Cerita Cersil Keren Terbaik : Jinsin Tayhiap 4 Tamat

Cerita Cersil Keren Terbaik : Jinsin Tayhiap 4 Tamat
AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Cersil Keren Terbaik : Jinsin Tayhiap 4 Tamat
“hmh..sudah lewat siang begini kok istriku belum datang yah ?” gumam Bao-can sambil bangkit dan menatap ke arah hutan “mungkin kondisinya yang hamil tidak dapat mengantarkan makan siang kita twako.” sela A-sin “ya setidaknya dia bisa minta Bantu pada tetangga.” sahut Ba-can tidak enak hati pada dua temannya. “begini saja, twako kembalilah kerumah menjemput makan siang kita.” sela A-gou “baiklah, tunggu dan istirahatlah kalian disini, aku akan cepat untuk membawa makan siang kita.” sahut Ba-can, lalu berjalan cepat meninggalkan kedua temannya.
Saat melewati hutan, Ba-can berlari, dan sebentar lagi akan sampai ke jalan raya, ia melihat tubuh yang terbujur, ditengah jalan setepak “hui-moi…!” jeritnya histeris sambil memeluk istrinya, ia menangis meraung melihat istrinya yang sudah jadi mayat,
307
bahkan Bao-can pingsan, Bao-can siuman karena wajahnya disiram air oleh A-gou “oh..istriku…uu….uuuu istriku apa yang terjadi ? kenapa kamu mati hui-moi..!?” jeritnya “sudahlah twako, mari kita bawa mayat cici, tidak baik kita berlama-lama disini, karena hari juga sudah mulai petang.” ujar A-sin, lalu ketiganya mengangkat mayat Can-hui keluar dari hutan dan dengan buru-buru mereka menuju perkampungan.
Warga terkejut dan datang melayat kerumah Bao-can, peristiwa mengenaskan itu memmbuat gempar warga huaian, kematian Can-hui merupakan misteri, karena tidak ada satu petunjukpun yang mereka dapatkan tentang kematian Can-hui, dua hari kemudian mereka menguburkan mayat Can-hui, Lu-mo dari kejauahan menyaksikan pemakaman itu sambil senyum aneh.
Tiga hari setelah pemakaman Lu-mo melintasi hutan, dan saat malam tiba ia sudah sampai di daerah pemakaman warga, dengan tangannya yang pendek kekar menggali makam Can-hui, mayat Can-hui sudah rusak dimakan ulat dan berlendir busuk, namun bau itu tidak menggangu Lu-mo, dengan anteng ia menggendong mayat Can-hui dan berlari dengan cepat meninggalkan pemakaman menuju kediamannya jauh dibalik hutan dilembah dimana ia berdiam.
Saat malam sudah larut Lu-mo sampai kerumahnya, ia meletakkan mayat Can-hui disebuah meja diruang dapurnya, lalu tanganya mengeruk perut Can-hui dan mengambil janin
308
Can-hui, janin itu dimasukkan ke wajan yang menggelegak, lalu Lu-mo menusuk dua buah paku di telapak kaki mayat Can-hui, cairan hitam busuk keluar dari bekas tusukan paku, Lu-mo menampung cairan hitam dan memasukkannya kedalam wajan, kemudian diaduk beberapa lama.
Menjelang pagi Lu-mo membuang mayat Can-hui kedalam jurang, dan menunggu wajannya yang berisi paku mengering kehitaman, lalu paku-paku itu dimasukkan kedalam kantongnya, menjelang siang saat ia sedang bersantai di beranda pondoknya, rombongan sim-kuang tiba “eh…shantung-tok-piauw, hehehe..hahaha…angin apa yang membawamu ketempatku yang bobrok ini ?” sapa Lu-mo “hehehe..hahaha…. aku ada perlu denganmu lotong.” sahut Sim-kuang “kamu membawa banyak teman, siapakah mereka ?” tanya Lu-mo “hehehe…lo-tong, kedua orang ini adalah cinpawe aliran kita, Kwi-san-hengcia dan kwi-ban-ciang.” “hehehe…selamat berjumpa lo-heng.” sapa Lu-mo pada kedua cianpwe.” “selamat bertemu lotong.” sahut kedua cianpwe datar “dan ini adalah Tok-lian, ang-mou-kuibo dan koai-ma.” ujar Sim-kuang
“hehehe…hahaha….tok-piauw ada apa hal sehingga kalian datang kesini ?” “lotong, kami sedang menjalankan misi untuk membunuh she-
309
taihap, jadi kami minta supaya kamu bergabung dalam misi ini.” sela Kwi-ban-ciang “membunuh she-taihap ? hehehe..hahaha…apakah kalian sedang melantur mencoba membangunkan naga ?” sahut Lotong “kami tidak melantur lotong, dan kami sudah berhasil membunuh dua she-taihap di lokyang.” sela Tok-lian “heh….bagimana kalian bisa membunuhnya ?” tanya Lu-mo heran “dua cianpwe dihadapanmu ini hampir menyamai kemampuan seorang she-taihap, dan dengan kerjasama beliau-beliau ini berhasil membunuh dua she-taihap.” sela Koai-ma.
“lalu kenapa datang menemuiku, apa yang bisa saya lakukan untuk misi ini ?” tanya Lu-mo “dengarlah lotong, dengan kerjasama yang baik, kita akan dapat membunuhi she-taihap, kamu direkomendasikan Tok-lian dalam hal ini, karena kami butuh orang yang memiliki keahlian senjata rahasia.” sela Kwi-san-hengcia “ooh, begitu, kalau kita dapat membunuhi she-taihap itu hal yang amat menyenangkan.” ujar Lu-mo “baguslah kalau begitu, rencana kita akan dapat kita jalankan.” sela kwi-ban-ciang
“bagaimana rencananya kwi-ban-ciang ?” tanya Lu-mo “dengarlah kalian, setelah menganalisa misi yang kamu lakukan sebelumnya, maka kita akan membentuk formasi untuk melawan she-taihap, mereka jelas orang-orang sakti, namun
310
formasi dan kekuatan kita akan menundukkan mereka satu persatu.” sela Kwi-ban-ciang “jelaskanlah loheng supaya saya lebih yakin dan mengerti !” ujar Lu-mo “seorang she-taihap pasti dapat kita kalahkan dengan formasi empat dan tiga, maksudnya empat orang berhadapan lansung dengan she-taihap, dan tiga orang mengintai dengan senjata rahasia, dan kita bertujuh sudah memenuhi formasi itu.” sahut kwi-ban-ciang “bagiamana loheng yakin ?” tanya Lu-mou “karena dua she-taihap dapat kami bunuh hanya dengan keroyokan empat orang.” sela kwi-san-hengcia.
“luar biasa kalau begitu, sekarang kita akan mengeroyok seorang she-taihap dengan formasi tadi, sungguh itu pemikiran yang tepat dan jitu, hehehe..hahaha..” “jadi lotong sebaiknya hari kita akan berangkat.” sela tok-lian “kemana kita akan berangkat ?” tanya Lu-mo “kita akan ke shanghai, menuntaskan misi pertama yang gagal.” “baiklah kita berangkat dan ditengah jalan ceritakan kenapa misi pertama gagal.” sahut Lu-mo, lalu ia masuk kedalam dan mengemas buntalan pakaiannya.
Tujuh orang itu meninggalkan kediaman Lu-mo “misi pertama ke shanghai di lakukan oleh enam orang, mereka adalah lam-liong-sian.” “lam-liong-sian ? anak muda itu luar biasa dan sangat sakti.” sela Lu-mo
311
“benar, namun kenyataannya mereka tidak kembali, jadi kita harus selidiki apa yang terjadi dishanghai.” sahut koai-ma “loheng..! kita ini hampir seumur, tapi nama kalian baru saya dengar,” ujar Lu-mo pada kwi-ban-ciang
“kami berdua menenggelamkan diri dalam peningkatan kesaktian.” sahut Kwi-ban-ciang “kalian berdua ? apakah kalian satu perguruan ?” tanya Lu-mo “awalnya kami satu perguruan, kami adalah murid Ma-tin-bouw orang tertua dari kwi-sian-pat.” sahut Kwi-ban-ciang “ooh begitu, jadi kalian ini cucu murid dari pah-sim-sai-jin.” “benar sekali lotong.” sahut kwi-ban-ciang “hehehe..hahaha ternyata kita sangat dekat loheng.” “maksudmu dekat bagaimana lotong ?” tanya kwi-ban-ciang “hehehe…hahaha…kalian adalah cucu murid dari ayahku pah-sim-sai-jin.” sahut Lu-mo
“ah…begitukah ?” tanya keduanya sambil berhenti “apakah kalian tahu siapa nama asli dari pah-sim-sai-jin ?” “hal itu kami tidak tahu, dan bahkan suhu kami juga tidak tahu, karena sebutan pah-sim-sai-jin lebih dikenal dunia.” “benar, saya juga yakin bahwa Ma-tin-bouw dan tujuh saudaranya dalam kwi-sian-pat tidak mengetahui nama pah-sim-sai-jin, pah-sim-sai-jin hanya memberikan namanya pada wanita-wanita yang disukainya, dan dalam hal ini termasuk ibuku, ibuku adalah salah satu selirnya di kota Lijiang saat ia memulai misinya setelah turun dari kwi-ban-san.” ujar Lu-mo “lalu siapakah nama asli dari sukong pah-sim-sai-jin ?”
312
“namanya adalah Lu-koai, dan namaku adalah Lu-mo.” “heheh..hahah…ternyata susiok sendiri yang dihadapan kita hengcia.” sela Kwi-ban-sian, lalu kedua cianpwe itu menjura hormat
“sudahlah basa-basi itu, walaupun aku susiok kalian, aku tidak mewaris apa yang dimiliki oleh ayahku, jadi tidak bisa disamakan dengan kalian.” ujar Lu-mo “heheh..hahaha..tidak masalah susiok, yang penting kita sama-sama berusaha mewujudkan prinsip-prinsip hidup dari sukong pah-sim-sai-jin.” sela kwi-san-hengcia, kenyataan itu membuat tiga kakek itu makin akrab dan selama dua hari mereka mengadakan pesta di kota Jiangsu.
Kwaa-yun-peng sudah pulih dari luka bakar yang ia alami, dia sekarang hanya dapat melihat dengan sebelah mata, sementara mata yang sebelah hanya rongga hitam, ia dan kedua anaknya sudah tiga bulan menempati rumah yang sudah dibangun kembali, Kwaa-yang-bun dan Kwaa-hang-bi melayani ayah mereka, perguruan pek-lek-twi sudah kembali beroperasi selama dua minggu, Yang-bun mengambil alih dalam mengajari dan mengawasi latihan murid-murid yang tinggal empat puluh orang.
Sore itu Kam-sin-bu, istrinya dan anaknya Kam-kui datang berkunjung keruma she-taihap, mereka disambut oleh Kwaa-hang-bi “silahkan masuk paman dan bibi.” sambut Kwaa-hang-bi dan
313
membawa tamunya masuk keruang tengah, Kwaa-yun-peng yang sedang duduk sambil minum diruang tengah segera berdiri “ah..ternyata kam-sicu yang datang berkunjung, mari silhkan duduk !” sambut Kwaa-yun-peng “hahaha..hehhe..terimakasih kwaa-sicu, kami jadi merepotkan.” sahut Kam-sin-bu “ah..tidak merpotkan kam-sicu, malah kami senang dengan kunjungan ini.” ujar Kwaa-yun-peng, lalu keluarga kam duduk “bagaimana keadaanmu kwaa-sicu ?” “aku semakin baik kam-sicu, dan terimakasih kami dapat perhatian dari pemerintah dan kam-sicu sendiri.” sahut Kwaa-yun-peng
“hal itu sudah kepatutan kwaa-sicu, jadi jangan terlalu sungkan.” ujar Kam-sin-bu “hehehe..oh ya bagaiman kui-ji, apakah penempatanmu sudah terealisasi ?” “bulan depan saya akan mulai bekerja di Guangdong paman-kwaa.” sahut Kam-kui “oooh..baguslah kalau begitu.” ujar Kwaa-yun-peng, lalu minuman dan sekedar makanan kecil di hidangkan Kwaa-hang-bi “silahkan paman diminum dan maaf hanya ini yang bisa kami hidangkan.” ujar Kwaa-hang-bi.” “ah..ini sudah lebih dari cukup bi-ji, dan tehnya sungguh nikmat.” sahut kam-sin-bu sambil meletakkan cangkir
314
minumnya, Kwaa-hang-bi senyum menunduk dan duduk disamping ayahnya.
“kwaa-sicu, sebenarnya disamping mengunjungimu, saya dan keluarga ada hajat yang amat penting ingin kami sampaikan pada kwaa-sicu.” ujar Kam-sin-bu “oh..begitukah kam-sicu, hal apakah yang penting itu, dan semoga saja kami dapat Bantu dan penuhi.” “hehehe..hal ini merupakan harapan besar dari keluarga kami, semoga minat ini bersambut gayung.” ujar kam-sin-bu, mendengar itu Kwaa-yun-peng senyum “bi-ji ajaklah kui-ji ketaman yang baru dibuat, dan temani ia melihat-lihat rumah kita.” ujar Yun-peng pada putrinya, Kwaa-hang-bi merasa perintah itu aneh, namun ketika melihat Kam-kui, hatinya berdesir “baiklah ayah, mari kui-ko..!” sahut Hang-bi, lalu muda mudi itu keluar dan pergi ketaman belakang.
Keduanya duduk di paviliun sambil senyum-senyum “kenapa kui-ko senyum-senyum ?” “karena bi-moi juga senyum-senyum.” sahut Kam-kui “ih kalo begitu kita ini dua orang gila karena senyum karena orang senyum “hehehe..hahaha…tidak apa, asal gilanya bersamammu bi-moi.” sela Kam-kui mulai masuk pada niat hatinya “eh..hi..hi…. apa maksudnya Kui-ko, aku tidak mau gila ah..” “aku juga bi-moi, tidak mau gila, namun melihatmu dipesta paman Bao, aku jadi gila memikirkanmu.”
315
“kui-ko…ka..kamu memikirkanku ?” tanya Hang-bi dengan hati yang berdegup kencang
“benar bi-moi, selama dua bulan ini aku selalu memikirkanmu, kamu membuat aku rindu entah kenapa, hatiku bergetar hangat membayangkan dirimu bi-moi.” Sahut Kam-kui dengan rona pucat pada wajahnya, Hang-bi yang hatinya berdegup kencang semakin membuat telapak tangannya dingin. “lalu kedatangan paman bersamamu ?” “kedatanganku bersama ayah erat kaitannya dengan hatiku yang menggila ini bi-moi, a..aku…a..aku tidak bisa lagi menahannya bi-moi, a..aku mau bilang aku sangat cinta padamu bi-moi, a..aku ingin hidup bersamamu bi-moi.” sahut Kam-kui dengan wajah semakin pucat “oh…kui-ko, a..aku…ti..tidak tahu harus menjawab apa.” “a..aku mengerti bi-moi, ini sangat mendadak dan mengejutkanmu, ta..tapi…apa yang kamu rasakan saat ini bi-moi ?” “a..aku gemetar kui-ko, tapi hatiku hangat mendengar perkataanmu.” sahut hang-bi sambil menunduk dan meremas jemarinya yang berkeringat.
“bi-moi, apakah saat kita berdekatan seperti ini, kamu merasakan sesuatu ?” “tadinya aku tidak merasa apa-apa, namun setelah kui-ko mengungkapkan perasaan kui-ko a..aku jadi gemetar begini.” “hmh….mungkin kamu tidak menyukaiko bi-moi “ti..tidak…kui-ko, a.aku senang dan suka padamu.” sela Hang-
316
bi cepat, Kam-kui menatap mata Hang-bi dalam-dalam, ia tersenyum hangat dan bahagia “bi-moi…be..benarkah engkau suka padaku ?” tanya Kam-kui sambil meraih jemari hang-bi, terasa dingin dan bahkan basah.
“be..benar kui-ko, aku suka dan hatiku yang bergetar ini terasa nikmat ta..tapi aku takut “tanganmu dingin bi-moi, aku mungkin telah menyusahkanmu bi-moi.” “ah..maafkan aku kui-ko, a..aku tidak tahu kenapa aku kedinginan, tapi kui-ko aku hatiku semakin lama semakin hangat dan nyaman.” “Bi-moi a..apakah kamu mau ikut denganku, hidup bersama denganku ?” “kui-ko kedengarannya sangat menyenangkan, hidup, ah…hatiku makin nyaman kui-ko, a..aku juga menginginkanmu kui-ko.” sahut Hang-bi sambil memejamkan mata. “aku juga sangat mendambakanmu bi-moi, aku mau kau menikah dengaku, maukah kamu bi-moi ?” “menikah..oh…kui-ko, ki..kita akan mebina keluarga kui-ko ?” desah Hang-bi dan matanya berkaca-kaca dan air matanya pun turun membasahi pipinya “benar sayang..kita akan membina keluarga.” sahut Kam-kui semakin terenyuh melihat air mata yang bercucuran dipipi hang-bi.
“dimanakah kita akan membina keluarga kui-ko ?” “bulan depan jika dapat restu dari orang tua, kita akan ke
317
Guangdong, aku akan bekerja disana dan sekaligus aku akan menjagamu disana sepenuh hatiku.” “kui-ko, ajakanmu mmebuat aku berdebar, namun aku harus memikirkan, berilah aku waktu tiga hari.” ujar Hang-bi, “baiklah bi-moi, semoga dalam tiga hari ini saya mendapat jawaban.” sahut Kam-kui “marilah kita kembali kedalam kui-ko.!” ujar Hang-bi, lalu keduanya meninggalkan taman dan masuk kembali kedalam rumah
“hehehe..apakah kalian sudah selesai bicara ?” tanya Kam-sin-bu “sudah ayah.” Jawab Kam-kui, Hang-bi hanya tertunduk dengan wajah bersemu malu “baiklah kwaa-sicu, kami akan menunggu kabar dari Kwaa-sicu.” ujar Kam-sin-bu “baik, saya akan segera sampaikan apapun kabarnya.” sahut Kwaa-yun-peng, keluarga Kam pun meninggalkan rumah she-taihap “bi-moi..! duduklah disini nak.!” seru ayahnya, seruan itu membuat hati Hang-bi takut dan cemas “a..ada apa ayah ?” “hehehe..keluarga Kam menyampaikan sesuatu pada ayah.” ujar Kwaa-yun-peng, hati Hang-bi yang tadi cemas berubah menjadi malu, dia menunduk dalam disamping ayahnya
“bi-ji umurmu sudah sembilan belas tahun, jadi kau ingin dijadikan menantu oleh pamanmu, untuk anaknya Kui-ji, jadi
318
bagaimana menurutmu ?” tanya ayahnya, mendengar itu Hang-bi spontan menunduk “ayah, aku akan memikirkannya selama tiga hari ini.” ujar Hang-bi “baiklah bi-ji, pikirkanlah dengan tenang dan jernih.” sahut ayahnya, Han-bi mengangguk dan meninggalkan ayahnya dan masuk kedalam kamar.
Dikamar Hang-bi mencoba tidur, namun bayangan wajah dan tatapan mata Kam-kui mewarnai pikirannya, Hang-bi mengerahkan tin-liong-siulian untuk melenyapkan bayangan Kam-kui, dan diapun tertidur dengan nyaman, saat malam tiba, Hang-bi bangun, dan kembali muncul kembali membayang wajah Kam-kui, Hang-bi senyum sendiri, hatinya bergetar, lalu ia bangkit dan pergi mandi. setelah mandi dan berganti baju, ia menemui ayah dan kakaknya untuk makan malam.
“kamu tidur seharian Bi-moi, ada apa ?” tanya Yang-bun “jangan ganggu adikmu Bun-ji.” “hehehe..ayah ada apa ini ?” sahut Yang-bun heran melihat ayahnya yang baru kali ini merasa ditegur. “tadi keluarga kam dan putranya datang menemui ayah.” sahut Yun-peng, mendengar itu mengertilah Yang-bun “ooh, begitu, hehe..jangan lupa makan yah adikku sayang.” “ih bun-ko, jangan becanda ah.” sahut Hang-bi dengan senyum tertunduk dan menyumpit makanannya.
319
Hari kedua Hang-bi merasa rindu sekali dengan Kam-kui, hatinya semakin hangat jika membayangkan wajah tampan dan tatapan tajam mata Kam-kui, memang mata Kam-kui sangat tajam, alisnya yang hitam melengkung memberikan wibawa pada wajahnya yang tampan, sebagai ahli hokum, perawakan wajah Kam-kui sangat memberikan kesan tegas dan cerdik, sehingga membuat orang menatapnya menjadi segan. Tidak terkecuali she-taihap yang cantik ini.
Hari ketiga ajakan Kam-kui pada saat itu membuat hati Hang-bi yakin, bahwa ia benar suka dan cinta pada Kam-kui, kerinduannya yang mencuat, kehangatan hatinya yang merasuk dikalbunya membuat ia bahagia membayangkan ia mendampingi Kam-kui sebagai suaminya, lalu Hang-bi menemui ayahnya “ayah, anak ingin menyampaikan perihal tiga hari yang lalu.” “baiklah bi-ji, katakanlah nak, ayah akan mendengarkan.” sahut Kwaa-yun-peng “ayah, setelah menyelami apa yang kurasakan selama tiga hari ini, maka dapat kuputuskan bahwa hatiku tepaut dengan kui-ko, dan ajakan untuk menikah satu dambaan yang membuat hatiku bahagia.” ujar Hang-bi dengan wajah tunduk dan bersemu merah
“bi-ji pandanglah ayah anakku !” seru Kwaa-yun-peng, Hang-bi mengangkat kepalanya dan menatap wajah ayahnya yang mana sebelah matanya hanya rongga hitam “sudahkah bulat tekad akan mendapingi kam-kui anakku ?”
320
“sudah ayah, kui-ko menempati segala bayangan tentang rumah tangga dalam benakku ayah.” “hmh..jika demikian anakku, ayah akan dukung dan restui, dan ayah akan menyampaikan pesan pada she-kam tentang keputusan kita ini.” ujar Kwaa-yun-peng, Hang-bi mengangguk. Sore harinya Kam-sin-bu beserta istrinya datang lagi kerumah she-taihap “kam-sicu, hasrat baik dan niat yang terucap, telah menjadi buah pikiran kami selama beberapa hari ini, putriku juga telah memikirkan dan menimbangnya, aku dan putriku melihat banyak kebaikan dari niat suci itu, maka Kam-sicu, kami menerima lamaran yang diajukan.” “hehehe..sungguh luarbiasa senang dan bahagianya hati kami sekeluarga kwaa-sicu mendengar jawaban yang memang sangat kami harapkan, kami tidak mampu mengungkapkan betapa rasa syukur yang terbetik dalam hati kami akan anugrah Thian dalam hubungan ini.” sahut Kam-sin-bu
“demikian juga kami skeluarga Kam-sicu, lalu hal selanjutnya marilah kita bicarakan Kam-sicu.” ujar Kwaa-yun-peng, Kam-sin-bu merasa bahagia mendengar perkataan she-taihap, hatinya mendadak lapang dan nyaman, karena keluarga luar biasa ini sangat terbuka dan tegas Lalu dua orang tua itupun membicarakan hal pernikahan, karena penempatan Kam-kui ke Guangdong kurang dari sebulan lagi, maka pernikahanpun akan dilangsungkan tiga minggu didepan, sebelum keberangkatan Kam-kui ke Guangdong.
321
Hari pernikahnpun tiba, arak-arakan dari rumah Kam-sin-bu sangat meriah, para undangan banyak yang menghadiri pernikahan putra wakil kungcu itu, bahkan kungcu sendiri ikut hadir, para pembesar pun ikut datang beramai-ramai, kedua mempelai disandingkan, pasangan yang serasi, celutuk beberapa undangan ketika melihat wajah kedua mempelai, biksu menjalankan upacara pernikahan dengan hikmat, hiburan dan nyanyianpun di gelar, Bao-hui sang paman luar biasa gembira, saat Kam-kui hendak memboyong istrinya kerumahnya, Hang-bi menangis memeluk ayah dan kakaknya “bi-ji…semoga rumah tangga yang kamu bina ini nak, dapat langgeng dan mengecap kebahagiaan, ayah akan selalu mendoakanmu.”
“ayah…aku belum cukup bakti padamu, bagaimana ayah nantinya, uuuu..uuu ?” “hehehe,,anakku yang baik, baktimu padaku akan terpenuhi jika kamu dapat menunaikan bakti pada suami dan mertuamu, tapi jika kamu anakku tidak mampu memenuhi bakti pada suami dan mertuamu, maka kamu juga mengalpakan baktimu padaku, janganlah hal ini terjadi anakku, sebab ayah akan merasa sakit hati, berjanjilah anakku !” “baik ayah aku akan tunaikan amanah ayah, aku akan berbakti pada suamiku dan ayah mertuaku, supaya ayah jangan sakit hati padaku.” “demikianlah harusnya anakku, aku dan ayah mertuamu sama, suamimu sekarang lebih utama dari ayah, maka dulukanlah ia, karena ayah sudah metlak menyerahkan kamu padanya.” ujar
322
Kwaa-yun-peng, Hang-bi mengangguk sambil meghapus air matanya.
Lalu Hang-bi dibawa Kam-kui ketandu pengantin, iring-iringanpun berangkat dikala senja itu, Hang-bi akan menjalani kehidupannya, dia akan menjadi bagian keluarga kam, dia akan mengharungi kehidupan bersama suaminya tercinta, selama tiga hari mereka mereguk nikmatnya malam pengantin, setelah itu suami istri yang baru membina rumah tangga itu berangkat kekota Guangdong, Kwaa-yun-peng melepas putrinya dengan berkah restu yang penuh.
Seminggu kemudian rekanan kwi-ban-ciang memasuki kota shanghai, disebuah likoan dibelahan timur kota mereka menginap, sutau malam tok-lian dan ang-mou-kuibo berjalan-jalan sambil menikmati indah kota shanghai pada malam hari, keduanya lewat sebuah pokoan besar dikota itu, beberapa lelaki yang baru keluar dari pokoan sedang mabuk, melihat dua wanita cantik separuh baya sedang duduk di jembatan depan pokoan, mereka langsung menghampiri “hehehe…keluar malam-malam begini sedang apa nona ?” “hi..hi…sedang cari angin dong tuan.” sahut Tok-lian “nggak takut masuk angin nona ?” “hi..hi…angin apa yang masuk tuan ?” sela ang-mou-kuibo “hehehe..hahaha…malam begini angin siluman bisa saja masuk , hahaha..hahha..” “angin siluman rasanya dingin tidak, tuan ?” “angin siluman rasanya tidak dingin tapi panas.”
323
“hi..hi…kalau panas, aku ingin jika ada angin siluman yang datang, karena tubuhku lagi kedinginan.” sahut Tok-lian sambil senyum penuh menggoda.
“tuan ! kalian ini apakah orang kota ini ?” sela ang-mo-kuibo “hehehe.. benar nona, kalian tentu orang luar kota.” “benar tuan, kami baru datang malam ini, dan kami tidak tahu mau kemana, apakah tuan punya tempat untuk melewatkan malam ini ?” “hehehe..hahaha..tentu nona, jangankan semalam, beberapa malam boleh juga.” “ih..tuan bisa saja, hi..hi….” sela Tok-lian “baik marilah kita ke villa ayah saya, kita boleh bermalam disana.” “ihh..apakah tuan juga mau menemani kami ?” sela ang-mou-kuibo manja “tentu menemani wanita cantikcantik seperti kalian, siapa tidak mau, hehehe…” “apa istrimu tidak akan marah tuan ?” “hehehe..jangan khawatir, marilah, rasanya aku sudah tak tahan lagi.” “tuan tahan kenapa ?” tanya Tok-lian dengan senyum nakal
“tidak tahan ingin memeluk dan menciummu, hehehe..:” “ih, tuan-tuan ini genit, mikirnya yang macam-macam “hehehe..habis kalian menggemaskan.” sahut lelaki itu sambil memukul buah pinggul ang-muo-kuibo
324
“hi..hi…tuan ini nakallah ?” jerit ang-mou-kuibo, empat orang itu menuju sebuah vila diluar gerbang sebelah timur.
Pesta mesum pun berlangsung semalam suntuk, diselingi derai tawa nakal dan gurauan kotor, “liu-kongcu, kenal she-taihap tidak ?” tanya tok-lian “semua orang dikota ini kenal she-taihap, terlebih setelah apa yang she-taihap alami beberapa bulan yang lalu.” “eh..memangnya apa yang terjadi liu-kongcu ?” “beberapa bulan yang lalu rumahnya di ledakkan orang, hingga istri dan enam puluh muridnya tewas.” “ih negeri benar, lalu bagaimana dengan she-taihap sendiri ?” “she-taihap luka terbakar yang amat parah, namun untunglah ia selamat dan sudah sekarang sudah pulih, hanya sekarang matanya tinggal sebelah” “wah…lalu pelakunya sudah ditangkap ?” “pelakunya sampai sekarang tidak tahu, haya tuan edmundo yang menyediakan bahan peledak itu di hukum mati bersama putranya.”
“jadi sekarang siapa saja dalam rumah she-taihap kalau ia sudah menduda ?” “sekarang hanya ada anaknya yang sulung kwaa-yang-bun, karena lebih seminggu yang lalu putrinya sudah menikah dengan Kam-kongcu yang menjadi tihu di Guangdong.” “hmh…apakah kamu sudah mengantuk liu-kongcu ?” “benar, marilah kita tidur.” sahut liu-kongcu sambil memeluk
325
tubuh telanjang Tok-lian, Tok-lian juga makin menyusupkan tubuhnya kedalam pelukan Liu-kongcu.
Keesokan harinya, Tok-lian dan ang-mo-kuibo kembali ke penginapan, lima rekan mereka sedangh sarapan di lantai bawah “darimana saja kalian tok-lian ?” tanya Sim-kuang “heiihi..hi.., cari hiburan sambil mencari informasi.” sahut Tok-lian “informasi apa yang kalian dapatkan ?” sela koai-ma “informasi terkait dengan she-taihap.” “oh-ya apa yang kalian ketahui sehubungan dengan she-taihap ?” sela Kwi-ban-ciang “she-taihap beberapa bulan yang lalu rumahnya diledakkan orang, yang saya yakin pelakunya adalah enam rekan kita.” “eh..lalu bagaimana ? apa yang terjadi ?” sela kwu-san-hengcia “istri she-taihap beserta enam puluh muridnya tewas, rumahnya luluh lantak, hancur rata dengan tanah. “taihap sendri bagaimana ?” sela shantung-tok-piauw “she-taihap selamatm tapi sekarang matanya sebelah sudah buta, dan hal yang penting untuk kita ketahui bahwa sekerang she-taihap hanya bersama putra sulungnya.” “hmh….baiklah kita selesaikan makan, dan lalu kita kembali kekamar untuk membicarakan strategi selanjutnya.” ujar kwi-ban-ciang, lalu merekapun makan dengan buru-buru.
Tujuh rekanan itu berkumpul dikamar Kwi-ban-ciang “jika sekarang she-taihap bersama putranya, maka rencana kita
326
adalah mengundang seorang dari mereka untuk dibunuh duluan, apa ada ide yang jitu untuk mewujudkan strstegi ini ?” “dengan surat tantangan tidak mungkin, karena tentunya mereka akan hati-hati setelah peristiwa yang mereka alami.” sela kwi-san-hengcia, tujuh rekanan itu terdiam sambil berpikir
“aku ada ide dalam strategi ini.” sela koai-ma “apa idemu itu kuibo ?” sela kwi-san-hengcia “kita buat seperti yang dilokyang, cianpwe.” sahut koai-ma “hmh…demikian juga bagus, jadi kalau begitu kita hari mendapatkan korban untuk dijadikan pemancing keluarnya salah satu dari she-taihap.” sela kwi-ban-ciang “benar kwi-ban-ciang, jadi sebaiknya kita ambil rumah yang dekat dengan gerbang kota, sehingga kita bisa memancing yang kedua keluar dari kota.” Sela kwi-san-hengcia.
Kwi-ban-ciang dan tujuh rekannya malam itu mengincar sebuah rumah yang berdekatan dengan gerbang kota sebelah timur, rumah itu milik seorang kapten kapal bernama Ma-bin, Ma-bin baru berlabuh tiga malam yang lalu, dan sekarang sedang istirahat di rumahnya, besok lusa ia akan kembali lagi berlayar, rumahnya ini dihuni oleh istri tuanya yang berumur empat puluh tahun dan tiga orang pembantu wanita serta dua orang pembantu laki-laki.
Kehidupan Ma-bin sebagai seorang pelaut yang lebih lama hidup ditengah laut, sangat glamour, ia mempunyai beberapa rumah persinggahan di beberapa kota, dan di beberapa kota
327
itu, ia memiliki istri yang menemaninya selama ia berada dikota itu, malam itu Ma-bin sedang bersantai diberanda atas rumahnya sambil menikmati taburan bintang di langit, istrinya menemaninya dengan mesra, karena suaminya ini hanya seminggu paling lama dirumah, dan mungkin akan bertemu lagi setidaknya tahun depan.
“jika berlayar ke macau bin-koko jangan lupa belikan kalung untukku jika kembali kesini.” ujar ma-hujin ,manja sambil memijit paha suaminya yang bertelekan di kursi panjang “hehee..jangan khawatir ang-moi.” sahut Ma-bin sambil menikmati pijatan istrinya, tujuh orang bayangan gesit mengintai kemesraan suami sitri itu, ketika keduanya berpelukan mesra, ketujuh orang itu muncul secara tiba-tiba, ma-bin dan istrinya terkejut “hehehe…hahaha….malam ini memang suasananya indah dan romantis.” ujar kwi-ban-ciang ”heh ! siapa kalian..!” bentak Ma-bin sambil berdiri menatap ketujuh orang itu “tidak perlu kamu tahu siapa kami.” sela koai-ma sambil bergerak cepat menyerang Ma-bin, Ma-bin dengan cepat berkelit dan hendak memukul lambung Koa-ma “buk…aughhh….plak…buk…hegk..” Lambung koai-ma dihantam pukulan kuat dari Ma-bin, tapi yang menjerit kesakitan malah Ma-bin sendiri, lambung itu kerasnya laksana baja ketika Ma-bin pukul, ketika ia menjerit sebuah tamparan menghantam pipinya hingga giginya ambrul dan disusul sebuah tendangan
328
yang menghantam dadanya, hingga ia terlempar kedalam rumah.
Ma-bin menggeloso sambil meringis, istrinya yang ketakutan meringkuk dibawa kursi panjang, shantung-tok-piuaw menarik Ma-hujin masuk kedalam rumah, Ma-bin dan istrinya diseret kelantai bawah, tiga pelayan yang sedang menyiapkan makan malam terkejut dan menjerit, namun dengan sigap tok-lian membungkam mulut ketiganya, Koai-ma keluar untuk membekuk dua penjaga yang ada di pos gerbang rumah, kedua penjaga itu tanpa perlawanan lemas ditotok Koai-ma dan diseret kedalam rumah, tujuh orang penghuni rumah di tumpuk, sementara tujuh rekanan menikmati makanan diatas meja.
Setelah makanan diatas meja mereka lahap, lo-tong menyeret Ma-hujin kekamar, “mau kemana kamu Lu-siok ?” tanya Kwi-ban-ciang “hehe…kemana lagi kalau tidak bersenang-senang dikamar.” sahut Lu-mo, satu kebiasaan bagi lotong yang kate, setiap wanita yang terintimidasi membuat gairahnya muncul dan dia akan melakukan kemesuman, korbanya kali ini wanita empat puluh tahunan, “hmh..sebelum kita membicarakan rencana tidak salah kita berpesta.” ujar Kwi-ban-ciang, koai-ma dan shantung-tok-piauw membawa dua pelayan kekamar lain, sementara ang-mou-kwi dan tok-lian kembali ke lantai atas menunggu pesta itu selesai sambil menikmati bulan sepotong, seorang pelayan yang tinggal digilir kebejatan dua cianpwe.
329
Ma-bin dan dua penjaganya tergeletak lemas dengan wajah pucat, beberapa jam kemudian pesta mesum itu pun selesai, semua korban kembali dikumpulkan, tiga pelayan sesugukan menangis pilu, Ma-hujin hanya meringis kesakitan serta bingung dengan kemalangan yang menimpa mereka “hehehe..hehehe…kalian semua akan mati, jika tidak menuruti perintah kami, bagaimana ? apa kalian mau mati ?” “ti..tidak tuan, kami akan menuruti apa saja yang tuan katakan.” sahut Ma-bin dengan wajah memelas “bagus kalau begitu, besok kalian dua penjaga pergilah kerumah she-taihap, usahakan seorang dari mereka mengikuti kalian hingga kesini.” ujar Kwi-ban-ciang “ba..,baik tuan, ka..kami akan lakukan perintah tuan ?” “hmh…apa yang akan kalian katakan padanya ?” sela Kwi-san-hengcia, kedua penjaga itu saling pandang, seorang dari mereka berkata “ka..kami akan katakan bahwa rumah majikan kami didatangi perampok dan menawan majikan kami.” “bagus tapi ingat hanya seorang she-taihap yang boleh kalian bawa kesini, jika kalian melanggar, kalian semua akan mati, dan kelian berdua akan diawasi salah satu dari kami.” ujar Kwi-ban-ciang “baik tuan, kami tidak akan melanggar perintah tuan.” sahut dua penjaga serempak.
Keesokan harinya dua penjaga berangkat diikuti oleh koai-ma dan shantung-tok-piauw, keduanya berhenti disebuah likoan, sementara dua penjaga memasuki perguruan pek-lek-twi,
330
empat puluh murid sedang berlatih di lianbhutia diawasi oleh Kwaa-yang-bun, seorang tukang kebun mendekati dua penjaga Ma-bin “ada perlu apa jiwi-sicu ?” “kami hendak bertemu dengan she-taihap muda, apa beliau ada ?” “ada, she-taihap sedang melatih murid-murid, marilah !” sahut situkang kebun, keduanya memasuki lianbhutia, si tukang kebun mendekati Kwaa-yang-bun dan berbisik, Kwaa-yang-bun menatap kedua tamunya, lalu melangkah mendekati kedua penjaga Ma-bin.
“ada apakah Jiwi-sicu, apa yang bisa saya bantu ?” tanya Kwaa-yang-bun ramah “she-taihap, saya adalah A-ling dan ini A-kuan, kami bekerja dirumah Ma-taijin seorang pelaut.” ujar A-ling “A-ling-sicu ada apakah ?” “she-taihap tolonglah majikan kami.” pinta A-ling “kenapa dengan majikan jiwi-sicu ?” “rumah majikan kami di datangi perampok dan majikan kami sekarang ditawan dirumahnya.” “hmh….perampok menawan yang dirampok, sungguh aneh jiwi-sicu, bukankah perampok akan melarikan diri setelah menjarah milik korban ?” “mungkin mereka bukan perampok A-ling ?” sela a-kuan “mungkin juga mereka bandit pemerkosa.” sahut A-ling
331
“apakah kalian melihat orang-orang macam apakah yang mendatangi rumah majikan kalian ?” “ka..kami tidak tahu jelas, karena jumlah mereka lebih dari dua orang, mereka masuk dan mengacau rumah, kami yang menjaga dipintu gerbang langsung masuk kedalam rumah, dan didalam rumah majikan kami sudah berdarah dan tergeletak pingsan, lalu kami segera melarikan diri untuk minta bantuan, dan semalam kami teringat pada she-taihap maka kami datang kesini taihap.” ujar A-lin. “baiklah jiwi-sicu, saya akan menyuruh tiga orang murid untuk melihat situasi dirumah majikan kalian. “apakah tidak sebaiknya she-taihap sendiri menyertai kami ?” sela A-kuan “tidak usah, kalian dengan tiga murid kesana hanya untuk membaca keadaan, A-san, A-tung dan A-liang kesinilah !” sahut Kwaa-yang-bun sambil memanggil tiga murid utama, tiga murid itu mendekat “ada apa siauw-suhu ?” tanya A-liang “kalian bertiga pergi bersama jiwi-sicu ini kerumah Ma-taijin, kalian lihat apa yang terjadi disana, jika memungkinkan kalian dapat menyelesaikannya, maka kalian selesaikan, tap jika tidak dan kalian jangan bertindak semberono.” ujar Kwaa-yang-bun “baik siauw-suhu.” Jawab ketiganya serempak.
Lalu ketiganya keluar dari pek-lek-twi-bukoan, A-lin dan dan A-kuan bingung, keduanya saling pandang, ketika melewati bukoan keduanya melihat Koai-ma dan shantung-tok-piauw, bergerak keluar dari likoan dan mengikuti mereka secara dekat,
332
dua penjaga Ma-bin takut dan pucat, karena tugas mereka gagal membawa seorang she-taihap. “kamu duluan menemui cianpwe dan sampaikan apa yang dibawa dua penjaga ini.” bisik Koai-ma, shantung-tok-piauw mengangguk dan segera mengambil jalan lain dan bergerak berlari cepat menuju rumah Ma-bin.
“bagaimana shantung-tok-piuaw ?” tanya Tok-lian “kedua penjaga itu gagal membawa she-taihap, she-taihap malah mengiringi keduanya dengan tiga murid-muridnya.” “biarkan mereka datang, dan setelah sampai kesini kalian bunuh semuanya.” sela kwi-ban-ciang, tidak berapa lama dua penjaga bersama tiga murid she-taihap mengintai rumah dari halaman rumah, namun mereka terkejut lima orang muncul dan menyerang mereka, tiga murid she-taihap memberikan perlawanan segit.
Bagi empat pengeroyok ternyata tiga murid she-taihap ini merupakan lawan yang tangguh, terbukti hampir seratus jurus, mereka belum dapat merubuhkan seorangpun dari tiga murid she-taihap, bahkan pada dua puluh jurus berikutnya A-liang dapat menendang shantung-tok-piauw hingga terlempar muntah darah, melihat keadaan itu dua cianpwe bergerak memasuki pertempuran, dua serangan cianpwe yang kosen membuat tiga murid she-taihap kewalahan, namun ketiganya dengan gigih bertahan dari tekanan dahsyat dua cianpwe, dan akhirnya dua pukulan cianpwe menegani sasaran. “buk..buk..” A-liang dan A-tung terlempar karena dada mereka
333
melesak remuk, mereka ambruk dan tewas seketika, A-san hanya sekejap terkejut, dua buah pukulan dari Kwi-san-hengcia menghantam perut dan dadanya, A-san ambruk tewas.
Kedua penjaga Ma-bin berlutut dengan wajah pucat, Kwisan-hengcia dengan dua kali tamparan menghancurkan kepala A-lin dan A-kuan, keduanyapun tewas “buang mayat mereka kejurang duluar gerbang !” perintah kwi-san-hengcia, selain dari shantung-tok-piuaw mengangkat empat lima mayat itu dan dari belakang rumah Ma-bin, mereka menyusup keluar gerbang kota, kemudian melemparkan kelima mayat itu kedalam jurang, lalu segera kembali ke rumah Ma-bin
“bagaiamana selanjutnya cianpwe ?” tanya ang-mou-kuibo “kita tunggu she-taihap muncul, kita harus punya rencana cadangan jika dua she-taihap yang muncul.” sahut kwi-ban-ciang sedikit kecewa “jika dua she-taihap yang muncul. maka sebaiknya kita menyingkir dulu dan menata ulang pancingan kita.” sela koai-ma “benar dan kita tidak boleh buru-buru.” sela Tok-lian “bagaimana menurutmu hengcia ?” tanya kwi-ban-ciang “apa yang dikatakan koai-ma itu lebih baik daripada kita gagal dan binasa.” “baik kalau begitu mari kita menyingkir dari sini dan mengintai kemungkinan yang akan datang.” ujar kwi-ban-ciang.
334
tujuh rekanan itu meninggalkan rumah Ma-bin setelah membunuh Ma-bin, Ma-hujin dan tiga pelayan, mereka berpencar diasekitar rumah penduduk untuk mengintai, hanya dua cianpwe yang kembali kepenginapan untuk menunggu, keduanya tidak ikut mengintai, karena takut dikenal oleh she-taihap, di kediaman she-taihap, Kwaa-yang-bun duduk termenung di lianbhutia, hatinya heran karena hari sudah lewat siang, ketiga murid belum kembali, lalu kwaa-yang-bun masuk kedalam rumah, Kwaa-yun-peng yang duduk diruang tengah menyapa anaknya “bun-ji, kamu kenapa ? kelihatannya kamu sedang gelisah.” “aku tadi menyuruh tiga murid untuk melihat situasi di kediaman Ma sipelaut.” “kenapa dengan Ma-sipelaut, Bun-ji ?” “dua pembantunya mengatakan bahwa keluarga Ma sipelaut didatangi penjahat, dan sampai lewat siang begini ketiganya belum kembali.”
“hmh…sebaiknya kamu susul kesana Bun-ji !” sela Kwaa-yun-peng “aku juga berniat menyusul kesana ayah.” sahut Kwaa-yang-bun, lalu ia pergi kekamarnya, dia mengambil sabuk dan menyampirkannya dibahu, lalu dua mouwpit diselipkan kepinggang, lalu ia keluar dari kamar “ayah jika dalam satu jam saya tidak kembali, saya harap ayah menyusul.” “hmh…kenapa bun-ji, apa ada yang kamu cemaskan ?” tanya Kwaa-yun-peng
335
“aku teringat apa yang dialami oleh bibi-mei di wuhan, kejadiannya persis seperti ini, dimana musuh kita memancing bibi mei keluar, untuk mereka keroyok” “baiklah bun-ji, jika dalam satu jam kamu tidak kembali, ayah akan menyusulmu.” ujar Kwaa-yun-peng. “baik ayah, saya akan berangkat.” sahut Kwaa-yang-bun, tidak lama kemudian, Kwaa-yang-bun sampai di depan rumah Ma-bin, keadaan yang sunyi membuat hati Kwaa-yang-bun curiga, dengan gerakan gesit ia masuk kedalam rumah, hatinya terkejut melihat lima jasad yang tergeletak tidak bernyawa.
Tidak lama kemudian Kwaa-yang-bun mendengar gerakan halus mengintainya “keluarlah kalian !” teriak Kwaa-yang-bun, empat orang muncul, dan langsung menyerang, mereka adalah kwi-ban-ciang, kwi-san-hengcia, koai-ma dan ang-mou-kuibo. “dugaan saya tidak salah ternyata ini ulah kalian.” ujar Kwaa-yang-bun setelah melihat dua cianpwe dan ang-mou-kuibo yang dikenalnya, gerakan im-yang-sian-sin-lie dikerahkan, dan Kwaa-yang-bun tahu bahwa masih ada tiga orang lagi yang sembunyi, namun dengan tenang she-taihap menghadapi empat lawannya, dia selalu waspada dengan serangan gelap.
Dua cianpwe dengan gerakan cepat menekan she-taihap dengan kekuatan gerakan yang penuh sin-kang, seratus jurus sudah berlalu, dan pada saat dua cianpwe mengadu sin-kang dengan kwaa-yang-bun, empat buah pisau dan sepuluh jarum melesat, she-taihap melenting keudara sambil mengebutkan
336
sabuknya “wut ctar…hegk..” empat pisau dan sepuluh jarum runtuh ketanah, namun Kwaa-yang-bun tidak menduga ada dua buah paku hitam menancap dipundak dan lengannya, paku itu serangan dari lu-mo, paku itu bergerak dengan kekuatan magis, untungnya ilmu siu-to-po-in melindungi tubuh Kwaa-yang-bun, empat lawannya terus bergerak cepat melihat she-taihap sudah termakan senjata rahasia lo-tong, tapi mereka harus bersabar dulu karena Kwaa-yang-bun masih dalam kondisi yang prima, jurus im-yang-bun-sin-im-hoat bergerak menyerang koai-ma, namun dua cianpwe, tidak mau memberikan kesempatan pada she-taihap merubuhkan salah satu dari mereka, serangan keduanya yang luar biasa terpaksa membuat kwaa-yang-bun gagal merubuhkan koai-ma.
Kali kedua adu sin-kang kembali beradu, rumah itu bergetar, bahkan tangga keatas roboh, kembali tiga serangan gelap datang, kali ini Kwaa-yang-bun posisinya sangat terjepit, cep..hegk..” sebuah pisau dari empat pisau yang meluncur menancap di paha she-taihap, sementara sepuluh jarum tok-lian dapat di runtuhkan, namun sebuah paku dari lotong menancap dilambung, Lotong setiap lemparan, ada tujuh paku yang melesat, suaranya desirannya nayaris tidak terdengar, dan paku itu walaupun lebih besar dari jarum tok-lian, namun sulit ditangkap oleh mata seawas she-taihap, pantaslah jika dia dijuluki “kui-ting” (paku siluman).
337
She-taihap masih mampu bertahan, dengan im-yang-pat-sin-im-hoat dia menghadapi empat pengeroyok, dua cianpwe semakin bersemangat menekan she-taihap, yang mereka yakin semakin lemah, mereka mengetahui keadaan she-taihap dari adu sin-kang, untuk hal gin-kang she-taihap masih seirama dengan mereka. “siap..sekali lagi hengcia !” teriak kwi-ban-ciang “dhuar…dhuar…hegh…brak…” ledakan sin-kang menggelegar, dua cianpwe terlempar, tiga penyerang gelap tidak jadi melempar senjata rahasia, karena terkejut melihat bayangan gesit tiba-tiba muncul, dua cianpwe terlempar bagai layang-layang melabrak dinding hingga jebol, ang-mou-kui-bo terhempas jatuh, tok-lian dan koai-ma menyingkir melarikan diri, demikian juga dua cianpwe sudah menghilang dalam sekejap.
Lo-tong dan shantung segera menyingkir, lotong berhasil melarikan diri, sementara shantung-tok-piauw sudah terlambat, karena sebuah sentilan telah membuat dia lemas dan roboh, pada adu sin-kang yang luar biasa dahsyat itu, ternyata diiringin oleh kekuatan sin-kang kwaa-yun-peng yang tiba-tiba muncul, dua iblis yang tidak menyangka dan hanya sekilas menangkap bayangan, sudah memastikan kehadiran she-taihap yang lain, tanpa pikir panjang setelah terlempar dan melabrak didnding, tanpa menggubris sesak dalam dada, dengan wajah pucat keduanya melarikan diri, demikian halnya dengan koai-ma dan tok-lian, hanya ang-mou-kui-bo yang dekat dengan kemunculan Kwaa-yun-peng mendapat imbas kilatan sin-kang yang mengantam tubuhnya hingga ia tewas seketika.
338
“ayah…” seru Kwaa-yang-bun lemah dan ia langsung duduk bersiulian, Kwaa-yun-peng duduk di belakang anaknya dan membantu Kwaa-yang-bun untuk mengeluarkan hawa beracun dari senjata rahasia, menjelang malam Kwaa-yang-bun sudah pulih kembali “aku tidak tahu ayah apa efek luka dari tiga paku dan pisau ini.” ujar Kwaa-yang-bun “coba kita tanya orang itu.” sahut Kwaa-yun-peng sambil berdiri dan melangkah mendekati sim-kuang
“kamu ini siapa ?” tanya Kwaa-yun-peng “sa..saya shantung-tok-piauw.” Jawabnya dengan mua pucat “selain dari kwi-ban-ciang, kwi-san-hengcia siapa lagi temanmu yang lolos itu ?” sela Kwaa-yang-bun “kui-ting-lotong, tok-lian, dan koai-ma.” “pisaumu telah menancap dipahaku, apa efek luka dari pisau ini ?” tanya Kwaa-yang-bun “efek lukanya hanya bengkak dan pembusukan jika tidak diberi obat luka.” “hmh…lalu efek luka dari paku temanmu ini ? tanya kwaa-yang-bun sambil menunjukan paku dilengannya.” “jika paku dicabut mengeluarkan darah, maka ia hanya luka biasa, namun jika pakut dicabut tidak mengeluarkan darah, itu artinya pembuluh darah telah terjadi pembekuan, dan itu akan membuat pembusukan urat nadi, jika ia sampai pada usus besar, maka tiga hari setelah itu sikorban akan mati.” sahut sim-kuang, Yang-bun mencabut dua paku di lengan dan dilambung, keduanya berdarahdan, tapi ketika mencabut paku di pundak
339
tidak berdarah. “bagaimana menurut ayah ?” tanya Yang-bun “apakah kamu tahu penawar luka ini ?” tanya Yun-peng pada Sim-kuang “aku tidak tahu she-taihap, hanya lotong yang tahu, ampunkanlah aku taihap.” “hmh..ceritakan apa sebenarnya rencana kalian !?” perintah yun-peng
“saya hanya diajak untuk melanjutkan misi yang katanya gagal disini.” “misi pelenyapan she-taihap ?” sela Yang-bun “benar taihap.” “hmh…berarti pelaku peledakan beberapa bulan yang lalu merupakan bagian misi kalian?” “mungkin taihap, persisnya aku juga tidak tahu.” “kenapa kamu katakana mungkin ?” sela yun-peng “karena aku hanya mendengar dari tok-lian meyakini bahwa pelaku peledakan itu enam dari rekan mereka yang tidak kunjung kembali.” “apakah ada misi mereka yang berhasil ?” sela Yang-bun “kata kwi-ban-ciang misi mereka berhasil di lokyang, dua she-taihap dapat mereka tewaskan.” “liong-pek ayah..” seru Yang-bun dengan dada sesak dan matanya berkaca-kaca.
“baiklah shantung-tok-piauw, kuburkanlah temanmu itu, kamu kami maafkan, entah kalau kali kedua kita bertemu pada situasi
340
yang sama.‟ ujar Yun-peng, lalu kedua she-taihap itu meninggalkan rumah Ma-bin “kita kerumah wan-sinse dulu Bun-ji, mungkin dia tahu obat luka paku di bahumu.” ujar Yun-peng, keduanya malam itu bertamu kerumah Wan-sinse “hehe..she-taihap bagaimana keadaanmu ?” “aku baik-baik saja Wan-sinse.” “lalu apa yang bisa saya bantu, sehingga malam-malam begini kalian anak beranak datang mengunjungiku ?” “kami ingin minta bantuan shinse untuk memeriksa luka bun-ji.” “oh..sini bun-ji coba saya lihat.” ujar Wan-sinse, Yang-bun mererebahkan diri didipan, Wan-sinse memperhatikan empat luka ditubuh Yang-bun.
Wan-sinse membaluri luka pisau dengan obat bubuk dan lalu, begitu juga dengan luka dilambung dan lengan, namun ketika melihat luka lobang menghijau dipundak, keningnya berkerut. “apakah ini luka yang sama dengan lengan dan lambung taihap ?” tanya Wan-sinse “benar wan-sinse, hanya menurut teman orang yang melukai bun-ji, luka di bahu itu telah terjadi pembekuan urat nadi, dan akan terjadi pembusukan hingga mencapai usus besar, dan katanya tiga hari setelah pembusukan usus besar, korban akan mati.” “waduh sadis dan mengerikan pemilik senjata paku ini.” “apakah sinse dapat memberikan pendapat tentang luka ini ?” tanya Yun-peng “jika ada luka simisterius ini, siempunya paku meramu pakunya
341
dengan hal-hal yang menjijikan dan berbau syetan.” “kenapa wan-sinse berkata demikian ?” “karena tiga paku ini sama model dan ramuannya, dan seharusnya efeknya sama, sama racunnya dan sama lukanya, namun tiga paku yang sama, ada satu yang berbeda efek yang ditimbulkannya.” jelas Wan-sinse “lalu bagaimana menurut pendapat sinse ?”
“luka dengan efek yang taihap ceritakan tadi, jelas membuat aku juga bingun cara mengobatinya, namun aku memiliki seorang teman yang ada di “bian-san” (bukit kipas) sebelah timur kota An-hui, namanya Lauw-jin, bawalah kesana bun-ji, semoga dia dapat membentu she-taihap.” “baiklah wan-sinse, dan terimakasih atas pengobatan dan saran pendapatnya.” “sama-sama taihap.” sahut Wan-sinse, lalu dua she-taihap pulang kembali kerumah.
Keesokan harinya dua she-taihap untuk sementara menutup perguruan, karena akan pergi dalam jangka waktu yang lama, sementara Kwi-ban-ciang dan Kwi-san-hengcia sedang tergeletak ngosngosan disebuah lembah ditimur kota shanghai, tidak berepa lama tok-lian dan koai-ma muncul. “bagaimana keadaan jiwi cianpwe ?” tanya tok-lian “dadaku sesak, namun hanya luka ringan, kalian sendiri bagaimana ?” sahut Kwi-san-hengcia “kami baik-baik saja cianpwe, hanya mungkin tiga yang lain tewas.” ujar tok-lian
342
“yang jelas ang-mou-kuibo tewas, dan kalua lotong dan shantung-tok-piauw belum tentu.” sela Koai-ma “hmh..sial kita hampir berhasil membunuhnya.” keluh kwi-hengcia gemas
“sudahlah, kalian cari makanan untuk pengganjal perut !” perintah kwi-ban-ciang, lalu tok-lian menyalakan api sementara koai-ma mencari binatang buruan, seekor ular besar menjadi santapan mereka, setelah malam tiba, tiba-tiba lotong muncul “Lu-siok ternyata kamu selamat.” sela kwi-sian-hengcia “iyah..untung aku agak jauh dari she-taihap dan cepat menyingkir.” “lalu bagaimana dengan sim-kuang ?” sela Tok-lian “aku tidak tahu, tapi kemungkinan besar tertangkap she-taihap, karena sampai kesini aku tidak melihat bayangannya dibelakngku.”
“hmh..lalu bagaimana cianpwe rencana kita selanjutnya ?” tanya koai-ma “untuk sementara kita bersembunyi disatu tempat, karena jika kemungkinan sim-kuang tertangkap she-taihap akan mencari kita ditemnpat asal kita.” sahut Kwi-ban-ciang “sebaiknya kita tetap dekat dengan kota ini, karena saya yakin seorang she-taihap dalam dua minggu ini akan tewas.” sela lotong “bagaimana kamu yakin begitu Lu-siok ?” tanya kwi-san-hengcia “hehehe..hahaha..karena aku telah menancapkan tiga paku
343
dalam tubuhnya, walaupun hawa racun ketiga pakuku dapat dipunahkan oleh she-taihap, namun salah satu luka dari tiga pakuku akan menghantarkan nyawa she-taihap kealam kubur.” “memangnya efek luka paku Lu-siok berbeda ?” sela kwi-ban-ciang “benar, karena setiap paku ganjil akan membawa magis siluman yang akan menggerogoti urat nadi korban, dan untung saya tidak jadi melempar tujuh paku, sebab kalau sempat satu mengenai tubuhnya, maka akan genap, dia akan selamat dari magis siluman.” sahut lu-mo.
“hmh…jika perkiraan lu-siok benar, patut kita untuk bersembunyi disini setidaknya sampai dua minggu, kemudian kita membantai seorang she-taihap lagi.” ujar kwi-ban-ciang, semuanya mengangguk setuju, lalu kelimanya merambah lembah dan masuk kedalam hutan belukar, keesokan harinya mereka menemukan sebuah gua didalam hutan, kelimanya masuk dan menelusuri goa. “tempat ini cocok untuk kita singgahi selama dua minggu.” ujar kwi-ban-ciang, lalu merekapun duduk dan istirahat setelah berjalan semalaman merambah hutan.
Kwaa-Yun-peng dan anaknya mengadakan perjalanan dengan memburu waktu, lari mereka luar biasa cepat, tiga hari kemudian mereka sampai disebuah lembah disebelah barat kota suzhou “ayah aku merasakan nyeri pada bagian dadaku.” ujar Yang-bun sambil menghentikan larinya,
344
“coba ayah lihat dadamu bun-ji !” ujar Yun-peng, Yang-bun membuka kancing bajunya, otot dada Yang-bun pada bagian luka membengkak, dan urat sarafnya menonjol. “sebentar lagi kita akan sampai kekota suzhuo, jadi biar ayah gendong kamu.” Ujar Yun-peng sambil meraih pinggang Yang-bun dan berlari cepat melintasi lembah, mauk hutan dan menurunu bukit, hingga sampai pada jalan raya menuju gerbang kota Suzhou.
Kwaa-yun-peng menyewa sebuah kamar untuk melewatkan malam, keesokan harinya ketika ia bangun aroma busuk yang sengit tercium “ayah luka ini mengeluarkan bau busuk, ketika Yun-peng melihat sebuah urat syaraf yang menojol semalam pecah dan mengeluarkan nanah bercampur darah kehitaman, para tamu diluar kamar ribut karena mencium aroma busuk yang menyengat hidung, bahkan suara muntah sebagian tamu terdengar “sebaiknya kita cepat meninggalkan kota ini Bun-ji, tunggulah sebentar.” ujar Yun-peng, lalu ia keluar “sicu…sepertinya bau tidak sedap ini dari dalam kamarmu !” sela seorang tamu ketika melihat Yun-peng keluar “benar sicu, dan maaf telah membuat para sicu sekalian, kami akan segera meninggalkan likoan.” sahut Yun-peng.
Kwaa-yun-peng menemui pemilik likoan, dia memesan dua bungkus makanan dan membayar sewa kamar, setelah itu Yun-peng kembali kekamar dan menggendong anaknya yang makin
345
lemah, Yun-peng dengan cepat melompat dari ruang atas ke atap genteng bangunan disebelah dan dalam sekejap ia sudah jauh meninggalkan likoan dan keluar dari gerbang kota, setelah siang Yun-peng berhenti disebuah hutan, lalu anak beranak itu makan makanan yang tadi dipesan Yun-peng.
Kwaa-yang-bun tidak mampu untuk makan, karena perutnya terasa mual akibat aroma busuk, bahkan makanan itu memicu Yang-bun muntah, Kwaa-yun-peng dengan pengerahan tin-liong-siulian tidak merasa terganggu dengan bau busuk luka anaknya, setelah makan Yun-peng kembali menggendong Yang-bun dan berlari luar biasa cepat melintasi hutan dan lembah, dua hari kemudian Yun-peng sampai disebuah bukit sebelah selatan kota Nanjing, Yun-peng merebahkan yang-bun diatas rumput “ayah akan memburu binatang untuk makanan kita.” Ujar Yun-peng, Yang-bun menganggukkan kepala, luka didadanya makin melebar, dan urat-urat syaraf yang menonjol itu hampir mencapai puting susunya, dan tiga buah urat syaraf sudah pecah mengeluarkan banyak cairan nanah bercampur darah hitam.
Kwaa-yun-peng dalam waktu tidak lama mendapatkan seekor ayam hutan, ketika Yang-bun melihat ayam yang dikuliti ayahnya, perutnya yang sudah tiga hari kosong muntah lagi untuk kesekian kalinya, hanya cairan kuning yang dimuntahkan dari perutnya yang kosong “ayah aku tidak tahan lagi, aku lemas benar.” keluh Yang-bun,
346
wajahnya sudah pucat pias “bersabar dan bertahanlah Bun-ji, kita sedang berusaha anakku untuk penyembuhanmu” hibur Yun-peng
“ayah perutku tidak tahan melihat ayah makan.” ujar Yang-bun “hmh…kalau begitu ayah akan makan dengan sembunyi dan agak jauh.” ujar Yun-peng, lelu menghilang dari tempat itu, Yang-bun dengan tubuh lemas menatap langit dari celah rerimbunan hutan, perutnya terasa sangat nyeri akibat rasa lapar, namun malangnya tenggerokannya tidak lalu menelan makanan, perutnya enggan menerima makanan, tidak lama bau aroma harum ayam bakar tercium “hoak…hoak…” Yang-bun muntah karena merasa mual, Yun-peng dengan cepat melahap makanannya, dia sudah memutuskan bahwa ia tidak akan lagi makan setelah ini, karena anaknya tidak tahan melihat makanan, dan bahkan aroma daging bakar membuat anaknya muntah yang ia dengar dari kejauahan.
Kwaa-yun-peng kembali ketempat dimana Yang-bun direbahkannya, ia lalu mencuci mulut anaknya yang berlepotan cairan muntahan, Yang-bun minum sampai puas, karena hanya air ini yang menopang kehidupannya sekarang, saat Kwaa-yun-peng hendak menggendong putranya “kweekkk..kwekkkk…:” terdengar pekikan dari angkasa “jin-siok ayah..” seru Yang-bun, dan memang benar tiba-tiba Han-jin meluncur dari atas “peng-ko !?” seru Han-jin
347
“syukurlah Jin-te, kita harus ke bian-san disebelah timur kota An-hui.” “baik peng-ko.” sahut Han-jin meraih tubuh Yang-bun dari pelukan kakaknya, kemudian Han-jin bersuit, pek-thouw pun melintas, Han-jin meraih tangan Yun-peng dan membawanya melayang keatas dan mendarat dipunggung pek-thouw.
Han-jin sudah berbulan-bulan mencari rekanan kwi-ban-ciang lewat udara dan darat, namun ia tidak menemukan jejak rekanan tersebut, terakhir perjalanan darat yang singgahi adalah kota Yinchang, namun jejak rekanan Kwi-ban-ciang tidak ada disana, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke pulau-kura-kura, dan saat melintasi angkasa Nanjing, Han-jin melihat gerakan dibawah yang ternyata adalah kakak dan keponakannya.
Pek-thouw sampai di bian-san pada waktu sore, “itu nampaknya ada sebuah pondok, mungkin itu shinse yang harus kita temui Jin-te.” ujar Kwaa-yun-peng “kamu melintas di atas pondok itu pek-thouw !” perintah Han-jin sambil menunjuk kebawah kearah pondok, pek-thouw memekik dan melintas diatas pondok, Han-jin dan Yun-peng melompat kebawah dan mendarat mulus menjejak halaman pondok.
Seorang lelaki tua berumur enam puluh tahun keluar bersama seorang gadis cantik berumur dua puluh tahun, keduanya sedang meramu obat didalam pondok, lalu pekikan pek-thouw mengejutkan keduanya, dan segera keluar dan melihat keatas,
348
rasa takjub luar biasa menyaksikan rajawali raksasa yang terbang melintas rendah, dan hati keduanya terkejut, ketika melihat ada orang melompat dari punggung rajawali dan turun di halaman pondok mereka. Keduanya takjub dan terkesima melihat dua orang asing yang luar biasa itu.
“maaf , jika kami telah mengejutkan Lo-sicu dan nona.” ujar Yun-peng “hehehe…memang kalian luar biasa mengejutkan sicu, siapakah kalian dan hendak kemana ?” tanya orang tua itu “kami ini she-kwaa, saya adalah Kwaa-yun-peng, ini adik saya Kwaa-han-jin, dan ini anak saya Kwaa-yang-bun.” sahut Yun-peng. “she-kwaa…hmh..apakah yang berdiri didepan saya ini she-taihap ?” sela orang tua itu “benar dugaan lo-sicu, kami hendak bertemu dengan Lauw-jin shinse, diamanakah kami bisa bertemu ?” sajut Yun-peng “hehehe..aku sendirilah she-taiahap, mari silahkan masuk, keliahatnnya anakmu sedang sakit parah luar biasa.” ujar Lauw-sinse
“terimakasih lauw-sicu, dan memang benar, anak saya sedang sakit, dan atas saran Wan-sinse di shanghai kami kesini.” “ooh, begitu, mari…mari…dan baringkanlah ia didipan, dan aku akan coba lihat, hua-ji sediakan minum bagi she-taihap !” sahut Lauw-sinse dan memerintahkan cucunya Lauw-li-hua untuk menyediakan air minum, Li-hua mengangguk dan segera kedapur, Kwaa-han-jin merebahkan Yang-bun di atas dipan,
349
Lauw-sinse memeriksa luka dibahu Yang-bun, kepalanya geleng-geleng sambil meraba bagian urat syaraf yang tidak pecah, tidak lama Lauw-li-hua datang menyuguhkan minuman.
“silahkan diminum she-taihap !” sela Li-hua itu sambil senyum ramah mempersilahkan tamunya minum “terimakasih siocia.” sahut Yun-peng, sambil membalas senyum, namun kemudian ia kembali memperhatikan Lauw-sinse yang lama terdiam, dan kemudian Lauw-sinse berdiri mengambil sebuah botol di dalam lacinya, lalu ia menuangkan cairan merah dalam mangkok, aroma harum semerbak menyeruak, lalu sejumput obat bubuk ia masukkan kedalam mangkok, lalu campuran itu diaduk, setelah itu Lauw-sinse melumuri luka itu dengan obatnya, kontan aroma busuk dari luka itu hilang dan aroma semerbak itu juga hilang, kemudian ia berbalik dan mennatap she-taihap
“apa yang terjadi peng-ko ?” tanya Han-jin “rekanan kwi-ban-ciang mengicar kami, untungnya Bun-ji waspada dengan keadaan.” sahut Yun-peng, lalu ia pun menceritakan trik rekanan kwi-ban-ciang untuk mengeroyok Yang-bun. “luar biasa dendam kesumat rekanan itu kepada kita peng-ko “benar, dan nampaknya usaha mereka sangat gigih untuk melenyapkan kita, bahkan saya dengar dari seorang rekan mereka bahwa liong-ko tewas.” sahut Yun-peng “benar Peng-ko, liong-ko dan keponakan kita Kwaa-tan-bouw tewas ditangan mereka.” ujar Kwaa-han-jin.
350
“Lauw-sinse berbalik dan menatap dua she-taihap “bagaimana Lauw-sinse ?” tanya Yun-peng dengan nada sabar “hmh….luka bun-ji sangat parah sekali, dua hari lagi pembusukan ini akan sampai ke usus besar.” “itu artinya kita masih punya waktu lima hari lagi.” sela Yun-peng “benar she-taihap, bagaimana she-taihap tahu ?” “teman pemilik senjata yang melukai bun-ji mengatakan jika pembusukan sudah sampai ke usus besar maka menurutnya dalam tiga hari akan mengakibatkan kematian.” sahut Yun-peng
“apakah ada obat yang bisa kita usakan Luaw-shinse ?” sela Han-jin “obatnya ada, kita butuh tiga macam ramuan obat dalam usaha penyembuhan ini.‟ “apakah itu lauw-sinse ?” tanya Yun-peng “dua ramuan mudah didapatkan, namun ada satu ramuan yang sulit.” “apakah dua ramuan yang mudah itu lauw-sinse ?” sela Han-jin “kapur barus dan bunga mayat, kapur barus saya punya persediaan, dan bunga mayat banyak kita jumpaii di pemakaman.” sahut Lauw-sinse “lalu yang ketiga, yang kata shinse sulit, apa ?” tanya Yun-peng :ramuan ini sebenarnya memalukan she-taihap.” sahut Lauw-sinse “memalukan ?” sela kedua shep-taihap dan saling pandang.”
351
“benar she-taihap, karena ramuan yang ketiga ini adalah darah perawan.” Sahut Lauw-sinse, kedua she-taihap melengak terperangah. “memang racun senjata ini mengandung kekuatan mistik, ramuan senjata ini digodok bersama cairan mayat yang sedang hamil.” ujar Lauw-sinse menjelaskan “bagaimana pendapatmu Jin-te ?” tanya Yun-peng pada adiknya “Peng-ko, saya akan mengambil bunga mayat itu dulu, semoga lima hari ini thian memberikan jalan pada kita, sebelum kepasrahan kita hamparkan dahadapan ketetapan Thian.” sahut Han-jin, lalu keluar dan menuju perkampungan dibawah bukit.
Kwaa-yun-peng tertunduk merenung, sementara li-hua yang sedang berada dikamar mendengar semua percakapan itu, terbetik rasa kasihan mengingat keadaan Kwaa-yang-bun yang diujung tanduk. “bagaimanakah she-taihap yang terkenal ini akan mendapatkan darah perawan ? akankah keluarga lua biasa ini akan mengambil jalan pintas untuk mendapatkan darah perawan demi kesembuhan seorang dari keluarga mereka?” pikir li-hua, namun saat ia mendengar jawaban Han-jin pada Yun-peng, hatinya takjub, jawaban itu sebuah ketegasan akan kokohnya kelaurga ini memegang prinsip kebenaran “mari kita keluar she-taihap, diluar kita akan merasa segar dan nyaman.” ujar Lauw-sinse.
352
Kwaa-yun-peng dan Lauw-sinse keluar dan duduk diberanda rumah, Li-hua keluar dari kamarnya, dan mendekati Yang-bun yang tergeletak lemah, Yang-bun sadar dan mendengar percakapan itu, hatinya sudah pasrah jika memang ajalnya akan tiba dalam waktu dekat ini “siocia aku lapar sekali.” ujar Yang-bun lemah “sebentar akau akan suapkan bubur.” sahut Li-hua segera bangkit dan pergi kedapur, tidak lama Li-hua muncul lagi dan duduk disamping Yang-bun, Li-hua menyuapi Yang-bun, Yang-bun makan bubur dengan lahap, karena aroma busuk sudah hilang, perutnya tidak mual lagi, bahkan saking lahapnya dua mangkok bubur tandas keperut Yang-bun.
“terimakasih siocia, perutku sudah kenyang.” ujar Yang-bun “aku cucunya, namaku Lauw-li-hua.” sahut Li-hua “terimakasih lauw-siocia.” ujarkYang-bun mengulang ucapan terimakasih “tidak perlu taihap, bukankah ini sudah tugas kami, sebagai tabib ?” “benar Lauw-siocia, namun supaya hatiku tentram aku harus ucapkan.” sahut Yang-bun senyum, hati Lauw-li-hua tergetar melihat senyuman manis dan mengandung rasa nyaman dan ketenangan yang dalam, Li-hua tertunduk menenangkan degupan hatinya.
Saat Lauw-li-hua tertunduk rambutnya yang digulung lepas dan gumpalan rambut yang panjang itu jatuh ke atas lengan Yang-bun, rasa hangat menyelinap dalam dada Yang-bun, indahnya
353
rambut Li-hua membuat Yang-bun terpana, dan lekat memandang wajah cantik didepannya “kenapa kamu melihatku seperti itu ?” sela Li-hua nyaris berbisik sambil menunduk wajahnya yang bersemu merah, sembari menarik ujung rambutnya keatas pankuannya. “oh..maafkan aku Li-siocia, ka..kamu membuatku terpana.” jawab Yang-bun dengan hentakan gelora hatinya, sehingga membuat ia sedikit gugup, Li-hua tersenyum makin menunduk malu.
“be..benarkah taihap ?‟ bisik Li-hua agak gugup karena muka terasa makin panas “namaku yang-bun li-siocia, dan aku tidak berani membohongimu, sungguh hatiku terpana melihatmu.” sahut Yang-bun, dan anehnya matanya berkaca-kaca, bahkan menetes dari sudut matanya, hati Li-hua berteriak senang mendengar penegasan ucapan Yang-bun, dan ketika ia melirik wajah Yang-bun hatinya heran dan terenyuh melihat mata Yang-bun yang berair. “kenapa kamu menangis bun-ko ?” bisik Li-hua “aku bahagia dapat merasakan sebuah gejolak yang nyamannya bertubi-tubi meresap dalam relung batinku, ternyata Thian masih memberikan kesempatan padaku merasakan kehangatan dan kenyamanan yang luar biasa ini, walaupun dipenghujung ajal yang sebentar lagi akan tiba, aku sangat bersyukur sekali hua-moi.” sahut Yang-bun dan dua tetes air mata kembali mengalir dari sudut mata Yang-bun.
354
“oh-bun-ko, ketulusan kata-katamu membuat aku merinding saking bahagianya, aku bahagia dapat memberikan kenyamanan luar biasa yang kamu rasakan saat ini.” bisik Li-hua “Peng-ko aku sudah dapatkan bunga mayat.” sela suara Han-jin dari luar, Li-hua segera bangkit, “bun-ko aku kekamar dulu aku akan menyiapkan makan malam.” ujar Li-hua dengan senyum terkulum sambil menunduk dan berbalik menuju dapur, Yang-bun merasa senang dan tenang, kegembiraannya melebihi nyeri yang alami, tidak lama kemudian lauw-sinse masuk sambil membawa bungan mayat ditangannya.
“bun-ji apakah kamu tidak lapar ?” tanya Lauw-sinse “aku sudah makan bubur dan dibantu cucu kakek.” jawab Yang-bun “ooh, begitu, sekarang bagaimana perasaanmu ?” “setelah makan bubur aku tidak lemas lagi kakek.” “hmh….istirahalah yang cukup, ayah dan pamanmu akan memikirkan jalan untuk penyembuhanmu.” ujar Lauw-sinse, Yang-bun mengangguk dan memjamkan matanya, wajah Li-hua terlukis nyata di pelupuk matanya, dengan seulas senyum Yang-bun menikmati bunga-bunga cinta yang tumbuh dan mekar dalam hatinya.
Sementara didapur Li-hua hatinya yang juga berselimut mesra, senyumannya tidak lekang, hatinya berbunga-bunga, wajah Yang-bun demikian melekat dalam benaknya, ketika malam tiba
355
Li-hua menghidangkan makan malam, setelah menghidang makanan, sementara kakeknya dan dua she-taihap bersantap malam, Li-hua pergi kedapur, lalu dengan semangkok bubur Li-hua masuk kekamar pengobatan, sinar mata bahagia dan senyum manis Yang-bun menyambutnya, dengan rasa hangat Li-hua duduk kembali disamping Yang-bun, dan dengan hati mesra ia menyuapi pemuda yang telah mengaduk-aduk perasaannya ini.
Kwaa-yang-bun sangat menikmati bubur yang memasuki mulutnya, nikmatnya luar biasa ia rasakan, maklum hatinya juga sedang merasa senang dan bahagia, oleh karena rasa bahagia yang berpadu dengan rasa cinta yang mesra membuat rasa bubur nasi itu belipat kelezatannya, kedua sejoli itu saling bertatapan, tatapan itu mewakili hati mereka, disetiap suapan ada isyarat, disetiap kedipan mata ada isyarat, disetiap tundukan ada isyarat, disetiap helaan nafas ada iyarat, yang semua isyarat itu mengandung aroma cinta yang semerbak, ungkapan hati yang bergejolak.
Setelah Kwaa-han-jin selesai makan, ia berdiri “kamu mau kemana Jin-te ?:” tanya Yun-peng “aku akan melihat Bun-ji dan menyuapinya makan.” jawab Han-jin, lalu Han-jin melangkah menuju kamar, namun dia berhenti ketika melihat Li-hua menyuapi Yang-bun, Han-jin kembali keruang makan. “bagaimana dengan bun-ji jin-te ?” tanya Yun-peng “bun-ji sudah dikasih makan oleh lauw-siocia.” jawab Han-jin
356
“biarlah hua-ji yang mengurusnya, dia lebih telaten mengurus hal-hal seperti itu, lagian pengetahuannya dalam bidang pengobatan hampir menyamaiku.” sela Lauw-sinse senyum.
Keesokan harinya, sebagaimana biasa setelah makan pagi Lauw-sinse meramu obat, Li-hua tidak menyertai kakeknya karena ia terlebih dahulu memberi makan untuk Yang-bun, kali ini li-hua memberikan makanan biasa pada Yang-bun, karena perutnya sudah kuat untuk mencerna. “hua-moi, penyakitku ini hanya menghitung hari, namun kamu demikian telaten merawat saya, sungguh hatimu mulia sekali.” “bun-ko tetaplah berusaha untuk mendapatkan ramuan obatmu, tidak ada yang sulit jika thian memberikan jalan.” sahut li-hua, Yang-bun menatap wajah yang tertunduk itu, hatinya bergetar, isyarat itu sangat ia mengerti.
Kwaa-yang-bun meremas paha li-hua dengan lembut “hua-moi aku cinta padamu.” bisiknya nyaris seperti desahan, li-hua memejamkan mata, karena sengatan hangat dan getaran yang menyergap hatinya oleh remasan dan sentuhan Yang-bun pada pahanya, ia hanya mengenguk sambil menelan liur untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering, setelah makanan Yang-bun habis, ia segera meninggalkan Yang-bun dan kembali dapur, setelah mencuci piring dan mangkok, li-hua keluar dan membantu kakeknya meramu obat.
Kwaa-han-jin yang melihat li-hua sudah keluar, segera memasuki pondok dan menemui Yang-bun
357
“bagaimana keadaanmu bun-ji ?” tanya Han-jin “keadaanku sudah pulih Jin-siok, dan rasanya aku sudah bisa duduk.” sahut Yang-bun “bagaimana dengan ayah dan paman ?” “kami baik dan dalam keadaan tenang, harapan selalu terpanjat, semoga Thian memberi jalan pada kita untuk kesembuhanmu Bun-ji.” sahut Han-jin, Yang-bun menunduk.
“Bun-ji, sebaiknya kamu berganti baju, dan paman akan mengambil air untuk melap tubuhmu.” ujar Han-jin, lalu han-jin kedapur dan membawa sebaskom air, kemudian Han-jin melap tubuh keponakannya dengan rasa sayang, lalu setelah itu, Han-jin membantu Yang-bun mengganti baju, pecahan urat syaraf semakin banyak, namun cairannya tidak merembes karena obat ramuan yang berikan lauw-sinse, luka itu hanya basah, dan urat syaraf yang menonjol sudah sampai dibawa puting susu Yang-bun.
Kwaa-yang-bun merasa nyaman setelah berganti baju yang bersih “jin-siok !?” serunya sambil bersandar kedinding kamar “ada apa bun-ji ?” tanya Han-jin sambil menggulung baju kotor Yang-bun “jin-siok, sesungguhnya Thian telah memberikan jalan bagi kita.” :maksudmu bagaimana bun-ji ?” “jin-siok, aku dan hua-moi memiliki perasaan yang sama, aku sangat mencintainya, dan dipaun begitu sangat mencintaiku,
358
aku berani mengatakan ini pada paman, karena tadi hua-moi telah memberikan isyarat padaku, jadi paman ajukanlah lamaran pada lauw-cianpwe, untuk menikahkanku dengan hua-moi.”
“hmh…syukur pada Thian kita panjatkan bun-ji, jalan keluar yang di berikan Thian ini anugrah yang amat indah dan luar biasa, segera akan paman bicarakan dengan ayahmu.” sahut Han-jin, lalu ia meninggalkan Yang-bun yang penuh dengan gelora cinta yang semakin menghangat dalam hatinya, Kwaa-han-jin mendekati kakaknya yang sedang duduk disebuah balai-balai sambil bersiulian, sementara Lauw-sinse dan cucunya berada di halaman belakang menjemur ramuan-ramuan obat. “peng-ko !” seru Han-jin lembut, Yun-peng membuka sebelah matanya dan menatap adiknya “ada apa jin-te ?” tanya Yun-peng “Peng-ko, mari kita penuhi keinginan bun-ji, dan keinginannya adalah jalan yang dibukakan Thian untuk kita.” sahut Han-jin
“apa maksudmu jin-te ? apakah keinginan Bun-ji ?” “bun-ji ingin menikahi Lauw-siocia, dan satu hal telah terjadi diantara mereka, ternyata keduanya sama-sama mencinta dalam pertemuan ringkas ini.” “oh…demikiankah Jin-te ?” sela Yun-peng penuh haru “benar peng-ko, jadi marilah kita mengajak Lauw-sinse membicarakan hal ini.” sahut Han-jin, lalu Yun-peng turun dari balai-balai, kedua adik beradik itu pergi kehalaman belakang
359
“Lauw-sinse ! dapatkah kita bicara sejenak ?” sapa Yun-peng “oh..tentu taihap, tunggu aku akan cuci tangan dulu,” sahut Lauw-sinse, kemudian mereka bertiga duduk dibalai-balai dihalaman depan rumah.
“Lauw-sicu, maafkan kami jika penyampaian kami ini nantinya menyinggung hati lauw-sicu dan Lauw-siocia.” “hal apakah itu she-taihap sehingga demikian sungkan kepada kami ?” “Lauw-sicu, putraku Kwaa-yang-bun menyampaikan keinginannya pada kami, bahwa ia hendak menikahi lauw-siocia, jadi untuk itu dengan segala kerendahan hati kami mengajukan lamaran pada Lauw-sicu.” ujar Yun-peng.
“hehehe….hahaha…hasrat bun-ji itu suci she-taihap, lamaran yang taihap sampaikan sudah sampai, dan aku sendiri sangat senang mendengarnya, namun berikanlah waktu padaku, sampai aku selesai mendengar pendapat cucuku.” sahut Lauw-sinse “tentu lauw-sicu, kami akan selalu sabar menunggu.” ujar Yun-peng, lalu Lauw-sinse pergi menemui Li-hua di halaman belakang “Hua-ji, she-taihap tadi menyampaikan lamaran padaku, mereka ingin menikahkan putranya Kwaa-yang-bun denganmu, bagaimanakah menurutmu ?” “kong-kong, yang-bun pemuda luar biasa, hatinya baik dan tabah, ketenangannya demikian dalam, prinsip kebenaran sangat teguh dipegang, pantaslah mereka disebut she-taihap
360
sebagaimana yang kita dengar selama ini, namun walaupun begitu, aku akan ikut apa kata kongkong.”
“baiklah hua-ji, kakek mengerti dengan apa yang kurasakan, jadi sekarang masuklah kedalam, dan siapkan minuman untuk kakek dan mertuamu.” ujar Lauw-sinse, Li-hua terheyak hangat, hatinya berteriak bahagia, ternyata kakeknya rela dengan jalinan yanng akan dibinanya bersama Yang-bun, dengan buru-buru ia menyelesaikan pekerjaannya dan masuk kedalam, sementara Lauw-sinse kembali kebalai-balai. “kwaa-sicu, niat suci kalian yang agung bersambut baik ditangan cucuku, aku sangat bahagia dengan jalinan ini.” ujar Lauw-sinse, kedua she-taihap haru dan gembira “syukur pada thian, ternyata kami dipertemukan dengan Lauw-sicu yang baik dan murah hati, terimakasih Lauw-sicu.” sahut Kwaa-yun-peng.
Sekarang marilah kita masuk kedalam, calon menantumu kwaa-sicu sedang menyiapkan minuman untuk kita.” ujar Lauw-sinse “hehehe..ba.baik lauw-sicu.” sahut Kwaa-yun-peng dengan hati bahagia, lalu ketiganya masuk kedalam dan menuju ruang makan, Li-hua yang sedang menghidangkan minuman dengan menunduk berlari kekamarnya, Yun-peng yang melihat sikap calon mantunya tersenyum penuh iba dan bahagia.
Sambil minum teh hangat ketiganya melanjutkan pembicaraan.” “lauw-sicu, soal waktu kami hanya mengikut apa kata Lauw-
361
sicu.” ujar Yun-peng “hmh…baiklah Kwaa-sicu, pernikahan ini memang harus secepatnya, jika dapat sore nanti keduanya sudah dapat diresmikan.” sahut Lauw-jin “jika demikian lauw-sicu, aku akan kekampung bawah, untuk mendapatkan biksu yang akan menjalankan upacara.” sela Han-jin. “itu sangat tepat Kwaa-sicu, kami akan menanti kedatanganmu.” ujar Lauw-jin, Han-jin segera berangkat menuju perkampungan dibawah bukit.
Dalam sekejap Han-jin sudah memasuki kampung, seorang pemilik kedai coa-hu yang semalam dijumpai juga oleh Kwaa-han-jin menatapnya dengan heran “hehehe…kongcu kamu datang lagi, mau menanyakan apa lagikah ?” “hehehe…pek-coa, kali ini aku mau menanyakan keberadaan biksu, dimanakah aku dapat menjumpainya ?” “oh,,biksu, kongcu teruslah menelusuri jalan ini sampai ke ujung desa, dan terus keluar, dari desa ini kira-kira tujuh li ada sebuah kelenteng yang bernama “goat-bio” (kelenteng bulan).” sahut Coa-hu “terimakasih pek-coa, saya akan segera kesana.” ujar Han-jin sambil senyum, Coa-hui menagngguk ramah.
Kwaa-han-jin berlari cepat laksana kilat setelah keluar dari desa, bahkan ia nyaris hilang dari pandangan, dan jarak tujuh li itu hanya dalam satu jam setengah ia tempuh, Han-jin naik
362
keatas bukit dimana kelenteng berdiri, dua biksu muda sedang menyapu halaman kelenteng, keduanya berhenti ketika melihat kedatangan Han-jin, keduanya mendekat “siauw-suhu aku kwaa-han-jin hendak bertemu dengan ketua kelenteng.” ujar Han-jin sambil merangkap tangan dan menjura. “tunggulah sebentar, saya akan sampaikan pada suhu.” sahut seorang dari biksu itu dan segera masuk kedalam kelenteng “silahkan duduk sicu.” sela biksu yang satunya. “terimakasih siauw-suhu.” Sahut Han-jin lalu duduk di sebuah bangku yang ada dihalaman kelenteng.
Tidak lama seorang biksu tua dengan perawakan kurus tinggi dan kepalanya yang botak kelimis mendekati Han-jin yang berdiri sambil menjura “tecu Kwaa-han-jin hendak bertemu dengan suhu tetua “duduklah anak muda, saya adalah Pouw-ceng-suhu ketua kelenteng ini, apakah yang bisa kami Bantu ?” sahut Pouw-ceng-suhu “terimakasih pouw-suhu, saya hendak meminta bantuan suhu untuk menikahkan keponakan saya.” “dimanakah pernikahan keponakanmu anak muda ?” sela Pouw-suhu sedikit heran bahwa anak muda belia ini sudah mempunyai keponakan yang akan menikah.
“keponakanku itu akan menikah di “bian-san” suhu.” sahut Han-jin “bian-san cukup jauh dari sini anak muda, tapi kami akan tetap akan memenuhi harapanmu, lalu apakah kamu sendirian yang
363
menjemput kami ?” “benar suhu, dan terimakasih banyak saya ucapkan.” sahut Han-jin, Pouw-suhu mengangguk lembut, lalu memanggil sepuluh orang muridnya “maaf suhu, kira-kira berapa orang yang akan menyertai suhu ?” “sebaiknya sepuluh orang, tapi karena ini jauh makan saya akan membawa tiga orang.” sahut Pouw-suhu “kalau begitu dibawa saja semuanya suhu, saya akan mengusahakan perjalanannya.” Ujar Han-jin.” “apa jalan yang akan kamu usahakan anak muda ?” “suhu kalau bisa pernikahan diadakan sore ini, jadi kita harus cepat.” “sore ini anak muda ? kamu tidak sedang bercandakan, dari sini ke bian-san mungkin baru besok baru sampai, bagaaimana kami bisa menikahkan keponakanmu nanti sore ?” ujar Pouw-suhu.
“maaf suhu jika hal ini akan mengejutkan, namun akan bisa saya usahakan, jadi losuhu dan para suhu sekalian tolong tenang, marilah kita menuju lereng sebelah selatan kelenteng,” ujar Han-jin, Han-jin memilih sebelag selatan kelenteng, karena ia melihat ada tanah datar yang sangat luas, Pouw-suhu dan sepuluh muridnya berdiri ditanah lapang, Han-jin bersuit, dan tidak lama pek-thouw melintas, Han-jin melambai “pek-thouw turunlah !” seru Han-jin “kreekkk..” pekik pek-thouw, lalu terbang rendah dan hinggap mendekam di tanah lapang, para biksu semua terperangah
364
“mari losuhu, kita akan menunggang rajawali.” ujar Han-jin, Pouw-suhu agak meragu “tidak apa suhu, maaf aku akan membawa suhu keatas.” ujar Han-jin dan meraih pinggang pouw-suhu, pouw-suhu sudah berada dipunggung rajawali, lalu Han-jin menaikkan murid-murid Pouw-suhu.
Han-jin hanya menaikkan lima murid pouw-suhu, sehingga beban yang akan diangkat Pek-thouw berjumlah tujuh “lima suhu tunggulah sebentar disini saya akan datang lagi untuk menjemput para suhu.” ujar Han-jin. Lima suhu itu dengan senyum dan takjub mengangguk “pek-thouw kita berangkat !” seru Han-jin, Pek-thouw memekik dan bergerak mengepakkan sayapnya yang luar biasa besar dan panjang, tujuh orang bebannya masih sanggup dibawannya menunjukkan betapa kuatnya pek-thouw, baru kali ini pek-thouw membawa beban nyata, karena selama ia ditunggangi she-taihap, seakan ia tidak membawa beban karena gin-kang she-taihap yang luar biasa. dan kali ini bebannya adalah tubuh manusia yang memang mendoplok dengan beban rata-rata perorang delapan puluh sampai seratus kati, jika dikalikan enam orang, beban yang diangkut pek-thouw lebih kurang enam ratus kati.
Hanya dalam waktu setengah jam Han-jin sudah sampai di atas pondok Lauw-jin, Han-jin menurunkan para biksu dua-dua, dan setelah semuanya turun, Han-jin kembali ke goat-bio, untuk menjemput lima biksu lainnya, setelah sepuluh sebelas biksu
365
sampai di tempat Lauw-jin, upacara pernikahanpun di jalankan oleh Pouw-suhu, Kwaa-Yang-bun dan Lauw-li-hua disandingkan dibalai-balai, meja altar dan dupa binting sudah dipersiapkan oleh Pouw-suhu menjadikan acara itu terkesan hikmat, pernikahan itu lebih dari cukup, karena dihadiri oleh Lauw-jin sebagai wali Lauw-li-hua, dan dipimpin Puw-ceng-suhu, serta disaksikan Kwaa-yun-peng, Kwaa-han-jin, dan sepuluh murid Pouw-ceng-suhu yang dengan khusyuk memukul alat peribadatan.
Acara yang sederhana tapi berlangsung hikmat selesai saat senja temaram, Kwaa-yun-peng, Lauw-jin serta kedua mempelai diberi selamat yang dimulai oleh Kwaa-han-jin, Pouw-ceng-suhu dan sepuluh murid, setelah itu merekapun makan dan minum dengan luapan rasa bahagia. “Kwaa-sicu dan Lauw-sicu, baru kali ini aku menikahkan memepelai yang istimewa dan menakjubkan hatiku.” ujar Pouw-ceng-suhu “hehehe..hahaha…Pouw-suhu sungguh pandai memuji.” sela Lauw-jin “sungguh Lauw-sicu, perjalanan kami kesini siapapun akan takjub, bila kami ceritakan, pernikahan yang hanya dihadiri beberapa orang ini menjadi istimewa melihat keadaan kedua memepelai, rasa cinta yang suci dan pengorbanan yang dalam antara keduanya jelas terasa pada upacara yang saya lakukan ini.” “terimakasih Pouw-suhu, ini semua dapat terlaksana berkat kebesaran hati Pouw-suhu.” sela Kwaa-yun-peng.
366
Makan minum berlangsung sampai malam tiba, lalu Pouw-suhu minta izin untuk kembali, Han-jin dengan rasa terimakasih mengantar sebelas biksu itu kembali k eke goat-bio, setelah semua biksu sampai di goat-bio, Han-jin memberikan sepuluh tail emas kepada Pouw-ceng-sicu sebagai ucapan terimakasih dan sekedar bantuan pada keberlangsungan goat-bio, pemberian itu merupakan perintah dari kakaknya yang memang membawa bekal yang banyak dalam perjalanan ke tempat Lauw-jin, kemudian Han-jin tidak kembali ke bian-san, tapi dia bermalam di sebuah lembah bersama Pek-thouw.
Kwaa-yun-peng dan Lauw-jin duduk dibalai-balai sambil mengobrol, sementara Li-hua didalam kamar pengantin menyiapkan sesuatu, alas dipan pengantin ia lepas, sehingga dipan itu hanya tinggal alas dari bambu yang di tata, “bun-ko, lepaslah dua bilah bamboo ini.” ujar Li-hua, Yang-bun dengan tenaga kasar merenggut dua bilah bambu sehingga keduanya lepas, kemudian Li-hua meletakkan mangkok yang berisi ramuan kapur barus dan bunga mayat yang sudah ditumbuk dibawah dipan dibagian dua bilah bambu yang sudah dilepas, Yang-bun yang melihat semuanya itu merasa haru dan hangat.
Kwaa-yang-bun dengan segenap rasa cinta mencumbu istrinya, Li-hua dengan helaan nafas yang memburu demikian menikmati cumbu rayu suaminya, semakin lama permainan suami istri itu meningkat, Yang-bun membaringkan istrinya didipan yang sebenarnya tidak nyaman, namun ada maksud
367
dari semua itu, Li-huan meletakkan buah pinggulnya yang telanjang pada bagian dua bilah bambu yang sudah dilepas, sedikit ia mengangkat pinggulnya untuk memudahkan suaminya, terdengar desis sakit saat suaminya masuk, dengan berbisik ia menyuruh suaminya mencabut dan melihat kebawah, Yang-bun pun melakukan perintah istrinya, dan melihar darah menetes tepat masuk kedalam mangkok ramuan, setelah beberapa lama “apakah masih menetes bun-ko ?” bisik Li-hua “sudah tidak lagi hua-moi.” “lakukan lagi bun-ko.” desah Li-hua dengan nafas memburu, Yang-bun melakukan lagi, semakin dalam suaminya masuk, Li-hua mendesis lagi dengan ringisan sakit, lalu tanpa diperintah Yang-bun keluar dan melihat kebawah, kembali darah menetes memasuki mangkok ramuan obat..
Ada beberapa kali mereka melakukan hal yang sama, sampai Li-hua merasa dirinya plong dan robek, dalam permainan yang penuh maksud ini, Li-hua meminta suaminya untuk tidak memorsir tenaga, dan segera menyelesaikan permainan, Yang-bun juga mengerti, hanya beberapa menit saja, ia sudah menumpahkan apa yang ia miliki untuk istrinya tercinta, setelah selesai, LI-hua segera memembungkus tubuhnya dengan selimut, lalu mengambil obat dan pergi kebelakang, dia mengaduk obat dengan air hangat, tiga campuran obat itu rata dan menyatu, warna obat itu menjadi kekeuning-kuningan, setelah itu ia kembali kekamar, dengan hati mesra dan sayang luka Yang-bun dilamuri dengan obat, Yang-bun merasakan
368
panas pada lukanya, sehinga luka itu mengeluarkan asap hitam, bau busuk pun menyebar, untungnya Li-hua telah melamuri hidungnya dan hidung suaminya dengan serbuk, sehingga aroma busuk dari asap yang hitam yang keluar tidak mengganggu.
Tubuh Yang-bun penuh keringat karena rasa panas itu sangat nyeri, namun tatapan istrinya yang bening membuat nyeri itu tidak ia rasakan Yang-bun, hanya rasa gerah karena panas yang menyebar membuat dia berkeringat, hampir satu jam asap itu mengepul dari luka Yang-bun, ketika obat itu mongering, Li-hua mengikisnya dengan sumpit, lalu kembali ia melamuri luka suaminya, rasa panas kembali menergap urat sayaraf Yang-bun, dan asap hitam kembali mengepul, tapi kali ini hanya setengah jam, obat Li-hua belum menegring asap hitam sudah berhenti
“duduklah Bun-ko !” perintah Li-hua, Yang-buh duduk sambil memeprbaiki kain yang membalut dipinggangnya, Li-hua pergi kedapur dan membawa dua teh hangat, teh untuk suaminya merupakan obat pembersih darah, dan untuknya hanya teh biasa, keduanya minum saling menatap mesra, setelah itu Li-hua mengajak suaminya tidur dilantai,Li-hua dengan hangat memeluk suaminya, ia letakkan kepalanya dibahu suaminya yang kekar dan tidur dengan pulas, yan-bun dengan lembut mendekap punggung istrinya dan harumnya rambut istrinya yang gemuk dan panjang membuat rasa nyaman tidak terperikan.
369
Keesokan harinya Yang-bun bangun merasakan hal yang luar biasa, luka di bahunya tidak lagi terasa, denyutan nyeri hilang sama sekali, Li-hua juga terbangun, Li-hua menggelung rambutnya, kedua lengan yang terangkat itu merupakan pemandangan indah bagi mata Yang-bun, Yang-bun tidak tahan untuk mengecup ketiak istrinya yang putih berbulu halus, Li-hua memberikan kesempatan pada suaminya untuk melakukan apa yang hendak dilakukan, getaran geli menyeruak sehingga Li-hua menggelepar “sudah..aku periksa dulu lukamu Bun-ko.” ujar lihua sambil menurunkan tangannya “lukakku tidak sakit lagi Hua-moi.” “syukurlah kalau begitu, coba bersihkan dan lihat.” sahut Li-hua, kemudian ia berdiri dan segera kedapur, tidak lama ia membawa sebaskom air, kemudian dengan perca kain Li-hua menggosok luka itu, dan tumpukan luka itu tersingkir, Li-hua meletakkan percaan kain kedalam tempurung, lalu dengan tangan telanjang ia memnggosok bahu dan dada suaminya yang putih, luar biasa, luka itu besih tanpa bekas.
Kwaa-yang-bun mencoba mengerahkan sin-kang, pembul darahnya bergerak cepat, urat nadinya lancer, pintu semua titik dibadanyya siap menerima aliran sin-kang, Yang-bun dengan gembira menciumis istrinya, sedu sedan muncul, isak bahagia ditumpahkannya pada wajah istrinya yang cantik “sudah bun-ko, sekarang mari kita mandi, sebelum kakek dan ayah mertua datang.” ujar Li-hua, lalu pengantin itu pun mandi bersama di sumber air yang ada dibelakang rumah.
370
Saat matahari sudah tinggi Kwaa-yun-peng dan Lauw-jin mendakit bukit, malam itu mereka ternyata turun keperkampungan, Lauw-jin yang tahu keadaan mengajak Yun-peng untuk turun kekampung dan bermalam dirumah sahabatnya, dan saat matahari sudah naik tinggi barulah mereka sampai kembali kepondok, dimana Yang-bun sedang bergurau mesra dengan istrinya, melihat ayah mertuanya datang LI-hua segera masuk kedalam, dan menyiapkan minuman, Yun-peng yang melihat putranya tersenyum cerah membuat ia senyum bahagia “baikkah keadannmu Bun-ji ?” tanya Yun-peng dengan haru “aku sangat baik dan sehat ayah, terimakasih kongkong.” sahut Yang-bun penuh semangat, rasa syukur Yun-peng bertalu-talu dalam hatinya melihat kondisi putranya.
Luaw-jin dan Kwaa-yun-peng duduk dibalai-balai, lalu Li-hua datang membawa nampan berisi sepoci teh hangat dan pisang rebus “hanya pisang rebus dan teh hangat gakhu.” ujar Li-hua menunduk hormat, Yun-peng terisak dan menarik menantunya lalu mencium kening menantunya “ini sudah lebih dari cukup menantu, dan laur biasanya belum kucicipi sudah kurasakan kelezatannya.” sahut Yun-peng sambil mengusap matanya yang hanya sebelah. “hahaha..hehehe…kwaa-sicu, marilah kita makan !” ujar Lauw-jin mencairkan suasana hati Yun-peng, dengan hati lapang dan senyum bahagia, Yun-peng menikmati teh hangat dan pisang rebus.
371
Menjelang siang Kwaa-han-jin datang mendaki bukit “dimanakah kamu tidur Jin-te ?” tanya Yun-peng “hehe..aku menemani pek-thouw peng-ko, eh bagaimana denganmu bun-ji ?” sahut Han-jin dan bertanya pada Yang-bun yang keluar dari dalam rumah Keadaanku sangat baik siok.” sahut Yang-bun “lalu mantu mana ? secangkir teh dari mantu sangat kuinginkan.” “hehehe…hahaha…hahha…” tidak dinyana tubuh saja yang muda she-taihap, namun pikiran dan jiwamu amatlah matang dan bijaksana.” sela Lauw-jin takjub, Han-jin tersenyum “hehe..Lauw-twako pandai saja melebihkan.” sahut Han-jin, tidak lama Li-hua dan keluar membawakan secangkir teh pada paman mertuanya yang setahun lebih muda darinya ini. “mantu…kamu tahu apa hadiah yang akan kuberikan padamu karena teh yang nikmat ini ?” ujar Han-jin, Li-hua tersenyum dan menunduk, mukanya bersemu merah “aku tidak tahu siok.” sahut LI-hua, lalu Han-jin memberikan kalung emas yang sangat indah dengan mainannya sebentuk mutiara hitam.
“ini adalah kalung ibu kami mantu, jadi kuberikan padamu.” ujar Han-jin sambil mengalungkannya pada Li-hua, Li-hua tidak menduga bahwa paman mertua yang muda ini akan memberikan barang seindah itu “terimakasih siok.” sahut Li-hua “terimakasih siok.” sela Yang-bun “hehehe..peng-ko bukankah mantu kita ini luar biasa ?”
372
“benar jin-te, anugrah thian yang agung tiada cacat cela.” Sahut Yun-peng senyum, Li-hua tersenyum menunduk dan segera berlari kedalam.
“Peng-ko akan kemanakah kita setelah ini ?” tanya Han-jin :”kita akan ke lokyang, saya ingin menziarahi liong-ko.” sahut Yun-peng “bagaimana lauw-sicu, mungkin kami akan berangkat dan terimakasih yang tidak terhingga akan semua yang kami dapatkan ini.” “hehehe..kwaa-sicu, saya juga tidak dapat melukiskan rasa bahagia yang kurasakan, cucuku sudah menjadi mantumu, maka kemutlakannya ada padamu, doaku selalu menyertai kalian.” “baiklah lauw-sicu, nanti sore kami akan berangkat “hua-ji kakek sekarang sudah lega, kamu dapatkan jodoh luar biasa, kamu jangan khawatirkan aku hua-ji, saat seperti ini sudah lama aku nanti, dan aku sangat bahagia Hua-ji.” ujar Lauw-jin pada cucunya, Li-hua terisak dan memeluk kakeknya. Perpisahan itu memang menyedihkan namun pertemuan dan perpisahan merupakan kenyataan mutlak dalam hidup.
Sore itu Han-jin dan Yun-peng berangkat ke Lokyang, sementara Yang-bun dan istrinya oleh Han-jin disuruh plesiran dengan pek-thouw “Bun-ji bawalah istrimu bersama pek-thouw untuk plesiran dan setelah itu kalian berangkat kepulau kura-kura dan kita akan berkumpul disana, bukankah demikian Peng-ko ?” ujar Han-jin
373
“benar Jin-te, jadi bun-ji lakukanlah seperti yang pamanmu katakana.” sahut Yun-peng, Han-jin bersuit, pek-thouw tidak lama melintas, Han-jin terbang keudara, jarak itu bagi Yun-peng dan Yang-bun masih sulit untuk dijangkau gin-kang mereka, namun bagi Han-jin jarak itu sudah dapat dijangkau dengan ginkangnya. “pek-thouw beberapa hari ini kamu akan bersama keponakanku Yang-bun dan istrinya, jadi coba dengarkan suitanya.” ujar Han-jin kemudian ia kembali melompat kebawah
“bun-ji sekarang coba kamu bersuit !” perintah Han-jin, Yang-bun-pun ber suit, lalu pek-thouw melintas. “sekerang coba kamu pergi kesisi bukit dan bersuit.” peerintah Han-jin, Yang-bun berkelabat hampir menghilang menuju sisi lain bukit, lalu bersuit, dan tidak lama Pek-thouw muncul, lalu Yang-bun kembali ke pondok “bagaimana Bun-ji ?” tanya Han-jin “pek-thouw melintas diatasku jin-siok. “sekerang coba bersuit lagi !” perintah Han-jin, Yang melakukan, dan pek-thouw semakin cepata datangnya. “bagus, dan sekarang jika kalian ditempat yang luas ada bagi pek-thouw tempat mendekam, tidak masalah, tapi jika tempat itu tidak ada , carilah satu area yang bisa pek-thouw melintas yang bisa kamu jangkau sambil menggendong mantuku, hehehe…” ujar Han-jin. “baik siok, aku akan perhatikan pesan siok. “baik, bagaimana peng-ko kita berangkat !? tanya Han-jin “baik..marilah jin-te.” sahut Yun-peng
374
“lauw-sicu, kami permisi !” ujar Kwaa-yun-peng sambil menjura, dan dibalas oleh Lauw-jin.
Dua she-taihap berangkat dengan gerakan gin-kang luar biasa, sementara Yang-bun dan istrinya kembali kedalam, kedua mempelai itu belum berangkat, Yang-bun dan istrinya masih menemani Lauw-jin selama tiga hari di bian-san, setelah tiga hari Li-hua pun merasa lapang meninggalkan kakeknya, Yang-bun dan Li-hua menuruni bukit, dan sebuah lembah setelah perkampungan Yang-bun bersuit, dan pek-thouw pun muncul melintas rendah, dengan mudah Yang-bun melompat kepunggung pek-thouw sambil menggendong istrinya.
Sebulan setelah kematian Kwaa-sin-liong dan putra bungsunya, Kwaa-gan-bao kembali membuka dan melanjutkan usaha ayahnya, Gan-bao sebagaimana biasa membuka toko setiap hari bersama A-sun “siang ini panas sekali ya paman A-sun !?” “benar siauwya, mungkin hujan mau turun.” sahut A-sun “paman A-sun pesanlah minuman kekedai paman pouw, dan suruh antar kemari !” “baik siauwya.” sahut A-sun segera keluar dan menyebrang jalan raya menuju sebuah kekedai kecil yang menjual minuman “pek-pouw, dua cangkir minuman segar untuk saya dan siuaw-ya.”” ujar A-sun “baik A-sun, she-taihap ternyata sudah kembali membuka toko setelah sebulan tutup.” “benar pek-pouw dan tolong diantar ketoko yah !?”
375
“baik, nanti akan saya suruh antar keseberang.” sahut Pouw-gan, A-sun kembali ke toko, sementara Gan-bao sedang melayani seorang pembeli.
Tidak lama kemudian seorang gadis datang membawa sebuah nampan dengan dua cangkir minuman segar yang ditutup dengan daun “paman A-sun ! saya datang mengantar minuman yang dipesan.” ujarnya lembut, Kwaa-gan-bao terkesima melihat wajah cantik yang kulitnya putih sehingga kelihatan merah karena ditimpa terik matahari, Pouw-lan yang di pandangi begitu semakin menunduk, A-sun yang melihat tuannya terkesima senyum “hehee..terimaksih pouw-siocia, siuawya ! kenalkan ini adalah Pouw-lan putri dari Pouw-gan “eh..i..iya ma..maaf siocia,hehe..hehe…terimakasih, aku Kwaa-gan-bao.” sahut Kwaa-gan-bao merasa mencoba tersenyum untuk menutupi hatinya yang jengah karena ketahuan terpana melihat gadis cantik didepannya.
Minuman pun diletakkan, Pow-lan dengan hati berbinar menyeberang kembali ketokonya, wajah she-kwaa itu amat tampan, dia tidak menyangka bahwa Kwaa-tan-bouw masih punya kakak, yang sama tampannya dengan Kwaa-tan-bouw sendiri, Pouw-lan masuk kembali kedalam kedai dan naik ke tingkat atas, dari sana ia coba mengintai ketoko Kwaa-gan-bao, ia tersenyum sendiri dan mukanyya memerah karena malu sendiri dengan perlakuannya.
376
Menjelang sore, Kwaa-gan-bao mengantar cangkir minuman ke kedai Pouw-gan, A-sung garuk kepala yang tidak gatal melihat tuan mudanya, sejak minuman itu datang, jika pembeli tidak ada, Kwaa-gan-bao mengajak A-sun bercerita tentang Pouw-lan, nampak memang tuan mudanya ini terpaut cinta pada Pouw-lan, dan umur tuannya memang sudah sangat matang, hampir dua puluh empat tahun, dan sudah patut untuk segera dapat istri “biarlah aku antar siauw-ya !” “aku saja yang antar paman A-sun, hehehe...hehehe… mana tahu bisa ketemu dengan Pouw-lan.”
Kwaa-gan-bao memsuki kedai Pow-gan “hayaa…! Bao-ji kenapa repot-repot mengantar.” sela pouw-gan “tidak apa-apa paman pouw.” sahut Gan-bao sambil melirik sana-sini, namun pouw-lan tidak kelihatan “hmh..ada yang bao-ji cari ?” sela Pouw-gan “ah..tidak paman-pouw, saya permisi.” sahut Gan-bao, lalu Gan-bao keluar diantara Pouw-gan heran, Gan-bao sedikit kecewa, karena tidak melhat wajah Pouw-lan, sesampai dirumah Gan-bao mandi dan berganti pakaian, saat makan, sepertinya ia tidak berselera, luar biasa panah asmara yang menghantamnya siang itu
“kamu kenapa bao-ji, makanmu kok sedikit ?” tanya ibunya “hmh…aku tidak merasa enak badan ibu.” sahut Gan-bao “kalau begitu minumlah obat dan istirahatlah !” sela ibunya sedikit heran
377
“baiklah ibu, saya akan istirahat.” sahut Gan-bao dan meninggalkan ruang makan, Gan-bao merebahkan diri diatas ranjang, bayangan wajah imun nan cantik Pouw-lan terbayang dipelupuk matanya, hatinya merasa nyaman dengan bayangan itu, hatinya hangat dan rindu, malam itu Gan-bao amat tersiksa, karena matanya tidak bisa diajak tidur, lalu Gan-bao mengerahkan tin-liong-siulian, dan dalam sekejap iapun larut dan tidur dengan pulas.
Pagi harinya dengan semangat menggebu Gan-bao berangkat kepasar bersama A-sun, A-sun merasakan ada yang janggal pada diri tuan mudanya, namun hatinya senyum maklum akan keadaan tuannya yang terjerat serat cinta, sesampai dipasar, keduanya membuka toko dan membersihkan halaman toko, mengatur dan menata aneka macam obat dalam rak, mata Gan-bao tidak lepas dari mengawasi kedai Pouw-gan, dan “sirrrr…..” darah Gan-bao tersirap, sontak tubuhnya lemah, karena melihat pujaan hati keluar dari dalam kedai dan menyapu halaman, luar biasa giirang dan bergetarnya hati Gan-bao melihat tubuh Pouw-lan yang membungkuk sambil menyapu, A-sung pura-pura tidak tahu sambil sibuk dengan pekerjaannya.
Pasar pun kian ramai, para ibu-ibu sudah berlalu-lalang belanja kepasar, para pedagang yang lain pun sudah pada membuka toko, riuh rendah suasana sebagaimana biasa terjadi dalam pasar, kali ini Gan-bao segera menuju kedai Pouw-gan, Pouw-lan yang melihat Gan-bao datang, segera bergegas masuk
378
dengan wajah pucat karena hatinya berdegup kencang, dia tidak menduga akan kedatangan Gan-bao yang menggangu tidurnya semalam, dari balik tirai dibagian dapur ia mengintai “oh..bao-ji mau pesan apakah ?” tanya Pouw-gan dengan senyum “paman pouw saya memesan bubur kacang hijau dan teh manis.” “baik diantar atau makan disini bao-ji.” “disini saja paman ! aku mau makan disini.” sahut Gan-bao “lan-ji..! suruh A-rong siapkan bubur dan teh manis, lalu antar kedepan.” teriak Pouw-gan, Pouw-lan terkesiap, hatinya berdegup kencang “oh..dia akan makan disini.” pikir Pouw-lan, hatinya terbetik rasa senang dan mesra, namun degupannya membuat dia lemas dan berkeringat.
Pouw-lan dengan hati bergetar mengantar bubur dan minuman, dibalik tirai ia menguatkan dirinya menenangkan degupan jantungnya, lalu tirai disingkap, tatapan matanya disergap tatapan Gan-bao, nampanpun bergetar, tubuhnya lemas, dia langsung menunduk dengan wajah merona merah, sesat dia terdiam dan menarik nafas, lalu dia melangkah mendekati Gan-bao “lan-moi…! bisik Gan-bao, Pouw-lan meletakkan nampan diatas meja seraya memejamkan mata dan lalu menatap wajah tampan yang tersenyum manis didepannya, hatinya hangat, senyuman itu demikian membuatnya nyaman, panggilan itu luar biasa mengelus batinnya
379
“ada apakah bao-koko ?” “tamu pun baru aku seorang, duduk dan temanilah aku !” “aku malu koko, apa kata ayah nanti ?” sahut Pouw-lan, Gan-bao menatap Pouw-gan yang sedang membersihkan meja kasir dengan kamoceng
“tidak apa, dudulah sebentar.” sela Gan-bao berbisik, Pouw-lan lalu duduk “nanti malam aku ingin bertemu, keluarlah dan kita jalan-jalan disekitar taman kota.” “baiklah bao-ko, aku akan menunggumu.” sahut pouw-lan, Gan-bao memakan buburnya dan minum teh hangat, setelah itu Bao-gan membayar makanan “paman pouw, semangkok bubur dan teh untuk paman A-sun tolong diantar.” “baiklah Bao-ji.” sahut Pouw-gan, Gan-gan keluar sambil mengedipkan mata pada Pouw-lan, Pouw-lan tersenyum dan menunduk malu, luar biasa perubahan rasa takut yang menimpa batinnya menjadi kenyamanan yang hangat seakan keduanya sudah sangat dekat dan lama berkenalan.
Malamnya Gan-bao dengan hati ringan keluar dari rumah menuju pasar, rumah Pouw-lan sepi, namun Gan-bao tidak lama menunggu, Pouw-lan sudah keluar, dandanannya rapid an cantik, wajahnya cerah dan aroma tubuhnya harum, lalu keduanya berjalan menelusuri jalan raya “kemanakah kita bao-ko !?” “kita duduk disana lan-moi.” sahut Gan-bao, lalu mereka duduk
380
dibawah pohon persik yang tumbuh ditaman kota “lan-moi, pertemuan kita semalam sangat membuatku terpesona dan hatiku merasa hangat.” “aku juga demikian bao-ko, aku tidak dapat lupa, kamu selalu membayang dalam benakku, tidurpun aku tidak bisa.” “lan-moi, perasaan kita sama, pada pandangan pertama.” “benar bao-ko, kita sama-sama cinta pada pandangan pertama, dan tindakanmu yang super cepat membuatku takut dan lemas.”
“aku tahu sayang, karena aku jelas melihatnya, dan aku tahu bahwa kamu mengintaiku dari tingkat rumahmu, dan karena itulah aku yakin dengan tindakanku, aku tidak sabar untuk meraih dirimu.” sahut Gan-bao “oh..bao-ko tahu ?” sela Pouw-lan tertunduk malu. Gan-bao tersenyum, “untunglah kamu bertindak seperti itu,hingga aku tidak lama tersiksa permainan perasaan.” ujar Gan-bao.
Hubungan Gan-bao dan Pouw-lan semakin erat bertaut, cinta bermekaran disetiap langkah pertemuan, hanya sebulan pacaran, Gan-bao mengajak ibunya melamar Pouw-lan kepada ayahnya, pembicaraan berlangsung sesuai harapan, cinta keduanyapun berlabuh dihamparan pelaminan, Tang-bi-wei merasa bahagia, dengan kehadiran menantunya yang baik dan cekatan, rumahnya terasa semarak, rasa kehilangan tergantikan dengan kehadiran sang menantu dirumah.
381
Tiga bulan kemudian Tang-bi-wei merasa bahagia dengan kenyataan bahwa menantunya sedang hamil, dan berita itupun lansung didengar Pow-gan, dan malamnya Pouw-gan dan istrinya menjenguk putrinya dirumah besannya, kedatangannya disambut hangat oleh besan dan menantunya, segulung kain dihadiahkan untuk putrinya, bersamaan dengan itu dua tamu datang, A-sun yang pernah melihat Han-jin segera menyambut “selamat datang loya.” sambut A-sun “selamat berjumpa A-sun.” sahut Han-jin “mari, hujin dan siauwya ada diruang tegah dan kebetulan besan hujin datang berkunjung.” ujar A-sun, lalu membawa Kwaa-han-jin dan Kwaa-yun-peng keruang tamu.
Kwaa-gan-bao dan Tang-bi-wei terkejut bahagia melihat kedatangan Kwaa-han-jin, dan Tang-bi-wei terenyuh melihat adik iparnya Kwaa-yun-peng, isaknya berdarai memeluk adiknya “peng-te, apa dan kenapa ? apa yang terjadi padamu adikku ?” tanya Tang-bi-wei disela tangisnya. “sudah ! janganlah menangis soso, aku dengar besan kita datang, sungguh tidak baik soso, aku tidak apa-apa.” sahut Yun-peng, Tang-bi-wei mengusap air matanya.
“peng-te, jin-te, ini adalah Pow-gan besan kita, ayah mertua Bao-ji, Pouw-te dan Pouw-hujin, ini dua adik iparku Kwaa-yun-peng dan Kwaa-han-jin” ujar Tang-bi-wei memperkenalkan, Pouw-gan dan istri menjura “selamat datang she-taihap.” ujar Pouw-gan
382
“selamat bertemu Pouw-twako.” sahut Yun-peng dan Han-jin bersamaan “hehehe..kedatangan kami ini sungguh tepat, soso, bukankah demikian pouw-twako ?” sela Han-jin “hehehe..memang benar Jin-te, kami berkunjung karena mendengar putri kami berubah badan. “oho….hahaha….sebentar lagi kita akan menimang cucu soso.” sela Yun-peng dengan tawa berderai, Pouw-lan tertunduk, Gan-bao senyum renyah “alangkah bahagia hatiku peng-siok, jin-siok dengan kedatangan ji-siok.” “kami juga bahagia bao-ji, tidak dinyana kami mendapatkan mantu, bahkan sebentar lagi seorang cucu, hehehe…” sahut Han-jin
Seorang pelayan datang dan berbisik pada Tang-bi “karena makanan sudah dihidang, jadi marilah kita makan pouw-te, dan kalian juga peng-te dan Jin-te.” ujar Tang-bi-wei, lalu merekapun menuju ruang makan, makanan itu sebagian adalah makanan bawaan dari Pouw-gan untuk mantu dan putrinya, suasana sangat semarak dan menyenangkan, dan saat santai, mereka berkumpul semua diruang tengah “Mei-cici kapan berangkat kepulau kura-kura soso ?” tanya Han-jin “dua minggu setelah keberangkatanmu Jin-te.” jawab Tang-bi-wei “bagaimana denganmu Peng-te, ceritakanlah keadaanmu padaku.” ujar Tang-bi-wei, lalu Yun-peng menceritakan
383
keadaannya sampai pengobatan Yang-bun di bian-san, Tang-bi-wei tidak kuasa menahan isaknya, dan pouw-gan juga terheyak mendengar apa yang dialami oleh she-taihap, yang ternyata bukan hanya menimpa besannya tapi bahkan saudara-saudaranya.
“bagaimana dengan orang-orang aniaya itu, jin-te ?” tanya Tang-bi-wei “saya belum berhasil menemukan mereka soso.” Jawab Han-jin “apa yang kita alami merupakan tantangan yang beruntun, soso, jadi syukurlah kita punya ketabahan dalam menghadapinya.” sela Yun-peng “memang benar peng-te, Mei-cici dan saya mengalami hal yang sama, kehilangan suami, dan ternyata kamu sendiri, istrimu mengalami hal amat mengenaskan, dan dirimu sendiri mengalami cacat seperti ini.” sahut Tang-bi-wei
“dan semua ini tentu ada sebab yang harus kita sadari, keteguhan kita dalam memegang prinsip kebenaran yang kita yakini benar, kadang harus berbenturan dengan pihak yang menentang, yang walaupun kita selalu hati-hati dan berusaha bersikap adil, namun sebagai manusia tetaplah tidak sempurna, dan selalu akan menjadi konflik, sehingga pada gilirannya hari ini kita dihadapkan pada dendam kesumat orang yang merasa sakit hati pada kita.”
“yang menentang juga merasa prinsip yang ia yakini benar, lalu bagaimana kita menentukan kebenaran siapakah yang benar
384
she-taihap ? sela Pouw-gan “kita menentukan kebenaran diantara dua kebenaran yang di gaungkan adalah dasar dan tujuan sipencetus kebenaran tersebut “maksudnya bagaimana she-taihap ?” “saya menyatakan kebenaran sementara pow-twako juga menyatakan kebenaran, maka untuk menentukan kebenaran mana yang benar diantara kita adalah dasar dan tujuan kita menyatakan kebenaran itu
“umpama saya memiliki dasar kebenaran karena pikiran yang runut dengan aturan yang berlaku, bagaimana taihap ?” “jika kebenaran yang pouw-twako demikian, maka pastilah dasar saya menyerukan kebenaran itu berdasarkan nafsu dan kemauan sendiri, dan tentunya pouw-twako telah dapat menentukan kebenaran siapa yang benar bukan ?” ujar Yun-peng, Pouw-gan mengangguk mengerti “Hal itu sudah merupakan hukum alam, dimana kebenaran tidak pernah bersanding dengan kebatilan, dan kita tidak harus berusaha mendamaikannya, hanya karena untuk menghindarkan konflik, kita harus tetap pada keteguhan hati memegang aturan dan norma, yang walaupun aturan dan norma itu merupakan rekayasa pemikiran bijak oleh manusia, namun kenyataannya pikiran bijak itu merupakan pesan dari Thian yang mengatur kehidupan.” sela Kwaa-han-jin
“sungguh menarik she-taihap, aturan dan norma adalah rekayasa bijak manusia, selaku manusia tidaklah sempurna,
385
jadi tentunya aturan itu akan berlaku surut dengan pola pikir manusia yang terus berkembang serunut zaman.” “benar pouw-twako, manusia tidaklah sempurna, yang sempurna hanyalah Thian, tapi satu hal mesti diingat, bahwa pola pikir boleh berkembang, zaman boleh berubah, namun kebenaran sejati tetap merupakan landasan mutlak.” “bagaimanakah kebenaran sejati itu taihap ?” “kebenaran sejati adalah ketetapan yang seimbang dan maslahat.” sahut Kwaa-han-jin.
“jika oleh ilah zaman dan pola pikir, keseimbangan ini hilang, dan kemaslahatan berubah menjadi kemasfadatan, maka itu artinya aturan dan norma tidak lagi rekayasa bijak, akan tetapi rekayasa nafsu, contoh membunuh, oleh rekayasa bijak manusia, membunuh dengan alasan kuat adalah benar, lalu suata zaman muncul pola pikir menetapkan bahwa membunuh adalah benar, ini adalah pola pikir yang menghasilkan rekayasa nafsu, karena akan menimbulkan pembantaian, atau pola pikir suatu zaman mengatakan, bahwa membunuh apapaun alasannya tetap salah, ini juga adalah pola pikir yang melahirkan rekayasa nafsu, dan juga akan menimbulkan pembantaian.” urai Kwaa-han-jin, Pouw-gan mengangguk mengerti
“perbedaan dua hal ini sangat tipis pouw-twako, dan terkadang tidak disadari bahwa kita telah bergeser dari landasan itu, disinilah makna sebuah perjuangan, setiap perjuangan jelas akan dihadapkan pada kendala dan tantantang, dan semua
386
proses itu, semuanya bertujuan untuk mencapai nilai keseimbangan dan kesempurnaan yang mampu diraih oleh manusia.” sela Kwaa-han-jin. Pouw-gan manggut-manggut puas menyelami uraian kebijakan yang mendalam itu, obrolan keluarga itu makin hangat, pertemuan luar biasa itu sangat dimamfaatkan Pouw-gan untuk bertukar pikiran, karena ia tahu benar bahwa keluarga ini dikenal dengan ilmunya yang tinggi serta kebijakannya yang dalam.
Kwi-ban-ciang dan rekannya setelah dua minggu memasuki kota shang-hai, mereka langsung menuju rumah she-taihap, namun kenyataan she-taihap tidak berada ditempat dan dari keadaan perguruan yang ditutup mereka meyakini bahwa she-taihap sedang berusaha mengobati anaknya yang terluka. “bagaimana sekarang cianpwe ?” tanya koai-ma “sebaiknya kita ke Lokyang, disana masih ada satu she-taihap yang masih hidup.” sahut Kwi-san-hengcia “benar, dan setelah yang dilokyang selesai, kita akan ke akan ke Guangdong, karena putrid she-taihap yang dishanghai ini telah menjadi istri seorang tihu.” Sela tok-lian “bagus kalau begitu, sambil melacak kita berburu, hahaha..hahaha..” sela kwi-ban-ciang, lalu mereka meninggalkan kota shang-hai.
Dua minggu kemudian kwi-ban-ciang dan rekanan sampai dikota zhengzhou, mereka memasuki sebuah likoan, disaat yang bersamaan seorang lelaki berumur tiga puluh tahun lebih juga memasuki likoan, wajahnya yang gagah memiliki sinar
387
mata yang tajam penuh kharisma, ia bukanlah lelaki sembarangan, ia adalah Yo-han putra sulung dari Yo-seng dan Kwaa-thian-eng, satu-satunya she-taihap dari garis perguruan yang menguasai penuh ilmu-ilmu kelaurga Kwee dan Kwaa, Yo-han duduk di samping meja Kwi-ban-ciang dan empat rekannya.
“cianpwe she-taihap kan menyebar, bukankah sebaiknya kita buat daftar nama untuk dapat mengetahui siapa yang sudah mati atau hidup ?” ujar Koai-ma “tidak perlu, yang penting mulai sekarang, jika bertemu seorang she-taihap, kita akan lenyapkan.” sahut kwi-ban-ciang “hehehe…nyata benar kebencian dalam ucapanmu cianpwe.” sela Yo-han “tutup mulutmu berengsek, dan jangan ikut campur urusan orang !” bentak kwi-ban-ciang “cianpwe umur sudah lanjut jangan emosian yang membuat cianpwe rugi sendiri.” sela Yo-han “his…siapa sih yang mengajakmu ngomong !?” sahut tok-lian, dari tadi ia memang melirik Yo-han penuh minat, kematangan lelaki berumur itu menimbulkan fantasi seksualnya yang menggebu.
“aku mau marah dan tidak, itu urusanku, jadi sekali lagi jaga mulutmu, tok-lian ! kasih tahu lelaki itu, untuk jangan sembarangan dengan saya.” ujar kwi-ban-ciang dengan muka merah memendam amarah. “siapakah kamu, sehingga mau tahu urusan orang ?” sela Tok-
388
lian dengan nada sedikit lembut “namaku Yo-han, dan kalian ini siapa yang demikian benci pada she-taihap ?” “apakah kamu membela she-taihap ?” tanya Tok-lian sambil melangkah, lalu duduk dikursi dan berhadapan dengan Yo-han. “apakah akan ada akibat jika membela she-taihap ?” tanya Yo-han dengan tenang “tentu, katena orang yang mebela mereka akan ikut mampus.” sela Kwi-ban-ciang. “boleh aku tahu kenapa demikian benci kalian pada she-taihap ?” “hehehe…she-taihap adalah ikon dari pek-to, sementara kami adalah penentang pek-to.” sela kwi-san-hengcia.
“Yo-sicu ! apakah kamu membela she-taihap ?” tanya tok-lian dengan tatapan berbinar lembut “hehehe…hahaha….siapa yang mampu membela she-taihap ? menurutmu siapa selain she-taihap yang mampu membela she-taihap ?” “tidak ada.” sahut Tok-lian “nah, lalu kenapa menanyakan saya dengan pertanyaan konyol seperti itu ?” sahut Yo-han, Tok-lian terdiam, lalu menatap Yo-han dengan tajam “tidak ada yang membela she-taihap, kecuali she-taihap sendiri, apakah kamu she-taihap ?” tanya Tok-lian, empat rekannya langsung menoleh ke arah Yo-han
389
“hehe..hehehe…luar biasa nafsu membunuh cuwi sekalian terhadap she-taihap.” “cepat katakan ! apakah kamu she-taihap !?” bentak kwi-san-hengcia “hmh…benar, saya adalah she-taihap.” sahut Yo-han “mampuslah kalau begitu !” teriak Kwi-ban-ciang sambil mengirim pukulan, namun dengan gesit Yohan menghilang dan bergerak kehilang, Kwi-ban-cian dan kwi-san-hengcia yang mampu melihat kelabatan tubuh Yo-han langsung menyerang keluar, dan pertempuran pun berlansung seru, tiga rekan cianpwe langsung ikut masuk dalam pertempuran, tok-lian dengan rasa kecewa mengintai untuk meraih kesempatan melempar jarum-jarum beracunnya, demikian pula dengan lotong.
Dua-cianpwe dan koai-ma bergerak gesiti mengurung she-taihap, Yo-han dengan Im-yang-bun-sim-im-hoat menyambut setiap serangan yang datangnya bertubi-tubi, beradunya singkang merupakan trik jiti kawanan itu untuk memberi peluang pada dua rekannya menyerang she-taihap, tempat pertempuran sudah bergetar hebat, suara dahsyat akibat singkang yang diadu menggelegar luar biasa. beberapa kali serangan dua pengintai masih dapat diatasi oleh Yo-han, kekuatanya masih prima untuk berkelit dan membalas serangan.
Pertempuran sudah melampaui dua ratus jurus, warga yang menonton dengan mata tidak berkedip mencoba mengikuti
390
pertempuran, namun pertempuran tingkat tinggi jauh dari jangakaun mata mereka, sehingga banyak dari mereka pusing dan berpaling, terlebih suara gelegar adu sin-kang membuar mereka harus menyingkir dari tempat itu, Yo-han merasakan tekanan yang laur biasa, untuk fokus merobohkan koai-ma atau dua orang pengintai selalu gagal karena kegesitan dan keuletan dua cianpwe, Yo-han mengerahkan jurus kedelapan dari Im-yang-pat-sin-im-hoat, dan lima puluh jurus kemudian, Yohan dengan tepat menghantam punggung koai-ma, sehingga Koai-ma tewas seketika, namun dua pukulan dahsyat dari dua cianpwe harus dia terima sebagai gantinya, untungnya siu-to-po-in membentengi dirinya, namun dua pengintai sudah mengirimkan serangan saat keadaan Yo-han masih bergetar, Yo-han tahu serangan, dan sekenanya ia menghindar dan menyapok, dan bersamaan dengan itu serangkum hawa meruntuhkan semua senjata dari tok-lian dan lotong.
Di hadapan mereka berdiri dua orang dan salah satunya sangat ditakuti lima kawanan itu, keduanya adalah Kwaa-yun-peng dan Kwaa-han-jin, Kwaa-han-jin dengan gerakan im-yang-sian-sin-lie mengurung empat kawanan itu, Kwi-ban-ciang dan kwi-san-hengcia hendak melarikan diri, namun kali ini sepertinya Kwaa-han-jin tidak mau melepaskan kawanan ini, dua tamparan telah im-yang-sian-sin-lie sudah membuat lo-tong dan tok-lian pening tujuh keliling, Tok-lian terhempas sambil muntah darah, lo-tong dengan nekat membalas dengan melempar tujuh buah paku beracunnya, namun saat yang bersamaan sebuah pukulan kwi-ban-ciang yang dahsyat, di elakkani Han-jin, sehingga meleset
391
dan menyapu paku-paku kembali kepada lotong dengan kecepatan berlipat ganda
“des….hegh…” lo-tong terhempas dengan nyawa melayang seketika, Kwi-ban-ciang dengan hati mengkal melancarkan kembali serangan, namun Han-jin lebih cepat menutup peluang serangan dua lawannya, dengan gerakan yang membuat kwi-ban-ciang haarus terus mundur, dua cianpwe benar-benar kalang kabut dan terdesak hebat, usaha dua cianpwe dengan nafas memburu membendung serangan yang nyaris tidak kelihatan namun laksana ombak yang menggulung setiap gerakan dan serangan mereka.
Sementara Yun-peng yang berdiri berdampingan menonton pertandingan luar biasa yang sedang berlangsung “siapakah namamu saudara muda !?” tanya Yun-peng “aku Yo-han cianpwe.” jawab Yo-han “apakah putra suheng Yo-seng ?” sela Yun-peng cepat “oh..benar cianpwe, dan siapakah cianpwe dan saudara muda itu ?” “hehehe..aku adalah pamanmu dan demikian juga saudara muda itu adalah pamanmu.” “paman…pamanku banyak, pamanku yang manakah, cianpwe ?” “pamanmu yang berada di shanghai.” sahut Yun-peng “peng-susiok , apakah peng-susiok ?” sela Yo-han dengan mata berbinar gembira “benar han-ji.”
392
Maafkan tecu susiok, yang tidak berlaku hormat.” ujar Yo-han sambil berlutut dan merangkap tangan “hehehe..bangkitlah han-ji.” perintah Yun-peng
“lalu..paman yang sedang bertarung pamanku yang manakah, sungguh tecu bingung, paman ini jauh lebih muda dariku susiok.” ujar Yo-han “hehehe…ini pamanmu yang baru kita ketahui lebih kurang dua tahun ini, namun kenyataannya dia anak ayah dan ibu kwee-kim-in yang lahir pada masa tua.” sahut Yun-peng, Yo-han terkesiap dan kembali menatap pertarungan yang makin menghebat.
Hanya seratus dua puluh jurus kedua cianpwe itu mampu untuk bertahan, dua pukulan kuat dari Han-jin “buk..plak…” dada kwi-ban-ciang kena hantam, mebuat dia kedinginan, lambung kwi-san-hengcia kena tampar, sehingga membuat dia rasa terbakar, namun kedua cianpwe ini memang luar biasa, hawa itu masih dapat mereka punahkan, dan dengan nekat menyerang dengan kekuatan penuh “dhuar…dhuar…..” suara sin-kang menggelegar, dua cianpwe terlempar dan jatuh menimpa genteng likoan, Kwi-ban-san tewas dengan tubuh menghijau kedinginan, sementara kwi-san-hengcia tewas dengan tubuh gosong terbakar. Yo-han yang berdiri berdampingan dengan Yun-peng terkesima dengan kekuatan dan kecepatan ilmu im-yang-sian-sin-lie yang diperagakan orang yang barusan diketahuinya sebagai paman mudanya, Han-jin melangkah mendekati Tok-lian dan melihat
393
keadaanya, Tok-lian menatap Han-jin dengan tatapan tajam, wajahnya pucat karena luka dalam yang ia rasakan, namun nyalinya tetap berkobar menantang Han-jin “bagaimana keadaanmu siocia ?” tanya Han-jin lembut “a..aku sudah tidak berdaya, jika mau bunuh, apa lagi yang kamu tunggu ? bunuhlah saya !” sahut Tok-lian “apakah tidak terbersit sedikit saja dalam hatimu, untuk menyesali perbuatan dan menebus kesalahan dengan melakukan hal-hal yang baik siocia ?” tanya Han-jin lembut “aku sudah tidak peduli dengan tetek bengek seperti itu, jika kamu memberi kesempatan hidup padaku maka suatu saat aku akan berusaha membunuhmu.”
“hehehe…baik saya dan kamu sebenarnya tidak bisa mengklaim nyawa seseorang, karena nyawa manusia bukan milik saya maupun anda, namun karena gelapnya kesesatan yang menyelimuti pikiranmu membuat tindakanmu nyeleneh dan ngelantur.” “aku tidak ngelantur, aku sumpah, bahwa jika aku hidup maka aku akan selalu berusaha membunuhmu.” “siocia sungguh mengenaskan kebutaan hati yang kamu alami, dan karena kejahilanmu yang tidak kenal diri, engkau telah bersumpah dengan sesumbar, maka pergilah siocia, aku tidaklah memberikan kesempatan padamu, dan aku juga tidak akan pernah menunggu dirimu melaksanakan sumpahmu, hari ini mungkin kebutaan hatimu berkarat gulita, tapi besok siapa tahu, karena Thian kuasa memberikan petunjuk pada manusia.”
394
ujar Kwaa-han-jin, kemudia ia berbalik dan melangkah mendekati kakaknya.
“tecu Yo-han menghadap jin-susiok !” ujar Yo-han sambil berlutut dihadapan Kwaa-han-jin. “hehehe…han-ji putra seng-suheng dan eng-cici, bangkitlah nak !” sahut Kwaa-han-ji, Yo-han bangkit “sebelum kita bicara mayat-mayat ini haruslah dikebumikan.” sela Yun-peng “benar peng-susiok, biar tecu yang melakukannya !” ujar Yo-han, lalu empat mayat itu dipondongnya masing-masing dua orang sebelah tangan, lalu tubuhnya berkelabat kearah gerbang timur kota, Kwaa-yun-peng dan Kwaa-han-jin mengikuti dibelakangnya, beberapa warga yang masih bertahan ditempat itu keluar dan melihat Tok-lian bangkit dengan tertatih-tatih, rasa dingin yang menyergap tubuhnya membuat ia menggigil saat berdiri. Langkahnya gontai meninggalkan tempat itu.
Setelah Yo-han menguburkan empat mayat itu, dia kembali menghadap kedua susioknya “han-ji mau kemanakah kamu sebenarnya ? kenapa meninggalkan anak mantu di chanchung ?” tannya Han-jin “saya dan keluarga datang berkunjung ke sinyang, oleh ayah saya disuruh kelokyang untuk memastikan kebenaran berita bahwa she-taihap dilokyang telah mati oleh sekawanan hek-to.” sahut Yo-han “hmh…memang usaha mereka ini untuk melenyapkan kita
395
sangat luar biasa, misi yang terencana dengan trik pengeroyokan terformasi dengan baik.” sela Yun-peng “jadi benarkah susiok hal yang menimpa keluarga kita di Lokyang ?” tanya Yo-han “benar han-ji, pamanmu sin-liong dan adik sepupumu tan-bouw telah meninggal, dan bukan itu saja, bahwa bibimu juga di wuhan kematian suami, dan saya sendiri kematian istri dan cacat seperti ini.” sahut Yun-peng.
“oh…ternyata demikian mengenaskan dampak dari usaha mereka susiok.” gumam Yo-han “benar han-ji, dan dua dalangnya sudah kita kuburkan, dan ujian ini sudah berlalu.” sela Yun-peng “lalu susiok mau kemanakah ?” tanya Yo-han “kami mau ke pulau kura-kura, sebaiknya kamu juga ikutlah kami kesana.” sahut Yun-peng “baiklah susiok, aku akan ikut susiok ke pulau kura-kura.” ujar Yo-han, lalu tiga she-taihap itu pun berangkat.
Istana pulau kura-kura yang megah dihuni dua ratus murid pat-hong-heng-te, she-taihap Kwaa-kun-bao yang berumur lima puluh empat tahun sebagai taisu mengasuh anak-anak didiknya dengan tempaan ilmu-ilmu luar biasa, istrinya Li-ceng-lin dengan penuh setia dan cinta mendampingi suaminya, dua bulan yang lalu putrinya kwaa-hong baru sampai dari perantauan, membuat hati suami istri itu semakin semarak, dan hari itu mereka keadatangan tamu dari kota Kaifeng, tamu itu
396
adalah Tan-liang seorang kungcu bagian selatan kota kaifeng, dengan ramah Kwaa-kun-bao dan istri menyambut mereka, “kunjungan yang tiba-tiba dari tan-kungcu sangat mengejutkan dan sekaligus menyenangkan hati kami, ada apakah kungcu yang baik ?” ujar Kwaa-kun-bao “hahaha…hahaha….maafkan she-taihap karena kami datang mendadak, ini semua karena desakan anak yang tidak dapat tidak kami harus dukung, karena keingianan itu hal yang membuat kami juga bahagia.” “hehe..hehe…sampaikanlah kungcu, kami akan mendengarkannya.” “she-taihap, kami tahu bahwa ada bunga semerbak yang aromanya sangat membuat hati kami nyaman, karena sanking nyamannya terbetik hasrat untuk mempersunting bunga untuk Tan-huang putra kami ini.” ujar Tan-lian sambil mengusap pundak putranya.
Tan-huang adalah putra kedua dari Tan-liang, umurnya dua puluh lima tahun, dan sudah menjabat sebagai kungcu bagian timur kota kaifeng, wajahnya lumayan tampan, dan didikasinya sebagai kungcu boleh diacung jempol, karena ketegasannya yang penuh kharisma, dia lembut merakyat tapi juga bijak dalam menetapkan peraturan, di kaifeng, kungcu muda ini terkenal dengan sebutan Gi-kungcu (pemimpin budiman), Kwaa-hong yang mendengar pembicaraan itu dari ruang dalam terkejut, lalu ia mengintai putra tan-kungcu, wajah yang tidak teralalu tampan, namun sinar mata itu amat berwibawa, sehingga walaupun tidak ganteng tapi tidak jemu mata
397
memandangnya, Kwaa-hong merasakan hal itu, sehingga matanya lekat menatap wajah Tan-huang.
“hahaha..hahaha…sungguh kami merasa terhormat akan perhatian tan-kungcu pada bunga yang tumbuh dipulau ini, tapi apakah hanya aroma yang diketahui oleh kungcu ?” “tentu tidak she-taihap, bunganya juga sudah putraku lihat, demikian juga aku dan istriku, bahkan kami juga tahu bunga itu baru melintasi kota kaifeng dua bulan yang lalu untuk kembali ketaman dimana ia tumbuh.” “hahaha..hehehe…kungcu memang telaten memperhatikan, namun bunga jika akan dipindahkan ketempat lain, menurut penglihatanku tanahnya juga baik dan semerbak kesuburannya jadi buah bibir orang, penuh humus yang tidak lekang jadi pujian, tapi itu hanya penglihatanku, lalu apakah bunga itu cocok ditempat yang subur penuh humus itu ? sesuai atau tidak perlu waktu untuk menjajakinya.” ujar Kwaa-kun-bao.
“sungguh tepat apa yang she-taihap katakan, kami akan menunggu she-taihap.” “baiklah kalau begitu, Tan-kungcu tunggulah sambil makan dan minum, kami akan masuk kedalam sebentar.” ujar Kwaa-kun-bao “silahkan she-taihap.” sahut Tan-kungcu sambil senyum, Kwaa-kun-bao dan istrinya masuk kedalam menemui Kwaa-hong “hong-ji, tamu kita telah datang mengajukan lamaran padamu, bagaimanakah menurutmu ?” tanya Kwaa-kun-bao lembut pada anaknya, Kwaa-hong menunduk, hatinya bingung
398
“ayah..aku baru dua bulan sampai dari perjalanan, jika menurut ayah keluarga Tan itu baik, maka anak akan ikut apa kata ayah dan ibu.” “untuk pertimbanganmu saat ini hong-ji, ketahuilah bahwa Tan-huang itu adalah seorang kungcu muda yang memimpin wilayah selatan kaifeng, dan juga yang tidak kalah penting, warga yang dibawah naungannya amat cinta padanya karena kelembutan dan ketegasannya.” ujar Kwaa-kun-bao “sepertinya ayah dan ibu sudah sangat tahu tentang dia, jika memang ia sebagaimana yang ayah katakan, anak tidak keberatan, anak akan berusaha untuk melakukan yang terbaik, untuk tidak memalukan keluarga kita dan keluarganya.” ujar Kwaa-hong.
“baiklah hong-ji, ayah akan merestui jalinan ini, dan semoga keputusan ini juga Thian berkenan.” ujar Kwaa-kun-bao, lalu kembali keluar menuju ruang tengah “Kedatangan Tan-kungcu dan huang-ji dengan niat baik dan suci mengajukan lamaran hendak mempersunting putrid kami, bersambut baik oleh putrid kami, dan sebagai orang tua kami juga berkenan dengan jalinan.” ujar Kwaa-kun-bao “berkah teramat agung yang kami dapatkan dengan sambutan baik ini, bersyukur pada thian akan nikmat yang tidak terperikan, dan terimakasih yang banyak tidak terlukiskan kami haturkan pada she-taihap.” “hehehe…yang kungcu rasakan tidak berbeda dengan kami, jadi marilah kita berembuk dengan segala sesuatunya untuk mewujudkan harapan baik kita ini.” sahut Kwaa-kun-bao, lalu
399
kedua keluarga itupun melanjutkan pembicaraan mengenai hari baik dan pesta pernikahan. dan dipuruskan hari baik pernikahan Tan-huan dan Kwaa-hong dilaksanakan bulan depan.
Dua minggu kemudian Kwaa-hoa-mei sampai kepulau kura-kura, Kwaa-kun-hong amat gembira sekaligus sedih atas apa yang menimpa kakaknya dan keluarganya yang lain, terlebih setelah mendengar bahwa kakaknya sin-liong telah meninggal dunia bersama keponakannya, dan juga adik iparnya bao-ci-lan istri adiknya kwaa-yun-peng yang meninggal dengan cara mengenaskan, namun ketetapan Thian merupalan kemutlakan yang tidak bisa ditawar.
Tiga hari kemudian ketika para pedagang dipelantaran pulau kura-kura dikejutkan dengan munculnya rajawali yang melintas diatas pulau kura-kura, pekikakannya yang merobek angkasa membuat penghuni istana segera keluarm Kwaa-hong sangat gembira “itu jin-siok ayah..!” seru Kwaa-hong “benar mungkin Jin-te, mari kita lihat.” sela Hoa-mei, Kwaa-kun-bao yang mendengar akan keberadaan adik mereka yang bungsu membuat hatinya gemas-gemas penasaran, dan ketika mereka keluar. “eh..itu bun-ji !” seru hoa-mei, Kwaa-yang-bun turun dan mendarat mulus dihalaman istana bersama istrinya Law-li-hua “tecu menghadap bibi dan paman.” ujar Yang-bun sambil berlutut dihadapan Kwaa-kun-bao, Li-ceng-lin dan Kwaa-hoa-
400
mei “hehehe..bangkitlah bun-ji dan siapakah yang bersamamu ini ?” “ini adalah Lauw-li-hua istri tecu paman, bibi.” sahut Yang-bun, Kauw-li-hua kembali menjura hormat “hahaha..menantu bangkitlah !” ujar Hoa-mei sambil menarik Li-hua, lalu memeluknya, Kwaa-hong juga memeluk Li-hua dengan hangat dan senyum yang bertabur, lalu merekapun masuk kedalam istana, pembicaraan hangat berlangsung, Yang-bun menceritakan apa yang mereka alami bersama ayahnya, dan akhirnya berita bahwa ayahnya dan pamannya Kwaa-han-jin juga akan kepulau kura-kura setelah mengunjungi keluarga mereka di lokyang, hati kwaa-kun-bao merasa suka cita bahwa perhelatan pernikahan putrinya akan dihadiri saudara-saudaranya, dan semakin penasaran ia akan wajah adik bungsunya itu, hanya dia yang belum tahu, sementara saudaranya semua sudah tahu bahkan anak-anaknya juga.
Dua hari sebelum pesta pernikahan tiga orang berlabuh di pulau kura-kura, Kwaa-yun-peng, Kwaa-han-jin dan Yo-han, kedatangan mereka dilaporkan seorang murid, semuanya bergegas keluar, yo-han segera berlutut dihadapan para orang tua, setelah itu “selamat berjumpa bao-ko, saya Kwaa-han-jin datang menghadap.” ujar Kwaa-han-jin, mata kwaa-kun-bao berkaca-kaca melihat adiknya yang baru berusia sembilan belas tahun, ditariknya bahu Han-jin dan dipeluknya “jin-te…kedatanganmu seperti kedatangan ayah dan ibu.” ujarnya lirih dengan sedu sedan menciumi adiknya, Kwaa-han-
401
jin juga menitikkan air mata, pertemuan itu sangat mengharukan
Kemudian mereka masuk kedalam istana, Kwaa-han-jin terkagum-kagum melihat megahnya istana pulau kura-kura “bao-ko hong-cici dan keluargam, serta niu-ji dan keluarga menyampaikan salam pada seluruh keluarga yang berada di pulau kura-kura.” ujar Kwaa-han-jin, “oh..bagaimanakah keadaan mereka jin-te ?” tanya Li-ceng-lin “keadaan mereka baik-baik soso, dan juga hal yang tidak kalah penting saya ingin katakana bahwa hong-cici telah memiliki putra diusia tuanya.” ujar Kwaa-han-jin, semua yang mendengar merasa gembira dan suka cita, terlebih hoa-mei terisak menangis bahagia mendengar berita itu. “keponakan kita itu sama dengan kamu Jin-te.” sela Kun-bao “benar bao-ko, dan oleh cicih menyuruh aku memberinya nama.” “siapakah namanya jin-te ?” sela Yun-peng “namanya Bao-jin-han.” sahut Kwaa-han-jin senyum, pertemuan besar keluarga itu semakin hangat dan semarak, saat mereka mempersiapkan perhelatan pesta.
Hari bahagia Kwaa-hong pun tiba, calon suaminya dengan kapal besar datang, arak-arakan pengantin sangat meriah, keluarga Tan disambut hangat keluarga Kwaa, para undangan dari kaifeng membanjiri pulau kura-kura, pulau itu terasa gegap gempita, para tukang jasa penyeberang mendapat panen yang luar biasa, pesta itu berlangsung selama tiga hari, dan tentunya
402
yang paling bahagia adalah kedua mempelai, Tan-huang dan Kwaa-hong, malam pengantin yang kaku menjadi seni kenangan tersendiri bagi keduanya namun kekakuan menambah eratnya curahan cinta kasih diantara suami istri itu.
Kwaa-han-jin merasakan hangatnya hidup ditengah-tengah keluarganya, umurnya yang masih sembilan belas tahun namun ia termasuk golongan tua dijajaran she-taihap, dan figur itu mampu dia emban dihadapan seluruh keponakannya, didikan ayahnya yang lembut dan matang telah menunjukkan jati dirinya yang luar biasa, ia yang termuda dari golongan tua, namun ia juga membawa aura ayah dan ibunya dihadapan saudara-saudaranya.
Kwaa-hong, Kwaa-yang-bun, kwaa-gan-bao akan menatap hari-hari depan mereka dengan lembaran binaan rumah tangga yang mereka bina, hikmah she-taihap akan terus mengalir pada generasi berikutnya, amanah she-taihap akan terus berlanjut, semua anggota keluarga itu duduk dihadapan makam Kim-khong-taihap sebagai leluhur yang mengamanahkan gelar she-taihap pada mereka.
Dengan demikian berakhirlah cerita sampai disini, semoga para pembaca yang budiman dapat mengambil mamfaat disamping bacaan yang menghibur.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Cersil Keren Terbaik : Jinsin Tayhiap 4 Tamat ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Rabu, 12 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments