Cerita Romantis Misteri: Iblis Sungai Telaga 1

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Romantis Misteri: Iblis Sungai Telaga 1
baca juga:
Cerita Romantis Misteri: Iblis Sungai Telaga 1
Karya : Khu lung
Editor/ebook : Dewi KZ
Sent by : Lynx
Jilid 1
"Benar kalau kau bilang dia berbakat sangat sempurna,
"bilangnya" Walaupun demikian, didalam waktu sepuluh
tahun, ada sangat sulit baginya untuk mencapai kepandaian
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
itu. Lebih benar dibilang bahwa di dalam segala hal dia
menemui hal yang kebetulan, dia telah menemui jodohnya.
Seumur aku si pengemis tua tidak percaya tentang nasib
atau peruntungan, tetapi melihat gerak geriknya Tek Cio si
imam hidung kerbau selama setahun ini, diam-diam aku harus
mengakui kelihaiannya. Didalam sepuluh tahun Tek Cio dapat
membuat It Hiong menjadi seperti sekarang ini, itulah jasanya
si hidung kerbau, jasa utama.
Cuma satu hal jangan dilupakan hal penemuannya yang
diluar dugaan. Pada sepuluh tahun terdahulu di telaga Po
Yang Ouw di kay hong secara tiba-tiba anak Hiong dapat
minum darahnya seekor belut emas yang usianya mungkin
sudah seribu tahun. Khasiat darah itu membuat dia kuat dan
ulet luar biasa melebihi hasilnya latihan sepuluh tahun.
Lalu, dia berentengan memperoleh guru pandai dalam
dirinya Tek Cio si hidung kerbau itu yang mewariskan padanya
ilmu pedang Khiu Bun Patkwa Kiam yang telah diciptakan dan
diyakininya separuh seumur hidupnya, sedangkan dalam ilmu
ringan tubuh, dia mewariskan Loncatan tenaga Mega yang
luar biasa itu.
Selama ini, menurut penglihatanku, Tek Cio memperoleh
kemajuan pesat, hingga dia mungkin menjadi seperti dewa
atau sedikitnya separuh dewa. Belakangan, anak Hiong diajari
juga ilmu tenaga dalam Hau Bun Sian Thian Kiekang, ilmu
mana tinggal dia mematangkannya. Benar-benar sekrang
sekarang ini sampai dimana sudah kemajuan anak Hiong aku
tidak tahu!"
Pak Cu menjadi kagum sekali. Dia tertawa. "Kemarin aku si
pendeta tua menyaksikan perlawanan niocu terhadap Beng
Leng Ciu jiu," katanya. "Aku melihat didalam halnya tenaga
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dan kecerdasan, niocu tak berada di bawah angin. Maka itu,
melihat dari kepandaian niocu, aku merasa semua tujuh puluh
dua ilmu silat Siauw Lim Sie tak akan dapat dibandingkan
dengan kepandaian Tek Cio Sengjin."
Im Gwa Sian menggeleng kepala. "Itulah belum tentu"
bilangnya. "Mengenai Tek Cio si imam hidung kerbau, dia
memang luar biasa. Selama beberapa puluh tahun dia tak
pernah meninggalkan puncak Pay Im Nia di Kim Hoa San.
Mungkin dia sedang meyakinkan sesuatu yang lainnya lagi.
Pelajaran Hian bun Sian Thian Khiekang itu mirip ilmu
semedhi. Untuk mempelajari itu perna anak Hion menyekap
diri tiga tahunlamanya. Diwaktu begitu dia tak dapat diganggu
sampai aku sendiri si pengemis tua dilarang menemuinya.
Karena itu pernah aku memikir mungkin si imam hidung
kerbaru lagi mempelajari ilmu sesat."
Pek Cui tertarik hati, ia menghela naps kagum. "Tak perduli
dia mempelajari ilu ssat atau bukan" katanya. "tetapi dia telah
dianggap sebagai orang pandai dan gagah luar biasa yang
nomor satu di jaman ini, sebutan itu tak memalukan dan
mengecewakannya. Menyesal sekali lolap tidak pernah
mempunyai ketika akan bertemu muka dengan sengjin, maka
kalau kelak dikemudian hari lolap beruntung menemuinya,
pasti akan lolap menghindari ............(tidak jelas) tujuh puluh
dia ilmu silat partai itu memohon pengajarannya!"
Kata-kata "mohon pengajaran" itu diartikan dalam artian
umum, itu dimaksudkan menantang secara terhormat untuk
bertanding.
In Gwa Sian tertawa mendengar suaranya pendeta itu.
"Tek Cio si hidung kerbau itu sangat cerdas dan banyak
pengalamannya" katanya. "Dapat dimengerti bahwa tak
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mudah untuk dia memperoleh semua kepandaiannya itu.
Setahuku dia telah menyekap diri di dlam gunung Kui Hoa San
buat beberapa puluh tahun, tak pernah dia turun gunung
umpama kata sekalipun satu tindak. Selama tigapuluh tahun,
dua kali seudah dia menutup diri setiap kalinya buat beberapa
tahun lamanya. Malah dia tak pernah meninggalkan kamar
samadhinya itu, yang sekrang menjadi kamar obatnya"
Pek Cui tersenyum. "Kami dari pihak siau Lim Sie, kamipun
mempunyai kebiasaan menutup diri itu" katanya, "kami cuma
tidak membutuhkan waktu demikian lama seperti yang
diperbuat Tek Cio Totiang"
In Gwa Sian menggeleng kepala, memotong pendeta itu,"
Kita tunda halnya Tek Cio itu, tunggu saja nanti sampai kau
berhasil menemuinya. Sekarang ialah soal terpenting.
Bagaimana kalian hendak mengurus itu?"
"Apakah kau menghendaki kami turut denganmu, untuk
kita bersama-sama melepas undangan umum kepada seluruh
kaum Rimba Persilatan guna mengajak mereka berangkat
keluar lautan?" tanya Pak Cui.
"Tak usah!" sahut si pengemis tertawa. "Soal itu tak prnah
lepas dari hatiku si pengemis tua. Asal kau mupakat, segera
kita mengirim orang menyampaikan surat undangan. Jika kau
tidak setuju, sekarang juga aku si pengemis tua hendak
berpamitan darimu!"
"Lolap meminta Tio Sicu datang kemaripun guna
membicarakan urusan itu." berkata Pek Cui. "Kawanan
bajingan dari luar lautan itu datang mengacau wibawa kami
disini tanpa alasan, hingga mereka mendatangkan
malapetaka. Perbuatannya itu tidak dapat dibiarkan saja.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lolap telah menghimpun para Tianglo dari Tatmo Ih dan Kam
Ih, begitu kami berbicara putusan telah lantas diambil.
"Jika demikian, kita mesti bekerja cepat!" berkata In Gwa
Sian yang dalam hal ini hilang kesabarannya. Dia memotong
kata-kata orang sebelum Pek Cui bicara habis. "Sekarang juga
kita bekerja, kita menulis dan mengirim surat undangan,
bagaimana?"
"Perihal surat undangan telah lolap memerintahkan lekas
ditulisnya," berkata pula si pendeta, "Soalnya ialah kita harus
memilih siapa-siapa saja yang di undang."
Itulah benar. In Gwa Sian setuju, maka itu mereka lantas
memikirkan kawan dan kenalan untuk dipilih siapa yang
kiranya pantas diundang. orang itu harus lihai dan sepaham,
tak dapat sembarang orang mengingat lihainya pihak lawan.
Pembicaraan atau pemikiran itu meminta waktu, sebab
nama-nama yang disebut harus dipilih lebih jauh, selesai
memilih orang, nama-nama mereka itu lantas ditulis, tak
diduganya Pek Cui mengajukan duapuluh orang pendeta muda
dan lincah menyiarkan kesegala penjuru. Di dalam surat
undangan disebut tanggal bulannya, yang tinggal dua bulan
lagi.
Seperginya para pendeta pesuruh itu, barulah lega hatinya
In Gwa Sian. Tadinya dia tegang sendiriny akarena dia tak
sabaran, sekarang dapat dia tertawa.
"Tadi malam aku menempur It Yap Tojin si imam
campuraduk diatas puncak Siauw SIt Hong," katanya. "Kami
mengadu tangan hingga tiga kali. Kesudahannya aku kalah
satu. Walaupun demikian, si hidung kerbau tak menang
seluruhnya. Kami sampai kehabisan tenaga, maka itu kami
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
lantas pada duduk bersila untuk beristirahat sekian lama.
Ketika itu aku gunakan meminta ia mengundangnya turut
pergi ke luar lautan guna menemui para bajingan!"
"Habis, dia menerima baik undangan itu atau tidak?" Pek
Cui tanya lekas. "Jjika Heng San Kiam-kek memberikan
persetujuan tak sukar buat membasmikawanan bajingan
itu......"
In Gwa Sian tertawa sebelum dia menjawab. Kata dia," Si
imam campur aduk itu masih penasaran atas kekalahannya
dari Tek Cio diwaktu mengadu pedang, dia tidak menjawab
menerima baik undanganku itu, dia cuma tertawa dingin
beberapa kali, terus saja dia mengeloyor pergi turun dari
puncak!"
"Ah!" Pek cui menghela nafas," Manusia umumnya
menganggap dalam hidupnya ada empat buah godaan yang
paling sukar diatasi, ialah harta, paras elok, nama, dan
kedudukan tinggi, tetapi diantara itu menurut pandangan
lolap, nama lah yang paling banyak mencelakai orang.
Demikian dengan It Yam Tojin. Dia dipengaruhi dengan
kekalahannya dari Tek Cio Sengjin itu, dia merasa namanya
runtuh, maka dia menjadi penasaran, karenanya ia sampai
melupakan kesulitan dan bahaya yang mengancam
keselamatannya banyak sesama rekan kaum Rimba
Persilatan....."
Mendadak pendeta ini berhenti bicara, terus dia tertawa
nyaring.
"Amida Buddha!" pujinya. "Ah, aku si pendeta jadi berpikir
sebagai manusia seumumnya!...."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mendengar kata-kata si pendeta, hatinya It Hiong gentar
sendirinya. Mendadak ia ingat sesuatu, maka juga ia kata
didalam hatinya: "Gak Hong Kun tergila-gila terhadap kakak
Giok Peng, dia bagaikan orang edan dilihat dari tingkahnya itu
dia seperti juga bersedia mengorbankan jiwa demi sang cinta!
Aku bagaikan merampas kekasihnya itu, aku bersalah. Pantas
dia sangat membenci aku!...."
Memikir begini tawarlah hatinya si anak muda. Ia tetap
merasa sulit...
Pembicaraan telah selesai sampai disitu. In Gwa Sian
merasa bahwa ia telah beristirahat cukup maka dia berpamit
diri. Dia masih letih perlu beristirahat! It Hiong pun
menggunakan saat itu untuk mengundurkan diri hanya ia
menggunakan kesempatan terlebih jauhnya. Ia berdusta
bahwa keluar wilayah kuil demi untuk pergi ke tempatnya
Kiauw In dan Giok Peng.
Tatkala itu kedua nona sedang duduk berdua saja depan
berdepan di depannya di atas meja terletak Keng Hong Kiam
pedang mustika Mengejutkan Pelangi. Nampaknya kakak
beradik itu sedang asyik sekali. Sebab mereka sangat akur
satu dengan yang lain. Walaupun demikian mereka segera
dapat melihat ketika It Hiong muncul diambang pintu kamar
mereka. Pemuda itu melangkah dengan perlahan berindapindap.
Kiauw In melirik dan tertawa. "Mau apa kau datang secara
sembunyi-sembunyi bagaikan bajingan?" tegurnya. It Hiong
tertawa.
"Kalian tengah membicarakan urusan apa?" dia balik
bertanya. "Agaknya kalian asyik sekali! Dapatkan aku ini turut
mendengarnya?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Giok Pek melirik, nampak dia rada jengah.
Kiauw In menunjuk kepada pedang mustika diatas meja.
"Apakah artinya ini ?" tanyanya. "Sampai pun senjata tak
dikehendakinya."
"Aku menyerahkan itu kepada kakak Giok Peng dengan
permintaan ia tolong menyimpan dan menjaganya," sahutnya.
"Siapakah yang bilang aku tidak menghendakinya ?"
Pemuda ini bersikap wajar.
Kiauw In mengawasi, Giok Peng sebaliknya menghela
napas.
"Aku tahu, di dalam hatimu, kau sangat penasaran
terhadapku," katanya. "Dengan kakak In ini, aku justru tengah
membicarakannya !"
Si pemuda menggeleng kepala.
"Bukankah urusan itu urusan umum ?" katanya sambil
tertawa. "Apakah yang menarik dalam urusan ini ? Mana dia
Gak Hong Kun ?"
"Dia sudah pergi !" sahut nona Pek.
"Kenapa kau tak mengajaknya datang kemari untuk
berduduk dan memasang omong ? Terhadap kita, terhadapmu
dan terhadapku, dia telah melepas budi besar."
"Hm !" si nona memperdengarkan suara penasaran atau
mendongkol. "Tadinya aku menganggap dia orang baik-baik
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
maka aku suka bergaul dengannya sampai akhirnya aku
bentrok dengan pemuda seh Gak itu, yang marah mengharap
cintanya, karena ia menganggap itu tak tepat." Maka ia
meneruskan, "Siapa tahu, terhadapmu dia mendendam
kebencian yang sangat."
It Hiong menghela napas panjang.
"Itulah sudah sewajarnya." katanya menyesal. "Mana dapat
dia dipersalahkan atau disesalkan."
Giok Peng melongo. Kata-kata si pemuda itu diluar
dugaannya.
"Apakah maksudmu ?" ia tegaskan
It Hiong tertawa.
"Kakak, jangan kau banyak pikiran itu !" katanya. "Aku Tio
It Hiong, aku bukannya si orang yang cupat pandangannya.
Mulanya dia baik sekali padamu lantaran ada aku, dia menjadi
terluka hatinya dan berduka karenanya. Selama tahun-tahun
yang lewat, tak pernah dia melupakan kau. Seharusnya dia
membencimu tetapi karena cintanya yang sangat, itu tak
dapat dia lakukan. Karena itu ia berbalik membenciku !"
Parasnya nona Pek menjadi pucat, lalu berubah menjadi
merah.
"Apakah kau bilang ?" tegurnya keras. "Apakah kau ngaco
belo ?"
It Hiong tidak bergusar. Sebaliknya dia tertawa.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kakak, sabar" katanya. "Kau dengar dahulu perkataanku.
Tak perduli bagaimana perasaan atau kesanmu terhadap Hong
Kun, dia sebaliknya sangat menyintaimu hingga dia tersesat
dan tak dapat sadar. Bicara dari asal mulanya, memang aku
yang bersalah. Jika aku tidak bertemu denganmu, tidak nanti
Gak Hong Kun menjadi gagal dalam percintaannya...."
Giok Peng mendongkol, tetapi toh dia berduka.
"Mengapa kau tidak mau berkata bahwa aku telah
memeletmu membikin kau berbuat keliru dan menyesal ?..."
katanya, airmatanya terus turun meleleh.
It Hiong bingung.
"Kakak !" katanya. "Kakak jangan kau salah mengerti ! Aku
tahu kau mencintai aku dengan sangat."
Mendengar sampai disitu, Kiauw In membuat main bibirnya
yang dimoncongkan. Ia lantas campur bicara.
"Tak dapatkah kau tidak mempupuri mukamu ?" tanyanya.
"Siapa sih yang mencintai kau dengan sangat ?"
Giok Peng mandi airmata, tetapi mendengar kata-katanya
Kiauw In, dia tertawa.
It Hiong menghela nafas. Ia tidak melayani nona Cio.
Hanya dengan sabar ia kata, "Aku tak tahu dosa bagaimana
yang telah aku lakukan sebelum aku terlahir ke dunia, maka
juga sekarang ini kakak berdua telah begini mencintai aku
hingga cinta itu setebal berlapis-lapis gunung..."
Kiauw In tersenyum, ia melirik kepada Giok Peng.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Adik, kau dengar !" katanya. "Lihat makin lama kulit muka
dia makin tebal ! Dengan kata-kata apapun dia dapat
keluarkan ! Rupanya dia menganggap bahwa kita sangat
menyintai dia...."
Giok Peng memupus air mata dipipinya.
"Ya, kulit muka dia sekarang berobah setebal tembok !"
sahutnya. "Makin dia bicara makin tebal jadinya."
It Hiong tersenyum. Ia mengawasi kedua nona itu
bergantian.
"Jika bukannya aku yang melakukan perampasan, tidak
nanti Gak Hong Kung membenci aku" katanya. "Biar
bagaimana aku toh merasa malu sendiri. Itulah sebabnya
kenapa terhadap dia, aku tidak membenci sedikit juga. Kakak,
jika Tio It Hiong bukan bicara dengan suara hati nuraninya,
dia pasti bakal terkutuk Thian."
Giok menghela napas. Ia pun merasa bagaimana Hong Kun
senantiasa bersikap baik terhadapnya.
"Apakah maksudmu maka kau bicara begini rupa kepadaku
?" ia tanya. "Aku kurang mengerti...."
Itulah pertanyaan yang tak disangka-sangka It Hiong.
Sejenak ia bungkam, tak dapat ia menjawabnya.
Giok Peng menoleh ke pembaringan dimana Haw Yang
sedang tidur nyenyak Ia tertawa hambar.
"Jangan berpura pintar !" katanya. "Jangan kau sangka
apa-apa yang kau pikir itulah tepat. Memang terhadapku Hong
Kun belum pernah melampauinya, maka juga aku terima
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
undangannya pergi ke lembah itu, buat berbicara sekian lama.
Perbuatanku itu memang kurang tepat, jangan kata kau yang
melihatnya menjadi gusar. Aku sendiri sadar akan
kekeliruanku. Tak perduli apa yang dia pikir tentang aku,
tetapi aku sendiri...."
Mendadak Nona Pek merasai mukanya panas. Mungkin
menjadi marah. Ia lantas menoleh kepada Kiauw In, untuk
berkata :" Kakak, jangan kau tertawakan aku ! Sejak masih
kecil aku biasa mengikuti ayah merantau, sendirinya tabiatku
menjadi rada berandalan dan terhadap pergaulan pria dengan
wanita, aku tak bersikap keras menurut adat istiadat seperti
kebanyakan wanita lain...."
Nona Cio tertawa.
"Asal hati kita putih bersih dan lurus, tidak masalah kita
terlalu menurut kehendak adat istiadat." katanya.
Wajahnya Giok Peng suaram.
"Biar bagaimana, di satu saat itu aku lalai." bilangnya. "Aku
telah berkelakuan terlalu menuruti suara hatiku, tidak heran
apabila dia menjadi curiga atau cemburu..."
"Dengan dia" nona ini maksudkan It Hiong.
Si anak muda segera mengulap-ulapkan tangannya.
"Kakak, kau keliru !" katanya cepat. "Kenapa kau menerka
begini rupa terhadapku ?"
“Kau membuatku penasaran !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kiauw In melirik tajam kepada muda mudi di depannya itu,
terus ia mengawasi Giok Peng.
"Gak Hong Kun mengundang kau datang ke lembah itu,
apakah yang dia bicarakan denganmu?" tanyanya.
"Mungkinkah dia berkulit demikian tebal masih dia
membujukimu atau mendesak hendak menikahimu ?"
"Pada mulanya, dia memang masih dapat berlaku sopan
santun." sahut Nona Pek terus terang.
Sepasang alis Nona Cio bergerak.
"Lalu ?" tanyanya pula, menegaskan. "Mungkinkah dia
berani berlaku kurang ajar atau ceriwis terhadapmu ?"
"Sampai disitu, belum berani dia melakukannya." sahut
Giok Peng, "Namun kemudian kata-katanya samar-samar
mulai menjurus ke arah itu... "
Berhenti kata-katanya Nona Pek, mukanya pun menjadi
merah sekali.
Dengan perlahan Kiauw In menarik napas lega.
"Dia menjemukan tetapi seorang yang mencinta," katanya
perlahan, "sedang bicara dari hal kepandaian terutama ilmu
silat, dia tak mudah dicari lawannya. Sebenarnya dia si orang
muda yang banyak nona-nona cantik mengharapinya. Dia
tampan dan gagah, cintanya pun cinta abadi. Terhadapmu,
walaupun telah lewat beberapa tahun hatinya tetap tak
berubah...."
Giok Peng menggeleng dengan cepat.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kakak" katanya, "Kenapa kakak berkata begini ? Aku
justru benci kepadanya !"
Kiauw In menengadah langit-langit rumah. Ia tertawa
hambar.
"Adik, tak ada maksud menertawai kau." katanya sungguhsunguh.
"Aku bicara sejujurnya. Aku sendiri sejak kecil sekali,
aku menjadi besar diatas gunung, tak biasa aku menerima
pujian atau kekang adat istiadat. Bicara terus terang, adat
istiadat ada terlalu keras, banyak larangannya. Yang umum
atau yang paling sederhana, adalah soal pernikahan. Kaum
pria boleh beristri sampai tiga dan bergundik sampai empat.
tetapi kita kaum wanita ? Kita dikekang oleh apa yang
dinamakan tiga menurun dan empat kebijaksanaan dan
lainnya. Bahkan ada yang menganggap bicara dengan
sembarang pria saja sudah tak pantas sekali. Kalau diingatingat,
kita kaum wanita sungguh dirugikan banyak !"
Mendengar kata orang-orang, It Hiong tertawa.
"Kakak berdua tenangkanlah hati kalian !" katanya. "aku
tak akan menggunakan segala aturan peradatan itu untuk
mengekang kalian berdua !"
Kiauw In menoleh kepada pemuda itu, matanya dibuka
lebar dipelototkan.
"Aku bicara wajar saja ! Siapa mau bergurau denganmu ?"
katanya.
It Hiong mengangkat bahunya. Ia tertawa.
"Aku juga bicara wajar sebagaimana kau" bilangnya. "Jika
kalian tak percaya aku, kakak, terserah !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Hm !" Giok Peng memperdengarkan suara dihidungnya.
"Kau lihat, bagaimana tampangnya ! Nampaknya dia
menganggap seperti benar ada sesuatu perbuatan kita yang
tak memuaskan padanya !"
It Hiong melihat suasana buruk baginya, tanpa ragu pula,
dengan cepat dia ngeloyor keluar !
Dengan satu gerakan tubuh yang gesit, Kiauw In lompat
maju menghadang di ambang pintu.
"Eh, kau hendak pergi kemanakah ?" tegurnya.
"Ayah menantikan aku buat satu urusan penting." si anak
muda mendusta. "Aku datang kemari melongok kalian dengan
aku mencuri waktu sedetik saja !"
"Aku tidak percaya !" Nona Cio bilang. "Kata-katamu pasti
kata-kata setan belaka !"
"Jika kau tidak percaya, bagaimana kalau kau turut aku
menemui ayahku ?" si anak muda menantang. Tak sudi ia
kalah gertak. Tapi ia bicara sembari tertawa.
"Tak apa buat aku turut pergi menemui ayahmu !" kata
pula si nona. "Kau tentunya bakal dapat upah comelan !"
It Hiong menatap kekasih yang cantik manis itu, air
mukanya berubah.
"Sebenarnya," katanya sungguh-sungguh, "aku mencuri
waktu datang kemari dengan niat mengobrol dengan kalian,
siapa tahu aku justru mendatangkan kecurigaanmu..."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kiauw In dapat melihat tampang orang bagaikan orang
yang tengah menghadapi sesuatu kesulitan, maka insyaflah ia
bahwa tadi kata-katanya rada keras. Ia memang bertabiat
halus dan luwes. Maka ia lantas tersenyum, dengan tangannya
yang lunak ia mencekal lengan anak muda itu buat ditarik.
"Mari duduk !" ia mengundang.
It Hiong tidak menentang.
"Kau bilang kau datang untuk berbicara denganku." kata si
nona. "Kenapa sebelum bicara kau sudah mau pergi pula ?
Apakah kau gusar ?"
Si anak muda tertawa.
"Nampaknya kakak berdua gusar." sahutnya, "mana aku
berani melayani ?"
Kiauw In bergerak halus menuang air teh yang ia terus
letakkan di depan orang.
"Nah, kau minumlah, juga membuyarkan amarahmu"
bilangnya tertawa. "Sekarang kami bersiap mendengari apa
katamu !" dan ia duduk disisi si anak muda.
Giok Peng pun menghampiri dengan tindakan perlahanlahan
untuk duduk disebelah kanan.
It Hiong menoleh ke kiri dan kanan, hingga terbukalah
dihatinya. Karena disampingnya kiri dan kanan itu ia melihat
tampang-tampang yang manis, kalau Giok Peng elok agresif,
Kiauw In cantik luwes, lagipula disaat itu, kedua-duanya
tengah bersenyum berseri-seri, hingga kecantikannya menjadi
mentereng sekali. Atau dengan lain perkataan Kiauw In mirip
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bunga teratai yang muncul di permukaan air dan Giok Peng
bagaikan bunga hoaw tau (paony) yang semua sedang mekar
semarak.
Memandangi kedua nona hampir It Hiong lupa akan dirinya,
ia bagaikan tersadar kaget kapan ia mendengar tawa merdu
dari Kiauw In.
"Eh, kau sedang memikirkan apa ?" tegur nona itu. "Tak
hentinya kau menoleh ke timur dan barat, apakah kau tak
kuatir nanti lehermu salah urat ?"
Anak muda itu melengak karena jengah, belum sempat ia
menjawab ia sudah mendengar suara merdu lainnya. Kali ini
Giok Peng yang tertawa dan berkata :" Nah kakak kan lihat,
ah. Sekarang dia jadi nakal dan kulitnya menjadi tebal,
walaupun kakak maki dia, mukanya tak menjadi merah!"
"Ya, memang begitu," tambahkan Nona Cio. "Kulit mukanya
makin lama makin jadi tebal !"
"Maka kalau nanti Houw Yan menjadi besar dan tingkahnya
seperti dia, akan aku hajar dia setiap hari tiga kali." kata Giok
Peng pula, tetapi dia tertawa.
It Hiong melihat ke kiri dan kanannya, ia menggelenggelengkan
kepala.
"Sungguh hebat !" katanya. "Aku datang kemari untuk
berbicara dengan baik-baik dengan kalian, lantas sekarang
kalian mengganggu aku... !"
"Ha ha !" Kiauw In tertawa. "Agaknya kau telah dibikin
penasaran bukan ? Nah, bilanglah apakah urusanmu itu."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong tertawa.
"Telah terjadi perkembangan baru dan sangat penting"
katanya kemudian. "Pek Cut Sian an dan ayahku sudah
bekerja sama dengan mereka, mereka telah menyebar surat
undangan ke seluruh negara mengundang sesama rekan
rimba persilatan untuk nanti orang berkumpul di Tiong Gak,
buat berapa merundingkan soal menghadapi kawanan
bajingan dari luar lautan. Tanggal yang ditetapkan ialah
tanggal lima belas bulan pertama, maka juga kita masih
mempunyai waktu kira dua bulan. Karena itu kitapun tidak
dapat terus tinggal disini selama dua bulan itu."
Kiauw In berdiam, otaknya bekerja.
"Bagaimana kalau kita pulang dahulu ke Kiu Hoa San ?"
tanyanya. "Setelah tiba saatnya baru kita pergi ke tiong Gak.
Tak akan telat bukan ?"
"Waktu dua bulan sekejap saja aku sudah sampai" Giok
Peng turut bicara. "Daripada pulang ke Kui Hoa San, kita
menjadi menyia-nyiakan waktu saja. Aku pikir baiklah kita
menggunakan waktu kita guna memahamkan ilmu pedang
Thay-Kek Liang Gia Sam Cay Kiam. Nama paman ia dan Pak
Pek Cut Siansu tersohor, pasti bakal datang banyak orangorang
tersohor, dan pasti juga pertempuran bakal menjadi
dahsyat sekali, karena itu jadi ada gunanya kalau kita
sekarang melatih diri memahamkan ilmu pedang itu hingga
sempurna."
Dua-dua It Hiong dan Kiauw In mengangguk. Mereka
sangat setuju dengan pikirannya Nona Pek itu.
Giok Peng puas, ia tertawa.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kalau begitu," katanya. "Mari kita bicara dengan paman
In, untuk memberitahukan pikiran kita ini guna memohon
paman tolong mintakan kepada Pek Cut Siansu agar kita
diberikan sebuah tempat yang tenang disini, dimana kita
dapat melatih ilmu pedang itu."
It Hiong segera berbangkit. Ia tertawa.
"Kita harus bekerja cebat, maka itu kira sekarang juga kau
mau pergi pada ayahku." katanya. "Aku juga ingin mendengar
dari ayah, ayah sudah mempunyai rencana atau belum."
Habis berkata pemuda ini segera meninggalkan sepasang
kekasihnya itu. Tiba di kamar ayahnya ia mendapati sang ayah
tengah bersemadhi. Tak mau ia mengganggu, maka ia
berdiam dipinggiran, matanya mengawasi ayah angkat itu.
In Gwan Sian duduk tegak, mukanya penuh peluh,
rambutnya sedikit bergerak-gerak. Terang sudah ia bukan
cuma tengah bersemadhi hanya ia lagi mengerahkan tenaga
dalamnya untuk menyembuhkan lukanya. Ya, luka bekas
pertempurannya dengan It Yap Tojin.
Diam-diam murid ini terkejut. Maka ia mengawasi terus.
Lewat beberapa menit maka tampak si pengemis membuka
matanya perlahan-lahan, ia berpaling hingga ia melihat anak
angkat itu. Lantas ia tertawa.
"Tenaga tangannya It Yap Tojin lihai luar biasa" kata ia.
"Kecuali gurumu maka seumur hidupku dialah lawanku satusatunya
yang sangat tangguh."
It Hiong nampak masgul, ia menghela napas perlahan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Ayah, apakah ayah terluka parah ?" tanyanya prihatin.
Ayah angkat itu mengangguk.
"Aku terhajar tangannya hingga aku mendapat luka di
dalam." sahutnya terus terang. "Hanya sekarang, setelah
mengerahkan tenaga dalamku, aku sudah sembuh banyak."
It Hiong melirik wajah ayahnya. Ia melihat suatu muka
yang meringis pertanda orang tengah melawan rasa nyerinya.
Kembali ia terkejut. Ia tahu baik tabiat ayahnya itu yang keras
yang tidak mau mengalah yang memandang segala apa
secara enteng saja. Bukankah sekarang ayah itu tengah
menderita dari lukanya ?
In Gwa Sian melihat anaknya berdiri diam
In Gwan Sian melihat anaknya berdiri diam itu, ia dapat
menerka kekuatiran orang. Maka ia tertawa, walaupun
tawanya hambar. "Bukannya kau melihat bahwa hari ini
kesehatanku beda daripada hari hari biasa? Tanyanya. "Ya,
ayah," sahut anak itu jujur, "Belum pernah anak melihat ayah
menderita seperti hari ini......" In Gwa Sian menarik napas
panjang. "Ya , aku si pengemis tua, benar benar aku sudah
tua....." katanya.
"Ayah terluka sedikit," kata si anak angkat, : “aku percaya
It Yap Tojin terluka juga. Ayah sudah berkelahi setengah
malam, pasti ayah letih, sudah begitu ayah menempur dia
sebagai tenaga, tidak heran apabila ayah kalah gesit. Aku
percaya jika sama sama seger, tak nanti ayah kalah dari dia."!
Mendengar kata kata anaknya itu, In Gwan Sia tertawa
bergelak.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Selama beberapa puluh tahun”, katanya "kecuali gurumu ,
tidak ada orang lain juga yang membuat kau kagum dan
takluk, maka jika orang sungai telaga menyebut gurumu aku
si pengemis tua, dan It Yap si imam bulu campur aduk,
sebagai Bu Lim San Toa koy. Ialah tiga orang kosen luar biasa
rimba persilatan, tetapi dimataku, kecuali gurumu itu, aku
sendiri tidak mempercayai bahwa aku berhak atau berderajat
untuk mendapat sebutan itu, dan terhadap Hong San
Kiamkek, aku merasa lebih lebih tak puas.
Aku telah melihat dengan mataku sendiri bagaimana dia
dikalahkan oleh gurumu , sedangkan aku sendiri, melawan
gurumu itu selama tiga hari tiga malam tanpa ada yang kalah
atau menang. Baru kemudian aku merasa mungkin gurumu
sengaja mengalah padaku, tetapi mengalahnya itu aku kena
dibuat beranggapan keliru...."
Pengemis jago ini berhenti sejenak, ia menghela napas.
"Setelah kemarin malam aku bertempur melawan It Yap Si
imam bulu campur aduk itu. "ia menambahkan kemudian,
"baru insyaf bahwa aku kalah seurat......." " Tetapi ayah "
sang anak menghibur, "jangan ayah berduka karena
kegagalan ayah itu, siapa tahu jika lukanya It Yap jauh
terlebih parah daripada luka ayah ini !" Bekata begitu anak ini
merogo sakunya untuk mengeluarkan sebuah pil Pek Coa
Hoan Hun Tin. Anak ada membekal ini obat buatan guruku"
Katanya tertawa, "Maukah ayah memakannya?"
In Gwa Sian menyambuti obat itu, terus ia telan setelah
mana ia duduk terus dengan memejamkan mata dan berdiam
saja. It Hiong mengawasi ayah angkat itu, hatinya bercekat ia
mengerti lukanya ayah itu parah sekali. Dengan berhati hati ia
lari keluar kuil, untuk langsung kembali kepada kedua
kekasihnya. Kiauw In dan Giok Peng heran melihat tunangan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dia pergi dan kembali demikian cepat, bahkan mereka
mendapat tampang orang bingung dan berduka.
Mereka maju memapak. Dengan matanya yang jeli, Kiauw
In menatap anak muda itu. "bagaimana?" tanyanya perlahan,
setelah mereka sudah berdiri berhadapan dekat sekali, "kau
nampak masgul sekali, apakah kau mendapat marah dari
paman in? It Hong menggoyangkan kepala. "Bukan ,"
sahutnya " Sebenarnya , ayahku telah mendapat luka
parah......" Kiauw In terkejut, begitu pula Giok Peng,
Mereka sampai mengigil bagaikan orang kedinginan, lalu
keduanya berdiri tercengang. "Bagaimana ia terlukanya?"
Tanya mereka kemudian... Dengan wajah muram. It Hiong
mengawasi kedua nona itu. "Ayah mengadu tenaga dengan It
Yap Tojin, ia mendapat luka didalam..... " Saking terkejut dan
berkuatir, kedua nona lantas saja mengucurkan air mata.
Mereka ingat budinya pengemis tua itu, sebagai muridnya
Tek Cio Siangjin, Kiauw In tapinya dapat lebih cepat
menenangkan diri. "Adik," ia Tanya Giok Peng, "Dimanakah
kau simpan Hosin Ouw?" Giok Peng bagai dikejutkan, tanpa
menjawab pertanyaan itu, ia lari masuk ke kamarnua, hanya
sebentar ia sudah kembali bersama kotak kumalanya yang
indah. Terus tangan nya yang putih dan halus, ia angsurkan .
It Hiong mengulur tangan menyambuti obat mujarab itu, terus
ia memutar tubuh buat berlari pergi.
"Tunggu!" Kiauw In Memanggil, "Jangan kau bingung tidak
karuan!" Si nona pun melesat menghadang anak muda itu. It
Hiong heran, ia menahan diri, belum sempat ia menanya nona
itu mau apa, nona Kiauw In sudah mendahului: "Dapatkah aku
bersama adik Giok pergi menjenguk ayahmu itu ?" It Hiong
segera mengerutkan alisnya, Sejak jaman dahulu, aturan
Siauw Lim Sie keras sekali," sahutnya. "Kaum wanita terlarang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
masuk keruang dalam...... tapi, kalau kalian berdua statusnya
lain, sebagai suami-isteri,
Kalian telah menolak musuh dan menolong mereka dari
ancaman musuh besar, maka itu kalau kakak berdua memaksa
mau pergi, aku percaya mereka tidak akan mencegah , hanya
inilah perbuatan memaksa, inilah kurang selayaknya. "kau
bicara banyak banyak, pulang pergi kau melarang aku turut
padamu, kata Giok Peng tak sabaran. "dalam urusan lain kita
dapat berunding tetapi dalam urusan ini, tidak! Kami harus
turut masuk! "Tapi ...." Kata It Hiong tertahan, ia menghela
napas. Kiauw In menarik tangan Giok Peng, "Jangan kau
mempersulit dia.... " katanya.
Mendadak Giok Peng tertawa sedih, lalu air matanya
meleleh keluar. "Paman In sangat baik terhadap aku," katanya
sedih. Budinya besar laksana gunung, sekarang aku tidak
dapat merawati padanya, bagaimana hatiku tenang?... It
Hiong terpaksa membiarkan " Istrinya " itu , ia perlu segera
kembali kepada ayah angkatnya, guna memberikan itu obat
mujarab, maka juga melihat Giok Peng ditarik Kiauw In , ia
lantas berlompat untuk terus lari sehingga dilain saat dia
sudah berada diluar. Lalu ia kabur secepat cepatnya menuju
kekamar In Gwa Sian, hingga ia sampai didalam kamar, ia
segera menekuk kedua tangannya diansurkan keatas.
Pat Pie Sin Kit sedang duduk bersemedhi, tubuhnya tak
bergeming, matanya dirapatkan. Tenaga dalam pengemis ini
telah sampai puncak kesempurnaannya, ia memiliki tenaga
dalam yang diberi nama Kan Goan Khi Kang, selekasnya dia
mengerahkan tenaganya, seluruh tubuhnya keras bagai besi
atau batu, segala macam alat senjata tidak mempan
terhadapnya. Siapa pelajaran silatnya belum sempurna,
jangan kata melukai dia, memukulnya selagi ia bersemadhi
saja dia akan gagal. Maka itu hebat tangannya Heng San
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kiamkok sebab dia berhasil melukai di dalam tubuhnya
seorang yang demikian kadot. Hanya itu walaupun In Gwa
Sian terluka parah di dalam, It Yap Tojin sendiri terluka tak
ringan.
Disaat pertempuran itu dan In Gwa Sian kena terhajar,
sebenarnya darah di dalam perutnya sudah mengalir, tetapi ia
malu memperlihatkan dirinya muntah darah, dengan sekuat
tenaga ia menahan menyemburnya darah dari mulutnya itu.
Inilah yang membuatnya terluka lebih parah, karena darah
dan napasnya tertahan, sedangkan seharusnya darah dan
napas itu dapat keluar. Lebih celaka, selagi bertempur itu, In
Gwa Sian juga tidak mendapat kesempatan guna
menenangkan diri buat meluruskan napas dan jalan darahnya
itu sedangkan setelah bertemu dengan Pek Cut Siansu,
bukannya ia menunda pembicaraan mengundang bala
bantuan, ia membuang waktu dengan berbicara panjang
lebar.
Hingga itu menambah memberatkan luka di dalamnya itu.
Ia tahu lukanya mengancam, ia masih tidak mau
memberitahukan siapa juga, ia bertahan sampai
pembicaraannya selesai, maka itu setibanya didalam
kamarnya, keadaannya menjadi parah sekali. Barulah setelah
itu ia duduk bersemadhi, ia menggunakan tenaga dalamnya
guna mengusir penyakitnya itu yang sudah hampir kedalam.
Kepandaian Kun Goan Khin-kang dari Pat Pie Sin Kit telah
mencapai batas kesempurnaan, sudah begitu dia dibantu
dengan ilmu silatnya bertangan kosong yang dinamakan CIt
cap jie Sie Hang Liong Hok Hoaw Ciang hoat, yaitu ilmu
menaklukan Naga Menunjuk terdiri dari tujuh puluh dua jurus,
itulah ilmu silat yang menjagoi dalam Rimba Persilatan.
Selama ia merantau, belum pernah ada orang mengalahnya
kecuali waktu ia menguji kepandaian TekCio Siangjie, ini pula
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
yang membuat ia menjadi beradat tinggi atau berkepala
besar, bertabiat tawar dan aneh, hingga gerak geriknya mirip
orang edan.
Adat tinggi itu membuatnya menerka keliru akan
kepandaian It Yap Tojin, sehingga sekarang ia terluka parah.
Ia merasai sangat nyeri di dalam seluruh tubuhnya bagian
dalam ketika bermula kali ia bersemadhi, untuk mengerahkan
tenaga dalamnya. Itulah saatnya yang ia insyaf bahwa lukanya
parah sekali. Baru itu waktu ia menghela napas dan menyesal.
Tentu saja penyesalan tak datang di muka. Maka ia jadi
seperti putus asa.
Baru sekarang ia sadar dan di dalam hatinya berkata : "Aku
si pengemis tua, telah banyak aku membunuh orang, tapi aku
merasa pasti belum pernah aku membinasakan orang baikbaik,
maka itu jika Thian Yang Maha Kuasa mengetahuinya,
hambamu mohon supaya si pengemis tua ini diperpanjang
pula usianya ! Biarlah setelah selesai hambamu ini membasmi
kawanan bajingan dari luar lautan itu baru hambamu mati...
Bukankah itu belum terlambat."
Habis memuji itu kembali In Gwa Sian mencoba
mengerahkan tenaga dalamnya. Tiba-tiba ia menjadi sangat
kaget. Darah didalam tubuhnya bagaikan bergolak-golak,
nyerinya bukan main. Sukar untuk memperhatikan diri maka
terpaksa ia menghentikan pengerahan tenaga dalam itu,
membiarkan lukanya menguasai dirinya. Ia tetap bersemedi
saja. Ia terus memejamkan matanya dan duduk tenang
sedapat-dapatnya.
Itulah keadaannya si pengemis yang sedang menghebat
itu, waktu It Hiong datang hingga anak angkat ini kaget tak
terkirakan hingga kemudian dia memberikan obatnya. Pek Coa
Hoan Hun Tin itu. Selagi ayah angkat itu berdiam si anak pergi
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
keluar untuk menemui Kiauw In dan Giok Peng, hingga
akhirnya ia kembali pula dengan membawa hosin ouw.
Dengan hati-hati anak ini membuka tutup kotak hingga lantas
tersiar bau yang harum dari obat mujizat itu memenuhi ruang
kamar.
In Gwa Sian membuka matanya ketika ia merasai bau yang
luar biasa itu. Ia melihat kepada anaknya, tetapi segera juga
ia memejamkan pula matanya.
Sejak ia mengenal ayah angkatnya belum pernah It Hiong
melihat ayahnya lesu begini rupa, maka juga hatinya miris,
tanpa terasa air matanya bercucuran. Ia terus berlutut sambil
mengangsurkan kotak obatnya, ia memanggil perlahan :
"Ayah !"
In Gwa Siang membuka pula matanya, ia tertawa hambar.
"Kau ingin bicara anak ?" tanyanya lemah. "Kau bangunlah
!..."
Tak dapat It Hiong menguasai diri, ia menangis.
"Ayah" katanya, "mari ayah makan dua helai obat ini.
Barusan aku mendapatkan hosin ouw dari kakak Peng..."
Pat Pie Sin Kit menarik nafas perlahan. Ia mengulur
tangannya, akan menjemput dua helai obat yang diangsurkan
itu. Ia memakannya dengan lantas. Ia mengunyah dan
menelannya.
"Beristirahatlah, ayah" kata It Hiong yang terus menutup
dan menyimpan pula kotak obatnya. Tapi ia tidak lantas
mengundurkan diri, hanya ia berdiri diam disisi sang ayah.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Matanya terus mengawasi ayah itu guna menyaksikan
perubahan apa bakal terjadi.
In Gwa Sian terus bersemedi, tubuhnya tak bergerak
matanya tak terbuka. Nampak dia tenang sekali. Baru sesudah
lewat banyak menit, mendadak dia membuka mulutnya dan
menumpahkan darah hingga dua kali.
It Hiong kaget sampai ia menjerit.
Justru itu In Gwa Sian mementang matanya dan tertawa.
"Anak Hiong, pergilah kau beristirahat !" katanya. Itulah
kata-katanya yang pertama. "Sekarang aku sudah sembuh...."
Anak angkat itu menangis.
"Jangan ayah mendustai anakmu... " katanya. Biar
bagaimana anak ini ragu-ragu. "Ayah..."
In Gwa Sian tertawa pula.
"Kau lihat aku muntah darah, anak" katanya tersenyum.
"Bukankah menganggap itu sebagai pertanda dari lukaku yang
parah sekali ?"
It Hiong mengangguk. Belum sempat ia membuka
mulutnya, ayah angkatnya itu sudah berkata pula : "Aku
dilukai It Yap Tojin si imam campur aduk, inilah darahku yang
tertahan sekian lama yang menyebabkan keadaanku parah,
sekarang darah sudah keluar, aku sudah sembuh sebagian
besar. Asal aku dapat beristirahat dua tiga hari lagi, aku akan
sembuh seluruhnya. Sekarang pergilah kau beristirahat."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong mengawasi darah yang dimuntahkan itu, darah
mati, baru hatinya lega. Lantas ia membersihkan darah itu,
terus ia pamitan untuk mengundurkan diri.
Tiga hari sudah lewat, selalu It Hiong merawati ayah
angkatnya itu. Tak pernah ia berkisar jauh dari ayah itu.
Selama itu tiga kali Peng Cut dan Kiauw In datang menjenguk
dan Kiauw In bersama Giok Peng melongok hingga dua kali,
hanya nona-nona ini tidak datang di siang hari tetapi sesudah
jauh malam dan juga dengan menyelundup dengan loncat
meloncati tembok !
Selewatnya tiga hari ini benar-benar kesehatannya In Gwa
Sian telah pulih seluruhnya, maka itu It Hiong meminta
kepada Pek Cut supaya ayahnya dapat pindah ke ruang luar.
Pek Cut Siansu tertawa dan berkata : "Dapat, itulah dapat !
Di belakang puncak ada sebuah gubuk yang bersih dan sunyi.
Itulah gubuk bekas dahulu almarhum guruku, setelah usia tua
maka gubuk itu tak terpakai pula, walaupun demikian setiap
bulan lolap memerintahkan orang pergi membersihkan dan
merawatnya. Gubuk hanya gubuk bambu tetapi tempatnya
tenang sekali. Jika sicu menyukai ketenangan silahkan pindah
kesana."
It Hiong pun tertawa.
"Tempat itu bekas tempatnya bapak guru, almarhum, mana
dapat aku yang rendah menempatinya ?" tanyanya merendah.
"Tidaklah itu suatu kelancangan dari aku ?"
Kembali Pek Cut tertawa.
"Hal tidaklah demikian adanya, sicu. Gubuk itu telah disiasiakan
selama banyak tahun, didalam keadaan biasa belum
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
pernah dipakai lainnya. Kalau sicu setuju mari lolap
mengantarkan sicu kesana untuk melihat dahulu, nanti baru
sicu putuskan sicu suka berdiam di sana atau tidak..."
Pendeta itu bersikap sangat ramah tamah.
"Bapak guru sangat sungkan" berkata It Hiong. "Baiklah
kau suka pergi ke sana ! Tapi tak usah bapak guru sendiri
yang mengantarkan, cukup asal bapak memerintahkan salah
seorang lainnya."
"Gubuk itu tak dikunjungi oleh lain orang kecuali lolap
sendiri." Pek Cut memberikan keterangan. "Untuk
mengawasinya, lolap cuma menugaskan seorang seebie"
Lagi-lagi si anak muda tertawa.
"Kalau demikian tolong bapak guru menyuruh bapak guru
cilik saja yang mengantarkan aku !" katanya. "Tak usah bapak
guru sendiri yang mencapikkan hari !"
Pek Cut berbangkit, Tiba-tiba ia menghela napas.
"Seebie itu sudah kembali kepada Sang Buddha kami."
katanya masgul. "Dia sudah pergi ke Nirwana di Tanah Barat
itu..."
It Hiong terkejut, hatinya tercekat.
"Bagaimana, eh ?" tanyanya heran. "Jadi bapak guru cilik
itu sudah pergi ke lain dunia ?"
"Benar..." dan Pek Cut mengangguk dengan perlahan. "Dia
berangkat ke lain dunia karena dia diantar pergi ke ujung
kebutannya Beng Leng Ciujin..."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sembari berkata itu, pendeta ini sembari berjalan, maka
juga ia sudah lantas berada diluar kamarnya sendiri.
Diam-diam It Hiong memperhatikan wajahnya pendeta tua.
Ia mendapati oarang sangat berduka, maka ia menjadi terharu
sekali. Ia seperti turut merasai kesulitannya si pendeta.
Karena ini ia jadi membayangi pertempuran hebat malam itu.
Pikirnya :" Kalau malam itu aku tiba lebih siang, mungkin
seebie itu tidak sampai mengantarkan jiwanya ditangan Beng
Leng Ciujin..." Maka Ia terus mengintil tanpa membuka suara.
Seperti biasa dimana ia lewat, Pek Cut selalu dihormati para
muridnya.
Pek Cut membawa si anak muda melewati beberapa jalan
gunung, untuk itu mereka harus menggunakan ilmu ringan
tubuh, sebab sulitnya jalan yang dilalui. Walaupun demikian,
mereka tak terburu-buru.
Lewat waktu sepenanakan nasi, tiba sudah mereka dikaki
puncak Siauw Sit Hong. Dari bawah, puncak tampak setinggi
udara. Puncak itu mengatasi tingginya pelbagai puncak
lainnya.
"Itulah Siauw Sit Hong." kata Pek Cut memberikan
keterangan. Ia tertawa. "Gubuk almarhum guruku berada
ditengah-tengah itu, diatas sebuah tanah datar berkarang."
Berkata begitu, pendeta ini menyingkap jubahnya, buat
segera mulai mendaki.
It Hiong menggunakan ilmu ringan tubuh mengikuti terus di
belakang sang pendeta. Mereka harus jalan mengitar. Si anak
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
muda melihat banyak pepohonan, hingga sulit buat melihat
sasarannya. Ada pula rumput-rumput yang kering.
Selang sesaat, habis melintasi rimba pohon cemara, maka
pemandangan alam disitu berubah seluruhnya. Di depan
mereka ada tanah datar yang caglok dan di sana berdirilah
gubuk yang dimaksud itu, terbuat bambu seluruhnya dan
atapnya atap rumput, kedua daun pintunya tertutup. Di
belakang itu terdapat jurang yang dalam seratus tombak lebih.
Lebar tempat mungkin seratus tombak bundar. Sungguh suatu
tempat yang tenang dan menyenangkan.
Pek Cut membuka pintu sambil tertawa. Kata dia : "Sudah
satu bulan gubuk ini belum sempat dirawat. Kalau sicu setuju,
akan lolap memerintahkan orang membersihkannya."
It Hiong melihat ke sekitar gubuk, Pekarang yang berpagar
bambu, cukup lebar, itulah pagar bambu hidup, maka
tumbuhnya tinggi dan rapat. Ada lagi pagar bambu lainnya,
yang memisahkan Pekarangan luar dari Pekarangan dalam. Di
halaman dalam tertanam banyak pohon bunga, hanya
dimusim dingin begitu daun-daunnya pada rontok.
Gubuk terpecah dalam dua ruang, yang satu berkamar tiga,
yang lain berkamar dua. Yang dua ini disebelah kanan dan
yang tiga itu seperti menyandar pada dinding gunung.
Pek Cut membuka pintu tengah, mengundang tetamunya
masuk.
It Hiong bertindak masuk untuk segera memandang di
sekitar ruang. Paling dahulu ia melihat tergantungnya di
tembok sehelai Lo Han Touw, yaitu gambarnya pelbagai lohan
atau arhat. Ada yang duduk, ada yang rebah dan lainnya
sikap. Lukisannya tidak indah tetapi bentuknya serasi. Terang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
itu bukan karyanya seorang pelukis pandai. Meja dan kursi,
juga pembaringan, penuh berdebu. Jadi benar seperti katanya
si pendeta, gubuk itu sudah lama tak terawat.
Mengawasi pula Lo Han Touw, ada sesuatu yang membuat
si anak muda berpikir. Gambar itu tidak lengkap delapan belas
arhat. Baru rampung enam belas, dan yang ketujuh belas baru
selesai separuh, bahkan buatannya sangat buruk. Pada itupun
tidak ada nama pelukisnya.
Pek Cut melihat orang berdiam mengawasi gambar itu, ia
dapat menebak apa yang orang pikirkan. Maka ia lantas
menunjuk gambar itu dan berkata sambil tertawa: "Itulah
lukisannya almarhum guruku. Beliau tidak pandai
menggambar, tetapi entah kenapa ia toh melukiskan itu.
Sayang, sebelum selesai beliau membuat gambarnya, ia
keburu pulang ke langit Barat......"
Mendengar bahwa lukisan itu karyanya ketua Siauw Lim Sie
terdahulu, It Hiong tidak mau berkata apa-apa lagi, cuma
sembari tertawa ia berkata: "Bapak guru almarhum itu harus
dipuji. Walaupun tidak pandai menggambar, toh lukisan beliau
indah bentuknya."
"Guruku ini gemar menulis huruf tetapi tak suka melukis
gambar," kata Pek Cut tertawa, "Maka itu, walaupun gambar
belum selesai, lolap sengaja menggantungnya di sini selaku
tanda peringatan. Inilah gubuk tempat guruku menutup diri
dan memahamkan pelbagai kitab, bahkan guruku itu telah
memesan agar tanpa perintah, siapa pun dilarang lancang
datang dan masuk ke mari.
Di saat guruku mau menutup mata, baru ia pulang ke kuil
dan menghimpunkan para murid, selesai memberikan
pesannya, malamnya ia berpulang dengan tenang. Selesai
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menguruskan jenazah guruku itu, baru kami datang ke mari
untuk membenahi segala sesuatu sampai kami menemukan Lo
Han Touw ini. Lima tahun guruku tinggal menyendiri di sini,
cuma dua kali pernah beliau memanggilku untuk diberikan
khotbah. Murid-murid lainnya belum pernah ada yang datang
ke mari, maka juga tak diketahui kapan dimulainya pembuatan
gambar-gambar ini........"
Setelah itu pendeta itu mengajak It Hiong memasuki ruang
yang lainnya. Perlengkapan sama sederhananya: sebuah
pembaringan, sebuah meja serta empat buah kursi. Semua
kamar ada kursi mejanya. Maka itulah kamar yang cocok buat
It Hiong bersama Kiauw In dan Giok Peng.
"Bagaimana, sicu?" tanya Pek Cut tersenyum. "Cocokkah
ini?"
"Bagus, bagus sekali!" It Hiong menjawab dengan gembira.
"Terima kasih, bapak guru! Besok kami akan pindah ke mari!"
"Baiklah, sicu. Sebentar lolap akan memerintahkan orang
untuk membersihkannya."
"Tak usah banyak berabe, bapak. Biar kami yang
membersihkannya sendiri besok."
Selesai memeriksa gubuk itu, keduanya pulang. Pek Cut
lantas mengirimkan empat orang kacungnya pergi
membersihkan seluruh gubuk buat menyediakan ini dan itu
yang menjadi kebutuhan sehari-hari.
It Hiong sendiri pergi kepada ayah angkatnya untuk
memberitahukan hal didapatnya gubuk itu buat ia bersama
Kiauw In sekalian menumpang sementara waktu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Bagus!" seru sang ayah girang. "Untuk mempelajari ilmu
pedang memang baik kalian mendapati tempat yang terpencil
dan sunyi itu."
It Hiong puas.
Besoknya, diantar oleh Pek Cut sendiri, It Hiong mengajak
Kiauw In dan Giok Peng pindah ke gubuk itu. Kiauw In dan
Giok Peng memilih kamar sebelah kanan sebab yang kiri itu
bekas gurunya Pek Cut. Karena itu, It Hiong yang
menggunakan ruang yang terlebih besar itu, yang kamar
tidurnya sampai tiga buah.
Pilihannya si nona-nona memuaskan Pek Cut. Ia memang
kurang setuju kalau mereka memilih kamar bekas gurunya,
cuma tadinya ia tidak berani berkata apa-apa.
Seluruh gubuk telah dibersihkan, alat-alat telah tersediakan
lengkap, juga perabotan dapur dan lainnya.
Selesai mengantarkan, Pek Cut mengundurkan diri.
Selekasnya ia tidak ada, Kiauw In dan Giok Peng pergi ke
kamar tidurnya It Hiong, maka mereka segera melihat
gambar-gambar Lo Han Touw yang tidak lengkap itu. Mereka
pun tidak mengerti. Saking herannya, mereka pada
merapatkan alis mereka. Hanya karena saking lucunya, maka
juga mereka tertawa.
"Aneh lukisan para arhat ini," katanya. "Siapakah
pelukisnya?"
It Hiong tertawa. Ia mengasih keterangan bahwa itulah
karya ketua Siauw Lim Si terdahulu, yaitu gurunya Pek Cut
Siansu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Maka itu, kakak, di depan lain orang harap kalian jangan
sembarangan membicarakannya," pesan pemuda itu.
Kiauw In tertawa hambar.
"Eh, eh, apakah kau hendak menasehati aku?" tanyanya.
"Bagaimana, eh?" It Hiong membaliki. Ia pun tertawa,
"Memangnya aku omong salah?"
Kiauw In tidak menjawab. Kembali ia mengawasi gambar
lukisan itu.
"Gambar belum terlukis sempurna, tak sedap untuk
digantung di sini," katanya. "Baiklah, besok akan aku melukis
melengkapinya."
Nona Cio memang pandai melukis, bahkan ia pandai juga
memperbarui lukisan-lukisan lama. Hal itu It Hiong ketahui.
"Mana itu dapat dilakukan, kakak," katanya. "Orang
memajang lukisan ini selaku tanda peringatan kepada
almarhum gurunya. Kalau kau melukis melengkapinya,
tidakkah itu jadi bertentangan dengan maksudnya si
pemajang?"
Nona Cio tidak memperdulikan si anak muda, tetap ia
menatap lukisan arhat itu, lukisan yang belum rampung.
Nampak dia sangat tertarik hatinya sehingga sekian lama ia
menatap terus dengan membisu.
It Hiong dan Giok Peng mengawasi, keduanya merasa
sangat heran. Kenapa Kiauw In demikian tersengsem?
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Selang seperempat jam, baru Nona Cio bagaikan terasadar,
terus ia menggeleng-geleng kepala dan berkata-kata seorang
diri: "Aneh! Aneh! Mustahil lukisan macam begini masih belum
juga dapat diselesaikan sesudah menggunakan waktu
beberapa tahun?"
Giok Peng heran mendengar suara kakaknya, hingga ia
mengangkat alisnya.
"Kakak," katanya bagaikan menegur. "Apakah artinya katakata
ini? Kenapa kau mengoceh seorang diri saja? Kau
membuat orang heran!"
Kiauw In tengah menatap Lo Han Touw, lalu ia menoleh
kepada adik itu. Ia pun tertawa.
"Aku berkata-kata karena aku mengherankan gambar para
arhat ini!" sahutnya. "Pikirkan saja olehmu, adik! Lukisan
sudah diperbuat bertahun-tahun, kenapa masih ada arhat
yang belum rampung?"
Dua-dua It Hiong dan Giok Peng mengawasi tajam semua
arhat itu satu demi satu. Kali ini mereka mendapat kenyataan,
air baknya lukisan itu memang tidak sama. Ada yang sudah
lama sekali, ada yang belum terlalu lama, ada yang seperti
masih baru. Kenyataan itu terlihat pada warna hitamnya, ada
yang gelap dan kumal, ada yang masih terang. Pula yang
sukar untuk dibedakan lama dan barunya.
Jilid 2
Kiauw In mengawasi dua orang itu, yang perhatiannya
nampak tertarik, ia tertawa.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Dilihat sekilas, semua gambar ini tidak ada bedanya satu
dari lain, "ia berkata, "yang sebenarnya tidaklah demikian!
Coba perhatikan saja baknya. Menurut penglihatanku air bak
itu ada yang lama ada yang baru ada yang bedanya banyak
tahun dan bulan.
Tentu sekali perbedaan itu tak dapat dilihat oleh orang
bukan pelukis atau penulis. Menurut penglihatanku jika
mataku tidak keliru itu arhat yang separuh rebah dengan arhat
yang belum rampung itu perbedaan pembuatannya masih
berjarak sedikitnya lima tahun lamanya.
Air bak yang disebutkan Kiauw In ialah tinta tionghoa.
It Hong menjadi semakin heran "Aneh !" Serunya "sungguh
menarik hati. Kenapa orang membuat gambar arhat dengan
perbedaan banyak tahun?"
Giok Peng heran tetapi ia tertawa.
"Itulah mungkin disebabkan ketika pendeta tua itu melukis
gambarnya, ia menundanya sebab kebetulan ia lagi
memahamkan kitabnya atau kepalanya pusing.... Maka ia
mencoret sejadi jadinya dan menundanya pula, demikian
seterusnya... "
"Kau benar, adik Peng" berkata Nona Cio.
"Jelasnya Lukisan delapan belas arhat ini dilakukan bukan
terus menerus terutama itu yang belum rampung, jangka
waktu tertundanya sekali, mungkin sampai satu tahun lebih,
lihat perbedaan waktu air baknya itu."
Sampai disini It Hiong dan Giok Peng tidak mengatakan
apa-apa lagi, Cuma tinggal rasa herannya. Merekapun tidak
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
memperhatikan lebih jauh. Bahkan si pemuda terus minta
kakak In nya menjelaskan kepadanya perihal ilmu pedang
Thay Kek Liang Sam Cay Kiam itu.
"Ketika aku ditolongi guruku dari dalam jurang maut di
belakang Kim Hoa Kiong di Leang Lam itu" Ia berkata " Aku
langsung dibawa pulang ke Kun Hoa San dimana segera aku
dikeram didalam kamar obat duduk menghadap tembok
selama tiga tahun.
Sekeluarnya aku dari kamar obat itu terus aku diganggu
oleh pengacauan musuh-musuh yang tangguh hingga
kejadiannya tak ada kesempatan saat aku memeriksa kitab
ilmu pedang dan kakak berdua sebaliknya, kalian tentu telah
membaca habis dan sudah melatihnya juga. Maka itu sekarang
silakan menjelaskan kepadaku gerak geriknya pelbagai lukisan
itu, nanti besok barulah aku mulai diajari cara berlatihnya"
Kiauw In tertawa sebelumnya ia menjawab, "hebat kitab
ilmu pedang guru kita ini! Sangat banyak perubahannya yang
luar biasa hingga meskipun aku dan adik Peng telah diajari
oleh guru kita, aku masih belum paham seluruhnya. Kami
cuma mengerti tiga puluh enam jurus Cay Kek Kiam dan dua
puluh empat jurus Liang Gie Kiam dengan kedua ilmu pedang
itu mungkin kami dapat melayani musuh andiakata kami
dihadang.
Sulitnya ialah pelbagai perubahannya seperti yang aku
sebutkan. Mengenai Sam Cay Kiam yang terdiri hanya dari dua
belas jurus, sejuruspun kami tidak mengerti. Anehnya mulanya
kami memahamkan, kami menerka mestinya mudah saja,
walaupun gambarnya sederhana nampaknya. Siapa tahu
setelah kami mencoba melatihnya kami dihadapi kesulitan
makin lama makin sulit hingga sekarang ini sebenarnya kami
tak dapat mengerti satu jurus pun."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
----------------------------
Halaman 7/8 Hilang
----------------------------
Kiauw In dan Giok Peng merasa sangat tertarik hati, Nona
yang duluan tertawa. "Guru kita suka mengajari kau ilmu
tenaga dalam itu pasti ia melihat bahwa kau berbakat dan
telah memenuhi syaratnya semua." katanya, "sebenarnya juga
didalam halnya bakat kau menang dari kami berdua sedang
juga kau sudah pandai ilmu pedang Khie Bun
Patkwa Kiam, sehingga bagi kau pasti itu memudahkan
mempelajari Sam Cay Kiam. Kalau Liang Gie Kiam
membutuhkan juga sepasang pedang, tidak kemudian dengan
Sam Cay Kiam, Sam Cay Kiam bisa dipakai sendiri dan juga
bertiga berbareng, Tegasnya sebuah pedang dibantu dua yang
lainnya. Selagi ada guru kita, kami berdua dapat turut melatih
dengan baik asal tidak ada guru lantas kami lupa lagi, Maka
itu baiklah kita bekerja sama bertiga. Setelah menempur Beng
Leng , aku insyaf perihal banyaknya orang gagah lainnya, aku
percaya dengan pergi keluar lantas kita bakal melakukan
pertempuran hebat, sebab itu pasti bakal jadi pertempuran
paling dahsyat. Kalau kita menang, nama kita naik, sebaliknya
kalau kita kalah kita runtuh! Ah, entah berapa banyak korban
akan roboh dan darah bakal berhamburan ...."
Kiauw In berduka hingga tanpa merasa air matanya
meleleh keluar.
It Hiong menghela nafas.
"Dasar kakak sangat murah hati" ia memuji. Ia terharu buat
kemurnian dan kewelasan hatinya bakal istri itu." Kakak aku
berjanji akan memahamkan sungguh-sungguh ilmu pedang
guru kita ini, semoga Tuhan yang Maha Kuasa membantu aku
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
supaya kita berhasil melindungi keutuhannya kaum persilatan
dari Tionggoan, supaya ilmu silat kita tak punah pamornya."
Berkata begitu, anak muda ini terdiam. Diam-diam ia
memuji kepada gurunya dan memohon doa yang Maha Kuasa.
Kemudian ia berkata nyaring, "Biarlah Tio It Hiong tidak
menyia-nyiakan harapan suhu. Semoga ia nanti dapat
mengangkat nama baik Kim Hoa San!"
"Suhu" berarti bapak guru. Itu sebutan untuk seorang guru
kepada muridnya.
Dua-dua Kiauw Im dan Giok Peng menatap tunangannya
itu. Mereka mengawasi tajam wajah si anak muda yang ketika
itu selain tampan, tampak sangat bersemangat dan gagah!
Sedetik Tio It Hiong bagaikan telah menjalin rupa, wajahnya
membuat orang kagum dan menghormatinya.
Giok Peng mendekati Kiauw In untuk berbisik: "Kau lihat
kakak! Bagaimana bengis tampangnya adik Hiong! Dia
bagaikan hendak membunuh orang!"
Kiauw In berdiam. Ia cuma mengangguk.
Baru lewat sedetik lantas It Hiong sadar dengan sendirinya
bahwa ia telah memperlihatkan tampang yang beda daripada
biasanya.
Lantas ia tersenyum, maka segera lenyap juga tampang
bengisnya itu, hingga tampak tampan dan halus seperti
sediakala.
Kiauw In tetap menatap wajah orang, setelah itu ia cekal
tangan Giok Peng buat diajak keluar secara diam-diam.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong sudah lantas membeber kitab ilmu silat gurunya itu
" Thay kek Liang Gie Sam Cay Kiam. Ia menyaksikan gambar
dan berbagai catatan. Ia meneliti gambar-gambar itu dan
membaca. Berbeda dengan Nona Cio dan Pek, ia mudah
mengerti. Ini berkat kecerdasannya, karena ia telah paham
Hian Bun Sian Thian Khie Kang. Selagi memusatkan
perhatiannya, hilanglah segala pikiran lain dari otaknya.
Dengan sendirinya terbukalah pintu kecerdasannya.
Mulanya It Hiong memeriksa Thay kek Kiam dengan tiga
puluh enam jurusnya. Ia merasakan lihainya ilmu pedang itu,
yang dari tiga puluh enam jurus dapat berubah-ubah menjadi
tiga tikaman atau babatan lainnya. Diwaktu memikirkan
berbagai gerakan, ia memejamkan mata, ia memeta-metakan
dengan tangan dan kakinya, dengan gerakan tubuhnya.
Dibagian-bagian yang sulit, ia menunda, ia memikirkan lebih
jauh. Ya, ia bagai bersemadhi memikirkannya.
Paling akhir anak muda ini menutup rapat kitabnya. Ia pikir,
lebih baik dia beristirahat sebentar untuk membaca dan
memahamkan.
Tengah ia duduk berdiam itu mendadak ia merasakan
kepalanya pusing. Tanpa terasa, tubuhnya limbung ke kiri dan
ke kanan. Lekas ia mencoba menguasai diri, iapun menolak
daun jendela untuk memandang keluar rumah.
Malam itu gelap, ia mengira sudah jam permulaan. Maka
tahulah ia, ia baru menyelesaikan lima jurus, waktu yang
digunakan sudah empat atau lima jam. ia sampai tidak
merasakan bahwa lilin diatas mejanya telah ada yang
menyulutnya. Lalu ia berjalan keluar rumah. Masih terasa
kepalanya sedikit pusing. Ia mengira itu, disebabkan barusan
ia menggunakan otaknya secara berlebihan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong tidak merasa bahwa selama beberapa jam itu ia
seperti sudah menggunakan otak selama tiga hari dan tiga
malam. Ia mengangkat kepala, mendongak melihat langit.
Bintang-bintang bertaburan dilangit yang hitam. Sang angin
menderu dari pohon-pohon cemara. Ketika ia menoleh ke
kanan ia melihat sinar api keluar dari dalam rumah. Itu
pertanda bahwa bahwa Kiauw In dan Giok Peng masih belum
tidur.
Mungkin disebabkan hawa malam tiba-tiba anak muda ini
merasa lapar, sedangkan sebenarnya karena dipusatkan pada
pelajaran pedang tadi ia lupa segala apa, jangan kata makan,
minum air seteguk pun belum. Karena ini, ia lantas kembali ke
dalam.
Belum lama tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Ia
menoleh dengan cepat. Maka ia melihat munculnya nona-nona
itu yang berjalan dengan perlahan. Ia tersenyum kepada
mereka. Lalu ia berkata, "Tadi aku lupa mengatakan Pek Cut
Taysu untuk disediakan barang makanan, maka sekarang ini
mungkin kita bakal.."
Giok Peng tertawa memutuskan kata-kata orang.
"Bagaimana, eh ? "tegurnya. "Perutmu sudah lapar ?
Tengah malam begini mana ada barang hidangan ? Aku pikir
baiknya malam ini kita ikat perut biar kenyang..."
Kiauw In tersenyum, tetapi ia lantas berkata, "Beras,
tepung dan lain keperluan dapur semua telah disediakan. Pek
Cut Siansu telah mengirimkan orang membawanya kemari.
Nasipun sudah dimasak matang.
Bersama adik Peng tadi aku datang kemari, buat
mengundang kau makan, tetapi kami melihat kau sedang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tekun mempelajari ilmu pedang, kami tidak mau mengganggu.
Adik Peng yang menyalakan api. Habis itu, dengan diam-diam
kami keluar pula. Barang makanan untukmu telah kami
siapkan didalam kamar kami, kalau kau sudah lapar mari kau
pergi kesana ! Cuma kami mesti membuat kau melakukan
perjalanan..."
It Hiong tersenyum tanpa mengatakan sesuatu, ia turut
kedua tunangannya itu pergi kekamar kedua nona itu.
Kamar kedua nona itu telah dirawat baik sekali, hingga
beda dari semula tadi. Di atas mejapun mengepul asap yang
keluar dari barang makanan. Diatas pembaringan, Hauw Yan
sedang tidur dengan nyenyak. Sinar api lilin membuat kamar
tenang dan nyaman.
Habis memandangi seluruh ruangan, It Hiong tertawa.
"Bagus kakak!" ia memuji. "Kamar yang tadinya nampak
buruk sekarang berubah bagaikan baru dan menarik hati."
Kiauw In tertawa.
"Sudah jangan memuji saja!" tegurnya. "Hayo lekas kau
makan!"
Kembali si anak muda tersenyum; Ia menghampiri meja,
untuk mengangkat mangkuk kosong, guna diisikan nasi.
"Bagaimana pengamatanmu atas kitab suhu itu ?"
tanyanya. "Mudahkah kau mengerti ?"
It Hiong menjawab secara terus terang, "Mulanya beberapa
jurus, nampaknya tidak sukar hanya makin lama, makin
tambah jurusnya, mulai sulit pecahannya. Pelbagai jurus itu
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
seperti juga tidak ada hubungan satu dengan lain kakak,
rupanya perlu aku dengar pelbagai petunjuk kalian berdua....."
"Mengenai kesulitannya kau benar, adik" berkata Kiauw In,
"Tiga jurus yang pertama mudah dipelajarinya, mulai yang ke
empat, lantas lambat kemajuannya, benar bukan?"
It Hiong mengangguk "Tidak salah." sahutnya. "didalam
tiga- empat jam, aku cuma mengerti sampai jurus ketiga,
mulai jurus ke empat, aku rasanya jurus ketiga dan ke empat
tak ada hubungannya, bahkan seperti memudahkan lawan
memperoleh lowongan guna menyerang kita...." Nona Cio
menggeleng kepala, tetapi ia tertawa.
"Demikianlah kelihatannya. Kalau kau perhatikan jurusjurus
selanjutnya, hal tatkala demikian, tetapi setelah jurusjurus
selanjutnya, segera akan tampak kefaedahannya.Ketika
bermula aku berlatih bersama adik Peng, kami mengalami
kesulitan serupa seperti kau ialah kelambatannya, tetapi
setelah mengerti, kelambatan itu justru penting sekali!"
It Hiong tengah memegangi mangkuk nasinya ketika ia
mendengar perkataan si nona yang terakhir. Tiba-tiba saja ia
meletakkan mangkuknya itu." Aku mengerti sekarang !"
katanya separuh berseru " Kelambatan itu sengaja, guna
mementingkan lawan mendapat kesempatan menyerang,
setelah itu kita pakai jurus yang kelima, guna merubah,
demikian selanjutnya ya, kakak itulah itulah kelebihannya
Thay Kek Kiam dari Khia-bun Patkwa Kiam..."
Baru ia berkata begitu, mendadak anak muda ini menjerit.
"Ah, celaka" terus tubuhnya mencelat bangun, terus dia kabur
ke kamarnya sendiri !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kiauw In dan Giok Peng kaget. Mereka sangat heran.
Kenapakah pemuda itu ? Tak sempat saling bertanya, mereka
pun lari menyusul.
It Hiong kaget dan lari ke kamarnya sebab mendadak ia
ingat yang kitab gurunya telah ia lupakan, ia tinggalkan itu
menggeletak dimejanya. Tatkala kedua nona sampai di kamar
pemuda itu, mereka menjadi lebih heran pula.
It Hiong tampak lagi berdiri menjublak, matanya
mendorong ke satu arah ! Wajahnya menunjukkan dia
berduka atau putus asa.
"Kau kenapakah ?" tegur Giok Peng mendekati perlahan.
Nona ini, juga Kiauw In heran bukan main.
It Hiong tidak menjawab, hanya airmatanya meleleh keluar.
"Aku harus mati !" mendadak dia berseru sambil
membanting kaki.
Kiauw In yang cerdas dapat menerka duduknya hal, ia juga
kaget sekali, tetapi dapat berhari tenang, dapat ia menguasai
dirinya.
Dengan hati memukul, ia mendekati si anak muda, dan
ketika ia berbicara, suaranya lembut.
"Apakah bukan kau kehilangan kitab silat Thaykek Liang
Gia Sam Cay Kiam ?" demikian tanyanya prihatin.
"Ya" sahut si anak muda, suaranya hampir tak terdengar.
"Karena aku sangat lalai, karena aku tinggalkan diatas meja
ini."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tiba-tiba anak muda ini ingat senjata mustikanya. Segera ia
menoleh ke tembok.
Di sana Keng Hong Kiam tampak tergantung di tempatnya.
Masih bersangsi, It Hiong lompat mencelat ke tembok,
guna mengulur tangannya menurunkan pedang mustika itu
terus ia menghunusnya. Baru sekarang hatinya menjadi sedikit
lega. Itulah pedang yang tulen. Tadinya ia menyangka pedang
yang dipalsukan. Cahaya pedang itu menyinari seluruh ruang,
hawanya terasa dingin.
Sekonyong-konyong saja It Hiong mengibaskan pedangnya
itu menebas ke samping ! "Jika aku ketahui siapa pencurinya
kitab ilmu pedangku, akan aku bunuh dia dengan ujung
pedang ini !" demikian ia berkata nyaring dan sengit.
Belum berhenti kata-kata si anak muda atau mereka
bertiga mendengar tawa nyaring dan lama dari luar rumah
menyusul mana diantara sinar api lilin terlihat satu tubuh
berlompat masuk seperti melayang, atau segera ampak Pat
Pie Sin Kit di dalam rumah.
Hanya segera pengemis ini mendelong mengawasi It
Hiong.
"He, kau bikin apakah ?" tanyanya heran.
Tak dapat anak itu mendusta, ia menarik nafas panjang.
"Anakmu harus mati ayah" sahutnya perlahan. "Aku telah
membikin lenyap kitab pusaka pedang Thay Kek Liang Gia
Sam Cay Kiam karya guruku...."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Pat Pie Sin Kit kaget. Tetapi dasar jago tua, dapat ia segera
menetapkan hati.
"Bagaimana lenyapnya itu ? tanyanya cepat. "Lekas
terangkan padaku !"
Sambil menanya itu jago tua ini menoleh kesekitarnya.
It Hiong memasuki pedang ke dalam sarungnya. Kembali ia
menghela nafas. Habis itu baru ia memberikan keterangannya.
In Gwa Sian pun menghela nafas.
"Terang orang mencurinya justru kau sedang pergi
bersantap." katanya. "Menurut terkaanku si pencuri bukannya
orang yang baru tiba dan lantas ia mencurinya. Aku percaya
dia sudah lama berada di sini lalu dia mengintai kalian
menunggu ketika buat turun tangan. Nyatanya dia berhasil!"
Terkaan itu masuk diakal. Pula anehnya, kenapa cuma kitab
itu yang dicurinya ? Kenapa tak sekalian pedangnya ?
Kiauw In mengawasi It Hiong, ia terharu. Ia merasa
kasihan. Tapi ingin ia menghibur. Walaupun hatinya sendiri
berat ia paksakan bersenyum.
"Kitab suhu kitab luar biasa" kata ia, "maka itu walaupun si
pencuri lihai, tak nanti dia dapat mempelajari itu didalam
waktu yang singkat. Baik kau jangan terlalu bingung. Paling
benar kita mencarinya. Coba kita periksa kamar ini, ada atau
tidak sesuatu yang mencurigai.."
In Gwa Sian tertawa.
"Kau benar, anak !" pujinya. "Nah, mari kita lihat !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tanpa ayal lagi, berempat mereka memisah diri
menggeledah seluruh rumah gubuk.
Sembari memeriksa itu Kiauw In berpikir, "Kitab suhu ini
rampung belum lama, tak mungkin ada orang rimba persilatan
yang mengetahuinya bahkan aku percaya kecuali kita
berempat tak ada seorang lain juga yang tahu itu ! Si penjahat
mungkin telah mencuri dengar pembicaraan kita atau
kebetulan saja dia mendengarnya maka dia lantas
mencurinya. Dia sampai tak memikir membawa sekalian
pedang mustika. Orang itu dapat mencuri dengar pembicaraan
kita, dia pasti lihai sekali. Atau dia hanya orang yang kita tak
perhatikan...."
Oleh karena berpikir demikian. Nona Cio lantas menerkanerka
siapa pencuri itu. Ia sangat cerdas, lekas juga di depan
matanya seperti berbayang si pencuri kitab itu. Dia
menyangka pada seorang wanita muda yang cantik, yang
tingkahnya agak centil.
"Bukankah Giok Peng pernah menceritakan halnya Teng
Hiang mencuri kitab ilmu pedang?", pikirnya lebih jauh. Maka
lantas ia menerka kepada budak pelayan itu. "Bukankah
dianya si budak setan itu?"
Hanya sebentar pikiran nona itu berubah. Bukannya
kawanan bajingan telah kabur semuanya? Mungkinkah Teng
Hiang seorang diri berani berdiam lama di dekat-dekat Tiong
Gak ini. Kalau benar dia berada disini, pasti dia akan kepergok
para pendeta.
Karena kesangsiannya ini mengenai Teng Hiang. Kiaw In
berpikir lain! "Tak mungkinkah ini perbuatan salah seorang
pendeta dari Siauw Lim Sie?" Ia mengingat begini, karena
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
pernah terjadi beberapa orang seebie menyaksikan ia berdua
Giok Peng melatih diri dengan ilmu Thay kek dan Liang Gie
Kiam. Sebenarnya beberapa seebie itu bukan menyaksikan
hanya mencuri menonton. Ia tahu itu, ia membiarkan saja. Ia
anggap seorang seebie bisa apa. hanya sekarang, timbullah
kecurigaannya.
Sambil otaknya bekerja itu. Kiaw In terus membuat
penyelidikan. Ia sampai di luar rumah, di dalam halaman yang
ada pohon-pohonnya. Tiba-tiba sinar matanya bentrok dengan
satu benda putih di atas rumput yang ada di bawah sebuah
pohon cemara yang besar. segera ia lompat kepada benda
putih itu, yang ternyata adalah sehelai sapu tangan putih.
Lantas ia menjemputnya.
Walaupun malam, sapu tangan itu tampak cukup jelas.
Kiauw In membeber untuk memeriksa. Ia melihat sulaman
benang hijau yang merupakan dua ekor burung kecil. Tentu
sekali ia lantas mengenali itulah barangnya Giok Peng. Ia
menjadi heran tapi ia berpikir terus.
"Sungguh aneh!" demikian pikirnya. "Belum pernah adik
Peng berpisah dari aku kenapa sapu tangannya jatuh di sini?"
Berpikir demikian nona ini mencelat naik ke atas pohon
guna dari atas itu melihat kesekelilingnya. Tiba-tiba saja ia
mengerti!. Pohon itu menghadap kamarnya It Hiong, bahkan
karena bantuannya api, dari situ orang dapat melihat tegas ke
dalamnya, kepada kursi mejanya.
"Tidak salah lagi!" pikirnya, "pasti dia terus bersembunyi di
sini! Dari sini dia dapat mengawasi gerak gerik adik Hiong!
Pasti selekasnya dia melihat adik Hiong pergi, dia datang
menyatroni kemari, dia jalan memutari gubuk dan masuk ke
dalam, terus dia cari kitab pusaka itu. Dia dapat menghilang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dari sini dengan pertolongan pohon-pohon lebat. Dengan
bersembunyi di sini, siapakah dapat memergokinya?"
Hanya si nona masih memikir keras menerka-nerka siapa
pencuri itu. Ia tetap heran bahwa saputangannya Giok Peng
bisa berada di tempat terbuka itu. Tengah Kiauw In berpikir
keras itu, tiba-tiba ia mendengar suaranya In Gwa Sian :
"Kalau si pencuri bersembunyi di atas pohon cemara besar itu,
bukan saja dia dapat melihat jelas kepada gubuk dan bagian
dalamnya, dia sendiri dapat bersembunyi dengan aman, tak
nanti orang dapat melihat padanya."
Kiranya In Gwa Sian sampai di bawah pohon bersama-sama
It Hiong, Kiauw In tidak melihatnya karena ia sedang
mengawasi ke arah gubuk dan pikirannya lagi bekerja keras.
Habis mendengar suaranya sang paman guru, terus ia
melompat turun.
"Paman tak menerka keliru" katanya setelah melompat
turun itu guna membikin dua orang itu tidak menjadi kaget.
"Siapa bersembunyi di atas pohon ini, dia dapat melihat jelas
kamarnya adik Hiong, hingga diapun dapat mengawasi gerak
gerik orang.."
Hampir nona ini memberitahukan hal didapatnya
saputangan Giok Peng itu, ia membatalkannya ketika ia ingat
baiklah ia bersabar dahulu. Maka saputangan itu ia simpan di
dalam sakunya.
In Gwa Sian memandang nona Cio sejenak lantas ia
berkata: "habis pertempuran, kawanan bajingan itu telah pergi
mengangkat kaki sedangkan orang-orang Siauw Lim Sie tidak
nanti ada yang berani melakukan pencurian ini. Siapakah
pencuri itu? Sungguh sulit untuk menerkanya.."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tetap itu waktu, Giok Peng pun tiba. Maka berkumpullah
mereka berempat menjadi satu. Kiauw In mengawasi Nona
Pek.
"Adik, apakah mendapat sesuatu petunjuk?" tanyanya. Ia
tersenyum walaupun mereka tengah berduka.
Nona Pek menggelengkan kepala.
"Aku mencari dari jurusan utara itu, aku tidak memperoleh
sesuatu" sahutnya.
Senyumannya Kiauw In lenyap dalam sekejap. Ia ingin
menanya pula madunya itu, tetapi ia batalkan tiba-tiba.
Sebaliknya, ia menghela nafas perlahan. Seterusnya ia
bungkam.
In Gwa Sian penasaran, ia lompat naik ke atas pohon. Dari
situ ia memandang keliling. Lekas juga ia loncat turun lagi.
"Tidak salah lagi" katanya, "orang pasti bersembunyi di
atas pohon ini! Mari kita kembali ke rumah, untuk berbicara di
sana".
Dan jago tua ini mendahului membuka langkahnya. It
Hiong mengikuti, diturut oleh Kiauw In dan Giok Peng.
Tiba di rumah, mereka berkumpul di kamarnya si anak
muda.
Giok Peng lantas menuang air teh buat sang paman,
setelah itu ia duduk di sisinya Kiauw In.
Pat Pie Sin Kit menghirup teh itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Aku si pengemis tua belom pernah melihat kitab Thay Kek
Liang Gie Sam Cay Kiam itu" katanya.
"Tetapi aku merasa pasti itulah kitab ilmu pedang istimewa,
yang buat kaum rimba persilatan merupakan ilmu yang
langka. Ketika malam itu aku melihat kalian berlaga berdua
menempur Beng Leng Cinjin aku kagum sekali. Aku telah
menyaksikan gerak-gerik yang aneh dari pedang kalian. Jadi
itulah kitab pedang yang hilang?"
Kiauw In mengangguk membenarkan, tetapi ia
menambahkan : "Sebenarnya yang aku dan adik Peng
gunakan ada bahagian Liang Gie Kiam satu di antara tiga ilmu
pedang yang tersimpan di dalam kitab pusaka itu"
Im Gwa Sie berdiam agaknya dia berpikir: "Aku lihat ilmu
pedang itu lebih lihai dari pada Khia bun Pat Kwa Kiam ciptaan
terdahulu dari guru kalian si imam hidung kerbau itu"
Katanya. "Maka itu kalau kitab itu tidak dapat dicari pulang,
itu berbahaya sekali..."
Berkata begitu pengemis ini memejamkan matanya, alisnya
dan berkenyit. Nampaknya ia berpikir keras. Kali ini tidak
seperti biasa, ia tidak menyebut pula Tek Cio Siang jin sebagai
si imam hidung kerbau. Itulah kebiasaannya yang ia tidak bisa
buang, sedangkan terhadap imam-imam lain umpamanya It
Yap Tojin, ia biasa menyebut si imam campur aduk, imam
capcay...
It Hiong berdiam saja. Tak berani ia mengganggu jalan
pikiran ayah angkatnya itu. Kiauw In dan Giok Pek turut
berdiam pula.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lewat sehirupan teh, baru kelihatan Pat Pie Sin Kit
membuka matanya.
"Sekitar lima ratus lie dari Siauw Lim Sie ini ada orangorangnya
yang bertugas meronda" kata ia kemudian,
"Terutama diwaktu malam penjagaan keras sekali, maka itu
hal ini tak dapat tidak, perlu kita beritahukan kepada Pek Cut
Siansu supaya kita dapat minta dia memberitahukan muridmuridnya
menggeledah seluruh wilayahnya itu. Dengan begitu
kita akan peroleh mendusan."
Alisnya Kiauw In bergerak bangun.
"Pencuri kitab itu pastilah bukan sembarang orang"
katanya, "mestinya ia mengenal baik dengan wilayah ini, atau
paling sedikitnya dia tentu sudah membuat penyelidikan
sebelumnya dia melakukan pencuriannya ini, kalau tidak, tidak
nanti dia berhasil dengan cara demikian mudah, demikian juga
diwaktu berlalunya."
"Bagaimanakah ?" tanya In Gwa Sian heran. "Mungkinkah
kau mencurigai orang Siauw Lim Sie sendiri ?"
Nona Cio menggoyang kepala.
"Mulanya benar aku pernah menerka demikian" sahutnya,
"tetapi sekarang tidak..."
Kiauw In hendak menyebut juga halnya saputangan yang ia
ketemukan itu atau lagi-lagi ia membatalkannya. Ia pikir
saatnya belum tiba. Cuma kendati demikian, ia belum dapat
memikir sebabnya kesangsiannya itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
In Gwa Sian bermata sangat tajam, pengalamannya pun
luas sekali, maka itu ia lantas dapat melihat keragu-raguannya
nona. Ia hanya heran kenapa nona itu beragu-ragu.
"Hm, bocah !" katanya kemudian dingin. "Nyalimu sungguh
besar ya ! Kenapa terhadap aku si pengemis tua kan masih
main teka-teki ? Lekas kau bilang, kau sebenarnya ada
menemukan sesuatu apa ?" Sambil berkata demikian lalu Pat
Pie Sin Kit juga menatap tajam.
It Hiong dan Giok Peng heran, sendirinya mereka turut
mengawasi nona Cio. Kiauw In menjublak, inilah ia tidak
sangka. Habis itu ia duduk.
"Sebenarnya aku memikir" katanya kemudian perlahan,
"kalau toh pencurian dilakukan oleh orang dalam, itu bukan
perbuatannya salah seorang Tianglo diantaranya. Kalau orang
mencuri kitab, kenapa ia tidak sekalian mencuri pedangnya
adik Hiong ? Kenapa kitab melulu yang dibawa pergi? Laginya
tentang kitab ini, orang mengetahuinya hampir tak ada.
Menurut aku, inilah bukan pencurian secara kebetulan saja.
Orang juga mesti lihai ilmu ringan tubuhnya, kalau tidak, tidak
nanti dia lolos dari pandangan mata kita, apa pula adik Hiong,
tak mungkin dia kena dikelabui. Setelah memiliki Hian-bun
siang Thian Khie-kang, mata dan telinganya adik Hiong luar
biasa jeli dan tajam. Maka si pencuri mestinya bertubuh
sangat ringan dan lincah ! Siapa pandai lari diatas rumput dan
baru dia dapat memasuki gubuk kita. Sebab ini, aku tak dapat
mencurigai orang dalam."
Berbicaranya si nona beralasan. In Gwa Sian yang cerdik
turut mempercayainya. Hanya It Hiong yang mengerutkan
sepasang alisnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kakak" tanyanya, "kau pandai menerka, di dalam hal ini,
bagaimanakah pandanganmu ?"
Habis bersamadhi paling belakang, It Hiong mendapat
kenyataan Kiauw In cerdas luar biasa, si nona cerdik, bernyali
besar, hatinya mantap. Di dalam hal itu, ia dan Giok Peng
harus mengaku kalah.
Kiauw In bisa melihat bingungnya tunangan itu. Ia
berkasihan tetapi ia dapat berlaku sabar. Untuk menghibur, ia
berkata : "Kitab pedang suhu itu istimewa, sulit buat
dimengerti, taruh kata orang dapat dibawanya kabur, didalam
waktu beberapa bulan saja, tak nanti orang dapat
memahaminya. Sekarang ini baiklah kita jangan bingun, kita
harus berlaku sabar. Perlahan-lahan saja kita mencarinya..."
Ia pula jawaban tak langsung bagi In Gwa Sian, maka si
pengemis tua lantas mana menghela nafas, ia tak bertanya
terus. Hanya didalam hati ia merasa sangat tidak puas.
Bukankah ia seorang ternama dan sangat disegani ? Selama
beberapa puluh tahun belum pernah ia menemui lawan
setimpal, baru sesudahnya bertanding dengan Thian Cie Lojin
dari luar, pikirannya berubah sedikit tak lagi ia berkepala besar
seperti tadi-tadinya.
Sedangkan paling belakang pertempurannya dengan Hang
Sam Kiam Kek membuatnya mesti berpikir panjang-panjang.
Sekaranglah ia insyaf, kepandaian silat tak ada batas
habisnya, batas kesempurnaannya. Entah masih ada siapa lagi
orang lihai yang ia belum tahu. Tek Cio SIngjin sendiri
membuatnya kagum bukan main.
Selagi berpikir itu lantas ia ingat akan halnya wantu ia
mengantarkan Hing ke Kiu Hoa San supaya anak itu diterima
sebagai murid oleh Tek Cio, disaat itu si imam telah
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
memberikan ia nasehat untuk ia mengundurkan diri guna
hidup tenang dan damai. Hanya ketika itu nasihatnya si imam
diberikan secara samar-samar.
Mengandal kepandaiannya yang lihai dan menuruti
tabiatnya yang jujur tetapi keras mengingat kepada tugasnya
sebagai manusia yang harus menolong sesama manusia
mulanya, In Gwa Sian tidak memperdulikan nasehat Tek Cio
itu, tetapi sekarang terutama disebabkan hasil
pertempurannya dengan It Yap, ia mulai insyaf. Berbarengan
ia juga mau percaya mungkinlah Thaykek Liang Gia
Sam Cay Kiam telah diciptakan Tek Cio guna mengamankan
dunia persilatan guna membasmi atau menundukkan kawanan
bajingan dari luar lautan itu. Maka itu, bagaimana pentingnya
kitab silat itu dan bagaimana celakanya apabila kitab tak dapat
dicari dirampas kembali....
Hanya itu, sia-sia belaka mereka berpikir, kitab telah
lenyap, bahkan pencurinya masih belum ketahui siapa
adanya...
Jago tua itu duduk bersila sambil memejamkan matanya. Ia
berdiam saja. Giok Peng berdua It Hiong duduk berhadapan,
tampang mereka berduka, pikiran mereka kacau. Kiauw In
juga bingun walaupun diluarnya ia tampak tenang, inilah
karena ia mencoba menguasai diri. Ia memikir bagaimana ia
harus bertindak.
Maka itu, sunyilah kamar.
In Gwa Sian yang paling dahulu membuka matanya dan
berjingkrak bangun sudah lewat sekian lama.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kau benar anak In !" kata dia nyaring. "Memang
kehilangan kitab ini tak dapat diumumkan, sebaliknya kita
harus mencarinya secara diam-diam. Siauw Lim Sie
mempunyai aturan keras. Tetapi muridnya sangat banyak,
siapa tahu kalau diantaranya ada salah satu yang buruk !"
Berkata begitu, jago tua ini bertindak keluar, jalannya
perlahan. It Hiong bangkit, terus ia menyusul ayah angkat itu,
waktu ia sampai di pintu, sang ayah sudah menghilang, tak
ada bayangannya lagi. Rupanya sekeluar dari ambang pintu,
dia lantas menggunakan ilmu ringan tubuhnya.
Kiauw In berpaling kepada si anak muda, ia tersenyum.
Katanya perlahan : "Kitab sudah lenyap, percuma kita bingung
tidak karuan. Sekarang mari kita melegakan hati supaya kita
dapat tidur. Besok baru kita berunding pula. Dengan tubuh
dan pikiran segar, mungkin kita dapat memikir sesuatu..."
Berkata begitu nona itu menarik tangan Giok Peng buat
diajak ke kamar mereka.
It Hiong menengadah ke langit, ia menghela nafas. Tak
dapat ia berkata apa-apa. Toh ia menyesal dan mendongkol
sangat. Maka ia mengangkat kepalanya mengawasi langit.
Otaknya bekerja kera. Saking masgul, ia menghela nafas.
Ketika itu wajahnya muram dan suram. Di dalam hati ia kata :
"Berbulan begitu kita disimpan Kiauw In, kitab itu selamat tak
kurang suatu apa tetapi ditanganku belum satu malam, sudah
hilang lenyap dicuri orang !"
Sekembalinya ke kamar mereka, Kiau In menutup pintu. Ia
rupanya sudah memikir tetap sebab lantas ia mengeluarkan
sapu tangan putih yang ia dapat pungut itu sembari
mengibarkan itu di mukanya Giok Peng, ia tanya sambil
tertawa : "Adik Peng, adakah sapu tangan ini kepunyaanmu?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Giok Peng mengawasi sapu tangan itu. Dengan lantas ia
mengenalinya. Ia mengulur tangannya guna menyambutinya.
Ia tertawa dan kata, "Terima kasih kakak ! Aku gila sekali,
entah dimana aku hilangnya !"
Kiauw In menyerahkan saputangan itu tetapi ia menghela
nafas.
"Coba pikir dengan sabar adik, kapankah kiranya lenyapnya
saputanganmu ini ?" kata ia, sabar. "Di dalam satu atau dua
hari ini kau pernah memakainya tidak ?"
Ditanya begitu, hati Nona Pek tercekat. Maka ia lantas
meneliti saputangan itu. Ia merogoh sakunya dan
mengeluarkan sehelai saputangan yang serupa, yang ia awasi
juga. Berbareng dengan itu, otaknya bekerja.
"Kakak, dimanakah kau dapatkan ini ?" kemudian ia tanya,
agaknya ia heran. "Aku tidak ingat dimana pernah aku taruh
atau membuatnya lenyap. Mungkinkah saputanganku ini ada
sangkut pautnya dengan hilangnya kitab silat pedang itu ?"
Sebagai seorang yang cerdas, Nona Pek sudah lantas dapat
menerka. Memang lenyapnya saputangan itu gelap baginya
dan heran juga ia Kiauw In dapat menemukannya.
Kiauw In dapat bergurau. Ia tertawa. "Buat sekarang ini,
sukar untuk memastikannya." sahutnya.
"Hanya tempat dimana saputangan ini diketemukan olehku
sungguh mengherankan hingga itu dapat menimbulkan
kecurigaan. Adik, cobalah kau pikir secara seksama, mungkin
dari saputangan ini kau dapat menerka-nerka."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lantas Nona Cio memberitahukan dimana ia menemuinya
saputangan itu. Giok Peng memikir lama juga, akhirnya ia
menggeleng kepala.
"Sungguh tak aku ingat dimana dan kapan lenyapnya
saputanganku ini." katanya. "Ada kemungkinan jatuhnya
waktu kita pindah, yaitu dihalaman luar kuil."
Paras Kiauw In berubah, agaknya ia kaget.
"Kalau benar saputangan ini jatuhnya di halaman luar kuil,"
kata ia, "maka si pencuri kitab pedang tanpa disangsikan pula
mesti salah seorang pendeta disini ! Kalau dugaan ini benar,
tak sulit buat mencari pencuri itu ! Cukup asal kita minta
Paman In menyampaikannya kepada Pek Cut Siansu untuk
mohon Siansu memeriksa para kacungnya. Maka yang penting
sekarang ialah kepastian pikiranmu apa benar-benar
saputanganmu ini jatuh di halaman luar kuil."
Giok Peng berpikir pula. Keras ia menguras otaknya. Tibatiba
alisnya bangun berdiri dan parasnya pun menjadi merah.
"Apakah bukannya dia ?" dia berseru bertanya, giginya
dirapatkan keras satu dengan lainnya, suaranya sengit sekali.
Kiauw In sebaliknya. Dia tenang-tenang saja. Bahkan ia
dapat bersenyum.
"Kau maksudkan Gak Hong Kun, bukankah ?" tanyanya
sabar.
Giok Peng heran hingga ia melengak.
"Kakak, kakak..." katanya, "Kakak, cara bagaimana kau
dapat menerka bahwa aku maksudkan Gak Hong Kun?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tak sulit menerkanya, adik," sahut nona yang ditanya.
"Begitu aku menemukan saputangan ini lantas aku menduga
dia. Itulah sebab saputangan ini tersulamkan tanda atau
lambang semasa kau gemar merantau. Siapa tak
mengenalmu, tidak nanti ia menyimpan saputangan ini. Atau
sedikitnya orang yang telah melihat dan mengetahui tentang
dirimu. Bukankah Hong Kun sangat tergila-gila padamu dan
nampaknya dia tidak mau melepaskan kau ? Maka juga
mestinya dialah yang menyimpan saputangan ini, sampai dia
membuatnya hilang..."
Nona Cio menghela nafas, hingga kata-katanya itu jadi
terputus tetapi setelah itu ia meneruskan : "Hong Kun
menyebalkan tetapi cintanya terhadapmu tebal sekali, orang
yang cintanya demikian keras pantas juga dihargai...."
"Hmm !" Giok Peng memperdengarkan hinaannya. "Kakak,
manusia tak dapat dilihat dari macamnya saja ! Hong Kun
mirip seoarang sopan santun tetapi hatinya ngurak dan buruk
! Ketika itu hari dia memancing aku ke lembah di belakang
gunung mulanya dia bersikap sabar dan hormat, selewatnya
itu dia perlihatkan kebiadabannya! Dia berani mencoba
memeluk aku ! Rupanya disaat itulah dia telah sambar
saputangan ini. Selagi aku mendongkol dan gusar, wajarlah
kalau aku tidak perhatikan tangan jahatnya itu !"
Kiauw In tertawa pula.
"Tetapi bagus ia mencurinya !" katanya. "Kalau dia tidak
mencuri sapu tangan ini, mana dapat dia meninggalkannya ?
Pastilah kita tak dapat menerka dia...."
Giok Peng mengangguk.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Dalam hal ini, kakak kau benar juga." bilangnya. "Lagipula
lain orang tentu tak mempunyai keberanian dan kepandaian
untuk menyatroni gubuk kita ini sampai kita tidak
mengetahuinya..."
Nona Pek berdiam sejenak, otaknya bekerja.
"Hanya sulitnya..." tambahnya kemudian, "kemana kita
harus cari dia ? Dia tidak punya rumah tangga dan rumahnya
ialah empat penjuru lantas..."
Kiauw In tidak tertawa lagi, sekarang ia bicara secara
sungguh-sungguh.
"Ya, memang sulit juga, "katanya. "Selain dari itu, kitapun
belum memperoleh kepastian bahwa dialah si pencuri. Aku
pikir dugaan kita ini jangan dahulu diberitahukan kepada
Paman In dan adik Hiong. Paman In beradat keras, bisa-bisa
dia langsung pergi ke Hong San mencari It Yap Tojin bangsa
keras kepala, kalau ia menyangkal, dia bisa bentrok pula
dengan paman. Itulah berbahaya buat paman atau sedikitnya
keduanya bisa celaka bersama. Adik Hiong menang ilmu
silatnya, latihan tenaga dalamnya masih kurang, ia sukar
dipastikan tentang kalah menangnya. Disebelah itu kita pula
bakal menghadapi pertempuran mati hidup dengan pihakpihak
jago luar lautan, kita jadi harus mengumpulkan tenaga.
Maka itu saat ini bukan saat yang tepat untuk kita melakukan
pertempuran mati-matian. Masih ada satu hal lain.
Diumpamakan benar Gak Hong Kun yang mencuri kitab belum
pasti dia berani pulang ke gunungnya, malah mungkin sekali
dia pergi menyembunyikan diri disebuah bukit atau lembah
atau hutan guna dia hidup menyendiri untuk mempelajari
isinya kitab. Maka itu adik, buat sementara sukarlah kita
mencari kitab itu..."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Giok Peng berduka sekali, hingga sepasang alisnya rapat
satu dengan lain, paras mukanya kucal dan muram.
"Hanya kakak," katanya kemudian perlahan, "mustahil kita
lantas tak berdaya mencari kitab itu..."
Kiauw In juga menghela nafas.
"Sabar adik," dia membujuk dang menghiburi. "It Yap
bangsa dingin dan angkuh, inilah tentu dikenal baik oleh Hong
Kun, maka itu aku lebih percaya lagi yang Hong Kun tak akan
pulang ke gunungnya. Asal kitab tidak terjatuh ketangannya
imam itu, kita jangan berkuatir terlalu, kita jangan bingung.
Aku percaya dengan kepandaiannya itu, tak nanti Hong Kun
dapat pecahkan artinya setiap jurus dari kitab itu, apapula
dalam waktu yang pendek. Maka itu adik, bersabarlah. Kita
toh tidak dapat mencari kitab dengan menjelajah seluruh
negara ?"
"Habis bagaimana ?" Giok Peng masih mengotot. "Apakah
kita mesti duduk bertopang dagu sampai nanti orang datang
sendiri menggantinya ?"
"Benar adik. Biarlah dia nanti terjeblos di dalam jebakan
atau dia nanti membukakan palang sendiri ! Kalau kita pergi
mencari dia, itulah sulit. Hanya, buat menanti sampai dia suka
menghantarkan sendiri, kita harus mengandalkan kau, adik..."
Giok Peng heran hingga ia melengak.
"Apa ?" tegaskannya ia. "Daya apakah aku punya ?" Atau
mendadak ia melengak pula. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. Lantas
ia menambahkan : "Gak Hong Kun sangat licin, aku kuatir dia
tak akan makan umpan pancing..."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kita harus mengatur daya supaya dia tidak curiga apaapa"
kaa Nona Cio, yang mengasah otaknya. "Dalam hal ini,
kitapun terpaksa harus mendustai adik Hiong, agar ia tidak
tahu apa-apa, hingga kalau perlu ia bagaikan mendusta diluar
tahunya !"
Giok Peng mengawasi tajam.
"Daya apakah itu, kakak ?"
Kiauw In membalas menatap.
"Aku memikir untuk memakai kau sebagai umpan, adik"
katanya kemudian, "supaya Hong Kun menaruh kepercayaan
besar dan suka datang padamu. Hanya saja daya apa itu, aku
harus memikirkannya dahulu. Biar bagaimana, asal kau suka
berkorban sedikit, adik. Kau harus insyaf, inilah demi kitabnya
guru kita, jadi tak apa asal kau dapat bersabar dan menahan
malu..."
Nona Pek tertawa hambar.
"Jangan kuatir, kakak !" jawabnya tegas. "Untuk
mendapatkan pulang kitab itu aku bersedia melompat ke
dalam api berkobar-kobar sekali !"
Kiauw In tersenyum.
"Aku cuma memikir" katanya. "Tak akan aku membuat kau
menderita. Atau kalau kau pun menderita juga, itulah cuma
untuk batas waktu yang pendek. Kitab lenyap ditangannya
adik Hiong, apabila kemudian ini diketahui bahwa kau
menderita untuk mendapatkan pulang kitab itu, mungkin dia
akan merasa kasihan terhadapmu dan cintanya main
mendalam."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Giok Peng merasai mukanya panas. Pasti mukanya itu
merah sekali. Tapi ia lantas berkata, "Demiku, adik Hiong telah
menderita banyak, sedangkan kau kakak, kau memerlukan
aku sebagai adik kandungmu sendiri. Dilain pihak, budinya
guru kita besar bagaikan bukit. Maka itu jangan kata baru
menderita sedikit, biarpun tubuh ragaku hancur lebur, aku
rela. Aku bersedia berkorban jiwa ! Nah kakak, apakah
dayamu itu ? Kau bilanglah ! Kau perintahlah aku !"
Nona Cio menghela nafas perlahan, itulah pertanda bahwa
hatinya dirasakan berat.
"Ah, inilah cuma sebab aku membesarkan nyaliku" katanya.
"Karenanya aku memberanikan diri membuat kau menjadi
umpan pancing. Ini pula disebabkan aku ingat harga besar
dari kitab pedang itu. Bukankah itu karya guru kita yang
membuatnya dengan susah payah ? Bukankah juga kitab itu
bakal mengenai nasibnya kaum rimba persilatan seumumnya ?
Gak Hong Kun cerdas dan cerdik, kalau dia menyekap diri
dalam gunung atau lembah sunyi, paling lambat sepuluh
tahun pasti dia dapat pahamkan ilmu pedang itu. Syukur kalau
dia berbalik menjadi berbaik hati, jika sebaliknya celakalah
semua orang jujur sebab sekalipun adik Hiong sudah pandai
Hian boa sin Thian Khie-kang belum tentu dia dapat
mengalahkan Hong Kun. Kalau adik Hiong tidak sanggup,
siapa lagi yang dapat menggantikannya ?"
"Hong Kun menjemukan, tetapi aku lihat dia masih
mengenal perikemanusiaan" kata Giok Peng masgul. "Memang
dia sangat membenci aku dan adik Hiong, tetapi untuk dia
menjadi demikian jahat hingga dia mencelakai kaum rimba
persilatan seumumnya, mungkin tak nanti..."
Kiauw In tersenyum.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Gak Hong Kun itu" katanya, "jika tidak ada anggapannya
bahwa adik Hiong merampas kekasihnya hingga ia menjadi
sangat sakit hatinya, ada kemungkinan besar menjadi seorang
gagah yang berhati mulia. Dia berbakat baik dan cerdas,
gurunya pun lihai, mudah buatnya meningkat naik. Sayang dia
tidak cukup kuat hati buat menekan sakit hatinya itu. Ya
soalnya itu memang soal sulit dan kerenanya hatinya keras,
diapun sulit buat dikasih mengerti. Kita telah menjadi kakak
beradik. Aku pikir tidaklah halangannya apabila kita berbicara
secara terus terang. Sejak aku masih kecil sekali, rumah
tanggaku sudah mengalami bencana hebat. Ibuku menutup
mata siang-siang dan ayahku berasa ia gunanya kurang.
Sudah pergii mengucilkan diri. Syukur bagiku, aku dikasihhani
guru kita setelah sudi menerima padaku menumpang
padanya. Pay In Nia tinggi dan kecil, sangat jarang orang
mendakinya. Di sana aku hidup menyendiri, dalam kesunyian
dan ketenangan. Tempat itu cocok bagiku. Aku memang
gemar ketentraman. Karena keadaanku itu, aku telah bercitacita
mencari tempat mencil dan sunyi, guna membangun
sebuah gubuk di sana guna hidup menyendiri melewati
tanggal, hari, bulan dan tahun. Aku merasa hidup secara
demikian akan menyenangi hatiku. Siapa tahu aku justru telah
bertemu dengan adik Hiong ! Adalah itu jodoh atau hutang
lama yang harus dilunasi ? Selekasnya aku melihat ia, aku
jatuh Cinta padanya, demikian juga dia terhadapku. Dengan
demikian maka dia telah merusak atau menggagalkan citacitaku
itu. Sekalipun didalam mimpi aku senantiasa ingat
padanya. Demikianlah sampai terjadi itu pertempuran dahsyat
di Lek Tiok Po. Coba tidak ada paman In yang membantu dia,
mungkin tubuhku sudah lama terkubur didalam tanah. Dia
pula yang membuatku membabat angan-anganku buat
menjadi seorang suci, hingga sekarang aku hidup terombangambing
di dalam dunia yang ramai dan penuh bahaya ini,
guna membantu dia dari kekacauan besar, buat melindungi
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dan memajukan dunia rimba persilatan yang sejati. Demikian
hatiku yang tadinya tawar sekarang menjadi bergelora...."
Giok Peng menghela nafas berduka mendengar kakak itu
membuka rahasia hatinya.
"Dasar kakak berbakat, cerdas dan cerdik" ia memuji.
"Bukan seperti aku yang hatinya gelap. Aku lain daripada kau
kakak. Setelah itu hari aku melihat adik Hiong, lantas aku
menjadi bagaikan orang edan, aku selalu membayanginya,
seperti malam itu aku duel dia sampai dikuil tua, sampai aku
tertikam pada lenganku. Terang adik Hiong tidak menyinta
aku, aku sendiri yang terus tak dapat melupakan padanya.
Maka tibalah saatnya yang Teng Hiang si budak licin
menggunakan akalnya membuat adik Hiong lupa dengan
kesadarannya hingga malam itu terjadilah peristiwa yang
sangat menyesalkan di loteng Ciat Yan Lauw. Malam itu kakak,
sebenarnya aku sendiri sadar sesadarnya, tetapi entah kenapa
aku tidak dapat menolak keinginannya selagi dia tak sadar diri
itu...."
Giok Peng berhenti bicara dengan tiba-tiba mukanya
menjadi merah. Ingat peristiwa itu, ia malu sendirinya. Ia
menyesal. Itulah peristiwa yang membuatnya melahirkan
Hauw yan, anaknya yang manis itu.
Kiauw In tertawa. Nona ini tak lagi merasa jengah.
"Kita bukan manusia luar biasa, tetapi kita toh tidak tolol"
katanya. "Apa yang kita alami itu rupanya ialah yang
dinamakan takdir. Bicara tentang kita, kita pun harus bicara
perihal Gak Hong Kun. Aku seperti merasai bagaimana dia
menyesal, penasaran dan berduka...."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Demikian adalah hal, kakak. Cuma apa aku bisa bilang ?
Telah aku serahkan diriku pada adik Hiong, bahkan sekarang
aku telah mempunyai anak. Tak dapatkah Hong Kun
menyadari kedudukanku ? Kenapakah dia seperti juga belum
mau melepaskan diriku ?"
"Bicara dari hal kepantasan memang Hong Kun tak dapat
menganggu pula kau, adik. Hanya kita harus bicara dari lain
sudut. Hong Kun bukan seorang manusia biasa, maka itu pasti
tabiatnya juga luar biasa. Dia cerdas dan gagah, adatnya
tinggi, tak heran kalau dia selalu mau menang sendiri,
selayaknya itu kalau dia tak sudi mengalah terhadap siapa
juga. Orang semacam dia asal dia menghendaki sesuatu tak
mudah dia mundur sendirinya. Benarnya sebelum hilang
nyawa belum dia mau berhenti. Hong Kun tahu kau telah
mempunyai anak, dia toh tak meau melupaimu. Inilah soal
yang sulit. Maka bicara tentang dia, ada dua kemungkinannya,
sudut baik dan sudut buruk. Sudut baiknya itulah cintanya
terhadapmu cinta suci dan kekal abadi, tak dapat dia
melupaimu. Asal dia melihat kau, cintanya muncul. Sudut
buruknya ialah dia sangat membenci adik Hiong dan
karenanya berniat menuntut balas, guna memuasi sakit
hatinya itu. Buat apa baru dia puas kalau kau dan adik Hiong
sudah pecah belah atau bercelaka. Dalam hal ini dia harus
dibuat takut sebab pasti dia dapat melakukan segala apa asal
maksudnya dapat tercapai. Karena dia cerdik dia dapat
memikir segala apa, sekalipun akal yang paling buruk. Dia
dapat menjadi pendekar, dia juga dapat menjadi cabang atas
jahat. Karena dia manusia luar biasa, dia harus dipandang
tidak seperti manusia biasa. Maka itu sekarang bagi kita
pertama-tama kita harus dapat menjaga diri baik-baik dan
kedua supaya secepat mungkin kita bisa mendapati kembali
kita ilmu pedang kita itu !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Giok Peng berpikir keras, memikirkan kata-kata sang kakak.
Kiauw In bicara dari hal yang benar yang beralasan kuat.
Agaknya Nona Cio mengenal baik sifatnya Hong Kun. Maka hal
itu tidak dapat diabaikan.
"Kakak benar." katanya kemudian, mengangguk. "Benarlah,
biar bagaimana kitab itu harus dicari dan didapat pulang.
Bagaimana pikiran kakak ? Apakah kakak telah dapat
memikirkan sesuatu ? Coba tolong beritahu aku...."
"Aku telah memikirkan sesuatu hanya rasanya itu masih
kurang sempurna. Masih ada bagiannya yang harus teliti. Jadi
tak dapat aku pastikan pikiran itu dapat dilaksanakan atau
tidak. Kau setuju memberikan aku waktu satu hari lagi, bukan
?"
"Tentu kakak !" sahut Giok Peng tertawa, walaupun
tawanya hambar. Ia tidak menanya menanyakan lebih jauh.
Inilah karena ia telah kenal tabiatnya kakak itu.
Dengan satu kibasan tangan Kiauw In memadamkan
penerangan didalam kamarnya itu, maka juga habis itu
keduanya terus naik keatas pembaringan buat merebahkan
diri.
Sebelum pulas, masing-masing mereka itu berpikir sendirisendiri.
Kiauw In memikirkan bagaimana harus mengatur
keruwetan diantara Giok Peng dan It Hiong, serta bagaimana
caranya buat membikin Hong Kun mendengarnya dan nanti
suka datang memakan pancing. Dan Giok Peng memikirkan
apa tipunya Kiauw In itu yang mau membuatnya menjadi
sebagai umpan agar Hong Kun datang membantu, serta
bagaimana andiakata tipu itu, tipu belaka hasil menjadi
kebenaran atau kenyataan ? Dan ia sendiri, bagaimana nanti
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
jadinya ? Apakah kelak dikemudian hari tak nanti orang Sungai
Telaga menertawakannya ?
Jilid 3
Hebat bekerjanya pikiran kedua nona itu, sampai fajar tiba
tak ada diantaranya yang dapat memejamkan mata dan tidur
pulas.
Adalah Houw Yan yang tidur nyenyak telah membuka
matanya. Kapan ia mengawasi ibunya, ia tersenyum. Ialah
bocah yang belum tahu apa-apa...
Kiauw In yang lebih dahulu lompat turun dari pembaringan,
ia bertindak menghampiri Giok Peng hingga bisa melihat Nona
Pek sedang rebah mendelong saja. Lantas ia tertawa
perlahan. Segera ia mendekati telinga orang untuk berkata
perlahan juga "Sang surya sudah naik tinggi !"
"Oh !" seru Giok Peng perlahan, terkejut lantas ia turun dari
pembaringannya. Ia masih pepat pikirannya tetapi bisa ia
tersenyum. Lekas-lekas ia menyisir rambutnya dan mencuci
muka, untuk terus pergi ke dapur.
Kiauw In mengempa Hauw Yan, sembari tertawa ia kata
pada ibu si anak : "Aku duga tadi malam dia pun sukar tidur
nyenyak, maka itu naik kau lekas, panggil dia masuk untuk
sarapan pagi !"
Giok Peng tersenyum, dengan sabar dia bertindak ke
kamarnya It Hiong.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Pagi itu indah. sisa embun bergemerlapan diantara sinar
matahari. Sang angin bersiur membawakan harumnya bunga,
buah dan rumput. Gubuk pun sangat tenang dan damai.
Selekasnya Giok Peng melihat pintu kamarnya It Hiong, ia
terperanjat. Kedua daun pintu terbuka separoh, maka dia
mengernyitkan kedua belah alisnya yang lentik dan berkata
didalam hati : "Ah, dia lalai sekali. Kenapa dia tidur tanpa
mengunci pintu ? " Ia berjalan terus, ia berpikir pula :"Kalau
toh dia sudah bangun, seharusnya dia menengok kakak In,
aku dan Houw Yan...."
Dilain saat, si nona sudah berada di dalam kamar. Kali ini ia
terperanjat saking heran bercampur kaget. Ia melihat
pembaringan kosong, tetapi pembaringan itu rapi. Sisa api
sudah padam. Ketika ia berpaling ke dinding disitu tak tampak
Kong Hong Kiam, pedang yang mengagetkan Bianglala.
Tanpa terasa Nona Pek berlompatan ke pembaringan,
maka disitu ia melihat sehelai kertas yang ada tulisannya yang
tertindih bantal kepala. Segera ia membaca :
"Kakak In dan kakak Peng yang baik ! Kitab pedang karya
guru kita bukan cuma lihai tetapi juga menyangkut soal
kehidupan kaum rimba persilatan seumumnya, tetapi diluar
tahuku telah aku membuatnya Bielang hatiku dengan
sendirinya menjadi tidak tenang. Lebih-lebih karena janji
pertemuan di Tiong Gok telah mendekati, tinggal lebih kurang
waktu dua bulan. Maka itu didalam waktu singkat ini, hendak
aku berbuat semampuku mencari dan mendapatkannya
pulang. Aku hendak mencarinya walaupun aku tahu
harapannya sangat tipis. Hatiku lega sesudah aku berdaya
semampuku. Lain tahun pada tanggal lima belas bulan
pertama pasti aku akan berada di Tiong Gok.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kakak berdua, seharusnya aku menemui kalian guna
memberitahukan maksud hatiku ini tetapi karena aku kuatir
kalian mencegah terpaksa aku ambil ini jalan, pergi tanpa
pamitan lagi.”
"It Hiong"
Masih sekian lama Giok Peng berdiri menjublak mengawasi
suratnya si adik Hiong itu, selekasnya dia sadar, dia lari
kepada Kiauw In.
Nona Cio heran melihat orang datang sambil berlari-lari dan
mukanya pucat. Ia melompat bangun.
"Bukankah adik Hiong sudah pergi ?" tanyanya. Itulah
terkaannya yang paling dahulu.
Giok Peng mengangguk.
"Benar," sahutnya sambil ia mengangsurkan suratnya It
Hiong. "Inilah suratnya, silahkan kakak baca !"
Kiauw In menyambuti surat itu dan membacanya dengan
cepat.
"Dia tak dapat melenyapkan sifat kekanak-kanakannya,"
kata Nona Cio kemudian. "Dia toh tak punya endusan sama
sekali ! Habis, kemana dia mau pergi mencari ?"
"Bagaimana sekarang ?" tanya Giok Peng, pikiran kacau
disebabkan kekuatirannya bagi It Hiong.
"Perlu atau tidak kita memberitahukan Paman In ? Kita
dapat minta paman memohonkan bantuannya kedua Siauw
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lim Sie supaya kedua itu mengirimkan murid-muridnya
mencari keperbagai penjuru...."
Kiauw In menggelengkan kepala. Ia menghela napas.
"Adik Hiong pergi sejak tadi malam, dia tentu telah melalui
perjalanan seratus lie atau lebih" katanya. "Jangan kata kita
dapat menyusulnya, taruh kata dia tersusul belum tentu dia
mau diajak pulang. Kecuali kalau paman In sendiri
menyandaknya...."
Giok Peng berdiam matanya menatap sang kakak, siapa
sebaliknya memandang ke arahnya hingga mereka saling
mengawasi.
"Habis apakah kita membiarkan saja dia pergi ?" kemudian
Nona Pek bertanya berduka tetap tak tenang.
Kiauw In tertawa walaupun nadanya berduka.
"Apakah dayanya untuk tak membiarkannya pergi ?" ia
balik bertanya. "Hanya dengan kepergiannya, bukan saja ia
sulit baginya untuk mendapatkan pulang kitab itu, ia juga
merusak rencana yang hendak kita atur. Tidak ada jalan lain
daripada kita bersabar menanti sampai lain tahun, sampai
pertempuran di gunung Tiong Gak itu...."
Giok Peng berdiam. Ia menyambuti pulang suratnya It
Hiong. Kemudian ia mengempo anaknya untuk terus duduk
menghadapi Kiauw In. Di depannya sudah sedia satu meja
barang santapan guna santapan pagi, tetapi tidak ada satu
diantaranya yang tertelan mengisi perutnya.
Cuma It Hiong yang mereka pikirkan dan kuatirkan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sang waktu berjalan cepat, sang tengah hari tiba dengan
segera. Ketika itu Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian kembali ke
rumah gubuk. Kedua nona telah mengambil keputusan tidak
berani mereka menyembunyikan kepergiannya It Hiong itu.
Maka mereka lantas memberitahukannya.
Si pengemis menepuk meja.
"Anak itu sangat sembrono !" katanya keras. "Nanti aku
pergi susul dia !"
"Adik Hiong telah pergi sejak tadi malam, paman." Kiauw In
mengasi tahu. "Mana dapat paman menyusulnya ? Lagipula
paman tidak tahu akan tujuannya."
In Gwa Sian diam untuk berpikir.
"Benar juga." katanya kemudian. "Aku si pengemis tua
hendak membantui Pek Cut Siansu menyambut para
undangan. Walaupun waktu yang ditetapkan ialah tanggal
limabelas bulan pertama, ada kemungkinan dalam beberapa
hari ini akan sudah datang sejumlah tamu-tamu, ialah mereka
yang formasi tempatnya paling dekat dengan Siauw Lim Sie.
Mereka itu rata-rata kawan atau sahabatnya Pek Cat tetapi
diantaranya pasti juga ada sahabat-sahabat kekalku
sedangkan mereka semua pada mempunyai adat atau tabiat
atau kebiasaan yang luar biasa, yang angkuh dan dingin
hingga sulitlah untuk menyambut dan melayaninya jika terjadi
salah bicara sedikit saja, bisa-bisa mereka nanti angkat kaki
pula. Karenanya, tak dapat aku pergi dari sini."
Dia jagi tua ini menghela napas. Ia mendongkol berbareng
berduka. Hanya sejenak ia menambahkan : "Beberapa orang
sahabatku itu adalah orang-orang yang sudah sekian lama
mencuci tangan yang telah mengundurkan diri, hingga ada
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kemungkinan orang -orang muda sekarang ini cuma beberapa
orang saja yang kenal atau ketahui asal usul mereka itu. Sejak
malam itu aku menempur Toian Cie Loid si kepala bajingan
itu, aku memperoleh kenyataan bahwa segerombolan setan
cilik itu sesungguhnya tak dapat dipandang ringan.
Demikianlah, tak dapat tidak, perlu aku mengundang kawankawanku
itu !"
"Siapakah para tetua itu, paman ?" Kiauw In tanya. "Entah
pernah anakda mendengeranya dari guruku atau tidak..."
Ditanya begitu, In Gwa Sian tertawa terbahak-bahak. Dia
girang sekali.
"Orang-orang undanganku itu sangat jarang bergaulan
dengan gurumu si hidung kerbau itu !" sahutnya gembira. Tak
pernah dia lupa menyebut nyalu : "sihidung kerbau." Kalau
lain oarng menyebutnya itulah ejekan untuk kaum imam (tosu
atau Tojin), tetapi buat ia, itulah caranya bergurau. Dia
sendiri-sendiri selalu menyebut dirinya si pengemis tua, atau si
bangkotan pemabukan. "Karena itu tidaklah heran jika dia
belum pernah atau tak pernah di depanmu. Dimata gurumu
itu, sahabat-sahabatku terhitung sebagai orang-orang malang
ditengah, jahat bukan, lurus bukan, sebab mereka tak suak
memikir mendalam siapa salah siapa benar, mereka mudah
bergirang, tapi juga gampang marah. Setahuku selama hidup
mereka belum pernah mereka itu melakukan kejahatan besar,
ada juga sebagai macam kejahatan atau kekejian kecil. Kalau
gurumu si hidung kerbau malu bergaul dengan mereka maka
mereka itupun belum tentu sudi menaruh mata kepada
gurumu yang layaknya kaya dewa alim ! Ringkasnya mereka
keuda pihak mirip api dengan air yang saling tak sudi memberi
ampun...."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Paman" berkata si nona Cio, "ingin keponakanmu berbesar
hati menambah sedikit dari pandangan paman, ialah mengenai
guruku. Memang diluarnya guruku tampak pendiam dan alim
bagaikan dewa serta berwibawa juga, tetapi sebenarnya
guruku sangat luwes dan pemarah !...."
In Gwa Sian menggelengkan kepala dan tertawa.
"Tok Cio si hidung kerbau itu" katanya, "walaupun ia pandai
ilmu silat luar biasa tetapi yang membuat orang
menghormatinya adalah sifatnya yang putih bersih, yang tak
tamak akan nama besar dan kedudukan. Harus diakui, siapa
yang lihai ilmu silatnya dan merasa dirinya dapat menjagoi
kalangan rimba persilatan, kebanyakan mereka itu
memandang ringan pada nama besar dan kedudukan tinggi,
sebaliknya, hati mereka tawar. Dilain pihak lagi, ada orang
yanglihai semacam itu tetapi tokh tak dapat mengalahi niatnya
tetap berada diatas lain orang. Demikian dengan aku si
pengemis tua, kalau bukannya aku mendengar kabar halnya
Pek Cio Siangjin di Kiu Hoa san memiliki ilmu pedang yang
luar biasa istimewa, tidak nanti aku mendatangi Pay In Nia
untuk menantangnya bertanding..."
Pengemis itu berhenti sejenak, untuk menarik napas
perlahan-lahan melegakan dadanya
"Di masa itu aku si pengemis tua, aku istimewa sekali" ia
melanjuti. "Bicara sebenar, aku sangat tidak puas yang
gurumu disohorkan sebagai orang gagah luar biasa yang
nomor satu dalam dunia rimba persilatan maka itu aku telah
menempur dia sampai tiga hari dan tiga malam, diantara kita
tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang, sampai
akhirnya gurumu menunda gerakan pedang dan
menganjurkan aku untuk menghentikan pertarungan itu.
Kemudian barulah aku pikirkan tentang pertandingan itu,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
lantas aku insyaf bahwa setelah bertanding selama seratus
jurus aku telah kalah didalam satu jurus diantaranya. Ketika
itu setahuku, ilmu Hian-bun Sian Thian Khje kang dari gurumu
itu belum sempurna, begitupun belum sempurna ilmu
pedangnya Patkwa Kiu bun Kiam dan ilmu ringan tubuh
lompat tinggi Te In Ciong, loncatan Tangga Mega, tiga puluh
tahun telah berlalu siapa tahu selain semua ilmunya itu
sekarang diapun menciptakan ketiga ilmu pedangnya yang
digabung menjadi satu itu yaitu Thaykeka Liang Gie Kiam,
sedangkan aku, sebaliknya, aku bagaikan si nakan panah yang
telah diluncurkan..."
Kiau In berkuatir. Ia melihat diwaktu berkata terakhir itu
wajahnya si pengemis guram sekali, suata tanda bahwa dia
insyaf dan menyesal. Maka ia lekas-lekas berkata : "Paman,
kaum rimba persilatan menyebut paman sebagai Pat Pie Sin
Kit, bukankah julukan itu besar dan harum tak kalah daripada
namanya guruku ?"
In Gwa Sian tertawa hambar.
"Aku si pengemis tua, telah tua kau..." katanya masgul.
Mendadak dia berbangkit bangun terus bertindak keluar
dengan perlahan.
Kiauw In dan Giok Peng melengak. Belum pernah dia
melihat jago tua itu demikian berduka dan kelakuannya
demikian aneh. Maka mereka menerka bahwa perubahan itu
pastilah disebabkan selama tahun-tahun yang belakangan ini
hidupnya si pengemis aneh terlalu sunyi....
Kiauw In masih mau omong lebih banyak pula tetapi
karena sang paman guru sudah pergi keluar, terpaksa ia mesti
menunda, walaupun demikian, ia toh lantas berjalan
mengikutinya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Giok Peng dengan mengempo Kauw Yan mengintil di
belakang si kakak In.
Kedua nona itu berjalan tanpa suara, mereka mengikuti
paman itu sampai diluar gubuk sejauh seratus tombak lebih,
sampai disitu baru mereka berhenti.
In Gwa Sian berjalan terus dengan tak pernah ia menoleh
walaupun hanya satu kali. Nampaknya seperti ia tidak tahu
yang kedua keponakan murid itu telah mengantar keluar.
Terus Kiauw In dan Giok Peng mengawasi kepergian sang
paman yang berjalan terus dan baru menghilang disuatu
pengkolan gunung...
Tiba-tiba Nona Pek merasakan sesuatu, yang menggugah
hatinya, maka tanpa merasa airmata itu berjatuhan ke muka
anaknya...
Kiauw In mendapatkan serupa duka itu, matanya lantas
menjadi merah dan mengembangkan air, hanya dia memilih
dapat meneguhkan hatinya mencegah airmata itu mengucur
keluar...
Lantas juga kedua nona itu berdiri diam saja, yang satu
menepis air matanya, yang lain mencoba menguasai hati, buat
melegakan diri.
Giok Peng terasadar paling dahulu karena tiba-tiba saja
Hauw Yan memanggil : "Mama ! Mama !" Maka insaflan ia
atas keadaan mereka. Dari itu, lekas-lekas ia menarik
tangannya Kiauw In.
"Kakak, mari kita pulang !" ia mengajak .
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Ah.. !" Nona Cio mengeluh. "Sejak aku kenal paman In,
belum pernah aku melihat ia seduka barusan..." Lalu tanpa
mengatakan sesuatu lagi, ia memutar tubuh untuk pulang ke
gubuk mereka.
Giok Peng yang tadinya menarik tangan orang, berjalan
mengikuti di belakangnya.
Cepat lewatnya sang waktu. Sepuluh hari berlalu seperti
tanpa terasa. Selama itu In Gwa Sian belum pernah kembali.
Maka itu, untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, sambil
merawat Hauw Yan, kedua nona rajin berlatih guna
menyempurnakan ilmu pedangnya itu. Ilmu pedang itu perlu
dengan latik tak putus-putusnya untuk menjadi sempurna
betul-betul.
Sementara itu In Gwa Sian sebenarnya sedang repot luar
biasa hingga ia umpama kata tak dapat memecah dirinya.
Namanya Pek Cut Siansu dari Siauw Lim Sie sangat kesohor,
nama diapun tak kalah pamornya. Sekarang mereka berdua
membuat undangan umum. Undangan mereka itu membuat
mereka yang diundang menjadi memperoleh kehormatan
besar, hingga siapa yang menerima itu hatinya menjadi
girang. Benar seperti diduga si pengemis sahabat-sahabat
yang tempat kediamannya paling dekat dengan Siauw Lim Sie
telah datang siang-siang. Diantaranya haruslah disebut
seorang Sungan Telaga Kang Ouw yang dianggap luar biasa,
yang tinggal menyendiri bagaikan bersembunyi disuatu tempat
yang bernama Kim Kok Wan, taman lembah emas, di wilayah
kota Lok yong. Ia telah membuat seluruh rumah besar (cung
ie) yang pintunya senatiasa tertutup karena ia menampik
datanya tamu-tamu, bahkan kunjungan orang rimba
persilatan, Bu Lim ia tolak juga. Karena itu lama kelamaan,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
jadi jarang orang menjenguknya, hingga akhirnya ia dilupakan
kaun Kang Ouw dan Bu Lim.
Jago itu she Ngai bernama Eng Eng. Di masanya dia
malang melintang, namanya sangat tersohor. Orang segani
dia kerena dua rupa kepadiaannya, yaitu ilmu ringan tubuh
berlompat tinggi dan jauh, Kang Kang Tae Ciong Sat dan
senjata rahasianya yang dijulukinya Teratai Thio lian cie, yang
berjumlah seratus delapan biji. Pada empat puluh tahun yang
lalu, pernah dengan seorang diri dia menempur lima ketua
Kam Im dari Siauw Lim Sie, sebab ialah ia telah mencuri kitab
silat tangan kosong dan ilmu pedang Siauw Lim Sie yang
disimpan didalam Coang Kok Kok, lauwiang tempat
menyimpan kitab. Ia pun telah bertempur dengan Pek Cut
Siansu sendiri selama tiga ratus jurus tanpa ada yang kalah
atau menang. Ketika itu Pek Cut belum diangkat menjadi
ketua Siauw Lim Sie dan dia mempunyai seorang paman
seperguruan yang terlebih tua. Kapan paman itu melihat dia
tidak bisa merobohkan musuh, si paman turun tangan sendiri.
Dialah Ceng In Taysu, pendeta satu-satunya yang
kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada Pek Cut.
Sedangkan gurunya Pek Cut sendiri ialah Go In Taysu.
Tatkala itu usianya Ceng In sudah seratus tahun lebih,
selama hidupnya jarang dia tinggal menetap di Siauw Lim Sie.
Dia lebih gemar merantau. Selama tiga sampai lima tahun, tak
pernah ia pulang ke kuilnya. Hanya disaat Pek Cut bertempur
dengan Eng Eng kebetulan dia baru pulang. Menyaksikan Pek
Cut keteter, dia menyuruh si keponakan murid mundur, untuk
dia yang menggantikan melayaninya.
Sebenarnya selama tigaratus tahun, Ceng In adalah jago
Siauw Lim Sie satu-satunya. Go In sendiri masih kalah
dengannya. Hanya tabiatnya saja yang aneh, tak betah dia
tinggal didalam kuil. Benarlah, setelah dia maju belum
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tigapuluh jurus, Eng Eng sudah kena ditotok hingga tak
berdaya.
Pek Cut menyayangi Ngai Eng Eng, ia memintakan
keampunan, maka Eng Eng dibiarkan pergi setelah dia diberi
nasihat. Tapi Eng Eng ingat budi, disaat Peng Cut
mengantarkannya turun gunung, dikaki puncak Siauw li Hiong,
mereka berdua mengikat janji persahabatan. Sejak itu belum
pernah mereka bertemu pula, sampai selewatnya tiga tahu
Pek Cut diangkat menjadi hongthio atau ciang bunjin, ketua
Siauw Lim Sie, baru Eng Eng datang untuk memberi selamat.
Kedua sahabat bertemu dengan sangat gembira. Inilah
pertemuan sesudah belasan tahun mereka terpisah. Malam
itu, mereka berdua bicara asyik sekali. Eng Eng berkatai
hatinya, ia sudah bosan dengan dunia Kang Ouw dan ingin
hidup menyendiri di Kim Kok Wan, maka lain waktu ia minta
Pek Cut suka berkunjung ke rumahnya itu. Kata-katanya telah
dibuktikan. Demikia ia mencuci tangan dan membangun
rumahnya di Kim Kok Wan tiu. Bahkan ia sampai menampik
kunjungannya sahabat atau orang Bu Lim lainnya. Pek Cut
menyetujui dan meuji keputusan sahabat itu mengundurkan
diri, sebab memang benar dunia Kang Ouw sangat berbahaya.
Cuma satu malam sahabat itu beromong-onong,
selanjutnya mereka berpisah pula.
Selanjutnya, selama Eng Eng tinggal di Kim Kok Wan,
hubungan kedua sahabat bagaikan terputus. Tapi disini itu Pek
Cut merasa aneh, ia seperti mencurigai Eng Eng. Ia mendapat
perasaan sahabatnya itu menyimpan sesuatu rahasia entah
apa. Apakah perlunya rumah atau halaman demikian besar di
Kim Kok Wan itu ? Hanya itu pernah Pek Cut memikir
menanyakan keterangannya si sahabat tetapi selalu ia gagal
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
saja, ia ragu-ragu mulainya sukar dibuka. Dan Eng Eng selama
dia tidak ditanya dia pura-pura tidak tahu apa-apa.
Mulanya masih kedua sahabat suka berkunjung dengan
lain, tahun lewat tahun saling berkunjung itu berkurang
bahkan selama dua atau tiga tahun tak pernah sekali jua.
Hingga mereka seperti sudah saling melupakannya. Tapi
sekarang setelah Siauw Lim pay menghadapi ancaman
pertempuran mati hidupnya ini tiba-tiba Pek Cut ingat
sahabatnya lama itu dan segera mengirimkannya surat
undangan.
Terpisahnya kota Lok yang dengan Tiong Gak cuma kira
ratus lie, buat orang yang mengerti silat hal itu tidak dapat
menjadi alangan suatu apa orang dapat pergi pagi dan pulang
sore. Pek Cut mengirim utusan murid Siauw Lim Sie yang
terpilih maka suratnya tiba dalam satu hari.
Semenjak dilepasnya surat-surat undangan Siauw Lim Sie
menjadi repot membuat persiapan menyambut kawan dan
juga lawan, kamar-kamar disediakna penjagaan diseluruh
halaman kuil diperketat. Tak ada jalan yang tak dijaga.
Sementara itu marilah kita melihat dahulu kepada In Gwa
Siang sejak dia meninggalkan Kiauw In dan Giok Peng berdua.
Jago tua ini merasa hatinya sangat tidak tenang. Sudah hilang
kitab ilmu pedang walaupun itu bukan kitab karyanya sendiri
telah pergi pula anak angkatnya tanpa pamitan lagi. Terutama
ia berduka sekali. Seharusnya ia menuju ke barat, buat
kembali ke Siauw Lim Sie, lantaran pikirannya kusut itu ia
terasasar. Sesudah jalan kira tujuh lie baru ia ketahui bahwa ia
kesasar. Tentu sekali ia harus memutar tubuh buat kembali.
Tetapi itu waktu di depan ia, ia melihat dua pasang sepatu
mana berserakan diatas rumput. Segera timbul perasaannya
ingin tahu, maka dengan satu kali lompat sampailah ia pada
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
ke empat buah sepatu itu. Kali ini dia bukan lagi heran, hanya
heran bercampur kaget.
Diantara rumput itu tampak rebah dua tubuh pendeta yang
jelas nyata dari jubahnya warna abu-abu dan disisi kedua
mayat itu menggeletak masing-masing singathung, yaitu
tongkat panjang dan kay To golok mereka itu. Tetapi yang
paling hebat ialah kedua pendeta itu hilang kepalanya masingmasing
sebatas leher !
Tak usah disangsikan lagi bahwa kedua mayat itu ialah dua
orang pendeta yang ditugaskan menjaga jalan dan sebuah
jalan cagak.
Sebagai seorang jago, apapula jago tua In Gwa Siang cuma
kaget sebentar. Lantas dia sadar dan dapat menerka artinya
penemuan mayat-mayat itu,. ialah kedua pendeta itu roboh
sebagai korban-korbannya tangan-tangan jahatt. Tepatnya
musuh !
Segera Pat Pie Sin Kit menghampiri mayat-mayat itu, guna
meneliti terlebih jauh. Melihat dari darah yang tidak mengucur
banyak, tahulah dia bahwa kedua pendeta itu mulanya kena
tertotok jalan darahnya, lalu sedang mereka tak sadar, leher
mereka ditebas kutung-kutung. Dalam penasaran, ia meraba
dada orang. Maka ia menemui masih ada denyutan jantung
orang. Maka itulah bukti bahwa orang baru saja dibunuh !
Melihat formasinya tongkat dan golok, In Gwa Sian pun
mendapat kesan kedua senjata sengaja diletakkan disisi
mereka itu. Maka itu lantas otaknya bekerja : "Dia atau
mereka itu, pasti bukan sembarang orang. Tak mudah
merobohkan dua orang hingga orang tak berdaya dan
mayatnya dipindahkan ke tempat yang bala dengan rumput
tebal dan tinggi itu dan sepatu mereka bagaikan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dipertontonkan ! Kenapa kepala orang pun dikutungkan dan
dibawa pergi ? Untuk apakah ? Bukankah itu bukti bahwa
musuh berada atau bersembunyi disekitar sini guna
melakukan pembunuhan gelap terhadap para pendeta ? Atau
mungkin kalau yang jatuh bukan cuma kedua pendeta yang
malang nasibnya ini... "
Tengah pendeta ini berpikir begitu, tiba-tiba ia mendengar
suara berkeresek rumput di belakangnya, belum lagi ia
menoleh atau melirik, kupingnya lantas mendengar ini suara
yang rada parau : "Saudara, bukankah saudara ialah Pat Pie
Sin Kit In Gwa Sian yang namanya tersohor dalam dunia
Sungai Telaga ?"
Cepat bagaikan kilat, In Gwa Sian memutar tubuhnya. Ia
sudah lantas bersiap sedia. "Tidak salah !" sahutnya cepat.
"Ya, inilah si pengemis tua ! Dan kau, tuan yang terhormat,
siapakah kau ?"
Di depan pengemis ini, cuma sejarak bebeapa kaki, tampak
seseorang tua yang kumis janggutnya telah putih semua
bagaikan perak, tubuhnya jangkung kurus, karenanya
jubahnya panjang juga, sedangkan wajahnya menunjuki dia
berwibawa. Yang aneh ialah ditangan kirinya dia itu tertenteng
dua kepala orang yang terikat menjadi satu dengan rotan dan
tangan kanannya memegang sebatang tongkat yang terbuat
dari perunggu. Walaupun demikian dengan muka berseri-seri
dia lantas menjawab pertanyaan orang. "Aku yang rendah
ialah Ngay Eng Eng dan aku datang ke Tiong Gak ini karena
aku menerima undangannya pendeta Pek Cut serta kau kakak
In !"
Tingkatnya In Gwa Sian tingkat tinggi, jarang orang Bu Lim
rimba persilatan yang memanggilnya saudara, kakak atau
adik, maka itu, mendengar orang she Ngay ini memanggil ia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kakak, ia merasa tidak senang. Walaupun demikian ia tidak
mau menunjuk rasa tak puasnya itu. Orang toh berkatai ia
bahwa orang datang karena menerima undangannya. Tak
mau ia berlaku kurang hormat.
"Maaf aku kurang hormat" katanya sambil merangkap
kedua tangannya. "Kakak kau membawa-bawa kepala orang,
kepala siapakah itu ?"
In Gwa Sian sengaja menanya meski juga ia sudah melihat
tegas sekali dua kepala itu tiada rambutnya, jadi itulah
kepalanya dua orang pendeta, bahkan itulah kepalanya dua
orang murid Siauw Lim Sie yang tubuhnya baru ia ketemukan.
Ngay Eng Eng menghela napas.
"Aku menyesal yang aku datang terlambat satu tindak !"
katanya sengit "karena itu kedua bapak pendeta ini telah kena
orang bokong hingga mereka menerima kehilangannya secara
hebat dan menyedihkan ini."
Kedua matanya In Gwa Sian mengerluarkan sinar bengis.
"Dengan begitu kakak Ngay kau telah melihat sendiri si
orang jahat ?" tanyanya, "entah bagaimanakah macamnya
pembunuh itu ?"
"Mereka terdiri dari dua orang" sahut Eng Eng. "Tubuh
mereka kecil dan sangat gesit, telah aku susul ia sejauh
beberapa lie, aku tidak berhasil menyandaknya. Setelah aku
menyerang mereka berulang-ulang dengan teratai besiku,
barulah mereka meninggalkan dua kepala orang ini. Bicara
terus terang, aku menyesal dengan kegagalanku ini..."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
In Gwa Sian heran tapi belum sempat ia menanya pula, ia
melihat tibanya Liauw In Taysu bersama dua orang pendeta
tingkat tinggi dari Tatmo ih. Mereka itu datang sambil berlarilari.
Mulanya Liauw In melihat mayatnya kedua pendeta yang
rebah tak berjiwa dan tanpa kepala, baru ia mengawasi kepala
orang di tangan Ngay Eng Eng, tidak ayal lagi ia mengangkat
sebelah tangannya sambil memperdengarkan pujinya.
"Siacu" tanyanya kemudian kepada Eng Eng, "apakah
kedua kepala orang itu kepalanya murid-murid kami ini ?"
Pendeta itu sangat jarang berada didalam kuilnya karena
itu ia tidak kenal Ngay Eng Eng dan tidak tahu juga
persahabatannya orang she Ngay itu dengan ketuanya, karena
ini, melihat orang membawa-bawa kepalanya dua murid Siauw
Lim Sie, ada dirinya ia menjadi bercuriga.
Ditanya begitu rupa, Ngay Eng Eng tertawa hambar, ia
memangnya bertabiat dingin dan jumawa, pertanyaan itu
yang nadanya luar biasa, membuatnya tak puas. Ia seperti
dapat menerka bahwa orang mencurigainya. Tapi ia
menjawab sambil tertawa hambar : "Kecuali orang-orang
Siauw Lim Sie di Tiong Gak sini dimana ada pendeta-pendeta
lain ?"
Mendadak pendeta itu menjadi gusar, walaupun biasanya ia
sabar dan tenang. Inilah disebabkan hebatnya apa yang ia
lihat kedua orang muridnya rebah terkapar tanpa kepala dan
kepalanya justru terikat dan tercekal ditangan orang yang
tidak kenal, sedangkan orang itu bersikap angkuh. Tanpa pikir
panjang lagi ia mengangkat tongkatnya melintang dan dengan
murka, "Jika demikian, maka Siculah yang menjadi
pembunuhnya kedua murid kami ini."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ngay Eng Eng menengadah langit dan tertawa lebar. Kata
dia : "Membunuh orang dan berbuat jahat bukanlah urusan
yang terlalu berat, tak ada perlunya kalau orang menjadi
kaget dan menjadi banyak berisik karenanya !"
Liauw In juga tertawa dingin.
"Sicu berani membunuh orang, rupa-rupa sicu tak takut
untuk mengganti jiwa ?" tanyanya pula, tetap keras. Karena
habis sudah kesabarannya, ia tegas menggerakkan tongkatnya
untuk menerjang.
"Tahan !" berseru In Gwa Sian yang segera mencegah
gerakan tangan orang.
Liauw In melengak saking heran. Ia pun segera melihat
pengemis itu berlompat maju, menghadang di depannya.
Hanya sambil menghadang itu, In Gwa Sian terus berkata :
"Aku si pengemis tua sudah lama mendengar nama besar dari
kau, kakak Ngay, sayang tak dari siang-siang kita bertemu
satu dengan lain, hari ini kau melihatmu, benarlah kau
seorang gagah perkasa !"
Eng Eng tertawa bergelak.
"Pujian, hanya pujian !" katanya. "Nama kakaklah justru
yang besar dan telah menggemparkah seluruh Sungai Telaga !
Sudah lama aku mengkangeni nama kakak, beruntung sekali
hari ini kita dapat bertemu muka hingga dengan demikian
dapatlah aku penuhkan pun harapanku !" Ia diam sejenak
terus ia menambahkan : "Didalam dunia ini tak sedikit
peristiwa-peristiwa melepas budi dan penasaran dan semua
ada yang terjadi karena sang kebetulan, demikian dengan
taysu ini karena ia melihat aku memegangi kepala orang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kontan aku dituduh sebagai pembunuhnya ! Dalamhal ini biar
bagaimana aku menjelaskan rasanya sulit buat aku
membersihkan diri, susah buat melenyapkan salah mengerti
karenanya, karena urusan ada begini rupa, aku pikir terlebih
baik bagiku untuk tidak mengadu lidah !"
Habis mengucap itu jago tua itu berpaling untuk
mengawasi Liauw In dan mulutnya berulang kali mengawasi
dengan tawa dingin.
Liauw In membanting kaki. Dialah seorang sadar, maka
tiba-tiba saja dia insaf akan kekeliruannya. Maka itu lantas ia
sesalkan In Gwa Sian.
"Eh, pengemis bangkotan, kau jahat sekali. Hampir-hampir
kau membuat kau berbuat salah terhadap seorang sahabat !"
katanya sengit.
Si pengemis tersenyum.
"Kakak Ngay ini adalah tamu undangannya ketua Siauw
Lim Sie kama." katanya sabar. "Siapa suruh kau tidak
mengenalnya ?"
Liauw In menggerakkan tongkatnya dari atas ke bawah,
maka pancapnya tongkatnya itu kedalam tanah hingga
tanahnya muncrat, setelah mana dia merangkap tangannya
memberi hormat pada Eng Eng.
"Maaf, pinceng tidak mengenali kau sicu" katanya.
Eng Eng segera membalas hormat, ia melihat usia si
pendeta sudah lanjut, ia percaya pendeta itu jadi salah
seorang tertua dari Siau Lim Sie dan kedudukannya pasti tidak
rendah.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Akupun minta diberi maaf." katanya sambil tertawa.
"Lantaran malasku, sangat jarang aku berkunjung ke Siauw
Lim Sie, hingga kecuali ketua Pek Cut, bapak pendeta lainnya
sangat sedikit yang kukenal."
Kembali Liauw In membalas hormat dan berkata merendah,
sesudah mana ia menitahkan kedua kawannya membawa
pulang kedua mayat itu, supaya mereka itu segera
melaporkan kepada ketua-ketua mereka sekalian memohon
petunjuk.
"Sekarang mari kita melihat-lihat disekitar ini. " In Gwa Sian
mengajak.
Pemeriksaan itupun menjadi pemikirannya Liauw In, mka
itu berdua mereka lantas pergi berputaran, tetapi karena tidak
ada hasilnya terus mereka pulang ke Siauw Lim Sie. Baru
sampai dipintu gerbang, mereka sudah disambut Pek Cut
sendiri.
Bukan main girangnya kedua belah pihak, keduanya
tertawa riang.
Habis saling memberi hormat, Pek Cut berkata : "Kakak
Ngay sudah mengundurkan diri, seharusnya tak dapat aku
mengganggumu akan tetapi urusan luar biasa penting,
terpaksa aku mengirim surat juga kepadamu. Inilah sebab
kawanan bajingan luar lautan lihai semuanya tak dapat
mereka dihadapi oleh kaum rimbah persilatan seumumnya."
Eng Eng tertawa.
"Sudah beberapa puluh tahun kita bersahabat, selama itu
belum pernah kita saling minta bantuan, " kata ia, "sekarang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kau telah mengundang aku, aku sangat berterimakasih. Itulah
pertanda bahwa kau masih belum melupakan sahabat
lamamu. Karena itu juga begitu aku menerima suratmua,
begitu aku berangkat kemari, hanya sayang aku toh terlambat
satu tindak, aku tiba tanpa mampu menolong kedua muridmu
itu. Karena itu, sesungguhnya aku malu sekali...."
Parasnya Pek Cut berubah menjadi suaram dengan
mendadak. Ia menjadi sangat berduka.
"Itulah baru permulaan dari peristiwa-peristiwa hebat
menyedihkan." katanya menghela napas, "dan itu tidak
sampai disini saja ! Silahkan kalian masuk kedalam, nanti
kalian mendapat tahu, terutama kau, sahabatku."
Sepasang alisnya In Gwa Sian terbangun. Ia menerka pada
suatu kehebatan lain. Sebenarnya ia hendak meminta
keteranga, atau dapat ia mencegah membuka mulutnya. Maka
dengan membungkam ia turut bertindak masuk. Pek Cut
memimpin dan Ngay Eng Eng mengikuti.
Ketua Siauw Lim pay mengajak kedua teman lamanya
langsung ke Tatmoto. Ruang Bodhidarma, untuk memasuki
sebuah kamar sisi yang terbuat dari batu merah. Itulah
sebenarnya, kamar peranti berobat atau istirahatnya pendetapendeta
yang terluka disebabkan kecelakaan-kecelakaan
latihan. Baru mendekati tujuh atau delapan kaki dari kamar,
bertiga mereka sudah mendengar rintihan tak hentinya,
rintihan saling susul dari mereka yang tengah menderita. Itu
pula pertanda bahwa orang yang lagi menderita itu tak sedikit
jumlahnya....
Di muka pintu ada dua orang pendeta yang bertubuh tinggi
dan besar yang mengawal, selekasnya mereka melihat Pek
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Cut, lantas mereka memberi hormat kepada ketua itu, terus
lekas-lekas mereka membukakan pintu.
In Gwa Sian menjadi tidak sabaran, dialah yang
mendahului bertindak masuk, maka itu lantas ia melihat
delapan orang yang masing-masing rebah diatas pembaringan
kayu cemara, tubuh mereka itu dikeredongi selimut putih
hingga tak tampak lukanya masing-masing.
Pek Cut mengawasi si pengemis dan sahabatnya Eng Eng,
wajahnya suaram saking berduka.
"Selama beberapa ratus tahun, belum pernah Siauw Lim
Sie mengalami peristiwa hebat dan menyedihkan seperti kali
ini." kata suaranya sedih. "Sungguh tak kusangka, justru
dibawah pimpinanku bisa terjadi semua ini. Itulah bukti dari
pimpinanku yang tidak bijaksana karena aku tidak mempunyai
kemampuan hingga aku menyebabakan para murid ini
menderita. Kalau nanti aku beruntung dapat kembali dari
perjalanan kesarang bajingan luar lautan itu akan aku
mengundurkan diri dan mengambil keputusan guna aku
mengatur maaf kepada para leluhur dan partaian...."
Sementara itu In Gwa Sian heran. Ia tidak melihat tandatanda
darah pada kain keredong yang berwarna putih itu.
Maka ia kata didalam hati :" Rintihan mereka menyatakan
tentunya mereka terluka parah habis kenpa tak ada tanda
daranya barang setitik juga ?" Saking herannya, tapa merasa
sebelah tangannya diulur dipakai menyingkap kain kerebong
puting dari penderita yang terdekat dengannya.
Begitu ia melihat sang penderita begitu In Gwa Sian sendiri
melengak, matanya mendelong, mulutnya ternganga. Toh Pit
Pin Sin Kit menjadi pengemis konsen dan luas
pengalamannya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Pendeta yang lagi menderita itu memejamkan kedua belah
matanya, mukanya telah berubah menjadi biru pucat ! Itulah
yang menggetarkan hatinya si jago tua.
Pek Cut menyaksikan keadaannya sahabat pengemis itu, ia
menghela napas.
"Tadi aku menerima laporan, " berkata ia sabar,"katanya
dua orang kami yang berjaga-jaga diarah Barat daya, di jalan
genting yang penting, kedapatan roboh tak berdaya dan
merintih terus terusan, kelihatannya mereka seperti terkena
racun. Mulanya aku mengira mereka itu kurang berhati-hati
dan telah kena terpagut binatang beracun maka kau
memerintahkan pihak Tatmo Ih mengirim orang-orang buat
membantu mereka serta berbareng menempatkan dua orang
penggantinya. Baru aku memberikan perintah itu, lantas
datang lain-lain laporan yang serupa, bahwa orang-orang kami
roboh tak berdaya dengan tubuh bengkak dan mukanya pucat
pasi kehitam-hitaman. Kami tidak tahu apa yang
menyebabkan kecelakaan itu. Karena itu aku minta beberapa
Tianglo dari Tiam Ih serta adik Liauw In pergi melakukan
pemeriksaan guna mencari sipenyerang...."
Liauw In merapatkan kedua tangannya dan berkata :
"Panco sudah menerima titah itu dan telah pergi dengan
mengajak dua orang murid Tatmo Ih, tatkala kami tiba
ditempat jagaan sebelah selatan, kami mendapatkan bahwa
dua orang kita yang bertugas di sana sudah binasa
dibunuh...."
Pek Cut menarik napas.
"Bagaimanakah duduknya itu ?" tanya. Kemudian setelah
memperoleh jawaban, ia kata pada Eng Eng, "Kakak Ngay,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dapatkah kau mengira-ngira kedua orang musuh itu berasal
dari mana ?"
Ngay Eng Eng menggeleng kepala.
"Aku tidak kenal mereka itu, " sahutnya. "Aku cuma melihat
mereka itu bertubuh kecil dan gerak geriknya sangat gesit.
Muka merekapu ditutup dengan topeng. Jika aku tidak keliru
menerka, mestinya mereka itu orang-orang perempuan...."
"Apa ? Orang perempuan ?" tanya In Gwa Sian heran.
"Ya !" Eng Eng tetapkan. "Rasanya mataku tidak keliru
melihat ! Senjata mereka juga bukan senjata yang umumnya
dipakai bangsa pria !"
"Senjata apakah itu ?"
"Yang satu membekal pedang, hanya pedang itu jauh lebih
pendek daripada pedang yagn biasa, panjang kira-kira cuma
dua kaki. Yang lainnya menggunakan sepasang pisau belati
panjang kira-kira satu kaki. Pasti sudah mereka masuk
hitungan jago silat kelas tinggi, sebab mereka gesit dan lihai
dari ilmu ringan tubuhnya mahir sekali. Waktu aku memburu
kepada mereka, mereka sudah berhasil membinasakan kedua
orang kurbannya dan ketika aku mengejar, mereka kabur
tanpa dapat dicandak, hingga aku menggunakan senjata
rahasiaku, baru mereka meninggalkan dua kepala kurbannya
itu."
"Mulanya dua kali aku menghajar mereka dengan pukulan
Tangan Udara kosong. Aku percaya kepandaianku dalam ilmu
itu sudah enam bahagian sempurna, seranganku beras diatas
lima ratus kati, tetapi heran, mereka itu dapat menangkis
dengan baik. Entah mereka menggunakan tipu, entah kenapa,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
sehabis menyambuti dua kali seranganku itu, mereka memutar
tubuh dan kabur keras sekali hingga akhirnya mereka lolos...."
Berkata sampai disitu, jago tua ini berhenti sebentar. Ia
mengawasi bergantian kepada In Gwa Sian dan Pek Cut
Siansu. Kemudian ia menghela napas, rupanya untuk
melegakan hatinya yang pepat.
"Aku si tua, aku sangat bersyukur sudah mengundang aku,"
ia melanjuti kemudian. "Sebagaimana kalian ketahui, telah
beberapa puluh tahun sejak aku mengundurkan diri. Siapa
sangka kalian masih mengingatkan dan telah
mengundangnya. Terang kalian sangat menghargai aku. Tapi
aku menyesal sekali, dihadapanku, orang membuatku gagal
mencegah kecelakaan sampai ada orang-orang yang
bercelaka. Itulah hal yang membuatku malu hingga tak ada
tempat buat aku menaruh mukaku. Coba mereka itu berhasil
membawa pergi kepalanya kedua bapak pendeta itu, pasti tak
ada mukaku buat menemui kalian, tak dapat aku memasuki
kuil ini. Syukurlah aku mengerti ilmu lari cepat Delapan Tindak
Mengejar Tonggeret. Ilmu mana aku tidak sia-siakan selama
aku hidup mengasingkan diri. Sejauh dua tiga lie, masih aku
menjadi bingung sendiri. Ketika itu aku makin percaya mereka
bukanlah sembarangan orang. Diakhirinya terpaksa aku
serang mereka dengan biji Teratai besiku. Kalau ini aku tidak
gagal seluruhnya. Mereka itu terkena teratai besi, lantas
mereka melepaskan dua kepala korbannya, tetapi mereka
sendiri kabur terus dan lolos..."
"Saudara Ngay mengandalkan kepada pengetahuanmu
yang luas, tak dapatkah menerka-nerka mereka sebenarnya
dari golongan mana ?" Pek Cut tanya.
Eng Eng menggelengkan kepala.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tak dapat aku mengenali mereka sebab pertama-tama
kami tidak sampai bertempur dan kedua mereka mengenakan
topeng."
Tiba-tiba In Gwa Sian menyela : "Saudara Ngay, melihat
keterangan kau ini, mungkin mereka bukan asal Tionggoan,
mestinya mereka orang luar lautan juga. Sayang aku si tua,
aku datang terlambat satu tindak, jika tidak tentu aku akan
mencoba membekuk satu diantaranya, guna mengorek
keterangan perihal mereka !"
Sampai disitu, Liauw In pun campur bicara,
"Dalam pertempuran setengah bulan yang lalu" kata ia,
"walaupun pihak bajingan tidak memperoleh hasil, kita juga
bukannya mendapat kemenangan, karena itu, benarlah katakatanya
saudara In, kita harus ketahui jelas perihal mereka
itu. Setahuku, memang kita belum mendengar perihal dua
oarang pembunuh itu seperti yang dilakukan saudara Ngay."
"Mereka itu lihai, merekapun belum ketahuan siapa adanya,
itulah satu soal" berkata Pek Cut. "Soal lainnya ialah muridmurid
kami yang terluka ini. Tubuh mereka bengkak dan muka
mereka matang biru, tak tahu kami mereka terkena racun apa.
Sama sekali mereka tidak terluka. Bagaimanakah kita harus
menolong mereka itu ? Aku rasa ilmu pengobatan kami sulit
menolongnya, jika mereka terkena senjata rahasia biasanya
yang kecil dan halus seperti jarum, mesti ada tanda atau
bekas-bekasnya."
In Gwa Siang dan Ngay Eng Eng menundukkan kepala,
mencoba mencium-cium ke dekat tubuh para korban itu.
Mereka tidak mendapat hasil apa-apa. Bau yang mereka
dapati cuma bau baCin seperti biasa, baunya luka yang umum.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Toh merekalah orang-orang tua, orang-orang Kang Ouw
kawakan. Maka mereka jadi diam.
Lewat sekian lama, In Gwa Sian menghela napas.
"Seumur aku hidup di dalam Sungai Telaga," kata ia,
"segala macam senjata rahasia hampir aku kenal semuanya,
bahkan senjata rahasia hebat dari beberapa jago, aku ketahui
dengan baik sekali. Ada senjata rahasia beracun yang aku
belum tahu, toh pernah aku mendengarnya."
"Menurut aku, para bapak pendeta ini pasti bukan
disebabkan senjata rahasia" kata Eng Eng. "Aku percaya
mereka dilukai oleh suatu pukulan tangan rahasia yang
beracun. Dalam hal ilmu pukulan ini aku tahu tentang Yan Tio
Siang Can serta Kim Lam It Tok. Kecuali mereka itu bertiga,
aku rasa sukar mencari orang pandai semacam mereka yang
ke empat."
Jago tua itu menyebut tiga orang ahli menggunakan
pukulan beracun itu. Yang Tio Siang yaitu "Sepasang malaikat
kejam dari Yan Tio" (Honak dan Lhoasay) dan Kim Lam It Tok
yakni si "Tunggal Beracun dari Kwio ciu Selatan".
In Gwa Sian menggeleng-geleng kepala.
"Kalau Yan Tio Siang Can, itulah rasanya tak mungkin" kata
dia. "Denganku si pengemis tua, kami mempunyai pergaulan
tawar tidak tawar, rapat tidak rapat, dan berhubung dengan
kepergian kita keluar lintas ini, aku telah bersedia-sedia
mengirim undangan mengharap bantuannya. Mengenai Kim
Lam It Tok, aku cuma pernah dengar namanya, bahwa gerak
geriknya sangat terahasia, hingga hampir tak ada orang Kang
Ouw yang ketahui tindak tanduknya. Pernah aku pergi ke Kwi
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
ciu mencarinya tetapi aku gagal menemuinya. Aku sangsi
kalau inilah hasil perbuatannya....."
Eng Eng tertawa.
"Sebenarnya setiap rekan rimba persilatan mengetahui
perihal Kim Lam It Tok," kta ia, "cuma benar, melainkan
beberapa orang saja yang pernah bertemu muka dengannya.
Aku mempunyai peruntungan baik, pernah satu kali aku
melihatnya."
In Gwa Sian menarik nafas dalam-dalam.
"Kim Lam It Tok terkenal diseluruh negara, tetapi tak ada
orang yang tahu she dan namanya yang benar." katanya pula,
"orang cuma mendengar gelarannya tetapi belum pernah
melihat sendiri orangnya, maka itu saudara, kalau kau pernah
bertemu dengannya dapatkah kau melukiskan tentang
wajahnya, tubuh dan usianya ? Semoga kalau dilain ketika aku
melihat dia, dapat aku mengenalinya. Hendak aku si pengemis
tua berkenalan dengan dia."
Eng Eng tersenyum.
"Dialah seorang biasa saja, tidak ada ciri-cirinya yang luar
biasa atau berlainan dari orang kebanyakan." sahutnya.
"Tentang usianya dia seimbang dengan usiaku."
Selama dua orang itu bicara, Pek Cut dan Liauw In berdiam
saja. Sebenarnya mereka kurang setuju orang bicara melulu
tetapi mereka malu hati untuk melarangnya, karenanya
terpaksa mereka tunduk mendengarkan dengan hati mereka
risau tidak karuan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kebetulan Pat Pie Sin Kit mendapat lihat kedua pendeta itu,
tahulah ia apa sebabnya orang berdiam dengan tampang
berduka itu.
"Aku mendapat satu pikiran." katanya kemudian. "Kedua
muridnya Tek Cio si hidung kerbau mempunyai obat hosinouw,
entah obat itu dapat dipakai menolong membasmi racun
atau tidak..."
Sebelum Pek Cut menjawab, Eng Eng sudah
mendahuluinya.
"Obat itu tersohor mujarab, boleh sekali kita mencobanya,"
kata jago tua itu. "Dengan adanya obat itu, hendak aku
mencoba membuat obat pemusnah racun itu."
"Jadinya kau mengerti ilmu pengobatan, saudara Ngay ?"
In Gwa Sian tegaskan.
Eng Eng tertawa.
"Bersama Kim Lam It Tok pernah aku tinggal buat suatu
waktu" ia menjawab memberikan keteranga. "Dia baik sekali
terhadapku, dia telah mewariskan caranya pembuatan
beberapa obat pembasmi racun, sayang akulah yang tolol, tak
dapat aku mempelajari semua. Inilah sebabnya kau tidak
mengerti sebab musabab dari penderitaannya para bapak
pendeta ini, hanya itu aku merasa, andiakata kita memiliki
hosin ouw, mungkin pengobatannya tak seberapa sulit. Nah,
silahkan saudara pergi mengambil obat itu nanti aku berdaya
mencoba meringankan penderitaannya mereka ini...."
In Gwa Sian mengangguk. Ia memutar tubuh buat pergi
keluar, tetapi baru beberapa tindak, mendadak Eng Eng
memanggilnya. "Saudara In, tunggu ! Sekarang aku tahu
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bagaimana harus mengobati mereka ini, tak berani aku
merepotkan pula padamu !"
Pat Pie Sin Kit menoleh. Ia merasa heran. Begitu cepat
perubahannya si orang Ngay ini. Ia pun lantas melihat
bagaimana Eng Eng sudah lantas bekerja, sedangkan Pek Cut
dan Liauw In mendampinginya disisi pembaringan.
Eng Eng mengenakan sarung tangan pada tangan kirinya,
tangan kanannya mencekal sebuah pisau kecil yang tajam
mengkilat, dengan pisau itu ia mengkurat lengan kiri seorang
pendeta, membuat luka sepanjang satu dim lebih, hingga luka
itu lantas mengalirkan darah yang merah kehitaman.
In Gwa Sian segera datang menghampiri. "Apakah saudara
sudah dapat menerka racun ini racun apa?" tanyanya.
Ngay Eng Eng tersenyum.
"Tadi aku lalai" sahutnya, "hampir aku terpedayakan
meraka itu ! Sekarang setelah aku melihat darahnya, aku
merasa pasti bahwa semua bapak pendeta ini telah
keracunan. Ya semacam ular...."
"Jadi benarkah mereka terpagut ular ?" In Gwa Sian
menanya tegas.
Eng Eng tertawa, ia mengangguk.
"Jangan kata para bapak pendeta ini yang mengerti ilmu
silat" katanya, "sekalipun orang biasa saja, asal dia bersenjata
dia dapat membela dirinya. Apa pula mereka ini berbareng
kena diracuninya. Karena ular itu ular biasa, darimana
datangnya ular sedemikian banyak dan munculnya pun hampir
berbareng dipelbagai tempat ? Maka itu dapat diterka bahwa
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
musuh menggunakan racun yang mulanya mereka kumpul
atau simpan dahulu didalah sebuah selubung atau pipa besi
istimewa, kapan mulut selubung dibuka, lantas racun ini
ditimpukan seperti orang menyerang dengan senjata rahasia.
Dalam hal ini, racun itu racun dicelupkan pada jarum atau
pasir, setelah jarum atau pasir beracun itu mengenakan atau
menempel pada tubuh, racunnya lantas bekerja mengalir ke
seluruh tubuh, meresap ke dalam darah daging hingga si
korban kontan bakuh beku tubuhnya dan kulitnya lantas
berubah matang biru lalu didalam waktu dua belas jam
tubuhnya bengkak, racun masuk ke jantung dan putuslah jiwa
orang..."
In Gwa Sian heran mendengar keterangan itu.
"Dengan begini saudara Ngay" katanya, "teranglah kau
pandai ilmu pengobatan keracunan..."
Eng Eng tertawa pula.
"Saudara In memuji padaku !" katanya. "Aku cuma belajar
kulitnya saja dari Kim Lam It Tok, tak dapat aku dibilang
mengerti atau pandai..." Ia terus merogoh sakunya,
mengeluarkan sebuah botol, ketika ia buka tutup botol itu dari
situ tersiar bau sangat tak sedap yang menyerang hidung
membuat orang hendah tumpah-tumpah.
Menyaksikan semua itu In Gwa Sian, Pek Cut dan Liauw In
pada mengerutkan kening.
Eng Eng kembali tertawa.
"Bicara sejujurnya saudara-saudara" kata ia, "isinya botolku
ini ialah racunnya kodok siam uh. Bukannya aku jumawa,
apabila dipadu dengan racun musuh, racunku ini jauh lebih
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
beracun, hanya kalau kedua racun dicampur menjadi satu
sifatnya lantas berubah menjadi lunak sedang. Demikian
sekarang hendak aku memakai racun siam uh untuk
membantu para bapak guru ini..."
Sementara itu pendeta itu bernafas perlahan sekali
bagaikan lagi menantikan tibanya sang maut...
Pek CUt dan Liauw In tidak mencegah orang she Ngay itu.
Mereka berdiri disisi seperti lagi menonton. Demikian pula Pat
Pie Sin Kit.
Eng Eng melanjuti usaha pertolongannya. Racun siam uh
itu berwarna kuning, air beracun itu dituangkan sedikit keluka
guratan dilengannya sipendeta pertama, lalu menyusul
dengan cepat percobaan pertolongan itu kepada tujuh orang
pendeta lainnya. Semua mereka inipun digores dahulu sedikit
kulit lengannya, sesudah darahnya yang beracun mengalir
keluar baru mereka dipakaikan obat racun itu. Diakhirnya Eng
Eng memberikan Pek Cut sebotol kecil obat warna putih
sembari tertawa ia kata : "Kalau sebentar satu jam kemudian
mereka terasadar diri dari pingsannya, segera kasih mereka
makan dua butir obat ini dengan diantar dengan air dingin.
Setelah itu biarkanlah mereka beristirahat. Lewat tiga hari,
dengan setiap harinya mereka makan pula dua butir, semoga
mereka sudah sembuh seluruhnya. Sebaliknya apabila
pertolonganku ini gagal, kedelapan bapak guru ini tak akan
hidup melewati malam ini."
Pek Cut menyambuti obat sambil ia menghaturkan terima
kasih, lalu menyerahkan itu lebih jauh kepada seorang
muridnya yang ditugaskan menjaga dan merawati orangorang
yang lagi menderita itu. Kepada si tuan penolong, ia
menambahkan :"Saudara Ngay, jangan menguatirkan apaapa,
jika obat ini tidak menolong mereka terserah kepada
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sang Buddha, manusia mati atau hidup sudah tertakdirkan,
kita manusia tak dapat memaksakan..."
Eng Eng tersenyum.
"Tetapi toh aku percaya bahwa pengobatanku ini tidak
keiru !" katanya.
"Amida Buddha !" Pek Cut memuji sambil merapatkan
tangannya. "Saudara datang dari tempat yang jauh siapa
sangka saudara lantas menghadapi peristiwa tak beruntung
ini, maka setelah sekarang selagi pertolongan pertama ini
silahkan saudara mengikutku ke dalam untuk kita berduduk
beromong-omong supaya dapat aku melakukan kewajibanku
sebagai tuan rumah terhadap tetamunya."
Eng Eng mengucap terimakasih. Ia menerima baik
undangan itu.
Liauw In segera berjalan di depan, untuk meninggalkan
ruang Tatmo Ih itu guna memimpin tamunya ke kamar ketua.
Seorang sue bie kacung pendeta lantas muncul
menyuguhkan air teh.
Habis menghirup tehnya, In Gwa Sian yang mulai
membuka suara. Kata dia : "Dilihat dari peristiwa ini, nyata
sekali kawanan bajingan masih belum berlalu dari wilayah kita
ini bahkan mungkin sekali, mereka segera akan mengulangi
pembokongannya dengan senjata racun yang jahat itu. Karena
itu, menurut pikiranku, baiklah kita lebih dahulu melakukan
penggeledahan secara besar-besaran, guna membersihkan
bagian dalam, lalau kita mengirim orang-orang secara
menyamar ke kaki gunung buat memata-matai musuh disetiap
dusun atau kampung disekitar kita. Dengan begitu, mereka
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
juga bisa sekalian menyambut datangnya tamu-tamu
undangan kita."
Eng Eng menyetujui usul itu, yang bahkan ia puji.
Pek Cut menghela napas.
"Karena keadaan ialah menjadi begini rupa, baiklah, akan
aku turut saran kedua saudara" katanya, berduka. Karena
sebagai seorang beribadat, ia sebenarnya tak menyetujui
pertempuran apa juga.
Habis berbicara, mereka bersantap. Burung, udang,
semuanya sayuran rasanya lezat. Sesudah itu barulah ketua
Siauw Lim Sie mulai mengatur orang-orangnya.
Tatmo Ih diminta memilih lima puluh orang murid pilihan,
supaya mereka itu dipecah menjadi lima, setiap rombongan
dikepalai oleh Liauw In bersama kelima tianglo dari Tatmo,
ketua dari ruang Tohan Tong dan pengurus Chong Kong Kok.
Mereka ditugaskan menggeledah seluruh wilayah Siauw Lim
Sie sekalian mengatur pula pelbagai pos penjagaan, supaya
setiap jalan masuk terjaga rapi. Dua puluh orang murid
lainnya yang terpilih cerdik, dikirim berpencaran turun gunung
guna sambil menyambut memasang mata kepada kawan dan
lawan.
In Gwa Sian dan Ngay Eng Eng membiarkan bantuannya,
mereka akan membantu ke pelbagai arah. Untuk didalam kuil,
Pek Cut yang bertanggung jawab sendiri.
Dengan cara demikian, Siauw Lim Sie bagaikan salin rupa.
Beberapa hari sudah lewat, tidak terjadi suatu apapun.
Penyerangan gelap tak terulang pula. Eng Eng dan In Gwa
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sian penasaran, sendirinya mereka menjelajah gunung,
memeriksa setiap gua dan lainnya, seluas beberapa puluh lie,
mereka juga tidak menemukan apa-apa. Dilain pihak, tamutamu
undangan mulai tiba, mereka disambut dengan baik dan
diberikan tempat serta pelayanan sempurna. Kalau tamu yang
datang tamu teman lama, Pek Cut dan In Gwa Sian sendiri
yang melayaninya.
Begitulah Siauw Lim Sie, yang tadinya sepi menjadi ramai.
Penghuninyapun menjadi beraneka ragam disebabkan
bedanya cara berdandan pelbagai tamu-tamu itu.
Tanpa merasa, satu bulan telah berlalu. Tetap tak terjadi
gangguan pihak lawan.
Sementara itu, delapan pendeta yang terkena racun sudah
mulai sembuh seluruhnya.
Pada suatu hari, Pek Cut datang ke kamarnya In Gwa Sian.
Ia hendak mendamaikan cara bekerja untuk menghadapi
lawan nanti.
In Gwa Sian nampak repot menyambut ketua Siauw Lim
Sie. Setelah mempersilahkan duduk, ia pula mendahului
menanya keadaan kedelapan pendeta korban racun musuh
itu.
Pek Cut bersyukur orang sangat memperhatikan muridmuridnya.
"Syukurlah tibanya saudara Ngay" kata ia menjawab
pertanyaan, "kalau tidak pasti mereka itu tak akan dapat
ditolong lagi..."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Apakah saudara Ngay dapat mengatakan atau menerka
siapa musuh penyerang gelap itu ?" tanya pula Pat Pie Sin Kit.
"Mungkinkah mereka adalah murid-muridnya Cit Mo dari pulau
To Ling To ?"
"Cit Mo" ialah "tujuh bajingan" jago-jago dari To Liong To.
"Belum" sahut Pek Cut. "Aku pun keras memikirkannya
tanpa hasilnya. Anehnya kenapa sesudah berselang begini
lama, masih belum ada tindakan lainnya dari mereka itu ?"
"Apakah Siansu menerka kepada pihaknya Kim Lam It Tok
?" In Gwa Sian tanya.
Ketua Siauw Lim Sie itu merapatkan kedua belah alisnya, ia
pun menarik napas berduka.
"Jika dugaannya saudara Ngay tidak keliru, Kim Lam It Tok
sudah kena tertarik kawanan bajingan itu" sahutnya menyesal.
"Kalau benar dialah adanya, makin sulit buat kita
melayaninya...."
In Gwa Sian heran melihat pendeta itu berduka demikian
rupa, sedang ia tahu Pek Cut adalah seorang jago. Berbareng
dengan itu, ia berkesan baik sekali terhadap pendeta ini. Maka
juga mengawasi si pendeta ia menatap tajam hingga matanya
bagaikan bersinar menyala.
"Aku si pengemis tua, aku tidak percaya mereka itu
mempunyai kepandaian sedemikian lihai hingga mereka
sanggup menjagoi Tionggoan !" katanya keras. "Asal aku si
pengemis tua masih bernapas, tak nanti aku ijinkan mereka
bertingkah polah !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kau dan kawan-kawanmu saudara In, memang kalian
mempunyai kepercayaan yang kuat sekali" berkata si pendeta,
"cumalah, buat bicara terus terang, To Liong To Cit Mo serta
Kim Lam It Tok benar-benar tak dapat dipandang terlalu
ringan. Ketujuh bajingan atau siluman itu sudah dua puluh
tahun lamanya belum pernah terdengar menginjak pula tanah
Tionggoan, maka itu, sekarang ini, mungkin mereka sudah
meyakinkan entah ilmu gaib apa. Yang paling dikuatirkan
adalah Kim Lam It Tok seorang. Sudah sejak tiga puluh tahun
yang lampau, belum pernah dia tampak atau terdengar pula
namanya dibuat sebutan. Menurut kabar angin, dia tinggal
menyendiri di dalam rimba lebat terasing dikaki bukut puncak
Il Kiam Hong di gunung Bin San dimana dia setiap hari hidup
berdekatan dengan pelbagai macam binatang beracun, yang
jadikan binatang piaraannya, hingga taklah heran andiakata
dia pakai racun sebagai alat senjatanya yang istimewa. Benar
sulit andiakata betul-betul dia turut memusuhi kita..."
Perkataannya ketua Siauw Lim Sie itu membuat si
pengemis tua berpikir keras.
"Seumurku, aku cuma pernah mendengar nama dia tetapi
belum pernah bertemu dengan orangnya sendiri." katanya
kemudian. "Siansu, tahukan Siansu akan asal usulnya ?"
Jilid 4
Mendapat pertanyaan itu, tiba-tiba Pek Cut ingat kepada
Ngay Eng Eng, maka pikirannya : Kenapa kau tidak mau
mengundang dia datang kemari supaya dialah yang memberi
penjelasan? Dia kenal Kim Lam It Tok, mungkin dia banyak
mengetahui tentangnya. “Saudara In, kau menyadarkan aku.
Bukankah saudara Ngay yang telah menolong jiwa para
muridku? Ia pernah mengatakan bahwa ia pernah belajar
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tentang racun dari Kim Lam It Tok yang ia kenal baik, karena
itu kenapa kita tidak mau minta keterangan darinya?
In Gwa Sian mengangguk.
“Benar! Dari keterangannya mungkin kita bisa meraba-raba
pada jago racun itu.” Pek Cut lantas menitahkan seorang
kacungnya pergi untuk mengundang tamunya tersebut.
Setelah satu bulan tinggal bersama disatu tempat didalam
kuil, pergaulan diantara In Gwa Sian dan Ngay Eng Eng tak
lagi main sungkan, bahkan sangat erat satu dengan lain.
Demikianlah ketika tamunya tersebut muncul diambang pintu,
dan ketika ia melihat hanya ada dua orang di sana, yaitu
hanya tuan rumah dan si pengemis tua, maka ini agak
membuat sitamu sedikit heran, ia lantas bertanya : “Entah ada
urusan apa maka Siansu dan saudara In memanggilku datang
kemari?”
In Gwa Sian menghargai tamunya itu, begitu lekas ia
melihat orang muncul, ia lantas berdiri buat memberi hormat
sambil mengundang duduk. Pek Cut pun menyambut secara
terhormat, walau dilain pihak ia harus menjaga derajat dan
kehormatannya sebagai tuan rumah.
Bersama In Gwa Sian, Eng Eng melangkah masuk kedalam
kamar untuk duduk berkumpul dan tanpa basa-basi lagi Pek
Cut langsung memohon keterangan perihal Kim Lam It Tok.
Eng Eng bersedia memberikan penuturannya. Iapun telah
merasa sejak semula bahwa keracunannya para pendeta mirip
dengan racun yang digunakan jago dari Kwieciu Selatan itu.
Beginilah ceritanya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ketika Eng Eng berusia dua puluh tahun lebih, ia telah
hidup merantau, maka banyak sekali kenalannya baik dari
kalangan hitam maupun putih. Iapun kadang-kadang
melakukan perbuatan baik, menolong siapa yang harus
ditolong. Ia dikenal karena ilmu ringan tubuhnya yang mahir
dan teratai besi Thi Lian Cie nya yang lihai yang ia peroleh
dari seorang gagah. Kemudian ketika ayah bundanya
meninggal dunia warisan sawah kebunnya ia serahkan pada
kakaknya, ia sendiri terus merantau. Pada satu waktu dalam
usia tigapuluh tahun lebih, ia sampai digunung Tok San di
Kwieciu, kota terbesar kedua di propinsi Inlam. Kwieciu kota
yang besar, banyak penduduknya dan ramai. Penduduknya
kecuali bangsa Han asli juga banyak suku Biauw, Yauw dan
Koso. Suku-suku itu dimasa itu masih dianggap separuh sopan
dan tinggalnya berpencaran dan cara hidupnya ialah
membawa hasil hutan yang berupa obat-obatan kekota untuk
dijual atau ditukar dengan minyak, garam , bahan pakaian dan
lain-lain.
Terjadilah pada suatu hari, ketika ia sedang menunggang
kuda, Eng Eng melintasi jalan besar dipegunungan Tok san
itu. Ketika itu hawa udara panas menyengat, maka disatu
tempat terpisah lima atau enam lie dari kota, ia singgah untuk
beristirahat dan berteduh. disitu terdapat tak sedikit para
pelancong lainnya. Ia memasuki sebuah hutan kecil dan
menambatkan kudanya pada sebuah pohon, terus ia duduk
bercokol diatas sebuah batu hijau bersih. Hawa dan angin
disitu mendatangkan rasa sejuk. Selagi ia beristirahat itu,
mendadak ia mendengar suara berisik sedikit jauh di
belakangnya, dibawah sebuah pohon besar. Ia lantas menoleh
dan menghampiri lalu menyelak didalam kerumunan orang
banyak. Ia melihat seorang lagi menjerit ketakutan dan
menangis. Itulah seorang wanita suku Biauw yang lagi
memegangi seorang pria bangsanya yang pingsan. Disisinya
ada dua buah bekal yang penuh barang makanan dan bahan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
pakaian. Si orang pingsan mengeluarkan darah dari mulutnya
dan mukanya pucat kehitam-hitaman.
Dengan melihat sekelebatan saja, Eng Eng tahu bahwa
orang ini telah keracunan, hanya ia tak tahu racun apa itu.
Segera timbul rasa kasihannya dan keinginannya buat
menolong. Ia memang membekal obat, maka dari kantong
obatnya ia mengeluarkan sebuah pil. Ia serahkan obat itu
pada si wanita yang ia suruh masuki kedalam mulutnya si pria
yang dibukanya dengan paksa. Setelah itu tubuh si pria
dipondong dan direbahkannya dibawah pohon.
Wanita itu sangat berterima kasih kepada Eng Eng. Ia
ternyata mengerti juga bahasa han, maka ia mengerti ketika
sipenolongnya itu menanyakan kenapa si pria terkena racun
dan apa hubungannya dengan si pria itu. Ia menerangkan
bahwa pria itu adalah suaminya dan entah kenapa barusan
mendadak dia roboh pingsan keracunan.
“Obatku itu manjur.” kata Eng Eng. “Lihat sebentar lagi
lewat satu jam, suamimu akan dapat tertolong. Aku hendak
tanya kau. Bukankah kalian datang belanja diwaktu pagi,
kenapa baru sekarang suamimu keracunan?”
“Memang kami pergi kekota pagi-pagi dan kamipun sehatsehat
saja,” kata wanita itu.
“Aku tak melihat tanda apa-apa, maka itu mungkin tadi
selagi berjalan pulang dia telah menyedot hawa beracun….”
“Hawa beracun? Memangnya ditempatmu ada suatu
racun?”
“Kami tinggal dikaki gunung Tiam Chong San. Di belakang
tempat kediaman kami ada sebuah selokan dalam berupa
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
jurang. Baru satu bulan lalu disitu kedapatan seekor laba-laba
yang besar luar biasa dan beracun, setiap pagi dia suka
menyemburkan hawa beracunnya itu yang mirip uap atau
halimun yang bisa mencelakai orang atau binatang yang
kebetulan lewat dan terkena semburannya itu. Sudah tak
sedikit orang atau ternak yang mati karena racunnya…”
Mendengar keterangan itu, Eng Eng terdiam, ia merasa
obatnya tak akan sanggup memunahkan racun laba-laba itu.
Tengah ia berpikir tiba-tiba ia mendengar suara orang
bernapas disisinya, segera ia menoleh dan mendapati si pria
Biauw itu mendusin, kedua matanya dibuka perlahan-lahan,
kaki tangannya pun turut bergerak lalu seterusnya dia
merintih dan mengeluh!
“Ha! obatku bekerja!” pikirnya girang. Maka ia lalu berkata
pada si wanita : “Syukur suamimu sadar, itulah pertanda
bahwa obatku bekerja. Sekarang lekas kau mengajaknya
pulang. Semoga aku bisa mengobatinya sampai sembuh
betul.”
Nyonya itu mengawasi penolongnya dan mengucapkan
terima kasih banyak.
Eng Eng tidak menolong kepalang tanggung, sebab pria itu
belum bisa berjalan dan istrinya tak kuat menggendongnya, ia
lalu memondong dan menaikinya keatas kudanya, lalu ia
menuntun kuda itu. Si wanita jalan di muka sebagai penunjuk
jalan.
Jalannya berliku-liku, kira-kira satu jam barulah mereka
sampai dikaki gunung, untuk jalan lebih jauh mereka harus
memasuki sebuah lembah. Selagi mendekati kampung, ada
tiga puluh orang desa datang berlari-lari seperti mau
menyambut, sebab mereka heran mendengar suara kaki kuda.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Dan mereka benar-benar heran sesudah melihat keadaan si
pria yang tergolek dipunggung kuda.
Seorang pria Biauw yang pakaiannya rapi dan kumisnya
pendek muncul diantara rombongan, ketika si wanita
melihatnya dia lari pada pria itu buat berbicara, rupanya guna
menuturkan perihal suaminya serta penolongnya itu. Setelah
itu si wanita mengajak kenal dengan Eng Eng. Kiranya dialah
ketua suku Biauw dikampung itu dan namanya Minai.
Segera ketua itu menyuruh beberapa orang menolong pria
yang keracunan itu, untuk digotong pulang kerumahnya
dengan istrinya, dia turut bersama kemudian berbicara dengan
Eng Eng. Maka tahulah penolong ini bahwa kampung itu
bernama Ceng Hong Cay dan penduduknya ialah suku “siok”
Biauw artinya suku Biauw yang sudah maju disebabkan
mereka bisa bergaul dengan bangsa Han, sehingga banyak
yang mengerti bahasa Han dan cara hidupnya banyak yang
mengikuti cara hidup bangsa Han juga. Jadi mereka beda
dengan suku “Song” Biauw, suku yang masih tertinggal yang
hidupnya dipedalaman dan sulit buat bergaul karena masih
menutup diri.
Eng Eng pun diundang kerumah siketua. Sebenarnya itu
bukanlah sebuah rumah melainkan goa.
Disini Minai membicarakan urusan laba-laba beracun itu,
yang baik siang maupun malam suka menyemburkan hawanya
yang beracun hingga tak sedikit orang dan binatang ternak
yang mati sebagai korban racunnya. Sia-sia belaka orang
menggunakan berbagai macam obat pemunah, hingga sudah
satu bulan lebih mereka terancam racun itu. Hanya baru
selang beberapa hari Minai menemui seorang yang katanya
dapat membasmi racun itu, orang mana telah diundang
tinggal bersama didalam dusun itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Siapakah orang itu dan dimana adanya dia sekarang?”
tanya Eng Eng menyela.
“Obatnya orang itu benar-benar manjur,” sahut Minai yang
tak menjawab langsung,” Sejak dia datang setiap orang yang
keracunan dapat ditolong jiwanya. Siapa minum obatnya
lantas muntah sedikit air kuning yang bau. Dia she Sia, untuk
membasmi laba-laba itu mulanya dia minta diantarkan
kejurang tempat mengeramnya laba-laba itu, setelah itu dia
pergi sendirian saja. Dia pergi setiap lewat tengah hari.
Menurutnya, untuk membinasakan binatang beracun itu dia
harus menanti saat yang tepat.”
Eng Eng heran, ia menyangsikan kepandaian orang she Sia
itu. Lalu ia mengutarakan keinginannya buat menemui orang
itu untuk belajar kenal dan minta sikepala suku
mengantarkannya sebagai perantara.
Tengah mereka berbicara itu, seorang pemuda Biauw
datang pada ketuanya dan berbicara beberapa patah kata,
setelah itu dia lantas berlalu pula. Tak tahu Eng Eng apa yang
disampaikan pemuda itu karena ia tak mengerti bahasa Biauw,
tapi tuan rumah sudah lantas berkata padanya :“Pemuda
barusan bernama Shapi. Dia adalah keponakanku, ia
mengatakan tentang orang yang keracunan yang tuan tolong
itu, katanya korban itu pernah muntah lagi tapi tetap pingsan,
maka keponakanku datang meminta obatnya Tuan Sia”
“Habis, kenapa kau tidak berikan obat itu?”
“Obat itu tak ada padaku, obat itu selalu dibawa tuan Sia”
“Orang itu perlu segera ditolong, biar aku yang pergi
menemui orang she Sia itu!” Eng Eng menawarkan jasanya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Tuan tidak kenal dia, taruh kata tuan bisa menemuinya,
mungkin usaha tuan akan gagal,” kata siketua. “Bagaimana
kalau kita pergi bersama?”

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis Misteri: Iblis Sungai Telaga 1 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Jumat, 21 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments