Cerita Romantis 19 Top : Iblis Sungai Telaga

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Romantis 19 Top : Iblis Sungai Telaga
buat sesuatu kejadian. Dari empat orang
berseragam hitam, semua sudah melayang jiwanya. Kecuali
yang satu yang terbinasa piauw jahat itu, tiga yang lain
menyerahkan jiwanya pada pagutannya sang ular hijau.
Pertempuran di antara It Hiong dan YanTio Siang Cian
berjalan terus, hanya kali ini tak berlarut-larut lagi. Lewat
sesaat, sinar pedang menyambar kedua saudara she Leng itu,
Leng Gan menangkis dengan goloknya, hingga kedua senjata
bentrok keras dan berisik sekali, hanya menyusul itu, darah
muncrat berhamburan, disusul robohnya tubuh si penderita
cacat yang terguling di tanah ! Namun korban itu bukannya
sang kakak, hanya Leng Ciauw sang adik !
Apakah yang telah terjadi ? Kejadian itu membuat It Hiong
menjublak sedetik !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sebenarnya ilmu silat Cu-Ngo Hap Pek To dari Yan Tio
Siang Cian juga berdasarkan kedudukan Ngo Heng atau panca
benda, ialah emas, kayu, air, api dan tanah, yang satu sama
lain saling menarik manfaatnya. Dengan demikian, kedua
saudara itu biasa bergerak saling mengambil atau menukar
tempat. Ketika It Hiong menikam, tepat Leng Gan dan Leng
Ciauw sedang menukar tempat, maka itu Leng Gan selamat
dan sang adik bercelaka !
Sebenarnya Leng Ciauw masih sempat menangkis, tetapi
disini mereka mengadu bukan melulu tenaga luar, golok
melawan pedang, hanya tenaga dalam, maka itu, sebab si
orang she Leng keteter, dialah yang kalah dan roboh sebagai
korban !
Kagetnya Leng Gan bukan kepalang, sendirinya tubuhnya
segera mencelat mundur, hatinya giris menyaksikan
saudaranya roboh dengan bermandi darah. Dia bergemetar
dan bermandikan peluh seketika juga. Tanpa ragu pula, dia
memutar tubuhnya buat terus melangkah, mengangkat kaki
panjang untuk kembali ke dalam rumah batu itu !
Bukan main mendelnya It Hiong menyaksikan cara
pengecut dari Leng Gan tiu. Dia bukan bergusar dan berdaya
membalaskan sakit hati adiknya, dia justru kabur. Saking
mendongkol, anak muda kita berlompat menyusul.Leng Gan
dapat berlari keras, sebentar saja dia sudah memisahkan diri
belasan tombak jauhnya dari anak muda kita, akan tetapi dia
keliru menerka anak muda itu. Orang dapat lari keras dengan
mengandalkan ilmu ringan tubuh Tangga Mega dan juga Gie
Kiam Sut, terbang mengendalikan pedang. Dalam sengitnya, si
anak muda menyerang dengan satu lemparan pedang ! Itulah
jurus silat yang diberi nama "Melemparkan Pedang Tercipta
Menjadi Naga", pedang diluncurkan dengan dorongan tenaga
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dalam, dengan demikian, senjata itu racun menyerang ke
tempat jauh.
Hanya sekejap terdengarlah jeritan hebat dari si orang she
Leng, yang tubuhnya lantas roboh dengan bermandikan
darah, sedang larinya belum sejauh tiga puluh tombak. Yang
paling hebat ialah ketika kepalanya jatuh bergelutukan di
tanah sebab batang lehernya kena tertebas kutung !
Sambil berseru nyaring, It Hiong menarik pulang
pedangnya itu, yang mirip pedang mustika.
Ya Bie melongo mengawasi pedang itu atau si anak muda.
"Sungguh pedang mujizat !" pujinya.
Kiauw In sebaliknya, menghela nafas.
"Ah, adik....."katanya. "Mengapa kau bertindak secara
demikian ?"
It Hiong mengangkat alisnya, terus dia tertawa.
"Mungkin ini disebabkan kutukan pembunuhanku......"
sahutnya, singkat.
Ketika itu, gunung sangat sunyi dan dari rumah batu juga
tidak terlihat gerakan atau terdengar suara apa-apa. It Hiong
mengawasi ke rumah batu itu, kemudian ia menoleh pada
Kiauw In.
"Aku kira jalan untuk turun gunung mesti dengan melewati
rumah batu itu," katanya, "karena itu, mari kita pergi ke sana
akan melihat-lihat !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tanpa menanti jawaban, habis berkata itu, si anak muda
terus bertindak maju. Tanpa kata apa-apa, Kiauw In
mengikuti. Ia dibuntuti oleh Ya Bie serta So Hun Cian Li.
Kiranya rumah batu itu berpintu satu, ditengah-tengah, dan
ketika itu, pintunya pun tengah terpentang lebar-lebar !
"Tahan !" mencegah Kiauw In, waktu ia melihat It Hiong
dan Ya Bie mau lancang masuk ke dalam rumah itu.
Si anak muda segera menghunus pedangnya.
"Kepandaiannya Im Ciu It Mo mengandalkan pada racun
melulu !" katanya. "Kalau bicara tentang ilmu silat......."
Belum selesai kata-katanya si anak muda ini atau Ya Bie
telah bersiul nyaring, atas mana terus So Hun Cian Li
berlompat memasuki pintu !
Kiauw In menoleh kepada nona polos itu, katanya : "Adik
cerdas sekali dan pengetahuanmu tentang kaum Kang Ouw
telah bertambah banyak !
Nona itu tertawa.
"Kakak cuma memuji !" katanya, tertawa. "Dengan caraku
ini, aku cuma seperti melemparkan batu untuk menanyakan
jalanan !"
Kiauw In bersenyum, begitu juga It Hiong.
Langit sementara itu makin guram.
Dari pihaknya si orang utan tidak terdengar apa-apa, dia
masuk ke dalam rumah batu itu bagaikan dialah batu besar
yang tenggelam ke dalam lautan. Terpaksa, Ya Bie bertiga
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menjadi heran, dari heran lantas timbul kecurigaannya. Kiauw
In bertindak maju ke undakan tangga, terus ia melongok ke
dalam rumah. Di sebelah dalam, keadaan gelap sekali. Tidak
ada api di dalam situ.
Tengah nona Cio mengawasi terus dengan otaknya bekerja,
ia mendengar suara angin bersiur di belakangnya, atau tahutahu
satu bayangan orang berlompat memasuki rumah itu,
disusul dengan jeritannya Ya Bie : "Kakak Hiong !" Dan belum
suara si nona berhenti, orang sudah lompat pada Nona Cio,
yang dia tarik ujung bajunya. Dia pun berkata tergesa-gesa :
"Kakak, mari kita masuk !"
Kiauw In melengak sebentar, lantas bersama kawannya itu
ia lari masuk ke dalam rumah batu.
Di dalam terdapat sebuah lorong, di kiri dan kanannya ada
kamar-kamar dengan semua pintunya tertutup. Setelah masuk
lagi lima tombak, gelapnya bukan main, sampai kamar pun tak
tampak. Maka itu dengan cepat Ya Bie menyalakan apinya.
Berjalan di lorong yang panjang itu, kedua nona merasai
angin dingin bersiur ke muka dan tubuh mereka, hawanya
menggigilkan tubuh, masih saja lorong panjang, masih saja
pelbagai kamar di kiri dan kanan. Tak usah diterangkan lagi
suasana sangat diam dan sunyi mencekam. Tiada terdengar
suara apapun.
Kiauw In cerdas dan berani, toh ia merasa cemas
sendirinya. Maka timbul kesangsian dan kecurigaannya. Dari It
Hiong atau dari So Hun Cian Li juga tidak terdengar apa-apa.
Ya Bie jalan terus mengikuti Kiauw In, ia tak jeri sedikit juga.
Ia berdiam saja. Ia mengandal betul kepada kakak In itu......
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mereka berjalan hingga sumbu di tangan muridnya Touw
Hwe Jie hampir habis. Justru itu baru pertama kali mereka
mengkol di sebuah tikungan. Di situ, ruang tetap gelap.
Sampai mendadak, nyala api di tangan si Nona Tanggung
padam sendirinya.
"Kakak !" panggil Ya Bie.
Kiauw In mencekal keras tangan orang. Itulah isyarat buat
sang kawan menutup mulut. Sebaliknya, sambil menarik
tangan orang, ia berjalan cepat sekali. Barusan itu, disebelah
depan tampak cahaya api, yang padam dalam sekelebatan.
Nona Cio mencurigai api itu. Ia bertindak semakin cepat,
untuk menyusulnya.
Sampai disitu, tiba sudah mereka di ujung lorong itu. Itulah
sebuah Toa-thia, ruang besar. Di sebelah kiri ada sebuah
kamar samping, yang pintunya separuh tertutup, dari situ
tampak sinar api yang memain tak hentinya. Dengan langkah
yang ringan sekali, Kiauw In menghampiri pintu itu, untuk
terus mengawasi ke dalam kamar. Ia mendapati sebuah
kamar orang perempan dan diatas pembaringan tampak dua
tubuh manusia tengah rebah merapat satu dengan lain.
Karena lain menghadapnya, muka mereka tidak terlihat. Kaki
mereka separuh turun ke sisi pembaringan.
Teranglah itu tubuhnya masing-masing seorang pria dan
seorang wanita. Karena kedua tubuh tak pernah bergeming,
entahlah orang hidup atau mayat.
Mukanya Kiauw In merah sendiri menyaksikan cara
rebahnya kedua tubuh manusia hingga ia mesti menenangkan
diri. Ia mesti mengawasi terus sebab ia perlu mendapat tahu
siapa mereka itu dan kenapa keduanya berdiam saja.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lewat beberapa detik, Nona Cio masih terus mengawasi.
Kedua orang itu tetap berdiam saja, maka ia juga tidak
berkutik atau bersuara, keculai memasang mata. Selama itu,
Ya Bie pun membungkam.
Di lain pihak, Kiauw In memikirkan It Hiong, bahkan ia
menguatirkannya. Kemana perginya pemuda itu ? Dia
selamatkah atau menemui suatu rintangan ?
"Cis !" Ya Bie memperdengarkan suara jemunya setelah ia
mengawasi kedua tubuh diatas pembaringan itu. Ia menoleh
ke lain arah dengan kulit mukanya merah saking jengah. Ia
polos tetapi ia mengerti keadaan itu.
"Asal dia bukannya Kakak Hiong......." katanya kemudian,
perlahan.
Kiauw In terkejut mendengar suara si nona, hingga ia
membuka lebar matanya mengawasi tubuh pria di
pembaringan itu. Likat atau tidak, jemu tak jemu, ia toh mesti
mengawasinya.
"Adik, kau tunggu disini, " katanya kemudian. "Aku mau
masuk ke dalam kamar guna melihat tegas siapa mereka
itu...."
Ya Bie mengangguk, menyatakan setuju. Kiauw In berjalan
berjinjit memasuki kamar, pedangnya ia hunus ketika ia
berlompat ke depan pembaringan. Api lilin di dalam kamar
membuat orang bisa melihat cukup terang. Sekarang nona Cio
dapat melihat. Si wanita ialah Peng Mo si Bajingan Es.
Entahlah si pria, yang mukanya teraling bantal sulam. Hanya
pakaiannya menandakan dialah It Hiong....
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Saking terkejut, tubuhnya Kiauw In menggigil, hatinya
goncang. Tak kelirukah penglihatannya itu ? demikian
pikirnya. Ia bingung bukan main. Selagi pikirannya kacau itu,
Kiauw In toh ingin sekali ia memperoleh kepastian. Maka juga
ia mencoba menenangkan hatinya, sembari mengawasi, ia
meluncurkan tangannya yang memegang pedang. Hendak ia
menowel tubuh pria itu. Tau-tau tiba-tiba.
"Jangan bergerak !"
Itulah suara yang tawar sekali. Yang nadanya bengis,
namun tak dapat dipastikan itulah suara pria atau wanita....
Tiba-tiba saja api lilin bergerak, terdengar suara
meletupnya bunga apinya, yang mengeluarkan sinar kebirubiruan.
Sinar itu membuat suasana di dalam kamar menjadi
seram...... Dalam terkejutnya, Kiauw In menarik pulang
tangannya yang di ulur ke pembaringan serta ia segera
berpaling, buat melihat siapa itu yang membuka suara yang
nadanya bengis itu.
Di belakangnya, Nona Cio melihat seseorang dengan
rambut panjang yang teriap-riap ke bahunya, mukanya ditutup
dengan kain hitam, hingga tampak saja dua biji matanya yang
sinarnya tajam dan galak, sinar mata itu kebiru-biruan. Tubuh
orang tertutup jubah hitam gelap, yang tangan bajunya lebar.
Ujung tangan bajunya itu sama panjangnya dengan ujung
bajunya, turun sampai nempel dengan lantai. Hingga kalau
dipakai berjalan, pasti kedua ujung itu bakal terseret-seret !
Biar bagaimana, hatinya Nona Cio toh giris, orang nampak
seram sekali. Tapi dengan lekas ia dapat menentramkan
hatinya. Maka lantas ia dapat menerka, orang tentunya
muridnya Im Ciu It Mo atau orangnya si Bajingan yang telah
menjadi korban obatnya yang lihai.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kau pergilah !" akhirnya dia mengusir.
Orang bertopeng itu berdiri tegak, dia seperti tak
mendengar bentakan si nona. Tetap dia menatap dengan
matanya yang tajam itu. Kiauw In menjadi tidak puas. Ia
memang paling tak menyukai orang menatapnya tanpa sebab
atau urusan. Tidak bersangsi pula, ia meluncurkan pedangnya
pada orang itu !
Aneh si orang berjubah hitam mirip bajingan itu. Dengan
mudah dia berkelit setindak, habis itu dia berdiri diam pula,
sama sekali dia tak mau membalas menyerang.
"Sahabat !" Nona Cio menegur dengan bengis, "kalau kau
tetap membawa lagakmu seperti bajingan ini, jangan kau
sesalkan yang pedang nonamu nanti tak mengenal kasihan
lagi !"
Masih orang itu tidak mau membuka mulutnya, tetap dia
membisu. Dia berdiri laksana patung dengan cuma matanya
yang terus mengawasi dengan sinarnya yang bengis. Dengan
si nona cuma terpisah kira tiga kaki.
Kiauw In meliriki kepada dua orang yang rebah diatas
pembaringan, kapan ia melihat pula yang dandanannya mirip
dengan dandanannya It Hiong, hatinya bercekat. Sedangnya
melirik itu, si orang bertopeng hitam mau dua tindak
kepadanya. Hingga sekarang mereka berdiri berhadapan
sejarak satu kaki !
Mau tak mau, Kiauw In mundur satu tindak, akan tetapi
berbareng dengan itu, dengan pedangnya ia menikam, terus
ia membabat ke kiri dan kanan pergi dan pulang -- sasarannya
ialah dada dan pinggang. Ia pula menggunakan jurus-jurus
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dari Khie-bun Patkwa Kiam. Walaupun ia sabar, kali ini dia
habis sabarnya.......
Masih saja si orang berjubah hitam itu selalu berkelit, tak
sekali juga dia mau membalas menyerang. Masih pula dia
mengawasi dengan tajam.
"Aneh !" pikir Kiauw In. Lantas ia menyerang pula, secara
berantai. Kembali ia heran dibuatnya. Orang tetap tak
melayaninya.
Yang mengherankan yaitu orang pun bisa bergerak
demikian lincah di dalam sebuah kamar yang sedemikian
sempit. Mestinya orang tak dapat menyingkir dari pelbagai
tusukan atau bacokannya itu. Diakhirnya, saking herannya,
Nona Cio jadi berpikir keras. Orang aneh sekali, mesti ada
sebabnya ! Apakah sebab itu ?
Tiba-tiba muridnya Tek Cio Siangjin menyerang pula, kali
ini beruntun sampai delapan kali. Dan kali ini, si orang aneh
terus melayani dengan main mundur hingga dia berada dekat
pinggir pembaringan. Sampai disitu, disaat sinar matanya
bergemerlap bengis, mendadak dia menggerakkan kedua
belah tangannya, hingga ujung bajungay terus menungkrap
nona di depannya !
Kiauw In terkejut, akan tetapi ia menyambut dengan
sabetan pedangnya, membuat kedua ujung baju itu kutung !
Hingga kedua ujung baju itu jatuh ke lantai ! Orang berjubah
itu agak terperanjat, dia sudah lantas mundur satu tindak.
Saat ini digunakan baik sekali oleh nona Cio. Ia maju dan
menebas, gerakannya cepat bagaikan kilat ! Dan ia berhasil
!Tubuhnya orang itu sebatas pinggang telah kena tertebas,
pinggangnya kutung, kedua tubuhnya terus roboh, hanya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
aneh, walaupun dia telah berlaku demikian hebat, dia tak
menjerit atau suara lainnya, dia pula tidak mengeluarkan
darah !
Kiauw In berdiri diam sambil mengawasi tajam. Sampai
disitu, lenyap sudah keheranan si nona. Kalau toh ia heran, ia
cuma mengherani orang yang membuat orang berjubah hitam
itu. Dia bukannya manusia yang berdarah daging, dia hanya
sebuah boneka !
Apa yang aneh, dari manakah datangnya tadi suara
tawanya boneka itu ?
Kiauw In melihat rahasia orang setelah dia memeriksa
pinggang orang yang terkutung itu, yang terbuat dari benang
perak.
"Hm !" si nona memperdengarkan suara dinginnya. Ia telah
menjadi korban kelihaiannya Im Ciu It Mo. Karena ini dengan
perlahan ia bertindak ke pembaringan. Ia lantas mengulur
sebelah tangannya, niat meraba tubuhnya It Hiong, guna
menyadarkannya. Atau mendadak ia menarik pulang
tangannya itu.
"Ah !" pikirnya tiba-tiba. "Bukankah dua orang ini dua
orang manusia palsu belaka ?"
Dengan merandak itu, Kiauw In mengawasi tajam. Untuk
memperoleh kepastian, ia lalu menowel dengan ujung
pedangnya, menyingkap baju si pria. Kembali ia heran
dibuatnya. Orang itu bukannya boneka, dialah orang benar.
Anehnya ialah kenapa dia terus berdiam saja.
Habis menyingkap pakaiannya yang pria, Kiauw In juga
menyingkap bajunya yang wanita. Dia ini pun manusia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
adanya.Kenapa mereka tidur bagaikan mayat ? Bahkan suara
menggerosnya pun tak terdengar ? Sekarang Kiauw In dibikin
sangsi oleh si pria. Dia It Hiong atau bukan ? Ia belum melihat
muka orang. Ia menjadi berfikir keras. Ia memasuki tempat itu
saling susul dengan It Hiong. Mungkinkah It Hiong lantas
bertemu dengan Peng Mo dan keduanya terus tidur bersama ?
Kalau memangnya mereka tidur bersama, kenapa mereka
menjadi lupa daratan seperti itu ? Kalau It Hiong kena
perangkap, itu pun disangsikan si nona. Tak mudah anak
muda itu dirobohkan orang. Dia cerdas dan waspada. Dia pula
tak nanti terkena racun mengingat yang pada tubuhnya ada
Lee-cu, mutiara mustikan yang mujizat itu. Kalau bukannya It
Hiong, habis siapakah orang itu ? Kenapa dia justru
mengenakan pakaiannya si anak muda ?
Bukan main kerasnya Kiauw In berpikir, sampai akhirnya ia
menggertak giginya. Tak mestinya ia menerka-nerka saja. Tak
benar buat membiarkan dirinya terus terbenam dalam keraguraguan.
Mesti ia mengambil keputusan. Maka lantas ia
bekerja. Dengan sebelah tangannya, ia memegang dan
mengangkat tubuhnya "It Hiong", buat dikasih berduduk
diatas pembaringan !
Tubuh orang itu sangat lemas, kedua matanya ditutup
rapat. Dia rupanya sangat mengantuk.
Tapi yang membuat nona Cio kaget ialah ketika ia melihat
muka orang. Itulah mukanya Tio It Hiong !
"Ah !" serunya.
It Hiong tidur bersama-sama Peng Mo ! It Hiong yang
demikian muda-lela dan gagah perkasa !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tanpa merasa, Kiauw In melelehkan air matanya. Ia heran
berbareng berduka, bersedih hati. Inilah diluar sangkaannya
sama sekali. Sebagai seorang wanita, ia toh merasa jelus juga.
Tapi dasar dia sabar dan luwes, hanya sejenak, lantas dapat
berlaku tenang pula. Ia tetap heran dan penasaran. Maka ia
terus menatap anak muda di depannya itu. Ia seperti hendak
menembusi muka dan hati orang !
It Hiong bukannya tidur, dia juga bukannya terkena racun.
Kiranya dia adalah korban totokan !
Maka itu, dengan satu gerakan cepat, Kiauw In menotok
tubuh anak muda itu.
Hanya sekejap, It Hiong lantas terasadar. Dia membuka
matanya, terus dia mengawasi orang di depannya. Dia
menghela nafas perlahan. Terus dia masih mengawasi saja.
"Adik, kau kenapakah ?" Kiauw In akhirnya tanya.
Orang muda itu melepaskan tangannya Kiauw In, yang
sejak tadi masih memegangi tubuhnya, terus dia bergerak
bangun, untuk melempangkan pinggangnya.
"Tidak kenapa-napa...." sahutnya kemudian.
Kembali Kiauw In heran. Ia mendengar suara orang. Itulah
bukan suaranya It Hiong. Ia mengenal baik suara adik
seperguruannya dengan siapa baru beberapa menit yang
berselang ia berpisah. Karenanya, ia segera menatap.
Si anak muda berpaling, dia memandang si nona. Maka
sekarang sinarnya empat buah mata bertemu satu dengan
lain. Lagi-lagi Kiauw In terkejut, hatinya bercekat. Ia melihat
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dua buah mata dengan sinar sesat bengis. Itu bukanlah sinar
matanya It Hiong.
"Siapakah kau ?" bentaknya sambil ia lantas lompat
mundur.
Habis menatap, anak muda itu nampak telah pulih
kesadarannya.
"hm !" ia memperdengarkan suara dinginnya. "Aku ialah
aku ! Buat apa kau menanya aku selagi kau sudah tahu ?" Ia
menatap pula dengan terlebih tajam, wajahnya
memperlihatkan kecentilan. Tiba-tiba ia bersenyum. Katanya
pula : "Akulah Tio It Hiong ! Akulah adik Hiong mu ! Kenapa
kau tidak mengenali aku ?"
Kiauw In terus menatap tajam. Terang itulah bukan
suaranya Tio It Hong ! Tapi, kenapakah pakaian bahkan wajah
orang demikian mirip ? Saking heran ia menjadi bingung.
Syukur juga, lekas sekali ia memperoleh pula ketenangannya.
Ya, suara dia itu bukannya suara si adik Hiong !
Karena memikir demikian, nona Cio lantas berpikir keras.
Segera ia mengerjakan otaknya. Ia lantas dibantu
kesadarannya. Mendadak ia ingat ! Orang itu orang yang
memakai topeng ! Orang itu ialah Tio It Hiong palsu ! Dialah
Gak Hong Kun yang menyamar sebagai Tio It Hiong !
"Gak Hong Kun !" teriaknya kemudian.
"Ha ha ha !" sela Hong Kun dengan tawa tawarnya. "Nah,
kakak Cio, bagaimanakah kalau kau menganggap aku sebagai
Tio It Hiong ? Bukankah......"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mendadak saja darahnya Kiauw In meluap. Ia menjadi
sangat gusar. Maka mendadak pula ia menebas ke muak
orang ! Itulah serangan jurus silat "Daun Yangliu Mengusap
Muka". Si nona gusar sebab Hong Kun bersikap centil.
Hong Kun sudah sadar betul-betul, dia cerdik sekali dan
matanya pun sangat tajam. Dia mengerti kemarahannya si
nona, maka dia selalu waspada. Atas datangnya sontekan, dia
lantas berkelit ke samping, tubuhnya terus berlompat maka di
saat berikutnya dia sudah mencelat keluar dari jendela dengan
lompatan "Ikan Meletik di Antara Gelombang". Hingga lantas
dia lenyap di luar jendela itu !
Untuk sedetik, Kiauw In melongo. Ia heran, menyesal dan
penasaran. Setelah itu kembali ia dapat menguasai dirinya.
Maka paling dahulu ia masuki pedangnya ke dalam sarungnya.
"Ah !" katanya seorang diri, kemudian ia merasai kulit
mukanya panas, sebab kulit muka itu menjadi merah. Ia
jengah kapan ia ingat tanpa sengaja ia menjeluskan
pemandangan di depan matanya itu. Lantas ia memikir buat
mengangkat kaki dari dalam kamar itu bilamana melihat di
atas pembaringan masih ada satu orang. Orang itu entah tidur
pulas atau sebab kena ditotok orang seperti Hong Kun tadi.
Sebagai seorang kaum sadar, yang hatinya mulia, tak tega
Kiauw In meninggalkan orang itu secara begitu saja. Maka
timbul keinginannya buat membantu. Maka ia lantas
menghampiri, untuk mengawasi terlebih dahulu. Ya, dari cara
berdandannya, orang itu Peng Mo atau si Bajingan Es adanya.
Peng Mo menjadi salah satu dari Hong Gwa Sam Mo, dia
dengan nona Cio beda diantara sesat dan sadar. Si nona tidak
mempunyai hubungan dengan si Bajingan Es, tetapi itu tak
mengurangi minatnya menolong. Kecuali menumpas
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kejahatan, nona kita tak nanti turun tangan membunuh atau
melukai orang. Apa pula ia tahu selama di Kiap Gee Kok dari
Im Ciu It Mo, Peng Mo pernah membantu It Hiong. Dalam hal
ini ia tidak mengambil pusing Peng Mo menolong dengan
sejujurnya atau dikarenakan mengandung sesuatu maksud
lain. Maka itu, tanpa ragu pula, ia menotok si Bajingan Es
membuat orang sadar.
Peng Mo berbangkit untuk berduduk, setelah ia membuka
matanya, ia melihat Kiauw In berdiri di depan
pembaringannya.
"Ah !" serunya seranya terus mukanya menjadi merah
karena jengah. Ia malu sendirinya kapan ia ingat lakonnya tadi
sudah berplesiran dengan si anak muda yang ia sangka Tio It
Hiong adanya. Dan sekarang ia berhadapan dengan Kiauw In,
yang ia tahu siapa adanya. Ia insyaf yang dirinya adalah orang
kaum sesat dan si nona orang golongan lurus. Betapa malu ia
merasa yang orang telah memergokinya. Tapi, kapan ia tidak
melihat "Tio It Hiong" di sisinya atau di seluruh kamar itu,
perlahan-lahan bisa ia menenangi diri. Ia mau menerka yang
Kiauw In tak memergokinya....
Walaupun semua itu, si Bajingan Es lantas menunduki
kepala dan mulutnya bungkam. Ia masih khawatir orang tahu
rahasianya. Ia hanya tidak tahu, pria kawan plesirannya itu
bukannya Tio It Hiong hanya Gak Hong Kun si It Hiong palsu !
Kiauw In terus mengawasi si Bajingan Es, menantikan
sampai ia rasa orang sudah sadar seluruhnya, kemudian sebab
orang tunduk dan diam saja, ia menyapa juga.
"Toa suhu, apakah kau bertemu dengan Tio It Hiong ?"
demikian tanyanya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Itulah pertanyaan biasa saja dan diajukannya juga dengan
sabar tetapi Peng Mo terkejut bagaikan dia mendengar guntur,
tanpa merasa tubuhnya bergemetar, hingga sekian lama dia
tak dapat memberikan jawabannya.
Kiauw In mengawasi. Ia melihat orang likat. Tahulah ia apa
artinya itu. Ia masih belum mengulangi pertanyaannya ketika
Peng Mo berkata perlahan : "tidak..... tidak... aku tidak
bertemu dengan Tio sicu...."
Kiauw In menerka hati orang tetapi ia tidak mau
menggoda. Maka ia cuma mengatakan : "Baiklah, Toa suhu!
Aku hendak mencari adik Hiong, di sini saja kita berpisahan !"
Begitu ucapannya itu dikeluarkan, begitu Kiauw In lompat
keluar kamar. Tentu saja ia tak tahu lakonnya Peng Mo itu.
Si Bajingan Es bertemu dengan Hong Kun secara kebetulan
saja. Dari Hek Sek San, dia pergi mendahului Tio It Hiong
beramai. Dia tidak diganggu oleh Im Ciu It Mo. Sebab mereka
berdua sama-sama kaum sesat dan kedua, It Mo tidak mau
bentok dengan Hong Gwa Sam Mo. Biar bagaimana, si
Bajingan Tunggal memandang mata juga pada ketiga Bajingan
itu. Maka itu, Peng Mo dibiarkan mengambil jalan di dalam
terowongan istimewa itu. It Mo hanya mengharap orang lekas
meninggalkan wilayahnya.
Kebetulan sekali, diluar terowongan, Peng Mo bertemu
dengan Gak Hong Kun yang tetap menyamar sebagai Tio It
Hiong. Ketika itu si anak muda justru habis kabur dari wilayah
gunung Ngo Tay San dimana ia telah bertempur dengan Hiat
Mo Hweshio dan Tam Mo Tosin dari Hong Gwa Sam Mo dan
kena orang totok pingsan, sampai It Hiong menolong
menyadarkannya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ketika itu Hong Kun tidak sadar seluruhnya. Dia masih
terpengaruhkan obat Thay-siang Hoan Hun Tan dari Im Ciu It
Mo. Maka dia mirip orang setengah gila. Dia kabur mengikuti
jalan pegunungan, tanpa tujuan. Dia cuma tahu yang ia lapar
atau berdahaga. Dia melakukan perjalanan buat beberapa hari
dan malam, sampai dia tiba di Hek Sek San. Di kaki gunung, di
rimba yang jurang, dia berhenti untuk duduk beristirahat.
Kebetulan sekali, hari itu Gwa To Sin Mo muncul bersama
dua orang muridnya, In Go dan Bu Pa. Mereka itu dalam
perjalanan pulang ke Tian Cong San habis bertempur dengan
Im Ciu It Mo dan saling menukar obat pemunah racun. Sin Mo
melakukan perjalanan cepat tetapi toh ia sambil berfikir,
memikirkan cara bagaimana nanti ia dapat mengalahkan It
Mo. Inilah sebabnya, tanpa dikehendaki, langkahnya menjadi
pelan.
Bu Pa mengerti pemikiran gurunya itu, ia mengikuti
berjalan perlahan pula di belakangnya sang guru. Tidak
demikian dengan In Go, yang masih muda sekali, yang cuma
tahu bermain-main, yang gemar akan keindahan alam, apa
pula waktu itu pikirannya lagi terbuka habis dia berhasil
menggunakan jarumnya di Kian Gee Kiap. Terus dia berjalan
cepat hingga tahu-tahu dia sudah jauh melewati guru dan
kakak seperguruannya itu, masih saja ia berjalan terus. Dia
berjalan dengan air muka berseri-seri saking riang hatinya.
Tanpa merasa, dia memasuki rimba yang tidak lebat dimana
Hong Kun tengah duduk seperti ngelamun. Hong Kun tidak
menghiraukan si nona walaupun dia melihat nona yang cantik
itu. Di lain pihak, In Go jadi tertarik hati. Si pemuda tampan
dan gagah tampangnya. Dia sebaliknya, dia sedang muda
belianya, hatinya mudah tergoda. Ketika itu, mereka pun
berada berdua saja. Lama dia mengawasi pemuda itu,
akhirnya dia mendongkol juga. Kenapa orang berdiam saja ?
Kenapa orang tak tergiur akan kecantikannya? Dia tidak tahu
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
yang Hong Kun adalah korban obat dan kesadarannya seperti
lenyap.
Dalam mendongkolnya, In Go berpaling ke lain arah, akan
mengawasi burung-burung kecil tengah beterbangan
berpasangan, hanya tanpa merasa, kelakuannya burungburung
itu justru membangunkan hati mudanya itu. Dengan
perlahan-lahan hatinya bergolak, hingga pikirannya pun mulai
kacau......
Buat sejenak, In Go pun berdiri diam, sampai suara burung
mengejutkannya. Apabila dia sudah coba menentramkan
hatinya, dia tertawa sendirinya. Mengingat gejolak hatinya itu,
terasa kulit mukanya panas. Tetap dia penasaran. Masih si
anak muda duduk menjublak saja. Beberapa kali dia menoleh
dan mengawasi. Pernah dia pikir, tak usah dia hiraukan
pemuda itu. Dia ingat akan harga dirinya.
Selama itu, In Go terus berdiri diam saja. Dia masih
mengawasi burung-burung kecil itu, yang terbang bersenda
gurau. Tak tahu dia bagaimana harus mengambil keputusan,
meninggalkan rimba itu atau tidak.
Akhir-akhirnya muridnya Gwa To Sin Mo kata secara
menggerutu : "Kau tidak mempedulikanku, buat apa aku
mempedulikanmu ?"
Hong Kun sebaliknya masih berdiam terus, hanya dengan
lewatnya sang waktu, pengaruh obat Thay-siang Hoan Hun
Tan atas dirinya berkurang sendirinya, berkurang dengan
perlahan-lahan. Terlalu banyak bergerak atau hati
bergolakpun dapat melemahkan tenaga obat itu. Di lain pihak,
kalau obat itu merangsang obatnya, itu bertambah hebat.
Demikian kali ini, dia seperti sedang lupa akan dirinya hingga
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dia tak tahu In Go berdiri di dekatnya lagi mengawasi
padanya.
Biasanya, dalam keadaan sadar, tak pernah Hong Kun
menyia-nyiakan waktunya andiakata ia didekati seorang nona
cantik apa pula nona seperti In Go yang hati mudanya itu
tengah terbangun hingga si nona tampak sangat cantik dan
manis. Sekarang ia telah duduk terbengong buat banyak
waktu, itu berarti yang ia sudah beristirahat cukup lama, maka
juga perlahan-lahan dengan berkurangnya tenaga obat, ia
sedikit sadar. Akhir-akhirnya, dia dapat melihat juga pada si
nona. Ia melihat tubuh orang yang langsing. Dengan melihat
punggung orang, ia toh sudah tertarik hati.
Angin rimba meniup-niup rambut dan bajunya In Go, yang
menjadi memain-main. Angin itu pula membawa bau harum
dari tubuhnya, harumnya pupur dan yancie. Bau harum itu
membantu banyak menjernihkan otaknya si anak muda. Maka
kemudian, dia berbangkit, matanya terus menatap nona itu.
Tak berani ia berlaku sembrono.
Di saat Hong Kun memikir buat menyapa nona itu,
kebetulan sekali In Go pun tengah menoleh pula ke arahnya,
maka sinar mata mereka beradu satu pada lain. Sama-sama
mereka saling melihat dengan tegas. Maka dua-duanya lantas
melengak, lebih-lebih si nona, yang memperdengarkan suara
kaget lalu menunduki kepala sebab dia likat sendirinya.
Dalam keadaan hampir sadar, hatinya Hong Kun pun
terbuka. Ia senang menemui nona cantik itu. Lantas ia
menoleh ke sekitarnya. Di situ tidak ada orang lain kecuali
mereka berdua. Maka legalah hatinya.
Akhir-akhirnya : "Nona !" sapanya, dan ia tertawa. "apakah
nona mau pergi ke Kian Gee Kok ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
In Go mengawasi, matanya dibuka lebar.
"Buat apa kau tanya-tanya tentang nonamu ?" dia
menjawab, suaranya keras tetapi dia tertawa. "Toh bukan
urusanmu sendiri !" Di mulut dia menegur akan tetapi kakinya
tak bergeming, tak ada niatnya buat mengangkatnya.
Hong Kun tertawa.
"Aku ialah murid dari Kian Gee Kiap !" katanya. "Aku
menyapa kau, nona, sebab aku khawatir nanti tidak dapat
menyambut kau sebagaimana selayaknya."
In Go merapikan rambutnya.
"Kau murid dari Kian Gee Kiap ?" ia balik menanya. "Kau
hendak memperdaya siapa ?"
"Tidak aku mendusta, nona !" kata Hong Kun. "Aku
memang muridnya Im Ciu It Mo !'
In Go menatap.
"Kau tahu atau tidak, apakah aku pernah mendatangi Kian
Gee Kiap ?" tanyanya.
Hong Kun melengak.
"Kita baru pernah bertemu satu dengan lain, mana aku
ketahui tentang kau, nona ?" katanya. "Laginya......."
"Sudah !" si nona menyela. Tapi dia tertawa. "Kaulah
seorang penipu !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Alisnya Hong Kun terbangun, tetapi dia pun tertawa.
"Jangan sembarang menuduh, nona ! Siapa bilang aku
penipu ?"
In Go mengawasi dari menatap, matanya menjadi separuh
mendelik.
"Mari aku tanya dahulu padamu !" ktanya. "Tadi pagi
siapakah itu nona yang membawa-bawa ular hijau yang
muncul di ruang besar dari rumah barunya locianpwe Im Ciu It
Mo ? Nona itu ada bersama-sama kau ! Dia pernah apakah
denganmu ? Dan, kemana perginya dia sekarang ?"
In Go menerka pasti orang di depannya ini ialah It Hiong.
Sekarang ia telah mengenalinya. Hanya ia mengenali It Hiong
yang palsu. Sebaliknya, pertanyaannya itu membuat Hong Kun
melengak. Hong Kun tidak tahu peristiwa It Hiong dengan It
Mo itu.
Melihat orang berdiam saja, alisnya In Go terbangun.
"Kamu sudah menyerbu Kian Gee Kiap dan mengacau !"
tegurnya, bengis. "Kau sudah tidak sanggup melawan, lantas
kau tinggalkan nona itu ! Sekarang di depanku, kau masih
berani berpura-pura pilon begini macam ! Bagaimana kau
masih berani menipu aku dengan kau mengaku dirimu sebagai
muridnya It Mo ? Kalau kau bukannya penipu, habis apakah ?"
Di desak begitu, Hong Kun menjadi tidak senang. Ia gusar.
"Sebenarnya kau mempunyai kepandaian bagaimana lihai
maka kau berani mengatakan aku Gak Hong Kun sebagai
penipu ?" tegurnya. "Buat apakah aku menipumu ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Hm !" In Go memperdengarkan suara dingin. Dia pun
mendongkol. "Kalau kau menjadi orang rimba persilatan,
tahukah kau akan harga dirimu sendiri ? Seorang jago rimba
persilatan, dia berjalan, dia berduduk, tidak nanti dia merubah
she dan namanya !"
Hong Kun maju satu tindak.
"Kau mengaco belo, ya ?" tegurnya. "Apakah maksudmu ?"
In Go mencibirkan bibirnya.
"Bilang !" katanya bengis. "Bilang sebenarnya, siapakah kau
? Kau Tio It Hiong atau Gak Hong Kun ? atau....."
"Tutup bacotmu !" teriak Hong Kun bengis.
In Go gusar hingga dia tertawa berkakak. Dia belum
berpengalaman, dia menyangka orang kalah suara dan
karenanya menjadi gusar. Dia tertawa sampai dia melengking.
Hong Kun gusar tetapi dia tetap tertarik oleh paras elo si
nona. Dia mencoba menguasai dirinya. Dia pun tertawa. Dia
lantas menggunakan akal.
"Nona," katanya. "nona, kau cerdik sekali ! Tak dapat aku
memperdayaimu ! Nona.... aku mempunyai kesulitan......."
In Go mengawasi. Memangnya dia tertarik oleh
ketampanan pemuda itu. Melihat orang menjadi sabar, ia turut
menjadi sabar juga. Tak lagi ia tertawa, ia justru lantas
menanya : "Bilanglah terus terang, sebenarnya siapakah kau
dan apa namamu ? Dan, apa kesulitanmu itu ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun menghela nafas. Ia senang menyaksikan orang
berubah sikap.
"Sebenarnya musuhku ialah Tio It Hiong," katanya
kemudian. "Dia telah menyamar sebagai aku, baik wajah
maupun pakaiannya ! Dimana dia berada, disitu dia
menerbitkan onar, untuk menimpakan kesalahan padaku......"
"Benarkah itu ?" si nona menyela, "Tadi pagi ada seorang
anak muda yang datang bersama-sama seorang nona yang
membawa-bawa ular ! Dia itu memusuhkan gurumu ! Apakah
benar dia itu ?"
"Coba nona bilang, wajah dan pakaiannya dia itu, bukankah
semuanya sama benar dengan wajah dan dandananku
sekarang ini ?"
Hong Kun bicara dengan lemah lembut !
"Ya, segala-galanya sangat mirip !" sahut si nona, yang
mengangguk.
"Manusia itu sangat jahat !" Hong Kun kata pula. "Sengaja
dia datang mengacau ke Kian Gee Kiap, guna meminjam
tangan guruku supaya guruku membersihkan rumah
perguruannya ! Dengan begitu, itu artinya dia ingin aku
dibinasakan guruku !"
In Go mementang matanya lebar-lebar.
"Apakah kau tidak sanggup merobohkan musuhmu itu ?"
tanyanya.
Hong Kun menghela nafas.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Sudah beberapa kali kami bertempur," sahutnya. "Hanya,
selama itu kami berdua sama tangguhnya, kami selalu seri
saja....."
In Go tidak puas terhadap "It Hiong", tetapi berbareng
merasa kasihan terhadap Hong Kun, pemuda di depannya ini.
Lantas ia menatap pemuda itu.
"Kau memikir atau tidak untuk menghajar musuhmu itu,
guna melampiaskan sakit hatimu ?" tanyanya kemudian.
Hong Kun berpura girang.
"Kau tentunya murid seorang guru yang ternama, nona,"
katanya. "Kau pasti mempunyai kepandaian silat yang mahir
sekali ! Nona, kalau kau benar hendak membalaskan sakit
hatiku maka kelak di belakang hari buat selama-lamanya akan
aku mendampingimu, untuk setiap saat melayani padamu...."
Hebat kata-kata bergula itu. Sedangkan sebenarnya Hong
Kun berniat memiliki tubuh orang.
In Go kurang jelas tetapi ia toh merasa senang, hatinya
puas. Manis sekali rasanya kata-kata si anak muda. Lantas ia
tertawa dan kata : "Kepandaianku tidak mahir akan tetapi
akulah muridnya Gwa To Sin Mo si Bajingan Sakti ! Guruku itu
ternama semenjak beberapa puluh tahun dahulu !"
Hong Kun terkejut mendengar si nona muridnya Gwa To
Sin Mo, tanpa merasa kulit mukanya menjadi panas. Tapi,
karena dia cerdik, dia lekas-lekas bersenyum, terus dia
tertawa.
"Oh, nona !" serunya. "Kiranya kaulah muridnya seorang
guru yang termashur ! Nona, maaf ! Memang telah lama aku
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mendengar nama besar dari gurumu itu yang aku kagumi !" Ia
berhenti sedetik, lalu menambahkan, "Nona kebetulan saja
kita bertemu, sudah sekian lama kita bicara, akan tetapi aku
masih belum kenal dengan nona, maka itu, apakah dapat
nona memberitahukan aku nama nona yang mulia ?"
In Go mengangkat tangannya dan menuding. Tapi dia
tertawa.
"Jika kau hendak menanya namaku, tanyakanlah secara
langsung !" sahutnya. "Kenapa kau mesti bicara panjang lebar
dahulu ? Lagakmu mirip dengan seorang guru sekolah si kutu
buku."
Hong Kun merangkap tangannya, buat memberi hormat.
"Kau baik sekali, nona !" ujarnya. Tanpa merasa ia pun
sudah bertindak menghampiri nona itu hingga mereka terpisah
hanya satu kaki.
In Go tertawa manis, kepalanya pun digoyangi, sedangkan
sinar matanya memain dengan indah sekali. Kemudian ia
melirik pemuda itu.
"Namaku In Go !" katanya kemudian.
"Oh !" seru Hong Kun, bagaikan orang kaget. "Oh, kiranya
nona, Nona In ! Maaf, maaf,aku kurang hormat !"
Puas In Go mendengar panggilan Nona In itu.
"Ya, aku bernama In Go !" katanya. "Baguskah nama itu ?
Baik kau panggil saja aku In Go ! Kau toh terlebih tua dari
pada aku."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Baik, nona, aku menurut perintahmu !" berkata Hong Kun.
"Adik In Go ! Adik In Go !"
Manis panggilan itu terdengarnya, In Go puas sekali.
Ketika berkata begitu, Hong Kun menatap, air mukanya
tersungging senyuman hingga tampak ketampanannya.
Dengan begitu, ia menambah girangnya si nona. Si nona
sendiri balik menatap dengan sinar matanya mengandung
arti..........
Keduanya berdiam, wajah mereka bersenyum berseri-seri.
Masih mereka saling mengawasi, sampai Hong Kun merasa
yang ia sudah memperoleh kemenangan. Lantas ia
menganggap baiklah jangan ia melewatkan ketika yang baik
itu.
"Adik". katanya. "Kita bertemu secara kebetulan, kita
menjadi sahabat, aku girang sekali !"
"Apakah kau ingin bersahabat denganku ?" si Nona Tanya,
menatap.
"Asal kau tidak menolak, adik !" sahut Hong Kun cepat.
"Bukankah sekarang kita sudah bicara dengan akrab sekali ?
Benar bukan ?"
"Benar !" kata si nona, alisnya berkerut. "Sayang,
sayang.....kita harus akan berpisah pula......."
Hong Kun melongo.
"Memangnya kau hendak pergi kemana, adik ?" dia tanya.
Dengan berani dia mengangsurkan tangannya, akan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menyingkap merapikan rambut di dahi si nona, yang
dikacaukan angin.
In Go diam saja, membiarkan orang merapikan rambutnya
itu.
"Aku harus pulang !" katanya kemudian.
Hong Kun sengaja menurunkan tangannya ke bahu orang.
"Kenapa begini tergesa-gesa, adik ?" tanyanya, prihatin.
"Buat apa kau lekas-lekas pulang ? Kita toh baru berkenalan,
bukan ? Bukankah lebih baik kita mencari tempat yang sunyi
dimana kita dapat duduk memasang omong dengan asyik ?"
Si nona menggeleng kepala.
"Kenapa ? Kenapa ?" tanya Hong Kun. Mendadak sekali,
agaknya dia bingung. "Kau bilang, bilanglah, adik ! Apakah
kau mencela aku buruk hingga aku tak pantas menjadi
sahabatmu ?"
In Go menghela nafas.
"Jangan menyebut demikian," katanya perlahan. "Bukannya
soal tidak pantas..... Aku mesti lekas-lekas pulang karena
aturan guruku sangat keras. Laginya......."
"Adik....." berkata Hong Kun, yang terus bersandiwara,
buat membikin lemah hati orang. Ia menggoyang-goyang
bahu nona itu, agaknya ia menyesal sekali. "Adik, tak
kusangka kau begini tega, lantas saja kau hendak
meninggalkan aku ! Tahu begini, terlebih baik kita tak usah
bertemu...."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kata-kata itu menarik hatinya In Go tetapi ada sesuatu
yang membuatnya menahan diri. Itulah tak lain dan tak bukan
karena lebih dahulu daripada ini, ia sudah mencintai Bu Pa,
kakak seperguruannya, dan Bu Pa pun membalas
mencintainya. Kalau sekarang ia tertarik oleh Hong Kun, itulah
karena dimatanya anak muda ini tampan luar biasa dan
sangat menggiurkannya.
Di saat itu maka terbayanglah dua orang muda : Hong Kun
dan Bu Pa !
In Go mengenal Bu Pa semenjak mereka berguru bersama,
keduanya selalu berada berdua-duaan, sudah sekian lama
mereka mencintai satu dengan lain. Sekarang, mendengar
kata-katanya Hong Kun, ia bagaikan tidak mendengarnya.
Itulah sebabnya kenapa ia tidak lantas memberikan
jawabannya.
Hong Kun bersenyum. Ia maju lebih jauh. Ia memang
pandai beraksi.
"Adik........" katanya, seraya maju terlebih rapat setelah
mana ia memeluk pinggang langsing nona itu, "adik, tak dapat
aku berpisah dari kau........ Aku pikir, kau juga tentu tak tega
meninggalkan aku......"
In Go terkejut dipeluk laki-laki itu. Mendadak saja ia sadar.
Maka merahlah mukanya. Dia malu. Dengan satu gerakan
tubuhnya, dia meloloskan diri dari pelukan si anak muda.
Tetapi dia tidak menjadi gusar. Dia bersenyum, lalu dia kata
perlahan, nadanya berduka : "Aku mau lekas pualgn sekarang,
tentang diriku, jangan kau pikir terlalu banyak........"
Hong Kun maju mendekati pula. Dia menyangka si nona
malu-malu kuCing.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kalau kau toh mau pulang, adik, tak usah kau begini
tergesa-gesa," katanya tertawa. "Mari kita duduk pula, kita
bicara lebih jauh. Kita bakal berpisah, bukan ? Kenapa kita
tidakmau bicara lebih lama sedikit ? Kita harus melakukan
sesuatu yang kelak sukar kita lupakan........" Dan ia maju lagi,
berniat memeluk kembali.
In Go menatap tajam.
"Eh, eh, kau mau apakah ?" tanyanya.
Hong Kun tertawa manis.
"Mau apa ?" katanya bertanya. "Kau tentu telah ketahui
sendiri, adikku. Kita harus saling mencinta, dari semula hingga
di akhirnya. Sampai kita mati. Mustahil kau tidak tahu itu,
adikku ?" Dan dia tertawa pula, lau dengan satu sambaran, dia
memeluk pinggang si nona !
In Go kaget. Inilah ia tidak sangka. tak sempat berkelit, tak
dapat ia melepaskan pula tubuhnya. Si anak muda memeluk
keras sekali. Mendadak ia menjadi gusar. Maka ia
melayangkan sebelah tangannya !
"Plok !" mukanya si pemuda kena terhajar.
Hong Kun terperanjat. Pipinya sampai balan, bertandakan
lima jari tangan si nona, hingga ia mesti mengusapnya.
Menggunakan saatnya orang terperanjat, In Go meronta,
membebaskan diri, setelah mana ia mundur dua tindak. Ia
menatap anak muda itu, agaknya ia pun bingung
sendirinya.......
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun mengawasi pula si nona. Mulanya hendak ia
menggunakan kekerasan, akan tetapi kapan ia melihat wajah
orang, ia percaya si nona masih belum dapat membaca
maksudnya yang sebenarnya. Ia mengawasi, lalu tertawa.
"Ah, adik !" katanya sambil bertindak maju. "Adik, kau
main-main secara kelewatan. Kenapa kau menggunakan
tanganmu ?" Kembali ia maju mendekati satu tindak.
In Go menatap tajam. Ia bisa melihat wajah orang.
Nampaknya si anak muda itu bersikap keras tetapi segera
sikap itu berubah pula. Buktinya dia itu tertawa dan berlaku
manis lagi. Tapi ia sudah sadar, maka ia waspada.
"Apakah kau marah padaku ?" tanyanya, tertawa. "Aku
telah terlepasan tangan. Apakah kau masih merasa nyeri ?"
Hong Kun mengusap-usap pula pipinya, kemudian dia
mengasi lihat tapak balannya, yang masih bersemu merah.
"Nyeri di pipiku tetapi girang di dalam hati !" sahutnya.
"Mungkin inilah tanda dari cinta kasihmu, adik..."
Selagi orang maju, In Go mundur pula. Sekarang ia sadar
benar-benar, maka juga dari menyukai pemuda itu, di dalam
waktu sependek ini, ia jadi memandang tak mata. Ia mundur
dengan sepasang alisnya terbangun.
"Aku menyesal atas kelakuanmu ini," katanya. "Aku
menyayanginya !"
Hong Kun heran hingga ia melengak. Sungguh hebat
perubahan sikapnya si nona.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Apakah yang kau sayangi, adik ?" tanyanya berlagak pilon.
"Apakah yang kau maksudkan yang pertemuan kita ini
terlambat ?"
Lagi-lagi In Go mundur satu tindak.
"Bukan itu," sahut si nona. "Aku melihat gerak gerikmu ini !
Dengan orang dengan lagak sepertimu ini, tak suka aku
bergaul lagi ! Kau harus ketahui aku bukanlah orang yang
dapat dipermainkan !"
Habis mengucap itu, In Go memutar tubuh terus
melangkah keluar rimba.
Panas hatinya Hong Kun yang kedoknya dibuka si nona,
sedangkan nafsunya memiliki nona itu keras sekali. Ia
menggertak gigi, lantas ia bertindak ringan tetapi cepat untuk
menyusul, setelah datang dekat, tiba-tiba saja dia menotok
jalan darah hektiam nona itu !
In Go tidak menyangka jelek, dia tidak bersedia sama
sekali. Begitu dia kena totok, tubuhnya terus terhuyung
beberapa tindak. Dia pun mengeluarkan jeritan kaget. Justru
dia mau jatuh itu, si pria lompat padanya merangkul
pinggangnya tanpa dia dapat berbuat apa-apa.
Hong Kun puas sekali berhasil menawan nona itu, dari
bersenyum ewah, ia tertawa bergelak. Kemudian ia
memandang ke sekitarnya, guna mencari tempat yang cocok
dimana ia dapat memuaskan nafsu hatinya terhadap nona itu.
Rimba jarang tetapi di sana sini terdapat semak-semak
pohon rendah atau rumput yang tebal dan lebat ! Ketika itu
pula, suasana sangat sunyi, sampai suara kupu atau binatang
kecil lainnya pun tidak terdengar.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Segera si anak muda melihat batu besar dan rata dibawah
pohon dimana tadi dia duduk, itulah batu yang menurutnya
pantas dijadikan pembaringan. Maka kesana dia pergi sambil
memondong In Go. Dengan perlahan-lahan ia meletakkan
nona itu di atas batu tersebut.
Di dalam keadaan seperti itu, Hong Kun ingat untuk berlaku
hati-hati. Ia lantas melihat sekelilingnya. Rimba tetap sunyi,
tak ada lain orang disitu. Kemudian ia mengawasi batu besar,
maka ia mendapat kenyataan, meskipun suasana sunyi, batu
itu toh terlalu terbuka. Tapi, selekasnya ia mengawasi In Go
yang rebah diam saja, yang kecantikannya, juga potongan
tubuhnya, sangat menggairahkan, tiba-tiba tak dapat ia
menguasai dirinya lagi. Cepat luar biasa, ia lantas membukai
kanCing bajunya si nona !
Tepat pemuda itu tengah membukai kanCing orang, hingga
dia tak memikir lainnya apa juga, mendadak saja dia merasai
kedua belah iganya ada yang sentuh hingga dia terkejut
sekali. Kedua iga itu pun terasa sedikit sesemutan. Lantas ia
menduga kepada penyerangan pembokongan, maka tanpa
ayal pula, berbareng dia memutar tubuhnya, untuk melakukan
penyerang hebat dengan dua-dua tangannya.
Akan tetapi, dia menyerang tempat kosong. Tak ada orang
disitu. Serangannya itu hanya mengenai daun-daun pohon,
yang rontok berhamburan. Dia heran sekali. Menurut dia,
sekalipun orang yang tubuhnya paling ringan tak nanti lolos
dari hajarannya itu. Toh tadi ia merasa tubuhnya tersentuh
dan tubuh itu sedikit bergemetar. Habis apakah itu kalau
bukannya serangan gelap ?
Dengan perasaan heran sekali, anak muda ini melihat pula
ke sekitarnya, terutama ia memperhatikan pohon-pohon dan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
semak di seputarnya itu. Tetap ia tidak melihat suatu apa-apa,
tetapi --ia merasa-- seperti telinganya mendengar langkah kaki
di atas daun-daun dan bagaikan ada bayangan orang diantara
semak.......
Dari merasa aneh, Hong Kun menjadi bersangsi bahkan
bercuriga. Ia lantas menerka yang tidak-tidak. Ia menyangka
mesti ada orang yang mengintai dan membokongnya. Tapi,
mana orang itu dan siapakah dia ? Ia berdiam tetapi ia
waspada, matanya dibuka lebar-lebar, mengawasi tajam ke
sekelilingnya.
Rimba tetap sunyi.
"Sahabat yang mana yang berada disini ?" akhirnya si anak
muda bertanya nyaring. "Sahabat, silahkan kau perlihatkan
dirimu supaya kita dapat saling bertemu muka !"
Pertanyaan itu tidak memperoleh jawaban walaupun telah
diulangi beberapa kali. Setelah itu, baru anak muda ini merasa
hatinya tenteram. Ia mengawasi pula, ia tidak melihat
bayangan orang dan tidak mendengar suara langkah kaki
diantara dedaunan. Rupanya tadi, ia merasa, bahwa ia
dipermainkan daun-daun rontok hingga ia mendapat perasaan
yang tidak-tidak......
Matahari pun bersinar terang.
Segera sesudah berfikir tenang, Hong Kun menghampiri
pula batu besar dimana In Go tetap rebah tak berdaya.
Keadaannya mirip seorang nona yang lagi tidur nyenyak.
Tubuh dan wajah nona itu sangat menggiurkan hatinya. Sang
nafas membuat dadanya si nona naik dan turun dengan
perlahan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mengawasi nona itu, dadanya Hong Kun pun memain naik
turun seperti dadanya si nona. Dia dipengaruhi sangat
perasaan hatinya. Darahnya lantas bergolak, dadanya itu
terasa sesak. Dia mirip si srigala kelaparan tengah
menghadapi sang kelinci !
Di dalam keadaan seperti itu, masih anak muda ini
bercuriga, hingga ia merasa batu besar itu bukanlah tempat
yang tepat untuk ia melampiaskan nafsu hatinya. Maka juga
lantas ia mengambil keputusan. Segera ia mengangkat dan
memondong tubuhnya In Go buat dibawa masuk ke dalam
sebuah ruyuk tak jauh di depannya. Dengan berada di dalam
situ, mereka berdua akan tak terlihat siapa juga. Karena
merasa senang dan puas, selagi memasuki ruyuk, ia
menggerutu seorang diri....
Tepat tengah ia melangkah masuk ke dalam ruyuk itu,
sekonyong-konyong Hong Kun merasa ada jari tangan yang
menekan sin-tong, jalan darahnya yang berarti kematian
untuk setiap orang. Dia kaget, hingga lantas saja dia memutar
tubuhnya berniat melakukan penyerangan. Atau segera dia
didahului bentakan bengis : "Jangan bergerak !" Terpaksa dia
membatalkan serangannya. Dia tahu, asal dia menyerang,
jiwanya bakal lenyap seketika........
"Hm !" ia lantas mendengar suara yang dingin. "Sahabat,
kau datang kemari, apakah maumu ? Apakah yang kau
hendak lakukan ?"
Dari suara orang, Hong Kun menerka pada seseorang yang
usianya telah lanjut. Pertanyaan itu bernada tak bermaksud
jahat. Karenanya ia memikir baiklah ia berlaku sabar,
selekasnya ada kesempatan, baru ia mau mengasi hajaran.
Maka lekas-lekas ia menjawab : "Urusanku, lotiang, tidak ada
sangkut pautnya denganmu !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ia membahasakan "lotiang" -- orang tua yang dihormati
karena ia percaya orang itu benar seorang tua.
"Oh !" orang itu memperdengarkan suaranya.
Hong Kun telah bersiap sedia, hendak dia menyerang tetapi
dia batal. Jari tangannya orang tak dikenal itu tetap
mengancam jalan darah kematiannya itu......
"Lotiang," kata ia kemudian, "kaulah seorang dari tingkat
tertua, kenapa kau melakukan ini ancaman menggelap atas
diriku ? Apakah lotiang tidak takut yang perbuatanmu ini akan
merendahkan derajatmu sendiri ?"
Agaknya orang itu melengak, sebagaimana terasa tekanan
tangannya tak berat seperti semula.
"Sahabat !" kemudian terdengar suaranya pula, "sahabat,
jika kau masih menyayangi jiwamu, kau mesti dengar setiap
pertanyaanku dan menjawabnya dengan sebenar-benarnya !
Jika tidak, hm !"
"Kau tanyakanlah !" sahut Hong Kun cepat. "Aku yang
rendah, biasanya tak pernah aku mendustai !"
Orang itu tidak menjawab, hanya dia lantas mulai dengan
pertanyaannya.
"Sahabat," demikian tanyanya. "Siapakah nona yang kau
pondong ini?"
Sinar mata galak dari Hong Kun memain beberapa kali.
"Dia ini sahabatku !" demikian sahutnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Sungguh licik !" kata orang itu, suaranya menandakan
kemendongkolannya.
"Jangan sembarangan mencaci orang, lotiang !" Hong Kun
pun sengaja memperdengarkan suaranya yang menyatakan
dia tak puas. "Di dalam dunia ini, urusan yang paling besar
pun tak melebihkan kematian ! Kenapa lotiang mendongkol
tidak karuan ?"
Agaknya orang itu terpengaruhkan kata-kata si anak muda,
maka ketika ia bersuara pula, suaranya sabar seperti semula.
"Jika benar seperti katamu, nona ini adalah sahabatmu,"
katanya, "coba kau jelaskan she dan namanya serta juga
nama perguruannya. Kau tentunya tahu jelas, bukan ? Kau
bicaralah !"
Hong Kun melengak. Ia cuma tahu namanya In Go, tidak
perguruannya. Tapi ia toh menjawab cepat : "Sahabatku ini
bernama In Go, kami baru saja bertemu secara kebetulan,
lantas kami mengikat persahabatan."
Sebenarnya In Go pernah menyebutkan namanya Gwa To
Sin Mo tetapi Hong Kun melupai itu sebab tadi sewaktu si
nona memberitahukannya pikirannya masih belum sadar
seperti sekarang ini dan ia pun tidak memperhatikannya.
"Oh !" kembali orang itu memperdengarkan suaranya.
"Kenapa nona ini tak sadarkan diri di dalam pondonganmu ?"
Kembali Hong Kun terkejut.
"Sebenarnya kita sedang bergurau....." sahutnya kemudian,
sebab tak ada alasan lainnya yang bisa dia kemukakan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Sedang bergurau ?" tanya orang itu, suaranya
menandakan kemurkaannya. Dia pun terus menekan,
membuat si anak muda berjengit menahan nyeri, sampai
giginya dijatrukan atas dan bawah.
Lewat sesaat, tekanan reda pula.
"Sahabat, kau bicaralah baik-baik." katanya pula orang itu.
"Kau harus mengaku dengan sebenar-benarnya ! Jika kau
memikir mendustai lohu, itu artinya kau mencari
penderitaanmu sendiri ! Mengertikah kau ?"
Dengan kesabarannya, orang itu membahasakan dirinya
"lohu", kata-kata merendah dari seorang tua, yang sama
artinya dengan "aku".
Hong Kun cerdik sekali. Dia bukannya menjawab, dia justru
balik menanya.
"Lotiang," demikian tanyanya, "lotiang pernah apakah
dengan nona ini, maka juga lotiang begini memperhatikan
tentang dirinya ?"
Sebagai jawabannya, orang itu tertawa bergelak-gelak
hingga kumandang tawanya itu menggetarkan rimba. Lalu,
terasakan kata-kata demi kata oleh Hong Kun, dia
menambahkan, "In Go ini ialah muridku si orang tua !"
Kagetnya Hong Kun tak terkirakan. Dia seperti mendengar
guntur. Dia sampai bergemetar seluruh tubuhnya. Dengan
lantas, tapinya ia mengasah otaknya. Hingga dia bisa lekaslekas
memulihkan ketenangan dirinya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Oh, kiranya nona ini murid kesayangan lotiang," demikian
katanya, tertawa. "Bagus !"
Orang itu heran.
"Apa katamu ?" tanya dia.
Hong Kun tertawa pula, tertawa licik.
"Coba lotiang tanyakan dirimu sendiri," dia menjawab.
"Sebelumnya lotiang dapat membinasakan aku, mampukah
lotiang membantu murid kesayanganmu ini ?"
Si orang tua melengak. Baru sekarang ia insyaf yang
muridnya berada di dalam tangan orang. Jadinya murid itu
terancam bahaya seperti sekarang si anak muda berada dalam
ancamannya sendiri.
"Aku si tua bukanlah orang yang dapat diancam, dipaksa !"
katanya kemudian. "Kalau muridku mati, aku cuma kehilangan
seorang murid ! Sahabat, kau agaknya licik sekali, maka itu
silahkan kau ambil jalanmu ke neraka sana !"
Kata-kata itu disusul dengan satu tekanan jari tangannya.
Hong Kun kaget sekali, segera ia merasakan nyeri sampai
alisnya berkerut rapat satu pada lain. Terpaksa ia mesti
menyerah, maka ia kata susah : "Lotiang, kau berlakulah
murah hati ! Aku yang muda akan bicara dengan sebenarbenarnya......"
Orang itu mengendorkan pula tekanannya, dia tertawa.
"Hm, bocah yang baik !" katanya mengejek, "bukankah kau
barusan mengatakan manusia itu cuma mati satu kali ? Kalau
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
benar kaulah seorang gagah sejati, buatmu mati ialah mati !
Habis kau mau bicara apakah lagi ?"
Hong Kun meluruskan nafasnya yang sesak, dengan begitu
juga ia memperbaiki saluran nafasnya itu.
"Aku yang rendah," sahutnya kemudian, "aku sebenarnya
bukan takut mati. Aku hanya tidak memikir akan terjadinya
permusuhan diantara guruku dengan kau, lotiang.
Permusuhan itu akan berarti hebat, akan merupakan balas
membalas dengan kematian !"
Orang itu tertawa perlahan.
"Di dalam hal ini, bicaramu beralasan," katanya. "Tapi
dapat aku jelaskan pada kau, aku Gwa To Sin Mo, jika aku
bunuh kau, aku tidak takut yang gurumu nanti datang mencari
balas !"
Girang Hong Hun mendengar suara itu. Ia memperoleh
kesempatan.
"Lotiang," tanyanya. "Apakah lotiang bersahabat dengan
guruku ?"
Pemuda licik ini tidak tahu Gwa To Sin Mo mengenal
gurunya atau tidak, ia menggoyang lidah sekenanya saja.
Gwa To Sin Mo sebaliknya heran.
"Siapakah itu gurumu ?" tanyanya.
Ditanya begitu Hong Kun lekas memikir. Ia tahu Gwa To
Son Mo yang berdiam di jurang Houw Tauw Gay di gunung
Tiaom Chong san menjadi seorang lihai yang sesat bukannya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
sesat, sadar bukannya sadar. Dia itu bertindak sesat atau
lurus dengan melihat suasana. Dia ingat, mesti ada sebabnya
kenapa Gwa To Sin Mo muncul di Hek Sek San ini. Maka dia
pun menerka jangan-jangan Sin Mo mempunyai hubungan
dengan It Mo dan mungkin Sin Mo mengandung sesuatu
maksud dalam urusan Bu Lim Cit Cun. Dia menduga juga,
kalau Sin Mo mengenal gurunya, ada kemungkinan ia pasti
pergi ke Heng San.
Di dalam sekejap, Hong Kun mendapat akal. Maka lekaslekas
dia menjawab : "Lotiang, guruku ialah Im Ciu It Mo !"
Mendengar jawaban itu, mukanya Gwa To Sin Mo berubah
menjadi suaram, tetapi cuma sejenak, dia terus tertawa dan
menanya : "Sahabat, apakah she dan namamu yang mulia ?
Kau sebutkanlah !"
Mendengar suara orang bernada sungkan, timbul pula
kelicikannya Hong Kun.
"Aku yang rendah bernama Tio It Hiong." demikian
jawabannya. Dia sadar pula akan peranannya.
Gwa To Sin Mo heran hingga ia berdiri melengak. Pernah ia
bertemu dengan Tio It Hiong, hanya ketika itu It Hiong
bersama Ya Bie, muridnya Touw Hwe Jie. Di Kiam Gee Kiap ia
bertemu dengan Im Ciu It Mo dan Im Ciu It Mo mengatakan
bahwa muridnya bernama Tio It Hiong, hanya ketika itu Tio It
Hiong agaknya terganggu urat syarafnya. Ketika ia dan muridmuridnya
bertiga melayani Im Ciu It Mo bertempur, Tio It
Hiong bersama Ya Bie lenyap tidak karuan. Sekarang di sini ia
bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Tio It Hiong
dan bukannya Gak Hong Kun ! Bagaimanakah duduknya hal ?
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Benarkah dua nama itu tetapi orangnya satu ? Kalau It
Hiong dari Kiam Gee Kiap, maka manakah kawan wanitanya ?
Kenapa dia justru muncul disini tengah mempermainkan In Go
? Kenapakah In Go berdiam saja itu ? Ia tercelakakan atau
hanya ditotok hingga pingsan ?
Bingung si Bajingan, tetapi di akhirnya ia dapat pikiran
bahwa cuma sesudah muridnya terasadar barulah ia akan
mendapat keterangan jelas tentang duduknya hal. Dasar ia
telah berpengalaman, walaupun terbenam dalam kesangsian,
ia dapat tertawa ringan, pada wajahnya tak nampak sesuatu
perubahan.
"Kiranya kaulah laote Tio It Hiong !" katanya tertawa pula.
Bajingan ini telah memikir tak mau menanam bibit
permusuhan baru, cukup asal muridnya dapat ditolong dan
terasadar, tetapi sebab si naka muda nampak licik, ia berpikir
keras bagaimana ia harus mendapati muridnya itu.
Habis tertawa, Sin Mo lantas mengendorkan tekanannya
pada jalan darah orang.
"Kiranya kaulah orang sendiri, Tio laote !" katanya pula
kemudian. "Aku minta supaya peristiwa barusan jangan kau
buat pikiran !"
Hong Kun merasa lega mendapatkan jalan darahnya tak
tertekan pula, hanya untuk sejenak ia masih bingung.
"Terima kasih, locianpwe !" katanya yang mendadak
berlompat memisahkan diri beberapa tindak, setelah mana dia
memutar tubuhnya, terus dia menatap orang dari atas ke
bawah dan dari bawah ke atas. Orang itu sebaliknya pun
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mengawasi, sebab ia tetap bersangsi, It Hiong dan Hong Kun
satu orang atau dua........
"Tio laote," tanya pula Sin Mo lewat sesaat. "kenapa In Go
tidak sadarkan diri ? Tahukah kau sebabnya ? Bagaimana
kalau lohu memeriksanya ?"
Hong Kun menjadi bingung. Sebenarnya apa yang
dipikirkan ialah segera kabur dengan membawa In Go, supaya
di lain tempat, dapat ia ganggu kehormatannya nona itu.
Sekarang si jago tua menanya demikian padanya. Buat kabur
dengan begitu saja, dia ragu-ragu. Dia memondong tubuh si
nona, tak nanti dia dapat lari cepat dan lolos dari tangannya si
bajingan. Bagaimana sekarang ?
Di dalam keadaaan sadar sejenak itu, mendadak Hong Kun
ingat halnya si nona adalah muridnya si Bajingan. Maka inilah
kebetulan, bajingan itu dapat ia pengaruhi selama si nona
belum ia bebaskan atau serahkan. Nona itu dapat digunakan
sebagai alat mengancam.
Gwa To Sin Mo menghampiri In Go. Seperti katanya
barusan, hendak ia memeriksa kenapa murid itu berdiam saja,
tak bergerak, tak sadar.
Hong Kun tak mau dengan mudah saja menyerahkan murid
orang. Maka itu selagi si bajingan menghampiri dan sudah
mendekati, mendadak ia membentak : "Tahan ! Berdiri diam
disitu !"
Sin Mo heran hingga dia berdiri melengak, setelah sadar,
dia mengawasi tajam.
"Kau kenapa, Tio Laote ?" tanyanya heran. "Kenapa
sikapmu ini ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun bersikap dingin ketika dia menjawab : "Dalam
dunia Kang Ouw terdapat banyak sekali kecurangan, karena
itu, aku harus berhati-hati ! Demikian dalam urusan kita ini !
In Go ini sahabatku, dari itu lotiang, kau perlu membuktikan
dahulu bahwa dia benarlah muridmu ! Apakah bukti lotiang ?"
Gwa To Sin Mo berdiri menjublak mendengar pertanyaan
itu, tetapi cuma sejenak, lantas timbul kemarahannya. Alis dan
janggut kambing hutannya bangkit berdiri, janggut itu
bergoyang-goyang sendirinya ! Dia pun mesti menahan hawa
amarahnya. Kemudian lagi, dia tertawa dingin.
"Ka menyebut diri sebagai sahabatnya In Go, apakah
buktinya ?" dia balik bertanya.
Hong Kun tertawa. Ia mendongkol yang usahanya
dirintangi, ia lupa segala apa.
"Dia berdiam saja ditanganku, itulah buktinya !" ia
menjawab keras, sikapnya mengejek. "Dia bukan melulu
sahabatku, dia juga daging suguhanku ! Hm !"
Mukanya Gwa To Sin Mo menjadi pucat dan biru saking
gusarnya.
"Bagaimana dapat Im Ciu It Mo mendidik murid begini
bagus ?" katanya sengit. "Baik, Tio laote! Seakrang hendak
aku menyaksikan bagaimana kelicinanmu ! Hendak aku
mendapat bukti, siapakah pemilik daging suguhan itu."
Sembari berkata Sin Mo bertindak perlahan menghampiri si
anak muda.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun bingung. Tadi ia cuma membuka mulut lebar
saja. Lantas dia mengangkat tubuhnya In Go, di bawa ke
depan dadanya. Sembari berbuat begitu, dia berkata nyaring :
"Jika lotiang maju lagi satu tindak maka aku akan
membinasakan dahulu nyawanya In Go !" Sembari
mengancam itu, dia bertindak mundur. Dia mau mundur ke
dalam rimba, untuk terus melarikan diri !
Gwa To Sin Mo tidak menghiraukan ancaman itu. Ia melihat
orang mundur, ia maju terus. Karena si anak muda mundur
tindak demi tindak, ia pun maju langkah demi langkah.
Tak berani Hong Kun membuktikan ancamannya akan
membinasakan si nona. Dia masih berat. Dia percaya, kalau In
Go mati, tentu si Bajingan tak mau sudah dengan begitu saja.
Demikian dua orang itu, dengan yang satu mundur yang
lain maju. Walaupun dengan sangat lambat, akhir-akhirnya
mereka masuk juga ke dalam rimba, diantara banyak
pepohonan ke dalam mana Hong Kun berniat lari
menyelindung agar si jago tua sukar mengejarnya.......
Mendadak Sin Mo menghentikan langkahnya. Lantas dia
kata dingin : "Kau harus ketahui sifatku si orang tua !
Seumurku, belum pernah aku menerima ancaman atau
paksaan ! Apakah kau memikir menggunakan In Go sebagai
manusia jaminan supaya aku tidak turun tangan terhadapmu ?
Hm, kau keliru ! Dengan begitu kau justru mencari
mampusmu sendiri ! Kau tahu atau tidak ?"
Hong Kun makin bingung. Jantungnya berdebaran. Tak
tega dia membinasakan In Go. Dia juga tidak berani
melakukannya ! Dia menjadi serba salah ! Tanpa merasa, dia
rangkul pula si nona dalam pelukannya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tua bangka ini mengikuti aku, belum juga dia mau turun
tangan. Apakah yang dia pikirkan ?" demikian tanyanya di
dalam hatinya. "Ah, dia juga tentu cuma menggertak aku......"
Terus si anak muda mengasah otaknya. Kemudian ia
mendapat satu akal, maka ia lantas menanya : "Lotiang,
bagaimana lotiang pikir kalau keadaan kita berdua berubah
menjadi sebaliknya ? Lotiang menjadi aku dan aku menjadi
lotiang ?"
Sin Mo menjadi berpikir pula. Ia mengangguk-angguk dan
kata seorang diri : "Seorang muda dalam keadaan berbahaya,
pikirannya tidak kacau itulah pertanda dari orang yang
bersemangat......"
Lantas ia mengusuti janggutnya dan mengawasi anak muda
itu. Lalu lewat sekian lama, dengan wajah menjadi sabar lagi,
ia kata perlahan " "Kau letakan dahulu In Go ! Percaya, lohu
akan berbuat suatu kebaikan untuk dirimu !"
Jago tua ini mau menghargai orang yang bernyali besar.
Karena itu, kata-katanya itu mempunyai arti yang sebenarnya.
Dia berniat merekoki jodoh muridnya dengan jodoh si
pemuda. Dia belum tahu yang In Go adalah kekasihnya Bu Pa
!
Tapi lain adalah niatnya Hong Kun. Dia bukan mencintai In
Go. Hanya dia ingin mendapatkan tubuh orang, guna
melampiaskan nafsu birahinya.
Lantas si anak muda tertawa dan tanya : "Lotiang,
kebaikan apa itu yang lotiang hendak perbuat atas diriku ?"
dia pikir, kalau ada kesempatannya, janji si jago tua ini
hendak dia memegangnya erat-erat.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Gwa To Sin Mo tertawa.
"Laote !" katanya, yang merubah pula cara panggilannya.
"Laote, telah lohu melihat jelas segala tindak tandukmu diatas
batu besar tadi ! itulah bagus sekali ! Maka itu cobalah kau
terka, kebaikan apa hendak kuberikan terhadapmu ?"
Puas Hong Kun mendengar suaranya si Bajingan tua. Tapi
dia bermain komedi. Dia menggeleng kepala.
"Sulit, sulit lotiang !" sahutnya. Teka-teki lotiang sukar
sekali untuk diterkanya ! Aku minta lebih baik lotiang saja
yang menjelaskannya ! Sulitkah ?"
Habis berkata begitu, si anak muda menurunkan tubuhnya
In Go, untuk diberdirikan. Supaya si nona dapat berdiri tegak,
ia mengulurkan lengan kirinya guna menjagai tubuh orang.
In Go rapat kedua belah matanya. Dia berdiri menyender di
tubuhnya si pemuda.
Dengan caranya itu, Hong Kun mau mengelabui Gwa To Sin
Mo, agar si Bajingan menyangka nona itu lagi berdiri supaya
dia dikira sudah meluluskan permintaan orang itu.
Sin Mo mengawasi, dia mengangguk.
"Tio laote !" katanya. "apakah dengan sesungguhnya
hatimu yang kau mencintai In Go ?"
Hong Kun mengangguk.
"Ya," sahutnya. "Lotiang mau apakah ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sin Mo menatap, dia menjawab : "Lohu berniat agar In
Go......"
Belum sempat si jago tua melanjuti kata-katanya itu,
mendadak dari antara segunduk pohon rumput tampak
mencelat keluarnya seorang anak muda, yang terus lari ke
arah Gak Hong Kun !
Pemuda she Gak itu waspada, dia melihat munculnya
orang, lekas-lekas dia memegangi tubuhnya In Go buat diajak
menyingkir dari anak muda itu. Tapi si anak muda maju terus
dengan sama cepatnya, bahkan dia segera menyerang !
Hong Kun mengenali serangan itu serangan Ngo Heng
Ciang. Lekas-lekas dia berkelit. Sekarang dia mengenali Bu Pa,
maka dia berseru dengan tegurannya : "Eh, Bu Pa, kau berani
kurang ajar ya?" Dia sengaja menyebut keras-keras namanya
anak muda tu karena ada pula maksudnya, yang supaya Sin
Mo yang mencegak sepak terjang muridnya itu. Dia mau
menunjuki yang dia sabar luar biasa, bahwa dia tak mau
sembarang bertempur........
Walaupun demikian, Hong Kun tidak pernah menyangka
yang segala gerak geriknya yang tadi dipergoki Gwa To Sin Mo
telah terlihat oleh Bu Pa sebab muridnya si Bajingan ini
mengiringi gurunya. Dan Bu Pa gusar sekali karena kekasihnya
telah orang permainkan .
Sebegitu jauh, Bu Pa terus bersembunyi di luar rimba. Ia
mengintai dan melihat segala apa. Ia telah menyaksikan gerak
geriknya In Go. Ia pun menyaksikan sikap gurunya. Biarnya ia
panas hati, ia tetap mentaati pesan gurunya buat tidak
sembarang muncul. Terus ia melihat dan mendengari. Paling
akhir habislah sabarnya kapan ia dapat menerka maksudnya
gurunya, yang agaknya tertarik hati oleh si anak muda dan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
berniat merekoki jodohnya In Go dengan pemuda itu. Maka
tanpa menanti guru itu menyatakan mau menyerahkan In Go,
ia lantas muncul dan terus menyerang Hong Kun.
Si anak muda she Gak berkelit, ketika ia diserang pula,
kembali ia mengegos tubuhnya. Hal itu membuat
kemurkaannya Bu Pa meluap. Maka waktu dia menyerang
buat ketiga kalinya, dia sekalian menyiapkah tok-ciam, jarum
beracun di tangan kirinya.
Sampai disitu, tak dapat Hong Kun berkelit terus. Terpaksa
dia menangkis serangan orang, hingga tangan mereka berdua
bentrok keras. Justru kedua tangan beradu, justru tangan
kirinya Bu Pa bergerak. Menyusul mana benda-benda halus
dan berkeredepan menyambar ke arahnya.
Hong Kun melihat senjata rahasia itu. Dia tahu itulah mesti
senjata beracun. Bukankah Gwa To Sin Mo tukang membuat
benda beracun ? Maka itu, supaya tidak berkelit untuk sia-sia
belaka, ia mengajukan tubuhnya In Go guna dijadikan
semacam perisai.
Jarum rahasia dari Bu Pa dilepaskan bukan hanya satu kali.
Itulah serangan berantai. Jarum pertama mengenai tubuhnya
In Go, segera menyusul yang kedua. Inilah tidak disangka
Hong Kun. Dia baru kaget ketika ada senjata rahasia yang
mengenakan bahu kanannya dimana nancap sampai empat
atau lima batang jarum !
"Aduh !" dia berteriak disebabkan rasa nyeri, menyusul
mana bahunya itu bagaikan beku karena kesemutan dan
nyerinya.
Menyusul itu, tangan kanannya Bu Pa pun tiba. Karena dia
ini tidak berhenti sampai disitu saja.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Dengan bahu kanannya terkena jarum rahasia, tidak dapat
Hong Kun menggunakan tangannya itu buat menangkis
membela diri, terpaksa ia mengajukan pula tubuhnya In Go
yang ia masih belum mau melepaskannya.
Kali ini Bu Pa berlaku cerdik. Melihat tubuh kekasihnya
diajukan, dia membatalkan serangannya yang hebat itu. Ia
mengubahnya dengan serangan lainnya. Kalau serangan yang
pertama menuruti ilmu Ngo Heng Ciang, yang belakangan
satu jurus dari Kim Liok Ciu, Tangan Menawan Naga. Maka
juga, hanya di dalam sedetik, In Go sudah pindah ke dalam
rangkulannya.
Hampir pemuda itu menangis menyaksikan kekasihnya
pingsan bagaikan tidur nyenyak. Lekas-lekas ia menyuapi obat
pemunah racunnya. Setelah itu menyusul tepukannya pada
jalan darah si nona buat menyadarkannya.
Lewat sesaat, mendadak In Go mengeluarkan suara
tertahan, terus dia membuka matanya. Maka dia lantas
melihat yang tubuhnya berada dalam pelukan kekasihnya.
"Kakak !" panggilnya lemah, seperti berbisik.
Dengan sikap sangat menyayangi, Bu Pa tanya : "Adik, apa
yang kau masih rasakan pada tubuhmu ?"
In Go menggeleng kepala, terus ia memejamkan pula
matanya. Sebagai gantinya, airmatanya terus meleleh keluar.
Ia menangis terisak-isak perlahan.
Sampai disitu, Bu Pa mencabuti jarum rahasianya dari
tubuhnya kekasihnya itu. Bahaya sudah tidak ada lagi, karena
obatnya sudah bekerja, menolak dan membasmi racunnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bahkan lekas juga si nona pulih tenaganya hingga ia bisa
berbangkit, akan bangun berdiri seperti sedia kala. Ia melirik
pada kakak seperguruannya seraya bertanya : "Kakak, kau
mengawasi saja padaku, kenapakah ?"
Bu Pa menatap, terus dia menghela nafas.
"Adik, kau tak tahukah bagaimana bahayanya keadaanmu
barusan ?" dia balik bertanya.
In Go menggigit bibinya. Ia tunduk. Mukanya pun berubah
merah sampai ke telinganya. Lagi-lagi ia melirik si anak muda.
Bu Pa tetap mengawasi, maka itu sinar empat mata mereka
beradu satu dengan lain. Sinar mata itu jauh lebih berarti dari
pada kata-kata mereka.
Tiba-tiba mereka berdua itu dikejutkan oleh satu suara
merintih. Lantas keduanya menoleh ke arah dari mana suara
itu datang. Maka mereka menoleh ke arah dari mana suara itu
datang. Maka mereka melihat si anak muda yang lagi rebah di
tanah.
"Dia kenapakah ?" tanya In Go kaget, lalu tubuhnya mau
lompat menghampiri.
Bu Pa menarik bajunya si nona.
"Adik masih mau melihatnya ?" tanya. "Dialah seorang hina
dina !"
Suara itu bernada menyesali dan beririh hati.
In Go menatap anak muda itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kakak," tanyanya. "kenapa kakak menghina orang ?
Kenapa kakak agaknya sangat membenci pemuda itu ?"
Bu Pa membuka matanya lebar-lebar, dari mulutnya
terdengar suara tawar "Hm !"
"Kau tak tahu, adikku," sahutnya kemudian. "Hampir saja
kau bercelaka ditangannya sebab lenyapnya kesucian dirimu !"
Bu Pa bicara terus, menuturkan apa yang ia saksikan
perihal gerak geriknya si anak muda, yang mau merusak
kehormatannya si nona.
Mukanya In Go menjadi merah, hatinya pun memukul
keras. Di luar dugaannya, segala perbuatannya si anak muda,
segala gerak geriknya sendiri telah terlihat gurunya serta
kakak seperguruannya itu.
Bu Pa melihat kekasih itu malu sekali. Lantas ia menghibur
: "Tak usah kau bersusah hati, adik. Dia pun telah seperti
selaruh diantara api, jiwanya tinggal sekali hembusan
saja......."
In Go mengawasi kakak seperguruan itu dengan matanya
dibuka lebar.
"Kakak" tanyanya, "apakah dia tak sanggup melawan kakak
dan telah terluka parah ?"
Bu Pa tertawa, agaknya dia puas.
"Dia terkena beberapa batang jarum beracun." sahutnya.
"Dia bersuara itu tentu disebabkan racunnya jarum sedang
bekerja."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Si nona tampak kurang puas, matanya berkesip beberapa
kali.
"Kakak, tahukah kakak siapa dia itu ?" kemudian dia tanya.
Bu Pa melihat sikapnya si nona, ia merasa tak enak hati. Ia
pun berpikir : "Aneh adik ini ! Dari ancaman maut aku
menolongnya, tak juga dia menghaturkan terima kasih
padaku.... Kenapa dia justru prihatin terhadap manusia rendah
itu ?" Tapi dia toh menjawab kekasihnya itu.
"Kau tahu dia siapa, adikku ?" demikian tanyanya. "Dialah
Gak Hong Kun muridnya Im Ciu It Mo ! Dia tampan tetapi
hatinya busuk seperti racun...."
"Eh, kakak !" si nona menyela kata-kata orang. "Kakak,
kaulah seorang laki-laki sejati. Kenapa kau bicara seperti
perilakunya seorang wanita ?"
Bu Pa tertawa terpaksa.
"Itulah hal yang harus ditanyakan kepada kau sendiri,
adik." sahutnya. Lalu ia mengangkat kepalanya dan menarik
nafas perlahan.
In Go tertawa.
"Ah, kakak kau aneh !" katanya, manis. "Kakak, kau jenaka,
kau pun harus dikasihhani !"
Tapi si anak muda kata sungguh-sungguh : "Adik, hatimu
telah berubah ! Kau telah melupakan hari kita dulu-dulu !"
In Go tertawa terus sampai terpingkal-pingkal. Kemudian ia
mendelik pada si pria.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tolol !" katanya keras. "Jangan jadi tolol ! Jangan kau
memikir terlalu banyak ! Apakah kau sangka aku In Go
seorang wanita yang mudah berubah hatinya ?"
Bu Pa memperlihatkan wajah dingin, sebisa-bisa ia
mengendalikan hatinya yang panas. Kata dia : "Adik, suaramu
manis didengarnya, tetapi hatimu...." Tiba-tiba ia berhenti di
tengah jalan.
In Go tertarik kata-kata pemuda itu, lenyap tawanya.
Sebaliknya, dengan jari tangannya ia menekan dahi orang,
sembari menggertak gigi ia kata : "Siapa suruh apa yang kau
katakan , kau anggap seperti tidak ada..."
"Kapan aku berbuat demikian, adik ? Thian menjadi
saksinya...."
"Tapi cobalah kau pikir-pikir !" kata si nona.
Bu Pa berdiam, otaknya bekerja. Akhirnya ia kata : "Adik,
jangan kau bergurau pula padaku ! Asal hatimu tidak berubah,
bersedia aku andiakata kau menitahkan aku naik ke langit
atau masuk ke dalam tanah !"
Si nona mengawasi.
"Aku bukannya mau menyuruh kau naik ke langit atau
masuk ke dalam bumi !" katanya manja. "Buat apa melakukan
sesuatu sesukar itu ? Asal kau buktikan kata-katamu dan
memberi itu suatu wujud, itu sudah cukup ! Itu saja akan
menjadi tanda kasihmu padaku !"
Bu Pa mencekal keras tangan si nona. Dia nampaknya
Bingung, hatinya tegang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Jangan main teka teki, adik." katanya perlahan. "Tak
dapat aku menerkanya. Coba kau memberikan penjelasan
padaku."
In Go menatap muka orang, terus dia tertawa.
"Itulah musuhnya Tio It Hiong !" katanya kemudian. "Kalau
kau benar mencintai aku, kenapa kau melupakan itu ?"
Mendengar itu, barulah Bu Pa sadar. Dahulu pernah satu
kali, selagi keduanya berlatih silat, mereka berjanji buat nanti
sehidup semati. Dan ketika itu In Go sembari bergurau
mengasi tahu si anak muda kalau dia sudah memiliki
kepandaian sebagai Tio It Hiong dan dapat mengalahkan
pemuda she Tio itu, baru ia -- si pemudi -- sudi menyerahkan
diri pada si pemuda, buat mereka berdua menjadi pasangan
suami istri. Bu Pa telah memberikan janjinya, hanya
kemudian, dia telah melupakan itu sampai sekarang dia
ditegur sang kekasih !
Satu hal harus dijelaskan, Bu Pa dan In Go belum pernah
merantau. Maka itu tentang namanya Tio It Hiong mereka
cuma mendengar orang buat sebutan, orangnya sendiri belum
pernah mereka menemui atau melihatnya. Laginya, tanpa
sebab musabab, tak ada alasannya buat Bu Pa mencari It
Hiong guna mengadu kepandaian kecuali dia mencari alasan
yang dibikin-bikin. Siapa tahu sekarang, si adik ingin dia
membuktikan janjinya itu. Dan justru ditimbulkan di saat si
nona habis bertemu dengan Tio It Hiong palsu !
Bu Pa tahu benar tabiatnya sang adik seperguruan yang
keras dan sukar buat ditundukkan. Tapi dia pun cerdas. Justru
Hong Kun merintih itu, justru dia mendapat suatu akal.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Jilid 56
"Adik", katanya sambil dia menunjuk pemuda itu, "kau lihat
dia ! Nah, inilah harinya yang aku akan mewujudkan katakataku
dahulu hari itu !"
"Hus !" bentak si nona. "kau mengaco belo !"
"Eh, eh," kata Bu Pa, "kalau kau tidak merasa pasti, pergi
kau tanya suhu ! Tadi dia ini sendiri yang menyebut Tio It
Hiong !"
In Go menarik tangannya, dia menunjukkan tampang tidak
puas.
"Kenapa tadi kau menyebut dia dia Gak Hong Kun ?"
tanyanya.
Bu Pa berdiam hingga sekian lama.
"Mungkin dia mempunyai dua nama," sahutnya kemudian.
"Satu Gak Hong Kun dan satu lagi Tio It Hiong ......."
In Go mencibirkan mulutnya. Ia tidak mengatakan sesuatu
lagi pada kakak seperguruannya itu hanya segera menoleh.
"Suhu !" panggilnya kepada gurunya.
Ketika itu hari mendekati magrib, uap mulai tampak di
empat penjuru jagat. Rimba sudah mulai gelap.
Sia-sia saja In Go memanggil gurunya, gurunya tidak
tampak. Jawabannya tidak terdengar, ketika ia mengulangi
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
memanggil beberapa kali tetap tanpa penyahutan dari
gurunya, ia lantas bertindak pergi untuk mencari.
Gwa To Sin Mo sebenarnya tidak pergi kemana-mana, dia
membiarkan murid-muridnya itu, dia sendiri bercokol diatas
pohon sambil bersemadhi, tetapi tak lama, In Go dapat
mencarinya. Maka ujung bajunya ditarik-tarik, dia dikasihh
bangun oleh muridnya itu, yang dengan manja berkata
padanya : "Suhu, mari lekas ! Mari memberikan keputusan adil
kepada muridmu......."
"Ah, anak tolol !" berkata guru itu tertawa. "Mengapa masih
rewel saja ? Sekarang langit sudah gelap, mari lekas kita
pulang !"
In Go tidak menghiraukan kata-katanya guru itu, dia
bahkan menariknya, untuk kemudian menunjuk Hong Kun, dia
berkata : "Suhu, siapakah namanya orang ini ? Aku minta
suhu menjadi saksi !"
Sin Mo mengawasi si anak muda. Ia tidak tahu kedua murid
itu rewel di dalam urusan apa, lantas ia menjawab dengan
seenaknya saja : " Dia pernah menyebut namanya yaitu Tio It
Hiong..."
"Nah, adik, kau telah dengar, bukan ?" Bu Pa menyela,
tampangnya sangat girang. "Dia memangnya Tio It Hiong !"
Si nona membanting-banting kakinya.
"Aku tidak mau mengerti !" katanya, manja. "Suhu, suhu,
kenapa suhu membantu kakak ?"
"Hus, jangan bingung !" bentak si guru. "Mungkin orang ini
tengah memalsukan diri."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Suhu !" berseru Bu Pa. "Suhu, jangan suhu sembarang
mengatakan !"
"Nah, kakak, kau dengar tidak ?" In Go menyela. Dia
tertawa. "Kata suhu dialah si orang palsu!"
Bu Pa melengak. Lantas dia mengawasi gurunya, untuk
bertanya : "Suhu, entah dialah Gak Hong Kun atau sebaliknya
Tio It Hiong yang menyaru menjadi Gak Hong Kun ?"
"Suhu berkata apa yang benar," In Go menyela pula, "maka
itu, tak usah kita saling membantah lagi !"
"Nampaknya dia bakal kehilangan jiwa...... " kata sang
guru.
"Suhu !" Bu Pa kata, bingung, "suhu, tolonglah bilang,
sebenarnya dia ini menyamar menjadi siapa ?"
Sang guru tertawa.
"Dua-dua ada kemungkinannya !" sahutnya. "Buat apa kita
perdulikan dia !"
In Go mengawasi gurunya. Terang guru itu pun ragu-ragu.
Kemudian ia menoleh ke lain arah, mulutnya bungkam. Tapi
cuma sejenak, ia menoleh pula, sinar matanya pun memain.
"Suheng !" katanya, pada si kakak seperguruan, "aku
mempunyai satu pikiran....."
"Apakah itu ?" tanya sang suheng cepat.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
In Go menghampiri, tangannya merogoh sakunya dari
mana terus ia menarik keluar sebuah peles kecil yang isinya
tiga butir yang warnanya berlainan. Ia menuang
mengeluarkan itu, buat terus dijejalkan ke dalam mulutnya It
Hiong, tubuh siapa ia angkat bangun berduduk, kemudian ia
meneruskan mencabut jarum beracun yang nancap di
bahunya orang itu.
Kemudian lagi, sembari bangkit berdiri si nona memandang
Bu Pa dan tertawa. Katanya : "Aku memberikan dia obat
pemunah racun. Aku juga mencabut jarumnya. Itulah ada
faedahnya buat dia ! Kakak, tahukah kau maksudku berbuat
begini ?"
Hatinya Bu Pa tak mengasih menyaksikan pacarnya itu
mengobati si pemuda. Akan tetapi karena ia menyayanginya,
ia mencintai nona itu, tak mau ia membuat orang mendongkol
dan bergusar. Maka ia membiarkan saja. Sekarang ia ditanya,
itulah sangat menyulitkan padanya. Ia tidak dapat menerka
maksudnya si nona itu. Namun dia ditanya, terpaksa ia
menjawab sekenanya saja : "Mungkin kau, adikku, kau....."
"Jangan sembarang bicara !" In Go menyela. "Baik, mari
aku beritahukan ! Aku mengobati dia supaya dia mendusin
dan sadar, lalu kita tunggu sampai dia pulih seperti biasa.
Setelah itu, aku ingin kau, kakak, menempur dia !"
Bu Pa mementang lebar matanya.
"Apakah yang hendak diadu pula ?" tanyanya heran. "Aku
toh telah menghajarnya hingga kalah?"
In Go memperlihatkan wajah sungguh-sungguh, matanya
menyilak.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Melukai orang dengan senjata rahasia, itulah bukan
perbuatan secara laki-laki !" katanya sungguh-sungguh.
"Dengan caramu itu kau merebut kemenangan, itulah yang
paling aku tak sukai !"
Di dalam hati, Bu Pa ragu-ragu. Tadi pun, selagi menempur
si anak muda, ia merasa orang lihai sekali. Tak ada kepastian
baginya untuk memperoleh kemenangan dengan mudah.
Sekarang timbulnya soalnya In Go ini. Maka ketika ia berkata
pula, ia bicara secara menyimpang. Katanya : "Janji kita
bukankah janji asal aku dapat mengalahkan Tio It Hiong !
Benar, bukan ?"
In Go mengangguk.
"Tidak salah !" sahutnya lantas.
"Nah, sekarang tinggal soalnya !" kata Bu Pa. "Orang ini
benar Tio It Hiong atau bukan ! Suhu sendiri tak dapat
memastikannya. Maka itu aku pikir, baik kita tungguh sampai
dia siuman. Baru kita tanya tegas padanya dia sebenarnya
siapa ! Setelah itu masih ada waktu buat aku menguji
kepandaiannya......."
In Go mengawasi kawannya dengan dia mementang mata
lebar-lebar. Dia berpikir. Kemudian dia bersenyum.
"Kakak, kenapa kau memikir banyak begini ?" katanya.
"Apakah mungkin kau pun mendusta waktu kau mengatakan
kau mencintai aku ?"
Bu Pa melengak. Dia bingung.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Jangan salah mengerti, adik !" katanya. "Dapat aku
membelek dadaku buat aku mengasi lihat hatiku padamu !
Adik, aku harap kau menjunjung cinta kasih kita berdua......."
In Go tunduk.
"Cinta kasih kita berdua........" katanya perlahan.
"Ya, adik ! Apakah adik memandang itu hanya main-main
saja ?"
"Bukan begitu, kakak." kata si nona. "Selama kedua orang
pria dan wanita belum menikah, cinta kasih diantara keduanya
adalah hal mengasi dan menerima bersama. Benar begitu,
bukan ?"
"Ah, kembali adik main-main !"
"Bukan, kakak ! Aku hanya ingin bicara jelas. Bukankah
dalam keadaan seperti kita sekarang, kaulah pihak yang
meminta dan aku pihak yang menerima ?"
Bu Pa mengawasi. Ia sungguh tidak mengerti. Mau apa
kekasih ini. Apakah yang dikandung di dalam hatinya.
Karenanya, tak berani ia sembarang memberikan jawabannya.
Lewat sejenak, In Go berkata pula : "Kakak, kau harus
membedakan kedudukan meminta dan menerima. Itulah
mengasi dan memberikan. Kita harus sama-sama saling
mengetahui keadaan masing-masing. Buat minta cinta kasih
seorang nona, kau harus mendengar kata-kata oarng, kau
harus membuat hati orang senang ! Tahukah kau artinya itu
?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bu Pa kata di dalam hatinya, "Hm, kiranya dia mau tunduk
di bawah pengaruhnya ! Keadaan tapinya adalah sedemikian
rupa......" Karena ini, ia lantas menjawab : "Adik, kau benar !
Nah, kau bilanglah, bagaimana kehendakmu !"
Alisnya In Go bangkit.
"Kata-kataku ialah perintahku." sahutnya. "Jika kau memikir
tentang cinta, kau harus mendengar kata......"
Justru si nona baru berkata sampai disitu, kata-katanya
disela Gak Hong Kun yang tiba-tiba mengeluarkan suara
tertahan. Kiranya dia sadar terus hendak tumpah-tumpah, lalu
dia memuntahkan ilarnya. Habis itu dia menghela nafas
panjang.
Tatkala itu sang malam telah tiba dan si puteri malam
sudah muncul. Di antara cahaya rembulan, In Go melihat
Hong Kun mendusin untuk terus bangun duduk.
Melihat pemuda itu siuman, Bu Pa ingat kepada janjinya
pada In Go, maka lantas ia kata : "Adik, dia sudah sadar. Coba
kau suruh dia bangun. Buat dia mengadu silat denganku !"
In Go mengangguk.
"Nah, ini barulah tandanya kau mencinta !" katanya,
tertawa, terus dia bertindak menghampiri si orang muda untuk
berkata : "Tio It Hiong, aku telah memberikan kau obat serta
mencabut jarum beracun dari tubuhmu. Itu artinya aku telah
membantu jiwamu. Maka buat itu, kau harus mengucap
terima kasih padaku ! Kau bangunlah !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun mengangkat kepalanya, sinar matanya tolol. Ia
mengawasi si nona. Ia tidak kata apa-apa. Ia pun tidak
bergerak sama sekali.
"Orang bertabiat keras !" kata si nona. "Kau bangunlah !
Nonamu hendak bicara denganmu !"
Hong Kun bagaikan mendengar dan tidak mendengar. Ia
duduk diam saja.
In Go heran. Ia menjadi tidak senang. Ia angkat kakinya
dan mendupak perlahan pada paha orang.
"Bangun !" bentaknya.
Hong Kun tetap tidak bangun. Ia cuma mengusut-usut
pahanya itu.
"Bangun !" si nona membentak pula. "Bangun !"
Percuma In Go memperdengarkan suaranya itu berulangulang.
Hong Kun tetap duduk diam saja. Maka makin panaslah
hatinya. Lantas ia berpaling kepada Bu Pa.
"Kau lihat, kakak." katanya. "Dia berpura-pura atau
tubuhnya belum bersih seluruhnya dari racun ?"
"Dia tidak mau berkata terima kasih kepada kau, adik."
kata si kakak seperguruan. "Dia juga tak mau mendengar kata
terhadapmu. Menurut aku, kita bereskan saja padanya. Habis
perkara !"
Bu Pa berkata dengan terus bekerja. Dengan tangannya,
dengan satu pukulan Ngo Han Ciang, ia lantas menghajar ke
arah ubun-ubun Hong Kun.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Anak muda itu melihat serangan, sewajarnya saja ia
berlompat bangun dan menangkis, tetapi karena tangkisannya
itu, tubuhnya terhuyung, terus ia jatuh pula, jatuh duduk !
Hong Kun bukannya tidak menghiraukan si nona,
sebenarnya dia belum bersih seluruhnya dari sisa pengaruh
racunnya jarum. Sebab kebetulan sekali, racun itu bekerja
sama dengan sisanya Thay-siang Hoan Hun Tan. Maka dia
kembali kepada keadaannya tak sadar seperti semula.
Bu Pa heran. Tapi ia tetap berpikir, bukankah lebih baik ia
binasakan saja pemuda itu ? Bukankah In Go pun telah
merasa tidak puas ? Dengan begitu, ia pun jadi bertinak
menuruti keinginannya si nona. Maka ia maju pula sambil
menyerang lagi.
Masih sempat Hong Kun menangkis serangan yang ia dapat
lihat. Habis menangkis, kembali ia jatuh duduk.
Menyaksikannya keadaannya si anak muda, In Go heran.
"Tahan, kakak !" serunya.
Bu Pa mengawasi si nona.
"Kau hendak menarik perintahmu, adik ?" tanyanya. Dia
agak girang.
"Bukan !" sahut si nona yang menggelengkan kepalanya.
"Aku hendak melihat dahulu padanya!" Dan lantas ia
mengawasi si anak muda.
Hong Kun bermandikan peluh pada dahinya dan sinar
matanya tolol sekali.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Aneh !" pikir si nona. "Dia telah diberi obat, kenapa dia
masih belum sadar seluruhnya ? Apakah mungkin jarum kakak
telah dipakaikan lain racun ?" Maka ia menoleh pada kakak
seperguruan itu seraya berkata : "Kakak, mari obat
pemunahmu !"
Bu Pa tidak mau menentang adik seperguruan itu. Ia
berikan peles obatnya, walaupun demikian ia toh menanya :
"Kau hendak bikin apa, adik ?"
In Go menyambuti peles, ia buka tutupnya dan menuang
isinya ke dalam tangannya. Lalu ia periksa obat itu, memeriksa
berulang-ulang, setelah mana ia kata dingin : "Ah, kiranya
suhu pun bisa menyimpan sesuatu. Dia berat sebelah
terhadapmu, kakak !"
Bu Pa heran.
"Jangan sembarangan omong, adik !" katanya mencegah.
Terus dia berpaling ke arah gurunya. Khawatir guru itu
mendengar perkataan adik seperguruan itu.
In Go melengak melihat kelakuan kakak itu.
"Kau takut apa ?" katanya. "Akan aku beri dia obatmu ini,
kakak. Hendak aku lihat bagaimana hasilnya !" Terus dia
menuang tiga butir obat yang semua berlainan warnanya.
Obat selebihnya, ia angsurkan pada kakak seperguruannya itu.
Setelah itu ia bertindak menghampiri Hong Kun, guna
memberi makan obat itu.
Tiba-tiba saja, berbareng dengan itu terdengar batuk-batuk
dari Gwa To Sin Mo yang terus berkata : "Ah, anak tolol !
Mana dapat gurumu berlaku berat sebelah ? Sudah, jangan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kau sia-siakan obat pemunah itu yang dibikin dengan sangat
bersusah payah !"
Sembari berkata begitu, guru itu bertindak perlahan
menghampiri.
In Go terperanjat. Ia menghentikan tindakannya. Ia
khawatir gurunya itu gusar.
Lantas Sin Mo berkata pula, dengan suara dan sikapnya
yang sungguh-sungguh : "In Go, kau sudah tidak kecil lagi.
Jika kau bicara, kau berlakulah hati-hati !"
Cepat-cepat si murid menjura.
"Tak berani aku, suhu !" katanya.
Bu Pa khawatir adik dimarahi atau dihukum. Ia
menghampiri, sembari tertawa ia kata pada gurunya : "Suhu,
anak muda itu aneh sekali ! Dia sudah diberi makan obat
tetapi dia masih tetap tolol ! Coba suhu periksa, apakah dia
bukan lagi berlagak pilon ?"
Sang guru agak heran.
"Nanti aku lihat !" katanya.
Mendadak saja Sin Mo berlompat pada si anak muda,
sebelum si orang sempat berdaya, ia sudah menotok jalan
darah hek-tiam, atas mana Hong Kun terus rebah tetapi
mulutnya tidak memperdengarka sepatah kata juga.
Dengan kedua tangannya, Sin Mo lantas mengusap-usap
sekujur tubuh orang, buat mencari sesuatu. Di akhirnya, ia
menekan jalan darah Pek-hiat yang mana dilakukan beberapa
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kali. Kemudian ia berbangkit sambil memperdengarkan tawa
dingin.
"Suhu, dia kenapakah ?" tanya In Go heran.
"Dia pandai berpura-pura. Tak nanti dia dapat mengelabui
suhu !" kata Bu Pa.
Masih Sin Mo menepuk-nepuk tubuh Hong Kun, membuat
orang tetap rebah. Setelah itu, dia bertindak kepada muridmuridnya
seraya berkata : "Di dalam tubuhnya pemuda ini
masih mengeram sisa racun. Itulah yang menyebabkan dia tak
sadar. Racun itu bukannya racun yang dapat disembuhkan
oleh obat kita....."
"Heran !" kata In Go. "Tadi, sebelum dia terkena jarum, dia
sehat seperti kita. Kenapa sekarang dia jadi begini ?"
Habis berkata, nona itu tunduk dan mukanya merah.
Mendadak ia ingat lakon berguraunya dengan Hong Kun tadi.
Ia menjadi malu sendirinya.
"Pengetahuan kalian tentang racun masih sangat dangkal."
berkata guru itu kemudian. "Kalian pasti tak dapat melihat.
Racun itu racun istimewa untuk mengekang urat syaraf orang
! Tidak salah, ini pasti buah tangannya Im Ciu si tua bangka !"
Mendengar demikian, Bu Pa lantas berakat : "Dia tak
sadarkan diri. Mana dapat aku menempur padanya ! Taruh
kata aku menang, itulah bukan berarti kegagahan ! Adik,
bukankah benar kata-kataku ini !"
In Go tidak menjawab. Ia tunduk saja.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Sebenarnya telah aku menang satu kali darinya." kata pula
Bu Pa. "Maka itu, kalau aku menempurnya pula, bukankah
kesudahannya akan sama saja ?"
Dengan kata-katanya itu, ingin Bu Pa membebaskan diri
dari tugas yang diberikan kepadanya oleh In Go, si adik
seperguruan.
In Go membungkam, bahkan ia tak menghiraukan orang.
Tetapi kali ini ia mengangkat kepalanya, akan berkata kepada
gurunya : "Suhu, aku tidak mengerti kenapa obat suhu tidak
mempan terhadap racun dia itu ? Ya, racunnya Im Ciu It Mo !"
Di tanya begitu, Gwa To Sin Mo menunjukkan tampang
bersemangat. Kata dia sungguh-sungguh : "Kalau di dalam
halnya racun Im Ciu It Mo terlebih lihai dari pada aku, kenapa
dia datang ke Tiang Chong Sang memohon bantuanku ?
Mustahil dia nanti minta aku membuatkannya obat Hoa Hiat
Thian-lo ?"
"Benar,suhu !" kata si murid perempuan. "Bagaimana kalau
suhu menolong orang ini, lalu terus suhu menggunakan
tenaganya ? Aku pikir dia dapat dipakai sebagai pengkhianat
terhadap Im Ciu It Mo ! Biar dia mendekam di dalam Bu Lim
CIt Cun ! Aku percaya dengan begitu, suhulah yang bakal
menjadi kepala rimba persilatan !"
Manusia umumnya senang diangkat-angkat. Demikianpun
Gwa To Sin Mo. Dia girang sekali mendengar perkataan
muridnya ini. Lantas dia tertawa dan berkata : "Anak tolol !
Jangan kau memuji aku ! Apakah aku sangka aku tidak tahu
perasaan hatimu ?"
Mukanya In Go menjadi merah. Dia malu sendirinya.
Kembali ia tunduk.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sinar rembulan memanjang ke mukanya nona ini. Nyata dia
cantik sekali. Tak heran kalau Bu Pa melihat wajah orang,
telah goncang hatinya......
Lewat sesaat, In Go mengangkat kepalanya dan tertawa.
"Suhu, kalau suhu hendak mengangkat diri suhu, sedikitnya
suhu harus perlihatkan kepandaian suhu menggunakan obat
beracun !" demikian katanya.
Sang guru memandang kepada si puteri malam. Ia
berdiam, hatinya bekerja. Lewat sesaat, ia kata perlahan :
"Selaksa aliran air, sumbernya ialah satu ! Demikian juga,
seratus macam racun asalnya satu saja !"
Berkata begitu, guru ini merogoh ke dalam tangan bajunya.
Ia mengeluarkan setangkai pohon obat ban-lian cie-cie. Ia
kepal remuk sedikit kemudian ia keluarkan sebutir pil merah
yang ia terus aduk dengan remasan itu hingga keduanya
menjadi serupa bubuk. Dengan tangannya sendiri, ia terus
masuki obat itu ke dalam mulutnya Hong Kun, yang rebah tak
berdaya.
In Go heran menyaksikan gerak gerik gurunya itu. Apa
yang ia tahu ialah pil merah gurunya justru pil beracun,
bukannya obat pemunah racun.
"Su... suhu !" serunya kaget. "Suhu kenapa dia dikasih
makan Cek Ang Tan Wan ?"
Cek Ang Tan Wan itu adalah namanya pil merah itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Anak tolol !" sahut sang guru, tertawa. "Gurumu tahu apa
yang dia lakukan ! Aku mempunyai caraku sendiri ! Kau lihat
selewatnya satu jam, kesadarannya orang ini akan pulih !"
Terus si guru pergi ke batu besar, akan berduduk di sana.
Bu Pa dan In Go heran sekali. Karena itu mereka mau
menerka mungkin obat guru itu benar mempunyai khasiat
istimewa, bisa untuk melawan racun...... Mereka berdiam
tetapi sering mereka saling mengawasi dan mengawasi juga
guru mereka..........
Bulan purnama ketika itu sedang indahnya dan suasana
rimba tenang sekali.
Tanpa merasa, satu jam telah berlalu.
Tepat seperti katanya Gwa To Sin Mo, Hong Kun sadar
setelah lewat satu jam habis dia dikasihh makan obat oleh si
Bajingan Sakti. Obat yang pertama ialah ban-lian cie-cie yang
telah dicampur menjadi satu dengan Cek Ang Tan Wan.
Benar-benar obat istimewa itu berhasil menumpas
kejahatannya Thay-siang Hoan Hun Tan. Selekasnya sisa
racunnya si Bajingan Tunggal musnah, dia tersadar. Pulih
kesehatannya seperti sedia kala. Matanya menjadi bersinar
tajam, semangatnya terbangun. Selekasnya dia menggerakkan
pinggangnya, lantas saja dia bangun berdiri !
In Go yang melihat paling dahulu, sebab dia selalu
memasang mata.
"Tio It Hiong !" segera ia memanggil "Tio It Hiong,
sadarkah kau ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia
melihat tak jauh dari tempatnya berdiri sepasang muda mudi
yang wajahnya ia seperti pernah mengenalnya. Hanya ketika
itu, tak dapat ia segera mengingatnya. Maka ia terus
mengawasi.
"Jiwie, siapakah kalian ?" tanyanya sambil memberi hormat.
Bu Pa dan In Go melengak sejenak tetapi lekas-lekas
mereka membalas hormat.
Lantas Hong Kun bertindak menghampiri. Masih ia
mengawasi muda mudi itu sebelum ia tertawa dan kata :
"Jiwie, agaknya aku mengenali kalian ? Harap dimaafkan yang
aku suka lupa. Tak ingat aku dimana kita pernah bertemu satu
dengan lain......Sukakah jiwie memberi keterangan paadku ?"
Dalam syarafnya sadar seperti itu, muridnya It Yap Tojin
dapat bicara dengan rapi. In Go menjawab cepat : "Inilah Bu
Pa, kakak seperguruanku. Kakakku ini pernah bertemu
denganmu di Tiam Chong San. Aku sendiri In Go. Akulah yang
baru tadi bertemu denganmu disini !"
Tak berani In Go bicara lebih banyak. Sebab ia kuatir
pemuda itu nanti menimbulkan urusan mereka tadi di dalam
rimba.
"Oh, kiranya kakak Bu Pa bersama nona In Go !" kata Hong
Kun hormat. "Maaf, maafkan aku !"
Bu Pa mengawasi.
"Saudara, apakah kau saudara Gak Hong Kun ?" tanyanya
sengaja.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Benar !" sahut Hong Kun cepat.
In Go tampak heran.
"Eh, eh, apakah kau bukannya Tio It Hiong ?" tanyanya.
Hong Kun melengak sejenak. Segera ia ingat yang ia
tengah mainkan peran sebagai Tio It Hiong, si saingan dalam
medan asmara. Lekas-lekas dia tertawa dan kata : "Ruparupanya
jiwie juga kena dipermainkan oleh Gak Hong Kun !
Jahanam itu telah menyamar sebagai aku, dimana-mana dia
melakukan kejahatan. Maka itu aku tengah mencarinya.
Karenanya, setiap sahabat Kang Ouw menyebut diriku Gak
Hong Kun, aku mengiakan saja. Dengan itu kuingin supaya
mudah aku mencari jahanam itu !"
Dengan kata-katanya ini, Hong Kun hendak memperbaiki
penyahutannya tadi terhadap Bu Pa, supaya pemuda itu tidak
ragu-ragu lagi.
"Maafkan aku, saudara Tio." kata Bu Pa. "Aku tidak tahu
yang saudara tengah menderita kesulitan itu !"
In Go pun girang sekali. Ia tertawa dan kata : "Harap kau
maafkan kelancangan kami ini."
Lantas Hong Kun menunjuki sikap yang gagah.
"Jangan mengatakan demikian, nona In." katanya sembari
tertawa. "Namaku yang tidak berarti itu disebabkan
kebaikannya para sahabat yang memberi muka terang
padaku. Nona, sekarang ini tak berani aku bertanding pula
dengan kakak seperguruanmu."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
In Go melirik manis. Kata dia tertawa : "Kita sudah
mengikat perasahabata, sebagai sahabat-sahabat tidak ada
halangannya kita melatih diri. Lagi pula....."Ia terus menatap
dan sengaja menunda kata-katanya selanjutnya.
Hong Kun tertawa.
"Mengapa kau tidak bicara terus, Nona In ?" tanyanya
manis. "Apakah maksud nona ? Aku tolol sekali, aku tidak
mengerti. Maka itu aku mohon nona tolong jelaskan......"
"Adikku hendak mengatakan........." Bu Pa campur bicara.
Dengan adik ia artikan adik seperguruan wanita.
"Ah, kakak !" In Go menyela kakak seperguruannya itu.
"Aku......." Ia terus menoleh pada Hong Kun atau It Hiong
palsu, untuk menambahkan : "Saudara Tio, kau telah orang
bikin secara diam-diam ! Di dalam tubuhmu telah mengeram
racun yang berbahaya, yang membuat ingatanmu tidak sadar
seluruhnya. Rupanya kau tak mengetahuinya, bukan ?"
Hong Kun menunjuki tampang kaget dan heran.
"Bagaimana kau ketahui itu, nona In ?" tanyanya.
In Go memperlihatkan tampang puas. Dia tertawa.
"Guru kami menjadi ahli racun ! Orang Kang Ouw siapakah
yang tak kenal nama termashurnya?" katanya. "Racun di
dalam tubuhmu, saudara Tio, mana dapat lolos dari
pandangan matanya ?"
Hong Kun ragu-ragu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Entah tubuhku telah terkena racun apa ?"tanyanya.
"Tahukah kau, nona In ?"
In Go menunjuki tampang puas. Hanya kali ini dia menahan
untuk tertawa.
"Tapi kau jangan khawatir, saudara Tio !" katanya
kemudian. "Racun di dalam tubuhmu telah dibersihkan oleh
guruku !"
Hong Kun heran, ia berpikir keras. Bukankah mereka
berdua pihak tidak mengenal satu dengan lain dan tanpa budi
juga, bahkan bertemunya baru kali ini ? Kenpa orang sudah
lantas membantu, membebaskannya dari sisa racun ?
"Siapakah guru kalian itu, Nona In ?" tanyanya kemudian.
"Aku telah ditolongi, ingin aku menemuinya guna
menghaturkan terima kasih......"
Si nona melirik.
"Nama guruku itu, sudah aku beritahukan !" sahutnya.
"Coba kau ingat-ingat, akan kau ketahuinya. Sebentar, habis
kau berlatih dengan kakakku ini, baru kau menemui guru
kami."
It Hiong palsu heran sekali. Tak dapat ia menerka maksud
orang ! Kenapa dia seperti dipaksa untuk main-main dengan
Bu Pa ? Tapi ia lekas mengambil keputusan. Ia memberi
hormat dan berkata : "Baiklah, aku yang muda akan
menerima perintah. Silahkan saudara Bu Pa maju !'
Lantas pemuda itu lompat keluar dari dalam rimba akan
pergi ke tanah datar itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bu Pa menyambut dan terus menyusul. Ia tahu,
pertandingan ini akan menentukan soal cinta kasihnya dengan
In Go.
Lantas keduanya berhadapan. Lantas mereka mulai
bertempur. Di sisi mereka, In Go berdiri menonton. Hatinya
puas.
Bu Pa bersilat dengan ilmu Ngo Heng Ciang ajaran gurunya
Gwa To Sin Mo dan Hong Kun dengan ilmu Tauwlo-ciang dari
Im Ciu It Mo. Ia tidak menggunakan ilmu pedang Heng San
Pay. Hanya menggunakan Tauwlo-ciang, ia kurang kemahiran.
Tidak demikian dengan Bu Pa. Sebaliknya, sebagai murid
Heng San Pay, ia memiliki kelincahan dan telah
berpengalaman. Hingga ia menjadi menang unggul.
Bu Pa ingin merebut kemenangan. Ia berkelahi dengan
keras. Karenanya, Hong Kun melayani dia dengan kecerdikan.
Namanya berlatih tetapi sebenarnya itulah pertempuran
mati atau hidup, hingga kesudahannya terjadilah pertandingan
diantara ilmu Ngo Heng Ciang dari Gwa To Sin Mo melawan
Tauwlo-ciang dari Im Ciu It Mo merangkap Keng Sin Kang,
ilmu ringan tubuh Heng San Pay. Di bawah sinar rembulan,
bayang kedua orang bergerak-gerak luar biasa cepat dan
anginnya bersiur-siur. Menarik hati untuk ditonton.
Sejak dia muncul dalam dunia Kang Ouw, baru kali ini In
Go menyaksikan pertempuran demikian hebat. Sudah matanya
berkunang-kunang dan hatinya pun berdebaran, dan beberapa
kali dia hampir menjerit kaget disebabkan menyaksikan
pukulan-pukulan yang membahayakan. Sekarang ia menjadi
bersangsi, siapa yang ia harapkan akan menang.........
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Di atas batu, Gwa To Sin Mo terus duduk beristirahat. Dia
juga kena terganggu suara berisiknya pertempuran. Sang
angin pun membuat dedaunan rontok yang pada terbang
berhamburan. Saking tak dapat menguasai diri lagi, ia
membuka matanya, hingga ia pun menyaksikan pertempuran
itu. Sendirinya ia bertindak maju, akan mencari tahu siapa
yang lagi bertarung itu.
Pertarungan berlangsung terus. Kedua pemuda sekarang
mempunyai pikirannya sendiri-sendiri. Bu Pa hendak merebut
kemenangan guna merebut sekalian cinta adik
seperguruannya. Dan Hong Kun mau melindungi nama baik
perguruannya.
Lama-lama Bu Pa menjadi penasaran. Ia ingin sekali
menang. Maka itu ia lantas ingat senjata rahasianya, jarum
beracun. Di lain pihak, Hong Kun juga ingat ilmu pedangnya
hingga ia berpikir buat apa ia membuat pertempuran berteletele.......
Hanya di dalam keadaan mendesak itu, belum ada
kesempatannya akan kedua belah pihak mewujudkan apa
yang mereka masing-masing pikir. Mereka lagi repot dengan
pelbagai penyerangan dan penangkisan, sebab siapa ayal atau
lalai, dia akan bercelaka......
Sementara itu, perlahan-lahan keduanya mulai merasa
letih. Mereka telah menguras tenaga mereka. Lantas juga dahi
mereka mengeluarkan peluh dan nafas mereka mulai
terengah.
In Go melihat dan memperhatikan, baru sekarang timbul
rasa cemasnya. Ia tidak menyangka bahwa orang berlatih
sedemikian rupa. Sekarang ia merasa menyesal yang tadi ia
tidak memikir lebih jauh.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Gwa To Sin Mo mengawasi tajam. Ia melihat bahwa
tenaganya kedua orang itu bakal lekas habis. Itu berarti, duaduanya
mereka akan bercelaka bersama. Tentu sekali ia
menyayangi muridnya, yang ia telah didik bertahun-tahun dan
tak sudi ia si murid mati konyol. Siapa nanti mewarisi
kepandaiannya ? Di lain pihak lagi, ia tertarik kepandaiannya
Hong Kun dan menyayangi kepandaiannya anak muda itu.
Bahkan ia memikir juga akan membersihkan racun dari
tubuhnya anak muda itu.......
Adalah luar biasa yang Sin Mo dapat berpikir demikian.
Pertanda dari munculnya liangsim, kesadaran hati nuraninya
sebagai manusia sejati. Sedangkan tadi-tadinya dialah si
Bajingan kejam tak kenal perikemanusiaan........
Selagi pertempuran berlangsung terus, nafasnya kedua
orang itu bekerja makin keras. Dari hanya terengah-engah,
nafas mereka itu mulai memburu.
Tepat disaat genting itu, mendadak Gwa To Sin Mo
memperdengarkan seruan geledeknya : "Tahan !" Maka
berkumandanglah gemuruh suaranya itu hingga burungburung
kaget dan beterbangan sambil bercowetan berisik !
Perintah itu ditaati kedua orang yang lagi mengadu jiwa itu,
keduanya terperanjat dan berlompat mundur masing-masing.
Tubuh mereka terus terhuyung-huyung, akan akhirnya samasama
jatuh terduduk. Nafas mereka mendesak.
"Lekas tolong mereka !" Sin Mo menitahkan In Go kepada
siapa ia memberikan dua butir obat pulungnya Kiu Coan Siok
Beng Hoan Hun Tan, atas mana si murid wanita lantas bekerja
dengan cepat. Dia menjejalkan masing-masing mereka itu
sebutir pil seraya terus memesan mereka untuk beristirahat.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kenapa mereka bertempur ?" tanya Sin Mo kepada In Go
sesudah ia mengawasi muridnya itu.
Sang murid tidak menjawab, sebaliknya dia menangis. Baru
saja dia berhasil menenangkan diri atau datanglah pertanyaan
sulit itu. Dasar dia manja, lantas dia melempar diri jatuh dalam
rangkulan gurunya sambil terus menangis sedu sedan........
Si Bajingan tua heran. Tak tahu dia sebabnya kesedihannya
muridnya itu. Ia mengelus-elus rambut hitam indah si murid,
sikapnya sangat menyayangi.
"Anak Go," katanya sabar. "kau bicaralah ! Kenapa mereka
itu bertempur ?"
Akhirnya In Go mengangkat mukanya, mengawasi sang
guru hingga tampak air matanya masih berlinang-linang dan
kedua belah pipinya pun berpetah dengan air suci murni itu.
"Semua ini karena salahnya muridmu, suhu," sahutnya
kemudian berterus terang. "Akulah yang minta kakak Bu Pa
dan Tio It Hiong bertanding untuk mereka melatih diri, lalu
kejadiannya diluar dugaanku, mereka bertempur matimatian......."
"Hm !" bersuara si guru. "Itukah namanya berlatih ?"
In Go mengangguk.
"Begitulah keinginanku semula," katanya. "Mulanya telah
dijanjikan sampai pada batas saling towel saja......."
"Kemudian nyatanya mereka mengingkari janji, bukan ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Entahlah, hal itu aku tidak tahu."
Gwa To Sin Mo lantas menunjuki tampang gusar.
"Nampaknya inilah gara-garamu, anak nakal !" katanya
nyaring. "Bagus benar perbuatanmu ini! Lekas kau bicara
terus terang ! Atau........"
In Go takut sekali menyaksikan gurunya itu gusar, maka itu
dengan terpaksa ia menuturkan sebab musababnya
pertempuran itu, pertandingan dengan sifat menguji
kepandaian tetapi berakhiran dengan pertempuran sungguhsungguh.
Katanya, ia baru mau menikah dengan kakak
seperguruan kalau kakak itu menang dari Tio It Hiong.....
Mendengar keterangan itu, di dalam hati, Sin Mo berduka
berbareng mau tertawa. Ia mengerti yang murid manja ini
telah terbangun hati kedewasaannya hingga ia mulai
mengenal asmara. Anehnya si murid dapat berpikir mengadu
kedua pemuda itu.
Lantas Sin Mo mengusut-usut janggut kambingnya, dia
tertawa. "Jika kakakmu itu tak dapat mengalahkan lawannya,
habis bagaimana ?" tanyanya.
In Go berbangkit bangun, dengan sapu tangannya ia
menyusut air mata.
"Muridmu tidak mau menikah, suhu !" sahunya. "Kakak
tidak mau menikah juga ! Kami...... kami berdua.... kami mau
mensucikan diri saja !"
Gwa To Sin Mo tertawa bergelak.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Budak tolol !" katanya. "Pernahkah kau membayangi
bagaimana penderitaannya hidup mensucikan diri akan setiap
waktu duduk bersila saja ? Itulah artinya kesepian....."
In Go membuka lebar matanya menatap gurunya itu. Ia
menggeleng kepala.
"Muridmu tak memikir sampai kesitu, suhu." bilangnya.
"Asal kakak tak dapat melawan Tio It Hiong, kami tidak bakal
menikah. Demikianlah janji kami !"
Sin Mo heran hingga dia melengak. Dia menatap muridnya
itu.
"Tahukah kau jelas siapa Tio It Hiong itu ?" tanyanya.
"Tahukah kau siapa gurunya dan bagaimana lihainya guru itu
? Tahukah kau bagaimana Tio It Hiong dengan sebatang
pedang Ken Hong Kiam sudah mengangkat nama dengan
menggetarkan dunia sungai telaga atau rimba persilatan ?"
Sang murid berdiam saja.
"Tentang kakakmu ini," tambahnya, "dia telah mewariskan
seluruhnya ilmu Ngo Hong Ciang dari gurumu ini. Begitu pun
tenaga dalamnya serta ilmunya menggunakan senjata rahasi
beracun sudah sempurna. Walaupun demikian, dia masih ada
kekurangannya yaitu pengalaman dalam dunia sungai telaga."
"Jika demikian, suhu, kakak tentu akan berhasil
mengalahkan Tio It Hiong ?" si murid menanya menegaskan.
Sang guru bersenyum.
"Kau bicara enak saja, budak !" katanya tertawa.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
In Go heran.
"Suhu," tanyanya "tolong suhu jelaskan bagaimanakah
kepandaiannya kakak dibanding dengan kepandaian Tio It
Hiong ?"
"Ilmu silat kakakmu terang bagaikan cahaya kunangkunang
!" sahut guru itu tawar. "Dan ilmu silatnya Tio It Hiong
seperti sinarnya si puteri malam !"
In Go mengira gurunya bergurau.
"Tak kupercaya, suhu !" katanya. "Kenapakah mereka
berbeda demikian jauh ? Namanya Tek Cio Siangjin serta
nama suhu dalam dunia Kang Ouw tak dapat ditetapkan siapa
lebih atas dan siapa lebih bawah. Maka itu mana mungkin
murid-murid mereka dapat dibandingkan dengan sinar
kunang-kunang dan sinar rembulan ?"
Goa To Sin Mo menghela nafas perlahan.
"Perbedaan ilmu silat mereka itu berdua bukan perbedaan
disebabkan guru mereka masing-masing." jelasnya kemudian.
"Seperti tadi aku bilang, Tio It Hiong telah dapat mengangkat
namanya itu disebabkan terutama karena peruntungannya
yang bagus sekali. Karena pengalamannya yang luar
biasa......"
In Go melengak hingga ia berdiam saja.
"Tentang pengalamannya It Hiong itu, gurumu tidak tahu
jelas." Sin Mo menambahkan. "yang pasti ialah, saban suatu
penemuan, kepandaiannya lantas bertambah maju !"
In Go bertambah heran. Dia mengangkat mukanya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Suhu, tolong kau jelaskan lebih jauh !" pintanya. "Apakah
penemuannya Tio It Hiong yang luar biasa itu ?"
"Di masa kecilnya dia telah makan darahnya belut emas."
berkata sang guru dengan keterangannya. "Darah itu telah
menambah kekuatan darah dan tenaganya hingga dia menjadi
ulet luar biasa. Sudah begitu, selama di jurang Ay Lao San dia
telah menemui sebuah gua di dalam tanah dimana terdapat
pelajaran rahasia Gie Kiam Sut ilmu pedang terbang
melayang. Kedua penemuan itu saja sudah menjadi
penemuan-penemuan yang langka selama seratus tahun yang
paling belakangan ini !"
"Itulah baru ceritera burung, suhu. Itu tak dapat dipercaya
seluruhnya." kata In Go tertawa. "Dalam dunia Kang Ouw
biasa terjadi orang mengangkat-angkat dan lalu orang turutturutan
seperti orang latah !'
Sin Mo terdiam. Kata-kata si murid memang benar.
"Kau benar juga, muridku." katanya mengangguk.
"Mendengar tak sama seperti melihat dengan mata sendiri.
Benar It Hiong menemukan pelbagai pengalaman, tetapi
semua itu pun masih membutuhkan pengalaman untuk
mencapai batas kemahirannya......."
Mendadak terbangunlah semangat harga diri Gwa To Sin
Mo hingga kepercayaannya atas kegagahannya Tio It Hiong
seperti ia sering dengar menjadi goyah. Bahkan melebih dari
pada itu, timbullah keinginannya akan mengadu Bu Pa dengan
It Hiong, guna memperoleh kepastian........
In Go mengawasi gurunya, hatinya puas. Guru itu telah
kena terpengaruhkan kata-katanya itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tetapi suhu," katanya kemudian. "Bukankah bukti telah
ada di depan mata ? Bukankah kakak Bu Pa dan Tio It Hiong
sama tangguhnya ?" Dan dia menunjuk pada kedua anak
muda yang masih berduduk mengistirahatkan diri masingmasing.
Gwa To Sin Mo menggeleng kepala.
"Muridku," katanya pada muridnya itu, "apakah sampai
sekarang kau masih tetap menyangka dialah Tio It Hiong
adanya ?"
Si nona merapatkan alis.
"Jadi dia bukannya ?" ia balik bertanya. "Padaku ia telah
menjelaskan yang dia adalah Tio It Hiong !'
"Melihat dari jalan ilmu silatnya, dia bukanlah asal Pay In
Nia." Sin Mo berkata. "Karena itu aku percaya mungkin dia
bukanlah Tio It Hiong!"
In Go bingung.
"Habis dia siapakah ?" tanyanya cepat.
Sang guru berpikir, kemudian katanya : "Barusan dia
menggunakan ilmu silat Tauwlo-ciang, karenanya dia mesti
muridnya Im Ciu It Mo. Hanya ilmu ringan tubuhnya, itulah
ilmu ringan tubuh dari si imam tua It Yap dari Heng San Pay !
Dia pula membawa-bawa pedang di punggungnya."
Tiba-tiba Sin Mo bagaikan terasadar, hingga dia membuka
lebar matanya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Bukankah dia pernah mengatakan dia bernama Gak Hong
Kun ?" katanya kemudian. "Nah, itulah namanya murid dari It
Yap Tojin !'
In Go membuka matanya lebar-lebar.
"Jika dia bukannya Tio It Hiong dari Pay In Nia," katanya,
kecele, "kakak Bu Pa telah menempur dia sekian lama,
bukankah itu sia-sia belaka ?"
Nona ini tetap masih bersangsi atau menyayangi sesuatu.
Ia masih memberati Hong Kun walaupun telah ada janjinya
dengan Bu Pa. Sedangkan gurunya tidak saja menyetujui dia
menikah dengan Bu Pa bahkan menganjurkannya. Sekarang si
guru melihat wajah murid perempuan itu, ia menerka yang
murid itu pasti menghendaki ada pertempuran yang
memutuskan kalah menang diantara Bu Pa dan Hong Kun.
Kedua anak muda itu sudah seri, tidaklah In Go merasa puas ?
Akhirnya Sin Mo tertawa dan berkata : "Sekalipun benar
orang ini Gak Hong Kun adanya, ilmu silatnya sudah mahir
sekali dan menyamakan separuh dari kepandaian Tio It Hiong
! Anak Bu Pa telah bertempur seri dengannya, itulah bagus
sekali. Maka itu anak, kalau kalian kakak beradik seperguruan
menjadi sepasang suami isteri, sungguh setimpal ! Kau tidak
terhina, anak !"
Tapi In Go masih bertanya : "Suhu, mana dapat Gak Hong
Kun dipadu dengan Tio It Hiong ?"
"It Yap Tojin dari Heng San menjadi salah satu dari Sam
Kie, tiga orang gagah luar biasa dari jaman ini." kata Sin Mo.
"Dalam hal ilmu pedang dan ringan tubuh, dialah terhitung
orang yang langka. Gak Hong Kun dididik oleh guru rahib itu,
ia pasti lihai. Kabarnya Hong Kun dan It Hiong pernah
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bertarung di Heng San dan ketika itu mereka sama
tangguhnya......"
In Go mengawasi gurunya, dia menunjuki sikap manjanya.
"Sekarang begini saja, suhu !" demikian katanya. "Sekarang
tolong suhu cari tahu, dia itu sebenarnya siapakah."
Nona ini menganggap, kalau demikian, tiga orang itu --Bu
Pa dan Hong Kun serta It Hiong -- kepandaiannya berimbang
satu dengan lain. Dengan demikian, cintanya terhadap kakak
seperguruan makin kuat. Hanya karena biasa manja, dia selalu
hendak membawa kebiasaannya itu.
Gwa To Sin Mo tahu tabiatnya si murid, maka dia kata :
"Begini ! Sekarang di depanku, kau harus berjanji yang kau
bersedia sehidup semati sampai di hari tua bersama-sama
kakakmu, Bu Pa. Tentang keinginanmu, akan aku membuat
puas kau."
Walaupun dengan likat, In Go memberikan jawabannya :
"Janjiku dengan kakak Bu Pa bukan janji main-main, suhu !
Kalau suhu mengatakan demikian, baiklah aku menerima katakata
suhu !"
Senang Sin Mo memperoleh jawaban muridnya, dia tertawa
bergelak.
Ketika itu, sang waktu telah berjalan terus. Tanpa terasa,
sang fajar pun tiba. Justru begitu, satu bayangan orang
berkelebat mendatangi lantas tampak tibanya diantara guru
dan murid itu.
"Oh, tosuhu Peng Mo !" seru Sin Mo yang segera mengenali
si nikouw setengah tua.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Selamat bertemu ! Selamat bertemu ! Aku merasa
beruntung sekali !"
"Selamat berjumpa !" menjawab si pendeta wanita.
"Kiranya kau belum pulang, Toheng !"
Berkata begitu, nikouw ini melirik kelilingan.
Tak puas In Go mendengar suara orang yang ia rasa
takabur. Orang toh bicara dengan gurunya yang ia pandang
tinggi. Maka itu, ia mendahului gurunya menyahut dengan
kata-katanya ini : "Eh, nikouw, apakah kau kira kau dapat
mencampuri urusan kami disini ?"
Sepasang alisnya si pendeta wanita terbangun.
"Selagi orang tua bicara, mana ada tempatmu untuk
campur bicara, budak !" bentaknya. "Sungguh tidak tahu adat
!"
Habis menegur itu, si Bajingan Es terus bertindak ke arah
Hong Kun dan Bu Pa.
Melihat demikian, In Go lompat mencelat. Segera dia
menghadang.
"Kau hendak berbuat apa ?" tegurnya keras.
Peng Mo tidak menjawab hanya sebelah tangannya
dikibaskan !
Nona In berlaku celi dan gesit, belum lagi tangan si
Bajingan tiba, ia sudah lompat berkelit. Hanya sembari
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mengegos tubuhnya ke samping, sebelah kakinya diluncurkan
kepada penyerangnya itu !
Itulah tendangan "Kaki Di dalam Sarung".
Peng Mo terkejut. Ia pun menjadi mendongkol sekali
karena berpikir kenapa seorang nona berhati demikian kejam.
Maka itu habis berkelit, dia maju dengan pesat seraya
menjambak tangan kanannya dengan jurus "Tangan
menangkap mega" jurus "Sekalian Menuntun Kambing".
In Go sangat cerdik. Dengan cepat ia menarik pulang kaki
kanannya itu, untuk seterusnya menaruhnya ditanah. Kaki
kirinya meneruskan menendang pula. Seba ia sudah lantas
menggunakan jurus silat "Lian-hoan Wan-joh Twie" kaki
berantai Burung Mandarin yang semuanya terdiri dari delapan
belas jurus. Maka menyusuli kaki kirinya ini yang lolos, lantas
saja bergantian kedua kakinya menendang dan medepak terus
menerus !
Peng Mo menjadi repot. Dia kagum berbareng bergusar. Si
nona dianggapnya terlalu. Terpaksa dia main mundur, hingga
kesudahannya dia berkelit enam atau tujuh tindak. Beberapa
kali dia terancam kakinya nona itu.
In Go puas dapat membuat si Bajingan Es terdesak
demikian rupa. Dimata umum, dia memang menang desak.
Setelah desakannya itu, selagi lawan mundur dia berhenti
menyerang. Lalu sembari berdiri diam, dia tertawa dan
menanya separuh mengejek : "Nah, bagaimana kau lihat ilmu
kakiku ? Dapatkah kau membalas mendesak aku, nikouw ?"
Hatinya Peng Mo panas bukan kepalang. Sebenarnya dia
masih memandang mata pada Gwa To Sin Mo dan selalu
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mengalah, karena mana ia menjadi terdesak. Sekarang orang
mengejeknya !
"Budak, jangan takabur !" bentaknya dingin. "Aku hanya
memandang gurumu dan aku mengalah ! Hati-hatilah jika kau
masih tidak tahu selatan ! Nanti pin-ni menjadi tidak berlaku
sungkan lagi !"
Berkata begitu, si Bajingan Es terus melirik Gwa To Sin Mo,
si Bajingan Sakti.
In Go tak berpengalaman, dia pun sangat besar kepala dan
suka menang sendiri. Mendengar suara orang itu, dia tertawa.
"Hm !" ejeknya pula. "Sudah tidak sanggup melawan, kau
menempel emas pada mukamu ! Sungguh manis kata-katamu
itu ! Sekarang baiklah, jangan kau main berkelit dan mundur
saja. Mari rasai kakiku !"
In Go menyerang pula. Dia tak jeri emang sedikit, dia
sangat mengandali gurunya, yang masih berdiam saja.
Dalam panasnya hati, Peng Mo tetap masih memandang
Sin Mo. Maka itu, ketika ia ditendang pula itu, walaupun ia
melawan, ia tidak mau berlaku kejam. Mulanya ia menolak
dengan kedua tangannya. Ketika tendangan datang, ia lekaslekas
menarik pulang kedua tangannya itu untuk berkelit.
Karena ini, lantas juga ia terdesak pula. Si nona kembali
merangsak tak hentinya. Kedua kakinya naik dan turun
dengan cepat dan secara membahayakan lawan. Sebenarnya
ia tahu dua jurus jurus silat guna memecahkan Wan Yoh Twie
itu tetapi tak mau ia segera menggunakannya. Di lain pihak, ia
melayani dengan "Hong Pa Louw Hoa", Angin Mengombak
Bunga Gelaga.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
In Go mendapat hati, dia mendesak terus. Hal ini membuat
Peng Mo mendongkol sekali. Terpaksa, ia terpaksa
menggunakan dua jurus jurus silatnya itu. Mulanya dengan
tangan kanan ia menangkis dengan jurus "Sebelah Tangan
Mengalingi Langit" terus dengan tangan kirinya ia
menggunakan jurus "Sebuah Jeriji Suci". Sebenarnya dengan
tangan kiri ini ia mesti menotok sambil menekan, tetapi karena
ia ingat Sin Mo, ia tidak menotok hanya menggunakan saja
tangan terbuka akan menyentuh paha si nona, sedangkan
sasarannya totokan ialah anggota rahasia ! Maka seranganya
itu sendirinya berbalik menjadi jurus "Menyingkap Mega
Mengintai Rembulan". Serangan cuma menyentuh tidak lebih.
Baru sekarang In Go kaget sekali berbareng malu bukan
main sebab pahanya kena tersentuh walaupun penyentuhnya
bukan laki-laki hanya wanita bahkan seorang nikouw,
jantungnya jadi memukul keras dan muka dan telinganya
menjadi merah. Dengan kelabakan dia mundur dengan
lompatan mengapungi diri "Yauw Co Hoan Sin"-- Burung Eng
berjumpalitan.
"Cis, tak tahu malu !" dia menegur si nikouw selekasnya dia
menaruh kaki dengan tegak di atas tanah. Jengah dan
bergusar berbareng. Matanya mendelik terhadap si lawan,
mulutnya pun berludah.
Peng Mo pun rada jengah, selagi si nona berlompat ia juga
mundur. Ia tidak melayani si nona, hanya ia menoleh dengan
mata tajam terhadap Sin Mo.
Gwa To Sin Mo memperlihatkan tampang sungguh-sungguh
hingga ia nampaknya keren sekali.
"Budak tak tahu maju dan mundur !" ia membentak
muridnya. "Masih kau tidak mau menghaturkan terima kasih
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kepada Peng Mo Su-thay yang berlaku murah hati terhadapmu
!"
"Sudah Toheng, cukup !" kata Peng Mo pada Sin Mo.
"Sebenarnya pinni hanya ingin ketahui siapa kedua orang
yang lagi beristirahat itu."
Dan ia bertinak pula perlahan-lahan ke arah Bu Pa dan
Hong Kun.
In Go masih tetap likat. Ia heran atas sikap gurunya itu. Ia
merasa ia belum roboh. Ia mundur sebab ia malu. Kenapa
gurunya justru menyuruh ia mengucap terima kasih ?
Kapannya si nikouw berbuat baik terhadapnya ? Walaupun
demikian, ia tidak berani meminta keterangan pada gurunya
itu. Karena gurunya diam saja, ia pun tidak dapat mencegah
Peng Mo menghampiri kedua anak muda itu.
Sin Mo dan muridnya saling mengawasi sekejap, lantas ia
batuk-batuk dan mengangkat mukanya menengadah langit.
Peng Mo mengawasi kedua anak muda. Melihat Bu Pa, ia
mengenali muridnya Sin Mo. Mengawasi Hong Kun, ia heran
sekali. Ia mengawasi dengan tajam, otaknya bekerja. Itulah si
pemuda melihat siapa hatinya goncang, semangatnya
terbang........
Selama di Ngo Tay San, Peng Mo telah melihat dua-dua It
Hiong dan Hong Kun dan mengenali mereka berdua. Hanya
melihat orang yang digilai itu, ia sampai tak dapat
membedakan It Hiong dari Hong Kun atau sebaliknya. Ia
percaya Hong Kun ini ialah It Hiong.
Kemudian Peng Mo ingat juga peristiwa di puncak Hek Sek
San. Di sana It Hiong ada bersama Kiauw In dan Ya Bie
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bertiga. Dari puncak itu ia berlalu terlebih dahulu. Di sana ia
bisa lolos dari pelbagai pesawat rahasianya Im Ciu It Mo. Ia
tiba di kaki gunung dengan selamat. Hanya tiba di rimba sang
malam telah larut. Selama itu, ia mesti mencari tempat untuk
beristirahat. Apa mau, ia justru mendengar suara orang bicara
berisik dan bertempur. Ia heran, ingin ia mendapat tahu.
Dengan mengikuti suara angin, dari mana suara itu
datangnya, ia sampai tepat di saat Bu Pa dan Hong Kun
mencapai saat yang membahayakan mereka berdua. Ia pun
melihat Sin Mo dna muridnya menonton pertempuran itu.
Saking tertarik hati, Sin Mo dan In Go tidak ketahui tibanya
itu.
Waktu pertempuran berhenti, Peng Mo memikir buat
melanjutkan perjalanannya atau tiba-tiba ia mendengar
pembicaraan di antara SinMo dan In Go yang menyebutnyebut
halnya It Hiong tulen dan palsu hingga ia menjadi
tertarik hati dan terus memasang telinga. Di dalam hatinya,
tak mungkin It Hiong berada di tempat itu. It Hiong ada
bersama Ya Bie dan Kiauw In, tetapi ia ingin memperoleh
kepastian. Maka diakhirnya ia muncul di depannya In Go dan
Sin Mo, hingga terjadilah ia mesti melayani nona manja dan
takabur itu.
Sesudah berdiri menjublak sekian lama, Peng Mo berpikir.
Perlu ia mendapatkan Hong Kun atau It Hiong palsu ini. Hanya
di saat itu, ia masih tetap ragu-ragu.
Justru itu, Sin Mo dan In Go bertindak menghampiri buat
melihat keadaannya kedua pemuda sesudah mereka itu
beristirahat habis bertempur hebat itu.
In Go sangat prihatin terhadap kakak seperguruannya, ia
lantas meletakkan tangannya di jalan darah cie-tong dari
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kakak itu untuk menyalurkan tenaga dalamnya guna
membantu si kakak pulih kesegarannya.
Gwa To Sin Mo sebaliknya kata pada Peng Mo seraya ia
menunjuk pada Hong Kun : "Kalau orang ini sahabatmu,
suthay, silahkan kau membantunya agar dia pulih
kesehatannya. Su thay bersediakah ?"
Peng Mo tertawa. Itulah pertanyaan yang dia harap-harap.
Tadinya ia masih memikir-mikir bagaimana ia harus membuka
mulutnya.
"Memang pinni tengah memikir....." sahutnya.
Tiba-tiba Sin Mo ingat sesuatu.
"Su-thay," tanyanya mendadak. "Su-thay, sahabatmu ini
orang she dan nama apakah ? Dan dia murid siapakah ?"
"Lain hari kau akan ketahu itu, Toheng." sahut si nikouw
sambil menekan jalan darah Hong Kun. Sebenarnya ia masih
ragu-ragu, orang itu It Hiong atau Hong Kun....
Sin Mo melihat Peng Mo menotok jalan darah hek-tiam. Ia
menerka orang bermaksud tidak baik, tetapi karena itulah
totokon minta jiwa ia berlagak tidak tahu apa-apa. Ia bahkan
tertawa dan berkata pula : "Kalau su-thay mau membawa
pulang dia untuk diobati di rumah, itulah terlebih baik lagi.
Lohu sendiri hendak lekas-lekas pulang ke Tiam Chong San !"
Kembali Peng Mo merasa girang. Tepat kata-katanya Sin
Mo untuknya. Lantas ia merapatkan kedua tangannya,
sembari memberi hormatdan bersenyum, ia mengucapkan :
"Terima kasih Toheng ! Di sini saja aku pamitan !" Dan lantas
ia mengangkat tubuhnya Hong Kun buat di bawa ke
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
pinggangnya guna dikempit. Setelah mana dia mengangkat
kaki memutar tubuh dan berangkat pergi !
Mendadak Sin Mo batuk-batuk seraya terus berkata : "Suthay,
tunggu !"
Peng Mo mendengar, segera ia menghentikan langkahnya
dan menoleh ke belakang. Ia merasa tak tentram karena
khawatir si Bajingan Sakti nanti main gila terhadapnya.
"Ada pengajaran apa pula, Toheng ?" tanyanya ramah.
Sin Mo tertawa dan kata : "Orang itu telah terkena racun
yang masih mengeram di dalam tubuhnya hingga ingatannya
masih sedikit terganggu. Sebenarnya perbuatan siapakah itu
?"
Peng Mo terkejut. Ia berkesan orang mencurigainya. Ia
pula tidak tahu pasti, si Bajingan Sakti tengah
mempermainkannya atau tidak.
"Benarkah itu ?" tanyanya sembari memaksa diri
bersenyum, supaya tampaknya dia tenang-tenang saja.
Sin Mo membuat main janggut kambingnya. Jawab dia
tenang tentram : "Orang yang menggunakan racun itu, dia
belum pandai benar. Dan racunnya juga bukan racun istimewa
! Hahaha ! Dia bertemu dengan aku si orang tua, itu artinya
dia sedang apes !'
Peng Mo berpura tertawa.
"Kalau begitu Toheng, kau telah mengobati membuat dia
bebas dari racun ?" katanya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Benar !" kata Sin Mo. "Karena itu, su-thay aku
menghendaki su-thay menyampaikan kata-kataku pada dia itu
!"
Peng Mo mengawasi, ia tertawa pula.
"Bukankah Toheng ingin aku berkatai dia supaya dia
menghaturkan terima kasih kepada Toheng karena budi
Toheng menyingkirkan racun itu ?"
Sin Mo tertawa bergelak.
"Jika demikian, itu berarti suthay tidak memandang mata
terhadapku ! Menyingkirkan racun adalah urusan kecil,
tentang itu tak usah dibuat pikiran lagi !'
Peng Mo heran hingga dia melengak sejenak.
"Sebenarnya Toheng, apakah maksud Toheng ?" tanyanya.
"Silahkan bicara !"
Sin Mo bersenyum. Ia dapat menerka sebabnya kenapa si
Bajingan Es mau membawa pergi pemuda itu. Ia ketahui lakon
atau kegemarannya Nikouw ini. Sebenarnya dia bahkan cabul.
Maka ia lantas menatap muka orang.
"Sebelumnya aku menyebutnya," katanya sabar, "aku suka
minta apalah su-thay memaafkan dahulu. Bicara sejujurnya
tetapi itu dapat dipandang sebagai kelakuan tidak hormat.
Itulah tidak kukehendaki. Pula bagi kaum beragama, itu hanya
mengotori saja telinga !"
Peng Mo berpaling. Likat ia akan mengadu sinar mata
dengan si Bajingan Sakti. Tapi ia menjawab.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Jangan sungkan, Toheng ! Apakah itu ? Silahkan Toheng
sebutkan !"
Gwa To Sin Mo berayal sejenak, baru dia berkata :
"Pemuda itu telah terkena racun dan aku telah memberikan
dia obat guna menyembuhkannya. Walaupun demikian, di
dalam tubuhnya sisa racun masih tetap mengeram. Dari itu
dia masih memerlukan waktu tiga bulan untuk beristirahat
guna menanti sisa racun musnah seluruhnya. Di dalam tiga
bulan, pemuda itu tak dapat mendekati paras elok. Nah,
suthay. Inilah kata-kataku yang aku ingin disampaikan oleh
su-thay kepada si anak muda ! Dapatkah ?"
Sepasang alisnya si nikouw bergerak bangun, wajahnya
berubah. Toh tampak tegas bahwa dia kecele. Lantas dia
menjawab : "Itulah kata-kata kotor. Maafkan pinni, tidak
dapat pinni menyampaikannya !"
Sin Mo tidak menghiraukan keberatan orang. Ia berkata
pula sungguh-sungguh : "Inilah soal penting yang
menyangkut jiwanya si anak muda, su-thay ! Bukankah dia
pun sahabat karibmu ? Kenapa su-thay tidak mau berlaku
demikian -- muris akan kata-kata hingga kau tak sudi
menyampaikannya ?"
Peng Mo berpikir keras. Lantas ia dapat menerka bahwa Sin
Mo sebenarnya sedang menggoda atau mengejeknya. Maka ia
mengawasi hutan di depannya itu dengan sinar mata merah
tanda dari kegusaran. Ia pun terus berkata : ""Toheng,
dengan kata-katamu ini maka teranglah diartikan bahwa
tempat ibadatmu telah terjadi peristiwa asmara !"
Sin Mo tertawa lebar, dia tidak menjawab.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Peng Mo jeri terhadap orang di depannya ini. Walaupun dia
mendongkol dan gusar sekali, ia masih mencoba mengekang
diri. Ketika ia bicara pula, lebih dahulu ia menyingkirkan
tampang gusarnya. Sebaliknya dia tertawa !
"To-heng, telah lama aku mendengar tentang obatmu
istimewa buat memusnahkan racun," demikian katanya. "Maka
itu dengan mengandal kulit mukaku yang tipis, ingin aku
memohon obatmu yang mustajab itu ! Dapatkah Toheng
memberikan obat guna menolong sahabat muda ini?"
Sin Mo menggeleng kepala.
"Barusan telah aku jelaskan yang pemuda ini telah makan
obatku !" sahutnya. "Yang utama penting baginya ini ialah dia
harus menantang mendekati paras elok ! Nanti, selewatnya
tiga bulan, aku si tua akan memberikannya pula obat
pemunah racun itu !"
Kembali alisnya si nikouw terbangun.
"Ini artinya, Toheng !" katanya keras. "Selewatnya waktu
tiga bulan itu maka anak muda ini harus pergi ke Tiam Chong
San kepada Toheng guna meminta obat tersebut ! Benarkah
itu ?"
Sin Mo mengangguk. Katanya singkat : "Dia suka pergi
atau tidak, terserah padanya. Sekarang pun, andiakata
sahabat ini berkeinginan berplesiran, kalau dia mati
karenanya, lohu tidak dapat berbuat apa-apa !"
Lantas si Bajingan Sakti memutar tubuhnya buat berjalan
menghampiri muridnya. Tetapi ia melangkah ayal-ayalan. Baru
beberapa tindak, ia sudah menoleh pula, untuk menambahkan
kata-katanya : "Pemuda ini ada perlunya bagiku. Oleh karena
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
itu janganlah karena urusan dia, kita berdua menjadi bentrok
!"
Kembali Peng Mo berpikir keras. Sebelumnya menjawab ia
melirik Hong Kun. Tiba-tiba, ia merasa hatinya pepat.
Mengawasi wajah si anak muda, timbul rasa penasaran dan
cintanya ! Kemudian ia melirik pada punggungnya Sin Mo,
habis mana dengan sekonyong-konyong dia lari keras keluar
rimba !
Baru lari sejauh sepuluh tombak lebih, mendadak si
Bajingan Es berhenti. Dia lantas meletakkan Hong Kun di atas
rumput, di dalam sebuah semak. Setelah itu dia lari kembali ke
rimba tadi, tentu saja secara diam-diam guna mengintai Sin
Mo. Dia ingin ketahui gerak geriknya itu guru dan muridmuridnya
bertiga.
Ketika itu Bu Pa sudah mendapat pulang tenaganya. Ia
membuka matanya dan perlahan-lahan bangun berbangkit.
In Go telah menarik pulang tangannya, menghentikan
bantuan tenaga dalamnya.
Bu Pa memegang tangan halus adik seperguruan itu.
"Kau baik sekali, adik," katanya perlahan. "Kau begini
menyayangi aku, tak nanti aku melupakannya !"
In Go mengawasi.
"Kau tak merasa kurang apa-apa lagi, kakak ?" tanyanya.
"Tidak. Kau telah menghamburkan tenaga dalammu, adik.
Lihat bagaimana kau letih !" Dan ia mengulur tangannya, akan
menyusuti peluh di muka si nona.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Hus !" kata In Go hampir berbisik. "Apakah kau tidak malu
? Lihat, suhu lagi mendatangi........"
Sin Mo sudah lantas tiba di belakang orang. Dia batukbatuk
perlahan.
"Anak Pa, apakah kau terluka di dalam ?" tanyanya
prihatin.
Bu Pa menjura.
"Tidak, suhu." sahutnya. "Tenagaku sudah pulih."
Tiba-tiba In Go tertawa.
"Kakak berkelahi seperti membabi buta !" katanya. "Aku
juga berkelahi serupa dengan si nikouw usilan !"
Berkata sampai disitu, si nona berhenti secara tiba-tiba dan
mukanya menjadi merah sendirinya. Itulah karena sekonyongkonyong
ia ingat yang Peng Mo telah menggunakan ilmu silat
dan pahanya telah disentuh hingga ia merasa malu sendirinya.
"Bagaimana, adik ?" Bu Pa tanya, heran. "Dengan siapakah
kau bertempur ? Siapa nikouw yang kau sebut itu ?"
In Go menggigit bibirnya, ia tidak menjawab. Ia hanya
mengawasi gurunya.
Sin Mo tertawa dan berkata : "Anak In telah bertempur
denan Peng Mo si nikouw, salah seorang dari Hong Gwa Sam
Mo. Hampir dia roboh karena ilmu silat Wan Yoh Twie dari
adikmu ini!"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bu Pa girang sekali mendengar itu.
"Adik telah maju pesat sekali !" pujinya. "Kelak dikemudian
hari, nama In Go pasti akan menggemparkan dunia Kang Ouw
!"
In Go merasa manis sekali, ia sangat girang. Tapi ia kata
:"Sudah kakak, jangan kau memakaikan tudung padaku !"
Kemudian ia menoleh pada gurunya terus bertanya : "Suhu,
kenapa suhu ijinkan nikouw itu membawa Tio It Hiong pergi ?
Menurut penglihatanku, nikouw itu bukannya manusia baikbaik........."
Ditanya muridnya itu, Sin Mo tertawa.
"Kalau Hong Gwa Sin Mo disebut orang baik-baik, maka di
dalam dunia rimba persilatan pastilah tidak ada lagi si bangsa
busuk !" demikian jawabannya.
Alisnya si nona rapat satu dengan lain.
"Tio It Hiong dilarikan olehnya, mana dia akan
selamat............" katanya.
"Di dalam waktu yang singkat, tidak." kata Sin Mo. "Peng
Mo tahu akulah ahli ilmu racun. Maka dia tentu akan percaya
perkataanku ! Telah aku bilangi dia, di dalam waktu tiba bulan
dia mesti pantang paras elok ! Pastilah dia akan berlaku hatihati
!"
"Tapi Gak Hong Kun itu muridnya Im Ciu It Mo...." kata Bu
Pa. "Aku khawatir...."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Oh !" In Go menyela kakak seperguruannya itu. "Kakak
menyebut dia Gak Hong Kun ? Jadi dia benar bukannya Tio It
Hiong ?"
Sin Mo segera melirik murid laki-lakinya itu.
"Kakak," si nona menambahkan, "mengenai
pertempuranmu barusan, aku suka memburaskan segala janji
kita tadi."
"Dalam hal itu, adik, terserah kepada kau !" sahut Bu Pa.
"Kalau bicara dari hal cinta, itu memang tak layaknya
didapatkan dengan jalan curang !"
In Go puas.
"Kau memang laki-laki sejati !" katanya. "Kakak, aku
bersedia membantu kau mencari kepastian tentang pemuda
itu !"
Bu Pa lantas menoleh kepada gurunya.
"Suhu," katanya, sambil menjura dalam, "aku mohon
petunjuk suhu ! Dapatkah suhu mengijinkan aku berdua adik
In Go pergi merantau ?"
"Tentang itu, memang telah aku pikirkan," menjawab sang
guru. "Kalian memang mesti belajar kenal dunia guna
memperoleh pengalaman. Hanya dalam pada itu harus kalian
menghormati aturan perguruan guna menjaga diri, terutama
tidak dapat kalian menanam permusuhan ! Kalian boleh pergi,
anak-anak. Asal kalian ingat, sebelum tiba saatnya pertemuan
Bu Lim Cit Cun kalian mesti lekas-lekas pulang ke In Bu San
untuk menemui aku !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bu Pa bersama In Go lantas menekuk lutut di depan
gurunya itu.
"Terima kasih, suhu !" kata mereka. "Akan aku ingat baikbaik
pesan suhu !" Lantas mereka berbangkit. "Selamat
berpisah, suhu !"
Sin Mo mengangguk.
Bu Pa melihat cuaca. Sang fajar baru tiba. Ia berdiam,
agaknya ia bersangsi untuk membuka langkahnya.
In Go menarik ujung baju kakak seperguruan itu. Ia pun
menatap.
"Bagaimana, eh ?" tegurnya. "Mari kita berangkat !"
"Kita hendak mencari Tio It Hiong......" si kakak kata
separuh berbisik. "Kemanakah arah tujuan kita ?"
In Go pun melengak. Itu memang soal sulit. Tapi ia
membuka lebar matanya. Ia berpikir, akan akhirnya berkata :
"Mari kita susul Peng Mo si nikouw. Kita kuntit dia, pasti kita
akan berhasil....."
Setelah menutup kata-katanya, tak peduli orang masih
ragu-ragu atau tidak, si nona sudah lantas menarik tangannya
kakak seperguruannya itu. Ia menuju keluar rimba, ke arah
yang tadi diambil Peng Mo.
Sin Mo mengawasi kepergiannya kedua muridnya. Ia agak
merasa berat, maka juga kemudian ia menarik nafas dalamdalam
dan lalu menghembuskannya perlahan. Akhirnya, ia pun
bersiul panjang.........
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ketika itu, berbareng dengan cerahnya sang pagi, burungburung
pun berbunyi dan beterbangan........
Sin Mo masih belum berlalu dari rimba ketika ia melihat
seseorang muncul dari balik pepohonan lebat dan orang
segera berada di hadapannya.
"Selamat pagi, Toheng !" demikian orang itu, suaranya
merdu.
Sin Mo melengak mengawasi
"Kau datang pula ?" tegurnya. "Kau hendak mengacau aku
?"
"Hm !" bersuara orang itu yang bukan lain dari pada Peng
Mo. "Toheng, bagus perbuatanmu ! Mana kau melihat mata
padaku si nikouw !"
Sin Mo mengawasi. Ia melihat tidak ada Hong Kun bersama
nikouw itu.
"Bagaimana, eh ?" tanyanya. "Kau kehilangan laki-laki itu ?
Apakah kau hendak meminta tanggung jawab dari aku ?"
Matanya Peng Mo mendelik, dia gusar sekali.
"Itulah urusanku !" bentaknya. "Tak perlu kau usil urusanku
itu ! Hanya, kalau kau tahu selatan, harus kau memberi
jawaban padaku ! Apakah yang kau perbuat atas dirinya anak
muda itu ?"
Sin Mo tertawa lebar.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Obat beracun yang aku buat taruh kata kau beritahukan
padamu, itu pun sia-sia belaka. Cuma-cuma mencapekkan
lidah !" katanya.
Kembali si nikouw menjadi gusar sekali.
"Kalau demikian !" teriaknya. "Lekas kau keluarkan kayyohnya
!"
Sambil menyebut "kay-yoh" obat pemusnah racun, Peng
Mo meluncurkan tangan kanannya lurus ke depan, telapakan
tangannya dibalik ke atas ! Itulah caranya kalau dia meminta
sesuatu. Itu namanya sikap "Cian Ciu Pian, Perubahan Seribu
Tangan". Itu pula gerakan istimewa dari Hong Gwa Sam Mo
disaat mereka mengajukan permintaan.
Sin Mo mengawasi. Ia tahu tangan orang itu bukan wajar
mau menerima barang saja.
"Lohu tidak mau memberikan kay-yoh !" katanya. "Habis
kau mau apa ?"
Peng Mo menjawab dingin : Di Hok Houw Gay ada dua
orang bocah yang baru muncul buat belajar merantau ! Kau
menghendaki jiwa mereka itu atau tidak ?"
Sin Mo terkejut hingga ia melengak. Dia lantas dapat
menerka. Hanya sedetik, segera dia tenang kembali. Maka dia
tertawa dingin.
"Bagaikan air yang telah disiramkan atau bunga yang gugur
dari tangkainya," kata ia. "Demikian juga seorang atau muridmurid
yang baru keluar dari rumah perguruannya ! Urusan
mati hidupnya mereka tiu, ada sangkut pautnya apakah
dengan aku ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Di dalam hati, Peng Mo terperanjat. Kiranya ancamannya
itu tidak mempan terhadap si Bajingan Sakti. Pancingan
tangannya juga telah tidak memberikan hasil. Ia sudah
mengulur tangannya itu, maka dapat ia menarik pulang
dengan begitu saja sedangkan tangan itu masih kosong
hampa ? Untuk menggunakan kekerasan, ia pula bersangsi
yang ia nanti dapat menang di atas angin. Tetapi ia tidak mau
kalah gertak. Maka berulang kali terdenar suara dinginnya :
"Hm ! Hm !" Sambil menggertak gigi, dia kata pula : "Kau
majulah ! Kau lihat !" Tangannya itu masih ia tidak mau tarik
pulang !
Sin Mo melirik dengan lirikannya yang memandang hina.
"Sungguh mulut besar !" katanya dingin. "Baiklah, akan
lohu beri lihat padamu !"
Begitu berkata begitu Sin Mo mengibaskan tangan bajunya
hingga tampak tangannya --tangan kanan. Ia terus menyentil
dengan jeriji telunjuknya, atas mana tampak sesuatu mirip
asap putih keluar dari ujung jari tangannya itu, menghembus
ke dalam telapak tangannya si nikouw !
Itulah bukan asap biasa. Itulah asap yang merupakan hawa
beracun.
Itu pula Tan Cie Kang-hu, ilmu pukulan sentilan jari tangan
yang sengaja si Bajingan Sakti keluarkan guna pertontonkan
kepandaiannya sebab si nikouw mau memperlihatkan
kepandaian telapan tangannya.
Peng Mo terkejut. Terpaksa, ia mesti menolak hawa jahat
itu. Maka juga selekasnya dengan tersipu-sipu ia menarik
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
pulang tangan kanannya itu. Lantas ia meneruskan menolak
dengan tangan kiri yang dibantu tangan kanannya itu.
Itulah penolakan kepada hawa beracun. Menolaknya ke
samping, sedangkan tubuhnya sendiri mundur dua tindak
guna menyingkir dari hawa lihai itu.
Setelah itu, Gwa To Sin Mo berkata dengan keras dengan
kata-katanya keluar sepatah demi sepatah : "Aku si orang tua
malas melibatkan diri denganmu ! Toasuhu, sampai jumpa
pula !'
Sesosok tubuh yang meluncur sebagai bayangan adalah
penutup dari kata-kata tawar itu. Itulah Sin Mo yang berlalu
dengan pesat sekali, berlalu dari dalam rimba. Suaranya masih
mendengung dalam kumandang tetapi orangnya telah lenyap
seketika saking dahsyatnya ilmu ringan tubuhnya itu !
Peng Mo melongo. Ia mau minta obat, ia nampak kecewa.
Pikirannya bekerja keras sekali sebab ia tidak sanggup segera
memperoleh pemecahan. Ia pun ingat kata-katanya Sin Mo
tadi selagi ia mengintai. Sin Mo mengatakan Hong Gwa Sam
Mo, ketiga Bajingan --ialah ia dan dua saudaranya-- ada
orang-orang busuk kaum Bu Lim. Itulah ucapan hebat. Tapi ia
toh merasai kebenarannya itu. Sebab mereka bertiga memang
bukan orang kaum lurus.
"Benar ! Benar !" kemudian katanya seorang diri. Tanpa
merasa ia tertawa sendirinya. Karena tertawa ini, ia jadi ingat
Hong Kun. Maka ia kata pula di dalam hatinya : "Aku mesti
mencari kepuasan. Kepuasan dari dirinya lain orang ! Aku
mesti mendapatkan kesenangan sejati ! Dalam hal itu, aku
peduli apa kalau orang mampus habis aku plesiran puaspuasan
dengannya ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Di saat itu, hatinya si Bajingan Es mirip hati kala. Begitu ia
mendapat pikiran itu, begitu ia berlompat lari buat kembali ke
tempat dimana ia telah menyembunyikan Gak Hong Kun. Tiba
di sana, ia melengak. Di luar dugaannya, ia mendapatkan si
anak muda lagi duduk bersila, beristirahat sambil mencoba
memulihkan tenaga atau kesegarannya.
"Mungkinkah ada orang membebaskan dia dari totokanku
?" Peng Mo menerka-nerka di dalam hatinya. "Benarkah ada
orang menolong menyadarkan padanya ?"
Maka ia melihat kelilingan dengan mata dipentang lebarlebar.
Akan tetapi ia tidak melihat siapa juga. Di situ tidak ada
orang lainnya walaupun seorang saja !
"Ah, mungkin dia dapat membebaskan diri sebab dia
memang pandai...." kemudian si Bajingan Es berbalik pikir.
"Mungkin juga tadi aku menotoknya kurang keras sedangkan
dia bertenaga dalam tangguh sekali.........."
Sambil berpikir itu, Peng Mo bertindak menghampiri Hong
Kun hingga ia berada disampingnya si anak muda. Segera ia
mengawasi tajam. Bukan main hatinya tergiur. Di matanya,
anak muda itu tampan sekali. Ia lantas berduduk disisinya.
Lantas ia seperti lupa segala sesuatu yang tadi memenuhi
benak otaknya.
"Saudara Tio !" katanya merdu. Ia masih mengira si anak
muda It Hiong adanya. "Kau sudah mendusin, saudara ?"
Hong Kun berpaling. Dia mengawasi nikouw itu. Sama
sekali dia tidak menjawab. Bahkan habis itu, dia memejamkan
kedua matanya. Selama itu, tenaganya telah pulih demikian
pun kesegarannya. Maka sambil meram itu dia mengingatingat
nikouw disisinya ini. Orang berwajah cantik dan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menggiurkan. Dia pula ingat yang dia rada-rada mengenalnya.
Dia pun menerka-nerka si nikouw orang dari golongan
mana.........
Peng Mo tidak dapat membade apa yang di pikiri si anak
muda. Ia hanya menyangka mungkin anak muda itu masih
menderita racun yang tentunya telah merusak tubuhnya
bagian dalam. Maka sendirinya ia merasa sayang........
Nikouw ini juga masih belum dapat membedakan Hong Kun
dari It Hiong atau sebaliknya.
Selagi mengawasi si pemuda yang masih terus
memejamkan mata, ia mengulur tangannya meraba dada
orang. Lalu sembari menatap ia tertawa dan berkata dengan
merubah panggilannya: "Oh, kiranya saudara Gak -- Gak Hong
Kun !"
Si anak muda membuka matanya.
"Toasuhu, apakah gelaran sucimu ?" demikian tanyanya
sambil menatap juga.
Si nikouw tertawa.
"Saudara Gak sangat pelupa !" katanya. "Atau mungkin kau
tidak memandang mata pada pinni? Bukankah selama diatas
gunung Ngo Tay San kita telah mengikat persahabatan ?"
Nikouw ini mengatakan demikian sebab ia tidak tahu ketika
itu Hong Kun tengah dipengaruhi obat Tay-siang Hoan Hun
Tan hingga kesadarannya terganggu hingga urat syarafnya
sangat lemah. Dia separuh sadar separuh lupa segala apa.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Oh !" kata si anak muda yang tak mau membuka rahasia
hal dirinya itu. "Kiranya kita pernah bertemu satu dengan lain
! Aku pelupaan, Toasuhu. Harap kau maklumi aku. Apakah
gelaran tosuhu ?"
Peng Mo melirik tajam, sinar matanya galak sekali.
"Nama suci pinni sudah lama tidak pernah digunakan lagi."
sahutnya. "Sahabat-sahabat biasa memanggil pinni dengan
sebutan Peng Mo saja."
Hong Kun terkejut di dalam hati. Kiranya inilah salah
seorang anggauta dari Hong Gwa Sam Mo. Ia memang pernah
mendengar tentang ketiga Bajingan itu.
"Oh, maaf, maaf, Toasuhu !" katanya cepat-cepat. "Kiranya
Toasuhu Peng Mo !"
Sementara itu Peng Mo setelah meraba dada si anak muda,
mendapat kepastian orang tidak terluka di dalam. Hanya ia
tidak tahu apa racunnya masih mengeram atau tidak di jalan
darah. Ia tertawa manis mendengar kata-kata orang.
"Saudara Gak." katanya. "Selama kau beristirahat barusan,
ada apakah yang kau rasai beda dalam tubuhmu ?" Ia
bersikap sangat prihatin.
Hong Kun menggoyangi kepala.
"Tidak !" sahutnya. "Terima kasih buat perhatian Toasuhu."
Peng Mo maju lebih dekat, terus ia menggenggam tangan
orang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Bagus !" katanya. "Dengan sesungguhnya kakakmu
berkhawatir terhadap dirimu, saudara."
Lekas sekali si nikouw merubah sebutan dirinya dari pinni --
si rahib melarat -- menjadi kakak -- kakak wanita.
Hong Kun sebaliknya berhati-hati. Ia tahu kejahatannya
Hong Gwa Sam Mo. Maka ia tidak sudi yang dirinya nanti kena
dipengaruhi ketiga Bajingan itu atau oleh si Bajingan Es ini. Ia
pula melihat orang bagaimana centil dan ceriwis.
"Apakah katamu, kakak ?" ia tanya. Ia pun lantas merubah
panggilan dari Toasuhu menjadi kakak, akan mengikuti cara
orang.
Sepasang alis lentik dari Peng Mo terbangun.
"Saudara yang baik," dia tanya. "Kau pernah makan
obatnya Gwa To Sin Mo atau tidak ?"
Obat itu dia anggap adalah soal penting.
Mendengar pertanyaan itu, Hong Kun lantas ingat
pertempuran dengan Bu Pa. Ketika itu dia merasa dadanya
bergolak hingga hampir mau copot. Setelah mana ia telah
diberi makan sebutir pil, habis mana, redalah pergolakan itu.
Terus ia merasa tenang dan nyaman sedangkan darahnya
lantas berjalan dengan lurus.
"Ya, aku telah makan obat." sahutnya. "Tetapi itu bukanlah
racun."
Peng Mo tertawa manis.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kakakmu pun menerka Sin Mo main gila !" katanya. "Dia
rupanya sengaja menggertak kakakmu ini ! Tapi bajingan itu
pernah berkatai yang kau saudara selewatnya tiga bulan, kau
bakal merasai akibatnya dari obatnya itu........"
Mau tidak mau, Hong Kun terkejut juga.
"Benarkah itu, kakak ?" tanyanya. "Habis apa maksudnya
maka si Bajingan tua itu meracuni aku ?"
"Itulah karena ilmu silatmu mengatasi banyak lain orang !"
kata Peng Mo. "Kau tahu, puterinya si bajingan tua itu
menaruh hati padamu !"
Hong Kun berpikir, terus dia menggeleng kepala.
"Tak mungkin keteranganmu ini, kakak !" katanya. "Aku
tidak percaya maksudnya si bajingan tua demikian sederhana
!"
Peng Mo mendekati mukanya, akan berbisik di telinga
orang.
"Benar, saudaraku. Benar si bajingan yang berkatai aku
begitu." demikian bisiknya. "Tapi dia pun memesan aku
supaya aku menyampaikan kata-katanya padau. Ialah kapan
telah cukup waktunya tiga bulan maka kau harus pergi ke
lembah Hok Houw Gay di gunung Tiam Chong San untuk
mencari dianya. Itu waktu dia nanti memberikan kau obat
pemunah racun. Oleh karena itu saudara yang baik, janganlah
kau berkhawatir."
Nikouw ini tidak menyampaikan seluruh pesannya Sin Mo
ialah bagian yang Hong Kun dilarang mendekati orang
perempuan selama waktu tiga bulan itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sebenarnya Hong Kun pernah makan semacam obatnya
Gwa To Sin Mo, obat Pian Sim Wan yang bekerjanya lunak.
Itulah obat "Mengubah Hati." Biar bagaimana Sin Mo toh
orang kaum sesat. Maka itu dia dapat membuat obatnya yang
lihai itu. Hanya khasiatnya obat itu bukan buat mencelakai si
anak muda. Hanya guna membikin pikirannya berubah supaya
dia nanti menurut atau mendengar kata terhadap si Bajingan
Sakti.
Hong Kun memikir lain. Benar tak mau ia percaya
perkataannya Peng Mo. Tetapi ia anggap berhati-hati tidaklah
salah. Maka itu diam-diam ia lantas meluruskan tenaga
dalamnya. Ia ingin memperoleh kenyataan kesehatannya
terganggu atau tidak. Asal saja ada perasaan tidak lurus.
Kesudahannya, ia merasa tidak ada yang kurang dan
kesehatannya sempurna sekali.
Kalau toh ada yang kurang lancar itulah dua jalan darah niwan
dan cie-hu, tak lebih.
Sementara itu, karena mereka berada sangat dekat satu
dengan lain, hidungnya Hong Kun selalu diserbu bau harum
dari tubuhnya si pendeta wanita. Hingga hatinya pun turut
berdenyutan saja. Sulit buat dia mencoba menenangi hatinya
itu.....
Detik-detik yang lewat membuat hatinya Hong Kun makIn
Goncang. Hingga akhir-akhirnya tanpa merasa tangannya
merangkul pinggang orang yang langsing menyusul mana si
nikouw membalas merangkul tubuhnya ! Maka lupalah mereka
yang mereka berada di dalam gerombolan rumput dan
pepohonan. Cuma hati mereka yang terus memukul dan dada
mereka berombak-ombak.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kapan bakal tibanya saat yang paling genting, maka diluar
semak terdengar suara panggilan berulang-ulang : "Saudara
Tio ! Tio It Hiong ! Sadar ! Sadar !'
Itulah suara seperti suara kekanak-kanakan, tetapi bagi
sepasang "bebek mandarin" itu cukup mengejutkan hati
mereka. Suara itu mirip suara guntur yang mengagetkan.
"Ada orang !" Hong Kun berbisik seraya ia menolak
tubuhnya si nikouw.
"Oh !" seru Peng Mo tertahan dan masih dia memeluki.
"Saudara Tio !" kembali terdengar suara orang memanggil.
Suara itu menandakan bahwa orang telah datang semakin
dekat dan datangnya dari sebelah kiri.
"Lepaskan tanganmu !" kata Hong Kun. "Jelek kalau orang
memergoki kita, malu !"
Peng Mo menjadi tidak puas.
"Peduli apa !" katanya mendongkol. "Cis !" Dan ia
merangkul lebih erat bahkan ia terus mencium pipi orang.
Baru setelah itu, dia melepaskan rangkulannya.
Hong Kun berlompat bangun akan mengebuti dan
merapikan pakaiannya.
Lekas sekali, di depannya pemuda itu muncul seorang
bocah usia tiga atau empat belas tahun. Kepalanya besar,
mukanya lebar, besar juga mulut dan matanya. Dia
berpakaian serba kuning, kuning juga pedangnya yang di
gendol di punggungnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kaukah saudara Tio It Hiong ?" tanyanya selekasnya dia
melihat Hong Kun.
Hong Kun tertarik gerak gerik bocah itu, yang agaknya rada
tolol.
"Siapakah kau ?" tanyanya.
"Aku Tong-hong Liang," bocah itu menjawab, "Kakakku....."
Dengan "kakakku" itu, bocah itu maksudkan cie-cie, kakak
wanita. Suaranya itu tertahan karena ia melihat Hong Kun pun
mempunyai pedang yang panjang.
"Tong-hong Liang !" kata Hong Kun keras. "Kau mencari
orang atau meau menggoda saja ?"
Alisnya bocah ini terbangun.
"Kenapa kau berlaku galak ?" tanyanya. "Kalau bukannya
kakakku menyuruh aku mencari Tio It Hiong, perlu apa aku
datang kemari !" Ia menatap tajam muka orang, setelah mana
ia menambahkan : "Kau bukannya Tio It Hiong ! Aku salah
mencari orang !" Dan terus dia memutar tubuh dan bertindak
pergi.
"Tahan !" Hong Kun membentak.
"Ada apa ?" tanya bocah itu, yang berhenti bertindak dan
terus membalik tubuh.
"Kau kata kau mencari Tio It Hiong !" kata Hong Kun. "Ada
urusan apakah ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kau bukannya Tio It Hiong, buat apa aku
memberitahukanmu ?" sahut si bocah.
Hong Kun bercuriga karena orang hanya mencari Tio It
Hiong. Ia menjadi tertarik hati. Lalu ia tertawa. Sembari
tertawa itu, ia kata manis : "Saudara Tonghong Liang, akulah
Tio It Hiong ! Ada urusan apa kau mencari aku ?"
Kembali Tonghong Liang menatap, terus dia menggeleng
kepala.
"Tak dapat kau memperdayai aku !" bilangnya.
Hong Kun tertawa bergelak.
"Saudara Tonghong Liang, siapakah mau menipumu ?"
katanya.
Kacung itu lagi-lagi menatap.
"Kau tak miripnya dengan Tio It Hiong !" katanya. "Kau
memalsukan diri ! Bukankah itu berarti kau menipuku ?"
Di dalam hati, Hong Kun terkejut. Di luar dugaannya, si
bocah dapat mengatakan demikian. Rahasianya telah dibuka !
Tapi ia tak mau menyerahkan kalah dengan begitu saja.
Bahkan mendadak timbul napsunya membinasakan kacung
itu. Maka dia tertawa dan menanya : "Kau belum pernah
melihat Tio It Hiong, kenapa kau mengatakan aku bukannya
dia ?"
Tonghong Liang menunjuk pedang di punggung orang.
"Dengan demikian, kau justru bukannya Tio It Hiong !"
sahutnya polos.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun melengak. Tak dapat ia menerka maksudnya
bocah itu. Maka ia memikir-mikir, dalam hal apa ia telah
membuka rahasianya sendiri.......
"Saudara Tonghong" katanya kemudian. "Kau masih
berusia sangat muda, kenapa kau bicara dengan setengahsetengah
?"
"Hm !" bocah itu memperdengarkan suara tawarnya. Tibatiba
ia menjadi gusar. "Kau sudah berusia tinggi tetapi kau
pun turut bicara ngaco belo !" Ia pun berhenti sebentar akan
mengawasi tajam pedang orang, selang sedetik ia
menambahkan : "Itu pedang di punggungm ! Pedang apakah
itu ?"
Baru sekarang Hong Kun sadar. Kiranya orang
mengenalinya dari pedangnya itu. Lantas dia bersenyum.
"Jadi kau maksudkan pedang dipunggungku ini ?"
tanyanya.
"Ya ! Pedang apakah itu ?"
"Keng Hong Kiam !" sahut si pemuda setelah berpikir
sejenak.
Mendadak Tonghong Liang tertawa nyaring.
"Pedang Keng Hong Kiam dari Tio It Hiong berada di
tangannya kakakku !" dia berkata keras. "Hahaha!"
Kembali Hong Kun melengak. Tapi sekarang ia ketahui
yang It Hiong telah kehilangan pedang mustikanya itu. Lantas
ia mendapat satu pikiran. Maka ia tertawa dan kata memuji :
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Saudara Tonghong, kau sangat cerdik ! Memang juga
pedangku ini pedang biasa saja ! Dimanakah kakakmu itu ?
Bukankah dia memikir hendak mengembalikan pedangku ini ?
Benarkah ?"
"Tak demikian mudah !" sahut Tonghong Liang tegas.
Tampangnya sungguh-sungguh.
Gak Hong Kun tertawa.
"Habis, mau apakah kau mencari aku ?" tanyanya. Tetap ia
mengaku sebagai It Hiong.
Alisnya bocah itu terbangun.
"Kakakku bilang, kalau orang dapat mengalahkan dia
diujung pedang, baru dia suka mengembalikan pedang itu !"
sahutnya polos.
"Siapakah kakakmu itu ?" Hong Kun tanya. "Apakah
namanya ?"
"Tonghong Kiauw Couw !" sahut si bocah, tegas dan
terang.
"Sungguh sebuah nama yang bagus sekali !" Hong Kun
memuji, tertawa. "Baik, akan aku cari kakakmu itu buat kita
mengadu ilmu pedang !'
Tonghong Liang mencibirkan bibirnya.
"Lebih dahulu kau mesti menempur aku !" katanya, gagah.
"Kalau kau menang dari aku, baru kau menempur kakakku !
Masih ada waktunya, belum terlambat !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Justru itu Peng Mo muncul dari dalam ruyuk.
Melihat nikouw itu, Tonghong Liang segera berkata pula :
"Kau ada bersama seorang nikouw. Entah apa yang kamu
lakukan ! Rupanya kau bukanlah orang baik-baik !"
Mukanya si anak muda menjadi merah dan terasa panas.
Segera berpaling kepada nikouw itu dengan mata mendelik,
suatu tanda dia gusar dan menyesal orang.
Peng Mo sementara itu sedang mendongkol sekali karena
dia beranggapan Tonghong Liang, si bocah, telah
mengganggu kesenagannya. Lalu haaw amarahnya meluap
setelah mendengar si bocah mencari Tio It Hiong buat diajak
bertanding pedang dan selanjutnya mendengar Hong Kun mau
pergi mencari Tonghong Kiauw Couw, nona kakaknya si
bocah. Mendadak saja ia menjadi iri hati dan jelus. Celakanya,
Hong Kun pun pergi dengan memakai namanya It Hiong !
"Hm ! Hm !" dia memperdengarkan suaranya menyaksikan
Hong Kun mendelik terhadapnya. "Siapa yang memergoki
kami, apa kiranya dia dapat berlalu dengan hidup ? Hm !
Apakah kau takut ?"
"Dengan sekali mencelat, nikouw ini segera tiba di
depannya Tonghong Liang.
"Hei makhluk tak tahu selatan !" bentanya. "Kau mencari
mampusmu ya ?"
Menyusul bentakannya itu, tangannya si nikouw sudah
lantas melayang ke kepalanya si bocah ! Itulah hajaran yang
hebat yang dapat merampas jiwa orang !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tonghong Liang melihat orang menyerang padanya, ia
tidak berkelit. Hanya segera ia menghunus pedangnya guna
dipakai melindungi dirinya. Dengan satu kelebatan, pedang itu
berkilau di depannya menutup dirinya, sinarnya kehijauhijauan
!
Peng Mo terperanjat. Inilah dia tidak sangka. Syukur dia
lantas melihat sinar pedang itu. Di dalam kaget, dia berlompat
mundur. Dia batal melangsungkan serangannya itu atau
lengannya dapat tertebas kutung !
Si kacung berdiri tegak ditempatnya, matanya mengawasi
tajam. Melihat orang mundur teratur, dia tertawa bergelak lalu
berkata : "Kami dari keluarga Tonghong, pedang kami tak
nanti membinasakan orang yang tidak bernama atau
berjulukan !"
Peng Mo mengawasi dengan melongo ! Entah kapan
disimpannya, tangannya kacung itu tidak lagi mencekal
pedangnya. Sebab pedangnya sudah dimasuki pula ke dalam
sarungnya. Baru sekarang dia terkejut dan sadar dan juga
ingat kiranya bocah itu menggunakan ilmu pedang keluarga
Tonghong yang pernah menggetarkan dunia Kang Ouw yaitu
ilmu "Hong Eng Tam Hoa -- Bayangan Pelangi Bunga Mega
Hitam". Sementara itu dia jengah, dia malu sekali sebab
sebagai salah seorang dari Hong Gwa Sam Mo dia jeri
terhadap seorang bocah ! Maka itu, tak dapat dia sembarang
mundur pula. Malah dia memikir buat membinasakan bocah
itu !
"Hm ! Hm !" dia perdengarkan suara dinginnya. "Aku Peng
Mo, aku mengalah terhadapmu. Siapa sangka kau justru
menjadi berkepala besar ! kau berani main gila terhadapku !"
Tonghong Liang pun tidak senang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Jika kau tak puas," katanya keras. "tidak ada halangannya
buat kau mencoba-coba pula !"
Tak puas hanya dengan kata-kata, dasar bocah cilik,
Tonghong itu membawa kedua tangannya ke depan
hidungnya guna mengejek si nikouw itu !
Lupalah Peng Mo kepada dirinya sendiri sebagai nikouw
kosen dari tingkat terlebih tinggi, dari tingkat tua. Maka
terlihatlah sifat aslinya. Dia tertawa dingin. Lalu sembari
tertawa itu dia mengerahkan tenaga dalamnya sampai
sembilan bagian sesudah mana dia berlompat maju
menghampiri si bocah terus sebelah tangannya menyerang !
Itulah semacam pembokong guna mencelakai si anak
tanggung.
Tonghong Liang terkejut sekali. Tidak ia sangka orang akan
menyerangnya pula secara sedemikian licik. Syukur ia tidak
menjadi gugup. Cepat seperti pertama tadi, ia menghunus
pedangnya untuk dipakai menyambut serangan.
Kembali ia menggunakan jurus silat pedang yang tadi
"Hong Eng Tam Hoa". Hanya kali ini ia membabat sambil
berlompat mundur supaya ia tak terdesak dan dapat bebas
menggunakan pedangnya.
Di lain pihak, si nikouw gagal pula dan kembali mesti
berlompat mundur juga !
Sebagai seorang yang usianya masih sangat muda,
Tonghong Liong tidak kenal takut. Ia pun tidak punya
pengalaman. Barusan itu ia tertolong ilmu pedang
keluarganya. Kalau tidak, pasti ia sudah terbinasa di
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tangannya si nikouw telengas. Walaupun demikian, tak tahu ia
yang ia telah memperoleh keselamatan karena ilmu
pedangnya itu yang ia dapat wariskan dengan baik.
"Eh, nikouw, apa kau dapat bikin atas diriku ?" tanyanya
pada si penyerang.
Peng Mo kaget tetapi pada parasnya ia menunjuki
senyuman. Tak sudi ia yang orang ketahui ia keteter dalam
satu gebrakan itu. Coba ia kurang cepat, tentulah tangannya
akan buntung sebelah!
"Mari aku tanya kau." katanya. "Ilmu silat pedang kalian
kaum Tonghong apakah cuma yang barusan satu jurus saja ?"
Tonghong Liang menjawab dengan jumawa : "Apakah kau
hendak mencoba jurusku yang kedua ? Aku khawatir darahmu
nanti muncrat berhamburan !"
Tepat bocah ini mau menghunus pedangnya atau ia
mendengar satu siulan yang rendah dan halus tetapi tajam.
Tidak ayal lagi ia berlompat pergi dan terus lari ke arah dari
mana suara itu datang hingga di lain detik ia sudah hilang dari
depannya Peng Mo.
Meski juga ia mendongkol, si Bajingan Es toh senang juga
dengan kepergiannya bocah itu dengan siapa ia tidak
bermusuhan. Ia membenci cuma disebabkan orang seperti
datang menggerocoki menggodanya. Ia membiarkan orang
pergi. Bahkan itu membuat hatinya lega. Sekarang ia
mendapat pula kebebasannya akan berpelesiran dengan
pemuda yang ia gilai.
"Saudaraku yang baik, mari !" ia memanggil Hing Kun
tanpa menanti sampai ia berpaling pula. "Mari, jangan kita
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
lewatkan kesempatan kita yang baik ini !" Baru setelah
menutup mulutnya ia menoleh. Hanya kali ini ia menjadi kaget
sekali.
Hong Kun tidak ada di depannya.
"Ah !" serunya kecewa hingga ia menjublak saja. Kemudian
ia melihat ke sekitarnya. Benar-benar si anak muda tidak ada
disitu. Entah kapan dan kemana perginya dia !
"Kurang ajar !" serunya. Saking heran, ia menjadi gusar.
Maka disaat itu, lupa ia akan napsu hatinya buat berpesta
dengan Hong Kun. "Hm !" ia perdengarkan pula suara
gemasnya setelah mana ia berlompat pergi, berlari-lari menuju
ke Hek Sek San !

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis 19 Top : Iblis Sungai Telaga ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 27 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments