sebenarnya pemuda itu merupakan pemuda yang berbakat yang sulit ditemukan bandingannya dalam 10 tahun terakhir. Hanya sayang sifatnya ternyata licik hingga tega menyatroni orang yang telah membesarkan dia selama ini.
Dalam keremangan malam Tiong Fa menyesali kericuhan yang terjadi ini. Dalam hati dia mengutuki kecerobohannya, bagaimana mungkin pemuda itu bisa lolos darinya? Dia pun sangat menyesali terbunuhnya Zhang Zhiyi. Zhang Zhiyi adalah salah satu orang kepercayaannya, tapi pada saat rencana itu rusak berantakan yang terlintas di benaknya adalah, sesedikit mungkin orang di luar kelompok inti boleh mengetahui hal itu.
Lepasnya Ding Tao membuat dia terdesak oleh waktu, setiap saat bisa saja Ding Tao bertemu dengan salah seorang penjaga, dia harus terlebih dahulu memburukkan nama pemuda itu, sebelum pemuda itu sempat bertemu siapapun.
Dipandanginya tubuh Zhang Zhiyi yang terpisah dari kepalanya, teringat pula akan keadaan kamar Ding Tao yang tidak sesuai
364
dengan cerita darinya baru saja. Tapi Tiong Fa belum bisa bergerak untuk membersihkan kamar Ding Tao dari jejaknya. Rahangnya mengeras, bertanya-tanya, sampai berapa jauhnya kerusakan pada rencana mereka ini terjadi.
------------------------------ o ------------------------------
Sebenarnya apa yang terjadi malam itu? Ada juga keinginan dari penulis untuk membuat semacam cerita misteri, sayangnya penulis termasuk orang yang bermulut ember, tidak bisa menyimpan rahasia, sehingga meskipun ada keinginan tapi tidak ada kemampuan.
Sejak Tuan besar Huang Jin menyaksikan bakat Ding Tao, dalam hatinya lenyap sudah keinginan untuk menarik anak muda itu ke dalam keluarganya. Hilang pula minatnya untuk mengambil Pedang Angin Berbisik dari tangan pemuda itu secara baik-baik.
Kekalahan Tiong Fa, kondisi Ding Tao yang sudah sangat kelelahan, membuat sangat tidak berwibawa jika Tuan besar Hung Jin harus memaksakan diri untuk mengirim satu orang lagi untuk bertanding melawan Ding Tao. Lagipula siapa yang hendak ditandingkan melawan pemuda itu?
365
Kondisinya sangat payah, siapa pun jagoan tingkat atas dari keluarga Huang yang diminta untuk bertanding melawan pemuda itu akan kehilangan mukanya. Sementara bakat Ding Tao justru menunjukkan kemampuannya memberikan hasil yang di luar dugaan. Mengirimkan salah satu jagoan muda memiliki resiko menelan satu lagi kekalahan, memperpanjang daftar kemenangan Ding Tao dan membuat nama mereka jadi lebih terpuruk bila memaksa Ding Tao untuk bertanding lagi dan lagi hingga mareka memenangkan pertarungan karena pemuda itu mati kepayahan.
Tuan besar Huang Jin tidak pernah suka berjudi, jika dia harus berjudi, maka jelas baginya kapan dia harus bertahan dan kapan harus mundur. Kali ini dia memilih mundur dari perjudian itu.
Itu sebabnya di depan semua orang dia memuji bakat Ding Tao, sekaligus mengesankan masih adanya jurus rahasia yang tidak dipahami Ding Tao. Berjanji untuk membantu Ding Tao dan mengikat tali persahabatan. Di depan semua orang ditunjukkannya bahwa tidak ada ganjalan, keluarga Huang sudah mempercayakan pula pedang pusaka itu ke dalam tangan Ding Tao.
366
Jika seorang mengusut satu kejahatan, yang pertama kali dia lakukan adalah mencari siapa yang memiliki motif untuk melakukan kejahatan itu. Apa tujuan kejahatan itu dilakukan? Balas dendam? Keserakahan? Keuntungan apa yang ingi diraih pelakunya lewat kejadian itu?
Setiap penjahat yang licin mengerti akan hal ini, sebelum memulai aksinya, terlebih dahulu dia berusaha untuk mengaburkan motif itu. Dalam hal ini Tuan besar Huang Jin lah penjahatnya, meskipun bila kau tanya dirinya, mungkin dia tidak akan merasa apa yang dilakukannya adalah satu kejahatan. Inilah bentuk rasa baktinya bagi leluhur, bentuk rasa kasihnya pada anak cucunya. Dengan berjuang, berusaha mengangkat nama keluarga meskipu dirinya harus berendam dalam lumpur untuk dapat menggapainya.
Arak yang dia hidangkan mengandung racun yang akan membuyarkan himpunan hawa murni seseorang. Tidak cukup demikian, diutusnya puteri kesayangannya untuk mengantarkan bungkusan obat untuk membantu Ding Tao memulihkan kondisinya yang kelelahan. Obat itu mengandung ramuan semacam obat tidur, ditambah dosis yang lebih kuat dari racun pembuyar hawa murni yang dicampurkan ke dalam arak.
367
Tidak perlu heran jika Ding Tao akan tertidur lelap setelah meminum obat itu, karena obat itu memang meredakan ketengangan dan membantu seseorang yang mengalami luka-luka yang menyakitkan tubuh untuk tidur dengan tenang. Lengkap sudah rencananya, Ding Tao akan tertidur dengan pulas dan hawa murni yang buyar.
Tuan besar Huang Jin sendiri harus meminum obat penawar dan memulihkan diri karena dia meminum racun yang sama dengan yang diminum Ding Tao. Untuk melaksanakan tugas selanjutnya, diserahkannya pekerjaan itu pada orang kepercayaannya Tiong Fa. Tiong Fa kemudian memilih Zhang Zhiyi untuk membantu dia mengerjakan hal itu.
Dia memilih Zhang Zhiyi karena jagoan yang satu itu mengenal banyak sekali ilmu dari perguruan lain. Rencana mereka adalah meninggalkan bekas pukulan yang khas, yang akan dikaitkan dengan sebuah perguruan di daerah utara. Zhang Zhiyi tidak perlu kuatir apakah ilmunya sudah cukup sempurna karena Ding Tao sudah buyar hawa murninya, yang penting adalah bekas yang ditinggalkannya.
Jaring sudah dipasang dengan rapat, lalu bagaimana ikan itu bisa lolos?
368
Adalah Huang Ying Ying yang mengacaukan rencana itu, gadis yang sedang jatuh cinta ini mendapatkan ide untuk mengambil pula obat penambah tenaga yang biasa dikonsumsi keluarga Huang untuk membantu mereka dalam proses memperkuat himpunan hawa murni mereka. Tuan besar huang Jin tidak menyangka gadis itu akan berani mengambil obat rahasia keluarga untuk orang luar.
Tapi gadis yang sedang jatuh cinta memang seharusnya tidak dipercaya. Apalagi gadis itu sama sekali tidak tahu menahu tentang rencana jahat ayahnya terhadap Ding Tao. Dilihatnya ayahnya begitu kagum dan perhatian pada pemuda itu. Dalam pikirannya jika sampai ayahnya tahu pun tentu tidak menjadi halangan.
Obat yang diambil Huang Ying Ying dengan diam-diam itulah justru yang menjadi penawar dari racun pembuyar hawa nurni.
Alhasil memang benar Ding Tao tertidur pulas bak orang sudah mati, tapi himpunan hawa murni dalam tubuhnya masih bekerja dengan baik. Saat Zhang Zhiyi memukul dadanya, hawa murninya secara naluriah melindunginya dari kematian. Pukulan itupun menyadarkan pemuda ini untuk sementara
369
waktu sehingga dia masih sempat melarikan diri dari kedua pembunuh itu.
Setengah sadar pemuda itu melarikan diri dari ancaman bahaya yang bisa dirasakan oleh nalurinya untuk bertahan hidup.
Jika ada sifat yang diwariskan secara turun temurun pada manusia, itulah naluriah untuk bertahan hidup. Mereka yang tidak mewarisinya tentu tidak akan mampu bertahan hidup di dunia purba yang keras.
Lalu di mana pemuda itu menghilang? Bukankah kesadarannya terganggu oleh khasiat obat tidur yang diminumnya? Ditambah dengan luka di jantungnya yang tidaklah ringan, bagaimana dia mampu menjaga kesadarannya sampai selamat di luar perbatasan kota?
Rasanya jawaban dari pertanyaan ini bukanlah misteri bagi para pembaca. Sudah jelas Ding Tao tidak akan mampu melarikan diri melampaui gerbang-gerbang kota yang dijaga ketat, dia juga tidak mungkin mampu merayap melewati dinding-dingin kota yang tinggi. Jangankan melakukan hal-hal
370
semacam itu, untuk lari keluar dari kediaman keluarga Huang pun dia tidak mampu.
Jadi di mana dia berada? Sudah tentu dia masih ada di dalam kediaman keluarga Huang.
Di mana?
Tentunya di tempat orang yang paling dekat dengan hatinya, tempat orang yang paling dipercayainya, dalam keadaan setengah sadar, hati dan nalurinya bekerja melampaui pikiran logisnya. Dengan langkah yang terhuyung-huyung, pemuda itu telah mengambil jalan-jalan pintas hingga sampai di depan kamar nona muda keluarga Huang, Huang Ying Ying.
Pemuda itu pingsan begitu dia sampai di depan pintu kamar, Huang Ying Ying tentu saja tidak tahu Ding Tao sedang terbaring pingsan di sana. Barulah ketika dia membuka pintu karena didengarnya ada keributan di luar, dia menemukan pemuda itu di sana.
Kaget dan khawatir, gadis itu tidak sempat berpikir panjang. Apalagi darah yang mengering, menodai sebagian besar bagian depan baju yang dikenakan pemuda itu.
371
Tanpa menunggu pertolongan orang lain, dengan susah payah, didukungnya tubuh Ding Tao hingga sampai ke atas pembaringannya sendiri.
Diaturnya baik-baik tubuh pemuda itu lalu diselimutinya. Setelah yakin pemuda itu aman berada di dalam kamarnya diapun bergerak untuk meninggalkan kamar dan menemui tabib pribadi keluarga Huang, yang tinggal di salah satu bangunan dalam kediaman keluarga Huang.
Tangannya sudah menyentuh pintu, ketika terpikir bahwa luka yang dialami Ding Tao menunjukkan bahwa ada orang yang berniat mencelakai pemuda itu, tidak terpikir olehnya betapa berbahayanya berkeliaran di luar kamar, bila ada orang yang sedang menyatroni rumahnya. Yang terpikir olehnya adalah keselamatan Ding Tao saat ditinggalkan.
Cepat-cepat gadis itu kembali, kali ini disiapkannya selimut tebal di lantai, di bagian yang tersembunyi oleh pembaringannya yang besar. Tubuh Ding Tao yang sudah dinaikkan ke atas, diturunkannya ke sana, diaturnya barang-barang lalu diperiksanya dari arah pintu. Setelah puas dengan hasil kerjanya barulah gadis itu pergi meninggalkan ruangan, hendak menuju ke bangunan tempat tabib itu tinggal.
372
Dia tidak berani berjalan dengan terang-terangan, karena teringat orang yang menyerang Ding Tao bisa jadi masih berkeliaran.
Bersembunyi dalam bayang-bayang gadis yang pemberani ini mengendap perlahan namun pasti.
Langkahnya tiba-tiba terhenti saat dilihatnya dua sosok berbaju dan berkedok hitam sedang berhadapan dan mempercakapkan sesuatu.
Lamat-lamat terdengarlah percakapan mereka.
Semakin lama mendengarkan semakin pucat wajah gadis itu. Baju hitam, kedok hitam, di malam yang gelap, apa ada orang berpikiran lurus bakal melakukan hal itu? Yang jelas apapun yang hendak mereka lakukan, keduanya menimbulkan kecurigaan orang yang memergokinya. Betapa kaget Huang Ying Ying, saat mereka menyinggung-nyinggung nama ayahnya.
Lebih pucat lagi wajahnya saat melihat adegan yag sudah kita ketahui dalam bab sebelumnya.
373
Tanpa banyak bertanya, gadis ini bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun hatinya memberontak dan belum bisa menerima kenyataan yang ada di hadapannya, gadis itu tidak membuang-buang waktu untuk kembali ke kamarnya. Ding Tao berada dalam bahaya dan tidak ada seorangpun di rumah itu yang bisa dipercayainya untuk menolong pemuda pujaannya itu.
Begitu sampai di dalam kamar ditutupnya pintu rapat-rapat, dengan jantung berdebaran dia bersandar di balik pintu. Matanya berkeliaran dengan liar, menjelajahi setiap sudut kamarnya. Sudah belasan tahun dia tinggal di kamar yang sama. Perubahan kecil dan besar dia lakukan, setiap apa yang ada di dalam kamar itu dia kenal benar, tapi kali ini matanya memandang lewat sudut pandang yang berbeda.
Di mana dia bisa menyembunyikan Ding Tao dengan aman? Di bawah tempat tidurnya? Di balik pemisah ruangan dari ukiran kayu tempat dia berganti pakaian? Atau di ruang sebelah, sebuah tempat dengan bak yang besar tempat dia mandi dan membersihkan diri?
Kamar Huang Ying Ying sangatlah luas. Dalam kamar seorang gadis sudah wajar jika ada pula lemari besar yang berisi
374
pakaian. Jika kamarnya demikian luas, lemari pakaian gadis itu pun sepadan dengan luas kamarnya.
Segala macam kain dengan berbagai macam warna bisa ditemukan di situ. Dari jahitan penjahit di sebelah utara kota, sampai penjahit yang tinggal di selatan kota ada juga di sana.
Di antara helai-helai kain dan baju yang bergantungan itulah Ding Tao menghabiskan waktunya, pingsan dengan tenangnya sementara di luar ratusan orang mengubek-ubek segala penjuru untuk mencari dirinya.
Luka pemuda ini sebenarnya cukup parah, beruntung hawa murninya sudah cukup mapan dan Zhang Zhiyi pun belum begitu menguasai ilmu pukulan yang digunakannya. Nafasnya tersengal-sengal, bahkan dalam tidurnya yang pulas oleh obat tidur pun pemuda itu masih sering menyeringai kesakitan.
Huang Ying Ying yang merasa khawatir oleh keadaan pemuda itu hanya bisa menyeka bagian-bagian tubuhnya yang ternoda darah.
Dia mengatur kain-kain tebal supaya pemuda itu dapat berbaring dengan sehangat dan senyaman mungkin. Untuk sesaat dipandanginya wajah Ding Tao yang pucat, dengan
375
sapu tangan dia menghapus keringat yang memenuhi dahi pemuda itu.
Tidak berani berlama-lama, gadis itu cepat-cepat menutup lemarinya, dengan hanya menyisakan sedikit celah sebagai lubang udara.
Ketika suara ramai orang melewati depan kamarnya, gadis ini berpura-pura terbangun oleh suara itu. Dibukanya pintu lalu ia melongokkan kepalanya keluar, menanyai orang-orang yang lewat, ―Paman, ada apa ribut malam-malam begini?‖
―Ada pembunuhan nona muda!‖
―Ada yang membunuh Tuan Zhang Zhiyi.‖
―Ada yang mencuri kitab pusaka ayah nona.‖
―Ding Tao pembunuhnya, sekarang dia sedang lari.‖
Beberapa orang menjawab berbarengan, suara mereka bercampur justru membuat penjelasan mereka tidak jelas, Huang Ying Ying tentu saja sebenarnya sudah mengetahui yang terjadi, bahkan lebih jelas dari mereka yang berbicara, tapi dia berpura-pura kebingungan.
376
―Paman, bicaralah satu per satu, apa yang sebenarnya terjadi?‖
Akhirnya salah seorang dari mereka berusaha menjelaskan dengan runut apa yang sudah didengarnya dari penjelasan Tiong Fa dan Tuan besar Huang Jin.
Sambil mengerutkan alis, Huang Ying Ying berpura-pura kesal, tidak sulit karena hatinya memang sedang penuh rasa khawatir dan juga marah. Khawatir pada keselamatan Ding Tao, serta marah pada ayah dan keluarganya.
―Apa tidak salah? Apa gunanya bagi Ding Tao untuk melakukan hal itu? Tidak tahukah kalian, baru saja dalam satu pertandingan persahabatan, tidak ada seorang pun jagoan dari keluarga Huang yang mampu mengalahkannya!‖
Mereka yang tahu bahwa nona muda mereka ini dekat dengan Ding Tao jadi merasa serba salah.
―Soal itu…, kami juga tidak mengerti… mengapa tidak nona bertanya pada ayah nona saja?‖
Sambil membanting kaki nona muda itu pun menjawab, ―Huh, kau kira aku tidak berani menanyakan pada ayahku? Lihat saja, selekasnya aku akan menghadap ayah.‖
377
Pintu pun dibanting tertutup, orang-orang saling berpandangan lalu mengangkat bahu. Salah seorang di antara mereka menyeletuk, ―Sebenarnya aku juga merasa ragu, masa Ding Tao bisa berbuat sekeji itu?‖
Tiba-tiba pintu kembali dibuka dan kepala Huang Ying Ying muncul di situ, tentu saja mengagetkan semua orang, ―Nah betul itu, kalian sudah kenal Ding Tao belasan tahun, apa dia ada potongan macam maling atau pembunuh?‖
Dan secepat kepala itu menongol keluar, secepat itu pula dia menghilang kembali di dalam.
Menghela nafas sambil menggelengkan kepala, mereka yang di luar saling berpandangan sambil tersenyum geli. Tapi pertanyaan itu ada dalam kepala mereka, bagi mereka yang mengenal dekat pemuda itu, tuduhan Tiong Fa tentu saja sangat tidak sesuai dengan watak Ding Tao yang mereka kenal. Hanya saja siapa yang berani meragukan perkataan Tiong Fa?
Tidak lama waktu yang dihabiskan Huang Ying Ying untuk merapikan diri, dengan bergegas dia pergi untuk menemui ayahnya. Setiap kali dia bertemu dengan rombongan orang
378
yang mencari Ding Tao, percakapan yang kurang lebih sama terjadi.
Dengan caranya sendiri gadis itu berusaha membersihkan nama pemuda pujaannya. Tangisannya disimpan rapat-rapat dalam hati, tidak ada yang bisa tahu betapa kalut dan hancur sesungguhnya hati gadis ini. Kebanggaannya sebagai nona muda keluarga Huang yang terhormat, tokoh aliran lurus yang dikenal akan kejujuran dan keadilannya, sekarang hancur berkeping-keping.
Lebih-lebih lagi, adalah pemuda yang dia kasihi yang sudah menjadi korban fitnah dan kekejian mereka.
Langkahnya yang cepat membawa dia menemui ayahnya yang sedang berunding dan memberi jawab pada orang-orang yang datang untuk bertanya.
Ketika melihat gadis itu, semua orang yang di sana terdiam. Ayahnya berjalan mendekati dengan raut sedih. Diraihnya puteri kesayangannya itu lalu dipeluknya, seperti ketika dia masih kecil. Tanpa terasa air mata meleleh dari kedua bola mata Huang Ying Ying yang bening.
379
Terisak-isak, dia menumpahkan segala perasaannya dalam dekapan ayah, yang masih dikasihinya, siapapun dia, apapun yang sudah dilakukan. Perasaan kasih yang tertanam bertahun-tahun lamanya tidak bisa dihilangkan begitu saja. Semua yang menyaksikan, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ada dalam hati gadis itu.
―Ayah… ayah… apakah benar kata orang?‖, sambil terisak dia bertanya, dalam hati dia berteriak, memohon ayahnya agar mengatakan yang sejujurnya.
Memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi, sosok ayah yang selalu tampil sebagai penyelamat. Akankah kali ini kembali tampil sebagai penyelamat? Bisakah ayahnya meluruskan yang salah, ketika itu dilakukan olehnya sendiri?
―Nak… Ying Ying, hentikan tangismu, dia bukan Ding Tao yang kaukenal dua tahun yang lalu. Kita semua tidak tahu, apa saja yang dialaminya selama dua tahun itu di luaran.‖
―Tapi ayah… ini Ding Tao. Dia… dia… dia tidak mungkin sekeji itu.‖, sambil menjauhkan diri ditatapnya kedua mata ayahnya dalam-dalam.
380
Tuan besar Huang Jin mengeluh dalam hati, terbayang masa kecil gadis itu, entah berapa kali gadis itu datang padanya dengan mata basah seperti sekarang ini dan dia akan selalu bisa membuatnya tersenyum kembali. Tapi tidak kali ini, dengan sedih orang tua itu menggelengkan kepalanya.
―Saudara Tiong Fa sendiri melihat kejadiannya.‖
―Apakah tidak mungkin salah?‖
―Apa kau menuduh Paman Tiong Fa berbohong?‖
―Bagaimana kalau Zhang Zhiyi yang berbohong?‖
―Kalau begitu mengapa Ding Tao harus lari? Dia bisa menjelaskan kebenarannya pada pamanmu.‖
―Bagaimana kalau Ding Tao khawatir bila Paman Tiong Fa tidak percaya padanya? Terbukti Paman Tiong Fa telah membantu Zhang Zhiyi melawan dirinya?‖
―Pamanmu sudah menyuruh mereka berhenti berkelahi, tapi Ding Tao yang terus menyerang, bahkan mengambil kesempatan saat Zhang Zhiyi mengendurkan serangan untuk
381
memenuhi permintaan kakekmu, Ding Tao memenggal kepalanya.‖
Akhirnya gadis itu menggigit bibir dan membanting kaki, ―Aku tidak percaya!‖
―Ying Ying! Jangan keras kepala!‖
―Ayah jahat!‖, teriak gadis itu sambil menyentakkan badannya dari pelukan sang ayah dan berlari kembali ke kamar.
Sambil berlari kembali ke kamar, air matanya bercucuran. Habis sudah harapannya, ayahnya tidak akan berbalik dari kesalahannya. Meskipun Huang Ying Ying tidak terlalu mengharapkan hal itu terjadi, tapi sungguh dia berdoa agar hal itu terjadi.
Sedikit penghiburan dalam hatinya, dia sudah berhasil menjalankan rencana yang terpenting. Sekarang, tidak akan ada seorangpun yang menyangka bahwa Ding Tao saat ini sudah berada dengan aman di dalam kamarnya.
Tuan besar Huang Jin menatap kepergian anak gadisnya dengan muka memerah. Memerah karena marah, marah karena perlawanan anak gadisnya terhadap dirinya sendiri,
382
marah karena terpaksa mengorbankan perasaan anak gadis kesayangannya. Marahnya itu pun akhirnya tertumpah pada Ding Tao dan Gu Tong Dang, jika saja mereka tidak berkeras untuk mengangkangi Pedang Angin Berbisik…
Dengan menggeram dia memberikan perintah, ―Apa pun yang terjadi, kalian cari anak itu dan bunuh dia di tempat! Tidak perlu membawanya menghadapku.‖
―Baik Tuan Huang.‖, gumam mereka yang ada di sana. Tidak berani lagi mereka bertanya lebih lanjut, siapa yang mau menanggung murka Tuan besar Huang saat itu?
Sungguh malam yang sangat sibuk, seperti sudah diceritakan sebelumnya, orang-orang Tuan besar Huang menjelajahi seluruh Kota Wuling dan untuk beberapa hari ke depan cerita tentang Ding Tao menjadi pembicaraan paling hangat, bukan hanya di Kota Wuling, tapi disebut-sebutnya Pedang Angin Berbisik membuat cerita itu menjadi cerita terhangat dalam dunia persilatan.
Nama Ding Tao pun terkenal sebagai jagoan pedang baru dalam dunia persilatan, sayang nama itu juga dikenal sebagai nama seorang tokoh yang tidak kenal budi dan kejam. Tapi
383
untuk sementara kita tidak sibuk mengurusi keramaian di dunia luas, kita harus berfokus pada apa yang terjadi di rumah kediaman keluarga Huang.
Bahkan lebih tepatnya lagi, kita berfokus hanya di salah satu bagian dari kediaman keluarga Huang yang sangat luas itu.
Yaitu di kamar pribadi nona muda keluarga Huang.
VIII. Cinta Huang Ying Ying

Malam itu, setelah bertengkar dengan ayahnya di depan banyak orang, masih ada beberapa hal penting lain yang terjadi.
384
Sesosok bayangan tampak bersembunyi di sudut bangunan, mengamat-amati kamar tempat Huang Ying Ying berada. Saat terlihat nona muda itu berlari menuju ke kamarnya sambil berulang mengusap mata, mengeringkan air mata yang tidak hentinya mengucur, terdengar desahan sedih bayang-bayang itu.
Menengok ke kiri dan ke kanan dilihatnya apakah ada orang di sana, keadaan sepi sudah lama orang menghentikan pencarian di bagian itu. Tapi masih juga ditunggunya beberapa lama. Saat orang itu yakin tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, dengan sedikit membungkuk dia berlari cepat ke arah Huang Ying Ying yang baru saja hendak membuka pintu kamarnya.
―Nona muda Ying, Nona muda Ying.‖, setengah berbisik, setengah memanggil, bayang-bayang itu ingin memanggil tapi takut juga jika suaranya terdengar orang lain.
Terlonjak kaget gadis itu saat tiba-tiba didengarnya suara memanggil. Cepat dia menutup kembali pintu yang baru saja dibuka, sambil bersender di depan pintu dengan suara gemetar dia bertanya, ―Siapa?‖
―Oh… Tabib Shao Yong… ada apa? Kau mengagetkanku.‖
385
―Maaf nona, maaf…sebentar… biar kuatur dulu nafasku.‖, dengan nafas tersengal tabib yang cukup berumur itu menyandar di tiang dekat pintu kamar Huang Ying Ying.
Sembari menunggu nafasnya teratur, matanya melihat ke sana ke mari, mengawasi keadaan di sekitar tempat itu, khawatir ada orang lain yang melihat. Huang Ying Ying yang melihatnya, jadi ikut pula melihat ke kiri dan ke kanan.
―Eh Tabib Shao, sebenarnya ada apa?‖, lenyap sudah tangisnya yang tadi berderai.
Maklum sifatnya memang periang jika dia tadi hingga sampai menangis itu karena memang beban yang tidak tertahan. Tapi menghadapi situasi yang unik dari Tabib Shao Yong, tidak urung rasa ingin tahunya lebih menonjol daripada kesedihan sebelumnya dan untuk sementara lupalah gadis itu dengan masalah antara ayah dan pemuda pujaan.
Tabib Shao Yong yang sudah tidak tersengal, sekali lagi memandang ke sekeliling tempat itu sebelum berbisik, ―Nona muda, tahukah kau obat apa yang tadi kauberikan pada Ding Tao?‖
386
Dengan perlahan Huang Ying Ying menggeleng, matanya menatap tajam pada Tabit Shao, mengharap penjelasan lebih lanjut.
―Menurut nona muda, apakah Ding Tao meminumnya?‖
Terdiam sesaat Huang Ying Ying akhirnya dengan ragu-ragu dia menjawab, ―Entahlah Tabib Shao, jika menurut setahuku Ding Tao yang kukenal akan meminum obat itu, tapi Ding Tao yang kukenal juga tidak akan membunuh Zhang Zhiyi apalagi jika alasannya untuk mencuri ilmu pusaka keluarga kami.‖
Tabib Shao, menggigit bibirnya sebelum dengan muka pucat dan keringat dingin menetes berkata, ―Nona, jika kukatakan bahwa Ding Tao tidak bersalah, akankah nona percaya? Jika kukatakan aku memiliki bukti-buktinya dengan jelas, akankah nona melindungiku?‖
Berkilat mata Nona muda Huang, ―Tabib Shao, aku percaya sepenuhnya bahwa Ding Tao tidak bersalah dan jika kau memiliki buktinya, aku akan melakukan apa pun yang ada dalam kemampuanku untuk melindungimu.‖
387
Kata-katanya jelas dan tegas, saat dia bersikap demikian, sikapnya tidak kalah berwibawa dari ayahnya. Tabib Shao yang menanggung beban di hatinya merasakan satu kelegaan besar.
―Nona, bisakah kita membicarakan ini di dalam kamarmu?‖
Dan cepat-cepat dia menambahkan, ―Saya tahu ini permintaan yang tidak sopan, tapi nyawaku mungkin berada dalam bahaya, dan bila aku meneruskan apa yang kuketahui pada nona, bukan tidak mungkin nyawa nona pun akan terancam bahaya.‖
Tercenung sesaat Huang Ying Ying dengan cepat mengambil keputusan, setelah memastikan tidak ada orang di sekitar situ, ia membuka pintu kamarnya dan menggamit Tabib Shao untuk ikut masuk. Ketika Tabib Shao hendak menutup pintu kamar, cepat gadis itu mencegahnya, ―Jangan, biarkan saja terbuka.‖
―Cukup paman berdiri menempel di sana, tidak akan terlihat dari luar.‖, ujarnya sambil menunjuk ke sebuah sisi dalam kamarnya, tidak jauh dari pintu, tapi dari luar tidak terlihat karena terhalang oleh tembok kamar.
Tabib Shao mengangguk tanpa banyak memprotes. Melihat Tabib Shao bergerak ke arah yang dia tunjukkan, Huang Ying Ying mengambil jarak, lalu duduk di sebuah kursi yang ada di
388
sana, lalu mengarahkan pandangan matanya keluar, tidak menatap ke arah Tabib Shao.
Dari luar tidak terlihat Huang Ying Ying sedang berbicara dengan seseorang di dalam kamarnya. Bila hal itu ketahuan juga atau bila Tabib Shao ternyata berniat jahat, maka pintu yang terbuka maka pintu yang terbuka bisa jadi bukti bahwa Huang Ying Ying tidak melakukan perbuatan yang tercela di sana. Dengan pengaturan yang demikian Huang Ying Ying juga dapat melihat keluar, mengamati keadaan di luar.
Dengan suara yang tidak terlalu keras dan pandangan mata ke arah luar Huang Ying Ying bertanya, ―Jadi, apa yang mau kau katakan Tabib Shao?‖
―Obat yang diminta ayahmu itu, memang baik buat kondisi Ding Tao yang menderita banyak luka luar di tubuhnya. Yang paling penting baginya adalah istirahat yang secukupnya, obat itu akan membuat pernafasannya menjadi longgar, aliran darah yang lancar, tapi juga… obat itu akan membuat Ding Tao tertidur dengan pulasnya.‖
389
―Jadi maksud paman, bila Ding Tao meminum obatnya, maka tidak mungkin dia akan dapat berkeliaran malam-malam dan menyatroni kamar ayahku…‖
―Ya, itulah nona.‖
―…Tapi seperti yang kukatakan, Ding Tao yang dulu pasti akan meminum obat yg kuberikan, Ding Tao yang dulu juga tidak akan melakukan kejahatan yang dituduhkan.‖, berdebar hati Huang Ying Ying, karena Tabib Shao mengatakan bahwa dia memiliki bukti, berarti ada jalan untuk membersihkan nama Ding Tao. Tapi jika itu benar, maka Tabib Shao memegang bukti yang akan menghancurkan nama keluarganya.
Tabib Shao menelan ludah beberapa kali sebelum dia menjawab, tanpa terasa tubuhnya sedikit gemetar membayangkan akibat dari apa yang telah dia lakukan, ―Nona… ketika aku mendengar apa yang dilakukan Ding Tao. Aku teringat dengan obat yang nona minta dariku, karena merasa penasaran, aku pergi ke kamarnya untuk memeriksa.‖
―Bau obat di kamar itu memastikan bahwa dia telah memasak obatnya, aku periksa ke setipa sudut dan bisa kupastikan obat
390
bukan pula dibuang. Lagipula untuk apa dia memasaknya jika obat itu hendak dibuangnya?‖
―Hanya itu saja Tabib Shao?‖
―Bukan nona, bukan hanya itu…‖, terdiam ragu Tabib Shao, haruskah dia meneruskan penjelasannya?
―Lalu, lanjutkan keteranganmu Tabib Shao.‖
―Sebenarnya saat aku sampai di kamar Ding Tao, bukan masalah obat yang menarik perhatian pertamaku. Tapi ceceran darah di lantai, tempat tidur yang patah, bekas-bekas orang memeriksa kamar itu.‖
Meskipun jantung Huang Ying Ying berdebaran, tapi dia berusaha tenang, ―Lalu apa kesimpulan paman, bagaimana hal itu menjadi bukti bahwa Ding Tao tidak bersalah?‖
Setelah mengambil nafas dalam-dalam, Tabib Shao melanjutkan, ―Nona muda, kita semua tahu sifat Ding Tao, kejadian malam ini tidak sesuai dengan sifatnya itu. Kemudian ada obat tidur itu, setelah melihat keadaan kamarnya satu gambaran terbentuk dalam pemikiranku.‖
391
―Jika Ding Tao ini Ding Tao yang kita kenal. Dan apa yang kita lihat sepanjang hari ini, menunjukkan bahwa Ding Tao yang sekarang sama jujur dan setianya dengan Ding Tao dua tahun yang lalu. Ding Tao tentu telah meminum obat yang kuberikan dan tidak lama kemudian dia akan tertidur pulas.Terbukti dari bau obat yang memuhi kamar, bahkan dari ceceran darah itu. Ya, ceceran darah itu sudah kuselidiki pula dan jelas bukan hanya ceceran darah, tapi ada juga bekas-bekas obat yang sudah bercampur dengan asam lambung, ikut tersembur bersama muntahan darah.‖
Menceritakan penemuannya tanpa terasa Tabib Shao menjadi semakin bersemangat, lupalah sudah tabib tua itu pada ketakutannya, ―Jadi nona lihat, ada cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa Ding Tao tertidur pulas oleh obat itu, lalu apa yang terjadi? Dari patahnya tempat tidur dan dari pola semburan darah yang terlhat berawal dari bagian pembaringan dekat bantal Ding Tao, bisa kubayangkan apa yang terjadi. Seseorang telah memanfaatkan keadaan Ding Tao yang tertidur pulas dan mengirimkan pukulan yang keras ke arah pemuda itu.‖
―Pukulan itu tentu dilambari pula dengan hawa murni, sehingga cukup berat sampai melukai bagian dalam tubuh Ding Tao dan
392
membuat dia menyemburkan darah. Meskipun sudah meminum obat tidur, tapi pukulan itu tentu akan membangunkannya dan mungkin saat itulah, entah dengan cara apa, Ding Tao melarikan diri dari penyerangnya.‖
Huang Ying Ying yang mendengarkan penjelasan Tabib Shao menjadi semakin tegang, kejadian itu bisa tergambar dengan jelas dalam benaknya. Ada perasaan bersalah karena dialah yang mengantarkan obat tidur itu pada Ding Tao, ada juga ketakutan bahwa Tabib Shao akan berhasil mengungkap rahasia yang akan menghancurkan nama keluarganya. Jika demikian, apakah yang harus dia lakukan? Tegakah dia untuk mengkhianati kepercayaan Tabib Shao pada dirinya dan melenyapkan tabib itu?
―Tapi satu hal yang pasti nona, bahwa cerita Tuan Tiong Fa adalah cerita bohong. Kukira, kejadian sebenarnya adalah dia menyusup ke dalam kamar Ding Tao untuk mencuri Pedang Angin Berbisik. Kemudian Zhang Zhiyi memergokinya sedang mengejar Ding Tao, saat itulah dengan Pedang Angin Berbisik di tangannya Tuan Tiong Fa memenggal kepala Zhang Zhiyi.‖
Sedikit terengah Tabib Shao bercerita, dipandangnya wajah Huang Ying Ying yang menegang, apakah gadis itu akan
393
percaya pada keterangannya? Dengan tegang dia menanti reaksi dari gadis itu.
―Tabib Shao, sadarkah kau dengan tuduhanmu itu? Lalu bagaimana dengan tercurinya buku pusaka keluarga Huang milik ayah?‖
―Kukira nona, Tuan Tiong Fa sudah terlebih dahulu mencurinya sebelum pergi ke kamar Ding Tao, atau bisa juga Zhang Zhiyi memergoki dia saat dia keluar dari kamar ayah nona dan bukan saat dia keluar dari kamar Ding Tao. Meskipun kupikir kemungkinan pertama yang lebih mungkin, karena jika tidak tentu Tuan Tiong Fa tidak akan berani melemparkan kesalahan pada Ding Tao.‖
Mendengar jawaban Tabib Shao, perlahan-lahan pahamlah gadis ini akan sangkaan dari Tabib Shao itu dan sebagian besar dari ketegangannya menghilang. Rupanya tabib tua ini tidak menyangka bahwa Tiong Fa melakukan itu semua atas perintah ayahnya. Dan kalau dipikir baik-baik, memang ini lebih mudah dipercaya daripada kenyataan yang sesungguhnya. Dihadapkan pada pertentangan antara, kenyataan yang dia lihat di kamar Ding Tao dan pernyataan Tiong Fa, sampailah tabib tua ini pada kesimpulan itu.
394
Sekarang tabib tua ini menemui dirinya, tentu karena berharap bahwa dia bisa menyampaikan hal itu pada ayahnya. Sekarang apa yang harus dia lakukan, otak gadis ini berputar keras. Apa yang diketahui Tabib Shao sangatlah penting bagi Ding Tao. Jika dia tidak berhati-hati, nyawa tabib tua itu bisa hilang. Pada saat yang sama gadis itu harus memikirkan nama baik keluarganya.
―Tabib Shao, mengapa tidak kau temui ayah dan menceritakan hal ini?‖, tanya gadis itu dipicu rasa ingin tahu.
―Masalahnya, ketika aku hendak menemui ayah nona, kulihat Tuan Tiong Fa ada juga di sana. Menunggu sekian lama, tidak juga Tuan Tiong Fa beranjak dari sisi ayah nona. Kemudian aku berpikir, bahwasannya Tuan Tiong Fa adalah salah satu orang kepercayaan ayah nona. Aku takut, keteranganku tidak dipercaya. Kemudian teringat di antara keluarga Huang, hanya nona yang berlaku sangat baik terhadap Ding Tao, dari dulu hingga sekarang. Jadi dalam kebingunganku, kuputuskan untuk menemui nona. Kuharap nona bisa memberi jalan keluar.‖, jawab tabib tua itu dengan sedih, mengingat situasinya yang serba sulit saat ini.
395
Lama gadis itu terdiam, saat dia berbicara suaranya terdengar tenang, sebuah rencana sudah terbentuk dalam benaknya, ―Tabib Shao apakah kau sempat melihat Kakak Ren Fu? Apakah dia ikut dengan orang-orang lain mencari-cari Ding Tao?‖
―Terakhir kulihat, kakak nona Huang Ren Fu memimpin sekelompok penjaga, mencari-cari di sekitar kompleks utara.―
Nona muda itu berdiri lalu melangkah ke luar, sekali lagi dilihatnya keadaan yang sepi-sepi saja. Sesudah kelompok yang tadi lewat, tidak ada lagi yg melewati bagian ini untuk kedua kalinya. Tangannya mengepal, rencana sudah tersusun, seperti orang yang hendak melemparkan dadu dalam sebuah perjudian. Berhasil atau gagal, menang atau kalah, bahkan hidup atau mati, terkadang hasil akhir dari hal-hal yang penting dalam hidup ini terasa tidak ubahnya seperti perjudian.
Sambil menutup pintu kamar dia berkata pada Tabib Shao, ―Tabib Shao, sebelum aku kembali, jangan buka pintu kamar dan jangan biarkan seorangpun masuk ke dalam, sebisa mungkin biarkan orang berpikir bahwa tidak ada siapa-siapa di dalam.‖
396
―Sebentar aku akan pergi mencari Kakak Ren Fu dan merundingkan hal ini bersamanya, sementara itu kau periksalah isi lemari pakaianku.‖
Dadu sudah dilemparkan, tidak ada lagi kesempatan untuk mundur. Huang Ying Ying menutup pintu kamarnya dan bergegas mencari kakaknya yang dia percayai Huang Ren Fu.
Dua bersaudara ini memang sangat dekat satu dengan yang lain. 6 tahun lamanya Huang Ren Fu menjadi anak bungsu dalam keluarga itu. Ketika tahu ibunya sedang mengandung anak yang ke-5 bukan main senangnya anak itu. Akhirnya dia bukan lagi menjadi yang terkecil.
Kakaknya yang sulu Huang Ren Fang, memiliki sifat yang keras pada adik-adiknya. Bukan jahat, hanya keras, sebagai putera sulung, dia memiliki kesadaran yang tinggi akan aturan keluarga dan hal itu diterapkannya pula pada adik-adiknya. Anak yang kedua, Huang Ren Yi, sifatnya pendiam, dia lebih suka menyendiri dan membaca buku. Anak yang ketiga, Huang Ren Ho, orangnya sangat jahil, Huang Ren Fu seringkali dikerjainya, lagipula kakaknya yang ketiga ini lebih suka keluyuran di luar dan bermain dengan teman-teman sebayanya.
397
Itu sebabnya Huang Ren Fu sangat menantikan kehadiran adiknya, saat yang lahir adalah seorang bayi perempuan yang mungil dan manis, Huang Ren Fu kecil memandangi bayi itu dengan tatapan mata yg penuh rasa kagum dan sayang. Belum pernah dia melihat makhluk semungil dan semanis itu.
Dalam hati Huang Ren Fu kecil berjanji untuk melindungi dan menjaga adik bungsunya ini. Tentu saja seluruh keluarga memberikan perhatian dan kasih sayang yang besar pada anak perempuan keluarga Huang yang satu-satunya ini, tapi tidak sebesar Huang Ren Fu.
Sepasang kakak beradik ini pun menjadi sepasang bersaudara yang seperti tidak terpisahkan. Di mana ada Huang Ying Ying, tentu ada Huang Ren Fu, demikian juga sebaliknya.
Sekarang dalam menghadapi permasalahan yang rumit Huang Ying Ying sadar, dia butuh orang-orang yang akan dapat membantunya. Kehadiran Tabib Shao telah menyadarkan gadis itu, masalah ini terlalu besar untuk diselesaikannya sendiri tanpa bantuan orang lain dan dia butuh orang-orang yang dapat dipercayainya.
398
Gadis itupun pergi ke sana ke mari untuk mencari Huang Ren Fu, karena sang kakak sudah tidak ada di kompleks utara. Bertanya kian ke mari ditelusurinya jejak sang kakak.
Pada saat itu, Tabib Shao yang ditinggal sendirian di kamar Huang Ying Ying sedang terkejut karena mendapati Ding Tao terbaring di dalam lemari pakaian Huang Ying Ying.
Muncul banyak pertanyaan, mengapa Ding Tao bisa berada di sana, tapi dorongan panggilan hidupnya sebagai seorang tabib dengan segera mengambi alih. Cepat dibukanya baju pemuda itu dan memeriksa luka di dada pemuda itu. Dengan kening berkerut, dia meraba denyut nadi Ding Tao, kemudian sekali lagi diperiksanya luka-luka pemuda itu.
―Hmmm… apakah tinju 7 luka? Siapa yang melukainya? Apakah aku sudah salah sangka?‖
Kemudian sambil menggelengkan kepala dia bergumam pada dirinya sendiri, ―Tidak, tidak, keadaan Ding Tao saat ini justru membuktikan kebenaran dugaanku, dia masih tertidur pulas oleh obat itu, meskipun dalam keadaan terluka. Mungkin masalahnya lebih rumit dari dugaanku tapi Ding Tao tidak melakukan yang dituduhkan Tuan Tiong Fa, entah Tuan Tiong
399
Fa membohong dengan kemauan sendiri atau masih ada intrik lain adalah masalah yang berbeda. Bisa juga bahwa ternyata secara diam-diam Tuan Tiong Fa sudah membuat persetujuan dengan pihak luar.‖
Cepat tabib tua itu mengambil sekantong jarum dari jubahnya yang longgar, dengan gerakan yang cekatan dia menancapkan jarum-jarum itu di tempat tertentu. Kemudian dikeluarkannya sebotol kecil obat gosok, dengan sabar diurutnya tubuh pemuda itu.
Tidak lama kemudian, nafas Ding Tao sudah jauh lebih teratur. Melihat itu Tabib Shao menarik nafas lega.
Di tempat yang lain Huang Ying Ying berhasil menemukan kakaknya Huang Ren Fu, setelah berhasil mengajak kakaknya itu untuk berbicara empat mata, dengan terbuka diceritakannya semua yang terjadi tanpa menutupi satu hal pun.
Huang Ren Fu yang mendengar bagaimana para pimpinan keluarga Huang sudah tersangkut paut dengan fitnahan pada diri Ding Tao dan juga usaha pembunuhan terhadap pemuda itu, menjadi pucat wajahnya.
400
Setelah tercenung beberapa saat lamanya, dengan perlahan dia berkata, ―Sungguh memalukan. Jika kabar ini sampai tersiar keluar, nama keluarga Huang akan hancur seluruhnya. Adik Ying, kita harus berhati-hati dalam masalah ini. Aku sependapat denganmu, kita harus berusaha menolong Ding Tao lolos dari rumah ini dengan selamat. Tapi masalah siapa penyerangnya dan keterlibatan orang-orang keluarga Huang juga tidak boleh sampai tersiar keluar.‖
―Menurut kakak, apakah rencana yang kuceritakan pada kakak tadi mungkin berhasil?‖
―Hmm, kurasa rencanamu adalah rencana yang terbaik yang bisa kita lakukan. Hasilnya bukan yang terbaik, tapi itu yang terbaik yang bisa kita capai pada situasi saat ini.‖
Tidak lama kemudian, kakak beradik itu pergi menemui Tabib Shao di kamar Huang Ying Ying. Ding Tao masih saja tertidur pulas. Huang Ren Fu kemudian memaparkan sebagian dari rencananya pada Tabib Shao, yang dengan senang hati menerima rencana itu. Tentu saja, yang diketahui Tabib Shao, hanyalah sebagian saja bahkan hanya kulit luar dari rencana itu. Karena dugaan Tabib Shao masih jauh dari kenyataan yang sebenarnya, akan tetapi justru dengan memanfaatkan kesalah
401
pahaman inilah Huang Ying Ying mendapatkan jalan keluar bagi masalah yang dia hadapi saat ini.
―Tapi ingat Tabib Shao, tentang keberadaan Ding Tao, janganlah kau katakan pada siapapun, bahkan terhadap ayah.‖
Alis Tabib Shao sedikit berkerut, keberadaan Ding Tao di kamar gadis itu memang bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang akan menyudutkan gadis itu. Tapi bukankah justru sebaiknya ayah gadis itu mengetahuinya? Dengan demikian Tuan besar Huang Jin akan dapat mengatur pengaturan yang sebaik-baiknya bagi pemuda itu.
Dengan sedikit ragu Tabib itu mengemukakan pendapatnya, ―Tapi nona, jika Tuan besar Huang Jin sudah menerima laporan dariku, tentu dia akan dapat menimbang yang sebaik-baiknya. Dengan kedudukannya akan lebih mudah bagi ayah nona untuk mengatur pengamanan terhadap Ding Tao yang saat ini masih terluka dalam.‖
Huang Ren Fu-lah yang menjawab, ―Ada juga bahayanya paman, tidakkah paman tahu bahwa Paman Tiong Fa selama bertahun-tahun ini menjadi orang kepercayaan ayah? Ada dua kemungkinan, ayah kurang percaya dengan uraian Paman
402
Shao, kemudian menyampaikan temuan paman pada Paman Tiong Fa. Meskipun Paman Tiong Fa tidak akan berani menurunkan tangan jahat pada Paman Shao karena akan membangkitkan kecurigaan ayah. Tapi bukan tidak mungkin Paman Tiong Fa akan memiliki siasat untuk menghabisi nyawa Ding Tao yang memang sedang terluka parah.‖
―Mungkin dengan satu cara, dia bisa membuat keadaan Ding Tao menjadi semakin parah lalu seperti meninggal oleh luka-lukanya.‖
―Mungkin juga ayah mempercayai kita sepenuhnya dan tidak membocorkan rahasia ini pada Paman Tiong Fa. Tapi sudah bertahun-tahun Paman Tiong Fa menjadi orang kepercayaan ayah, apakah tidak ada orang-orang kepercayaannya yang sudah diselipkan dalam keluarga kita? Kemungkinan besar ada, tapi ada berapa orang dan siapa orangnya? Paman Shao tahu sendiri, betapa cerdiknya Paman Tiong Fa.‖
Bergidik Tabib Shao Yong mendengarkan penjelasan Huang Ren Fu, dalam benaknya sudah terbentuk bayangan akan adanya orang-orang jahat bermuka manis, tersebar dalam keluarga Huang dan pimpinannya adalah Tiong Fa, bahkan bukan tidak mungkin Tiong Fa sendiri hanyalah seorang pion.
403
Teringat temuannya atas luka pukulan yang membuat Ding Tao luka parah.
―Ah, saya jadi teringat, ada sesuatu dengan luka Ding Tao ini. Luka ini menurut pengamatanku disebabkan oleh Tinju 7 luka mliki Perguruan Kongtong.‖
―Tinju 7 luka?‖, terangkat alis Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying mendengar temuan terbaru dari Tabib Shao.
―Ya, benar, Tinju 7 luka. Pukulan ini adalah ilmu pukulan khas Perguruan Kongtong, meskipun aku bisa meringankan penderitaan Ding Tao. Tapi aku kuatir, aku tidak akan bisa menyembuhkannya sampai sembuh total. Pada waktu-waktu tertentu, bisa jadi lukanya akan kambuh tiba-tiba, membuat jalan darah dan aliran hawa murninya terganggu. Seiring dengan bertambahnya umur dan melemahnya tubuh, bekas luka yang ditimbulkan oleh pukulan ini akan memburuk.‖
Dengan cemas Huang Ying Ying bertanya, ―Apakah luka itu akan membahayakan jiwanya Tabib Shao?‖
―Dibilang membahayakan jiwa tidak juga, mungkin lebih mirip penyakit rematik yang diderita orang tua. Tapi sebagai orang
404
dunia persilatan, jika bekas luka itu kambuh di tengah-tengah suatu pertarungan kan berabe juga.‖
―Apakah Paman Shao tidak bisa berbuat apa-apa lagi?‖
Dengan sedih tabib tua itu menggeleng, ―Ilmu pengobatanku hanya bisa menyembuhkan sebagian besar luka yang disebabkan oleh pukulan itu, tapi hawa murni yang bersifat merusak dari pukulan itu sendiri masih mengeram di dalam tubuh Ding Tao. Masih baik, dasar hawa murni dari Ding Tao sudah cukup mapan, sehingga dengan begitu mampu menahan serangan hawa murni jahat yang mengeram dalam tubuhnya. Mungkin suatu saat nanti jika himpunan hawa murni Ding Tao sudah jauh lebih sempurna, dia bisa mengenyahkan sendiri hawa murni jahat itu dari dalam tubuhnya.‖
―Apakah tidak ada jalan lain, Tabib Shao?‖
Berpikir sejenak tabib tua itu merenung, ―Kukira dalam masa ini hanya 3 orang yang memiliki ilmu tenaga dalam yang cukup mahir dan mapan untuk menyembuhkan Ding Tao. Biksu Khong Zhe dari Shaolin, Pendeta Chongxan dari Wudang dan Ren Zuocan, ketua sekte Matahari dan Bulan dari luar perbatasan.‖
405
―Bagaimana dengan ayah?‖, dalam kecemasannya Huang Ying Ying sempat terpikir untuk mengambil resiko dan memohon pada ayahnya.
Tabib Shao menggeleng, ―Maafkan aku nona, kukira tingkatan ilmu tenaga ayah dalam nona belum mampu untuk itu. Masih ada satu jalan lain juga sebenarnya.‖
―Jalan apa itu Tabib Shao?‖, dengan mata berbinar Huang Ying Ying bertanya.
―Pergi ke Perguruan Kongtong, atau setidaknya mendapati murid Perguruan Kongtong yang sudah sempat mewarisi ilmu pukulan Tinju 7 luka. Karena luka itu diakibatkan oleh ilmu mereka, dengan sendirinya bisa diharapkan kalau mereka pula tahu cara pengobatannya.‖
―Ah… Perguruan Kongtong begitu jauh di utara, lagipula kata orang ketua perguruan Kongtong saat ini, sifatnya sukar diduga, lurus tidak, gelap juga tidak. Lebih sukar dibanding mengharapkan pertolongan dari Biksu Khongzhe di Shaolin …‖, ujar Huang Ying Ying dengan sedih.
Mereka bertiga terdiam sejenak, kemudian Tabib Shao yang pertama memecahkan keheningan, ―Dalam beberapa hari
406
kondisi Ding Tao akan pulih, sejauh ilmu pengobatanku memungkinkannya. Saat itu dia sudah dapat beraktivitas seperti biasa, kecuali jika luka itu kambuh. Tidak ada jalan lain, dia harus pergi menemui mereka yang bisa menyembuhkannya. Biksu Khongzhe dan Pendeta Chongxan terkenal dengan wataknya yang penuh belas kasih, kukira besar kemungkinan mereka akan membantu anak muda itu.‖
―Tapi perjalanan begitu jauh, belum lagi masalah Ding Tao dengan keluarga Huang dan desas-desus tentang Pedang Angin Berbisik tentu sudah tersebar luas pada saat itu. Perjalanannya akan dipenuhi mara bahaya.‖, keluh Huang Ying Ying dengan sedih.
―Tidak ada jalan lain nona, hanya itu yang bisa kita lakukan, sisanya sepenuhnya tergantung pada usaha dan nasib baik anak itu sendiri.‖, sahut Tabib Shao dengan perlahan.
Huang Ren Fu mengangguk sambil menggertakkan rahangnya kuat-kuat, ―Ya, kita tidak perlu terlampau jauh mengkhawatirkan hal itu. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah membantu Ding Tao sebisa mungkin. Ding Tao seorang laki-laki sejati, cobaan ini akan semakin menggembleng dirinya menjadi orang kuat. Sudahlah Adik Ying, dia bukan anak cengeng yang masih
407
memerlukan seorang ibu untuk memeluknya setiap kali kakinya terantuk batu.‖
Dengan wajah sedih, Huang Ying Ying mengangguk perlahan.
Menghela nafas dalam-dalam, Huang Ren Fu menepuk bahu adiknya yang sedang bersedih dan mengambil alih pimpinan, ―Tabib Shao, mari kita sembunyikan kembali Ding Tao ke dalam lemari pakaian Adik Ying. Kemudian tunggulah di kamar ini sementara aku dan Adik Ying mengumpulkan orang-orang yang bisa dipercaya untuk mengokohkan kedudukan kita menghadapi siasat gelap Paman Tiong Fa.‖
Hari sudah menjelang subuh saat belasan orang pemuda berkumpul dengan diam-diam di depan kamar Huang Ying Ying, di antara mereka terlihat ada Feng Xiaohong dan Zhu Lizhi. Wang Sanbo mungkin adalah satu-satunya orang tua yang ada di situ. Terlihat mencolok di antara wajah-wajah muda dan penampilan yang rapi. Tapi jago tua itu tidak ambil peduli, bersandar di salah satu tiang, dia diam saja sementara yang lain saling berbisik, menduga-duga mengapa Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu mengumpulkan mereka di situ.
408
Ada juga yang sempat berpikiran sedikit nyeleneh, membayangkan sebentar lagi mereka akan mengintip masuk ke dalam kamar seorang gadis. Apalagi gadis itu Huang Ying Ying yang cantik dan menggemaskan. Yang berpikir demikian tentu saja hanya menyimpannya dalam hati tidak berani mengucapakan keras-keras.
Tidak lama kemudian Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu muncul dari tikungan bersama dengan seorang pemuda lainnya.
Begitu mereka sampai Huang Ying Ying segera membuka pintu kamar dan masuk ke dalam, Huang Ren Fu pun mempersilahkan mereka semua untuk masuk ke dalam. Meskipun Huang Ying Ying sedikit kelaki-lakian dan adatnya pun sangat terbuka, tidak urung hatinya sempat merasa jengah sudah membiarkan belasan pemuda masuk ke dalam kamarnya. Tapi demi keselamatan Ding Tao, ditekannya kuat-kuat segala perasaan itu. Dalam hati dia berjanji, awas saja kalau ada yang berani nyengir kurang ajar, bakal dia tendang sampai mampus orang itu.
Ruangan yang luas itu pun jadi terasa sedikit sempit karena tiba-tiba terisi dengan belasan orang jumlahnya.
409
Ketegangan menghiasi hampir setiap wajah, dalam hati mereka menebak-nebak apa tujuan Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu mengumpulkan mereka di sini. Apakah ada hubungannya dengan terbunuhnya Zhang Zhiyi? Lalu mengapa pula di sana sudah menunggu Tabib Shao Yong?
Di antara mereka mungkin hanya Wang Sanbo saja yang berdiri diam dengan wajah tanpa ekspresi. Bukan tanpa alasan kalau Tuan besar Huang suka mengirimkan jagoan tua ini untuk menagih hutang langganan yang nakal. Dipandangi oleh Wang Sanbo yang sangar ini, tanpa seucap katapun, lama kelamaan orang yang pemberani pun menjadi keder hatinya. Yang pandai bersilat lidah pun akan mati kutu menghadapi Wang Sanbo yang pendiam. Dirayu, diberi ribuan alasan, dimintai belas kasihan bahkan diancam, dia hanya berdiri diam dengan bon penagihan utang di tangan.
Ketika diperhatikan siapa saja yang datang, maka bisa didapati mereka semuanya adalah orang-orang yang diundang ke perjamuan makan malam kemarin dan mereka semua adalah orang-orang yang bersimpati pada Ding Tao.
Tidak mudah menyusun siapa-siapa yang akan diundang, tapi Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu akhirnya berhasil juga
410
menyusun daftar itu. Mereka yang masuk dalam daftar itu, memiliki kedudukan yang cukup pentin tapi belum cukup penting untuk dipercayai dengan rahasia-rahasia keluarga. Mereka ini juga dikenal jujur dalam perbuatannya. Faktor terakhir adalah, dalam pertandingan persahabatan itu, mereka ini menunjukkan simpati pada Ding Tao.
Setelah memastikan keadaan sudah tenang dan perhatian semua orang mulai tertuju pada dirinya dan Huang Ying Ying, Huang Ren Fu pun membuka pertemuan.
―Kukira, kita semua sudah bisa menduga, jika aku dan Adik Ying sekarang ini mengumpulkan kalian malam. Hal ini berhubungan erat dengan terbunuhnya Saudara Zhang Zhiyi dan tuduhan yang dilemparkan ke atas pundak Ding Tao. Kita semua sudah cukup mengenal watak pemuda itu, hingga sulit rasanya untuk menerima tuduhan yang diberikan. Tapi bukan hanya berdasarkan rasa simpati dan persahabatan aku mengumpulkan kalian, melainkan karena Tabib Shao menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Ding Tao tidak bersalah seperti yang dituduhkan padanya.‖
Terkejutlah setiap orang, meskipun mereka sudah bisa menduga-duga hal ini namun mau tidak mau, ketika Huang Ren
411
Fu membenarkan dugaan mereka, ada juga rasa terkejut dalam hati, karena ini menyangkut erat dengan Tiong Fa, salah satu pimpinan dari keluarga Huang.
Pandang mata mereka, langsung saja berpindah ke arah Tabib Shao Yong yang sedikit gemetar.
Huang Ren Fu menepuk pundak Tabib itu untuk menenangkannya, ―Tabib Shao, sampaikanlah penemuanmu ini pada mereka. Ceritakan saja seperti kau menceritakannya padaku dan Adik Ying kemarin.‖
Dengan mengumpulkan segenap keberanian mulailah Tabib Shao menjelaskan satu per satu, kecurigaan dan dugaannya, pemeriksaan yang dia lakukan, temuan yang dia dapati, sampai dengan kesimpulan yang bisa dia tarik darinya.
Gegerlah kamar itu dengan seruan-seruan terkejut dan marah. Pertanyaan-pertanyaan diajukan pada Tabib Shao Yong. Sedapat mungkin tabib itu menjawab, sesekali Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu membantu. Tidak jarang dari mereka sendiri saling berdebat dan mengajukan pandangan.
Tapi secara keseluruhan bisa tertangkap, bahwa mereka mempercayai kebersihan Ding Tao dalam hal ini dan lebih
412
condong untuk menunjuk Tiong Fa sebagai pihak yang dengan licik sudah memfitnah Ding Tao. Perkembangan ini tentu membuat Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu lega.
―Lalu mengapa tidak sekarang juga kita temui saja Tuan besar Huang Jin dan bersama-sama menangkap penjahat licik itu?‖, seru salah seorang dari mereka.
Yang berseru itu tiba-tiba sadar bahwa di sampingnya berdiri Zhu Lizhi yang merupakan salah seorang murid asuhan Tiong Fa. Tanpa terasa dia jadi terdiam dan menggeser tubuhnya menjauh dari Zhu Lizhi. Beberapa yang lain jadi ikut menyadari hal itu, pandang mata merekapun jatuh pada Zhu Lizhi.
Zhu Lizhi yang melihat itu jadi tersenyum getir, dalam hatinya tentu saja ada rasa sakit, karena gurunya dituduh telah melakukan satu pengkhianatan. Tapi Zhu Lizhi bukan membuta bersetia pada Tiong Fa, dia justru lebih paham akan kelicikan gurunya dibandingkan orang lain dan karenanya lebih mudah untuk menerima kemungkinan itu. Apalagi bukti dan dugaan yang disebutkan Tabib Shao Yong cukup kuat.
Dengan lemah pemuda ini menggelengkan kepala, ―Jangan kuatir, aku tidak akan membocorkan hal ini pada guru. Lagipula
413
pada dasarnya kesetiaanku yang pertama adalah pada keluarga Huang. Keluargaku sudah berpuluh tahun bekerja pada keluarga Huang. Niatku untuk mengabdikan diri pun adalah pada keluarga Huang. Hanyalah satu kebetulan jika kemudian aku ditempatkan di bawah pengawasan Guru Tiong Fa.‖
―Tapi aku bisa menjawab, mengapa Tuan muda Huang Ren Fu tidak akan memutuskan untuk dengan segera menangkap guru. Yaitu karena kedudukan guru yang sangat penting dalam keluarga Huang, lagipula hitam putihnya masalah ini belumlah diketahui dengan jelas, siapa saja yang tersangkut di dalamnya? Apakah masih ada susupan-susupan lain dalam keluarga Huang? Lebih dari siapapun di dalam ruangan ini, aku mengetahui kecerdikan guru dan ketelitiannya dalam mengerjakan satu masalah.‖
―Jika kita pergi sekarang ke kamar Ding Tao, aku yakin bahwa kamar itu sekarang sudah bersih tanpa bekas-bekas yang mencurigakan. Adalah satu keberuntungang bahwa Tabib Shao bisa memeriksa tempat itu tanpa terpergok siapapun. Terlambat sedikit saja, mungkin mereka yang disuruh untuk membersihkan jejak dari tempat itu akan memergokinya dan nyawa Tabib Shao Yong pun ikut dibersihkan.‖
414
Mendengar uraian Zhu Lizhi, tanpa terasa bulu kuduk Tabib Shao jadi berdiri. Keingin tahuannya mendorong dia untuk menyelidik kamar Ding Tao tanpa sebelumnya terpikir betapa berbahayanya hal itu. Karena jika benar Ding Tao tidak bersalah, itu berarti Tiong Fa sudah membohongi mereka, dan betapa berbahayanya memiliki musuh seperti Tiong Fa.
―Saudara Zhu benar, itu sebabnya aku dan Adik Ying tidak langsung menemui ayah, melainkan mengumpulkan kalian semua di sini terlebih dahulu.‖ , sahut Huang Ren Fu.
―Menghadapi intrik yang rumit dengan Paman Tiong Fa berdiri di pihak yang berlawanan, aku ingin meminta bantuan kalian, yaitu yang pertama untuk membantu kami melindungi Tabib Shao Yong sebagai saksi kunci. Yang kedua untuk dengan berahasia mengamati gerak-gerik Paman Tiong Fa. Yang ketiga adalah dengan diam-diam berusaha mengetahui keberadaan Ding Tao saat ini.‖, pemuda itu kemudian menjelaskan secara lebih terperinci rencana yang sudah dipikirkan oleh dia dan adiknya.
Pertama mereka yang berkumpul di kamar Huang Ying Ying ini, akan bersumpah setia, membentuk satu kelompok rahasia dalam keluarga Huang, dengan tujuan sebagai upaya untuk
415
membela diri terhadap kelompok rahasia lain yang tampaknya secara diam-diam hendak menghancurkan keluarga Huang dari dalam. Dugaan ini timbul saat mereka melihat bagaimana Tiong Fa, diam-diam telah melanggar perintah Tuan besar Huang Jin yang sudah diberikan sebelumnya.
Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu kemudian akan menemui ayah mereka dan menyampaikan temuan Tabib Shao Yong, serta inisiatif mereka untuk mengumpulkan orang-orang yang dapat dipercaya. Yang nantinya akan digunakan untuk mengawasi dan berusaha untuk mengungkap tabir di balik kebohongan Tiong Fa.
Huang Ren Fu pun dengan sigap membagi-bagi tugas di antara mereka. Zhu Lizhi sebagai murid Tiong Fa akan bertindak mengawasi tokoh itu, dibantu oleh beberapa orang lainnya. Bila memungkinkan Zhu Lizhi akan berupaya menemukan kembali Pedang Angin Berbisik yang diambil oleh Tiong Fa dari Ding Tao.
Sebagian lagi akan bertugas memastikan keselamatan Tabib Shao Yong sebagai saksi kunci dalam kasus terbunuhnya Zhang Zhiyi dan difitnahnya Ding Tao.
416
Sisanya akan bertugas untuk secara diam-diam berusaha mencari jejak Ding Tao, baik untuk menolong pemuda itu, sekiranya dia dalam masalah. Juga untuk mendapatkan lebih banyak lagi bukti dan petunjuk untuk meringkus Tiong Fa dan kelompok rahasianya.
Penugasan akan dilakukan secara bergantian, tanpa aturan dan pembagian yang ketat. Mereka harus mampu mengatur sedemikian rupa sehingga jumlah yang belasan itu bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dalam pertemuan itu mereka juga merundingkan bagaimana cara mereka saling mengirimkan pesan tanpa membocorkan rahasia kelompok kecil ini. Kapan pertemuan dilakukan dan sebagainya.
Mereka yang berkumpul ini, kecuali Wang Sanbo, adalah bibit-bibit muda keluarga Huang, pemuda-pemuda berbakat dan berotak encer. Sekian tahun mereka sudah berlatih tanpa ada tantangan yang benar-benar nyata. Darah muda mereka menggelegak menginginkan petualangan yang berbahaya. Sehingga pertemuan itu seakan menjadi saluran yang paling tepat kegairahan mereka.
Itu sebabnya ajakan Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying disambut dengan antusias, jika sebelumnya Huang Ying Ying
417
dan Huang Ren Fu yang membuat rencana, dengan cepatnya anggota kelompok yang lain saling berdiskusi dan dalam waktu singkat pembentukan kelompok rahasia ini bukan lagi melulu milik Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu.
Kedua besaudara itu pun saling melirik sambil tersenyum, Huang Ren Fu yang merasakan sebagian beban di pundaknya terangkat menarik nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Dibiarkannya saja yang lain dengan bersungguh-sungguh mendiskusikan langkah yang terbaik.
Wang Sanbo yang sejak tadi berdiam diri, berdiri, lalu melangkah mendekati Huang Ren Fu. Tidak ada yang memperhatikan keberadaan jagoan tua itu. Di mana pun dia berada, selalu saja dia menyendiri dan diam dalam kesendiriannya.
Tapi kali ini dia berdiri mendekati Huang Ren Fu. Huang Ren Fu menegakkan badannya dan menanti jago tua itu mengatakan sesuatu, alisnya terangkat bertanya tanpa kata, ―Ada apa?‖
Lama jago tua itu hanya berdiri, diam, kemudian dengan sopan dia membungkuk memberi hormat. Huang Ren Fu yang kaget
418
dengan gerakan Wang Sanbo yang di luar dugaan itu, hanya menatap dengan mata terbuka lebar. Heran, heran karena belum pernah jago tua ini sedemikian menghormat pada seseorang. Sikapnya dingin, tidak peduli aturan, mungkin hanya pada ayahnya jago tua ini membungkuk memberi hormat, itupun dilakukan dengan dingin.
Belum hilang kekagetannya, jago tua itu mendekat dan berbisik, ―Tuan muda, hati-hatilah dalam mengambil keputusan dan jangan pernah mengorbankan nilai-nilai yang kau pegang saat ini.‖
Dengan kata-kata itu, jago tua itu membalik badan lalu keluar dari kamar. Tidak ada orang lain yang melihat kejadian itu, kecuali Tabib Shao Yong dan adiknya Huang Ying Ying. Yang lain masih sibuk dengan diskusi mereka.
Tabib Shao Yong mengangguk-angguk seperti memahami sesuatu, lalu orang tua itu mengikuti apa yang dilakukan Wang Sanbo, dia berdiri memberi hormat pada Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying, lalu berpamitan dengan suara rendah meninggalkan ruangan.
419
Tinggallah Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu yang saling berpandangan dengan alis terangkat.
Huang Ren Fu hanya bisa mengangkat bahu kemudian bergabung dengan yang lain, memoles rencana yang sudah mereka buat.
Ayam sudah berkokok di kejauhan saat pertemuan rahasia itu bubar.
Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu hanya sempat tidur beberapa jam, tapi pagi itu hampir semua orang dalam keluarga Huang tidur larut malam. Pada kesempatan yang pertama kedua bersaudara itu menemui ayah mereka. Betapa terkejutnya Tuan besar Huang Jin mendengar penuturan kedua anaknya itu.
Pimpinan keluarga Huang itu pun tersudut, jika dia ingin ―membungkam‖ Tabib Shao, berarti dia harus ―membungkam‖ pula kedua anaknya. Bukan hanya mereka tapi juga belasan orang lain yang telah diilbatkan oleh Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu. Kekuatan keluarga Huang akan merosot jauh jika dia memaksakan hal itu.
420
Dengan senyum di wajah, tapi pahit di dalam dia menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Tabib Shao Yong. Dalam hati dia bersyukur bahwa setidaknya belum ada yang tahu tentang keterlibatannya. Juga mereka yang mendengarkan bukti-bukti yang dipaparkan Tabib Shao Yong ternyata mampu berpikir dengan cukup dingin dan tidak memaksa untuk menindak Tiong Fa secepatnya. Sehingga dia tidak dipaksa untuk mengambil keputusan yang drastis. Untuk sementara masalah ―pengkhianatan‖ Tiong Fa akan dikuburkan dahulu sampai mereka bisa memperkuat kedudukan. Dalam hal ini reputasi akan kecerdikan dan kelicinan Tiong Fa membantu Tuan besar Huang Jin untuk memperpanjang waktu, sebelum muncul desakan untuk membuka temuan Tabib Shao Yong.
Tapi cepat atau lambat, masalah ini tentu akan muncul juga ke permukaan. Keadaan ini seperti peledak yang siap disulut setiap saat. Tiba-tiba saja Tuan besar Huang Jin merasa seperti berdiri di atas tumpukan bara yang panas.
Antara merasa kesal, tapi bercampur juga dengan kagum, melihat kedua anaknya yang terkecil ternyata mampu mengambil tindakan yang cerdik dan bijaksana. Sudah agak lama dia mengkhawatirkan keadaan keluarga Huang sepeninggal dirinya. Puteranya yang sulung, cenderung terlalu
421
ambisius dan kejam, meskipun dalam kondisi tertentu hal itu menguntungkan, tapi muncul juga kekhawatiran bahwa seperti pedang bermata dua, hal itu pun bisa merugikan dirinya sendiri dan juga keluarga Huang.
Puteranya yang kedua lebih memilih untuk menarik diri dan menekuni buku-buku sastra, sedangkan yang ketiga tidak bisa diandalkan dan lebih sering keluar bersama teman-temannya daripada tertarik dengan urusan keluarga.
Tapi sekarang ternyata dua orang yang tidak pernah dia perhitungkan dan harapkan menunjukkan kemampuan yang ada dalam dirinya. Hatinya jadi khwatir, ketika dia membayangkan, apa yang akan terjadi jika urusan Ding Tao berhasil diketahui kedua anaknya itu.
Kepala Tuan besar Huang Jin jadi terasa pening memikirkan semuanya itu. Rasa bencinya pada Ding Tao menjadi semakin bertambah saja. Tadinya dia berharap dengan mendapatkan Pedang Angin Berbisik, keluarga Huang bisa semakin memantapkan kedudukan mereka dalam dunia persilatan. Tiong Fa dan jaringannya sudah pula berhasil mengumpulkan berbagai macam ilmu rahasia dari perguruan-perguruan besar yang tersebar di daratan.
422
Berbekal dua hal itu Tuan besar Huang Jin berharap dirinya akan mampu menduduki kedudukan yang lebih penting lagi dalam dunia persilatan. Mengangkat nama keluarga mereka dalam dunia persilatan. Tapi sekarang adanya urusan pedang itu justru mengancam timbulnya retakan dalam keluarga Huang yang dulunya solid.
Di luar dia berusaha menampilkan perhatian penuh pada rencana Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu, di dalam dia sudah merancangkan untuk mengadakan pertemuan rahasia dengan Tiong Fa secepatnya. Hanya Tiong Fa dengan kelicinannya yang bsia diharapkan Tuan besar Huang Jin untuk mengurai benang yang kusut ini.
Lagipula, Tiong Fa harus mempertanggung jawabkan semuanya ini, dialah yang memberikan jaminan bahwa dia akan dapat mengatur agar keluarga Huang bisa mendapatkan pedang pusaka milik Ding Tao. Kenyataannya dia sudah gagal lewat jalan halus, lewat jalan kasar, meskipun berhasil mendapatkan pedang, tapi keberhasilan itu harus dibayar pula dengan permasalahan lain yang cukup berbahaya bagi kelangsungan keluarga Huang.
---------- o ----------
423
Sore harinya setelah semua urusan selesai, Huang Ying Ying yang mengaku tidak enak badan meminta agar makanan diantarkan ke kamarnya. Rencananya dia akan memberikan sebagian makanan itu untuk Ding Tao. Dia dan kakaknya belum berani memindahkan pemuda itu ke tempat lain.
Huang Ren Fu sebenarnya keberatan dengan pengaturan itu, tapi Huang Ying Ying dengan sungguh-sungguh dan sedikit kesal berkata, ―Boleh saja kau tidak percaya pada Ding Tao, masakan kau juga tidak percaya padaku? Apa kaupikir adikmu ini perempuan murahan yang akan menjajakan dirinya pada setiap lelaki?‖
Dengan menahan kesal Huang Ren Fu menjawab, ―Tapi apa kata orang nantinya?‖
―Aku tidak peduli apa kata orang, yang penting nuraniku sendiri. Apa kakak pikir aku senang dengan keadaan seperti ini, akupun terganggu dengan keadaan ini. Tapi apa ada cara lain yang lebih baik? Memindahkan Ding Tao di saat ini sangatlah susah dilakukan tanpa menarik perhatian orang. Apalagi Paman Tiong Fa punya mata yang bukan main tajamnya.‖, jawab Huang Ying Ying dengan air mata merebak.
424
Akhirnya Huang Ren Fu mengalah, sambil membuang muka dia berkata, ―Aku tahu… sudahlah kuharap pemuda itu cukup berharga untuk kau berani mempertaruhkan nama baikmu sendiri.‖
Huang Ying Ying hanya bisa menggigit bibir tanpa mampu menjawab, karena menjawab berarti mengakui perasaannya pada Ding Tao.
Huang Ren Fu akhirnya terpaksa meninggalkan adiknya sendirian dengan seorang laki-laki di kamarnya. Sebenarnya dia yakin tidak akan ada yang terjadi di antara keduanya. Dia mempercayai Huang Ying Ying sepenuhnya, gadis itu mungkin saja terkadang bersikap tidak pedulian terhadap pendapat orang, tapi dia percaya Huang Ying Ying bisa menentukan sendiri batas-batasnya.
Demikian juga dengan Ding Tao, Huang Ren Fu percaya pada pemuda itu, hanya orang buta yang tidak bisa melihat sorot mata Ding Tao yang penuh cinta saat bersama dengan Huang Ying Ying. Tapi sorot cinta yang terpancar dari mata pemuda itu begitu tulus, bersih dari sorot mata nakal dan kurang ajar. Lagipula Ding Tao sedang terluka parah, jangankan berbuat macam-macam, untuk menggerakkan tubuhnya pun pemuda itu
425
pasti akan sangat kesakitan. Setidaknya itu yang dikatakan Tabib Shao sebelum meninggalkan sebungkus obat untuk Ding Tao.
Tidak banyak yang bisa dilakukan Tabib Shao sekarang ini, kecuali menunggu tubuh Ding Tao memulihkan dirinya sendiri. Sedikit obat yang diberikan adalah untuk membantu Ding Tao tidur dan mengistirahatkan tubuhnya tanpa diganggu oleh rasa sakit yang disebabkan oleh luka-lukanya.
Mungkin ada banyak alasan bagi Huang Ren Fu untuk merelakan, meninggalkan keduanya bersamaan. Semoga saja kepercayaan Huang Ren Fu itu tidak salah tempat.
Baru setelah kakaknya pergi dan Huang Ying Ying menutup pintu kamarnya, barulah gadis itu meresapi keadaannya saat itu. Dia sedang berdua sendirian dengan Ding Tao di dalam kamarnya, gadis itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebaran dan mukanya memerah.
Untuk beberapa saat lamanya gadis itu melemparkan tubuhnya ke atas pembaringan, tengkurap gadis itu menutupkan bantal ke atas kepalanya dan memaki-maki dirinya sendiri karena tiba-tiba merasa gugup dan salah tingkah.
426
―Sialan, sialan, Ding Tao sialan, kenapa perasaanku jadi begini. Ah sial, ini gara-gara ucapan Kakak Ren Fu, memangnya apa yang akan kami lakukan?‖, gerutunya sambil memukul-mukul kasur.
Dasar sedang sial, di saat itu terbayang cerita emban pengasuhnya yang centil tentang bagaimana rasanya berciuman dengan kekasih untuk pertama kalinya, di luar kemauannya Huang Ying Ying membayangkan dirinya dicium oleh Ding Tao dan membaralah wajahnya.
Dengan kesal bercampur debar-debar aneh gadis itu memukuli kepalanya sendiri, ―Bodoh! Bodoh! Bodoh! Huang Ying Ying bodoh sekali kamu! Ah sialan!‖
Dengan geram gadis itu berdiri lalu mengambil pedang pendeknya dan dengan menggertak gigi dia mulai berlatih. Gerakannya cepat dan gesit, perlahan-lahan dia mulai larut dalam latihan.
Obat tidur yang diminum Ding Tao sudah mulai hilang efeknya, kesadarannya perlahan datang. Rasa nyeri yang tadi ditekan oleh obat juga perlahan datang kembali. Sambil mengeluh panjang Ding Tao membuka matanya.
427
Dikerjap-kerjapkannya matanya, otaknya terasa sulit sekali disuruh bekerja. Lama Ding Tao mengamati keadaan sekelilingnya, tidak mengerti, tempat apa ini?
Perlahan tangannya meraba-raba ke sekelilingnya, agak lama baru dia sadar ada segaris cahaya. Pemuda itu mencoba bangkit berduduk, menggigit bibir menahan nyeri, berhasil juga dia duduk dan segera saja kepalanya menyentuh baju-baju yang digantungkan.
―Kain…‖, pikirnya.
―Ini… wangi ini…‖, meskipun kesadaran itu datang sedikit demi sedikit, Ding Tao mulai menduga-duga, apakah dia ini sekarang ada dalam lemari pakaian Huang Ying Ying? Bau ini, bau wangi khas yang sering dia cium saat berdekatan dengan gadis itu.
Dengan gugup Ding Tao berusaha bangkit berdiri dan keluar dari tempat itu. Tapi setelah berhasil berdiri, kakinya terasa lemah, tidak tahan untuk menopang tubuhnya yang sudah bangkit berdiri. Semakin guguplah pemuda itu saat dia merasa tubuhnya terguling ke depan tanpa bisa berbuat apa-apa. Gerakan jatuh yang tiba-tiba itu membebani tulang-tulang rusuknya yang baru saja dihajar kemarin. Nyeri yang sangat
428
menusuk luka-luka di bagian yang terpukul dan tanpa bisa ditahan Ding Tao terpekik menahan sakit.
Diiringi oleh suara gedubrakan saat dia membentur lantai, Ding Tao keluar dari lemari pakaian Huang Ying Ying.
Huang Ying Ying pun terlonjak kaget mendengar suara itu. Wajahnya jadi pucat, bagaimana kalau suara itu terdengar sampai di luar? Cepat dia menendang bangku yang ada di dekatnya sambil memaki, ―Sialaaan !!‖
Kemudian dengan jari di bibir, dia memberi tanda untuk Ding Tao yang sedang memandang ke arahnya untuk diam. Dia sendiri cepat-cepat mendekati pintu kamarnya dan menempelkan telinga. Mendengar-dengar apakah ada orang di sana.
Saat tidak terdengar apa-apa di luar, perlahan Huang Ying Ying membuka pintu kamarnya dan mengintip keluar. Dengan nafas lega dia masuk kembali sambil menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Matanya pun jatuh tertuju pada Ding Tao yang memandang ke arahnya dengan raut wajah kebingungan. Cukup lama mereka hanya saling memandang, tidak tahu apa yang harus dikatakan.
429
Ding Tao dengan perasaan bersalah mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi hingga dirinya bisa berada di dalam lemari pakaian Huang Ying Ying. Akhirnya dengan nada bersalah dan putus asa dia berusaha menjelaskan, ―Adik Ying, aku tidak tahu bagaimana aku bisa ada di sini. Yang kuingat…‖
―Ssst… jangan terlalu keras bersuara, tenanglah. Aku tahu, kemarin malam ada orang coba membunuhmu.‖, bisik Huang Ying Ying yang sekarang telah duduk di sisi pembaringannya dekat dengan tempat Ding Tao terjatuh.
―Benar, benar, Adik Ying apa mereka sudah tertangkap? Lalu mengapa aku sampai berada di sini?‖
Huang Ying Ying menggeleng, dari sorot matanya Ding Tao menangkap satu kepedihan, ―Tidak Ding Tao, mereka belum tertangkap. Tahukah kamu siapa yang melakukannya?‖
Ding Tao menggeleng, ―Tidak, waktu itu aku sangat mengantuk, tidak sedikitpun aku mendengar suara mereka. Aku baru tersadar setelah merasakan satu nyeri yang hebat di hatiku. Saat sadarpun aku tidak sepenuhnya bisa menangkap kejadian di sekitarku dan kedua orang itu, mereka memakai topeng hitam menutupi wajahnya.‖
430
Membayangkan keadaan Ding Tao saat itu, air mata merebak di pelupuk mata Huang Ying Ying, dengan lembut dipegangnya tangan Ding Tao, ―Maafkan aku Ding Tao, akulah yang memberikan obat itu padamu…‖
Ding Tao yang bisa merasakan kepedihan hati gadis itu mencoba menenangkannya, ―Adik Ying, jangan bersedih, aku tahu maksud baik dirimu dan ayahmu. Hanya waktunya saja sangat bertepatan dengan datangnya dua orang itu.‖
Mendengar itu Huang Ying Ying jadi merasa makin bersalah, karena ayahnya yang telah merencanakan pencurian dan pembunuhan itu. Tapi dia tidak bisa mengatakan hal itu pada Ding Tao, tidak berani dia membayangkan apa yang akan terjadi jika Ding Tao tahu hal itu. Bagaimana jika pemuda itu kemudian membencinya? Atau bagaimana jika pemuda itu kemudian pergi untuk berkelahi dengan ayahnya? Huang Ying Ying tidak peduli dengan Pedang Angin Berbisik, dia tidak peduli dengan Ren Zuocan. Tidak perlu Ding Tao jadi pendekar pedang nomor satu asal pemuda itu tidak membencinya saja dia sudah bahagia.
Dengan sedih gadis itu menggeleng lemah, Ding Tao yang melihat gadis itu semakin bersedih menjadi semakin bingung.
431
―Adik Ying, Adik Ying, janganlah bersedih, jangan pernah merasa bersalah terhadapku. Adik Ying hanya engkau selalu baik padaku sejak dulu, itu aku tahu dengan jelas. Adik Ying ingatkah kau dua tahun yang lalu? Saat aku lulus ujian naik peringkat waktu itu?‖
Dengan mata yang membasah Huang Ying Ying menatap Ding Tao lalu mengangguk perlahan. + ―Hari itu, hari yang selalu kuingat selama dua tahun ini, apakah kau tahu mengapa aku merasa bahagia saat mengenangnya?‖
―Karena kau jadi juara waktu itu?‖
―Bukan, bukan karena itu, tentu saja ada rasa senang, tapi bukan itu yang membuatku terkenang. Melainkan senyummu, tawamu saat kau melihat aku dinyatakan sebagai lulusan terbaik. Aku masih teringat sorakanmu saat itu. Hari itu kau terlihat begitu gembira, dan akulah yang membuatmu tertawa serta bersorak. Karena itu Adik Ying, janganlah lagi bersedih, karena hal itu akan membuatku merasa bersedih pula.‖
Rayuan gombal pemuda udik macam Ding Tao tentu saja kalah jauh dengan rayuan seorang pemuda romantis yang sudah ahli.
432
Tapi ketulusan Ding Tao tidak bisa disamai mereka ini, apalagi yang mendengarnya adalah Huang Ying Ying yang sedang jatuh cinta pada pemuda itu. Langsung saja mukanya bersemu merah, senyum di bibir merekah, dengan pipi masih dihiasi tetesan air mata yang belum mengering, membuat dirinya tampak lebih cantik dari biasanya.
Ding Tao yang merasa lega, melihat senyum di wajah Huang Ying Ying, tanpa terasa menjadi lebih longgar lidahnya. Dibantu dengan efek obat yang diminumnya belum benar-benar hilang. Meskipun Ding Tao sudah tidak lagi diserang rasa kantuk, tapi kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Suasana dan kondisi saat itu juga terasa begitu aneh bagi nalar Ding Tao dan di luar akal sehatnya, membuat Ding Tao tidak memijak pada kenyataan sehari-hari. Apa yang biasanya dia pendam saja, terlontar keluar dengan begitu mudahnya.
―Adik Ying, tahukah kau betapa berat saat guru dan aku memutuskan untuk pergi tanpa pamit dua tahun yang lalu? Bukan karena aku gentar oleh beratnya kehidupan berkelana, tapi karena aku takut dipandang rendah oleh dirimu, sebagai orang yang tidak tahu berterima kasih. Jika ada penghiburan bagiku, itu adalah janji guru, bahwa setelah aku menamatkan ilmu keluarga Huang, aku akan mempunyai cukup bekal untuk
433
menghadapi bahaya dan kembali untuk menjelaskan semuanya ini padamu.‖
Huang Ying Ying jadi makin terharu, mengingat justru karena hal itulah nyawa Ding Tao jadi terancam dan pemuda itu kehilangan pedang pusaka yang sangat berharga. Mengeluh pendek, gadis itu menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Ding Tao.
Ding Tao yang untuk bangkit berdiri pun harus bersusah payah, menyeringai kesakitan saat tubuh Huang Ying Ying yang lembut itu membentur tubuhnya yang masih nyeri. Dengan sekuat tenaga pemuda itu menahan diri agar tidak berteriak kesakitan. Tubuhnya memang sakit dan perlu waktu cukup lama sebelum nyeri itu tidak lagi menusuk, tapi jangankan rasa sakit, jika saat itu dia ditembusi pedangpun, pemuda itu rela.
―Adik Ying… selama dua tahun, hanya bayanganmu yang memberiku kekuatan.‖, gemetar suara Ding Tao, dengan memberanikan diri pemuda itu memeluk tubuh Huang Ying Ying dengan lembut.
―Ah… Kakak Ding… aku.. aku pun demikian.‖, balas Huang Ying Ying dengan jantung berdebaran.
434
Tentu saja ini tidak sepenuhnya benar, memang Huang Ying Ying sudah sejak lama menyukai pemuda itu, tapi tidak seperti saat ini. Rasa kagumnya baru benar-benar tumbuh saat Ding Tao kembali dari pengembaraannya yang dua tahun itu. Dan rasa kagum itu semakin bertumbuh hingga benar-benar berkembang menjadi rasa cinta saat Ding Tao menunjukkan kegagahanny adalam pertandingan persahabatan di hari sebelumnya.
Tapi kata-kata itu terasa manis di telinga Ding Tao, dan bagi Huang Ying Ying pun rasanya kata-kata itu sudah tepat. Saat itu rasanya sudah bertahun-tahun lamanya dia mencintai Ding Tao, bahkan sejak mereka masih kanak-kanak.
Bersandar di dada Ding Tao yang bidang, gadis itu merasa begitu bahagia, berbisik pada Ding Tao, dengan tulus dia berjanji, ―Kakak Ding, mengenai pedangmu, aku berjanji akan membantumu untuk mendapatkannya kembali.‖
―Pedangku? Pedang…?‖
Ding Tao dengan tiba-tiba melepaskan pelukannya dan melonjak kaget. Baru sekarang dia teringat akan pedangnya, pedang yang dipercayakan gurunya kepadanya. Begitu
435
kagetnya hingga dia lupa pada luka di dadanya dan meloncat berdiri. Baru setelah dia meloncat berdiri dan rasa sakit itu menyerang hebat, pemuda itu mengaduh dan berpegangan pada lemari pakaian yang ada di dekatnya, menahan agar tubuhnya tidak sampai jatuh.
Huang Ying Ying memandang Ding Tao dengan cemas, cemas akan luka Ding Tao, cemas pula pada reaksi pemuda itu, yang rupanya belum sadar bahwa dia sudah kehilangan Pedang Angin Berbisik. Padahal Huang Ying Ying yang mengenal baik pemuda itu, tahu betul bagaimana Ding Tao menjunjung tinggi tanggung jawab yang dibebankan pada dirinya.
―Kakak Ding… jangan terlampau kuatir, duduklah dahulu.‖
Ding Tao yang sudah bisa menguasai dirinya, menganggukkan kepala dengan lemas, lalu dibantu oleh Huang Ying Ying, perlahan-lahan dia duduk di samping Huang Ying Ying.
―Adik Ying, apa yang sebenarnya terjadi? Aku ingat ada orang yang menyerangku, sewaktu aku tertidur pulas. Tidak banyak yang kuingat selanjutnya, yang ada hanya keinginan untuk melarikan diri dari bahaya dan mencari tempat yang aman.‖
436
Huang Ying Ying kehilangan akal, apa yang harus dia ceritakan pada pemuda itu?
Dengan terbata-bata, gadis itu menceritakan bagaimana Ding Tao jatuh pingsan di depan kamarnya. Peristiwa terbunuhnya Zhang Zhiyi, tuduhan Tiong Fa pada Ding Tao dan juga penemuan Tabib Shao Yong yang telah membersihkan nama Ding Tao meskipun di luaran temuan itu masih dirahasiakan. Diceritakannya juga tentang apa yang telah dia lakukan bersama dengan kakaknya dan reaksi Tuan besar Huang Jin yang mendukung keputusan mereka.
Dalam hatinya gadis itu merasa bersalah, karena telah menutupi kejadian yang sesungguhnya.
Ding Tao yang baru saja sadar dari tidurnya, untuk beberapa lamanya tidak mampu berkata apa-apa. Jangankan berbicara, pikirannya masih dengan lambatnya berputar untuk mengolah masukan-masukan baru yang sangat berat dan susah dicerna.
―Tetua Tiong Fa yang merencanakan ini semua?‖, tanyanya dengan nada tidak bisa percaya.
―Iya, setidaknya itu dugaan kami. Kakak Ding, apakah kau marah padaku? Jika bukan karena obat itu…‖, air mata kembali
437
merebak di mata Huang Ying Ying. Tapi jari Ding Tao dengan cepat menyentuh bibir gadis itu, memberi tanda agar dia berhenti berbicara.
―Adik Ying, jangan salahkan dirimu sendiri. Aku tidak menyalahkanmu, bahkan aku sangat berterima kasih padamu. Kalau bukan karena pertolonganmu, bukan hanya kehilangan pedang, akupun akan kehilangan nyawa.‖
―Tapi Kakak Ding, pedang itu bukankah sangat berharga? Bagaimana juga dengan pesan Pelatih Gu padamu?‖
Dengan lembut Ding Tao meraih tangan Huang Ying Ying. Begitulah awal pertama berpegangan tangan masih ragu, setelah ternyata Huang Ying Ying tidak marah, bahkan gadis itu sempat merebahkan tubuhnya, bersandar di dada Ding Tao, pemuda ini pun jadi makin berani.
―Adik Ying, seluruh orang di dunia persilatan boleh saja memandang pedang itu sebagai pusaka yang paling berharga. Tapi bagiku…‖, sampai di sini jantung Ding Tao berdebaran makin cepat.
―Bagiku… bagiku, dirimu jauh lebih berharga. Aku… aku… sudah sejak lama, aku mencintaimu.‖, merah padam wajah
438
Ding Tao seusai mengucapkan kata-kata itu. Tiba-tiba muncul rasa khawatir, khawatir jika Huang Ying Ying menolak cintanya.
Berbeda dengan perasaan Ding Tao, perasaan Huang Ying Ying bagaikan dibuai ke angkasa. Sekali lagi gadis itu merebahkan dirinya ke atas dada Ding Tao yang bidang, dengan berbisik dia menjawab, ―Aku, aku juga…‖
Singkat saja jawaban Huang Ying Ying, tapi yang singkat itu sudah membuat Ding Tao merasa bahagia sekali. Belasan tahun lamanya dia memendam rasa suka, entah sudah berapa kali sejak dia meninggalkan kediaman keluarga Huang, dia membayangkan saat-saat seperti ini. Ketika saat itu akhirnya tiba, sungguh sulit untuk dilukiskan bagaimana perasaannya.
―Maksudmu, aku juga bagaimana?‖, tanyanya menegas.
―Ya begitu itu…‖, dengan malu-malu Huang Ying Ying menjawab.
―Begitu itu bagaimana?‖, mata Ding Tao berkilat nakal, saat huang Ying Ying melirik ke arah wajahnya dan dengan gemas gadis itu pun mencubit Ding Tao keras-keras, sampai anak muda itu mengaduh-aduh minta ampun.
439
Untuk sesaat sepasang kekasih itu tertawa, lupa akan keadaan mereka yang sesungguhnya. Bahaya masih mengintai di luar, tapi tidak salah kalau ada yang mengatakan, bagi orang yang sedang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua.
Setelah beberapa lama, tertawa tertahan, keduanya akhirnya berhenti tertawa dan saling pandang. Dengan suara yang lebih tenang Huang Ying Ying bertanya, ―Kakak Ding… benarkah kau mencintaiku? Meskipun keluargaku sudah… sudah merebut pedangmu dengan cara yang licik?‖
Ding Tao tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan lembut ditariknya pundak gadis itu, dan bibirnya dengan lembut mengecup bibir Huang Ying Ying. Sebenarnya debaran jantung Ding Tao sudah membuat telinganya serasa mau pecah, tapi entah bisikan setan dari mana. Keinginan itu tiba-tiba muncul tanpa bisa ditahan. Huang Ying Ying yang bisa menduga apa yang akan dilakukan Ding Tao pun, sama-sama terbawa suasana. Bukannya menolak, gadis itu justru menutup matanya.
Seandainya Huang Ren Fu melihat adegan itu, mungkin pemuda itu bakal menyesal tujuh turunan.
440
Nafas keduanya memburu, debaran jantung mereka semakin kencang, getaran-getaran yang belum pernah mereka rasakan membuat pikiran mereka makin berkabut. Perlahan bibir mereka bukan hanya bertemu, tapi menempel semakin erat, bertaut, saling memagut. Kepala Ding Tao terasa berdenyut keras, tapi dia tidak juga berhenti, seperti mereguk air yang manis tapi dahaga tidak juga hilang. Samar-samar terasa tubuh Huang Ying Ying yang lembut tapi panas membara, semakin merapat di dadanya.
Sepasang tangan yang lembut melingkar di lehernya, bibir yang merah merekah menempel erat di bibirnya dan sepasang dada yang ranum sekarang menyentuh tubuhnya. Tangan Ding Tao dengan sendirinya bergerak, perlahan, bergerak hendak membelai sepasang dada yang ranum itu…
IX. Meloloskan diri dari kediaman keluarga Huang
Huang Ying Ying terpekik kaget saat dirasanya kedua tangan Ding Tao membelai lembut sepasang buah dadanya.
Bajunya dari sutra yang halus dan baik kualitasnya, membuat jari Ding Tao yang membelai lembut terasa jelas dan ketika
441
bagian tertentu dari dadanya tersentuh, sensasi yang dia rasakan begitu kuatnya hingga gadis itu pun memekik kaget.
Jengah dan malu gadis itu menggeliat dan melepaskan diri dari pelukan Ding Tao.
Tubuhnya menginginkan lebih, tapi yang sekejap itu sempat membuat pikirannya jernih. Huang Ying Ying terbagi oleh dua kekuatan, sebagian dirinya ingin melompat kembali ke pelukan Ding Tao, tapi bagian dirinya yang lain menahan tubuhnya untuk mendekati pemuda itu. Tapi batas keseimbangan itu begitu tipis, satu sentuhan saja dari Ding Tao mungkin akan meluluhkan pertahanan terakhir gadis itu.
Ding Tao sama terkejutnya dengan Huang Ying Ying, meskipun sedikit berbeda. Saat Huang Ying Ying menggeliat dan melepaskan dirinya, sensasi yang mengabutkan pikirannya terputus sejenak dan untuk sesaat pikirannya menjadi jernih. Yang sesaat itu cukup, cukup untuk mengingatkan Ding Tao akan akibat dari perbuatan mereka, kehormatan Huang Ying Ying, hati nuraninya. Yang sesaat itu sudah cukup untuk menahan pemuda itu melakukan lebih jauh.
442
Nafasnya masih memburu, jantungnya masih berpacu kencang, tubuhnya masih meminta lebih, tapi Ding Tao sudah kembali menguasai dirinya. Dengan penuh rasa khawatir dipandanginya Huang Ying Ying, yang duduk terdiam dengan kepala menunduk.
Dibukanya mulut untuk berbicara, tapi tidak yakin apa yang harus dikatakan, ―Adik Ying, maafkan aku. Aku tahu seharusnya aku tidak boleh melakukan… apa yang baru saja kita lakukan. Tapi saat itu, sulit sekali untuk berpikir dengan jernih.‖,
Sulit sekali untuk meluruskan benaknya. Kata-kata seperti bertaburan tanpa arti.
Akhirnya dengan menghela nafas Ding Tao menyerah untuk memikirkan alasan-alasan, dengan jantung berdegup dia meminta maaf, ―Aku belum pernah merasakan yang seperti itu sebelumnya. Maaf, aku jadi tidak bisa menahan diri.‖
Lama mereka terdiam, masing-masing tidak ada yang berani mendekat. Tiba-tiba Huang Ying Ying bertanya, ―Kakak Ding, tentang tadi, apakah itu mengubah pikiranmu tentang diriku? Apakah aku jadi … menjijikkan di matamu?‖
443
Cepat Ding Tao menggeleng-gelengkan kepalanya, ―Tidak, tidak, tentu tidak demikian. Aku… aku mencintaimu, di mataku, kau seorang gadis yang sempurna. Tidak mungkin aku, tadi itu, akulah yang salah. Untung Adik Ying cepat sadar, jika tidak, entah apa yang bisa kulakukan.‖
Memerah wajah Huang Ying Ying, kata-kata Ding Tao mengingatkan dia pada pengalaman yang tadi terjadi, dengan lemah gadis itu menggelengkan kepala, namun tidak ada kata-kata yang keluar. Saat pandang matanya jatuh pada makanan yang sudah tersedia, Huang Ying Ying merasa lega, ada bahan untuk mengalihkan topik pembicaraan.
―Kakak Ding, kau seharian tidak makan, tentu kau lapar.‖
Ding Tao ikut merasa lega karena terlepas dari topik yang menyulitkan dia. Dengan antusias dia menyambut tawaran Huang Ying Ying, ―Ya…, perutku memang lapar sekali. Tiba-tiba baru saja terasa betapa lemasnya badan ini. Tapi Adik Ying tentu juga belum makan, ayolah, jangan aku sendirian yang makan.‖
Mengangguk kecil Huang Ying Ying bergegas menghampiri meja, perlahan diaturnya mangkok-mangkok dan alat makan
444
yang lain, di atas pembaringan. Ketika Ding Tao hendak membantu dengan lembut tapi tegas dia melarang, ―Jangan, Kakak Ding masih harus banyak beristirahat, selain karena belum makan sepanjang hari, Kakak Ding juga sedang terluka. Duduk sajalah, sebentar juga selesai.‖
Ada rasa bersalah tapi juga bahagia karena dilayani dengan telatennya oleh gadis yang dia cintai, Ding Tao memaksakan diri untuk duduk dan menunggu dengan sabar.
Tidak lama kemudian, mereka berdua mulai menikmati hidangan yang sudah mulai dingin. Meskipun dingin, tapi karena disantap berduaan, hidangan yang dingin pun rasanya sudah seperti makan masakan kerajaan. Baik Huang ying Ying maupun Ding Tao masih teringat oleh perbuatan mereka sebelumnya, sebagai akibat, cara berbicara dan tingkah laku mereka pun jadi terlampau sungkan.
Selesai mereka bersantap, sejenak mereka saling berpandangan dengan perasaan hati yang kikuk.
―Ehm, Adik Ying, kupikir, sebaiknya aku kembali bersembunyi dalam lemari pakaianmu.‖
―Ya…‖
445
―Besok setelah beristirahat, kita bisa membicarakan lagi masalah Pedang Angin Berbisik dan pengkhianatan Tetua Tiong. Sesungguhnya terlalu banyak kejutan yang aku alami hari ini. Moga-moga besok, pikiranku sudah jauh lebih jernih.‖
Sekali lagi Huang Ying Ying mengangguk lalu menunduk malu. Ding Tao pun ragu, jika dia menuruti kata hatinya, mungkin saat itu dia akan memeluk dan mengecup gadis itu sekali lagi sebelum meninggalkannya. Tapi dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika lagi-lagi dia kehilangan pengamatan diri. Setelah berdiri diam tanpa kata untuk beberapa lama, dia mengangguk pada Huang Ying Ying, kemudian berbali badan untuk bersembunyi di dalam lemari pakaian gadis itu lagi.
Sesaat sebelum dia menutup pintu lemari, terdengar Huang Ying Ying berkata, ―Selamat malam Kakak Ding, aku… aku mencintaimu.‖
Seulas senyum menghiasi wajah Ding Tao di dalam lemari yang remang-remang, dengan suara lembut dijawabnya, ―Selamat malam Adik Ying, aku juga mencintaimu.‖
Setelah itu Huang Ying Ying memadamkan lilin yang ada di kamarnya, tidak terdengar suara apa pun dari kamar itu.
446
Meskipun sebenarnya cukup lama Huang Ying Ying berbaring dengan wajah merona merah, mengingat kejadian yang telah terjadi. Lama, sebelum akhirnya dia tertidur pulas, terbuai dalam mimpi yang indah.
Jika Huang Ying Ying tertidur, beda lagi dengan Ding Tao. Segera setelah dia berpamitan pada Huang Ying Ying, pemuda ini mulai bermeditasi, berusaha memulihkan himpunan hawa murninya yang sedikit banyak membuyar. Berkerut alis pemuda itu ketika dia merasakan adanya hawa murni liar di dalam tubuhnya.
Mungkin itulah hawa murni dari pukulan Tinju 7 Luka, yang dikatakan Tabib Shao. Pemuda itu tidak berani terlalu gegabah, perlahan-lahan dia berusaha mengatur hawa murni dalam tubuhnya.
Awalnya dia berupaya untuk mendorong hawa murni yang liar itu ke dalam tantien, menyatukannya dengan hawa murninya sendiri. Tapi usaha itu gagal, keduanya tidak bisa menyatu, melainkan saling melawan.
Gagal dengan usahanya, maka usaha lain coba dilakukan oleh pemuda itu, diusahakannya untuk mendorong keluar hawa
447
murni liar itu dari tubuhnya. Tapi usaha inipun gagal, hawa murni yang liar ini tidak mudah untuk diatur. Kembali dua hawa murni yang berbeda sifat dalam tubuhnya saling melawan.
Semakin keras Ding Tao berusaha mengendalikan hawa murni liar itu, semakin kuat pula perlawanannya.
Khawatir justru memperparah luka di tubuhnya, Ding Tao terpaksa membiarkan hawa murni yang liar itu bercokol dalam tubuhnya. Sekarang perhatiannya lebih tercurah pada usaha untuk menguatkan hawa murninya sendiri. Setidaknya hal itu akan dapat membantu dirinya untuk ―mengamankan‖ hawa murni asing itu dari kemungkinan untuk merusak tubuhnya dari dalam.
Entah berapa lama Ding Tao larut dalam latihannya, ketika dia berhenti, tubuhnya terasa jauh lebih nyaman, meskipun jauh di dalam sana, masih terasa ada kekuatan asing yang diam tapi tidak juga menghilang.
Ketika teringat dengan penjelasan Huang Ying Ying mengenai keadaan dirinya, sesuai dengan pengamatan Tabib Shao Yong, pemuda itu mengeluh perlahan. Tanpa menggunakan hawa
448
murninya dalam sebuah pertarungan, ibaratnya dia harus berkelahi dengan tangan dan kaki yang terikat.
Mau tidak mau Ding Tao pun jadi teringat dengan Pedang Angin Berbisik, berbekal pedang itu di tangan dalam keadaannya sekarang ini tentu akan sangat membantu. Kekurangannya dalam hal tenaga, masih bisa diimbangi dengan tajamnya pedang. Kembali teringat pemuda itu dengan pesan-pesan gurunya.
Tekad yang kuat terbentuk dalam dirinya, selama dia masih hidup, dia akan berusaha untuk memenuhi pesan gurunya. Entah dengan pedang pusaka atau tanpa pedang. Sebuah rencana mulai terbentuk di benaknya, yang pertama kali harus dia lakukan adalah menyembuhkan dirinya. Sepanjang dirinya masih menderita luka yang menghalangi dia untuk dengan bebas menggunakan hawa murninya, tidak ada artinya Pedang Angin Berbisik ada di tangannya.
Jangankan dalam keadaan terluka, dalam keadaan segar bugar pun, masih perlu dipertanyakan apakah dia bisa menandingin Ren Zuocan atau tidak.
449
Lebih baik Pedang Angin Berbisik berada dalam tangan Tiong Fa, daripada jatuh ke tangan Ren Zuocan. Apalagi pemuda itu masih teringat tutur kata Tiong Fa yang penuh semangat. Ding Tao pun berharap, serangan Tiong Fa pada dirinya tidak sepenuhnya didorong oleh ketamakan pribadi seperti dugaan Huang Ying Ying dan kakaknya.
―Mungkin saja dia masih berpikir jika aku tidak pantas untuk menyandang pedang itu. Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga, terlampau mudah pedang itu lepas dari tangan. Bukankah Pendekar besar Jin Yong, kehilangan pedang itu karena diracun orang? Seharusnya ku pun lebih berhati-hati dalam soal makan dan minum. Kejadian yang menimpa Pendekar Jin Yong dan pengalamanku kemarin malam, harus jadi pelajaran yang berharga.‖
Demikian pemuda itu berpikir dan berpikir.
Semakin lama dia berpikir, semakin kuat keyakinannya bahwa untuk sementara ini lebih baik dia tidak berusaha untuk mendapatkan kembali Pedang Angin Berbisik.
―Biarlah tersimpan di sini, jika kami berusaha untuk mendapatkan kembali pedang itu tapi gagal. Tetua Tiong bisa
450
saja menghilang bersama dengan pedang itu dan makin sulit lagi bagi kami untuk mendapatkannya kembali. Biarlah Tetua Tiong menyimpannya untuk sekarang ini, dalam keadaanku yang sekarang, kesempatan Tetua Tiong untuk berhasil menghadapi Ren Zuocan dengan menggunakan pedang itu lebih besar daripada kesempatanku.‖
Jika bukan Ding Tao, siapa lagi yang bisa berpikir seperti itu?
Betapa banyak jago dunia persilatan yang rela mati untuk mendapatkan pedang itu, tapi Ding Tao bisa melepaskannya tanpa sesal. Bukan berarti dia sudah melupakan pesan gurunya, tapi dia memahami semangat yang terkandung dalam pesan gurunya itu. Bukan masalah kepemilikan pedang yang penting, melainkan usahanya untuk meredam ambisi Ren Zuocan yang membahayakan negara.
Setelah mencapai satu keputusan, Ding Tao pun menjadi lebih tenang. Memejamkan mata, pemuda itu membiarkan rasa lelah dan kantuk menguasai dirinya, memberikan waktu bagi tubuhnya untuk menyembuhkan diri.
451
Ketika semua orang sudah terlelap tidur, justru ke empat pimpinan dalam keluarga Huang sedang melakukan pertemuan rahasia.
―Tabib keparat !! Bagaimana bisa dia berani-beraninya menghubungi Adik Ying, jika bukan gara-gara dia, masalah tentu tidak jadi serumit ini.‖, geram Huang Ren Fang.
Tiong Fa yang sedari tadi menundukkan kepala, menghela nafas, ―Sudahlah, kali ini aku yang salah. Segala sesuatunya berjalan tidak sesuai rencana. Dimulai dari kegigihan Ding Tao mempertahankan pedang itu dan kemudian berlanjut dengan kekalahan demi kekalahan, pada puncaknya kekalahanku dalam pertandingan.‖
Menggeleng perlahan, Tiong Fa berdiri lalu berjalan hilir mudik di dalam ruangan itu, ―Kegagalan yang berturut-turut itu, ditambah lagi oleh ketidak mampuanku dalam menerima kenyataan akan bakat Ding Tao yang melebihi dugaanku, membuatku berbuat terlalu sembrono.‖
―Apa maksudmu?‖, tanya Tuan besar Huang Jin dengan dingin.
Tiong Fa menoleh ke arahnya dan maklum, pernyataannya tadi bisa juga dianggap sebagai satu sindiran, karena pada akhirnya
452
Tuan besar Huang Jin-lah yang membuat rencana untuk mengambil pedang Ding Tao malam itu juga. Malam yang di mana kehidupan Zhang Zhiyi diakhiri.
―Tidak perlu gusar begitu Adik Jin, kalau kita mau berpikir lebih jernih, bukankah memang terlalu terburu-buru apa yang kita lakukan malam itu? Pertama Ding Tao masih beberapa hari tinggal di rumah kita, ada banyak waktu untuk membuat rencana yang lebih matang. Tapi yang lebih penting lagi adalah, pun seandainya semuanya berjalan sesuai rencana, bagaimana kita akan menjelaskan munculnya Pedang Angin Berbisik di tangan keluarga Huang?‖
―Hampir semua orang penting dalam keluarga kita sudah mengetahui bahwa Ding Tao memilikinya, jika tiba-tiba pedang itu jatuh ke tangan kita, bukankah dengan mudah bisa ditebak bahwa kita telah merampas pedang itu secara paksa? Pada akhirnya masalah yang mirip meskipun tidak sama persis dengan masalah yang kita hadapi sekarang akan muncul. Yaitu retakan-retakan dalam keluarga kita sendiri, yang akan melemahkan kedudukan kita.‖
―Kita semua berbuat kesalahan, terlalu terburu nafsu melihat pedang ada di depan mata. Tapi aku akui kesalahan terbesar
453
ada padaku. Sejak kegagalanku untuk mendapatkan pedang itu dengan cara damai sampai dengan kegagalanku untuk membungkam Ding Tao untuk selamanya. Kegagalanku yang berulang-ulang ini yang menempatkan kita pada posisi yang sekarang ini.‖
Huang Yunshu menatap sosok Tiong Fa dengan matanya yang tajam, meskipun keriput sudah menggariskan guratan waktu di wajahnya yang tua, ―Kau berbicara dengan cukup lancar, menganalisa kesalahan-kesalahan kita. Aku yakin, saat ini juga kau sudah memiliki jalan keluarnya.‖
―Benarkah itu Kakak Tiong?‖, tanya Tuan besar Huang Jin dengan raut wajah yang dingin.
Meskipun dia bisa menerima penjelasan Tiong Fa, hatinya masih panas mengingat kekacauan yang terjadi dan saat ini kekesalannya itu tertumpah pada Tiong Fa. Tiong Fa bukan Tiong Fa namanya jika gugup atau marah melihat pandang ,ata Huang Jin yang dingin. Di hadapan orang lain, wajahnya selalu terlihat tenang, tidak ada yang bisa tahu gejolak perasaan dalam hatinya.
454
―Sebenarnyalah demikian, sejak aku terpaksa membunuh Zhang Zhiyi, aku sudah sadar, terlalu banyak lubang dalam pekerjaanku malam itu. Kecuali jika ada dewa-dewa yang menolongku, hampir sudah bisa dipastikan cepat atau lambat akan ada orang-orang yang menyadari keterlibatanku, setidaknya mencurigai keterlibatanku. Jadi aku pun mulai membuat rencana untuk membebaskan kita dari permasalahan itu.‖
―Jadi apa rencanamu itu?‖
Dengan senyum tipis Tiong Fa menjawab, ―Kita berikan saja apa yang mereka inginkan. Pada waktunya, kau berhasil mengungkapkan bukti-bukti pengkhianatanku. Sayang aku terlalu cepat mencium hal itu dan berhasil melarikan diri.‖
Berkilat mata Huang Jin, ―Dan apa yang akan kau lakukan setelah berhasil melarikan diri?‖
―Hmm… beberapa orang dari keluarga Huang ternyata sudah lama beralih kesetiaannya padaku, dengan sendirinya mereka itu pun ikut menghilang bersamaan dengan menghilangnya diriku. Tidak jelas apa yang terjadi, tapi jika ada kejahatan di luar yang dilakukan Tiong Fa, hal itu tidak ada hubungannya
455
dengan keluarga Huang.‖, selesai mengucapkan hal itu Tiong Fa kembali duduk di kursinya, dan dengan tenang menatap ke arah Huang Jin, menunggu keputusannya.
―Hmm… dengan jalan itu, maka nama keluarga Huang pun bisa dibersihkan dari keterlibatanmu dalam masalah Ding Tao dan pedangnya. Meski sepertinya kekuatan keluarga Huang terpecah, tapi sebenarnya tidak, karena kau dan pengikutmu tetap bekerja bagi keluarga. Justru pengaturan ini membuat kedudukan keluarga Huang semakin aman. Kami yang berdiri dalam terang dan kau yang bekerja dalam gelap. Tapi apa keuntungannya bagimu? Pengaturan ini memang sangat menguntungkan keluarga Huang, tapi bagaimana dengan dirimu?‖
Tiong Fa menegakkan badannya dan menampilkan wajah sedih untuk beberapa saat lamanya, ―Aku akan meninggalkan keluargaku, mereka tidak ada sangkut pautnya dengan pengkhianatanku, dengan sendirinya keluarga Huang akan berdiri untuk melindungi mereka. Kemurahan hati Tuan besar Huang Jin tiada bandingan, putera Tiong Fa si pengkhianat bahkan diangkat anak.‖
456
Melihat Tuan besar Huang Jin tidak mengatakan apa-apa, Tiong Fa melanjutkan uraiannya, ―Dengan demikian, pekerjaanku dalam gelap yang mendukung gerakan keluarga Huang untuk tampil ke depan dalam dunia persilatan, sama juga artinya aku sedang bekerja demi anak keturunanku sendiri.‖
Kemudian dengan seringai di wajahnya dia menambahkan, ―Lagipula, menikmati uang dan kekuasaan, entah itu dalam kegelapan atau di bawah terangnya matahari, sama sekali tidak ada bedanya bagiku. Semua tetap sama, semakin keluarga Huang berkuasa semakin besar pula kuasaku.‖
Dengan dingin Tuan besar Huang Jin menambahkan, ―Pengaturan ini pun, justru semakin memperbesar kebebasanmu untuk menggunakan kekuatan yang ada di tanganmu, demi tujuanmu sendiri.‖
Tiong Fa tidak merasa perlu untuk menutupi apapun dari saudara iparnya ini, kepercayaan mereka sejak lama dibangun atas dasar saling membutuhkan, ―Ya, tapi kaupun tahu, aku cukup bijak untuk mengetahui, bahwa lebih baik aku bersungguh-sungguh bekerja demi keluarga Huang daripada
457
mengkhianatinya. Kerajaan yang terpecah hanya akan menjadi lemah dan menjadi mangsa empuk bagi lawan-lawannya.‖
―Hmm…, lalu bagaimana dengan Pedang Angin Berbisik?‖, tanya Tuan besar Huang Jin.
Tiong Fa yang sudah memikirkan hal itu menjawab dengan ringan, ―Sebaiknya untuk sementara pedang itu aku yang membawa.‖
Tuan besar Huang Jin tidak mengatakan apa-apa, hanya alis matanya saja yang terangkat, meminta penjelasan lebih lanjut. Perasaannya sudah jauh lebih tenang, rencana Tiong Fa tampaknya akan membereskan semua kekacauan yang terlanjur terjadi.
―Hanya sampai aku berhasil membunuh Ding Tao, setelah itu, kita bisa mengatur siasat agar terjadi bentrokan antara keluarga Huang dengan sekelompok pengkhianat. Hasil dari pertempuran itu, meskipun tokoh utamanya, yaitu aku, berhasil lolos. Tapi Pedang Angin Berbisik jatuh ke tangan keluarga Huang.‖, jawab Tiong Fa, menjelaskan rencananya mengenai Pedang Angin Berbisik.
458
―Kurasa tidak perlu sejauh itu, Pedang Angin Berbisik, sebaiknya disimpan di sini, daripada Paman Tiong membawa-bawanya keluar. Tentu saja kita tidak akan mempergunakannya, sampai Ding Tao mati dan rencana penyerangan ke sarang Paman Tiong Fa terjadi.‖, ujar Huang Ren Fang.
Tajam mata Tiong Fa melirik ke keponakannya, kemudian dengan tersenyum dingin dia menjawab, ―Tentu saja, tidak masalah, meskipun membuat pekerjaan kita sedikit lebih banyak, karena jika pedang itu memang ada di tanganku, tentu lebih mudah untuk menunjukkan hal itu, bahwa memang akulah yang malam itu menyatroni kamar Ding Tao.‖
―Ya paman benar, tapi kurasa paman cukup cerdik untuk mengerjakan itu semua tanpa benar-benar memiliki pedang itu di tangan. Bahkan untuk sementara kita bisa menyebar desas-desus di luaran bahwa Ding Tao masih memiliki pedang itu dan mempercepat matinya pemuda itu. Kalaupun dia lolos dari pelacakan kita, akan banyak orang di luar sana yang mengendus-endus keberadaannya.‖
Kesal hati Tiong Fa, tapi dia tidak mau memperpanjang masalah itu, ―Hmm, sudah kukatakan tadi, tidak ada masalah.
459
Kalau menurutmu itu lebih baik, tapi tentu saja keputusan tetap ada di tangan ayahmu.‖
Huang Jin tersenyum dingin, ―Kalau Kakak Tiong, tidak ada masalah, akupun tidak ada masalah. Jadi biar saja pedang itu disimpan di sini.‖
Tuan besar Huang Jin mengangguk-angguk puas, semua masalah sudah berhasil dipecahkan. Tidak ada kerugian berarti, hanya seorang Zhang Zhiyi.
---------------------------- o --------------------------
Pagi hari datang memberikan kesegaran, untuk sesaat lamanya benak mereka yang baru saja terbangun setelah semalam tertidur lelap, menikmati kesegaran yang dirasakan. Sebelum masalah-masalah yang kemarin dan kekuatiran tentang masa depan, menyergap dan menarik kembali mereka pada kenyataan hidup yang seringkali tidak menyenangkan.
Bahagianya orang yang setelah bangun lalu sadar akan apa yang telah terjadi dan membayangkan apa yang di depan nanti, justru tersenyum dan tertawa, lalu bangkit dengan sepenuh semangat menyambut hari yang baru.
460
Ding Tao dan Huang Ying Ying, Tiong Fa dan Tuan besar Huang Jin, hari itu mereka bangun pagi dengan semangat yang menyala. Tersenyum mengenang hal-hal yang terjadi semalam dan dengan perasaan yang segar, menanti-nanti hal baik yang akan terjadi hari ini.
Jika Ding Tao dan Huang Ying Ying ikut mendengar pembicaraan Tiong Fan dan Tuan besar Huang Jin semalam, tentu berbeda lagi perasaan mereka. Demikian juga sebaliknya, jika saja Tuan besar Huang Jin ikut menyaksikan kejadian semalam di kamar Huang Ying Ying, mungkin dia tidak akan tersenyum selebar sekarang.
Apakah ada yang menangisi matinya Zhang Zhiyi? Sayangnya pemuda itu belum berkeluarga, meskipun kematiannya masih jadi bahan pembicaraan di hari yang ketiga ini, tapi tidak ada yang menangisi kepergiannya.
Saat Huang Ying Ying membuka pintu lemari, Ding Tao masih tertidur lelap. Perlahan gadis itu mengambil pakaian yang hendak dipakainya. Lalu berlutut di depan pemuda itu dan untuk beberapa lama dia hanya diam mengamati wajah kekasihnya.
461
Dengan wajah bersemu merah, gadis itu melompat berdiri dan pergi untuk mandi.
Ding Tao terbangun oleh suara gemericik dari arah kamar mandi, sejenak dia tercenung dan mengingat-ingat di mana dia berada sekarang. Ketika ingatannya sudah terkumpul, pemuda itu pun bangkit dan duduk bersila. Hatinya terasa ringan, masalah pedang sudah tidak lagi membebani dirinya. Perasaan yang lama terpendam sudah diungkapkan dan mendapat sambutan baik.
Hari ini adalah hari terbaik buat dia. Dengan mudah pemuda itu menyatukan pikirannya dan mulai melatih himpunan hawa murninya. Hawa liar dari Tinju 7 luka, masih bersembunyi dalam tubuhnya, tapi pemuda itu sudah mulai mengenali sifat-sifat dari hawa murni asing dalam tubuhnya itu.
Meskipun dia belum bisa mengendalikan atau membebaskan diri darinya, tapi setidaknya dia bisa membuat hawa asing itu tertidur dan tidak mengganggu saat Ding Tao sedikit demi sedikit berusaha menggunakan hawa murni miliknya untuk membantu tubuhnya menyembuhkan diri dari luka.
462
Suara gemericik air sudah lama berhenti, langkah kaki terdengar mendekat ke arah lemari, kemudian terdengar suara Huang Ying Ying berbisik, ―Kakak Ding, aku mau pergi keluar untuk makan pagi bersama, kakak tunggu sebentar ya, nanti aku bawakan sarapan untuk kakak.‖
Istirahat yang cukup dan hawa murni yang mulai terhimpun lagi, membuat tubuh Ding Tao terasa jauh lebih segar daripada kemarin. Selama Huang Ying Ying berada di luar, Ding Tao menyibukkan dirinya dengan latihan tenaga dalam, menghimpun hawa murni dan perlahan mencoba menyalurkannya ke bagian-bagian tubuh yang diinginkan.
Masih banyak jalur yang belum berhasil ditembus dan dengan adanya hawa murni asing dalam tubuhnya, Ding Tao tidak bisa seleluasa sebelumnya dalam menggunakan hawa murni. Setiap kali dirasanya hawa murni yang asing itu ikut bergejolak, maka ditahannya penggunaan hawa murni dalam tubuh. Menunggu hawa pukulan Tinju 7 Luka, kembali tertidur.
Cemas juga hati Ding Tao mengamati pergolakan yang terjadi dalam tubuhnya. Hawa pukulan Tinju 7 Luka, membuat dia tidak bisa dengan leluasa mempergunakan himpunan hawa murni yang dia miliki.
463
Terbayang dalam benaknya, apa yang terjadi dalam sebuah pertarungan bila penggunaan hawa murni harus dibatasi. Menghadapi lawan yang belum sampai pada taraf menggunakan hawa murni dalam bertarung, tidak akan menjadi masalah, tapi lawan-lawan yang ada di hadapannya sekarang bukanlah anak-anak kemarin sore.
Dalam hati diulanginya keterangan Tabib Shao yang disampaikan oleh Huang Ying Ying.
Biksu Khongzhe dan Pendeta Chong Xan, dua orang sakti yang mungkin bisa menyembuhkan lukanya.
Ada juga Perguruan Kongtong, tapi jika orang yang menyerangnya masih ada hubungan dengan Perguruan Kongtong, pergi ke sana, akan jadi perjalanan bunuh diri.
Kesempatan paling baik adalah pergi ke Shaolin atau ke Wudang. Menyadari situasinya yang sekarang kurang menguntungkan bagi Huang Ying Ying, pemuda itu memutuskan, semakin cepat dia pergi, semakin baik. Sewaktu Huang Ying Ying kembali ke kamarnya, Ding Tao sudah mengambil keputusan, untuk pergi malam itu juga.
464
Huang Ying Ying kembali ke kamarnya, diikuti oleh kakaknya Huang Ren Fu. Huang Ren Fu semalaman susah tidur, membayangkan keadaan adik perempuannya yang ―memasukkan‖ laki-laki ke dalam kamar. Ketika mereka bertemu pagi itu, ingin rasanya dia menginterogasi Huang Ying Ying, tapi rasa sayangnya mencegah dia untuk bertanya. Dia hanya bisa berharap dalam hati, kedua pasangan itu mampu menahan diri.
Tapi ketika Huang Ying Ying hendak kembali ke kamar, tanpa banyak omong, cepat-cepat pemuda itu menjajarinya. Huang Ying Ying tentu saja bisa mengerti, dia tidak sekeras malam sebelumnya. Kejadian semalam menyadarkan dia, bahwa godaan itu sedemikian besar, malah ada rasa bersyukur bahwa Huang Ren Fu mengikutinya. Sambil berjalan mengikuti Huang Ying Ying, Huang Ren Fu masih menyempatkan diri untuk mencomot 3 buah bakpau daging. Dia lihat Huang Ying Ying hanya sempat membawa sepotong kue dan beberapa macam buah-buahan.
Buat anggota keluarga yang lain, kedekatan dua bersaudara itu tidaklah terlalu mengundang pertanyaan. Mereka berdua memang dikenal saling menyayangi.
465
Sesampainya di kamar, mereka terlebih dahulu memastikan bahwa tidak banyak orang lalu lalang di luar. Huang Ren Fu memilih duduk di dekat jendela yang sengaja dia buka, sehingga dia dapat dengan mudah mengamati keadaan di luar. Setelah dia yakin keadaan cukup aman, Huang Ren Fu mengangguk perlahan pada Huang Ying Ying.
Hati kedua bersaudara itu tidaklah tenang, di siang hari begini, tentu akan ada saja orang yang lewat.
―Kakak Ding, kami membawa sedikit makanan untukmu‖, bisik Huang Ying Ying sambil membuka pintu lemari, tidak lebar-lebar, hanya setengah terbuka.
Ding Tao yang sudah menyelesaikan latihannya, menyambut Huang Ying Ying dengan senyuman. Ketika dilihatnya Huang Ren Fu duduk di pinggir jendela, pemuda itu pun mengangguk dengan sopan.
―Terima kasih Adik Ying, terima kasih Saudara Fu.‖
―Ini, makanlah saja dulu, tidak banyak yang bisa kubawa, tapi Kakak Ren Fu juga sempat mengambil 3 potong bakpau buatmu.‖, dengan lembut Huang Ying Ying meremas tangan
466
pemuda itu, lalu pergi ikut berduduk dengan Huang Ren Fu di pinggir jendela.
Huang Ren Fu sudah mengambil papan catur dan sedang mengaturnya di atas meja kecil yang ada. Dua bersaudara itu dengan cepat mulai memainkan permainan catur sambil mengobrol, seakan-akan tidak terjadi sesuatu yang berbeda dari hari biasanya.
Dengan penuh syukur Ding Tao menikmati makanan yang mereka bawakan. Pemuda itu mengunyah makanannya perlahan-lahan, sesekali dia mencuri pandang pada dua bersaudara yang sedang bermain catur. Terkadang dia sempat bertemu pandang dengan Huang Ying Ying yang sedang melihat ke arah dirinya.
Sorot pandang keduanya, tentu saja tidak lepas dari pengamatan Huang Ren Fu. Dalam hati pemuda itu mengeluh, apakah sepasang kekasih ini bisa bertahan melawan godaan, jika berhari-hari setiap malam mereka tinggal berdua dalam satu kamar?
Jangankan berhari-hari, baru satu malam saja, hubungan mereka sudah terlihat jauh melangkah. Mungkin mereka sendiri
467
tidak merasa, tapi Huang Ren Fu bisa melihat dengan jelas, perbedaan mereka berdua, hari ini dan hari-hari sebelumnya. Sebagai seorang kakak, meskipun dia ikut berbahagia untuk adiknya, tidak urung terselip juga rasa khawatir dan dorongan untuk melindungi adiknya dari tindakan-tindakan yang tidak diinginkan. Otaknya pun berputar keras, mencari cara untuk mengeluarkan Ding Tao dari kamar Huang Ying Ying adiknya.
Tidak sabar rasanya pemuda ini menanti Ding Tao selesai bersantap, sebuah rencana sudah mulai terbentuk dalam benaknya. Ingin dia segera mengajukan rencana itu pada Ding Tao, tapi Ding Tao justru makan dengan begitu lambatnya.
Dua kali permainan sudah Huang Ren Fu memenangkan permainan catur itu dan satu kali Huang Ying Ying memenangkannya, sebelum Ding Tao selesai menyantap habis seluruh makanan yang dibawa.
Tiga kali sudah, ada pelayan yang datang dan pintu lemari pakaian harus terburu-buru ditutup sementara makanan dipindahkan dulu ke meja. Sudah tentu perasaan ketiga orang itu sangat tegang dan tidak nyaman dan berharap malam segera tiba kembali. Terkecuali Huang Ren Fu yang tidak tahu, haruskah dia merasa senang bila malam tiba. Rahasia
468
keberadaan Ding Tao di kamar Huang Ying Ying akan lebih aman, tapi justru ―keamanan‖ adiknya yang akan membuat dia susah tidur.
Karena itu ketika dia melihat Ding Tao selesai bersantap, segera saja Huang Ren Fu mengajak pemuda itu berbicara, ―Ding Tao, bagaimana keadaanmu hari ini?‖
―Sudah lumayan baik Saudara Fu, kukira hari ini juga aku sudah bisa meninggalkan rumah kalian.‖
―Meninggalkan rumah kami?‖, Huang Ren Fu menegas, meskipun dia tidak ingin Ding Tao berlama-lama di kamar Huang Ying Ying, tapi perkataan Ding Tao itu jauh di luar dugaannya.
Apalagi bagi Huang Ying Ying, bukan main kagetnya, dengan suara tercekat dia bertanya, ―Kakak Ding, apa kakak sedang bercanda? Kondisi kakak belum pulih benar, mengapa hendak cepat-cepat pergi? Apakah Kakak Ding merasa sakit hati pada keluarga kami?‖
―Adik Ying benar Saudara Ding, apakah kondisimu sudah benar-benar pulih, jika belum sebaiknya kau bersabar dulu.‖, tambah Huang Ren Fu yang merasa lega sekaligus khawatir.
469
Lega bagi adiknya tapi khawatir bagi Ding Tao, seperti sebagian besar dari anak muda yang menyaksikan pertandingan antara Ding Tao dan keluarga Huang, pertandingan itu telah menimbulkan kekaguman dan rasa simpati dalam hatinya.
―Adik Ying, jangan berpikir yang tidak-tidak. Tidak sedikitpun aku menyimpan rasa sakit hati pada keluarga kalian.‖, ujar Ding Tao berusaha menenangkan hati Huang Ying Ying.
―Saudara Fu, Kondisiku sudah jauh lebih baik dan kurasa istirahat lebih banyak tidak akan membuatnya jadi lebih baik lagi. Apalagi situasi sekarang tidak begitu nyaman untuk kita semua, karena itu setelah memikirkannya, aku memutuskan untuk berusaha keluar dari rumah kalian malam ini juga.‖
Memerah wajah Huang Ying Ying mendengar penjelasan Ding Tao, tentu saja dia mengerti apa yang dimaksudkan dengan situasi yang kurang nyaman, tapi hatinya masih berat untuk melepaskan pemuda itu.
Sambil menggigit bibir dia bertanya dengan lemah, ―Tapi, bagaimana dengan urusan pedangmu? Apakah kau tidak menginginkannya kembali?‖
470
Ding Tao menggeleng, ―Tidak, hal itu sudah kupikirkan pula baik-baik tadi malam. Dalam keadaanku sekarang ini, dengan cara apa hendak merebut kembali pedang itu? Kalaupun kemudian aku berhasil mencuri kembali Pedang Angin Berbisik dengan bantuan kalian, besar kemungkinan aku tidak akan berhasil mempertahankan pedang itu di luaran. Bukan tidak mungkin pedang itu justru akan jatuh ke tangan antek-anteknya Ren Zuocan. Lebih baik pedang itu ada dalam tangan Tetua Tiong daripada jatuh ke tangan mereka.‖
Sambil menggelengkan kepalanya sekali lagi dia menegaskan, ―Tidak, sudah kupikirkan baik-baik dan menurutku untuk sementara ini aku tidak akan melibatkan diri dengan masalah pedang itu.‖
―Saudara Ding, baik sekali pemikiranmu, tapi jika demikian apa yang akan kau lakukan dengan pesan Pelatih Gu untukmu?‖, tanya Huang Ren Fu.
―Pesan guru yang utama, adalah menggunakan bekal yang akan kumiliki untuk membantu dunia persilatan kita membendung ambisi Ren Zuocan dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya, dengan atau tanpa Pedang Angin Berbisik. Menimbang keadaanku saat ini, maka yang
471
terpenting adalah menyembuhkan luka dalam tubuhku terlebih dahulu. Mungkin aku akan mencoba pergi ke Shaolin dan memohon kebaikan hati Biksu Khongzhe.‖, jawab Ding Tao dengan suara yang wajar, tanpa menyembunyikan apa pun.
Huang Ren Fu semakin kagum pada pemuda itu, pada ketenangannya dan juga pada kebesaran hatinya.
―Saudara Ding, sungguh aku merasa kagum padamu. Jika kau mengijinkan aku memanggilmu sebagai sahabat, aku akan sangat merasa berbahagia.‖, ujar Huang Ren Fu dengan tulus.
Wajah Ding Tao pun memerah karena malu, ―Saudara Fu terlampau tinggi memuji, tentu saja aku akan dengan senang hati menjadi sahabatmu.‖
Tertawa bergelak Huang Ren Fu bergerak melompat, dalam satu lompatan yang ringan dia sudah sampai di depan Ding Tao, tangannya terulur menawarkan persahabatan. Ding Tao pun dengan senang menerima uluran tangan itu. Jabatan tangan yang hangat mewakili perasaan dalam hati.
―Sahabat.‖, ujar Huang Ren Fu pendek.
―Sahabat.‖, jawab Ding Tao tidak kalah pendeknya.
472
Tapi yang singkat itu membawa seribu arti, jauh lebih dalam daripada sebuah upacara mengikat sumpah setia sebagai saudara. Huang Ying Ying tentu saja merasa ikut senang dengan hal itu. Yang satu adalah pemuda yang dia kasihi, yang seorang lagi adalah kakak yang dia sayangi. Melihat mereka bersahabat demikian akrab, hatinya jadi terhibur.
Dengan manja dia pun mengeluh,‖Huuh… dasar anak laki-laki, ketemu teman, lupa dengan saudara sendiri.‖
Ding Tao dan Huang Ren Fu tertawa mendengar keluhan Huang Ying Ying.
Tiba-tiba gadis itu berbisik, ―Ssstt.. ada yang mau lewat.‖
Dengan cepat Huang Ren Fu kembali ke tempat duduknya, berpura-pura sedang berpikir untuk mengalahkan adiknya dalam permainan catur. Ding Tao dengan cepat menutup kembali pintu lemari. Menunggu sampai keadaan aman, barulah mereka kembali bercakap-cakap.
―Saudara Ding, apakah sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu untuk meninggalkan rumah kami malam nanti? Seperti kata Adik Ying, kiranya keputusan itu janganlah karena terdorong oleh rasa sakit hati, jangan pula kau terlalu
473
mengkhawatirkan situasimu saat ini yang terpaksa bersembunyi di dalam kamar Adik Ying. Karena kupikir, aku sudah menemukan jalan untuk memindahkanmu dari kamar ini ke kamarku.‖, ujar Huang Ren Fu.
Mendengar itu Ding Tao jadi berpikir pula sejenak, memang alasan utama dari keputusannya untuk keluar malam itu juga, adalah untuk mejaga kehormatan gadis yang dikasihinya. Dengan hati berdebar, Huang Ying Ying menunggu jawaban dari Ding Tao.
Sesaat kemudian Ding Tao menegakkan kepala dan menjawab, ―Ya, sudah kupikirkan matang-matang, rasanya ini keputusan yang terbaik, jika orang-orang sudah selesai memeriksa segenap penjuru kota, tentu mereka akan berpikir ulang dan sadar bahwa kemungkinan terbesar justru aku masih bersembunyi di sini. Pada saat itu, untuk meloloskan diri akan jadi semakin sulit.‖
―Hemm… benar juga pemikiranmu, semakin lama berada di sini keadaanmu justru semakin berbahaya.‖, gumam Huang Ren Fu.
474
Huang Ying Ying mendesah sedih, sadar bahwa alasan Ding Tao cukup kuat, gadis ini tidak dapat lagi menahan Ding Tao lebih lama. Perpisahan dengan Ding Tao akan menyedihkan hatinya, tapi dia tidak ingin Ding Tao terancam bahaya hanya untuk menyenangkan dirinya.
―Kakak Ding, jika demikian, aku akan menyiapkan bekal bagimu.‖, sambil berbangkit berdiri dan menyembunyikan mata yang mulai membasah, Huang Ying Ying cepat-cepat meninggalkan kamar.
Pandang mata Huang Ren Fu dan Ding Tao mengikuti kepergian gadis itu. Huang Ren Fu mendesah, dia sadar akan perasaan Huang Ying Ying pada Ding Tao. Diapun berdiri hendak meninggalkan kamar itu, ―Saudara Ding aku pun akan berusaha menyiapkan kepergianmu, akan coba kuatur penjagaan di sekitar rumah ini, supaya ada celah bagimu untuk keluar.‖
―Terima kasih, dan jika Saudara Fu punya cara untuk memindahkan aku secara diam-diam ke kamarmu, kupikir lebih baik jika aku berusaha meloloskan diri dari sana.‖
475
Sambil mengangguk, tanpa menoleh ke arah lemari yang sudah tertutup lagi, Huang Ren Fu mengiyakan, ―Tentu, selekasnya aku akan kembali lagi untuk memberimu kabar, tentang hal itu, sebaiknya dilakukan lewat malam pula.‖
Kamar itu pun kembali lenggang, dalam lemari tinggal Ding Tao sendiri yang dengan hati berdebar, menunggu malam tiba. Keputusan sudah dibuat dengan tekad yang bulat, tapi tak urung hatinya berdebar, apakah dia akan berhasil lolos ataukah mati di ujung pedang. Jika dia harus mati malam ini, betapa dia akan penasaran, tugas dari gurunya belum juga berhasil dia selesaikan. Dalam hidup juga dia merasa belum melakukan sesuatu yang berarti, jika harus mati betapa sia-sia dia dilahirkan.
Beberapa kali Huang Ying Ying kembali ke kamarnya, tapi tidak berlama-lama di sana, hanya sekedar meninggalkan makanan dan beberapa pesan dari Huang Ren Fu untuk Ding Tao.
Ding Tao menggunakan waktu yang ada, untuk menenggelamkan dirinya dalam latihan tenaga dalam. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan sekarang, kecuali menunggu, dan Ding Tao bukanlah orang yang suka membuang waktu dengan percuma.
476
Baru setelah matahari tenggelam dan rumah kediaman keluarga Huang hanya diterangi cahaya dari lampu-lampu yang dipasang, Huang Ying Ying kembali ke dalam kamarnya. Lama sebelum dia memberanikan diri untuk mengajak bicara Ding Tao.
―Kakak Ding, apakah kakak sudah bersiap?‖
Perlahan pintu lemari membuka, Ding Tao sudah bersiap sejak tadi. Hatinya yang sudah dikuat-kuatkan sekarang terasa berat, saat Huang Ying Ying ada di hadapannya. Lidahnya terasa kelu, tidak tahu hendak berkata apa. Wajah gadis itu terlihat begitu sedih, hingga Ding Tao rasanya ingin menangis saja.
Melihat Ding Tao, Huang Ying Ying mencoba tersenyum meskipun pahit dalam hati, ―Kakak Ding, berhati-hatilah.‖
Ding Tao hanya bisa mengangguk, tidak bisa berkata apa-apa. Sesuai dengan pesan Huang Ren Fu, Ding Tao akan berpindah dari kamar Huang Ying Ying menuju ke kamar Huang Ren Fu melewati langit-langit rumah, kedua kamar itu masih terhubung lewat langit-langit rumah yang sama. Dengan ringan Ding Tao melompat ke atas lemari pakaian Huang Ying Ying, dan dari situ baru dia membuka salah satu papan yang ada.
477
Terlihat lubang gelap menganga, dengan mudah Ding Tao mengangkat tubuhnya menghilang ke dalam lubang itu.
Saat Huang Ying Ying melihat dia menghilang, tak kuasa menahan dia berseru tertahan, ―Kakak Ding…‖
Mendengar panggilan Huang Ying Ying, Ding Tao menjenguk kembali ke bawah. Hatinya semakin berat untuk meninggalkan Huang Ying Ying sendiri.
―Adik Ying…, aku harus pergi.‖, ujarnya dengan sedih.
Huang Ying Ying mengangguk dengan mata yang basah, ―Ya aku tahu…, Kakak Ding, jangan lupa, aku akan selalu menunggumu.‖
Ding Tao mengangguk, tidak tahan menahan tangis, Huang Ying Ying mendorong pemuda itu untuk selekasnya pergi dengan senyum yang dipaksakan, ―Pergilah cepat. Kakak Fu sudah menunggumu.‖
Kali itu Ding Tao benar-benar pergi, sekali lagi dia menghilang ditelan lubang yang gelap, papanpun digeser kembali ke tempatnya. Air mata yang tadi ditahan-tahan, akhirnya tercurah juga. Di atas sana, Ding Tao masih sempat mendengar sayup-
478
sayup isak tangis Huang Ying Ying, tapi pemuda itu mengeraskan hati dan terus berjalan.
Tidak sulit untuk menemukan kamar Huang Ren Fu, karena Huang Ren Fu sudah terlebih dahulu menggeser salah satu papan penutup langit-langit kamarnya. Dari kegelapan tempat Ding Tao berada, lubang itu tampak begitu mencolok.
Sesampainya di lobang itu Ding Tao melongokkan kepalanya, Huang Ren Fu sudah menanti di sana.
―Saudara Ding, keadaan aman, cepatlah turun.‖
Tanpa banyak suara, Ding Tao melompat ke bawah dengan ringan. Tidak banyak kata diucapkan di antara mereka, bekal berupa buntalan pakaian, sejumlah uang dan sebilah pedang sudah disiapkan.
―Saudara Ding, berita tentang dirimu dan Pedang Angin Berbisik sudah mulai menyebar dalam dunia persilatan, sebisa mungkin sebaiknya dirimu berpergian dengan menyamar. Ini ada sedikit uang, bisa kau gunakan untuk menyewa tandu atau keperluan yang lain. Besok pagi, aku dan beberapa orang akan pergi ke gerbang timur kota. Jangan sampai terlambat di sana, jika ada orang-orang dari keluarga Huang atau orang-orang
479
dunia persilatan yang berusaha menunggumu di sana, kami yang akan mengalihkan perhatian mereka.‖
―Saudara Fu, terima kasih banyak.‖, ujar Ding Tao dengan suara tercekat karena haru.
Sambil menepuk pundak Ding Tao, Huang Ren Fu menjawab, ―Tidak usah banyak kaupikirkan, hanya satu pintaku, jika suatu hari nanti keluarga kami berbuat salah padamu. Moga-moga kau tidak lupa, di sini ada orang-orang yang sudah dengan tulus berusaha membantumu.‖
―Tentu, hutang budi harus dibalas, lepas dari itu, kau adalah sahabatku. Seandainya ada kejadian aku bentrok dengan keluarga kalian, mengingat persahabatan kita, sebisa mungkin aku akan mengalah.‖, jawab Ding Tao dengan tulus.
Tidak banyak lagi yang bisa dikatakan, sebentar kemudian Ding Tao sudah lenyap dalam gelapnya malam. Di pesannya siang tadi Huang Ren Fu sudah menjelaskan jalan-jalan yang aman untuk dilalui sampai keluar dari kediaman keluarga Huang. Tidak sulit untuk mengatur hal itu bersama dengan mereka, yang mengikat sumpah untuk mempertahankan keluarga Huang dari kelicikan Tiong Fa.
480
Dalam gelapnya malam, Ding Tao berhasil keluar dari rumah kediaman keluarga Huang tanpa banyak mengalami gangguan. Keesokan harinya, seperti yang sudah dijanjikan Huang Ren Fu bersama beberapa orang yang lain pergi ke gerbang timur kota. Huang Ren Fu tidak bisa melihat Ding Tao ada di sana, tapi setelah beberapa lama menunggu, Huang Ren Fu memutuskan untuk memulai kericuhan kecil. Sebuah perkelahian pura-pura, antara Huang Ren Fu dan kelompoknya, melawan beberapa orang dari mereka yang menyamar.
Hingga akhir perkelahian sandiwara itu berakhir, Huang Ren Fu dan teman-temannya tidak melihat Ding Tao keluar dari gerbang kota. Mereka hanya bisa berharap, kericuhan itu sudah cukup untuk menarik perhatian, dan memberi kesempatan bagi Ding Tao untuk keluar dari kota dengan selamat, tanpa ada orang yang berhasil mengenalinya.
Sebenarnyalah demikian, Ding Tao mungkin seorang yang lugu, tapi dia bukan seorang yang bodoh.
Ding Tao menyamar dengan mengenakan sehelai jubah panjang dan buntalan baju diselipkan di baliknya, lalu berjalan dengan setengah berjongkok. Sebuah topi anyaman, menutupi wajahnya. Bagi orang yang melihat, dia terlihat seperti seorang
481
gendut dan pendek, dengan jubah yang sedikit kepanjangan. Salah satu ciri yang paling menonjol dari Ding Tao adalah tinggi badannya yang di atas rata-rata. Dengan sedikit penyamaran itu, Ding Tao berhasil mengelabui orang-orang yang berusaha mencarinya.
Berjalan dengan cara demikian tentu sangat melelahkan, segera setelah melewati gerbang kota dan berada di tempat yang jauh dari pandang mata orang, pemuda itu melepas lelah, duduk bersandar di sebuah pohon besar.
Menatap lama ke arah kota, Ding Tao mengenang segala kebaikan keluarga Huang padanya. Dalam hati dia berharap, suatu saat dia bisa kembali ke sana dengan kepala tegak. Ya, suatu saat nanti, setelah tugas yang dipercayakan gurunya selesai dilaksanakan.
X. Bermain-main dengan maut
Selama beberapa hari perjalanan Ding Tao menuju Bukit Songshan berjalan tanpa banyak halangan. Setiap kali melewati kota atau desa kecil, atau berjalan bersama-
482
rombongan lain, Ding Tao tetap dengan penyamaran yang sama. Hanya saat berjalan sendirian, dia berjalan seperti biasa.
Tapi salah jika Ding Tao mengira dirinya sudah aman dengan penyamaran yang sederhana itu. Penyamaran Ding Tao mungkin bisa menipu mereka yang belum berpengalaman. Tapi mata awas mereka yang sudah kenyang makan asam garamnya dunia persilatan, bisa mengendus penyamaran Ding Tao yang sederhana itu.
Ding Tao yang cermat dalam bekerja tidak mudah terbuai dengan keadaan yang tenang itu. Meskipun Ding Tao kurang dalam pengalaman, tapi sifatnya yang cermat membuat pemuda itu tidak lalai dalam mengamati keadaan di sekelilingnya, serta orang-orang yang dia temui sepanjang perjalanan. Setelah berjalan beberapa hari dan melewati dua tiga kota, Ding Tao mulai sadar bahwa dirinya sedang diikuti orang. Pemikiran itu mulai timbul ketika dia menyadari bahwa ada orang-orang yang sama, yang pernah dia temui beberapa hari sebelumnya, secara mengherankan muncul kembali di kota dia berada. Padahal mereka sudah dia tinggalkan beberapa hari sebelumnya.
483
Sejak itu pengamatannya ditingkatkan, terutama terhadap orang-orang yang dia curigai itu. Dengan sengaja Ding Tao mengambil jalan memutar, pemuda itu tidak mengambil jalan yang akan langsung mengantarnya menuju ke pusat Biara Shaolin. Sedikit menyimpang, Ding Tao melewati terlebih dahulu beberapa kota kecil.
Otaknya yang cerdas, matanya yang awas dan sifatnya yang tekun, bekerja keras. Satu hari, Ding Tao dengan sengaja berlama-lama, melepas lelah di sebuah penginapan. Dari hasil pengamatannya ada tiga kelompok berbeda yang sedang mengikuti dirinya.
Kelompok pertama, terdiri dari sekitar 11 orang, bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara bergantian.
Terkadang dua orang akan mengikuti Ding Tao dari dekat, sampai dia beristirahat di kota tertentu. Kemudian untuk menyamarkan pengintaian mereka, kelompok yang berbeda akan ganti mengikuti Ding Tao. Menurut perkiraan Ding Tao, tentu kelompok-kelompok kecil yang lain, mengikuti dari jarak yang lebih jauh, di mana Ding Tao tidak melihat mereka, namun mereka masih bisa berhubungan lewat kode ataupun tanda yang ditinggalkan.
484
Dengan cara mengintai bergantian ini, Ding Tao tidak merasa sedang diikuti, sampai kelompok yang sama kembali bertugas mengikuti dirinya. Jika saja Ding Tao tidak dengan cermat selalu mengamati orang-orang yang dia temui, tentu muslihat mereka ini tidak akan diketahuinya.
Inilah salah satu kesalahan banyak orang dalam menilai Ding Tao. Seringkali orang mengartikan kejujuran Ding Tao sebagai kebodohan. Ding Tao jujur dan sering mudah ditipu karena kejujurannya, tapi dia bukan bodoh. Apalagi dia baru saja kena dikelabui oleh Tiong Fa, seorang tetua yang menimbulkan kekaguman dalam hatinya, ternyata seorang pengkhianat yang bermuka dua. Ding Tao yang jujur jadi lebih berhati-hati dalam bertindak, apalagi menghadapi orang yang tidak dia kenal.
Kelompok kedua, adalah sepadang laki-laki dan perempuan yang ahli menyamar. Pada satu hari mereka akan berjalan di dekat Ding Tao sebagai sepasang pedagang, yang perempuan pun menyamar jadi laki-laki. Kemudian setelah sampai di kota, mereka berganti samaran pula menjadi sepasang kakek dan nenek. Pernah juga mereka menyamar sebagai seorang ayah dengan anak perempuannya.
485
Penyamaran mereka sungguh bagus. Jika saja Ding Tao tidak menjadi lebih waspada setelah terbongkarnya muslihat dari kelompok yang pertama, mungkin dia tidak akan pernah menyadari muslihat sepasang laki-laki dan perempuan ini.
Semenjak Ding Tao curiga dirinya sedang diikuti, maka pengamatannya terhadap rekan-rekan seperjalanannya semakin dipertinggi. Ketika Ding Tao sadar, dalam perjalanannya, kapanpun itu, setiap saat, setidaknya selalu ada dua orang dengan tinggi badan yang sama, yang berada dalam jarak jangkauan untuk mengikuti dirinya. Timbul pula rasa curiganya.
Tinggi kedua orang itu jadi makin nampak, karena keduanya selalu bersama. Tentu saja Ding Tao sadar, bisa jadi perasaan itu timbul karena ketakutannya. Sudah hal yang jamak, ketika seorang pencuri mau beraksi, seakan-akan jalan dipenuhi polisi. Atau ketika seorang pasangan suami istri menginginkan keturunan, tiba-tiba jalanan sepertinya dipenuhi dengan ibu yang sedang hamil. Ding Tao sadar, pengamatannya pun tentu dipengaruhi oleh kondisi psikologisnya yang merasa terancam oleh tersebarnya berita bahwa dirinya memiliki Pedang Angin Berbisik.
486
Oleh karena itu Ding Tao pun menyiapkan satu ujian. Dengan sengaja dia berpura-pura sudah beristirahat di dalam kamar, padahal dari celah kecil di jendela dia mengamati pasangan yang dia curigai itu. Ketika mereka berlalu, maka ganti Ding Tao yang dengan diam-diam mengikuti mereka. Sampai didapatnya keterangan di mana pasangan itu menginap dan di kamar nomor berapa.
Keesokan paginya, pagi-pagi buta, Ding Tao sudah pergi untuk mengawasi kamar tempat pasangan itu menginap dan benar juga pasangan yang berbeda muncul dari kamar itu.
Belum puas, Ding Tao pun mengikuti pasangan itu diam-diam dan benar juga, pasangan itu menunggu di tempat yang strategis, mengintai, siap untuk mengikuti Ding Tao kembali di hari itu. Tidak ingin orang tahu bahwa muslihatnya sudah terbongkar, Ding Tao masuk kembali ke penginapannya kewat pintu belakang dan baru setelah matahari terbit cukup lama dia melanjutkan perjalanan.
Kelompok pengintai ketiga, terbongkar secara tidak sengaja. Ding Tao yang sedang menikmati indahnya alam dan mengawasi langit yang cerah, secara tidak sengaja melihat seekor burung merpati pos terbang menuju ke arah kota yang
487
dia tuju. Merpati pos memang sering digunakan, tapi sekali lagi bagi orang dalam situasi seperti Ding Tao, setiap hal bisa menjadi sebuah tanda dari satu ancaman terhadap dirinya.
Seandainya saja pemuda ini bukan seseorang yang berkarakter kuat, mungkin syarafnya sudah terlalu tegang dan jadi gila. Atau jadi terhimpit ketakutan, putus asa lalu bunuh diri.
Tapi Ding Tao dengan cermat dan tenang menguji setiap keanehan yang dia tangkap. Maka melihat hal itu, timbul pertanyaan apakah burung merpati itu terbang untuk memberi tanda pada orang di kota tujuan dia berikutnya bahwa dia sedang mengarah ke sana?
Maka dengan sengaja Ding Tao berbalik arah, masuk kembali ke dalam kota yang baru saja dia tinggalkan. Matanya yang awas mengamati sekelilingnya, benar saja, seekor merpati pos kembali dilepaskan.
Keesokan paginya Ding Tao berpura-pura hendak melanjutkan perjalanan, matanya dengan awas mengamati hingga dilihatnya orang yang kemarin melepaskan merpati pos, ternyata sudah siap lagi di sana. Dengan tenang Ding Tao berjalan ke arah orang itu. Orang itu terlihat sedikit gugup, namun berpura-pura
488
sedang sibuk dengan peliharaannya. Ding Tao tidak menegur orang itu, tapi dia lewat cukup dekat untuk mengamati lebih jelas orang tersebut.
Setiap ciri yang tidak wajar, terekan di benaknya. Hari itu Ding Tao kembali tidak melanjutkan perjalanan.
Keesokan paginya Ding Tao memilih tujuan yang berbeda, dan keluar dari gerbang lain kota itu. Matanya sekali lagi mengawasi di sekitar jalan keluar dari kota dan benar saja, ada yang siap melepaskan merpati. Berlagak sedang menanyakan jalan, Ding Tao pergi untuk menegur orang itu, bertanya macam-macam tentang jalan yang hendak dia tempuh. Setelah puas bertanya-tanya, Ding Tao pun mengambil jalan itu dan seekor merpati dilepaskan mengarah ke sebuah persimpangan yang akan dia lewati.
Tapi satu hal membuat DIng Tao tersenyum, dua orang yang berbeda, sama-sama membawa merpati pos dan di pergelangan tangan mereka, terdapat sebuah tatoo yang sama. Sebuah tatoo berbentuk laba-laba berkaki tujuh.
Demikianlah setiap kecurigaan dia uji dan akhirnya setelah puas menguji Ding Tao sampai pada kesimpulan bahwa ada 3
489
kelompok berbeda yang sedang mengikuti dirinya. Setelah sampai pada kesimpulan itu, Ding Tao pun beristirahat dambil memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan.
Beberapa pertanyaan dia ajukan pada dirinya sendiri.
Apa tujuan dari mereka mengikutinya? Pertanyaan ini cukup mudah untuk dijawab, jawabannya adalah Pedang Angin Berbisik.
Jika demikian, bukankah dia bisa membebaskan diri dari ancaman bahaya dengan mengungkapkan kebenarannya, bahwa pedang itu sudah dicuri oleh Tiong Fa? Sambil menggeleng-geleng pemuda itu mengenyahkan ide itu dari benaknya. Yang pertama, hal itu akan menyusahkan keluarga Huang, meski Tiong Fa yang dituju, tapi hingga saat ini Tiong Fa masih menjadi bagian dari keluarga Huang.
Yang kedua, semakin sedikit orang yang tahu bahwa pedang itu ada dalam genggaman Tiong Fa, semakin besar kesempatan bagi dirinya untuk merebut kembali pedang itu dari tangan Tiong Fa.
Dan yang ketiga, tidak ada jaminan bahwa mereka akan membiarkan dia hidup setelah dia mengungkap keberadaan
490
Pedang Angin Berbisik yang sebenarnya. Yang lebih mungkin adalah, mereka akan membungkam mulutnya untuk selamanya agar sesedikit mungkin orang yang tahu jejak terakhir dari Pedang Angin Berbisik.
Pertanyaan selanjutnya, mengapa mereka tidak juga bergerak untuk menangkap dirinya, merebut pedang itu. Atau kalau mereka dapatkan Ding Tao tidak membawa pedang itu, setidaknya berusaha mengorek keberadaan pedang itu dari dirinya, mengapa? Ding Tao berpikir untuk beberapa lama sebelum dia menjawab. Jawabannya adalah karena ketiga kelompok itu sadar bahwa ada kelompok lain yang juga mengikuti dirinya. Tentunya saat yang satu bergerak yang lain tidak akan diam saja.
Lalu jika benar demikian, apa yang akan mereka lakukan?
Menghela nafas Ding Tao berusaha membayangkan dirinya sedang berada dalam situasi yang dihadapi oleh pengintai-pengintainya itu. Yang pertama, dia akan menunggu, jika dua pihak bertempur memperebutkan dirinya, maka pihak ketiga dapat mengambil keuntungan. Tapi hal itu pula yang menyebabkan ketiganya saling menunggu sampai sekarang. Tentunya harus ada langkah lain yang diambil.
491
Hanya ada satu langkah lagi, yaitu, ketiga kelompok itu akan berusaha memperkuat kedudukannya sebelum berusaha menangkap Ding Tao.
Dan itu berarti, jika Ding Tao larut dalam permainan mereka, maka suatu saat, salah satu dari ketiga kelompok itu akan sampai pada kedudukan yang cukup kuat. Pada saat itu, nasib Ding Tao akan ditentukan, tapi siapapun yang menang, Ding Tao lah yang merugi. Dia sadar akan kondisi tubuhnya saat ini, dengan hawa murni Tinju 7 Luka yang masih mengeram di dalam tubuhnya, dia menjadi mangsa empuk bagi orang-orang dunia persilatan.
Jika nasibnya baik, maka keseimbangan di antara ketiga penguntit itu akan terus terjaga sampai dia mencapai Shaolin. Tapi semakin dekat dia dengan tujuan, akan semakin mudah untuk menebak bahwa Ding Tao berencana untuk pergi ke Shaolin dan ketiga kelompok itu tentu tidak akan mengijinkan hal itu terjadi.
Ding Tao mulai memikirkan rencana untuk menggerakkan permainan ke arah yang menguntungkan dirinya. Setiap ingatan digali, setiap informasi dikumpulkan, setiap kemungkinan dijajagi. Mungkin agak aneh bagi pembaca yang
492
mengikuti keadaan pemuda ini, seulas senyum berkembang di mulut pemuda ini. Apa artinya ini? Bukankah hidupnya dalam ancaman bahaya? Apakah senyum ini hanyalah sebuah senyum palsu, tapi jika palsu siapa yang hendak ditipu? Bukankah dia sedang sendirian di dalam kamar?
Masalahnya Ding Tao, mulai terjangkit penyakit yang sama dengan orang-orang berwatak kuat dan berotak encer lainnya. Ketika menemui masalah yang menantang otaknya untuk bekerja keras, mereka cenderung memandangnya sebagai sebuah tantangan yang mengasyikkan.
Seperti ilmuwan yang mengotak-atik satu formula hingga lupa makan dan lupa waktu. Atau seperti detektif ulung yang dengan asyiknya berusaha mengungkap satu kejahatan.
Semakin sering mereka berhasil memecahkan masalah dengan sel abu-abunya itu, semakin haus pula mereka pada tantangan untuk otak mereka. Ding Tao sudah menggumuli permasalahan jurus-jurus silat dan berhasil memecahkannya. Sudah beberapa kali pula dia bertempur dengan tipe-tipe yang berbeda dan dia berhasil menghadapi setiap tantangan itu bukan melulu bersandar pada kekuatan atau kecepatan, tapi juga dengan menggunakan pemikiran yang cerdas.
493
Kelemahannya saat ini, situasinya saat ini, jadi satu tantangan baru bagi Ding Tao. Tantangan yang lebih menantang, ibaratnya sudah biasa menang berkelahi dengan dua tangan, kemudian dengan sengaja mengikat satu tangan untuk membuat perkelahian jadi lebih menantang.
Dengan kondisinya yang tidak memungkinkan dia untuk lolos dengan mengandalkan permainan pedang, Ding Tao jadi tertantang untuk mengandalkan kecerdikannya untuk lolos dari situasi yang membahayakan jiwanya ini. Apakah dia tidak takut mati? Tentu saja Ding Tao pun takut mati, tapi jika dia masih bisa tersenyum saat ini, setidaknya ada dua alasan yang bisa dikatakan.
Yang pertama, orang muda memang cenderung untuk kurang menyadari betapa pendeknya hidup. Lihat saja dari mereka yang suka menyerempet bahaya, sebagian besar berumur muda. Semakin muda umurnya, semakin mereka tidak menyadari akan kematian yang bisa menjemput kapan saja.
Yang kedua, kalau seseorang sudah kecanduan pada sesuatu, kenikmatan dari memenuhi kecanduan ini tidak jarang melampaui ketakutan mereka pada kematian. Itu sebabnya
494
tidak sedikit orang yang memiliki hobby yang menyerempet bahaya.
Sedikit demi sedikit, sebuah rencana mulai terbentuk dalam benak Ding Tao. Menjelang tengah malam, pemuda itu sudah memiliki keputusan yang mantap. Dengan tubuh dan pikiran yang lelah, tapi hati tenang, pemuda itu memejamkan mata dan tidur dengan nyenyak.
Keesokan paginya, ketiga kelompok penguntit itu mendapat kejutan besar. Sedikit lebih siang dari biasanya, Ding Tao keluar dari penginapan tanpa penyamaran. Dengan pakaian ringkas dan pedang di tangan, wajah penuh semangat dan senyum dikulum.
Semalam dia sudah beristirahat baik-baik, setelah bangun pemuda itu tidak lupa untuk melatih hawa murninya dan berlatih jurus-jurus yang dia miliki. Kemudian dia mandi air hangat dan sekarang dalam keadaan segar dan siaga, pemuda itu melangkah menuju ke sebuah rumah makan. Setelah selesai makan pun dia tidak terburu-buru bangun dari kursinya, dibiarkannya tubuhnya mencerna makanan itu dengan sebaik-baiknya. Tubuh segar, tenaga terkumpul, hati tenang, perut kenyang.
495
Sambil bangkit berdiri Ding Tao merenggangkan otot-ototnya, senyum dikulum tak pernah lepas dari wajahnya. Pandang matanya tajam menyorot ke sekeliling ruangan. Ketiga kelompok yang menguntit dirinya berada pula di sana, buru-buru mereka mengalihkan pandangan pada makanan masing-masing. Benak mereka penuh dengan pertanyaan, menebak-nebak, apa isi otak Ding Tao saat ini.
Dengan tenang Ding Tao melangkah ke arah salah satu dari kelompok penguntit itu. Hati setiap orang pun mulai berdebar-debar, terutama mereka yang didekati oleh Ding Tao. Tangan-tanganpun mulai bergerak memegang gagang senjata.
Semakin dekat Ding Tao melangkah, tanpa terasa gagang senjata pun semakin erat digenggam. Saat Ding Tao sampai di hadapan mereka, buku-buku jari mereka sudah memutih saking eratnya mereka menggenggam senjata. Berbalik 180 derajat keadaannya dengan Ding Tao, pembawaannya tenang, tubuhnya berdiri dengan rileks, wajahnya terang. Sambil membawa pedang yang masih tersimpan aman dalam sarungnya, pemuda itu memberi hormat dan menyapa dengan sopan.
496
―Apa kabar? Kalau tidak salah, paman ini Paman Fu Tsun. Bagaimana kabarnya Wang Chen Jin? Kuharap dia tidak dihukum terlalu berat oleh Paman Wang Dou karena menghilangkan Pedang Angin Berbisik.‖
Ya, salah satu dari 3 kelompok yang menguntit Ding Tao, adalah anak buah Wang Dou. Sejak kehilangan Pedang Angin Berbisik, Wang Dou menanamkan beberapa orang kepercayaannya untuk mengawasi keluarga Huang. Dengan sendirinya mengenai kedatangan Ding Tao mereka termasuk yang pertama mengendus berita itu.
Hanya sayang sumber kekuatan mereka jauh berada di utara, sehingga mereka sedikit terlambat bertindak dan saat sudah bergerak pun, kekuatan mereka tidak sebesar kelompok lain yang sudah ikut bergerak.
Kelompok kedua adalah sebuah persekutuan rahasia yang kekuatannya menyebar cukup merata di Selatan. Meskipun secara orang per orangan, 7 pimpinan Persekutuan Laba-Laba Kaki Tujuh ini bisa dikatakan berimbang dengan jagoan-jagoan dari kelompok Wang Dou, namun jumlah dan luas jaringan mereka jauh lebih di atas kelompok Wang Dou.
497
Meskipun di atas dan di dalam air kelompok Wang Dou bisa dikatakan sebagai rajanya di Sungai Yangtze.
Sapaan Ding Tao itu mengundang reaksi yang berbeda-beda dari mereka yang mendengar.
Orang-orang dunia persilatan yang mendengar perkataan Ding Tao, memasang telinga baik-baik, tertarik oleh berita yang mereka dengar ini dan ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
3 orang yang dipimpin Fu Tsun saat itu saling berpandangan. Ini baru berita bagi mereka, ternyata Pedang Angin Berbisik sudah terlebih dahulu jatuh di tangan Wang Dou sebelum pedang itu dihilangkan Wang Chen Jin dan jatuh ke tangan Ding Tao. Ada perasaan kecewa karena Wang Dou menyembunyikan hal itu dari mereka, juga ada perasaan penasaran, mengapa Wang Chen Jin sampai menghilangkannya.
Beberapa pertanyaan yang jadi misteri bagi mereka, mendapatkan jawaban dari keterangan Ding Tao barusan.
Fu Tsun tentu saja merasa darahnya naik sampai ke ubun-ubun kepala. Meskipun biasanya dia tenang dan cermat dalam
498
menghadapi masalah tapi apa yang dilakukan Ding Tao saat ini jauh di luar dugaannya dan terlampau banyak mengundang kenangan yang pahit.
Dengan senyum masam dia menjawab, ―Hemm.., aku tidak mengerti apa maksudmu. Tapi jika kau mengira bahwa keberadaan kami di sini ada hubungannya dengan Pedang Angin Berbisik yang ada di tanganmu, kau tidak salah.‖
―Hehehe, tentunya paman tidak membayangkan aku berjalan kian kemari dengan membawa pedang itu kan?‖, sahut Ding Tao dengan tenang dan gaya sedikit mengejek.
Mata Fu Tsun mendelik, ―Keparat, kalaupun kau tidak membawanya, akan kuperas keterangan itu darimu.‖
Pengunjung yang lain sudah mulai merasakan gelagat yang tidak baik, satu per satu mereka pergi keluar dari rumah makan itu. Bahkan ada juga yang ambil kesempatan untuk makan tanpa bayar, sementara para pelayan dan pemilik rumah makanhanya bisa bergemetaran dan berdoa pada dewa-dewa supaya tidak terjadi kerugian yang parah.
Rumah makan tidak sepenuhnya jadi kosong, masih ada orang-orang dari persekutuan Laba-Laba Kaki 7, ada pula sepasang
499
pendekar lelaki dan perempuan itu, ada pula beberapa rombongan lain yang sebenarnya hanya secara kebetulan berada di sana.
Meskipun tidak ada kekuatan dan persiapan untuk ikut berebut Pedang Angin Berbisik, kesempatan untuk menambah pengalaman dan mendapat berita tidak mereka lewatkan. Dengan wajah tertarik mereka menyaksikan peristiwa di depan mereka. Jika memungkinkan, siap untuk menarik keuntungan dari peristiwa itu.
Fu Tsun merasa terdesak oleh keadaan, tidak disangka Ding Tao yang dipandang remeh, berhasil membongkar penyamaran mereka. Jika ia mundur sekarang, nama kelompok Wang Dou bisa hancur, jadi bahan tertawaan di dunia persilatan dan bagi kelompok seperti mereka, reputasi adalah hal yang penting.
―Kepung dan tangkap pemuda sombong ini!‖, perintahnya singkat pada ketiga orang pembantunya.
Dalam waktu singkat 4 orang mengepung Ding Tao, tanpa banyak memberi peringatan sepasang golok Fu Tsun sudah menggunting tubuh Ding Tao. Tapi Ding Tao tidak kalah cepat dalam bertindak, tubuhnya mendoyong ke belakang untuk
500
menghindari serangan Fu Tsun, kakinya cepat menendang meja ke arah dua orang di sisi seberang.
Dengan gerakan yang indah dia berkelit dari serangan orang ke-empat, lalu menggunakan lubang yang terbuka saat dua orang yang lain menghindari meja, dia menggebrak ke arah terlontarnya meja, mendesak dua orang yang lain untuk mundur lebih jauh dan kepungan pun jadi terpecah.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Bersambung : PAB 3 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 06 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments