Cersil Online Pedang Pusaka Buntung 2

AliAfif.Blogspot.Com -
Cersil Online Pedang Pusaka Buntung Cersil Online Pedang Pusaka Buntung 2
-Dengan hormat Kong Sun Giok menjawab : „Dengan
ketekunan dan kegiatan maka besi potongan dapat digosok
menjadi jarum. Bapak telah membantu hamba membatasi
tempat2 yang hamba harus datangi dengan penuturan yang
berharga itu. Jika hamba mundur karena kesukaran atau
kesulitan, bagaimanakah hamba dapat menunaikan tugas
hamba? Tiang Pek San berada dipropinsi dekat Chosen, Pek
Tian San dipropinsi Sinkiang, ke-dua2nya agak jauh. Tetapi
pegunungan Biauw Ling, Kong San dan Lak Cao berada dipropinsi2
Hoen Lam dan Kwiciu, dan hamba dapat pergi
mencari dipegunungan2 tersebut. Jika tak berhasil, hamba
baru pergi kepropinsi Sinkiang atau kepegunungan Tiang
Pek San yang terletak dekat Chosen. Budi guru2 hamba
sangat besar, dan hamba harus melaksanakan pesan guru2
hamba itu. Dengan lain perkataan, hamba telah bersumpah,
jika hamba tak berhasil melaksanakan pesan guru2 hamba,
hamba lebih suka mati daripada hidup berhutang budi. Ya
hamba akan menjadi malu terhadap diri sendiri. Oleh
karena itu, hamba tak akan berhenti berusaha! Sebulan lagi,
muridnya Heng Tay-soe, Tee Tian Kauw akan datang
kesini mencari hamba. Hamba mohon bapak
memberitahukan maksud dan tempat2 yang hendak hamba
datangi. Hamba sangat berterima kasih kepada bapak."
la membungkukkan tubuhnya menghaturkan hormat dan
menyatakan terima kasihnya. Lalu ia minta diri kepada Sio
Yo Sian Seng itu. Sebelumnya ia pergi, Sio Yo Sian Seng
mengeluarkan sebuah botol kecil terbuat dari porselen
putih. Diserahkannya botol kecil itu kepada Kong Sun Giok
clan berkata : “Sio-tee bersemangat satria, dan mengenal
budi. Tidak percuma Thian Lam Sa Kiam mempunyai
murid serupa kau. Aku Sio Yo Sian Seng sangat
102
mengagumi watak dan budi-pekertimu. Kali ini kau hendak
pergi kepropinsi Hoen Lam (In Lam) dan Kwiciu, kau juga
mengetahui akan menjumpai banyak rintangan2. Kau pasti
akan masuk kedalam hutan2, mendaki gunung2,
menyeberangi sungai2 dalam usahamu mencari tempat
dimana kitab Ju Keng tersimpan menurut petunjuk yang
tertera diatas kulit kambing itu. Aku tidak mempunyai
barang apa2 yang berharga untuk diberikan kepadamu.
Tetapi botal kecil ini berisi obat yang mustajab sekali yang
dapat menghilangkan segala racun. Siotee dapat
menyimpannya baik2 dibadan. Pada suatu waktu obat itu
akan berguna sekali bagimu. Aku do'akan kau berhasil."
---oo0oo---
BAGIAN 6
DENGAN TEKAD MENDAKI GUNUNG BIAUW
LING
Kong Sun Giok mengetahui bahwa Beng Ya Hok alias
Sio Ya Seng sudah lama berkelana dimana-mana, dan yakin
bahwa obat-obatan yang dibuatnya pasti mustajab. la
menghaturkan banyak terima kasih, lalu berjalan menuju
kepegunungan Biauw Ling dipropinsi Kwiciu menurut
petunjuk2 Sio Yo Sian seng itu.
Propinsi Hunan clan propinsi Kwiciu berdampingdampingan.
Setelah menyeberangi sungai Kiam Ho
dipropinsi Kwiciu, Kong Sun Giok-tiba disuatu desa yang
terletak dekat kaki gunung Lui Kong San. Ia mencari
sebuah kedai untuk membeli makanan dan minuman dan
untuk beristirahat. Ketika ia sedang minum arak dikedai itu,
tiba2 terdengar olehnya seorang yang sedang duduk dimeja
lain dikedai itu berkata : „Ilmu silat Thian Lam dari
pendeta maling itu terlampau lihay. Meskipun guru kita
103
telah mengundang dua orang jago silat dari daerah Kwiciu
tengah, ia masih juga belum merasa aman. Apakah barang2
yang kita butuhkan telah kau siapkan?"
Pertarungan hebat karena pembalasan dendam
dikalangan Kang Ouw adalah peristiwa yang lumrah.
Tetapi ucapan „Silat Thian Lam dari pendeta maling itu
terlampau lihay" telah membikin Kong Sun Giok terkejut.
Ia berpikir :„Guruku, Goan siu To Tiang, telah
memberitahukan bahwa aku harus mencari dua saudara
kakak2 seperguruanku dalam usaha mencari kitab Ju Keng
dan membalas dendam. Dari kedua kakak2 itu yang satu
terkenal sebagai Menjangan, dan yang lain sebagai Bangau.
Mereka berkecimpung dikalangan Kang Ouw dan
senantiasa berkelana dimana-mana. Mereka tidak
mempunyai tempat kediaman yang tetap. Mungkinkah
„pendeta maling" yang disebut-sebut oleh orang itu salah
seorang dari mereka? Oleh karena itu, ia terus
mendengarkan ucapan2 dari meja lain itu dengan pertuh
perhatian. Dengan tertawa terbahak orang yang ditanya tadi
menjawab : „Caraku ini boleh dikatakan yang terbaik
disemua propinsi2 dibarat-daya. Malam ini pendeta maling
itu mungkin binasa ditangan guru kita kedua jago silat dari
daerah tengah propinsi Kwiciu. Jika tidak, iapun tidak akan
luput dari kebinasaan dihutan dimuka pengunungan Lui
Kong San!"
Lalu orang yang bertanya mula2 tadi berkata : „Su-tee!
Jangan bicara keras2! Pendeta maling itu lihay sekali ilmu
silatnya, dan siasat kita ini tidak boleh bocor! Persiapan itu
harus kita lakukan dulu!"
Kemudian mereka memanggil pemilik kedai, membayar
makanan dan araknya, dann keluar dari kedai itu.
Kong Sun Giok yakin bahwa „pendeta maling" dengan
ilmu silat Tian Lam yang disebut-sebut oleh kedua prang
104
tadi adalah salah seorang paman gurunya, atau seorang
Hiap-su (pendekar budiman)!
“Siasat apakah sedang mereka persiapkan? Berapakah
banyaknya jago2 silat yang mereka undang untuk melawan
„pendeta maling" itu?”
Kong Sun Giok berpikir „Mengapa aku tidak pergi
menyelidiki hutan dimuka pengunungan Lui Kong San.
Bila „pendeta maling" itu adalah kakak2 seperguruanku
bukankah aku dapat segera memberitahukan kabar buruk
tentang tewasnya Goan Siu To Tiang, dan dapat bersamasama
mencari kitab Ju Keng dalam usaha membalas
dendam guru dan paman2 guruku?"
Kedai yang terletak dekat kaki gunung Lui Kong San itu
tidak jauh dari hutan yang terletak dimuka gunung itu. Hari
baru senja. Lalu dengan tekad yang bulat Kong Sun Giok
jalan menuju kehutan itu.
Dihutan itu banyak sekali tumbuh pohon bambu. Tiga
buah sisi hutan itu adalah gunung2, dan sebuah lagi adalah
lapangan luas. Kong Sun Giok menduga bahwa tempat
yang dimaksud oleh kedua orang tadi adalah lapangan yang
luas itu dengan pohon2 bambu dan beberapa pohon2 yang
besar dan tua. Setelah memilih sebuah pohon yang besar,
lalu ia memanjat keatas sebuah dahan dari pohon itu dan
bersembunyi. Dari tempat persembunyiannya ia dapat
melihat dengan leluasa.
Baru lebih kurang seperempat jam ia berada diatas dahan
itu, tampaklah olehnya lima buah bayangan hitam sedang
berlari-lari dari arah barat-laut, dan tiga prang diantara
mereka itu dapat berlari dengan pesat sekali dengan ilmu
meringankan tubuhnya. Kong Sun Giok memperhatikan
bahwa salah seorang dari ketiga orang yang tiba lebih dulu,
adalah pendeta berjubah kuning dan memegang senjata
105
sebuah sekop persegi, dan dua prang yang lain berpakaian
hitam yang serupa bentuknya, akan tetapi yang satu
jangkung dan gemuk tubuhnya, dan yang lain pendek dan
kurus. Semuanya mempunyai wajah yang jahat dan kejam!
Kong Sun Giok menduga : „Pendeta berjubah kuning itu
pasti guru kedua prang yang bicara didalam kedai tadi, dan
kedua prang yang berpakaian hitam pasti adalah jago silat
yang diundang datang dari daerah tengah propinsi Kwiciu.
Dua prang lagi yang ketinggalan, dibelakang adalah yang
aku jumpai di-kedai."
Setelah mereka berkumpul, pendeta berjubah kuning
mengajak semuanya masuk kedalam hutan. Sambil
tersenyum ia berkata kepada kedua pemuda yang
berpakaian hitam :„Ilmu silat dari pendeta maling itu betul2
lihay. Aku harus minta bantuan kedua saudara!"
Lalu si-jangkung-gemuk menyahut : „Harap saudara
jangan kuatir! Sebetulnya segala siasat yang kau siapkan itu
tidak perlu. Masa kita bertiga tak dapat melawan seorang
jago silat Thian Lam?"
Ucapan „jago silat Thian Lam" itu lebih meyakinkan
Kong Sun Giok, bahwa yang akan datang memenuhi janji
untuk bertempur adalah kakak2nya itu, si Menjangan atau
si Bangau!
Baru saja ucapan si-jangkung-gemuk itu selesai,
terdengarlah dari belakang sebuah batu gumung yang besar
dan yang terletak lebih kurang 3 depa dari sijangkunggemuk
itu suara orang tertawa dan berkata :„Kim Cit! Pang
Kauw! Kamu datang dari daerah tengah, dan sekarang baru
belajar kenal dengan ilmu silatku. Bagaimanakah kamu
mengetahui bahwa jago silat Thian Lam dapat dilawan
dengan mudah."
106
Ucapan tersebut dibarengi dengan melompat keluarnya
dari belakang batu besar itu seorang Tojin (pendeta)
berjubah hijau, berusia lebih kurang 30 tahun, bertubuh
tegap dan berwajah merah. Diatas bahunya menonjol
keluar dari punggungnya sebuah gagang pedang.
Semenjak memperoleh kabar buruk tentang gugurnya
guru dan paman2 gurunya, Kong Sun Giok selalu
memikirkan dimanakah ia harus mencari saudara2nya itu.
Dewasa itu, ketika ia melihat pendeta yang berjubah hijau,
dan yakin betul bahwa pendeta itu adalah kakak2nya si
Bangau, ia tak dapat lagi menahan napsunya. la berseru
sambil meloncat turun dari dahan pohon „Ji-Su-heng!"
Si-jangkung-gemuk yang bernama Kim Cit dan
bersenjata martil besi, dan si-pendek-kurus yang bernama
Pang Kauw sudah lama berbuat sewenang-wenang didaerah
tengah propinsi Kwiciu, dan tidak ada orang yang dapat
mencegahnya! Kim Cit dengan ilmu silat tenaga luar yang
baik sekali belum pernah di-ejek orang. Mendengar ejekan
It Hok Tojin (si-Bangau), ia menjadi sangat gusar. Ketika
baru saja ia hendak menyerang, Kong Sun Giok sudah
melompat turun dari dahan pohon!
Dengan wajah bengis ia membentak : „Dari manakah
datang anak haram ini? la berani mengganggu kita
Bukankah ia mencari mati?!" Makian itu dibarengi dengan
satu jotosan yang keras kearah dadanya Kong Sun Giok!
It Hok To-jin pun tidak menduga bahwa Suteenya (adik)
telah datang berkelana sampai dipegunungan Biauw Ling.
Ia telah mengetahui bahwa jotosan Kim Cit itu sangat lihay
Baru saja ia ingin membantu, tiba2 terdengar suara
embusan angin yang keras diudara, dan Kong Sun Giok
sudah berdiri didampingnya! Kim Cit telah terdorong
mundur 5 - 6 kaki, dan belum sempat menjejakkan kakinya!
107
Sebetulnya setelah Kong Sun Giok melompat turun dari
dahan nohon, dan mengetahui bahwa Kim Cit
menyerangnya dengan sebuah jotosan, ia segera
menggunakan ilmu Tian Shing Cong atau Menyodok
bintang2 dilangit yang dipelajarinya dari Lat Siu Shin Mo,
saudara angkatnya. Dengan tangan kiri dipijitnya tangan
Kim Cit yang menjotos itu, lalu dengan mencondongkan
tubuhnya sedikit kekiri, bahu kanannya mendorong tubuh
Kim Cit sehirgga ia terdorong mundur 5 - 6 kaki!
Silat itu bukan saja mengejutkan pendeta berjubah
kuning, dan si-pendek-kurus Pang Kauw, bahkan Kim Cit
sendiripun menjadi tak berdaya, karena setelah tangannya
dipijit oleh Kong Sun Giok, matanya menjadi berkunangkunang,
dan ia merasa dadanya yang terdorong oleh bahu
lawannya sakit-sekali seakan-akan telah ditinju dengan
hebat!
It Hok 'T'o-jin yang menyaksikan itu, juga merasa heran
dan gembira. Tetapi ketika ia melihat bahwa Kong Sun
Giok mengeluarkan air mata, dengan cemas ia bertanya :
„Su-tee, mengapa kau tiba2 datang kepegunungan Biauw
Ling ini? Apakah guru dan kedua paman guru selamat?"
Kong Sun Giok berpikir, bahwa disitu bukan tempatnya
untuk menceriterakan kabar yang harus disampaikannya. la
berketapan hendak membereskan lawan2nya yang sedang
dihadapi. Maka ia menahan air matanya dan menyahut :
„Mereka semuanya baik. Memang banyak yang hendak
siauwtee bicarakan. Lebih baik kita bereskan jahanam2 ini
lebih dulu. Sebentar Sio-tee akan menceriterakan kepada Ji
Su-heng!"
It Hok To-jin masih merasa cemas karena bunga putih
yang disematkan didadanya Kong Sun Giok. Dengan
jawaban Kong Sun Giok tadi ia terpaksa meladeni
lawan2nya. Sambil menunjuk pendota berjubah kuning, ia
108
berkata kepada Kong Sun Giok : „Su-tee, coba lihat pendeta
ini. Berapa usianya menurut taksiranmu? Tetapi ia dapat
julukan 'Hidung putih', lucu, bukan? Apakah ia tidak harus
dibunuh mati?"
Dengan mengayun sekop perseginya pendeta berjubah
kuning membentak : „It Hok Cek To (pendeta maling)
Pertempuran malam ini, yang kuat hidup dan yang lemah
binasa. Yang murni berbahagia dan yang palsu musnah.
Siapakah yang sudi, mengadu mulut denganmu. Ayo, cabut
pedangmu!"
It Hok To-jin tertawa, dan mengangkat tangannya untuk
mencabut pedangnya. Kong Sun Giok berkata dengan suara
rendah : „Pendeta jahat ini, disamping mengundang jago2
silat untuk membantu, juga telah memasang perangkap.
Sio-tee yang melawan pendeta itu, dan Su-heng dapat
menjaga."
It Hok To-jin telah mengetahui bahwa gurunya Goan Siu
To Tiang sangat sayang pada Kong Sun Giok, dan telah
mengajarinya semua ilmu silat pedang Thian Lam. Dengan
ilmu silat Tian Shing Cengnya, yang telah menyebabkan
Kim Cit tadi tak berdaya, ia yakin bahwa Kong Sun Giok
dapat melawannya. Dengan menunjuk ketiga2 lawannya, ia
berkata : „Su-tee, baiklah kau yang mengajar pendeta
hidung putih ini supaya tahu adat. Kedua pembunuh itu,
Kim Cit dan Pang Kauw juga penuh dengan dosa2. Jika
kau melawan mereka, ingat delapan huruf yang berbunyi :
Yang diatas batang lehernya hanya jahanam2 belaka!'
Tentang perangkap yang mereka pasang, aku akan
memperhatikan!"
Lalu sambil tersenyum, Kong Sun Giok mencabut
pedangnya. Pendeta berjubah kuning memang sudah takut
melawan It Hok To-jin. Kini setelah melihat cara Kong Sun
Giok menjadikan Kim Cit tak berdaya, ia maju dengan
109
perasaan kuatir. Kim Cit yang telah diberi malu oleh Kong
Sun Giok, lalu datang menghalangi si-pendeta, berjubah
kuning. la berkata : „Pendeta tua, kau mundur. Aku yang
akan mengajar adat anak kemarin dahulu ini".
Pendeta berjubah kuning itu, bukan saja bertabiat busuk,
tetapi juga palsu hatinya. Mendengar seruan Kim Cit, ia
buru2 mundur dengan perasaan girang. Lalu Kim Cit
mengeluarkan, senjatanya yang ganjil bentuknya. Dengan
suara keras ia membentak : „Hei! maling kecil! Kau datang
menyerang dan rasakan martil besi yang termashur lihay di
barat-daya dari Kim Cit ini!"
Kim Cit bersenjata sebuah martil besi yang berbentuk
tinju manusia dan gagangnya lebih kurang 4 kaki
panjangnya. Dengan senjata yang ganjil itu ia telah berbuat
sewenang-wenang didaerah tengah propinsi Kwiciu dan
belum pernah menjumpai lawan yang dapat
menalukkannya!
Kong Sun Giok yang berwatak peramah dan suka
pemurah sebetulnya tidak bermaksud mencelakakan orang
lain. Akan tetapi lawannya itu sangat kejam dan jahat. Jika
manusia semacam itu dibiarkan berbuat sewenangsewenang
dikalangan Kang Ouw, bukan saja mereka
menodai nama baik jago2 silat dikalangan Kang Ouw,
bahkan juga mencelakakan atau membunuh rakyat yang tak
berdosa.
Dengan tekad tersebut Kong Sun Giok lalu menyerang
lawannya dengan pokkiam. Ilmu silat pedang Tian Lam
sangat memperhatikan ketenangan dan kesungguhan. Kong
Sun Giok menyerang dengan tenang, tetapi bersungguhsungguh.
Serangan yang secepat kilat menusuk kearah
mukanya Kim Cit yang belum pernah rnenjumpai tusukan
secepat itu! la terkejut, dan dengan secepat kilat pula
ditangkisnya ujung pedang itu dengan martil besinya.
110
Tetapi ia tidak mengetahui bahwa ilmu silat pedang Thian
Lam itu, disamping mempunyai ketenangan dan
kesungguhan, juga ketekunan. Kong Sun Giok lekas
menarik kembali pedangnya sebelum beradu dengan martil
besi lawannya untuk disodokkan lagi dengan secepat kilat
kearah dada musuh!
Si-martil besi Kim Cit melihat tangkisannya gagal, lalu
menekan pedang yang menusuk kearah dadanya dengan
martil besinya. Ia merasa martil besinya melekat kencang
pada pedang seterunya dan kemudian ia merasa bahwa
pedang itu sangat berat sekali dan menyebabkan tangannya
yang memegang martil besi itu tergetar. Kong Sun Giok
menarik martil besi lawannya, dan disaat itu dada seterunya
kosong tak terjaga! Dengan memutar pedangnya ke
tenggorokkan seterusnya. Seumur hidupnya ia belum
pernah membunuh orang, dan pada saat yang kritis itu
diubah tusukkan tersebut untuk menebas lengan kanan
seterunya, Kim Cit menjerit kesakitan, dan lengan
kanannya terlempar ketanah.
Si-pendek-kurus tidak menduga sedikitpun bahwa
saudara angkatnya Kim Cit dapat dengan mudah
dikalahkan dan lengan kanannya ditebas. Tetapi dalam saat
itu, sambil menyuruh pendeta berjubah kuning menolong
dan mengobati lukanya Kim Cit, ia maju kehadapan Kong
Sun Giok sambil membentak : “Hei!Maling kecil! Kau tahu
siapakah yang telah kau lukai!? Mulai saat ini kau jangan
harap dapat hidup tenang! Aku dan kawan2ku akan
mengejar dan membunuh kau dimana saja kau berada!
Ayo! Jika kau betul2 lihay, coba kau tabas buntung lengan
kiri aku ini, Pang Kauw!''
Kong Sun Giok memperhatikan bahwa kekejaman dan
kejahatan wajah Pang Kauw An serupa dengan Kim Cit,
ditambah pula dengan sifat munafik. la lebih benci pada
111
Pang Kauw itu. Dengan mengejek ia berkata : „Aku tak
perduli siapakah yang telah kulukai. Tapi aku tahu aku
telah mengajar adat seorang yang durhaka! Jika aku tidak
herhasil membasmii makhluk2 yang jahat serupa kalian,
bagaimanakah aku dapat melawan raja dari semua iblis,
Lak Cao Shin Kun Ban Cun Bu!"
Ucapan „Lak Cao Shin Kun Ban Cun Bu" itu bukan saja
menyebabkan wajah2nya Pang Kauw, Kim Cit dan pendeta
berjubah kuning menjadi pucat, bahkan It Hok To-jin pun
menjadi terkejut. la tidak mengetahui mengapa Kong Sun
Giok ingin melawan raja dari semua iblis2, Ban Cun Bu?
Kong Sun Giok menghadapi Pang Kauw dengan mata
terbelalak, dan berkata : „Kau suruh aku menebas buntung
lengan kirimu? Jika dalam tiga jurus tak berhasil aku
menebas lengan kirimu, bukanlah aku ini Kong Sun Giok!"
Kedua mata yang bersinar itu mengawasi Pang Kauw
yang segera melihat lengan kirinya. Kong Sun Giok
meneruskan : „Jangan kira kamu dapat berbuat sewenangwenang
didaerah barat-daya. Aku dan paman guruku akan
membasmi kamu semua jahanam2 dalam jangka waktu
setengah tahun. Setelah kau kehilangan lengan, kau
mungkin menyuruh orang memasang perangkap untuk
mencelakakan kami. Tetapi kita dari partai Thian Lam tak
akan gentar!"
Pang Kauw setelah mendengar ejekan itu, tidak dapat
lagi menahan sabarnya. Dengan siulan tersebut seperti
seekor naga sedang merintih. Pedang didalam tangannya
tergetar. la menggunakan ilmu silat pedang Hua Kai Kua
Hut atau membuka bunga melihat dewa yang dipelajarinya
dari Ceng Lian Shin Ni. Makin lama makin hebat getaran
pedang itu, dan ke-dua2 toya Pang Kauw terdorong
kesamping. Pang Kauw lekas2 menyodok lagi. Tetapi Kong
Sun Giok mengegos kekanan, dan dengan satu bacokan
112
secepat kilat ia berhasil menebas buntung lengan kiri,
seterusnya sebelum ia dapat berbuat suatu! Demikianlah
dalam tiga jurus : menggetarkan pedangnya, mengegos
kekanan, dan membacok, Kong Sun Giok berhasil menebas
buntung lengan kiri seterusnya Kong Sun Giok tidak
menyerang terus. Pedangnya ditarik kembali, dan
memberikan kesempatan kepada lawannya untuk
mengobati lukanya. Lalu ia membentak: „Sebetulnya kami
harus segera membunuh kamu yang sangat jahat dan kejam
ini. Akan tetapi kami teringat akan pesan guru kami untuk
tetap bermurah hati meskipun terhadap musuh besar. Kini
kami menebas buntung lenganmu sebagai peringatan, dan
kami harap kamu dapat menyesal akan perbuatan jahatmu
yang sudah2, dan berubah menjadi orang baik. Jika
dikemudian hari aku mendengar kamu berbuat jahat juga,
dan bila berjumpa lagi, pedangku ini akan menghabiskan
riwayatnya!"
Kim Cit dan Pang Kauw, setelah membalut lengannya,
dengan wajah yang tetap kejam dan perasaan sakit hati,
berlalu tanpa mengucapkar apapun! Si pendeta berjubah
kuning setelah melihat kedua jago silat yang diundangnya
telah dikalahkan dengan masing2 kehilangan sebuah
lengan, menjadi ketakutan bercampur girang. la ketakutan
karena ia pasti tak dapat melawan seterunya dan mungkin
juga perangkapnya akan menjadi gagal. la girang karena ia
yakin bahwa Kim Cit dan Pang Kauw yang telah diberi
malu demikian hebatnya, pasti menaruh dendam dan akan
memberitahukan itu kepada guru2nya. Ia yakin bahwa
salah satu guru2nya Kim Cit dan Pang Kauw dapat
meladeni orang2 dari partai Thian Lam! la tidak lari, tetapi
berdiri dengan penuh pikiran.
113
Dengan sebuah bacokan Kong Sun Giok telah berhasil
menabas buntung lengan kiri lawannya
Lalu Kong Sun Giok menanya It Hok To-jin : ,.Ji Suheng,
masih ketinggalan seorang pendeta durhaka. Apakah
Sio-tee juga yang harus membereskan?"
It Hok To-jin telah menyaksikan bahwa ilmu silat
pedang Kong Sun Giok itu dapat dipercaya. Dengan
beberapa ilmu silat yang telah dipelajari dan telah
dipertunjukkannya, Kong Sun Giok pasti dapat
membereskan pendeta berjubah kuning itu dengan mudah.
la berkata sambil tersenyum : „Sutee, pendeta durhaka ini
berlainan daripada jahanam2 tadi. la hanya gila perempuan,
dan kita mudah menjumpainya lagi. Dosa2nya besar sekali.
Kau harus menghajarnya!"
Kong Sun Giok manggut, lalu mendatangi pendeta
berjubah kuning itu. la membentak : „Hei, pendeta cabul!
Dengan menyamar sebagi orang suci kau berbuat mesum
114
terhadap banyak wanita2. Dosa2mu besar sekali. Lagipula
kau telah menyuruh dua orang bersembunyi didalam hutan
untuk memasang perangkap. Ayo! lekas2 panggil mereka
keluar!"
Si-pendeta berjubah kuning tidak berani melawan,
karena ia yakin ia tak sanggup. Tetapi ia sangat cerdik. la
tertawa dan menyahut :„Kau tak usah tergesa-gesa. Aku
kini menyuruh kamu menangis". Lalu dipanggilnya
orang2nya : „Hei, lekas2 bawa, kesini kepalanya It Lok Cek
To!"
Ucapan tersebut membikin It Hok To-jin terkejut. 'Petapi
Kong Sun Giok yang telah mengetahui siasat lawannya
tidak menghiraukan.
Dua orang keluar dari hutan. Orang yang bertubuh
pendekan membawa sebuah bungkusan kain merah, dan
dengan mata terbelalak ia berkata dengan suara keras
kepada It Hok To-jin : „Hei! it Hok Cek To! Aku bawa
kepala saudaramu It Lok Cek To! Ni! ambil dan lihat
dengan kepala matamu sendiri!" Lalu dilemparkannya
bungkusan kain merah itu kepada ItHok To-jin!
It Hok To-jin menangkap bungkusan kain merah itu. Ta
merasa cemas sekali, karena ia yakin bahwa saudaranya, It
Lok To-jin, telah dibunuh dengan jalan curang oleh
musuh2nya. la hendak membuka bungkusan kain merah
itia untuk menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Tetapi perbuatannya itu dicegah oleh Kong Sun Giok yang
berkata :„Ji Su-heng, hati2! Mungkin mereka menipu kita.
Bungkusan itu mungkin bukannya kepala orang. Kita harus
menggunakan ilmu tenaga dalam membuka bungkusan itu,
dan jangan mau tertipu oleh mereka!"
It Hok To-jin yang banyak pengalaman segera insyaf
akan keteledorannya setelah diperingati oleh Kong Sun
115
Giok. la lekas2 meletakkan bungkusan itu ditanah. Lalu
bersama-sama Kong Sun Giok ia menggunakan tenaga
dalamnya menghadapi bungkusan itu yang jauhnya lebih
kurang 4 depa dari mereka. Betul saja, begitu bungkusan
tersebut terbuka, suara ledakkan terdengar! Bungkusan itu
isinya obat-pasang. Semua orang kecuali Kong Sun Giok
dan It Hok To-jin terlempar jatuh oleh ledakkan tersebut!
Kong Sun Giok dan it Hok To-jin hanya terdampar mental
2 depa jauhnya!
Setelah asap ledakkan buyar, Kong Sun Giok dan It Hok
To-jin menyaksikan pemandangan yang menegakkan bulu
roma. Si pendeta berjubah kuning telah menjadi hancur
luluh karena ledakkan itu. Kedua orang2nya, karena berdiri
agak jauh, yang satu segera tewas karena kepalanya
berantakkan, dan yang lain luka parah dengan mandi darah!
It Hok T'o-jin meng-goyang2kan kepalanya dan berkata :
„Inilah pembalasan Tuhan kepada orang2 yang bermaksud
jahat."
Melihat penderitaan hebat dari orang yang 90% mati itu,
maka It Hok To-jin menjotos dadanya sekali lagi, dan
segeralah ia tewas, dan lenyaplah penderitaannya!
Kemudian It Hok To-jin menghadapi Kong Sun Giok
dan berkata :„Su-tee kini kau dapat menceriterakan
semuanya, apakah guru dan paman2 guru kita semuanya
selamat?"
Belum lagi Kong Sun Giok menjawab, air matanya
segera mengucur dan ia amat merasa sedih. Lalu
dituturkannya peristiwa pertaruhan jiwa dilembah Lek Yun
Kok antara guru dan paman2 gurunya dengan Lak Cao
Shin Kun Ban Cung Bu. It Hok To-jin tidak dapat menahan
kesedihan hatinya, dan air matanyapun mengucurlah.
Dengan menumbuk sebuah pohon besar dengan tinjunya, ia
berkata dengan kedua mata terbelalak „Kini aku baru
116
mengerti mengapa Su-tee barusan sebut2 Ban Cun Bu. Sutee,
marilah kita bersama-sama membalas dendam guru dan
paman2 guru2 kita!"
Kong Sun Giok berkata : „Ji Su-heng, untuk membalas
dendam terhadap Ban Cun Bu kita mempunyai waktu 10
tahun. Guru kita juga ada pesan tcrhadap kita. „Kemudian
ia menuturkan peristiwa Bian Leng Jun membawa berita
buruk itu kepadanya dan pengalaman2 yang telah
dijumpainya setelah menerima berita buruk tersebut. Lalu
diberikannya kulit kambing yang telah dicongkelnya keluar
dari gagang pedang Poa Liong Kiam. It Hok To-jin
memeriksa kulit kambing itu, dan berkata : „Su-tee,
seterusnya kita tak dapat berpisah lagi. Kita harus mencari
kitab Ju Keng itu. Sayang sekali Toa Suheng kita entah
dimana. Mungkin ia dapat mengetahui dimana letaknya
puncak gunung yang ganjil dan tertera diatas kulit kambing
ini."
Kong Sun Giok berkata :„Menurut Sio Yo Sian Song
alias Reng Ya Hok, dari puncak2 yang mirip seperti gambar
itu ada satu yang terletak dipegunungan Biauw Ling. Kita
kini tak berjauhan dari pegLmungan Biauw Ling. Bukanlah
lebih baik kita menuju kesitu ?"
It Hok To,jin menganggukkan kepalanya dan berkata :
„Baik. Jika kita ke Lak Cao dan Kong San. Pegunungan
Pak Tian San dan Tiang Pek San sangat jauh dari sini,
maka kita harus pergi lebih dahulu kepegunungan2 yang
terdekat."
Kemudian mereka menguburkan dengan saksama
mayat2 seteru2nya sebelum mereka pergi kepegunungan
Biauw Ling.
Pegunungan Biauw Ling, dengan puncak2nya yang
ganjil dan luar biasa bentuknya, merupakan pegunungan
117
yang terbesar dipropinsi Kwincin. Banyak keluarga2 sukubangsa
Biauw tinggal menetap dipegunungan itu. Jarang
sekali orang pergi kepegunungan itu, karena ular berbisa
dan, binatang2 yang berbahaya masih merajalela disamping
orang2 Biauw yang masih belum mengenal kesopanan.
Dengan keyakinan bahwa mereka akan dapat mengatasi
semua rintangan2 itu, It Hok To-jin dan Kong Sun Giok
tidak takut untuk pergi kepegunungan itu bahkan sampai
ke-tempat2 yang terpencil sekalipun! Disepanjang jalan It
Hok To-jin menceriterakan segala adat-istiadat suku bangsa
Biauw disamping pengalaman2nya dikalangan Kang Ouw.
Pada suatu hari mereka harus meliwati hutan yang lebat.
Tiba2 Kong Sun Giok bertanya: „Ji Su-heng, Kim Cit dan
Pang Kauw yang telah kutebas buntung masing2 sebuah
lengannya telah mengatakan bahwa mereka mempunyai
sandaran untuk membikin pembalasan, apakah betul?"
It Hok To-jin menjawab : ,.Ketika aku menerima berita
buruk tentang tewasnya guru dan paman2 guru kita, aku
amat sedih, dan oleh karena itu aku lupa memberitahukan
kepadamu. Dewasa ini dikalangan Bu Lym, terdapat 10
jago2 silat yang lihay sekali dari partai yang baik maupun
yang jahat. Guru dan paman2 guru kita dari piartai Thian
Lam, Ban Cun Bu dan Shin It Cui yang terkenal sebagai
dua iblis dari Utara dan Selatan, Ceng Lian Shin Ni yang
kau diumpai dikuil dan yang telah menghukum Shin It Cui,
Sin Teng Coa-su dari pulau Cin Ju to dilautan utara, Shin
Lo dari pegunungan Mo San semuanya berdiumlah 8
orang, ditambah lagi dengan guru2nya Kim Cit dan Pang
Kauw, yalah Tok Pi Cai Jin (Srigala berlengan satu) dan
Lang Sin Siu Si (Pelajar berjiwa srigala)!”
Kong Sun Giok mengerutkan keningnya dan bertanya
lagi: „Guru saudara angkatku ialah Tian Kauw, Pu Heng
Toa-su, agaknya ilmu silatnya sangat tinggi, hanya kedua
118
lengannya buntung. Apakah ia tak termasuk diantara 10
orang2 tersebut ?"
It Hok To-jin menggoyangkan kepalanya dan berkata:
"Orang tua itu rupanya mempunyai suatu urusan yang
meremukkan hatinya. Oleh karena itu ia memakai nama
'Heng' yang artinya 'Benci'. Tentang i!mu silatnya aku tak
mengetahui banyak. Tetapi kaIangan Kang Ouw ini luas
sekali. Yang terkenal adalah 10 orang itu, tetapi yang belum
terkenal entah berapa banyak." la berhenti sejenak, lalu
meneruskan: "Aku tadi mengatakan ada 10 orang: ialah 3
jago2 silat pedang Tian Lam, Ceng Lian Shin Ni, Sin Teng
Toa-su, dari kalangan agama Budha. Shin Lo dari
pegunungan Mo San tidak baik perbuatannya. Lat Siu Shin
Kun Shin It Cui meskipun terkenal kejam, tetapi ia masih
mempunyai perasaan prikemanusiaan. Lak Cao Sin Kun
Ban Cun Bu, meskipun kejam dan jahat, akan tetapi ia
memegang kepercayaan, dan selalu menepati jandii dan
pantas menjadi Su-hu (guru)! Guru2 dari Kim Cit dan Pang
Kauw, Tok Pi Cai Jin dan Lang Sin Siu Si, betul2 jahat dan
kejam dan perhuatannya sangat keji! Mereka akan
melakukan segala siasat untuk memusnahkan musuh2nya.
Ilmu silatnya ada yang paling rendah diantara 10 jago2 ini.
Terhadap musuh yang lebih kuat mereka bersembunyi,
tetapi terhadap musuh yang lebih lemah mereka menghina.
Maka selama 10 tahun ini meraka jarang menjumpai lawan
yang dapat memberikan hajaran yang setimpal kepadanya!
Su-tee berwatak ksatria, dan selalu rela memberi ampun
meskipun terhadap musuh yang jahat dan kejam. Su-tee
telah membebaskan Kim Cit dan Pang Kauw, dan jika kita
berjumpa dengan kedua guru2nya itu, maka usaha kita
mencari kitab Ju Keng ini pasti menemui rintangan besar!"
Kong Sun Giok menyahut : „Ji Su-heng merasa cemas.
Tetapi bukanlah kita akan bertempur melawan Ban Cun Bu
119
yang lebih lihay dari Tok Pi Cai Jin dan Lang Sin Siu Si ?
Apa salahnya jika kita betul2 menjumpai mereka dan
menguji ilmu silat kita melawan mereka?"
It Hok To-jin tertawa dan menjawab :„Su-tee beryali
besar'.a Baiklah, kita siap melawan kedua jago2 silat yang
kejam itu, dan menyuruh mereka mencoba pedang kita !"
Sambil bercakap-cakap mereka berjalan terus, dan ketika
hampir tiba dikaki gunung, It Hok Tojin berhenti dan
berkata : „Su-tee, coba perhatikan. Gunung ini kelihatan
subur sekali dibagian atas dan agak tandus dibagian bawah,
mirip seperti gambar yang tertera diatas kulit kambing".
Kong Sun Giok memperhatikan dan menyaksikan bahwa
puncak gunung diatas mereka itu betul2 sebagaimana
dikatakan oleh It Hok To-jin, dan disehelah kanan dari
puncak itu terlihat sebuah puncak yang lebih rendah. Kong
Sun Giok melompat-lompat sehingga 3 atau 4 depa
tingginya karena girang, dengan keyakinan bahwa puncak
gunung yang mereka cari rupanya telah mereka temui!
It Hok To-jin yang menyaksikan loncatan itu berpikir
:„Su-tee ini telah mahir dalam ilmu silat pedang dapat
mengatasi Ceng Lian Shin Ni, dan ilmu tinju yang
dipelajarinya dari Shin It Cui. Kini ilmu meringankan
tubuhnya telah aku saksikan sendiri, hebat sekali.
Pembalasan dendam Tian Lam Sa Kiam terhadap Ban Cun
Bu telah ditakdirkan dibebankan diatas bahunya!"
Mereka menuju kepuncak itu, akan tetapi ketika berada
ditempat yang lebih dekat dari puncak itu, King Sun Giok
menjadi kecewa lagi, karena ia melihat juga sebuah puncak
yang lebih rendah disebelah kirinya. Dengan marah2 ia
berkata : „Lagi2 kita gagal!" It Hok To-jin menghibur : „Sutee,
tak usah putus-asa. Kita belum mendaki puncak itu dan
120
menyelidikinya. Mari kita mendaki untuk menyelidiki
dengan saksama."
Kong Sun Giok hanya dapat mengikuti kakak
seperguruannya, tetapi didalam hatinya ia yakin bahwa
puncak tersebut bukannya puncak yang harus mereka cari.
---oo0oo---
Bagian 7
MENAKLUKKAN DUA JAHANAM
…… Dengan satu tinju Sun Giok memukul patah dan hancur
batang kayu itu dengan mudahnya ………
Puncak tersebut sangat sukar untuk dipanjat karena
pohon2 sangat lebat dilerengnya. Tiba2 ia bertanya pada It
Hok To-jin : „Ji Su-heng, jika kita telah tiba dikota Lak
Cao, apakah kita akan hertempur melawan Ban Cun Bu
dikuil Sun Yo Kung ?"
121
It Hok To-jin berpikir sejenak, lalu menyahut : “Menurut
keterangan Su-tee, guru kita Goan Siu To Tiang ber-sama2
paman2 guru kita, Goan Cin dan Goan Long, tidak dapat
melawan Ban Cun Bu sendiri dalam 10 jurus. Bukankah
ilmu silatnya lihay sekali? Dengan ilmu silat kita sekarang
ini, aku yakin belum dapat kita melawannya. Menurut
pendapatku, kita harus bersabar, dan menaati pesan guru
kita ialah mencari kitab Ju Keng, lalu kita pergi ke Toa. Suheng
untuk ber-sama2 mempelajari ilmu silat tenaga dalam
sampai mahir sekali. Kemudian kita dapat melawan Ban
Cun Bu dengan berhasil."
Kong Sun Giok setuju dengan pendapat itu, dan mereka
meneruskan perjalanannya. Ketika mereka tiba disuatu
tempat yang membagi jalan mereka ketiga jurusan, It Hok
To-jin berhenti. Dipasangnya telinganya untuk
mendengarkan sesuatu. Kong Sun Giok lalu memanjat
keatas sebuah pohon dan dengan berdiri disatu dahan
pohon itu ia dapat melihat sebuah rumah gubuk. Didepan
rumah gubuk tersebut berdiri seorang yang berusia lebih
kurang 50 tahun yang sedang berlatih memukul batang2
pohon dengan tinjunya. Batang2 pohon yang besar itu
ditaruh diantara dua batu besar, dan dengan satu tinju tiap2
batang pohon yang besar itu patah hancur! It Hok To-jin
yang juga sudah naik keatas dahan pohon itu menyaksikan
perbuatan itu. la terkejut. Karena batang2 pohon itu yang
panjangnya tidak lebih dari 3 kaki dan tebalnya hampir satu
kaki telah dipukul hancur dan patah dengan sekali tinju. la
yakin juga bahwa batang2 pohon itu adalah kayu yang kuat
dan keras seperti besi dan yang terdapat hanya
dipegunungan Biauw Ling. la yakin bahwa pukulan itu
lebih lihay daripada pukulannya sendiri. Siapakah jago silat
itu yang tinggal terpencil dipegunungan yang sunyi-senyap
ini?. Setelah berunding sejenak, Kong Sun Giok dan It Hok
To-jin turun dari atas dahan pohon itu dan menghampiri
122
jago silat didepan rumah gubuk itu. Ketika mereka sudah
dekat jago silat itu, It Hok To-jin bertanya dengan hormat :
„Kami It Hok To-jin dan Su-tee Kong Sun Giok ada urusan
hendak pergi kepropinsi Yunnan. Kami mohon saudara
sudi menunjukkan jalan yang manakah yang harus kami
tempuh."
Mendengar pertanyaan itu, jago silat itu mengangkat
kepalanya. Pada saat itu tampaklah oleh It Hok To-jin
bahwa bukan saja kedua mata orang itu bersinar, tetapi
hidungnyapun melengkung seperti patok burung elang,
kedua bibirnya tipis dan mulutnya lancip seperti mulut
musang, dan seluruh wajahnya kelihatan sangat kejam dan
jahat. Ia membentak : „Menanyakan jalan adalah urusan
remeh. Siapapun yang liwat disini harus mematahkan
batang2 kayu ini seperti aku!" Lalu ditinjunya sampai patah
sebuah batang pohon lagi!
It Hok To-jin berpikir : „Mungkin aku dapat memukul
patah batang kayu itu, tetapi untuk membikin hancur?
Hebat betul ilmunya!" Kong Sun Giok yang melihat
kecemasan Ji Su-hengnya, lalu berkata kepada jago silat itu
sambil tersenyum : “Orang tua!Memukul patah dan hancur
batang2 pohon tidak terhitung ilmu silat yang luar biasa.
Pekerjaan itu tak usah dilakukan oleh Ji Suhengku. Aku
sendiri dapat melakukannya!"
Mendengar jawaban Kong Sun Giok itu, It Hok To-jin
menjadi heran, karena memukul patah dan hancur batang2
pohon itu memerlukan tenaga dalam yang luar biasa
lihaynya. Si jago silat melirik kearah Kong Sun Giok, lalu ia
menyemprotkan hawa dari hidungnya untuk mengejek!
Kong Sun Giok tak menghiraukan ejekkan itu. la maju
kedepan menggunakan ilmu yang diajarkan Shin It Tiui
ketika ia membebaskannya dari balok2 Sa Lo Shin Bok
123
digua, dengan satu tinju ia memukul patah dan hancur
batang kayu itu dengan mudah.
It Hok To-jin terkejut dan merasa girang. Bahkan si jago
silat juga berdiri tercengang! Kong Sun Giok berkata sambil
tersenyum : „Orang tua! Itu hanya pekerjaan yang tak
berarti! Apakah kau juga ingin menguji sifat pedang Thian
Lam kita?!"
Si jago silat lalu tertawa ter-bahak2, dan suara tertawa itu
seperti bunyi seekor srigala. Ia berkata: “Anak muda ini
betul2 lihay ilmunya. Aku tak usah menguji ilmu silat
pedangmu. Jalan ini ada tiga jurusan. Jalan yang disebelah
kiri adalah jalan yang paling dekat kepropinsi Yunnan. Dua
jalan lainnya penuh binatang2 berbahaya dan ular2 berbisa.
Aku tak dapat menyertai kamu. Mungkin lain kali kita
berjumpa lagi !"
Setelah itu, ia berdiri tegak dan meloncat 3 atau 4 depa
tingginya. la turun diatas tanah yang berumput lalu
menghilang kedalam hutan, entah kemana!
Kong Sun Giok berkata : „Jika aku tidak dapat belajar
dari Shin It Cui, akupun tak berani mencoba. Tetapi ...... Ji
Su-heng, bagaimana pandangan Ji Su-heng, setelah melihat
wajahnya dan suaranya si-orang tua itu? Bukankah ia mirip
seperti gurunya Kim Cit dan Pang Kauw yang telah Ji Suheng
ceriterakan pada Su-tee? Bukankah ia itu Lang Sin Siu
Si ?"
It Hok To-jin melompat-lompat dan berseru : „Betu12! ia
itu Lang Sin siu Si! Mengapa pada waktu itu aku tak
mengenalinya? Orang itu jahat, kejam dan keji! Barusan ia
lari karena ia kuatir tak dapat melawan kita berdua! Kita
harus waspada! la pasti memasang perangkap. Kita tidak
boleh menempuh jalan disebelah kiri seperti yang telah
dikatakannya tadi!"
124
Kong Sun Giok berpikir, lalu berkata : „Ia pasti
memasang perangkap. Jika keadaan berlainan, kita pasti
akan menggempur orang2 durhaka semacam ia. Tetapi
tugas kita sekarang ialah mencari puncak yang ganjil itu
untuk mencari kitab Ju Keng. Kita tak usah mengejarnya,
tetapi kita harus dengan tekun mencari kitab Ju Keng untuk
membalas dendam guru dan paman2 guru kita."
It Hok To-jin tetap cemas kelihatannya. Melihat wayah
itu, Kong Sun Giok berkata sambil tersenyum : „Kita tak
usah ragu2 lagi. Mari kita ambil jalan disebelah kiri. Bila
kita menjumpai sesuatu, kita dapat melawan atau mengatasi
ber-sama2 !"
Lalu mereka mengambil jalan disebelah kiri. mula2 jalan
itu rata, akan tetapi ketika mereka tiba diujung jalan itu
mereka menghadapi lereng gunung yang curam, dan hawa
udara ditempat itu sangat bau! Mereka merasa hendak
muntah menghirup hawa udara yang bau itu! Kong Sun
Giok berkata : „Ji Su-heng, Lang Sin Siu Si itu betul2 jahat
dan keji. la telah menjebak kita! Tetapi nasi sudah jadi
bubur! Ayo kita teruskan dan lihat apa didepan kita."
It Hok To-jin melihat keadaan disekitarnya yang sangat
seram dan berbahaya kelihatannya. la kuatir jika mereka
dibokong oleh Lang Sin Siu Si dengan kawan2nya.
Disuruhnya Kong Sun Giok mencabut pedangnya, dan ia
sendiri menggenggam senjata rahasianya „Hian Men Ti
Cu".Mereka berjalan terus dengan hati ber-debar2.
Hari sudah mulai lohor, dan awan dilangit menutupi
matahari. Rupanya segera akan turun hujan. Dengan hawa
udara yang bau itu, Kong Sun Giok merasa kepalanya
pusing. la menegur It Hok To-jin. Baru saja ia menegur : „Ji
Su-heng!", tiba2 se-ekor burung terjatuh didepan mereka. It
Hok To-jin melihat keatas udara, 5 ekor burung sedang
terbang keatas. Tetapi ketika mereka terbang lebih tinggi
125
lagi, tiap2 burung jatuh ketanah dan mati! Peristiwa yang
luar biasa itu menyebabkan It Hok To-jin berpikir. Tiba2 ia
menahan Kong Sun Giok dan berkata : „Su-tee, celaka!
Kita telah masuk perangkap.Mungkin kita sukar keluar dari
perangkap ini dan kita akan tewas karena hawa udara yang
beracun!" Lalu dikeluarkan dua butir obat mustajab, dan
diberikannya sebutir pada Kong Sun Giok, untuk dimakan.
la sendiripun lekas menelan pil obat itu. la berkata :
„Burung2 itu jatuh mati karena hawa udara yang beracun
ini. Kita menjadi pusing karenanya. Untung kita lekas
mengetahui. Mereka coba kembali, tetapi mereka merasa
sekujur tubuhnya mendadi lemes. It Hok Tojin jin berseru :
„Celaka! pil obat aku tidak menolong ! Kita gagal mencari
kitab Ju Keng. Sayang It Lok T'o-jin belum menget,ahui
pesan guru kita..: dan aku gagal."
Kong Sun Giok juga menjadi terkejut mendengar bahwa
obat itu tak menolong. la mengutuk perbuatan keji dari
Lang Sin Siu Si. Ia lekas2 mengeluarkan pil obat yang
diberikan oleh Sia Yo Sian Seng. Lekas2 diberikannya tiga
butir kepada It Hok To-jin, dan ia sendiri menelan tiga butir
sambil berkata: „Pil obat dari Sio Yo Sian Seng ini istimewa
untuk membuyarkan racun dari hawa ini!"
Betul saja, setelah lewat lk, 5 menit, mereka tidak merasa
lemes atau pusing kepala lagi. Lalu Kong Sun Giok berkata
: „Ji Su-heng kita tak usah kuatir lagi.Mari kita meneruskan
perjalanan kita dan melihat apakah yang akan dibuat oleh
jahanam itu!"
Setelah mereka berjalan seperempat jam lagi, It Hok Tojin
berhenti, dan menunjuk kedepan. Kong Sun Giok
berhenti dan memasang telinga. la mendengar seakan-akan
ada orang yang sedang tertawa. Pada saat itu angin sedang
meniup keras sehingga daun2 pohon tertiup berhamburan!
126
Dengan waspada mereka berjalan maju. Betul saja
didepan mereka disuatu tempat terbuka yang jauhnya 1ebih
kurang 10 depa dari mereka terlihat oleh mereka Lang Sin
Siu Si yang sedang tertawa. Terdengar pula ia berkata :
„Dipegunungan Biauw Ling, inilah „Tian Kiat Kok" itu
hawa racunnya paling hebat, yang mulai timbul diwaktu
hari mulai lohor. Aku harus minum arak dulu, dan sebentar
aku datang membereskan mayat2nya!" Terdengar lagi oleh
mereka jawaban dari perkataan itu : „Ji-tee harus sabar!
Kita harus hati2 melakukan sesuatu. Kau jangan anggap
bahwa mereka pasti tewas. Kits harus memasang perangkap
lagi untuk menyempurnakan pekerjaan kita!"
It Hok To-jin segera mengetahui bahwa orang itu adalah
Tok Pi Cai-jin (Srigala berlengan satu) yang serupa kejam,
jahat dan kejinya.
Terdengar lagi Lang Sin Siu Si menanya : „Toako,
apakah kau kira mereka berdua dapat luput dari lembah
Tian Kiat Kok itu?"
Tok Pi Cai Jin menyahut sambil tertawa : „Ji-tee, kau
yakin akan berhasil, dan berbuat sembrono. Orang2 itu
bukan saja telah luput dari bahaya, bahkan sudah berada
didekat kita !"
It Hok To-jin mengetahui bahwa mereka tak usah
bersembunyi lagi. Ditariknya Kong Sun Giok keluar, lalu
bersama2 meloncat menghadapi kedua jahanam itu! Tok Pi
Cai Jin berusia Iebih kurang 60 tahun, mulutnya lancip
seperti srigala, kedua matanya celong dan berpakaian baju
kuning. Lengannya sebelah telah buntung. Kong Sun Giok
lalu mengejek: „Tok Pi Cai Jin, Lang Sin Siu Si! Kamu
jangan berpikir akan dapat berbuat sewenang-wenang
dengan ilmu silatmu. Perbuatanmu sangat keji. Kamu
durhaka sekali! Tangan kanan dari Kim Cit dan tangan kiri
dari Pang Kauw telah kutebas buntung untuk mengajar adat
127
kepada rnereka. Jika kalian ingin membalas, mengapa tidak
membalas dengan secara terang-terangan? Mengapa harus
menggunakan siasat yang busuk?! Jahanam!!"
Belum lagi ucapannya selesai, Lang Sin Siu Si
menggerakkan lengan bajunya kearah mukanya Kong Sun
Giok. Setelah ia minum dari secangkir arak ia berkata: „Ini
adalah secangkir arak yang dapat memutuskan usus. Aku
telah minum ½ cangkir. Apakah kau berani minum habis?!"
Kong Sun Giok mengetahui bahwa arak itu tidak ada
racunnya, dan ia tidak ingin dipandang sebagai penakut. la
menerima arak itu. Tiba2 dari udara jatuh seekor burung
yang mati diatas cangkir itu sehingga, araknya tumpah! ,
Lang Sin Siu Si menjadi cemas ketika burung itu jatuh
begitu tepat. la mencondongkan tubuhnya dan dengan ilmu
meringankan tubuhnya ia naik 4 a 5 depa dan tiba diatas
sebuah semak bebelukar!
Kong Sun Giok juga memperhatikan bahwa ketika Lang
Sin Siu Si memberikan cangkir arak kepadanya, pada jari
kecil tangan kanannya rupanya ada menempel benda yang
mengkilap!
la menjadi curiga. Ia insyaf bahwa burung yang jatuh
dengan tiba2 tentulah atas perbuatan siserigala dengan ilmu
tenaga dalamnya. Hanya beruntung baginya burung itu
jatuh tepat diatas cangkir sehingga arak itu tumpah!
It Hok To-jin juga telah menyelidiki keadaan disekitar
mereka. Lalu ia berbisik kepada Kong Sun Giok: „Su-tee
lawan Tok Pi Cai Jin, dan aku melawan Lang Sin Siu Si!"
Kong Sun Giok menganggukkan kepalanya dan berkata :
„Aku lihat dijari kecil tangan kanannya Lang Sin Siu Si ada
benda yang luar biasa. Ji Suheng harus perhatikan. Tetapi
128
jika dugaanku tidak salah, ada orang yang akan membantu
kita yang sedang bersembunyi didekat ini!"
It Hok To-jin berkata : „Ada atau tidak ada pembantu,
Su-tee jangan pandang enteng musuh2 kita. Kita harus
gempur dengan ilmu silat kita dengan sungguh2 untuk
memegang nama “Thian Lam!"
Kong Sun Giok membungkukkan badan menerima
petunjuk, lalu dengan pedang terhunus menghadapi
musuh2nya!
Lang Sin Siu Si lalu berkata kepada Tok Pi Cai Jin:
„Twako yang melawan maling kecil itu! Aku yang melawan
maling ini!"
Belum lagi ucapannya selesai, It Hok To-jin telah
mendatanginya dengan pedang terhunus. Ia
membentakniuh : „Hei! Jahanam! Hari ini kau rasai
pedrang dari Thian Lam'." Dengan tenaga dalamnya uyung
pedang itu menusuk kedada Lang Sin Siu Si denga tergetar.
Lang Sin Siu Si mengegos sambil tertawa keras, lalu ia
menendang kemaluannya It Hok To-jin! It Hok To-jin
menarik kembali pedangnya sambil loncat mundur
beberapa depa untuk menghindarkan tendangan maut itu!
Ia yakin ia tak dapat melawan dengan pedangnya. la harus
melawan dengan tinju!
Lang Sin Siu Si yang melihat gerak cepat seterusnya
tidak segera mengirim serangan2. Ia berlagak meninju
dengan tinju kanannya, lalu tinju kirinya menjotos bahu
lawan! It Hok To-jin juga ingin mengetahui berapa lihay
tenaga dalam seterunya. Ia tidak membalas menyerang, ia
mengegoskan jotosan itu dengan membelokkan tubuhnya
sedikit kesamping, lalu dengan kedua tangannya
dipegangnya lengan yang meninju untuk didorong kedepan.
Lang Sin Siu Si terdorong kedepan, dan ia buru2 meloncat
129
keluar dari tendangan seterunya! Pada saat itu pula It Hok
To-jin memperhatikan bahwa dijari kecil tangan kanan
Lang Sin Siu Si ada menempel suatu benda yang
mengkilap. Dengan ilmu silat Thian Lam, It Hok To-jin
senantiasa dapat menjaga diri dari semua serangan2. Ia
hanya kuatir siasat busuk dari lawannya!
Dipihak Kong Sun Giok, pertempuran berjalan dengan
dahsyat sekali! Ketika It Hok To-jin mendatangi Lang Sin
Siu Si, Tok Pi Cai Jin dengan sekali loncat telah berdiri
dihadapan Kong Sun Giok. la membentak : „Lengan2 Kim
Cit dan Pang Kauw, telah kau tebas buntung, anjing kecil!"
Kong Sun Giok yang tak biasa dibentak demiaian kasarnya,
menjadi murka sekali dan membentak kembali : „Bukankah
aku telah beritahukan kepadamu bahwa akulah yang
menebas buntung lengan2 murid2mu??! Apakah perlu aku
jelaskan lagi?!"
Tok Pi Cai Jin menyahut : „Hari ini aku akan menebas
buntung lenganmu dan juga lengan kawanmu untuk
mengganti lengan2nya Kim Cit dan Pang Kauw!"
Kong Sun Giolc tidak bicara lagi. la menusuk biji mata
lawannya dengan ujung pedang ditangan kanannya, dan
dengan, memutar tubuhnya sedikit kekekanan dengan tinju
kiri dijotosnya pinggang lawannya dengan ilmu Hian Shing
Cong atau menjotos bintang2 dilangit yang dipelajarinya
dari shin It Cui.
Tok Pi Cai Jin tidak menduga sama sekali bahwa
serangan2 itu dapat dilakukan berbareng. Ia melihat bahwa
ia diserang oleh pedang, dan tak menduga jotosan kearah
pinggangnya. Jotosan itu ..... rupanya ia pernah lihat entah
dimana! Dielakannya tusukan pedang itu, dan secepat kilat
dan secepat kilat ia meloncat mundur beberapa depa untuk
menghindarkan jotosan dipinggangnya! Kong Sun Giok
mengejar. la menyerang dengan ilmu silat pedang Thian
130
Lam Chit Kiam Pwee Cong atau 7 kali tusuk dengan
pedang dan 8 kali jotos dengan tinju sehingga Tok Pi Cai
Jin menjadi kewalahan mengegoskan diri dan
menghindarkan serangan2 maut itu!
Akhirnya Kong Sun Giok menggunakan ilmu tinju Leng
Pek To Hoan atau menggeprak ombak dilaut, dan Tok Pi
Cai Jin harus meloncat mundur 8 depa lagi! Lalu Kong Sun
Giok berhenti dan mengejek: „Hei! jahanam! Aku tak
mengerti mengerti mengapa dengan ilmu silatmu yang
hanya begitu saja kamu berdua mengaku jago. Apakah hari
aku harus memotong buntung lengan2 dan kaki2mu?!
Tiba2 Tok Pi Pi Cai Jin ini meloncat keudara dan dan
dari atas ia datang menerkam ia datang menerkam Kong
Sun Giok sambil berkata dengan suara keras : „Maling
kecil! Sambut tinjuku ini!"
Betul silat pedang Thian Lam tak ada taranya, dan silat
tinjunya nomor wahid dikalangan Kang Ouw, tetapi ia
masih kurang pengalaman! Tinju Tok Pi Cai Jin itu dikirim
dengan semua tenaga dalam sehingga hawanya saja
membikin Kong Sun Giok terpental 5 kaki jauhnya! Tok Pi
Cai Jin menyerang lagi dengan satu jotosan kedadanya
Kong Sun Giok yang belum lagi berdiri jejak! Kong Sun
Giok menjadi nekad. Dengan pedangnya dan dengan ilmu
Ceng Lian Kiam Fat yang dipelajari dari Ceng Lian Sin Ni
ditabasnia tinju yang menjotos dadanya itu. Tok Pi Cai Jin
lekas2 menarik kembali tinjunya. la terkejut! Tinju itu
adalah yang belum pernah gagal. la heran dari manakah
pemuda ini dapat mempelajari demikian banyaknya ilmu
silat! Dengan ilmu pedang Thian Lam dan ilmu tinju Thian
Sing Cong, Kong Sun Giok menyerang, dan dengan ilmu
Ceng Lian Kiam Fat ia menjaga diri! Bagaimanakah Tok Pi
Cai Jin dapat menerkamnya??? Setelah pertempuran
berjalan 80 jurus, nyata sekali bahwa Tok Pi Cai Jin tak
131
dapat berbuat apa. la keteter. Dipihak It Hok To-jin yang
memperhatikan penjagaan diri dari menyerang, Lang Sin
Siu Sipun tak dapat berbuat apa2. Demikianlah pertarungan
berlangung selama I00 jurus tetapi belum dapat diketahui
pihak manakakah yang kalah!
To Pi Cai Jin menjadi makin panas karena seumur
hidupnya belum pernah ia menjumpai lawan yang demikian
gigihnya. Dengan ilmu Long Pe To Hoan atau menggeprak
ombak dilaut dikirimnya lagi sebuah jotosan yang dahsyat
sekali kedadanya Kong Sun Giok sehingga Kong Sun Giok
harus mundur beberapa tindak. la berseru kepada Lang Sin
Siu Si : „Ji-tee! jangan buang2 tenaga lagi. Suruh mereka
merasakan Im Yang Ji Kiat Cong Lik atau tenaga tinju
kedua iblis!"
Dengan tangan tanpa senjata Lang Sin Siu Si sukar
menyerang It Hok To-jin dengan ilmu silat pedang Thian
Lamnya. Setelah mendengar petunjuk Tok Pi Cai Jin, ia
berdiri tegak dan mengawasi kedua mata It Hok To-jin.
Kong Sun Giok mengetahui bahwa pihak lawannya akan
menyerang dengan seluruh kepandainnya. Iapun mendekati
Ji Su-hengnya, dan berdiri tegak dengan pedang terhunus
menanti serangan musuh!
Lalu Tok Pi Cai Jin dan Lang Sin Siu Si dengan wajah
serupa iblis menggepal tinju2nya Terlihat bahwa tinju2 itu
berubah menjadi merah dan terus menjadi hitam. It Hok
To-jin mengerti bahwa tinju yang akan mereka kirim ialah
Im Yang Dii Kiat Cong Lik yang terkenal dahsyat dan tak
dapat ditahan oleh ilmu Bu Kie Ci Kong atau tenaga dalam
yang tak terbatas! Kong Sun Giok yang masih kekurangan
pengalaman tak mengetahui itu. la hanya yakin bahwa ilmu
Bu Kie Ci Kong dari gurunya, Goan Siu To Tiang dapat
menahan jotosan2 Im Yang Ji Kiat Cong Lik dari
seteru2nya!. It Hok To-jin menjadi cemas sekali, tetapi ia
132
tak dapat mundur. Lalu dengansuara rendah ia
memperingati Kong Sun Giok bahwa hanya, dengan Ceng
Lian Kiam Hoatnya, Kong Sun Giok mungkin dapat
menjaga dirinya sendiri, dan bahwa ia akan berusaha
menjaga diri dengan ilmu Thian Lam Kiam Sutnya. Dalarn
saat yang tegang itu, dari belakang semak belukar yang
berdekatan se-kon,yong2 terdengar suara orang tertawa
gelak2, dan berkata : „Aku kira ilmu Im Yang Ji Kiat Cong
Lik itu adalah ilmu silat yang kamu baru ciptakan. Tetapi
ilmu tersebut hanya ilmu Tai Yo Cong (meninju matahari)
dan Ngo Im Bu Kiat Siu (menyerang dari 5 pend;guraa)
yang dilakukan berbareng. Bagi orang yang belum
mengetahui siasat itu, ilmu kamu itu dapat berhasil. Tetapi
serangan tersebut dapat dilumpuhkan dengan ilmu Bu Kie
Ci Kong dari Thian Lam jika telah mengetahui siasat kamu!
Hei! tua bangka! Apakah kau ingin hilang satu lengan
lagi?!"
Ucapan tersebut membikin Tok Pi Cai Jin dan Lang Sin
Siu Si terkejut. Tok Pi Cai Jin menanya Lang Sin Siu Si
„Siapakah itu yang merintangi kita? Apakah ia bukannya si
pemabuk?"
Lalu terdengar lagi, suara tertawa ter-bahak2, dan suara
meloncat keluar dari semak belukar Lat Siu Shin Mo Sin It
Cui, saudara angkatnya Kong Sun Giok yang telah
dibebaskannya dari tahanan didalam gua. Seluruh
wajahnya merah seakan-akan ia sedang mabuk arak.
Dihampirinya Tok Pi Cai Jin dan Lang Sin Siu Si, lalu
membentak : „Sudah lama tak berjumpa! Karena tempo
hari aku mabuk, aku telah tertahan didalam goa delapan
tahun. Kini aku Ouw.Maukah kamu menyertai aku minum
arak ?!"
Tok Pi Cai Jin dan Lang Sin Siu Si segera mundur
beberapa tindak setelah melihat Shin It Cui. Lang Sin Siu Si
133
lalu berkata dengan hormat : „Kami tak berani menyertai
paman minum arak. Karena paman, kami memberi ampun
kedua maling itu. Namun, kita akan berjumpa lagi lain
kali." Setelah mengucapkan itu, mereka memutar badan,
lalu -loncat pergi entah kemana!
Lalu sambil tersenyum Kong Sun Giok berkata kepada It
Hok To-jin „Ji Su-heng, inilah yang Ji su-heng katakan jago
dari 10 jag2 silat dikalangan Bu Lim, Lat Slu Shin Mo Shin
It Cui Kemudian ia memberi hormat kepada Shin It Cui
dan berkata : „Cui Ko-ko, inilah ji su-heng siotee (kakak
seperguruan ke-2 dari adik)!"
It Hok Tojin yang teIah mengetahui hubungan Shin It
Cui terhadap Kong Sun Giok memberi hormat kepada Shin
It Cui dan berkata : „Aku bernama It Hok dari partai Thian
Lam. Terimalah hormatku!"
Shin It Cui tertawa dan menyahut : „Baik, baik! Kau
dapat memanggilku Cui Ko-ko seperti Kong Sun Giok
memanggil aku, Ha! ha! ha!"
Lalu Kong Sun Giok menanya : „Cui Ko-ko, aku dengar
bahwa Tok Pi Cai Jin dan Lang Sin Siu : diantara 10 jago2
silat yang palihg terkenal, adalah yang paling busuk
wataknya. Mengapa hari ini Ko-ko membebiakan mereka,
dan tidak membasminya?"
Sambil tersenyum Shin It Cui menjawab : „Jika aku
bertemu dengan mereka 8 tahun yang lewat mereka pasti
sudah tewas ditanganku, Tetapi ada dua alasan........
apakah kau tidak mengeahui alasannya?"
Kong Sun Giok mengerutkan keningnya, lalu berkata
sambil tersenyum :„Aku telah lupa. Balok ketiga belum
patah, maka Cui Ko-ko tidak dapat membunuh orang.
Alasan kedua mungkin pada dewasa ini ilmu silat kita
belum dapat melawan mereka?"
134
Shin It Cui menjawab : „Alasan pertama telah kau tebak
dengan tepat. Tetapi alasan kedua salah. Coba tebak lagi".
Kong Sun Giok menoleh kearah It I-Iok To-jin meminta
ia membantu menebak. Setelah liwat agak lama, mereka
berdua menggelengkan kepala karena tak dapat menebak.
Mereka minta Shin It Cui memberitahukan alasan kedua.
Sambil menunjuk mukanya Shin It Cui menanya : „Coba
lihat, mengapa mukaku ini merah sekali?"
It Hok Tojin menyahut sambil tertawa : “Cui Ko-ko
telah banyak meminum arak!" Shin It Cui tertawa terbahak2
dan berkata : „Jika aku mabuk arak, maka tenagaku
bertambah. Tetapi merah ini bukannya karena minum
terlampau banyak arak. Merah ini disebabkan oleh karena
aku telah menderita, luka didalam tubuh, karena kena ilmu
Sun Yo Cin Kai atau membuyarkan siasat seteru dari Lak
Cao Shin Kun Ban Cun Bu!"
Ketika itu Kong Sun Giok ingat bahwa pada saat ia
berpisah dari Shin It Cui, Shin It Cui pernah mengatakan
bahwa ia hendak pergi ke Lak Cao menjumpai Ban Cun Bu
agar dapat menyelidiki sampai dimanakah kepandaiannya
Ban Cun Bu. Kini ternyata bahwa Shin It Cui telah
menderita luka didalam tubuh karena kena ilmu Sun Yo
Cin Kai Ban Cun Bu. Dengan perasaan cemas ia bertanya :
„Cui. Ko-ko telah kena Sun Yo Cin Kai, apakah luka
didalam tubuh itu berbahaya? Cui Ko-ko dan Ban Cun Bu
terkenal sebagai „Kedua iblis dari Selatan dan Utara",
mengapa sekarang menjadi....."
Shin It Cui tidak menunggu ucapan itu selesai, ia
menjawab : „Setelah aku tiba digedung Sun Yo Kung, aku
minum lima botol arak. Baru dengan ilmu tinju Tian Shing
Cong aku melawan Ban Tiun Bu. Pertempuran itu
berkesudahan seri. Kemudian kita mengadu tenaga dalam,
dan aku kalah dan menderita luka dalam ini. Namun Ban
135
Cun Bu juga harus beristirahat selama 10 atau 15 hari
dengan aku! Ilmu Bu Kie Ci Kong dari Thian Lam
sebetutnya dapat menolong menyembuhkan luka dalam aku
ini, dan aku minta kamu membantu. Setelah itu aku akan
mencari suatu tempat yang terpencil agar aku dapat melatih
semacam ilmu silat yang sangat lihay dengan maksud
kembali melawan Ban Cun Bu!"
Kemudian ia duduk ditanah dengan kedua lengannya
dipentang. Kong Sun Giok dan It Hok To-jin masing2
berdiri dikiri dan dikanan didepannya. Lalu dengan ilmu Bu
Kie Ci Kong mereaa mengirim tenaga dalamnya ketubuh
Shin It Cui. Mereka lakukan pertolongan tersebut selama
lebih kurang setengah jam, dan warna merah dimukanya
pelahan2 lenyap. Setelah itu, Shin It Cui membuka
matanya lebar2 dan menurunkan kedua lengannya. la
berkata sambil tertawa : „Kamu berdua sangat baik hati
menolongku. Aku rasakan bahwa luka didalam tubuh ini
sudah jauh berkurang. Aku hanya memerlukan istirahat,
dan luka dalam ini pasti sembuh! Kong Sun Giok Sie-tee,
coba beritahukan aku bagaimana kamu sampai menjadi
musuhnya Tok Pi Cai Jin dan Lang Sin Siu Si?"
Kong Sun Giok lalu menceriterakan hal ikhwalnya
tentang permusuhan terhadap kedua jahanam itu. la juga
mempertunjukkan kulit kambing kepada Shin It Cui. Shin It
Cui setelah mengetahui bahwa Heng Toa-su, gurunya Teh
Tian Kauw, ke-hilangan dua lengan, rupanya memikiri hal
itu! Lalu ia selidiki lagi kulit kambing itu. Sambil
menganggukkan kepalanya ia berkata : „Aku telah tertipu
oleh Ceng Kian Shin Ni dan telah ditawan selama 8 tahun
didalam gua. Tentang puncak seperti ini seingatku pernah
aku lihat dipegunungan dekat kota Lak Cao. Kamu boleh
pergi kesitu untuk membuktikan ......." Hei, sio-tee, barusan
ketika kau melawan Tok Pi Cai Jin kau dapat menggunakan
136
ilmu Tian Shing Cong dan Ceng Lian Kiam Hoat
berbareng. Jika kau juga dapat barengi dengan tenaga
dalam, tanpa bantuan kitab Ju Keng, kau juga dapat
menjagoi dikalangan Bu Lim!„
Kong Sun Giok membungkukkan diri memberi hormat
dan berkata :„Cui Ko-ko, bagaimanakah burung2 yang
sedang terbang dapat segera mati? Apakah bukan karena
benda ajaib dijari kecil tangan kanannya Lang Sin Siu Si?"
Shin It Cui menyahut : „Aku belum ceriterakan tentang
benda itu. Betul benda dijari kecil tangan kanannya Lang
Sin Siu Si itu sangat beracun. Pada masa mudanya ia telah
melawan musuh yang lihay, dan jari kecilnya itu tertabas
putus. Lalu digantinya dengan benda logam yang beracun.
Sin It Cui yang mengenakan pakaian hitam seakan-akan
terbang menyerangnya. Kong Sun Giok buru2 menangkis dengan
pedangnya.
Ketika ia hendak memberikan cangkir arak kapadamu,
jika jari yang dibuat dari logam itu menyentuh tanganmu,
kau segera kena racun. Beruntung sekali burung yang kena
hawa beracun itu jatuh tepat diatas cangkir arak itu
137
sehingga kau terhindar dari sentuhan jari logam yang
beracun itu!"
Kong Sun Giok mengeluarkan keringat dingin mengingat
bahaya maut yang hampir saja mengakhiri riwayatnya ! Hal
itu menyebabkan ia sangat benci pada kedua jahanam
dengan tipu muslihatnya yang keji itu! It Hok To-jin yang
mendengarkan yuga, menjadi terpesona, karena iapun
dapat binasa jika menyentuh jari logam beracun itu!
Shin It Cui meneruskan : „Lang Sin Sill Si dan Tok Pi
Cai Jin meskipun sangat kejam dan keji, tapi ilmu silatnya
hanya lebih tinggi sedikit dari pada kamu berdua. Kong Sun
Sio-tee jika dapat betul memahami ketiga ilmu silat Thian
Lam Kiam Hoat, Thian Shing Cong dan Ceng Lian Kiam
Hoat, sudah dapat menaklukkan mereka. Hanya lain kali
jika menjumpai mereka lagi, kamu harus waspada, tapi tak
usah gentar! Seumur hidupku, aku hanya kalah satu kali.
Ialah terhadap Ban Cun Bu. Tapi aku akan melatih ilmu
silat lagi dengan tekun, dan aku pasti akan melawan ia lagi.
Kini sebelumnya kita berpisah, aku akan menyerang Sio-tee
lagi, dan Sio-tee harus menggunakan ilmu Ceng Lian Kiam
Hoat, Thian Lam Kiam Hoat dan juga Thian Shing Cong
melawan aku !"
Kong Sun Giok mengetahui ia tidak dapat menolak,
maka ia menjadi waspada. Ia mencabut pedangnya, segera
menyerang dengan ilmu Liu Shing Hui Ji atau para bintang
jatuh berhamburan, sebagian dari ilmu silat pedang Thian
Lam! Ketika serangan itu dilancarkan sangat hebatnya,
dengan tangan kirinya ia menjotos Shin It Cui dari bawah
dengan ilmu Can Shing Cong! Jotosan itu adalah jotosan
pura2, karena pedang ditangan kanannya menyerang
lawan.
Shin It Cui menotok tanah dengan kedua ujung jari
kakinya, dan secepat kilat ia keluar dari serangan2 pedang
138
yang gencar itu. Lalu dari atas ia totok bahu kanannya
Kong Sun Giok sambil berkata : „Sio-tee totokan ini pura2.
Serangan pedangmu tidak disertai tenaga dalam, maka aku
masih dapat luput dari kurungan, dan pihak lawan masih
dapat menyodok seranganmu!"
Kong Sun: Giok setelah ditotok bahu kanannya berpikir
bahwa ilmu silatnya masih harus dilatih, ia buru2
membuyarkan tatokan tadi dengan pedangnya. Lalu
terdengar Shin It Cui berteriak : „Sio-tee, kini kau saksikan
ilmu Shin Mo Bo Ing atau iblis hilang tak berbekas ini!"
Belum lagi ucapan itu selesai, Shin It Cui yang mengenakan
pakaian hitam seakan-akan terbang menyerangnya. Kong
Sun Giok buru2 menangkis dengan tinjunya sambil
bertindak mundur tiga tindak! Serangan itu tak terhenti.
Kong Sun Giok harus menangkis dengan pedangnya
dengan ilmu Ceng Lian Kiam Heat ialah ilmu pedang yang
menjaga diri. Tiap2 serangan, Shin It Cui selalu memberi
petunjuk cara mengegoskan atau menangkisnya, sehingga It
Hok To-jin yang berdiri menonton disamping juga banyak
mendapat pelajaran. Demikianlah pertempuran berjalan
lebih kurang 50 jurus baru berhenti. Dengan tertawa Shin It
Cui berkata : „Kita harus berpisah selama setahun
kemudian barulah berjumpa lagi!"
Kong Sun Giok menanya : „Cui Ko-ko dimana hendak
berlatih?"
Shin It Cui menyahut :„Semua pegunungan dikolong
langit ini adalah tempat kediamanku. Kamu sukar mencari
aku. Baik saja perjanjian Thian Lam Sa Kiam terhadap Ban
Cun Bu itu berjangka waktu 10 tahun, dan kita masih
banyak-mempunyai waktu. Dalam setahun ini, kamu
berusaha keras inencari kitab Ju Keng, dan aku melatih
ilmu silatku. Dikemudian hari kita pasti berjumpa lagi."
139
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan : „Ilmu silat Iblis
Ban Cun Bu itu bet12 lihay. Beruntung sekali ia menaati
janjinya jika tidak, selama 10 tahun ini ia dapat berbuat
sewenang-wenang. Baru saja aku menggunakan ilmu Shin
Mo Bo Ing melawan Kong Sun Giok. Itu adalah salah satu
tiga ilmu Shin Mo (iImu iblis sakti) yang aku ciptakan
sendiri. Tentang ilmu itu telah aku berikan petunjuk2
kepadamu. Tetapi sebelum kau memperoleh kitab Ju Keng,
kau jangan sembarangan melawan Ban Cun Bu!"
Kong Sun Giok menghaturkan terima kasih atas nasehat
dan petunjuk dari Shin It, Cui itu. Ia yakin bahwa Shin It
Cui betuI2 lihay ilmu silatnya dan akan membantunya
membalaskan dendam terhadap Ban Cun Bu. Lalu ia minta
Shin It Cui mengajari lagi tiga ilmu Shin Mo itu kepadanya.
Ilmu Shin Mo itu banyak jurus dan langkah2nya, akan
tetapi Kong Sun Giok yang pintar dan cerdas dapat
mempelajarinya. la hanya memerlukan berlatih lagi untuk
memahami seluk-beluknya ketiga ilmu ShinMo itu.
Setelah yakin bahwa Kong Sun Giok betul2 sudah
paham ketiga ilmu Shin Mo itu, dengan hati yang berat
Shin It Cui berpisah!
---oo0oo---
Bagian 8
KEJADIAN DI TEMPAT TERLARANG
Kong Sun Giok dan It Hok To-jin juga segera berangkat
kekota Lak Cao dipropinsi Yunnan untuk mencari puncak
gunung yang ganjil bentuknya itu dengan maksud mencari
kitab Ju Keng sebagai petunjuk untuk memahirkan ilmu
silatnya.
140
Tapi setelah tiba dikota Lak Cao, Kong Sun Giok
terkenang akan kekasihnya, Bian Leng Jun. la tak dapat
masuk kekuil Sun Yo Kung. Apakah ia tak ada akal agar
dapat menjumpainya? Lagipula jika ia berhasil menjumpai
Bian Leng Jun, ia dapat menanyakan segala sesuatu tentang
keadaan pegunungan Lak Cao dan tentang puncak gunung
yang bentuknya ganjil itu.
Ketika mereka berpisah, Bian Leng Jun pernah berkata
bahwa untuk mencarinya, ia harus pergi kekuil Pik Yun
Yen dikaki puncak gunung Pek Lok Hong, dan disitu
meminta supaya Liauw Seng Toa-su membawa surat
kepadanya. Setelah ia memberitahukan kehendaknya
kepada It Hok To-jin mereka lalu menanyakan jalan kekaki
puncak gunung Pek Lok Hong dengan maksud mencari
Liauw Seng Taa-su dikuil Pik Yun Yen!
Tapi, manusia berusaha, dan Tuhan berkuasa. Mereka
berhasil tiba dikuil Pik Yun Yen, akan tetapi Liauw Seng
Toa-su telah meninggal dunia bulan yang lalu.
Kong Sun Giok terpaksa menahan napsu untuk
menjumpai kekasihnya, karena ia tak berani masuk kekuil
Sun Yo Kung. Bersama-sama Ji Suhengnya ia menuju
kepergunungan Lak Cao itu untuk mencari puncak gunung
yang telah dilukiskan oleh Bang Ya Hok dan Shin It Cui.
Pegunungan Lak Cao luas, dan kedua orang itu telah
berusaha keras mencari puncak gunung itu dengan sia-sia
belaka!
Lalu Kong Sun Giok mengusulkan mencari puncak itu
dengan terpisah, seorang mencari diarah selatan dan
seorang mencari kearah utara, dan tiap2 selang tiga hari
mereka berkumpul lagi dikuil Pik Yun Yen.
Setelah disetujui, Kong Sun Giok mencari kearah
selatan, dan entah sudah berapa banyaknya puncak2
141
gunung yang telah dilihatnya, berapa lembah yang telah
diliwati! Pada hari yang kedua ia tak berani meneruskan,
karena kuatir ia tak dapat kembali kekuil Pik Yun Yen
menemui Ji Su-hengnya pada hari ketiga.
Ia berdiri diatas suatu puncak, sambil menoleh kebawah
dan menyaksikan pohon2 cemara, pohon2 bambu dan
rumput2 tumbuh sangat suburnya. Bahkan dilereng gunung
dilihatnya atap2 dari beberapa rumah! la ingin turun untuk
mendatangi salah satu rumah itu, tiba2 dirasanya ada orang
dibelakang. la lekas2 menoleh kebelakang. Diatas sebuah
batu gunung yang datar berdiri seorang gadis yang
mengenakan pakaian putih dan membawa sebungkus obatobatan.
Gerak-geriknya sangat lincah dan wajahnya berseri2.
Rupanya gadis itu baru saja turun dari puncak!
Melihat Kong Sun Giok menoleh kebelakang, gadis itu
tidak menunggu ditegur lagi. la menegur : „Dipegunungan
Lak Cao ini orang dapat pesiar dimana saja, akan tetapi
puncak gunung inilah yang paling sukar untuk dipanjat.
Apakah kongcu ada mempunyai urusan penting?
Bagaimanakah jika berhenti sebentar?"
Melihat gadis yang mengenakan pakaian putih itu, Kong
Sun Giok terkenang lagi kepada Bian Leng Jun. Lalu ia
bertanya : „Siocia, apakah kuil yang dikaki puncak gunung
ini bukannia kuil Sun Yo Kong, tempat kediamannya Lak
Cao Shin Kun Ban Cun Bu?"
Si-gadis berbaju putih menyahut : „Kongcu menebak
dengan tepat. Ban Cun Bu tak akan keluar dari kuil Sun Yo
Kung selama 10 tahun. Jika orang lain berani masuk
kedalam kuil Sun Yo Kung sebelum memperoleh izin dari
Ban Cun Bu, maka orang itu akan dihukum. Hukuman
berat ialah hukuman mati, hukuman enteng ialah kedua
kakinya ditabas buntung!"
142
Mendengar penjelasan itu, Kong Sun Giok mengerutkan
kening. Lalu dengan tersenyum ia berkata : „Ban Cun Bu
itu sangat kejam. la telah menganggap hutan dan tanah
pegunungan yang luas ini mililknya. Ia sendiri kehilangan
dua betis, dan ia juga ingin orang lain kehilangan betis.
Betul2 kejam!"
Melihat Kong Sun Giok demikian bencinya terhadap
Ban Cun Bu, si gadis itu menanya lagi : “Beruntung sekali
kau menjumpai aku. Jika kau menjumpai orang lain,
mungkin kau kini sudah menjadi mayat!"
Mendengar penjelasan itu, Kong Sun Giok makin
menjadi panas. Dengan congkak ia berkata : “Siocia jangan
bicara terlampau edan! Aku tidak percaya jika tiap2 orang
dikuil Sun Yo Kung pandai ilmu silat!"
Jawaban itu menyinggung perasaan sigadis berbaju
putih. Ia membelalakkan kedua matanya, dan membentak :
„Kau ini luarnya seperti orang yang baik, akan tetapi
watakmu sangat congkak.
Kau tidak menghargai peringatanku yang bermaksud
baik ini! Nah! sekarang kau boleh rasain ini" Lalu
dipegangnya paculnya dengan kedua tangannya. Diputar2nya
pacul itu, dan maju menyerang Kong Sun Giok!
Melihat cara sigadis menggunakan senjata pacul itu,
Kong Sun Giok segera mengetahui bahwa gadis itu bukan
lawan yang remeh. la tidak sempat cabut pedangnya.
Dengan kedua tangan didorongnya sebuah batu gunung
yang besar kearah sigadis, lalu ia lekas2 mencabut
pedangnya. Si gadis harus minggir, dan serangannya gagal!
Diayunkannya lagi paculnya untuk serampang betisnya
Kong Sun Giok. Meskipun Kong Sun Giok telah
memegang pedangnya, akan tetapi melihat gadis berbaju
putih itu selalu menyebabkan ia terkenang pada Bian Leng
143
Jun, engganlah ia melawan dan menyerang. la bertekad
menangkis dan mengegoskan semua serangan2, maka ia
menggunakan ilmu Ceng Lian Kiam Hoat dengan memutar2
pedangnya dalam usahanya melindungkan diri, dan
dengan maksud me-nakut-nakuti sigadis! Tapi gadis itu
berkepala batu, dan ilmu silatnya juga lihay. Si gadis
menggigit bibir berhenti menyerang. la membentak : „Kau.
ini betul2 congkak.! Kau tidak dengar nasehat orang. Kau
bertempur dengan pura2. Ayo, enyah dari sini! Jangan
sampai menyesal dikemudian hari!"
Kong Sun Giok tidak menghiraukan perkataan sigadis
itu. la kini betul2 ingin mencoba ilmu silat murid2 dari Lak
Cao Shin Kun: la mengejek : “Sioca, kaulah yang tak
mengenal kemurahan hati orang lain. Jurus tadi, jika tidak
kulakukan dengan pura2, kau sudah tewas diujung
pedangku!"
Mendengar ucapan itu, sigadis menjadi panas. la
mengejek kembali : „Kau betul2 bermulut besar! Kau boleh
serang aku dengan semua kepandaianmu !" Lalu ia
mengangkat paculnya dan menyerang kearah kepala Kong
Sun Gick seakan-akan petir menyambar sasarannya!
Dengan pedangnya Kong Sun Giok mengelakkan
serangan2 itu, tetapi ia tidak menyerang. Setelah
pertempuran berjalan 9 jurus, Kong Sun Giok
menggetarkan pedang didalam tangannya dan menyodok
kearah sigadis. Pedang yang tergetar itu mendenging
dengan amat nyaring dan ujung pedang itu kelihatannya
seperti titiran yang sedang berputar-putar !
Sigadis menduga lawannya membalas menyerang.
Sambil menangkis sodokkan itu, ia mengejek: „Dengan
ilmu silat pedang semacam itu, jangan kau harapkan dapat
berlalu dari pegunungan Lak Cao ini dengan mudah ! Jika
dalam 100 jurus kau dapat membikin aku bergeser dari
144
tempat berdiriku ini sampai satu depa, aku, Cin Leng Ngo,
mengaku kalah !"
Pada saat itu pertempuran baru berlangsung 20 jurus
lebih, dan selama itu Kong Sun Giok hanya bertempur
dengan separuh tenaga. Setelah diejek, Kong Sun Giok baru
mulai menyerang dengan hati yang sungguh2. Sigadis
melawan dengan terus-menerus berdiri. la memukul,
membabat, menyodok, mengayun dan menangkis dengan
senjata paculnya sambil berdiri. Pertempuran telah
berlangsung 30 jurus lebih, akan tetapi Kong Sun Giok
masih juga belum berhasil mendesak lawannya mundur
satu depa! la menjadi merasa kagum atas ilmu silat murid
Ban Cun Bu itu. Pada saat itu pula ia teringat akan pesan
gurunya dan pembalasan dendam yang dibebankan
kepadanya. Segera air matanya keluar mengingat cara
gugurnya guru dan paman2 gurunya dilembah Lek Yun
Kok. Mukanya berubah menjadi merah, dan dengan
mengertek gigi, ia mulai menyerang gadis itu dengan ilmu
Liong Men Sa Ki (raga menyerang dari tiga jurusan ), ilmu
Kim Ki To Li (ayam emas patoki buah kenari) dan ilmu Kit
Lui Po Ji (geledek menyambar diwaktu taufan mengamuk).
Sigadis terkejut. Ia harus melawan, menangkis dan
mengegosin serangan2 yang dahsyat itu. Dengan ilmu To
Cao Pik Kiam atau menahan serangan melindungi diri ia
berusaha dengan sekuat tenaga mengelakkan serangan2 itu,
dan keringat mengucur diseluruh tubuhnya! Kong Sun Giok
masih juga belum berhasil mendesak gadis itu mundur atau
berkisar sedepa dari tempat berdirinya. Lalu dengan ilmu
Cek Ci Tong Lai atau „hawa beracun menghembus dari
sebelah Timur" Kong Sun Giok mengurung lawannya
dengan putaran pedangnya!
145
Ilmu Cek Ci Tong Lai adalah jurus yang luar biasa dari
ilmu silat pedang Thian Lam, Serangan itu laksana hujan
lebat diwaktu badai menderu2, sehingga sigadis tak
mengetahui darimanakah datangnya serangan2. Sigadis
memutar paculnya diatas kepalanya dalam usahanya
menjaga diri dari serangan luar biasa itu. Se-konyong2 ia
merasa kedua kakinya dingin. Ia buru2 melompat keatas,
dan ketika ia jatuh ditanah lagi mukanya menjadi merah,
karena ia telah berkisar sedepa lebih dari tempat berdirinya
semula!
Cin Leng Ngo membiarkan bahunya dipegang erat2 oleh Kong
Sun Giok,ia hanya mengadahkan kepalanya
Kong Sun Giok menarik kembali pedangnya, dan sambil
tersenyum ia berkata : „Siocia, kau tadi omong besar.
Bukankah kau sekarang sudah berkisar sedepa lebih?
Barusan ujung pedangku telah menyentuh kedua kakimu
sehingga kau harus melompat keatas! Aku telah
146
menyebabkan kau bergeser dalam lebih kurang 50 jurus.
Apakah sekarang kau mengaku kalah? Kini aku baru
mengetahui bahwa ilmu silat muridnya Ban Cun Bu hanya
begitu saja!"
Dengan ejekkan itu Cin Long Ngo menjadi panas. la
menyahut : „Kau telah berhasil menyebabkan aku bergeser
sedepa lebih, dan aku mengaku kalah. Tetapi jika aku
melawan dengan sungguh2, belum tentu aku kalah !"
Lalu dengan tidak menunggu jawaban dari lawannya, ia
menyerang dengan mengayun paculnya, Serangan itu
disambut dengan menyondongkan tubuh sedikit
kebelakang, dan dengan pedang ditangan kanannya ia
menolak gagang pacul itu keatas. Kong Sun Giok dapat
menyodok dengan tinju kirinya, tetapi ia tak sampai hati!
Sigadis menyerang selama 10 jurus. Tiap2 serangan hanya
dielakkan atau ditangkis. Sigadis mengayun paculnya dan
anginnya menyatakan bahwa ayunan itu dilakukan dengan
tenaga dalam.
Kong Sun Gick kini insyaf bahwa serangan itu tak dapat
dianggap remeh. Ia meroba siasatnya dan menggunakan
ilmu Ceng Lian Kiam Hoat yang didapatnya dari Ceng
Lian Shin Ni. Ujung pedangnya tergetar se-akan2 air
memancur kesemua jurusan, dan melumpuhkan serangan
pacul gadis itu? Ia mengejek lagi : „Ha! Ha! dengan ilmu
silat itu kau berani mengatakan tempat ini terlarang?! Jika
orang lewat disini, kau tidak akan dapat mencegah!"
Ejekkan itu menyebabkan sigadis marah sekali. Ia
menyerang dengan ilmu Lan Hoan To Coan atau ombak
besar menggulung perahu. Tetapi dengan ilmu Ceng Lian
Kiam Hoat, Kong Sun Giok dapat meladeni semua
serangan2 itu. Tiap2 paculan dan tiap2 sabetan telah
berhasil dipunahkannya.
147
Meskipun sigadis telah menyerang selama 100 jurus, ia
masih belum ingin berhenti. Kong Sun Giok membentak :
„Hei! Apakah kau tidak mau berhenti?! Apakah kau sudah
bosan hidup?!"
Peringatan itu tak dihiraukan oleh sigadis. Kong Sun
Giok terpaksa merobah jurus silatnya. Dari bertahan ia
menyerang. Ia terpaksa menggunakan ilmu istimewa dari
gurunya - ialah ilmu Sa Yao Liong Men atau tiga loncatan
masuk kedalam gua naga. la menyerang dengan bacokkan,
pedang ber turut-turut tiga kali sangat gencarnya sehingga si
gadis menjadi kaget dan paculnya terlepas dari
pegangannya dan terlempar keudara!
Sambil tersenyum Kong Sun Giok mencokel gagang
pacul itu, dan dengan satu sentakkan pacul tersebut
melayang kearah sigadis yang segera menangkapnya. Tapi
sigadis melemparkan lagi paculnya, dan membentak :
„Sekarang kau rasai pukulan tinju dari seorang murid Lak
Cao Shin Kun!" Dan ucapan tersebut dibarengi dengan satu
jotosan. Kong Sun Giok mengelak untuk menghindarkan
jotosan itu, dan dengan tertawa ter-bahak2 ia berkata : „Jika
kau ingin bertempur melawan aku dengan tinju, aku juga
dapat melayani. Jika aku kalah melawan kau dalam 10
jurus, aku malu menjadi murid Thian LamSa Kiam !"
Belum lagi ucapan itu selesai, tiba2 dengan ilmu Leng
Yen Can Tan atau „monyet ajaib mencakar rebab", sigadis
itu mengirim jotosan dan kemudian mencakar lawannya,
Kong Sun Giok terpaksa menggunakan ilmu tinju Tian
Shing Cong atau menjotos bintang2 dilangit yang
didapatnya dari Shin It Cui. Dengan meloncat-loncat
sebuah tinju kiri dikirimkannya dengan pura2 kepada
lawannya, tetapi dengan ilmu Shing Lo Kie Pu atau „jaring
rapat menerkam mangsa" tangan kanannya mengirim tinju
sungguh2 dengan tenaga dalam kedada lawannya. Sigadis
148
harus bertindak mundur agar tak terdampar hebat oleh
anginnya! Sambil tertawa Kong Sun Giok mengejar, dan
pada saat itu sigadis menjerit sambil rnenggoyanggoyangkan
tangannya : „Jangan pukul aku, jangan pukul
aku !. Aku ingin bertanya padamu!"
Kong Sun Giok berhenti, dan sambil tersenyum ia
bertanya :„Apakah yang hendak kau tanyakan? Murid2 Lak
Cao Shin Kun betul2 lihay.Mereka bisa menjadi kejam dan
juga bisa menjadi lunak!. Mereka bisa menggertak orang,
dan juga bisa membujuk arang! Jika mereka tidak berhasil
menggertak dan kalah bertempur, mereka segera mencoba
membujuk. Cin Siocia, ada pertanyaan apakah? Apakah
ingin menebas buntung kedua betisku untuk diserahkan
kepada gurumu, Ban Cun Bu?"
Dengan khidmat Cin Leng Ngo berkata : „Betul ilmu
silatmu itu lihay, akan tetapi jika kau sekarang berani
masuk kekuil Sun Yo Kung dan menyinggung guruku, Ban
Cun Bu, kau seperti seekor serawon terbang masuk kedalam
api, dan akan musnah! Kau mungkin kenal Lat Siu Shin
Mo Shin It Cui yang namanya terkenal diseluruh kalangan
Bu Lim. Bagaimanakah ilmu silatnya jika dibandingkan
dengan ilmu silatmu? Pada tiga hari berselang ia telah
datang kekuil Sun Yo Kung. Dan apakah akibatnya???
Iapun serupa serawon (rayap putih) telah masuk kedalam
api dan telah terbakar sayapnya! Aku baru saja mengenal
kau. Sebetulnya aku tidak harus menceriterakan ini
kepadamu. Tetapi setelah mendengar kau menyebut-nyebut
nama Thian Lam Sa Kiam, aku menjadi terpikir akan
sesuatu hal. Cobalah bicara dengan jujur, apakah kau ini
bernama Kong Sun Giok?"
Ucapan „Kong Sun Giok" itu menyebabkan Kong Sun
Giok itu terkejut! Ia berwatak ksatria, dan berhati murah. la
terkenang lagi pada Bian Leng Jun, juga seorang murid dari
149
Ban Cun Bu. Apakah mungkin Bian Leng Jun pernah
menceriterakan perasaannya kepada gadis ini, yang
mungkiri juga menjadii kawan karibnya Bian Leng Jun?
Segera ia merobah sikapnya yang congkak, dan dengan
ramah ia bertanya :
„Aku betul bernama Kong Sun Giok. Mohon bertanya
mengapa Cin Sio-cia mengetahui nama itu?. Apakah
...........”
Ucapan itu belum selesai, lalu Cin Leng Ngo tersenyum
manis seakan-akan ia tertarik oleh wajah yang tampan dari
Kong Sun Giok. la tak segera menyawab. Ia pandang Kong
Sun Giok dari atas kebawah. Tiba2 ia bertanya lagi : „Tian
Lam Sa Kiam telah membuat janji dengan Lak Cao Shin
Kun Ban Cun Bu yang jangka waktunya beryangka 10
tahun.Mengapa kau datang kesini sebelum pada waktunya?
Apakah ilmu silat iang telah kau perlihatkan ketika
melawan aku itu, dapat kau pelajari dari kitab Ju Keng?"
Pertanyaan itu juga menyebabkan Kong Sun Giok
menjadi heran? Sebetulnya ketika Tian Lam Sa Kiam (tiga
jago silat pedang dari Tian Lam) melawan Ban Cun Bu
dilembah Lek Yun Kok di pegunungan Kwat Cong San
dengan bertaruh bahwa yang kalah harus membunuh diri,
Cin Leng Ngo juga telah menyaksikan dengan mata
kepalanya sendiri. Tetapi Kitab Ju Keng itu hanya orang
yang pernah membaca surat pesan gurunya, Goan Siu To
Tiang, dapat mengetahuinya. Bagaimanakah Cin Leng Ngo
mengetahui? .Apakah Bian Leng Jun, kekasihnya, telah
memberitahukan kepadanya seebagai kawan karibnya?
Pikiran dernikian membikin Kong Sun Giok bingung.
Melihat sikap yang bingung dari Kong Sun Giok itu, Cin
Leng Ngo sambil tersenyum berkata : „Kongcu, jangan
bingung. Dengar aku menjelaskan. Diantara 8 gadis2 dari
150
Lak Cao Shin Kun ada seorang gadis yang mempunyai
dendam, dan seorang gadis lain yang amat membenci
gurunya. Kedua gadis ini telah menjadi saudara angkat
dengan bersumpah untuk melaksanakan maksudnya
bersama-sama. Gadis2 itu yang satu ialah Bian Leng Jun,
dan yang satu lagi ialah Cin Leng Ngo"
Pada waktu itu Kong Sun Giok seperti orang baru sadar
dari pingsannya, berseru : „Ai! Aku telah berbuat hal yang
tidak pantas terhadap Sio-cia. Aku telah bersikap congkak
dan kurang ajar terhadap Sio-cia. Bian Leng Jun itu adalah
........."
Cin LengNgo membantu : „Kekasihmu?"
Dengan muka merah Kong Sun Giok meneruskan: “Ya,
aku te!ah menaruh hati padanya. Apakah aku harus
memanggil Sio-cia Cin Ci (saudara perempuan Cin)?
Cin Leng Ngo menyahut : „Aku tak keberatan.
Sebetulnya aku lebih tua daripada kau, dan pantas kau
panggil aku Cin Ci "
Kong Sun Giok dengan tidak menunggu Cin Leng Ngo
sampai habis berbicara, meneruskan : „Cin Ci, apakah Jun
Moi-ku ada dikaki gunung ini? Aku ingin sekali
menjumpainya!"
Cin Leng Ngo mengawasi wajahnya Kong Sun Giok dan
menjawab : „Jika aku lihat wajahmu, akupun dapat percaya
akan kejujuranmu. Kau datang pada waktu yang tepat.
Tetapi untuk menjumpainya sekarang amat sukar "
Kong Sun Giok dengan cemas bertanya :„Cin Ci,
mengapa? mengapa?"
Dengan khidmat Cin Leng Ngo menjelaskan : „Ia sedang
menderita sakit, dan sakitnya agak berat!"
151
Mendengar kabar buruk itu, Kong Sun Gick amat sedih.
la tak mengetahui berapa berat sakitnya Bian Long Jun.
Dengan tak terasa, air-matanya berlinang-linang. la lupa
bahwa ia berhadapan dengan seorang gadis yang baru saja
dikenalnya. Dipegangnya bahu Cin Leng Ngo dan sambil
menggoncang-goncangnya menanya : „Cin Ci, beritahukan
kepada aku. Sakit apakah ia? kebetulan aku membawa obat
mustajab "
Cin Leng Ngo membiarkan bayunya dipegang erat2 oleh
Kong Sun Giok. la menoleh keatas langit. Lalu ia berkata
seorang diri : „Ia terpaksa tinggal ditempat yang tak
disukainya. Tetapi ia terpaksa, karena ia mempunyai
dendam terhadap orang yang ia layani. Acapkali ia, tertawa
dengan terpaksa. Sebetulnya sekujur tubuhnya membawa
kesedihan, kemurkaan, penderitaan batin. Cobalah pikir,
betapa hebatnya penderitaan perasaan itu! Maka lama
kelamaan ia merana, dan jatuh sakit. Sakit apakah itu?"
Kong Sun Giok tak dapat menyelami arti jawaban itu.
Apakah maksudnya memberitahukan dengan jalan yang
berliku-Iiku itu? Mengapa Cin Leng Ngo tidak
memberitahukan kepadanya dengan cara yang sederhana,
ringkas dan tepat?
Cin Leng Ngo menunjukkan kepalanya, dan mengawasi
lagi wayahnya Kong Sun Giok. Ia berkata : „Jika ucapan
ini tidak kujelaskan lagi, kau tak akan mengarti. Sebetulnya
adikmu itu Bian Leng Jun menderita sakit rindu. Penyakit
demikian aku kira tak dapat ditolong dengan obat-obatan."
Kong Sun Giok tertekan hatinya, la merasa seakan-akan
jantungnya akan meledak dan kepalanya pusing. Bian Leng
Jun, kekasihnya, sedang menderita! la harus berdaya
menjumpainya. Dan menjumpainya harus dilakukan
dengan jalan yang penuh bahaya, karena Bian Leng Jun
berada dikuil Sun Yo Kung, tempat musuh besarnya, Ban
152
Cun Bu ! Tiba2 kedua matanya menyala seperti orang yang
telah menjadi nekad.
Cin Leng Ngo rupanya dapat membaca isi hati Kong
Sun Giok. Sambil tersenyum ia menghibur : „Kali ini
beruntung sekali aku berjumpa dengan kau. Mungkin
peristiwa ini dapat menolong Bian Leng Jun. Tapi jika aku
melihat sikapmu sekarang, aku merasa pasti kau akan
mengambil resiko yang besar untuk masuk kekuil Sun Yo
Kung. Meskipun aku menasehatkan supaya kau jangan
melakukan hal itu, kau pasti tidak akan mengindahkan
nasehatku ini. Jika kau telah bertekad masuk kekuil itu
untuk menjumpai Bian Leng Jun, aku minta supaya kau
memperhatikan petunjuk2ku ini."
Kong Sun Giok merasa sedikit tenang, dan dengan tidak
sabar ia bertanya :„Cin Ci, harap kau katakan, aku
memperhatikan, dan berterima kasih!"
Cin Leng Ngo berkata : „Kau selalu panggil aku Cin Ci.
Aku merasa tua dengan panggilan itu."
Kong Sun Giok yang tidak biasa bergaul dengan wanita,
menjadi merah mukanya. Ditundukkannya kepalanya, dan
dengan sikap yang sabar ia menanti petunjuk2, agar dapat
masuk kekuil Sun Yo Kung dengan selamat.
Lalu Cin Leng Ngo mulai :„Lak Cao Shin Kun Ban Cun
Bu sangat cepat mencurigai orang. Tempat2 kediaman ke-8
murid2 wanitanya diaturnya sendiri, dan ia sering2
mengadakan pemeriksaan. Kuil itu sangat besar. Aku, yang
tinggal didalam kuil itu juga, tidak mengetahui pada dewasa
ini, dikamar yang rnana Bian Leng Jun tinggal. Kamar2
kita sering2 ditukar. Disamping itu antara kita kedelapan
murid2 wanita ini, satu sama lain saling curiga mencurigai.
Hanya aku dan Bian Leng Jun yang telah bersumpah
menjadi saudara, dan saling percaya mempercayai. Soal
153
pertama ialah, jika kau telah berhasil masuk kedalam kuil
itu, jangan sekali-kali membikin gadis2 yang lain
mengetahui bahwa kau datang istimewa untuk melihat Bian
Leng Jun. Jika tidak maka cintamu itu terhadap Bian Len
Jun akan menjadi salah satu sebab dari kecelakaanmu!"
Cin Leng Ngo berhenti sejenak, lalu meneruskan :
“Kedua, kamar2 didalam kuil Sun Yo Kung kebanyakan
berwarna putih Tetapi ada sebuah kamar yang berbentuk
menara dan berwarna merah. Kamar itu jangan sekali-kali
kau dekati !"
Kong Sun Giok menganggukkan kep,alanya menerima
petunjuk2 itu. Rupanya Cin Leng Ngo belum selesai
dengan petunjuk2nya. Ia meneruskan : „Jika kau berada
dalam bahaya, kau harus menerjang menuju kebarat, dan
jangan sekali-kali kau menerjang ke-selatan!"
Kong Sun Giok memperhatikan terus petunjuk2 itu, dan
dengan perasaan terima kasih ia berkata : „Cin Ci, kau
sangat baik hati. Aku pasti tak akan lupa. Dikemudian hari
jika ada kesempatan, aku pasti membalas kebaikan hati Cin
Ci itu!"
Cin Leng Ngo memejamkan matanya. Ketika dibukanya
kembali, air matanya bercucuran mernbasahi kedua pipinya
dan jatuh diatas pakaiannya. Ia menarik napas panjang, dan
berkata seorang diri : „Cin Leng Ngo! Cin Leng Ngo!
maksudmu setinggi langit, tetapi jiwamu setipis kertas.
Hidupmu telah ditakdirkan penuh dengan perasaan benci.
Kapankah kau dapat melakukan pembalasan? Jika kau
dapat membasmi Lak Cao Shin Kun, dan membantu Bian
Leng Jun dalam usaha membalas dendamnya, Cin Leng
Ngo, kau mati berjasa!"
154
Kong Sun Giok terperanjat. Ia heran mengapa Cin Leng
Ngo tiba2 menjadi seperti orang yang kurang ingatan.
Dengan tak disengaja ia menegur, ”Cin Ci ! Kau mengapa?"
Cin Leng Ngo menangis dengan sedih. Air matanya tak
berhenti mengucur. la tak dapat menjawab. Perkataannya
tercekik ditenggorokannya !
Kong Sun Giok menjadi sibuk. la tak tahu cara
menghiburnya. la hanya dapat memegang bahunya dan
berkata :„Sudahlaih! Sudahlah! Cin ci ! Kau jangan
menangis. Tangismu menyebabkan hatiku sedih. Meskipun
kita baru kenal, tetapi percayalah, aku Kong Sun Giok akan
berusaha menolong atau membantu. Beritahukanlah apa
yang menyebabkan kau bersedih hati. Meskipun aku harus
masuk kelautan api, meratakan gunung, pasti kuusahakan
menolong Cin Ci!"
Cin Leng Ngo berhenti menangis, menghapus air
matanya, dan mundur dua tindak. Ia mengawasi lagi Kong
Sun Giok, lalu berkata : „Giok Tee betul2 mempunyai
perasaan simpathi terhadap penderitaan orang lain. Tidak
heran jika Bian Leng Jun jatuh cinta kepadamu. Janjimu
tadi sudah cukup bagiku. Tetapi apa yang akan terjadi
dikemudian hari kita belum dapat mengetahui. Biarlah
Tuhan sebagai saksi"
Ketika itu terdengar oleh mereka bunyi lonceng dari kuil
Sun Yo Kung. Mendengar bunyi lonceng itu, pucatlah
muka Cin Leng Ngo. Ia berkata tergesa2 kepada Kong Sun
Giok: „Itu adalah suara lonceng, tanda bahwa Ban Cun Bu
yang membunyikannya untuk memanggil murid2nya
berkumpul. Aku keluar mencari daun obat-obatan dan
sudah memakan waktu yang banyak. Aku harus segera
kembali kekuil. Giok Tee, kau harus berpikir masak2.
Sekarang lebih baik jangan masuk kekuil Sun Yo Kung.
155
Tetapi jika, kau masih berkeras kepala berusaha masuk
kekuil itu, kau harus ingat betul2 petunjuk2ku tadi !"
Lalu ia memandang Kong Sun Giok sejenak, berbalik
dan turun menuju kekuil dikaki puncak gunung itu!
Kong Sun Giok mengikuti larinya sigadis itu dengan
kedua matanya sampai hilang. la duduk disuatu batu
gunung besar mengenangkan kembali peristiwa tadi. la
merasa beruntung telah berjumpa dengan Cin Leng Ngo
sehingga ia dapat kabar tentang kekasihnya dan menerima
petunjuk2 yang berharga bila ia masuk kekuil Sun Yo Kung
dari musuh besarnya, Ban Cun Bu. Ia menarik napas
panjang meredakan tindihan berat diatas jantungnya karena
berita sakitnya Bian Leng Jun itu. Ia menggertakkan giginya
jika memikirkan tentang kekejaman kejahatan Ban Cun Bu
yang telah menyebabkan Thian Lam Sa Kiam menemui
ajalnya dilembah Lek Yun Kok dari pegunungan Kwat
Cong San dan menyiksa batinnya Bian Leng Jun. Lalu
dengan tak terasa, ia berseru : „Thian yang maha kuasa!
saksikanlah! Aku tak akan berhenti berusaha sebelumnya
aku membasmi orang durhaka itu.”
Pada saat itu matahari mulai condong ke-Barat, dan ia
teringat bahwa ia harus lekas2 kembali kekuil Pik Yun Yen
untuk menemui Ji Su-hengnya, It Hok To-jin!
Sambil berjalan ia membuat rencana sesuatu cara yang
harus dipergunakannya nanti bila ia masuk ke kuil Sun Yo
Kung. la harus pergi kekuil itu, karena Bian Leng Jun
sedang menderita sakit.Mungkin dari Bian Leng Jun ia bisa
memperoleh sesuatu yang dapat menolongnya membasmi
Ban Cun Bu. Apakah ia harus menceriterakan peristiwa tadi
kepada Ji Su-hengnya? Apakah ia harus mengajak Ju Suhengnya
masuk kedalam kuil yang berbahaya itu?
156
Akhirnya ia berpikir tentang ilmu silatnya Ban Cun Bu
yang lihay sekali. Ia yakin dengan Ji Suhengnya saja ia tak
dapat melawan Ban Cun Bu. Lebih baik ia tak
menunjukkan diri sebagaimana yang telah diterangkan Cin
Leng Ngo.
Ketika ia tiba dikuil Pik Yun Yen, It Hok Tojin telah
menanti hampir setengah hari.
Lalu masing2 melaporkan pertemuannya disepanjang
jalan. It Hok To-jin mulai laporannya dengan menarik
napas : „Aku telah berjalan dan memeriksa hampir seiuruh
tempat dipegunungan ini, tetapi hasilnya nihil. Kali ini, kita
harus memperpanjang jangka waktu untuk menyelidiki,
sebelumnya kita bertemu lagi. Kau mencari disebelah
tenggara, dan aku di sebelah Barat-Laut. Kita mencari
selama 7 hari baru kembali kekuil ini."
157
Didorongnya jendela itu perlahan-lahan dan hati2. Ia
menjenguk kedalam. Tampaklah olehnya bahwa didalamnya
terdapat seorang gadis yang sedang menyisir dan tak lama,
kemudian tampak masuk seorang gadis lain.
Lalu datang gilirannya Kong Sun Giok menuturkan
kisahnya selama 3 hari. la ingin menceriterakan segala2nya.
Tetapi setelah mendengar uraian Ji Su-hengnya,
ia berpikir, lebih baik pertemuannya dengan Cin Leng Ngo
dirahasiakan saja dahulu dan begitu juga dengan
maksudnya untuk masuk kedalam kuil Sun Yo Kung. Ia
tidak ingin mengajak Ji Su-hengnya masuk kemulut macan.
oleh karena itu ia hanya menuturkan jalan2 yang telah
ditempuhnya dan usaha2nya yang tak berhasil.
Pada esok harinya mereka berangkat Iagi dan masing2
mengambil jalan yang telah ditetapkan.
Kong Sun Giok menuju lagi ketempat pertemuannya
dengan Cin Leng Ngo, dan sampai di tempat tersebut pada
waktu senja. Matahari belum terbenam. Ia berpendapat,
bahwa lebih baik menanti sampai gelap, baru turun menuju
kekuil Sun Yo Kung?
Sebetulnya kuil Sun Yo Kung itu luas sekali. Semua
kamar2 didalam kuil itu berwarna putih dan berbentuk segi
delapan. Tetapi ada satu kamar yang berbentuk menara segi
lima dan berwarna merah. Kamar istimewa itu dibangun
dengan sangat indah sekali.
Ketika sudah gelap, Kong Sun Giok turun gunung
menuju kekuil itu. Dari tempat yangk agak tinggi, Kong
Sun Giok dapat melihat kamar2 didalam kuil itu. Melihat
pintu2 yang ganlyil dari kamar yang berwarna merah, Kong
Sun Giok insyaf bahwa kamar tersebut merupakan suatu
perangkap bagi orang yang mendekati kamar itu. Iapun
melihat, bahwa disebelah dekat kamar itu terdapat pintu
158
maut, dan pintu keamanan rupanya berada disebelah Barat.
la ingat pesan Cin Leng Ngo : Bila berada dalam bahaya, ia
harus menerjang kesebelah Barat.
Dihampirinya kuil itu, sebuah suara manusiapun tak ada
terdengar kecuali suara binatang2 atau kutu2 disekitar
pegunungan itu. Rupanya kuil itu tak dijaga dari luar!
la menduga bahwa Lak Cao Shin Kun Bu merasa aman
menjaga-kuilnya dengan ilmu silatnya yang lihay sekali,
dan tidak kuatir orang lain berani masuk kedalam!
Jika keadaan demikian rupa, maka usaha Kong Sun
Giok untuk mencuri masuk kedalam, dapat dilakukan
dengan hanya sedikit rintangan! Dengan menotok tampat
dengan kedua ujung jari kakinya dalam sekejap saja ia
sudah berdiri diatas tembok yang melingkari seluruh kuil
itu. Ia harus bertindak dengan waspada. Dibukanya
matanya lebar2 dan mengawasi dengan cermat segala
sesuatu disekitarnya. Ditengah2 pekarangan kuil itu
dilihatnya tiga buah bangunan yang merupakan ruang
untuk berapat, dan tiga bangunan ini dilingkari lagi dengan
pagar pohon bambu! Ia meloncat turun seperti se-ekor
kucing, dengan tidak bersuara. Ia menuju kepagar pohon
bambu itu. Pagar tersebut dilaluinya dan didepan pintu
salah sebuah bangunan, dilihatnya sebilah papan dengan
tiga huruf „Hoan Cui Hian" (Lingkaran Hijau Muda).
Ia harus waspada, dan ia berhenti sebentar untuk
menyelidiki lebih lanjut sebelum ia maju lagi. Pada hari
kemarin ia telah bertempur melawan seorang murid
muridnya, Cin Leng Ngo, dan ia insyaf bagaimana lihay
ilmu silatnya. Dari satu jendela ia melihat sinar lampu
menyorot keluar. Ia menghampiri jendela itu, yang ternyata
tidak dikunci, tetapi hanya dirapatkan saya.
159
la dorong dan membuka jendela itu dengan per-lahan2
dan hati2. la melongok kedalam. Dilantai ia lihat satu panci
penuh dengan bubur. Seorang gadis sedang duduk
dihadapan kaca tengah menyisir rambutnya yang panjang.
Gadis itu mengenakan pakaian yang tipis, dia duduk
membelakangi jendela. Ia terkejut, dan berhenti diluar
sejenak. la, rupanya tak ingin melihat lagi !
Baru saja ia bertindak untuk menyelidiki kamar yang
lain, tiba2 ia dengar suara tindakan kaki orang berjalan
diluar pagar bambu yang melingkari tiga bangunan itu
dengan teliti.
Ia segera berhenti dan menahan napas. Ia mendengari
dengan teliti. Lalu ia jambret ujung atap rumah di atasnya.
Dengan satu enjot2an, ia sudah berada diatas atap rumah
itu!
Tetapi suara loncatan keatas atap rumah itu dalam
keadaan yang sunyi-senyap itu terdengar oleh sigadis
didalam kamar. Gadis itu menegur : „Siapakah diluar
kamar?"
Segera seorang gadis lagi berjalan masuk kedalam kamar
itu, dan menjawab sambil bersenyum : „Leng Cu, aku
disini. Bukankah kau sedang bersolek? Didalam kuil ini,
selain Shin Kun (Ban Cun Bu), tidak ada pria lain, bukan?
Apakah kau takut pencuri laki2 datang kesini ?"
Gadis yang bernama Leng Cu itu berkata sambil tertawa:
„O, Tu Leng Hong ci-ci ? Mari duduk. Aku belum habis
menyisir rambutku ini".
To Leng Hong berkata sambil bersenyum :„Co moimoi
(adik Tip), sudahlah, jangan bersolek lagi! Malam ini
meskipun kau yang harus bertugas menjaga, akan tetapi
Shin Kun masih berada diloteng membunyikan lonceng
memanggil Cin Leng Ngo"
160
Ucapan „Cin Leng Ngo" itu membikin Kong Sun Giok
terkejut! Ia terus pasang kuping mendengari percakapan
kedua gadis dikamar itu.
Terdengar oleh ia kata2 Co Long Tin yang mengejek :
„Hu Li Ceng (ruba betina) itu betul membingungkan kita !
Shin Kun memanggil la lagi dengan membunyikan lonceng
itu.Mungkin ia sedeng mencari kesempatan lagi !"
Ucapan itu membikin Kong Sun Giok lebih cemas.
Kesempatan apakah yang Cin Leng Ngo sedang cari?
Apakah Cin Leng Ngo juga sedang mencari ia, karena
yakin bahwa la akan mengambil resiko masuk kekuil Sun
Yo Kung ???
---oo0oo---
BAGIAN 9
TEKA-TEKIDIATAS PUNCAK SIAN YAN HONG
Dari percakapannya Tu Leng Hong dan Tio Leng Cu,
Kong Sun Giok memperoleh kesan, hahwa diantara Ban
Cun Bu dan murid2nya ada hubungan hubungan rahasia
disamping perhubungan yang layak sebagai murid dan
mengingat murid2 itu semuanya muda belia serta cantik
rupawan menawan hati.
„Apakah semua murid2 wanita dari Ban Cun Bu itu
masih gadus?” Apakah semua murid semua2 itu berwatak
agung mempertahankan kesucian diri? Dan juga Bian Leng
Jun kekasihku itu, apakah ia tetap masih seorang gadis sucimurni?"
Dari percakapannya kedua gadis didalam kamar itu,
Kong Sun Giok juga menarik kesimpulan bahwa Cin Cin
Ngo adalah murid wanita yang paling disayangi oleh Ban
161
Cun Bu. Akan tetapi sangat mengharukan ketika jumpai
gadis itu diatas puncak kemaren, sikapnya sangat ganjil
sekali se-akan2 dia menaruh dendam terhadap gurunya
yang kelakuannya seperti binatang serigala, agaknya, ia
sedang menanti kesempatan untuk membikin perhitungan.
Didalam punjung (tempat beristirahat), Kong Sun Giok
melihat ada seorang gadis yang berbaju putih.
162
Kedua gadis didalam kamar terus ber-cakap2, dan yang
dipercakapkan tidak lain hanyalah soal asmara atau lebih
jelasnya soal kemesuman, Kong Sun Giok merasa cemas
dan sangsi akan kesucian kekasihnya, karenanya ia menjadi
makin gelisah dan bimbang hatinya. Ia ingin lekas2
menemui Leng Jun yang oleh Cin Len Ngo dikatakan
sedang menderita sakit agak berat. Dengan ilmu
meringankan tubuh, ia meloncat keatas atap dari kamar
lain.
Mengingat pembicaraan Cin Leng Ngo kemaren, di
samping kecemasan akan kesucian „kekasihnya", ia pun
merasa simpatik terhadap nasibnya Cin Leng Ngo itu, gadis
yang cantik juwita dengan kepandaian silat yang baik, tetapi
menderita nasib buruk. Tidak heran jika gadis itu telah
mengucurkan air-mata dan ber-kali2 menghela nafas
panjang-pendek.
Setelah ia berada diatas kamar lain, ia berusaha
mengintip kedalam kamar tersebut melalui genteng kaca. ia
berada diatas suatu kamar lain yang lebih indah serta yang
dilingkari pula, oleh pohon2 bambu dan terletak disuatu
sungai kecil yang airnya jernih dan bersih bagaikan kaca.
Diatas sungai itu ada jembatan bau merah, yang diatasnya
dihangun pula satu punjung (tempat beristirat) berbentuk
segi-enam dengan hiasannya yang sudah mentereng.
Didalam punjung tersebut terlihat seorang gadis berbaju
putih bersih sedang memandangi menikmati bulan yang
sinarnya memancarkan keseluruh jagat.
Baru saja ia hendak mengintip kedalam kamar, tiba2
gadis itu menarik perhatiannya, akan segera juga ia menjadi
terkejut, karena gadis berbaju putih itu adalah Bian Leng
Jun yang sedang dicarinya!
Cin Leng Ngo telah memberitahukan kepadanya bahwa
Bian Leng Jun sedang menderita sakit agak berat, akan
163
tetapi mengapa kini dimalam hari ia bisa berada didalam
punjung diatas jembatan memandangi bulan? Dengan
perasaan ke-ragu2an itu, ia tak berani bertindak lancang. la
loncat turun dari atap kamar, dengan ber-hati2 ia jalan
menghampiri jambatan. Setelah berdiri dekat sekali, dan
merasa pasti bahwa gadis itu adalah Bian Leng Jun, ia coba
menegurnya dengan mengucapkan satu sajak.
Air sungai sangat mengalir deras.
Duduk bersedirian apakah yang sedang dipandangnya?
Suara yang terkenal dan ramah itu membikin gadis
berbaju putih diatas jembatan itu terkejut dan menoleh
kearah datangnya suara itu. Mereka ber-hadapan2 muka
kedua pasang mata bentrok satu pada lain. Mereka kenal
mengenali, Kong Sun Giok bertindak maju untuk segera
merangkul Bian Leng Jun sambil berseru „Jun Moi!"
Rupanya Bian Leng Jun kuatir dapat dilihat orang lain,
maka ia lepaskan rangkulannya, ia berbisik : „Giok Koko
ilmu silatmu belum mahir betul. Mengapa kau berani
datang kesini? Mari masuk kekamarku supaya tidak
kelihatan orang lain!" Lalu Bian Leng Jun tarik tangannya
Kong Sun Giok diajak masuk kekamar yang letaknya
dipinggir sungai itu. Bian Leng Jun mempersilahkan Kong
Sun Giok duduk, ia sendiripun lalu duduk menghadapi
Kong Sun Giok, ia berkata dgn. wajah menunjukkan
kecemasannya: „Koko, dengan ilmu silatmu yang belum
mahir, kau telah datang kesini, bukankah seperti juga kau
masuk kedalam kandang macan?" Lalu ia menuangkan dua
cang kir teh yang masih panas. Kong Sun Giok tidak segera
menyahut, sebaliknya ia mengawasi wajah Bian Leng Jun
yang tampaknya sangat pucat dan banyak lebih kurus. Lalu
ia geleng2 kepalanya dan menarik nafas panjang.
164
Bian Leng Jun lebih memperhatikan keselamatan Kong
Sun Giok, ia tidak mcnghiraukan penyakitnya. Tatkala
pertanyaannya tidak dijawab ia bangun dari tempat
duduknya menghampiri Kong Sun Giok, dan sambil
memegangi pundak kekasihnya, dengan sangat kuatir
agaknya, ia menanya lagi: „Giok Koko! Kau dengarkah apa
yang aku katakan tadi?"
Kong Sun Giok mengangguk, lalu dengan suara rendah
la menyahut : „Aku telah mendengar dari Cin Leng Ngo
Tici bahwa kau sedang menderita sakit, yang agak berat.
Oleh karena itu, dengan tak menghiraukan bahaya yang
mungkin dihadapi, aku telah berusaha keras datang kesini.
Jun Moy! Bagaimanakah penyakitmu? Apakah sudah
banyak baik ?"
Bian Leng Jun sangat berterima kasih akan perhatian
Kong Sun Giok terhadap dirinya. la memandangi wajah
Kong Sun Giok, lalu air matanya mengucur keluar dan
mengalir diantara kedua pipinya yang pucat. Ia menyahut :
„Aku mempunyai kepandaian silat. Jika tidak menderita
luka, aku tak akan menderita sakit berat. Tetapi ....."
Ketika itu terdengar diluar kamar suara orang berjalan
diatas jembatan batu. Bian Leng Jun terkejut. Ia menunjuk
kebelakang tempat tidurnya, dan menyuruh Kong Sun Giok
bersembunyi dikolong tempat, sedangkan ia sendiri lekas2
naik keatas tempat tidur menutupi tubuhnya dengan
selimut.
Sesaat kemudian tampak bertindak masuk Tu Leng
Hong dan Tio Leng Cu. Dengan bersenyum Tu Leng Hong
menanya: „Jun Moy, apakah kau banyak baik? Kemarin
kau telah dapat bangun, mengapa sekarang berbaring lagi?
Apakah penyakitmu kambuh pula? Antara delapan orang
dikuil Lak Cao ini, kaulah yang terpandai ilmu silatnya.
Oleh karena itu kami semua selalu memikiri tentang
165
keselamatanmu. Tapi kau juga paling banyak sedih
hati......!"
Bian Leng Jun pe-lahan2 bangun dan duduk diatas
pembaringannya. la, menyahut: „Terima kasih atas
perhatian kedua Cici. Pagi tadi aku rasakan penyakitku
banyak baikkan, tapi mulai sore ini aku merasa tidak
enakan. Namun, aku kira penyakitku tidak akan menjadi
tambah berat. Dimana Cin Cici? Biasanya ia tiap2 hari diwaktu
begini datang menengoki aku, mengapa sekarang ia
tidak datang?"
Ketika itu Tio Leng Tin telah memperhatikan dua
cangkir teh yang masih panas diatas meja.Mendengar Bian
Leng Dun menanyakan Cin Leng Ngo, sangat disayang
oleh Suhu. ”Sekarang mungkin la berada dikamar Suhu.
Mana ada waktu dia datang menengoki kau lagi!"
Kong Sun Giok yang sedang bersembunyi dapat
mendengar nyata dan jelas sekali semua percakapan
mereka, dan apa yang diomongkan Tio Leng Cu itu telah
membuktikan kesimpulannya tentang adanya perhubungan
mesum antara Ban Cun Bu dan beberapa murid2nya. la
menjadi lebih cemas lagi terhadap kekasihnya Bian Leng
Jun. Dan ia dapat mengertikan mengapa Cin Leng Ngo
menaruh dendam terhadap gurunya yang bersifat binatang
itu. Bukankah Cin Leng Ngo telah memperingatkan
padanya dengan sangat agar ia jangan mendekati bangunan
indah yang bercatkan merah? Berbahaya bagi orang yang
datang mengintipnya, mungkin didalam bangunan itu Ban
Cun Bu melakukan perbuatan yang durhaka dan mesum.
Sudah tentu gadis2 didalam kuil itu tak berdaya terhadap
gurunya itu yang lihay ilmu silatnya, tetapi buruk dan
biadab perbuatannya. Mungkinkah Bian Leng Jun dapat
mempertahankan kesuciannya dalam keadaan demikian?
166
Bian Leng Jun tidak sudi kedua saudari seperguruannya
itu terus bicara tentang kemesuman guru mereka. la coba
turun dari tempat tidurnya sambil berkata : „Maaf jika aku
telah menyambutnya kedua Cici tidak sebagaimana
mestinya. Kamar ini amat sempit.Marilah kita keluar!"
Tio Leng Cu menyahut sambil bersenyum : „Sudahlah,
Jun Moy kau tak usah bangun. Kami berdua akan segera
pergi kebangunan istimewa itu untuk tugas berjaga. Nah,
kami pergi sekarang. Sudahlah, kau tak usah bangun.
Selamat malam!"
Tetapi Bian Leng Jun bangun juga dan mengantar
mereka sampai diluar. Setelah melihat mereka berjalan
jauh, barulah ia masuk kembali kedalam kamarnya. la
panggil Kong Sun Giok keluar dari tempat sembunyi
dengan suara ter-sedu2 ia berkata : „Giok Koko, jika kau
betul2 sayang dan menyintai aku, kau harus lekas2 berlalu
dari sini."
Kong Sun Giok hanya mengawasi Bian Leng Jun dengan
perasaan kasihan akan nasibnya.
„Giok Koko! Aku tahu bahwa kau berat untuk segera
berlalu. Tadi Tio Leng Cu telah memperhatikan dua
cangkir teh yang belum diminum, ia rupanya mencurigai
aku. Aku kuatir ia akan memberitahukan kepada Ban Cun
Bu yang pasti datang melakukan penyelidikan. Kau haruns
lekas2 berlalu dari sini. Jika tidak, bencana, akan menimpah
kita! Ayolah, aku antarkan kau sampai diluar tembok!"
Meskipun Kong Sun Giok belum banyak pengalaman,
tetapi tentang asmara, ia mengerti juga, ia menjadi
cemburu. Karena cemburunya itulah membuat ia tidak
ingin lekas berlalu. Tetapi disamping itu pikirnya demi
keselamatannya Bian Leng Jun, ia terpaksa harus berlalu
167
juga. la mengikuti Bian Leng Jun jalan keluar sampai dekat
jembatan batu.
„Giok Koko," kata Bian Leng Jun, „kita segera akan
berpisah pula. Aku tak mengerti mengapa kau tidak
menghiraukan bahaya datang kemari?"
„Aku tak bisa lupakan budimu. Aku bukannya tidak
mengetahui akan bahaya bagi diriku. Kali ini aku datang
kekota Lak Cao, terutama karena hendak mencari kitab Ju
Keng. Kebetulan aku berjumpa dengan Cin Leng Ngo,
daripadanya aku ketahui, bahwa kau sedang menderita
sakit. Oleh karena itu, dengan tak menghiraukan bahaya,
aku datang memasuki juga kuil ini untuk dapat bertemu
dengan kau."
„Apa ketemu? Kitab Ju Keng berada dikota Lak Cao?"
tanya Bian Leng Jun dengan heran.
Dengan singkat Kong Sun Giok menuturkan usahanya
mencari kitab Ju Keng tersebut, juga ia tunjukkan gambar
puncak yang ganjil yang tertera diatas kulit kambing.
Dengan girang Bian Leng Jun berkata: „Disebelah utara
kata Lak Cao aku pernah lihat puncak yang mirip dengan
gambar ini, dan puncak yang lebih rendah disebelah puncak
yang ditengah itu namanya puncak Sian Yan Hong, karena
didaerah sekitar puncak itu terdapat banyak sekali kera2!"
Penuturan tersebut juga meggirangkan Kong Sun Giok,
dan pegang bahunya Bian Leng Jun erat2 sambil berkata :
„Aku dapat bayangkan betapa berat penderitaanmu. Aku
akan segera pergi kepuncak Sian Yan Hong dan berusaha
mencari kitab Ju Keng, KeIak setelah aku berhasil, aku
pasti datang membasmi Ban Cun Bu untuk membalaskan
dendam Suhu dan Su-siok-ku. Dengan demikian aku dapat
juga membebaskan kau sekali, bukan?"
168
„Giok Koko," kata Bian Leng Jun, „aku hanya harap
kau percaya akan kebersihan diriku. Meskipun Ban Cun Bu
itu srigala yang berupa manusia, tetapi aku masih dapat
mempertahankan kesucianku." Lalu ia gulung lengan baju
kanannya. Kong Sun Giok ber-debar2 dan berdetak
jantungnya melihat kulit yang demikian putih dan halus,
namun ia masih tidak mengerti perbuatan gadis itu. Lalu
Bian Leng Jun memperlihatkan satu tanda merah dilengan
atasnya, sambil berkata: „Giok Koko, kau tentu tahu bahwa
tanda merah ini adalah bekas totokan yang lihay. Apakah
kau dapat menerka siapa yang telah menotoknya ?"
Kong Sun Giok berpikir untuk beberapa saat lamanya,
akhirnya ia menggelengkan kepalanya.
,,Akupun telah menduga kau tak akan dapat
menebaknya," kata Bian Leng Jun, „ini adalah bekas
totokan ....."
Belum lagi habis kata2 Bian Leng Jun itu, tiba2 entah
dari mana loncat turun searang wanita berpakaian putih
berusia lebih tua dari padanya, dan berdiri dihadapan
mereka. Sambil mengawasi Bian Leng Jun wanita itu
mengejek : „Kau menyelewengi peraturan Ban Cun Bu Sin
Kun yang keras itu? Lupakah kau kepada hukumannya
yang berat, bahwa barang siapa yang berani keluar dari
kamarnya dan mengadakan perhubungan dengan seorang
pria dari luar akan dipotong kedua tangannya? Bian Sumoy!
Kau telah melanggar peraturan itu! Ayo, Iekas ikut
aku menghadapi Suhu untuk mengakui dosamu!"
Suara itu, wajah dan gerak-geriknya wanita itu tidak
asing lagi bagi Kong Sun Giok, karena ia pernah
mendengar suaranya, dan pernah melihat juga orangnya.
Wanita itu tak lain tak bukan adalah Tio Leng Cu! Bukan
main kagetnya Bian Leng Jun. Mukanya yang sudah pucat
169
bertambah pucat lagi. la, tak dapat mengangkat atau
menjawab. la mengertek gigi.
Kong Sun Giok pun terkejut sesaat. la sangsi untuk
menggunakan kekerasan atau keramah-tamahan untuk
menolong Bian Leng Jun. Tetapi kemudian dengan tabah ia
hadapi Tio Leng Cu, dan berkata : „Tio Siocia ....." Tapi
Tio LengCu tidak memberikan ia kesempatan untuk bicara,
dengan muka beringas ia pelototi Kong Sun Giok, lalu
bertindak menghampiri Bian Leng Jun yang ia tepuk
pundaknya dan berkata : „Bian Su-moy, kau biasanya suci
sekali. Tapi ternyata hanya akal belaka untuk menjumpai
kekasihmu, kau lebih pandai daripada aku!"
Dicemohkan dan diejek secara demikian, Bian Leng Jun
hanya dapat mengucurkan air-mata, dengan tak dapat
membuka mulut. Lalu Tio Leng Cu mengubah sikapnya,
dengan bersenyum ia berkata : „Bian Su-moy, kau tak usah
takut. Ucapanku tadi hanya untuk menakut-nakuti kau.
Kita yang hidup seperti saudara sekarang sekandung, pasti
tak melaporkan hal ini kepada Ban Cun Bu. Tapi setelah
aku mengetahui tindak-tandukmu aku harus
memperingatkannya bukan? Nah! Bian Su-moy, aku telah
berjasa dan melepas budi terhadap kau, dengan cara apa
dan bagaimanakah kau akan membalas budiku ini?" Sambil
bicara, Tio Leng Cu mengawasi Kong Sun Giok yang
tampan itu. Bian Leng Jun yang telah tinggal ber-sama2
untuk beberapa tahun telah mengetahui betul segala sikap
dari saudari seperguruannya. Ia yakin bahwa Tio Leng Cu
dan Tu Leng Hong adalah yang paling jahat. Dalam
keadaan terjepit itu, ia terpaksa bersenyum dan menyahut :
„Maksud baikmu, Tio Cici, aku telah mengetahui dan
sangat kuhargai. Tapi Tu Cici juga sedang mendatangi.
Mustahil aku harus .....”
170
Tio Leng Cu yang mendengar Tu Leng Hong
mendatangi lalu menoleh kebelakang. Bian Leng Jun
kedipkan mata kepada Kong Sun Giok sambil melayangkan
kepelannya kepunggungnya Tio Leng Cu.
Tio Leng Cu yang cerdik itu, meskipun sedang menoleh
kebelakang selalu merasa curiga terhadap Bian Leng Jun.
Pukulan itu ia dapat egosi dengan menjatuhkan diri
ketanah. la berseru: „Pelacur ! Aku akan melaporkan
perbuatanmu kepada Ban Cun Bu!" Ia ambil satu senjata
kecil yang mirip anak panah dari pinggangnya. Perbuatan
itu dapat dilihat oleh Bian Leng Jun. Jika .anak panah itu
dilontarkan keatas, maka Ban Cun Bu pasti segera datang.
Dengan ter-gesa2 ia berseru: „Giok Koko, Iekas cegah
sundel ini agar tak berkesempatan melontarkan anak panah
itu!"
Kong Sun Giok yang berdiri siap waspada lalu mencabut
pedangnya, dan dengan ilmu yang ia baru dapat pelajari
dari Sin It Cui, ia segera loncat keatas untuk menerkam Tio
Leng Cu. Tapi Tio Leng Cu sangat cerdik. la mengetahui
bahwa ia tak dapat melawan Bian Leng Jun, apalagi
dibantu pula oleh Kong Sun Giok. Ia menggulingkan diri
dan lari kearah lembah sambil melemparkan anak panah
itu!
Begitu lekas anak panah itu dilempar keudara, segera
terlihat asap hijau keluar dari panah itu. Justru disaat yang
sangat tegang ini, dari satu pohon tua yang berada tidak
jauh kelihatan satu benda yang mirip bintang perak terbang
keatas dengan sinar terang dibelakangnya. Bintang perak itu
mengejar anak panah dan lenyapkan asap yang keluar dari
anak panah itu! Dan satu sinar lain yang terang pula
mengejar Tio Leng Cu yang sembunyi lari kearah lembah.
Kemudian terdengar Tio Leng cu menjerit satu kali disusul
dengan jatuh rubuhnya ia ditanah!
171
Perubahan yang se-konyong2 ini membikin Bian Leng
Jun tercengang. Siapakah gerangan yang telah
menolongnya ? Jika anak panah tadi berhasil mengeluarkan
asap hijau agak lama sedikit dan dilihat oleh Ban Cun Bu,
maka tamatlah riwayatnya Bian Leng Jun, mungkin Kong
Sun Giok juga.
Tio Leng Cu yang mengetahui dirinya bukan menjadi
tandingan kedua orang itu, segera menggulingkan dirinya, untuk
kemudian lari kearah lembah.
Belum lagi hilang rasa herannya, dari pohon yang tua itu
melayang turun satu bayangan putih yang lantas menyeret
mayatnya Tio Leng Cu kedalam semak!
Setelah melihat dan, ketahui siapa adanya bayangan
putih itu, Bian Leng Jun berseru gembira: „Giak Koko,
itulah Cin Cici. la yang paling sayang aku!"
172
Dengan rambut terurai dan pakaian tak rapi Cin Leng
Ngo loncat dihadapan. Bian Leng Jun. Lalu dengan
mengerutkan kening ia memperingatkan : „Jun Moy suruh
Giok Koko-mu lekas berlalu dari sini. Aku terpaksa
membunuh mati Tio Leng Cu dengan menggunakan jarum
beracun, dan mayatnya tak boleh ketahuan orang lain! Juga
diantara kita delapan orang, Ban Cun Bu mengetahui
kurang satu, ia pasti menjadi gusar sekali dan akan
menyelidiki. Aku meskipun sangat disukai oleh dia, dan
kau yang mempunyai dendam terhadap dia, pasti akan
didesak terus-menerus untuk memberikan penjelasan
tentang binasanya Tio Leng Cu. Terlebih pula Tu Leng
Hong yang sangat erat hubungannya dengan Tio Leng Cu,
dia pasti akan berusaha sekuat tenaga mencari tahu sebab2
kematiannya. Kita bertiga semuanya mempunyai dendam
terhadap Ban Cun Bu. Tapi sekarang bukan waktunya
untuk kita ber-cakap2 tentang asmara dan segala kentut
busuk. Kita harus tekun memahirkan silat kita untuk
memberikan hajaran yang setimpal kepada srigala yang
berbentuk manusia Ban Cun Bu itu. Ayo, suruh Giok
Koko-mu lekas berlalu!"
Kong Sun Giokpun berpendapat harus ia segera berlalu
demi untuk keselamatan semuanya. la pegang bahunya
Bian Leng Jun dan berkata : „Jun Moy, kau harus jaga
dirimu baik2. Bila aku berhasil mencari kitab Ju Keng,
maka hari itu kita berjumpa lagi tak akan lama!" Lalu ia
berpaling kepada Cin Leng Ngo, berkata : „Cin Sio-cia,
terima kasih atas semua pertolonganmu!" la tidak menanti
jawaban lagi, dengan ilmu „Pwe Po Teng Kong" (delapan
langkah naik keudara) dan „Liong Heng It Sao Sao" (cara
naga ber-lari2) dengan sekejap saja ia telah berada jauh dari
kuil yang berbahaya itu!
173
Meskipun ia masih dapat dengar suara tangisnya Bian
Leng Jun, dengan keraskan hati ia lari terus berlari dari kuil.
Setelah ia tiba dipuncak gunung, ia berhenti dan menoleh
kearah kuil, sesudah puas memandanginya, barulah ia
melanjutkan perjalanannya lagi. Dari ucapannya Cin Long
Ngo tadi, Kong Sun Giok teringat akan jarum2 beracunnya
nona itu, tentang mengapa ia paling disayang oleh Ban Cun
Bu, dan tentang dendam apakah yang Bian Leng Jun
sembunyikan terhadap Ban Cun Bu. Tapi yang paling
memusingkan kepalanya, ialah apakah Bian Leng Jun
masih tetap gadis dengan bernaung didalam kuilnya Ban
Cun Bu? Dan siapakah yang menotok lengan kanannya
Bian Leng Jun?
Semua soal yang merupakan teka-teki itu baginya masih
belum ada penjelasan, sangat gelap untuk ia dapat
menrbaknya. la tak dapat mengerti kesemuanya itu. Dan
..... untuk sementara waktu ia tak dapat menanya! Hampir
saja la jatuh dari pinggir jurang ketika la ber-lari2 sambil
mengasah otaknya memikiri teka-teki itu. Satu kali ia telah
injak seekor ular berbisa, untung dengan kelihayan ilmu
pedangnya la dapat membinasakan ular berbisa itu !
Kemudian la teringat kembali kepada Ji-su-hengnya. la lalu
bertekad menuturkan petunjuk Bian Leng Jun tentang
puncak Sian Yan Hong untuk mencari kitab Ju Keng, agar
setelah mahir betul ilmu silatnya, ia dapat menunaikan janji
atau sumpahnya kepada Suhu dan Su-sioknya membasmi
Ban Cun Bu!
la telah berjanji dengan Ji-su-hengnya, It Hok Tojin,
untuk berjumpa lagi dikuil Pik Yun Giam setelah 7 hari.
Hari yang dijanjikan belum tiba, ia tak menunggu lagi
kembalinya It Hok To-jin. la meninggalkan pesan disehelai
kertas dengan maksud agar It Hok To-jin setelah
membacanya segera menyusul ia pergi kepuncak Sian Yan
174
Hong! Baru satu hari dalam perjalanan menuju kepuncak
Sian Yan Hong, diperjalanan ia menjumpai Ji-su-hengnya,
It Hok To-jin yang menegur ia: „Su-tee kebetulan sekali hari
ini kita dapat berjumpa disini. Puncak gunung yang ganjil
yang terlukis diatas kulit kambing, aku telah berhasil dapat
mencarinya. Disamping puncak itu mirip sekali seperti
gambar diatas kulit kambing!"
Dengan bersenyum Kong Sun Giok menyahut : „Jisuheng!
Bukankah letaknya puncak gunung itu disebelah
utara dari kota Lak Cao? Dan puncak gunung yang lebih
rendah itu bukankah dengan kera2 ?"
It Hok To-jin terkejut, dan dengan heran menanya „Dari
siapakah kau dapat mengetahuinya : Penuturannya tentang
puncak2 yang dimaksud semua cocok dengan apa yang aku
telah tampak!"
Kong Sun Giok tidak ingin menceriterakan peristiwa
yang dialaminya dikuilnya Ban Cun Bu untuk menjumpai
kekasihnya. la menjawab bahwa keterangan2 itu ia
memperolehnya dari seorang tukang potong yang
mengetahui keadaan pegunungan dikota Lak Cao.
It Hok To-jin tidak curiga jawaban Su-teenya. la
mengangguk dan berkata lagi: „Puncak ganjil itu meskipun
mirip benar dengan gambar yang tcrlukis diatas kulit
kambing, tetapi, kita harus melewati puncak Sian Yan
Hong yang penuh kera2 itu. Kata orang kitapun akan
menjumpai batu2 yang terukir seperti kera2 tidakkah aneh?"
Kong Sun Giok tertawa. la merasa heran jika
dipegunungan itu ada batu2 terukir seperti kera2. la tak
sabar lagi, segera ia ajak Ji-su-hengnya pergi menuju
kepuncak Sian YanHong itu!
Dengan tak menghiraukan letih atau lelah, mereka terus
berjalan menuju kepuncak Sian Yan Hong, dan pada waktu
175
lohor mereka tiba dikaki puncak gunung tersebut. Kong Sun
Giok keluarkan dan mereka beberkan kulit kambingnya,
untuk coba memperbandingkan puncak gunung
dihadapannya dengan yang tergambar diatas kulit kambing
itu. Untuk kegirangannya ia dapatkan temuannya cocok
satu pada lain tiada perbedaan. Sudah tentu saja It Hok Tojinpun
turut bergirang.
Mereka lalu mulai mendaki puncak gunung itu. Tidak
salah jika puncak gunung itu dinamakan Sian Yan Hong,
ada kera yang sedang ber-ayun2 didahan pohon, ada yang
duduk termenung, ada yang ber-lari2an dari cabang kelain
cabang pohon, dan ada yang ber-lari2an ditanah. Kera
tersebut tidak takut kepada orang. Melihat kedatangannya
Kong Sun Giok dan It Hok To-jin, mereka tidak lari malah
berkumpul dan mengikuti dibelakangnya.
Ketika mereka jalan disuatu pengkolan, It Hok Tojin
menunjuk kesuatu pohon yang tua sekali sambil berkata:
„Su-tee, coba lihat pohon cemara yang tua itu! Dibawah
pohon itu ada satu batu gunung. Dan lihatlah dengan
seksama, tidakkah batu itu mirip seekor kera? Pernahkah
kau melihat kera yang serupa demikian?"
Kong Sun Giok mengawasi ukiran kera dibatu gunung
itu. la mengaguminya. Kemudian ia memeriksa lagi
keadaan disekitarnya. Sebelum meneruskan perjalanannya.
Setelah mereka tiba dilereng gunung, It Hok To-jin
menunjuk kesuatu danau kecil. Ia berkata: „Su-tee, keadaan
pegunungan ini mirip benar dengan gambar diatas kulit
kambing. Tapi dimanakah kita harus mencari kitab Ju Keng
An? Apakah kita harus menggali tiap2 batu gunung untuk
mencarinya?"
Kong Sun Giok diam membisu untuk berpikir! la
mengawasi danau kecil yang terletak didekatnya, se-akan2
176
kitab Ju Keng yang sedang dicarinya itu berada di dasar
danau itu! Kemudian ia berkata : „Ji-su-heng, sajak yang
berbunyi Ju Cai Ju Tiong (kelembutan didalam kelembutan)
tentunya huruf Ju dari kitab Ju Keng. Bukankah air danau
ini dapat diartikan kelembutan ?"
It Hok To-jin menundukkan kepalanya berpikir, lalu ia
mengangguk sambil berkata : „Mungkin tafsiran Sutee
betul. Tapi segala pohon rumput, tanah atau batu
dipegunungan Sian Yan Hong ini semuanya lembut sekali
kelihatannya. Cobalah kita menjajaki dalamnya yanau itu
dengan melemparkan batu kedalamnya!" Lalu It Hok To-jin
melemparkan batu kecil kedalam danau dan mendengar
suara air itu.
177
„Su-tee llihatflah! Dibawah pohon cemara tua itu ada sebuah
batu gunung dan perhatikanlah baik2, batu itu menyerupai seekor
kera, pernahkah engkau melihat kera yang berupa demikian?"
Tanya It Hok To-jin kepada Kong Sun Giok.
„Menurut pendapatku," kata Kong Sun Gok, „danau ini
dalamnya lebih kurang sedepa Iebih. Bagaimanakah
pendapat Ji-su-heng?"
It Hok To-jin tertawa dan menyahut: „Tentang air aku
tak mengerti banyak. Tetapi terhadap danau2 yang cetek,
kita harus waspada. Biarlah aku turun kedalam air itu dan
harap Su-tee menjaga dengan hati2."
Kong Sun Giok mengangguk. la cabut pedangnya dan
menanti dipinggir telaga. It Hok To-jin buka pakaiannya, ia
turun dan menyelam kedalarn danau ! Danau itu tidak
dalam, sejenak saja It Hok To-jin telah sampai didasarnya
la berusaha menyelidiki dasarnya danau itu, lalu ia
menimbul lagi. Setelah naik keatas, ia berkata : „Didasar
danau, itu tak menemui apa2 yang dapat menimbulkan
kecurigaan. Agaknya kita harus mencari ditempat lain!"
Kong Sun Giok mengangguk, lalu berkata : „Kitab Ju
Keng sangat erat hubungannya dengan partai silat Tian
Lam kita. Walau bagaimana susah-payahnyapun harus
mencarinya !"
Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya dengan
mendaki jalan yang curam. Mereka harus bermalam
dilereng gunung dalam usaha mencari tanda atau petunjuk
yang dapat menuntun mereka ketempatt tersembunyinya
kitab tersebut. Setelah lewat empat hari semangat dan
harapan mereka menjadi berkurang karena usaha mereka
tetap nihil ! Pada suatu ketika, mereka duduk beristirahat
dibawah sebuah pohon, memikiri tindakan yang harus
178
mereka tempuh. Se-konyong2 terlihat oleh mereka
bayangan putih berkelebat dibawah puncak gunung!
Mereka terkejut, dan It Hok To-jin lihat bayangan putih
itu adalah seorang gadis berbaju putih dengan wajah yang
cantik. Setelah gadis itu datang dekat, dengan pedang
terhunus la menanya :„Apakah kau dari pihak jahanam Ban
Cun Bu?"
Kong Sun Giok segera juga mengenali gadis itu. Dengan
tidak tunggu lagi gadis itu menyahut, ia berpaling kepada It
Hok To-jin, sambil bersenyum ia berkata : „Ji-su-heng
jangan salah paham. Inilah orang yang Sio-tee telah
tuturkan kepada Ji-su-heng. Sio-cia inilah yang dengan
seksama telah menolong menguburkan jenazah2 Suhu dan
Su-siok2 kita dipegunungan Kwat Con San, kita dari partai
Thian Lam sangat berhutang budi besar sekali panjangnya.
Betul la muridnya Ban Cun Bu, tetapi ia senantiasa
membantu kita, dan ia sendiripun mempunyai dendam
terhadap jahanam Ban Cun Bu gurunya itu. Mari Sio-tee
perkenalkan. Inilah Bian Leng Jun Sio-cia," sambil
menunjuk gadis itu. „Dan ia bernama Bian Leng Jun. Inilah
Ji-su-heng, It Hok To-jin." la berkata kepada kekasihnya itu.
Tapi mengapa kau se-konyong2 datang kesini dengan
kesusu dan berkuatir nampaknya ?"
Setelah Bian Leng Jun menghaturkan hormat kepada It
Hok To-jin ia menyahut: „Aku perlu datang untuk....."
Belum lagi perkataannya habis diucapkan, It Hok To-jin
memotong dengan kata2nya : „Bian Siocia, perkenankanlah
aku menghaturkan banyak terima kasih atas bantuan dan
pertolonganmu."
„Soal itu tak harus dipandang sebagai pertolongan.
Mengubur jenazah2 adalah kewajiban tiap2 manusia yang
mempunyai pri-kemanusiaan." Sahut Bian Leng Jun. „Tapi
aku perlu datang kesini untuk memberitahukan hal yang
179
penting kepada Giok Koko. Setelah Tio Leng Cu lenyap,
Ban Cun Bu menjadi sangat curiga. la telah
memberitahukan banyak orang untuk mencarinya. Akupun
tidak mengetahui cara bagaimana Tu Leng Hong mendapat
tahu tentang jejakmu berdua. Ban Cun Bu telah
memerintahkan Cin Leng Ngo Cici memimpin 6 orang
gadis untuk mencari Tio Leng Cu dan kalian !"
Kong Sun Giok tidak segera menyahut. la mengerutkan
kening, lalu menghadapi Bian Leng Jun, ia berkata :
„Mereka mencari kami tidak menjadi soal. Kita lawan
bertempur dulu murid2nya. Dengan demikian mum\ngkin
kita dapat membasmi beberapa orang kaki-tangannya !"
„Tetapi dengar dulu pembicaraanku. Tu Leng Hong
tiap2 hari mengobar2 Ban Cun Bu sehingga lambat laun ia
mencurigai Cin Cici, dan karena itulah kedudukannya Cin
Cici sangat berbahaya!Maka menurut pendapatku, sebentar
jika kita harus bertempur melawan mereka, aku minta Totiang
jangan turun tangan melukai padanya dan Giok Koko
setelah menyingkiri Tu Leng Hong, harus pura2 tertawan
oleh Cin Cici, dan kemudian didalam perjalanan kekuil Sun
Yo Kong, barulah kau melarikan diri. Kawan2nya Cin Cici
tentulah akan melaporkan kepada Ban Cun Bu peristiwa
yang terjadi. Dengan demikian ada kemungkinan Cin Cici
akan bebas dari kecurigaan Ban Cun Bu !" kata Bian Leng
Jun.
It Hok To-jin yang tidak mengenal To Leng Cu, Tu Leng
Hong dan Cin Leng Ngo itu, setelah mendengar siasat yang
diatur Bian Leng Jun, merasa bahwa gadis itu betul2
berhasrat menolong. la tidak menanya lagi! Kong Sun Giok
yang mengagumi siasat Bian Leng Jun dan kasih-sayangnya
terhadap Cin Leng Ngo, juga menginsyafi kedudukaannya
Cin Leng Ngo itu berkata kepada It Hok To-jin : „Urusan
yang gawat ini Sio-tee kelak akan menjelaskannya kepada
180
Ji-su-heng. Kini kita harus turut melaksanakan siasat Bian
Sio-cia!"
It Hok To-jin mengangguk. Pada saat itu Bian Leng Jun
tampak mendatanginya bayangan2 putih. Ia
memperingatkan : „Giak Koko, lekas cabut pedangmu, kita
tidak boleh sungkan2 lagi. Kau harus serang aku dengan
sungguh2, jangan sampai mereka curigai kita ber-pura2.
Lain daripada itu, akupun ingin mengetahui kepandaian
silatmu !"
Kong Sun Giok berubah wajahnya, kelihatannya sedang
beringas. la ayun pedangnya dan menyerang Bian Leng Jun
dengan jurus2 ilmu pedang Thian Lam. Segera terdengar
suara beradunya pedang, dan lelatu api meletik beterbangan
dari kedua senjata yang beradu dengan dahsyat itu. Bian
Leng Jun yang belum pernah men-coba2 kepandaian Kong
Sun Giok dan tidak mengetahui kelihayan ilmu silatnya,
harus melawan dengan hati2. Hanya dalam beberapa jurus
saja, ia merasa ia bukan tandingannya Kong Sun Giok.
Tapi ketika Cin Leng Ngo dan kawan2nya sudah dekat, ia
berseru : „Giok Koko, hati2 jagalah serangan2ku !" Lalu ia
putar pedangnya dengan ilmu Cun Ji Boan Tian Hui atau
hujan dimusim semi turun dengan deras. Terlihatlah
pedangnya ber-putar2 berkilauan, menyabet, menusuk, atau
menangkis! Tapi bagi Kong Sun Giok serangan2 itu
dianggap remeh. Ia bersilat dengan ilmu pedang Ceng Lian
Kiam Hoat yang ia telah dapat pelajari dari Ceng Lian Sin
Nie. Ilmu silat pedang itu dapat menjaga segala jenis
serangan, bahkan dapat mendesak mundur lawan!
Kemudian ia rubah jurusnya dari bertahan, ia berbalik
menyerang. Satu tusukan dilancarkan. Tusukan itu apabila
diteruskan dapat menusuk dan membunuh lawannya, tetapi
ia segera menariknya kembali. Ketika itu Cin Leng Ngo dan
kawan2nya telah datang dengan pedang2 terhunus! Kong
181
Sun Giok sengaja berteriak : „Hei, gadis jahanam dari Ban
Cun Bu! Jaga seranganku ini !" Teriakannya itu ia barengi
dengan satu tusukan kearah dadanya Bian Leng Jun untuk
ditahan lagi ketika ujung pedang itu hanya terpisah satu
centimeter dari dada lawannya.
Bian Leng Jun sambil bertarung memperhatikan
kedatangan Cin Leng Ngo, dan kawan2nya. Setelah mereka
sudah datang dekat ia berseru : „Cin Cici, ayo kita basmi
bangsat ini !"
Dengan serentak ke-enam gadis, murid2 Ban Cun Bu,
datang menyerang. Kong Sun Giok harus menggunakan
jurus2 Liong Bun Sam Tiauw (tiga loncatan melewet pintu
naga). Bie Kong Tian Lo (Memasang perangkap dari atas)
dan Tong Lay Cu Hie ( Angin topan menghembus dari
timur), pertama untuk mengelakkan serangan2 berbareng
dari lawannya, serentak mencari posisi untuk memberi
hajaran2 dahsyat kepada semua lawan2nya ! Ketiga jurus
yang digunakan itu adalah jurus2 istimewa dari ilmu silat
pedang Thiam Lam ! Dan Kemudian setelah semua
lawan2nya terpaksa, loncat mundur jika tidak ingin menjadi
mayat, la gunakan ilmu Pie Mui Tui Goat atau menutup
pintu menghalau bulan yang ia dapat pelajari dari Sin It
Cui, saudara angkatnya. Jurus itu ialah jurus yang
dilancarkan dengan pukulan tangan kirinya, karena ia
bermaksud menangkis dengan pedang ditangan kanan, dan
tangan kirinya menotok lawan agar tak berdaya.
Bian Leng Jun telah rasai angin dari pukulan2 yang
dahsyat itu. la merasa girang. Tak lama kemudian dua gadis
terpukul jatuh tersungkur. Kong Sun Giok terus bertarung
bagaikan seekar banteng yang sedang mengamuk, tapi
sangat ber-hati2 agar tidak melukakan Bian Leng Jun dan
Cin LengNgo!
---oo0oo---
182
BAGIAN 10
JU CAY JU CONG
ATAU KELEMBUTAN DALAM KELEMBUTAN
Tapi ia, harus melaksanakan siasat yang telah diatur oleh
Bian Leng Jun, yakni berlagak kalah dan ditawan musuh,
meskipun sebenarnya ia dapat membasminya, bahkan kalau
mau membunuh mati semua gadis2 itu!
Se-konyong2 Bian Leng Jun berseru: „Cin Cici! Tu Cici!
Bangsat ini rupanya sudah letih. Ayo kita sergap ia bersama2!”
Ketika itu empat gadis lain sudah siap lagi menyerang
dengan pedang2 terhunus! Cin Leng Ngo kuatir kalau2
Kong Sun Giok keteter, maka ia perintahkan : „Tu Leng
Hong, Goei Leng Sa, kalian berdua tangkap bangsat kecil !
Dan Khouw Leng Hong beserta Bian Leng Jun pergi
tangkap To-jin itu! Yang lainnya yaitu Sie Leng Ko dan To
Leng San, ikut aku ber-jaga2 dan menanti hasil mereka.
Kita harus pegang nama Ban Cun Bu Sin Kun, sangat
memalukan kita semua mengeroyok hanya seorang!”
Cin Leng Ngo adalah yang paling tua, dan patut menjadi
pemimpin. Oleh karena itu perintahnya segera ditaati. Bian
Leng Jun dan Khouw Leng Hong lalu lari menyerang It
Hok To-jin, sedangkan Tu Leng Hong dan Goei Leng Sa
tetap melawan Kong Sun Giok, dan Cin Leng Ngo bersama2
Sie Leng Ko dan Tu Leng San menanti dan jika
perlu memberikan bantuan kepada kawan2nya! Gadis2 itu
yang kesemuanya mengenakan baju putih, lihay juga
silatnya, terutama Tu Leng Hong dan Goei Leng Sa yang
melawan Kong Sun Giok dengan nekad sekali!
183
Kong Sun Giok segera mengerti maksudnya Cin Leng
Ngo yang menyuruh Tu Leng Hong dan Goei Leng San
melawan ia. la harus membunuh mati Tu Leng Hong yang
jahat dan iri hati itu. Oleh karena itu, untuk merubuhkan
kedua gadis itu, ia rubah jurus Ceng Lian Kiam Hoatnya
dan menyerang lawan2nya dengan jurusHua Kay Kian Hut
(menyingkap bunga melihat buddha) Tu Leng Hong dan
Goei Leng Sa belum pernah melawan satu yang demikian
lihay silatnya, mereka hanya dapat menangkis serangan2
sambil bertindak mundur beberapa tindak. Kesempatan itu
dipergunakan Kong Sun Giok untuk melancarkan jurus2
Liong Ban San Tiauw, Bie Kong Tian Lo dan Tong Lay Cu
Hie, dengan melancarkan tusukan2 yang ber-tubi2.
Goei Leng San tidak menduga sama sekali bahwa ilmu
silat Kong Sun Giok demikian dahsyat. Pikirnya, untuk
menghindarkan diri dari bahaya maut, lari menyingkir
adalah yang paling selamat. Lalu dengan ilmu Yan Ceng
Pwee San Hoan atau burung walet membalikkan tubuh 18
kali, ia menjatuhkan diri ditanah dan ber-guling2 7-8 kaki
jauhnya!
Kong Sun Giok tidak mengejar gadis yang kabur itu,
karena niatnya harus membunuh mati Tu Leng Hong, yang
sudah menjadi jeri melihat kawannya melarikan diri. Pada
satu saat Kong Sun Giok menyabet pedang lawannya dan
serentak mengirim tinju kirinya dengan ilmu To Tang Kim
Ceng atau memukul rubuh lonceng emas. Pukulan itu
bukan main dahsyatnya Tu Leng Hong mengegos dan
membalas menusuk Kong Sun Giok dengan ilmu Sun Yo
Cit Lek atau tenaga mata-hari diujung yang ia dapat pelajari
dari gurunya, Ban Cun Bu. Tusukan itu ditujukan kepada
dahinya Kong Sun Giok, yang apa bila kena, akan
menewaskan korbannya! Tetapi Kong Sun Giok yang lebih
lihay ilmu silatnya segera mengegos dan mengirim lagi
184
pukulan Tian Sin Ciangnya. Hanya anginnya saja dari
pukulan itu dapat menggempur pedang lawannya, bahkan
menyerang terus kearah dada Tu LengHong!
Terdengarlah jeritnya Tu Leng Hong membikin bulu
roma berdiri tegak, dibarengi dengan jatuh tertelentangnya
gadis itu. Segera darah keluar dari mulut dan hidungnya!
Cin Leng Ngo menyaksikan itu semua. la segera berseru
kepada Sie Leng Ko, Tu Leng Sa dan Goei Leng San yang
masih ber-guling2 dengan kedua mata terbelalak: „Bangsat
ini betul2 kurang ajar. la telah membunuh mati murid Ban
Cun Bu Sin Kun! Ayo kita beramai serentak menyerang
dia!" Ucapan itu disertai dengan datang menyerang 4 gadis
kepada Kong Sun Giok!
Kong Sun Giok mengetahui, menurut siasat yang
dirancang Bian Leng Jun, bahwa ia tidak usah membunuh
orang lagi, dan bahwa la harus mencari daya agar lekas
tertawan. Maka dengan pedangnya la hanya menangkis
dengan ilmu Ceng Lian Kiam Hoat. Kemudian dengan satu
serangan pura2 ia mendesak mundur lawannya untuk
loncat mendekati It Hok To-jin. la berkata : „Ji-su-heng!
Murid2nya jahanam Ban Cun Bu betul2 tidak mempunyai
perasaan malu. Mereka dengan jumlah lebih banyak
mengerubuti kita berdua. Ayo kita cari jalan keluar dan Iari
untuk bertemu lagi ditempat asal semula yang telah kita
tetapkan lain kali kita masih ada tempo untuk membasmi
siluman2 ini !"
Sambil tertawa gelak2 It Hok To-jin ayun pedangnya
dengan ilmu pedang Thian Lam Kiam Hoat, dengan
mudah ia mendesak mundur dua gadis yang sedang
melawan ia. Lalu ia loncat mundur tiga depa, dan lari turun
kelereng gunung.
185
Bian Leng Jun pura2 mengejar ia, tetapi It Hok To-jin
dari lengan bajunya melontarkan 20 atau 30 biji2 kayu
kecil2 sehingga gadis itu terpaksa berhenti mengejar.
Sejenak kemudian It Hok To-jin sudah tida kelihatan lagi
meski bayangannia sekalipun Khouw Beng Hong dan Bian
Leng Jun agaknya ingin mengejar, tetapi Cin Leng Ngo
berseru : „Hei, jangan dikejar! Kalian lebih perlu
membantui kami untuk berikan hajaran kepada bangsat
ini!"
Segera semua gadis2 itu balik dan mengerubuti Kong
Sun Giok seorang, Kong Sun Giok harus menggunakan
ilmu Lian Kiam Hoat untuk menjaga diri. Tiba2 ia
menjerit, dan dengan menjejakan kedua kakinya, ia
meloncat keluar dari kepungan itu. la lari menuju ke-lereng
gunung, tetapi Cin Leng Ngo memerintahkan semua
saudara2 seperguruannya dengan serunya : „Hei, saudari2 !
Bangsat itu telah membunuh Tu Su-moy kita. Ayo kita
kejar dan tangkap padanya untuk dibawa kehadapan guru
kita !"
Dengan satu kedipan mata kepada Bian Leng Jun ia lari
mengejar, dan segera diikuti oleh saudari2 seperguruannya.
Kong Sun Giok terus ber-lari2. Ketika tiba disuatu tikungan
dibawah-satu batu gunung, la berhenti dan membalik badan
menghadapi lawan2nya yang datang mengejar. la tertawa
gelak2 dan berkata : „Hei, siluman! Sekarang kalian rasai
pedangku ini yang segera akan kirim kalian keakherat !"
Cin Len Ngo yang dapat lari paling depan berhenti lebih
kurang dua depa didepan Kong Sun Giok. Dengan
menyengir ia lontarkan 7 kerincingan emas kearah Kong
Sun Giok. Bukan main cahayanya yang ber-kilau2an dari
ketujuh kerincingan emas itu, yang kesemuanya datang
menyerang Kong Sun Giok!
186
Kong Sun Giok tidak lengah. la telah siap waspada. la
pindahkan pedang ketangan kirinya, tangan kanannya
segera merogoh dan melontarkan 10 biji kayu2 kecil, yang
melayang dan membentur jatuh ketujuh kerincingan emas
lawannya!
Tapi Cin Leng Ngo setelah melontarkan kerincingan2
emasnya tidak tinggal diam. la loncat menerkam lawannya
dengan pedang terhunus. Dan tangan kirinya berusaha
menotok dada lawannya!
Kong Sun Giok terkejut, ia buru2 menangkis tusukan
pedang Cin Leng Ngo dengan pedang ditangan kirinya,
sambil mengegos tubuhnya kesamping untuk menjatuhkan
diri dan memberikan kesempatan kepada Cin Leng Ngo
menangkap ia. Ketika itu Bian Leng Jun dan kawan2nya
juga sudah datang, dan mereka datang menyerang dengan
tusukan2 pedang. Cin Leng Ngo membentak: „Tahan!
Bangsat ini tak dapat dibunuh! Kita harus tawan ia hidup2
untuk dibawa kehadapan guru kita! Kita tak berkuasa
memberikan hukuman kepadanya, apalagi membunuhnya
dia mati!"
Kong Sun Giok setelah menjatuhkan diri, lalu pura2
tidak bergerak dibawah ujung pedangnya Cin Leng Ngo,
Bian Leng Jun dan kawan2nya juga tak berani menyerang
lagi. Lalu Cin Leng Ngo berkata dengan suara yang agak
keras: „Bian Su-moy, kau berlaku sembrono, maka kau
harus dihukum. Sebagai hukuman, kau harus membawa
bangsat yang sudah tak berdaya ini kembali kekuil Sun Yo
Kong!"
Bian Leng Jun yang telah merasa orang karena siasat
yang diaturnya telah berjalan sebaaimana dikehendaki, lalu
pura2 bersikap sungguh2, dan menyahut : „Aku terima
salah, dan aku akan menunaikan tugas yang Cin Cici
serahkan kepadaku untuk menebus keslahanku !"
187
Kemudian Cin Leng, Ngo menghadapi Goei Leng Sa
dan berkata : „Goei Su-moy, kau harus bawa mayatnya Tu
Leng Hong kembali kekuil!"
Kong Sun Giok setelah menjatuhkan diri, lalu pura2 tidak
bergerak dibawah ujung pedang Cin Leng Ngo.
188
Goei Leng Sa agak mendeluh diperintah membawa
mayat, sedangkan Bian Leng Jun disuruh membawa
tawanan hidup. Tetapi sebagai murid yang tingkatnya
rendahan ia tak berani membangkang. Ia segera pergi
mengurus mayatnya Tu Leng Hong yang telah berlumuran
darah untuk dibawa kembali kekuil Sun Yo Kong!
Bian Leng Diun terpaksa mengangkat Kong Sun Giok
dan dipanggulnya diatas bahunya, lalu jalan -mengikuti Cin
Leng Ngo dan lain2 Su-moynya kembali kekuil Sun Yo
Kung.
Dalam keadaan demikian, Kong Sun Giok bagaikan
mimpi se-akan2 berada didalam sorga. la dapat menciumi
harum tubuh kekasihnya sambil meng-usap2 punggung
kekasihnya. la berterima kasih kepada Cin Leng Ngo yang
telah menyuruh Bian Leng Jun membawa ia. Kesempatan
yang demikian asyik dinikmatinya tak mudah akan dapat
dialaminya!
Bian Leng Jun yang mula2 merasa malu2 pelahan2
menjadi merasa berterima kasih juga kepada Su-cinya
(kakak seperguruan) yang sengaja memberikan kesempatan
kepadanya agar dapat berdekatan sekali kepada Kong Sun
Giok yang ia cintai. Makin lama makin erat ia pegang
tubuh kekasihnya yang dipanggulnya, beban, yang berat itu
tidak terasakan lagi olehnya! Kedua pemuda-pemudi ketika
itu sama perasaannya !
Disepanjang jalan tiba2 Sie Leng Ko menanya Tu Leng
San: „Tu Su-ci (kakak Tu). Kau lebih paham akan tindaktanduk
guru kita, dan juga lebih mahir tentang jalan2
dipegunungan Lak Cao ini. Apakah kau mengetahui juga
tentang batu gunung yang mirip seperti seekor kera diatas
tempat dimanaCin Su-ci menangkap bangsat tadi?"
189
Tu Leng San tidak menyahut. Ta hanya tertawa. „Sie Sumay,"
tanya Tu Leng San kemudian, „apakah kau kira batu
itu seekor kera?"
Sie Leng Ko hanya meng-geleng2 kepala. Tapi Cin Leng
Ngo berkata : „Tadi dengan ilmu Cin San Kim Leng
(melepas 7 kerincingan emas) yang dibarengi dengan ilmu
Cay Hian -Sin Hoat (menotok jalan darah musuh) aku
berhasil membikin bangsat itu tak berdaya. Dalam
kesibukan aku tadi, aku tidak memperhatikan batu yang
kau katakan mirip seekor kera itu. Tapi selayang pandang
aku melihat juga bahwa kera batu itu mempunyai rambut
kepala yang agak panjang berwarna kuning. Apakah kera
itu bukannya Kim Hoat Sin Ju (kera sakti berbulu emas)?
Tu Su-moy, tajam dan kuat ingatanmu, kau dapat
menceriterakan hal ikhwalnya Kim Hoat Sin Ju itu."
Kong Sun Giok yang hanya ber-pura2 pingsan itu telah
mendengar semua percakapan gadis2 itu. la tertarik
mendengar disebutnya nama Kim Hoat Sin Ju, dan kera
batu itu. Sambil bersenyum Tu Leng San mulai berceritera :
„Apa yang dikatakan Cin Su-ci betul! Kera batu gunung itu
adalah Kim Boat Sin Ju. Pada kira2 100 tahun berselang,
puncak gunung ini bukan bernama Sian Yan Hong, tetapi
bernama Tok Bong Hong (puncak ular berbisa). Diatas
puncak ada satu ular yang besar sekali dan bersisik merah.
Ular tersebut sering keluar membikin bencana dan
membunuh orang. Orang yang telah menjadi korban ular
tersebut tidak terhitung jumlahnya. Kemudian ada scorang
To-jin (pendeta sakti ). Ia membawa seekor Kim Hoat Sin
Ju (kera sakti berbulu emas). Dengan gagah berani dan
berhasrat mulia To-jin tersebut naik keatas puncak untuk
membasmi ular berbisa itu. Setelah bertempur selama satu
hari satu malam, meskipun ular berbisa itu telah dapat
dibinasakan, akan tetapi kera saktinyapun lebih dahulu
190
telah ditelan oleh ular berbisa itu. To-jin itu bukan main
sedih hatinya. la menguburnya mayat kera saktini, dengan
saksama, dan diatas kuburan kera itu telah ditanam sebuah
pohon cernara, dan dibatu gunung ia telah memahat patung
kera yang ia sangat cintai itu setelah itu barulah ia berlalu
dengan hati yang hancur!"
Setelah mendengar kisah itu, Kong Sun Giok lupa bahwa
ia tengah ber-pura2 pingsan. la menarik napas panjang
menyatakan simpati terhadap To-jin yang budiman itu.
Ketika ia insyaf, gadis2 yang menggiring ia telah bersikap
waspada menjaga ia. Sudah terlanjur. Tiba2 ia loncat
sedepa lebih. Dengan ilmu pukulan Tian Sim Ciongnya dan
mengertak gigi, ia melepaskan tinjunya. Angin pukulannya
itu telah mendorong mundur dua orang gadis. Lalu ia
loncat kebelakang seorang gadis untuk merampak kembali
pedangnya!
Cin Leng Ngo berseru: „Tidak diduga bangsat ini dapat
membebaskan diri dari totokanku. Ayo, kita lekas2 terkam
ia lagi!"
Tetapi Kong Sun Giok, yang lebih lihay silatnya dari
mereka semua, me-mutar2kan pedangnya dengan ilmu
pedang Ceng Lian Kiam Hoatnya, dengan demikian ia
mendesak mundur lain2nya. Lalu ia loncat dihadapan Cin
Leng Ngo sambil memukul dengan tipu Cui Pa San Mui
atau menggebrak terbuka pintu gunung. Cin Long Ngo
harus bertindak mundur lima langkah untuk menghindari
angin tinju yang dahsyat itu. Ketika itu gadis2 lainnya telah
datang menyerang, lagi. Kong Sun Giok segera
menggunakan ilmu Sin Mo Bo Im atau siluman menghilang
tak berbekas yang ia dapat pelajari dari Sin It Cui. la
menotokkan kedua jari kakinya ditanah untuk loncat keluar
dari kepungan, akan kemudian bagaikan seekor naga lari
cepat masuk kedalam ia lari mendaki lereng gunung!
191
Cin Long Ngo pura2 lari mengejar, tapi Kong Sun Giok
meniru cara It Hok To-jin, melontarkan biji2 kayu kecilnya
kearah pengejarnya. Cin Leng Ngo tak berani mengejar
lagi, kesempatan itu digunakan oleh Kong Sun Giok untuk
lari masuk kedalam semak belukar.
Melihat siasat yang diatur berjalan dengan lancar dan
beres Cin Leng Ngo dan Bian Leng Jun dengan hati riang
meneruskan perjalanannya kembali kekuil Sun Yu Kong.
Kong Sun Giok terus ber-lari2 menuju ketempat yang
dijanjikan dengan It Hok To-jin, ialah didalam kuil Pik Yun
Giam. It Hok To-jin, sedang duduk termenung, seorang diri
memikiri kitab Ju Keng yang belum berhasil diperolehnya.
Melihat Kong Sun Giok mendatangi, dengan gembira ia
berkata : „Su-tee, kau telah kembali demikian cepat?
Berhasilkah siasat yang direncanakannya itu ?"
Dengan muka yang bersinar terang-riang Kong Sun Giok
lalu menuturkan kisahnya bagaimana la semula bertemu
dengan Cin Leng Ngo dan, memberitahukan ia bahwa Bian
Long Jun sedang menderita sakit, dan karena ingin
menjumpai Bian Leng Jun, ia telah menolong masuk
kedalam kuil Sun Yo Kong dengan tidak menyeleweng janji
Su-hengnya. Karena itulah ia jadi kenal gadis Cin itu.
Dengan menarik nafas parijang ia berkata selanjutnya : „Jisu-
heng, harap kau dapat memaafkan kelancanganku!
Perkenankanlah aku menceriterakan suatu peristiwa yang
menggembirakan!"
„Ji-su-heng," demikian Kong Sun Giok mulai kata2nya.
„Sio-tee telah mengetahui dimana Ietaknya kitab Ju Keng!"
Ucapan tersebut membikin It Hok To-jin terkejut
tercampur girang. la menanya : „Su-tee baru saja terlepas
dari tawanannya murid2 Ban Cun Bu, bagaimanakah Su-tee
mengetahui tempat letaknya kitab Ju Keng?" Kong Sun
192
Giok menghirup secangkir teh panas, lalu ia melanjutkan
tuturnya. Dengan berscnyum ia berkata: „Ji-su-heng, diatas
kulit kambing bukankah ada dua baris sajak ?"
It Hok To-jin mengangguk dan menyahut : „Begitu!
Sajak tersebut ialah Ju Cay Ju Tiong (Kelembutan didalam
kelembutan ) dan Ko Beng Ju Kek (kesaktian diatasi oleh
kelembutan)."
Kong Sun Giok membenarkan dengan anggukan
kepalanya dan katanya pula: “Tidak salah! Disamping
pohon cemara tua dipuncak Sian Yan Hong bukankah ada
satu kera dari batu gunung? Kera itu adalah Kim Hoat Sin
Ju (kera sakti berbulu emas)!"
Kedua matanya It Hok To-jin dibuka lebar2. la coba
memikirkan dan menaksirkan teka-teki didalam sajak2 itu,
tetapi ia tak dapat memahaminya. Kemudian Kong Sun
Giokpun menuturkan pembicaraan yang ia dapat dengar
dari Tu Leng San tentang kera sakti berbulu emas itu akan
akhirnya menyudahi kisahnya dengan kesimpulan sebagai
berikut : „Patung kera sakti Kim Hoat Sin Ju itu hanya
separoh.Maka huruf Ju (kelembutan) adalah separoh huruf
Ju (kera sakti).Maka sajak Ju Cay Ju Tiong berarti kitab Ju
Keng berada didalam kera sakti (Ju), bukankah??"
Sambil membelalakkan kedua matanya lebar2 se-akan2
orang yang baru insyaf akan kekeliruannya, It Hok Tojin
berkata : „Su-tee betul2 seorang yang cerdik dan cerdas!
Tafsiranmu itu tepat sekali! Ayo sekarang juga kita pergi
kebatu yang mirip seekor kera dibawah pohon cemara itu
untuk mencari kitab Ju Keng, demi kepentingan partai
Thian Lam kita dan juga untuk membalas dendam Suhu
dan Su-siok2 kita!"
Dengan hati yang sangat gembira kcdua saudara
sepergruan itu lalu pergi ketempat dimana batu gunung
193
berada. Tetapi sebelumnya mereka tiba ditempat, dari sisi
jalan mereka mendengar suara yang nyaring sekali
menyebut: „O Mi To Hut! Kong Sun Kong-cu, mungkin
kau sehat wal'afiat!"

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cersil Online Pedang Pusaka Buntung 2 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments