Cerita Dewasa Model Indo : PKK 7

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Dewasa Model Indo : PKK 7
-“Ah, engkau terlalu sungkan,” kata Ke Bing seraya
balas memberi hormat, “Mengapa tempo hari aku pergi
tanpa pamit adalah karena diajak Kaisar. Kalau tidak
masakan aku mampu melintasi sekian banyak penjagaan
....”
“O…” Gak Lui menghela napas. Saat itu baru ia
menyadari betapa luas dan tingginya ilmu silat itu. Di atas
gunung masih ada langit. Orang yang pandai masih ada
yang lebih pandai.
“Lalu apakah tujuan cianpwe naik ke gunung ini ?”
tanyanya pula.
“Karena Kaisar hendak berziarah menghadap Ji-lay
titisan ketiga. Dan saat itu ia melihat hawa pembunuhan
menutup gereja Siau- lim-si, tentu akan mencelakai
seorang tokoh persilatan ... hanya karena tak mau dirinya
diketahui orang maka ia segera membawa aku agar
dapat mengalihkan perhatian orang.”
“O, kiranya begitu,” kata Gak Lui, “tetapi aku memang
hendak menghadap kepadanya. Sayang aku tiada rejeki
sehingga tertimpa peristiwa ini ....”
“Apakah maksudmu hendak menemuinya? Apakah
hendak menanyakan tentang ilmu Ngo heng-tay-hwat
yang terbalik itu ?” tanya Ke Bing.
601
“Benar, benar,” seru Gak Lui dengan rasa keheranan
yang tak kunjung habis. Disamping mengagumi ilmu
Liok-to-sin-thong dari Kaisar Persilatan, diam2 ia
meragukan diri Ke Bing. Ke Bing seorang yang tak
mengerti ilmu silat. Adakah ia mampu mengingat semua
pesan dari Kaisar Persilatan ? Melihat keraguan orang,
Ke Bing serentak menjulurkan Kim-jiu. Melihat itu
timbullah gagasan Gak Lui. Mengapa setelah
membicarakan ilmu Ngo-heng-tay hwat terbalik, lalu tiba2
Ke Bing menyodorkan Kim-jiu ? Pikiran Gak Lui yang
cerdas cepat dapat menduga bahwa Kim-jiu itu kecuali
sebuah benda mujijad yang mampu memberi
pengobatan dan tenaga, pun tentu mengandung ilmu
pelajaran yang sakti. Maka dengan wajah serius dan
khidmat, ia segera menyambuti benda itu dengan
gemetar.
“Saudara Li mengatakan, segala ilmu kesaktian
berada dalam Thian-liong-kim-jiu ini. Dengan
kecerdasanmu, tentulah engkau dapat menyelaminya,”
kata Ke Bing. Gak Lui tersipu-sipu mengiakan.
“Tetapi benda ini adalah pusaka warisan dari partai
perguruan Thian-liong-pay. Engkau harus hati2
menjaganya.”
“Sudah tentu akan kujaganya dengan baik. Hanya
setelah selesai mempelajari, kemanakah aku harus
mengembalikan ?” tanya Gak Lui.
“Pada waktunya, saudara Li Liong-ci tentu akan
datang sendiri untuk mengambilnya.”
“O, apakah beliau mau bertemu dengan aku ?”
“Kelak pada suatu ketika pasti akan bertemu.”
“Ah, sungguh beruntung sekali! Aku masih ingin
602
meminta banyak sekali pelajaran kepada beliau !” seru
Gak Lui dengan girang. Semangatnya pun bangun
kembali. Memang ia mempunyai angan2 untuk menjagoi
dunia persilatan. Oleh karena Kaisar Persilatan tak mau
muncul dalam masyarakat ramai, maka itulah suatu
kesempatan baik baginya untuk menonjolkan diri. Tetapi
adakah ia mampu mencapai tingkat pelajaran sehebat
itu, harus dilihat dari ketekunannya belajar.
Tiba2 Ke Bing berkata: “Cita2 memang membuat
orang kagum. Aku berani memastikan, saudara Li Liongci
tentu akan meluluskan. Kuharap engkau belajar
sungguh2, agar apabila tiba saatnya dapat diuji.” Kata2
itu menggembirakan Gak Lui. Bahkan Hwat Hong taysu
dan Siu-mey ikut bergembira.
“Maaf,” kata Ke Bing, “aku tak mengerti ilmu silat
seperti kalian. Setengah hari ini, aku benar2 agak letih.
Aku hendak beristirahat dulu di sini. Jika kalian
mempunyai urusan, silahkan berangkat dulu.”
Sekalian orangpun segera berbangkit dan memberi
hormat minta diri kepada Ke Bing. Kepada setiap orang
Ke Bing selalu menjawab, “Sampai berjumpa lagi” atau
“Harap menjaga diri baik2”. Tetapi ketika berhadapan
dengan Hwat Hong taysu, ia berkata: “Selamat tinggal!
Selamat tinggal !”
Demikian dengan Gak Lui sebagai penunjuk jalan,
rombongan orang Heng-san pun segera turun gunung.
Selama dalam perjalanan itu, tak hentinya Gak Lui
merenungkan peruntungan besar yang diterimanya itu. Ia
merasa sangat berhutang budi kepada Kaisar Persilatan.
Ia merasa sekalipun dengan jiwa, ia tak dapat membayar
budi tokoh itu. Pun kepada Ke Bing ia juga merasa
berhutang budi. Tetapi ia percaya tentu dapat
membalasnya. Untuk mengingat namanya agar jangan
603
sampai lupa, Gak Lui berulang-ulang menyebut: “Ke
Bing! Ke Bing! Ke Bing.... hai, janggal benar! Ke Bing itu
tentu bukan nama yang aseli tetapi nama palsu! Lalu
siapakah dia ... apakah dia itu……?”
Sekonyong-konyong pemuda itu menggentakkan
kakinya ke tanah dan tanpa bicara sepatah-pun, ia terus
lari kebalik biara tua tadi. Sudah tentu Hwat Hong dan
Siu-mey tercengang. Terpaksa mereka lari menyusul
pemuda itu. Tak berapa lama merekapun sudah tiba
kembali di biara tua itu. Tampak Gak Lui tegak berdiri
diam dan sikapnya seperti orang yang kecewa.
“Engkoh Lui, kenapa engkau ?” tanya Siu-mey.
“Kalian lihatlah....!” seru Gak Lui seraya menunjuk
kedalam biara.
“Apakah Ke sianseng tertimpa sesuatu?” tanya Hwat
Hong taysu. Tetapi ketika pandang matanya terarah
kedalam biara, ketua Heng-san-pay itupun segera
berteriak kaget: “Hai, dia lenyap!”
“Aneh, mengapa kalau tidak bisa ilmu silat, dia dapat
bergerak sedemikian cepatnya?”
Gak Lui gentakkan kakinya berulang kali ke tanah.
Sambil geleng2 kepala ia menghela napas: “Tiada yang
harus dibuat heran! Kalau terasa aneh itu adalah kita
yang tak dapat melihat orang!”
“Maksudmu.... ?”
“Ke Bing itu berarti Nama Palsu. Yang betul dia
adalah Kaisar Persilatan sendiri !”
“Amboi ....!” teriak Siu mey terkejut. Sejenak tertegun,
ia menggerutu seorang diri: “Ah, memang tak dapat
menyalahkan kita. Engkau dan kita semua belum pernah
melihatnya.....”
604
Wajah Hwat Hong taysu serentak berobah merah,
ujarnya: “Aku yang merasa sudah faham dan pasti akan
mengenalnya apabila bertemu. Siapa tahu kepandaian Li
tayhiap Kaisar Persilatan begitu lihay, mencapai tingkat
dimana pandangan mata orang benar2 dapat disesatkan.
Ah ... aku benar merasa malu kepada diriku.”
Demikian sekalian merasa sangat getun. Betapapun
halnya, Kaisar Persilatan sudah unjuk diri dan lenyap
lagi. Beberapa saat kemudian Siu-mey tertawa nyaring,
serunya:
“Engkoh Lui, jangan cemas. Tadi beliau siorang tua
mengatakan, begitu engkau sudah selesai mempelajari
ilmu Ni-coan-ngo-heng, beliau tentu akan menjumpai
engkau lagi untuk menguji kepandaianmu. Mengapa
engkau tak dapat bersabar....”
“Hm ...,” teringat bahwa kelak masih banyak
kesempatan, Gak Luipun menghela napas: “Ah, sayang
masih kurang sesuatu !”
“Kurang apa ?”
“Aku tak mengerti ilmu Ngo-heng-ki-bun. Tentu sukar
sekali untuk mempelajari ilmu Ni-coan-ngo-heng itu.”
“Hi, hi, hi, hi,” Siu-mey tertawa mengikik, “dalam soal
itu aku dapat membantumu.”
“Apakah engkau dapat ?”
“Sudah tentu, sebagai murid dari Dewi Tong thing,
masakan begitu saja tak bisa ?”
“Baik, sekarang silahkan engkau mengajarkan dasar2
ilmu itu.”
“Hm, tak semudah itu, bung. Sedikit banyak harus
ada pernyataan.”
605
“Pernyataan bagaimana ?”
“Mengangkat guru meminta pelajaran, harus
memakai penghormatan !”
“Ha, ha, ha, ha,” Gak Lui tertawa geli, “rupanya
engkau lupa, akupun pernah mengajarkan sejurus ilmu
pedang kepadamu. Kan ini namanya sudah lunas.”
Demikian mereka duduk di dalam biara tua itu dan
Siu meypun mulai menguraikan tentang ilmu Kian-gunpat-
kwa dengan segala perobahannya. Hwat Hong
taysupun ikut menambahkan penjelasan yang perlu.
Gak Lui memang cerdas. Apa yang diajarkan Siumey
itu dapat dicatat dalam hati dengan baik. Setelah itu
ia mengeluarkan Thian-liong-kim-jiu, disongsongkan
pada sinar rembulan untuk memeriksa guratan2 halus
yang terdapat pada benda itu. Dengan pengamatan yang
seksama, dapatlah ia mengetahui bahwa guratan pada
Thian- liong-kim jiu itu memang merupakan tanda2 dari
susunan Pat-kwa. Bermula memang mudah. Dengan
pelajaran yang didapatnya dari Siu-mey tadi, ia dapat
mengerti susunan gurat2 itu. Tetapi setelah meningkat
pada kelompok guratan yang lain, macetlah pikirannya.
Benar2 ia tak dapat mengetahui inti keindahannya.
Dicobanya untuk mengasah otak memecahkan rahasia
itu, tetapi tetap sia2. Mata berkunang, kepala pening dan
keringatpun bercucuran deras.
---oo~dwkz^0^Tah~oo---
Selama itu Siu-mey tak berani buka suara karena
kuatir akan mengganggu pemusatan semangat Gak Lui.
Tidak demikian dengan Hwat Hong taysu yang banyak
pengalaman. Kuatir kalau terlalu ngotot nanti Gak Lui
606
akan menjurus ke arah akibat yang disebut Co-hwa-jipmo
atau darahnya meliar deras sehingga tak berjalan
pada saluran yang semestinya. Co-hwe-jip-mo akan
mengakibatkan tubuh orang rusak dan cacat, pikiranpun
tak waras lagi.
“Sauhiap,” cepat ketua Heng-san-pay itu menyelutuk,
“bahkan Kaisar Persilatanpun sudah mengatakan bahwa
untuk mempelajari ilmu itu, harus memerlukan waktu
yang cukup lama. Maka janganlah engkau terburu-buru
begitu rupa ....”
Gak Lui mengiakan. Ia menghela napas untuk
melonggarkan ketegangan syarafnya. Tetapi beberapa
saat kemudian, ia mulai membenam diri untuk
memecahkan rahasia gurat2 pada Thian- liong-kim-jiu itu
lagi. Melihat itu Siu-mey segera mengalihkan perhatian
pemuda itu, serunya: “Engkoh Lui, kita masih mempunyai
rencana lain. Marilah kita berangkat !”
“Hm, hm...,” Gak Lui hanya mendengus. Rupanya dia
tetap enggan. Melihat itu Siu-mey segera cari akal agar
dapat mengalihkan perhatian Gak Lui. Segera ia
menceritakan apa yang Kaisar Persilatan mengatakan
kepadanya. Bahkan menurut Kaisar Persilatan, kelak ia
akan menjadi seorang pendekar wanita yang amat
termasyhur. Lalu Kaisar Persilatanpun mengatakan
bahwa tak lama lagi Hwat Hong taysu tentu bakal
mencapai kesempurnaan dalam ilmu agama yang
dianutnya.
“Apakah…. engkau tak salah .... dengar?” serentak
Gak Lui bertanya dengan tegang.
“Tidak !” Mendengar itu hati Hwat Hong taysupun
tergetar rawan. Ia dapat menyelami apa arti kata2 itu.
Dan lagi ketika saling berpisah, khusus kepada dirinya,
607
Kaisar Persilatan tidak mengucapkan 'sampai jumpa lagi',
tetapi 'selamat tinggal'. Hwat Hong taysu dan Gak Lui
saling bertukar pandang. Rupanya keduanya sama2
mempunyai pengertian dalam hal itu.
“Mari kita pergi.... toh dalam waktu semalam tak
mungkin aku dapat mengetahui rahasia pelajaran itu .....”
akhirnya Gak Lui berkata.
“Benar, kita harus berangkat dan melaksanakan
rencana semula,” sahut Hwat Hong taysu. Sejenak
merenung Gak Lui mengatakan bahwa sebaiknya
rencana semula itu perlu dirobah sedikit.
“Sejak saat ini kita jangan berpencar dan bersamasama
menuju ke Ceng-sia !” katanya.
“Ah, tak perlu,” sambut Hwat Hong, “walaupun aku
tak tahu isi rencana itu, tetapi aku tak setuju kalau
dirobah.”
Gak Lui hendak membantah tetapi tiba2 Siu mey
menarik lengan baju Gak Lui: “Engkoh Lui, kurasa
memang tak perlu dirobah. Rencana memikat lawan,
rasanya yang paling tepat untuk kita jalankan!”
Nona itu terpaksa hentikan kata2nya karena Gak Lui
cepat berpaling menatapnya. Tetapi Hwat Hong taysu
sudah terlanjur mendengar tentang siasat 'memikat
musuh' itu. Maka berkatalah ia: “Sauhiap, ditilik dari
urusan Pengemis Jahat, sekalipun engkau tak bilang,
tetapi aku dapat menduga. Demi supaya dapat memikat
musuh, harap engkau jangan menghalangi.”
“Taysu ....”
“Jangan kuatir, tak nanti aku bertindak sembarangan.
Tak peduli akan berjumpa dengan murid hianat yang
palsu ataupun dengan Topeng Besi, aku takkan
608
bertindak sembarangan!” Karena sungkan menolak dan
karena mendapat jaminan Hwat Hong, terpaksa Gak Lui
menerima. Sekalipun begitu ia tetap memberi pesan:
“Taysu, ingatlah bahwa kita masih akan ke Ceng-sia.”
“Baiklah, itu berarti sekali dayung dua tepian,” sahut
kepala gunung Heng-san itu. Habis berkata dengan
diikuti ke delapan anak murid, ia segera turun gunung.
Setelah jauh, barulah Siu-mey bertanya kepada Gak Lui:
“Engkoh Lui, rupanya kalian seperti ada sesuatu yang
tersembunyi dalam hati ....”
“Benar ! Ucapan Kaisar Persilatan seolah-olah
memberi petunjuk bahwa tak lama.... taysu akan
meninggalkan dunia fana.”
“Hm, hanya suatu ramalan yang belum terjadi. Tak
perlu kita terlalu percaya.”
Gak Lui tersenyum hambar: “Aku memang tak suka
akan tahayul. Tetapi dengan terjadinya peristiwa
Tanghong sianseng, sebaiknya kita berjaga-jaga saja.”
Diam2 Siu meypun tergetar dalam hati. Namun ia
cepat menghibur diri. Asal Hwat Hong taysu benar2
pegang janjinya tak bergerak sembarangan, tentulah
akan terhindar dari bahaya. Waktu berjalan dengan
cepat. Gunung Ceng-sia-sanpun makin dekat. Sehari
berjalan lagi, tentu akan tiba. Dalam pada itu timbul
pertentangan dalam hati Gak Lui. Kemudian ia menghela
napas: “Untuk mencari adik Lian, rupanya harus mencari
daya lain. Tetapi membiarkan taysu mencapai gunung
Ceng-sia, pun suatu hal yang baik juga ....”
Siu-mey mengiakan: “Benar, setelah mengantarkan
obat, kita mencari lagi.....”
Memandang ke muka, tampak anak buah Heng-san609
pay tadi menyusup ke dalam hutan. Mungkin untuk
menyelidiki barangkali dalam hutan itu terdapat musuh
yang bersembunyi. Ketika Gak Lui dan Siu-mey tiba di
tepi hutan, tiba2 terdengar Hwat Hong taysu berteriak
kaget seperti melihat sesuatu yang aneh. Gak Lui cepat
menghampiri dan saat itu terdengar suara senjata beradu
amat gencar.
“Celaka !” Gak Lui makin gugup. Cepat ia mencabut
sepasang pedang dan terus secepat kilat menyerbu ke
dalam hutan. Gak Lui bergerak cepat sekali tetapi
ternyata peristiwa telah berlangsung lebih cepat. Ketika
tiba di tempat Hwat Hong, ia termangu-mangu seperti
patung. Wajahnya memberingas dan dua butir airmata
menitik turun..... Saat itu Siu-meypun tiba, serunya
meneriaki Gak Lui: “Engkoh Lui....” tetapi ketika melihat
keadaan di tempat itu, seketika iapun terlongonglongong.
Kiranya saat itu Hwat Hong taysu menggeletak
mati ditanah dengan dada tertembus tusukan pedang.
Dan dari kedelapan anak muridnya, yang kurang hanya
seorang. Karena yang tujuh orang-pun sudah rebah
menjadi mayat.
“Engkoh Lui !” Siu-mey akhirnya dapat menahan
kegoncangan hatinya, “bagaimanakah... ini?”
Gak Lui memandang ke sekeliling dan menajamkan
hidungnya beberapa jenak, lalu berkata dengan dingin:
“Inilah perbuatan kejam dari si orang berkerudung muka
dan Topeng Besi itu!”
“Salah !” seru Siu-mey sembari menunjuk pada
mayat Hwat Hong, “kalau bertemu musuh, sekalipun
Hwat Hong tak sempat mundur, tetapi paling tidak dia
tentu sudah mencabut pedang !” Ketika mengikuti yang
ditunjuk Siu-mey, memang Gak Lui melihat pedang Hwat
Hong taysu masih menyarung di kerangka. Jelas paderi
610
itu belum mencabutnya. Hal itu memang mengherankan.
“Kurasa taysu tentu tak ingkar janji. Tentulah telah
terjadi sesuatu yang diluar dugaan sehingga ia tak
memikir untuk mundur. Dan lawan menggunakan
kesempatan selagi dia tak berjaga, terus menyerangnya
....” kata Gak Lui sambil menghitung jumlah mayat
murid2 Heng-san-pay. Mayat2 itu malang melintang di
tanah dalam keadaan yang mengerikan. Gak Lui hanya
mendapatkan jumlah tujuh orang saja. Dan yang seorang
jelas lenyap. Gak Lui terperanjat. Tubuhnya menggigil
tegang. Melihat itu Siu- mey segera bertanya: “Tentulah
yang seorang itu ditawan musuh. Kalau kuatir dia nanti
membocorkan tentang peristiwa engkau mendapat Kim
jiu, marilah kita cepat mengejarnya !”
“Mengejar ?”
“Ya !”
“Tak mungkin terkejar.”
“Mengapa ?”
“Pertama, mengantar obat ke Ceng-sia itu, harus kita
yang melakukan. Dan hal itu tak boleh ditunda waktunya
!”
“Aku yang pergi ke Ceng-sia dan engkau yang
mengejar mereka !”
“Tidak, aku tak dapat mengejar !”
“O...,” Siu-mey terheran-heran, “apakah engkau takut
?”
“Hm, masakan aku bisa takut?”
“Lalu mengapa engkau tak mengejar ?” Gak Lui maju
selangkah: “Dengan menawan seorang murid Heng-sanpay
itu, mereka tentu menggunakan cara yang ganas
611
dan menjaganya dengan ketat. Kaisar Persilatan
memberiku pusaka Kim-jiu itu, tak lama tentu akan
sampai pada Maharaja,...”
“Hm.....” desis Siu-mey.
“Berulang kali Maharaja berusaha hendak
menangkap aku hidup. Kali ini mungkin dia akan
berusaha lebih keras lagi untuk menangkap aku!”
“Apa alasannya ?”
“Mudah sekali,” sahut Gak Lui, “dia sesungguhnya
tak tahu bagaimana kematian ayah-angkat dan bibi
guruku. Maka dia selalu kuatir kalau mereka Empat
Pedang dari Busan akan membasminya. Selain itu, dia
masih hendak ....”
Tiba2 Gak Lui berhenti dan serempak dengan itu
terlintaslah sesuatu dalam benaknya. Ia seperti telah
menemukan pemecahan dari suatu rahasia yang selama
ini masih gelap baginya. Dan berkatalah ia seorang diri:
“Ya, benar, dia masih ingin menggunakan aku untuk
mengambil pedang Thian-lui koay-kiam !”
“Untuk apakah pedang itu ?” tanya Siu-mey.
“Untuk mengadu jiwa dengan Kaisar Persilatan !”
“Hai !” Siu-mey serentak tersadar, “kalau begitu jelas
engkau tak boleh sembarangan mengejar. Karena
apabila lawan dapat merebut benda Thian-liong-kim-jiu
itu, bahayanya tentu besar sekali !”
Demikian setelah menanam mayat murid2 Heng-sanpay,
lalu Gak Lui membawa jenazah Hwat Hong menuju
ke Ceng-sia. Dalam perjalanan itu yang menjadi
pemikiran Gak Lui tak lain yalah bagaimana ia dapat
mempelajari ilmu Ni-coan-ngo-heng dan selekasnya
dapat merebut pedang pusaka Thian-lui-koay- kiam.
612
Selama itu iapun merasa tenaga-dalamnya bertambah
maju. Sudah tentu hal itu disebabkan karena hasil
pengobatan yang diberikan Kaisar Persilatan kepadanya.
Mengenai pengobatan itu, Gak Lui teringat bahwa Kaisar
Persilatan tidak langsung menyalurkan tenaga dalam,
melainkan hanya menggunakan Thian-liong-kim-jiu.
Ternyata Kim-jiu itu dapat melekat pada jalan darah yang
tepat dan menyalurkan tenaga-dalam ke tubuh Gak Lui.
Sungguh suatu benda pusaka yang ajaib. Makin besarlah
rasa kagum Gak Lui kepada tokoh Kaisar Persilatan.
Diam2 iapun girang karena tenaga-dalamnya bertambah.
Tetapi kegirangannya itu segera tertutup oleh awan
kedukaan atas kematian Hwat Hong taysu serta ketujuh
anak muridnya. Tengah ia berjalan dengan melamun,
tiba2 Siu mey berteriak:
“Engkoh Lui, kita sudah sampai....” Gak Lui terkejut
girang. Memang benar, tak jauh di sebelah muka tampak
gunung Ceng-sia san yang terbungkus rimba hijau, ia
menduga gunung itupun tentu didirikan beberapa pos
penjagaan dari Ceng-sia-pay. Ketika ia bersama Siu-mey
melanjutkan perjalanan untuk mendaki, sekonyongkonyong
di udara tampak meluncur seuntai api. Api itu
pecah berhamburan dan lenyap.
“Engkoh Lui, orang sudah mengetahui kedatangan
kita dan mereka melepas api pertandaan. Harap hati2 !”
Gak Lui menurunkan jenazah Hwat Hong taysu dan
menyembunyikan di tempat yang aman. Setelah itu ia
berkata:
“Ada apa2 biarlah aku yang maju, jangan engkau
sembarangan ikut turun tangan !”
Siu-mey mengiakan: “Baik, Hui Gong taysu dari Siaulim-
si sudah menyanggupi untuk memberitahukan
tentang dirimu kepada sekalian partai persilatan.
613
Kuharap siarannya itu sudah tiba pada mereka. Agar
jangan timbul salah faham lagi.”
“Mudah-mudahan begitu,” kata Gak Lui.
Tepat Gak Lui habis berkata, dari hutan gunung
Ceng-sia-san bermunculan beberapa sosok tubuh orang.
Mereka menghampiri ke tempat kedua pemuda itu. Yang
berjalan di sebelah depan terdiri dari empat orang imam
yang sudah tua usianya. Jelas keempat imam tua itu
tentu memiliki kepandaian tinggi. Cepat sekali
rombongan itu sudah tiba di hadapan Gak Lui. Barulah
saat itu Gak Lui dapat melihat jelas bahwa keempat
imam tua itu memelihara jenggot panjang dan jidat lebar
serta berwibawa. Mereka mengenakan jubah seragam
dan membekal pedang yang sama bentuknya. Melihat
wajah mereka menampil kemarahan, Gak Lui cepat
mendahului berkata: “Totiang berempat ini tentulah dari
partai Kong-tong-pay ?”
“Ya,” sahut keempat totiang itu seraya mengisar kaki
dan membentuk diri dalam setengah lingkaran,
menghadang jalan Gak Lui dan Siu-Mey.
“Tolong tanya, siapakah diantara totiang yang disebut
Wi Ih totiang?”
“Akulah !” sahut salah seorang imam tua itu seraya
maju selangkah. Wi Ih menunjuk pada ketiga kawannya:
“Yang ini suteku Wi Jing, Wi Li dan Wi Beng ....” dalam
pada memperkenalkan nama ketiga sutenya itu, mata Wi
Ihpun segera tertumbuk akan jenazah Hwat Hong taysu
yang dipanggul Gak Lui. Seketika merahlah matanya
dengan sinar kemarahan, bentaknya: “Engkau
pengapakan taysu itu?”
“Pada waktu dalam perjalanan bersama taysu untuk
mengantar obat, di tengah jalan telah diserang musuh
614
gelap sehingga taysu mendapat bencana ....”
“O, apakah kalian dari gereja Siau-lim?”
“Benar ....”
“Bagaimana keadaan penyakit ketua Siau-lim?”
“Sudah dapat kami sembuhkan !”
“Hm ....,” wajah Wi Ih yang berbentuk panjang seperti
kuda itu agak kendor, katanya: “Gak Lui, adanya kali ini
kami tinggalkan markas Kong-tong, tak lain karena
hendak mencarimu guna membuat perhitungan. Tetapi
karena kalian telah menyembuhkan Hui Gong taysu dari
Siau-lim, sekarang kami beri engkau kesempatan untuk
mengadakan penjelasan !”
“Penjelasan itu sederhana sekali. Wi Ti dan Wi Tun
berdua totiang itu amat baik sekali hubungannya dengan
aku. Mereka mati dibunuh anak buah Maharaja
Persilatan dan untuk itu aku berusaha hendak menuntut
balas !”
“Dengan begitu bukan engkau yang membunuh
mereka ?”
“Sudah tentu bukan !”
“Tetapi ketua Kun-lun-pay mengatakan kalau ....
engkau. Tentulah kalian sudah bertemu dengan mereka
di gereja Siau-lim ....” Dengan ucapan yang bernada
ramah itu jelas mengunjukkan bahwa salah faham antara
partai Kong-tong-pay dengan Gak Lui, saat itu sudah
dapat dihapuskan.
“Lalu bagaimanakah dengan Tanghong sianseng ?”
bertanya ketua Kong-tong-pay pula.
“Dia ....” Gak Lui berkata dengan suara sember.
615
“Mengapa ?” desak Wi Ih mulai tegang.
“Dia sudah meninggal !”
“Meninggal ? Kenapa ?”
“Terkena jarum emas Pencabut Nyawa dari Siau-limsi.”
“Hai, aneh !” Wi Ti totiang maju selangkah, serunya:
“Apakah Siau-lim-si menggunakan senjata rahasia untuk
mencelakainya? Bicaralah yang jelas !”
---oo~dwkz^0^Yah~oo---
Setelah menghela napas, Gak Lui lalu menuturkan
apa yang telah terjadi pada Tanghong sianseng secara
jujur, Gak Lui menceritakan bahwa kematian Tanghong
sianseng itu adalah karena terkena jarum emas
Pencabut Nyawa yang tak sengaja telah dilepaskannya,
seketika membelalakkan mata Wi Ih totiang. Tring, tring,
tring.....serentak mereka mencabut pedang. Melihat itu
Siu-meypun cepat melolos pedang dan melindungi di
muka kekasihnya. Gak Lui sendiri tenang2 saja, serunya:
“Harap totiang jangan turun tangan. Apa yang kututurkan
memang sesungguhnya. Harap totiang suka menimbang
masak2 !”
“Menimbang ?” teriak Wi Ih totiang, “kedua ketua
partai persilatan itu telah mati terbunuh secara berturutturut.
Orang mati memang tiada buktinya. Apalagi yang
harus dipikirkan.”
“Harap totiang memikirkan tentang keselamatan jiwa
ketua Ceng- sia-pay. Apabila terlambat, mungkin sukar
ditolong.”
“Heh, heh! Adakah kalian sudah mengunjungi gereja
616
Siau-lim, masih satu pertanyaan. Taruh sudah ke sana,
pun apa yang engkau ceritakan itu, memang sukar
dipercaya !”
“Lalu bagaimana dengan maksud totiang ?”
“Tiga macam hutang darah, sekali dibayar lunas !”
Gak Lui kerutkan alis dan berseru dengan sarat:
“Kedatanganku kemari adalah hendak mengantar obat.
Tidak bertujuan berkelahi dengan totiang. Dan memang
aku sudah berketetapan untuk datang ke Ceng-sia-san.
Harap totiang suka memberi jalan.....”
“Ngaco belo!” bentak imam Wi Ih dengan marah lalu
mengangkat tangan kiri dan lepaskan sebuah hantaman
dahsyat yang dilambari tenaga-dalam Thay jin-cin gi,
terarah ke dada Gak Lui.
“Bagus!” seru Gak Lui seraya menyongsong dengan
gerakan tangan kiri dalam jurus Ciang-mo-ciang-hwat
atau pukulan menundukkan iblis. Wi lh totiang terkejut.
Ketika pukulannya melancar setengah jalan ia sudah
merasa bahwa pukulan pemuda itu mengeluarkan
tenaga-penyedot yang aneh. Buru2 ia tarik pulang
tenaga- dalamnya, berbareng itu dengan gerak yang
menyerupai jurus Ular-keluar-guha, pedang di tangan
kananpun segera menusuk bahu lawan. Tetapi Gak Lui
tetap tenang.
Dengan gerakan yang indah, ia miringkan tubuh
seraya balikkan tangan kanan dan mendorong kepada
lawan, bum.... terdengar deru angin yang dahsyat, jauh
lebih dahsyat dari pukulan Wi Ih tadi. Wi Ih totiang
benar2 tak pernah membayangkan bahwa dalam dunia
ternyata terdapat jenis pukulan yang mengandung
tenaga- penyedot, ia hendak mengganti jurus
serangannya tetapi sudah terlambat. Seketika tubuhnya
617
terhuyung sampai lima enam langkah. Darah pada
kepala dan dadanya bergolak keras. Hampir saja ia
terluka dalam. Melihat saudara seperguruannya
terdesak, Wi Ceng, Wi Li dan Wi Beng cepat hendak
turun tangan membantu. Tetapi ternyata Gak Lui tak mau
melukai orang. Maka setelah berhasil mengundurkan
orang, ia segera menarik pulang tangannya dan tak mau
menyerang lagi melainkan berseru:
“Harap totiang sekalian suka mendengarkan! Jika aku
memang mempunyai hati hendak membunuh orang,
ketua kalian tadi kalau tidak mati tentu sudah menderita
luka. Maka kuminta totiang sekalian suka tenang dan
memikirkan tentang keselamatan jiwa ketua Ceng-siapay.....”
Nasehat itu keluar dari hati nurani yang baik, tetapi
sayang para imam partai Kong-tong-pay itu tak mau
mengerti. Setelah menjalankan pernapasan sejenak,
maka berserulah Wi Ih totiang:
“Tidak mudah untuk naik ke atas gunung Ceng-sia.
Lebih dulu harus mencoba barisan Tujuh Bintang dari
partai Kong tong-pay baru nanti engkau boleh naik ....”
Habis berkata ketua Kong-tong itupun segera
memberi isyarat kepada kawan2nya. Tiga orang imam
muda yang berdiri di belakangnya, segera tampil ke
muka dan dengan keempat imam tua itu kini mereka
genap berjumlah tujuh orang. Mereka bergerak-gerak
mengitari lapangan dan pada lain kejap telah membentuk
diri dalam barisan Tujuh bintang. Saat itu kedua fihak
seperti orang yang naik punggung harimau. Sukar untuk
turun lagi. Apa boleh buat, Gak Luipun terpaksa bersiap
dengan pedangnya.
Pada saat suasana ketegangan memuncak,
618
sekonyong-konyong terdengar seruan nyaring yang
bergetar tegang: “Tahan! Berhenti !”
Sekalian orang terkejut dan berpaling ke arah asal
suara itu. Seorang paderi tergopoh-gopoh lari
menghampiri seraya melambai-lambaikan sepucuk surat.
Gak Lui yang bermata tajam cepat dapat mengenali
bahwa yang datang itu adalah Hoan Gong paderi dari
Siau-lim-si. Begitu tiba dengan napas terengah-engah
paderi itu memberi hormat kepada sekalian orang. Lalu
dengan hati2 menyerahkan surat kepada Wi Ih totiang:
“Ketua kami menghaturkan surat penting kepada
cianpwe!”
Melihat sikap sipaderi yang begitu tegang, Wi Ih
menduga tentu membawa urusan penting. Segera ia
merobek sampul dan membaca isinya. Wajah ketua
Kong-tong-pay itu berobah-obah mimiknya. Gak Lui dan
Siu-mey menduga surat dari Hui Gong taysu itu tentu
berisi penjelasan tentang dirinya kepada ketua Kongtong-
pay. Memang dugaan itu tak salah. Setelah
merenung beberapa saat, seri wajah ketua Kong-tongpay
itu berobah tenang, ujarnya: “Gak ... surat dari ketua
Siau-lim-si ini menyatakan bahwa keterangan kalian tadi
memang benar. Demi menghadapi musuh2 dunia
persilatan, segala perselisihan diantara kita, kelak saja
kita perhitungkan lagi ....”
“Baik,” jawab Gak Lui, “mari kita lekas2 menghadap
Thian Lok totiang!”
Demikian ketegangan yang sudah meruncing itu
akhirnya dapat diredakan dan merekapun segera
mendaki ke atas menuju ke biara Ceng sia. Tetapi hal itu
bukan berarti kemarahan keempat tokoh Kong tong-pay
sudah hapus. Mereka tetap mendendam kepada Gak Lui
dan menunggu kelak pada suatu hari akan dibereskan
619
lagi.
Dalam perjalanan itu diam2 Siu-mey telah mengisiki
telinga Gak Lui: “Engkoh Lui, mengapa engkau tak mau
menyerahkan saja obat dan jenazah Hwat Hong taysu
kepada keempat imam itu? Bukankah dengan
mengantarkan sendiri berarti engkau membuang waktu
untuk mempelajari ilmu Ni-coan-ngo-heng tay hwat itu?”
“Aku kuatir kaki tangan Maharaja menyusul kemari
dan merebut obat itu. Apalagi....”
“Apalagi bagaimana ?”
“Sejak saat ini aku akan membasmi mereka habishabisan
!”
“O,” desus Siu-mey, “engkau hendak membasmi
alat2 berita dari Maharaja!”
“Benar, dengan begitu partai2 persilatan mempunyai
waktu untuk mengatur persiapan dan aku sendiripun
mempunyai kesempatan untuk meyakinkan ilmu yang
tersimpan dalam Thian-liong-kim jiu itu !”
Dalam pada bicara itu merekapun sudah tiba di ruang
besar biara Ceng-sia-kwan. Murid kepala dari Ceng-siapay
yakni Hian Wi totiang menyambut dan
mempersilahkan tetamu2nya masuk.
Dahulu ketika baru turun gunung, Gak Lui pernah
bertempur dengan Hian Wi totiang itu. Kepandaian
mereka berimbang dan hanya mengandalkan jurus ilmu
pedang yang aneh, maka pemuda itu dapat memapas
kutung pedang lawan. Tetapi kali ini, memang lain
halnya. Ilmu kepandaian Gak Lui jauh lebih tinggi dari
imam itu. Sebenarnya Gak Lui sendiri tak
membangga2kan soal itu. Tetapi bagi Hian Wi totiang
tidaklah demikian. Diam2 ia penasaran kepada pemuda
620
itu.
Dalam mengambil tempat duduk itu, menurut urut2an
tinggi rendahnya kedudukan dalam perguruan, terpaksa
Hian Wi totiang tidak mendapat tempat duduk melainkan
tegak berdiri. Maka dengan menekan perasaannya,
menyambutlah Hian Wi totiang atas kedatangan Gak Lui:
“Atas nama suhu, kami menghaturkan terima kasih
kepada Gak sauhiap yang telah memerlukan datang
kemari mengantar obat. Mohon tanya, bagaimanakah
cara meminumnya? Dan harus menunggu berapa lama
obat itu baru bekerja ?”
Dalam hal itu Siu-mey lebih mengerti dari Gak Lui.
Apalagi obat itu memang dia yang membawanya. Maka
cepatlah ia mewakili Gak Lui menyahut: “Cara
meminumnya biasa saja. Tentang daya khasiatnya,
sehari atau paling lambat dalam tiga hari tentu sudah
kelihatan.”
“Mengapa waktunya terpaut begitu jauh ?”
“Dibantu dengan penyaluran tenaga-dalam tentu
cepat kalau mengandalkan obat itu bekerja sendiri
memang lebih lambat !”
Hian Wi kerutkan dahi, sahutnya: “Sudah tentu aku
lebih senang kalau suhu lekas sembuh. Soal penyaluran
tenaga dalam itu kuharap tuan2 suka membantu....” ia
berhenti dan memandang ke sekeliling tetamu yang
hadir.
“Aku bersedia membantu tenaga,” pertama tama
adalah Gak Lui yang memberi pernyataan. Tetapi Wi Ih
totiang cepat mencegah:
“Nanti dulu.”
Cepat Gak Lui dapat menduga apa yang dipikirkan
621
paderi itu. Imam tua itu curiga dan iri hati. Maka sebelum
orang itu membuka mulut, Gak Lui sudah mendahului:
“Totiang, aku bukan seorang yang suka usil dan jauh dari
maksudku memandang rendah pada totiang. Tetapi yang
jelas, saat ini kita berkejaran dengan waktu, setiap detik
amat berharga. Jika aku yang memberi penyaluran itu,
tentu hasilnya lebih cepat !”
“Ini ... ini ... sekalipun tempo amat berharga tetapi
terpautnya hanya beberapa jam saja.”
“Kuduga kawanan kaki tangan Maharaja mungkin
akan menyerang gunung ini. Apakah engkau senang
melihat ketua Ceng-sia-pay menghadapi musuh dalam
keadaan terbaring di tempat tidur ?” Gak Lui mengecam
tajam.
“Ini….”
“Dan sekiranya totiang masih kuatir, pada waktu aku
melakukan penyaluran tenaga-dalam nanti, silahkan
totiang dan sekalian murid2 totiang mengamati aku di
samping!” seru Gak Lui pula.
Ucapan Gak Lui yang secara blak-blakan itu
membuat ketua Kong-tong-pay tak dapat berkata apa2
lagi. Beramai-ramai rombongan tetamu itu segera dibawa
masuk ke ruang tempat Thian Lok totiang sakit. Atas
petunjuk Gak Lui maka Hian Wi tosu mengambil jenazah
Hwat Hong taysu lalu mengatur upacara penguburan.
Dalam pada itu ia memberi perintah kepada anak murid
Ceng-sia-pay supaya melakukan penjagaan yang lebih
keras. Menjaga kemungkinan musuh menyelundup.
Pada hari kedua waktu pagi, keadaan Thian Lok
totiang sudah jauh lebih baik. Semangatnya sudah pulih
kembali. Ia menemani Gak Lui dan sekalian tetamu
duduk di ruang besar. Kini kecurigaan orang pada diri
622
pemuda itu sudah lenyap sama sekali. Sebagai gantinya,
maka orang-orang Ceng-sia-pay berterima kasih
kepadanya. Ketika mendengar tentang kepandaian
Maharaja yang begitu hebat, mata Thian Lok totiang
berkilat-kilat menyapu ke arah para murid perguruan
Kong-tong-pay. Kemudian berkata dengan nada serius:
“Menghadapi Maharaja yang begitu sakti, kita bertujuh
partai persilatan harus bersatu padu untuk melawannya.
Kini aku mempunyai sebuah cara, entah apakah toheng
sekalian dapat menyetujuinya ?”
“Silahkan toheng menguraikan rencana itu, kami
dengan senang hati akan mendengarkan,” sahut Wi Ih
totiang, “tetapi mengingat musuh begitu sakti, jika
memang tak punya rencana yang meyakinkan, daripada
kita serempak bersama-sama, lebih baik kita berpencar
menjaga diri sendiri-sendiri, agar jangan sampai kita
semua dilenyapkan !” Thian Lok totiang tersenyum:
“Toheng, adakah engkau sudah melupakan rencana
hebat dari para kakek-guru ketujuh partai persilatan
dahulu itu ?”
“Rencana apa? Ah, aku sudah lupa!”
“Para leluhur partai perguruan kita pada seabad yang
lalu, terbagi dalam dua golongan, kaum pendeta dan
kaum imam. Kedua golongan itu berkumpul untuk saling
tukar kepandaian dan berhasil menciptakan sebuah
rencana barisan Thian lo te ong tin. Kalau barisan itu kita
laksanakan sekarang masakan kita takut menghadapi
Maharaja !”
“Hm...,” semangat Wi Ih totiang seketika timbul.
Tetapi beberapa saat kemudian, ia masih bersangsi,
katanya: “Rencana itu memang bagus, tetapi sayang
sedikit…..”
623
“Sayang sedikit apa ?”
“Barisan Thian-lo-te ong itu sesungguhnya ciptaan
dari inti keindahan beberapa barisan, yalah barisan Tujuh
Bintang dari partai Kong-tong-pay, barisan Sam-jay-tin
dari partai Bu-tong-pay dan Go-peh-lo han-tin dari
perguruan Siau-lim-si. Disamping itu masih dibantu pula
oleh jago2 utama dari keempat partai besar. Tetapi kini
para ketua partai2 Heng-san pay, Kun-lun-pay, Bu- tongpay
telah meninggal dunia dan dalam partaiku aku sudah
kehilangan toa suheng lalu akhir2 ini kehilangan dua
orang sute lagi, sudah tentu barisan Tujuh Bintang partai
Kong-tong pay sudah kehilangan daya kesaktiannya.
Maka sekalipun kami menggabung, belum tentu akan
berhasil baik.”
Ucapan dari ketua Kong tong-pay itu bagaikan air
dingin yang mengguyur kepala sekalian orang. Thian Lok
totiang bahkan sampai gemetar dan gelisah tak keruan.
Melihat suasana mulai suram, berserulah Gak Lui
dengan lantang: “Harap ciang-bun-jin berdua jangan
putus asa. Tentang gerak gerik dan akal muslihat musuh,
rasanya aku sudah jelas. Asal barisan itu sudah dapat
terbentuk, kiranya dapatlah untuk menjaga keselamatan
diri....”
“Kalau Maharaja itu datang sendiri ?” kedua ketua
perguruan silat itu serempak bertanya.
“Akulah yang menghadapinya,” sahut Gak Lui
garang.
“Tetapi....,” Thian Lok totiang tak melanjutkan
kata2nya. Tetapi jelas ia menyangsikan kesanggupan
Gak Lui.
“Totiang tentu menyangsikan apakah aku sanggup
menghadapinya, bukan ? Ah, kesangsian totiang itu
624
memang beralasan. Tetapi aku berani memberi jaminan,
sekurang- kurangnya aku tentu mampu menahannya
sehingga ia tak sempat untuk menyerang kelain tempat!”
“Siauhiap bersedia menghadapi bahaya itu?”
“Ya!” sahut Gak Lui dengan mantap.
“Baik,” kata Thian Lok totiang, “kita bulatkan janji ini.
Siau-lim, Kong-tong dan Ceng-sia akan mempelopori
usaha itu untuk berlatih bersama dalam suatu barisan!”
Tiba2 muncullah murid kepala dari Ceng-sia-pay
yakni imam Hian Wi. Ia tergopoh-gopoh masuk dan
menghadap Thian Lok dengan kata2 yang terengahengah:
“Memberitahukan kepada ciang-bun- jin bahwa
Sebun sianseng dari Kun-lun dan Tek Goan taysu dari
Gobi, datang berkunjung karena suatu urusan yang amat
penting !”
---oo~dwkz^0^Yah~oo---
Mendengar kedatangan kedua tokoh lihay itu,
sekalian orang tampak gembira. Tetapi mereka heran
atas sikap dan gerak gerik Hian Wi pada saat itu.
“Lekas silahkan mereka.....” baru Thian Lok totiang
berkata begitu, kedua tokoh itupun sudah melangkah
masuk ke dalam ruang. Ketua Ceng-sia-pay itu tersipusipu
bangkit dari tempat duduk dan menyambut kedua
tetamu itu. Demikian setelah dipersilahkan duduk,
mereka saling bertukar salam keselamatan. Setelah
memberi hormat dan bicara beberapa patah kepada Tek
Goan taysu, Gak Lui lalu beralih kepada Sebun
sianseng. Tetapi setelah mengucap kata-kata salam
keselamatan, kerongkongan Gak Lui serasa tersumbat.
Ia tak tahu bagaimana hendak merangkai kata kata untuk
625
menghibur kedukaan Sebun Giok. Walaupun seorang
periang, tetapi saat itu Sebun sianseng juga merasa
tersekat lidahnya. Beberapa saat kemudian barulah ia
dapat mengucap: “Orang mati tak dapat hidup kembali,
soal diri suhengku .... aku sudah mendengar ceritanya
dari Siau-lim-si .... Engkau...tak perlu bersedih....”
Gak Lui mempunyai hati nurani yang baik. Makin
diminta jangan bersedih, makin besarlah rasa sesal
hatinya. Kematian Tanghong sianseng benar2
membuatnya tak habis bersedih. Rela ia menukar
dengan jiwanya. Tiba2 terdengar Tek Goan taysu
berseru nyaring: “Saudara2, celaka ! Kawanan anak
buah Maharaja sudah muncul dan tak lama tentu akan
datang menantang kita !”
“Oh, baru saja kita mengatur siasat, mereka sudah
datang. Sungguh terlalu cepat sekali...,” Thian Lok
totiang berseru kaget.
Ketua Kong-tong-paypun membuka mulut: “Musuh
yang datang harus dihadapi. Kurasa musuh tentu datang
dengan gopoh dan tak mungkin mempersiapkan
tokoh2nya yang sakti. Inilah kesempatan baik bagi kita
untuk melenyapkan mereka agar kelak jangan menjadi
bahaya di kemudian hari !”
“Belum tentu!” sambut Sebun sianseng dengan wajah
serius, “aku dan Tek Goan taysu telah berjumpa dengan
Garuda-sakti-cakar- emas. Dia adalah salah seorang dari
Tiga Algojonya Maharaja Persilatan. Di samping itu tentu
masih ada lain2 jago yang berkepandaian tinggi dalam
barisan mereka!”
Ucapan Sebun sianseng itu menimbulkan
kegemparan. Para ketua partai2 persilatan yang hadir di
situ, diam2 tergetar hatinya. Lebih2 Tiga Algojo Maharaja
626
itu, membuat mereka terkejut sekali. Gereja Siau-lim dan
gunung Ceng-sia pernah menderita amukan ketiga
Algojo Maharaja itu. Andaikata Gak Lui tak datang
menolong pada waktunya, tentulah kedua perguruan itu
menderita kerugian besar. Dan kini dalam rombongan
kaki tangan Maharaja itu ditambah lagi dengan Tigasiluman-
guha-darah. Tiga tokoh dunia Hitam yang
terkenal ganas sekali. Kaum persilatan golongan Putih
segan untuk berurusan dengan mereka. Dalam suasana
yang dicengkam rasa panik itu, tiba2 Gak Lui berseru
dengan dingin: “Mereka adalah gerombolan2 penjahat
yang harus dilenyapkan. Jika mereka datang sendiri
kemari, sungguh suatu kesempatan yang baik. Sebelum
menghadapi mereka, lebih dulu kita harus mengatur
barisan kita ....”
“Bagaimana engkau hendak mengatur barisan kita ?”
tanya Sebun sianseng.
“Aku tak punya rencana apa2, kecuali minta kepada
taysu dan totiang sekalian, bahwa kawanan murid2 partai
persilatan yang berhianat menggabung dalam
gerombolan Maharaja itu supaya diberikan kepadaku !”
Serempak bertanyalah Thian Lok totiang dan Wi Ih
totiang dengan nada bersangsi: “Mengapa engkau
menghendaki begitu ?”
Segera Gak Lui menuturkan tentang rahasia
gerombolan Topeng Besi dan rahasia yang tersembunyi
di balik penyaruan mereka itu. Juga tentang kematian
Hwat Hong taysu yang aneh, ia berjanji akan melakukan
penyelidikan. Dengan penjelasan itu Gak Lui mengharap
agar para ketua partai persilatan tak sampai salah
membunuh saudara2 seperguruannya sendiri.
Tiba2 untuk yang kedua kalinya masuklah Hian Wi
627
tojin ke dalam ruang dan berseru nyaring: “Musuh sudah
tiba di luar gunung, mohon ciang-bunjin suka memberi
petunjuk....”
Thian Lok totiang tak sempat memikirkan lain2 lagi.
Cepat ia menjawab: “Segera perintahkan kepada seluruh
anak murid Ceng-sia, kecuali yang bertugas menjaga
paseban, supaya ikut aku untuk menghadapi musuh !”
Sambil berkata ketua Ceng-sia-pay itupun terus melesat
ke luar ruang.
Gak Lui hendak memburu karena ia belum lega
hatinya sebelum mendapat jawaban dari ketua Ceng-siapay
itu tentang rencana yang diajukan tadi. Tetapi
rupanya Siu-mey mempunyai lain rencana. Dicegahnya
sang kekasih. Demikian berturut-turut Sebun Giok, Tek
Goan taysu, keempat imam tua dari Kong-tong menuju
keluar semua. Setelah ruangan sunyi maka berbisiklah
Siu-mey kepada Gak Lui: “Engkoh Lui, aku mempunyai
suatu rencana ....”
“Katakanlah! “
“Dalam rangka melakukan penyelidikan pembunuh
Hwat Hong taysu nanti dalam pertempuran janganlah
engkau mengunjuk diri dulu.”
“Jadi harus secara tak langsung ?”
“Ya,” sahut Siu-mey, “pada saat kedua belah fihak
saling berhadapan, engkau dapat memperhatikan
ucapan dan gerak gerik mereka. Dan tentulah dari situ
engkau dapat menemukan sesuatu !”
“Hm, baik juga cara itu.”
“Karena itu kita tak dapat ikut mereka agar jangan
diketahui !” Demikian kedua pemuda itu menyelinap
keluar dan menjalankan rencananya. Dalam pada itu,
628
lembah dan lereng gunung Ceng-sia-san, penuh dengan
manusia2 yang bersenjata lengkap. Mereka tegak
berjajar dengan serius. Suasana hening tegang. Dalam
kedudukan sebagai tuan rumah, Thian Lok totiang
mengambil tempat ditengah-tengah. Sebelah kanan dan
kiri, diapit oleh tokoh2 partai Kun-lun, Gobi dan Kongtong.
Di belakang mereka tegak beratus-ratus anak
murid. Sedang lawan yang dihadapinya, juga mengatur
diri dalam tiga kelompok. Yang di tengah, delapan orang
berjubah biru dan berkerudung muka. Mereka yalah
empat orang murid hianat yang palsu dan empat orang
Topeng Besi. Di sebelah kiri yalah Tiga Algojo Maharaja
dan di sebelah kanan, yalah Tiga-siluman-guha-darah.
Ketiga tokoh ini bertubuh tinggi kurus. Keningnya yang
cekung mengunjukkan bahwa mereka memiliki ilmu
tenaga-dalam yang tinggi. Kecuali kedelapan tokoh
berjubah biru atau gerombolan Topeng Besi itu, semua
kaki tangan Maharaja yang berjumlah ratusan orang itu,
tiada yang mengenakan kain kerudung muka. Hal itu
berarti bahwa Maharaja telah memutuskan untuk
melakukan pertempuran yang menentukan. Oleh karena
itu mereka tak perlu menyembunyikan muka lagi kepada
musuh.
Tampak wajah ketua Ceng-sia-pay mengerut serius
dan dengan nada suara yang sarat, berseru kepada
kedelapan orang berkerudung muka: “Penjahat bernyali
besar ! Kamu telah menculik dan membius tokoh2 sakti
dari tiap partai persilatan lalu masih berani memakai
kedok muka untuk merebut kedudukan ketua.
Kedatangan kalian ke gunung Ceng-sia-san ini, apakah
....”
“Apakah bagaimana ?” seru salah seorang dari
kedelapan muka berkerudung itu. Karena marahnya
tangan Thian Lok sampai gemetar, serunya marah:
629
“Akan membuka kedok yang menutupi mukamu itu lalu
mencincang tubuhmu menjadi berkeping-keping !”
Ucapan yang dilantang dengan lambaran tenagadalam
itu, benar-benar menggetarkan lembah dan
gunung. Kumandangnya memanjang sampai jauh. Tetapi
acuh tak acuh, terdengarlah dua buah suara penyahutan:
“Heh, heh, dengan kepandaian silat cakar ayam itu,
masakan engkau mampu membuka kedok muka kami.
Dan lagi sikapmu yang congkak ini, sungguh tak
menghormat kepada suheng, menghina orang yang lebih
tua !”
“Huh, siapakah suheng engkau ini ?”
“Aku adalah Hwat Gong dari Heng-san. Kedudukanku
lebih tinggi seangkatan dari engkau !”
Mendengar nama itu, terkejutlah sekalian rombongan
tuan rumah. Tetapi secepat itu Wi Ih totiang ketua Kongtong-
pay melangkah maju dan berseru nyaring: “Bangsat,
engkau berani mencelakai Hwat Hong taysu ?”
“Dia tak mau turun kursi, terpaksa harus dilenyapkan
!”
“Engkau.....Goan Lo dari Heng-san ?”
“Begitulah.” Wi Ih segera menantang: “Kalau berani,
hayo, bukalah kedok mukamu.....!”
JILID 13
“Heh, heh, apa sukarnya ?” orang itu tertakwa
mengekeh, “bila kalian sudah menyerah, tentu dapat
melihat wajahku !”
Tiba2 Sebun sianseng kebutkan kipas dan
630
memandang ke sekeliling seraya berseru: “Harap
saudara jangan bersikap congkak. Kalau saudara
menghendaki supaya sekalian partai perguruan dan
tokoh2 persilatan tunduk, tetapi saudara tetap tak mau
unjuk muka. Lalu.....apakah nama dari partai persilatan
yang saudara hendak bentuk ?”
“Aku sudah mengumumkan ....”
“Ho, aku Sebun Giok masih ingat jelas. Menilik
mulutmu yang lancung itu, aku sudah tahu kalau engkau
ini palsu !” katanya seraya menatap orang itu dengan
tajam. Tetapi orang yang mengaku sebagai Hwat Gong
itu tetap tak tahu malu. Ia berbalik tanya: “Urusan ini
tiada sangkut pautnya dengan perguruan Kun-lun-pay.
Mengapa engkau turut campur?”
“Benar, justeru karena tiada sangkut pautnya dengan
perguruan Kun-lun maka aku hendak bertanya !” sahut
Sebun Giok.
“Jangan usil !”
“Ha, ha,” Sebun Giok tertawa. Ia lontarkan pandang
matanya ke seluruh hadirin. Sikapnya seperti
memandang ke arah rombongan orang Ceng-sia-pay,
Kong-tong-pay, ketiga tokoh Sam-yau dan Sam-coat.
Tetapi sesungguhnya ia sedang mencari Gak Lui. Karena
sejak keluar dari ruang besar tadi, ia tak melihat kedua
anak muda itu lagi. Bahkan sampai detik itu baik Gak Lui
maupun Siu-mey tak tampak sama sekali. Tetapi ketiga
tokoh Sam-yau dan Sam-coat itupun berkeliaran
memandang ke sekeliling. Rupanya iapun sama
tujuannya dengan Sebun Giok. Setelah gagal
mendapatkan kedua anak muda itu maka Sebun
sianseng hentikan tawanya dan berkata dengan nada
bersungguh: “Di antara yang datang terdapat juga
631
rombongan murid2 Ceng-sia-pay dan Kong-tong-pay.
Maksud mereka tentulah hendak menerima kedudukan
ketua itu, bukan ?”
“Benar,” sahut orang itu.
“Kalau begitu seharusnya ketua kedua perguruan itu
berunding dengan para saudara2 seperguruannya untuk
menetapkan keputusan penyerahan kedudukan itu !”
“Ini bagaimana! Apakah tak boleh melihat wajah
orang ?” tukas Sebun sianseng.
“Heh, heh, heh….” orang itu mengekeh, “boleh saja
melihat. Tetapi aku mempunyai syarat!”
Dalam pada berkata-kata, orang itu melirik Sebun
sianseng dan Tek Gong taysu. Sebun Giok dengan
tangkas cepat menjawab: “Syaratmu itu justeru sesuai
dengan keinginanku. Biarlah aku yang mengaturnya !”
“Oh....”
“Perguruan Ceng-sia-pay dan Kong-tong-pay akan
memberesi murid2nya yang berhianat. Dari fihak Hengsan-
pay, tiada yang hadir di sini. Maka akulah yang akan
menghadapimu. Sedang dari fihak Siau-lim-si, akan
kuminta Tek Yan taysu yang tampil mewakili. Rencana ini
tentulah sesuai dengan keinginanmu !”
“Bagus !” seru Hwat Gong palsu itu dengan mata
berkilat-kilat girang. Karena rencana itu akan
menyempatkan ia bersatu-padu dengan gerombolan
Topeng Besi. Apabila satu melawan dua, tentulah ia
dapat mengatasi tokoh dari Kun-lun-pay itu. Tetapi
disamping keuntungan, pun ia melihat kelemahan dari
rencana itu. Karena fihak Kong-tong diwakili oleh empat
orang totiang, maka gerombolannya yalah murid2
perguruan yang palsu itu, kalah kuat dan harus dua
632
orang lawan empat orang. Ah, ia tak memperdulikan hal
itu. Pokok ia sendiri memperoleh keuntungan dalam
pertempuran nanti. Sebun sianseng, tokoh dari Kun-lun,
dapat memperhitungkan rencana dalam hati orang. Ia
memperhatikan kawanan Tiga Algojo Maharaja dan Tigasiluman-
guha-darah, lalu berseru nyaring: “Karena
engkau setuju, janganlah minta bantuan orang luar.”
Belum Hwat Gong palsu itu menyahut, ketiga Algojo
Maharaja sudah melantang: “Selama Gak Lui tak muncul,
kami tentu akan bersikap sebagai penonton saja.”
“Baik,” sahut Sebun Giok dengan agak sarat. Ia
segera mengambil payung besi dari punggung dan
berkata: “Hai, kalian yang menyaru sebagai anak murid
Ceng-sia-pay dan Kong-tong- pay, lekas enyah !”
Termasuk orang yang mengenakan kerudung muka
maka beberapa orang segera melesat memenuhi
permintaan Sebun sianseng. Orang yang menyamar
sebagai Hwat Gong taysu dengan tertawa menyeringai,
berdiri tegak di hadapan Sebun sianseng. Kemudian
seorang lain berhadapan dengan Tek Yan taysu dari
Siau-lim-si. Paderi itu kerutkan alis dan mengerut wajah
kemarahan. Rupanya saat itu ia sudah tahu bahwa yang
berdiri di hadapannya itu bukan Hui Ki taysu dari Siaulim-
si tetapi seorang lain yang menyaru dan mengaku
sebagai Hui Ki taysu.
Sedang kelompok ketiga yang berhadapan dengan
fihak Ceng- sia pay, telah dibentur oleh Thian Lok totiang
ketua perguruan Ceng-sia-pay: “Adakah anda ini Thian
Wat murid perguruan kami ?” Tetapi orang itu hanya
gemetar dan tak menyahut. Jelas mengunjuk bahwa
yang ditanyakan itu memang benar sekalipun tiada
dijawab.
Sementara di lain fihak, Wi Ih totiang dari perguruan
633
Kong-tong- pay segera memanggil ketiga adik
seperguruannya dan tiga orang anak muridnya untuk
membentuk barisan Tujuh-bintang guna menyambut
kelompok keempat dari lawan. Pada saat Wi Ih totiang
hendak menegur, fihak lawan sudah mendahului tertawa
iblis dan berseru: “Wi Ih sute, apakah selama ini engkau
baik2 saja ?”
Walaupun teguran itu bernada ramah dan perlahan
tetapi kumandangnya telah mengejutkan para ketua
partai persilatan yang berada di tempat itu. Karena nada
itu tak asing lagi bagi mereka. Ya, itulah suara Wi Cun
totiang dahulu. Wi Ih totiangpun tertegun seperti
disambar petir. Rasa kejutnya sedemikian besar
sehingga ia sampai menyurut mundur setengah langkah.
Tiba2 orang yang berada di hadapannya itu bersuit aneh,
nadanya seperti menusuk ulu hati. Sekonyong-konyong
delapan buah sinar pedang serempak berhamburan
menusuk dada para ketua partai persilatan yang berada
di situ! Kedelapan sinar pedang itu berasal dari
kedelapan orang berkerudung muka. Mereka menyerang
secara mendadak sekali sehingga betapapun tingginya
kepandaian dari para ketua perguruan silat yang
diserang itu, namun sukar bagi mereka untuk
menghindar. Tetapi pada detik2 nyawa keempat ketua
partai persilatan itu hendak direnggut maut, sekonyongkonyong
dari belakang Thian Lok totiang, meluncur
keluar dua sosok tubuh yang terbungkus sinar pedang.
Yang di muka, memancar sinar kebiru-biruan dan
menghambur angin tajam yang menderu-deru. Langsung
sinar pedang itu menerjang barisan pedang dari empat
orang berkerudung muka. Keempat orang berkerudung
muka terkejut sekali. Mereka tak asing lagi dengan warna
sinar pedang itu. Ya, itulah sinar yang berasal dari
pedang Pelangi pusaka partai Bu-tong-pay. Dan taburan
634
pedang itu jelas dimainkan dalam jurus ilmu pedang yang
hanya dipunyai oleh Gak Lui.
Keempat orang berkerudung muka itu pecah nyalinya
dan berhamburan menyingkir. Tetapi empat orang
kawannya yang belum menerima komando apa-apa, tak
mau hentikan serangannya. Tring, tring, tring, terdengar
dering gemerincing tajam dan serentak kutunglah
keempat pedang orang berkerudung muka itu dan
serempak dengan kutungnya pedang, Gak Lui gerakkan
tangan kiri dalam ilmu pukulan Menundukkan-iblis,
sedang pedang di tangan kanan dimainkan dalam ilmu
pedang Bu-san kiam. Pukulan dan pedang itu sedahsyat
gunung Thay-san yang menindih roboh. Belum pukulan
tiba, anginnya telah membuat keempat orang
berkerudung itu terhuyung-huyung.
Untunglah Gak Lui menyadari bahwa keempat orang
berkerudung itu hanya digunakan sebagai alat oleh
Maharaja Persilatan. Maka ia tak mau menurunkan
tangan jahat. Gak Lui cepat mengalihkan sasarannya
kepada keempat orang berkerudung yang dapat
menyingkir dari serbuannya tadi. Thian Lok totiang dan
ketiga ketua partai perguruan cepat menyadari apa yang
terjadi. Jiwa mereka telah diselamatkan oleh Gak Lui.
Begitu terbebas dari ancaman maut, mereka
berempatpun serempak memutar senjata untuk
membebaskan diri dari serangan lawan.
Kelompok empat orang berkerudung muka yang
dapat terhindar dari tebasan pedang Gak Lui tadi,
terkejut sekali menyaksikan kesaktian Gak Lui. Mereka
serentak mengerahkan seluruh tenaga dan menghantam
kearah Gak Lui. Bum ... terdengar letupan.
Gak Lui berputar2 dengan suatu gerakan yang aneh.
Ternyata ia menggunakan ilmu untuk meminjam tenaga
635
lawan sehingga ia tak menderita luka apa2. Dan sambil
berputar-putar itu, pedangnyapun berhamburan menusuk
lawan. Tring, tring .... pedang keempat orang itu tak
sempat dimainkan karena tahu-tahu batangnya telah
disabat pedang Gak Lui. Tangan keempat orang itu
terasa linu dan pedangnyapun rompal.
Kejut mereka bukan kepalang dan sadarlah mereka
bahwa sia2 saja untuk melanjutkan pertempuran yang
tentu akan membahayakan jiwa mereka. Dan di samping
serangan Gak Lui, saat itu sigadis ular Siu- meypun tiba
dengan taburan pedang dalam jurus permainan
Memapas-emas-memotong-kumala. Yalah jurus yang
khusus untuk membabat pedang lawan. Keempat orang
berkerudung itu runtuh nyalinya. Segera mereka bersuit
memberi isyarat kepada keempat Topeng Besi supaya
keluar dari gelanggang pertempuran. Gak Lui tak
mempedulikan keempat Topeng Besi itu. Yang diburunya
yalah keempat orang berkerudung muka. Siu-mey dan
keempat ketua partai persilatan mengikuti pemuda itu.
Melihat fihaknya kalah, ketiga Algojo Maharaja itu tak
mau tinggal diam. Cepat mereka lepaskan pukulan
kepada musuh.
Kedua anggauta Algojo Maharaja, yani Setan-anginhitam
dan Malaekat-rambut-merah, dalam saat2 yang
tegang itu cepat mengeluarkan senjata simpanannya.
Mereka loncat ke udara sambil taburkan bubuk kabut
beracun. Thian Lok totiang pernah menderita dari kabut
beracun, ia terkejut dan cepat berpaling untuk mencegah
Sebun siangseng dan Tek Yan taysu serta
rombongannya. Gak Luipun terhalang oleh kabut
beracun itu. Pada saat ia berhasil menghantam lenyap
kabut, ternyata orang berkerudung dan Topeng Besi
sudah kabur sampai 100-an tombak jauhnya. Saat itu
ketiga Algojo Maharaja tegak berjajar. Garuda-cakar636
emas, salah seorang dari kawanan algojo itu, mendahului
berseru: “Harap hentikan pertempuran dan marilah kita
bicara dengan tenang ...”
Gak Lui berputar-putar dan berhenti di muka ketiga
Algojo Maharaja itu. Serunya dingin: “Kalau mau bicara,
lekaslah!” Garuda-cakar-emas tertawa seram: “Urusan
hari ini sesungguhnya hanya mengenai dua buah hal.
Pertama, tentang pembersihan di dalam tubuh masing2
perguruan. Dan yang sebuah aku hendak dengan
engkau ....”
“Dengan aku bagaimana?” tukas Gak Lui.
“Dengan engkau akan meminta sebuah benda kecil!”
Gak Lui terkejut. Ucapan orang itu membuktikan bahwa
murid Heng-san-pay yang telah ditawan oleh Maharaja
Persilatan itu, telah membocorkan tentang pusaka Thianliong
kim-jiu atau Tangan-emas-naga-langit.
“Kalau aku tak mau menyerahkan?” Gak Lui balas
bertanya, “engkau mau bertindak bagaimana ?”
“Mungkin engkau sukar lolos dari tangan kami bertiga
!” baru berkata begitu, Garuda-cakar-emas hentikan
kata2nya. Ia ngeri melihat wajah pemuda itu menampil
hawa pembunuhan.
---oo~dwkz^0^Yah~oo---
Buru2 ia melanjutkan kata2 lagi: “......dan lagi ketiga
Siluman- goha-darah itu juga telah datang untuk
menghadapimu..” Dalam kemarahannya, Gak Lui masih
berusaha untuk menghias tertawa, ia maju setengah
langkah : “Kalau begitu, lalu bagaimana kesimpulannya?”
“Kesimpulannya ?”
637
“Hm!”
“Sudah jelas,” sahut Garuda-cakar-emas seraya
menyapu pandang mata kepada keempat ketua partai
persilatan, sahutnya: “Mereka hanya mengandalkan pada
dirimu. Begitu engkau kalah, merekapun takkan hidup
juga !”
Gak Lui bercekat dalam hati. Diam2 ia mengakui
kebenaran kata2 orang itu. Karena memang
kenyataannya, kekuatan kedua fihak itu terpaut jauh. Bila
Ketiga Algojo-Maharaja dan dan ketiga Siluman gohadarah,
sekali ikut dalam pertempuran, tokoh2 partai
persilatan itu tentu hancur.... Gak Lui cepat mengambil
keputusan. Lebih dulu ia hendak membasmi ketiga
Algojo. Bagaimana kepandaian ketiga siluman- gohadarah
itu akan ditinjaunya lebih lanjut. Melihat pemuda itu
diam saja, Garuda-cakar-emas menyangka kalau Gak
Lui ketakutan. Maka dengan tersenyum menyeringai ia
berseru pula: “Bagaimana kalau engkau serahkan benda
itu, pertempuranpun akan berhenti sampai di sini ....”
Sambil diam2 mengerahkan tenaga-dalam, Gak Lui
memandang ke sekelilingnya lalu menyahut dengan
pertanyaan: “Lalu bagaimana urusan partai2 persilatan
akan diselesaikan?”
“Biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan !”
“Aku?”
“Silahkan berkelana bebas di dunia persilatan.”
“Ah, syarat itu memang pantas juga,” seru Gak Lui.
“Heh, heh,” Garuda-cakar-emas mengekeh. Sambil
maju selangkah, Gak Lui bertanya pula: “Tetapi ....
apakah engkau dapat memutuskan soal ini ?”
“Hal itu merupakan amanat Maharaja Persilatan. Aku
638
hanya mewakili menyampaikannya !”
“Sayang kurang sempurna !”
“Yang mana ?”
“Permintaanmu untuk meminta benda itu, tak dapat
kululuskan !”
“Lalu hendak engkau serahkan siapa ?”
“Lain orangpun bisa. Misalnya .... ketiga Silumanguha-
darah itupun dapat menerimanya.”
“Alasanmu ?”
“Dendam lama antara engkau dan aku belum selesai.
Perhitungan itu saat ini harus kita selesaikan. Sedang
ketiga Siluman-guha-darah tiada mempunyai hubungan
suatu apa dengan aku. Maka kurasa, benda itu dapat
kuserahkan kepada mereka.”
Dalam pada berkata-kata itu, Gak Lui lepaskan
pandang matanya ke arah ketiga Siluman-guha-darah
yang berada di belakang ketiga Algojo. Tampak wajah
ketiga Siluman itu, tak menampil suatu reaksi apa2
kecuali hanya tersenyum iblis. Sikap itu mengunjukkan
bahwa mereka tak begitu memandang mata kepada
ketiga Algojo. Demikianpun mereka yakin tentu dapat
mengambil benda pusaka itu dari tangan Gak Lui.
Keadaan itu membuat Gak Lui diam2 tertawa. Jika ketiga
Algojo itu bersatu dengan ketiga Siluman, memang sukar
dihadapi. Tetapi ditilik dari sikap ketiga Siluman itu
rupanya mereka mengandung rencana sendiri. Mereka
hendak merebut sendiri benda pusaka Kim-jiu, agar
memperoleh jasa dari Maharaja. Tetapi si Garuda-cakaremas
rupanya tak dapat meneliti sikap ketiga Siluman itu.
Setelah tertawa iblis, ia segera mulai melancarkan
serangan. Sepuluh buah cakar yang berkilat-kilat sinar
639
emas, bagaikan hujan mencurah ke tubuh Gak Lui. Dada
dan perut pemuda itu diserang dengan serempak. Jurus
yang dilancarkan itu dilambari dengan tenaga-dalam
yang penuh. Sekali kena tercengkeram, dada dan perut
Gak Lui tentu pecah berhamburan .....
Tampak mulut Garuda-cakar-emas itu mengerut
tawa. Tetapi sayang bukan tawa kegembiraan melainkan
tawa kecemasan dan kesakitan. Karena ternyata Gak Lui
dapat bergerak lebih cepat. Ia geliatkan telapak tangan
keatas dan tepat sekali dapat menangkap cakar2 emas
lawannya. Segera ia pancarkan tenaga- dalam di tangan
kiri untuk menyedot tenaga-dalam orang. Garuda-cakaremas
terkejut bukan kepalang. Ia tak menyangka sama
sekali Gak Lui sedemikian lihaynya. Tetapi untuk
membebaskan tangannya, sudah tak keburu lagi. Saat itu
ia rasakan lengannya kesemutan, separo tubuhnya
seperti mati dan mulutpun sudah siap berteriak. Tetapi
sebelum ia mampu menjerit, dari tangan kanan pemuda
itu mengalirkan suatu tenaga-dalam yang keras ke dalam
jalan darahnya. Aliran tenaga-dalam itu membuat
Garuda-cakar-emas pusing dan berkunang kunang
matanya. Sekujur tubuhnya kesemutan dan mulut yang
sudah menganga itupun tak dapat mengeluarkan suara.
Garuda cakar-emas sudah tak berdaya lagi. Ia sudah
jatuh ke dalam kekuasaan Gak Lui. Asal pemuda itu
menambah saluran tenaga-dalamnya, dia tentu binasa.
Tetapi Gak Lui memang tak mau sekaligus membunuh
orang itu. Ia hendak menggunakan tenaga ketiga Algojo
itu. Setelah itu barulah ia menghancurkan mereka bertiga
dengan serempak.
Sungguh kebetulan sekali kedua Algojo yang lain
yalah Setan- angin-hitam dan Malaekat-rambut merah
tak mengetahui keadaan kawannya. Mereka berdua
berdiri agak jauh dan teraling oleh para ketua partai
640
persilatan. Mereka hanya melihat Garuda cakar-emas
saling bercekalan tangan dengan Gak-Lui. Mereka
sangka tentulah Garuda-cakar-emas sedang adu tenaga
dalam dengan Gak Lui dan menilik kedudukan kakinya
rupanya Garuda- cakar-emas lebih unggul. Beberapa
saat kemudian barulah kedua Algojo itu terkejut melihat
tubuh kawannya gemetar. Kaki Garuda-cakar emas
walaupun masih tegak berdiri tetapi sudah tak bertenaga
lagi. Garuda cakar-emas masih dapat berdiri karena
dipegang Gak Lui. Saat itu barulah Setan-angin-hitam
dan Malaekat-rambut-merah terbeliak kaget. Hendak
menaburkan kabut beracun mereka kuatir akan melukai
si Garuda-cakar-emas sendiri. Maka mereka berduapun
terus bergerak menyerang Gak Lui. Tetapi selagi masih
berada pada jarak setombak jauhnya, mereka berdua
mendengar suara berdetak2 macam tulang putus. Dan
lebih terkejut pula ketika tahu2 Gak Lui mengangkat
tubuh Garuda-emas dan melemparkan kepada kedua
orang itu. Sebelum kedua Algojo itu sempat
membebaskan diri dari lontaran mayat si Garuda-cakaremas,
sekonyong-konyong Gak Lui sudah gerakkan
senjata cakar-emas milik Garuda-cakar emas yang
direbutnya, menghunjam ke arah kedua lawannya. Jarak
yang sedemikian dekat dan pula masih sibuk menghindar
dari lontaran tubuh Garuda-emas, membuat kedua Algojo
itu tak mampu menghindar lagi. Terdengar dua buah
jeritan ngeri dan disusul dengan muncratan darah yang
bertebaran keempat penjuru.
Setan angin-hitam terkena empat buah jari cakaremas.
Yang dua biji, tepat menyusup kedua matanya
hingga gundu matanya hancur. Sedang dua buah jari
yang lain tepat bersarang ke tenggorokannya. Seketika
habislah riwayat si Setan-angin- hitam! Sedang si
Malaekat-rambut-merah dalam gugup, menangkis
641
dengan kedua tangannya. Pikirnya, ia hendak menyapu
jatuh jari2 cakar-emas yang menabur dirinya itu. Tetapi
baru tangannya bergerak setengah jalan, iapun sudah
menjerit ngeri dan terhuyung-huyung rubuh dengan usus
berhamburan ke luar .....
Peristiwa sekaligus dapat menghancurkan ketiga
Algojo Maharaja, benar2 membuat sekalian ketua partai
persilatan terlongong-longong heran. Ketiga Silumanguha-
darah yang sikapnya angkuhpun terkejut.
Serempak mereka berhamburan loncat ke muka Gak
Lui. Dengan tertawa dingin, Gak Lui terus hendak maju.
Tetapi Thian Lok totiang ketua Ceng-sia-pay cepat maju
membisiki: “Sauhiap, ketiga siluman itu amat ganas
sekali. Entah mereka akan menggunakan senjata rahasia
apa. Kami sudah dapat mengatasi kawanan murid
murtad itu, adakah engkau ....”
“Bagaimana ?”
“Pancing mereka ke lain tempat.”
“Hm,” Gak Lui mengiakan. Saat itu ketiga Silumangoha-
darah sudah tiba di hadapannya. Serangkum bau
darah yang anyir berhembus terbawa angin. Gak Lui
terkejut. Ia duga ketiga siluman itu tentu memiliki ilmu
kepandaian hitam.
“Orang she Gak, lekaslah engkau serahkan benda
yang engkau bawa itu !”
“Kepadamu ?”
“Sudah tentu !”
“Di sini ?” masih Gak Lui bertanya.
“Ini ....”
“Ini bagaimana ?” desak Gak Lui.
642
“Demi menjaga rahasia, marilah kita pergi ke sana,”
sahut orang itu seraya merenung. Rupanya mereka tak
menghendaki rahasia Kim-jiu itu diketahui orang. Justeru
itulah yang dikehendaki Gak Lui.
Sejenak ia berpaling dan tersenyum kepada para
ketua partai persilatan. Mereka terdiri dari Thian Lok
totiang, Tek Gong taysu, Sebun sianseng dan ketua
Kong-tong-pay Wi Ih totiang beserta empat saudara
seperguruannya dan tiga orang murid. Jumlah itu kiranya
cukup untuk menghadapi orang berkerudung muka dan
gerombolan Topeng Besi yang berjumlah delapan orang.
Namun Gak Lui masih kuatir mereka tak dapat melayani
musuh. Maka ia berpaling dan memberi isyarat ekor mata
kepada Siu- mey. Maksudnya suruh nona itu tinggal
membantu barisan tokoh2 partai persilatan.
“Mari !” akhirnya ia berkata kepada ketiga Silumanguha-
darah dan terus melesat ke pedalaman gunung.
Tak berapa lama tibalah mereka di sebuah lembah yang
amat terpencil. Gunungnya tak berapa tinggi tetapi
merupakan sebuah pegunungan karang sehingga
banyaklah terdapat guha2 batu karang dengan tiang2
batu kerucut yang runcing dan kokoh. Melihat pemuda itu
lari kedalam lembah, ketiga Siluman-goha- darah itu
tertawa menyeringai. Mereka segera mengatur diri untuk
menghadang dari tiga jurusan apabila Gak Lui sampai
mundur.
“Berhenti !” serempak mereka membentak. Melihat
keadaan gunung karang itu, diam2 Gak Lui terkejut juga.
Ia duga ketiga siluman itu sudah mengetahui keadaan
tempat itu maka mereka sengaja memancing kesitu.
Namun pemuda itu tak gentar. Ia memperhitungkan
ketiga siluman itu tentu akan menggunakan puluhan
guha karang yang menghias dikaki gunung itu untuk
643
melancarkan siasat mereka. Tetapi mereka tentu tak
mengetahui bahwa ia memiliki indera penglihatan dan
pendengaran yang jauh melebihi orang biasa. Begitupun
indera penciumannya, luar biasa tajam. Gak Lui hentikan
langkah dan berpaling menghadapi ketiga siluman itu.
“Orang she Gak,” Seru pemimpin dari gerombolan
tiga serangkai Siluman-goha darah itu, “sekarang
serahkan pusaka Thian-hong- kim-jiu itu kepadaku ....”
“Mengapa terburu-buru?” sahut Gak Lui tenang,
“kalau kalian berani datang meminta pusaka itu,
masakan kalian tak mau memberitahukan nama
kalian.....”
Orang itu meneguk air liur lalu berseru bangga: “Aku
adalah kepala dari tiga serangkai Siluman-goha-darah,
yalah Thian Hong si Pukulan-darah-pemburu-nyawa !”
“Dan kedua kawanmu itu ?” Pukulan-darah-pemburunyawa
menunjuk kepada kedua kawannya: “Yang ini Ci
Yong gelar Panah-darah-pelenyap-nyawa !”
“Hm !” dengus Gak Lui.
“Dan yang itu, Ih Cing gelar Tongkat-darahpenggebuk-
nyawa.”
“Hm ...” tiba2 Gak Lui mendengus lalu tengadahkan
kepala tertawa nyaring. Nadanya berkumandang bagai
naga meringkik di udara. Tenaga-dalam yang
berhamburan dari nada tertawa itu membuat wajah
ketiga Siluman-goha-darah tak berketentuan warnanya.
Akhirnya Pukulan-darah-pemburu-nyawa maju selangkah
dan berseru dengan nada sarat: “Apa yang engkau
tertawakan? Mengapa tak lekas .....”
“Huh, aku menertawakan kalian bertiga yang punya
mata tetapi tak dapat melihat apa2 !”
644
“Tak dapat melihat apa?” Thian Hong si Pukulandarah-
pemburu- nyawa membelalakkan mata, “apakah
engkau hendak ingkar ?” Gak Lui balas menatap orang
dengan pandang mata berapi-api:
“Aku toh belum meluluskan!”
“Jelas engkau mengatakan kepada ketiga Algojo tadi
kalau hendak menyerahkan benda itu kepada kami
bertiga !”
“Thian-liong kim ciang merupakan pusaka dunia
persilatan. Jangankan diserahkan, bahkan menjamah
saja kalian jangan harap kuijinkan !” seru Gak Lui.
Impian Pukulan darah-pemburu nyawa untuk
memperoleh jasa dari Maharaja Persilatan, seketika
buyar seperti awan tertiup angin. Karena malu ia marah
sekali. Wajahnya membesi gelap.
“Budak! Ketahuilah bahwa lembah Hian-sim-koh atau
penjerumus orang ini, tak mungkin memberi kesempatan
padamu meloloskan diri !” serunya.
“O,” seru Gak Lui, “kiranya lembah ini disebut Hiansim-
koh.”
“Benar !”
“Keadaan lembah ini rumit dan berbahaya sekali.
Tepat untuk tempat pengubur kalian !”
Belum Gak Lui sempat menyelesaikan kata2nya,
Pukulan-darah- pemburu-nyawa menggerung marah dan
terus ayunkan kedua tangannya menghantam bahu Gak
Lui.
“Bagus !” seru Gak Lui sambil masih tenang2 tegak
ditempat lalu secepat kilat songsongkan tangannya
menangkis. Ia pancarkan tenaga dalam Penakluk-dunia
645
untuk mengimbangi gerak sambaran menangkap tangan
musuh. Tetapi pada saat tangan bergerak setengah
jalan, tiba2 ia terkejut sehingga wajahnya sampai
berobah warna. Ternyata ia sempat memperhatikan
bahwa telapak tangan si Pukulan-darah-pemburu-nyawa
itu tiba2 berobah merah darah. Bermula hanya setitik
kecil tetapi cepat sekali warna merah itu menebar
memenuhi seluruh telapak tangannya.
---oo~dwkz^0^Yah~oo---
Serentak Gak Lui teringat akan peringatan Thian Lok
totiang tadi. Sebelum mengetahui ilmu kepandaian
kawanan siluman itu, janganlah ia sampai gegabah adu
pukulan. Tetapi saat itu kedua fihak hanya terpisah dua
tiga langkah. Dalam sibuknya, Gak Lui miringkan tubuh
ke samping. Tangan kirinya yang diayunkan tadi diangkat
ke atas dan berbareng itu tangan kanannya menjulur
lurus ke muka, menghamburkan tenaga-dalam yang
keras. Semula Pukulan-darah-pemburu-nyawa sudah
hampir bersorak kegirangan karena Gak Lui berani
menangkis. Dan ia yakin dalam jarak sedekat itu tak
mungkin Gak Lui dapat menghindar atau menarik pulang
tangannya. Maka ia segera salurkan seluruh tenagadalam
sehingga telapak tangannva berobah semerah
darah. Angin yang memancar dari telapak-tangannya itu
membaurkan hawa yang anyir.....
Bum.......terdengar letupan keras ketika kedua
pukulan itu saling beradu. Baik Gak Lui maupun Pukulandarah
pemburu-nyawa sama2 terhuyung2 ke belakang.
Karena sebuah pukulan beradu dengan dua pukulan,
Gak Lui tersurut mundur tiga langkah. Telapak kakinya
menyusup meninggalkan bekas setengah dim di tanah.
Dan karena ia agak lambat menarik pulang tangan
646
kirinya, lengan bajunya kena terlumur tetesan darah.
Walaupun hanya terluka kecil tetapi baunya memuakkan
sekali. Adalah karena melontarkan dua pukulan, barulah
Pukulan-darah- pemburu-nyawa itu dapat bertahan.
Tetapi tak urung ia harus terhuyung mundur lima langkah
baru dapat berdiri tegak. Jelas dalam adu pukulan itu,
Gak Lui lebih unggul. Tetapi diam2 Gak Luipun tergetar
hatinya. Saat itu barulah ia mengetahui bahwa tenagadalam
kawanan siluman goha-darah itu lebih tinggi dari
ketiga Algojo Maharaja. Dan pula bau darah yang anyir
itu benar2 merupakan racun yang luar biasa. Sedang
ilmu kepandaian para ketua persilatan kebanyakan
adalah bersumber pada ilmu silat kaum gereja. Justeru
ilmu hitam dari ketiga Siluman-goha-darah itu adalah ilmu
yang dapat mengatasi tenaga dalam Tun-yang atau
keras dari para tokoh2 ketua partai. Maka tak heran bila
ketua2 partai persilatan itu terkejut gentar menghadapi
ketiga Siluman-goha-darah. Dan lagi lawan berjumlah
tiga orang. Walaupun mereka angkuh dan congkak tetapi
dalam kesukaran mereka tentu akan bersatu. Satu lawan
tiga, memang beratlah. Tetapi Gak Lui tak sempat
menimang lebih lanjut karena saat itu Panah-darah
pelenyap-nyawa melesat dan tamparkan lengan
jubahnya yang besar dan keras ke muka Gak Lui.
Gak Luipun cepat mengangkat tangan kiri untuk
menabas siku lengan orang. Tetapi ternyata gerakan
Panah-darah-pelenyap- nyawa itu hanya suatu siasat
untuk menipu. Karena secepat itu pula, ia putar lengan
bajunya dan sing, sing, sing .... berdesinganlah hujan
anak panah-darah melanda Gak Lui. Gak Lui terkejut
sekali. Cepat ia putar tubuh dan melesat beberapa
tombak jauhnya seraya hantamkan tangan kiri ke arah
anak panah itu. Sedang tangan kanan siap mencabut
pedang Pelangi. Tetapi belum sempat ia mencabut ke
647
luar pedang, tiba2 terdengar angin menderu-deru dan
pada lain kejab, tubuhnya telah dilingkupi oleh beratusratus
sinar tongkat yang berwarna merah. Jelas taburan
sinar tongkat darah itu berasal dari serangan Tongkatdarah-
pelebur-nyawa.
Pada saat Gak Lui berputaran tubuh untuk
melindungi tubuh, Pukulan-darah pemburu-nyawa-pun
sudah menyerbunya lagi. Dua buah tinjunya yang
berlumuran darah, menyerang pinggang dan
punggungnya. Dalam keadaan seperti itu betapa lihay
kepandaian Gak Lui sekalipun, tetapi karena diserang
oleh tiga tokoh kuat, ia menjadi kelabakan juga. Dengan
mengertak gigi, segera ia mainkan pedang pusaka
Pelangi, menyapu hujan anak panah yang mencurah dari
atas. Lalu kisarkan kuda2 kaki ke belakang,
menyongsong serangan dari belakang dari Pukulandarah-
pemburu-nyawa tadi.
Terdengar suara mendering riuh dari anak panah
yang tersapu pedang dan berbareng itu, serangan
Pukulan-darah-pemburu- nyawapun dapat dihalau.
Tetapi tepat pada saat itu, tongkat si Tongkat-darahpelebur-
nyawa menghunjam ke dadanya. Duk .... dada
pemuda itu termakan hantaman tongkat. Ketiga Silumangoha-
darah itu girang sekali ketika melihat tubuh Gak Lui
mengendap ke bawah. Mereka yakin pemuda itu tentu
terluka dadanya. Tetapi ketika Tongkat-darah peleburnyawa
hendak maju menghantam lagi, tiba2 ia mengeluh
dan cepat2 menutup matanya dengan lengan baju.
Pusaka Thian-liong-kim-jiu disimpan Gak Lui dalam
dadanya. Rupanya si Tongkat-darah tahu akan hal itu.
Maka ia tujukan tongkat ke dada Gak Lui. Ia berhasil
membuat benda pusaka itu menonjol ke atas dada Gak
Lui. Tetapi ketika hendak menyusuli serangan lagi, tiba2
benda pusaka itu memancarkan sinar yang luar biasa
648
tajamnya sehingga silau mata kawanan siluman-gohadarah
itu dibuatnya. Mereka cepat2 menutup mata
dengan lengan bajunya.
Tring .... Gak Lui membabat kutung tongkat lawan
dan berbareng itu si Tongkat-darahpun terhuyunghuyung
mundur sampai dua langkah. Gak Lui telah
diselamatkan oleh pusaka Thian-liong-kim-jiu yang
disimpan dalam dada. Pada saat ketiga siluman itu
menyerang lagi, Gak Luipun sudah siap. Kini ia gunakan
gerak-langkah yang aneh. Seolah-olah ia malah menuju
ke tempat serangan lawan.
Dahulu dengan gerak langkah itu, Gak Lui dapat
menghindari tiga buah serangan pedang dari Permaisuri
Biru dan tiga buah serangan dari Maharaja Persilatan.
Panah-darah, Tongkat-darah dan Pukulan-darah pun
serupa. Mereka hanya menyerang angin kosong ketika
pemuda itu berputar-putar tubuh dan melejit keluar dari
kepungan mereka. Setelah bebas, Gak Luipun cepat
mencabut pedang lagi. Kini tangan kiri mencekal pedang
Ko-hong-cin-ik (burung rajawali rentang sayap) dan
tangan kanan memegang pedang Pelangi.
Pedang Ko-hong diputar deras untuk melindungi diri
dari serangan senjata rahasia. Pedang Pelangi
dimainkan untuk menyerang ketiga lawan. Walaupun
ketiga Siluman goha darah itu telah menumplak seluruh
kepandaiannya, namun mereka terpaksa harus menekan
nafsu karena perlu menjaga diri dari serangan pemuda
itu. Melihat gelagat tak enak, tiba2 Pukulan darah
memperdengarkan dua buah suitan aneh dan pada lain
saat mereka bertiga serempak loncat mundur: “Berhenti
!” Melihat ketiga lawan mundur jauh dan sukar diburu,
Gak Luipun hentikan pedang dan berseru dingin:
“Apakah kalian hendak lari ?”
649
“Aku bukan manusia semacam itu !” sahut kawanan
siluman itu.
“Mau bicara?”
“Benar ....”
“Baik, sebelum mati, kuberi kalian kesempatan bicara
!”
Pukulan-darah-pemburu-nyawa tertawa sinis: “Gak
Lui, menilik sikapmu, rupanya engkau hendak
membunuh orang, bukan ??”
“Heh, heh,” Gak Lui mengekeh, “pintar juga engkau
melihat sikap orang.”
“Tetapi seharusnya engkau memakai cara yang adil !”
“Dalam hal apa aku tak adil?”
“Engkau menggunakan pusaka Thian-liong-kim-jiu
untuk melindungi dirimu. Itu tak adil !”
“Mengapa ?” tanya Gak Lui.
“Kalau tiada benda itu, engkau tentu sudah mati di
bawah tongkatku !”
---oo~dwkz^0^Yah~oo---
Gak Lui tahu apa yang dikehendaki lawan. Ia tak mau
mudah disiasati, serunya: “Lalu bagaimana menurut
keinginanmu.” Pukulan-darah-pemburu-nyawa maju tiga
langkah, serunya:
“Sudah tentu aku tak dapat menyuruhmu meletakkan
benda itu di samping, tetapi ....”
“Tetapi bagaimana ?” desak Gak Lui.
650
“Seharusnya engkau sembunyikan benda itu dalam
pakaianmu.”
Gak Lui menundukkan kepala. Dilihatnya pusaka
Kim-jiu itu menonjol keluar ke atas dadanya. Ia kerutkan
alis dan cepat menangkap maksud orang.
“O, kiranya kalian takut akan perbawanya sehingga
kalian tak dapat menggunakan ilmu hitam, bukan ?” seru
Gak Lui.
“Benar! Kalau engkau menghendaki pertempuran
yang ramai dan adil, haruslah engkau menurut usulku
tadi ....”
Gak Lui tertawa menukas: “Ha, ha, omongan begitu,
tak malu engkau ucapkan! Kalau aku tak mau balas
menyerang, tentulah kalian akan lebih girang lagi,
bukan?”
Karena siasatnya tak mempan, Pukulan-darah
berobah wajahnya. Ia maju dua langkah pula: “Ho, pintar
juga engkau menebak. Tetapi seharusnya engkau
pernah mendengar kata orang bahwa kami tiga
serangkai Siluman-goha-darah ini memiliki ilmu yang
khusus untuk menghancurkan ilmu kepandaian golongan
kaum gereja. Pun termasuk pusaka Thian-liong kim-jiu itu
!”
“Apakah kepandaianmu itu ?”
“Dengan darah.....,” tiba2 Pukulan-darah menggigit
ujung lidahnya lalu menyembur pemuda itu. Untung Gak
Lui cukup tangkas untuk meluncur ke samping. Tetapi
tepat pada saat itu Panah-darah dan Tongkat-darah juga
serempak bergerak menyemburkan darah. Untuk
melindungi pusaka Thian-liong-kim-jiu, Gak Lui berputarputar
tubuh sambil mendekap pusaka itu dengan tangan
651
kiri agar jangan sampai terlumur darah. Walaupun dia
sendiri terkena beberapa percikan darah tetapi pusaka
Kim-jiu itu masih selamat. Tengah pemuda itu sibuk
melindungi diri dari semburan hujan darah, ketiga
Siluman-goha-darahpun sudah berloncat sampai 10
tombak jauhnya dan terus menyusup ke dalam sebuah
goha karang.
“Heh, heh, heh, heh, aku tak dapat menemani
engkau lebih lama !” terdengar Pukulan-darah tertawa
mengekeh. Kumandangnya bergemuruh memenuhi
guha.
“Hai, hendak lari kemana engkau !” teriak Gak Lui
seraya mengejar ke dalam gerumbul hutan. Arah yang
diperkirakannya sebagai tempat pelarian ketiga siluman
itu.
Dengan beberapa kali loncatan ia menyusup ke
dalam hutan batu karang. Tetapi setelah tiba di tempat
itu, ia tertegun heran. Beratus-ratus tiang2 batu karang
yang tak terhitung jumlahnya, besarnya sepemeluk
tangan orang dan ada yang sekecil benang atau
memanjang kecil seperti tubuh ular dan ada juga yang
berbentuk seperti kelopak bunga. Dan yang
menakjubkan, setiap tiang batu karang itu memancarkan
sinar yang aneh, menyilaukan mata orang. Makin
melangkah lebih dalam makin Gak Lui berada di sebuah
hutan batu karang yang lebat. Sempitnya jarak antara
tiang2 karang itu menyebabkan Gak Lui tak leluasa
bergerak. Dan hal itu berbahaya baginya. Jika setiap saat
ketiga siluman itu menggunakan senjata rahasia, tentulah
sukar untuk menangkis. Gak Lui berhenti untuk lepaskan
pandang mata ke sekeliling penjuru. Terdengar
kumandang tertawa si Pukulan-darah mengumandang
memenuhi tempat itu sehingga sukar ditentukan tempat
652
persembunyiannya. Pun indera pendengarannya yang
tajam, tak dapat digunakan di tempat itu. Dan yang lebih
aneh pula ketika ia memandang pedang, ternyata batang
pedang yang bersinar putih mengkilap, saat itu berobah
warna merah darah. Dan pedang pusaka Pelangi yang
bersinar biru, berobah menjadi merah kehitam-hitaman.
Dan percikan darah pada pakaiannya tadi, saat itu tak
tampak, seperti lenyap dengan tiba2.
“Aneh .....” pikir Gak Lui. Padahal pakaiannya itu
masih berbau anyir tetapi mengapa noda darahnya tak
tampak? Ah, ternyata semua perobahan warna itu
berasal dari pancaran aneh dari tiang batu karang.
Warna putih berobah merah, biru menjadi wungu dan
merah malah lenyap. Ketika menyadari hal itu, diam2
menggigillah hati Gak Lui. Di bawah pancaran sinar batu
karang yang begitu aneh, apabila ketiga siluman itu
menyemburkan hujan darah lagi, ia pasti tak dapat
melihatnya. Sekalipun ia dapat mengandalkan
penciumannya yang tajam, tetapi apabila bertempur,
tentulah ia tetap akan menderita kerugian. Tiba2
terdengar deru angin berbau anyir meniup dari sebelah
kanan dan kirinya.
Gak Lui berpaling tetapi tak melihat suatu apa.
Terpaksa ia gunakan alat hidungnya untuk menentukan
arah penyerangnya itu, lalu bum, bum, ia lepaskan dua
buah hantaman dahsyat. Dari empat penjuru angin
menderu keras dan berhamburanlah ujung2 batu runcing
dan lembut kemana mana.
Suara tertawa mengekeh yang menyeramkan, tak
henti hentinya berkumandang tiada berketentuan
arahnya. Gak Lui tetap mengejar. Tetapi baru dua
tombak jauhnya, ia rasakan tubuh gemetar dan cepat
hentikan langkah. Dengan hidungnya yang tajam,
653
dapatlah ia merasakan sesuatu bau yang tak wajar dari
angin pukulan lawan. Apabila ia tak waspada, bau
beracun itu tentu akan menyerang ke jantungnya. la
meraba pakaian. Ternyata bajupun terasa basah lembab,
demikianpun dengan pusaka Thian-liong-kim jiu. Jelas
sudah bahwa ketiga Siluman-goha darah itu
menggunakan siasat membuat silau mata orang lalu
diam2 menyemburkan darah. Percikan darah yang
melekat di lobang pori tubuh Gak Lui, menyusup masuk
sehingga ia rasakan tubuhnya gatal dan kesemutan.
“Hm, kalau ketiga siluman itu tak kulenyapkan,
percuma aku hidup !” Gak Lui menggeram serta diam2
menyalurkan tenaga- dalam untuk menghalau racun
dalam tubuhnya. Keadaan dalam lembah batu karang itu
sunyi sekali. Ia memandang kesekeliling tetapi tak
tampak suatu apa.
“Celaka! Mereka tentu menyembunyikan barisan
rahasia,” ia mulai curiga seraya maju menghampiri
barisan tiang karang itu. Iapun hentikan penyaluran
tenaga-dalam dan karena itu, ia segera menghirup hawa.
Seketika ia rasakan kepalanya pening. Hampir saja ia
muntah. Bau yang disedotnya itu luar biasa anyirnya.
Suatu tanda, bahwa musuh berada di dekatnya.
“Celaka...,” diam2 ia mengeluh kaget. Belum sempat
ia mengatur langkah lebih lanjut, tiba2 sepercik hujan
darah, mencurah ke arahnya sehingga kepala dan
mukanya kena. Segera ia mengisar beberapa langkah ke
samping. Dengan indera penglihatannya yang tajam,
sayup2 ia melihat Pukulan-darah-pemburu-nyawa
menerobos keluar dari balik barisan tiang, siluman itu
serempak menyerangnya. Tangan kiri menghantam
kepala, tangan kanan menjulur hendak mencengkeram
dada.
654
Gak Lui terkejut sehingga mengucurkan keringat
dingin. Ia tak dapat melihat jelas pada musuh tetapi
musuh dapat melihatnya dengan jelas. Dalam bingung,
Gak Lui menggembor dan silangkan kedua tangannya. Ia
menggapit tangan lawan yang hendak merebut pusaka
Kim-jiu, sedang untuk pukulan lawan, ia gunakan bahu
kiri untuk menangkisnya. Bum .... pukulan itu membuat
Gak Lui terhuyung2 tiga tindak. Tetapi fihak lawan pun
menjerit ngeri. Tiga buah jarinya telah putus tergunting
gerakan tangan Gak Lui. Setelah berdiri tegak, Gak Lui
menghela napas longgar, katanya dalam hati: “Ah, masih
untung pusaka Thian liong-kim-jiu tak sampai direbut
lawan.....”
Belum sempat ia memikir lain2, kembali terdengar
angin menderu. Cepat ia berpaling dan terkejutlah ia
melihat bergulung gulung asap melanda kearahnya. Ah,
ternyata si Panah-darah diam2 telah meluncurkan
senjatanya. Disamping itu Tongkat- darahpun
menyerangnya. Tongkatnya yang tinggal separo itu
malah menguntungkan baginya. Tempat amat sempit,
senjata panjang tak leluasa digunakan. Gak Luipun tak
dapat menggunakan pedangnya. Terpaksa ia gunakan
pukulan. Dengan tangan kiri memukul Panah-darah,
tangan kanan secepat kilat mengambil pusaka Thianliong-
kim-jiu untuk menyambut serangan si Tongkatdarah.
Pertempuran berlangsung seru sekali. Sampai
mencapai 30 jurus, masih belum diketahui siapa yang
lebih unggul. Tetapi yang nyata, sekujur tubuh Gak Lui
basah dengan darah yang berbau anyir. Pun di
belakangnya terdengar siuran yang aneh. Pukulandarah-
pemburu-nyawa menyerang lagi. Serangan itu
cepat dan mendadak sekali datangnya, sedang saat itu
Gak Lui tengah melayani Tongkat-darah dan Panah655
darah. Maka ia tak sempat menghindar dan menangkis.
Dalam sibuknya, ia menggertakkan gigi, mengisar
tubuh lalu secepat kilat menghantam sekuat-kuatnya
kepada kedua lawan. Panah darah dan tongkat-darah
terkejut melihat kenekadan pemuda itu. Tetapi mereka
segera menginsyafi siasat pemuda itu. Kalau mereka
mundur, pemuda itu tentu mempunyai kesempatan untuk
berputar tubuh dan menangkis serangan Pukulan-darahpemburu
nyawa. Maka kedua siluman itupun nekad
kerahkan tenaga untuk adu kekerasan. Dengan begitu
mereka mengharap agar Pukulan darah dapat leluasa
menghancurkan punggung Gak Lui. Terdengar letupan
keras. Karena kelewat banyak menyedot hawa beracun,
tenaga-dalam Gak Luipun tertekan. Maka ia terlempar
kebelakang dan menyusup ke dalam barisan batu
karang.
Kedua siluman itu heran mengapa kawannya yakni
Pukulan darah-pemburu nyawa tak menghantam pemuda
itu. Cepat keduanya berpaling ke tempat Pukulan-darahpemburu-
nyawa itu. Tetapi apa yang disaksikan,
membuat mereka terbeliak kaget. Dibelakang Pukulandarah-
pemburu-nyawa itu tampak beberapa orang,
sedang di mukanya tegak berdiri seorang nona yang
cantik. Nona itu bukan lain yalah Li Siu-mey.
Kemunculannya secara tiba2 itu membuat sekalian
orang terkejut sekali. Diam2 Gak Lui merasa girang.
Dengan kedatangan para ketua partai persilatan itu, jelas
bahwa mereka tentu sudah dapat mengalahkan
gerombolan Topeng Besi dan orang berkerudung muka.
Di lain fihak, ketiga Siluman-goha-darah itu diam2 kuatir.
Dalam keadaan seperti saat itu, apabila mereka nekad
hendak merebut pusaka Thian-liong-kim-jiu, tentu takkan
berhasil. Sebelum mereka mengambil keputusan, tiba2
656
Pukulan-darah pemburu-nyawa menyembur hujan darah
ke arah Siu-mey. Rupanya ia masih ingin berusaha yang
terakhir kalinya untuk mencelakai nona itu. Tetapi apa
yang terjadi, benar2 diluar dugaan orang. Nona itu tak
kaget, tak gugup. Dengan tenang dipandangnya siluman
itu lalu tiba2 mulutnya menghembuskan napas keluar.
Angin yang dihembuskan sinona itu, bukan melainkan
dapat melenyapkan hujan darah dari si Pukulan-darah,
pun dapat pula menghilangkan sinar aneh yang
menyelubungi tubuh lawan.
Seharusnya dengan hal itu, kawanan siluman itu
sadar bahwa kepandaian lawan jauh lebih tinggi dari
mereka. Tetapi tidak demikian dengan pikiran Pukulandarah
pemburu-nyawa. Dia memperhitungkan bahwa
kepandaian nona itu tentu terbatas. Maka ia akan
bertindak untuk menangkap nona itu sebagai tawanan.
Dengan gerak secepat kilat, ia segera menyambar
lengan nona itu. Gak Lui terkejut. Ia tahu ilmu silat Siumey
memang tidak begitu tinggi. Ia tak menghiraukan
suatu apa lagi, terus menerobos keluar dari barisan batu
karang. Tetapi secepat kilat, Panah-darah dan Tongkatdarah
segera keluar menghadangnya.
Saat itu Pukulan-darah sudah tebarkan kelima jari
dan hendak menguasai jalan darah di tubuh Siu-mey.
Tiba2 terdengar jeritan ngeri dan tampak Pukulan-darah
menyurut mundur setengah langkah lalu rubuh ke tanah
dan tak berkutik untuk selama- lamanya lagi. Kiranya iblis
itu telah digigit ular berbisa yang melingkar di lengan
sinona. Peristiwa itu membuat kedua siluman tertegun
seperti patung. Gak Lui tak mau memberi kesempatan
lagi. Ia terus menghantam mereka. Kedua siluman itu
gelagapan. Buru2 mereka kerahkan tenaga untuk
menangkis. Tampak siu-mey berputar-putar tubuh
menuju ke belakang Panah-berdarah. Ia segera
657
menyemburkan nafas untuk menghilangkan sinar aneh
yang membungkus tubuh kedua iblis itu. Kedua siluman
itu pucat dan gentar sekali. Gerakan tangan mereka agak
lambat dan pada saat itu pusaka Thian-liong-kim- jiupun
tepat sekali menghantam dada. Huak .... terdengar pula
jeritan ngeri disusul dengan robohnya sesosok tubuh ke
tanah. Panah-berdarah-pencabut-nyawa telah menyusul
Pukulan-darah-pemburu-nyawa ke Neraka. Kini hanya
tinggal Tongkat darah seorang.
Setelah kedua saudaranya mati, ia tak berani
melanjutkan pertempuran lagi dan merencanakan untuk
lari. Cepat ia menyemburkan hujan darah lalu loncat
menyusup ke dalam barisan tiang karang. Tetapi Gak Lui
tak mau memberi ampun lagi. Ia melambai kepada Siumey
untuk diajak mengejar. Tetapi dengan gunakan ilmu
Menyusup-suara, nona itu menjawab: “Engkoh Lui,
jangan terburu nafsu. Tak mungkin dia dapat meloloskan
diri!”
“Rupanya engkau mampu mengatasi ilmu hitam
mereka itu, bukan ?”
“Ya.”
“Lalu bagaimana kita harus mengejarnya ?”
“Ilmu kepandaian mereka tak lain yalah yang disebut
Hoan-ing tun heng (sinar bayangan pembungkus diri),
untuk menyesatkan pandangan orang. Ilmu itu bukan
ilmu yang hebat karena aku dapat melihat mereka
dengan jelas. Pun sekali turun tangan, aku dapat
memulihkan tubuh mereka dalam keadaan yang
sebenarnya ....” Dalam pada berkata kata itu mata Siumey
tak henti2nya memandang ke sekeliling penjuru.
Tiba-tiba ia berhenti berkata lalu ayunkan tangan
menghantam.
658
Dimana angin pukulannya tiba maka segera tampak
bentuk sebuah tiang karang dan si Tongkat- darah
sedang menyembunyikan diri di situ. Siluman itu masih
belum mau melarikan diri. Dia masih menunggu
kesempatan untuk menyerang lagi. Tetapi demi sinar
yang membungkus tempatnya telah dilenyapkan, ia
terkejut sekali lalu melarikan diri ke sebuah guha yang
berada di belakangnya. Tetapi Gak Lui dan Siu mey
sudah mengejar. Kedua anak muda itu ternyata dapat
bergerak lebih cepat. Saat itu si Tongkat darah sudah
terkepung. Tak mungkin ia dapat meloloskan diri lagi.
Tetapi sebelum ajal, ia tetap berpantang maut. Sebelum
mati, ia nekad hendak berjuang agar musuhpun mati
bersama-sama. Cepat ia mengeluarkan panah lalu
ditaburkan ke seluruh penjuru. Dia tak mengarah musuh
tetapi menghancurkan tiang2 karang. Setiap tiang karang
yang terkena panah tentu rubuh dan mengeluarkan
ledakan keras. Bum, bum .... terdengar ledakan
berulang-ulang. Lembah karang itu seolah-olah hancur.
“Mari pergi!” melihat siasat lawan, Gak Lui cepat
mengajak Siu- mey tinggalkan tempat itu. Tepat pada
saat mereka keluar dari lembah, terdengarlah jeritan
ngeri. Mereka melihat tubuh Panah-darah hancur
tertimbun tiang karang. Beberapa saat kemudian barulah
Siu-mey menghela napas, lalu bertanya: “Engkoh Lui,
apakah tadi engkau terluka ?”
“Tidak,” sahut Gak Lui, “bahkan tadi waktu
bersembunyi dalam barisan tiang karang, aku telah
menemukan suatu rejeki yang luar biasa !”
“Apa ?” Siu-mey heran. Gak Lui mengangsurkan
pusaka Thian-liong-kim-jiu: “Lihatlah !” Siu-mey
memandang pusaka itu dan meneliti sampai beberapa
jenak. Ia kerutkan dahi, tanyanya: “Ih, mengapa tak ada
659
apa2nya .... aneh, kemanakah gurat2 Pat-kwa pada
batang pusaka ini ?” Gak Lui tertawa: “Sudah lenyap !”
“Benar ?”
“Siapa membohongi? Kulihat sendiri gurat2 itu seperti
bergerak berhamburan dan membentuk berbagai
perobahan yang menakjubkan ....”
“O, kalau begitu engkau sudah mengetahui tentang
ilmu Ngo- heng-terbalik?” tanya Siu-mey pula.
“Benar, ketika aku bersembunyi dalam barisan
karang tadi, timbullah semacam hawa panas yang
berwarna merah. Tiba2 kulihat gurat2 Pat-kwa pada
pusaka Thian-liong-kiam-jiu itu bergerak-gerak memecah
dan membentuk beberapa macam perobahan.
Kuperhatikan dan barulah kusadari bahwa gerak2
guratan itu adalah ilmu pelajaran Ni-coan-ngo-heng. Ah,
jika tiada hal yang tak disengaja itu, tak mungkin aku
dapat mempelajari ilmu itu !”
Siu-mey turut bergirang atas rejeki yang diperoleh
Gak Lui. Kemudian Gak Lui berkata pula: “Mari kita
keluar dari lembah ini agar aku segera dapat
membereskan murid hianat si Lengan- besi-hati-baik dan
mengambil pedang pusaka Thian-lui-koay- kiam. Dengan
pedang itu, tentulah dapat kucincang tubuh si Maharaja
.... eh, bagaimana dengan ketua partai persilatan waktu
menghadapi gerombolan orang berkerudung muka dan
Topeng Besi?”
“Pada waktu engkau mengejar kawanan Silumangoha-
darah, karena melihat gelagat tak baik, merekapun
mundur teratur dengan meninggalkan beberapa patah
omongan ....”
“Apa kata mereka?”
660
---oo~dwkz^0^Yah~oo---
“Sebelum kemudian, mereka akan ke gunung Cengsia-
san untuk melakukan pertempuran yang
menentukan!”
“Apakah para ketua partai persilatan menerima
tantangan itu?”
“Ya, karena tak tahu musuh menyiapkan barisan
rahasia atau tidak, mereka terpaksa menerima tantangan
itu dan tak mau mengejar.” Tiba2 mereka mendengar
suara senjata berdering. Buru2 mereka hentikan langkah
dan lekatkan telinga ke tanah. Dengan ilmu mendengar
suara yang tajam, dapatlah mereka mengetahui bahwa di
sebelah luar sedang berlangsung penggalian yang
dilakukan oleh berpuluh-puluh orang. Rupanya mereka
hendak membobol dinding lembah.
“Aneh, siapakah mereka ?” Siu-mey heran.
“Kalau tidak musuh tentu kawan,” sahut Gak Lui, “tak
peduli siapa mereka, kita harus tinggalkan lembah ini.”
“Siapa yang mau tetap tinggal di sini ?” Siu-mey
melengking, “tetapi lebih dulu kita harus dapat menduga
siapakah mereka itu, barulah kita dapat keluar dengan
tenang.”
“Tak perlu, karena sukar diduga.”
“Mengapa ?”
“Karena mereka tentu tak mampu mengetahui kalau
aku sedang mengejar ketiga siluman itu. Hanya engkau
berkat ketajaman hidungmu, dapat menyusul.....”
“Tetapi setelah lewat beberapa hari, merekapun tentu
dapat mencari juga !”
661
“Benar, maka orang2 di luar lembah itu hanya ada
dua kemungkinan. Kalau bukan rombongan orang Cengsia-
pay yang datang menolong tentulah anak buah
Maharaja. Tetapi kedua- duanya sama tujuannya !”
“Maksudmu ... mereka hendak mencari mayatmu ?”
“Benar ! Kalau dari golongan Ceng-pay, tentu hendak
mengurus mayatku. Tetapi kalau dari golongan Hitam
tentu hendak mencari pusaka Thian-liong-kim-jiu itu
apakah masih berada pada mayatku.”
“Kalau begitu kita harus hati2 menghadapi mereka,”
kata Siu-mey dengan cemas.
Gak Lui tertawa: “Sudah tentu kita harus hati2 ....
sebaiknya kita gunakan kesempatan ketika mereka
sedang asyik menggali, lalu kita menerobos keluar.”
Saat itu terdengar dering alat2 penggali makin jelas
dan makin dekat. Gak Lui dan Siu-mey-pun bersiap-siap.
Gak Lui gunakan pusaka Thian-liong-kim-jiu untuk
membuat lubang pada dinding karang. Setelah cukup
lebar, ia segera ajak Siu-mey loncat ke atas.
Ah.....kiranya yang berada di atas itu bukan lain adalah
Thian Lok totiang ketua Ceng-sia-pay dan rombongan
anak muridnya serta Sebun sianseng. Sudah tentu
pertemuan itu amat menggirangkan. Gak Lui haturkan
terima kasih atas bantuan mereka sehingga ia dapat
keluar dari lembah batu karang. Selain menghaturkan
terima kasih, pun Gak Lui menghaturkan maaf yang
sebesar-besarnya kepada Sebun sianseng atas kematian
adik seperguruannya yakni Tanghong sianseng.
“Ah, mati hidup itu memang sudah suratan takdir ....
harap tak usah mengungkat hal itu,” kata Sebun
sianseng. Melihat pembicaraan menyinggung soal itu
lagi, buru2 Thian Lok totiang alihkan persoalan: “Gak
662
sauhiap, kabarnya Kaisar Persilatan sudah muncul di
Tiong-goan dan memberikan pusaka Thian-liong-kim-jiu
kepadamu. Benarkah itu?”
“Ya.”
“Boleh kami beramai-ramai melihat benda itu?”
Sebagai seorang pemuda yang tak berhati sempit,
sebenarnya Gak Lui tak keberatan. Tetapi ia tak mau
menunjukkan pusaka itu di depan orang banyak.
Akhirnya ia mengangguk dan mengambil pusaka itu.
Ketua perguruan Ceng-sia-pay dan Kun-lun-pay
serempak membungkuk tubuh memberi hormat.
Demikianpun dengan berpuluh-puluh anak murid kedua
partai perguruan itu. Dengan khidmat mereka tegak
berdiri memandang pusaka itu. Suasana hening khidmat.
Sekonyong-konyong terdengar suara tertawa yang keras,
angkuh dan gembira. Tenaga-dalam yang memancar dari
ketawa itu, mengejutkan sekalian orang.
Thian Lok totiang dan rombongan serentak berpaling
ke arah suara tawa itu. Di atas sebuah puncak gunduk
tanah, tegak berdiri seorang lelaki yang luar biasa
tingginya. Matanya besar, rambutnya terurai
berhamburan di atas bahu. Sikapnya menyeramkan.
Sebun sianseng memang banyak pengalaman dalam
dunia persilatan. Melihat orang itu, serentak berobahlah
wajahnya, tegurnya: “Apakah engkau bukan.... Hui-linkiam
Bok Tin?” Dengan dua tiga langkah, raksasa itu
sudah berada beberapa tombak jauhnya dari rombongan
Thian Lok totiang. Pada waktu berjalan, bahu dan
pinggangnya berhias 12 batang pedang.
“Ah, pandanganmu cukup tajam juga. Ya, benar, aku
memang si Pedang terbang Bok Tin,” sahut raksasa itu.
Mendengar itu diam2 Thian Lok totiang terkejut. Sejenak
meraba tangkai pedangnya, ia melangkah maju setengah
663
langkah, serunya: “Sudah lama engkau tak muncul di
dunia persilatan. Mengapa hari ini engkau datang kemari
?”
“Mengambil Thian liong-kim jiu!”
“Huh, mampukah engkau ?” Gak Lui mendengus
dingin seraya menyimpan pusaka itu ke dalam baju lalu
melangkah maju. Tetapi Thian Lok totiang sudah
mendahului mencabut pedang dan membentak: “Bok Tin,
engkau benar2 tak memandang mata pada orang. Di
hadapan kedua partai Ceng-sia-pay dan Kun lun- pay,
engkau berani mengumbar tingkah ?”
Pedang-terbang Bok Tin kicupkan mata lalu
menyengir kuda: “Ho, engkau mau ikut campur?”
“Apabila melihat ketidak adilan, terpaksa aku harus
membantu ....”
“Sudahlah,” sahut raksasa itu acuh tak acuh, “dengan
ilmu kepandaian yang engkau miliki, adalah seperti anai2
membentur lampu. Masakan kalian masih pura2 sebagai
ksatrya hendak memberantas yang tidak adil.
Menyingkirlah kesamping, agar jangan mengganggu
urusanku !” Ucapannya yang amat tekebur seolah-olah
tak memandang mata pada orang itu benar2 membuat
ketua Ceng-sia-pay merah padam karena marah.
Pada waktu ia hendak menyerang, tiba2 Gak Lui
sudah melesat maju dan membentak: “Hai, Bok Tin,
manusia macam apakah engkau ini? Apakah engkau
juga ingin cari mati !”
Dingin2 saja Bok Tin menyambut makian itu. Sebun
sianseng cepat berseru kepada Gak Lui: “Dia mahir
menggunakan duabelas batang pedang-terbang.
Memang jarang ketemu tandingannya. Maka dia amat
664
jumawa sekali. Pedangnya pandak itu dapat ditaburkan
kepada orang. Harap engkau berhati-hati.....”
“Apakah engkau ini benar Gak Lui ?” belum sebun
sianseng selesai berkata, Bok Tin sudah menegur Gak
Lui.
“Hm, kalau benar, mau apa engkau ?” sahut pemuda
itu.
“O...,” seru Bok Tin. Rupanya ia kaget karena tak
menduga bahwa tokoh Gak Lui yang terkenal itu ternyata
masih seorang pemuda. Sambil menatap wajah pemuda
yang ditutup dengan topeng dari kulit binatang itu. Masih
dengan nada setengah tak percaya ia berseru: “Tokoh
pemapas pedang yang menggemparkan dunia persilatan
dahulu itu…. apakah engkau sendiri ?”
“Benar !”
“Kudengar juga orang mengatakan bahwa engkau
mahir akan ilmu melontar pedang ?”
Rupanya Gak Lui tak sabar terus menerus ditanya,
bentaknya: “Semua benar! Engkau hanya disuruh si
Maharaja untuk mengantarkan jiwamu kemari, perlu apa
bertanya ini itu !”
“Maharaja ?” Bok Tin mendengus, “manusia apakah
dia berani menyuruh aku !”
“O, kalau begitu engkau bukan anak buahnya ?”
“Sudah tentu bukan! Dan lagi aku malah akan
mencarinya untuk adu ilmu pedang !”
Mendengar keterangan itu, lenyaplah kemarahan
Gak Lui, tanyanya pula, “Lalu untuk apa engkau
menghendaki pusaka Thian-liong-kim-jiu ?”
“Hendak kuperiksa dimana keistimewaannya !”
665
“Terus terang kuberitahukan, memang benda itu
adalah sebuah pusaka dunia persilatan yang amat
keramat. Kalau mencari keistimewaannya ... sekarang
sudah hilang.”
“Benarkah itu ?” Bok Tin menegas.
“Perlu apa aku membohongimu !”
Melihat kesungguhan wajah pemuda itu, Bok Tin
percaya kalau pemuda itu tentu tak bohong. Sejenak
merenung, ia berkata: “Baiklah, sekarang tak perlu
mempersoalkan benda Kim-jiu itu. Tetapi.....”
“Bagaimana ?”
“Aku hendak menguji ilmu pedangmu !”
Mendengar keterangan Sebun sianseng bahwa Bok
Tin mahir menggunakan selusin pedang dan dapat
menaburkan dengan mahir, diam2 Gak Lui gembira:
“Baik, silahkan engkau mulai !” serunya. Bok Tin
menggulung lengan baju dan suruh Thian Lok totiang
serta rombongannya menyingkir. Siu mey sebenarnya
hendak membangkang tetapi Gak Lui memberi isyarat
dengan anggukan kepala. Terpaksa nona itu menurut.
Sebelum menyingkir ia memberi pesan dengan berbisik:
“Harap berhati hati !”
Setelah orang2 itu menyingkir, Gak Luipun mencabut
sepasang pedangnya. Dengan tenang ia menatap lawan.
Rupanya Bok Tin yang semula memandang rendah
kepada lawan, tercekat juga hatinya melihat sikap Gak
Lui yang bengis. Setelah kedua fihak berhadapan
beberapa saat, tiba2 Bok Tin rentangkan kedua tangan
dan secepat kilat mencabut pedang kedua bahunya
seraya membentak: “Lihat pedang ....!” Dua batang
pedang yang berkilau-kilauan memancar cahaya terang,
666
segera meluncur ke arah Gak Lui.
Gak Luipun cepat menyambutnya dengan suatu
gerak jurus yang istimewa, hendak memapas pedang
lawan. Tetapi sebelum jurus itu selesai, tiba2 kedua
batang pedang yang dilepas Bok Tin itu berpencar
melayang kekanan kiri, melingkar lingkar dan melayang
kembali kepada Bok Tin. Serempak dengan itu empat
batang pedang lagi, meluncur dari tangan Bok Tin.
Gak Lui terkejut. Buru2 ia gunakan jurus Burunghong-
pentang- sayap untuk menangkis. Tring, tring ....
sinar pedang berhamburan ke udara dan keenam batang
pedang itu seperti mempunyai nyawa, dapat melayang
kembali kepada tuannya.
“Hai, tak sangka engkau berisi juga !” teriak Bok Tin
seraya mencabut pedang yang pandak pada bahunya:
“Sekarang, cobalah engkau jajal yang ini !” Gak Lui tegak
bersiap. Sepuluh batang pedang meluncur dari tangan
orang she Bok itu. Tetapi pedang2 itu tak langsung
menuju ke arahnya melainkan melayang dan berputar
putar di udara dulu baru kemudian dari delapan penjuru,
mereka perlahan lahan meluncur kearah Gak Lui. Dalam
soal ilmu melontar pedang, Gak Lui memang ahli. Ia tahu
bahwa sekalipun gerakan pedang itu lambat tampaknya
tetapi sesungguhnya berisi dengan tenaga-dalam yang
hebat. Rupanya karena kewalahan maka lawan lalu
mengeluarkan ilmu kepandaian simpanan. Dalam pada
itu satu demi satu pedang2 itu meluncur dari udara.
Menimbulkan sinar yang menyilaukan mata dan angin
yang menderu-deru. Pedang2 itu meluncur kearah jalan
darah maut ditubuh Gak Lui.
“Hebat !” seru Gak Lui seraya memutar sepasang
pedangnya. Dengan putaran pedang itu, pedang pandak
Bok Tin tertahan. Tetapi anehnya, pedang2 pandak itu
667
tetap melingkar-lingkar. Tidak jatuh, pun tidak melayang
kembali kepada Bok Tin. Pedang2 pandak itu seperti
mempunyai mata. Setiap saat mereka hendak mencari
lubang kesempatan untuk menyusup ketubuh Gak Lui.
Ilmu permainan pedang seaneh itu, benar2 membuat
Gak Lui terkejut heran. Lawan menabur 10 batang
pedang pandak dan ia hanya mempunyai dua batang
pedang untuk melindungi diri. Pikirnya iapun hendak
menggunakan ilmu menabur pedang. Tetapi ia kuatir,
pedangnya kalah jumlah dengan pedang lawan. Apalagi
lawan masih mempunyai simpanan dua batang pedang
lagi.
Tampak Bok Tin tak henti2nya ayunkan kedua
tangannya. Begitu pedang2 pandak itu melayang kembali
kepadanya, cepat ia menamparnya lagi. Demikian
sampai beberapa saat, Gak Lui tetap terancam dengan
10 batang pedang terbang itu. Tiba2 ia mendapat akal.
Pedang ditangan kanan tetap dimainkan seperti
biasa. Tetapi pedang di tangan kiri tiba2 ditaburkan
kearah dua batang pedang dari barisan pedang terbang
itu. Tring, tring .... terdengar lengking nyaring dari dua
buah benturan senjata pedang. Kedua pedang pandak
beradu dengan sebatang pedang panjang. Karena kalah
besar dan panjang, kedua pedang pandak itu terpental
sampai dua tombak jauhnya. Dengan terpentalnya kedua
pedang pandak itu maka delapan pedang pandak yang
lain pun ikut melayang ke belakang. Dengan hasil itu,
berobahlah situasi pertempuran. Hal itu membuat Siumey
dan lain2 tokoh partai persilatan yang bermula
menahan napas, saat itu dapat menghela napas longgar.
Tetapi mereka heran melihat wajah Gak Lui masih
tampak tegang. Sedangkan si Pedang-terbang Bok Tin
masih tertawa- tawa. Suatu pertanda bahwa pertempuran
maut masih tetap akan berlangsung.
668
Apa yang diduga itu memang benar. Tak berapa
lama, sekonyong-konyong tubuh Bok Tin berputar deras.
Kemudian bagai seekor singa marah, dia loncat
menerjang Gak Lui. Dan tangannyapun sudah mencekal
sebatang pedang pandak. Sing .... sing .... ia bolang
balingkan pedang menusuk tubuh Gak Lui. Dan
serempak dengan itu barisan 10 pedang pandak tadi pun
berhamburan melayang dan menerjang pedang Gak Lui
yang dilontarkan tadi. Benar2 suatu ilmu pedang yang
aneh dan belum pernah Gak Lui saksikan selama ini.
Untuk menghadapi serangan istimewa itu, Gak Lui
kembangkan pedangnya dalam lingkaran makin lebar.
Kemudian tangan kirinya menggunakan tenaga-dalampenyedot
untuk menyedot kembali pedang yang
dilontarkan tadi. Tetapi lawanpun tak tinggal diam. Ia
perhebat serangan kedua pedangnya disamping
mengendalikan kesepuluh batang pedang terbang tadi,
berhamburan menyerang dari celah2 pertahanan Gak
Lui.
Cepat sekali pertempuran itu telah mencapai
tigapuluh jurus. Tampaknya memang masih bertimbang
tetapi sesungguhya Pedang-terbang Bok Tin lebih dapat
menguasai permainan. Sudah tentu hal itu dapat
diketahui juga oleh seorang tokoh semacam Thian Lok
totiang, Sebun sianseng dan lain2 tokoh yang hadir disitu.
Yang paling gelisah adalah Siu-mey. Dahinya sampai
mengucur keringat. Dan kejutnya makin memuncak
ketika melihat Gak Lui telah melakukan sebuah serangan
yang salah. Pemuda itu taburkan pedang Pelangi yang
berada ditangan kanannya. Maksudnya hendak
menghancurkan gerumbul pedang terbang yang
melayang-layang mengancam dirinya itu. Tetapi
669
perhitungannya meleset. Gerumbul pedang pandak itu
berpencar kesamping, secepat pedang Pelangi melintas,
ke 10 pedang pandak itupun segera merapat kembali
dan terus memburu Pedang Pelangi.
“Celaka !” Siau-mey menjerit tertahan. Tetapi
kebalikannya Pedang-terbang Bok Tin malah tertawa
mengekeh. Ia gerakkan sepasang pedangnya makin
deras untuk menghancurkan lingkaran sinar pedang Gak
Lui yang tinggal sebatang itu.
---oo~dwkz^0^Yah~oo---
“Celaka...!” kali ini Thian Lok totiang juga berteriak
kaget. Sedang sekalian tokohpun terlongong. Mereka
duga dalam waktu yang singkat Gak Lui tentu akan
menderita kekalahan. Tetapi sekonyong-konyong bahu
pemuda itu bergerak dan tangan kanannya membalik,
wut......ia lepaskan tenaga-dalam Algojo- dunia untuk
menyedot pedang Pelangi tadi. Kesepuluh batang
pedang pandak pun ikut mengejar tetapi tenaga-dalampenyedot
yang dipancarkan Gak Lui itu terlampau kuat
sehingga pedang2 pandak itu melekat pada pedang
Pelangi dan tak dapat bergerak lagi ! Gak Lui masih tak
berhenti sampai disitu. Ia alihkan saluran tenaga-dalampenyedot
ketangan kanan untuk menempel senjata
lawan.
Dengan gerakan itu, kesepuluh pedang pandak dari
Bok Tin mati kutu lalu terlempar sampai tujuh delapan
tombak jauhnya. Pedang-terbang Bok Tin menjerit kaget.
Dengan menggembor keras, ia kerahkan seluruh tenaga
untuk loncat kebelakang dan menarik sepasang
pedangnya dari sedotan pedang Gak Lui. Justeru itulah
yang dikehendaki Gak Lui. Ia kendorkan tenaga- dalam
penyedot lalu diganti mendorongkan ujung pedang
kepada lawan. Seketika itu tampak tubuh Bok Tin yang
670
tinggi besar bagaikan layang2 putus tali, terhuyunghuyung
mundur sampai beberapa langkah. Sebelum
raksasa itu sempat berdiri tegak, Gak Lui sudah loncat
keudara dan dengan gerak burung-rajawali-pentangsayap,
ia menghantam pedang lawan. Tring, tring....
pedang Bok Tin terpapas kutung. Jago pedang yang
bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu, mendelik
matanya. Dengan marah ia berteriak :
“Kalah ....!”
Ia berputar tubuh dan tanpa menghiraukan pedang2
pandaknya yang berhamburan ditanah, ia terus lari
ngiprit. Sikap yang polos dan jujur dari Bok Tin,
meninggalkan kesan baik pada Gak Lui. Selama
mengembara di dunia persilatan belum pernah ia
berjumpa dengan seorang jujur seperti Bok Tin.
Bok Tin seorang tokoh pedang yang berkepandaian
tinggi. Tetapi karena kalah, iapun dengan terus terang
mengaku kalah. Karena tertarik akan kejujuran si
raksasa, Gak Lui cepat loncat menghadang : “Sekalipun
kalah, tetapi mengapa anda tak mau mengambil pedang
anda itu ?”
Sepasang mata besar dari Bok Tin merentang lebar:
“Kabarnya engkau gemar mengutungi pedang orang
mengapa engkau tak menghendaki pedangku ?”
“Itu dulu, tetapi sekarang tidak lagi.”
“Kalau engkau tak mau, akupun tak mau juga,” kata
Bok Tin.
Gak Lui terkejut: “Senjata itu adalah senjata yang
telah mengangkat namamu, masakan engkau tak sayang
?”
“Masakan tak sayang ....”
671
“Lalu mengapa tak mau.”
“Peraturan dalam dunia persilatan menetapkan,
dalam pertempuran apabila yang menang tak mau
melukai yang kalah maka yang kalah harus
meninggalkan senjatanya.”
Gak Lui tertawa gelak2: “Ah, anda benar2 taat akan
peraturan.....”
Pada saat itu Thian Lok totiang dan rombongan
orang gagah, menghampiri datang. Mereka-pun memuji
atas sikap Bok Tin. Kesan baik pada raksasa itu telah
merobah sikap permusuhan dari tokoh2 persilatan
tersebut.
Sebun sianseng memberi hormat, serunya: “Saudara
jarang sekali muncul didunia persilatan. Sungguh tak
terduga kalau hari ini dapat berjumpa. Dan ternyata
saudara tetap memegang teguh peraturan dunia
persilatan. Aku Sebun Giok menghaturkan hormat
kepada saudara.....”
Ucapan tokoh dari Kun-lun-pay itu laksana angin
segar yang menghembus lenyap kegelisahan hati
sekalian orang.
Pedang-terbang Bok Tin terkejut girang, serunya :
“Kalau begitu, akulah yang salah. Perbuatanku mengintai
kalian dan hendak melihat pusaka Thian-liong-kim-jiu tadi
hanyalah terdorong oleh rasa ingin tahu saja. Harap
saudara Gak suka maafkan ......”
Gak Lui cepat menyambut : “Jika tak bertempur tentu
tak kenal. Sudahlah kita habisi soal itu sampai disini.
Harap saudara mengambil senjata saudara itu !”
Demikian mereka dari lawan menjadi kawan. Selang
beberapa saat kemudian, berkata pula Bok Tin :
672
“Kudengar berita dalam dunia persilatan bahwa Maharaja
persilatan itu, dengan mengandalkan ilmu pedangnya
yang sakti telah melindas tokoh2 persilatan dan
melakukan kejahatan. Maka aku ingin mencarinya. Siapa
tahu waktu bertempur dengan saudara Gak Lui tadi, baru
kutahu bahwa didunia persilatan telah muncul seorang
tunas muda yang cemerlang. Aku yang sudah
meyakinkan ilmu pedang berpuluh tahun, ternyata tak
mampu menghadapinya. Menilik hal itu, rasanya aku
lebih baik tak muncul saja.....”
“Kalau saudara mengandung cita2 hendak
menumpas kejahatan, mengapa saudara tak bergabung
dengan kita saja ?” kata Sebun Sianseng.
“Ah, aku sudah biasa hidup mengembara. Mungkin
akan mengecewakan harapan saudara2,” kata Bok Tin
lalu memandang kearah Gak Lui, “tetapi demi membalas
terima kasih kepada saudara Gak, jika diperlukan aku
tentu bersedia membantu.”
Gak Lui diam merenung : “Aku sudah berhasil
memahamkan ilmu Ni coan-ngo-heng. Dan harus menuju
ke istana Bi-kiong di Busan. Rencana mencari Pukulansakti
The Thay, dan Tabib sakti Li Kok-hua terpaksa
kutunda dulu, Pedang-terbang Bok Tin ini hebat sekali
kepandaiannya dan pula musuh belum mengenalnya.
Ah, seorang pembantu yang tepat...”
Setelah menetapkan keputusan, berkatalah ia
dengan terus terang : “Aku mempunyai suatu hal yang
hendak kumintakan bantuan saudara. Entah apakah
saudara tak berkeberatan ?”
“Jangan sungkan, aku tentu akan membantu dengan
sekuat tenaga. Apakah keperluan saudara itu ?”
“Maharaja Persilatan mempunyai anak buah,
673
sekelompok Orang berkerudung muka. Kuminta saudara
suka menyelidiki gerombolan orang aneh itu !”
“Orang berkerudung muka ? Ya, memang aku pernah
mendengarnya. Jika engkau bermusuhan kepada
mereka, pedangku tentu takkan memberi ampun mereka
....”
“Bukan, aku hanya perlu tahu tempatnya dan jangan
sembarangan bertindak sendiri,” cepat Gak Lui
mencegah.
“Mengapa ?”
“Aku hendak mencari seorang sahabat yang bernama
Pukulan- sakti The Thay. Dia seorang ahli pembuat
pedang yang terkenal dan ditawan oleh gerombolan
Maharaja Persilatan. Karena pedang dari beberapa
anggauta gerombolan Orang berkerudung itu telah
kubikin cacad, mereka tentu akan mencari The Thay
untuk menyuruhnya memperbaiki.”
“Ho, kutahu! Bukankah engkau hendak
menggunakan beberapa Orang berkerudung itu untuk
mencari sarang mereka ?”
“Benar !”
“Jangan kuatir, serahkan saja padaku. Tetapi kalau
sudah ketemu lalu bagaimana aku dapat mencarimu ?”
tanya raksasa Bok Tin.
“Hm, aku berada disekitar gunung Bu-san.”
“Baik, aku segera berangkat.....” kata Bok Tin terus
minta diri. Dengan langkah lebar tak berapa lama orang
yang bertubuh tinggi besar itupun sudah lenyap dari
pandangan mata. Setelah orang itu jauh, Thian Lok
totiang dan lain2 tokoh sama tersenyum. Hanya Gak Lui
sendiri yang merasa tak enak dalam hati. Diam2 ia
674
menduga bahwa sembarang waktu dan tempat,
Maharaja Persilatan itu tentu dapat muncul. Apabila
sampai bertempur dengan Pedang-terbang Bok Tin,
tentu besar bahayanya. Bukankah berarti ia
mengorbankan jiwa Bok Tin...
“Saudara Gak, perjanjian di Ceng-sia pada bulan
mendatang ini, tentulah engkau sudah mengetahui.
Sekarang kita akan berpisah untuk bersiap dan tak lama
lagi akan berkumpul pula dalam sebuah kubu barisan
besar. Dalam hal itu bagaimanakah rencanamu ?”
Sejenak Gak Lui merenung lalu menyatakan bahwa
ia hendak menuju ke Busan untuk mendapatkan pedang
Thia-lui-kiam. Setelah itu baru akan menggabungkan diri
dengan mereka. Sebun sianseng mengangguk : “Baiklah,
hanya ada sebuah hal.....”
“Hal apa ?”
“Kabarnya Pengemis Ular dari golongan partai
Pengemis daerah selatan, mahir menggunakan ular
berbisa sebagai senjata, akan muncul juga. Dia amat
ganas ....”
Gak Lui cepat tertawa nyaring : “Berbicara tentang
Pengemis Ular itu, aku sudah memperoleh seorang ahli
yang mampu menandinginya.”
“O,” Sebun sianseng mendesuh sadar, “tentulah nona
Li yang engkau maksudkan itu. Dengan gelar Gadis-ular,
tentulah dugaanku kepadanya itu takkan meleset.”
“Benar,” Gak Lui mengiakan, “demi keselamatan
partai2 persilatan akan kumintanya membantu barisan
itu.”
Sesungguhnya Siu-mey tak senang tinggal digunung
Ceng-sia. Tetapi karena Gak Lui yang meminta, terpaksa
675
ia menurut saja. Hanya untuk menumpaskan
kemengkalan hatinya. Selesai mengatur, Gak Lui lalu
menuturkan tentang diri Hi Kiam-gin, agar apabila tokoh2
yang hadir disitu berjumpa dengan nona itu, janganlah
sampai timbul salah faham. Setelah itu Gak Lui lalu
mengambil selamat berpisah dan menuju ke istana Bikiong
digunung Busan.
Gunung Busan mempunyai duabelas buah puncak.
Alam pemandangannya indah tetapi berbahaya. Tiba
ditempat tujuannya, dia agak terkejut. Ternyata tempat itu
bukanlah tempat yang tempo hari didatanginya. Ia masih
ingat akan Bu-san-yan-hong atau si Burung Hong cantik
dari Busan yang menjaga dipuncak Gwa-liok-hong atau
enam puncak lapisan luar. Tetapi Busan amat luas dan
lebat. Ia tak dapat melihat apa yang terdapat pada
barisan batu2 aneh disitu. Pun kalau berteriak, ia kuatir
akan didengar oleh murid hianat yang bersembunyi
dalam istana Bi-kiong. Demikian setelah merenung
sejenak, lalu ia mengatur langkah dalam gerak Ngo
heng-seng-kek, menyusup masuk kedalam barisan alam
di situ.
“Aneh......” setelah berjalan beberapa lama ia terkejut.
Karena tempat yang dicapainya itu tiada terdapat angin
keras. Tanah dan batu karang disitu pun datar, tak
berbentuk aneh seperti yang pernah dialaminya tempo
hari. Tetapi setelah merenung beberapa saat, tiba2 ia
geli sendiri dan dapat menemukan jawabannya. Ya,
tempo hari ia tak mengerti cara untuk memasuki barisan
batu itu. Ia hanya menurut petunjuk orang yang bernama
Tio Bik-lui. Dan kepandaian orang she Tio itu pun belum
sempurna. Maka sekalipun ia dapat melintasi barisan
batu karang, namun tetap menghadapi kesulitan
sehingga harus mengerahkan seluruh tenaga dan
pikirannya. Tetapi kini bukan saja ia sudah dapat
676
memahamkan inti rahasia ilmu Ngo-heng, pun tenagadalamnya
juga berlipat ganda. Dengan begitu, mudahlah
ia melintasi barisan batu itu. Setelah hampir setengah
hari berjalan dan tak lama akan tiba didekat istana Bikiong,
diam2 ia heran mengapa tetap belum melihat si
nona itu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengitari
gunung dan mencari tempat di mana dahulu ia terjeblus
didalam liang tanah.
Beberapa saat kemudian tibalah ia ditempat
pemakaman kerangka ayahnya. Hati Gak Lui seperti
disayat. Beberapa airmata menitik turun. Setelah itu baru
ia lanjutkan hendak menuruni liang di bawah tanah. Ia
terkejut melihat mulut lubang itu tertimbun ranting2
pohon. Sepintas memang seperti kacau balau tetapi
setelah diperhatikan, nyatalah kalau ranting2 itu
diletakkan dalam susunan yang teratur.
“Hm, tentu diatur orang. Apabila tersentuh, orang
yang mengatur ranting2 itu tentu segera mengetahui.
Tetapi siapakah yang memasang ranting2 itu ?” diam2 ia
menimang. Tiba2 dari puncak Busan terdengar suara
orang menggerung dahsyat. Tak dapat diragukan lagi,
orang itu tentulah si Lengan- besi hati-baik. Dia tak mau
bertanya lagi melainkan memancarkan ilmu gemboran
dahsyat yang menggetarkan nyali orang.
Gak Lui memutuskan hendak gunakan ilmu gerak Nicoan-
ngo- heng untuk mendaki keatas. Tetapi tiba2 dari
celah batu dibelakangnya terdengar suitan perlahan.
Dengan girang cepat ia berpaling dan dilihatnya sidara
cantik bersembunyi dibalik sebuah batu karang. Ia
unjukkan separoh mukanya dan memberi isyarat supaya
Gak Lui menghampirinya. Gak Lui terkejut heran.
Tentulah ada sesuatu yang terjadi pada istana Bi-kiong.
Cepat ia menyelinap ketempat sinona.
677
“Adik Lui.....” Cepat nona itu menyambutnya dengan
memeluk erat2.
“Taci Yan, apakah yang terjadi sehingga engkau
tampak begitu berhati-hati sekali ?”
“Benar, aku telah melihat suatu keanehan sehingga
aku takut sekali.”
“Apakah engkau melihat murid hianat si Lengan-besi
atau Maharaja Persilatan ?”
“Tidak ! Aku tak melihat seseorangpun.....”
“Lalu mengapa ?”
“Adik Lui, adakah engkau melihat timbunan ranting
pohon diatas mulut terowongan itu ?” Gak Lui
mengiakan.
“Kemungkinan tentu ada orang yang masuk dan
dengan hati2 dia meninggalkan pertandaan.”
“Jadi memang benar2 dia orang yang datang kemari
?” tanya Gak Lui.
“Benar, sayang saat itu aku tak berada di-dekat guha
sehingga tak dapat mengetahui orang itu. Tetapi....”
“Tetapi bagaimana ?”
“Kuragukan dia.....orang she Tio ....Tio Bik lui itu
sendiri !”
“Apa alasanmu mengatakan demikian ?”
“Karena dahulu dia pernah datang kemari dan lagi....
kurasa gerak geriknya memang tak wajar.”
“Hm,” Gak Lui mendesah lalu merenung, “Tio Bik-lui
telah membantu aku menghalau ketiga Algojo itu. Dan
juga dialah yang memberi petunjuk jalan sehingga aku
678
dapat tiba kemari. Ah, janganlah kita sembarangan
menduga orang...”
“O.....” Bu- san-yan-hong mendesuh lalu menatapnya
dengan pandang menuntut. Rupanya terkesan juga Gak
Lui akan sikap nona yang tak mau lepaskan
kecurigaannya itu. Tiba2 ia teringat beberapa hal.
Kesatu, Tio Bik-lui begitu memperhatikan sekali akan
jejak keempat Bu san-su kiam. Setiap kali berjumpa,
langsung atau tak langsung, dia selalu menanyakan hal
itu. Adakah ada udang dibalik batu dalam pertanyaan itu
....? Kedua, waktu tempo hari Tio Bik lui menjaga
disekitar gunung Busan, Tio Bik-lui telah mengantarnya
memasuki gunung itu dan menunggu sampai ia keluar
lagi. Adakah tindakannya itu suatu bantuan atau
memang mempunyai maksud lain...? Walaupun sampai
beberapa saat, tak dapat juga Gak Lui memecahkan
persoalan itu. Apabila Tio Bik-lui itu memang palsu dan
bermaksud jahat, tujuannya tentulah tak lepas dari
mencari pedang pusaka Thian lui-koay-kiam itu. Tetapi
apabila dia memang bermaksud baik, Gak Lui merasa
berhutang budi besar kepadanya.
“Adik Lui, kedatanganmu sekarang tentu sudah
membekal pengetahuan ilmu Ni-coan-ngo-heng. Maukah
engkau membawaku serta memasuki istana Bu-san-bikiong
itu?”
“Sayang ....”
---oo~dwkz^0^Yah~oo---
“Istana Bi-kiong adalah peninggalan leluhurku. Aku
benar2 ingin menjenguknya!”
“Jangan sekarang ! Ilmu kepandaian si Lengan-besi679
hati-baik itu hebat sekali. Aku tak dapat membiarkan
engkau tertimpa bahaya.”
“Tetapi disinipun belum tentu aman.”
“Ini ....,” Gak Lui merenung sejenak, “kalau begitu
lebih baik engkau ke gunung Ceng-sia-san menunggu
aku. Kelak partai2 persilatan akan berkumpul disana.
Dan lagi ada seorang Nona- ular Li Siu-mey yang selain
dapat menjadi sahabat, pun kalian dapat ber-sama2
mempelajari ilmu pedang Bu-san kiam-hwat, untuk
persiapan di kemudian hari.” Bu san-yan-hong
mengiakan. Ia minta Gak Lui mendaki dan setelah itu
baru ia nanti akan tinggalkan gunung. Gak Lui pun tak
mau banyak bicara lagi. Ia terus lari mendaki keatas.
Enam puncak yang menjadi lapisan dalam dari gunung
Busan, jauh lebih dahsyat dan berbahaya dari keenam
puncak lapisan luar. Ia loncat keudara. Tetapi sebelum
kakinya turun ke-bumi, matanya seperti ber-kunang2.
Setiap keping batu karang, setiap jengkal tanah tampak
ber-putar2. Saat itu ia masih setombak dari tanah. Buru2
ia kerahkan tenaga- murni lalu menggeliat keatas hampir
beberapa tombak tingginya. Dalam pada itu diam2 ia
menghafalkan perobahan2 dalam ilmu Ni-coan-ngoheng.
Kemudian ia meluncur keatas sebuah jalan kecil.
Tapi begitu menginjak bumi, iapun ikut terputar2 seperti
angin lesus. Tetapi ia menyadari bahwa hal itu hanyalah
sugesti atau menurut pikirannya sendiri. Cepat ia
menginjak tata Kiu- kiong-pat-kwa dan diam2 menghitung
keadaan barisan Thian- kang-ki-bun yang dihadapinya.
Setelah itu dengan tenang ia melesat kemuka.
Lebih kurang sejam lamanya, berhasillah ia melintasi
barisan itu dan tiba dipuncak lapisan dalam atau yang
disebut Lwe-liok-hong. Keenam puncak batu karang
disitu, sepintas pandang memang menyerupai sebuah
680
istana alam. Disebelah luarnya dikelilingi oleh tanah datar
seluas sepuluh tombak.
“Ini tentulah istana Bi-kiong itu !” diam2 ia menimang.
Dengan cepat ia mengitari tanah yang disebut istana Bikiong
itu ternyata hanya sebuah batu gunung yang tak
berpintu. Kecuali dinding karang yang terdapat tanda2
aneh boleh dikata tiada setitik celah pada batu itu. Dan
yang paling aneh pula, si Lengan-besi-hati-baik itu tak
kelihatan sama sekali. Bahkan gemborannya yang
dahsyat tadi pun tak kedengaran lagi. Gak Lui benar2
heran. Ia merasa ilmu kepandaiannya sudah dapat
digolongkan sebagai jago2 kelas satu dalam dunia
persilatan. Memang kalau dibanding dengan si Maharaja
Persilatan memang kalah jauh. Demikian dengan Tio Bikliong
juga kalah setingkat. Dan kini ternyata si Lenganbesi-
hati-baik itu begitu lihay, sampai tak dapat diduga
sampai berapa tinggi kepandaiannya. Kalau bertempur
berhadapan, mungkin dengan menggunakan kecerdasan
otak, ia masih dapat menghadapi murid hianat itu. Tetapi
bahwa ternyata saat itu ia sama sekali tak dapat
menemukan apa2 pada batu itu, bukankah berarti ia
sudah menderita kekalahan? Bukankah lawan berada di
tempat gelap dan ia di tempat terang?
Gak Lui marah. Ia segera kerahkan tenaga-dalam
Algojo-dunia dan menghantam batu itu, seraya memaki:
“Hai, murid hianat Busan! Mengapa tak lekas keluar
menerima kematianmu...!”
JILID 14
Sekonyong-konyong dari tengah gunung terdengar
suara gemboran yang dahsyat: “Hai, siapakah yang
membuat gaduh itu.....!”
681
“Lim Ih-hun, lekas unjuk diri, jangan banyak bicara !”
teriak Gak Lui. Mendengar disebutnya nama itu, rupanya
orang yang menggembor itu terkejut dan diam sampai
beberapa saat. Tetapi pada lain saat terdengar pula ia
berseru: “Siapakah engkau? Lekas beritahukan
namamu!”
“Aku Gak Lui !”
“Siapa ?”
“Gak Lui !”
“O,” orang itu berhenti sejenak lalu tertawa geram:
“Ha, ha, ha, ha, ha ... engkau juga datang hendak.... ha,
ha, ha, ha !”
Gak Lui makin marah. Ingin ia menghantam hancur
istana Bi- kiong itu. Tetapi baru tangan hendak dijulurkan,
tiba2 terdengar ledakan batu karang. Seketika
merekahlah sebuah lubang setinggi tiga tombak. Kedua
pintu yang beratnya sepuluh ribu kati itupun segera
menggelincir ke kanan dan ke kiri. Pada lain saat
terdengar Lengan-besi-hati baik Lim Ih-hun berseru: “Gak
Lui, dengarkanlah yang jelas! Sejak duapuluh tahun ini
tak pernah ada orang yang dapat masuk ke dalam
Telaga-petir ini. Tetapi hari ini engkau dapat, boleh
dianggap memang sudah takdir alam. Karena itu
kuijinkan engkau ....”
“Bagaimana ?”
“Engkau boleh keluar dari gunung. Lekas kembalilah
!” serunya.
“Heh, heh,” Gak Lui tertawa mengejek, “itukah
itikadmu yang baik ?”
“Orang jahat tentu memberi pelajaran jahat. Biarlah
lain orang yang membunuhmu dan tak perlu aku harus
682
melanggar pantanganku membunuh orang !”
“Melanggar pantangan? Ha, ha, ha, ha..” Gak Lui
tertawa nyaring lalu dengan gerak langkah yang istimewa
ia berputar menyusup ke dalam pintu, serunya:
“Kematian sudah tiba, masih engkau bertepuk dada
sebagai orang baik. Sungguh tak malu!” Tetapi begitu ia
melangkah ke ambang pintu, sepasang pintu batu itupun
segera mengatup, dan .... Gak Luipun tertutup di dalam.
Tetapi di dalam istana itu terang benderang, ia
memandang ke sekeliling. Didapatinya ruang batu cukup
tinggi dan penuh lubang tetapi tak tembus ke luar.
Sedang ruangan di sebelah muka yang luasnya hampir
satu bahu itu, penuh dihias dengan kursi2 batu. Ia duga
tempat itu dahulu tentu dijadikan tempat pertemuan dari
para orang gagah.
Teringat Gak Lui akan sejarah dari istana Bi-kiong itu.
Istana itu sebagian memang dari alam, sebagian dibuat
oleh tangan manusia. Pendirinya yalah kakek moyang
dari sinona Yan-hong. Kakek moyang nona itu telah
mendirikan sebuah perkumpulan rahasia di tempat itu.
Oleh Bu-san It-ho, guru dari keempat tokoh jago pedang
Bu-san, istana itu telah diganti dari pengaruh golongan
Hitam menjadi aliran Putih. Dan kemudian tempat itupun
dijadikan tempat penyimpanan pedang pusaka Thian-tikoay-
kiam. Setelah meneliti keadaan tempat itu, Gak Lui
menghampiri ke pintu tengah. Didapatinya di belakang
pintu itu terdapat delapan simpang jalan terowongan
yang menjurus ke lain arah. Jalan terowongan itu masih
berhias dengan beberapa jalan persimpangan yang
malang melintang membingungkan orang. Tetapi Gak Lui
tak begitu menghiraukan jalan2. Ia tetap melangkah
masuk dengan tata-gerak Ni-coan-ngo-heng. Setelah tiba
di ujung jalan, ia berhadapan dengan sebuah pintu yang
serupa tadi, begitu pula terowongan dan jalan2, sama
683
dengan yang tadi. Hanya saja tanda Pat-kwa lain
bentuknya sehingga ia terpaksa berhati-hati. Tak kurang
dari tujuh lapis pintu telah dilaluinya. Saat itu ia sudah
merasa pening dan tak tahu berada di mana.
“Jangan takut…..” kata Gak Lui dalam hati. Ia rentang
mata dan merenung. Gurat2 garis pada pusaka Thianliong-
kim-jiu seperti muncul pula dalam benaknya.
“O, kiranya setelah melintas selapis lagi, akan tiba di
istana Bi- kiong,” katanya. Dengan bersiap memegang
pedang dan pusaka Kim-jiu, ia mulai melangkah maju
lagi. Sebuah ruang besar segera terbentang di
hadapannya. Di tengah ruang besar itu tampak duduk
seorang tokoh aneh. Rambutnya memanjang sampai ke
tanah, pakaian hitam mengenakan kerudung muka.
Sepintas pandang menyerupai dengan si Maharaja
Persilatan. Tanpa bertanya, cepatlah Gak Lui
mengetahui bahwa lelaki itu tentulah si Lengan-besi-hatibaik
Lim Ih-hun. Saking tegangnya, Gak Lui sampai
gemetar tak dapat bicara. Pun ketika melihat Gak Lui,
orang itupun agak gemetar, tegurnya:
“Budak kecil, apakah engkau Gak Lui?”
“Benar, aku Gak Lui dan bukankah engkau ini si
Lengan-besi- hati-baik?”
“Tepat !”
“Lekas serahkan pedang Thian lui-koay-kiam, agar
jangan engkau menderita !”
Orang itu tertawa mengekeh. Nadanya seram dan
panjang. Tetapi saking kerasnya tertawa, kain kerudung
yang menutup mukanya itupun melorot ke bawah.
Melihat wajah orang itu, gemetarlah Gak Lui. Ternyata
wajah orang itu amat datar. Kecuali tak punya hidung,
684
pun terdapat sebuah lubang yang menyusup ke dalam.
“Hidung gerumpung! Pembunuh yang sesungguhnya
....” terkenang Gak Lui akan keadaan ayah-angkatnya
Pedang Aneh yang kedua tangan dan kakinya terpapas
kutung. Serentak mendidihlah darah Gak Lui. Ia
melangkah maju. Lengan-besi-hati-baik itu gerakkan jari
mencegah: “Tunggu dulu, engkau sudah datang dari
ribuan li, mengapa terburu-buru ...”
“Masih ada omongan apa lagi ?”
“Barang siapa yang datang ke istana Bi-kiong sini
tentu akan menerima hukuman mati. Tetapi sebelum
bertempur, kita dapat menerangkan berbagai hal agar
jelas !”
“Huh !” Gak Lui mendengus geram tetapi mau juga ia
hentikan langkah. Ia menyadari bahwa rahasia dari
peristiwa perguruan Bu-san- kiam-pay dahulu dan kunci
rahasia dari dendam sakit hatinya, semua terletak pada
diri orang itu. Maka banyaklah hal yang hendak diajukan
kepadanya. Pun ia menyadari bahwa berhadapan
dengan musuh besar, ia harus berlaku tenang. Setiap
kebimbangan dan kebingungan akan menyangkut soal
hidup matinya. Maka dengan mengempos semangat, dan
menyalurkan tenaga-dalam, ia menjawab tenang:
“Baik, akan kubuat perasaanmu puas .... keinginan
tahu yang terakhir !”
Mata Lengan-besi-hati-baik berkilat-kilat menatap
Gak Lui lalu bertanya: “Siapakah engkau? Mengapa
engkau berani memalsu sebagai Gak Lui ?”
Pertanyaan yang datangnya tak terduga-duga itu
membuat Gak Lui terkejut sekali. Segera ia teringat
bahwa taci-angkatnya Hi Kiam gin pernah datang ke
685
tempat situ untuk belajar silat. Mengapa orang itu mau
menurunkan ilmu pedang kepada Hi Kiam-gin? Apakah
memang bermaksud baik atau hanya pura2 menjadi
orang baik saja? Pula istana Bi-kiong itu tak boleh
didatangi orang luar. Bahkan ayah Gak Lui yalah si Dewa
Pedang sendiri telah dijebloskan dalam lubang di bawah
tanah sampai mati. Tetapi mengapa orang itu
mengijinkan Hi Kiam-gin masuk ....? Karena sedang
merenung, sampai sekian lama belum juga Gak Lui
memberi jawaban.
“Mengapa engkau menyaru orang yang sudah mati?
Lekas bilang !” tiba2 orang itu membentak. Rupanya dia
tak sabar menunggu lagi. Gak Lui tenangkan diri,
menyahut: “Aku memang Gak Lui. Berita kematianku itu,
adalah kesalahan Hi Kiam-gin yang menyiarkan. Apakah
engkau tak rela aku masih hidup ?”
“Heh! Kalau memang benar Gak Lui, mengapa
mengenakan kerudung muka ....?”
“Engkau tak perlu mengurus !”
“Datang di istana Bi kiong yang terlarang sini, harus
membukanya !”
“Kedok mukaku boleh kubuka tetapi harus di depan
mayatmu ....”
“Mulut besar! Mati hidupmu, sebentar lagi akan
segera tiba. Jawablah, siapakah yang suruh engkau
masuk ke istana Bi-kiong sini ?”
“Kemauanku sendiri !”
“Siapa memberi petunjuk engkau melintasi barisan ini
?”
“Kaisar persilatan Li Liong-ci telah menurunkan ilmu
Ni coan-ngo- heng-tay-hwat ....”
686
“Ajaran Kaisar Persilatan?”
“Benar!”
“Apa buktinya ?”
“Pusaka Thian-liong-kim-jiu ini !”
“Coba berikan padaku !”
“Jangan mimpi, bung !” Mendengar itu jubah Lenganbesi-
hati-baik menggelembung besar karena gejolak
hawa kemarahan. Dengan menggeretakkan geraham, ia
berseru bengis: “Bagus! Suruh membuka kedok muka,
engkau menolak. Suruh mengeluarkan Thian-liong-kimjiu,
engkau membangkang. Akupun tak mau banyak
bicara lagi ....”
“Engkau belum menjawab pertanyaanku!”
“Lekas tanyakan!”
“Pertama, dimanakah pedang pusaka Thian-lui-koaykiam
?”
“Dalam barisan istana Bi-kiong, tetapi ...”
“Bagaimana ?”
“Perlu kuperingatkan kepadamu. Engkau sudah lelah
dan melanggar pantangan. Tak perlu melamunkan hal
itu.”
“Hm,” Gak Lui mendengus geram. Ia maju selangkah:
“Kedua, orang yang mati di puncak gunung lapisan luar
itu apakah engkau yang mencelakai ?”
“Benar !”
“Mengapa engkau bertindak ganas ?”
“Delapan tahun yang lalu, orang itu telah memalsu
penandaan rahasia. Dengan menipu peta ia masuk ke
687
dalam puncak Liok hong. Sudah tentu harus mati!”
Mendengar orang itu mengaku yang membunuh
ayahnya dan masih memfitnah kalau ayahnya menipu,
meluaplah kemarahan Gak Lui. Tanpa melanjutkan
pertanyaan lagi, ia terus ayunkan tangan menghantam.
Menilik kepandaian yang dimiliki saat itu, memang Gak
Lui sudah tergolong jago kelas satu. Apalagi saat itu ia
sedang dirangsang kemarahan. Pukulannya telah
dilambari dengan tenaga penuh. Bum... terdengarlah
ledakan dahsyat. Gelombang angin dahsyat telah
melanda altar batu. Setitikpun Lengan besi-hati-baik Lim
Ih-hun tak kira bahwa anak semuda itu memiliki pukulan
yang sedemikian dahsyatnya. Ia agak tertegun dan tahu2
sudah terlibat dalam lingkaran angin pukulan. Ia terkejut
dan cepat2 mengerahkan tenaga-dalam. Tampak
jubahnya menggelembung untuk melindungi diri. Dengan
penjagaan itu, angin pukulan Gak Luipun hanya
berputar-putar lewat di samping tubuhnya. Tetapi angin
itu dapat menyingkap kain kerudung hitam yang
menutupi muka orang. Sepasang matanya besar dan
alisnya tebal, kumisnya melingkar lebat memenuhi kedua
pipi. Batang hidungnya hilang sama sekali sehingga
menimbulkan pemandangan yang mengerikan. Tetapi
wajah itu bagi Gak Lui amat menusuk hatinya. Serentak
ia mendamprat: “Murid hianat, serahkan jiwamu !”
Sebuah hantaman istimewa kembali dilancarkan.
Orang itupun tak berani lengah. Dengan menggerung, ia
dorongkan tangan menyongsong, Bum......terdengar pula
ledakan yang dahsyat. Lengan-besi-hati baik Lim Ih-hun
masih tetap duduk ditempatnya. Sedangkan Gak Lui
terlempar sampai tiga tombak jauhnya. Ia muntah darah
...
“Bangsat !” Gak Lui mengertak gigi dan menggeliat
688
bangun. Ia tekan napas untuk menahan darah yang
hendak menyembur keluar lalu mencabut sepasang
pedangnya. Melihat pedang Pelangi yang memancarkan
hawa dingin, wajah Lengan-besi hati-baik makin tegang
heran. Karena ia tahu jelas asal usul pedang itu. Ia heran
mengapa pedang itu sampai jatuh ke tangan anak muda
itu. Ia duga tentu peristiwa itu mempunyai liku2 yang
berbelit-belit.
Sekali enjot tubuh, Gak Lui melambung ke udara
dalam gerak Burung rajawali-rentang-sayap. Pedang
ditangan kiri diputar untuk melindungi tubuh, pedang
Pelangi ditangan kanan ditusukkan ke tenggorokan
orang. Betapapun lihay kepandaian Lengan-besi-hatibaik
Lim Ih-hun itu, namun menghadapi ancaman
pedang pusaka itu, ia tak berani memandang rendah.
Tiba2 tubuhnya melambung ke udara dan dengan suatu
gerak kisaran yang sukar diketahui, pedang Pelangi
menusuk ke sisi telinga lawan. Jarak keduanya hanya
satu meter, walaupun menggunakan sepasang pedang
tetapi Gak Lui tak mampu melukai lawan. Bahkan karena
serangannya luput, saat itu dirinya di bawah lingkungan
tangan musuh. Gak Lui menyadari hal itu. Cepat ia
merobah gerakan pedangnya. Pedang ditangan kiri
memapas lengan lawan, pedang Pelangi menabas
kepala. Apabila kena, batang kepala tentu menggelinding
terpisah dari tubuhnya. Tetapi lawanpun mengganti gerak
tangannya. Kedua tangannya direntang seraya
menggeram: “Hm, kalau tidak dilenyapkan, kelak budak
ini tentu akan menjadi algojo dunia persilatan !” Ia
apungkan tubuh loncat mundur beberapa langkah.
Kemudian maju lagi dengan rangsangkan tangannya
dalam ilmu pedang Bu- san-kiam-hwat. Melihat
kenekadan orang yang berani menyambut serangan ilmu
pedang dengan tangan kosong, Gak Lui membentaknya:
689
“Engkau cari mampus!”
---oo^TAH^0^DewiKZ^0^Hendra^oo---
Ia putar pedangnya untuk menyerang. Wut, wut,
wut... lengan baju Lengan-besi-hati-baik terpaksa
berhamburan tetapi kedua tangannya tetap tak kurang
suatu apa. Dan sebelum Gak Lui sempat bergerak,
tangannyapun sudah tercengkeram tangan lawan.
Seketika lengannya kesemutan, telapak tangannya sakit
sekali.
“Aneh,” ia menggumam kejut. Dan di luar
kesadarannya ia termangu memandang lengan orang.
Ah, kiranya lengan lawan itu memakai alat pelindung dari
baja yang kebal tabasan senjata tajam. Bahkan pedang
pusaka yang dapat memapas logam seperti memapas
tanah liat, ternyata tak mampu menghantam alat itu.
“Celaka...” Gak Lui kucurkan keringat dingin. Cepat ia
hendak menarik pulang pedangnya tetapi sudah
terlambat, sudah terjepit tangan lawan. Untuk
mengerahkan tenaga-dalam Algojo-dunia, juga tak
mampu mengalahkan tenaga-dalam lawan. Lengan-besihati-
baik tiba2 mendengus dan lontarkan tangannya.
Kedua pedang Gak Lui ikut terlempar sampai beberapa
tombak jauhnya !
“Terimalah pukulanku !” karena pedangnya terlepas,
Gak Luipun nekad. Dengan kerahkan seluruh tenagadalam
ia hantamkan kedua tangannya. Tetapi sayang,
gerakannya itu masih kalah cepat dengan lawan. Tangan
kanan si Lengan-besi-hati-baik sudah melekat di dada
dan kelima jarinya yang seperti kait baja itupun sudah
mencengkeram. Kalau ia benar2 mau gunakan tenaga
mencengkeram, mungkin dada Gak Lui tentu sudah
690
remuk berantakan. Tetapi di luar dugaan Lengan-besihati-
baik itu hanya gerakkan tangan kiri untuk menebas
tengkuk Gak Lui. Plak .... Gak Lui mendengus kesakitan
dan tubuhnya terlempar seperti layang2 putus tali. Ia
jatuh sampai tiga tombak jauhnya. Mulut menyembur
darah dan orangnyapun pingsan seketika. Sedang
Lengan-besi-hati baik masih tegak berdiri di atas altar
batu. Tangan kanannya masih mencekal secarik robekan
baju Gak Lui. Dan di bawah robekan baju itu ternyata
terdapat pusaka dunia persilatan .... Thian-liong-kim-jiu!
“Tulenkah benda itu ?” gumamnya dalam hati. Lalu ia
kerahkan kedua tangannya untuk meremas. Dengan
tenaga-dalamnya yang sakti, segala benda yang
betapapun kerasnya, pasti akan remuk, tetapi ternyata ia
tak mampu meremas hancur pusaka Thian liong kim jiu
itu. Bahkan sampai telapak tangannya terasa amat
panas, tetap benda itu tak penyet sedikitpun juga.
“Hm, memang aseli! Tetapi .... mengapa dapat jatuh
ke dalam tangannya? Menilik kepandaian Kaisar
Persilatan, tak mungkin dapat dilarikan orang ....”
Lengan-besi-hati-baik segera apungkan tubuh sampai
dua meter menuju ke atas altar batu lalu menghampiri ke
tempat Gak Lui.
“Tak mungkin benda ini dicuri. Keterangannya tadi
kalau benda itu pemberian dari Kaisar Persilatan
memang benar. Tetapi budak itu memang keterlaluan
sekali. Ucapannya kasar, serangannya menggunakan
jurus yang ganas. Karena marah aku sampai tak sempat
menanyai dengan jelas....” pikirnya. Teringat akan jurus
serangan yang digunakan Gak Lui tadi diam2 timbullah
keraguannya: “Ilmu pedang dan pukulan bocah itu
memang berasal dari sumber Bu-san. Dahulu guruku
telah memberi pelajaran pada empat orang murid yang
691
tak resmi. Keempat orang itu hanya kudengar namanya
tetapi tak pernah melihat mukanya. Tetapi jelas kalau
mereka masing2 hanya memiliki sebuah jurus ilmu
pedang. Tetapi mengapa bocah itu dapat menggunakan
semua? Ah, tentulah dia telah mendapat pelajaran dari
keempat orang itu. Kalau begitu ... apakah dia memang
benar Gak Lui... mati dan hidup kembali? Mengapa
muridku Hi Kiam-gin memberi laporan salah? Atau si
Dewa Pedang yang salah mengambil orang .... ?”
Pertanyaan itu memenuhi benaknya tanpa mendapat
jawaban yang memuaskan. Masih ia merenungkan
keterangan dari Hi Kiam-gin yang mengatakan bahwa
dewasa ini dunia persilatan telah muncul seorang tokoh
yang menamakan diri sebagai Maharaja Persilatan.
Sepak terjangnya amat ganas, kepandaiannya tinggi.
Tokoh itu menjadi musuh besar dari Hi Kiam-gin dan Gak
Lui. Dan tokoh itupun mempunyai anak buah yang
disebut gerombolan Topeng Besi dan si Hidung
Gerumpung.....
“Ah, hidung Gerumpung ?” tiba2 Lengan-besi-hatibaik
meraba hidungnya sendiri yang hilang lalu
menggumam: “Aneh .... si Hidung Gerumpung itu
memang sebuah teka teki. Apakah dalam dunia
persilatan terdapat seorang Hidung Gerumpung lagi?
Adakah mungkin dia itu .... Ah, tidak, tidak, tidak !” Kata2
itu meluncur dari mulutnya dengan nada yang rawan.
Sepasang matanya menyala, wajahnya berkerenyutan
dan hidungnya yang gerumpung itupun tampak makin
jelek. Kerut wajahnya tampak gelisah. Dia seperti
terkenang sesuatu tetapi ia tak ingin percaya dan
memang tak berani percaya. Tetapi nyatanya dia
dihadapkan oleh dua hal aneh yang menuntut
kepercayaannya. Rasa tegang telah memeras
keringatnya. Keringat dingin membasahi sekujur
692
tubuhnya. Tampak Lengan-besi-hati-baik melangkah
terhuyung seperti mau jatuh tetapi tahu2 sudah berada di
samping Gak Lui. Ia segera meraba-raba baju pemuda
itu. Pertama, ia menemukan sehelai pakaian anak kecil
yang bertulis dengan huruf2 dari darah yang sudah
mengental hitam. Tulisannya dari tangan seorang wanila
dan berbunyi : Anak ini bernama Gak Lui. Jika ada yang
menemu, harap dipelihara baik2 ....
“Hai !” Lengan-besi-hati-baik menjerit kaget. Dari
bukti itu dia tak ragu lagi kalau anak itu memang putera
dari Dewa Pedang Gak Tiang-beng. Ia segera
menelentangkan tubuh Gak Lui. Dilihatnya napasnya
sudah lemah, bibir pucat seperti orang yang sudah
tengah meregang jiwa dan kedok muka yang menutup
mukanya itupun penuh dengan tetesan darah. Melihat itu
keinginannya untuk membuka kedok Gak Lui, pun
lenyap. Diam2 ia malah menyesal: “Dahulu karena
luapan emosi, aku sampai menyalahi pesan
suhu.....kusimpan diri dalam istana Bi-kiong dan selamalamanya
menjaga pedang pusaka itu untuk menebus
dosa...Tetapi setelah lebih dari duapuluh tahun, aku
pernah melanggar sumpah lagi .... mungkin bencana
dalam dunia persilatan, adalah karena kesalahanku.
Sekarang karena dirangsang kemarahan, aku kembali
melukai Gak Lui sampai parah ....” Ia teringat akan
pembicaraan tadi.
Selagi dalam pembicaraan, ketika mendengar bahwa
yang membunuh orang di dalam guha itu dirinya, maka
Gak Lui menjadi marah dan menyerang kalang kabut.
Hal itu jelas menunjukkan bahwa yang terbunuh mati itu
tentulah ayah Gak Lui. Bertahun-tahun lamanya ia tak
pernah menyangka bahwa yang dibunuh dalam guha itu
adalah ayah Gak Lui. Kini setelah menyadari
persoalannya, barulah ia tahu malah korbannya itu
693
memang murid dari Bu-san. Dan sekali-kali bukan orang
luar yang hendak mencuri pedang itu. Dan lagi orang itu
jelas adalah si Dewa Pedang.
“Pembunuh ... algojo! Aku seorang pembunuh ... aku
harus mati ... !” Lengan-besi-hati-baik melonjak-lonjak
seperti orang gila. Ia berlari-larian di dalam guha sambil
menampar muka dan telinganya sendiri, menjambaki
rambut dan meraung-raung seperti binatang buas.
Lengan-besi-hati baik seperti orang gila. Sekonyongkonyong
terdengar bunyi gemerincing. Dia tengah
menginjak pedang Pelangi. Pedang itu berkilat-kilat
memancarkan cahaya yang menyilaukan. Tertarik akan
pedang itu, ia terus menjemputnya. Didapatinya pedang
itu amat tajam luar biasa dan memancarkan hawa dingin.
Ia tahu bahwa pedang itu tentu pedang pusaka yang
hebat. Tanpa banyak berpikir lagi ia terus hendak
menggorokkan pedang itu ke tenggorokannya. Tetapi
sekonyong-konyong hawa dingin pedang itu
membuatnya menggigil. Dan serentak tangan kirinyapun
menampar mukanya sendiri: “Gila, apakah kematian
akan dapat menolong persoalan ini !” Pedang yang
sudah melekat di tenggorokannya dihentikan dan
ditatapnya wajah Gak Lui.
“Aku telah kesalahan mencelakai ayahnya.
Seharusnya aku harus menebus dosa kepadanya.
Menilik usia dan bakatnya, jika kusaluri dengan tenagamurni,
dia tentu sanggup menghadapi si Maharaja
Persilatan. Apabila gagal, dia masih dapat berusaha
untuk mengambil pedang Thian-lui-koay-kiam itu,”
katanya seorang diri.
“Tentang bencana dalam dunia persilatan, kuharap
bukan disebabkan karena pedang itu dan kuharap pula
dia tak membohongi aku !” katanya lebih lanjut. Akhirnya
694
ia memanggul tubuh Gak Lui dan diletakkan di atas altar
batu. Kemudian ia duduk lekatkan kedua tangannya
pada jalan darah pemuda itu. Ia menyalurkan seluruh
tenaga-murninya ke dalam tubuh pemuda itu.
Entah berselang berapa lama, Gak Luipun tersadar
dari pingsannya. Dia dapatkan dirinya rebah di sebuah
pembaringan yang lunak dan tubuhnyapun terasa enak
sekali. Tetapi ketika bernapas ia masih dapat mencium
bau dari tubuh Lengan-besi- hati-baik. Hal itu
mengunjukkan bahwa tokoh itu masih berada di
sampingnya. Tiba2 ia melenting ke atas. Maksudnya
hendak menyingkir. Tetapi di luar dugaannya tenagadalamnya
bertambah hebat sekali. Ketika melambung ke
udara hampir saja ia menumbuk langit ruangan batu di
situ. Ia heran tetapi tak sempat untuk menduga-duga lagi.
Ia terus melayang ke arah Lengan-besi-hati-baik dan
tanpa berkata apa2, terus ayunkan tangannya
menghantam. Tetapi baru tenaga-dalam dilancarkan
iapun sudah cepat menariknya kembali. Dengan gerak
seringan kapas ia melayang turun di hadapan Lenganbesi-
hati-baik. Ia melihat tokoh itu deliki kedua matanya
memandangnya dengan pandang terlongong-longong,
dari sinar matanya jelas kalau orang itu sudah kehabisan
tenaga-dalam. Pula wajahnyapun tenang sekali,
sedikitpun tak merasa kaget.
“Aneh..!” diam2 Gak Lui tergetar. Tetapi cepat ia
dapat menyadari. Maka secepat itu pula ia menarik
pukulannya dan bertanya: “Apakah engkau telah
menyalurkan tenaga-murni ke dalam tubuhku ?”
Dengan napas sesak, Lengan-besi-hati-baik
paksakan diri menyahut terengah-engah, “Ya
memang….”
“Mengapa ?”
695
“Harap engkau ... dapat mem ... bunuh .. membunuh
... si Maharaja !”
“Oh, engkau bukan gerombolannya ?”
“Tidak. Bukan ...”
“Lalu mengapa engkau mencelakai ayahku?”
“Aku tak kenal padanya ... soal itu ... karena salah
faham ...”
“Salah faham ?” Gak Lui tergetar. Pikirnya: “Menilik
sikap dan kata-katanya, orang ini memang jujur. Dan
kalau dia memang hendak membunuh diriku, tentu sudah
dari tadi. Tetapi ternyata dia malah memberi saluran
tenaga-murni kepadaku !” Berpikir sampai di situ, diam2
ia menggigil. Cepat ia lekatkan kedua tangannya ke
tubuh orang untuk menolong. Tetapi sudah terlambat.
Jalan darah Lengan-besi hati baik sudah membeku, tak
mungkin dapat ditolong lagi. Untunglah Gak Lui memiliki
kepandaian saling-mengalirkan- tenaga-murni. Dengan
susah payah, akhirnya ia dapat juga menyalurkan sedikit
tenaga murni. Tampak wajah tokoh itu agak merah dan
dapat berkata dengan perlahan: “Baiklah, tak usah
engkau bersusah payah. Jika ada pertanyaan, silahkan
mengajukan sekarang juga....” Sambil masih
menyalurkan tenaga murni Gak Lui bertanya: “Tadi
engkau mengatakan kalau salah faham, apakah
alasannya?”
“Dahulu pada saat ayahmu naik ke gunung ini, dia
telah melakukan sebuah kesalahan besar!”
“Kesalahan besar? Bukankah dia sudah
mengucapkan sandi rahasia dengan tepat?”
“Walaupun sandinya benar, tetapi jumlahnya orang
salah ....”
696
“Oh....”
“Mendiang suhu Bu-san It-ho pernah meninggalkan
pesan. Bila keempat bu-san-su-kiam hendak datang ke
istana Bi-kiong sini, kecuali harus mengatakan sandi
rahasia, pun harus datang lengkap tiga orang lelaki dan
seorang wanita. Kalau tidak ....”
“Bagaimana ?”
“Tentu lain orang yang menyamar. Boleh segera
dibunuh saja!”
“Oleh karena datang seorang diri maka ayah lalu ....
terbunuh ?”
“Benar.” Mendengar itu hati Gak Lui seperti disayat
sembilu. Tetapi ia merasa memang Lengan-besi-hati-baik
tidak salah. Maka dengan tahankan kesedihan hati, Gak
Lui lanjutkan pertanyaannya:
“Kabar engkau telah melanggar peraturan kakek guru
dan diusir dari perguruan. Lalu dipenjarakan di istana Bi
kiong sini. Tetapi mengapa engkau ditugaskan untuk
menjaga pusaka di gunung ini? Apakah ini tidak
bertentangan ?”
“Ah, soal itu panjang ceritanya,” Lengan-besi-hatibaik
menghela napas, “sesungguhnya beliau itu bukan
melainkan guruku yang berbudi, pun juga seperti
seorang ayah yang telah merawat aku sejak kecil.
Budinya jauh lebih dalam dari lautan, melebihi
orangtuaku sendiri.....sayang aku tak dapat menguasai
emosi sehingga melakukan suatu kesalahan....”
“Emosi meluap? Apakah.....berhubungan dengan
seorang wanita?” tanya Gak Lui.
“Tidak !” sahut Lengan-besi-hati-baik, “tetapi
mengapa engkau menduga begitu?”
697
Diam2 Gak Lui memang teringat akan si cantik Busan
Yan-hong. Pula terkenang akan kisah asmara yang
menyedihkan dari ibunya. Maka ia cepat menduga kalau
Lengan besi-hati baik itupun terjerumus dalam kisah
kasih dengan wanita. Setelah mendengar penyangkalan
dari Lengan-besi-hati-baik, ia segara mengajukan
pertanyaan lagi : “Karena engkau dirawat sampai besar
oleh kakek guru, apakah engkau tahu siapa Kau-cu
(pemimpin) dari perguruan Bu-kau?”
“O !” Lengan-besi-hati-baik mendengus kaget,
“engkau ... engkau bagaimana bisa tahu ...?”
“Mengapa aku tak dapat mengetahui?” balas Gak Lui.
“Karena ... karena ...”
“Karena apa?”
“Karena menyangkut kepentingan perguruan dan
keluargaku. Sedang Bu-san Su-kiam sendiri tak tahu.”
Gak Lui kerutkan alis dan berseru tegang: “Aku telah
berjumpa dengan pewaris Bu-kau ...”
“Siapa ?”
“Bu-san Yan-hong.”
“Apa katanya ?”
“Hanya tentang soal2 perguruan Bu-san yang
lampau.”
“Selain itu ?”
“Heh, heh, jangan terburu-buru,” kata Gak Lui dengan
nada dingin, “Hendak kutanya kepadamu lebih dulu,
nanti baru engkau boleh bertanya kepadaku. Sekarang
coba engkau ceritakan kesalahan apa yang telah engkau
lakukan?”
698
“Ini .... aku sudah bersumpah kepada guru, takkan
membocorkan kepada lain orang,” kata Lengan-besi-hatibaik.
“Engkau tak mau menceritakan!” teriak Gak Lui
dengan keras.
Wajah Lengan-besi-hati-baikpun tampak sunyi dan
berkatalah ia dengan gemetar: “Gak Lui, adakah engkau
hendak memaksa aku supaya melanggar sumpahku
kepada guru? Beliau kakek gurumu, soal itu beliau tak
ingin disiarkan kepada orang. Dan sekalipun tahu,
bagimu juga tak ada gunanya.”
---oo^TAH^0^DewiKZ^0^Hendra^oo---
“Ini......” Gak Lui tergetar seperti orang yang diguyur
es dingin. Segera ia teringat akan bibi gurunya Bidadari
Pedang. Bibi gurunya itupun pernah bersumpah kepada
gurunya, takkan menyiarkan peristiwa itu. Dan anggap
bahwa fihak lain itu bukan lawan. Teringat akan hal itu,
betapa besar keinginan Gak Lui untuk mengetahui
namun ia tak berani mendesak untuk mengetahui rahasia
dari kakek gurunya. Maka iapun menghela napas dan
beralih pertanyaan: “Baiklah, aku takkan menanyakan
tentang sebabnya tetapi hanya ingin tahu kejadiannya
saja.”
Dengan wajah murung Lengan-besi-hati-baik berkata:
“Karena kesalahan itu maka aku telah membuat
pengakuan dosa kepada guru. Aku rela menjalani
hukuman diasingkan dan takkan keluar selama-lamanya
dari puncak Liok-hong ini agar dapat menjaga pedang
pusaka Thian-lui koay-kiam. Kecuali keempat Bu-san Sukiam
itu datang bersama-sama kemari, siapapun tak
boleh mengambil pedang itu.”
“Kalau begitu kakek guru tak pernah mengusirmu dari
699
perguruan?” tanya Gak Lui.
“Memang beliau marah sekali dan tak mau mengakui
aku sebagai murid lagi. Tetapi kemudian beliau dapat
meluluskan permohonanku itu.”
“Ah….” Gak Lui menghela napas. Timbul
pertentangan dalam batinnya. Memang orang itu telah
membunuh ayahnya tetapi dia melakukan hal itu demi
melakukan tugasnya menjaga pedang pusaka. Jadi
sekali-kali bukan sebagai seorang pembunuh. Dan lagi
kali ini dia telah menolong jiwanya. Walaupun orang itu
seorang murid yang telah diusir dari perguruan tetapi
ternyata masih mempunyai kesetiaan dan tanggung
jawab terhadap partai perguruannya. Bahkan tugasnya
tak kalah pentingnya dengan keempat Bu-san Su-kiam
itu. Ragulah hati Gak Lui terhadap orang itu. Haruskah ia
membunuh orang sedemikian itu ? Bagaimanakah ia
pandangannya terhadapnya? Sebagai seorang penolong
? Sebagai musuh? Sebagai tokoh angkatan tua atau
sebagai murid hianat? Ia tak mau melanjutkan
memecahkan soal2 yang begitu pelik dan ruwet lalu
bertanya lebih lanjut: “Kalau ayahku tak boleh datang
seorang diri, mengapa taci Hi Kiam-gin tak dilarang
masuk kemari seorang diri ?”
“Kematian ayahmu sudah delapan belas tahun yang
lalu. Dan sejak itu tiada orang yang hidup datang kemari
lagi.”
“Tiada orang hidup ? Apakah tiada kenalan yang
pernah datang kemari?”
“Ini.... tidak ada....tidak ada,” Lengan-besi-hati-baik
menyangkal, “memang aku curiga mengapa sampai bertahun2
keempat Bu- san Su-kiam tak muncul kemari.
Maka timbullah keinginanku untuk melihat lihat keadaan
700
di luaran. Apalagi kulihat dia (Hi Kiam-gin) seorang
wanita. Kukira mungkin si Bidadari Pedang.”
“Maksudmu engkau memperlakukan lebih istimewa
kepada Bidadari Pedang ?” tanya Gak Lui.
“Boleh dikata begitu,” sahut Lengan-besi-hati-baik,
“karena suhu paling sayang kepadanya dan
memberitahukan juga tentang keadaan diriku yang
dipenjarakan digunung ini kepadanya. Tak kuduga kalau
yang muncul itu ternyata Hi Kiam-gin. Sayang dia tak
begitu jelas tentang keadaan dunia persilatan....” Berkata
sampai di sini tubuh Lengan-besi-hati-baik agak
menggigil dan napasnya terengah2. Gak Lui terkejut dan
buru2 salurkan tenaga-murninya lebih keras. Tetapi
keadaan orang itu sudah makin payah. Napasnya
memburu, kepalanya basah dengan keringat. Rupanya
sudah tak kuat bertahan lagi. Rupanya Lengan-besi-hatibaikpun
tahu kalau dirinya bakal tak lama hidupnya.
Maka ia kuatkan diri dan berkata dengan tersendatsendat:
“Gak Lui .... Gak Lui...”
“Ya….”
“Tidak, tidak .. Thian-lui koay ... koay...” Gak Lui
cepat menyadari bahwa yang dimaksud itu yalah pedang
pusaka Thian-lui-koay kiam. Maka cepat2 ia menanyakan
pedang itu.
“Di... di sini ... di pusat barisan ini...” Gak Lui cepat
memandang ke sekeliling tempat itu tetapi tak melihat
suatu apa. Waktu ia hendak bertanya, orang itupun
dengan suara parau berseru lemah: “Hati2... harus...
harus hati- hati.”
“Hati2 apa ?”
“Api…. api... api ....”
701
“Api ? Di mana api itu ?” kembali Gak Lui
memandang dengan seksama kearah sebuah batu yang
besar dan aneh bentuknya. Tetapi jangankan api,
asappun tak kelihatan.
“Pikirannya tentu sudah tak sadar, kata2nya sudah
tak keruan lagi,” pikirnya. Segera ia lancarkan tenagamurninya
ke tubuh orang itu lagi. Lengan-besi hati-baik
tampak membuka mata dan pancarkan sinar mata yang
bercahaya. Dengan terengah2 ia berkata:
“Selama engkau berkelana ....siapakah
.....siapakah..... yang kepandaiannya paling sakti.....?”
“Yang paling sakti adalah Kaisar Persilatan dan
Maharaja Persilatan.”
“Maharaja Persilatan .... tergolong aliran...
kepandaiannya?”
“Menguasai ilmu kesaktian dari lima partai persilatan
besar!”
“Termasuk.... Bu san pay ?”
“Tidak.”
“Bagus... selain itu apakah ada tokoh persilatan yang
memakai she .... she .... “
“She apa?”
“She Tio ....?”
“Ada !” serentak Gak Lui menjawab dengan agak
heran. Kakek guru dari Bu san-pay memang orang she
Tio, yalah Tio It ho. Dan mempunyai seorang putera.
Tetapi putera itu tak pernah muncul dalam dunia
persilatan. Tetapi Gak Lui ingat akan Tio Bik-lui. Orang
itu mengatakan dirinya seorang yang mengasingkan diri
dari masyarakat ramai. Kepandaiannya memang hebat
702
sekali. Adakah orang itu putera dari kakek guru Tio It ho?
Apakah itu yang ditanyakan Lengan- besi-hati baik? Gak
Lui menatap Lengan-besi-hati-baik lekat2 dan bertanya
tandas: “Ada seorang tokoh bernama Tio Bik lui, apakah
engkau mengenalnya?”
Mendengar itu kerut wajah Lengan besi-hati-baik
meregang- regang dan dadanyapun berombak keras.
Dengan napas memburu ia bertanya: “Dia... bagaimana ?
Baik.... atau... jahat....?”
“Dia pernah menolong aku.” Tampak mulut Lengan
besi-hati baik tersenyum dan berkata:
“Bagus... bagus ... dia seorang baik. Engkaupun
harus... baik... kepadanya...”
“O, kiranya kalian sudah kenal?”
“…....”
Lengan-besi-hati-baik tak menjawab. Kepalanya
melentuk terkulai ke dada. Napasnya-pun berhenti.....
Gak Lui terkejut sekali. Ketika ia memeriksa, ternyata
orang itu sudah putus nyawanya.
“Aneh, Tio Bik-lui selalu mengatakan kalau dia murid
hianat dan menuduhnya mengangkangi pedang pusaka
Thian-lui-koay-kiam. Tetapi kebalikannya ia masih
terkenang akan Tio Bik-lui dan sampai matipun tetap
menanyakan,” pikir Gak Lui tak habis mengerti.
Keringatnya turun seperti hujan deras. Ia merasa
seperti istana Bi-kiong terbakar api. Panasnya seperti
ledakan gunung. Sebenarnya ia tak takut akan hawa
panas. Tetapi entah bagaimana saat itu ia benar2 tak
dapat bertahan. Sekonyong-konyong terdengar ledakan
dahsyat dari bawah bumi. Gelombang hawa panas
segera berhamburan memenuhi tempat itu. Ia merasakan
703
bajunya seperti terbakar. Buru2 ia lepaskan tubuh
Lengan-besi-hati-baik lalu tempelkan telapak tangannya
ke altar batu.
“Celaka ...” belum bau terbakar itu hilang, asappun
sudah bergulung naik ke atas. Lantaipun segera merah
membara. Altar batu itu adalah tempat duduk Lenganbesi-
hati-baik. Tempat itupun seperti terbenam dalam
lautan api. Tubuh Lengan-besi-hati baik dalam sekejab
saja sudah terbakar hangus menjadi abu. Untunglah Gak
Lui tahan hawa panas dan amat tangkas. Dalam gugup,
ia pancarkan tenaga-murni dari telapak tangannya
sehingga sampai beberapa tombak jauhnya. Ia kira api
tentu akan membara besar. Tetapi di luar dugaan
ternyata api itupun padam. Hawa panas kembali
menurun dan keadaanpun kembali seperti biasa lagi.
Ketika meraba ke lantai, didapatinya lantai itu hanya
hangat saja. Tetapi seluas semeter dari batu altar itu
telah terjadi sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Batu
altar yang tebalnya hampir setengah meter itu bukan
terbuat dari batu pualam, bukan pula dari logam
melainkan dari batu lahar yang sudah mengeras. Di atas
altar itu terdapat guratan- guratan. Ketika Gak Lui
memperhatikan guratan2 dari lubang2 kecil itu, ia segera
merasa hawa panas meluap ke luar serta
memperdengarkan suara mendesus.
“Ah, kiranya batu ini di bawahnya merupakan gunung
berapi dan masih memuntahkan lahar,” akhirnya ia
menyadari. Gak Lui hendak mencari jenazah Lenganbesi-
hati-baik tetapi tak ketemu. Lenyapnya mayat itu
benar2 mengejutkan hatinya. Teringat akan nasib
Lengan besi-hati-baik yang rela memendam diri dalam
istana Bi-kiong selama berpuluh tahun. Sekalipun karena
tak tahu telah kesalahan membunuh ayahnya (Gak Lui),
tetapi hal itu dilakukan tanpa sengaja. Pun Lengan-besi704
hati-baik tetap terkenang akan keempat saudara
seperguruannya Bu-san Su-kiam. Diam2 Gak Lui
menarik kesimpulan bahwa semua peristiwa itu memang
sudah menjadi permainan nasib. Begitu pula memang
sudah jelas kalau keempat tokoh Bu-san itu bernasib
jelek. Tak dapat menumpahkan seluruh kesalahan
kepada Lengan-besi- hati-baik. Tiba pada renungan2 itu,
akhirnya timbullah kesadaran Gak Lui akan suatu hal.
Yalah tentang sepak terjang keempat Bu-san Su- kiam
yang berkelana di dunia persilatan dan tentang Lenganbesi-
hati-baik yang mengasingkan diri di gunung Bu-san
menjaga pedang pusaka Thian-lui-koay-kiam. Dengan
cara itu, Bu-san It-ho rupanya merencanakan untuk
melakukan penjagaan luar dalam. Agar jangan sampai
pedang pusaka itu direbut orang. Cara itu memang baik
sekali. Ketat dan rapi. Tetapi orang dapat membuat
rencana, hanya nasib yang berbicara lain.
Kenyataannya, kelima tokoh2 Bu san itu satu demi satu
telah menemui ajalnya secara mengenaskan .... Lalu
siapakah yang dijaga oleh kakek guru Bu-san It-ho?
Adakah si Maharaja Persilatan? Salah! Kalau benar dia,
tentulah Lengan-besi-hati-baik tak sampai tak tahu hal
itu. Buktinya Lengan-besi Lim Ih-hun malah bertanya
kepadanya tentang tokoh Maharaja itu. Dan lagi ada
suatu hal yang benar2 tak dimengerti Gak Lui. Mengapa
kakek gurunya tak memberitahu kepada keempat Busan
Su-kiam supaya mencari orang yang dianggap
membahayakan pedang pusaka itu?
“Ah, betapapun juga, Lengan-besi-hati-baik memang
sudah menunaikan tugasnya dengan baik. Kematiannya
layak sebagai penebus dari kesalahannya membunuh
ayah Gak Lui. Pula tokoh itupun sudah memberikan
penyaluran tenaga-murni kepadaku,” akhirnya ia menarik
kesimpulan. Kemudian ia memandang ke arah altar batu
705
dan berseru dengan perlahan: “Paman, budi dan dendam
sudah himpas. Harap paman beristirahat dengan tenang
di alam baka. Aku dapat menggunakan pedang pusaka
Thian-lui-koay-kiam untuk menghancurkan si Maharaja
Persilatan !”
Ketika teringat akan pedang, tiba2 ia tertegun. Tadi
Lengan-besi- hati-baik hanya berkata: “di sini ... di dalam
mata barisan ini !” tetapi ia tak melihat suatu apa dalam
ruang situ. Dan Lengan-besi hati-baik itu tak memberikan
petunjuk akan tempatnya yang jelas. Gak Lui merenung
untuk mengingat pelajaran Ngo-heng-seng- khik untuk
memperhitungkan letak 'mata barisan'. Tetapi setelah
diperhitungkan bolak balik, tetap tiba pada kesimpulan
pada mata barisan itu yalah di tengah altar batu tempat
duduk Lengan-besi- hati-baik.
“Apakah memang di tempat paman duduk ini .... ?”
katanya meragu. Untuk membuktikan hal itu, ia segera
melesat ke tengah altar batu. Dengan kerahkan tenaga,
ia menggembor dan mengangkatnya. Seketika
terdengarlah suara letupan keras. Batu penutup yang
amat berat itu segera terangkat naik. Uap panas
menghambur keluar dan terbukalah sebuah lubang yang
sukar diduga dalamnya. Gak Lui meletakkan tutup batu
itu dan meninjau ke bawah. Dilihatnya di bawah lubang
itu terdapat lumpur merah yang panas. Benda itu tentulah
lahar gunung berapi. Tetapi ia tak melihat pedang
pusaka itu.
“Ah, tak mungkin! Kecuali didalam lubang ini, tak
mungkin pedang itu ditaruh di tempat lain!” katanya
dalam hati. Kembali ia kerahkan tenaga dalam dan untuk
menghantam ke bawah. Uappun berhamburan menyiak
ke bawah. Dengan cermat ia memandang segenap sudut
lubang itu. Ah... kira2 pada jarak lima enam tombak di
706
tengah celah2 batu, ia melihat sebatang pedang yang
menancap dalam2 pada dinding karang. Kini pedang
sudah diketemukan tempatnya. Tinggal bagaimana
caranya untuk mengambil. Gak Lui diam2
memperhitungkan jarak tempat pedang itu dari
tempatnya. Adakah ia sanggup untuk melancarkan
tenaga-dalam-penyedot untuk menarik pedang itu.
“Baiklah kucobanya,” akhirnya ia mengambil
kesimpulan. Lalu ia kerahkan seluruh tenaga-murni dan
mengambil arah pada batang pedang. Wut... tenagamurni
melancar ke bawah. Tetapi pedang itu tak
bergeming sedikitpun juga. Dinding lubang terbuat dari
lapisan lahar yang sudah mengeras beratus tahun. Lebih
keras dari batu. Maka sekalipun Bu-san It-ho pun tak
mampu untuk menariknya. Kepandaian yang dicapai Gak
Lui memang sudah cukup tinggi dan disejajarkan dengan
tokoh silat kelas satu. Tetapi dengan tenaga-dalampenyedotnya
itu, tetap ia tak mampu mengambil pedang
itu. Namun Gak Lui masih penasaran. Berulang kali ia
mencobanya lagi. Tetapi sampai tenaganya habis, tetap
tak berhasil. Gak Lui berhati keras. Kegagalan itu tak
mematahkan semangatnya. Diam2 ia menimang-nimang
rencana. Cara pertama, ia akan nekad untuk turun ke
dalam kepundan lubang itu. Dengan menggunakan
pedang Pelangi, ia akan membuat lubang untuk meniti ke
bawah, lalu dengan seluruh tenaga, ia hendak mencabut
pedang itu. Setelah mendapat pikiran itu ia segera
mencabut pedang Pelangi. Dicobanya untuk membacok
dinding karang, prak.... bunga api memuncrat. Dinding
rompal tetapi tak mampu menembus batu. Percobaan itu
membuatnya harus berpikir lagi. Kalau ia menaburkan
pedang itu dan tak dapat menyusup ke dalam dinding
batu, bukankah sukar untuk menyedot kembali.
“Ah, gagal.....” Gak Lui menghela napas dan putus
707
asa. Ia berdiam merenung. Mengharap mudah-mudahan
ia dapat menemukan akal baru. Malam pun tiba dan
suasana dalam istana Bi-kiong itupun makin gelap.
Dalam suasana yang sunyi ia mendengar kepundan atau
lubang terowongan perut gunung berapi itu terus
bergemuruh. Uap panas berhamburan mengepul keluar.
“Menilik gelagatnya, akan terjadi letusan lagi !” Gak
Lui menimang. Ia makin bingung. Sudah tiga jam ia
memeras otak untuk mencari akal namun tetap belum
menemukan cara yang baik. Tiba2 ia terkesiap. Suatu
pemikiran terlintas dalam benaknya:
“Ah, kiranya setiap tiga jam, lubang kepundan itu
muntahkan api. Jadi waktunya tertentu.” Tepat pada saat
ia tiba akan kesimpulan itu, tiba2 meluaplah gelombang
api yang terang benderang dari lubang kepundan itu.
Sekalipun api yang menyilaukan mata itu hanya sekejab
lalu pudar lagi tetapi dalam waktu yang singkat itu Gak
Lui telah menemukan sebuah rahasia. Gelombang
semburan api itu menyebabkan papan batu pada mulut
lubang terbakar merah sekali. Dengan begitu dinding
yang membenam pedang pusaka Thian lui koay kiam
itupun seharusnya juga akan berobah lunak. Setelah
merangkai kesimpulan itu, akhirnya ia bertindak nekad.
Cepat ia melambung ke atas lubang seraya lontarkan
sebuah hantaman yang berlambar tenaga-dalam
penyedot. Wut.....ah, ternyata yang diperhitungkan
pemuda itu memang tepat sekali. Karena dinding
terbakar dan lunak maka pedang pusaka itupun dapat
tersedot keluar sampai beberapa inci.
“Bagus !” girang Gak Lui bukan kepalang.
Semangatnya pun bertambah besar. Ia melayang kesamping
altar batu lalu melancarkan pukulan tenaga
penyedot lagi. Pukulan kedua itu dapat membuat pedang
708
menjulur keluar separoh. Demikian ia ulangi lagi usaha
itu dan yakin tentu akan berhasil. Tetapi menjelang saat
akan barhasil itu tiba2 ia ada suatu hal yang
menimbulkan keheranan serta keraguan hatinya. Dulu ia
pernah mendengar bahwa pedang pusaka itu ditempa
dan dimasak dengan darah manusia. Oleh karenanya,
warna pedang itupun merah darah. Tetapi apa yang
dilihatnya saat itu sedikitpun tidak ada cahaya sama
sekali.
“Ah, tentunya bukan pedang palsu?” sambil masih
melancarkan pukulan, Gak Lui menimang dalam hati.
Saat itu pedang yang satu meter masuk ke dalam dinding
terowongan, saat itu hanya tinggal tiga inci. Jika
perhatiannya terbelah, mungkin akan gagal. Pedang itu
tentu akan jatuh ke dalam dasar lahar gunung berapi.
Apabila terjadi begitu, tak mungkin ia dapat menyedotnya
lagi. Wut.... untuk yang terakhir kalinya ia lancarkan
pukulan tenaga- penyedot dan pedang itupun mencelat
melambung ke atas. Gak Lui cepat menyambarnya.
Tetapi tiba2 tubuhnya miring dan jatuhlah ia ke bawah
altar. Demikianpun dengan pedang itu.
“Aneh, mengapa pedang itu mempunyai daya begitu
aneh?” diam2 ia terkejut. Tetapi pada lain saat ia cepat
menyadari bahwa hawa panas yang disedotnya tadi
terlalu banyak sehingga menghabiskan tenaga-murninya.
Karena sudah berhasil menyedot keluar pedang pusaka
itu, baiklah ia memulangkan tenaga dulu baru nanti
memeriksa pusaka itu lagi. Segera ia duduk bersila ditepi
altar dan menyalurkan tenaga dalam Algojo dunia,
sebuah jenis ilmu tenaga-dalam yang luar biasa
anehnya. Tak berapa lama darahnyapun sudah normal
lagi dan saat itu ia makin terhanyut dalam semedhi ke
dalam hampa. Tak berapa lama istana Bi-kiong itupun
terang, kiranya hari sudah terang tanah. Dia menyudahi
709
penyaluran tenaga-murninya dan mulai memeriksa
pedang.
“Aneh, mengapa bertahun-tahun terbenam dalam
kepundan gunung berapi dan dibakar lahar panas,
pedang dan sarungnya masih utuh. Sungguh aneh ...!” ia
segera menjemput pedang dan menelitinya. Bermula ia
tak melihat suatu tanda apa2 pada batang pedang,
begitu pula tiada hiasan apa2, batang pedang itu terbuat
dari pada baja murni. Di ujung pedang terdapat
sepasang guratan bundar yang merupakan lambang
Thian (langit) dan Lui (halilintar).
“Hm, pedang ini memang tidak palsu...,” diam2 ia
girang. Diangkatnya pedang itu ke atas kepala dan
berlututlah ia menengadahkan ke langit sambil
mengucap doa kepada Bu-san- it-ho, cikal bakal dari
perguruan Bu-san.
“Sucou, hamba Gak Lui bersumpah akan
melaksanakan pesan takkan mengambil pedang ini.
Tetapi karena keempat Bu-san Su- kiam dan banyak
tokoh2 persilatan yang mati di tangan Maharaja
Persilatan yang ganas itu, kecuali menggunakan pedang
pusaka itu, tiada lain daya untuk menumpasnya .... Oleh
karena itu hamba mohon sucou mengijinkan hamba
untuk membawa keluar pedang ini dari istana Bi-kiong.
Dan kumohon juga doa restu sucou agar dengan pedang
pusaka ini aku dapat membalaskan sakit hati perguruan
Bu-san-pay. Tentulah sucou akan meluluskan
permohonan hamba ini.....” Baru berkata sampai disitu,
tiba2 ia terpaksa hentikan doanya karena saat itu terasa
bumi bergetar keras dan terdengar suara menggemuruh
dahsyat. Seketika Gak Lui terkejut pucat. Dengan
bercucuran keringat dingin, ia berteriak: “Sucou, adakah
engkau tak meluluskan dan suruh aku mengembalikan
710
pedang ini ditempatnya lagi? Tidak, ah, tidak! Aku tetap
akan.....” Kata2 itu terputus oleh suara dahsyat bagai
naga meringkik. Kedahsyatannya benar2 bagai
gelombang samudera yang sedang dilanda prahara.
Menyusul dan melihat dari lubang kerak bumi
menyembur gulungan api yang dahsyat.... Altar batu
tempat duduk Lengan-besi-hati-baik tadipun terbakar
merah. Sedang mulut lubang yang seluas hampir
semeter itupun membara merah. Gulungan api itu
membubung tinggi sampai ke tiang penglari lalu
berhamburan mencurah ke seluruh penjuru. Rupanya
karena kehilangan pedang pusaka Halilintar atau Thianlui-
koay-kim, gunung berapi itu murka dan muntahkan
lahar yang dahsyat. Seolah olah lahar itu hendak
menghancurkan istana bi- kiong. Panasnya hawa dalam
ruang istana itu menyebabkan Gak Lui hampir tak kuasa
membuka mata lagi. Karena gugup, sambil mengambil
pedang pusaka, ia menutupi muka, ia berseru kearah
gumpalan api yang menyembur dahsyat itu : “Pedang
tetap kubawa! Aku bersumpah, takkan mencelakai orang
baik. Kalau sampai melanggar, akan kubayar dengan
darah...” sebelum ia menyelesaikan kata katanya,
terdengar pula suara bergemuruh dahsyat.
Puncak wuwungan dari istana Bi-kiong itu sudah
merekah sebuah lubang besar. Dengan memanggul
pedang pusaka itu, Gak Lui segera menerjang keluar.
Untunglah ia masih ingat jelas akan tata-gerak Ni coanngo
heng. Dengan berputar-putar ia menerobos keluar
dari terowongan yang berliku-liku. Setiap ia tiba disebuah
tempat, maka tempat yang habis dilaluinya itu tentu
sudah bengkah. Hampir saja ia tergelincir kedalam liang
kepundan. Dengan susah payah dan penuh bahaya
akhirnya berhasil juga ia mencapai mulut jalan keluar dari
istana Bi kiong. Dan kembali ia berhadapan dengan
711
sebuah rintangan. Pintu batu yang tinggi besar dari
istana itu masih tertutup rapat. Beberapa saat, ia tak
dapat menemukan alat pembuka pintu itu. Betapapun
besar nyalinya, tetapi dalam keadaan dan tempat seperti
saat itu, mau tak mau gemetarlah hati Gak Lui. Dengan
tenaga yang dimilikinya, ia merasa tak mampu
menghantam hancur pintu. Dengan mengerahkan tenaga
dalam yang telah disalurkan oleh paman gurunya si
Lengan-besi-hati- baik penunggu pedang Thian-lui-koaykiam,
ia masih belum berani memastikan kalau dapat
menghantam pecah pintu batu itu. Namun saat itu
keadaan sudah mendesak sekali. Tanah membengkah
dan lahar mengalir. Dalam gugup terpaksa tiada lain
pilihan. Ia kerahkan seluruh tenaga-dalam lalu
menghantam dengan sekuatnya, bum ... Ia tertegun dan
kesima. Pintu batu yang besar dan tinggi itu jebol dan
terbukalah sebuah lubang cukup untuk tubuh seseorang.
Pada lain saat Gak Luipun cepat menyelinap keluar.
Dengan beberapa kali berloncatan diudara, ia dapat
melintasi beberapa batu titian diluar istana lalu keluar dari
Ciok-tin atau barisan batu yang berada pada keenam
puncak lapisan dalam. Kini ia berhasil keluar dan sudah
berada ditengah keenam puncak-gunung lapisan luar.
Saat itu istana Bi-kiong sudah tak kelihatan. Yang
tampak hanya gulungan asap membubung keudara. Batu
hancur bertebaran. Istana Bi-kiong, sebuah bangunan
kuno dalam dunia persilatan, kini meledak dan rusak
berantakan. Untuk beberapa saat Gak Lui memandang
kesemuanya itu dengan helaan panjang. Pesan cikal
bakal perguruan Bu san yakni Bu san It-ho dan kematian
paman gurunya si Lengan-besi- hati-baik, meninggalkan
goresan kesan dalam hatinya. Setelah lautan asap itu
berkurang, barulah hatinya tenang. Ia mulai memeriksa
pedang pusaka Thian-lui koay-kiam lagi. Sarung pedang
712
itu berlekuk-lekuk tak rata dan lagi berbentuk bulat.
Bukan terbuat daripada emas atau besi melainkan dari
batu lahar yang sudah keras sekali.
“Ah, tak mungkin,” pikir Gak Lui, “masakan kerangka
pedang terbuat daripada batu. Tentulah kerangka yang
aselinya sudah terbakar hangus oleh lahar. Entah
bagaimana dengan batang pedangnya?” Buru2 ia
menarik tangkai pedang. Tetapi pada saat tangan
menyentuh tangkai, segera ia merasakan suatu tenaga
mengalir ketangannya dan pada lain saat hatinyapun
goncang keras. Nafsu pembunuhan serentak bergolak
golak.
“Bunuh! Bunuh! Bunuh!” demikian hatinya melolong
seperti orang kalap. Darahnyapun mengalir deras.
Dibawah pengaruh tenaga ajaib dari pedang itu, Gak Lui
telah kehilangan kesadaran pikirannya. Pada saat2 yang
genting itu tiba2 dari luar gunung terdengar tiga buah
teriakan nyaring : “Gak Lui .. Gak Lui .. dimana engkau ..
?” Suara itu tak asing baginya. Kecuali satu yang kurang
jelas, yang lainnya terang yalah ketua Partai Jembel si
Raja-sungai Gan Ke- ik, sedang satunya yalah Pok Tin
yang belum lama berpisah dengannya.
Menilik gelagatnya, rupanya Pok Tin sudah
mengetahui jejak orang berkerudung muka maka buru2
mereka datang memberitahu kepadanya. Tetapi saat itu
hati Gak Lui sudah berobah. Dia tak menghiraukan lagi
siapa yang datang itu. Seperti seekor binatang buas,
mulutnya meraung kata 'bunuh' seraya mencabut pedang
laknat Thian-lui-koay-kiam. Andaikata saat itu pedang
laknat Thian-lui-koay-kiam dapat tercabut, tentulah akan
terjadi pertumpahan darah yang mengerikan. Gak Lui
sudah seperti orang gila. Tak tahu lagi dia siapa ketiga
kawannya itu. Mereka tentu akan dibunuhnya. Tetapi
713
untunglah terjadi suatu kejadian yang diluar dugaan.
“Uh ....” betapapun ia kerahkan tenaga namun tetap
tak mampu mencabut pedang itu dari kerangkanya.
“Aneh?” ia menggumam sendiri. Pedang itu seperti
sudah melekat dengan kerangkanya. Kalau ia memaksa
hendak mencabut, batang pedang itu tentu akan patah
tetapi tak mungkin keluar dari kerangkanya.
“Ah .. ,” karena kesal hatinya, ia lepaskan pedang itu.
Sesaat pedang terlepas pikirannya yang buas itupun
tiba2 lenyap. Kesadaran pikirannyapun kembali lagi.
“Huh, sungguh mengerikan! Baru memegang
tangkainya saja pikiranku sudah gelap, nafsuku
membunuh orang berkobar. Untung tak dapat mencabut
batang pedangnya. Kalau pedang itu tercabut, mungkin
tentu sudah melanggar sumpahku tadi !” Pengalaman itu
membuatnya tak berani memegang pedang itu. Sekali
lagi ia meneliti pedang aneh itu. Ternyata pedang itu
sudah tak mempunyai kerangka. Batang pedang melekat
pada leher yang sudah membeku keras. Setelah
berlangsung berpuluh tahun, gumpalan lahar itu makin
tebal dan keras. Maka pedang itu sesungguhnya bukan
pedang lagi melainkan sebatang tongkat batu.
Digunakan, pedang batu itu membikin pikiran orang
gelap dan tak berguna untuk menghadapi musuh.
“Ah, bagaimana ini ?” betapapun cerdiknya namun
saat itu Gak Lui tak dapat memecahkan persoalan yang
dihadapannya.
“Baik kucabut sajakah ? Ah, tak mampu. Kupukul ?
Ah, mungkin putus. Lalu bagaimana?” Tiba2 ia teringat
akan pedang Pelangi yang juga sebuah pedang pusaka
yang dapat memapas logam seperti memapas tanah liat.
Cepat ia mencabut pedang itu dan mencobanya. Tetapi
714
sampai beberapa kali, ia hanya berhasil memapas sedikit
sekali.
“Hm, kalau tak dapat dipapas, tentu dapat diasah...,”
cepat ia berganti pikiran. Tetapi secepat itu ia teringat
bahwa lahar yang membeku keras tentu tak dapat diasah
dengan batu biasa. Serentak ia teringat bahwa ia masih
membekal beberapa batu berlian berasal dari Lembah
Maut. Berlian adalah batu yang paling keras. Dengan
batu berlian itu, ia segera mulai menggosok pedang batu.
Ujung dari batu pedang itu dapat menipis juga.
“Bagus, sedikit banyak ada hasilnya. Untunglah Siumey
masih membawa banyak batu berlian. Nanti kalau
jumpa dengannya, akan kuminta untuk menggosok
pedang ini,” pikirnya. Tiba2 ia mendengar teriakan si
Raja-sungai dari tepi hutan. Ia tak berani gegabah masuk
ke-dalam hutan itu melainkan berteriak menyahut. Dalam
pada itu ia merobek lengan baju untuk membungkus
pedang batu itu. Menjaga agar jangan sampai terulang
pedang itu akan membikin kalap pikirannya. Sambil
memanggul pedang, ia segera loncat menuju keluar dari
gunung Busan. Tak berapa lama bertemulah ia dengan
rombongan Raja-sungai Gan Ke-ik. Diantaranya tampak
seorang tua yang memegang sebatang tongkat mustika.
Menilik pakaiannya yang compang camping, Gak Lui
duga orang tua itu tentu seorang tokoh sakti dari partai
Pengemis. Gak Lui terkejut. Mengapa kedua partai
Pengemis dan partai Gelandangan yang saling
bermusuhan, dapat berjalan bersama- sama ?
“Gak sauhiap,” tiba2 si Raja-sungai sudah
mendahului membuka mulut, “perkenalkanlah saudara ini
yalah ketua Partai Pengemis Ong Ping-gak. Kali ini
saudara Ong datang sendiri ke Kanglam untuk
membantu.”
715
Gak Lui buru2 memberi hormat kepada tokoh itu dan
mengucapkan beberapa patah kata merendah. Demikian
setelah saling berkenalan, maka dengan jujur tokoh
Partai Pengemis itu berkata : “Aku merasa menyesal
sekali. Sebagai seorang ketua aku tak mampu mengatasi
cabang partaiku didaerah selatan. Maka aku merasa
berterima kasih kepada sauhiap yang telah membunuh si
Pengemis Bengis itu.”

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Model Indo : PKK 7 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments