Cerita Romantis Bikin Nangis : Dendam Iblis Seribu Wajah 3

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Romantis Bikin Nangis : Dendam Iblis Seribu Wajah 3
Baca Juga:
Cerita Romantis Bikin Nangis : Dendam Iblis Seribu Wajah 3
Tiba-tiba…
Sebuah suara teriakan yang mengejutkan memecahkan keheningan!
Hati Tan Ki langsung tergetar. Meskipun dia sedang menghadapi lawan tangguh, namun
dengan jelas dia mengetahui bahwa jeritan yang barusan terdengar keluar dari mulut
Mei Ling yang dicintainya.
Hatinya menjadi panik. Dengan gencar dia melancarkan beberapa serangan ke arah lawannya.
Untuk beberapa saat, tosu itu sampai terdesak mundur. Matanya segera beralih,
tanpa dapat ditahan lagi hatinya jadi tergetar. Jantungnya bagai terlonjak keluar pada saat
itu juga!
Entah sejak kapan, wanita yang jelek itu sudah berhasil meringkus Mei Ling dan sekarang
gadis itu sudah berada dalam gendongannya. Pada saat itu juga, hawa amarah
dalam dadanya jadi meluap. Jurus Menggetarkan Langit dan Bumi yang belum pernah
digunakannya langsung dilancarkan. Serangan ini menggunakan segenap kekuatannya
yang ada.
Selama tiga hari berturut-turut, dia menerima gemblengan dua tokoh sakti dunia
Kangouw saat ini. Tenaga dalamnya sudah berlipat ganda dan dapat dilancarkan sesuka
hati. Sekarang ini dikerahkan dalam keadaan gusar. Seluruh kekuatannya dihimpun dan
tentu saja kejinya bukan main. Suaranya melengking tinggi.
Tosu itu biasanya paling memandang tinggi dirinya sendiri. Melihat serangannya itu,
tampaknya dia tidak gentar sama sekali. Malah dia tertawa terbahak-bahak. Tasbihnya
dipindahkan ke tangan kiri, telapak tangannya dihantamkan ke depan untuk menyambut
serangan Tan Ki.
Serangkum angin yang kuat segera menerjang ke arah serangan Tan Ki yang dilancarkan
dalam keadaan gusar. Terdengar suara menggelegar yang memekakkan telinga.
Seluruh rumah peristirahatan itu jadi bergetar bahkan bergoyang-goyang beberapa detik,
setiap waktu selalu ada kemungkinan ambruk ke bawah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah pukulan itu beradu, ternyata tubuh kedua orang itu terhuyung-huyung
beberapa saat. Sulit membedakan siapa yang lebih unggul. Serangan yang dilancarkan
Tan Ki lebih kuat dari biasanya, apalagi hatinya sedang gusar sekali. Kalau ditinjau dari hal
ini, tentu anak muda ini masih kalah setingkat dari tosu jahat itu.
Tepat pada saat itu, terdengar suara Lu Sam Nio…
“Im Ka Toyu, orangnya sudah berhasil kudapatkan. Kita sudah boleh kembali memberikan
laporan. Mari pergi!” matanya melirik ke arah Tan Ki sambil tersenyum
menyeramkan. Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan pergi dari rumah itu.
Perubahan yang tidak terduga-duga ini berlangsung cepat sekali. Tan Ki jadi tertegun
sesaat. Tiba-tiba Im Ka Tojin kembali menyerangnya secara gencar tiga jurus berturutturut,
Tan Ki sampai terdesak mundur tiga langkah.
Untuk sesaat, dia merasa hatinya dilanda keperihan yang tidak terkatakan, melebihi
luapan amarah dalam bathinnya. Mendadak dia mendongakkan wajahnya dan
mengeluarkan suara siulan yang pilu. Sepasang kakinya menutul, tubuhnya melesat ke
udara dan menerjang ke arah wanita jelek itu.
Im Ka Tojin tertawa dingin.
“Diri sendiri saja masih belum tentu selamat, saat ini masih berpikir untuk menolong
orang lain!”
Lengan kanannya menghantam ke udara, timbul kekuatan yang dahsyat sekali, menghadang
tubuh Tan Ki yang sedang melesat. Dalam waktu yang sekejap saja, Lu Sam Nio
sudah menerjang keluar dan menghilang dalam kegelapan.
Tan Ki terhalang jalan perginya oleh hantaman Im Ka Tojin yang kuat. Tubuhnya terhuyung-
huyung beberapa saat, hawa murninya tidak dapat dikerahkan dengan lancar,
akibatnya diapun terjatuh di atas tanah.
Tiba-tiba terlihat bayangan berkelebat. Im Ka Tojin sudah melesat ke arah pintu. Ilmu
silat orang ini sangat tinggi. Begitu berkelebat, kecepatannya bagai kilat. Dalam dua kali
lon-catan dia sudah sampai di depan pintu.
Hati Tan Ki panik sekali, dia langsung melonjak bangun dan meraung sekeras-kerasnya.
Dia melihat gerakan tosu itu demikian cepat, apalagi jaraknya kurang lebih satu depaan,
untuk menghadang tentu tidak keburu lagi. Lengan kanannya segera terulur, dia mencekal
sebuah kursi kemudian dengan sepenuh tenaga dia menyambitkannya ke arah tosu
tersebut.
Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga. Kursi yang dilemparkan sekuat
tenaga itu tidak mengenai diri tosu itu malah membentur daun pintu. Pecahan kayu
langsung berhamburan ke mana-mana.
Begitu mata memandang, Im Ka Tojin sudah melesat keluar dari rumah peristirahatan
itu. Kepedihan yang berlebihan, membuat Tan Ki berdiri dengan termangu-mangu. Untuk
se-saat dia lupa menyelamatkan Mei Ling. Sebetulnya dia dapat menyandak Im ka Tojin,
toh ilmu mereka memang seimbang. Mana ada kesempatan baginya untuk menolong
orang?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Oleh karena itu, hatinya tertekan sekali…
Air matanya pun mengalir dengan deras. Dia merasa tidak pernah mengenal kedua
orang tadi. Mengapa mereka harus menculik Mei Ling?
Dia benar-benar tidak habis pikir apa alasannya, dia hanya merenung seperti orang
bodoh. Impiannya yang indah kandas sudah…
***
BAGIAN XXII
Setelah tertegun beberapa saat, tiba-tiba bagai seekor binatang buas, dia menerjang
ke-luar!
Begitu matanya memandang, yang terlihat hanya sinar rembulan yang semakin
meredup. Benda langit itu seakan memaksakan dirinya muncul dari balik awan yang tebal,
cahayanya hanya remang-remang. Angin malam masih berhembus seperti orang yang
menghela nafas panjang. Rerumputan bergerak-gerak menimbulkan alunan suara yang
pilu. Di sekitar sunyi senyap. Tak terlihat lagi bayangan wanita jelek itu.
Pada saat itu juga, dia merasa hatinya seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Sakit dan
marah. Serangkum rasa perih memenuhi dadanya. Dua baris air mata bagai curahan hujan
lebat membasahi wajahnya.
Tadinya dia berpikir dapat bertemu lagi dengan Mei Ling setelah diculik oleh Oey Kang,
bahkan racun Li Hun Tan dapat disembuhkan oleh Yibun Siu San. Sejak hari itu, mereka
tidak akan terpisah lagi. Untuk selamanya mereka dapat mereguk kenikmatan anggur cinta
yang tumbuh dalam hati mereka berdua.
Siapa tahu bencana memang tidak dapat ditolak. Tiba-tiba bisa muncul seorang Lu Sam
Nio dan seorang Im Ka Tojin yang menculik Mei Ling. Bagi Tan Ki, hal ini merupakan suatu
pukulan bathin yang tidak terkatakan beratnya.
Ketika dia melihat jelas bahwa kedua orang itu sudah menghilang, hatinya menjadi
hancur. Berbagai penderitaan berkecamuk dalam dadanya. Bagai seorang anak yang
menerima hinaan dari kawan-kawannya. Dia berdiri termangu-mangu dan memandangi
rembulan yang suram seperti orang yang kurang waras.
Padahal dia sedang mengerahkan segenap pikirannya untuk mencari tahu asal-usul
sepasang laki-laki dan perempuan tadi. Tetapi bagaimanapun dia tetap merasa belum
pernah bertemu dengan mereka. Dan Toa Ie yang mereka katakan tadi, entah siapa
orangnya. Yang dapat diduganya, Toa Ie ini pasti bukan tokoh sembarangan. Dan dia pula
yang memerintahkan tosu serta wanita jelek tadi untuk menculik Mei Ling.
Tanpa dapat ditahan lagi dia tertawa getir. Berbagai macam penderitaan dalam waktu
yang singkat memenuhi sanubarinya. Dia sendiri tidak tahu apa arti tawanya itu. Tetapi
dia membayangkan, dunia begini luas, daratan, pegunungan, lautan, semuanya dapat
dijadikan tempat tinggal. Lalu ke mana dia harus mencari orang yang hanya dia tahu
sebutannya Toa Ie itu?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Keperihan yang tidak terkatakan memenuhi seluruh hatinya. Akal sehatnya bagai lenyap
tanpa bekas. Pikirannya kalut. Tiba-tiba dia mendengus satu kali. Dengan termangumangu,
dia mulai tertawa lebar.
Tawanya ini masih belum seberapa mengejutkan. Tetapi seperti sedang melampiaskan
kekecewaan hatinya. Namun tawanya semakin lama semakin keras. Lama kelamaan
menjadi tawa yang terbahak-bahak. Suara tawanya melengking, di dalamnya terkandung
keperihan yang tidak teruraikan dengan kata-kata. Seluruh bukit dan lembah bagai
tergetar, gaungnya bertalu-talu ke segala penjuru.
Tawanya yang panjang berlangsung kurang lebih sepeminum teh lamanya. Lalu tibatiba
terhenti. Di wajahnya yang tampan tersirat kedukaan yang aneh, kemudian dia
menarik nafas panjang.
Perlahan-lahan dia membalikkan tubuh dan berjalan ke atas bukit. Dalam waktu sesaat,
dia merasa kehidupannya di dunia ini tidak ada artinya sama sekali. Juga tidak tahu sejak
kapan, ternyata di dalam hatinya terlintas pikiran untuk menggundulkan rambutnya
menjadi hwesio.
Dia berjalan dengan lambat, langkahnya seakan demikian berat…
Dari hadapannya berhembus segulungan angin, tetapi tetap saja tidak menghentakkannya
dari lamunan. Embun yang membasahi rumput dan bunga-bungaan berulang kali
memercik kakinya. Namun dia tidak merasa dingin sama sekali. Seluruh perasaannya
seolah sudah kebal.
Selangkah demi selangkah dia berjalan. Tampang dan penampilannya lebih mirip
sesosok mayat hidup. Dalam kegelapan malam seperti ini, suasana semakin mengerikan!
Tiba-tiba…
Terasa angin berkibar, sesosok bayangan kehitaman dengan tergesa- gesa berkelebat
datang. Orang ini terpana ketika tiba-tiba bertemu dengan Tan Ki. Mulutnya sampai
menge-luarkan seruan terkejut. Secara mendadak dia menahan luncuran tubuhnya yang
sedang melesat ke depan. Ketika dia berhenti, jarak antara kedua orang itu hanya tiga
langkah saja.
Di bawah sinar rembulan yang remang-remang, tampak orang itu bertubuh langsing.
Alisnya bagai dilukis, kepalanya terikat sebuah pita berwarna ungu, pakaiannya berwarna
merah jambu. Bahunya menyandang sebilah pedang panjang, usianya kira-kira empat
puluhan.
Kemunculan wanita setengah baya yang cantik ini begitu tiba-tiba. Seharusnya Tan Ki
bisa terkejut setengah mati. Tetapi kenyataannya benar-benar di luar dugaan, dia tidak
mengucapkan sepatah katapun. Seperti sebelumnya dia terus berjalan, seolah matanya
tidak melihat apa-apa.
Gerakan yang tidak biasanya ini, malah membuat wanita setengah baya itu terperanjat.
Kakinya menggeser ke kanan kurang lebih setengah tindak, dia membiarkan Tan Ki lewat
di sampingnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu mata memandang, dia melihat tampang Tan Ki pucat sekali. Di bawah cahaya
rembulan, wajah itu adalah tanpa perasaan. Hatinya menjadi perih. Semacam perasaan
yang timbul dari kasih seorang ibu, memenuhi dadanya seketika. Membuat dia tidak dapat
menahan kedukaan dalam bathinnya. Air mata pun mengalir dengan deras. Tanpa dapat
ditahan lagi, dia berteriak sekeras-kerasnya. “Anakku!”
Setelah memanggil satu kali, nada suara-nya begitu mengharukan. Siapa kira, Tan Ki
seakan tidak mendengarnya, dia terus melangkahkan kakinya ke depan.
Kalau saja pikiran Tan Ki saat itu sadar seperti biasa, tentu dia dapat mengenali wanita
yang tiba-tiba muncul di hadapannya tadi adalah ibu yang sangat menyayanginya tetapi
juga sangat dibencinya, Cen Lam Hong. Meskipun dia telah berpisah dengan ibunya
selama sepuluh tahun.
Angin gunung terus berhembus, seakan tidak hentinya menarik nafas panjang melihat
tragedi yang menimpa anak manusia. Suasana semakin pilu serta menyayat hati…
Tadinya Cen Lam Hong mendapat laporan dari Yibun Siu San. Oleh karena itu, dengan
hati penuh harapan dia cepat-cepat turun untuk menemui putranya tersayang. Meskipun
Yibun Siu San sudah memperigatkannya berkali-kali bahwa Tan Ki mempunyai salah
paham yang dalam terhadap dirinya. Setelah bertemu, ada kemungkinan timbul suasana
yang tidak enak. Tetapi dia tetap tidak perduli segalanya. Meskipun putra kesayangannya
akan memaki ataupun memukul dirinya, dia bersedia menerima semuanya. Dia hanya
berharap dapat melihat Tan Ki satu kali saja. Ingin tahu sampai di mana perubahan
anaknya setelah berpisah selama sepuluh tahun, seperti apa rupanya sekarang. Dengan
demikian pun hatinya sudah merasa puas.
Tidak disangka kenyataan yang terpampang di hadapannya benar-benar di luar dugaan
wanita setengah baya ini, akibatnya dia malah jadi terpana.
Tubuhnya berkelebat, dia menghadang di depan Tan Ki. Wajahnya menyiratkan perasaan
sayangnya yang dalam. Dengan lembut dia berkata…
“Anakku, apa yang terjadi padamu?”
Suaranya demikian keibuan dan penuh perhatian. Orang yang mendengarnya pasti
akan terharu dibuatnya. Mendadak Tan Ki menghentikan langkah kakinya. Dia
memandang Ceng Lam Hong dengan tertegun. Kemunculan wanita setengah baya itu
dihadapannya membuat dia jadi termangu-mangu.
Sepeluh tahun berpisah, meskipun terhitung waktu yang panjang, tetapi bagi ingatan
seseorang belumlah terlalu lama. Tetapi pikiran Tan Ki sekarang sedang sekarat, dia
hampir tidak tahu apa-apa lagi. Dia hanya merasa wajah wanita setengah baya di
hadapannya ini begitu welas asih, tetapi tidak dapat mengingat bahwa dia mempunyai
hubungan dengan dirinya. Setelah memandangnya dengan termangu-mangu beberapa
saat, tiba-tiba dengan ketolol-tololan dia tertawa terkekeh-kekeh. .
“Siapa kau?”
Ceng Lam Hong menarik nafas panjang.
“Aku adalah ibumu, apakah kau tidak mengingatnya lagi?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki seolah tertegun.
“Kau adalah ibuku?” bola matanya bergerak-gerak, dia memperhatikan Ceng Lam Hong
dari atas kepala sampai ke bawah kaki. Kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Ti-dak
benar, ibuku tidak selembut dirimu. Dia juga tidak sebaik dirimu, makanya dia bisa kabur
dengan seorang laki-laki. Lagipula dia sudah bersembunyi begitu lama serta tidak sudi
menemui diriku… kau mengatakan bahwa kau adalah ibuku, apakah kau juga pernah
kabur dengan seorang laki-laki?”
Mendengar kata-katanya, Ceng Lam Hong jadi tertegun. Beberapa saat kemudian, dia
baru tersadar apa makna ucapan Tan Ki. Tanpa dapat ditahan lagi dia menghentakkan
kakinya ke atas tanah.
“Ngaco!”
Tan Ki menaikkan sepasang bahunya.
“Ngaco juga tidak apa-apa, omong kosong juga boleh. Pokoknya, di dalam hatiku sudah
tidak ada lagi bayangan ayah ibuku. Kalau kau ingin memalsukan dirinya dan mengaku
sebagai ibuku, berarti kau juga mempunyai hubungan yang kotor dengan seorang lakilaki!”
selesai berkata, mendadak dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahakbahak,
kemudian dengan cepat tubuhnya melesat ke depan.
Hati Ceng Lam Hong tergetar. Secara jelas dia tahu bahwa saat ini pikiran Tan Ki
sedang kacau, kata-kata yang diucapkannya pasti seenaknya saja. Tetapi hal ini
membuktikan kepadanya bahwa kenyataannya memang Tan Ki benci sekali kepadanya.
Tiba-tiba tubuh Tan Ki menerjang ke depan, meskipun dia sangat terkejut. Secara otomatis,
dia bergeser dua langkah dan membiarkan Tan Ki lewat. Ketika anak muda itu
sudah mencapai jarak tiga depaan, tanpa dapat mempertahankan diri lagi dia memanggil
dengan suara keras, “Anak Ki…!”
Suaranya tajam dan pilu. Lebih mirip ratapan dari suara panggilan. Tampangnya
sungguh mengharukan, mimiknya menyorotkan ketulusan. Meskipun dia sudah
berpisah dengan Tan Ki selama sepuluh tahun, tetapi kasih sayangnya sebagai seorang ibu
tetap tidak hilang.
Rembulan yang menyembul di balik awan, menyorotkan cahaya ke arah wajahnya yang
mulai berkerut, dua baris air mata mengalir dengan deras…
Kasih sayang seorang ibu yang lembut, seakan meluap memenuhi hatinya saat itu juga.
Tetapi Tan Ki masih belum menyadari bahwa panggilan ibunya sangat berharga,
pikirannya kurang waras, dia bahkan tidak mendengar panggilan itu.
Diantara angin malam, sayup-sayup berkumandang suara tawa yang panjang, seperti
sebilah pedang yang tajam menusuk kalbunya sebagai seorang ibu yang mencintai
anaknya. Hatinya sangat terluka.
“Aku… tidak tahu malu…? Perempuan yang kabur dengan seorang laki-laki…?”
gumamnya seorang diri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mulutnya bergumam, hatinya terasa semakin dingin. Sakit yang menusuk… dua baris
air mata kembali berderai.
Suaminya dibunuh mati dengan empat puluh macam senjata rahasia, meskipun hatinya
sedih sekali, namun tidak sehebat kali ini. Dua baris air mata ibu ini mengalir dari
ketulusan hatinya. Air mata yang tidak terkira nilainya. Dia dimaki oleh Tan Ki sebagai
wanita jalang yang tidak tahu malu, bagaimana perasaannya tidak menjadi sakit?
Kemudian, tampak dia menggertakkan giginya erat-erat. Tangannya terangkat dan
dihapusnya air mata yang mengalir turun. Mulutnya mengeluarkan tawa yang getir.
“Baiklah, biar saja dia memarahi aku sedemikian rupa, pokoknya dia tetap anakku!”
Tubuhnya berkelebat, dengan membawa penderitaan dan rasa sakit di hatinya, dia berlari
ke arah yang diambil Tan Ki dengan maksud mengejar anaknya itu.
Cahaya rembulan semakin redup. Namun cukup untuk menyinari seluruh perbukitan itu.
Tampak Ceng Lam Hong berlari dengan mengerahkan ilmu ginkangnya, kadang-kadang
kakinya meloncat ke atas, kadang melayang turun lagi ke bawah. Dalam waktu yang
singkat dia sudah jauh sekali. Sekali loncatan saja, dia mampu mencapai satu depaan.
Tidak berapa lama kemudian, dia sudah dapat melihat bayangan punggung Tan Ki yang
melangkah di tengah perbukitan. Diam-diam Ceng Lam Hong menghembuskan nafas
panjang. Hatinya menjadi agak lega setelah berhasil menyusul anaknya. Langkah kakinya
diperingan dan tanpa diketahui oleh Tan Ki, dia mengikutinya dari belakang.
Seorang ibu serta seorang anak membawa perasaan yang berbeda terus mendaki ke
atas bukit tanpa mengucapkan sepatah katapun. Setelah berjalan beberapa saat, tiba-tiba
terdengar suara tawa yang panjang bergema di daerah perbukitan itu. Gaungnya bahkan
membuat gendang telinga seakan menjadi berdengung-dengung.
Setelah mendengar suara tawa yang berulang-ulang itu, hati Ceng Lam Hong menjadi
khawatir. Dia tahu suara tawa itu timbul dari mulut Yibun Siu San yang mengerahkan
tenaga dalamnya, tetapi diselingi juga oleh suara Oey Kang yang sinis. Yang satu berniat
melindungi dirinya, sedangkan yang satu lagi ingin menemui dirinya. Kedua orang itu
bagai api dan air yang tidak dapat dipersatukan…
Pikirannya masih melayang-layang, tiba-tiba berkumandang lagi suara dengusan dan
bentakan. Deru angin menghempas-hempas. Tidak usah diragukan lagi, kedua orang itu
mulai terlibat dalam perkelahian yang sengit. Pada saat itu juga, mendadak Tan Ki tertawa
keras. Dengan suara lantang dia berteriak…
“Liu Moay Moay, jangan takut! Aku datang menolongmu!” baru saja ucapannya selesai,
dengan segera dia menarik nafas panjang dan tubuhnya langsung berkelebat menerjang
ke depan.
Meskipun pikirannya sedang kacau, namun ilmu silatnya masih tetap. Begitu
mengemposkan tenaga, tubuhnya melesat bagai seekor kijang. Kecepatannya tidak
terkirakan. Ceng Lam Hong cepat-cepat mengerahkan ginkang-nya mengejar, semakin
lama semakin cepat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tidak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di puncak bukit di mana terdapat
sebuah padang rumput yang cukup luas. Saat itu rembulan masih menyembunyikan
sebagian dirinya di balik awan, cahayanya yang redup menyinari seluruh permukaan bukit
itu. Namun masih ada beberapa bintang yang berkelap-kelip. Yibun Siu San dan Oey Kang
bertarung dengan sengit dengan tangan masing-masing menggenggam sebilah pedang
kayu.
Si pengemis sakti Cian Cong malah duduk di atas rumput pada jarak dua depaan. Tangannya
menggenggam hiolo berisi arak. Berulang kali dia meneguk araknya dengan
nikmat. Kadang-kadang matanya membelalak apabila menyaksikan bagian pertarungan
yang hebat. Wajahnya menyiratkan perasaan khawatir.
Tepat pada saat Tan Ki dan ibunya mendaki ke puncak bukit. Terdengar suara Oey
Kang membentak dengan suara keras. Dengan jurus Naga Menggerakkan Ekor, orang
beserta pedangnya meluncur ke arah Yibun Siu San!
Serangannya ini dilancarkan dengan kecepatan yang hebatnya bukan main. Kaki Yibun
Siu San baru berdiri dengan mantap, pedang kayunya sudah menimbulkan suara desingan
yang meluncur dari tengah udara ke hadapannya!
Dengan panik Yibun Siu San mengerahkan jurus Berpacu di atas kuda. Dia
mengelakkan diri dari serangan pedang kayu Oey Kang, sekaligus menendangkan kaki
kanannya ke arah pergelangan tangan lawan yang menggenggam pedang kayu.
Terdengar suara tawa Oey Kang yang mengandung kelicikan luar biasa. Dia tidak berusaha
menghindarkan diri dari serangan lawan, malah tangan kirinya terulur mengincar
urat darah di bagian paha Yibun Siu San yang sedang menendang ke arahnya.
Yibun Siu San terkejut setengah mati melihat iblis itu menyambut serangannya dengan
serangan pula. Laki-laki itu terdesak sampai dua tiga depa. Dia merasa serangkum angin
menghembus lewat selangkangannya. Meskipun jalan darahnya tidak tertotok, namun
sapuan anginnya saja sudah menimbulkan rasa perih dan panas.
Dalam keadaan masih terperanjat, tiba-tiba dia melihat Oey Kang bagai camar yang
terbang di angkasa. Diiringi suara orang meniup dengan keras, dia melintas di atas kepala
Yibun Siu San. Pedangnya berubah menjadi bayangan yang mengitarinya dan tiba-tiba
orang beserta pedang kayunya meluncur ke arah Ceng Lam Hong.
Yibun Siu San melihat dia menggerakkan pedang sambil melayang di udara.
Kepandaian orang ini sudah mencapai taraf yang demikian tinggi sehingga pedangnya
sudah berhasil dikuasai sedemikian rupa tergantung kemauan-nya. Hatinya menjadi
tercekat, sambil meraung dengan keras, dia menggetarkan pedang kayunya serta
menyapu ke depan.
Terdengar suara benturan yang keras. Dua batang pedang kayu saling beradu. Dengan
menggunakan daya pental dari dorongan tenaga lawan, tubuh Oey Kang melayang lagi di
udara sejauh satu depaan. Dia berjungkir balik sebanyak dua kali. Sambil tertawa
terbahak-bahak, pedang kayunya kembali meluncur ke arah jalan darah penting di bagian
punggung Yibun Siu San. Angin yang keras timbul dari totokan pedangnya, gerakannya
ringan dan lincah sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan panik Yibun Siu San menerjang ke depan sejauh beberapa depa. Tangannya
membalik dan dengan jurus Mematri lonceng emas, dia membalas sebuah serangan. Siapa
nyana gerakan iblis ini jauh lebih cepat dari pada dirinya. Sepasang kakinya baru menutul
di atas tanah, tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat kembali di udara. Serangan Yibun Siu
San sampai, tubuhnya sudah melayang kembali. Dengan jurus Camar menerobos awan,
dia sudah melesat ke atas kepala Yibun Siu San dan pedang kayunya secepat kilat
menebas ke bawah!
Jurus ini anehnya bukan main. Meskipun Yibun Siu San sudah banyak menghadapi lawan
tangguh, pengalamannya juga luas. Tetapi dia juga dibuat kalang kabut oleh
serangan Oey Kang ini. Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya di udara dan menghindar
sejauh beberapa depa. Begitu kakinya menginjak tanah, dengan jurus Pelangi mewarnai
langit dia lancarkan kembali serangan dari udara. Kehebatannya mengagumkan, dia
langsung menyambut datangnya serangan lawan.
Terdengar lagi suara pedang kayu mereka beradu, kembali Oey Kang meminjam tenaga
dorongan akibat benturan itu dengan melayang lagi di udara. Pergelangan tangannya
memutar dan dia menebas lagi ke arah Yibur Siu San.
Cara menyerang yang belum pernah terdengar atau terlihat ini, justru merupakan ilmu
andalan Oey Kang yakni, Mo-hun Cap Pat-cai atau Delapan belas jurus meraba awan.
Gerak-annya selalu meminjam tenaga pantulan pedang lawan untuk mencelat ke atas dan
menyerang dari udara. Acap kali sampai lama sekali tubuhnya tidak mendarat turun di atas
tanah.
Ketika mula-mula menghadapi lawannya, Yibun Siu San masih belum merasa adanya
keistimewaan apa-apa. Dia hanya merasa ilmu meringankan tubuh Jikonya itu maju pesat
dibandingkan waktu lalu. Dengan pertimbangan waktu yang tepat, dia dapat meminjam
tenaga pantulan senjata lawannya untuk mencelat ke tengah udara. Tetapi setelah
bergebrak kurang lebih sepeminum teh lamanya, dia baru mulai merasa ada yang tidak
beres. Dia melihat tubuh lawannya yang melayang di udara bagai burung camar
beterbangan. Melesat ke sana menerobos ke mari. Serangannya semakin lama semakin
gencar. Perubahan jurusnya mengejutkan. Terang-terangan dia melihat serangan
dilancarkan dari arah depan, tahu-tahu tubuhnya berkelebat dan serangannya sudah
mengancam dari belakang. Gerakan tangannya seperti asal-asalan saja, namun
sasarannya selalu bagian tubuh yang berbahaya. Pedang kayu di tangannyapun semakin
lama gerakannya semakin aneh. Tiba-tiba menyerang ke kiri dan kadang-kadang
berpindah ke kanan. Kedatangannya selalu tidak terduga-duga.
Lambat laun Yibun Siu San terpaksa harus memusatkan perhatian sepenuhnya untuk
menghadapi lawan. Tokoh kelas tinggi di dunia Bulim ini, dibuat kalang kabut oleh gerakan
tubuh Oey Kang yang bergerak bagai hempasan angin. Biarpun kepandaiannya sangat
tinggi, namun dia sama sekali tidak sempat menggunakannya.
Karena ilmu Cap Pat Mo-hun milik Oey Kang ini merupakan sejenis ilmu yang sangat
istimewa, tubuhnya sambil melayang di udara dapat melesat ke kiri dan ke kanan.
Gerakan tubuhnya seakan tidak pernah berhenti. Meskipun tenaga dalam Yibun Siu San
lebih tinggi lagi, tetap saja dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Si pengemis sakti yang terus menyaksikan jalannya pertempuran dari samping, menjadi
tercekat hatinya. Diam-diam dia berpikir…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
‘Nama si iblis tua ini ternyata bukan nama kosong. Dia merupakan musuh tertangguh
yang pernah aku lihat. Kalau dibiarkan terus, Yibun Loji pasti akan kena pukulannya. Lebih
baik aku memanas-manasi hatinya agar bertempur dengan cara yang biasa…’
Begitu pikirannya tergerak, dia langsung berteriak dengan keras, “Cara bertempur yang
seperti mainan ini, mana terhitung ilmu sejati. Tampaknya julukanmu Sam-jiu San Tian-sin
hanya ejekan para sahabat dunia Kangouw saja. Pada dasarnya tidak berani bertempur
dengan cara jantan dengan lawan!”
Mendengar sindirannya itu, ternyata Oey Kang langsung menghentikan serangannya
dan berjungkir balik di udara satu kali kemudian mendarat turun pada jarak dua depaan.
Tangannya masih menggenggam pedang kayu, mulutnya mengeluarkan suara tertawa
yang dingin.
“Pengemis tua tidak perlu menyulut api membakar hati. Tidak perduli permainan apa
yang kalian keluarkan, aku tetap akan menemani. Tetapi harus ada taruhannya baru
seru!”
Yibun Siu San tertawa terbahak-bahak.
“Taruhan apa boleh kau katakan saja, bahkan taruhan kepala yang ada di atas leher
inipun, aku tidak akan menolaknya!”
Oey Kang melirik Ceng Lam Hong sekilas. Tampak wajah wanita setengah baya itu
masih memancarkan sisa kecantikannya ketika masa muda dulu. Tiba-tiba dia menarik
nafas panjang.
“Kalau aku yang kalah, maka aku akan mematahkan pedangku dan mencukur rambut.
Kemudian mengasingkan diri di pegunungan yang sunyi. Sejak hari ini juga aku tidak akan
mencampuri urusan dunia Kangouw lagi!”
Yibun Siu San menganggukkan kepalanya. “Baik. Kalau aku yang kalah, maka aku akan
mengutungkan sebelah lenganku ini dan untuk selamanya tidak membicarakan ilmu silat
lagi!”
Oey Kang menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Untuk apa Samte berbuat demikian? Kalau kebetulan Giheng bisa meraih kemenangan,
aku hanya minta diijinkan berbicara beberapa patah kata dengan Toaso.”
Mendengar ucapannya, Yibun Siu San segera menyadari bahwa cinta kasih di dalam
hati Jikonya terhadap Toasonya ini masih belum pupus juga walaupun belasan tahun telah
berlalu. Dia menjadi terperanjat. Untuk sesaat kepalanya tertunduk ke bawah dan tidak
mampu memberikan jawaban. Tetapi karena wajahnya ditutupi dengan sehelai cadar
hitam, maka tidak terlihat bagaimana perasaannya saat itu.
Yibun Siu San paham sekali watak Ceng Lam Hong. Meskipun dari luar, wanita ini
terlihat lembut dan ramah, tetapi hatinya lebih keras dari pada baja. Kalau dia sampai
mengetahui seluk beluk di balik kematian sang Toako, mungkin…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba tubuhnya jadi menggigil, dia tidak berani membayangkan kelanjutannya.
Wajahnya didongakkan kembali, dengan nada yang berat dia berkata, “Baiklah, apabila
kau bisa memenangkan aku, maka aku tidak akan ikut campur lagi urusan ini!”
Dia sudah bertekad untuk mengadu jiwa dengan Oey Kang. Selesai berkata, dia segera
menghimpun tenaga dalamnya ke keempat anggota tubuhnya dan mengerahkan hawa
murni untuk melindungi diri. Kakinyapun langsung memasang kuda-kuda dengan posisi
menunggu datangnya serangan.
Kedua orang itu berdiri berhadapan saling menunggu beberapa saat. Akhirnya Oey
Kang yang kehabisan sabar. Pergelangan tangannya terulur dan pedang kayunya langsung
meluncur mengincar dada Yibun Siu San.
Tangan Yibun Siu San membalik dengan melingkar. Timbul segulungan angin yang
terpancar dari pedangnya. Dia berhasil mengelak dari serangan lawan. Pedang di
tangannya menukik, berbalik menerjang ke bawah ketiak Oey Kang.
Sekali berkelebat saja, Oey Kang berhasil menghindarkan diri, disusul dengan meluncurnya
sebuah serangan balasan darinya. Perkelahian mereka kali ini agak berbeda
dengan sebelumnya. Gebrakan kali ini bukan hanya jurus serangannya yang gencar, tetapi
mengandung tenaga dalam yang dikerahkan sepenuhnya. Setiap serangan maupun
gerakan yang mereka lakukan mengandung tenaga dalam seberat ribuan kati. Siapapun
yang menunjukkan sedikit saja kelemahannya, maka lawan segera menggunakan
kesempatan itu untuk merandek ke depan. Tenaga yang sudah tersalur ke ujung pedang
bagai gulungan ombak besar yang menerjang datang.
Itulah sebabnya, mereka tidak ingin turun tangan secara asal-asalan. Setiap kali
menge-rahkan satu jurus, yang dipilihnya tentu jurus yang mematikan. Kalau diperhatikan
pada awalnya, mereka bukan sedang berhadapan untuk mengadu jiwa. Untuk sekian lama
mereka hanya berdiri saling memandang, kemudian baru tiba-tiba saling menyerang dua
jurus. Di antara berkelebatnya cahaya pedang, terdengarlah suara benturan, namun setiap
kali selalu beradu lalu berpisah lagi. Masing-masing langsung mencelat ke samping.
Sebetulnya, pertarungan ini merupakan pertarungan yang sulit ditemui dalam dunia
Bulim. Setiap jurus serangan kedua orang itu memang hanya beradu lalu berpisah lagi.
Namun di dalamnya terkandung kekuatan, siasat, pengalaman dan perubahan jurus yang
diandalkan. Dari luar memang sulit menemukan keistimewaannya, tetapi sebetulnya ibarat
telor di ujung tanduk, mati dan hidup dapat ditentukan dalam waktu sekian detik.
Setelah bergebrak kurang lebih sepenanakan nasi, masih juga sulit ditentukan siapa
yang lebih unggul di antara keduanya. Tetapi gerakan mereka semakin lama semakin
mem-bahayakan. Jurus serangannya makin lama makin aneh. Lambat laun Oey Kang
menjadi habis rasa sabarnya. Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara siulan panjang,
tubuhnya mencelat ke udara seakan hendak mengerahkan lagi ilmu Cap-pat Mo-hun nya
yang hebat.
Mana mungkin Yibun Siu San memberinya kesempatan, pergelangannya bergetar,
pedangnya langsung ditusukkan ke depan!
Meskipun pedang di tangannya hanya sebilah pedang kayu, tetapi karena tenaga dalamnya
telah disalurkan pada badan pedang tersebut, maka tampaklah cahaya berwarna
keperakan bagai kilat yang menyambar, menukik ke atas. Tampaknya sebentar lagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bokong Oey Kang pasti akan tertotok. Dengan panik Oey Kang mengerutkan sepasang
kakinya. Di tengah udara dia berjungkir balik, tubuhnya melesat menghindarkan diri dari
serangan Yibun Siu San. Kemudian pinggangnya meliuk, ujung pedang meluncur
membalas sebuah serangan.
Belum lagi serangan Yibun Siu San sampai, cepat-cepat dia mengempos hawa
murninya, pedang panjangnya dimiringkan dan langsung menotok. Telapak tangan kirinya
mengambil posisi menahan di depan dada, dengan tenaga sepenuhnya, dia bersiap
melancarkan sebuah pukulan.
Tepat pada saat itu…
Sebuah suara yang memekakkan telinga berkumandang memecahkan keheningan!
Tampak Tan Ki melangkahkan kakinya menerjang ke depan sambil berteriak…
“Orang jahat, kembalikan Liu Moay-moayku!”
Telapak tangannya langsung terulur ke depan dan menghantam ke arah dada Yibun Siu
San!
Perubahan yang mendadak, tanpa hujan tanpa angin, tentu saja Yibun Siu San yang
melihatnya sampai terpana. Tetapi dia dapat merasakan bahwa pukulan yang dilancarkan
Tan Ki mengandung kekuatan yang dahsyat sekali. Sama sekali tidak boleh dipandang
ringan. Untuk sesaat dia tidak berani menyambut dengan kekerasan. Dia menghirup nafas
sekuat-kuatnya kemudian mencelat mundur sebanyak tiga langkah.
Tiba-tiba terasa serangkum angin yang timbul dari tebasan pedang menerpa dari
depan, rupanya Oey Kang yang tubuhnya masih melayang di tengah udara dan
melancarkan sebuah serangan pada saat yang bersamaan.
Dengan tampang ketolol-tololan, Tan Ki tertawa terkekeh-kekeh.
“Ternyata kau satu komplotan dengan penculik Liu Moay-moayku!” bentaknya.
Tangan kirinya mengambil posisi menahan di depan dada. Tiba-tiba dia melancarkan
sebuah pukulan, serangkum tenaga yang kuat menimbulkan suara yang menderu-deru
dan dengan telak mendorong hawa pedang Oey Kang yang sedang meluncur datang.
Dengan kecepatan yang sulit ditangkap pandangan mata, dia mengerahkan jurus Naga
muncul dari balik awan tiga kali yang mengandung kekuatan dahsyat, secara berturutturut
dia melancarkan tiga buah serangan. Tiga rangkum tenaga langsung mengincar tiga
urat darah Oey Kang yang mematikan.
Serangan yang gencar dan cepat ini, dilakukan dengan membalas serangan dengan
serangan pula. Oey Kang yang melihatnya sampai terperanjat setengah mati. Pedang
kayunya segera berputar membuat lingkaran. Seiring dengan timbulnya angin pedang
yang tajam, dia melesat ke depan sejauh tujuh langkah kemudian mendarat turun di
sebelah kiri.
Dalam waktu sekejapan mata, serentak Tan Ki berhasil menghindarkan diri dari
serangan dua tokoh kelas tinggi di dunia Bulim saat ini. Bukan hanya Ceng Lam Hong
merasa sedih sekaligus gembira. Bahkan si pengemis sakti Cian Cong juga sampai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengeluarkan suara seruan terkejut. Dia benar-benar merasa di luar dugaan. Sepasang
alisnya langsung terjungkit ke atas. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri dan berjalan ke arah
Ceng Lam Hong.
“Apakah kau sudah turun ke kaki bukit?”
“Hm…”
Cian Cong mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Tan Ki.
“Kenapa dia? Uring-uringan, tidak seperti biasanya!”
Mendengar pertanyaannya, serangkum rasa pedih kembali menyelimuti dada Ceng Lam
Hong. Tanpa dapat tertahan lagi, air matanya mengalir dengan deras.
“Ketika aku bertemu dengannya, keadaannya memang sudah begitu.”
“Apakah kau melihat Liu Kouwnio?” tanya Cian Cong mulai panik.
“Tidak, tetapi kalau mendengar nada bicaranya, tampaknya gadis itu telah diculik oleh
seseorang.”
Cian Cong terkejut sekali.
“Apa? Apa yang kau katakan?”
Kata-kata yang diluar dugaannya itu, benar-benar jauh dari perkiraan orangtua itu.
Meskipun biasanya Cian Cong merupakan manusia yang pandai mengendalikan diri dan tenang
menghadapi masalah apapun, namun kali ini dia benar-benar terlonjak saking
terkejut-nya. Sepasang alisnya langsung mengerut erat. Sepatah katapun tidak tercetus
dari mulutnya. Diam-diam dia merenungkan siapa kiranya yang paling besar
kemungkinannya menculik gadis itu.
Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas dalam benaknya. Dia ingat Oey Kang pernah
menculik Mei Ling. Mungkinkah orang itu menggunakan siasat Memancing harimau
meninggalkan gunung kemudian diam-diam dia memerintahkan orang untuk menculik Mei
Ling?
Begitu pikirannya tergerak, hawa amarah dalam dadanya meluap seketika. Dia
mendongakkan wajahnya dan mulutnya mengeluarkan siulan panjang. Tubuhnya
berkelebat ke tengah arena.
“Iblis tua tidak tahu malu! Terimalah jurus serangan Memukul anjing meneteskan liur
dari si pengemis tua ini!”
Lengan kanannya bergetar, dengan sengit dia melancarkan sebuah serangan.
Hatinya sudah yakin betul bahwa Oey Kang yang menculik Mei Ling. Dalam keadaan
marah, dia tidak memperdulikan peraturan dunia Kangouw lagi, tangannya bergerak dan
sebuah pukulan diarahkan ke dada Oey Kang.
Sepasang alis Oey Kang langsung terjungkit ke atas. Tiba-tiba hatinya tergerak…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
‘Aku sudah berkelahi melawan Samte selama setengah harian, hawa murni dalam tubuhku
sudah terhambur banyak. Apabila bergebrak lagi melawan si pengemis tua ini, aku
tidak akan sanggup mempertahankan diri lebih dari dua puluh kali serangannya.
Kenyataan di depan mata, meskipun Ceng Lam Hong sudah terlihat, namun terpaksa kali
ini aku melepaskannya. Kelak cari lagi akal yang lain dan memaksanya menikah
denganku…’
Begitu pikirannya bergerak, dia berusaha sekuat mungkin menahan hawa amarah dalam
dadanya. Kakinya menutul dan tubuhnya mencelat mundur sejauh tiga langkah.
Mulut-nya mengeluarkan suara tawa yang dingin.
“Memangnya kenapa kalau tidak tahu malu?”
Cian Cong mendengus satu kali. Baru saja dia menggerakkan bibirnya dengan maksud
ingin memaki iblis tua itu, tiba-tiba dia melihat
Tan Ki sedang tertawa sendirian. Tangannya menggapai-gapai dan menari-nari.
Mulutnya pun terus berteriak, “Liu Moay Moay, jangan lari. Tunggu aku!” baru saja
ucapannya selesai, dia langsung memacu kakinya menghambur ke depan.
Melihat seorang pemuda yang gagah dan tampan dalam waktu yang singkat berubah
menjadi idiot dan kurang waras, tanpa dapat ditahan lagi dia menarik nafas panjang.
Kepa-lanya terus menggeleng berkali-kali.
Hatinya sedang merasa berduka dan menyesalkan kemalangan Tan Ki, tiba-tiba
terdengar Ceng Lam Hong berteriak dengan nada yang menyayat hati. Tubuhnya langsung
melesat mengejar. Dalam sekejap mata, dia sudah mencapai jarak sepuluh depa.
Tadinya Yibun Siu San bermaksud mengadu jiwa dengan Oey Kang. Tetapi tampaknya
orang ini selalu memperhatikan setiap gerak-gerik Ceng Lam Hong. Baginya diri wanita itu
lebih penting dari segalanya. Dari kata-kata Tan Ki yang ngaco tidak karuan, dia sudah
dapat menduga bahwa telah terjadi sesuatu pada diri Mei Ling. Oleh karena itu, dia segera
menyimpan kembali pedangnya dan tanpa memperdulikan Oey Kang lagi, dia langsung
mengerahkan ginkangnya mengejar.
Terdengar suara hembusan angin yang kemudian disusul dengan berkelebatnya
sesosok bayangan. Rupanya Cian Cong cepat-cepat menenteng hiolo araknya dan ikut
menerjang ke depan mengejar Yibun Siu San.
Dalam sekejapan mata, semua orang sudah meninggalkan tempat itu. Di atas padang
rerumputan hanya sisa Oey Kang seorang. Dia berdiri sendirian sambil mendongakkan wajahnya
menatap rembulan.
Secara mendadak dia ditinggalkan oleh orang-orang tanpa dilirik sekilaspun. Tapi dia
tidak menaruh dalam hati persoalan ini. Malah mulutnya mengeluarkan suara tawa yang
licik serta menyeramkan.
“Dengan membiarkan aku mengetahui tempat tinggal kalian, pokoknya entah pagi
entah malam, suatu hari aku pasti akan berkunjung kembali dan menemui Toaso.”
gumamnya lirih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Suaranya senyap, orangnyapun mencelat ke udara. Tubuhnya melesat ke depan bagai
sebatang anak panah meluncur ke bawah bukit. Dalam sekejapan mata sudah menghilang
dalam kegelapan.
Di bawah sorotan cahaya rembulan yang remang-remang, tampak empat sosok bayangan
berlari seperti barisan. Jarak mereka hampir tidak berbeda. Di depan mereka tampak
Tan Ki. Pemuda itu baru saja menggerakkan kaki tangannya dengan lincah menghindarkan
diri dari serangan dua tokoh kelas tinggi saat ini. Tetapi sekarang dia berjalan dengan
perlahan. Langkah kakinya seakan berat sekali. Seperti orang yang menyandang penyakit
parah dan cara jalannya pun hampir tidak bertenaga.
Melihat keadaan itu, hati Ceng Lam Hong perih tidak terkatakan. Hatinya semakin
sedih. Untuk sesaat air matanya tidak tertahan lagi berderai dengan deras membasahi
pipinya.
Keempat orang itu dengan perasaan hati yang berbeda berjalan dengan perlahanlahan.
Dari awal sampai akhir tidak ada satupun yang mengucapkan sepatah kata. Di atas
pa-dang rumput yang luas, suasana semakin mencekam dan memilukan.
Tanpa sadar mereka telah berjalan kembali ke arah rumah peristirahatan. Tiba-tiba Tan
Ki seperti menemukan sesuatu, mendadak dia menjerit histeris dan menerjang ke dalam
ru-mah.
Tindakan yang dilakukan secara tiba-tiba ini benar-benar di luar dugaan semua orang.
Ceng Lam Hong yang paling terkejut. Kasih sayangnya sebagai seorang ibu seakan meluap
seketika. Dialah yang pertama-tama menghambur ke dalam rumah agar dapat berjagajaga
terhadap segala kemungkinan.
Begitu mata memandang, dia melihat Tan Ki sedang berdiri termangu-mangu di depan
jendela. Matanya menatap ke arah sebuah kursi goyang yang ada di sebelah kiri dengan
perhatian terpusat.
Ceng Lam Hong tidak tahu kursi itu, tidak lama sebelumnya diduduki oleh Mei Ling.
Sedangkan Tan Ki menatap kursi itu lekat-lekat karena mengenang pembicaraan mereka
yang romantis malam sebelumnya di tempat yang sama.
Sementara itu, Yibun Siu San dan si pengemis sakti Cian Cong juga sudah sampai di
rumah itu. Seperti telah disepakati sebelumnya, wajah mereka langsung menyiratkan
perasaan mereka yang tertekan.
Mereka menyadari bahwa pikiran Tan Ki pasti terserang pukulan bathin yang hebat
sehingga jadi kurang waras. Oleh karena itu pula, tampangnya menjadi ketolol-tololan dan
uring-uringan. Hanya saja mereka merasa tidak sampai hati menyampaikannya di hadapan
Ceng Lam Hong.
Dengan tampang seperti orang bodoh, Tan Ki berdiri termangu-mangu sekian lama.
Tiba-tiba bibirnya mengulumkan seulas senyuman. Perlahan-lahan dia berjalan menuju
kursi itu dan duduk di atasnya. Kemudian tampak dia menarik nafas panjang. Dua baris air
mata segera mengalir dengan deras. Seakan membayangkan diri Mei Ling yang akan
menderita setelah diculik.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun dalam sekejap mata, wajahnya tiba-tiba berubah hebat. Dia mendongakkan
kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. “Kurang ajar! Kau berani menyentuh Liu Moay
Moay-ku!” bentaknya keras.
Baru saja bicaranya selesai, orangnya sudah mencelat ke atas, gerakan tubuhnya cepat
bukan main. Dia melesat ke sebelah kiri, tinjunya langsung menghantam. Kakinya
menendang. Hampir semua meja dan kursi yang ada dalam ruangan itu jungkir balik dan
pecah berantakan.
Tenaga dalamnya sekarang sudah tinggi sekali. Meskipun dalam keadaan kacau pikiran,
tetapi tenaga dalam yang terpancar keluar tidak dapat dipandang ringan. Rumah
peristi-rahatan itu atapnya terbuat dari daun rumbia. Sebagian dindingnya juga terbuat
dari kayu-kayu berbentuk balok. Mendapat hantaman yang kalap dari tangan dan
tendangan kaki Tan Ki, saat itu juga seluruh rumah bergetar bagai dilanda gempa bumi.
Melihat keadaan itu, Yibun Siu San terkejut sekali. Diam-diam dia berpikir, kalau tindakan
Tan Ki ini tidak dihentikan, kemungkinan besar rumah peristirahatannya akan ambruk.
Oleh karena itu, tubuhnya segera berkelebat, lengan kanannya segera terulur. Dengan
gerakan yang aneh, Yibun Siu San mengincar jalan darah di belakang punggung Tan Ki.
Gerakannya ini seakan mengandung kekejian yang tidak terkirakan, wajah Ceng Lam
Hong langsung berubah hebat.
“Apa yang kau lakukan?” bentaknya.
Lengannya terulur ke depan, sebuah hantaman diluncurkan ke depan menyambut
totokan Yibun Siu San.
Kedua orang itu hidup bersama di perbukitan itu sudah ada sepuluh tahunan. Sejak
awal hingga akhir selalu sering menghormati. Keadaan seperti sekarang ini boleh dibilang
baru berlangsung untuk pertama kalinya. Boleh dibilang saling membentak pun tidak
pernah. Otomatis Yibun Siu San jadi tertegun.
Ceng Lam Hong menarik nafas dalam-dalam.
“Dia sudah berubah seperti orang bodoh. Apakah kau masih sampai hati menotok jalan
darahnya?”
Suara tarikan nafasnya begitu berat, di dalamnya terselip kedukaan yang tidak terkirakan.
Hati Yibun Siu San yang mendengarnya jadi pilu. Tanpa terasa dia melangkah
mundur dua tindak dan berdiri kembali di tempatnya semula.
Begitu matanya memandang, dia melihat tingkah laku Tan Ki seperti orang gila sudah
berhenti. Tetapi dia berdiri tegak sambil menatap ke arah pintu lekat-lekat. Jari tangannya
menunjuk, mulutnya tertawa lebar.
“Liu Moay Moay, kau sudah kembali? Aih, kau benar-benar membuat aku menderita
memikirkan dirimu…”
Hatinya mendapat pukulan bathin yang hebat. Tetapi karena dia terlalu merindukan Mei
Ling, di depan matanya seakan muncul bayangan gadis itu. Dia seakan melihat Mei Ling
sedang tersenyum ke arahnya, tanpa sadar dia mulai melangkah ke arah pintu. Tiba-tiba
ia seperti tersandung sesuatu, kakinya menjadi goyah kemudian tersuruk ke depan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ceng Lam Hong terkejut setengah mati.
“Anak Ki…!”
Sambil berteriak, orangnya sudah menghambur ke depan. Dia membungkukkan tubuhnya
dan memeriksa seluruh tubuh Tan Ki dengan teliti. Dia takut anaknya itu mendapatkan
luka karena terjatuh tadi. Siapa nyana, Tan Ki benar-benar sudah berubah. Begitu
terjatuh, dia langsung bangkit kembali. Tiba-tiba dia merasa ada segumpal darah yang
hangat meluap melalui ulu hatinya. Kedua matanya langsung berkunang-kunang. Hoak!
Hoak! Anak muda itu memuntahkan darah sebanyak dua kali berturut-turut. Seluruh
kepala dan wajah Ceng Lam Hong sampai terciprat sehingga penuh noda berwarna merah.
Kali ini Ceng Lam Hong benar-benar kalang kabut. Dia menjadi panik sekali. Untung
saja Yibun Siu San berdiri di sampingnya. Laki-laki itu segera maju dan mengulurkan
jarinya untuk menotok tiga buah jalan darah Tan Ki.
Cian Cong malah tersenyum simpul.
“Bocah cilik ini sudah mengeluarkan gumpalan darah yang membeku dalam hatinya.
Hal ini malah mempermudah masalah yang ada.” katanya.
Ceng Lam Hong mendongakkan wajahnya yang basah oleh air mata dan penuh noda
darah.
“Apa yang harus kita lakukan?”
Cian Cong mengangkat hiolo araknya dan minum sebanyak dua teguk. Kembali bibirnya
mengembangkan seulas senyuman.
“Penyakit hati terus harus diobati dengan hati pula. Rencana kita sekarang, lebih baik
biarkan dia beristirahat dulu sejenak. Lalu perlahan-lahan kita mencari akal untuk
menemukan Liu Kouwnio. Sayangnya, pertemukan besar dunia Bulim tinggal beberapa
hari lagi. Apabila kesehatan anak Ki sudah pulih kembali, tentu sudah terlambat merebut
kedudukan Bengcu.”
Yibun Siu San menarik nafas panjang.
“Apa boleh buat, asal anak Ki bisa disembuhkan kembali, sudah merupakan
keberuntungan besar diantara kemalangan.”
***
BAGIAN XXIII
Tampang Ceng Lam Hong muram sekali.
“Dunia ini begitu luas. Ke mana kita harus mencari Liu Kouwnio?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pertanyaan ini diajukan, Cian Cong dan Yibun Siu San sama-sama tidak pernah memikirkan
hal ini, otomatis keduanya jadi tertegun. Tidak seorangpun sanggup memberikan
jawaban.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, tampak Cian Cong menggaruk-garuk
kepalanya sendiri. Dia menghembuskan nafas panjang.
“Kata-kata ini memang tepat sekali. Kolong langit ini luasnya jangan ditanyakan lagi. Ke
mana kita dapat menemukan jejak si penculik?”
Baru berkata sampai di situ, tiba-tiba terdengar suara Tan Ki yang ada dalam bopongan
Ceng Lam Hong seperti sedang bergumam seorang diri…
“Liu Moay Moay… di mana kau? Liu Moay Moay…”
Hati Cian Cong sedang panik, mendengar kata-katanya yang mesra dan mengandung
kerinduan, dia merasa bulu kuduknya seakan merinding semua. Kekesalannya semakin
ber-tambah-tambah. Matanya segera mendelik lebar-lebar. Kakinya dihentakkan ke atas
tanah berkali-kali.
“Tutup mulutmu yang menggonggong terus! Orang lain justru sedang kebingungan
gara-gara dirimu, kau malah buka mulut! Kata-kata yang mengerikan masih bisa
diucapkan dengan santai. Kalau si pengemis tua sampai marah, besok juga aku akan
menikahi seorang nenek pengemis agar kau lihat!”
Yibun Siu San tertawa terbahak-bahak.
“Cian Heng merupakan salah satu dari dua tokoh sakti di dunia saat ini. Kemuliaan
hatimu tidak ada yang dapat menandingi. Mengapa mengambil hati atas ocehan seorang
bocah yang sedang linglung?”
Tadinya dia bermaksud mengalihkan bahan pembicaraan agar jangan sampai kata-kata
si pengemis sakti itu membuat perasaan Toasonya semakin pilu. Siapa tahu, baru saja
ucap-annya selesai, tiba-tiba tampak Cian Cong mengeluarkan suara mendesah, lalu
kepalanya mengangguk berulang kali dan langsung memejamkan matanya.
Dia merasa ada titik terang yang melintas dalam benaknya. Mendadak bayangan
seseorang seakan muncul di depan matanya, mulutnya langsung mengeluarkan suara
gumam-an…”
“Dua tokoh sakti? kecuali aku si pengemis tua, masih ada satunya lagi…” berkata
sampai di sini, tiba-tiba dia membuka matanya, seakan-akan telah menemukan sesuatu
yang amat berharga. Kemudian tampak dia menepuk tangannya satu kali. “Betul! Hanya
orang ini yang dapat menolong anak Ki!”
Yibun Siu San melihat si pengemis sakti ini berbicara seorang diri, gerak-geriknya
mencurigakan. Entah apa yang sedang dipikirkannya, dia menjadi tertegun.
“Siapa yang Cian Heng maksudkan orang yang dapat menolong anak Ki?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cian Cong tertawa terbahak-bahak. Wajahnya berseri-seri tanda hatinya sedang
gembira sekali.
“Kalau ingat tempo dulu, si pengemis tua pertama kali naik ke atas Bu Tong San, lalu
mencari si hidung kerbau (ejekan untuk para tosu) untuk bertanding ilmu silat. Akhirnya
kami bergebrak selama tiga hari tiga malam lamanya. Sepasang lengan baju si pengemis
tua ini tertarik robek oleh jurus Ki Liong Pat-cao atau Naga sakti delapan jurus milik si
hidung kerbau. Sejak saat itu, si pengemis tuapun mendapat julukan Si lengan koyak.
Selama berkelana di dunia Kangouw selama puluhan tahun, entah siapa orangnya yang
memulai ejekan itu. Sejak pertarungan itu pula, para sahabat di dunia Kangouw
memanggil kami sebagai dua tokoh sakti. Ketika pertama-tama mendengarnya, bulu kuduk
si pengemis tua sampai merinding semua. Akhirnya lama-kelamaan jadi terbiasa juga…”
Yibun Siu San tertawa lebar.
“Rupanya bintang penolong yang Cian Heng maksudkan adalah seorang Cianpwe dari
Bu Tong Pai yang bergelar Tian Bu Cu, betulkan?” tukasnya cepat.
Cian Cong ikut-ikutan tertawa terbahak-bahak.
“Memang betul, kecuali dia, siapa lagi yang dapat menyembuhkan penyakit kejiwaan
ini?”
Mendengar keterangannya, Ceng Lam Hong seperti menemukan setitik sinar terang
dalam kegelapan. Cepat-cepat dia mengusap air matanya dan mengembangkan seulas
senyuman. Dia segera berdiri dan menjura kepada Cian Cong dalam-dalam.
“Mohon kesediaan Toa Pek mengulurkan tangan agar semuanya berjalan dengan baik.
Sebelumnya Siau Hujin (Nyonya muda) di sini mengucapkan banyak terima kasih.
Tetapi… menurut berita yang tersebar di dunia Kangouw, Tian Bu Cu Cianpwe sudah lama
mengasingkan diri dan tidak mencampuri urusan duniawi lagi. Takutnya kalau kita sampai
di sana, bukan saja menganggu ketenangan orang, malah pulang dengan tangan kosong.
Kalau ternyata demikian, apa yang harus kita lakukan?” tampaknya hati wanita ini masih
bimbang. Dia takut akhirnya akan mendapat kekecewaan.
Cian Cong mendongakkan wajahnya ke atas, perlahan-lahan dia mendengus satu kali.
“Si pengemis tua mana pernah memohon kepada orang. Tetapi kalau ucapan sudah
dikeluarkan, memangnya takut dia tidak mengabulkan? Kalau penyakit anak Ki satu hari
tidak sembuh, aku akan merongrongnya satu hari. Kalau dua hari tidak sembuh, artinya si
hidung kerbau memang sengaja ingin membuat si pengemis tua menjadi marah. Maka aku
akan mengajaknya berkelahi lagi selama tiga hari tiga malam!”
Tampak Yibun Siu San menundukkan kepalanya merenung.
“Tian Bu Cu Toyu tinggal di Bu Tong San, jaraknya dari sini masih ada tiga ratusan li.
Jangka yang pendek pasti tidak bisa sampai. Meskipun penyakit anak Ki bisa disembuhkan,
rasanya tidak sempat lagi menghadiri Bulim tay hwe.”
Sepasang alis Ceng Lam Hong bertaut erat. Kemudian dia menarik nafas panjang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Mohon perlindungan dari Thian yang kuasa, agar penyakit anak Ki dapat disembuhkan.
Hal itu sudah merupakan keberuntungan dalam hidupku. Persoalan lainnya, biarpun
sebesar apa, saat ini tidak sempat kita perdulikan lagi.”
Mendengar nada bicaranya yang penuh dengan kasih sayang seorang ibu, Yibun Siu
San merasa terharu. Dalam hatinya timbul rasa hormat yang semakin tinggi. Kalau
terkenang kembali belasan tahun yang lalu, mereka tiga bersaudara jatuh cinta pada gadis
yang sama. Tetapi karena dirinya memang tidak pandai berbicara dan jarang bergaul,
akibatnya malah Toako dan Oey Kang yang bersaing ketat. Akhirnya, karena Toako lebih
tampan dan gagah, juga ilmu silatnya lebih tinggi serta ramah, hati Toaso pun terpikat
padanya. Justru pada malam pernikahan mereka, dengan membawa perasaan malu,
dirinya dan Oey Kang pergi secara diam-diam.
Waktu terus berlalu, dalam sekejap mata hampir setengah dari kehidupan mereka telah
terlewati. Mimpipun dia tidak pernah membayangkan bahwa selama belasan tahun ini dia
bisa menemani Toaso setiap hari. Meskipun hubungan mereka dibatasi peraturan tertentu,
dan otomatis dia sendiri tidak berani berlaku tidak sopan sedikitpun, namun hatinya sudah
cukup terhibur dan kerinduannya seakan sudah terobati. Seandainya sepuluh tahun yang
lalu, di malam hujan lebat, dia tidak kebetulan bertemu dengan Toaso yang sedang
mengejar seorang manusia bertopeng, mana mungkin terjadi kebetulan ini. Kalau manusia
bertopeng itu tidak menaruh belas kasihan, Toaso juga tidak mungkin dapat hidup sampai
hari ini…
Begitu pikirannya tergerak, tiba-tiba ada sesuatu yang teringat olehnya.
“Kalau begitu, kita harus berangkat secepatnya. Tempat ini sudah diketahui oleh Oey
Kang. Bukan tidak mungkin kalau kapan waktu saja dia akan datang mengacau…” sambil
berkata, dengan penuh perhatian dia melirik ke arah Ceng Lam Hong sekilas. Setelah itu
cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya dan mempersiapkan bekal perjalanan.
Pandangan mata Ceng Lam Hong sempat bertaut dengan sinar mata Yibun Siu San.
Hatinya menjadi terlonjak. Tetapi cepat-cepat dia menundukkan kepalanya. Dia
mengeluarkan dua butir pil dari dalam sakunya dan memasukkannya dalam mulut Tan Ki.
Tindakannya ini sebetulnya untuk menghindari sinar mata Yibun Siu San. Mana
mungkin dia tidak tahu perasaan hati paman kecilnya ini terhadap dirinya sendiri. Sejak
kematian suami, Yibun Siu San selalu mendampinginya. Baik suka maupun duka telah
mereka lalui bersama. Bahkan sepuluh tahun sudah berlalu, sejak awal hingga akhir belum
pernah Ceng Lam Hong mendengar laki-laki itu mengeluh sepatah katapun. Malah
sebaliknya, meskipun dia jarang berbicara, tetapi tindak-tanduknya terhadap Ceng Lam
Hong selalu lembut dan penuh perhatian. Bahkan kasih sayangnya tidak di bawah
suaminya sendiri. Tetapi, Ceng Lam Hong berpikir kembali, bahwa dirinya adalah wanita
yang bersuami. Meskipun suaminya sudah meninggal, namun dia masih belum
membalaskan dendamnya. Mana mungkin dia berani menerima uluran tangan laki-laki itu?
Setiap kali berpikir sampai di sini, dia langsung menekan perasaan ibanya dalam-dalam
dan hanya bisa menguraikan air mata seorang
diri…
Saat ini, melihat kembali sinar mata Yibun Siu San yang mengandung kasih yang
bahkan lebih dalam daripada biasanya, dia tidak tahu apa sebabnya. Namun dia dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merasakan bahwa sinar mata itu tidak menampakkan kebahagiaan, malah sebaliknya
mengandung penderitaan yang tidak terkirakan…
****
Tiga hari kemudian…
Pada sebuah jalanan berpasir kuning, muncul dua ekor kuda dengan sebuah kereta.
Ini merupakan sebuah jalan penting di daerah utara Hu Pak. Dua ekor kuda dan kereta
itu berlari dengan pesat. Setiap kali roda berputar, di sekelilingnya timbul debu-debu yang
beterbangan.
Saat tengah hari, matahari bersinar dengan terik. Kedua ekor kuda dan kereta itu
terpaksa mencari sebuah penginapan untuk bermalam dan beristirahat.
Ternyata orang yang menunggang kedua ekor kuda itu adalah si pengemis sakti Cian
Cong dan Yibun Siu San. Sedangkan orang yang ada di dalam kereta, tidak lain adalah
Ceng Lam Hong serta Tan Ki yang pikirannya kacau.
Meskipun si pengemis sakti Cian Cong ladalah seorang tokoh yang sudah sangat
terkenal di dunia Bulim, tetapi dia sudah terbiasa melalui jalan pegunungan dan bahkan
dengan berlari saja. Sepanjang perjalanan ini mereka selalu menunggang kuda, belum
pernah menggunakan sepasang kaki. Jadi kepandaiannya percuma saja. Hal ini malah
membuat pinggang si pengemis sakti jadi nyeri tidak terkatakan. Begitu masuk ke dalam
kamar penginapan, dia langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menjerit
kesakitan.
Siapa nyana, suara jeritannya mengejutkan tamu di kamar sebelah. Terdengar suara
bentakan dari mulut seorang gadis…
“Siapa sih yang kematian ayah bunda sehingga menjerit-jerit begitu keras?”
Cian Cong biasa bergelut dengan pedang dan golok. Namanya sudah sangat terkenal.
Kejadian sehebat apapun sudah pernah ditemuinya, tetapi menghadapi bentakan
semacam ini, dia tak menyangka sama sekali. Untuk sesaat dia jadi termangu-mangu dan
tidak tahu bagaimana harus menjawab.
Diam-diam dia meleletkan lidahnya.
“Galak sekali nenek ini, si pengemis tua benar-benar ketemu batunya.”
Kembali dia menarik nafas panjang.
Tiba-tiba tampak sesosok bayangan berkelebat di depan pintu, lalu langsung
melangkahkan kakinya lebar-lebar ke dalam.
“Siapa yang memaki orang?”
Cian Cong mengalihkan pandangannya. Dia melihat seorang gadis yang kurang lebih
berusia tujuh atau delapan belas tahun. Wajahnya penuh dengan titik-titik hitam. Tanpa
dapat ditahan lagi, dia jadi tertegun. Kemudian dia tertawa lebar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Biasanya si pengemis tua tidak pernah membicarakan orang lain di balik punggungnya.
Memangnya siapa yang memaki dirimu? Malah kau yang sembarangan masuk ke
kamar orang, sama sekali tidak pantas!”
Gadis itu mendengus dingin satu kali.
“Nonamu ini mempunyai kekuasaan yang besar. Tempat manapun boleh didatangi asal
hatiku senang! Akh…!”
Gadis itu memperhatikan Cian Cong dari atas kepala sampai ke jbawah kaki. “Apakah
kau anggota Kai Pang?” tanyanya.
Cian Cong tertawa lebar. “Si pengemis tua tidak pernah menanyakan jurusan Kai Pang.
Tiba-tiba Nona menanyakan hal ini, apakah anak murid atau cucu murid Kai Pang ada
yang melakukan kesalahan terhadapmu?”
Gadis itu tertawa terkekeh-kekeh. Tangannya mempermainkan kepang rambutnya yang
panjang menjuntai.
“Aku hanya ingin berkelahi. Ingin menjajal sampai di mana sebenarnya kehebatan ilmu
silat Kai Pang yang terkenal itu!”
Tampaknya watak gadis ini senang sekali mencari gara-gara dengan orang. Tetapi hatinya
sendiri masih polos. Apa yang dikatakannya lansung segera dilakukan tanpa berpikir
panjang lagi. Selesai berkata, pergelangan tangannya langsung membalik, sebuah totokan
langsung dilancarkan ke depan.
Perubahan yang mendadak ini benar-benar di luar dugaan. Gerakannya juga demikian
cepat serta aneh. Hati Cian Cong jadi terkesiap. Baru saja dia bermaksud melesat ke
samping untuk menghindarkan diri, tahu-tahu pergelangan tangannya sudah terasa ketat.
Rupanya serangan gadis itu yang tadinya berupa totokan di tengah jalan tiba-tiba berubah
menjadi cekalan. Ketika Cian Cong menyadarinya, pergelangan tangannya sudah
tercengkeram oleh gadis itu. Tenaga yang baru saja disiapkan secara diam-diam lenyap
entah ke mana.
Rasa terkejut Cian Cong kali ini bukan kepalang tanggung. Dia tidak menyangka gadis
itu dapat melancarkan serangan sedemikian cepat. Dia sendiri yang memiliki ilmu tinggi,
masih tidak dapat menghindarkan diri dari cengkeramannya.
Bahkan Ceng Lam Hong dan Yibun Siu San yang berdiri di sampingnya juga terkejut
sekali. Mereka hampir tidak percaya dengan pandangan mata mereka sendiri.
Sementara itu…
Biarpun pergelangan tangan Cian Cong tercekal oleh lawannya, tapi bagaimanapun dia
merupakan salah satu dari dua tokoh sakti di dunia ini. Nama besarnya bukan didapatkan
dengan mudah, oleh karena itu, dia segera menghimpun hawa murninya dan
menyalurkannya ke arah pergelangan tangan.
Serangan gadis itu belum menggunakan segenap tenaganya. Dia mengira dengan
cekalannya kali ini, lawan pasti tidak sanggup mengerahkan tenaganya. Asal dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencengke-ram lebih keras sedikit saja, kemungkinan lengan kanannya bisa terlepas dari
persendiannya.
Siapa nyana, pergelangan tangan kanan Cian Cong tiba-tiba berubah sekeras baja. Dia
merasa kesulitan untuk menggerakannya, diam-diam dia jadi terkejut. Telinganya
mendengar suara bentakan yang keras, tahu-tahu pergelangan tangan lawannya yang
tercekal sudah terlepas!
Begitu berhasil melepaskan diri dari cekalan gadis itu, dalam waktu yang bersamaan
Cian Cong membentak dengan keras. Telapak tangannya mengeluarkan suara desiran
angin. Dengan cepat bagian dada lawannya sudah terancam pukulan orangtua itu. Cara
turun tangannya aneh dan hebat, bahkan secepat kilat.
Mendengar suara pukulan yang dahsyat, wajah gadis itu yang penuh dengan bintikbintik
hitam itu langsung berubah, pertanda hatinya terperanjat sekali. Kakinya segera
menutul, terdengar suara kibaran pakaiannya, tubuhnya mencelat ke atas dan tangannya
segera membalik serta melancarkan dua buah pukulan sekaligus.
Serangannya yang dilakukan dari udara ini sangat indah. Bagai tarian para bidadari,
bagai dewi naik ke atas rembulan. Sama sekali tidak mirip dengan orang yang sedang
berkelahi atau mengadu kekerasan.
Namun tenaga yang terkandung dalam serangannya sangat dahsyat. Lagipula gerakannya
aneh. Begitu serangan Cian Cong gagal, bagian lehernya sudah terasa terhembus oleh
angin yang kencang, tahu-tahu dirinya sudah diserang dengan gencar.
Hati Cian Cong tergetar seketika, dia langsung bersuit marah. Sekali celat ia langsung
menghindarkan diri dari serangan lawan. Sepasang matanya yang bersinar tajam. Dia
memperhatikan gerakan tangan serta tubuh gadis itu. Diam-diam pikirannya bekerja,
tetapi dia tidak dapat menduga asal-usul lawannya. Dia hanya merasa jurus-jurus yang
dilancarkan gadis itu begitu asing, bahkan mendengarnya pun belum pernah.
Perlu diketahui bahwa si pengemis sakti
Cian Cong ini sudah malang melintang di dunia Bulim hampir enam puluh tahun lamanya.
Pengetahuannya sangat luas. Asal pihak lawannya memainkan beberapa jurus saja,
dia langsung menebak asal-usul orang itu. Tetapi gerakan gadis ini aneh dan keji. Dia
bahkan belum pernah melihat gerakan seperti ini sekalipun. Oleh karena itu, hatinya
langsung yakin bahwa gadis itu bukan berasal dari daerah Tiong Goan.
Justru ketika hati Cian Cong masih diliputi kebimbangan, tiba-tiba gadis itu tertawa
terkekeh-kekeh. Dengan sepenuh tenaga dia melancarkan sebuah pukulan.
Pukulan yang dilancarkan ini bagai memecahkan keheningan di dalam kamar itu.
Suaranya berdesing-desing, serangkum tenaga yang kuat laksana ambruknya sebuah
gunung mendesak ke arah Cian Cong.
Hati si pengemis sakti itu langsung tergerak. Tiba-tiba dia berniat menjajal sampai di
mana kekuatan tenaga dalam gadis itu. Bukannya mundur, dia malah bergerak maju.
Dalam waktu yang bersamaan, dia mengulurkan telapak tangannya dan menyambut
serangan gadis tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terdengar suara yang menggelegar. Gadis itu menyambut serangan dengan kekerasan,
hatinya terasa dilanda hawa panas. Ternyata dia sudah dibuat tergetar oleh Cian Cong
sehingga mundur tiga langkah. Wajahnya yang penuh dengan bintik-bintik hitam jadi
pucat pasi.
Tepat pada saat itu juga…
Suara bentakan yang merdu menyusup di telinga para tokoh yang ada dalam kamar itu.
Disusul dengan suara seorang gadis yang terdengar panik sekali…
“Jangan berkelahi!”
Bayangan manusia berkelebat, di hadapan Cian Cong tahu-tahu telah berdiri seseorang.
Usianya paling-paling sekitar dua puluhan. Matanya bening dan sayu. Hidungnya bangir.
Bibirnya demikian merah bak api yang membara. Mungkin karena terlalu panik sehingga
tampak gemetar.
Tiba-tiba dia menghambur ke dalam kamar. Tanpa memperdulikan orang lainnya sama
sekali, dia langsung menghampiri gadis yang wajahnya bintik-bintik hitam itu. Dengan
penuh perhatian dia bertanya…
“Ie Moay, apakah kau terluka?”
Gadis yang wajahnya berbintik-bintik itu merasa pukulan Cian Cong tadi mengandung
tenaga dalam yang dahsyat sekali. Saat ini telapak tangannya terasa perih. Wajahnya
langsung meringis dan seperti orang yang akan menangis.
“Sekarang tangan rasanya kebal.” katanya dengan sedih.
Gadis yang cantik jelita itu tersenyum simpul. Dia menepuk-nepuk pundak gadis yang
wajahnya berbintik-bintik itu.
“Biasanya kau paling senang mencari gara-gara. Malah mengacau ke kamar orang.
Merasakan sedikit pelajaran baik juga bagi dirimu.” sembari berkata, dia membalikkan
tubuhnya dan menjura ke arah Cian Cong dan yang lainnya. Dengan nada menyesal dia
berkata. “Adikku ini tidak tahu apa-apa. Kali ini malah mengganggu ketenangan kalian.
Harap sudi memaafkan.”
Cian Cong tertawa lebar.
“Jangan sungkan, jangan sungkan. Hanya urusan sepele saja, si pengemis tua tidak
sanggup menerima penghormatan sebesar ini.” sahutnya. Tiba-tiba wajahnya berubah
serius. Dia membalas penghormatan yang diberikan gadis itu. “Mohon tanya nama kedua
nona yang mulia.”
Gadis yang cantik jelita itu merenung sejenak. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya
menjawab pertanyaan Cian Cong. Namun gadis yang wajahnya penuh bintik-bintik
hitam itu langsung mendahului menjawab…
“Aku bernama Cin Ie, dia adalah kakakku Cin Ying, kami berasal dari…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gadis yang cantik jelita itu melihat mulut adiknya tidak bisa ditahan. Hampir saja
menyebutkan asal-usul mereka. Wajahnya langsung berubah.
“Tutup mulut!” bentaknya.
Setelah mengeluarkan kata-kata itu, tiba-tiba dia merasa ada nada ucapannya terlalu
tajam, mungkin perasaan adiknya bisa tersinggung. Tanpa terasa, mimik wajahnya jadi
lembut. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman.
“Ie Moay, kedatangan kita kali ini, kecuali berpersiar, masih ada tugas lainnya yang
penting sekali. Oleh karena itu harus dijaga, jangan sampai orang tahu asal-usul kita,
mengerti?”
Tampaknya Cin Ie sangat menghormati kakaknya. Mendengar ucapan Cin Ying, dia
langsung meleletkan lidahnya.
“Baiklah, aku tidak akan berkata apa-apa.”
Sejak tadi Yibun Siu San memperhatikan kedua kakak adik ini. Yang satu cantiknya
bukan main, yang satunya lagi jeleknya kelewatan. Tetapi sepasang mata mereka
menyorotkan sinar yang tajam. Hatinya jadi berdebar-debar. Cepat-cepat dia maju
beberapa langkah. “Nona…”
Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba terasa ada serangkum angin yang berhembus
ke arahnya. Yibun Siu San langsung membentak.
“Apa yang kau lakukan?”
Kakinya menutul, dengan cepat dia mencelat mundur menghindarkan diri dari cekalan
tangan Cin Ie.
Tampak gadis itu tertawa terkekeh-kekeh.
“Cadar hitam yang menutupi wajahmu itu lucu sekali. Bolehkah aku meminjamnya
sebentar untuk bermain?”
Cin Ying segera memarahinya dengan bibir
tersenyum.
“Adik Ie tidak boleh kurang ajar. Orang pasti ada persoalan tersendiri makanya
mengenakan cadar untuk menutupi wajah aslinya. Mana boleh kau sembarangan
menjamahnya?”
Mulut Cin Ie mengeluarkan suara keluhan kekecewaan. Dia menarik nafas panjang.
Wajahnya jadi muram seketika. Yibun Siu San tertawa santai.
“Kata-kata nona ini terlalu berat. Kalau adik ini ingin bermain dengan cadar ini, tidak
menjadi masalah. Tetapi jangan bergerak turun tangan secara tidak terduga-duga, hal ini
bisa mengakibatkan kesalahpahaman di antara kedua pihak. Tetapi, di dalam hati Cayhe
ada beberapa persoalan yang belum jelas, ingin mohon tanya kepada nona berdua.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cin Ie mendengar Yibun Siu San bersedia meminjamkan cadar kepadanya, hatinya
menjadi gembira kembali. Dengan tampang ketolol-tololan dia tertawa terkekeh-kekeh.
“Cepat tanyakan saja. Kalau hal yang aku tahu, pasti aku akan memberitahukannya.
Tetapi kalau memang aku tidak tahu, ya… apa boleh buat?”
Yibun Siu San tersenyum lembut.
“Ilmu silat yang nona lancarkan tadi benar-benar mengagumkan.” Yibun Siu San ingin
menyelidiki asal usul kedua gadis itu. Oleh karena itu, begitu buka mulut dia langsung
memuji.
Otak Cin Ie memang kurang cerdas. Tindak-tanduknya selalu kekanak-kanakan. Hatinya
polos, tidak kenal akal busuk manusia di dunia ini. Mendengar pujian Yibun Siu San,
dia segera tertawa lebar.
“Akh… biasa-biasa saja. Ilmu silatku ini adalah hasil didikan ayahku sendiri. Apanya
yang hebat?”
Yibun Siu San tertawa lebar.
“Kalau begitu, tentunya ayahmu merupakan tokoh yang ilmunya sangat tinggi di dunia
Bulim?”
Bibir Cin Ie sudah bergerak-gerak. Dia sudah bermaksud mengatakan nama ayahnya.
Tiba-tiba tangannya ditarik oleh Cin Ying. Kata-kata yang hampir keluar terhenti seketika.
Gadis yang cantik itu langsung tertawa dingin.
“Tampaknya sahabat ini susah payah menyeldiki riwayat hidup orang, sebetulnya apa
tujuanmu?” tanyanya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Yibun Siu San benar-benar tidak menduga sama
sekali. Untuk sesaat dia jadi tertegun, namun sekejap saja sudah pulih kembali. Dia
langsung tertawa lebar.
“Dulu Cayhe mempunyai seorang sahabat lama, namun dia sudah lama mengasingkan
diri. Melihat gaya serangan Nona ini tadi, mirip sekali dengan ilmu andalannya yang tidak
diwariskan kepada orang luar. Oleh karena itu, Cayhe memberanikan diri untuk bertanya.
Tidak disangka malah menerbitkan salah paham Nona, maafkan saja.”
Sebetulnya, Yibun Siu San sudah mengasingkan diri selama sepuluh tahun. Mana
mungkin dia mempunyai teman? Kata-katanya tadi hanya sebagai alasan yang
diucapkannya dalam keadaan terdesak. Namun karena suaranya yang lembut dan katakatanya
yang halus, Cin Ying agak percaya.
‘Meskipun Gihu (ayah angkat) adalah Beng-cu terdahulu dari samudera luar, tetapi
dalam pembicaraan sehari-hari sering kegagahan para tokoh Bulim di Tionggoan. Ayah
juga memuji bahwa mereka cinta negara, berjiwa pendekar dan suka menolong yang
lemah. Mungkinkah Gihu tadinya juga seorang tokoh Bulim di Tionggoan ini dan juga
merupakan sahabat lama Tuan yang mengenakan kerudung ini?’ tanyanya dalam hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu pikiran ini melintas di benaknya, Cin Ying jadi mulai percaya. Tetapi dia masih
merasa bimbang, sehingga bertanya kembali, “Ayah selamanya jarang keluar rumah. Juga
tidak banyak bertanya masalah orang lain. Locianpwe kalau memang kenal dengan Gihu,
Siau li memberanikan diri menanyakan nama besar atau gelar Cianpwe yang mulia.”
Yibun Siu San tertawa lebar.
“Mungkin kau pernah mendengar ayahmu bercerita tentang Coan Lam Tajhiap Yibun
Siu San. Orangtua itu adalah Po Siu Cu Cian Cong yang namanya sudah terkenal sekali di
dunia Kangouw.”
Cin Ying memejamkan matanya merenung sejenak. Di dalam benaknya terlintas ingatan
samar-samar bahwa dia rasanya memang pernah mendengar nama kedua orang ini. Rasa
bimbangnya pun sirna seketika. Bibirnya merekah mengembangkan seulas senyuman yang
manis.
“Rupanya Lopek berdua, harap terima penghormatan Ying Ji. Selesai berkata, dia
langsung menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah.
Wajahnya cantik jelita memang sulit dicari tandingannya. Begitu tersenyum,
kecemerlang an wajahnya semakin mempesona, Yibun Siu San dan Cian Cong sampai
merasa antung mereka berdebar-debar. Cepat-cepat mereka memalingkan wajahnya,
tidak berani nelihat lagi. Bahkan mereka lupa membangunkannya, meskipun gadis itu
sudah mendiri berlutut di atas tanah.
Cin Ie melihat kakaknya melakukan penghormatan kepada kedua orang itu dengan
berlutut. Tanpa berpikir panjang lagi, dia segera ikut berlutut di samping Cin Ying.
Perlu diketahui, adat zaman dulu sangat mementingkan penghormatan terhadap orang
yang lebih tua. Cara berlutut seperti inilah yang justru harus dilakukan. Orang yang
menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah, apabila belum disuruh bangun oleh yang
bersangkutan, maka ia harus berlutut terus selamanya.
Setelah berlutut beberapa saat, Cin Ie melihat Yibun Siu San serta Cian Cong tetap
melihat ke arah lain tanpa memperdulikan sama sekali. Dia mulai kehabisan sabar. Dasar
sikapnya memang ketolol-tololan. Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung berteriak,
“Hei, kenapa tidak berbicara lagi. Sepasang lutut Nonamu ini sudah pegal setengah mati!”
Yibun Siu San dan Cian Cong bagai tersentak dari lamunan, keduanya mengeluarkan
seruan terkejut.
“Bangun, bangun!” kata mereka serentak.
Sembari tersenyum Cin Ying berdiri. Matanya beralih dan berhenti pada diri Tan Ki yang
sedang terbaring di atas tempat tidur.
“Entah ada hubungan apa antara Lopek dengan Heng Tai yang berada di atas tempat
tidur itu?” tanyanya perlahan.
“Keponakan.” sahut Yibun Siu San.
“Apakah dia terluka?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tidak. Hanya pikirannya yang terkena pukulan bathin yang hebat. Kesadarannya hilang
dan orangnya menjadi kalap. Kami memberinya pil penenang dan sekaligus menotok jalan
darah tidurnya. Dengan demikian dia dapat beristirahat dengan tenang beberapa saat dan
jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.”
“Adikku suka sekali cadar penutup wajah Lopek itu, untung saja Lopek bersedia
menghadiahkan. Dengan demikian, kami jadi berhutang budi. Meskipun keponakan tidak
mempunyai kepandaian yang mengejutkan, namun almarhum ayah pernah mengajarkan
cara pengobatan dengan totokan jari. Rasanya masih boleh dicoba. Kalau Lopek dapat
menaruh kepercayaan, sekarang juga Tit li (keponakan perempuan) akan mengobati
penyakit Heng Tai ini sebagai balas jasa Lopek yang menghadiahkan cadar muka kepada
adikku.” kata Cin Ying sambil tersenyum manis.
Mendengar kata-katanya, Yibun Siu San jadi termangu-mangu. Hatinya menjadi serba
salah. Untuk sesaat dia merenungkan hal ini dengan kepala tertunduk dan tidak bisa
mengambil keputusan apapun.
Di lain pihak, dia mengagumi kepandaian Cin Ying mengatur tata bahasanya sehingga
tidak menyolok maksud hati yang sebenarnya. Gadis ini sangat cerdas. Meskipun hatinya
mulai percaya kalau Yibun Siu San adalah sahabat almarhum ayahnya, tetapi dia tetap
berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Apabila dia berhasil mengobati penyakit Tan
Ki, berarti dia sudah membalas budi Yibun Siu San yang berjanji akan menghadiahkan
cadar mukanya kepada Cin Ie. Dengan demikian, diantara mereka tidak ada hutang
piutang lagi dan tentu saja Yibun Siu San tidak enak hati apabila bertanya terus mengenai
asal-usul dan tujuan mereka datang ke Tionggoan.
Di benaknya terlintas dua macam masalah yang terus menggelayuti pikirannya. Dia curiga
sekali terhadap kedua gadis ini. Kemungkinan besar mereka merupakan mata-mata
yang dikirim oleh golongan sesat luar samudera. Kalau dia menyatakan persetujuannya,
maka dia akan kehilangan kesempatan menyelediki apa tujuan mereka dan otomatis
terputus sumber berita yang baik…
Lalu apabila dia menolaknya, penyakit Tan Ki yang menyangkut kejiwaan ini, mungkin
sulit disembuhkan. Seumur hidupnya dia akan menjadi orang yang ketolol-tololan.
Bukankah hal itu merupakan penderitaan yang tak akan pernah berakhir?
Semakin dipikirkan, Yibun Siu San merasa semakin serba salah. Dua masalah yang
sama-sama pentingnya terus berputar di benaknya, hal ini membuatnya tidak berani
sembarangan mengambil keputusan…
Untuk sesaat, hatinya seolah diganduli beban yang berat sekali. Kacau, kalut, ruwet!
Sampai cukup lama, dia masih belum bisa memberikan jawaban. Matanya perlahan-lahan
mengerling. Tiba-tiba pandangannya bertemu dengan sinar mata Ceng Lam Hong.
Hati Yibun Siu San tergetar. Dia menjadi tertegun seketika.
Dia merasa wajah wanita itu menyiratkan kegelisahan yang tidak terkirakan. Sinar matanya
mengandung penderitaan dan harapan. Serangkum cinta kasih seorang ibu tersirat
jelas pada diri wanita itu…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tanpa dapat ditahan lagi dia menarik nafas panjang, hatinya tidak tega melihat
kesedihan Ceng Lam Hong. Bibirnya langsung memaksakan seulas senyuman.
“Kalau begitu terpaksa merepotkan Nona.” dia menjura satu kali, kemudian menggeser
tubuhnya ke samping.
Tiba-tiba terdengar suara bergesernya tubuh seseorang. Ceng Lam Hong sudah berdiri
di sampingnya.
“Toako, terima kasih. Kalau anak Ki bisa selamat tanpa kelainan apapun, semuanya
berkat ucapan Toako tadi.”
Suara itu bening dan lirih, seolah bisikan saja. Namun bagi pendengaran Yibun Siu San
bagai guntur yang menggelegar, di dalamnya tersirat perasaan terima kasih yang tidak
terhingga. Tanpa dapat ditahan lagi, dia melirik ke arahnya sekilas. Bibirnya tertawa
sumbang.
“Asal anak Ki bisa pulih kembali seperti sedia kala, urusan menyelidiki para gembong
iblis dari luar samudera yang ada kemungkinan ingin mengacau Tionggoan, terpaksa kita
tunda kesempatan yang lain.”
Ceng Lam Hong tersenyum lembut.
“Aku tahu selamanya Toako tidak suka melihat aku menderita dan memperhatikan aku
secara luar biasa…” tiba-tiba dia melihat Cian Cong melangkahkan kakinya mendekati
mereka, cepat-cepat dia menghentikan kata-katanya dan membungkam seribu bahasa.
Matanya segera dialihkan, dia melihat Cin Ying dan Cin Ie sedang berjalan ke arah
tempat tidur di mana Tan Ki berbaring. Saat itu juga seraut wajah yang tampan hadir di
dalam bola mata kedua gadis itu. Cin Ying dibesarkan di samudera luar. Mana pernah dia
bertemu dengan pemuda yang begitu gagah dan tampan seperti Tan Ki. Begitu matanya
memandang, jantungnya langsung berdebar-debar. Kedua pipinya menjadi merah jengah.
Tanpa dapat ditahan lagi dia memalingkan wajahnya. Cepat-cepat dia mengatur
pernafasannya dan menekan perasaannya yang memalukan.
Watak Cin Ie ketolol-tololan. Akal dan pikirannya tidak secerdas kakaknya. Dia melihat
wajah tampan Tan Ki yang mana belum pernah dilihatnya seumur hidup, mulutnya segera
mengeluarkan suara deheman sebanyak dua kali.
“Pemuda yang tampan sekali, aku juga jadi senang melihatnya.”
Cin Ying langsung mendelik kepadanya.
“Jangan banyak bicara, hanya menjatuhkan harga dirimu sendiri.”
Perlahan-lahan dia mengulurkan tangannya, kemudian menekan dada Tan Ki. Dia
segera menghimpun hawa murninya dan mendorongnya ke telapak tangan. Dengan tepat
disalurkannya tenaga dalamnya ke tubuh anak muda itu.
Cara pengobatan seperti ini menimbulkan penderitaan yang hebat. Tiba-tiba tubuh Tan
Ki seperti disengat aliran listrik, melonjak-lonjak dua kali dan mulutnya terus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengeluarkan suara rintihan. Namun sekejap kemudian, tubuhnya tidak bergerak lagi
serta mulutnya juga berhenti merintih. Keadaannya kembali seperti sebelumnya.
Ceng Lam Hong meremas tangannya sendiri berulang kali. Tampangnya sangat tegang.
Berhasil atau gagalnya Cin Ying mengobati Tan Ki menyangkut kebahagiaan anak muda itu
seumur hidupnya…
Meskipun wajah Yibun Siu San ditutupi, cadar hitam sehingga orang tidak tahu bagaimana
perasaannya saat itu, tetapi secara diam-diam dia sudah mengerahkan tenaga
dalamnya, siap sedia setiap waktu untuk dilancarkan apabila Cin Ying memperlihatkan
gerak-gerik yang mungkin akan mencelakai Tan Ki.
Kurang lebih sepeminum teh telah berlalu…
Telapak tangan Cin Ying masih belum dilepaskan, tiba-tiba terlihat sekumpulan uap
putih mengepul dari atas kepalanya dan melayang di udara. Wajahnya sudah berubah
merah padam, keringat menetes memenuhi bagian kepalanya bagai curahan hujan. Tetapi
dia tetap menggertakkan giginya erat-erat, raut wajahnya kelam sekali. Tampaknya dia
telah berusaha sekuat tenaga.
Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara bentakan dan tangan kanannya mengayunayun,
kemudian meluncur ke bagian ubun-ubun Tan Ki!
Perubahan yang mendadak ini, benar-benar tidak disangka-sangka oleh orang yang
lainnya. Meskipun Yibun Siu San sudab mempersiapkan diri, tak urung ia terkesiap juga.
Hati-nya berpikir untuk menerjang ke depan dan memberikan pertolongan, tetapi dia
melihat Cin Ying mencelat mundur sejauh setengah langkah setelah memukul ubun-ubun
kepala Tan Ki. Dalam waktu yang bersamaan, lengannya terangkat, sepasang jari telunjuk
serta jari tengahnya menutul secara berturut-turut.
Dalam waktu yang singkat, delapan belas urat nadi di tubuh Tan Ki telah tertotok
olehnya. Sampai saat ini, Cin Ying baru menghembuskan nafas panjang. Tangannya
terangkat ke atas dan mengusap keringat yang bercucuran di seluruh wajah dengan ujung
lengan bajunya.
“Heng Tai ini hanya perlu istirahat selama satu hari lagi, tentu ia akan pulih kembali
seperti semula.”
Setelah selesai mengobati Tan Ki, tampaknya gadis ini sudah kelelahan setengah mati.
Begitu selesai bicara, dia tidak menunggu jawaban dari yang lainnya, namun langsung
duduk bersila di atas tanah sambil memejamkan matanya mengatur pernafasan.
Yibun Siu San dan Cian Cong melihat usia gadis ini masih muda sekali. Namun dia
sudah memahami pelajaran ilmu lwekang kelas tinggi. Dia mampu mendesak hawa murni
sendiri agar mengalir ke tubuh seseorang kemudian menembus urat nadinya yang
tersumbat. Tentu saja mereka terperanjat sekali. Keduanya saling lirik sekilas dan tidak
mengucapkan sepatah katapun.
Tiba-tiba terdengar suara tawa Cin Ie yang ketolol-tololan sembari bergumam seorang
diri, “Kalau membiarkan kau berbaring satu hari lagi, tentunya iseng sekali. Cici toh sudah
membantumu, biar aku juga membantumu sejenak.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung mengulurkan tangan kanannya dan menempelkannya
ke dada Tan Ki. Kurang lebih sepeminuman teh lagi berlalu, terdengar suara keluhan
dari bibir Cin Ie. Wajahnya juga telah basah oleh keringat yang mengucur dengan
deras.
Mendadak dia menarik kembali telapak tangannya kemudian melangkah mundur sejauh
empat depa. Lalu berhenti. Matanya yang bulat dan hitam itu menatap Tan Ki lekat-lekat
tanpa berkedip sedikitpun.
Meskipun tidak ada lagi bahaya yang mengancam, namun masih terselip ketegangan
yang tidak terkatakan. Hati setiap orang berdebar-debar tanpa sebab musabab yang
pasti…
Lambat laun…
Tangan Tan Ki mulai bergetar, perlahan-lahan dia membuka matanya dan mulai sadarkan
diri. Tadinya dia tertotok jalan darah tidurnya oleh Yibun Siu San, tetapi dengan bergiliran
Cin Ying dan Cin Ie telah menyalurkan hawa murni mereka sehingga jalan darah
yang tertotok itu terbuka kembali.
Saat itu juga, tampak bibir Ceng Lam Hong merekahkan senyuman. Akhirnya dia malah
tertawa lebar. Mimik wajahnya yang tegang dan gelisah sudah lenyap seketika. Dalam
sekejap mata, suasana tegang sudah mencair dan digantikan dengan suasana riang.
Karena Tan Ki sudah sadarkan diri, orang yang berkerumun di kamar itu satu per satu
memperli-hatkan senyumannya.
Cin Ying juga sudah selesai mengatur pernafasannya. Sepasang tangannya bertumpu di
atas tanah dan diapun melonjak bangun. Ketika matanya bertemu pandang dengan mata
Tan Ki, dia merasa jantungnya berdebar-debar. Semacam perasaan aneh yang belum
pernah ia rasakan sebelumnya terasa memenuhi hatinya saat itu. Wajahnya jadi merah
jengah. Cepat-cepat dia menundukkan kepalanya dengan tersipu-sipu.
Sementara itu, tampak Ceng Lam Hong berjalan perlahan-lahan menuju jendela. Dia
memandang langit dengan terpana. Untuk sesaat, Cin Ying tidak tahu ada berbagai pikiran
yang berkecamuk di dalam dada wanita itu. Dibalik kegembiraan melihat anaknya sudah
sembuh kembali, juga terselip kepedihan yang tidak terkirakan.
BAGIAN XXIV
Dia sadar di dalam hati Tan Ki masih tersimpan kesalahpahaman yang besar terhadap
dirinya. Apabila dia sampai melihat ibunya juga ada di dalam kamar itu, apa yang terlintas
di benaknya? Apakah dia akan membuka mulut mencaci maki Ceng Lam Hong atau
semakin membenci melihat kehadirannya?
Tentu saja, semua ini ada kemungkinannya.
Oleh karena itu, perlahan-lahan dia meninggalkan kamar itu dan menghindarkan diri
dari pandangan Tan Ki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orangtua di kolong langit ini, mana ada yang tidak mencintai anaknya sendiri. Antara
Ceng Lam Hong dan Tan Ki sudah berpisah selama sepuluh tahun, betapa dalam hati
kecilnya dia mendambakan mendengar Tan Ki memanggilnya ‘Ibu’.
Namun, kenyataan yang terpampang di depan mata malah mendesak ibu dan anak itu
terpisah oleh jurang yang dalam. Seharusnya saat ini mereka berangkulan melepaskan
kerinduan yang terpendam selama ini. Tetapi semuanya tidak mungkin terjadi. Bagaimana
hatinya tidak menjadi pilu dan sakit?
Cian Cong dan Yibun Siu San maklum sekali penderitaan dalam hati wanita ini.
Meskipun mereka berniat memberikan bantuan, tetapi untuk saat ini mereka tidak tahu
apa yang harus dilakukan. Mereka hanya berdiri di samping tanpa mengucapkan sepatah
katapun.
Sementara itu kesadaran Tan Ki lambat laun pulih kembali. Sekali loncat dia langsung
turun dari tempat tidur. Begitu matanya beredar, tanpa dapat ditahan lagi, dia jadi
termangu-mangu.
‘Mengapa aku bisa berada di sini?’ tanyanya dalam hati.
Dia tidak tahu bahwa dalam beberapa hari ini, pikirannya menjadi kacau karena putus
asa. Dia hanya merasa bahwa setelah Mei Ling diculik orang, dia lalu tertidur dan sekarang
baru bangun kembali. Tahu-tahu dia menemukan dirinya di tempat yang asing. Lagipula
kepalanya terasa pusing tujuh keliling dan seluruh tubuhnya terasa tidak enak. Tanpa
dapat ditahan lagi, dia mengedarkan pandangannya ke orang-orang dalam ruangan, itu
dengan perasaan curiga. Mimik wajahnya menunjukkan rasa terkejut dan sangsi.
Perlahan-lahan Cin Ie menghampirinya.
Wajahnya sengaja diperingiskan sehingga seperti muka setan. Mulutnya tertawa lebar.
“Kau sudah baik?”
Sebetulnya gadis ini kalau diperhatikan tidak terlalu jelek sekali. Tetapi gayanya dan
cara tertawanya seakan disengajakan sehingga bintik-bintik di wajahnya semaian kentara
jelas. Hal inilah yang membuat orang merasa sebal.
Sepasang alis Tan Ki terjungkit ke atas.
“Siapa kau?” tanyanya ketus.
“Aku bernama Cin Ie.” sahut gadis itu dengan tersipu-sipu. Matanya melirik Tan Ki
berulang kali.
Tan Ki merasa tingkah laku dan gerak-gerik gadis itu persis perempuan murahan yang
sering tampil di atas pentas. Hatinya semakin muak melihatnya. Oleh karena itu, dia
segera mendengus dingin dan menyahut dengan enggan.
“Senang sekali dapat berkenalan dengan nona yang namanya sudah lama terkenal!”
tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah pintu. Tindakannya ini secara
menyolok menyatakan rasa sebalnya terhadap Cin Ie.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tentu saja perbuatannya juga tidak sopan sama sekali, apalagi mengingat kedua kakak
beradik itulah yang menjadi dewa penolongnya!
Cin Ying yang melihat keadaan ini merasa hatinya menjadi tidak enak. Tanpa dapat
ditahan lagi mulutnya mengeluarkan suara tertawa dingin. Namun pada dasarnya watak
gadis ini lembut dan berpandangan luas. Meskipun dia merasa tidak seharusnya Tan Ki
mem-perlakukan adiknya seperti itu sehingga bisa mengakibatkan orang menjadi sakit
hati. Tetapi dia tetap berusaha menekan hawa amarah yang mulai bangkit dalam hatinya.
Tangannya segera mencekal pergelangan Cin Ie. Dengan nada kurang senang dia berkata,
“Ie Moay, mari kita pergi!”
Begitu dia menarik, terasa diri Cin Ie bagai sebuah patung kayu yang ditancapkan di
atas tanah dan ternyata Cin Ying tidak sanggup menggerakkannya. Hatinya merasa heran.
Dia mendongakkan wajahnya memandang. Tampak mimik wajah Cin Ie menyiratkan
senyuman yang aneh. Dia bagai orang yang dihipnotis, matanya memandang lekat-lekat
ke arah pintu.
Sejak kecil Cin Ying dibesarkan bersama-sama adik angkatnya ini. Dia tahu sekali watak
dan kebiasaannya, namun dia belum pernah melihat tampang Cin Ie seperti sekarang
ini. Tentu saja dia jadi terkejut sekali.
“Ie Moay, kenapa kau?” tanyanya gugup.
Mulut Cin Ie mengeluarkan seruan terkejut. Dirinya seakan baru tersadar dari mimpi.
Tanpa terasa dia bergumam seorang diri.
“Sungguh seorang pemuda yang tampan sekali, Ie Ji sampai merasa suka sekali.”
Mendengar ucapannya, mula-mula Cin Ying tertegun. Dia tidak mengerti makna ucapan
adiknya itu. Tetapi lambat laun dia tersadar, rupanya Cin Ie sudah terpikat oleh
ketampanan Tan Ki. Wajahnya jadi merah padam. Hatinya bermaksud mencacinya
beberapa patah kata bahwa anak gadis tidak boleh merendahkan derajatnya sendiri dan
berbicara yang bukan-bukan di depan umum. Namun dia merasa hatinya sendiri juga
mempunyai perasaan yang sama. Akhirnya dia tertawa sumbang.
“Sudah, jangan berpikir yang bukan-bukan. Mari kita pergi!” dia langsung menarik
tangan Cin Ie dan mengajaknya keluar dari tempat tersebut.
Yibun Siu San langsung melepaskan cadar penutup wajahnya dan mengejar ke depan
dua langkah.
“Nona harap tunggu sebentar. Sehelai cadar ini tidak berharga sama sekali, tetapi
merupakan syarat yang telah disetujui sebagai imbalan nona berdua yang telah
menyalurkan hawa murni kepada keponakan Cayhe. Harap diambil cadar ini, kalau tidak
hati Cayhe akan tidak tenteram karena merasa masih berhutang.” katanya.
Cin Ying tertawa pilu.
“Tidak usah. Tadi aku sudah ke jalan raya dan sengaja membelikan, berbagai macam
mainan untuk adikku ini. Kalau aku keburu sampai, tentu dia juga tidak masuk ke kamar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini dan menimbulkan kekacauan yang mengganggu ketenangan kalian. Harap Lopek
simpan saja cadar itu. Kami kakak beradik tidak menginginkannya lagi.”
Selesai berkata, tubuh kedua gadis itu tepat sudah berada di depan pintu. Mereka
langsung membelok dan hilang dari pandangan.
Yibun Siu San memperhatikan bayangan punggung kedua gadis itu sampai tidak kelihatan
lagi. Di dalam hatinya dia merasa berterima kasih sekali. Perlahan-lahan dia menarik
nafas panjang. Kepalanya menggeleng-geleng tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Dia sudah melihat ilmu silat Cin Ie: Tampaknya tidak sama dengan ilmu silat yang ada
di daerah Tionggoan. Dalam hatinya timbul kecurigaan. Dia mulai yakin kalau kedua kakak
beradik itu apabila bukan berasal dari Samudera luar, pasti merupakan keturunan suku
Biao dari wilayah Barat. Kemungkinan tujuan mereka datang ke Tionggoan adalah untuk
menyelidiki gerak-gerik para tokoh Bulim saat ini dan kalau keadaan memungkinkan,
mereka akan menyerbu masuk ke daerah Kang Lam.
Tetapi demi keselamatan Tan Ki, mau tidak mau dia harus melepaskan kesempatan
menyelidiki bukti yang sudah ada ini. Melihat kakak beradik itu pergi dalam situasi yang
kurang menyenangkan, dia hanya bisa menarik nafas panjang. Hatinya terasa kalut.
Sementara itu, setelah kembali ke kamarnya, tiba-tiba Cin Ying merasa hatinya dilanda
kehampaan yang aneh. Dadanya terasa sesak seperti orang yang kekurangan udara. Dia
seperti tidak mempunyai gairah terhadap segala sesuatu.
Rupanya dia memang dibesarkan di Samudera luar dan yang sering didengar ataupun
ditemuinya hanya serangkaian pembunuhan dan pertarungan. Wajah setiap orang,
mungkin karena pengaruh wilayah dan situasinya, hampir semuanya bertubuh tinggi besar
dan tampangnya garang. Penduduk di wilayah itu juga sangat kasar. Mana ada pemuda
yang gagah dan tampan seperti Tan Ki. Bahkan seujung jarinya pun tidak. Oleh karena itu
begitu melihat anak muda tersebut, hatinya sudah terpikat oleh kegagahan dan
ketampanannya.
Dengan enggan dia duduk di atas kursi dan langsung termenung lesu! Untuk sesaat,
pikirannya melayang-layang. Duduk salah berdiri pun salah. Tetapi dia sendiri tidak
mengerti apa sebetulnya yang ia pikirkan. Tiba-tiba dia merasa pundaknya ditepuk oleh
seseorang, lalu terdengar suara Cin Ie yang sedang tertawa terkekeh-kekeh.
“Toaci, coba kau lihat sebentar!”
Hati Cin Ying memang sedang kalut. Dia berharap dapat menenangkan diri beberapa
saat. Ditepuk oleh Cin Ie, dengan acuh tak acuh dia bertanya, “Lihat apa?”
Terhadap adik angkatnya ini, Cin Ie merasa sayang sekali. Meskipun kata-kata yang
terucap dari bibirnya agak ketus, tetapi dengan perasaan tidak tega dia menoleh juga dan
melihat ke arahnya sekilas.
Begitu matanya memandang, dia melihat pakaian Cin Ie yang berwarna hijau sudah
dikutungkan bagian lengannya. Untuk sesaat dia sangat terpukau. Dengan heran dia
bertanya, “Apa yang kau lakukan? Pakaian yang bagus-bagus kok digunting sampai
begitu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cin Ie menggigit bibirnya sendiri.
“Pakaian ini sudah terlalu pendek, tidak enak dipakai lagi.”
Cin Ying tersenyum.
“Kalau begitu, malam nanti kalau kita keluar. Kita beli lagi beberapa stel pakaian yang
sesuai untukmu.”
Tampak Cin Ie agak sangsi.
“Tetapi… malam hari kalau sedang tidur, hatiku sering merasa dingin.”
“Beberapa hari ini udara memang agak dingin. Mungkin pakaian tidurmu terlalu tipis
atau kau lupa memakai selimut.”
“Meskipun memakai selimut memang terasa hangat, tetapi tidak dapat menghangatkan
hatiku…”
“Cin Ying jadi tertegun mendengar ucapannya.
“Apa maksudmu?”
“Cici, apakah kau tidak mengerti ucapanku? Malam hari aku tidur sendirian, sering aku
merasa takut, seperti ada bayangan setan yang terus bergerak di depan jendela.”
“Sejak kecil kita sama-sama sudah terbiasa tidur sendiri-sendiri. Kenapa baru sekarang
kau merasa takut?” Cin Ying menghentikan kata-katanya kemudian tersenyum lembut.
“Baiklah, malam nanti Cici akan menemanimu.”
Setelah berkata panjang lebar, tampaknya Cin Ying masih juga belum menangkap
maksud ucapannya, Cin Ie menjadi kesal sekali. Dia menghentak-hentakkan kakinya di
atas tanah.
“Siapa yang kepingin kau temani?”
Melihat tingkah lakunya, Cin Ying mulai marah. Namun dia sadar bahwa adik angkatnya
ini tidak boleh dikerasi. Setelah tertegun sejenak. Dia segera mendorong meja dan berdiri.
“Ie Moay, jangan pergi. Sebetulnya ada apa?” sembari berkata, langkahnya dipercepat
untuk mengejar adiknya yang sudah bermaksud keluar dari kamar. Dia segera menarik
tangan gadis itu. “Untuk apa kau melakukan hal ini. Lihat saja, belum apa-apa sudah
tersinggung, Cici sampai bingung kau buat.” berkata sampai di sini, tiba-tiba sebuah
ingatan melintas di benaknya. Mulutnya langsung mengeluarkan seruan terkejut,
kemudian tertawa lebar.
“Aku tahu deh, rupanya kau sudah ingin mencari seorang suami, bukan? Mungkin sudah
sejak lama ada yang ditaksir. Cepat katakan kepadaku, siapa orang itu?” Cin Ie
tersenyum simpul.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Pemuda yang ada di sebelah kamar itu!” sahut gadis itu dengan santai. Mendengar
ucapannya, hati Cin Ying tergetar. Rupanya orang yang ditaksir Cin Ie justru Tan Ki
orangnya. Mimpi pun dia tidak pernah membayangkan hal itu. Rasa terkejutnya tidak
kepalang tanggung.
“Mana mungkin hal ini terjadi? Meskipun kita sudah pernah bertemu satu kali, tetapi
kita tidak saling mengenal, apalagi menjalin persahabatan. Lagipula dia adalah seorang
pemuda yang begitu tampan.
Tampaknya Cin Ie sendiri juga menyadari kekurangannya. Mendengar ucapan kakaknya,
harapan yang baru berkembang seakan kandas seketika. Dia merasa kecewa sekali.
Padahal dia adalah seorang gadis yang masih polos. Namun begitu mengetahui bahwa dia
tidak mempunyai harapan sedikitpun, dua baris air matanya segera jatuh bercucuran
membasahi pipi.
Meskipun wajahnya tidak dapat dikatakan cantik karena penuh dengan bintik-bintik
hitam, namun air mata yang menetes justru sangat berkilauan serta keluar dengan
perasaan yang tulus. Sungguh air mata yang tidak bernilai harganya!
Apa sebetulnya yang tersirat di balik air mata itu?
Tidak ada. Yang dapat dinyatakan hanya hatinya yang masih bersih.
Melihat air mata adiknya mengalir dengan deras, hati Cin Ying langsung terasa perih.
Dia juga terharu melihat kemalangan nasib gadis itu. Hampir belasan tahun sudah, baru
kali ini dia melihat lagi air mata yang tulus dan berharga ini….
Bayangan masa lalu, seakan terpampang dalam air mata yang terus mengalir itu. Satu
per satu melintas dalam benaknya…
Dia teringat masa kecilnya ketika terombang ambing di tengah lautan, untung saja dia
ditemukan oleh seorang ketua suku pedalaman yang berilmu sangat tinggi yakni Cui Sang
Sin-heng alias bayangan dewa di atas air Cin Tong. Akhirnya dia ditolong bahkan dijadikan
putri angkatnya.
Dia teringat senyuman Cin Tong serta nada suaranya yang menggeledek serta kasih
sayang yang penuh perhatian. Lagi pula caranya melakukan apapun terhadap kedua
putrinya selalu disamakan dan tidak pernah dibedakan.
Dia membiarkan keduanya bermain bersama dia juga mengajarkan ilmu silat tanpa
memilihbulu…
Justru pada saat dia berusia dua belas tahun, Cin Ying dan Cin Ie sedang berlatih dan
menjajal kepandaian mereka. Akh… dia ingat hari itu meriipakan hari yang paling
menyayat hati dalam hidupnya.
Sekarang pun dia masih mengingat dengan jelas, justru jurus Hui-houw Coan Liong
atau Harimau terbang berubah menjadi naga itulah yang digunakannya ketika berlatih.
Tanpa sengaja pukulannya menghantam belakang kepala Cin Ie.
Kemudian, dia… Cin Ie pun jatuh tidak sadarkan diri!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cin Ying sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa perbuatan yang dilakukannya
dengan tanpa sengaja itu membuat otak adik angkatnya menjadi lemah. Meskipun ayah
angkatnya telah berusaha dengan berbagai cara untuk menyembuhkannya, namun nasib
Cin Ie memang tidak bisa diubah lagi!
Walaupun nyawanya berhasil diselamatkan, tetapi sejak saat itu Cin Ie berubah menjadi
ketolol-tololan dan otaknya tidak bisa berpikir sebagaimana manusia dewasa layaknya.
Memang kadang-kadang kebodohannya tidak terlalu tampak menyolok. Dia bisa bicara
dan bertanya jawab. Tetapi apabila ada masalah yang agak rumit, dia tidak cepat tanggap
dan tidak tahu pula bagaimana harus menanggulanginya. Hidupnya jadi bergantung pada
orang lain.
Siapa nyana, Cin Tong malah tidak menyalahkan dirinya sedikitpun karena kesalahan
tangan yang membuat putri kandungnya menjadi cacat mental. Bahkan menjelang akhir
hidupnya, dia menitipkan pesan kepada Cin Ying agar menjaga adik angkatnya ini baikbaik.
Justru karena hal ini pula, hati Cin Ying semakin tidak tenang, karena diserahi tanggung
jawab yang berat. Rasa bersalahnya semakin menghebat. Selama belasan tahun ini,
dia sudah berusaha segenap kemampuannya untuk melindungi sang adik. Seandainya dia
menginginkan rembulan di atas langit, Cin Ying pasti akan mencari jalan untuk mengambil
rembulan tersebut bagi adik angkatnya. Pokoknya Cin Ying selalu berharap dapat
membahagiakan hati adiknya itu.
Dia terus menganggap, bahwa pengorbanannya ini masih belum cukup untuk menebus
kesalahannya dan membalas budi yang ditanamkan Cin Tong kepadanya. Apalagi terhadap
Cin Ie sendiri, dia merasa seumur hidupnya tidak mungkin ia membayar lunas hutangnya
yang satu ini.
Berpikir sampai di sini, tanpa dapat ditahan lagi hatinya menjadi perih. Dan air matanya
ikut mengalir. Perlahan-lahan dia mengangkat tangannya dan mengusap air mata adiknya
yang masih menetes.
“Baiklah, Cici akari berusaha sekuat tenaga. Kalau Tan Siangkong itu tidak
menghendaki dirimu, meskipun harus memaksanya dengan perkelahian, aku juga akan
mencobanya.”
Selesai berkata, dia berusaha membangkitkan keberanian dalam hatinya sendiri. Tangannya
segera menepuk-nepuk pundak Cin Ie.
“Kau keluarlah ke jalan raya dan main-main di sana. Aku akan mendengar nada bicara
mereka, baru mengambil tindakan yang terbaik.”
Mendengar perkataannya, Cin Ie segera mengusap air matanya dan wajahnya jadi berseri-
seri seketika. Selamanya dia percaya sekali kepada Cin Ying. Dia tahu kakaknya ini
sangat cerdas dan banyak akalnya. Meski menghadapi persoalan yang bagaimana
beratnya, dia pasti bisa melepaskan diri dari bahaya dan menyelesaikannya dengan baik.
Apalagi kalau sudah berjanji, dia tidak pernah mengingkarinya. Oleh karena itu, dia segera
menganggukkan kepalanya berkali-kali.
“Aku akan menurut perkataan Cici dan bermain ke jalan raya. Kalau sudah ada kabar
berita, harap cepat-cepat beritahu aku.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sambil berkata, kedua kakak beradik itu jalan berdampingan keluar dari kamar. Na-mun
perasaan hati keduanya berbeda. Cin Ie merasa bahagia sekali dan bibirnya terus tersenyum.
Sedangkan sepasang alis Cin Ying terus bertaut dengan erat dan hatinya kacau.
Sebetulnya, dia Sadar sekali tingkah laku Tan Ki yang sudah terang-terangan
menyatakan rasa sebalnya terhadap Cin Ie. Agaknya harapan mereka dapat menjadi
pasangan yang harmonis terasa mustahil. Tetapi dirinya terus merasa berhutang kepada
Cin Ie. Apabila dia sampai tidak berhasil menyempurnakan niat hatinya, Cin Ying semakin
tidak tenang. Itu-lah sebabnya dia tetap mencoba meskipun tidak yakin akan berhasil.
* * * *
Dengan perasaan gembira, Cin Ie berjalan-jalan keluar. Ke manapun matanya memandang,
dia selalu melihat orang banyak hilir mudik. Semua yang tertatap olehnya selalu
pemandangan yang menyegarkan. Hal ini membuat perasaannya senang bukan kepalang.
Tanpa tujuan yang pasti dia terus melangkah. Secara berturut-turut dia telah melalui
tiga jalan besar, sampailah dia di depan sebuah toko yang menjual barang-barang antik.
Justru ketika dia sedang menikmati keindahan barang-barang antik dari luar toko itu, tibatiba
matanya menangkap seraut wajah yang tidak asing lagi. Orang itu melewatinya.
Tanpa dapat ditahan lagi, kepalanya menoleh untuk memperhatikan sejenak.
Sebetulnya dia tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Perbuatannya kali ini hanya
mengikuti nalurinya yang tergerak saja. Namun begitu matanya memandang sekali lagi,
hatinya langsung tergetar.
Ini yang dinamakan ‘tidak dicari malah datang sendiri.’ tanpa susah payah pula. Rupanya
orang yang baru saja melewatinya, justru pemuda yang membuat dirinya terpikat dan
terus merasa rindu, yakni Tan Ki.
Tampaknya pemuda itu sedang digelayuti berbagai pikiran. Tampangnya kusut. Sambil
menundukkan kepalanya dia berjalan lambat-lambat. Langkahnya seakan berat sekali.
Tidak mirip dengan orang yang memiliki kepandaian tinggi.
Hati Cin Ie jadi gembira bukan kepalang. Dia mengikuti Tan Ki dari belakang. Hatinya
penasaran ingin tahu ke mana tujuan anak muda itu. Siapa nyana, Tan Ki tidak pernah
menghentikan langkah kakinya, dia berjalan terus ke depan. Kota ini memang tidak terlalu
besar. Dalam waktu kurang lebih sepenanakan nasi, mereka sudah keluar dari perbatasan
kota. Begitu matanya memandang, di mana-mana terlihat pemandangan yang indah
dengan bukit-bukit yang subur.
Cin Ie merasa heran sekali. Diam-diam dia berpikir: ‘Apa enaknya bermain-main di
tempat seperti ini? Untuk apa sebetulnya dia datang ke sini?’
Tiba-tiba…
Tampak dua sosok bayangan menghambur ke arah mereka.
Kecepatannya bagai anak panah yang menyambar. Dalam sekejapan mata sudah tiba
di hadapan mereka. Kejadian yang tidak terduga-duga ini membuat Cin Ie terperanjat,
secara refleks kakinya mundur satu langkah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu matanya memandang, orang yang datang itu ternyata tidak asing baginya.
Mereka adalah pengawal setia Toa Ie (bibi) yakni Lu Sam Nio dan Im Ka Tojin. Untuk
sesaat dia jadi termangu-mangu.
Ketika melihat jelas siapa orangnya yang mendatangi, Tan Ki sudah menolehkan kepalanya
dengan hati tergetar. Setelah diperhatikan, dia langsung mengenali wanita yang
rupanya jelek sekali sebagai orang yang menculik Mei Ling. Darah dalam tubuhnya bagai
mendidih seketika. Hawa amarah dalam dadanya meluap-luap. Namun di balik semua itu,
terselip juga kegembiraan sedikit karena berhasil memergoki musuh besarnya.
Dia langsung mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara suitan marah dari
mulutnya. Ketika tubuhnya berkelebat, dalam waktu yang bersamaan, serangkum angin
yang kuat terpancar dari telapak tangannya yang langsung menghantam ke depan.
Pancaran tenaga yang bagai gulungan ombak menimbulkan suara yang menderu-deru.
Sepasang telapak tangannya secara berpencaran melancarkan serangan ke arah Lu Sam
Nio dan Im Ka Tojin.
Serangannya kali ini hanya berlangsung dalam sekejapan mata, Lu Sam Nio dan Im Ka
Tojin terkejut setengah mati. Dengan panik keduanya mencelat mundur ke kiri dan kanan.
Im Ka Tojin segera memperdengarkan suara tawanya yang dingin.
“Hari itu karena mendapat perintah dari Toa Ie, maka aku sengaja mengampuni jiwamu.
Kali ini malah kau sendiri yang berani mencari perkara denganku. Maka tidak ada
ampun lagi buatmu.” katanya sinis.
Diantara suara tawanya yang menyeramkan, tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas.
Sepasang telapak tangannya terulur keluar, dengan jurus Bendera perang berkibar di
sebelah timur, dia melancarkan dua buah pukulan.
Apabila seorang jago silat melancarkan serangan, kecepatannya hanya bagai lintasan
cahaya. Sementara Im Ka Tojin mengerahkan jurus serangannya, Lu Sam Nio juga tidak
menyia-nyiakan kesempatan. Dengan keji dia juga meluncurkan sebuah pukulan ke arah
pinggang kiri Tan Ki.
Begitu kedua orang ini melancarkan serangan dalam waktu yang bersamaan, kehebatannya
benar-benar mengejutkan. Tenaga yang terpancar dari telapak tangan mereka
bagai badai di tengah lautan atau ratusan ekor kuda yang mengamuk. Lwekang dan hawa
murni mereka bagai banjir yang melanda.
Suasana semakin tegang dan diliputi hawa pembunuhan yang tebal. Tampaknya
pukulan manapun yang sempat mendarat di tubuh Tan Ki, dia pasti terkapar mati seketika.
Namun terdengar suara tawa anak muda itu yang mengandung kegusaran hatinya.
Tubuhnya memutar dengan cepat, tahu-tahu dia sudah berhasil menghindarkan diri dari
serangan kedua orang itu. Sementara itu, terdengar mulutnya mengeluarkan suara
bentakan, “Siapa sebetulnya orang yang kalian maksudkan dengan Toa Ie itu?”
Lu Sam Nio memamerkan dua baris giginya yang besar-besar dan berwarna kekuningkuningan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Boleh saja memberitahukan kepadamu, tetapi kau harus menemani dulu bibimu ini
bergembira sepanjang malam!”
Tan Ki marah sekali.
“Kentut busuk!”
Pergelangan tangannya berputar, terdengar suara angin berhembus dan dengan kecepatan
kilat dia melancarkan dua buah pukulan ke depan. Lu Sam Nio terdesak sampai
kalang kabut. Dikejar oleh serangan Tan Ki, mau tidak mau dia mencelat mundur sejauh
dua langkah.
Dua buah serangan Im Ka Tojin gagal berturut-turut. Tubuhnya sudah melayang turun
di atas tanah. Tanpa membuang waktu, mulutnya mengeluarkan suara raungan. Empat
pukulan dilancarkan dengan gencar.
Untuk sesaat, tampak bayangan telapak tangannya memenuhi ajang pertarungan.
Angin yang ditimbulkan pun menimbulkan suara suitan. Bahkan debu-debu yang terdapat
di sekitarnya langsung bertebaran di angkasa. Pertarungan yang sengit ini membuat
pandangan mata Cin Ie jadi berkunang-kunang. Setelah sepuluh kali gebrakan lebih, dia
sudah tidak dapat membedakan lagi mana para pelindung Toa Ie-nya dan mana diri
pemuda pujaannya.
Meskipun ilmu silat Tan Ki merupakan ilmu andalan para leluhur Ti Ciang Pang, tapi
apabila dia ingin meringkus kedua orang itu dalam waktu yang singkat, juga bukan merupakan
hal yang mudah.
Kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, pertarungan di antara ketiga orang itu sudah
mengalami banyak perubahan. Tampaknya puncak pertarungan itu sudah hampir dicapai.
Suara bentakan dan deruan angin yang terpancar dari pukulan mereka masih terus
terdengar. Sementara itu, hawa pembunuhan yang memenuhi sekitar tempat itu malah
tambah berlipat ganda.
Tampak daya serang Lu Sam Nio dan Im Ka Tojin semakin lama semakin melemah. Tan
Ki malah berkelahi seperti orang kalap, serangannya semakin lama semakin keji. Tenaga
dalam yang dilancarkan hampir menggunakan segenap kekuatannya.
Cin Ie tahu betul sampai di mana tingginya ilmu tenaga dalam Lu Sam Nio dan Im Ka
Tojin, tetapi melihat bahwa dengan bergabung pun kedua orang itu tidak sanggup
meringkus Tan Ki, hatinya menjadi khawatir. Di samping itu dia juga merasa kagum sekali
terhadap ilmu silat anak muda itu.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras dari mulut Tan Ki, dengan jurus Menguak
Gunung Meretakkan Tanah, dia menyerang secara gencar ke arah Im Ka Tojin. Serangan
ini dilancarkan dengan tenaga sepenuhnya. Sedangkan keadaan Im Ka Tojin sudah
kelelahan, dia hanya dapat melawan dengan kekuatan terakhir.
Begitu serangan Tan Ki yang keji ini dilancarkan, kekuatannya dahsyat bukan main.
Bagai gelombang ombak yang bergulung-gulung melanda ke depan. Sama sekali tidak
dapat dianggap enteng!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Im Ka Tojin menggertakkan giginya erat-erat. Dengan nekat dia melancarkan sebuah
pukulan ke depan dan menyambut serangan Tan Ki dengan kekerasan.
Cara keras melawan keras seperti ini sebetulnya merupakan pantangan bagi orang
Bulim. Apabila pihak yang satu lebih lemah sedikit saja tenaganya, maka orang itu pasti
terluka parah di bawah telapak tangan lawannya.
Tetapi karena pukulan yang dilancarkan Im Ka Tojin dikeluarkan dalam keadaan
terpaksa, maka cara keras lawan keras yang berlangsung saat ini, apabila tidak sampai
mencabut nyawanya, maka paling tidak dia akan terluka parah. Tiba-tiba…
“Tan Siangkong, mohon tunggu dulu!” terdengar teriakan seorang gadis. Serangkum
tenaga yang kuat menahan datangnya serangan Tan Ki. Perubahan yang mendadak ini,
membuat anak muda itu terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia menarik kembali
serangannya dan mencelat mundur sejauh lima langkah. Meskipun demikian, sepasang
pundaknya bergetar karena dorongan tenaga lawan bahkan tubuhnya sempat
sempoyongan beberapa saat.
Dia langsung menolehkan kepalanya, entah sejak kapan di samping Cin Ie telah
bertambah seorang gadis yang cantik jelita. Dia adalah Cin Ying.
Pada saat ini, kemarahan Tan Ki sedang meluap. Tadinya dia sudah senang berhasil
mendesak musuhnya sehingga paling tidak akan terluka parah, tahu-tahu datang Cin Ying
yang mengacaukan segalanya. Tentu saja dia jadi melampiaskan kekesalannya pada gadis
itu. Matanya mendelik lebar-lebar.
“Apa sebetulnya maksudmu melakukan hal ini?”
“Entah apa kesalahan kedua orang ini sehingga Siangkong sedemikian gusar?”
Tan Ki menunjuk ke arah Lu Sam Nio dan Im Ka Tojin.
“Tanpa hujan tanpa angin mereka menculik temanku. Sekarang setelah berhasil aku
pergoki, apakah aku akan mendiamkannya begitu saja?”
Dengan tenang Cin Ying menoleh kepada Lu Sam Nio dan Im Ka Tojin.
“Benarkah apa yang dikatakannya?”
Setelah mengatur pernafasannya beberapa saat, hawa murni di dalam tubuh Im Ka
Tojin mulai, lancar kembali. Dia mengusap keringat yang membasahi keningnya kemudian
menjura dalam-dalam kepada Cin Ying.
“Urusan ini sebetulnya hamba hanya mendapat perintah dari Toa Ie, sama sekali bukan
niat hati hamba sendiri.”
“Oh!” Cin Ying mengibaskan tangannya. “Baiklah, di sini tidak ada urusan kalian lagi,
pergilah.” katanya kemudian.
Im Ka Tojin tidak segera mengundurkan diri. Tampaknya hatinya masih bimbang.
Perlahan-lahan dia memberanikan dirinya menyahut, “Hamba menerima surat perintah,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kali ini sengaja datang untuk menemui Nona berdua.” tampaknya dia sangat takut kepada
Cin Ying. Cara bicaranya juga tersendat-sendat.
Cin Ying tertawa dingin.
“Pasti surat yang dikirim lewat merpati pos oleh Toa Ie kalian yang isinya perintah
inilah, itulah…” dia berhenti sejenak. “Baiklah, kalian pergi ke kota di depan sana dan
tunggu aku di rumah penginapan Lai An.”
Im Ka Tojin dan Lu Sam Nio segera mengiakan. Setelah menjura satu kali, keduanya
segera membalikkan tubuh dan berlari pergi. Sementara itu, terdengar Tan Ki
mengeluarkan suara tertawa yang dingin sekali, tubuhnya melesat ke depan dan tahu-tahu
dia sudah menghadang jalan pergi kedua orang itu.
“Mau kabur? Tidak begitu mudah!” terasa angin berhembus, sebuah pukulan langsung
diarahkan kepada Lu Sam Nio.
Serangannya yang tiba-tiba ini benar-benar cepat sekali. Terdengar suara mengaduh Lu
Sam Nio. Dia segera menahan gerakan tubuhnya yang masih meluncur ke depan
kemudian melesat ke samping untuk menghindarkan diri.
Meskipun gerakannya tadi sudah peka sekali, namun tetap saja dia terhempas oleh sapuan
angin pukulan Tan Ki. Dia merasa nyeri dan keringat langsung mengucur di
keningnya.
Tan Ki merasa benci bukan kepalang kepada kedua orang ini. Dianggapnya mereka
yang menghancurkan impian indahnya karena menculik Mei Ling. Rasanya ingin dia sekali
pukul langsung menghantam mati kedua orang itu agar keperihan hatinya dapat terlampiaskan.
Oleh karena itu, melihat jurusnya yang pertama mendapat hasil, dia lebihlebih
tidak membiarkan mereka pergi. Pergelangan tangan kanannya memutar, kemudian
dia mendorongnya ke depan. Serangkum angin yang kencang terpancar dari pukulannya
yang mengincar bagian dada Im Ka Tojin yang mematikan.
Im Ka Tojin melihat Lu Sam Nio tiba-tiba diserang, memang langsung bersiap sedia.
Begitu Tan Ki meluncurkan serangan kepadanya, dia langsung mencelat mundur sejauh
lima mistar.
Tan Ki tertawa dingin. Di wajahnya yang tampan mulai tersirat hawa pembunuhan.
Baru saja dia berniat mengerahkan Tian Si Bam-sut yang hebat dan membunuh musuhnya
agar kekesalannya terlampiaskan. Tiba-tiba…
Hidungnya mengendus bau yang harum lewat di depannya. Rupanya Cin Ying sudah
melesat di hadapannya. Bibirnya tersenyum.
“Harap Siangkong mengalah untuk sementara, biarkanlah mereka pergi. Nanti kalau
urusan sudah terbukti, kau cari lagi mereka masih belum terlambat.” katanya.
Sepasang mata Tan Ki memancarkan warna kemerahan, dia mendelik kepada Cin Ying
lebar-lebar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bertemu dengan musuh, kalau tidak dibunuh tentu keenakan. Kalau kau suruh mereka
pergi begitu saja, lain kali apabila berdiri di dunia Bulim, aku tidak berani mengangkat
wajahku, lagi.”
“Jangan khawatir, mereka tidak bisa kabur kemana-mana!”
“Kau berani menjamin?”
Cin Ying tertawa lebar.
“Aku berani mempertaruhkan sepasang lengan ini sebagai jaminan!” dia berhenti
sejenak, seolah ada ribuan kata di dalam hatinya yang tidak berani ia cetuskan. Dia
menunduk-kan kepalanya beberapa saat dan merenung. Akhirnya dia menggigit bibirnya
sendiri dan memberanikan dirinya untuk berkata, “Lagipula, aku masih ada permintaan
yang ingin kuharapkan darimu, mana mungkin aku mengingkari ucapanku sendiri?”
“Urusan apa?” tanya Tan Ki.
Cin Ying menolehkan kepalanya melihat sang adik. Cin Ie sedang berdiri menghadap ke
arah angin, pakaiannya berkibar-kibar. Dia sedang menatap Tan Ki dengan termangumangu.
Bibirnya tersenyum simpul. Sinar matanya bagai rembulan yang lembut atau
bintang-bintang yang bertaburan di langit. Pokoknya ada semacam cahaya yang aneh
terpancar dari sepasang bola matanya. Tanpa sadar Cin Ying menarik nafas panjang.
“Ketika Siangkong keluar tadi, aku sudah berbicara panjang lebar tentang dirimu
dengan paman Yibun-mu. Kekasih diculik, ayah mati dengan cara yang mengenaskan,
semuanya aku sudah tahu. Mendengar nada bicara paman Yibun dan Cian Locianpwe, di
depan mata para pendekar sedang berkumpul dan di Lok Yang akan diadakan pertemuan
besar yang mana akan dipilih seorang Bengcu. Mereka mengharapkan agar kau berusaha
sekuat tenaga merebut kedudukan Bengcu tersebut. Kecuali dendam pribadi, sekarang
Tan Siangkong ditambahi sebuah beban yang lain. Semuanya belum tentu dapat
terselesaikan sekaligus. Apabila merebut kedudukan Bengcu saja sudah merupakan hal
yang sulit, apalagi mem-bicarakan soal balas dendam segala macam.”
Tan Ki tertawa dingin.
“Lalu, kalau menurut pendapatmu, apa yang harus aku lakukan?”
Cin Ying merenung sejenak.
“Aku tahu dalam hati Siangkong sudah ada tambatan hati, yakni seorang gadis yang
cantik rupawan. Sedangkan rupa adik Ie-ku ini, tentu sulit mendapat tempat di hatimu.
Tetapi entah mengapa, sejak melihat Siangkong, dia langsung jatuh hati…”
“Perasaan simpati atau tertarik antara pria dan wanita harus terungkap dari kedua
pihak. Kalau dia sendiri yang terpikat kepadaku, apa urusannya dengan diriku ini?” nada
bicaranya sungguh dingin.
Perlahan-lahan Cin Ying menarik nafas panjang. Biar bagaimana dinginnya sikap Tan Ki
terhadap dirinya, dia tetap tidak perduli.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sekarang ini aku tidak ada keinginan apa-apa. Hanya berharap gadis pujaan
Siangkong itu berhati lapang dan bersedia membagi rasa dengan menyisakan sedikit sudut
hati Siangkong untuk ditempati adik Ie-ku ini. Dengan demikian aku sudah merasa
berterima kasih sekali.”
“Ucapan Nona benar-benar membuat orang terkejut. Namun sayang sekali aku tidak
dapat mengabulkannya.”
Cin Ying dapat mendengar nada suaranya yang tajam dan tegas. Dia menolak secara
terang-terangan. Tiba-tiba hatinya terasa perih. Air matanya mengalir dengan deras.
Akhirnya dia tertawa sumbang dan berusaha untuk tidak berputus asa.
“Tan Siangkong adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, tidak dapat disalahkan
apabila memandang rendah adikku. Tetapi apakah kau pernah membayangkan,
apabila adik Ie-ku tidak mendapat perhatianmu sedikit saja, mungkin dari bodoh dia malah
menjadi gila. Atau, mungkin dia bisa bunuh diri…” ucapannya belum selesai, dua baris air
mata sudah mengalir kembali membasahi pipinya…
Ucapannya barusan benar-benar mengenai tepat penyakit jiwa Tan Ki. Dia teringat
dirinya sendiri juga menjadi kalap bahkan hampir gila karena mengetahui Mei Ling diculik
orang. Tanpa dapat ditahan lagi hatinya tercekat, tubuhnya menggigil, bulu kuduknya
seakan meremang semua. Nada bicaranya yang dingin dan ketus langsung menyurut jauh.
“Meskipun Nona sudah menjelaskan semuanya, namun aku juga tidak bisa mengatakan
apa-apa. Lagipula pikiranku sekarang ini sedang kalut bukan main…”
“Apabila Siangkong bersedia mengabulkan permintaanku ini. Tidak perduli adik Ie-ku
hanya diangkat sebagai selir, aku juga sudah merasa puas. Tetapi, pembicaraan dimulai
dari awal lagi. Apabila kelak Tan Siangkong menghadiri pertemuan besar para enghiong
untuk merebut kedudukan Bengcu, kami kakak beradik akan berusaha sekuat tenaga
sampai kau berhasil!”
Tan Ki menggelengkan kepalanya.
“Pernikahan adalah persoalan yang menyangkut kebahagiaan seumur hidup. Mana
boleh sembarangan disepakati. Meskipun Nona membantu aku mencari pembunuh asli
ayahku, aku juga sulit mengabulkan permintaanmu.”
“Benarkah keputusanmu sudah demikian bulat?”
“Ini toh merupakan hal yang mustahil, mana mungkin disepakati?” tiba-tiba hati Tan Ki
juga jadi panik. Setelah mengucapkan kata-katanya, dia menghentakkan kaki ke atas
tanah dan menarik nafas panjang.
Hati Cin Ying semakin perih. Air matanya mengalir dengan deras. Biar bagaimanapun,
dia adalah putri mantan Bengcu dari Samudera luar. Coba bayangkan saja sampai di mana
kewibawaannya sehari-hari. Perbuatannya
memohon seseorang seperti sekarang ini, merupakan hal yang pertama kalinya dia
lakukan. Kalau menurut adatnya kemarin-kemarin, tentu dia sudah menghentakkan
kakinya dan pergi meninggalkan tempat itu. Namun, dia berpikir kembali. Tanpabsadar dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membayangkan kembali nasib malang adik Ie-nya. Mungkin karena masalah ini, dia akan
menjadi gila atau bunuh diri…”
Semacam firasat yang buruk langsung memenuhi hatinya. Di benaknya terlintas berbagai
masalah yang menyayat hati, tanpa terasa tubuhnya gemetar. Dia menggertakkan
giginya erat-erat, berusaha menekan keperihan hatinya dalam-dalam.
“Aku bisa membantumu menemukan kembali kekasihmu yang diculik. Malah setelah
kau berhasil menjabat kedudukan Bengcu, aku akan memberikan laporan palsu pada para
tokoh di Samudera luas agar mereka menjadi was-was dan bingung…”
Cin Ying adalah putri seorang tokoh dari Samudera luas. Dengan ucapannya barusan,
dapat dibuktikan bahwa dia sudah berani mengkhianati perguruan, para sahabatnya.
Akibat yang mengerikan tidak sulit dibayangkan. Lagipula, penyerbuan yang akan
dilakukan oleh pi-hak Samudera luar kali ini juga sudah menyiapkan diri dengan matang
rencana yang akan dilakukan sangat dirahasiakan. Apabila dirinya ketahuan sebagai matamata,
dia sendiri pasti harus mengorbankan jiwanya.
Mendengar ucapannya, tanpa terasa Tan Ki melirik ke arah Cin Ie sekilas. Dia melihat
wajah gadis itu penuh dengan bintik-bintik hitam. Saat itu Cin Ie sedang menatap
kepadanya lekat-lekat bagai orang yang terpesona. Tampangnya ketolol-tololan. Bibirnya
tersenyum simpul. Bagi Tan Ki gadis itu benar-benar jelek sekali. Segulung perasaan muak
segera timbul dalam hatinya. Tampak dia menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Nona tidak perlu membuat lidah sendiri jadi ngilu. Biar apapun yang kau katakan,
Cayhe tetap tidak dapat meluluskan permintaanmu. Kalau begini terus, malah menambah
penderitaan…” ucapannya masih belum selesai, tiba-tiba…
Cin Ying menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Tan Ki!
Gerakan yang tidak diduga-duga ini, benar-benar mengejutkan hati Tan Ki. Mimpi pun
dia tidak pernah membayangkan bahwa seorang gadis yang demikian cantik rela berlutut
di hadapannya demi keinginan hati adiknya.
Begitu matanya memandang, terlihatlah wajahnya yang sayu dan basah oleh air mata.
Bagai sekuntum melati yang didera hujan deras sehingga membuat perasaan orang
menjadi iba. Hatipun tergerak…
Untuk sesaat, Tan Ki jadi kalang kabut tanpa tahu apa yang harus dilakukannya. Angin
gunung bertiup sepoi-sepoi. Peristiwa ini benar-benar menyentuh hati orang yang
melihatnya…
Justru ketika hati Tan Ki dilanda kebimbangan, telinganya menangkap suara Cin Ying
yang lirih seolah ratapan, “Siangkong, setelah aku melakukan hal ini, apakah hatimu masih
demikian keji dan tega?”
“Tan Ki jadi termangu-mangu. Dia merasa suara gadis itu bagai irama setan-setan gentayangan
yang menggetarkan hatinya.
BAGIAN XXV
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Angin masih berhembus semilir, rumput melambai-lambai. Pemandangan ini merupakan
pemandangan yang menyentuh hati. Suasananya begitu mencekam dan mengandung
kedukaan yang dalam.
Tampak Cin Ying masih berlutut tanpa bergeming sedikitpun. Biar bagaimanapun, dia
adalah putri mantan Bengcu dari Samudera luar. Baik asal-usul maupun kedudukannya
sangat terhormat. Tetapi demi urusan Cin Ie, dia rela menjatuhkan diri berlutut di depan
kaki orang lain, tentu saja hal ini benar-benar jauh di luar dugaan anak muda itu.
Melihat pemandangan ini, Tan Ki jadi tertegun beberapa saat. Sejak terjun ke dunia
Kangouw hingga sekarang, namanya sudah cukup terkenal. Dia juga sudah sering
menemui kejadian yang bagaimanapun bahayanya. Tetapi cara Cin Ying berlutut di
hadapannya tanpa memikirkan harga diri dan derajat sendiri, benar-benar merupakan hal
yang belum pernah didengar apalagi ditemuinya. Walaupun biasanya dia sangat cerdas
dan penuh akal, tetapi tak urung kali ini dia jadi terpana. Hatinya berdebar- debar dan
untuk sesaat dia kelabakan tanpa tahu apa yang harus dilakukannya.
Tiba-tiba Cin Ie berjalan menghampirinya.
Di wajahnya yang penuh bintik-bintik tersirat kedukaan yang dalam. Dia ikut
menjatuhkan diri berlutut di samping Cin Ying.
“Tan Kongcu, aku juga berlutut di samping Cici memohon padamu. Daripada susahsusah,
lebih baik kan mengambil saja aku sebagai istri.”
Tan Ki mendengus dingin satu kali. Dia menghentakkan kakinya ke atas tanah saking
kesalnya.
“Masalah pernikahan menyangkut kebahagiaan seumur hidup. Walaupun laki-laki boleh
saja mempunyai tiga istri empat selir, namun bukan berarti boleh asal comot secara
serampangan…”
Tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu hal, setelah berhenti sejenak, dia malah
menutup matanya dan tidak jadi meneruskan ucapannya lagi.
Beberapa saat kemudian, dia seakan melampiaskan kekesalan dalam hatinya.
Dihembuskannya nafas panjang-panjang.
“Seandainya aku jadi menikahimu, apakah kalian tetap akan melaksanakan ketiga
syarat tadi?”
“Betul.” sahut Cin Ying. “Ini…” Tan Ki menundukkan kepalanya sambil merenung.
Di dalam benaknya, sekejapan mata saja sudah terlintas berbagai kesulitan yang harus
dihadapinya!
Dendam kematian ayahnya…
Kekasih pujaan hatinya yang diculik orang…
Kedudukan Bulim Bengcu yang harus direbutnya…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hanya mengandalkan kekuatan kedua kakak beradik itu, apakah mungkin bisa membantunya
menemukan pembunuh ayahnya?
Apakah sanggup mengembalikan Mei Ling-nya? Bahkan mereka berjanji membantunya
merebut kedudukan Bulim Bengcu!
Tiga masalah yang bukan kepalang besarnya, apakah benar mereka mempunyai kemampuan
untuk melaksanakannya sampai berhasil?
Lalu kalau dia tidak mengabulkan permintaan mereka, akibatnya tentu sudah dapat
dibayangkan…
Pikirannya terus berputar, dia merasa otaknya seperti keruh. Dia tidak dapat memastikan
mana yang harus dipilihnya dari dua macam persoalan yang saling bertentangan itu.
Tiba-tiba, dia menggertakkan giginya.
“Baiklah, kalian berdirilah. Aku akan mengabulkannya…”
Meskipun mulutnya berbicara, namun tanpa sadar otaknya membayangkan Mei Ling.
Sejak pertama kali bertemu dengannya, penampilannya yang polos dan wajahnya yang
menyiratkan kesucian terus terukir di dalam hatinya. Dia merasa dirinya sudah, terpikat
dengan gadis itu. Sekarang ini karena didesak oleh keadaan, terpaksa dia melakukan hal
yang bertentangan dengan kehendak hatinya. Dia sudah mengabulkan permintaan kedua
gadis itu untuk mengambil Cin Ie sebagai selir. Seandainya kelak dia bertemu kembali
dengan Mei Ling, apa yang akan terjadi? Pikirannya terus bergerak. Setelah merenung
beberapa saat, tiba-tiba dia menarik napas panjang. Wajahnya terus berubah-ubah.
Kadangkala tampak bimbang, kadang tampak murung. Tampaknya dia masih belum bisa
menenangkan perasaannya.
Sementara itu, Cin Ie langsung melonjak bangun. Mulutnya menyunggingkan tertawa
lebar.
“Sejak sekarang aku adalah selirmu. Aku akan memasakkan nasi untukmu, mencuci
pakaian m u dan melakukan banyak hal lagi untukmu…”
Watak gadis ini masih kekanak-kanakan, namun jiwanya sangat terbuka. Pikirannya
sederhana. Di saat hatinya sedang senang, dia langsung menari-nari. Wajahnya memang
penuh dengan bintik-bintik hitam, namun penampilannya.tetap menyiratkan kewajaran
seorang gadis.
Dengan berurai air mata, Cin Ying berjalan menghampiri. Dia menggandeng lengan Cin
Ie dan memaksakan seulas senyuman.
“Hati Tan Kongcu sangat mulia. Dia juga seorang pemuda yang berbakat tinggi di dunia
Bulim. Kau harus melayani suami baik-baik. Sejak sekarang tidak boleh tertawa
sembarangan dan hanya ingat bermain saja.” katanya menasehati.
Hati Cin Ie mendadak menjadi perih, dua titik air mata jatuh membasahi pipinya.
Dengan terharu dia berkata, “Cici, kau benar-benar terlalu baik kepadaku. Sejak Ayah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pergi menjadi dewa (meninggal), kau memperlakukan aku seperti darah dagingmu sendiri.
Di saat dingin kau menyelimuti aku, kasih sayangmu semakin hari semakin bertambah.
Aku tidak tahu kemuliaan apa yang aku lakukan di masa lalu, sehingga hidup yang
sekarang ini bisa mendapatkan seorang Cici sepertimu.”
Cin Ying mendengar ucapannya yang puitis, dia sendiri ikut terharu. Hatinya pilu tanpa
dapat dipertahankan lagi. Air matanya juga mengalir bagai curahan hujan. Seandainya
tempo dulu dia tidak kesalahan tangan sehingga otak adiknya ini tergetar dan
mengakibatkan keterlambatan mental serta pikirannya kurang cerdas, tentu seumur hidup
ini dia tidak akan dilanda penyesalan yang terus menerus dan menganggap dirinya
mempunyai hutang yang tidak dapat dilunasi sampai kapanpun.
Akhirnya dia memaksakan seulas senyum yang penuh duka cita.
“Diantara kakak beradik, sudah seharusnya tolong menolong. Mengapa bicara hal yang
bodoh?” matanya yang indah segera beredar, dia melihat Tan Ki sudah berjalan terlebih
dahulu. Dia segera mengubah pokok pembicaraannya. “Kita juga sudah harus pulang. Im
Ka Tojin dan Lu Sam Nio menunggu kita di penginapan Lai An. Kita harus menyelidiki jejak
Mei Ling dari mulut mereka, kemudian baru mencari akal untuk menyelamatkannya.”
Cin Ie mengiakan dalam-dalam, tubuhnya berkelebat mengejar Tan Ki. Tadinya dia
bermaksud mengutarakan sedikit isi hati kepada Tan Ki, dengan harapan akan mendapat
sedikit perhatian dari anak muda itu. Tetapi ketika dia sudah dekat dengannya, mulutnya
malah terasa kaku dan tidak tahu apa yang harus dikatakan olehnya. Sepasang alisnya
terjungkit ke atas dan akhirnya malah membungkam seribu bahasa.
Tiga orang berjalan perlahan-lahan. Dalam hati mereka digelayuti pikiran yang
berbeda-beda. Dari awal sampai akhir tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun.
Bahkan sampai di penginapan Lai An, paling tidak mereka sudah menempuh perjalanan
sejauh empat li. Namun mereka sama sekali tidak terlibat dalam pembicaraan.
Tepat ketika melangkah masuk ke dalam penginapan itu, tiba-tiba Cin Ying memanggil
Tan Ki.
“Biar kami saja yang menyelidiki dulu jejak Liu Kouwnio, setelah itu baru bertemu
kembali denganmu.”
Tan Ki menganggukkan kepalanya.
“Baiklah.” sembari berkata, dia langsung berpisah dengan kakak beradik, kemudian
kembali ke kamar sendiri.
Begitu matanya memandang, dia melihat si pengemis sakti Cian Cong sedang berbaring
di atas tempat tidur dan mendengkur. Serangkum bau arak yang tajam terendus dari
hidungnya yang kembang kempis. Yibun Siu San dan Ceng Lam Hong entah pergi ke
mana. keduanya tidak terlihat di dalam kamar.
Dalam beberapa hari ini, keadaan Tan Ki selalu kacau pikirannya dan kemudian tidak
sadarkan diri. Sampai saat sekarang ini dia tidak tahu bahwa ibunya sering mendampingi.
Cian Cong seakan tersentak bangun oleh langkah kaki Tan Ki yang ringan. Matanya
terbuka sedikit. Dia melirik Tan Ki sekilas, kemudian dengan acuh tak acuh dia
membalikkan tubuhnya dan memejamkan mata kembali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki sendirian termangu-mangu di dalam kamar. Kira-kira setengah kentungan telah
berlalu. Lama kelamaan dia merasa hatinya kalut, juga terasa iseng karena tidak ada yang
dapat dilakukan. Tanpa sadar tangannya membuka sebuah laci dan mengeluarkan sebuah
kitab yang ada di dalamnya.
Dia membuka satu per satu halaman dari buku tersebut. Buku ini sangat tipis. Isinya
paling-paling dua belas lembar. Bahan kertasnya juga istimewa, mungkin inilah yang
membuatnya berharga. Di depan sampulnya terdapat lima huruf yang ditulis dengan tinta
emas. Rupanya sebuah kitab doa-doa agama Budha.
Setelah melihat beberapa kali, akhirnya dia tersenyum sendiri.
‘Selagi iseng begini, membaca kitab berisi doa-doa seperti ini tidak juga masuk otak,
apalagi isinya mengandung makna yang dalam. Artinya saja tidak dapat dipahami, jadi
buat apa aku membacanya?’
Dengan sikap enggan dia melemparkan kitab tadi ke atas meja.
Perlu diketahui bahwa ilmu silatnya sekarang ini bila digabung dengan pengetahuan
serta pengalaman yang luas, boleh dibilang sudah termasuk jago kelas satu di dunia
Kangouw. Selama beberapa hari ini dia mendapat pengarahan pula dari Cian Cong serta
Yibun Siu San. Mereka mengajarkan ilmu lwekang dan cara mengatur pernafasan yang
benar. Dirinya bagai hancuran kerikil yang ditempa menjadi sebuah bukit. Laksana sebuah
kotak berisi benda pusaka yang bara ditemukan kuncinya sehingga menemukan harta
benda yang tak ternilai. Tadinya banyak bagian jurus dan gerakan yang tidak
dimengertinya, satu per satu telah berhasil dipecahkan saat ini. Namun rasa bingung serta
iseng seperti sekarang ini, seharusnya tidak dimiliki oleh seseorang yang berilmu tinggi.
Diam-diam dia mengedarkan pandangan nya dan melihat dekorasi yang ada di dalam
kamar. Gerakannya ini hanya merupakan refleksi orang yang kekurangan pekerjaan, dari
pada bengong. Mungkin pemilik penginapan ini percaya sekali dengan agama Budha.
Gambar serta lukisan yang tergantung sebagai hiasan ruangan merupakan gambar diri
Dewi Kuan Im, Dewa Lo Han serta Dewa Kwan Kong. Ada lagi beberapa lukisan yang
bergambar hwesio dan kebanyakan dilukis oleh orang yang terkenal.
Tan Ki hanya memperhatikan sejenak. Dia merasa benda-benda ini sama sekali tidak
menarik. Ketika dia membalikkan tubuhnya, tiba-tiba sinar matanya terpaku pada sebuah
lukisan. Begitu dia memperhatikan dengan seksama, dia melihat bahwa lukisan ini tidak
banyak bedanya dengan lukisan umum. Goresan gambarnya menggunakan pit namun
gayanya sangat indah. Setiap garisnya terlihat nyata. Di dalam lukisan itu tampak,
sebatang pohon Yang Liu yang besar. Di bawahnya berdiri seorang laki-laki tegap dengan
wajah bersih dan gagah. Dia sedang menggapai tangannya, seolah memancing perhatian
ikan lele emas yang ada di kolam yang terdapat di hadapannya.
Sebetulnya lukisan itu tidak ada keistimewaan apa-apa. Tetapi gerakan tangan laki-laki
itu, begitu terpandang olehnya serasa tidak asing. Dia seperti pernah melihatnya namun
untuk sesaat dia lupa di mana. Tetapi dia yakin gerakan itu terpatri di benaknya. Dia
berusaha merenung beberapa saat, namun otaknya hanya membentuk bayangan yang
samar-samar dan ingatan itu tetap tidak datang juga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada dasarnya watak Tan Ki sangat keras kepala. Sesuatu hal yang semakin tidak
diingatnya, malah membuat anak muda itu semakin penasaran. Oleh karena itu dia segera
memejamkan matanya dan berusaha memusatkan pikirannya.
Hampir setengah kentungan lamanya dia memejamkan mata merenungkan gerakan itu.
Tiba-tiba matanya membuka dan matanya menyorotkan sinar yang berkilauan. Wajahnya
berseri-seri. Tampangnya bersemangat sekali.
Rupanya ketika pertama kali dia masuk ke dalam Pek Hun Ceng dan bertarung
melawan ketiga puluh enam jenderal langit asuhan Oey Kang, pernah dalam keadaan
terdesak di benaknya terlintas suatu ingatan. Saat itu ilmu Te Sa Jit-sut yang tidak
dipahaminya, tiba-tiba dapat dikerahkan, meskipun akhirnya dia terkena sebuah pukulan.
Justru di saat itulah kelima jurus yang lainnya langsung terlupa lagi. Namun, biar
bagaimanapun Tan Ki sudah mempunyai kesan yang dalam. Oleh karena itu, begitu
melihat gerakan tangan laki-laki di dalam lukisan tersebut, dia merasa tidak asing.
Ilhamnya datang secara mendadak, satu demi satu gerakan Te Sa Jit-sut mengalir keluar
dari pikirannya.
Penghasilan yang tidak terduga-duga ini, melebihi segalanya. Bahkan tidak ternilai
dengan harta benda. Bagaimana dia tidak jadi bersemangat dan wajahnya menyiratkan
ke-gembiraan yang tidak kepalang besarnya?
Tan Ki bahkan masih merasa takut kalau ilham ilmu ini datangnya cepat menghilangnya
pun cepat. Ditekannya perasaan hatinya yang menggebu-gebu, perlahan-lahan dia
memejamkan matanya dan mengingat sekali lagi. Dari jurus pertama sampai ketujuh
direnung-kannya baik-baik. Akhirnya semua dapat dihapal luar kepala.
Entah sejak kapan, tahu-tahu terdengar suara Yibun Siu San yang berat sedang tertawa
kecil.
“Anak Ki, urusan apa yang membuat kau berpikir sedemikian rupa?”
Rupanya Tan Ki sedang dilanda puncak kegairahan dan kegembiraan karena berhasil
mengingat kembali ilmu Te Sa Jit-sut. Dia sama sekali tidak menyadari kapan pamannya
masuk ke kamar tersebut. Mendengar suaranya, dia baru terkejut setengah mati. Cepatcepat
dia menolehkan kepalanya dan menjawab dengan ragu, “Tidak ada apa-apa.”
Tiba-tiba si pengemis sakti Cian Cong tertawa terbahak-bahak. Dia langsung melonjak
turun dari tempat tidur.
“Meskipun si pengemis tua sedang tidur, tapi mata ini tetap terang. Sepasang alis si
bocah cilik ini terus berkerut, tampaknya sedang merenungi suatu masalah yang berat.
Kalau bukan meresahkan kekasihnya yang sampai sekarang masih belum diketahui
jejaknya, pasti ada sangkutannya dengan pelajaran ilmu silat yang tidak dipahaminya.”
tukas orangtua itu.
Yibun Siu San hanya mengeluarkan suara ‘oh…’ satu kali namun tidak mendesak lebih
lanjut. Dia malah menganggukkan kepalanya dua kali kepada Cian Cong.
“Urusan itu sudah diselesaikan dengan baik. Untuk sementara ini mereka tidak akan
bertemu satu sama lainnya, sehingga pikirannya tidak akan terganggu yang mana akan
merusakkan berbagai persoalan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki tidak tahu urusan apa yang dimaksudkannya. Mendengar kata- kata paman ketiganya,
dia menjadi termangu-mangu.
Sebetulnya, ketika dia keluar dari kamar, Yibun Siu San dan Cian Cong yang tahu
bahwa dalam hati anak muda itu terdapat kesalah pahaman yang dalam terhadap ibunya
sendiri. Mereka bersepakat untuk mencari jalan yang baik agar Tan Ki dapat memahami
duduk perkara yang sebenarnya. Anak muda itu tidak tahu siapa pembunuh ayahnya yang
sebenarnya. Kehadiran Ceng Lam Hong yang tiba-tiba itu mungkin akan menimbulkan
masalah yang besar dan memperdalam kesalahpahaman yang memang sudah ada. Oleh
karena itu, Yibun Siu San dan Cian Cong berunding beberapa saat yang mana akhirnya
diputuskan agar mengungsikan Ceng Lam Hong untuk sementara. Kemudian mereka akan
mencari kesempatan menjelaskan dengan terperinci kesalahan tanggapan Tan Ki terhadap
ibunya sendiri.
Cian Cong tersenyum simpul mendengar laporan Yibun Siu San..Dia juga tidak menanyakan
lebih lanjut. Tangannya mengelus-elus perutnya sendiri.
“Hari sudah hampir gelap. Cepat panggil pelayan, sediakan hidangan yang lezat serta
arak yang bagus.” katanya kemudian.
Yibun Siu San keluar dari kamar sambil
tertawa lebar. Dia segera memanggil pelayan dan meminta berbagai pesanan.
Malam itu juga, Yibun Siu San dan Cian Cong secara bergantian mengajari lagi ilmu
lwekang kepada Tan Ki. Sampai kentungan kedua berbunyi. Tan Ki pulang ke kamarnya
sendiri dengan tubuh yang letih serta penat. Tanpa mengganti pakaian lagi dia langsung
menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
Baru saja dia merasa mengantuk, tiba-tiba telinganya mendengar suara sedikit gerakan.
Tampaknya seperti batu kecil yang dilemparkan ke arah jendela kamarnya. Suara itu
memang lirih sekali, hampir mirip dengan kibaran lengan baju seseorang. Namun pada
malam sunyi seperti itu, sedikit suarapun dapat terdengar jelas, apalagi bagi seorang yang
memiliki ilmu silat tinggi. Hati Tan Ki tercekat, tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung
melompat turun dari tempat tidurnya. Dia segera menghimpun tenaga dalamnya dan
bersiap siaga untuk menghadapi musuh.
Begitu matanya memandang, dia melihat di luar jendela melongok kepala seseorang. Di
bawah cahaya rembulan tampak rambutnya yang panjang terurai, wajahnya penuh
dengan bintik-bintik hitam. Rupanya si gadis bodoh,
Cin Ie. Hatinya tergerak, baru saja dia ingin mengucapkan sesuatu, tiba-tiba Cin Ie
memberi isyarat dengan telunjuknya yang diluruskan di depan bibir, kemudian tangannya
menggapai-gapai. Setelah itu, tanpa menunggu jawaban dari Tan Ki, dia langsung
mengge-rakkan tubuhnya dan melesat keluar kemudian menghilang dari pandangan.
Tan Ki tahu dia tidak ingin mengejutkan Yibun Siu San dan Cian Cong yang tidur di
kamar sebelah. Setelah merenung sejenak, akhirnya dia juga ikut melesat keluar dari kamarnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu matanya beredar, Cin Ie sudah berdiri di atas tembok pekarangan dan menggapaikan
tangannya sekali lagi. Angin malam berhembus sepoi-sepoi. Pakaian gadis itu
sampai berkibar-kibar dibuatnya. Di lihat dari kejauhan, meskipun tidak terlalu jelas,
bentuk tubuhnya yang langsing dan lemah gemulai malah menampilkan kesan yang
anggun.
Hati Tan Ki tergerak melihatnya. Tiba-tiba dia merasa biar pun wajah seorang gadis ada
yang cantik jelita bahkan menurut cerita dapat meruntuhkan sebuah negara, namun orang
tidak mungkin muda selamanya. Pada
hakekatnya hanya kulit luar yang membungkus tulang belulang. Kecantikan hanya
dapat dinikmati tidak seberapa lama dan kalau sudah mati semuanya tetap kembali
menjadi tanah.
Pikiran ini melintas di benaknya. Karena hal ini pula maka pandangannya terhadap Cin
Ie jauh berbeda. Dalam hatinya timbul perasaan kasihan dan dia bersumpah dalam
hatinya untuk tidak memandang hina gadis itu lagi.
Dia segera menghentakkan kakinya dan seringan kapas tubuhnya melesat lalu sampai
di atas tembok.
Cin Ie tidak menunggu sampai anak muda itu mengajukan pertanyaan. Dia langsung
berkata, “Ada sebuah pertunjukkan yang hampir dimulai. Apakah kau mau pergi
melihatnya?”
Tan Ki jadi tertegun. Dengan pandangan tidak mengerti, dia bertanya, “Pertunjukkan
“Pada kentungan ketiga malam ini, banyak orang-orang Si Yu (pada zaman dinasti Han,
di perbatasan pintu gerbang Giok Bun ada gerombolan asing yang menetap di sana dan
mereka menyebut wilayah mereka sebagai Si Yu berkumpul di sebuah kuil tua sebelah
Utara kota. Mereka mengadakan pertemuan di sana.” sahut Cin Ie.
Hati Tan Ki tercekat mendengarnya. Dengan perasaan terkejut dia bertanya, “Benar?
Apakah kakakmu juga hadir di sana?”
Cin Ie menganggukkan kepalanya berkali-kali.
“Sejak kecil aku memang sangat bodoh, urusan apapun aku tidak mengerti. Berita ini
didapatkan Cici Ying tanpa sengaja, dia menyuruh aku memberitahukan kepadamu…”
Tan Ki berpikir sejenak, kemudian kepalanya menoleh ke kiri dan kanan. Setelah yakin
tidak ada orang yang melihat mereka, baru dia menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, mari kita pergi!”
Tubuhnya langsung bergerak mencelat ke depan, dia mendahului Cin Ie berlari duluan.
Ilmu silatnya sekarang ini sudah jauh berbeda dengan sebelumnya. Begitu dia
mengerahkan ilmu ginkangnya, orangnya bagai segulungan angin yang berhembus lewat.
Begitu mencelat ke atas dan turun kembali, tubuhnya sudah berada pada jarak kurang
lebih dua depaan jauhnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cin Ie berusaha mengejar, namun biar bagaimanapun dia mengerahkan ilmu ginkangnya,
tetap saja Tan Ki tidak tersusul olehnya. Kadang-kadang malah saking lambatnya,
anak muda itu harus berhenti dulu menunggunya.
Kurang lebih sepeminum teh kemudian, kedua orang itu sudah meninggalkan pusat
kota. Sesampai di luar kota tersebut, tampak rembulan bercahaya terang, sinarnya
berkilauan laksana perak. Dahan-dahan yang kering dan daun-daun berguguran di atas
tanah. Meski berjarak sepuluh depaan pun orang tetap dapat melihat keindahan malam di
musim semi ini. Diam-diam Tan Ki mengerutkan sepasang alisnya.
‘Orang yang berjalan di malam hari, biasanya menghindari bulan mengikuti angin.
Menghindari salju mengikuti awan. Kalau dengan cara terang-terangan begini, bagaimana
mungkin dapat menyelidiki apa-apa tanpa diketahui jejaknya oleh orang lain?’ pikirnya
dalam hati.
Tanpa sadar dia jadi meringankan langkah kakinya. Cin Ie mendongakkan wajahnya
memandang anak muda itu sekilas.
“Kenapa kau?” tanyanya heran.
Tan Ki tidak ingin pikirannya diketahui oleh gadis itu. Dia sengaja mengalihkannya ke
masalah yang lain.
“Urusan Liu Kouwnio, apakah kalian sudah mendapatkan hasilnya?”
“Jejaknya sudah diketahui, sementara ini hanya menunggu kesempatan yang baik, kemudian
segera turun tangan menyelamatkannya.”
Tan Ki hanya menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba langkah kakinya menarik jarak yang
agak panjang dan melesat ke depan. Tadinya dia masih ingin mengajukan beberapa
pertanyaan, umpamanya di mana tempat Mei Ling disekap oleh para penculiknya. Tetapi
setelah direnungkan sesaat, dia merasa Cin Ie dan kakaknya toh kenal baik dengan Im Ka
Tojin, lebih baik biar mereka yang urus saja masalah ini. Dengan demikian dirinya juga
tidak perlu bersusah payah. Oleh karena itu, setelah mengajukan satu pertanyaan, dia
juga tidak berkata apa-apa lagi.
Cin Ie mengejar ke depan dua langkah, sekejap saja dia sudah sampai di belakang Tan
Ki.
“Menurut apa yang kudengar dari Cici, katanya Liu Kouwnio itu adalah putri dari Bu Ti
Sin-kiam Liu Seng. Apabila orangnya sudah tertolong, apakah harus diantarkan ke kota
Lok Yang?”
“Apakah Cirimu bermaksud melindunginya sampai di rumah?”
“Betul. Ciri memang bermaksud demikian.”
“Baiklah, antar saja dia pulang dulu ke rumah. Toh, nantinya aku juga harus ke sana
menghadiri pertemuan besar Bulim Tay Hwe.” setelah berhenti sejenak, dia mengalihkan
po-kok pembicaraan. “Lalu, apa yang akan kau lakukan sejak sekarang?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cin Ie tertawa santai.
“Aku kan sudah menjadi orangmu. Ke mana pun kau pergi, tentu saja aku juga harus
ikut.”
Sembari berbicara, dari dalam lengan bajunya dia mengeluarkan seekor merpati putih.
Dilepasnya merpati itu terbang ke udara. Tampak sepasang sayap burung itu berkepak-kepak
lalu terbang tinggi ke angkasa dengan kecepatan yang mengagumkan. Laksana
guratan berwarna perak yang menggantung di angkasa, semakin lama semakin jauh dan
dalam sekejap mata sudah menghilang dari pandangan.
Tan Ki memandangnya dengan curiga. “Untuk apa kau melakukan hal ini?” Cin Ie
tertawa lebar.
“Di bawah kaki binatang ini terdapat sebuah tabung kecil yang berisi surat. Aku memberitahukan
kepada Ciri, apabila dia sudah berhasil menolong Liu Kouwnio, maka biar dia
melindungi gadis itu sampai di rumah.”
Sementara keduanya bercakap-cakap, sebentar saja mereka sudah mencapai jarak
tujuh li. Sinar rembulan bercahaya dengan terang, dua sosok tubuh itu bagai bintang
komet jatuh yang melesat dengan cepat.
Begitu mata memandang, tidak jauh dari hadapan mereka terdapat sebuah bukit yang
cukup luas. Ternyata di sana memang ada sebuah kuil. Warna temboknya merah menyala,
atapnya berwarna hijau. Bangunan itu sendiri terlindung di balik sebatang pohon yang
besar dengan dedaunan yang rimbun.
Suatu ingatan terlintas di benak Tan Ki, baru saja dia bermaksud mengatakannya, tibatiba
telinganya menangkap suara tawa yang lirih. Suara tawa ini berasal dari pepohonan di
sebelah kiri. Meskipun suaranya sangat rendah sekali namun bagai jarum yang menusuk
gendang telinga dan menggetarkan hati orang yang mendengarnya jadi tidak tenang.
Perlahan-lahan Tan Ki jadi tertegun. Dia segera menghentikan langkah kakinya dan
pandangan matanya beredar. Dia melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi besar,
tangannya menggenggam sebilah golok besar dan berjalan dengan tergesa-gesa keluar
dari belakang sebatang pohon.
Tan Ki bermaksud menyelidiki keadaan orang. Tidak disangka-sangka belum sampai di
tujuan, jejaknya sudah diketahui oleh orang lain. Melihat gerakan tubuh laki-laki tinggi
besar itu yang gagah dan cepat, dapat dipastikan ilmu silat orang ini lumayan juga.
Hatinya menjadi tergerak. Dia menoleh ke arah Cin Ie.
“Apakah kau ingin bermain-main?”
Watak Cin Ie memang paling suka bermain. Mendengar kata-kata Tan Ki, wajahnya jadi
berseri-seri seketika.
“Tentu saja ingin.” sahutnya segera.
“Kalau begitu sebentar lagi kita menerjang masuk ke dalam kuil dan membuat keonaran
di sana.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada saat itu, laki-laki bertubuh tinggi besar itu sudah menghambur ke depannya. Tan
Ki sengaja memamerkan seulas senyuman dan menjura dalam-dalam.
“Silahkan.” katanya.
Padahal laki-laki bertubuh tinggi besar itu bertugas mengawasi keadaan di luar kuil
secara diam-diam. Melihat sikap Tan Ki yang lembut dan penuh sopan santun, tanpa dapat
ditahan lagi dia jadi termangu-mangu. Dengan gugup dia juga menjura kepada Tan Ki.
“Entah siapa Saudara yang mulia?”
Tan Ki tersenyum simpul.
“Selamanya Cayhe datang dan pergi sesuka hati sendiri. Bertemu belum tentu harus
saling mengenal, buat apa menanyakan nama segala?”
Wajah laki-laki tegap itu langsung berubah kelam.
“Tidak memberitahukan nama, jangan harap maju ke depan satu langkah!”
Tan Ki memang sudah berniat untuk mengacau dan mencari gara-gara. Melihat orang
itu mulai marah, hatinya malah bertambah senang. Dia segera mengembangkan seulas
senyuman datar dan maju beberapa langkah.
“Cayhe selamanya tidak percaya ancaman orang lain!”
Laki-laki tegap itu memutar goloknya dengan kencang sehingga menimbulkan cahaya
berwarna keperakan.
“Mengapa kau tidak mencobanya saja?”
Menghadapi cahaya yang memijar dari gerakan golok itu, memang ada serangkum
hawa dingin yang terpancar dari dalamnya.
Tapi Tan Ki seakan tidak merasa gentar sama sekali. Dia tetap maju selangkah demi
selangkah mendekati orang itu.
Watak laki-laki itu sangat berani dan juga termasuk manusia yang kasar. Namun
melihat ada orang yang demikian tenang menghadapi lawan, mau tidak mau hatinya jadi
bingung. Sesaat kemudian dia mengeluarkan suara siulan yang panjang seakan sedang
memberitahukan kepada para rekannya yang ada di dalam kuil. Setelah itu dia membentak
dengan suara keras.
“Kalau kau maju lagi satu langkah, jangan salahkan kalau aku tidak ingat sopan santun
lagi!”
Wajah Tan Ki tetap tersenyum simpul. Dia tidak melirik laki-laki itu sedikitpun. Kakinya
terus melangkah menuju ke arah kuil. Penampilannya, tidak tergesa-gesa, seakan tidak
ada apapun yang terjadi.
Hati laki-laki itu jadi panas. Dia tertawa dingin satu kali, diam-diam dikerahkannya
tenaga dalam sebanyak tujuh bagian. Pergelangan tangannya digetarkan. Timbul percikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berwarna perak seperti hujan yang membawa hawa dingin. Dengan gencar dia menyerang
ke arah Tan Ki.
Serangan itu keji sekali, sinar yang terpanccar dari goloknya beterbangan di udara
dalam bentuk besar kecil dan jumlahnya banyak sesali. Tan Ki mengeluarkan suara tawa
terkekeh-kekeh. Ternyata dia masih tetap tenang seakan tidak terjadi apapun. Telapak
tangan-nya terulur ke depan, segera terasa ada serangkum tenaga yang kuat mengiringi
pukulannya yang mana langsung membuat lawannya terdesak sehingga goloknya tidak
dapat maju lagi.
Laki-laki itu merasa golok di tangannya bagai tertahan suatu arus yang dahsyat bahkan
di dalamnya terkandung magnet yang dapat menghisap. Jangan kata mendorong lagi ke
depan, malah untuk digerakkan saja sulit.
Diam-diam hatinya tercekat. Kakinya bergeser ke samping, tangannya langsung
mengerahkan jurus Kerbau Mengamuk Menerjang Gunung, langsung diluncurkan ke dada
Tan Ki. Perlahan-lahan Tan Ki berdehem satu kali, tubuhnya miring ke samping, dengan
gaya yang lemas dia sudah meloloskan diri dari serangan tersebut.
Gerakan tubuhnya yang menerjang keluar tadi sangat aneh dan cepat. Ternyata
sekaligus dia berhasil meloloskan diri dari serangan pukulan dan golok lawan. Tampak
tubuhnya berputaran sebanyak dua kali. Orangnya sudah melesat lewat di samping lakilaki
itu.
Langkahnya bagai air yang mengalir. Tahu-tahu dia langsung menghambur ke arah
bukit. Gerakannya yang bagai hembusan angin, benar-benar mempesona. Cin Ie tidak
mau ke-tinggalan. Dengan gerakan yang cepat dia langsung membuntuti Tan Ki dan
sekejap ke-mudian dia sudah berlari di samping anak muda itu.
Laki-laki tegap itu sama sekali tidak menyangka gerakan tubuh Tan Ki akan meluncur
terus tanpa terduga-duga. Untuk sesaat dia jadi tertegun, namun Tan Ki sudah berada di
kejauhan, cepat-cepat dia membentak dan mengerahkan ginkangnya mengejar.
Di bawah cahaya rembulan, tampak tiga sosok bayangan. Yang dua kabur dan yang
satu mengejar. Kecepatannya bagai bintang komet yang melintas di angkasa. Tampak
jarak mereka dengan kuil itu tinggal beberapa depa saja. Tiba-tiba tampak sosok
bayangan mencelat ke udara dan dengan kecepatan yang mengagumkan mendarat turun
di hadapan mereka. Gerakannya begitu indah, ringan tanpa menimbulkan suara
sedikitpun.
Tan Ki segera mengempos hawa murninya dan menghentikan gerakan tubuhnya
seketika. Begitu matanya memandang, dia melihat usia keempat orang itu kurang lebih
empat puluh tahunan. Mereka mengenakan jubah panjang dan bertelanjang kaki. Dengan
ber-dampingan mereka berdiri menghadang di tengah-tengah.
Tampaknya keempat orang ini mempunyai perasaan hati yang sama. Sebelum lawan
mengadakan gerakan, mereka tidak akan mengambil tindakan apa-apa. Sejak sepasang
kaki mereka mendarat di atas tanah, semuanya berdiri tegak dengan wajah kelam.
Sepatah katapun tidak mereka ucapkan. Empat pasang mata memandangi Tan Ki dengan
sinar tajam menusuk.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki tersenyum lebar sambil membungkukkan tubuhnya menjura. Wajahnya tenang
dan penampilannya gagah.
“Saudara berempat, silahkan.”
Melihat Tan Ki terlebih dahulu memberi penghormatan serta mempersilahkan mereka,
keempat orang itu malah jadi terpana. Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang parau.
“Toako, cepat tahan orang itu!”
Begitu kepala Tan Ki menoleh, dia melihat laki-laki bertubuh tinggi besar yang
mengejar dari belakang itu sedang meloncat dua kali dan menerjang datang dengan
kecepatan seperti kilat. Tampak seluruh tubuh dan wajahnya basah oleh keringat.
Nafasnya bagai kerbau akan disembelih. Pengejarannya tadi seolah memakan tenaga yang
banyak dan membuatnya hampir kehabisan tenaga. Begitu tubuhnya melayang turun, dia
menuding ke arah Tan Ki dengan nafas tersengal-sengal. Tidak ada sepatah katapun yang
terucap dari mulutnya…
Tan Ki menatapnya sekilas. Dengan tampang penuh perhatian dia berkata, “Tampaknya
Saudara ini sudah terlalu lelah. Ada baiknya pulang dulu untuk beristirahat baru
kembali lagi.”
Laki-laki tegap itu seakan merasa bahwa ilmu silatnya sendiri memang kalah jauh
dibandingkan dengan lawan. Disindir sedemikian rupa, saking jengkelnya dia mendengus
satu kali. Tetapi dia tidak berani maju ke depan untuk mengambil tindakan. Terpaksa dia
menahan kemarahan hatinya dengan memalingkan wajahnya dan tidak ingin melihat Tan
Ki lagi.
Laki-laki yang berdiri di sebelah kiri mendadak menegakkan tubuhnya dan berjalan ke
depan. Dia menjura dalam-dalam.
“Dari mana datangnya kalian berdua dan kemana tujuannya? Lebih baik katakan secara
terus terang sehingga kami juga dapat memperlakukan kalian dengan sopan.” sembari
berkata, wajahnya mengembangkan senyuman yang aneh. Mulutnya mengeluarkan suara
ter-tawa terkekeh-kekeh sebanyak dua kali. Tan Ki tertawa lebar.
“Kedatangan Cayhe sebetulnya tidak bermaksud buruk. Hanya ingin mewakili dunia
Bulim wilayah Tionggoan dengan memberanikan diri menyambut kelompok Si Yu. Entah
sampai di mana kehebatannya sehingga berani mengadakan pertemuan di tempat ini!”
Mendengar ucapannya, kelima orang itu terkejut bukan main. Sama sekali tak disangka
anak muda yang lembut itu dapat mengetahui asal-usul mereka, padahal mereka
sendiri tidak tahu siapa adanya Tan Ki. Wajah mereka mulai berubah. Untuk sesaat
mereka saling pandang. Orang yang ada di sebelah kiri mengerlingkan matanya sekilas
kemudian menjura sambil mengeluarkan suara batuk kering. Kemudian dia tertawa
terkekeh-kekeh.
“Bagus sekali, bagus sekali! Kami beberapa saudara sedang menikmati indahnya
rembulan di tempat ini. Mungkin kehadiran kami mengejutkan Saudara, maaf!” selesai
berkata dia membungkukkan tubuhnya rendah-rendah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki merasa ada serangkum tenaga yang kuat mendorong keluar berbarengan
dengan tubuh orang itu yang membungkuk dan langsung menerjang ke arah dadanya.
Dengan wajah tetap tersenyum dia mengencangkan kepalan tangannya dan balas
menjura.
Terdengar suara benturan tenaga dalam yang perlahan. Tubuh keduanya bergetar
sedikit. Melihat serangannya tidak membawa hasil, orang itu langsung mendengus dingin.
“Ilmu Saudara hebat sekali.”
Tan Ki tersenyum simpul.
“Sama-sama.”
Dari malu orang itu malah menjadi marah. Wajahnya langsung berubah hebat.
“Kalau kalian masih ada teman seperjalanan yang lain, mengapa tidak disuruh keluar
sekalian? Biar kami belajar kenal dengan orang-orang gagah yang ada di Tionggoan!”
“Jumlah kami memang hanya berdua, sama sekali tidak ada rekan perjalanan yang
lain.”
Laki-laki setengah baya itu mengerutkan alisnya. Dia seperti bergumam seorang diri.
“Apakah mataku sudah lamur sehingga salah lihat?”
Mendengar kata-katanya, Tan Ki langsung menolehkan kepalanya dan mengedarkan
matanya ke sekitar tempat itu. Tampak bintang-bintang berkedip-kedip. Di sekelilingnya
tetap sunyi senyap tanpa orang lainnya kecuali mereka.
“Tidak perlu curiga yang bukan-bukan. Kalau aku bilang kami hanya berdua, kalian
tetap tidak percaya, apa boleh buat.”
Sembari berkata, dia mengibaskan tangan kanannya dan melangkah maju.
“Harap minggir, aku akan lewat!”
Tiba-tiba terdengar orang yang kedua di sebelah kiri mendengus dingin. Dia segera
maju setengah tindak. Kalau ditilik dari tampangnya, tampaknya orang itu segera akan
turun tangan.
Dengan menarik nafas dalam-dalam, mendadak Tan Ki mendekat ke arah orang itu.
Pergelangan tangannya berputar, dengan jurus Menuju Jalan Kembali, dia langsung
melancarkan sebuah totokan.
Jurus ini merupakan jurus keempat dan ilmu Te Sa Jit-sut yang baru berhasil
diingatnya. Sepasang lengannya melakukan gaya satu di atas dan satu lagi di bawah.
Dengan serentak dia mendorong ke depan, kecepatannya jangan ditanyakan lagi. Orang
itu tadinya sudah menyiapkan diri melakukan serangan, tahu-tahu totokan Tan Ki yang
tidak terduga-duga telah meluncur datang dan dengan telak mengena di bahunya. Tibatiba
dia merasa tubuhnya seperti digigit semut dan seluruh kekuatannya seperti hilang.
Perlahan-lahan dia terkulai di atas tanah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada saat yang bersamaan dengan totokan yang dilancarkan pada orang tersebut,
jurus Menuju Jalan Kembali belum rampung. Tangan kanan Tan Ki dengan kecepatan yang
dahsyat juga melancarkan sebuah totokan ke arah orang kedua yang ada di sebelah kiri.
Pihak lawan sama sekali tidak menduga dia akan melakukan serangan itu, dalam sekali
gerak telah mengincar dua orang. Untuk sesaat dia jadi termangu-mangu. Belum lagi
tubuhnya sempat bergerak, tahu-tahu urat darahnya telah tertotok. Setelah mendengus
satu kali, orangnyapun tumbang ke atas tanah,
Dalam sekali gerak saja Tan Ki sudah berhasil merobohkan dua orang. Dirinya sendiri
juga merasa hal itu diluar dugaan. Dia sama sekali tidak mengira kalau Te Sa Jit-sut
mempunyai kekuatan yang demikian hebat.
Tepat pada saat itu juga, orang yang ada di sebelah kanan mencelat ke atas.
Tangannya melancarkan sebuah pukulan dan terarah ke bagian kepala Tan Ki.
Angin yang timbul dari pukulan itu menderu-deru. Meskipun kekuatan serangan ini
belum sanggup menembus logam, namun kehebatannya sama sekali tidak boleh
dipandang ringan. Kekuatannya paling tidak puluhan kati.
Laki-laki tegap yang menggenggam golok dari tadi memang sudah menunggu
kesempatan. Melihat rekannya bergerak, dia segera mengeluarkan suara bentakan,
tubuhnya melesat ke depan. Goloknya menimbulkan cahaya yang memijar. Dengan lurus
dia melancarkan sebuah totokan dengan ujung golok ke arah urat darah yang
membahayakan.
Sepasang kaki Tan Ki menutul, tubuhnya langsung mencelat ke udara. Dia melintas di
atas semak-semak dan menghindar dari sayangan golok dan pukulan kedua orang itu.
Kedua orang itu melihat lawannya melesat ke udara, dengan cepat mereka mengejar.
Ti-dak menunggu sampai tubuh lawan melayang turun ke atas tanah, serentak mereka
melaku-kan serangan. Untuk sesaat tampak cahaya golok seperti salju yang turun,
bayangan telapak tangan memenuhi sekitar. Keduanya menyerang Tan Ki dari kiri kanan.
Tan Ki mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara siulan panjang. Suaranya
melengking tinggi sehingga berkumandang sampai kejauhan. Dia menarik nafas panjangpanjang
dan menambah daya berat badannya yang sedang meluncur sehingga terhindar
dari serangan golok si laki-laki tegap dan sekaligus meloloskan diri dari pukulan rekan
orang itu. Tubuhnya segera bergeser dan secepat kilat dia melancarkan telapak tangannya
menahan pukulan laki-laki setengah baya yang masih meluncur di tengah jalan.
Sejak Tan Ki turun tangan menghadapi lawan, mata Cin Ie terus memperhatikan tanpa
berkedip. Sejak semula dia sudah melihat bahwa ilmu silat calon suaminya sangat tinggi.
Dengan demikian dia tidak perlu memberikan bantuan sama sekali. Seorang diri saja
Tan Ki mampu menghadapi lawan. Oleh karena itu dia hanya berdiri di samping dan
menjadi penonton dengan bibir terus tersenyum simpul.
Watak gadis ini sebetulnya paling senang mencari keributan. Biasanya dia paling tidak
senang kesunyian. Di daerah asalnya setiap hari dia selalu mencari perkara dengan orang.
Baginya hal itu merupakan suatu permainan yang menarik. Entah mengapa, kali ini dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempunyai perasaan apabila dirinya ikut maju ke tengah arena, maka kegemilangan Tan
Ki akan berkurang. Mungkin juga karena kehilangan kesempatan mengunjukkan
kepandaiannya, Tan Ki malah akan menjadi marah. Sikapnya tiba-tiba saja jadi lembut dan
memperhatikan Tan Ki dengan hati bangga.
Sementara itu, ada seorang lagi yang terjun ke tengah arena pertarungan. Tan Ki
melawan tiga musuh dengan seorang diri. Keempat orang itu langsung terlibat perkelahian
yang sengit. Namun tidak terdengar sedikitpun suara benturan senjata tajam, juga sulit
mendengar suara pukulan yang dilancarkan. Tetapi setiap jurus yang mereka kerahkan
semuanya mengandung kekuatan yang dahsyat, serta keji. Bagian tubuh yang diincar pun
selalu bagian yang mematikan.
Dalam waktu yang singkat saja, keempat orang ini sudah bertarung sebanyak puluhan
jurus. Diam-diam Tan Ki terkesiap sekali.
‘Tidak disangka ilmu ketiga orang ini benar benar sulit dilawan. Kalau menunggu
sampai dua orang yang lainnya sadar kembali, lu mayan sulit juga bagiku untuk
menghadapi mereka. Tampaknya kalau keadaan begini terus, aku masih memerlukan
cukup banyak waktu baru dapat meraih kemenangan. Lebih baik aku rubuhkan dulu salah
satu dari mereka sehingga gabungan mereka bertiga jadi terpecah,’ pikirnya dalam hati.
Setelah merenung matang-matang, dia langsung mengambil keputusan. Terdengar dia
mengeluarkan suara batuk-batuk beberapa kali. Gerakan tangannya tiba-tiba berubah.
Tubuhnya miring dan berputar sebanyak dua kali, dihindarinya sebuah pukulan dan
sebuah tendangan dari arah kiri. Tiba-tiba. pergelangan tangannya melingkar dan secepat
kilat dia melancarkan delapan jurus berturut-turut.
Delapan jurus yang dimainkannya merupakan ilmu simpanan para leluhur Ti Ciang
Pang. Semuanya mengandung kekejian yang dahsyat. Kecepatannya bagai kilat yang
menyambar. Kedua orang yang ada di sebelah kiri itu terdesak sampai hatinya tercekat
sekali.
Tanpa dapat ditahan lagi kaki mereka mundur sejauh tiga langkah.
Begitu hawa pembunuhan mulai timbul dalam dadanya, Tan Ki sudah mengukur arah
dan sasaran yang akan ditujunya. Ketika kedua orang laki-laki setengah baya itu terdesak
mundur, tiba-tiba dia mengeluarkan suara bentakan yang nyaring…
“Hati-hati!”
Dengan tidak terduga-duga, tubuhnya mencelat ke udara, kemudian meluncur ke arah
laki-laki tegap yang membawa golok!
Tampaknya laki-laki itu sudah menduga Tan Ki akan mengambil tindakan ini. Wajahnya
serius sekali, sepasang matanya membuka lebar-lebar. Tampangnya menyiratkan
kekha-watiran yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya. Perlahan-lahan dia
mengangkat goloknya ke atas.
Untuk sesaat semua mata yang ada di tempat itu terpaku pada diri Tan Ki dan laki-laki
tegap tersebut. Mereka semua dapat melihat bahwa serangan kedua orang itu, samasama
menggunakan tenaga yang sepenuhnya. Kemungkinan apabila mereka bergebrak,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam waktu singkat dapat dilihat siapa yang lebih unggul dan siapa yang akan jadi
pecundang. Malah ada kemungkinan kedua-duanya akan terluka.
Tampak Tan Ki membawa telapak tangan yang menimbulkan puluhan bayangan
meluncur turun ke arah laki-laki tegap itu. Dia menggunakan jurus Kabut dan Awan
Menimbulkan Cahaya Keemasan yang merupakan jurus paling ampuh dari ilmu Te Sa Jitsut!
Serangkum kekuatan yang beratnya ribuan kati menekan dari atas ke bawah. Laki-laki
tegap itu perlahan-lahan mengangkat goloknya ke atas, mendadak gerakannya menjadi
cepat. Dia membuat lingkaran di bagian atas kepala sehingga timbul pijaran cahaya yang
bagai bunga merekah, menyambut datangnya serangan Tan Ki.
Saat yang menentukan…
Hati orang-orang yang ada di tempat itu bagai ditekan oleh beban yang berat. Wajah
mereka tampak khawatir. Tiba-tiba di tengah arena bagai timbul badai yang besar. Angin
menderu-deru, kekuatannya sampai terpancar ke sekitar. Tanah yang dipijak bergetar
sehingga debu-debu beterbangan. Suasana bagai angin topan yang melanda. Bahkan
cahaya rembulan yang bersinar menjadi samar-samar karena tertutup debu yang tebal..
Bayangan pukulan dan sinar yang timbul dari golok dalam seketika bertemu. Kemudian
dalam waktu yang bersamaan, bayangan pukulan dan sinar golok menjadi pudar lalu
lenyap.
Begitu mata memandang, tampak laki-laki tegap itu masih menggenggam goloknya di
tangan. Matanya memandang Tan Ki lekat lekat, tubuhnya tidak bergerak sedikitpun.
Kira-kira sepeminum teh kemudian, mendadak terdengar mulutnya mengeluarkan suara
teriakan yang keras. Dengan terhuyung-huyung, dia mundur tiga langkah. Kemudian jatuh
terduduk di atas tanah dan memuntahkan darah segar sebanyak dua kali.
Dua orang lainnya melihat tiga saudara mereka terluka di tangan Tan Ki, hati mereka
sedih bukan kepalang. Di dalamnya juga terselip rasa putus asa. Setelah mengeluarkan
suara bentakan, keduanya langsung menerjang ke arah Tan Ki dengan kalap.
Justru di saat kedua orang itu bergerak serentak, tampak sesosok bayangan bagai
bintang melesat berkelebat mendatangi. Serangkum tenaga dalam yang kuat terdorong
keluar seiring dengan merapatnya tubuh orang itu yang mendesak ke arah Tan Ki!
BAGIAN XXVI
Tan Ki membalikkan lengannya menyapu, timbul serangkum angin yang kuat sehingga
serangan kedua orang itu tertahan. Kemudian tubuhnya menggeser ke samping kira-kira
lima depa dan menghindar dari serangan yang menerpa dari depan.
Orang yang menerjang dengan tiba-tiba itu mempunyai gerakan yang cepat sekali.
Begitu serangannya gagal, jurus kedua langsung menyusul. Tampak bayangan tubuhnya
berkelebat, kembali terasa segulung kekuatan yang tidak berwujud dengan keji dan hebat
menghantam ke arah Tan Ki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki mengeluarkan suara bentakan. Bukan saja dirinya tidak mundur, malah dia
mendesak ke depan. Namun seiring dengan gerakan tubuhnya, kakinya juga menggeser
ke samping sejauh dua depa. Dia berhasil menghindarkan diri dari serangan orang itu dan
tanpa menunda waktu lagi dia melancarkan sebuah pukulan balasan.
Bayangan tubuh orang yang baru datang itu bukan saja cepat sekali, ilmu silatnya juga
sangat tinggi. Tampaknya jauh lebih tinggi daripada kelima orang tadi. Tatkala Tan Ki
melancarkan serangannya, kecepatannya tak usah ditanyakan lagi. Belum lagi kekuatan
yang terkandung di dalamnya. Bahkan seorang jago kelas satu di daerah Tionggoan saja
pasti tidak berani menganggap ringan, namun orang itu malah memperdengarkan suara
tertawa yang dingin sebanyak dua kali. Tiba-tiba dia membungkukkan tubuhnya kemudian
mencelat mundur sebanyak dua langkah. Selain berhasil menghindari serangan Tan Ki
yang gencar, malah dengan menggunakan kesempatan itu dia membalas dua buah
pukulan dan sebuah tendangan.
Tan Ki tidak mau kalah pamor. Tubuhnya mencelat ke atas dan lewat di atas kepala
orang itu, dengan demikian serangan orang itu tidak mengenai sasarannya. Dengan
kecepatan kilat dia membalikkan tubuhnya. Namun Tan Ki sudah bersiap diri. Mendadak
tangan dan kakinya bergerak serentak. Baru saja dia melayang turun ke atas tanah,
mendadak dia melancarkan tujuh belas jurus serangan secara berturut-turut.
Serangan yang gencar ini dikerahkan dengan begitu cepatnya sehingga orang itu terkejut
setengah mati. Mulutnya sampai mengeluarkan suara seruan dan kakinya tergetar
mundur sejauh tujuh depa.
Tan Ki tertawa lebar.
“Orang gagah dari Si Yu ternyata hanya begini saja!” telapak tangannya terulur keluar
dan kembali dia melancarkan sebuah pukulan.
Pada saat ini, dia sudah melihat jelas orang yang menerjang ke arahnya itu. Orang itu
juga bertubuh tinggi besar dan usianya sekitar tiga puluh tahun lebih. Di bawah dagunya
terjuntai jenggot yang tipis. Dia mengenakan pakaian putih, raut wajahnya terasa asing
sehingga Tan Ki yakin tidak pernah mengenal orang ini sebelumnya.
Tampaknya dia seakan kurang terbiasa menghadapi lawan dengan tangan kosong.
Setelah berhasil membebaskan diri dari serangan Tan Ki yang gencar, dia segera mencelat
mun-dur dua langkah. Tangannya masuk ke dalam balik pakaian dan dikeluarkannya
sejenis senjata yang bentuknya aneh.
Begitu dia mengeluarkan senjatanya, Tan Ki terkejut sekali sehingga tanpa dapat
ditahan lagi kakinya mundur tiga langkah tanpa terasa. Di wajahnya yang tampan tersirat
ke-seriusan yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya.
Cin Ie yang melihat keadaan ini juga tergetar hatinya karena jenis senjata yang digunakan
orang itu benar-benar senjata yang jarang terlihat di dunia Kangouw. Bentuknya
seperti roda kereta namun terbuat dari baja. Jumlahnya sepasang dan pada bagian
pegangannya ada semacam gigi yang melengkung, kemungkinan fungsinya untuk mengait
senjata lawan. Di bagian depannya merupakan gerigi-gerigi yang tajam seperti gergaji.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sejak orang ini menerjang masuk ke tengah arena, dua orang yang tersisa dari lima
orang tadi segera mengundurkan diri. Mereka segera membangunkan rekan-rekan mereka
yang terluka dan tidak sadarkan diri. Kemudian berdiri di samping dengan hormat.
Tampang mereka seakan segan sekali terhadap orang yang membawa senjata aneh ini.
Kemungkinan memang kedudukan orang ini lebih tinggi daripada mereka berlima.
Tan Ki merentangkan sepasang lengannya menghindarkan diri dari dua pukulan dan
sebuah tendangan orang itu. Kemudian dia menarik nafas panjang-panjang.
Terdengar orang yang membawa senjata aneh itu tertawa-terbahak-bahak dan menjura
dalam-dalam.
“Cayhe Kim Cian dari Si Yu. Pertama kali bertemu dengan sahabat dari ionggoan,
seharusnya merasa bangga sekali. Namun mendengar nada bicara Saudara benar-benar
membuat hati ini merasa tidak puas. Walaupun kami sudah mempelajari silat selama
beberapa tahun, tetapi tidak berani mengagunkan diri.”
Mendapat pandangan hina dari Saudara, masih tidak apa-apa, Namun daerah Si Yu luas
dan banyak orang yang berbakat tinggi. Sama sekali tidak seperti perkiraan Saudara yang
menganggap di pihak kami tidak ada tokoh yang dapat diandalkan. Cayhe berniat
membutakan mata menganggap tidak melihat gunung Thai San yang menjulang tinggi.
Biar dengan sepasang Jit Goat Lun (roda bulan dari matahari ini, Cayhe menjajal beberapa
jurus kepandaian Saudara.”
“Bagus sekali, bagus sekali! Kalau begitu, biar aku menggunakan sepasang senjata
telapak tangan yang terdiri dari daging dan kulit ini untuk menemani sahabat dari Si Yu.”
sahut Tan Ki tenang.
Meskipun kedua orang ini terlibat dalam’ percakapan, namun hawa pembunuhan sudah
J muncul di hati masing-masing. Suasana musim semi yang sudah mencekam seakan
ditambah lagi dengan bahan peledak yang akan meletus setiap saat.
Tampak wajah keduanya semakin kelam, langkah kaki mereka maju setindak demi
setindak. Keduanya menuju ke titik tengah, suasana semakin menegangkan. Setingkat
demi setingkat bertambah seiring dengan jarak keduanya yang semakin mendekat.
Hati Cin Ie semakin mencelos melihat keadaan yang semakin genting ini. Pikirannya
kacau. Telapak tangannya mulai mengucurkan keringat dingin, dadanya bagai diganduli
“beban yang berat bukan main. Dia merasa cemas juga takut, dan untuk sesaat tidak tahu
apa yang harus dilakukannya.
Rupanya golongan sesat dari berbagai kalangan kali ini berkumpul di daerah Tionggong
dengan maksud tertentu. Selain Bu Sin To (Pulau tanpa dewa) yang berada di Samudera
luar, di dalam rombongan ini juga terdapat perkumpulan Pek Kut Kau (Perkumpulan tulang
putih) yang namanya sudah sangat terkenal di daerah Si Yu. Bahkan namanya tidak kalah
dengan Tocu dari Bu Sin To. Kim Cian dibesarkan di wilayah Kang Lam. Seharusnya dia
juga termasuk orang Tionggoan, tetapi sejak dulu dia sudah bergabung dengan Pek Kut
Kau. Dan tentu saja sudah melupakan asalnya sendiri. Cin Ie tahu benar watak orang ini
yang jujur dan berjiwa pendekar. Merupakan orang pilihan dalam perkumpulan Pek Kut
Kau. Melihat keadaan kedua orang ini akan bertarung hidup dan mati, tanpa terasa dia
menjadi panik sehingga air matanya jatuh bercucuran. Hatinya menjadi bingung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika kecil sedang berlatih, tanpa sengaja bagian belakang kepalanya terpukul oleh
sang kakak sehingga terluka. Sejak itu akalnya jadi hilang sebab otaknya lemah. Tentu
saja jauh berbeda kalau dibandingkan Cin Ying yang cerdas dan banyak akal. Meski
menghadapi urusan seberat apapun, pasti dapat diselesaikannya dengan baik. Dalam
belasan tahun ini, boleh dibilang dia selalu bergantung kepada kakaknya itu. Dia tidak
perlu mengerahkan otaknya memikirkan jalan keluar untuk berbagai persoalan yang
dihadapinya. Saat ini seorang diri dia menghadapi situasi seperti ini, tentu saja kepalanya
jadi pusing tujuh keliling. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia khawatir keadaan Tan Ki
yang mungkin akan terluka parah atau malah menemui ajal setelah berkelahi dengan
orang yang lihai itu.
Waktu terus merayap, hatinya semakin titis tenang, air mata kekhawatiran pun
mengalir semakin deras.
Tiba-tiba serentet suara langkah kaki yang ringan berkumandang datang. Begitu mata
memandang, tampak Kiau Hun sedang melangkah dengan lenggang-lenggok yang gemulai
di atas rerumputan dan berjalan ke arah mereka. Di atas kepala tampak mahkotanya
mengeluarkan cahaya yang berkilauan. Seiring dengan hembusan dingin terdengar suara
gemerincing perhiasan yang memenuhi seluruh tubuhnya. Untuk sesaat Cin Ie jadi
termangu-mangu. Namun sejenak kemudian dia sudah tersentak sadar. Mulutnya
mengeluarkan seruan terkejut. Perlahan-lahan dia mengetuk batok kepalanya sendiri.
‘Aku tahu sekarang. Setengah bulan yang lalu, perempuan ini ditemukan oleh Toa Tocu
(Tuan besar pemilik pulau). Kemudian dia diterima menjadi selirnya. Diam-diam diajarkan
ilmu sakti dari Bu Sin To. Dalam waktu tiga hari yang singkat, ilmu silatnya mengalami
kemajuan berlipat ganda. Kemudian Toa Tocu mengutuskan menyelinap kembali ke
daerah Tionggoan dan menjadi mata-mata. Dengan begitu mereka bisa mengetahui
sampai di mana kekuatan para pendekar daerah Tionggoan, kemudian baru dirundingkan
kembali untuk melakukan penyerangan. Mereka dapat menggunakan siasat mengadu
domba atau menyerbu secara terang-terangan. Sekarang ini para tokoh dari Si Yu sudah
berkumpul di sini, dia juga sudah datang. Mungkinkah Toa Tocu ingin bekerja sama
dengan Si Yu untuk menye-rang daerah Tionggoan? Mungkin juga dia diutus sebagai wakil
Toa Tocu untuk mengadakan perundingan, siapa yang kembali ke asal dan siapa yang
boleh merebut daerah Tionggoan. Namun apabila benar demikian, pasti akan terjadi
perkelahian di antara mereka. Yang menang terpilih sebagai raja dan yang kalah terpaksa
pulang sambil menyurutkan ekornya. Tetapi, rasanya tidak mungkin…’ pikirnya dalam hati.
Dengan termenung-menung dia terus berpikir, dua persoalan terus berkecamuk di
benaknya. Semakin dipikirkan, tampaknya keduanya sama-sama mempunyai kemungkinan
yang sama. Tetapi dia juga merasa semuanya tidak mungkin terjadi.
Meskipun Cin Ie mempunyai daya khayal yang tinggi, namun karena urat penting di
Otaknya pernah terluka parah, akalnya jadi tidak jalan. Dia juga kehilangan kepercayaan
terhadap diri sendiri. Meskipun dalam persoalan apapun dia dapat memikirkan sampai hal
yang sekecil-kecilnya, tetapi selalu terdorong kembali oleh kebimbangan dalam hatinya.
Oleh karena itu pula, setiap hal yang dikerjakannya, tidak ada satupun yang dilandasi rasa
percaya diri sehingga tidak dapat diselesaikan dengan tuntas. Hatinya selalu bertanyatanya,
apakah benar apa yang aku lakukan? Apakah hanya begini saja penyelesaiannya?
Akibatnya dia selalu ragu dalam bertindak. Namun tentu saja dalam hal ini dirinya tidak
dapat disalahkan. Semuanya terpengaruh oleh kelemahan otaknya yang tidak dapat
berfungsi dengan baik lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu Kiau Hun tetap bergerak ke tengah-tengah ajang pertempuran, dengan
tenang. Tiba-tiba dia mengibaskan tangannya ke kiri dan kanan. Tanpa dapat ditahan lagi,
tu-buh Kim Cian maupun Tan Ki yang sedang maju merapat ke arah lawannya menjadi
tergetar mundur.
Kiau Hun melirik sekilas ke arah Tan Ki. Kemudian dia menjura memberi hormat kepada
Kim Cian serta rekan-rekannya. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang manis.
“Maaf karena terlambat datang, mungkin Saudara sekalian sudah lama menunggu.”
katanya.
Kim Cian mendongakkan wajahnya menatap langit. Dia menyimpan kembali senjatanya
yang aneh.
“Sekarang ini kentungan ketiga baru berlalu. Rasanya tidak berbeda jauh dengan batas
waktu perjanjian yang kita sepakati.” sinar matanya beralih ke arah belakang punggung
Kiau Hun. Kemudian dia mengalihkan pertanyaannya. “Hanya Kouwnio seorang diri yang
datang ke mari?”
Kiau Hun mencibirkan bibirnya tersenyum mengejek.
“Masa satu orang masih dianggap terlalu sedikit? Toh, bukannya hendak mengadakan
upacara bunuh diri massal, untuk apa banyak-banyak orang yang hadir?”
Kim Cian hanya tersenyum simpul. Dia tidak menyahut sepatah katapun. Sementara itu,
Kiau Hun membalikkan tubuhnya dan tersenyum datar kepada Tan Ki. “Kau pergilah, biar
aku saja yang mengurus persoalan di sini!”
Tan Ki sedang memikirkan sapuan tangan Kiau Hun yang mengandung tenaga daiam
yang dahsyat. Kalau ditilik dari usianya yang masih begitu muda, tampaknya tidak
mungkin dia bisa mencapai hasil setinggi itu. Hatinya digelayuti berbagai pikiran. Dia terus
memikirkan apa sebenarnya yang dialami oleh gadis itu selama beberapa hari belakangan
ini. Terhadap ucapan Kiau Hun, sebetulnya dia malah tidak mendengarkan.
Kiau Hun melihat anak muda itu berdiri dengan termangu-mangu, seakan ada sesuatu
yang rumit dalam pikirannya. Tanpa dapat ditahan lagi segulung rasa perih menyelinap
dalam dadanya. Terhadap Tan Ki dia mempunyai perasaan yang istimewa. Seandainya ada
orang lain yang mencintai Tan Ki, pasti dia tidak ragu. turun tangan membunuh
saingannya itu.
Sejak kecil dia sudah sebatang kara dan menjadi anak yatim piatu. Dalam waktu yang
bersamaan, keadaan juga mendesaknya sehingga gadis ini menjadi rendah diri. Apalagi
setelah dia diusir dari perguruan oleh Ciu Cang Po. Jiwanya yang sempit dan peka membuatnya
merasa bahwa orang-orang di dalam dunia ini tidak ada satupun yang tidak
memandang dari segi materi serta kedudukan. Mei Ling adalah seorang gadis keturunan
orang terkenal lagi kaya. Di mana-mana dia mendapat perhatian serta kasih sayang dari
orang lain. Sedangkan dirinya hanya seorang budak maka dari itu selalu dipandang hina
oleh semua orang. Orang-orang memandangnya dengan tatapan sinis, bibir mereka selalu
tersenyum mengejek..?
Karena hal itu pula, melihat keadaan yang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terpampang di hadapannya, timbul perasaan
dendam dalam hati. Justru pada sebuah kesempatan yang tidak terduga-duga, dia
bertemu dengan Toa Tocu dari Bu Sin To.
Dalam waktu tiga hari, dia telah mengorbankan sesuatu miliknya… kesucian seorang
gadis!
Tiga hari kemudian juga, dari seorang budak yang melayani nona besarnya, dia
berubah menjadi Tocu Hujin (Nyonya pemilik pulau). Kedudukannya menjadi tinggi sekali.
Dan tidak ada seorang pun yang berani lagi memandang hina ataupun mengejeknya.
Sedangkan bagi Kiau Hun sendiri, apa yang dikorbankannya hanya sebuah kesucian
yang tidak berarti apa-apa, seolah-olah hal ini memang kejadian yang lumrah. Satu
kejadian diganti atau diberi imbalan dengan sesuatu. Kedua pihak sama-sama tidak ada
yang diru-gikan. Bagai jual beli yang telah disepakati. Bagi Kiau Hun, hal ini malah
merupakan Suatu keberuntungan. Setelah bertemu dengan Toa Tocu, bukan saja ilmu
silatnya maju pesat dalam jangka waktu tiga hari yang singkat. Bahkan harga diri dan
kedudukannya juga ikut haik. Sekarang dia bukan lagi budak keluarga Liu.
Akhirnya ketika dia bertemu lagi dengan Tan Ki sekarang, rasanya dia ingin
melampiaskan semua yang terpendam dalam hatinya agar kepedihan dan kekecewaannya
dalam hidup ini dapat diceritakan kepada anak muda itu. Tetapi entah mengapa, kata-kata
yang sudah siap dikeluarkan seakan tercekat di tenggorokannya, akhirnya malah ditelan
kembali. Seperti juga sebelumnya, dia tidak dapat mengatakan sepatah katapun isi
hatinya.
Apakah dia merasa malu? Atau masih juga merasa rendah diri?
Dia merasa kepalanya dipenuhi kabut yang tebal. Dia sendiri tidak dapat memastikan.
Namun dia merasa bahwa kedua pertanyaan di atas sama-sama ada kemungkinannya.
Tiba-tiba dia menggertakkan giginya erat-erat. Justru ketika Tan Ki masih termangumangu,
cepat-cepat dia mengikuti Kim Cian dari belakang dan masuk ke dalam kuil tua
tersebut.
Lama… lama sekali.
Akhirnya Tan Ki tersentak dari lamunannya. Tampak sepasang alisnya masih terus
mengerut, seakan ada masalah berat yang tidak dapat dicernakan benaknya. Perlahanlahan
dia membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya.
Untuk sesaat Cin Ie jadi tertegun melihatnya.
“Apakah kita akan pergi dari sini?” tanyanya bingung.
Tan Ki menganggukkan kepalanya dengan enggan.
“Jejak kita sudah diketahui oleh pihak lawan. Pihak Si Yu pasti sudah mengambil tindakan
pencegahan. Biarpun kita terus masuk ke dalam, juga tidak akan mendapatkan hasil
apa-apa.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cin Ie menganggukkan kepalanya. Padahal hatinya setengah mengerti setengah tidak
atas ucapan Tan Ki. Dia memang seorang gadis yang tidak mempunyai gagasan apapun.
Apa-pun yang dilakukan oleh Tan Ki, dia pasti mengikutinya. Oleh karena itu, dia segera
mengikuti Tan Ki dari belakang dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Di bawah cahaya rembulan, tampak dua sosok bayangan berjalan dengan lambatlambat.
Tidak lama kemudian… kembali ada sesosok bayangan yang dengan kecepatan tinggi
melayang turun di tempat Tan Ki berdiri barusan. Usianya kurang lebih dua puluh tahunan.
Wajahnya putih bersih dan bibirnya merah. Sepasang lengannya berdekapan di depan
dada. Pakaiannya merupakan jubah panjang berwarna putih perak. Saat ini berkibar-kibar
karena tiupan angin. Watak orang ini sangat angkuh. Sudut bibirnya selalu mengulumkan
senyuman mengejek. Sungguh sebuah senyuman yang dingin. Tetapi di antara sepasang
alisnya tersirat kedukaan yang dalam. Matanya menunjukkan rasa kesepian yang tidak
terkirakan. Dapat dipastikan bahwa hati orang ini sedang digelayuti masalah yang berat
karena tampangnya pun menampilkan penderitaan yang dalam.
Perlahan-lahan dia mendongakkan wajahnya. Tiba-tiba dia bergumam seorang diri,
“Berdiri seorang diri di atas pegunungan, angin bertiup semilir…”
Tidak ada seorangpun yang memahami hati yang merindukan bunga tersayang.
Dengan perasaan bingung minum sampai mabuk, berteman arak bersenandung suara
hati…
Namun kedukaan tidak dapat sirna juga…
Akulah orangnya, akulah orangnya… Samudera luas, langit terbentang…. Akulah
orangnya yang memikirkan kekasih dambaan sehingga tubuh layu dan wajah kusut…”
Rupanya dia sedang membaca sebuah puisi yang mengungkapkan perasaan hatinya.
Meskipun dari luar tampaknya orang ini sangat tinggi hati dan bukan jenis manusia yang
mu-dah didekati, tetapi saat ini dia seakan ingin melampiaskan keluhan hatinya dalam
bentuk puisi. Suaranya bagai ratapan burung hantu yang membuat orang merasa hatinya
tertekan. Di antara kedukaan hatinya terselip pula kerinduan yang dalam.
Terdengar suara orang itu yang di tarik sedemikian panjang sehingga sampai lama
sekali baru sirap. Rupanya kesedihan hatinya tidak tertahankan lagi sehingga air matanya
jatuh bercucuran bagai curahan hujan yang deras.
Rupanya anak muda yang dijangkiti kerinduan ini tidak lain daripada anak angkat si raja
iblis, Oey Kang. Dia menamakan dirinya sendiri. Pendekar Baju Putih, sedangkan nama
aslinya Oey Ku Kiong. Dia pula yang menghadiahkan obat kepada Tan Ki ketika terluka di
dalam Pek Hun Ceng.
Sejak bertemu dengan Kiau Hun, seluruh perasaannya bagai terjatuh kepada gadis itu.
Entah mengapa, hatinya yang tenang bagai dilanda gelombang badai yang dahsyat.
Senyumnya yang manis bagai mengandung asmara yang meluap-luap. Sehingga hati anak
muda itu jadi tergetar dan tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia pernah menyimpan ketiga batang jarum rahasia Kiau Hun yang kemudian ditekukkan
dan dipakai setiap hari pada jari tangan. Dia mengira dengan berbuat demikian,
meskipun tidak dapat menghilangkan keseluruhan rindu dalam hatinya, namun sedikit
banyak dia jadi terhibur seakan selalu berdekatan dengan gadis itu. Tetapi tidak lama
kemudian, Kiau Hun justru meninggalkan Pek Hun Ceng dengan membawa rombongan Liu
Seng. Dia berdiam di dalam bangunan seperti istana itu selama dua hari dua malam.
Namun hatinya terus merasa gelisah. Dia merasa seakan duduk salah, berdiripun salah.
Hatinya laksana ikut melayang seiring dengan kepergian Kiau Hun.
Ternyata dia tidak berhasil menahan kerinduan yang menggerogoti hatinya. Diam-diam
dia meninggalkan Pek Hun Ceng dan mengejar rombongan Liu Seng yang beserta Kiau
Hun kembali ke Lok Yang. Tetapi karena beberapa orang dari rombongan ini terkena racun
Li Hun Tan, maka keadaan mereka kehilangan kesadaran. Semakin hari tubuh mereka
semakin kurus dan lemah. Yang paling parah justru Ciu Cang Po, setiap hari dia selalu,
termangu-mangu, tidak pernah tersenyum ataupun mengucapkan sepatah kata. Para
pendekar maklum apabila bukan penawar racun milik Oey Kang sendiri, penyakit itu pasti
sulit disembuhkan. Namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Kiau Hun mengajukan diri sebagai pahlawan. Dia bersedia menyelinap ke dalam Pek
Hun Ceng untuk mencuri obat penawar tersebut. Sebetulnya pada saat itu, dia sudah
mene-rima perintah rahasia dari Toa Tocu Pulau Tanpa Dewa, yang mengharuskan dia
segera langsung menuju tempat tersebut untuk mengadakan hubungan dengan pihak Pek
Kut Kau dari Si Yu. Mereka akan merundingkan masalah penggabungan kedua pihak untuk
menyerbu daerah Tionggoan. Oleh karena itu, mau tidak mau Kiau Hun harus mencari
alasan yang tepat agar dapat meninggalkan
para pendekar itu untuk sementara waktu.
Setelah mengikuti selama beberapa hari, Oey Ku Kiong terus mengintil di belakang Kiau
Hun dan sampailah di tempat ini. Semua gerak-gerik Kiau Hun dia tahu jelas bagai
mengenali telapak tangannya sendiri. Tentu saja Oey Ku Kiong sama sekali tidak
mengkhawatirkan masalah yang akan terjadi dalam dunia Kangouw. Walaupun akan
terjadi pemberontakan besar-besaran bahkan sekalipun darah akan mengalir bagai air
sungai, dia tetap tidak perduli. Yang dicemaskannya justru kemungkinan Kiau Hun
terperosok dalam bahaya atau hal yang menyangkut keselamatan jiwa gadis itu. Mungkin
inilah yang disebut penyakit cinta.
Angin malam berhembus ke arahnya. Oey Ku Kiong merasa udara mulai dingin.
Matanya menatap lekat-lekat ke kuil tua tersebut. Diam-diam dia menarik nafas panjang.
Dia tahu Kiau Hun sedang mengadakan perundingan dengan orang-orang Si Yu masalah
perebutan kedudukan Bengcu. Tetapi dia malah rela menunggu di tempat itu. Karena dia
tahu akhirnya Kiau Hun pasti akan keluar juga.
Ternyata setelah menunggu tidak berapa lama, tampak sesosok bayangan yang
langsing melesat bagai terbang keluar dari kuil tua itu.
Di bawah cahaya rembulan, tampak gerakannya yang cepat dan indah sekali bagai
seekor burung camar. Tubuhnya melesat bagai terbang di udara.
Dengan gugup Oey Ku Kiong bergerak mundur sejauh tujuh delapan langkah, tubuhnya
melesat dan bersembunyi di balik sebatang pohon. Tempatnya menyembunyikan diri,
paling tidak berjarak ratusan depa dari kuil tua tersebut. Namun orang yang bergerak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keluar mempunyai ginkang yang demikian hebat. Dalam sekejap mata saja dia sudah
sampai di sebelah kiri, tidak jauh dari persembunyian anak muda itu.
Oey Ku Kiong bersembunyi di tempat yang gelap. Dia dapat melihat jelas bahwa orang
itu mengenakan pakaian berwarna merah jambu dan kepalanya dihiasi mahkota yang
indah. Di pundaknya terselip sebatang pedang emas yang tentu sekali merupakan benda
pusaka. Di bawah cahaya rembulan, dandanannya yang mewah itu malah menambah
kecantikannya. Orang itu memang Kiau Hun yang ditunggu-tunggunya sejak tadi.
Tanpa terasa, jantungnya mulai berdebar-debar. Seperti orang yang menghadapi
bahaya untuk pertama kalinya. Sampai dia sendiri merasa tidak mengerti. Mengapa cinta
dapat membawa pengaruh yang demikian hebat? Dia merasa tegang luar biasa.
Kiau Hun telah mengadakan rundingan dengan pihak Si Yu. Tampaknya dia sudah
mendapatkan jawaban yang memuaskan. Wajahnya yang cantik sering kali
memperlihatkan senyuman yang tipis. Tiba-tiba tampak gadis itu menghentikan langkah
kakinya dan memusatkan pendengarannya dengan seksama. Kemudian mulutnya
mengeluarkan suara tertawa dingin.
“Entah Cianpwe, Taihiap, Kongcu atau sahabat mana yang…”
Sambil berteriak, matanya terus mengerling ke kiri dan kanan. Hal ini membuktikan
bahwa dia sudah mengetahui adanya orang lain di tempat itu. Sepasang alis Oey Ku Kiong
terus mengerut. Diam-diam dia meraba dadanya sendiri dan mengatakan ‘Celaka!’ dalam
hati. Rupanya karena terlalu tegang, tanpa sadar nafasnya jadi agak berat sehingga
jejaknya diketahui oleh Kiau Hun.
Tampaknya dia tidak ingin membuat Kiau Hun penasaran. Dengan tersendat-sendat dia
segera menyahut, “Kouwnio… a… ku.”
Perlahan-lahan Kiau Hun melangkahkan kakinya menghampiri. Ketika dia berhasil
melihat jelas Oey Ku Kiong, tanpa dapat ditahan lagi bibirnya mengembangkan senyuman
yang manis.
“Sudah larut malam seperti ini, mengapa kau masih datang juga ke tempat ini?”
Kiau Hun tampaknya sudah tahu kalau selama beberapa hari ini Oey Ku Kiong selalu
mengintil di belakangnya. Oleh karena itu pula, begitu melihat Oey Ku Kiong dia tidak
merasa terkejut sama sekali. Penampilannya tetap tenang dan bibirnya terus tersenyum
simpul.
Berada di hadapan pujaan hatinya, keberanian Oey Ku Kiong seakan kandas entah ke
mana. Di dalam tenggorokannya seperti ada benda yang tercekat. Setelah tertegun
sejenak, dengan susah payah dia baru dapat menyahut… “Cayhe mengkhawatirkan
keselamatan kouwnio…”
Kiau Hun tersenyum lembut.
“Apakah kata-katamu ini hanya alasan yang kau kemukakan dalam keadaan terdesak?”
“Mana berani Cayhe mendustai Kouwnio?” Bola mata Kiau Hun mengerling sekilas. Dia
menggigit bibirnya perlahan-lahan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Apakah kau takut aku akan terluka di tangan orang yang bernama Kim Cian itu?”
selesai berkata, kembali bibirnya tersenyum simpul. Langkah kakinya maju setindak demi
setindak mendekati Oey Ku Kiong.
Di bawah cahaya rembulan, tampak kulitnya begitu putih bagai hamparan salju, di
antara senyumnya bagai ada ribuan bunga yang bermekaran. Tanpa dapat ditahan lagi
Oey Ku Kiong memandangnya dengan terkesima. Tampak dia mengulurkan tangannya
perlahan-lahan dan menggenggam tangan kanan anak muda tersebut.
“Selama beberapa hari ini, kau terus mengikuti dari belakang. Bukannya aku tidak tahu,
tapi aku selalu mengajukan pertanyaan kepada diriku sendiri, sebetulnya mengapa kau
melakukan hal ini? Aih, aku tahu apa yang kau pikirkan dalam hati. Dan aku juga mengerti
mengapa kau selalu mengikuti aku dari belakang dan tidak mau meninggalkan aku
sedikitpun.. Tapi ada suatu hal yang perlu kau ketahui. Untuk seumur hidup ini, aku tidak
mungkin jatuh cinta lagi pada siapapun. Cinta kasih dalam hatiku sudah membeku bagai
es di daerah kutub dan sudah terbenam di tempat yang tidak mungkin diinjaki manusia.”
Oey Ku Kiong merasa tiba-tiba ada beban yang berat sekali mengganduli hatinya.
Perasaannya tergetar, kesedihannya terbangkit seketika. Tanpa dapat dipertahankan lagi,
dia menundukkan kepalanya perlahan-lahan, Kiau Hun melihat anak muda itu berdiri
tegak. dengan kepala tertunduk, tampangnya benar-benar mengenaskan. Bagai orang
yang kehilangan sukmanya. Tanpa terasa segulung rasa iba timbul dalam hatinya.
Terdengar dia menarik nafas dalam-dalam dan seakan menyesali diri sendiri dia berkata,
“Sayangnya pertemuan kita terlalu lambat.”
Pikiran Oey Ku Kiong tergetar, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya. Sepasang
matanya menatap wajah Kiau Hun lekat-lekat.
“Kouwnio masih terhitung seorang gadis remaja, Cayhe juga baru berusia dua puluh
tahun. Mengapa bisa mengatakan bahwa pertemuan kita ini sudah terlambat?”
Kiau Hun memperlihatkan sekulum senyum yang pilu.
“Ketika kita bertemu, hatiku sudah terpaut di tempat lain. Lagipula keadaan diriku juga
bukan gadis yang suci lagi.”
Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang. Di antara sepasang, alisnya tampak kerutan
yang seakan menyesali keadaan anak muda tersebut. Kemudian dia melanjutkan lagi katakatanya.
“Setiap sepuluh langkah, kita pasti bertemu dengan sekumpulan rerumputan. Di
dunia yang luas ini entah berapa banyak gadis yang jauh lebih cantik daripada diriku, Kiau
Hun. Mengapa kau justru menyukai bunga yang layu dan orang yang sudah tersesat jauh
seperti diriku ini? Bahkan cintamu demikian dalam! Apalagi baik hati maupun tubuhku
sudah milik orang lain. Seumur hidup ini tidak mungkin aku mengalihkan lagi perasaanku
ini. Biar bagaimana tulusnya hatimu padaku, kau malah hanya mencari penyakit bagi
dirimu sendiri.”
Oey Ku Kiong tertawa dengan pilu. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Lautan yang luas tidak mungkin berubah menjadi sungai, gunung yang menjulang
tinggi tidak mungkin berubah menjadi bukit yang rendah. Biar bagaimana kau perlakukan
aku, rasanya tidak mungkin merubah hatiku untuk melupakan dirimu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Untuk apa kau berbuat begini? Mungkin kehalusan kulitku dan kecantikan wajahku
yang membuat kau terpesona. Kau harus ingat, waktu terus berlalu, tidak ada kecantikan
yang abadi di dunia ini. Akhirnya yang tertinggal hanya segumpal tanah juga. lagipula
percintaan antara dua manusia harus dilandasi saling menyukai. Sedangkan aku benci
sekali terhadap ketamakan manusia di dunia ini. Mereka semua menghina yang miskin dan
memuliakan yang kaya. Aku ingin menggunakan tubuh yang sudah tidak mempunyai
perasaan ini dan kecantikan sekejap ini untuk meraih kebesaran nama, kedudukan dan
membalas dendam kepada semua orang di dunia ini. Kalau tidak, sekarang juga aku akan
merusakkan wajahku di hadapanmu agar perasaanmu menjadi mati.”
Oey Ku Kiong termenung sejenak. Tiba-tiba di wajahnya yang muram perlahan-lahan
terlihat senyuman yang lebar. Dia seperti bergumam seorang diri.
“Apabila ulat tidak mati, seratnya juga tidak akan terurai. Meskipun waktu berlalu,
manusia dapat menjadi tua. Cayhe bersedia menjadi pendamping di samping kuburan!”
katanya tegas.
Di bawah cahaya rembulan, tampak sepasang matanya mulai membasah. Sinarnya berkilauan.
Tapi tampaknya anak muda ini berusaha menahan sekuatnya agar tidak mengalir
turun. Kulit wajahnya tampak mengerut-ngerut.
Kiau Hun melihat tampang Oey Ku Kiong demikian tegas. Dia tahu tidak mungkin lagi
menasehatinya agar kembali ke jalan semula. Tanpa terasa dia menarik nafas panjang.
“Aih, tampaknya kau ini sampai mati juga tidak bisa diubah lagi.”
Oey Ku Kiong tertawa lebar.
“Tetapi, dapat melihat air mata iba menetes dari mata Kouwnio yang indah, matipun
tidak perlu disayangkan.”
Kiau Hun menjadi marah.
“Sebetulnya apa maksudmu begitu setia dan mencintai mati-matian seorang perempuan
yang sudah tidak suci lagi?”
Oey Ku Kiong tetap tersenyum lembut.
“Demi cinta, apapun berani kukorbankan, bahkan nyawaku s endiri!”
“Hm, hm! Manusia yang tidak berguna!” sindir Kiau Hun.
Oey Ku Kiong tetap tersenyum simpul.
“Kalau memang berguna, tentu aku tidak akan meninggalkain pek Hun Ceng dan
mengikuti dirimu.” berkata sampai bagian yang sedih, tanpa dapat dipertahankan lagi air
matanya mengalir dengan deras.
Kiau Hun menghentakkan kakinya d atas tanah dengan kesal. Kemudian dia menarik
nafas panjang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kau hanya mencari kesulitan bagi dirimu sendiri. Akhirnya kau toh tidak akan
mendapatkan apa-apa. Lebih baik kau kembali ke Pek Hun Ceng dan menjadi tuan muda
di sana. Kalau kita berpisah, mungkin malah akan membawa kebaikan bagi dirimu.”
Wajah Oey Ku Kiong langsung berubah hebat.
“Kouwnio, apakah kau benar-benar mengusir Cayhe?”
“Aku tidak dapat menerima cinta kasihmu yang tulus, juga tidak tega mencelakai
dirimu. Keduanya merupakan hal yang sulit kuputuskan. Sedangkan jalan yang terbaik
bagi kita sekarang ini adalah jangan bertemu lagi untuk selamanya!”
Oey Ku Kiong mendengar nada bicara Kiau Hun dari awal sejak akhir selalu bermakna
sama. Tampaknya tekad gadis itu juga sulit dirubah. Tanpa terasa dia menarik nafas
panjang.
“Terima kasih untuk maksud baik Kouwnio!” tanpa menunggu jawaban dari Kiau Hun,
dia langsung membalikkan tubuh dan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
Dalam sekejap mata saja dia sudah menghilang dalam kegelapan malam.
Mendadak satu ingatan terlintas di benak Kiau Hun. Kemungkinan Oey Ku Kiong ada
membawa obat penawar racun. Kalau dia benar-benar pergi karena marah, kehilangan ini
terlalu besar bagi dirinya. Malah akan berpengaruh buruk pada seluruh rencananya.
Paling tidak, dia tidak dapat memberikan tanggung jawab kepada Liu Seng dan rombongannya
dan otomatis kehilangan kesempatan untuk mengambil hati para pendekar.
Dia ingin memanggil anak muda itu agar kembali. Bibirnya bergerak-gerak namun tidak
sepatah katapun terucapkan olehnya.
Dia berdiri di tempat itu dengan termangu-mangu. Entah berapa lama sudah berlalu.
Tiba-tiba… terdengar suara batuk-batuk yang lirih berkumandang dari belakangnya. Kiau
Hun jadi terkesiap seketika. Cepat-cepat dia menolehkan wajahnya. Entah sejak kapan,
Oey Ku Kiong yang barusan pergi ternyata sudah kembali lagi. Dia sedang berdiri tegak di
belakangnya.
Kiau Hun berusaha menenangkan hatinya sejenak.
“Kapan kau kembali lagi?” tanyanya.
Oey Ku Kiong tertawa getir.
“Sudah cukup lama aku kembali lagi, tidak tega rasanya mengejutkan engkau dari
lamunanmu yang asyik. Itulah sebabnya aku tidak mengucapkan sepatah katapun.”
Tangannya terjulur ke dalam pakaian, dia mengeluarkan dua botol kumala dan
menggenggamnya dalam telapak tangan.
“Di dalam botol kumala putih ini berisi obat penawar racun. Sedangkan di dalam botol
yang satunya lagi berisi racun yang diracik Khusus oleh ayahku. Racun ini tidak berbau
maupun berwarna. Dapat dimasukkan dalam arak. maupun hidangan tanpa terasa
sedikitpun. Tentu sangat bermanfaat bagi gerakan yang akan kau ambil kelak kemudian
hari di dunia Bulim. Ayah sendiri memandangnya sebagai benda pusaka.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan perasaan terharu Kiau Hun menatapnya sejenak. Dia mengulurkan tangannya
untuk menerima botol tersebut. Tetapi tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu dan tangannya
pun segera ditarik kembali. Dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Aku tidak dapat menerima pernyataan cinta kasihmu!” Oey Ku Kiong jadi tertegun.
“Mengapa?” tanyanya heran.
Perlahan-lahan Kiau Hun maju dua langkah. Dia merapat ke arah anak muda itu.
“Maukah kau melakukan suatu hal untukku?”
“Lautan api maupun gunung golok, Cayhe rela menerjangnya demi Kouwnio!”
“Kalau begitu, kau antarkan obat penawar racun itu ke Lok Yang. Dengan demikian hati
para pendekar akan menjadi senang.” kata Kiau Hun kembali.
Untuk sesaat Oey Ku Kiong menjadi bimbang. Hatinya merasa serba salah.
“Ayah angkatku merupakan musuh mereka bersama. Kedua pihak bagai api dan air
yang tidak dapat disatukan. Kalau aku tiba-tiba muncul di sana, mungkin akan
menimbulkan kecurigaan para pendekar…”
Kiau Hun tertawa lebar.
“Kau bisa berpura-pura mengkhianati ayahmu dan berpihak kepada mereka. Lagipula
obat ini memang asli, tentu bisa mendapatkan kepercayaan dari para pendekar.”
“Kemudian?”
Kiau Hun berpikir sejenak. Tiba-tiba dia merendahkan suaranya.
“Beberapa hari kemudian, mereka akan mengadakan sebuah pertemuan besar di luar
kota Lok Yang. Orang-orang yang hadir merupakan tokoh-tokoh yang sudah mempunyai
nama besar di dunia Kangouw. Saat itu, kau bisa menggunakan kesempatan untuk muncul
di depan umum dan membantuku mengalahkan musuh. Kalau aku bisa merebut
kedudukan Bulim Bengcu, maka aku akan menyiarkan secara terang-terangan bahwa kau
adalah pengawal pribadiku. Sejak itu, baik siang maupun malam kau dapat menemaniku.
Walaupun hubungan kita terbatas dan tidak dapat maju lebih jauh lagi, namun setidaknya
dapat mengurangi rasa rindumu kepadaku…”
Mendengar ucapan Kiau Hun, sepasang mata Oey Ku Kiong langsung bersinar terang.
Tampangnya pun langsung bersemangat.
“Bagus sekali! Dapat mendengar ucapan Kouwnio yang satu ini saja, Cayhe pasti akan
berusaha menepati janji, tetapi… apakah kau tidak akan mendustai aku?”
Kiau Hun tersenyum lembut.
“Kalau sudah mengabulkan, tentu tidak ada niat untuk mengingkarinya. Sekarang kau
pulanglah, kita bertemu di kota Lok Yang.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kata-katanya yang terakhir diucapkan dengan lembut sekali. Di dalamnya seakan terkandung
perhatian yang dalam. Hati Oey Ku Kiong sampai tergugah melihatnya. Wajahnya
pun tidak sekelam tadi lagi. Tampak dia menarik nafas panjang.
“Bolehkah aku meraba tanganmu?” tanyanya lirih.
Kiau Hun tersenyum manis. Dia mengulurkan jari tangannya dan membiarkan Oey Ku
Kiong menggenggamnya.
“Tunggulah dengan sabar, Bulim Tay Hwe sudah di depan mata, semuanya tergantung
dari tindakanmu sendiri.” katanya lembut.
Oey Ku Kiong menganggukkan kepalanya perlahan-lahan. Mimik wajahnya menyiratkan
kegembiraan dan juga keresahan. Tidak diragukan lagi bahwa dia sudah terjerumus
dalam jurang cinta yang dalam. Hatinya sendiri tidak tahu apakah akhirnya penderitaan
atau kebahagiaan yang akan didapatkannya.
Kurang lebih sepeminum teh kemudian baru Oey Ku Kiong menarik tangannya kembali.
Dia menyodorkan botol yang berisi racun keji kepada Kiau Hun.
“Benda ini tidak bermanfaat apa-apa bagiku. Kau simpan saja.”
Kiau Hun tersenyum lembut. Dia juga tidak sungkan lagi. Dia segera mengulurkan
tangannya menyambut kemudian memasukkan botol itu ke dalam saku pakaian.
“Pergilah dan laksanakan semuanya dengan baik. Kita pasti masih mempunyai dua
kesempatan untuk bertemu lagi.”
Oey Ku Kiong menganggukkan kepalanya. Namun dia tetap memandang gadis itu
dengan penuh perasaan. Seakan berat sekali meninggalkannya. Akhirnya terpaksa Kiau
Hun menyuruhnya sekali lagi. Oey Ku Kiong mengeluarkan suara siulan yang panjang
kemudian tubuhnya mencelat ke udara, persis seperti seekor burung yang terbang
melayang. Sekejap saja dia sudah melesat ke arah Tenggara.
Di wajah Kiau Hun langsung tersirat senyuman yang penuh kebanggaan begitu Oey Ku
Kiong meninggalkan dirinya. Dia merasa seperti meraih suatu kemenangan besar karena
berhasil meluluhkan hati seorang laki-laki.
BAGIAN XXVII
Sementara itu, Oey Ku Kiong yang melesat pergi langsung menuju kota Lok Yang.
Setelah delapan hari melakukan perjalanan, akhirnya dia melihat batas tembok kota yang
sudah tua sekali. Dia melambatkan gerakannya dan berjalan dengan langkah lebar.
Bersama-sama dengan para penduduk yang berhilir mudik, dia masuk ke dalam kota
tersebut.
Karena Liu Seng memang tinggal di daerah ini, apalagi namanya sudah sangat terkenal
dengan menyebut nama Bu Ti Sin-kiam saja, dari anak kecil sampai kakek-kakek pasti
kenal. Belum berapa lama Oey Ku Kiong masuk ke dalam kota Lok Yang, dia sudah
berhasil menemukan tempat tinggal Liu Seng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu matanya memandang, dia langsung tertegun!
Tampak di atas gerbang pintu tergantung pita merah yang besar. Kerumunan manusia
memenuhi sekitar gedung tersebut dan orang yang masuk maupun keluar tidak hentihentinya.
Tidak diragukan lagi bahwa hari ini gedung keluarga Liu ini sedang mengadakan
pesta.
Oey Ku Kiong merenung sejenak.
‘Begini ada baiknya juga. Aku bisa menyamar sebagai tamu undangan dan masuk ke
dalam untuk melihat-lihat suasana yang ada.’ pikirnya dalam hati.
Dia langsung membusungkan dadanya dan melangkahkan kakinya dengan lebar.
Dengan mudah dia berhasil masuk lewat pintu gerbang dan langsung menuju ke ruangan
dalam. Matanya segera berputar. Dia melihat bahwa di dalam ruangan yang besar itu
sudah hadir banyak orang yang pernah dikenalnya. Di antaranya ada Cian Cong si
pengemis sakti, Yibun Siu San, Liu Seng, Tan Ki, Ciong San Suang-siu, Kok Hua-hong dan
beberapa orang lainnya yang pernah datang ke Pek Hun Ceng.
Rupanya malam itu ketika kembali ke penginapan, Cian Cong dan Yibun Siu San
langsung menyuruhnya berangkat ke Lok Yang bersama Cin Ie. Tadinya mereka
bermaksud menuju Bu Tong San untuk menemui Tian Bu Cu, tetapi karena penyakit Tan
Ki sudah sem-buh, maka rencana itu akhirnya dibatalkan.
Yibun Siu San dan Cian Cong sudah mengungsikan Ceng Lam Hong untuk sementara.
Mereka mencegah agar jangan sampai terjadi suatu hal yang tidak diinginkan apabila ibu
dan anak itu sampai bertemu. Mengenai hubungan antara Tan Ki dan Mei Ling, Yibun Siu
San dan Cian Cong juga sudah mengadakan perundingan. Akhirnya diputuskan bahwa
Cian Cong yang akan menjadi perantara, sedangkan Yibun Siu San bertindak sebagai wali
dari keluarga pihak laki-laki yang akan melamar Mei Ling. Siapa tahu setelah pengalaman
yang berlangsung di Pek Hun Ceng, sekembalinya ke rumah, keadaan Liu Seng tetap tidak
sadar. Keadaannya tampak gawat sekali. Seperti orang yang keracunan, tetapi tidak
menunjukkan gejala apa-apa. Hal ini membuat kedua orang itu menjadi bingung dan tidak
tahu apa yang harus dilakukan. Itulah sebabnya wajah kedua orang itu tampak selalu
bermuram durja.
Untung saja pada sore hari itu juga, Cm Ying tiba-tiba muncul dengan membawa Mei
Ling yang berhasil diselamatkannya. Gadis ini memiliki bermacam-macam kepandaian. Dia
jaga paham ilmu menawarkan racun. Setelah memeriksa penyakit Liu Seng, dia
mengobatinya dengan tusukan jarum emas. Setelah dilakukan tiga kali berturut-turut,
penyakit Liu Seng pun berhasil disembuhkan dan kesehatannya pulih kembali seperti sedia
kala.
Tetapi terhadap penyakit yang diidap oleh Ciu Cang Po, dia tidak berani sembarangan
Mengobatinya. Dia sudah melihat bahwa pil Li Hun Tan milik Oey Kang bukan saja sangat
aneh dan keji, tetapi terbuat dari berbagai
jenis rumput yang langka. Semuanya dicampur jadi satu. Untuk menyembuhkan
penyakit ini, terpaksa harus dicari pula obat penawar untuk setiap jenis rumput racun yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berbeda, kemudian diramu kembali menjadi obat baru bisa membawa hasil. Apabila hanya
meminum sejenis obat penawarnya saja, berarti hanya satu jenis racun pula yang dapat
dipunahkan. Sedangkan racun yang lainnya semakin mengerikan.
Biarpun demikian, cara pengobatan Cin Ying yang sudah terlihat buktinya tetap saja
mendapat pujian yang hebat dari para pendekar. Mereka merasa kagum bahwa gadis yang
usianya masih demikian muda sudah berhasil mempelajari ilmu pengobatan yang demikian
tinggi.
Justru ketika Liu Seng mengabulkan lamaran Tan Ki, maka ditentukan bahwa hari itulah
akad pernikahan akan dilangsungkan. Namun sampai saat itu, Liu Seng tetap belum tahu
kalau bakal menantunya ini merupakan wujud asli dari Cian bin mo-ong! Ketika Oey Ku
Kiong melangkah masuk, para hadirin sedang bercakap-cakap dan bercanda dengan riang
gembira. Tidak ada seorangpun yang memperhatikan adanya seorang pemuda yang
masuk ke dalam ruangan tersebut.
Oey Ku Kiong berdiri sejenak, namun tetap saja tidak ada orang yang
memperdulikannya, tiba-tiba hidungnya memperdengarkan suara dengusan yang dingin
kemudian mengucap dengan suara lantang:
“Datang dengan tiba-tiba, pergi dengan tergesa-gesa, Impian pendek tidak dapat
diandalkan dan musim semi kembali hampa, sulit rasanya mengikuti jejak kuda berlari.
Gunung berliku-liku, sungai berkelok-kelok, Awan yang berarak dari barat kembali ke
timur,
ke mana pula kabar berita harus disiarkan?”
Begitu mendengar pembacaan syairnya berhenti, tampak bayangan tubuh berkelebat.
Suara semilir angin menusuk di telinga. Tahu-tahu dari depan belakang maupun kiri
kanannya ia telah terkepung oleh tujuh delapan orang. Suasana menjadi tegang seketika.
Oey Ku Kiong tertawa dingin. Dia seakan tidak menganggap apapun yang terpampang
di hadapannya. Kepalanya didongakkan dan dadanya dibusungkan, dia menatap awan
yang berarak di atas langit biru. Wajahnya tenang
i namun tersirat keangkuhan dirinya dan ketinggian hatinya.
Si gemuk pendek dari Ciong San Suang-siu, yakni Cu Mei segera maju ke depan.
Dengan wajah kelam dia berkata, “Apakah kau yang disebut dengan Pendekar baju putih
dari Pek Hun Ceng?”
Oey Ku Kiong mencibirkan bibirnya.
“Tidak salah, akulah orangnya!”
Cu Mei mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
“Bagus sekali, kau juga bisa cari sendiri ke dalam tempat kami!” kakinya langsung
melangkah ke depan, dia segera melancarkan sebuah serangan ke arah anak muda
tersebut.
Angin yang keras memenuhi sekitar dirinya, malah timbul suara yang menderu-deru.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Oey Ku Kiong tertawa dingin.
“Ingin berkelahi?” tanyanya sambil menarik sedikit pundaknya ke belakang dan dengan
gerakan yang ringan serta cepat dia langsung mencelat ke arah kiri.”
Kelebatan tubuhnya bukan saja cepat bukan main, malah gerakannya juga mengandung
keanehan yang tidak terkirakan. Cu Mei hanya merasa matanya menjadi kabur, dia
kehilangan gerak tubuh lawannya. Padahal dia sudah berkecimpung di dunia Kangouw
sejak tiga puluh tahun yang lalu, namun mana pernah dia melihat gerakan yang
sedemikian ajaib. Tanpa dapat ditahan lagi hatinya menjadi terkejut bukan kepalang!
Sementara dia masih tertegun, tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar suara
tertawa yang dingin. Bagai segulung angin dingin yang terpancar dari dalam neraka
sehingga membuat hatinya tergetar.
Serangkum tenaga yang kuat menghembus ke arahnya seiring dengan suara dingin
tadi. Rupanya begitu berhasil menghindarkan diri dari pukulan Cu Mei, Oey Ku Kiong
langsung melancarkan sebuah serangan balasan dalam kesempatan yang sama.
Mimpipun Cu Mei tidak menyangka kalau gerakan lawannya begitu cepat dan keji.
Seandainya baru turun tangan saja dia sudah terjungkal di tangan anak muda ini, nama
besar yang berhasil dipupuk oleh Ciong San Suang-siu pasti akan kandas seketika. Berpikir
sampai di sini, hatinya semakin tercekat. Dia merasa terkejut juga marah.
Pikirannya langsung bergerak. Dalam waktu sekejap mata gulungan angin yang
kencang dari pukulan Oey Ku Kiong sudah mendesak ke arahnya. Dia segera
mengeluarkan suara bentakan yang nyaring, dikerahkannya seluruh tenaga dalam yang
ada pada dirinya ke sepasang lengan. Dengan jurus Ular Marah
Mengibaskan Ekornya, sepasang tangannya langsung direntangkan dan menyerang
dengan gencar ke depan.
Begitu dua pukulan dilancarkan, kehebatan dan kekejiannya tak perlu ditanyakan lagi.
Dia memang berniat menguji sampai di mana tingginya ilmu silat Oey Ku Kiong. Oleh
karena itu pula, dia tidak berpikir panjang lagi dan menggunakan cara keras lawan keras
menghadapi lawannya.
Sebetulnya cara berkelahi semacam ini merupakan pantangan bagi jago kelas tinggi di.
dunia Bulim. Pertama karena belum mengetahui sampai di mana kekuatan lawan. Kedua,
apabila satu pihak tenaganya kalah sedikit saja, pihak lawannya dapat menggunakan
sedikit peluang untuk melancarkan serangan berikut. Apabila hal ini sampai terjadi,
seandainya tidak matipun, pasti akan terluka parah. Melihat cara berkelahi yang dilakukan
kedua orang ini, para hadirin yang lain benar-benar terpana. Di wajah mereka masingmasing
tersirat rasa terkejut dan kecemasan yang dalam.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang nyaring dari arah yang tidak terlalu jauh.
“Berhenti!” Tampaknya orang yang baru datang ini merasa panik sekali, tampak dia
mengulurkan tangannya sambil berkelebat menerobos lewat di tengah kedua orang itu.
Orang yang datang ini bertubuh langsing, gerakannya cepat sekali. Begitu tangannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendorong, baik Oey Ku Kiong maupun Cu Mei sama-sama mengeluarkan suara dengusan
yang berat dan tergetar mundur sejauh dua langkah serentak.
Meskipun gerakan gadis ini lemah gemulai, namun tenaga dalam yang diperlihatkannya
barusan tampaknya malah lebih tinggi daripada kedua orang itu. Begitu tangannya
menghantam ke depan, gerakannya demikian indah laksana orang yang sedang menari.
Tidak terlihat di dalamnya terkandung tenaga yang dahsyat, ternyata ia berhasil
menggetarkan kedua orang itu sehingga tanpa dapat mempertahankan lagi mundur dua
langkah masing-masing. Bukan hanya Oey Ku Kiong dan Cu Mei saja yang terpana,
bahkan para hadirin yang ada di dalam ruangan itu juga tertegun. Di wajah mereka
tampak mimik yang berbeda-beda.
Begitu mata memandang, tampak orang itu mengenakan pakaian berwarna merah
jambu.
Wajahnya cantik rupawan. Dan bagi orang-orang yang hadir sama sekali tidak asing
karena dia adalah bekas budak keluarga Liu yakni Kiau Hun.
Sepasang bola matanya yang indah mengerling ke arah para hadirin sekilas. Bibirnya
tersenyum simpul. Kemudian dia menoleh kepada Cu Mei.
“Di antara orang sendiri, mengapa harus pakai berkelahi segala?”
Cu Mei jadi tertegun mendengar kata-katanya.
“Maksud ucapan nona ini…”
Kiau Hun kembali memamerkan sekulum senyum yang manis. Dia menunjuk ke arah
Oey Ku Kiong.
“Meskipun orang ini adalah putra angkat si raja iblis, tetapi hatinya berjiwa pendekar.
Dari luar memang tampak angkuh namun perasaannya sendiri sangat lembut.
Kedatangannya hari ini memang menurut apa yang aku perintahkan. Dengan tulus hati dia
ingin berpihak kepada kita.”
Mulut Cu Mei mengeluarkan suara ‘Oh…’ tapi hatinya masih kurang percaya. Sepasang
matanya yang curiga memancarkan sinar yang tajam menusuk dan memperhatikan Oey
Ku Kiong dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Baru saja dia ingin membuka mulut, tibatiba
tampak si. pengemis sakti Cian Cong berjalan keluar dari mejanya dengan langkah
lebar. Orangnya belum sampai, dia sudah tertawa terbahak-bahak.
“Baru beberapa hari tidak bertemu saja, ilmu silat maupun tenaga dalam nona ini sudah
maju demikian pesat. Si pengemis tua tadi memperhatikan gerakan tubuhmu ketika
melesat masuk dan menghantam telapak tangan untuk mendorong kedua orang ini.
Rasanya ilmu demikian asing sekali dalam pandangan si pengemis tua ini. Dapatkah Nona
menceritakan kejadian apa yang telah Nona alami?”
Mendengar pertayaannya, hati Kiau Hun jadi tercekat.
‘Pandangan mata pengemis ini sungguh tajam sekali. Sekali lihat saja, dia sudah tahu
bahwa ilmu silatku tidak termasuk aliran manapun di daerah Tionggoan.’ pikirnya diamdiam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu pikirannya tergerak, dia segera mengalihkan pandangan matanya ke seluruh ruangan.
Mulutnya mengeluarkan seruan terkejut dan dengan kesempatan itu, dia segera
mengubah pokok pembicaraan.
“Aduh, suasana hari ini tampaknya jauh berbeda dengan biasanya. Para budak dan
pelayan sibuknya bukan main. Sebentar masuk ke dalam, sebentar kemudian keluar lagi.
Di mana-mana digantung lentera dan pita merah, entah pesta apa yang sedang
dilangsungkan hari ini?”
“Hari ini adalah pernikahan antara Tan Ki dan Liu Toa Siocia.” tukas Cu Mei cepatcepat.
“Tan Ki?”
Mendengar keterangannya, Kiau Hun terkejut setengah mati. Tanpa sadar dia bertanya
sekali lagi. Di antara sepasang alisnya terlihat keratan yang dalam. Sinar matanya
menyorotkan kebencian hatinya yang mengandung kekejian yang tidak terkatakan! Namun
dalam waktu sekejap mata saja dia sudah pulih kembali seperti sedia kala. Bibirnya
mengembangkan seulas senyuman yang lembut.
“Kalau begitu aku harus mengucapkan selamat kepada Liu Toaya.” katanya sambil
menarik tangan Oey Ku Kiong. Dengan penampilan yang anggun dan wajah yang tenang
dia melangkah masuk ke dalam ruangan.
Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dalam hatinya saat ini sedang timbul suatu
rencana pembunuhan yang keji!
Dia lalu memperkenalkan Oey Ku Kiong kepada para hadirin. Di dalam hati beberapa
pendekar timbul juga rasa curiga. Oey Ku Kiong lalu mengeluarkan obat penawar racun
dan menyembuhkan Ciu Gang Po sehingga pulih kembali seperti sedia kala dan anak muda
itu juga menolong beberapa pendekar yang masih belum siuman dari pingsannya.
Meskipun masih ada beberapa orang yang kurang percaya niat baiknya, tetapi mereka
juga tidak bisa membuktikan apa-apa.
Perlu diketahui bahwa ilmu silat Ciu Cang Po tidak terpaut jauh dengan si pengemis
sakti Cian Cong. Dia dapat dipulihkan kembali, tampaknya hanya hal yang mudah dan
tidak akan makan waktu, namun kesadaran nenek tua itu merupakan bantuan yang besar
bagi para pendekar.
Tidak lama kemudian, kegelapan malam perlahan-lahan mulai merayap. Segala sesuatu
tampaknya berjalan dengan lancar. Lampu minyak maupun lentera-lentera yang besar
telah dipasang.
Di dalam aula pernikahan, segalanya juga sudah disiapkan. Irama musik yang meriah
mulai berkumandang.
Suasana malam ini lebih meriah dari pada biasanya. Seluruh anggota keluarga Liu, baik
bawahan maupun atas, tidak ada yang mau ketinggalan. Hati mereka gembira sekali.
Semuanya berkumpul di ruangan tamu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Meskipun di dalam ruangan itu telah diatur ratusan meja dan kursi sehingga tampak
penuh sesak, namun mereka tetap tidak mau berdiri di luar ruangan. Mereka bahkan
memilih berdesakan di dalam ruangan agar dapat menyaksikan tampang nona besar
mereka yang menjadi pengantin sekaligus ingin melihat calon tuan mereka.
Waktu berlalu perlahan-lahan di antara suasana yang meriah. Tiba- tiba terdengar
suara juru bicara yang lantang, “Perjamuan dibuka?”
Dari luar ruangan terdengar suara mercon yang nyaring sekali. Begitu kerasnya suara
itu sehingga gendang telingapun ikut tergetar. Dalam sekejap mata, dua puluh lebih
pelayan masuk ke dalam ruangan dengan tangan masing-masing membawa baki berisi
berbagai hi-dangan.
Suara beradunya cawan dan teriakan gembira pun memenuhi ruangan itu seketika.
Suasana bertambah ramai dan bising.
Dengan demikian urusan Liu Seng hari ini benar-benar bagai mimpi yang menjadi
kenyataan. Seseorang apabila dapat memperoleh menantu yang gagah dan tampan serta
berjiwa pendekar, malah diwakili oleh seorang tokoh sakti yang namanya sudah
menggemparkan dunia persilatan seperti si pengemis sakti Cian Cong, mana mungkin
tidak merasa gembira dan bangga?
Tetapi mungkin mimpipun dia tidak pernah mengira bahwa saat ini sebuah rencana
yang keji sedang berlangsung atas diri putrinya sendiri?
Justru di saat gedung keluarga Liu sedang meriah-meriah dan gembira bukan kepalang,
di luar kota Lok Yang, di bawah cahaya rembulan yang suram dan mengenaskan, berdiri
seorang wanita setengah baya yang sedang gelisah dan galau.
Dia, tentunya ibu kandung Tan Ki sendiri, Ceng Lam Hong… seorang wanita yang
dipandang hina dan dibenci oleh putranya sendiri.
Di bawah cahaya rembulan yang menyorotkan sinar dengan kemalas-malasan, tampak
air matanya bercucuran. Sepasang telapak tangannya terdekap di depan dada. Dia sedang
memohon kepada Thian yang kuasa agar melindungi anaknya dan mendoakan agar
bahagia sepanjang hidupnya.
Perasaan hati seorang ibu yang penuh dengan cinta kasih sering tidak terduga oleh
orang lain. Kadang-kadang malah tidak terlihat. Dengan seorang diri di daerah
pegunungan yang sunyi ini, dia mengalirkan air mata kasih sayang seorang ibu. Biar
bagaimanapun sikap Tan Ki terhadapnya, tetap saja dia berdoa dengan hati yang tulus
agar anaknya dalam kehidupan di dunia ini dapat mencapai kebahagiaan abadi.
Inilah yang disebut kasih ibu!
Dia tahu malam ini adalah malam pernikahan anaknya. Sebagai seorang ibu, tentu saja
dia ingin melihat wajah putranya yang berseri-seri karena bahagia. Tetapi dia merasa
takut kalau kehadirannya malah akan menimbulkan rasa sakit dan kebencian di hati Tan Ki
sehingga merusak suasana yang sedang bergembira. Oleh karena itu, dia menahan
keinginan hatinya untuk ikut hadir dalam pesta pernikahan tersebut dan berdiri di daerah
yang sunyi ini seorang diri sambil berkhayal.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terdengar suara tawanya yang mengenaskan. Bibirnya bergerak-gerak dan menggumam
seorang diri, “Ah, saat ini tentunya sepasang pengantin sudah keluar memberi salam
kepada para tetamu! Aku dapat melihat sinar matanya yang bahagia… juga menantuku
yang cantik jelita laksana bidadari turun dari khayangan…”
Tampaknya Ceng Lam Hong sedang menghibur hatinya sendiri. Suara yang tercetus
dari bibirnya begitu pilu dan menyayat hati. Keadaannya saat itu lebih mirip seorang isteri
yang ditinggal suami dan meratapi nasibnya yang malang. Orang yang mendengarnya
tentu akan merasa iba.
Kurang lebih setengah kentungan telah berlalu, perlahan-lahan Ceng Lam Hong
menggerakkan kakinya yang terasa berat dan berjalan ke depan. Langkah kaki itupun
demi-kian mengenaskan bagai merenungi nasibnya yang malang.
Tiba-tiba terdengar mulutnya mengeluarkan suara keluhan, langkah kakinya pun terhenti.
Rupanya di malam yang sunyi dan mencekam ini, ada juga seorang perempuan
berpa-kaian sederhana duduk di atas sebuah batu besar. Jarak antara perempuan itu
dengan Ceng Lam Hong kurang lebih sepuluh depaan. Dia sedang mendongakkan
wajahnya menatap langit dengan perhatian terpusat penuh.
Untuk apa perempuan itu duduk seorang diri di tempat seperti ini?
Begitu pikirannya tergerak, suatu naluri tiba-tiba muncul dalam hati kecilnya. Dia segera
mengenyahkan kesedihannya dan menenangkan perasaannya yang bergejolak. Tanpa
menunda waktu lagi dia menyelinap di balik sebatang pohon yang besar.
Matanya segera dialihkan, gadis itu tampak asing baginya. Dia belum pernah
melihatnya sebelum ini. Tapi dari penampilan wajahnya yang diperlihatkan saat itu,
tampaknya gadis itu sedang banyak pikiran. Juga seperti sedang menunggu kedatangan
seseorang.
Ceng Lam Hong menyembunyikan diri di dalam kegelapan. Dia memperhatikan setiap
gerak-gerik perempuan itu dengan penuh perhatian. Siapa nyana perempuan itu boleh
dibilang dari awal hingga akhir terus mendongakkan wajahnya menatap langit. Dia tidak
bergerak sedikitpun. Sampai kurang lebih sepenanakan nasi. Tiba-tiba…
Sebuah suara siulan yang bening dan nyaring menyusup ke dalam telinga. Gadis itu
melonjak bangun dan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara siulan tadi. Tidak lama
kemudian, tampak sesosok bayangan seseorang yang tinggi besar melesat bagai kilat ke
arah gadis tersebut. Pakaiannya berwarna hijau. Hembusan angin mengibar-ngibarkannya.
Ternyata orang yang datang itu seorang Tosu.
Ketika Ceng Lam Hong berhasil melihat dengan jelas tampang orang yang datang itu,
diam-diam hatinya tergetar. Dia merasa terkejut sekali.
‘Tian Bu Cu adalah salah satu dari dua tokoh sakti di dunia ini. Tetapi selamanya dia
menutup diri dan tidak mencampuri urusan dunia luar. Konon dia senang menyelidiki berbagai
jenis ilmu silat yang ada di dunia ini. Mengapa tiba-tiba orangtua ini bisa muncul di
sini?’ tanyanya dalam hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika pikirannya masih bertanya-tanya, dengan gerakan seperti hembusan angin, Tian
Bu Cu sudah sampai di depan gadis itu. Dia menghentikan langkah kakinya dan tersenyum
lembut.
“Tentu Liang Kouwnio sudah lama menunggu.” katanya.
Perempuan berpakaian sederhana itu menarik nafas panjang. Suara sahutannya
mengandung kepiluan yang dalam.
“Bagaimana keadaannya?”
“Pernikahan sudah berlangsung, tidak sempat lagi dicegah.” sahut Tian Bu Cu.
Tiba-tiba perempuan itu mengembangkan seulas senyum.
“Locianpwe bersedia memikirkan kebahagiaanku dengan memadukan diriku dengan
adik Tan Ki. Boanpwe merasa terima kasih sekali. Tetapi, adik Ki dapat menyunting
seorang gadis cantik seperti Liu Moay Moay, mungkin malah lebih membuat dirinya
bahagia. Di sini aku pun ikut bergembira.”
Tian Bu Cu menarik nafas panjang.
“Pinto boleh dibilang selamanya tidak pernah ikut campur urusan dunia. Melihat keadaan
semakin gawat dan mungkin bisa terjadi pertumpahan darah besar-besaran,
sebetulnya hati Pinto juga masih belum tergerak. Tidak tahunya, ketika mencari obatobatan
di Go Bi San, secara kebetulan bertemu denganmu. Apabila bukan karena cinta
kasihmu yang demikian tulus, dan melihat kau terperangkap demikian dalam serta
bermaksud bertobat, Pinto justru jadi terharu. Sebetulnya Pinto sudah merasa bebas
dengan cara hidup menyendiri. Aih… kau sendiri mempunyai julukan Siau Yau Sian-li,
tetapi dapat mempunyai niat besar untuk bertobat karena nasehat Tan Ki. Hal ini juga
tidak mudah dilaksanakan.”
Siau Yau Sian-li Liang Fu Yong menarik nafas panjang.
“Boanpwe berharap Locianpwe dapat menyempurnakan niat suci ini.” sabutnya dengan
nada hormat.
“Sampai saat ini, apakah kau masih mencintai Tan Ki?” tanya Tian Bu Cu tiba-tiba.
Wajah Liang Fu Yong merah padam seketika. Cepat-cepat dia menundukkan kepalanya
dan tidak sanggup memberikan jawaban. Tian Bu Cu tampak merenung sejenak.
Mendadak mimik wajahnya menjadi serius. Sikapnya berwibawa sekali.
“Dapatkah kau mengorbankan perasaanmu sendiri dan menyempurnakan kebahagiaan
Tan Ki?” tanyanya kemudian.
Liang Fu Yong menjadi tertegun mendengar pertanyaannya.
“Apa?”
“Pinto menyuruhmu menunggu di sini. Menggunakan kesempatan itu, Pinto menyelinap
ke dalam gedung keluarg Liu dan mengadakan penyelidikan. Wajah pengantin prianya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
juga sempat Pinto lihat. Ternyata memang seorang pemuda yang tampannya tidak terkatakan.
Wajahnya gagah serta enak dilihat. Dia merupakan seorang yang berbakat
terpendam serta sulit dicari tandingannya di dunia Bulim saat ini. Beberapa hari kemudian,
akan diadakan perebutan besar-besaran untuk mendapatkan kedudukan Bulim Bengcu.
Meskipun pemuda ini belum tentu berhasil, tetapi kelak dia tentu akan mempunyai nama
yang besar dan berjiwa gagah…”
Terdengar suara keluhan dari mulut Liang Fu Yong. Dia mengembangkan seulas
senyuman yang getir.
“Aku tahu sekarang, setelah pernikahan ini, Tan Ki pasti mendapat dukungan dari para
pendekar dan namanya pasti akan terkenal dalam sekejap mata. Dia akan menjadi
seorang tokoh yang mendapat pusat perhatian di mana-mana, sedangkan aku hanya
seorang perempuan rendah yang dicerca orang di mana-mana. Seandainya…”
Berkata sampai di sini saja, segulung perasaan pedih telah memenuhi kalbunya.
Hatinya hancur seketika. Dari sepasang matanya yang sayu mengalir air mata. Dia tidak
sanggup meneruskan kata-katanya lagi. Namun sesaat kemudian, dia membangkitkan
keberanian dalam hatinya dan berkata dengan nada pilu, “Seandainya aku menjumpainya
secara terang-terangan, pasti akan menimbulkan prasangka yang tidak-tidak oleh para
pendekar. Hal ini juga akan mempengaruhi keharuman namanya dan mungkin bahkan
bisa menghancurkan masa depannya yang cerah…”
Kata-katanya terhenti. Dari wajahnya yang cantik tersirat penderitaan yang tidak
terkirakan. Di bawah cahaya rembulan, tampak wajahnya pucat pasi. Air mata telah
membasahi pipi yang mulus. Tampangnya sungguh mengenaskan.
Tampak dia tertawa getir dan berkata lagi:
“Aku tidak seperti Locianpwe yang dapat membebaskan diri dari ikatan duniawi dan
mencapai kebebasan hati yang sempurna. Aku selalu merasa bahwa manusia hidup di
dunia ini kecuali mencari kesenangan pribadi, hanya mendambakan cinta kasih saja.
Apalagi percintaan di antara sepasang muda mudi, begitu ajaib dan anehnya sehingga sulit
diuraikan dengan kata-kata. Tetapi cinta seperti ini demikian suci dan tulusnya, di
dalamnya tidak terkandung sedikitpun niat jahat. Seperti apa yang Boanpwe alami
sekarang ini. Seandainya Boanpwe benar-benar mencintai Tan Ki, maka seharusnya aku
berpikir demi masa depan serta kebahagiaannya…”
Tian Bu Cu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Kau dapat mengerti maksud ucapan Pinto dan langsung menyatakan persetujuan sendiri.
Meskipun Tan Ciok San sudah meninggalkan dunia ini dengan membawa dendam kesumat,
tetapi di alam baka dia pasti bisa mengetahui dan merasa berterima kasih sekali
terhadap ketulusan hatimu kepada putranya. Aih, sekarang waktu sudah larut sekali. Pinto
akan kembali ke Bu Tong San untuk menenangkan hati.” tiba-tiba dia berhenti berkata,
seakan ada suatu masalah besar di dalam hatinya dan dia harus memikirkan sejenak.
Kemudian tampak dia tersenyum simpul dan mengeluarkan sesuatu dari dalam lengan
bajunya yang longgar. Kemudian melanjutkan kembali kata-katanya dengan perlahanlahan,
“Liang Kouwnio, ke marilah. Menjelang kepergian Pinto ini, tidak ada sesuatu yang
dapat Pinto hadiahkan. Barang ini biar sementara kau simpan dahulu, kau boleh mencari
kesempatan yang baik dan berikan kepada si pengemis tua Cian Cong. Juga, ketika aku
masuk secara diam-diam ke dalam gedung keluarga Liu tadi, aku menemukan suatu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
rahasia yang menggetarkan hati…” tampak dia mendekati telinga Liang Fu Yong dan
membisikkan beberapa patah kata kepadanya.
Ceng Lam Hong bersembunyi di balik pohon yang jaraknya kurang lebih sepuluh depa.
Dia hanya dapat melihat mimik wajah Liang Fu Yong yang berubah hebat mendengar
bisikan Tian Bu Cu. Tampaknya dari sedih dia berubah menjadi marah. Di antara perasaan
marah juga terselip rasa takut akan sesuatu yang mengerikan.
Hal ini membuktikan bahwa urusan yang diberitahukan oleh Tian Bu C u pasti gawat
sekali. Tetapi karena jauhnya jarak di mana dia bersembunyi, dia jadi tidak dapat
mendengar apa yang dibisikkan oleh Tian Bu Cu sehingga Liang Fu Yong demikian
tercekat hatinya.
Ceng Lam Hong sedang menduga-duga apa kira-kira urusan yang mereka bicarakan,
tiba-tiba dia melihat Liang Fu Yong tergesa-gesa menerima benda yang disodorkan oleh
Tian Bu Cu dan memasukkannya ke dalam saku pakaian lalu berkata, “Kalau begitu,
Boanpwe pergi sekarang juga!” dia membalikkan tubuhnya. Dengan gerakan mengerahkan
ginkang sepenuhnya, dia langsung menghambur ke arah kota Lok Yang. Gerakannya bagai
sebatang anak panah yang dibidikkan. Dalam sekejap mata bayangannya sudah ditelan
oleh kegelapan malam.
Menunggu sampai bayangan Liang Fu Yong tidak terlihat lagi, orangtua yang mendapat
julukan salah satu dari dua tokoh sakti di dunia ini juga meninggalkan tempat itu. Ternyata
sampai saat ini, dia masih juga tidak tergerak oleh segala kerisuhan yang terjadi di dunia
Kangouw dan memilih hidup tenang di pegunungan Bu Tong San. Meskipun dia sadar
bahwa saat ini banyak pihak yang hendak menyerbu ke daerah Tionggoan dan
kemungkinan besar bisa terjadi pertumpahan darah besar-besaran.
Pada saat itu juga, kembali terlihat sesosok bayangan wanita yang melesat ke arah kota
Lok Yang.
Rupanya Ceng Lam Hong yang bersembunyi di belakang pohon, tiba-tiba saja
mendapat naluri bahwa apa yang dibisikkan oleh Tian Bu Cu ada kaitannya dengan diri
Tan Ki, putranya. Semacam perasaan cinta kasih serta perhatian yang besar dari seorang
ibu langsung memenuhi hatinya. Dia terus berpikir bahwa ada kemungkinan apa yang
dikatakan Tian Bu Cu ada hubungannya dengan keselamatan anaknya. Oleh karena itu,
begitu Liang Fu Yong dan Tian Bu Cu meninggalkan tempat itu, dia juga segera
menghambur ke arah kota Lok Yang, yakni gedung keluarga Liu.
Sementara itu, Liang Fu Yong berlari bagai dikejar setan. Dia tidak pernah
melambatkan gerak kakinya maupun berhenti beristirahat. Dalam waktu yang singkat dia
sudah sampai di halaman belakang gedung keluarga Liu.
Suara riuh rendah tawa dan teriakan para tamu masih terus berkumandang dari
ruangan tamu yang terdapat di bagian depan. Liang Fu
Yong sama sekali tidak memperdulikannya. Tubuhnya bergerak dan dia melesat ke balik
tembok dan mendarat turun di dalam sebuah ruangan besar.
Dia sudah mendapat petunjuk dari Tian Bu Cu dan sudah tahu di mana letak kamar
pengantin Tan Ki. Oleh karena itu, dia segera mengempas hawa murninya dan melesat
bagai kilat. Tampak gerakan tubuhnya bagai seekor kupu-kupu yang indah. Dengan dua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kali lonca-tan saja dia sudah melewati dua buah ruangan dan sampai di depan sebuah
kamar yang besar.
Di tempat itu dia menghentikan langkah kakinya. Di bagian atas pintu kamar tergantung
dua buah bola-bola yang diuntai dari kain merah. Dua helai pita berwarna keemasan
menjuntai ke kiri dan kanan pintu tersebut. Melihat pemandangan itu, serangkum rasa
perih menyelinap dalam hati Liang Fu Yong. Berbagai rasa duka dan penderitaan
berkecamuk di dalam kalbunya. Dia merasa sedih sekali.
Kemudian dia menggertakkan giginya erat-erat. Wajahnya didongakkan dan dia
menarik nafas dalam-dalam. Sedapat mungkin dia mengendalikan kesedihan di dalam
hatinya dan menenangkan perasaan lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
Rupanya saat ini Tan Ki masih menemani para tamu di ruangan depan. Dia tidak
berada di dalam kamar. Yang ada hanya Mei Ling seorang. Dia sedang duduk di depan
meja rias dengan kepala tertunduk. Lilin merah yang besar-besar masih menyala tanda
pesta masih berlangsung. Pakaian dan perhiasan yang dikenakannya sangat serasi. Hal ini
malah membuat kecantikannya semakin menonjol. Semakin dipandang semakin mirip
dengan bidadari yang turun dari khayangan.
Langkah suara kaki Liang Fu Yong membuat Mei Ling tersentak dari lamunannya.
Dengan cepat dia mendongakkan kepalanya, hatinya langsung terkesiap melihat siapa
orang yang masuk ke dalam kamar.
“Kapan Liang Cici datang? Mengapa tidak duduk di ruangan tamu bersama yang lainnya?”
Tampang Liang Fu Yong seperti orang yang tergesa-gesa. Dia mengedarkan
padangannya ke sekeliling kamar kemudian menoleh kembali ke arah Mei Ling dan
bertanya, “Ada siapa lagi di kamar ini?”
“Tidak ada. Empat orang pengiring pengantin dan para pelayan sejak tadi sudah keluar
dari ruang tamu ikut berpesta. Di dalam kamar ini hanya tinggal aku seorang.”
Liang Fu Yong menganggukkan kepalanya perlahan-lahan.
“Bagus. Cici ingin bertanya kepadamu, apakah hari ini kau ada minum teh?”
Mei Ling jadi tertegun mendapat pertanyaan seperti itu.
“Ada…”
“Tahukah kau bahwa ada orang yang ingin mencelakai pengantin laki-laki dengan
memasukkan racun keji ke dalam teh?”
“Apa?” Mei Ling terkejut setengah mati. Dia langsung melonjak berdiri dengan wajah
berubah hebat. Sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lembut.
“Kata-kata Cici ini rasanya kurang tepat. Aku yang meminum teh, bagaimana bisa
mencelakai diri Tan Ki Koko. Cici jangan bergurau lagi denganku…”
Wajah Liang Fu Yong serius sekali. Dengan penuh kewibawaan dia berkata, “Hal ini
menyangkut nyawa Tan Ki, bukan permainan. Orang yang menaruh racun itu benar-benar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempunyai hati yang jahat. Dia menggunakan cara yang paling licik. Apa yang
dilakukannya acap kali di luar dugaan orang sehingga kita tak mungkin mengadakan
persiapan bahkan tidak akan mengira sama sekali. Dia menggunakan racun yang ganas
dan memasukkannya ke dalam teh dan membiarkan kau meminumnya. Caranya sangat
sederhana tetapi keberaniannya patut diakui. Tanpa perlu kujelaskan, tentunya kau sendiri
sudah dapat menduga bahwa orang yang menaruh racun itu adalah salah satu dari para
tamu yang hadir malam ini…”
Sepasang alis Mei Ling perlahan-lahan menjungkit ke atas. Tiba-tiba dia menukas,
“Siapa?”
Liang Fu Yong menarik nafas panjang.
“Kabar ini kudapatkan dari seorang Locianpwe. Urusan yang sebenarnya, Cici sendiri
belum jelas. Tapi Locianpwe itu pernah mengatakan, seandainya kita tahu siapa yang
menaruh racun itu, tetap saja tidak ada bukti yang menguatkannya. Mungkin orang yang
menaruh racun itu telah merencanakan semuanya dengan matang sehingga sebelum
Locianpwe itu sempat menyelidiki dengan jelas, dia sudah berhasil menutupi dirinya
dengan baik.”
“Kalau begitu, Siau moay benar-benar bisa mati penasaran. Sampai jadi setan pun tidak
tahu siapa musuh yang sebenarnya. Hal ini sungguh membuat orang mati tidak tenang!”
Liang Fu Yong menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir.
“Meskipun kau sudah meminum racun yang ganas sekali, tetapi tidak sampai
membahayakan jiwamu. Karena racun itu terbuat dari ramuan- ramuan yang hanya dapat
didapatkan dari daerah padang pasir. Reaksinya sangat aneh. Orang yang meminumnya
tidak akan terjadi apa-apa. Tetapi apabila orang yang meminum racun itu melakukan
hubungan intim dengan lawan jenisnya, maka racun itu justru akan tersalur ke pihak
lawan dan akan segera menyerang jantungnya serta bisa mati seketika…”
Mei Ling masih seorang gadis yang suci bersih. Pikirannya polos dan belum mengerti
apa-apa. Dia tidak tahu apa maksud Liang Fu Yong dengan mengatakan mengadakan hubungan
intim. Untuk sesaat dia jadi tertegun, kemudian tersenyum simpul.
“Kalau begitu mudah sekali. Asal aku tidak berhubungan dengan kaum laki-laki kan
beres?”
Sepasang alis Liang Fu Yong bertaut dengan erat.
“Malam ini adalah malam pengantinmu. Mana mungkin kau dan adik Tan Ki tidak
melakukan hubungan…” tiba-tiba wajahnya menjadi merah padam. Kata-kata yang ingin
diucapkan selanjutnya jadi tidak dapat tercetus keluar. Dia merasa malusekali. Oleh karena
itu dia segera mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Mei Ling.
Kata-kata yang dibisikkannya sudah barang tentu ada hubungannya dengan urusan
suami istri. Tampak sepasang mata Mei Ling terbelalak lebar-lebar. Pertama-tama dia
menganggukkan kepalanya dengan tersipu-sipu. Sekejap kemudian wajahnya berubah
beberapa kali berturut-turut. Setelah mengeluarkan suara seruan terkejut, air matanya
langsung mengucur dengan deras.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ucapan Liang Fu Yong yang merupakan bisikan beberapa patah kata itu, membuat impiannya
yang indah dan melambung tinggi terhempas seketika.
Rupanya masalah Mei Ling yang kesalahan minum teh beracun memang sebuah
kenyataan. Dan apa yang dikatakan Liang Fu Yong dengan berbisik di telinganya juga
bukan suatu karangan belaka. Apabila dia melakukan hubungan intim dengan lawan jenis,
maka orang itu pasti akan mati seketika dalam keadaan jantung disebari oleh racun.
Tetapi dia sudah menikah dengan Tan Ki. Sebagai seorang istri, bagaimana dia harus
menolak permintaan suaminya yang satu itu?
Kabar berita yang mengejutkan dan di luar dugaannya, membuat Mei Ling tidak dapat
mengucapkan sepatah katapun untuk beberapa saat. Dia memandang Liang Fu Yong
dengan termangu-mangu. Dia merasa hatinya gelisah. Tidak ada setitik jalan keluar pun
yang terpikir olehnya. Perasaannya demikian risau. Bahkan dirinya sendiri tidak tahu
bagaimana harus mengungkapkan apa yang terasa dalam hatinya saat itu.
Sampai lama… lama sekali dia baru berbicara, “Cici, lalu bagaimana baiknya?”
Liang Fu Yong menarik nafas panjang.
“Pesta pernikahan sudah berlangsung, upacara adat pun telah dilakukan. Meskipun Cici
mempunyai pikiran untuk memberikan bantuan, tetapi saat ini sudah tidak bisa berbuat
apa-apa lagi. Satu-satunya harapan Cici hanyalah dirimu sendiri yang dapat
mengendalikan emosi serta perasaanmu…”
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang ringan berkumandang dari luar, kamar.
Liang Fu Yong cepat-cepat mengalihkan bahan pembicaraan…
“Jaga dirimu baik-baik. Hadapi suamimu dengan bijaksana. Aku harus pergi sekarang!”
Begitu kata-katanya selesai, bagai seekor burung walet yang melintas di atas angkasa,
dia melesat keluar lewat jendela.
Boleh dibilang dalam waktu yang bersamaan, tampak sesosok bayangan di luar pintu
kamar. Dalam keadaan mabuk berat, Tan Ki melangkah masuk ke dalam kamar.
Karena meneguk arak yang berlebihan, wajahnya jadi merah padam. Dengan langkah
sempoyongan dia melangkah menghampiri Mei Ling kemudian menggabrukkan pantatnya
jatuh terduduk di samping sang isteri.
Mei Ling memalingkan wajahnya sedikit dan melirik ke arah Tan Ki. Tiba-tiba
jantungnya berdebar-debar. Dalam sekejap mata saja, suasana terasa panas membara.
Seakan ada kehangatan yang terpancar dari diri Tan Ki sehingga seluruh anggota
tubuhnya terasa le-mas. Wajahnya jadi merah padam. Cepat-cepat dia menundukkan
wajahnya.
Tiba-tiba Tan Ki mengulurkan tangannya dan mencekal pergelangan tangan Mei Ling.
“Walaupun jauh sampai di mana, apabila sudah jodoh pasti akan bersatu juga. Pepatah
ini sedikitpun tidak salah. Dapat menyunting seorang gadis yang cantik dan lembut seperti
Liu Moay Moay menjadi isteri, sungguh merupakan kebahagiaan yang tidak terkirakan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah sekian lama memendam rindu sehingga tubuh menjadi kurus kering, akhirnya
impian menjadi kenyataan…”
Dengan sekuat tenaga Mei Ling berusaha melepaskan diri dari cekalannya, namun tidak
berhasil. Wajahnya yang cantik semakin mempesona karena dijalari rona merah jambu.
Dengan tersipu-sipu dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Jangan begitu, kalau dilihat orang kan tidak enak…”
Tan Ki tertawa lebar.
“Apa urusannya, kita toh sudah menjadi suami isteri. Memangnya ada orang yang
berani bicara yang tidak-tidak?” tiba-tiba dia menundukkan kepalanya dan mencium
tangan Mei Ling dengan mesra. Gerakannya begitu cepat sehingga Mei Ling tidak sempat
menghindar.
Jantung Mei Ling semakin berdebar-debar. Cepat-cepat dia menarik tangannya.
“Jangan begitu. Pesta masih berlangsung. Seharusnya kau belum boleh meninggalkan
para tamu. Cepat ke sana!” sembari berkata, dia melonjak bangun dan mendorong tubuh
Tan Ki.
Tan Ki tertawa terbahak-bahak. Dengan gerakan yang tidak diduga-duga dia mengulurkan
lengannya dan merangkul pinggang Mei Ling yang kecil ramping.
“Aku toh jarang sekali minum arak. Tadi aku meneguk beberapa cawan sekaligus. Perut
langsung terasa panas, bahkan rasanya bernafas pun sulit. Siapa yang kerajinan
menemani tamu sebanyak itu? Liu Moay Moay, saat ini jantungku berdebar tidak karuan,
aku ingin sekali…”
“Jangan! Aku…” baru mengucapkan dua patah kata, Mei Ling tidak dapat
meneruskannya lagi. Sepasang bibirnya telah dibekap oleh bibir Tan Ki.
Ciuman ini dilakukan dalam keadaan tidak terduga, bahkan mengandung cinta kasih
yang berkobar-kobar. Dicium sedemikian rupa, sukma Mei Ling seakan melayang-layang.
Keempat anggota tubuhnya terasa lemas. Terdengar suara keluhan lirih dari mulutnya,
tubuhnya pun terkulai dalam pelukan Tan Ki.
Sejak lahir sampai menjelang dewasa baru kali ini Mei Ling dicium oleh seorang lakilaki.
Luapan cinta kasih Tan Ki yang panas membara membuat hatinya lemah dan tidak
dapat mengadakan perlawanan.
Suasana di dalam kamar itu semakin panas!
Dari dalam kamar tidak terdengar suara sedikitpun. Kecuali sinar lilin yang melambailambai,
yang terlihat hanya dua sosok bayangan yang saling berpelukan dengan erat.
Pada saat itu juga, di ujung koridor dekat jendela, berdiri seorang gadis yang sedang
bersedih hati. Dia menundukkan kepalanya sambil menangis. Dia tidak mengatakan
sepatah kata pun. Kadang-kadang dia mengangkat wajahnya dan menatap bayangan
dalam kamar itu dengan penuh perhatian.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba serangkum angin yang keras menghempas ke arah lilin yang sedang menyala
sehingga padam seketika. Saat itu juga, bayangan yang tadinya terpantul lewat jendela
langsung hilang. Keadaan di dalam kamar jadi gelap gulita.
Otomatis gadis itu tidak dapat melihat apa-apa lagi. Di dalam kegelapan hanya
terdengar suara rintihan Mei Ling yang lirih.
“Tan Ki Koko, jangan berbuat begini, nanti ada orang yang datang. Jangan! Jangan!”
Meskipun suaranya semakin lama semakin jelas, namun di dalamnya terselip kegembiraan.
Rupanya Mei Ling tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri, dia membiarkan Tan Ki
memperlakukan apa saja terhadap dirinya.
Suasana di dalam kamar pengantin menjadi sunyi senyap, tidak ada sedikitpun suara
yang terdengar, namun dapat dirasakan ketegangan yang menyelimuti di dalamnya.
Habislah! Mimpipun Tan Ki tidak mengira bahwa emosinya yang sesaat akan membawa
bahaya kematian bagi dirinya sendiri!
Habislah sudah, semuanya telah terlambat!
BAGIAN XXVIII
Tepat pada saat itu juga, perempuan yang berdiri di ujung koridor tiba-tiba menarik
nafas panjang. Dia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu.
Di bawah cahaya rembulan yang suram, tampak wajahnya yang penuh penderitaan. Air
mata mengucur dengan deras membasahi pipinya. Air mata itu demikian bening dan
memperlihatkan cahaya yang berkilauan. Sebutir demi sebutir menetes turun. Sedangkan
kakinya yang bergerak melangkah dengan berat.
Nasib yang telah diatur oleh Yang Maha Kuasa membuat Tan Ki tidak dapat meloloskan
diri dari kesulitan ini. Mei Ling juga seakan tidak mendengar nasehat Liang Fu Yong,
dia membalas luapan cinta kasih Tan Ki kepadanya.
Dalam hal ini, Mei Ling juga tidak dapat disalahkan. Dia menikah dengan Tan Ki
memang atas dasar saling menyukai. Tentu sulit baginya menolak gejolak perasaan Tan Ki
yang menggebu-gebu. Tetapi apabila kedua orang itu tidak dapat mengendalikan dirinya
dan meneruskan perbuatan tersebut, racun yang ada dalam diri Mei Ling akan tersalur ke
tubuh Tan Ki dan dapat menyebabkan kematiannya.
Sungguh suatu hal yang mengenaskan. Tetapi saat itu Tan Ki sudah menghantamkan
telapak tangannya membuat lilin yang menyala terang menjadi padam. Di dalam kamar
pengantin hanya ada kegelapan saja. Tidak terdengar suara sedikitpun. Hal ini
membuktikan bahwa keduanya sedang melakukan kewajiban sebagai sepasang suami istri
yang dapat membawa penyesalan seumur hidup.
Liang Fu Yong terus berpikir. Semakin dipikirkan hatinya semakin tidak tenang. Perlu
diketahui bahwa tahun lalu dia masih merupakan seorang perempuan yang terkenal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kejalangannya di dunia Kangouw. Bahkan banyak orang yang menyebut dirinya sebagai
Iblis wanita. Boleh dibilang setiap malam dia sudah berkeliaran mencari laki-laki gagah
untuk menemaninya. Tetapi sejak bertemu dengan Tan Ki, mereka mengadakan perjanjian
bahwa dalam batas tiga bulan, Tan Ki akan mengajaknya ke mana-mana untuk
membuktikan adanya cinta yang suci di dunia ini. Tanpa disadari, sikap Tan Ki yang
lembut dan berjiwa besar dan selalu menasehatinya tanpa mengenal bosan, benar-benar
membuat hati perempuan jalang ini menjadi tergerak. Akhirnya dia malah mengambil
keputusan untuk bertobat dan menjadi orang baik-baik.
Dia mencintai Tan Ki. Hal ini keluar dari hatinya yang tulus. Tekadnya sudah bulat.
Kalau tidak, ketika Mei Ling diculik oleh si raja iblis Oey Kang, dia juga tidak akan
mengorbankan dirinya menjadi bahan hinaan iblis itu sehingga kesucian Mei Ling dapat
diselamatkan.
Hari itu adalah untuk pertama kali dia melayani seorang laki-laki dalam keadaan
terpaksa. Juga merupakan kali terakhir dia berbuat demikian…
Saat ini, dia merasa keadaan Tan Ki sedang gawat sekali. Sebuah firasat buruk tiba-tiba
menyelinap dalam hatinya. Dia seperti melihat bayangan Tan Ki dalam pelupuk matanya.
Rambutnya acak-acakan dan darah mengalir dari seluruh panca inderanya. Tampangnya
seperti hantu gentayangan yang keluar dari dasar neraka dan mencari korban untuk
membalaskan sakit hatinya. Tanpa dapat dipertahankan lagi tubuhnya menjadi gemetar.
Bulu kuduknya merinding semua.
Hatinya merasa takut. Dia tidak berani meneruskan khayalannya. Tetapi dia merasa
bahwa saat ini mungkin sudah terlambat apabila dia ingin memberikan bantuan. Mungkin
malah akan menerbitkan salah paham dalam diri Tan Ki. Tetapi dia tetap mempercepat
langkah kaki, dengan membawa sebongkah hati yang luka dia berlari keluar dari ruangan
tersebut.
Sementara itu, di dalam kamar pengantin masih tetap gelap gulita. Tidak ada setitik
sinarpun yang terpancar dari dalamnya. Suasana semakin mencekam. Tidak ada
sedikitpun suara yang terdengar.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Mei Ling yang penuh ketakutan…
“Tan Ki Koko, jangan berbuat yang tidak-tidak. Aku… aku ingin berbicara denganmu.
Penting sekali…”
“Kalau memang ada perkataan yang ingin kau sampaikan, besok juga sama saja.
Jangan membuat aku menjadi penasaran…”
“Tidak bisa. Urusan ini gawat sekali!”
“Sudahlah. Aku tidak ingin mendengarkannya!”
Baru saja selesai berkata, sekali lagi terdengar suara jeritan Mei Ling yang keras sekali!
Rupanya Tan Ki mulai kehabisan sabar, dia
langsung merobek baju Mei Ling yang masih dipertahankannya sejak tadi. Meskipun
keadaan di dalam kamar gelap gulita, berkat ketajaman mata Tan Ki, dia dapat melihat
bentuk tubuh Mei Ling yang indah dan kulitnya yang putih mulus.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bahkan ada serangkum bau harum yang terpancar dari tubuhnya! Hal ini malah membuat
jantung Tan Ki semakin berdebar-debar. Darahnya seakan berdesir. Tampak Tan Ki
tertawa lebar.
“Moay Moay, sekarang aku baru tahu bahwa tidak ada sedikitpun bagian dari dirimu
yang tidak indah, tidak ada bagian yang tidak memancarkan keharuman…”
Terdengar Mei Ling berteriak dengan keras.
“Lepaskan tanganmu!” Tan Ki jadi tertegun melihat kekasaran isterinya.
“Kita kan sudah menjadi suami isteri, masa bermesraan seperti ini saja tidak boleh?”
Mei Ling menarik nafas panjang-panjang.
“Tan Ki Koko, coba kau duduk dulu baik-baik. Jangan terus mendekapi diriku. Aku
benar-benar ada masalah yang penting ingin dibicarakan dengan dirimu!”
Saat itu gairah dalam hati Tan Ki sudah menggebu-gebu. Seluruh tubuhnya seakan panas
membara sehingga perlu penyaluran secepatnya. Ingin rasanya dia mendaki puncak
kemesraan bersama isterinya. Tetapi Tan Ki memang merasa sayang sekali kepada Mei
Ling. Justru dari rasa sayang inilah tumbuh perasaan cinta. Dan diantara perasaan
cintanya juga terselip rasa hormat. Dalam hal apapun dia takut membuat Mei Ling menjadi
sedih dan kecewa. Oleh karena itu, mendengar ucapan Mei Ling yang serius, dia segera
bangun dan duduk dengan baik-baik.
“Baiklah. Kau katakan saja. Aku akan membuka telinga lebar-lebar untuk
mendengarkannya.”
“Nyalakan lilin itu lebih dahulu.” kata Mei Ling.
Tan Ki menuruti permintaan gadis itu. Dia segera berdiri dan berjalan menuju kaca rias
di sudut kamar di mana terdapat dua batang lilin berwarna merah yang besar. Tan Ki
langsung menyalakan lilin-lilin tersebut. Telinganya mendengar suara gesekan pakaian.
Ternyata dalam waktu sekejapan mata, Mei Ling sudah mengenakan pakaiannya kembali.
Begitu kedua batang lilin tersebut dinyalakan, tampak dua titik cahaya api yang
melambai-lambai. Dalam waktu yang singkat kegelapan telah tersapu bersih dan
digantikan dengan keadaan yang terang benderang.
Mei Ling mengejap-ngejapkan matanya. Dia langsung berdiri dari tempat tidur.
“Tan Koko, kita hanya bisa menjadi suami isteri dalam sebutan saja. Namun kita tidak
boleh melakukan kewajiban sebagaimana yang dilakukan oleh sepasang suami isteri.”
Wajah Tan Ki langsung berubah hebat mendengar ucapannya.
“Apa maksud perkataanmu itu?”
“Aku… aku…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Katakanlah!” nada suara Tan Ki tajam sekali. Bahkan di dalamnya mulai terkandung
rasa marah.
“Aku… aku tidak boleh melakukan hubungan suami isteri denganmu…”
Tan Ki langsung mendengus dingin.
“Mengapa?”
“Aku mempunyai penyakit…”
“Apalagi?”
Mei Ling dapat melihat wajahnya yang hijau membesi. Tan Ki juga mendesaknya
dengan berbagai pertanyaan. Melihat keadaan itu, perlahan-lahan Mei Ling menarik nafas
panjang. Di wajahnya tersirat kesedihan yang dalam. Tampangnya juga kusut dan serba
salah.
“Aku kesalahan minum semacam racun. Jenis obat ini sangat ganas. Racun ini bisa
menyalur ke tubuh orang lain dan baru bereaksi…”
“Omongan setan!”
Mei Ling menjadi panik.
“Tan Koko, jangan kau tidak percaya perkataanku ini. Hal ini memang kenyataan. Aku
toh sudah bersedia menikah denganmu dan berarti menjadi istrimu seumur hidup. Mana
mungkin aku mengarang cerita yang bukan-bukan di malam pengantin?”
Berkata sampai di sini, dia berhenti lagi. Kemudian tampak dia menarik nafas panjangpanjang.
Di antara cahaya lilin yang melambai, tampak mimik wajahnya yang menyiratkan
penderitaan yang dalam. Sinar matanya seakan memohon belas kasihan dari Tan Ki. Dia
menatap suaminya itu lekat-lekat. Kemudian dia berkata, “Tan Koko, biarpun hatimu
merasa curiga dan tidak percaya. Tetapi aku mohon kalau kau mempercayai aku kali ini
saja. Kita tidak bisa melakukan hubungan ini…
Perlahan-lahan sepasang alis Tan Ki menjungkit ke atas.
“Dalam dunia ini banyak kejadian aneh dan janggal dan bukan hal yang dapat terpikir
atau terbayangkan olehku. Tetapi biar bagaimana aku tidak percaya ada hai seperti ini.
Seseo-rang telah kesalahan, minum racun, namun tidak akan terjadi apa-apa. Justru
setelah melakukan hubungan intim dengan lawan jenisnya, racun itu akan tersalur ke
tubuh lawan. Ini benar-benar cerita paling aneh yang pernah kudengar. Aku rasa, ketika
kau mengarang cerita ini, tentunya kau menemukan banyak kesulitan. Sayangnya
ceritamu ini tidak bermutu, aku sama sekali tidak dapat menerimanya karena memang
tidak masuk akal sama sekali.” sahutnya dingin.
Suara sahutannya ini datar sekali. Sama sekali tidak mengandung kegusaran. Tetapi
justru seperti sebatang jarum yang tajam bukan kepalang dan mencucuki hati Mei Ling.
Perasaan pedih langsung menyelinap di dalam hati gadis itu. Air matanya jatuh
bercucuran. Dia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak, Tan Koko. Jangan kau
salah paham terhadap diriku…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki tertawa dingin.
“Tutup mulutmu! Karanganmu yang sensasional itu mungkin dapat menakuti orang lain,
tetapi tidak mengelabui sepasang mataku yang tajam ini. Kalau kau memang tidak mempunyai
perasaan apa-apa terhadapku, mengapa kau menerima lamaranku dan bersedia
menjadi isteriku?”
Tampaknya semakin berbicara, hati Tan Ki semakin panas. Baru saja selesai berkata,
tiba-tiba lengannya bergerak dan terdengar suara. Plakkk! Tahu-tahu dia sudah
menempeleng pipi Mei Ling.
Gerakannya begitu cepat dan tidak terduga-duga sama sekali. Bahkan Mei Ling tidak
mempunyai kesempatan untuk menghindarkan diri. Tiba-tiba saja pipinya terasa panas
dan perih. Tanpa dapat dipertahankan lagi kakinya tergetar mundur satu langkah.
Air mata langsung berderai bagai air sungai yang deras. Mimpipun dia tidak mengira
kalau Tan Ki dapat turun tangan memukulnya. Untuk sesaat dia sampai tidak ingat lagi
rasa perih di pipinya. Dia berdiri dengan termangu-mangu.
Kemudian terdengar suara Tan Ki yang dingin bagai es.
“Perempuan yang pandai bersandiwara!” dia langsung membalikkan tubuhnya dan
melangkah keluar dari kamar tersebut.
Mei Ling melihat bayangan punggungnya yang angkuh dan kekar keluar dari kamar itu.
Hatinya menjadi tergetar. Dengan panik dia berteriak, “Tan Ki Koko, kau masih belum
mengerti hatiku yang sebenarnya…!”
Tan Ki mendengus satu kali.
“Mungkin benar apa yang kau katakan. Tetapi ketahuilah, aku memang tidak berniat
untuk memahami hatimu!”
Mei Ling langsung menangis dengan suara meratap.
“Tan Ki Koko, kau seharusnya memaklumi perasaanku, aku benar-benar mencintaimu!”
“Tidak usah bicarakan lagi, aku tidak ingin mendengarnya!” sahut Tan Ki datar.
“Apakah kau tidak sudi mendengarkan penjelasanku?”
“Di antara kita, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan!”
Sembari berkata dia terus menggerakkan kakinya yang berat meninggalkan kamar tersebut.
Tiba-tiba tubuh Mei Ling berkelebat. Tahu-tahu dia sudah menghadang jalan pergi
Tan Ki. Di bawah cahaya rembulan, tampak wajahnya yang cantik menyiratkan kedukaan
yang tidak terkirakan.
“Tan Ki Koko, kau jangan terlalu tinggi hati sehingga tidak mau mendengarkan penjelasanku
sedikitpun. Hal ini malah akan menambah kesalahpahaman terhadap diriku.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wajah Tan Ki semakin kelam.
“Cerewet! Aku tidak mengharapkan penjelasan darimu!”
“Tan Koko, kau…”
Sepasang alis Tan Ki bertaut dengan erat.
“Minggir! Aku ingin pergi!”
Mendengar ucapannya, wajah Mei Ling langsung berubah.
“Mengapa kau tidak mendengar dulu penjelasanku? Apakah selama ini aku pernah berbuat
kesalahan terhadapmu?”
“Tidak, sikapmu terhadapku justru terlalu baik. Tetapi hal inilah yang membuat aku
mengira kau benar-benar mencintai aku. Aku benci padamu!”
“Katakan sekali lagi.” kata Mei Ling dengan nada yang mulai datar.
Tan Ki tertawa dingin.
“Jangan kata cuma sekali lagi, puluhan kali atau ratusan kalipun sama saja. Tetapi apa
artinya?”
Mendengar perkataan Tan Ki, wajah Mei
Ling berubah kelam. Segurat perasaan yang perih terlintas sesaat di wajahnya. Tibatiba
dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terkekeh-kekeh. Suara tawanya begitu
berat. Orang yang mendengarnya pasti akan merinding bulu romanya. Di sudut mata
tampak kumpulan air mata itu menetes turun. Hal ini benar-benar luar biasa dan berbeda
sekali dengan sikap Mei Ling yang sebenarnya.
Namun sekali lagi Tan Ki tertawa dingin.
“Apa yang kau tertawakan?”
Suara tawa Mei Ling langsung sirap. Dia berkata dengan nada lirih, “Baiklah. Kalau kau
tidak mau mendengar penjelasanku, aku juga tidak mengharapkan pengertian darimu.
Mungkin kelak kau baru akan mengetahui bahwa aku mempunyai kesulitan tersendiri.
Pada saat itu kau menyesalpun, semuanya sudah terlambat.
Selesai berkata, dia tidak menunggu lagi jawaban dari Tan Ki. Dia langsung
membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam kamar. Pada saat yang
bersamaan, terdengar suara tawa Tan Ki yang sumbang. Dia juga melangkah
meninggalkan tempat itu.
Gerakan langkah kakinya persis sama dengan perasaannya saat itu, berat dan mengandung
penderitaan yang dalam.
Perubahan yang terjadi pada nasib manusia, kadang-kadang begitu cepat sampai tidak
pernah terbayangkan. Sebelumnya, dia mencintai Mei Ling setengah mati. Bahkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melebihi jiwanya sendiri. Tetapi sekarang, dia membenci gadis itu lebih-lebih dari musuh
besarnya. Tanpa berpikir panjang lagi, dia meninggalkan gadis itu. Mungkinkah dia tidak
menyadari bahwa kepergiannya ini berarti bahwa dia telah memutuskan cinta kasih antara
dirinya dengan Mei Ling. Tan Ki sadar sepenuhnya, namun dia tidak perduli. Rasa sakit
hatinya telah memenangkan segala hal yang lain.
Karena dia membenci kepura-puraan Mei Ling yang ia anggap telah menipu perasaan
cintanya yang tulus.
Perlahan-lahan dia berjalan. Dirinya saat itu bagai sebuah perahu kecil yang
terombang-ambing di tengah lautan. Dia merasa di depan matanya yang terlihat hanya
hamparan yang semu.
Entah berapa lama sudah berlalu, tiba-tiba…
Sesosok bayangan berkelebat di hadapannya. Kedatangannya begitu cepat dan tidak
terduga-duga. Hanya hembusan angin yang terbit dari gerakan orang itu. Hati Tan Ki jadi
tercekat, tanpa sadar dia mundur dua langkah.
Begitu matanya memandang, orang yang datang itu tidak asing baginya. Dia adalah si
gadis lugu, Cin Ie.
Mungkin dia juga meneguk arak dalam jumlah yang banyak. Di wajahnya yang penuh
dengan bintik-bintik terlihat rona berwarna merah jambu. Di bawah cahaya rembulan yang
redup, malah mengesankan kecantikan tersendiri.
Jantung Tan Ki jadi berdebar-debar melihatnya.
“Mengapa kau tidak ikut berpesta di ruangan depan?” tanyanya sambil tersenyum
simpul.
“Tadinya aku duduk di ruang tamu dan minum arak terus. Lama kelamaan aku menjadi
bosan. Lagipula hatiku ingin sekali melihat dirimu. Oleh karena itu, tanpa sepengetahuan
Cici, diam-diam aku menyelinap keluar.”
Selesai berkata, Cin Ie tertawa cekikikan lagi. Tan Ki ikut tersenyum. “Ikutlah
denganku.”
Dia mengulurkan tangannya dan mencekal pergelangan tangan Cin Ie. Dia
mengajaknya berjalan ke arah halaman belakang. Karena meneguk arak dalam jumlah
yang banyak, keberanian Tan Ki jauh lebih besar dari biasanya. Meskipun di malam
pengantin seperti sekarang ini, tanpa rasa takut sedikitpun dia menarik tangan seorang
gadis yang tidak mempunyai ikatan apa-apa dengan dirinya. Malah dia merasa santai
sekali.
Dalam hati Cin Ie ingin menolak. Baru saja dia berpikir untuk memberontak, tetapi
tarikan Tan Ki begitu kencang. Mau tidak mau langkah kakinya jadi terseret dan mengikuti
ajakan anak muda itu.
Setelah melewati hamparan rumput-rumputan di halaman belakang, mereka sampai di
sebuah taman bunga. Dari arah depan terasa angin berhembus, membawa bebauan
bunga yang menyegarkan. Keadaan ini malah membuat perasaan orang semakin terlena.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba Tan Ki menghentikan langkah kakinya. Dia berdiri di balik sebuah gununggunungan
yang tingginya kurang lebih dua depa. Wajahnya mengembangkan senyuman.
“Ie Moay, apakah kau mengerti siapa dirimu bagi diriku ini?”
Cin Ie tertawa terkekeh-kekeh. Dengan tampang kebodoh-bodohan dia menyahut.
“Aku adalah calon selirmu dan kau adalah bakal suamiku nanti.”
“Benarkah?”
Cin Ie mencibirkan bibirnya. Terdengar suara tawanya yang lirih.
“Cici sering mengatakan bahwa aku ketolol-tololan. Tidak mengerti urusan sama sekali.
Sekarang kelihatannya kau malah lebih bodoh dua kali lipat dari padaku.” dia merandek
sejenak. Sejenak kemudian dia melanjutkan kembali. “Mungkin lebih…” tampaknya dia
ingin mencari kata-kata yang tepat untuk berdebat dengan calon suaminya itu. Namun dia
sendiri bingung kata-kata apa yang harus dipilihnya.
Tan Ki tersenyum simpul.
“Tahukah kau di antara suami isteri, seharusnya berbuat apa?”
Cin Ie jadi tertegun mendengar pertanyaannya. Kemudian tampak dia menggelengkan
kepalanya.
“Tidak tahu…” Sinar mata Tan Ki mengedari ke sekeliling tempat itu. Yang terlihat
hanya cahaya rembulan dan bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Pepohonan
maupun bunga-bungaan
membisu. Tidak tampak bayangan seorang-pun. Oleh karena itu dia segera
mengembangkan seulas senyuman dengan perasaan lega.
“Aku akan mengajarkan kepadamu!” tiba-tiba sepasang lengannya bergerak dan tahutahu
pinggang Cin Ie telah dirangkulnya.
Gerakannya ini begitu cepat dan tidak terduga-duga. Cin Ie tidak mempunyai persiapan
sama sekali! Tanpa dapat ditahan lagi mulutnya mengeluarkan seruan terkejut. Tetapi
justru di saat dia berteriak, tubuhnya sudah terkulai ke dalam pelukan Tan Ki.
Saat itu juga, dia merasakan ketakutan yang tidak pernah ia alami seumur hidupnya.
Semacam reaksi untuk mempertahankan diri dari seorang gadis suci langsung bangkit
dalam hatinya. Cepat-cepat dia mengulurkan tangannya mendorong dada Tan Ki.
Boleh dibilang dalam waktu yang hampir bersamaan, Tan Ki telah menundukkan
kepalanya dan menempel di wajah gadis itu. Gerakannya ringan dan cepat. Begitu
menempel langsung ditarik kembali.
Meskipun hanya ciuman yang sekilas, namun Tan Ki sudah dapat merasakan kelembutan
kulit pipinya. Ciuman itu membawa kesegaran seorang gadis remaja yang dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membuat perasaan orang menjadi terlena dan pikiran melayang-layang. Tanpa dapat
ditahan lagi, jari jemari Tan Ki langsung merayap kemana-mana.
Dengan tenaga sepenuhnya Cin Ie mendorong dada anak muda itu.
“Apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan!”
Tan Ki tertawa lebar.
“Aku hanya mengajarkan cara para suami istri mencari kesenangan. Jangan berteriakteriak
seperti itu. Toh engkau sudah hampir
menjadi…”
Cin Ie menggelengkan kepalanya berkali-kali. Wajahnya tampak serba salah dan sedih.
“Aku tidak mau dengar, benar-benar memalukan!” teriaknya.
Wajah Tan Ki berubah jadi serius. Dia berkata dengan suara yang dalam.
“Hal ini merupakan kodrat alam, sejak zaman purba sampai sekarang. Mengapa harus
merasa malu? Tempat ini sunyi sekali. Tidak ada seorangpun yang akan datang ke mari.
Lagipula sekarang gairahku sedang meluap-luap. Perlu penyaluran secepatnya agar terasa
segar. Cepat atau lambat, kau toh akan menjadi milikku. Meskipun kau akan
mengorbankan sesuatu yang sangat berharga, aku juga tidak mungkin berlaku habis
manis sepah dibuang atau mencelakai dirimu seumur hidup.”
Hati Cin Ie panik sekali. Dia merasa kalang kabut. Tanpa dapat ditahan lagi air matanya
mengalir dengan deras.
“Aku tidak mau… aku takut…”
Di antara kesunyian malam, terus terdengar nafas Tan Ki yang semakin memburu.
Sepasang sinar matanya menyorotkan keganasan seperti seekor binatang buas!
Tiba-tiba terdengar suara gesekan yang lirih. Disusul dengan suara jeritan Cin Ie yang
histeris. Rupanya pada saat ini Tan Ki hampir tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.
Dia merobek-robek baju Cin Ie. Tampak kepingan pakaian itu melayang-layang tertiup
angin. Mata Tan Ki langsung dapat melihat sehelai oto merah jambu yang menutupi
bagian payudara gadis itu.
Kali ini rasa terkejut Cin Ie tak usah dikatakan lagi, dia merasa takut juga tercekat. Air
matanya mengalir dengan deras.
“Tan Koko, jangan mencelakakan diriku. Kelak aku tidak mempunyai muka lagi untuk
bertemu dengan orang-orang…”
Dengan segenap tenaga dia memberontak. Tangannya terus menghentakkan tangan
Tan Ki yang berkeliaran ke mana-mana. Tidak diragukan lagi, keadaan Tan Ki saat itu
memang seperti seekor binatang buas. Tenaganya besar sekali. Dalam waktu yang singkat
pakaian atas Cin Ie sudah terkoyak semua dan hampir seluruh tubuh serta payudaranya
terlihat jelas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Saat itu juga, suasana semakin tegang dan panas. Tiba-tiba Cin Ie meraung-raung dan
berteriak dengan histeris.
“Cici, cepat tolong, aku sudah hampir mati. Tolong…!”
Suara teriakannya begitu keras. Di antara kesunyian yang merayap pada malam yang
dingin seperti ini, tentu saja suara itu bagai geledek yang menggelegar. Suaranya pasti
bisa berkumandang sampai kejauhan. Tetapi belum lagi teriakannya selesai, mendadak
mulutnya mengeluarkan suara keluhan. Kata-katanya pun terhenti seketika.
Ternyata Tan Ki telah menggunakan bibirnya yang hangat menyumpal mulut gadis itu.
Otomatis suara teriakannya jadi sirap. Tentu saja Tan Ki tidak mengharapkan dia berteriak
terus yang mungkin bisa mengacaukan rencananya.
Ciuman itu disertai emosi yang meluapluap serta dilakukan dengan kasar. Padahal Tan
Ki bukan laki-laki yang genit atau mata keranjang. Tetapi pengaruh arak yang banyak
membuat kesadarannya jadi tidak terkendalikan. Begitu gairahnya terbangkit, dirinya bagai
sebuah gunung berapi yang siap meletus. Dan bagaimanapun tidak dapat dicegah lagi.
Dalam keadaan panik, tiba-tiba Cin Ie menggertakkan giginya erat- erat. Dengan sekuat
tenaga dia mendorong Tan Ki. Tepat ketika tubuh anak muda itu terhuyung-huyung, jari
telunjuk dan jari tangan tengahnya bergerak. Dengan kecepatan kilat dia mengirimkan
sebuah totokan. Tanpa melakukan kesalahan sedikitpun tahu-tahu jalan darah di bagian
atas dada telah tertotok.
Terdengar Tan Ki mendengus berat kemudian tubuhnya terkulai di atas tanah. Habislah
sudah.
Jalan darah di bagian atas dada ini merupakan salah satu dari delapan belas urat darah
terpenting di seluruh tubuh manusia. Sedangkan jalan darah yang satu ini justru
merupakan pusat pengumpulan pembuluh darah utama. Apabila pada hari biasa ditotok
oleh seseorang, maka hanya jalan darah yang tertutup dan orang itu merasakan sedikit
ngilu atau seperti kesemutan. Kemudian keempat anggota tubuh menjadi lemas tidak
bertenaga. Sekarang gairah birahi Tan Ki sedang meluap-luap. Begitu jalan darah yang
satu ini tertotok, hawa panas dalam tubuhnya tidak dapat teralir secara merata. Otomatis
berhenti di bagian tersebut. Apabila dibiarkan agak lama, maka pembuluh darah itu akan
membengkak dan setiap saat ada kemungkinan menjadi pecah. Kalau keadaannya parah
bisa mematikan, apabila agak ringan maka paling tidak lumpuh setengah badan dan
akhirnya menjadi cacat seumur hidup.
Biar bagaimanapun Cin Ie adalah putri bekas Bengcu dari Samudera luar. Bukan dia
tidak tahu bahaya yang ada bila menotok bagian tubuh ini, tetapi keadaannya sedang
panik. Dia tidak berpikir sampai ke sana, yang dipikirkannya hanya menyelamatkan dirinya
sendiri. Setelah berhasil menotok Tan Ki. Dia tidak berpikir panjang lagi, tubuhnya
langsung meliuk bagai seekor ikan emas di dalam kolam dan kemudian dengan cepat
menghambur meninggalkan tempat itu.
Tepat setengah kentungan kemudian, tiba-tiba Tan Ki tersadar kembali. Kedua
tangannya bertumpu di atas tanah dan langsung melonjak bangun. Dalam keadaan gairah
yang berkobar, seluruh urat darah dalam tubuhnya menjadi tegang. Meskipun ketika
terkulai jatuh tadi tidak begitu ringan, tetapi dia tidak merasa sakit sama sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada saat itu dia sudah merasakan ada segulung hawa panas dalam tubuhnya yang
tidak dapat dikendalikan. Dirinya bagai dibakar di atas bara api. Panasnya semakin lama
semakin tidak tertahankan. Keringat telah membasahi seluruh tubuhnya. Wajahnya terus
mengerut-ngerut menahan rasa tidak nyaman itu. Tampangnya bagai orang yang
menderita sekali. Seperti seekor binatang buas yang terbidik sebatang panah pemburu.
Tiba-tiba terdengar suara tarikan nafas yang lirih dari mulut seorang perempuan.
Sumbernya dari belakang Tan Ki. Pikiran anak muda itu sudah kacau karena dijalari rasa
panas yang membara itu. Kemanusiaan dan kesadarannya sudah dipengaruhi hasrat
maksiat dalam dirinya. Tetapi terhadap suara tarikan nafas yang dikeluarkan perempuan
tadi, perasaannya luar biasa peka. Seperti seekor binatang buas yang sudah kelaparan
berhari-hari dan tiba-tiba menemukan mangsa. Oleh karena itu secepat kilat dia
membalikkan tubuhnya, sepasang matanya mengedar ke sekeliling, tiba-tiba
pandangannya terhenti pada diri seorang perempuan yang mengenakan pakaian hijau.
Ketika mula-mula melihat Tan Ki, perempuan itu terkejut sekali sehingga tertegun
beberapa saat. Tetapi sejenak kemudian, dia menarik nafas panjang dan menatap anak
muda itu dengan perasaan iba. Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya menghampiri
Tan Ki dan bertanya dengan suara lirih.
“Apa yang terjadi dengan dirimu? Wajahmu pucat sekali.”
Dengan penuh kasih sayang dia mengeluarkan sehelai sapu tangan dalam saku
pakaiannya dan dengan lemah lembut menghapus keringat yang membasahi wajah Tan
Ki. Namun begitu tangannya sempat menyentuh dahi anak muda itu, dia merasa suhu
badan Tan Ki panas membara. Untuk sesaat dia langsung merasa tercekat hatinya.
Tetapi dia tidak menarik tangannya kembali. Setelah bimbang sejenak, dia menghapus
lagi keringat Tan Ki yang bercucuran.
Tiba-tiba Tan Ki meraung dengan suara keras dan mendadak mengulurkan sepasang
lengannya lalu memeluk perempuan itu eraterat. Gadis berpakaian hijau itu mengeluarkan
seruan terkejut. Sapu tangan yang digenggamnya terjatuh ke atas tanah. Tetapi dia tidak
memberontak, malah menempelkan wajahnya di dada Tan Ki.
Di bawah cahaya rembulan, tampak selembar wajahnya yang manis telah dibasahi oleh
air mata. Tadinya Tan Ki masih mengenakan pakaian pengantin. Tetapi sekarang telah
dirobeknya sendiri sehingga tampak tidak karuan. Ketika wajah gadis itu menempel ke
tubuhnya, kebetulan melekat pada bagian dadanya yang terbuka. Hal ini malah membuat
Tan Ki semakin tidak dapat mengendalikan dirinya. Apalagi serangkum bau harum yang
terpancar dari tubuh seorang wanita terus-terusan menerpa indera penciumannya.
Pikirannya semakin melayang-layang dan perasaannya semakin terlena.
Tempat di mana kedua orang ini berada kebetulan dihalangi sebuah gunung-gunungan
yang tingginya kurang lebih dua depaan. Suasana di sana selain sunyi mencekam juga
gelap gulita. Gadis berpakaian hijau itu tidak dapat melihat jelas lagi tampang Tan Ki.
Tetapi dia dapat merasakan bahwa tubuh Tan Ki yang merapat dengannya panas sekali.
Jantungnya jadi berdebar-debar. Baru saja dia bermaksud membuka suara menasehati
Tan Ki, tahu-tahu sepasang bibir yang panas sudah menyumpal mulutnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu kedua bibir bertemu, gadis itu merasa dirinya bagai dialiri arus listrik dan tubuhnya
bergetar hebat. Sepasang tangannya mendorong ke depan. Dia berusaha
melepaskan diri dari pelukan Tan Ki yang ketat.
Siapa nyana begitu dia mengerahkan tenaga mendorong, tahu-tahu sepasang lengan
yang memeluk dirinya tiba-tiba merenggang, otomatis tubuhnya sendiri jadi limbung
akhirnya malah terjatuh ke dalam pelukan anak muda itu kembali.
Gadis itu terkejut sekali.
“Apa… apa yang ingin kau lakukan? Tan Koko, aku adalah Cici-mu Liang Fu Yong.
Cepat lepaskan diriku!”
Dengan sepenuh tenaga dia berusaha memberontak. Pergelangan tangannya bergerak.
Dengan cepat dia berhasil mencekal leher Tan Ki dan mendorongnya kuat-kuat. Terdengar
suara Blamm! Bagian urat penting di lehernya tercekik, karena dorongan tenaga yang
besar, nafas Tan Ki langsung sesak. Otomatis hawa murninya tidak dapat diempos ke atas.
Dia langsung terhempas jatuh di atas tanah.
Gadis itu menegakkan tubuhnya dan menyelipkan tangannya ke dalam saku dan
mengeluarkan peletekan api dan mengulurkan-nya ke depan. Dia melihat ada guratan
merah menyolok di bagian kening Tan Ki. Pipinya juga mulai merah jambu. Hal ini malah
menambah ketampanan Tan Ki.
Entah mengapa, wajah gadis itu jadi merah jengah. Hatinya tiba-tiba diselipi perasaan
malu. Padahal dia bisa saja memalingkan mukanya dan pergi dari tempat itu tanpa
memperdulikan Tan Ki, tapi dia tidak berbuat setegas itu. Hatinya merasa bimbang.
Setelah tertegun sejenak, dia malah berjalan ke belakang punggung anak muda itu.
Dengan kecepatan kilat dia mengulurkan kedua jari tangannya dan menotok dua buah
jalan darah di bagian punggung anak muda tersebut.
Terdengar Tan Ki menghembuskan nafas panjang kemudian menegakkan tubuhnya
berdiri. Liang Fu Yong sejak kecil sudah berkelana di dunia Kangouw. Pengalamannya
banyak dan pengetahuannya luas. Setelah memperhatikan sejenak dia melihat hawa
panas sudah mendesak naik ke kening serta dahi Tan Ki, hal ini membuktikan bahwa
gairah dalam hatinya sudah terlalu meluap sehingga kehilangan sikapnya pribadi. Oleh
karena itulah, tadi dia memperlihatkan tingkah seperti orang kalap dan tidak
terkendalikan.
Perlu diketahui bahwa pada dasarnya Tan Ki adalah pemuda pujaan yang
dirindukannya siang dan malam. Meskipun dalam hati dia merasa rendah diri, tetapi
cintanya terhadap anak muda ini dalam sekali. Tingkah laku Tan Ki yang seperti orang gila
tadi sempat melukai harga dirinya sebagai seorang wanita. Namun setelah mengetahui
apa yang terjadi pada diri anak muda itu, dia malah berbalik merasa iba serta kasihan.
Tan Ki sudah siuman kembali dari pingsannya. Untuk sementara pikirannya yang kacau
menjadi agak sadar. Untuk sesaat dia memandang Liang Fu Yong dengan termangumangu.
Tiba-tiba dia menjerit histeris kemudian meloncat bangun dan mengambil langkah
seribu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tanpa sadar Liang Fu Yong mengulurkan tangan kanannya dan dengan cepat mencekal
pergelangan tangan kiri Tan Ki. Dengan sekuat tenaga dia menarik pemuda itu ke dalam
pelukannya.
Pada saat ini pikirannya sedang kacau. Hawa murninya tidak dapat diedarkan dengan
lancar. Dalam keadaan panik Liang Fu Yong menarik dengan sekuat tenaga. Tanpa dapat
ditahan lagi hentakkan yang keras itu membuat Tan Ki tertarik kembali.
Mungkin Liang Fu Yong sendiri tidak menyadari kalau tarikannya ini membuat perubahan
besar dalam hidupnya!
Hanya sesaat pikiran Tan Ki agak sadar. Wajahnya tampak bingung. Sekejap kemudian
dia dikuasai kembali oleh hawa nafsunya yang berkobar-kobar. Liang Fu Yong sendiri
seakan tidak menyadari bahwa tarikannya tadi terlalu keras sehingga tubuh Tan Ki bukan
jatuh ke dalam pelukannya, tetapi malah terjatuh kembali di atas tanah. Tanpa dapat
ditahan lagi dia jadi tertegun.
Serangkum cinta kasih yang ada di dalam hatinya jadi terbangkit seketika. Hal ini
membuat Liang Fu Yong tidak dapat berpikir dengan tenang bahwa apa yang terbentang
di hadapannya mungkin suatu yang berbahaya. Dia mengulurkan sepasang lengannya dan
membangunkan Tan Ki yang terjatuh di atas tanah.
“Sakit tidak?” tanyannya penuh perasaan. Sayangnya gejolak birahi yang meluap-luap
telah membutakan pikiran Tan Ki. Dia sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan
oleh Liang Fu Yong. Dia hanya merasa ada sebuah suara yang lembut sedang
menyapanya. Hal ini malah membuat perasaannya bagai dibuai oleh irama yang merdu.
Tiba-tiba dia memberontak sekuat tenaga, dia melepaskan diri dari pelukan Liang Fu
Yong. Tangan kanannya segera mencekal leher krah pakaian Liang Fu Yong. Terdengar
suara Breet! Tahu-tahu dia telah merobek blus perempuan itu menjadi dua bagian.
Saking tercekatnya hati Liang Fu Yong, tanpa sadar dia sampai menjeritkan suara
aduhan yang keras. Tetapi dia tidak memberikan perlawanan yang berarti, perasaan
kasihan serta takut berkecamuk di dalam kalbunya.
Dia hanya duduk di atas tanah dengan termangu-mangu. Tubuhnya tidak bergerak
sedikitpun. Terdengar suara koyakan pakaian yang kalap. Telinga perempuan itu
mendengar dengan jelas, namun perasaannya seperti orang mati. Dalam waktu yang
singkat, pakaiannya yang berwarna hijau tidak tersisa sedikitpun. Tubuhnya yang
berkilauan tersorot cahaya rembulan langsung menusuk pandangan anak muda itu.
Liang Fu Yong tidak lagi berteriak ketakutan, dia juga tidak menghindar ataupun
memberontak. Seandainya dia mengerahkan tenaga untuk memberikan perlawanan, Tan
Ki yang saat itu sedang dirasuk oleh birahi yang meluap, pasti bukan tandingannya.
Bahkan sebetulnya dia dapat menggunakan sebatang pedang menikam mati Tan Ki
saat itu juga. Dalam keadaan seperti ini apabila dia membunuh seseorang, mungkin malah
akan mendapat simpati serta pengertian yang dalam dari para pendekar di dunia
Kangouw. Lagipula dia yakin baik Yibun Siu San, si pengemis sakti Cian Cong serta Liu
Seng dan yang lainnya juga sulit menimpakan kesalahan pada dirinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun dia tidak berbuat demikian. Tampak wajahnya kusut, bagai orang yang kehilangan
akal sehat untuk mempertimbangkan segala sesuatu. Dia hanya duduk berdiam diri
dan membiarkan Tan Ki merobek-robek pakaiannya sehingga tidak tersisa sedikitpun.
Dalam benaknya terus melintas berbagai bayangan tentang badai gelombang yang
akan menimpanya sesaat lagi!
Dia tidak dapat berpikir dengan sehat apakah hal yang dilakukannya sekarang ini baik
atau buruk. Dia juga tidak dapat membedakan apakah dia harus merasa sedih atau
gembira? Tetapi perasaan cinta kasih yang tertanam di dalam sanubarinya malah
membantunya mengambil sebuah keputusan. Dia tidak ingin tahu lagi apakah
perbuatannya ini benar atau salah.
Perasaan takut serta terkejut di dalam hatinya sirna seketika. Suatu kebulatan tekad
dalam bathinnya telah mengusir semua perasaan itu.
Diam-diam dia bergumam seorang diri, “Aku akan mengorbankan diriku untuk menolongnya…”
Karena dia sudah mengetahui bahwa bagian atas dada Tan Ki telah tertotok oleh
seseorang. Apabila dia meninggalkan Tan Ki tanpa memperdulikannya sedikitpun, dapat
dipastikan bahwa pembuluh darah besar dalam tubuh anak muda itu akan membengkak
karena tidak tahan terhadap pengaruh hawa panas yang membara sehingga mungkin bisa
menyebabkan kematian anak muda tersebut.
Keadaan yang mengenaskan inilah yang membuat Liang Fu Yong mengambil kepastian
yang bulat…
Pada saat itu seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya sudah habis terkoyak oleh
tangan Tan Ki yang kalap. Yang tertinggal hanya sesosok tubuh yang indah menantang.
Dengan perasaan jengah Liang Fu Yong menggelinding ke balik semak-semak yang
rimbun. Tiba-tiba Tan Ki juga melonjak bangun dan menerkam ke dalam gerombolan
semak-semak itu.
Sejak semula dia memang sudah kehilangan kesadaran karena dipengaruhi birahi yang
menggebu-gebu. Dia sudah berada dalam keadaan lupa diri. Apalagi Liang Fu Yong sendiri
sudah mempunyai pikiran untuk mengorbankan dirinya demi keselamatan anak muda itu.
Melihat Tan Ki menerkam ke arahnya, dia hanya menggeserkan tubuhnya sedikit. Tetapi
sekejap mata saja dia sudah ditarik ke dalam pelukan anak muda itu.
Dalam waktu yang singkat, tampak dua sosok tubuh yang bugil berdekapan menjadi
satu. Kemudian…
BAGIAN XXIX
Melakukan tradisi turun temurun dalam mengembangbiakkan jumlah manusia di dunia
ini sebetulnya masalah yang wajar. Tetapi bagi seorang perempuan yang baru sadar dan
bertekad kembali ke jalan yang benar hal itu merupakan sebuah pukulan bathin yang
cukup hebat. Untung saja perasaan cintanya lebih besar dari hal apapun di dunia ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Liang Fu Yong mengeluarkan suara keluhan panjang dan dari sudut matanya tampak
dua bulir air mata menetes turun. Setelah gelombang badai yang dahsyat itu berlalu,
semuanya tenang kembali seperti semula.
Meskipun dengan kebulatan tekad sendiri Liang Fu Yong mengorbankan dirinya demi
keselamatan Tan Ki, tetapi dia sudah mengeluarkan imbalan yang sangat besar. Saat itu
hawa panas dalam tubuh Tan Ki sudah menyurut dan diapun tertidur pulas.
Tetapi Liang Fu Yong sendiri tidak dapat pulas begitu saja. Dia melihat pemuda
pujaannya yang sedang teridap dalam mimpi indah. Hatinya dilanda berbagai perasaan
yang berbeda-beda. Tetapi dia sendiri tidak dapat menjelaskan apa sebetulnya yang
dirasakannya.
Berbagai bayangan buruk serta akibat yang mengerikan melintas di benaknya. Mungkin
sejak saat ini Mei Ling yang polos dan lugu akan membencinya seumur hidup!
Sedangkan Cen Kiau Hun yang berjiwa romantis, tentu tidak akan melepaskan dirinya
begitu saja apabila mengetahui kejadian ini. Masih ada lagi si gadis manja dan keras
kepala Lok Ing, entah hukuman apa yang akan dijatuhkan gadis itu kepadanya apabila dia
juga sempat mengetahui apa yang mereka lakukan saat ini.
Setelah berpikir bolak-balik, dia merasa semuanya menemui jalan buntu. Seakan di dunia
yang begini luas, tidak ada sejengkal ta-nahpun bagi dirinya untuk berpijak. Semakin
dipikirkan, dia semakin merasa bahwa masa depannya suram sekali. Entah bagaimana dia
harus menempatkan diri. Air matanya mengembang, dia menatap pemuda pujaannya
lekat-lekat. Dia sendiri tidak dapat menjelaskan apakah dia merasa kasihan atau cinta
terhadap Tan Ki, entah benci atau menyesal…
Perlahan-lahan dia mengeluarkan jari jemarinya yang lentik. Dirapikannya rambut Tan
Ki yang awut-awutan. Dalam waktu yang singkat, dari seorang perempuan yang tabah dan
tegar dia berubah demikian lemah dan tidak berpendirian. Dengan gerakan lemah lembut
dia menundukkan kepalanya dan mengecup pipi Tan Ki sekilas. Tampak dia bergumam
seorang diri, “Tidurlah, peristiwa yang telah terjadi, dirimu tidak dapat dipersalahkan.
Apabila tersa-dar nanti, kau juga tidak perlu salah pengertian sehingga merasa menyesal.
Aku tahu, apabila kau tersadar nanti, pasti akan merasa sedih dan kecewa terhadap dirimu
sendiri. Kau tidak perlu mencemaskannya sedikitpun. Karena pada saat itu kau sedang
dalam keadaan kacau dan kehilangan kendali. Sedangkan aku justru benar-benar sadar
atas apa yang telah aku lakukan…”
Berkata sampai di sini, dia merandek. Air matanya mengucur dengan deras. Setetes
demi setetes jatuh ke atas tanah. Tetapi dari sudut bibirnya justru terlihat senyuman yang
mengembang. Perlahan-lahan dia berkata lagi:
“Sebelum kau tersadar nanti, aku akan pergi secara diam-diam. Meskipun kejadian
yang mengenaskan ini membawa segulung rasa pedih yang tidak terkirakan, tetapi di
dalam sudut kalbuku juga terselip kebahagiaan yang tidak terkatakan. Tanpa diduga-duga,
aku ma-lah yang lebih dulu mendapatkan dirimu daripada Liu Moay Moay sendiri yang
lebih berhak. Meskipun hanya setengah malam yang singkat, tetapi aku sudah merasa
puas. Semua kesalahan ini merupakan takdir yang telah ditentukan Sang Pencipta. Apabila
Liu Moay Moay mengetahuinya, mungkin dia juga tidak akan menyalahkan diriku…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia terus bergumam seorang diri. Tetapi perasaan sedih dan gembira terus silih
bergan-ti merasuk hatinya. Ditambah lagi rasa letih dan gelisah karena setelah sekian lama
dia baru dilanda lagi oleh gelombang badai asmara seperti tadi. Seluruh tubuhnya terasa
penat, tanpa dapat dipertahankan lagi, lambat laun dia sendiri terkulai di atas tanah dan
tertidur pulas.
Ketika dia sadar kembali, malam semakin larut dan kesunyian tetap merayap. Di sekitar
tidak terdengar suara apa-apa kecuali desiran angin yang melambaikan dedaunan. Tan Ki
masih terlelap dalam mimpi indah. Ketika dia menundukkan kepala dan melihat keadaannya
sendiri, tanpa dapat ditahan lagi dia merasa jengah sekali. Ternyata seluruh
pakaiannya sudah habis dikoyak-koyak oleh Tan Ki sehingga tubuhnya menjadi bugil tanpa
ditutupi sehelai benangpun. Tubuhnya yang putih dan mulus tampak berkilauan di sorot
cahaya rembulan.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis Bikin Nangis : Dendam Iblis Seribu Wajah 3 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Jumat, 21 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments