Cerita Guru Dewasa Bercinta ; Si KS 5

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Guru Dewasa Bercinta ; Si KS 5
Cerita Guru Dewasa Bercinta ; Si KS 5

Poan Thian jadi kemekmek sejurus lamanya. ketika
mendengar Kong Houw menghujani pertanyaanpertanyaan
padanya begitu rupa.
„Itu semua hanyalah suatu kejadian yang kebetulan
saja,” ia berkata akhir-akhirnya. „Di dalam perjalananku
kemari, aku mendengar orang bercerita tentang dirinya
orang tua itu, maka aku telah iseng-iseng menanyakan
hal ini kepadamu. Apakah kau sudah pernah
mengunjungi kelenteng Ceng-hie-koan tersebut?”
„Belum,” sahut Cin Kong Houw. „Tetapi apabila kau
hendak berkunjung ke sana, akupun ingin turut juga
pergi, buat sekalian belajar kenal dengan orang tua itu.”
Poan Thian mufakat.
Begitulah setelah mereka habis dahar dan istirahat, di
waktu sorenya kedua sahabat itu lalu berkunjung ke
kelenteng Ceng-hie-koan yang ternyata terletak sedikit
jauh di luar kota Kim-leng, hingga mereka merasa perlu
akan menunggang kuda untuk menyampaikan tempat
yang dituju itu.
Sesampainya di halaman kelenteng tersebut dan
menambatkan kuda mereka di bawah sebuah pohon
405
gouw-tong, Kong Houw dan Poan Thian lalu mengetok
pintu beberapa kali. Kemudian dari sebelah dalam
terdengar suara orang yang bertanya: „Siapa?”
„Kami, orang dari kota Kim-leng yang sengaja
berkunjung kemari untuk mencari sahabat,” kata kedua
orang itu dengan suara hampir berbareng.
Dan tatkala pintu kelenteng itu dibuka, seorang toosu
kecil lalu menyambut pada mereka sambil bertanya:
„siapakah nama sahabat tuan-tuan yang hendak dicari
itu? Di sini tidak ada lain orang selainnya guruku dan
para toosu. Apakah barangkali tuan-tuan mempunyai
sahabat juga kaum toosu?”
Kedua orang itu jadi kemekmek dan sejurus lamanya
tidak tahu mesti menjawab bagaimana.
Tetapi Poan Thian yang lekas juga bisa membikin
tenteram hatinya, segera maju menanyakan: „Apakah di
antara para toosu di sini, ada seorang yang dahulu
bernama Sin-tui Bie?”
Si toosu kecil itu jadi melongo waktu mendengar
omongan itu.
“Aku ini adalah toosu baru dan tidak tahu-menahu
tentang nama itu,” katanya, „tetapi apabila tuan-tuan sudi
menunggu sebentar, boleh juga aku coba tanyakan
nama ini pada guru kami.”
„Ya, baik,” kata pemuda kita. „Kami tunggu padamu
di sini.”
Tidak antara lama toosu kecil itu telah balik kembali
dan bertanya pada mereka: „Apakah tuan-tuan ini bukan
pesuruh-pesuruh dari Sin-kun Louw Cu Leng di kota
Cee-lam?”
Poan Thian jadi melengak waktu mendengar nama
406
itu. Ia tidak tahu mesti memberikan jawaban bagaimana.
Ia tahu yang ia memang kenal baik dengan nama yang
disebutkan itu, tetapi ia belum tahu, apakah Louw Cu
Leng itu ada sahabat atau musuhnya Sin-tui Bie ini?
Maka karena memikirkan bahwa sedikit saja ia keliru
menjawab akan mengakibatkan suatu salah paham yang
bisa menerbitkan permusuhan, tidaklah heran jikalau
Poan Thian menjadi kelihatan serba salah dan akhirnya
dengan apa boleh buat menjawab: „Oh, bukan, bukan.
Kami ini bukan pesuruh-pesuruh Louw Cu Leng dari Ceelam,
hanyalah dua orang pelindung piauw yang sengaja
berkunjung untuk meminta nasehat dan petunjukpetunjuk
dari Sin-tui Bie di sini. Belum tahu apakah orang
itu sesungguhnya ada di sini atau tidak?”
“Ya, benar,” kata toosu kecil itu. „itulah ternyata ada
guru kami sendiri. Kalau begitu, marilah tuan-tuan boleh
mengikut padaku.”
Poan Thian dan Kong Houw jadi girang dan lalu
masuk ke kelenteng tersebut, mengikuti toosu kecil tadi.
Di sebuah halaman yang bersih dan di antara asap
dupa yang berkepul-kepul, kedua orang itu menampak
seorang tua yang usianya antara enampuluh-tujuhpuluh
tahun. Rambut, janggut, dan misainya sudah putih
bagaikan kapas. Ia duduk di atas dipan yang diberi alas
permadani. Dan tatkala ia melihat Poan Thian dan Kong
Houw mendatangi, dengan sabar ia lantas berbangkit
dari atas dipan dan memberi hormat sambil berkata:
„Selamat datang atas kunjungan kedua orang Kie-su ke
tempat kediamanku yang hina ini. Belum tahu Kie-su
berdua ada urusan apa datang berkunjung ke kelenteng
kami ini?”
„Murid yang rendah bernama Lie Kok Ciang,” sahut
407
Poan Thian, „orang dari Cee-lam dan ini adalah
sahabatku Cin Kong Houw, yang mengusahakan sebuah
piauw-kiok di kota Kim-leng di sini.”
„Kalau begitu,” kata toosu tua itu setelah
mempersilahkan duduk kedua orang tetamunya, „apakah
tuan Lie ini kenal baik Sin-kun Louw Cu Leng di Ceelam?
Kau yang menjadi penduduk dari kota itu, mestinya
kenal juga namanya orang tua itu, bukan?”
Poan Thian jadi gugup, tetapi kesediaan pikirannya di
waktu kesusu segera timbul dan lantas menjawab: „Ya,
nama itu memang sudah lama murid dengar, tapi tidak
kenal betul yang mana satu antara penduduk Cee-lam
yang bernama begitu.”
Si toosu tua itu kelihatan menganggukkan kepalanya
sambil tersenyum sedikit.
„Kalau begitu, tidak heran jikalau kau tidak kenal
pada orang tua itu,” katanya dengan pelahan.
Si pemuda mengangguk, membenarkan.
„Omong punya omong,” kata Poan Thian pula,
„dengan ini murid numpang bertanya, apakah Lo-suhu
bukan seorang gagah di kalangan Kang-ouw yang
dahulu terkenal dengan nama julukan Sin-tui Bie?”
Orang tua itu jadi memandang wajah pemuda kita
dengan sorot mata tajam. Kemudian ia tersenyum sambil
berkata: „Itulah hanya sebuah gelaran kosong belaka.
Dari manakah kau mendengar tentang segala urusan
tetek-bengek itu?”
„Itulah karena..... karena..... oh, bukan, bukan,” kata
Poan Thian dengan gugup. „Nama itu memang sudah
lama aku dengar di kalangan Kang-ouw......”
„Kau tidak perlu see-jie akan bicara dengan secara
408
terus terang,” kata orang tua itu, yang ternyata benar
dahulu terkenal dengan nama julukan Sin-tui Bie.
„Apakah barangkali kau mendapat pengunjukan orang,
bahwa Tie Hwie Taysu yang bersemayam di kelenteng,
Ceng-hie-koan di sini dahulunya seorang yang dijulukkan
dengan nama Sin-tui Bie itu?”
Poan Thian menggelengkan kepalanya.
„Bukan, bukan,” katanya. „Nama itu sebenarnya telah
dikenal olehku dengan secara tidak disengaja.”
„Cobalah tuturkan padaku dengan sejujur-jujurnya,”
kata toosu tua itu, yang ternyata ia baru ketahui bergelar
Tie Hwie Taysu.
Oleh karena melihat tidak ada jalan buat
menyembunyikan rahasia hatinya, maka dengan rasa
sungkan Poan Thian lalu tuturkan juga segala
pengalamannya, semenjak ia kehujanan di kelenteng
rusak sehingga akhirnya ia berkunjung ke kelenteng
Ceng-hie-koan dengan diantar oleh Cin Kong Houw,
yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang terjadinya
peristiwa yang luar biasa itu.
Sin-tui Bie alias Tie Hwie Taysu jadi kelihatan sedikit
terperanjat, ketika mendengar penuturan Poan Thian
tersebut. Tetapi setelah berdiam sejurus bagaikan
seorang yang memikirkan sesuatu, dengan lantas ia jadi
tersenyum sambil berkata: „Di dunia ini memang lebih
banyak terdapat manusia yang berhati busuk dan dengki
dari pada manusia-manusia yang sesungguhnya ingin
melihat perdamaian dan kerukunan di antara sesamanya
yang hidup di kolong langit ini.
„Satu pihak tidak segan menggunakan pengaruh atau
nama pihak ini untuk meruntuhkan atau membusuki
pihak lain, yang tujuannya semata-mata adalah untuk
409
keuntungan diri sendiri. Pikirnya, dengan menggunakan
cara yang dianggapnya amat cerdik ini, dia bisa
merobohkan dua saingan dengan sekaligus. Dan dengan
tidak banyak susah atau mesti berjoang dengan matimatian,
dia bisa menjagoi dan boleh menganggap bahwa
dirinya adalah paling jempolan di kolong langit! Padahal
dia lupa akan memikirkan, bahwa jikalau kedua-dua
saingannya itu (yang dibusuki namanya) mempunyai
kesadaran pikiran dan bekerja sama untuk menindas
pada dirinya, dia bisa mengalami dua ancaman hebat
dengan sekaligus pula!
„Maka dengan adanya lelakon yang agak
„menegangkan” ini, apakah Lie Sicu mau percaya, bahwa
segala apa yang orang telah berbuat kepada dirimu itu,
adalah sesungguhnya telah dilakukan olehku Sin-tui Bie,
yang sekarang telah memeluk agama Too Kauw dengan
memakai gelaran Tie Hwie ini?”
Poan Thian yang sekarang baru mendusin, bahwa
dirinya orang hendak „adu dombakan” dengan Sin-tui
Bie, sudah barang tentu jadi amat terkejut dan segera
meminta maaf sambil berkata: „Jikalau Lo-suhu bukan
seorang yang berpikir panjang, niscaya urusan tetek
bengek ini bisa membikin orang jadi terjerumus ke dalam
permusuhan yang tidak ketahuan asal-mula atau sebabmusababnya.”
Sementara Cin Kong Houw yang baru di saat itu
mengetahui apa sebabnya Poan Thian mencari pada
Sin-tui Bie, dengan lantas ia menghela napas sambil
berkata: „Ah, ternyata bahwa Lie Lauw-hia juga telah
mengalami suatu peristiwa yang jalannya hampir mirip
dengan peristiwa yang telah kualami itu. Hanya jikalau
aku telah mengalami itu dari suatu jalanan yang agak
jelas, adalah soalmu ini amat sukar dimengerti dan tidak
410
diketahui pasti karena apa dan untuk maksud apa orang
berbuat begitu kepadamu, disamping beranggapan
bahwa orang telah sengaja berbuat begitu untuk mencari
setori kepadamu. Itulah bedanya, antara soalmu dan
soalku, yang kita sekarang justru sedang hadapi
bersama-sama.”
„Ya, ya, itu benar,” kata Lie Poan Thian selaku orang
yang sedang asyik berpikir.
Tidak antara lama toosu kecil yang telah menyambut
mereka tadi balik kembali dengan membawa teh-koan,
tiga buah cangkir dan beberapa piring yang terisi buahbuahan
kering yang sangat digemari oleh Tie Hwie
Taysu.
Setelah menuangi air teh buat guru dan kedua
tetamunya, lalu ia suguhkan itu di hadapan masingmasing,
sambil mempersembahkan juga buah-buahan
kering tadi, yang ditaruhnya di atas meja di hadapan
ketiga orang itu. Kemudian ia berdiri di suatu pinggiran
untuk melayani, tetapi Tie Hwie lantas perintah ia berlalu
dan tak usah melayani mereka di situ, asalkan teh-koan
itu ditaruh di atas meja di dekatnya.
Toosu kecil itu menurut, kemudian ia berjalan masuk
setelah memberi hormat pada semua orang.
“Anak ini adalah salah seorang murid yang baru saja
beberapa hari ini datang ke sini,” kata toosu tua itu,
„tetapi aku yakin bahwa ia inilah seorang anak yang
cerdik dan terang sekali otaknya. Ia ini bukan lain dari
pada cucu seorang bekas musuhku di waktu masih
sama-sama muda, tetapi kemudian kita jadi berbalik
saling menghormati dan bersahabat begitu akrab,
sehingga melebihi saudara yang keluar dari satu
kandungan.”
411
Dan tatkala Poan Thian hendak menanyakan siapa
adanya orang itu, dengan pengharapan kalau-kalau ia
juga kenal pada orang itu, Tie Hwie telah keburu berkata:
„Lie Sicu sendiri tentu pernah dengar tentang
perbuatannya orang itu di kalangan Kang-ouw dari
penuturan orang-orang Cee-lam juga.”
„Ya, bisa jadi juga akupun pernah mendengarnya,”
sahut pemuda kita dengan sembarangan.
„Dia itulah bukan lain dari pada Sin-kun Louw Cu
Leng,” kata Sin-tui Bie alias Tie Hwie Taysu sambil
tertawa. „Kedatanganmu tadi sebetulnya aku tidak
menduga lain dari pada pesuruh-pesuruhnya Louwsamtee.
yang memang ia telah berjanji akan kirim, jikalau
ia sendiri tidak bisa datang sendiri ke sini.”
„Oh, oh, kalau begitu,” kata Lie Poan Thian seperti
orang yang baru mendusin dari tidur yang nyenyak,
sekarang teranglah sudah, bagaimana aku telah keliru
menyangka jahat atas diri Lo-suhu di sini, sehingga tadi
aku telah berjusta dengan mengatakan bahwa Louw Cu
Leng itu aku hanya kenal namanya saja, padahal dalam
kenyataan, kita pernah bertempur, hendak saling
merobohkan satu sama lain, yang beruntung juga
akhirnya tidak sampai kejadian ada salah seorang yang
celaka, malah selanjutnya kita jadi bersahabat akrab
sekali sehingga di saat ini.”
Tie Hwie Taysu yang mendengar omongan itu, iapun
jadi tertawa dan berkata: „Nah, itulah justru ada apa yang
telah kusangka tentang salah paham yang mungkin
terjadi antara kita sama kita, tetapi syukur juga tidak
sampai mengakibatkan hal-hal lain yang merugikan pada
perhubungan persahabatan kita. Maka soal ada seorang
yang mengaku bernama „SIN-TUI BIE” hendak
menantang kepadamu, bolehlah urusan itu
412
dikesampingkan dan dianggap remeh saja. Karena,
sebagaimana katanya satu pepatah, batu-batu akan
segera kelihatan, jikalau air banjir di sungai telah surut.
„Maka ada baiknya juga jikalau Lie Sicu suka
bersabar dan saksikan dari kejauhan, akibat dari pada
surat tantangan yang tidak keruan juntrungannya itu.
Sedangkan aku di sini pun, nanti membantu sedapat
mungkin untuk menyelidiki urusan ini dengan bantuannya
beberapa orang sahabat dan handai taulan di kalangan
Kang-ouw.”
4.26. Penyelidikan Sin-tui Bie Palsu
Poan Thian yang mendengar omongan itu, merasa
terhibur juga, walaupun hatinya masih tetap kepingin
menyelidiki sendiri, siapa sebenarnya orang yang telah
menggoda padanya di kelenteng rusak itu, yang ilmu
kepandaiannya bukan saja tidak ada di bawah dari pada
dirinya sendiri, malah di lain pihak ia masih kalah jauh
dan perlu berlatih keras untuk dapat memperoleh
kepandaian seperti apa yang dipunyai orang yang ia
sama sekali belum pernah kenal atau melihat romannya
itu.
Maka setelah minum air teh dan makan buah-buahan
kering yang disuguhkan, barulah Poan Thian dan Kong
Houw meminta diri kepada Tie Hwie Taysu yang dengan
laku ramah tamah menyatakan kesediaannya akan
menerima kunjungannya kedua orang itu di setiap waktu
mereka ada waktu terluang untuk berbuat begitu, buat
mana kedua orang itupun tak lupa mengucapkan banyak
terima kasih atas kebaikannya toosu tua itu.
Begitulah sekembalinya Poan Thian dan Kong Houw
ke kota Kim-leng, kedua orang itu lalu menuturkan
413
pengalaman mereka pada Liu Sian di waktu mereka
duduk bersama-sama untuk bersantap sore.
„Terhadap orang yang mengaku bernama Sin-tui Bie
itu,” kata si nyonya, „memanglah amat perlu akan kita
berlaku hati-hati, karena ia tentu bukan orang
sembarangan, apabila ia mampu mempermainkan Lie
Cong-su sampai begitu rupa.”
„Ya, itupun memang justru salah suatu hal yang
dibuat pikiran olehku,” kata Lie Poan Thian sambil
menghela napas. „Orang itu mestinya jauh lebih pandai
dari pada diriku sendiri.....”
Tetapi Liu Sian lalu memotong pembicaraannya.
„Bukan dia lebih pandai,” katanya, „tetapi dia lebih
sebat, lebih gesit dari pada kau. Tetapi dia belum tentu
bisa lawan tendanganmu, tidak perduli dia meminjam
nama SIN-TUI dari siapa juga! Sampai pun Sin-tui Bie
sendiri, aku tidak percaya akan mampu mengalahkan
kau. Aku bukan hendak bicara secara „mengumpak”,
itulah ada perkataan yang keluar dari hatiku yang tulus.”
„Itu benar, itu benar,” menambahkan Cin Kong Houw
dengan separuh bersorak.
Setiap orang memang doyan dipuji, tetapi pujian Liu
Sian kali ini justru dianggap paling tepat oleh Lie Poan
Thian.
„Aku boleh kalah sebat atau gesit dengan orang lain,”
pikirnya, „tetapi dapatkah ia memenangkan tendanganku?
Dalam hal ini aku sungguh mesti membenarkan
pendapat Liu Sian ini.”
Itulah sebabnya mengapa Poan Thian jadi kelihatan
adem terhadap urusan ini, walaupun di dalam hatinya ia
tetap berjanji akan mencari Sin-tui Bie tetiron itu hingga
414
dapat untuk dijajal sampai dimana ilmu kepandaiannya
yang sesungguhnya dipunyainya.
Maka setelah berdiam di Kim-leng beberapa hari
lamanya, Poan Thian lalu menyatakan pikirannya pada
Kong Houw dan Liu Sian, mengenai niatannya semula
akan menyatroni pada Ca Tiauw Cin di Ca-kee-chung itu.
Kong Houw dan Liu Sian menganjurkan, supaya
pemuda kita suka membawa kawan secara diam-diam,
apabila ia tidak suka dikawani oleh mereka dengan
secara berterang.
Tetapi Poan Thian telah menolak dengan getas dan
berkata: „Cara itu malah akan memberi kesan semakin
buruk dari pada membawa kawan dengan secara
berterang. Maka turut pendapatku, paling betul kamu
tidak usah pikirkan tentang diriku. Rawatlah dirimu
sebaik-baiknya, sehingga kesehatanmu dapat pulih
kembali sebagaimana sediakala. Selanjutnya, kamu
boleh lepas orang untuk mendengar-dengar tentang
segala sepak terjangku di Ca-kee-chung. Tetapi, tidak
perduli apa aku di sana memperoleh kemenangan atau
kekalahan, aku melarang keras akan kamu turut campur
dalam urusanku ini, karena menyimpang dari pada
rencana yang kamu juga tentu pikirkan di dalam hati, aku
telah pecah antara urusanmu dan urusanku yang hendak
dilakukan ini menjadi dua soal yang terpisah sendirisendiri.
Tidak saling berhubung satu sama lain, walaupun
pokoknya didasarkan atas titik yang bersamaan.”
Kong Houw dan Liu Sian merasa akan sia-sia saja
untuk menanyakan keterangan lebih jauh tentang
tindakan-tindakan yang akan diambilnya terhadap pada
diri cabang atas dari desa Ca-keechung itu, maka
selanjutnya merekapun tak menanyakan apa-apa pula
selainnya memesan dengan wanti-wanti, agar supaya
415
Poan Thian suka menjaga diri dan berlaku waspada
terhadap perbuatan musuh yang telah ternyata amat
curang dan suka membokong itu.
„Jikalau orang lain bisa berbuat begitu,” kata pemuda
kita, „masakah kita juga tidak mampu meneladaninya?”
„Pertempuran ini tentunya akan terjadi dengan amat
hebatnya,” berbisik Liu Sian pada suaminya, ketika pada
sore itu Poan Thian kebetulan beromong-omong dengan
para piauw-su di serambi depan kantor usaha
pengangkutan Siang-hap Piauwkiok itu. „Maka buat
bantu melindungi supaya Lie Cong-su jangan sampai
dicelakai pihak musuh kita paling betul kau boleh lantas
perintah Lauw An atau Lauw Thay untuk menguntit
padanya secara diam-diam. Syukur jikalau Ca Tiauw Cin
dapat dikalahkan; tetapi jikalau urusan sampai kejadian
sebaliknya, bolehlah kau perintah supaya dia selekasnya
kembali ke sini akan mengabarkan pada kita, agar kita di
sini bisa berikhtiar bagaimana baiknya untuk melakukan
pembalasan pada orang she Ca itu.”
Cin Kong Houw menyatakan mufakat dengan pikiran
isterinya itu.
Lalu ia perintah salah seorang pelayannya untuk
pergi memanggil pada Lauw Thay.
Dan tatkala Lauw Thay diberitahukan apa yang ia
harus berbuat, lalu teringatlah olehnya desa Sam-li-tun,
dimana ia tahu Poan Thian bersahabat baik dengan An
Chun San, yang di suatu waktu pernah menjadi juga
penolong dari kaum keluarganya. Maka setelah hal ini ia
terangkan juga pada Kong Houw suami-isteri, sudah
tentu suami-isteri itupun jadi girang dan berkata: “Nah,
kalau begitu, apakah salahnya — jikalau ternyata
memang amat perlu — kau minta bantuan orang tua itu,
416
sementara menantikan bala bantuan dari kita di sini? Kita
bukan hendak membikin susah pada orang tua she An
itu. Juga aku melarang akan kau berbuat begitu, jikalau
keadaan masih dapat dipertahankan tanpa bantuannya.”
Lauw Thay mufakat dengan omongan itu. Kemudian
ia diperintah untuk bersiap-siap akan melakukan tugas
menurut apa yang telah dirundingkan mereka tadi,
apabila nanti Poan Thian berangkat ke Ca-kee-chung.
Lauw Thay menjawab: „Baik,” barulah kemudian ia
berlalu buat melakukan tugas itu dengan secara diamdiam
dan di luar pengetahuannya Sin-tui Lie Poan Thian.
Maka ketika Poan Thian bermohon diri pada Cin
Kong Houw suami-isteri akan berangkat ke Ca-keechung,
Lauw Thay pun dengan diam-diam lalu
membuntutinya belakangan.
Begitulah setelah melalui perjalanan beberapa hari
lamanya, akhirnya Poan Thian telah sampai di luar desa
Ca-kee-chung dan lalu mencari sebuah pondok untuk
melewati hari yang telah mulai berganti dengan malam.
Sementara Lauw Thay yang membuntuti dari
kejauhan, juga mencari sebuah pondok lain untuk
membantui dengan bergelap, apabila kiranya Poan Thian
tidak berhasil dapat mengalahkan cabang atas she Ca
itu.
Di dalam pondok itu, setelah mendapat kamar dan
duduk dahar, Poan Thian lalu panggil seorang pelayan
buat ditanyakan keterangannya mengenai beberapa hal
yang bersangkut-paut dengan dirinya Ca Tiauw Cin, yang
menjadi chung-cu dari desa tersebut. Tetapi, sudah
barang tentu, ia tidak menerangkan dengan maksud apa
ia telah datang ke desa itu.
417
„Sudah lama aku mendengar namanya dia orang tua
yang begitu tersohor di kalangan Kang-ouw,” Lie Poan
Thian pura-pura memuji. „tetapi belum tahu pada waktu
bagaimana ia biasa ada di rumah? Kau yang menjadi
penduduk di sini dan menjadi juga salah seorang
rakyatnya, tentulah mesti ketahui juga urusan ini,
bukan?”
„Ya,” sahut pelayan itu.
„Pada beberapa hari yang lalu, aku dengar ia
bepergian ke luar kota, hingga belum tahu apakah ia
sekarang sudah kembali atau belum. Tetapi belum tahu
apakah tuan kenal juga kepadanya, atau memang
sengaja datang ke sini dengan maksud untuk berkenalan
saja?”
„Benar, benar,” sahut Poan Thian, „maksud
kedatanganku ini memanglah semata-mata untuk belajar
kenal dengannya. Oleh karena itu, sudikah kiranya
saudara turut juga aku pergi bersama-sama ke rumah Ca
Lo-suhu akan menjumpainya.
Si pelayan menyatakan tidak berkeberatan buat
mengabulkan permintaan pemuda itu.
„Tetapi karena aku di sini memang diwajibkan untuk
menerima tetamu,” katanya, „maka aku tidak bisa
mengantarkan kamu sampai di hadapan Ca Chung-cu.
Hanya asal aku sudah menunjukkan tempat
kediamannya, akupun sudah mesti buru-buru kembali
lagi ke sini, harap tuan sudi maafkan sebesar-besarnya.”
„Ya, begitupun boleh,” kata Lie Poan Thian yang lalu
minta disediakan air masak untuk mencuci muka dan
membersihkan badan.
Pelayan itu menjawab: „Baik,” sambil kemudian
418
berlalu untuk melayani segala keperluan tetamunya itu.
Dan tatkala selesai dahar dan membersihkan badan,
Poan Thian lalu ajak pelayan itu pergi berkunjung ke
rumahnya Ca Tiauw Cin.
„Ca Chung-cu ini apakah orangnya berhati budiman?”
begitulah sambil berjalan Poan Thian coba menyelidiki
tentang dirinya orang she Ca itu dari mulut pelayan
tersebut.
„Tentang itu aku kurang terang,” katanya. ,,tetapi aku
tahu betul bahwa ia itu ada seorang yang mempunyai
banyak sekali kawan-kawan yang paham ilmu silat.
Sedangkan dia sendiri — menurut kabar yang aku dapat
dengar di luaran — adalah seorang ahli silat yang paham
ilmu Thiat-see-ciu. Tidak perduli batu atau besi yang
bagaimana keras juga, jikalau digenggam dan diremes
dalam telapak tangannya, niscaya akan hancur menjadi
tepung. Demikianlah menurut cerita orang, tetapi belum
tahu apakah itu benar atau cuma berarti suatu „umpakan”
saja terhadap Ca Chung-cu, yang memang umumnya
amat gila hormat dan tidak suka orang berlaku sedikit
saja kurang menghormati terhadap pada dirinya.”
Mendengar keterangan begitu, Poan Thian jadi
tersenyum adem.
“Patutlah lagaknya begitu congkak terhadap Kong
Houw,” pikirnya di dalam hati, „tidak tahunya dia
mempunyai banyak „simpanan” yang berupa tukang
kepruk di dalam rumahnya. Tunggulah. aku nanti kasih
ajaran yang akan membikin dia kapok buat berlaku
congkak pula, karena mengandal tenaga banyak orang!”
“Tetapi belum tahu apakah Ca Chung-cu ini suka
menerima juga ahli-ahli silat yang datang dari tempattempat
lain untuk menumpang tinggal atau minta bekerja
419
di bawah perintahnya?” Poan Thian mencari tahu tentang
keadaan pihak bakal lawannya dengan jalan
menanyakan pada pelayan itu, yang ternyata mengetahui
banyak juga tentang dirinya cabang atas she Ca itu.
„Dahulu memang ia suka juga menerimanya,” kata
pelayan itu, „malahan beberapa orang sebawahannya ia
telah sengaja datangkan dari tempat-tempat lain, antara
mana ada seorang yang terkenal dengan nama sebutan
Hek-houw-lie Cian Cong, yang sehingga sekarang masih
berdiam di desa ini, yang kabarnya dipekerjakan oleh Ca
Chung-cu sebagai seorang penasehatnya. Orang ini
amat jahat dan terlalu dibenci oleh penduduk desa ini.
Tetapi karena ia selalu dikeloni oleh Ca Chung-cu, maka
penduduk di sini tidak bisa mengusirnya, lain perkara
jikalau hal ini disetujui oleh Ca Chung-cu sendiri. Kita
anak negeri yang lemah memang harus selalu mengalah
pada segala bebodor. Tidak perduli kita diperlakukan
bagaimana, kita harus terima dan telan itu semua tanpa
berani memprotes apa-apa. Itulah caranya tuan tanah
mengunjuk sepak terjangnya di desa Ca-kee-chung ini!”
Poan Thian jadi menghela napas, sedang di dalam
hatinya ia menyomel: „Kurang ajar!” Kemudian ia pasang
telinganya mendengari terus sesuatu penuturan si
pelayan itu.
„Apakah barangkali Ca Chung-cu ini ada seorang
yang suka memeras pada anak rakyatnya?”
Si pelayan itu lalu menggelengkan kepalanya.
„Tentang itu aku sama sekali belum pernah dengar,”
katanya. „Orang tua ini memang bertabeat agak luar
biasa. Di waktu dia berlaku keras, dia sering seperti juga
kerangsokan iblis, jikalau dia berlaku lemah, dia sering
seperti juga buta dalam hal mengeloni pihak-pihak yang
420
dicintainya. Maka dari itu, tidaklah heran kalau orangorang
semacam Hek-houw Lie Cian Cong yang begitu
licin dan likiat bisa pentang pengaruhnya dan mengadu
biru ke sana-sini, dengan semua penyesalan orang
timpakan di atas bahu Chungcu-ya seorang. Maka kalau
hal ini kita pikirkan secara teliti, bukan saja perkara itu
amat tidak adil, tetapi juga kita telah berlaku membuta
dalam soal mempersalahkan orang yang sama sekali
tidak campur dalam urusan orang lain, yang ia sendiri
sama sekali tidak tahu-menahu sebab-musababnya,
bukan?”
„Ya, itulah memang sudah sepantasnya,” kata Lie
Poan Thian. „apabila orang timpakan kesalahan itu ke
atas bahunya Ca Chung-cu sendiri. Karena dia yang
seolah-olah bertanggungjawab atas segala urusan yang
telah diperbuat oleh orang-orangnya, cara bagaimanakah
bisa terlolos dari segala penyesalan serupa itu, yang
memang ia harus terima sebagai risiko dari perbuatannya
yang terlalu mengeloni pada gundal-gundalnya sendiri?”
Si pelayan itu mendadak jadi bungkem, ketika
mendengar penyahutan pemuda kita yang agak keras
itu, hingga selanjutnya ia tidak berani berkata apa-apa
pula, jikalau Poan Thian tidak menanyakan sesuatu
kepadanya.
Begitulah setelah berjalan beberapa lamanya,
akhirnya sampailah mereka ke muka sebuah gerbang
yang dijaga oleh beberapa orang pengawal, yang hampir
rata-rata bertubuh tinggi besar dan menyoren pedang di
masing-masing pinggangnya.
„Inilah pintu gerbang dari mana tuan bisa minta
permisi akan berjumpa pada Ca Chung-cu,” kata si
pelayan. „dengan begitu, selanjutnya aku persilahkan
supaya tuan sendiri saja yang berurusan dengan para
421
pengawal itu. Aku tak dapat mengantar tuan terlebih jauh
pula.”
„Ya,” sahut Poan Thian, sambil meminta terima kasih
dan memberikannya sedikit uang sebagai persenannya.
Kemudian ia menghampiri pada para pengawal itu
sambil memberi hormat dan bertanya: „Tuan-tuan, aku
mohon tanya, apakan hari ini Ca Lo-suhu ada di rumah?”
„Kau ini siapa? Asal dari mana? Dan ada keperluan
apa dengan induk semang kami?” balas menanyakan
salah seorang pengawal itu, setelah beberapa saat
lamanya ia mengawaskan dengan teliti kepada pemuda
kita.
„Aku bernama Lie Kok Ciang,” sahut Poan Thian
dengan terus terang, „asal orang Cee-lam dalam propinsi
Shoa-tang.”
Tetapi si pengawal lalu memotong omongan orang
sambil menegaskan, katanya: „Tuan, apakah kau ini
bukan Lie Kok Ciang yang terkenal dengan nama alias
Poan Thian dan bergelar Sin-tui?”
„Ya, benar,” sahut Lie Poan Thian. „memang nama
alias dan gelaranku yang rendah.”
Si pengawal lalu membungkukkan badannya sambil
memberi hormat dan berkata: „Selamat datang Lie-toako,
induk semang kami memang sudah lama mengharapharap
tentang kedatanganmu ini. Ia sangat kagumi
padamu dan telah mencari padamu beberapa lamanya
untuk belajar kenal.”
„Tetapi belum tahu apakah Ca Lo-suhu sekarang ada
di rumah atau tidak?” menanya Lie Poan Thian sambil
mengunjukkan roman girang yang dibuat-buat.
„Kemarin malam ia memang ada di rumah,” kata si
422
pengawal. “tetapi entahlah apa hari ini ia keluar
bepergian atau tidak. Dan jikalau Lie-toako sudi
menunggu di sini beberapa saat lamanya, aku boleh
coba tengok ke dalam untuk mendapat kepastian,
apakah sesungguhnya ia ada di rumah atau tidak.”
„Ya, jikalau Lauw-hia sudi mencapaikan hati buat
pergi melaporkan pada ia orang tua tentang
kedatanganku ini,” kata Lie Poan Thian dengan suara
merendah, „sudah barang tentu aku merasa girang dan
berterima kasih atas kebaikanmu. itu.”
Kemudian Poan Thian menantikan di situ beberapa
lamanya barulah pengawal tadi kelihatan muncul dan
berkata: „Lie-toako, sangat menyesal, hari ini Ca Chungcu
telah keburu keluar, berhubung ada sesuatu urusan
penting yang perlu sekali segera dibereskan pada hari ini
juga. Tetapi pada orang-orang kepercayaannya di sana
aku telah memberitahukan tentang kedatanganmu ini,
agar supaya nanti bisa disampaikan pada Ca Chung-cu,
jikalau ia kembali sebentar lohor atau di hari esok. Maka
buat membikin kunjunganmu tidak sampai tersia-sia,
hendaknya Lie-toako kembali ke sini di hari esok saja
kira-kira di waktu magrib.”
„Ya, baiklah,” kata Lie Poan Thian sambil memberi
hormat dan berlalu, tetapi di dalam hatinya diam-diam ia
menggerutu: „Kurang ajar! Dia kira aku boleh dikelabui
dengan segala omongan yang tidak masuk diakal?
Tunggulah, apa yang nanti „kuketemukan” dalam
penyelidikanku sebentar malam.”
Dari situ Poan Thian tidak kembali lagi ke tempat
penginapannya, hanyalah segera mencari sebuah kedai
buat duduk menantikan sampai hari sudah terganti
dengan malam, kemudian barulah ia akan kembali ke
desa Ca-kee-chung, untuk melakukan penyelidikan dan
423
pengintaian atas diri Ca Tiauw Cin, yang ia percaya tidak
pergi ke mana-mana, tetapi sedang bersiap-siap untuk
,,menyambut” kedatangannya.
Karena jikalau pengawalnya telah dapat mengenali
dirinya, apakah itu bukan berarti bahwa orang she Ca
itupun memang sudah „mengendus” tentang maksud
kedatangannya ini?
Dugaan ini memang belum tentu cocok dengan
anggapannya sendiri, tetapi gerak-gerik si pengawal itu
telah menimbulkan kesan apa-apa bagi pirasat pemuda
kita ini.
Maka sesudah hari terganti dengan malam, Poan
Thian lalu kembali ke Ca-kee-chung dan masuk dengan
diam-diam ke gedung Ca Tiauw Cin dengan melompat
pagar tembok yang agak tinggi dan tidak terjaga.
Seperti juga seekor kucing yang hendak menerkam
mangsanya, Poan Thian merayap dari atas pagar tembok
itu dan terus berlompat ke atas wuwungan rumah, yang
ia sebenarnya kurang tahu, apakah Ca Tiauw Cin
berdiam di situ atau di-gedung-gedung lain, yang
memangnya banyak terdapat dalam halaman yang
dikitari dinding-dinding tembok yang tinggi dan mustahil
akan dapat dipanjat, jikalau bukannya oleh orang-orang
yang pandai ilmu silat dan dapat berlompat tinggi.
Tetapi maksud itu kelihatannya agak sukar berhasil,
karena Poan Thian yang melakukan penyelidikan pada
sebelum mengetahui betul seluk-beluk keadaan tempat
itu. Tentu saja bukan perkara yang mudah, akan mencari
Ca Tiauw Cin yang memangnya ia belum pernah kenal
sama sekali!
Maka sesudah mendusin atas kesemberonoannya,
buru-buru ia kembali ke arah pagar tembok tadi, lompat
424
turun dan terus kembali ke kedai tadi, dimana ia berniat
akan mencari keterangan-keterangan yang perlu pada
sebelum menyatroni pula sarangnya cabang atas she Ca
itu.
Tetapi, di luar sangkaannya, pelayan kedai yang
telah melayani padanya tadi, telah menyodorkan
padanya sepucuk surat yang tertutup sambil
menanyakan: „Tuan, apakah tuan ini bukan Lie Poan
Thian yang berasal dari Cee-lam dalam propinsi Shoatang?”
„Ya, benar,” sahut pemuda kita dengan rupa heran.
„Barusan ada seorang muda yang minta aku
sampaikan surat ini kepadamu,” kata pelayan itu.
Dan tatkala Poan Thian membuka sampulnya dan
membaca bunyinya surat itu, ia jadi sangat terperanjat
dan menyebut „Aya!” dengan hampir tak terasa pula.
„Inilah kembali suratnya Sin-tui Bie tetiron itu!”
katanya dengan hati berdebar-debar.
Bunyi surat itu tidak begitu panjang seperti apa yang
pertama ia terima di kelenteng rusak pada beberapa
waktu yang lampau, tetapi bermaksud cukup keras buat
membikin Poan Thian mendongkol bukan buatan!
Lie Poan Thian
Sampai kapankah kita bisa bertemu buat
menentukan siapa di antara kita berdua yang berhak
memakai gelaran SIN-TUI itu?
Aku tunggu kedatanganmu di kelenteng Ceng-hiekoan
di kota Kim-leng.
Tertanda aku, SIN-TUI BIE.
Poan Thian jadi gemetaran karena menahan
425
amarahnya.
„Jikalau manusia ini aku belum putar batang lehernya
sehingga tidak mampu berkutik lagi,” katanya. „belumlah
puas rasa hatiku. Aku nanti kembali ke Ceng-hie-koan
setelah aku selesai berhitungan dengan si jahanam she
Ca ini. Tunggulah giliranmu dalam tempo tidak berapa
lama lagi!”
Sesudah berkata begitu, lalu ia berniat akan
merobek-robek surat tantangan itu. Tetapi, setelah ia
mendapat pikiran bahwa surat itu bisa dipergunakan
sebagai bukti dimana ia perlu, maka ia lantas urungkan
niatannya dan lalu masukkan surat itu ke dalam saku
bajunya.
Kemudian ia panggil pelayan tadi yang lalu diminta
keterangannya mengenai orang muda yang memberikan
surat untuk disampaikan kepadanya itu.
„Orang itu rupanya belum cukup berusia duapuluh
tahun,” kata pelayan itu. „Ia menyoren pedang dan
memakai baju biru.”
„Akur!” Poan Thian berkata di dalam hatinya. Karena
lukisan itu agak cocok dengan apa yang dahulu ia
pernah dengar dari pemilik kedai di sebuah desa yang
dilewatinya dalam perjalanan ke kota Kim-leng. „Apakah
kau tidak coba menanyakan padanya,” tanyanya pula.
„dia itu orang dari mana?”
„Dia itu orang dari mana,” sahut pelayan itu. „itulah
sama sekali tidak pernah kutanyakan. Tetapi dia itu
memang sering datang ke sini, juga tidak jarang aku
menjumpainya di pasar atau di kantor-kantor usaha
pengangkutan di dalam kota.”
Poan Thian mengangguk-angguk sambil berpikir di
426
dalam hatinya.
„Apakah barangkali dia menjadi juga salah seorang
gundalnya jahanam she Ca itu?” pikirnya. „Cobalah hal
ini aku selidiki sedikit demi sedikit dari keterangan si
pelayan ini.”
„Orang itu,” kata pemuda kita kemudian. „apakah kau
pernah juga lihat berkunjung ke tempat kediamannya Ca
Chung-cu di sini?”
Si pelayan lalu menggelengkan kepalanya.
„Tidak,” sahutnya. „Itu belum pernah aku ketahui.”
„Apakah kau tidak pernah dengar — di waktu kawankawannya
berbicara — sebutan apa yang orang biasa
pergunakan untuk memanggil kepadanya?” Poan Thian
coba menanyakan terlebih jauh pula.
„Ya,” sahut si pelayan. „Mereka sering bahasakan
orang muda itu dengan sebutan Bie-sutee, tetapi aku
tidak tahu siapa nama aslinya.”
„Siapa? Bie-sutee? Apakah antaranya ada juga orang
yang mengatakan Sin-tui Bie?” menanya Poan Thian
dengan rupa bernapsu.
„Ya, benar,” kata pelayan itu sambil tertawa. „Apakah
dia itu bukan sahabat tuan juga?”
„Benar,” kata Lie Poan Thian yang juga berpura-pura
tertawa, walaupun hatinya panas bagaikan dibakar oleh
api yang tidak kelihatan. „Apakah ia tidak mengatakan
bilamana ia dapat kembali lagi ke sini?”
„Tidak. Tetapi mungkin juga ia bisa kembali dalam
tempo tidak berapa lama lagi,” sahut si pelayan.
„Kalau begitu,” kata Lie Poan Thian akhirnya,
„apakah boleh kau tolong sampaikan kepadanya, bahwa
427
aku akan kembali lagi ke sini pada hari esok selewatnya
lohor? Katakanlah padanya, bahwa aku ada omongan
sangat penting yang hendak disampaikan kepadanya.”
Si pelayan berjanji akan berbuat begitu.
Dalam pada itu, Lie Poan Thian yang melihat ada
suatu jalan untuk mencari tahu bagaimana raut mukanya
Sin-tui Bie itu dengan pertolongan si pelayan ini, lalu
keluarkan sedikit uang yang segera diberikan pada si
pelayan tersebut sebagai „persekot” atas pertolongannya
yang akan datang itu.
4.27. Pelayan Penipu Buka Kartu
„Jangan salah,” ia memesan lebih jauh. „Katakanlah
bahwa aku sangat perlu akan dapat menjumpainya di
sini.”
„Ya, baiklah, tuan,” kata si pelayan dengan wajah
berseri-seri.
Tatkala itu karena sang waktu sudah tidak
mengizinkan pula akan ia kembali ke Ca-kee-chung,
maka apa boleh buat Poan Thian lalu pulang ke tempat
penginapannya, sambil di dalam hatinya berjanji akan
menempur Ca Tiauw Cin dan Sin-tui Bie dengan
sekaligus di hari esok juga.
Hanya hal apa yang telah membikin ia agak raguragu
adalah ini:
Apakah di dalam dunia ini bisa ada dua orang yang
mempunyai gelaran dan she yang bersamaan seperti
Sin-tui Bie itu, dengan Sin-tui Bie alias Tie Hwie Taysu
dari kelenteng Ceng-hie-koan itu?
Kalau kejadian itu memang sesungguhnya ada suatu
428
hal yang kebetulan, memanglah kedua-duanya orang
itupun tidak bisa dipersalahkan. Tetapi jikalau Sin-tui Bie
yang lebih muda itu ternyata ada Sin-tui Bie tetiron, ia
benar-benar ingin bertanya: Perlu apakah ia memakai
nama dan/atau gelaran orang lain, sedangkan orang
yang menjadi pemilik gelaran aslinya masih segar bugar
di kolong langit ini?
Tetapi semua ini sukar dijawab atau dijelaskan pada
sebelum urusan ini dapat dibikin terang. hingga Poan
Thian pikir lebih baik tunggu apa yang akan terjadi, dari
pada memutar otak buat menerka dari di muka hal apa
yang akan terjadi berikutnya.
Demikianlah ia menuju ke tempat penginapannya
dengan tidak banyak memikirkan pula segala hal yang
tidak-tidak.
Tidak kira selagi enak berjalan, mendadak di suatu
tempat yang terpisah kira-kira beberapa puluh tindak
jauhnya dari tepi jalan, ia melihat dua orang yang sedang
bertempur dengan amat hebatnya.
Tetapi karena keadaan di situ amat gelap, maka
Poan Thian tidak dapat mengenali apakah kedua pihak
yang sedang bertempur itu ada orang-orang muda atau
orang-orang yang usianya sudah lanjut. Karena di
kalangan orang-orang yang paham ilmu silat, perbedaan
usia bukan menjadi ukuran bagi gesit/ayalnya atau
tangkas/lemahnya seseorang. Maka itu, tidak mudah
akan mengenali usia seseorang selagi orang-orang itu
bertempur di tempat gelap.
Maka Poan Thian yang juga tidak tahu yang mana
pihak lawan atau kawan, sudah tentu saja tidak tahu
mesti berbuat bagaimana di saat itu.
Tetapi ketika pikiran tentang persaudaraan teringat di
429
dalam hatinya, buru-buru ia berlompat ke dalam
kalangan pertempuran sambil berseru: „Ji-wie Ho-han,
haraplah supaya kamu berhenti dahulu dan janganlah
bertempur satu sama lain jikalau masih ada jalan untuk
saling mengalah!”
Tetapi sebegitu lekas pemuda kita terdengar berseru,
salah seorang yang sedang bertempur itu lantas
menyahuti: „Lie-toako! Jangan kasih lari manusia yang
pandai mengacau ini?”
Poan Thian jadi terperanjat tempo mendengar ada
orang yang mengenali dirinya.
Tetapi pada sebelum ia membuka mulut akan
menanyakan, mendadak orang itu terdengar berteriak
dan segera roboh oleh karena kena terpukul atau dilukai
oleh pihak musuhnya.
Sementara Poan Thian yang menyangka bahwa
orang yang memanggil itu adalah kawannya sendiri,
buru-buru ia berlompat ke tengah kalangan pertempuran
untuk mencegat orang yang telah merobohkan orang
yang pertama memanggil dan rupanya kenal pada dirinya
itu.
„Tunggu dahulu, sahabat!” Poan Thian berseru
sambil berkelit dari pukulan yang dijujukan orang itu
kepadanya. „Aku sungguh ingin tahu apa yang telah
menjadi sebab-musabab dari pertempuran ini.”
Dalam pada itu Poan Thian yang memang bukan
bermaksud akan bertempur dengan orang yang ia tidak
kenal itu, lalu berkelit kian-kemari dengan sama sekali
tidak mencoba buat membalas.
Dan tatkala orang itu melihat sesuatu pukulannya
telah jatuh di tempat kosong, dengan lantas ia ketahui,
430
bahwa Lie Poan Thian ini bukan tandingan yang terlalu
empuk, hingga setelah beberapa tendangan yang
dipergunakannyapun tidak ada satu yang mengenai
dirinya sang lawan, maka orang itupun lalu berlompat
keluar kalangan pertempuran dan menghilang di antara
kegelapan.
Poan Thian yang merasa lebih perlu menolong orang
yang telah dirobohkan tadi, tentu saja tidak ada pikiran
untuk mengejar pada sang lawan yang kabur itu. Tidak
tahunya, ketika ia menghampiri dan mengangkat bangun
orang yang jatuh tadi, mendadak ia jadi kaget dan
menyebut: „Allah, cara bagaimanakah kau bisa berada di
sini? Dan siapakah orang yang kau tempur tadi? Lauw
Hiantee. lekaslah kau kasih tahu padaku, dan karena apa
kau katakan orang itu pandai mengacau?”
Orang yang roboh itu ternyata bukan lain dari pada
Lauw Thay adanya, yang sebagaimana para pembaca
tentu masih ingat, telah diperintahkan oleh Cin Kong
Houw untuk membuntuti Lie Poan Thian yang hendak
menyatroni Ca Tiauw Cin di desa Ca-kee-chung.
Maka setelah Poan Thian bawa ia kembali ke tempat
penginapannya dan ditanyakan sebab-musabab
mengapa ia sampai bertempur dengan orang tadi, Lauw
Thay lalu tuturkan pengalamannya seperti berikut:
Dengan menyampingkan segala hal yang
bersangkut-paut dengan penguntitan yang ia telah
lakukan atas perintahnya Cin Kong Houw. Lauw Thay
telah menuturkan pada pemuda kita, bagaimana ia telah
bertemu dengan seorang yang usianya sudah agak lanjut
di sebuah kedai minuman di luar desa Ca-kee-chung.
„Orang tua ini karena oleh kawan-kawannya disebut
Sin-tui Bie Loya,” kata Lauw Thay, „maka aku jadi ingat
431
Sin-tui Bie yang pada beberapa waktu pernah
menantang kepadamu. Hanya aku belum tahu, apakah
dia ini Sin-tui Bie yang dimaksudkan itu atau bukan.
Maka buat mencari keterangan lebih jauh tentang urusan
ini, lalu aku berpura-pura belajar kenal dengannya, dan
dalam tanya-jawab antara kita berdua, barulah aku
ketahui, bahwa ia itu bernama Bie Tiong Hong, dan juga
benar dia bergelar Sin-tui. Lebih jauh karena nama dan
gelaran itu ternyata terkenal juga di antara golongan
hitam dan putih di kalangan Kang-ouw, maka aku
berpendapat bahwa orang tua ini tentulah bukan orang
sembarangan.
Selanjutnya untuk coba mencari keterangan sebab
apa ia begitu memusuhi padamu, sedangkan kau sendiri
pernah mengatakan bahwa kau tidak pernah kenal siapa
sebenarnya Sin-tui Bie itu, maka aku telah mengundang
dia untuk duduk makan minum bersama-sama, dengan
semua rekeningnya dibayar olehku sendiri.
Orang tua itu tidak menolak dan dahar segala
hidangan yang aku pesan dengan tidak mengunjuk rupa
see-jie lagi. Hal mana, dengan secara kebetulan, telah
membikin aku mendapat suatu jalan untuk meloloh
padanya sehingga sinting, hingga dengan jalan begitu,
aku bisa menanyakan dengan cara yang lebih leluasa,
dari pada jikalau pikirannya dalam keadaan sadar.
Begitulah tatkala ia telah kelihatan mulai sinting, aku
lalu pancing padanya dengan sengaja mengatakan,
bahwa jumlahnya orang-orang gagah di kalangan Kangouw
lebih banyak di Utara dari pada di Selatan. Demikian
juga kaum mudanya lebih maju dari pemuda dan pemudi
kita di Selatan.
Tetapi waktu orang tua she Bie itu mendengar
omonganku ini, dengan tiba-tiba ia menggebrakkan
432
sumpitnya ke atas meja sambil membentak: „Kau
bohong! Kau ini orang dari mana?”
„Aku ini adalah seorang dari Selatan,” jawabku.
„Hm!” orang tua itu mengeluarkan suara jengekan
dari hidung. „Jikalau kau sendiri memangnya berasal dari
Selatan, mengapakah kau memuji-muji pihak lain untuk
merendahkan pihak sendiri? Omonganmu ini betul tak
dapat kuterima dengan begitu saja! Cobalah terangkan
lebih jauh mengapa kau berpendapat bahwa kita orang
Selatan lebih rendah derajatnya dari pada orang Utara?”
„Aku bukan bermaksud hendak merendahkan pihak
sendiri untuk meninggikan pihak orang lain,” kataku.
„tetapi kenyataan yang sesungguhnyalah yang begitu
keadaannya.....”
„Cobalah kau berikan aku beberapa contoh!” kata
orang itu dengan rupa penasaran.
„Tentang hal-hal yang lain boleh tak usah kita
ceritakan,” kataku, „sedangkan seorang gagah yang
tingkatnya berimbang dengan Sin-tui Lie Poan Thian saja
kita di Selatan belum mampu keluarkan barang
seorang......”
„Apa? Kita di Selatan tidak ada seorang pun yang
mampu mengalahkan Sin-tui Lie Poan Thian?” teriak
orang tua itu sambil tertawa menjindir. „Kau ini masih
terlalu muda buat mengetahui tentang kelihayannya jagojago
tua di Selatan! Apakah kau — sebagai seorang
Selatan — belum pernah mendengar tentang adanya
SIN-TUI BIE di antara kita kaum Selatan?”
Aku lalu menggelengkan kepalaku.
„Ah,! — Goblok benar kau ini!” katanya dengan sikap
yang tidak merasa see-jie lagi. „Buat apa kau punya
433
telinga. jikalau itu bukannya dipergunakan untuk
mendengar. Dan buat apa kau punya mata jikalau itu
bukannya dipergunakan untuk melihat?
„Perhatikanlah olehmu orang muda, kita orang
Selatan bukannya semacam penjual obat keliling yang
suka menggembar-gemborkan kepandaian sendiri di
muka khalayak ramai. Orang-orang pandai yang sepuluh
kali lebih jempol dari pada Sin-tui Lie Poan Thian masih
tak kurang jumlahnya di antara kita orang-orang Selatan.
Hanya bedanya kita orang-orang Selatan tidak kemaruk
dengan segala nama kosong, suka menonjol-nonjolkan
gelaran yang boleh didapat dari tepi jalanan seperti Lie
Poan Thian itu, kau mengerti?”
„Maafkanlah padaku, Bie Lo-suhu,” demikianlah aku
telah memulai siasatku untuk memancing orang tua ini.
„Kita dan Lie Poan Thian belum pernah terbit
permusuhan apa-apa, tetapi — aku sungguh tidak bisa
mengerti — mengapakah Lo-suhu kelihatan begitu
penasaran dengan dia itu?”
„Aku dengan Lie Poan Thian.” menerangkan orang
tua she Bie itu, „memang benar belum pernah saling
mengenal, tetapi dia itu seakan-akan musuhku juga, kau
tahu? Dia telah membunuh muridku, menghinakan
padaku yang menjadi gurunya. Oleh sebab itu, cara
bagaimanakah bolehnya kau mempersalahkan aku
penasaran dan memusuhi pada Lie Poan Thian dengan
tidak ketahuan apa sebabnya?'
“Oh......“ kataku, „yang sekarang baru mengetahui
jelas apa sebabnya dia begitu penasaran dengan Lietoako.”
Lie Poan Thian mendengari terus penuturannya Lauw
Thay, dengan tidak mencoba akan memotong-motong
434
pembicaraan orang.
„Ya, ya,” katanya. .,Setelah itu. bagaimana?”
„Murid orang tua ini,” kata Lauw Thay, „ternyata
bukan lain dari pada Liu Tay Hong, yang aku juga —
sebagaimana Toako tentu telah ketahui — memang
kenal baik, karena siapa kita berdua saudara terpaksa
menyingkir ke kota Kim-leng dan mengikut pada Cintoako
sehingga sekarang ini.
„Barusan karena ia mengatakan yang ia telah ketahui
bahwa kau ada di sini dan hendak melakukan
pembunuhan gelap atas dirimu, maka aku lantas kuntit
padanya sampai di tepi jalan tadi, dimana orang tua she
Bie itu yang rupanya telah mengetahui bahwa aku
seakan-akan hendak merintangi perbuatannya, akhirnya
ia menjadi amat gusar dan lalu dalam keadaan mabuk
menerjang padaku sehingga terjadi pertempuran
sebagaimana apa yang telah kau saksikan tadi.
Dalam pertempuran itu, aku harus akui bahwa ilmu
tendangan orang tua itu memang amat lihay. dan bisa
jadi aku sudah mati oleh tendangan itu. jikalau Toako
tidak keburu muncul dan menolongku.”
„Tetapi, mengapakah barusan kau mengatakan
bahwa dia itu hendak mengacau?” menegasi pemuda
kita.
„Sebab orang tua itu telah mengaku — dalam
mabuknya — bahwa ia pernah mengirimkan surat budek
dan mengganggu padamu di sebuah kelenteng rusak,”
kata Lauw Thay. „Malahan selanjutnya ia kata, iapun
akan mengganggu terus kepadamu, sehingga kau jadi
kewalahan sendiri. Itulah sebabnya mengapa aku
katakan dia hendak mengacau, dia hendak melakukan
perang dingin pada sebelum mencelakai pada dirimu.”
435
„Oh, oh, begitu?” kata Lie Poan Thian yang sekarang
baru mengerti, apa sebab Sin-tui Bie yang sama sekali
belum ia kenal itu telah mengunjuk sikap yang begitu
bermusuhan terhadap pada dirinya sendiri.
Kemudian Poan Thian menanyakan tentang roman
dan perawakan orang tua she Bie itu, yang tatkala
diterangkan dengan secara teliti oleh Lauw Thay, ia jadi
teringat pada Sin-tui Bie alias Tie Hwie Taysu yang
menjadi ketua dari kelenteng Ceng-hie-koan di luar kota
Kim-leng
„Keterangan Lauw Thay ini sungguh cocok benar
dengan si toosu tua itu,” pikirnya. Kemudian ia
menggerutu di dalam hatinya:. „Kurang ajar! Sungguh
tidak keliru bunji pepatah itu yang mengatakan, bahwa:
air yang dalam, mudah diukur, tetapi hati manusia
sungguh amat sukar untuk diukurnya. Aku sungguh tidak
bisa mengerti, mengapakah toosu itu lebih suka
„berperang dingin” dari pada bertempur padaku dengan
secara terbuka, hingga dengan begitu, tidak perlu lagi
kita saling mendendam satu sama lain dengan masingmasing
saling memandang dari antara kabut keraguraguan
yang tidak akan berakhir ini?
Ah! Jikalau orang she Ca ini telah berhasil
kurobohkan, kukira sebaiknya akan segera kembali ke
kota Kim-leng, buat minta bertempur dengan secara
berterang pada toosu itu. Karena selain aku boleh tidak
usah diganggu pikiranku karena urusan ini, peristiwa
inipun bisa lantas diakhiri setelah ada salah seorang
yang telah mengalami kekalahan dalam pertempuran
yang menentukan ini. Kalau tidak aku, tentulah dia. Habis
perkara.”
Kemudian suatu pikiran lain telah muncul di dalam
hati pemuda itu.
436
„Apabila Sin-tui Bie telah jelas bagaimana romannya,”
pikirnya, „siapakah itu orang muda yang dikatakan belum
cukup usia duapuluh, memakai baju biru dan menyoren
pedang yang telah menyampaikan surat pada pemilik
kedai dahulu dan pelayan kedai yang tadi itu? Inilah
ternyata ada sebuah teka-teki yang harus dipecahkan
dan tentu sedikit banyak ada juga hubungannya dengan
peristiwa Sin-tui Bie ini.”
Begitulah, sambil berpikir, Poan Thian lalu memeriksa
luka bekas tendangan yang tampak di badannya Lauw
Thay.
„Syukur juga tendangan ini telah dilakukan dengan
menggunakan telapak kaki,” kata ia. „Jikalau tendangan
ini dilakukan dengan ujung sepatunya Sin-tui Bie, kau
bisa tewas, atau paling mujur. kau akan menderita luka
berat. Karena dari bagian bajumu yang robek ini, aku
bisa lantas ketahui dengan sejelas-jelasnya, bahwa Sintui
Bie itu mengenakan sepatu yang pada bagian
ujungnya dipasangi sebilah pisau kecil yang runcing!”
Lauw Thay yang mendapat keterangan begitu, diamdiam
jadi bersyukur di dalam hati dan menyebut: „O Mi
To Hud!” walaupun ia sendiri tidak menganut agama
Budha.
“Lukamu ini tidak berbahaya.” kata Lie Poan Thian
pula. „Aku di sini ada sedia Yo-wan dan Ko-yo yang
istimewa buat menyembuhkan luka-luka seperti ini.”
Dan sesudah berkata demikian, Poan Thian lalu buka
pauw-hoknya dan mencambil beberapa butir Yo-wan dan
Ko-yo, obat-obat mana ia lantas berikan pada Lauw Thay
untuk dimakan dan dibalurkan pada bagian tubuhnya
yang telah tertendang oleh Sin-tui Bie tadi.
„Apabila di hari esok kau tersadar dari tidurmu,” ia
437
menambahkan, „niscaya lukamu sudah sembuh
sebagian dan kau boleh bergerak pula sebagaimana
sediakala.”
Lauw Thay mengucapkan banyak terima kasih atas
kebaikan sang kawan itu. Kemudian ia dipersilahkan naik
ke atas pembaringan untuk sama-sama beristirahat.
Tetapi pada malam itu Poan Thian yang diganggu
oleh pikiran-pikiran yang bersangkut-paut dengan
peristiwa-peristiwa yang telah ditimbulkan oleh Sin-tui Bie
itu, sudah barang tentu tak dapat tidur dengan nyenyak,
malah waktu ia berbangkit dari atas pembaringan sambil
menghela napas dan berkata: „Oh, oh, apakah
barangkali si pelayan itu telah menjustakan kepadaku.
sehingga duduknya urusan ini jadi terputar balik untuk
membingungkan pikiranku? Atau, boleh jadi juga,
pelayan itu sendiri memang bukan lain dari pada kambrat
si tua bangka itu, hingga mereka kedua-duanya seakanakan
hendak mempersukar kepadaku?”
„Kukira jikalau aku coba gertak pelayan itu,” pikirnya
lebih jauh, „niscaya aku bisa mendapat keterangan lain
yang akan dapat melancarkan jalannya penyelidikanpenyelidikanku
ini....... Ya, ya, inilah ada suatu tindakan
baru yang aku perlu lakukan pada malam ini juga.”
Maka setelah ia menukar pakaian untuk berjalan di
waktu malam, Poan Thian lalu keluar dari dalam
kamarnya dengan melompati jendela, yang kemudian ia
baru tinggalkan setelah daun jendelanya dirapatkan dari
sebelah luar.
Dari situ ia segera menuju ke kedai minuman dimana
ia telah menerima surat tantangan Sin-tui Bie yang telah
disampaikan dengan perantaraan si pelayan yang pada
umumnya dikenal orang dengan nama Mo Jie.
438
Tetapi pelayan itu ternyata tidak kelihatan mata
hidungnya.
Sambil menantikan sampai Mo Jie muncul, Poan
Thian lalu memesan minuman pada seorang pelayan lain
yang kebetulan datang menghampiri kepadanya.
„Bawakan aku arak hangat dan dua kati daging sapi
rebus,” kata ia.
Si pelayan mengangguk sambil mengatakan: „Ya, ya,
baiklah.”
Tidak antara lama ketika ia kembali dengan
membawa arak dan daging yang dipesan, Poan Thian
lalu menanyakan: „Malam ini aku tidak lihat si Mo Jie.
Kemanakah dia itu?”
Si pelayan kelihatan tersenyum sambil berkata: „Hari
ini ia justru minta perlop dari induk semang kita, karena
salah seorang keluarganya, katanya, hendak
menikahkan seorang anak perempuannya.”
Poan Thian yang mendengar penyahutan itu, di
dalam hatinya tidak mau percaya omongan pelayan itu,
tetapi dilahir ia kelihatan tinggal tenang dan tidak
mengunjuk sikap apa-apa yang dapat menimbulkan rasa
curiga orang.
Si Mo Jie rupanya telah mendapat firasat, bahwa aku
akan kembali pula ke sini dalam tempo yang sekonyongkonyong
ini,” pikir pemuda kita.
Tatkala bermakan minum di situ beberapa lamanya,
mendadak ia berbangkit dari kursinya, membayar
harganya makanan dan minuman tadi dan terus berjalan
keluar dari kedai itu dengan tidak banyak bicara lagi.
Tetapi bukannya balik kembali ke tempat
penginapannya, sebaliknya ia berdiri di tempat gelap
439
sambil memperhatikan dengan teliti sekali ke arah kedai
itu.
Lama-lama ia melihat juga si Mo Jie keluar, sambil
tertawa-tawa dengan pelayan yang telah melayaninya
tadi.
„Kurang ajar benar si Mo Jie ini,” menggerutu
pemuda itu.
Kemudian dengan tindakan dua langkah yang
dipercepat sehingga menjadi selangkah, Poan Thian
cepat-cepat mendekati ke samping kedai itu sambil
memasang telinga mendengari sesuatu patah perkataan
yang diucapkan oleh si Mo Jie kepada kawannya itu.
„Tetamu itu sesungguhnya amat menakuti,” kata si
Mo Jie. “Untung juga kau dapat mencari akal yang cukup
dipercaya, kalau tidak, niscaya ia tidak mau mengerti,
bagaimana aku dalam tempo sekejapan saja bisa berlalu
dari sini. Dengan begitu, selain aku harus mengucapkan
terima kasih atas pertolonganmu itu, akupun tidak lupa,
semenjak hari ini, memberikan kau gelaran Say-cu-kat,
atau Kong Beng kedua!”
„Say-cu-kat” kelihatan jadi amat bangga dipuji-puji
demikian.
„Itu — boleh dikatakan — masih belum semua
kukeluarkan segala muslihatku,” katanya sambil tertawa
terbahak-bahak. „Jikalau nanti sudah tiba pada
waktunya, aku bisa berbuat apa-apa yang sama sekali
tidak dapat diduga orang.”
Mo Jie turut tertawa.
Mula-mula iapun kelihatan girang, tetapi semakin
lama wajahnya jadi semakin kecut. Karena ia yang berdiri
dengan menghadapi keluar kedai, tentu saja dapat
440
melihat apa-apa terlebih dahulu dari pada „Say-cu-kat”
yang berdiri dengan membelakangi pintu kedai sambil
berbicara dengan kaki tangannya digerak-gerakkan
seakan-akan orang yang sedang menari.
„Ah...... itu..... itu...... ah......” si Mo Jie jadi kemekmek.
„Say-cu-kat” tampak keheran-heranan.
„Eh, eh, kenapa?” tanyanya, tatkala menyaksikan
perubahan sikap dan wajah si Mo Jie yang sangat
mendadak itu.
„Itu...... itu......” ia berkata dengan suara berbisik dan
terputus-putus.
„Say-cu-kat” sekarang mengerti apa maksudnya sang
kawan itu. Dan tatkala ia coba menoleh ke belakang, ia
sendiripun mendadak seperti juga orang yang dipagut
ular.
„Ah.....!” katanya dengan mata mendelong dan badan
menggigil seolah-olah dihinggapi penyakit demam.
Karena di luar pengetahuan mereka berdua, Poan
Thian telah tampak berdiri di hadapan mereka dengan
secara tiba-tiba. Ia tidak mengucap barang sepatah
katapun, tetapi itu sudah cukup akan membikin darah
kedua pelayan kedai itu dirasakan beku!
Kemudian pemuda itu lalu maju menghampiri dengan
tindakan agung, sehingga mereka berdua segera
menjatuhkan diri berlutut sambil meratap: “Ho-han!
ampunilah kami berdua yang telah menjustakanmu tadi!”
„Aku tidak minta dan tidak perlu dengan pernyataan
ampunmu itu,” kata Lie Poan Thian dengan suara bengis.
„Aku hanya perlu meminta keteranganmu dengan
sesungguh-sungguhnya. Siapakah itu Sin-tui Bie?”
441
„Itu hamba tidak tahu,” sahut Mo Jie dengan badan
menggigil.
„Tetapi apa sebab kau ketahui bahwa ia itu belum
berusia duapuluh, memakai baju biru dan menyoren
pedang!”
„Itulah...... itulah hanya suatu lukisan..... khayal, yang
aku telah diperintah akan menceriterakan kepadamu oleh
orang tua yang memberikan surat itu,” kata Mo Jie pula.
„Jadi dengan begitu,” kata pemuda itu. „orang muda
yang kau katakan itu sebenarnya tidak ada orangnya
sama sekali?”
„Ya, benar,” kata Mo Jie. „Karena aku diancam akan
dicelakai apabila tidak mau menerangkan begitu, maka
apa boleh buat, aku telah menjustakanmu.”
„Apakah menurut keteranganmu, orang tua itu benar
kau kenal dan sering datang ke sini?”
„Tidak. Tetapi ia telah menyuruh aku akan mengaku
begitu di hadapanmu, apabila kau menanyakan terlebih
teliti,” sahut Mo Jie.
„Baiklah,” kata Lie Poan Thian. “Apabila dikemudian
hari aku ketahui, bahwa semua omonganmu ini ternyata
juga justa adanya, aku akan balik kembali ke sini untuk
membikin perhitungan denganmu.
„Tetapi jikalau kau bicara benar sehingga segala
urusan gelap ini dapat dibikin terang, akan kuberikan kau
hadiah besar atas pengunjukan-pengunjukanmu ini. Nah,
ini sedikit uang, kamu boleh terima sebagai pembayaran
untuk sedikit keteranganmu tadi.”
442
4.28. Mayat Memakai Pakaian Teman
Walaupun Mo Jie dan kawannya berpura-pura tidak
mau terima pemberian uang itu, tetapi Poan Thian telah
lemparkan juga uang itu ke atas meja dan segera berlalu
dengan tidak banyak bicara lagi.
Dari situ Poan Thian buru-buru kembali ke tempat
penginapannya, akan memberitahukan tentang hasil dari
penyelidikannya ini pada Lauw Thay.
Tetapi alangkah terperanjatnya hati pemuda kita ini,
ketika ia sampai ke tempat penginapannya, ia menampak
pintu jendela kamarnya terpentang lebar, sedangkan di
atas pembaringan yang kelambunya tersingkap
sebagian, tidak tampak mata hidung atau bayanganbayangannya
sang kawan itu!
Buru-buru ia berlompat masuk ke dalam kamar dan
memeriksa segala apa yang berada di dalamnya, tetapi
segala apa tinggal tetap tidak terganggu, kecuali Lauw
Thay saja yang telah menghilang entah kemana
perginya!
Paling belakang ketika ia melihat puntung hio yang
apinya sudah padam terletak di halaman kamar di bawah
jendela, Poan Thian jadi membanting kaki sambil
berkata: „Celaka! Lauw Thay mungkin telah diculik orang!
Rupanya ia telah dibikin tidak berdaya oleh asap Hun-hio
ini! — Ah! Jikalau penculiknya itu Sin-tui Bie, kukuatir
jiwanya akan dicelakai oleh orang tua itu! Ia tentu marah
bukan main karena telah diloloh oleh Lauw Thay
sehingga mabuk dan membuka rahasia hati sendiri.
Maka setelah mengetahui yang Lauw Thay ini ada
seorang yang berpihak kepadaku yang dianggapnya
sebagai musuh besarnya, apakah jiwanya tidak bisa
diumpamakan dengan sebutir telur di ujung tanduk?”
443
Poan Thian belum sempat berpikir terus, tatkala di
luar kamar ia melihat bayangan manusia yang berkelebat
dan terus menyelinap di bawah jendela. Tetapi pemuda
kita yang selalu bisa berpikir cepat di waktu kesusu,
buru-buru padamkan api lilin di dalam kamar, kemudian
ia sembat sebuah kursi yang lalu dilontarkan keluar
jendela sambil membentak: “Jangan lari! Aku mendatangi
untuk membikin perhitungan atas perbuatanmu ini!”
Tetapi, meskipun ia membentak demikian, Poan Thian
tinggal tetap tidak bergerak atau mengunjuk aksi apaapa.
Tahu-tahu ketika kursi itu melayang melewati pintu
jendela, mendadak kelihatan sinar golok yang berkelebat
dan membacok pada kursi itu dengan dibarengi suara
seorang yang menandakan rasa kecewanya atau kaget:
„Aya!”
Poan Thian yang menyaksikan kejadian itu, diamdiam
jadi menyebut: „O Mi To Hud!” di dalam hatinya.
Karena jikalau ia berlaku ceroboh buat lantas melompat
keluar, niscaya dirinya sendirilah yang akan menjadi
korban bacokan yang orang telah lakukan terhadap pada
kursi itu!
Sementara orang yang membacok tadi karena
terburu napsu dan salah mata, buru-buru berlompat ke
tengah pekarangan rumah penginapan itu sambil
menantang pada pemuda itu, katanya: „Lie Poan Thian!
Jikalau kau sesungguhnya seorang laki-laki sejati,
marilah kita bertempur di sini sehingga ada salah
seorang yang terbaring menjadi mayat!”
Poan Thian yang menyangka bahwa orang itu tentu
bukan lain dari pada Sin-tui Bie, lalu cabut Joan-pian
yang hampir selalu tidak terpisah dari pinggangnya,
kemudian sambil membentak: „Aku mendatangi!” ia
444
segera melompat keluar dengan menggunakan siasat
Hie-ciok-chut-lim, atau burung kucica keluar rimba.
Orang itu tidak menunggu lagi sampai Poan Thian
keburu menginjak tanah, hanyalah ia lantas maju
menerjang sambil membacok ke arah kaki pemuda kita,
hingga Poan Thian yang memang telah menduga bahwa
pihak musuhnya bakal melakukan penyerangan kilat
begitu rupa, sudah tentu saja lantas menangkis dengan
Joan-pian di tangannya. Dengan begitu, selanjutnya
kedua orang itu jadi bertempur dengan sengit dan tidak
banyak bicara pula.
Pihak musuh yang memang telah beraksi dengan
sudah dipikir lebih dahulu, keruan saja telah melakukan
serangan-serangannya dengan gencar dan hebat sekali,
tetapi Poan Thian yang tidak mengetahui siapa
sebenarnya musuh itu, sebaliknya tinggal berlaku tenang
dan lebih banyak bersikap menjaga dari pada balas
melakukan serangan-serangan sebagaimana mestinya
seorang lawan yang hendak merobohkan pihak
musuhnya selekas mungkin.
Maka ketika pertempuran telah berlangsung sehingga
beberapa belas jurus lamanya, mendadak Poan Thian
telah berlompat keluar dari kalangan pertempuran sambil
berseru: „Sahabat! Tahan dahulu! Aku ingin tahu kau ini
siapa, dan buat maksud apa kau memusuhi aku begini
rupa? Aku bukan takut buat bertempur, tetapi aku harus
tahu dahulu, buat maksud apa sehingga pertempuran ini
dipandang perlu!”
„Aku ini bukan lain dari pada Hok Cit!” kata orang itu,
„yang dahulu pernah bertemu denganmu di pegunungan
Jie-sian-san. Kau telah bunuh pemimpinku Wie Hui dan
membunuh juga saudara seperguruanku Liu Tay Hong,
kemudian kau telah menghinakan juga guru kami Sin-siu445
tay-seng Bie Tiong Liong. Oleh sebab itu, apakah kau
masih juga menganggap bahwa pertempuran ini tidak
keruan juntrungannya?”
Poan Thian yang mendengar omongan itu, sudah
tentu saja jadi heran dan balik menanyakan: „Siapakah
itu Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong? Aku rasanya baru
pernah kali ini mendengar nama itu. Cara bagaimanakah
kau mengatakan aku menghinakan ia orang tua?”
„Kau tidak perlu banyak bacot!” membentak Hok Cit
pula. „Di kalangan kita orang yang hidup di kalangan
Kang-ouw, namamu sudah cukup terkenal sebagai
seorang yang suka mengacau jalan mata pencaharian
kita. Oleh sebab itu, memanglah sudah selayaknya
apabila kau dimusuhi orang, antara mana oleh sisa
pendekar dari pegunungan Jie-sian-san yang telah kau
obrak-abrik dengan secara keji. Dan setelah itu, kau telah
melindungi juga Lauw Thay dan Lauw An yang telah
berkhianat dari kita. Apakah itu semua masih belum
cukup untuk membuktikan sikapmu yang sengaja
mencari setori terhadap pada kita orang-orang dari
golongan Rimba Hijau?”
Lie Poan Thian jadi tertawa menyindir ketika
mendengar omongan itu.
„Oh, oh, kiranya kau ini ada sisa berandal dari
pegunungan Jie-sian-san, yang sekarang hendak
menuntut balas kepadaku?” katanya. „Kalau begitu
baiklah! Sekarang sudah terang apa maksudnya kau
mencari padaku. Ayoh! Marilah kau boleh lanjutkan pula
pertempuran ini, tetapi kau jangan menyesal, apabila
Joan-pian ku ini berlaku kejam. Ayoh, maju!”
Hok Cit tidak menunggu lagi sampai Poan Thian
menantang buat kedua kalinya, hanya dengan sengit ia
446
lantas menerjang dengan menggunakan siasat Pek-coatouw-
sin, atau ular putih memuntahkan bisa. Poan Thian
lekas mengegos buat kasih lewat ujung golok yang
menusuk ulu hatinya, kemudian ia putar Joan-pian nya
dan bikin golok itu terlepas dari genggamannya Hok Cit,
hingga dengan kaget bekas berandal dari Jie-sian-san itu
lalu melompat dan menyambit dengan hui-piauw
sehingga berturut-turut lima kali, tetapi satu persatu
senjata rahasia itu telah dibikin terpental oleh Joan-pian
yang berputar-putar bagaikan baling-baling cepatnya.
Maka selain dari pada berkelebatnya senjata itu yang
dibarengi dengan suara yang menderu-deru, Hok Cit
hampir tak dapat melihat tubuh Lie Poan Thian yang
menjadi lawannya itu.
Tatkala akhirnya ia insyaf bahwa Lie Poan Thian itu
sesungguhnya bukan lawannya yang setimpal, bekas
berandal ini segera berlompat keluar dari kalangan
pertempuran sambil berseru: “Tunggu! Lagi tiga tahun
kita akan bertemu pula. Selamat tinggal!”
Sambil berseru demikian, Hok Cit lalu menghilang
dengan jalan melompat ke atas wuwungan beberapa
buah rumah yang berdiri berbaris dengan rumah
penginapan dimana Poan Thian menumpang. Dan
tatkala orang-orang di dalam rumah penginapan itu pada
tersadar dari tidur yang nyenyak dan keluar untuk melihat
peristiwa apa yang telah terjadi pertempuran itupun telah
berakhir dengan Hok Cit telah tidak kelihatan pula
bayang-bayangannya.
Selanjutnya, buat mengelakkan pertanyaanpertanyaan
orang banyak yang pada bertanya, hal apa
yang telah terjadi tadi, Poan Thian lalu berjusta dengan
mengatakan, bahwa barusan kamarnya telah kemasukan
seorang pencuri, yang segera lari sipat kuping ketika ia
447
tersadar dan mengejarnya keluar pekarangan rumah
penginapan itu. Syukur juga keterangan ini telah
membikin orang banyak puas, maka urusanpun bisa
berakhir hingga sekian saja.
Kecuali bagi diri Poan Thian sendiri, yang meski
kemudian telah kembali ke dalam kamarnya, pikirannya
masih tetap kuatir atas keselamatannya Lauw Thay yang
ia percaya telah diculik oleh Sin-tui Bie, yang tentunya
merasa sakit hati karena telah dipedayakan oleh Lauw
Thay sehingga ia membuka rahasia sendiri di waktu
dalam keadaan mabuk.
Maka disamping hal-hal yang telah lampau itu,
sekarang timbul pula seorang bernama Sin-siu-tay-seng
Bie Tiong Liong yang telah dikatakan Hok Cit tadi. Oleh
karena menilik bahwa orang itupun memakai nama yang
agak seimbang dengan nama Bie Tiong Hong, diamdiam
ia jadi menyangka. Kalau-kalau orang itu tentu ada
juga sangkut pautnya dengan Sin-tui Bie, hanya hal apa
yang telah membuatnya ragu-ragu, adalah yang mana
satu antara kedua orang itu — Sin-tui Bie atau Sin-siutay-
seng Bie Tiong Liong — yang sebenarnya menjadi
guru Liu Tay Hong?
„Apabila kedua-duanya orang itu ada sangkutpautnya
dari satu dengan yang lainnya?” pikirnya.
„Apakah itu tidak berarti bahwa dengan sekaligus aku
telah mendapat musuh-musuh yang aku sama sekali
tidak kenal atau tahu sebab-musabab dari pada
permusuhan itu? Inilah sesungguhnya ada suatu perkara
penasaran yang aku kepingin tahu bagaimana akan
kesudahannya nanti!”
Akan menuruti tujuan hatinya, sebenarnya Poan
Thian hendak kembali dahulu ke kota Kim-leng, buat
menanyakan dengan secara terbuka pada Sin-tui Bie
448
alias Tie Hwie Taysu di kelenteng Ceng-hie-koan,
tentang sikapnya yang sangat tidak memandang
persaudaraan di kalangan Kang-ouw. Menculik Lauw
Thay dan melakukan perang dingin dalam cara yang
begitu pengecut. Tetapi ketika memikirkan tentang
janjinya yang akan kembali lagi ke Ca-kee-chung untuk
bertemu dengan Ca Tiauw Cin pada hari esok di waktu
lohor, ia terpaksa urungkan niatannya. Karena apabila ia
tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, apakah
orang tidak nanti beranggapan bahwa ia takut, suatu
tuduhan yang tak dapat ia terima dengan begitu saja?
Sekarang pikiran-pikiran itu telah mengaduk semakin
hebat di otaknya, sehingga semalaman itu hampir tak
dapat ia tidur pulas.
Kemudian teringatlah olehnya pesan sang guru,
ketika ia masih berdiam di kelenteng Liong-tam-sie.
„Bersemedilah,” sabdanya. „jikalau kau menghadapi
pikiran-pikiran yang sulit, dan cara itu akan menolong
banyak bagi ketenteraman dan kecerdasan pikiranmu di
hari esoknya.”
Begitulah setelah menanggalkan pakaian luarnya,
Poan Thian lalu bersila dengan tegak dan mulai
melakukan semedi dalam cara yang telah dipelajarinya
sekian tahun lamanya.
Tatkala selesai bersemedi, ia lalu membaringkan
dirinya dan tidur dengan nyenyak, sehingga matahari
sudah naik tinggi, barulah ia bangun dan lekas-lekas
mencuci muka, membersihkan mulut dan badan dengan
hati dan pikiran yang jauh lebih tenang dari pada malam
kemarin. Tetapi hatinya yang setia kawan tidak membikin
ia jadi kurangan memikirkan nasib Lauw Thay yang telah
diculik orang itu.
449
Begitulah sesudah menimbang bolak-balik, akhirnya
teringatlah olehnya, betapa tidak baiknya jikalau perkara
Lauw Thay ini diabaikan dengan begitu saja. Maka
setelah selesai sarapan pagi, lekas-lekas Poan Thian
kembali ke kedai minuman yang ia telah kunjungi
semalam, buat coba mencari keterangan pada Mo Jie,
berhubung dengan lenyapnya sang kawan itu.
Di sana, berbeda dengan waktu kernarin, Mo Jie
melayani padanya dengan laku yang sangat hormat dan
telaten sekali.
„Hari ini acara makanan kami telah ditambah dengan
beberapa rupa hidangan yang istimewa,” kata pelayan itu
dengan paras muka yang berseri-seri.
„Hari ini aku bukan bermaksud akan mencari
makanan,” sahut pemuda kita.
„Kalau begitu,” kata Mo Jie, „dalam hal apakah yang
aku bisa menolong kepadamu, tuan?”
„Cobalah tolong kau bawakan dahulu aku teh hangat
dan sedikit buah-buahan kering,” kata Poan Thian
dengan cepat, „kemudian aku perlu menanyakan
beberapa perkataan kepadamu.”
Mo Jie menjawab: „Baiklah, tuan,” sambil cepat-cepat
berlalu untuk menyediakan barang yang dipesan itu.
Di waktu si pelayan balik kembali dengan membawa
barang tersebut, pemuda kita lalu menanyakan
kepadanya:
„Apakah pada kemarin malam ada orang yang
datang ke sini buat menanyakan aku?”
Mo Jie bercelingukan ke kiri kanan pada sebelum
menjawab pertanyaan itu. Dan tatkala merasa cukup
sentosa akan menyatakan pikiran apa-apa, barulah ia
450
menjawab: „Ya, ada. Tetapi orang itu aku tidak kenal.
Tampaknya ia kenal baik kepadamu. Katanya: ,Apakah
malam ini tuan Lie tidak datang ke sini?”
„Orang itu kelihatan simpatik dan berbicara dengan
lemah-lembut. Tetapi karena merasa kuatir kalau-kalau ia
ada seorang yang sengaja hendak datang mencari setori
padamu seperti orang tua she Bie itu, maka aku rasa
lebih selamat akan menjawab: „Tidak ada. Karena jikalau
ia tidak ada urusan apa-apa dan bukan sengaja
menyelidiki kepadamu, cara bagaimanakah ia bisa tahu
dan menanyakan kepadaku apakah kau ada di sini?”
„Benar, benar,” sahut Lie Poan Thian sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya.
„Tetapi belum tahu apakah ia datang ke sini dengan
seorang diri saja atau berkawan?”
„Ia datang dengan hanya bersendirian saja,” sahut
Mo Jie, dalam suatu cara yang seakan-akan bendak
memotong pembicaraan orang.
„Cobalah terangkan bagaimana bentuk perawakan
orang itu,” Poan Thian berkata sambil menghirup teh dan
mengunyah sebuah tik-wee kering.
Mo Jie yang pandai berbicara, lalu melukis romannya
orang itu sambil menggerak-gerakkan kaki tangannya,
bagaikan seorang anak wayang yang sedang beraksi di
atas panggung.
„Oh, jikalau roman dan lukisan itu dibayangkan dalam
pikiran,” kata pemuda itu di dalam hatinya. „orang itu
memana agak mirip dengan perawakan tubuh Hok Cit,
kecuali misainya saja yang berbeda dengan keadaan
aslinya. Apakah si Hok Cit itu barangkali menyamar dan
memakai misai palsu ketika ia datang ke sini?”
451
Poan Thian merasa tidak baik buat menyatakan
pikiran ini pada Mo Jie yang agak likiat itu. Kemudian ia
bertanya: „Setelah kau memberikan jawaban bahwa aku
tidak datang ke sini, apakah yang selanjutnya diperbuat
oleh orang itu?”
„Ia tidak menanyakan apa-apa pula,” sahut pelayan
yang ditanyakan itu, „tetapi segera berlalu dengan cepat
dan tidak banyak bicara pula.”
„Apakah orang itu membekal senjata?” Poan Thian
bertanya pula.
„Ya,” sahut Mo Jie, „di atas bebokongnya ada
tergantung sebilah golok yang memakai serangka yang
diukir dengan bagus sekali.”
„Itulah pasti ada Hok Cit yang menyamar dengan
memakai misai. Tidak bisa salah lagi,” pikir Lie Poan
Thian sambil minum kering air teh yang terisi di dalam
cawannya.
Di waktu membayar harga teh dan buah-buahan
kering yang ia makan tadi, mendadak ia mendengar
orang-orang yang berseliweran di jalan raya ramai
membicarakan tentang diketemukannya satu mayat tidak
berkepala di dalam sebuah solokan di muka sebuah
rumah makan yang memakai merek Eng-pin Cay-koan.
Oleh sebab itu, Poan Thian jadi terperanjat dan buruburu
mengikut orang banyak buat coba turut
menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepala sendiri di
sana.
„Diharap saja yang kecelakaan ini bukan seperti apa
yang kukuatirkan di saat ini,” kata pemuda itu di dalam
hatinya.
Tidak kira sesampainya di muka rumah makan
452
tersebut, ia mendapat keterangan dari orang banyak,
bahwa mayat itu telah diangkut ke kelurahan untuk
diperiksa lebih jauh serta dicari tahu siapa sahabat atau
sanak saudaranya yang harus mengurus mayat itu. Maka
atas petunjuk beberapa orang desa yang kebetulan
berada di situ, Poan Thian lalu menuju ke kelurahan
untuk coba mengenali mayat tersebut.
Begitulah sesampainya di kelurahan dan
memberitahukan maksud kedatangannya, lalu ia
dipersilahkan masuk ke dalam sebuah kamar di mana
mayat itu ditunda untuk sementara waktu, sehingga ada
sanak pamilinya yang datang mengakui dan
menguburnya sebagaimana mestinya.
Perasaan kaget Poan Thian sungguh bukan alang
kepalang, ketika mengenali mayat itu dari pakaian yang
menempel dibadannya.
„Ah, celaka!” pikirnya, „itulah sesungguhnya adalah
Lauw Thay yang telah dibunuh orang!”
„Apakah ini ada sanak saudaramu?” bertanya lurah
pada pemuda kita.
Poan Thian menyatakan ingin coba periksa dahulu.
Karena biarpun pakaiannya agak sama dengan apa yang
dikenakan Lauw Thay ketika keluar dari rumah, tetapi
tanda-tanda yang tampak di badannya belum tentu tepat
dengan apa yang pernah diketahuinya, berhubung mayat
itu tidak berkepala dan sukar sekali untuk dikenalinya,
tanpa adanya bagian anggauta badan itu di tempat
asalnya.
Maka Poan Thian yang mengingat pada bagian baju
Lauw Thay yang telah robek karena tendangan sepatu
musuh yang memakai sebilah pisau itu, buru-buru ia
tujukan pemeriksaannya pada bagian itu dengan hati
453
yang berdebar-debar. Karena, dengan memperhatikan
bentuk tubuh dan pakaiannya, sekarang ia mulai
mengenali, bahwa mayat itu memang ada kemungkinan
mayat kawannya yang telah diculik orang itu.
Dugaan Poan Thian jadi semakin keras, ketika
melihat tanda robek yang tampak pada pakaian mayat
itu!
„Ah, inilah sesungguhnya memang Lauw Thay!”
pikirnya. Tetapi ketika ia coba singkap bagian tubuh yang
ditutup oleh pakaian yang robek itu, ia jadi menghela
napas lega dan berkata: “O Mi To Hud! Inilah bukan
Lauw Thay! Karena sudah jelas bahwa pada bagian
tubuh mayat ini tidak tampak bekas ditempeli koyo!”
Maka dengan berdasarkan kenyataan-kenyataan ini,
Poan Thian lalu memberitahukan pada lurah itu, bahwa
mayat ini bukanlah mayat familinya, yang telah diakuinya
telah hilang dari rumah pada beberapa hari yang lampau,
walaupun di dalam hatinya ia menanya pada diri sendiri
dengan berulang-ulang: “Mayat siapakah ini, yang
ternyata mengenakan baju Lauw Thay yang
dikenakannya pada malam kemarin? Dan jikalau Lauw
Thay telah terlolos dari tangan musuh, bagaimanakah ia
tidak lekas kembali padaku buat melaporkan peristiwa
apa yang telah dialaminya pada malam kemarin? Inilah
tentu ada rahasia apa-apa yang lebih sulit dan sukar
dimengerti, tanpa diselidiki dengan secara teliti dan
segiat-giatnya. Tetapi bersamaan dengan ini, aku jadi
semakin mantap buat berhadapan dengan Ca Tiauw Cin
di Ca-kee-chung, karena dengan adanya bukti-bukti ini,
tak usah aku memikirkan lagi pada Lauw Thay, yang
pada saat ini tentunya telah berada di suatu tempat yang
lebih aman dan sentausa.”
Begitulah setelah mengucapkan terima kasih dan
454
meminta diri pada pak lurah, Lie Poan Thian lalu balik
kembali ke tempat penginapannya, untuk bersiap-siap
akan menghadapi pertempuran hebat yang ia telah
bayangkan akan terjadi sebentar menjelang magrib.
Lebih jauh karena mengingat bahwa ia hanya
bersendirian saja, maka ia pikir tidak jahatnya akan
bersedia apa yang perlu untuk menghadapi segala
kemungkinan.
„Senjata rahasia, Joan-pian dan pedang hadiah dari
In Cong Lo-siansu, kali ini aku perlu bawa buat
melindungi diri dari pada bahaya pengeroyokan orang
she Ca dan sekalian kambrat-kambratnya itu,” kata
pemuda kita sambil membuka pauw-hok dan keluarkan
semua senjata yang lalu ditaruhnya di atas meja.
Kemudian ia kunci pintu kamar, membuka pakaian
dan duduk bersemedi untuk mengumpulkan tenaga lahir
dan batin yang akan menemui ujian dalam suatu
pertempuran yang tentu tidak akan kurang hebatnya dari
pada pertempuran dengan Wie Hui yang ia telah alami di
pegunungan Jie-sian-san.
Tetapi Poan Thian yang sudah ulung dan „matang”
dalam pertempuran, selalu bisa berlaku hati-hati dan
tidak pernah memandang ringan pada pihak musuhnya
yang mana juga. Dan itulah ada salah suatu sifat yang
harus dipuji dan diindahkan benar oleh Kak Seng
Siangjin yang menjadi gurunya.
Kira-kira pada waktu lohor, Poan Thian lalu turun dari
pembaringan, mengenakan pakaian dan memanggil
pelayan akan minta disediakan makanan.
„Malam ini jikalau aku tidak kembali,” ia memesan
pada pelayan setelah selesai dahar, „kau boleh tidak
usah. mencari atau merasa kuatir apa-apa, karena ada
455
kemungkinan aku bermalam di rumah Ca Chung-cu.
Jikalau seandainya ada tamu yang menanyakan aku,
katakanlah bahwa aku keluar mencari seorang sahabat,
tetapi jangan dikatakan bahwa aku pergi berkunjung ke
rumah Ca Chung-cu. Jangan salah.”
„Baik, tuan,” sahut pelayan itu, yang ternyata tidak
curiga apa-apa dengan sikap dan omongan pemuda she
Lie itu.
Dan tatkala matahari hampir selam ke barat, Poan
Thian lalu berpakaian untuk berjalan di waktu malam,
melibatkan Joan-pian di pinggangnya dan mengisi
kantongnya dengan selusin Hui-piauw.
Setelah selesai berpakaian, barulah ia mengenakan
baju panjang dan menyoren pedang hadiah dari In Cong
Sian-su, ketua dari kelenteng Po-to-sie di pegunungan
Po-to-san.
Kedatangannya Poan Thian ke Ca-kee-chung,
kembali telah disambut oleh pengawal yang kemarin
telah menanyakan she, nama dan gelarannya.
“Selamat sore, Lie-toako!” kata pengawal itu dengan
sikap ramah-tamah.
„Selamat sore, saudara!” membalas Lie Poan Thian.
“Aku harap sore ini Ca Chung-cu telah kembali dari
bepergiannya.”
„Ya, benar,” sahut pengawal itu. „Malah tempo aku
memberitahukan tentang kedatanganmu kemarin, ia
lantas mau mengunjungi tempat penginapanmu.
Menyesal pada hari kemarin aku telah lupa menanyakan
tempat penginapanmu itu, hingga tak dapat aku
mengantarkan Chungcu-ya buat pergi menjumpai tuan di
sana.”
456
„Aku sungguh tidak enak buat menjusahkan ia orang
tua pergi sendiri ke tempat penginapanku,” kata Lie Poan
Thian samhil tertawa.
Kemudian si pengawal lalu mengajaknya akan
menjumpai Ca Tiauw Cin, yang ternyata juga telah
bersedia buat menyambut kedatangan pemuda kita.
„Selamat datang, Lie-toako!” kata Ca Tiauw Cin
ketika melihat Poan Thian berjalan mendatangi dengan
diiringi oleh salah seorang pengawal kepercayaannya.
„Banyak terima kasih atas penyambutanmu yang
ramah-tamah ini, Ca Lo-suhu,” kata Lie Poan Thian
sambil balas memberi hormat pada tuan rumah.
Tatkala tamu dan tuan rumah telah mengambil
tempat duduk dan diberi suguhan air teh dan kue kering,
Ca Tiauw Cin lalu menyatakan kekagumannya tentang
kepandaian Lie Poan Thian yang telah sekian lamanya ia
dengar disohorkan orang dikalangan Kang-ouw. Maka
kalau duluan ia hanya mendengar dengan berdasarkan
cerita orang, adalah sekarang ia sesungguhnya
mempunyai keberuntungan akan bertemu dengan
orangnya sendiri.
„Dan jikalau dugaanku ini tidak keliru,” kata Ca Tiauw
Cin. „kedatangan Toako ini tentulah ada sangkut-pautnya
dengan satu dan lain urusan penting yang perlu
diselesaikan selekas mungkin. Oleh karena itu, sudilah
kiranya Toako menyampaikan maksudmu itu kepadaku
dengan secara terbuka?”
„Ya,” sahut pemuda kita. „Seperti juga apa yang telah
kau katakan tadi, kedatanganku ini memanglah ada
mengandung maksud apa-apa yang bukan saja meminta
penyelesaian selekas mungkin, tetapi berbareng juga
akan meminta kebijaksanaan Lo-suhu untuk bantu
457
menimbang suatu perkara, yang jikalau dipikir dengan
secara adil, agak menyimpang dari pada undang-undang
persaudaraan yang kita semua harus junjung tinggi di
kalangan Kang-ouw.
„Soal ini sebenarnya ada soal remeh, jikalau itu boleh
dianggap begitu, tetapi sebaliknya akan berakibat besar
apabila kedua pihak tidak insyaf dan tidak suka saling
mengalah buat suatu hal yang sekecil ini.”
„Aku hargakan tinggi sekali atas omongan Toako itu,”
kata Ca Tiauw Cin, „tetapi dalam soal apakah yang kau
katakan bisa berakibat besar apabila kita tidak insyaf dan
tidak saling mengalah itu?”
„Hal ini walaupun tidak merupakan soal yang
berhubungan langsung kepada diriku sendiri,” kata Lie
Poan Thian. „tetapi boleh dikatakan agak menyinggung
perasaan dan kehormatanku yang mempunyai sangkutpaut
dekat sekali terhadap orang yang mengalami
peristiwa tidak enak itu. Oleh sebab itu, rasanya tidak
terlalu keliru apabila aku turut campur tangan untuk
memperoleh pemberesan yang seadil-adilnya dengan
jalan meminta bantuanmu yang berharga itu.”
4.29. Penyesalan Ca-kee-chungcu
Ketika Ca Tiauw Cin mendengar begitu, sudah tentu
ia jadi heran dan berbalik menanyakan: „Toako,
maafkanlah kepadaku yang bodoh ini, aku sungguh tidak
bisa mengerti apa maksud omonganmu itu. Oleh sebab
itu, sudilah apa kiranya Toako berbicara dengan katakata
yang lebih sederhana dan jelas, sehingga dengan
begitu, dapat juga aku membantu apa-apa untuk
membereskan persoalan ini.”
458
Pemuda kita jadi tertawa menjindir sambil berkata:
„Ca Lo-suhu, aku percaya kau juga tentu belum lupa
dengan halnya piauw-su Cin Kong Houw yang bendera
lambangnya — maaf, Ca Lo-suhu — kau telah curi
dengan maksud untuk „merobohkan mereknya” di
kalangan usaha pengangkutan. Kemudian kau telah
melukakan juga padanya dengan secara bergelap.
„Perbuatan itu sebenarnya tidak bisa dimaafkan.
Tetapi lantaran mengingat kepada persaudaraan di
kalangan Kang-ouw, maka aku telah bujuk padanya buat
bikin habis saja persoalan ini dengan jalan kau meminta
maaf atas kekhilafanmu dan kembalikan juga kepadanya
bendera lambangnya yang telah kau curi itu. Maka selain
urusan bisa jadi beres dengan secara damai, bagi kedua
pihak pun tidak sampai mengalami peristiwa-peristiwa
lain yang tidak enak. Tetapi belum tahu bagaimana
pendapat Ca Lo-suhu?”
Wajahnya Ca Tiauw Cin dengan mendadak jadi
berubah merah tempo mendengar omongan itu.
Ia sebenarnya tidak menduga, jikalau kunjungan Lie
Poan Thian ini adalah hubungannya dengan urusan Cin
Kong Houw, dan jikalau ia ketahui hal ini dari di muka,
sudah pasti tak mau ia bertemu dengan pemuda kita ini.
Tetapi karena urusan itu telah ketelanjuran dibicarakan,
maka dengan sikap yang menandakan kurang senang ia
lantas berkata: „Tuan Lie, urusan ini sebenarnya tidak
ada sangkut-pautnya meski dengan siapapun juga. Oleh
karena itu, aku sangat harap supaya kau jangan campur
tangan dalam urusanku ini. Aku tidak melarang atau
merasa iri hati terhadap setiap orang yang pandai
berusaha dengan secara jujur atau curang, asalkan itu
jangan menyinggung atau membusukkan nama orang
lain seperti apa yang pernah diperbuat oleh Cin Kong
459
Houw itu.
„Aku juga ada dapat dengar tentang namanya yang
terkenal di kalangan Kang-ouw sebagai seorang piauwsu
yang jujur dan boleh dipercaya. Tetapi janganlah
menganggap bahwa diri sendiri paling jempolan di kolong
langit, sehingga berani membuka mulut besar dan
mengaku sanggup untuk bertanding dengan ahli silat
yang mana juga di seluruh jagat Tiongkok.
„Tidak tahunya, ketika aku saksikan sendiri ilmu
kepandaiannya, bukan saja masih terlalu jauh dari
sempurna, bahkan orang-orangku sendiri barangkali
masih banyak yang mampu tandingi padanya.”
Oleh karena mendengar omongan Ca Tiauw Cin
yang begitu menusuk hati, keruan saja Poan Thian jadi
mendongkol dan lalu menyindir sambil berkata: „Ya, ya,
akupun bukan tidak percaya tentang ilmu kepandaianmu
yang kau katakan jempolan dan paling sempurna itu,
tetapi aku belum mau percaya itu seratus persen, pada
sebelum menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri.
„Aku suka mengindahkan setiap orang gagah yang
jujur dan suka melakukan segala perbuatan dengan
secara berterang, tetapi..... aku tidak senang dan tidak
bisa menghargakan terhadap perbuatanmu yang telah
kau unjukkan di hadapan Cin Piauw-su itu!”
Ca Tiauw Cin jadi sengit dan segera berbangkit dari
tempat duduknya dengan wajah kemerah-merahan
bagaikan kepiting direbus.
„Tuan Lie!” katanya dengan suara keras, „sekarang
aku ingin tahu, ada apakah hubungannya antara kau dan
Cin Kong Houw itu, sehitigga kau mesti ikut-ikutan
kurang senang dalam suatu hal yang sudah terang tidak
ada sangkut-pautnya seperti pengakuanmu sendiri tadi?”
460
Poan Thian jadi tertawa menjindir sambil menjawab:
„Ca Lo-suhu, kau harus ketahui, bahwa Cin Kong Houw
itu adalah „guruku” sendiri! Apabila sang guru mengalami
hinaan dari orang lain, apakah orang yang jadi muridnya
boleh tinggal peluk tangan saja melihat dari kejauhan
dengan hati dingin? Beruntung juga peristiwa itu telah
terjadi selagi aku tidak ada di Kim-leng. Jikalau pada
waktu itu aku tidak keluar bepergian ke mana-mana, aku
tidak tahu apa jadinya sekarang ini.”
Sementara Ca Tiauw Cin yang mendapat keterangan
begitu dari Lie Poan Thian, bukan saja tidak menjadi jerih
atau takut, malah sebaliknya lalu menjawab selaku
mengejek, katanya: „Ah, menurut pendapatku yang
cupat, sebenarnya tuan tidak perlu terlalu besar hati
dalam hal menghadapi soal ini, yang sesungguhnya
bukan mudah untuk dibereskan dengan omongan saja.
Aku bukan memandang rendah kepada dirimu. Apabila
ilmu kepandaian seorang guru hanya baru sekian saja,
cara bagaimana ilmu kepandaian muridnya bisa diharap
lain dari pada begitu-begitu juga? Sekarang aku telah
ketahui jelas apa maksud kunjunganmu ini. Jikalau kau
belum datang ke sini, boleh jadi ini masih bisa dimaafkan,
tetapi setelah kau berada di sini. apakah masih juga kau
tetap akan mempertahankan niatanmu itu?”
„Ya, benar,” sahut Poan Thian dengan pendek.
„Apakah kau tidak menyesal, apabila nanti kau
kembali dengan membawa luka-luka yang lebih hebat
dari pada gurumu itu?” menjindir Ca Tiauw Cin sambil
tertawa.
„Malah lebih dari itu,” kata Lie Poan Thian pula, „aku
akan rela mengangkat kau menjadi guru, apabila ilmu
kepandaianmu ternyata lebih tinggi dari pada apa yang
diketahui oleh guruku Cin Kong Houw.”
461
„Kalau begitu,” kata Ca Tiauw Cin, „marilah kau ikut
padaku ke sebidang lapangan tempat aku berlatih.”
Poan Thian menurut.
Tatkala mereka sampai di sebidang lapangan dimana
benar saja tampak beberapa orang yang sedang berlatih,
dengan rupa bangga Tiauw Cin lalu menunjuk pada
orang-orang itu sambil berkata: „Tu, itulah ada muridmuridku
yang sedang berlatih dengan secara giat sekali.”
„Sungguh mengagumkan!” kata Lie Poan Thian
sambil tersenyum. „Aku harap saja yang mereka itu akan
merupakan benih-benih yang subur dan jujur di antara
kalangan orang-orang gagah di kemudian hari. Dan
moga-moga mereka ini — sebagai benih-benih baik yang
ditanam dalam sebidang tanah yang kurang baik — akan
keluar dengan membawa sifatnya yang baik, tetapi tidak
menuruti sifat tanahnya yang buruk itu!”
Ca Tiauw Cin yang selalu dipukul sindir, sudah tentu
saja jadi amat marah, dan jikalau ia ada seekor harimau,
niscaya ia sudah terkam pemuda ini buat ditelan bulatbulat!
Begitulah setelah Tiauw Cin memerintahkan supaya
murid-muridnya itu menyingkir ke satu pinggiran, lalu ia
mempersilahkan Poan Thian akan menanggalkan baju
luarnya.
„Tetapi belum tahu apa kita akan bertempur satu
lawan satu atau seorang melawan musuh-musuh yang
berjumlah banyak,” kata Lie Poan Thian sambil menunjuk
pada murid-muridnya cabang atas she Ca itu yang
berkumpul di situ.
„Sudah tentu saja kita akan bertempur satu lawan
satu,” kata Ca Tiauw Cin dengan rupa penasaran.
462
„Kalau begitu,” kata pemuda kita. „kau boleh
terangkan dahulu niatanmu pada sekalian muridmuridmu,
supaya jikalau nanti kau kena kurobohkan,
mereka jangan turut campur tangan dalam pertempuran
ini. Dan jikalau kau sudah beritahukan mereka begitu,
aku jadi tahu bagaimana harus kubuat selanjutnya, kalau
nanti mereka mengeroyok padaku.
„Aku sekarang ada membekal senjata lengkap di
badanku, tetapi aku tidak akan gunakan itu apabila
mereka suka mengindahkan perintahmu dan tidak
campur tangan dalam urusan kita ini.”
„Ya, baiklan,” kata Ca Tiauw Cin yang lantas
utarakan niatannya di hadapan para muridnya yang
berkumpul di situ.
„Apabila kamu sekalian tidak mendengar perintahku,”
kata cabang atas itu pada akhirnya, „kamu harus terima
sendiri risiko-risiko yang akan diakibatkan dari
perbuatanmu masing-masing, buat mana aku yang
menjadi guru tidak bertanggung jawab sama sekali dalam
urusan ini. Kamu mengerti?”
Hati para murid itu mendadak jadi berdebar-debar,
ketika mendengar bahwa sang guru akan mengadu ilmu
silat dengan tetamu yang baru pada kali itu mereka lihat
romannya.
„Wah! Jikalau dua ekor harimau berkelahi,” kata
salah seorang murid-murid itu, „niscaya kedua-duanya
akan mengalami kerusakan badan disamping seekor
yang mungkin juga akan menemui kematian!”
„Itulah kita nanti lihat bagaimana kesudahannya
nanti,” jawab yang lainnya.
Dalam pada itu, Poan Thian pun telah menanggalkan
463
baju luarnya dan kumpulkan itu di suatu tempat dengan
pedang dan Joan-piannya. Sementara Ca Tiauw Cin
sendiri yang menjadi tuan rumah, iapun lalu menuruti
juga teladan tetamunya dan menanggalkan baju luarnya,
akan kemudian menindak ke tengah lapangan sambil
melambai-lambaikan tangannya ke arah pemuda she Lie
itu.
„Tuan Lie!” katanya dengan suara menantang,
„marilah kita boleh lantas mulai!”
Poan Thian menurut sambil menjawab: “Aku
persilahkan buat Lo-suhu membuka serangan terlebih
dahulu.”
„Itu tidak aturan,” kata Ca Tiauw Cin. „Kau sekarang
ada menjadi tetamuku. Oleh sebab itu, aku persilahkan
kau buat menyerang terlebih dahulu.”
Begitulah dengan ditonton oleh para murid cabang
atas she Ca itu, Poan Thian lalu membungkukkan
badannya memberi hormat pada Ca Tiauw Cin sambil
berkata: „Lo-suhu, aku segera akan mulai!”
„Persilahkanlah!” sahut Tiauw Cin dengan mata tidak
berkesip.
Dan tatkala Poan Thian maju menerjang, Ca Tiauw
Cin lalu mengegos buat menyingkirkan diri dengan tidak
balas menyerang apa-apa terhadap pada diri pemuda
kita.
Tetapi setelah mengegos dan berkelit sehingga tiga
kali, barulah ia balas menerjang sambil berseru: „Poan
Thian, sekarang adalah giliranku yang akan menyerang
kepadamu. Berhati-hatilah! Aku akan membuka serangan
dengan menggunakan siasat Hek-liong-tam-jiauw!”
„Ya, kau boleh keluarkan segala macam siasat silat
464
yang kau rasa cukup berbahaya,” kata Lie Poan Thian,
„aku tak akan mundur pada sebelum mampu
memenuhkan janjiku kepada Cin Kong Houw Lo-suhu!”
„Terimalah ini!” Sambil menggaet kaki pemuda kita,
Tiauw Cin lalu membarengi mencengkeram ke arah
muka orang. Tetapi Poan Thian yang menganggap
bahwa cara menggaet kaki itu hanyalah merupakan
siasat belaka untuk membikin terkesiap hatinya, buruburu
ia angkat sebelah kakinya ke atas, seolah-olah
orang yang mempertunjukkan siasat Kim-ke-tok-lip.
Dengan tangan kirinya ia menangkis tangannya Ca
Tiauw Cin yang datang mencengkeram itu, sedangkan
kakinya yang diangkat ke atas lantas ditendangkan ke
jurusan dada musuhnya.
Ca Tiauw Cin lekas mengegos dengan jalan
miringkan badannya, kemudian ia berdongko sedikit
sambil menjotos pada Lie Poan Thian dengan
menegunakan siasat Pa-ong-song-khek. Tetapi Poan
Thian yang bermata jeli, sudah tentu saja tidak mau kasih
dirinya „dimakan mentah-mentah“. Buru-buru ia berkelit,
hingga jotosan pihak lawannya mengenai tempat kosong,
tetapi sebegitu lekas ia terlolos dari serangan itu, kembali
Ca Tiauw Cin telah maju menerjang dengan
menggunakan seruntunan ilmu pukulan yang telah
membikin Poan Thian agak sibuk dan mengakui tentang
kepandaian ilmu silat lawannya yang amat lihay itu.
Banyak ahli-ahli silat ia telah jajal tenaganya, tetapi
ilmu kepandaian Ca Tiauw Cin ini ternyata masih jauh
lebih tinggi dari pada mereka semua. Maka kalau ilmu
silat orang she Ca ini hendak diperbandingkan dengan
musuh-musuh lain yang pernah dijumpainya, ia harus
akui bahwa itulah tidak ada di bawah dari pada Sin-kun
Louw Cu Leng, ahli silat satu-satunya yang ia anggap
465
paling jempol dalam hal berkelahi dengan tangan
kosong.
Dan jikalau semulanya ia menganggap ilmu
kepandaian Ca Tiauw Cin hanya terbatas pada ilmu Heksee-
ciang saja yang ia memang paham, nyatalah ia telah
keliru jauh sekali. Karena sebagaimana apa yang ia bisa
saksikan sekarang, ia mendapat kenyataan bahwa ia
masih kalah jauh apabila hendak dibandingkan ilmu
pukulannya dengan sang lawan ini.
Maka buat merubah supaya pertempuran itu jadi
berimbang, Lie Poan Thian segera merubah siasat
penyerangannya dengan lebih banyak menggunakan
ilmu tendangan yang ia memang sangat mahir, dari pada
ilmu pukulan dengan tinju yang memang ternyata ia lebih
lemah.
Begitulah tatkala pertempuran telah berlangsung kirakira
tigapuluh jurus lamanya, Tiauw Cin kelihatan mulai
terdesak. Lie Poan Thian merangsak dengan tendangantendangannya
yang terkenal lihay dan bikin namanya
tersohor di kalangan Kang-ouw sehingga memperoleh
gelaran Sin-tui Lie atau Lie Si Kaki Sakti itu.
Pada suatu saat karena ia menendang dengan agak
terburu napsu, Poan Thian telah terpeleset dan jatuh
mengusruk ke muka bumi.
„Celaka!” teriak murid-muridnya Ca Tiauw Cin
dengan tidak terasa pula.
Semua orang menyangka, bahwa di sinilah
pertempuran itu akan berakhir, dengan Lie Poan Thian
yang akan keluar sebagai pecundang. Karena dalam
jatuhnya itu, tangannya Poan Thian mendadak tidak
dapat digerakkan, hal mana pun dapat dilihat oleh semua
orang.
466
Tetapi Poan Thian yang memang bisa berpikir cepat
di waktu kesusu, dengan menahan sakit lalu berlompat
bangun dengan menggunakan siasat Lee-hie-ta-teng,
sambil melakukan tendangan kilat ke arah lawannya,
hingga Ca Tiauw Cin yang hendak menumbuk batok
kepala musuhnya dengan menggunakan ilmu Hek-seeciang,
keruan saja jadi terkesiap dan lekas hendak
mengegos dari tendangan Lie Poan Thian yang
menyamber ke arah kakinya dengan gerakan secepat
kilat.
Kesudahannya, biarpun ia terluput dari tendangan
yang pertama, tetapi ia tak berdaya untuk menjaga
tendangan musuhnya yang datang menyusul
belakangan. Maka berbareng dengan tibanya kaki Lie
Poan Thian yang telah menyepak dengan tepat pada
tulang lututnya Ca Tiauw Cin, Chung-cu dari Ca-keechung
itu segera memperdengarkan satu jeritan yang
ngeri dan terlempar jatuh ke suatu tempat yang terpisah
belasan kaki jauhnya. Dan di situ, karena Ca Tiauw Cin
tinggal rebah dengan rupa yang menandakan kesakitan,
maka Poan Thian pun lalu menghampirinya sambil
berkata: „Ca Lo-suhu, ayolah kau lekas bangun buat
melanjutkan pertempuran ini!”
Tetapi sambil meringis Ca Tiauw Cin lalu berkata:
„Lie Poan Thian Toako, sekarang aku harus akui, bahwa
gelaran Sin-tui memang tepat sekali akan dipunyai
olehmu......”
„Oleh karena itu,” kata Lie Poan Thian. „apakah itu
berarti bahwa pertempuran ini hendak dilanjutkan atau
dihentikan sampai di sini saja?”
„Aku minta supaya pertempuran ini segera dihentikan
saja,” kata Ca Tiauw Cin. „Sekarang aku suka mengaku
dengan sejujur-jujurnya. Aku menyerah kalah kepadamu!
467
Ayolah kau tolong banguni aku.”
„Apakah kau bukannya hendak memperdayakan dan
menumbuk kepalaku dengan ilmu Hek-see-ciang, seperti
apa yang pernah kau berbuat terhadap pada guruku?”
kata Lie Poan Thian dengan rupa masih ragu-ragu.
„Oh, tidak, tidak,” kata Ca Tiauw Cin. „Aku
bersumpah, Thian boleh kutuk padaku, apabila aku
memperdayakan dan berbuat curang terhadap pada
dirimu.”
Oleh karena itu, maka apa boleh buat Poan Thian
pun lalu menghampirinya, meski di dalam hati belum mau
percaya ia akan kejujuran pihak musuhnya itu. Pada
waktu hendak membanguninya, Poan Thian mendengar
Tiauw Cin berbisik di telinganya: „Tendanganmu telah
membikin kakiku patah,” katanya dengan lemah dan
terus jatuh pingsan.
Poan Thian meski jengkel bukan main akan
kecongkakan perbuatan si tuan rumah tadi, tetapi dalam
keadaan begitu ia jadi kasihan dan lalu panggil muridmuridnya
Tiauw Cin, untuk menggotong guru mereka itu
ke dalam rumah, sedangkan ia sendiri lalu membalut kaki
Tiauw Cin yang patah kena tendangannya itu.
Maka setelah Tiauw Cin tersadar dari pingsannya
dan dapatkan kakinya sudah dibalut oleh pemuda kita, ia
jadi sangat berterima kasih dan berkata: „Toako,
sekarang aku baru ketahui, bahwa selain ilmu
kepandaianmu sangat tinggi, kau juga ada seorang
gagah yang bijaksana. Maka kalau nanti kau kembali ke
kota Kim-leng dan berjumpa dengan Cin Kong Houw
Piauw-su, sudilah apa kiranya kau sampaikan
pernyataan menyesal dan maafku, yang pada beberapa
waktu yang lalu telah memperlakukannya dengan secara
468
tidak jujur.”
Dan bersamaan dengan ini, Tiauw Cin pun lalu
perintah salah seorang muridnya buat mengambil
bendera lambang Cin Kong Houw yang telah dicurinya
itu, yang lalu diterimakan pada Lie Poan Thian sambil
berkata: „Toako, haraplah kau tolong kembalikan
bendera lambang ini pada Cin Piauw-su, buat mana aku
sekarang merasa sangat menyesal telah menuruti saja
hasutan orang, sehingga hari ini aku telah mendapat
celaka oleh karena perbuatanku sendiri. Sedang
terhadap pada dirimu juga, aku harus menyatakan rasa
menyesal dan maafku yang sebesar-besarnya, dan
berbareng dengan itu, akupun harus mengucapkan juga
terima kasih banyak-banyak, atas kesudian Toako akan
menolong pada seorang lawan.”
Maka Poan Thian yang mendengar omongan itu, di
dalam hatinya jadi sangat menyesal, yang ia barusan
telah mempergunakan ilmu Lian-hwan-sauw-tong-tui,
berhubung ia sudah lupa dan hanya ingat akan
merobohkan pihak musuh, dari pada dirinya sendiri yang
dirobohkan oleh pihak lawannya.
Tetapi beras sudah menjadi nasi, hingga biar
bagaimana ia sesalkan juga, urusan yang telah terjadi
pasti tak dapat ditarik pulang kembali.
Begitulah setelah meminta diri pada tuan rumah yang
sekarang seakan-akan telah menjadi cacad, Poan Thian
lalu kembali ke tempat penginapannya di waktu hari telah
larut malam, kemudian ia pergi masuk tidur, sesudah
membaluri tangannya yang salah urat tadi, dengan yosan
untuk kepukul yang terlebih dahulu dihancurkan
dengan arak obat yang ia memang ada bawa di dalam
pauw-hoknya.
469
Ketika di hari esoknya ia bangun tidur kira-kira jam
sepuluh, Poan Thian telah diberitahukan oleh pelayan
rumah penginapan tersebut, bahwa pada barusan pagipagi
sekali ada seorang tetamu yang datang mencari
padanya. Tetapi tatkala diberitahukan bahwa Poan Thian
masih tidur, ia lantas berangkat pergi sambil
mengatakan, bahwa ia akan balik kembali sebentar di
waktu lohor.
„Cobalah kau terangkan bentuk tubuh orang itu,” kata
pemuda kita pada si pelayan.
Orang yang ditanyakan lalu menerangkan menurut
apa yang ia ketahui, dengan menambahkan bahwa
orang itu bermisai dan menggendong pedang yang
memakai serangka diukir bagus sekali di atas
bebokongnya.
Mendengar keterangan dan lukisan perawakan tubuh
orang yang dikatakan hendak balik kembali sebentar
lohor itu, Poan Thian jadi terkejut dan berkata di dalam
hati: „Oh, itulah ternyata si Hok Cit yang menyamar! Dan
jikalau dugaanku tidak keliru, maksud kedatangannya
tentulah akan mencari setori pula denganku di sini.”
Maka buat menunjukkan bahwa ia tidak takut
menghadapi segala kemungkinan karena akibat dari
pada perbuatannya sendiri. Poan Thian sengaja tidak
bepergian ke mana-mana buat menantikan
kedatangannya musuh itu.
Mula-mula ia minta disediakan makanan pada
pelayan tadi, dan setelah selesai dahar, ia lantas duduk
membaca sehingga beberapa jam lamanya.
Kira-kira hari hampir lohor, pelayan tadi telah kembali
ke kamarnya dan memberitahukan, bahwa tetamu yang
ditunggu-tunggu itu telah datang dan sekarang sedang
470
menunggu di luar dengan sikap yang sabar sekali.
„Heran, heran,” pikir pemuda kita di dalam hatinya.
„Adakah Hok Cit begitu sabar sebagaimana
penuturannya si pelayan ini?”
„Katakanlah padanya, bahwa aku akan segera keluar
menjumpakan padanya,” kata Lie Poan Thian sambil
menjemput beberapa hui-piauw yang lalu dimasukkan ke
dalam saku bajunya.
Si pelayan mengatakan: „Baik,” dan segera berlalu,
akan mengasih kabar pada tetamu yang sedang
menunggu itu.
Tatkala Poan Thian keluar menjumpai tetamu itu, ia
hampir tidak percaya penglihatannya, hingga ia berseru
dengan girang:
„Hoa-suheng!”
Orang itu tampak tersenyum kegirangan.
„Lie-sutee!” katanya. Kedua orang itu lalu saling
merangkul satu pada lain.
Poan Thian hampir kepingin menangis saking
kegirangan, karena orang yang disangka Hok Cit itu,
ternyata bukan lain dari pada suhengnya sendiri Hoa In
Liong. Tetapi ia tidak mengerti bagaimana suheng itu
telah berlaku begitu see-jie, juga ia agak kurang mengerti
bagaimana In Liong telah mengetahui bahwa ia
menumpang di rumah penginapan itu.
„Hal ini sebenarnya terlalu panjang buat bisa
dituturkan selesai dengan satu-dua perkataan saja,” kata
Hoa In Liong sambil tertawa.
„Kalau begitu,” kata Lie Poan Thian, „marilah kita
duduk mengobrol di kamarku.”
471
In Liong menurut.
Sesampainya di dalam kamar, mereka lalu
mengambil tempat duduk dengan berhadap-hadapan,
setelah terlebih dahulu In Liong gantungkan pedangnya
pada paku yang ditancapkan di dinding tembok.
„Aku sungguh ingin mengetahui, bagaimana suheng
ketahui yang aku ada menumpang di sini,” kata pemuda
kita. „Dan selain dari itu, bagaimanakah dengan guru dan
saudara-saudara kita di Liong-tam-sie?”
„Mereka semua baik-baik saja dan mengharapkan
akan kau sewaktu-waktu berkunjung ke sana.” sahut Hoa
In Liong. „Sementara sebab-musabab mengapa aku
ketahui kau berada di sini, sudah tentu saja kau juga
tidak mengerti, pada sebelum aku menerangkan satupersatu
duduknya perkara yang benar.”
„Ya, ya, cobalah suheng tolong terangkan kepadaku,”
meminta pemuda kita.
In Liong lalu tuturkan pengalamannya, hingga Poan
Thian yang mendengar penuturan itu, saban-saban
mengucapkan: „Beruntung kau keburu datang! Ah,
sungguh jahat sekali orang itu!”
Demikianlah jelasnya penuturan Hoa In Liong itu:
Sebagaimana para pembaca juga tentu masih ingat,
orang tua she Bie itu yang telah diloloh oleh Lauw Thay
sehingga sinting dan membuka rahasia sendiri, akhirnya
telah mendusin juga yang ia telah dipedayakan orang,
hingga setelah ia bertempur dengan Lie Poan Thian dan
melarikan diri pada sesudahnya merobohkan Lauw Thay,
hatinya jadi begitu penasaran, sehingga pada malam itu
juga ia telah balik kembali ke tempat penginapan Lie
Poan Thian, buat membalas dendam dan membunuh
472
mereka berdua selagi tidur nyenyak.
Tidak tahunya setelah kembali ke sana, ternyata
Poan Thian telah keluar dan di dalam kamar itu hanya
tampak Lauw Thay saja yang disangkanya masih belum
tidur. Oleh sebab itu, maka ia lantas pasang sebatang
Hun-hio buat membikin hilang ingatannya piauw-su dari
Siang-hap Piauwkiok itu. Dan tatkala kemudian ia yakin
bahwa pengaruh Hun-hio nya telah „memakan” dengan
betul, barulah ia korek daun pintu jendela yang ternyata
tidak terkunci, berhubung tadi Poan Thian telah keluar
dari situ buat coba satroni Mo Jie yang akan diminta
keterangannya, mengenai peristiwa yang bersangkutpaut
dengan namanya Sin-tui Bie yang dengan berulangulang
telah kita ceriterakan di bagian atas.
Orang tua she Bie itu yang melihat daun jendela itu
tidak terkunci, sudah tentu dengan mudah saja bisa
masuk ke dalam kamar, dimana mula-mula ia berniat
akan membunuh Lauw Thay. Tetapi berhubung ia
melihat ada bayangan manusia yang berkelebat di depan
jendela, buru-buru ia urungkan niatannya dan lalu
gendong Lauw Thay yang telah dibikin tidak berdaya
oleh pengaruh Hun-hio, akan di bawah ke tempat lain
untuk ditanyakan keterangan-keterangannya mengenai
perbuatannya yang dianggap sangat curang itu,
kemudian barulah piauw-su itu dibunuh, jikalau ini dirasa
perlu.
Tidak tahunya ketika ia melayang keluar dari dalam
kamar itu dengan menggendong Lauw Thay, ia baru
ketahui bahwa bayangan yang terlihat berkelebat tadi
bukan lain dari pada Hok Cit yang dengan secara
kebetulan telah sampai juga ke situ, tatkala di waktu
siangnya ia (Hok Cit) ketahui, bahwa Poan Thian
menumpang di rumah penginapan tersebut.
473
Orang tua she Bie dan Hok Cit ini ternyata
mempunyai perhubungan sebagai guru dan murid.
Maka setelah orang tua itu mengasih perintah Hok Cit
buat pergi membunuh Lie Poan Thian. buru-buru ia
berlalu sambil berkata: „Aku tunggu padamu di kelenteng
Hok-tek-bio!”
Bio itu rupanya sudah cukup terkenal sebagai tempat
pertemuan mereka, karena Hok Cit sudah lantas
menjawab: „Ya, ya, guruku boleh berangkat duluan. Dan
jikalau urusan ini sudah selesai. aku nanti menyusul ke
sana selekas mungkin.”
4.30. Bantuan Suheng Hoa In Liong
Begitulah kejadian Hok Cit bertempur dengan Lie
Poan Thian, sekembalinya pemuda kita pergi
mengompes pada Mo Jie dan menampak Lauw Thay
telah menghilang entah kemana perginya. Tetapi dalam
pertempuran itu, Hok Cit terpaksa melarikan diri, sambil
sesumbar akan bertemu pula dengan Lie Poan Thian
pada nanti tiga tahun kemudian.
Pada hari esoknya, ketika Poan Thian kembali ke
kedai dimana Mo Jie bekerja, pemuda kita diberitahukan
pula oleh pelayan itu, bahwa pada malam kemarin ada
seorang yang mencari padanya, dengan lukisan bentuk
tubuh orang itu membuat Poan Thian menyangka, kalaukalau
orang itu adalah Hok Cit yang menyamar dengan
memakai misai.
Sudah barang tentu, karena keterangan ini hati si
pemuda jadi semakin kuatir bagi keselamatan dirinya
Lauw Thay, tidak tahunya orang yang disangka Hok Cit
itu, bukan lain dari pada Hoa In Liong, yang ketika itu
474
sedang mencari Poan Thian buat menanyakan lebih jauh
tentang tanggal dan bulan pernikahannya pemuda kita
dengan nona Giok Tien, yang ia telah ketahui dari
keterangan yang didapatnya dari Lauw Thay.
Tetapi In Liong dan Lauw Thay ini yang belum pernah
saling mengenal satu sama lain, cara bagaimanakah
yang satu bisa memberi kabar kepada yang lain tentang
keadaan diri pemuda kita?
Hal ini memang agak membingungkan, apabila kita
tidak mundur sedikit jalannya cerita, pada sebelum
peristiwa-peristiwa lain yang telah lampau dijelaskan
dahulu kepada pembaca kita.
Lauw Thay yang ternyata masih panjang umurnya,
ketika belum sampai dicelakai oleh orang tua she Bie itu,
di tengah jalan terlihat oleh Hoa In Liong. Ketika rasa
curiga melihat Lauw Thay yang digendong itu, lalu
dengan diam-diam ia menguntit belakangan.
Orang tua she Bie itu yang kemudian telah
mengetahui juga, bahwa dirinya tengah dikuntit orang,
lalu percepat tindakannya dan membiluk ke jalan-jalanan
kecil yang sunyi dan jarang dilewati orang.
Sementara In Liong yang jadi semakin heran dengan
gerak-gerik orang tua itu, sudah barang tentu jadi
semakin curiga dan lalu menguntit terus dengan tindakan
yang sama cepatnya. Dan tatkala mereka berada di
suatu tempat yang jauh ke sana-sini, barulah In Liong
memanggil-manggil pada orang tua itu, yang telah
dimintanya akan berhenti sebentaran.
Tetapi orang tua she Bie itu yang melihat gelagat
tidak baik, bukan saja tidak mau meladeni, malah
menengok pun tidak, hingga panggilan itu seolah-olah
tidak dihiraukannya sama sekali.
475
Hoa In Liong yang jadi semakin curiga dan tak mau
membiarkan orang tua itu berlaku begitu saja, iapun
membuntuti terus dengan menggunakan ilmu berjalan
cepat yang jarang dapat dipahamkan oleh sembarang
orang. Dan ketika telah mendekati kira-kira beberapa
puluh tindak jauhnya, kembali In Liong memanggil:
„Saudara, berhenti dulu! Aku ada sedikit omongan yang
hendak disampaikan kepadamu!”
Tetapi sebagai jawaban dari pada panggilan tersebut,
tiga buah barang yang berkilau-kilau telah menyamber
padanya dengan berturut-turut, hingga In Liong yang
mengetahui, bahwa itulah ada huipiauw-huipiauw yang
orang telah sambitkan ke jurusannya, buru-buru ia
berkelit dengan jalan berlompat ke samping, dari mana
dengan mengeluarkan suara bentakan yang
menandakan rasa mendongkolnya, ia lantas mencabut
pedang sambil menyomel: „Kurang ajar! Kau ini ternyata
ada satu manusia tidak bisa diajak berurusan dengan
secara baik! Jangan lari!”
Sementara orang tua she Bie itu yang melihat tidak
ada jalan lain dari pada meladeni bertempur orang yang
membututinya itu, lalu melemparkan Lauw Thay ke sisi
jalan, kemudian mencabut juga goloknya yang
digendong di atas bebokongnya.
„Kau ini siapa?” ia membentak sambil putarkan
badannya ke belakang akan menghadapi Hoa In Liong
yang mengejar kepadanya.
In Liong lalu menerangkan siapa dirinya, tetapi nama
itu agak asing dalam pendengaran orang tua itu di
kalangan Kang-ouw hitam.
Oleh sebab itu, ia pikir In Liong tentu mudah digertak
oleh segala gelaran kosong, dari itu, sambil
476
membusungkan dada ia lantas mengeluarkan suara
jengekan dari lobang hidung: „Hm!” katanya. „Tidak
kunyana segala bu-beng-siauw-cut hendak campur
tangan dalam urusanku ini?”
„Terangkanlah siapa dirimu, dan siapa itu orang yang
kau gendong tadi!” tanya Hoa In Liong dengan suara
keren.
„Di waktu duduk tidak menukar she, dan di waktu
berjalan tidak mengganti nama,” kata orang tua itu, „Aku
inilah Sin-tui Bie dari Kanglam!”
Hoa In Liong jadi tertawa tempo mendengar gertakan
sambel itu.
„Kau jangan mengacau!” katanya. „Sin-tui Bie sudah
lama mencuci tangan dan tidak campur lagi dengan
segala urusan tetek bengkek di kalangan Kang-ouw, cara
bagaimanakah sekarang bisa muncul lagi satu Sin-tui
Bie?”
„Kau dan aku belum pernah saling mengenal atau
terbit permusuhan apa-apa-apa kata orang tua she Bie
itu, „tetapi apakah sebabnya kau hendak mencampuri
urusanku?”
„Aku bukannya hendak menyampuri urusan orang
lain,” sahut Hoa In Liong, „tetapi karena gerak-gerikmu
agak mencurigakan, maka aku merasa berhak buat
menanyakan. Apakah perlunya di waktu tengah malam
buta kau memasuki kamar orang lain? Dan kemana kau
hendak bawa pergi orang yang kau gendong itu?”
Pertanyaan itu sudah tentu saja telah membikin
orang tua itu jadi sangat terperanjat, karena ia sama
sekali tidak pernah menyangka, bahwa segala
perbuatannya telah dapat dilihat oleh Hoa In Liong, yang
477
dengan secara tidak disengaja melewat di tempat
penghinapan Poan Thian tadi.
Kesudahannya karena mengerti bahwa ia sukar
berbantahan dengan orang yang tidak dikenalnya ini,
maka Sin-tui Bie tertiron itu jadi mendongkol dan lantas
membentak: „Persetan dengan segala percampuran
tanganmu dalam urusanku ini! Sekarang hendak
kuperingatkan kepadamu satu kali lagi. Apabila kau
masih saja berkepala batu mencampuri urusanku,
janganlah kau anggap aku keterlaluan, jikalau akan
terpaksa mengambil tindakan apa-apa yang tidak
selayaknya!”
„Kalau begitu,” kata Hoa In Liong pula, „cobalah
jawab pertanyaanku ini. Siapakah sebenarnya orang
yang kau gendong itu? Dan apakah maksudnya kau
menyambitkan hui-piauw kepadaku tadi?”
Orang tua itu jadi „terdesak” dan akhirnya timbullah
amarahnya dan lantas beseru: „Kurang ajar! Sekarang
sudah teranglah bahwa perbuatanmu ini semata-mata
hendak mencari setori belaka! Nah, cobalah kau boleh
rasakan golokku ini!”
In Liong yang melihat orang tua itu mendadak jadi
sengit dan membacok kepadanya, sudah tentu saja
iapun segera menangkis dengan pedang di tangannya.
Begitulah selanjutnya kedua orang itu lantas bertempur di
antara jalanan yang sunyi dan gelap itu.
Tetapi Hoa In Liong ternyata lebih unggul dalam
permainan pedangnya, dalam waktu sedikit saat saja ia
telah mendesak lawannya sehingga tidak berdaya akan
melanjutkan terus pertempuran itu. Dan tatkala pada
suatu ketika ujung pedang In Liong menyamber ke arah
ulu hati orang tua itu dengan siasat Tok-coa-chut-tong,
478
Sin-tui Bie tetiron itu terdengar menjerit sambil
membuang diri berguling di tanah sampai beberapa kali,
kemudian dengan menggunakan siasat Lee-hie-ta-teng
ia mencelat ke atas dan terus melarikan diri sambil
sesumbar: „Sampai kita bertemu pula!”
Sementara Hoa ln Liong yang merasa tidak perlu
buat mengejar pada orang tua itu, lalu buru-buru
menghampiri pada Lauw Thay yang ternyata telah
tersadar dari pingsannya dan lekas berbangkit
menanyakan: „Saudara, terangkanlah dahulu, apakah
kau ini ada seorang lawan atau kawan?”
„Aku ini adalah seorang kawan yang telah bantu
mengusir orang yang telah menculik padamu tadi. Tetapi
belum tahu kau ini siapa? Dan siapakah sebenarnya
orang tadi yang telah menculik kepadamu?”
Lauw Thay jadi terbengong dan minta diberikan
keterangan, tentang peristiwa-peristiwa apa yang telah
terjadi tadi, dan cara bagaimanakah ia sekarang telah
berada di situ.
In Liong yang sekarang baru mendusin, bahwa Lauw
Thay telah digendong tadi dalam keadaan tidak ingat
orang, lalu tuturkan pada sang piauw-su hal apa yang
telah terjadi, sehingga ia bertempur dan telah berhasil
mengusir si penculik yang mengaku bernama Sin-tui Bie
itu.
Lauw Thay yang mendengar keterangan begitu,
tanpa terasa lagi ia jadi bergidik sambil menyebut: „O Mi
To Hud! To Hud! Jikalau Cong-su tidak datang menolong,
niscaya pada saat ini jiwaku telah melayang ke tempat
baka!”
Lebih jauh karena ia berpendapat yang Hoa In Liong
ini bukan orang jahat, maka dengan singkat tetapi jelas
479
Lauw Thay lalu tuturkan segala peristiwa yang telah
dialaminya, dengan antaranya ia menyebut-nyebut juga
namanya Lie Poan Thian.
Hoa In Liong jadi kelihatan girang mendengar nama
adik seperguruannya itu, hingga ia lantas menanyakan:
„Belum tahu dia sekarang ada dimana?”
„Lie-toako sendiri justeru berdiam di rumah
penginapan yang sama, dari mana kau katakan aku telah
diculik oleh Sin-tui Bie tetiron tadi,” sahut Lauw Thay.
Hoa In Liong mengangguk-anggukkan kepalanya
selaku orang yang sedang berpikir keras, hingga buat
beberapa saat lamanya ia kelihatan terbengong tanpa
mengucapkan barang sepatah katapun.
Dan tatkala Lauw Thay mengajak ia kembali ke
tempat penginapan Lie Poan Thian, mendadak ia jadi
menghela napas sambil berkata: „Ah, beginilah rasanya
orang yang hidup keliaran di kalangan Kang-ouw! Pada
sebelum terkenal orang berlomba akan memperebuti
nama dan gelaran kosong, dan tatkala sudah berhasil
dan jadi terkenal, lalu timbullah permusuhan di kiri kanan
dari orang-orang yang iri hati oleh karena gelaran kosong
itu. Ai, saudara, dunia ini benar-benar terlalu gila bagi kita
orang-orang yang hidup di kalangan Kang-ouw!”
Lauw Thay yang tidak mengerti ke mana tujuan
omongan itu, tentu saja tidak bisa berbuat lain dari pada
mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata: „Ya,
ya,” dengan suara yang tertahan di dalam tenggorokan.
Selanjutnya, karena mendengar pengakuan Lauw
Thay yang telah diperintah oleh Cin Kong Houw akan
membantu dengan secara diam-diam kepada Lie Poan
Thian yang akan pergi ke Ca-kee-chung buat menempur
Ca Tiauw Cin, maka In Liong lalu menyatakan pikirannya,
480
bahwa Lie Poan Thian yang memangnya bertabiat tidak
suka mengunjuk kelemahan sendiri, pasti akan jadi
kurang senang apabila ia ketahui tindakan ini yang
sebenarnya bermaksud baik.
„Maka jikalau kita hendak membantu padanya,” kata
Hoa In Liong, „paling baik jikalau kita mengambil jalan
lain dengan secara tidak langsung, untuk dapat
meringankan usaha yang sedang ditempuhnya.
Misalnya, walaupun dengan membiarkan ia pergi
sendirian ke Ca-kee-chung, tetapi kita yang berada „di
garis belakang” harus berdaya sedapat mungkin buat
menentang muslihat-muslihat keji orang lain yang akan
ditujukan kepadanya. Oleh sebab itu, yang pertama-tama
kita harus tentang Sin-tui Bie tetiron yang selalu mencari
„lantaran” buat „menjatuhkan dengan secara diam-diam”
nama baik Lie-sutee itu. Karena tidak mustahil, selagi
Lie-sutee sedang berhadapan dengan Ca Tiauw Cin,
orang she Bie itu akan mendadak muncul dan melakukan
pembokongan yang Lie-sutee sendiri tidak pernah pikir
akan bisa terjadi.”
Dengan keterangan itu, Lauw Thay pun
membenarkan pendapat Hoa In Liong, walaupun dia
menanyakan: „Hanya belum tahu bagaimana cara itu
akan diaturnya?”
„Buat sekarang,” kata Hoa In Liong, „hanya ada satu
jalan yang kelihatannya dapat dilakukan, yaitu buat
beberapa hari lamanya kau jangan kembali dahulu ke
rumah penginapanmu, agar supaya Sin-tui Bie tetiron
dan kambrat-kambratnya jadi bimbang dan tidak berani
sembarangan „bergerak dahulu” pada sebelum
mengetahui bahwa segala perbuatan mereka, tidak ada
lagi orang yang akan merintanginya.
„Tetapi jikalau ia tahu bahwa kau telah bisa kembali
481
dengan selamat, urusan bisa jadi berlainan dari pada apa
yang kukira, dan inilah ada sangat berbahaya, karena
pihak kita yang lebih sedikit jumlahnya, bisa juga
kejadian terdesak dan akhirnya akan mudah juga
terjebak oleh pihak mereka yang berjumlah lebih banyak.
„Itulah bahayanya akan bertindak dengan secara
berkawan dalam keadaan berbahaya seperti sekarang
ini.”
Lauw Thay menyatakan mufakat dengan omongan
itu.
„Tetapi, oleh karena aku mesti bersembunyi sehingga
beberapa hari lamanya,” katanya. „apakah ini tidak
membikin Lie-toako jadi bingung dan mencari padaku
kian-kemari?”
„Hal itu memang tak dapat dicegah,” sahut Hoa In
Liong, „tetapi — apa boleh buat — kita harus berbuat
begitu untuk membimbangkan hati pihak lawan kita. Liesutee
pasti tidak akan berlalu dari sini, karena ia ada
seorang yang tidak suka salah janji. Bukankah kau
pernah mengatakan tadi, bahwa ia telah berjanji akan
kembali ke rumah Ca Tiauw Cin pada hari esok di waktu
magrib?”
„Ya, benar,” sahut Lauw Thay.
„Maka selama kau bersembunyi beberapa hari ini,” In
Liong melanjutkan pembicaraannya, „aku sendirilah yang
nanti berkeliaran akan menyelidiki segala gerakan Sin-tui
Bie tetiron itu beserta sekalian kambrat-kambratnya di
luaran. Malah kalau aku sendiri yang pergi menjumpakan
pada Lie-sutee, rasanya ada lebih baik dari pada kau
yang mesti berbuat begitu, karena disamping aku masih
agak asing bagi orang-orang di sini, juga kambratkambratnya
Sin-tui Bie tetiron tidak mengenali bahwa aku
482
inilah pihak lawan mereka.”
„Ya, ya,” kata Lauw Thay, „kalau begitu aku turuti
saja pengunjukan-pengunjukanmu. Tetapi belum tahu
apakah kau di sini ada kenalan atau handai taulan yang
boleh ditumpangi untuk beberapa hari lamanya?”
„Aku di sini tidak mempunyai sahabat atau kenalan,”
kata Hoa In Liong. „Tetapi untuk tidak menerbitkan rasa
curiga, pihak lawan kita, kukira ada lebih baik jikalau kau
berdiam di bagian tempat-tempat yang agak ramai dari
pada di tempat-tempat sunyi seperti di sini. Karena buat
sekarang ini, bagimu, ada lebih banyak bahayanya dari
pada selamat jikalau berdiam di tempat sunyi, karena
pihak musuh tentu lebih suka memilih tempat-tempat
sunyi sebagai tempat pertemuan mereka. Oleh sebab itu,
kiranya lebih baik jikalau kau menumpang di rumahrumah
penginapan yang ramai, asalkan kau di situ
jangan keluar bepergian ke mana-mana.
„Tunggu sampai nanti Lie-sutee telah keluar dari Cakee-
chung dengan memperoleh kemenangan, barulah
kau boleh ketemukan padanya dan tuturkan segala
pengalamanmu, sehingga ia ketahui bagaimana
duduknya perkara yang benar. Maka dengan berbuat
begitu, bukankah kita di sini seakan-akan telah bantu
meringankan usahanya dengan tak usah kuatir
disesalkan oleh Lie-sutee yang bertabiat agak luar biasa
itu?”
„Ya, benar,” menyetujui Lauw Thay. „Kalau begitu,
biarlah aku kembali saja ke tempat penginapanku yang
duluan, di mana aku telah pesan kamar ketika aku
datang pada beberapa hari yang lampau.”
Maka sambil beromong-omong dengan pelahan,
mereka lalu berjanji akan bertemu pula di suatu tempat
483
yang mereka telah tetapkan dari di muka. Kemudian
mereka segera berpisahan buat melakukan tugas
masing-masing yang bertujuan sama, yaitu untuk
meringankan usaha Lie Poan Thian yang akan masuk ke
Ca-kee-cung atas nama pengurus usaha pengangkutan
Siang-hap Piauwkiok yang hendak „dirobohkan
mereknya”, dengan jalan dicuri bendera lambangnya oleh
Chung-cu dari desa tersebut.
Begitulah ketika pada malam itu juga Lauw Thay
kembali ke tempat penginapannya dan justru pergi ke
kamar kecil dengan meninggalkan pakaiannya di muka
kamar tidurnya yang pintunya tidak terkunci, ia jadi
terperanjat bukan main, tatkala kembali dari kamar
tersebut, akan menyaksikan pakaiannya itu telah lenyap
entah kemana perginya, hingga biarpun ia menanyakan
hal ini pada beberapa pelayan yang bekerja di situ, tidak
seorang pun yang ketahui atau mendapat keterangan
siapa pencurinya pakaian itu.
Tetapi karena mengingat bahwa ia masih mempunyai
beberapa perangkat pakaian yang dititipkan di rumah
penginapan tersebut, maka selanjutnya Lauw Thay tidak
ambil pusing pula tentang kehilangan pakaian kotor yang
tak berharga seberapa itu.
Tahu-tahu ketika di hari esoknya ia mendengar ada
orang yang terbunuh, ia sama sekali tidak menyangka,
bahwa orang itu ada pencuri pakaiannya, yang tatkala
dapat dilihat oleh orang tua she Bie itu, lalu disangkanya
bahwa dialah Lauw Thay yang dikenalinya karena
pakaiannya. Maka setelah melakukan pembunuhan,
kepala pencuri yang malang itu lalu dibawanya pergi,
dengan pengharapan supaya pihak yang berwajib tak
dapat menyelidiki perkara pembunuhan itu. Pada hal ia
sama sekali tidak menyangka, bahwa pembunuhan itu
484
telah dilakukan terhadap pada seorang-orang yang keliru
dan tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri!
Lie Poan Thian yang mendengar penuturan
suhengnya, dengan tak terasa lagi jadi menggebrak meja
sambil berkata: „Allah! Tidak kunyana urusan bisa
berbalik jadi begitu rupa! Maka apabila orang
mengatakan bahwa kejadian yang benar itu kerapkali
lebih aneh dari pada dongengan, itulah sesungguhnya
tidak bersalahan barang sedikitpun!”
In Liong tertawa sambil menyatakan mufakat dengan
pendapat suteenya itu.
„Tetapi aku sungguh tidak bisa mengerti,” kata Lie
Poan Thian pula, „cara bagaimana kau telah berlaku
begitu see-jie, tidak mau membanguni aku, ketika kau
datang ke sini pada hari tadi pagi-pagi?”
„Itulah karena aku tahu, bahwa semalam kau telah
pulang ke sini dalam keadaan lelah, habis bertempur
dengan Ca Tiauw Cin,” sahut Hoa In Liong, „hingga aku
rasa tidak baik akan mengganggu padamu yang sedang
tidur dengan nyenyak.”
Poan Thian jadi heran dan lantas bertanya: „Cara
bagaimanakah kau mengetahui, bahwa aku telah pulang
terlambat pada malam kemarin?”
„Karena aku telah menguntit padamu dari sebelah
belakang,” sahut Hoa In Liong, „berhubung aku kuatir
kau akan dijebak oleh Ca Tiauw Cin dan kambratkambratnya,
terutama oleh akal muslihat Hek-houw-lie
Cian Cong yang terkenal likiat itu.”
Tatkala Poan Thian menanyakan lebih jauh,
mengapa ia tahu nama Hek-houw-lie yang menjadi
gundal orang she Ca itu, Hoa In Liong lalu menerangkan,
485
bahwa nama itu telah dapat didengar dari penuturannya
Lauw Thay.
„Tetapi sungguh aneh sekali,” ia menambahkan, „ke
mana perginya manusia busuk itu, selagi induk
semangnya bertempur dengan mati-matian denganmu.”
„Entah kemana perginya dia itu,” Poan Thian berkata,
sambil kemudian perintah pelayan rumah penginapan itu
untuk menyediakan makanan buat dua orang.
Dan tatkala makanan yang dipesan itu telah
disajikan, mereka berdua lalu duduk makan minum
sambil membicarakan soal-soal yang telah lampau,
antara mana, In Liong tidak lupa menanyakan kepada
sang su-tee, bilamana ia akan menikah dengan nona
Giok Tin yang ia dapat dengar dari penuturannya Lauw
Thay.
Lebih jauh buat bisa hidup tenteram pada hari-hari
yang akan datang, maka In Liong telah menganjurkan
supaya Poan Thian lekas menikah, kemudian mencuci
tangan dan „mundur teratur” dari kalangan Kang-ouw,
untuk menuntut lain macam penghidupan yang lebih
berarti, buat mana Poan Thian akui kebenaran nasihat
suhengnya itu.
Sehabis mereka makan minum, In Liong lalu ajak
Poan Thian pergi ke tempat penginapan Lauw Thay,
untuk merembukkan tindakan apa yang selanjutnya perlu
diambil terhadap pada Sin-tui Bie tetiron itu yang selalu
mencari setori dan terutama memusuhi pada Lie Poan
Thian, yang dikatakan telah membunuh muridnya yang
bernama Liu Tay Hong itu.
„Jikalau urusan ini dapat disudahi dengan secara
damai,” kata Hoa In Liong lebih jauh, „itulah memang
yang kita harapkan. Tetapi apabila cara kompromi itu
486
sukar diperoleh, rasanya tak ada jalan lain dari pada
mesti menghadapi pertempuran yang terakhir untuk
mendapatkan pemberesan, asalkan tindakan ini disetujui
oleh Tie Hwie Taysu, yang menurut pendapatku, tidak
tahu-menahu tentang adanya peristiwa ini. Tetapi belum
tahu, bagaimana pendapat Su-tee?”
„Benar, benar,” kata Poan Thian yang seolah-olah
orang yang baru sadar dari tidur yang nyenyak. Karena,
bersamaan dengan itu, ia jadi ingat pada Sin-siu-tayseng
Bie Tiong Liong, yang pernah disebut-sebut
namanya oleh Hok Cit di waktu bertempur pada kemarin
dulu malam.
Dan setelah ia tuturkan hal ini pada In Liong, sang
suheng lantas berkata: „Nah, kalau saja memang ada
kesempatan dan alasan buat kau coba bicara dengan
secara baik dengan Sin-tui Bie yang sejati atau Tie Hwie
Taysu, mengapakah kau tidak ambil ketika itu untuk
membereskan persoalan ini selekas mungkin?”
„Ya, ya,” menyetujui Poan Thian, „kalau begitu aku
perlu selekasnya kembali ke kota Kim-leng dan
menyampaikan kabar ini pada Tie Hwie Taysu di
kelenteng Ceng-hie-koan.”
Kemudian mereka lalu pergi ke tempat penginapan
Lauw Thay buat merembukkan urusan ini terlebih jauh.
◄Y►
Lauw Thay yang diberitakan oleh pelayan rumah
penginapan tentang kedatangannya kedua orang itu,
tentu saja lekas keluar menyambut dan persilahkan
mereka masuk akan duduk pasang omong di halaman
kamarnya yang memang agak luas dan cocok akan
487
dijadikan kamar tamu.
Di sini, setelah berembuk beberapa lamanya,
akhirnya telah diambil keputusan, akan Lauw Thay
kembali ke kota Kim-leng buat membawa bendera
lambang yang telah dapat diambil pulang dan sekalian
melaporkan tentang kemenangan Poan Thian dalam
pertempuran dengan Ca Tiauw Cin kepada Cin Kong
Houw suami isteri, karena ia sendiri bersama In Liong
akan berkunjung ke kelenteng Ceng-hie-koan buat coba
menyelidiki tentang lelakon Sin-tui Bie tetiron itu pada Tic
Hwie Taysu di sana. Dan jikalau urusan ini sudah beres,
barulah mereka akan masuk ke kota Kim-leng buat
berjumpa dengan Cin Kong Houw dan yang lain-lainnya.
Lauw Thay mufakat dengan omongan itu.
Maka setelah sore itu ia menerima bendera lambang
Siang-hap Piauw-kiok yang telah dicuri oleh Ca Tiauw
Cin itu dari tangan Lie Poan Thian, di hari esoknya pagipagi
sekali Lauw Thay lalu berangkat ke kota Kim-leng,
sedangkan Poan Thian dan In Liong lalu menuju ke
kelenteng Ceng-hie-koan yang terletak di luar kota
tersebut.
Pada suatu hari Poan Thian dan In Liong telah
sampai di sebuah dusun di luar kota Kim-leng, dimana
mereka telah menunda pauw-hok mereka di suatu rumah
makan yang sekalian menyewakan juga kamar pada
tetamu-tetamu yang kebetulan ingin beristirahat di luar
kota, kemudian mereka lalu menuju ke kelenteng Cenghie-
koan buat menjumpai Tie Hwie Taysu.
Sesampainya di sana, Poan Thian lalu mengetok
pintu beberapa kali, kemudian barulah kelihatan muncul
seorang toosu kecil yang oleh Tie Hwie diakui sebagai
cucunya Sin-kun Louw Cu Leng, hingga toosu kecil yang
488
kenali Poan Thian sebagai salah seorang tetamu yang
pada beberapa waktu pernah datang berkunjung ke situ,
lalu memberi hormat sambil bertanya: „Kisu, apakah
kedatanganmu ini bukannya hendak mencari guruku?”
„Ya, benar,” sahut yang ditanya sambil balas
memberi hormat. „Belum tahu apakah kunjungan kami ini
tidak mengganggu pada Taysu di sini?”
„Oh, itulah sama sekali tidak mengganggu apa-apa,
malah kedatangan tuan ini justru sangat diharapkan
sekali oleh guruku,” kata toosu kecil itu, „hanya sangat
menyesal pada beberapa hari ini ia tidak ada di
kelenteng, hingga kedatanganmu itu berarti sia-sia
belaka.”
„Apakah ia tidak memberitahukan padamu bilamana
ia akan kembali?” Poan Thian bertanya.
„Tidak,” sahut toosu kecil itu, „ia orang tua mungkin
juga akan kembali pada hari ini atau pada hari esok,
tetapi ia belum pernah bepergian lebih lama dari pada
lima hari.”
4.31. Saudara Kembar Tie Wie Taysu
„Belum tahu semenjak kapan ia keluar bepergian?”
Poan Thian bertanya pula.
„Sudah empat hari,” sahut yang ditanya.
„Kalau begitu,” kata In Liong yang campur bicara,
„baiklah kita kembali lagi di hari esok saja pada waktu
begini.”
Poan Thian menyatakan setuju.
Begitulah setelah minta si toosu kecil itu supaya suka
manyampaikan kepada gurunya tentang kunjungan
489
mereka itu, pemuda kita lalu mengajak In Liong kembali
ke rumah makan tempat mereka menginap.
Di hari esoknya pada waktu yang bersamaan, kedua
orang itu kembali telah berkunjung ke kelenteng tersebut,
tetapi lagi-lagi mereka telah „pulang kosong”, berhubung
Tie Hwie Taysu belum kembali dari bepergiannya. Begitu
juga setelah mereka pulang pergi sampai beberapa kali
dan tidak juga bisa menjumpai toosu tua itu, lambat-laun
mereka jadi timbul rasa curiga, kalau-kalau Tie Hwie
memang sengaja menyuruh muridnya menjawab yang
agak menyimpang, biarpun sebenarnya ia ada dalam
kelenteng tersebut dan tidak pergi ke mana-mana.
Maka sambil berjalan pulang setelah berkunjung
berkali-kali dengan tidak dapat menyampaikan
maksudnya, akhirnya kedua orang itu lalu berembuk
akan coba melakukan penyelidikan ke situ di waktu
malam hari.
Apabila ternyata benar Tie Hwie tidak ada di dalam
kelenteng, urusan itu boleh dianggap saja sebagai suatu
hal yang kebetulan, tetapi apabila ia ada di kelenteng,
dan sesungguhnya tidak mau bertemu dengan mereka,
mereka boleh coba menanyakan dan menegur atas
perbuatannya yang tidak manis itu.
„Cara ini memang bisa berakibat tidak baik dan
berarti juga penanaman benih permusuhan antara kita
dan dia,” kata Lie Poan Thian. „Tetapi urusan meminta
akan kita berbuat begitu. Apa boleh buat......”
„Asalkan kita jangan berlaku sembrono dan kurang
taktis,” menasehati Hoa In Liong.
Poan Thian menyatakan mufakat dengan omongan
itu.
490
Demikianlah sesudahnya selesai dahar dan bersedia
apa yang perlu untuk melakukan pengintipan menurut
rencana yang mereka atur tadi, maka pada malam itu
juga Poan Thian dan In Liong lalu menuju ke kelenteng
Ceng-hie-koan dengan masing-masing mengenakan
pakaian yang ringkas untuk berjalan di waktu malam hari.
Sesampainya di muka kelenteng tersebut, kembali
mereka berunding dari arah mana mereka akan
memasuki kelenteng itu. Tetapi In Liong yang selalu bisa
berlaku hati-hati, mendadak dapat pikiran lain yang
segera dinyatakan pada adik seperguruannya itu.
„Cara ini baiklah kita jangan lakukan dahulu,”
katanya. „Aku di sini ada suatu cara yang akan dapat
melancarkan penyelidikan kita ini dengan tidak mesti
mengalami risiko begitu besar sebagaimana apa yang
kita pikirkan pada siang hari tadi.”
„Cobalah tuturkan tindakan apa yang hendak kau
lakukan itu,” meminta Lie Poan Thian.
„Jikalau kita melakukan penyelidikan ini dengan
berduaan,” kata Hoa In Liong. „niscaya kita akan terlibat
berduaan pula, apabila urusan sampai tak dapat
diselesaikan dengan secara damai. Maka dari itu, apakah
tidak baik kalau aku saja yang melakukan pekerjaan ini,
sedangkan kau boleh menunggu dahulu akan melihat
hasil-hasil dari pekerjaan yang akan datang itu?”
„Ya, jikalau dipandang sepintas lalu, tindakanmu itu
memang ada benarnya juga. Tetapi oleh karena
mengingat yang kau belum pernah kenal atau melihat
romannya Tie Hwie Taysu, apakah urusan ini tidak akan
jadi gagal apabila nanti kau berjumpa dengan seorang
yang romannya bersamaan dengan toosu tua itu?” Poan
Thian berkata dengan rupa yang menyatakan keragu491
raguannya.
„Justru karena aku tidak kenal padanya,” kata In
Liong, „maka kukira segala perbuatanku itu masih mudah
akan diperbaikinya, apabila nanti aku berbuat kekeliruan,
sedangkan jikalau itu diperbuat olehmu yang memang
kenal padanya, niscaya urusan bisa berubah menjadi
permusuhan, yang kukuatirkan, tidak mungkin disudahi
tanpa ada salah seorang yang „keluar” dari situ dalam
keadaan utuh. Apakah barangkali Su-tee tidak
memikirkan sampai di situ?”
Poan Thian berdiam sejurus, kemudian ia berkata:
„Ya, sudahlah. Sekarang kita atur begini saja. Kau
sendiri mengintip dan mendengari dari atas wuwungan
kelenteng tentang ada tidaknya Tie Hwie di dalam
kelenteng ini, sedangkan aku di luar akan coba
mengetok pintu buat menanyakan pada toosu kecil yang
kita biasa ketemukan itu. Jikalau Tie Hwie telah kembali,
aku boleh lantas pergi menjumpainya, jikalau ia belum
kembali, kita boleh lantas lanjutkan penyelidikan ini. Kita
harus berlaku sangat hati-hati dalam melakukan
pekerjaan ini, karena Tie Hwie itu bukan seorang yang
boleh dipersamakan dengan segala orang yang pernah
berkeliaran di kalangan Kang-ouw.”
„Ya, ya, begitupun boleh,” sahut Hoa In Liong. „Tetapi
aku masih ada sepatah dua patah omongan yang
hendak kusampaikan kepadamu.
„Jikalau Tie Hwie ternyata ada di kelenteng ini dan
kau pergi menjumpainya, aku di atas wuwungan tidak
akan lekas turun buat mengunjukkan rupa, apabila aku
melihat atau mendengar yang agak tidak baik. Tetapi
jikalau ia ternyata bermaksud baik terhadap kita berdua,
aku nanti berpura-pura mengetok pintu akan mencari
492
padamu, sambil mengatakan yang aku tidak mendapat
cari padamu di tempat penginapanmu, tetapi akhirnya
lantas datang mencarimu di sini, setelah mendapat
keterangan dari „pelayan” rumah penginapan.”
„Ya, ya, caramu itu aku sangat mufakat,” kata Lie
Poan Thian yang lalu menghampiri ke muka kelenteng
Ceng-hie-koan buat mengetok pintu.
Sedangkan In Liong setelah menoleh ke kiri kanan,
lalu menggunakan siasat Hui-yan-ciong-thian, ia
tendangkan, kakinya ke tanah dan terus melayang ke
atas wuwungan kelenteng, dari mana ia berjalan dengan
indap-indap untuk mencari tahu di bagian mana yang
terdengar ada suara manusia.
Sementara Lie Poan Thian sesudah mengetok pintu
beberapa kali, kemudian melihat toosu kecil itu membuka
pintu sambil berkata: „Oh, nyatalah Siecu yang telah
mengetok pintu. Guruku sekarang sudah kembali.”
„O Mi To Hud!” Toan Thian berkata di dalam hatinya.
„Beruntung aku tidak mengambil tindakan dengan secara
semberono!”
„Harap supaya kau sudi memberitahukan pada Losuhu
tentang kedatanganku ini,” kata pemuda kita
dengan paras muka berseri-seri.
Tatkala toosu kecil itu berlalu tidak berapa lama.
Poan Thian telah menampak Tie Hwie sendiri keluar
menyambut dengan sikap yang manis dan ramah-tamah.
,,Selamat sore, Lie Siecu,” kata toosu tua itu.
„Selamat sore, Lo-suhu,” kata Lie Poan Thian sambil
memberi hormat. „Aku harap saja kedatanganku ini tidak
mengganggu kepadamu.”
„Oh, itulah sama sekali tidak,” sahut Tie Hwie Taysu.
493
„Marilah kita duduk beromong-omong di dalam
kelenteng. Hwat Lok telah melaporkan padaku tadi,
bahwa Siecu telah beberapa kali datang ke sini mencari
aku, tetapi selalu tidak bisa bertemu saja, berhubung aku
belum pulang. Kemanakah kawanmu yang pernah
disebutkan oleh Hwat Lok itu?”
Mendengar pertanyaan itu, hati pemuda kita jadi agak
terkejut, tetapi kesediaannya dalam hal menghadapi
soal-soal yang agak kesusu, telah membikin ia sadar dan
segera menjawab: „Sahabatku hari ini tidak datang ke
tempat penginapanku, maka aku telah berkunjung ke sini
dengan hanya seorang diri saja.”
„Marilah kita masuk,” mengajak toosu tua itu.
Poan Thian menurut dengan sikap yang agak see-jie.
Tatkala tuan rumah dan tetamu telah duduk bersamasama,
toosu kecil Hwat Lok lalu datang membawa air teh
dan bebuahan kering. Tie Hwie Taysu yang dari setadian
memperhatikan pada pemuda kita lalu mulai bertanya:
„Aku lihat Siecu tampak sibuk benar pada petang hari
ini. Ada urusan apakah yang perlu diurus olehmu?”
bertanya Tie Hwie yang dari setadian memperhatikan
Poan Thian yang mengenakan pakaian untuk berjalan di
waktu malam itu.
Poan Thian kembali jadi terperanjat, ketika
mendengar pertanyaan sang toosu yang agak mendadak
itu.
Tetapi ketika baru saja ia hendak menjawab,
mendadak di atas wuwungan kelenteng terdengar suara
orang yang bertempur sambil mengeluarkan kata-kata
yang mengutuk dan bersifat penasaran.
„Kalau tidak kau tentulah aku!” teriak satu suara yang
494
telah membikin Tie Hwie Taysu kelihatan jadi terperanjat.
„Di atas ada orang yang bertempur,” kata sang toosu
yang lalu berbangkit dengan diikuti oleh pemuda kita.
„Marilah kita coba tengok.”
Bagaikan seekor burung kepinis, toosu itu lalu
melayang ke atas wuwungan rumah dengan diikuti oleh
Lie Poan Thian.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Guru Dewasa Bercinta ; Si KS 5 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments